Gairah di Balik Tugas Dokter (Cuckold Story)
Prolog
Namaku Bayu. Saat ini aku dan istriku sedang dalam perjalanan tugas menuju sebuah desa pelosok di ujung Pantura. Kami berdua merupakan pasutri dokter yang di kirim ke sana karena kekurangan tenaga medis.
Mobil Pajero Sport hitam kami terlihat seperti benda asing di antara deretan rumah-rumah reyot dari kayu dan bambu di daerah ini.
Bau garam dari laut bercampur dengan aroma tanah kering dan sedikit bau sampah menyambut kami.
Jalanan di depanku lebih banyak tanah daripada aspal, berlubang di sana-sini. Banyak anak-anak kecil dengan baju kumal berlarian tanpa alas kaki, menatap mobil kami seperti melihat pesawat luar angkasa.
Sukamaju adalah desa nelayan yang kumuh, terpencil di ujung Pantura, dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Rumah-rumah di sini kebanyakan berdinding papan lapuk, atapnya dari seng karatan atau daun kelapa yang sudah menguning.
Warung kopi kecil dengan papan nama pudar berdiri di sudut desa, menjual rokok, mi instan, dan kopi sachet, dikelilingi pria-pria berkulit gelap yang merokok kretek. Mata mereka mengintai kami dengan rasa ingin tahu dan sedikit curiga.
Puskesmas tempat kami bertugas nanti bukanlah gedung modern seperti di Jakarta. Hanya bangunan plesteran yang catnya sudah mengelupas.
“Beb, ini … beneran tempat kita tugas?” tanya Anisa, istriku.
Aku meliriknya. Anisa adalah definisi keindahan. Tubuhnya ramping tapi berlekuk sempurna.
Dadanya terlihat penuh dan kencang, terlihat jelas di bawah blouse lengan buntung putih yang ia kenakan hari ini, dengan belahan dada rendah yang memperlihatkan sedikit kulit mulusnya, membuatku menahan napas. Blouse itu diselimuti cardigan tipis abu-abu yang jatuh longgar di bahunya, tapi tak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya yang menggoda.
Kulitnya putih mulus, hampir seperti susu. Rambut hitamnya terikat menampilkan leher jenjangnya.
Wajahnya cantik dengan hidung agak mancung. Ia juga mengenakan kacamata. Keindahannya tampak terlalu kontras dengan desa kumuh ini.
Paha jenjangnya juga menonjolkan kaki yang seolah tak pantas berjalan di jalan berdebu ini. Perawakannya anggun, dengan sikap percaya diri seorang dokter berpendidikan tinggi.
Aku tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan ketidaknyamanan ku sendiri.
“Iya, Beb. Di sini kekurangan tenaga medis,” jawabku, meski dalam hati aku bertanya-tanya kenapa kami, pasangan dokter kaya dengan apartemen mewah di Sudirman dan liburan tahunan ke Bali, harus dikirim ke tempat seperti ini.
Kurangnya tenaga medis, kata surat tugas itu. Tapi melihat Anisa berdiri di tengah debu dan bau garam dengan tubuh yang seolah tak pantas berada di desa kumuh ini, entah kenapa aku justru merasa tegang.
***
Aku memarkir Pajero Sport di depan sebuah rumah kayu yang sedikit lebih rapi dari yang lain, dengan papan nama sederhana bertuliskan ‘Rumah Pak RT Sukirman’.
Rumah itu berdinding papan yang dicat hijau pudar, atap sengnya berkarat di ujung, dan halaman kecilnya penuh dengan pot tanah liat berisi tanaman.
Anisa turun dari mobil. Cardigannya berkibar pelan dibelai angin, blousenya memperlihatkan belahan dada saat ia membungkuk untuk mengambil tasnya.
Seorang pria paruh baya bertubuh kurus kering, dengan kopiah hitam dan sarung keluar dari rumah. Tangannya mengulurkan jabatan.
“Dokter Bayu, selamat datang di Desa Sukamaju,” sapanya dengan suara agak serak.
“Terima kasih, Pak Sukirman,” balasku sambil menjabat tangannya. Kini, arah tatap ku pindah ke arah Anisa. “Beb ini Pak Sukirman, RT di desa ini.”
Anisa tersenyum ramah padanya. “Salam kenal, Pak,” sapanya lembut.
Sesuai dugaanku, matanya melirik Anisa lebih lama dari yang diperlukan. Arahnya mendarat di belahan dadanya sebelum kembali ke wajahku.
“Kenalin, Pak. Ini Anisa, istri saya sekaligus rekan kerja saya di sini,” kataku.
“Oh ya, salam kenal.” Ia mengajak istriku bersalaman.
Saat Anisa menjabat tangannya. Terlihat sekali perbedaan mereka. Tangan gelap kasar itu memeluk tangan putih mulus istriku. Aku menelan ludah. Entah, rasanya agak menegangkan, mengingat diam-diam aku memiliki fantasi yang cukup unik. Aku senang memamerkan istriku, dan membayangkan pria lain menikmatinya.
Di samping Pak RT berdiri seorang pria yang lebih muda, mungkin akhir 20-an, badannya tegap dengan kulit sawo matang dan rambut pendek yang sedikit berantakan. Ia mengenakan kaus polo biru tua yang agak ketat, memperlihatkan lengan berotot, dan celana kain hitam yang sedikit lusuh. Wajahnya keras tapi menarik, dengan rahang tegas dan mata cokelat yang tajam.
“Ini Dedi, asisten klinik yang akan bantu bapak-ibu di puskesmas,” kata Pak RT, menepuk bahu pria itu.
Dedi mengangguk sambil tersenyum tipis. Ku lihat matanya mencuri-curi pandang pada Anisa, menelusuri blouse-nya yang memperlihatkan belahan dada dan paha jenjangnya.
“Selamat datang, Dok. Saya Dedi. Kalau ada apa-apa panggil saya aja,” katanya.
Anisa tersenyum. “Terima kasih, Mas Dedi.”
Menyadari tatapan Dedi yang tak malu-malu. Aku menahan senyum, ada getaran aneh di dadaku. Entah, aku suka melihat Anisa diperhatikan dengan nakal.
“Puskesmasnya sudah siap, Pak?” tanyaku pada Pak RT, mencoba fokus, tapi pikiranku melayang ke blouse Anisa dan tatapan Dedi yang bergerilya.
“Siap, Dok. Tapi klinik baru buka lusa, biar kami siapin dulu,” jawab Pak RT. “Sekarang, saya antar ke rumah dinas bapak-ibu dulu untuk segera istirahat dari perjalanan jauh.”
Pak RT mengangguk pada Dedi. Pria itu mengambil kunci motor bututnya, siap mengawal kami ke rumah dinas.
Aku dan istriku mengikuti Pak RT menyusuri jalan mengendarai mobil.
Sesampainya diujung perjalanan, rumah dinas kami ternyata hanyalah rumah kontrakan tiga petak, berdempet dengan rumah lain di deretan sempit. Dindingnya dari papan kayu yang lapuk, dicat biru pudar yang sudah mengelupas, atap sengnya berderit ditiup angin, dan pintunya kecil, dengan kunci tua yang berkarat. Sangat jauh dari apartemen kami di Sudirman, tapi ini rumah kami sekarang.
“Ini tempatnya, Dok,” kata Pak RT sambil tersenyum canggung. “Sederhana, tapi insyaallah nyaman.”
Dedi berdiri di pintu. Ia menyandarkan diri di kusen, matanya masih mencuri pandang ke istriku saat Anisa memeriksa ruangan. Cardigannya terbuka sedikit, memperlihatkan belahan dada yang lebih banyak.
“Kalo butuh apa-apa, bilang saya, Dok Anisa,” kata Dedi sambil tersenyum.
Ku lihat Anisa mengangguk, “Oke, terima kasih, Mas Dedi.”
“Terima kasih, Pak RT, Mas Dedi,” kataku pada mereka.
Pak RT pamit, diikuti Dedi. Pria itu melirik Anisa sekali lagi sebelum pergi. Setelah itu, aku menutup pintu dan menoleh ke Anisa yang saat ini sedang duduk di tepi sofa.
“Beb, ini … beneran rumah kita?” tanyanya, suaranya penuh keraguan.
Aku tersenyum dan mendekatinya, lalu duduk disamping istriku sambil mengelus pahanya.
“Sementara aja, Beb. Nanti kalo nemu yang lebih layak, kita sewa mandiri aja.”
Istriku mengangguk tanpa protes. Meskipun dari raut wajahnya, ia sangat terlihat kurang nyaman tinggal dan berada di tempat ini.
=================
[Pagi Pertama di Sukamaju]
Malam harinya, setelah selesai merapikan barang-barang, kami berdua duduk di sofa reot ruang tamu. Anisa terlihat lelah dan sedikit gelisah.
“Kamu kenapa, Beb? Kalau ada hal yang bikin ga nyaman, bilang aja,” kataku.
“Aku risih tinggal di sini,” ucapnya dengan nada lirih. “Bau sampahnya nyengat banget. Terus juga risih sama tatapan orang-orang di sini … kayak lagi ditelanjangin aku rasanya.”
Aku tersenyum dan duduk di sebelahnya ku elus rambutnya dengan lembut.
“Aku paham, Beb. Tapi kita harus inget tujuan kita di sini apa. Di desa ini ga ada tenaga medis, padahal masih di pulau Jawa loh. Tujuan kita kan baik. Kita ada di desa yang jauh berbeda sama Jakarta, mayoritas warganya itu kalangan menengah ke bawah. Pria-pria di sini mungkin ga pernah lihat wanita kayak kamu sebelumnya. Wanita kayak, berpendidikan, terhormat, cantik, putih, badannya bagus.”
Anisa mengangguk, ia kelihatan lebih baik semarang. Aku mencumbu pipinya dengan lembut, lalu menariknya dekat ke dadaku.
“Kamu tahu betapa kamu cantik, Beb. Tubuh kamu sempurna, dan pria-pria di sini pasti terpikat sama kamu.”
Aku menurunkan tangan ke dada Anisa, merasakan kelembutan kulitnya melalui blouse nya.
“Dada kamu yang gede dan kenceng, paha jenjang kamu, wajah kamu yang cantik … semuanya beda dari wanita-wanita di sini.”
Anisa mendesah, tubuhnya sedikit lunak di pelukanku. Aku melanjutkan dengan suara rendah penuh hasrat.
“Bayangin, Beb, kalo Pak RT atau Mas Dedi ngelihat kamu sekarang, mereka pasti bakalan sange berat.”
“Ih, apaan sih, Beb,” keluhnya.
Aku meremas bongkahan dada Anisa dengan lembut dari luar blouse yang ia kenakan. “Bayangin … kalo yang lagi remes-remes toket kamu sekarang itu Pak RT, dia pasti bakalan langsung mati bahagia, Beb.”
Anisa tertawa mendengar jokes tipis-tipis ku. Aku memindahkan tangan ke lehernya, mengusap dan mencium kulitnya yang mulus.
“Ahhhh ….”
Saat desahan kecilnya muncul, langsung ku lucuti pakaiannya. Ku keluarkan bongkahan kenyal istriku dari balik BH yang ia kenakan. Puting merah jambunya sudah mengeras, tanpa basa-basi, langsung ku hisap kuat-kuat.
“Ahhhhh … enak, Beb, shhh ….”
“Bayangin lagi, Beb. Bayangin muka Dedi sekarang. Pandangannya tajem kayak burung elang yang nemu mangsanya. Dia pasti bakal isep toket kamu kuat-kuat sampai merah. Dia gigit pentil kamu kayak gini!”
Aku menggigit puting susu Anisa dengan lembut.
Ia meremas rambutku pelan. “Ahhhhhhh~”
Anisa mendesah lebih dalam, tubuhnya bergetar.
Aku mengangkat Anisa dan membawanya ke ranjang reyot di kamar kami. Dengan gerakan cepat, aku melepaskan pakaiannya yang tersisa, juga pakaian yang ku kenakan, sampai kami berdua telanjang.
Aku menempatkan tubuh Anisa di atas ranjang, mengangkat kaki-kakinya dan menempatkannya di bahu ku.
“Masukin, Beb,” ucap Anisa lirih dengan suara penuh hasrat.
Aku tersenyum dan menempatkan tubuhku di antara paha Anisa, dan dengan satu gerakan, aku memasukkan batang ku ke dalam lubang yang ia miliki.
“Ahhhhh ….” Kami berdua mendesah bersama, tubuh kami beradu dengan tempo romantis.
Pok, pok, pok … suara kelamin kami beradu, diiringi suara decitan ranjang saat tempo kami naik.
Aku menggenjot istriku dengan kuat dan dalam.
“Ahhhhh … ahhhh … ahhhh … terus, Bebbbb … ahhhh.”
Mendengar desahan dan gemuruhnya membuat hasratku menggila. Aku makin mempercepat serangan dengan spell inspire dan item full penetrasi.
“Bayu, Bayu … aku mau keluar, mphhhh …,” desis Anisa lagi, kaki-kakinya melilit pinggulku dengan erat. “Ahhhh … ahhh … ahhh … enak banget!”
Gerakan ku semakin cepat dan kuat.
“Ahhhh … ahhhh … ahhh … aku keluaaarrr, babyyyyy … uuuhhhh ….”
Anisa mendekapku erat, tubuhnya bergetar hebat. Ia mendapatkan orgasmenya. Aku merasa diri ku menggelegar, dan dengan satu hentakkan terakhir, ku tancap dalam-dalam kontolku sambil melepaskan segalanya di dalam Anisa.
“Aaahhhh … aku keluar juga, Babyyyy,” lenguhku.
Anisa mengunci pinggulku dan menekannya, ia juga mempererat pelukannya. “Keluarin semuanya, Babyyyyy.”
Setelah itu, aku mencabut kontolku dan terkulai lemas dengan napas terengah-engah. Kami berdua terlelap dengan tubuh telanjang.
***
Pagi harinya, Anisa mengajakku untuk pergi belanja kebutuhan makanan.
“Beb, temenin belanja yuk buat stok makanan.”
“Aku masih sibuk ngurusin list alat buat puskesmas nih. Besok udah buka, takutnya ada yang belum ready,” balasku.
Aku beralasan ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan di rumah, padahal list itu baru saja ku selesaikan beberapa menit lalu.
Akhirnya, Anisa memutuskan pergi sendiri. Kata ibu tetangga, di pangkalan ojek ada tukang sayur yang biasa mangkal. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, Anisa pun berjalan kaki menuju lokasi tersebut.
Pagi itu, Anisa mengenakan kaus putih yang pas di badan dan sedikit memperlihatkan lekuk tubuhnya. Dada besar itu tidak bisa disembunyikan hanya dendan satu lapis pakaian, makanya ia tambal dengan cardigan abu-abu. Celana jeans biru tua membalut kakinya.
Aku diam-diam ikut keluar tak berselang lama dari kepergian istriku, mengikutinya dari jarak yang agak jauh. Aku ingin melihat bagaimana dia berinteraksi dengan lingkungan baru ini.
Anisa berjalan dengan anggun menuju tukang sayur. Di pangkalan ojek, aku melihat beberapa pria yang sedang bermain gaplek. Saat menyadari kehadiran Anisa, mereka mulai mengintai dengan tatapan buas. Aku tersenyum kecil, melihat para pria itu.
“Abang, berapa harga tomatnya?” tanya Anisa dengan suara lembut.
“Harga tomatnya Rp. 20.000 per kilo, Bu,” jawab tukang sayur dengan senyum.
Anisa mengangguk dan mulai memilih sayur-sayuran yang ia butuhkan. Dari kejauhan, aku melihat beberapa pria mulai bergerak. Dua orang keluar dari permainan dan berjalan ke arah gerobak sayur. Dari jarak ini, aku bisa mendengar dialog mereka.
“Tahu susu berapaan, Bang?” tanya salah satu pria sambil melirik ke arah dada istriku.
“Ga jual tahu susu saya,” jawab tukang sayur.
“Terus itu apaan?”
Bapak tukang sayur itu memicingkan mata. “Mana?”
“Ini.” Pria itu menunjuk dada Anisa.
Aku terdiam menikmati tontonan ini. Anisa masih terlihat tenang, berusaha tidak terpengaruh oleh pelecehan itu. Dia lanjut belanja memilih sayur-sayuran dan mengabaikan pria tersebut. Ekspresinya tidak terlalu terlihat jelas dari jarak ini, tapi ku taksi Anisa sedang ketakutan saat ini, karena pria yang sedang menunjuk dadanya itu terlihat seperti preman. Penampilannya urakan dan memiliki banyak tato buram di tubuhnya.
“Itu mah susu tahu,” balas seorang pria gemuk yang berdiri di samping Anisa. Ia memakai jersey Manchester United.
Anisa hanya tersenyum canggung menanggapi dirty jokes mereka. Dari gelagatnya, ia terlihat kurang nyaman.
“Jadi berapa totalnya, Bang?”
Karena tampaknya ia buru-buru menyelesaikan urusannya. Aku pun segera pergi dari posisiku dan berjalan cepat menuju rumah sebelum ia menyadari keberadaanku.
***
Siang harinya, saat aku sedang duduk sambil menikmati kopi di teras rumah dinas, alias kontrakan petak. Dari arah jalan, seorang pria melangkah memasuki area kontrakan. Aku langsung mengangkat pandang, menatap pria gemuk dengan jersey Manchester United itu. Dia adalah salah satu pria yang menggoda Anisa pagi tadi di tukang sayur.
“Ngopi, Mas,” sapaku.
Ia tersenyum. “Sudah, Mas. Baru aja selesai ngopi-ngopi.”
“Ajak-ajak saya dong.”
“Nanti malam atau besok ikut aja, Mas. Sekalian kenalan sama warga lain,” balasnya.
Kami pun berkenalan. Rumah kontrakan yang ku tempati ini menempel dengan empat rumah lainnya. Pria gemuk ini tinggal persis di sebelah kanan rumah dinas yang ku tinggali, tepatnya menempel dengan kamar. Ia bernama Mang Ujang, fans MU garis keras. Aku juga bilang, kalau aku adalah dokter yang mulai besok bertugas di puskesmas desa.
“Ngomong-ngomong … yang belanja sayur tadi pagi itu—istrinya, Mas? Soalnya saya baru liat juga.”
Aku mengangguk sambil tersenyum. “Iya, itu istriku, Anisa namanya. Kenapa ya, Mang Ujang?”
Pria itu memberiku jempol. “Istrinya cantik banget, Pak Dokter. Saya ga bermaksud nguping, tapi karena dinding rumah saya sama Pak Dokter nempel, jadi saya denger semua.”
“Denger apa, Mang?” tanyaku.
“Saya denger pertempuran Pak Dokter sama istri semalem. Maaf, Dok, tapi suara istri Dokter cetar membahana. Saya sampe tegang dan bayangin. Sekali lagi maaf, Dok.”
Aku sedikit terkejut, tetapi juga tersenyum. “Maaf ya, kami ga sengaja ganggu Mang Ujang dan keluarga.”
Pria itu terkekeh. “Ganggu apa, Dok? Saya hidup sebatang kara, sudah cerai sama istri udah lama. Saya sih cuma anggap hiburan aja. Tapi jujur, desahan Bu Dokter kayak yang di film-film bokep, hehe.”
Aku menelan ludah, merasa gairah ku juga perlahan bangkit. “Oh, begitu. Maaf ya, kami akan berhati-hati nanti.”
“Sering-sering aja, Dok,” katanya dengan senyum nakal. “Saya sih seneng-senang aja dengernya, bikin tegang.”
Aku ikut terkekeh menimpali candaan tulus berbau nakalnya. Jiwa pamerku memberontak! Rasanya ingin sekali menunjukkan Anisa secara langsung padanya.
“Saya tinggal ya, Dok.”
“Oh, oke. Silakan,” balasku.
Pria itu masuk ke dalam rumahnya meninggalka
n ku dengan pikiran yang panas. Aku tersenyum menikmati sensasi ini. Aku berpikir bagaimana caranya memberikan pria-pria di desa ini sesuatu untuk diingat.
=================
[Hari yang Panas]
Hari pertama kami membuka puskesmas di Desa Sukamaju tiba. Puskesmas ini sudah siap dengan fasilitas dasar yang diperlukan.
Pagi ini, Anisa mengenakan blouse putih dibalut jas dokter dan rok hitam selutut.
Dedi sudah terlebih dahulu datang sebelum kami.
“Selamat pagi, Dokter Bayu, Dokter Anisa,” sapanya ramah.
“Selamat pagi, Dedi,” balas kami bersamaan.
Matanya langsung terpaku pada Anisa, terbidik ke bagian dada yang menonjol. Pria itu mencoba menyembunyikan tatapannya, tetapi bagiku, setiap lirikan terlihat jelas bagaimana dia ingin meremasnya kuat-kuat.
Dedi merupakan asisten di puskesmas ini. Tugasnya menerima pasien dan mengatur agar pemeriksaan berjalan lancar.
Kami mulai menerima pasien, dan tidak lama, ruangan konsultasi kami mulai ramai. Aku dan Anisa berada di ruangan yang berbeda. Jujur, aku penasaran bagaimana cara para pasien pria memandangnya.
***
Menuju siang, kondisi tak seramai yang kami bayangkan. Mungkin warga masih belum terbiasa dengan keberadaan puskesmas ini. Setelah beberapa pasien diperiksa, suasana mulai lengang.
Aku melirik jam dinding. Hampir pukul sepuluh. Karena bosan, aku keluar dari ruangan untuk mencari udara segar.
Sementara itu, dari balik pintu ruangan sebelah, suara samar-samar Anisa yang sedang berbicara dengan pasien masih terdengar.
Ku lihat Dedi sedang duduk bersandar sambil memainkan pulpen di jemarinya.
“Sepi, ya?” sapaku sambil duduk di kursi kosong dekatnya.
Dedi mengangguk, lalu menoleh padaku. “Iya, Dok. Tapi nggak apa-apa. Hari pertama, kan. Mungkin info tentang puskesmas belum neybar seutuhnya.”
Aku mengangguk pelan. Sekilas kulihat dia melirik ke arah pintu ruangan Anisa, lalu kembali menatapku.
“Dok,” katanya pelan, nadanya agak ragu. “Saya mau nanya sesuatu … tapi jangan dimarahin, ya.”
Aku menyipitkan mata, mencoba menebak arah pikirannya. “Tanya aja, Ded.”
Dia mendekat sedikit, lalu menurunkan volume suaranya. “Dokter kan bawa banyak obat dari Jakarta. Ada obat perangsang nggak?”
Alisku terangkat. “Obat perangsang? Maksudmu—”
“Iya, yang … bisa bikin gairah naik gitu. Saya cuma penasaran aja, sih. Cara kerjanya tuh gimana, Dok? Emang kalau dikonsumsi bisa bikin birahi naik gitu?”
Aku menghela napas pelan. “Secara medis, ada beberapa jenis obat yang emang bisa mempengaruhi gairah seksual, baik pria maupun wanita. Tapi kebanyakan itu bekerja lewat sistem saraf atau sirkulasi darah.”
“Jadi kayak Viagra gitu beneran bisa?”
“Viagra lebih ke aliran darah, khususnya buat membantu ereksi. Tapi itu bukan buat merangsang nafsu, lebih ke membantu fungsi tubuhnya. Kalau soal gairah, lebih rumit. Kadang dipengaruhi hormon, suasana hati, sometimes sugesti juga.”
Dedi mengangguk-angguk, tampak benar-benar menyimak.
“Kenapa nanya tentang obat perangsang?” tanyaku sambil bercanda.
Dia tertawa canggung. “Iseng aja, Dok.”
***
Setelah seharian bekerja, kami akhirnya selesai dengan pasien kami yang tidak terlalu ramai.
“Gimana, Beb? Hari pertama,” tanyaku sambil mengelus punggung Anisa.
“Lumayan. Orang-orang di sini banyak yang ramah juga. Seneng bisa bantu mereka,” jawab Anisa dengan senyum.
Setelah semua pasien pulang dan pintu puskesmas ditutup, kami duduk di ruang tunggu. Aroma antiseptik masih terasa samar di udara, bercampur dengan wangi kopi sachet yang Dedi seduh dari ruang belakang.
Anisa duduk di sampingku, membuka sedikit kancing atas blouse nya sambil mengipas lehernya dengan map kosong. Hari ini memang terasa gerah.
Tak lama, Dedi keluar dari dalam sambil membawa tiga gelas kopi plastik.
“Nih, buat lepas capek, Dok. Biar nggak cuma pasien yang dikasih resep, dokternya juga butuh racikan,” katanya sambil terkekeh.
“Kopi sachet mah bukan racikan, Ded,” kataku sambil tertawa, tetapi tetap menerima gelas dari tangannya.
Kami bertiga duduk bersama, Anisa berada di tengah-tengah aku dan Dedi. Suasana awalnya santai, sampai Dedi mulai mencairkan suasana dengan gaya khasnya yang ceplas-ceplos.
“Ngomong-ngomong, Dokter Anisa, dari tadi saya liatin … eh, maksud saya perhatiin, Ibu Dokter kayaknya butuh baju yang sirkulasinya lebih enak deh,” katanya sambil menunjuk ke arah leher Anisa yang berkeringat.
Anisa langsung menatapnya tajam. “Maksudnya, Ded?”
Dedi nyengir. “Ya … itu, kayaknya napasnya tertekan banget. Kancing atas udah ngalah, tuh. Takutnya yang lain nyusul copot satu-satu.”
Aku menatap wajah istriku yang agak risih dengan candaan pria itu, lalu merangkul bahunya mencoba meredam situasi.
“Emang gerah banget. Besok biar adem Dokter Anisa pake tanktop aja,” balasku sambil terkekeh.
Anisa mencubit pahaku. “Apaan sih, ga jelas!”
Dedi tertawa saat melihatku meringis kesakitan. Ia pamit dan kembali ke ruangan belakang. Sementara aku dan Anisa bangkit berdiri.
“Ayo, Beb. Pulang, yuk,” katanya.
“Ya udah, ayuk.”
Kami berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di depan puskesmas, meninggalkan bangunan kecil itu dalam remang senja yang mulai turun.
***
Malam harinya, setelah seharian bekerja di puskesmas, aku duduk tenang di teras rumah sambil menikmati segelas kopi panas. Kali ini kopi betulan dari biji yang digiling, bukan kopi sachet seperti buatan Dedi.
Suasana malam di desa ini sangat tenang, hanya ada terang bintang dan konser para serangga yang menghuni keheningan. Ketika sedang asik menikmati keheningan itu, terdengar suara langkah kaki dari rumah sebelah. Benar saja, Mang Ujang keluar dari pintu rumah tersebut, ia membawa gelas berisi kopi juga.
“Selamat malam, Mas Dokter,” sapanya dengan senyum ramah. “Saya lihat Mas Dokter ngopi sendirian aja, jadi saya mau temenin.”
“Waduh, makasih loh, Mang Ujang,” balasku.
Kami berdua duduk di teras, menikmati kopi dan obrolan santai. Aku membahas hari pertama kerja di puskesmas, bagaimana orang-orang di desa menerima kami, dan berbagai cerita tentang desa. Sekarang, obrolan kami beralih ke klub bola favorit kami.
“Mas Dokter, saya ini penggemar Manchester United garis keras,” kata Mang Ujang dengan senyum lebar. Ia dengan bangga memaerkan jersey butut yang ia kenakan.
“Kalau saya Liverpool,” balasku sambil tertawa. “Nanti kalau MU ketemu Liverpool, kita nobar, Mang.”
“Yakin, Mas?” tanya Mang Ujang sambil tertawa meledek. “Berani taruhan?”
“Yaaaa … liat aja nanti.”
Kami terus berbicara tentang klub bola, berbagi cerita tentang pemain favorit kami, dan membahas pertandingan-pertandingan menarik yang pernah kami lihat. Sekarang, Mata Mang Ujang mulai melirik ke pintu rumah ku.
“Ngomong-ngomong … Bu Dokter lagi ngapain, Mas? Kok jarang keliatan,,” tanyanya dengan senyum nakal.
“Coba minjem Hape Mang Ujang dong,” ucapku.
“Buat apa, Mas?” tanyanya heran.
“Udah minjem dulu, buruan.”
Mang Ujang mengambil Hape nya dari kantong celana. Aku tersenyum melihat ponsel pria itu. Meskipun jadul, tapi setidaknya ia punya kamera. Setelah ku ambil ponsel itu, aku beranjak bangkit dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Saat aku masuk, pintu kamar mandi terbuka. Anisa baru saja selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dililit handuk putih. Handuknya tidak terlalu besar, hanya sedikit menutupi paha atas dan banyak menampilkan belahan dadanya.
Dengan cepat, aku memotretnya diam-diam, sambil berpura-pura membalas chat. Ia juga tidak sadar kalau yang sedang ku pegang bukanlah ponsel milikku.
Setelah beberapa foto, aku kembali ke teras dan memberikan ponsel Mang Ujang dengan galeri terbuka. Mata Mang Ujang langsung membulat utuh saat melihat foto-foto Anisa nyaris bugil di hapenya.
“Ini Bu Dokter, Mas?” tanyanya. “Asu badane, Cuk!”
“Iya, itu Bu Dokter. Tadi Mang Ujang kan nanya istri saya lagi ngapain,” jawabku sambil tersenyum. “Dia baru selesai mandi.”
Mang Ujang terus menatap foto-foto itu penuh nafsu. Ku lihat ada tonjolan di selangkangannya.
“Dok, aku boleh simpan gambar-gambar ini?” tanya Mang Ujang.
“Buat masturbasi, Mang?” tanyaku sambil meledek.
Ia meneguk ludah, tak bisa mengelak. “I-iya, Dok. Biar kalau Mas Dokter sama Bu Dokter main malam-malam, saya ga cuma kebagian desahan Bu Dokter aja, Mas. Biar saya juga bisa bayangin.”
Aku tertawa geli. “Oke, boleh. Tapi jangan disebarin ke orang lain, ya? Sama jangan sampai Bu Dokter tahu.”
“Terima kasih, Mas Dokter. Saya pasti jaga foto-foto ini rapat-rapat,” ucap Mang Ujang dengan senyum lebar.
Kami berdua terus mengobrol sambil menikmati kopi kami, tetapi sekarang dengan nuanse yang sedikit berbeda. Arah obrolan kami sekarang lebih menjurus ke arah yang dewasa. Pada satu titik, aku mengambil ponselku sendiri dari saku dan membuka galeri foto.
“Mang, nih sekalian aja deh,” kataku, sambil memperlihatkan beberapa foto Anisa.
Aku mulai dari foto yang masih normal, waktu istriku memakai kaus longgar dan celana panjang. Lalu, perlahan, aku geser ke foto-foto lain yang lebih terbuka. Anisa dengan dress ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, hingga foto candid saat ia mengenakan lingerie tipis yang agak tembus pandang. Dan … darahku makin mendidih saat aku menunjukkan satu foto yang paling berani, yaitu saat Anisa tertidur pulas setelah pertempuran panas di ranjang. Akhirnya, ada laki-laki selain diriku yang pernah melihat tubuh Anisa tanpa sehelai benang, meski hanya dari balik layar kaca.
Mang Ujang menatap layar ponselku dengan mulut menganga. “Asu! Iki dokter opo lonte, Cuk!”
Aku terkekeh, lalu mematikan layar ponsel. “Udah, Mang, cukup lihatnya. Nanti kalau MU menang lawan Liverpool, saya kasih semua foto-foto tadi.”
Mang Ujang mengangguk penuh semangat. “Oke, Mas! Saya makin semangat nih. Saya pulang dulu ya, jadi mau nganu.”
“Nanti aja malem colinya,
Mang. Saya kasih bonus suara istri saya, pake aja.”
Mang Ujang tidak jadi pulang. Kami kembali menyeruput kopi, menikmati malam yang kini terasa lebih panas.
=================
[Bocah Polos]
Pagi itu, aku bangun lebih awal dari Anisa. Cahaya matahari baru saja menyelinap lewat celah-celah dinding papan rumah dinas kami. Aku melirik Anisa yang masih terlelap di ranjang reyot, rambut hitamnya terurai di bantal. Pikiranku langsung melayang ke rencana hari ini.
“Beb, aku duluan ke puskesmas, ya,” kataku sambil buru-buru meraih kunci mobil. “Ada urusan mendadak, harus cek inventaris alat.”
Anisa mengangguk sambil menguap, matanya masih setengah terpejam. “Iya, aku nyusul nanti. Kamu tolong kabarin si Dedi, minta tolong anterin aku ke puskesmas.”
“Oke, nanti aku kabarin si Dedi.”
Aku tersenyum kecil membayangkan Anisa naik motor berboncengan dengan Dedi. Namun, tak mau berlama-lama, aku mencium keningnya, lalu bergegas keluar.
Di dalam Pajero Sport, aku merogoh tas kecil di jok belakang. Di sana ada dua spy cam mini yang aku beli online sebelum berangkat ke Sukamaju. Kamera kecil itu dilengkapi dengan lensa sebesar kancing, lengkap dengan koneksi ke ponselku. Aku tahu ini gila, tapi jiwa pamer dan fantasi unikku ini tidak bisa dibendung. Aku ingin melihat Anisa dari sudut yang tidak biasa, apalagi di puskesmas yang penuh tatapan pria-pria desa.
***
Sesampainya di puskesmas, aku langsung menuju ruanganan konsultasi Anisa yang cuma berisi meja kayu, kursi plastik, dan ranjang periksa dengan kasur tipis. Dengan cepat, aku memasang satu spy cam di sudut plafon, tersembunyi di balik lampu neon yang agak longgar. Kamera kedua aku tempel di sela-sela rak obat, menghadap langsung ke ranjang periksa. Aku tes koneksinya lewat ponsel. Gambarnya jernih, suara pun juga jelas. Sempurna.
Setelah selesai, aku langsung pindah ke ruanganku sendiri, dan pura-pura sibuk membaca laporan.
Kurang lebih satu jam berlalu, suara motor butut Dedi terdengar dari luar. Aku melirik dari jendela kecil. Dedi sengaja ngerem mendadak sesaat ketika sampai. Tubuh Anisa otomatis terdorong maju. Dadanya yang penuh itu menempel erat ke punggung Dedi. Aku bisa lihat Anisa buru-buru mundur.
Hari ini Anisa memakai kemeja biru dan rok hitam selutut yang memperlihatkan paha mulusnya.
“Pagi, Dok,” sapa Dedi yang muncul di depan pintu ruanganku.
“Pagi, Ded,” balasku berusaha kalem meski pikiranku sudah liar membayangkan apa yang Dedi rasakan tadi. Mungkin, sedikit pegal di punggungnya mendadak sembuh terkena bantal susu istriku.
Anisa lewat begitu saja masuk ke ruangannya untuk bersiap-siap. Sementara aku pura-pura sibuk, tapi tanganku sudah gatal dan membuka aplikasi spy cam di ponsel tanpa suara. Layar menunjukkan Anisa yang sedang merapikan meja. Pada satu titik, ia diamsambil membuka kancing kedua dari atas karena gerah. Aku menelan ludah membayangkan bagaimana nanti reaksi pasiennya.
***
Pagi itu, puskesmas masih sepi seperti kemarin. Aku cuma dapat dua pasien dengan keluhan ringan seperti demam dan batuk. Anisa juga tidak terlalu sibuk, cuma memeriksa beberapa ibu-ibu yang bawa anak kecil. Menjelang siang, aku duduk di ruanganku dengan bosan. Belum ada pasien lagi. Aku iseng membuka aplikasi spy cam di ponsel, penasaran apa yang terjadi di ruangan Anisa.
Layar ponselku menunjukkan Anisa sedang memeriksa seorang pasien bocah laki-laki, mungkin kelas dua atau tiga SMP. Anak itu kurus dengan baju seragam yang agak lusuh. Ia duduk di ranjang periksa, wajahnya merah dan gelisah. Aku memasang earphone dan menaikan volume suara agar bisa mendenger percakapan mereka.
“Jadi, apa keluhannya, Dik?” tanya Anisa dengan suara lembut.
Bocah itu memandang ke bawah, tangannya memegang celana pendeknya dengan canggung. “Ehm … anu, Bu Dokter … batang saya … sakit.”
Anisa terdiam sejenak, alisnya sedikit terangkat. Aku bisa lihat dari kamera kalau wajahnya agak bingung, tapi dia berusaha tetap tenang. “Maksudnya … batang? Di bagian mana sakitnya?”
Bocah itu semakin gelagapan, wajahnya makin merah. “Ya … itu, Bu … di bawah. Sakit, kayak … keras gitu.”
Aku menahan tawa, tapi juga merasa suasana di ruangan itu tiba-tiba tegang. Anisa menarik napas dalam, jelas serba salah. Aku tahu dia dokter berpengalaman, tapi situasi seperti gini pasti membuatnya kurang nyaman, apalagi dengan pasien remaja yang tampaknya bingung sendiri.
“Ehm … oke,” ucap Anisa dengan suara tetap kalem meski ada nada ragu. “Kapan mulai sakitnya? Apa ada luka atau bengkak?”
Bocah itu menggeleng, matanya tak berani menatap Anisa. “Ga ada luka, Bu Dokter. Sebenernya, saya diare, tapi pas periksa di sini, ada penyakit lain pas liat Ibu Dokter.”
Aku hampir tersedak kopi yang lagi kuminum. Anisa membeku sejenak, tangannya yang memegang stetoskop berhenti bergerak. Wajahnya masih berusaha profesional, tapi aku bisa lihat dari spy cam kalau matanya melebar sedikit, mungkin agak kaget. Ia buru-buru berjalan ke mejanya, dan pura-pura menulis sesuatu di buku catatan.
“Dik … ehm, itu mungkin … reaksi tubuh yang normal, buka penyakit,” kata Anisa, suaranya agak terbata. “Bu Dokter buatkan resep untuk diarenya saja.”
Bocah itu mengangguk pelan, matanya sekarang mulai berani melirik ke arah Anisa, tepatnya ke tempat yang sedikit terbuka karena kancingnya lepas dua, ditambah posisi Anisa saat membungkuk tadi.
Aku tidak tahu harus tertawa atau cemburu. Di satu sisi, ini agak lucu. Di sisi lain, melihat Anisa dalam situasi canggung seperti itu gini membuat darahku panas.
“Oke, kalau cuma itu, kamu cukup istirahat aja dulu. Kalau masih sakit besok, balik lagi, ya,” jelas Anisa. Ia menulis resep obat, memberikan vitamin, dan saran agar banyak minum air putih.
Bocah itu mengangguk, lalu buru-buru bangun dari ranjang periksa. Ia berusaha menutupi bagian depan celananya dengan tangan. Anisa membuka pintu, dan mengantar bocah itu keluar dengan senyum kaku. Begitu pintu tertutup, aku lihat dari kamera dia menghela napas panjang, mengipas wajahnya yang merona karena gerah dan canggung.
***
Setelah momen canggung di ruangan Anisa selesai, aku memutuskan untuk keluar dari ruanganku. Pikiranku masih dipenuhi bayangan kalau Anisa digrap anak itu. Aku melangkah ke halaman depan puskesmas, berharap dapat udara segar sekaligus lihat apa bocah tadi masih ada di sekitar.
Di ujung halaman, dekat pohon kelapa yang condong ke samping, aku lihat dia berdiri sendirian. Bocah itu kecil, kurus, dengan kulit sawo matang yang agak mengilap karena keringat. Rambutnya cepak. Ada sedikit keringat yang menempel di dahi. Seragam SMP nya yang sedikit kekuningan dan celana pendek biru yang ia kenakan terlihat agak besar di tubuhnya yang mungil. Wajahnya polos. Nama dari catatan pasien yang kulihat sekilas di meja Anisa adalah Rudi.
“Sakit apa kamu?” sapaku sambil mendekat, berusaha santai agar anak itu tidak kaget.
Rudi menoleh. “E-eh, Pak Dokter,” balasnya tergagap, tangannya buru-buru menyembunyikan bagian depan celananya, meski sekarang kelihatan sudah tidak apa-apa.
Aku nyengir dan duduk di bangku kayu di dekatnya. “Kamu sakit apa? Kok grogi banget?”
Wajah Rudi langsung merah padam seperti tomat yang dijual di gerobak sayur kemarin. Dia menunduk, jari-jarinya memainkan ujung seragamnya. “A-anu, Pak … tadi saya diare, terus … burung saya sakit,” katanya pelan, nyaris tak terdengar.
Aku menahan tawa, tapi berusaha tetep serius. “Burung? Kamu pelihara burung? Ceritain aja, ga usah takut. Saya dokter, biasa denger penyakit macem-macem. Siapa tahu saya bisa bantu.”
Rudi melirik ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang lain di sekitar. Suaranya makin lirih.
“Ya … itu, Pak. Tadi waktu masuk ruang periksa, burung saya jadi keras gitu, tegang banget, sakit. Saya … saya baru pertama kali ngalamin gitu. Biasanya ga gitu, Pak. Saya takut, apa saya kena penyakit aneh?”
Aku mengangguk pura-pura serius, padahal dalam hati ngakak brutal. Bocah ini benar-benar polos.
“Oh, gitu. Jadi cuma diare sama sakit ngaceng doang? Pertama kali, ya? Ga apa-apa, Rud. Itu normal kok buat anak seumur kamu. Tubuh lagi belajar.”
Rudi mengangguk dengan tampang masih kebingungan. “Tapi … tadi pas ketemu Bu Dokter, kok makin … anu, keras, Pak. Saya malu banget, ga tahu kenapa jadi besar.”
Aku hampir tersedak, tapi buru-buru menutupinya dengan batuk kecil. “Haha, tenang aja. Itu cuma reaksi tubuh. Bu Dokter kan cantik, wajar aja kamu grogi,” kataku sambil nyengir, dan mencoba membuat ia rileks. “Tapi beneran, kalau masih sakit atau bingung, kapan-kapan mampir ke rumah Pak Dokter aja. Rumah Pak Dokter ada di ujung jalan ini, yang temboknya biru. Kita ngobrol santai, terus nanti sama Dokter Anisa coba diobatin. Itu kalo tegang kayak gitu harus ada yang dikeluarin biar lemes lagi. Bawa temen kalau mau, biar rame.”
Rudi mengangguk lagi, kali ini agak lebih tenang. “O-oke, Pak Dokter. Makasih.” Setelah itu, ia buru-buru pamit.
Aku balik ke dalam puskesmas dengan pikiran liar. Membayangkan Rudi yang polos itu mampir ke rumah saat Anisa sedang memakai baju dinas malamnya. Aku penasaran bagaimana reaksi bocah itu.
Siang itu, puskesmas makin sepi. Aku cuma dapat satu pasien lagi, bapak-bapak dengan keluhan pegal linu. Sementara itu, aku sempet membuka aplikasi spy cam lagi untuk memantau situasi di ruang sebelah. Anisa cuma duduk di ruangannya. Ia menulis laporan sambil mengipas wajahnya yang berkeringat.
=================
[Obat]
Malam itu, suasana di rumah dinas terasa lebih pengap dari biasanya. Angin laut tidak cukup untuk mengusir gerah. Aku duduk di sofa reyot ruang tamu hanya dengan kaus oblong dan celana pendek sambil bermain ponsel.
Anisa tadi bilang ia mau mandi dan ganti baju, mungkin capek setelah seharian di puskesmas. Sesekali, aku melamun jorok membayangkan istriku sendiri.
Tiba-tiba, ketukan pelan di pintu membuyarkan imajinasiku. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul delapan malam. Aku bangun, lalu melangkah ke pintu, dan membukanya perlahan.
Di depan pintu Rudi sudah berdiri. Wajahnya pucat. Keringat menetes di dahinya, dan ekspresinya terlihat panik. Tangannya memegang perut seperti orang yang sedang menahan sakit.
“P-Pak Dokter … tolong …,” katanya dengan suara gemetar dan napasnya tersengal. “Saya … sakit lagi … burung saya … makin parah, Dok!”
Aku menahan tawa saat melihat ia memegangi burung berbiji dua miliknya, ada rasa kasihan yang bersemayam dan ingin membantunya.
“Wah, masuk dulu, Rud, duduk sini,” kataku sambil membuka pintu lebar-lebar. “Tenang, ceritain pelan-pelan. Sakitnya kayak gimana?”
Rudi melangkah masuk dengan susah payah, jalannya agak pincang seperti orang yang takut merusak sesuatu di celananya. Ia duduk di ujung sofa, tangannya masih memegang perut dan bagian depan celana pendeknya.
“Dari sore tadi, Pak … keras banget, sakit. Kayak … kayak mau pecah gitu. Saya ga bisa duduk tenang, Pak. Diare saya udah mendingan, tapi ini … ini ga normal!” pekiknya.
Aku mengangguk dan berpura-pura serius. Bocah ini benar-benar polos. Ia baru pertama kali mengalami gairah pubertas dan panik seperti sedang terjangkit penyakit mematikan. Memang, di desa ini hampir semua wanitanya kurang menarik, baik paras maupun lekuk tubuhnya, wajar selama ini anak itu belum pernah ngaceng.
“Oke, tenang. Itu bukan penyakit aneh, cuma reaksi tubuh aja. Nanti Pak Dokter jelasin. Tunggu sebentar, ya, saya panggil Bu Dokter Anisa biar bantu cek.”
Rudi mengangguk dengan wajah pucat. Sementara itu, Aku menoleh ke arah kamar yang cuma dipisahkan oleh dinding papan tipis dari ruang tamu.
“Beb, sini deh,” panggilku agak keras, masih duduk di sebelah Rudi. “Sabar, ya, Rud. Bu Dokter sebentar lagi keluar.”
Rudi cuma mengangguk, napasnya masih tersengal. Aku hanya diam sambil membayangkan Anisa keluar tanpa tahu ada tamu yang sedang menunggunya.
Tidak lama berselang, pintu kamar terbuka. Anisa keluar, dan waktu ku lihat ia muncul dari balik pintu, aku hampir lupa bernapas. Malam ini ia mengenakan pakaian dinas berupa lingerie hitam yang tipis yang dan tembus pandang di bagian perut, dengan tali kecil yang menggantung di bahunya. Dadanya yang besar dan kencang terlihat jelas di balik renda, dan bagian bawah lingerie cuma sampai paha atas, menampilkan kaki jenjangnya yang mulus. Rambutnya masih agak basah, terurai di bahu. Wajahnya yang malam ini tanpa kacamata membuatnya kelihatan lebih liar dari biasanya.
Anisa belum sasar kalau ada tamu di rumah ini karena tidak memakai kacamata. Langkahnya santai menuju Bayu dengan tangan megang handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut.
“Kenapa Beb mangg—” Anisa berhenti di tengah kalimat. Matanya membulat utuh saat melihat Rudi duduk di sofa. “Astaghfirullah!” pekiknya pelan, sambul buru-buru menutupi dadanya dengan handuk kecil yang tidak cukup untuk menutupi apa-apa.
“Aaah! Bu Dokter! Sakit, Pak! Burung saya … mau pecah!” teriaknya, suaranya campur aduk antara panik dan putus asa. “Melihat tampilan Anisa malam ini membuat bocah itu makin menggila.”
Keringat bercucuran di dahinya, wajahnya merah menyala, dan badannya gemetar hebat. Celana pendeknya kelihatan menggembung di bagian tengahnya, membuatku tak tahu harus tertawa atau simpati.
Anisa yang tadinya sudah setengah langkah ingin kabur ke kamar, mendadak membeku di tempat.
“Bayu! Ini ada apaan sih?” pekiknya pelan, matanya melotot ke arahku dengan tampang malu bercampur kesal. Ia berbalik arah, hendak lari ke kamar untuk ganti baju.
Tapi, dengan jiwa pamer yang sudah menggila, buru-buru ku tarik tangannya.
“Beb, tunggu! Rudi lagi kesakitan, kamu harus bantu sekarang!” kataku dengan suara tegas. “Ini pasien kamu, kan? Kamu ga bisa ninggalin pasien gitu aja.”
Anisa menoleh, matanya menyipit
Ke arahku “Bayu, gila kamu! Aku kayak gini, masa suruh bantu?! Aku ganti baju dulu!” Tangannya masih berusaha menarik lengan dari genggamanku.
Rudi melirik ke arah Anisa, dan disitulah urat-uratnya makin menegang. “Aduh, Pak! Makin sakit!”
“Beb, serius, kontolnya udah kayaknya mau meledak, beneran kesakitan itu. Cuma kamu yang bisa tenangin dia sekarang,” desakku. “Kamu kan dokter profesional, ga usah malu. Rudi polos, dia ga bakal mikir aneh-aneh. Toh, dia masih kecil.”
Anisa menghela napas panjang, wajahnya merah padam, campuran antara kesel dan pasrah. Ia melirik Rudi yang sekarang sudah berhenti berguling-guling, tapi masih meringkuk di lantai. Tangannya megang celana seolah takut burungnya lepas.
“Kamu tahu kan, Beb?” bisik Anisa. “Dia itu cuma ngaceng.”
“Pertanyaannya, ngaceng gara-gara siapa?” tanyaku balik. “Udah, kocokin aja sebentar sampe lemes.”
Anisa terbelalak. “Kamu gila, ya?!”
“Dia masih kecil ini, ga apa-apa. Abis itu, kita kasih edukasi biar dia tahu harus apa kedepannya,” jawabku.
Anisa menghela napas berat. “Ya Tuhan … oke, oke, aku coba urus, meskipun itu bukan penyakit.”
Anisa membuang handuk kecilnya di sofa, lalu duduk di sebelah Rudi.
“Rudi, sini, duduk di sebelah Bu Dokter. Kita mulai proses pengobatannya,” ucap Anisa dengan nada lembut.
Rudi dengan wajah yang masih merah seperti kepiting rebus, pelan-pelan bangun dari lantai. Badannya gemetar, matanya tak berani menatap Anisa, tapi aku lihat ia diam-diam mengintip sekilas ke arah lingerie yang tembus pandang itu.
Bocah itu duduk di sebelah Anisa dengan jarak cuma setengah meter. Tangannya masih menutupi bagian depan celananya.
“S-sakit, Bu … dari sore tadi keras, sekarang … sekarang tambah parah,” katanya lirih. “Pas lihat Bu Dokter tadi … aduh, kayak mau meletus, Bu.”
Aku duduk di kursi plastik di seberang mereka. Anisa lagi-lagi menarik napas dalam, berusaha tetep profesional meski pakaiannya sama sekali tidak mendukung.
“Oke, tenang. Itu … itu bukan penyakit, ya. Itu cuma reaksi tubuh karena kamu lagi … ehm, masa pubertas,” katanya, “kamu ga perlu takut.”
Rudi mengangguk pelan. Matanya masih menunduk ke bawah, tak berani bertemu mata Anisa.
“Tapi … sakit banget, Bu. Harus diapain biar sembuh?” tanyanya.
Anisa melirikku, matanya penuh protes, tapi aku cuma nyengir dan mengangguk, seperti bilang, “Lanjutin, Beb.”
Dengan tangan gemetar, Anisa menyentuh celana pendek Rudi dan mulai membukanya perlahan.
Rudi meringis, wajahnya merah padam dan napasnya tersengal.
“Tenang, Rud. Sebentar lagi sembuh,” ucapku.
Anisa membuka celana Rudi dan melihat senjata pusaka yang sudah membesar dan berdiri tegak. Batang itu tampak dewasa, besar, dan berurat seperti Byakugan.
Rudi meringis lagi, tubuhnya bergemuruh karena perasaan yang campur aduk antara sakit dan nikmat.
Dengan inisiatif, aku memberikan istriku pelumas. Anisa mengambil pelumas itu dan melumasi batang Rudi dengan gerakan pelan. Rudi mendesah dan menjerit, entah sakit atau enak bercampur jadi satu.
“Ahhh, Bu Dokter … aduh, shhhh …,” ucap Rudi dengan suara gemetar.
Anisa melanjutkan gerakannya. Ia mengocok batang Rudi dengan perlahan dan berusaha tidak melihatnya. Suara desahan dan jeritan Rudi mengisi ruangan, dan membuat suasana menjadi lebih panas.
Karena ingin cepat berakhir, istriku mempercepat tempo kocokannya. Namun, batang itu tak kunjung meledak.
Aku menyadari bahwa tangan istriku mulai terasa pegal dari gerakannya yang mulai asal-asalan. Dengan inisiatif, aku bergerak ke belakangnya, lalu menarik pelan satu tali lingerienya.
“Ah!” pekek Anisa yang terkejut saat satu bongkahan dadanya menyembul keluar. “Bayu, kamu—”
Tiba-tiba, Anisa terdiam. Ia merasakan sesuatu bergerak di dadanya dan sontak menunduk untuk melihat apa yang terjadi di sana.
Ku lihat Anisa menatap tangan Rudi yang sedang meremas dan menggesek puting susunya maju mundur dengan jari telunjuk. Puting susu Anisa mulai mengeras akibat sentuhan Rudi tersebut.
“Ahhh~” Satu desahan Anisa tak sengaja lolos.
Rudi dengan mata terbuka lebar terpacu oleh respons Anisa. Ia meremas lebih kuat setelah mendapatkan power dari desahan istriku.
“Ahhh, Bu Dokter … aduh, saya pipissss! Uhhhhhh,” lenguh Rudi dengan suara penuh kepuasan.
Rudi mencapai puncak. Kontolnya meledak dan ledakan spermanya muncrat, sampai tumpah ke wajah dan dada Anisa, juga berceceran di lantai.
Rudi mendesah lega, tubuhnya menjadi lemah dan batangnya perlahan mulai lemas. Ia berbaring di lantai dengan dengan napas terengah-engah
Di sisi lain, Anisa dengan wajah merah padam dan napas tersengal, menatap ke bawah dan melihat puting susunya yang mengeras akibat permainan Rudi. Ia menutupi dadanya dengan tangan, lalu bangun dan pergi ke kamar mandi tanpa kata-kata.
Aku menatap Rudi yang sekarang tampak lebih tenang.
“Kamu bisa pulang, Rud. Kalo sakit lagi, kamu bisa kocok sendiri kayak tadi biar lemes,” ucapku. “Tapi kalo ga bisa, ke sini lagi aja, nanti dibantuin lagi sama Bu Dokter.”
“Oke, Pak Dokter.” Rudi mengangguk lalu berdiri dan pergi.
=================
[Warung]
Setelah puskesmas tutup, aku dan Anisa segera masuk ke mobil. Tanganku masih sedikit gemetar saat membayangkan momen tadi di ruangan Anisa tadi. Ada rasa cemburu yang singgah di dada, bercampur dengan rasa puas.
Di sampingku, Anisa duduk dengan kikuk. Matanya hanya berani menatap ke jendela, tangannya menarik-narik kemeja putih yang sekarang dikancing rapat. Jas putih dokternya ia peluk di pangkuan. Wajahnya merona, napasnya agak cepat, dan ia belum ngomong apa-apa sejak kami meninggalkan puskesmas.
Ku taksir ia merasa bersalah—mungkin karena kejadian dengan Dedi siang tadi, mungkin karena desahan yang lolos dari mulutnya tadi—tapi ia tidak cerita, dan aku pun tidak ingin bertanya. Suasana di mobil agak canggung sore ini.
“Kamu kenapa sih, Beb? Masih marah sama aku?” Aku melirik ke arahnya.
“Kamu siang tadi ngapain aja di ruangan?” tanya Anisa balik.
“Aku ketiduran gara-gara sepi. Kenapa?” Aku berbohong padanya.
“Enggak, pantes dipanggil ga nyaut-nyaut,” balasnya.
Aku tersenyum mendengar alasannya. “Ada apaan emangnya?”
“Gerah banget di puskesmas. Pasang AC atau beli kipas yang dingin dong,” katanya sambil tangannya ngipas-ngipas wajah. Aku paham, dari caranya bicara, Anisa sedang berusaha mengatur emosi.
“Kalo pasang AC ga mungkin, siapa yang mau bayar listrik? Orang warga desa aja pada susah,” balasku sambil tersenyum. “Nanti aku coba cariin kipas yang dinginnya kayak AC.”
“Beli beberapa, sekalian buat di ruangan kamu, sama ruang tunggu,” sahutnya.
“Beb, kita makan dulu yuk sebelum pulang. Aku laper banget,” kataku.
Anisa menoleh. “Makan di mana?”
“Iseng nanya Dedi, katanya ga jauh pasar ada warung nasi enak, rame.”
“Oh, ya udah,” jawabnya singkat.
Aku tersenyum. Sebenarnya, aku sudah pernah sekali pergi ke warung nasi kecil di pinggir jalan dekat pasar itu, tempatnya kelihatan kotor dan penuh pria-pria kasar. Aku merasa bahwa di tempat seperti itu akan ada cerita yang aku suka.
Anisa cuma mengangguk tanpa tau apa-apa.
***
Akhirnya kami sampai. Warung itu bener-bener kumuh. Hanya bangunan dengan papan dan atap seng karatan. Meja-meja dari kayu itu penuh noda minyak. Di depan, ada beberapa motor butut dan truk pasir parkir sembarangan. Di dalam, aku lihat ada beberapa pria. Mayoritas pelanggan di sini adalah sopir truk, kuli bangunan, preman pasar, dan mungkin beberapa tukang ojek. Mereka terlihat sedang duduk sambil mengunyah makanan. Beberapa di antaranya sedang ngerokok kretek. Bau asap rokok bercampur bau gorengan dan ikan asin cukup menyengat , tapi entah kenapa, itu malah membuatku semakin excited.
Anisa langsung melotot ke arahku. Ia sudah mengenakan jas putihnya kembali. “Bayu, serius? Ini tempat apa? Kayak sarang begal begini!” tanyanya lirih.
“Haha, Beb, ini warung nasi beneran. Mie di tempat kayak gini tuh yang paling enak di dunia tau! Rasanya beda,” kataku sambil tersenyum lebar. “Kamu mau pesen apa?”
Anisa menghela napas panjang, tangannya menarik roknya ke bawah. “Samain aja kayak kamu.”
Istriku terlihat pasrah karena sudah terlanjur masuk ke tempat ini. Matanya melirik ke arah para pria di tempat ini dengan penuh kekhawatiran.
Begitu kami masuk, suasana warung langsung berubah. Ada sekitar delapan pria di dalam. Kebanyakan hanya memakai kaus singlet kotor, kemeja lusuh, atau celana pendek penuh debu. Mereka berhenti mengunyah dan menghisap rokok. Mata mereka nyalang ke arah Anisa. Tatapan mereka seperti srigala liar yang baru saja menemukan mangsa. Ada yang melotot ke arah dada Anisa. Ada yang melirik ke paha mulusnya di balik rok, dan beberapa cuma menatap wajahnya.
Anisa terlihat sangat risih. Aku lihat ia menarik napas dalam, kancing kemejanya ia tutup rapat meskipun sangat gerah melebihi puskesmas. Keringat menetes di lehernya, membuat kain di tubuhnya nempel di kulit, memperjelas lekuk dadanya.
“Bayu, cepet pesen,” bisiknya dengan suara bergetar. Matanya sibuk melirik balik ke pria-pria yang mulai berbisik-bisik sambil tersenyum nakal ke arahnya.
“Duduk dulu, Beb,” kataku sambil menarik kursi plastik di meja sudut dekat jendela yang cuma ditutup kain usang. Aku pesan dua porsi mie instan dengan telor.
Hawa di warung ini sangat gerah, seperti berada di tengah-tengah kumpulan iblis penghuni nerasa. Tidak ada kipas. Satu-satunya angin di tempat ini, hanyalah angin dari udara yang panas di luar.
Aku berkeringat cukup banyak. Karena itu, ku buka jas dokterku dan menaruhnya di atas paha. Lalu, aku menatap ke arah Anisa. Ia masih bertahan dengan jasnya yang berfungsi sebagai tameng.
“Beb, kamu ga gerah apa? Buka aja jasnya kalo gerah,” ucapku.
Anisa akhirnya melepas jas yang ia kenakan dan memeluknya. Sekarang, ia hanya memakai kemeja putih lengan buntung yang entah sejak kapan sudah terbuka dua kancingnya, menampilkan kembali belahan dadanya dan kulit putih mulusnya yang kontras dengan suasana kumuh warung ini. Kemejanya agak ketat, membuat lekuk tubuhnya tercetak jelas, apalagi dengan keringat yang membuat kain itu nempel di kulit.
“Nah, lebih adem, kan, Beb?” kataku sambil tersenyum.
“Bayu, aku ga betah,” bisiknya.
Aku lihat satu sopir truk dengan kumis tebal berkaus singlet sedang menatap tajam pada Anisa. Temannya yang ku taksir adalah seorang kuli dengan tato burung di lengan tertawa kecil.
Anisa hanya menunduk saja, mulai ciut dan tak berani menatap mereka. Tangannya memegang garpu plastik dengan wajah merah padam.
“Mereka semua ngeliatin aku, Bay. Takut.” Suaranya penuh kekhawatiran.
Aku tau ia sudah sangat risih, apalagi dengan suasana warung yang kotor dan tatapan pria-pria yang terkesan menelanjangi. Tapi entah kenapa, aku senang melihat Anisa jadi pusat perhatian.
“Santai, Beb. Kan ada aku. Toh, mereka cuma mupeng, ga bakal berani apa-apa juga. Kamu kan cantik, wajar dong mereka ngeliatin,” kataku.
Bapak pemilik warung datang membawa dua mie instan pesanan kami. “Silakan, Pak Dokter, Bu Dokter,” katanya ramah.
“Makasih, Pak,” balasku ikut tersenyum ramah padanya.
Tiba-tiba, terbesit ide iseng di kepalaku. “Beb, aku ke toilet sebentar, ya.”
Aku berdiri dengan muka polos, dan mengukir ekspresi panik di wajah Anisa. Aku ingin melihat bagaimana caranya menghandle situasi seperti ini.
Anisa buru-buru menatap ke arahku, dan menarik tanganku. “Bayu, jangan! Aku ga mau sendirian di sini!” bisiknya dengan nada panik.
“Cuma semenit, Beb. Makan aja dulu, pesenannya kan udah dateng,” kataku sambil tersenyum, lalu melepaskan diri dan berjalan ke arah belakang warung, pura-pura menuju toilet.
Namun, sebenarnya, aku cuma sembunyi di sudut dekat dapur, mengintip dari celah dinding papan yang bolong. Jantungku berdegup kencang, campur antara tegang, cemburu, dan … ya Tuhan, rasa puas yang tak bisa kujelaskan.
Anisa duduk kaku di kursi dengan tangan megang garpu. Wajahnya merah padam, keringat menetes di dahinya. Sesekali, ia mengipas-ngipas wajah dengan tangan.
Tiba-tiba, dari arah depan warung, muncul sosok yang membuatku menelan ludah. Pria kekar, kulitnya gosong, ia memamai kaus singlet ketat dan celana jeans robek, dengan tato naga di leher dan gelang emas di tangan. Aku kenal wajahnya—preman pasar yang pernah menggoda Anisa beberapa waktu lalu saat ia beli sayur di dekat pos ojek. Pria itu menyeringai begitu melihat Anisa, matanya nyalang seperti baru menemukan harta karun.
“Oh, kamu dokter toh?” katanya dengan suaranya serak.
Ia berjalan santai ke arah meja istriku. Tanpa permisi, ia menarik kursi di sebelahnya—kursiku tadi—dan duduk dengan santai, lalu mengambil piring mie instanku yang masih setengah penuh.
“Wah, mie nya enak, ya, Dok?” Tanyanya sambil menyendok mie tanpa minta izin, matanya tak lepas-lepas dari belahan kemeja Anisa.
Anisa membelalak, badannya kaku, tangannya gemetar. Ia melakukan.
“I-iya, Pak … itu punya suami saya.”
Pria itu tampak celingak-celinguk. “Mana suaminya?”
“Lagi ke toilet sebentar,” jawab istriku dengan suaranya gemetar.
Ia berusaha sopan. Anisa hanya berani menunduk dan pura-pura fokus ke piring.
Aku meneguk ludah dari posisiku sekarang, jantungku berdegup kencang. Aku tegang melihat preman itu duduk di samping Anisa, tapi entah kenapa, ada rasa puas yang aneh bercampur di dada.
Preman itu tersenyum lebar sambil memandang Anisa dari atas ke bawah. “Dok, gerah banget, ya? Kancingnya kebuka gitu, panas kali di Sukamaju.” Ia tertawa kecil, lalu membentak ke arah dapur. “Pak, susu murni satu!”
Bapak pemilik warung muncul dengan tampang canggung. “E-eh, susu murni ga jual, Bang. Adanya susu kental manis.”
Preman itu nyengir, lalu menoleh ke Anisa dengan mata nakal. “Kalo gitu … susu nona manis aja deh,” katanya dengan suaranya genit, sambil menunjuk ke Anisa dengan dagu.
Anisa terkesiap, tangannya menarik kemeja lebih rapat, wajahnya merah padam, matanya tunduk.
Sopir truk dengan kumis tebal dan kuli bertato di meja sebelah tertawa keras. Seperti mendapatkan sinyal untuk merapat. Mereka menarik kursi lebih dekat ke meja Anisa, membuat istriku dikelilingi empat pria sekarang.
“Bener, Bang Baron, susu nona manis kayak gini jarang ada di Sukamaju,” kata sopir truk sambil nyengir lebar. matanya melotot ke belahan kemeja Anisa.
“Bu Dokter, minta susu buat kita dong,” ucap si pria bertato.
Mereka tertawa lagi. Nada mereka sangat sarkastik, dan penuh godaan.
Anisa hanya bisa diam sambil menunduk. Tangannya gemetar memegangi jas putih di pangkuannya. “Ehm … suami saya bentar lagi balik,” lirihnya. Matanya melirik ke arah belakang, seperti berharap aku muncul sekarang juga.
Pria-pria itu makin berani berbicara dengan nada yang makin sarkastik. “Susu kental manis kan kurang sehat, Dok. Kalo susu Dokter pasti sehat banget,” kata preman pasar itu, ia nyengir nakal dengan badan condong lebih dekat ke Anisa. Siku di meja cuma beberapa senti dari lengan istriku.
“Bener tuh, Dok. Kasih kita susu dong biar kita semua sehat wal afiat,” ujar seorang kuli. “Saya mah siap nampung paling banyak.”
Pria-pria di sana tertawa keras, me.buat suasana warung semakin tegang.
Aku dari tempat persembunyian hanya bisa nahan napas. Jantungku berdegup kencang. Aku tegang sekali melihat Anisa dikerubungi banyak pria seperti ini, apalagi dengan preman pasar yang jelas tidak takut apa-apa. Ada cemburu yang memukul di dada, tapi rasa puasnya lebih banyak.
Anisa akhirnya angkat muka. Ia tersenyum kaku, dan berusaha menjaga kendali. “Ehm … bapak-bapak, kalau mau minum, pesen aja sama bapak warung. Saya di sini cuma pelanggan yang mau makan. Saya juga ga jual susu, saya jualnya obat.” Meskipun agak gemetar, tapi nadanya tegas, dan itu membuatku bangga. Anisa memang wanita yang pintar, ia tahu cara menghandle situasi, meski aku tahu ia sangat ketakutan.
Preman pasar itu nyengir, lalu pura-pura angkat tangan. “Haha, bercanda, Dok. Jangan takut, kita kan cuma ngobrol,” katanya dengan mata yang masih nyalang ke belahan kemeja Anisa.
Sopir truk menimpali. “Bener, Dok. Bercanda doang kita mah.”
Aku tidak bisa meninggalkan Anisa terlalu lama. Aku keluar dari tempat persembunyian, lalu berjalan ke meja dengan muka polos, pura-pura baru balik dari toilet.
“Wah, lagi ngobrolin apa nih?” kataku.
Preman pasar itu langsung bangun dari duduknya. “Eh—Pak Dokter. Saya kira istri siapa ini makan di sini sendirian, jadi saya temenin. Maaf, Dok, tadi saya minta sedikit mie nya.”
Aku langsung duduk di kursi yang tadi didudukin preman pasar itu. “Ga apa-apa.”
Para pria itu perlahan membubarkan diri.
Anisa melirik ke arahku, matanya penuh protes, tapi ada rasa lega juga dari caranya memandangku.
“Kamu berak apa mandi sih? Lama banget!” bisiknya.
“Kenapa, Beb? Mereka ngapain tadi?” tanyaku, meski tahu persis apa yang terjadi.
Anisa mendengus. “Mereka ngomong macem-macem. Aku ga betah di desa ini, pokoknya aku ga mau ke tempat begini lagi, dan ga mau ditinggalin sendirian kayak tadi.”
“Haha, sorry, Beb. Mendadak sakit perut tadi aku, terus airnya abis. Santai aja, mereka paling cuma bercanda. Wajar digodain dikit mah, namanya cowok kampung liat cewek kota. Siapa yang bisa tahan liat cewek cantik, manis, kulitnya putih bersih, dadanya gede, pahanya mulus?”
Anisa mencubit lenganku. “Bisa gila aku tinggal lama-lama di sini. Pokoknya, aku ga mau ke tempat kayak gini lagi!” Ia buru-buru menyendok mie, ingin cepat selesai dan pergi dari tempat ini.
Aku hanya tertawa kecil, sambil ikut makan mie dengan santai.
***
Begitu selesai makan, Anisa langsung berdiri. “Ayo, pulang. Aku mau duluan ke mobil.”
Aku memberikannya kunci mobil, lalu membayar makanan. Setelah itu, aku buru-buru berjalan ke Pajero, diiringi tatapan pria-pria yang masih nyengir dari dalam warung.
“Besok-besok, kalo cari tempat makan tuh yang bener, yang normal-normal aja.” katanya dengan nada ketus.
Aku tersenyum. “Iya, iya.”
=================
Setelah sampai di rumah, Anisa turun dari mobil tanpa berkata apa-apa. Ia buru-buru masuk ke rumah seperti sedang menghindari tatapanku.
Di dalam rumah, suasana agak sepi dan canggung. Anisa langsung menaruh barang-barangnya di kursi, dan masuk ke kamar mandi tanpa bilang apa-apa.
Aku duduk di sofa sambil bermain ponsel dan membuka aplikasi spy cam untuk mengecek rekaman siang tadi di Puskesmas, meski aku sudah hafal kejaian setiap detiknya. Namun, begitu suara pintu kamar mandi terbuka, aku langsung menutup aplikasi tersebut dan menggantinya dengan aplikasi lain.
Anisa keluar dengan kaus oversize dan celana pendek, wajahnya sudah bersih dari makeup. Ia duduk di sofa agak jauh dariku sambil tangannya memainkan ujung kaus dan mata tertunduk. Suasana sangat canggung, seperti ada tembok tak terlihat di antara kami.
“Beb, kamu kenapa sih dari tadi? Masih kesel?” tanyaku.
Anisa menghela napas panjang. Tangannya berhenti memainkan kaus, tapi matanya masih menunduk. “Enggak kok, Beb,” katanya lirih. “Aku … aku cuma ngerasa bersalah banget sama kamu.”
“Bersalah? Bersalah kenapa, Beb?” tanyaku lembut. Ada rasa penasaran yang tak bisa ku hindari.
Anisa menoleh ke arahku, matanya sayu. “Tadi siang di puskesmas, aku … aku ga sengaja bikin situasi aneh sama Dedi.”
Aku pura-pura memicingkan mata, meskipun tau arah pembicarannya. “Aneh gimana?”
“Aku gerah banget, Beb, beneran. Kemejaku ku buka tiga kancing karena ga tahan panas, dan aku ga sadar Dedi masuk. Terus … ada kecoa terbang nemplok di dadaku. Karena panik, aku coba usir, tapi malah masuk ke baju.”
Ia berhenti sejenak. Wajahnya merona lebih merah.
Di sisi lain, Aku menahan napas, pura-pura bingung, meski ingatan tentang tangan Dedi di dalam kemeja istriku, dan jari-jarinya yang salah tangkap menangkap putingnya berputar di kepalaku. “Lanjut aja, Beb. Ceritain aja, aku ga bakal marah,” kataku sambil menarik badannya pelan agar ia lebih dekat.
Anisa menarik napas dalam. Tangannya memegang lenganku. “Aku takut banget, Beb, jadi aku suruh Dedi ambilin. Terus, tangannya masuk ke dalem kemejaku buat nyari kecoanya. Aku ga bisa mikir jernih tadi. Aku ngerasa kotor banget, Beb. Aku ngerasa ga setia sama kamu. Aku malu banget.”
Entah. Ada rasa kasian, tapi ada rasa puas juga saat Anisa yang anggun, yang berpendidikan tinggi, sekarang duduk di depanku dengan wajah penuh rasa bersalah, menceritakan momen yang membuatku terangsang sekaligus cemburu tadi siang. Aku menariknya ke pelukanku, lalu ku usap punggungnya pelan.
“Aku ga marah, lah. Kamu kan takut kecoa, wajar dong panik. Dedi cuma bantu doang, kan? Dia juga pasti ga ada niat macem-macem.”
“Tapi aku ngerasa salah, Beb. Aku ga mau kamu mikir kalo aku sengaja godain Dedi begitu.”
Tanganku mengusap rambutnya. “Beb, aku tau kamu ga sengaja. Lagian, aku ga cemburu kok. Aku yakin si Dedi juga serba salah. Kamu tau kan? Kalo pria-pria di desa ini pada mupeng sama kamu. Tadi di warung aja, mereka ngeliatin kamu buas banget kayak mau nelanjangin.”
Anisa mencubit pinggangku. “Bayu! Kamu seneng banget, ya, liat aku disituasi begitu? Aku takut tadi tau! Cowok yang kayak preman itu, dia juga pernah gangguin aku di tukang sayur, dan ngomongnya udah kelewatan!”
“Haha, sorry, Beb. Tapi seru, kan? Kamu bikin mereka ngimpiin kamu malem-malem, tapi tetep balik ke aku,” kataku sambil nyengir nakal dan menariknya lebih dekat sampai Anisa menyender di dadaku. “Soal Dedi santai aja. Besok kalo ketemu dia, kasih senyum kecil aja, biar ga canggung-canggung amat.”
“Iya,” jawabnya sinkgat.
***
Menjelang sore, puskesmas sudah sepi. Selesai menulis laporan harian, aku pergi ke ruangan Anisa dan mengajaknya pulang. Namun, Anisa bilang ia masih harus lembur sebentar lagi untuk menyelesaikan data pasien mingguan.
“Beb, aku duluan, ya? Ada urusan bentar di rumah Pak RT,” kataku sambil berdiri di pintu ruangannya.
Anisa menoleh dari mejanya, alisnya naik. “Terus aku pulang gimana?”
“Nanti aku jemput, tapi kalo pait-pait ga bisa jemput, aku minta tolong Dedi anterin aja ke rumah. Gimana?”
Ia tampak berpikir, tapi karena keadaan yang kepepet, Anisa pun meng-iyakannya.
“Oh iya, ini minum dulu biar seger, gerah banget hari ini.” Aku menaruh sebotol air mineral dingin di mejanya. “Beresin laporan santai aja, jangan buru-buru.”
Yang ia tidak tahu adalah, di dalam air itu sudah ku campuri semacam obat bius ringan eksperimenku sendiri. Efeknya menaikkan gairah seksual, meskipun tidak signifikan. Selain itu, obat tersebut membuat pengkonsumsinya mengantuk dan berhalusinasi tipis-tipis.
Anisa mengangguk tanpa tahu apa-apa. Ia membuka botol tersebut dan meminumnya. Setelah memastikan ia sudah meminumnya, aku pun pamit.
Di depan puskesmas, Dedi terlihat sedang merapikan kotak obat di gudang. Kausnya lepek berkeringat, menampilkan otot dadanya yang cukup kekar.
“Ded, jangan pulang dulu, ya. Dokter Anisa lembur sampe jam enam mungkin, temenin dia dulu biar ga sendirian. Dia takut setan soalnya,” kataku sambil terkekeh. “Saya pulang duluan, ada urusan sama RT. Nanti kalo pas dia mau pulang, saya ga ada di sini, kamu anterin pulang ya? Bisa?”
Dedi tersenyum lebar. “Siap, Dok. Saya temenin, dan ga bakal ninggalin Dokter Anisa sendirian.”
Aku mengangguk, lalu naik ke Pajero yang ku parkir di depan puskesmas. Aku memang pergi dari area puskesmas, tapi tidak ke rumah Pak RT. Aku buru-buru membeli camilan dan pulang ke rumah untuk menonton dari aplikasi spy cam di ponsel, siapa tau ada kejadian lagi. Toh, aku sudah membukakan pintu untuk Dedi dengan obat rahasiaku.
Sebelumnya juga, sudah ku pasang kamera di seluruh puskesmas selain di ruangan Anisa. Kini, seluruh area seperti ruanganku, koridor, sampai gudang sudah ku pasang semua. Jadi aku bisa melihat semuanya. Kupasang earphone, untuk mendengarkan jika ada dialog di antara mereka.
***
Setengah jam berlalu. Harusnya efek obat tersebut sudah mulai bereaksi. Aku duduk manis sambil memakan kacang rebus yang ku beli tadi di jalan. Dari layar ponsel, ku lihat Anisa masih di mejanya sedang menulis laporan. Dari gelagatnya, ia sudah mulai kelihatan gelisah.
Anisa yang mulai hari ini berkomitmen tidak mau membuka lebih dari satu kancing, mulai melepaskan kancing kedua kemejanya. Ia mulai tak tahan dengan gerahnya suhu ruang di tambah suhu tubuhnya sendiri. Tangannya mulai mengipas-ngipas wajah.
“Ya Tuhan, kenapa gerah banget sih sore-sore,” gerutunya pelan. Suaranya terdengar di earphoneku.
Ia berdiri dan melangkah ke jendela, lalu membuka lebih lebar jendela di ruangannya agar angin sore masuk, tapi tak ada efeknya.
Anisa balik ke meja, lalu meminum air dari botol tadi. Ia terlihat seperti sedang menahan sesuatu.
Tiba-tiba, Dedi masuk ke ruangannya membawa map kertas dan segelas air putih. “Dok, ini laporan stok obat yang tadi kurang. Saya bawa air juga buat dokter, biar ga dehidrasi.”
Ia berdiri dekat meja istriku dengan senyum lebar. Badannya condong sedikit ke depan, kaus ketatnya menyuguhkan otot dada dan lengannya yang kekar. Mata pemuda itu melirik ke leher Anisa yang berkeringat.
Anisa seperti orang salah tingkah. “E-eh, makasih, Ded. Taruh aja di situ.”
Ia melihat ke map kertas dan pura-pura fokus, tapi sesekali aku melihat matanya melirik ke arah tubuh Dedi yang kekar dan agak berkeringat, sehingga ada efek kilatan di kulitnya.
“Sekalian cek alat medis, Dok. Apa ada yang perlu dibantu? Kayaknya Dokter capek, mending istirahat sebentar,” kata Dedi lembut.
Ia taruh gelas air di atas meja Anisa. Tangannya bergerak pelan, seperti ingin badannya yang kekar di notice oleh istriku. Dedi menarik kursi di depan meja, lalu duduk tanpa permisi. Jaraknya cuma sepanjang meja dari Anisa.
Anisa mengangguk canggung. Wajahnya merah padam. Tangannya megangi botol air yang ku berikan, lalu meminumnya lagi dengan grogi.
“Dok, ngerasa ga sih beberapa hari ini panas banget?” tanya Dedi.
“Ini malah jendela udah dibuka, tapi tetep gerah,” balas Anisa.
“Buka aja kancing kemejanya dikit, Dok, biar ademan,” kata Dedi dengan nada agak genit, matanya melirik ke arah dada Anisa, berharap istriku menggunakan mode tiga kancing terbuka. “Kemarin kan Dokter juga gerah tuh, hehe.”
Anisa agak terkejut mendengar ucapan Dedi. Tangannya bergerak kikuk sampai menyenggol botol air di mejanya dan jatuh. Ia buru-buru menunduk untuk mengambilnya.
Di layar ponselku, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana Dedi menelan ludah, matanya terpaku pada celah kemeja Anisa yang terbuka sesaat. Senyum puas terukir di bibirku. Umpan sudah dimakan.
Anisa kembali duduk di kursinya, napasnya memburu seolah habis berlari. Wajahnya yang merah padam kini basah oleh keringat. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, matanya setengah terpejam. Efek obat itu tampaknya bekerja lebih cepat dan lebih kuat dari yang kuduga, bercampur dengan kelelahan dan hawa panas yang nyata.
“Dokter … Dokter beneran ga apa-apa?” suara Dedi terdengar lagi, kali ini lebih lembut dan lebih intim. Ia belum kembali ke kursinya, masih berdiri di dekat Anisa. “Muka Dokter pucet banget, tapi merah juga. Kayak lagi demam.”
Anisa menggeleng masih dengan mata terpejam. “Cuma kegerahan, Ded … panas banget ….”
Saat itulah, aku melihat Dedi membuat gerakan yang berani. Ia berjalan memutari meja, kini berdiri tepat di samping Anisa.
“Kalo emang gerah banget, buka aja kancingnya biar ademan dikit, Dok. Ga ada siapa-siapa kok, cuma kita berdua,” bisiknya. Nada genit dalam suaranya kini tak lagi disembunyikan.
Anisa membuka matanya perlahan. Tatapannya kosong dan bingung, seolah ia sedang mencoba memproses ucapan Dedi tapi otaknya tak mampu bekerja dengan benar. Ia menatap Dedi, lalu menunduk ke kemejanya sendiri. Tangannya yang gemetar terangkat, mencoba membuka kancing ketiga, tapi gagal. Jarinya terasa kaku.
“Sini, saya bantu,” kata Dedi, suaranya seperti sihir yang menghipnotis.
Aku menahan napas, mataku terpaku pada layar. Inilah momen yang kutunggu.
Tanpa menunggu persetujuan lagi, tangan Dedi yang kekar itu bergerak ke arah dada Anisa. Aku melihat Anisa sedikit tersentak, tapi ia tidak menolak. Ia hanya diam, pasrah, matanya menatap kosong ke depan. Jari-jari Dedi dengan ahli membuka kancing ketiga, lalu keempat.
Kemeja putih itu kini terbuka lebar, memperlihatkan gundukan dada Anisa yang terbungkus BH merah muda. Keringat membasahi belahan dadanya, membuatnya berkilau.
“Nah, gini kan lebih adem,” bisik Dedi. Tangannya tidak langsung menjauh. Punggung tangannya dengan sengaja menyapu kulit dada Anisa yang hangat dan basah.
“Shhhh ….”
Anisa mendesah pelan. Bukan desahan penolakan, tapi desahan lega karena udara akhirnya menyentuh kulitnya yang panas. Atau mungkin … desahan lain. Obat itu mulai memainkan perannya, mengubah rasa panas menjadi gairah yang membara.
“Masih panas, Dok?” tanya Dedi lagi, kini ia berjongkok di samping kursi Anisa, menyamakan tinggi wajahnya. Matanya tak lepas dari pemandangan di depannya. “Mau saya kipasin?”
Anisa hanya mengangguk pelan, seperti boneka yang kehilangan kendali. Pikirannya sudah terlalu kabur untuk melawan atau bahkan merasa malu. Yang ia rasakan hanyalah panas yang membakar dan kebingungan yang luar biasa.
Dedi tidak mengambil kipas. Sebaliknya, ia meniup pelan ke arah dada Anisa. “Gini?” tanyanya.
Anisa kembali mengangguk, matanya terpejam lagi.
Jantungku berdebar kencang. Ini lebih baik dari dugaanku. Anisa, istriku yang cerdas dan anggun, kini luluh tak berdaya di bawah pengaruh obatku dan sentuhan pria lain. Rasa cemburuku bercampur dengan rasa puas yang aneh, menciptakan koktail emosi yang memabukkan.
Dedi melihat Anisa yang sudah tak berdaya. Ia tersenyum licik. Tangannya yang tadi hanya menyapu, kini bergerak lebih berani. Ibu jarinya mulai mengusap lembut tepian BH Anisa, tepat di atas belahan dadanya.
“Dokter capek banget, ya?” bisiknya lagi, suaranya serak menahan nafsu. “Kalo saya pijit dikit di sini, mungkin bisa lebih rileks ….”
Tangannya mulai merayap pelan, tak lagi berpura-pura membantu mendinginkan, tapi murni menjelajah.
Anisa dalam kabut halusinasinya, tidak melakukan apa pun untuk menghentikan lelaki itu.
Aku membuka celana dan mengambil minyak zaitun. Ku lumasi senjataku yang sudah keras membatu. Malam ini, Dedi akan menjadi aktor dalam fantasiku, dan istriku yang tercinta adalah bintang utamanya. Dan aku adalah sang sutradara, akan menikmati pertunjukan ini dari kursi terdepan.
=================
Di layar ponselku, aku menjadi penonton tunggal dari drama paling intim dan terlarang yang pernah kubayangkan. Napasku tercekat di tenggorokan, campuran aneh antara amarah, cemburu, dan gairah yang tak tertahankan memompa adrenalin ke seluruh tubuhku.
Tangan Dedi yang mulanya hanya mengusap, kini bergerak dengan tujuan yang lebih tegas. Jarinya menyelinap di bawah tali bra Anisa, lalu dengan gerakan pelan, tangannya melingkar ke punggung istriku. Aku mendengar bunyi klik pelan saat pengait BH itu terlepas. BH merah muda itu melorot, tak lagi menopang apa pun. Untuk sesaat, kemeja putih yang terbuka itu masih menyembunyikan pemandangan utama, tapi itu tidak berlangsung lama.
Dedi menarik kedua sisi kemeja Anisa, membukanya sepenuhnya seperti tirai panggung. Di sanalah, terpampang sepasang gundukan padat dan indah milik istriku. Puncaknya yang berwarna merah muda menegang, mungkin karena sentuhan udara dingin, atau mungkin karena efek obat yang membakar tubuhnya dari dalam.
“Dokter … persis sama kayak yang ada di bayangan saya,” bisik Dedi penuh nafsu.
Ia menundukkan wajahnya, dan aku menyaksikan dengan mata terbelalak saat bibirnya menyentuh kulit dada Anisa.
“Ahhhh ….”
Anisa tersentak. Sebuah lenguhan rendah dan panjang lolos dari bibirnya. Itu bukan suara penolakan. Itu adalah suara seseorang yang tenggelam dalam sensasi, yang otaknya terlalu kabur untuk membedakan benar dan salah, yang tubuhnya hanya merespons rangsangan murni. Tangannya yang lemas mencoba meraih sesuatu, tapi akhirnya ia menjambak kepala pemuda yang sedang menyusu padanya.
Aku menggertakkan gigiku. Pegawai rendahan di puskesmas tempat kami bekerja, sekarang sedang mencicipi apa yang menjadi milikku. Tapi rasa marah itu dengan cepat tergantikan oleh kepuasan yang bengkok. Ini semua rencanaku.
Anisa mungkin mengira ini adalah mimpi atau halusinasi. Ia merespons sentuhan itu, tubuhnya mengkhianatinya, dan aku adalah satu-satunya saksi yang tahu kebenarannya.
Dedi sepertinya menyadari bahwa kursinya tidak cukup strategis. Ia bangkit, lalu dengan mudah mengangkat tubuh Anisa yang lunglai. Istriku tidak melawan. Ia hanya menyandarkan kepalanya yang berat di bahu Dedi dengan mata terpejam.
“Biar lebih nyaman, Dok,” gumam Dedi, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Ia tidak membawa Anisa ke ranjang periksa. Dedi membaringkannya di atas meja kerja. Laporan-laporan pasien tersingkir begitu saja saat punggung Anisa menyentuh permukaan kayu yang dingin. Posisinya kini sempurna, terekspos sepenuhnya di bawah tatapan kamera pengintipku.
Dari sudut pandangku di layar ponsel, pemandangannya luar biasa. Anisa terbaring pasrah dengan kemeja yang terbuka lebar. Dedi berdiri di antara kedua kakinya, tatapannya sangat buas. Ia tidak membuang waktu.
Aku mencondongkan tubuh lebih dekat ke layar ponsel, volume di earphone ku naikkan hingga maksimal. Aku tidak mau ketinggalan satu detik atau satu desahan pun.
Di atas meja, Dedi tidak lagi menahan diri. Tangannya yang kasar bergerak ke bawah, menelusuri lekuk pinggang Anisa, lalu berhenti tepat di pusat kewanitaannya yang masih tertutup rok. Ia meremasnya pelan dari luar kain.
Lewat earphone, aku mendengar Anisa melenguh. “Nngghh ….”
Kakinya yang tadi diam kini bergerak gelisah, pahanya sedikit terbuka secara refleks.
“Udah basah banget ya, Dok?” bisik Dedi, suaranya terdengar jelas. Ia menyingkap rok kerja Anisa dengan satu gerakan, dan memperlihatkan celana dalam renda tipis yang membalut area intimnya. Kain itu sudah tampak basah dan melekat di kulitnya. “Dokter pengen, kan?”
Anisa menggeleng lemah, tapi tubuhnya berkata lain. Pinggulnya sedikit terangkat ke arah tangan Dedi.
“Bayu…?” lirihnya, suaranya dipenuhi kabut kebingungan.
Ia pasti berhalusinasi, mengira pria yang menyentuhnya adalah aku. Rasa puas yang kejam menjalari diriku. Ia memikirkanku, saat tubuhnya dinikmati pria lain atas rencanaku.
Dedi terkekeh pelan mendengar nama suaminya disebut. Itu seolah menjadi lampu hijau baginya. Tanpa ragu, ia menyibak celana dalam Anisa ke samping, jarinya langsung mengobok-obok lubang kewanitaan istriku yang sudah basah lincin.
“Aahh!” Anisa mendesah saat jari Dedi mulai bermain di sana. Tubuhnya menegang. “Ja-jangan … ahh… jangaaan …”
“Enak ya, Dok?” Dedi terus menggodanya, gerakannya semakin berani dan ritmis.
Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh istriku menggeliat di atas meja. Tangannya yang lemas kini mencengkeram tepi meja kayu dengan erat. Setiap lenguhan dan rintihan Anisa adalah musik di telingaku. Itu adalah suara kekalahannya, suara penyerahan dirinya pada hasrat yang bukan untukku.
Setelah memastikan Anisa benar-benar tak berdaya dan terbuai dalam kabut nafsunya, Dedi mundur sejenak untuk melepaskan celananya. Dalam sekejap, kejantanannya yang tegang dan siap tempur terpampang di depan kamera. Ia kembali memposisikan dirinya di antara kedua paha Anisa yang sudah terbuka lebar.
“Shhhhh … ahhh … udaaah.”
Anisa mencengkeram lemah tangan Dedi saat kepala penis pria itu menempel dan menggesek bibir vaginanya.
Dedi membungkuk dan berkata tepat di telinga Anisa. “Saya masuk ya, Dok ….”
Sebelum Anisa sempat memproses kata-kata itu, Dedi sudah mendorong barangnya masuk.
“AAAAHHH!” Pekikan Anisa lebih keras dari sebelumnya. Itu bukan teriakan kesakitan, tapi pekikan keterkejutan yang bercampur dengan kenikmatan terlarang. Matanya yang sayu kini terbuka lebar, punggungnya melengkung dari atas meja.
Dedi tidak memberinya waktu untuk beradaptasi. Ia langsung memulai gerakannya, menghunjam masuk dan keluar dengan ritme yang kuat dan crpat. Meja kayu itu berderit pelan mengikuti setiap gempuran.
“Ahh … Dedi… nngghh … ahh … ampuuun!”
Nama pria itu akhirnya keluar dari bibir istriku, bercampur dengan desahan putus-asa. Ia tidak lagi menyebut namaku. Ia tahu siapa yang ada di atasnya sekarang, dan tubuhnya menerimanya.
Aku menyaksikan semuanya. Rambut Anisa yang acak-acakan menempel di dahinya yang berkeringat. Dadanya yang telanjang naik turun dengan cepat seiring napasnya yang memburu.
Dedi berada di atas istriku, menunggangi Anisa dengan liar, wajahnya dipenuhi ekspresi kemenangan.
“Ohh … Anisa … kamu enak … nnggh … sempit banget…” erang Dedi sambil mempercepat temponya. “Memek dokter emang sehat banget.”
“Dediiii … ahh … ampun … nnhgh …” balas Anisa tanpa sadar, didorong oleh insting murni dan efek obat yang membakar akal sehatnya.
Ritme gerakan Dedi semakin menggila. Suara kulit mereka yang beradu, lenguhan Anisa yang semakin tak terkendali, dan erangan berat Dedi menciptakan simfoni liar di earphone-ku.
“Dedi! Dedi! Ahhh … aku mau keluaaar ….”
Puncaknya sudah dekat. Aku bisa merasakannya.
“Dok … Anisa …,” desahnya, suaranya bergetar menahan gejolak. “Enak banget … aku … aku juga mau keluar ….”
“Ahhhh … ahhhh ….”
Anisa hanya bisa merintih, tubuhnya bergetar hebat di bawah Dedi.
Dedi menatap wajah Anisa yang basah oleh keringat. “Aku keluar di dalem, ya? Boleh?”
Anisa tidak menjawab dengan kata-kata. Pikirannya sudah terlalu hancur. Sebagai gantinya, ia melenguh panjang dan putus asa, “Nggghhhhhhhhh…”, sambil menganggukkan kepalanya pelan. Kakinya yang lemas justru mengunci lebih erat di pinggang Dedi, seolah menarik pria itu lebih dalam.
Itu adalah jawaban yang Dedi butuhkan.
Dengan satu erangan terakhir yang keras, Dedi menghunjamkan pinggulnya dalam-dalam. Aku melihat seluruh tubuhnya menegang hebat.
“Ahh … Dok! Ahhh … aku keluar, Dok … ahhhhh, Anisaaaaakuuuu ….”
“Dediiii! Uhhhhhhhhh ….” Anisa memeluk erat tubuh Dedi saat ia dibuat orgasme hebat.
Dengan napas terengah-engah, Dedi ambruk di atas Anisa.
Pertunjukan telah berakhir. Di layarku, Dedi perlahan bangkit, merapikan dirinya, dan meninggalkan Anisa yang terbaring tak berdaya di atas meja, menjadi bukti bisu dari perselingkuhan yang telah aku sutradarai. Saatnya aku berperan sebagai suami yang baik dan menjemputnya pulang.
***
Perjalanan singkat menuju puskesmas terasa seperti perjalanan seorang pemenang menuju pialanya. Aku memarkir mobil persis di depan pintu, seolah-olah aku terburu-buru. Langkahku cepat menyusuri koridor yang sepi dan remang-remang, langsung menuju ruangan Anisa.
Pintu ruangannya sedikit terbuka. Aku mendorongnya pelan. Pemandangan di dalam membuat seringai tipis nyaris terbit di bibirku, namun dengan cepat kutekan.
Anisa dan Dedi duduk berhadapan, dipisahkan oleh meja. Di atas meja, ada dua bungkus nasi padang yang sudah setengah dimakan. Meja kerja itu kini tampak rapi, seolah tak pernah terjadi apa-apa di atasnya.
Anisa sudah kembali mengenakan kemejanya dengan benar, kancingnya terpasang rapi hingga ke leher. Wajahnya pucat dan rambutnya sedikit berantakan, tapi sekilas ia tampak seperti dokter yang kelelahan setelah lembur.
Dedi juga sudah berpakaian lengkap. Ia duduk dengan santai sambil menyuap nasi dengan tangannya. Suasana itu begitu normal, hingga terasa sangat tidak nyata.
Melihat kedatanganku, Dedi yang pertama kali menyapa. Ia menyeringai.
“Eh, Dok. Saya pikir ga jadi jemput. Niatnya abis ini saya mau anterin dokter Anisa pulang.”
Aku membalas dengan senyum yang ku usahakan terlihat tulus. “Wah, kebetulan banget. Baru kelar urusan. Makasih lho, Ded, udah nemenin Anisa. Jadi ga enak ngerepotin.” Mataku melirik Anisa yang tampak sudah sangat lemas.
Aku segera menghampirinya. “Kamu kenapa, Sayang? Pucet banget mukamu.”
Anisa menggeleng pelan. “Ga apa-apa kok.”
Aku menempelkan punggung tanganku ke dahinya. “Ga panas sih. Kamu kecapean, ya?”
Anisa mengangguk lemah. Ia menyandarkan kepalanya sejenak di bahuku. “Iya, Mas. Tadi tiba-tiba kepala pusing banget, kayak mau pingsan.”
Pandanganku tanpa sadar jatuh ke meja kerjanya yang bersih. Tatapan mataku bertemu dengan tatapan Dedi sesekian detik. Di mata pemuda itu, aku melihat kilatan kemenangan dan sedikit arogansi yang tersembunyi. Ia pasti merasa telah menaklukkan istri atasan sementaranya. Ia tidak tahu bahwa ia hanyalah aktor dalam sandiwaraku.
“Untung ada saya tadi, Dok,” Dedi menyambung, seolah ingin menegaskan perannya sebagai pahlawan. “Dokter Anisa tiba-tiba lemes banget pas mau pulang. Makanya saya beliin nasi dulu, takutnya masuk angin.”
“Oh, gitu ya? Wah, makasih banyak ya, Ded. Perhatian banget kamu sama istri saya,” kataku, penekananku pada kata ‘istri saya’ kubuat sehalus mungkin. Aku merangkul pinggang Anisa dengan posesif. “Ya udah, yuk kita pulang, Sayang. Kamu butuh istirahat.”
Anisa hanya bisa mengangguk pasrah dalam pelukanku.
“Biar saya beresin dulu ini, Dok,” kata Dedi sambil menunjuk bungkus nasi yang tersisa.
“Sekali lagi, makasih banyak bantuannya ya, Ded,” ujarku dengan nada yang ramah.
“Siap, Dok. Sama-sama,” jawab Dedi, bangkit dari kursinya. Ia menatap Anisa sejenak. “Cepet sembuh ya, Dok.”
Anisa tak merespons pemuda itu.
Aku menuntun Anisa keluar dari ruangan itu, meninggalkan Dedi sendirian dengan sisa-sisa pesta mereka.
Sepanjang jalan menuju mobil, Anisa bersandar erat padaku, tubuhnya terasa begitu rapuh. Aroma parfum Dedi yang samar-samar tercium dari pakaiannya menjadi bukti nyata.
Di dalam mobil, ia langsung menyandarkan kepalanya ke jendela sambil memejamkan matanya.
“Tadi Dedi baik, kan?” tanyaku pelan sambil menyalakan mesin.
Ia mengangguk tanpa membuka mata. “Baik … dia banyak ngebantu … aku tadi tiba-tiba pusing banget, ga inget apa-apa. Rasanya kayak mimpi aneh.”
Aku tersenyum dalam kegelapan mobil. “Mimpi, ya? Yaudah, sekarang tidur aja. Nanti di rumah aku buatin teh anget.”
Anisa tidak menjawab, napasnya mulai teratur. Ia tertidur, atau mungkin pingsan karena kelelahan, mencari perlindungan dalam ketidaksadaran. Ia tidak tahu bahwa pria yang duduk di sebelahnya, yang seharusnya menjadi pelindungnya, adalah iblis yang mengatur mimpi buruk terindahnya.
Aku menyetir dengan tenang. Di ponselku, tersimpan video berdurasi tiga puluh tujuh menit yang akan menjadi harta karunku. Malam ini baru permulaan. Dan aku akan menikmati setiap detiknya.
=================
[Kopi Susu]
Aku baru saja turun dari mobil sambil menggendong Anisa yang terlelap di pelukanku. Saat aku berjalan mendekati rumah, aku melihat Mang Ujang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
“Dok! Baru pulang? Ayo, ngopi dulu di sini,” ajak Mang Ujang dengan senyum lebar.
Aku membalas senyumnya. “Sebentar, Mang. Saya tidurin istri dulu.”
Mang Ujang terkekeh. “Nanti malem aja tidurinnya, biar saya bisa sambil ….” Tangannya memperagakan gerakan mengocok.
“Ngewek itu mah, Mang,” balasku. “Ini mah mau ditaro doang.”
“Oh, ya udah. Saya tunggu di sini ya, Dok.”
Sambil menggendong Anisa, ku buka kunci dan membukanya. Ku letakan Anisa di sofa ruang tamu.
“Beb, pindah dalem gih.” Aku menggoyangkan tubuh Anisa, tapi ia tak bergerak seolah tenggelam terlalu dalam pada tidurnya. “Nis, bangun dulu. Pindah dalem yuk.”
Namun, tak ada respons. Ia hanya tidur saja sambil sesekali mendengkur kecil. Melihat itu, aku iseng meremas bongkahan dadanya agak keras. “Beb.”
Karena masih begitu saja, aku tersenyum sambil melongok ke arah pintu. Tidak ada siapa pun, tapi akan ada.
Ku pereteli dua kancing kemeja Anisa sehingga total ada tiga kancing yang terbuka. Ternyata, di kulit kenyal itu ada beberapa bercak merah yang tak ku kenal. Sepertinya itu adalah bekas cupangan Dedi tadi di Puskesmas. BH pink nya masih terpakai rapi menutupi gundukan itu.
Setelah itu, aku berjalan ke depan dan menoleh ke rumah sebelah. Mang Dedi masih di sana sambil menatap layar ponsel jadulnya.
“Mang, mampir sini aja, ngopi du rumah saya. Takut masuk angin saya ngopi di luar kalo baru pulang kerja,” ucapku.
Mang Ujang mengangguk dan berjalan ke arahku. Matanya langsung melongok ke dalam. Ku lihat ia meneguk ludah, jelas karena melihat istriku yang tertidur di sofa dengan kemeja terbuka sedikit di bagian atas, menonjolkan belahan dada, lekuk leher, dan bahunya yang lembut.
“Kenapa, Mang?” tanyaku membuyarkan lamunannya.
“Istrinya ga tidur di kamar aja, Dok?” tanyanya.
“Di dalem gerah, jadi sementara di situ aja dulu.” Aku tersenyum. “Udah, ayo masuk aja dulu, Mang. Saya buatkan kopi dulu.”
“Wah, Bu Dokter kayaknya capek banget, ya?” ucap Mang Ujang yang sedang berdiri memandangi Anisa.
“Iya, Mang. Seharian di klinik, mana gerah lagi kliniknya.”
Ia tak jauhh dari pintu, sehingga bisa leluasa memandangi Anisa.
Aku berjalan ke dapur untuk membuat kopi, sengaja memberi Mang Ujang ruang untuk mengamati Anisa sejenak.
***
Saat aku kembali dengan dua cangkir kopi, Mang Ujang masih tampak grogi.
“Nih, Mang, kopinya.” Aku memberikannya secangkir kopi.
“Makasih, Dok.”
Ia menyeruput kopinya, lalu berkata. “Dok, jujur ya, Dokter Anisa ini … luar biasa.”
“Luar biasa gimana tuh, Mang?” tanyaku penasaran.
“Maksud saya, dia ga cuma pinter dan cantik, tapi … ya Tuhan, maaf, tapi penampilannya bener-bener anggun. Apalagi, eh, posturnya … maksud saya, Bu Dokter ini kelihatan sehat dan … menawan banget, lah.” Mang Ujang tergelak canggung, wajahnya semakin merah. “Pokoknya, Pak Dokter beruntung banget punya istri kayak gitu.”
Aku terkekeh dengan dada membusung karena pujian itu. “Haha, iya, Mang. Anisa emang ga ada duanya. Cantik, pinter, dan punya badan sexy. Saya aja tiap hari masih suka kagum lihat dia.” Aku melirik Anisa yang masih terlelap, tak terganggu oleh obrolan kami. “Istri terbaiklah dia itu. Di luar atau di atas ranjang.”
Mang Ujang mengangguk, matanya kembali melirik Anisa sejenak sebelum buru-buru menunduk ke cangkirnya. “Bener, Pak Dokter. Dokter Anisa ini … wah, kayak paket lengkap. Cantik, anggun, dan ya … pokoknya Pak Dokter beruntung banget, dah.” Ia tersenyum dan mencoba menutupi kecanggungannya dengan menyeruput kopi lagi.
Setelah itu, kami mengobrol sebentar tentang pekerjaan di klinik dan urusan sehari-hari, tapi aku sengaja menyelipkan cerita tentang Anisa setiap ada kesempatan.
Setelah beberapa menit, aku merasa Anisa mulai menunjukan gerak-gerik. Aku mencoba membangunkannya lagi, tetapi ia tetap terlelap. Efek obat dan kelelahan membuatnya terlalu deep sleep dan susah dibangunkan.
“Beb, sayang, Anisa, bangun dulu,” bisikku pelan sambil mengusap wajahnya. Tapi ia hanya menggumam kecil dan masih terlelap.
Mang Ujang tertawa kecil. “Wah, Dokter Anisa kecapekan banget kayaknya, ya. Biarin dulu aja, Dok, biar istirahat. Dokter sih, malem-malem di tusuk-tusuk istrinya, jadi capek kan tuh.”
Aku tertawa saat ucapan Mang Ujang mulai terdengar berani. “Ngomong-ngomong, Mang, mau pake susu ga? Biar jadi kopi susu?”
Mang Ujang mengangguk dengan senyum sambil melirik ke Anisa. “Waduh, mantep banget tuh kopi susu.”
Aku tersenyum dan beranjak dari duduk. “Saya ambilin dulu.”
“Siap, Dok,” balas Mang Ujang.
Aku berjalan mendekati Anisa, lalu membangunkannya lagi. Setelah merasa aman tak ada respons, aku mulai mempereteli kancing kemejanya lagi sampai habis.
“Nih Mang susunya. Cuma ambil sendiri, ga bisa saya bawa ke sana.”
Mang Ujang terkejut, melihat tindakanku. “Wah, Dok, serius?”
Aku mengangguk. “Iya, Mang. Ayo, sini, sini.”
Mang Ujang berdiri dan mendekati Anisa dengan hati-hati. Ia duduk di di bawah sofa dan menatap Anisa sambil meneguk ludah. Kulitnya yang putih, bongkahannya yang kenyal, dan bercak merah di kulit payudaranya membuat Mang Ujang memegangi celananya.
“Buka aja, Mang. Masih ditutup susunya,” ucapku.
“Dok, ini … serius?” Ia agak ragu.
“Saya kan udah kasih foto-fotonya. Kayaknya kurang kalo cuma lihat doang, kan? Coba rasain sendiri aja.”
Dengan lembut, ia menarik kemeja Anisa sedikit ke bawah, memperlihatkan lekuk leher dan belahan yang lebih banyak. Mang Ujang meneguk ludah, matanya tertuju pada dada Anisa yang bulat dan besar, meskipun masih tertutup BH merah jambu.
“Wah, Dok, Dokter Anisa ini … dada nya bener-bener indah,” ucap Mang Ujang. “Bulet, gede, dan masih kenceng. Persis yang di foto.”
Aku tersenyum, merasa bangga dengan pujian itu. “Iya, Mang. Anisa emang ga ada duanya. Jangankan Mang Ujang, saya aja yang tiap hari ktetemu masih suka ngaceng.”
Tangan Mang Ujang terjulur memegang dada Anisa dengan hati-hati. Ia mengeluarkan satu bongkahan payudara Anisa dan meremasnya dengan lembut. Akhirnya, ada lagi pria yang merasakan kekenyalan dan kelembutan kulit istriku.
“Dok, ini … ini bener-bener mantep!” ucapnya sambil meremas dengan lebih tegas, merasakan setiap detailnya.
“Nikmatin aja, Mang, mumpung orangnya tidur,” balasku sambil mengambil ponselku. “Izin rekam ya, Mang.”
Mang Ujang mengangguk. Nanti saya bagi rekamannya, Dok.”
“Siap!”
Ia mulai fokus pada Anisa lagi dan memainkan putingnya. Tangan pria gemuk itu menarik-narik puting pink Anisa dengan lembut, kemudian memilinnya di antara jari-jari.
Mang Ujang kemudian menunduk dan mulai menghisap puting Anisa, sambil menyeruput kopinya. “Wah, ini … ini baru kopi susu, Dok,” ucapnya sambil menikmati sensasi yang unik itu.
Setelah beberapa saat, Mang Ujang menarik mulutnya dari puting Anisa dan menatapku. “Dok, saya … saya izin … izin coli sambil nenen, ya?” tanyanya dengan suara agak bergetar.
Aku tersenyum dan mengangguk. “Iya, Mang. Silakan, jangan ragu-ragu.”
Mang Ujang dengan hati-hati menurunkan celananya dan mulai menggenggam batangnya. Ia memegang payudara Anisa dengan lebih berani, meremasnya lebih bertenaga, sambil menyedot putingnya lebih kuat. Tangannya mulai bergerak ke atas dan ke bawah, mengikuti ritme hisapannya.
“Ahhh … Dok … istrinya mantep banget.”
Meskipun masih tertidur, Anisa mendesah tak karuan karena rangsangan di payudaranya. Ia menjambak pelan rambut Mang Ujang dan membenamkannya lebih dalam. “Terus babyyyy … ahhhh … iseeeep ….”
Mang Ujang terpukau dengan respons Anisa. Ia memperkuat sedotannya sambil menjilati puting istriku, dan mempercepat kocokannya.
“Oh my goooood! Emphhhhh … enak babyyyy … ahhhhh!”
Mendengar Anisa meracau begitu, Mang Ujang langsung bangun dan mengarahkan senjatanya ke payudara Anisa.
“Ahhhh … saya keluar, Dok!” Mang Ujang merasakan gelombang kepuasan yang melewati tubuhnya, sampai akhirnya ia muncrat ke payudara Anisa. “Uhhhhhhhh banyaak!”
Aku merekam adegan itu dan ku zoom pada bagian sperma yang tumpah ke payudara istriku.
“Ahhhh … mantep banget istrinya, Dok.” Mang Ujang menggesekan kepala kontolnya ke pentil Anisa dengan lembut.
“Enak, Mang?” tanyaku masih merekamnya.
“Luar biasa, Dok,” ucapnya sambil menatap Anisa dengan mata yang masih penuh hasrat.
Aku tersenyum, puas dengan tampilan Mang Ujang yang kepuasan. “Iya, Mang. Anisa emang mantep. Tidur aja bisa bikin Mang Ujang ngecrot, apa lagi kalo sambil bangun, lemes nanti,” ucapku sambil memandang Anisa yang masih terlelap, tak terganggu oleh keberadaan kami.
Setelah beberapa saat, Mang Ujang menatap Anisa sekali lagi, kemudian berdiri dan menutup celananya. “Makasih, Dok. Ini … ini bener-bener pengalaman yang ga bakal saya lupain,” ucapnya sambil tersenyum.
Aku mengangguk dan memberinya senyum. “Sama-sama, Mang.”
Mang Ujang mengangguk dan berjalan menuju pintu. “Iya, Dok. Terima kasih banyak sekali lagi. Saya pulang dulu, mau mandi wajib.”
Setelah Mang Ujang pergi, aku berjalan ke Anisa dan mengusap wajahnya dengan lembut. “Beb, kamu bener-bener istri terbaik,” bisikku pelan
=================
[Awal Segalanya]
Pagi ini rupanya Dedi mendadak izin karena ada urusan keluarga. Pak RT datang ke puskesmas membawa Bang Baron, preman lokal yang sudah profesional bekerja sebagai pengangguran. Kata Pak RT, hari ini Bang Baron yang bakal menggantikan Dedi. Setelah itu, ia pamit dan meninggalkan Baron bersama kami.
Hari ini Anisa mengenakan kaos hitam lengan pendek dibalut jas putih dan rok selutut. Dari semua yang ada di desa ini, istriku paling tidak suka pria yang satu itu. Baron bukan hanya beberapa kali menggodanya, tapi sudah masuk ke kategori pelecehan verbal. Namun, Anisa tak berani padanya karena perawakan Baron sangat mengerikan.
Rambut pria itu cepak seperti abri. Posturnya tinggi besar. Ia agak kekar, tapi perutnya sedikit buncit. Kulitnya hitam legam dan memiliki banyak tato buram yang entah apa gambarnya.
Belum apa-apa, Baron langsung terpana. Matanya melirik sekilas ke lekuk tubuh Anisa sebelum mulai bekerja di puskesmas.
Sepanjang hari, Baron bekerja tanpa masalah sebagai penerima tamu. Malah, ia lebih ramah daripada Dedi. kalau sedang senggang, Baron mengangkut kotak-kotak peralatan medis, memindahkan meja, dan membantu menata ruang penyimpanan.
Namun, setiap kali ada kesempatan, ia tak melewatkan kesempatan untuk melirik nakal ke tubuh Anisa.
Karena sedang lenggang setelah seorang pasien beres dari ruanganku, aku langsung memantau layar ponsel untuk melihat gerak-gerik Baron lewat CCTV ghoib yang ku pasang hampir di seluruh sudut dan ruangan puskesmas.
Saat Anisa keluar dari ruangannya, Baron berjalan mengikutinya. “Dok, ada susu ga buat anak kecil kalo dateng berobat?”
Anisa menggeleng. “Ga ada,” jawabnya singkat.
“Kalo susu buat orang dewasa?” Baron tersenyum lebar sambil melirik sekilas ke arah dada Anisa dengan nada main-main.
Anisa sedikit menundukkan kepala. Wajahnya agak memerah. “Ga ada juga.”
“Yahhh, ga ada susunya.” Baron terkekeh. Matanya masih tertuju pada payudara Anisa. “Empengnya aja juga boleh sih, Dok.”
Anisa sedikit mengerutkan dahi, tetapi tidak menjawab. Ia mulai berjalan menuju ruang lain, tetapi Baron terus mengikuti langkahnya.
Pada satu titik, Anisa berhenti dan menatap Baron dengan pandangan kesal. “Bang Baron ngapain ngikutin saya? Abang hari ini cuma gantiin Dedi buat jadi penerima tamu di sini. Mendingan duduk aja di depan, siapa tau ada pasien mau daftar.”
Baron nyengir sambil garuk-garuk pala. “Kangen, Dok.”
Anisa menghela napas, kemudian berjalan menuju ruang lain, meninggalkan Baron di belakangnya. Baron tertawa kecil, pandangannya masih tertempel pada sosok Anisa.
Aku cukup tegang melihat keberanian Baron dari balik layar, lalu memutuskan untuk mengambil tindakan.
Ku racik obat perangsang kemarin dengan dosis yang lebih sedikit dan menuangkannya ke dalam botol berisi air dingin. Setelah itu, aku pergi ke ruangan Anisa.
Anisa sudah berada di ruangannya. Ia tampak sedang sibuk menatap layar ponsel karena gabut.
“Nih, air dingin buat kamu,” ucapku sambil memberikannya botol berisi air es itu.
Anisa pun menerima saja air es itu dan meminumnya.
Aku tersenyum dan mengajaknya ngobrol sebentar.
“Seger?” tanyaku.
Ia mengangguk, lalu berkata. “Beb, aku takut sama Bang Baron.”
“Takut kenapa? Dia tampangnya aja gitu, tapi orangnya baik sih,” balasku.
“Takut aja pokoknya. Dia sering godain aku.”
Aku tertkekeh. “Wajar, namanya jomblo abadi. Setahuku, dia tuh masih lajang, jadi kalo liat cewek bening dikit suka usil.”
Kami berbincang perihal ketakutan istriku terhadap Baron sampai kira-kira lima belas menit berlalu. Ketika gelagatnya mulai gelisah, aku pamit kembali ke ruanganku sendiri.
Setelah beberapa menit, aku menghampiri Baron di meja penerima tamu yang siang ini pun sepi. Entah mengapa, di desa ini puskesmas hanya ramai di pagi hari saja. Menjelang siang mulai berkurang, sampai sepi total.
“Bang, saya ada perlu di rumah sakit kota sebentar, paling sore udah balik. Saya titip istri, ya?”
Baron mengangguk dengan senyum lebar. “Pokoknya sama saya semua aman, Dok. Saya jagain istrinya sampe puas.”
“Kalo gitu saya pergi dulu.”
Aku diam-diam mencari tempat sepi dan siap memantau puskesmas lewat CCTV seluruhnya menggunakan ponsel. Anisa tidak tahu kalau saat ini ia hanya berduaan saja dengan Baron di puskesmas. Aku penasaran, jika ada kesempatan, sejauh mana Baron berani mendekati istriku.
Benar saja, tak lama berselang setelah aku pergi, Baron diam-diam menutup puskesmas dan berjalan ke ruangan Anisa.
Dari ponsel, ku lihat Baron membuka pintunya pelan tanpa membuat Anisa menyadarinya. Anisa sedang berdiri menghadap jendela, membelakanginya. Ia sudah melepas jas putihnya dan hanya memakai kaos hitam lengan pendek dan rok hitam selutut.
“Duh, kenapa jadi panas banget gini, ya?” gumamnya bermonolog sambil mengipas-ngipas leher dengan tangannya.
Baron mengendap ke arahnya seperti predator yang sedang mengintai mangsanya.
Saat Anisa sedang sensitif dan tak tahu apa-apa, dari belakang tangan kasar itu meremas kedua bongkahan payudaranya.
Baron memeluk Anisa dari belakang. Ia meremas kuat payudara istriku dan sedikit diangkat naik.
Anisa refleks bersandar pada pria itu. “Kamu nakal, Beb. Nanti aja di rumah, di sini ada Bang Baron.”
Mungkin ia kira itu adalah ulahku, jadi Anisa membiarkannya sambil memejamkan mata. Remasan-remasan liar itu membuat Anisa keenakan. Sesekali, ia mendesis seperti ular.
“Shhhh … masukin tangannya, Beb.”
Tangan kasar tersebut turun dan menyelinap masuk ke dalam baju. Baron kini dapat merasakan kulit mulus Anisa dan kini terlihat sedang mengobok-obok payudaranya dari dalam.
“Shhhh … ahhhh ….”
Anisa mulai menggeliat, tanda ia sudah mulai naik. Sepertinya Baron sedang memainkan puting susu istriku sampai membuatnya meloloskan desahan dan terlihat tak bisa diam.
“Ditarik dikit, Beb,” kata istriku.
Baron tersenyum dan menarik puting Anisa ke atas sampai membuat Anisa berjinjit dan meloloskan desahan panjang. “Ahhhhhh!”
Preman paswar itu memainkan payudara Anisa dengan lebih intens. Ia meremas, mengangkat, dan menarik-narik puting Anisa dengan kuat, membuat Anisa berjinjit dan meloloskan desahan-desahan panjang. “Ahhhhhh … enak Beb.”
Saat perlahan membuka mata dan menatap tato di lengan kasar yang sedang asik bermain di dadanya, Anisa yang awalnya kira itu adalah ulahku, mulai sadar bahwa tangan yang memainkan payudaranya itu bukanlah tangan suaminya.
“Eh, siapa ini?!” Ia berusaha untuk berontak, tetapi kenikmatan yang sudah menjulur ke seluruh tubuhnya membuatnya sulit untuk rela melepaskan diri. “Lepasin!”
Mendengar Anisa yang mulai menyadari siapa dirinya, Baron menjadi lebih gila. Ia memutar badan Anisa, lalu mencium bibirnya.
“Lepasin!” Anisa berusaha melawan, ia membuang muka dari pria itu.
Namun, Baron masa bodo dengan bibir Anisa. Ia malah menunduk dan melahap puting istriku. Tangan kirinya masih meremas payudara Anisa yang satunya dengan kuat.
“Ahhh … lepasin!”
Anisa makin menggeliat, tanda ia sudah sangat sensitif dan responsif terhadap sentuhan Baron. Ia berusaha untuk berontak, tetapi tubuhnya sudah terlalu sensitif dan gembira menerima rangsangan pada payudaranya.
Anisa berjuang untuk bisa lepas dari terkaman preman kampung itu, namun setiap tarikan manja pada putingnya dan cara Baron meremas payudaranya membuat gejolak aneh di dalam dirinya semakin menguat. Otaknya berteriak untuk melawan, Anisa berusaha mendorong pria itu menjauh, tetapi tubuhnya seolah tidak mendengarkan. Desahan demi desahan lolos dari bibirnya.
“Ahhhhh … tolong.”
Baron menyadari respons Anisa. Ia malah semakin menjadi-jadi dan terus memainkan payudara istriku. Gerakannya kasar namun entah bagaimana, berhasil mencapai titik-titik sensitif yang membuat Anisa semakin limbung.
Anisa mencoba mendorong dadanya menjauh, tetapi Baron terlalu kuat. Kakinya terasa lemas, dan ia menemukan dirinya semakin bersandar pada pria itu.
“Lepasin saya!” bisiknya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Namun, kata-kata itu seolah hanya bahan bakar bagi Baron.
“Udah, Dok. Nikmatin aja, mumpung saya lagi baik.” Pria itu terkekeh pelan. Tawa seraknya membuat bulu kuduk Anisa merinding.
Baron membawa Anisa ke meja kerjanya. Ia dengan kuat menarik Anisa menghadap ke arahnya dan membuatnya bersandar pada meja. Anisa yang sudah terlalu sensitif tak mampu berpikir jernih. Baron membuka celananya dan juga rok Anisa dengan cepat, hampir tanpa perlawanan.
Baron tersenyum lebar. Ia memegang batangnya yang sudah keras dan menempelkannya pada bibir vagina Anisa. Anisa merintih, suara desahannya terlontar ke luar dari mulut.
“Saya masuk ya, Dok?” tanya Baron.
“Jangan … tolong.” Anisa menolak, tetapi suaranya lemah dan tak ada upaya mendorong lagi. Tubuhnya sudah terlalu sensitif dan tidak mampu untuk melawan.
“Assalamualaikum!” ucap Baron saat batangnya masuk dan menancap di dalam lubang Anisa.
“Ahhhhh.” Anisa meloloskan desahan panjang. Ia refleks memeluk Baron dengan erat.
Mendengar desahan Anisa yang panjang itu membuat Baron semakin menggila. Ia memasukkan batangnya dalam-dalam, dan memompanya.
“Ahhhhh … tolong … tolong.” Anisa berusaha untuk menolak, tetapi tubuhnya sudah terlalu sensitif dan gembira.
Pok … pok … pok
Suara bentukan saat kelamin mereka beradu menjadi instrumen utama di puskesmas siang ini.
“Ahhhh, gila! Enak banget memek orang kota! Nikmat banget cewek berpendidikan tinggi! Aku suka kamu, Dok! Apa lagi toketnya, duh gemes!” Baron menampar bongkahan payudara Anisa.
“Ahhhh, sakit,” lirih Anisa.
Baron mengangkat Anisa dan menjatuhkannya di lantai. Anisa di bawah, dan Baron di atas. Baron memompa Anisa dengan cepat, membuat Anisa tak karuan mengeluarkan desahan. Saat bibir hitam Baron berusaha menyentuh bibir ranumnya, Anisa tak melawan, dan malah melumatnya duluan. Mereka melakukan ciuman hebat. Kini, Anisa telah sepenuhnya jatuh ke dalam pelukan preman kampung itu.
“Ahhhh … ahhhh … ahhhhh.”
“Enak, Dok?” tanya Baron sambil terus memompa.
Anisa diam tak menjawab. Ia menutupin wajahnya dengan tangan.
“Bang Baron! Udaaaaah!”
“Udah apa, Dok? Mau udahan apa udah ga kuat mau meledak?” Baron malah semakin mempercepat genjotannya.
“Ahhhhh … ahhhh … ahhhh udaaaah, udaaaah …. toloooong … ahhhhhhhh!” Anisa kembali berusaha mendorong Baron, ia belum rela dibuat orgasme dengan preman kampung itu.
“Nikmatin aja, Dok!”
Anisa berusaha mencengkeram sesuatu, tapi tak ada yang bisa dipegang selain tangan Baron. Kini, telapak tangan mereka malah saling menggenggam seperti seorang kekasih di malam pertama.
“Bang Barooooon! Aku keluaarrrr … ahhhhhhh.” Anisa merasa malu pada dirinya sendiri karena baru saja meledakkan orgasme pertamanya.
Baron tersenyum dan kini menarik tangan Anisa kuat-kuat. “Abang juga mau keluaaarrrr, Dok. Ahhhhh … ahhhh … ahhhh.”
“Bang, tolong kali ini dengerin saya. Tolong di luar,” ucap Anisa.
“Oke,” jawab Baron.
Ia mempercepat gerakannya dan menghujam dalam-dalam batangnya itu dengan napas terengah-engah.
“Ahhhh … ahhh … ahhhh Bu Dokteeeerrrr … uhhhhh.” Baron masih menggenjot Anisa dengan cepat.
Sampai pada satu titik, ia mencabut batangnya dan berbaring di sebelah Anisa.
“Loh, ga jadi keluar, Bang?” tanya Anisa yang melihat Baron tiba-tiba rebahan di sampingnya tampa klimaks.
Baron tersenyum, lalu menoleh ke arah Anisa. “Saya masih belum selesai. Kapan-kapan kita sambung lagi. Bu Dokter harus mau. Kalau nolak, saya takut suaminya kenapa-napa. Soalnya tanggung, saya capek dan belum keluar.”
Anisa meneguk ludah mendengar ancaman itu. Tanpa ia sadari, cairan putih kental keluar dari memeknya dan mengalir cukup deras sampai ke lantai. Baron sudah keluar di dalam saat ia menggenjot Anisa.
=================
[Bocil Kematian]
Sejak kemarin, Anisa jadi agak pendiam, mungkin ia masih memikirkan kejadian dengan Bang Baron. Ia seperti ingin bercerita, tapi tak punya nyali dan memilih diam menyimpan semua yang terjadi padanya seorang diri.
Aku mendekati Anisa di dapur, di mana ia sedang memasak. Hari ini ia memakai kaos putih oversize tanpa bawahan. Kaosnya sedikit longgar, menampilkan sedikit lekuk payudaranya.
“Kamu kenapa, Beb?” tanyaku sambil mendekat.
Anisa mengangkat wajahnya, matanya terlihat lemas. “Kenapa apanya, Beb?”
“Aku perhatiin kamu agak pendiem sejak kemarin. Kenapa sih?”
Anisa menghela napas, kemudian ia menundukkan wajahnya lagi. “Ga ada apa-apa kok, Beb. Mungkin lagi jenuh aja.”
Aku menarik kursi dan duduk di sampingnya. “Kalo kamu butuh pendengar, aku di sini ya. Cerita aja kalo kamu udah siap.”
Anisa tersenyum lesu. “Makasih, Beb. Aku cuma agak capek aja mungkin.”
Ketika aku hendak melanjutkan obrolan, terdengar suara ketukan pintu. Aku berdiri dan pergi ke pintu depan. Ketika aku membuka pintu, aku melihat Rudi si bocah yang waktu itu. Ia datang bersama temannya, Ucup. Seorang bocah hitam, keriting, kurus, dan tinggi.
“Halo, Dok,” sapa Rudi dengan senyum.
“Halo, Rudi. Apa kabar?” tanyaku sambil menatap Ucup. “Ini siapa?”
“Ini Ucup, Dok. Burungnya sakit. Dia mau diobatin sama Dokter Anisa,” jawab Rudi.
“Ayo, masuk dulu, tunggu aja di dalem,” ucapku sambil membuka pintu lebih lebar.
Rudi dan Ucup masuk ke dalam rumah, mereka duduk di sofa reot yang hanya muat untuk dua orang. Sementara itu aku pergi ke dapur menjumpai Anisa.
“Siapa, Beb?” tanya Anisa.
“Ada Rudi sama temennya, Beb.”
“Oh,” jawab Anisa datar seperti sudah skeptis dengan bocah itu. “Mau ngapain mereka?”
“Burung temennya sakit, dia butuh bantuan kamu,” ucapku sambil menyentuh bahu Anisa.
“Ke dokter hewan aja, aku ga bisa ngobatin burung,” jawab Anisa ketus.
“Beb, mereka kan masih kecil,” ucapku.
“Terus?” sambar Anisa ketus.
“Rasa penasaran mereka tinggi sama perempuan kota, apa lagi yang modelannya kayak kamu. Kasih mereka service dikit. Toh, mereka masih anak-anak.”
Anisa kini berdiri di depanku sambil menatap mataku. “Harus banget aku kocokin kontol mereka?”
“Ayolah, Beb. Mereka cuma anak-anak penasaran doang,” ucapku dengan suara lembut.
“Jujur, kamu suka liat aku begitu?” tanya Anisa.
Aku diam sejenak, lalu mengangguk pelan.
Anisa menghela napas berat, wajahnya masih terlihat ketus. “Oke, kali ini aku turutin kemauan kamu lagi, tapi ini yang terakhir.”
Aku tersenyum dan mengangguk. “Makasih, Beb.”
Mungkin ada rasa bersalah dalam dada Anisa dengan kejadian kemarin, jadi kali ini ia bersikap kooperatif tanpa banyak melawan.
Ketika kami masuk ke ruang tamu, Rudi dan Ucup masih duduk di sofa, mata mereka penasaran dan menjelajah di tubuh istriku.
Sementara itu, Anisa duduk di tengah-tengah mereka, wajahnya masih terlihat sedikit ketus.
“Kalian sakit apa?” tanya Anisa dengan nada datar.
Rudi dan Ucup saling pandang, kemudian Rudi menjawab, “Burung si Ucup sakit, Dok.”
Anisa lagi-lagi menghela napas berat tanpa ekspresi. “Oke, Dokter bantu periksa burung kamu juga.”
Anisa dengan cepat membuka celana Rudi dan Ucup, lalu mengeluarkan kelamin mereka. Ucup terkekeh, sementara wajah Rudi memerah karena malu dan bersemangat.
Dari yang ku taksir, Rudi ini bercerita pada Ucup perihal yang terjadi waktu itu, dan si cabul itu ingin memanfaatkan Rudi agar mendapatkan Anisa.
Ucup bersandar di sofa sambil memejamkan mata. “Ahhh … enak, Dok.” Bocah cabul itu seperti seorang bos sekarang.
Anisa mengocok kelamin mereka dengan gerakan yang kuat dan cepat.
Aku mengambil pelumas dan menuangkannya ke batang mereka yang sedang berada di dalam genggaman Anisa. Pelumas itu membuat gerakan tangan Anisa lebih halus dan erotis.
“Ahhh … Dok, ini enak banget,” desah Ucup sambil menutup matanya.
Rudi juga meloloskan desahan, wajahnya penuh dengan ekspresi kenikmatan. “Ahhh … Dok.”
Anisa mengocok dengan lebih cepat, tangan-tangannya bergerak dengan irama yang sempurna agar semua ini cepat selesai dan berlalu. Rudi dan Ucup mendesah tak karuan, tubuh mereka bergetar gembira.
“Ahhh … Dok, aku mau keluar!” desah Rudi sambil menggeliat.
Sebelum mereka keluar, dari belakang aku menarik kaos Anisa sampai toket dan putingnya terekspos. Anisa sempat ingin protes, terlihat jelas dari tatapan matanya, tapi sebelum sempat berkata-kata, Ucup langsung menangkap bongkahan dadanya dengan mulut dan lidahnya menyapu puting Anisa sehingga ia ikut mendesah.
“Ahhhh …,” desah Anisa.
Melihat itu, Rudi jadi ikutan menyusu di payudara satunya.
“Jangan diisep … shhhh,” pekik Anisa yang tak mampu melawan.
Pemandangan itu sangat indah. Istriku duduk di tengah dua bocah yang menyusu sambil ia kocok batang mungil mereka.
“Ahhh … dipegang ajaaa, jangan pake mulut, shhhh …,” desah Anisa sambil menutup matanya.
Rudi dan Ucup menyusu dengan semangat membara. Mereka memompa payudara istriku seperti ikan sapu-sapu. Lidah mereka sesekali bergerak dengan irama yang sempurna. Anisa berjinjit, tubuhnya bergetar karena rangsangan itu.
“Ahhh … beb, tolong …,” desah Anisa memeluk kepala Rudi dan Ucup sambil menatapku dengan tampang keenakan.
Tak tahan diperlakukan begitu, Anisa mempercepat tempo kocokannya agar urusan dunia perkocokan itu selesai.
“Ahhh … Dok, aku keluar! Uhhhhhhh,” lenguh Rudi dengan tubuh bergetar hebat. Air maninya muncrat dan mengalir ke tangan Anisa.
Ku lihat Ucup masih belum menunjukkan tanda-tanda akan klimaks. Ia tersenyum melihat istriku sambil menyusu, lalu satu tangannya bergerak dan mulai merayap ke bawah.
“Jangan di situ,” gumam Anisa, tapi tak melakukan tindakan apa pun selain protes.
Merasakan sentuhan masuk di daerah kewanitaannya, tangan Anisa kini bergerak dengan lebih cepat dan intens.
Ucup tak mau kalah seolah sedang jadi peserta lomba masturbasi melawan istriku. Ia mengobok-obok lubang vagina Anisa dengan jarinya, membuat istriku tak karuan.
“Ahhh … Ucup, jangan …,” desah Anisa, tapi suara itu terhenti saat Ucup mempercepat lagi gerakan jarinya. Anisa pun terpaksa mempercepat kocokannya. Tangannya bergerak dengan irama yang sempurna, membuat bocah itu mendesah dan berjinjit.
“Ahhh … Bu Dokter, mantep banget, anjing! Ahhhhh … aku keluar! Uhhhhhhh muncraaat,” lenguh Ucup dengan tubuh bergetar, tapi tangannya masih menyodok-nyodok vagina istriku.
“Ahhh … ahhh … teruus, dikit lagi!” desah Anisa sambil bersandar di sofa dan melebarkan kakinya sambil menatap ke arahku. “Ahhh … ahhh … aku keluar, Beb.”
Aku tersenyum padanya. “Keluarin aja, Beb.”
“Uhhhhhhhh! Keluaaar!” lenguhnya dengan tubuh bergetar dan ekspresi kenikmatan. Ia lupa sejenak, bahwa saat ini dirinya baru saja dibuat squirt oleh bocah SMP. Airnya mengalir deras membasahi tangan Ucup dan sofa.
“Enak, Bu Dokter?” tanya bocah cabul itu sambil memainkan payudara Anisa lagi dengan tangannya sambil sesekali memainkan puting.
Rudi jadi ikutan meremas bongkahan yang satunya tanpa berkata-kata.
Sementara Anisa hanya diam dengan napas terengah-engah. Ia bersandar dan memejamkan matanya tanpa membalas pertanyaan atau merespons kegiatan kedua bocah itu.
=================
[Selamat Makan]
Malam itu, rumah dinas kami di desa ini terasa lebih sepi dari biasanya. Setelah adegan perkocokan Rudi dan Ucup hari ini, Anisa tidak banyak bicara.
Anisa duduk di sofa dengan kaki disilangkan, rambutnya yang tergerai sedikit berantakan setelah seharian berbaring di kasur. Saat ini ia sedang menatapku, matanya penuh pertanyaan. Aku tahu ia tidak bodoh. Ia pasti merasakan ada yang aneh dengan caraku membiarkan pria-pria desa ini mendekatinya, menatapnya, bahkan membuatnya harus menjadi objek masturbasi kedua anak tadi. Malam ini, sepertinya ia tidak bisa menahan pertanyaan yang sudah lama mengganjal.
“Bayu,” panggilnya dengan nada serius. “Kamu … sengaja, ya? Maksudku, kamu sengaja bikin aku jadi pusat perhatian pria-pria di sini? Kamu ga cemburu? Atau kamu memang suka pamerin aku?”
Aku menarik napas dalam-dalam, menatap wajahnya yang cantik. Kulit yang putih seolah bersinar di bawah lampu redup. Aku bisa bohong, bilang ini cuma kebetulan, tapi aku tahu Anisa pantas dapat jawaban jujur. Aku taruh gelas kopi di meja, lalu menatap matanya.
“Beb,” kataku dengan suara agak serak, “Jujur, aku emang suka. Aku suka liat tatapan mereka waktu liatin kamu, kagum sama kecantikan kamu, sama tubuh kamu yang sempurna. Di desa ini, kebanyakan dari mereka cuma jomblo atau duda, hidup mereka keras, ga punya apa-apa yang bisa bikin mereka bermimpi. Ga punya siapa-siapa juga, dan ga ada cewek kayak kamu di sini. Aku ngerasa tuh kayak lagi ngasih sedekah aja gitu, dalam bentuk bidadari kayak kamu.”
Anisa memandangku lama, alisnya sedikit terangkat. Aku tidak yakin apakah ia marah, terkejut, atau justru penasaran.
“Jadi, itu yang kamu pikirin? Kamu ga takut kalau ini bakal jadi kelewatan? Kamu ga cemburu? Kalo mereka ga cuma berani liat doag gimana? Mereka itu pria-pria ga berpendidikan loh, Bay. Ga punya moral buat … ga berbuat lebih. Aku tuh takut.”
Aku menelan ludah. “Tenang aja, Beb. Kan ada aku.”
“Kamu aneh, Bay,” katanya sambil menggelengkan kepala.
Aku tak tahu harus menjawab apa. Cemburu, hasrat, dan rasa takut bercampur jadi satu di dadaku.
***
Hari berganti. Pagi ini, udara di rumah dinas terasa lebih berat setelah obrolan kami semalam. Anisa tak banyak bicara sejak kami bangun.
Aku berdiri di ambang pintu kamar mandi, memandang Anisa yang baru selesai mandi. Handuk putih membalut tubuhnya, tapi aku masih bisa melihat lekuk pinggangnya yang ramping dan payudaranya yang kencang di balik kain itu. Kulitnya yang putih seolah menyala di bawah sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela. Rambutnya yang basah menempel di pundak, dan kacamata tipis yang selalu ia pakai masih ada di meja rias, membuat wajahnya terlihat lebih polos, tapi juga lebih menggoda.
“Beb, hari ini coba pakai sesuatu yang … agak menggiurkan dong. Aku lagi pengen liat kamu agak sexy hari ini.”
Ia menoleh. “Kamu yang pengen? Atau pengen yang lain?”
Aku tertawa kecil sebagai jawaban. “Aku lah.”
“Mau yang kayak gimana?” tanyanya dengan nada pasrah diiringi helaan napas berat. “Yang agak kebuka, atau yang lekuk tubuhnya jelas?”
Aku tersenyum, dan agak jantungan karena hari ini ia tak langsung menolak. Aku melangkah mendekat, pura-pura memikirkan sesuatu, padahal di kepalaku udah ada gambaran jelas. “Pake rok pensil hitam yang pendek itu, yang sampe di atas lutut. Terus, kemeja putih yang agak ketat, yang transparan dikit, biar kelihatan renda BH kamu. Pake BH yang merah, yang push-up.”
Anisa memandangku skeptis. “Kamu beneran aneh, Bay,” katanya sambil menggelengkan kepala.
Namun, ia berjalan ke lemari dan mengambil pakaian yang ku sebutkan barusan. Aku memperhatikan setiap gerakannya, bagaimana cara ia melepas handuk, cara ia mengenakan BH merah yang langsung menonjolkan payudaranya yang sempurna, caranya memakai rok pensil itu saat membalut pinggulnya dengan ketat. Kemeja putih tipis yang ia pakai itu sedikit tembus pandang, membuat renda BH-nya samar-samar terlihat. Dan ketika ia mengenakan jas putih dokternya, aku tahu bahwa di baliknya ada godaan yang berjalan.
“Ini sih kalo ada pasien cowok, bakalan tegang liat kamu, Beb,” kataku sambil nyengir.
Hatiku tak bisa nahan desiran aneh yang bercampur dengan cemburu. Aku tahu di puskesmas nanti, pria-pria desa yang entah itu pasien, atau Dedi … mereka tak akan bisa melepaskan mata dari Anisa.
“Kamu yang minta, ya,” katanya dengan nada sedikit menantang. “Jangan cemburu kalo aku diliatin.”
Setelah selesai berpakaian, ia berjalan keluar kamar dengan pinggul yang bergoyang sedikit lebih percaya diri dari biasanya.
***
Hari ini di puskesmas terasa panjang dan menegangkan, tapi entah kenapa belum ada kejadian yang menarik.
Aku menghabiskan waktu memantau Anisa lewat aplikasi CCTV spy cam yang ku pasang di ruangannya. Ia memeriksa pasien mengenakan rok pensil hitam dan kemeja putih tipis yang aku pilih, renda BH merahnya samar-samar kelihatan di balik jas dokternya. Beberapa pasien, terutama pria-pria desa, jelas tak bisa melepaskan mata dari lekuk tubuhnya yang sempurna. Payudaranya yang kencang, pinggang ramping, paha mulus yang lumayan banyak terekspos.
Dan respons para pasien hari ini pun sesuai yang aku harapkan, termasuk ekspresi Dedi. Tapi, entah kenapa, itu semua terasa biasa saja bagiku hari ini. Mungkin karena belum ada yang berani lebih dari sekadar menatap, atau mungkin aku mulai haus akan sesuatu yang lebih.
Sore menjelang malam, kami berjalan keluar dari puskesmas. Anisa masih memakai outfit pilihanku, jas dokternya kini dilipat di tangan karena gerah. Aku meliriknya sejenak. Ia sungguh menggiurkan. Rasanya seperti ada dorongan untuk melakukan permainan ini lebih jauh.
“Beb, mau makan di mana malem ini?” tanyaku.
Anisa menghela napas, lalu menatapku sekilas sebelum pandangannya kembali terpaku ke ponselnya, “Terserah, Bay. Aku capek, pokoknya makan aja.”
Senyum nakal ku muncul. ‘Terserah’ adalah kata yang ku tunggu darinya. “Oke kalo gitu.”
***
Sesampainya di lokasi, ia memicingkan mata. “Kok ke sini lagi sih, Bay? Kamu kan tau, aku ga suka, kumuh banget. Mana banyak cowok-cowok begitu lagi. Aku ga mood makan di sini. Menunya juga cuma mie instan doang, apanya yang warung nasi coba?”
Aku memandangnya. “Lah, tadi bilang terserah, kok sekarang nolak? Kalo ga mau, bilang dari tadi dong, Beb.”
Anisa menghela napas berat. Ia menyesal karena sudah menjawab dengan kata-kata klise tersebut.
“Ya udah, terserah deh.” Nadanya terdengar pasrah, tapi ada nada kesal yang samar.
Aku cuma tersenyum menahan gejolak di dada. Aku tahu warung itu akan jadi panggung yang sempurna malam ini.
Warung nasi kumuh itu penuh asap rokok dan bau keringat yang menyengat. Meja-meja kayu reyot dan lampu remang membuat suasana semakin terasa mentah.
Kami duduk di sudut, dan Anisa langsung jadi pusat perhatian. Kemejanya yang tipis memperlihatkan renda BH merah di baliknya, dan rok pendeknya naik sedikit saat ia duduk, memperlihatkan paha mulusnya.
Dua pria di meja sebelah langsung tersenyum dan berbisik-bisik. Dari tampilannya, yang satu terlihat seperti sopir truk antar kota yang sedang singgah, dan satu lagi mungkin keneknya. Pandangan mereka tajam, seolah tak bisa melepaskan pandangan dari Anisa sejak kami masuk.
Si sopir punya perawakan seperti badut. Perutnya membuncit di bawah kaus oblong yang sudah kusam, wajahnya penuh bekas jerawat dan kumis tebal yang tidak rapi. Giginya kuning, mungkin karena kebanyakan merokok, dan rambutnya pendek berminyak.
Keneknya bertubuh kurus kering seperti tiang listrik, tulang pipinya menonjol di wajahnya yang cekung, dengan mata cekung yang membuatnya kelihatan seperti kurang tidur. Kepalanya botak dengan rambut tipis yang sudah beruban.
Di warung hanya ada tiga pria saat ini. Dan pria ketiga adalah si penjaga warung yang berdiri di balik meja etalasenya. Ia berbadan agak kekar, tapi jauh dari kata menarik. Ototnya terbentuk seperti hasil angkat beban sembarangan, wajahnya penuh bopeng, dan kulitnya gelap mengilap karena keringat.
Ketiganya jelas bukan tipe pria yang bisa membuat Anisa sudi melirik, tapi di luar itu, Anisa takut melirik karena tatapan mereka yang penuh nafsu, seolah Anisa adalah sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Aku memesan mie instan, lalu memulai obrolan ringan. “Tumben nih agak sepi.”
Si penjaga warung tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang tidak rata. “Sayang banget padahal ya, Pak, apalagi malam ini ada Bu Dokter.”
“Walah, mbaknya dokter toh?” celetuk si sopir buncit, matanya menjelajahi Anisa tanpa malu-malu. “Pantesan beda, kayak artis ibukota.”
Istriku cuma diam, wajahnya menegang. Aku tahu ia risih, tapi aku juga tahu kalau Anisa tidak akan protes. Aku pun memutuskan untuk memancing lebih jauh.
“Minumnya biasa, Pak Dokter?” tanya si penjaga warung sambil melirik ke arah dada Anisa. “Susu anget?”
“Iya, Bang, tau aja,” jawabku. Tatapanku refleks menoleh ke arah dua pria lainnya “Eh, ngomong-ngomong, bapak-bapak pada suka minum susu juga ga? Kalo suka saya kasih nih, eh maksudnya saya beliin.”
Si kenek kurus kering ketawa. “Kalo susu mah saya suka banget, Dok. Apalagi kalo minum langsung dari sumbernya.” Ia melirik Anisa.
Si sopir buncit nyengir, lalu menambahkan.
“Bener, Dok. Kalo susunya dari pabrik yang bagus, pasti rasanya beda. Kayaknya Bu Dokter tahu banyak soal susu ya, Bu?” Ia menatap Anisa langsung, matanya tertuju pada dada Anisa, di mana renda BH merah samar-samar kelihatan di balik kemeja tipisnya.
Anisa menoleh sekilas dengan wajah memerah. Ia tidak berani protes, marah, atau pun menyanggah.
“Ga tau,” ucapnya ketus dengan senyum dipaksakan.
Si penjaga warung tersenyum. “Kalo saya mah suka yang penuh. Yang bikin puas minumnya. Kalo bisa sampe pabrik-pabriknya saya sedot.”
Mereka bertiga memandang ke arah Anisa, seolah pabrik susu yang dimaksud adalah payudaranya yang besar, kencang, dan bulat itu. Ketiganya tertawa. Suasana warung tiba-tiba terasa lebih panas.
Si sopir tiba-tiba tersenyum. “Bu Dokter, kalo boleh tau, susu dari pabrik Ibu ini … produksinya banyak ga? Soalnya kayaknya premium banget gitu.”
“Ah, dia mah empengnya doang, Pak,” jawabku.
“Masa sih?” tanya si sopir lagi sambil nyengir lebar. “Pasti banyak lah, lihat aja bentuknya.”
“Coba aja sendiri. Pabriknya doang itu,” jawabku.
Anisa mencubit pinggangku. “Beb, apaan sih!”
Aku nyengir, dan tanpa pikir panjang, tangan kananku meraih dada Anisa, lalu meremas pelan payudaranya yang kencang.
“Ini tuh gede doang, tapi ga ada susunya, Pak.”
Anisa menatapku dengan mata membelalak, seolah tak percaya bahwa aku akan meremasnya di depan umum. Wajahnya semakin merah, tapi ia tak menepis tanganku. Ia hanya menggigit bibir bawahnya, seolah bingung antara malu dan marah.
“Saya sih tetep ga percaya sebelum coba sendiri, Dok,” ucap si sopir sambil tersenyum. Matanya tak lepas dari dada Anisa, di mana tanganku masih meremasnya.
Si kenek ikut tersenyum. “Kalo pun bener ga ada susunya, ga apa-apa deh cuma mainin empengnya Bu Dokter aja. Boleh ga sih?”
Penjaga warung ikut nimbrung. “Bener tuh. Kita-kita mah, ga perlu susu, Dok. Pabriknya aja udah bikin seneng,” katanya sambil memasang senyum nakal ke arah Anisa.
Istriku merinding saat mulut mereka mulai beringas dan tak punya malu. Suasana warung sekarang seperti bom yang siap meledak.
Pada satu titik, aku menatap Anisa dalam keheningan. Ia pun menatap balik seolah meminta ingin cepat pergi.
“Boleh ga, Beb?” tanyaku.
Anisa hanya diam sambil menunduk tanpa jawaban. Raut wajahnya lemas dan terlihat kecewa. Namun, tanpa menunggu jawaban, aku meremas bongkahan payudaranya semakin berani.
Anisa terbelalak dan berusaha menepis tanganku. “Beb, gila kamu ya?” bisiknya.
Aku meremas payudara Anisa lebih kuat sambil memberinya senyum. Anisa protes, tapi tidak menolak secara keras. Wajahnya merah, tapi ia tak sepenuhnya menolak, seolah-olah sudah terperangkap dalam situasi ini.
“Beb, apaan sih!” ucap Anisa lagi. “Nanti aja di rumah!”
Aku hanya tersenyum dan menatapnya dengan mata penuh nafsu.
“Boleh ya, Beb. Kasih pegang aja?”
“Pegang apa?” tanya Anisa dengan nada ketus.
“Toket kamu. Kasihan mereka tuh, udah pada mupeng,” jawabku.
“Kamu udah gila apa gimana sih, Bay?! Kok ga ada otaknya!” Anisa berusaha melepaskan tanganku, tapi tidak berusaha keras untuk itu. Ia hanya terlihat seperti sedang melakukan sebuah formalitas saja.
Sekilas Anisa melirik pada wajah-wajah senyum pria di warung itu. Tekanan dan nafsu mereka semakin meningkat.
Dengan gerakan mata, aku memberi kode pada si sopir truk untuk mendekati Anisa.
Si sopir menangkap kode itu dan mendekati sambil tersenyum. Ia duduk di sisi kiri Anisa.
“Bapak mau ngapain?” tanya Anisa yang bergeser mepet ke arahku. Matanya waspada dengan pria buncit di sebelahnya.
Sopir truk buncit itu duduk di sisi kiri Anisa tanpa ragu. Bau keringat dan rokok murahan langsung menyengat hidungku, tapi itu justru menambah sensasi aneh di dadaku. Wajahnya yang kasar penuh bekas jerawat, dan senyum psikopat lebarnya membuatku terangsang parah. Matanya langsung tertuju pada dada istriku, di mana kemeja putih tipis itu masih memperlihatkan renda BH merah yang samar-samar.
“Bu Dokter, boleh ga saya pegang bentar? Biar yakin kalo bener ga ada susunya,” katanya dengan suara serak penuh nafsu yang tak disembunyikan.
“Boleh ga tuh, Beb?” tanyaku.
Anisa makin mepet denganku. Ia berusaha menghindar, tapi tak bisa kabur.
“Jangan macem-macem kamu, ya!” serunya dengan wajah panik.
Tangan kanan si sopir sudah menggantung di udara dan siap meraih, tapi ia masih menunggu isyarat dariku.
Aku cuma mengangguk pelan memberikan persetujuan, senyumku masih terpasang meski hati ini berdebar kencang antara cemburu dan nafsu.
Anisa menoleh ke arahku dengan mata membelalak, wajahnya semakin merah.
“Bay—” Anisa mencoba menarik tubuhnya ke belakang, tapi meja reyot itu membuatnya terperangkap.
Ucapan Anisa terhenti saat tangan kasar si sopir yang penuh kapalan itu meraih dada kirinya.
“Bayu, tolong!” pekik Anisa.
Pria itu meremas pelan seperti sedang menguji kelembutan susu istriku, lalu perlahan tenaganya makin kuat.
“Wah gede banget pabriknya, empuk lagi. Saya ga percaya kalo ga ada susunya.” Jarinya bergerak mencoba menyentuh area puting yang masih berada di dalam kain kemeja.
Anisa menggigit bibirnya kuat-kuat dan menatap ke arahku dengan tatapan melas. Ia kini berhenti berontak dan tubuhnya mendadak lemas.
“Beb … Please udah …,” keluh Anisa pelan, tapi tangannya tak berusaha menepis.
“Sebentar aja, Beb, ya … kasih mereka sedikit,” balasku sambil mengusap rambutnya.
Anisa memejamkan mata sejenak. Napasnya mulai terengah. Wajahnya pun campur aduk antara malu dan risih.
Si kenek kurus kering yang dari tadi cuma mengamati dari meja sebelah, tak tahan lagi. Ia bangun dan mendekat.
Aku bangun dan hendak pergi, tapi Anisa menarik tanganku dan menggeleng seolah memintaku jangan pergi. Namun, aku melepasnya dan tersenyum.
“Ga apa-apa, aku liatin,” bisikku.
Akhirnya si gundul ceking duduk di sisi kanan Anisa. Kedua pria itu mengapitnya dari kedua sisi.
“Saya juga boleh dong Bu Dokter? Cuma pegang bentar janji deh,” katanya dengan suara parau.
Tangannya dengan cepat terulur ke arah dada kanan Anisa tanpa peduli dengan izinku. Tangan kurusnya kini meremas payudara Anisa dengan gerakan kasar, seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru.
“Shhhh.” Anisa mendesis dan hanya bisa pasrah sambil matanya menatap ke arahku.
“Ini mah lebih gede dari yang saya bayangin. Lembut banget kayak bantal surga,” kata si kenek sambil tertawa, jarinya mencoba membuka satu kancing kemeja Anisa tanpa izin.
Anisa tercekat, tubuhnya menegang. “Jangan … kancingnya jangan dibuka,” protesnya.
Namun, si kenek yang nakal itu sudah berhasil membuka satu kancing istriku dan membuat belahan dada Anisa lebih terekspos. Renda BH merahnya sekarang jelas terlihat, dan putingnya yang mengeras samar-samar menonjol di balik kain tipis itu.
Si penjaga warung yang selama ini berdiri di belakang etalase, akhirnya ikut nimbrung. Ia mendekat dengan langkah mantap, badannya yang kekar itu membuatnya terlihat seperti preman pasar.
“Wah … saya ikut dong, Pak Dokter. Kan ini warung saya, hak saya juga buat icip-icip,” katanya sambil nyengir ke arahku.
“Silakan, Mas,” jawabku.
Ia kini berdiri di depan Anisa, tangannya langsung meraih rok pendek istriku dan menggesernya naik sedikit, memperlihatkan celana dalam hitamnya yang tipis.
“Tolong jangan yang bawah, ya!” protes Anisa sambil tangannya menahan tangan si penjaga warung.
“Yang atas kan udah penuh, saya ga kebagian. Bu dokter pilih aja deh, mau emut pisang saya apa saya obok-obok lobangnya? Kalo Bu dokter laper, saya sih ikhlas aja pisang saya diemut-emut sama Bu dokter.”
Tanpa menunggu jawaban, tangan kekarnya meraba paha Anisa.
Anisa menggeliat, napasnya semakin cepat.
“Bay—ahhhh cukup … ini udah kelewatan shhhh,” ucapnya sambil menggeliat berusaha berontak lagi, tapi suaranya lebih seperti rintihan daripada protes.
Mata Anisa melirikku. Ada marah dan kecewa yang mengendap, tapi juga nafsu yang mulai bangkit. Aku bisa lihat putingnya semakin mengeras di balik BH, dan pahanya yang sedikit melonggar seolah tak sepenuhnya menolak.
Si sopir tertawa. “Lihat nih, Bu Dokter kayaknya suka juga. Putingnya udah tegang gini.” Ia mencubit pelan dari balik kain, membuat Anisa mendesah pelan tanpa sadar.
“Ahhhh, cukup ….”
Ketiga pria itu saling bergantian meremas dan meraba Anisa, sementara aku duduk di seberangnya, memantau dengan jantung berdegup kencang. Cemburu membara di dadaku, tapi hasrat ini jauh lebih kuat.
“Ga apa-apa, Beb, pegang-pegang doang kok. Nikmatin aja sebentar, oke?” tanyaku sambil tersenyum dengan suara agak gemetar.
Anisa tak menjawab. Ia hanya memejamkan mata. Tubuhnya mulai rileks dijamah tangan-tangan asing itu.
Tiba-tiba si penjaga warung menoleh ke arahku, “Pak Dokter, istrinya saya buka dikit boleh, ya?”
Anisa ikut menatapku. Ia menggeleng tipis seperti sedang memohon. “Beby, please ….”
Aku meneguk ludah dan membayangkan lebih jauh. Ku tatap ketiga pria itu dan mengangguk pelan sebagai jawaban.
Mereka bertiga sontak tersenyum. Perlahan mereka semakin aktif menggerayangi Anisa dan melepaskan pakaiannya.
Anisa tampak sudah lelah melawan. Ia kini hanya diam dan pasrah pada keadaan.
Kemeja Anisa perlahan terbuka. Kancing demi kancing kemeja putih tipis itu terbuka dipereteli si sopir truk dan keneknya. BH merah istriku menyala kontras dengan kulit pucatnya. Lekuk payudaranya yang montok membuat mereka semua meneguk ludah.
“Bener-bener … premium, Bu Dokter! Ahhh mantap,” ucap si kenek.
Tangan kurus itu mencengkeram erat pinggang Anisa, mencegahnya mundur saat si sopir menunduk. Bau rokok dan keringat menyergap wajah Anisa sebelum mulut lebar itu menutupi puting kirinya.
“Ga, jangan—!” Anisa melengkungkan punggung, tangan mungilnya mencengkeram tepi meja. Kukunya meninggalkan bekas di permukaan kayu usang itu “ahhhh.”
Tangan kotor si penjaga warung merayap di paha bagian dalam Anisa. “Tenang aja, Bu Dokter, saya bikin enak.” Jari-jarinya aktif di celana dalam hitam istriku, dan menggesek lipatan basah yang sudah mulai menetes.
Rangsangan tiga arah itu membuat Anisa lambat laun terjebak dalam badai sensasi. Si sopir menghisap putingnya dengan rakus, gigi kuningnya sesekali menggigit manja.
Di sisi lain, si kenek mengulum payudara kanan Anisa. Lidahnya menyapu mengitari areola.
“Ahhhh … stop, Bang ….”
“Kalo Abang ga mau berhenti gimana?” tanya si penjaga warung dengan suara lembut meledek. Dua jarinya menyusup ke dalam celana dalam Anisa.
“Ohhh my god.” Anisa menutup mulutnya sambil perlahan melebarkan kaki. Entah ia sadar atau tidak.
Suara kobokan tangan si Abang penjaga warung yang masuk-keluar lubang basah istriku menjadi nyanyian yang membuatku semakin tegang.
“Abang ….ahhhhhh ….” Rintihan Anisa terpotong desahan panjang saat jemari kekar itu menekan titik G-nya. Matanya setengah terpejam, bibirnya menganga, dendam malu berubah jadi getaran nikmat di bawah dominasi kolektif mereka.
Anisa gemetar, tubuhnya mulai berkhianat. “Ahhhh ….” jeritnya lemah.
Tangannya memeluk kepala si sopir dan kenek yang semakin asik memompa payudaranya. Kakinya melebar membuka akses untuk si penjaga warung, seolah tubuhnya tahu persis apa yang diinginkan. Pinggulnya menggeliat pelan, mencari gesekan lebih dalam.
Si kenek tertawa kecil, ia melepaskan mulutnya dari payudara istriku dan menatap wajah Anisa.
“Enak ya, Bu Dokter?” Tangan kurusnya memilin puting Anisa, dan sesekali mencubitnya. Membuat istriku mengerang lebih keras. “Ga ada yang nolak kalo udah kayak gini, Bu. Kita bikin semuanya enak bareng-bareng.”
Desahan Anisa terdengar semakin tak terkendali. “Isep lagi ….” katanya lirih.
Si kenek tersenyum dan kembali menghisap kuat payudara istriku.
Punggung Anisa melengkung, menekan payudaranya lebih dalam ke mulut kedua pria itu. Matanya terpejam, wajahnya merah padam.
Si penjaga warung tersenyum nakal saat melihat wajah Anisa. “Liat nih, Bu Dokter, memek Bu dokter udah basah banget. Abang bikin keluar ya, biar puas.”
Pria itu mempercepat gerakan jarinya, menusuk lebih tegas ke dalam, mencari titik sensitif yang membuat Anisa hampir kehilangan akal.
“Ahhhh … ahhhh … gilaaaaa … teruuusss ahhhh.”
“Ayo, keluarin semuanya, Sayang,” balas si penjaga warung.
“Ahhhhhhhh my goooddd mphhhh.”
Anisa menjambak rambut si sopir dan menekan kepala si kenek semakin dalam ke payudaranya. Rintihannya penuh hasrat. Tiap embusan napasnya membawa desahan yang panjang, tubuhnya kini menari di antara rangsangan tiga arah itu.
Saat tekanan mencapai puncaknya, si penjaga warung memutar jarinya dengan presisi, membuat Anisa meledak.
“Abaaaaang, ahhhh … aku keluaaar!”
“Keluarin semua ya, sayang,” balas si penjaga warung.
Cairan kenikmatan Anisa menyembur, membasahi wajah dan tangan si penjaga warung yang tersenyum. Tubuhnya melengkung.
“Uhhhhhhhh … Aku keluaar, babyyyyy!”
Untuk sesaat, suasana warung seperti membeku dalam keheningan. Aku menatap mereka dengan jantung berdebar.
Anisa perlahan membuka mata dengan napas terengah-engah. Ia kembali ke dunia nyata. Matanya bertemu denganku. Tatapan itu terlihat seperti malu.
Anisa langsung mendorong mereka bertiga dan mengambil barang-barangnya, juga menutupi dirinya dengan jas putihnya yang berada di meja. Ia berjalan ke arah mobil.
“Bang, saya bayar dulu. Jadi berapa?” tanyaku pada si penjaga warung.
Pria itu sedang mencium jarinya yang basah oleh lendir Anisa. Ia tersenyum padaku.
“Ga usah bayar, Pak Dokter. Saya yang makasih loh udah dikasih mainin istrinya.”
Aku pun tersenyum pada mereka dan mengangguk, lalu berjalan cepat menyusul Anisa ke mobil.
Saat berada di samping mobil, Anisa enggan menatapku.
“Bay …,” bisiknya lirih dengan suara gemetar. “Nanti di rumah ada yang mau aku omongin.”
=================
[Iuran Bulanan]
Saat aku dan Anisa tiba di rumah, kami segera bersih-bersih badan. Anisa memasuki kamar mandi duluan, dan aku menunggu di luar. Kami tidak berbicara sepanjang perjalanan sampai sekarang.
Setelah selesai, Anisa keluar dengan wajah merah dan mata yang sembab seperti habis menangis. Ia memakai daster longgar berwarna merah. Aku bisa merasakan kekhawatirannya.
Setelah aku mandi, kami berdua duduk di tepi ranjang, berhadapan satu sama lain.
“Bay.” Anisa mulai berbicara dengan suara lirih, “Ada sesuatu yang mau aku bilang ke kamu.”
Aku menatapnya sambil meneguk ludah. Jujur, aku mulai merasa takut dengan apa yang ingin ia bicarakan. Namun, aku berusaha untuk tetap tenang.
“Bilang apa, Beb?” tanyaku.
Anisa hanya diam. Ia seperti ragu untuk bicara.
“Aku kelewatan, ya?” tanyaku lagi. “Maaf, ya udah egois.”
“Bay.” Anisa menunduk dan memegang tepi dasternya dengan erat. “Selama tinggal di desa ini, aku udah … aku udah diperkosa sama dua orang. Aku takut tinggal di sini, Bay. Takut sama cowok-cowok di kampung ini karena mereka bejat. Aku ngerasa hina banget waktu ga berdaya dilecehin mereka. Gilanya, ada fase di mana aku malah nikmatin itu semua.”
Meskipun aku tahu tentang kejadiannya dan itu adalah ujung dari permainanku, tapi aku pura-pura bodoh saat ini. “Siapa yang udah berani-beraninya merkosa kamu?”
“Dedi sama Baron,” jawabnya dengan suara parau.
“Kapan?” tanyaku.
“Baron beberapa hari lalu waktu Dedi ga masuk kerja. Kalo Dedi sebelumnya lagi, waktu kamu pulang duluan dan aku lembur di puskesmas,” jawabnya.
“Terus kamu gimana? Kenapa ga bilang?”
Anisa menatapku dengan mata penuh air mata. “Aku takut. Aku ngerasa hina banget dan bersalah, tapi ga berani cerita ke kamu. Aku tuh takut banget, Bay, tapi liat kamu tadi aku jadi mikir kalo seandainya kamu tau, reaksi kamu gimana. Apa kamu bakal marah? Atau apa?”
Aku mencoba untuk memahami perasaannya. “Jujur, aku emang suka dan terangsang kalo kamu digodain dan digrepe-grepe sama cowok lain, tapi kalo di belakang aku … aku ga suka. Ya aku marah lah, tapi bukan sama kamu, tapi sama mereka berdua.”
“Aku ga tau lagi harus gimana,” ucap Anisa. “Aku malu dan takut, Bayu.”
“Kamu ga hina, Beb. Kamu harusnya bangga kalo ada cowok yang suka sama kamu, sampe bikin mereka nafsu. Aku paham mereka ga etis, dan kalo kamu mau, aku akan datengin mereka. Kalo perlu aku habisin mereka berdua.”
“Ga usah, Beb. Aku ga mau kita bermasalah di sini,” balas Anisa.
“Beb, jujur … aku mau kamu supportif sama fantasiku, tapi kalo ada apa-apa lagi tolong kamu bilang demi keamanan kamu juga. Kita udah terlanjur kecebur, tapi sebetulnya aku tuh cuma mau kita bisa sama-sama nemuin kebahagiaan. Liat kamu di posisi tadi tuh bikin aku nafsu dan seneng. Seneng karena fantasiku terwujud, dan seneng kamu nikmatin itu juga. Aku ga akan biarin mereka nikmatin kamu sampe keterlaluan dan kelewat batas, apa lagi tanpa ada aku.”
“Oke, aku akan berusaha buat lebih supportif, Bay. Tapi, aku mau kamu jagain aku biar mereka ga kelewatan sampai kayak Dedi dan Baron. Aku mau merasa aman dan nyaman. Intinya komunikasi, jangan kayak tadi. Aku geli sama cowok-cowok itu. Meskipun ada kamu, aku tuh jijik sama mereka sebetulnya.”
Aku mendekat dan menaruh tanganku di pundaknya. “Aku pasti jagain kamu, Beb. Aku janji bakal selalu ada buat kamu.”
Anisa tersenyum meskipun masih ada getir di wajahnya. “Makasih, Bay. Aku cinta kamu.”
Aku mengecup keningnya. “Aku juga cinta kamu, Beb.”
Anisa mendekat dan menaruh kepalanya di pundakku. “Mulai sekarang aku bakal coba ngikutin fantasi kamu. Kalo kamu mau pamerin aku, silakan, tapi bilang dulu, bahkan kalo emang perlu ada sentuhan atau lebih jauh lagi kayak tadi, aku akan bolehin, tapi komunikasi dulu. Dan kalau pun aku lagi ga mau, tolong jangan paksa aku, ya?”
Aku mengangguk. “Oke, Beb, makasih banyak udah supportif, ya.”
“Terkait Dedi sama Baron, kamu anggap aja ga pernah denger itu,” ucap Anisa. “Aku takut kamu kenapa-napa.”
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah perbincangan itu, kami bercinta penuh nafsu dan romantisme. Entah mengapa, malam ini Anisa agak berbeda. Ia bermain lebih agresif dari biasanya.
***
Keesokan harinya, puskesmas desa libur. Aku dan Anisa bersantai di rumah tanpa rencana ke mana-mana. Suasana di rumah kami terasa tenang dan damai.
Di tengah tenang dan damai itu, suara ketukan di pintu membuatku menoleh. Aku berjalan ke pintu dan membukanya. Di depan sana, Pak RT berdiri memegang map cokelat.
“Assalamualaikum,” sapa Pak RT.
“Waalaikumsalam,” jawabku. “Wah ada apa nih tumben pagi-pagi udah mampir aja?”
“Biasa, Pak Dokter. Saya keliling mintain uang iuran,” jawab Pak RT.
“Oh, masuk aja dulu, Pak RT, tunggu di dalem, saya siapin dulu uangnya,” ucapku sambil menunjuk ke arah sofa di ruangan tamu kami yang kecil.
Pak RT mengangguk dan duduk di sofa sambil menunggu.
“Beb, ambilin seratus ribu dong,” ucapku dengan suara agak keras sambil berjalan ke kamar untuk mengambil uang seratus ribuan untuk iuran RT.
Namun, Anisa tak berada di kamar dan aku belum memberitahu Anisa tentang kedatangan Pak RT. Segera aku keluar kamar untuk memberitahunya, tapi terlambat.
“Uang ap—” Anisa berjalan dari arah dapur ke ruang tamu. Ia berhenti saat menangkap sosok pria yang bukan suaminya sedang duduk di sofa.
Di sisi lain, Pak RT terdiam seribu bahasa. Matanya seakan ingin melompat keluar saat menatap ada wanita sexy yang berjalan sambil mengikat rambutnya ke belakang. Anisa hanya mengenakan lingerie hitam tipis favoritku, tanpa memakai BH.
Wajah mereka memerah. Saat Anisa ingin berjalan ke kamar, ia terhenti karena aku menutupi jalur kaburnya.
“Beb, tolong buatin minuman buat pak RT,” ucapku.
Kata-kata itu seolah menjadi kode bahwa aku ingin ia terus berpakaian seperti itu untuk melayani tamu kami. Ia meneguk ludah dan menundukkan wajah. Aku paham ia risih, tapi Anisa berusaha supportif seperti apa katanya semalam.
“Mau minum apa, Pak?” tanyanya pada pak RT.
“A-apa aja, Bu Dokter,” jawab Pak RT tergagap-gagap.
Anisa mengangguk dan berjalan kembali ke dapur. Sosoknya hilang saat berbelok di depan kamar mandi.
Suasana mendadak canggung. Aku bisa merasakan ketegangan di antara Pak RT dan istriku.
“Ga buru-buru kan, Pak?” tanyaku.
“E-enggak kok, Pak Dokter,” jawabnya.
Aku tersenyum padanya. “Nyantai dulu ya, Pak. Kita ngobrol-ngobrol sebentar.”
“O-oke.”
***
Beberapa menit kemudian, Anisa muncul kembali dari dapur dengan membawa dua gelas minuman. Ia meletakkan gelas di depan Pak RT dan aku, lalu duduk di sisiku, menjaga jarak yang cukup dari Pak RT.
“Terima kasih, Bu Dokter,” ucap Pak RT sambil mengambil gelasnya.
“Sama-sama, Pak,” jawab Anisa.
Suasana masih canggung, tapi aku berusaha untuk meringankan situasi. Aku paham gerak tubuh Anisa menunjukkan gelagat risih, tapi selama ia tidak menolak, aku pun diam.
“Beneran ga buru-buru kan, Pak?” tanyaku sambil tersenyum.
Pak RT mengangguk dan mulai berbicara tentang hal-hal random, seperti cuaca dan kehidupan di desa. Tetapi, aku bisa melihat matanya terus melirik ke arah Anisa, terutama bagian dada.
“Kenapa diliatin mulu pak istri saya?” tanyaku iseng.
Pertanyaan itu membuat Pak RT gelagapan dan salah tingkah. Ia langsung minum sampai tersedak.
“Santai aja, Pak,” sambungku lagi.
Pak RT tersenyum dan melirik ke arah Anisa. “Istrinya … cantik, Dok.”
Aku menatap Anisa. “Tuh, kamu dipuji cantik, Beb.”
“Ma-makasih, Pak RT,” ucap Anisa malu-malu.
Hati ku berdebar mengamati situasi ini dan membayangkan setiap momen yang akan terjadi dengan harapan situasi ini berkembang menjadi lebih panas dan berani.
“Dokter Anisa … kalau di rumah … Bu Dokter memang berpakaian seperti ini?” tanya Pak RT malu-malu.
Anisa meneguk ludah. “I-iya, Pak. Kenapa, ya?”
“Kan demi nyenengin suami mah boleh aja, Pak,” ucapku menyambar.
“Ah, anu, Pak Dokter ….”
“Suka ya?” tanyaku lagi.
Pak RT hanya tertawa sambil menggaruk kepala. “Abisnya Bu Dokter cantik banget.”
“Cantik apa sexy, Pak?” tanyaku sambil terkekeh.
“Sexy juga sih,” jawab Pak RT canggung.
“Ah, masa sih? Saya mah liatnya biasa aja tuh. Emang yang sexy apanya, Pak?” tanyaku memancing.
Pak RT kembali melirik ke arah belahan dada Anisa. “Susunya montok dan gede, Pak.”
Meskipun canggung, suasana menjadi semakin panas. Aku berusaha merubah arah pembicaraan pagi ini ke arah yang lebih panas.
“Segitu masih pake baju, Pak,” sahutku.
“Duh, gimana yang ga pake, ya,” balas pria paruh baya itu. Ia sudah mulai cair dan berani.
“Tanya aja langsung ke istri saya, Pak RT” ucapku.
“Tanya apa tuh, Pak Dokter?”
Aku terkekeh. “Apa aja boleh, di sini mah bebas, Pak.”
Dan pada akhirnya, Pak RT mulai memakan umpanku dan membawa topik yang lebih berani dan tertuju ke Anisa.
“Dokter Anisa, saya mau tanya … bu dokter kalau main sama pak dokter … paling suka gaya apa?” tanyanya lebih berani.
Wajah Anisa memerah. “Apa aja, Pak, yang penting enak.”
“Yang enak gimana tuh?” tanya Pak RT lagi.
Anisa menatap ke arahku, dan aku tersenyum padanya sambil mengangguk pelan. Sontak, ia langsung menoleh kembali ke wajah Pak RT. “Do-doggy, Pak. Saya suka dimasukin dari belakang.”
“Wah, enak tuh masuk dari belakang, terus mainin yang atas dari belakang juga.” Pak RT tersenyum dan melirik ke arah ku, lalu kembali lagi ke Anisa dengan pandangan penuh nafsu. “Ka-kalo payudara ukuran berapa, Bu Dokter?”
Anisa masih mencoba untuk tetap tenang. “Aku … aku ukuran 38B, Pak,” jawabnya dengan suara agak gemetar.
Pak RT meneguk ludah sambil menatap fokus ke arah belahan dada Anisa. “Suka … dipegang, Dok?”
“A-apanya?” tanya Anisa.
Pak RT menunjuk ke arah dadanya. “Susunya.”
Anisa meneguk ludah dan menjawab dengan suara parau. “Su-suka, Pak.”
Suasana menjadi semakin intens. Pak RT semakin berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan berbau porno dan sexual. Sementara meskipun risih, Anisa masih menanggapi dengan jujur.
“Mau pegang, Pak?” tanyaku menawarkan hidangan utama di rumah unu.
Pak RT terdiam menatapku seolah tak percaya mendapatkan tawaran itu langsung dari mulut suami daripada wanita yang sedang ia goda.
Di sisi lain, Anisa pun ikut menatap ke arahku sambil memicingkan matanya. Ia tidak percaya aku akan menawarkan tetua desa untuk menyentuhnya.
Aku meneguk ludah dan mendadak takut dengannya karena belum meminta persetujuan di awal.
“E-emang boleh, Dok?” tanya Pak RT.
Aku memasang senyum canggung. “Tanya langsung aja pak sama istri saya. Kalo boleh sama dia, saya mah ikut aja.”
Pak RT langsung bersemangat menoleh ke arah Anisa. “Bu Dokter … boleh saya pegang … susunya?”
Anisa berusaha menghindar. “Ga ada susu di sini, Pak RT.”
Namun, Pak RT kini menunjuk lebih tegas ke arah dadanya. “Maksud saya megang toket Bu Anisa. Saya gemes, Bu. Udah lama mau pegang kalo boleh.”
Anisa ragu dan tidak langsung menjawab. Namun, setelah beberapa saat, ia mengangguk pelan. “I-iya, Pak. Boleh, tapi … pelan-pelan, ya.”
Pak RT tersenyum lebar dan mendekati Anisa. Ia menaruh satu tangannya di paha dalam Anisa, sementara yang satunya mulai menyentuh payudara istriku dari luar lingerie.
“Gede banget, Bu. Tangan saya sampe ga muat,” kata Pak RT sambil mulai meremas-remas.
“Mpphh ….” Anisa menahan agar mulutnya tidak mendesah.
Aku tersenyum dan mengamati mereka dari depan. “Enjoy, Beb.”
Anisa mengangguk sebagai jawaban. Ia melirik Pak RT yang sudah tidak sabar dan mulai mengangkat lingerie nya.
“Saya buka aja ya biar gampang, Bu Dokter,” ucap Pak RT.
Aku sangat tegang saat melihat momen Pak RT melepaskan lingerie istriku sampai telanjang dan hanya mengenakan celana dalam. Bongkahan payudara Anisa kini berada di dalam genggaman pria paruh baya itu.
“Kamu cantik, Bu Dokter,” puji Pak RT sambil memilin puting Anisa dengan jarinya.
“Shhh … ahhh ….” Anisa mendesah lagi, ia mulai terlihat nyaman dengan sentuhan Pak RT.
Istriku yang awalnya canggung, perlahan-lahan mulai menikmati rangsangan Pak RT. Ia mulai tidak menahan-nahan desahannya lagi.
“Enak, Bu?”
Anisa mengangguk-angguk ke arah Pak RT untuk memberi tanda bahwa ia suka dengan sentuhan itu.
“Jangan panggil Bu dong, Pak. Panggil aja kayak biasa saya manggil istri saya, Beb atau baby gitu biar enak,” ucapku sambil terkekeh.
Pak RT pun semakin berani saat mendapat lampu hijau dariku.
“Kamu cantik, Baby. Boleh aku nenen?” tanya Pak RT.
“Isep aja, Baby,” balas Anisa mengikuti permainanku.
Pak RT menunduk. Ia menyaplok bongkahan payudara kanan Anisa sambil memilin puting yang kiri.
“Ahhhh … isep yang kuat, Babyyyy … mphhh ….”
Anisa mulai menyusui Pak RT. Ia memegang kepala Pak tua itu dan menekannya semakin dalam ke payudaranya.
“Terus, Beb, gigit pelan,” ucap Anisa.
Pak RT pun menggigit puting Anisa dengan manja.
“Ahhhhh ….”
Tangan kirinya membuka celana dan mulai mengocok batangnya sendiri.
“Ahhhh … enak banget kamu, Baby Anisaaaahhh,” lenguh Pak RT. “Kocokin dong.”
Anisa meraih pusaka Pak RT dan mulai mengocok batang itu dengan tangan kanan. Ia mengocok agak cepat untuk menyelesaikan hasrat pria paruh baya itu.
Namun, Pak RT yang sudah tidak tahan, tiba-tiba mendorong Anisa hingga berbaring di sofa. Ia hendak memasukan kontolnya ke dalam memek istriku, tetapi Anisa menahan tubuh pria itu dan melarangnya.
“Jangan, Pak,” ucap Anisa dengan suara panik. “Saya ga mau kalo ga pake kondom.”
Pak RT yang tergagap, mencoba untuk tetap memasukkan kontolnya, tetapi Anisa berusaha keras menahan tubuhnya dengan kekuatan yang terlihat lemah.
“Beby tolongin!” pekiknya.
Aku menatap Pak RT. “Jangan, Pak. Kalo istri saya mau baru boleh. Kalo dia ga mau, jangan dipaksa.”
Pak RT menatapku dan mengangguk. “O-oke, Dok.”
“Pokoknya ga boleh tanpa kondom,” ucap Anisa.
“Oke, Bu Dokter. Maafkan saya.” Pak RT menatap ke arahku. “Pak, ada kondom?”
Aku menggeleng karena memang tak punya stok kondom di rumah.
Pak RT terlihat kecewa.
“Tempelin aja ga apa-apa kepala kontol Pak RT. Boleh masuk dikit, tapi ga boleh masuk lebih dari itu karena ga ada kondom,” ucap Anisa.
Pak RT tersenyum dan mendekati Anisa lagi, tapi kali ini dengan gerakan yang lebih hati-hati. Ia menempelkan kontolnya dan menggesek-gesek bibir vagina istriku, sampai perlahan ia celupkan kepala kontolnya sedikit ke dalam vagisa Anisa.
“Ahhhh, mainin tetek saya lagi, Pak,” ucap Anisa yang sudah turun meskipun bagian bawahnya sudah basah.
“Ah, gini aja udah enak, Dok, apa lagi kalo saya masukin semuaaaa,” kata Pak RT.
“Ahhhh … iya, Pak, enak, tapi saya ga mauuuu ambil resiko … uhhhh.”
Pak RT memainkan puting Anisa dengan jarinya sambil mencelupkan kepala kontolnya keluar masuk bibir vagina Anisa. Sesekali ia menunduk lagi untuk mengulum, menjilat, dan menggigit puting Anisa yang sudah tegang, lalu lanjut mencelup istriku.
“Ahhhh, Pak, lebih dalem dikit,” desah Anisa yang birahinya naik kembali, meskipun ia tahu bahwa itu tidak boleh.
Pak RT tersenyum. Ia menekan kontolnya masuk sampai setengah batang ke dalam memek Anisa.
“Ahhh … Bu Dokter, saya mau keluaaar nih … ahhhh.”
“Jangan dalem-dalem, Pak,” pinta Anisa.
“Ahhhhh, keluaarr, Bu!” Pria paruh baya itu muncrat dengan posisi kepala kontol masuk keluar bibir vagina Anisa.
“Keluarin, Pak, uhhhh ….”
“Ahhhh … kamu enaaaak, Anisaaaaah.”
Saat ia menarik batang miliknya, lendir putih itu berceceran hingga membasahi sofa.
Napas mereka berdua terengah-engah. Setelah itu Pak RT roboh di atas tubuh Anisa.
Anisa menatap ke arahku tanpa kata-kata.
Aku tersenyum padanya dan memberikan jempol. “Kamu mantep, Beb.”
Ia tersenyum, lalu memejamkan mata dan berusaha mengatur napas kembali.
=================
[Nobar]
Minggu paginya, aku duduk di depan teras ditemani secangkir kopi hitam panas tanpa gula. Kopinya sudah manis karena Ada Anisa di depanku. Ia sedang menjemur pakaian.
Dari rumah sebelah, terdengar suara pintu berdecit. Mang Ujang keluar rumah sambil membawa segelas kopi juga. Kami saling menatap satu sama lain.
“Assalamualaikum, Pak,” sapa Mang Ujang sambil tersenyum.
“Waalaikumsalam, Mang. Ngopi bareng sini,” ucapku sambil menunjuk ke kursi di sampingku.
Mang Ujang mengangguk sambil berjalan dan duduk di sampingku. Kami mulai berbicara tentang hal-hal umum, seperti kondisi kesehatan warga desa dan pekerjaan masing-masing.
Seiring kami berbicara, aku bisa melihat mata pria gemuk itu sering kali melirik ke arah Anisa yang sedang menjemur pakaian di depan kami.
Anisa pagi ini mengenakan kaos oversize berwarna putih dan celana hot pants hitam. Pantatnya yang bahenol membuat Mang Ujang sesekali meneguk ludah. Karena sadar akan hal itu, refleks aku menggodanya.
“Kalo mau bantu jemur, bantu aja, Mang,” ucapku sambil tersenyum. “Pake diliatin mulu.”
Mang Ujang tersenyum dan menatap Anisa. “Bisa dibantu apa, Bu Dokter?”
Anisa menoleh dan menatap Mang Ujang sambil tersenyum. “Ga usah, Mang, udah beres juga ini. Sisa daleman-daleman doang. Makasih tawarannya.”
“Ya udah ga apa-apa, biarin Mang Ujang yang bantu jemur sisanya,” balasku. “Bantuin tuh, Mang.”
Anisa menatapku dengan tampang skeptis sambil menghela napas. Sementara aku hanya terkekeh membalasnya.
Mang Ujang mengangguk dan berjalan ke arah istriku. Ia langsung saja mengambil satu BH Anisa untuk membantu menjemurnya. Namun, saat ia melihat ukurannya, ia diam dengan tampang terpana.
Anisa memicingkan mata. “Kenapa, Mang?”
Ia bertanya pada Anisa. “Bener ukurannya segitu, Bu Dokter?”
Aku makin terkekeh mendengar pertanyaan itu. “Pegang aja kalo ga percaya, Mang.”
Anisa yang mendengar pertanyaan itu, langsung menggelengkan kepala dan menatap skeptis pada Mang Ujang. “Jangan didengerin, Mang. Emang rada gila dokter yang satu itu.”
Setelah berucap begitu, Anisa berjalan masuk ke dalam rumah membawa ember hitam sambil meledek Mang Ujang. “Kalau Mang Ujang butuh pegangan hidup, cari aja yang lain.”
Mang Ujang hanya bisa tertawa sambil mengangguk kepalanya sendiri. “Siap, Bu Dokter.”
Setelah Anisa pergi ke dalam, kami melanjutkan obrolan. Mang Ujang mengajakku nobar bola nanti malam untuk laga Manchester United vs Liverpool di sebuah kafe saung bernama Kafe Bumi.
“Di mana lokasinya, Mang?” tanyaku.
“Di tengah sawah arah ke puskesma, Pak. Sebelum pertigaan, yang ada jalanan aspal setapak ke masuk ke sawah. Tenang aja, Pak Dokter. Meskipun di tengah sawah, tapi ga ada nyamuknya! Udah estetik juga kayak kafe-kafe kekinian di Jakarta,” jawab Mang Ujang.
“Biasanya rame, Mang?” tanyaku.
“Enggak sih, Pak. Paling banyak juga tujuh sampe sepuluh orang doang paling kalo ada yang ronda. Kalo sekarang mungkin ga sampe segitu.”
“Oke deh, boleh.” Aku mengangguk setuju untuk pergi bersama-sama nanti malam.
“Ajak Bu Dokter dong, Pak. Biar seru gitu,” ucap Mang Ujang malu-malu.
Aku tersenyum padanya. “Harus. Kopites angel harus dateng buat dukung tim kesayangan.”
Ia terkekeh. “Nanti berangkatnya bareng aja dari sini, naik motor saya.”
“Bonceng tiga?” tanyaku.
“Bisa diatur pokoknya, Pak Dokter. Aman kalo motor mah.”
***
Selesai ngopi, aku dan Mang Ujang berpisah. Ia pulang ke rumahnya, dan aku masuk ke dalam rumah dinas. Aku duduk di sebelah Anisa yang sedang bermain ponsel.
“Beb, Mang Ujang mengajak nobar malam ini di Kafe Bumi,” ucapku sambil menatap Anisa.
“Ya udah ACC, nonton aja,” jawab Anisa.
“Kamu ikut, ya.”
Anisa memicingkan matanya padaku. “Aku males ah nobar-nobar, apa lagi di kampung ini. Ih, kebayang banyak bapak-bapak aneh. Lagian juga aku udah nyium pikiran kotor kamu. Kamu pasti ngerencanain sesuatu, kan? Iya, kan? Gara-gara tadi pas kamu nawarin Mang Ujang pegang aku, akunya kabur?”
“Ayo, Beb. Kita seru-seruan aja. Kita jarang banget keluar sama-sama di luar hari kerja. Mang Ujang bilang tempatnya asik. Lokasinya di tengah sawah gitu, tapi udah estetik kayak kafe kekinian. Nanti kamu bisa foto-foto buat di sosmed,” ucapku sambil mengusap pundak Anisa dengan lembut. “Terkait pikiran kotor aku … palingan juga kalo aku mau iseng ya cuma nawarin liat atau pegang doang kok. Selebihnya kan tergantung kamu. Kalo kamu ga nyaman, aku pastiin mereka stop.”
Anisa menghela napas dan menatapku. “Tapi aku ga suka rame-ramean, Beby.”
“Kata Mang Ujang hari ini sepi,” ucapku sambil tersenyum. “Pertama ga ada yang ronda, kedua banyak warga desa yang kerja kasar lagi lembur proyekan, termasuk Bang Baron yang kamu takutin tuh. Jadi aman kok.”
Anisa mendesah dan mengangguk pelan. “Oke, tapi abis itu langsung pulang, ya. Aku ga mau pulang kemaleman. Aku juga takut setan di desa ini.”
“Oukai, Babyyyy,” ucapku sambil mengecup jari Anisa dengan lembut.
***
Malam sudah tiba. Aku dan Anisa sudah siap dengan jersey Liverpool kami. Anisa tampak cantik saat mengenakan jersey Liverpool miliknya yang agak ketat. Jersey itu menempel pada kurva-kurva tubuhnya, menampilkan payudara yang bulat dan punggung yang lebar. Celana hot pants hitam yang ia pakai membuat tubuhnya terlihat lebih panjang dan seksi. Rambutnya yang panjang dan berkilau diikat ke belakang. Kacamatanya menambah kesan intelektual pada sosoknya.
Kami dijemput oleh dua motor. Satu milik Mang Ujang dan yang lain milik Bopeng, pemuda kampung yang masih duduk di bangku SMA. Bopeng memiliki tubuh atletis, tetapi wajahnya jelek dan jerawatan.
“Udah siap kalah Liverpool, Pak?” tanya Mang Ujang yang sudah siap dengan jersey bututnya.
“Liverpool pasti menang, Mang,” balasku sambil terkekeh.
Anisa tiba-tiba menarik jersey ku dengan tampang cemberut. “Bay, kita ga naik mobil aja?”
“Aksesnya ga bisa masuk mobil, Beb. Jadi mau ga mau kita ke sana harus naik motor. Kamu pilih mau dibonceng siapa?”
Anisa menghela napas pasrah dan menatap kami, lalu memilih untuk dibonceng Mang Ujang. “Oke, aku naik motor Mang Ujang aja.”
Anisa dibonceng Mang Ujang, dan aku naik ke motor si Bopeng. Motor Mang Ujang bergerak di depan, sementara aku dan Bopeng membuntuti dari belakang.
Suasana menjadi semakin menarik saat kami berangkat menuju Kafe Bumi. Sepanjang perjalanan, aku sering melihat Mang Ujang kerap melakukan rem dadakan karena akses jalan yang jelek, membuat punggungnya menempel dengan payudara Anisa.
Anisa terlihat risih dari belakang. Setiap ada kesempatan, ia berusaha mundur untuk menjaga jarak. Namun, karena jok motor Mang Ujang yang agak licin, ia jadi maju-maju lagi dan menempel dengan Mang Ujang.
Suasana semakin gelap saat kami mendekati lokasi. Kafe Bumi terletak di tengah sawah, hanya diterangi oleh beberapa lampu kecil yang berpendar lemah, tapi romantis. Suasana di sekitarnya tenang. Konser para serangga dan bisikan angin lembut menjadi instrumen musik yang menenangkan.
Kami tiba di Kafe Bumi. Di lokasi itu tidak sesuai ekspetasiku. Ku kira akan ada setidaknya lima sampai enam orang di luar kami berempat. Namun, di luar kami, hanya ada dua pria yang sedang bermain catur. Satunya ku taksir penjaga kafe ini, dan satunya lagi seorang kakek-kakek beruban yang memakan outer berupa sarung.
Suasana di kafe ini ramah dan nyaman, dengan beberapa meja dan kursi yang teratur di luar, di mana tamu dapat menikmati pemandangan sawah yang luas. Sayangnya, saat malam pemandangan sawahnya tidak terlalu kelihatan.
“Assalamualaikum, Pak Dokter dan Bu Dokter. Selamat datang di Kafe Bumi,” ucap Kang Didi selaku penjaga kafe tersebut. “Sudah siap untuk laga malam ini, Pak, Bu?”
“Siap, Pak. Saya sama istri ga akan dateng ke sini kalo Liverpool ga pasti menang mah,” balasku meledeknya.
Mang Ujang, Bopeng, Kang Didi, dan pak tua bernama Suryo itu mengenakan jersey setan merah semua. Mereka berempat pendukung MU. Sesuai dugaanku, tatapan mereka sering kali mencuri pandang ke arah Anisa yang sedari tadi hanya diam saja tak berkomentar.
Kami pesan beberapa camilan dan minuman untuk persiapan laga. Karena lokasi nonton yang tidak terlalu besar, jadi kami semua menumpuk di tengah.
Saat laga berjalan beberapa saat, Anisa tampak celingak-celinguk.
“Cari apa, Beb?” tanyaku.
“WC di mana deh?”
Kang Didi menunjuk sebuah ke arah bilik di luar kafe utama. “Di situ, Bu Dokter.”
Anisa meneguk ludah. “Ih, serem banget. Temenin dong, Beb,” bisiknya.
Aku menatap Bopeng. “Peng, temenin istri saya dong, dia mau ke kamar mandi, tapi takut.”
Anisa menjitak kepalaku, tapi ia tidak ambil pusing dan berjalan ke bilik itu ditemani bopeng.
Saat Anisa berjalan, semua mata tertuju padanya dan lupa pada laga pertandingan. Aku tegang membayangkan kalau malam ini Anisa menjadi santapan para pecundang ini.
Karena aku tidak melihat gelagat menyenangkan dari Anisa, aku diam-diam mengeluarkan sebotol kecil obat perangsang racikan ku dan memberikan dua tetes ke dalam minumannya tanpa disadari yang lain.
Saat Anisa kembali dari kamar mandi, aku tidak banyak tingkah dan fokus menonton laga. Sampai pada satu titik, ia meneguk minumannya.
Tiba-tiba, Mang Ujang dan Pak Suryo mengajak taruhan antara fans Liverpool dan MU. Para fans MU mengumpulkan uang mereka. “Pak Dokter, taruhan yuk biar seru. Kalo Liverpool menang, nih duit kita semua bawa pulang aja.”
“Wah, Pak … saya lagi ga bawa uang banyak, jadi cuma pas buat bayar minuman sama makanan aja,” ucapku.
Mereka semua serempak menatap Anisa. “Kalo ga ada uang juga ga apa-apa, Pak Dokter.”
“Adanya istri saya nih,” balasku menjadikan Anisa sebagai taruhan.
“Ih, apaan sih, Beb. Kok aku?” protes Anisa.
Anisa menolak berat karena harga dirinya, dan ia sedang tidak mau supportif dengan fantasiku malam ini. Hanya saja, desakan orang-orang ini dan efek obat yang perlahan muncul membuatnya terombang-ambing.
Karena Liverpool sedang kuat-kuatnya, akhirnya aku meyakinkan Anisa bahwa semua itu tidak akan terjadi. Aku mendekatkan mulut ke telinga Anisa.
“Udah, Beb, aman. Liverpool lagi kuat musim ini, ga akan bisa kalah. Aku bakal ngajak mereka taruhan gol aja, bukan menang kalah.”
Anisa pada akhirnya hanya bisa menarik napas pasrah. “Oke, Bay. Tapi jangan sampe kelewatan, ya?”
Pada akhirnya, kami sepakat. Jika MU menang, uang mereka akan menjadi milik kami. Dan aku menawarkan hal yang berbeda. Aku akan mempertaruhkan Anisa untuk setiap gol MU yang bersarang ke gawang Liverpool. Setiap Manchester United mencetak satu gol, maka Anisa harus menanggalkan satu per satu pakaiannya.
Pertandingan masih berjalan dengan skor 0-0.
Suasana menjadi semakin panas saat Manchester United mencetak gol pertamanya. Anisa menatapku dengan wajahnya yang merah.
“Buka! Buka! Buka!” sorak sorai para pendukung MU ini membuatku dag-dig-dug.
Anisa tak punya pilihan. Ia berdiri dan mulai mengangkat jersey Liverpool yang ia kenakan perlahan, menampilkan punggung yang lebar dan payudara yang bulat. Jersey itu kini berada di atas meja, meninggalkan Anisa hanya dengan celana hot pants hitam dan BH merah jambu bermerek Victoria Secret.
“Selamat, Pak. Gol pertama,” ucap Mang Ujang sambil tersenyum lebar menatap istriku.
Anisa hanya bisa menahan malu sambil memeluk dirinya sendiri untuk menutupi tubuhnya. Aku bisa merasakan ketegangan di lokasi dan berharap bahwa situasi ini akan menjadi lebih panas.
Perlahan, Manchester United mendominasi permainan. Pemain Liverpool kerap melakukan blunder dan kehilangan semangat juang sampai gol kedua pun lahir.
“Buka! Buka! Buka!” Mereka kini lebih bersemangat lagi menyoraki istriku.
Kini, Anisa harus memilih untuk melepas BH atau hot pants. Ia pun memilih melepaskan BH nya dan menutupinya dengan tangan selama laga dimulai kembali. Payudara Anisa yang bulat dan besar itu, menarik perhatian semua orang di kafe.
“Capek atuh, Bu Dokter kalo ditutupin mulu mah,” ledek Kang Didik. “Biarin aja dibuka atuh.”
Anisa tidak peduli dan masih tetap menutupi gunung kembarnya dengan memeluk dirinya sendiri.
Saat skor kembali berubah menjadi 3-0. Anisa mau tidak mau harus membuka celana hot pants-nya, dan saat ia melepaskan celana gemas yang ia kenakan, payudaranya menggantung bebas dengan areola besar dan puting merah jambu.
Ku lihat mata keempat lelaki itu itu fokus pada gundukan dada Anisa yang menggantung dan bergoyang. Mereka berempat meneguk ludah sambil menggaruk kejantanan mereka semua.
Kini hanya tersisa celana dalam merah jambunya saja yang tersisa di tubuh Anisa. Ia kembali menutupi payudaranya.
Tibalah di menit ke 80. MU kembali menorehkan gol keempat mereka.
Saat skor 4-0, Anisa disuruh memiliih untuk melepas celana dalam, atau mau dipangku bergilir. Anisa dengan wajah yang canggung, menatap kami dan akhirnya memilih untuk duduk dipangku bergilir saja, daripada harus bertelanjang bulat.
Setiap lima menit sekali, Anisa berpindah dari satu lelaki ke lelaki lainnya dan duduk dipangku secara bergantian.
Saat aku sedang fokus pada laga dan kesal karena Liverpool bermain jelek, tanpa sadar, tiba-tiba ada suara desahan Anisa. Aku refleks melirik ke arah istriku yang sedang dipangku oleh Kang Didi.
Mereka berempat sudah tidak fokus pada pertandingan lagi dan hanya terfokus menatap Anisa. Ku lihat tubuh Anisa naik turun saat dipangku Kang Didi.
“Ahhh … jangan, Kang …,” lirih Anisa yang tubuhnya naik-turun sambil menggigit bibir bawahnya.
Rupanya, diam-diam tangan pria itu sedang meremas bongkahan payudara kanan istriku dari posisi yang agak jauh dari penglihatan ku, tapi sesekali tangannya terlihat dari lirik aku sedang memainkan puting Anisa.
Anisa tampak menolak dan berusaha melepaskan tangan Kang Didi, tapi Mang Ujang, dan Pak Suryo agak merapatkan posisi sehingga mempersempit ruang gerak Anisa, sekaligus agak menutupi tubuh istriku dari pandanganku.
“Wah, hampir aja gol kelima.” Kang Didi terus meremas payudara Anisa sambil menatap layar televisi, dan sesekali ikut mengomentari pertandingan.
Dari sudut mataku, terlihat Anisa yang sedang berusaha menahan diri untuk tidak berteriak. Ia menutupi mulutnya sambil satu tangannya berusaha melepaskan tangan nakal Kang Didi.
Mang Ujang yang duduk di samping istriku, kini mulai berani mengusap-usap punggung Anisa dengan tangannya.
Sementara Pak Suryo yang duduk membelakangiku mulai terlihat bergerak memainkan payudara kiri Anisa.
Suasana di kafe menjadi semakin panas. Sengan suara desahan samar dan gemetar yang mendengung di telingaku membuatku semakin terangsang. Hatiku berdebar saat membayangkan Anisa dan para pria ini berhubungan intim.
Aku bangkit dari dudukku tanpa menoleh ke arah mereka. Namun, mataku melirik. Ku lihat sontak semua kegiatan itu berhenti sejenak. Ketiga pria itu refleks melepaskan tangan-tangan mereka dari tubuh istriku.
“Duh, kebanyakan kopi nih jadi mules. Aku ke toilet dulu, Beb.”
Aku pun pergi meninggalkan Anisa bersama mereka semua. Anisa pun tidak bilang apa-apa dan hanya melihatku dengan tatapan menahan tangis. Aku paham seberapa takut ia saat ini, tapi aku pun yakin … karena efek perangsang dan juga situasi, ia akan baik-baik saja.
Aku pergi ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil. Setelah itu, aku kembali lagi. Namun, baru ku tinggal beberapa menit, situasi sudah berubah total.
Anisa sudah telanjang bulat dan berbaring di atas meja dengan kaki melebar. Ia menjerit keenakan saat tangan Kang Didi mengobok-obok lubangnya dengan cepat. Kedua payudaranya juga sedang dilahap oleh Mang Ujang dan juga Pak Suryo.
“Ouuuuhh!” Cairan memeknya menyembur membasahi tangan Pak Didi. “Saya keluar, Kang … uhhhh.”
Mereka semua terkejut saat aku muncul, tapi aku tersenyum pada mereka semua.
“Lanjut aja, Pak,” ucapku. “Tapi pake pengaman, ya.”
Aku memberikan kondom pada mereka.
“Maaf, Pak Dokter,” ucap Mang Ujang sambil tertawa canggung. “Gara-gara MU merkosa Liverpool 4-0, saya jadi mau merkosa Kopites Angel juga nih.”
“Silakan, tapi pake kondom ya, Mang,” balasku.
“Babyyy ….” Anisa menatapku dengan napas terengah-engah.
Aku mendekatinya dan mengusap kepalanya. “Ga apa-apa, Beby. Nikmatin aja, oke?”
Anisa mengangguk sebagai jawaban.
“Boleh kan, Pak? Saya pake Bu dokter,” tanya Kang Didi ragu.
“Tanya aja istri saya, kalo dia boleh, saya juga boleh,” balasku.
Kang Didi dan ketiga pria itu menatap Anisa. “Bu, boleh saya masukin?”
Anisa tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Istriku kini sudah memberi lampu hijau untuk mereka boleh mencampurinya, asal memakai kondom. Namun, aku hanya bawa 1 pack isi 3. Bopeng tidak kebagian dan hanya duduk saja menonton.
Aku pun mendekat pada bocah itu.
“Udah, join aja sana.”
Tanpa berkata-kata. Bocah itu bangkit dan mendekati istriku yang sedang dimangsa ketiga srigala kampung.
Kang Didi mengangkat tubuh istriku dan membuatnya nungging. Ia menempelkan kepala pusakanya ke bibir vagina Anisa, lalu menggeseknya sedikit.
“Shhhh …” desah Anisa.
“Saya masuk, Bu. Ahhhhh, mantaaap.”
“Ahhhh ….” lenguh Anisa saat batang Kang Didi menerobos masuk.
“Ah, enak banget, Bu,” ucap Kang Didi.
“Iyaaah,” balas Anisa.
Mang Ujang menyodorkan batangnya ke mulut Anisa. “Saya mau juga dong, Bu Dokter.”
Anisa meraih batang mini milik Mang Ujang, lalu dengan wajah penuh nafsu, ia menghisap kontol berukuran kecil itu dengan lahap.
Di sisi lain, Kang Didi dengan gerakan yang kuat terus menggenjot istriku dengan gaya doggy sampai Anisa gemetar.
Istriku melepaskan kontol Mang Ujang dari mulutnya. “Ahhh … enak, Kang Didi ….”
“Ahhhh, Bu … saya juga enak nih. Memek orang kota emang beda. Sempit banget … uhhhhhh!”
Sementara itu, Pak Suryo memainkan payudara Anisa. Ia menggesek-gesek areola dan memilin putingnya.
“Ahhhh … enak banget sumpah, Bebiiii!” lenguh Anisa dengan tubuh berguncang dan dipakai tiga arah.
Saat Bopeng mendekati, Anisa menatapnya tanpa kata-kata. Bocah SMA itu dengan wajah yang penuh nafsu mulai memainkan puting Anisa yang menganggur dengan jarinya, membuat Anisa menggigit bibir bawahnya lebih kuat.
Kini Anisa harus melayani nafsu dahaga 4 pria kelaparan itu. Suasana di kafe menjadi semakin panas diisi oleh suara desahan kuat istriku. Aku ikut membuka celana dan mulai mengocok kontolku sendiri.
“Ahhh, babyyy … enjoy,” lirihku.
=================



Comments
Post a Comment