Mama nuri yang semok

 


Eps 1 : Prologue




Baru pindahan di sebuah kampung yang letaknya bersebelahan dengan kompleks tempat mereka tinggal, membuat seorang remaja bernama Rio, sering jadi bulan-bulanan beberapa pemuda kampung yang suka malakin anak SMP elit itu.

"Ah! balikin hape aku kak!"

Kata Rio yang saat itu lagi dipalak dan ga sengaja direbut hapenya sama jodi si pemuda kampung dan tampak nafsu liat body mama Rio yang jadi wallpaper hapenya pas foto keluarga di pantai.


"E ini mamak mu ya body nya bagus juga dadanya gede banget!"

Ucap jodi yang melihat foto mama rio di hape tersebut.


"Hahahaha! pasti kamu sering ngeliat mamamu pakai baju seksi kan?!"

Ucap jodi yang terus memuji body mama rio membuat pemuda biru malu sendiri dengarnya.

"E engga!, ba balikin dong bang, aku udah lama di sini, nanti dicari mama!"

Jawab Rio panik, sembari berusaha nyari cara biar bisa ambil hapenya.

Hahaha ini aku kembaliin kalau kami bisa ngelihat mamamu

Ucap jodi yang terus melihat keseksian mama rio, sambil ngomong gitu sementara temen jodi mulai ikut muji mesum body mama Rio.

"Mana lihat, wih anjing ya cuk bodynya bagus banget kamu lihat belahan dadanya mulus banget buat jepit kontol,"

Ucap tarjo yang juga melihat mamanya rio.

"Kamu lihat tembem pipinya bisa ini nampung peju banyak apalagi kamu lihat tangannya klihatan tangan tangan yang jago ngocok,"

Ucap mereka yang terus ngejek mama rio hingga membuat anaknya makin merah malu dengar mamanya dilecehkan mereka.

"Ehhh kami mau nginep di rumah mu ya kalau gak ini hp gak kami kembaliin,"

Ucap mereka yang menatap tajam rio.

"Ya yaudah deh bang,"

Jawab Rio.

"Mantap... Bisa nih kita kerjain mamanya nih bocah!" ucap nuri senang.


Bersambung

==========

Eps 2 : mama montok di pasar





Nuri adalah seorang mama muda cantik dan centil yang suka berpenampilan seksi

Suatu pagi ia yang lagi belanja di pasar terlihat mulai jadi obyek pelecehan para pedagang disana saat belanja

"Om, beli dagingnya sekilo berapa ya?"

Tanya nuri yang malah digoda pedagang daging itu.

"Ohh iya neng, 40 sekilo
Neng mau beli daging aja bajunya seksi banget,"

Ucap tukang daging yang melihat penampilan nuri sambil senyum mesum.

"Beli dua kilo yah... Eh i iyah hehe,"

Jawab nuri salah tingkah sedang pedagang lain juga ikut godain.

"80 jadinya ya neng,"

Ucap tukang daging, di sebelah.

"Suit suuuit suiit neng gak beli disini aja, disini diskon kalau ada orang yang pakai baju seksi,"

Potong pedagang lain ikut menggoda nuri.

"Iya neng sini diskon bisa lebih 50% kalau mau ngelayanin saya,"

Jawab pedagang seberangnya yang memberikan tawaran spesial ke nuri.

"Ngelayanin gimana?"

Tanya nuri ke pedagang daging, namun kepotong sama pedagang ayam dan pedagang buah yang juga kepancing nawarin diskon.

"Buat kontolku ini orgasme aja cukup"

Ucap pedagang ayam


"Eh sini neng disini juga bisa diskon 69%"

Ucap pedagang buah yang juga nawarin diskon ke nuri.

"Eh o oke,"

Jawab nuri senyum denger banyak diskon bakal dia dapat.

"Sini neng kalau gitu 3 kilo saya kasih harga 65 ribu kalau neng bisa layanin saya juga,"

Ucap tukang daging yang juga gak mau kalah menawarkan diskon, takut pelanggan sexynya direbut orang.

"Eh tiga?"

Tanya nuri dengan muka ceria dengar tawaran tukang daging.

"Iya neng sini dh 3 kilo ku diskon,"

Ucap tukang daging yang menyakinkan si nuri.


Namun saat Nuri akan ambil kantung daging itu, si pedagang main tarik mendekat dan langsung turunin celananya.


"Nah sini neng sekarang layanin aku,"

Ucap kang dagang yang langsung mengeluarkan kontolnya di hadapan Nuri.

"Eh?!"

Kaget nuri panik karena kang daging main keluarin didepan orang banyak.

"Udh kamu mau diskon gak cepet kocokin kontolku sini!"

Ucap kang daging yang menyodorkan kontol ke hadapan nuri.

Nuri sambil agak maju mulai pegang kontol itu, remas dan mulai kocokin diselingi siulan dan godaan mesum dua pedagang lain.

"Suiit suiit neng gak mau kocokin kontol kita juga disini bisa dapat diskon juga, uh diliat liat jago juga nih lonte ngocokinnya,"

Ucap pedagang lain yang menggoda nuri karena nafsu liat ekspresi muka Nuri, dan juga tangan lentik yang mainin kontol itu.

Melihat ucapan mereka, Nuri hanya senyum sambil fokus kocokin kontol tukang daging yang mendesah keenakan.

"Emmmh emmh ahh enaknya kocokan lu lonte emmmh jago banget,"

Ucap kang daging yang keenakan dengan kocokan nuri.

Nuri terus kocokin kontol tukang daging yang malah remes dada nuri

"Ahhm!"

Desahnya kaget.

Emmnh emmmh emmhb gede banget dadamu

Ucap kang daging yang meremas dada nuri.

"Hmm mmh..."

Makin diremas dadanya, malah makin kuat kocokan tangan Nuri di kontol kang daging yang akhirnya bikin dia orgasme.

"Ahhhhh aku keluar crooot crooot croooot,"

Peju kang daging nampak muncrat dan nyaris mengenai muka dan tubuhnya, beruntung mama muda itu nampak sedikit ngindar jadi kena muka doang.

Dan setelah menyeka sperma di wajahnya ia langsung natap si tukang daging yang masih ngumpulin nafas.

"Ya yaudah berarti tiga kilo yah..."

Ucap nuri ke kang daging yang senyum dan ngangguk.

"Hahaha iya deh ini 3 kilo 65 ribu,"

Ucap kang daging sambil menyerahkan dagingnya.

"Makasih,"

Jawab nuri manis sambil jalan ninggalin tempat mereka diiringi siulan pedagang lain yang iri.


Bersambung

===============




Eps 3 : awal mula

Nuri berjalan mendekati Rio, payung transparan di tangannya membiaskan cahaya temaram lampu jalan menjadi bulatan-bulatan buram.

Gerimis tipis membasahi rambutnya yang tergerai, membuat beberapa helainya menempel lembut di pipi.

Trench coat kremnya yang terbuka sebagian memperlihatkan renda marun pakaian dalam yang kontras dengan dinginnya malam.

Kombinasi itu, anehnya, tak mengurangi sedikit pun keanggunan Nuri, justru memancarkan aura dewasa yang berani dan memikat. Kakinya yang jenjang dibalut stoking renda krem setinggi paha, berakhir pada heels hitam bertali silang yang menonjolkan kekuatan sekaligus feminitasnya.


Rio, anak tirinya, masih terisak di pinggir jalan, bahunya bergetar. Mainan kesayangannya hilang, dan kegelapan malam semakin menambah rasa takutnya.

Nuri berjongkok perlahan, menyamakan tingginya dengan Rio, tatapannya lembut namun penuh ketegasan keibuan. Ibu jari Nuri mengusap air mata di pipi Rio.


"Tenang ya, Rio... Mama Nuri bakal cariin mainannya. Nggak boleh sedih sendirian di malam hujan kayak gini." Suara Nuri hangat, melembutkan dinginnya udara.


Dengan Rio yang kini menggenggam erat tangannya, Nuri mulai menyusuri pinggir jalan, matanya menyapu setiap sudut.


Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, di bawah bayangan pohon yang lebat, Nuri melihat sebuah sosok kumal tengah memainkan sesuatu. Jantung Nuri berdesir. Itu mainan Rio.


Nuri menghampiri sosok itu, seorang gelandangan dengan pakaian kotor dan rambut acak-acakan.


"Permisi, Pak," suara Nuri terdengar tenang, meskipun ada kegelisahan yang mulai merayap.


"Maaf, itu mainan anak saya. Kalau Bapak mau, saya bisa ganti uang, Bapak mau berapa?"


Gelandangan itu mengangkat kepalanya, sorot matanya yang keruh menatap Nuri dari ujung kaki hingga kepala, sebuah senyum licik terukir di bibirnya yang pecah-pecah. Ia terkekeh pelan.


"Oh, mainan ini? Boleh aja dikembaliin, Neng... Tapi nggak usah pakai duit." Tatapannya semakin mesum, menyapu lekuk tubuh Nuri tanpa malu. "Ada yang lebih enak dari duit, Neng."


Darah Nuri berdesir dingin. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. "Maksud Bapak apa?" tanyanya, suaranya sedikit menegang.


Gelandangan itu tertawa lagi, kali ini lebih keras, suaranya parau dan menjijikkan. "Neng datang ke sini pakai baju kayak gini, di tengah malam... Apa Neng nggak tahu artinya? Jangan pura-pura suci, Neng. Tinggal kasih saya ‘jatah’, mainan ini langsung balik ke tangan Neng." Matanya berbinar penuh nafsu, dan seringai di wajahnya semakin lebar.


"Atau mau Neng nyepong kontol saya aja? Gampang, kan?"


Kata-kata itu menghantam Nuri seperti tamparan keras.


Wajahnya memucat, terkejut dan jijik. Ia mundur selangkah, tanpa sadar mencengkeram erat payung transparan di tangannya.

Gelandangan itu menyebutnya lonte. Dilema menyelimuti Nuri. Rio masih di sisinya, mainan itu harus kembali. Namun, harga yang diminta sungguh tak terbayangkan. Malam yang gerimis ini tiba-tiba terasa jauh lebih dingin dan gelap.


Nuri menghela napas panjang, menatap Rio yang masih sesenggukan.

"Sayang, kamu tunggu di sini sebentar ya. Mama Nuri mau cari mainannya di sana," ucapnya lembut sambil menunjuk ke arah remang-remang di bawah pohon besar.

"Jangan ke mana-mana, oke?" Rio mengangguk kecil, matanya masih basah namun terlihat sedikit lebih tenang. Meskipun Rio tetap tinggal, tatapan Nuri sejenak beralih pada mainan yang tergenggam erat di tangan Rio, seolah memastikan bahwa pengorbanan ini pantas.


Nuri berjalan perlahan menghampiri gelandangan itu. Ketika mendengar tawaran menjijikkan itu,

sebuah senyum tipis namun dingin bermain di bibirnya. Hanya ini? pikirnya sinis. Dibandingkan dengan rasa bersalah melihat Rio terus menangis, permintaan ini terasa... 'sederhana'. Nuri menarik napas dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya, lalu mengangguk kecil, menyetujui ucapan gelandangan itu.


Mata gelandangan itu langsung berbinar penuh kemenangan, senyumnya semakin lebar memperlihatkan gigi-gigi yang kotor. Ia bangkit dengan tergesa-gesa, menarik tangan Nuri agar berjongkok di hadapannya.





"Nah, gitu dong, Neng manis!" serunya kasar, suaranya parau. Nuri merasakan nyeri di pergelangan tangannya, namun ia menahannya.


Dengan gerakan yang tampak tenang namun dipenuhi rasa jijik yang mendalam, Nuri meraih bagian depan celana kumal gelandangan itu. Kain lusuh dan bau itu terasa kasar di tangannya.

Perlahan, ia membuka resleting yang berkarat, memperlihatkan kejijikan yang tersembunyi di dalamnya. Aroma tak sedap langsung menyeruak, menusuk indra penciumannya. Mata Nuri terasa perih, ingin rasanya ia memejamkan mata, namun ia memaksa diri untuk tetap membuka matanya, seolah ingin menyaksikan setiap detik dari pengorbanan ini.


Nuri berusaha mengendalikan rasa mual yang tiba-tiba menyerang.

Ia meraih 'benda' menjijikkan itu, terasa lembek dan kotor di tangannya. Dengan enggan, ia mendekatkannya ke bibirnya. Saat bibirnya menyentuh kulit kasar dan bau itu, rasa ingin muntah semakin kuat.

Namun, ia memaksakan diri. Tangannya mulai bergerak, mengocok 'benda' itu perlahan, sementara bibirnya mengulumnya dengan kaku.


Gelandangan itu langsung meracau kegirangan, tangannya meraih rambut basah Nuri dan mencengkeramnya kasar.


"Aahhh... pinter kamu, Neng! Sempurna! Hisap terus, Neng! Lonte baik!" umpatnya kasar bercampur desahan jijik. Bau mulutnya yang asam menusuk hidung Nuri, membuatnya semakin menderita.


Ia memejamkan mata, mencoba membayangkan wajah Rio yang tersenyum bahagia saat mainannya kembali. Hanya itu yang bisa membuatnya bertahan dalam situasi menjijikkan ini. Setiap desahan dari pria itu adalah siksaan bagi Nuri, namun ia terus melakukannya, demi Rio.



Di sela desahan-desahan parau, gelandangan itu terus menggoda dan memuji Nuri dengan kata-kata mesum.

"Terus, Neng! Ah... lonteku! Kamu memang yang terbaik!" Umpatan kasar bercampur pujian menjijikkan itu terus keluar dari mulutnya, sementara Nuri tetap fokus, mengocok dan mengulum 'benda' bau itu, matanya terpejam rapat, berusaha mengenyahkan semua kengerian yang ia rasakan.

Tangannya bekerja secara otomatis, seolah terpisah dari pikirannya yang menjerit.
Cukup lama gelandangan itu meracau keenakan, cengkeramannya pada rambut Nuri semakin erat. Akhirnya, dengan raungan kasar, ia mencapai klimaksnya.

Nuri merasakan semburan cairan kental memenuhi mulutnya, panas dan menjijikkan. Rasa mual itu kini tak tertahankan.


Gelandangan itu terhuyung mundur, napasnya tersengal, namun senyum puas masih terukir di wajahnya.

Ia melemparkan mainan Rio yang kotor itu ke pangkuan Nuri. "Nih, ambil! Puas kan, Neng?"


Nuri mengangguk, mengambil mainan itu dengan tangan gemetar.

"Terima kasih," ucapnya nyaris tak terdengar. Tanpa membuang waktu, Nuri berbalik, berjalan cepat menjauhi tempat itu.


Begitu merasa cukup jauh, ia berhenti di balik sebuah tiang listrik, dan berkali-kali meludahi sperma gelandangan itu dari mulutnya, mencoba membersihkan setiap jejak kekotoran yang menempel.

Hatinya perih, namun melihat mainan Rio di tangannya, Nuri tahu, ini semua demi sang anak. Air mata bercampur gerimis membasahi pipinya, namun ia tak peduli. Yang terpenting, mainan itu sudah kembali.

===============

Eps 4 : awal mula 2




Mentari pagi di luar hotel menyelinap melalui celah gorden, namun Rio sudah tak sabar.

"Mama Nuri! Ayo renang!" serunya, mengguncang-guncang lengan Nuri yang masih mencoba melipat yukata.

Di ranjang, Arya, suami Nuri, masih terlelap pulas, sisa mabuk semalam sepertinya. Nuri menghela napas. Mau tidak mau, ia harus membawa Rio sendiri ke sungai.


"Iya, sayang, sebentar ya. Mama pakai yukata dulu," sahut Nuri sambil tergesa. Namun, bocah itu sudah tak bisa ditahan.

"Rio duluan ya, Ma!" teriaknya, dan dalam sekejap, bayangan kecil itu sudah melesat keluar, menuruni jalan setapak menuju sungai.


Nuri hanya bisa menggelengkan kepala, terpaksa mempercepat gerakannya untuk menyusul sang anak.



Langkah Nuri terhenti saat telinganya menangkap suara-suara aneh dari kejauhan. Itu suara Rio, bercampur tawa mengejek.


Jantung Nuri berdegup kencang. Ia mempercepat langkahnya, dan pemandangan di depannya membuat darahnya mendidih.


Rio berdiri mematung di hadapan dua pemuda kampung, tubuhnya gemetar ketakutan.


"Mana duit lo, bocah ingusan? Enak aja mau renang gratis di kampung orang," ujar salah satu pemuda berbadan kurus, dengan seringai mengejek.

Pemuda lainnya, yang memiliki kumis tipis, tertawa renyah. "Gak punya duit, tapi gaya mau liburan. Pulang aja sana, nangis ke emak lo!"


Rio hanya bisa menunduk, tak berani menatap mereka. Nuri melangkah maju, senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang berusaha menyembunyikan amarahnya. Ia tak ingin membuat keributan di hadapan Rio.


"Hai, Mas-mas..." Nuri bersuara, menarik perhatian kedua pemuda itu. Mereka berdua menoleh, tatapan mata mereka langsung terpaku pada Nuri, menyapu tubuhnya dari atas ke bawah. Senyum mesum terlukis di wajah mereka.


"Kalau mau ganggu orang, ganggu saya aja. Jangan ganggu anak kecil."
Pemuda kurus itu tertawa renyah.


"Wah, tantangan nih? Dengan senang hati, Mbak manis!" Ia melirik temannya. "Gimana, Mis? Rezeki nomplok nih!"


Si Kumis menyeringai lebar. "Beres, Gus! Dari tadi pagi udah rezeki kita emang!"
Tanpa menunggu persetujuan Nuri, Pemuda Kurus langsung menarik lengan Nuri dengan kasar, menyeretnya menjauh dari Rio.


Nuri sedikit terhuyung, namun ia tak melawan. "Rio, sayang," Nuri menoleh ke arah Rio, suaranya tetap lembut meski hatinya kalut.


"Kamu main dulu ke sungai ya, Mama nanti nyusul." Rio menatapnya dengan bingung, namun Nuri mengedipkan mata, berusaha meyakinkan putranya. Rio, masih sedikit gemetar, akhirnya berbalik dan berlari menuju sungai.





Nuri diseret Pemuda Kurus menuju bagian sungai yang lebih sepi, tersembunyi di balik semak-semak lebat.

Si Kumis mengekori di belakang, tatapan mata mereka berdua penuh nafsu. Di sana, di bawah rindangnya pohon, Nuri dipaksa duduk di pangkuan Pemuda Kurus yang langsung mencengkeram pinggangnya.


"Wah, emang bener kata orang, di kota itu ceweknya berani-berani ya," ejek Pemuda Kurus, bibirnya menyeringai.

Sementara itu, Si Kumis sudah mencondongkan tubuhnya, mencium paksa bibir Nuri. Nuri memejamkan mata, menahan napas, merasakan bau rokok basi dan keringat yang bercampur. Tangannya mengepal erat, namun ia berusaha untuk tidak melawan.


Tangan Si Kumis tak tinggal diam, merayap masuk ke balik yukata Nuri, meremas payudaranya yang kenyal. Nuri mendesah tertahan, rasa jijik dan ngeri bercampur aduk dengan sentuhan kasar itu.



"Gila, Gus, kulitnya mulus banget! Kayak porselen! Di kampung kita mana ada yang begini," desis Si Kumis, bibirnya tak henti menciumi leher Nuri.

Tangannya meremas payudara Nuri di balik bra putih yang kini terasa longgar. "Ini mah kalau di kota, udah jadi rebutan banyak om-om nih."


Pemuda Kurus tertawa meremehkan, mengencangkan pelukannya di pinggang Nuri.


"Makanya, Mis! Dia pikir kita ga berani apa? Udah cantik begini malah nantangin kita, bego juga ini cewek!" Ia menarik kepala Nuri agar menatapnya, memaksa Nuri untuk menerima ciuman kasar dari bibirnya yang bau miras.


Nuri memejamkan mata, kepalanya pening. Setelah ciuman itu lepas, Si Kumis kembali mengambil alih, menciumi Nuri dengan nafsu, sementara tangan Pemuda Kurus ikut-ikutan merayap ke dada Nuri.


"Siapa nama, Mbak?" tanya Pemuda Kurus, suaranya serak.


Nuri terdiam sejenak, enggan menjawab. Namun, ia tahu, perlawanan hanya akan membuat semuanya lebih buruk. Dengan senyum tipis yang dipaksakan, ia berbisik,


"Nuri."


"Oh, Nuri... Cantik namanya, seksi orangnya!" ejek Si Kumis, bibirnya menyeringai.


"Umur berapa, Nuri? Pasti udah dewasa banget ya. Pantesan aja berani banget nantang kita."


"Tiga puluh..." Nuri menjawab singkat, suaranya tercekat, masih dengan senyum pahitnya.


"Tiga puluh? Hahaha! Pantes!" Pemuda Kurus tertawa renyah. Ia melirik ke arah sungai tempat Rio bermain.


"Itu Rio... bukan anak kandung Nuri, kan? Rio itu, anak siapa?" tanyanya, nada suaranya berubah licik.


Nuri menunduk, matanya menatap rumput basah. "Anak tiri," jawabnya pelan, suara kecilnya hampir tak terdengar di antara tawa mereka.


Mendengar itu, tawa kedua pemuda itu semakin pecah, lebih keras dan menjengkelkan.


"Lihat, Mis! Aku bilang juga apa! Udah lonte, punya anak tiri lagi! Fix ani-ani" tuduh Pemuda Kurus, mencengkeram dagu Nuri dan memaksa Nuri untuk mendongak.


"Jadi, kamu ini memang suka godain orang, ya? Makanya dibilang lonte, Mbak Nuri!"
Sentuhan yang Membangkitkan dan Ejekan Tiada Henti
Nuri hanya menunduk, tak berani menatap mata mereka.


Rasa malu dan jijik menyeruak, ingin rasanya ia lenyap dari tempat itu. Tapi, ia harus bertahan. Demi Rio. Ia bahkan mencoba memaksakan senyum di wajahnya, senyum pahit yang ironis, seolah ia sukarela melakukannya.


Pemuda Kurus tiba-tiba mencondongkan tubuhnya, menjilati leher Nuri dengan lidahnya yang basah dan kasar.

Sensasi aneh menjalar di kulit Nuri, diikuti jilatan di belakang telinganya.

Bersamaan dengan itu, tangan Pemuda Kurus mulai merayap turun, menyelinap ke dalam yukata Nuri, mencari-cari area kewanitaannya.


"Cihuy, masih rapet ya? Pasti jarang main sama cowok kampung, ya?" ejek Pemuda Kurus, tangannya mulai memainkan vagina Nuri.

Sentuhan tak terduga itu membuat Nuri terlonjak, menjerit kecil yang tertahan di tenggorokan. Ia mencoba merapatkan pahanya, namun Pemuda Kurus semakin gencar menggerakkan jarinya, membuatnya mendesah tak karuan.


Si Kumis tertawa melihat reaksi Nuri. "Hahaha! Udah mulai keenakan, Neng? Bilang aja! Jangan malu-malu!"


Nuri hanya bisa mendesah, napasnya memburu. Vaginanya dikocok terus-menerus, dan ciuman bergiliran dari Pemuda Kurus dan Si Kumis membuatnya kesulitan bernapas.


Mereka berdua, yang sudah terbakar nafsu melihat tubuh Nuri, semakin menjadi-jadi mengerjai tubuhnya yang tak berdaya.


Di sela-sela desahan geli Nuri karena ciuman kumis yang mengenai kulitnya, Pemuda Kurus mulai berpindah, menjilati tengkuk Nuri, lidahnya yang basah terasa dingin dan menjijikkan.


Si Kumis, di sisi lain, mulai menurunkan tali bra Nuri, memperlihatkan payudara Nuri yang mengkal dengan putingnya yang kemerahan.




"Wah, ini dia yang kutunggu-tunggu!" seru Si Kumis, matanya berbinar nafsu. Ia mendekatkan wajahnya ke dada Nuri, berniat mengulum puting Nuri.


"Jangan! Jangan di situ! Sensitif!" Nuri menjerit panik, mencoba mendorong kepala Si Kumis menjauh.

Wajahnya memerah padam, namun ada getaran aneh di tubuhnya.Namun, penolakan Nuri justru membuat Si Kumis semakin kesenangan.


"Oh, sensitif ya? Makin asyik dong kalau gitu!" Ia tertawa renyah, lalu mengulum puting Nuri dengan ganas. Nuri menjerit tertahan, tubuhnya menegang, namun kali ini, ia merasakan sensasi yang asing, membakar.
Pemuda Kurus melihat kepanikan Nuri, ia hanya tertawa mengejek.

"Hahaha! Lihat, Mis! Baru disentuh gitu aja udah keenakan dia!" Ia menjilat belakang telinga Nuri, lalu lidahnya merayap turun ke punggung Nuri, memainkan dan mencupang kulit punggung Nuri, meninggalkan bekas-bekas kemerahan.


"Dada lo gede banget, Neng! Ada urat-uratnya lagi! Makin nafsu gue!" ujar Si Kumis, suaranya serak karena terus mengulum dan menjilati payudara Nuri.


Nuri mendesah panjang, entah karena jijik atau rangsangan yang mulai menjalari tubuhnya. Ia mencoba memejamkan mata, namun setiap sentuhan dan hisapan itu semakin dalam, semakin memabukkan.


Sementara itu, Si Kumis sudah berpindah, bibirnya turun ke perut Nuri, lalu semakin ke bawah.


Dengan cepat, ia menjatuhkan celana dalam putih Nuri hingga hanya tersisa di paha. Mata Si Kumis berbinar saat melihat area kewanitaan Nuri.

Tanpa basa-basi, ia mulai menjilat dan memainkan vagina Nuri dengan lidahnya.


"Aaaarrghhh!" Nuri menjerit keras, bukan hanya karena rasa kaget dan jijik, melainkan juga karena sensasi yang tak bisa ia kontrol, rangsangan yang membanjiri tubuhnya.


Tubuhnya melengkung, napasnya tercekat.
Kedua pemuda itu justru tertawa terbahak-bahak mendengar jeritan Nuri.


"Hahaha! Gimana, Neng? Enak kan? Makanya jangan nantang kita! Sekarang rasain!"


Pemuda Kurus terus mencupang punggung Nuri, membuat Nuri semakin meronta dalam diam.

Nuri memejamkan mata erat-erat, ia mencoba memaksakan senyum pahitnya, meskipun kini desahannya mulai bercampur dengan sensasi yang aneh.


Ia merasa begitu tak berdaya, seluruh harga dirinya terkikis habis, namun di tengah semua itu, tubuhnya mulai bereaksi di luar kendalinya. Setiap jilatan, setiap sentuhan, setiap tawa mereka adalah siksaan yang tak berkesudahan, namun Nuri merasakan dirinya mulai menikmati, terjerat dalam permainan hina yang mereka ciptakan.



Nuri menjerit tertahan, tubuhnya melengkung, dan desahannya semakin tak terkendali saat Si Kumis terus menjilati dan memainkan vaginanya dengan lidah.

Sebuah sensasi aneh yang tak ia inginkan, namun tak bisa ia hentikan, mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

Hingga akhirnya, ia merasakan sebuah ledakan orgasme di dalam dirinya, tubuhnya kejang sesaat, mencapai puncak yang memalukan.

Meski terasa menjijikkan, ada sedikit rasa lega yang tak bisa ia pungkiri.


Si Kumis, yang melihat reaksi Nuri, menyeringai lebar. Nafsunya sudah di ubun-ubun. Tanpa menunggu lagi, ia menurunkan celana dalam Nuri sepenuhnya, membiarkan tubuh bagian bawah Nuri terekspos.


Nuri panik, tubuhnya menegang dan sedikit memberontak, berharap ia akan dilepaskan.


"Jangan... tolong... udahan," bisiknya parau.
Namun, perlawanan Nuri sama sekali tak berguna. Si Kumis sudah tak bisa menahan diri. Dengan satu dorongan kasar, ia langsung menggenjot Nuri.




"AARRGGHHH!" Nuri menjerit keras, rasa sakit bercampur syok menghantamnya, namun desahannya kini bercampur dengan sensasi baru yang aneh.


Si Kumis tertawa mengejek, namun di sela tawanya, ia meringis keenakan. "Hahaha! Gimana, Neng? Enak kan? Makanya jangan sok jual mahal! Rasain nih!" Remasannya di payudara Nuri semakin kuat, membuat Nuri kembali mendesah, kali ini dengan campuran antara nyeri dan sesuatu yang lain.



Sambil tangan Nuri dipaksa untuk terus mengocok kontol Pemuda Kurus yang sudah tegang, dan vaginanya disodok-sodok oleh Si Kumis, kedua pemuda itu bergiliran mengejek dan menggoda Nuri dengan kata-kata kasar.


"Gila, Gus, dalem banget!" seru Si Kumis, terengah-engah. "Kayak perawan lagi! Suami Mbak Nuri ini pasti udah gak guna ya di rumah? Makanya Mbak Nuri butuh kita berdua yang kontolnya gede!"


Pemuda Kurus tertawa terbahak-bahak. Ia menunduk, menciumi telinga Nuri yang memerah.

"Gimana, Nuri? Seneng kan dapat 'jatah' dari kita, anak kampung yang kumal ini? Suami kamu mana bisa ngasih kenikmatan kayak gini! Pasti dia lemes, gak bisa bikin kamu mendesah kayak gini, ya kan? Makanya kamu keenakan digenjot kita!"


Nuri hanya bisa mendesah, kepalanya menggeleng lemah, namun senyum pahitnya tak luntur.

Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya bereaksi di luar kendali.

Setiap kata-kata merendahkan itu terasa seperti pisau yang mengiris-iris hatinya, namun di saat yang sama, tubuhnya terus merasakan sensasi yang intens.


"Udah, Mis, jangan kelamaan! Nanti keburu ada yang dateng!" ujar Pemuda Kurus.


Tak lama kemudian, Si Kumis mencapai puncaknya. Dengan desahan panjang, ia sengaja mengeluarkan cairannya di dalam vagina Nuri.

Nuri kembali merasakan sensasi menjijikkan itu, tubuhnya bergetar hebat, namun ia hanya mendesah pasrah.



Kini giliran Pemuda Kurus. Nuri, yang sudah lemas dan putus asa, mencoba menahannya.


Tangannya yang gemetar mendorong bahu Pemuda Kurus. "Jangan... tolong... jangan..." bisiknya, dengan suara yang dipenuhi desahan.


Namun, Pemuda Kurus sama sekali tidak peduli.

Ia hanya menyeringai, matanya menyala nafsu. "Heh, Mbak! Jangan sok nolak! Saya udah nafsu parah sama kamu!" Tanpa menunggu persetujuan Nuri, bahkan saat Nuri masih memohon dengan suara serak, Pemuda Kurus langsung memasukkan miliknya.


"AARRGGHHH!" Nuri menjerit lagi, kali ini lebih keras, campuran rasa sakit dan juga sensasi yang kini mulai ia kenali.


Pemuda Kurus tertawa penuh kemenangan. Ia mulai menggerakkan pinggulnya dengan cepat, menggenjot Nuri tanpa ampun. Bibirnya langsung mencium bibir Nuri dengan kasar, sementara tangannya meremas dada Nuri begitu kuat hingga Nuri bisa merasakan nyeri di sana.


"Gimana, Nuri? Enak kan? Jangan munafik! Tubuhmu ini bilang iya, walaupun mulutmu bilang tidak! Kamu pasti seneng kan digenjot kita, yang kontolnya lebih gede dari suami kamu itu!" ejek Pemuda Kurus di sela ciumannya yang brutal.


"Aku jamin, suamimu itu gak bakal bisa bikin kamu mendesah kayak gini! Ini nih, baru namanya laki-laki!"


Nuri hanya bisa memejamkan mata, menikmati semuanya.
Puncak Kenikmatan dan Hinaan yang Terus-menerus.


Pemuda Kurus terus menggenjot Nuri tanpa ampun, mendorong pinggulnya dengan kuat. Nuri tak berdaya di bawahnya, setiap guncangan membuatnya semakin terhimpit.


Di sela-sela desahannya yang putus asa, Pemuda Kurus terus mengajaknya berciuman, memaksakan bibirnya pada bibir Nuri yang kini terasa mati rasa.


Aroma tubuh Pemuda Kurus yang bercampur keringat dan bau tanah menusuk hidung Nuri, menambah rasa mual yang sedari tadi ia tahan.


"Gimana, Mbak Nuri? Enak, kan? Jangan sok nolak! Badanmu ini basah semua!" ejek Pemuda Kurus, diselingi ciuman kasar di leher Nuri.

"Rasain nih, yang asli! Bukan kayak suami kamu yang cuma bisa bayar hotel mahal tapi gak bisa bikin kamu teriak kayak gini!"
Tak lama kemudian, Si Kumis kembali mendekat.


Ia membungkuk, menciumi Nuri yang sudah terkulai lemas. Bibirnya menjelajahi leher, bahu, hingga dada Nuri yang terbuka. Nuri hanya bisa mendesah, menerima setiap perlakuan mereka dengan pasrah.

Pikirannya kosong, hanya ingin semua ini cepat berakhir. Namun, desahan yang keluar dari bibirnya kini bukan lagi hanya desahan kesakitan, melainkan campuran antara penyerahan diri dan sensasi yang anehnya mulai ia nikmati.


"Enak banget, Gus! Wangi Mbak Nuri ini beda sama cewek kampung kita!" seru Si Kumis, suaranya serak karena nafsu.

Ia menjilat bahu Nuri, lalu menatap Nuri dengan sorot mata lapar. "Mbak Nuri ini memang pantas buat kita 'kerjain', ya kan? Berani banget sih nantangin kita!"
Nuri hanya menunduk, air mata mengering di pipinya. Ia merasa seluruh tubuhnya sakit, perih, dan kotor. Harga dirinya hancur berkeping-keping.


"Dikit lagi, Nuri! Dikit lagi!" Pemuda Kurus berteriak, napasnya memburu. Nuri bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat. Ia tahu apa yang akan terjadi.


"Jangan... tolong... jangan di dalam..." bisik Nuri, suaranya serak nyaris tak terdengar. Ia mencoba mendorong Pemuda Kurus, namun tenaganya sudah habis. Desahan yang keluar darinya kini lebih panjang, tanda kenikmatan yang memalukan.


Pemuda Kurus tidak peduli. Ia hanya tertawa mengejek. "Hahaha! Udah basah gitu kok masih sok malu! Udah telanjur basah, Neng! Ini buat kenang-kenangan dari kita!"


Dengan raungan terakhir, Pemuda Kurus mencapai kepuasannya. Nuri merasakan lagi semburan cairan panas memenuhi vaginanya. Tubuhnya kejang sesaat, lalu terkulai lemas.


Kali ini, desahannya adalah campuran antara kelelahan dan puncak kepuasan yang ia dapatkan dari perlakuan kasar itu.


Hinaan Terakhir dan Kepergian Mereka
Pemuda Kurus menarik diri dari Nuri, napasnya terengah-engah, namun senyum puas masih terukir di wajahnya. Si Kumis juga mundur, menatap Nuri dengan tatapan merendahkan.


"Nah, sekarang bersihin nih!" perintah Pemuda Kurus, menunjuk penisnya yang masih basah. "Pakai mulutmu! Biar bersih!"


Nuri menatapnya dengan mata kosong. Ia ingin menolak, berteriak, tapi ia tak bisa. Tubuhnya terlalu lemas, jiwanya terlalu hancur.

Dengan gerakan kaku, Nuri mendekatkan mulutnya pada penis Pemuda Kurus, membersihkan sisa cairan yang menjijikkan itu.

Rasa mual kembali menyeruak, namun ia menahannya. Bibirnya bekerja secara otomatis, seolah tubuhnya sudah benar-benar dikuasai.


Setelah itu, Pemuda Kurus tertawa puas. "Nah, gitu dong! Pinter! Makanya jangan nantangin kita, Mbak Nuri!"


"Udah, Gus, ayo kita pergi! Nanti ketahuan orang!" ajak Si Kumis.


Kedua pemuda itu kemudian berbalik, meninggalkan Nuri begitu saja.


Tawa mereka yang mengejek masih terdengar saat mereka menjauh, menghilang di balik semak-semak.


Nuri tergeletak di tanah, tubuhnya gemetar hebat. Yukata-nya masih melorot, bra dan CD-nya berantakan. Air mata tidak lagi mengalir.

Ia merasa begitu kotor, begitu hina. Matanya menatap langit-langit daun yang sesekali meneteskan sisa gerimis. Ini semua demi Rio. Pengorbanan ini. Ia harus kuat. Ia harus bangkit.

Meskipun setiap inci tubuhnya terasa perih, dan jiwanya remuk redam, Nuri juga tak bisa membohongi dirinya. Ada bagian dirinya yang entah bagaimana, telah menemukan 'kenikmatan' di tengah kehinaan ini.


Dengan sisa-sisa tenaganya, Nuri berusaha bangkit, mencoba merapikan kembali pakaiannya yang hancur, meskipun ia tahu, kehinaan dan kenangan memalukan ini akan selamanya menempel pada dirinya.

===============


Comments

Popular Posts