Dibalik Gamis Nayla + Dibalik Hijrah Nayla + Side Story (1/2)

 Dibalik Gamis Nayla + Dibalik Hijrah Nayla + Side Story





SEPOTONG ROTI


Hidup itu indah, kalau belum indah berarti hidup belum berakhir. Begitu lah motto hidup yang Nayla jalani. Setiap kali ia mengalami kesulitan dalam hidupnya. Ia selalu mengingat motto hidupnya. Ia tahu, ia sangat yakin akan hal itu. Tak pernah ada keraguan sedikitpun dalam hatinya kalau kehidupan seseorang tidak akan berakhir dengan indah. Pasti akan indah. Hanya kedatangannya saja yang membedakan kehidupan dari masing - masing orang.


Di pagi yang cerah ketika sinar matahari turun dengan begitu bebasnya. Nayla dengan riang tersenyum menikmati kegiatan pagi di rumahnya. Kedua tangannya memotong - motong bawang yang berada di atas talenannya. Terkadang ia berpindah ke arah panci yang berada di atas kompornya untuk melihat keadaan sup yang sedang dibuatnya. Terkadang ia juga berpindah ke dalam kamarnya untuk menemui suaminya yang sedang bersiap - siap.


“Mas, mau berangkat jam berapa ?” Tanya Nayla sambil menatap suaminya.


“Sebentar lagi dek… Sekitar jam enam” Jawab suaminya sambil tersenyum.


“Jam enam ?” Tanya Nayla sambil melihat ke arah jam dindingnya.


“Eh bentar lagi dong… Tapi sayurnya belum jadi mas” Lanjut Nayla panik.


“Hahaha ya gapapa… Sayurnya buat adek aja… Maaf yah, mas buru - buru… Udah ditunggu sama rekan kerja yang lain soalnya… Bentar lagi nih bakal dateng temen - temen mas” Ucap suaminya yang membuat Nayla merasa sedikit kecewa. Bukan kecewa karena suaminya pergi meninggalkannya. Tapi ia kecewa karena ia merasa tidak mampu memberikan bekal sarapan untuk suaminya.


“Hmmmm adek buatin roti 'sandwich' aja yah… Kebetulan di dapur ada roti tawar” Ucap Nayla terpikirkan ide.


“Boleh dek… Makasih yah” Jawab suaminya tersenyum sambil merapihkan dasinya.


Nayla pun buru - buru menuju ruangan dapurnya. Ia mencari roti tawar sisa yang tersimpan di dekat meja makannya. Saat menemukannya, ia buru - buru membuka kulkas untuk mencari selai yang bisa ia oleskan pada roti 'sandwich' buatannya.


“Hmmm untung masih ada selainya” Ucap Nayla dengan lega. Ia lalu kembali ke meja makanya. Ia mengambil satu potong roti tawar lalu mengambil pisau untuk mengoleskan selai itu di atas roti tawar itu. Setelah selesai, ia menutupnya menggunakan potongan roti tawar lainnya sehingga menghimpit selai stroberi itu diantara kedua roti tawar itu.


“Hihihihi jadi kasian deh sama selainya… Masa dijepit sama roti - roti ini… Gimana yah rasanya dihimpit mereka” Ucap Nayla kepikiran.


Namun saat dirinya kembali melihat ke arah jam. Ia menyadari kalau dirinya baru saja membuang - buang waktunya. Ia pun kembali melanjutkan pembuatan 'sandwich'nya menggunakan roti sisanya.


“Fiyuhhh akhirnya selesai juga… Lumayan bisa buat 4 roti 'sandwich'” Ucap Nayla tersenyum.


Ia lalu menengok ke kanan juga ke kiri. Ia seperti mencari sesuatu. Ia pun akhirnya menemukan apa yang ia cari. Ia membuka kotak bekal itu. Lalu memasukan keempat 'sandwich' itu ke dalam kotak bekal itu.


Tiba - tiba terdengar suara mobil yang berhenti di depan. Nayla bergegas menoleh ke luar. Benar saja, nampaknya mobil yang akan menjemput suaminya sudah datang. Nayla dengan panik berlari menuju ke dalam kamarnya. Saat ia sampai di depan pintu kamarnya. Ia terkejut dengan penampilan gagah suaminya.


“Maassss… Wahhh, mas cakep banget” Ucap Nayla terkagum yang membuat suaminya tersenyum.


“Hahahah makasih yah dek” Jawab suaminya yang sudah mengenakan setelan kemeja rapih berikut celana kain dan jas berwarna hitamnya. Rambut suaminya yang tersisir rapih ditambah ketampanan wajahnya membuat Nayla seketika jatuh hati padanya. Rasa cinta yang dimilikinya lama - lama semakin tumbuh kepadanya. Nayla tersenyum, apalagi saat perlahan suaminya datang untuk mendekat.


“Mas mau pergi dulu yah… Adek gapapa kan sendirian di rumah” Ucap suaminya yang membuat Nayla mendadak sedih karena bakal ditinggal pencuri hatinya.


“Gapapa sih, tapi adek bakal kangen sama mas” Ucap Nayla dengan manja yang membuat suaminya paham kalau Nayla membutuhkan belaian darinya.


“Duhhh sayaannggg… Sini mas peluk, mas juga kangen adek kok” Ucap suaminya yang langsung memeluk Nayla dengan erat.


“Aaawwww erat banget mas… Adek sampe gak bisa napas” Ucap Nayla sambil tersenyum saking bahagianya.


“Hahaha maaf… Habis gemes banget sih sama kamu dek… Adek cantik… Pasti mas bakal kangen banget sama adek” Ucap suaminya saat melepaskan pelukannya sejenak sambil menatap wajah cantik Nayla.


“Iyya mas… Adek juga… Pasti bakalan kanggeeennn banget sama mas” Ucap Nayla melebih - lebihkan untuk menunjukan kalau dirinya juga sangat merindukan suami tampannya.


Ditengah tatapan mereka yang semakin mesra. Tiba - tiba wajah suaminya mendekat ke arah bibir tipis Nayla yang membuat pipi bidadari cantik itu berubah menjadi warna merah.


“Maasss mmmppphhhhhh” Desah Nayla saat tiba - tiba suaminya melayangkan cumbuan kepadanya.


“Mmmpphhhhh… Mmppphhhh” Cumbu suaminya sambil memegangi kepala bagian belakang Nayla sedangkan tangan satunya memegangi punggung mulus Nayla.


Bibir suaminya dengan nafsu mendorong bibir Nayla. Tak jarang bibirnya membuka untuk mengapit bibir bawah istrinya. Tak jarang lidahnya juga bermain dengan memasuki rongga mulut istrinya. Suaminya dengan aktif bergerak sedangkan Nayla dengan pasif menerima tiap rangsangan yang sedang suaminya berikan. Mereka berdua sampai memejam karena menikmati tiap jilatan yang mereka lakukan di dalam rongga mulut Nayla.


Ya, lidah mereka sedang saling jilat di dalam. Lidah mereka sedang bertempur. Lidah mereka sedang pedang - pedangan. Terkadang lidah Nayla ditindihi oleh lidah suaminya. Terkadang lidah Nayla yang menindihi lidah suaminya. Percumbuan mereka yang semakin panas membuat liur mereka jatuh melewati sela - sela mulut Nayla. Nayla tersenyum menikmati waktu paginya. Ia sangat menikmati cumbuan suaminya. Ia pun berharap bisa menikmati waktu ini lebih lama lagi.


“Pak Miftah… Non Nayla… Itu mobilnya sudah daattttt… Eeehhhh” Ucap seseorang yang mengejutkan pasangan suami istri itu.


Miftah sebagai sang suami buru - buru melepas cumbuannya. Sedangkan Nayla dengan malu - malu segera memunggungi sumber suara itu untuk menyembunyikan wajah cantiknya.


“Maaf pak… Maaf non… Saya gak tau kalau kalian lagi enak - enak” Ucap seorang pria tua yang membuat Miftah hanya tersenyum saja.


“Gapapa pak… Yasudah bilangin ke mereka… Saya sudah siap… Saya akan segera kesana” Ucap Miftah yang membuat orang itu bergegas pergi.


“Siap pak, laksanakan !” Jawab pria tua itu.


“Dasar ihh… Nafsu banget… Untung pak Urip gak ngeliat wajah adek… Eh gak liat kan yah ?” Ucap Nayla khawatir kalau pembantunya itu bakal melihat wajahnya yang selama ini ia sembunyikan.


“Enggak… Enggak bakal liat kok” Ucap Miftah tersenyum.


“Yaudah mas… Sana berangkat… Adek mau ambil cadar adek dulu di lemari” Ucap Nayla sambil bergegas pergi ke dalam kamarnya.


“Oh yah tapi dek” Ucap Miftah yang membuat Nayla berhenti melangkah.


“Apa gapapa adek tinggal sendiri nanti ? Gak takut sama orang itu ?” Ucap Miftah mengisyaratkan sesuatu yang membuat Nayla hanya tersenyum saja.


“Gak usah dipikirin mas… Adek gapapa kok” Ucap Nayla hanya tersenyum lalu membuka lemarinya untuk mengenakan cadarnya.


Nayla bernama lengkap 'Nayla Salma Nurkholida' merupakan akhwat berusia 22 tahun yang baru saja menikah 3 bulan yang lalu. Parasnya sungguh menawan. Siapapun yang melihatnya akan membuat hati mereka tertawan. Dengan postur indah yang dimilikinya, ia dengan mudah mampu membuat siapapun jatuh hati kepadanya. Tingginya sekitar 160 cm. Beratnya sekitar 49 kg. Postur idealnya itulah yang membuat suaminya tertarik untuk meminangnya.


Nayla sebelumnya merupakan lulusan fakultas 'tarbiyah' di salah satu universitas bergengsi di ibu kota. Meski dirinya berasal dari jurusan 'tarbiyah', ia sangat menyukai dunia modeling sehingga dirinya begitu rajin untuk mengupload foto - foto yang berisi dirinya ketika bergaya di depan kamera. Foto - fotonya pun menjadi terkenal hingga satu persatu 'followers' pun berdatangan. Tak cuma 'followers', bahkan ada produk hijab terkenal yang ingin diendorse olehnya. Kesempatan ini pun tak disia - siakan oleh Nayla. Sehingga lambat laun ketika dirinya menjalani dunia perkuliahannya, ia pun nyambi menjadi seorang selebgram.


Ada hal unik yang dimiliki oleh Nayla dibandingkan selebgram - selebgram lainnya. Kalau selebgram lain mengandalkan wajah cantiknya untuk meningkatkan pamor mereka. Nayla justru menyembunyikan sebagian wajahnya menggunakan cadar ataupun masker. Ya, Nayla merupakan hijabers bercadar yang sudah ditekuninya semenjak dirinya lulus dari pondok pesantrennya. Bisa dibilang sebelum Nayla masuk kuliah pun, ia sudah mantap untuk bercadar.


Tak ada satupun teman - temannya yang pernah melihat wajah cantiknya tanpa menggunakan cadar. Meski demikian, mereka semua sudah tahu kalau Nayla pastilah memiliki wajah cantik yang menawan. Mata indahnya sudah menjelaskan semuanya. Belum lagi dengan lekuk tubuhnya yang selalu dibalut dengan gamis longgar sehingga menyembunyikan keindahannya.


Kecantikannya sudah terkenal. Keindahannya sudah terkenal. Nayla sudah lama terkenal sejak dirinya menjadi mahasiswi disana. Maka tak heran kalau ada lelaki tampan kaya raya yang akhirnya tertarik untuk meminangnya. Ya, dia adalah suaminya sekarang.


MEBEP8B




   MEBEP8B_t.jpeg 'MIFTAH


Miftahul Hidayat' adalah nama suaminya. Kalau istrinya saat ini berusia 22 tahun. Miftah kini telah berusia 29 tahun. Ada rentang jarak sekitar 7 tahun antara dirinya dan istrinya. Namun hal itu bukanlah penghalang baginya untuk memupuk rasa cinta dengannya.


Miftah merupakan direktur muda berwajah tampan yang menjadi idola para wanita karier yang bekerja di kantornya. Meski banyak wanita di kantornya yang begitu mengejar - ngejar dirinya. Namun hatinya dengan mantap memilih Nayla sebagai istrinya. Pertama kali ia mengenal istrinya saat melihat pose bergayanya di instagram pribadinya. Miftah langsung jatuh hati padanya. Ia pun berulang kali melayangkan DM untuk mengajaknya berkenalan. Namun usahanya sia - sia karena tak ada satupun DM yang dibaca olehnya. Namun ia tak menyerah, Ia kemudian dengan rajin memperhatikan tiap 'story' yang dibuat oleh bakal calon istrinya. Akhirnya ia menyadari kalau lokasi perfotoan selanjutnya berada tak jauh dari kantornya. Ia pun memutuskan untuk menemuinya. Ia akhirnya bisa bertemu dengannya lalu berkenalan dengannya. Hal itulah yang menjadi awal pertemuan mereka berdua. Bahkan sekarang, mereka masih tak menyangka kalau diri mereka merupakan jodoh yang sudah ditentukan di langit sana.


Nayla buru - buru menuju dapurnya. Ia pun menurunkan volume api di kompornya lalu membawa bekal makanan yang sudah disiapkannya untuk suaminya.


MEBE9P1



   18/41/8d/MEBE9P1_t.jpg

'NAYLA


Dengan hijab panjang berwarna putih yang dikenakannya. Dengan cadar yang juga berwarna putih yang menutupi sebagian wajahnya. Dengan kaus berlengan panjang berwarna cerah serta 'training' panjang berwarna hitam yang menutupi kaki jenjangnya. Akhwat berkulit bening itu dengan percaya diri menuju ke arah luar rumah untuk menemui suaminya. Saat Nayla keluar rumah lalu memberikan bekal itu kepada suaminya, terdengar suara sorakan yang berasal dari dalam mobil berwarna hitam itu.


“Ciyyeeee dianterin istrinyaaa… Wuihhh cantik amat bos istrinya… Emang gak salah bos saya ini… Panutan banget dah, pinter banget nyari istri yang cantik dan sholehah kayak gini” Terdengar sorakan - sorakan yang membuat Nayla tersipu malu. Ia pun menyembunyikan senyumnya dari balik cadar yang menutupi sebagian wajahnya.


“Hahahaha kalian ini berlebihan deh… Yaudah mas pamit dulu yah… Jaga diri di rumah” Ucap Miftah mengkhawatirkan istrinya.


“Iyya mas… Aku akan . . . .”


“Ciyeeee so swieeetttt” Terdengar sorakan selanjutnya yang membuat kedua pasangan pasutri ini malu - malu saat menatap ke arah mobil itu.


“Maaf agak rame disini… Mas duluan yah” Ucap Miftah mendadak canggung karena tak bisa mengekspresikan perhatiannya kepada istrinya di hadapan rekan - rekan kerjanya.


“Iyya mas hati - hati yah di jalan” Ucap Nayla sambil melambaikan tangan yang lagi - lagi membuat orang - orang di mobil bersorak.


Miftah pun masuk ke dalam mobil. Nayla pun terus melambaikan tangan hingga mobil itu perlahan hilang dari pandangan matanya.


Nayla lagi - lagi tersenyum apalagi saat mengingat momen - momen indah di pagi tadi. Ia sudah merasa bahagia saat dapat menikmati waktu sesaat bersama suaminya. Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Ia pun sudah merindukan suaminya dan berharap suaminya bisa pulang lebih cepat.


Sudah menjadi resiko untuk menikahi suami sibuk yang hari - harinya diisi dengan bepergian keluar kota untuk menjalin relasi dengan perusahaan besar lainnya. Nayla sudah memahami resiko itu. Meski awalnya ia tak mempermasalahkan karena dirinya terkadang juga sibuk dengan aktifitasnya sebagai seorang selebgram. Lama - lama ia tak sanggup juga karena perasaan menyiksa yang tumbuh dihatinya ketika merindukan seseorang.


Belum lagi dengan sikap orang - orang yang membuatnya merasa tak nyaman. Ya, entah kenapa belakangan ini ada orang - orang yang membuatnya merasa tak nyaman. Ia pun menoleh ke kanan. Ke arah rumah kontrakan yang didiami seseorang.


“Syukurlah pagi ini pak Beni gak keliatan” Ucap Nayla dengan lega sambil mengelusi dadanya.


“Non Nayla. . . .” Ucap seseorang yang membuat Nayla terkaget.


“'Astaghfirullah' pak Urip… Bikin kaget aja” Ucap Nayla hingga tubuhnya meloncat.


“Eh non maap… Masa gitu aja kaget… Pagi - pagi ngelamunin apa sih ?” Ucap pria tua berkacamata itu.


“Hihhhh ada deh… Lagi ngeliat keadaan… Untungnya pak Beni gak keliatan” Ucap Nayla yang membuat pak Urip tertawa.


“Hakhakhakhak… Gak usah khawatirin itu non… Kalau pak Beni berani bertindak macem - macem lagi… Nanti akan saya tinju kok mukanya” Ucapnya sambil memamerkan kemampuan tinjunya yang jelas tidak ada apa - apanya.


“Hihihih makasih yah pak… Untung ada bapak disini… Aku jadi gak perlu khawatir lagi kalau ada orang yang kayak pak Beni lagi disekitar sini” Ucap akhwat bercadar itu sambil tersenyum.


“Tenang non Nayla… Itulah gunanya saya disini” Ucap pak Urip yang memberikan ketenangan di hati Nayla.


'Untung Urip Bejo' adalah nama lengkap dari pria tua berkacamata itu. pak Urip merupakan pria berperawakan gempal dengan perut tambun yang dimilikinya. Rambutnya sudah menipis. Brewoknya sudah berwarna putih. Kulitnya sudah berkeriput bahkan dadanya sampai tumpah karena tubuhnya yang kelebihan berat badan. Usianya sudah 59 tahun. Ia merupakan orang kepercayaan Miftah yang sudah lama bekerja untuknya. Saat Nayla pindah untuk tinggal bersama suaminya. Otomatis Pak Urip pun mengabdi sebagai pembantu rumah tangganya. Kesibukan keluarga Nayla dan Miftah membuat rumah mereka menjadi terbengkalai. Itulah tugas dari pak Urip sesungguhnya. Ketika malam tiba, pak Urip pun pulang ke rumahnya yang letaknya berada di sebelah kiri Rumah Nayla.


MEBE9O4


  84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


Pak Urip saat itu hanya mengenakan celana kolornya serta kaus singletnya. Sebenarnya, Nayla merasa tak nyaman saat melihatnya namun ia juga tidak enak untuk menegur orang yang sudah menjadi kepercayaan suaminya itu.


“Hihihihi ada - ada aja… Kalau gitu, aku mau ke dalem dulu yah pak” Ucap Nayla dengan nyaman saat pamit pergi untuk melanjutkan kembali memasaknya.


“Iyya non, silahkan” Ucap Pak Urip dengan ramah.


'Sayyurrrr…. Saaayyuurrr… Sayurrrnya buuu… Sayurrr !!!'


Terdengar suara orang memanggil ibu - ibu untuk membeli sayurnya.


“Eh ada tukang sayur yah… Aku mau beli dulu ah” Ucap Nayla yang kemudian bergegas memasuki rumahnya untuk mengambil uang untuk membeli sayur di tukang sayur itu.


“Hati - hati non… Entar jatuh” Ucap Pak Urip perhatian yang membuat Nayla tersenyum saja.


Setelah mengambil uang di dalam kamarnya. Nayla pun bergegas menuju tukang sayur untuk membeli perbekalan sayur yang akan ia masak di keesokan harinya.


“Selamat pagi mang Yono… Tumben nih gak ada ibu - ibu lain yang beli” Ucap Nayla menyapa tukang sayur itu.


“Huahahaha… Gak tau nih… Apa jangan - jangan semesta sedang mengizinkan kita untuk menikmati waktu berdua” Ucap tukang sayur berkumis tebal itu.


“Heleehh preetttt… Mana bisa aku menikmati waktu berdua dengan mamang” Ucap Nayla sambil memilah - milih sayurnya.


“Ah yakin nih ?… Nanti saya sepik - sepik dikit malah baper loh” Ucap mang Yono yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihih mana ada… Gak percaya” Ucap Nayla tertawa ngakak mendengar kepercayaan diri tukang sayur itu.


“Mau bukti ? Mau nyoba gak mbak ?” Ucap mang Yono sambil mendekatkan wajahnya yang membuat Nayla menggeleng kepalanya.


“Ogaahhhh” Ucap Nayla yang membuat mang Yono tertawa.


“Huahahahaha… Terbukti kan mbak Nayla takut baper ke saya… Emang saya gak ada lawannya soal urusan baper - baperin cewek” Ucap Mang Yono dengan percaya diri yang membuat Nayla geleng - geleng kepala saja.


“Terserah” jawab Nayla sambil tersenyum.


'Supriyono' adalah nama lengkapnya. Usianya sudah 40 tahun. Kulitnya gelap dan kumisnya tebal. Perawakannya juga agak gempal namun tidak sebesar pak Urip. Perutnya juga maju tapi tidak semaju pak Urip. Tingginya berada lebih sedikit dari Nayla. Namun sifatnya yang ramah membuat ibu - ibu kompleks mudah akrab dengannya termasuk juga Nayla.


MEBE9O7



   31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg   

'MANG YONO


Mang Yono sehari - harinya bekerja sebagai tukang sayur gerobak yang ia tarik menggunakan motornya. Meski pendapatan sehari - harinya tidak begitu besar. Ia terlihat selalu bahagia apalagi kalau sudah bertemu dengan pujaan hatinya yakni mbak Nayla.


Sudah bukan menjadi rahasia umum kalau kecantikan Nayla disukai oleh laki - laki lain bahkan bagi mereka yang sudah beristri. Hampir tiap harinya, mereka diam - diam menstalking foto 'instagram' Nayla yang sudah diikuti oleh ratusan ribu 'followers'. Beberapa ada yang mengagumi fotonya saja. Bahkan beberapa ada yang menjadikan foto itu sebagai bahan coli termasuk mang Yono sendiri. Menurutnya, kecantikan Nayla tidak ada duanya. Bahkan tidak bisa dibandingkan dengan istrinya yang sudah berkeriput. Sesekali mang Yono pun mupeng berharap bisa menyelupkan batang kejantanannya meski hanya lima menit saja.


'Dicelupin aja pasti udah crot… Huahahahha… Apalagi sampe digenjot…'


Batin mang Yono sambil memperhatikan keindahan akhwat bercadar itu dari samping. Penisnya pun mulai mengeras. Padahal baru saja pagi tadi dirinya beronani sambil menatap foto cantiknya.


'Emang kalau udah nafsu bawaannya pengen mesum melulu… Moga aja yah kita bisa enak - enak suatu hari nanti… '


Mang Yono pun dengan penuh harap berdoa sambil menatap tubuh indah Nayla yang begitu ramping dan mempesona.


“Ini yah mang… Berapa semua ?” Tanya Nayla.


“Buat mbak Nayla limaribu aja… Tapi kalau mbak mau nyium saja, saya kasih gratis deh… Huahahahha” tawa mang Yono yang membuat Nayla merinding.


“Ihhh dasar, bikin geli aja… Ogaaahhhh” Ucap Nayla yang segera membayar lalu lekas pergi meninggalkan tukang sayur itu.


Untungnya ia sudah terlampau akrab dengan tukang sayur berkumis itu. Andaikan belum, mungkin nasibnya bakalan di-'blacklist' sama seperti pak Beni.


'Eh astaghfirullah… Baru aja diomongin…'


Batin Nayla saat baru saja tiba didepan gerbang rumahnya.


“Mbak, apa kabar ?” tanya orang itu yang langsung membuat Nayla tidak nyaman.


“Baik” Jawab Nayla dengan singkat.


“Senang rasanya bisa ketemu mbak lagi… Mbak cantik banget hari ini” Pujinya sambil melihat penampilan Nayla dari atas ke bawah.


Tatapannya yang seolah sedang meng-'scan' tubuhnya itu membuat Nayla reflek menutupi dadanya menggunakan tangannya. Nayla merasa telanjang padahal dirinya sudah berpakaian lengkap termasuk menutupi sebagian wajahnya menggunakan cadar.


“Maaf aku sibuk… Aku mau pergi” Ucap Nayla buru - buru ingin kabur dari situasi ini.


“Tunggu mbak… Saya. . . . “ Ucap pria kekar itu sambil memegangi lengan Nayla yang sontak membuat Nayla berteriak.


“LEPASIN !” Jerit Nayla sambil menggerakan lengannya. Suaranya yang terlampau keras membuat ibu - ibu yang mulai berdatangan membeli sayur di mang Yono pun menoleh. Pak Urip yang sedang menyirami halaman juga keluar dan mendapati majikannya sedang digoda oleh tukang sapu jalanan itu.


“Heyyy heyyy ada apa ini ! Masih berani gangguin non Nayla… Pergii !!! Pergiii !!!” Ucap Mang Yono sambil mengarahkan selang air itu ke tukang sapu jalanan itu.


Orang itu dengan terpaksa pun pergi meninggalkan mereka. Saat ia berjalan melewati ibu - ibu yang sedang membeli sayur mang Yono. Ia mendengar ibu - ibu itu membicarakan dirinya. Namun ia menghiraukan. Ia terus berjalan melewatinya begitu saja.


“Makasih yah pak Urip… Kalau gak ada bapak mungkin orang itu udah . . . Ah serem deh, pokoknya makasih banget yah pak” Ucap Nayla merasa lega karena ada pembantu tambunnya yang menyelematkannya dari perlakuan tukang sapu itu.


“Tenang, kalau pak Beni ngeganggu lagi… Saya akan siram mukanya biar dia sadar siapa yang sedang diganggunya itu” Ucap Pak Urip yang membuat Nayla tersenyum senang.


“Makasih banget yah pak… Makasih sekali lagi… Maaf waktunya mepet banget, aku mau ke dalem dulu yah… Mau siap - siap pergi soalnya” Ucap Nayla teringat kalau ada sesi perfotoan di pagi hari.


“Siap non, serahkan rumah kepada saya… Saya akan menjaganya dengan sekuat tenaga” Ucap Pak Urip kepada majikannya.


“Makasih… Aku izin pergi dulu yah” Ucap Nayla pergi dengan terburu - buru.


“Iya non, hati - hati yah” Ucap Pak Urip.


Setelah majikan alimnya itu pergi ke dalam rumahnya. Pak Urip pun menoleh ke arah jalan yang dilewati oleh pak Beni tadi. Ia dengan ketus pun mencaci sosoknya menggunakan matanya. Ia pun menatap sosok kekar itu. Ia hanya tersenyum sambil mengarahkan selang itu ke tanaman yang ada di belakangnya.


“Dasar kerjaannya ganggu aja !” Lirih pak Urip.


Beni, tidak diketahui nama lengkapnya. Ia merupakan pria misterius yang tinggal tepat disebelah kanan rumah Nayla. Orang - orang hanya tahu kalau sehari - harinya ia bekerja sebagai tukang sapu jalanan. Sosoknya kekar. Kalau jalan pasti tegap. Lengannya berotot dan ada tato yang dicetak di dada kanannya. Kulitnya juga berwarna gelap. Ia juga mempunyai kumis tebal yang tidak dirawat olehnya. Sehari - harinya ia terbiasa menggunakan topi. Ia bahkan sering bertelanjang dada untuk memamerkan kejantanan tubuhnya.


Ada rumor mengatakan kalau pak Beni dulunya adalah seorang preman pasar. Ada juga yang mengatakan kalau pak Beni dulunya ditinggal nikah sehingga membuatnya sedikit gila. Makanya terkadang ia suka mencuri - curi pandang tiap kali ada wanita cantik yang lewat. Termasuk diri Nayla yang merupakan tetangga dekatnya.


Untuk kalimat terakhir, itu bukanlah rumor belaka. Ya, Nayla sendiri berani mengonfirmasinya karena ia seringkali memergoki pak Beni mengintipnya dari luar pagar rumahnya. Bahkan ia pernah memergoki pak Beni memasuki pagar rumahnya tanpa sebab sebelum diusir oleh suaminya. Bahkan ia pernah mendapati celana dalamnya hilang saat ia gantung dijemuran. Ia pun mencurigai pak Beni sebagai pelakunya. Makanya ia begitu ketakutan saat lengannya dipegang oleh pria kekar itu tadi. Untungnya ada penyelamatnya yakni pak Urip. Nayla jadi terbebas. Ia pun dengan lega melanjutkan aktifitasnya.


MEBE9OA



   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   

'PAK BENI


*-*-*-*

'BEBERAPA SAAT KEMUDIAN


Oke waktunya berangkat... Untung masih ada waktu lebih Ucap Nayla setelah bersiap dengan gamis berwarna putihnya.


Dengan pakaian serba putih mulai dari hijab di ujung kepala sampai gamis yang menutupi mata kaki. Nayla telah bersiap untuk bekerja mempromosikan hijab yang akan diendorsekannya.


Nayla pun tak sabar untuk berpose di depan kamera. Ia merasa percaya diri dengan kecantikan yang ia miliki. Sebagai selebgram bercadar, ada pesan yang ingin ia sampaikan kepada 'followers' - 'followersnya' terutama akhwat - akhwat penggemarnya. Ia ingin menunjukkan kepada mereka kalau menggunakan cadar tidak serta merta membuat mereka ketinggalan zaman. Cadar tidak membuat kecantikan mereka tertutupi. Justru membuat mereka semakin cantik dibandingkan dengan wanita yang gemar memamerkan lekuk tubuh mereka di depan khalayak ramai. Itulah motivasi terbesar Nayla ingin menjadi selebgram. Ia ingin berdakwah di tengah pekerjaannya sebagai selebgram bercadar.


Nayla berjalan menuju depan rumahnya untuk menaiki motornya. Ia pun memasukannya kuncinya ke dalam lubang kunci motornya. Ia kemudian menstarternya hingga motor 'matic' berwarna pinknya menyala seketika.


Pak Urip, aku mau pergi dulu yah... Tolong jaga rumah Ucap Nayla kepada pria tua yang sedang memotong rumput itu.


Iya non, hati - hati di jalan yah Ucap pak Urip sambil tersenyum.


Iyya pak, makasih... Wassalamualaikum Ucap Nayla saat berjalan pergi.


Walaikumsalam non Ucap Pak Urip sambil tersenyum. Setelah majikannya pergi. Ia pun mendesah di dalam hati.


Hah, bisa - bisanya tadi pak Beni mau bertindak macem - macem... Jaga diri yah non... Saya gak bisa jagain non kalau non lagi di luar rumah Ucap pak Urip yang kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.


*-*-*-*

Sesampainya Nayla di tempat kerja.


Nayla bergegas memarkir motornya lalu melepas helmnya. Akhwat bercadar itu pun berjalan menuju fotografer yang tengah fokus memfoto modelnya. Nayla tersenyum tiap kali melihat model itu bergaya. Model itu memang cantik. Nayla pun bangga karena ada akhwat lain yang sepertinya yang bergaya di depan kamera menggunakan cadarnya.


Cieee yang difotoin calon Ucap Nayla setelah sang fotografer menyudahi foto - fotonya.


Hihihi mbak Nayla... Baru dateng yah ? Tanya akhwat itu lekas menghampiri.


Iyya nih Put... Dah lama yah nunggunya ? Maaf agak terlambat Ucap Nayla pada akhwat bercadar itu.


Ah santai aja mbak... Kita juga baru pada dateng kok... Aku sama Putri juga baru dateng... Tadi cuma pemanasan aja biar gak kaku di depan kamera Ucap sang fotografer menyela.


Hihihi Putri mah gak bakalan kaku kok... Paling cuma malu - malu, iya gak Put ? Tanya Nayla pada Putri.


Yeeee gak yah... Orang dah lama kenal Ucap Putri mengelak yang membuat Nayla tertawa.


Obrolan hangat pun terjadi di lokasi 'photoshoot' sebelum sesi perfotoan dimulai. Di depan Nayla terdapat akhwat bercadar bernama Putri. Usianya baru 20 tahun. Ia juga masih kuliah di kampus yang sama dengan Nayla sebelum kelulusannya. Nama lengkapnya adalah 'Putri Nadila Khoirunnisa'. Tingginya hampir sama dengan Nayla yakni 157 cm. Beratnya jauh lebih ringan daripada Nayla yakni 44 kg. Ia juga mempunyai kebiasaan yang sama dengan Nayla. Yakni sama - sama terbiasa menggunakan gamis lebar serta cadar atau masker yang menutupi sebagian wajahnya.


MEBEJIO



   63/19/82/MEBEJIO_t.jpg 'PUTRI


Putri terlihat sangat cantik dengan pakaian serba pink yang dikenakannya. Hijabnya berwarna pink, gamisnya juga berwarna pink bahkan roknya pun sama. Hanya cadarnya saja yang memiliki warna berbeda yakni berwarna hitam. Meski demikian, kecantikannya masih terpancar pada dirinya. Matanya begitu indah membuat siapapun mudah jatuh hati padanya. Beruntungnya ada satu lelaki yang bisa mendapatkan hatinya. Yakni sang fotografer bernama Andri yang kini duduk disebelahnya. Mereka memang sering melakukan 'project' bersama. Bahkan Nayla juga mengenalnya. Andri pun mengejutkan orang - orang ketika dirinya tiba - tiba melamar Putri tepat setelah selesai melakukan sesi perfotoan. Untungnya Putri menerimanya, kalau tidak Andri bisa - bisa malu tujuh turunan.


Ah itu dia bos besar udah datang... Siap - siap yuk Ucap Andri saat melihat 'manager' yang ingin diendorsekan produknya datang. Nayla dan Putri pun berdiri. Mereka mendekati ibu 'manager' itu untuk mendengarkan pengarahan darinya.


Terlihat Nayla dan Putri manggut - manggut saja saat mendengarkan pengarahan dari ibu 'manager'. Sang ibu 'manager' juga mengarahkan apa saja pakaian yang akan kedua selebgram ini kenakan. Ia juga meminta mereka berdua untuk merekam video untuk mempromosikan produknya. Setelah pengarahan selesai, mereka berdua pun diminta berganti pakaian untuk bersiap - siap melakoni sesi perfotoan pertama.


'Cekreekk... Cekreekk... Cekreekk... '


Andri dengan profesional bergerak kesana - kemari untuk mencari sudut terbaik untuk memotret modelnya. Berulang kali Andri meminta modelnya untuk lebih tersenyum lagi. Ia juga meminta modelnya untuk melakukan pose memutar agar gamis yang dikenakannya terkena efek - efek terbang tertiup angin.


Saat giliran Nayla, Andri berulang kali kedapatan tersenyum melihat kecantikan Nayla. Memang kecantikan Nayla tidak ada tandingannya. Andri dengan senang hati mengarahkan Nayla untuk berpose lebih cantik lagi. Untungnya Putri sedang berada di ruang ganti untuk melakukan sesi perfotoan kedua dengan produk gamis yang berbeda. Andri jadi lebih bebas berduaan dengan Nayla. Andri tersenyum. Andri memotret Nayla dengan begitu bahagia.


'Andai dirimu belum menikah Nay... '


Batin Andri saat memotret model favoritnya itu.


Sambil terus memotret, ia mengingat - ngingat terus momen - momen saat pertama kali bertemu dengannya. Ia agak menyesal karena tak langsung mengungkapkan perasaannya. Andai waktu itu ia mengungkapkannya terlebih dahulu. Mungkin dirinya yang akan menjadi suaminya sekarang.


Seketika ia melihat Putri datang mendekat. Putri datang dengan senyuman saat mendatangi calon suaminya. Putri pun bertanya untuk meminta pendapatnya.


Mas, gimana penampilanku ? Tanya Putri saat mengenakan produk gamis terbaru yang akan diendorsekannya.


Kamu cantik banget Put... Coba gaya dulu Ucap Andri sambil memotretnya.


'Cekreekk !!! '


Hihihihi makasih, mas Ucap Putri bahagia setelah dipuji oleh calon pengantinnya.


Cieeee... Cieeee habis dibilang cantik Ucap Nayla pada Putri.


Hihihi namanya juga cewek... Ya cantik lah Jawab Putri yang membuat Nayla tertawa.


Diam - diam Andri pun ikut tertawa. Namun bukan karena tawa yang Putri berikan. Melainkan karena tawa yang Nayla berikan.


'Maafin aku Put, udah jadiin kamu pelampiasan rasa kecewaku... Sejujurnya, aku masih mencintai Nayla... Hanya dia wanita yang kucinta selamanya... '


Batin Andri sambil membelakangi mereka berdua.


Waktu terus berlalu. Sesi perfotoan terus berlangsung. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul satu siang. Ibu 'manager' pun memberikan waktu istirahat bagi mereka selama satu jam untuk makan siang dan juga beribadah bagi yang menjalankan. Putri & Nayla yang kelaparan memilih untuk menyantap makan siang terlebih dahulu. Sedangkan Andri memilih menetap untuk berdiskusi dengan bagian 'editing' untuk memilah - milah hasil jepretannya.


Mau makan apa nih kita mbak ? Tanya Putri kelaparan.


Apa yah ? Bakso aja di depan gimana ? Tanya Nayla saat melihat warung bakso di depan tempat mereka bekerja.


Yeee bakso mana bikin kenyang... Eh itu ramen aja gimana ? Tanya Putri yang membuat Nayla tertarik.


Wah boleh juga... Biar kayak Naruto hihihi Ucap Nayla tertawa saat teringat serial kartun favoritnya dulu.


Hihihi Sakura dong yang cantik Ucap Putri.


Mending Hinata yang suka ramen... Mana itunya gede lagi Ucap Nayla bercanda dengan sesama wanita.


Hihihi tau lah yang gede Ucap Putri agak iri saat melihat ukuran payudara Nayla.


Hihihi nanti punya kamu juga gede kok, pas udah nikah tapi Ucap Nayla memotivasi.


Loh emang bisa gitu ? Apa gara - gara sering diremes sama suami yah ? Tanya Putri malu - malu saat menanyakan hal itu.


Hihihi bisa jadi Ucap Nayla ikut malu saat teringat perlakuan suaminya dulu yang gemar memainkan kedua payudaranya.


Saat sedang asyik - asyiknya membahas hal - hal yang berbau kewanitaan. Mereka berdua dikejutkan oleh seseorang yang tiba - tiba mendekat.


Mbak Nayla. . . . Ucap seseorang yang membuat kedua akhwat bercadar itu menoleh.


'Astaghfirullah pak Beni ? Kenapa dia ada disini ? '


Batin Nayla terkejut.


Iya, ada apa ? Tanya Nayla dengan dingin sambil memperhatikan tubuhnya. Pak Beni sedang bertelanjang dada. Tangan kirinya memegangi sapu dan tangan kanannya memegangi kantung kresek.


Mbak laper ? Ini saya ada sesuatu buat mbak Ucap pak Beni sambil menyerahkan kantong kresek itu.


'Ihhh apaan sih sok deket ? Mau ngasih apa juga ? '


Batin Nayla saat terpaksa menerimanya.


Makasih Jawab Nayla dengan dingin tanpa sempat melihat isi dari kantung kresek itu.


Pria tua kekar itu hanya tersenyum sambil memandang wajahnya. Jelas Nayla pun tak nyaman. Akhirnya dengan tergesa - gesa ia izin pamit agar bisa menjauh dari kejaran pria tua itu.


Maaf aku mau pergi, permisi Ucap Nayla sambil menarik tangan Putri.


Eh mbak.... Itu... Itu siapa ? Tanya Putri dengan lirih setelah semakin jauh dari tukang sapu jalanan itu.


Dia pak Beni... Tetangga aku... Kata orang - orang sih, dia agak gimana gitu... Aneh deh pokoknya... Jangan deket - deket, tadi pagi aja tangan aku dipegang - pegang olehnya Ucap Nayla.


Heh dipegang - pegang ? Tanya Putri.


Iya, untung ada pak Urip pembantu aku... Dia nyelametin aku Jawab Nayla.


Tapi, dia keliatan baik deh Ucap Putri sambil melihat sosok pak Beni lagi.


Hush jangan diliatin... Cuekin aja Ucap Nayla menegur Putri.


Oh yah, emangnya isi dari kresek itu apaan yah ? Tanya Putri.


Hemmm apa yah ? Oh cuma roti ternyata Ucap Nayla saat melihatnya.


Roti ? Sepotong roti ? Tanya Putri.


Nayla pun hanya mengangguk. Ia lalu mengangkat kedua bahunya pertanda ia tak tahu apa maksud dari pria tua aneh itu.


*-*-*-*

'SORENYA


Sesi perfotoan telah berakhir. Nayla dan Putri pun pamit kepada ibu 'manager' sekaligus berterima kasih karena sudah diberi kesempatan untuk mengendorse produk mereka. Jelas ini pengalaman besar bagi mereka berdua. Sayangnya jalan yang mereka berdua tempuh berbeda. Putri pun pulang duluan diboncengi Andri. Sedangkan Nayla menaiki motornya sendiri setelah berbelok ke arah kiri.


Hah, mas Miftah apa kabar yah ? Daritadi kok susah dihubungi... Apa jangan - jangan datanya dimatiin yah ? Lirih Nayla ditengah perjalanan pulangnya.


Jujur, ia sangat merindukan sosoknya. Apalagi di malam ini dirinya harus tidur sendiri. Ia jadi ketakutan kalau harus tidur sendiri. Padahal ia membutuhkan teman yang bisa diajaknya bercerita tentang hari ini. Ia ingin mengeluarkan keluh kesahnya. Kalau suaminya tidak ada, kepada siapa ia harus bercerita ?


Tak lama kemudian, ia pun tiba di depan rumahnya. Terlihat pak Urip sedang menyapu halaman. Lantai pun sudah bersih. Nayla sangat senang dengan kinerja pembantunya itu.


Assalamu'alaikum pak... Makasih pak atas kerja kerasnya Ucap Nayla tersenyum.


Eh non Nayla dah pulang... Walaikumsalam... Hakhakhak, kerjaan saya cuma nyapu doang kok... Gak ada keras - kerasnya sama sekali Ucap pak Urip merendah yang membuat Nayla tersenyum saja.


Oh yah non... Tadi saya buatin jus alpukat kesukaan non di kulkas... Kalau non haus bisa diambil langsung disana yah Ucap Pak Urip perhatian yang membuat Nayla senang.


Oh yah ? Makasih banget yah pak... Kebetulan aku capek banget hari ini Ucap Nayla sambil membawa kantung kresek di tangan kanannya.


Oh yah non... Maap Panggil pak Urip yang membuat Nayla berhenti melangkah.


Iya pak ? Tanya Nayla setelah berbalik badan.


Saya izin pulang dulu yah... Udah jam setengah lima... Saya mau nemenin istri di rumah Pinta pak Urip yang membuat Nayla tersenyum.


Huft kirain apa... Iya silahkan pak... Makasih yah untuk kerja kerasnya Ucap Nayla dengan ramah.


Sama - sama non... Mari Ucap pak Urip pamit pergi.


Pintu gerbangnya ditutup sekalian gak non ? Lanjut pak Urip setelah melewati pintu gerbangnya.


Gak usah pak... Siapa tau ada tamu nanti Ucap Nayla yang membuat pak Urip membiarkan pintu gerbang rumah majikannya terbuka.


Setelah pak Urip pulang. Nayla pun bergegas menuju dapur untuk mencari jus buatan pembantunya. Saat melewati ruang tamunya, ia menaruh kantung kresek itu di meja. Ia pun merenggangkan kedua tangannya naik untuk menghilangkan rasa lelahnya.


Aaaahhhh capek banget hari ini Desah Nayla dengan sedikit menguap. Rasanya ia ingin beristirahat. Ia ingin tidur saja setelah lelah bekerja seharian.


Saat tiba di depan kulkasnya. Ia pun mengambil segelas jus buatan pak Urip lalu menaikan cadarnya kemudian meminumnya hingga habis sambil duduk di kursi dekat meja makan rumahnya. Rasanya memang nikmat saat menenggak jus dingin yang terbuat dari buah - buahan segar. Setelah menghabiskannya, ia pun menutupi mulutnya lagi menggunakan cadarnya lalu berpindah menuju ruang tamu rumahnya.


Hah kok aku laper yah ? Padahal tadi udah makan semangkuk ramen Ucap Nayla sambil memegangi perutnya.


Mungkin karena gak pake nasi kali yah hihihi Ucap Nayla sambil membuka kantung kresek yang tadi dibawanya.


Ia pun menemukan roti yang masih disegel dengan plastik seolah baru dibeli. Meski ia tahu kalau roti ini didapatnya dari pak Beni, ia tetap ingin memakannya karena ia yakin pasti roti ini memang baru dibeli di toko. Sehingga ia tidak begitu mencurigainya.


Nayla kembali menaikan cadarnya lalu menggigit roti demi roti sambil mengecek isi hapenya siapa tau ada pesan masuk yang tidak sempat ia baca.


Sambil 'menscroll' - 'scroll' isi hapenya. Entah kenapa tiba - tiba rasa kantuk datang menguasai. Matanya merem melek padahal mulutnya masih memakan roti yang dipegang menggunakan tangan kanannya. Pandangannya mulai samar - samar. Ia pun heran dengan apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.


'Astaghfirullah'... Kenapa aku jadi ngantuk banget sih ? Ucap Nayla sambil memegangi kepalanya.


Lama - lama Nayla merasa tidak kuat lagi. Tanpa disadari, ia pun ambruk diatas sofa panjang yang berada di ruang tamu rumahnya. Ia terbaring dalam posisi terlentang. Roti yang dipegangnya pun terjatuh ke lantai. Berikut juga hapenya yang untungnya cuma terjatuh diatas sofa panjangnya. Diam - diam, ditengah keadaan Nayla yang tertidur senyap. Terdapat sosok yang tersenyum saat melihat mangsanya telah tertidur persis seperti apa yang telah ia rencanakan. Sosok itu pelan - pelan mendekat sambil menatap keindahan tubuh Nayla dengan jarak yang begitu dekat.


Beristirahatlah sayang, pasti capek kan bekerja seharian ? Ucapnya sambil menatap roti yang sedang Nayla pegang.


Sosok itu kian mendekat, sosok itu lalu menyentuh dada Nayla untuk pertama kalinya menggunakan kedua tangannya.


Gilaaa kenyel banget... Emang gak ada yang bisa ngalahin susunya akhwat yang baru aja nikah Ucapnya sambil meremas - remas dada Nayla.


Mmmpphhh Desah Nayla dalam tidurnya yang mengejutkan sosok itu.


Asem, bikin kaget aja... Tapi merdu banget sih desahanmu, sayang Ucap sosok itu yang semakin menikmati remasan di dada akhwat bercadar itu.


Kedua tangan sosok misterius itu semakin liar. Mulanya ia mendekap dada rampingnya. Lalu naik hingga tiba di kedua dada bulatnya. Disana ia meremasnya, ia mencengkramnya, ia menekan ujung putingnya tuk menikmati kekenyalan dada ori yang dimiliki sang bidadari.


Sosok itu kemudian menaikan gamis sang akhwat. Nampak masih ada kaus dalaman yang menghalangi kulit mulusnya. Sosok itu pun juga menyingkap kaus dalaman Nayla sehingga perut ratanya terlihat dengan begitu jelas di pandangan matanya.


Paling suka saya sama udel - udel kayak gini... Rasanya lebih nafsuin aja deh ngeliat akhwat yang keliatan udelnya Ucapnya sambil membelai pusar sang akhwat.


Aaaaahhhh.... Ouhhhh mulus banget sayang kulitmu... Uhhhhh, pasti nikmat banget kalau bisa menggenjotmu sambil grepe - grepe tubuhmu Ucapnya saat menikmati kemulusan kulit perutnya.


Penasaran, ia pun kembali menaikan pakaian Nayla. Ia menaikannya hingga melewati penampakan gunung kembarnya. Dada Nayla yang masih tertutupi bra berukuran 34B itu pun terlihat. Sontak sosok itu terkejut. Ia tak menyangka kalau buah dada Nayla berbentuk bulat sempurna. Bentuknya mirip artis JAV yang implan saja. Tapi punya Nayla ini ori. Ia pun tak sabar untuk mencengkramnya sambil mendengarkan desahannya yang merangsang nafsu birahi.


Ouuhhhh... Ouuhhhhh... Ouhhh kenceng banget susumu sayanggg Desahnya sambil meremasi dada Nayla yang masih tertutupi branya.


Rasanya lebih nikmat seperti ini. Ia jadi bisa merasakan sentuhan kulitnya sekaligus kekenyalanannya. Tubuh akhwat bercadar memang berkualitas. Gak heran akhwat - akhwat seperti Nayla menyembunyikan tubuhnya karena kualitas tubuh mereka sangatlah premium.


Sosok itu menaikan bra yang Nayla kenakan. Nampaklah puting susunya yang berwarna pink. Sosok itu tersenyum senang, ia pun menatap wajah Nayla sejenak untuk mengecek keadaannya.


Mumpung masih tidur, saatnya nyusu dulu ah Ucap sosok itu bersemangat untuk menyeruput putingnya.


Sambil melihat keadaan sekitar, ia pelan - pelan mulai menunduk untuk mendekati dada bulat bidadari itu. Ia pun menjulurkan lidahnya. Ia menoelnya dengan lidahnya baru setelah itu memasukannya ke dalam mulutnya.


Sosok itu dengan penuh nafsu langsung menghisapnya sambil meremasnya dengan sekuat tenaga. Tangan satunya pun tak mau menganggur dengan meremas dada satunya. Dilahapnya susu bulat itu dengan penuh nafsu. Jilatannya kian membasahi putingnya itu. Bibirnya pun menjepit putingnya itu. Bahkan giginya sampai menggigit pelan akibat terlalu gemas dengan kemegahan susu bulatnya.


“Ssllrrpp mmpphhh… Slllrrpp mmpphhh… Nikmat banget susumu sayaaangg… Mmpphhh… Andai dari dulu saya tahu susumu seenak ini, pasti sudah saya jilat susumu ini diam - diam” lirih sosok itu dengan penuh nafsu.


Ia pun berpindah ke susu satunya. Tangan kirinya meremasnya sehingga puting susu bidadari itu mencuat mendekati bibirnya yang kian dekat untuk melahapnya. Sesekali sosok itu melirik wajahnya tuk melihat reaksi binalnya. Ia tersenyum saat melihat bidadari itu mengerang di dalam mimpinya.


“Lagi mimpi basah yah sayang ? Pasti dirimu sedang bermimpi digenjot oleh saya kan ? Sabar yah, nanti mimpimu itu akan kesampean kok di dunia nyata” Ucap sosok itu tertawa.


Lidahnya kembali menyerang putingnya. Lidahnya dengan liar menyapu puting sebelah kiri bidadari itu. Bibirnya dengan binal mencium putingnya. Lalu mulutnya mendekat tuk melahap setengah dari payudara yang teramat bulat itu. Sosok itu mengerang. Sosok itu menyedot susu itu berharap ada satu tetes yang keluar dari dalam putingnya. Namun itu tak mungkin karena Nayla belum sempat melahirkan apalagi hamil. Ia pun berambisi ingin menghamilinya agar suatu saat bisa menyusu langsung dari puting susunya.


“Mmppphhh… Mmpphhh nikmat bangett… Mmpphhhh nikmat banget susumu ini sayangg… Mmpphhhh” Desahnya sambil menyeruput dada bulat Nayla.


“Aaaaaahhhhh” Desah Nayla lagi - lagi di dalam tidurnya.


Suaranya sempat mengagetkan sosok itu hingga berdiri menjauhi Nayla. Untungnya Nayla kembali tertidur. Sosok itupun tertawa sehingga ingin memejuhi wajahnya sekarang.


“Dasar bikin kaget aja ! Huft, ngomong - ngomong pengen liat kontol saya gak, sayang ? Kontol saya gede loh” Ucapnya sambil memelorotkan celananya.


Nampak penis hitam berwarna gelap yang sudah berdiri tegak keluar dari dalam celana kolornya. Ujung gundulnya sudah basah sebagian. Sepertinya sosok itu sudah sangat bernafsu ingin menggauli akhwat bercadar itu.


“Pertama - tama, saya kontolin dulu yah susunya… Gak sabar pengen ngerasain sentuhan kulit susumu ini, sayang” Ucapnya sambil mengocok penisnya.


Pelan - pelan ia mendekatkan penisnya ke arah puting susunya. Ia pun menyentuhkan ujung gundulnya ke arah puting susunya. Saat ujung gundulnya menyentuh putingnya. Terasa sensasi nikmat yang membuatnya ingin mengocoknya terus. Sosok itu jadi kian kuat dalam membetot peninsya. Ia memajukan penisnya lalu menariknya. Ia mengocoknya maju lalu mundur. Pergerakan tangannya semakin cepat saat ujung gundulnya menyundul susu bulat sang akhwat yang begitu nikmat.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh… Gilaaaa enak bangett susunya akhwat bercadar… Baru disentuh aja udah enak gini… Apalagi dijepit ?” Ucapnya dengan penuh nafsu.


Seketika ia terpikirkan ide. Ia tiba - tiba duduk diatas dada sang akhwat lalu menjepitkan penisnya disela - sela dada bulatnya. Tanpa ragu lagi pinggulnya bergerak maju mundur disela - sela himpitan dada sang akhwat yang begitu kuat.


“Ouuhhh nikmat bangettt… Ouhhhhh sayanggg… Ouhhhhhh… Ouhhhhhhh” desahnya sampai manyun - manyun merasakan jepitan susu sang akhwat.


Ditatapnya wajah sang akhwat yang masih memejam. Wajah cantik itu. Wajah yang tengah tertidur itu. Ia sangat beruntung bisa menggenjot dada bulatnya meski dalam keadaan tak sadar. Ia pun mencubit putingnya. Lalu menariknya naik sambil terus menggerakan pinggulnya maju mundur. Rasa gerah yang melanda membuat ia menaikan kausnya hingga tubuhnya pun terlihat dihadapan sang akhwat. Ia tersenyum. Ia pun kembali berbicara di depan sang akhwat yang masih memejam.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Andai dirimu sadar sekarang… Dirimu pasti akan terpana dengan tubuh indah yang saya punya” Ucapnya dengan penuh percaya diri saat menggenjot dada bulatnya.


Kedua tangan sosok itu meremas - remasnya dengan kuat. Sodokannya pun dipercepat. Terasa sensasi nikmat yang melanda penis hitamnya. Sosok itu sampai berulang kali mengatur nafasnya. Kepalanya juga ia geleng - gelengkan untuk mengendalikan nafsunya agar tidak keluar duluan. Baru digenjot dadanya aja udah senikmat ini. Ia pun geleng - geleng kepala membayangkan jepitan kemaluannya saat penisnya masuk menghujam dinding rahimnya.


“Aaahhhh… Aaahhh… Jadi gak sabar saya… Pasti puas banget kalau bisa menggenjot selebgram bercadar sepertinya” Ucapnya dengan penuh nafsu.


Maju mundur, maju mundur, maju mundur. Pergerakannya tidak pernah mengendur. Bahkan pergerakannya semakin cepat seolah sedang menggempur. Sosok itu mengusap rambutnya ke belakang lalu mengelap keringat yang membasahi wajahnya.


Ditengah sodokannya yang menggesek dada bulatnya. Matanya sedari tadi menatap cadar yang menghalangi sebagian wajah indahnya. Ia begitu penasaran. Ia ingin merasakan mulut dari selebgram bercadar itu.


“Aaaaaaahhhhhhh” Desahnya saat mementokkan penisnya hingga ujung gundulnya nyaris mengenai kaus yang masih terpasang di tubuh indahnya.


Ia lekas berdiri lalu membuka cadar sang dewi. Lalu mengocoknya dengan menyentuhkan ujung gundulnya di bibir seksinya.


“Aaaahhhh… Aaahhhhh… Aaaahhhh… Nikmat bangettt… Aaahhhhhh” desahnya sambil mengocok penisnya di bibir tipisnya.


'Sudah saya duga… Wajahmu ini memang cantik… Untuk apa kamu menyembunyikan keindahanmu ini sayang ? Dengan tubuh seindah ini, dan wajah secantik ini, seharusnya kamu pamerkan dan biarkan orang - orang lain menikmatinya dengan memejuhi tubuh seksimu ini…'


Batin sosok itu membayangkan selebgram bercadar itu telanjang dikelilingi oleh orang - orang rendahan.


“Pasti puas banget… Pasti dirimu akan sangat beruntung kalau digilir oleh orang - orang seperti mereka” Ucapnya sambil mencengkram pipinya sehingga mulut Nayla perlahan membuka.


“Aaaahhhh yahhhhhhhhh” desah sosok itu merinding merasakan sepongan mulut sang dewi ketika penisnya perlahan masuk membelah mulutnya.


Terasa sensasi lembap di dalam sana. Terasa sensasi hangat di dalam sana. Sosok itu pelan - pelan menggerakan pinggulnya maju. Lalu pelan - pelan ia menariknya lagi hingga menyisakan ujung gundulnya saja. Lalu ia mendorongnya lagi lalu menariknya lagi. Ia mendorongnya lagi lalu menariknya lagi. Ia tersenyum sambil menatap mata sang dewi yang tertutupi kain cadarnya yang tipis. Ia pun tak sabar ingin menyetubuhi sang bidadari bercadar dalam keadaan sadar. Pasti akan terasa nikmat saat merasakan jepitannya sambil mendengarkan suara desahannya yang menggairahkan.


“Aaahhhh… Aaahhhhh… Aaahhhhh” desah sosok itu kenikmatan.


Rasa nikmat yang begitu enak membuatnya pelan - pelan mementokkan ujung gundulnya hingga menyundul pangkal kerongkongannya. Ia tak peduli andai sang bidadari akan terbangun. Ia terus mendorongnya hingga pangkal penisnya pun sampai di bibir tipis Nayla. Bahkan bulu jembutnya telah menyapu hidung mancungnya. Baru setelah puas, ia menariknya keluar hingga penisnya itu basah berkilauan. Bahkan liurnya sampai ada yang tertarik lalu jatuh mengenai dagu sang akhwat.


“Aaaahhhhhhh mantaaapppppp… Gilaaa puas bangetttt… Saya jadi gak kuat lagi… Saya ingin memejuhinya sekarang” Ucap sosok itu kembali memasukan penisnya ke dalam mulutnya.


Sosok itu kembali menggenjot mulutnya. Ia memaju mundurkan pinggulnya secara berhati - hati agar tidak membangunkannya. Ia tidak mau andai akhwat itu terbangun, kemudian menggagalkan niatnya yang ingin memejuhi mulutnya.


Nafas sosok itu kian berat. Terasa penisnya cenat - cenut di dalam. Tangan kirinya pun bergerak mundur untuk meremas dada bulatnya dikala pinggulnya terus maju menggempur mulut bidadari cantik itu. Hampir lima menit ia menggempur mulut sang dewi. Ia akhirnya tak tahan lagi. Rasa nikmat itu tak mampu ia tahan lagi.


“Aaahhhh… Aaaahhh… Aahhhh… Sayaannggg… Saayaannggg… Aaaahhhh rasakaannn iniiiii !!!” Ucap sosok itu sambil menarik keluar penisnya lalu mengocokkannya tepat dihadapan mulutnya.


'Crroottt… Crroott… Crroottt…'


“Aaahhhh kelluuaaarrrr !!!”


Satu demi satu lelehan spermanya tumpah mengenai bibirnya. Sebagian bahkan ada yang masuk ke dalam mulutnya. Sebagian lagi mengenai hidungnya. Sebagian lagi berceceran di sekitar mulutnya. Sosok itu sampai kelojotan karena saking nikmatnya. Sosok itu sampai merem melek merasakan nikmatnya menggenjot tubuh selebgram bercadar itu.


“Ooouuhhhh gillaaa… Ouhhhh puassnyyaa… Ouuhhh aahhh… Hah…. Hah… Hah” desah sosok itu sampai ngos - ngosan.


Sosok itu pun melangkah mundur. Ia berdiri disamping sofa itu sambil melihat keadaan sang akhwat yang tengah berantakan. Ia tersenyum puas. Ia puas karena berhasil menjalankan rencana awalnya.


Kemudian, dengan terburu - buru ia menaikan lagi celana kolornya lalu menurunkan kaus lusuhnya. Ia dengan hati - hatipun menurunkan cadarnya tuk menutupi pejuh yang menodai area disekitar mulutnya.


Namun saat ia baru saja menurunkan cadarnya. Ia melihat Nayla tiba - tiba bergerak seolah ingin bangkit dari sofanya.


'Gawwaaatttt !!!'


Batin sosok itu terkejut. Ia pun melihat ke arah pintu keluar, tepatnya di arah belakang tempat berdirinya sekarang. Ia terpikirkan ide tapi masih ragu karena sempitnya waktu yang ia miliki.


“Mmmpphhhhh bau apa ini ? Aku dimana ?” Ucap Nayla terbangun sambil merenggangkan tangannya naik.


“Nyammm… Nyaamm… Eh… Apa ini ?” Ucap Nayla tersadar saat merasakan adanya sesuatu yang kental di dalam mulutnya. Nayla pun buru - buru menyentuh mulutnya. Ia pun membuka cadarnya lalu menjulurkan lidahnya sebelum jemarinya datang untuk mengoleskannya ke sana.


Betapa terkejutnya Nayla saat melihat sesuatu yang kental berwarna putih ada di jarinya. Ia pun lalu mengoleskan wajahnya yang basah dan lagi - lagi menemukan sesuatu yang kental berwarna putih disana.


Belum selesai rasa terkejut yang Nayla miliki. Tiba - tiba ia melihat sosok kekar yang sedang berdiri di depan pintu masuknya. Mata Nayla jelas membuka lebar. Apalagi saat menyadari kalau gamis yang ia kenakan terangkat naik hingga memamerkan dada bulatnya.


“Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh” Jerit Nayla ketakutan. Apalagi saat ia melihat penis pria tua berbadan kekar yang sudah menegak dibalik celana kolornya. Ia pun curiga. Ia pun takut andai apa yang ada di pikirannya itu beneran terjadi.


'Ini gak mungkin spermanya pak Beni kan ? Innniiiii ?'


Batin Nayla ketakutan.


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   

'PAK BENI


“Mbak Naylaaa… Saya bisa jelaskan… Saya . . . .” Ucap Pak Beni ketakutan andai Nayla memikirkan yang bukan - bukan. Saking paniknya, pak Beni justru mendekat yang niatnya padahal ingin menenangkan Nayla.


Namun Nayla berfikiran kalau pak Beni ingin menodai tubuhnya lagi. Ia pun melangkah mundur. Ia hendak berdiri namun tubuhnya tidak mau menuruti apa yang diinginkannya. Ia kesulitan berdiri. Ia pun hanya bisa menjerit agar sosok kekar itu menjauhi dirinya.


“Aaahhhh perggiii… Peerrggiiii…. Jangan kurang ajar yah pak… Saya akan lapor polisi kalau bapak berani menodaiku lagi !” Ucap Nayla ketakutan.


“Lagi ? Saya gak pernah menodai mbak… Jujur, saya aja baru dateng… Saya tadi penasaran kenapa gerbang pintu rumah mbak terbuka” Ucap Pak Beni mencoba menjelaskan.


“Perggiiiiii… Jangan mendekat lagiii… Aaahhhh tolooonggg… Tollooonggggg” Teriak Nayla meminta pertolongan.


Untungnya tak lama kemudian, datanglah pria tua berbadan gempal yang muncul dari arah kanan mereka berdua. Kaget melihat ada pak Beni yang sedang mendekati Nayla. Sosok itu dengan sigap mengambil sapu lalu menghantam lengan pria tua kekar itu yang membuatnya terjatuh ke atas meja ruang tamu.


“Apa yang kamu lakukan disini ? Ada apa ini non, kenapa pak Beni disini ?” Ucap pak Urip yang datang dengan mengenakan pakaian santainya.


“Paakkk tolooonngggg… Pak Beni mau menodai aku pakkk… Toloongggg” Ucap Nayla yang membuat Pak Urip naik pitam.


“Apa ? Berani sekali dirimu mau menodai non Nayla… Pergi kamuuu… Pergiii dari siniii !!” Ucap Pak Urip sambil mengibaskan sapunya selayaknya pendekar pedang.


“Pakkk bukan seperti itu… Saya bisa jelaskan pakk… Tolloonggg” Ucap pak Beni yang masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kolornya saja. Pria tua kekar itu pun akhirnya memilih kabur karena pak Urip sudah dirundung nafsu ingin menggebuki sosok kekar itu. Pak Beni akhirnya mengambil kaus lusuhnya yang terjatuh di lantai. Lalu berlari sekencang - kencangnya menuju gerbang luar.


“Dasar bajingan ! Berani sekali dirimu menodai non Nayla !” Kutuk pak Urip pada pria tua yang dikenal aneh oleh masyarakat sekitar itu.


Saat pak Beni sudah pergi. Nayla pun menangis sejadi - jadinya yang membuat pak Urip iba pada sosoknya. Pak Urip pun duduk di samping Nayla. Nayla yang ketakutan tanpa berpikir panjang langsung memeluk sosok penyelamatnya itu.


“Paakkk akuuu takutt” Ucap Nayla sambil menangis.


“Tenanggg, ada apa sih non ? Kok bisa - bisanya orang itu sampai masuk ke rumah ?” Ucap pak Urip ingin menanyakan kronologi kejadiannya.


“Gak tau pakkk… Tadi aku abis pulang kerja… Terus ketiduran disini… Tau - tau pas bangun aku ngeliat pak Beni di dekat pintu dan aku ngerasain spermanya di mulut aku pakkk” Ucap Nayla semakin mengencangkan tangisannya.


“Sperma ?” Ucap Pak Urip semakin kesal.


“Iya aku yakin banget… Ia tega menodai aku pas lagi tidur pakkk… Aku takut kalau dia dateng lagii” Ucap Nayla yang membuat pak Urip pun mengelus punggungnya untuk menenangkannya.


“Lagian kenapa non bisa tidur disini sih ?” Ucap Pak Urip heran karena biasanya majikannya itu tak pernah tidur disembarang tempat.


“Gak tau pak… Rasanya ngantuk banget… Tadi aku lagi makan roti… Dan . . . .” Ucap Nayla tersadar.


“Roti ? Roti apa ?” Tanya pak Urip.


“Roti ini ? Tadi siang, pak Beni yang ngasih aku roti ini pak” Ucap Nayla menduga kalau roti itu telah diracun oleh pak Beni.


“Roti dari pak Beni ? Kenapa masih dimakan sih ?” Ucap pak Urip berdiri lalu membuang roti itu ke dalam tempat sampah.


“Maaafff aku gak tau… Aku gak curiga sedikitpun pak… Soalnya roti itu masih disegel plastik… Aku gak nyangka kalau ada sesuatu yang bikin aku ngantuk berat di dalamnya” Ucap Nayla kembali menangis yang membuat pak Urip semakin tidak tega.


“Yasudah, itu sudah berlalu non… Jangan diulang lagi… Jauhi orang tua itu… Apapun yang diberikan jangan mau yah… Buang aja biar kejadian kayak gini gak terulang lagi” Ucap pak Urip sambil memeluk erat akhwat bercadar itu.


“Iyya pakkk… Maaffff, gak lagi - lagi pak” Ucap Nayla terisak - isak.


Pak Beni pun memeluknya erat untuk menenangkannya. Terkadang mulutnya juga mengeluarkan kata - kata. Terkadang jemarinya juga mengusap punggungnya yang masih tertutupi gamis berwarna putihnya.


“Oh iya pak… Aku minta sesuatu boleh ?” Pinta Nayla tiba - tiba.


“Ada apa non ?” Tanya pak Urip sambil menatap wajahnya.


“Tolong temani aku malam ini… Aku takut kalau orang itu datang lagi pak… Bapak bisa tidur disini atau dimana aja tapi tolong jangan biarkan aku sendiri disini pak… Aku takut” Ucap Nayla yang membuat pak Urip berpikir sejenak.


“Temani non ?” Tanya pak Urip.


“Iya pak… Toloongggg… Aku takut banget kalau tidur sendiri disini” Ucap Nayla terus memohon.


“Hmmm nanti saya izin ke istri dulu yah… Untuk sekarang non tenangin diri aja dulu… Non bisa mandi dulu apa gimana… Nanti setelah izin, saya datang lagi kesini, gitu yah ?” Ucap pak Urip yang hanya dijawab anggukan oleh Nayla.


Nayla yang masih merasa jijik dengan aroma sperma di mulutnya lekas pergi menuju kamar mandi untuk membersihkannya. Pak Urip pun hanya menetap di sofa sambil melihat ke arah pintu keluar. Ia masih kepikiran, bisa - bisanya pak Beni datang di jam seperti ini.


“Hah… Untung saja tadi bisa tepat waktu” Ucap pak Urip tersenyum lega.


MEBE9P1

   18/41/8d/MEBE9P1_t.jpg   

'NAYLA


MEBE9O4

   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg


;;;;;;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 2


BERAWAL DARI MIMPI

Nayla sudah mandi. Aroma tubuhnya juga sudah wangi. Tak ada lagi aroma sperma yang menyengat di mulutnya karena dirinya sudah menggosok gigi berulang kali. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Nayla yang baru saja pulang dari musholla terdekat bergegas berganti pakaian untuk menyantap makan malam bersama pembantu yang sangat ia percaya.


Paakkk... Makan yukk Ajak Nayla yang sudah kelaparan.


Akhirnya makan juga... Daritadi saya nungguin loh non, cuma gak enak buat bilangnya... Hakhakhak Tawa pak Urip.


Yeee bapak gak bilang... Aku biasa makan jam segini soalnya, jadi aku gak tau kalau bapak udah kelaperan dari tadi Ucap Nayla merasa tak enak.


Hakhakhak gapapa non... Saya juga tamu kok disini... Tamu kan harus ngikutin kebiasaan disini Ucap pak Urip sambil tersenyum yang membuat Nayla ikut tersenyum.


Mereka berdua pun menyantap makan malam. Nayla yang tadi pagi memasak sayur sup dengan gorengan tempe serta sambal matah langsung berdiri untuk mengambilkan nasi untuk laki - laki yang telah melindunginya tadi.


Gak usah non, biar saya aja Ucap pak Urip merasa tak enak.


Udah gapapa pak... Aku kan harus membalas budi perbuatan bapak... Aku gak tau bakal kayak gimana kalau tadi bapak gak dateng menolongku Ucap Nayla yang membuat pak Urip tersipu.


Pak Urip jelas merasa malu. Ia begitu senang ketika dianggap sebagai pahlawan yang telah melindungi akhwat bercadar dihadapannya. Dilihatnya Nayla yang saat ini sedang mengenakan pakaian santainya. Meski hijab & cadar terpasang menutupi kepala dan sebagian wajahnya. Kaus santai Nayla yang tidak terlalu longgar membuat pak Urip dapat mengira - ngira bagaimana lekuk tubuhnya saat tidak berpakaian.


Ya, sebagai lelaki biasa. Pak Urip juga mempunyai nafsu kepadanya. Ia masih normal. Meski usianya sudah menua, hasrat birahi untuk menggagahi Nayla tetap ada. Tapi ia menekan semua hasrat birahinya itu demi memenuhi pengabdiannya pada pak Miftah yang merupakan sosok yang sangat berarti baginya.


Pak Urip pun tersenyum saat melihat keindahan paras Nayla.


Maaf pak cuma seadanya Ucap Nayla yang tadi sore hanya memanaskan lagi sup yang ia buat di pagi tadi.


Gapapa non, bagi saya ini sudah termasuk mewah kok... Hakhakhak Tawa pak Urip yang menghibur hati Nayla.


Mereka berdua pun menyantap makan malam bersama. Sesekali mereka mengobrol. Sesekali juga mereka bercanda. Terkadang Nayla bercurhat mengenai sikap suaminya. Terkadang pak Urip menghiburnya dengan menyadarkan Nayla kalau suaminya itu memang sibuk. Nayla pun senang dengan sikap pak Urip. Ia juga bercurhat mengenai kejadian di hari ini. Beruntung pak Urip sudah mengetahui kejadian asli di sore tadi. Nayla jadi bisa menceritakan semuanya sehingga hatinya terasa plong setelah mengungkapkan semuanya.


Sudah belum pak, biar aku bawa ke wastafel Ucap Nayla saat melihat pak Urip sudah menghabiskan makan malamnya.


Eh gak usah, biar saya aja yang membereskannya Ucap pak Urip tanggap dengan mengambil piring Nayla lalu membawanya ke wastafel. Ia bahkan mencucinya juga yang membuat Nayla menyukai kepribadiannya yang tanggap.


Anu pak, aku mau langsung tidur ke kamar yah Ucap Nayla meminta izin saat berjalan melewati dapurnya.


Oh iya non, silahkan... Saya boleh tiduran di ruang tamu sambil nonton tv kan ? Ucap pak Urip meminta izin saat sedang membersihkan piringnya.


Iyya pak boleh Jawab Nayla sambil tersenyum.


Pak Urip pun tersenyum. Nayla setelah itu pun membuka pintu kulkasnya untuk mengambil sebotol minuman yang berwarna kekuningan. Kemudian Nayla menuangkannya ke dalam gelas yang dibawanya. Lalu meminumnya sambil membelakangi pak Urip untuk menyembunyikan sebagian wajahnya.


Aahhhh segernya minuman rasa lemon ini Ucap Nayla sambil mengelap bibirnya yang basah.


Pak Urip pun menoleh saat majikannya itu mengucapkan sepatah kata. Lalu pak Urip menatap botol berisi minuman rasa lemon itu sebelum dirinya melanjutkan bersih - bersih piringnya.


Hmmm minumannya mau abis... Besok harus beli lemonnya ke mang Yono lagi nih Ucap Nayla sambil menutup botol lemon itu kemudian menaruhnya kembali ke kulkas.


Akhwat bercadar itu pun berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat. Ia ingin cepat - cepat mengakhiri hari karena sudah terlalu letih dengan segala kejadian yang sudah terjadi. Ia pun berganti pakaian, ia juga melepas hijab berserta cadarnya. Tak lupa ia mengunci pintu kamarnya karena ada laki - laki lain selain suaminya yang menginap di rumahnya.


Hah waktunya tidur... Semoga besok ada kabar baik yang menyertai hariku Lirih Nayla sebelum memejamkan matanya.


*-*-*-*

Pagi telah datang diikuti oleh cahaya mentari yang bersinar terang. Burung - burung berterbangan melewati pohon - pohon yang rindang. Cuacanya sangat cerah membuat orang - orang begitu sumringah. Ada yang ingin jalan - jalan. Ada juga yang ingin berdiam di rumah menikmati pemandangan indah di halaman depan.


Nayla juga telah bangun dan bersiap - siap untuk berolahraga. Meski badannya agak pegal - pegal. Ia ingin berolahraga untuk melupakan masalah yang ia dapatkan. Nayla memang suka berolahraga maka tak heran kalau dirinya memiliki tubuh yang begitu indah.


Hmmm seger banget udaranya Ucap akhwat bercadar itu saat sedang mengenakan sepatunya di teras depan.


Akhwat berhijab serta cadar merah itu pun berdiri tegak setelah mengenakan sepatunya. Kaus berlengan panjang berwarna hitam melekat di tubuh rampingnya. Tak lupa celana 'training' panjang berwarna coklat membungkus kaki jenjangnya. Meski tak mengenakan pakaian yang memiliki warna selaras. Kecantikannya tetap melekat padanya. Penampilannya sungguh mengundang mata lelaki tuk melihatnya. Ia pun mulai berlari untuk melupakan masalah yang menghantuinya kemarin.


Setelah melewati gerbang rumahnya. Ia pun berbelok ke arah kanan. Kedua tangannya ia kibas - kibaskan untuk melemaskan otot di lengannya. Matanya pun memejam saat menikmati udara yang begitu segar.


Seketika, saat dirinya melewati rumah seseorang. Sepasang tangan tiba - tiba datang mengejutkan Nayla dari arah belakang. Rasa terkejut yang dialaminya membuatnya ingin berteriak. Namun mulutnya tertahan oleh dekapan orang itu dari belakang.


Mmmpphhh... Mmmpphhh... Mmmpphhh Desah Nayla tertahan.


Pagi - pagi udah wangi aja dirimu mbak... Main ke rumah yuk, saya janji akan memberikan kepuasan yang gak pernah mbak bayangkan Ucap sosok itu yang membuat mata Nayla terbuka lebar.


Mmmpphhh.. Mmmpphhh... Mmmpphhh Desah Nayla tertahan sambil menggeleng - gelengkan kepala.


Namun tubuhnya tiba - tiba diseret ke belakang oleh orang itu. Seketika ia mengenali suaranya. Ia juga mengenali tangan kekar yang sedang mendekap mulutnya juga perutnya. Sontak Nayla ketakutan. Ia sadar kalau dirinya sedang dibawa ke rumah seseorang.


'Pak Beni... Apalagi yang akan pak Beni lakukan padaku... Lepaskan... Lepaskaannnn... '


Batin Nayla di dalam hati.


Mmmpphhh... Mmmpphhh... Mmmpphhh Desah Nayla sambil berontak. Berulang kali tangannya mendorong dekapan tangan pak Beni agar terlepas. Namun usahanya percuma karena dekapan tangan pria tua itu terlampau kuat. Ia juga berulang kali menahan kakinya. Namun tetap saja, kakinya justru terseret seiring terbawanya tubuhnya ke dalam rumah pak Beni.


'Jebreeettt !!! '


Pintu telah ditutup. Nayla telah diculik ke dalam rumah pak Beni. Dengan kasar tubuh Nayla didorong hingga menghantam dinding rumah pak Beni. Tangan kanan pak Beni bertumpu pada dinding. Tepatnya dinding yang berada tepat dibelakang Nayla. Tangan pak Beni berada tepat di sisi kiri wajah Nayla. Wajah Pak Beni pun mendekat tuk menatap wajah cantik Nayla.


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg  

'PAK BENI


MEBG1T9



   b6/6d/89/MEBG1T9_t.jpg  

'NAYLA


Sayaaannggg Ucapnya yang membuat Nayla benci sehingga menoleh ke kanan.


Liat sini donggg Ucap pak Beni sambil mendekap dagu Nayla lalu menolehkannya ke arah wajahnya.


Apa lagi yang bapak inginkan ? Lepaskan aku... Aku gak mau dinodai lagi oleh bapak ! Tegas Nayla meski jantungnya berdebar karena ketakutan.


Cantik sekali wajahmu ini, sayang... Akan lebih baik kalau wajah secantik ini dilumuri pejuh agar wajahmu semakin mulus Ucap pak Beni sambil membelai lembut pipi Nayla yang masih tertutupi cadarnya.


Apa bapak bilang ? Jangan kurang ajar yah pak ! Wajah aku bukan tempat pembuangan sperma bapak ! Ucap Nayla dengan tegas yang malah membuat pak Beni tertawa.


Pembuangan sperma ? Pembuangan pejuh kaliii.... Duh makin gak nahan deh, ingin rasanya mencium bibir manismu lagi” Ucapnya sambil membelai bibir tipis Nayla dari luar cadar yang dikenakannya.


Nayla pun membuang mukanya lagi. Namun, saat wajahnya digerakkan oleh jemari pak Beni agar dapat melihat sosok tua itu lagi. Tiba - tiba wajah jeleknya mendekat untuk mencumbu bibir tipisnya.


“Mmmpphhh desah pak Beni yang tiba - tiba mencumbu bibir Nayla dari luar cadarnya.


Paakkk, mmmpphhhhh Desah Nayla tak siap sehingga membiarkan bibirnya dihantam oleh bibir pria tua itu.


Meski ada cadar yang menjadi pemisah bibir mereka berdua. Nayla masih dapat merasakan sentuhan bibir pak Beni yang begitu rakus saat mencumbu bibirnya. Nayla pun berusaha mendorongnya menggunakan tangan rampingnya. Namun usahanya percuma karena tubuh kekar pak Beni terlampau kuat.


Hentikaannn... Lepaskaaannn Jerit Nayla sambil mendorong tubuh pak Beni.


Yahahaha... Manis sekali bibirmu sayang... Belum juga dengan susumu... Ouhhhh kenyalnya... Ya ini baru susu... Ini baru susu akhwat yang rasanya nikmat Desah Pak Beni sambil meremas dada Nayla.


Aaahhhh lepaskaaann.... Aahhhh sakitttt Jerit Nayla sambil menahan tangan pak Beni agar tidak semakin bebas dalam meremas dadanya.


Aahhh yahhh... Aahhhh mantapnyaaa... Ini baru susu... Ini baru susu Ucapnya sampai mengulang kata - katanya hingga dua kali.


Sembari tangannya meremas buah dada Nayla. Bibirnya kembali mendekat tuk mengincar leher Nayla yang masih tertutupi hijabnya. Karena kesulitan, ia pun mengganti targetnya dengan menaikan cadar yang Nayla kenakan. Lidahnya pun keluar lalu menjilati pipi Nayla dari balik cadarnya. Lidahnya juga mendekat ke arah bibirnya meski Nayla sudah berusaha kabur agar tidak disentuh oleh bibirnya.


Aaahhh bapaakkk... Jangaaannn


Dikala Nayla fokus menghindari lidah pria tua kekar itu. Tiba - tiba ia dikejutkan oleh celananya yang dipelorotkan oleh pak Beni. Celananya pun turun hingga ke lututnya. Ditengah kepanikan itu, tubuh Nayla tiba - tiba dibalikan menghadap ke arah dinding ruangan. Nayla pun dipaksa menungging bertumpu pada dinding. Dalam sekejap celana dalam Nayla juga diturunkan. Kejadian yang begitu cepat itu membuat Nayla tidak tahu harus melakukan apa dulu tuk mencegah perbuatan pria tua itu.


Dah lama saya ingin menghujami memekmu, sayang... Akhirnya waktunya pun tiba... Terima ini, Terima kejantanan saya ini Ucap pak Beni saat mengarahkan penisnya yang baru saja dikeluarkan dari balik celana kolornya yang diturunkannya.


'Jleeeebbbb !!! '


Mata Nayla terbuka lebar. Sebuah benda tumpul yang amat besar tiba - tiba menghantam masuk membelah liang senggamanya. Tubuh Nayla sampai terdorong maju. Tusukannya yang begitu kuat membuat penis itu dengan cepat menyundul dinding rahimnya.


Aaaaahhhh bapaaakkkk Desah Nayla hingga membuat sekujur tubuhnya lemas tak berdaya.


Yahahaha... Nikmat sekali jepitan memekmu, sayang... Ouhhhh mantappnyaaa... Ouhhhh baru nusuk aja udah senikmat ini... Apalagi kalau sampai gerak maju mundur ? Ucap pak Beni yang akhirnya mulai menggerakan pinggulnya.


Aaahhh jangaaannn... Jangaannnn paakk... Aahhhh.... Aahhhh Desah Nayla merasakan gesekan yang begitu terasa menggelitiki dinding vaginanya. Meski vaginanya belum terlalu basah. Meski penis pria tua itu terlampau megah. Rasa sakit akibat penetrasi pria tua kekar itu tak begitu terasa.


Mulut Nayla berulang kali membuka lebar. Tusukan demi tusukan yang pak Beni lakukan telah menggetarkan jiwanya. Seingatnya hampir dua minggu sejak terakhir kali dirinya disetubuhi oleh suaminya. Ini kah akibatnya hingga diam - diam ia merasakan kenikmatannya. Namun suara pak Beni yang mendesah saat sedang memperkosanya membuat ia tersadar. Ia sedang diperkosa. Ia pun kesal sehingga meminta pria tua itu untuk berhenti menggenjotnya.


Aaahhh hentikaaann... Hentikan paakkk... Aaahhh gakk maauuu... Gakk maauuuu Jerit Nayla sambil melepaskan tangan pak Beni yang sedang memegangi pinggangnya.


Aaahhh nikmat sekali memekmu sayanggg... Aaahhh yahh... Aahhhh mantaaappp Desah pak Beni dengan barbar saat menikmati kemaluan tetangganya.


Sebagai pekerja kasar yang memiliki tubuh kekar. Ia pun tak kenal dengan yang namanya kelembutan. Apa - apa ia lakukan dengan kasar. Termasuk saat menyetubuhi kemaluan akhwat bercadar itu dengan gaya barbar. Cengkraman yang ia lakukan di pinggangnya juga terlampau kuat. Ia pun terus menggenjotnya hingga perlahan kemaluan Nayla semakin basah.


Aaahhh... Aaahhh... Aaahhh paakkk ouhhhh Desah Nayla hingga berulang kali merapatkan pahanya saat merasakan sensasi aneh dari sodokan pria tua itu.


Gerakan barbar yang dilakukan oleh pak Beni malah membuat Nayla perlahan kian menikmati. Belum pernah ia digenjot dengan kasar seperti ini. Suaminya biasa melakukannya dengan lembut. Gerakan seperti ini justru membuat birahinya terpanggil hingga diam - diam menikmati perlakuan kasar tetangganya itu.


Aaahhh... Aaahhh... Enakk kan sayanggg ? Ucap pak Beni yang menyadarkan Nayla kembali.


Enggaakkk... Gak sama sekali... Lepaskan akuu... Lepaskan akuu pakkk Ucap Nayla dengan sisa harga diri yang dimilikinya.


Namun lagi - lagi sodokan barbar yang ia terima membuat hatinya bertanya - tanya.


'Aaahhh... Aahhhh kenapa rasanya seperti ini... Kenapa aku nyaris menikmati ? Ada apa ini ? Mmmpphhh... Aaahhhh... '


Batin Nayla heran.


Ditengah sodokan yang semakin nikmat. Tiba - tiba pak Beni menghentikan sodokannya. Nayla pun terkejut hingga menoleh ke belakang. Nampak pak Beni tersenyum mesum yang membuat bulu kuduk Nayla merinding dibuatnya. Nayla pun ketakutan. Apalagi saat mendengar kata yang pak Beni ucapkan.


Mari kita selesaikan dengan jantan, sayang Ucap pak Beni sambil mendorong tubuh Nayla ke dalam kamarnya. Nayla pun diam tak bisa berkata - kata karena saking takutnya. Dalam perjalanan ke kamarnya, kelamin mereka masih tetap bersatu. Bahkan sesekali pak Beni menggenjotnya yang membuat Nayla gemetar merasakan sensasinya.


“Aaaaahhhh bapaakkkk” desah Nayla yang semakin membuat pak Beni bersemangat untuk menggenjotnya.


Tepat setelah mereka memasuki kamar. Tepatnya lagi di depan ranjang tidur pak Beni. Tiba - tiba pak Beni menarik lepas kaus yang Nayla kenakan. Pak Beni dengan cepat juga melepas kait bra yang menyembunyikan dada indahnya. Nayla pun berteriak setelah pakaiannya dilucuti oleh pak Beni.


Aaahhhh jangaannn... Jangann dilepas paakk... Aaahhhh Jerit Nayla saat tubuhnya didorong oleh pak Beni sehingga membuatnya terjatuh dalam posisi tengkurap diatas ranjang tidur pak Beni.


Baru saja terjatuh, pak Beni langsung menarik lepas celana 'training' yang Nayla kenakan. Pak Beni juga menarik lepas celana dalam yang Nayla kenakan. Dalam sekejap Nayla sudah bertelanjang bulat menyisakan hijab dan cadar berwarna merahnya.


Yahahahaha... Orang - orang pernah bilang kalau ada yang pake hijab merah jangan sampai lepas, gitu kan yah ? Ucap pak Beni sambil menelanjangi dirinya yang membuat mata Nayla membuka lebar saat melihat bentuk fisiknya.


Nayla awalnya merasa ngeri. Namun semakin lama ia melihatnya, ia terpesona oleh tubuh pak Beni. Tubuh pak Beni begitu indah dimata wanita. Tubuhnya begitu kekar dengan dada bidang serta perut kotak - kotak yang menghiasinya. Belum lagi dengan lengan berototnya. Belum lagi dengan bulu jembutnya yang begitu lebat serta penis gagah perkasa yang sudah mengacung tegak.


Nayla pun bergidik ngeri. Baru kali ini dirinya melihat aurat seorang lelaki selain milik suami. Baru kali ini ia melihat seorang lelaki yang begitu seksi.


Jangaannn... Jangaannn mendekat paakk... Toloongg jangaannn Ucap Nayla tersadar dari lamunan kotornya.


Sebagai wanita biasa, siapa sih yang tidak tergoda dengan tubuh indah pak Beni. Terlepas dari usianya yang sudah terlampau tua. Terlepas dari wajahnya yang terkesan buruk rupa. Belum lagi dengan tato di dada yang menjelaskan kalau pak Beni bukanlah laki - laki yang baik hati. Nayla sempat terkesan bahkan terpesona oleh tubuh kekarnya.


Namun sebagai akhwat bercadar yang sudah pernah menikah. Sebagai akhwat bercadar yang dulu sempat belajar di pondok pesantren. Ia tahu kalau membiarkan tubuhnya diperkosa oleh pria kekar itu adalah kesalahan. Ia pun berusaha menolak meski ia sendiri tahu, dirinya tidak memiliki kesempatan untuk kabur dari sergapan pria tua itu.


Maaf saya sudah gak kuat... Saya ingin menggenjotmu sampai puas Ucap pak Beni sambil memegangi paha Nayla lalu menariknya hingga akhwat cantik itu terseret ke arahnya.


“Aaaaahhhh lepaskaaannnnn !!!” Jerit Nayla panik saat pria tua kekar itu terlihat bernafsu ingin menyetubuhinya lagi.


Kaki Nayla pun dilebarkan. Nayla sedang mengangkan dalam posisi terlentang dihadapan pria tua yang sudah telanjang.


Jangaannn pakk... Jangaannn... Jangaannn aaaaaahhhhhh Desah Nayla saat merasakan penis jantan itu kembali ambles di dalam liang senggamanya.


“Ouuhhhhh mantapnyaaaaa” Desah pak Beni dengan sangat puas.


“Hah… Hah… Hah… Hah” Baik pak Beni ataupun Nayla, mereka berdua terengah - engah setelah kemaluan mereka kembali bersatu. Pak Beni dengan penuh nafsu menatap mata Nayla. Nayla dengan lemas juga menatap mata pak Beni. Mata mereka saling melakukan kontak tanpa mereka sadari. Pak Beni pun tersenyum yang membuat Nayla bergegas membuang wajahnya ke samping.


“Mari kita mulai lagi pertempurannya, sayang” Ucap pak Beni yang perlahan mulai menggerakkan pinggulnya yang membuat suara jeritan Nayla mulai kembali terdengar.


“Mmpphhhh… Mmpphhh” desah Nayla saat terbaring diatas ranjang tidur pria tua itu.


Pergerakan pak Beni memang terkesan lambat. Namun itu sudah cukup untuk membuat buah dada Nayla bergoyang indah. Mata Pak Beni pun terpaku pada pergerakan lembut payudara itu. Berulang kali lidahnya keluar tuk menjilati tepi bibirnya yang kering. Kedua tangannya pun tak berhenti mengelusi paha bagian dalam Nayla yang membuat akhwat bercadar itu merinding merasakan persenggamaan ini.


“Paaakk tolloonngg… Sudahhh… Sudaahhh aaahhhhhh” desah Nayla meminta berhenti meski hatinya berkata ingin melanjuti.


“Aaahhh… Aahhh… Gak usah munafik mbak… Saya tau tubuh mbak sedang menikmati, iya kan ?” Tanya Pak Beni yang membuat Nayla kesal merasa tidak terima.


“Gak mungkin pak… Mana mungkin aku menikmati pemerkosaan ini ! Lepaskannn… Lepaskaaan aaahhhhh” Desah Nayla saat merasakan genjotan Pak Beni dipercepat.


“Yahahaha munafik sekali… Keliatan sekali dari wajahmu, kalau mbak sangat menikmati genjotan saya, iya kan ?” Desah Pak Beni saat tubuhnya agak menunduk untuk mendekap pinggang ramping bidadari cantik itu.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Enggaaakkk… Engaakkk pakk… Aaaaaahhhhh” desah Nayla memejam tak kuasa menahan hujaman yang begitu kuat.


Penis pak Beni dengan brutal keluar masuk menggesek dinding rahim bidadari itu. Gesekannya yang begitu cepat membuat rahim Nayla semakin basah oleh cairan cintanya yang perlahan mulai menggenangi. Suara cipratan air pun terdengar dari dalam. Suara hantaman antar pinggul juga terdengar keras yang membuat Nayla tak tahan lagi selain berteriak kencang.


“Aaaahhh… Aaahhhhhh… Aaaahhhhh” Jerit Nayla sambil mencengkram kuat sprei ranjang tidur pria tua itu.


“Aaaahh… Aaahhh… Mantapppnyaa… Mantap sekali jepitan memekmu, sayanggg” Desah pak Beni sambil mengamati gerakan payudara Nayla yang meloncat - loncat.


Ya, gerakan buah dada Nayla terlampau kuat. Gerakan buah dadanya terlihat seperti mau terlepas saja. Hantaman pinggul pak Beni menjadi penyebabnya. Bahkan tubuh polos Nayla tergerak maju mundur diatas ranjang tidur pria tua itu. Bahkan ranjang tidur yang menjadi TKP pertempuran mereka sampai bergoyang hingga terdengar bunyi denyitan disana. Usapan tangan pak Beni di tubuhnya yang mulanya berada di pinggangnya mulai menjalar ke perutnya. Usapan tangannya pun naik tuk membelai payudaranya. Pak Beni tengah memegangi payudaranya ditengah sodokannya yang semakin kuat. Pak Beni begitu puas. Rasanya sangat nikmat saat menyetubuhi akhwat bercadar dengan gaya barbar.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Aaaaahhhhhh” Desah Nayla merasa tak sanggup lagi. Hujamannya membuat birahinya melayang ke angkasa.


Ia heran, kenapa bisa - bisanya ia nyaris berorgasme ditengah pemerkosaan yang ia terima. Saat matanya membuka. Ia mendapati pak Beni tengah menunduk hingga dada mereka saling bersentuhan. Nayla pun buru - buru membuang muka. Ia tak mau melihat sosok pria tua itu dengan jarak yang begitu dekat.


“Aaahhhh… Aahhhh… Aaahhhh… Buka cadarmu sayang” Ucap pak Beni saat menaikan cadar Nayla lalu menutupi pandangannya menggunakan cadar itu. Bibir Nayla pun terlihat namun matanya tertutupi cadarnya. Pak Beni pun tersenyum. Dengan rakus bibirnya datang untuk mencumbu bibir manis itu.


“Mmpphhhh… Mmppphhhhhh” Desah mereka saat saling cumbu.


Pak Beni yang sudah menindihi tubuh Nayla sangat menikmati kelezatan bibirnya. Kedua tangannya pun mendekap tangan Nayla lalu merenggangkannya ke samping. Matanya pun memejam ditengah cumbuan bibirnya yang begitu kejam. Pinggulnya juga terus bergerak naik turun tuk membombardir liang senggama akhwat bercadar itu.


Kepuasan tak terkira dialami oleh mereka berdua. Bedanya, pak Beni menunjukkannya secara terang - terangan sedangkan Nayla menyembunyikannya karena tak ingin harga dirinya terenggut oleh pria tua itu. Ia tak mau pria tua itu terlihat senang karena telah membuatnya keenakan.


'Plookk… Plokkk… Plookkk !!!'


Pinggul Pak Beni terus menggempur. Suara hantaman pinggul itu terdengar semakin keras seiring nafsu birahi pak Beni yang semakin ganas. Sela - sela jemari Nayla teremas. Hujamannya bibirnya semakin kuat yang membuatnya semakin puas.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Puas sekali rasanya menikmati tubuhmu ini sayangg… Terima ini… Terima lebih kuat lagi” Desah pak Beni setelah melepas cumbuannya.


'Plokkk… Plokkk… Plokkk… '


Terdengar hantaman pinggul mereka berdua semakin keras.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Aaahhhhh cukkuupppp” desah Nayla merasa tak sanggup menahan gairah birahinya lagi.


“Aaaahhhhh… Aahhhhh… Aaahhhh… Kayaknya ada yang mau keluar nih ? Iya gak ? Memek mbak udah berdenyut yah ?” Ucap pak Beni yang membuat Nayla merasa malu.


“Hentikaannnn… Hentikaannn paakk… Akuu enggakk… Akuuu aahhhh… Aaahhhhh” Desah Nayla tak sanggup lagi yang membuatnya hanya bisa mendesah.


“Yahahahha saya juga mbak… Gimana kalau kita sama - sama keluar di rahim mbak… Siapa tahu nanti mbak bisa hamil oleh perbuatan saya ini” Ucap Pak Beni yang membuat mata Nayla membuka lebar.


“Tappii… Engggakk… Aku gak mauuu… Aku gak mauu hamil paakkk… Aku gak mau hamil dari bapaaakkk… Aaaahhhh… Aahhhh… Aaahhhhh” Ucap Nayla ketakutan mendengar ucapan pria tua itu.


“Terlambat… Saya sudah meniatkannya… Saya akan membuang pejuh saya di titik terdalam rahim mbak” Ucap pak Beni yang membuat Nayla ketakutan.


“Aaahhhhhh enggaakk… Enggaakkk… Aaaahhhhhhhh… Toloongggg“ Desah Nayla semakin keras.


Hujaman pak Beni semakin kuat. Gerakannya juga semakin cepat. Gesekannya terasa nikmat. Terlihat wajah tuanya semakin berhasrat saat melihat tubuh polos akhwat bercadar itu. Begitu juga dengan susu bulatnya yang jarang diperlihatkannya itu. Juga dengan pentil berwarna pinknya serta ekspresi wajahnya yang ketakutan saat akan dihamili olehnya membuat pak Beni semakin tidak tahan lagi. Nafasnya terasa sesak. Dadanya terasa sempit. Ia tak kuat untuk menahan birahinya lagi.


“Aaahhhh… Aahhhh… Aaahhhh sayaa akan keluaaar… Saya mau keluuuaarrr” Desah pak Beni yang membuat Nayla ketakutan.


“Aaahhhhh jangaannn… Jangaannn pakkk… Jangannn di dalemmm” Ucap Nayla sambil terus menjerit merasakan hujaman pak Beni yang semakin liar. Kedua tangannya bahkan mencengkram sprei ranjang tidur pak Beni saat tubuhnya terhempas maju mundur menahan serangan birahi pria tua berbadan kekar itu.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Sayaaa… Sayaaaa…. Aaahhhhhh terimaaaa iniiiiiii !” Desah pak Beni saat menusukkan penisnya hingga mentok menembus rahim kehangatan Nayla.


“Aaaaahhhhhh bapaaaaakkkkkkkkk” Jerit Nayla hingga terduduk diatas ranjang tidurnya.


Nayla pun terengah - engah. Nafasnya terasa berat. Ia pun menoleh ke kiri dan ke kanan & menyadari kalau langit masih gelap. Bahkan kamarnya juga gelap. Ia pun meraba - raba ranjang tidurnya dan menemukan hape androidnya.


“Baru jam dua pagi yah ? 'Astaghfirullah'… Untungnya tadi cuma mimpi” Ucap Nayla merasa lega.


Sepertinya trauma yang ia alami di kemarin sore terbawa hingga ke alam mimpinya. Sosok pak Beni yang tak pernah ia lihat dalam keadaan telanjang pun hadir di alam mimpinya untuk memperkosanya. Nayla yang hanya mengenakan kaus berlengan pendek serta celana pendeknya saja berkeringat. Ia pun mengelap dahinya menggunakan tangannya lalu memegangi celananya yang rupanya sudah basah.


“Kok basah ? Hah… Hah… Ternyata aku sampai mimpi basah juga yah ?” Desah Nayla menggelengkan kepalanya. Entah kenapa ia merasa kalau mimpi tadi terasa nyata. Ia dapat merasakan betul hujamannya yang begitu kuat. Seketika ia mengingat - ngingat mimpi itu. Tubuh kekarnya. Penis perkasanya sampai hujamannya saat memperkosanya. Tak pernah ia mengalami hal seperti itu sebelumnya. Bahkan suaminya pun tak pernah menyetubuhinya dengan cara barbar.


Ia seketika bangkit dari ranjang tidurnya kemudian menyalakan lampunya. Ia dengan santai berjalan menuju kaca jendela yang berada di sisi kanan ranjang tidurnya. Ia membuka kordennya lalu menyilangkan tangannya ke dadanya.


“'Astaghfirullah'… Pantas saja aku tadi menikmatinya… Itu kan cuma mimpi… Mana mungkin di dunia nyata aku menikmati persetubuhan yang dilakukan oleh pria tua bejat itu !” Lirih Nayla sambil mengamati rumah yang menjadi tempat tinggal pemerkosanya di alam mimpinya.


Nayla terus menatapnya namun yang ada malah membuatnya terbayang tubuh kekarnya. Nayla pun buru - buru membuang pikiran kotornya itu sambil kembali duduk di tepi ranjang tidurnya.


“'Astaghfirullah'… Kenapa aku malah kebayang auratnya yah ? Hmmm mas Miftah mana sih ? Mungkin gara - gara udah lama aku gak dapet nafkah batin dari mas Miftah makanya pikiranku jadi sekotor ini” Ucap Nayla merindukan sosoknya. Ia pun mengecek hapenya dan hanya terdapat centang dua yang belum berubah menjadi warna biru.


'Massss aku kangen… Tolong cepat pulang… Selamatkan aku dari pikiran kotorku !'


Batin Nayla yang entah kenapa masih kepikiran mimpinya saat disetubuhi pak Beni.


Ia pun kembali tiduran lalu merenggangkan tangannya lebar - lebar.


“Kenapa yah pak Beni setega itu ke aku ? Bahkan di mimpi aja, pak Beni sampai berani memperkosaku ?” Lirih Nayla memikirkannya.


Seketika ia teringat kejadian di kemarin sore. Ia pun teringat rasa dari sperma yang ada di mulutnya kemarin.


“'Astaghfirullah'… Kenapa bangun tidur aku jadi seterangsang ini yah ? Hah… Hah… Hah…” Lirih Nayla merasa gelisah.


Rasa terangsang itu lama - lama semakin kuat hingga membuat Nayla tak sanggup lagi menahannya. Ia pun memelorotkan celana pendeknya juga celana dalamnya yang sudah sangat basah akibat mimpi semalam. Ia bahkan juga menelanjangi kausnya hingga membuatnya sudah bertelanjang bulat di dalam kamarnya.


Di kala tangan kirinya meremas susunya maka tangan kanannya menekan - nekan klitorisnya. Mata Nayla pun memejam merasakan kenikmatan yang tak tertahankan. Belakangan ia jadi sering bermasturbasi ketika sang suami tidak memberinya nafkah batin. Bahkan saat memberikan nafkah batin pun, Nayla masih belum merasa puas karena suaminya lebih sering keluar duluan. Ia pun tampak ahli dalam bermasturbasi. Berulang kali ia mencubit putingnya. Berulang kali jemari telunjuknya masuk sedangkan jemari tengahnya menekan - nekan klitorisnya.


“Aaaahhhh… Aaahhhhhh… Aaahhhh” desah Nayla merasakan kenikmatan yang semakin tak tertahankan.


Entah kenapa bayangan tubuh pak Beni yang sudah telanjang bulat hadir dibenaknya yang anehnya membuat masturbasinya menjadi semakin nikmat. Meski Nayla berulang kali berusaha membuang pikirannya itu. Namun sodokan pak Beni di alam mimpinya membuatnya kembali teringat akan momen - momen indah itu.


“Aaahhh… Aahhhhh… Aaahhh” desah Nayla terangsang.


Tangan kiri Nayla meremasi dada bulatnya. Gigi Nayla menggigit bibir bawahnya. Matanya masih memejam membayangkan sosok pemerkosanya itu ada di hadapannya tengah memasukan penis kejantanannya. Nayla terangsang. Nayla amat menyukai masturbasinya di dini hari ini.


“Aaahhh nikmat bangeett…. Aahhh yaahh… Aaahhhhh” desah Nayla keenakan.


Jemari Nayla semakin cepat keluar masuk vaginanya. Jemari satunya juga semakin kuat menekan klitorisnya. Pinggul Nayla sampai terangkat lalu bergoyang - goyang menahan kenikmatan yang tak tertahankan.


“Aaahhhh sebentar lagiii… Aahhhh aku gak kuat lagii… Aaahhhh… Aaahhhh bapaakkk… Aaahhhhhh” desah Nayla saat gelombang orgasme itu kembali datang untuk memuaskan birahinya.


'Crrrrttt… Cccrrrttt… Cccrrrttt !!!'


“Kelluuaaarrrrr !” Desah dengan sangat puas hingga membuat tubuhnya kelojotan. Bahkan pinggulnya sampai terangkat. Cairan cintanya dengan deras pun menyembur membasahi sprei ranjang tidurnya itu.


“Ouuhhhh… Ouhhhh… Ouuhhhhh” desah Nayla memejam merasakan sisa - sisa orgasmenya.


“Akhirnyaa… Hah… Hah… Akhirnyaa legaaa” Desah Nayla ngos - ngosan yang membuatnya tidak merasa gelisah lagi setelah mendapatkan orgasmenya.


Namun perlahan ketika rasa kenikmatan itu mulai menghilang. Ketika akal sehatnya mulai kembali ke pikirannya. Ia teringat akan apa yang baru saja dilakukannya. Baru saja ia bermasturbasi sambil membayangkan sosok pemerkosanya. Ya, ia bermasturbasi sambil membayangkan sosok pak Beni. Sosok pria tua berbadan kekar yang telah memuaskan birahinya di alam mimpinya juga di alam imajinasinya. Memimpikan dirinya saja sudah bisa membuatnya mimpi basah. Bermasturbasi sambil membayangkannya saja sudah membuat dirinya berorgasme sepuas - puasnya.


“'Astaghfirullah' ada apa dengan diriku ini ? Kenapa belakangan aku jadi sehina ini sih ?” Lirih Nayla menyesali perbuatannya.


Ia pun mencoba mengingat - ngingat kegiatan apa yang sudah ia lakukan di hari kemarin hingga membuatnya jadi seterangsang ini.


'Buatin bekal suami, beli sayur terus kerja bareng Putri, terus pulang kerja minum jus, terus abis itu makan roti pak Beni, habis itu . . . . '


Batin Nayla terhenti saat teringat dirinya dinodai oleh pak Beni.


'Habis itu aku mandi terus makan bareng pak Urip, habis itu aku minum air lemon di kulkas habis itu aku tidur…'


Batin Nayla melanjutkan.


“Gak ada yang aneh deh perasaan… Kenapa tiba - tiba aku jadi seterangsang ini sih ? Bahkan sampai bermasturbasi membayangkan sosoknya juga ? Ihhh aneh banget sih aku ini ?” lirih Nayla menyesalinya. Ia pun sampai menangis dalam keadaan telanjang bulat di rumahnya. Ia tampak sangat menyesali perbuatannya. Ia pun menangis sambil menutupi wajahnya menggunakan gulingnya. Ia menangis hingga rasa kantuk perlahan kembali hadir hingga membuatnya tertidur dalam keadaan telanjang bulat di kamarnya.


*-*-*-*

Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Nayla sudah rapih dengan kaus berlengan panjang yang membungkus tubuh indahnya. Tapi, entah kenapa Nayla merasa kedinginan. Ia pun berfikir sejenak. Apa jangan - jangan karena tidur telanjang semalam yah ?


Bbrrrrrr, kok dingin yah ? Lirih Nayla saat berjalan keluar dari rumahnya.


Beruntung sinar mentari yang hangat menyambutnya menghapus hawa dingin yang dirasakannya. Ia pun berjalan keluar melewati pintu gerbang rumahnya. Tak sengaja wajahnya menoleh ke arah kanan.


Semalam di mimpi, aku diperkosa gara - gara belok ke arah sana... Aku harus menjauhi rute itu... Aku gak boleh sekali - kali berbelok ke arah situ Lirih Nayla sambil memandang benci saat teringat pemerkosaannya di dunia mimpi.


Saat wajahnya menoleh ke arah kiri. Ia pun melihat tukang sayur yang sedang ia cari.


Nah itu dia mang Yono Lirih Nayla yang membuatnya bergegas berjalan mendekati tukang sayur itu.


Ditengah perjalanannya, tiba - tiba ada seseorang yang memanggilnya.


Mbak Nayla . . . Ucap seseorang yang membuat Nayla menoleh.


Eh bu Tia Jawab Nayla sambil tersenyum.


Akhwat bercadar itu pun berhenti sejenak menanti kehadiran tetangganya yang tinggal tepat di depan rumahnya.


Mau beli sayur yah mbak ? Tanya bu Tia saat mendekati Nayla.


Iyya nih bu, buat bahan masak besok Ucap Nayla tersenyum. Mereka berdua pun kembali berjalan setelah sudah berdiri sejajar.


Hihihi mulai rempong yah sekarang kudu masak ini masak itu Ucap bu Tia bercanda.


Hihihi iyya nih bu, gak kebayang kalau nanti udah jadi seorang ibu... Kayaknya bakal capek banget deh nanti Ucap Nayla membayangkan andai dirinya mempunyai anak.


Hihihi itu sudah pasti... Tapi gak usah khawatir, semua akan baik - baik aja kok Ucap Bu Tia menenangkan.


Hihihi semoga yah bu Ucap Nayla tersenyum.


Oh yah mbak, kemarin tau gak ? Saya ngeliat pak Beni mondar - mandir di depan rumah mbak loh Ucap bu Tia mengejutkan Nayla.


Eh, kemarin sore ? Ucap Nayla kembali berhenti melangkah.


Iyya, dia kayak orang bingung gitu... Mencurigakan deh... Kadang dia ngeliat sekitar... Kadang dia ngeliat ke dalem rumah mbak... Tingkah lakunya kayak mau malingin rumah mbak... Saya jadi takut deh, mbak gak kenapa - kenapa kan kemarin ? Tanya bu Tia mengkhawatirkan Nayla.


Eh gapapa kok... Aku juga gak ketemu pak Beni kemarin... Orangnya emang suka aneh gitu yah ? Dulu aja pernah masuk ke halaman rumah gitu deh sebelum diusir mas Miftah Ucap Nayla dengan gugup.


Iyya, dia agak miring gitu deh... Ya hati - hati aja yah pokoknya... Dia udah sering dicurigai di kompleks sini Ucap bu Tia mewanti - wanti.


Iyya makasih yah bu... Aku akan lebih berhati - hati Ucap Nayla sambil tersenyum.


Mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan itu lah, Nayla tiba - tiba terpikirkan sesuatu.


'Mondar mandir di depan rumah ? Terus ngintip ke dalem ? Kayaknya pak Beni emang udah merencanakan niat jahatnya deh... Ihhh jadi takut deh, semoga aja aku gak diapa - apain lagi sama pak Beni...'


Batin Nayla ketakutan. Seketika kejadian di alam mimpinya kembali teringat. Ia pun merinding membayangkan andai dirinya beneran diperkosa oleh pak Beni.


Sesampainya mereka di gerobak sayur mang Yono. Mereka pun langsung memilah - milih sayur segar untuk dibelinya. Nampak Bu Tia memilih - milih sayur terong yang merupakan kesukaan suaminya. Sedangkan Nayla memilah - milih sayur bayam karena ingin membuat sup bayam di keesokan harinya agar bisa memiliki tenaga kuat seperti Popeye.


“Mbak Naylaa” Sapa mang Yono mengejutkannya.


MEBE9O7

https://thumbs4.imagebam.com/31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg   31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg

'MANG YONO


“'Astaghfirullah', bapak ! Orang lagi milih sayur malah dikagetin” Ucap Nayla sambil memegangi dadanya.


“Huahahaha, orang saya manggil malah dibilang ngagetin” Ucap mang Yono tertawa.


“Orang lagi serius milih sayur malah dipanggil… Huft dasar” Ucap Nayla kesal.


“Huahahaha… Maap… Maap… Cuma mau nawarin, ini buah lemon yang biasa mbak Nayla cari… Mau gak ?” Ucap mang Yono nawarin.


“Eh iya baru inget… Kebetulan minuman rasa lemonku udah mau abis… Berapa pak harganya, sekalian sama sayur bayam ini yah ?” Ucap Nayla.


“Hmmmm semuanyaaa jadinyaaa… Gratis” Ucap mang Yono mengejutkan Nayla.


“Eh serius, mang ?” Ucap Nayla sumringah.


“Enggak dong huahahah” Tawa mang Yono yang membuat Nayla kesal.


“Dasar ngeselin” Ucap Nayla yang membuat mang Yono semakin tertawa.


“Buat mbak, ya 19.000 aja lah yah” Ucap mang Yono setelah menghitung total sekilo Lemon dan seikat Bayam.


“Mahal amat ?” Protes Nayla.


“Kayak baru kenal saya aja huahaha” Tawa mang Yono yang malah membuat Nayla kesal.


“Yaudah nih… Ambil” Ucap Nayla mengalah dengan memberi uang 20.000.


“Waduh mbak, gak ada uang pas yah ?” Tanya mang Yono.


“Gak ada mang” Ucap Nayla yang membuat mang Yono berfikir.


“Yaudah besok aja yah mbak… Nanti saya anterin ke rumah sekalian buat nganterin kembaliannya” Ucap Mang Yono.


“Ehhhh ngapain sampe ke rumah segala ? Gak usah lah… Besok aku juga beli lagi kesini” Ucap Nayla terkejut dengan alasan mang Yono ingin main ke rumahnya.


“Gapapa, sekalian mau silaturahmi… Siapa tau nanti dibikinin teh lemon sama bidadari secantik ini” Gombal mang Yono yang membuat Nayla tersipu malu.


“Husshhh 'cangkeme'… Gak boleh godain istri orang” Tegur bu Tia yang membuat mang Yono tersadar bahwa dirinya sedang tidak berduaan dengan Nayla.


“Iyya iya… Namanya juga bercanda… Iya gak mbak ?” Ucap mang Yono tersenyum sambil menatap Nayla.


Namun jawaban Nayla hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Pinggang mang Yono pun dicubit oleh Bu Tia yang membuat Nayla tertawa - tawa saja.


“Yaudah aku permisi dulu yah mang, bu… Wassalamualaikum” ucap Nayla pamit.


“Walaikumsalam mbak” Jawab Bu Tia.


“Hati - hati yah mbak” Ucap mang Yono sambil menatap lekuk indah Nayla dari belakang.


Entah kenapa tiba - tiba wajah mang Yono tersenyum. Matanya dengan binar menatap bokong Nayla yang agak nyeplak dari balik celana panjangnya.


'Indah sekali bokongmu itu mbak, jadi gak sabar pengen nyelipin kontol ke dalem... Jangan lupa diminum lemonnya yak !!!'


Batin mang Yono berpikiran mesum.


Ditengah perjalanan pulangnya. Nayla merasa adanya getaran di saku celananya. Saat ia mengambil hapenya, wajahnya seketika tersenyum saat mengetahui ada panggilan telepon dari suaminya.


“Haloo Assalamualaikum, mas” Ucap Nayla terburu - buru untuk mengangkat telepon dari suaminya.


“Walaikumsalam dek… Adek gapapa kan ? Mas udah baca pesan adek kemarin di WA… Maaf yah mas baru bisa nelpon, kuota mas abis dan ini baru saja beli… Apa beneran pak Beni bertindak macam - macam kemarin ?” Ucap Miftah mengkhawatirkannya.


“Hehehe iyya mas… Untung aja ada pak Urip kemarin yang nyelametin aku… Aku kaya ngerasa abis dikasih obat tidur… Hampir aja aku diapa - apain pas tidur… Untung ada pak Urip yang tanggap buat nolongin aku” Ucap Nayla menceritakan sebagian kisahnya.


“Tapi kamu gak diapa - apain kan dek ? Dia gak ngapa - ngapain adek kan ?” Tanya Miftah khawatir.


“Enggak mas… Enggak kok” Ucap Nayla berbohong. Ia merasa tak sanggup untuk menceritakan semua kisahnya. Ia tak mau memberi tahu suaminya kalau kemarin mulutnya habis dipejuhi oleh penis pak Beni.


“Huft syukurlah… Maaf yah, mas kemarin harus pergi… Tapi entar sore kalau gak ada halangan mas udah sampai di rumah kok” Ucap Miftah mengejutkan Nayla.


“Eh serius mas ? Mas hari ini pulang ?” Tanya Nayla sumringah.


“Iyya dek, serius… Dari sekarang sampai mas pulang nanti tolong jaga diri yah” Ucap Miftah perhatian.


“Iyya mas… Adek janji akan jaga diri” Ucap Nayla tersenyum.


“Yaudah kalau gitu udahan yah… Mas mau mesen tiket pesawat dulu” Ucap Miftah.


“Iyya mas… Hati - hati di jalan yah… Jangan sampai jatuh” Ucap Nayla khawatir.


“Yeee kan bukan mas pilotnya hahahhaha” tawa Miftah yang membuat hati Nayla lega seketika. Rasanya begitu senang ketika mampu mendengar suara tawanya lagi. Mereka pun sempat bercanda sebentar sebelum mereka benar - benar menyudahi telponannya. Setelah telpon berakhir, ia pun sangat lega dan berharap bisa segera bertemu dengan suaminya.


“Alhamdulillah, nanti sore mas Miftah pulang” lirih Nayla merasa senang.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


Sesampainya ia di halaman rumah, terlihati pak Urip sedang merapihkan rumput - rumput liar. Mengetahui majikannya baru pulang belanja. Pak Urip pun tersenyum untuk menyapa sosoknya.


“Wahhh ada yang abis belanja nih” Ucap pak Urip yang membuat Nayla tersenyum.


“Hihihhi iyya nih pak… Kebetulan stok lemon aku mau abis… Makanya beli ke mang Yono… Tapi kok aneh yah masa tukang sayur jualan buah juga” Ucap Nayla bercanda.


“Huahahaha… Mungkin mau melebarkan bisnisnya biar sekalian jualan buah juga… Soalnya buah alpukat kemarin juga saya beli dari mang Yono” Ucap pak Urip mengejutkan Nayla.


“Oh yah ? Hihihi mungkin kali yah mau melebarkan bisnisnya” Ucap Nayla tertawa.


“Ngomong - ngomong, enak gak jus Alpukat yang saya buat kemarin ?” Tanya pak Urip ingin tahu.


“Enak banget pak… Rasanya seger, bikin aku ketagihan deh… Apalagi pas dingin” Ucap Nayla yang membuat pak Urip senang.


“Huahahah besok - besok saya buatin lagi yah” Ucap pak Urip sumringah.


“Hihihih aku tunggu yah pak” Ucap Nayla tersenyum.


Saat Nayla hendak masuk ke dalam rumahnya, ia seketika teringat sesuatu yang membuatnya segera mengabarkannya ke pak Urip.


“Oh iya pak… Nanti sore kalau gak ada halangan suamiku bakalan pulang… Jadi bapak gak perlu lagi nginep di rumah yah… Makasih udah nemenin aku semalem” Ucap Nayla sambil tersenyum.


“Oh yah ? Syukurlah kalau gitu… Bisa nemenin istri lagi malem nanti” Ucap Pak Urip bercanda yang membuat Nayla tertawa.


Nayla pun masuk ke dalam rumah sedangkan pak Urip terlihat termenung setelah dikabarkan oleh Nayla. Entah kenapa wajah pak Urip terlihat tidak senang. Tapi ia hanya tersenyum saja setelah itu sambil melanjutkan pekerjaannya di halaman rumah majikannya.


Sementara itu di dalam rumah, Nayla segera menaruh barang - barang belanjaannya di dapur. Ia menaruh buah lemon yang baru saja dibelinya di kulkas. Ia juga menaruh seikat bayam yang dibelinya di atas meja makannya. Ia tampak sibuk saat membuka satu demi satu pintu almari di dapurnya.


“Eh gulanya mana yah ? Apa udah abis yah ?” tanya Nayla pada diri sendiri.


“Hmmm kalau kayak gini mesti beli gulanya dulu nih… Padahal niatnya mau bikin minuman rasa lemon itu sekarang” Ucap Nayla kecewa.


Ia pun setelah itu bergerak menuju kamarnya untuk mengambil sedikit uang untuk membeli gula di minimarket terdekat.


“Ini dia kunci motornya… Ayok sekarang kita berangkat” Ucap akhwat bercadar itu hendak pergi menaiki motornya.


Dengan pakaian santai yang dikenakannya, akhwat bercadar itu pun sudah menaiki motornya. Terlihat pak Urip menoleh ketika mesin motor Nayla dinyalakan.


“Eh non mau kemana ? Tumben pergi pake baju santai gitu” Ucap pak Urip keheranan.


“Hihihihi mau beli gula pak… Gula di dapur udah habis” Ucap Nayla sambil mengenakan helmnya.


“Oalah gitu” jawab pak Urip.


“Iyya pak… Aku permisi dulu yah… Aku mau pergi dulu… Wassalamualaikum” Ucap Nayla sebelum menarik gas motornya.


“Walaikumsalam” Jawab Pak Urip sambil menatap sosok Nayla yang telah pergi.


Setelah beberapa menit berkendara, Nayla akhirnya tiba di minimarket terdekat. Memang alfa yang ada di dekat rumahnya tidak terlalu besar. Tapi minimarket itu cukup sering dikunjungi oleh orang - orang yang tinggal di sekitar.


Saat Nayla membuka pintu alfa tersebut. Terasa hawa sejuk meruntuhkan hawa panas yang ada di luar ruangan. Nayla tersenyum senang bisa merasakan kesegaran di dalam. Ia pun lekas pergi menuju sudut untuk membeli gula curah yang biasa ia beli.


“Eh mbak Nayla… Tumben” Ucap seseorang mengejutkan Nayla.


“Loh Andri, kok disini ? Mau beli apa ?” Tanya Nayla terkejut melihat sosoknya.


MEBG1W5



   8b/6c/a7/MEBG1W5_t.jpeg

'ANDRI


“Eehhh mbak Naylaaa” Ucap seorang akhwat bercadar yang tiba - tiba mendekat kemudian memeluknya.


“Ehhh Putri, kalian lagi 'dating' yah ? Cieeee 'datingnya' di Alfa, hihihih” Ucap Nayla bercanda.


“Hahahaha cuma mau nemenin Putri beli bahan - bahan dapur rumah aja kok… Iya gak Put ?” Tanya Andri pada calon istrinya.


“Iyya mas… Mau belanja sekalian jalan - jalan aja” Ucap Putri malu - malu yang membuat Nayla tertawa.


MEBG1TA

https://thumbs4.imagebam.com/82/93/0f/MEBG1TA_t.jpg   82/93/0f/MEBG1TA_t.jpg

'PUTRI


Putri terlihat sangat cantik saat berbelanja. Kemeja berwarna pink benar - benar cocok untuk akhwat seusianya. Rok bermotif bintik - bintik yang menutupi kaki jenjangnya juga sangat cocok dengan dirinya. Belum lagi wajahnya yang hanya ditutupi masker berwarna hitamnya membuat orang - orang begitu penasaran akan wajah yang disembunyikan olehnya. Apakah ia sangat cantik ? Dilihat dari matanya sih iya. Diam - diam banyak sekali pengunjung yang mencuri - curi pandang ke arah akhwat berhijab 'maroon' tersebut.


“Anu sebentar yah mbak… Aku mau nyari barang dulu” Ucap Putri pergi meninggalkan Andri & Nayla berdua.


“Apa kabar ?” Tanya Andri pada Nayla.


“Baik kok ndri” Jawab Nayla.


“Gimana kabar pernikahanmu ?” Tanya Andri sekali lagi.


“Ya baik - baik aja kok… Semua lancar 'alhamdulillah'” jawab Nayla.


“Tapi bahagia kan ?” Tanya Andri yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihih ya bahagia lah… Kenapa sih nanyanya gitu ?” Tanya Nayla heran.


“Hahahahah kepikiran aja… Aku kan mau nikah takut pikiran macem - macem hadir di otakku… Kadang takut kalau pernikahanku malahan gak bahagia” Ucap Andri beralasan yang membuat Nayla paham.


“Ohhh gitu… Tenang gak usah dipikirin… Kadang pikirin negatif suka hadir kok… Tapi asal kalian saling cinta, memahami dan memaklumi pasti pernikahan kalian akan lancar- lancar aja kok… Semangat yah, jangan dibatalin… Putri udah cinta mati loh ke kamu, Ndri” Ucap Nayla memberi nasehat yang hanya membuat Andri tersenyum.


“Hahaha gak akan… Ya kali aku batalin pernikahanku dengan wanita secantik dia” Ucap Andri sambil menatap Putri yang membuat Nayla tertawa.


“Cieeee hihihihi… Aku cuma bisa doain lancar aja yah buat kalian… Semoga kalian bisa berbahagia selamanya” Ucap Nayla tertawa yang membuat Andri ikut tertawa.


Nayla pun pergi tuk mencari gula yang ingin dia beli. Sedangkan Andri menetap sambil terus memperhatikan gerak - gerik Nayla.


'Kamu bahagia yah ? Bukan itu sebenarnya jawaban yang mau aku dengar… Aku harap pernikahanmu enggak bahagia agar aku bisa menggantikan posisi suamimu untuk membahagiakanmu suatu saat nanti…'


Batin Andri menatap Nayla. Seketika pandangannya pun beralih menatap Putri. Putri memang cantik tapi entah kenapa ada sesuatu yang gak sreg di hatinya yang membuatnya malah lebih mencintai Nayla ketimbang Putri.


'Kenapa yah aku lebih mencintaimu Nay, ketimbang Putri ? Apa sih kurangnya Putri ? Dia juga cantik kok… Tapi entah kenapa sosokmu lebih menarik…'


Batin Andri merenung ketika terus membandingkan Nayla dengan Putri.


“Eh Ndri, aku duluan yah” Ucap Nayla ketika sudah membeli gulanya.


“Oh iya Nay… Hati - hati yah” Ucap Andri memberikan perhatian.


“Iyya ndri… Makasih” Jawab Nayla tersenyum yang membuat hati Andri begitu bahagia saat melihat senyum indahnya.


Nayla pun pergi menaiki motornya kembali. Sosok akhwat bercadar yang mengenakan hijab abu - abu itu pun pergi meninggalkan Andri di minimarket sendiri.


“Eh mas, mbak Nayla mana ?” Tanya Putri datang kemudian.


“Udah pergi Put… Cuma beli barang sedikit doang tadi” Jawab Andri.


“Yahhh… Padahal mau ngobrol - ngobrol dulu tadi” Ucap Putri menyesal. Andri pun hanya tersenyum mendengar jawaban Putri. Entah kenapa dirinya juga ingin mengobrol - ngobrol lebih lama lagi dengan akhwat bercadar tadi.


MEBG1T8



   2b/d2/23/MEBG1T8_t.jpg

'NAYLA


BEBERAPA SAAT KEMUDIAN


Nayla telah tiba di rumahnya. Akhwat bercadar itu pun segera turun dari motornya.


Eh pak Urip mana yah ? Tumben gak keliatan ? Ucap Nayla heran.


Nayla heran karena biasanya pak Urip selalu berada di halaman depan untuk merapihkan kebun atau sekedar mengambil dedaunan yang jatuh di halaman.


Nayla berjalan memasuki rumahnya. Ia berjalan sambil menenteng belanjaannya di tangan kanannya juga helm di tangan kirinya. Ia pun menaruh helmnya di tempat biasa. Lalu kemudian melangkah ke dapur untuk membuat minuman rasa lemonnya.


Eh pak Urip, disini rupanya Ucap Nayla saat memasuki dapur. Suara yang Nayla ucapkan secara tiba - tiba malah membuat pak Urip terkejut hingga tubuhnya sampai meloncat saat membelakangi Nayla.


Eh non, bikin kaget aja Ucap pak Urip saat menoleh sambil memegangi dadanya.


Hihihihi kok kaget sih pak... Maaf... Maaaf Ucap Nayla sambil tertawa meski hatinya merasa tidak enak padanya.


Huh, saya udah tua loh non... Kasian jantung saya... Habis saya kan dari tadi sendiri, gak nyangka kalau ada non Nayla disini Ucap pak Urip yang membuat Nayla masih tertawa ngakak.


Hihihi maaf pak... Maaf... Saya jadi gak enak deh sama bapak... Eh itu apa pak ? Tanya Nayla saat melihat adanya serbuk misterius yang tertuang di dalam gelas di depan pak Urip.


Oh itu... Itu... Itu koppi... Iyya kopi non, tadi saya mau buat kopi Jawab pak Urip terbatas - bata.


Kopi ? Tanya Nayla mendekat lalu mengambil gelas itu untuk menghirup aromanya.


Nampak raut wajah pak Urip tak nyaman. Terlihat jemarinya gelisah ingin menahan Nayla untuk tidak melakukannya.


Hmmmm kopi apa ini ? Baunya aneh Ucap Nayla sambil mengerutkan hidungnya.


Hehehe saya juga gak tau non, saya juga baru beli... Dikasih temen tadi Ucap pak Urip tertawa canggung.


Beli ? Beli apa dikasih temen ? Tanya Nayla sambil menatap pak Urip.


Dikasih temen maksudnya... Eh non mau make dapur yah ? Yaudah saya buatnya nanti aja deh... Permisi yah non Ucap pak Urip sambil membawa gelas itu lalu pergi membawanya ke halaman depan.


Pak Urip kenapa yah ? Gelagatnya aneh deh ? Apa jangan - jangan itu kopi hasil nyuri ? Hihihi ada - ada aja pikiranku ini... Yaudah aku mau buat minuman lemon dulu ah Ucap Nayla mulai bekerja dengan memeras lemon lalu memberi sedikit gula untuk menambah rasa manis disana. Tak lupa ia mengisi air secukupnya lalu memasukan air lemon itu ke botol minuman yang kemudian ia memasukannya ke dalam kulkas.


Hah selesai juga... Udah mau jam 11 yah ? Bobo siang dulu ah... Biar cepet sore, biar bisa ketemu mas Miftah hihihihi Tawa Nayla.


Akhwat bercadar itu pun bergegas memasuki kamarnya. Ia melepas hijabnya lalu cadarnya. Ia melepas gamisnya berikut juga celananya. Nayla yang sehari - harinya terbiasa mengenakan pakaian serba tertutup itu tinggal mengenakan bra beserta celana dalamnya saja. Nampak keindahannya memancar disana. Buah dadanya terasa sesak saat ditekan dengan bra berukuran 34B itu. Andai payudaranya bisa berbicara mungkin payudaranya akan meminta Nayla untuk melepas behanya saja.


Duhhh tadi padahal dingin tapi sekarang kok malah panas yah ? Apa aku tidurnya kayak gini aja ? Ihhh jangan, malu deh... Kaus apa yah yang tipis yang bisa aku pake pas tidur ? Ucap Nayla sambil memilah - milih pakaian di almarinya.


Seketika Nayla menoleh ke pintu dan menyadari kalau pintu kamarnya masih terbuka.


Eh 'astaghfirullah' Ucap Nayla buru - buru tuk menutupnya.


Ihhh kok bisa - bisanya pintu belum ketutup... Moga aja tadi gak ada yang liat Lirih Nayla menyesali kecerobohannya.


Ditengah penyesalannya, Nayla kembali ke depan almarinya untuk memilih pakaian untuk tidur siangnya. Ia mengangkat satu demi satu pakaiannya. Ia juga melihat satu demi satu kaus yang digantung menggunakan hangernya. Matanya nampak tidak fokus karena pikirannya tertuju pada hal yang terjadi sebelum dirinya menutup pintu kamarnya.


'Tadi kok, aku ngerasa kayak ada orang yang lewat di deket pintu yah ? '


Batin Nayla gelisah.


Memang perasaan wanita tak pernah salah. Karena saat ini pun ada sepasang mata yang sedang mengintip Nayla berganti pakaian. Tepatnya dari arah jendela luar yang tak disadari oleh Nayla.


*-*-*-*

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Nayla sudah terbangun dan sedang memasak untuk menyambut kedatangan suaminya. Meski ia mendengar kabar kepulangan suaminya secara mendadak. Ia sudah bersiap untuk memasak hidangan favorit suaminya yakni ayam balado pedas.


Sambil mengelap keringat di dahinya. Nayla secara telaten membolak - balikkan ayam yang ada di dalam wajannya. Nayla tampak ahli. Ia terlihat sudah seperti koki saja. Nayla memang jago memasak. Pokoknya apa saja yang dimasaknya pasti akan terasa enak.


Akhirnya selesai juga Ucap Nayla setelah mematikan kompornya.


Nayla pun meniriskan ayam itu kemudian menaruhnya diatas piring besar lalu ditaruhnya di meja makan.


Ayam balado siap, tempe goreng siap, sambel matah juga... Ah lengkap deh... Pasti mas Miftah bakal puas nanti hihihi Ucap Nayla tampak bangga atas perbuatannya.


'Tokkk... Tokkk... Tokkk...'


Assalamu'alaikum Ucap seseorang yang suaranya tak asing di telinga Nayla.


Eh mas Miftah udah pulang ? Ucap Nayla yang kemudian bergegas menghampiri suaminya.


Walaikumsalam... Maaaasssss Jawab Nayla saat melihat kehadiran suaminya.


Akhwat yang sudah mengenakan hijab dan maskernya itu bergegas menghampiri suaminya. Nayla yang sudah kangen berat langsung memeluknya yang kemudian dibalas juga dengan pelukan oleh suaminya.


Nampak pelukan suaminya terlampau erat. Nayla pun membalas pelukan suaminya juga dengan erat. Wajah Nayla lalu menengadah naik untuk menatap wajah tampan suaminya.


Sayaanggg Ucap Miftah singkat namun berdampak besar di hati Nayla.


Apaaa Jawab Nayla manja sambil tersenyum.


Mas kangen Ucap Miftah yang semakin menambah rasa cinta Nayla padanya.


Sama mas, adek juga Ucap Nayla yang langsung dihadiahi kecupan di dahi oleh suaminya.


Gimana kabarnya ? Baik kan ? Tanya Miftah setelah melepas pelukannya yang langsung direspon oleh Nayla dengan salim kepadanya.


Baik kok mas Jawab Nayla.


Aman kan ? Gak ada gangguan kan ? Tanya suaminya khawatir.


Enggak kok... Pak Beni juga gak keliatan hari ini... Semuanya aman Ucap Nayla sambil tersenyum.


'Alhamdulillah' kalau gitu Ucap Miftah tersenyum.


Mereka berdua pun langsung mengobrol panjang. Mereka juga bercanda dan saling tertawa. Mereka saling bertutur kata untuk melepas rasa rindu meski baru satu hari tak bertemu. Mereka terlihat begitu bahagia terutama dari wajah Nayla. Nayla merasa aman dengan kehadiran suaminya sekarang. Ia pun tersenyum lalu mensyukurinya kemudian menikmati ketampanan wajah suaminya yang sudah dihalalkan untuknya.


“Oh yah mas… Mau minum dulu ? Mau adek buatin teh gak ?” Tanya Nayla perhatian.


“Wah boleh dek, mumpung mas lagi haus” jawab Miftah.


“Kalau gitu mas duduk dulu yah… Adek buatin dulu” Ucap Nayla tersenyum.


“Iya dek” Jawab Miftah sambil duduk di ruang tamunya. Miftah merasa bangga bisa mendapatkan istri yang penuh perhatian seperti Nayla. Ia pun duduk sambil memainkan hapenya untuk menunggu istrinya menyiapkan minuman untuknya.


“Ini mas” Ucap Nayla sambil memberikan es teh favorit suaminya.


“Wahhh makasihh banget… Eh itu apa dek ?” tanya Miftah saat melihat gelas lain yang Nayla bawa.


“Ini minuman favorit aku mas… Masa gak tau sih hihhii” Ucap Nayla tertawa.


“Oh air lemon ? Dasar sih ! Kalau gak lemon ya jus alpukat… Entar kebanyakan minum lemon jadi bau kecut loh” Ucap Miftah mengada - ngada.


“Hihihihi dasar hoax” kata Nayla tertawa.


*-*-*-*

Malam telah tiba, Nayla sudah mandi dan mengenakan pakaian dinasnya di depan suaminya. Ya, pakaian dinas merupakan istilah yang sering Nayla gunakan saat merujuk kepada pakaian menggoda yang biasa ia gunakan didepan suaminya. Nampak tubuh Nayla hanya tertutupi daster tipis yang menutupi sebagian buah dadanya serta paha mulusnya. Nampak belahan dada Nayla terlihat bahkan sebagian paha mulusnya juga terlihat.


Miftah, meski sudah berulang kali melihat aurat tubuh Nayla dan sudah beberapa kali juga menyetubuhinya. Ia masih saja ngiler tiap kali istrinya memamerkan sedikit auratnya. Memang tidak ada bosennya untuk menatap keindahan tubuh Nayla. Bahkan menatap wajahnya saja sudah cukup untuk memanjakan matanya. Apalagi ini dengan menampakkan sebagian tubuh indahnya.


“Mas mau makan pake apa ? Ayam balado apa yang lain ?” Tanya Nayla sambil berdiri untuk mengambilkan makanan untuk suaminya.


“Semuanya aja dek… Satu - satu” Ucap Miftah sambil tersenyum.


“Hihihih siap mas… Tunggu yah” Ucap Nayla sambil menyendokkan nasi ke piring suaminya.


Saat Nayla hendak mengambilkan lauk untuk suaminya. Ia sesekali harus menunduk untuk memilihkan potongan ayam yang besar untuk suaminya. Namun terkadang, tanpa ia sadari. Ia saat ini sedang memperlihatkan susu menggantungnya dihadapan suaminya. Jelas Miftah terpuaskan oleh pemandangan indah itu. Bahkan penisnya sudah menegak akibat rangsangan tak sengaja yang istrinya berikan.


Diam - diam, sesekali Nayla juga melirik wajah suaminya. Terlihat jelas kalau suaminya tengah memandang dirinya. Saat pandangan Nayla turun sedikit, ia pun baru menyadari kalau suaminya sedang menatap dada indahnya. Entah kenapa nafsu pun mulai menyerang tubuh indahnya. Terhitung sejak sore tadi, setelah Nayla mandi. Ia merasa bergairah seperti tadi pagi. Ia jadi berhasrat ingin bercinta. Ia pun bertanya - tanya ? Apakah karena kehadiran suaminya yang membuatnya ingin bercinta.


“Ini mas” Ucap Nayla sambil memberikan piring kepada suaminya.


“Makasih sayang” Ucap Miftah yang membuat Nayla tersipu senang.


Makan, minum, ngobrol & bercanda merupakan kegiatan rutin yang mereka lakukan ketika menyantap makan malam. Makan yang harusnya bisa mereka selesaikan dalam 10 menit melebar menjadi 30 menit setelah dibarengi dengan ngobrol & bercanda.


Untuk menambah kemesraan, Miftah kadang menyuapi istrinya. Kadang Miftah juga mengelap noda yang menempel di sekitar mulut istrinya. Istrinya pun semakin senang. Namun kegelisahan yang ia rasakan lama - lama semakin kuat. Kegelisahan yang menandai keinginan dirinya untuk bercinta bersama suaminya.


“Mas…” Ucap Nayla setelah menyelesaikan makan malamnya.


“Iya dek ?” Tanya Miftah sambil mengelap mulutnya menggunakan tisu yang ada di meja.


“Euummm anuuu… Kan udah lama nih hehe… Kita gak itu ?” Ucap Nayla malu - malu sambil menyentuhkan kedua ujung jemari telunjuknya selama berulang kali.


“Itu ?” tanya Miftah belum nyambung.


“Iyya mas… Kita di kamar hehe” Ucap Nayla yang terlalu malu hingga tak dapat mengungkapkannya langsung.


“Eh maksudnya ?” Ucap Miftah yang masih kebingungan.


“Iiihhhhh masa gak paham… Di ranjang mas” Ucap Nayla memberikan petunjuk besar yang membuat Miftah tertawa.


“Oh hahaha… Adek pengen bercinta yah ?” tanya Miftah yang membuat Nayla tersenyum malu.


“Heem mas” Jawab Nayla mengangguk.


“Adek mau malam ini ? Ayo, daritadi mas juga gak nahan pengen mantap - mantap setelah ngeliat tubuh seksi adek sekarang” Ucap Miftah yang membuat Nayla tersipu.


“Hihihihi iya mas… Adek mau malam ini” Ucap Nayla yang membuat Miftah semakin bernafsu.


“Kalau gitu adek siap - siap dulu sana… Dandan yang cantik yah… Biar mas yang beresin piring - piring kotor” Ucap suaminya yang membuat Nayla mengangguk malu.


“Iyya mas… Mas lebih suka adek pakek baju kayak gini apa pake cadar ?” Tanya Nayla meminta pendapat suaminya.


“Yang pake cadar dong sayang… Mas pengen ngerasain bercinta sama istri sholehah kayak adek… Pake cadarnya yak… Yang cantik” Ucap Miftah yang membuat Nayla tersipu malu.


“Siap mas… Adek dandan dulu yah” Ucap Nayla malu - malu.


“Iyya dek… Silahkan” Ucap Miftah tak sabar ingin menggenjoti istrinya.


Sebelum Nayla masuk ke dalam kamarnya. Ia melangkah menuju dapur untuk meminum air putih dahulu agar makanan yang baru disantapnya turun semua ke perutnya. Nayla pun tersenyum, sebentar lagi dirinya bisa merasakan nikmatnya bercinta lagi bersama suaminya.


“Duh tapi kok dipikir - pikir malah bikin gugup yah” Lirih Nayla yang kemudian membuka pintu kulkasnya.


Ia tanpa ragu mengambil botol berisi air lemon itu lalu menuangkannya ke dalam gelas.


'Gleegg… Gleeggg… Gleegg…'


Nayla meminum segelas penuh air rasa lemon itu. Ia pun mengelap bibirnya kemudian. Ia lalu mendesah setelah merasakan kesegarannya.


“Aaahhhh segernya… Oh yah, aku pakai baju apa yah malam ini ?” Lirih Nayla memikirkan cara untuk memuaskan suaminya.


*-*-*-*

'BEBERAPA SAAT KEMUDIAN


'Tokk… Tokk… Tokk…'


“Dek, Udah siap ?” Tanya suaminya setelah mengetuk pintu kamarnya.


“Sudah mas… Mas boleh masuk kok” Jawab Nayla dari dalam yang membuat jantung Miftah deg - degan.


“Mas masuk yah kalau gitu” Ucap Miftah sambil membuka pintunya.


Saat wajahnya ia naikan, ia melihat seorang wanita berhijab yang tengah memunggungi dirinya. Wajahnya langsung tersenyum seketika. Ia pun membatin dalam hati saat melihat istri cantiknya.


'Dasar adek yah… Kerjaannya bikin mas penasaran terus…'


Batin Miftah tersenyum lebar.


“Deeekkk” Panggil Miftah sambil duduk di belakang istrinya.


Miftah dengan malu - malu duduk di tepi ranjang tidurnya menghadap ke selatan sedangkan Nayla dengan malu - malu duduk di tepi ranjang tidurnya menghadap ke timur. Tangan kanan Miftah pun bergerak untuk mendekap pinggang rampingnya. Tangan kirinya juga bergerak untuk mendekap pinggang satunya.


“Sayaaannggg… Mas udah siap… Liat kamu dari belakang aja udah bikin mas gak nahan loh” Ucap Miftah yang membuat istrinya tersenyum dibalik cadarnya.


“Ah masa sih mas ?” tanya Nayla sambil malu - malu.


“Iyya dek… Apalagi setelah mas meluk adek sekarang… Rasanya pengen banget balikin tubuh adek terus ngeliat wajah cantik adek… Mas penasaran banget, seberapa cantik sih adek malam ini ?” Goda Miftah yang membuat Nayla tak tahan lagi ingin menunjukkan penampilannya kepada suaminya.


“Hihihi mas siap yah ? Tarraaa, gimana menurut mas ?” Tanya Nayla yang kemudian berdiri lalu berbalik badan tuk menghadap suaminya.


Miftah pun terdiam seribu bahasa saat menatap penampilan istrinya. Dari wajah ke atas semuanya terlihat sempurna. Nayla terlihat sangat cantik dengan hijab & cadar berwarna merah yang dikenakan olehnya. Kemeja berwarna hitam bermotif garis - garis pun membungkus tubuh rampingnya. Tak lupa celana kain berwarna coklat melengkapi penampilan indahnya di malam ini. Nayla terlihat seperti seorang 'office lady' saja yang merupakan fantasi kesukaan suaminya selama ini.


“Cantik banget dek… Ini kesukaan mas banget… Tau darimana kalau mas suka sama wanita yang pake kemeja sama celana kayak gini ?” Puji suaminya sambil berdiri lalu memandang mata indah istrinya. Kedua tangannya pun mendekap pinggang rampingnya. Jantung mereka berdua berdebar kencang. Nayla sampai menunduk malu karena pujian yang diberikan oleh suaminya itu.


“Hihihih tau dong… Adek kan udah lama tinggal sama mas” Ucap Nayla malu - malu.


Namun sebenarnya, ada alasan lain yang membuat Nayla terpikirkan untuk mengenakan pakaian seperti ini. Yakni dari mimpinya, entah kenapa ia teringat kalau ia mengenakan pakaian yang mirip seperti ini saat dirinya diperkosa oleh pak Beni di mimpinya. Ia pun berharap, suaminya mampu memberikan kepuasan seperti apa yang ia dapatkan di mimpinya.


MEBG1T9



   b6/6d/89/MEBG1T9_t.jpg

'NAYLA


MEBEP8B

https://thumbs4.imagebam.com/81/b4/4c/MEBEP8B_t.jpeg   MEBEP8B_t.jpeg   

'MIFTAH


“Pinter yah adek… Tau banget apa yang mas suka” Puji Miftah sambil mendekatkan wajahnya.


“Iyya dong mas… Sebagai istri, aku kan harus bisa muasin suami” Ucap Nayla sambil memundurkan wajahnya karena terlalu malu pada pergerakan suaminya.


Miftah pun semakin gemas. Ia lalu meminta izin kepada istrinya untuk mencumbunya.


“Mas udah gemes banget pengen muasin adek… Mas boleh angkat cadar adek gak ? Mas pengen banget ngerasain bibir manis adek” Goda suaminya yang membuat Nayla mengangguk malu - malu.


“Boleh banget mas” Ucap Nayla yang membuat Miftah tak tahan lagi.


Diangkatlah cadar Nayla oleh Miftah. Ditatapnya bibir manisnya yang berwarna merah. Miftah semakin bergairah. Wajahnya pun mendekat lalu dilahapnya bibir manisnya yang sudah dihalalkan untuknya.


“Mmmppphhh” Desah mereka berdua bersamaan.


Miftah menubruk bibir istrinya menggunakan bibirnya. Mereka berciuman dengan begitu panasnya. Tak pernah ia senafsu ini pada istrinya. Penampilan istrinya menjadi penyebabnya. Dikala bibir mereka bertemu, tangan Miftah merangkak naik tuk menahan sisi kepala bagian belakangnya. Tangan satunya ia gunakan untuk mendekap punggungnya. Mereka pun asyik bercumbu. Mereka asyik melampiaskan syahwat birahi yang sudah lama tak mereka salurkan.


Bibir mereka saling dorong. Bibir mereka saling sepong. Bibir mereka bertubrukan tuk melampiaskan nafsu yang sudah tak tertahankan. Nayla juga tak tinggal diam. Cumbuan suaminya membuat birahinya semakin panas. Tangan Nayla tanpa sadar mendekap dada suaminya yang berada di balik kaus santainya. Tangan satunya mendekap penisnya dari luar celana yang suaminya kenakan.


Miftah terkejut karena istrinya tak pernah seaktif ini sebelumnya. Namun ia hanya tersenyum menikmati remasan jemari istrinya pada penis besarnya.


“Mmmpphhh nakal yah adek yahhh… Mmpphhh titit mas diremes - remes coba” Desah Miftah keenakan yang membuat Nayla tersenyum malu.


“Mas yang nakal… Mas gak pernah ngasih jatah ke adek… Adek kan jadi nafsu… Pokoknya mas harus tanggung jawab muasin adek malam ini” desah Nayla yang lagi - lagi membuat Miftah terkejut. Miftah tak menyangka kalau selama ini istrinya menyimpan nafsu kepadanya. Ia tak menyangka kalau istrinya menanti dirinya tuk menyetubuhi tubuhnya.


“Maaf sayanggg… Mmpphhh… Adek gak minta sih… Tau gini mas bakal menyetubuhi adek tiap hari” Ucap Miftah disela - sela cumbuannya.


“Mmpphh janji yah mas… Mmpphhh… Adek gak tahan banget soalnya nahan nafsu adek selama ini” Desah Nayla yang semakin terangsang mengobrol mesum dengan suaminya.


“Mmpphhh iyyahh dek… Kalau adek udah gak tahan, adek bisa buka resleting mas sekarang” Ucap Miftah semakin keenakan dengan remasan tangan istrinya.


“Iyyahhh mass… Mmpphhhh” desah Nayla sambil mengeluarkan penis suaminya.


Dikala bibir Nayla terus dicumbu, tangan kirinya membetot penis suaminya lalu mengocoknya. Nafsu Nayla yang membesar membuat tangannya begitu bersemangat untuk mengocok penis suaminya. Tangan kirinya bergerak maju mundur. Tangan kirinya mengocok penis suaminya tanpa ampun. Tangan kanannya juga menyelinap masuk ke dalam kausnya untuk membelai tubuh kurusnya. Nayla benar - benar sangat bernafsu. Ia pun melakukan segalanya untuk melampiaskan nafsunya.


“Aaahhh dekk… Aahhhh… Aaaahhhh” desah Miftah saat cumbuan mereka terlepas. Miftah sampai menaikan wajahnya tuk menatap langit - langit ruangan. Matanya memejam. Ia begitu keenakan saat menahan kocokan tangan istrinya yang begitu memuaskan.


“Enakk massss ? Mmmpphhhh… Mmpphhhh” desah Nayla yang kali ini mengocok penis suaminya menggunakan kedua tangannya.


“Aaahhhhh enakk bangett dek… Enak bangettt… Aaaahhhh… Aaahhhhh… Terusss” desah Miftah yang membuat Nayla tersipu.


'Kenapa aku jadi senafsu ini yah ? Padahal aku gak pernah seaktif ini ketika kami bercinta ? Kenapa kok aku rasanya nafsu banget pas ngocokin tititnya mas… Padahal biasanya aku pasrah membiarkan mas Miftah melakukan apa aja ke aku…'


Batin Nayla kebingungan dengan nafsu birahinya.


'Apa jangan - jangan gara - gara mimpi semalam ?'


Batin Nayla teringat.


Entah kenapa tiba - tiba ia membandingkan penis suaminya dengan penis pak Beni yang ia lihat di mimpinya. Perbandingannya jauh berbeda. Penis pak Beni terlihat lebih besar dengan warnanya yang jauh lebih hitam. Ia juga teringat kalau penis pak Beni memilik otot - otot yang mengitari penisnya. Otot - otot itu yang membuat Nayla bernafsu saat melihatnya. Pak Beni juga memiliki tubuh kekar yang begitu sempurna. Entah kenapa saat Nayla melihat tubuh suaminya yang kurus, Nayla merasa kecewa sehingga mengurangi nafsunya kepadanya.


'Astaghfirullah… Kenapa aku malah kepikiran orang lain yah ?'


Batin Nayla kecewa.


“Aaahhhh dekk… Aahhh cukuppp… Mas mau nusuk sekarang… Mas udah gak tahan lagi” Ucap Miftah yang mengejutkan Nayla.


“Iyyahh masss” Ucap Nayla menghentikan kocokannya lalu berdiri tegap menghadap suaminya.


Nampak Miftah melepas kausnya serta menurunkan celananya. Tubuh kurus Miftah pun terlihat yang entah kenapa menurunkan nafsu birahi Nayla saat melihatnya. Nayla diam - diam kecewa. Padahal biasanya ia tak mempermasalahkan kondisi fisik suaminya. Namun birahinya yang begitu mengharapkan sosok kekar yang bisa memuasinya membuat ia lebih pilah - pilih saat bercinta dengan seseorang.


“Mas buka kemeja adek yah” Ucap Miftah bernafsu dengan melepaskan satu demi satu kancing kemeja istrinya.


“Iyyah mas” Ucap Nayla agak mendesah sambil berdiri pasrah.


“Mas, adek boleh mainin titit mas lagi ?” Ucap Nayla yang tak kuat membiarkan penis suaminya menganggur.


“Boleh, sayang” Ucap Miftah tersenyum.


Meski ia tak bernafsu pada tubuh suaminya. Meski ia tak berselera dengan bentuk penis suaminya. Nafsu birahinya yang menggebu membuatnya tak tahan ingin memainkan penis suaminya selalu. Sambil menunggu suaminya membugili dirinya, ia kembali mengocok penis suaminya yang entah kenapa ia merasa penis suaminya tak sekeras penis pak Beni.


'Kok beda yah rasanya ? Punya mas Miftah gak terlalu keras… Punyanya pak Beni seingatku kayak tombak besi… Keras bangetttt…'


Batin Nayla lagi - lagi membandingkan penis suaminya dengan penis pak Beni.


Lama - lama Nayla semakin kecewa, hasrat birahinya semakin menurun karena tidak adanya sosok pemuas seperti yang ia bayangkan.


Setelah kemeja Nayla terlepas, Miftah langsung membuka beha istrinya juga memelorotkan celananya. Dalam sekejap Nayla sudah bertelanjang bulat menyisakan hijab beserta cadar berwarna merahnya.


“Cantik banget sih adek ini kalau udah telanjang” Puji suaminya yang menyadarkan Nayla dari lamunannya.


“Eh hehe makasih mas” Jawab Nayla tersadar yang membuatnya menyesal karena sudah memikirkan penis orang lain dibandingkan penis suaminya yang sudah dihalalkan untuknya.


“Kalau kata orang - orang, yang hijab merah jangan sampai lepas yah” Ucap Miftah sambil menidurkan Nayla yang membuat mata Nayla melebar.


'Kata - kata itu ? Bukannya itu kata yang pak Beni ucapin di mimpi aku sebelum memperkosaku ?'


Batin Nayla yang entah kenapa membuatnya jadi teringat sosok pak Beni lagi.


'Astaghfirullah… Kenapa belakangan ini aku jadi kepikiran pak Beni sih ? Kenapa aku gak bisa menepisnya seperti hari - hari biasanya… Kenapa aku justru semakin bernafsu saat teringat tubuh kekarnya…'


Batin Nayla yang keheranan dengan pikirannya.


Sebagai akhwat sholehah, ia selalu bisa menjaga pikirannya untuk tidak membayangkan hal yang tidak - tidak. Ia selalu menjadikan suaminya sebagai pelampiasan hasrat seksualnya. Namun belakangan ketika nafsu lebih menguasai akal pikirannya. Ia kesulitan untuk menghapus bayangan kekar pak Beni di pikirannya. Padahal kemarin sore ia sampai nangis - nangis saat hampir diperkosa pak Beni. Namun sekarang ketika nafsu yang menguasai, ia justru terangsang saat teringat adegan pemerkosaan di mimpinya.


“Aaaaaaahhhhhhhh” desah Miftah saat memasukan penisnya ke dalam vagina istrinya.


“Mmmppphhhhh” desah Nayla merasakan geli - geli nikmat disana.


'Kenapa rasanya ada yang kurang ?'


Batin Nayla masih kecewa karena masih ada ruang di dalam vaginanya yang tak terpenuhi oleh penetrasi penis suaminya.


“Mas mulai yah ?” Tanya suaminya sambil menatap istrinya.


“Heem mas” Ucap Nayla mengangguk.


“Uuhhhh yahhhh… Uhhhhh enak banget dek… Uhhhhhh sempit banget vagina adek” Desah Nayla saat menggesek penisnya secara perlahan - lahan.


Nayla pun merasakan geli di vagiannya. Tapi rasa geli itu masih belum cukup untuk memuaskan birahinya. Ia membutuhkan nafsu yang lebih besar lagi untuk memuaskan birahinya. Lagi - lagi ia teringat mimpinya. Ia pun sadar kalau sekarang ia membutuhkan seks kasar seperti yang pak Beni lakukan. Ia ingin disetubuhi dengan barbar bukan pelan - pelan seperti sekarang.


“Aaahhhh yahhh… Aahhhhh yahhh… Aahhhhh enakk banget dekkk” desah suaminya sambil memejam menikmati jepitan kemaluan istrinya.


“Mmpphhh… Mmpphhh lagi masss… Mmpphhh yang kencang” Pinta Nayla gemas karena suaminya lebih menggunakan kecepatan stagnan yang itu sama sekali tidak memuasi birahinya.


“Aaahhhh iyahhh dek bentar… Ini aja udah mau keluar… Entar kalau lebih kenceng lagi bahaya” Desah Miftah yang membuat Nayla keheranan.


'Mau keluar ? Dengan kecepatan seperti ini ?'


Batin Nayla.


“Aaahhhh yahhh… Aahhhhh nikmatnyaaa… Aahhhhhhh” desah Miftah yang akhirnya mulai mempercepat gerakan pinggulnya. Tubuh Nayla mulai bergerak maju mundur. Buah dada Nayla mulai bergoyang gondal - gandul. Pemandangan indah tubuh istrinya membuat Miftah semakin bernafsu. Gerakannya dipercepat namun itu masih belum memuaskan Nayla.


“Aaahhhh… Aahhhh… Lagi masss… Ini masih kurang… Yanggg kencenggg” Pinta istrinya gemas karena gerakannya masih belum memuaskan nafsu birahinya yang sedang terbakar.


“Aaahhhh iyahhh dekk… Aahhhh iyahhhh… Uhhhhh nikmat banget” desah Miftah saat mempercepat gerakannya.


“Aaahhh… Aahhhhh… Belumm masss… Belummm… Yangg kuattt… Lebihhh kuattt masss… Yang kencenngg jugaaa” Rengek istrinya meminta suaminya untuk lebih kuat lagi dalam menubruk rahimnya.


“Aaahhhh iyaahhh… Aahahhhhh sudahhh dek… Mas gak kuat lagii… Aahhhhhh… Aaahhhhh” desah Miftah yang justru hampir mendekati orgasmenya akibat menuruti keinginan istrinya yang ingin melakukan seks 'hardcore'.


“Maasssss ? Aahhhhhh… Aahhhhhh… Ini masih belum masss… Tolonggg jangan keluar duluuu” Pinta Nayla kecewa.


“Aaahhhh tapi dekk… Aahhhhh mas gak kuat lagi… Mas gak tahan lagi” Desah Miftah yang nampaknya sudah berada di ambang batasnya. Terlihat nafas Miftah ngos - ngosan. Terasa penis Miftah berdenyut di dalam. Cengkraman tangan Miftah juga diperkuat saat mendekap pinggang ramping istrinya. Nayla terlihat kecewa saat menyadari suaminya hendak menyudahi persetubuhannya.


“Aaahhhh… Aaaahhhh… Mas gak kuat lagi… Mas mau keluaarr… Uhhhh yahhhhhhhhh” desah Miftah tiba - tiba mementokkan ujung gundulnya ke dalam rahim istrinya.


“Aaahhhh maaasssss” Desah Nayla kecewa saat tak lama kemudian, ia merasakan cairan kental yang perlahan mulai membanjiri rahimnya.


“Keeelllluuuaaarrrrr” Jerit Miftah sepuas - puasnya.


“Mmmppphhhhhhhh” desah Nayla memejam merasakan rahimnya dipenuhi cairan kental suaminya.


Miftah pun sampai ambruk setelah menyudahi persetubuhannya. Tubuh kurusnya pun menindihi tubuh istrinya. Dada Miftah terasa empuk terkena buah dada istrinya. Mata Miftah merem melek. Ia pun tersenyum menatap mata indah istrinya.


“Hah…. Hah… Hah… Makasih yah dek… Mas puas banget… Maaf yah, mas capek banget jadi gak kuat lagi… Adek belum puas yah ?” Tanya suaminya saat menyadari kekecewan istrinya.


“Enggak kok mas… Adek udah puas… Makasih yah” Ucap Nayla berbohong karena tak ingin mengecewakan suaminya.


“Beneran ? Gak boong ? Hah… Hah… Hah… Kalau gitu makasih yah… Mas mau tidur dulu… Rasanya capek banget hari ini” Ucap Miftah yang segera bangkit melepas penisnya lalu mengelapnya menggunakan tisu yang berada di meja kecil samping ranjangnya.


“Sama - sama mas… Adek gak boong kok… Maaf yah udah ganggu waktu mas… Silahkan tidur dulu, mas pasti capek kan yah… Adek mau bersih - bersih dulu” Ucap Nayla sambil berdiri setelah melihat suaminya sudah terlelap.


'Hah… Payah… Belum juga apa - apa udah keluar…'


Batin Nayla kecewa.


'Tapi kok, kenapa juga yah aku bisa senafsu ini ? Rasanya tadi kayak gak ngapa - ngapain saat bercinta dengan mas Miftah… Kenapa juga yah aku teringat sosok pak Beni saat mas Miftah sedang menyetubuhiku ? Astaghfirullah… Dosa apa lagi ini… Kenapa aku malah teringat orang lain saat sedang bercinta dengan mas Miftah ?'


Batin Nayla menyesali perbuatannya.


Meski ia menyesal, nafsunya belum terpuaskan. Ia terlebih dahulu melihat sosok suaminya yang terlelap di belakangnya sebelum memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk melampiaskan nafsu yang belum terpuaskan tadi.


'Maafin adek tadi yah mas… Maaf karena adek malah bayangin sosok pak Beni dibandingkan menikmati perbuatan mas ke adek tadi…'


Batin Nayla dalam perjalanannya ke kamar mandi.


Wajahnya terlihat sangat menyesal. Ia pun melepas hijabnya juga cadarnya sambil membawa kemeja serta celana dan juga pakaian dalam yang tadi dilepas oleh suaminya. Dengan lilitan handuk yang menutupi tubuh indahnya. Ia berjalan ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya yang kian menguasai.


Setelah Nayla memasuki kamar mandi. Ia menaruh semua pakaian yang tadi ia kenakan ke dalam ember. Ia duduk diatas toilet duduknya lalu menaruh tangan kanannya diatas vaginanya.


Aaahhhhh Desah Nayla merasakan kegelisahan yang semakin kuat saat menahan gairah birahinya.


Jemari Nayla menyentuh bibir vaginanya. Jemarinya bergerak naik turun menggesek bibir vaginanya. Tubuhnya yang sudah telanjang bulat bergetar merasakan sensasi nikmatnya. Matanya bahkan sampai memejam saat melampiaskan nafsu birahi yang tak tertahankan.


Aaahhhh... Aaaahhh massss... Kenapa gini aja kamu gak bisa, mas ? Desah Nayla heran kenapa suaminya tak mampu memuaskan nafsu birahinya.


Nafsu yang semakin besar membuat tangan kirinya ikut aktif dengan meremas payudara kirinya. Semakin kuat remasan yang ia lakukan, semakin nikmat pula kenikmatan yang ia dapatkan. Nayla pun heran kenapa gairah birahinya semakin kuat. Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya ?


Pakkk Beniii Desah Nayla saat terbayang mimpinya di pagi tadi.


Ia teringat bagaimana buasnya pak Beni saat memperkosanya di alam mimpinya. Ia terbayang bagaimana penis kekar itu dengan barbar menerobos liang senggamanya. Ia ingat betul bagaimana remasan tangan pak Beni saat mencengkram payudara bulatnya. Rasanya berbeda. Ia merasakan kenikmatan disana. Ia merasakan sesuatu yang tidak ia dapatkan sebelumnya.


Aaahhhh... Aaahhhh pak Beniii... Aaahhhh... Aaahhhh Desah Nayla ketika nafsu berkuasa.


Jemari telunjuknya semakin menekan klitorisnya. Terkadang jemarinya juga keluar masuk membelah vaginanya. Jemari kirinya juga menjepit putingnya. Ia benar - benar terangsang tanpa mengetahui apa penyebabnya.


Aaahhhh... Aaahhhh... Kenapa aku terangsang banget yah ? Kenapa aku jadi kayak gini yaaahhhh Desah akhwat yang sehari - harinya menggunakan cadar itu.


Paaakkk... Ouhhhh... Paakkkk terusss... Terusss.... Aaahhhh Desah Nayla tanpa menahan diri lagi karena saking tak kuatnya menahan nafsu birahi. Sungguh ironi, akhwat bercadar yang memiliki ratusan ribu 'followers' itu tengah terangsang sambil membayangkan pak Beni, seorang tukang sapu jalanan berbadan kekar yang bahkan sedang dicurigainya telah memperkosanya. Nafsunya yang besar membuatnya kesulitan untuk mengendalikan akal sehatnya. Nayla telah terangsang. Ia dengan penuh nafsu menjadikan pria tua rendahan itu sebagai objek fantasi pelampiasan nafsu birahinya.


Aaaaahhh... Aahhhhhhh... Aaahhhh bapaaakkkk Desah Nayla tak kuat lagi. Ia merasa vaginanya berdenyut kencang. Ia merasa gairah birahinya akan meledak sebentar lagi.


Jemari Nayla semakin kencang dalam keluar masuk merangsang vaginanya. Mulut Nayla terbuka lebar. Matanya memejam membayangkan sosok kekar itu tengah berada di depannya sedang menggenjot vaginanya dengan sangat kuat. Semakin ia membayangkan sosok kekar itu tengah menggenjot vaginanya. Semakin nikmat pula rangsangan yang ia lakukan pada vaginanya.


Aaahhhh... Aaahhhh... Aku gak kuat lagi... Aku mauuu keluaarrr... Aku mau kelluaarrrr... Desah Nayla dengan suara bergetar.


Nayla semakin bernafsu dalam mencolek kemaluannya. Susu bulatnya semakin mengencang. Puting susunya semakin menegak kencang. Desahannya semakin kencang ketika membayangkan penis pak Beni yang begitu panjang. Ia membayangkan penis itu semakin dalam saat menerobos masuk vaginanya. Ia membayangkan sosok itu semakin buas dalam memuasi nafsu birahinya.


Aaahhhh... Aaaaahhhh... Aaahhhh... Aaahhhh aku gak kuat lagiii... Ahh akuu... Aaahhhh kelluaarrrrrr !!!! Jerit Nayla saat gelombang orgasme semakin dekat menuju lubang kencingnya.


'Cccrrrttt... Cccrrrttt... Cccrrrttt !!! '


Mata Nayla memejam nikmat saat mendapatkan kepuasan yang ia cari - cari. Tubuhnya mengejang. Nafasnya ngos - ngosan. Kedua kakinya semakin lebar membiarkan cairan cintanya mengalir deras hingga mengenai pintu kamar mandinya.


Uuhhhh... Uhhhh... Uuuuhhhh puas banget Desah Nayla hingga pinggulnya terangkat saat mengeluarkan cairan cintanya.


Hah... Hah... Hah... Nayla tak bisa berkata - kata setelahnya. Cukuplah desahan nafasnya yang menjelaskan betapa puasnya Nayla saat bermasturbasi sambil membayangkan pak Beni.


Lagi, ia bermasturbasi membayangkan pak Beni dua kali di hari ini. Pertama di pagi tadi saat terbangun malam - malam. Kedua barusan setelah gagal mendapatkan kepuasan dari sang suami. Lambat laun ketika akal sehatnya mulai kembali. Ia pun mulai merenungi perbuatan yang baru saja terjadi.


Apa yang sudah aku lakukan ? Lirih Nayla ngos - ngosan.


Ia kembali membayangkan saat - saat dirinya menjadikan pak Beni sebagai objek fantasinya. Ia menyesal. Ia merasa sangat hina. Bagaimana bisa dirinya yang sehari - harinya mengenakan pakaian longgar serta cadar malahan membayangkan pria tua rendahan yang diduga telah memperkosanya saat sedang bermasturbasi ? Wanita macam apa dirinya ? Padahal dirinya sudah bersuami dan suaminya sedang ada di rumahnya bersamanya.


'Astaghfirullah' mas... Maafin aku mas... Maafin aku Lirih Nayla menyesal.


Sambil duduk diatas toilet duduk, Nayla menunduk sambil menutupi wajahnya menggunakan tangannya. Ia merasa malu pada diri sendiri. Ia merasa malu sudah bermasturbasi sambil membayangkan lelaki lain.


Nayla terus menangis di dalam kamar mandi. Ia terus menangisi diri sendiri. Ia terus menangis dalam keadaan telanjang bulat untuk menenangkan hatinya yang baru saja dikhianati oleh nafsu birahi.


Pak Beni... Apa jangan - jangan aku habis diguna - guna olehnya yah ? Lirih Nayla semakin mencurigai sosoknya.


“Kayaknya enggak, lalu kenapa aku jadi seterangsang ini sih hari ini ?” Lirih Nayla penasaran dengan apa yang telah terjadi.


BERSAMBUNG

;;;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 3

KEJAHATAN YANG SEMPURNA


“Dah siap mas ? Ada yang ketinggalan gak ?” Tanya Nayla saat membantu persiapan suaminya berangkat ke kantor.


“Sudah kok semuanya ? Eh udah kan yah ?” Tanya Miftah sambil mengingat - ngingat sesuatu yang mungkin saja ketinggalan.


“Bekalnya ada di meja mas… Udah aku buatin… Jangan sampai ketinggalan yah !” Ucap Nayla.


“Iyya sayang… Makasih yah udah nyiapin bekal buat Mas” Ucap Miftah yang membuat Nayla tersenyum.


Nayla pun ikut tersenyum. Namun ia tidak begitu senang karena masih dirundung kesalahan atas apa yang ia lakukan semalam. Nayla masih menyesal karena bisa - bisanya ia terngiang - ngiang wajah pak Beni saat dirinya disetubuhi oleh suaminya semalam. Hal itu mengecewakan dirinya. Ia sangat kecewa pada diri sendiri. Hal itu pun berpengaruh pada kehidupan kesehariannya bersama suaminya.


Nayla berjalan menuju ruang tamu menemani suaminya. Ia berjalan menuju teras depan tuk mengantar keberangkatan suaminya. Miftah pun masuk ke dalam mobilnya. Nayla hanya berdiri tegak sambil menumpuk kedua tangannya di teras rumahnya.


“Mas berangkat dulu yah sayang… Wassalamualaikum” Ucap Suaminya pamit berangkat.


“Walaikumsalam mas” Jawab Nayla sambil melambaikan tangan.


Mobil yang dikendarai suaminya perlahan mulai pergi menjauhi rumah. Nayla masih berdiri tegak. Saat mobil itu tak terlihat lagi di pandangan mata Nayla. Akhwat bercadar itu langsung duduk lemas di teras rumahnya.


“Hah, 'astaghfirullah'… Apa yang sudah aku lakukan semalam ? Kenapa bisa - bisanya aku kayak gitu pas bercinta dengan suamiku ? Kenapa kamu Nay ? Ada apa dengan pikiranmu ? Kenapa juga yah kok aku kemarin sampai terangsang banget ?” Lirih Nayla memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya kemarin.


Ia heran, ia penasaran. Tak pernah ia seterangsang itu seperti hari kemarin. Tak pernah ia senafsu itu hingga terlampau aktif saat bercinta dengan sang suami. Tak pernah ia sekecewa itu ketika melihat tubuh suaminya karena tak memiliki tubuh idaman yang ia fantasikan.


“Pak Beni… Badannya emang bagus banget sih… Aku jadi nafsu… Hah, 'astaghfirullah'” Lirih Nayla yang lagi - lagi terbayang sosok kekar itu.


MEBHU2L



   c2/de/f4/MEBHU2L_t.jpg   

'NAYLA


Nayla yang saat itu mengenakan hijab serta cadar berwarna hitam yang dilengkapi dengan daster syar’i berwarna merah muda terlihat frustasi dengan kesalahan yang ia lakukan kemarin. Ia merasa seperti sudah melakukan dosa besar saja. Ia sangat menyesal. Ia butuh sesuatu untuk mengobati rasa sesal itu.


“Apa yah ? Mungkin jalan - jalan dulu bisa kali yah buat nenangin diri” Ucap Nayla terpikirkan ide.


Akhwat bercadar itu akhirnya memutuskan untuk berjalan - jalan untuk mencari angin segar sekaligus untuk melupakan kesalahan yang ia lakukan kemarin. Ia berjalan melewati gerbang depan. Ia pun berhenti sejenak saat merasa ada sesuatu yang hilang.


“Ngomong - ngomong pak Urip mana yah ? Tumben jam segini belum dateng” Lirih Nayla saat melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07.12 WIB.


Nayla pun melirik ke kiri dan ke kanan. Entah kenapa hatinya lebih condong ke arah kanan. Hatinya ingin menuntunnya ke arah kanan, arah yang sebenarnya menuju rumah pak Beni.


“'Astaghfirullah', jangan ! Jangan sampe aku diperkosa beneran” Lirih Nayla bertahan karena tidak ingin dikhianati oleh nafsu birahinya lagi.


Nayla pun memutuskan berjalan - jalan ke arah kiri. Saat dirinya melewati rumah pak Urip, ia melihat pak Urip terlihat terburu - buru dalam menaiki motornya.


“Eh bapak… Bapak kenapa ? Keliatannya kok sibuk gitu ?” Ucap Nayla menghampiri.


“Eh Non Nayla… Hehe iya non… Saya mau ke rumah sakit” Ucap Pak Urip membuat Nayla terkejut.


“Eh ada apa ? Siapa yang sakit ?” Tanya Nayla penasaran.


“Istri saya non… Gak tau dari kemarin sore tiba - tiba ngedrop… Ini saya baru pulang mau bawa - bawa perlengkapan pakaian buat istri saya… Oh yah maaf yah non, saya izin libur dulu untuk hari ini” Ucap pak Urip meminta izin.


“Oh iya gapapa pak… Silahkan temani istri bapak dulu… Semoga istri bapak cepat sembuh yah” Ucap Nayla mengkhawatirkan kesehatan istri pak Urip.


“Iyya non makasih… Maaf non, saya permisi dulu yah” Ucap pak Urip sambil menstarter motornya.


“Iyya pak, silahkan” Jawab Nayla saat melihat motor yang pak Urip kendarai berjalan pergi.


Nayla pun terharu melihat perjuangan pak Urip dalam menemani istrinya. Dalam hati, Nayla terus berdoa semoga istri pak Urip tidak kenapa - kenapa.


Nayla pun keluar dari halaman rumah pak Urip untuk melanjutkan jalan - jalannya. Namun entah kenapa ia tidak 'mood' lagi untuk berjalan - jalan. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah untuk beristirahat sambil melanjutkan pekerjaan rumahnya.


Baru saja ia memasuki gerbang rumahnya, ia mendengar suara yang berasal dari sisi kanan rumahnya. Wajah Nayla pun melongok ke arah kanan. Nampak Pak Beni terlihat keluar dari rumahnya hanya dengan mengenakan celana kolornya saja.


“Pak Beni ?” Entah kenapa Nayla tertarik untuk memperhatikannya. Diam - diam ia memasuki rumahnya lalu naik ke lantai dua yang biasa ia gunakan untuk menjemur pakaiannya. Dari atas ia dapat melihat tubuh kekar pak Beni. Terlihat pak Beni sedang merentangkan tangannya. Nampaknya pak Beni sedang berolahraga untuk menjaga bentuk tubuhnya.


Mata Nayla terlihat fokus. Kebetulan posisi berdiri pak Beni menghadap tepat ke arah yang dilihat oleh Nayla. Dikala pak Beni mengangkat 'dumble'-nya untuk memperkuat otot lengannya. Mata Nayla dimanjakan oleh otot - otot tubuh pak Beni yang seolah sedang mencuci matanya.


Mata Nayla pun teralihkan pada perut kotak - kotak pak Beni. Baru kali ini ia melihatnya dengan begitu bebas. Memang sebelumnya pak Beni biasa memamerkannya. Namun Nayla tidak memperhatikannya, baru kali ini ia begitu tertarik pada perut kotak - kotak pak Beni. Nayla jadi ingin menyentuhnya. Nayla jadi ingin membelainya untuk merasakan kerasnya perut yang dimiliki oleh tukang sapu jalanan itu.


Lagi, mata Nayla teralihkan pada pada dada bidangnya. Dada pak Beni sungguh lebar. Mungkin kalau Nayla memeluknya, jemarinya tidak akan sampai ketika tiba dipunggungnya. Nayla menenggak ludah. Ia pun bertanya - tanya dalam hati.


'Kenapa aku malah ngintip pak Beni ?'


Batin Nayla ketika akal sehatnya mulai kembali.


Nayla melangkah mundur. Ia memejam untuk menyadarkan dirinya. Entah kenapa ia tak sanggup menjaga pandangannya. Tubuh kekar itu. Tubuh kekar tukang sapu jalanan itu. Entah kenapa sosoknya selalu terngiang - ngiang di pikirannya. Ia pun mencoba mengintipnya sekali lagi karena penasaran.


“Loh udah gak ada ?” Lirih Nayla kecewa karena rupanya pak Beni sudah masuk ke dalam rumahnya.


Namun saat matanya teralihkan pada sisi belakang rumah pak Beni, ia melihat pak Beni disana. Ia sedang bertelanjang dada di dekat sumurnya. Terlihat pak Beni menurunkan celananya. Terlihat pak Beni menurunkan celana dalamnya.


'Astaghfirulalh… pak Beni ?'


Batin Nayla hingga matanya terbuka lebar saat pertama kali melihat pak Beni bertelanjang bulat secara langsung.


Entah kenapa matanya langsung fokus menatap benda panjang yang sudah mengacung tegak diantara selangkangannya itu. Seperti dugaannya, penis pak Beni berwarna hitam legam yang ukurannya hampir seperti tangan Nayla itu sendiri. Nayla pun bergidik ngeri. Tubuhnya sampai merinding. Ia begitu terkejut ketika pak Beni diam - diam mengocok penisnya sambil memejamkan mata seolah menikmatinya.


Nafas Nayla mendadak sesak. Ia termangu melihat pria kekar itu beronani di sisi belakang rumahnya. Nayla pun menggelengkan kepala sambil melihat ke kanan juga ke kiri.


'Astaghfirullah… Gak boleh… Aku gak boleh ngeliatin ini… Astaghfirullah… Ada apa sih ini ?'


Batin Nayla kesulitan mengendalikan hawa nafsunya.


Saat Nayla hendak pergi untuk menjauhi kemaksiatan yang ada di depan matanya. Tiba - tiba ia dikejutkan oleh suara pak Beni yang sampai di telinganya.


“Mbak Naylaaa… Aaahhhh… Aaahhhhh” desah pak Beni yang membuat Nayla merinding.


'Pak Beni beronani sambil membayangkan diriku ?'


Batin Nayla terkejut.


Apalagi suara desahannya membuat birahi Nayla bergetar. Ia heran kenapa pak Beni sampai beronani sambil membayangkan dirinya. Apa jangan - jangan pak Beni sudah sering beronani sambil membayangkan tubuhnya. Nayla merinding, namun entah kenapa tiba - tiba ia mengeluarkan hapenya untuk merekam apa yang ia lihat di belakang rumah pak Beni.


Ia merekamnya, bahkan ia men-'zoom'-nya agar dirinya bisa melihat tubuh kekar itu dengan lebih jelas. Nampak penisnya terlihat semakin jelas. Hape mahal yang Nayla punya membuatnya dapat melihat aksi pak Beni secara jelas meski sudah men-'zoom'-nya berkali - kali.


“Aaaahhhhhh nikmatnyaaaaa” desah Pak Beni saat tiba - tiba mengeluarkan spermanya yang tumpah ke lantai rumahnya.


Seketika pak Beni menoleh ke arah Nayla berdiri. Nayla pun buru - buru pergi. Ia buru - buru turun ke lantai satu rumahnya sambil memegangi dadanya yang berdebar.


“'Astaghfirullah'… Kenapa aku sampai kepikiran buat ngerekam yah ? Sekotor apa sih pikiranku saat ini ?” Lirih Nayla heran dengan pola pikirnya sekarang.


Demi mengurangi rasa berdebarnya, Nayla pun membuka kulkasnya untuk meminum air lemon yang tinggal tersisa setengahnya.


“'Astaghfirullah'… Kenapa aku jadi kayak gini yah ?” Ucap Nayla yang berkali - kali beristighfar atas nafsu yang kesulitan ia kendalikan.


Ia meminum air lemon itu lagi di hari ini. Sebelumnya ia telah meminumnya di pagi tadi sebelum mengantar suaminya pergi. Ia pun meminum air lemon itu lagi hari ini. Rasa dahaganya pun hilang. Rasa segar ia dapatkan. Ia pun berjalan menuju kamarnnya untuk merenungi perbuatannya di hari ini.


“Udah mau jam delapan rupanya… Ngapain aja aku tadi hampir setengah jam ? Ngintip pak Beni ? Bukannya itu keterlaluan, Nay ?” Lirih Nayla merenungi perbuatannya.


“Hah… Hah… Hah…” Nayla mendesah ngos - ngosan. Ia pun memegangi dada kirinya untuk merasakan detak jantungnya yang bergerak cepat. Ia geleng - geleng kepala. Lalu wajahnya menoleh ke arah hape yang tergeletak diranjangnya setelah ia taruh sebelumnya.


“Pak Beni” Ucap Nayla penasaran ingin melihatnya lagi.


Dibukalah hapenya lalu masuk ke 'folder' galerinya. Ia pun melihat - lihat video. Ia pun membuka 'file' video yang baru saja direkamnya. Sambil duduk di tepi ranjangnya. Matanya terlihat fokus saat melihat pak Beni bertelanjang bulat di halaman belakang rumahnya. Nayla menjeda videonya. Ia lalu men-'zoom' layarnya untuk melihat perut kotak - kotak yang dimilikinya.


'Gleeeggggg !!!'


Nayla menenggak ludah saat terpana oleh perut kekarnya. Saat pandangannya ia alihkan pada dada bidangnya. Lagi - lagi Nayla terpesona hingga tak sadar jemari di tangan kirinya menyentuh vaginanya.


“Pak Beniiiiii” Panggil Nayla bernafsu.


Nayla kembali melanjutkan videonya. Matanya terhanyut saat pak Beni memperlihatkan penisnya yang sudah berdiri tegak. Pandangan Nayla semakin terhanyut saat tangan kekar tukang sapu jalanan itu mengocok - ngocok penisnya. Ukurannya yang besar membuat Nayla bernafsu. Pikiran Nayla pun membayangkan kalau dirinya lah yang sedang mengocok - ngocok penisnya. Pasti sangat puas. Pasti rasanya akan sangat puas bisa mengocok penis sekekar itu.


“Aaahhhh… Mbak Naylaaaa” terdengar suara yang membuat Nayla merinding.


Buru - buru Nayla menjeda videonya lalu melihat ke sekitar. Suara desahan pak Beni yang begitu jantan membuat birahi Nayla bergetar. Ia pun men-'tap' layar hape kirinya dua kali untuk mundur lima detik dari video yang ia jeda tadi.


“Aaahhhh… Mbak Naylaaa” Terdengar suara rekaman yang sama. Nayla kembali mengulangi rekaman hapenya untuk mendengar suara desahan pak Beni saat memanggil namanya.


“Aaahhhh… Mbak Naylaaa” Suaranya yang terdengar bergairah untuk ketiga kalinya itu membuat Nayla tak tahan. Tangan kanannya pun meremas buah dadanya. Tangan kirinya pun menaikan dasternya lalu merangsang vaginanya yang rupanya sudah sangat basah.


“Aaahhhh bapaakkk… Aaahhhhh… Aaahhhhh” desah Nayla saat menonton pak Beni beronani sambil meraba vaginanya yang sudah sangat basah.


Rasanya tak kuat lagi. Ia tak kuat menahan birahi yang semakin menguasai. Kenapa hanya dengan melihat tubuh kekarnya saja sudah membuat Nayla kembali terangsang ? Kenapa hanya dengan mendengar desahannya yang jantan sudah membuat Nayla merasa bergairah ? Nayla heran. Namun kenikmatan yang ia dapatkan saat menonton pak Beni beronani rasanya benar - benar berbeda. Rasanya sangat nikmat. Bahkan lebih nikmat bermasturbasi seperti ini ketimbang disetubuhi langsung oleh suaminya.


“Aaaahhhh mbak Naylaaaa” terdengar desahan pak Beni lagi yang membuat Nayla semakin menikmati.


Jemari kirinya naik turun menggesek bibir vaginanya yang licin. Kadang ia juga menekan klitorisnya. Kadang ia juga memasukan jemarinya ke dalam lubang vaginanya. Terdengar suara cipratan air di dalam. Nayla pun semakin kencang dalam mencolok memeknya. Mulutnya sampai membuka dibalik cadarnya. Matanya sampai memejam membayangkan sosok yang ia kagumi itu.


“Aaahhhh… Aaaahhhh… Aaahhhh baapaakkk… Aaahhhh” desah Nayla yang lagi - lagi membayangkan sosok pak Beni.


Jemari kanannya meremas payudaranya dari luar dasternya. Rasanya sungguh nikmat. Apalagi saat payudaranya membesar seiring nafsu birahinya yang semakin bergetar.


“Aaahhh mbaakk… Aahhhh mbaakk… Aaahhhhh” desah pak Beni di rekaman videonya yang membuat Nayla membuka mata untuk menoleh ke arah hape yang ia letakkan di ranjang tidurnya itu.


“Ouhhh bapaakk… Aku gak kuat lagi… Aku ingin bebas bermasturbasi” Ucap Nayla berdiri lalu buru - buru melepas dasternya berikut beha beserta celana dalamnya.


Dalam keadaan telanjang bulat di kamarnya. Nayla duduk di tepi ranjang sambil mengangkangkan kakinya lebar - lebar. Rasanya lebih puas saat melakukannya dalam keadaan telanjang bulat, Ia pun memilin putingnya sendiri. Ia menarik putingnya. Ia juga mencengkram bulatan dadanya kuat - kuat seiring kenikmatan yang semakin dahsyat.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh… Aaahhhhhhh”


Tangan satunya juga mengocok vaginanya dengan cepat. Maju mundur maju mundur maju mundur. Terdengar suara cipratan yang menggetarkan nafsu birahinya. Nayla semakin hanyut dalam buaian nafsu birahinya. Ia pun menekan klitorisnya. Pinggulnya sampai bergoyang saat merasakan kenikmatan yang tak dapat ia jelaskan. Mata Nayla merem melek. Ia pun mencoba menatap rekaman hapenya untuk melihat apa yang sedang pak Beni lakukan.


“Aaaaahhh mbaakkk… Aahhh mbaakkk… Aahhhh saya mauu keluuaarrr” Desah pak Beni yang rupanya hampir mendekati klimaksnya.


Nayla pun jadi semakin cepat saat mengobel - ngobel memeknya. Liang senggama Nayla itu semakin basah dibanjiri oleh cairan cintanya yang menggenang disana. Kedua tangan Nayla tiba - tiba meremas buah dadanya. Ia membayangkan pak Beni tengah meremasnya yang membuatnya memejam menikmati fantasinya.


“Aaahhh mbaaakkkk kelluuaarrr” desah pak Beni yang membuat Nayla menoleh. Tepat saat itu sperma yang pak Beni keluarkan begitu banyak. Nayla pun terkagum - kagum atas dahsyatnya sperma yang muncrat dari dalam penisnya. Seketika ia terbayang, bagaimana kalau sperma sebanyak itu keluar di dalam rahimnya. Pasti rahimnya akan penuh. Pasti rasanya sangat nikmat membuat Nayla penasaran akan rasanya.


“Aaaahhhh… Aahhhhh… Aku gak kuat lagiiii… Aku mau keluaarr… Akuuu mau kelluuaarrr” desah Nayla yang semakin teracuni oleh pikiran kotornya.


Nayla kembali mencolek memeknya. Nayla kembali merangsang kemaluannya sambil membuka kakinya lebar - lebar. Nayla memejam untuk menikmati semuanya. Nayla mendesah. Nayla bergairah. Nayla berfantasi tuk memuaskan birahinya yang semakin tinggi. Keluar masuk, keluar masuk, keluar masuk. Jemari tangannya keluar masuk di dalam vaginanya. Rasanya semakin nikmat apalagi saat membayangkan pria tua kekar itu yang sedang menyetubuhi memeknya.


“Aaahhhhh… Aaahhhh… Aaahhhhh bapaakkk… Aaahhhhhh” desah Nayla semakin keras.


Tubuh Nayla merinding. Ia merasakan kenikmatan yang tiada tanding. Tangan kanannya bertumpu pada ranjang di belakangnya. Pinggulnya ia angkat. Jemari kirinya pun mencolek - colek kemaluannya semakin cepat.


“Aaahhhh akuu mauu keluaarr… Aku mau keluuaar… Aku mauuu… Aaahhhhhhh” desah Nayla tak kuat lagi saat gelombang orgasmenya datang mendekati lubang kencingnya.


'Cccrrrttt… Cccrrrttt… Cccrrrttt…'


Nayla pun mencapai klimaksnya.


“Aaaaaahhhhhhhh” desah Nayla dengan sangat manja.


Cairan cintanya dengan deras menyembur membasahi lantai kamar rumahnya. Tubuh rampingnya kelojotan. Nafasnya ngos - ngosan tak karuan. Matanya pun memejam nikmat. Rasanya sangat puas setelah bermasturbasi sambil membayangkan sosok pria tua kekar itu.


“Haahhh… Hahh… Haahhh… Nikmat banget… Hah… Puas banget rasanyaaa” desah Nayla saat bokongnya kembali menyentuh ranjang tidurnya. Berulang kali kaki Nayla membuka - menutup tuk menikmati sisa - sisa orgasmenya. Mata Nayla pun merem melek. Ia sangat puas. Rasanya sama seperti saat diperkosa pak Beni di alam mimpinya.


“Hebaattt”


Nayla masih kelelahan. Ia terus menutup matanya sambil duduk di tepi ranjangnya.


“Luar biasaaa mbaakkk”


Nayla pun berusaha membuka matanya. Ia memegangi kemaluannya yang sudah sangat basah setelah dibanjiri cairan cintanya.


“Baru kali ini saya ngeliat akhwat bercadar bermasturbasi… Luar biasa… Luar biasa… Indah sekali tubuhmu mbaakkk”


Nayla membuka matanya lebar - lebar saat telinganya dengan jelas mendengar adanya suara dari arah depan. Ia bergegas menaikan pandangannya. Ia terkejut saat melihat ada laki - laki yang sudah memelorotkan celananya tengah beronani sambil menatap tajam tubuh telanjangnya.


“Aaaaaahhhhhhh” Jerit Nayla terkejut.


“Aaahhh… Aahhh… Tenang mbak Naylaaa… Saya gak bermaksud… Saya niatnya mau balikin kembalian yang kemarin… Eh pas saya sampai depan rumah saya denger suara desahan… Saya pun kemari dan gak nyangka liat mbak Nayla lagi asyik - asyik sendiri” Ucap pria tua berkumis tebal dengan perut tambun yang begitu maju.


“Tapi mang Yono… Apa yang mamang lakukan… Pergi mangg… Jangan kesini... Aku maluuu” Ucap Nayla sambil menutupi tubuh telanjangnya menggunakan tangannya sebisanya.


“Aaahhh… Aahhh… Maaf kali ini saya gak tahan mbak… Dari dulu saya suka menjadikan mbak Nayla objek fantasi saya… Baru kali ini saya melihat mbak Nayla telanjang… Saya gak kuat lagi… Izinkan saya beronani sambil menatap tubuh telanjang mbak” Ucap mang Yono mendekat sambil mengocok penisnya dengan cepat.


“Tapiii mangg… Tapiiiiiiiiiii” Ucap Nayla merasa malu saat penis mang Yono yang begitu besar dan hitam terlihat semakin mendekati posisinya.


“Maaf mbakk… Aahhhh… Aahhh… Izinkan saya kali ini aja… Izinkan saya beronani sekali aja sambil menikmati ketelanjangan mbak… Saya gak kuat mbak… Saya ingin memuasi nafsu saya” Ucap mang Yono saat mengocok penisnya sambil menatap dada bulat Nayla yang begitu kenyal.


Nayla pun sadar atas apa yang baru saja dilakukannya. Ia baru saja berfantasi sambil membayangkan pak Beni. Ia pun mendapatkan balasan atas apa yang baru saja dilakukannya. Seketika ia teringat hukum karma dalam agamanya yang ia pelajari di pondok pesantren. Ia pun mendapatkan balasan karmanya langsung dengan kedatangan mang Yono yang ingin beronani sambil menikmati ketelanjangan dirinya.


“Tapi tolong sekali ini aja yah… Habis itu tolong lupakan mang… Simpan rahasia ini baik - baik” Ucap Nayla pasrah karena dirinya menyadari kalau ia harus bertanggung jawab karena sudah membuat mang Yono terangsang.


“Iyyahh mbakk… Aahhh… Aahhh… Saya janji… Saya gak akan ngungkit - ngungkit lagi kenikmatan yang saya dapatkan ini” Ucap mang Yono berjanji.


“Tolong buka tangannya mbak… Tolong mengangkang seperti tadi… Itu bikin saya bernafsu ingin mengentotmu mbak” Ucap mang Yono dengan vulgar yang terpaksa dituruti oleh Nayla.


Nayla sadar kalau ia tidak menurutinya, hal itu hanya akan membuatnya menunda - nunda waktunya saja. Mang Yono akan semakin lama disini untuk memaksanya tuk memuasi nafsunya. Tapi, kalau ia menurutinya, maka mang Yono akan cepat terpuaskan yang mana akan membuat mang Yono cepat keluar. Mang Yono pun bisa cepat - cepat pergi dari hadapannya. Berdasarkan hal itu, ia pun memilih pasrah meski hatinya merasa resah karena harus menuruti perkataan tukang sayur itu.


Pelan - pelan Nayla membuka tangannya. Ia membiarkan dadanya dilihat oleh tukang sayur itu. Kedua tangannya pun bersandar ke belakang sambil membusungkan dadanya. Kedua kakinya ia naikan ke ranjang sambil dibuka lebar - lebar. Nampak vaginanya yang begitu pink terlihat di mata mang Yono. Terlihat dadanya yang masih menegak kencang menantang nafsu mang Yono. Nayla yang merasa malu membuang wajahnya ke samping. Perpaduan sikap malu - malu Nayla dengan keindahan tubuhnya membuat mang Yono semakin bernafsu. Ia mengocok penisnya dengan cepat. Ia mengocoknya sambil menatap vagina Nayla yang begitu lembap.


“Aaahhhh… Aahhhh… Indah sekali tubuhmu ini mbakk… Andai saya bisa menggenjotmu tiap hari… Aahhh pasti rasanya puas sekali” Racau mang Yono yang membuat Nayla menenggak ludah.


'Cepat maanggg keluarkaann… Aku gak sanggup lagi… Aku malu banget manggg… Cepet keluarin spermanyaaa…'


Batin Nayla merasa malu saat harus mengangkang di depan tukang sayur itu.


Aaahhhh... Aahhh... Mbak Nayla gak dapet jatah semalem yah ? Kasian banget, mending saya aja yang gantiin suami mbak buat ngasih jatah Desah Mang Yono sambil mengajaknya mengobrol. Namun Nayla memilih bungkam. Ia tidak mau berkomentar apa - apa karena yang ia inginkan sekarang adalah Mang Yono bisa cepat pergi dengan cara mendapatkan klimaksnya segera.


Cepet maaanggg... Aku maluuu Ucap Nayla karena tak tahan lagi.


Huahahhaa... Jadi makin gemes saya... Itu yang saya suka darimu mbakk... Sini mbak mendekat, saya punya 'fetish' sama akhwat bercadar soalnya Ucap mang Yono yang membuat Nayla bingung.


Fetish ? Maksudnya ? Tanya Nayla tak paham.


Nayla kemudian diminta duduk ditepi ranjangnya kembali. Mang Yono yang sudah bernafsu menelanjangi dirinya. Ia bertelanjang bulat memamerkan tubuh gempalnya. Nampak kulit mang Yono yang begitu hitam sangat bertolak belakang dengan kulit bening Nayla. Nampak tubuh gemuknya bertolak belakang dengan tubuh ramping Nayla. Namun pria gemuk itu segera naik ke atas ranjang Nayla. Ia menyentuhkan penis besarnya ke cadar Nayla. Tangan kirinya pun memegangi kepala Nayla sedangkan tangan kanannya memegangi penisnya sambil menggesek - gesekannya ke kain cadar Nayla.


Aaaahhh nikmaattt... Aaahhhh enak bangettt... Puas sekaliii mbakk... Aaahhhh... Aaahhhh Desah mang Yono memejam.


Mmppphh... Mmpphhh... Hentikaannn paakk... Cepaattt sudahiii Pinta Nayla karena terlalu risih diperlakukan seperti ini.


Huahahaha sabar mbak... Saya juga pengen cepet keluar kok tapi kok sayang yah kalau buru - buru Ucap mang Yono yang membuat Nayla kesal.


Mang Yono pun tersenyum puas. Ia kembali menggesek - gesekan penisnya ke cadar Nayla. Terkadang ia hanya mengocoknya saja sambil menyentuhkan ujung penisnya ke tepi bibir Nayla dari luar cadarnya. Pria tua itu begitu bernafsu. Rasanya puas sekali ketika dapat melampiaskan nafsu birahinya disini.


Mmpphhh... Mmpphhh... Mmmpphhh hentikaann Desah Nayla risih.


Mang Yono mengocok penisnya. Ia mengocoknya tepat di depan wajah Nayla. Terlihat wajah Mang Yono bernafsu pada akhwat bercadar itu. Nayla pun menunduk malu. Namun saat wajahnya ia naikan tuk menatap penis tukang sayur itu, ia sangat terkejut saat melihat bentuknya.


Huahahaha kaget yah mbak ? Iya saya gak disunat soalnya... Pasti baru kali ini yah mbak ngeliat kontol kayak gini Ucap mang Yono membanggakan penisnya di depan akhwat bercadar itu.


Alih - alih meresponnya. Nayla hanya membuang muka namun ukurannya yang besar serta bentuknya yang unik membuat Nayla selalu penasaran sehingga ingin melirik - liriknya lagi.


Mang Yono tersenyum. Ia menyadari tingkah laku Nayla saat itu. Ia menduga kalau Nayla ini sebenarnya mau tapi malu. Ia merasa Nayla itu mau tapi malu dengan hijab serta cadar yang dikenakan olehnya. Mang Yono tertawa puas. Ia pun bertekad akan membuat Nayla tergila - gila akan penisnya sehingga membuat Nayla mengemis minta disodok olehnya.


'Huahahaha andai beneran terjadi... Ah sial mikirin gitu aja malah bikin mau keluarr... '


Batin mang Yono merasa tak kuat lagi.


Mang Yono mengocok penisnya dengan cepat. Ia tak mau berlama - lama lagi. Ia merasa nafsunya sudah di ujung batasnya. Ia pun menatap wajah cantik Nayla yang masih bercadar. Ia lalu mendekatkan ujung kulupnya ke cadar Nayla. Ia bernafsu. Ia semakin bernafsu.


Aaahhhh... Aaahhhh... Aahhh... Mantapnyaa... Mantapnyaaaa Desah mang Yono puas.


Nayla hanya diam saja sambil sesekali membuang muka. Ia merasa harga dirinya hilang karena membiarkan tukang sayur rendahan tengah mengocok penisnya tepat di hadapan wajahnya. Apalagi dirinya sudah telanjang. Ia merasa sangat malu. Ia berharap tukang sayur itu segera menuntaskan hasratnya.


Aaahhhh.... Aahhh... Aaahhhh mbakk... Ahhhh terima inii... Terima iniii Desah mang Yono merasa tak kuat lagi.


Tubuh gempal mang Yono merinding. Tubuhnya juga tegang. Nafasnya menjadi berat. Kakinya gemetar merasakan sebentar lagi spermanya akan segera keluar. Ia benar - benar puas. Tak pernah ia beronani senikmat ini meski sudah berkali - kali membayangkan sosok Nayla yang bertubuh seksi.


Mang Yono menyentuhkan ujung kulupnya ke cadar Nayla. Tangan kirinya memegangi Kepala Nayla agar tidak menoleh ke kanan juga ke kiri. Sadar kalau pria tua itu akan memuncratkan spermanya, Nayla pun memejam tuk bersiap - siap dinodai oleh tukang sayur itu.


Aaahhhh... Aaahhhh.... Ahhhh mbaakkk... Aaahhhh ini diaaa... Rasakannn ini... Aaaahhhhh Desah mang Yono sambil mendorong pinggulnya maju hingga wajah Nayla tertusuk oleh ujung kulup tukang sayur itu.


Kellluaarrrrr !!!!


'Ccrroottt... Ccrroottt... Ccrroottt !!! '


Mmmpphhhh Jerit Nayla pasrah saat cadarnya terkena lelehan sperma mang Yono.


Sperma mang Yono muncrat begitu banyak hingga menodai cadar yang dikenakan oleh Nayla. Aromanya yang menyengat membuat Nayla merasa jijik. Perutnya menjadi mual. Namun ia berusaha menahannya. Ia pun menaikan pandangannya, ia melihat mang Yono sampai terlonjak - lonjak setelah mendapatkan orgasme ternikmatnya.


Tukang sayur itu langsung lemas setelah menghabiskan seluruh cadangan spermanya tuk menodai cadar akhwat favoritnya. Mang Yono tersenyum puas. Tukang sayur itu langsung duduk di sebelah Nayla.


Makasih mbak, saya puas banget bisa menodai wajah mbak... Hah... Hah... Hah Desah tukang sayur itu ngos - ngosan sambil diam - diam merangkulkan tangannya ke pinggang Nayla.


Lepaskan pak... Bapak udah selesai kan ? Tolong biarkan aku sendiri... Bapak boleh perg… Jangan bilang ke siapa - siapa soal masalah ini Ucap Nayla kesal sambil menahan jijik saat hidungnya mencium aroma sperma yang sangat kuat.


Huahahahah baik mbak... Tenang, saya laki - laki kok... Saya pasti akan menepati janji Kata Mang Yono berdiri sambil mengenakan celananya lagi.


Nayla lega saat mengetahui mang Yono benar - benar menepati janjinya. Akhwat bercadar itu pun menanti tukang sayur itu pergi. Nayla merasa jijik dengan banyaknya sperma yang ditumpahkan oleh tukang sayur itu di wajahnya. Bahkan saking banyaknya sampai ada yang jatuh mengenai dada bulatnya.


Hati - hati yah mbak... Jangan sampai ada orang lain yang masuk lagi... Untung saya yang masuk, kalau orang lain gak tau deh mereka akan menepati janjinya apa enggak Ucap mang Yono setelah mengenakan pakaian lengkapnya lagi.


Iyya pak maaf, aku ceroboh Ucap Nayla menunduk malu.


Huahahaha yasudah saya pamit pergi yah... Kapan - kapan kalau mbak butuh pemuas tinggal panggil saya... Daripada main sendiri mending pake kontol saya, iya kan ? Ucap mang Yono sambil mengelusi penisnya yang tak dijawab apa - apa oleh Nayla.


Oh yah ini kembaliannya... Seribu kan ? Huahahaha... Rasanya kayak habis bayar mbak 1000 biar bisa mejuhin wajah mbak aja... Huahahaha Tawa mang Yono setelah menaruh uang kembalian seribunya ke atas meja dekat pintu masuk kamar Nayla.


Mang Yono setelah itu pun pergi. Bahkan ia juga menutup pintu rumah depan agar tidak ada orang lain lagi yang masuk untuk menjaga janjinya pada Nayla. Mang Yono benar - benar menepati janjinya. Ia tersenyum merasa beruntung bisa memejuhi cadar akhwat favoritnya. Ia tersenyum dalam hati. Ia pun berharap bisa bercinta dengannya bahkan sampai menanam benih di rahimnya.


MEBE9O7

https://thumbs4.imagebam.com/31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg   31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg

'MANG YONO


MEBHU2L

https://thumbs4.imagebam.com/c2/de/f4/MEBHU2L_t.jpg   c2/de/f4/MEBHU2L_t.jpg   

'NAYLA


Sementara itu di kamar Nayla,


'Astaghfirullah'... Kenapa sih aku ini ? Aku ngerasa kayak gak ada harga dirinya lagi... Kemarin mulutku sekarang wajahku... Serendah ini kah diriku sampai - sampai orang lain bebas membuang spermanya ke tubuhku ? Entar apalagi ? Rahimku ? 'Naudzubillah'... Jangan deh... Jangan sampai... Cukup ini yang terakhir, lain waktu lagi jangan Lirih Nayla penuh harap.


Nayla pun melepas hijabnya berikut cadarnya. Nayla sudah bertelanjang bulat di dalam kamarnya. Ia pun menatap cadarnya. Cadarnya yang berwarna hitam itu ternoda oleh cairan kental berwarna bening milik tukang sayur itu. Nayla merasa jijik, bahkan ia enggan untuk menggunakan cadar ini lagi.


Semuanya gara - gara pak Beni Lirih Nayla mulai menyalahkan tukang sapu itu.


Gara - gara pak Beni aku jadi pengen masturbasi... Gara - gara pak Beni aku sampai ketahuan mang Yono disini... Gara - gara pak Beni aku gak menikmati persetubuhanku dengan suami... Semua gara - gara orang itu... Kenapa sih orang itu suka banget ganggu hidupku ? Lirih Nayla kesal dengan melimpahkan semua kesalahan kepadanya.


Tapi yang lebih aneh lagi, kenapa yah aku jadi senafsu ini ke pak Beni ? Kenapa pikiranku jadi gampang kotor juga yah ? Kenapa dua hari ini aku jadi gampang terangsang ? Apa salahku ? Apa gerangan yang membuatku seperti ini ?  Lirih Nayla merenungi perbuatannya. Ia pun berbaring diatas ranjang tidurnya. Ia menyesal. Ia mengingat - ngingat lagi saat - saat dirinya dipejuhi mang Yono juga saat dirinya bermasturbasi membayangkan pak Beni.


Semakin ia memikirkannya. Ia semakin menyesal. Matanya berkaca - kaca. Ia pun menangis setelah menyadari dirinya kehilangan harga diri. Bahkan ia membayangkan dirinya sama persis dengan pelacur yang menjajakan dirinya. Bahkan pelacur saja dibayar, sedangkan dirinya ?


Siapa sebenarnya aku ini ? Lirih Nayla merasa malu.


Maasss... Maaassss... Maafkan istrimu yang sudah kehilangan harga dirinya Lirih Nayla menangis dalam keadaan telanjang bulat di kamarnya.


*-*-*-*

'BEBERAPA JAM KEMUDIAN


Wajah Nayla terlihat murung. Matanya sembap setelah menangis seharian. Ia pun berencana keluar rumah untuk menemui Putri supaya pikirannya bisa terkontrol agar tidak kepikiran mesum melulu.


Dengan mengenakan celana kain panjang berukuran longgar yang menutupi kaki jenjangnya. Dengan hijab serta cadar berwarna hitam yang menutupi kepala mungilnya. Dengan kaus berlengan panjang berwarna abu - abu yang membungkus tubuh indahnya. Nayla telah siap bepergian untuk mengatasi pikiran mesumnya. Ia masih geleng - geleng kepala tak mempercayai apa yang baru saja terjadi padanya.


Bermasturbasi ? Dikontoli ? Dipejuhi ? Sangat jauh sekali dengan 'image'-nya sebagai seorang selebgram bercadar berfollowers banyak yang terlihat sholehah. Nayla pun berusaha melupakan semuanya meski ia tahu kalau itu akan terasa sulit karena dirinya selalu terngiang - ngiang momen - momen ternodanya.


“Hah… 'Astaghfirullah'… Putri gimana yah ? Bisa gak yah aku temui dia di rumahnya ?” Lirih Nayla sambil mengambil hapenya.


Akhwat cantik itu pun duduk di teras rumahnya sambil mencari nomor Putri di kontak hapenya. Ia ingin membuat janji dengannya. Ia ingin mengonfirmasi kalau dirinya ingin bertemu dengannya. Ia pun menemukan nomornya. Ia bersiap untuk meneleponnya sekarang.


“Halooo… Assalamualaikum Put” Ucap Nayla setelah panggilan telepon tersambung.


“Iyya haloo… Walaikumsalam mbak… Ada apa nelpon ?” Tanya Putri.


“Kamu lagi sibuk Put ? Kamu ada waktu gak ? Pengen ketemu aja” Ucap Nayla 'to the point'.


“Yah, aku lagi kuliah mbak… Aku masih di kampus… Mau ngobrolin apa nih ?” Jawab Putri yang membuat Nayla kecewa.


“Yahhhh masih kuliah yah ? Yaudah lanjutin aja Put… Gak ada sih cuma ngobrol biasa aja… Maklum aku kan di rumah sendirian… Jadi agak bosen aja hehehe” Ucap Nayla beralasan.


“Oalah hihihi maaf yah mbak… Aku masih ada jam kuliah… Sore paling atau gak beberapa jam lagi aku baru ada waktu luang buat nemenin mbak” Ucap Putri.


“Hmmm yaudah deh Put… Semangat kuliahnya aja deh yah” Ucap Nayla hendak menutup telponnya.


“Oh yah mbak” Ucap Putri yang membuat Nayla menahan diri untuk menutup telponnya.


“Iyya Put, Kenapa ?” Tanya Nayla.


“Mbak punya foto - foto kita waktu 'shooting' di Bandung gak ?” Tanya Putri mengingatkan Nayla pada sesi 'photoshoot'-nya beberapa minggu yang lalu.


“Oh ada kok Put… Ada di laptop aku” Jawab Nayla.


“Aku minta yah mbak… Nanti abis selesai kuliah aku ke rumah mbak gapapa ? Nanti aku konfirmasi lagi deh kapan waktu tepatnya biar gak terkesan mendadak” Ucap Putri yang membuat Nayla tersenyum.


“Boleh Put… Kabarin aja yah nanti kalau mau kesini” jawab Nayla.


“Iyya mbak… Makasih yah” Jawab Putri tersenyum.


Panggilan telepon pun resmi berakhir. Nayla pun bingung harus bagaimana sekarang. Ia tidak mau lama - lama disini karena khawatir pikiran mesumnya kembali datang untuk mengacaukan hidupnya. Ia pun menatap kunci motornya yang sedang ia pegang.


“Andri ?” Lirih Nayla terpikirkan satu nama.


“Andri sibuk gak yah kalau aku ajak ketemuan ?” Ucap Nayla ragu.


Nayla memang sudah lama bersahabat dengan Andri. Sebenarnya mereka lahir di tahun yang sama. Namun Nayla lebih dahulu lahir yang membuat Andri lebih nyaman memanggilnya mbak ketimbang namanya langsung. Mereka juga sudah bersahabat lama semenjak Andri menjadi fotografer di tiap sesi perfotoannya. Persahabatan mereka semakin terjalin semenjak Andri melamar Putri yang merupakan kawan dekat Nayla. Nayla pun menganggap Andri sebagai kawan dekatnya saja. Ia pun berencana menghubunginya alih - alih suaminya. Ia tidak mau mengganggu suaminya yang sedang bekerja. Ia pun menelpon Andri supaya bisa mendapatkan jawabannya segera.


“Haloo Ndri… Assalamualaikum” Sapa Nayla.


“Walaikumsalam mbak… Ada apa, tumben ?” Tanya Andri berdebar ketika dirinya ditelpon oleh wanita pujaannya.


“Kamu ada waktu gak, Ndri ? Aku mau ngobrol - ngobrol aja” Ucap Nayla yang membuat Andri tersenyum di kejauhan.


“Ada kok mbak… Mau ngobrolin apa ?” Tanya Andri langsung menjawabnya. Andri berfikir sejenak, padahal ia ada janji temu bersama temannya. Namun ia menggagalkannya seketika karena ia lebih mengutamakan Nayla dibandingkan teman - temannya.


“Nanti deh aku obrolin pas ketemu langsung… Kalau kita ke kafé yang biasa kita ketemu gimana ? Bisa gak ?” Tanya Nayla.


“Oh yang biasa kita kumpul abis 'meeting' pas 'photoshoot' itu ? Bisa kok” Jawab Andri menyanggupi.


“Makasih yah… Kita ketemuan disana… Sampai jumpa nanti” Ucap Nayla yang membuat Andri tersenyum mendengarnya.


“Iya, aku tunggu yah disana” Ucap Andri tersenyum senang. Andri merasa seperti mendapatkan durian runtuh saja. Sudah ditelpon oleh wanita pujaannya lalu diajaknya untuk ketemu dengannya. Ada apa ini ? Entah kenapa harapan muncul di hati Andri untuk membangun kisah cintanya bersama wanita binor bercadar ini. Andri pun tak ingin membuang waktu lagi. Ia langsung berganti pakaian dan bersiap - siap untuk menemui wanita pujaannya.


“Hah… Untung Andri bisa diajak ketemu… Yaudah deh aku langsung berangkat aja… Aku gak mau lama - lama disini, aku takut pikiran itu kembali datang lagi” Ucap Nayla bergegas mengenakan helmnya lalu berangkat menaiki motornya.


Eh iya, pintunya belum dikunci Ucap Nayla kelupaan hingga membuatnya kembali untuk mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu. Setelah semua siap, baru setelah itu Nayla berangkat untuk menemui Andri.


'BEBERAPA SAAT KEMUDIAN


Motor yang Nayla kendarai telah berhenti. Ia pun melepas helmnya lalu menaruhnya di kaca spion motornya. Wajahnya seketika langsung menoleh ke kanan juga ke kiri untuk mencari sahabatnya. Ia pun masuk ke dalam dan wajahnya kembali menoleh ke sekitar untuk mencari sahabatnya.


“Andri mana yah ? Belum datang apa yah ?” Tanya Nayla heran.


Nayla pun duduk di salah satu kursi kosong disana. Nayla memaklumi andai Andri memang belum datang kesini. Rumah Andri tergolong jauh dari tempat pertemuannya sekarang. Ia pun mengecek hapenya lalu mengirimkan pesan kepadanya. Tak lama kemudian pesan balasan ia dapatkan langsung. Nayla tersenyum saat membaca jawabannya.


“Dasar, masih di jalan rupanya” Lirih Nayla.


Ia pun segera membalas jawabannya dengan meminta Andri agar lebih berhati - hati dalam berkendara. Entah kenapa Nayla memberikan perhatian kepadanya. Sebagai seorang wanita, ia merasa wajar saja memberikan perhatian itu kepada seseorang yang ia anggap dekat.


Layaknya seorang wanita pada umumnya. Nayla pun membuka cermin kecil yang ia keluarkan dari tas kecil yang ia bawa. Ia pun memeriksa penampilannya. Berulang kali Nayla merapihkan hijabnya yang agak berantakan setelah tertiup angin dalam perjalanan. Sebagai seorang wanita, ia tak bermaksud tampil cantik untuk menggoda Andri. Tapi, ia tampil cantik untuk menumbuhkan rasa percaya diri.


Tak berselang lama, muncullah seseorang dari pintu kafé yang membuat Nayla tersenyum melihatnya. Nayla pun mengangkat tangannya yang membuat Andri menoleh tuk menatapnya. Andri terlihat sangat tampan saat itu. Meski jam baru menunjukkan pukul setengah dua siang. Meski cuaca saat itu sedang panas - panasnya. Andri tampil percaya diri dengan celana jeans panjang berwarna biru serta kaus berlengan pendek berwaran putih. Ia juga mengenakan jaket berbahan jeans yang memiliki warna yang selaras dengan celananya. Jujur, Nayla terpesona oleh penampilan sahabatnya yang menurutnya keren. Apalagi wajah Andri memang tampan. Nayla pun menyambut kedatangan Andri dengan senyuman.


MEBHU2J

https://thumbs4.imagebam.com/7b/22/51/MEBHU2J_t.jpg   7b/22/51/MEBHU2J_t.jpg

'ANDRI


“Eh mbak, udah lama yah ? Maaf tadi aku persiapannya lama… Jadi harus ini itu dulu” Ucap Andri sambil duduk di depan Nayla.


“Enggak kok ndri… Ngomong - ngomong kamu gak panas yah paket jaket tebel gitu… Dahimu aja udah keringetan loh hihihih” Ucap Nayla yang membuat Andri tersipu malu.


“Hahahaha panas sih… Tapi aku gak tau kalau cuaca di luar bakal sepanas ini” Ucap Andri sambil mengeluarkan sapu tangannya tuk mengelap keringat di dahinya.


“Hihihih tapi kamu keren kok Ndri… Gak salah emang fotograferku ini… Udah mirip artis korea aja kalau kayak gini hihihihi” Puji Nayla yang membuat hati Andri berbunga - bunga.


“Hahaha bisa aja… Jauh lah mbak… Mbak loh cantik banget, jadi merasa terhormat bisa bertemu dengan selebgram terkenal” Puji Andri yang membuat Nayla tertawa senang.


“Hihihihi biasa ketemu aja sampai merasa terhormat segala… Eh yah… Apa kabar Ndri ?” Tanya Nayla sambil merapatkan kedua tangannya diatas meja bundar di depannya.


“Aku baik kok mbak… Kamu sendiri gimana ? Kalau dilihat dari wajahnya sih, pasti bahagia” Ucap Andri menebak.


“Ya kalau ituuu . . . .” Ucap Nayla ragu. Namun belum sempat Nayla menyelesaikan kalimatnya tiba - tiba Andri memotongnya yang membuat Nayla tertawa.


“Pasti bahagia dong… Abis ketemu aku soalnya” Ucap Andri percaya diri.


“Hihihihi apaan… Iyain aja deh biar seneng” Ucap Nayla tertawa.


Andri pun ikut tertawa setelah Nayla tertawa.


“Oh yah Ndri… Aku mau cerita boleh ?” Ucap Nayla tak lama kemudian.


“Mau cerita apa ? Boleh kok… Aku akan mencoba menjadi pendengar yang baik untukmu” Ucap Andri yang membuat Nayla tersenyum.


“Aku heran… Aku bingung aja… Gak tau belakangan ini kok aku sering kepikiran orang lain yah” Ucap Nayla mengejutkan Andri.


“Orang lain ? Laki - laki lain di hidupmu maksudnya ?” Tanya Andri berdebar.


“Hehe iyya Ndri… Aku bingung… Padahal aku udah punya suami tapi kok belakangan aku malah kepikiran laki - laki lain” Ucap Nayla yang membuat Andri berpikir panjang.


'Laki - laki lain ? Di hidupnya ? Apa jangan - jangan ia sedang membicarakanku sekarang ? Bukannya ini semacam kode kalau mbak Nayla sedang memikirkanku, iya kan ?'


Batin Andri menduga.


“Hmmm kok bisa ? Apa yang membuatmu kepikiran orang lain ? Apa kedudukannya sekarang lebih tinggi dari suamimu, mbak ? Maksudnya mbak lebih mikirin dia dibandingkan suami mbak ?” Tanya Andri penasaran.


“Hmmm bisa dibilang begitu Ndri… Gak tau belakangan aku mikirin dia terus… Aku udah berusaha menepisnya, tapi aku gak bisa… Pagi tadi aja aku kepikiran dia… Bahkan semalam aku juga kepikiran dia… Udah dua hari ini kalau gak salah… Mulai parahnya sih kemarin, iya mulai kemarin… Bahkan dia juga hadir mimpi aku loh Ndri” Ucap Nayla curhat hingga membuatnya menunduk memegangi kepalanya.


“Kadang aku takut… Aku merasa malu… Gimana bisa seorang istri yang sudah bersuami malah kepikiran laki - laki lain… Aku merasa kehilangan harga diri Ndri… Aku malu pada diriku sendiri” Lanjut Nayla mengungkapkan kekesalannya.


“Apa dia orang yang kamu kenal lama mbak ?” Tanya Andri yang masih penasaran dengan identitas orang itu.


“Iya, aku udah lama mengenalnya” jawab Nayla.


“Kapan terakhir kamu ketemu dengannya ?” Tanya Andri lagi penasaran.


“Hari ini… Baru - baru ini” Jawab Nayla tanpa berfikir yang malah membuat Andri merasa kalau dia lah orang yang Nayla maksud.


'Baru - baru ini ? Sekarang ini maksudnya ?'


Batin Andri semakin yakin kalau dirinya lah yang sedang dibicarakan oleh Nayla sekarang.


“Apa ini wajar Ndri ? Apa wajar seorang yang sudah bersuami sepertiku kepikiran laki - laki lain di hidupnya” Tanya Nayla meminta jawaban.


“Wajar kok” Jawab Andri singkat.


“Eh yang bener Ndri ?” Tanya Nayla terkejut.


“Anggap aja itu ujian pernikahan” Jawab Andri lagi dengan singkat.


“Ujian ? Pernikahan ?” Tanya Nayla tertarik hingga dirinya menatap Andri dengan serius.


“Iya mbak…. Gak semua pernikahan orang - orang berjalan lancar… Ada lika - liku perjuangannya bahkan ada yang sampai kepikiran orang lain… Itu wajar kok menurut aku… Jadi jangan kepikiran lagi yah” Ucap Andri yang membuat Nayla semakin penasaran.


“Wajar ? Terus gimana cara membuang pikiran itu… Aku gak mau kepikiran lagi Ndri ? Aku takut kalau suamiku tahu, aku akan dimarahi olehnya” Ucap Nayla saat teringat kejadian semalam dan juga pagi tadi.


“Kenapa gak ketemu sama orangnya langsung… Siapa tau kamu cuma kangen makanya terus kepikiran dia” Ucap Andri yang berharap Nayla bisa sering menemuinya karena ia menduga mereka sekarang sedang membicarakan dirinya.


“Heh ? Ketemu ama orangnya ?” Ucap Nayla heran. Ia mendadak kesal ketika harus membayangkan dirinya harus bertemu langsung dengan pak Beni.


“Hahahah becanda… Maksudnya gini… Mungkin kamu kayak gitu karena kamu sering sendiri di rumah… Kamu jarang ada teman ngobrol… Akibatnya pikiran - pikiran kayak gitu sering dateng karena kamu gak punya kegiatan apa - apa di rumah… Keputusanmu untuk menemuiku sudah tepat kok… Coba aku tanya sekarang… Sekarang gak kepikiran lagi kan ?” Tanya Andri.


“Iya sih Ndri… Aku gak kepikiran lagi” jawab Nayla menyetujui omongannya.


“Nah itu… Coba sering - sering ngumpul sama temen - temen kamu… Kalau temen kamu sibuk semua, aku siap kok menemani kamu biar kamu gak sendirian terus di rumah” Ucap Andri berharap bisa sering bertemu dengannya.


“Eh apa aku gak ganggu waktu sibuk kamu Ndri ? Apalagi kan kamu harus menyiapkan pernikahan kamu ?” Tanya Nayla.


“Engga kok… Kalau untuk kamu, aku pasti ada terus” Jawab Andri yang membuat Nayla tersenyum.


“Heleh, kalau kamu udah ada janji sama temen kamu terus aku minta ketemuan gimana ? Emang ada waktu buat aku ?” Tanya Nayla.


“Hahahah kan aku bisa batalin… Aku bilang aja ke temenku kalau ada bidadari cantik yang ngajak ketemu” Jawab Andri yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihihi gombal… Awas dimarahin Putri loh… Oh yah, kalau kamu udah ada janji sama Putri terus aku ajak ketemu gimana ? Masih mau kamu batalin janji sama Putri buat ketemu aku ?” Tanya Nayla.


“Eh itu… Itu” Ucap Andri kebingungan. Entah kenapa ia merasa kalau Nayla sedang mengujinya. Ia pun berhati - hati harus menjawab apa.


“Hihihihi tuh kan bingung mau jawab apa” Tawa Nayla yang membuat Andri ikut tertawa setelahnya.


“Jangan khawatir pokoknya… Kalau kamu emang mau ketemu… Aku pasti akan meluangkan waktu buat kamu” Ucap Andri yang tiba - tiba mendekap tangan Nayla.


Jantung Nayla berdebar merasakan dekapan tangan Andri. Ia pun menatap tangannya yang di dekap. Ia pun lalu menatap Andri untuk berbicara dengannya.


“Anu Ndri… Maaf tangan kamu” Ucap Nayla yang buru - buru membuat Andri tersadar.


“Eh maaf, gak sengaja” Jawab Andri yang membuat Nayla tertawa.


“Dasar… Jelas - jelas tadi sengaja” Ucap Nayla yang membuat Andri tertawa.


“Ngomong - ngomong makasih yah tadi udah mau dengerin keluh kesahku… Aku bingung daritadi mau ngomong ke siapa… Gak mungkin kan aku nyeritain ini ke suami aku… Untung aku kenal deket sama kamu Ndri… Aku langsung memilih kamu untuk mendengarkan ceritaku ini… Rasanya lega banget sekarang… Makasih yah” Ucap Nayla tersenyum yang membuat Andri ikut tersenyum.


“Sama - sama mbak… Lain kali kalau kamu butuh pendengar lagi, aku siap kok… Mau kamu ngoceh sejam kek, dua jam kek… Aku siap meski harus membuat kupingku berdarah - darah” Ucap Andri berlebihan yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihihi emang kalimatku tajem yah bisa bikin kuping kamu berdarah ?” Tanya Nayla tertawa.


“Ya enggak sih… Tapi bisa bikin kuping aku pegel dengerinnya” Ucap Andri yang kembali membuat Nayla tertawa.


Entah kenapa ia merasa bahagia tiap kali melihat Nayla tertawa karenanya. Inikah kebahagiaan itu. Inikah rasanya ketika Nayla menjadi istrinya. Entah kenapa ia sudah menganggap Nayla sebagai istrinya. Ia pun terus mengobrol panjang lebar dengannya. Mereka terus mengobrol, bercanda bahkan membicarakan masa lalu saat pertama kali bertemu. Tak jarang Nayla tertawa terbahak - bahak. Tak jarang Andri bersikap konyol untuk menghibur hati Nayla. Andri tersenyum senang, ia merasa bahagia bisa menghabiskan waktu bersama wanita pujaannya.


“Oh yah mbak… Aku punya permintaan boleh ?” Tanya Andri setelahnya.


“Apa Ndri ?” Tanya Nayla penasaran.


“Aku boleh manggil kamu nama langsung ? Aku pengen lebih akrab sama kamu soalnya”


“Hihihihi ya boleh lah… Justru aku malah gak nyaman kalau kamu manggil aku mbak mulu… Kita kan udah lama kenal… Kenapa kita gak manggil nama langsung aja ?” Jawab Nayla tersenyum.


“Hahahahah makanya, agak sungkan untuk memanggil namamu langsung… Makasih yah. Nay” Ucap Andri yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihihi gimana gitu pas denger kamu manggil aku… Kayak ada yang beda tapi aku suka… Makasih yah Ndri” Ucap Nayla tersenyum.


“Sama - sama Nay… Justru aku yang seharusnya berterima kasih…” Ucap Andri sambil menatap Nayla. Diluar dugaan Nayla pun sedang menatap Andri. Entah kenapa Andri semakin yakin kalau ini adalah kesempatan besar untuk menikung Nayla dari suaminya.


“Oh yah, aku boleh ngehubungin kamu kan ?” Tanya Andri lagi.


“Nelpon atau chat maksudnya ? Ya boleh lah” Jawab Nayla tersenyum.


“Gak dimarahin suamimu nanti ?” Tanya Andri khawatir.


“Hihihihi ya enggak lah… Suamiku gak pencemburu kok… Suamiku juga udah tau kamu kali… Aku sering cerita jadi ya gak mungkin suami aku marah nanti” Ucap Nayla yang membuat Andri tersenyum senang.


'Wah gak nyangka rupanya aku sering diceritain Nayla ke suaminya… Apakah ini suatu pertanda ?'


Batin Andri terus berharap.


“Eehhemm… Ehheemm… Jadi kering nih kerongkongan aku… Kenapa tadi gak pesen minum dulu yah ? Hihihih” Ucap Nayla.


“Oh iya… Kamu mau mesen apa biar aku traktir nanti ?” Ucap Andri.


“Eh gak usah, kita bayar sendiri - sendiri aja” Ucap Nayla tak enak.


“Eh gak usah… Anggap aja ini terima kasihku karena udah diajak ketemu” Ucap Andri memaksa ingin mentraktir Nayla.


“Huft padahal harusnya aku yang nraktir karena udah maksa kamu buat dengerin curhat aku” Ucap Nayla tersenyum.


“Hahahha aku gak terpaksa kok… Aku malah seneng bisa jadi orang yang terpilih buat dengerin curhatan kamu, Nay” Ucap Andri tersenyum.


“Dasar… Samain aja Ndri… Aku ikut kamu” Ucap Nayla.


“Yaudah… Aku ke kasir dulu yah” Ucap Andri bahagia.


“Iya Ndri” Jawab Nayla tersenyum.


Nayla pun tersenyum malu - malu sambil menunduk. Ia merasa bahagia karena mempunyai teman yang selalu ada untuknya. Diam - diam Andri menoleh dan menatap Nayla tengah tersipu, Andri pun merasa kalau Nayla berbahagia karena bisa bertemu dengan cinta sejatinya yakni dirinya. Andri pun terus berharap saat itu. Ia pun berjalan menuju kasir sambil menunjukkan wajah tersenyum yang begitu lebar.


'BEBERAPA SAAT KEMUDIAN


“Makasih udah nraktir aku Ndri… Aku pulang dulu yah… Udah sore soalnya” Ucap Nayla saat melihat jam sudah menunjukkan setengah tiga.


“Iya sama - sama… Hati - hati di jalan yah… Mau aku anter sampe rumah gak ?” Ucap Andri perhatian.


“Eh gak usah… Rute kita aja berbeda Ndri… Rumah kamu juga jauh… Gak usah, aku udah gede kali… Tapi terima kasih yah perhatiannya” Ucap Nayla yang membuat Andri tersenyum senang.


“Iyya sama - sama… Kabarin yah kalau udah sampe rumah” Ucap Andri yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihihi iyya Ndri, kalau inget tapi yah” Ucap Nayla melajukan motornya.


Andri terus tersenyum di siang menjelang sore itu. Ia merasa bahagia bahkan tangan kanannya mengepal lalu meninjukannya ke angkasa.


'Yeesssss… Seneng banget rasanya bisa berduaan bareng kamu Nay !'


Batin Andri berbahagia.


*-*-*-*

Akhirnya sampai di rumah juga... Lega banget deh rasanya bisa curhat sama Andri... Kayaknya emang bener nih, aku gak boleh sendirian di rumah... Aku harus sering ngumpul sama temen kalau lagi gak kerja Ucap Nayla mengingat poin yang ia dapat setelah bertemu dengan Andri.


Nayla segera turun dari motornya. Ia melepas helmnya juga kunci motornya. Ia berjalan mendekati pintu masuk lalu membuka kunci yang mengancing rumahnya. Setelah pintu terbuka, ia menaruh helm di meja ruang tamu rumahnya. Lalu berjalan menuju kamarnya untuk menaruh kunci motornya yang ia gantung di balik pintu kamarnya. Ia merasa gerah. Cuaca memang sedang panas - panasnya. Makanya tadi ia menanyakan Andri dengan cara berpakaiannya.


Akhwat bercadar itu pun berjalan menuju kulkasnya. Sesampainya ia disana, ia mengeluarkan botol minuman berisi air lemon favoritnya. Saat ia menyentuh botolnya, ia tidak langsung mengambilnya. Tapi ia melihatnya sejenak sambil memikirkan sesuatu.


Perasaan tadi pagi aku minum, airnya tinggal kurang dari setengah botol deh ? Kok sekarang air lemonnya masih setengah botol yah ? Eh lebih dari setengah malah Ucap Nayla saat mendekatkan botol itu ke wajahnya untuk melihatnya dengan jelas.


Aneh, apa aku yang kelupaan ? Kok bisa nambah sih ? Lirih akhwat bercadar itu penasaran.


Namun rasa haus yang mendera kerongkongannya membuatnya tak tahan untuk segera meminumnya. Ia pun menuang air lemon itu ke gelasnya. Lalu menaikan cadarnya sebelum menempelkan bibir tipisnya ke tepi gelas itu. Air lemon itu pun mengalir melalui mulutnya menuju kerongkongannya. Terasa kesegaran disana. Rasanya yang nagih membuatnya meminum sekali lagi.


Aaahhhh segernyaaa Desah Nayla sambil mengelap bibirnya menggunakan tangannya.


Akhwat cantik itu pun kembali menaruh botol minuman itu ke kulkas lalu menutup pintu kulkasnya rapat - rapat.


Sekarang ngapain yah ? Oh yah Putri katanya mau ke rumah yah ? Aku siapin 'file'-nya dulu ah Ucap Nayla berjalan menuju kamarnya untuk membuka laptopnya.


Nayla menyalakan kipas anginnya. Lalu tiduran di atas ranjangnya sambil menyalakan laptopnya. Sambil menanti laptopnya melakukan 'booting, 'Nayla pun memutuskan untuk tiduran miring menghadap ke samping. Entah kenapa rasanya begitu nyaman. Kasurnya terasa empuk ditambah dengan sejuknya angin yang berhembus dari kipas angin membuatnya mengantuk.


Hoaaammmss... Kok jadi ngantuk yah ? Lirih Nayla menguap hingga matanya yang sudah kedap - kedip.


Berulang kali Nayla mencoba membuka matanya sambil menanti laptopnya menyala. Namun rasa kantuk benar - benar menguasainya. Padahal ia masih mengenakan pakaian yang sama saat tadi bertemu dengan Andri. Ia belum sempat melepas hijabnya bahkan cadarnya saja masih menutupi sebagian wajahnya.


Pelan - pelan Nayla mulai tertidur. Matanya memejam dengan nikmat. Sambil tersenyum, tubuhnya mulai tenang pertanda dirinya sudah memasuki alam mimpinya.


Akhirnya... Terlelap juga dirimu, sayang Lirih seseorang yang diam - diam mengintipnya dari luar pintu kamarnya yang terbuka.


Sosok misterius itu kembali datang. Ia mendekat sambil menatap sang akhwat yang telah tertidur dalam posisi miring ke kiri. Dilihatnya laptop yang menyala dihadapannya. Dilihatnya hape yang tergeletak tepat di samping wajahnya. Sosok itu pun tersenyum. Ia mulai membuka kausnya lalu memelorotkan celana kolornya.


Dasar ceroboh... Mau dientot kok malah naruh barang sembarangan... Nanti kalau barangnya jatuh jangan salahin saya yah... Saya suka barbar soalnya kalau lagi ngentot Lirihnya sambil mengocok batang penisnya.


Sosok itu pun menaruh laptop beserta hape yang akhwat itu tinggalkan ke atas meja kecil yang berada di samping ranjang tidur Nayla.


Saat diatas ranjang tidur itu hanya terdapat tubuh sang akhwat yang sudah terbaring pasrah. Sosok itu pun mendekat lalu memposisikan Nayla dalam posisi terlentang.


Tidurnya yang lurus yah... Biar saya bisa ngeliat keindahan tubuhmu dari atas Ucap sosok itu sambil mendekap dagu Nayla yang masih tertutupi cadarnya.


Sosok itu pun berdiri. Ditatapnya tubuh sang akhwat yang telah siap untuk ia genjot. Ia menatap tubuh Nayla dari atas ke bawah. Dari ujung hijab sampai ke ujung jemari kakinya. Ia menatap hijab hitamnya lalu kaus berlengan panjangnya. Ia tersenyum melihat gundukan dada yang menonjol saat akhwat bercadar itu berbaring terlentang. Lalu saat pandangannya diturunkan lagi. Ia melihat kaki jenjangnya yang dilapisi celana kain berukuran longgar. Sosok itu jadi tak sabar ingin membugilinya. Sosok itu semakin tak sabar untuk melihat apa yang tersembunyi di balik pakaian Nayla.


Pasti sangat indah !!! Ucapnya tertawa sambil mengocoki penisnya.


Sosok itu berlutut. Kedua tangannya mendekap celana kain Nayla lalu memelorotkannya pelan - pelan. Sosok itu tersenyum senang saat dapat melihat paha mulus sang akhwat. Lidahnya keluar tuk menjilati tepi bibirnya. Pelan - pelan celananya hampir terlepas melewati telapak kakinya. Akhirnya, celananya itu benar - benar terlepas hingga menyisakan celana dalamnya saja yang menutupi sebagian selangkangannya.


Sosok itu tertawa dalam diam. Ia sangat puas melihat keseksian tubuh sang akhwat yang sudah setengah telanjang. Gemas, akan mulusnya paha sang akhwat. Tangannya mulai mendekat untuk meraba - raba paha mulusnya menggunakan tangan keriputnya.


Waahhh gilaaa... Mulus bangett... Uhhhhh... Kulitnya udah kayak kulit bayi aja... Pasti sering banget perawatan yah sayang ? Tawanya saat mengusap paha mulusnya.


Rabaannya pun naik hingga mendekap selangkangannya. Wajahnya juga mendekat untuk menghirup aroma kemaluan sang akhwat. Hidungnya telah menempel dari luar celana dalamnya. Ia menarik nafasnya lalu kemudian tertawa setelah mencium aromanya.


Mantappp bangett... Bisa mabok nih kalau keseringan nyium Ucapnya puas.


Tangan nakalnya kembali beraksi. Sosok itu mulai menurunkan celana dalam sang akhwat dengan cepat. Dalam sekejap, celana dalamnya sudah turun hingga melewati kedua lututnya. Sosok itu kembali menariknya hingga terlepas melewati kedua kaki jenjangnya.


Ditatapnya bulu tipisnya yang tumbuh disekitar goa kenikmatan itu. Ditatapnya pintu masuk goa kenikmatan itu yang berwarna pink.. Sosok itu jadi kian bernafsu untuk segera menggagahinya. Ia tersenyum. Ia sangat puas karena rencananya berjalan mulus semulus tubuh akhwat yang akan ia nikmati sebentar lagi.


Ssllrrppp... Slllrrppp... Sssllrrppp Terdengar suara seruputan saat lidah sosok itu menjilati kemaluan Nayla.


Sosok itu meludahinya. Lalu lidahnya masuk untuk menjilati dinding vaginanya. Kedua jemarinya pun membantu dengan membuka pintu masuk lubang kenikmatan itu. Lidahnya pun masuk semakin dalam. Lidahnya menggeliat meraba - raba dinding kenikmatan itu dengan penuh nafsu. Lagi, sosok itu meludahinya. Lalu giginya mendekat tuk menggigit biji kecil yang menggantung diatas goa kenikmatan itu.


Mmmpphhhh Desah Nayla dalam mimpinya.


Keenakan yah ? Tanya sosok itu tertawa.


Sosok itu kembali menjilati vaginanya. Bagian jemarinya juga menekan - nekan klitorisnya hingga membuat lubang kemaluan itu semakin basah.


Cuihhhh... Nikmatnya memek lonte satu ini... Jadi gak sabar tuk menjadikanmu pemuas nafsuku Ucapnya berdiri lalu menaikan kaus yang Nayla kenakan saat itu.


Pelan - pelan perut Nayla mulai terlihat. Pusarnya pun menyusul tak lama kemudian. Semakin ia menaikannya, semakin indah pula pemandangan yang dilihat oleh sosok yang 'bejo' itu.


Sosok itu kembali tertawa lalu menaikan kaus Nayla hingga melewati gundukan besar yang ada di dada sang akhwat. Tak lupa, ia juga menaikan beha hingga putingnya yang berwarna pink terlihat jelas dihadapan matanya.


Indahnyaaaaa Ucap sosok itu terpukau dengan bulatnya dada yang terbaring pasrah dihadapannya.


Tanpa menunggu lama, sosok itu langsung meremas - remas dada bulat sang akhwat. Ia mencengkramnya dengan penuh nafsu. Ia memilin putingnya dengan penuh nafsu. Bahkan ia menarik pentilnya lalu mencubitnya sebelum tangannya kembali menggenggam erat buah dada bulat yang dimiliki oleh sang akhwat.


Ouhhhh.... Ouhhhh.... Puas sekaliii... Puas sekali rasanya bisa remes susumu, sayanggg Desahnya penuh nafsu.


Sosok itu kembali meremas susu Nayla dengan beringas. Ia meremasnya hingga merubah warna susu Nayla menjadi warna merah. Lalu kepalanya turun. Lidahnya keluar untuk menjilati putingnya. Mulutnya pun membuka tuk mengatup pentil susunya. Sosok itu menyusu disana. Sosok itu menyeruputnya dengan rakus.


Sssllrrppp... Mmpphhh... Sssllrrppp... Mmpphhh Desah sosok itu saat menyusu.


Dikala mulutnya menyusu maka kedua tangannya meremasnya kuat - kuat. Perutnya juga telah menempel di perut rata Nayla. Sosok itu tengah menindihinya. Sosok itu juga menempelkan penisnya ke bibir vaginanya.


Aaaahhh yahhh... Mmpphhh... Mmpphhh.... Slrrpp... Ouhhhh Desah sosok itu saat menyusu, meremas bahkan menggesek - gesek penisnya di bibir vagina sang akhwat.


Terlihat pinggul sosok itu maju mundur. Sosok itu menggesak penisnya hingga vagina Nayla semakin banjir terisi oleh cairan cintanya. Sosok itu tertawa puas. Sosok itu tertawa lepas. Siapa yang menyangka di hari ini, dirinya bisa telanjang bulat sambil menikmati sosok selebgram yang sehari - harinya biasa menggunakan cadar.


Ouuhhhh.... Ouhhhh.... Ouhhhh yaahhhh Desahnya saat bangkit duduk sambil menggesek - gesek bibir vagina sang akhwat.


Matanya memejam saat penisnya melakukan 'petting' dengan cepat. Mulutnya mengerang tuk mengekspresikan kepuasan yang ia dapat. Tubuhnya kembali menunduk tuk meremas dada bulatnya. Mulutnya sampai membuka. Ia benar - benar terpuaskan dengan keindahan yang dimiliki oleh Nayla.


Aaahhhh... Gilaaa... Aaahhhh enak bangettt... Aahhh puasss bangettt... Padahal baru digesek Desahnya menikmati.


Karena tak tahan lagi. Sosok itu akhirnya bersiap untuk melahap menu utamanya. Sosok itu kembali mengangkat kaus Nayla agar susu bulatnya dapat terlihat semakin jelas. Ia juga menyingkirkan cadar yang menghalangi pemandangan gunung kembarnya sebelum dirinya bersiap untuk menyoblos liang kenikmatan duniawinya.


Akhirnyaa.... Setelah kemarin gak kesampean... Kesempatan untuk nyodok memekmu kesampean juga Ucapnya dengan penuh nafsu.


Kedua tangannya pun mendekap pinggang mulus sang akhwat. Matanya dengan binar menatap lubang kenikmatan itu. Pinggulnya pun mengarahkan. Penis besarnya dengan gagah telah siap untuk ditembakkan menuju liang terdalam dari rahim sang akhwat.


Rasakan ini sayaannggggg Serunya sambil mengambleskan penisnya langsung hingga menyundul dinding rahimnya.


'Jleeeebbbbb !!!! '


Aaaahhhhhh mantaaaappppp Desahnya dengan sangat puas.


Sodokannya yang kuat sempat membuat susu Nayla bergetar. Jepitan vagina Nayla membuat nafsu birahinya juga bergetar. Jantungnya pun berdebar. Ia tak sabar untuk melakukan genjotan pertamanya dengan semangatnya yang berkobar.


Ouuhhh yaahhhhh... Oouhhhh mantaappp... Ouuhhhh nikmat banget... Mmpphhh yaahhhh Desahnya saat ia memulai memperkosa Nayla dengan kecepatan yang cukup lambat.


Bukannya ia tak mampu menggenjotnya dengan cepat. Bukannya ia tak mampu menggenjotnya dengan kuat. Tapi ia lebih berhati - hari agar dirinya tidak keluar duluan karena kuatnya jepitan vagina Nayla yang ia rasakan. Berulang kali ia berusaha mengatur nafasnya. Berulang kali ia mencoba menekan nafsunya. Namun tiap kali penisnya bergesekan dengan dinding vaginanya, terasa rangsangan yang membuat nafsunya bergairah. Ia pun berhati - hati. Ia berusaha menikmati tubuh akhwat bercadar ini lebih lama lagi.


Aaahhhh yaahhh... Aahhh nikmatnyaaa... Aahhhhhh Desah sosok itu sambil memandang wajah Nayla yang sedang memejam.


Sosok itu tersenyum. Ada kepuasan yang ia dapat tiap kali membayangkan dirinya bisa bersetubuh dengan selebgram bercadar itu. Saking nafsunya, lama - lama ia pun mempercepat sodokannya. Gerakannya diperkuat. Susu Nayla sampai meloncat - loncat. Tubuh rampingnya terdorong maju - mundur dengan cepat. Diusapnya perut rata sang akhwat. Dielusnya paha mulus sang akhwat. Elusannya turun hingga ke kaki jenjangnya lalu naik lagi ke paha lalu naik lagi ke pinggang rampingnya.


Aaahhhh yaahhh... Aaahhhh nikmat bangettt.. Aaahhhh nonnnnn Desahnya dengan puas hingga membuatnya tak sanggup menahan tawanya lagi. Ia ingin tertawa dengan bebas. Ia ingin tertawa menikmati kemenangan yang ia dapatkan.


Hakhakhak.... Puas sekaliii... Puasss sekali rasanya bisa menyetubuhimu, sayanggg Tawa pria tambun itu dengan nadanya yang khas.


Yaps sosok bejat yang sudah melecehi Nayla dua kali itu tidak lain adalah pembantunya sendiri. Yaps, pak Urip lah pelakunya. Pria tua bertubuh tambun itu tak henti - hentinya mendesah sambil menatap dada indah sang akhwat yang meloncat - loncat.


Ia pun mempercepat gerakannya. Ia menambah kecepatannya lagi yang membuat ranjang tidur Nayla ikut bergoyang.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


MEBHU2P

https://thumbs4.imagebam.com/91/d4/2b/MEBHU2P_t.jpg   91/d4/2b/MEBHU2P_t.jpg

'NAYLA


Aaahhhh... Aaahhhh... Dari siang tadi saya menunggumu meminum minuman buatan saya.... Aahhh... Aahhh... Akhirnya, akhirnya kesampean juga.... Penantianku... Penantian untuk menyetubuhi dirimu Ucapnya dengan puas sambil menatap dada sang akhwat.


Tergoda oleh gerakan payudara Nayla yang bergoyang kencang. Pak Urip menjatuhkan tubuhnya tuk menindihi majikannya. Perut tambunnya menekan perut rata Nayla. Dada berlemaknya menekan susu empuk Nayla. Kedua tangannya meremas susu bulatnya. Lidahnya pun menjilati dada bagian atasnya sambil mencium aroma tubuhnya yang merangsang nafsu birahi.


'Plokkk... Plokkk... Plookkkk... '


Pinggul pak Urip bergerak naik turun. Kecepatannya semakin cepat. 'Powernya' semakin kuat. Pinggulnya menghempas selangkangan majikannya hingga menimbulkan suara yang terdengar keras.


'Plokkk... Plokkk... Plokkk... '


Mmpphhh... Mmpphhh... Sssllrrpp... Mmpphhh Desah Pak Urip saat menyusu sambil menggenjot tubuh seksinya itu.


Pak Urip dengan rakusnya melahap susu bulat sang akhwat. Giginya menjepit. Bibirnya menyeruput. Tangannya meremas dan pinggulnya menusuk tajam dengan sangat kejam. Pak Urip sampai ngos - ngosan saat menikmati tubuh akhwat yang sudah setengah telanjang itu. Lidahnya kembali menari - nari diatas tubuh majikannya seorang diri.


Aaahhhh... Aahhh... Aaahhhh... Sayanggg mmpphhh Desah pak Urip saat mengangkat cadar Nayla lalu mencumbu bibirnya.


Pak Urip mencumbunya. Pak Urip mengapit bibirnya. Ia mendorong bibirnya hingga wajah Nayla terbenam ke dalam kasurnya. Lidahnya juga bermain - main dengan membuka pintu masuk ke dalam rongga mulutnya. Saat lidahnya masuk, lidah pak Urip langsung menggeliat merangsang tiap sudut yang ada di dalam mulutnya. Tak lupa ia mengirimkan ludah sebagai hadiah ke dalam mulutnya. Ia juga berusaha tuk mengulum lidahnya tuk memuaskan nafsu yang menggelora di tubuhnya. Tubuh pak Urip semakin panas. Nafsunya telah berkobar laksana bendera merah putih yang berkibar diatas gunung tertinggi di Nusantara. Tak akan ada yang bisa menurunkannya. Begitu juga, tak ada yang mampu mencegah nafsu pak Urip untuk menghamili majikannya.


Mmmpphhh... Mmmmpphhhh... Rasakan tusukan kontol saya... Rasakan iniii... Rasakannn iniiii Desahnya semakin mempercepat tusukannya.


'Plokkk... Plookkk... Plokkkk !!! '


Haahh... Hah... Hahh.... Gilaaa sampai keringetan gini... Puas bangettt rasanyaaa... Aahhh puas banget bisa ngentotin selebgram bercadar kayak kamu, sayanggg Desah pak Urip begitu bernafsu.


'Tulalit... Tulalit... Tulalit... '


Saat sedang asyik - asyiknya pria tua itu mengentot tubuh akhwat bercadar dihadapannya. Tiba - tiba terdengar bunyi telpon yang berasal dari hape Nayla. Sontak pia tua itu terkejut hingga mencabut penisnya keluar dengan cepat. Saat tahu kalau rupanya itu cuma notif telpon dari hape Nayla. Ia dengan kesal langsung menghampiri hape tersebut.


Kampreett ganggu aja lu !!! Ketus pak Urip sambil menatap layar hapenya.


Hah ? Putri ? Siapa Putri ? Bodo amat... Pokoknya akan saya akhiri sekarang ! Ucap pak Urip berambisi untuk menuntaskan hasratnya sekarang. Pak Urip pun mengecilkan bahkan mematikan suara hingga tidak lagi terdengar suara notif dari hape Nayla.


Ia pun kembali menghampiri majikannya. Ia tersenyum menatap tubuh majikannya yang semakin mengencang.


Hakhakhak... Makin nafsu yah sayang ? Bodimu makin kenceng gini... Susumu jadi bulet banget hakhakhak... Maaf yah tadi ada gangguan, sekarang kita selesaikan yuk Ucap pak Urip kembali menusuk vagina Nayla menggunakan penisnya.


Aaahhhh nikmatnya hakhakhak Tawa pak Urip bersiap untuk serangan terakhir demi memejuhi rahim majikannya.


Kedua tangan pak Urip telah siap dengan mencengkram pinggang majikannya. Ia menarik nafasnya demi mengumpulkan seluruh sisa tenaganya. Bokongnya ia perkencang. Ia pun menarik pinggulnya pelan - pelan sebelum mementokkan ujung gundulnya hingga menabrak dinding rahimnya.


'Jleeeebbbb !!! '


Uuuhhhhhhh ! Desah pak Urip puas.


Lagi, pak Urip menarik pinggulnya sebelum menusuknya kuat - kuat hingga keseluruhan penis besarnya masuk ke dalam lubang kemaluan majikannya.


'Jleeeebbbb !!! '


Aahhhhh nikmatnyaaa ! Desah pak Urip sampai merinding.


Belum puas, lagi - lagi ia menarik pinggulnya lagi sebelum menghunuskan pedang tumpulnya hingga tubuh Nayla terdorong ke depan.


'Jlleeebbbb !!! '


Puassnyaaaa Desah pak Urip sampai ngos - ngosan.


Baru setelah itu Pak Urip mulai stabil dalam memaju - mundurkan pinggulnya. Tubuh Nayla mulai bergerak. Susunya kembali bergoyang. Mata pembantu tua itu pun dimanjakan oleh keindahan yang dimiliki oleh majikannya. Nafsunya yang semakin memuncak membuat gerakannya semakin dipercepat. Ia mempercepatnya. Ia juga memperkuatnya yang membuat tubuh Nayla semakin bergoyang cepat.


Aaahhhh... Aaahhhh rasakan kontolku ini... Rasakannn.... Rasakaaannnn !!! Desah pak Urip bernafsu. Tiap kali gerakan pinggulnya maju. Ia memperkuatnya hingga ujung gundulnya menyundul rahim majikannya. Tiap kali ia menarik pinggulnya ke belakang. Ia hanya menyisakan ujung gundulnya saja di dalam yang membuatnya merasakan kenikmatan yang luar biasa.


Aaahhhh yaahhh... Aaahhhh... Aaahhhh... Aaahhhh sayaangg Desah pria tua berperut tambun itu.


Pinggulnya bergerak maju mundur dengan cepat. Gerakannya terlihat beringas. Wajahnya seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya sampai puas. Itu yang dilakukan oleh pak Urip sekarang. Wajahnya sangat bernafsu ingin memejuhi tubuh indah majikannya itu. Ia mempercepatnya. Ia menguatkan hujamannya.


Aaaahhhhh... Aaahhhh.... Saya gak kuat lagii... Saya mau keluarrrr... Saya mau kelluuaarrrr Desah pak Urip tak tahan lagi.


Dengan sisa energi yang dimilikinya. Dengan tarikan nafas yang dihirupnya. Pak Urip menghempakan tubuh Nayla hingga terdengar bunyi koplokan yang sangat keras. Kepalanya ia geleng - gelengkan. Dadanya mulai sesak. Lututnya melemas saat birahinya semakin memanas.


Aaaaahhhhh... Aaahhhh... Aaahhhh ini diaa... Ini diaaa.... Aaaaahhhhh kellluuaarrrrr Desah pak Urip sambil mengangkat pinggang Nayla lalu mementokkan penisnya sedalam - dalamnya.


'Crrroootttt... Ccrootttt... Ccerrootttt... '


Aaaaaahhhhh mantaaaapppp ! Desah pak Urip dengan begitu puas.


Semburan sperma pak Urip dengan deras memenuhi rahim kehangatan majikannya. Meski sudah mentok, pinggulnya terus mendorong hingga dirinya mendapatkan kenikmatan 'double' yang susah untuk ia jelaskan.


Tubuh tuanya sampai kelojotan. Nafasnya ngos - ngosan tak karuan. Matanya merem melek keenakan. Wajahnya tersenyum penuh kepuasan.


Hah... Hah... Nikmat banget... Hah... Hah... Desah pak Urip ngos - ngosan.


Matanya dengan tajam menatap wajah majikannya. Nayla memang masih memejam. Hal itu lah yang membuat pak Urip tersenyum senang.


Hakhakhak... Sebentar lagi sayang... Sebentar lagi dirimu akan berubah menjadi lonte bercadar yang akan menjadi pemuas nafsu saya... Uhhhhh Desah pak Urip saat mencabut penisnya secara berhati - hati agar tidak mengeluarkan spermanya dari dalam vagina majikannya.


Dengan berhati - hati pak Urip menurunkan cup bra serta kaus majikannya yang tadi ia naikan. Ia juga mengangkat kedua kaki Nayla naik lalu mengambil celana dalamnya yang kemudian ia masukan ke kaki - kakinya.


Awas jangan sampai tumpah... Hakhakhak Tawa pak Urip setelah mencabut penisnya lalu buru - buru memasangkan celana dalam hingga vagina majikannya tertutupi celana dalamnya.


Sambil mengangkat kedua kaki majikannya, ia juga memasangkan celana panjang Nayla untuk menutupi kaki jenjangnya. Dalam sekejap Nayla sudah kembali berpakaian seperti semula. Ia juga menumpuk bantal lalu menaruh kaki Nayla ke atas bantal itu hingga posisi kaki Nayla lebih tinggi dari posisi pinggulnya. Akibatnya, sperma yang ia keluarkan tadi tersimpan dengan baik di rahim majikannya tanpa khawatir akan tumpah keluar.


Hakhakhak... Semoga jadi bayi yah, sayang Tawa pak Urip membayangkan spermanya yang tersimpan begitu banyak di rahim majikannya berubah menjadi seorang bayi yang lucu suatu hari nanti.


Tak lupa ia juga menaruh kembali laptop serta hape yang ia singkirkan tadi ke atas ranjang tidur majikannya. Ia pun buru - buru mengenakan pakaian. Ia sangat bangga dengan kejahatan yang baru saja ia lakukan. Ia merasa kejahatannya begitu sempurna. Ia pun tak sabar membayangkan bagaimana ekspresi wajah majikannya saat menyadari rahimnya telah penuh oleh pejuh saat terbangun nanti.


Non Naylaaa Ucap pak Urip mendekat ke arah wajah cantiknya. Ia pun memberikan ciuman perpisahan ke bibirnya sebagai hadiah karena sudah memuaskannya di hari ini.


Jangan bilang ini akhir dari kisah kita yah... Ini baru permulaan... Maafkan saya yang sangat pemalu ini... Saya baru beraninya sembunyi - sembunyi untuk memuasi tubuh indahmu... Tapi lain kali, saya akan menampakkan diri... Saya akan menunjukkan siapa pejantan terhebat yang mampu memuasi tubuhmu... Tunggu besok yah... Saya akan menghujami memekmu lagi dan lagi sampai dirimu hamil ! Ucap pak Urip bersumpah.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


MEBHU2N

https://thumbs4.imagebam.com/9f/4d/8e/MEBHU2N_t.jpg   9f/4d/8e/MEBHU2N_t.jpg

'NAYLA


Ia dengan bangga pun pergi bersembunyi setelah menutup mulut Nayla dengan cadarnya. Ia pun tak sabar. Ia tak sabar untuk mendengar desahannya besok saat penisnya masuk memejuhi rahimnya.


Siapkan dirimu sayang... Besok kita akan pesta besar - besaran... Hakhakhakhak Tawa pria tua bajingan berperut tambun itu.


BERSAMBUNG


;;;;;;;;;;;;;;;



CHAPTER 4

1 - 1

'Tokkk… Tokk… Tokkk…'


“Assalamualaikum” Sapa seseorang.


'Tokkk… Tokk… Tokkkk…'


“Assalamualaikum, mbak” Terdengar suara ketukan pintu lagi yang membuat Nayla terbangun lalu mengulet diatas ranjang tidurnya.


“Ehhh… Siapa itu yah ?” Ucap Nayla setengah tidur.


Wajahnya melihat ke sekitar. Nayla melihat ke arah jam dinding rumahnya dan menyadari kalau jam sudah menunjukkan pukul tiga lebih sepuluh menit saja.


“'Astaghfirullah'… Aku ketiduran yah ?” Tanya Nayla pada diri sendiri.


Ia pun bangkit dalam posisi duduk. Lalu ia buru - buru mencari hapenya dan melihat adanya panggilan tak terjawab dari Putri sekitar beberapa menit yang lalu.


“'Astaghfirullah' Putri… berarti tadi yang salam Putri yah ?” Lirih Nayla yang kemudian melihat ke arah laptopnya.


“Padahal tadi niatnya mau nyiapin foto, eh malah ketiduran” Ucap Nayla terbangun lalu berusaha berjalan menuju pintu masuk meski terpincang - pincang karena pijakan kakinya tidak seimbang.


“Duhhh kok dadaku sakit yah ? Apa gara - gara tadi tidur tengkurep ? Eh perasaan enggak deh… Selangkanganku juga kenapa yah ? Lirih Nayla mengeluhkan tubuhnya yang terasa sakit saat bangun dari tidurnya.


Assalamualaikum, mbak”


'Tokkk… Tokkk… Tokkk…'


Terdengar ketukan suara pintu untuk yang ketiga kalinya yang baru membuat Nayla menjawab salamnya.


“Walaikumsalam Put… Iya sebentar” Jawab Nayla saat mendekati pintu masuknya.


Pintu pun dibuka, terlihat Putri yang keheranan dengan kondisi pakaian Nayla yang acak - acakan.


“Eh mbak… Mbak habis bangun tidur yah ?” Tanya Putri saat melihat kondisi pakaian Nayla.


“Heheheh iyya Put… Maaf yah tadi gak sempet jawab panggilan telponnya… Aku ketiduran” Ucap Nayla sambil mengucek matanya.


“Hihihih aduh jadi gak enak udah ganggu waktu istirahatnya” Ucap Putri tersenyum canggung.


“Ehhh gak usah gitu… Aku yang seharusnya gak enak karena kan sebelumnya kamu udah janjian dulu mau kesini… Oh yah yuk masuk” Ucap Nayla mengajak tamunya untuk masuk.


Saat Putri memasuki rumahnya. Tiba - tiba Nayla merasakan sesuatu yang mengalir keluar dari dalam vaginanya. Nayla sampai merinding. Tubuhnya bergidik. Kakinya bahkan bergetar. Matanya memejam nikmat merasakan sesuatu yang keluar dari dalam vaginanya.


“Apa ini ?” Lirih Nayla sambil memegangi kemaluannya dari luar celananya.


Betapa terkejutnya Nayla saat menyadari celana dalamnya terasa lembap yang membuatnya buru - buru ingin ke kamar mandi untuk memeriksanya.


“Oh yah Put… Tunggu disini sebentar yah… Aku mau ke kamar mandi dulu… Itu ada beberapa jajanan toples kalau mau, makan aja yah” Ucap Nayla lalu berlari ke kamar mandi.


“Iyya mbak… Aku . . . .” Jawab Nayla terpotong saat melihat Nayla sudah berlari ke kamar mandi.


“Mbak Nayla kenapa yah ? Kebelet kali yah abis bangun tidur, hihihihi” Tawa Putri sambil membuka salah satu jajanan toples yang ada disana.


Sesampainya Nayla di kamar mandi. Nayla membuka celananya lalu menggantungnya di pintu kamar mandi. Ia kemudian juga menurunkan celana dalamnya lalu melepasnya. Saat kakinya ia buka lebar - lebar. Ia merasakan adanya cairan kental yang keluar dari dalam vaginanya. Masalahnya, cairan itu terhitung banyak. Nayla pun sampai heran saat melihatnya.


'Tes... Tes... Tes... '


“Uuuhhhhhhhh… Apa ini ?” Desah Nayla merinding.


Ia pun mendekatkan celana dalamnya ke wajahnya. Saat ia mencoba menghirupnya, ia langsung menjauhkan celana dalam itu karena aromanya yang sangat menyengat. Ia pun membuang celana dalam itu ke dalam ember berisi pakaian - pakaian kotor yang berada di dekat pintu kamar mandi.


Jemari kirinya lalu masuk ke dalam vaginanya untuk mengorek cairan yang tertinggal disana.


“Apa sih ini ? Aaaaahhhhh” desah Nayla merinding saat mengorek cairan kental itu dari dalam vagiannya.


Saat ia mendekatkan jemarinya untuk melihat cairan apa yang baru saja ia korek dari vaginanya. Ia menemukan cairan kental berwarna putih yang membuat pikiran Nayla mengarah seketika pada sperma seorang pria.


“Ini, gak mungkin kan ?” Tanya Nayla bergetar hingga tubuhnya bersandar pada pintu kamar mandi.


Kedua kaki Nayla melemas menyadari kalau ada sperma yang tertinggal di dalam rahimnya. Seketika ia teringat payudaranya yang terasa sakit serta selangkangannya yang terasa perih.


“Jangan - jangan ?” Lirih Nayla sampai banjir air mata. Ia pun menduga kalau ada seseorang yang telah memperkosanya. Ia pun merenung memikirkan kegiatannya selepas pulang menemui Andri. Seingatnya, ia langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa sempat menutup pintu rumahnya. Ya, ia sangat yakin. Ia membiarkan pintu depan rumahnya terbuka setelah membuka kunci pintunya. Lalu ia menaruh helmnya lalu meminum air lemon seperti biasa. Ia tertidur tapi kenapa pas bangun pintu depan rumahnya malah tertutup ?


“'Astaghfirullah'… Siapa ? Siapa orang yang tega melakukan ini ke aku ?” Lirih Nayla dengan suara bergetar menyadari ada sperma seseorang yang tertinggal di dalam rahimnya.


Sambil menangis, ia mengambil selang air yang berada di dekat toilet duduknya. Ia mengangkangkan kakinya lalu menyemprotkan air ke rahimnya untuk membersihkan noda sperma yang tersisa di dalam.


“Bantal itu ? Sudah berapa lama sperma ini ada di dalam rahimku ? 'Astaghfirullah' tolonggg… Tollonggg jangan sampe aku hamil gara - gara sperma ini” Lirih Nayla sambil menangis saat teringat tumpukan bantal yang ada diatas kakinya saat terbangun dari tidurnya. Posisi kakinya yang lebih tinggi memaksa sperma itu untuk tetap tinggal di dalam. Ia pun ketakutan. Ia tidak mau hamil hasil dari pemerkosaan seseorang.


Nayla terus menangis sambil membersihkan noda spermanya. Ia menyesali perbuatannya yang tertidur setelah pergi menemui Andri. Ia tidak menyangka kalau tubuhnya yang kelelahan langsung dimanfaatkan oleh orang yang tak bertanggung jawab untuk menodainya. Pikirannya pun bertanya - tanya. Siapa ? Siapa yang tega melakukan ini kepadanya ?


'Andai pak Urip ada disini ! Pasti ia sudah melindungiku dari pemerkosaan ini, haruskah aku menceritakan ini kepadanya nanti ?'


Batin Nayla ditengah tangisannya.


MEBHU2P

https://thumbs4.imagebam.com/91/d4/2b/MEBHU2P_t.jpg   91/d4/2b/MEBHU2P_t.jpg

'NAYLA


MEBG1TA

https://thumbs4.imagebam.com/82/93/0f/MEBG1TA_t.jpg   82/93/0f/MEBG1TA_t.jpg

'PUTRI


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


*-*-*-*

Di ruang tamu rumah Nayla, Putri menunggu dengan anteng sambil melihat - lihat kondisi rumah rekan kerjanya yang cukup besar. Putri pun tersenyum dibalik maskernya. Ia pun berambisi mempunyai rumah sebesar ini setelah menikah nanti. Ia pun makin tak sabar dengan pernikahannya. Seketika ia terbayang wajah Andri yang nantinya akan menjadi lelaki yang dihalalkan untuknya.


“Maaf Put... Agak lama hehe” Ucap Nayla tak lama kemudian.


“Eh mbak… Gapapa kok” Ucap Putri saat terbangun dari lamunannya.


Nayla yang baru saja menangis kembali mendatangi tamunya untuk menyambutnya. Ia pun terpaksa menemui Putri tanpa mengenakan celana dalam. Ia terpaksa melakukannya karena celana dalamnya sudah sangat tak layak pakai dengan banyaknya noda sperma disana. Nayla merinding jijik saat melihatnya. Ia pun berusaha tetap tegar dengan menyembunyikan kesedihannya di depan tamu istimewanya.


“Bentar yah, aku ambilin laptopnya dulu” Ucap Nayla lalu kemudian pergi ke dalam kamarnya.


“Iyya mbak” Jawab Putri kalem.


“Ini laptopnya… Ini fotonya… Silahkan mau ngopi yang mana” Ucap Nayla sambil menunjukan 'folder' galeri berisikan foto - foto yang Putri minta.


“Wahhh banyak banget… Makasih yah mbak” Jawab Putri tersenyum.


Disaat kedua akhwat cantik itu terduduk fokus di sofa panjang ruang tamu. Tiba - tiba datanglah seseorang dari arah pintu masuk yang membuat kedua akhwat itu menoleh untuk melihat siapa sosok yang baru datang itu.


“Permisi non… Maaf saya baru dateng” Ucap Pria tua berperut tambun dengan wajah yang sumringah itu.


“Eh pak Urip… Kan udah aku kasih libur, kok tetep dateng” Ucap Nayla terkejut saat melihat pelindungnya kembali datang.


“Hakhakhak… Gak enak saya non kalau gak dateng kerja… Eh siapa nih ? Cantik amat” Puji pak Urip pada akhwat bermasker yang duduk di sebelah Nayla. Mendengar dirinya dipuji, Putri pun tersipu yang membuatnya hanya menunduk malu.


“Oh ini Putri pak… Temen kerja aku… Dia sebentar lagi mau nikah loh” Ucap Nayla mengenalkan Putri pada pak Urip.


“Waahhhh selebgram juga dong… Pantes cantik kayak mbak Nayla” Puji pak Urip sambil mengamati kecantikannya dari atas ke bawah.


“Hihihih enggak kok pak… Aku masih jauh dari kata itu… Gak pantes aku disamain sama mbak Nayla” Ucap Putri merendah.


“Ihhh apaan… Orang 'followers' kamu aja udah banyak loh… Tiap orang juga pasti akan bilang kamu cantik” Ucap Nayla yang membuat Putri semakin tersipu.


“Hakhakhak… Duh jadi gugup nih kalau kerja dihadapan dua akhwat cantik” Ucap Pak Urip yang membuat kedua akhwat itu tertawa. Bahkan Nayla ikut tertawa, entah kenapa hatinya membaik saat pak Urip memuji kecantikannya juga teman di sebelahnya. Ia pun kagum dengan cara pak Urip yang dapat menghiburnya meski ia belum sempat mengutarakan masalahnya.


“Oh yah pak… Istri bapak udah sehat ?” Tanya Nayla teringat istri pak Urip.


“Sudah non… Kayaknya cuma kecapekan aja… Mungkin saya yang terlalu khawatir makanya sampai ngebawa dia ke rumah sakit” Ucap Pak Urip yang membuat Nayla lega.


“Huft syukurlah kalau gitu” Ucap Nayla tersenyum yang membuat pak Urip kepikiran mesum. Ia pun teringat perbuatan yang baru saja dilakukannya pada tubuh akhwat majikannya. Seketika wajahnya ia alihkan pada selebgram cantik yang duduk disebelah majikannya. Ia tersenyum puas. Ia pun terpesona pada kecantikan akhwat yang katanya sebentar lagi akan menikah itu.


'Gileee temennya non Nayla ini… Udah cantik, kepalanya mungil, suka pake baju kebesaran dan yang terpenting dari itu semua… Masih perawan lagi !… Hakhakhak… Gimana yah rasanya memek seorang akhwat perawan ?'


Batin Pak Urip bernafsu.


Ia pun mulai memasukan nama Putri ke dalam target berikutnya. Tapi yang lebih ia utamakan sekarang adalah bagaimana caranya untuk membinalkan majikannya.


'Gak sabar buat nunggu hari esok… Penasaran saya gimana reaksi wajah non Nayla kalau tahu ternyata selama ini saya yang sudah melecehkannya… Hakhakhakhak…'


Batin pak Urip tersenyum saja.


“Anu non… Permisi, saya mau lanjut kerja dulu yah” Izin pak Urip pada majikannya.


“Oh iya pak… Silahkan” Jawab Nayla tersenyum manis.


Pria tua itu pun berjalan keluar. Ia pun memikirkan sebuah rencana untuk menunjukkan jati driinya pada akhwat majikannya.


“Hakhakhak… Gimana yah caranya yang keren yang bisa membuatmu kaget sekaget - kagetnya nanti… Ahhh jadi gak sabar kontol ini buat masuk ke dalam memekmu lagi” Ucap Pak Urip sambil mengelus penisnya yang sudah melemah setelah menggenjot rahim Nayla habis - habisan tadi.


Disaat Putri sedang fokus memilih foto yang akan ia kopi, tiba - tiba Nayla yang kembali kepikiran bertanya pada akhwat bermasker itu.


“Oh yah Put… Tadi pas kamu kesini, kamu lihat seseorang yang ada disekitar sini gak ?” Tanya Nayla penasaran.


“Maksudnya mbak ?” tanya Putri sambil menatap Nayla.


“Kamu lihat laki - laki yang ada di sekitar rumahku gak ? Mungkin yang lewat apa gimana” Tanya Nayla menjelaskan.


“Ohhh tadi sih ada deh” Jawab Putri mengejutkan Nayla.


“Eh siapa ?” Tanya Nayla penasaran.


“Eh ada apa sih mbak ? Anu itu loh, orang yang kemaren ngasih roti… Tadi aku lihat dia lewat di depan rumah mbak… Tapi . . . .” Ucap Putri terpotong tanpa sempat melanjutkan kata - katanya.


“Ohhh yaudah, makasih yah Put” Jawab Nayla yang membuat Putri heran.


“Emang ada apa mbak ?” Tanya Putri yang kali ini penasaran.


“Hehehe enggak kok… Gak ada apa - apa” Jawab Nayla. Putri yang paham kalau Nayla tidak ingin membahasnya lagi memilih untuk melanjutkan pemilihan foto - fotonya lagi. Nayla pun merenung. Entah kenapa ia jadi semakin membenci sosok tukang sapu jalanan itu.


'Tega sekali bapak sampai memperkosaku disaat aku tertidur !'


Batin Nayla sangat kecewa.


*-*-*-*

Malam harinya selepas makan malam


Gimana soal hari ini ? Ada cerita apa dek ? Tanya Miftah saat duduk bersama istrinya sambil merangkul bahunya di ruang tamu ketika menonton acara televisi malam.


Gak ada mas... Semua aman - aman aja Jawab Nayla berbohong.


Oh yah gak ada gangguan dari pak Beni lagi ? Tanya Miftah sambil menatap istrinya.


Gak ada mas... Iya gak ada Jawab Nayla yang saat itu mengenakan daster tipis memperlihatkan sedikit bahunya juga sebagian paha mulusnya. Rambutnya yang panjang sebahu juga terlihat. Senyumannya yang manis juga terlihat. Nayla pun menatap suaminya sambil tersenyum saat menjawab pertanyaan dari suaminya.


Mas... Aku pindah ke kamar boleh ? Bosen daritadi lihat bola terus Ucap Nayla meminta izin.


Hahahha yaudah, maaf yah mas gak bisa nemenin... Lagi seru nih pertandingannya Ucap Miftah yang begitu fokus menatap ajang AFC 'cup' antara Bali United vs Vissakha.


Iyya mas gapapa Jawab Nayla lalu berpindah menuju kamar tidurnya.


Sesampainya Nayla di kamarnya. Ia pun tiduran dalam posisi miring sambil menatap hape yang dipegangnya. Matanya menatap kosong layar hapenya. Ia masih termenung. Ia terpikirkan kejadian yang telah terjadi di hari ini.


“Kenapa pak Beni sampai tega memperkosaku ? Kenapa juga aku gak terbangun saat diperkosa oleh orang itu ? Selelah itu kah aku saat itu ? Lirih Nayla heran.


Telapak tangan kirinya menggenggam payudara kanannya. Rasanya masih sedikit nyeri. Bahkan liang vaginanya juga masih terasa sakit semenjak terbangun dari tidurnya di siang tadi.


'Astaghfirullah'... Salah apa sih aku ini ? Kenapa ia tega melakukan ini ke aku ? Lirih Nayla sambil memejam merenungi dosa apa yang membuatnya harus menjalani kehidupan seperti ini.


Saat sedang merenung, tiba - tiba ia terpikirkan sesuatu.


Eh tunggu sebentar Lirih Nayla teringat sesuatu.


Tak sengaja, ia teringat saat dirinya terlelap di ruang tamunya lalu terbangun dan melihat ada pak Beni dihadapannya. Ia teringat saat mulutnya dibanjiri oleh sperma pak Beni saat itu.


Jangan - jangan aku tadi tertidur bukan karena kecapekan… Tapi aku tertidur karena kembali diracun oleh orang itu… Kalau beneran iya, apa yah yang membuat aku terlelap tadi ? Apa yah yang membuat aku mengantuk tadi ? Ucap Nayla berfikir.


Seketika Nayla kembali teringat sesuatu.


Lemon ? Eh, masa sih ? Tapi kayaknya iya deh… Seingatku, aku cuma minum air lemon itu saat aku pulang menemui Andri... Eh beneran nih gara - gara lemon itu ? Masa sih ? Tanya Nayla tak percaya.


“Harus aku cek nih” Ucap Nayla beranjak dari ranjang tidurnya.


Saat dirinya hendak bangkit untuk memeriksa air lemon yang tersimpan di kulkasnya. Tiba - tiba notif hapenya berbunyi.


Eh ada pesan, dari siapa ? Tanya Nayla penasaran. Ia kembali tiduran di atas ranjangnya sambil memeriksa pesan di hapenya.


Assalamu'alaikum Nay, apa kabar ? Ini aku Balas seseorang.


Eh Andri ? Lirih Nayla.


Walaikumsalam Ndri... Aku baik Balas Nayla.


Makasih yah soal tadi... Aku seneng banget bisa ketemu langsung di luar urusan pekerjaan kita Balas Andri sambil menambahkan emot senyum.


Ihhh lebay... Aku kali yang harusnya berterima kasih karena kamu udah mau jadi pendengar yang baik buat aku Balas Nayla sambil tersenyum.


Hahahah padahal baru tadi loh kita ngobrol bareng, kok aku udah kangen pengen ngobrol lagi sama kamu yah Balas Andri.


Ihhhh awas nanti dimarahin Putri loh Balas Nayla.


Gak lah... Kan kita cuma ngobrol biasa... Apa mau yang luar biasa ? Balas Andri sambil memberikan emot ketawa.


Maksud ? Luar biasa gimana coba ? Balas Nayla bingung.


Hahaha gak jadi Balas Andri yang membuat Nayla kesal.


Ihhhh dasar gak jelas Balas Nayla.


Hahaha maaf... Aku cuma mau bilang kangen kamu... Oh yah ? Kamu bisa vcall sama aku gak ? Aku pengen ngeliat wajahmu lagi Pinta Andri.


Heh buat apa ? Ini udah malem Ndri... Aku juga udah pake baju dinas Balas Nayla heran.


Yaahhhh.... Pasti beruntung banget yah suamimu bisa ngeliatmu pake baju dinas Balas Andri semakin aneh - aneh yang membuat Nayla merasa tak nyaman.


Ihhh apaan sih... Maaf yah Ndri... Suamiku dateng... Aku mau tidur Balas Nayla berbohong demi bisa menutup chattannya dengan Andri.


Oh yaudah... Selamat tidur yah... Mimpi indah... Semoga kita bisa bertemu di mimpi Balas Andri yang membuat Nayla mengernyitkan dahi.


Aneh deh... Kenapa sih Andri ini ? Lirih Nayla sambil menekan layar hapenya hingga memunculkan sebuah pilihan.


'Tap !!! '


Nayla kembali menekan layar hapenya. Dalam sekejap isi chattannya dengan Andri pun menghilang seketika. Nayla hanya geleng - geleng kepala. Ia pun terpikirkan sesuatu di kepalanya.


Apa jangan - jangan Andri menyukaiku yah ? Ihhh masa sih ? Padahal dia aja mau nikah sebentar lagi... Aku harus jaga jarak deh dengannya Ucap Nayla.


Tak lama kemudian, suaminya pun datang dari pintu masuk kamarnya sambil menunjukkan ekspresi wajah yang cemberut.


Eh mas kenapa mukanya begitu ? Tanya Nayla tersenyum.


Kalah dek... Tim yang mas dukung kalah... Lemes deh rasanya Jawab Miftah yang membuat Nayla tertawa.


Hihihihi kasian amat... Sini - sini mas Ucap Nayla sambil merentangkan tangannya. Miftah dengan manja pun mendekat untuk memeluk istrinya. Istrinya dengan penuh kasih sayang memeluk suaminya. Ia menghibur suaminya ketika suaminya kehilangan semangat.


Makasih yah dek... Nyaman banget deh rasanya dipeluk adek... Apalagi bisa senderan di tempat yang empuk ini Ucap Miftah tersenyum merasakan keempukan dada istrinya.


Hihihihi dasar... Untung udah halal, mas aku bolehin deh senyamannya senderan di dada aku Ucap Nayla sambil mengusap belakang kepala suaminya.


Beruntung banget deh mas punya istri secantik kamu dek... Udah cantik, sholehah, alim & terjaga lagi Ucap Miftah yang membuat senyum di wajah Nayla hilang seketika. Nayla pun tak bisa menjawab apa - apa saat itu. Ia hanya terdiam sambil terus memeluk kepala suaminya.


Aminin aja deh mas... Oh yah mas adek ngantuk, tidur aja yuk Ucap Nayla sambil memaksakan senyum.


Ngantuk yah... Tapi mas sambil ngelonin adek yah Ucap suaminya menggoda yang membuat Nayla tersenyum saja.


Hihihii boleh mas Ucap Nayla.


Mereka berdua pun tidur dalam posisi miring ke kanan. Nayla didepan membelakangi suaminya. Ketika suaminya sudah tertidur, mata Nayla justru terjaga saat memikirkan kata - kata yang suaminya ucapkan.


'Aku bukan wanita alim yang dulu kamu kenal lagi mas... Aku sudah ternoda... Aku bukan wanita yang baik - baik lagi... '


Batin Nayla menyesali dirinya. Semakin ia memikirkan pelecehan yang dialami olehnya. Ia semakin membenci pak Beni yang ia duga menjadi dalang utamanya. Ia merasa kesal. Ia kesal karena pak Beni sudah menjadikannya wanita yang ternoda.


Tiba - tiba tangan Miftah mendekapnya erat. Nayla pun terkejut hingga mengeluarkan suara.


Belum tidur dek ? Lirih Miftah sambil memejamkan mata.


Belum mas Jawab Nayla.


Tidur... Gak usah mikirin apa - apa... Mas pasti akan menjagamu kalau terjadi sesuatu Ucap Miftah yang membuat Nayla terharu diam - diam.


Makasih mas Lirih Nayla sambil mengeluarkan air matanya.


*-*-*-*

Keesokan harinya setelah Miftah berangkat ke kantornya.


Udah jam 8 aja... Mana jam 9 harus ada disana lagi Lirih Nayla terburu - buru saat duduk di depan meja riasnya.


Nayla sedang berdandan. Dirinya tengah bersiap - siap untuk melakukan sesi pemotretan. Di depan cerminnya, Nayla dengan berhati - hati melentikkan bulu matanya menggunakan maskara. Berulang kali ia mengedipkan matanya untuk mengecek hasil lentikannya. Setelah ia merasa cantik dengan hasil riasannya. Ia tersenyum puas meski senyumannya tertutupi oleh cadar berwarna coklat muda.


Yaudah deh... Beres kan ? Apa lagi yah ? Mbok ada yang ketinggalan Ucap Nayla saat berdiri sambil melihat sekitar.


Sekali lagi, akhwat bercadar itu menatap cermin untuk mengecek penampilannya. Sungguh sempurna penampakan akhwat bercadar yang sudah menjadi istri orang itu. Posturnya yang tinggi ditutupi dengan blazer panjang berwarna coklat muda. Hijabnya juga berwarna coklat muda bahkan cadarnya juga. Sementara di dalamnya, ia menggunakan gamis panjang berwarna putih yang menutupi tubuh indahnya hingga ke mata kaki. Sekilas siapapun yang melihatnya akan membuka mulutnya karena terkagum akan keindahannya. Kelas Nayla memang berbeda. Penampilan seorang selebgram memang selalu memanjakan mata.


MEBKMYR

https://thumbs4.imagebam.com/d5/0e/df/MEBKMYR_t.jpg   d5/0e/df/MEBKMYR_t.jpg

'NAYLA


Loh non mau kemana ? Cantik amat Puji pak Urip yang langsung ngiler saat melihat keindahan majikan alimnya. Pembantu tua yang saat itu tengah mengenakan singletnya langsung kesengsem. Penisnya yang sudah sempat mencicipi serabi lempitnya diam - diam langsung berdiri tegak. Secara sembunyi - sembunyi, pak Urip pun berusaha menyembunyikan tonjolan di celananya yang terlihat cukup besar.


Hihihi aku mau foto pak... Mau kerja dulu Ucap Nayla sambil menenteng tas kecilnya.


Pria tua itu hanya terdiam sambil menganga saat melihat majikannya lewat di depannya. Tangannya pun gemas ingin memeluknya. Tangannya gemas ingin menampar bokongnya. Tangannya gemas ingin menculiknya ke kamarnya lalu menggenjotnya sepuas - puasnya.


'Astaghfirullah' Lirih Nayla teringat.


Aku belum beli sayur buat besok Ucap Nayla menaruh tasnya lalu mengeluarkan dompetnya dari dalam.


Titip tasnya sebentar yah pak Ucap Nayla sambil berjalan cepat menuju pintu keluar.


Namun saat teringat kalau penjual sayurnya adalah mang Yono, kakinya langsung terhenti. Ia berhenti melangkah saat teringat kejadian di kemarin pagi. Kejadian saat wajahnya dipejuhi oleh tukang sayur itu gara - gara ketelodorannya.


Mang Yono bisa nepatin janjinya gak yah ? Duh mana rame lagi disana Lirih Nayla khawatir kalau mang Yono akan menceritakan kisah memalukannya kemarin sehingga semua orang tahu mengenai aib terbesarnya.


Namun saat ia melihat ke arah jam tangan yang ada di tangan kirinya. Nayla langsung bergegas mendekat ke arah mang Yono untuk membeli sayur disana. Ia tak mempunyai waktu untuk menunda - nunda lagi.


Assalamu'alaikum Sapa Nayla pada ibu - ibu yang ada disana.


Walaikumsalam wuihhh cantik banget mbak Nayla Puji seorang ibu disana.


Cantik amat, udah kayak seorang putri raja nih Puji ibu - ibu lainnya.


Andai kamu belum nikah, mbak... Pasti udah ibu nikahin sama putra ibu... Putra ibu ganteng loh, kaya lagi Puji ibu lainnya yang hanya membuat Nayla tertawa.


Hush ngawur... Pak Miftah juga ganteng & kaya loh Ucap ibu lainnya.


Iyya kan namanya kan juga seandainya hihihi Ucap ibu - ibu itu yang membuat ibu - ibu disana tertawa semuanya.


Nayla pun ikut tertawa, namun saat wajahnya menoleh ke kanan. Ia melihat mang Yono tengah menatapnya dengan tatapan mesum. Reflek Nayla menundukkan wajahnya dan berpura - pura tidak melihat sosoknya.


MEBE9O7

https://thumbs4.imagebam.com/31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg   31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg

'MANG YONO


Gak nyangka saya... Cantik banget sih mbak... Saya masih gak percaya kalau kemarin saya . . . . Lirih mang Yono terpotong saat Nayla membuka mulutnya.


Mamang udah janji kan ? Tolong jangan ungkit lagi... Aku mohon Lirih Nayla dengan tegas yang membuat mang Yono tersenyum saja.


Huahahaha oke oke... Saya cuma gak tahan ingin memuji penampilanmu, mbak Ucap mang Yono yang tak dihiraukan oleh Nayla.


Nayla pun melanjutkan pilah - pilih sayurnya. Ia pun menemukan terong berkualitas tinggi. Nayla pun membelinya lalu pergi secepat - cepatnya menjauhi mang Yono.


Huahahaha gilaa tuh akhwat... Ketutup gini aja udah nafsuin banget... Apalagi kebuka kayak kemarin... Hah... Tau gini mending kemaren trobos aja yak, genjot memeknya sampe puas Lirih mang Yono tampak menyesali perbuatannya kemarin karena hanya bisa memejuhi wajahnya saja. Padahal Nayla sudah telanjang. Kesempatan untuk menyetubuhinya pun amat sangat besar.


Lain kali lagi yah mbak... Lain kali kita pasti bisa enak - enak kok di ranjang Lirih mang Yono penuh harap.


Hushhh ngelamun.... Pasti mikirin yang enggak - enggak ke mbak Nayla yah ? Ucap ibu - ibu lainnya menyadarkan mang Yono.


Hehe dikit Ucap mang Yono jujur yang membuat tangannya dicubit oleh ibu - ibu tersebut.


Aawwww sakitttt Jerit mang Yono yang membuat Nayla menoleh sejenak.


Huft untung aja mang Yono gak cerita banyak... 'Astaghfirullah' kenapa sih aku kemarin . . . ? Rendah banget sih perbuatanku... Bisa - bisanya aku masturbasi sambil bayangin pak Beni Lirih Nayla teringat kemarin. Ia pun melanjutkan perjalanannya ke rumah sambil menunduk malu. Ia merenung. Ia terus menyesali perbuatannya kemarin.


Mendadak ia semakin benci pada pak Beni. Secara tak langsung ia merasa pak Beni telah mempermalukannya. Semua bermula gara - gara sepotong roti waktu itu.


Permisi mbak Ucap seseorang yang membuat Nayla menaikan wajahnya.


Saat Nayla menyadari siapa yang ada di hadapannya. Emosi Nayla langsung meluap seketika. Sosok yang membuatnya ternoda hingga kehilangan harga dirinya berada tepat di hadapannya. Nayla mendadak kesal. Apalagi saat melihat wajahnya yang tengah tersenyum seolah sosok itu tidak memiliki dosa apapun kepadanya.


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


Ini ada roti buat mbak... Lumayan buat bekal nanti Ucap pak Beni sambil tersenyum. Senyumannya semakin merekah saat Nayla pelan - pelan menerima roti pemberiannya. Betapa bahagianya pak Beni saat Nayla menerima pemberian hadiahnya lagi.


'Braaakkk !!! '


Tiba - tiba Nayla membanting roti itu ke tanah.


'Plaaaakkkk !!! '


Wajah pak Beni tiba - tiba ditampar oleh Nayla. Pria tua yang sehari - harinya bekerja sebagai tukang sapu jalanan itu terkejut. Ia lebih terkejut lagi saat melihat wajah Nayla yang begitu murka kepadanya.


Bapak masih berani menemui aku ? Bapak masih berani menunjukkan muka bapak di depan aku ? Ucap Nayla penuh amarah.


Mbaakkk... Mbakkk kenapaaa ? Ucap pak Beni heran sambil memegangi pipinya.


Kenapa ? Aku kenapa ? Setelah apa yang sudah bapak lakukan ke aku bapak masih nanya kenapa ? Ucap Nayla terlihat menahan emosinya. Matanya berkaca - kaca. Ia benar - benar ingin marah dan melampiaskan semuanya kepadanya.


Mbaaakkk... Mbakk gapapa ? Tanya pak Beni terlihat polos seolah tak tahu apa - apa yang membuat Nayla semakin kesal.


Gapapa ? Aku gapapa ? BAPAK GAK TAU DIRI YAH ? BAPAK SUDAH MENODAI AKU... BAPAK SUDAH MERUSAK HARGA DIRI AKU... AKU HANCUR PAK... AKU RUSAK OLEH BAPAK... Teriak Nayla sambil menunjuk - nunjukkan jemarinya ke arah pak Beni.


Suara Nayla yang keras membuat ibu - ibu yang tadi mengelilingi gerobak sayur mang Yono menoleh. Mang Yono juga ikut menoleh. Mereka semua penasaran saat melihat Nayla marah - marah kepada pak Beni.


Mbakkk... Sadar mbak... Mbak kenapa ? Tanya pak Beni sambil memegangi kedua bahu Nayla.


MINGGIIRRR !! JANGAN SENTUH AKU ! PERGI !!! JANGAN PERNAH TUNJUKKIN MUKA BAPAK LAGI DIHADAPAN AKU Teriak Nayla sambil menghalau tangan pak Beni yang menyentuh bahunya.


Ibu - ibu yang melihat pak Beni berani menyentuh Nayla langsung marah - marah. Segerombolan ibu - ibu itu pun berdatangan mendekati pak Beni. Melihat Nayla tengah menangis membuat ibu - ibu itu semakin murka pada pak Beni.


Nayla pun berusaha pergi namun pak Beni yang penasaran mengenai alasan Nayla bersikap seperti ini malah memegangi tangannya seolah menahannya yang membuat ibu - ibu yang mendekat itu semakin marah.


LEPASKAAANNNN !!! Teriak Nayla dengan penuh amarah.


Lepasin pak ! Berani banget bapak menggangu mbak Nayla Ucap ibu - ibu itu sambil menampar punggung telanjang pak Beni.


Jangan berani - berani mengganggu warga sini yah pak... Lepaskan tangan mbak Nayla Ucap ibu - ibu lainnya sambil memukulkan sayur bayam yang ia beli ke lengan pak Beni.


Aahhh... Aahhh maafff… Maaafff Jerit pak Beni merasakan punggungnya sakit setelah dipukuli ibu - ibu kompleks.


Keadaan yang semakin ramai membuat pak Urip yang berada di halaman rumah pun penasaran ikut keluar. Menyadari kalau majikannya tengah menangis dan ada pak Beni dibelakangnya membuat pak Urip langsung murka.


WOYYYY PAK BENIII... PERGI DARI SINIII !!! Ucap pak Urip dengan lantang yang suaranya membuat ibu - ibu itu terkaget mendengarnya.


Pak Beni yang sedari tadi dipukuli ibu - ibu semakin tidak nyaman. Ia pun lalu kabur karena tak mau dirinya dipukuli lagi oleh ibu - ibu yang ada disana.


YA PERGI AJA SANA YANG JAUH !!! GAK USAH BALIK LAGI KESINI !!! Ucap pak Urip saat melihat pak Beni berlari terbirit - birit. Ibu - ibu yang ada disana juga mensyukuri sosok yang mereka duga sebagai pembuat onar itu telah pergi.


 Mbak gapapa ? Tanya pak Urip setelah menghampiri.


Gapapa pak... Makasih Ucap Nayla menangis sambil memaksakan senyum.


Mohon maaf ibu - ibu... Ibu boleh melanjutkan kegiatan masing - masing lagi yah... Makasih yang udah belain mbak Nayla... Mbak Naylanya gapapa kok... Silahkan lanjutkan kegiatannya lagi Ucap Pak Urip meminta warga untuk bubar dengan cara yang paling halus.


Ibu - ibu itu pun bubar. Namun mulut mereka masih membicarakan sikap pak Beni yang semakin berani mengganggu warga - warga disini.


Mbak gapapa ? Masuk rumah dulu yuk Ucap pak Urip yang hanya dijawab senyuman oleh Nayla.


Mereka berdua pun berjalan beriringan memasuki rumah Nayla. Nampak wajah pak Urip tersenyum saat mengantar Nayla menuju rumahnya. Matanya pun melirik ke arah tonjolan dada yang ada dibalik blazer yang Nayla kenakan. Pak Urip tak sabar. Ia pun membatin di dalam hati.


'Sebentar lagi non, non akan menemui pemuas nafsu non... '


Batin pak Urip tertawa sambil mengelusi penisnya yang semakin mengeras.


Sesampainya mereka di dalam rumah. Pak Urip dan Nayla pun duduk di sofa panjang ruang tamu rumahnya. Nayla segera mengambil tisu yang ada di meja, ia pun mengelap air matanya sambil sesekali sesenggukan menangisi kekecewaannya.


Non, ada apa ? Kenapa tadi non marah - marah ke pak Beni ? Pak Beni bertindak kurang ajar lagi yah ? Tanya pak Urip dengan penuh perhatian.


Enggak sih pak... Hiks... Hiks Jawab Nayla sesenggukan.


Lalu ? Apa yang membuat non murka kayak tadi ? Tanya pak Urip.


Gak pak... Gapapa Jawab Nayla memaksakan senyum.


Gapapa ? Non, ini saya... Saya sudah beristri dan saya paham banget soal urusan hati wanita... Non pasti ada apa - apa kan ? Ayo non cerita... Saya akan dengar semua keluh kesah non Ucap pak Urip membujuknya.


Tapi paakk... Aku... Ucap Nayla agak ragu untuk menceritakan penyebab amarahnya.


Non... Ucap pak Urip sambil tersenyum yang membuat Nayla entah kenapa jadi ingin menceritakannya.


Tapi bapak janji jangan cerita ke siapa - siapa yah... Apalagi ke mas Miftah... Tolong rahasiain cerita ini baik - baik Ucap Nayla penuh harap sambil menatap pak Urip.


Iya non, janji... Saya akan merahasiakannya sebaik mungkin Ucap pak Urip sambil mengangkat jemari kelingkingnya untuk berjanji pada majikannya.


Sebenarnya kemarin... Saat bapak nemenin istri bapak di rumah sakit. . . . Ucap Nayla terpotong.


Iyya ? Teruss ? Ucap pak Urip penuh perhatian.


Aku kan sendirian di rumah… Aku gak sadar pak... Aku gak tau... Tiba - tiba aku ngantuk banget dan akhirnya tertidur Ucap Nayla menatap kosong ke arah meja tuk mengingat momen kesedihannya. Tak sadar air matanya kembali turun. Nayla kembali menangis saat mengingat pemerkosaannya kemarin.


Heem terus ? Tanya pak Urip sambil menenangkan Nayla dengan mengusap punggung bahunya.


Tapi pak pas aku bangun... Aku ngerasain ada sperma pak di rahim aku... Aku udah diperkosa pak... Aku yakin banget pasti pak Beni pak, pelakunya ! Ucap Nayla histeris hingga menunjuk ke arah luar rumah yang dimaksudkan kepada pak Beni.


Eh yang bener ? Non udah yakin kalau pak Beni pelakunya ? Ucap pak Urip berpura - pura terkejut.


Iya pak aku yakin banget... Putri sendiri saksinya... Ia ngeliat pak Beni ada di depan rumahku sebelum dirinya datang ke rumah... Aku yakin pak... Pasti pak Beni pelakunya !!! Ucap Nayla kembali menangis yang harus ditenangkan oleh pak Urip.


Jahat banget sih dia... Yang tenang non.... Yang sabar... Yah, yang sabar Ucap Pak Urip sambil mengusap punggung Nayla.


Tapi paakkk... Kenapa harus aku ? Kenapa aku sampai diperkosa olehnya ? Apa salahku sampai aku harus menanggung semua ini pakkk ? Jerit Nayla yang kemudian menunduk sambil menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya.


Nayla terlihat kecewa, ia sangat kecewa karena harus menjadi korban pemerkosaan oleh tetangganya.


Sudahhh... Sudah non, yang tenang... Jangan nangis lagi... Eh yah, bentar yah Ucap Pak Urip sambil berdiri lalu menutup pintu depan rumahnya. Melihat Nayla masih menangis membuat pak Urip diam - diam mengunci pintu depan rumah majikannya. Ia lalu beranjak ke dapur untuk membuka kulkas majikannya. Ia mengeluarkan botol lemon yang masih penuh lalu mengambil gelas kaca sebelum kembali mendatangi majikannya.


Ini non... Diminum dulu biar tenang Ucap pak Urip sambil menuangkan air lemon itu ke dalam gelas.


Saat pak Urip menuangkan air lemon itu ke gelas. Sekilas Nayla memperhatikan botol yang sedang dituangkan oleh pembantunya itu.


'Loh kok tiba - tiba udah full... Perasaan kemarin tinggal dikit deh ? '


Batin Nayla heran.


Makasih pak... Bapak buat baru yah ? Tanya Nayla sambil menerima gelas dari pembantunya.


Hehe iyya non... Saya sengaja buat spesial untuk non... Eh non butuh sedotan yah... Bentar yah Ucap pak Urip ngeluyur ke dapur untuk mengambilkan sedotan itu untuk majikannya.


Makasih Jawab Nayla merasakan perhatian dari pembantunya.


Nayla pun mengangkat sedikit cadarnya. Sedotannya ia masukan ke dalam mulutnya. Nayla pun menyeruputnya hingga habis karena saking hausnya.


Mau lagi non ? Tanya pak Urip menawarkan air lemon itu ke majikannya. Nayla pun mengangguk.


Iyya pak... Makasih Ucap Nayla setelah mengisi ulang air lemonnya.


Pak Urip pun tersenyum sambil menatap wajah majikannya. Apalagi saat melihat majikannya dengan lahap menghabiskan dua gelas air lemon itu dengan segera. Dalam sekejap botol minuman yang ia pegang tinggal tersisa seperempatnya saja.


Lagi non, biar habis sekalian Ucap pak Urip tersenyum.


Boleh pak Jawab Nayla mempersilahkan pembantunya itu mengisi ulang lagi gelasnya. Nayla pun kembali meminumnya. Lagi, Nayla pun menghabiskan minuman di gelasnya.


Aaahhh segernya... Makasih yah pak... Lirih Nayla sambil memaksakan senyum.


Non kayaknya suka banget minum lemon yah ? Tanya Pak Urip sambil tersenyum.


Hehe iyya pak... Aku suka banget Jawab Nayla malu - malu sambil menyeka air matanya menggunakan tisu yang ada didepannya.


“Hakhakhak... Tau gak ? Saya juga suka loh Ucap pak Urip mengagetkan Nayla.


Eh bapak juga suka minum air lemon ? Tanya Nayla.


Bukan, tapi saya suka kalau ngeliat non minum lemon buatan saya... Hakhakak Tawa khas pak Urip.


Eh maksudnya ? Emang kenapa ? Tanya Nayla penasaran sambil menaruh gelasnya di atas meja.


Seketika Nayla merapatkan kedua kakinya. Bersentuhanlah vaginanya. Ia merasakan gairah yang meluap - luap di dalam tubuhnya. Dadanya terasa gatal. Susunya terasa meminta untuk diremas olehnya. Nayla pun terkejut. Tangan kirinya sampai reflek meremas dada kanannya.


'Perasaan ini ? Ada apa lagi ini ?Ada apa dengan tubuhku ? Apa yang terjadi denganku ?'


Batin Nayla hingga matanya terbuka lebar.


Itu alasan saya non Jawab Pak Urip mengejutkan Nayla.


Mmmppphhh… Maksudnya ? Tanya Nayla dengan gelisah sambil menatap pembantunya.


Seketika pak Urip berdiri dari tempat duduknya. Dengan berani ia mengangkat naik singletnya. Ia melepas kaus singletnya lalu pria tambun itu juga melepas celana dalamnya berikut celana kolornya. Betapa terkejutnya Nayla ketika melihat pembantunya itu sudah bertelanjang bulat dihadapan matanya.


'Astaghfirullah' pak... Bapak kenapa ? Pakai lagi pak bajunya !” Ucap Nayla yang langsung memalingkan wajahnya sambil menutupi matanya menggunakan telapak tangannya.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


Namun nafsunya yang tengah bergejolak memaksa matanya untuk melirik penampakan tubuh pak Urip yang sudah telanjang. Nayla melihat dari atas ke bawah. Ia pun tak menemukan adanya sisi yang menarik di tubuh pembantunya. Wajah pak Urip tidak ada tampan - tampannya. Tubuhnya pun tambun, perutnya maju bahkan dadanya sampai jatuh akibat kebanyakan lemak. Warna kulitnya pun gelap. Bulu jembutnya juga tebal bak hutan amazon yang berada di benua Amerika.


Namun saat wajahnya menatap penis pembantunya. Barulah Nayla terkagum akan ukurannya yang sungguh luar biasa.


'Gedeee bangeeettt... Itu titit apa pentungan ?'


Batin Nayla tanpa sadar saat melihat ukuran penis pembantunya.


Penis pak Urip warnanya gelap. Ukurannya jumbo serta memanjang ke depan. Diameternya sekitar 5 cm. Ukurannya hampir menyerupai lengan Nayla yang ramping. Seketika pikirannya menjadi keruh membayangkan andai penis sebesar itu masuk ke dalam kemaluannya. Bukankah itu sama saja dengan memasukan lengannya ke dalam vaginanya ?


Hakhakhak.... Indah kan tubuh saya, non ? Tawa pak Urip sambil mengocok - ngocok penisnya untuk menggoda majikannya.


Suara serta tawa yang pak Urip keluarkan seketika menyadarkan Nayla dari lamunannya. Nayla yang masih bingung dan terkejut bertanya - tanya. Ia dengan polos menanyakan sikap pembantunya yang tiba - tiba bugil dihadapannya.


Apa maksud semua ini pak ? Kenapa bapak telanjang ? Hah... Hah... Hah Desah Nayla sambil menahan gairah birahi yang semakin tak terkendali.


'Astaghfirullah… Kenapa aku terangsang lagi ? Kenapa aku tiba - tiba terangsang lagi ?'


Batin Nayla menyadari keanehan tubuhnya. Seketika matanya menatap botol lemon yang telah kosong. Seketika ia teringat kalau semalam dirinya lupa untuk mengecek botol lemon itu.


'Jangan - jangan !'


Batin Nayla merasa kalau hal buruk akan terjadi padanya.


Hakhakhak... Non kayaknya kaget yah... Inget gak sewaktu non tidur di sofa ruang tamu setelah makan roti di sore itu ?” Tanya pak Urip sambil mengocok - ngocok penisnya. Nayla yang mulai ketakutan melangkah mundur dengan menyeret bokongnya diatas sofa rumahnya. Meski nafsunya tengah bergairah, ia berusaha tuk melawan meski penis itu berulang kali menggodanya dengan ukurannya yang besar.


“Bapaaakkk… Jangan mendekat pakkk… Tolonggg !” Lirih Nayla menyadari niatan buruk dari pembantunya yang berwajah buruk rupa.


“Hakhakhak… Bukan karena roti yang membuat non mengantuk… Tapi karena minuman jus yang saya buat waktu itu !” Ucap pak Urip mengejutkan Nayla.


'Sudah kuduga… Jangan - jangan pak Urip ini ?'


Batin Nayla sangat terkejut hingga terlihat dengan jelas di wajahnya.


“Inget sewaktu di siang kemarin saat non ngeliat serbuk yang ada di gelas saya ? Itu bukan kopi loh… Tapi itu obat yang baru saya beli untuk membuatmu jadi seperti ini !” Ucap Pak Urip saat mendekat hingga menaikan kedua lututnya diatas sofa panjang rumah majikannya.


“Paakkk… Tolloongg jangan mendekat… Jangan mendekaattt !” Desah Nayla semakin ketakutan saat pria tua itu semakin mendekat ke arahnya.


“Hakhakhak… Inget gak kemarin sore sewaktu non bangun terus ngerasain ada pejuh di memek non ? Tau itu punya siapa ? Itu pejuh saya !” Ucap Pak Urip sambil menyentuh bahu kiri Nayla lalu wajahnya mendekat tuk menatap wajah cantik akhwat bercadar itu. Mata Nayla pun terbuka lebar. Hati Nayla terasa sakit. Rasanya seperti sudah dikhianati. Ia sangat terkejut bahwa orang yang ia percaya justru menjadi pelaku dibalik pemerkosaannya. Nampak mata Nayla berkaca - kaca. Ia benar - benar kecewa akan kenyataan yang sebenarnya.


“Hakhakhak… Ya saya orangnya… Saya adalah orang yang sudah memperkosamu ! Saya yang sudah mengentot memekmu… Saya yang sudah menggenjot tubuh indahmu… Saya yang sudah menyimpan pejuh di rahimmu… Puas banget rasanya bisa memejuhi akhwat sealim dirimu, sayaanggg” Ucap pak Urip sambil tersenyum lalu meremas dada Nayla dari luar gamis yang dikenakan olehnya.


“Mmpphhh pakkkkk hentikaannn… Aaahhhh sakitttt” Desah Nayla kesakitan menyadari kuatnya remasan yang pak Urip lakukan.


“Hakhakhak… Ouhhh jadi ini suara desahanmu… Beruntung sekali saya bisa mendengarnya langsung dari bibir indahmu” Ucap Pak Urip menghentikan remasannya sambil menatap wajah Nayla yang matanya berkaca - kaca.


“Kenapa bapak tega melakukan ini ke aku pak ? Apa salahku ? Kenapa bapak malah memperkosaku ? Bukannya kemarin istri bapak sedang sakit ? Kenapa bapak tega meninggalkan istri bapak lalu memperkosaku !” Tanya Nayla sambil menangis.


“Istri saya gak sakit kok non… Istri saya baik - baik aja di rumah… Kemarin saya itu buru - buru mau beli obat tidur yang sangat kuat untuk aksi kemarin sore… Hakhakhak… Sekarang saya gak mau main diem - diem lagi… Saya mau main jantan… Saya akan menunjukkan siapa diri saya dihadapanmu… Bersiap - siaplah tuk menjadi pemuas nafsuku, sayaaanggg !!” Ucap Pak Urip mendorong Nayla kemudian melebarkan blazer yang Nayla kenakan lalu meremas dadanya lagi sekuat - kuatnya.


“Aaaaaahhhhh paakkkkk hentikaaannnn” Jerit Nayla hingga memejam. Kedua payudara Nayla diremas dengan begitu kejam. Gamisnya sampai lecek. Giginya pun meringis menahan perih dari balik cadar yang tertutupi.


Meski nafsu Nayla sedang tinggi, namun akal sehatnya berusaha bertahan dengan mendorong tubuh tambun yang sudah telanjang itu menjauh dari tubuhnya.


“Hakhakhak… Ini yang saya suka non… Akhirnya… Akhirnya saya bisa mendengar suaramu saat saya memperkosamu” Ucap pak Urip bersemangat hingga memperkuat remasannya.


“Aaaaaaahhhhhh bapaaaakkkkk hentikaaannn” Desah Nayla sambil memegangi tangan pak Urip.


Nayla terbaring pasrah akibat kuatnya remasan yang dilakukan pak Urip. Saat bulatan dadanya teremas, terasa darahnya berdesir ke seluruh tubuhnya. Ia langsung merinding. Matanya pun memejam. Terdengar suara tawa pak Urip yang begitu puas. Pria tambun itu pun langsung menindihi tubuhnya. Wajahnya yang jelek langsung mendekat untuk mencumbu bibir manisnya dari luar cadar yang masih dikenakan selebgram cantik itu.


“Diaaammm nonnn… Mmppphhhh” Desah Pak Urip saat menekan bibirnya dari luar cadarnya.


Bibir Nayla terdorong. Bibirnya lagi - lagi kena sepong. Liur busuk pembantunya itu mulai mengalir membasahi kain cadarnya. Sekilas Nayla membuka mata. Ia pun menatap wajah tua pembantunya yang hancur. Tangannya pun reflek mendorongnya karena jijik harus dinodai oleh pembantu yang sudah ia percayai. Namun semua percuma. Tenaganya tak sebanding dengan keinginannya yang ingin lepas dari cengkraman pak Urip. Ia pun ingin menjerit namun bibirnya tertahan oleh cumbuan pak Urip. Nayla pun sedih hingga kembali menangis. Namun nafsu birahinya yang kian bangkit membuat tubuhnya diam - diam menikmati pemerkosaan kali ini.


“Mmpphh… Mmpphhh… Ayo lawan non… Semakin non melawan saya akan semakin bernafsu untuk mencumbuimu” Desah pak Urip sambil meremas kembali payudara bulat majikannya.


“Mmmpphhh paakkk… Hentikaaannn… Mmpphhh sakitttt” Jerit Nayla diam - diam merasakan birahinya memuncak saat terkena remasan tangan pak Urip.


Mereka terus bercumbu. Bibir mereka saling sentuh dengan penuh nafsu. Bibir pak Urip membuka lalu mengapit bibir atas Nayla dari luar cadarnya. Pak Urip menghisapnya. Lidahnya juga bergerak dengan mengorek - ngorek cadar Nayla hingga masuk ke dalam mulutnya.


Sedangkan tangannya juga tak henti - hentinya meremas susu bulat Nayla dari luar gamisnya. Sungguh pemandangan yang tak masuk akal ketika pria tua berwajah buruk rupa dengan tubuh gempal tengah menindihi seorang akhwat bercadar bertubuh ramping yang masih lengkap mengenakan pakaiannya. Terlihat wajah pria tua itu begitu senang bisa menikmati keindahan tubuh sang akhwat. Apalagi sang akhwat telah bersiap untuk melakukan perfotoan. Membayangkan hal itu membuat pak Urip semakin bernafsu. Akhirnya ia mengangkat cadarnya untuk menikmati bibir tipisnya secara langsung.


“Mmpphhhhhhhh” Desah mereka bersamaan.


Pak Urip menyeruput bibirnya. Pak Urip menghisap bibirnya. Meski Nayla berulang kali bertahan dengan menutup rapat mulutnya. Remasan yang ia terima memaksa mulutnya untuk terbuka mengeluarkan desahan yang tak sanggup ia tahan. Saat itulah lidah pak Urip merengsek masuk. Lidahnya berkeliaran di dalam mulut akhwat bercadar itu. Lidahnya pun bertemu dengan lidah Nayla. Lidah mereka saling jilat. Lidah mereka saling silat. Lidah mereka saling dorong. Lidah mereka saling bergesekan.


Akibatnya liur Nayla pun tumpah keluar dari sela - sela mulutnya. Pak Urip pun semakin beringas dengan menjepit bibir bawah Nayla lalu menariknya. Ia mengulum bibir bawah Nayla dan menikmatinya sepuas - puasnya.


“Mmpphhhh… Mmpphhh… Mmpphhhh” Nayla bertahan. Ia berusaha bertahan mempertahankan harga dirinya. Namun kenikmatan yang ia rasakan membuat mulutnya tak tahan. Tak sengaja bibirnya mengapit. Hal itu membuat lidah pak Urip terjepit. Nayla yang udah terlanjur nafsu diam - diam menghisap lidah pak Urip. Pak Urip yang menyadari pun tersenyum. Ia membiarkan majikannya itu menghisap lidahnya kuat - kuat.


“Mmpphhhh aahhh… Mmpphhhh aaahhh” desah pak Urip menikmati cumbuannya dengan Nayla.


'Astaghfirullah !'


Batin Nayla saat akal sehatnya mulai kembali. Ia pun membuka mulutnya membiarkan lidah pak Urip kembali terbebas. Namun lidah tua itu justru mengajak lidah Nayla keluar mulutnya. Anehnya Nayla tak sanggup menahan lidahnya hingga manut saja keluar. Lidah Nayla gantian disepong. Lidah Nayla dihisapnya sepuas - puasnya. Nampak wajah pak Urip maju mundur saat menyepong lidahnya. Pria tua itu benar - benar puas. Ia pun melepas cumbuannya lalu menurunkan cadarnya lagi tuk menatap wajah majikannya.


“Gimana ? Nikmat kan ? Hakhakhak” tawa Pak Urip yang membuat Nayla merasa malu karena sampai hanyut dalam buaian nafsu birahi pria tua itu.


“Ayo duduk !” Ucap pak Urip sambil menarik lengan Nayla.


“Paakkk cukuppp… Sudahhh pakkk hentikann semua iniii” Pinta Nayla dengan sisa - sisa harga dirinya.


“Hakhakhak… Sudah ? Bukannya non sendiri menikmati ? iya kan ?” Tanya pak Urip yang membuat Nayla terkejut. Nayla heran kenapa pria tua itu bisa tau. Namun imannya terus bertahan dengan menolak ajakan pria tua jelek itu untuk berzina.


“Enggaakkk !!” Ucap Nayla berbohong meski tubuhnya semakin terangsang akibat minuman lemon yang ia tenggak.


“Dasar pembohong !” Ucap pak Urip sambil memegangi penisnya lalu mengarahkannya tepat ke hadapan wajah Nayla.


“Ayo non… Sepong !” Pinta pak Urip sambil memegangi kepala Nayla menggunakan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengocok penisnya dihadapan wajah Nayla.


Melihat penis besar itu dikocok - kocok tepat dihadapan wajahnya membuat nafsu Nayla semakin tinggi. Namun ia enggan menuruti. Ia tidak mau menodai mulutnya menggunakan penis nista ini. Seumur - umur ia menikah dengan suaminya. Ia saja tak pernah memasukan penis suaminya ke dalam mulutnya. Nayla merasa jijik. Ia enggan menodai mulutnya yang biasa berkata baik dengan penis keriput yang kemarin telah menodai rahimnya.


“Hakhakhak… Jangan diliatin doang non… Ayo seponggg !” Ucap pak Urip memaksa dengan menaikan cadar Nayla lalu mendorong penisnya hingga ujung gundulnya mengenai bibir majikannya yang mengatup rapat.


“Mmmppphhh… Mmpphhhh” Desah Nayla sambil menggelengkan kepala menolak penis itu masuk ke dalam mulutnya.


“Hakhakhak… suka nih saya yang kayak gini… Saya semakin tertantang… Lihat saja… Saya akan berusaha untuk meruntuhkan imanmu, non… Hakhakhak” Tawa pak Urip sambil terus mendorong pinggulnya hingga penisnya itu semakin menusuk bibir majikannya.


“Mmpphhhh paakkk… Mmppphhhh” desah Nayla tertahan dengan mulut mengatup rapat.


Cairan 'precum' yang perlahan mulai keluar membuat Nayla dapat merasakan cairan asin yang tiba - tiba jatuh di tepi bibrnya. Aroma busuk yang berasal dari selangkangan pria tua itu membuat Nayla semakin tak tahan untuk bertahan. Nayla ingin menjauh. Ia ingin mendorong pria tua itu. Namun saat kedua tangannya mendorong pinggul pak Urip. Pak Urip malah memegangi kedua pergelangan tangan Nayla lalu mengangkatnya ke atas.


“Aaaaahhhhhhh” Jerit Nayla merasakan sakit.


Hal itu tak disia - siakan oleh pak Urip untuk beraksi. Penisnya langsung melesat tajam ke dalam mulut sang akhwat. Penis busuknya berhasil masuk. Penis jumbonya berhasil menusuk. Pak Urip langsung mendorong pinggulnya hingga ujung gundulnya menyundul pangkal kerongkongan sang akhwat.


“Mmppphhhhhh” desah Nayla pasrah hingga mengeluarkan rintihan yang merangsang gairah pak Urip.


“Hakhakhak… Aaahhhhh nikmatnyaaaa…. Anget banget mulutmu sayaaanggggg” Desah pak Urip puas.


Pak Urip pun menundukkan wajahnya tuk menatap wajah majikannya. Terlihat mata Nayla memelas ingin dilepaskan. Kedua tangannya yang terangkat membuatnya terlihat pasrah. Mulutnya yang dijejali penis pak Urip membuatnya terlihat semakin nafsuin. Pak Urip tertawa puas. Ia tertawa melihat penisnya sedikit tertutupi cadar majikannya saat sedang menjebol mulut sang akhwat.


“Aaaaahhhh… Aaahhhhh… Aaahhhhh” Desah pak Urip saat pinggulnya bergerak maju mundur merasakan gesekan dari mulut akhwat bercadar itu.


“Mmpphhhh… Mmpphhhh” desah Nayla menggelengkan kepala merasakan aroma menyengat yang berasal dari semak - semak belukar yang tumbuh disekitar batang penis raksasa penis tua itu. Aroma keringat yang keluar ditambah aroma kejantanan yang dikeluarkan oleh pria tua itu membuat Nayla semakin jijik. Namun anehnya hal itu juga meningkatkan nafsu birahinya. Belum lagi dengan efek air lemon yang semakin kuat membuat Nayla kebingungan harus bagaimana. Nafsunya memintanya untuk menikmati pelecehan ini. Namun imannya memintanya untuk bertahan dan terus berjuang menolak perzinahan yang dilakukan oleh pembantu tuanya itu.


“Aaaahhhhh…. Aaahhhh nikmattnyaaa… Aahhh yaahhhh” desah pak Urip sambil memejam menatap langit - langit ruangan.


Terasa penisnya semakin lembap. Terasa penisnya semakin basah terlapisi air liurnya. Gesekan penisnya saat terkena tepi bibir majikannya benar - benar memberikan sensasi tersendiri baginya. Bagaimana bisa mulut Nayla yang biasanya tertutupi cadar malah sedang dimasuki oleh penis tuanya yang maju mundur menodainya ?


Pak Urip merasa sangat beruntung. Ia seperti sedang menikmati budaknya saat mengangkat kedua tangan Nayla naik ke atas. Pak Urip tertawa senang. Ia jadi semakin beringas dalam memperkosa mulut majikannya.


'Plokkk... Plokkk... Plokkk... '


Gerakan pinggul pak Urip dipercepat. Kecepatannya cenderung dahsyat bahkan tergolong kuat. Tiap kali pak Urip mendorong pinggulnya maju. Ia berusaha memasukan seluruh penisnya sampai mentok. Nayla kewalahan. Terlihat mulutnya mengerang tiap kali kerongkongannya tertusuk penis pembantunya. Nayla ingin melawan tapi ia bingung dengan cara apa. Kedua tangannya dipegangi. Kedua kakinya diduduki. Nayla sampai terdorong jatuh hingga kepalanya berada diatas tepi sofanya. Nampak pria tua itu bergerak maju mundur. Ia menikmatinya. Ia menikmati pemerkosannya.


Hakhakhakhak… Nikmatnyaaa… Nikmatnyaaaa” Desah pak Urip penuh nafsu.


'Paakkk tolloongg hentikaannn… Hentikaannn pakkkk… Mmpphhhh… Mpphhh… Mmmpphhhh…'


Batin Nayla penuh harap sambil memejam menahan tusukan pembantunya.


'Mmpphhhhh kenapa ini ? Kenapa kemaluanku malah semakin gatal ? Aaahhhhh kenapa juga pikiranku semakin kotor membayangkan pelecehanku ini ?'


Batin Nayla yang kebingungan kenapa dirinya semakin menikmati pemerkosaannya.


'Sekuat inikah pengaruh obat terangsangnya ? Benar juga, gara - gara ini aku sampai menjadikan pak Beni fantasiku… Eh tunggu dulu, kalau pak Urip pelakunya berarti pak Beni bukan pelakunya dong ? Apa yang sudah kulakukan pada pak Beni ?'


Batin Nayla menyesali perbuatannya.


“Aaaaaahhhh nikmatnyaaaaa” desah pak Urip menyudahi aksinya dalam menusuk mulut majikannya.


Saat penisnya ditarik keluar, penisnya terlihat berkilauan terkena liur majikannya. Bahkan saat penisnya ditarik tadi, liur majikannya masih menempel seolah tak rela penisnya itu keluar dari dalam mulut majikannya. Pak Urip menatap Nayla sambil tersenyum. Nayla pun merasakan aura buruk yang sedang diberikan oleh pria tua itu.


“Nikmat kan non ?” Tanya pak Urip sambil menarik lengan Nayla hingga akhwat bercadar itu terpaksa berdiri dihadapan pembantunya.


“Sudaahhh pakkk… Toloonggg… Aku mohoonnn” desah Nayla penuh harap.


“Yakinnn… Bukankah non menikmatinya ?” Tanya Nayla sambil tersenyum menatap mata Nayla dengan penuh nafsu. Tinggi pak Urip yang lebih tinggi sedikit dari Nayla membuat mata mereka sejajar saat sedang berdiri berhadapan. Nayla pun membuang muka karena malu. Sikapnya yang malu - malu itu membuat pak Urip semakin geregetan ingin menaklukan imannya.


“Enggaakkk… Gak mungkin akuuuu aaaaaaahhhhh” desah Nayla terkejut saat tiba - tiba gamisnya diangkat lalu jemari tangan pak Urip masuk menyentuh vaginanya secara langsung.


Seperti tersengat arus listrik yang kecil. Tubuh Nayla mengejang merasakan kenikmatan yang tak dapat ia jelaskan. Baru kali ini vaginanya disentuh oleh pria lain selain suaminya. Kesan pertamanya pun dahsyat. Nafsunya semakin tinggi. Matanya bahkan langsung menatap pak Urip seolah heran kenapa pak Urip begitu hebat dalam membuat tubuhnya bernafsu.


“Tuhh kan enakkk ?” Kata pak Urip yang membuat Nayla merasa malu.


“Enggakk pakk… Aku gak aaahhhhhhh” desah Nayla sambil mendorong tangan pak Urip menjauh dari vaginanya akibat tak kuat menahan sentuhan yang semakin nikmat.


“Hakhakhak… Gak usah munafik non… Gak usah malu… Kalau enak ya bilang aja… Nanti saya tambahin nikmatnya” Ucap pak Urip yang semakin menekan klitoris Nayla yang membuat tubuh akhwat bercadar itu kelojotan merasakan sensasinya.


“Aaahhhh paakkk… Aaahhhh… Aaahhhhhhhh” Desah Nayla hingga pinggulnya bergoyang menahan rangsangan pembantunya.


Tangan pak Urip pun ditarik keluar. Ia menatap jemarinya yang rupanya sudah basah terkena bibir vagina majikannya. Pak Urip tersenyum puas. Ia lalu menjilat jemarinya sendiri sambil menunjukkan ke hadapan majikannya.


“Hah… Hah… Hah… Hah” Nayla hanya mendesah ngos - ngosan. Ia tak menduga kalau rasanya akan senikmat ini. Melihat pak Urip menjilati cairan cintanya membuat pikirannya semakin kemana - mana.


'Astaghfirullah… Hah… Hah… Hah… Ada gak sih cara lain buat lepas dari nafsuku ini ? Kenapa makin kesini aku makin menikmati ? Astaghfirullah mas, tolongg… Tolllongg selamatkan aku dari nafsu bejat pak Urip, mas !'


Batin Nayla yang ingin lepas namun juga menikmati pelecehannya kali ini.


Tiba - tiba pak Urip melepas blazer majikannya. Tangannya juga meraba - raba punggung majikannya untuk menurunkan resleting yang ada disana. Pak Urip dengan paksa melepas gamis yang Nayla kenakan. Nayla yang lemas hanya bisa pasrah saja. Padahal hatinya tidak ingin. Namun nafsunya ingin telanjang untuk memperlihatkan keindahan tubuhnya pada pembantu bejat yang tengah memperkosanya.


'Astaghfirullah… Kenapa aku gak bisa melawan ? Kenapa aku pasrah pas ditelanjangi ?'


Batin Nayla yang bingung sendiri.


'Hah… Hah… Hah… Bapaaakkkk !'


Batin Nayla yang diam - diam tak kuat hingga menatap penis jantan pembantunya.


“Hakhakhak… Indahnya… Ini dia… Ini dia tubuh yang saya idam - idamkan” Ucap pak Urip saat menurunkan gamis Nayla hingga terlepas melewati kaki - kakinya.


Nayla dalam sekejap tinggal mengenakan pakaian dalamnya saja. Terlihat Nayla seperti sedang mengenakan bikininya saja. Nampak lekuk pinggangnya yang aduhai ditambah dengan susu bulatnya yang bohai serta bokong montoknya yang semlohay. Pak Urip terkagum - kagum akan bentuk fisiknya. Pak Urip pun memelorotkan celana dalam Nayla lalu menurunakan cup branya hingga puting susu majikannya itu terlihat di hadapan matanya.


“Aaahhhh paaakkkk” Jerit Nayla berusaha melawan dengan menahan tangan pak Urip saat hendak menelanjanginya. Namun tangan pak Urip yang cepat membuat Nayla hanya bisa pasrah saja. Nayla pun sudah semi telanjang menyisakan hijab serta cadarnya dan juga behanya yang itupun sudah diturunkan cupnya.


“Masih mau bilang non gak menikmati rangsangan saya ?” Ucap pak Urip sambil mendekap pinggang rampingnya lalu mengusapnya naik ke arah kedua payudaranya.


“Aaaahhhhh lepaskannn… Aaahhhhhh enggakk… Aku enggaakk aahhhhh… Menikmatinyaaa aaahhhhh” desah Nayla merinding saat kulit keriput pria tua itu menyentuh tubuh indahnya. Rasanya benar - benar menakjubkan. Nayla sangat menikmati belaian di tubuhnya. Akhwat bercadar itu pun memejam secara tak sadar. Reaksi wajah Nayla yang keenakan membuat pak Urip puas melihatnya.


“Oh yah… Kalau gitu gimana dengan ini ?” Ucap pak Urip saat jemari kirinya kembali menyentuh vagina majikannya.


“Aaaahhhh paakkk jangaannnn” desah Nayla merinding.


“Kalau ini ? Mmmppphhh sslllrrpppp” Ucap pak Urip saat mengincar pentil susunya lalu menyeruputnya yang membuat mulut Nayla terbuka lebar dari balik cadarnya.


“Aaaaahhhhhh bapppaaaakkkkk” desah Nayla sampai merinding dibuatnya. Rasanya sungguh nikmat merasakan kedua titik tersensitifnya dirangsang secara bersamaan. Nampak jemari kiri pak Urip mengorek - ngorek lubang vaginanya. Vaginanya yang semakin basah memudahkan jemari pak Urip berkeliaran di dalam. Telapak tangannya juga tak tinggal diam dengan menekan - nekan klitorisnya. Nayla blingsatan. Nayla mendesah keenakan tak karuan. Berulang kali pinggulnya bergoyang sedangkan tangannya berusaha mendorong tubuh pak Urip meski dirinya sangat menikmati pelecehannya kali ini.


“Mmpphhhh sllrrppp… Mmpphh slrrppp nikmatnya menyusu di susu bulatmu, non” Desah pak Urip sambil meremas payudara kiri Nayla sedangkan mulutnya menghisap puting kirinya sepuas - puasya.


“Aaaaahhh iyaahhhhhhhh” desah Nayla tanpa sadar yang membuat pak Urip tersenyum puas.


Pak Urip menjulurkan lidahnya tuk menjilati puting sensitif majikannya. Terkadang bibirnya ikut bermain dengan menjepitnya lalu lidahnya menoel - noel putingnya yang memberikan efek kenikmatan yang luar biasa bagi akhwat bercadar itu. Terkadang giginya mendekat untuk mengigitnya pelan. Terkadang lidahnya bermain - main dengan menjilati areolanya yang membuat Nayla merinding hebat. Tangannya juga tak tinggal diam, tangannya itu meremasnya kadang juga mencengkramnya. Tangannya juga menjepit putingnya kadang juga menariknya. Ia benar - benar menjadikan Nayla boneka seksnya. Ia pun terus - terusan merangsang susu Nayla dan juga vagina sempitnya.


“Aaahhhhh… Aahhhh… Aaahhhhh” desah Nayla merasakan kenikmatan yang luar biasa. Berulang kali payudaranya secara bergantian dirangsang oleh pak Urip. Meski awalnya ia berusaha mendorong tubuhnya agar menjauh namun kini kedua tangannya hanya memegangi bahunya saja. Kedua tangannya hanya menyentuh bahunya sambil menikmati jilatan serta colekan di kemaluannya saja.


Nafsunya yang semakin memuncak membuatnya tak mampu melawan. Meski hatinya daritadi ingin memaki namun kenikmatan yang ia dapatkan membuatnya diam menikmati. Nayla malah memejam. Nafsunya benar - benar terlalu kuat untuk ia lawan. Nayla pun hanyut dalam buain nafsu birahi. Apalagi saat merasakan gelombang orgasme akan datang sebentar lagi.


“Aaaahhhhh… Aahhh pakkk… Sudahhhh aaahhhh… Aaahhhhh” desah Nayla yang bingung antara harus menikmati atau menolak.


Pak Urip pun tersenyum. Ia merasakan vagina Nayla berdenyut. Nafas Nayla juga semakin berat pertanda nafsunya semakin memuncak hingga akan mendapatkan orgasmenya.


“Aaahhhhh… Aahhhhh… Aaaaahhhhh” desah Nayla semakin keras saat kocokan di vaginanya semakin kuat.


Terdengar bunyi cipratan air di dalam. Nayla menikmatinya. Nayla benar - benar hanyut dalam buaian nafsu birahinya.


“Gimana non ? Semakin enak kan ?” tanya pak Urip yang membuat Nayla semakin benci mengakui. Nayla pun tak menjawab. Ia hanya mendesah membiarkan pria tua itu membantunya mendapatkan orgasmenya.


“Aaahhhh bapaakkk… Aahhhhh… Aaaaaahhhhhh” desah Nayla merasakan gelombang orgasmenya semakin dekat.


Namun saat sedang asyik - asyiknya dirangasang oleh pembantunya. Tiba - tiba pembantunya itu menghentikan colmeknya yang membuat Nayla terkejut hingga menatap pak Urip heran.


“Kenapa ? Kok mukanya gitu ? Hakhakhak” Tawa pak Urip yang membuat Nayla semakin kesal. Padahal ia sudah berharap ingin mendapatkan orgasme yang begitu nikmat. Namun pak Urip menghentikannya. Nayla ingin marah tapi itu hanya akan menurunkan harga dirinya. Nayla pun hanya bisa menatapnya benci karena menahan dirinya untuk berorgasme.


“Hakhakhak enak aja… Saya tau non mau ngecrot kan… Enak aja ! Gak semudah itu non… Ayo nungging hadap dinding” Ucap pak Urip menarik tubuh Nayla lalu memposisikannya seperti apa yang ia ucapkan.


“Aaaahhhhh paaakkk“ desah Nayla saat tubuh telanjangnya dipaksa menungging memunggungi pembantunya.


Nayla yang masih ngos - ngosan hanya bisa pasrah menanti apa lagi yang akan dilakukan oleh pembantunya. Namun saat dirinya merasakan adanya satu benda tumpul yang terlampau besar ingin memasuki vaginanya membuat matanya melotot terkejut hingga menoleh menatap pembantunya.


“Kenapa non ? Hakhakhak… Ya saya akan mengentotmu… Saya akan memuasi memekmu lagi !” Ucap Pak Urip sambil tersenyum. Kedua tangannya pun mendekap pinggang ramping Nayla lalu pinggulnya pelan - pelan maju membelah liang senggama Nayla yang semakin basah itu.


“Tapii pakk tolllongg jangaann… Aaaaahhhhhh” desah Nayla merinding hingga wajahnya kembali menghadap depan kemudian memejam menikmati penetrasi pembantunya.


“Ouuhhhhh sempitnyaaa… Ouhhhhh masih rapet aja memekmu non… Ouhhhhhh” Desah pak Urip saat penisnya secara perlahan memaksa masuk membelah liang senggama akhwat bercadar itu.


“Paaakkkk gakkk muaattt aaaaahhhhhhhh” desah Nayla merinding hingga tubuhnya terdorong ke arah dinding.


Sungguh itu adalah gesekan ternikmat yang pernah Nayla rasakan seumur hidupnya. Ditengah nafsunya yang membara, ia merasakan gesekan yang membuat gairah birahinya menyala - nyala. Nayla terus saja memejam sambil membuka mulutnya lebar - lebar.


“Hakhakhakhak… Lebih enak kan non rasanya pas lagi sangek - sangeknya ? Ouhhhh saya tarik lagi yah non… Ouhhhhh makin enak aja rasanyaaa” desah pak Urip saat menarik pinggulnya lagi lalu menusuknya lagi.


Ia memaju mundurkan pinggulnya secara perlahan tuk menikmati barang berkualitas tinggi yang tengah ia cicipi. Kedua tangannya pun membelai tubuh indahnya. Telinganya dimanjakan dengan desahan suaranya. Matanya juga dimanjakan dengan penampakan punggung mulusnya. Akhwat bercadar yang tinggal mengenakan hijab serta cadar dan behanya itu semakin terangsang dengan rangsangan yang pak Urip berikan.


“Ouuhhhh… Ouhhhh paakkk… Mmppphhhhh” desah Nayla tak tahan hingga mulutnya mendesah secara tak sadar.


“Hakhakhak… Ngaku aja non… Gak usah munafik… Tunjukkan kalau non emang bener - bener menikmati tusukan saya !” Ucap pak Urip ingin membuat Nayla membuang harga dirinya.


“Aaahhhhh… Aahhh enggakkk pakk… Mana mungkin aku menikmatinyaa… Sudaaahhh… Cukuppp paakkkk… Akuuuu aaaaahhhhhhh” desah Nayla saat pak Urip tiba - tiba membenamkan penisnya seluruhnya ke dalam vaginanya.


“Uuuuhhhhhh enaknya bisa mentok gini” Ucap pak Urip lalu menarik penisnya lagi.


“Tunggguuuu… Tungguuu pakkk… Akuuuu aaaaaaahhhhh” Jerit Nayla saat pak Urip lagi - lagi menusuk penisnya hingga batang tumpul itu melesat tajam menyundul rahimnya.


“Aaaaahhhhh gilaaaa… Aaaahhhhhh” desah pak Urip puas.


Namun lagi - lagi pak Urip menarik penisnya hingga hanya menyisakan ujung gundulnya saja. Lagi - lagi kedua tangannya mengusap tubuh mulusnya. Usapannya pun maju ke depan tuk membelai perut ratanya. Nampak Nayla merinding keenakan menikmati belaiannya. Lalu usapannya semakin naik hingga tiba di payudara bulatnya. Kedua tangan Nayla yang masih bertumpu pada dinding tak bisa berbuat apa - apa selain membiarkannya. Jujur, Nayla menikmatinya. Apalagi tadi saat tubuhnya nyaris mendapatkan orgasme namun ditunda oleh pembantunya. Nafsunya kian melonjak apalagi saat tiba - tiba kedua tangan pak Urip mencengkram kuat susu bulatnya yang membuat mata Nayla melek merasakan sensasinya.


“Aaaaaaaahhhhhhhhhh”


Tidak hanya diremas rupanya. Disaat yang bersamaan, penis pak Urip kembali ambles menusuk tajam rahim majikannya yang membuat kaki - kaki Nayla lemas tak berdaya.


'Jleeeebbbbbb !!!'


“Aaaaah mantapnyaaaa !!!” desah pak Urip puas.


Maju mundur, maju mundur, maju mundur. Pinggul pak Urip mulai stabil dalam mengorek - ngorek liang senggama majikannya menggunakan penisnya. Kecepatannya pun lumayan cepat hingga payudara Nayla meloncat - loncat meski masih tertahan oleh behanya. Pak Urip pun menarik lepas ikatan di behanya. Setelah beha itu terjatuh. Barulah payudara Nayla bisa terbebas hingga membuatnya meloncat semakin cepat. Sodokan pak Urip pun diperkuat. Tubuh Nayla sampai terlonjak - lonjak. Rasanya semakin nikmat. Mereka berdua pun mengerang sepuas - puasnya.


“Aaaahhhh… Aahahhhh… Aaahhhh non… Aaahhhhh” desah pak Urip sambil memegangi pinggang Nayla.


“Aaahhh bapaakkk… Aaaaahhh… Aaaahhhhhh” desah Nayla sambil geleng - geleng kepala.


'Ini gak mungkin… Ini gak mungkin… Kenapa aku gak sanggup melawan ? Kenapa aku malah diam membiarkan ?'


Batin Nayla saat ia semakin menikmati sodokan pembantunya.


Sodokan pak Urip semakin cepat. Berulang kali tangannya menampar - nampar bokong Nayla yang membuat akhwat bercadar itu menjerit - jerit merasakan sensasinya.


'Plaaakkk… Plaaakkkk… Plaaakkkk !'


“Aaahhh sakitt… Aahhhh paakkk… Aaahhhhh”


“Hakhakhak… Dasar lonte nakal ! Dasar lonte bercadar ! Bisa - bisanya lonte sepertimu menggoda saya yah !” Ucap pak Urip sambil menampar bokong Nayla.


'Plaaaakkkk !'


“Aaahhh paakkk… Aku bukan wanita nakal” Jerit Nayla.


'Plaaakkkk !'


“Aahhhh paakkk amppuunnnn !” Jeritnya lagi.


'Plaaakkkk !!!'


“Dasar lonte mesum… Terima lah sodokan saya ini !” Jerit pak Urip sambil menamparnya yang membuatnya tertawa puas.


“Aahhh sakittt… Aahhh pakkk… Aaaahhhhh… Aaahhhhh… Aku bukaannn…. Aku bukann lon… Aaaahhhhh” Jerit Nayla saat berulang kali dirinya dilecehi secara verbal dan fisik.


Berulang kali vaginanya disodok dengan kuat. Berulang kali dirinya dituduh seorang lonte bercadar yang membuatnya semakin kecewa. Meski demikian, ia merasakan adanya gairah saat dirinya dituduh sebagai lonte. Ia pun heran. Ia bertanya - tanya apa penyebabnya.


'Aaahhhhh… Aaahhhh… Aaahhhh… Apa gara - gara nafsuku ini ? Minuman itu ? Minuman itu membuatku kehilangan akal sehatku… Aahhhh tolonggg… Aaahhhh kenapa aku semakin menikmati ini ?'


Batin Nayla yang sudah diracun oleh minuman perangsang itu.


Setelah berulang kali disetubuhi dengan kontol besar pak Urip. Akhwat bercadar itu kembali merasakan adanya tanda - tanda orgasme setelah tadi digagalkan oleh pak Urip. Vaginanya kembali berdenyut. Tubuhnya semakin mengejang hingga kedua payudara bulatnya semakin mengencang. Desahan nafas Nayla juga semakin kencang. Jeritannya semakin kencang. Akhwat bercadar itu sudah berada diambang klimaks untuk mendapatkan orgasme pertamanya.


“Aaahhhhhh… Aaahhhhh… Aaahhh paaakkkkk… Akuuuuu” desah Nayla yang ingin cepat - cepat mendapatkan orgasmenya karena tidak tahan lagi.


Namun lagi - lagi pak Urip mencabut penisnya tepat setelah mendengar desahan Nayla. Saat pak Urip mencabut penisnya, Nayla langsung menoleh tak percaya kalau dirinya lagi - lagi dipermainkan oleh pembantu bejat itu.


“Paaakkkkk” Rengek Nayla tanpa sadar hingga kedua lututnya melemas nyaris terjatuh. Untungnya kedua tangan Nayla dengan kuat bertumpu pada dindingnya. Sikap Nayla yang tak tahan membuat pak Urip tertawa terbahak - bahak.


“Kenapa ? Mau crot ? Katanya tadi gak menikmati, kok mau crot ?” kata pak Urip yang membuat Nayla semakin kesal.


Akhwat bercadar itu pun lalu diseret oleh pak Urip menuju sofa ruang tamu. Pria tua berperut tambun itu duduk diatas sofa lalu Nayla diminta duduk diatas pangkuannya dalam posisi saling berhadapan.


“Hakhakhak… Udah gak nahan pengen keluar yah ?” Tanya pak Urip saat penisnya kembali dimasuki vagina akhwat bercadar yang sudah semakin basah itu.


“Mmmppphhhh” desah Nayla sambil membuang muka.


Sikap jual mahal yang Nayla tunjukkan membuat pak Urip tertawa puas. Sikap Nayla yang sok jual mahal tapi menikmati benar - benar sesuai dengan fantasinya. Kalau Nayla langsung liar mungkin pak Urip tidak terlalu tertarik lagi. Pak Urip pun bersiap untuk menikmatinya lagi. Mungkin ini gaya terakhirnya karena sejujurnya ia juga tak tahan ingin membuang pejuhnya di dalam rahim kehangatannya lagi.


“Siap untuk ronde terakhirnya, sayangg ?” Lirih pak Urip sambil menatap majikannya.


Nayla hanya acuh mendengar pertanyaan itu. Nayla sedang benci - bencinya pada pembantu tuanya. Namun pinggul pak Urip yang bergerak tiba - tiba membuat Nayla terkejut saat tubuhnya meloncat - loncat diatas pangkuannya.


“Aaaaahhhh paakkk” Desah Nayla saat tubuhnya melonjak - lonjak diatas pangkuannya.


“Hakhakhak indahnyaaa… Indahnya gerakan susu bulatmu ini sayaangggg” ucap pak Urip yang membuat wajah Nayla memerah.


Nayla yang sedang nafsu - nafsunya memilih pasrah membiarkan pak Urip menikmati tubuhnya. Ia pasrah bukan karena ia menyerah dalam menyerahkan harga dirinya. Tapi ia lebih karena tak tahan lagi setelah dirangsang seharian. Ia juga wanita yang tak bisa menolak ketika diberi kepuasan yang tak terkira. Ia tak sanggup menahannya. Apalagi otaknya semakin keruh sehingga membuatnya kesulitan untuk mendapatkan akal sehatnya. Matanya pun sesekali menatap wajah tuanya. Namun wajah pak Urip yang juga sedang menatap wajahnya membuat Nayla jijik hingga membuang muka ke samping.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


MEBKMYQ

https://thumbs4.imagebam.com/54/6e/10/MEBKMYQ_t.jpg   54/6e/10/MEBKMYQ_t.jpg

'NAYLA MENOLEH KE SAMPING


“Mmmpphhh… Mmpphhh… Mmphhh… Aaahhhh yaaahhhhh” desah Nayla tak kuat lagi.


“Aaahhhh… Aahhhhh… Aaahhhh masih belum puas non ?” Tanya pak Urip bermaksud untuk mengejeknya.


Nayla lagi - lagi membuang muka karena enggan untuk berbicara dengan pria tua itu.


“Hakhakhak… Dasar sok suci… Hennkgghhhh !!!” Desah pak Urip memperkuatnya hingga tubuh Nayla semakin meloncat tinggi ke angkasa.


“Aaaaaahhhh paakkk… Aaaaahhhhh” desah Nayla ketakutan karena khawatir tubuhnya akan terjatuh akibat terloncat terlalu tinggi.


“Hakhakhak aaahhh nikmatnyaaa… Aaahhhh nikmatnyaaa” desah pak Urip tertawa puas.


“Aaahhhhh paakkk pelaannn… Pelaaannn… Aaaahhhhhh” desah Nayla merasakan hujaman yang sangat kuat yang menembus vaginanya. Seketika ia kembali merasakan dirinya hendak kembali berorgasme. Ia merasakan cairan cintanya dengan deras mengalir ke lubang kencingnya.


'Aaahhh sebentar laggiii… Sebentar lagi… Ayo pakkk yang cepaat… Cepaatt akhiri semua ini !'


Batin Nayla yang ingin cepat - cepat keluar.


“Aaaahhhhhhhh paaakkk… Aahhhhhhhh” desah Nayla saat keinginannya nyaris terwujudkan.


Sodokan pak Urip semakin kuat. Kedua payudara Nayla juga bergoyang cepat. Jeritan Nayla semakin keras. Tubuhnya meloncat semakin tinggi hingga saat tubuhnya turun, penis pak Urip semakin dalam saat menusuk vaginanya.


'Aaaahhhhh… Aaahhhhhhh… Dikittt lagiiii… Aayyooo !!! '


Batin Nayla sambil menunjukkan wajah sangeknya tanpa sadar.


“Hakhakhak” Tawa pak Urip menyadari betapa nafsunya akhwat bercadar di hadapannya.


'Udah gak tahan lagi yah non ? Gak tahan pengen ngentotin saya ?'


Batin pak Urip terpikirkan ide.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Aaaahhh pakkkk” desah Nayla memejam saat asyik - asyiknya dipuasi oleh pak Urip.


Tiba - tiba pak Urip menghentikan laju pinggulnya. Gerakannya yang tadi cepat tiba - tiba melambat bahkan berhenti saat Nayla sedang asyik - asyiknya dipuasi.


Sontak Nayla membuka matanya. Ia menatap pak Urip tak percaya karena lagi - lagi pria tua itu menghentikan dirinya yang nyaris berogasme. Nayla hanya diam menatap pembantunya tak percaya. Ia ingin protes namun ia takut ucapannya itu hanya akan membuat dirinya terlihat murahan dihadapan pembantunya.


“Kenapa ?” Tanya pak Urip cengengesan yang membuat Nayla semakin benci.


“Hakhakhak… Kalau non pengen ngecrot kenapa non gak coba goyang sendiri ? Usaha dong” Ucap pak Urip yang membuat Nayla terkejut mendengar.


'Apa ? Aku ? Goyang sendiri ?'


Batin Nayla merasa tak sudih untuk melakukannya.


“Ayo non goyang dong… Goyang dongg” Ucap pak Urip sambil menghentak - hentakkan tubuhnya sesekali yang membuat tubuh Nayla terlonjak - lonjak lagi.


“Aaahhh pakkk hentikann… Aahh enggakk… Akuu gak mau melakukannyyaa” Ucap Nayla berusaha bertahan.


“Hakhakhak… Yakin ?” Tanya pak Urip saat tiba - tiba ia menggenjot tubuh Nayla lagi yang membuat tubuh Nayla kembali meloncat - loncat cukup cepat.


.”Aaahhhh pakkkk cukuupp… Aaaaahhhh… Aaaaahhhhh” desah Nayla hingga birahinya kembali terpanggil menguasai diri.


Namun saat giliran orgasmenya mau keluar. Pak Urip lagi - lagi berhenti. Nayla pun kecewa sambil menatap pak Urip lagi.


“Makanya goyang hakhakhak” Ejek pak Urip yang membuat Nayla semakin kesal.


'Hah… Hah… Hah… Haruskah aku bergoyang ? '


Batin Nayla mulai tergoda.


Jujur, ia sudah tak sanggup lagi. Ia ingin menyudahi siksaan birahi ini.


“Aaaaaahhhhhhhh” desah Nayla saat pak Urip tiba - tiba menghentakkan tubuhnya lagi.


Namun baru satu kali hentakan pak Urip tidak melanjutkannya lagi. Nayla semakin tersiksa. Nafasnya yang terengah - engah menatap pak Urip sambil berfikir sekali lagi.


'Cuma bergoyang kan ? Gak masalah kan ? Toh ini demi diri sendiri… Jujur aku gak tahan lagi… Aku mau keluar… Aku mau menyudahi perzinahan ini…'


Batin Nayla saat hatinya bergejolak.


“Ayo mau goyang gak ? Kalau gak mau yaudah… Saya udahan” Ucap pak Urip menunjukkan langkah berani saat tiba - tiba dirinya hendak menarik lepas penisnya dari dalam rahim Nayla.


Sontak Nayla terkejut hingga reflek menahan pak Urip untuk tidak melakukannya.


“Tunggu paaakkkk” Ucap Nayla yang membuat pak Urip tersenyum. Senyuman penuh nafsu yang pak Urip tunjukkan saat itu benar - benar membuatnya malu. Bagaimana bisa dirinya menahan seorang pria tua yang ingin menyudahi aksi perzinahannya ?


“Gimana, mau goyang ?” Tanya pak Urip yang membuat Nayla mau tak mau mengangguk malu.


“Hakhakhak… Itu baru pinter… Pilihan yang bijak non… Ayo sekarang goyang… Saya akan memegangi pinggulmu agar non gak terjatuh” Ucap pak Urip yang membuat Nayla mendesah keras.


'Maafin aku mas… Bukan bermaksud mengkhianatimu… Tapi aku udah gak tahan lagi untuk melampiaskan nafsuku ini…'


Batin Nayla saat mulai menaikan tubuhnya.


“Aaahhh nikmatnyaaaa” desah pak Urip saat pinggul Nayla kembali turun ke dalam pangkuannya.


'Maafin aku mass… Maaafin…'


Batin Nayla sambil memejam saat pinggulnya kembali naik lalu turun lagi.


“Aaaaahhhh puasnyaaaa hakhakhak” Tawa pak Urip yang membuat hati Nayla semakin tersakiti. Entah kenapa rasanya seperti sedang memuasi pak Urip saja. Meski Nayla melakukannya untuk diri sendiri, desahan yang pak Urip keluarkan membuat dirinya merasa tak sudih.


“Aaaahhh yahh… Ayoo lagii non… Lagii...” desah pak Urip tertawa saat Nayla mulai stabil saat bergoyang diatas pangkuannya.


Nayla bergoyang. Tubuhnya naik turun semakin kencang. Ia pun merasakan kenikmatan yang menendang - nendang. Gesekan yang ia terima di vaginanya serta rabaan yang ia terima di pinggangnya. Nayla pun memejam menikmati itu semua kendati hatinya merasa dikecewakan oleh nafsu yang tak sanggup ia pendam.


Susu Nayla bergoyang. Gerakannya yang naik turun memanjakan mata pak Urip. Pak Urip berulang kali menjilati bibirnya sendiri sambil menatap pergerakan susu bulat itu. Gemas, Pak Urip pun menaikan tangannya tuk meremas - remas dada bulatnya. Nayla mengerang. Ia pun membuka matanya dan mendapati wajah jelek itu dengan penuh nafsu tengah menikmati keindahan tubuhnya.


'Aaaaahhhh… Aaahhhh… Maafin aku masss… Maafin aku yang sudah berzina dengan pembantumu…'


Batin Nayla yang kembali memejam demi mengurangi kekecewaannya. Semakin ia menatap pria tua yang menjadi rekan zinanya. Ia semakin kecewa karena terpikirkan sudah mengkhianati suaminya. Ia pun fokus bergoyang naik turun agar dirinya cepat selesai dan cepat menjauh dari pelukan pria tua itu.


“Aaaaaahhhh… Aaahhhh… Aaahhhhh” desah Nayla bergoyang cepat.


“Aaaahhhh teruss non… Terusss… Terusss…. Hakhakhak” tawa pak Urip yang terpuaskan oleh goyangan nikmat Nayla.


“Aaaahhhh… Aaaaaahhhh… Maassss… Aaaahhhhhh” desah Nayla kebablasan hingga menyebut suaminya.


'Hakhakhak… Lagi mikirin suamimu yah non ? Bayangin aja terus… Lakukan sesukamu… Jangan lupa buka matamu tuk mencari tahu siapa yang sedang berzina denganmu saat ini !'


Batin pak Urip tertawa.


“Aaaahhhh paakkkk aahhhh jangann digituinnnn” desah Nayla semakin terangsang saat putingnya ditarik oleh pak Urip lalu dipelintirnya.


“Hakhakhak… Goyangnya lebih cepat makanyaaa… Yang cepaaattt !” Desah pak Urip yang membuat Nayla mau tak mau menuruti.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Seperti ini ? Aaaaahhhhhh” desah Nayla semakin cepat bergoyang yang membuat pak Urip tertawa.


“Hakhakhak… Ya, lakukan variasi… Lakukan gerakan memutar !” Ucap pak Urip yang segera dituruti Nayla.


“Aaaahhhh seperti ini ? Aaahhhh… Aaahhhh sakittt” Desah Nayla menurutinya lalu menjerit saat putingnya kembali dicubit.


Nayla pun bergoyang maju mundur dengan cepat. Terkadang ia juga bergoyang memutar yang diawali gerakan maju lalu ke kiri lalu ke kanan lalu ke belakang sebelum ke depan. Terkadang ia juga melakukan gerakan memutar sesuai arah jarum jam. Kadang ia melakukannya secara acak. Yang terpenting ia merasakan kepuasan yang membuat Nayla semakin bebas bergoyang.

'Aaaahhh… Aaahhh… Kenapa semakin nikmat… Aaahhhh…'


Batin Nayla yang tanpa sadar meremasi payudaranya sendiri.


'Hakhakhak… Makin sangek yah non ? Ayoo yang kencengg… Ayo yang binal !'


Batin pak Urip melihat nafsu Nayla yang semakin memuncak.


“Aaaahhhhhh… Aaaahhhhhh… Aaaahhhhhh” Desah Nayla semakin manja. Nafsu yang semakin tak tahan membuat tangannya mengusapi tubuhnya dari atas kebawah. Ia membelai tubuhnya sendiri saat turun ke pinggang lalu ke perut lalu ke payudaranya lagi. Gerakan Nayla yang semakin binal membuat pak Urip merasa tak sanggup menahannya lagi.


“Aaaaaahhh terusss non… Terusssss… Aaahhhhh lebih binal lagi !” Desah pak Urip merem melek.


“Aaaahhh kenapa ini ? Kenapa tubuhku ini ? Aaaahhhh… Aaahhhhh… Aaaaaahhhhhhh” desah Nayla saat meremasi payudaranya dengan kuat.


“Aaahh yahh seperti itu…. Binalkan dirimu… Lampiaskan semua nafsumu sayaaanggggg” Desah pak Urip.


“Aaaahhhhh iyyaahhh… iyyaahhh… Aaahhh iyyaaahhhh” desah Nayla sambil bergoyang maju mundur.


Nafsu Nayla yang semakin tak tertahankan membuat dirinya semakin liar dalam bergoyang. Tak peduli dengan siapa ia melakukannya ia hanya ingin melampiaskan nafsunya. Tubuhnya bergoyang maju mundur. Gerakannya cepat tanpa pernah mengendur. Tangannya dengan nakal meremasi susunya. Jemarinya ikut bermain dengan menarik pentilnya. Matanya memejam sambil merasakan tusukan yang semakin menghujam. Ia pun melakukan gerakan lain. Gerakannya berubah menjadi naik turun lagi. Ia ingin meraskan hujaman penis itu lagi. Ia bergerak naik turun. Ia bergoyang tanpa ampun. Saat dirinya hendak turun, ia membenamkannya sedalam - dalamnya demi mendapatkan kenikmatan yang maksimal. Dinding rahimnya pun tertusuk ujung gundulnya. Namun Nayla tak peduli karena yang ia inginkan adalah kepuasan yang berulang kali gagal ia dapatkan. Nayla menggila. Nayla sudah seperti pelacur murahan saja.


“Aaaahhhhhh… Aaahhhh… Aaahhhh paaakkk” desah Nayla tak sanggup lagi.


“Aaaahhhh non… Aaahhh terusss…. Aaahhhhhh saya gak kuat lagi” desah pak Urip yang juga sudah tak sanggup menahannya lagi.


'Plokkk… Plokkk… Plokkk !!'


Pinggul mereka bertubrukan hingga menimbulkan suara yang keras. Nafsu yang tertahan membuat mereka bercinta semakin ganas. Nayla yang mengendalikan permainan terus saja bergoyang hingga tubuhnya semakin memanas. Nayla tak sanggup bertahan. Ia terus bergoyang tanpa memikirkan apapun lagi.


“Aaaahhhh… Aaahhhhh akkuu mauu kelluaarr…. Aakkuu mauu kelluaaar” Desah Nayla yang nyaris terjatuh sebelum pak Urip sigap memegangi. Kedua tangan mereka pun saling mendekap. Jemari - jemari mereka pun saling memegang erat.


“Aaaahhhhhhh keluarkan non… Keluarkaaannn… Lampiaskan nafsumu itu… Aahhhhhh” desah pak Urip menyemangati.


“Aaaahhhhh iyaahhhh… Iyyyaaahhhhh… Iyyaahhhhh” desah Nayla semakin liar. Goyangannya semakin barbar. Rasanya jauh lebih nikmat dibandingkan saat disetubuhi oleh suaminya.


Nayla tak tahan lagi. Nafsunya sudah menggebu dan tak sanggup ia tahan - tahan lagi. Ia ingin berorgasme. Ia ingin mendapatkan kenikmatan melalui goyangannya kali ini. Begitu juga pak Urip, ia tak menduga kalau goyangan Nayla akan senikmat ini. Ia tak tahan lagi. Spermanya sudah sampai di ujung gundulnya dan telah bersiap untuk menembakkan seisinya.


“Aaahhhhh… Aahhh… Aaahhhh” desah mereka berdua bersamaan.


Dada mereka berdua semakin sesak. Mata mereka berkunang - kunang. Nayla yang tak sanggup lagi pun membuka matanya tuk menatap wajah pria tua yang ada dihadapannya.


“Aaaahhhh… Aaahhh bapaakk… Akuuuu aaaaaahhhhhhhhh” desah membuka mulutnya sambil menatap wajah pria tua berperut tambun itu.


“Aaahhh nonnnn saya jugaa… Saya jugaaa… Aaaahhhh… Aaaaahhhhhhh” desah pak Urip sambil menatap mata majikannya.


Aaaaaaahhhhh Desah mereka berbarengan saat penis pak Urip ambles begitu dalam di rahin Nayla.


'Crrrooottt… Crroott… Crrooottt !!!'


“Keellluuaaarrrr !!!” Desah mereka berdua bersamaan.


Diluar dugaan Nayla lebih dahulu keluar sambil menatap wajah pembantunya. Tubuhnya bergidik puas. Matanya merem melek penuh kepuasan. Nafasnya terengah - engah, ia pun ambruk sambil memeluk tubuh pembantunya itu.


Pak Urip pun menyusul kemudian. Rasanya lebih puas saat ngecrot sambil menatap mata majikannya, Ya, mereka sama - sama mendapatkan kepuasan ketika mata mereka bertemu. Suka atau tidak suka mereka telah melakukannya. Rasanya jauh lebih puas saat tahu siapa seseorang yang membantu mereka tuk mendapatkan orgasme kali ini.


“Hah… Hah… Hah” Desah Nayla ngos - ngosan saat ada di pelukan pembantunya.


“Hah… Hah… Puas banget… Hah” desah pak Urip sambil memeluk punggung Nayla lalu menekannya hingga merasakan empuknya dada majikannya.


Mata mereka masih merem melek. Mereka masih terengah - engah sambil menikmati sisa orgasme mereka.


'Hah gila puas banget… Puas banget bisa ngecrot setelah digoyang non Nayla !'


Batin pak Urip puas. Penisnya pun masih mengeluarkan sisa - sisa spermanya. Terasa vagina Nayla semakin penuh hingga menumpahkan sperma melalui sela - sela vaginanya.


“Oouuhhhh… Ooouuhhhhh… Hah… Hah” desah Nayla saat merasakan sperma pembantunya keluar melalui sela - sela vaginanya.


'Puas banget… Puas banget rasanyaa… Akhirnya selesai juga !'


Batin Nayla ngos - ngosan dibuatnya.


Perlahan setelah nafsunya terpuaskan, akal sehatnya kembali datang membawa jati dirinya sebagai seorang akhwat. Lambat laun ia menyadari apa yang baru saja dibuatnya. Matanya masih memejam namun masih terbayang di benaknya bagaimana liarnya dirinya saat bergoyang diatas pangkuan pembantunya.


'Apa ini ? Apa yang sudah aku lakukan ? Hah… Hah… Hah…'


Batin Nayla menyadari apa yang baru saja dibuatnya.


'Aku sudah berzina ? Aku sudah mengkhianati cinta suamiku ?'


Batinnya lagi benar - benar kecewa.


Sambil ngos - ngosan Nayla teringat saat tubuhnya bergerak sendiri saat menggoyang pembantunya. Padahal bisa saja dirinya pergi namun ia malah memilih bergoyang demi melampiaskan nafsu birahinya.


'Bodohnya aku ? Apa yang sudah aku lakukan ? Bukannya pak Urip tadi mau menyudahi ? Kenapa aku malah menahannya ?'


Batin Nayla semakin kecewa.


“Hakhakhak… Tega yah non… Non tega banget sudah memperkosa saya” Lirih pak Urip di telinga Nayla yang membuat Nayla semakin kecewa.


Nayla pun mengangkat wajahnya tuk menatap wajah pembantunya. Ia berfikir. Gerakannya tadi memang terlihat seolah dirinya baru saja memperkosa pak Urip. Nayla sedih. Tak sadar air matanya turun setelah mengingat semua tindakannya tadi.


“Gapapa, sekarang skornya 1 - 1 yah… Kemarin saya yang mempekrosa non sekarang giliran non yang memperkosa saya... Besok saya janji yang akan memperkosa non terus besoknya non lagi yah… Kita lihat siapa yang paling banyak memperkosa diantara kita berdua” Ucap pak Urip sambil menatap wajah majikan bercadarnya.


Nayla pun merasa malu hingga menangis memikirkan semua itu. Ditengah tangisannya, pak Urip kembali menekan punggung Nayla hingga tubuh mereka kembali berpelukan. Nayla yang lemas tak berdaya tak bisa melawan. Ia hanya menangis sambil mengutuk perbuatan yang baru saja dilakukannya itu.


“Mulai sekarang, non akan menjadi pemuas nafsu saya… Non gak akan bisa lepas karena saya akan menagih jatah untuk terus menyetubuhimu hingga dirimu hanyut ke dalam aliran nafsu yang mengalir di tubuhmu… Lihat saja nanti, pasti non yang akan meminta bahkan merengek - rengek meminta dipuasi oleh saya” Ucap pak Urip yang membuat Nayla menangis semakin kencang.


“Engggaakkk… Aku gakk mauuuu” Jerit Nayla sambil menangis.


“Hakhakhak… Terima saja takdirmu itu, sayaaanggg” tawa pak Urip sambil memeluk erat tubuh majikannya agar tidak kabur darinya.


MEBKMYP

https://thumbs4.imagebam.com/ec/15/32/MEBKMYP_t.jpg   ec/15/32/MEBKMYP_t.jpg

'NAYLA


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


*-*-*-*

'BEBERAPA JAM KEMUDIAN


Nayla tengah terbaring di ranjangnya sambil menangisi nasibnya. Ia masih tak menyangka kalau justru pak Urip adalah pelaku dari semuanya. Wajahnya sembap, tubuhnya lemas, bajunya pun lecek karena terlalu lama berbaring diatas ranjang tidurnya.


Terhitung sejak pagi setelah dirinya disetubuhi pembantunya, ia langsung mandi lagi lalu mengurung diri di kamar. Ya, ia telah mengunci kamarnya karena takut pria tua itu kembali melecehkan tubuhnya. Ia ingat betul saat dirinya mandi bersama pembantunya. Berulang kali pria gempal itu meremasi dadanya dan meraba - raba tubuh mulusnya. Beruntung, ia berhasil kabur setelah berpura - pura mengambil handuk. Ia pun belum bertemu lagi dengan pak Urip sejak saat itu. Ia pun berharap kalau dirinya tidak akan bertemu lagi dengan pria bejat tersebut.


Udah jam dua yah ? Aku laper banget Ucap Nayla yang belum menyentuh makanan ataupun minuman setelah diperkosa pembantunya.


Nayla yang saat itu mengenakan kaus berlengan panjangnya serta celana longgarnya pun bangkit sambil menyeka air matanya. Ia berjalan sejenak mendekati pintu masuk sambil menaruh telinganya disana.


Gak ada suara ? Pak Urip sedang pergi apa yah ? Tanya Nayla pada diri sendiri.


Ia pun kembali menuju ranjangnya sambil berfikir keras. Ia ingin keluar tapi terlalu takut untuk melakukannya. Ia kepikiran pak Urip sedang menunggunya di luar. Ia pun mondar - mandir di dalam sambil memikirkan sesuatu.


Eh, itu ? Tanya Nayla saat melihat ke arah luar jendela.


Ia melihat pria tua berbadan kekar yang ia duga telah memperkosa dirinya. Ia jadi menyesal telah menuduhnya. Ia pun teringat kejadian di pagi tadi. Ia telah menuduh buta. Ia jadi merasa tidak enak padanya.


Pasti pak Beni kecewa padaku... Pasti ia merasa malu karena perlakuanku pagi tadi Ucap Nayla kepikiran.


Ia pun kembali berjalan mendekati pintu masuk. Tak sengaja ia melihat kalender yang terpasang di dinding samping pintu masuk.


Besok tanggal merah yah ? Alhamdulillah... Setidaknya besok aku bisa aman karena ada mas Miftah yang menjagaku Lirih Nayla dengan lega.


'Kruwek... Kruwek... Kruwek... '


Perut Nayla berbunyi. Nayla merasa lapar dan kerongkongannya benar - benar kering ingin meminum sesuatu.


Ia pun buru - buru menuju almarinya untuk mengambil hijab simpelnya berikut masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Ia memberanikan diri membuka kunci pintu kamarnya. Ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri lalu mengendap - ngendap di dalam rumahnya sendiri.


Saat tiba di ruang tamu rumahnya. Ia melihat pak Urip sedang tertidur. Wajahnya tengah tersenyum mungkin karena memimpikan perbuatannya pagi tadi. Wajah Nayla terlihat benci namun kemudian berubah menjadi lega karena setidaknya pria bejat itu tengah tertidur pulas.


Nayla pun meminum segelas air sejenak lalu berlari keluar secara perlahan agar tidak membangunkan pembantunya.


Alhamdulillah bisa keluar rumah Ucap Nayla sambil memegangi dadanya.


Wajahnya pun seketika menoleh ke kanan. Ia melihat ke arah rumah pak Beni. Entah kenapa hatinya memintanya untuk menuju kesana. Ia pun berlari secepat - cepatnya untuk menjauh dari posisi dimana pembantunya berada.


'Tokkk... Tokkk... Tokkk... '


Assalamu'alaikum, pak Beni Ucap Nayla setelah mengetuk pintu rumahnya.


BERSAMBUNG

;;;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 5

RACUN

Kaki melangkah cepat. Ia terlihat buru - buru mendatangi suatu rumah. Setibanya ia disana, ia langsung mengetuk pintu rumahnya dengan tergesa - gesa karena takut pria tua itu terbangun dan memergokinya ada disana.


'Tokkk… Tokkk… Tokkkk…'


“Assalamualaikum pak Beni !”


Nayla terlihat gelisah. Berulang kali ia menoleh ke kanan juga ke kiri. Untungnya jalanan begitu sepi. Ia pun kembali menoleh ke arah rumahnya untuk melihat kejadian disana.


“Aasssalamualaikum… Paaakkkk”


'Tokkk… Tokk… Tokkk…'


Nayla kembali memberi salam dan mengetuk pintu rumah tetangganya. Tapi lagi - lagi tak terdengar suara balasan dari dalam. Nayla terlihat semakin gelisah hingga langsung mengetuk pintu rumahnya sekali lagi.


'Tokkk… Tokk… Tookk...'


“Assalamualaikum”


Untungnya kali ini terdengar suara langkah kaki dari dalam. Nayla lega karena setidaknya ia mendengar suara dari dalam. Tak lama kemudian pintu terbuka, pria tua berbadan kekar yang keluar dari dalam rumah itu terkejut saat melihat siapa tamu yang mendatangi rumahnya.


“Mbak Nayla ?” Lirih pak Beni tak menyangka.


“Aku boleh masuk pak ? Ada yang mau aku omongin” Ucap Nayla tergesa - gesa yang membuat pak Beni mantuk - mantuk saja.


“Ohh… Iya iya” Jawab pak Beni sambil mempersilahkan tamunya masuk.


Pak Beni dengan ramah menyambut kehadiran tamunya. Ia pun mempersilahkan tamunya itu untuk duduk di ruang tamunya.


“Silahkan mbak” Ucap Pak Beni saat mempersilahkannya duduk.


“Makasih” Jawab Nayla tersenyum lalu duduk diatas sofa sederhana dari rumah pria tua kekar itu.


Kemudian terjadi keheningan disana. Pak Beni dengan sabar menanti apa yang ingin tamunya ucapkan saat berkunjung ke rumahnya. Sedangkan Nayla merasa canggung untuk berbicara dengan seseorang yang telah dicurigai aneh oleh warga sekomplek rumahnya. Pikirannya sudah menyiapkan kata tapi lidahnya kelu untuk berbicara. Ia pun sedari tadi menatap ke bawah karena tak sanggup tuk memulai pembicaraan.


“Oh yah… Saya buatkan teh dulu yah mbak” Ucap pak Beni untuk meredakan kecanggungan diantara mereka.


“Makasih” Jawab Nayla sambil mengangguk.


Saat pak Beni berjalan ke arah dapur untuk membuat teh. Nayla menoleh ke sekitar untuk melihat keadaan rumah pak Beni. Seperti yang ia duga, rumah kontrakan itu terlihat begitu sederhana. Rumahnya juga cenderung berantakan dengan banyaknya pakaian - pakaian yang bertebaran dimana - mana. Sofa yang ia duduki juga sudah robek - robek hingga menampakkan busanya. Nayla menjadi iba. Apalagi ditambah dengan semua tuduhan yang masyarakat tujukan padanya terlepas dari kebenarannya yang belum bisa dibuktikan.


“Ini tehnya mbak” Ucap pak Beni mengejutkan Nayla.


“Makasih” Jawab Nayla tersenyum saat menerimanya.


Pak Beni sambil duduk menyeruput tehnya sambil melirik ke arah tamunya. Ia diam - diam juga penasaran apa yang membuat akhwat alim itu bertamu ke rumahnya.


“Ssslllrrpphhh… Aaahhh” desah Nayla saat menyeruput tehnya sambil membalikan badan memunggungi pak Beni untuk mengangkat cadarnya. Nayla merasa segar. Tehnya tidak terlalu manis tapi sangat menghangatkan tubuhnya. Nayla pun kembali menaruh cangkir itu diatas meja. Ia merapatkan kedua kakinya lalu menaruh tangannya diatas pahanya.


“Aku mau minta maaf pak” Ucap Nayla tiba - tiba yang mengejutkan pak Beni.


“Maaf ? Untuk apa yah mbak ?” Tanya pak Beni penasaran.


“Soal pagi tadi juga hari - hari sebelumnya… Pokoknya atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan ke bapak baik itu yang aku sadari atau enggak” Ucap Nayla.


“Aku tahu pasti pagi tadi bapak bingung dengan perlakuan saya… Aku tahu pasti bapak juga kesulitan atas semua tuduhan ke bapak yang itu juga belum terbukti kebenarannya… Maaf aku udah menyulitkan bapak… Maaf aku egois dengan melimpahkan semua kesalahan ini ke bapak” Ucap Nayla meminta maaf.


“Gapapa… Saya udah terbiasa” Jawab Pak Beni yang membuat Nayla menaikan wajahnya tuk menatap pria tua kekar itu.


“Terbiasa ?” Lirih Nayla.


“Ya wajar sih kenapa mereka termasuk mbak menilai seperti itu ke saya… Mungkin mereka menganggap saya aneh… Mungkin mereka menganggap saya terlihat seperti seseorang yang berbeda dari orang - orang lainnya… Saya memang jarang berkomunikasi dengan orang sekitar… Tingkah laku saya juga kadang mencurigakan… Jadi saya gak bisa berkomentar kalau ada orang yang menuduh saya seperti itu” Ucap pak Beni.


“Terus, kenapa bapak gak protes atau setidaknya menjelaskan ke orang - orang kalau bapak bukan seperti yang orang - orang bayangkan ?” Tanya Nayla penasaran.


“Andai bisa… Saya orangnya pendiam… Saya bukan orang yang mudah berbicara dengan orang - orang asing yang baru saya kenal… Oh yah, saya sangat berterima kasih ke mbak karena sudah mengunjungi rumah saya… Jujur sejak pindah kesini, mbak adalah orang pertama yang bertamu ke rumah saya… Jadi maaf kalau rumah agak berantakan karena saya gak tahu kalau mbak bakal berkunjung hehe” Ucap pak Beni.


“Gapapa aku gak mempermasalahkan kok” Ucap Nayla meski wajahnya terlihat tak nyaman saat melihat sekitar.


“Hmmm oh yah… Mumpung waktunya pas… Mungkin selama ini mbak nuduh saya sebagai penganggu yah ?” Ucap pak Beni mengejutkan Nayla.


“Eehhh enggak kok kata siapa ?” Ucap Nayla jadi merasa tidak enak.


“Saya cuma keinget aja saat itu… Waktu saya diusir oleh suami mbak saat saya tiba - tiba masuk ke halaman rumah… Juga waktu kemarin saat saya masuk ke rumah mbak tanpa izin” Ucap pak Beni teringat kejadian kemarin sore.


“Jujur kemarin itu, saya ngeliat ada sesuatu hal yang mencurigakan dari rumah mbak… Saya ngeliat pembantu mbak mengendap - ngendap gitu… Saya dari luar pagar cuma bisa ngeliatin aja… Saya sampai gelisah antara bingung mau masuk apa enggak… Tapi pas ngeliat dari luar kok pembantu mbak kayak kelewatan soalnya keliatan dari sini kalau pembantu mbak itu mau nidurin mbak yang lagi ketiduran di sofa, saya gak sabar lagi dan berniat untuk datang membantu mbak… Eh tapi mbak malah kebangung dan akhirnya malah ngusir saya hehehe” Ucap pak Beni menceritakan kisah yang sebenarnya terjadi.


“Maaf waktu itu” Ucap Nayla merasa tidak enak.


Apalagi kemarin saat saya dituduh menodai mbak… Saya sakit hati mbak… Padahal saya selama ini bertingkah seperti itu karena ingin menjaga mbak dari kejauhan… Saya tahu mungkin ini terdengar agak aneh… Tapi saya suka sama mbak… Makanya saya gak mau mbak kenapa - kenapa setidaknya sewaktu mbak ada di dekat saya” Ucap pak Beni malu - malu mengakui perasaannya.


“Eh yang bener ?” Ucap Nayla terkejut.


“Hehe… Saya tahu ini salah… Saya cuma bisa melakukan apa yang bisa saya lakukan, yakni menjaga mbak dari kejauhan” Ucap pak Beni yang membuat Nayla terharu.


'Jadi itu alasan pak Beni suka ngintip aku selama ini ? Ia ingin melihat keadaanku, ia takut kalau diriku kenapa - kenapa ? Baik banget sih pak Beni, kenapa aku malah belain pak Urip daripada pak Beni sih ? Ihhh jadi makin kesel deh ke pak Urip kalau gini ! Bisa - bisanya aku membela seseorang yang telah memperkosaku !'


Batin Nayla terharu.


“Maaf yah pak… Aku bener - bener gak tahu… Aku gak tahu kalau tindakan bapak selama ini justru untuk melindungi diriku” Ucap Nayla tidak enak.


“Udah gapapa mbak… Saya juga sadar kok kalau sikap saya mencurigakan… Soalnya dari dulu saya pernah denger kalau pembantu mbak itu mempunyai niatan jahat ke mbak… Udah dari beberapa bulan yang lalu sih makannya saya berusaha terus mengawasi mbak” Ucap pak Beni memberi tahu.


“Pembantu saya ? Niatan buruk ?” Kata Nayla terkejut.


“Iya, saya pernah denger kalau pembantu mbak bilang ingin menghamili mbak… Mbak sekarang gapapa kan ? Mbak gak diapa - apain sama pembantu mbak kan ?” Tanya pak Beni yang membuat Nayla tiba - tiba menangis.


'Dari dulu ? Jadi pak Urip udah niat mau memperkosaku sejak dulu ?'


Batin Nayla menangis.


“Eh mbak… Kok nangis ? Apa jangan - jangan ?” Tanya pak Beni menduga sambil memberikan tisu yang ada di meja ruang tamunya.


“Iyya… Pak Urip udah . . . .” Ucap Nayla yang membuat pak Beni teringat kata - kata akhwat bercadar itu di pagi hari.


Mata Pak Beni terbuka lebar. Ia pun tak menyangka kejadian buruk ini beneran terjadi pada akhwat bercadar yang ia sukai.


“Maaf saya terlambat” Ucap Pak Beni saat teringat kejadian kemarin.


“Terlambat ?” Tanya Nayla sambil mengusapi air matanya.


“Andai kemarin saya gak ragu dan langsung ke rumah mbak… Mungkin saya bisa menolong mbak untuk tidak dinodai oleh pembantu sialan itu” Ucap Pak Beni terdengar marah.


“Udah gapapa pak… Lupain… Aku berterima kasih ke bapak karena udah berniat menolong aku… Makasih yah” Ucap Nayla tersenyum ditengah tangisannya yang membuat Pak Beni merasa iba.


Setelah tangisannya mereda dan pak Beni sudah memberikan kata - kata penenang. Tiba - tiba Nayla mengucapkan sesuatu yang mengejutkan pria tua kekar itu.


“Aku boleh tinggal disini pak ?” Tanya Nayla.


“Ehh tinggal ? Disini ?” Tanya balik pak Beni.


“Iya, setidaknya sewaktu suamiku gak ada di rumah… Aku boleh kan menetap disini… Aku bakal pulang kok pas suamiku ada di rumah” Pinta Nayla yang tak ingin berduaan di rumah bersama pembantu bejatnya.


“Oh gapapa… Boleh kok… Saya malah senang” Ucap pak Beni tersenyum menyadari idolanya akan tinggal bersamanya di rumahnya.


“Makasih” Jawab Nayla tersenyum.


'Kruwek… Kruwek… Kruwek…'


Seketika perut Nayla berbunyi yang membuat wajahnya memerah malu.


“Eh mbak laper yah… Saya buatkan sesuatu yah” Ucap Pak Beni tanggap dengan pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia masak.


“Eh gak perlu pak… Gak perlu” Ucap Nayla merasa tidak enak.


“Udah gapapa… Oh yah kebetulan saya punya mie… Mbak mau mie rebus apa yang goreng ?” Tanya pak Beni yang hanya mempunyai mie instan.


“Hehe kalau gitu… Rebus aja gapapa pak” Ucap Nayla malu - malu.


“Kalau gitu tunggu sebentar yah… Biar saya buatkan” Ucap pak Urip yang langsung memanaskan air untuk tetangganya itu.


Nayla yang notabene orang kaya merasa tidak enak karena justru dirinya yang datang ke rumah pak Beni untuk meminta makanan. Nayla pun bingung harus berbuat apa setidaknya untuk 'membayar' makanan yang sudah pak Beni buat. Untungnya ia terpikirkan sebuah ide di benaknya.


“Paaakkkk” Panggil Nayla dengan lembut saat mendatangi pak Beni.


“Eh iya ada apa ?” Tanya pak Beni saat berbalik dan terkejut oleh penampilannya. Pak Beni baru menyadari karena tak sempat memperhatikan penampilannya akibat terlalu fokus pada kedatangan bidadarinya ke dalam rumahnya. Pak Beni melihat sekilas dari bawah ke atas.


Nayla saat itu mengenakan pakaian simpel berupa kaus berlengan panjang yang ia padukan dengan hijab berwarna 'cream' serta masker yang menutupi wajahnya. Kakinya juga hanya dibalut celana kain panjang. Sekilas penampilannya terlihat biasa saja. Namun kelas Nayla sebagai seorang selebgram membuatnya terlihat begitu elegan.


MEBP1PQ

https://thumbs4.imagebam.com/42/2e/08/MEBP1PQ_t.jpg   42/2e/08/MEBP1PQ_t.jpg

'NAYLA


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


Berbeda dengan dirinya yang hanya mengenakan kaus oblong serta celana kolor pendek. Ia mendadak malu sudah menyambut tamu istimewanya dengan pakaian seperti ini.


“Aku gak enak kalau aku datang cuma untuk makan… Sebagai ganti bapak yang udah buatin aku makanan… Boleh gak aku merapihkan pakaian bapak biar aku ngerasa enak udah membalas kebaikan bapak” Ucap Nayla yang membuat pak Beni menoleh ke sekitar.


“Eh gak usah… Pakaian saya bau semua… Gak usah mbak” Ucap Pak Beni merasa tidak enak.


“Gapapa pak… Setidaknya aku rapihin dulu… Lagian aku juga gak bisa makan kalau pemandangannya berantakan kayak gini” Ucap Nayla tersenyum dibalik cadarnya yang membuat pak Beni ikut tersenyum.


“Yaudah tapi jangan semuanya yah… Semampunya aja sisanya biar saya sendiri yang merapihkan” ucap pak Beni merasa malu.


“Siap pak” Ucap Nayla langsung bergegas memilah pakaian yang masih bisa dikenakan dengan pakaian yang mesti dicuci terlebih dahulu.


Nayla dengan sigap mengambil pakaian - pakaian yang berantakan. Yang terlihat kotor ia masukan ke dalam ember cuci. Yang terlihat bersih ia taruh dulu diatas sofa. Ia terkejut karena kebanyakan pakaiannya masih kotor dan mesti dicuci terlebih dahulu. Pakaian yang masih bisa dipakai kemudian ia lipat sambil duduk di sofa panjang ruang tamu.


Sekilas Pak Beni melihat ke arah Nayla dan mendapati akhwat bercadar itu tengah melipati pakaiannya. Pak Beni tersenyum. Entah kenapa ia terbayang sesuatu yang mungkin akan sulit untuk ia wujudkan.


'Jadi seperti ini yah rasanya kalau punya istri secantik mbak Nayla…'


Batin Pak Beni sambil menaruh bumbu mie ke dalam panci yang sudah mendidih. Pak Beni terlihat bahagia. Ia pun berniat membuatkan mie untuknya dengan penuh cinta.


Tak lama kemudian mie nya sudah jadi. Pak Beni secara bergantian menaruh satu demi satu mangkuk mie ke meja ruang tamu dimana Nayla sudah menunggu disana.


“Ini silahkan mbak dicicipi… Awas masih panas” Ucap pak Beni perhatian.


“Makasih pak” Ucap Nayla yang sudah kelaparan dan berniat untuk melahap mie buatan pria kekar itu.


Pak Beni yang juga lapar lalu menyeruput mienya. Sekilas ia melirik dan mendapati Nayla masih terdiam sambil memegangi garpu dan sendoknya.


'Oh iya…'


Batin pak Beni menyadari sesuatu.


“Kalau gitu saya makan di dapur aja yah mbak” Ucap pak Beni menyadari kalau Nayla mesti mengangkat cadarnya terlebih dahulu untuk menyantap mie buatannya.


“Makasih pak” Ucap Nayla lega saat pria tua kekar itu peka.


Pak Beni langsung duduk di kursi lalu menikmati mie buatannya itu. Sesekali ia menyeruputnya lalu menyedot mienya. Ia menikmatinya sehingga tidak langsung menghabiskannya.


“Ini ditaruh mana pak ?” Ucap Nayla mengejutkan pak Beni hingga mangkuk yang tadi dipegangnya oleng lalu kuahnya tumpah sebagian mengenai celananya.


“Aaaaawwww” Jerit Pak Beni.


“Eehh maaf pak… Maaf” Ucap Nayla panik menyadari ia telah membuat pak Beni terkejut.


“Eh mbak udah habis yah… Udah gapapa… Biar saya aja” Ucap Pak Beni mengambil tisu lalu mengelap celananya. Untungnya kuahnya lebih banyak tumpah ke lantai. Untungnya juga celananya yang basah berada di bagian pahanya bukan di pusat selangkangannya.


'Fiyyuh nyaris aja… Bisa - bisa itunya kerebus kuah mie nih !'


Batin pak Beni.


“Aduhhh gimana ini ?” Ucap Nayla yang langsung mengambil tisu lalu mengelap kuah yang ada di lantai.


“Ehhh gak usah… Aduh” Ucap pak Beni merasa tidak enak karena tamunya malah mengepel lantai rumahnya.


“Udah gapapa pak… Ini salahku kok” Ucap Nayla kekeh dengan lanjut membersihkannya.


Pak Beni pun akhirnya tidak punya pilihan lain selain membiarkan. Masalahnya celananya yang terlanjur basah membuatnya merasa tidak nyaman.


“Euummm… Saya mau ganti celana dulu yah… Nanti saya bantu membersihkan” Ucap pria tua kekar itu yang berlari menuju kamarnya,


“Iya pak” Ucap Nayla sambil lanjut membersihkan.


Nayla yang tadi kelaparan langsung melahap habis mie yang dibuat oleh tetangganya. Ia tak mengira kedatangannya yang ingin menaruh mangkuk kotor justru membuat pak Beni menumpahkan sebagian kuahnya. Nayla jadi merasa tidak enak. Ia pun mengambil tisu lagi untuk mengelap lantai rumah tetangganya.


Ketika sedang mengelap tak sengaja matanya menoleh ke arah pintu kamar pak Beni yang sedikit terbuka. Entah kenapa ia mendengar suara yang membuatnya penasaran disana.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Aaahhhh mbaakkk” desah pak Beni yang suaranya tak asing ditelinga Nayla.


Saat Nayla mendekat lalu mengintip melalui celah yang sedikit terbuka. Ia terkejut saat melihat keadaan yang terjadi di dalam.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh… Makasih mbakkk sudah datang ke rumaaahhh… Aaaahhhhh cantik banget sih mbak… Aaahhhhh”


Ia melihat pak Beni sudah menelanjangi tubuhnya sambil melakukan onani di dalam kamarnya. Terlihat pak Beni memejam seolah sangat menikmatinya. Tubuhnya yang sudah telanjang bulat memamerkan perut ratanya juga dada bidangnya. Kulit pak Beni yang begitu gelap membuat Nayla terkesima. Apalagi tubuh kekarnya dan juga penis jumbonya yang terlihat begitu hitam dengan guratan otot yang mengelilinginya. Bulu rambutnya juga tebal. Nayla sampai tidak bisa berkedip. Ia begitu terpesona oleh penampakan tubuh pak Beni yang begitu indah.


'Gleegggg !'


“Bagus banget tubuhnya !” Lirih Nayla terkesima. Ia bahkan sampai menenggak ludah. Tanpa sadar ia memegangi vaginanya dari luar celananya.


'Kok basah ?'


Batin Nayla terkejut.


Bagaimana bisa vaginanya sudah basah hanya dengan melihat pria tua berbadan kekar yang sedang beronani ? Nayla heran apalagi saat ia merasa nafsunya kembali datang.


“Aaaaahhhhhh… Aaahhhhh suka banget saya mbak pas mbak nungging tadi di depan saya” desah pak Beni saat melihat Nayla menungging mengelap kuah mie yang tumpah di lantai.


Mata Nayla terbuka lebar. Ia terkejut karena pak Beni bernafsu saat dirinya tadi menungging dihadapan pria tua kekar itu. Saat matanya memperhatikan pentungan milik tukang sapu kekar itu. Ia baru menyadari sesuatu. Ia baru menyadari saat melihat ujung dari pentungan milik pak Beni.


“Loohhhh… Oops” Ucap Nayla terkejut hingga menyadari kalau dirinya berbicara terlalu keras. Ia pun segera bersembunyi dibalik dinding samping pintu masuk kamar pak Beni lalu menutupi mulutnya. Benar saja, beberapa saat kemudian terdengar suara pintu ditutup rapat dari dalam.


“Hah… 'Astaghfirullah'… Nyaris aja ketahuan… Ihhh gimana sih kok bisa - bisanya aku ngintip orang lain bermasturbasi ?” Lirih Nayla sebal sendiri pada tubuhnya.


'Tapi… Tititnya itu loh ? Kok…'


Batin Nayla saat mengingat - ngingat lagi penampakan penis dari pria kekar itu. Ia menyadari kalau pak Beni juga tidak menyunat penisnya seperti mang Yono. Ia pun baru sadar saat memberi salam tadi pak Beni tidak membalas salamnya.


'Jangan - jangan pak Beni itu non yah ?'


Batin Nayla menduga.


Namun terlepas dari apa latar belakang pak Beni. Penampakan tubuhnya benar - benar membuat Nayla terkesima. Nafsunya yang kembali bangkit membuatnya diam - diam memasukan tangannya ke dalam celana dalamnya lalu memejam membayangkan pentungan hitam berhoodie yang tadi dilihatnya.


'Aduuhhh… Aku terangsang lagi… Aaahhhh…. Aaaahhhhh !'


Batin Nayla sambil bermasturbasi dalam keadaan berdiri bersandar pada dinding kamar rumah pak Beni. Ia pun terus memainkan vaginanya sambil mendengar suara desahan yang diucapkan pak Beni dari dalam.


“Aaaaaahhhhhhhhh Mbaakkk Naylaaaa” desah pak Beni dari dalam kamar.


“Mmppphhh bapaakkk” balas Nayla dari luar kamar.


*-*-*-*

Sementara itu di waktu yang sama tapi di tempat yang berbeda


“Nayla mana yah ? Kok daritadi belum datang juga ?” Ucap seseorang sambil mengamati jalanan.


Ia terlihat begitu resah. Ia terlihat begitu gelisah.


“Masss… Sini, daritadi dicariin loh” Ucap seseorang memanggilnya.


“Eh iya Put” Ucap Andri terkejut.


“Ngapain sih disana ?” Tanya Putri saat menghampiri.


“Ehh engga… Gak ada kok” Jawab Andri mendekat lalu berjalan kembali ke dalam studio.


“Ngomong - ngomong mbak Nayla kemana yah ? Kok gak ngabarin kalau gak bisa dateng ? Apa jangan - jangan mbak Nayla kenapa - kenapa yah” Ucap Putri saat berjalan disebelahnya.


“Eh kenapa - kenapa ?” Tanya Andri mendadak panik.


“Mungkin sakit kali yah makanya gak bisa ngehubungin… Tapi moga aja sih gak kenapa - kenapa” Ucap Putri saat kembali masuk ke studio foto.


'Nay… Kamu gapapa kan ?'


Batin Andri berdiam sebentar sambil berbalik menatap jalanan.


“Eh mas ayo… Kita masih ada perfotoan lagi loh” Ucap Putri lagi yang baru membuat Andri masuk ke dalam studio.


“Eh iya” jawab Andri mendekat.


MEBQ0WK

https://thumbs4.imagebam.com/57/93/42/MEBQ0WK_t.jpg   57/93/42/MEBQ0WK_t.jpg

'PUTRI


MEBG1W5

https://thumbs4.imagebam.com/8b/6c/a7/MEBG1W5_t.jpeg   8b/6c/a7/MEBG1W5_t.jpeg

'ANDRI


*-*-*-*

Keesokan harinya pada pukul delapan tepat.


Pagi itu cuaca agak mendung membuat sinar matahari tak begitu tembus. Tidak seperti biasanya, saat itu suasananya agak gelap karena awan begitu pekat. Orang - orang mulai berfikir kalau pagi itu hujan akan turun membasahi bumi. Maka tak banyak orang yang keluar. Mereka lebih memilih berdiam di dalam apalagi karena saat ini merupakan hari libur nasional.


Di salah satu rumah yang ada di ibukota. Nampak akhwat bercadar yang mengenakan pakaian serba gelap tengah memasak untuk menghidangkan sarapan untuk suaminya tercinta. Aroma tubuhnya sudah wangi. Pakaiannya tampak rapih. Wajahnya sudah 'glowing' pokoknya ia terlihat sangat bersiap untuk menyambut hari libur bersama suami. Ia ingin tampil cantik dihadapan suami. Ia ingin memanjakan mata suami dengan penampilannya yang begitu memukau di pagi hari.


Di ruang tamu, sang suami juga sudah mengenakan pakaian rapih. Meski terlihat santai dengan kaus polo berkerah yang menutupi tubuhnya. Serta celana panjang yang membalut kakinya. Sisiran rambutnya yang terarah ke arah kanan juga penampakan wajahnya yang cerah sudah cukup untuk memanjakan mata istrinya yang begitu mencintai dirinya. Sang suami tampak bangga pada istrinya sehingga sesekali melirik tuk menatap penampilan istrinya. Sama seperti istrinya yang sudah mandi, dirinya juga sudah mandi. Sang suami pun tersenyum sambil menonton acara televisi pagi.


'Hufttt… Untung aja kemarin aku gak ketahuan !'


Batin Nayla saat teringat kejadian kemarin sore ketika bermasturbasi di dalam rumah pak Beni.


Untungnya pas pak Beni keluar kamar dirinya sudah menarik keluar tangannya meski ia masih merasa nanggung karena masih bernafsu. Sore kemarin, ia pun menghabiskan waktu dengan mengobrol untuk mengakrabkan diri dengan pak Beni hingga menanti kepulangan suami. Saat suaminya pulang barulah ia ikut pulang dan meninggalkan kesan tersendiri bagi Nayla. Ia juga teringat bagaimana binalnya ia semalam saat mengajak sang suami bercinta meski lagi - lagi dirinya belum mendapatkan kepuasan.


'Ternyata pak Beni gak seburuk itu kok !'


Batin Nayla sambil melanjutkan kegiatan memasaknya.


'Kenapa orang - orang pada gak suka kepadanya yah ?'


Batinnya lagi sebelum dikejutkan oleh suara tak asing yang berasal dari arah belakang.


“Hakhakhak… Pagi - pagi udah wangi aja dirimu non” Ucap seseorang yang tiba - tiba datang sambil menyentuh bokong montok Nayla dari arah belakang.


“Pakkk… Jangaannn… Lepaskan ! Jangan kurang ajar yah pak !” Lirih Nayla terkejut hingga memaksa tangan pembantunya untuk menjauhkannya dari bagian privatnya.


“Hakhakhak… Gimana caranya ? Saya gak tau non… Daritadi tangan saya udah nempel sama bokong non” Ucap pak Urip malah bertindak kurang ajar dengan meremas bokong montok majikannya.


“Mmppphhh… Ada suamiku pak… Tolong jangan bertindak aneh - aneh !” Desah Nayla secara pelan setelah menerima remasannya sebentar. Nayla yang masih membelakangi pak Urip berulang kali berusaha menjauhkan tangan pembantunya itu dari bokongnya. Namun yang ada pembantunya itu malah makin kurang ajar. Nayla gundah, matanya pun melirik ke arah ruang tamu tuk melihat keadaan suaminya.


“Hakhakhak… Makin hari kok saya makin nafsu aja sama non yah… Matamu ini, seksinya tubuhmu ini, indahnya penampilanmu pagi ini… Saya jadi gak sabar pengen ngentotin tubuh non lagi hari ini” Ucap pak Urip dengan begitu vulgarnya sambil mendekap pinggul majikannya dari arah belakang. Dekapannya pun naik hingga meremas buah dadanya dari belakang. Sontak Nayla langsung memejam merasakan remasannya yang begitu terasa. Nayla pun menoleh ke belakang. Namun ia malah melihat wajah penuh nafsu yang dikeluarkan oleh pria tambun itu. Nayla kesal namun ia malah merinding karena remasannya membuat darahnya berdesir.


MEBP1PO

https://thumbs4.imagebam.com/91/9f/ac/MEBP1PO_t.jpg   91/9f/ac/MEBP1PO_t.jpg

'NAYLA


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


“Mmppphhh jangaannn paakkk… Aku mohon !” Desah Nayla sambil memegangi kedua tangan pembantunya yang tengah meremasi dadanya.


Andai kan ada seseorang yang melihatnya. Pasti orang itu tak percaya dengan apa yang dilihat dengan kedua matanya. Bagaimana bisa ada akhwat bercadar yang sudah tampil rapih justru tengah diremasi dadanya oleh pria tambun yang tampilannya masih acak - acakan karena belum mandi bahkan rambutnya saja masih berantakan. Terlihat pria tambun itu begitu bernafsu dan masalahnya nafsu Nayla diam - diam juga bangkit meski hanya diremasi dadanya oleh pria tambun itu.


“Ouuhhh kenyalnyaaa… Kenyal banget susumu nonn… Makin gak rela saya buat lepasin kenikmatan ini sekarang… Apa saya eksekusi non aja yah sekarang ?” Ucap pak Urip sambil terus meremasi dada majikannya yang membuat Nayla terkejut lalu menoleh menatap pak Urip.


“Jangan aneh - aneh pak… Suamiku ada di sana !” Ucap Nayla ketakutan sambil melirik ke arah suaminya.


“Hakhakhak… Makanya, kalau kita buru - buru… Kita gak bakal ketahuan kan ?” Ucap pak Urip sambil menaikan sisi bawah gamis majikannya hingga kaki Nayla tersingkap. Tangannya dengan liar meraba paha mulusnya. Tangannya pun semakin naik hingga tiba di selangkangannya. Nayla mendesah juga deg - degan dengan perlakuan liar pembantunya. Dirinya yang sudah disetubuhi dua kali oleh pembantunya tak bisa melawan. Ia berdiam seperti itu bukan karena pasrah. Tapi ia hanya bingung harus melakukan apa ? Haruskah ia berteriak dan merelakan harga dirinya didepan suaminya ? Ia tak mau suaminya tahu kalau dirinya sudah dinodai oleh pembantunya. Ia pun hanya memejam saat tangan nakal pembantunya itu masuk kemudian menyentuh bibir vaginanya.


“Aaaaaahhhhhh” desah Nayla tanpa sadar.


“Hakhakhak… Kok udah basah ? Dasar ! Baru tau kalau non ini ternyata sangean yah ?” Ejek pak Urip yang membuat Nayla kesal.


“Enggaakkk aaaahhhh… Udah paakkk… Nanti ketahuan suami aku… Udahhh ! Hentikan paakkk !” Lirih Nayla sambil menahan kenikmatan yang sedang ia dapatkan.


“Hakhakhak… Emang non sanggup ? Keliatan banget muka non lagi keenakan gitu !” Ejek pak Urip sambil menekan klitorisnya yang membuat pinggul Nayla bergoyang menahan sensasinya.


“Aaaahhhh paakkk jangaannn… Aaaaahhhhh… Aaaahhhhh” desah Nayla dengan lirih lalu merapatkan bibirnya.


Melihat akhwat itu keenakan membuat pak Urip jadi semakin berani. Dikala tangan kirinya terus meremas buah dada majikannya maka tangan kanannya terus menekan klitorisnya. Jemarinya juga mulai masuk mengorek liang senggamanya. Terasa jemarinya begitu basah. Pak Urip tertawa sambil memasukan jemarinya lebih dalam lagi.


“Aaaahhhhhh paaaakkkk… Aaahhhh sudaaahhhh !” desah Nayla yang tak kuat lagi hingga memejam merasakan kenikmatan yang ia dapatkan.


“Hakhakhak… Sampai merem melek gitu non… Tenang ini belum seberapa… Akan saya berikan kenikmatan yang lebih lagi daripada ini !” Ucap pak Urip bertekad.


Tiba - tiba pria tua berperut buncit itu menaikan gamis Nayla lebih tinggi lagi hingga bongkahan pantatnya yang masih tertutupi celana dalamnya sebagian terlihat. Pak Urip yang kian bernafsu langsung menurunkannya. Dalam sekejap ia juga menurunkan celananya sendiri lalu mendekatkan pentol gundulnya ke arah lubang vagina majikannya.


“Mmmppphhhhh”


Saat dua kelamin mereka mulai bersentuhan, pak Urip mulai tersenyum senang. Berbeda dengan majikannya yang waswas. Pak Urip malah tertawa puas. Tangan kirinya jadi semakin kuat dalam meremas dada majikannya sedangkan tangan kanannya memegangi penisnya untuk memasukannya lagi ke dalam liang kenikmataan itu.


Uuuuhhhhhh nikmatnya memekmu, non… Hakhakhak” Tawa pak Urip dengan lirih saat penisnya kembali dijepit menggunakan liang senggama majikannya yang begitu hangat.


“Aaaahhh paaakkkkk” Desah Nayla hingga tubuhnya terdorong maju ke depan.


Nayla yang saat itu sedang merebus sayuran langsung memegangi tepi keramik yang menjadi alas kompor di ruangan dapurnya. Ia mencoba menahan dorongan penis pak Urip yang memaksanya untuk maju mendekati kompornya. Terasa tusukannya begitu dalam. Terasa tusukannya begitu nikmat yang membuat Nayla tanpa sadar menikmati tusukannya.


'Aaaahhhhh enakkk bangettt… Kenapa aku nafsu lagi sih ?'


Batin Nayla heran kenapa dirinya kembali terangsang.


'Bukannya aku gak minum air lemon itu lagi hari ini ? Kenapa aku masih kayak gini ?'


Batin Nayla heran.


Ditengah keheranannya, pak Urip tiba - tiba menarik pinggulnya hingga menyisakan ujung gundulnya saja di pintu masuk vagina majikannya. Kedua tangannya pun memegangi pinggul Nayla. Lalu ia meminta majikan bercadarnya itu untuk sedikit menunduk untuk memudahkan penetrasi penisnya di dalam liang senggamanya.


“Aaaaaahhhhh” desah Pak Urip dengan lirih saat penisnya ia masukkan dengan cepat ke dalam rahim majikannya.


“Aaaahhh paaakkk” desah Nayla pelan - pelan sambil menoleh menatap pembantunya.


Namun pembantunya itu malah tersenyum yang membuat Nayla sampai bingung harus bagaimana. Di lain sisi penetrasi yang pak Urip lakukan terasa begitu nikmat yang membuatnya ingin merasakannya sekali lagi. Tapi di lain sisi ia sadar kalau itu merupakan perbuatan yang salah. Sebagai seorang istri yang terhormat ia berusaha menjauh namun nafsu birahinya mencegahnya.


“Ouuhhhh noonnn… Ouhhhh yahhh… Ouhhhh nikmat banget jepitanmu itu, sayaanggg” desah pak Urip keenakan yang membuat Nayla risih.


“Mmpphhh pakk… Mmphhh jangaaann… Mmpphhh hentikaannn” Pinta Nayla secara pelan - pelan meski nafsunya berkata sebaliknya.


Sodokan pak Urip lama - lama makin kencang. Penisnya dengan jantan menggesek - gesek dinding vagina majikannya yang perlahan semakin lembap dibanjiri cairan cintanya. Pak Urip membuka mulutnya sedikit lalu mengeluarkan deru nafasnya yang hangat. Matanya lalu memejam menikmati jepitannya yang amat sangat nikmat. Dekapan tangannya dipererat. Tangannya mencengkram gamis majikannya dengan kuat. Suara benturan antar kelamin yang semakin keras membuat ia menurunkan kecepatannya. Ia melambat tapi tetap terasa nikmat. Terasa penisnya semakin basah, Terasa penisnya kesulitan karena vagina majikannya menyempit saat menjepit penisnya.


“Ouuhhh gilaaa… Ouhhhhh… Mmmmpphhhh” desah pak Urip sambil membuka matanya lagi. Ia tak ingin menyia - nyiakan momen ini. Ia pun kembali mempercepatnya sambil menikmati sisi punggung Nayla yang masih tertutupi pakaiannya.


“Aaahhhhh… Aahhhh paakkkk… Aaaaaaahhhhh” desah Nayla saat sodokan majikannya semakin kuat.


'Plookk… Plookk… Plookkk !!!'


Rahim Nayla tertusuk oleh ujung gundul pembantunya yang maruk. Deru nafas Nayla semakin sesak dan mulutnya ingin membuka tuk berteriak. Rasanya amat sangat nikmat saat penis pembantunya itu menusuknya dengan begitu kejam.


Nayla merasa aneh. Ia merasa aneh pada tubuhnya sendiri. Semakin lama pak Urip menyetubuhinya ia malah semakin menikmati pelecehannya. Ia heran tapi nafsunya tak membiarkan. Nampak tangan pak Urip menarik tubuh Nayla mundur lalu memegangi kedua tangannya ke belakang. Tubuh Nayla agak membusung. Nampak sodokan pak Urip di percepat hingga payudara Nayla bergoyang dibalik gamis yang dikenakannya.


“Aaahhhh yaahhh… Aaaaahhh… Aaaahhhhh” desah pak Urip semakin menikmati sodokannya.


“Paaakkk mmpphhh… Mmpphhh… Mmmpphh” desah Nayla sambil menggelengkan kepala.


Nayla lama - lama merasakan adanya tanda - tanda orgasme. Vaginanya berdenyut dan matanya merem melek penuh keenakan. Nayla merasa malu karena bisa - bisanya hampir berorgasme setelah diperkosa pembantunya di pagi hari. Padahal ada suaminya di ruangan sebelah. Kenapa ia malah menikmatinya bahkan nyaris mendapatkan orgasme sebentar lagi.


'Oh yah mas Miftah ?'


Batin Nayla teringat hingga wajahnya menoleh ke arahnya.


Terlihat Miftah dengan tenang menonton acara televisi. Sesekali pria tampan itu menguap di pagi hari. Sesekali pria tampan itu mengucek matanya. Sesekali ia meminum air yang ada di gelasnya. Ia terlihat tenang tanpa tahu kejadian yang ada di ruangan sebelah. Sungguh ironi memang, bagaimana bisa ada seorang suami yang terlihat tenang - tenang saja saat istrinya diperkosa di ruangan sebelah.


'Maasss toloongg jangann liaaattt !'


Batin Nayla pasrah hingga menutup matanya saat dirinya menginginkan orgasme dari penis pembantunya.


“Aaaahhhh… Aaahhh… Aaaahhhh” desah pak Urip mempercepat sodokannya.


“Paaakkkk aaaahhh… Aaaaahhhh… Aaaahhh” desah Nayla terlihat tak kuat lagi.


“Aaahhh… Aahhhh… Aaahhhh puass sekali saya nonn… Terima ini ! Terima sodokan saya ini !” Ujar pak Urip memperkuat hujamannya.


“Aaaahhh paaakkk… Aaahhh… Pellaannn… AAAAAHHHHH !!!” Jerit Nayla tak sengaja.


“Deeekkk ?” Ucap suaminya saat mendengar jeritan istrinya.


“Siaaalll !” Lirih pak Urip menyadari aksinya ketahuan. Dengan segera ia menarik lepas penisnya membuat akhwat bercadar itu jatuh dalam posisi kaki ditekuk ke samping.


“Deeekk… Kenapa ?” Tanya Miftah sekali lagi sambil berlari mendekati istrinya.


Pak Urip yang takut aksinya ketahuan langsung pergi memasuki kamar mandi untuk bersembunyi dari keberadaan Miftah.


“Hah… Hah… Hah” Desah Nayla ngos - ngosan sambil menatap lantai dibawahnya. Nayla terasa kesal. Ia kesal bukan karena habis diperkosa pembantunya. Ia kesal karena dirinya keceplosan menjerit padahal dirinya hampir mendapatkan orgasme di pagi hari.


“Dekkk kenapa ? Hooaaaammm” Tanya Miftah terkejut saat melihat istrinya terduduk di ruangan dapur.


“Eh mas… Hehehe aku gapapa, tadi kaki aku… Ya kaki aku kepentok meja jadi aku duduk sebentar deh… Hehehe… Hah… Hah… Hah” desah Nayla sambil menyembunyikan ngos - ngosannya.


“Oalah kirain kenapa… Bikin khawatir aja” Ucap Miftah tersenyum dan berniat hendak membantu istrinya berdiri. Terlihat Miftah kembali menguap sambil mengucek - ngucek matanya.


“Eh nanti aja mas… Gak usah… Aku mau duduk sebentar… Hehe” Ucap Nayla menolak.


“Eh sakit banget yah ? Hoaaammmm” Tanya Miftah kembali khawatir.


“Enggak kok mas… Eh, Mas ngantuk yah ?” Ucap Nayla heran melihat suaminya dari tadi menguap terus.


“Hehe kayaknya iya… Gara - gara semalem bergadang kayaknya… Yaudah deh Mas kembali ke ruang tamu dulu yah” Ucap Miftah pamit pergi.


“Iyya mas” Jawab Nayla lega karena suaminya kembali pergi dari ruangan ini.


Saat Miftah pergi menjauh terlihat pak Urip mengintip dari balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Saat Nayla menyadarinya ia hanya bisa menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Ia kesal. Ia marah. Tapi ia marah bukan karena telah diperkosa. Tapi ia marah karena menikmati persetubuhannya dengan lelaki jelek yang menjadi pembantunya.


'Kenapa sih aku ini ? Kenapa aku malah makin rusak gini ?'


Batin Nayla heran.


Seketika ia menyadari kalau pembantunya sudah bertelanjang bulat di dalam kamar mandi. Pria tambun itu juga memamerkan penisnya yang terlihat begitu besar tengah dikocok - kocok olehnya. Nayla yang sedang bernafsu secara tak sengaja menatapnya. Nayla mematung. Matanya tak bisa ia alihkan dari penis pembantunya yang sedang dikocok - kocoknya itu.


'Astaghfirullah… Ada apa denganku ?'


Batin Nayla menyadarkan diri sambil menggeleng - gelengkan kepalanya. Ia berusaha menoleh tuk membuang pandangannya dari penis itu. Namun saat ia kembali menatap ke arah kamar mandi. Ia menyadari kalau pak Urip dengan berani malah keluar dalam keadaan telanjang bulat.


“Paaakkkk” Ucap Nayla terkejut hingga kedua tangannya ia gunakan tuk menutupi mulutnya dari balik cadarnya.


“Hakhakhak… Coba berdiri sayang, liat suamimu… Sudah tertidur belum ?” Tanya pak Urip sambil mengocok penisnya.


Nayla tanpa menjawab kata - katanya langsung berdiri untuk menoleh menatap ke ruangan sebelah. Ia terkejut saat melihat rupanya suaminya tengah tertidur diatas sofa panjangnya. Saat ia menatap ke arah meja ruang tamu. Ia menyadari adanya gelas kosong yang membuat mata Nayla terbuka lebar. Seketika ia menatap pembantunya. Pembantunya itu hanya tersenyum sambil mengangguk - nganggukan kepala.


“Ya, suamimu sudah saya beri obat tidur seperti yang saya lakukan padamu waktu itu… Gak nyangka juga kalau efeknya cukup lama… Apa dosisnya kurang banyak yah hakhakhak” Ucap pak Urip sambil mendekati tubuh Nayla yang masih berdiri ketakutan.


“Ehhh paaakkkk… Jangannn lagiii” Ucap Nayla bingung harus bagaimana. Di lain sisi ia masih bernafsu tapi di lain sisi ia enggan untuk melakukannya lagi.


Tiba - tiba bahu Nayla disentuh oleh majikannya. Nampak wajah pak Urip dengan penuh nafsu menatap majikannya. Lidahnya keluar menjilati tepi bibirnya. Wajahnya yang jelek membuat Nayla terpaksa membuang mukanya.


“Maaaff sayaangg… Tadi sodokan saya terlalu kuat yah ? Tapi sekarang tenang aja… Gak ada pengganggu yang bisa menghalangi aksi ngentot kita lagi… Ayo balik badan… Kita lanjutkan sekarang !” Ucap pak Urip sambil membalik tubuh Nayla dengan paksa yang membuat majikannya itu tidak mampu berbuat apa - apa.


“Aaahhhhh” desah Nayla kembali berbalik menatap kompor.


Entah kenapa saat melihat sayuran yang ia rebus sudah mendidih, ia langsung mematikan kompornya seolah ia tahu kalau ia membutuhkan waktu yang lama untuk melanjutkan masak - masaknya kembali. Alias, ia membutuhkan waktu yang lama untuk memuasi pembantu tuanya yang begitu bernafsu padanya sebelum dirinya bisa memasak lagi.


Pak Urip dengan penuh nafsu mengangkat gamis Nayla lagi hingga ke pinggang. Ia kini memelorotkan celana dalamnya hingga jatuh melewati kedua mata kakinya. Kedua tangannya mengusapi bokong montoknya. Nampak pria tua yang beruntung itu semakin bernafsu untuk memuasi majikan alimnya.


“Siaappp yahhh sekarang… Hennkkghhh !!” Desah pak Urip saat kembali mengambleskan penisnya menerjang liang senggama majikannya.


“Ouuuhhhhh paaaakkkk” desah Nayla memejam sambil bertumpu pada tepi keramik di depannya.


Terasa penis itu masuk begitu dalam membuat akhwat bercadar itu mengerang keenakan. Ukurannya yang besar membuat vaginanya terasa penuh di dalam. Tak ada satupun ruang yang tersisa didalam. Gesekannya yang begitu terasa membuat rasa gatal yang ia rasakan di vaginanya menghilang. Kekuatannya saat menerjang memberikan sensasi tersendiri yang membuat akhwat bercadar itu mabuk kepayang. Wajah Nayla memejam keenakan. Orang - orang yang melihatnya pasti tidak akan mengira kalau Nayla sedang diperkosa. Mereka terlihat seperti suka sama suka. Tidak ada paksaan yang terlihat dari pemerkosaan Nayla.


“Hakhakhak… Dah sange berat yah sayang ?” ejek pak Urip yang menyakiti perasaan Nayla.


Nayla ingin membalas tapi bingung dengan kata - kata yang nyangkut di lidahnya. Karena sejujurnya pun, Nayla memang sedang terangsang hebat dan membutuhkan penis perkasa yang bisa memuasi hawa nafsunya.


“Aaaahhhh paaakkkk” desah Nayla yang kini lebih bebas setelah tertidurnya suaminya di ruangan sebelah.


“Hakhakhak ya gitu sayaanggg… Mendesahlah… Mendesahlah sepuasmu karena tidak ada yang bisa menganggu aksi kita lagi” Ucap pak Urip sambil maju mundur memuasi majikannya itu.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Aaaahhhhh” desah Nayla kesal sambil meanahan sodokan pembantunya.


'Kenapa ini ? Kenapa aku terangsang lagi ? Apa yang membuatku seperti ini ? Padahal aku enggak minum… Tapi kenapa aku masih terangsang kayak gini ?'


Batin Nayla ditengah - tengah sodokannya.


“Aaaahhhh… Aaahhh nikmatnyaaa… Puas banget rasanya bisa genjot memekmu lagi sayaanggg” Desah pak Urip melecehkan majikannya.


“Aaaahhh paakkkkkk pelaann… Aaahhhh… Aaaahhh” desah Nayla saat sodokan pembantunya semakin kencang.


“Hakhakhak ayo mendesah terus… Lonte sepertimu memang harus dihukum !… Bisa - bisanya lonte sepertimu malah ngajak saya ngentot ketika suamimu tidur di ruangan sebelah… Dasar lonte bejat ! Dasar lonte laknat !” Ucap pak Urip saking bernafsunya hingga melecehkan harga diri majikannya.


“Aaahhhh… Aaahhh… Aku gak seperti itu paakk… Aku gak pernah ngajak bapaakk… Akuuu aaaahhhhhh” desah Nayla yang anehnya gak marah tapi malah semakin terangsang saat dirinya diejek sebagai lonte oleh pembantunya.


Menyadari majikannya malah semakin terangsang membuat pak Urip semakin liar dalam menyetubuhi majikannya. Tangannya yang tadi memegangi pinggul majikannya bergerak naik sambil mengangkat gamis yang dikenakan olehnya. Tangannya mengelusi pinggang rampingnya lalu maju ke depan tuk mengusapi perut ratanya. Terasa kulitnya yang begitu mulus. Terasa kulitnya yang begitu halus. Tangannya kembali naik tuk meraba dada majikannya yang masih tertutupi behanya. Ia pun meremasnya lalu menurunkan cup branya untuk menyubit puting susunya.


“Aaaahhhh bapaaakkk… Aaaahhhhh… Aaaahhhh” desah Nayla sampai merinding merasakan sensasinya.


“Hakhakhak… Non gak pernah sepuas ini pas ngentot kan ? Hakhakhak… Nikmatilah… Nikmati persembahan yang saya lakukan untukmu… Rasakan genjotan saya… Rasakan rangsangan saya saat memijiti susumu” Ucap pak Urip sambil terus menggenjotnya dan meraba - raba dada montoknya.


Nayla blingsatan. Ia mengaku kalau belum pernah disetubuhi seliar ini oleh suaminya. Ia sangat menikmatinya. Ia sangat menikmati perlakuan pembantunya. Tapi, apakah ini merupakan perbuatan yang benar ? Tentu tidak. Dengan sisa harga dirinya ia berusaha menolak meski nafsu begitu menginginkan perbuatan lebih dari pembantunya.


“Ccuuukkuuppp… Mmpphhhh… Hentikaannn paakkk… Aaaaahhhh” desah Nayla meski wajahnya berkata sebaliknya.


“Cukup ? Yakin non ?” Ejek pak Urip sambil tersenyum.


“Cukuppp paaakk…. Sudaahhh… Akuuu aahhhh… Aaahhhh… Aaahhhh” desah Nayla yang terus berseberangan dengan keinginan hawa nafsunya.


Pak Urip pun hanya tertawa melihat majikannya yang begitu tersiksa. Antara harga diri atau kepuasan. Terlihat majikannya masih bingung memilih yang mana. Pak Urip pun terpikirkan ide. Disaat sodokannya semakin cepat tiba - tiba ia menariknya lepas yang membuat keinginan majikannya itu terkabul seketika.


“Aaaaaaahhhhh” jerit Nayla saat vaginanya menjadi hampa tanpa diisi penis pembantunya.


“Non minta udahan kan ? Yaudah saya kabulkan” Ucap pak Urip yang anehnya malah membuat Nayla menoleh tak terima.


'Tapi aku… Paak… Bukan ini yang aku pinta !'


Batin Nayla merasa gelisah sambil menatap pembantunya.


“Hakhakhak… Apa liat - liat ?” Tanya pak Urip sambil duduk di salah satu kursi di dekat meja makan sambil mengocok - ngocok penisnya. Pria tua yang sudah telanjang bulat itu begitu percaya diri sambil mengocok penisnya. Ia pun menatap wajah majikannya yang masih berpakaian lengkap. Gamisnya yang tadi tersingkap juga sudah kembali ke bawah. Namun wajah majikannya malah menatap penisnya seolah masih menginginkan sodokannya.


“Non ? Masih mau ?” Tanya pak Urip yang membuat Nayla menoleh.


“Apa ? Enggak… Hah… Hah… Hah” desah Nayla ngos - ngosan tapi masih menatap penis dihadapannya.


Ya Nayla sudah berbalik badan. Dirinya yang masih terangsang menatap penis raksasa itu yang begitu jantan. Ukurannya, warnanya yang begitu hitam, serta bulatannya yang begitu besar memanjakan mata Nayla yang ingin mendekapnya lalu mendapatkan kepuasan darinya. Mata Nayla seolah terhipnotis. Tanpa sadar ia mendekat yang membuat pak Urip senyum - senyum saat melihatnya.


“Heh ngapain kesini ? Katanya udahan” Ucap pak Urip yang membuat Nayla menenggak ludah.


“Tapiii akuu…” Ucap Nayla bingung dengan tubuhnya sendiri.


“Hakhakhak… Non masih mau ?” Tanya pak Urip yang membuat tubuh Nayla merinding saat mendengarnya.


“Ituu… Ituuu” Ucap Nayla bingung.


“Hakhakhak… Pasti mau lah yah… Kalau non ngaku nanti akan saya beri” Ucap pak Urip berusaha tuk menundukkan ego majikannya.


“Apa ? Mana mungkin aku . . . . Mmmpphh” desah Nayla saat vaginanya kembali gatal karena belum mendapatkan kepuasan.


“Hakhakhak… Memekmu berkata lain tuhhh” Ucap pak Urip mengejek Nayla.


“Tapii pakk… Aku mmpphhhh” desah Nayla tak kuat lagi meski hatinya merasa tidak ingin.


“Hakhakhak… Udah ngaku aja… Coba bilang aku butuh kontol bapak… Nanti saya izinkan non mainin kontol saya” Ucap pak Urip berada diatas angin.


“Apa ? Aku harus bilang kayak gitu ?” Ucap Nayla tidak terima.


“Kalau gak mau yaudah” Ucap Pak Urip berdiri lalu beranjak pergi sambil membalikan badan.


“Tunggu pakk… Mmpphhh” desah Nayla sambil memegangi vaginanya merasa tak tahan.


“Hakhakhak… Ada apa sayang ?” Tanya pak Urip tersenyum.


“Tolonggg jangann pergi… Aku butuh kontol bapaakkk… Tolonggg paakk” Ucap Nayla yang membuat pak Urip tertawa.


“Hakhakhak… Sekali lagi… Yang tulus” Pinta pak Urip sambil kembali duduk diatas kursinya.


Nayla terlihat risih dengan banyaknya permintaan yang pak Urip inginkan. Namun karena nafsunya tak tahan lagi. Ia dengan rela membuang harga dirinya demi memohon kepuasan kepada pembantu tuanya.


“Tolongg puasi aku pakk… Aku butuh kontol bapaakkk… Tolongg lakukan apa aja asal aku bisa lepas dari siksaan ini pak… Bapak bebas melakukan apa aja… Tolonggg puasi aku pak” Pinta Nayla meski hatinya menangis. Nampak air matanya berkaca - kaca. Tapi vaginanya juga berkaca - kaca oleh cairan cintanya yang semakin membanjir saja.


“Hakhakhak… Baiklah… Sekarang telanjangi dirimu lalu non bisa duduk diatas pangkuan saya” Ucap pak Urip meminta.


Nayla pasrah melakukan apa yang pembantunya inginkan. Dengan malu - malu ia melepas ikatan di pinggangnya lalu menurunkan resleting di punggungnya. Dalam sekejap gamis hitamnya itu jatuh ke lantai melewati tubuh indahnya. Nampak susu bulatnya menggoda. Nampak pusarnya menarik perhatian pembantunya. Nampak kaki jenjangnya membuat pak Urip ingin menjilatinya. Nampak keindahannya membuat pak Urip semakin bernafsu ingin menggenjotnya.


Nayla kemudian menjatuhkan branya hingga membuat akhwat bercadar itu telanjang bulat menyisakan hijab beserta cadarnya saja. Dengan malu - malu ia mendekat ke arah pembantunya. Meski hatinya tak sudi namun nafsunya terus memaksanya untuk melakukan perbuatan yang merendahkan harga dirinya.


Nayla naik ke atas pangkuan pembantunya. Kedua tangannya memegangi bahunya. Ia pelan - pelan menurunkan tubuhnya hingga vaginanya kembali ditusuk oleh penis kekar pembantunya.


“Uuuuhhhhhh” desah Nayla sambil memejam.


“Hakhakhak… Indahnya wajahmu ini non… Ayo goyang… Kalau non butuh kepuasan ya usaha sendiri dong” Ejek pak Urip yang membuat Nayla mau tak mau melakukannya.


MEBP1PP

https://thumbs4.imagebam.com/3c/4b/50/MEBP1PP_t.jpg   3c/4b/50/MEBP1PP_t.jpg

'NAYLA


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


Lagi, Nayla diminta bergoyang diatas pangkuan pembantunya. Nayla terpaksa melakukannya. Nayla terpaksa memuasi nafsu pembantunya.


Tubuhnya diangkat lalu diturunkan. Vaginanya diangkat lalu kembali diturunkan. Terasa gesekannya membuat mata Nayla memejam. Penis pak Urip yang begitu keras memberikan sensasi tersendiri baginya. Nayla sampai mendesah hingga deru nafasnya mengenai wajah pembantunya meski ada cadar yang menghalanginya. Pak Urip terus tersenyum. Ia begitu dimanjakan oleh goyangan serta raut wajah majikannya yang begitu terangsang.


“Hakhakhak… Ayo lagi non… Segini doang mah gak ada rasanya… Ayo !” Ucap pak Urip menaikan pinggulnya yang membuat tubuh Nayla terbang lalu kembali jatuh hingga membuat rahimnya tertusuk oleh penis pembantunya.


“Aaahhh iyaaahhh paaakk” Desah Nayla spontan.


Nayla mulai mempercepat goyangannya. Tubuhnya ia angkat lalu ia benamkan. Ia melakukannya sambil memejam karena tak ingin menatap pria tua yang sedang menikmati goyangannya. Ia mendesah juga mengerang penuh kenikmatan. Gesekannya membuat lendir di dalam vaginanya semakin banyak. Hal itu lah yang membuat Nayla semakin nikmat. Ia kembali mempercepatnya. Dadanya sampai bergoyang naik turun memanjakan mata pembantunya.


“Aaaaahhhhhh” desah Nayla sambil membuka mata dan mendapati pak Urip tengah menyusu saat dirinya menggoyang tubuhnya.


Nayla kembali memejam saat mendapatkan rangsangan tambahan yang membuatnya semakin kenikmatan.


Mmpphhh... Mmpphhh... Manisnya susumu... Mmpphh sslllrrppp desah pak Urip saat menyusu dan menyeruput putingnya.


Aahhh paakkk gelii... Aaahhh... Aaahhhh desah Nayla merinding.


Mmpphhh nikmatnyaaaa.... Mmpphh... Mmmpphhh desah pak Urip saat menghisap puting susu Nayla lebih kuat lagi.


Aaaahhhh... Aaaahhhhhhh desah Nayla semakin keras.


Pak Urip dengan beringas meremas dan menyeruput pentil susu Nayla hingga puas. Bibirnya mengatup rapat. Lidahnya menggeliat tuk menjilat. Nampak susu Nayla semakin basah. Nampak susunya semakin mengejang saja.


Aaaahhh... Aaaahhhhh... Aaaahhhh desah Nayla semakin keras saat nafsunya hampir mencapai puncak.


Mmpphh aaahhh... Mmpphh yaahhh... Ayo goyang terus non... Yang keras... Yang cepat !!! Desah pak Urip menyemangati.


Aaahhh iyyaahhh... Iyyaahhh desah Nayla yang sudah sangat bernafsu.


Pak Urip tertawa. Ia pun kembali menyandarkan tubuhnya tuk menatap goyangan tubuh Nayla yang semakin liar.


Sambil memegangi bahu pembantunya. Nayla mengangkat tubuhnya setinggi - tingginya lalu membenamkannya sedalam - dalamnya. Tusukan penis pembantunya jadi semakin terasa. Sensasi liarnya membuat pikirannya semakin bernafsu untuk mendapatkan kenikmatan dari pembantunya.


Aaahhhh... Aaaaahhhh


Nayla menggoyang tubuhnya maju mundur. Gerakannya seperti sedang menguleg sambel. Terasa sensasi pedas di vaginanya. Terasa sensasi panas yang membuat dirinya tak pernah puas. Nayla kemudian melakukan gerakan memutar. Gerakannya seperti sedang menggerakan persneling mobil. Vaginanya seperti sedang diubek - ubek saja. Nayla puas. Kedua tangannya pun ia taruh di sisi kanan kiri tubuhnya membiarkan tubuhnya mengaduk - ngaduk penis pejantannya.


Aaaahhh... Aaaahhhh... Aaaaahhhhh desah Nayla saat merasakan tanda - tanda orgasme mendekat.


Hakhakhak... Aayooo... Aayyooo nonn... Uhhhhhh desah pak Urip tertawa puas.


Gairah birahi Nayla terbakar. Nafsunya membara. Tubuhnya semakin gerah. Ia benar - benar ingin menuntaskannya tuk melampiaskan nafsunya pada pejantan tambunnya. Gerakannya dipercepat. Goyangannya jadi semakin nikmat.


Aaaahhh paakkk... Aaahhhh... Aaaahhhhh desah Nayla tak kuat lagi.


Ouuhhh yaaahhh... Aaayyooo nonnn... Terusss... Aaahhh nikmatnyaaaa


Dada Nayla semakin sesak dan vaginanya semakin becek. Ia sudah tak kuat lagi. Ia ingin melampiaskannya sekarang.


Aaahhh akuu mauu kelluaarrr... Akuuu maauu kelluaarrr jerit Nayla.


Tubuhnya kembali bergerak naik turun. Gerakannya yang terlalu cepat membuat pak Urip sampai harus memegangi pinggangnya. Saat ia merasakan cairan cintanya mendekati lubang kencingnya. Ia pun membamkan tubuhnya sedalam - dalamnya ke arah pangkuan pembantunya hingga pria tua itu merasakan penisnya menusuk begitu dalam ke arah rahim kehangatannya.


Aaaahhhh kelluaaaarrrrr !!!


'Jlleeebbbb !!!'


Aaaaahhhh gilaaaa... Hakhakhak tawa pak Urip puas.


'Cccrrrttt... Cccrrrttt... Cccrrrttt !!!'


Akhirnya yang Nayla tunggu - tunggu pun datang juga. Gelombang orgasme yang susah - susah ia dapatkan menyembur keluar dengan begitu derasnya menghantam penis sang pejantan yang masih menyangkut di dalam. Mata Nayla merem melek. Tubuhnya kelojotan. Rasanya sangat puas hingga saat tetes terakhirnya keluar, tubuh telanjang Nayla sampai bergidik dibuatnya.


Hah... Hah... Hah desah Nayla ngos-ngosan saat ambruk diatas tubuh tambun pembantunya. Tercium bau keringat beraroma pria tua dari tubuh pak Urip. Namun Nayla yang sudah sangat lemas hanya berdiam saja sambil memeluk tubuh tambun pembantunya tanpa sadar.


Hakhakhak... Gimana ? Puas ? Ejek pak Urip yang tak dipedulikan oleh Nayla.


Hakhakhak sombong nih... Lagian ini yang goyang siapa tapi yang keluar siapa... Jadi ini skormya gimana yah... 2-1 untuk saya kan ? Gara - gara tadi non bikin gol bunuh diri gitu ? Hakhakhak tawa pak Urip yang berhasil membuat Nayla kelojotan sampai lemas.


Hah... Hah... Apa yang bapak lakukan kepadaku ? Hah... Hah... Kenapa aku bisa terangsang lagi ? Padahal aku enggak meminum air lemon itu, pak ! Tanya Nayla yang begotu penasaran.


Hakhakhak... Entahlah... Mungkin jiwa lonte yang ada di dalam diri non mulai bangkit ejek pak Urip.


Hah... Hah... Pakkk... Aku seriusss... Apa yang bapak lakukan padaku ? Ucap Nayla tegas.


Hakhakhak.... Galak amat sih non... Iya deh iya saya kasih tau... Sebenarnya, efek dari minuman yang sering non minum kemarin itu mulai menjalar di tubuh non... Ibarat racun maka efeknya bisa membuat non gampang terangsang meski itu hanya sentuhan ringan… Cepat atau lambat baik non tidak meminum air lemon itu lagi atau meminumnya... Non akan tetep terangsang tiba - tiba... Bisa dibilang racunnya mulai hidup di dalam tubuh non... Hakhakhak tawa pak Urip yang membuat Nayla merinding.


Maksudnya ? Bisa jadi besok aku akan . . . . Ucap Nayla terputus.


Ya, non akan menggila seperti lonte yang butuh pemuas... Tapi tenang aja... Ada saya yang akan memuasimu kok hakhakhak jawab Pak Urip dengan santai yang membuat Nayla lemas.


'Benarkah ? Bakal seperti ini kah nasibku kedepannya ?'


Batin Nayla tak percaya.


Ditengah keheningan yang menimpa mereka berdua. Tiba - tiba pak Urip berdiri lalu menarik tubuh Nayla yang masih lemas tak berdaya. Sontak Nayla terkejut saat dirinya hendak dibawa ke suatu tempat. Akhwat bercadar itu lalu bertanya pada pembantunya.


Pakkk mau kemana ? Disana ada suamiku pak ucap Nayla menyadari kalau diri mereka akan menuju ruang tamu.


Hakhakhak... Saya belum keluar non... Saya mau ngentotin non di ruang tamu ucap pak Urip mengejutkan Nayla.


APA ? Tapi pak... Disana ada suamiku ucap Nayla panik.


Justru itu... Saya ingin menggenjotmu disana... Saya ingin merasakan sensasi saat menyetubuhi seorang akhwat disebelah suaminya... Hakhakhak... Pasti akan puas banget rasanya tawa pak Urip yang membuat Nayla tak percaya.


Paaakkk jangaaannn... Jangann disana paakk... Jangaaannn ucap Nayla bertahan namun semuanya percuma karena tenaga pak Urip yang terlalu besar.


Ayo hadap sini... Siappp yaaahhh ucap pak Urip saat memposisikan tubuh Nayla menungging menatap wajah suaminya yang tertidur pulas. Kedua tangannya bertumpu pada tepi sofa. Pak Urip yang berada di belakang bersiap - siap untuk menyobloskan penisnya.


Paaakk tungguuu... Jangaann paaakkk... Tollonggg uuuhhhhhh desah Nayla saat vaginanya kembali ditusuk oleh penis hitam itu.


'Jleeeeebbbbb !!!'


Aaaaahhh nikmatnyaaaa desah pak Urip tersenyum sambil menatap tubuh telanjang majikannya.


Meski Nayla sudah mendapatkan klimaksnya. Meski dirinya sudah tidak gelisah akibat rangsangan nafsu birahinya. Sensasi ditusuk oleh penis pejantan tuanya itu masih terasa di tubuhnya. Vaginanya yang sudah terlalu basah memudahkan penis itu untuk masuk ke dalam. Nayla memejam. Tanpa sadar ia kembali menikmati sodokan penis pejantannya yang terlalu masuk ke dalam.


“Paaakkkk mmmppphhhh” Desah Nayla sambil menoleh ke belakang.


“Hakhakhak… Apa liat - liat ? Itu loh liatin suamimu yang lagi non selingkuhin ! Bisa - bisanya suami lagi tidur malah ngentot dengan saya… Saya mah enak - enak aja hakhakhak… Hennkgghhh !” Tawa pak Urip yang langsung memulai persetubuhannya.


“Aaaaahhh bapaaakkkkk… Aaaahhhh” desah Nayla sambil memejam saat pinggul pak Urip bergoyang nikmat.


“Aaahhhh… Aaaaahhhh… Aaaahhhh… Liat ini pak Miftah… Liaat istrimu yang binal ini !” Ucap pak Urip yang membuat Nayla menatap suaminya yang tengah tertidur.


“Aaaahhhh… Aaaahhhh…. Aaaahhh maaassss” Desah Nayla keenakan.


“Meski dia keliatan alim di luar… Tapi nyatanya dia gak ada bedanya sama lonte di jalanan… Liat betapa keenakannya wajahnya saat saya sodok… Liat betapa binalnya tadi saat menggoyang kontol saya… Sayang sekali yah kalau dia gak sampai hamil oleh saya ? Aaaahhhh… Aaahhhh” desah pak Urip melampiaskan fantasinya sambil menikmati jepitan vaginanya.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Itu bohong masss… Maasss ahhhh toloongg… Aku diperkosa masss… Aaahhhhhh” desah Nayla yang malah makin menjerit merasakan tusukannya yang begitu tajam.


“Hakhakhak… Diperkosa kok malah menjerit keenakan… Dasar lonte ! Gak usah buat - buat alesan kalau keenakan ! Coba non tanya diri sendiri ? Non keenakan kan ? Aaahhh… Aaahhhh” desah pak Urip sambil terus menyetubuhinya.


“Akuuu… Aakkkuuu ? Aaaaaahhhhhh” desah Nayla sambil menggeleng kepala merasakan kenikmatan yang semakin enak.


'Apa benar aku seperti itu ? Jujur ya aku menikmatinya… Tapi kenapa ? Kenapa aku malah keenakan saat diperkosa ?'


Batin Nayla terkejut mengetahui kenyataan pada dirinya sendiri.


Pak Urip yang semakin keenakan menarik tangan kanan Nayla ke belakang. Akibatnya tubuh Nayla jadi terangkat sebagian. Dari belakang pak Urip dapat melihat pergerakan payudara kanan Nayla yang mendal - mendul. Pak Urip tertawa. Ia sangat puas pada persetubuhan yang sedang ia lakukan.


MEBP1PR

https://thumbs4.imagebam.com/c0/d2/86/MEBP1PR_t.jpg   c0/d2/86/MEBP1PR_t.jpg

'NAYLA


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


“Aaaaaaahhhhh… Aaaahhhhh… Aaaaaahhhh paaakkkk” desah Nayla saat menahan sodokan pak Urip yang semakin kuat.


“Hakhakhak… Aaahhhh yaahhh… Aaaahhhh ini baru ngentot… Liat pak Miftah… Liat wajah istrimu yang keenakan !” Ucap Pak Urip sambil menatap wajah suaminya lagi.


“Maasss jangann liaatt… Jangan liattt maasss… Aaahhhhh… Aaaaaahhhh” desah Nayla kembali memejam menahan kenikmatan yang ia dapatkan.


Tubuh Nayla bergoyang maju mundur semakin cepat. Tubuhnya tergerak saat dihantam oleh sodokan pembantunya yang begitu kuat. Nafsu birahinya kembali bangkit saat penis pembantunya melesat tajam membelah vaginanya yang sempit. Akhwat bercadar itu kembali menjerit. Jeritannya yang semakin keras saat tubuhnya semakin memanas. Rasanya semakin gerah saat tubuhnya semakin bergairah. Tak pernah ia bersetubuh senikmat ini sebelumnya. Tak pernah ia kembali terangsang setelah baru mendapatkan orgasme beberapa menit sebelumnya. Nayla heran, padahal sebelumnya ketika ia sudah mendapatkan orgasmenya ya sudah. Ia tidak kembali terangsang. Tapi kenapa sekarang masih terangsang.


'Apa benar aku ini mempunyai jiwa lonte ?'


Batin Nayla ditengah jeritan kenikmatannya.


“Ennggakkk ! Bukaaannn… Aaahhhh… Aaaaahhhh” Desah Nayla berupaya menepisnya.


Pak Urip mencengkram pinggang Nayla semakin kuat. Tak terasa ia hampir tiba di ambang batas kekuatannya. Nafsunya yang begitu besar membuatnya melewati batas tenaganya. Ia menyodok rahim majikannya dengan begitu bernafsu. Kecepatannya pun selalu maju. Semakin kesini sodokannya jadi semakin kencang. Makin kesini ia merasa sudah menjadi seorang pemenang. Memang ada yah di luar sana pembantu miskin sepertinya yang bisa merasakan jepitan rahim seorang majikannya ? Apalagi majikannya bukan sembarang majikan. Majikannya adalah seorang selebgram yang terlihat alim di luar dengan cadar serta gamis longgar yang selalu dikenakannya. Tapi sekarang ? Sang majikan sudah setengah telanjang dengan penis yang menancap di dalam vaginanya ? Pak Urip tertawa puas. Semua bayangan itu membuatnya ingin mengakhiri mantap - mantapnya di pagi hari.


“Aaaahhhh non… Aaahhh saya gak kuat lagi… Liat ini pak… Liat istri bapak yang akan saya pejuhi sebentar lagi !” Ucap pak Urip mempercepat genjotannya.


“Aaaahhhh paaaaakkkkk… Aaaahhhhh jangaaannn… Jangannn liat maass… Jangan liat istrimu yang binal ini !” Desah Nayla mengejutkan pak Urip.


“Hakhakhak… Non ngaku ? Liat mas ! Liat istrimu yang binal ini ! Dia telah mengaku ! Liat betapa rendahnya harga diri istri bapak sekarang ! Hakhakhak” tawa pak Urip puas.


“Aaahh bukann seperti itu… Maksudnya aaahhhh… Akuuu bukannn… Aaahhhhh” desah Nayla merasa malu saat menyadari kalimatnya. Nafsunya yang memuncak membuat dirinya spontan mengucapkan kalimat itu. Wajah Nayla pun memerah. Ia sudah terlihat pasrah.


“Aaaaaahhhhh… Aaaahhhhh… Sebentar lagiii… Sebentar lagiii… Saya mau keluuaarr… Saya mauuu keluuaarr !” Desah pak Urip tak tahan lagi.


“Aaaahhhh akuu jugaaa… Aaahhhhhh paaakkk… Aaaahhhhh” desah Nayla yang hampir mendapatkan orgasme keduanya.


Dada pak Urip semakin sesak. Nafasnya berat. Kedua lututnya melemas saat cairan cintanya ingin menyemprot keluar. Ia mulai merasakan penisnya berdenyut. Ia mulai merasakan cairan cintanya hampir mendekati lubang kencingnya. Pak Urip pun melepas genggamannya pada tangan Nayla. Ia kembali memegangi kedua pinggangnya membiarkan akhwat bercadar itu mendesah sepuasnya.


“Aaaaaahhhhhh…. Aaaahhhhhh… Aaaahhhhh” desah Nayla hingga payudaranya bergondal - gandul semakin cepat.


“Aaaahhhh nonnn… Aaaahhhh… Aaahhhh… Sayaaa kelluuaarrrr henkkgghhhh !” desah pak Urip saat menerjang rahim majikannya hingga mentok ke dalam lalu menariknya keluar hingga membuat majikannya itu berlutut membelakanginya. Lalu pak Urip memegangi wajah Nayla yang ia hadapkan ke arahnya. Namun ia yang sudah tidak tahan lagi langsung mengeluarkan spermanya ke lantai sebelum memuntahkan sisanya ke wajah alim dari majikannya.


“Liat istrimu pak… Aaaaaahhhhhh”


'Crrrooottt… Ccrroott… Crroottt !!!'


“Aaahhhh kelluuaaarr !” desah pak Urip dengan sangat puas.


“Mmmpphhhhhh” desah Nayla sambil memejam saat menerima semburan sperma pembantunya.


Lelehan spermanya tumpah membasahi dahi serta cadar dari akhwat sholehah itu. Terasa aromanya yang begitu kuat membuat Nayla merasa muak. Namun sensasi dipejuhi saat tubuhnya sedang berapi - api memberikan kenikmatan tersendiri yang kadang membuat dirinya merasa bingung sendiri. Tapi itulah yang ia rasakan sekarang. Ia pun menatap wajah pembantunya setelah wajahnya selesai dipejuhi.


“Aaahhhh nikmatnyaaa… Puas sekali saya non pagi ini hakhakhak ! Gak kebayang kalau pak Miftah bangun dan melihat istrinya ternoda kayak gini, gimana yah reaksinya ?” Tawa pak Urip begitu puas.


Nayla pun langsung menoleh menatap suaminya. Terlihat suaminya tertidur dalam keadaan bibir cemberut. Nayla pun membatin tak lama kemudian.


'Apa jangan - jangan mas Miftah bermimpi buruk ? Kenapa raut wajahnya begitu ?'


Batin Nayla merasa sedih. Lama - lama akal sehatnya datang juga saat semakin lama menatap suaminya. Ya meski nafsu masih berkuasa tapi ia tak tega kalau berselingkuh tepat disamping suaminya. Nayla merasa sedih karena perbuatan pembantunya yang begitu keterlaluan. Kenapa ia harus menjadi korban kebiadapan pembantunya ? Apa salahnya sebenarnya ?


Nayla yang menyesal mendekati suaminya sambil memegangi tangan halusnya. Wajahnya yang bersimpuh sperma meneteskan air mata. Bibirnya ingin berkata - kata. Tapi karena kurangnya kosa kata yang ia punya membuatnya jadi kesulitan mengucapkan apa yang tertanam di hatinya.


“Maaaasss” Hanya itu kata yang bisa ia ucapkan saat itu.


“Duh masih ada sisa yang netes nih… Hehehe” Pak Urip pun nyengir saat menatap tubuh majikannya yang kembali menungging. Kesempatan ini pun tak disia - siakan olehnya dengan kembali menyobloskan penisnya ke dalam rahim majikannya.


“Eeehhh paaakkk ?” Ucap Nayla menoleh ke belakang.


Penis pak Urip yang masih sedikit keras digenjotnya maju mundur dengan beringas. Nayla yang masih belum puas malah kembali menjerit dengan keras. Nafsunya yang tadi tertunda kini kembali membara. Pak Urip yang begitu tega akhirnya menancapkan penisnya sedalam - dalamnya yang membuat akhwat bercadar itu ternoda untuk kedua kalinya.


“Hakhakhak rasakan iniiii !” Desah pak Urip saat menyadari rahim majikannya berdenyut kencang.


“Aaaaahhhhh bapaaaaakkkk !” Desah Nayla dengan manja saat gelombang orgasmenya kembali datang.


'Cccrrrttt… Cccrrrttt… Cccrrrttt !!!'


“Aaaaaaaaaahhhhhhhh” desah Nayla sambil menatap wajah suaminya.


'Aku ? Keluar lagi ? Mmmppphhhhh'


Batin Nayla tak percaya.


Tubuh Nayla yang lemas langsung ambruk berbaring ke lantai. Matanya merem melek penuh kepuasan. Vaginanya semakin lembap. Tubuhnya semakin kencang. Tak ada yang lebih indah dari tubuh akhwat yang sudah bertelanjang. Itu lah yang dipandang oleh sang pemenang. Pak Urip tertawa karena berhasil membuat akhwat bercadar itu tergeletak puas.


“Hakhakhak… Biasakanlah… Ini adalah kegiatan wajib kita selama beberapa hari ke depan… Bisa kan ? Mulai beradaptasi dengan racun yang ada di tubuhmu, sayaangg ? Hakhakhak” tawa pak Urip yang saking puasnya langsung menampar bokong Nayla.


“Aaaaahhhhh… Hah… Hah… Hah” desah Nayla yang kelelahan.


Matanya masih merem melek kepuasan. Rasa kenikmatan itu membuat tubuhnya benar - benar kelelahan. Mulutnya masih sedikit membuka. Dalam keadaan berbaring ia menatap tangan suaminya yang tergeletak jatuh ke bawah.


'Kegiatan wajib ? Bercinta seperti ini ? Berselingkuh disebelah suami ? Kamu keterlaluan pak ! Hah… Hah… Hah…'


Batin Nayla tak percaya dengan apa yang ia dengar. Jujur meski terasa nikmat ia sadar kalau tak sepatutnya ia melakukan perbuatan seperti ini lagi. Ia adalah seorang akhwat yang sudah bersuami. Ia adalah seorang 'influencer' yang dipandang orang - orang sebagai seorang akhwat yang sangat alim. Tentu ia tidak boleh menyerah dan menjadi budak nafsu dari pembantu biadapnya tersebut.


'Racun yah ? Hah… Hah… Hah… Bukannya setiap racun ada penawarnya ? Aku harus mencari penawarnya… Aku gak boleh seperti ini terus kedepannya !'


Batin Nayla yang kemudian memejam untuk beristirahat sejenak dari sisa - sisa orgasme ternikmatnya.


Pak Urip yang sudah puas langsung berdiri sambil menatap punggung Nayla yang masih terkapar dihadapannya. Ia geleng - geleng tak percaya. Ia tak menyangka kalau bercinta disebelah suami Nayla bisa senikmat ini. Ia pun ketagihan dan berencana melakukannya lagi suatu hari nanti.


“Hakhakhak… Hmmm boleh juga” Lirih pak Urip saat terpikirkan sebuah ide.


Entah kenapa dari tadi mata Pak Urip terus menatap lubang satunya yang berada diatas vagina majikannya. Lubang itu terus berkedut seolah menggoda nafsu pejantan tua itu.


“Sssllrrrppp pasti akan terasa nikmat” Ucapnya sambil menjilati tepi bibirnya sendiri juga mengelusi penisnya yang mulai melemas.


BERSAMBUNG

;;;;;;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 6

BUDAK NAFSU

Sore hari di ruang tamu rumah Nayla.


Akhwat bercadar itu sedang duduk sambil membuka laptop pribadinya. Matanya terlihat fokus menatap layar laptop pribadinya. Ia terlihat serius. Sesekali ia membuka hapenya lalu melirik ke atas untuk berfikir sejenak. Lagi, tangannya menari - nari diatas tombol 'keyboard' untuk mengetikkan sesuatu di kolom pencarian. Ia terlihat bingung. Ia terlihat penasaran.


“Kok gak ada hasil penelusurannya yah ?” Ucap Nayla heran.


Ia pun kembali mengetikkan sesuatu di laptopnya.


MEBUGNL

https://thumbs4.imagebam.com/4c/d5/22/MEBUGNL_t.jpg   4c/d5/22/MEBUGNL_t.jpg

“kok gak ada hasilnya sih ? Lemon itu sebenarnya beracun gak sih ?” Ucap Nayla bingung.


Ia pun mencoba kata - kata lain demi mencari jawaban atas pertanyaan yang mengganjal di pikirannya. Lagi, ia mengetikkan sesuatu di kolom pencarian di layar laptopnya.


MEBUGNI

https://thumbs4.imagebam.com/ba/97/a0/MEBUGNI_t.jpg   ba/97/a0/MEBUGNI_t.jpg

“Hmmm lagi - lagi gak nemu jawabannya… Kenapa yang keluar malah manfaat sama khasiat air lemon ? Ihhh nyebelin ? Apa sih sebenarnya yang bikin aku gampang terangsang ?” Lirih Nayla sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.


Karena kelelahan mencari, Nayla menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sofa di belakangnya. Wajahnya ia naikan menatap langit - langit ruangan. Ia terlihat berfikir. Ia merenung tanpa mengucapkan satu kata pun.


“'Astaghfirullah'… Ada apa yah denganku belakangan ini ? Gampang banget nafsuku dipermainkan sama pak Urip… Dipanggil lonte aja aku gak marah… Bahkan bisa - bisanya aku keceplosan ngaku binal… Kenapa yah aku ini ? Apa jangan - jangan aku ini emang… Lonte ?” Lirih Nayla berfikir.


Wajah Nayla menoleh ke arah luar ruangan. Sinar mentari tidak terlalu terik. Hawa panas juga tidak terlalu menyengat. Meski pandangannya menatap ke arah luar ruangan tapi pikirannya teringat akan kejadian beberapa hari sebelumnya.


“Bahkan ngebayangin pak Beni aja udah bikin aku terangsang ? Serendah itu kah diriku sekarang ? Hmmm ngomong - ngomong soal itu… Kok pak Beni gak disunat yah ? Apa iya dia itu non ? Kok diinget - inget lagi bentuknya unik yah ? Jadi penasaran deh kalau bisa masuk rasanya kayak apa… Eehhh 'astaghfirullah,' tuh kan ! Kok pikiran aku mesum lagi sih ? Pasti gara - gara racunnya masih bereaksi… Racun apa sih ini ? Racun ini semakin menggerogoti pikiranku aja deh… Ihhh nyebelin… Jangan kayak gini lagi dong Nay… Jangan lagi !” Lirih Nayla kesel sendiri.


Bahkan tangannya tak sengaja memegangi vaginanya dari luar celananya. Pikirannya kembali terbayang penis pak Beni. Penis yang menjadi impian para wanita dimana bentuknya yang sangat unik dan berukuran besar.


Akhwat bercadar yang saat itu mengenakan hijab serta cadar berwarna coklat itu semakin terangsang. Padahal pagi tadi dirinya sudah keluar dua kali dibantu oleh pembantu bejatnya. Tapi di sore harinya ia kembali terangsang. Ia membuka hapenya, lalu berkaca di layar hapenya. Tampak 'sweater' rajut yang membungkus kaus berlengan panjang di dalamnya. Tampak celana panjang yang membungkus kaki jenjangnya. Entah kenapa ia jadi kepikiran. Dengan penampilannya yang menarik perhatian bisa saja ia mengundang orang yang disukanya untuk bercinta dengannya. Tapi kok.


n4krwfnS8qs


n4krwfnS8qs

“Tapi kok bisa - bisanya aku kepikiran kayak gitu ?” Lirih Nayla. Hatinya terus bergejolak. Antara taat atau maksiat. Ia tak bisa mengendalikan nafsu birahinya. Ingin sekali dirinya kembali bermaksiat membiarkan penis - penis besar itu memasuki liang senggamanya. Ia jadi teringat penetrasi pak Urip. Ia jadi ingat rasanya dinodai oleh pembantunya itu lagi.


“Ihhhh amit - amit” Ucap Nayla sambil memegangi kepalanya menggunakan kedua tangannya.


Tangannya kembali mengetik sesuatu di layar laptopnya. Ia ingin terbebas. Ia ingin menghilangkan hawa nafsu yang selalu menguasai tubuhnya.


MEBUGNK

https://thumbs4.imagebam.com/2d/85/ce/MEBUGNK_t.jpg   2d/85/ce/MEBUGNK_t.jpg

“Kok yang keluar malah detoks sama racun tubuh sih ? Aaahhh capek deh” Ucap Nayla kembali bersandar pada sandaran sofa duduknya.


“Oh iya ? Apa aku harus menemui dokter langsung aja yah ? Siapa tau dokternya tau cara buat ngilangin racun di tubuh aku” Ucap Nayla terpikirkan sebuah ide. Wajahnya pun tersenyum dari balik cadarnya. Ia senang karena mempunyai ide untuk menghilangkan gairah birahi yang kadang – kadang suka bangkit menguasai diri.


“Dekk… Mas izin pergi yah” Ucap seseorang mengejutkan Nayla.


“Eh mas ? Mau kemana ?” Tanya Nayla terkejut saat melihat suaminya mendekat sambil mengenakan pakaian olahraga.


“Mau futsalan bareng temen - temen… Mumpung hari libur kan sekalian olahraga hahahah” Ucap Miftah yang membuat Nayla waswas.


“Tapii… Tapiii pulangnya jam berapa mas ?” Tanya Nayla khawatir karena dirinya akan kembali berduaan bersama pak Urip.


Ya malem mungkin… Tapi mas usahain sebelum jam tujuh lah yah… Sekarang udah mau jam lima… Dua jam aja cukup kok buat olahraga” Ucap Miftah tersenyum.


“Hmmmm yaudah hati - hati yah mas… Janji jangan kemaleman yah” Ucap Nayla yang membuat Miftah tersenyum.


“Iyya sayang janji kok” Ucap Miftah.


Nayla kemudian berdiri saat Miftah semakin menghampiri. Sebagai istri yang sholehah, ia pun mengecup punggung tangan suaminya lalu mengantar suaminya pergi hingga ke teras rumahnya.


“Eh pak Miftah mau kemana ?” Tanya pak Urip saat memergoki majikannya hendak pergi.


'Gawaaatttt !'


Batin Nayla menyadari kalau pak Urip tahu kalau dia akan kembali berduaan dengan dirinya. Apalagi sekilas pak Urip tersenyum mesum sambil melirik dirinya. Nayla ketakutan. Ia langsung pergi ke kamar untuk mengambil sesuatu.


“Mukena mana mukena ? Nah ini dia… Tas ? Oh disini” Ucap Nayla buru - buru mengambil mukena lalu memasukannya ke dalam tas jinjing yang ia bawa.


Saat Nayla kembali ke teras rumahnya. Terlihat suaminya dan pak Urip berjalan bersama menuju pintu gerbang pagar rumahnya. Mereka berbicara akrab yang membuat Nayla benci melihatnya. Seketika ia melihat mereka berpisah. Pak Urip terlihat berjalan menuju rumahnya sedangkan suaminya bersiap untuk pergi berolahraga bersama teman - temannya.


“Kesempatan !” Ucap Nayla melihat pak Urip pulang ke rumahnya.


Dengan berhati - hati ia melangkah menuju gerbang rumahnya. Saat sampai, wajahnya kembali menoleh ke kanan juga ke kiri. Saat menyadari jalan sudah sepi. Ia berbelok ke kanan menuju rumah yang akan menjadi tempat berlindungnya ketika suaminya tidak ada di rumah. Entah kenapa ia mempunyai firasat buruk. Pasti pembantunya itu pulang ke rumahnya untuk merencanakan sesuatu untuk kembali menakali dirinya.


'Tokkk… Tokkk… Tokkk… '


“Assalamu… Eh iya… Selamat sore pak !” Ucap Nayla teringat akan pak Beni.


“Permisi pak… Selamat sorr… Eehhh… Gak ditutup pintunya ?” Ucap Nayla menyadari kalau pintu rumah pak Beni tidak tertutup rapat.


Saat wajahnya ia tolehkan ke kanan. Ia melihat pak Urip sudah kembali keluar dari rumah yang membuat jantung Nayla deg - degan. Melihat pintu rumah pak Beni sudah terbuka membuat dirinya buru - buru masuk ke dalam meski belum mendapat izin langsung dari pemilik rumahnya.


“Fiyuh untung aja” Ucap Nayla merasa lega karena dirinya tidak ketahuan oleh pembantunya.


Secara berhati - hati ia menutup rapat pintu rumah pak Beni lalu berbalik untuk mencari pemilik rumahnya.


“Paaakkk… Ini aku… Nayla” Ucap Nayla sambil berjalan mendekat menuju titik terdalam dari rumah pak Beni.


Sesampainya di ruang tamu, ia menaruh tas berisi mukenanya untuk berjaga - jaga agar bisa beribadah di rumah tetangganya kalau - kalau suaminya belum pulang sampai waktu Isya tiba. Seketika ia mendengar suara lagu dari arah kamar pak Beni. Lagu bernuansa punk pop yang cukup sering didengar juga oleh Nayla karena suaminya juga sering kali menyetel lagu ini.


“Eh pak Beni apa ada di kamar yah ?” Tanya Nayla.


A1OqtIqzScI


A1OqtIqzScI

Semakin mendekat, ia mendengar lagunya semakin keras. Lagu dari band 'Green Day' berjudul 'Holiday' semakin menggema di telinga Nayla. Nayla semakin mendekat. Langkah kakinya hanya berjarak 10 cm saja dari pintu kamar pak Beni.


“Pak” Lirih Nayla sambil mencoba mengintip dari sela - sela pintu kamar yang terbuka.


Saat Nayla mulai melihat keadaan di dalam. Betapa terkejutnya ia karena mendapati pak Beni sudah telanjang bulat di dalam kamarnya.


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


“Aaaaahhhhhhh” Jerit Nayla seketika saat melihat pemandangan indah di dalam kamar pak Beni.


“Astaga mbak Nayla” Ucap Pak Beni terkejut hingga langsung mendekati Nayla.


“Aaaahhhhh jangan mendekattt… Jangan mendekaattt” Ucap Nayla panik mendapati pria tua kekar berkulit hitam itu malah mendekat yang membuat Pak Beni ikut kebingungan dengan situasi yang terjadi kali ini.


Pak Beni kembali mendekati mp3 nya untuk mematikan musiknya lalu mencari celana tapi tidak menemukannya. Untungnya ia menemukan sebuah sarung yang merupakan pemberian teman kerjanya dulu. Ia mengenakannya, meski asal - asalan ia akhirnya dapat menutupi pentungan saktinya yang sudah membuat Nayla ketakutan saat melihatnya.


“Maaf mbak… Maaf… Saya gak tau kalau mbak Nayla mau dateng ke rumah… Semua pakaian saya lagi di jemur… Gara - gara kemarin mbak dateng… Saya langsung bersih - bersih rumah deh dan gak sempet ninggalin baju satupun biar semuanya bersih sekalian… Hehe” Ucap pak Beni malu.


“Anu gapapa pak… Aku yang salah udah masuk rumah tanpa izin… Maaf tadi aku buru - buru” Ucap Nayla yang masih menunduk karena malu sudah melihat aurat 'full' pak Beni tadi.


“Gapapa mbak… Mbak bebas keluar masuk rumah saya kok… Mari duduk” Ucap pak Beni sambil mengangkat lengan Nayla untuk membantunya berdiri setelah jatuh terkejut karena melihat ketelanjangan tubuhnya.


Nayla manut saja. Tak ada kata yang terucap saat itu hingga mereka berdua tiba di ruang tamu rumah pak Beni. Mereka pun sama - sama menjatuhkan bokong mereka di sofa ruang tamu di rumah pria tua kekar itu.


“Mbak apa kabar ?” Tanya pak Beni untuk meredakan rasa canggung setelah kepergok telanjang bulat tadi.


“Baik kok pak” Jawab Nayla yang juga canggung setelah melihat aurat pak Beni.


“Pak Miftah lagi pergi yah ?” Tanya pak Beni.


“Iya pak hehe” Jawab Nayla.


Jawaban Nayla yang malu - malu dingin membuat Pak Beni kesulitan untuk berkomunikasi dengan tetangganya itu. Tapi untungnya pak Beni peka kalau Nayla masih 'shock' karena sudah melihat tubuh telanjangnya. Pak Beni pun mencoba tenang dengan membiarkan Nayla menenangkan dirinya terlebih dahulu.


'Gede banget ! Padahal tititnya lagi gak tegang, tapi kenapa udah segede itu yah ?'


Batin Nayla saat mengingat bentuk penis pak Beni tadi.


Nayla benar - benar terkejut akan ukuran penis hitam itu. Bentuknya yang sedang lemas aja masih mengungguli bentuk penis suaminya saat sedang tegang. Nayla heran sekaligus penasaran mengenai apa yang membuat penis pak Beni bisa sebesar itu. Entah kenapa matanya pelan - pelan mulai melirik ke arah sarung pak Beni.


'Astaghfirullah… Pentungan apa itu !'


Batin Nayla menyadari penis pak Beni begitu menonjol dari balik sarung yang menutupinya. Mata Nayla tak sadar membuka lebar. Saking terkejutnya ia jadi terang - terangan menatap tonjolan dibalik sarung pria kekar itu.


“Hehe gede yah mbak” Ucap pak Beni mengejutkan Nayla.


“Eh anu enggak… Hehe eh iya hehe” Ucap Nayla gugup saat kepergok melirik tonjolan dibalik sarung pak Beni. Nayla pun tertunduk malu yang membuat pipinya memerah dibalik cadarnya.


“Mbaakkk” Ucap pak Beni sambil memegangi punggung tangan Nayla.


“Eehhh iyaa” Ucap Nayla berdebar saat tangannya dipegang oleh pria kekar itu. Tak sengaja matanya kembali melirik tonjolan penis itu. Nayla merasa bahwa tonjolannya membesar. Nayla tanpa sadar menatap wajah pak Beni yang rupanya sedang tersenyum kepadanya.


“Mbak penasaran yah ?” Tanya pak Beni mengejutkan Nayla.


“Eehhh enggak kok” Jawab Nayla deg - degan.


“Yang bener mbak ?” Tanya pak Beni sambil tersenyum.


“Iyyyaa…. Iyya beneran enggak kok… Aku gak penasaran” Jawab Nayla sambil diam - diam mencuri pandang ke arah tonjolan yang semakin membesar.


'Kok makin gede sih ? Itu beneran titid apa tangan seseorang ?'


Batin Nayla yang semakin penasaran akan bentuk yang berada dibaliknya.


“Sebenarnya saya gak nyaman pake sarung doang mbak… Boleh saya buka gak ?” Ucap pak Beni sambil tersenyum saat meminta izin.


“Ehhh bapak mau… Telanjang ?” Tanya Nayla deg - degan.


“Hehehe saya biasa telanjang pas lagi nyuci soalnya… Apalagi kayaknya mbak juga penasaran kan yah… Saya buka aja yah” Ucap pak Beni sambil berdiri dan hendak memelorotkan sarungnya.


“Tapiii paakkk… Tapiii… Tapiiiiii” Jawab Nayla yang semakin berdebar menyadari pria pemilik tubuh indah itu hendak memamerkan auratnya.


Sarung yang pak Beni kenakan sudah terlepas. Muncul lah tonjolan indah yang membuat mata Nayla membuka lebar. Kedua tangan Nayla reflek menutupi mulutnya dari luar cadarnya. Nayla terkejut. Nayla tak menyangka akan ukurannya yang luar biasa.


'Gedeee bangeeetttt !!!'


Batin Nayla saat menatapnya dengan jarak yang begitu dekat.


Penis berukuran 18 cm dengan diameter sebesar 6 cm itu terhidang didepan mata Nayla. Warnanya sungguh hitam dengan otot - otot syaraf yang mengelilinginya. Ujung gundulnya tertutupi kulupnya. Bulu jembutnya sangat lebat memancarkan aroma maskulin yang justru merangsang nafsu birahi Nayla.


Nayla terdiam. Akhwat bercadar itu malah tak berhenti menatap bentuk ukurannya yang menurutnya sangat unik. Mulut Nayla masih menganga dibalik cadarnya. Nayla terpaku akan bentuknya yang membuat dirinya semakin penasaran.


'Titid segede itu emang bisa masuk ke dalam rahim aku ?'


Batin Nayla yang entah kenapa kepikiran seperti itu. Seketika ia teringat akan mimpinya. Mimpi saat dirinya diperkosa oleh pak Beni.


'Pantes aja waktu itu rasanya enak banget… Ternyata ukurannya segede ini… Keliatan keras lagi !'


Batin Nayla yang masih terkagum akan ukurannya itu.


“Gimana mbak ? hehe… Jujur dari dulu saya terus onani sambil ngebayangin mbak… Gak tau gimana kok tiba - tiba udah segede ini… Kebayang juga sih suatu saat nanti bisa masukin kontol saya ke rahim mbak hehe” Ucap pak Beni malu - malu sambil membelai penis hitamnya.


“Eehhh ke rahim aku… Gak bakal muat pak” Ucap Nayla yang tanpa sadar malah melayani obrolan mesum itu.


“Ah masa ? Tapi saya yakin akan muat kok… Saya yakin banget” Ucap pak Beni sambil menatap Nayla dengan tatapan penuh nafsu.


Nayla menenggak ludah. Tubuh Nayla jadi bergidik membayangkan hal itu bisa terjadi.


'Duhhh kok tubuh aku gini lagi yah… Perasaaan ini… Kenapa aku tiba - tiba terangsang lagi ?'


Batin Nayla mendadak gelisah saat vaginanya terasa gatal.


“Gak mungkin pak… Memek aku kan sempit” Ucap Nayla keceplosan lalu menyadarinya. Ia buru - buru menutupi mulutnya dan berharap pak Beni tidak mendengarnya.


“Apa ? Wkwkwkkw memek ? sempit ? Tenang saya yakin pasti akan muat kok” Ucap pak Beni tertawa yang membuat Nayla merasa malu sekali.


'Duhhhh kenapa aku keceplosan gitu sih… Bodoh… Bodoh… Malu banget aku…'


Batin Nayla tersipu.


“Mbak mau megang ?” Tanya pak Beni sambil mendekatkan penisnya.


“Eehhhh…” Jawab Nayla terkejut menyadari penis hitam itu berada tepat di depan wajahnya.


“Gakk usahh… Enggak hehehe” Jawab Nayla berusaha menolak.


“Gak usah malu mbak… Pegang aja… Pegang aja dulu” Ucap pak Beni membujuk Nayla.


“Eh gak usah pak beneran… Gak usah” Ucap Nayla menolak meski dirinya juga penasaran. Sebagian harga dirinya sebagai seorang akhwat bercadar terus memaksanya bertahan meski nafsunya terus berontak untuk tunduk akan perkataan pria tua kekar itu.


“Coba aja dulu mbak” Ucap pak Beni sambil menyodokkan penisnya yang tak sengaja mengenai pipi Nayla.


'Keraassss bangeeettt… Rasanya kayak udah ditonjok pelan…'


Batin Nayla sambil memegangi pipinya. Nayla pun menaikan wajahnya tuk menatap wajah tetangganya.


“Hehe kesenggol yah mbak… Maaf” Ucap pak Beni sambil tersenyum.


Nayla pun terdiam sambil menatap wajah tua itu. Bentuk tubuhnya yang kekar ditambah dengan ukuran penisnya yang amat besar serta warna kulitnya yang hitam melambangkan keperkasaaan. Nayla merasa kalau pak Beni sudah seperti bidadara yang turun dari surga. Seorang pengawal bertubuh kekar yang ditakdirkan untuk melampiaskan hawa nafsunya. Nayla terus termenung saat itu sambil memandangi keseksian tubuh tukang sapu jalanan itu.


“Pegang dulu yah” Ucap pak Beni terus membujuknya yang membuat Nayla pelan - pelan menurutinya.


'Keraasss bangeeetttt !!!'


Batin Nayla saat menggenggam penisnya. Wajahnya kembali naik menatap wajah pak Beni. Pak Beni hanya tersenyum puas sambil sesekali memejam merasakan penisnya dipegang oleh akhwat idamannya.


“Aaaaaahhhhh enak banget rasanya mbak… Baru digenggang doang padahal” desah pak Beni yang suaranya kembali merangsang hasrat birahi Nayla.


“Hehehe masa ?” Tanya Nayla yang sudah terhipnotis hingga melupakan batasan syar’i antara dirinya dan pak Beni.


“Aaaahhhhh dikocokin dong mbak… Aaahhhh saya jadi penasaran rasanya” Ucap pak Beni jadi mupeng ingin dilayani oleh akhwat bercadar itu.


“Begini ?” Ucap Nayla yang malah menurutinya.


“Aaaahhhh iyaahhh… Iyaahhh mmpphhhh” desah Pak Beni yang semakin merangsang nafsu birahi Nayla.


“Eee…. Ennak pak ?” Tanya Nayla yang begitu penasaran saat melihat reaksi pak Beni.


“Aaaaahhhh… Aaahhhh… Enak banget mbak… Teruss… Ouhhhh mmpphhh” desah pak Beni yang membuat jantung Nayla semakin berdebar.


Tangan kanan Nayla dengan perlahan mengocok penis hitam pak Beni secara maju mundur. Berulang kali pandangannya menatap kulit penis pak Beni yang terkocok maju mundur. Sekelali matanya dapat melihat ujung gundulnya. Sesekali ia melihat ujung gundul itu tertutupi kulit penisnya lagi.


“Aaaahhhh terusss mbaaakk… Yang cepaatt… Yang cepaaattt aaaahhhh” desah pak Beni meminta lebih.


“Seperti ini ?” Ucap Nayla tanpa sadar menuruti.


“Iyaaahh… Ouhhhhh” desah pak Beni merem melek keenakan.


Karena kesusahan, tangan kiri Nayla ikut membantu dalam mengocoki penis hitam itu. Dalam posisi duduk diatas sofa, akhwat bercadar itu tanpa sadar melayani penis hitam itu untuk memuaskannya. Kedua tangan Nayla bergerak maju mundur. Deru Nafasnya semakin hangat mendapati bentuk penis hitam raksasa itu dengan jarak yang begitu dekat. Sesekali matanya melirik ke atas untuk melihat reaksinya. Sesekali matanya menatap penis hitam itu untuk menyegarkan pandangannya. Mata Nayla seperti sedang dicuci. Mata Nayla benar - benar dimanjakan akan ukurannya yang luar biasa.


“Aaaahhhh lagiii… Lagggiiii… Ouhhh nikmat banget mbaakk… Nikmat banget rasanyaaa” Desah pak Beni sambil menatap Nayla.


Terlihat jawaban Nayla hanya malu - malu saat dipuji oleh pria kekar itu. Reaksi itu justru membuat pak Beni semakin bernafsu. Mimpi apa dirinya semalam bisa dilayani oleh akhwat bercadar yang merupakan selebgram terkenal.


“Mmpphhh… Mmpphhhhh” desah Nayla sambil mengocoki penis tetangganya.


Entah kenapa ia ingin meminta lebih tapi ia terlalu malu untuk mengucapkannya. Ia ingin menciumnya. Ia ingin menjilatinya. Ini aneh karena sebelumnya tak pernah ia menginginkan hal itu saat melayani penis suaminya. Tapi saat melihat penis pak Beni, dirinya jadi ingin memanjakan penis itu dengan permainan lidahnya. Tapi ia terlalu malu untuk mengucapkannya. Sepertinya ia jadi tergila - gila akan bentuk ukurannya. Nayla jatuh cinta. Ia pun membatin sambil mengocok penis hitam itu.


'Pantes belakangan ini aku sering ngebayangin pak Beni… Gak heran… Pak Beni memang mempunyai bentuk tubuh yang aku idam – idamkan…'


Batin Nayla jujur sambil menatap keindahan tubuh pak Beni.


Ia jadi teringat dulu saat kuliah kalau dirinya ingin menikah dengan seorang pria bertubuh kekar dengan wajah tampan yang dapat memanjakan matanya. Ia kini mendapatkan apa yang ia inginkan itu. Meski lelaki dihadapannya bukan suaminya. Meski lelaki dihadapannya tidak mempunyai wajah yang tampan. Namun tubuhnya yang kekar ditambah dengan bentuk penisnya yang jantan sudah cukup untuk membuat nafsu Nayla terpuaskan. Nayla jadi semakin cepat saat mengocoknya. Bahkan sesekali ia melakukan variasi untuk memanjakan nafsu tetangganya.


“Aaaaahhhh… Aaahhh mbaakk…. Iyya begitu… Aaahhh terusss… Terusss”


“Mmpphh iyaahh pak… Enakkk ? Mmpphhhh”


“Enakk bangett… Lanjutt… Aaahhhhhhhh” desah pak Beni sangat puas.


Ketika tangan kanan Nayla mengocoki penisnya maka tangan kirinya memijiti kandung kemihnya. Ketika keempat jemari Nayla mengocoki penisnya maka jempolnya ia gunakan untuk menekan kulupnya. Ia kemudian berganti tangan untuk menarik kulit penis pak Beni hingga ujung gundulnya terlihat. Tangan kanan Nayla bergerak untuk membelai ujung gundulnya itu. Kadang ia mengusapnya menggunakan telapak tangannya. Kadang ia menekan - nekan lubang kencingnya. Semua rangsangannya itu membuat dirinya semakin bernafsu. Ia pun tak tahan lagi. Ia pun segera meminta kepada pak Beni.


“Boleh aku…” Ucap Nayla sambil mengangkat cadarnya.


“Boleh mbak… Silahkan” Jawab pak Beni menyadari Nayla ingin menyepongnya.


Sambil malu - malu Nayla mengangkat cadarnya. Saat tangan kirinya masih menarik kulit penisnya. Lidahnya pun keluar untuk menjilati lubang kencingnya. Tubuh pak Beni langsung merinding. Rasanya seperti tersetrum aliran listrik. Cadar Nayla lalu menutupi penis bagian atasnya hingga pak Beni tak dapat melihatnya lagi. Seketika pak Beni merasakan sesuatu yang hangat menerpa penisnya. Sesuatu yang lembap menggelitiki penisnya menyusul tak lama kemudian. Sapuan lidahnya rupanya tengah merangsang sisi bagian bawah penisnya. Penis pak Beni dilahap. Nayla yang sudah sangat bernafsu memasukan penis itu ke dalam mulutnya.


“Aaaaahhh mbaakkkk ouhhhhh” desah pak Beni benar - benar puas.


Entah darimana Nayla mempelajarinya. Entah bisikan dari setan mana yang membuat Nayla jadi seperti ini. Rangsangan nafsu birahinya membuat Nayla jadi ingin merasakan kerasnya penis itu di dalam mulutnya. Sambil memegangi kedua paha pak Beni. Mulut Nayla bergerak maju mundur. Terasa penis keras itu menyodok kerongkongannya. Nayla membalasnya dengan menjilati sekujur penis hitam itu. Ia membasahi penis itu menggunakan liurnya. Tepi bibirnya ikut membantu untuk memandikan penis hitam itu. Tercium aroma maskulin dari bulu jembut pak Beni yang berkeringat. Nayla berusaha mendorongnya. Ia berusaha memasukan penis itu ke mulutnya meski hanya bisa memasukan ¼ nya saja.


“Mmpphhhhh… Mmmpphhhh… Aaaahhhhh” desah Nayla setelah berusaha memasukannya lalu meletehkannya. Nayla pun kembali mengocoknya sambil menatap pak Beni. Nayla yang menyadari kebinalannya hanya tersipu malu yang membuat pak Beni semakin bernafsu.


“Liar juga ternyata dirimu mbak… Aahhhh lagi dong… Ayo sepong kontol saya lagi” Pinta pak Beni ketagihan.


“Hehe iya pak” Jawab Nayla malu - malu. Dirinya yang masih penasaran kembali mengangkat cadarnya. Pelan - pelan mulutnya kembali ia buka untuk melahap penis raksasa yang terus saja menggodanya.


“Aaaahhhhh iyahhh seperti ituuu… Ouhhhhh” desah pak Beni puas.


“Mmmpphhh paakkkk… Mpphhhhh keras bangett… Mmpphhhh” desah Nayla yang kembali menggerakan kepalanya maju mundur.


“Aaaahhhh lagi mbaakkk… Lebih dalem lagiii… Ouhhh yahhh seperti itu”


“Iyyahhh mmpphhhh… Mmpphhh… Mmpphhhh” desah Nayla terus memaksa meski penis itu sudah mentok mengenai kerongkongannya.


'Kenapa aku gak bisa berhenti ? Padahal aku gak ngerasain apa - apa ? Tapi kenapa aku jadi kecanduan ? Ada apa dengan sensasi ini ? Aku jadi ingin mengemutnya terus… Mmpphh pakk… Mmpphhh…'


Batin Nayla yang sudah merasakan nikmatnya menyepong penis seseorang.


Pak Beni yang semakin bernafsu mulai kesulitan mengendalikan tubuhnya. Rasa nikmat yang melanda penisnya menjalar ke seluruh tubuhnya. Dadanya terasa lega. Ujung penisnya saat dijilati lidah Nayla didalam membuatnya bergidik nikmat. Matanya merem melek keenakan. Kesepuluh jemarinya bergerak sendiri karena tak memiliki pelampiasan untuk mengekspresikan kenikmatan yang ia dapatkan. Matanya pun menatap wajah Nayla yang tengah memejam nikmat. Kedua tangannya pun memegangi kepalanya. Reflek Nayla membuka matanya. Nayla terkejut saat melihat tatapan mata pak Beni yang begitu bernafsu.


“Mmmppphhh paaaakkkk” Desah Nayla terkejut saat pinggul pak Beni bergerak dengan sendirinya.


“Aaaahhh mbaakk… Aaahhh maaaf saya gak kuat lagi… Aaahhhh rasakan ini… Rasakan ini mbaakkk… Aaahhh” desah pak Beni yang tak kuat lagi hingga memutuskan untuk memperkosa mulutnya.


“Mmpphhh paakk… Mmpphh pelaannnn… Mmpphhh” desah Nayla pasrah menyadari dirinya tidak bisa berbuat apa - apa.


Sambil memegangi kepala Nayla. Pinggul pak Beni terus bergerak maju mundur tuk menyodok mulut akhwat bercadar itu. Meski dirinya tidak mampu melihat pergerak penisnya sendiri karena terhalangi cadar Nayla. Dirinya tak mempermasalahkan dan justru semakin menikmatinya. Akhirnya impiannya selama ini terwujud. Impian untuk menikmati tubuh akhwat yang ia idolakan meski baru melalui lubang mulutnya. Nafsunya yang semakin meninggi membuatnya memaksa penisnya untuk masuk seluruhnya. Setengah dari penis itu sudah masuk ke dalam mulutnya. Pak Beni terus mendorongnya. Nampak wajah Nayla memejam menahan paksaan yang pak Beni lakukan di mulutnya. Pak Beni terus mendorong pinggulnya. Nyaris ¾ dari penisnya itu masuk ke dalam mulut Nayla sebelum ia keluarkan seluruhnya.


“Uhhuukkk… Uhuukk paakk… Uhukk” Nayla sampai terbatuk - batuk dibuatnya tapi anehnya ia menikmati sensasi yang ia dapatkan barusan.


“Aaahhh maafkan saya mbak Naylaa… Tapi barusan nikmat banget…. Saya jadi gak bisa ngendaliin diri… Ini tolonggg rangsang saya lagi… Kocok kontol saya lagi mbak… Saya udah mau keluar” desah pak Beni sambil mengocoki penisnya sendiri.


“Aaaahh gapapa pak… Iyyahh akan aku lakukan” desah Nayla yang justru semakin terangsang setelah diperlakukan demikian oleh pak Beni.


Tangan kanan Nayla kembali mengocoknya. Ia mengocok penis pak Beni yang sudah basah dan licin terkena air liurnya sendiri.


'Ada apa ini ? Kenapa rasanya berbeda ? Anehnya, aku gak marah kalau pak Beni yang melakukan… Aku justru menikmatinya… Aku justru ingin memuasi dirinya… Apa karena bentuk tubuhnya ?'


Batin Nayla merasakan perbedaan saat dilecehkan pak Urip dan pak Beni.


Memang pak Urip dan pak Beni memiliki bentuk tubuh yang berbeda. Kalau pak Beni cenderung kekar dan berkulit hitam serta penis yang tak disunat. Pak Urip memiliki tubuh gempal dengan kulit gelap yang tentunya tidak segelap pak Beni. Pak Urip juga sudah menyunat penisnya. Nayla pun merasakan perbedaan yang begitu besar saat dilecehkan oleh mereka berdua.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhh… iyyahh mbakk… Aahhhh nikmat banget” Desah pak Beni semakin keras merasakan nikmatnya dikocok oleh Nayla.


“Mmpphhh iyaahhh pakkk… Mmpphhhh… Mmpphhhh” desah Nayla yang entah kenapa ingin membuat pak Beni berorgasme menggunakan tangannya.


“Aaahhh lebih kencang lagii… Lebih kencang lagiiii” desah pak Beni merinding merasakan kocokannya.


“Iyyahhh… Iyyahh pakkk” desah Nayla menurutinya.


“Aaahhhhh… Teruss… Terusss…. Nikmat banget kocokanmu mbakkk… Ayo terusss” desah pak Beni keenakan.


“Iyyahhh mmpphhhh… Mpphhhh” desah Nayla menurutinya.


“Ouuhhhhh sebentar lagi… Saya mau keluuaar… Ouhhhh sebentar lagi” Desah pak Beni merasakan gelombang tsunami itu sedang mendekati lubang kencingnya.


“Aaaahhhhh beneran pak ?” Ucap Nayla jadi berdebar menyadari pria tua dihadapannya akan berorgasme.


“Iyahhh benerann… Ayoo terusss… Ouhhhhhh”


Maju mundur maju mundur tangan Nayla terus mengocoknya tanpa pernah mengendur. Sebaliknya kocokannya semakin cepat. Jemari Nayla semakin terbiasa untuk mengocoki penis sebesar lengannya sendiri. Penis hitam itu mulai berdenyut. Nayla sendiri dapat merasakan denyutannya melalui tangannya.


“Aaahhhh sebentar lagiii… Aahhh mbaakkk” jerit pak Beni tak kuat lagi.


“Mmpphhh… Mmpphhhhh” desah Nayla sambil memejam takut semburannya mengenai wajahnya.


“Aaahhhh iyaahhh… Iyaahhh… Rasakaannn henkgghhhh !!!” desah pak Beni sambil mengambil alih penisnya lalu reflek mengarahkannya ke wajah Nayla.


“Kelluuuaaaarrrrr !!!”


'Crroottt… Ccrroott… Ccrroottt !!!'


“Mmppphhhhh” desah Nayla pasrah.


Semburan sperma itu dengan deras membasahi wajah Nayla serta cadar yang menutupinya. Sebagian ada yang mengenai hijabnya namun paling banyak mengenai cadarnya. Tubuh pak Beni sampai kelojotan dibuatnya. Matanya merem melek keenakan. Ia terus mengocoknya hingga mengeluarkan tetes terakhirnya. Rasanya sangat puas bisa memejuhi akhwat bercadar yang ada di hadapannya. Tubuh kekar itu mulai melemas. Ia pun jatuh berlutut di lantai yang berada di antara meja dan sofa di ruang tamunya.


“Aaaahhh puas bangeettt” Desah pak Beni ngos - ngosan. Saat wajahnya menatap ke arah Nayla. Ia menyadari kalau wajah Nayla sudah dipenuhi oleh pejuh yang begitu banyak.


“Eh mbak maaf… Maaafff” Ucap pak Beni menyadari dan bergegas mengambil tisu untuk mengelap wajah Nayla.


“Gapapa pak” Jawab Nayla merasa malu menyadari banyak sperma yang tumpah diwajahnya.


Nayla juga mengambil tisu untuk mengelap wajahnya. Dirinya jadi lebih sering menunduk karena merasa malu sudah membantu pria tua dihadapannya untuk menodai wajahnya.


“Maaf tadi saya kelewat nafsu… Saya jadi gak sadar untuk meminta mbak untuk memuasi saya” Ucap Pak Beni merasa tidak enak pada tetangganya.


“Gapapa pak… Aku juga salah… Aku tadi juga kelewat nafsu kok” Ucap Nayla malu - malu sambil membersihkan wajahnya.


“Anu… Aku mau permisi sebentar yah pak… Aku mau ke kamar mandi” Ucap Nayla terburu - buru.


“Oh iya… Sekali lagi maafin saya yah mbak” Ucap pak Beni mempersilahkan tamunya itu ke kamar mandi sementara dirinya menetap untuk membersihkan noda sperma yang menetes di lantai dan sofa ruang tamunya.


Sesampainya Nayla di kamar mandi. Ia buru - buru melepas celananya lalu menggantungkannya di gantungan di balik pintu kamar mandi itu.


Sambil berjongkok di lantai kamar mandi dan juga menyenderkan punggungnya yang masih mengenakan 'sweater' rajutnya. Ia menekan - nekan vaginanya untuk bermasturbasi sambil membayangkan kebinalannya tadi.


“Aaahhhh… Aahhhh pak Beni… Aaahhhhhhh” desah Nayla sambil melampiaskan nafsu yang tadi belum sempat terselesaikan.


“Aaahhh ada apa dengan diriku ini ? Kenapa aku jadi serendah itu ? Ouhhhh pakk Beniii… Kontol bapaakkk… Aaahhhhh” desah Nayla membayangkan penis hitam itu menembus rahim kehangatannya.


Nayla yang sedang dilanda nafsu birahi menanggalkan norma - norma yang telah dipelajarinya. Ia hanya menginginkan kepuasan. Ia bahkan sampai bermasturbasi membayangkan pria kekar yang baru saja menodai wajahnya.


“Aaaaahhh nikmat bangett… Paakkk… Paakkk… Akuuu aahhhhhhh !!!”


'Ccccrrtttt… Ccrrtt… Cccrrttt !!!'


Akhirnya Nayla menyusul tak lama kemudian.


Nayla berhasil mendapatkan orgasmenya setelah tadi digoda oleh pentungan raksasa tetangganya. Nayla benar - benar puas. Ia sampai merem melek merasakan sensasinya. Ia jadi teringat saat mengulum penis hitam itu. Padahal rasanya hambar tak ada rasa manis asin gurih dll. Tapi entah kenapa ia jadi ketagihan dan tak ingin berhenti untuk mengulum penisnya itu.


“Ada apa ini ? Hah… Hah… Hah ?” Lirih Nayla ngos - ngosan.


“Kenapa aku nafsu banget tadi ?” Lirih Nayla saat kembali mendapatkan akal sehatnya.


“Ini aneh… Padahal aku udah enggak minum air lemon lagi… Tapi yang ada aku makin menjadi - jadi… Sekuat inikah racun yang mulai menggerogoti tubuhku… Aku harus cari penawarnya… Aku gak mau racun itu mengubahku menjadi lonte pemuas” Lirih Nayla ketakutan membayangkan masa depannya andai jadi lonte pemuas.


Tapi yang ada malah dirinya membayangkan penis hitam pak Beni lagi. Nayla buru - buru menggelengkan kepalanya. Ia berusaha tuk melupakan hal itu dan berusaha untuk menjadi Nayla yang dulu lagi.


'Astaghfirullah pikiranku… Tolong sembuhkan pikiran mesumku ini !'


Batin Nayla ketakutan.


'BEBERAPA SAAT KEMUDIAN


“Permisi pak… Aku mau pulang dulu… Aku udah ditelpon mas Miftah katanya sebentar lagi suamiku mau pulang” Ucap Nayla pada Pak Beni.


“Iya silahkan yah mbak… Maaf soal tadi” Ucap Pak Beni merasa tak enak.


“Lupakan pak… Tolong inget… Tadi kita sama - sama kebawa nafsu… Untuk kedepannya jangan terulang lagi yah… Cukup tadi yang pertama dan terakhir” Pinta Nayla yang masih berusaha untuk menjaga imannya.


“Iya saya janji mbak… Terima kasih” Ucap pak Beni.


“Eh untuk apa ?” Tanya Nayla terkejut.


“Gak… Gak jadi” Jawab pak Beni tersenyum.


Nayla seketika sadar bahwa pasti kata terima kasih yang pak Beni ucapkan itu merujuk ke sepongannya di sore tadi. Kini tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Nayla sudah berganti baju menggunakan mukena tanpa dalaman apapun karena pakaian sebelumnya sudah kotor dan ia tak nyaman untuk mengenakannya lagi. Meski agak berlebihan, Nayla tidak mempunyai pilihan lain lagi. Nayla pun pamit keluar dan untungnya baru beberapa langkah ia keluar. Ia mendapati suaminya tiba sambil diantar oleh temannya.


“Eh sayang… Cantik amat pake mukena… Habis dari musholla yah ?” Puji Miftah yang membuat Nayla merasa malu.


“Ehh iyy… Iyya hehe” Jawab Nayla malu - malu.


“Wah cantik amat istrinya… Hebat yah bisa dapet istri sesholehah ini” Puji temannya yang membuat Nayla merasa semakin malu.


“Makasih yah mas udah nganterin suami aku” Ucap Nayla berterima kasih pada teman suaminya itu.


“Gak masalah… Saya permisi dulu yah… Wassalamualaikum” Ucap temannya itu pergi.


“Walaikumsalam” Jawab Nayla dan Miftah berbarengan.


“Eh itu apa ?” Tanya Miftah saat menyadari tas jinjing yang Nayla bawa.


“Eh ini tadi buat mukena aku… Iyya hehe… Aku ganti disana… Cuma pas pulang males copot lagi… Jadi ya gitu deh hehe” Ucap Nayla sambil berusaha menyembunyikan pakaian kotor yang ada di dalam tasnya itu.


“Hmmmm bau apa yah ini ?” Tanya Miftah sambil mengendus - ngendus.


“Ehhh gak ada kok… Yaudah yuk pulang” Ucap Nayla sambil mendorong suaminya pulang yang untungnya tak dicurigai olehnya.


'Hmmm tapi kok baunya menyengat banget yah… dan kayaknya baunya ini berasal dari tas itu deh…'


Batin Miftah tanpa sepengetahuan Nayla.


Sesampainya di dalam rumah. Nayla menemukan laptopnya masih menyala di meja ruang tamunya. Nayla pun duduk di sofa dan untungnya suaminya ingin mandi terlebih dahulu sehingga meninggalkan dirinya sendirian di ruang tamu.


'Astaghfirullah !!!'


Batin Nayla terkejut saat melihat layar laptopnya sambil duduk di sofa.


Nampak sebuah video porno yang di 'pause' menampilkan seorang wanita cantik berkulit putih tengah dianal oleh pria berkulit hitam. Nampak didepannya juga ada pria berkulit hitam lain yang tengah memasukan penisnya ke dalam mulut wanita cantik itu.


'Astaghfirullah… Itu dimasukan lewat dubur yah !'


Lirih Nayla kaget saat melihatnya lebih detail lagi.


MEBS3I5

https://thumbs4.imagebam.com/dd/c0/27/MEBS3I5_t.gif   dd/c0/27/MEBS3I5_t.gif

Nayla yang penasaran malah mengklik 'play' yang membuat suara desahan dari laptop itu terdengar kencang.


“Aaaahhhhhh”


Untungnya Nayla tanggap dengan langsung memaus videonya lagi. Ia pun memejamkan mata lalu bersandar pada sandaran sofa dibelakangnya.


“Pasti ini ulah pak Urip… Bisa - bisanya dia buka situs porno pake laptop aku juga wifi di rumah aku… Ihhh nyebelin banget deh” Lirih Nayla.


Namun rasa penasaran yang melanda tubuh Nayla membuatnya ingin melihatnya lagi. Ia cukup penasaran karena warna kulit serta bentuk tubuh pria berkulit hitam yang ada di video itu mirip dengan pak Beni. Ia juga penasaran karena perpaduan antara kulit putih si wanita dengan kulit hitam si lelaki sangat menarik perhatian akhwat bercadar itu.


'Play !'


Tombol kembali ditekan. Nayla diam - diam melihat video porno itu sambil membayangkan dirinya menjadi wanita yang ada di video itu. Ia juga membayangkan ada dua pak Beni yang tengah menikmati tubuhnya.


“Kok bisa yah titid segede itu masuk ke dalam dubur seseorang ?” Lirih Nayla mempelajari hal baru.


Seketika 'scene' berganti. Ia pun terkejut saat pertama kali melihatnya.


“Eeehhh itu beneran ? Kok bisa ?” Tanya Nayla.


Ia mendapati wanita cantik itu disodok melalui lubang memeknya serta lubang duburnya oleh kedua pria berkulit hitam itu. Nayla menenggak ludah dan reflek memegangi vaginanya. Entah kenapa vaginanya kembali berdenyut. Ia membayangkan kedua lubangnya dimasuki oleh penis sebesar itu secara bersamaan.


MEBS3I0

https://thumbs4.imagebam.com/1b/e6/bf/MEBS3I0_t.gif   1b/e6/bf/MEBS3I0_t.gif

“Apa gak sakit yah ? Tapi kok, kenapa reaksi wajahnya kayak keenakan ?” Lirih Nayla jadi penasaran.


Semakin lama ia menatap reaksi wajah wanita di video itu membuat Nayla sendiri semakin penasaran. Ia menenggak ludah. Wajahnya terpaku saat menonton video porno dihadapannya.


“Dekkk malam ini makan pake apa ? Kok di dapur kosong” Tanya Miftah sambil mendekat.


“Ehhh kosong yah ?” Tanya Nayla terkejut sehingga buru - buru menutup laptopnya.


“Eh dek kenapa ? Kok laptopnya buru - buru ditutup ?” Tanya Miftah heran.


“Hehehe gapapa… Oh yah gak ada lauk yah… Hmmm… Beli ayam bakar di depan aja gimana ? Maaf aku lupa masak hehe” Ucap Nayla sambil berdiri yang membuat Miftah semakin heran.


Apalagi saat Nayla tiba - tiba kembali sambil membawa laptopnya menuju kamarnya. Nayla bertindak seolah suaminya jangan sampai mengetahui apa yang baru saja ditontonnya tadi. Miftah semakin curiga tapi ia tak ingin berpikiran yang enggak - enggak.


“Dek Nayla kenapa yah belakangan ini ? Sikapnya aneh deh” Ucap Miftah sambil memandangi pintu kamarnya.


“Ah palingan ada masalah sama temennya… Masalah soal wanita kali yah” Lanjut Miftah yang mencoba untuk terus berpikiran positif.


*-*-*-*

'KEESOKAN PAGINYA


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan tepat. Miftah sudah berangkat menuju kantornya meninggalkan istrinya dan juga pembantunya berdua di dalam rumahnya. Nayla yang sudah sarapan dan mandi sedang mengunci diri di kamarnya sambil duduk di depan meja riasnya. Nayla sudah mengenakan kemeja rapih berwarna putih. Celana panjang yang juga berwarna putih melekat tuk menutupi kaki jenjangnya. Tak lupa hijab serta cadar melengkapi penampilan indahnya. Ia juga mengenakan rompi berwarna 'cream' yang membuatnya terlihat berada di kelas yang berbeda. Nayla memang bukan orang biasa. Nayla memang seorang selebgram yang pandai mengkombinasikan pakaian sehingga membuat penampilannya terlihat begitu mengagumkan.


MEBE9OQ

https://thumbs4.imagebam.com/83/5e/69/MEBE9OQ_t.jpg   83/5e/69/MEBE9OQ_t.jpg

'NAYLA


“Sudah waktunya aku bangkit… Aku gak boleh terus berada di lingkaran hawa nafsu ini… Inget Nay, kamu itu udah bersuami… Kamu gak boleh lengah dan membiarkan tubuhmu dinikmati oleh pria - pria lain... Jaga cinta suamimu… Jaga juga janji akad yang udah kamu ucapkan di pernikahanmu dulu” Lirih Nayla sambil melentikkan bulu matanya.


“Hah… Ngomong - ngomong dokter ini bisa menyembuhkan aku gak yah ?” Tanya Nayla sambil menatap layar hapenya.


Disana tertulis ada seorang dokter bernama Amir Syarif yang ahli dalam pengobatan herbal. Ia membuka kliniknya sendiri di salah satu sudut yang berada di pusat ibukota. Dari wajahnya memang terlihat meyakinkan. Apalagi disana juga tertulis kalau dokter Amir sangat ahli dalam mengatasi masalah seksual seperti impotensi juga merangsang gairah birahi.


“Bisa gak yah dokter Amir mengatasi masalah seksualku ? Kalau beliau bisa ningkatin gairah birahi seharusnya bisa dong buat nuruninnya ?” Lirih Nayla sambil terus menatap layar hapenya.


“Udah deh berangkat sekarang aja daripada nanti nafsuku bangkit lagi” Ucap Nayla beranjak dari kursi duduknya lalu mengambil tas jinjingnya. Tak lupa ia mengambil kunci motornya untuk bersiap berangkat menuju klinik yang dimiliki oleh dokter seksual itu.


Baru saja Nayla keluar dari dalam kamarnya. Tiba - tiba ada pria mesum bertubuh gempal yang datang menghampiri lalu meremasi dada Nayla dari belakang.


“Hakhakhak… Mau kemana sayang rapih gini ? Hmmm aromanya wangi lagi” Ucap pak Urip sambil meremas juga mengendus - ngendus tubuh Nayla.


“Lepaskan pak… Aku mau pergi… Jangan ganggu aku lagi !” Ucap Nayla sambil berusaha melepaskan dekapan tangan pak Urip di dadanya.


“Pergi ? Mau kemana sayang ?… Mending disini aja sambil ngangkang di depan saya… Kita ngentot yuk… Saya jadi nafsu ngeliat non rapih pake kemeja kayak gini” Ucap pak Urip semakin mesum dengan menekan - nekan vagina Nayla dari luar celana yang ia kenakan.


“Minggir pak… Lepaskannn !” Ucap Nayla memberontak yang untungnya membuat dekapan tangan pak Urip terlepas. Kesempatan ini pun tak disia - siakan oleh Nayla. Ia memegangi tasnya lalu menghantamnya menuju kepala pak Urip.


'Plaaaaakkkk !!!'


Hantaman yang cukup keras membuat kepala Pak Urip terdorong hingga menghantam tembok. Pak Urip terlihat pusing sambil memegangi kepalanya. Nayla pun tak memperdulikan dan buru - buru pergi menjauh dari kejaran pria mesum itu.


“Dasar ! Gangguin aja” Ucap Nayla yang sudah duduk di motornya lalu merapihkan kemejanya yang agak lecek gara - gara remasan pembantunya. Ia pun menyalakan motornya lalu mengenakan helmnya. Menyadari pak Urip mulai mengejar membuat Nayla buru - buru mengegas motornya hingga berhasil kabur dari dekapan pria mesum itu.


“Tunggu non ! Cihhhh… Kabur” Ucap pak Urip tersenyum.


“Udah mulai berani ngelawan yah ? Liat aja setelah ini… Akan saya buat dirimu tersiksa dengan hujaman kontol yang akan saya lakukan nanti… Lihat saja… Akan saya buat dirimu meronta - ronta suatu saat nanti” Ucap pak Urip kesal karena tidak bisa mendapatkan jatah paginya.


Sementara itu di perjalanan . . .


“Fiyuhhh untungnya aku berhasil kabur… Gimana yah caranya biar orang mesum itu gak gangguin aku lagi ? Haruskah aku laporin ke mas Miftah ? Tapi aku gak punya bukti yang kuat ditambah lagi pak Urip udah dipercaya banget sama mas Miftah… Hah, moga aja dengan cara ini setidaknya aku bisa mengendalikan hawa nafsuku dulu… Ayolah kamu pasti bisa… Jangan sampai dirimu berubah jadi lonte lagi, Nayla” Lirih Nayla berbicara pada diri sendiri.


“Eh tunggu sebentar… Bensinku mau abis yah ?” Ucap Nayla menyadari saat jarum panahnya hampir menunjukkan huruf E.


“Huft untungnya ketahuan… Aku kudu isi bensin dulu nih… Dimana yah pom bensin terdekat ? Kalau gak salah disekitar sini ada deh ?” Ucap Nayla lalu memelankan mesinnya sambil menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan.


“Nah itu dia” Ucap Nayla yang menemukannya di kiri jalan.


Dengan segera Nayla membelokan motornya menuju pom bensin. Untungnya pom itu sedang sepi sehingga dirinya bisa langsung mengisi bensin tanpa perlu mengantri lagi.


“Mau diisi berapa mbak ?” Tanya pak pom bensin itu dengan ramah.


“'Full' yah pak” jawab Nayla sambil tersenyum.


Nayla pun membuka tasnya untuk mengambil dompetnya. Tanpa sepengetahuannya, bapak pom bensin itu mencuri - curi pandang ke arah Nayla.


“Mbak ini… Mbak Nayla yah” Ucap pom bensin itu mengejutkan Nayla.


“Eh kok bapak tau ?” Tanya Nayla terkejut.


“Hahaha ya kan mbak selebgram terkenal masa saya gak tahu” Ucap bapak itu yang membuat Nayla tersipu. Untungnya bensin yang diisi sudah penuh sehingga petugas pom bensin itu segera menghentikan pengisiannya.


“Hihihi aku gak seterkenal itu kok pak… Aku masih pemula” Ucap Nayla merendah.


“Hahaha tapi bagi saya, mbak udah kayak artis banget… Saya ngefens sama mbak… Oh yah boleh minta foto gak ?” Tanya pak pom bensin itu yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihi boleh kok pak… Boleh” jawab Nayla ramah.


'Cekreeekkk !!!'


Mereka berdua pun melakukan foto bareng. Wajah petugas pom bensin itu terlihat bahagia yang membuat Nayla ikut merasa bahagia. Nayla yang sedang terburu – buru pun izin pamit untuk pergi meninggalkan pom bensin itu.


“Berapa yah pak semuanya ?” Tanya Nayla.


“Eh gak usah mbak… Saya kasih gratis karena mbak sudah mengabulkan keinginan saya” Ucap pak pom bensin itu ramah.


“Eh jangan gitu… Bapak kan juga kerja… Nanti dimarahin atasan loh” Ucap Nayla merasa tidak enak.


“Hahaha gapapa mbak… Anggap aja ini hadiah dari saya… Terima kasih yah mbak sudah mau foto bareng saya” Ucap petugas pom bensin itu tersenyum.


“Duh jadi gak enak… Tapi terima kasih banget yah pak… Akan aku ingat kebaikan bapak… Oh yah nama bapak siapa ?” Ucap Nayla.


“Oh nama saya Fahmi mbak… Fahmi Purnomo” Ucap pak Fahmi dengan begitu riang.


“Pak Fahmi yah ? Makasih banget yah pak udah bantu aku… Kalau gitu aku permisi dulu yah… Wassalamualaikum” Ucap Nayla pamit.


“Walaikumsalam mbak… Hati - hati di jalan” ucap Fahmi sambil melambaikan tangan. Fahmi terus tersenyum sambil menatap layar hapenya. Ia begitu bahagia karena bisa berfoto bersama idolanya.


Baru saja Nayla mengisi bensin. Tiba - tiba hapenya berdering yang membuat Nayla harus berhenti sejenak lagi.


“Eh Putri nelpon… Ada apa yah ?” Ucap Nayla penasaran.


Ia yang berada di pinggir jalan hendak menyebrang terpaksa menghentikan motornya. Ia mematikan mesinnya sejenak sambil duduk diatas jok motornya untuk menjawab panggilan telepon dari rekan kerjanya.


“Halooo assalamualaikum mbak” Sapa Putri.


“Walaikumsalam put… Ada apa ?” Tanya Nayla.


“Eh mbak kemaren kemana ? Kok gak dateng sih” Ucap Putri berbasa - basi terlebih dahulu.


“Eh itu… Aduh maaf Put… Kemarin aku ngedrop… Lupa bilang juga sih ke yang laen… Aku dicariin yah ? Bu Dona gak marah kan ?” Tanya Nayla menanyakan bu 'manager' yang telah mengajaknya melakukan 'endorse'.


“Enggak kok… Tapi bu Dona khawatir karena mbak gak ada kabar… Andri sama yang lainnya juga” Ucap Putri mengabari.


“Eh aduh maaf banget… Kemaren badan aku mendadak ngedrop… Sampai malem juga masih 'drop' makanya gak sempet ngabarin… Bilangin maaf yah ke bu Dona” Ucap Nayla menyesal.


“Iyya mbak… Nanti aku bilangin… Oh yah mbak lagi apa nih ? Gak ganggu waktunya kan ?” Tanya Putri.


“Aku mau ke klinik aja sih… Enggak kok… Kebetulan ini habis ngisi bensin” jawab Nayla.


“Eh masih ngedrop yah badannya ?” Tanya Putri mengkhawatirkan.


“Gak terlalu kok… Ini udah bisa kemana – mana hehe… Cuma mau mastiin aja biar besok – besok lebih prima lagi… Hehe” jawab Nayla berbohong.


“Oalah yaudah aku langsung' to the point 'aja yah… Besok pagi agak ke siang ada pemotretan lagi sama bu Dona… Mbak bisa dateng gak ?” Tanya Putri ingin memastikan.


“Bisa kok bisa… Nanti aku usahain dateng” Ucap Nayla jadi tidak enak.


“Kalau gitu besok aku jemput yah” Ucap Putri.


“Eh gak usah… Ngapain mau jemput” Tanya Nayla tidak enak.


“Gapapa… Sekalian jalan – jalan aja… Lagian arahnya kan satu jalur dari rumah aku… Biar ada temen bareng juga pas berangkatnya” Ucap Putri tersenyum.


“Hmmm yaudah deh kalau gitu… Makasih yah udah ngawatirin aku” Ucap Nayla tersentuh.


“Hihihi sama – sama… Cepet sembuh yah… Sampai jumpa besok kalau gitu… Wassalamualaikum” Ucap Putri menyemangati.


“Iyy Put… Makasih yah buat semuanya… Walaikumsalam” Jawab Nayla merasa tidak enak.


Setelah telepon ditutup. Nayla pun mendesah sambil menatap langit biru diatas sana. Ia merasa tidak enak sudah membohongi Putri. Tapi ia juga merasa tidak enak karena sudah melewatkan sesi perfotoan bersama bu Dona. Ia jadi semakin kesal pada pak Urip. Bukan hanya menganggu hidupnya tapi pria tua itu juga sudah mengganggu pekerjaannya. Tapi kemudian ia tersenyum ketika teringat Putri akan datang menjemputnya.


“Setidaknya kalau ada Putri di rumah kan, aku bisa langsung pergi tanpa diganggu pak Urip lagi” Ucap Nayla tersenyum.


Ia pun kembali berangkat menuju klinik sesuai alamat yang tertera di 'google map'.


“Akhirnya sampai juga” Ucap Nayla lega.


Ia pun segera turun lalu memarkirkan motornya di tempat parkir. Segera ia memasuki klinik dan mendapati ada satu orang lelaki yang duduk sendirian disana.


“Hmmm mbak Nayla yah ?” Ucap lelaki tampan itu.


“Eh iya… Kok tau” Ucap Nayla terkejut lagi.


“Tadi mbak yang jaga di dalem bilang kalau saya akan masuk setelah mbak… Jadi mbak duduk aja di dalem… Setelah orang yang di dalem keluar… Mbak bisa langsung masuk kok” Tanya lelaki tampan bertubuh kekar itu.


“Ohh gitu… Makasih yah mas infonya” Ucap Nayla tersenyum.


Nayla lagi – lagi lega karena tadi pagi sempat terpikirkan untuk memesan tempat terlebih dahulu mengingat biasanya orang – orang yang datang ke klinik ini cukup ramai. Setidaknya dengan pendaftaran itu dirinya bisa langsung masuk tanpa perlu mengantri lebih lama lagi. Tak lama kemudian pasien yang ada di dalam ruangan pun keluar.


“Mbak Nayla Salma Nurkholida” Panggil mbak yang berjaga.


“Eh iya… Saya mbak” Ucap Nayla sambil mengangkat tangannya.


Nayla lalu diberi berkas catatan kesehatan lalu memasuki ruangan untuk menemui dokter Amir.


“Silahkan mbak Nayla yah ?” Ucap dokter Amir sambil memeriksa berkas yang ia dapatkan.


“Iya dok” Jawab Nayla sambil duduk di depan dokter.


“Bisa diceritakan keluhannya ?” Tanya Dokter itu dengan ramah sambil menatap Nayla.


“Anu… Anu” Jawab Nayla ragu - ragu.


“Gapapa ceritakan aja mbak… Yang jelas supaya saya bisa memberikan obat yang pas untuk mbak” Ucap Dokter Amir sambil tersenyum untuk meyakinkan Nayla.


“Heheh anu gini dok… Beberapa hari yang lalu anu itu… Suami saya… Iya suami saya hehe, memberi obat perangsang ke saya biar lebih bergairah waktu bercinta katanya… Tapi kok… Hmmm belakangan efek dari obat perangsang itu masih terasa yah… Jadi kadang - kadang saya ngerasa suka . . . .” Ucap Nayla malu - malu.


“Terangsang sendiri yah ?” Ucap pak Dokter memotong yang membuat Nayla tersipu.


“Hehehe iyya begitu lah dok” Ucap Nayla kepada dokter brewok tersebut.


“Silahkan kalau gitu tiduran dulu… Biar saya periksa” Ucap Pak Dokter bersiap untuk memeriksa Nayla.


Nayla yang masih malu menuruti apa yang diminta oleh dokter. Nayla pun berbaring diatas ranjang kemudian dokter Amir mendekati sambil memasangkan stetoskop ke telinganya.


“Maaf mbak… Boleh buka kancingnya sebentar ?” Pinta dokter Amir mengejutkan Nayla.


“Eh ?”


“Tenang mbak… Ini demi pemeriksaan… Saya gak akan aneh - aneh kok” Ucap dokter itu dengan suara jantan sehingga membuatnya tampak meyakinkan. Nayla yang tidak memiliki pilihan lain akhirnya menuruti. Ia menaikan hijabnya lalu membuka rompinya terlebih dahulu. Ia lalu membuka satu demi satu kancing kemejanya hingga nampak lah beha berwarna putih yang menyembunyikan gundukan indah yang dimilikinya.


“Tarik nafas” Ucap Dokter Amir sambil menyentuhkan stetoskopnya ke kulit dada Nayla.


“Keluarkan” Ucap Dokter Amir sambil menyentuhkan stetoskopnya ke bagian yang lain.


“Lagi mbak… Iya seperti itu” Ucap dokter Amir kembali memindahkan stetoskopnya ke bagian lain.


“Tunggu sebentar” Ucap Dokter Amir sambil melepas stetoskopnya.


Nayla yang sudah membuka 4 kancing teratas kemejanya hendak bangkit untuk mengancingkan kemejanya kembali.


“Eh jangan dulu… Pemeriksaannya belum selesai” Ucap Dokter Amir sambil tersenyum yang membuat perasaan Nayla mendadak tidak enak. Nayla kembali tiduran membiarkan dokter itu memeriksa tubuhnya.


“Mmppphhhhh” desah Nayla terkejut saat tiba - tiba puting susunya ditekan oleh dokter Amir.


“Dookkkk” Ucap Nayla hendak protes.


“Tenang… Ini bagian dari pemeriksaan kok” Ucap Dokter itu menenangkan. Namun tangan nakal dari dokter itu kembali beraksi dengan meraba buah dada indah Nayla yang masih tertutupi behanya.


“Mmpphhhh dokkkk… Apa maksud semua ini ?” Jerit Nayla saat lagi - lagi puting susunya ditekan bahkan diiringi remasan yang membuat Nayla merasa terlecehkan.


Belum reda rasa terkejut yang Nayla punya. Tiba - tiba dokter Amir menurunkan cup bra sebelah kanan Nayla lalu memelintir putingnya yang membuat Nayla blingsatan tak karuan.


“Aaaahhhhh dokkk hentikaaannn” Desah Nayla tak kuat lagi.


“Hmmm menarik” Ucap dokter itu.


Tiba - tiba dokter itu juga menarik puting Nayla hingga tubuhnya terangkat naik.


“Aaaaaahhhhhh” Jerit Nayla sambil memegangi tangan dokter mesum itu.


Disaat Nayla teralihkan pada tangan nakal dokter Amir. Tiba - tiba dokter berwajah tampan yang memiliki brewok itu menurunkan resleting celana Nayla lalu memasukan tangannya untuk menekan vagina Nayla dari luar celana dalamnya.


“Aaaaahhhh dokkk… Apa ini ? Apa maksud semua ini ? Mmppphhhh” desah Nayla merinding merasakan sensasi nikmat yang tak terduga dari dokter mesum itu.


“Hmmm sangat menarik” Ucapnya yang membuat Nayla semakin kesal.


Merasa belum cukup. Jemari kanan dokter itu masuk ke dalam liang senggama Nayla yang mulai membasah. Sontak Nayla blingsatan hingga matanya memejam merasakan pelecehan dokter brewok itu. Dokter Amir juga meremasi payudara Nayla menggunakan tangan kirinya yang membuat Nayla semakin blingsatan tak karuan. Berulang kali pinggulnya terangkat naik. Berulang kali akhwat bercadar itu menjerit. Gairah birahinya mendadak bangkit. Nayla semakin terangsang oleh rangsangan tiba - tiba yang dokter mesum itu lakukan.


“Aaaaaaahhhhhhhhhhh” Jerit Nayla sekeras - kerasnya saat klitorisnya ditekan serta puting kanannya dicubit. Nayla merinding keenakan. Ia heran kenapa dokter itu begitu ahli dalam merangsang tubuhnya.


“Oke… Oke… Sudah cukup” Ucap dokter Amir sambil menarik keluar tangannya dari dalam pakaian yang Nayla kenakan. Dokter itu lalu mengambil kain lap kemudian membersihkan jemari kanannya yang bersimpuh cairan cinta Nayla.


“Hah… Hah… Hah… Apa maksud semua ini dok ? Apa yang dokter lakukan ke saya ?” Tanya Nayla dengan mata berkaca - kaca. Nayla sangat ketakutan saat tubuhnya dilecehkan orang lain lagi. Ia pun buru - buru mengelap air matanya tapi kemudian terkejut saat dokter Amir memberikannya tisu.


“Maaf… Tapi ini demi pengecekan tubuh mbak… Sepertinya kandungan obat perangsang di tubuh mbak cukup parah… Buktinya mbak mudah terangsang saat saya lakukan tes tadi” Ucap dokter Amir yang membuat Nayla kesal.


“Tes ? Jadi itu tes ? Bukannya yang pak Dokter lakukan tadi cuma melecehi tubuhku?” Ucap Nayla kesal sambil mengelap air matanya.


“Maaf… Saya paham akan kekesalan mbak… Tapi cuma itu yang bisa saya lakukan untuk mengecek kandungan obat perangsang yang masih ada di dalam tubuh mbak” Jawab dokter itu yang cukup meyakinkan. Raut wajahnya juga terlihat datar alias tidak ada nafsu yang ditunjukkan kepadanya. Tatapannya jauh berbeda dari tatapan pak Urip yang sangat bernafsu. Ia pun agak percaya kalau Dokter brewok itu melakukan semua hal ini demi pemeriksaan saja.


Nayla yang masih kesal buru - buru membenarkan pakaian dalamnya lalu mengancingkan kemejanya. Ia juga menaikan celananya. Dengan sisa amarah yang ada di hatinya. Ia kembali duduk didepan dokter Amir.


“Ini untuk obatnya… Memang terlihat seperti air biasa yang berada di dalam botol… Tapi air ini mengandung obat yang dapat menetralisir obat perangsang di dalam tubuh mbak… Cukup satu tegukan tiap pagi sekitaran pukul tujuh atau delapan… Usahakan konsisten diminum yah… Kalau mbak konsisten mungkin sekitar 12 - 14 hari mbak bisa sembuh total… Tapi kalau masih belum sembuh, mbak bisa kesini lagi untuk pemeriksaan lebih lanjut” Ucap dokter itu menjelaskan.


Nayla yang masih kesal hanya mengangguk saja. Ia pun lekas membayar biaya pengobatan lalu pergi keluar dari dalam ruangan itu. Nayla pun bertekad, meski dirinya belum sembuh dirinya tidak akan kembali ke ruangan mesum itu karena tidak mau tubuhnya kembali diraba - raba oleh dokter mesum itu.


'Ihhh dokter apaan yang pengobatannya kayak gitu ? Ihhh amit – amit deh kalau digituin lagi sama dia… '


Batin Nayla yang sudah kehilangan respek kepadanya.


“Selanjutnya, mas Edwin” Ucap mbak yang berjaga. Pria tampan yang tadi menyambut Nayla pun masuk menemui dokter Amir. Nayla hanya meliriknya sejenak lalu menaiki motornya untuk kembali pulang ke rumahnya.


'SEMENTARA ITU DI DALAM RUANGAN


“Eh ada mas Edwin… Kenapa nih ?” Ucap dokter Amir yang tiba - tiba mengubah nada suaranya. Suaranya yang tadinya cukup jantan dan berat tiba - tiba berubah menjadi lembut dan agak kemayu.


“Biasa dok… Tolong periksa yah” Ucap Edwin sambil tersenyum menatap dokter brewok itu.


“Seperti biasa yah mas ?” Ucap dokter Amir membalas tatapan Edwin dengan senyuman penuh arti.


*-*-*-*

'SEMENTARA ITU DI JALAN


“Ihhhh dokter macam apa sih dia itu ? Duhhh gara - gara dia aku jadi kumat lagi kan !!!” Ucap Nayla kesal dalam perjalanan pulangnya. Berulang kali ia menyetir sambil menggesekkan kakinya tuk menahan rasa gatal yang ada di vaginanya. Bahkan saat lampu merah terjadi, Nayla diam - diam menekan vaginanya tuk menekan rasa gatal yang dideritanya. Namun gerakan tangannya itu malah membuatnya jadi semakin bernafsu.


Nafasnya ngap - ngapan. Akhwat bercadar itu butuh pelampiasan. Berulang kali tatapannya kurang fokus akibat rasa gatal yang mendera tubuhnya.


“Eeehhh 'astaghfirullah' !!!” Jerit Nayla terkejut saat mobil yang ada di depannya tiba - tiba berhenti.


“Fiyuhh untung aja bisa ngerem… 'Astaghfirullah' bahaya banget sih tadi” Ucap Nayla lega.


Namun rasa gatal yang mendera vaginanya masih menyulitkan diri Nayla. Makin kesini, rasa gatal itu malah semakin menjadi. Kini payudaranya yang terasa gatal ingin diremas. Nayla benar - benar butuh pemuas. Bahkan saat melihat adanya polisi yang bertugas menjaga lalu lintas. Matanya malah menatap celana berharap ada tonjolan yang bisa melampiaskan fantasinya.


“'Astaghfirullah' pandanganku” Ucap Nayla sambil geleng - geleng kepala.


Racun itu mulai mempengaruhi otak Nayla. Racun itu mulai mengotori pandangan Nayla. Bahkan saat ada gelandangan lewat yang hanya mengenakan celana pendek saja tanpa adanya atasan membuat akhwat bercadar itu semakin terangsang.


“Bagus banget tubuhnya… Ototnya kekar” Lirih Nayla saat melihat gelandangan yang tubuhnya memang cukup kekar.


“'Astaghfirullah'… Bisa - bisanya aku kepikiran kayak gitu ! Lirih Nayla kembali geleng - geleng kepala.


Nayla pun mengendarai motornya secara pelan - pelan. Ia takut kalau nafsunya ini malah membuatnya mengalami kecelakaan. Namun yang ada malah membuat pandangannya selalu menatap pria - pria yang lewat di pinggir jalan. Ia seperti sedang mencuci matanya saja. Tiap pria berbadan kekar yang lewat baik itu yang muda ataupun yang sudah menjadi bapak - bapak ataupun lelaki yang biasa - biasa saja tapi mengenakan pakaian ketat dipelototi semuanya oleh Nayla.


Nayla hanya bisa geleng - geleng kepala. Ia benar - benar sudah tidak kuat lagi. Ia butuh pelampiasan. Ia butuh penis besar yang panjang dan kekar yang dapat memuaskan nafsu birahinya.


“Pak Beni” Lirih Nayla terpikirkan sebuah nama.


Ia juga teringat video porno yang ia lihat kemarin sore. Ia jadi ingin seperti wanita yang ada di video itu. Ia pun akhirnya bergegas pulang bukan untuk kembali ke rumahnya tapi untuk ke rumah tetangganya.


“Aku gak kuat lagi… Aku butuh kontol gede… Maafkan aku mas… Maafkan aku… Maafkan istrimu sekali aja mas… Aku gak kuat lagi… Racun ini bener - bener menguasai tubuhku mas” Ucap Nayla sambil membayangkan suaminya saat ingin berzina bersama tetangganya.


“Tapi apa yang harus aku ucapkan… Aku gak mau dipandang rendahan olehnya” Ucap Nayla bimbang.


“Ah nantilah… Yang terpenting aku harus menemui pak Beni dulu… Tolong pak… Tolong atasi masalahku ini !” Lirih Nayla penuh harap.


Tak lama kemudian Nayla tiba di depan rumah pak Beni. Ia diam - diam masuk ke dalam pagar gerbang rumah tetangganya berharap tidak ada orang lain yang melihatnya datang ke rumah pak Beni. Ia juga sesekali melirik ke rumahnya sendiri berharap pak Urip tidak memergokinya datang ke rumah pak Beni. Ia dengan tergesa - gesa mengetuk pintu rumah pak Beni. Ia pun mengetuknya lalu berlari ke luar pagar untuk melihat keadaan di jalanan.


'Tokkk… Tokkk… Tokkk…'


“Assalamualaikum, eh… Selamat pagi pak !” Ucap Nayla lalu berlari pergi untuk mengecek sekitar.


“Ihhh pak Beni mana sih kok belum bukain pintu !” Lirih Nayla sambil menoleh ke jalanan kadang ke pintu rumah pak Beni.


Merasa belum ada jawaban, Nayla kembali ke pintu rumah pak Beni untuk mengetuknya.


'Tokk… Tokk… Tokkk… '


“Pak, ini aku… Nayla… Tolong bukain pak !” Ucap Nayla lalu kembali ke jalanan.


Namun kali ini pintu akhirnya terbuka. Namun Nayla masih belum sadar karena masih fokus melihat keadaan di jalanan. Pak Beni yang melihat penampilan Nayla langsung terpana. Belum pernah ia sekagum ini saat melihat seorang wanita. Hijabnya, kemejanya, rompinya, celananya semuanya sungguh 'matching' di tubuh Nayla. Nayla terlihat seperti seorang 'office lady' saja. Nayla sudah seperti seorang 'manager' kantor yang telah bersiap untuk melakukan rapat. Apalagi saat itu angin tengah berhembus. Hijab yang Nayla kenakan pun berkibar ke belakang. Sedangkan pak Beni saat itu cuma mengenakan celana panjang yang teksturnya mirip celana tantara hanya bisa diam mengaguminya dari kejauhan.


MEBE9OT

https://thumbs4.imagebam.com/26/be/16/MEBE9OT_t.jpg   26/be/16/MEBE9OT_t.jpg

'NAYLA


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


“Ehh bapak…” Ucap Nayla menyadarkan pak Beni. Akhwat bercadar itu segera masuk ke dalam rumah untuk berlindung dari kejaran pembantunya.


“Mbakkk… Ada apa ?” Tanya pak Beni terkejut Nayla kembali bertamu ke rumahnya.


“Seperti omongan aku kemarin pak… Aku akan kesini tiap kali suamiku pergi pak” Ucap Nayla sambil tersenyum. Namun cara berdirinya terlihat aneh. Matanya bahkan sesekali menatap tubuh pak Beni yang tidak ditutupi apa - apa. Bahkan matanya juga sesekali menatap perut kotak - kotaknya. Ia ingin merabanya namun ia terlalu malu untuk mengucapkannya.


“Kalau gitu ayo duduk dulu” Ucap pak Beni mempersilahkan tamunya masuk.


“Iyya pak” Jawab Nayla malu - malu saat berjalan di sebelah pak Beni. Namun lagi, matanya malah terfokus pada tubuh kekar pak Beni. Nayla benar - benar di luar kendali. Ia sungguh ingin bercinta untuk melampiaskan nafsunya lagi.


“Mbak habis darimana ? Kok tadi diluar ada motor mbak ?” Tanya pak Beni untuk berbasa - basi terlebih dahulu.


“Hehe anu… Gak pak… Aku habis dari luar aja” Jawab Nayla sambil berulang kali membenahi posisi duduknya. Vaginanya benar - benar gatal yang membuatnya tak nyaman dan ingin menggaruknya segera.


“Dari luar ? Jalan - jalan yah mbak hehe ?” Tanya pak Beni kali ini sambil menatapi lekuk tubuh dari akhwat bercadar itu.


Nayla tak menjawabnya dengan segera. Ia malah memperhatikan wajah pak Beni yang tengah menikmati lekuk tubuhnya. Anehnya Nayla tak merasa marah. Ia justru menikmati tatapannya itu dan justru tergoda untuk menggoda pria tua berbadan kekar itu.


“Hehe iyya pak… Mmpphhhh” Jawab Nayla dengan nada agak mendesah sambil menekan vaginanya pelan - pelan tanpa sepengetahuan pak Beni.


'Duhhh gatel banget sihhh… Gak tahan banget pengen ituu…'


Batin Nayla gelisah.


Tubuhnya bahkan mulai berkeringat. Nafasnya semakin berat. Dadanya naik turun dengan cepat dan matanya menatap otot pak Beni yang berurat.


“Mbaakkk… Mbak gapapa ?” Tanya pak Beni saat melihat tubuh Nayla sedikit aneh.


“Heheheh aku emangnya kenapa pak ?” Tanya Nayla memaksa senyum sambil menahan gairah birahinya yang semakin tak terkendali.


“Mbak keliatan… Hmmm… Gak jadi hehe” Ucap pak Beni saat menyadari tangan Nayla. Ia melihat Nayla seperti sedang menggaruk - garuk vaginanya. Saat wajahnya ia naikan, ia menyadari kalau dada Nayla semakin besar. Kemeja yang Nayla kenakan jadi tampak sempit. Pak Beni pun menenggak ludah. Pelan – pelan penisnya mulai bangkit menyadari tubuh Nayla semakin seksi.


Tiba - tiba Nayla tersenyum. Ia mencoba menenangkan tubuhnya. Ia dengan malu - malu menaikan pandangannya tuk menatap pria tua kekar itu.


“Pakkk… Aku mau minta tolong boleh ?” Tanya Nayla sambil berpindah mendekati tempat duduk pria tua kekar itu.


“Ehhh ada apa mbak ?” Tanya pak Beni berdebar apalagi saat lengan kekarnya dibelai oleh Nayla.


“Hehe tolongg bantu aku paakkk” Ucap Nayla dengan agak mendesah sambil menatap wajah pak Beni dengan tatapan penuh gairah.


“Anuuu… Apa yaahhh ?” Tanya pak Beni bingung namun juga penasaran. Dilihat senafsu itu oleh Nayla membuat pak Beni juga ikut bernafsu. Namun ia mencoba bersabar membiarkan Nayla mengucapkan apa yang ia inginkan.


“Untuk kali ini aja… Aku mau liat kontol bapak… Boleh yah ? Aku mau mainin kontol bapak boleh ?” Tanya Nayla dengan begitu vulgarnya yang membuat pak Beni 'shock'.


“Koonn… Konntooll ?” Tanya pak Beni tak menyangka. Ia tak mengira kalau akhwat sealim Nayla bisa berkata sekotor itu.


“Heemmm paakkk… Aku udah gak nahan… Aku boleh mainin kontol bapaakk ?” Tanya Nayla yang kini semakin berani dengan membelai penis pak Beni dari luar celananya.


“Mbaakkk… Mbakk ada apa ? Mbak kenapa ? Ouuhhhhhh” desah pak Beni sambil memejam saat penisnya dibelai Nayla dari luar celananya.


“Akan aku jelaskan nanti pak tapi tolonngg… Aku gak kuat lagi… Aku keluarin yah kontolnya” Ucap Nayla tak tahan lagi sehingga memaksa memelorotkan celana pak Beni.


Nayla yang duduk di atas sofa panjang di sebelah pak Beni mulai memelorotkan celananya. Bagaikan wanita pemuas yang sangat bergairah. Ia memasukan tangannya ke dalam celana pak Beni lalu mengeluarkan penisnya yang ternyata sudah mengeras.


“Aaaaahhh mbaaakkkk” desah Pak Beni merasakan kemulusan tangan Nayla di penis besarnya.


“Geeddeee bangeett… Kesukaan aku ini paakk… Hihihiii” Tawa Nayla sambil mengocok penis pak Beni secara perlahan.


Nayla tersenyum puas saat dapat memegang pusaka suci milik pria tua kekar itu. Bentuknya yang keras membuat Nayla semakin bergairah. Ukurannya yang besar membuat Nayla semakin terangsang. Warnanya yang hitam pekat dengan adanya kulup yang menutupi ujung gundulnya membuat Nayla gemas ingin menciumnya. Pikiran Nayla semakin keruh. Ia benar – benar tak tahan ingin digenjot oleh penis indah itu.


“Aaaahhh mbaakkk… Aaahhhh enakk bangett… Aahhhh yahhh” desah pak Beni merem melek merasakan kocokan akhwat bercadar itu.


“Hihihihi bagus deh kalau bapak keenakan… Aku percepat yahhh” Ucap Nayla mulai mempercepat kocokannya.


“Aaahhhh yaahhh… Aaahhhh nikmatnyaaa… Aaahhhh mbaakkkk lagiii… Aaahhhh yahhhhh” desah pak Beni sambil mengepalkan kedua tangannya menahan kenikmatan yang luar biasa.


“Mmmppphhhh gede bangeeeettt… Mmpphhh… Mmppphhh bapaakkk” desah Nayla sambil menatapi penis yang sedang ia kocok.


Tangan Nayla dengan gemulai menggenggam erat penis pak Beni. Dengan kuat ia gerakkan naik turun. Penis pak Beni pun terkocok naik turun. Sesekali ujung gundul penis pak Beni nampak saat kulupnya tertarik ke bawah. Nayla jadi gemas. Ia ingin menjilat ujung gundul itu ketika nampak ke permukaan.


'Hah… Hah… Hah… Maafin aku maass… Maafin aku… Izinkan aku sekali aja mas… Izinkan aku berzina untuk kali ini saja, mas…'


Batin Nayla meski menyesal namun tak sanggup untuk berhenti mengocoki penis pak Beni.


“Paaakkkk… Hah… Hah… Hah…” desah Nayla sambil menatap wajah pak Beni.


“Aaahhhhh… Aaaahhhhh… Ada apaa mbaakkk ?” Desah pak Beni sambil menatap wajah Nayla.


Tatapan penuh nafsu dari Nayla membuat luapan gairah pak Beni semakin bangkit. Bibirnya jadi gemas ingin mencumbunya. Namun ia tak berani tuk mengungkapkan. Berulang kali matanya menatap cadar yang Nayla kenakan berharap Nayla menyingkapnya sehingga ia dapat nyerocos tuk menghisap bibir dari bidadari bercadar itu.


“Bapaaakkk pernah bercinta kan sebelumnya ?” Tanya Nayla yang membuat jantung pak Beni rasanya seperti berhenti berdetak.


'Deeegggg !!!'


“Aaaahhhh… Maksuddnyyaaa… Maksudd mbaakkk ?” Tanya pak Beni saat tak percaya dengan telinga yang mendengar pertanyaannya.


“Hehe aku ingin bercinta dengan bapak… Bapaak pernah kan ?” Tanya Nayla yang semakin bernafsu sehingga semakin berani kepada pria tua kekar itu.


“Beelluumm… Saya belumm pernah mbaakk… Saya masih perjakaaa” jawab pak Beni yang membuat Nayla tersenyum.


“Masaaa ? Bukannya bapak sering onani sambil mikirin aku kan ?” Tanya Nayla sambil terus mengocok penisnya yang lagi - lagi membuat jantung pak Beni seperti berhenti berdetak.


“Ittuuuu… Itttuuuuu” Jawab pak Beni sambil sedikit mendesah.


“Hihihih gapapa paakk… Aku gak mempermasalahkan… Cuma aku minta pertanggung jawaban bapak… Gara - gara bapak aku jadi nafsu sama bapakkk lohhh” Ucap Nayla yang lagi - lagi mengejutkan pak Beni.


“Naaffssuu ? Sama sayaaa ? Aaaaaahhhhhh” desah pak Beni saat kocokan tangan Nayla semakin terasa nikmat.


“Bapaakkk harus tanggung jawab… Bapaakk harus muasin aku pokoknya” Ucap Nayla yang tiba - tiba menghentikan kocokannya lalu berdiri membiarkan pak Beni melongo saat celananya turun hingga ke lututnya. Seketika mata pak Beni nyaris meloncat keluar. Ia tak percaya saat melihat akhwat bercadar itu menurunkan resleting celananya.


Nayla yang sudah menyerah pada nafsunya mulai memelorotkan celananya. Saat celananya jatuh ke lantai. Ia mendorong tubuh kekar pak Beni hingga bersandar pada sandaran sofa di rumahnya. Nayla sambil tersenyum dari balik cadarnya mulai menunggangi pangkuan pak Beni. Penis kekar yang sedang berdiri tegak itu lama - lama mulai masuk membelah liang senggama sang dewi.


“Aaaaaaaaaahhhhhhhhh” desah mereka berdua secara bersamaan.


Nayla yang sudah amat terangsang mendapatkan apa yang ia cari - cari selama ini. Akhirnya ada benda tumpul nan keras yang dapat menggaruk vaginanya. Vaginanya yang sudah amat lembap memudahkan penis hitam itu untuk masuk membelah liang senggamanya. Terasa tusukannya begitu kejam. Penis hitam itu dengan perkasa masuk menyundul dinding rahimnya.


“Ouuuhhh bapaaaaakkkk” desah Nayla hingga menatap langit - langit ruangan merasakan nikmatnya tusukan dari tukang sapu jalanan itu.


“Aaaahhh mantap sekali memekmu mbaaakkk” desah pak Beni sambil menatap akhwat bercadar yang tengah menunggangi pangkuannya.


Tubuh Nayla yang sedang 'on' - 'on' nya terpampang dihadapannya. Meski Nayla masih mengenakan pakaian lengkap mulai dari cadar ke atas sampai celana dalam ke bawah. Nampak lekuk tubuhnya membuat pak Beni geleng - geleng puas.


Apalagi saat dirinya merasakan pijitan vagina Nayla pada penis kekarnya. Juga sentuhan tangan Nayla di kedua putingnya. Rasanya seperti dilayani oleh bidadari surgawi.


Apalagi saat tubuh Nayla mulai bergerak naik turun. Disitulah pak Beni mulai berkebun. Tubuh Nayla berayun - ayun. Membuat pria kekar itu mengaum - ngaum. Laksana singa yang sedang menandakan daerah kekuasannya. Pak Beni seolah sedang menancapkan daerah kekuasannya di dalam vagina Nayla.


Aaaahhhhh... Aaaahhhhh... Aaaahhhhh


Sementara Nayla menjerit - jerit. Pak Beni mendesah keenakan saat penis kekarnya mengobrak – ngabrik vagina Nayla yang sempit. Penisnya dijepit. Penisnya terapit. Rasanya begitu komplit hingga mulutnya terus berkomat - kamit. Pak Beni sampai memegangi pinggang Nayla saat goyangan tetangganya itu semakin menggila.


“Aaaahhh… Aaahhhh… Aaahhh bapaakkk… Aaaahhhhh” desah Nayla sambil memejamkan mata.


“Aaaahhhh luar biasa sekali goyanganmu mbaakkk… Saya baru tau rasanya bisa seenak ini… Ayo terus mbaaakkk… Goyaaanggg lagiii… Goyaanggg yang kencanggg” Desah pak Beni sambil mengusapi pinggang ramping Nayla.


“Aaaaahhh iyaahh paakkk… Bapaakk jugaaa… Remas dadaku paakk… Ayooo remas” Desah Nayla sambil menuntun tangan pak Beni ke dadanya.


Pak Beni dengan senang hati langsung meremasnya. Kemeja Nayla langsung lecek. Vaginanya juga semakin becek. Remasan tangan pak Beni yang terlalu kuat membuat Nayla semakin bergairah.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhh… Aaaahhhh” desah Nayla semakin bersemangat.


'Maafkan aku suamiku… Maaafkan istrimu ini, mas… Aku terlalu bernafsu untuk berhenti… Aku terlalu nafsu untuk menjaga harga diriku, mas…'


Batin Nayla meski menyesal namun terus bergoyang.


Luapan birahi yang semakin menjadi membuat akhwat bercadar itu semakin liar dalam bergoyang. Tidak hanya naik turun diatas pinggang sang pejantan. Ia melakukan variasi dengan melakukan goyangan maju mundur. Terkadang ia melakukan goyangan memutar sehingga penis pak Beni seperti teraduk - aduk di dalam vaginanya. Awalnya maju lalu ke kanan lalu ke belakang lalu ke kiri dan kembali ke depan. Ia memutar pinggulnya dengan cepat. Ia melakukan goyangan dengan hebat.


'Aaaaahhhh… Aaahhhh… Enak sekaliiii… Kenapa rasanya enak begini ? Aaaahhhh akuuu gak bisa berhentiii… Ouuhhh pak Beeniii… Ouuhhhh enak sekali kontolmu ini, paakkk !!!'


Batin Nayla sambil menatap wajah pak Beni.


Dilihatnya wajah pak Beni yang keenakan. Dilihatnya wajah pak Beni yang menahan kenikmatan. Melihat seperti itu membuat Nayla ingin menggodanya lebih. Ia yang merasa gerah tiba - tiba menaikan rompinya lalu melepaskan satu demi satu kancing kemejanya. Mulai dari yang teratas hingga ke bawah semuanya hampir terlepas. Mata pak Beni pun melotot keenakan menatapi buah dada indah Nayla yang kini tinggal tertutupi behanya saja.


“Ouuhhhh bapaaaakkk… Ouhhhhh… Gimana ? Gimana rasanya bercinta denganku ?” Tanya Nayla ditengah goyangannya.


“Aaaaahhhh enak banget mbaaakk… Aaaahhhh luar biasa pokoknyaa” Jawab pak Beni sambil memberikan jempol.


“Hihihihi” Nayla pun tertawa senang. Ia akhirnya bisa menikmati wajah seorang lelaki yang benar - benar keenakan saat dilayani olehnya. Nayla kembali goyang naik turun. Akibatnya payudaranya yang kini terlihat ikut bergoyang naik turun.


“Woaaahhhh… Aaaahhhhh… Aaaaahhh” desah pak Beni saat terpukau pada goyangan indah payudara Nayla.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Aaaahhh bapaaakkk” desah Nayla tersenyum saat melihat mata pak Beni yang terkagum akan payudaranya.


'Gede sekali susunyaa… Ini nyata kan ? Bentuknya lebih indah daripada yang saya lihat di video porno… Ouhhh mantap sekali susumu mbaakkk… Saya jadi gemas ingin meremasnya lagi !'


Batin pak Beni yang kembali meremas dadanya.


“Aaaaahhh paaaakkkk… Iyyaaahhh… Iyya seperti ituuuuu” Desah Nayla dengan penuh gairah,


Pak Beni menurunkan 'cup' branya. Rupanya meremasnya saja masih belum cukup untuknya. Ia lalu mendekatkan bibirnya untuk menjepit pentil susu itu menggunakan giginya.


“Aaaaahhh baapaaaakkk “desah Nayla merinding keenakan.


Tanpa mengucapkan sepatah kata. Pak Beni menyeruput puting susu Nayla dengan penuh nafsu. Kadang ia juga menjilatnya. Kadang ia juga menghisapnya. Lidahnya kadang keluar untuk membasahi puting susu Nayla. Ia lalu menyeruputnya lagi yang membuat Nayla semakin bersemangat dalam bergoyang. Nayla terkejut pak Beni masih kuat bertahan padahal goyangannya sudah sangat liar. Tapi ia tersenyum tak lama kemudian karena ia akan semakin lama dalam merasakan kenikmatan dari penis tak bersunat itu.


“Aaaaahhh mbaaakkk cuukkuupp” Ucap pak Beni sambil memeluk tubuh Nayla.


“Eeeehhh udah ?” Tanya Nayla kecewa.


“Izinkan saya yang kali ini menggenjot mbak… Saya gak tahan ingin nyodok memek mbak sampe mentok” Ucap pak Beni dengan penuh nafsu yang membuat Nayla kembali tersenyum.


Nayla pun hanya mengangguk malu. Dirinya yang masih mengenakan kemeja namun terbuka kancingnya serta menyisakan celana dalam berikut hijab serta cadarnya hanya manut saja. Ketika dirinya diminta pak Beni untuk menungging menghadap dinding pun, ia juga manut. Ia yang masih bernafsu pun mengharapkan sesuatu yang luar biasa dari sodokan pak Beni. Ia tak sabar ingin disodok. Ia tak sabar untuk merasakan genjotan dari penis hitam yang tak disunat itu.


'Ayooo pakkk cepeettaannn… Ayooo sodokk aku paaakkkk !'


Batin Nayla tak tahan.


Seketika ia merasakan dekapan tangan yang begitu kuat di pinggangnya. Ia juga merasakan benda tumpul yang berulang kali mengetuk - ngetuk pintu masuk vaginanya. Nayla pun menoleh ke belakang. Dilihat pak Beni sudah sangat bernafsu untuk menyetubuhi dirinya.


“Rasakan sodokan saya ini mbaaakkkk !!! Hennkggghhhh !!!!” Desah pak Beni sambil menancapkan penisnya menembus liang senggama Nayla.


“Aaaaaaaahhhhh bapaaaaakkk” Jerit Nayla hingga tubuhnya terdorong maju ke depan. Rasanya sangat luar biasa. Rasanya sungguh nikmat. Rasanya melampaui harapan Nayla. Ini benar - benar puas. Ia jadi semakin tak tahan untuk merasakan goyangan selanjutnya.


“Aaaaaahhhh… Aaaaahhhhh… Aaahhhh mbaaakkkk… Ouhhhh nikmatnyaaa memekmu ini !” Desah pak Beni saat dirinya mulai bergoyang maju mundur.


“Aaaaahhh baapaaakk… Ouhhhhhhh… Pellaannn dikittt… Aaahhh bapaaakkkk” desah Nayla terkejut saat pak Beni langsung tancap gas saja. Seketika dirinya teringat kalau pak Beni belum pernah bercinta sama sekali sebelumnya. Maka pantas saja pak Beni langsung tancap gas. Namun dirinya tetap saja merasakan kenikmatan yang amat sangat. Namun dirinya kesulitan untuk mengimbang nafsu pak Beni yang menurutnya sangat buas.


“Aaaahhhhh enak sekaliii… Enakkk sekaliii rasanyaaaa… Ouhhhh yahhh… Ouhhhh mbaak” desah pak Beni yang justru menambah kecepatannya.


“Aaahhh jangaannnn… Jangannn cepat - cepattt paaakkk… Aaahhhh pelannn… Aaahhhh” desah Nayla semakin kewalahan tuk mengimbangi nafsu liar pak Beni.


Diam - diam mulut Nayla berulang kali membuka saat merasakan tusukan demi tusukan yang menggetarkan sanubarinya. Kedua tangan Nayla menahan sekuat tenaga dorongan yang membuat tubuhnya terus maju ke depan. Langkah kakinya juga demikian. Saking buasnya, tubuhnya semakin terdorong maju. Apalagi saat tangan pak Beni berpindah untuk meremasi bokong montoknya.


“Aaaaahhh paakkk jangann keras - keraaasss !!” Jerit Nayla merasakan sakit di bokongnya.


Bukannya berhenti Pak Beni justru menampar bokong Nayla hingga berubah menjadi warna kemerahan. Ia menampar bokong Nayla berulang kali. Ia menamparnya sambil terus menggenjot rahim dari akhwat bercadar ini.


'Plaaaakkk !!!'


“Aaahhh paakkkk !!”


'Plaaaakkk !!!!'


“Aaaaaahhh bapaaaakkk”


Hentakan demi hentakan yang pinggul pak Beni lakukan membuat Nayla semakin tidak tahan lagi. Nafsunya memuncak dan nafasnya terengah - engah. Ia merasa sebentar lagi dirinya akan berorgasme. Ia pun pasrah sambil memejamkan mata. Rasanya amat sangat nikmat. Ia tak tahu kalau berselingkuh rasanya bisa senikmat ini.


“Aaaaaaahhhh paaakkkk… Aahhhh terusss… Lebihh cepatt lagiii… Akuu mau kelluarrr paakkk… Ayooo sodok aku yang kuaaatt !” Desah Nayla memotivasi pak Beni.


“Aaaahhhh iyyahh mbaaakk… Aaahhhh hennkgghhh !” desah pak Beni yang semakin mempercepat goyangannya.


“Aaaaahhhh iiyyaaahhh… Iyyahhh teruss paaakk” desah Nayla tak kuat lagi.


Tangan pak Beni pun membantu dengan berpindah meremasi dada Nayla. Dada bulat Nayla diremas. Putingnya dipelitintir. Kadang ia menarik putingnya yang memberikan sensasi tersendiri bagi bidadari bercadar itu. Nayla pun tak kuat lagi. Ketika sodokan pak Beni yang begitu kuat menghantam rahim kehangatannya hingga mentok begitu dalam, disitulah cairan cintanya dengan deras tumpah membasahi penis pak Beni.


'Jleeeebbbbbb !!!'


“Aaaahhh bapaaakkkk… Keellluuaaarrrr !!” Jerit Nayla dengan sangat puas.


'Cccrrrttt... Cccrrrttt... Cccrrrttt...'


Cairan cintanya keluar begitu banyak. Cairan cinta Nayla menyembur seperti air keran yang baru dibuka saja. Tubuhnya merinding keenakan. Matanya memejam menahan kenikmatan yang luar biasa. Nayla sangat puas. Akhirnya rasa gatal yang selama ini menyiksa tubuhnya bisa hilang akibat genjotan nikmat yang diberikan oleh pak Beni.


“Luuaarr biasaaa… Pejuh mbakk banyak banget yang keluuaar… Kontol saya sampai basah gini mbaaakk” Kata pak Beni yang takjub saat menarik keluar penisnya dan mendapati penisnya seperti diolesi oleh pelumas saja. Rasanya memang basah tapi ada sensasi licin - licinnya. Pak Beni pun mengocoknya sambil menatapi kemaluan Nayla yang berkedut setelah dihantam penisnya berulang kali.


“Hah… Hah… Akhirnya selesai juga… 'Astaghfirullahh'… 'Astaghfirullaahh' maafkan aku mas… Maafkan akuu” Lirih Nayla setelah nafsunya terpuaskan.


'Maafkan aku sudah berzina maaasss… Aku gak kuat tadi… Aku bener - bener gak kuat dan membutuhkan penis pemuas yang bisa melampiaskan nafsuku tadi…'


Batin Nayla menyesali perbuatannya.


Saat ia menoleh ke belakang. Ia menyadari kalau ada satu tanggung jawab tersisa yang harus ia selesaikan. Ia yang sudah dipuaskan merasa tak enak kalau langsung pergi tanpa memberikan pak Beni orgasme, pak Beni pasti sudah sangat terangsang sekarang. Ia harus membuat pak Beni berorgasme barulah dirinya bisa bertaubat akibat dosa terindah yang sudah ia lakukan.


“Bapaaakk udah mauu kelluaar ?” Tanya Nayla sambil berbalik badan lalu menyandarkan tubuhnya yang lemas ke dinding di belakangnya.


“Suudaaahhh mbaaakk… Saya mau keluar sebentar lagiii… Saya boleh kan ngeluarin sekarang ?” Tanya pak Beni sambil mengocoki penisnya.


“Boleehh paakkk… Ayoo kita selesaikan segera” Ucap Nayla dengan nada lemah karena saking lemasnya.


Tangan Nayla pun membimbing pak Beni untuk mendekap pinggangnya. Pak Beni yang bernafsu akhirnya melepaskan kemeja yang Nayla kenakan. Ia juga menarik lepas behanya. Tak ketinggalan ia juga membugili dirinya hingga membuat mereka berdua sama - sama telanjang memamerkan keindahannya masing - masing.


Bedanya Nayla masih dibiarkan mengenakan celana dalamnya. Hijab, cadar serta stockingnya juga dibiarkan oleh pak Beni karena menurutnya itu lebih membuatnya seksi. Pak Beni sambil terengah - engah menarik tangan Nayla ke dalam kamarnya. Nafsunya yang memuncak membuatnya mendorong tubuh Nayla hingga terhempas ke ranjang tidurnya.


“Aaaahhhh” desah Nayla pasrah.


Dalam keadaan telanjang bulat, Nayla reflek mengangkangkan kakinya. Di saat akal sehatnya mulai kembali, sejujurnya ia merasa tak nyaman kalau harus melakukan perbuatan ini. Namun ia harus membalas budi kepada pak Beni. Ia pun berharap pak Beni bisa cepat keluar agar dirinya bisa menghentikan aksi zinanya saat ini.


“Ayoo pakkk… Buruaaannn” kata Nayla sambil memegangi pahanya berharap pak Beni bisa segera menancapkan penisnya. Nayla yang sebenarnya bermaksud ingin membuat pak Beni mulai beraksi agar bisa cepat mengakhiri namun dianggap oleh pak Beni tengah menggodanya. Pak Beni pun tak menyangka kalau Nayla bisa sebinal ini saat menggodanya. Pak Beni pun buru - buru ingin menghujami memeknya lagi. Pak Beni pun memegangi paha Nayla lalu menancapkan penisnya sedalam - dalamnya.


“Aaaaaaaaahhhhhhhhhh” desah mereka berdua secara bersamaan.


Pak Beni yang sudah sangat bernafsu tidak langsung menggenjot sang akhwat. Sebaliknya ia malah menatap mata Nayla yang membuat tatapan akhwat bercadar itu menjadi malu - malu. Saat tukang sapu jalanan itu tersenyum. Nayla hanya bisa memalingkan mukanya ke samping.


Saya boleh akhiri sekarang kan ? Saya udah nafsu banget pengen mejuhin tubuh indah mbak ucap pak Beni sambil menatap wajah Nayla dengan binar.


Nayla dengan malu - malu hanya mengangguk saja. Ekspresi malu - malunya justru semakin membangkitkan nafsu birahi pak Beni.


Melihat persetujuan dari Nayla. Pak Beni kembali menegakkan tubuhnya untuk memulai goyangannya. Kedua tangannya memegangi pinggang Nayla lalu pinggulnya ia tarik sebelum menancapkan penisnya lagi menembus rahim kehangatan Nayla.


Uuuuuhhhhh bapaakkk jerit Nayla merasakan tusukan nikmat dari pria tua kekar itu.


Seolah mulai terbiasa, ia kini tidak lagi langsung menggempur rahim sang bidadari. Ia memulainya dengan pelan namun sudah cukup untuk membuat payudara Nayla bergoyang. Mata pak Beni jadi teralihkan pada gerakan payudara Nayla. Gerakannya memang sangat indah sehingga merangsang nafsu birahinya. Lidah pak Beni jadi keluar karena ingin menjilati puting susunya yang berwarna pink. Kedua tangannya juga tak tahan kalau hanya diminta untuk memegangi pinggangnya. Tangan pak Beni pun merangsang paha mulus Nayla. Usapannya naik tuk meraba perut mulusnya. Lalu usapannya kembali naik tuk meremas susu bulatnya. Pak Beni menikmatinya. Ia sangat menikmati tubuh indah Nayla.


Mmpphhh... Mmpphh yang kerasss paaakk... Yangg cepaaattt ucap Nayla bermaksud agar pak Beni bisa segera crot untuk mengakhiri perzinahannya.


Aaahhhh... Aaahhhh... Baaikkk mbaaakkk... Mbak masih nafsu yah ? Ucap pak Beni yang mengira Nayla masih butuh pemuas sehingga memintanya mempercepat hujamannya.


Namun Nayla tak menjawab. Ia malah menjerit tuk menahan hujaman penis pak Beni di vaginanya yang sempit.


Aaaahhhh... Aaahhh... Aaaahhh bapaaakkk jerit Nayla dengan manja.


Mendengar desahan Nayla yang menggoda ditambah melihat ekspresi wajahnya yang tengah ternoda membuat nafsu pak Beni semakin membara. Ia pun kembali menggenggam pinggang ramping Nayla lalu sedikit menundukkan tubuhnya tuk menatap wajah sangek Nayla lebih dekat lagi. Ia pun mempercepatnya sambil melihat tubuh Nayla yang sedang ia nodai.


Aaaaaahhhhh... Aaaahh... Sedikit lagiii... Saya akan keluarr sebentar lagii mbaaakk desah pak Beni sambil menatap pergerakan buah dada Nayla yang bergoyang semakin kencang.


Aaaahhhh iyaaahhh... Aaahhhh cepaatt kelluaarkaannn jerit Nayla sambil mencengkram sprei ranjang tidur pak Beni dengan kuat.


Ranjang tidur pak Beni bergoyang. Tubuh Nayla terdorong maju mundur dengan kencang. Payudaranya juga meloncat - loncat kegirangan. Sodokan pak Beni memang luar biasa. Ia pun menikmatinya sambil mengusapi tubuh mulus akhwat bercadar itu lagi. Awalnya dari pinggang ke perut lalu ke dada tuk meremasnya lalu turun lagi ke perut sebelum naik lagi ke buah dadanya. Pak Beni semakin tak kuat lagi. Ia pun menghujami vagina Nayla dengan sisa tenaga yang ia punya.


Aaaahhh... Aaaahhh... Aaaahhh jerit Nayla saat tubuhnya terangkat. Payudaranya jadi semakin meloncat - loncat. Nayla disetubuhi dengan sangat dahsyat.


'Plookk… Plokkk… Plookkk !!!'


Pinggul Pak Beni terus menggempur. Suara hantaman pinggul itu terdengar semakin keras seiring nafsu birahi pak Beni yang semakin ganas. Susu bulat Nayla terus teremas. Hujamannya semakin kuat yang membuatnya semakin puas.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Puas sekali rasanya bisa menikmati tubuhmu, mbak… Aaahhh terima ini… Terima lebih kuat lagi” Desah pak Beni saat menghentakkan pinggulnya.


'Plokkk… Plokkk… Plokkk… '


Terdengar hantaman pinggul mereka berdua semakin keras.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Aaahhhhh lebih kerasss lagiii” desah Nayla saat menyadari penis pak Beni mulai berdenyut.


“Aaaahhhhh… Aahhhhh… Aaahhhh… Iyaahh mbaakkk... Rasakan ini... Rasakaannn inniii !!! Desah pak Beni patuh.


Hujaman pak Beni semakin kuat. Gerakannya juga semakin cepat. Gesekannya terasa nikmat. Terlihat wajah tuanya semakin berhasrat saat melihat tubuh Nayla yang sudah bertelanjang bulat. Begitu juga saat melihat susu kenyalnya juga dengan pentil berwarna pinknya. Pak Beni semakin tidak tahan lagi. Nafasnya mendadak sesak. Dadanya mendadak sempit. Ia tak kuat untuk menahan birahinya lagi.


“Aaahhhh… Aahhhh… Aaahhhh sayaa akan keluaaar… Saya mau keluuuaarrr” Desah pak Beni yang membuat Nayla memejam.


“Aaahhhhh oh yah… Jangannn di dalemmm... Tolongg jangann keluar di dalemm paakkk” Ucap Nayla saat terlambat menyampaikannya.


“Apaaaahhh ?… Aaahhhh… Sayaaa… Sayaaaa…. Aaahhhhhh terimaaaa iniiiiiii !” Desah pak Beni saat menusukkan penisnya hingga mentok menembus rahim kehangatan Nayla.


“Aaaaahhhhhh bapaaaaakkkkkkkkk” Jerit Nayla kelojotan merasakan puasnya disetubuhi oleh pria tua kekar itu.


Untungnya pak Beni buru - buru mencabut penisnya. Meski beberapa ada yang terlanjur keluar di dalam. Ia masih bisa membuang sisanya ke atas perut Nayla yang sebagian juga mengenai payudara bulatnya. Pak Beni terengah - engah penuh kepuasan. Ia tak mengira kalau bercinta itu jauh lebih nikmat dibandingkan beronani saja.


Uuuhhh... Uhhhh nikmat sekali mbaaakkk... Aaahhhhh terima iniiii desah pak Beni yang sudah membanjiri perut Nayla menggunakan spermanya.


Aaaaahhhh... Aaaahhhhhh desah Nayla terengah - engah membiarkan tubuhnya dinodai oleh pejuh tukang sapu jalanan itu.


Pak Beni yang kelelahan nyaris ambruk memindihi tubuh Nayla. Untungnya kedua tangannya mampu bertumpu pada ranjang tidurnya. Ia tak jadi menindihi. Namun jarak wajahnya dengan wajah Nayla jadi semakin dekat.


Boleh sayaaa ? Pinta pak Beni yang hendak mengangkat cadar Nayla tuk mencumbunya.


Namun tiba - tiba tangan Nayla mencegahnya. Nayla hanya berbalik badan sambil memiringkan tubuhnya. Tugasnya yang sudah berakhir membuatnya enggan disentuh oleh tukang sapu itu lagi.


Mbaakkk ada apa ? Tanya pak Beni heran.


Paakk... Bapak janji ini yang pertama dan terakhir kan ? Tanya Nayla mengejutkan pak Beni.


Maksudnya ? Kenapa seperti itu ? Tanya pak Beni yang ikut tiduran menyamping di belakang Nayla dan hendak memeluknya.


Paaakkk ucap Nayla mencegah tangan pak Beni.


Pak Beni pun heran sekaligus penasaran dengan Nayla.


Maaf ucap Nayla pada pak Beni. Nayla pun bangkit lalu duduk di tepi ranjang memunggungi pak Beni.


Ada apa ini ? Mbak kenapa ? Tanya pak Beni yang ikut bangkit lalu duduk menatap punggung Nayla.


Aku boleh cerita ? Tanya Nayla.


Boleh silahkan mbak ucap pak Beni.


Aku gak tau pernah cerita ini sebelumnya apa enggak... Sebenarnya tiap kali pak Urip memperkosaku, ia selalu memberikan obat perangsang padaku... Aku jadi gak berdaya... Bahkan aku bertingkah seperti seorang pelacur saat diperkosa olehnya... Aku takut pak... Aku gak mau hidup seperti itu... Aku tadi pagi pun sampai pergi ke dokter herbal... Tapi kayaknya racun itu kembali bangkit yang membuatku bertingkah seperti tadi... Maaf pak aku bukan seorang pelacur... Maafkan sikapku tadi... Aku seperti itu bukan karena aku ini rendahan... Hanya saja aku udah gak kuat tuk menahannya dan membutuhkan pemuas yang bisa melampiaskan nafsuku ini... Aku memilih bapak dan aku berterima kasih atas usaha bapak dalam memuaskanku... Tapi tolong ini yang pertama dan terakhir yah... Aku gak mau mengkhianati suamiku lebih daripada ini ucap Nayla menangis dengan menutupi wajahnya.


Pak Beni pun tampak kecewa saat mendengar dirinya mungkin tak bisa menyetubuhinya lagi. Tapi ia mencoba memahami. Ia pun sadar kalau akhwat secantik Nayla gak pantas untuk melakukan hal seperti itu lagi. Pak Beni dengan tabah tersenyum. Ia pun menghampiri Nayla dengan duduk di sebelahnya.


Saya paham mbak... Saya mengerti perasaan mbak... Saya akan mematuhi semua ucapan mbak... Saya bahkan siap untuk menjadi budak mbak kalau dibutuhkan... Tolong jadikan saya budak mbak agar saya bisa membantu mbak di setiap kehidupan mbak ucap pak Beni sambil mengusapi punggung Nayla.


Budak ? Jangan seperti itu pak... Aku gak mau merendahkan orang lain... Aku gak mauuu . . . Ucap Nayla terpotong.


Menjadi budak bukan berarti saya menjadi rendah mbak... Anggap saja saya sebagai pembantu mbak... Tolong izinkan saya mbak... Hanya itu caranya agar saya bisa menolong mbak kalau dibutuhkan


Setelah berfikir sejenak. Nayla pun hanya mengangguk saja. Ia pun meminta izin untuk ke kamar mandi sebelum mengenakan pakaiannya lagi.


Pak Beni mengizinkan. Ia pun termenung di kamarnya sambil memikirkan masa depannya. Seketika ia tersenyum. Entah kenapa pikirannya menjadi mesum.


Bukan bermaksud buruk... Tapi moga aja racun mbak Nayla kembali bangkit agar saya bisa menjadi budak nafsunya lirih pak Beni penuh harap.


BERSAMBUNG

;;;;;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 7

HUKUMAN

Jam sudah menunjukkan pukul 10.47.


Di dalam rumah pak Beni, Nayla tengah termenung setelah melakukan dosa terindahnya. Rasa sesal telah menyesakkan dadanya. Bayang-bayang dosa atas kesalahan yang telah ia lakukan terus menghantui dirinya. Apalagi fakta bahwa dirinya adalah seorang selebgram yang kerap mengendorse hijab beserta cadar syar’i menambah penyesalan yang dirasakannya. Ia terus merasa bahwa dirinya adalah seorang munafik. Padahal ia selalu mempromosikan pakaian syar’i tapi sikapnya malah seperti ini.


Apalagi perbuatannya tadi diawali oleh dirinya sendiri yang meminta kepuasan kepada pak Beni. Padahal pak Beni bukan suaminya. Bahkan pak Beni memiliki iman yang berbeda dengannya. Tapi Nayla malah memperlakukan pak Beni seperti suaminya. Ia meminta kepuasan kepadanya. Ia dengan suka rela menyerahkan tubuh indahnya untuk dinikmati oleh pria tua kekar yang merupakan tetangga dekatnya.


“Hah 'astaghfirullah'… Rendah sekali sih diriku ini” Lirih Nayla sambil menunduk kemudian menutupi wajahnya karena malu.


“Lonte ? Apakah aku ini memang lonte ? Apa jangan-jangan omongan pak Urip itu benar adanya… Aku ini, lonte ?” Lirih Nayla terus merenung.


“Kayaknya iya deh… 'Astaghfirullah'… Aku takut banget… Jangan donggg… Jangan kayak gini lagi ! Kamu gak pantes berbuat seperti ini, Nay !” Lirih Nayla sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dibelakangnya. Matanya terus menatap langit-langit ruangan. Ia kembali merenung. Ia terlihat seperti terbebani oleh dosa yang telah dilakukannya.


MEBE9OQ

https://thumbs4.imagebam.com/83/5e/69/MEBE9OQ_t.jpg   83/5e/69/MEBE9OQ_t.jpg

'NAYLA


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


Sedangkan pak Beni sedari tadi hanya diam memantau sikap Nayla yang berada di ruang tamunya. Pak Beni merasa tidak enak kalau mengajak ngobrol dirinya sekarang. Ia merasa kalau Nayla sedang berada dalam fase pergolakan batin. Apalagi ia teringat perkataannya tadi selepas ia memejuhi tubuh indahnya di atas ranjang tidurnya.


'Tapi tolong, ini yang pertama dan terakhir yah… Aku gak mau mengkhianati suamiku lebih daripada ini…'


Terlihat saat itu raut wajah penyesalan di wajah Nayla. Meski dalam hati pak Beni berharap bisa menyetubuhi tubuh Nayla lagi. Kebahagiaan Nayla adalah yang utama. Kalau Nayla sudah memutuskan, dengan berat hati pak Beni akan menerimanya dengan legawa.


Pak Beni terkejut ketika Nayla tiba-tiba beranjak berdiri lalu datang menghampiri. Pak Beni yang sedari tadi duduk di dekat meja dapurnya berpura-pura memainkan hapenya. Ia tidak ingin terlihat sedang mengawasi Nayla sedari tadi.


“Paakkk… Aku mau izin pulang yah” Pinta Nayla mengejutkan pak Beni.


“Pulangg ? Bukannya ada pak Urip di rumah ?” Tanya pak Beni khawatir.


“Aku tahu pak… Tapi aku capek banget… Kepalaku pusing… Aku lagi banyak pikiran… Aku mau istirahat aja di rumah… Aku mau tidur” Ucap Nayla sambil menatap pak Beni dengan tatapan sayuk.


Pak Beni menyadari kalau Nayla terlihat sangat kelelahan. Sepertinya pergolakan batinnya membuatnya terlihat sangat lelah. Pak Beni pun iba tapi ia tak rela andai Nayla disetubuhi oleh pria kurang ajar itu lagi.


“Saya antar yah kalau gitu” Ucap pak Beni.


“Gak usah pak… Aku baik-baik aja… Aku gak mau tetanggaku tau kalau aku abis dari rumah bapak” Ucap Nayla sambil tersenyum lemah.


Pak Beni pun semakin iba. Ia akhirnya mengizinkan meski hatinya tampak mengkhawatirkannya.


“Yasudah tapi hati-hati yah di rumah… Liat-liat dulu kalau mau pulang, ada pak Urip apa enggak” ucap pak Beni menasehati.


“Iyya pak makasih” Jawab Nayla berpaling untuk pergi pulang ke rumahnya.


Nayla mengambil kunci motornya yang tergelatak di meja ruang tamu. Ia juga membawa tas jinjing berisi obat ramuan yang sudah dibelinya. Ia pun mengenakan sepatunya lalu memegangi gagang pintu rumah untuk keluar dari rumah pak Beni. Seketika Nayla menoleh ke belakang dan tersenyum menggunakan matanya.


“Makasih yah pak, aku pulang dulu” Ucap Nayla yang membuat jantung pak Beni bergetar saat melihatnya.


Belum pernah ada seseorang yang berterima kasih setulus itu kepadanya. Belum pernah ada seseorang yang menatapnya dengan penuh kehangatan seperti itu kepadanya. Pak Beni hanya bisa tersenyum lalu mengangguk untuk membalas ucapan manisnya itu. Pak Beni tanpa sadar melambaikan tangan. Nayla pun membalas lambaian tangan itu sebelum akhirnya keluar dari dalam rumah tetangganya.


“Hah… Jaga dirimu baik-baik mbak… Hati-hati dengan perlakuan buaya mesum itu” Lirih pak Beni yang hanya bisa mendoakannya dari kejauhan.


Nayla dengan berhati-hati menyalakan motornya setelah melihat keadaan di sekitar telah aman. Ia pun membawa motornya pulang dan tiba di depan halaman rumahnya dengan segera. Menyadari keadaan di depan rumahnya sangat aman. Ia buru-buru masuk untuk menghindari pertemuan dengan pak Urip.


“Hakhakhak… Akhirnya pulang juga… Saya tunggu-tunggu daritadi loh non… Siap kan non, untuk menyerahkan dirimu sekarang” Ucap pak Urip tiba-tiba saat melihat Nayla datang menghampiri.


Namun Nayla dengan cuek tak merespon ucapannya itu. Bahkan Nayla hanya datang melewatinya seakan pak Urip tidak ada disana. Pak Urip terkejut melihat Nayla hanya berjalan melewatinya. Ia pun berbalik badan tuk menatap penampakan tubuh Nayla dari belakang.


“Hakhakhak, gitu yah sekarang mulai cuek ke saya !” Ucap pak Urip yang kemudian memutuskan untuk membuntuti langkah kakinya. Dengan berani pak Urip meremas bokong Nayla dari belakang, tapi lagi-lagi Nayla tidak memberikan reaksi sama sekali. Nayla tidak mendesah, Nayla juga tidak menolak seakan tidak menganggap kehadiran pak Urip disebelahnya.


Sesampainya di dapur, Nayla menuangkan air ke gelas kecilnya. Ia dengan hati-hati mengangkat cadarnya untuk menyeruput air putih di gelasnya. Setelah itu, ia berpaling untuk menuju kamarnya untuk beristirahat seperti tujuan awalnya.


“Eeiitsss mau kemana ? Non gak boleh pergi sebelum melayani saya” Ucap pak Urip kesal yang akhirnya memeluk Nayla dari arah belakang. Tangan kanannya bahkan meremasi dadanya sedangkan tangan kirinya menekan-nekan vaginanya berharap Nayla mendesah lalu pasrah menyerahkan tubuhnya.


“Lepaskan pak… Aku capek, aku sedang gak 'mood'” Jawab Nayla dengan dingin.


“Heh ? Siapa peduli… Pokoknya non harus melepas kemejamu sekarang untuk melayani saya” Ucap pak Urip sambil menaikan menaikan rompinya lalu melepaskan satu demi satu kancing kemeja yang Nayla kenakan.


“Lepaskan pak… Toloongg” ucap Nayla dengan lemah. Ia pun membiarkan pak Urip membuka 3 kancing teratas kemejanya.


“Nah ini dia susu indahmu… Ouhhhh akhirnya bisa ngeremes susu bulatmu lagi” Ucap pak Urip saat mengeluarkan susu bulat Nayla dari luar kemejanya. Susu Nayla telah meloncat keluar. Puting merah mudanya ditekan-tekan oleh pembantu bejatnya.


Nayla mendesah lemah. Ia benar-benar kesal saat pembantunya itu memaksa dirinya untuk melayani pak Urip. Amarah Nayla pun memuncak. Ia tiba-tiba mendapatkan kekuatan untuk menyikut kepala pak Urip yang ada di belakangnya.


'Braaakkkkk !'


“Aaadduuhhhhh” Ucap pak Urip hingga berlutut dilantai sambil memegangi kepalanya.


Nayla hanya menoleh lalu memasukan kembali payudaranya ke dalam kemejanya. Ia pun lanjut berjalan menuju kamarnya lalu menguncinya dari dalam.


“Kuraang ajaarrr !!! Dasar lonte sialan ! Buka pintunyaaa !” Ucap pak Urip murka lalu menggedor-gedor pintu kamar Nayla.


'Tttookkk… Ttookkk… Tttookkk !!!'


“Woyyy bukaaa !!! Buka pintunyaaa !” Teriak pak Urip sambil terus menggedor-gedor pintu rumah majikannya.


'Tttookk… Tttookk… Tttookkk !!!'


“Wooyy bukaaa ! Heh lonte jangan kurang ajar yah ! Buka pintunyaa… Mulai berani yah sekarang ! Udah berani ngelawan perintah saya yah sekarang ?” Ucap pak Urip terus berteriak-teriak sambil mengetuk pintu rumah Nayla.


Nayla pun mengabaikan sambil menyandarkan tubuhnya di pintu masuk kamarnya. Nayla ingin menangis. Tubuhnya sangat lemah dan pikirannya sangat lelah. Suara-suara teriakan yang pak Urip berikan menambah rasa stress yang melanda dirinya. Kata-kata lonte terus ia dengar dari lisan pembantunya. Jujur itu menyakitkannya, bagaimana bisa seseorang yang telah ia percayai sebelumnya malah memanggilnya dengan panggilan Lonte.


Nayla lama-lama duduk di depan pintu kamarnya. Kedua lututnya ia tekuk. Ia memeluk kedua kakinya sendiri. Akhirnya tetesan air matanya jatuh untuk meringankan beban hatinya. Nayla menangis. Ia menangis dibalik suara-suara yang terus memanggilnya dengan panggilan lonte rendahan.


'Maaasss… Maasss Miftaaahhh… Akuu capeek bangeett maassss !!!'


Batin Nayla mengharapkan kehadiran suaminya sekarang.


Ia sangat ingin curhat kepadanya. Ia ingin bercerita akan beban hati yang sedang ia tanggung sendiri. Nayla terus menangis. Air matanya terus turun. Selama lima belas menit lebih ia terus menangis sambil mendengarkan suara gedoran pintu dibelakangnya. Bahkan pria tua gendut itu terus menyebutnya lonte sambil marah-marah kepadanya. Nayla merasa sedih. Ia benar-benar lelah ketika terus dipanggil lonte oleh pembantunya sendiri.


“Cuuihhhh… Sialaaann !!! liat aja nanti ! Non mulai berani melawan perintah saya… Saya akan memberikan mimpi terburuk yang gak akan pernah non bayangkan sebelumnya… Saya akan menghukum non… Saya akan membuat non menyesal karena sudah melanggar perintah saya !” Ucap pak Urip setelah menggedor pintu kamar Nayla.


“Hakhakhak… Lihat saja nanti… Akan kubuat dirimu menyesal… Akan kuubah dirimu menjadi lonte rendahan… Tidak, bukan cuma lonte rendahan… Tapi lonte rendahan yang sebenar-benarnya ! Hakhakhak” Tawa pak Urip setelah mengancam diri Nayla.


Jujur Nayla ketakutan. Tapi menyadari kalau pak Urip telah berhenti menakuti-nakutinya memberikan ketenangan tersendiri di hatinya. Akhirnya tidak ada suara yang mengganggu dirinya lagi. Nayla pun bangkit berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Ia benar-benar lelah & ingin beristirahat.


Nayla hanya menggeleng-geleng kepala sambil menaruh tas jinjingnya diatas kasurnya. Ia pun menaruh kunci motornya diatas meja kecil samping ranjangnya. Ia berjalan menuju cermin besar dipintu almarinya. Nayla berdiri tegak menatap bayangan tubuhnya. Sesosok wanita cantik dengan lekuk indah yang mempesona nampak dihadapan matanya. Nayla menatap wajah cantiknya. Nayla memperhatikan lekuk tubuhnya. Proporsi tubuhnya yang terlihat sempurna memang begitu menggoda. Ia pun melenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan untuk memperhatikan tubuh indahnya.


MEBE9OT

https://thumbs4.imagebam.com/26/be/16/MEBE9OT_t.jpg   26/be/16/MEBE9OT_t.jpg

'NAYLA


“Apakah kecantikanku ini merupakan sebuah dosa ? Kenapa aku harus dihukum dengan kecantikan yang aku punya ?” Lirih Nayla merenungi dirinya.


Nayla kembali berdiri tegak menatap bayangan cerminnya. Setelah mendesah sekali, ia lalu menaikan rompinya kemudian melepas satu demi satu kancing kemejanya hingga terlepas seluruhnya. Belahan dadanya mulai terlihat. Salah satu payudaranya yang tadi dikeluarkan oleh pak Urip juga mulai terlihat. Nayla lalu melepas kemejanya kemudian menjatuhkannya ke lantai.


Nampak akhwat bercadar itu kini tinggal mengenakan celana serta beha yang itupun sudah mengeluarkan salah satu payudaranya. Akhwat bercadar itu kini melepas behanya lalu menjatuhkannya ke lantai. Dua susu bulatnya bisa terbebas sekarang. Susunya yang begitu besar nampak menggantung di dadanya. Susunya sangat indah, pantas saja pak Urip maupun pak Beni begitu bernafsu akan kemegahannya.


Nayla menatap kosong ke arah cermin yang ada dihadapannya. Ia lalu menurunkan resleting celananya dan membiarkan celananya itu jatuh dengan sendirinya. Ia juga menurunkan celana dalamnya hingga membuat akhwat bercadar itu tinggal mengenakan hijab beserta cadarnya saja. Ya, Nayla sudah telanjang memamerkan keindahan tubuhnya. Tidak ada satu helai pun yang menghalangi keindahan tubuhnya.


Lihat, betapa beningnya kulit indahnya sekarang. Lihat, betapa mulusnya kulit yang ia rawat setiap harinya. Lihat, betapa indahnya lekuk pingganya serta payudara bulat yang menggantung di dadanya. Setiap lelaki pasti menginginkan wanita yang mempunyai tubuh seindah Nayla. Termasuk kedua lelaki yang sudah berzina dengannya. Kedua lelaki tua yang sudah merasakan kelezatan jepitan kemaluannya.


'Salah kah kalau aku mempunyai tubuh seindah ini ? Salah kah kalau aku terlahir dengan tubuh seindah ini ? Kalau bukan, kenapa aku harus menanggung akibat dari pelecehan yang sudah pak Urip lakukan selama ini ? Kenapa juga aku harus berzina dengan tetanggaku sendiri ? Kenapa aku harus mengkhianati suamiku ? Kenapa ? Kenapaaa !!!'


Batin Nayla hingga berteriak didalam hatinya. Matanya kembali berkaca-kaca. Ia pun buru-buru mengelapnya karena tidak ingin menangisi keadannya lagi.


Seketika ia mendengar dering telponnya berbunyi. Nayla menoleh. Ia pun mencari-cari hapenya untuk mencari tahu siapa yang sedang menghubunginya sekarang.


MEBG1W5

https://thumbs4.imagebam.com/8b/6c/a7/MEBG1W5_t.jpeg   8b/6c/a7/MEBG1W5_t.jpeg

'ANDRI


“Loh, Andri ? Dia mau mengajakku 'video call' ?” Lirih Nayla.


Nayla pun buru-buru mengelap air matanya kemudian dengan segera menerima panggilan video dari rekan kerjanya tersebut.


“Assalamualaikum, Nay” Terdengar ucapan salam segera dari Andri.


“Walaikumsalam, Ndri… Ada apa ?” Jawab Nayla dengan segera.


Andri tersenyum saat dapat melihat wajah cantik dari akhwat bercadar itu lagi. Dari layar hapenya, ia melihat wajah indah Nayla serta hijab yang melengkapi penampilannya. Sekilas tidak ada yang aneh dari penampilan Nayla sekarang. Apalagi tatapan Andri terfokus pada keindahan wajah Nayla yang sangat ia rindukan.


“Aku dengar dari Putri kamu habis sakit yah ? Gimana ? Dah baikan ?” Tanya Andri mengkhawatirkan.


“Aku udah baik kok Ndri… Ya, aku udah baik” Jawab Nayla sambil memaksa senyum.


“'Alhamdulillah'… Kamu sakit apa sih kok sampe gak ikut sesi perfotoan kemarin ?” Tanya Andri.


“Aku cuma 'drop' kok Ndri… Ya kecapekan… Mungkin juga banyak pikiran” Jawab Nayla kembali memaksa senyum.


“Oalah… Jangan paksa dirimu makanya Nay… Kalau capek ya istirahat dulu… Jangan maksa diri buat melakukan ini itu” Ucap Andri memarahi Nayla.


“Hihihihi lagi sakit kok malah dimarahin… Entar nambah sakit loh” Ucap Nayla yang kali ini dapat tersenyum lega.


“Eh jangan dong… Habis kamu sih bikin aku khawatir kemarin” Ucap Andri ikut tersenyum melihat wanita pujaannya tersenyum.


Makanya jangan dimarahin lagi... Aku lagi capek tau ! Ucap Nayla kali ini dengan nada manja untuk meminta perhatian.


“Iyya maaf… Aku ganggu waktu istirahat kamu dong sekarang ?” Tanya Andri.


“Enggak kok ndri… Aku lagi senggang… Tapi mungkin mau tidur juga habis ini hehe” Jawab Nayla.


“Oalah yaudah istirahat dulu aja yah sekarang… Tahu kan kalau besok ada perfotoan lagi ?” Tanya Andri.


“Tau kok Ndri… Tadi Putri ngasih tau aku… Katanya Putri juga mau jemput aku biar ada temen berangkat bareng katanya” Jawab Nayla.


“Yaudah kalau gitu… Sekarang kamu istirahat dulu aja yah… Isi tenaga buat besok… Besok jadwal kamu bakal padat banget loh” Ucap Andri memberi perhatian.


“Iya Ndri makasih yah… Aku usahakan bakal dateng kok besok… Sampai jumpa besok yah” Ucap Nayla yang membuat jantung Andri berdebar.


'Apa ini ? Apa jangan-jangan Nayla gak sabar untuk menemuiku besok ? '


Batin Andri senyum-senyum sendiri.


Seketika pandangannya teralihkan pada cermin yang berada di belakang Nayla. Wajahnya terkejut. Ia seperti tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia melihat punggung mulus seorang wanita dengan bongkahan pantat yang begitu padat terlukis didalam cermin itu. Seketika ia memperhatikan motif Hijab yang Nayla pakai dengan yang ada di cermin itu. Motif hijabnya terlihat mirip. Jantung Andri jadi semakin berdebar saat menyadari apa yang sedang terjadi.


'Jangan-jangan ?'


Batin Andri tak percaya.


“Udah yah Ndri… Aku mau tidur dulu… Makasih udah ngekhawatirin aku… Makasih juga udah ngingetin aku… Kayaknya aku emang butuh temen ngobrol deh” Ucap Nayla tersenyum.


“Enggg… Engggakk… Gak masalah kok… Hehe… Iya gak masalah” Jawab Andri menjadi gugup saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


“Yaudah yah, sampai jumpa lagi yah… Wassalamualaikum” jawab Nayla sambil mengangkat tangannya untuk melambaikan tangannya.


Namun jawaban Andri hanya melotot saja. Sekilas ia melihat belahan dada yang terlihat saat Nayla melambaikan tangan kepadanya. Namun tiba-tiba Nayla memutus panggilan videonya. Andri termenung. Sang fotografer itu hanya diam mematung. Ia mencoba berfikir apa yang sedang terjadi disana. Ia duduk ditepi ranjangnya sambil memegangi kepalanya.


“Nayla lagi telanjang kan ? Nayla lagi gak pake apa-apa kan ?” Lirih Andri tak percaya.


“Apa maksudnya coba ? Apa jangan-jangan ia sengaja menggodaku ? Ya, pasti Nayla sedang menggodaku tadi… Mana mungkin ia sengaja mengangkat panggilan videoku dalam keadaan telanjang kalau gak ingin menggodaku” ucap Andri tersenyum.


“Apa jangan-jangan Nayla melakukan hal seperti itu karena ia menyukaiku ? Ia menyukaiku sehingga ingin berzina denganku… Apa jangan-jangan ia hendak melakukan VCS denganku yah ? Ah sial kenapa aku gak peka ! Pantes aja tadi Nayla buru-buru udahan… Ah dasar bodohnya aku… Andai aku lebih peka mungkin aku masih bisa VCS-an dengannya sekarang” Ucap Andri sambil membaringkan tubuhnya di atas kasurnya.


“Ah Nayla… Indah sekali bokongmu… Aku jadi ingin berzina denganmu, Nay” Ucap Andri sambil senyam-senyum sendiri.


*-*-*-*

Sementara itu Nayla yang tidak menyadari apa yang terjadi di rumah Andri hanya tersenyum lega. Entah kenapa obrolan singkatnya dengan Andri bisa meringankan beban di hatinya. Ia berterima kasih pada Andri karena sudah menelponnya tadi. Ia pun menaruh hapenya di meja kecil samping ranjangnya. Lalu melepas hijabnya berikut cadarnya hingga membuatnya bertelanjang bulat di dalam kamar tidurnya. Ia juga melepas 'stocking' yang sedari tadi melekat di kakinya. Ya Nayla sudah bertelanjang sempurna. Tak ada satu pun helai kain yang menutupi tubuhnya saat itu. Ia sudah seperti bidadari sungguhan yang baru turun dari surga tanpa mengenakan pakaian. Kulit mulusnya, kaki jenjangnya, lekuk pinggangnya, bahkan susu bulatnya hingga wajah cantiknya yang semuanya berada diatas rata-rata. Sekilas wajah Nayla agak kearab-araban dan agak kebule-bulean juga. Wajah cantik Nayla seperti seorang 'half'-indo saja. Apalagi dengan rambut pendek sebahunya yang menjadi ciri khasnya.


Nayla pun ambruk diatas ranjang tidurnya tanpa mengenakan sehelai pakaian. Ia tidur menyamping sambil memeluk guling. Wajahnya tersenyum. Ia terlelap tanpa mengenakan satu helai pun pakaian saat tertidur diatas ranjang tidurnya.


Ia jadi terpikirkan sesuatu. Meski cobaan dari pak Urip terus datang mengganggu dirinya. Setidaknya masih ada orang baik seperti pak Beni dan Andri yang terus membantunya. Andai ia tak mengenal pak Beni, siapa yang dapat membantunya mengatasi rasa sangeknya ? Andai ia tak mengenal Andri, siapa yang dapat mengobati rasa lelah dihatinya ? Nayla tersenyum. Ia pun tertidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan saat itu.


“Makasih semuanya” Lirih Nayla ditengah tidurnya.


*-*-*-*

Matanya sayup-sayup membuka. Tubuhnya mengulat. Suaranya mengerang nikmat. Akhirnya ia terbangun setelah berjam-jam tidur diatas ranjang tidurnya. Akhwat yang sehari-harinya biasa mengenakan cadar itu pun duduk diatas ranjang tidurnya. Punggung tangannya ia gunakan untuk mengucek-ngucek matanya. Jemarinya kemudian ia gunakan untuk menyisir rambutnya ke belakang.


Meski baru bangun tidur. Kecantikan Nayla tidak pernah luntur. Apalagi dengan tubuh telanjangnya yang tidak tertutupi apa-apa. Nayla terlihat semakin cantik. Nayla pun menoleh ke arah jam dindingnya untuk memeriksa waktunya.


“'Astaghfirullah' udah mau jam setengah tiga !” Ucap Nayla terkejut karena dirinya belum melakukan shalat Dhuhur.


Ia buru-buru bangkit. Saat berjalan mengenakan sandal rumahnya ia nyaris terjatuh karena kakinya belum siap untuk menumpu berat tubuhnya. Saat tangannya memegangi gagang pintu kamarnya, ia menyadari kalau dirinya sedang tidak berpakaian.


“'Astaghfirullah'… Daritadi aku tidur gak pake baju yah ? Kok aku berani banget sih” Ucap Nayla baru menyadarinya.


Ia pun buru-buru menuju lemarinya untuk mencari pakaian untuk menutupi tubuhnya. Namun saat tangannya hendak mengambil bajunya, tiba-tiba ia teringat pak Beni saat kemarin bertamu ke rumahnya.


'Bukannya pak Beni biasa gak pake baju kalau di rumah sendirian yah ? Kenapa gak aku coba juga ?'


Batin Nayla penasaran.


Ia tak jadi mengambil baju untuk menutupi tubuhnya. Sebaliknya ia kembali menuju pintu rumahnya lalu membuka kuncinya secara diam-diam. Wajahnya ia longokkan untuk melihat keadaan di luar. Keadaannya memang sepi. Keberadaan pak Urip pun tak terlihat sama sekali.


Anehnya, bukannya takut apabila ketahuan ia malah jadi tertantang dengan adanya kesempatan yang datang. Diam-diam ia berjalan dalam keadaan telanjang bulat menuju kamar mandinya. Susunya berulang kali bergondal-gandul saat kakinya melangkah. Wajah cantiknya tampak cemas. Jantungnya berdebar kencang apabila dirinya saat ini ketahuan. Ia juga kepikiran, bagaimana nanti kalau pak Urip tiba-tiba datang lalu memergokinya sedang telanjang.


“Pasti pak Urip akan menghukumku habis-habisan !” Lirih Nayla menduga.


Nayla merasa aneh. Padahal sebelum tidur tadi dirinya merasa takut pada pak Urip hingga menimbulkan rasa trauma sejenak di pikirannya. Namun sekarang, ia dengan terang-terangan seperti ingin menantang pak Urip dengan penampilan indahnya yang sedang telanjang. Ia tidak takut lagi pada ancaman pak Urip. Sebaliknya ia malah deg-degan meski ia juga berharap pak Urip tidak memergokinya sekarang. Sepertinya porsi tidurnya telah mengubah pola pikirnya. Akal sehatnya kembali tertutupi oleh nafsu yang datang ketika tubuhnya sedang telanjang.


Untungnya ia sampai di kamar mandi dengan aman. Sambil bersandar pada pintu kamar mandi, ia mencoba memeriksa vaginanya dan benar saja kalau vaginanya tengah basah akibat pikiran mesum yang menghantuinya.


“Hah kenapa malah basah lagi ?” Lirih Nayla heran.


Namun ia tak memiliki waktu untuk bersantai. Ia baru teringat kalau waktu shalat akan segera berakhir. Ia buru-buru wudhu lalu kembali dengan segera ke ruangan kamarnya.


“Huft masih ada waktu 7 menit… Aku harus buru-buru sekarang” Ucap Nayla yang masih dalam keadaan telanjang.


Karena tak memiliki waktu, ia pun memilih untuk langsung mengenakan mukenanya lalu menggelar sajadahnya. Mukena syar’i nya sudah cukup untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia lalu mengangkat kedua tangannya untuk memulai ibadahnya.


*-*-*-*

Nayla menoleh ke kanan juga ke kiri. Ia mengusap wajahnya lalu buru-buru melihat ke arah jam dindingnya. Ia lega karena ia masih memiliki waktu dua menit tersisa setelah melakukan ibadahnya.


“Fiyuh masih sempat” Ucap Nayla lega.


'Kruwek… Kruwek… Kruwek…'


Seketika perutnya berbunyi. Nayla baru sadar kalau dirinya belum makan siang. Nayla pun buru-buru melipat sajadahnya lalu mengenakan sandal rumahnya lagi agar tidak membatalkan wudhunya. Ia merasa nanggung karena waktu ashar akan segera tiba. Ia tidak ingin repot-repot wudhu lagi dan memilih untuk menjaga wudhunya saja.


“Hmmm makan pake apa yah ?” Tanya Nayla yang masih mengenakan mukenanya.


Saat tiba di dapur rumahnya, ia mendapati meja makannya kosong tak ada apa-apa. Nayla baru ingat kalau pagi tadi dirinya membeli bubur ayam untuk sarapan. Ia tidak memasak apa-apa. Ia juga sudah lama tak menemui mang Yono untuk membeli sayur darinya.


“Hah, makan pake apa yah ?” Tanya Nayla bingung.


'Teeenggg… Teennggg… Teeengggg…'


“Bakso… Bakso… Baksonya paakk… Buuuu !!!” Terdengar suara seorang tukang bakso lewat.


“Nah, beli bakso aja kali yah” Kata Nayla buru-buru ke depan rumahnya.


“Eh iya, duit sama masker mana yah ?” Kata Nayla saat merogoh saku namun tak menemukan saku di mukenanya. Saat ia memegangi wajahnya, ia juga menyadari belum menutupi sebagian wajahnya.


Setelah ke kamarnya untuk mengambil barang-barang tersebut. Ia segera pergi ke teras rumahnya untuk memanggil tukang bakso tersebut.


“Manggg, baksonya satu yaahhh !” Teriak Nayla dari kejauhan yang membuat mamang tukang bakso itu berhenti.


“Eh mau beli bakso yah mbak” Ucap mamang tersebut terlihat bahagia karena dagangannya akan dibeli oleh seseorang.


“Iya mang… Sini masuk aja ke dalem” Ucap Nayla mengajak mamang tukang bakso itu masuk ke halaman rumahnya.


Mamang tukang bakso itu tersenyum senang. Setelah memarkirkan gerobak baksonya di halaman rumah Nayla. Ia terkejut saat tak sengaja menatap ke arah mukena yang Nayla kenakan.


'Alamaaakk ! Mbak Naylaaa !'


Batin mamang tukang bakso itu terkejut.


MEBXDFI

https://thumbs4.imagebam.com/38/b3/94/MEBXDFI_t.jpg   38/b3/94/MEBXDFI_t.jpg

'NAYLA


MEBXJ8Z

https://thumbs4.imagebam.com/a2/7b/a0/MEBXJ8Z_t.jpg   a2/7b/a0/MEBXJ8Z_t.jpg

'MANG LASNO


Ditatapnya penampilan Nayla sekarang. Sekilas dari kejauhan tidak ada yang salah dengan mukena yang Nayla kenakan. Mukena berwarna merah muda itu melekat menutupi tubuhnya. Masker dengan warna yang selaras juga tampak biasa saja saat dilihat dari kejauhan. Namun saat mamang itu melihatnya dari jarak yang begitu dekat. Ia mendapati adanya tonjolan mencurigakan yang menggoda di dada Nayla. Saat ia melihatnya lebih jelas. Ia dapat melihat sesuatu mirip puting susu meski kelihatan samar-samar.


'Gak salah lagi... Ini beneran pentil... Jangan-jangan Mbak Nayla gak pake apa-apa lagi dibalik mukenanya !'


Batin mamang tukang bakso itu terkejut.


Pesen satu porsi yah mang ucap Nayla sambil tersenyum yang membangunkan mamang tukang bakso itu dari lamunannya.


Eh satu porsi yah mbak... Tunggu bentar yah ucap mamang bernama Lasno itu.


Iya mang... Mang Lasno udah keliling kemana aja tadi ? Tanya Nayla sambil melirik ke arah sekitar.


Cuma keliling kompleks aja kok jawab mang Lasno sambil menenggak ludah melirik ke arah dada Nayla.


'Gilaaaa... Itu susu mancung banget... Pasti sering diremes ama suaminya nih !'


Batin mang Lasno sampai melotot. Alih-alih fokus membuat satu porsi bakso. Nafsunya yang tak terkendali membuatnya nyambi mengelus-ngelus penisnya sendiri.


Ohhh gitu jawab Nayla tidak menyadari kalau mang Lasno sedang menatapi susunya yang nampak dibalik mukenanya yang semi transparan. Nayla yang masih was-was andai ada pak Urip datang justru melihat sekitar untuk memeriksa keadaan. Hal ini lah yang dimanfaatkan oleh mang Lasno untuk mengusapi penisnya sendiri. Bahkan saking tak kuatnya, ia mengeluarkan penisnya kemudian mengocoknya menggunakan tangan kanannya.


'Gleeegg... Itu susu kalau diremes gimana yah rasanya... Pasti kenyal-kenyil gitu deh...'


Batin mang Lasno sambil terus mengocoki penisnya.


Sesekali mang Lasno menghentikan kocokannya untuk menaruh plastik ke mangkok lalu mengambil daun bawang serta beberapa sayuran lain menggunakan tangan kanannya ke mangkok. Tangannya yang baru saja memegangi penisnya ia gunakan untuk mengambil sayuran untuk pelanggannya. Setelah usai, diam-diam ia kembali mengocok penisnya sambil melirik dada bulat Nayla.


'Anjirrr itu pentil bisa pink banget gimana ceritanya ? Itu kalau gue sruput gimana yah rasanya ?'


Batin mang Lasno sambil berfantasi pada dada bulat Nayla.


'Aaaahhhh... Aaahhh njirrrr enak banget... Baru ngocok aja udah seenak ini !!!'


Batin mang Lasno terkejut.


Pake bihun juga gak mbak ? Tanya mang Lasno agar tidak dicurigai lama oleh Nayla.


Oh pake mang... Iya pake jawab Nayla lalu kembali melihat sekitar untuk memeriksa keadaan.


Lagi, ia mengambil bihun serta mie biasa menggunakan tangan bekas ngocoknya lalu menaruhnya ke dalam sendok kuah bakso. Ia merendam mie itu di kuah bakso sebelum ia lanjut mengocok penisnya.


MEBXJ89

https://thumbs4.imagebam.com/23/9f/e2/MEBXJ89_t.jpeg   23/9f/e2/MEBXJ89_t.jpeg

'SENDOK KUAH BAKSO


'Aaaahhhh... Aaaahhhhh... Gimana yah rasanya dijepit pake susu sebesar itu ?'


Batin mang Lasno penasaran.


Tiba-tiba Nayla yang penasaran dengan keadaan rumah pak Urip malah meloncat-loncat untuk melihat ke luar pagar yang mengakibatkan dada bulat Nayla ikut meloncat-loncat juga.


'Anjirrrrrr mantul-mantull cokkk !!!'


Batin mang Lasno yang membuatnya mempercepat kocokannya.


Nayla yang tak menyadari kejadian yang terjadi kembali meloncat-loncat untuk melihat halaman di depan rumah pak Urip. Hal itu membuat susu Nayla kembali bergetar. Rasanya sudah seperti gempa bumi saja. Susu Nayla pun bergoyang kemana-mana yang membuat mang Lasno semakin bersemangat.


'Aaaahhhh mbaaakkk Naylaaaa... Aaahhh aku padamu mbaaakkk...'


Batin mang Lasno bersemangat.


Menyadari Nayla hendak menoleh membuat mang Lasno segera menarik tangannya untuk menaruh bumbu berupa garam, micin dll ke dalam mangkuk bakso Nayla. Setelah Nayla kembali menoleh ke sekitar. Mang Lasno kembali mengocok penisnya.


'Aaahhhh... Aaaahhh... Mbaak Naylaaa... Loncat lagi dongg... Ayo...'


Batin mang Lasno penuh harap.


Alih-alih loncat. Nayla malah membelakangi mang Lasno lalu agak menunduk untuk melihat keadaan di dalam rumahnya. Ia menduga jangan-jangan pak Urip bersembunyi di dalam rumahnya. Hal ini justru membuat mang Lasno dapat melihat tonjolan bokong indah Nayla. Udah gitu mukenanya agak sedikit terangkat sehingga memperlihatkan kulit mulus di kaki Nayla.


'Aaaahhhhh... Aaaahhh... Mbak minta di doggy yah... Kok nungging sihhh...'


Batin mang Lasno tergoda.


Menyadari keadaan sepi. Mang Lasno dengan terang-terangan menghadap ke arah tonjolan bokong Nayla lalu berpura-pura tengah menyodoknya. Hal itu menambah sensasi tersendiri baginya. Ia semakin menikmati onaninya.


'Aaaahhhh mbak Naylaaa... Rasakan inii... Ouhhh nikmatnya memek rapetmu mbaaakkk...'


Batin mang Lasno semakin mesum.


Tiba-tiba Nayla hendak berbalik yang membuat mang Lasno buru-buru berbalik sambil berpura-pura melakukan sesuatu.


Masih belum jadi pak ? Kok lama ? Tanya Nayla mulai curiga.


Hehe maaf mbak tadi gasnya sempet mati. Jadi kuahnya masih belum panas. Ini masih dipanasin sebentar hehe ucap mang Yono sambil membelakangi Nayla.


Oalah jawab Nayla tanpa mencurigainya.


'Fiyuhhhh hampir aja !'


Batin mang Lasno lega.


Melihat Nayla kembali memperhatikan sekitar membuat mang Lasno tidak ingin berlama-lama lagi. Ia pun fokus beronani sambil menatap dada indah sang dewi. Pinggulnya bahkan ia majukan hingga penisnya terlihat begitu besar. Ia pun membayangkan dirinya menaikan mukena Nayla lalu mendoggynya dari arah belakang. Hal itu berhasil. Ia merasakan adanya tanda-tanda akan orgasme hasil dari pikiran mesumnya.


'Aaahhhh... Aaahhh mbak Naylaaa... Terima sodokan saya... Aaahh iyaahh... Jerit terus... Yang kencang !!!'


Batin Mang Lasno bernafsu.


Aaaaaahhhh... Ouhh cuma rumput jerit Nayla terkejut saat kakinya terasa seperti disentuh oleh seseorang.


'Njirrr desahannyaaaa... Aaahhh saya gak kuat lagi... Saya mau keluaar mbaakk... Saya mauuu croottt...'


Batin mang Lasno tidak kuat lagi.


Sambil menatap dada Nayla. Diam-diam ia mengambil mangkuk bakso Nayla lalu mengarahkan penisnya ke dalam mangkok itu. Ia mempercepat kocokannya. Ia mengocok penisnya sambil membayangkan tubuh indah Nayla yang sedang telanjang.


'Aaaahhh mbaaakkk... Saya gak kuat lagii... Saya mau kelluaarrr... Aaaaaaahhhhhh !!!'


Jerit Mang Lasno sepuas-puasnya di dalam hati.


'Ccrroottt... Ccrroottt... Ccrroottt !'


MEBXDFK

https://thumbs4.imagebam.com/b8/6c/8e/MEBXDFK_t.jpg   b8/6c/8e/MEBXDFK_t.jpg

'NAYLA


Spermanya dengan deras tumpah ke atas mangkok yang sudah dilapisi plastik itu. Spermanya cukup banyak yang membuat mata mang Lasno merem melek keenakan. Rasanya sungguh puas bisa beronani sambil membayangkan tubuh indah Nayla. Dengan berhati-hati ia menaruh kembali mangkuknya diatas gerobak setelah memberikan 'saus spesial 'berwarna bening yang dihasilkan dari bagian tubuhnya sendiri.


Ia pun menaruh mie yang terlalu lama ia rebus ke dalam mangkuk untuk menyembunyikan spermanya itu. Ia juga kemudian menaruh kuah serta beberapa butir bakso ke dalam mangkuk itu. Setelah memasukan kembali penisnya ke dalam sarangnya. Ia pun mengabari Nayla kalau pesanannya sudah selesai.


Mbak ini sudah jadi... Hah... Hah... Hah ucap mang Lasno agak ngos-ngosan.


Eh udah jadi yah... Mamang kenapa ? Habis capek keliling kayaknya... Hihihi tawa Nayla tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi.


Hehe iya mbak... Makasih yah... Oh yah ini saya beri saus spesial jadi rasanya mungkin agak sedikit berbeda ucap mang Lasno mewanti-wanti.


Oh yah ? Wah jadi makin gak sabar nih jawab Nayla tersenyum sambil menenteng kresek berisi bakso pesanannya.


Menyadari Nayla sudah masuk ke dalam rumahnya. Mang Lasno pun buru-buru pergi meski sebenarnya ia sangat penasaran akan ekspresi wajah Nayla saat menyantap bakso spesialnya.


Ah bodo amat dah... Yang penting lega udah keluar ucap mang Lasno sambil melanjutkan kelilingnya.


Nayla yang sudah mengambil mangkuk lekas menuangkan bakso pesanannya itu kesana. Tanpa sadar ia langsung mengaduknya. Ia pun melepas maskernya lalu menyantap bakso yang katanya sudah diberi saus spesial itu.


Aku coba aah ucap Nayla saat menyicipi kuahnya terlebih dahulu.


Seketika dahi Nayla mengkerut. Matanya agak menyipit. Bibirnya berulang kali mengecap untuk menilai kuah spesial dari tukang bakso itu.


Hmmm ini enak... Kayak ada manis-manisnya gitu ucap Nayla terlihat senang.


Setelah itu pun Nayla menyantap baksonya dengan lahap. Ia menikmatinya meski sudah diberi saus spesial secara diam-diam oleh tukang bakso itu.


Hmmm besok-besok aku minta bakso yang ada saus spesialnya lagi ah ucap Nayla yang ternyata doyan.


*-*-*-*

Keesokan harinya sekitar jam delapan pagi.


“Aku harus buru-buru… Aku harus cepat pergi mumpung pak Urip gak ada disini” Ucap Nayla tepat setelah beberapa menit suaminya berangkat kerja.


Kebetulan pak Urip masih berada di rumahnya belum sempat datang bekerja ke rumah Nayla. Nayla pun memanfaatkan kesempatan ini. Setelah mandi dan berpakaian rapih, ia berencana untuk ngumpet di rumah pak Beni sambil menanti kedatangan Putri untuk menjemputnya menuju tempat kerjanya.


Dengan balutan kemeja berwarna putih. Dengan celana kain panjang yang juga berwarna putih. Dengan hijab dan cadar yang juga berwarna putih. Nayla memilih tema kesucian yang sebetulnya jauh berbeda dengan apa yang dialaminya sekarang. Namun ia sengaja memilih tema ini untuk meningkatkan kepercayaan dirinya juga untuk melupakan semua kejadian buruk yang pernah dialaminya.


“Oh yah… Aku mau beli sayur dulu ah… Bakal gawat kalau aku gak masak lagi… Bisa-bisa pengeluaran keseharianku bakalan bengkak nih kalau cuma buat beli makanan jadi” Ucap Nayla yang tak jadi berbelok ke arah rumah pak Beni, melainkan ke arah tempat pangkalan mang Yono berada.


“Selamat pagi pak… Bu…” Ucap Nayla dengan ramah saat menyapa mang Yono juga ibu-ibu yang berkumpul untuk membeli sayuran mang Yono.


“Selamat pagiii… Ehhh mbak Naylaaa” Jawab ibu-ibu tersebut.


MEBXDFG

https://thumbs4.imagebam.com/4b/1d/65/MEBXDFG_t.jpg   4b/1d/65/MEBXDFG_t.jpg

'NAYLA


MEBE9O7

https://thumbs4.imagebam.com/31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg   31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg

'MANG YONO


“Pagi mbak… Kemana aja nih ? Saya kangen loh sama mbak” Ucap mang Yono yang langsung disoraki ibu-ibu tersebut.


“Ngapain kangen-kangen !” Ketus ibu-ibu tersebut memarahi mang Yono.


“Ya orang gak ketemu wajar dong kangen” Jawab mang Yono mengklarifikasi yang hanya membuat Nayla tertawa.


“Hihihi udah-udah jangan ribut… Oh yah ada sayur bayam gak mang Yono ? Yang paling seger mana yah ?” Tanya Nayla sambil memilih-milih sayuran.


“Ohh ini nih mbak” Ucap mang Yono mendekat tuk memilihkan sayuran sambil melirik-lirik ke arah penampilan Nayla.


'Gilaaa… Udah kayak bidadari abis turun dari sorga nih… Udah bening pake baju putih lagi… Ah jadi pengen menodainya lagi…'


Batin mang Yono mupeng.


“Ehh matanya-matanya… Jaga pandangannya mamang !” Ucap ibu-ibu itu memergoki.


“Ehhh iyya… Iyaa” Jawab mang Yono malu yang lagi-lagi hanya membuat Nayla tertawa.


“Hihihi dasar !” Tawa Nayla.


Diam-diam tanpa sepengetahuan Nayla. Pak Urip pun keluar dari dalam rumahnya untuk pergi ke rumah majikannya. Saat keluar melewati pagar rumahnya. Ia menemukan Nayla sedang belanja di warung berjalan mang Yono. Pak Urip tertawa. Pria tua berperut tambun itu seketika berpikiran mesum. Ia menatap kemeja Nayla lalu membayangkan hal yang tidak-tidak.


“Hakhakhak… Akan saya robek kemejamu itu non… Akan saya telanjangi dirimu… Akan saya buat dirimu merasakan kepuasan yang sesungguhnya… Cepatlah pulang… Saya akan menunggumu di rumah” Lirih pak Urip sambil mengelusi penisnya tak sabar untuk memejuhi rahimnya lagi.


Pak Urip pun berjalan menuju rumah majikannya. Ia diam-diam bersembunyi untuk menyambut kedatangan majikan alimnya tersebut.


“Ini yah pak uangnya… Pas kan ?” Tanya Nayla sambil menerima sayuran yang ia beli.


“Pas sih mbak… Padahal ngarepnya ada kembalian lagi biar saya bisa nganterin kembaliannya ke rumah kayak waktu itu tuh Ucap Mang Yono mupeng.


“Jangan diinget lagi pak… Jangan mulai !” Ucap Nayla kesal.


“Hehe santai mbak… Namanya juga ngarep” Ucap mang Yono yang membuat Nayla cemberut.


Nayla setelah itupun pamit pergi untuk menanti jemputan dari Putri. Saat tiba di depan pagar rumahnya. Ia berhenti sejenak sambil melihat ke arah kresek berisi sayuran yang baru ia beli.


“Pak Urip belum dateng kan yah ? Haruskah aku menaruhnya di kulkas dulu ?” Tanya Nayla pada diri sendiri.


Ia pun melongok ke dalam rumahnya. Ia ingin masuk tapi ia mempunyai firasat buruk andai dirinya masuk ke dalam rumahnya. Ia pun mendadak ragu.


“Taruh gak yah ? Apa titip ke rumah pak Beni aja kali yah” Ucap Nayla terpikirkan ide.


Akhirnya ia tak jadi menaruh sayuran itu ke rumahnya. Alih-alih berbelok ke rumahnya. Ia malah melanjutkan perjalanannya yang membuat pria tua yang sedari tadi mengintip Nayla dari kejauhan merasa kecewa.


“Kurang ajar ! Mau kemana dia ? Kenapa gak pulang ke rumah ?” Tanya pak Urip heran.


Diam-diam ia keluar dari rumah majikannya untuk mencari tahu ke arah mana Nayla pergi. Menyadari kalau Nayla pergi ke rumah pak Beni membuat pria gendut itu merasa tersaingi. Ia tak mengira kalau selama ini Nayla sering bersembunyi di rumah pak Beni.


“Jadi bajingan itu selama ini menyembunyikan non Nayla di sana yah ? Pantes aja dari kemaren kok gak keliatan ? Pasti dia memaksa non Nayla buat ngangkang juga buat bayar biaya nginap disana… Cihhh, dasar ! Tenang non Nayla… Akan saya selamatkan dirimu dari cengkraman pria rendahan itu” Ucap pak Urip sambil tersenyum menyadari ada perusak di dalam rencana sempurnanya.


Tiba-tiba dari arah kiri terdapat motor mendekat yang mengejutkan pak Urip. Diatas motor itu terdapat akhwat bercadar yang wajahnya kayak ia kenal. Pak Urip seketika tersenyum. Ia teringat kalau akhwat bercadar itu merupakan akhwat perawan yang waktu itu sempat datang ke rumah majikannya.


“Assalamualaikum pak… Mbak Naylanya ada ?” Tanya Putri setelah melepas helmnya.


“Walaikumsalam… Ohh non Nayla… Ada… Iya ada kok… Mari masuk dulu” Ucap Pak Urip dengan ramah saat menyambut tamunya.


“Oh iya pak… Makasih” jawab Putri sambil memasukan motornya ke dalam halaman Nayla.


“Dengan mbak Putri yah ? Ayo masuk dulu… Mbak Naylanya tapi lagi pergi sebentar… Paling bentar lagi pulang kok” Ucap Pak Urip sambil mengajak akhwat bercadar itu masuk ke ruang tamu.


“Hehehe iya pak… Aku Putri… Loh keluar ? Tadi katanya ada pak” Tanya Putri heran.


“Iyya mbak Nayla lagi beli sayur bentar… Bentar lagi juga pulang kok… Tadi liat kan pas kesini ada ibu-ibu ngumpul beli sayur” Ucap Pak Urip tuk meyakinkan Putri.


“Ohh beli disana ? Oalah… Kirain pergi kemana hihihi” Jawab Putri sambil duduk di sofa ruang tamu.


“Sambil nunggu mau saya buatin sesuatu ? Teh misalnya ?” Tanya Pak Urip sambil tersenyum.


“Hmmm teh boleh… Tapi jangan terlalu manis yah pak” Jawab Putri tanpa mencurigai apa-apa.


“Ah saya tahu… Pasti kalau tehnya manis takut kemanisan yah ? Soalnya kan mbak Putri udah manis” Ucap Pak Urip menggombal yang membuat Putri tertawa.


“Hihhihi bisa aja bapak” Tawa Putri yang membuat Pak Urip senyum-senyum sendiri. Pak Urip pun pergi ke dapur lalu diam-diam mengusap-ngusap tangannya saat terpikirkan sebuah ide.


'Ketawanya manis banget deh… Lumayan… Gak ada non Nayla, mbak Putri pun jadi… Lihat ini non… Ini akibatnya kalau non berani macam-macam ke saya… Non memilih sembunyi disana ? Maka jangan salahkan saya kalau mbak Putri bakal kehilangan keperawanannya…'


Batin pak Urip saat merencanakan rencana jahatnya. Ia berencana untuk menghukum Nayla. Bukan hukuman langsung yang diberikan kepadanya. Tapi hukuman tak langsung yang diberikan kepada sahabatnya.


Pak Urip membuatkan teh untuk tamunya. Ia menuang air panas sambil menaruh teh celup di cangkir beling itu. Tak lupa ia menaruh serbuk khusus. Ia tersenyum. Ia tak sabar untuk merenggut keperawanan akhwat bercadar itu.


'Memeknya akhwat perawan gimana yah ? Gak sabar deh buat ngerobek selaput daranya… Sabar yah tong… Beruntung banget sih dirimu ! Kemaren bisa jebolin memek binor… Sekarang kedapetan memek perawan… Semuanya punya akhwat bercadar lagi !'


Batin pak Urip senyum-senyum sendiri sambil mengelusi penisnya dari luar celananya.


“Ini mbak tehnya… Silahkan” Ucap Pak Urip dengan ramah.


Putri sambil tersenyum menerima teh pemberian pembantu dari rekan kerjanya itu. Pak Urip yang menyadarinya langsung berpura-pura tanggap dengan bertanya kepadanya.


“Mbak butuh sedotan ? Biar saya ambilkan” Ucap pak Urip.


“Eh boleh… Agak panas soalnya” Ucap Putri saat mengangkat cangkirnya. Ia pun kembali menaruh cangkirnya saat melihat pak Urip pergi ke dapur untuk mengambilkan sedotan.


“Ini mbak sedotannya… Silahkan” Ucap pak Urip sopan.


“Makasih” Jawab Putri sambil menyeruputnya.


Pak Urip mulai tersenyum. Ditatapnya tubuh dari akhwat bercadar itu. Wajahnya manis. Hijab berwarna hijaunya menambah aura kecantikan pada dirinya. Belum dengan jaket berwarna gelap yang menyembunyikan gamis longgarnya. Sedangkan rok panjang berwarna hitam serta 'stocking' berwarna putih menutupi kaki jenjangnya. Ditatapnya lagi wajah cantik dari akhwat perawan itu. Kacamata berlensa bening yang dikenakannya menambah fantasi yang pak Urip miliki. Entah kenapa ia merasa kalau akhwat akan jauh lebih cantik kalau mengenakan kacamata. Pak Urip pun semakin bernafsu. Ia ingin sekali mengembat keperawannnya dari akhwat bercadar itu.


“Mbak ada apa kemari ? Jarang-jarang non Nayla kedatangan temen-temennya kesini ?” Ucap pak Urip berbasa-basi demi menanti efek dari obat yang ia beri.


“Hehe aku mau jemput mbak Nayla pak… Ada sesi perfotoan abis ini… Biar bisa berangkat bareng gitu hihih” tawa Putri.


“Oh begitu… Pantes tadi non Nayla kok keliatan cantik banget… Mau ada foto-foto lagi rupanya” Ucap Pak Urip tersenyum.


“Iyya pak… Mbak Nayla emang cantik banget… Dia primadona kalau di studio foto” Ucap Putri yang tiba-tiba merasakan hal aneh pada pandangannya.


Putri tiba-tiba melepas kacamatanya. Lalu berkedap-kedip tuk memeriksa pandangannya. Entah kenapa ia merasa pandangannya kabur. Kepalanya terasa berat. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Eh mbak kenapa ? Ada yang bisa saya bantu ?” Tanya pak Urip berpura-pura panik. Ia pun pindah ke sisi Putri lalu memegangi punggungnya untuk menenangkannya.


“Gak tau nih pakkk… Aduhhhh… Kepalaku kok berat yah ?” Tanya Putri heran.


“Kepala mbak berat ?” Tanya Pak Urip.


“Iyya pakkk… Aku gak tau gimana jelasinnya… Tapi akuuuu” Ucap Putri yang kini kesulitan untuk menahan matanya agar tetap terbuka.


Putri mulai kehilangan kendali akan tubuhnya. Tiba-tiba pandangannya mendadak gelap. Ia pun jatuh tergeletak di atas sofa ruang tamu rumah rekan kerjanya.


“Mbaakkk… Mbakkk kenapa ? Mbaaakkk… Mbak udah tertidur yah ? Hakhakhak” Kata pak Urip yang awalnya berpura-pura panik lalu tertawa setelah menunjukkan jati dirinya.


“Kayaknya saya ngasih obat tidurnya kebanyakan deh… Bukannya ngantuk yang ada malah bikin kepala sakit… Tapi gapapa deh toh nantinya juga sama-sama tidur hakhakhak” tawa Pak Urip sambil menatapi wajah manis Putri.


“Tidur yang nyenyak manis… Om mau mejuhin memekmu soalnya hakhakhak… Eh jangan om lah… Panggil mas aja biar keliatan muda” Ucap pak Urip tertawa.


Pria mesum itu pun menggendong tubuh Putri yang tak berdaya lalu membawanya ke dalam kamar majikannya.


“Iyyaaaahhhh” Ucap Pak Urip saat menidurkan Putri di ranjang empuk itu.


“Hah tempat ini… Di tempat inilah saya memejuhi rahim non Nayla untuk pertama kali… Di tempat ini juga lah saya akan memerawani dirimu, mbak… Bersiaplah… Bersiaplah untuk menjadi wanita dewasa” Ucap Pak Urip sambil menelanjangi dirinya sendiri.


Tubuhnya yang gendut terpampang dihadapan akhwat bercadar itu. Perutnya yang maju serta batang penisnya yang mengacung seolah berlomba untuk menjadi yang pertama menyentuh tubuh akhwat perawan itu.


Pak Urip duduk di tepi ranjang itu. Ia mengelusi wajah Putri lalu menurunkan cadar yang selama ini dikenakan oleh akhwat bercadar itu.


“Ngapain ditutup-tutupi sih mbak… Gak pake cadar aja udah cantik gini” Ucap pak Urip saat pertama kalinya melihat wajah Putri yang tidak ditutupi cadar.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


MEBEAXY

https://thumbs4.imagebam.com/8e/a3/1b/MEBEAXY_t.jpeg   8e/a3/1b/MEBEAXY_t.jpeg

'PUTRI


Hakhakhak... Mulusnya kulit wajahmu mbaakk... Semulus kulit bayi... Pasti tiap hari perawatan terus yah mbak... Tapi sayang, kulit indahmu ini akan ternoda oleh kemesuman saya, hakhakhak tawa pak Urip sambil mengusap pipi wajah Putri.


Jemarinya bahkan masuk ke dalam mulut Putri. Tangan satunya digunakan untuk meremas dada Putri. Pria tua mesum itu benar-benar menikmati ketidaksadaran Putri. Kedua tangannya kini fokus membuka jaket Putri. Ia pun membuang jaket itu hingga jatuh ke lantai kamar majikannya. Setelah itu, ia mengangkat tubuh Putri sejenak lalu menurunkan resleting gamisnya yang ada di punggungnya. Setelah gamis itu longgar, ia menariknya pelan-pelan melewati kepala mungilnya. Menyadari hijab Putri agak 'menceng' sedikit. Ia juga sekalian menarik hijabnya hingga rambut panjang akhwat bercadar itu terlihat di hadapan pak Urip.


Pak Urip tertawa. Tapi tak ada waktu untuk menertawakan hal itu lebih lama lagi. Ia tak tahu kapan obat tidurnya akan terus bekerja. Ia lalu menarik rok Putri berikut celana dalamnya. Dalam sekejap akhwat yang sehari-harinya biasa mengenakan pakaian tertutup itu kini sudah telanjang bulat tanpa ada satupun helai pakaian yang menutupi.


Oouuhhh indahnya tubuhmu dari atas sini mbaakk... Izinkan saya untuk menikmatimu... Izinkan saya untuk menodai tubuhmu sekaligus memberikan kepuasan yang tak akan pernah mbak bayangkan sebelumnya ucap pak Urip saat berdiri diatas kasur menatap tubuh polos Putri yang tergeletak di bawahnya.


Pak Urip langsung jatuh diatas tubuh Putri. Perut tambunnya menindihi kulit mulusnya. Bibirnya hinggap tuk mencumbu bibir manisnya. Kedua tangannya dengan rakus meremasi susu kencangnya. Berulang kali tangan itu meremas. Pak Urip seperti sedang mengaduk adonan kue saja. Ia terus meremasnya bahkan mencubit putingnya. Sesekali ia menariknya lalu menekan puting yang berwarna pink itu. Ia juga menamparnya. Ia melakukan apa saja dalam memainkan payudara yang masih kencang itu.


Mmpphhh... Mmpphhh... Susu perawan emang gak ada duanya... Rasanya masih kenceng-kencengnya ucap pak Urip disela-sela cumbuannya.


Sedangkan bibirnya dengan rakus mendorong bibir manis Putri. Ia juga menjepit bibirnya. Lidahnya juga berkeliaran masuk menelusuri rongga mulutnya. Terkadang ia meludahi mulutnya. Terkadang ia menjilati bibirnya. Ia benar-benar menikmati bibir sang akhwat. Penisnya pun semakin mengeras. Penisnya mengeras saat terjepit diatas perut mulus Putri.


Mmpphhh... Bibir ini... Mmmpphh benar juga... Waktu saya menikmati non Nayla jarang banget bisa menikmati bibirnya... Ternyata ciuman bisa seenak ini yah... Mmpphhh desah pak Urip baru menyadari.


Lidah pak Urip kini berpindah mengincar leher jenjangnya. Ia menjilati leher Putri. Ia tak mau membiarkan satu senti pun tubuh Putri yang tak ia sentuh. Ia ingin menyentuh semuanya. Tangan kirinya juga memeluk punggung mulusnya. Sedangkan tangan kanannya masih meremasi payudara kirinya. Lidahnya naik turun menjilati leher sebelah kiri Putri. Jilatannya menyamping tuk menjilati leher sebelah kanan Putri. Lalu jilatannya turun ke arah dada bulat Putri. Tangan kirinya yang berada di punggung Putri ditariknya keluar. Tubuh bagian atas pak Urip agak dinaikkan. Kedua tangannya dengan serentak kembali meremasi dada bulatnya. Mulutnya mendekat lalu menghisap puting sebelah kiri Putri dengan penuh nafsu. Mulutnya berpindah ke kanan lalu ke kiri lagi. Ia menghisap puting sebelah kanan lalu ke kiri lagi. Ia tak hanya menghisapnya tapi juga menjilati dan menggigitnya pelan. Pak Urip yang gemas tak sengaja menggigitnya keras. Putri sampai merintih di tengah tidurnya. Namun itu tak membuat pak Urip berhenti. Ia justru lebih beringas. Ia menyusu dada Putri dengan sangat ganas.


Mmpphh... Manis banget susu perawan ini... Mmpphhh sampe gak bisa berhenti pengen nyusu terus disini... Mmpphh gak sia-sia saya memilih mbak Putri sebagai pelampiasan saya... Maafkan saya yah mbak Put... Kalau marah, marah aja ke non Nayla yang udah bikin saya kesel duluan... Mmpphh desah pak Urip disela-sela cumbuannya.


Kedua tangannya kini merentangkan kedua tangan Putri ke kiri dan ke kanan. Seperti yang ia niatkan sebelumnya, ia tak ingin melewatkan satu sentipun tubuh mulus Putri. Saat tangan Putri terentang. Lidahnya dengan liar menjilati ketiak mulusnya. Pak Urip tidak merasa jijik sama sekali. Dengan penuh nafsu ia menikmati jilatannya dalam membasahi ketiak mulusnya.


Mmpphh... Ssllrrppp... Mmpphh desah pak Urip.


Lidahnya lalu menjilati lengan kanannya. Jilatannya terus turun hingga ke sikunya lalu terus turun hingga ke jemarinya. Ia mengulum kelima jari Putri secara bergantian. Mulai dari jempolnya lalu berpindah ke jari telunjuknya lalu ke jari tengahnya hingga ke kelingkingnya. Wajah pak Urip bergerak naik turun dalam menjilati lima jemari itu. Ia melakukannya sambil duduk diatas paha Putri yang ia rapatkan. Pak Urip puas lalu berpindah ke tangan kirinya. Lagi, ia melakukan hal yang sama pada tangan kiri Putri. Ia menjilatinya. Ia juga menjilati jemari-jemarinya.


Mmpphhh... Mmpphh... Manis banget tubuh akhwat ini... Bikin nafsu banget ucap pak Urip sambil menatap wajah Putri yang tak tertutupi hijab beserta cadar sama sekali. Nampak kacamata masih melekat disana. Putri jadi terlihat manis namun tubuh polosnya membuatnya terlihat sangat erotis.


Lagi, tubuh pak Urip kembali menunduk untuk menyusu di dada bulat Putri. Selagi mulutnya menyusu maka tangan kanannya menjelajah ke sekitaran goa yang belum dijamah sama sekali. Bulu-bulu tipis tumbuh diatas goa itu. Lubang goanya juga tampak sempit petanda goa ini belum dimasuki sama sekali.


Mmpphh... Mmpphhh... Siappp yahh mbaakkk desah pak Urip saat jemarinya mulai masuk ke dalam liang senggama Putri.


Terlihat wajah Putri seperti agak kesakitan di dalam mimpinya. Pak Urip hanya tersenyum saat mengintip sejenak. Ia kembali fokus menikmati susu manis Putri sembari tangannya menjelajah ke dalam goa tak terjamah itu.


Mmpphhh... Mmpphh


Tangan nakal pak Urip bergerak keluar masuk. Menyadari goa itu mulai membanjir. Ia jadi semakin liar dalam mengobel-ngobel vagina milik akhwat perawan itu. Tangannya bergerak naik turun dengan cepat. Terdengar suara kobokan air dari dalam. Ia sesekali juga mengusap-ngusap bibir vagina Putri dengan cepat. Sesekali ia juga menekan klitorisnya yang membuat vagina Putri jadi semakin membanjir dipenuhi oleh cairan cintanya sendiri.


Pak Urip yang penasaran segera berpindah tuk melihat keadaan goa Putri. Dilihatnya cairan cinta itu mulai tumpah ke luar vaginanya. Pak Urip jadi penasaran bagaimana rasa dari cairan cinta itu. Dikangkangkan lah kedua kaki Putri. Lubang vaginanya pun membuka. Lidah pak Urip dengan rakus langsung menjilati cairan cinta Putri. Bibirnya juga mencium bibir vagina Putri. Lidahnya mengobok-ngobok goa Putri. Mulutnya sesekali menyeruput cairan cintanya untuk meminum cairan yang ada di dalam.


Ssllrrpp... Ssllrrppp... Ssllrrppp mmpphh... Asin banget tapi juga enak hakhakhak tawa pak Urip senang.


Pak Urip pun berusaha meminum cairan cinta itu hingga habis tapi yang ada cairan cinta itu terus keluar yang membuat nafsu pak Urip semakin liar. Penisnya yang sedari tadi belum mendapat jatah langsung merengek ingin menikmati tubuh Putri juga. Pak Urip yang juga penasaran langsung mengambil posisi dihadapan kedua kaki Putri.


Akhirnya... Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba... Bersiaplah mbak untuk menjadi wanita dewasa ucap pak Urip saat memasukan batang penisnya yang mengeras ke dalam liang senggama Putri.


Aaahhh gilaaa sempit banget... Memeknya juga anget banget... Jadi gak sabar pengen hennkhhh desah pak Urip saat berusaha mendorong penisnya agar lebih masuk ke dalam.


Mmmpphhh desah Putri ditengah tidurnya.


Hakhakhak... Sampe kebawa mimpi yah mbaakk... Coba sekali lagi hennkgghhh desah pak Urip kembali mendorong penisnya hingga ujung gundulnya terasa menyundul sebuah lapisan yang amat kuat.


Jadi ini selaput daranya... Jadi makin gak sabar hakhakhak tawa pak Urip puas.


Putri yang sedaritadi tertidur tiba-tiba terus mengerutkan dahinya. Vaginanya yang sebelumnya tak pernah dimasuki benda apapun terasa sakit hingga pelan-pelan mulai membangunkannya. Mata Putri berkedap-kedip. Mulutnya pun merintih merasakan rasa sakit di area vaginanya.


Mmpphhh aahhhh... Apa iniiii ? Lirih Putri mulai terbangun.


Sontak pak Urip terkejut. Tapi ia mencoba tenang dengan memberinya sebuah senyuman.


Selamat pagi mbak Put... Wah pas banget mbak bangun... Bersiap yah untuk menjalani proses menjadi dewasa... Sebelumnya maaf mungkin agak sedikit sakit tapi lama-lama bakalan enak kok hakhakhak tawa pak Urip yang membuat Putri terkejut menyadari apa yang sedang terjadi.


Paaakk... Apa inii ? Apa yang terja aaaahhhhhh jerit Putri sekeras-kerasnya saat penis pak Urip mulai maju tuk merobek selaput dara Putri.


Waduh belum robek... Kayaknya harus pake tenaga ekstra nih... Tahan sebentar yah mbak Put... Hennkgghhh desah pak Urip saat menarik pinggulnya sejenak lalu mendorongnya sekuat tenaga tuk menyundul selaput dara Putri.


'Jleeebbbb !!!'


Aaaahhhh paakkkk sakkitttttt jerit Putri mulai menangis.


Pak Urip kemudian tersenyum saat melihat cairan berwarna merah yang mengalir keluar dari dalam vagina Putri. Pak Urip bangga karena bisa memerawaninya. Apalagi ia melakukannya dalam keadaan Putri sedang sadar. Pak Urip merasa jantan. Ia pelan-pelan mulai kembali menyodoknya setelah menarik pinggulnya mundur sejenak.


Heennkgghhh !! Desah pak Urip saat menusuk vagina Putri.


Aaahhh paakkk hentikaannn... Hentikaann paakkk aaahhh... Sakittt sakitttt jerit Putri hingga berulang kali menggelengkan kepalanya.


Air matanya tumpah diiringi suara-suara rintihan ditengah proses pelepasan keperawanannya. Ia benar-benar tak menyangka kalau ia akan kehilangan keperawanannya dengan cara seperti ini. Apalagi ia mengalami proses buruk ini di dalam rumah rekan kerjanya oleh pembantu yang sebelumnya tak ia curigai sama sekali. Apalagi ia mengalami proses buruk ini menjelang hari pernikahannya. Putri amat kecewa. Ia pun menangis sejadi-jadinya ditengah tusukan penis pak Urip yang semakin dalam menembus vaginanya.


Paakkk aaahhhh... Apa yang bapak lakukan ? Kenapa bapak tega lakuin ini ke aku ? Tanya Putri ditengah isak tangisnya.


“Loh saya emang kenapa mbak ? Saya kan sedang membantu mbak supaya bisa menjadi wanita yang lebih dewasa lagi” Jawab pak Urip tanpa merasa bersalah sama sekali.


“Apa ? Ini bukan membantuku lebih dewasa lagi pak ! Ini namanya bapak sudah menodaiku ! Bapak sudah merusakku pak ! Kenapa bapak tega ? Kenapa ? Kenapaaa aaaahhhhhh” Jerit Putri saat pak Urip kembali menusukkan penis saktinya.


“Berisik ! Dasar gak tau terima kasih ! Udah dibantu malah marah-marah ! Dasar cewek !” Ucap pak Urip yang membuat Putri semakin kesal.


Putri pun tak bisa berkata-kata setelah mendengar penjelasan dari pria tambun itu. Hatinya yang terasa sakit membuatnya ingin terus menangis. Putri terus menangis. Ia menangisi nasibnya yang sudah tak lagi menjadi seorang gadis perawan.


“Sudah jangan nangis lagi mbak… Terima aja nasib mbak ! Terima nasib mbak udah menjadi pemuas nafsu saya… Hennkgghh !” Ucap pak Urip saat menusukkan penisnya setelah menarik mundur pinggulnya sejenak.


“Aaaahhhh hentikaaannnnn !” Jerit Putri.


“Hakhakhak… Sudah nikmati aja mbak… Nikmati semuanya apa adanya ! Hennkgghh !” Desah pak Urip kembali menusuknya.


“Aaaahhh sakittttt” Jerit Putri.


“Hakhakhak… Laaggiiiii hennkgghh !” Desah pak Urip yang terus menusuk-nusuk vagina Putri menggunakan penisnya.


Setelah melakukan semua itu. Ia baru mulai memaju mundurkan pinggulnya secara perlahan. Ia menggenjot vagina Putri sambil mendekap pinggul rampingnya. Ia menikmatinya. Apalagi saat payudara Putri ikut bergoyang bersamanya. Ditatapnya wajah putri yang sudah ternoda. Ditatapnya tubuh telanjang Putri yang begitu menggoda. Pak Urip sangat menikmati semuanya. Ia pun mulai mempercepatnya tuk merasakan jepitan vaginanya.


“Aaaaahhhhhhh nikmatnyaaa… Aaahhhh nikmat banget rasanya mbaaakk” desah pak Urip keenakan.


“Aaaahhh hentikaannn… Hentikannn paakk… Aaaahhhh” Jerit Putri sambil berusaha melepaskan dekapan tangan pak Urip di pinggangnya. Namun semuanya percuma karena pak Urip sedang berada di posisi nafsu-nafsunya.


“Aaaaahhhhh… Aaahhh… Aaahhhh enaknya memeknya perawan… Enaknya jepitan memekmu mbak… Aaahhhh gak nyesel saya udah memerawanimu, mbak !” Desah pak Urip yang justru membuat hati Putri semakin sakit.


Ucapan Pak Urip yang seolah sedang mengingatkan Putri kalau dirinya sudah tak lagi menjadi gadis perawan terus menghantui dirinya. Ia terus menangis menahan tusukan pak Urip. Tusukannya terasa begitu dalam. Ia merasa tusukan pria tua itu mengenai rahimnya. Rahimnya terasa disundul terus menerus. Gesekan penis pak Urip pada dinding vaginanya memberikan reaksi gatal yang mengganti rasa sakit yang sebelumnya ia rasakan. Benar apa kata pak Urip. Ia tak lagi mengalami rasa sakit. Sebaliknya rasa enak mulai menjulur ke sekujur tubuhnya. Tapi apa ini yang ia inginkan ? Tidak, bukan ini yang Putri inginkan. Ia pun berusaha terus menolak kendati rasa nikmat mulai menjalar ke sekujur tubuhnya.


“Hentikaannnn… Hentikann semua ini paakkk… Aku mohhhoonnn” Ucap Putri ditengah tangisannya.


“Aaaahhhh… Aaahhhhh nikmatnyaaa… Nikmatnyaaa” desah pak Urip mengabaikan perkataan Putri.


Suara desahan Putri justru menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus menggenjotnya. Suara desahan Putri justru menjadi penyemangatnya untuk terus menyundul rahimnya. Rasa nikmat yang semakin menjalar membuat tangannya tak bisa hanya diam. Tangannya mulai meraba-raba tubuh polos Putri. Awalnya tangannya mengusapi perutnya lalu naik tuk meremasi dadanya. Ia meremasnya dengan kuat yang membuat Putri menjerit semakin keras. Kedua tangan Putri berusaha menahan tangannya agar tidak lebih keras lagi dalam meremas dadanya. Namun pak Urip malah menekan-nekan puting susu Putri. Rangsangan itu membuat Putri blingsatan tak karuan. Reaksi wajah Putri yang setengah keenakan dan setengah ketakutan membuat pak Urip tertawa begitu puas.


“Hakhakhak… Jelas-jelas mbak mulai keenakan kok malah nolak terus sih ? Udah pasrah aja ! Saya jamin akan memberikan kepuasan pada mbak” Ucap Pak Urip sambil terus menyodoknya.


“Aaahhhh enggaakkk… Enggakk akannn… Aaahhhhhh” desah Putri semakin keras.


Pak Urip pun terpikirkan ide. Ia memegangi tangan Putri lalu menariknya ke belakang. Tubuhnya ia mundurkan ke belakang sehingga membuat tusukannya semakin dalam. Putri yang terus bertahan agar tetap tiduran di atas kasur justru menjadi senjata makan tuan baginya. Ia tak menyadari kalau itu yang pak Urip inginkan darinya. Pak Urip pun mempercepat sodokannya. Sodokannya yang amat kuat menimbulkan suara yang terdengar menggoda.


'Plookkkk… Plookkkk… Plookkkk !!!'


“Aaaahhhh nikmatnyaaa… Aaahhhh nikmatnyaaaa” Desah Pak Urip semakin puas.


“Aaaahhhh hentikaaannn… Hentikaann paaakkk” Jerit Putri sambil memejam dan menggelengkan kepala.


'Aaahhhh gilaaaa… Memek perawan emang gak ngotak damagenya… Baru satu gaya aja udah bikin saya mau keluar ! Duh padahal pengen lebih lama lagi… Tapi jepitannya itu loh… Aaahhhh enakk bangettt !'


Batin Pak Urip kecewa saat dirinya sendiri sudah mau keluar.


“Aaaahhh yaaahhh… Aaahhhh hebat sekali memekmu itu mbaakk… Saya udah mau keluarrr… Saya akan mengeluarkannya di dalam… Saya akan membuatmu hamil sebentar lagi !” Ucap pak Urip yang membuat Putri ketakutan.


“Aaaahhhhhh… Aahhhh… Jangaannnn… Tolong jangan hamili aku paakk… Tolonggg jangaann bikin aku hamilll !” Jerit Putri ketakutan.


“Hakhakhak… Saya akan membuatmu hamil… Liat saja nanti… Rasakan ini ! Hennkgghh !” Desah pak Urip saat menyodoknya lebih kuat lagi.


“Aaaaahhhhhh… Aaahhhhh… Aaaaaahhhhh” jerit Putri sekeras-kerasnya.


'SEMENTARA ITU DI RUMAH PAK BENI


“'Astaghfirullah'… Iya juga, aku belum minum obat ramuannya !” Ucap Nayla menyadari sesuatu.


Akhwat bercadar itu langsung berdiri lalu melangkah pergi ke arah luar rumah Pak Beni. Pak Beni yang penasaran langsung ikut membuntuti.


“Ehh mbakkk mau kemana ?” Tanya Pak Beni mengejar.


Saat Nayla berada di luar rumah pak Beni. Ia menyadari kalau dirinya melihat motor Putri di halaman rumahnya. Seketika ia merasa tidak enak. Firasatnya buruk. Ia pun langsung berlari menuju rumahnya sendiri.


“Ehhh mbaakkk… Tunggguuu” Ucap pak Beni mengikuti.


'KEMBALI KE ATAS RANJANG TIDUR NAYLA


“Aaahhhh rasakannn iniiii… Rasakaannnn sodokanku ini !” Desah pak Urip semakin menikmati.


“Aaaahhh hentikaannn paakk… Ampuni akuuu… Tolonggg hentikan semua ini paaakkk” Jerit Putri semakin ketakutan.


Tangan Pak Urip kembali mendekap pinggang mulusnya. Wajahnya ia turunkan tuk menatap reaksi wajah Putri yang ketakutan. Pinggulnya terus bergerak maju mundur merasakan kenikmatan. Wajahnya tersenyum merasakan kepuasan. Ditatapnya gerakan payudara Putri yang begitu menggiurkan.


'Gondal-gandul… Gondal-gandul… Gondal-gandul…'


Gerakannya sungguh indah yang dapat merangsang nafsu birahi seorang pria. Belum lagi rasa dari jepitan vaginanya yang sungguh luar biasa. Vagina Putri begitu menjepit. Penis pak Urip terasa di apit oleh lempengan serabi lempit yang begitu sempit. Mulut pak Urip terus komat-kamit. Mulutnya mendesah mengeluarkan nafas bau yang terhirup oleh hidung akhwat telanjang itu.


Putri menyadari kalau harapan dirinya sudah tidak ada lagi. Siap atau tidak, pria tua berperut tambun itu pasti akan menyiram rahimnya menggunakan sperma subur yang bisa-bisa akan menjadi janin. Putri pasrah. Ia menyadari nasibnya yang akan menjadi penampung pejuh pria tambun itu.


“Puuttt…. Putrriii ?” Ucap seseorang dari luar kamar.


“Aaaahhhhhh… Aaahhh mbaakk… Mbaakkk toloongggg !” Teriak Putri menyadari suara Nayla di luar.


'Cciihhh celaka !'


Batin pak Urip.


“Puuttt kamu dimana ?” Teriak Nayla di luar.


“Aaahhhhh tolongg mbaakkk… Akuuuu mmmpphhhhh” desah Putri saat mulutnya dibekap oleh pak Urip.


“Sssttt… Diam ! Saya akan memejuhimu dengan segera” Ucap pak Urip sambil tersenyum yang membuat mata Putri membuka lebar.


Pak Urip mempercepat sodokannya. Gesekan yang ia terima pada kulit penisnya memberikan kepuasan yang tak dapat ia jelaskan. Penisnya pun mulai berdenyut. Pria tua itu mulai merasakan adanya tanda-tanda orgasme sebentar lagi.


“Aaaaahhhhh… Aaahhhh sebentar lagiiiiii !” Desah Pak Urip sambil tersenyum.


“Puuttt… 'Astaghfirullah' !” Batin Nayla saat melihatnya dari arah luar kamar. Ia melihat apa yang sedang pak Urip lakukan diatas ranjang tidurnya. Dari luar ia dapat melihat tubuh Putri yang terdorong maju mundur oleh sodokan pinggul pak Urip. Namun yang mengejutkan adalah saat pak Urip menoleh lalu menatap dirinya. Tatapannya yang sedang tersenyum itu membuat Nayla ketakutan hingga membuatnya terjatuh dalam posisi berlutut. Nayla membeku. Ia sejenak diam tak bisa berbuat apa-apa.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhh… Terima ini… Terima iniiii mbaaakkkk !” desah pak Urip tak kuat lagi.


“Mbaakkk… Mbakkk kenapa ?” Tanya pak Beni yang baru saja tiba di depan pintu masuk rumah Nayla.


'Cihhhh rupanya lonte itu bawa cecunguk sialan itu yah ! Saya harus mempercepatnya… Ayoo mbak Putri… Rasakan ini… Rasakannn kontol saya ini !'


Batin Pak Urip.


“Mmpphhhh… Mmppphh… Aaaaahhhhh… Aaaahhhhh toollooongggg !” Jerit Putri saat mulutnya terlepas dari dekapan tangan pak Urip.


Mendengar jeritan seorang wanita membuat mata pak Beni membuka seketika. Ia langsung berlari. Ia berlari menuju asal muasal suara tersebut.


“Aaaahhhh rasakannn ini… Rasakaannnn mbaakkkkk !” Desah pak Beni semakin cepat dalam menyodok vagina Putri.


“Aaaahhhhh hentikaannn… Aaahhhh bapaaakkk” Jerit Putri semakin keras.


Nafas pak Beni semakin sesak. Lututnya melemas. Matanya merem melek keenakan. Ia sadar bahwa spermanya hampir mendekati lubang kencingnya. Gerakan maju mundur terus ia lakukan di dalam lubang tak terjamah Putri. Semakin cepat ia lakukan semakin cepat pula cairan spermanya tuk mendekati lubang kencingnya.


“Aaahhhh saya gak tahan lagi… Saya akan kelluuaarrr… Terima ini mbaakk… Terima pejuh saya ini… Hennkgghhhh !!!!” Desah pak Urip sambil mementokkan ujung gundulnya hingga menembus dinding rahim Putri.


“Aaaahhhh bapaaaakkkkk” desah Putri saat tubuhnya mengejang.


“Aaaahhhhhh akan saya buat dirimu hamillll… Mbaaakkk Putrriiiiiiii !”


'Crrooottt… Crroottt… Crrroootttt !!!'


Sperma pak Urip dengan deras keluar mengisi rahim Putri. Kepuasan yang tak terkira membuat mata pak Urip merem melek penuh kepuasan. Pinggulnya terus maju untuk mengosongkan tengki spermanya. Tubuhnya mengejang. Nafasnya mendadak berat. Tak pernah ia sepuas ini saat memejuhi rahim seorang akhwat. Betapa puasnya ia bisa memenuhi rahim seorang akhwat perawan menggunakan sperma kentalnya.


“Apa ini ? Kurang ajar !” Ucap pak Beni setelah melihat apa yang telah terjadi.


“Ciihhh ganggu aja !” Ucap pak Urip buru-buru mencabutnya lalu mengambil celananya. Kemudian ia membuka jendela kamar Nayla untuk kabur dari kejaran pak Beni.


MEBXJUC

https://thumbs4.imagebam.com/45/14/e4/MEBXJUC_t.jpg   45/14/e4/MEBXJUC_t.jpg

“Heeyyy tungguuu !” Ucap pak Beni hendak mengejar. Namun saat tiba di jendela kamar Nayla. Ia tak mendapati pak Urip sama sekali. Pak Urip berlari kencang sekali. Pak Beni sampai kehilangan jejak. Ia pun hanya bisa menyesalinya sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Putrriii… Puutttt” Ucap Nayla yang baru bisa masuk lalu memeluk tubuh telanjangnya yang sudah ternoda.


“Mbaaakkkkk” Ucap Putri menangis sambil membalas pelukan Nayla.


Putri yang berada di posisi setengah duduk & setengah berbaring itu hanya bisa menangis menyadari keadaannya. Ia bukan lagi seorang perawan. Sebaliknya ia telah ternoda. Ia telah ternoda oleh lelaki tua yang bahkan tidak ada tampan-tampannya sama sekali.


“Maaf Puttt… Maafin aku… Aku lupa bilang kalau ada predator seks disini… Maafin aku yah Put yang udah bikin kamu kesini kemarin !” Ucap Nayla menyesali perbuatannya. Apalagi saat matanya tak sengaja menatap selangkangan Putri. Ia melihat campuran darah beserta sperma yang keluar dari dalam vagina Putri. Ia menyadari kalau Putri telah kehilangan keperawanannya. Nayla pun ikut menangis sambil memeluk tubuh Putri.


Putri tak bisa menjawab. Luka dihatinya terlalu besar sehingga membuatnya hanya bisa menangis saat itu.


“Ini mbaakkk… Sebaiknya tutupi” ucap Pak Beni yang datang lalu memberikan selimut yang ia temukan di atas ranjang tidur Nayla. Pak Beni pun melihat sekilas tubuh telanjang Putri. Tubuhnya memang menggoda. Ia bahkan sempat bernafsu sejenak. Namun saat melihat campuran darah dan sperma yang keluar dari dalam vagina Putri. Ia mendadak semakin kesal. Ia merasa kesal karena tidak bisa menangkap pria tua berperut tambun itu.


“Makasih pak… Ayo dipake dulu Put” Ucap Nayla sambil menutupi tubuh Putri.


“Makasih mbak” Jawab Putri sambil menangis.


“Kita harus melaporkannya… Laki-laki itu sudah keterlaluan… Kita gak boleh membiarkannya melakukan perbuatan keji ini lebih lama lagi” ucap Pak Beni berambisi tuk menghukum pemerkosa Putri.


“Tapi ? Gimana caranya ? Kita gak ada bukti pak” Ucap Nayla sambil mengelus punggung Putri untuk menenangkannya.


“Bukti ? Itu ada” Ucap pak Beni sambil menunjuk Putri.


“Bapak tega ? Memangnya bapak gak mikirin keadaan Putri apa ?” Ucap Nayla kesal pada Pak Beni.


“Wanita mana yang berani melaporkan kejadian ini kalau rasa malu adalah penggantinya pak ? Misal kalau kita laporkan maka semua orang akan tahu kalau diri kita pernah diperkosa oleh pak Urip ? Apa kata orang sekitar pak ? Meski ini kasus pemerkosaan pasti 'image' buruk akan melekat di diri kita… Aku gak mungkin melaporkan ini juga pak… Apalagi kami ini merupakan selebgram… Aku gak mau 'follower' kami kecewa saat menyadari apa yang telah terjadi… Aku tahu ini egois… Tapi kamu juga kepikiran kayak gitu kan Put ?” Kata Nayla menatap Putri.


Putri hanya mengangguk setuju. Apalagi ia akan menikah sebentar lagi. Apa kata Andri nanti kalau mengetahui dirinya sudah tidak perawan lagi ?


Pak Beni pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tampak bingung namun juga kesal. Ia pun berusaha berpikir bagaimana caranya untuk melindungi Nayla juga wanita telanjang yang ada di sebelahnya.


Sekilas ia teringat kejadian saat dirinya memberi sepotong roti. Matanya terbuka lebar. Ia menyadari kalau wanita yang sedang telanjang ini adalah wanita bercadar yang saat itu bersama Nayla.


'Dasar kurang ajar si Urip ini ! Sudah menodai mbak Nayla sekarang berani memerawani akhwat bercadar ini… Saya harus memberinya pelajaran ! Tapi apa ? Saya harus menyusun rencana… Kalau asal nonjok aja yang ada warga sekitar akan mengeroyoki saya… Apalagi image saya terlanjur buruk dipandangan masyarakat… Ah sial, gimana yah caranya tuk melindungi mbak Nayla dan mbak ini ?'


Batin pak Beni memikirkan cara.


BERSAMBUNG


;;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 8

GETARAN

“Ini air hangatnya Put” Ucap Nayla sambil memberikan secangkir air hangat itu.


“Makasih mbak” Jawab Putri yang langsung menyeruputnya.


Setelah menghabiskan setengah dari air hangat itu. Putri kembali melamun. Sepertinya ia kembali terpikirkan soal kejadian buruk yang baru saja menimpanya itu. Ia masih tak percaya kalau kejadian buruk seperti itu harus menimpa dirinya. Ia telah kehilangan keperawanannya. Rasanya ia sudah tak memiliki masa depan lagi. Ia merasa hancur. Ia merasa tak memiliki kepercayaan diri lagi.


“Putt… Jangan ngelamun dong” Ucap Nayla sambil tersenyum.


“Maaf mbak… Aku masih kepikiran soal tadi… Aku masih gak percaya kalau . . . .” Ucap Putri terpotong.


“Iya aku paham apa yang kamu rasain Put… Aku menyesal… Aku minta maaf soal keputusan aku kemarin… Seharusnya aku bilang dulu ke kamu kalau pak Urip orangnya memang seperti itu” Ucap Nayla berusaha menghiburnya.


“Tapi dulu pas aku kesini dia gak keliatan kayak gitu loh mbak… Sikap mbak sendiri juga pas itu . . . .” Ucap Putri kembali terpotong.


“Iya… Awalnya aku juga gak percaya… Sejujurnya waktu kamu datang ke rumah pas mau minta foto itu, aku juga ngalamin hal yang sama kayak kamu loh, Put” Ucap Nayla mengenang kejadian buruknya.


“Eh mbak juga ?” Tanya Putri tak percaya.


“Iya cuma waktu itu aku gak tau siapa pelakunya… Karena aku diperkosa waktu lagi tidur… Awalnya aku ngira pak Beni orangnya… Inget kan sewaktu pak Beni ngasih roti ke aku ? Aku udah nuduh pak Beni waktu itu… Aku gak nyangka banget kalau ternyata justru pak Urip pelakunya… Makanya belakangan ini aku seringkali nginep ke rumah pak Beni sewaktu mas Miftah lagi gak ada di rumah… Aku lupa banget kalau kamu mau kesini… Dan aku juga gak nyangka kalau pak Urip berani ngelakuin hal itu ke kamu Put… Sekali lagi maaf yah” Ucap Nayla menyesal.


“Iyya mbak… Yasudah jangan diinget lagi… Aku takut kejadian ini menjadi trauma buatku… Lagipula bukan salah mbak kok… Cuma aku masih 'shock' aja… Mungkin butuh waktu… Tapi entah kapan aku bisa pulih dari rasa trauma ini” Ucap Putri yang masih tak menyangka.


“Iyya… Kamu pasti bisa kok Put… Kamu pasti bisa pulih… Aku yakin, kamu pasti bisa kok” Ucap Nayla tersenyum untuk menyemangati.


“Iyya makasih yah mbak” Jawab Putri yang mulai bisa tersenyum kembali.


“Oh yah ini hijab sama cadarnya… Mbak mau mandi dulu ? Nanti biar aku anter ke kamar mandi” Ucap Nayla.


“Iyya boleh… Tolong yah mbak” Ucap Putri yang masih telanjang bulat menyisakan kacamatanya saja.


Putri yang merasakan perih di selangkangannya terpaksa dibantu oleh Nayla dalam berjalan. Ia diantar Nayla ke kamar mandi dalam keadaan telanjang bulat. Saat pintu kamar dibuka, terlihat pak Beni terkejut melihat Putri masih telanjang bulat.


“Eh bapak kirain dah pulang… Jangan lihat !” Tegur Nayla.


Putri yang tak menyangka akan kehadiran pak Beni segera menutupi tubuhnya semampunya. Wajahnya tertunduk malu. Ia benar-benar malu saat auratnya kembali terlihat oleh sosok lelaki asing yang sama sekali belum dikenalnya itu.


“Ehh maaf” Ucap Pak Beni menunduk. Ia segera patuh laksana budak yang menuruti perintah tuannya. Sepertinya pak Beni telah mendalami perannya. Ia akan menuruti semua perintah yang diucapkan oleh Nayla.


Karena merasa nanggung sudah berada di tengah perjalanan. Nayla kembali melanjutkan perjalanan Putri menuju kamar mandi. Sesampainya mereka disana, Nayla membiarkan Putri membersihkan dirinya. Pintu kamar mandi ditutup. Terdengar bunyi air mengucur dari dalam kamar mandi tersebut.


“Hah… Maaf” Lirih Nayla yang masih menyesali perbuatannya.


Nayla pun kembali ke arah pak Beni membiarkan Putri menikmati waktunya sendiri. Samar-samar terdengar suara isak tangis dari dalam. Tampaknya Putri masih belum pulih dari trauma yang menghantuinya. Nayla duduk di samping pak Beni. Wajahnya tampak kebingungan. Ia masih tak percaya pak Urip melibatkan sahabatnya dalam melakukan aksi bejatnya.


“Gimana mbak Putri, mbak ?” Tanya pak Beni pada Nayla.


“Masih trauma pak… Wajar sih, tapi moga aja cepet pulih” Jawab Nayla.


“Oh begitu” Jawab pak Beni merenung.


'Gimana yah sekarang ? Hah sialan juga pak Urip itu ! Bisa-bisanya ia mengincar mbak Putri ! Kalau dibiarin bakalan semakin menjadi tuh orang… Gimana yah cara untuk menghentikannya ?'


Batin pak Beni berfikir.


“Oh iya pak” Ucap Nayla.


“Iya mbak gimana ?” Tanya pak Beni.


“Aku habis ini kan mau kerja… Aku ngerasa gak enak ke bu Dona kalau sampai gak ikut sesi 'photoshoot' lagi… Sedangkan Putri kayaknya gak sanggup untuk mengikuti 'photoshoot' bareng aku… Aku boleh titip Putri ke bapak gak ?” Ucap Nayla mengejutkan pak Beni.


“Eh saya diminta jagain mbak Putri gitu ?” Tanya pak Beni tak menyangka.


“Iya… Melihat keadaannya… Gak mungkin juga Putri bisa pergi jauh… Kakinya susah buat berjalan… Aku gak tau gimana pak Urip melakukannya sampe-sampe membuat Putri kayak gitu… Setidaknya kalau ada bapak, pasti Putri akan merasa tenang… Karena ada yang menjaga selagi aku pergi bekerja” Ucap Nayla menjelaskan.


“Hmm saya mah oke-oke aja mbak… Tapi mbak Putrinya gimana ? Saya mah nurut aja ke mbak” Ucap Pak Beni manut.


“Makasih… Nanti aku bilangin ke Putri deh… Nanti bisa tolong gendong Putri ke rumah bapak yah… Nanti aku yang bawa motornya buat parkir di depan rumah bapak” Ucap Nayla.


“Iya mbak siap… Apapun perintahnya akan saya lakukan” Jawab Pak Beni patuh.


Nayla pun tersenyum. Untungnya tak lama kemudian terdengar suara panggilan dari dalam kamar mandi.


“Mbaakkk” Ucap Putri memanggil.


“Ehh iya Put” Jawab Nayla segera menghampiri.


Terlihat Putri sudah selesai mandi. Aroma tubuhnya wangi. Wajahnya cerah. Kulit tubuhnya bersih mengkilat. Pak Beni yang melihatnya sekilas langsung terpana. Apalagi Putri itu masih muda dan saat itu juga masih telanjang bulat. Pak Beni yang jarang melihat akhwat telanjang langsung terpana. Namun karena merasa tak enak pada Nayla. Ia pun membuang muka demi menjaga pandangannya.


Nayla dan Putri memasuki kamar Nayla. Pintu ditutup. Pak Beni akhirnya bisa mengangkat kepalanya lagi.


“Cantik banget yah mbak Putri… Duh kalau nanti cuma berduaan gimana yah ? Bakal bahaya nih” Ucap Pak Beni sambil mengelusi penisnya yang sudah berdiri.


Kebetulan saat itu Nayla keluar dari dalam kamarnya. Akhwat cantik itu segera datang menghampiri Pak Beni. Ia lagi-lagi duduk di sebelahnya yang membuat jantung Pak Beni berdebar kencang.


“Putri setuju… Tolong titip Putri yah !” Ucap Nayla sambil tersenyum.


“Ssiii… Siiappp mbak… Siappp” Ucap Pak Beni grogi saat melihat senyuman di mata Nayla.


Gara-gara melihat tubuh polos Putri tadi. Nafsu pak Beni mendadak bangkit apalagi saat ditambah senyum indah Nayla. Nafsunya jadi menggebu. Tapi ia tak berhak melampiaskannya karena Nayla sendiri tidak memintanya. Serba salah. Ia tiba-tiba berada di situasi berbahaya. Ia jadi resah tapi tak memiliki pelampiasan.


'Duh gimana ini ?'


Batin Pak Beni kebingungan.


Tak berselang lama, Keluarlah Putri dari dalam kamar Nayla. Pak Beni terperanjat akan kecantikannya. Putri yang saat itu mengenakan gamis milik Nayla terlihat sangat mempesona. Gamis berwarna hitamnya yang dipadukan dengan hijab berwarna pinknya membuat kecantikan Putri semakin bertambah. Putri terlihat begitu sholehah. Mungkin tidak akan ada yang menyangka kalau Putri baru saja kehilangan keperawanannya. Putri terlihat seperti seorang ustadzah atau mungkin ibu hajjah. Pokoknya itulah, intinya pak Beni benar-benar terpukau akan kecantikan milik bidadari bercadar tersebut.


“Pak, bantuin” Ucap Nayla sambil menepuk paha pak Beni.


“Eh iya mbak” Jawab Pak Beni tersadar.


Pak Beni segera menghampiri. Ia dengan jantan menggendong Putri di depan. Tangan kanannya memegangi punggungnya serta tangan kirinya memegangi pergelangan lututnya. Putri pun reflek memegangi bahu pak Beni. Tak sengaja mata mereka bertemu. Putri menunduk malu-malu. Mereka terlihat seperti seorang pasangan saja. Pak Beni dengan malu-malu pun berjalan mendekati Nayla.


MEBYXIQ

https://thumbs4.imagebam.com/87/95/5d/MEBYXIQ_t.jpeg   87/95/5d/MEBYXIQ_t.jpeg

'ILUSTRASI PAK BENI GENDONG


“Lalu bagaimana mbak ?” tanya pak Beni.


“Sebentar… Aku liat ke luar dulu” Ucap Nayla sambil berjalan keluar.


Setelah melihat keadaan diluar aman. Ia menyuruh pak Beni segera keluar. Nayla pun menuntun pak Beni agar tidak dilihat oleh warga sekitar. Untungnya mereka berdua sampai di depan rumah dengan aman. Setelah itu giliran Nayla yang menaiki motor Putri untuk memarkirkannya di depan halaman rumah Pak Beni. Nayla pun masuk ke dalam. Disana ia melihat pak Beni tengah menidurkan Putri diatas ranjang tidurnya dengan jantan.


“Pak… Aku titip bentar yah” Ucap Nayla pada pak Beni.


“Iyya mbak… Saya akan menjaganya” Ucap pak Beni.


“Put… Aku berangkat dulu yah” Ucap Nayla mendekati Putri. Putri pun hanya mengangguk lalu membuka mulutnya untuk menitipkan pesan kepada bu Dona.


“Bilangin aku gak enak badan yah mbak… Maaf aku gak bisa ikut kesana” Jawab Putri.


“Iya aku akan bilang ke bu Dona… Gak usah minta maaf Put… Aku yang harusnya minta maaf” Ucap Nayla.


Nayla pun pergi setelah pamit terlebih dahulu kepada pak Beni.


MEBXDFG

https://thumbs4.imagebam.com/4b/1d/65/MEBXDFG_t.jpg   4b/1d/65/MEBXDFG_t.jpg

'NAYLA


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


MEBQ0WK

https://thumbs4.imagebam.com/57/93/42/MEBQ0WK_t.jpg   57/93/42/MEBQ0WK_t.jpg

'PUTRI


Pak Beni yang melihat Nayla sudah pergi diam-diam melirik ke arah kamarnya sendiri. Terlihat Putri tengah tertidur dalam posisi miring. Ia pun mengambil kesempatan ini untuk melampiaskan nafsunya yang menggebu sedari tadi.


“Maafkan saya mbak Put… Kalau diam-diam saya… Aaahhhhh… Aaahhhh” desah pak Beni sambil mengocok penisnya sendiri.


Pak Beni rupanya sudah memelorotkan celananya. Ia pun mengocok penisnya sambil menatap wajah cantik Putri. Entah kenapa dirinya lebih bernafsu pada akhwat sholehah ketimbang wanita cantik yang berpakaian terbuka. Meski ia sudah pernah melihat dalamannya, hal itu tidak serta merta meruntuhkan nafsu pak Beni untuk menyetubuhinya. Namun ia teringat kondisi Putri. Ia juga tak mungkin memperkosanya. Ia pun memutuskan untuk beronani saja untuk melampiaskan nafsu birahinya.


“Aaahhhhh… Aaahhhhh… Aaahhhh mbakk Puttt” Desah pak Beni dengan lirih.


Sementara itu Nayla sudah tiba kembali di dalam rumahnya. Ia buru-buru berjalan ke arah kulkasnya. Ia khawatir kalau pak Urip akan datang untuk menerornya lagi. Ia ingin pergi. Ia ingin bekerja agar tidak menetap di rumah bersama pembantunya lagi.


Nayla membuka kulkasnya. Ia mengambil botol berisi air minum. Ia langsung menenggaknya sekali lalu menutup pintu kulkasnya lagi.


“Huft untung masih inget… Meski udah jam 9 lebih gapapa kali yah” Ucap Nayla yang setelah itu baru melangkah pergi.


*-*-*-*

Sesampainya Nayla di tempat perfotoan. Andri sudah berdiri disana untuk menyambut kedatangannya. Terlihat wajah sumringah pada diri Andri. Andri terlihat sangat senang ketika wanita yang ia cinta akhirnya datang.


Setelah melepas helmnya, Nayla pun menghampiri Andri untuk bersama-sama menemui bu Dona.


“Loh Nay… Putri mana ? Kok gak keliatan ?” Tanya Andri heran.


“Hmmm Putri lagi sakit, Ndri… Tadi aku dikabarin kalau Putri gak bisa dateng kesini” Ucap Nayla sambil menunjukkan wajah sedihnya.


“Oalah kok bisa ? Sakit apa ?” Tanya Andri.


“Gak tau Ndri… Mungkin cuma kecapekan” Jawab Nayla berbohong.


“Oalah tuh kan… Kamu jaga diri yah… Jangan sampai sakit lagi… Kalau nanti emang capek, bilang aja yah biar bisa istirahat dulu” Ucap Andri perhatian.


“Iyya Ndri… Makasih” jawab Nayla tersenyum.


Andri merasa sedih mendengar kabar kalau Putri sedang sakit. Tapi membayangkan dirinya bisa berduaan bersama Nayla membuat hatinya berbahagia. Ia pun terus-terusan mencuri-curi pandang ke arah tubuh Nayla. Akhwat bercadar yang mengenakan pakaian serba putih itu terus dipandangi oleh Andri. Tidak hanya wajahnya, tapi juga tubuh indahnya.


'Itu beneran kan ? Kemarin mbak Nayla sampai telanjang pas video callan bareng aku ?'


Batin Andri sambil memperhatikan tubuh indah Nayla. Andri pun menenggak ludah. Ia tak dapat membayangkan indahnya tubuh seorang selebgram yang sedang dalam keadaan telanjang.


Jam demi jam berlalu. Pose demi pose sudah Nayla tunjukan dalam balutan busana syar’i yang dilakukannya secara bergantian. Tak terhitung sudah berapa kali Nayla berganti pakaian demi mempromosikan produk yang dibuat oleh bu Dona. Rasanya cukup lelah juga. Apalagi saat jam tak terasa sudah menjukkan pukul setengah tiga sore.


Untungnya sesi perfotoan sudah berakhir. Andri & Nayla pun duduk beristirahat di ruang perfotoan sambil memainkan hapenya. Nayla saat itu masih mengenakan gamis yang ia promosikan. Ia belum sempat berganti dengan pakaiannya sendiri. Ia dengan santainya duduk di salah satu kursi sambil membalas pesan dari suaminya.


“Nay… Gimana ? Gak terlalu capek kan ?” Tanya Andri caper.


“Eh Ndri… Engga kok… Enggak” Jawab Nayla tersenyum. Nayla pun kembali membalas pesan dari suaminya.


“Oh yah, syukurlah” Jawab Andri lega.


Namun ekspresi Nayla yang agak cuek kepadanya membuat Andri merasa kebingungan. Padahal kemarin saat video callan dirinya merasa akrab padanya. Nayla terlihat seperti membutuhkan dirinya. Tapi kenapa saat bertemu langsung Nayla malah bersikap seperti ini yah ?


'Apa jangan-jangan Nayla cuma baik ke aku kalau lagi butuh aja yah ? Ah enggak deh… Nayla orangnya gak kayak gitu… Mungkin Nayla emang lagi capek… Aku gak harus menganggunya sekarang…'


Batin Andri mencoba berfikir positif.


Alih-alih mengganggu Nayla yang sedang menikmati waktu sendirinya. Ia iseng memeriksa foto demi foto hasil jepretannya untuk mencari foto terbaik yang ingin ia tunjukkan pada Nayla. Andri tersenyum sendiri melihat kecantikan Nayla. Ia merasa bangga bisa menjadi fotografernya. Tapi ia akan lebih bangga lagi kalau bisa menjadi suaminya.


Nayla yang lagi asyik-asyik membalas sebuah pesan tiba-tiba merasakan sesuatu yang tak asing lagi. Ya, gejolak birahi kembali datang menghampiri. Ia pun bertanya-tanya kenapa diri sendiri kok bisa-bisanya ia merasakannya lagi ? Bukannya tadi ia sudah menengguk air ramuan dari dokter Amir ?


'Astaghfirullah… Aku harus cepet-cepet pulang ! Jangan sampai aku terangsang di tempat seperti ini !'


Batin Nayla gelisah.


Andri yang sedang melihat-lihat foto akhirnya menemukan satu foto yang bagus. Ia pun ingin menunjukkannya pada Nayla. Namun saat dirinya hendak menunjukkan. Tiba-tiba Nayla meminta izin untuk pamit setelah mengganti pakaiannya.


“Aku mau ganti baju dulu yah Ndri… Habis itu aku mau pulang… Kalau kamu mau pulang dulu ya duluan aja yah” Ucap Nayla buru-buru pergi.


Mumpung gairah birahinya masih belum tinggi. Ia ingin buru-buru pergi sebelum dirinya kesulitan untuk menahan diri lagi. Ia tak mau kejadian sewaktu pulang dari dokter mesum itu kembali terjadi pada dirinya. Ia tak mau kehilangan kendali dimana matanya terus menatap laki-laki yang ia temui di jalanan. Ia ingin segera pulang lalu menuntaskah hasrat birahi yang sedang menyerangnya.


Setelah memasuki ruang ganti pakaian. Nayla segera membuka gamisnya. Ia juga menurunkan roknya. Setelah ia melepas pakaian yang ia promosikan. Ia pun duduk bersandar pada kursi yang menghadap ke arah pintu masuk. Nayla yang masih mengenakan bikini melebarkan kakinya. Rupanya Nayla sudah tak kuat lagi sehingga ingin membelai vaginanya lagi.


“Mmpppphhhhh” desah Nayla menikmati.


Rupanya vaginanya sudah sangat basah. Ia tak menyangka racun di tubuhnya kembali aktif untuk mengacaukan pikirannya. Namun rasa nikmat yang semakin kuat membuatnya ingin menyentuh vaginanya lagi. Jemari Nayla pun turun untuk melebarkan lubang celana dalam untuk kakinya. Vaginanya terlihat. Kedua jemarinya pun ia masukan untuk merasakan kenikmatan yang tak tertahankan.


“Aaaaaaaahhhhhhh” desah Nayla hingga memejam.


'Kenapa enak banget ? Kenapa aku malah kambuh lagi sih ? Tuh kan jadi gak bisa berhenti !'


Batin Nayla menyesal.


Alih-alih langsung bangkit untuk mengenakan pakaiannya kembali. Ia malah meraba-raba bibir vaginanya sambil memejamkan mata. Ia juga menurunkan cup branya untuk menjepit putingnya menggunakan tangan satunya. Nayla benar-benar terangsang. Ia benar-benar menikmati masturbasinya di tempat kerjanya.


“Aaaaahhhhhh… Aaaaahhhhhhh” desah Nayla tak kuat lagi.


Tangan kirinya mencengkram kuat payudara kirinya. Tangan kanannya bergerak keluar masuk menusuk vaginanya. Wajah Nayla diangkat menatap langit-langit ruangan. Ia menikmati masturbasinya. Apalagi saat ia melakukannya sambil membayangkan pak Beni.


Terbayang bagaimana penis besar berwarna hitam itu keluar masuk membelah vaginanya. Terbayang bagaimana tubuh kekar itu menindihi tubuhnya lalu menremasi buah dadanya sekeras-kerasnya. Terbayang bagaimana bibirnya dengan beringas mencumbu bibirnya. Terbayang ia ditelanjangi lalu disetubuhi tanpa pernah berhenti.


Vaginanya semakin basah. Terdengar bunyi cipratan air dari dalam. Vagina Nayla membanjir. Rasa sangek ini benar-benar mengacaukan pikirannya lagi.


“Aaahhhhh… Aaahhhhhh… Aaahhhhhh” desah Nayla sambil membayangkan penis pak Beni keluar masuk dengan sangat cepat.


Tentu ia juga menggerakan jemarinya keluar masuk dengan sangat cepat. Akhirnya Nayla tak kuat lagi. Selebgram yang sedang dilanda nafsu birahi itu merasa ingin berorgasme lagi. Tubuhnya mengejang. Nafasnya berat tak karuan. Matanya terus memejam. Pikirannya membayangkan tubuh pria kekar yang sedang telanjang bulat dihadapannya.


“Ouuhhhhh… Ouuhhhh… Aaaahhhhhh paakkk” desah Nayla tak kuat lagi.


Akhirnya saat kedua jemarinya dimasukan begitu dalam ke dalam vaginanya. Semprotan dahsyat pun keluar dari dalam lubang vaginanya.


“Mmmppphhh kelluaaarrrr !” Desah Nayla merasa lega.


Bukannya berhenti. Jemari Nayla justru mengusap-ngusap bibir vaginanya yang membuatnya mendapatkan kenikmatan 'double' hasil dari masturbasinya. Nampaknya Nayla sudah semakin ahli dalam bermasturbasi belakangan ini. Rasanya sungguh nikmat. Nafasnya pun ngos-ngosan. Pandangannya agak kabur. Ia pun bersandar sambil memejamkan mata untuk menikmati sisa-sisa orgasmenya.


“Hah… Hah… Hah… Akhirnya… Lega” Lirih Nayla ngos-ngosan.


'Gilaaaa… Nayla sampai crot !'


Batin seseorang yang diam-diam rupanya sedang mengintipnya.


Pintu ruangan yang tidak ditutup rapat membuat Andri diam-diam bisa mengintipnya. Ia tak menyangka bisa melihat Nayla sedang bermasturbasi menggunakan mata kepalanya sendiri. Andri membeku di tempat. Mulutnya hanya bisa melongo di tempat. Ia seperti kebingungan setelah melihat kejadian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


“Hah… 'astaghfirullah'… Padahal ada Andri di luar… Kok aku malah kayak gini sih ?” Lirih Nayla yang baru menyesalinya.


'Apa ? Ada aku ? Apa jangan-jangan maksudnya, bisa aja Nayla memutuskan untuk bercinta denganku tapi Nayla sendiri malah memilih untuk bermasturbasi ? Apa Nayla menyesali perbuatannya ?'


Batin Andri berpikiran mesum.


“Boddoohhh… Booddoohhh… Jangan diulangi lagi Nay… Ayo pulang… Kamu pasti bisa kok sembuh dari kebiasan burukmu ini !” Lirih Nayla bangkit yang membuat Andri panik.


Andri pun menjauh menyadari Nayla sudah mau pergi. Terlihat Nayla sudah mengenakan kemejanya kembali. Andri pun kabur untuk bersembunyi atau setidaknya ia ingin bersikap biasa saja agar dirinya tidak dicurigai sudah mengintip aksinya tadi. Namun Andri bingung harus kemana. Ia pun memilih ke tempat parkir sambil berpura-pura bersiap untuk pulang kembali ke rumahnya. Seketika ia menyadari kalau sedari tadi dirinya membawa kameranya.


“Lah… Kenapa tadi gak sempet moto yah ?” Lirih Andri menyesal.


Padahal bisa saja dirinya memfoto Nayla yang sedang dalam keadaan telanjang. Padahal kan bisa ia menjadikan foto itu sebagai objek fantasinya di rumah. Andri menyesal. Namun saat melihat Nayla mendatanginya. Ia pun berusaha untuk bersikap biasa saja.


“Loh Ndri belum pulang ?” Tanya Nayla.


“Hehe belum Nay… Ini mau kok” Jawab Andri.


“Hati-hati yah di jalan” Ucap Nayla tersenyum.


“Iya Nay kamu juga yah” Ucap Andri perhatian.


Nayla pun pergi untuk pulang kembali ke rumahnya. Selama perjalanan meski dirinya merasa lega setelah mendapatkan masturbasinya. Ia merasa ada yang kurang. Ya, masturbasinya tadi terasa hampa sehingga ia kurang begitu puas saat melakukannya.


Akibatnya, gairah di tubuhnya masih ada meski tidak sekuat tadi. Jujur masturbasinya tadi terasa seperti mengurangi frekuensi nafsunya saja. Nafsu birahinya belum hilang. Hanya berkurang saja.


Ia pun berencana untuk menuntaskannya bersama suaminya di rumah. Ia bertekad untuk tidak melakukan zina lagi. Tidak dengan pak Beni apalagi pak Urip. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari keduanya. Ia tidak mau menodai tubuh indahnya lagi cuma gara-gara tak sanggup mengendalikan nafsu birahinya.


“Mas Miftah udah pulang belum yah ?” Tanya Nayla saat melihat ke arah jam tangannya.


*-*-*-*

Saat hendak sampai di rumahnya. Ia melewati rumah pak Beni. Ia sempat menghentikan motornya sejenak untuk melihat ke arah halaman rumah. Ia menyadari kalau Putri sudah pulang terlihat dari motornya yang tidak ada disana.


“Huft syukurlah kalau udah pulang… Tandanya Putri udah baik-baik aja kan ?” Tanya Nayla merasa tenang.


Saat wajahnya melongok ke arah halaman rumahnya. Ia menyadari mobil suaminya sudah ada disana. Nayla seketika tersenyum. Ia pun buru-buru pulang untuk menemui suaminya dengan segera.


Motor telah diparkir. Helm sudah dilepas. Nayla pun berjalan masuk sambil menoleh ke kanan juga ke kiri untuk mencari suaminya.


“Assalamualaikum” Ucap Nayla setelah mengetuk pintu rumahnya.


“Walaikumsalam” Jawab seseorang yang membuat wajah Nayla sumringah.


“Loh mas udah pulang ?” Tanya Nayla tak menyangka. Nayla pun segera mendekati suaminya untuk memberinya pelukan selamat datang.


“Udah dong” Jawab Miftah sambil merentangkan tangannya bersiap untuk menerima pelukan istrinya.


“Sejak kapan ? Kok gak ngasih tau ? Biasanya jam 4 baru pulang” Ucap Nayla dengan manja.


“Sebenarnya tadi waktu kita 'chattan' mas udah pulang loh… Cuma mau ngasih kejutan aja” Ucap Miftah yang membuat Nayla tersenyum.


“Oh yah ? Makasih” jawab Nayla bahagia.


“Oh yah, besok kita jalan-jalan yuk” Ajak Miftah mengejutkan Nayla.


“Jalan-jalan ? Kemana ? Emang mas gak kerja ?” Tanya Nayla heran.


“Loh, kan besok libur sayaanggg… Besok kan tanggal merah… Mentang-mentang udah gak sekolah jadi lupa hari libur nih ceritanya ?” Ucap Miftah yang membuat Nayla tertawa.


“Eh masa iya ? Hihihihi maaf, soalnya kan keseringan di rumah” Ucap Nayla tersenyum.


“Huh dasar… Pokoknya siap-siap buat besok yah” Ucap Miftah tersenyum.


“Ihhh emang mau kemana ?” Tanya Nayla penasaran.


“Rahaassiaaa” Jawab Miftah menggoda Nayla yang membuat istri cantiknya itu kesal.


Miftah pun pergi meninggalkan Nayla karena ingin mandi untuk menghilangkan hawa panas yang menyerangnya. Nayla hanya berdiri sebal saja namun tersenyum karena akan diajak jalan-jalan oleh suaminya.


Tiba-tiba Miftah kembali mendekat sambil membawa handuk yang ia kalungkan di lehernya.


“Oh yah dek… Pak Urip mana ?” Tanya Miftah pada istrinya.


“Eh… Gaakk… Gakk tau mas… Ada apa emangnya ?” Tanya Nayla terkejut ketika tiba-tiba suaminya menanyakan pak Urip.


“Nah itu dia… Paaakkkk” Panggil Miftah yang membuat Pak Urip bergegas mendekat.


Nayla ikut menoleh ke arah yang dituju oleh suaminya. Menyadari pak Urip mendekat dan berada tepat di sebelah kirinya membuat bidadari bercadar itu merasa tidak nyaman. Nayla pun bergeser ke kanan satu langkah untuk menjauh dari pria berperut tambun itu.


“Ini paakk… Tolong besok sopiri kami yah” Ucap Miftah mengejutkan Nayla.


“Maaassss” Ucap Nayla seolah tak terima.


“Hakhakhak… Mau jalan-jalan yah ? Saya diajak kan ?” Tanya Pak Urip tertawa. Nayla pun tak terima menyadari pak Urip akan menjadi sopir di perjalanan liburan mereka.


“Ya pasti dong… Kan bapak yang nyopir” Ucap Miftah sambil tersenyum lalu berkedip ke arah istrinya.


“Assyikk… Akhirnya bisa ikut liburan juga” Ucap pak Urip sambil menatap mesum majikan alimnya itu.


Nayla pun membuang muka. Ia sebal karena pembantu busuknya itu justru diajak liburan oleh suaminya.


“Tolong cek mesinnya yah pak ? Kalau perlu dibawa ke bengkel juga gapapa… Pokoknya besok mesin sudah harus siap sehingga liburan kita bakal berjalan nyaman”


“Siaaappp… Siaaappp… Akan saya lakukan pak” Ucap pak Urip sambil memberikan hormat kepada Miftah.


“Nih kuncinya” Ucap Miftah saat melempar kunci mobilnya kepada pak Urip.


Pak Urip pun menerima kunci itu. Baru setelah itu Miftah pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Menyadari suaminya sudah pergi. Nayla pun ikut pergi agar bisa segera menjauh dari pembantu tua itu.


“Eeeiitss mau kemana ?” Ucap Pak Urip sambil menahan lengan Nayla.


“Lepaskan pak… Aku mau ke kamar… Aku mau istirahat” Jawab Nayla dengan ketus.


“Hakhakhak… Loh jadi lonte kok gak sopan sih… Sambut saya dong ! Saya kan tuannya non” Ucap pak Urip yang membuat Nayla semakin kesal.


“Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi yah pak !” Ucap Nayla agak meninggi namun masih ia tahan karena tak mau kedengaran suaminya yang sedang mandi.


“Loh kok kurang ajar yah ! Udah berani melawan” Ucap pak Urip yang tiba-tiba mencengkram bokong montok Nayla.


“Aaaaaahhhhhhh” desah Nayla yang membuat pak Urip tersenyum.


“Saya tau selama ini non sembunyi di dalam rumah pak Beni kan ? Wah saya gak ngira non lebih memilih pak Beni daripada saya… Kurang apa sih saya dimata non ? Saya ini sudah sempurna… Saya aja jauh lebih tampan dari pak Beni” Ucap pak Urip tidak tahu diri.


“Hentikaann… Lepaskan tangan bapak !” Ucap Nayla sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan pak Urip di bokongnya. Untungnya pak Urip menurutinya. Tapi seketika wajahnya tersenyum sambil mendekap dagu Nayla dari luar cadarnya.


“Jangan pernah melanggar perintah saya lagi ! Ingat ! Non itu lonte saya… Non gak berhak melanggar perintah yang sudah saya berikan… Non harus nurut… Non harus patuh… Kalau non masih deket-deket sama cecunguk miskin itu… Saya gak akan segan-segan untuk menghamili mbak Putri” Ucap pak Urip yang membuat mata Nayla membuka lebar.


“Apa maksud bapak melibatkan sahabat aku ?” Tanya Nayla kesal.


“Tadi sewaktu mbak Putri pulang… Kebetulan saya ngikutin dia diam-diam… Untungnya saya jadi tahu dimana alamat tinggalnya… Kalau non milih deket-deket sama si sialan itu… Ya silahkan saja… Saya akan lampiaskan nafsu saya ke mbak Putri aja… Masuk akal bukan ? Jadi mau pilih yang mana ? Non pasrah aja ke saya atau non lebih milih mengorbankan temen non buat saya ?” Ucap pak Urip yang membuat Nayla marah. Nayla tidak mempunyai pilihan. Ia tak mungkin mengorbankan temannya yang sebentar lagi akan menikah itu. Tapi ia juga tak mau untuk menjadi budak nafsu dari pembantu bejatnya itu. Nayla bimbang. Ia mendesah pelan. Ia pun mulai membuka mulutnya.


“Tolong jangan libatkan Putri lagi… Kalau aku memilih pasrah apa bapak janji untuk tidak melibatkan Putri lagi ?” Tanya Nayla meski berat hati.


“Iya” Jawab Pak Urip sambil tersenyum.


“Kalau gitu janji jangan melibatkan Putri lagi !” Ucap Nayla yang membuat Pak Urip tertawa.


“Hakhakhak… Gitu dong… Itu baru pilihan yang bijak… Saya bangga dengan non” Ucap pak Urip yang membuat Nayla sebal dan ingin segera pergi.


“Eh mau kemana ?” Tanya pak Urip kembali menahan tangan Nayla.


“Udah kan ? Bapak udah selesai kan ? Apalagi yang bapak inginkan dariku ?” Tanya Nayla kesal.


“Jongkok” Ucap Pak Urip.


“Maksudnya ?” Tanya Nayla heran.


“Heh… Lonte itu harus nurut… Gak boleh banyak nanya” Ucap pak Urip yang membuat Nayla semakin kesal.


Nayla terpaksa berjongkok didepan selangkangan pak Urip. Tiba-tiba pria gendut itu mengeluarkan batang penisnya. Nayla terkejut menyadari penis pak Urip sudah berereksi secara maksimal.


“Sebagai bukti kalau non mencintai kontol saya… Ayo dong cium dulu” Ucap Pak Urip sambil mengocoki penisnya.


“Apa ?” Tanya Nayla tak percaya.


“Cium kontol saya… Cium palkon saya… Hakhakhak” tawa Pak Urip yang membuat Nayla mau tak mau menurutinya. Terpaksa Nayla pun mendekatkan cadarnya lalu mencium penis itu dari balik cadarnya.


“Dah, aku mau pergi” Ucap Nayla merasa terlecehkan.


“Loh belum… Angkat dulu dong cadarnya” Ucap pak Urip kembali menahannya.


“Bapaakkkk !” Ucap Nayla tak terima.


“Loh berani melawan nih ? Saya ke rumah mbak Putri aja yah kalau gitu ?” Ucap Pak Urip yang membuat Nayla mau tak mau menurutinya.


Nayla pun mengangkat cadarnya. Penis pak Urip jadi tertutupi oleh cadar berwarna putih itu. Tak lama kemudian pak Urip tersenyum saat merasakan sesuatu yang hangat menyentuh ujung penisnya.


Saat Nayla hendak menyudahi aksinya. Tiba-tiba pak Urip menahan kepala Nayla menggunakan tangannya. Nayla sontak mengangkat pandangannya tuk menatap wajah pria tua itu.


“Nanggung… Ayo sepong sekalian” Ucap pak Urip yang membuat Nayla hanya mendesah lemah.


Mulut Nayla pun membuka. Meski agak ragu, ia mulai memasukan penis hitam itu ke dalam mulutnya. Bibirnya pun menyapu kulit penis pak Urip. Lidahnya yang lembap juga menyapu kulit penis pak Urip. Pak Urip sampai merinding merasakan kehangatan dan kelembapan yang diberikan oleh mulut majikannya. Setelah ujung gundulnya mentok ke pangkal kerongkongannya. Nayla pun menyudahi aksi sepongnya sambil memberikan ekspresi jijik di wajahnya.


“Hakhakhak… Lonte pinter… Nah sekarang berdiri !” Ucap pak Urip mengejutkan Nayla.


“Apa lagiii ?” Ucap Nayla protes.


Namun jawaban pak Urip hanya tersenyum saja. Tiba-tiba pak Urip mengangkat cadar Nayla lalu mendekatkan bibirnya untuk mencumbu bibir Nayla. Nayla yang tak siap hanya bisa pasrah. Bibir mereka pun bertemu. Bibir mereka saling bersentuhan. Bibir mereka saling berciuman. Bibir mereka saling tubruk untuk memuaskan nafsu yang tak mampu lagi mereka tahan.


“Mmmpppphhhhhh” desah mereka bersamaan.


Khususnya pak Urip. Cumbuan yang ia lakukan pada bibir Putri di pagi hari membuatnya jadi ingin mencumbui bibir Nayla. Ia pun melampiaskannya sekarang. Tangan kirinya menahan bagian belakang kepala Nayla. Tangan kanannya menahan punggungnya. Sedangkan bibirnya terus maju untuk menghujami bibir manis akhwat bercadar itu. Bibir Pak Urip terus mendorong bibir Nayla. Bibirnya juga membuka untuk mengapit bibir atas Nayla. Setelah puas menghisap bibirnya ia pun melepaskan cumbuannya sejenak sambil menatap wajah cantik majikannya yang sudah berkaca-kaca.


“Malam ini saya tunggu di depan rumah… Kalau sampai jam 12 malam non gak keluar… Ya, jangan salahkan saya pokoknya… Hakhakhak” Tawa Pak Urip yang pergi begitu saja.


Nayla pun terdiam sambil mengusapi air matanya. Nayla merasa ketakutan. Ia terkejut melihat siapa laki-laki yang baru saja mencumbunya itu. Ia jauh berbeda dari pak Urip yang dulu ia kenal. Bahkan jauh berbeda dari pak Urip yang ia lihat kemarin. Makin kesini, pak Urip jadi semakin mengerikan. Rasanya seperti ada roh jahat yang sudah merasuki tubuh pak Urip. Atau jangan-jangan memang sikap aslinya seperti ini ?


“Malam ini ? Mau apalagi bapak memintaku keluar ?” Ucap Nayla heran. Ia pun buru-buru memasuki kamarnya saat menyadari suaminya hampir keluar dari kamar mandi. Ia tak mau suaminya menyadari air matanya yang baru saja keluar. Ia segera mengambil tisu lalu mengelapnya agar semuanya terlihat seolah tak terjadi apa-apa.


*-*-*-*

Jam sudah menunjukkan pukul 22.30 tepat.


Nayla sedang berada diatas ranjangnya bersama suaminya. Terlihat suaminya sudah bersiap untuk tidur. Suaminya itu pun menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang sambil memeluk tubuh Nayla.


“Tidur yuk… Gak sabar deh buat liburan bareng besok” Ucap Miftah tersenyum.


“Iya mas sama… Adek juga” Jawab Nayla berpura-pura tersenyum.


“Yaudah selamat tidur yah… Jangan lupa baca doanya” Ucap Mfitah dengan lembut.


“Iya mas, sudah”


Setelah itu mereka berdua pun sama-sama memejamkan mata. Dalam keadaan lampu yang agak remang-remang. Miftah tertidur sambil mengeloni istrinya dengan erat. Seketika terdengar suara ngorok dari mulut suaminya. Nayla pun menyadari kalau suaminya sudah tertidur pulas. Masalahnya ia harus menemui pak Urip di depan rumahnya demi menghindari ancamannya. Apakah bisa dirinya terbebas dari pelukan suaminya terlebih dahulu ?


Untungnya dengan sedikit pergerakan. Nayla bisa terbebas dari pelukan suaminya. Nayla pun menatap wajah suaminya sesaat seolah ia sangat menyesali perbuatannya. Ia pun mengecup keningnya diam-diam lalu meminta maaf kepadanya.


“Maafin adek mas… Adek cinta mas kok” Lirih Nayla.


Diam-diam Nayla mengganti piyamanya dengan kaus berlengan panjang berwarna abu-abu. Ia juga mengenakan hijab beserta cadar berwarna abu-abu. Ia menatap cermin sejenak sambil mengira-ngira apa rencana yang akan pak Urip lakukan kepadanya. Tapi ia tak menemukan adanya kemungkinan lain selain pak Urip pasti akan memperkosanya lagi. Nayla pun hanya bisa pasrah. Meski hatinya berat, ia harus menjalaninya ketimbang mengorbankan tubuh Putri.


MEBYXIT

https://thumbs4.imagebam.com/4a/fa/e7/MEBYXIT_t.jpg   4a/fa/e7/MEBYXIT_t.jpg

'NAYLA


Mengingat cuacanya cukup dingin. Nayla pun mengenakan jaket 'hoodie' berwarna merah lalu memasangkan tudungnya demi menutupi identitasnya. Nayla diam-diam keluar kamar lalu melihat ke arah jam dinding yang berada di ruang tamunya.


“Sudah mau jam 11… Mau apa sih pak Urip meminta aku keluar ?” Tanya Nayla kesal.


Saat Nayla sudah keluar dari dalam rumahnya. Terlihat pak Urip sedang nyantai di depan rumahnya sendiri sambil meminum secangkir kopi. Nayla pun menutup pintu rumahnya sendiri lalu menguncinya dari luar. Tak lupa ia menaruh kuncinya di ventilasi atas pintu yang kebetulan tidak terlalu tinggi. Ia pun berjalan keluar sambil menunduk ke arah pintu gerbang rumahnya. Pelan-pelan ia membuka gerbangnya sebagian lalu berjalan ke depan rumah pak Urip.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


Pak Urip tersenyum melihat ada akhwat cantik yang mengenakan jaket merah sedang mendekat ke arahnya. Pak Urip menenggak habis kopinya, lalu berjalan mendekat ke arahnya.


“Sayaannggg… Yuk kita mulai kencannya” Ucap pak Urip sambil merangkul pinggang Nayla.


“Kencan ?” Tanya Nayla.


“Iya, tapi kencan ini bukan sembarang kencan… Coba deh pakai ini dulu” Ucap pak Urip sambil memberikan sesuatu yang bentuknya mirip sayur tauge berwarna pink yang mana ada kepalanya juga ekornya.


MEBYXIS

https://thumbs4.imagebam.com/1e/a1/59/MEBYXIS_t.jpg   1e/a1/59/MEBYXIS_t.jpg

“Apa ini pak ?” Tanya Nayla penasaran.


“Udah pakai aja… Masukan ke dalam memekmu” Ucap pak Urip mengejutkan Nayla.


“Apa ?” Tanya Nayla kaget.


“Udah buruan… Apa perlu saya yang masukin ?” Ucap pak Urip yang membuat Nayla ketakutan.


Nayla dengan terpaksa memasukan benda aneh itu ke dalam vaginanya. Rasanya agak geli-geli gimana gitu. Apalagi saat benda itu mulai masuk membelah vaginanya. Nayla sampai bergidik nikmat. Tapi ia juga jadi kesulitan berjalan. Pokoknya Nayla merasa sangat tidak nyaman saat benda itu berada di dalam vaginanya. Namun ia tetap membiarkannya demi mematuhi perkataan pak Urip.


“Yuk kita jalan” Ucap pak Urip sambil tersenyum. Pak Urip bahkan sampai menggandeng lengannya. Meski Nayla merasa risih dengan senyuman busuk itu. Setidaknya kalau cuma diajak jalan-jalan itu lebih baik daripada diajak bercinta.


'Hah setidaknya aku gak perlu melayani nafsunya lagi !'


Batin Nayla agak sedikit lega.


Kedua insan yang berbeda zaman itu berjalan bersama-sama. Pak Urip tampak sumringah bisa menggandeng lengan akhwat bercadar yang memiliki tubuh sempurna. Ia sesekali juga merangkul pinggang Nayla. Senyumnya yang lebar merekah. Pokoknya pak Urip terlihat bahagia. Bahkan saat melewati pasangan muda-mudi yang asyik berpacaran, Pak Urip tampak bangga seolah akhwat bercadar yang sedang digandengnya itu adalah pasangannya.


Jalan di malam itu agak ramai. Hari libur di keesokan harinya menjadi penyebabnya. Tak heran banyak pasangan muda-mudi yang berjalan-jalan untuk berpacaran. Pak Urip pun memanfaatkan kesempatan itu untuk memamerkan pasangannya. Tak jarang ia berbicara dengan sendiri seolah mengatakan “ini loh pacar saya”.


Nayla sampai malu. Sedari tadi wajahnya terus menunduk. Ia pun diam-diam menggelengkan kepala. Ia merasa dipermalukan. Untungnya ia mengenakan jaket 'hoodie'. Ia pun mengenakan tutup kepalanya demi menyembunyikan identitasnya.


'Sabar Nayla… Sabarr… Setidaknya ini lebih baik daripada diperkosa…'


Batin Nayla mencoba berfikir positif.


Hampir 100 meter mereka berjalan. Iler pak Urip tiba-tiba keluar saat mencium aroma nasi goreng yang sedang dimasak.


“Non saya laper… Makan yuk” Ucap pak Urip saat melihat ada sebuah warung nasi goreng yang berada tak jauh dari rumahnya.


“Eh laper ?” Tanya Nayla terkejut.


“Tuh aromanya enak banget… Nasgornya pak Tomi enak banget kan ?” Tanya pak Urip.


“Ehh iya… Iya sih nasgornya pak Tomi emang terkenal… Tapi, bapak mau makan disana nih ?” Kata Nayla agak ragu. Nayla merasa ragu karena sebetulnya dia dan suaminya cukup sering makan bersama disitu. Nayla pun merasa tak nyaman andai nanti pak Tomi curiga melihat dirinya berjalan berdua bersama pembantunya malam-malam.


“Iya lah… Yookkkk” Ucap pak Urip sambil menarik lengan Nayla.


Nayla pun terpaksa ngikut saja. Sebisa mungkin ia mencoba menutupi wajahnya agar pak Tomi tidak mengenalinya.


MEBYXIV

https://thumbs4.imagebam.com/81/ad/97/MEBYXIV_t.jpg   81/ad/97/MEBYXIV_t.jpg

'WARUNG NASGOR PAK TOMI


“Pak… Nasgornya dua yah… Es tehnya juga dua” Ucap pak Urip pada pak Tomi.


“Dua porsi yah pak… Loh eh, pak Urip sama mbak Nayla rupanya” Ucap pak Tomi yang seketika langsung mengenali mereka berdua. Nayla yang sudah ketahuan tidak memiliki alasan lain untuk menyembunyikan wajahnya. Ia pun mengangkat wajahnya. Ia hanya tersenyum malu menyadari dirinya ketahuan oleh pak Tomi.


“Iyya dong pak… Hakhakhak” Tawa Pak Urip tampak bangga. Apalagi tangan pak Urip masih mendekap jemari Nayla. Dekapannya sangat erat seolah tak mau melepaskan dirinya.


“Oh yah pak… Mau makan disini apa dibawa pulang ?” tanya pak Tomi sambil memanaskan minyak.


“Disini aja pak… Kapan lagi bisa makan enak di luar rumah” tawa pak Urip sambil menatap wajah Nayla.


Nayla yang terus diam sedari tadi hanya bisa memperhatikan sekitar. Di dalam warung itu terdapat sepasang pasangan muda yang sedang makan bersama. Mereka terlihat seperti anak seusia SMA. Terlihat si laki-laki dari pasangan itu terus memperhatikannya. Nayla pun membuang muka sambil mencoba bersikap biasa saja.


“Hakhakhak” Tawa pak Urip saat mengambil sesuatu dari saku celananya.


Nayla yang sedang bersikap cuek tiba-tiba merapatkan kakinya saat merasakan adanya getaran yang merangsang vaginanya.


“Mmpphhhhh” desah Nayla cukup keras yang membuat semua orang di warung itu menatapnya.


“Eh mbak kenapa ? Mbak gapapa ?” Tanya pak Tomi sambil menatap Nayla.


“Gapapa pak… Gapapa… Tadi aku . . .” Ucap Nayla terpotong.


“Aduhhh buruan pak… Liat kan mbak Nayla jadi sakit perut… Mbak Nayla udah laper banget tuh” Ucap pak Urip sambil tersenyum menatap Nayla.


“Oalah… Iya iyya… Tahan bentar yah mbak” Ucap pak Tomi sambil melanjutkan memasaknya.


Terlihat pasangan dari laki-laki itu ditampar oleh pasangannya. Nampaknya pandangan dari lelaki itu tak bisa dipalingkan dari keindahan Nayla. Apalagi tadi saat mendengar desahan suaranya yang menggoda. Siapa lelaki yang tidak terangsang mendengar suaranya ? Itu juga yang dialami oleh lelaki dari pasangan muda itu juga yang dirasakan oleh pak Tomi.


'Mbak Nayla kalau laper kok malah mendesah yah ? Kaget tadi saya pas dengernya…'


Batin pak Tomi sambil memasak.


“Apa yang bapak lakukan ?” Bisik Nayla kepada pak Urip.


“Hakhakhak… Nikmati apa yang saya berikan saat ini, non” Ucap pak Urip tiba-tiba menambah volume getarannya.


“Mmmppphhhh” Nayla kembali mendesah. Bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tangan kirinya bahkan memegangi vaginanya dari luar celananya. Tangan kanannya memegangi gerobak nasgor milik pak Tomi. Tubuhnya agak menunduk. Kedua kakinya semakin rapat.


'Hakhakhak… Pasti nikmat banget yah mbak, rasanya…'


Batin pak Urip saat melihatnya.


“Heh jangan liat !” Terdengar suara perempuan dari pasangan muda itu saat menegur pacarnya.


“Iyya maaf sayaaanggg” Jawab laki-laki itu meski sesekali masih melirik Nayla.


'Duuhhhh kenapa getarannya kuat bangettt ? Apa maksud semua ini pak !'


Batin Nayla kesal.


Pak Urip diam-diam berjalan ke arah belakang Nayla. Matanya pun melihat ke sekitar untuk memeriksa keadaan. Setelah dirasa aman. Tangan kanannya tiba-tiba menepuk bokong Nayla lalu meremasnya dengan kuat.


“Mmmpphhhhh” desah Nayla sekali lagi. Kali ini Nayla menoleh menatap pak Urip. Tatapannya terlihat kesal, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


'Sudah kuduga pasti ada yang gak beres dari rencana pak Urip… Tapi aku gak menduga kalau rencananya akan seperti ini ? Mmmmppphhh kenapa jadi seperti ini sih… Mmpphhh enakk bangettt…'


Batin Nayla diam-diam.


Laki-laki dari pasangan muda itu diam-diam menganga saat melihat tangan dari pak Urip berada di bokong Nayla. Perempuan yang duduk disebelahnya juga menyadari aksi pak Urip. Tangannya pun ia naikan untuk menutup pandangan pacarnya.


“Jangannn diliaat !” Tegur si perempuan kesal.


“Gimna non ? Enak kan rasanyaaa… Aahhh pasti enak… Gimana rasanya ? Rasanya kayak lagi diobok-obok yah memeknya ?” Lirih pak Urip yang membuat Nayla semakin kesal.


“Hentikaann paakk… Tolloonnggg !” Pinta Nayla dengan gelisah.


“Ohhh tidak bisa” Ucap pak Urip tersenyum. Tiba-tiba pak Urip kembali menekan remotnya yang membuat getaran di vagina Nayla semakin kuat.


“Aaaaahhhhh paakkkk” desah Nayla kali ini sampai berlutut disamping gerobak itu.


“Mbaakkk… Ini udah mau mateng mbak nasgornya… Tahan bentar yahhh” Ucap pak Tomi kaget mendengar desahan Nayla lagi.


“Hakhakhak” Pak Urip hanya tertawa sambil melihat keadaan Nayla. Nayla pun merasa tak sanggup lagi. Ia sudah dipermalukan. Ia begitu murka. Namun getaran di vaginanya malah membuatnya semakin terangsang.


Nayla terus memegangi vaginanya. Nafasnya memberat. Nayla langsung ngos-ngosan meski daritadi dirinya hanya diam menahan rangsangan. Tangannya jadi ikut-ikutan untuk membelai payudaranya sendiri. Nayla berlutut sambil meremasi payudaranya sendiri. Rasanya amat nikmat. Meski ia tak ingin melakukannya, ia pun terpaksa melakukannya sambil menatap wajah pembantunya.


Kedua pasangan muda-mudi itu melongo melihat Nayla yang sedang meremasi payudaranya sendiri.


“Hah… Hah… Hah… Mmppphhhh” Desah Nayla kali ini sambil menaruh kepalanya ke tanah. Kedua tangannya juga ia taruh ditanah. Ia seperti sedang bersujud. Namun tangan kirinya ia tarik untuk memegangi vaginanya.


'Aaaahhhhhh ennaakkk banggeetttt !'


Batin Nayla tak sanggup menahannya lagi.


“Tahaannn nonnn… Tahaannnn… Bentar lagi nasinya mau jadi” Bisik pak Urip secara diam-diam sambil mengusapi bokong Nayla yang tengah menungging.


Pasangan muda yang melihat kejadian itu langsung berdiri. Terutama si perempuan yang tak tahan lagi melihat pacarnya terus melihat kejadian yang terjadi pada akhwat bercadar dan pria tua itu.


“Sayaangg pergi yukkk” Ucap si perempuan sambil menarik lengan pacarnya.


“Ehh sayangg, tapi nasinya belum abis” Ucap si laki-laki tak ingin meninggalkan tempat ini. Selagi mereka berjalan keluar, matanya terus melihat aksi mesum pak Urip. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat betapa beruntungnya pria tua itu bisa mengusapi bokong si akhwat bercadar.


“Udah makan ditempat lain aja… Disini ada lontenya” Ucap si perempuan dengan lirih namun terdengar di telinga Nayla. Pasangan muda-mudi itu pun pergi meninggalkan luka di hati Nayla.


“Hakhakhak… Denger kan ? Mereka aja tahu siapa dirimu” Ucap pak Urip kali ini sambil mematikan remot kontrolnya.


“Hah… Hah… Hah” Nayla yang agak baikan pelan-pelan mulai berdiri. Matanya berkaca-kaca saat menahan getaran tadi. Ia pun menatap benci meski sebenarnya sangat menikmati. Diam-diam ia sangat ingin menampar wajah dari pria tua itu.


Namun pak Urip hanya tersenyum sambil menunjukkan remot yang sedang ia pegang. Ia seolah berkata kalau berani nampar maka tombol remot akan ditekan lagi. Nayla pun mengurungkan niatnya meski dirinya sangat ingin memberikan pelajaran ke pembantunya itu.


“Tolong jangan permalukan aku lagi ! Hah… Hah… Hah…” Ucap Nayla dengan kesal.


“Hakhakhak… Kita lihat saja nanti” Bisik Pak Urip tersenyum.


“Fiyuhhh maaf agak lama mbak… Ini nasinya… Mau duduk dimana ?” Ucap pak Tomi yang terlalu fokus memasak sehingga melewatkan aksi mesum yang tadi dilakukan oleh pak Urip.


“Disini aja pak… Di dekat gerobak aja biar gak kejauhan” Ucap pak Urip sambil mempersilahkan Nayla untuk duduk duluan. Pak Urip bahkan menarik kursi untuk Nayla yang membuatnya terlihat begitu 'gentleman'. Setelah Nayla duduk. Barulah pak Urip ikut duduk dihadapannya.


“Ayo dimakan non… Non kelaperan kan ? Hakhakhak” Tawa pak Urip yang langsung menyantap nasi gorengnya.


Nayla lagi-lagi tak menjawab. Ia yang begitu kesal terpaksa memakan nasi goreng itu. Sambil makan, tak sengaja ia teringat kejadian memalukan itu lagi. Wajahnya memerah. Ia pun merasa sedih karena disebut lonte oleh anak yang masih berada di bangku SMA.


“Hah dasar anak-anak… Masa nasi seenak ini gak dihabisin” Ucap Pak Tomi kesal melihat nasi buatannya tak dihabiskan oleh pasangan muda-mudi itu. Pak Tomi pun terpaksa membuang nasi itu ke ember. Ia pun membersihkan piring tersebut sambil membiarkan Nayla dan pak Urip menyantap nasi goreng buatannya.


“Gimana ? Enak kan non ?” Tanya pak Urip yang sudah menghabiskan setengah porsi dari nasi gorengnya.


“Diem !” Ucap Nayla saking kesalnya.


“Hakhakhak… Mau saya aktifin lagi nih ?” Ancam pak Urip sambil menunjukkan remotnya.


Nayla pun hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah. Ia pun kembali menyantap nasi gorengnya sambil menundukkan wajahnya.


'Hah… Sabar Nay… Sabar… Habis selesai makan semuanya bakal selesai kok…'


Batin Nayla mencoba menyemangati diri sendiri.


Setelah pak Urip menghabiskan nasi gorengnya. Ia melihat piring Nayla yang tinggal menyisakan sekitar 2 suap lagi. Pak Urip tiba-tiba berdiri lalu merogoh sakunya lagi.


'Hmmm nasgornya pak Tomi emang enak banget sih… Aku aja sampe lupa kalau tadi aku abis di . . . . .'


Batin Nayla terpotong.


“Mmmpphhhh bapaaaakkkk !” Desah Nayla langsung berdiri lalu menundukkan tubuhnya seperti sedang melakukan posisi rukuk. Tangan kirinya kembali memegangi vaginanya. Wajahnya pun ia tunjukkan untuk menatap wajah pak Urip.


“Ehhh mbak Nayla kenapa lagi ?” Tanya pak Tomi yang terkejut saat sedang mencuci piring.


“Eh tenang aja pak… Non kenapa ?” Tanya pak Urip seolah tidak tahu apa-apa.


“Hentiikaannn paakkk… Mmpphhhh” Tubuh Nayla langsung bergidik merasakan kenikmatan yang tak tertandingi.


“Loh kok sampai gemeteran gitu ? Hakhakhak… Apa yang salah, bokongnya yah ?” Tanya pak Urip sambil menampar bokong Nayla.


'Plaaaakkkkk !'


“Aaaahhh paaakkk” desah Nayla dengan manja.


“Ehh bapakkk kok gitu ?” Ucap pak Tomi terkejut melihat sikap pak Urip.


“Loh bukan yah ?” Tanya pak Urip kali ini sambil meremas-remas bokong Nayla.


“Aaaahhhh… Aaaahhhhhhh” desah Nayla sambil menahan tangan pak Urip agar tidak meremas bokongnya lagi.


“Paakkk… Bapaakk kok . . .” Ucap pak Tomi yang hanya bisa membeku melihat kejadian didepannya. Di lain sisi ia kebingungan harus berbuat apa tapi di lain sisi ia juga terangsang gara-gara mendengar desahan Nayla.


“Aaahhhhh… Aaahhh paakkk toloongg hentikaannn… Jangann lagiii… Mmpphhhh” desah Nayla tak kuat lagi sambil mengelus-ngelus vaginanya.


“Oalah memeknya yah ? Memek non kenapa emangnya ?” Ucap pak Urip kali ini sambil menekan vagina Nayla dari belakang.


“Aaaaaahhhh bapaakkk jangann digituinnn” desah Nayla bergairah.


Pak Tomi pun menganga lebar melihat aksi pak Urip pada Nayla.


Nayla berdiri tegak sambil bersandar pada dada pak Urip. Mulutnya menganga lebar dari balik cadarnya. Tekanan jemari pak Urip di vaginanya semakin menambah rangsangan yang menggetarkan birahinya. Jujur rasanya sungguh nikmat. Ia perlahan mulai menikmatinya. Ia pun tak peduli lagi pada keadaan sekitar akibat nafsunya yang semakin membara.


“Kenapa sihhh ? Coba saya cek yah ?” Ucap pak Urip kali ini dengan berani saat memasukan tangannya ke dalam celana Nayla.


“Ehhh bapaaakkk !” Ucap pak Tomi terkejut untuk kesekian kalinya. Bahkan ia memegangi kepalanya menggunakan kedua tangannya.


“Aaahhhh… Aaahhhhh… Aaahhhhh iyaahhhh… Aaahhhhh” desah Nayla yang tak kuat lagi sehingga tanpa sadar malah menikmati aksi jemari pak Urip.


“Gatel yah memek non ?” Tanya pak Urip sambil tersenyum.


“Aaahhhhh… Aaahhhh… He’em” Jawab Nayla mengangguk malu-malu.


“Hakhakhak… Saya garuk boleh ?” Tanya pak Urip mengejutkan pak Tomi lagi.


“Aaahhhh… Toloonggggg” Jawab Nayla sambil mengangguk karena tak kuat lagi.


'Aaahhhhh… Aaahhhh… Duhhh, aku gakk kuat lagiii… Aaahhhh kenapa gatel bangettt… Aahhh maafin aku masss… Maafin aku lagii… Aku gak kuat menahannya lagi…'


Batin Nayla setelah dirangsang habis-habisan menggunakan vibrator itu.


“Oke deh… Tapi saya garuknya pake kontol yah” Ucap pak Urip sambil memelorotkan celananya kemudian mengeluarkan penisnya.


Sontak Nayla dan pak Tomi yang berada disana terkejut saat mendengarnya. Belum hilang rasa terkejut yang mereka terima. Tiba-tiba pak Urip menurunkan celana Nayla lalu menarik benda aneh yang tadi ia selipkan ke dalam vagina Nayla.


“Aaaahhhh iyyaaahhhh… Aaahhhh bappaakkkk” desah Nayla hingga menggelinjang saat vibrator itu dikeluarkan dari dalam vaginanya.


“Oalah pantes ada ginian di dalam memek non… Liat deh geter-geter gitu… Gimana sekarang, udah gak gatel lagi kan ?” Tanya pak Urip sambil tersenyum.


“Hah… Hah… Masiihhh… Masihh pakkk” Desah Nayla ngos-ngosan sambil menatap pak Urip.


“Ah yang bener… Tapi ini kan udah dikeluarin… Yaudah saya naikin lagi yah celananya” Ucap pak Urip sambil menaikan celana Nayla.


“Tapiii pakkk… Akuuu aahhhhh” desah Nayla dengan gelisah. Akhirnya tangan kirinya kembali mengusap-ngusap vaginanya dari luar celananya. Ia tak sanggup menahannya. Ia pun terpaksa melakukannya sendiri sambil menatap wajah pak Urip.


“Ohhh minta digaruk aja nih ? Yaudah, saya garuk pake kontol aja yah” Ucap pak Urip mengejutkan Nayla.


“Ehhh Taapppii… Tappii… Ituuu” Ucap Nayla mendadak ragu.


“Lohhh gimana ? Mau digaruk apa enggak ?” tanya Pak Urip yang kali ini memelorotkan celana Nayla hingga ke lutut lalu menekan klitorisnya yang membuat pinggul Nayla bergoyang. Tubuhnya juga menggelinjang. Mulutnya mendesah girang.


“Aaaahhhhhh iyaahh… Iyyahhh akuu mauu… Terserah bapak aja… Aaahhhh” Ucap Nayla yang kehilangan akal sehatnya akibat rasa gatal yang kembali mendera vaginanya.


Pak Tomi diam termangu mendengar pembicaraan mereka berdua. Ia tak menyangka kalau Nayla selama ini menggunakan vibrator di dalam vaginanya. Ia jadi bertanya-tanya, apa benar selama ini Nayla menggunakan vibrator di kehidupan kesehariannya ? Lalu apa benar pak Urip biasa melakukan hal seperti ini kepada Nayla ?


Ditengah-tengah pertanyaan yang muncul dikepalanya. Ia terkejut saat melihat pak Urip sedang mendekatkan penisnya yang mengeras ke dalam vagina Nayla. Pelan-pelan penis itu mulai masuk membelah liang senggama Nayla. Nayla pun mendesah manja. Tidak ada penolakan pada dirinya. Akhwat bercadar itu hanya menungging sambil bertumpu pada meja makan yang ada di hadapannya. Pak Urip lalu menarik mundur penisnya lagi. Lalu saat tersisa setengahnya, ia kembali mendorong pinggulnya lagi. Saat hampir mentok ia menarik penisnya lagi lalu dirinya mendorong penisnya lagi. Kemudian ia menarik penisnya hingga menyisakan ujung gundulnya di bibir vaginanya. Pak Urip tersenyum. Sambil memegangi pinggul Nayla, ia mendorong pinggulnya sendiri dengan kuat hingga terasa ujung gundulnya menyundul rahim dari akhwat bercadar itu.


MEBYXIT

https://thumbs4.imagebam.com/4a/fa/e7/MEBYXIT_t.jpg   4a/fa/e7/MEBYXIT_t.jpg

'NAYLA


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


“Aaaaahhhhh bapaaaaakkkkk” desah Nayla keenakan.


“Aaaahhhh mantapnyaaaa” desah pak Urip sampai merinding.


'Gilaaa itu sampe masuk anunya ?'


Batin pak Tomi sambil menjambak rambutnya sendiri.


Nayla yang sudah kehilangan akal sehatnya hanya bisa pasrah saat penis pak Urip keluar masuk menggaruk vaginanya. Rasanya sangat enak saat benda keras berwarna hitam itu terus menggesek dinding vaginanya. Mata Nayla merem melek keenakan. Mulutnya sedari tadi membuka mengeluarkan desahan yang begitu menggoda. Kedua tangannya mencengkram tepi meja. Meski tahu pilihannya ini salah, tapi ia tak memiliki pilihan lain lagi saat nafsunya telah bangkit menguasai diri.


'Aahhhhh… Aaahhhh… Maafin aku maass… Maafin akuu… Aaaahhhh…'


Batin Nayla diam-diam.


“Ouhhhh nakal banget kamu non… Nakal banget pake vibrator segala… Pasti non sengaja yah buat ngegoda saya ?” Tanya pak Urip sambil menampar bokong Nayla.


'Plaaaakkkk !'


“Aaahhhh engggaakkk… Bukaann aku yanggg… Aaahhhhh” Desah Nayla terpotong saat tamparan kedua mengenai bokongnya.


'Plaaakkkkk !'


“Aaahhhh… Aaahhh… Udah jujur aja… Non sengaja ngajak saya keluar biar bisa ngentot di warungnya pak Tomi kan ?” Ucap pak Urip terus melemparkan fitnah kepada akhwat bercadar itu.


“Aaahhhh enggaakk… Enggaakk… Aku gak pernaahhhh… Aaaahhhhh” desah Nayla saat terkena tamparan ketiganya.


'Plaaaakkkk !'


“Aaahhhhh… Aaahhhhh… Dasaaarr lonteee… Dasaaaarr lonte sukanya godain !” Ucap pak Urip sambil terus menampar bokong Nayla hingga memerah.


Pak Tomi diam-diam mulai terangsang. Ia tak sanggup bertahan dari tontonan langsung yang terjadi di depan matanya. Diam-diam ia mengelusi penisnya dari luar celananya. Ia benar-benar takjub melihat Nayla yang sangat terkenal di kompleksnya sedang disetubuhi oleh pembantunya sendiri.


“Aaahhhhh… Aaahhh… Aaahhhh paakkkkkk” desah Nayla dengan manja.


“Kenapa non ? Aaahhhh… Aaahhhh… Kurang keras yah ?” Tanya pak Urip sambil mendesah.


“Aaaahhhhh iyaaahhhh… Iyaahhhh” desah Nayla malu-malu mengakui.


“Hakhakhak… Maaf non baru makan soalnya… Ini rasakan ini !” Ucap pak Urip memperkuat sodokannya.


“Aaaahhhhh iyaaahhhh… Iyaaahhhhh… Aaahhhhhhh bappaaakkkk” desah Nayla dengan manja hingga tubuhnya terdorong maju mundur dengan cepat.


Kedua tangan pak Urip menarik bahu Nayla ke belakang. Nayla jadi agak berdiri. Kedua tangan pak Urip kemudian masuk ke dalam kaus yang Nayla kenakan. Resleting jaketnya yang sudah turun sedari tadi membuat pak Tomi bisa melihat tonjolan tangan pak Urip yang sedang meremasi dada bulat Nayla. Pak Tomi tak tahan lagi. Ia pun mengeluarkan penisnya sambil mengocok ditengah persetubuhan mereka berdua.


“Aaaahhhh… Aahhh paakkk pellaannn… Aahhhh jangann kuat-kuat” Desah Nayla merasakan perih didadanya.


“Aaaahhhhh… Aaaaahhhhh mana bisa nonnn… Aaahhh nikmat sekaalliiiii” Ucap pak Urip kali ini sambil menaikan kaus Nayla hingga susu bulatnya terlihat.


Tubuh Nayla kembali ditundukkan. Nayla kembali menungging memegangi tepi meja dihadapannya. Terlihat susunya menggantung indah. Beha yang dikenakannya sudah turun membuat susunya itu semakin bebas dalam bergoyang.


Setiap pak Urip menyodok vagina Nayla maka bergoyanglah kedua payudara itu dengan indah. Suara desahannya yang terucap dari mulut Nayla menambah sensasi gairah yang sungguh menggugah. Pak Tomi jadi semakin bersemangat mengocok penisnya. Ia benar-benar terpana akan keindahan persetubuhan mereka berdua. Persetubuhan dari seorang akhwat bercadar bertubuh indah dengan seorang lelaki tua berperut tambun yang memilki wajah pas-pasan bahkan cenderung dibawahnya lagi. Namun Nayla malah terlihat keenakan. Ekspresi wajahnya yang sangat menikmati menambah sensasi tersendiri bagi pak Tomi saat mengocok penisnya.


“Aaaahhhhhh… Aaahhhh… Aaaahhhh paaakkkkk akuu mauu kelluaaarr” desah Nayla mengejutkan pak Tomi dan pak Urip.


Sodokan demi sodokan yang Nayla rasakan akhirnya mulai menstimulus cairan cintanya untuk keluar mendekati lubang kencingnya. Tanpa sadar Nayla menggigit bibir bawahnya sendiri. Ia tak mengerti kenapa dirinya bisa merasakan kenikmatan seperti ini. Tiap kali pak Urip memajukan pinggulnya, terasa penis hitam itu masuk menyundul rahimnya. Tubuhnya jadi ikut maju ke depan. Payudaranya juga terlempar maju ke depan. Bulu jembut pembantunya juga menggelitiki bibir vaginanya. Rasanya amat sangat nikmat. Sebenci-bencinya Nayla, ia terpaksa mengakui kalau dirinya sangat menikmati pemerkosaannya kali ini.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh… Keluarkan aja non… Jangan ditahan-tahan !” Ucap pak Urip jadi semakin bersemangat menggenjot rahim Nayla.


Pak Urip memperkuat hujaman penisnya. Ia juga mempercepat frekuensi genjotannya. Hasilnya Nayla semakin mendesah kencang. Ia semakin merasakan betapa beringasnya pak Urip saat sedang menyetubuhi dirinya. Tangan pak Urip berulang kali mengelus-ngelus perut mulus Nayla. Usapannya pun menyamping tuk mengelus pinggang rampingnya. Lagi tangannya mendekap pinggul Nayla agar pinggulnya sendiri bisa fokus maju mundur menghajar rahim majikannya. Pak Urip tersenyum saat merasakan denyutan pada vagina majikannya.


“Aaaahhhhhh… Aaahhhhh… Bapaaakkkk… Bappaakkkk… Akuuuu mmpphhhh” desah Nayla tak kuat lagi.


“Aaahhhhh… Aahhhh… Ayooo kelluaarkaannn… Keluarkan semuanya non… Jangann ada yang ditahaannn !” Desah pak Urip menyemangati.


'Aaahhhhh… Aaahhhhhh… Sebentar lagiiiii… Sebentar lagi aku bisa keluar dari siksaan birahi ini… Maafin aku maassss… Aku gak kuat… Aku lagi-lagi gak kuat menahan hawa nafsuku sendiri… Maafkan diriku yang sering berzina dibelakangmu maassss….'


Batin Nayla menyesal.


'Plookk… Plookk… Plookk…'


Pinggul mereka terus bertemu, saling bertubrukan, saling berbenturan. Deru nafas mereka bersatu. Suara desahan mereka menyatu laksana paduan suara yang sedang menyanyikan sebuah lagu. Lagu terindah yang dinyanyikan oleh dua insan yang tengah bernafsu. Pinggul pak Urip berpacu. Penisnya terus memburu menyedot cairan cinta Nayla yang masih sembunyi malu-malu. Tangannya yang gemas meraba susu. Tangan satunya lagi menarik tangan Nayla hingga pak Tomi dapat melihat goyangan susu Nayla yang terus bergondal-gandul.


Nayla merasa tak kuat lagi. Dirinya sudah tak kuat setelah dirangsang seharian oleh pembantu tuanya itu.


“Aaahhhhh… Aaahhhhh… Akuuuu… Akuuuuu” Desah Nayla ngos-ngosan.


“Oouuhhhh… Ouuhhhhh… Rasakaannn inniii… Rasakaaannn kontol saya inniiii !” Ucap pak Urip bersemangat.


“Aaaahhhh… Aaahhhhh… Iyyyaahhhh… Iyyaahhh… Akuuu… Aaaahhhhhhhh” Desah Nayla saat pembantunya itu menyodokkan penisnya sedalam-dalamnya menembus rahim kehangatannya.


Seketika pak Urip mencabut penisnya keluar. Cairan cinta Nayla dengan deras menyembur membasahi celana dalamnya juga celana tidurnya yang masih menyangkut di kedua lututnya. Lutut Nayla nyaris kehilangan keseimbangan. Matanya merem melek keenakan. Akhirnya ia mendapatkan kepuasan setelah dirangsang habis-habisan oleh pembantu tuanya.


“Hah… Hah… Hah… Akhirnya, selesai juga” Ucap Nayla menunduk sambil menaruh kedua sikunya di meja warung tersebut.


“Selesai ? Enak aja !” Ucap pak Urip kembali memasukan batang penisnya.


“Mmmpphhhh paakkk… Tungguuu dulluu… Aku mau istirahat duluuuu” Ucap Nayla memohon.


“Enakkk aja… Ini lagi nanggung… Saya lagi dapet enak-enaknya niihhh” Ucap pak Urip yang kembali menggempur rahim majikannya.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh… Aahhh tungguuuu paakkk… Aahhhh… Pellaaannn” Pinta Nayla sambil menghadap ke depan.


Seketika ia menyadari kalau dirinya sedang disetubuhi didalam warung nasgor pak Tomi. Apalagi saat matanya bertemu dengan mata pak Tomi. Terlihat pak Tomi sedang mengocok penisnya sambil menonton persetubuhannya. Nayla tersadar. Ia sedang bercinta di ruangan terbuka.


'Astaghfirullah… Kenapa aku baru ngeh yah ! Kenapa aku pasrah aja bahkan meminta pak Urip menyetubuhiku disini ?'


Batin Nayla merasa malu.


“Paakkkk… Aaahhhh… Aaahhhh… Toloonggg jangannn lihhh… Aaaahhhhh” desah Nayla terpotong saat gempuran Pak Urip semakin kuat.


“Aaaaahhhhh… Aaahhhhh akhirnyaaa… Akhirnyyaa sayaa akan keluuaarrr jugaaa” Ucap pak Urip yang sudah tak kuat lagi.


Pak Urip memperkuat cengkramannya pada pinggang Nayla. Tak terasa ia hampir tiba di ambang batas nafsunya. Jepitan vagina Nayla yang begitu kuat membuatnya tak mampu untuk menahan gairah birahinya lagi. Pinggulnya bergerak cepat. Semakin kesini sodokannya jadi semakin kencang. Semakin kesini sodokannya jadi semakin beringas. Semakin kesini dirinya jadi semakin ganas saat menikmati tubuh akhwat yang begitu panas. Pak Urip pun tertawa puas. Ia merasa senang karena bisa menikmati jepitan rahim majikannya lagi.


'Puaasss sekali sayaaa... Pagi dapet memek perawan… Malemnya dapet memek binor yang binal… Duhhh gak kuat lagi… Saya gak tahan lagi…'


Batin pak Urip tersenyum senang.


“Aaaahhhh non… Aaahhh saya gak kuat lagi…” Desah pak Urip mempercepat genjotannya.


“Aaahhhhh… Aaahhhh cepaaattt akhiri pakkk… Cepaaatt keluarkannn” Ucap Nayla yang bermaksud agar dirinya bisa segera terbebas dari jeratan pemerkosaan yang dilakukan oleh pembantunya.


“Aaahhh iyyaahhh… Aaahhhh lihat kan paakkk… Non Nayla sendiri yang minta… Jadi saya akan akhiri sekarang juga” Ucap pak Urip pada pak Tomi yang seolah menjelaskan kalau dirinya melakukan seperti ini ya karena Nayla sendiri. Nayla yang menyadari itu tak terima. Namun sodokan yang ia terima hanya bisa membuatnya berteriak keras.


“Aaaahhhh paakkk… Aaahhh pellaannn… Pelaaannn… Aaahhhhhh” desah Nayla menahan sodokan pembantunya.


“Aaaaaahhhhh… Aaaahhhhh… Iyyaahhhh… Sebentar lagiii… Sebentar lagiii… Saya mau keluuaarr… Saya mauuu keluuaarr !” Desah pak Urip tak tahan lagi.


“Aaaahhhh pellaannn paakkk… Aaahhhhhh paaakkk… Pelllaaannnn” desah Nayla yang terus terdorong maju mundur tanpa henti.


Dada pak Urip semakin sesak. Nafasnya berat. Kedua lututnya melemas saat cairan cintanya ingin menyemprot keluar. Ia mulai merasakan penisnya berdenyut. Ia mulai merasakan cairan cintanya hampir mendekati lubang kencingnya. Pak Urip pun menarik kedua tangan Nayla ke belakang. Tubuh Nayla jadi terangkat naik. Susu bulatnya bergondal-gandul dengan baik. Desahan mereka semakin keras. Persetubuhan mereka semakin memanas.


“Aaaaaahhhhhh…. Aaaahhhhhh… Aaaahhhhh” desah Nayla hingga payudaranya bergondal-gandul semakin cepat.


Pak Tomi terpana. Pak Tomi ikut mengocok penisnya dengan cepat.


“Aaaahhhh nonnn… Aaaahhhh… Aaahhhh… Sayaaa kelluuaarrrr… Sayyaa kelluuaarrr… Henkkgghhhh !” desah pak Urip saat mementokkan ujung gundulnya hingga mengenai rahim dari bidadari bercadar itu.


“Aaaaaaaaaahhh bappaaaakkkk” desah Nayla saat merasakan rahimnya tersiram oleh cairan cinta pembantunya.


'Cccrrrooottt… Cccrrrooottt… Cccrrrooottt….'


“Aaahhhhh puasssnyyaaaahhhhh” Teriak pak Urip saat mampu mengisi rahim majikannya menggunakan spermanya lagi.


Rahim Nayla penuh. Rahimya kembali terisi oleh pejuh. Entah sudah yang keberapa rahimnya dipenuhi oleh pejuh pembantunya itu. Tubuh Nayla ambruk diatas meja makan. Tubuh pak Urip juga ambruk menindihi punggung Nayla. Mereka berdua benar-benar puas. Sungguh pengalaman yang luar biasa saat mereka memilih bercinta di tempat terbuka.


“Waduhhh… Udah keluar kah ?” Tanya pak Tomi melihat kedua pasangan muda tua itu sudah lemas.


Dengan sisa tenaga yang pak Urip punya. Ia menaikan tubuh Nayla lalu meremasi kedua payudaranya. Kemudian ia menaikan kaki kiri Nayla untuk melepas celana berikut celana dalamnya yang tadi masih menyangkut di lutut. Setelah celananya terlepas dari kaki kirinya. Pak Urip berganti mengangkat kaki kanan Nayla untuk melepas celananya. Setelah menendang celana Nayla agar menjauh dari posisi berdiri mereka. Pak Urip pelan-pelan mulai mencabut penisnya keluar yang membuat pak Tomi yang penasaran mendekat untuk melihat hasilnya.


“Uuuuhhhhhhh” desah Nayla saat cairan cinta pembantunya keluar melewati lubang vaginanya.


Pak Urip tersenyum puas melihat spermanya tumpah melalui rahim sempit majikannya. Pak Urip mengelap keringatnya puas. Ia sangat bangga karena bisa memejuhi rahim majikannya lagi. Sementara pak Tomi hanya bisa diam menganga. Ia tak mengira akhwat bercadar yang sangat terkenal itu baru saja dipejuhi didepan matanya sendiri oleh pembantu tuanya sendiri.


'Kalau sebanyak ini… Bisa-bisa mbak Nayla bakalan hamil nih !'


Batin pak Tomi mengira-ngira.


“Hah… Hah… Hah… Puasnya… Oh yah, berapa pak ?” Tanya pak Urip pada pak Tomi.


“Berapaaa ?” Tanya pak Tomi kebingungan sambil memegangi penisnya.


“Nasgornya pak… Nasgor” Ucap pak Urip menyadarkan pak Tomi.


“Oalah… Dua porsi nasgor sama es teh manis yah… Semuanya jadi 44 ribu pak” Ucap pak Tomi gugup.


“Nih, saya bayar pake ini cukup gak ?” Tanya pak Urip sambil melempar celana dalam milik Nayla yang tadi terjatuh di lantai.


Pak Tomi pun menangkapnya. Dengan segera ia menciumnya untuk menghirup aroma vagina Nayla yang tersisa disana. Nayla yang melihatnya hanya bisa pasrah. Dirinya yang terlalu lemas tak bisa berbuat apa-apa selain melihatnya saja.


“Masih kurang yah ? Nih, gimana ?” Tanya pak Urip saat tiba-tiba melepas bra dari balik kaus Nayla lalu memberikannya ke pak Tomi.


“Paaakkkk… Hah… Hah… Hah” Rengek Nayla kesal.


“Cukuuppp… Cuukkuppp pak… Ini sudah cukuup” Ucap pak Tomi senang mendapat hadiah dari pak Urip.


Pak Tomi yang sedang nafsu-nafsunya segera mengocok penisnya menggunakan celana dalam Nayla. Ia juga menghirup beha Nayla yang membuatnya jadi bersemangat dalam mengocok.


“Aaaahhhhh…. Aaahhhh… Aaahhhh mbaakkk Naylaaaaa” Desah pak Tomi yang akhirnya berhasil mendapatkan orgasme ternikmatnya.


'Crroottt… Cccrroottt… Ccroott !!!'


Celana dalam Nayla dipenuhi sperma pak Tomi begitu banyak. Terlihat pak Tomi begitu lemas. Ia bahkan sampai terduduk sambil mengelap keringat di dahinya menggunakan beha Nayla.


“Hah… Hah… Puas banget… Beruntung banget bapak bisa keluar di dalem memeknya… Gak nyangka juga ternyata mbak Nayla ini 'entotable' juga… Tau gini udah dari dulu saya ngantri buat genjot memek mbak… Dari dulu loh saya udah nafsu ke mbak hehehe” Ucap pak Tomi mengakui perbuatannya.


“Hakhakhak… Jelas… Lonte saya ini… Eh, majikan saya ini emang nafsuan orangnya… Saya aja kewalahan tiap kali non Nayla minta digenjot oleh saya” Ucap pak Urip melancarkan fitnah lainnya.


“Akuuu ?” Ucap Nayla yang tak sanggup membalasnya karena kelelahan.


“Iyya kan sayaanng ?” Ucap pak Urip sambil menampar bokong Nayla lagi.


'Plaaaakkkk !'


“Aaahhhhhh” desah Nayla dengan manja.


'BEBERAPA MENIT KEMUDIAN


Pak Urip sudah menaikkan celananya. Nayla juga sudah mengenakan pakaiannya kembali setelah beristirahat sejenak. Tak terasa jam sudah mendekati hampir tengah malam. Pak Urip pun mewakili Nayla untuk pamit kepada pak Tomi. Tak lupa ia juga mendoakan dagangannya agar selalu laris. Apalagi ia sudah diberi jimat berupa celana dalam dan beha Nayla.


“Ayo kita pulang sayaanggg” Ucap pak Urip dengan wajah sumringah.


“Hah… Hah… Hah… Tooloongg jangan permalukan aku lagi pak… Jangan juga melakukannya di tempat umum… Aku gak mau orang-orang melihatku sebagai wanita rendahan” Pinta Nayla pada pak Urip.


“Hakhakhak… Kalau kenyataannya non emang cewek rendahan gimana ? Coba pikir-pikir lagi, siapa yang minta digenjot disana ? Hayyooo ?” Ucap pak Urip menertawakan Nayla.


“Aku tahu, tapi toloongggg” Pinta Nayla yang hanya membuat pak Urip tertawa.


jangan banyak protes… Nikmati aja semuanya… Sekarang non istirahat aja biar besok non masih punya tenaga untuk saya rendahkan… Nih pegang ! Jangan sampai hilang ! Pokoknya sebelum non masuk ke mobil… Non harus make benda ini lagi” Ucap pak Urip sambil memberikan vibratornya ke Nayla.


“Lagi ? Sampe kapan aku harus kayak gini pak ?” Tanya Nayla tak percaya.


“Ya lagi… Sampai saya puas melihat non direndahkan dihadapan orang-orang… Itu hukuman dari saya karena non diam-diam sering bersembunyi di rumah pak Beni… Nikmati hukuman dari saya… Bersiap-siap lah untuk menjadi lonte di masa depan” Ucap pak Urip yang membuat Nayla ketakutan.


Nayla hanya mengernyitkan dahinya. Ia pun mendesah lemas. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala membayangkan apa yang bakal terjadi padanya di masa depan. Apalagi besok selama liburan. Ia pun berharap bisa dekat-dekat dengan suaminya agar pak Urip tidak memiliki kesempatan untuk menganggu dirinya. Tapi masalahnya dengan benda ini, bagaimana nanti kalau suaminya melihatnya terangsang ketika benda ini bergetar ? Ia pasti akan merasa malu. Ia jadi teringat perbuatannya saat terangsang di warung pak Tomi tadi.


'Semoga besok aku akan baik-baik aja !'


Batin Nayla sambil mengangkat wajahnya tuk menatap bulan purnama.


BERSAMBUNG

;;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 9

LIBURAN KELUARGA

Suatu hari sekitaran jam delapan pagi.


Terlihat sebuah mobil sedang dipanaskan. Mesin mobil itu sudah menyala sedangkan di dalamnya terdapat barang-barang yang akan dibawa. Mumpung tanggal merah, banyak sekali keluarga yang menyerukan “Wah, waktu liburan telah tiba”. Begitu juga yang terjadi pada keluarga Nayla. Mereka tengah sibuk mengemas barang-barang yang akan mereka bawa ke suatu tempat. Nayla sendiri sebenarnya tak tahu mau berlibur kemana ? Tapi ia manut saja dan mengikuti apa yang sudah direncakana oleh suaminya.


“Dek, tikarnya ada di sebelah mana yah ?” Tanya Miftah pada istrinya yang tengah sibuk memasukkan barang ke bagasi.


“Eh bukannya di kamar ada mas ?” Jawab Nayla.


“Gak ada dek, apa keselip di gudang yah ?” Tanya Miftah khawatir.


“Eh bakalan kotor dong… Banyak debunya loh mas” Jawab Nayla.


“Makanya, coba deh mas cari di kamar lagi” Ucap Miftah kembali pergi.


“Huft dasar… Sukanya mendadak terus sih” Ketus Nayla menyikapi sikap suaminya.


Nayla kembali menata barang yang akan ia masukan ke bagasi. Koper-koper berisi pakaian juga tas-tas kecil berisi jajanan serta 'snack' selama perjalanan telah ia masukan ke dalam bagasi. Ia merasa barang-barang yang akan mereka bawa sudah cukup untuk perjalanan selama dua hari. Ya, mereka akan berlibur selama dua hari satu malam. Sebenarnya tanggal merahnya sih cuma ada di hari ini. Tapi mumpung besoknya adalah hari minggu membuatnya sekalian ingin menambah waktu liburan.


Ketika sedang asyik-asyiknya menata barang. Tiba-tiba ia merasakan adanya sentuhan yang di bokong montoknya. Sontak Nayla menjerit lalu segera menoleh ke belakang.


“Eh . . .” Mata Nayla berbinar saat melihat siapa yang baru saja datang di belakangnya. Nayla mendadak kesal. Tatapannya benci. Ia pun mencoba menjauhkan tangan nakal itu dari bokong montoknya.


“Lepaskan, pak” Ucap Nayla.


“Hakhakhak… Pagi-pagi udah wangi aja nih… Gimana ? Udah dipake ?” Tanya pak Urip tanpa berbasa-basi lagi. Ia pun menarik tangannya dari bokong Nayla lalu menatap wajah cantiknya.


“Sudah” Jawab Nayla dengan dingin lalu berfokus menata barang lagi.


“Masa ? Coba saya cek” Ucap Pak Urip sambil meraba-raba vagina Nayla.


“Bapaaakkk… Aku udah bilang udah ya udah…” Ucap Nayla risih.


“Hakhakhak… Angkat gamisnya sekarang… Saya mau lihat sendiri” Ucap pak Urip kekeh. Padahal tadi tangannya sudah merasakan tonjolan aneh di vagina Nayla. Tapi ia masih ingin mengeceknya dengan menggunakan kedua matanya sekalian bisa melihat pemandangan indah yang ada di balik celana dalam majikan alimnya itu.


“Tapiii paakk… Ini di . . . .” Ucap Nayla menyadari mereka berada di ruangan terbuka.


“Terus ? Mau saya angkat paksa gamis non ?” Ancam pak Urip yang membuat Nayla ketakutan.


Nayla akhirnya tak mempunyai pilihan. Matanya melihat sekitar untuk memeriksa keadaan. Ia juga menatap ke arah pintu rumahnya yang terbuka khawatir suaminya akan datang dan memergokinya tengah mengangkat naik rok gamisnya.


Pelan-pelan ia mulai menarik roknya. Meski agak risih ia terpaksa untuk melakukannya. Matanya masih melihat sekitar. 'Stockingnya' mulai terlihat. Lututnya mulai terlihat. Paha mulusnya juga mulai terlihat yang membuat pria tua itu ngiler melihat kemulusannya. Karena kesusahan, Nayla pun memilih duduk di tepi bagasi lalu mengangkangkan kedua kakinya. Terlihat celana dalam berwarna pink itu nampak dihadapan mata pak Urip. Terlihat tonjolan mencurigakan yang berada di balik celana dalam pink itu.


“Buka celana dalamnya !” Ucap pak Urip.


Nayla agak kesal karena masih saja dirinya diminta untuk membuka celana dalamnya. Ia lagi-lagi terpaksa melakukannya. Ia pun menurunkan celana dalamnya sampai ke lutut hingga nampaklah suatu benda yang menyumpal vaginanya.


“Hakhakhak… Bagusss… Baguss non sudah memakainya” Ucap pak Urip tampak bangga.


“Sudah kan pak ? Aku mauu . . .” Ucap Nayla hendak menaikan celana dalamnya lagi.


“Eh tunggu dulu !” Ucap pak Urip menahannya.


“Aaaahhhhhhhhh”


Pak Urip lalu melepas vibrator itu pelan-pelan hingga Nayla mendesah merasakan gesekan dari benda yang suka bergetar itu. Wajah besarnya juga mendekat lalu menghirup aroma dari vagina yang sudah ia pejuhi berulang kali itu. Tercium aroma nikmat yang membuatnya selalu ingin menusukkan lubang sempit itu lagi menggunakan batang penisnya. Lidahnya kemudian keluar lalu menjilati bibir dari vagina yang beraroma wangi itu.


“Aaaahhhhh bappaaaakkkkk” desah Nayla dengan manja sambil menahan kepala pembantunya agar tidak lebih dekat lagi.


“Hakhakhak… Suka banget saya sama suara desahanmu itu non… Ayo desah lagi” Ucap pak Urip sambil menjilati lubang vaginanya yang membuat akhwat bercadar itu merinding nikmat.


“Aaaahhhh bapaakkk… Janggaannnn” desah Nayla menggelinjang.


Jemari pak Urip yang gemas ikut masuk untuk mengorek-ngorek liang senggama milik majikannya itu. Jemari gemuknya pun memeriksa seberapa dalam sebenarnya isi dari goa ternikmat yang pernah ia jelajahi itu. Sialnya jemarinya tak sampai. Anehnya, tiap kali jemarinya mengorek dinding goa itu. Terdengar suara desahan yang membuat pak Urip ketagihan untuk melakukannya. Ia pun terus mengoreknya. Ia tersenyum senang tiap kali pemilik dari goa itu menjerit dengan penuh kenikmatan.


“Aaahhhhh paaakkk… Aaahhhh hentikaann… Aaahhh bapaakk cukuuppp” Desah Nayla ngos-ngosan.


“Loh sial jari saya gak sampe… Coba saya cek pake benda laen ah” Ucap pak Urip berdiri tegak lalu tiba-tiba menurunkan resleting celananya. Sontak mata Nayla terbuka lebar. Sesuatu yang besar dan berwarna hitam telah keluar dari dalam resleting itu. Benda hitam itu sudah berdiri tegak. Benda hitam itu sudah mengeras. Nayla pun bergidik saat melihatnya di pagi hari itu.


“Paaakkk… Apa iniii ? Jangan disini ? Ini masih pagi paaakk… Kita lagi di luar ! Jangan sampai keliatan orang lain pak… Gimana dengan suami aku ?” Tanya Nayla panik saat duduk di dalam bagasi mobilnya.


“Tenang, saya gak bakalan ngentot non sekarang kok… Saya cuma mau cek ombak aja” Ucap pak Urip sambil memegangi kedua paha Nayla lalu menariknya untuk memposisikan lubang vagina majikannya itu berada tepat dihadapan penis hitamnya.


“Cekk ombaakk… Maksudnya ?” Tanya Nayla merinding melihat benda hitam itu sudah bersiap meluncur ke dalam vaginanya.


“Maksudnya ya kaya gini… Hennkgghhhh !!!” Desah pak Urip yang tiba-tiba menusukkan penisnya ke dalam liang senggama Nayla.


“Aaaaaahhhhh mmpphhhhhhh” desah Nayla yang nyaris menjerit keras namun tertahan oleh kedua tangannya sendiri yang sedang menutupi mulutnya. Nayla memejam nikmat. Ia terkejut pembantunya itu benar-benar membenamkan penisnya ke dalam vagina dirinya.


“Aaaahhhh nikmatnyaaaa… Coba lagi…. Hennkgghhhh !!!” Desah pak Urip kembali mendorong pinggulnya untuk memeriksa seberapa dalam sebenarnya rahim dari majikannya itu.


“Aaaahhh bapaakkk tollloongggg…. Mmppphhhh” Nayla sampai menggelinjang. Rasanya sungguh nikmat hingga membuatnya tak bisa bergerak merasakan tusukannya.


Akhwat bercadar yang saat itu mengenakan gamis putih dengan motif bunga-bunga serta hijab & cadar berwarna biru muda itu semakin tak berdaya. Padahal dirinya cuma baru ditusuk saja. Ia belum merasakan genjotan dari pembantu tuanya. Namun itu sudah cukup untuk membuatnya lemas tak berdaya. Apalagi saat pria tua itu kembali menusukkan penisnya hingga penis hitam itu semakin terbenam di dalam vaginanya.


“Aaahhhh cukkuuppp paakkk… Cukuppp ouhhhhhh” desah Nayla sampai ngos-ngosan.


“Hakhakhak… Enak sekali bukan ? Kayaknya kontol saya udah mentok nih… Dalem juga yah memek mbak ? Bisa masukin semua kontol saya ke dalem” Ucap pak Urip sambil tersenyum saat menatap wajah indah Nayla.


“Cuukuuppp paakk… Cukuppp akuu mohhoonn” Ucap Nayla yang membuat pak Urip tertawa lepas.


“Hakhakhak okelah” Ucap pak Urip menuruti.


Ditariknya lagi penis besarnya secara perlahan yang gesekannya memberikan kenikmatan bagi pemilik goa sempit itu.


“Uuuhhhhh baapaakkk… Mmppphhhh” desah Nayla menggelinjang.


Saat ujung gundulnya nyaris terlepas dari goa kenikmatan itu. Tiba-tiba pak Urip menghantamkan pinggulnya hingga kembali mentok ke dalam rahim akhwat bercadar itu.


“Paak mmppphhhhhhhh” Desah Nayla yang untungnya masih sempat menutupi mulutnya.


Mata Nayla berkunang-kunang. Tubuhnya bergidik. Vaginanya semakin basah setelah ditusuk oleh tongkat sakit milik pembantunya. Tak pernah ia sepuas ini saat ditusuk oleh penis sakti milik pak Urip. Bahkan ia nyaris mendapatkan orgasmenya kalau tusukan pak Urip lebih kuat lagi daripada ini.


Tiba-tiba pak Urip menarik keluar penisnya hingga terbebas dari dalam rahim sempit itu. Nampak penis hitamnya sangat basah. Cairan cinta Nayla melumuri penis itu hingga sempurna.


“Hakhakhak… Itu pembukaan dari saya non… Duh sayang waktu kita sempit banget… Kalau kita cuma berdua pasti sudah saya pejuhi lagi rahim non… Hakhakhak” Tawa pak Urip sambil mengelap penisnya dengan rok gamis yang Nayla kenakan.


Pak Urip pun memasukan penis itu lagi ke dalam resleting celananya. Ia lalu kembali menghampiri Nayla lalu memasukan vibrator itu lagi ke dalam vaginanya.


“Ini jangan lupa… Dipake yah” Ucap pak Urip tersenyum.


“Mmmppphhhhhh” desah Nayla dengan wajah memelas.


“Oh yah… Coba cek… Masih berfungsi kan ?” Ucap pak Urip sambil menyalakan remot kontrolnya.


“Aaaahhhh bapaakkkk… Aaaahhhhh” Desah Nayla tak kuat yang membuat pak Urip tertawa puas.


“Hakhakhak… Masih berfungsi ternyata… Yaudah saya sibuk… Lanjutkan kegiatanmu yah non” Ucap pak Urip tertawa puas sambil meninggalkan Nayla begitu saja.


Nayla yang masih ngos-ngosan tak percaya dengan apa yang sudah pembantunya itu lakukan. Ia sudah dipermainkan. Ia tak menyangka pak Urip memainkan nafsunya dengan begitu mudahnya.


“Aduhhh 'astaghfirullah'” Ucap Nayla yang langsung jatuh berlutut setelah turun dari bagasi mobilnya. Kakinya mendadak lemas hingga tak sanggup berdiri. Rasa gairah yang berapi-api perlahan kembali menguasai. Nafsunya telah memuncak. Ia pun ditinggalkan begitu saja saat lagi terangsang-terangsangnya.


“Hah… Hah… Hah… Aku mmppphhhh” Lirih Nayla yang diam-diam butuh pemuas.


Nayla pun bingung harus berbuat apa. Dengan tertatih-tatih ia mencoba berdiri sambil memegangi tepi mobilnya. Setelah berdiri, ia pelan-pelan membuka pintu mobilnya lalu duduk di dalam sambil menunggu kedatangan suaminya.


“Maasss… Hah… Hah… Hah… Jangan masuk dulu yah !” Ucap Nayla tak kuat lagi.


Tangannya lagi-lagi mengangkat gamisnya. Lalu pelan-pelan mengusapi vaginanya untuk melampiaskan nafsu yang tak sanggup ia tahan.


Tanpa sepengetahuan Nayla dari arah rumah sebelah. Terpantau pak Beni yang baru saja keluar dari dalam rumahnya melihat ada mobil Miftah yang sedang dinyalakan. Tepat saat itu ia melihat Nayla baru saja masuk ke dalam mobilnya. Meski ia tak melihat dengan jelas apa yang sedang Nayla lakukan di dalam. Ia merasa kalau Nayla pasti akan bepergian bersama suaminya.


Diam-diam ia ingin sekali mendekat untuk mengucapkan salam atau sekedar mengobrol dengannya. Ia ingin berbicara dengan Nayla untuk meredakan rasa rindunya. Tapi pandangan warga sekitar yang sudah terlanjur buruk kepadanya membuatnya harus mengurungkan niatnya. Pak Beni hanya bisa memperhatikan Nayla dari kejauhan. Hanya sebatas itu dirinya mampu menjaganya.


Untungnya tak lama kemudian terlihat Miftah mendekat lalu duduk di sebelah kursi pengemudi. Nampak di dalam siluet Nayla yang terkejut saat suaminya datang. Entah apa yang dipikirkan, Pak Beni merasa pasti Nayla baru saja terlelap lalu terbangun saat mendengar suara pintu mobil yang terbuka. Pak Beni tertawa lepas. Ia merasa lega setelah melihat dua pasangan suami istri itu memasuki mobil secara bersamaan.


“Syukurlah… Kayaknya mereka mau pergi liburan… Mumpung tanggal merah juga kan ? Setidaknya mbak Nayla bisa berekreasi tanpa adanya gangguan dari pak Urip… Selamat bersenang-senang yah mbak” Ucap pak Beni tersenyum.


Tak lupa ia juga mendoakan Nayla agar bisa lebih 'fresh' saat berlibur bersama suaminya. Ia pun lekas masuk ke rumahnya setelah itu.


Namun baru saja pak Beni masuk ke dalam rumah. Terlihatlah pak Urip yang membuka pintu mobil untuk duduk di kursi pengemudi. Pak Urip kemudian duduk sambil memegangi setir mobil majikannya. Wajahnya tersenyum senang. Matanya pun menatap ke arah spion tengah untuk menatap wajah indah Nayla yang sedang tersiksa. Nampak Nayla membuang wajahnya ke samping. Tatapannya terlihat seperti ada yang mengganjal sambil melihat ke arah jendela luar.


“Oh yah pak, emangnya jalan ke puncak lagi gak ramai yah ?” Ucap pak Urip membocorkan lokasi liburan mereka.


“Loh pak, kok dikasih tau… Harusnya rahasia aja pak biar 'surprise'… Tapi udah terlanjur gini ya udah hahaha… Harusnya sih agak ramai makanya ayo kita harus cepat” jawab Miftah santai.


Nayla pun jadi tahu kalau mereka akan berlibur ke puncak. Nayla pun merasa lega. Setidaknya disana ia bisa menghirup udara segara sambil menetralisir pikirannya yang sedang kotor-kotornya. Seketika ia teringat sesuatu yang membuatnya segera membuka tasnya.


“Oh yah, obatnya” Lirih Nayla dengan sangat pelan.


Ia pun buru-buru membuka tutup botolnya lalu menenggak air ramuan itu. Diam-diam pak Urip tersenyum saat melihat Nayla sedang minum. Ia pun merogoh saku kemejanya dan memegangi remot kontrolnya. Ia sangat tak sabar untuk bermain-main dengan bidadari pemuasnya itu. Ia pun tersenyum kegirangan. Ia menatap kaca spion tengah lalu mulai menjalankan mobilnya.


'Silahkan istirahat dulu yah non… Nanti kalau kita udah deket… Kita bakalan main-main lagi… Hakhakhak…'


Batin pak Urip.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


MEC1UFT

https://thumbs4.imagebam.com/f5/c4/3a/MEC1UFT_t.jpg   f5/c4/3a/MEC1UFT_t.jpg

'NAYLA


MEBEP8B

https://thumbs4.imagebam.com/81/b4/4c/MEBEP8B_t.jpeg   MEBEP8B_t.jpeg

'MIFTAH


*-*-*-*

Beberapa jam kemudian di lingkungan sekitar rumah Nayla. Terlihat sebuah motor mendekat. Motor itu memperlambat kecepatannya. Saat motor itu tiba di depan pintu gerbang rumah Nayla, motor itu berhenti. Akhwat yang menungganginya melongok ke dalam untuk melihat keadaan.


“Kok sepi yah ? Kayaknya gak ada orang sama sekali deh” Ucapnya sambil melihat sekitaran halaman rumah Nayla.


Terlihat pintu tertutup rapat. Terlihat garasi rumah juga tertutup rapat. Bahkan pintu gerbang masuk ke halaman rumah juga tertutup rapat. Akhwat itu merasa ada yang aneh. Padahal biasanya pintu akan dibuka, setidaknya pintu gerbang rumah akan dibuka.


“Apa jangan-jangan mbak Nayla sedang pergi yah ? Hmmm apa lagi kan sekarang tanggal merah” Ucap akhwat cantik bernama Putri itu.


Putri pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Ia pun segera pergi menuju tempat yang ingin ia datangi sejak awal. Ia melajukan motornya sejenak lalu tiba-tiba membelokkannya ke arah kanan menuju sebuah rumah. Ya, rumah yang letaknya berada tepat di sebelah kanan rumah Nayla. Rumah yang dihuni seorang pria tua yang kesehariannya bekerja sebagai tukang sapu jalanan.


'Tokkk… Tokkk… Tokkk…'


“Assalamualaikum” Ucap Putri setelah mengetuk pintu rumahnya.


Tak berselang lama, pintu dibuka. Muncullah seorang pria tua yang sedang bertelanjang dada menyisakan celana kolornya saja. Putri pun terkejut saat pertama kali melihatnya. Reflek tangannya ia angkat untuk menutupi wajah cantiknya. Demikian juga dengan pak Beni, ia tak menyangka bahwa wanita yang baru saja ia jadikan bahan coli kemarin tiba-tiba datang ke rumahnya.


“Aaahhhhh bapaakkk… Kok gak pake baju” Ucap Putri terkejut.


“Ehhhh mbak Putri… Maaf saya gak tau mbak yang dateng… Silahkan masuk dulu… Saya mau pake baju sebentar” Ucap pak Beni mempersilahkan masuk lalu ngeluyur pergi untuk mengambil kaus santainya.


Putri pun berjalan masuk kemudian berdiri di tempat sambil memperhatikan keadaan ruang tamunya. Cukup lama Putri berdiri disana sebelum pak Beni datang setelah mengenakan kausnya.


“Silahkan duduk mbak” Ucap pak Beni mempersilahkan Putri dengan sopan.


“Makasih” Jawab Putri sambil tersenyum.


Pak Beni memperhatikan penampilan akhwat yang baru saja menjadi wanita dewasa di depannya.


Dengan gamis berwarna 'cream' yang dikenakan oleh Putri. Dengan hijab yang memiliki warna serupa dengan gamis yang dikenakan olehnya. Juga masker serta tas yang melengkapi asesoris yang dipakai olehnya. Putri terlihat cantik. Penampilannya juga modis. Pakaiannya terlihat bergaya. Tatapan matanya begitu mempesona. Diam-diam pak Beni pun jatuh hati kepadanya.


“Eehhemmm anu… Mbak sehat ? Udah gapapaa kan ?” Tanya pak Beni berbasa-basi.


“'Alhamdulillah' pak… Aku udah mendingan… Udah gak terlalu sakit, aku juga udah bisa berjalan kok” Jawab Putri dengan lembut.


Terlihat tatapannya yang malu-malu. Jemarinya terlihat gelisah karena selalu meremas-remas jemari lainnya saat diajak mengobrol dengan pak Beni.


“Ehhmm emang ada keperluan apa yah mbak kemari ?” Tanya pak Beni penasaran.


“Hehe enggak… Eh iya itu mbak Nayla pergi yah ? Kok rumahnya sepi” Jawab Putri yang tidak langsung mengungkapkan alasan kedatangannya.


“Iya mbak… Tadi sih saya liat mbak Nayla sama suaminya kayak mau liburan gitu… Mereka pergi naik mobil… Tadi juga saya ngeliat ada koper di dalam mobilnya… Kurang tau sih mau kemana tapi ya setidaknya itu baik lah buat mbak Nayla sendiri… Setidaknya hari ini mbak Nayla bisa terbebas dari pak Urip” Ucap pak Beni tersenyum.


Mendengar nama pak Urip disebut membuat Putri langsung menunduk. Jujur nama itu masih membuatnya merasa kecewa. Nama itu masih membuatnya merasa trauma. Menyadari hal itu terjadi, pak Beni pun langsung meminta maaf kepadanya.


“Eh maaf mbak, bukan bermaksud apa-apa… Maaf kalau saya malah membuat mbak teringat kejadian kemarin” Ucap pak Beni menyesal.


“Gapapa pak… Bapak gak salah kok… Aku aja yang masih belum 'move on' dari kejadian itu… Oh yah terima kasih yah kemarin bapak udah jagain aku… Aku bersyukur banget bapak mau jagain aku selagi mbak Nayla pergi bekerja” Ucap Putri tersenyum.


“Itu bukan apa-apa kok mbak… Lagipula saya enggak melakukan apa-apa kok kemarin… Saya cuma menunggu di ruang tamu… Saya ikut seneng denger kabar mbak yang gak kenapa-kenapa sekarang” Ucap Pak Beni yang membuat Putri tersenyum.


“Oh yah… Mbak mau minum apa, biar saya buatkan ?” Ucap pak Beni menyadari tak ada sesuatu untuk menyambut keadatangan bidadari bermasker itu.


“Eh gak usah pak… Aku cuma sebentar kok disini… Udah, gak perlu pak” Ucap Putri menolak halus.


“Udah gapapa… Setidaknya mbak minum teh sebentar yah… Bentar saya buatkan dulu” Ucap pak Beni memaksa.


Melihat tuan rumah yang sudah pergi membuat Putri tak bisa menolak lagi. Selagi pak Beni membuat minuman teh untuknya. Tiba-tiba ia teringat kejadian kemarin. Kejadian setelah dirinya diperkosa oleh pak Urip.


“Apa kubilang… Pak Beni orangnya emang baik yah” Ucap Putri sambil memangku dagunya menggunakan telapak tangannya. Sikunya ia sandarkan pada lututnya. Tubuhnya agak ditundukkan ke depan. Tatapannya terfokus ke arah tubuh kekar pak Beni yang sedang menyiapkah teh untuknya.


Ia teringat bagaimana perlakukan pria tua itu kemarin kepadanya. Ia ingat betul bagaimana pak Beni justru memberinya selimut setelah tubuh telanjangnya terungkap setelah diperkosa pak Urip. Menurutnya, itu merupakan perbuatan yang jantan dari seorang pria. Alih-alih mengikuti jejak pak Urip dengan memperkosa dirinya. Pak Beni malah menutupi tubuhnya yang membuat sebagian auratnya kembali tersingkap. Lalu ia teringat bagaimana cara pak Beni saat menggendongnya menuju rumah ini. Saat itu, dengan malu-malu ia menatap wajah pak Beni saat menggendong dirinya. Terlihat aura kebapakan yang membuat Putri merasa aman & nyaman saat berada disisinya. Pak Beni pun menggendong tubuhnya dengan mudah dan membawanya menuju rumahnya. Disana Putri dijaga hampir seharian olehnya. Ketika ia membutuhkan sesuatu, pak Beni dengan sigap datang untuk memenuhi kebutuhannya. Ketika ia menginginkan ini dan itu. Pak Beni dengan sigap memenuhi hajatnya. Bahkan saat Putri ingin pergi ke kamar mandi, Pak Beni dengan sigap membantunya berjalan dan mengantarnya menuju ke kamar mandi. Jujur cara pak Beni dalam merawatnya membuat Putri merasa kenyamanan pada dirinya. Putri merasa seperti sudah mengenal pak Beni sejak lama.


“Kok jadi deg-degan yah” Ucap Putri dengan lirih lalu menegakkan tubuhnya kembali.


“Ini tehnya buat mbak” Ucap pak Beni sopan.


“Makasih” Ucap Putri sambil memegangi telinga cangkir itu.


“Oh yah… Mbak Putri gak liburan juga… Bukannya hari ini libur ?” Tanya pak Beni.


“Enggak pak… Aku sekarang tinggal di kontrakan sendiri… Aku juga masih kuliah jadi ya agak susah mau kemana-mana… Belum lagi kemarin . . . “ Ucap Putri sambil tersenyum sedih.


“Eh udah gak usah diceritain… Saya paham kok perasaan mbak” Ucap pak Beni yang membuat Putri tersenyum.


“Bapak sendiri gak liburan ?” Tanya Putri gentian.


“Hehe liburan kemana mbak… Saya juga gak punya siapa-siapa… Istri gak ada… Anak apalagi… Mau pulang ke rumah ortu juga ngapain… Jauh, mending disini aja yakan” Ucap pak Beni tersenyum.


“Eh masa… Bapak belum nikah ? Kirain bapak merantau kesini ninggalin keluarga di kampung sana” Ucap Putri terkejut.


“Hehe seperti yang saya katakan tadi mbak… Istri gak ada… Anak apalagi hahaha… Udah nasib saya kayaknya” Jawab Pak Beni menertawakan nasib hidupnya yang masih begini-begini saja.


“Ehhh bukannya gak ada… Tapi belum ada… Bapak pasti bisa nikah kok” Ucap Putri menyemangati.


“Hehe makasih… Walau gak tau sama siapa nanti hahahah” Tawa pak Beni malu saat mengingat usianya yang sudah tua tapi masih betah menjomblo saja.


“Pasti ada kok… Pasti” Jawab Putri sambil memperhatikan wajah pak Beni yang sedang tertawa.


Mereka pun terus mengobrol saat itu untuk mengakrabkan diri. Mereka jadi lebih mengenal satu sama lain. Tak jarang mereka berdua tertawa bersama. Tak jarang hanya Putri yang tertawa ataupun pak Beni yang tertawa. Putri pun merasa seperti sedang mengobrol dengan teman ayahnya saja. Pak Beni rupanya cukup asyik juga untuk diajak berbicara.


Putri pun memperhatikan. Terdengar suara pak Beni cukup jantan. Bahkan tingkah lakunya cukup sopan. Entah kenapa semakin lama ia mengobrol dengan pak Beni membuat jantungnya semakin berdebar kencang. Diam-diam ia memperhatikan tubuh pak Beni yang cukup kekar. Meski tubuhnya tertutupi kaus bola berlogo Barcelona. Otot di lengannya sudah cukup untuk membuat Putri terpesona. Seketika ia teringat kejadian kemarin saat dijaga oleh pak Beni.


Saat tiduran di atas ranjang pak Beni. Diam-diam ia mendengar suara desahan dari arah luar kamar. Saat ia diam-diam berjalan melihat keadaan di luar, ia mendapati pak Beni sedang beronani sambil menyebutkan nama dirinya. Putri terkejut saat itu. Ia pun buru-buru kembali tiduran diatas ranjang seolah tidak terjadi apa-apa.


Alih-alih marah, ia justru kagum pada pilihan pak Beni saat kemarin. Padahal bisa saja pak Beni memperkosanya apalagi tidak ada orang lain selain diri mereka berdua saat itu. Tubuhnya juga sedang lemah. Pasti ia tidak mampu melawan andai kembali diperkosa oleh seseorang. Namun pak Beni lebih memilih untuk beronani saja. Putri memaklumi. Apalagi pak Beni baru saja melihat tubuh telanjangnya. Putri pun semakin yakin bahwa pak Beni adalah seorang lelaki yang jantan. Ia bukan lelaki yang suka bertindak kasar. Sikapnya cenderung sopan. Sikapnya lemah lembut ketika bercengkrama dengan seorang perempuan. Putri pun tersenyum sambil memperhatikan wajah pak Beni saat pria tua itu sedang menceritakan sesuatu kepadanya. Memang terdengar aneh, tapi rasanya Putri telah jatuh cinta kepadanya.


“Hihihih” tawa Putri dengan lirih.


“Mbakk… Mbakk kok ketawa sih ?” Tanya pak Beni heran kepada Putri.


“Ehh enggak hihih… Oh yah… Bapak punya pulpen sama selembar kertas gak ?” Tanya Putri mengejutkan pak Beni.


“Eh buat apa ? Kayaknya ada deh… Bentar yah saya ambilkan” Jawab pak Beni dengan sopan.


Putri lagi-lagi tersenyum sambil memperhatikan sikapnya.


“Ini mbak” Ucap pak Beni setelah memberikan benda itu ke Putri.


Tiba-tiba Putri menuliskan beberapa angka disana. Putri juga memberikan tanda tangannya. Tak lupa ia juga menuliskan nama lengkapnya dibawah tanda tangan yang sudah ia bubuhkan disana.


“Ini nomor hape aku… Tolong telpon balik ke aku yah biar bisa aku 'save'” Ucap Putri malu-malu.


“Eh nomor mbak… Kenapa mbak ngasih nomor hape mbak ke saya ?” Tanya pak Beni heran.


“Gapapa… Itung-itung aku bisa nanya ke bapak kalau aku mau ke rumah mbak Nayla untuk ngecek ada pak Urip apa enggak” Jawab Putri beralasan.


“Oh… Kalau gitu saya telpon balik yah” Ucap Pak Beni sambil mengambil hapenya.


Seketika Putri tersenyum saat menerima panggilan dari pak Beni. Ia segera menyimpannya. Akhirnya ia mendapatkan tujuan dari perjalanannya hari ini. Dengan malu-malu ia berdiri. Ia tiba-tiba izin pamit dari rumah pak Beni.


“Aku mau pulang dulu yah pak… Makasih untuk tehnya juga nomor teleponnya” Ucap Putri malu-malu.


“Eh iya bukan apa-apa kok mbak… Hati-hati di jalan yah mbak” Ucap Pak Beni saat Putri hendak pergi.


“Iyya makasih” Ucap Putri reflek melambaikan tangan saat hendak keluar dari pintu rumah pak Beni.


Pak Beni pun membalasnya. Entah kenapa Putri semakin senang setelah mendapatkan balasan lambaian tangan dari pak Beni.


Pintu telah ditutup. Putri sudah keluar dari rumah pak Beni. Pak Beni seketika heran pada sikap Putri. Sikapnya sedikit aneh. Bahkan ia merasa kalau Putri sedari tadi terus menatap wajahnya sambil tersenyum.


“Hmmm mbak Putri kenapa yah tadi ? Gak tau ah” Ucap Pak Beni yang masih belum peka padahal Putri sudah memberikan banyak sinyal kalau ia menyukai dirinya.


“Ngomong-ngomong mbak Nayla lagi ngapain yah sekarang ? Kangen deh… Hah bisa-bisanya dari kemarin saya gak minta nomor hapenya… Kok gak kepikiran yah ? Kalau punya kan bisa tukeran kabar sekarang…” Ucap pak Beni.


Ia lalu memperhatikan 'display picture' dari nomor 'whatsapp' yang baru saja ia dapatkan. Terlihat wajah cantik Putri disana. Ia memperhatikan foto Putri cukup lama. Ia pun tiduran di sofa sambil memperhatikan DP WA itu terus.


“Mbak Putri gak kalah cantik juga yah dari mbak Nayla… Sayang banget dia udah gak perawan lagi… Sialan emang si Urip itu… Hah kok aku jadi nafsu yah… Kalau iseng aku ajak mbak Putri bercinta mau gak yah ? Pasti mau kali yah… Mbak Nayla aja mau kok masa mbak Putri enggak ?” Ucap pak Beni sambil membelai penisnya saat menatap wajah cantik Putri.


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


MEC1UFU

https://thumbs4.imagebam.com/89/a0/51/MEC1UFU_t.jpg   89/a0/51/MEC1UFU_t.jpg

'PUTRI


*-*-*-*

Kembali ke perjalanan liburan Nayla.


Sesuai dugaan, jalanan cukup macet saat itu. Di jalanan menanjak, banyak mobil yang tak bisa bergerak akibat padatnya mobil yang memenuhi jalanan.


Udara cukup panas. Banyak pengendara berkeringat yang akhirnya membuka kaca jendela untuk mencari angin segar. Sama halnya dengan mobil-mobil lainnya. Mobil yang dinaiki oleh Nayla juga demikian. Berulang kali Nayla melihat ke arah luar untuk menikmati pemandangan sekitar. Miftah sendiri tengah tertidur pulas. Sedangkan pak Urip sesekali memperhatikan Nayla dari kaca spion tengah lalu tersenyum penuh kepuasan.


“Non” Panggil pak Urip yang membuat Nayla menengok ke depan.


Seketika Nayla melihat benda tak asing yang sedang pak Urip pegang. Matanya membuka lebar. Sebuah kejutan kembali melanda saat benda yang berada di dalam vaginanya kembali bergetar merangsang birahinya.


“Mmppppphhh”


Tubuh Nayla mengejang. Punggungnya ia sandarkan pada sandaran kursi belakang. Matanya juga memejam. Namun suaranya ia tahan agar tidak terdengar oleh orang-orang sekitar.


“Bappaaakk… Mmpphhhhh” desah Nayla merasakan getaran yang cukup kuat di vaginanya.


“Hakhakhak… Keenakan yah non ? Yaudah nikmati aja yah… Non bakal kayak gini terus kok sampe kita tiba di vila nanti” Ucap pak Urip mengejutkan Nayla.


“Paaakkkk… Tolloonggg… Mmppphhhhh” desah Nayla kembali menekan vaginanya tuk menahan getaran yang semakin kuat.


“Ohhhhh kurang kuat yah… Saya tambahin yah” Ucap pak Urip lalu menambah getaran vibratornya.


“Apa ? Aaaaaahhhhhhh mmppphhhhhh” desah Nayla yang telat menutupi mulutnya.


Terlihat suaminya hampir terbangun saat mendengar jeritan Nayla. Untungnya suaminya kembali tertidur. Namun getaran di vaginanya yang semakin kuat membuatnya semakin resah tak berdaya. Nayla gelisah. Nayla mengerang dengan manja menahan siksaan penuh kepuasan yang ia dapatkan. Tubuhnya terus bersandar. Kedua kakinya tanpa sadar membuka lebar. Nafasnya semakin berat. Kedua tangannya pun meremasi dadanya juga memegangi vaginanya dari luar gamis yang dikenakannya.


“Paaakkkk hentiikkannn… Tolloongggg mmpphhhh” desah Nayla berusaha terus bertahan.


“Kenapaaa sihhh ? Masih belum kerasa yah ?” Ucap pak Urip yang lagi-lagi menambah kekuatan getarannya.


“Apa ? Bapaakk tollonggg… Aaaaaaahhhhhhhh… Aaaahhhhhhhh” Jerit Nayla sekuat-kuatnya sambil menggoyangkan pinggulnya yang tak sanggup ia tahan.


Suaranya yang cukup keras kali ini membangunkan Miftah yang tertidur di kursi depan. Pak Urip panik, ia segera mematikan getarannya lalu berpura-pura fokus menyetir ke depan.


“Hah… Hah… Hah…” Desah Nayla ngos-ngosan. Dadanya sampai naik turun tak karuan. Punggung tangannya ia taruh di dahinya. Ia seperti baru saja berlari berjam-jam yang membuatnya terlihat begitu kelelahan.


“Deekkkk… Ada apa ?” Tanya Miftah setengah tertidur saat mendengar jeritan istrinya.


“Gapapa pak… Tenang aja… Non Nayla tadi baru aja mimpi buruk kok… Bapak tidur lagi aja” Ucap pak Urip tersenyum.


“Oalah ? Gitu ?” Ucap Miftah yang untungnya kembali tertidur.


Nayla yang masih ngos-ngosan hanya bisa menatap wajah pak Urip tak percaya. Bisa-bisanya pembantu tuanya itu berbohong dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa. Nayla kesal. Ia begitu kelelahan. Tapi setidaknya ia bisa beristirahat saat vibrator itu tidak bergetar lagi di dalam vaginanya.


“Apa ? Mmppphhhhh…. Mmpphhhhhh bapaakkkk” Lirih Nayla sambil menatap kaca spion tengah ke arah wajah pembantunya.


“Hakhakhak” Tawa Pak Urip yang lagi-lagi menambah kekuatan vibratornya.


“Aaahhhhhhh… Aaahhhhh… Aaahhhh tollooonnggggg” desah Nayla dengan lirih sambil meremasi kedua payudaranya karena tak tahan.


“Ya seperti itu non… Ouhhh seksi sekali dirimu… Ayo remas lagi… Remas yang binall !” Lirih pak Urip memuji sikap Nayla saat sedang terangsang-terangsangnya.


“Aaahhhhh… Aaahhh paakkk tolloonggg hentikaann… Aaahhhh yaahhhh… Aaahhh bapaaakkk” desah Nayla semakin binal saat meremas payudaranya sendiri.


Dua susu bulatnya jadi semakin gatal. Nayla berulang kali meremasnya juga menekan-nekan puting susunya dari luar. Terlihat wajah Nayla yang begitu bernafsu. Matanya memejam. Ia sangat menikmati getaran yang terus merangsang vaginanya. Nayla sudah seperti lonte binal yang sedang menggoda pria-pria yang berada di sekitarnya. Termasuk pengendara motor yang tak sengaja berada di samping mobil Nayla.


Dari luar kaca mobil yang sudah terbuka setengahnya. Terlihat pengendara motor itu terkejut melihat ada akhwat bercadar yang tengah meremasi dadanya sambil mengeluarkan suara desahan yang menggoda. Matanya pun tak bisa ia alihkan dari keindahan tubuh Nayla. Nayla benar-benar menggoda. Pengendara motor itu bahkan sampai memegangi penisnya saat melihat Nayla bahkan memasukan jemarinya sendiri ke dalam mulutnya.


“Gilaaaa… Itu akhwat lagi sange berat kayaknya… Baru tau akhwat bisa sebinal itu pas terangsang… Emang bener apa kata orang, akhwat kalau lagi sangek emang gak ada lawannya” Lirih pengendara motor itu saat melihat aksi solo Nayla.


Untungnya mobil yang Nayla kendarai sudah bisa kembali berjalan. Diam-diam pengendara motor itu pun menghafal plat mobil yang tertulis di bagian belakang mobil Nayla.


“Dari ibukota rupanya, Jakarta emang gak pernah kehabisan stok cewek cantik” Ucap pengendara motor itu yang diam-diam mengikuti mobil yang Nayla naiki.


*-*-*-*

Sesampainya di dekat Vila yang sudah mereka sewa. Terlihat Nayla masih mendesah menahan getaran yang membuatnya menjadi semakin bergairah. Hampir selama satu jam terakhir dirinya disiksa oleh getaran yang juga memberinya sebuah kenikmatan. Getaran yang diterimanya cenderung pelan. Namun itu yang justru membuatnya semakin tersiksa. Pak Urip sengaja untuk tidak memberi Nayla kepuasan berupa orgasme sehingga hanya menyetel getaran itu dengan pelan.


Terlihat wajah Nayla yang begitu tak tahan. Terlihat mata Nayla yang begitu bernafsu setelah diberi kepuasan. Terlihat tubuh Nayla yang semakin gatal akan rasa dari belaian seorang pria. Nayla kembali ingin bercinta. Nafsunya telah merenggut akal sehat di pikirannya. Yang Nayla inginkan sekarang hanyalah kepuasan. Berulang kali ia ngos-ngosan tak karuan. Tangannya terus meraba dadanya bahkan masuk ke dalam rok gamisnya. Nayla tak kuat lagi. Ia ingin bercinta. Ia ingin kembali merasakan keperkasaan seorang pria.


“Akhirnya kita sampai juga pak” Ucap pak Urip yang membuat Miftah terbangun di sebelahnya.


Nayla yang masih bernafsu jadi kesulitan untuk menyembunyikan gairah birahinya. Ia pun mencoba untuk bersikap biasa saja sambil membuang pandangannya ke arah luar. Saat pandangannya melihat keluar, ia mendapati seorang pria tua yang mengenakan 'hoodie' berwarna hitam juga celana 'jeans' panjang yang tengah duduk di depan vila yang sudah mereka sewa.


“Eehhh mas Miftah… Akhirnya sampe juga… Sudah saya tunggu-tunggu daritadi” Ucap pria tua itu yang seolah tengah menyambut kedatangannya.


“Hahaha pak Rudi, apa kabar ?” Tanya Miftah yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.


“Baik kok mas… Mas Miftah sendiri gimana ? Katanya liburan bareng sekeluarga yah ?” Tanya Pak Rudi sambil melihat ke dalam mobil Miftah.


“Iyya… Ini bareng pak Urip sama istri saya… Ayo dek sini keluar” Ucap Miftah meminta Nayla tuk keluar.


“Ehhh bapak… Apa kabar hakhakhak” Tawa pak Urip yang terlihat akrab saat baru saja keluar dari kursi kemudinya.


“Eh pak Urip… Masih keliatan muda aja nih… Gak ada yang berubah” Canda pak Rudi.


“Hakhakhak… Maklum lah bahagia terus kerja di rumah pak Miftah” Ucap Pak Urip yang langsung menjabat tangan pak Rudi.


“Oh yah pak Rudi, kenalin… Ini istri saya… Nayla namanya” Ucap Miftah mengenalkan Nayla kepada pak Rudi.


“Waahhh cantik amat… Pinter yah nyari istri” Ucap pak Rudi terpana melihat kecantikan Nayla. Apalagi sikap akhwat bercadar itu hanya tersenyum malu-malu sambil menundukkan pandangannya. Pak Rudi ikut tersenyum. Ia merasa kagum pada Miftah karena bisa mendapatkan istri yang cantik dan sealim Nayla.


Nayla yang masih merasakan gatal di vaginanya kesulitan untuk berdiri tegak. Untungnya vibrator sudah dimatikan. Tapi tetap saja efeknya masih terasa hingga sekarang.


MEC1UFV

https://thumbs4.imagebam.com/e6/ab/67/MEC1UFV_t.jpg   e6/ab/67/MEC1UFV_t.jpg

'PAK RUDI


“Hehe saya Rudi mbak… Panggil aja pak Rudi” Ucap pak Rudi hendak menjulurkan tangannya.


“Heh enak aja pengen salaman… Akhwat nih pak… Gak boleh asal pegang” Tegur pak Urip yang membuat pak Rudi merasa malu.


“Hahahaha… Bener banget bapak… Maaf yah pak Rudi… Gak boleh bersentuhan sama istri saya” Ucap Miftah tertawa yang membuat pak Rudi pun ikut tertawa.


“Oh iya juga yah hahaha… Gapapa mas, salah saya… Jadi malu saya” Ucap pak Rudi tertawa. Pak Urip pun ikut tertawa tak lama kemudian.


Namun Nayla hanya diam menatap pak Urip. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Terlebih atas apa yang sudah pembantu tua itu lakukan padanya.


'Gak boleh asal pegang yah ? Hah… Hahh… Hah… Gak inget apa yang udah bapak lakuin ke aku semalam juga pagi tadi ?'


Batin Nayla yang masih ngos-ngosan menahan nafsu birahinya.


Pak Rudi pun kemudian menyalami Nayla dengan cara yang syar’i yakni hanya merapatkan kedua telapak tangannya lalu mendekatkannya tanpa menyentuhnya ke arah tangan akhwat bercadar itu. Nayla tersenyum membalas salamannya. Ia dengan malu-malu mengeluarkan suaranya untuk mengenalkan dirinya.


“Aku Nayla… Salam kenal yah pak” Jawab Nayla tersenyum.


“Oh yah dek… Dulu sewaktu mas kecil… Sering banget mas berkunjung ke vila ini bareng keluarga… Kebetulan mas udah akrab banget sama pak Rudi… Hahaha… Saking seringnya dulu kesini, kalau sekarang-sekarang ini pengen 'booking' vila… Bisa pesen jauh-jauh dari hari sebelumnya… Untungnya sekarang dapet… Kalau gak bisa kebingungan kita mau nginep dimana” Ucap Miftah menjelaskan siapa pak Rudi ke Nayla.


“Ohhh begitu” Jawab Nayla mantuk-mantuk.


“Yahh begitulah… Dulu ini suamimu agak pecicilan orangnya… Lihat pohon kelapa di sana kan ? Suamimu suka manjat-manjat coba” Ucap pak Rudi yang membuat Miftah dan Nayla tertawa.


“Hahahha bisa aja pak… Mumpung di vila… Di rumah mana bisa” Jawab Miftah malu.


“Hahaha gak nyangka sekarang mas Miftah bisa sukses… Udah gitu dapet istri cantik lagi” Puji pak Rudi sambil menatap Nayla.


Nayla pun tertunduk malu. Miftah dengan bangga pun tertawa melihat keadaan nasibnya sekarang.


“Oh yah dek, mau istirahat dulu gak ? Udah jam satuan nih… Mas mau ngobrol-ngobrol sama pak Rudi dulu… Sekalian nanya, mana aja sih tempat yang bisa buat kita jalan-jalan sore nanti” Ucap Miftah pada istrinya.


“Iyya mas… Adek juga capek hehe” Jawab Nayla yang ingin beristirahat setelah dirangsang habis-habisan oleh pembantunya di mobil tadi.


Nayla pun berjalan ke arah bagasi untuk mengeluarkan barang-barang bawaannya. Namun tiba-tiba pak Urip mendekat lalu melarang majikannya untuk membawanya.


“Biar saya aja” Ucap pak Urip yang membuat Miftah tersenyum dari kejauhan. Saat pak Rudi mengajak ngobrol Miftah. Tiba-tiba pak Urip meremas bokong Nayla lalu tersenyum menatapnya.


“Mmpphhhh” Desah Nayla tertahan sambil menatap wajah pak Urip.


“Saya tunggu di kamar… Saya udah gak tahan pengen dengerin desahan manjamu lagi, sayaangg” Ucap pak Urip yang tiba-tiba menyalakan vibratornya lagi.


“Mmppphhhh… Mmpphhh paakkk… Sudaahhh… Cukuuppp” Lirih Nayla sambil menggoyangkan pinggulnya karena tak tahan.


“Hakhakhak… Jangan lupa… Non harus bisa memuaskan saya yah nanti” Ucap pak Urip sambil mematikan vibratornya.


“Hah… Hah… Hah” Nayla tidak menjawab selain mengeluarkan desahan ngos-ngosan. Ia tak percaya kalau pembantunya langsung ingin dilayani tanpa memberinya waktu istirahat terlebih dahulu. Ia pun pasrah. Nampaknya ia harus mengangkangkan kakinya membiarkan penis pria tua itu keluar masuk di dalam vaginnya lagi.


Terlihat pria tua bertubuh gendut itu berjalan memasuki vila sambil membawa koper beserta tas yang mereka bawa. Nayla masih berdiam di samping mobil sambil mengamati pembicaraan suaminya. Nayla ingin sekali berbicara dengan suaminya. Namun suaminya terlihat asyik berbincang bersama penjaga vila bernama Rudi itu. Nayla pun melihat ke arah langit. Langit memang sedang cerah-cerahnya. Ia pun merenung di dalam hati sambil memandang langit biru tersebut.


'Hah… Maafin aku mas… Kayaknya gak lama lagi aku bakal berselingkuh lagi… Jujur aku udah gak kuat lagi… Aku udah sange berat… Aku butuh kontol seseorang mas…'


Batin Nayla yang kemudian menatap wajah suaminya lagi.


Saat wajahnya berbalik ke arah gerbang luar, ia mendapati ada pengendara motor yang sedang mengintip ke dalam. Saat dirinya memergokinya, terlihat pengendara motor itu seperti buru-buru pergi menjauh darinya.


'Siapa dia ? Ehhh… Jangan-jangan orang itu tadi ngeliat aku diremes pak Urip dong ?'


Batin Nayla deg-degan.


Terlihat pak Urip sudah memindahkan semua barang bawaannya ke dalam vila. Nayla pun mulai bergerak. Ia dengan pasrah ingin merelakan harga dirinya lagi demi membebaskan dirinya dari jeratan nafsu birahi.


'Hah…. Hah… Hah… Aku udah gak tahan lagi… Aku butuh kepuasan… Aku butuh kontol yang bisa membebaskanku sekarang…'


Batin Nayla semakin bernafsu.


Dengan perasaan gelisah, Nayla berjalan memasuki vila. Dengan hati yang dipenuhi keraguan, ia tak yakin untuk kembali melakukan perzinahan. Namun nafsunya terus menggerutu dan memaksanya untuk kembali menikmati penis kekar pembantunya. Tatapan Nayla kosong, pikirannya membayangkan bentuk penis pembantunya yang sudah berulang kali keluar masuk di dalam vaginanya. Pikirannya semakin keruh. Ditengah tubuhnya yang semakin bernafsu. Nayla menggelengkan kepala. Nafasnya memberat. Ia pun menaikan wajahnya saat memasuki vila yang sudah mereka sewa.


“Luas juga vilanya… Aku pasti bisa bermain dimana aja” Lirih Nayla yang justru kepikiran hal itu.


Ruang tamunya cukup mewah. Terdapat aquarium berisi ikan-ikan yang berenang didalam. Terdapat juga bantal-bantal yang tersedia diatas sofa vila tersebut. Kakinya pun terus melangkah, hingga dirinya tiba di suatu ruangan dimana pak Urip sedang duduk di tepi ranjang seolah menanti kehadirannya.


Nampak pak Urip tersenyum. Tangan kanannya ia angkat. Terlihat jemarinya memegang sesuatu yang membuat mata Nayla menyipit seketika. Jemarinya pun menekan benda itu. Mata Nayla langsung merem melek seketika. Pinggulnya bergoyang. Tangan kirinya menekan vaginanya dan tangan kanannya meremasi payudaranya. Nayla menatap pak Urip dengan tatapan penuh nafsu. Tatapannya begitu bergairah. Terlihat Nayla sudah tak kuat dan ingin menyerahkan tubuhnya pada pembantu tua yang sudah menjadi pejantannya.


'Akuuu gakkk kuaaat… Massss… Aku gak kuat lagii… Akuuu ingin berzina maaasss… Aku butuh pemuas yang bisa menghilangkan rasa sangekku ini, mas…'


Batin Nayla mendekat sambil terus meremasi payudaranya.


Pak Urip tersenyum melihat akhwat itu mendekat dari kejauhan. Pak Urip ikut berdiri. Pak Urip pun bersiap untuk menyambut kedatangan sang dewi.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


MEC1UFS

https://thumbs4.imagebam.com/cd/52/ff/MEC1UFS_t.jpg   cd/52/ff/MEC1UFS_t.jpg

'NAYLA


“Paaaakkkk” Ucap Nayla yang tiba-tiba mendekap penis pak Urip dari luar celananya. Sedangkan tangan satunya membimbing tangan kanan pak Urip untuk mendekap payudaranya. Terlihat tatapannya yang begitu binal. Terdengar deru nafasnya yang berat. Pak Urip pun tersenyum. Tangannya reflek meremas dada bulat Nayla yang membuat akhwat bercadar itu mendesah.


“Mmmmppppphhhhh” desah Nayla dengan manja.


“Hakhakhak… Ada perlu apa non mendatangi saya ?” Tanya pak Urip berpura-pura tidak tahu sambil meremasi dada Nayla juga menikmati cengkraman tangan majikannya itu pada penisnya.


“Tolonngggg… Aku gak kuat lagi… Aku tersiksa pak… Tolloongg hilangkan rasa ini… Puasi akuuu… Tolooong jangan siksa aku lagi pakkk” Ucap Nayla memohon yang membuat pak Urip tertawa puas.


“Hakhakhak… Caranya ?” Tanya pak Urip lagi yang membuat Nayla kesal.


“Paaakkk toloonggg… Aku butuh ini… Keluarkann paakkk… Keluaarkaannn” Ucap Nayla sambil terus meremas dan mengusap penis pembantunya.


“Ini ? Apa ini ? Sebutkan namanya dong non, biar saya paham maksud non” Ucap pak Urip yang terus bermain-main yang membuat akhwat bercadar itu semakin resah.


“Paaakkkk akuu buttuhh… Konn… Konnn” Ucap Nayla agak ragu-ragu tuk mengucapkannya. Sepertinya ia sudah bertindah kejauhan. Namun rasa gairah ini terus menyiksanya yang membuatnya terpaksa melakukannya.


“Kon ? Kon apa non ? Konfederasi ? Konsumsi ? Kontingen ? Hakhakhak” Tawa pak Urip.


“Konntoolll… Konttooll paaakkk… Aku butuh kontoll bapaakk… Keluarkan pakkk… Akuu mauuu aaaahhhhhhhhhh” desah Nayla saat payudaranya kembali diremas kuat.


“Hakhakhak… Kalau non mau, keluarin dong… Jangan manja… Ayo keluarin sendiri” Ucap pak Urip sambil mendorong bahu Nayla ke bawah hingga Nayla pun berjongkok di depan selangkangan pembantunya.


“Iyyaa… Akan aku lakukan… Akan aku keluarkann kontol bapak” Ucap Nayla yang sudah tak kuat lagi.


Namun telapak tangannya masih terus mengusap-ngusap tonjolan indah dari luar celana pembantunya. Matanya tampak mengagumi kebesaran penis pembantunya. Kedua tangannya secara bergantian membelai penis pembantunya dari luar celananya.


“Aaahhhhhh keluarkkann cepaaattt !” Ucap pak Urip yang membuat akhwat bercadar itu langsung menurutinya.


“Iyya paaakk… Mmpphhh” desah Nayla patuh saat resleting celana pembantunya itu mulai ia turunkan.


Pelan-pelan tangan kanannya menyelinap masuk ke dalam resleting celana yang terbuka. Tangannya juga masuk ke celana dalam pembantunya untuk mengeluarkan tongkat sakti yang ukurannya sangat besar sekali. Namun Nayla malah mengocoknya di dalam. Padahal pak Urip ingin melihat kulit bening Nayla yang sedang mengocoki penis hitamnya.


Pak Urip yang kesal kembali menekan remotnya yang membuat vibrator yang tersimpan di vagina Nayla semakin bergetar kuat.


“Aaaahhhhh… Aaaahhh paakkk jangaannn… Jangann dikuatin… Iya akan aku keluariinn… Tolong jangan dikuatin getarannya paaakk… Aaahhhhh” Desah Nayla yang membuat pak Urip tersenyum saja.


“Cepat… Keluarkan kontol saya… Terus masukan ke mulutmu !” Ucap pak Urip setelah menurunkan frekuensi getarannya kembali.


“Iyyahhh paaakkkk… Mmmpphhhh” Desah Nayla patuh.


Penis hitam pak Urip sudah keluar. Sesuai perintah pembantunya, Nayla langsung mengangkat cadarnya lalu memasukan benda hitam itu ke dalam mulutnya. Dengan lahap wajahnya ia maju mundurkan untuk mengulum penis hitam itu. Dengan lihai lidahnya bergerak untuk menjilati penis hitam itu di dalam. Liurnya semakin membanjir menyelimuti penis hitam itu. Nayla pun merasakan sensasi nikmatnya mengulum lagi. Dikala mulutnya hanya mengulum ujung gundulnya, maka tangan kanannya dengan lihai mengocok-ngocok batang penisnya yang membuat pemiliknya tersenyum senang.


“Aaaahhhhh… Aaahhh yaahhh… Aaahhhh seperti itu nonnn… Ouhhh yaahhhh” desah pak Urip puas.


Namun nafsu Nayla yang tak terkendali membuatnya ingin melakukan variasi. Kedua bibirnya menjepit ujung gundulnya saja. Lidahnya terus menggelitiki lubang kencingnya. Tak jarang mulutnya ikut menyeruput ujung gundulnya saja. Dikala tangan kanannya aktif mengocoki maka tangan kirinya aktif memijit kandung kemih pembantunya. Sontak pak Urip tertawa merasakan puasnya servis dari majikannya. Kembali kepala akhwat bercadar itu maju mundur mengulum penisnya. Penisnya semakin basah. Penisnya diselimuti liur Nayla begitu sempurna.


“Mmppphhhh… Mmpphhhhh… Slllrrpppp bapaaakkk” desah Nayla puas.


“Aaaaahhhhh… Aaahhhhhh… Ayo nonnn… Lagi !... Lebih binal lagiii !” Ucap pak Urip yang segera dipatuhi oleh majikannya.


“Iyyahhh paakkk… Aakuuuu . . . . “ Ucap Nayla yang tiba-tiba meletehkan penis pembantunya lalu mengangkat penis itu hingga berdiri tegak. Meski matanya sudah tertutupi kain cadarnya. Lidahnya dengan liar mampu menjilati sisi bagian bawah penis pembantunya yang sudah berdiri tegak. Lidahnya bergerak naik turun menjilati penis itu. Kadang lidahnya hanya menjilati ujung gundulnya saja. Kadang lidahnya menyentil-nyentil lubang kencingnya yang membuat pemiliknya merinding keenakan. Kadang lidahnya melilit batang penis itu lalu bibirnya mendekat untuk mencumbu ujung gundulnya. Kadang jilatannya juga turun hingga mendekati lubang anusnya. Kadang ia kembali mengulumnya. Kadang ia kembali meletehkannya. Kadang ia kembali mengulumnya lalu menghisapnya kuat-kuat yang membuat pemiliknya mendesah kegirangan.


“Aaaahhhhhhhh… Aaahhhhh… Aahhhh yaahhhh “desah pak Urip sambil berkecak pinggang.


“Mmpphhhh… Mmphhhh… Mmpphhh yahhh… Mmpphhh” desah Nayla yang semakin bernafsu.


Entah darimana ia mempelajari teknik oral ini. Yang jelas Nayla semakin liar dalam melampiaskan nafsunya. Terlihat penis itu semakin basah. Bahkan Nayla kedapatan meludahi penisnya sebelum mengocoknya lagi sembari menatap wajah tua pejantannya.


Pak Urip pun menurunkan cadar majikannya hingga ia dapat melihat tatapan matanya lagi. Terlihat Nayla sudah bernafsu ingin merasakan kepusaan yang lebih. Seolah paham, pak Urip pun tiba-tiba menelanjangi dirinya lalu berbalik badan kemudian menungging dimana kedua tangannya bertumpu pada tepi ranjang vila itu. Kedua kakinya yang masih berdiri di lantai membuat bokongnya menjorok ke arah Nayla. Pak Urip melebarkan kedua kakinya. Ia agak menundukkan punggungnya hingga lubang duburnya nampak dihadapan wajah Nayla.


“Non mau saya genjot kan ? Ayo jilat anus saya dulu” Ucap pak Urip yang membuat Nayla terkejut mendengarnya.


“Eehhh tapiiii” Ucap Nayla yang meski bernafsu, ia tetap tahu kalau anus merupakan lubang tempat pembuangan kotoran. Bagaimana mungkin lidahnya yang biasa mengucapkan hal-hal baik diminta untuk menjilati lubang dubur itu ? Nayla agak menolak namun tiba-tiba getaran yang ia rasakan membuatnya menjerit dengan begitu nikmat.


“Aaaahhhhhh… Aaahhh paakkk ammpuunnn… Ammpunnn pakkk jangan lagiii… Iyaahhh aku akan…. Aaahhhhh” desah Nayla bergoyang saat berjongkok dihadapan bokong pembantunya.


“Hakhakhak… Cepat lakukan sebelum suamimu itu datang” Ucap pak Urip yang menyadarkan Nayla.


'Maasss…. Mmpphh !'


Nayla pun terpaksa mendekati lubang dubur itu. Meski ia merasa jijik. Meski ia tak ingin untuk menuruti perintah anehnya itu. Lama-lama wajahnya semakin dekat ke arah dubur pembantunya. Tercium aroma pantat yang membuat Nayla merasa muak. Namun ia memaksanya. Ia menarik nafasnya yang justru membuatnya semakin menghirup aroma pantat pembantunya. Ia menahan nafasnya. Cadarnya kembali ia angkat lalu lidahnya keluar untuk menyentuh lubang dubur pembantunya.


“Aaaahhhhhh noonnnn… Aahhhh yaahhhh… Aaahhhhhh” desah Pak Urip sampai merinding.


Rasanya sungguh nikmat saat duburnya dijilati oleh lidah seorang akhwat. Kedua tangannya pun mencengkram sprei ranjang tidur vila dengan kuat. Mata pak Urip sampai merem melek keenakan. Lidah itu menjilati tepi duburnya dan terkadang menjilati lubang duburnya yang belum terbuka lebar. Namun itu sudah cukup untuk membuatnya bergidik nikmat. Pak Urip pun ingin meminta lebih. Ia mulai mengeluarkan instruksinya lagi.


“Lebarkan bokong saya non… Masukan lidahmu ke dalam” Ucap pak Urip yang mau tak mau harus dituruti oleh Nayla.


Akhwat bercadar yang masih berpakaian lengkap itu pun terpaksa melebarkan lubang dubur pembantunya yang sudah bertelanjang bulat. Sungguh pemandangan yang sangat absurd ketika ada akhwat cantik yang sedang menjilati lubang dubur pria tua yang memiliki wajah buruk rupa. Kedua tangannya melebarkan bokong pembantunya dengan memegangi bongkahan pantatnya. Saat lubang dubur itu semakin terbuka, terpaksa lidahnya bergerak masuk untuk menjilati lubang duburnya.


“Aaaahhhhhh… Aaahhhhh… Aaahhhh nonnnnn” desah Pak Urip tersenyum senang.


“Ssllrrppp… Ssllrrpppp… Ssllrrppp” Lidah Nayla terus aktif meski ia terus merasakan sensasi jijik ketika diminta menjilati dubur pembantunya itu. Ia berulang kali merasakan rasa pahit di lidahnya. Belum juga dengan aroma memuakkan yang terhirup di hidungnya. Namun ia terus memaksa diri untuk melakukannya agar dirinya dapat dihadiahi tusukan nikmat oleh pembantu bejatnya.


Lidah Nayla mendorong-dorong dinding anus pak Urip agar bisa masuk lebih dalam lagi. Lidahnya juga sesekali keluar lalu menjilati tepi duburnya saja. Nayla merasa jitjik. Ia sudah tak kuat lagi hingga membuatnya terbatuk-batuk menghadap ke lantai kamar vilanya.


“Uhhuukkk… Uhhuukkk… Uhhukk” Nayla merasa muak dengan aroma pantatnya. Ia bahkan mengelap lidahnya sesekali menggunakan cadarnya. Ia tak sanggup lagi. Ia tak sanggup untuk menjilati dubur pembantunya lagi.


“Hakhakhak… Makasih non… Mulai sekarang, non udah boleh goyang diatas tubuh saya… Ayo sini” Ucap pak Urip yang langsung mengambil posisi tiduran terlentang diatas ranjang empuk vila tersebut.


Bagai budak yang sudah diperintah tuannya. Nayla tanpa mengucapkan apa-apa langsung berdiri menatap penis tegak yang sudah basah berlumuran air liurnya tersebut. Tangannya kembali meremas dada bulatnya sendiri dari arah luar gamisnya. Ia terdiam sejenak menatap benda keras itu. Ia merenung. Ia merenungi dirinya yang sudah seperti ini.


'Seperti inikah takdirku pada akhirnya ?'


Batin Nayla sambil melepas celana dalam yang dikenakannya hingga turun melewati kedua kakinya. Ia lalu menarik keluar vibratornya. Lalu menjatuhkannya ke lantai begitu saja.


'Menjadi seorang budak yang selalu menghamba pada kontol seseorang ?'


Batin Nayla sambil berjalan mendekat ke arah ranjang tidur vila tersebut.


'Yang haus akan nafsu, yang selalu membutuhkan seorang pemuas yang bisa mengatasi rasa sangekku ?'


Batin Nayla mulai menaiki ranjang vila tersebut. Nampak pak Urip tersenyum puas. Akhwat bercadar itu mulai mendekat tuk menaiki penis kekarnya.


'Nayla, dimana ilmu agama yang dulu kamu sempat pelajari ? Apakah semuanya sudah terlupakan oleh nafsu birahimu sendiri ?'


Batin Nayla yang sudah mengambil posisi untuk menunggangi pria tua berperut tambun itu. Tinggal ia menurunkan tubuhnya maka penis itu langsung ambles menembus vaginanya.


'Entahlah, jangan tanya diriku ! Aku ini bukan seorang santriwati lagi… Aku ini, adalah… Lonte pemuas yang selalu menghamba pada nafsu birahi…'


Batin Nayla yang langsung menurunkan tubuhnya hingga penis kekar itu ambles seluruhnya ke dalam vagina Nayla yang sudah sangat basah.


“Aaaaaaahhhhhhh bapaaakkkkk” desah Nayla yang kehilangan akal sehatnya.


“Aaaahhhh nonnnn… Nikmat sekaalliiii” Desah pak Urip dengan suara memberat.


Nayla yang sudah sangat terangsang justru malah ambruk diatas tubuh tambun pembantunya. Mata mereka bertemu. Nampak pak Urip tersenyum menatapnya. Nayla dengan penuh nafsu pun membalas tatapannya sambil menegakkan tubuhnya kembali.


'Maafkan aku suamiku… Maaf aku sudah memilih jalan ini… Sepertinya, berkali-kali pun aku mencoba melawan, aku selalu ditakdirkan untuk menjadi seperti ini… Aku seorang pemuas… Ah tidak, aku adalah lonte yang selalu haus akan kepuasan… Tolong selamatkan aku pak… Selamatkan aku dengan kejantanan kontolmu !'


Batin Nayla yang mulai menaikkan tubuhnya lalu menurunkannya dengan segera hingga dirinya merasakan gesekan ternikmat yang ia rasakan di dinding vaginanya.


“Aaaahhhhh iyaaahhh… Aaahhhhhh bapaaakk… Aaahhhh enakkk sekaliiii” Desah Nayla yang mulai konsisten saat naik turun diatas penis pembantunya.


“Aaaahhhhhh… Aaahhhhhh… Ayooo goyangg lebih keras lagi nonnn… Ayooo… Aaahhhhh” desah pak Urip yang tak mampu mingkem akibat rasa nikmat yang selalu menyerangnya.


“Aaaahhhhh iyyaahhh… Iyyaahh paakkk… Aaahhhh akuu akannn… Mmpphhh… Melakukannyaaa !!!” desah Nayla sambil bertumpu pada perut tambun majikannya. Tubuhnya ia angkat tinggi lalu menurunkannya dengan cepat. Ia angkat lagi lalu ia benamkan lagi. Terkadang pinggulnya bergoyang memutar. Terkadang pinggulnya bergerak maju mundur. Rasa nikmat yang ia rasakan membuatnya tak sanggup berhenti untuk bergoyang diatas tubuh pembantunya ini.


Tubuh Nayla ditegakkan. Kedua tangannya ia geletakkan saja di kiri kanannya. Pinggulnya bergerak maju mundur. Matanya menatap wajah pembantunya dengan penuh nafsu. Mulutnya berulangkali mendesah nikmat. Rasa gatal di vaginanya membuatnya ingin terus menggaruknya hingga membuat goyangannya semakin terasa luar biasa.


“Aaaahhhhh… Aahhhhh… Aaahhhh enakkk bangett paakkk… Aahhhhhhh” desah Nayla meski masih malu-malu saat menatap pembantunya itu.


“Aaaahhhh… Aahhhhhh… Iyya kan ? Non mulai mengakuinya kan ?” Tanya pak Urip ditengah-tengah desahannya.


Namun kali ini Nayla menjawab. Hatinya kembali teringat perbuatan baik suaminya. Namun rasa nikmat membuatnya ingin terus menggoyangnya. Meski batinnya sudah memilih jalannya untuk menjadi lonte pemuas. Namun hati kecilnya selalu mengingatkan kalau ini adalah perbuatan yang salah. Nayla bingung. Ia ingin kepuasan tapi hatinya malah berbicara 'tidak, ini hanyalah kepuasan yang fana'. Ketika ia ingin menuruti hatinya namun nafsunya justru berkata 'tidak, jangan berhenti, nanti kamu akan tersiksa selamanya'.


Kata-kata itu terus bergelut di pikirannya. Hatinya bergejolak. Ia bingung harus memutuskan apa namun pinggulnya terus bergoyang merangsang nafsu birahi pembantunya. Rasa nikmat itu membuatnya ingin meremas dadanya.


Tanpa diperintah oleh pak Urip, Nayla menurunkan resleting gamisnya hingga gamisnya jatuh di sekitar pinggangnya. Nampak beha yang Nayla kenakan terlihat. Ia menurunkan 'cup' branya lalu tangannya meremasi susunya sambil terus bergoyang menikmati kepuasan yang ia dapatkan.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhh… Aaahhh bapaaakkk” desah Nayla yang membuat pak Urip tertawa puas.


“Hakhakhak… Iyyahh betulll… Remes seperti itu nonnn… Binalkan dirimu… Nikmati kontol saya dan remas susumu kuat-kuat !” Ucap pak Urip yang membuat Nayla semakin bersemangat.


“Aaahhhh iyaahhh… Akan kulakukan paakk… Aaahhhhh… Aaaaahhhh” desah Nayla sambil memelintir putingnya sendiri.


Naik turun, naik turun, naik turun. Tubuh Nayla terus naik turun diatas tubuh pejantannya yang tambun. Terasa penis itu menggaruk vaginanya. Terasa nafsunya terpuaskan oleh goyangannya. Terasa susunya terpuaskan oleh remasannya yang membuatnya semakin liar dalam memuaskan nafsunya.


Pak Urip sendiri tidak sanggup berdiam lebih lama lagi. Ia ingin aktif menggenjot vagina majikannya. Sudah cukup baginya membiarkan Nayla bergerak sendiri ditengah persetubuhan mereka yang semakin panas. Kedua tangannya tiba-tiba mencengkram pinggang Nayla yang masih tertutupi gamisnya. Pinggulnya mulai bergerak naik. Tubuh Nayla sampai meloncat saat penis tua itu mulai aktif bergerak menggempur vaginanya.


“Aaaahhhh… Aaahhhh bapaakk… Aahhhhh” desah Nayla terkejut akan penetrasi pembantunya.


“Aaahhhhhh saya gak sanggup diem lagi non… Saya mau ikut genjot… Ayo sini… Saya akan memberimu kepuasan yang tidak terkira” Ucap pak Urip sambil menarik tubuh Nayla hingga berbaring diatas tubuh telanjangnya. Puting mereka bertemu. Kulit mereka bersatu. Mereka terlihat seperti kopi dan susu. Saat Nayla terjatuh diatas tubuh pembantunya, pak Urip dengan sigap langsung menggempur vaginanya yang membuat tubuh Nayla bergerak maju mundur diatas tubuhnya.


“Aaaahhhhhh… Aaaahhhh… Aaahhhhh” Desah Nayla dengan keras.


Kulit mereka bergesekan. Pentil mereka juga bergesekan. Telapak tangan pak Urip menekan punggung mulus majikannya ke arahnya. Penisnya pun bergerak kencang. Ibarat pengeboran, penisnya bergerak keluar masuk untuk mengebor minyak yang tersimpan di dalam vagina Nayla.


Vagina Nayla semakin basah. Penis pak Urip jadi semakin mudah untuk keluar masuk ke dalam. Suara pinggul mereka yang berbenturan semakin keras. Wajah Nayla yang berada tepat diatas wajah pembantunya hanya bisa memejam tuk menahan hujaman yang semakin keras.


'Plookk… Plokkkk… Plookkk !!!'


“Aaaahhhh yaaahhh… Aaahhhh puas sekaliii rasaannyyaa… Aaahhh saya gak pernah bosan untuk menyetubuhi memek rapetmu nonnnn” Ucap pak Urip ditengah kepuasannya.


“Aaahhh yaahhh… Aaaahhh pakkkkk… Aaahhh akuuu… Aaahhhhh”


Nayla kesulitan untuk mengatakan “Aku juga”. Harga diri masih menghalangi dirinya untuk mengucapkan kalimat simpel itu. Sebagai akhwat bercadar, tentu ia tak mau dirinya kehilangan harga dirinya dengan begitu mudah. Meski tubuhnya sudah menerima untuk menjadi lonte pemuas. Hatinya terus bertahan untuk menjaga batasan. Namun seiring sodokan pembantunya yang semakin kuat. Semakin goyahlah hatinya untuk menuruti apa yang diinginkan oleh tubuh indahnya.


'Aaakkuuu lonteee… Akkuu ini lonteeee… Aaaahhhh tidak, apa gak malu sama hijab & cadar yang kamu kenakan Nay ?'


Batin hatinya terus bergejolak.


'Entahhlaahhh… Aku bingungg… Aku gak tau lagi… Pokoknya aku sekarang mau terbebas dari siksaaan ini… Ayo pakk terusss… Sodok akuu paakk… Beri aku kepuasan yang aku inginkaann !'


Batin Nayla berteriak.


Namun ditengah sodokan yang semakin nikmat, tiba-tiba pak Urip menghentikan gerakan pinggulnya. Nayla agak kecewa lalu menatap wajah pembantunya tak percaya. Namun pak Urip hanya tersenyum sambil menatap wajah cantik majikannya.


“Tenang non… Saya juga gak mau persetubuhan kita berhenti begitu aja kok… Ayo ganti gaya… Cepat nungging… Saya ingin menggenjotmu pake gaya anjing kawin !” Ucap pak Urip yang membuat wajah Nayla memerah malu.


'Kenapa pak Urip tau kalau aku tadi kecewa ?'


Batin Nayla sambil mengambil posisi menungging diatas ranjang tidur yang mereka tempati.


“Indahnya bokong montokmu ini nonn !” Ucap pak Urip sambil menampar bokong majikannya.


'Plaaaakkkkk !!!'


“Aaaaahhh bappaakkk !” Jerit Nayla dengan manja.


“Hakhakhak… Non udah siap untuk jadi anjing betina saya kan ?” Tanya pak Urip sambil mengusap-ngusap bongkahan pantat majikannya yang begitu mulus sempurna.


“Aaahhh lakukaannn… Aku siap menjadi apa saja asal aku bisa terbebas dari siksaaan ini paakkk” Ucap Nayla tak kuat lagi.


“Hakhakhak… Kalau gitu bilang gugg gugg dong” Ucap pak Urip yang meminta Nayla meniru suara anjing.


Jelas itu merupakan penghinaan besar bagi Nayla. Tapi nafsu yang sudah tak tertahankan membuat dirinya manut saja asal dirinya mendapatkan kepuasan.


Meski lidahnya kelu. Meski dirinya merasa malu. Mulutnya pun membuka lalu mengucapkan apa yang seperti pembantunya perintahkan.


“Guugg… Guuggg… Aaaaaaahhhhhhh”


Tepat setelah Nayla meniru suara anjing, Pak Urip langsung menyobloskan penisnya kembali hingga akhwat bercadar itu menjerit merasakan kepuasan yang kembali ia dapatkan.


Tanpa jeda dengan nafsu yang sudah meluap-luap, pria tua yang sangat beruntung itu langsung menggerakkan pinggulnya maju mundur tanpa ampun. Kedua tangannya mencengkram gamis yang masih melingkar di pinggang majikannya. Matanya menatap punggung mulus majikannya yang begitu halus. Mulutnya mengerang nikmat. Jepitan vagina majikannya begitu terasa menghimpit penis besarnya.


“Aaahhhhhh… Aaahhhhh… Aaaahhh mantap sekali memekmu, non” Desah pak Urip puas.


“Aaahhhhh… Aaahhhhhh… Iyyaahhhh… Aaahhhh terusss pakkkk… Aaahhhhh” desah Nayla merasakan kepuasan yang tak terkira.


Vaginanya yang gatal disodok berulang kali tanpa henti. Gairah birahi yang meledak dipuaskan oleh sodokan penis yang setajam belati. Vaginanya terus diobok-obok. Vaginanya terus diuleg-uleg. Rahimnya semakin basah oleh penis kekar yang membuatnya tak lagi merasa gelisah.


'Aaaahhhhh… Aaahhhhhh… Enakkk sekaliii… Enakkk sekali perzinahan iniiii… Ayoo pakk terusss… Terusss setubuhi aku, pak…'


Batin Nayla yang sudah tak tahan lagi.


'Aaahhhhh andai suamiku bisa memberikan kepuasan seperti ini… Andai suamiku bisa lebih ahli dalam memberikan kenikmatan seperti ini… Aahhhh, kenapa kamu gak bisa seperti ini mas ? Kenapa justru pembantumu yang bisa memberikan kepuasan seperti ini kepadaku, mas ?'


Batin Nayla saat tubuhnya terdorong maju mundur tanpa henti.


Mendengar majikannya terus mendesah membuat pria tua itu semakin tertawa. Ia pun mengejek majikannya. Ia menganggap majikannya seorang munafik karena enggan mengungkapkan kenikmatan yang sudah majikannya dapatkan.


“Aaahhhh… Aaaahhhhh… Jangannn maluuu-maluuu aahhhh… Ungkapkan semuanyaaa… Desah yang keraasss non… Luapkannn nafsumuuu ituuu” Desah pak Urip sambil terus menyodok rahim majikannya.


“Aaahhhhh… Aaahhhhhh… Iyaahhh… Aaahhhhh puass bangett paakkk… Aaahhhhh” desah Nayla malu-malu.


“Hakhakhak… Terusss… Jangann malu-malu… Ungkapkan semuanyaa… Lonte itu gak pernah malu-malu selama mendesah” Ejek pak Urip yang anehnya justru membuat Nayla semakin bernafsu saat itu.


“Aaahhhhhh… Aahhhh iyaahhhh… Akuuu gak akan… Aahhhhh… Maluu-maluu paakkk… Cepaattt sodokk lagiii… Hujami rahimku lebih keras lagii paaakkkk” desah Nayla meluapkan gairah birahinya.


“Hakhakhak… Kalau itu maumu, baiklah !” Ucap pak Urip yang benar-benar memperkuat hujamannya.


“Aaahhhhhhl… Aaahhhhh… Aaahhh iyaahhh… Iyyaahhhh” desah Nayla dengan sangat manja.


Tubuhnya terdorong maju mundur. Payudara bulatnya terus bergondal-gandul. Matanya merem melek penuh kepuasan. Kemulusan tubuhnya membuat tangan pembantunya terus bergerak tuk mengusapi kulit punggungnya yang begitu halus. Lalu tubuh pak Urip ditundukkan. Tangan kanannya mendekap tangan kanan majikannya lalu ditariknya ke belakang. Begitu juga dengan apa yang terjadi pada tangan kiri majikannya. Seketika tubuh Nayla terangkat. Dadanya membusung ke depan. Disaat hujamannya semakin keras, maka semakin indahlah penampakan dada Nayla yang sedang disodok dari belakang.


“Aaaahhhhhhh… Aaahhhhh… Aaahhhhhhh “desah Nayla dengan manja.


“Aaaahhhhh yaahhhh… Ahhhhhh… Masih kurang puas ? Haruskah saya perkuat lagi non ?” Ucap pak Urip tersenyum sambil melirik ke sisi kanan tubuhnya. Tepatnya ke sudut ruangan yang ada di seberang.


“Aaahhhhh iyaahhhh… Tolonggggg lagiii… Tolonggg hujami aku lebih keras lagiiiii” Pinta Nayla yang membuat pak Urip tertawa.


“Hakhakhak… Kalau itu mau non… Rasakannn iniii !”


“Aaaahhhhhhhhh… Aaaaaaahhhh… Aaaahhhhhhh” desah Nayla menjerit keras.


Hampir dua menit mereka bersetubuh dengan posisi seperti itu. Wajah Nayla sampai geleng-geleng tak percaya. Ia sangat bersyukur bisa merasakan persetubuhan sepuas ini. Vaginanya semakin panas. Cairan cintanya semakin memenuhi isi rahimnya. Tubuhnya mengejang. Susu bulatnya mengencang. Terlihat susu bulatnya juga membesar. Tubuh Nayla sudah berada di fase sempurna. Fase dimana tubuhnya terlihat paling menggoda ketika dirinya berada di puncak kenikmatannya.


“Aaaahhhhhh… Aaahhhh… Hebaattt banget yah non ini… Saya hampir kelluaaarrr” Ucap pak Urip puas.


“Aaaaahhhhh akuu jugaaa… Akuu jugaa pakkkk… Aaaaaahhhhhh” desah Nayla saat tiba-tiba kedua tangannya dilepas hingga membuatnya tak memiliki tumpuan di depan. Tubuhnya ambruk ke ranjang. Wajahnya jatuh ke atas sprei ranjang tersebut. Susu bulatnya terjepit. Pak Urip menabok bokong Nayla sekali tuk menghadiahi kepuasan yang ia dapatkan dari vagina majikannya yang begitu sempit.


“Ayoooo buka semuanya non” Ucap pak Urip saat menarik penisnya keluar lalu memelorotkan gamis yang masih melekat melalui kedua kakinya.


“Aaaahhhhhh” desah Nayla yang akhirnya bisa telanjang sempurna menyisakan hijab, cadar, serta stockingnya saja.


“Hakhakhakhak” Tawa pak Urip sejenak sambil melirik ke arah sudut ruangan. Pak Urip pun tersenyum sebelum memulai kembali aksi pembinalannya.


“Ayooo tidurann… Kita akhiri sekarang” Ucap pak Urip yang hanya dijawab Nayla dengan anggukan saja.


Nayla yang sudah telanjang bulat diposisikan tiduran terlentang menghadap ke atas. Pak Urip pun membuka kedua kaki Nayla melebar. Penisnya kembali ia arahkan. Dengan satu tusukan yang begitu nikmat. Ia membenamkan penisnya sedalam-dalamnya hingga menyundul dinding rahim kehangatannya.


MEC1UFW

https://thumbs4.imagebam.com/08/73/17/MEC1UFW_t.jpg   08/73/17/MEC1UFW_t.jpg

'NAYLA


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


“Uuuuhhhhhhh paaaakkk” Desah Nayla manja.


“Aaahhh yah… Hah… Hah… Hah… Ayo selesaikan… Akan saya hamili dirimu sekarang !” Ucap pak Urip bernafsu saat pinggulnya kembali bergoyang tuk mengakhiri semua persetubuhan ternikmatnya,


Uuuuuhhhhh bapaakkk… Iyyaaahhhhhh jerit Nayla merasakan tusukan nikmat dari pembantu tuanya itu. Saking kuatnya, kedua tangannya sampai mencengkram kuat sprei ranjang tidurnya. Matanya memejam. Ia tak sabar untuk merasakan orgasme dari persetubuhannya sekarang.


Ketika nafsu sudah berada di puncak kenikmatan. Maka tak ada alasan bagi tubuh untuk menahan setiap sodokan. Itulah yang dirasakan oleh pak Urip. Ia tidak menahan diri lagi. Dirinya langsung menggempur rahim majikannya tanpa henti. Ditatapnya payudara majikannya yang bergoyang. Gerakannya yang begitu indah membuat pembantu tua itu semakin terangsang. Lidahnya pun keluar sendiri untuk menjilati lidahnya yang kering. Ia terpesona oleh warna puting majikannya yang begitu pink.


Tangannya yang gemas jadi ingin mengelus tubuh polos majikannya. Mulai dari pinggang ia berpindah ke paha. Dari paha naik lagi ke perut. Dari perut ia mengelus susu bulatnya. Disana ia menekan puting susunya. Lalu menariknya. Lalu mencubitnya. Ia kembali mengusap perutnya sambil menatap wajah sangek majikannya.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhh… Jangaaannn… Jangannn ditarik-tarik paakkk… Aahhhhhh” desah Nayla terangsang.


“Hakhakhak… Lohhh kok ngatur… Suka-suka saya donggg… Hennkgghhh !!!” Desah pak Urip yang malah meremas payudara Nayla sekuat-kuatnya.


“Aaaaaaaaahhhhh bapppaaaakkkkk” Jerit Nayla penuh kepuasan.


Mendengar jeritan Nayla yang menggoda ditambah dengan tubuh mulusnya yang lebih menggoda membuat nafsu pak Urip semakin membara. Ia kembali mencengkram pinggangnya lalu mempercepat hujamannya sehingga susu bulatnya semakin bergoyang sempurna./


“Aaaahhhhh… Aaahhhh… Akan saya akhiri sebentar lagiii… Tunggu sebentaaar… Tungguu sebentaar lagi yah non… Saya akannn aahhhhh”


“Aaaahhhh iiyahhh… Cepaatt keluuaarkkannn… Aku udah gak tahannn lagiii… Ayooo pakkk selesaikannn”


Ranjang tidur yang mereka tempati bergoyang. Tubuh Nayla terdorong maju mundur semakin kencang. Wajah pak Urip terlihat senang. Ia begitu girang bisa menyetubuhi akhwat bercadar yang kini sudah telanjang.


Disaat nafsu sudah mendekati puncak. Pak Urip merasakan penisnya semakin terjepit. Lubang vagina majikannya semakin menyempit. Dinding vagina majikannya menghimpit yang membuat penisnya semakin tercekik.


Pak Urip tidak kuat lagi. Ia terus menggempur vagina Nayla dengan sisa tenaga yang ia punya.


Aaaahhh... Aaaahhh... Aaaahhh jerit Nayla yang juga sudah mendekati batas maksimalnya. Sodokan pembantunya yang begitu kuat membuat payudaranya terus meloncat - loncat. Tubuhnya juga terangkat. Ia tak mengira persetubuhannya kali ini begitu dahsyat.


'Plookk… Plokkk… Plookkk !!!'


Pinggul Pak Urip terus menggempur. Ia tak memberikan waktu istirahat sedikitpun kepada majikannya itu. Suara benturan pinggul mereka juga terdengar kuat. Suara jeritan mereka juga bercampur memenuhi seisi ruangan.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Puas sekali rasanya bisa menikmati tubuhmu, non… Aaahhh terima ini… Terima kontol saya ini !” Desah pak Urip saat menghentakkan pinggulnya.


'Plokkk… Plokkk… Plokkk… '


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Aaahhhhh lebih kuat lagiii… Ayoo pakk sebentar lagiii” desah Nayla saat merasakan vaginanya berdenyut.


“Aaaahhhhh… Aahhhhh… Aaahhhh… Akan saya habisi dirimu non... Rasakan ini... Terimaaa inniii !!! Desah pak Urip.


“Aaahhhh iyyaahhhh… Iyaahhhhh” desah Nayla tak tahan lagi.


“Aaahhhh… Aahhhh… Aaahhhh sayaa akan keluaaar… Saya mau keluuuaarrr” Desah pak Urip sambil merem melek keenakan.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Aku jugaaa pakk… Akuuu aaahhhhh” desah Nayla sambil meremas sprei ranjang tidurnya semakin kuat.


Tubuh pak Urip menunduk. Mulutnya membuka tuk menyusu pada puting indah itu. Pinggulnya tak berhenti menggempur. Lidahnya tak berhenti menjilat. Mulutnya juga tak berhenti menghisap.


“Mmmpphhhhh… Mmpppp sllrrpp… Mmpphhh… Saya mauu kelluaarrr… Sayaa mauuu kelluuaar” Desah pak Urip mengangkat wajahnya lagi tuk menatap mata indah majikannya.


“Aaahhhh pakkkk… Akuu jugaaa… Akuuu juggaaaa” desah Nayla membalas tatapan mata pembantunya.


Akhirnya dengan satu tusukan yang begitu kuat. Penis pak Urip menembus rahim terdalam yang membuat Nayla puas tak tertahankan. Tubuh gembrot pak Urip jatuh menindihi tubuh ramping majikannya. Dada mereka bersentuhan. Wajah mereka saling bertatapan. Pak Urip pun memeluk tubuh ramping majikannya saat cairan cintanya mulai keluar membasahi rahim majikannya.


“Aaaahhhh kellluuaaaarrrrr !”


“Aaahhh akkuuu juggaaaa !!!”


'Cccrrrooottt… Cccrrrooottt… Cccrrrooottt…


Cccrrrttt… Cccrrrttt… Cccrrrttt… Cccrrrttt….'


Rahim Nayla basah. Rahimnya telah penuh. Ketika rahimnya diisi oleh pejuh maka tubuh mereka diselimuti oleh peluh. Mata mereka merem melek penuh kepuasan. Sedangkan tubuh mereka kelojotan penuh kepuasan. Deru nafas mereka pun bersatu setelah mengakhiri persetubuhan ternikmat mereka yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Hanya suara ngos-ngosan yang tersisa. Hanya senyuman penuh kepuasan yang mereka tinggalkan. Atau mungkin hanya salah satu dari mereka yang tersenyum penuh kepuasan.


“Hah… Hah… Hah… Puas sekali yah non… Hakhakhak” Tawa pak Urip sambil beristirahat sejenak tanpa mencabut penisnya dari vagina majikannya.


Sedangkan Nayla menyesali apa yang sudah diperbuatnya. Ia hanya menatap kosong ke arah langit-langit ruangan. Ia merenungi perbuatannya lagi. Ia merasa aneh pada dirinya. Ketika dirinya sedang nafsu-nafsunya, ia merasa sudah berubah menjadi orang lain. Ia pun heran kenapa lisannya sampai berucap seperti tadi. Ketika nafsu terselesaikan. Ia kembali menjadi dirinya yang sebenarnya. Nayla hanya memejam pasrah. Nasi sudah menjadi bubur. Sperma telah tertanam di dalam rahimnya lagi. Nayla pun takut kalau dirinya hamil hasil dari cocok tanam pembantunya lagi.


'Siapa aku ? Dan kenapa aku ? Maaasss…'


Batin Nayla menyesal.


'Padahal aku sudah meminum ramuannya… Tapi kenapa aku masih kayak gini ? Bahkan tambah parah… Bisa-bisanya aku bercinta disini juga di warung pak Tomi…'


Batin Nayla merenung.


'Bahkan tadi aku… Terang-terangan pasrah ingin mengambil jalan tadi ? Bukan, aku bukan lonte… Kenapa aku malah kayak tadi sihhh !'


Batin Nayla ingin menangisi dirinya sendiri.


Namun rasa lelah yang menderanya sejak tadi membuat rasa kantuk perlahan datang menghampiri. Padahal tubuhnya masih telanjang. Bagaimana nanti kalau suaminya datang dan memergokinya sedang telanjang dan pembantunya ada di seberang ?


Tapi rasa kantuknya ternyata lebih kuat. Dalam pelukan pembantunya, Nayla pun tertidur setelah mendapatkan kenikmatan yang tidak tertahankan.


'Maafin aku, mas…'


Batin Nayla sebelum tertidur pulas.


“Loh… Loh… Loh… Udah tidur ? Capek yah non… Hakhakhak” Tawa pak Urip yang kali ini berhati-hati saat mencabut penisnya. Kebetulan ia melihat bantal di sebelahnya. Ia pun menaruh bantal itu diatas paha Nayla agar membiarkan spermanya tetap menetap didalam.


Dengan santai ia berjalan menuju sudut ruangan. Ia mengambil 'handycam' yang rupanya sudah ada disana sejak lama. Ia pun memeriksa hasil rekamannya. Terlihat di rekaman itu seolah Nayla yang datang untuk menggodanya.


“Hakhakhak… Gak sia-sia saya beli benda ini… Apa sih namanya ? Helikem ? Ah bodo amat sama namanya… pokoknya dengan ini non Nayla pasti gak akan berani nolak lagi… Untungnya sebelum beli sempat diajarin dulu sama yang jualan… Kalau gak, mana paham saya make benda modern kayak gini… Hakhakhak” Tawa pak Urip tertawa senang.


Seketika ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Pak Urip mendadak panik. Ia menoleh ke ranjang dan mendapati majikannya masih telanjang. Ia pun mengambil selimut lalu menutupi tubuh majikannya menyisakan kepalanya saja yang tidak tertutupi. Ia juga lekas sembunyi. Ia pun memilih kolong ranjang untuk menyembunyikan tubuh gembrotnya.


“Eh iya baju saya” Ucap pak Urip kembali keluar untuk memungut pakaiannya yang berserakan di lantai.


Setelah kembali masuk ke kolong ranjang. Terlihat sepasang kaki seseorang yang berdiri di pintu masuk kamar.


“Loh adek udah tidur yah… Kasian pasti capek di perjalanan” Ucap Miftah saat melihat istrinya tertidur pulas.


Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Miftah naik ke atas ranjang untuk tiduran di sebelahnya.


Jantung pak Urip pun deg-degan mendapati Miftah berada di sebelah istrinya. Bagaimana kalau nanti Miftah menarik selimutnya dan mendapati tubuh istrinya sudah telanjang bulat ? Bagaimana kalau nanti Miftah melihat ke arah vagina istrinya dan mendapati ada lendir sperma di dalam ?


'Duhhh piyye iki ?'


Batin pak Urip kebingungan.


“Dekk… Dek… Siang-siang gini kok malah pake selimut sih… Tuh kan keringetan” Terdengar suara Miftah yang membuat jantung pak Urip semakin berdegup kencang.


'Nahh lohh kan… Piye iki ? Kalau ketahuan bisa-bisa saya gak bisa ngentot non Nayla lagi ini !'


Batin Pak Urip panik.


“Lohhhhh !” Terdengar suara Miftah yang membuat pak Urip semakin panik.


Pak Urip menaikan wajahnya ke atas. Ia begitu khawatir kalau Miftah menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya.


“Cakep banget pemandangannya… Sayang banget kalau waktunya dipake buat tidur-tiduran” Ucap Miftah yang rupanya terkejut melihat pemandangan di jendela vilanya.


Miftah pun turun dari ranjang dan berjalan ke arah jendela. Ia mengamati pemandangan sekitar. Ia lalu tersenyum kegirangan.


“Mending aku keluar aja… Mau nyari tempat untuk jalan-jalan nanti sore” Ucap Miftah tersenyum yang lalu keluar dari dalam kamarnya.


“Fiyyuuhhh… Udah keluar kan ?” Tanya pak Urip saat kepalanya melongok keluar dari dalam kolong ranjang.


“Untungnya kolong ranjangnya gak kotor… Hebat sih pak Rudi… Orangnya detil banget… Sampe kolong juga gak luput dibersihin sama dia” Ucap pak Urip sambil berdiri lalu hendak mengenakan celananya lagi.


“Hakhakhak… Gara-gara non, saya hampir jantungan tadi… Ayo perlihatkan lagi tubuh indahmu” Ucap pak Urip sambil menarik selimutnya tuk melihat tubuh indah telanjangnya.


“Hah… Beruntung saya bisa mengisi rahimmu berulang kali… Kok bisa yah saya kepikiran buat nanem benih di rahimmu, non… Kok bisa juga yah rencana mesum saya berjalan sempurna, sehingganya hingga detik ini… Hakhakhak… Gak habis 'thinking' pokoknya… Harus sering-sering bersyukur ke bapak nih… Gak salah bapak saya ngasih nama 'Untung Urip Bejo' ke saya… Hidupku jadi beruntung terus pokoknya… Hakhakhak” Tawa pak Urip puas.


Selagi mengamati lekuk tubuh Nayla yang sudah telanjang bulat. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang berasal dari arah pintu masuk kamar.


Sontak pak Urip terkejut sambil menolehkan wajahnya ke arah pintu masuk.


“Pak Urip ? Apa yang bapak lakukan ? Mbak Naylaa ?” Ucap pria tua yang mengenakan 'hoodie' itu.


Pak Urip yang awalnya sangat terkejut langsung mengelusi dadanya sambil tersenyum. Ia merasa lega, ia mengira Miftah yang baru saja masuk mengejutkannya.


“Walah pak Rudi… Hufftttt” Ucap Pak Urip lega.


“Kaliaaan ? Habis ? Lohhhh” Ucap pak Rudi sampai melongo saat mendapati banyaknya sperma yang mulai tumpah dari dalam vagina Nayla.


“Kenapa pak ? Ada apa pak Rudi ? Ada yang bisa saya bantu ?” Tanya pak Urip sambil tersenyum.


“Kaaalliaann ? Kaliian habisss ? Kok bisa ?” Ucap pak Rudi yang masih tak percaya dengan apa yang saya lihat.


“Hakhakhak… Mau gimana lagi ? Non Nayla sendiri yang minta… Nih liat deh” Ucap pak Urip yang akhirnya terpaksa menunjukkan rekaman 'handycam'-nya agar pak Rudi tidak membocorkan rahasia.


Pak Rudi pun menatap pak Urip tidak percaya setelah melihat rekaman barusan. Pak Urip sambil tersenyum pun merangkul pundak pak Rudi. Pak Urip kemudian mengajak pak Rudi melihat ke arah tubuh telanjang Nayla.


“Hah sebenarnya ini rahasia… Sebenarnya non Nayla ini terus memaksa saya buat memuasin nafsunya… Jujur saya gak sanggup melayani nafsunya sendiri… Bapak malam ini ada acara ? Mau bantuin saya gak ?” Ucap pak Urip yang membuat pak Rudi menenggak ludah.


“Apa ? Apa yang bisa saya bantu ?” Ucap pak Rudi yang tiba-tiba bersemangat.


Pak Urip tidak menjawab apa-apa. Ia malah tersenyum sambil menatap wajah pak Rudi.


BERSAMBUNG

;;;;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 10


DI BALIK GAMIS NAYLA

Di sebuah gubug yang berada di tepian sawah. Terdapat sepasang suami istri yang tengah duduk sambil menikmati angin segar serta pemandangan hijau di depan mata. Kedua kaki mereka berayun-ayun. Kedua mata mereka disejukkan oleh pemandangan asri yang sangat menyegarkan. Nampak kepala sang istri bersandar pada pundak sang suami. Bibir mereka tersenyum. Hati mereka begitu bahagia ketika sedang menikmati waktu berdua.


Sejuk banget yah disini... Kapan-kapan kalau kita pindah ke desa gimana ? Adek mau gak ? Tanya Miftah tiba-tiba.


“Eehhh apa mas ?” Tanya Nayla terkejut.


“Adek mau gak kalau kita tinggal di desa yang punya pemandangan kayak gini ?” Tanya Miftah lagi.


Ohhhhh… Boleh mas... Boleh kok boleh… Tapi pekerjaan mas nanti gimana ? Tanya Nayla bingung.


Hahahaha bukannya rejeki udah diatur, dek ? Kalau mas kerja jadi petani aja gimana ? Tanya Miftah bercanda.


Ihh seriusan ? Emang mas mau ? Tanya Nayla tak percaya.


Gak juga sih... Mas gak mau jadi item gara-gara kena sinar matahari soalnya... Hahahah jawab Miftah tertawa.


Ihhhh dasar, gimana sih ! Ucap Nayla tersenyum.


Mereka pun terus mengobrol sambil bermanja-manja di tengah gubuk sawah.


Tak terasa waktu sudah hampir mendekati pukul 5 sore. Sejak pukul tiga tadi, mereka hanya berjalan-jalan di sekitar vila untuk menikmati suasana asri di daerah Puncak. Memang mereka sengaja tidak mengunjungi tempat wisata demi menghemat biaya pengeluaran ditengah kondisi perekonomian yang belum stabil.


Meski demikian, mereka terlihat bahagia selama berjalan-jalan menikmati waktu berdua. Mereka akhirnya bisa mengobrolkan banyak hal. Sesuatu yang jarang mereka lakukan ketika berada di rumah. Banyak hal yang akhirnya bisa mereka obrolkan terutama soal masa depan. Terutama soal perencanaan mereka dalam memiliki anak.


Namun, terlihat Nayla justru kembali melamun ditengah obrolan yang sedang suaminya bicarakan. Ia tak mendengar apapun yang suaminya ucapkan. Ia masih terpikirkan sebuah kejadian yang baru saja terjadi saat dirinya tiba disini. Kejadian yang membuatnya merasa sangat terpuaskan oleh rangsangan yang dilakukan oleh pembantunya di siang tadi.


'Kenapa yah, kok aku bisa sampai kayak tadi ? Kok bisa-bisanya aku lepas kendali kayak tadi ? Kok bisa sih aku kayak jadi orang lain pas aku dilanda nafsu birahi di siang tadi ?'


Batin Nayla heran.


'Tapi jujur, aku mengakuinya… Pak Urip memang hebat dalam memuaskan nafsuku di siang tadi…'


Batinnya saat mengenang persetubuhannya di siang tadi.


'Gara-gara dari pagi aku dirangsang pake benda ini… Aku pun sampai lepas kendali lagi…'


Batinnya sambil menekan-nekan sebuah benda yang menyumpal di dalam vaginanya.


'Ini aneh ? Kenapa benda ini gak bergetar lagi yah ? Anehnya lagi, kok aku malah pengen benda ini bergetar lagi yah ?'


Batinnya sambil memejam membayangkan saat-saat di mobil tadi disaat perjalanannya menuju kesini.


'Rasanya nikmat sekaliii… Ouhhh bappaakkk… Kenapa bapak hebat banget saat memainkan nafsu birahiku ini ?'


Batin Nayla yang pelan-pelan mulai terangsang gara-gara membayangkan momen di setiap pelecehan yang dilakukan oleh pak Urip.


'Iniii gawwaatt… Ohh tidak aku mulai pengen lagii… Kenapa tiba-tiba nafsuku kembali lagi ?'


Batin Nayla sambil menggerakkan tangannya menuju bibir vaginanya dari luar gamisnya. Seketika ia memejam yang malah membuatnya teringat persetubuhan ternikmatnya saat di ranjang tadi.


'Gara-gara bapak... Aku jadi terangsang terus tiap kali ngebayangin bapak pas nakalin aku...'


Batin Nayla sambil menekan-nekan vaginanya dari luar gamisnya.


'Mmpphh... Ini aneh ? Kenapa benda ini gak bergetar lagi yah ? Padahal aku pengen ngerasain getaran itu lagi... Aku mau benda ini bergetar merangsang nafsu birahiku lagi...'


Batin Nayla sambil terus menekan-nekan bibir vaginanya.


'Ouhhhh kenapa belakangan aku makin kayak gini yah ? Aku udah kayak lonte beneran... Aku gak bisa berpikir jernih… Yang ada di pikiranku hanyalah kepuasan dan kepuasan terus… Ini aneh, kenapa aku kayak gini yah ?'


Batin Nayla heran saat menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.


'Apa mungkin karena ini sudah takdirku ? Ya, ini pasti karena sudah menjadi jalan takdirku... Aku udah berusaha melawan tapi yang ada pak Urip selalu berhasil memberikanku kepuasan... Aku sudah berusaha menghindar tapi yang ada nafsu itu kembali datang mengacaukan pikiranku lagi dan lagi… Meski aku mencoba terus tuk melawan tapi yang ada aku malah keenakan sendiri... Ini aneh, kenapa setiap pak Urip memperkosaku, aku malah keenakan terus yah ? Apa yang kualami belakangan ini, sepertinya bukan pemerkosaan deh ? Kalau iya kenapa aku malah bersikap seperti tadi ? Aku justru yang memintanya untuk menyetubuhiku lebih keras lagi…'


Batin Nayla sampai ngos-ngosan gara-gara nafsunya yang bangkit ini.


'Bisa gak yah pak Urip memberikanku kepuasan lebih dari apa yang kurasakan di siang tadi ? Kalau ya, aku mau disetubuhi lagi... Aku mau kontolnya menodai memekku lagi... Astaghfirullah tahan... Tahan Nay... Otakmu makin keruh saat ini ! Duhh kenapa aku malah sangek lagi sih ? Sepertinya, obat ramuan yang kudapat gak bereaksi sama sekali deh... Aahhhh bapaakkk... Tolongg... Aku butuh pemuas lagi saat ini...'


Batin Nayla yang diam-diam meremasi dadanya sendiri.


Deekkk... Pulaangg yukk !!! Udah sore Ucap Miftah mengejutkan Nayla.


Ehhh apa mas ? Tanya Nayla terkejut hingga buru-buru menarik tangannya dari area dadanya.


Hahaha gatel yah ? Pulang yuk... Mandi, terus siap-siap maghriban ucap Miftah yang mengira istrinya baru saja menggaruk-garuk dadanya karena gatal belum mandi.


Hehe iya mas... Yuk pulang ucap Nayla malu-malu saat turun dari gubuk sawah tersebut.


Mereka berdua pun saling berpegangan tangan saat berjalan pulang menuju vila yang sudah mereka sewa. Namun lagi, Nayla kembali melamun sambil berbicara sendiri di dalam pikirannya.


'Bentar lagi aku bakal menemui pak Urip lagi... Ini aneh, kenapa aku malah mengharapkan pak Urip bakal nakalin aku lagi yah ? Ada apa dengan otakmu ini Nay ? Apa sih yang merubahmu jadi seperti ini belakangan ini ?'


Ujar Nayla di dalam hati.


Akhwat bercadar itu pun terus membatin saat berbincang dengan dirinya sendiri. Pelan-pelan nafasnya semakin berat. Otaknya semakin keruh saat dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang mesum.


'Bappaaaakkk... Akuuu... Hah... Hah... Hah...'


Batin Nayla sambil menekan-nekan vaginanya sendiri secara diam-diam. Ia terus menekan vibrator yang semakin terselip di dalam vaginanya. Ia sangat berharap benda itu kembali bergetar agar dirinya bisa merasakan kepuasan seperti yang siang tadi ia dapatkan.


*-*-*-*

Sementara itu di halaman depan vila.


Terdapat dua pria tua yang tengah duduk di kursi teras depan. Mereka tengah bersandar sambil meneguk secangkir kopi yang dibuat oleh pak Rudi. Tampak penjaga vila itu menatap pak Urip dengan serius. Sepertinya penjaga vila itu menginginkan sesuatu dari pria tua berperut tambun itu.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


MEC1UFV

https://thumbs4.imagebam.com/e6/ab/67/MEC1UFV_t.jpg   e6/ab/67/MEC1UFV_t.jpg

'PAK RUDI


“Yaahhhhh… Masa gak nyampe masuk sih pak ? Ayolah, sebagai sesama pembantu… Boleh yah saya diizinin nyoblos memeknya mbak Nayla juga ?” Ucap pak Rudi memohon.


“Hakhakhak… Loh kok enak ? Kirain gampang apa buat saya untuk menaklukan akhwat bercadar itu ? Saya butuh modal duit dan waktu untuk membuatnya jadi sekarang ini, pak… Sudah bagus saya izinin bapak buat gesek-gesek kelaminnya, masa masih belum cukup sih ?” Tanya pak Urip sambil meneguk kopinya lagi.


“Hehehe mana bisa cukup pak ? Liat bodinya yang asoy gitu mana mungkin cukup pak kalau cuma kebagian gesek-gesek doang… Dengan tubuh selangsing itu, seharusnya saya kudu bisa nyodok memeknya juga dong hehehe… Boleh yah pak ?” Ucap pak Rudi terus menego.


“Hakhakhak… 'Wani piro' ? Lagian belum dicoba aja udah protes duluan… Dah lah kalau gak mau yaudah… Mending gak usah sekalian” Ucap pak Urip sambil meminum secangkir kopinya lagi.


“Eh… Eh… Eh… Kok gitu ? Saya laporin mas Miftah loh kalau saya gak diizinin !” Ancam pak Rudi.


'Byuuurrrr !'


Kopi yang sedang diminum oleh pak Urip pun muncrat keluar dari dalam mulutnya saat terkejut mendengar ucapan penjaga vila itu.


“Apa ? Ngelaporin ? Hakhakhak… Apa untungnya buat bapak ? Bapak mau lapor ? Palingan saya cuma dipecat dan non Nayla bakal mengandung malu seumur hidup… Itupun kalau bapak punya buktinya ! Kebayang gak gimana bakalan hubungan mereka berdua ? Bakal merenggang dan bisa-bisa berujung pada perceraian… Terus bapak sendiri dapet apa ? Gak dapet apa-apa kan ? Hakhakhak… Lebih pilih mana sama tawaran saya tadi ? Masa gak mau sih ngegesek memeknya non Nayla ? Hayooo… Enak loh… Licin-licin gimana gitu !” Ucap pak Urip yang membuat pak Rudi cengengesan.


“Hehehe maaf pak… Iyya maaf tadi saya bercanda kok… Saya tadi kebawa nafsu… Tapi lain kali boleh yah… Saya penasaran memeknya akhwat bercadar itu kayak apa rasanya” Ucap pak Rudi takut dirinya gagal mendapatkan kesempatan emas ini.


“Hakhakhak kayak bakal ketemu lagi aja setelah ini” Ucap pak Urip merasa diatas angin saat mengobrol dengan pak Rudi.


“Ya nanti saya maen ke rumah deh… Apapun bakal saya lakuin demi bisa ngontolin memeknya mbak Nayla” Ucap pak Rudi yang sudah pengen banget ngerasain jepitan vagina majikannya.


“Hakhakhak ya liat aja nanti… Jadi gimana pak ? 'Deal' yah gesek-gesek doang ?” Ucap pak Urip sambil menjulurkan tangannya.


“Hehehe boleh lah buat perkenalan” Ucap pak Rudi sambil menjabat tangan pak Urip.


“Hakhakhak… Akhirnya, pelan-pelan dirimu bakalan makin binal non Nayla… Oh yah, sejujurnya saya ada rencana buat nge-DP non Nayla sih suatu saat nanti” Ucap pak Urip sambil meminum kopinya lagi.


“DP ? Bayar di awal gitu ? Maksudnya pak ?” Ucap pak Rudi gagal paham.


“Yahhh… Dobel penetresiyen pak ! Intinya saya butuh orang lain buat nyumpel memeknya non Nayla sementara saya nanti bakal nyumpel anusnya pake kontol saya hakhakhak” Tawa pak Urip setelah menjelaskan istilah sulit tadi dengan gaya ndesonya.


“Oalah… Mantep tuh pak… Kalau bisa cari orang lain juga buat nyumpel mulutnya” Ucap pak Rudi bersemangat ketika sedang membicarakan hal mesum tentang majikan mereka.


“Hakhakhak gak sekalian nyari orang laen buat ngeremes susunya sama dikocokin pake tangan mulusnya ?” Tanya pak Urip yang membuat pak Rudi bersemangat.


“Hahahha… Kok saya jadi ngaceng yah pak… Gara-gara bapak nih… Duh makin gak nahan deh pengen ngentot tuh cewek… Dah dari pandangan pertama tadi saya langsung nafsu kepadanya… Beruntung banget sih mas Miftah punya istri secantik mbak Nayla” Ucap pak Rudi sambil mengelus-ngelus penisnya.


“Hakhakhak… Lebih beruntung saya yang sudah berulang kali mejuhin memeknya” Ucap pak Urip dengan bangga.


“Hahahha sial banget dah… Saya disini cuma kedapetan ngeliatin cewek-cewek bening yang jalan bareng pacarnya doang… Sedangkan bapak ? Aihhh bikin iri aja !” Ucap pak Rudi kesal.


“Hakhakhak… Makanya punya nama itu 'Untung Urip Bejo'… Yakin deh bapak bakalan beruntung terus” Ucap pak Urip membanggakan namanya lagi.


Ditengah pembicaraan mereka yang semakin liar. Tiba-tiba kedua pasangan suami istri itu pun datang dari arah gerbang masuk vila tersebut. Pak Rudi yang menyadari langsung berdiri menyambut kedatangan kedua majikannya itu. Pak Urip juga demikian, ia berdiri lalu tersenyum kepada Miftah.


“Oh yah, air di kamar mandi gimana pak ? Dingin gak ?” Tanya Miftah kepada pak Rudi.


“Tenang mas… Sudah siap kok air panasnya… Bapak tinggal nyalain mesinnya aja otomatis bapak bisa mandi pake air anget” Ucap pak Rudi menjelaskan.


“Oalah hahahha… Okelah… Bisa tolong tunjukkin cara makenya gak ? Udah lupa saya cara makenya gimana” Ucap Miftah.


“Ohh pasti boleh mas… Mari saya tunjukkan” Ucap Pak Rudi memimpin Miftah menuju ke kamar mandi untuk menunjukkan cara kerja mesin pembuat air panas tersebut.


Sebelum mereka berdua masuk ke dalam vila. Pak Urip diam-diam memperhatikan gerak-gerik Nayla. Akhwat cantik yang saat itu mengenakan gamis berwarna putih yang dilengkapi dengan hijab serta cadar yang juga berwarna putih. Juga tambahan jaket berwarna 'cream' terlihat begitu mencurigakan.


MEC8LXZ

https://thumbs4.imagebam.com/e8/d7/53/MEC8LXZ_t.jpg   e8/d7/53/MEC8LXZ_t.jpg

'NAYLA


Wajahnya terus ia tundukkan. Tangannya terus mengusap-ngusap bibir vaginanya dari luar rok gamisnya. Saat pak Urip memperhatikannya lagi, Akhwat bercadar itu rupanya bukan menunduk. Nayla rupanya sedang menatap selangkangan pembantunya yang masih tertutupi celana pendeknya. Pak Urip yang sadar kalau Nayla sedang sangek-sangeknya tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.


Ia mengeluarkan sebuah remot lalu mengarahkannya ke selangkangannya agar Nayla bisa melihat apa yang sedang dipegang olehnya. Sontak Nayla menaikan pandangannya lalu menatap wajah pembantunya. Pak Urip yang sedang tersenyum penuh kemenangan tiba-tiba menggerakkan bibirnya untuk mengucapkan sesuatu.


'Mau ?'


Diluar dugaan Nayla mengangguk setuju. Wajahnya terlihat putus asa karena menahan nafsu yang lagi-lagi mengganggu kehidupannya. Saat pak Urip menekan remot itu, tiba-tiba pinggul Nayla langsung bergoyang lalu wajahnya ia naikkan sementara matanya memejam merasakan sensasi yang lagi-lagi ia dapatkan.


“Hah… Hah… Hah” Desah Nayla yang tiba-tiba menjatuhkan badannya lalu bertumpu pada meja di teras vila itu. Dalam posisi menungging, wajahnya menatap pak Urip lalu dianggukkannya naik dan turun. Nayla seolah berkata bahwa inilah yang ia tunggu-tunggu sedari tadi.


Menyadari kalau pak Rudi dan Miftah sedang asyik mengobrol tentang mesin pembuat air panas. Pak Urip dengan berani bergerak membelakangi mereka berdua lalu Ia memposisikan berdirinya menghadap ke arah Nayla. Lalu dengan berani ia mengeluarkan penisnya dari balik celana pendeknya.


“Mau ? Sayanggg ?” Lirih pak Urip mengejutkan Nayla.


Namun Nayla yang sudah dilanda nafsu birahi malah menganggukkan kepalanya.


Saat Miftah dan pak Rudi sudah masuk ke dalam vila, jemari pak Urip pun mengajak Nayla untuk mendekat agar bisa memainkan penis besarnya.


“Hah… Hah… Lebih keras lagi paakk… Tolloongggg” Lirih Nayla yang sudah tak sanggup lagi.


“Hakhakhak… Segini ? Cukup belum ?” Ucap pak Urip setelah menaikan frekuensi getarannya lalu menatap wajah Nayla yang sudah berjongkok dihadapannya.


“Aaaahhhhhhh… Aaahhhhh… Iyahhh sepertiii inniii… Aaahhhhh” desah Nayla sambil mendekap penis pak Urip yang sudah mengeras.


“Hakhakhak sudah saya duga… Cepat atau lambat pasti non akan sadar juga… Padahal daritadi saya sengaja gak nyalain vibratornya agar non bisa beristirahat… Eh non sendiri malah yang minta saya buat nyalain lagi” Ucap Pak Urip agak mendesah saat penisnya mulai dikocok oleh Nayla.


“Hah… Hah… Entahlah pak… Aku, aaahhhhh… Juga gak tau… Apa yang sudah bapak lakukan padaku ? Kenapa aku berubah jadi seperti ini ? Kenapa aku malah terangsang lagi ?” Tanya Nayla sambil mendesah saat tangannya terus mengocok penis pembantunya.


“Loh, bukannya udah saya jawab dari dulu ? Non itu lonte… Mau ada perangsang apa enggak pasti non akan terangsang dengan sendirinya… Terima takdirmu itu non… Jangan dibikin ribet lah hakhakhak” tawa pak Urip keenakan saat penisnya terus diurut oleh majikan alimnya.


“Hah… Hah… Hah… Apa ? Lonte ?” Tanya Nayla agak ragu meski sebelumnya ia telah menebak jawaban apa yang akan pembantunya berikan itu.


“Ya dirimu itu lonte… Sudah lah jangan banyak berkilah lagi… Sudah lah non, terima aja… Jangan mencari-cari alasan lain… Tempatmu itu disini… Tugasmu itu cuma mengangkang untuk membiarkan kontol saya masuk menembus lubang memekmu itu” Ucap pak Urip yang membuat Nayla semakin bergairah saat mendengarnya.


“Akuuuu… Lonteee ? Hah… Hah… Hah….” Desah Nayla seolah terhipnotis. Ia pun mempercepat kocokannya yang membuat pak Urip tertawa penuh kemenangan.


'Hakhakhak… Gak nyangka ternyata efek lemonnya bisa sekuat ini ? Tau kayak gini mah, udah dari dulu saya beri minuman itu, non… Aaahhhhhh nikmatnyaaa… Aaahhh bahagianya bisa dikocok seenak ini oleh tangan lembutmu non… Ayooo terussss… Terussss kocokkk lagiiiii…'


Batin pak Urip tersenyum senang.


“Aaahhhhh… Aahhhh… Aaahhhhh… Hakhakhak… Kocokk terusss… Kocokk yang cepaatt, non ! Non lagi sangek berat kan ? Non butuh pemuas kan ? Non butuh kontol saya kan ?” Tanya pak Urip sambil tertawa puas.


“Hah… Hah… Hah… Iyyahhh… Iyyahhh paakkkk… Aku butuh itu semuaahhh… Tolonggg… Toloongg selamatkan aku dari gairah birahiku ini pakkk” Desah Nayla ngos-ngosan lalu mengangguk setuju.


“Kalau gituuu puasi kontol saya… Lampiaskan nafsumu pada kontol saya… Lakukan terserah dirimu… Kalau saya nanti merasa puas… Non baru saya izinin buat ngentot dengan saya… Hanya itu syarat yang harus non penuhi agar bisa ngentot dengan saya” Ucap pak Urip jual mahal demi menaklukan harga diri sang akhwat.


“Hah… Hah… Cuma itu syaratnya pak ? Baiklah pak… Akan aku lakukan… Aku akan memuaskan kontol bapak agar aku bisa ngentot dengan bapak” Ucap Nayla dengan begitu vulgarnya karena tak sanggup menahan gairah birahinya sendiri.


Akhwat bercadar itu pun mempercepat kocokannya pada penis pembantunya. Tangannya dengan lihai bergerak maju mundur. Ia melakukannya dengan suka rela karena tak memiliki pilihan lagi.


Mau bagaimana lagi ? Ia tak memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri. Meski ia sudah menyadari kalau perbuatannya ini bukan perbuatan yang bisa dibenari. Ia tak memiliki pilihan lain selain melayani penis yang sedang ia kocok demi kepuasan yang ia cari. Hanya kepuasan yang ia butuhkan demi keluar dari situasi ini. Tangannya pun mempercepat kocokannya. Tangannya pun membetot penis itu dengan begitu kuatnya. Penis hitam nan gemuk itu terus dikocoknya hingga lama-lama penis itu semakin membesar juga mengeras. Mata Nayla pun teralihkan pada lubang kencing penis pembantunya itu. Lidahnya ingin keluar tuk menjilatinya. Nafsunya telah memaksanya untuk melakukan perbuatan yang menjijikkan itu lagi.


“Hah… Hah… Paakkk… Aku boleehhhh ?” Pinta Nayla tak kuat lagi hingga menaikkan sebagian cadarnya.


“Apa ? Mau nyepong yah ? Hakhakhak… Sepong aja kalau non pengen” Ucap pak Urip mengizinkan.


Nayla yang tak kuat lagi langsung menaikan cadarnya. Lidahnya yang sudah gemas sedari tadi langsung menjilati ujung gundul penis pembantunya. Pak Urip sampai merinding keenakan merasakan jilatan sang majikan. Lidah Nayla bergerak naik turun. Lidahnya menyapu ujung gundul itu dari atas ke bawah. Lagi, lidahnya bergerak naik turun. Lidahnya kembali bergerak naik turun dalam menjilati ujung gundul majikannya itu. Lalu lidahnya berhenti di ujung pucuknya. Ia menjilati lubang kencingnya. Lidahnya menggelitik titik sensitif itu. Pak Urip sampai merem melek keenakan. Tubuhnya bergidik nikmat. Tubuhnya juga merinding saat merasakan kepuasan yang tiada tanding. Baru setelah itu mulut Nayla membuka lebar-lebar demi melahap batang penis yang berwarna hitam legam.


“Aaaahhhhh… Aaaahhhhh… Nafsu banget sih non, kayaknya… Aaahhhh kontol saya sampe hampir ketelen loh non hakhakhak” Tawa pak Urip dengan bangga.


“Mmppphhh… Mmpphhh”


Namun Nayla tidak menjawab. Selain karena tak ingin harga dirinya jatuh lebih dalam lagi dihadapan pembantunya. Ia juga ingin fokus menikmati benda tumpul itu lebih lama lagi. Kepalanya terus maju mundur sedari tadi. Lidahnya dengan lihai juga menggelitiki penis itu sedari tadi. Kedua tangannya bahkan ikut membantu. Dikala mulutnya hanya mengulumi ujung gundulnya. Maka kedua tangannya mengocoki batang penisnya secara bergantian.


Maju mundur maju mundur maju mundur. Kedua tangan Nayla terus mengocok batang penis pembantunya secara maju mundur.


Maju mundur maju mundur maju mundur. Kepala Nayla juga terus bergerak maju mundur saat meyepong penis tua yang berwarna hitam itu.


Saat penis itu terlepas dari mulut Nayla. Tangannya terus mengocok batang penisnya sedangkan matanya menatap wajah pembantunya dengan penuh kepuasan. Nayla yang terpengaruh obat perangsang itu jadi semakin bernafsu. Ia lepas kendali. Ia bukanlah Nayla yang kita kenal lagi.


“Aaaaahhhhh… Aaahhhh… Suka sekali saya dengan tatapan penuh nafsumu itu non… Gimana ? Non puas ? Non puas bisa mainin kontol saya ?” Tanya pak Urip sambil menatap mata binal akhwat bercadar itu.


“Yaahhh… Iyyaahhh… Akuu sukaa… Akuuu mmpphhhh” Desah Nayla yang kembali mengulum penis pembantunya lagi.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Iyyahh seperti itu sayaanggg… Ayooo kulumm terusss… Kulum kontol saya sepuasmu, non… Hakhakhakh” Tawa pak Urip saat berdiri menikmati kuluman majikannya yang berjongkok dihadapannya.


Saat mereka berdua sedang menikmati perzinahan yang sedang mereka lakukan. Tiba-tiba pak Rudi datang dari arah belakang yang langsung terkejut saat melihat apa yang dilakukan oleh Nayla juga pak Urip.


Pak Urip yang menyadari kehadiran pak Rudi langsung menoleh ke belakang lalu memberi isyarat untuk diam. Ia pun menggerakkan jemarinya seolah meminta pak Rudi untuk pindah ke arah belakang Nayla. Pak Rudi hanya mengangguk setuju. Ia pun berpindah sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat betapa rakusnya Nayla dalam menyepong penis tua pembantu bejatnya.


'Kayaknya mbak Nayla emang binal deh… Saya kira tadi mbak Nayla dipaksa… Kayaknya mbak Nayla yang justru meminta agar bisa diberi kepuasan oleh pak Urip… Beruntung banget sih pak Urip… Sial, kapan yah ada cewek cantik yang kayak gitu ke saya ?'


Batin pak Rudi iri.


“Aaaahhhhhh… Aaahhhh… Aaahhh cukuupp non… Saya puasss… Sekarang non boleh berdiri terus telanjangi diri non” Ucap pak Urip sambil tersenyum penuh kepuasan.


“Mmpphhh… Iyyahhh makasih pakkk… Akhirnyaa… Akhirnyyaa akuuu” Ucap Nayla yang akhirnya diberi kesempatan untuk melampiaskan nafsu seksualnya lagi.


Tanpa menyadari kehadiran pak Rudi di belakangnya, Nayla langsung melepas jaketnya hingga jaketnya itu jatuh ke lantai. Ia juga menurunkan resleting gamisnya hingga gamisnya itu jatuh ke lantai. Setelah itu, giliran roknya yang diturunkan hingga rok itu jatuh ke lantai. Nayla tinggal menyisakan hijab, cadar serta pakaian dalamnya saja.


Akhwat bercadar yang sudah terangsang hebat itu berjalan mendekat ke arah pak Urip. Ia menurunkan celana dalamnya lalu melepas behanya begitu saja. Ia membuangnya jauh-jauh akibat sudah terlalu bernafsu. Kedua tangannya pun merangkul leher bagian belakang pembantunya. Sedangkan pak Urip merangkulkan tangan gemuknya pada pinggang majikannya. Mata mereka saling menatap dengan penuh nafsu. Nayla merasa semakin binal. Ia sendiri terkejut dirinya berani melakukan perbuatan ini dihadapan pembantunya.


Sementara itu pak Rudi mulai memelorotkan celananya lalu mengocok sambil melihat pemandangan langka yang ada di hadapannya.


'Gilaaa mbakk Naylaa nafsuin banget… Bodinya itu, aaahhhh… Aaahhhh… Ayoo mbakkk genjot pak Urippp… Ayooo isi memekmu dengan kontol tua itu, mbaaakkk !!'


Batin pak Rudi ditengah kocokannya.


“Indah sekali tubuhmu ini non… Wajahmu juga… Dengan perpaduan yang sempurna ini, alangkah beruntungnya saya kalau non sudi untuk menggoyang kontol saya lagi” Puji pak Urip saat mengusap pinggangnya juga mengelus wajahnya.


Entah kenapa Nayla merasa senang dengan kata-kata vulgar yang pembantunya ucapkan. Ia belum pernah dipuji sevulgar ini oleh seseorang. Ditambah nafsunya yang tengah bergejolak membuatnya jadi semakin ingin menerima pujian lain dari pembantunya lagi.


“Benarkah ? Tentu aku mau paakk… Aku juga udah gak tahan… Tapi kenapa bapak selalu memainkan nafsuku pak… Apa yang bapak suka dariku ?” Ucap Nayla menurunkan satu tangannya untuk membelai penis hitam pembantunya.


“Tentu banyak sekali non… Saya sangat menyukai susu bulatmu ini… Susumu ini sempurna… Bentuknya bulat, teksturnya kenyal, ukurannya juga pas untuk tubuh seksimu ini… Lalu, saya juga menyukai sempitnya memekmu ini non” Puji pak Urip saat membelai payudaranya lalu turun meraba vagiannya.


“Mmppphhhh… Ada apa dengan memekku paakkk ? Kenapa bapak juga sukaa ?” Tanya Nayla semakin bergairah yang membuatnya jadi menarik-narik penis pembantunya itu.


“Hakhakhak… Saya sangat suka karena memek non itu cocok dengan kontol saya… Memek non sempit sedangkan kontol saya besar… Bayangin pas kontol saya masuk lalu memek non menjepit kontol saya dengan begitu kuatnya… Kontol saya dicekik… Kontol saya dipijit… Kontol saya yang berusaha masuk lebih dalam lagi ditahan oleh sempitnya memek non yang membuat gesekan yang non rasain di dinding memek non kerasa lebih seret lagi… Bayangin deh non, pas kontol saya ngegesek memek non… Ketika kontol saya berusaha masuk tapi memek non malah menahannya… Memek non jadi kesodok… Memek non jadi ketusuk… Sodokan kontol saya pas dorong memek non itu lah yang membuat non merasakan sensasi sepuas ini” Ucap pak Urip menjelaskan semuanya yang membuat Nayla semakin terangsang dibuatnya. Pak Urip sendiri juga lebih terangsang karena dirinya bisa sebebas ini saat mengobrol dengan begitu vulgarnya bersama akhwat bercadar yang dikenal alim oleh orang-orang.


“Aaaahhh bapaakkk… Kalau gitu akuu mauu paakkk… Aku mau ngerasain gesekan kontol bapakkk laggiiii” Ucap Nayla agak mendesah sambil tangannya mendorong tubuh gempal pak Urip hingga terduduk di kursi teras vila tersebut.


“Hakhakhak… Lakukan non… Lebarkan kakimu… Lampiaskan semua nafsumu itu ke saya” Ucap pak Urip sambil menaikan kausnya lalu melepasnya karena sudah tak tahan dengan keindahan yang dimiliki oleh majikannya.


“Iyyahhh… Akan aku lakukan paakk… Aku akan menggoyang bapaaakk… Aaahhhh kenapa aku jadi senafsu ini sihh… Mmmpphhh… Siaappp yahh paakk… Aku akan turunnn… Mmmpphhhh” desah Nayla yang mulai menurunkan tubuhnya pelan-pelan hingga vaginanya mulai dimasuki penis hitam pembantunya secara pelan-pelan.


“Aaaaaahhhhh mantappnyyaaa…. Aaahhhhh sempitnyaaaa” Desah pak Urip merem melek keenakan.


“Aaaahhhh gede bangeettt paakkk… Aaahhhhh gakk muaaatt” Desah Nayla dengan manja merasakan nikmatnya tusukan penis hitam itu.


Nayla berubah. Nayla bukanlah akhwat bercadar yang kita kenal lagi. Bukan keinginan hatinya ia berubah jadi seperti ini. Kuatnya gejolak nafsu yang ada di tubuhnya lah yang membuatnya terpaksa melakukan perzinahan ini lagi. Tentu ia sadar kalau perbuatannya ini salah. Tentu ia sadar kalau perbuatannya bertentangan dengan ilmu agama. Tapi ia juga sadar kalau satu-satunya cara agar terlepas dari siksaan birahi ini adalah dengan memuaskan penis pak Urip. Ia paham kalau berzina dengan pak Urip adalah satu-satunya cara. Ia tahu hanya penis pak Urip lah yang bisa tahan lama dalam menahan nafsu besarnya. Ia pun tidak menahan diri lagi. Ia benar-benar merubah dirinya menjadi seorang lonte agar dirinya bisa segera terbebas dari serangan birahi ini.


'Ayooo selesaikan Naayy… Goyang yang cepaaat agar kamu bisa segera lepas dari perzinahan ini !'


Batin Nayla berbicara sendiri.


“Uuuuhhhh taaahhhaannnn” desah pak Urip memegangi pinggang Nayla saat penisnya sudah masuk seluruhnya di dalam vagina majikannya.


“Aaaaahhh jangann didorong-doronnggg… Aaahhhhh… Aaaaaahhhhhh” Desah Nayla semakin bergairah hingga membuat kedua tangannya meremasi payudaranya dengan kuat dihadapan mata pembantunya.


Mendengar desahan yang amat sangat manja dari mulut Nayla membuat pak Rudi pun mempercepat kocokannya. Ia geleng-geleng kepala melihat betapa binalnya akhwat bercadar yang sedang menunggangi penis pria tua berperut tambun itu.


“Aaaahhhh yaahhh… Ouhhhh… Hakhakhakh… Hakhakhak… Binal sekali dirimu non… Saya suka sekali dengan suara desahanmu itu” Puji pak Urip sambil menatap Nayla yang membuat akhwat bercadar itu membuang mukanya karena merasa malu.


Tanpa menjawab pujian pembantunya. Nayla akhirnya mulai bergoyang. Tubuhnya ia naik turunkan. Kedua tangannya bertumpu pada pundak pria tua itu. Matanya ia pejamkan. Wajahnya ia naikkan. Ia benar-benar menikmati goyangannya tanpa peduli dengan siapa ia melakukannya.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Iyaahhh… Aaahhhh nikmatnyaaa… Aaahhhh lezat sekali memekmu ini, non” Puji pak Urip sambil memperhatikan keindahan tubuh telanjang majikannya.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Aaaahhhh” Nayla juga hanya mendesah. Ia benar-benar merasakan nikmatnya gesekan penis pak Urip pada dinding vaginanya. Penis raksasa itu benar-benar menyumpal vagina sempitnya. Tubuhnya terus ia naik turunkan. Ia naikkan tubuhnya hingga menyisakan ujung gundul penis itu pada bibir vaginanya. Saat tubuhnya turun ia membenamkan tubuhnya hingga penis itu menyundul dinding rahimnya. Rasanya sungguh memuaskan. Ia pun terus melakukannya lagi dan lagi tanpa peduli dengan siapa ia melakukannya.


“Aaahhh yahh teruss… Aahhhh terussss” Desah pak Urip menyemangati.


Kali ini Nayla bergerak memutar. Pinggulnya ia putarkan yang membuat penis pembantunya teraduk-aduk di dalam vaginanya. Matanya pun ia buka sementara tangan kirinya bertumpu pada paha pembantunya. Mereka cukup lama bertatapan tanpa terucap sepatah kata. Hanya desahan serta nafas hangat yang terucap dari kedua mulut mereka. Nayla menatap pak Urip dengan penuh nafsu. Pak Urip juga menatap akhwat bercadar itu dengan penuh nafsu. Tatapan pria tua itu kemudian turun tuk melihat goyangan susu bulat yang ada di hadapan matanya itu. Susu Nayla bergondal-gandul. Wajah pak Urip pun tersenyum lalu tangannya datang untuk meremas susu sebelah kirinya itu.


“Aaaahhhhhh paaakkk” desah Nayla dengan manja.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Ini yang saya suka darimu, non… Saya paling suka susu bulatmu ini… Ouhhhh kenyalnyaaa… Ouhhh saya jadi ingin remes susu satunya juga” Desah pak Urip saat tangan satunya ikut meremas susu bulat satunya yang menganggur.


“Ouhhhh yaaahhhh… Ouuhh enaakk paakkkkk… Ennaakkkk” desah Nayla sambil menurunkan tangan satunya hingga kedua tangannya dibiarkan begitu saja di kanan kiri tubuhnya.


Nayla bergoyang maju mundur. Tubuhnya seperti sedang menggerakkan perseneling mobil secara maju mundur. Matanya kembali memejam merasakan kenikmatan 'double' yang sedang pembantunya berikan.


Ia begitu menikmati gesekan penis pembantunya pada dinding vaginanya. Ia juga menikmati remasan tangan keriput pembantunya pada payudara mulusnya. Apalagi saat tangan pak Urip memelintir putingnya. Apalagi saat tangan pak Urip mencubit putingnya. Apalagi saat tangan pak Urip menarik putingnnya yang membuat akhwat bercadar itu geleng-geleng penuh kepuasan.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh… Aaahhhh bappaaakkkk” desah Nayla dengan begitu manjanya.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhh… Ayoo siinniiiii !” Desah pak Urip yang tiba-tiba memeluk tubuh Nayla lalu mendekatkannya ke arahnya. Kedua tangan Nayla pun masuk ke dalam pelukan tangan pembantunya itu. Kedua tangannya tak bisa bergerak di dalam pelukan tangan pembantunya itu. Tubuhnya juga jadi berhenti bergoyang saat dipeluk oleh pembantunya itu.


Seketika mulut pak Urip membuka lalu melahap payudara sebelah kiri Nayla. Belum puas dengan itu, tiba-tiba pinggul pak Urip bergerak naik turun dengan cepat saat memborbardir rahim Nayla. Pinggulnya bergerak naik turun. Ia menusuk-nusuk vagina Nayla dengan kecepatan penuh.


“Aaaaaaahhhhhhhhh… Aaaahhhhhhhhh… Aaahhhhh bappaaakkk… Aaahhhhhh” Desah Nayla yang hanya bisa menjerit keras merasakan kenikmatan 'double' itu.


Pak Urip terus menghisap putingnya. Pinggulnya terus berpacu menyedot-nyedot isi dari rahim akhwat bercadar itu. Penisnya bergerak masuk naik turun. Penisnya menggesek vagina sempit itu yang membuat pemiliknya menjerit dengan penuh kepuasan.


“Mmppphhhhh… Mmppphhh… Mmpphhhh” Desah pak Urip dengan penuh nafsu saat menyedot puting majikannya.


“Aaahhhhhh… Aaahhhhh yaahhh… Aaahhhhh…. Aaahhhhhh” Jerit Nayla dengan penuh nafsu saat disodok-sodok dengan begitu kuatnya oleh pembantunya itu.


'Gillaaa…. Gillaaa… Mbak Nayla digempur kayak gitu… Pasti puas banget… Pasti puas banget pak Urip bisa genjot mbak Nayla kayak gitu…'


Batin pak Rudi saat menontonnya. Tangannya pun mempercepat kocokan penisnya. Ia begitu puas meski belum sempat mencicipi kelezatan rahim dari akhwat bercadar itu.


Seketika sodokan pak Urip melemah dan mulutnya pun ia lepaskan dari puting susu majikannya. Sambil tersenyum ia menatap wajah Nayla yang terlihat sangat kelelahan. Ia pun begitu puas setelah menyodok-nyodok rahim majikannya tanpa henti selama dua menit ini.


'Berapa lama tadi ? Semenit ? Dua menit ? Kuat banget pak Urip bisa menyetubuhiku selama itu tanpa henti dengan kecepatan yang begitu stabil… Hah… Hah… Aku sampai capek kayak gini… Hah… Hah… Baru kali ini aku merasakan kepuasan yang amat sangat seperti ini…'


Batin Nayla saat menatap wajah pak Urip.


“Ayo non ganti gaya… Saya mau menggenjotmu dengan gaya anjing kawin lagi” Ucap pak Urip meminta Nayla menungging membelakangi dirinya.


Tanpa banyak kata. Nayla segera berdiri hingga penis itu terlepas dari dalam vaginanya. Nampak vaginanya semakin basah dipenuhi oleh lelehan cairan cintanya. Saat ia hendak membalikkan tubuhnya. Ia dikejutkan oleh kehadiran pria tua berhoodie yang sudah memelorotkan celananya dihadapan matanya.


“'Astaghfirullah' pak Rudiii !” Jerit Nayla hingga tangannya refleks menutupi dadanya. Seketika hawa nafsu yang tadi menyerangnya langsung menghilang akibat rasa kaget serta malu yang menderanya setelah melihat pak Rudi yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya.


“Waahhh saya gak nyangka ternyata mbak binal juga yah… Beruntung banget pak Urip bisa digoyang mbak Nayla berulang kali” Ucap pak Rudi mengejutkan Nayla.


“Hakhakhak… Itu belum seberapa pak… Cepat nungging” Ucap pak Urip berdiri lalu mendorong punggung Nayla hingga menunduk membelakanginya.


“Tappii paakkk, jangaannn… Didepan ada . . . .” Tanya Nayla terpotong.


“Saya tau kok non… Saya juga liat… Oh yah, pakkk tolong ambilin handycamnya disana” Ucap pak Urip sambil menunjuk ke suatu tempat.


“Apa ?” Ucap Nayla semakin terkejut. Matanya menatap pak Rudi yang berjalan mengambil sesuatu. Setelah penjaga vila itu mendapatkan barang yang ia cari. Penjaga vila itu langsung memberikan barang itu ke pak Urip.


“Lihat ini non… Lihat kebinalanmu di video ini” Ucap pak Urip saat memperlihatkan persetubuhan mereka di siang tadi. Mata Nayla langsung terbuka lebar. Ia tak menyangka kalau pembantu tuanya itu merekam persetubuhan mereka di siang tadi.


“Mulai sekarang non gak boleh ngelawan perintah saya lagi… Kalau saya mau A ya non harus ngelakuin A… Kalau saya mau B ya non juga harus ngelakuin B… Coba bayangin kalau pak Miftah ngeliat video ini… Apa yang bakal suamimu pikirin pas ngeliat video ini ?” Tanya pak Urip sambil mendekap pipi Nayla untuk memaksanya melihat video persetubuhan mereka. Nayla hanya geleng-geleng kepala tak sanggup membayangkan apa yang bakal suaminya ucapkan.


“Pasti suamimu bakal bilang kayak gini… Wah ternyata dek Nayla selama ini sukanya ngentot sama pak Urip yah ? Mas gak nyangka kalau adek sukanya main sama pembantu tua rendahan kayak pak Urip… Hakhakhakhak” Tawa pak Urip saat meniru suara suami Nayla.


“Bapaakk tappiiiii… Tolongg jangaannn” Ucap Nayla berharap pak Urip tidak akan menunjukkan video rekaman ini.


“Makanya hakhakhak… Turuti apa kata saya yah… Tolong pak taruh disana” Ucap pak Urip pada Nayla lalu meminta pak Rudi untuk menaruh kamera itu disudut yang tepat agar bisa merekam persetubuhan mereka dengan baik.


“Apa ini ? Apa lagi yang bapak rencakan ? Apa maksud semua ini paakkk ?” Ucap Nayla jadi panik saat melihat pak Rudi menaruh 'handycam' itu di suatu tempat.


“Apa ? Ya sudah jelas kan kalau saya akan mengabadikan momen ini, non… Hakhakhak… Ayo pak, bapak boleh gabung dengan kita” Ucap pak Urip yang membuat mata Nayla semakin terbuka lebar,


“'Yeesss' akhirnyaaa” Tawa pak Rudi senang.


“Apaaa pakkk… Akuuu… Akuu gakk mauu… Akuuu aaaaaahhhhhh” desah Nayla yang hendak memberontak namun sudah keburu ditusuk lagi rahimnya oleh penis pak Urip.


“Saya boleh masukin ke mulut mbak kan ?” tanya pak Rudi yang langsung menaikan cadar Nayla lalu menyumpalkan penisnya ke dalam mulut akhwat bercadar itu.


“Appaaa ? Mmmppphhhhhhh” desah Nayla saat dipaksa mengulum penis penjaga vila itu.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


MEC8LY1

https://thumbs4.imagebam.com/5d/e0/46/MEC8LY1_t.jpg   5d/e0/46/MEC8LY1_t.jpg

'NAYLA


MEC1UFV

https://thumbs4.imagebam.com/e6/ab/67/MEC1UFV_t.jpg   e6/ab/67/MEC1UFV_t.jpg

'PAK RUDI


Akhirnya untuk pertama kalinya, Nayla harus merasakan dirinya melayani dua pria sekaligus dalam satu waktu. Rahimnya telah penuh oleh penis gempal pembantunya. Mulutnya juga penuh oleh penis bau milik penjaga vila yang ia sewa. Saat pak Urip mendorong pinggulnya maju, tubuh Nayla juga terdorong maju hingga memaksa mulutnya menelan penis pak Rudi yang menyumpal mulutnya. Saat pak Urip menarik pinggulnya mundur maka giliran pak Rudi yang mendorong pinggulnya hingga membuat tubuh Nayla terdorong ke belakang memaksa penis pak Urip menusuk vaginanya begitu dalam. Mereka secara bergantian menyodok dua lubang itu dengan penuh nafsu. Tangan Nayla pun bertumpu pada paha pak Rudi. Ia pasrah. Ia tahu cepat atau lambat dirinya pasti akan diminta untuk melakukan perbuatan seperti ini.


Ia sudah menebaknya saat menemukan situs porno di laptopnya saat itu. Ia melihat seorang wanita yang harus melayani dua pria berkulit hitam. Ia lalu semakin yakin saat dirinya dipaksa bercinta saat ada pak Tomi di sebelahnya. Tapi ia tak menduga kalau pak Rudi adalah orang yang akan membantu pak Urip untuk menyetubuhinya. Ia pun akhirnya dapat merasakan apa yang dirasakan oleh wanita dalam video porno yang ia lihat saat itu.


MEBS3I5

https://thumbs4.imagebam.com/dd/c0/27/MEBS3I5_t.gif   dd/c0/27/MEBS3I5_t.gif

'WANITA YANG ADA DI INGATAN NAYLA


'Jadi ini rasanya ? Jadi ini rasanya saat harus melayani dua pria sekaligus ?'


Ujarnya dalam hati.


“Ouuhhh mantapnyaa mulutmu mbaak… Ouhhh sedapnyaaa mulutmu ini” Ucap pak Rudi dengan penuh kepuasan.


“Hakhakhak aahhhh itu belum seberapa pak Rudi… Aaahhhhh memeknya ini lohhh… Aahhh puasnyaaa… Rasakann ini… Rasakaann ini” Ucap pak Urip saat menyodok-nyodok rahim majikannya.


“Emang gimana rasanya paakk ? Aaahhh… Aaahhhh mulutnya aja perasaan udah seenak ini” desah pak Rudi penasaran.


“Hakhakhak… Nikmat banget pokoknyaaa… Gak ada yang bisa nandingin rasanya memek lezat ini…Ouhhhh bikin nagih pokoknya… Ouhhhh puas banget pokoknya rasanya” Desah pak Urip puas.


“Mmpphhhh… Mmpphhhhh” desah Nayla yang hanya bisa pasrah saat itu. Ia sadar saat ini dirinya sedang dijadikan objek pemuas oleh kedua pria tua itu. Bodohnya ia malah memilih pak Urip sebagai pelampiasan nafsunya saat birahinya kembali muncul menyerang dirinya. Padahal dirinya memiliki suami. Kenapa ia tidak melampiaskannya pada suaminya saja tadi ? Meski suaminya tidak jago dalam memuaskan nafsu birahinya. Setidaknya ia tak harus melayani dua pria sekaligus dalam satu waktu. Nasi telah menjadi bubur. Andai ada pak Beni disini. Mungkin pak Beni bisa menjadi opsi lainnya saat nafsunya kembali menyerangnya.


'Mmpphhhh… Mmpphhhh… Paakkkk… Bapaaakkkk…'


Batin Nayla terbayang tubuh kekar pak Beni.


Mata pak Urip memejam penuh kenikmatan. Kedua tangannya berulang kali mengusap punggung mulus majikannya tanpa henti. Pinggulnya terus bergerak maju mundur. Penisnya terus bergerak keluar masuk. Kepalanya ia geleng-gelengkan. Rasanya begitu nikmat hingga ia kembali membuka matanya tuk menatap keindahan punggung majikannya.


“Aaahhhh… Aahhhhh… Aahhhh nonnn… Ouhhh nikmatnya memekmu ini, non” Desah pak Urip.


“Mmpphhhh… Mmmppphhhh… Mmpphhh” desah Nayla yang tak bisa berbuat apa-apa.


Pak Rudi pun juga demikian. Pinggulnya terus bergerak memaksa mulut Nayla menelan keseluruhan penisnya. Saat kedua tangannya memegangi kepala mungil Nayla. Maka pinggulnya bergerak maju hingga mentok di mulut akhwat bercadar itu. Pak Rudi tersenyum senang. Ia tertawa penuh kepuasan merasakan hangatnya mulut Nayla saat mengulum penis besarnya.


“Aaahhhhh… Aaahhhhh…. Telen yang dalem mbak… Telen terus kontol sayaaa !” Desah pak Rudi tersenyum puas.


“Aaahhhhh… Aaahhhh… gimana pak Rudi rasa mulutnya ?” Tanya pak Urip ditengah sodokannya.


“Aaahhhh… Aahhh… Mantapp paakk… Mantappp bangeettt” Desah pak Rudi menjawab soal pak Urip.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Mau tukeran ?” Tanya pak Urip tersenyum.


“Aaahhhh… Aahhhh mauu bangett… Mauu bangeettt pakkk” Desah pak Rudi yang langsung melepas penisnya dari mulut Nayla.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh… Hentikaannn paakkk… Aaahhhh akuu” Desah Nayla yang akhirnya bisa menghirup udara segar lagi.


“Hakhakhak… Diem non… Non gak berhak ngomong… Non itu cuma lonte… Tugas non itu ya muasin kita-kita aja… Non gak berhak ngatur kita… Santai aja, kita juga professional kok… Kita pasti bakal memuaskan nafsu non” Ucap pak Urip sambil terus menggenjot majikannya.


“Aaahhh tapiii… Taappiii aaaahhhhh” desah Nayla saat tiba-tiba pak Urip menarik lepas penisnya hingga membuatnya terjatuh dalam posisi berlutut di lantai. Tubuh Nayla pun menunduk. Kedua tangannya ia jatuhkan pada lantai dihadapannya.


“Hah… Hah… Capek bangettt… Capeekk bangettt uuhuukk… Uhhukkk” desah Nayla sampai terbatuk-batuk.


“Hakhakhak… Non pasti kedinginan kan ? Ayo dipakai lagi jaketnya !” Ucap pak Urip memaksa Nayla mengenakan jaket yang tadi dikenakannya.


“Ayo berdiri… Waktunya kita akhiri semua ini !” Ucap pak Urip sambil berkedip pada pak Rudi.


“Hahaha siap pak… Akhirnya kesampean juga” Ucap pak Rudi memeluk Nayla untuk membantunya berdiri membelakangi dirinya.


“Tunggu paakk… Aku cappeekk… Akuuu… Mmmpphhh” desah Nayla saat merasakan vaginanya disentuh oleh benda tumpul yang ingin memaksa masuk.


“Eh pak inget perjanjian kita” Ucap pak Urip mengingatkan.


“Hahhaha iyya… iya… Saya tau kok” Ucap pak Rudi yang kemudian menyelipkan penisnya diantara paha Nayla yang sudah ia rapatkan.


“Aaaahhhh apa iniii ?” Tanya Nayla sambil menoleh ke belakang.


“Sebenarnya saya tuh pengen banget ngentot sama mbak… Tapi karena saya gak dapet izin dari pak Urip, akhirnya saya cuma bisa kayak gini deh… Ayo saatnya kita gesek-gesekkin kelamin kita” Ucap pak Rudi sambil menarik kedua tangan Nayla ke belakang.


“Eeeehhhh paaakkk… Tungguuu… Akuu gakk mauu pakk… Aakkuuu…” desah Nayla yang sedang menungging dalam posisi berdiri dengan kedua tangan ditarik ke belakang. Nayla terlihat sangat menggiurkan. Jaketnya pun turun hingga ke kedua lengannya.


“Hakhakhak… Ayo pak… Waktunya kita pesta !” Ucap pak Urip sambil mendekap handycamnya untuk merekam aksi 'petting' mereka.


“Hahahah siaapp pakk… Terima ini… Hennkgghhh !” Desah pak Rudi saat menghempaskan pinggulnya maju.


“Paakkkk akuu gakk maaauu… Akkuuu aaahhhhh” desah Nayla saat pinggulnya ditabrak oleh pinggul pak Rudi dengan keras.


“Aaaahhhhh ternyata rasanya lumayan juga… Aaahhhhhh rasakaannn iniii… Rasakaannn kontol saya iniiii” desah pak Rudi yang mulai memaju mundurkan pinggulnya menggesekkan penisnya pada bibir vagina Nayla.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh… Aaahhhh bappaakk” desah Nayla saat tubuhnya terdorong maju mundur.


Saat kedua tangan Nayla ditarik ke belakang. Dada Nayla jadi terdorong maju ditengah persetubuhan mereka. Terlihat payudaranya bergoyang sangat cepat. Terlihat payudaranya bergoyang sangat indah. Pak Urip yang melihatnya sampai tertawa puas melihat keindahan yang ada di hadapannya. Belum lagi dengan suara desahannya. Pak Urip pun berulang kali bergerak mengelilingi mereka untuk mencari sudut yang tepat untuk merekam persetubuhan ini agar terlihat sempurna.


Setiap pak Rudi mendorong maju pinggulnya maka bergeseklah penisnya pada bibir vagina Nayla yang sudah sangat basah. Terasa penis bagian atasnya semakin basah saat terkena cairan cinta Nayla yang semakin mengucur deras. Saat pinggulnya ia mundurkan, rasanya ia ingin memasukan ujung gundulnya ke dalam vagina sempitnya. Tapi ia teringat janjinya pada pak Urip. Ia mengurungkannya. Ia pun kembali menggesek bibir vagina Nayla menggunakan sisi bagian atas penisnya.


“Hakhakhak… Saya jadi gak tahan lagi… Ayo sini nonnn… Kulum kontol saya jugaa” Ucap pak Urip yang ingin bergabung ke pesta mereka.


“Enggakk… Akuu gakk mauu… Bukann ini yang aku mauuu tadii pakkk… Mmpphhhhh” Desah Nayla saat mulutnya kembali dipaksa mengulum penis seseorang.


“Aaaaahhhhhh mantappnyaaa” desah pak Urip saat menusuk mulut majikannya menggunakan batang penisnya.


Tanpa menunggu lama, pinggulnya langsung bergoyang maju mundur menikmati kuluman mulut majikannya. Saat penisnya menusuk ke dalam, terasa kehangatan dan kelembapan yang menambah gairah birahinya. Saat penisnya ia tarik hingga nyaris terlepas dari mulutnya, terasa bibir majikannya menjepit penis tuanya dengan begitu erat. Pak Urip pun tertawa puas. Ia terus menusuk-nusukkan penisnya tuk menikmati mulut majikannya.


“Mmppphhh… Mmppphhhhh” desah Nayla sambil memejam menahan semuanya.


Hampir selama tujuh menit mereka bersetubuh dengan gaya seperti itu. Pak Rudi yang sedari tadi terus menggesek-gesek bibir vagina Nayla akhirnya mulai merasakan adanya tanda-tanda orgasme sebentar lagi. Penisnya mulai berdenyut pelan. Kedua lututnya juga melemah merasakan nikmatnya jepitan selangkangan Nayla kepada penis tuanya.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh… Sebentar lagiiii mbaakk… Sebentarr laggiiii” desah pak Rudi tak kuat lagi.


“Aaaahhhhhh… Aaahhhh… Aaaahhhh nonn saya jugaa… Saya mauu kelluaaarr” desah pak Urip yang rupanya juga sudah tak kuat lagi setelah menahan goyangan Nayla tadi.


Nayla terkejut saat mengetahui penis yang sedang merangsangnya dari depan sekaligus belakang hampir mencapai orgasmenya. Ia pun tak sanggup membayangkan andai kedua penis itu memuncratkan spermanya mengotori mulut serta bibir vaginanya. Ia ingin bergerak tapi tak bisa. Ia ingin menghentikan aksi mereka tapi tangannya dipegangi oleh penjaga vilanya.


Rasanya benar-benar menyebalkan. Tapi ia memang tak bisa berbuat apa-apa ditengah situasi yang menggairahkan ini.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Aahhh sebentar lagiii” Desah pak Urip penuh nafsu.


Pak Urip memperkuat hujaman penisnya. Ia juga mempercepat frekuensi genjotannya. Mulut Nayla semakin tersiksa saat tenggorokannya dipaksa menahan serangan nafsu dari pria tambun itu. Nayla ingin batuk. Matanya terus memejam. Ia merasakan penis di mulutnya semakin berdenyut. Ia juga merasakan rasa asin dari cairan 'precum' yang mulai membasahi lidahnya.


“Aaaaahhhh… Aaahhhh… Saya jugaa mbaakk… Aaahhhh” Desah pak Rudi melepaskan pegangannya pada tangan Nayla lalu menampari bokong Nayla sebelum tangannya mengusapi punggung mulusnya.


“Mmmppphh… Mmpphhhh” Desah Nayla yang ingin menjerit namun tertahan oleh tusukan penis pak Urip. Tangannya pun bertumpu pada paha pak Urip untuk menahan sodokan pak Rudi yang semakin cepat.


'Plaaakkk… Plaakkk… Plaaakkk…'


Bokong Nayla memerah. Ia juga tak berdaya saat menahan gesekan penis pak Rudi yang semakin bergairah. Ketika tangan pak Rudi mendekap pinggul Nayla. Diperkencanglah gesekan pinggulnya yang membuat payudara Nayla bergoyang semakin cepat.


Kedua pria tua itu sudah berada di ambang batas. Mereka tak sanggup menahan gairah birahi yang sudah berada di atas. Mereka sama-sama menahan nafas. Mereka berdua melampiaskan semuanya untuk menodai tubuh bidadari bercadar tersebut.


“Aaahhhhh… Aaahhhhh… Aaahhhh nnoonnnn” Desah pak Urip.


“Aaahhhhh… Aaahhhh… Aaahhh mbaaakkkk” Desah pak Rudi.


'Apaaa ? Jangaannn… Jangann dikeluarin di mulut akuuu… Akuu gak mau paakk… Tolongg cabut dari muluutt akuuu !'


Batin Nayla berharap ditengah ketidakberdayaannya yang tak bisa berbuat apa-apa.


Namun harapannya itu buyar seketika saat pak Urip tiba-tiba mementokkan pinggulnya hingga penis tua itu menusuk tenggorokannya saat hendak mengeluarkan lahar hangatnya.


“Aaaahhhh saya gakkk kuat lagiii… Terima ini nonnn… Hennkgghhhh !” desah pak Urip sambil menahan kepala Nayla dengan erat.


Disaat yang bersamaan, pak Rudi juga tidak kuat lagi dalam menahan gesekan paha mulus akhwat bercadar itu.


“Aaahhhh saya jugaa nonnn… Terima iniiii… Aaaahhhhh” desah pak Rudi saat menghempaskan pinggulnya hingga Nayla sekilas terlihat seperti memiliki penis dari bawah vaginanya.


“Keellluuuaaarrrr !!!” Desah kedua pria tua itu secara bersamaan.


“Mmmpphhhhhh” desah Nayla pasrah saat mulutnya dipaksa menerima lendir hangat dari pria tambun itu.


Spermanya yang keluar begitu deras memaksa Nayla untuk menelannya karena tak sanggup menahan aromanya yang begitu memuakkan. Nayla pun menelan sperma pak Urip dengan begitu lahap. Ia terpaksa melakukannya tanpa menyisakan satu tetespun di dalam mulutnya.


“Aaahhh yahhh teleenn teruss nonn… Telen semuanya jangan sampai ada yang netes keluar” Ucap pak Urip sampai merinding keenakan saat bisa mendapatkan orgasme keduanya di hari ini.


Sedangkan pak Rudi juga merinding bahkan matanya sampai merem melek saat spermanya menetes keluar mengenai paha bagian dalam akhwat bercadar itu. Rasanya begitu memuaskan saat beorgasme ditengah rasa sangeknya. Pak Rudi pun menepuk pantat Nayla berulang kali. Ia juga meremasnya bahkan mencengkramnya yang hanya bisa dibalas erangan oleh Nayla.


“Mmmpphhmmm” Desah Nayla tertahan.


Tiba-tiba . . .


“Deekkkk… Mas udah mandi… Gantian sana mandi dulu” Ucap Miftah dari dalam yang mengejutkan mereka bertiga.


“Gawaaatt pak Miftah udah selesai mandi” Ucap pak Urip yang segera menarik lepas penisnya dari dalam mulut Nayla.


“Gawaatt gimana ini ?” Ucap pak Rudi yang juga sudah menarik keluar penisnya lalu buru-buru menaikkan celananya kembali.


Nayla yang terjatuh dalam posisi berlutut dibiarkan begitu saja bagai barang yang baru saja dibuang setelah dipakai. Ia yang masih kelelahan hanya bisa ngos-ngosan sambil melihat sekitar. Tangannya pun berusaha mengambil roknya dengan menggunakan sisa tenaga yang dimilikinya.


Nampak pak Urip sudah mengenakan pakaiannya kembali. Kedua pria yang tidak bertanggung jawab itu langsung kabur meninggalkan Nayla sendiri.


“Deekk… Adek dimana yah ?” Tanya Miftah yang suaranya terdengar semakin dekat.


'Hah… Hah… Hah… Tunggu mas… Jangann kesini duluuu…'


Batin Nayla yang buru-buru mengenakan roknya lagi. Ia pun berusaha berdiri lalu menaikkan roknya tanpa sempat mengenakan pakaian dalamnya.


Saat Nayla baru saja mengenakan roknya. Tiba-tiba ia melihat Miftah sudah berada di pintu vilanya. Sontak Nayla langsung membalikkan badan. Untungnya ia masih mengenakan jaket yang membuatnya langsung menaikkan resleting jaket itu ke atas.


“Deekkk mandi sana ? Airnya hangat loh” Ucap Miftah sambil mendekap bahu Nayla dari belakang.


“Hehe iyya mas… Tunggu sebentar” Kata Nayla dengan penuh kelegaan karena masih sempat menutupi ketelanjangan tubuhnya


“Nunggu apa ? Hari sudah semakin gelap loh” Ucap Miftah sambil melihat langit sore di puncak.


“Hehe iya habis ini adek bakal mandi kok” Ucap Nayla sambil menyembunyikan rasa lelahnya agar tidak dicurigai lebih oleh suaminya.


“Yaudah tapi jangan kemaleman yah ? Mas mau mesen makanan dulu biar pas maghrib dateng kita bisa langsung makan… Eh yah pak Rudi mana yah ? Paaakkk… Pakkk Rudiii ?” Ucap Miftah lalu melangkah pergi untuk mencari pak Rudi.


Menyadari kalau suaminya sudah pergi menjauh membuat Nayla segera memegangi dadanya untuk memeriksa denyut jantungnya. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Jantungnya rasanya seperti mau copot saat hampir ketahuan setelah dipaksa melayani kedua pria tua tersebut.


“'Astaghfirullah'… Aku” Lirih Nayla sambil duduk di kursi teras vila.


Matanya menatap gamisnya yang tergeletak begitu saja di lantai. Ia lega karena suaminya tidak sempat melihat gamisnya itu. Wajahnya lalu ia tolehkan ke halaman untuk melihat pakaian dalamnya. Lalu wajahnya ia tolehkan untuk menatap 'handycam' yang masih merekam di sore hari itu.


'Alhamdulillah semuanya gak ketahuan… Tapi kali ini kamu bener-bener keterlaluan, Nay !'


Batin Nayla yang sangat menyesali perbuatannya.


Ia masih gak ngira saat tadi ketika dirinya malah ingin bercinta dengan pak Urip saat dirinya sedang nafsu-nafsunya. Untungnya kehadiran pak Rudi tadi sempat menghambat peredaran nafsu birahinya. Meski hasilnya ia tetap dinodai dengan dipaksa menelan sperma pak Urip tadi, setidaknya ia tidak sampai bergorgasme oleh perbuatan pembantunya tadi.


Setidaknya itulah harga diri yang bisa ia selamatkan dari terjangan nafsu pak Urip. Tapi tetap, ia menyesali perbuatannya. Ia pun hanya bisa menunduk malu sambil mengingat-ngingat perbuatannya tadi itu.


“Hakhakhak… Terima kasih sudah datang untuk memuasi nafsu kami non lonte” Ucap pak Urip semakin berani saat mendatanginya untuk mengambil kamera handycamnya.


“Lain kali saya boleh ngentot memeknya yah pak” Ucap pak Rudi yang berada di belakangnya yang membuat Nayla hanya mengernyitkan dahinya.


“Hakhakhak… Bilang aja sendiri ke non Nayla kalau emang diizinin… Kalau saya sendiri sih jelas gak perlu izin dong buat nggenjot memeknya” Ucap pak Urip yang langsung pergi setelah mengambil kamera handycamnya.


“Waaahhhh beneran ? Saya boleh yah mbak ? Saya boleh kan ikut nggenjot memek mbak ?” Tanya pak Rudi tanpa tahu situasi.


Nayla pun tak memilih menjawab. Ia langsung pergi ke dalam vila setelah memungut gamis yang tadi dipakainya. Ia benar-benar tak menyangka dengan obrolan yang mereka dua bicarakan tadi. Ia sudah seperti objek milik pak Urip saja sehingga pak Rudi sampai harus meminta izin pada pria tua itu untuk menyetubuhi dirinya.


“Memang siapa dia kenapa harus minta izin ke dia ?” Lirih Nayla kesal.


Ia pun segera memasuki kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat lalu menyandarkan tubuhnya pada pintu masuk kamarnya. Ditengah waktu sendirinya, ia kembali merenung memikirkan nasibnya.


“Kenapa sih, makin hari kok malah makin rumit ? Masalahnya, setiap nafsuku bangkit… Aku tuh mesti mencari seseorang yang sanggup melampiaskan nafsuku… Tapi siapa ? Mas Miftah jelas-jelas gak bisa memuasi nafsuku ini… Pak Urip ? Itu pilihan yang sangat buruk… Ia bahkan sampai mengajak pak Rudi dan entah mungkin akan ada orang lain lagi untuk menyetubuhiku suatu saat nanti… Pak Beni ? Sepertinya cuma itu pilihannya… Tapi masalahnya, gimana caranya ? Ia jauh di rumahnya sana… Bagaimana kalau nanti nafsuku bangkit lagi ? Aku jadi ingin cepat-cepat pulang deh… Aku gak mau lama-lama disini” Lirih Nayla yang lalu berjalan menuju almari pakaian untuk mengambil pakaian bersih untuk mandi di sore hari.


“Oh yah, ini gawat… Mana nafsuku di sore tadi belum terlampiaskan lagi… Moga aja aku gak sangek lagi… Moga aja nafsuku gak bangkit lagi di sisa hari ini” Lirih Nayla penuh harap saat memasuki kamar mandi vila itu.


*-*-*-*

Sementara itu di saat yang sama namun di tempat yang berbeda.


Gimana makanannya, Put... Enak kan ?


Enak banget mas... Aku baru tau kalau ada warung makan seenak ini disekitar sini


Hahaha aku juga baru tau pas gak sengaja lewat di jalan ini... Pas nyoba-nyoba, eh rupanya enak... Makanya deh aku ajak kamu makan disini


Hihihi makasih yah mas... Buat traktirannya


Gak masalah Put... Aku malah seneng kok bisa makan bareng kamu


Akhwat bercadar bernama Putri itu pun hanya tersenyum. Setelah melahap nasi + ayam bakar yang berada di warung pinggir jalan. Ia lekas mengambil hapenya untuk mengirim kabar pada seseorang.


Assalamualaikum pak... Bapak lagi apa ? Balas Putri secara diam-diam. Sekilas ia menatap Andri. Andri juga terlihat sedang memainkan hapenya setelah menyantap nasi + ayam bakarnya.


'Aneh deh... Ini Nayla daritadi ngapain sih ? Kok dikirim chat malah gak dibales-bales... Di read doang malah...'


Batin Andri merasa kecewa.


Seketika notif Putri berbunyi yang membuatnya buru-buru menurunkan volume hapenya. Ia agak terkejut karena volumenya cukup keras. Namun setidaknya ia lega karena Andri tidak mencurigainya. Saat wajahnya menatap layar hapenya, ia pun tersenyum saat menemukan balasan pesan dari sebuah nomor yang baru didapatinya di pagi hari tadi.


Lagi mau pulang mbak... Ini lagi diperjalanan balas pak Beni.


Oh yah ? Bapak lagi dimana emang ? Siapa tau kita ada di lokasi yang gak terlalu jauh balas Putri sambil tersenyum.


Ada di sekitar kampus A deh mbak balas pak Beni yang membuat Putri terkejut.


Eh yang bener ? Aku juga lagi di sekitar kampus A loh pak... Aku ada di dalem warung makan tepatnya balas Putri sambil melihat sekitar siapa tau menemukan pria tua itu


Wah yang bener mbak ? Ini saya kebetulan lagi di depan warung makan mbok Yati deh balas pak Beni yang membuat jantung Putri berdebar kencang.


Eh lirih Putri lalu berdiri menghadap ke pintu masuk warung makan.


'Eh itu dia pak Beni !'


Batin Putri senyum-senyum sendiri.


Eh Put ada apa berdiri ? Kenapa ? Tanya Andri heran pada sikap calon istrinya itu.


Enggak kok mas... Enggak jawab Putri sambil tersenyum lalu kembali duduk lesehan untuk membalas pesan dari pria tua itu.


Bapak udah makan ? Bapak punya makanan gak buat entar malem ? Aku beliin yah balas Putri.


Eh gak usah... Gak perlu mbak... Gak mau ngerepotin balas pak Beni.


Udah gapapa balas Putri memaksa.


Oh yah mas... Makanan kita udah dibayar belum ? Tanya Putri pada calon suaminya.


Belum kok Put... Ada apa emangnya ? Tanya Andri heran dengan raut wajah calon istrinya itu.


'Kenapa Putri keliatan seneng banget yah tiba-tiba ?'


Batin Andri penasaran.


Aku pesen satu porsi lagi boleh... Dibungkus yah tapi ucap Putri sambil tersenyum.


Oalah... Hahaha enak yah ? Mau nambah ? Tanya Andri.


Hihihi bukan buatku sih mas... Tapi buat orang itu tuh ucap Putri sambil malu-malu menunjuk seseorang yang berdiri di luar warung makan.


Eh siapa dia ? Tanya Andri penasaran pada orang asing yang dikenal oleh calon istrinya itu.


Hihihi dia tetangganya mbak Nayla... Dia udah baik banget ke aku sama mbak Nayla... Aku gak enak kalau gak bales perbuatan dia ucap Putri beralasan.


'Tetangganya Nayla ?'


Batin Andri curiga.


Oh yaudah... Aku ke kasir dulu yah buat bayar sekalian pesen satu porsi lagi... Kamu mau nemenin gak ? Kasian bapak itu berdiri sendirian di luar ucap Andri bersikap baik.


Wah ide bagus tuh mas... Yaudah aku temenin bapak itu dulu yah ucap Putri yang terlihat begitu bersemangat untuk menemui pria tua itu.


Sekilas Andri melihat ekspresi wajah calon istrinya. Terlihat memang kalau mereka berdua cukup dekat. Andri pun terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Entah kenapa Andri merasa cemburu. Bukan cemburu atas kedekatan Putri dan Pria tua itu. Melainkan fakta bahwa pria tua itu adalah tetangga dari Nayla yang membuatnya cemburu.


Hahaha apaan sih ? Dia cuma bapak-bapak tua... Kenapa juga aku harus cemburu ? Ucap Andri menertawakan dirinya sendiri.


Tapi entah kenapa perasaannya terus-terusan tidak enak. Ia pun terus memperhatikan pria tua itu sekalian untuk mengingat bentuk wajahnya.


'Siapa yah namanya dia ?'


Batin Andri yang sudah mengaktifkan mode cemburunya.


MEBG1W5

https://thumbs4.imagebam.com/8b/6c/a7/MEBG1W5_t.jpeg   8b/6c/a7/MEBG1W5_t.jpeg

'ANDRI


MEBEJIO

https://thumbs4.imagebam.com/63/19/82/MEBEJIO_t.jpg   63/19/82/MEBEJIO_t.jpg

'PUTRI


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


*-*-*-*

Malam harinya di sebuah vila sekitar pukul setengah dua belas.


Vila sudah sangat sepi. Bahkan banyak lampu yang sudah dipadamkan dan menyisakan beberapa lampu saja yang masih dinyalakan. Para penghuni vila mayoritas sudah tertidur. Pak Urip dan pak Rudi sudah tertidur sambil menunjukkan senyum penuh kepuasan setelah berhasil melampiaskan nafsu birahinya pada majikan alimnya. Miftah juga sudah tertidur setelah berhasil merelaksikan pikirannya saat berjalan-jalan bersama istrinya.


Tersisa Nayla saja yang belum tertidur. Ia tidak bisa tidur. Berulang kali ia merasa gelisah karena hawa nafsunya justru kembali bangkit saat dirinya hendak tertidur.


'Duuhhhh… Kenapa harus sekarang sih ?'


Batin Nayla sambil duduk di tepi ranjangnya.


Ia pun menoleh ke belakang untuk melihat keadaan suaminya. Suaminya sudah terlelap. Suaminya terlihat begitu kelelahan karena tak sempat beristirahat setibanya di vila ini. Nayla pun merogoh hapenya. Ia melihat isi layar hapenya berharap ia bisa menemukan seseorang untuk mengatasi hasrat seksualnya.


'Mmmppphhh gawaatt… Aku bahkan gak punya nomornya pak Beni ? Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Bermasturbasi ! Yah hanya itu yang bisa kulakukan untuk mengatasi nafsuku sekarang !'


Batin Nayla saat terpikirkan sebuah ide.


Ia jadi teringat kalau dulu saja dirinya sering bermasturbasi sambil membayangkan sosok pak Beni. Kenapa juga dirinya harus mencari penis seseorang kalau dirinya bisa bermasturbasi sendiri ?


'Tapi… Kayaknya bakalan kurang puas deh kalau cuma bermasturbasi aja…'


Batinnya yang sudah merasakan nikmatnya bercinta dengan pria-pria tua.


'Aaahhhh entahlah… Aku harus pergi sekarang… Aku harus cari tempat aman untuk melampiaskan nafsuku sekarang !'


Batinnya sambil mengambil maskernya lalu berjalan keluar dari dalam kamarnya.


MEC8LXW

https://thumbs4.imagebam.com/a3/80/11/MEC8LXW_t.jpeg   a3/80/11/MEC8LXW_t.jpeg

'MULUSTRASI NAYLA


Terlihat lampu di ruangan tengah menyala remang-remang. Nayla yang saat itu cuma mengenakan kaus pendek berwarna putih yang memiliki gambar kucing di tengahnya memberanikan diri untuk berjalan menuju sofa ruang tamu. Padahal ia tidak mengenakan hijabnya saat itu. Ya, rambut pendek sebahunya ia biarkan terlihat begitu saja. Bahkan ia cuma mengenakan celana kolor pendek hingga menampakkan sebagian paha mulusnya. Padahal ada pak Urip dan pak Rudi yang tidur di dalam vila itu. Tapi ia tak peduli. Ia pun terus berjalan ke ruang tamu sambil mengenakan masker yang menutupi sebagian wajahnya.


“Sekarang apa ? Pak Beni ? Aku masih punya video pak Beni gak yah ?” Lirihnya sambil mencari-cari galeri videonya.


“Loh kok gak ada ? Hah… Hah… Masa udah kehapus sih ? Terus gimana dong ? Siapa referensi yang bisa kujadikan objek fantasiku saat bermasturbasi ?” Lirih Nayla merasa kecewa.


Iseng ia membuka aplikasi 'whatsapp' berharap dirinya bisa menemukan seseorang.


“Andri ? Loh, kenapa yah dia hari ini sering ngechat aku ? Tapi enggak deh… Aku gak bisa menjadikannya objek fantasiku... Dia gak masuk kriteriaku” Lirihnya ditengah serangan hawa nafsunya yang semakin memuncak.


“Putri ? Hah… Hah… Hah… Putri masih 'on' yah ? Putri punya fotonya pak Beni gak yah ?” Lirih Nayla yang iseng langsung mengechatnya saat mengetahui kalau rekan kerjanya itu sedang 'on' malam-malam.


“Assalamualaikum, Put” Salam Nayla saat mengirim pesan ke Putri.


“Walaikumsalam mbak… Ada apa nih ? Tumben ngechat malem-malem” Balas Putri.


“Hmmm... Gimana yah aku ngomongnya ? Kalau aku langsung nanya punya foto pak Beni apa enggak yang ada aku bakal dicurigai ? Duhhh gimana nih ?” Lirih Nayla bingung.


Cukup lama Nayla tak langsung membalasnya. Seketika ia terpikirkan sebuah ide yang membuatnya langsung mengirim balasan pesan kepadanya.


“Put… Kamu punya nomornya pak Beni gak ?” Iseng Nayla bertanya.


“Nomornya ? Nomor hapenya maksudnya ? Iya aku punya kok mbak, kenapa ?” Balas Putri mengejutkan Nayla.


“Loh kok Putri bisa punya ? Oh mungkin gara-gara kemarin kali yah, makanya pak Beni minta nomor ke Putri” Lirih Nayla saat teringat kejadian pemerkosaan Putri oleh pak Urip.


“Mungkin aja pak Beni minta nomornya supaya bisa melindunginya suatu hari nanti” Lirih Nayla mencoba berpikiran positif.


“Boleh minta gak ?” Balas Nayla berdebar.


“Eh buat apa mbak ?” Balas Putri yang membuat jantung Nayla semakin deg-degan.


“Duhhh alasan apa lagi yah yang bisa kubuat biar gak terlalu keliatan ? Oh yah !” Lirih Nayla saat lagi-lagi terpikirkan sebuah ide.


“Aku mau nanya soal keadaan rumah Put… Aku kurang yakin rumah dikunci rapet apa enggak… Jendelanya gimana ? Terus lampunya nyala apa enggak” Balas Nayla yang membuat Putri tidak menaruh curiga kepadanya.


“Oalah iya… Ini yah nomornya” Balas Putri sambil mengirimkan nomornya.


“Yeessss” Ucap Nayla cukup keras sebelum dirinya menutupi mulutnya.


“Makasih yah Put… Maaf udah ganggu waktunya malem-malem… Selamat beristirahat yah… Wassalamualaikum” Balas Nayla dengan segera yang membuat Putri juga menjawab salam dari rekan kerjanya itu.


“Walaikumsalam mbak… Iya… Mbak juga yah”


Percakapan mereka berdua pun berakhir. Nayla yang sudah bernafsu buru-buru menyimpan nomor itu lalu melihat tampilan 'display picture' dari nomor yang baru ia 'save' itu.


“Akhirnya pak Beni” Ucap Nayla yang langsung memasukan tangannya untuk menyentuh bibir vaginanya.


Terlihat tampilan DP 'Whatsapp' dari nomor itu yang memperlihatkan foto 'selfie' pak Beni. Pak Beni rupanya memasang foto 'close up' pada DP Whatsappnya. Nayla yang melihatnya langsung menekan-nekan klitoris vaginanya. Nafas Nayla memburu. Akhirnya ia bisa melihat foto budak nafsunya lagi.


“Paakkk… Aaahhhh… Aaaahhhh” desah Nayla sambil melihat foto wajah dari pria kekar itu.


Ia pun membayangkan wajah itu tengah berada disisinya sedang berciuman dengannya. Nayla pun memejam lalu memajukan bibirnya dari balik maskernya. Jemarinya terus menekan klitorisnya. Jemarinya juga mulai membelah vaginanya. Dikala tangan kirinya memegangi hapenya. Maka tangan kanannya sibuk merangsang bibir kemaluannya.


Aaahhhh... Aahhh... Paaakk


Saat sedang asyik-asyiknya bermasturbasi sambil menatap foto pak Beni. Ia menyadari kalau pak Beni rupanya sedang aktif saat ini. Nayla tersenyum senang. Tanpa berpikir lama, ia buru-buru mengechatnya untuk menanyakan kabarnya.


“Selamat malam pak… Ini aku, Nayla” Balas Nayla.


“Malam mbak… Loh beneran ? Kok bisa dapet nomor saya darimana ?” Balas pak Beni tak lama kemudian.


“Hehe dari Putri pak… Oh yah bapak apa kabar ? Bapak udah mau tidur yah ?” Balas Nayla.


“Oalah… Hehe belum, ini barusan habis nyuci kok… Mumpung hari libur heheh… Jadi daritadi saya bersih-bersih rumah, baik itu ruangan rumah sampai pakaian saya juga… Biar nanti pas mbak dateng, mbak bisa nyaman di rumah saya” Balas pak Beni sambil senyum-senyum sendiri.


“Oalah hihi baguslah… Oh yah pak ? Hmmmmm” Balas Nayla agak ragu.


“Ada apa yah mbak ? Mbak butuh sesuatu ?” Balas Pak Beni.


“Hehe kalau bapak gak keberatan ? Bapak mau video callan gak ?” Balas Nayla malu-malu sambil merapatkan kedua kakinya hingga bibir vaginanya saling bergesekan yang membuat akhwat bermasker itu memejam merasakan sensasinya.


“Ohhh boleh kok… Gak masalah… Tapi saya kucel mbak ? Hehe gapapa ?” Balas Pak Beni malu pada tampilan fisiknya.


“Gapapa kok pak… Aku yang mulai yah” Balas Nayla yang langsung menekan tombol VC nya.


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


Dalam sekejap muncullah wajah pria tua yang sedang tiduran diatas ranjangnya. Nayla yang melihatnya langsung tersenyum malu-malu. Padahal saat itu ia tidak sedang mengenakan hijabnya. Rambut pendeknya terlihat. Pak Beni yang pertama kali melihatnya sampai terkejut dibuatnya.


“Lohhh ini mbak yah ? Mbak gak pake hijab ?” Tanya pak Beni terkejut.


“Hehhe iya pak… Gak sempet… Kenapa ? Aku jelek yah ?” Tanya Nayla merendah.


“Enggak kok… Sebaliknya… Mbak cantik banget… Pake hijab sama cadar aja cantik… Apalagi gak pake apa-apa, hehe” Jawab pak Beni yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihihi makasih pak” jawab Nayla tertawa.


Sekilas ia melihat pak Beni bangkit dari posisi tiduran ke posisi duduknya. Namun Nayla menemukan sesuatu yang mengejutkan dirinya. Ia pun segera bertanya pada pak Beni.


“Loh bapak lagi telanjang yah ?” Tanya Nayla yang membuat wajah pak Beni memerah.


“Hehe iyya mbak… Kan tadi saya bilang kalau saya itu habis nyuci… Tau kan kalau saya lagi nyuci gimana ? Ya saya cuci semuanya termasuk yang lagi saya pakai” Balas pak Beni malu-malu.


'Nah kesempatan…'


Batin Nayla saat melihat adanya kesempatan untuk melakukan VCS dengannya.


“Hmmm bentar yah mbak… Saya cari kain buat nutup aurat saya” Ucap pak Beni malu-malu.


“Ehhh gak usah pak” Ucap Nayla menahannya.


“Ehh gak usah ?” Jawab pak Beni terkejut.


“Hehe iya pak gak usah… Sejujurnya alasan saya mencari bapak malam-malam itu… Hmmmm” Jawab Nayla ragu-ragu.


Pak Beni yang menyadari apa yang Nayla inginkan segera menjawabnya.


“Mbak kangen kontol saya yah ? Mbak mau liat ?” Tanya pak Beni mengejutkan Nayla.


“Eh…. Hehe” Jawab Nayla sambil mengangguk malu-malu.


“Oalah kenapa gak bilang ? Kalau tau gitu pasti sudah saya tunjukkan mbak… Takutnya tadi saya dianggap kurang sopan makanya saya sembunyikan… Nih kontol saya” Ucap pak Beni senang sehingga langsung menunjukkan penampakan penisnya dihadapan Nayla.


'Gleeeggggg !'


“Gedeee banget paakkk… Kok udah keras aja sih ?” Tanya Nayla terkejut.


“Hehe soalnya tiap kali saya telanjang, saya tuh pasti kepikiran mbak Nayla terus… Saya kan jadi sangek sendiri” Jawab pak Beni yang membuat Nayla tersenyum malu-malu.


“Huhh dasar… Bapak diem-diem suka mikirin yang enggak-enggak yah ke aku” Ucap Nayla malu-malu.


“Hehehe habis mbak Nayla cantik banget sih… Bodinya juga yahud abis… Gimana gak kepikiran kalau saya aja udah pernah dikasih kesempatan buat ngerasain jepitan memek mbak” Ucap pak Beni yang mulai terbawa suasana saat melakukan VC dalam keadaan bugil bersama tetangga alimnya.


“Hihihihi bapak juga waktu itu… Aku gak nyangka sodokan kontol bapak bisa bikin aku kejang-kejang” Balas Nayla malu-malu yang juga mulai terbawa suasana.


“Ahhh masa sih sampe kejang-kejang ?” Tanya pak Beni tersenyum.


“Iyya paaakkk… Aku gak nyangka aja… Sodokan kontol bapak dalem banget… Kontol bapak juga keras terus gede lagi…. Gesekan kontol bapak ituloh yang bikin aku panas dingin pas digenjot bapak” Jawab Nayla malu-malu saat mengenang persetubuhannya waktu itu.


“Hahaha saya juga gitu mbak… Sayang waktu itu waktu kita sebentar banget… Kalau kita diberi kesempatan untuk bercinta lagi… Saya pasti akan membuat mbak keluar berkali-kali… Mungkin sekitar lima kali atau tujuh kali” Ucap pak Beni bernafsu.


“Hihihi yang bener ? Pasti aku bakalan puas banget dong pak… Kalau gitu aku juga akan menggoyang kontol bapak selama satu jam penuh… Bapak sanggup gak bertahan ? Aku akan melakukan apa aja untuk memuaskan bapak nanti… Aku akan telanjang bulat… Aku akan melepas hijab sama cadar aku… Aku akan bergoyang bahkan mencium bapak sepuas-puasnya” Balas Nayla semakin liar saat tak kuasa mengendalikan nafsu birahinya.


“Wah yang bener ? Kalau gitu saya bisa keluar 99 kali dong di dalam memek mbak nanti… Kalau mbak hamil gimana ? Apa gapapa ?” Tanya pak Beni berlebihan yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihih mana bisa keluar 99 kali ? Hmmm kalau sama bapak gapapa deh ? Tapi janji yah bapak bakal mejuhi aku 99 kali ?” Tanya Nayla yang semakin bergairah saat mengobrol mesum dengan pejantan kekarnya.


“Saya akan melakukannya lebih… Saya akan mejuhin mbak 1000 kali… Saya akan menggenjot mbak berulang kali… Bahkan saat mbak meminta berhenti, saya akan tetep menggenjot mbak terus menerus bahkan sampai hari berganti… Hah… Hah… Hah…” Jawab Pak Beni sampai ngos-ngosan saat berbicara mesum dengan wanita alim itu.


“Uhhhhhh pasti bakal puas banget yah pak… Hihihih kalau gitu… Mau gak kita melakukannya secara 'online' ?” Tanya Nayla yang semakin tak tahan lagi dalam percakapan kotor mereka.


“'Online' maksudnya ?” Tanya pak Beni sambil terus mengocok kontolnya menatap wajah Nayla yang tidak tertutupi hijabnya.


“Kita saling merangsang nafsu kita melalui obrolan kita pak… Saat bapak terangsang, bapak boleh ngocok sambil ngobrolin apa aja yang bisa bikin aku terangsang… Aku juga bakal telanjang kok biar kita bisa adil saat melampiaskan nafsu kita di jarak sejauh ini” Ucap Nayla tersenyum sambil terus menekan-nekan vaginanya.


“Loh beneran ? Mbak bakal telanjang juga ?” Tanya pak Beni tak menyangka.


“Heem pak… Ini yah sebagai permulaan” Ucap Nayla sambil menaikan kausnya hingga kedua payudara bulatnya terlihat.


MEC8LXY

https://thumbs4.imagebam.com/51/24/71/MEC8LXY_t.jpeg   51/24/71/MEC8LXY_t.jpeg

'MULUSTRASI NAYLA


“Wuihhhh bulet banget susumu mbaakkk… Ouhhhh mbak gak pake beha yah ? “Kenceengg bangettt susumu… Ouhhhh andai saya udah disana… Saya pasti udah ngeremes susu bulat itu sekenceng-kencengnya” Ucap pak Beni sambil terus mengocok penisnya.


“Aaahhh yang bener ? Mmmppphhh… Bapak mau ngeremes susu aku ? Bapak bakal memulainya dari mana ?” Tanya Nayla dengan nada agak mendesah sambil meremas-remas susu bulatnya.


“Dari pentilmu mbak… Saya akan mencubit pentilmu… Lalu meremes susumu sekuat-kuatnya” Ucap pak Beni yang semakin kencang mengocok penisnya.


“Mmpphhh seperti ini yah pak ?” Ucap Nayla yang justru mempraktekan apa yang pak Beni ucapkan. Nayla mencubit putingnya lalu meremas susunya kuat-kuat.


“Aaahhhh… Aaahhhhh… Iyyyahh seperti itu… Seperti ituuu… Ouhhhh remes yang kuat mbaakkkk… Jangan lupa usap juga memek mbak” Ucap pak Beni semakin bergairah saat melihat kebinalan Nayla. Kocokan tangannya jadi semakin cepat. Deru nafas pak Beni juga semakin berat.


“Mmmppphhh iyyahhh paakkk… Mmpphhhh aku akan melakukannya… Aaahhhh andai bapak ada disini… Aku pasti akan mengocok kontol baapppaakkk… Aku akan mengocoknya lalu mengulumnya menggunakan mulut aku” Ucap Nayla yang lagi-lagi sudah lepas kendali sambil meremas susunya juga merangsang vaginanya dari dalam celana kolornya.


“Aaahhhh iyahhh… Baikk akan saya lakukan ? Maksudmu seperti ini mbaakk… Ini kontol sayaa… Silahkan kulum mbakkk… Inniiii” Ucap pak Beni sambil mendekatkan penisnya ke layar hapenya.


“Aaaahhh iyyaahhh…. Aahhhh bappaakkk… Aku jadi makin gak tahan deh” desah Nayla sambil melepas celana kolornya dan juga celana dalamnya.


“Aaahhh yahhh… Aaahhhh itu dia mbakkk… Itu memek yang bisa bikin saya ngos-ngosan… Ayo masukan jemari mbak… Bayangin itu kontol saya yang masuk ke dalam memek mbak” desah pak Beni bernafsu.


“Aaahhh iyaahhhh… Aaaahhh iniii paakk… Mmpphhh yaahhh… Aaahhhh nikmat bangeett pakkk kontol bapaakk” desah Nayla sambil memejam sambil memasukan jemarinya ke dalam vaginanya.


Nayla yang sudah menaruh hapenya di meja ruang tamu membuat kedua tangannya semakin bebas dalam merangsang tubuhnya sendiri. Dikala jemari kanannya keluar masuk di dalam vaginanya. Maka tangan kirinya terus meremas susunya yang membuat pak Beni semakin blingsatan tak karuan.


“Oouuhhh… Ouuuhhh… Buka lebar-lebar kakimu mbaaakkk… Bayangin saya ada disana…. Bayangin saya sedang menghujami memekmu sekaraanggg !” Ucap pak Beni yang membuat Nayla segera melakukannya.


Aaahhhh iyyaahhhh… Aaahhhhh nikmat sekalii paakkk… Aahhh yahh… Ouuhhh bappaaakk” desah Nayla yang membuat pak Beni merinding mendengarnya.


Melihat Nayla yang semakin binal membuat pria tua berbadan kekar itu langsung bangkit berjongkok diatas ranjang tidurnya. Kedua kakinya ia jinjitkan. Tangan kirinya ia jadikan tumpuan agar tidak terjatuh saat melakukan aksi selanjutnya. Jemari-jemari di tangan kanannya membuat lobang lalu pinggulnya ia maju mundurkan membiarkan penis itu keluar masuk di lubang tangan kanan yang ia buat.


Ia seolah sedang mempraktekan apa yang ada di pikirannya andai Nayla ada di sebelahnya. Melihat itu membuat pikiran Nayla kemana-mana. Ia mendekatkan vaginanya ke arah layar hapenya lalu melebarkan lubangnya agar pak Beni dapat melihat isi dari vagina berwarna pink itu.


“Aaahhhhh mbaaakkkk… Aaahhhh pasti enak banget memekmu itu mbaakk… Aahhhh saya jadi pengen genjot lebih kuat lagii… Uuhhhh pasti rasanya bakal mantep bangett” Ucap pak Beni semakin bernafsu.


“Iyyahh paakkk… Akuuu mmppphhh… Masukin pakk kontol bapaakk… Aahhh kayakk ginniii… Mmpphhh nikmat sekaliii” Desah Nayla sambil kembali mengeluar masukkan jemarinya ke dalam vaginanya.


Gairah yang semakin menjadi membuat Nayla melepas satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Ia menarik keluar kaus bergambar kucingnya melewati kepalanya. Ia juga melepas maskernya sehingga pak Beni dapat melihat wajah cantik Nayla untuk pertama kalinya.


Pak Beni sampai berhenti mengocok saat melihat mulusnya tubuh polos Nayla dari atas ke bawah. Tidak hanya lekuk tubuhnya yang indah. Wajah Nayla ternyata juga indah. Bahkan sangat indah yang membuat pria tua kekar itu termenung tak percaya.


MEC8LXX

https://thumbs4.imagebam.com/1c/1f/fe/MEC8LXX_t.jpeg   1c/1f/fe/MEC8LXX_t.jpeg

'MULUSTRASI NAYLA


“Gimana pakk ?” Tanya Nayla malu-malu saat memperlihatkan keseluruhan auratnya itu.


“Beruntungnya saya pernah bercinta denganmu mbak… Andai kita bisa bercinta lagi dalam kondisi seperti ini… Pasti saya akan menggenjotmu sambil mencium bibirmu sepuasnya… Pasti saya akan menindihimu lalu meremas susumu sekuat-kuatnya… Pasti saya akan menghamilimu setelah memberimu kepuasan yang tidak dapat mbak bayangkan” Ucap pak Beni yang mulai kembali mengocok penisnya dengan kencang.


“Mmppphhh kalau gitu lakukan paakkk… Aku milik bapak sekaraanggg… Iniii… Nikmati tubuh aku… Buktikan kalau bapak sanggup mewujudkan semua yang bapak ucapkan” Ucap Nayla sambil mengangkangkan kakinya lalu menepuk-nepuk vaginanya hingga terdengar bunyi cipratan air dari dalam sana.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Pastiii mbaakk… Pastiii… Liat kontol saya iniii… Ayooo masukan mbaakk… Terima kontol kekar sayaaa iniiii !” desah pak Beni yang semakin ngos-ngosan saat mengocok penisnya di hadapan akhwat alim tersebut.


“Aaahhhh iyaahhh paakkk… Aku akaannn… Aaahhh nikmat sekaliii… Terusss pakkk… Kocok lebih keras laggiiiii” Desah Nayla yang mulai merasakan adanya tanda-tanda orgasme disaat jemarinya terus sibuk keluar masuk di dalam vaginanya.


Nafas pak Beni memberat. Ia sudah tak kuat setelah digoda oleh akhwat bercadar yang kini sedang tersesat. Matanya membuka lebar tuk mengingat-ngingat setiap lekuk yang dimiliki oleh tubuh akhwat bercadar tersebut. Tubuhnya ia sandarkan pada tembok dibelakangnya. Hapenya ia pegang lalu didekatkannya ke arah penis kekarnya. Nayla jadi semakin jelas dalam melihat kocokan penis pria tua itu. Terlihat pucuknya sudah basah terkena cairan 'precum' pria tua kekar itu.


“Aaaahhhh mbaakkk… Sayaaa gakkk kuat laggiii… Gunung berapi ini akan meletus… Kontol saya bakal muncrat gara-gara keseksian tubuh mbaakkk” Ucap pak Beni tidak tahan lagi.


“Aaahhhh akuu jugaaa… Iyyaaa keluarkan paakkk… Letuskan gunung berapi ituu… Aku mau liattt laharnya paaakkk… Aku pengen liat pejuh bapak yang bakal keluuaar” Ucap Nayla saking vulgarnya disaat nafsunya yang semakin membara.


Jemari Nayla naik turun mengusap bibir vaginanya. Vaginanya semakin licin. Vaginanya semakin basah dibanjiri cairan cintanya. Ditengah suasana vila yang sedang sepi. Desahan serta jeritan penuh kepuasan dari Nayla mengisi seisi ruangan vila itu. Tak peduli dengan keadaan sekitar. Tak peduli andai ada seseorang yang terbangun dari tidurnya. Nayla terus merangsang vaginanya sambil menatap kejantanan penis tukang sapu itu yang sebentar lagi akan segera meletus.


“Aaahhhhh… Aaahhhh sayaa gakk kuat lagii… Liat ini mbaakkk… Liat kontol saya iniiiiiii !” Desah Pak Beni bernafsu.


“Aaahhhh iyaahhh… Aku melihatnyaaa paakkk… Keluarkannnn… Ayoo keluarin bareng-barengg paakk… Aaaahhhhhhh” desah Nayla tak kuat lagi.


Iyyahh mbaakkk… Akuuu aahhh kelluuaaarrrr !” Jerit pak Beni yang akhirnya sudah berada di ambang batasnya.


'Crrrooottt… Ccroottt… Cccrrroootttt !!!'


Terlihat sperma pak Beni terbang tinggi lalu jatuh di perut kotak-kotaknya sendiri. Dua sampai tiga semprotan keluar membasahi perutnya sendiri. Sebagian ada yang jatuh di bulu jembutnya menyuburkan bulu itu dengan nutrisi dari spermanya. Sebagian ada yang jatuh meluber ke batang penisnya yang membuat penis itu terlihat semakin menggairahkan dengan cairan sperma yang menyelimutinya.


“Ouhhh paaakkk… Paakkk… Mmpphhh akhirnyaaa… Aahhhh akuu jugaaaa…” Jerit Nayla menyusul kemudian.


Mendengar Nayla sudah keluar membuat pak Beni menaikan hapenya lalu mendekatkannya ke arah wajahnya. Ia tak ingin ketinggalan aksi orgasme dari akhwat yang sehari-harinya mengenakan cadar itu.


Nampak spermanya muncrat dengan deras melewati hapenya. Vagina Nayla sudah seperti keran yang baru saja dibuka oleh seseorang. Vagina Nayla membanjir. Meja ruang tengah itu juga banjir. Bahkan sofa yang ia duduki juga banjir terkena cairan cintanya sendiri. Terlihat wajah Nayla yang ngos-ngosan setelah mendapatkan orgasme ternikmatnya. Ekspresi wajahnya terlihat sangat menggairahkan. Tatapannya menggoda. Bibirnya pun agak sedikit membuka mengeluarkan nafasnya yang terengah-engah.


'Wow luar biasa… Indah sekali tubuhmu itu mbaakk…'


Batin pak Beni yang terkagum-kagum melihatnya.


Terlihat Nayla merem melek penuh keenakan. Tubuhnya ia sandarkan pada sofa di belakangnya. Seketika layar hapenya menjadi gelap. Rupanya hapenya terjatuh dan kameranya menghadap ke arah sofa yang didudukinya. Nayla terlihat kelelahan. Ia benar-benar puas saat melakukan VCS bersama tetangga bertubuh kekarnya.


“Hebat sekali dirimu mbaakk… Luar biasa indahnya dirimu” Puji pak Beni yang membuat Nayla kembali mengambil hapenya.


“Hehe makasih pak… Makasih buat semuanyaa… Aku capeeek… Udahan dulu yaahh” Ucap Nayla terengah-engah.


“Iyya mbak sama-sama… Saya juga . . . .” Seketika sambungan 'video call' berakhir. Pak Beni penasaran kenapa Nayla buru-buru menyudahi video callnya. Tapi ia tidak mau memikirkan yang enggak-enggak. Bibirnya tersenyum penuh kepuasan. Ia pun menatap perutnya yang dipenuhi oleh spermanya.


“Beruntung sekali diri saya ini… Bener-bener rejeki yang gak diduga-duga… Ngentot 'online' aja enaknya udah kayak gini… Apalagi sampai langsung… Cepat pulang yah mbak… Saya pengen ngerasain yang beneran lagi soalnya” Ucap pak Beni sambil mengolesi spermanya itu ke penisnya yang masih menegak. Ia pun terus mengocoknya sambil membayangkan wajah cantik Nayla saat keenakan mendapatkan orgasmenya tadi.


“Aaahhhh mbaakkk Naylaaa… Belum puas saya kalau cuma lewat 'online' gini… Saya butuh yang beneran… Saya ingin merasakan tubuh indahmu secara langsung mbakk… Aaahhhh… Aaahhh” desah pak Beni yang memilih lanjut untuk mengocok penisnya sendiri.


Sementara itu Nayla,


“Hah… Hah… Ouhhh… Hah” desah Nayla sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa di belakangnya.


Dadanya naik turun. Keringat membasahi keningnya. Tubuhnya terlihat lemas setelah menyemprotkan cairan cintanya dengan deras. Matanya pun memejam menikmati sisa-sisa orgasmenya. Lengan kanannya ia taruh pada dahinya. Lalu matanya membuka, ia melihat langit-langit ruangan.


“Akhirnyaa… Akhirnya selesai jugaaa… Aaahhhhh… Akhirnya lega juga” Lirihnya dengan suara yang memberat.


Akhwat cantik itu akhirnya bisa terbebas dari jeratan nafsu yang sedari tadi terus menghantuinya. Akhirnya ia tidak merasa sangek lagi. Akhirnya ia bisa beraktifitas seperti biasa lagi.


Seketika Nayla menggelengkan kepalanya. Matanya kembali memejam. Ia merasa malu atas apa yang sudah ia lakukan barusan.

“'Astaghfirullah'… Apa-apaan sih tadi… Gak pantes banget aku kayak tadi” Lirih Nayla saat teringat aksi binalnya saat melakukan VCS bersama pak Beni.


Nayla pun menegakkan tubuhnya. Dilihatnya meja, lantai, beserta sofa yang sedang ia duduki. Terlihat bekas noda basah yang berceceran dimana-mana. Ia merasa malu. Ia merasa malu karena sudah bersikap binal seperti tadi.


“'Astaghfirullah'… Terulang lagi kan, Nay… Mau sampe kapan kamu kayak gini terus ? Apa gak malu sama cincin di jarimu itu, Nay” Lirihnya sambil menyisir rambutnya ke belakang menggunakan sela-sela jemarinya.


“Hah… Hah… Ouhhh… Hah” Desah Nayla yang masih ngos-ngosan. Ia lalu menepuk dahinya. Ia menyisir rambutnya lagi ke belakang. Ia benar-benar merasa pusing atas kegilaan yang sudah dilakukannya di hari ini.


'Tolongg jangan diulangi lagi Nay… Ini bukan dirimu… Sadar… Tolong kendalikan dirimu ketika nafsumu bangkit menguasai diri lagi…'


Batin Nayla menasehati dirinya.


Ia pun mencoba berdiri. Namun dirinya nyaris terjatuh karena saking lemasnya. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Ia pun buru-buru mengambil pakaiannya lalu pergi berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara itu di sela-sela pintu kamar yang agak sedikit terbuka,


“Hakhakhak… Gilaaaa… Gilaaa betul dirimu non… Hakhakhak… Bisa-bisanya tengah malem gini malah VCS-an sama pak Beni ? Liat aja kalau sampe suamimu liat… Hakhakhak… Tapi boleh juga bodimu itu… Baru kali ini saya ngeliat tubuh polosmu tanpa mengenakan apapun… Indah juga… Bahkan sangat indah… Saya jadi kepikiran untuk menyubuhimu tanpa balutan kain apapun… Saya ingin merekammu agar saya bisa melihat terus apa yang berada di balik gamismu itu, non Nayla” Lirih pak Urip sambil memegangi 'handycam' di tangan kanannya.


“Hakhakahk… Sayang rekaman malem ini gelap banget… Coba kita lakukan lagi di tempat terang… Pasti keindahanmu bakal terlihat” Lirihnya sambil menutup kamera handycamnya lalu bersiap-siap tidur untuk menantikan kenikmatan apa lagi yang bisa ia dapatkan di hari esoknya.


BERSAMBUNG

;;;;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 11

KEMBALI PULANG

“Mmmppphhhhh”


Terlihat seorang wanita yang masih tertidur diatas ranjangnya mengulat dengan merentangkan kedua tangannya. Saat cahaya mentari mulai masuk menembus kaca jendelanya. Wanita itu segera menutupi wajahnya menggunakan lengan kanannya. Seketika ia langsung membalikkan badannya memunggungi kaca jendela. Ia menekuk tubuhnya ke samping. Saat telapak tangannya menemukan guling. Ia langsung memeluk guling itu dengan erat.


“Eh dek bangun… Udah shubuhan belum ? Udah jam enam lebih loh” Ucap Miftah yang membuat wanita cantik itu terkejut mendengarnya.


“Jam enam lebih ? Yang bener mas ?” Tanya wanita cantik itu yang tidak lain adalah Nayla. Ia langsung mengambil posisi duduk dengan keadaan rambut yang masih berantakan. Ia masih kesulitan untuk membuka matanya. Sepertinya ia masih mengumpulkan nyawanya.


“Iyya loh… Coba liat deh ke jam dinding… Mas biarin dari tadi kirain bakal bangun… Mas tinggal jalan-jalan pagi eh malah masih tidur… Ayo buruan bangun… Udah telat banget loh… Semalem tidur jam berapa sih ?” Ucap Miftah memarahi istrinya.


'Semalem ? Ah iya juga… Astaghfirullah…'


Batin Nayla sambil menutupi wajahnya karena menyesali perbuatannya.


Ia teringat kalau semalam disaat dirinya kalah oleh hawa nafsunya. Ia malah melakukan 'video call sex' bersama pak Beni. Ia malah memperlihatkan keseluruhan auratnya kepada tetangganya itu. Bahkan ia juga menggodanya dengan meremas kedua payudaranya serta menunjukkan isi dalaman dari vaginanya yang berwarna pink itu.


Wajahnya memerah. Ia benar-benar merasa malu akibat perbuatannya semalam. Ia pun juga penasaran. Kenapa setiap kali dirinya dikendalikan oleh hawa nafsu, dirinya cenderung berubah menjadi orang lain. Seseorang yang sifatnya menyerupai lonte murahan yang cenderung mencari penis seseorang untuk melampiaskan nafsu seksualnya.


Ia tak bisa mengontrol tubuhnya. Ia merasa seperti sedang dikendalikan. Ia bahkan tak malu lagi untuk menunjukkan sisi binalnya dihadapan orang-orang.


'Sekuat itu kah ? Aneh banget deh… Masa gara-gara minuman lemon, semuanya jadi seperti ini sih ?'


Batin Nayla yang masih keheranan pada efek dari minuman lemon itu.


“Iya mas maaf… Adek bangun kok” Jawab Nayla dengan nada lemah.


Nayla pelan-pelan mulai beranjak turun dari ranjangnya. Ia mengenakan sandal rumahan. Saat dirinya hendak keluar dari kamar, Miftah kembali membuka mulutnya untuk menegurnya.


“Eh dek, mau keluar kayak gitu ? Adek kan gak pake hijab sama cadar” Tegur Miftah yang membuat Nayla menepuk jidatnya lalu menggelengkan kepalanya.


“'Astaghfirullah'… Iya mas maaf” Ucap Nayla


Terlihat Nayla seperti kebingungan. Wanita cantik berambut pendek itu segera membuka almari pakaiannya untuk mencari hijab simpel untuk dikenakannya. Setelah hijab simpel itu sudah dipakai, ia lekas mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Baru setelah itu ia berjalan keluar menuju kamar mandi untuk melaksanakan ibadah wajibnya.


“Dek Nayla kenapa yah ? Eh, perasaan semalem dek Nayla gak pake piyama deh ? Kenapa pas bangun malah pake piyama yah ? Apa semalem dek Nayla ganti baju ? Loh kenapa ? Hmmm aneh deh” Ucap Miftah mencurigai pakaian Nayla.


*-*-*-*

'DUA JAM KEMUDIAN


“Jam berapa ini ? Udah jam delapan yah ? 'Alhamdulillah', aku masih waras” Ucap Nayla yang jadi sering memeriksa waktu karena khawatir dirinya akan kembali dikuasai oleh hawa nafsunya lagi.


Sudah dua jam ia bertahan semenjak bangun dari tidurnya. Ia merasa lega ketika dirinya tidak merasakan adanya tanda-tanda saat dikuasai oleh hawa nafsunya lagi. Ia pun kembali melihat ke arah jam dinding. Ia segera bangkit dari kursi riasnya lalu beranjak pergi membuka pintu almarinya.


Ia berjongkok untuk membuka tas ransel yang ia bawa. Ia lalu mengeluarkan sebuah botol yang sudah berkurang setengahnya. Ia mengangkat cadarnya, ia lalu menenggak minuman itu sekali lalu mengusap bibirnya menggunakan sapu tangan yang ia bawa.


“'Alhamdulillah', aku udah minum ramuannya… Seenggaknya aku bakal aman kan ?… Huft semoga aja aku gak kambuh-kambuh lagi di sisa hari ini” Ucap Nayla penuh harap.


Nayla yang baru saja mandi dan berpakaian rapih itu kembali memasukan botol minuman itu ke dalam tasnya. Ia pun kembali duduk di kursi riasnya untuk melanjutkan proses dandannya yang tadi sempat tertunda untuk meminum obatnya.


Nayla yang saat itu sudah mengenakan hijab berwarna abu-abu serta gamis panjang berwarna hitam kembali melukis alisnya untuk menambah kecantikan wajahnya. Ia pun berdiam sejenak untuk melihat bayangan di cerminnya. Ia mendesah perlahan. Ia tampak kecewa saat melihat bayangan cantiknya.


“Kasian banget kamu, Nay” Lirih Nayla sejenak.


MEC8LY3

https://thumbs4.imagebam.com/98/6a/a6/MEC8LY3_t.jpg   98/6a/a6/MEC8LY3_t.jpg

'NAYLA


Ia sangat menyayangkan dirinya yang cantik jelita justru sudah dinodai berulang kali oleh pria-pria tua. Terutama pembantu tuanya yang sudah berulang kali menanam benih di dalam rahimnya. Ia juga menyayangkan dirinya sendiri yang masih belum sanggup mengendalikan hawa nafsunya. Ia pun menaruh kedua sikunya di meja rias. Ia mengetuk kepalanya lalu memejamkan matanya. Ia mencoba menyadarkan dirinya. Ia berusaha untuk kuat agar tidak dikendalikan lagi oleh hawa nafsunya.


“Kamu pasti bisa, Nay… Ayo bertahan… Kamu udah berusaha dengan berobat… Ayo jangan mengalah dengan keadaan ! Jangan ada lagi sikap binal yang memalukan ! Ayo jangan mau diperbudak oleh hawa nafsumu lagi ! Tolong jaga harga dirimu, Nay !” Ucap Nayla meyakinkan dirinya.


Setelah merasa siap untuk menghadapi hari. Ia pun langsung berdiri untuk keluar dari kamar vilanya ini.


Namun baru saja pintu dibuka, ia langsung tertunduk sambil memegangi vaginanya saat merasakan adanya setruman kecil yang merangsang vaginanya.


“'Astaghfirullah', kenapa ini ? Padahal baru aja aku meminum obat ramuannya” Lirih Nayla heran dengan vaginanya yang terasa sangat gatal.


“Aahhhh adduuhhh… Mmpphhh… Kenapa ? Apa yang terjadi ? Ada apa dengan diriku ini ?” Lirih Nayla sambil memaksa berjalan menuju sofa ruang tengah.


“Hah… Hah… Ouhhhh… Lagi… Kenapa rasa ini datang lagi ? Mmmppphhh” desahnya sambil meremasi payudaranya sendiri.


“Aaahhhh ini diiaa… Aahhhh enak bangettt… Mmpphhhh… Mmpphhhh” Desahnya sambil meremasi payudara sebelah kanannya.


“Duhhh gawwaatt… Aku bener-bener gak kuat ! Tolonnggg… Maasss… Mas Miftaahhh… Oh yah, mas ada dimana ?” Lirihnya sambil berusaha berdiri mencari suaminya.


Sambil tertatih-tatih ia mencoba keluar vila untuk mencari suaminya. Ia ingin mencari pelampiasan dengan cara yang halal. Meski ia tahu mungkin dirinya tidak akan mendapatkan hasil apa-apa saat bercinta bersama suaminya. Setidaknya ia mencoba untuk menjauhi perzinahan demi menjaga harga dirinya sebagai seorang akhwat selebgram.


Hah... Hah... Mas ? Mass ? Ucap Nayla sambil memegangi dinding di luar vilanya.


“Ada apa dek ? Dek nyariin mas yah ? Hakhakhakh” Tawa seseorang yang membuat Nayla merinding saat melihatnya.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


“Paakkk Uriipp ? Mana suamiku pak ? Dimana ia ?” Tanya Nayla sambil melangkah mundur karena khawatir dirinya akan dipaksa melayani nafsu bejatnya lagi.


“Ini mas, dek ? Ini mas mu… Ini aku, suamimu… Hakhakhak” Tawa Pak Urip sambil berjalan mendekati majikannya.


“Apa maksud bapak ? Tolongg jangan mendekat ? Aku gak mau lagi pakkk… Toloonggg !” Ucap Nayla terus melangkah mundur menjauhi pembantu tuanya itu.


“Hmmm kalau diliat-liat non ini lagi sangek yah ? Hakhakhak… Padahal non belum make vibrator ini… Kok udah sangek aja sih ? Oh iya, lonte kan gak kenal waktu buat sangek, hakhakhak” Ucap pak Urip sambil mengeluarkan benda bergetar itu.


“Gaakkk… Aku gak merasa seperti itu ! Tolongg menjauh paakkk… Tolong jangan lukai harga diriku lagi !” Ucap Nayla ketakutan,


“Gak merasa ? Hmmm mentang-mentang semalem non udah enak-enakan sama pak Beni terus saya ditinggalin gitu ? Tega banget yah non ini… Hakhakhak” Ucap pak Urip yang membuat mata Nayla melebar.


“Dari mana bapak tau ? Oops” Ucap Nayla keceplosan lalu menutupi mulutnya berharap pak Urip tidak mendengar apa yang baru saja diucapkannya.


“Lah wong lagi enak-enak tidur, non malah asyik mendesah di ruang tamu… Ya saya jadi tau lah… Hakhakhak… Tapi gapapa, saya jadi bisa ngeliat wajah indahmu itu non… Non ternyata cantik banget yah ? Saya gak nyangka… Saya jadi nafsu pengen ngentot dirimu lagi. non… Tapi kali ini tanpa sehelai benang yah” Ucap pak Urip yang membuat Nayla semakin ketakutan.


Saat Nayla terus melangkah mundur. Ia baru menyadari rupanya punggungnya sudah menyentuh dinding vila. Ia terjebak. Ia tak memiliki pilihan lain selain membiarkan pria tua itu mendekat.


“Tolonnggg paakkk… Jangaannn… Kali ini aja… Tolong jangan perkosa aku lagi pakk… Akuu mohhoonnn !” Ucap Nayla memohon.


“Nonnn… Saya ini pria jantan… Mana mungkin saya meninggalkan seorang wanita yang sedang terangsang-terangsangnya… Lihat deh, susumu aja udah mengencang gini” Ucap pak Urip sambil meremas susu bulat sebelah kananya.


“Aaahhhhh jangaannnnn” desah Nayla keenakan.


“Tuh kan liat deh… susumu udah tegang gini… Sudah jelas-jelas tubuhmu butuh rangsangan” Ucap pak Urip sambil meremas payudara satunya.


“Aaaahhhhh paaakkk… Jangaannn… Aaahhhhhh” desah Nayla merintih penuh kepuasan.


'Gawaaat…. Aku mulai terangsang lagiii… Aku gak kuat menahan kenikmatan ini ! Aduhh gimana ini ? Haruskah aku pasrah ? Haruskah aku membiarkan pak Urip memperkosaku lagi ?'


Batin Nayla bimbang.


“Hakhakhak… Coba deh ngaca non… Muka non aja keliatan banget kalu non itu menikmati remasan saya, iya kan ? Coba pejamkan mata non… Nikmati apa yang sedang saya lakukan untuk non” Ucap pak Urip sambil terus meremasi kedua payudara bulat itu.


'Aaaahhhhhh… Aaahhhhhh… Nikmat sekaliii… Nikmat banget remasan tangan bappaakk… Aaahhhh gawwaatt… Aku gak boleh takluk… Ayo, kamu udah berjanji Nay ! Jangan takluk lagi oleh hawa nafsumu ini… Mmpphhhh, tapi inniii ?'


Batin Nayla yang begitu tersiksa.


“Hakhakhak jangan ditahan non… Apa remasan saya kurang kuat yah ? Coba ahh saya perkuat !” Ucap pak Urip sambil memperkuat cengkraman di payudara majikannya.


“Aaaahhhh janggaaannnnn… Aaahhhh bappakkk…. Ouuhhhh yaahhhh !” Desah Nayla memejam sambil memegangi kedua tangan pak Urip dengan bermaksud untuk menahan remasannya.


Namun sensasi nikmat yang didapatnya malah membuatnya hanya memegang tanpa bermaksud untuk menahannya. Kedua tangan pak Urip pun jadi semakin bebas dalam meremasi kedua payudara bulat itu. Jemarinya kadang menekan puting susunya. Jemarinya juga mengusap-ngusap putingnya dari luar gamis yang dikenakan oleh majikannya.


“Hakhakhak… Andai saya bawa kaca, saya ingin banget menunjukkan ekspresi binalmu ini, non… Oh yah, mumpung pagi ini suamimu lagi pergi jalan-jalan dengan penjaga vila tua itu… Gimana kalau kita kembali bercinta ?… Ayo kita lampiaskan nafsu kita… Ayo kita telanjangi tubuh kita dan nikmati waktu berharga ini untuk saling cumbu melampiaskan hasrat nafsu” Ucap pak Urip kali ini dengan menaikkan rok gamis Nayla menggunakan tangan kanannya. Jemari kanannya pun masuk ke dalam celana dalam Nayla. Ia menurunkan celana dalam itu lalu menyentuh lubang sempit Nayla yang rupanya sudah sangat basah.


“Ouuuhhhh jangaannn paakkk… Aaahhhhh akuu moohhoonnn !” Pinta Nayla meski sangat menikmati pelecehannya.


“Hakhakhak, keras kepala banget yah kamu non !” Ucap pak Urip yang langsung menaikan cadar Nayla menggunakan tangan satunya lalu tangan satunya lagi langsung merangsang vagina Nayla dengan mengusapi bibir vaginanya dengan cara naik turun.


“Mmpppphhhhhh paaakkkk” Desah Nayla tertahan.


Bibir pak Urip langsung bergerak maju. Dilahapnya bibir akhwat bercadar itu dengan penuh nafsu. Bibir tuanya mendorong bibir manis Nayla. Ia memagut bibir manisnya dengan tega. Tatkala bibir tuanya menjepit bibir bagian atas Nayla, maka jemari kanannya tanpa henti bergerak naik turun mengusapi bibir vaginanya. Ia merasakan sesuatu yang licin di bawah sana. Vaginanya sudah membanjir. Vaginanya sudah dipenuhi oleh lendir.


Bibir tua itu kembali menghisap bibir manis Nayla. Lidahnya di dalam mulai berkeliaran menjilati bibir bagian atas Nayla yang sedang dijepit olehnya. Lidahnya mengolesi bibir itu dengan liurnya hingga merata. Lalu ia kembali menghisapnya. Ia juga memiringkan kepalanya untuk melakukan variasi gerakan dalam menikmati bibir akhwat bercadar itu.


“Mmppphhhh…. Mmppphhhhh” Desah mereka secara bersamaan.


Belum puas dengan hanya menjilati bibir atasnya, pak Urip melepaskan cumbuannya lalu memaksa masuk lidahnya ke dalam rongga mulut akhwat bercadar itu. Lidahnya menggeliat penuh nafsu di dalam. Lidahnya menyentuh apa saja yang ia temukan di dalam. Lidahnya pun bertemu dengan lidah akhwat bercadar itu. Lidah mereka saling bergumul. Lidah mereka saling mendorong. Lidah mereka saling melilit lalu saling menjepit. Lidah mereka berputar di dalam mulut Nayla. Mereka sangat menikmat percumbuan mereka. Bahkan liur mereka sampai menetes keluar dari sela-sela mulut Nayla.


'Mmpphhh… Kenapa bapak hebat banget ? Aku sampe terlena saat menikmati cumbuan bapak… Aku hanyut dalam perangkap nafsu yang sudah bapak buat… Belum lagi dengan rangsangan tangan bapak di memekku… Mmpphhh nafsu, tega banget sih kamu !'


Batin Nayla yang semakin hanyut dalam buaian nafsu birahinya itu.


Tanpa sadar ia membuka kakinya lebar-lebar. Pak Urip yang menyadari langsung melepas cumbuannya untuk menatap wajah cantik majikannya. Terlihat ekspresi wajah Nayla yang tengah keenakan. Pak Urip berjongkok, ia menurunkan paksa celana dalam yang Nayla kenakan. Lalu setelah itu ia menaikkan roknya lalu wajahnya mendekat untuk menjilat cairan cinta yang semakin membanjiri lobang kenikmatan itu.


“Apa yang bapak lakukan ? Mmpphh… Sudah paakk… Akuuu aaahhhh” desah Nayla bingung antara menikmati atau mengakhiri.


“Apa yang saya lakukan ? Jelas saya akan menikmati tubuhmu ini, non !” Ucap pak Urip yang langsung menjilat vaginanya hingga Nayla merasakan efek setruman kecil yang membuatnya menjadi sangat bergairah.


“Aaaahhhh bappaaakk… Aahhhhhh” Jerit Nayla sambil menundukkan wajahnya tuk melihat pria tua yang tengah berjongkok dihadapannya.


Dalam keadaan berdiri menyandar pada dinding vila. Nayla mengangkangkan kakinya lebar-lebar untuk membiarkan wajah pria tua yang buruk rupa itu yang sedang asyik menjilati vaginanya. Nayla memejam. Nafasnya menjadi sesak lalu mengeluarkan desahan-desahan yang begitu berat. Mulutnya ia buka lebar. Wajahnya ia naikkan. Kedua tangannya hendak mencengkram dinding ruangan yang menjadi sandaran tubuhnya saat dinikmati oleh pembantu tuanya.


“Slllrrppp… Mmpphhh… Sllrrppp… Aahhhh manis sekali memekmu ini, non” Desah pak Urip penuh nafsu.


Lidahnya kembali menunjukkan aksinya dalam menjlati kemaluan majikannya. Awalnya ia hanya menjilati bibir vagina bagian luarnya saja. Lidahnya naik turun menjilati pintu masuk vaginanya itu. Lalu perlahan lidahnya mulai masuk membelah bibir vaginanya. Lidahnya mulai merasakan cairan yang begitu asin di dalam. Hidungnya juga mulai mencium aroma amis yang begitu menggiurkan. Pembantu tua itu jadi semakin terangsang. Kepalanya pun ia maju mundurkan membiarkan lidahnya itu keluar masuk di dalam vaginanya.


“Aaahhhh… Aaahhhh bappaakkk… Aaahhhhhh” Desah Nayla sambil bertumpu pada dinding yang ia jadikan sandaran.


Lalu lidah tua itu bergerak memutar mengelilingi tepian masuk ke dalam vagina majikannya. Jilatannya membuat Nayla terbang ke kayangan. Jilatannya membuat Nayla mabuk kepayang. Jilatannya membuatnya semakin bergairah hingga membuatnya dipaksa untuk menikmati perzinahan yang kembali ia lakukan.


“Ouuhhhhh… Ouhhhh paakkk… Mmpphhhhh” Desah Nayla memejam menikmati semuanya.


Pak Urip kemudian menggunakan kedua tangannya untuk melebarkan vagina majikannya. Akibatnya rok yang sedari tadi dipegangnya pun turun menutupi wajahnya. Pak Urip bersembunyi di balik rok gamis majikannya. Lalu pria tua itu meludahi vagina majikannya yang terbuka. Bibirnya mendekat untuk menyeruput isian dari vagina majikannya. Lalu lidahnya ia benamkan seluruhnya. Ia menikmatinya. Ia telah membuat majikannya itu semakin tersiksa oleh kenikmatan birahi yang tiada tara.


“Aaaaahhhhh… Aaahhhh bappaakk… Aaahhhhh” desah Nayla sambil menggeal-geolkan pinggul rampingnya.


'Gaawwaatt… Aku semakin bernafsuuu… Aku gak sanggup menahan semua itu… Hah… Hah… Ouhhh kenapa kejadian ini terus berulang padaku… Tolonggg akuuu… Tolong keluarkan aku dari siksaan birahi itu…'


Batin Nayla yang pelan-pelan mulai meremas dadanya tuk menahan siksaan yang terasa amat sangat berat.


“Sssllrrppp nyam nyam nyam… Lezat sekali memekmu ini non… Hakhakhak” Tawa pak Urip yang baru saja keluar dari dalam rok majikannya lalu kembali berdiri menatap wajah majikan cantiknya.


“Hah… Hah… Hah… Hah” Desah Nayla yang tak sanggup mengucapkan apa-apa.


Melihat majikannya yang semakin tak berdaya membuat pembantu tua itu tersenyum penuh kemenangan. Ia lalu mendekap kedua pinggul majikannya lalu mengusapnya secara perlahan dari bawah ke atas.


“Aaaahhhhhhh” desah Nayla yang semakin terangsang oleh perlakuan pembantu tuanya.


“Hakhakhak… Mana yah yang harus saya nikmati dulu ? Haruskah dari susu bulatmu ini ?” Ucap pak Urip sambil meremas kedua susu bulatnya secara bersamaan.


“Aaaahhhhh jangaannnn” Desah Nayla sambil mendekap kedua tangan pembantunya.


“Atau, haruskah saya langsung menusuk memekmu ini ?” Ucap pak Urip sambil mendekap kembali kemaluan Nayla dari balik roknya kemudian membimbing salah satu tangan Nayla menuju penis tuanya.


“Jangaannn… Tolonggg sudahi paakk… Ttoollonggg” Pinta Nayla meski dirinya semakin tersiksa oleh rangsangan pembantunya.


“Aahhhh iya juga… Atau haruskah saya memulainya dengan menurunkan cadarmu ini ?” Kata pak Urip sambil melepas paksa cadar yang Nayla kenakan hingga keseluruhan wajahnya kembali terlihat.


Nayla terkejut saat pak Urip berani melepas cadar yang ia kenakan. Ditengah wajah kebingungannya, ia kembali dikejutkan saat pak Urip kembali mendekatkan wajahnya untuk menikmati bibir manisnya.


“Mmppphhh yaahhh… Sepertinya saya harus memulainya dari bibir manismu ini deh, non” Desah pak Urip sambil memegangi kepala Nayla menggunakan tangan kirinya sementara tangan kanannya ia gunakan untuk memeluk punggungnya. Bibirnya pun kembali mendorong bibir majikannya yang membuat majikan alimnya itu tidak sanggup berbuat apa-apa selain membiarkan bibirnya dinikmati pembantu tuanya.


Di cumbuan kedua yang dilakukan olehnya, Nayla benar-benar jatuh sejatuh-jatuhnya pada nafsu yang telah menggerogoti pikirannya. Tubuhnya telah pasrah pada perlakuan pembantunya yang membuatnya jadi semakin bergairah. Bibirnya semakin basah. Bibirnya terus diciumi oleh pembantunya tanpa henti.


Nayla sampai memejam menikmati cumbuan ini. Tubuhnya benar-benar tak bisa ia kuasai lagi. Ia tak sanggup mengontrolnya. Ia pun membiarkan pembantu tuanya melakukan apa saja pada tubuh indahnya.


“Mmpphhh mmuaaahhh… Saya gak kuat lagi non… Masuk yokkk… Supaya kita bisa semakin bebas dalam melampiaskan nafsu birahi kita” Ucap pak Urip sambil menatap mata Nayla dengan begitu mesum.


“Hah… Hah… Hah” Nayla tak bisa menjawab apa-apa selain mendesah. Bahkan saat tangannya ditarik oleh pembantunya, ia hanya bisa ngikut saja tanpa ada penolakan sama sekali.


Saat mereka berdua tiba di dalam kamar yang ditempati oleh Nayla. Pak Urip langsung mendorong tubuh Nayla ke bawah. Ia memaksa Nayla untuk berjongkok dihadapannya. Nayla yang masih terengah-engah dikejutkan saat pembantu tuanya itu memelorotkan celana kolornya. Penis besar yang berwarna hitam nan panjang itu menegak tepat dihadapan wajahnya. Mata Nayla membuka lebar. Entah kenapa tangan kirinya reflek mendekap penis yang menurutnya indah itu. Pak Urip tersenyum sambil mengusapi kepala bagian belakang majikannya. Ia lalu meminta Nayla membuka mulutnya lalu mengirimnya sebuah ludah yang dipaksa ditelan oleh bidadari cantik itu.


'Gleeeggg !'


“Ayo mainkan non… Saya tau non lagi sangek banget kan ? Aturannya sama kayak kemarin… Kalau non mau ngentot, ya mainkan kontol saya dulu sampai saya bener-bener puas” Ucap pak Urip yang kembali bersikap jual mahal pada majikan alimnya.


“Aturannya sama ? Hah… Hah… Hah” Desah Nayla yang langsung mengocok penis tua itu dengan pelan tanpa sempat berfikir terlebih dahulu.


'Akuuu gakkk kuat lagiii… Nafsuku lama-lama semakin kuat menguasai diri… Sudahlahhh jangan melawan lagii… Lampiaskan dulu nafsumu ini… Baru setelah ini memikirkan cara agar tidak terulang lagi…'


Batin Nayla yang menyerah dan kembali memilih tunduk pada kepuasan.


Tangan kiri Nayla bergerak maju mundur. Kocokannya yang cenderung pelan tapi sudah cukup untuk membuat pria tua itu mendesah keenakan. Pak Urip menatap wajah Nayla dengan penuh kepuasan. Terlihat akhwat yang kini sudah melepas cadarnya itu mengocok penis tua pembantunya secara perlahan.


'Gedeee bangeettt… Kok lama-lama makin gede yaahh ?'


Batin Nayla ditengah kocokan penisnya. Ia semakin hanyut. Ia seolah terhipnotis oleh kemegahan penis besar itu.


Pelan-pelan kocokan yang Nayla lakukan semakin kencang. Tangan kanannya bahkan ikut membantu untuk mengocoki penis besar itu. Dengan menggunakan kedua tangannya ia berusaha melayani penis pejantannya untuk memberinya kepuasan. Matanya terpaku pada ujung gundulnya. Ia yang tak kuat lagi langsung mendekatkan mulutnya pada ujung gundul itu. Matanya pun kian memejam. Saat bibirnya ia sentuhkan pada ujung gundulnya, ia seolah menunjukkan bahwa dirinya sangat mencintai penis yang bisa selalu memberinya kepuasan.


“Mmppphhhh” Desah Nayla saat mengecup ujung gundul penis itu.


“Hakhakhak… Jangan cuma dicium non ! Buka mulutmu… Sepong kontol saya kayak waktu itu !” Ujar pak Urip yang tak tahan ingin melihat kuluman Nayla saat sedang tidak mengenakan cadarnya.


“Hah… Hah… Hah… Aaauuhhmmm” desah Nayla yang langsung melahap penis besar itu tanpa menjawab perkataan dari pembantunya.


Nayla jelas gengsi untuk mengakui kalau dirinya memang menikmati perzinahannya kali ini. Apalagi sebelumnya ia sempat menolak untuk melakukan perzinahan dengan pembantunya. Tapi apa daya, seiring waktu berjalan pak Urip seolah menjelaskan kalau Nayla memang butuh kepuasan darinya. Nayla pun mulai mengulum penis itu dengan nafsu. Kepalanya bergerak maju mundur. Bibirnya menjepit ujung gundulnya lalu menghisapnya sekuat-kuatnya.


“Ssslllrrpppp…. Mmpphhh… Mmppphhhh” desah Nayla bagai menikmati es krim lollipop berwarna coklatnya.


“Aaaahhh yaahhh… Aaahhhh nikmat seekalii non… Kerja bagus… Terus kulum kontol saya sepuas non” Ucap pak Urip sambil menikmati kebinalan Nayla yang sedang mengulum penisnya.


Akhirnya ia bisa melihat dengan jelas saat mulut akhwat alim itu menyepong penisnya. Terlihat Nayla mengulum penis itu dengan rakus. Dikala mulutnya mengulum ujung gundulnya, maka kedua tangannya sibuk mengocok batang penis itu secara maju mundur. Kocokan tangannya tidak pernah kendur. Kocokannya justru semakin cepat yang membuat hisapan mulutnya juga semakin kuat.


“Sssllrrpppp mmmpphhh… Ssllrrppp mppphhh” desah Nayla yang semakin hanyut pada nafsu birahinya itu.


'Aahhhhhh ini diaaa… Ini dia yang aku butuhkan… Kontol kuat yang bisa aku hisap sepuas-puasnya… Nikmat sekali kontol bapak ini… Aku jadi gak bisa berhenti… Tolong jangan keluar dulu pak… Aku ingin menghisap kontol bapak lebih lama lagi !'


Batin Nayla saat malu-malu mengakuinya.


“Aaahhhh ini diaaa…. Aahhh yahh seperti ini yang saya inginkan… Ayoo non… Ayoo lebih binal lagi !” Desah pak Urip yang tertawa penuh kepuasan saat melihat betapa tunduk dan patuhnya akhwat alim yang menjadi majikannya.


“Sssllrrppp mppphhh… Sslllrrppp mmmpphhhhh” desah Nayla tanpa mengucapkan apa-apa.


Lidahnya di dalam mulai menggelitiki ujung gundul penis pembantunya. Awalnya ia hanya menjilati ujung gundulnya, lalu jilatannya berfokus pada lubang kencingnya. Kepalanya pun sudah tidak lagi bergerak maju mundur. Kepalanya hanya diam saja sambil menghisap ujung gundul penis pembantunya secara kuat-kuat. Sedangkan tangannya juga mengocok batang penisnya secara kuat-kuat. Bahkan lidahnya juga menggelitiki lubang kencingnya secara kuat-kuat.


“Aaaahhhhhhh… Aaahhhhh… Aaaahhhhhhhh” jerit pak Urip semakin bergairah.


Efeknya jelas terlihat dari jeritan penuh kenikmatan yang pak Urip teriakkan. Pak Urip semakin terangsang. Nafsu birahinya semakin bergetar setelah dirangsang sedemikian rupa oleh akhwat yang sehari-harinya menggunakan cadar.


Pak Urip pun memejamkan mata. Kedua tangannya pun memegangi kepala majikannya lalu memintanya berhenti karena dirinya sudah tidak sanggup lagi.


“Aaahhhhh cukupp non… Aahhh yahh… Aahhh sudah… Sudahhh non ouhhhh” desah pak Urip sambil menggelengkan kepalanya.


“Hah… Hah… Hah” desah Nayla saat menarik nafasnya sambil mengocoki penis pembantunya. Wajahnya ia naikkan untuk memeriksa reaksi pembantunya. Nampak pembantu tuanya itu ngos-ngosan setelah diservis oral secara sedemikian rupa oleh majikan alimnya.


'Rasakan itu paakk… Itu akibatnya kalau membangkitkan nafsu besarku… Ouhhh gawaaat… Aku semakin diluar kendali… Mungkin setelah ini aku bakal disetubuhi lagi…'


Batin Nayla mengira-ngira.


Dugaannya pun benar saat pembantu tua itu meminta Nayla berdiri lalu menurunkan resleting gamisnya. Nayla pasrah karena dirinya juga ingin dipuasi agar terbebas dari rangsangan nafsu birahi.


Saat gamis hitamnya jatuh melewati kedua kaki jenjangnya. Pria tua itu lekas menurunkan rok gamisnya serta mencopot pakaian dalam yang dikenakannya. Dalam sekejap Nayla sudah bertelanjang bulat menyisakan hijabnya saja. Pak Urip sengaja meninggalkan hijabnya untuk meninggalkan kesan alim pada majikannya.


“Mmmuuaaahhh… Cepat tiduran dan lebarkan kakimu non… Saya gak kuat ingin menusuk memekmu lagi !” Ucap pak Urip setelah memberinya hadiah berupa cumbuan karena sudah memuaskan penisnya.


“Mmmppphhh hah… Hah… Hah” Desah Nayla yang semakin bergairah sehingga langsung menuruti apa yang pembantunya inginkan.


'Ayoo cepat paakk… Cepat tusuk memekku… Ayyoo aku udah gak tahan lagi paakk !'


Batin Nayla yang sudah tak sanggup menahan siksaan birahi ini.


“Hakhakhak… Pose yang bagus sayaanggg” Ucap pak Urip saat melepaskan celana kolornya lalu melihat Nayla sudah memegangi pahanya saat melebarkan kedua kakinya.


Dengan sisa kaus polo yang masih dikenakan olehnya, pak Urip pun mendekat lalu memegangi penisnya untuk mengarahkannya ke lubang vagina majikannya.


“Aaahhhhh… Aaahhhhh” desah Nayla saat pak Urip malah hanya menggesek-gesekkan ujung gundulnya pada pintu masuk vaginanya.


“Ada apa non ? Non mau saya memasukan kontol saya ini ke dalam rahimmu ?” Tanya pak Urip sambil tersenyum puas.


Nayla hanya menganggukan kepala sambil menunjukkan ekspresi memohon. Ia sudah tak sanggup lagi. Ia ingin segera ditusuk untuk mendapatkan kenikmatan yang ia butuhkan.


“Kalau gitu bilang dongg… Kemarin aja sama pak Beni non sampai bilang untuk masukkin kontolnya ke dalam memek non… Masa ke saya non cuma pengen terima jadi sih… Gak adil ah” Ucap pak Urip yang malah memainkan nafsu birahinya lagi.


“Cepaat paakkk… Masukkan… Aku gak perlu bilang seperti itu kan ?” Kata Nayla kesal.


“Harus bilang dong ! Kalau gak bilang saya gak mau” Ucap pak Urip yang membuat Nayla kesal.


Ditengah rasa kesal yang Nayla tunjukkan. Pak Urip terus menggodanya dengan menyelupkan penisnya ke dalam rahim Nayla lalu buru-buru ditariknya lagi. Lalu ia menyelupkannya lagi lalu ditariknya lagi.


Nayla jadi semakin tersiksa oleh rangsangan pembantunya itu. Ia pun akhirnya mengalah. Ia yang tak sanggup menahan birahinya lagi segera memohon agar bisa ditusuk menggunakan penis hitam itu.


“Aaahhhh… Jangaannn… Jangan dikeluarin lagi paak… Cepaatt masukkan… Aku mohon, aku butuh kontol bapaakk… Ayo masukkan kontol bapakk ke dalam rahimku paakkk… Rahimku butuh kontol bapaakkk… Hanya kontol bapakk yang bisa memuaskan diriku pak” Ucap Nayla dengan wajah memerah karena saking malunya.


“Hakhakhak… Iya kah ? Kalau non bilang gitu ya mana bisa saya nolak… Ayo siap yah ? Kontol saya segera datang… Tutt… Tuttt” Ucap pak Urip bersiap-siap mengambil posisi.


'Gleeeggg !'


Nayla menenggak ludah. Momen-momen saat penis itu masuk ke dalam vaginanya akan terjadi sebentar lagi. Saat pria tua itu mulai menyentuhkan ujung gundulnya pada pintu masuk vaginanya. Nayla sudah mulai merasakan kenikmatan yang ia cari. Saat penis itu mulai membelah masuk vaginanya, terasa gesekannya yang membuat mulutnya terbuka merasakan sensasinya. Saat penis itu menusuk semakin dalam. Nayla pun tak sanggup lagi untuk mendesah. Penisnya pun semakin masuk ke dalam. Lalu tiba-tiba pak Urip menariknya yang membuat mata Nayla terlihat kebingungan dengan apa yang pembantunya lakukan.


“Hakhakhak”


Tiba-tiba pak Urip kembali menusuk penisnya. Ia menusuknya dengan menggunakan beberapa tenaganya. Nayla sampai tersentak kaget. Tapi kali ini pak Urip kembali menarik keluar penisnya. Nayla pun kesal. Tanpa sadar ia membentak pembantunya karena telah memainkan nafsu birahinya.


“Paaaakkkk !!!” Rengek Nayla kesal.


“Hakhakhak maaf non… Maaff… Paling suka saya soalnya sewaktu mainin birahi non” Ucap pak Urip yang hanya cengengesan.


Pak Urip yang sebenarnya juga tak tahan ingin menghujami rahim majikannya itu mulai menarik nafasnya. Ia telah bertekad. Dengan satu hentakkan yang kuat, ia ingin ujung gundulnya langsung segera tiba di dalam rahim majikannya.


“Sekarang saya serius, terima ini… Rasakan hujaman kontolku ini ! Heeennkggghhhh !!!” desah pak Urip yang langsung menusuk rahim majikannya dengan sangat kuat hingga membuat Nayla kelojotan merasakan sensasinya.


'Jleeeebbbbbbb !!!'


“Aaaahhhhhhhhhhhhh” Jerit Nayla sekeras-kerasnya.


Benar saja. Laki-laki memang harus menepati ucapannya. Ia dengan serius langsung menghujami rahim Nayla tanpa henti. Hujamannya juga terkesan kuat. Ia melesatkan penisnya keluar masuk dengan cepat. Terdengar bunyi koplokan saat pinggul mereka berbenturan. Mereka pun terus berpacu melawan waktu. Pinggul mereka terus bergerak untuk menikmati perzinahan yang amat sangat nikmat.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Aaahhhh bappaaakkk” Desah Nayla yang tak mengira pak Urip langsung tancap gas memuaskan nafsunya. Kedua payudaranya jadi bergoyang secara cepat. Kedua tangannya pun meraba-raba sprei ranjangnya lalu mencengkramnya kuat-kuat untuk menahan hujaman pembantunya yang terlampau hebat.


Nayla memejam merasakan kenikmatan itu. Mulutnya terbuka lebar untuk mengeluarkan desahan-desahan yang membuat pembantunya semakin terpuaskan.


“Aaaahhhh yaahhh… Aaahhhh lezat sekali memekmu non… Ouhhhh mantapnyaaa… Aaahhhh maantap sekali jepitan memekmu ini, non” Desah pak Urip yang terus memacu pinggulnya tuk memuaskan birahi majikannya.


Pak Urip mulai menundukkan tubuhnya. Dipegangnya pinggul ramping majikannya. Wajah tua itu tersenyum melihat keindahan yang ada dihadapannya. Kedua tangannya pun bergerak naik mengusap pinggang mulusnya itu. Usapannya terus naik hingga tiba di ketiak mulus bidadari alim itu. Pak Urip sampai menggigit bibir bawahnya saat menikmati keindahan tubuh majikannya. Usapannya kembali naik hingga tiba di lengannya lalu segera mendekap kesepuluh jemari majikannya. Pak Urip merenggangkan tangannya ke kanan kiri. Ia juga menurunkan wajahnya tuk menatap wajah majikannya. Pak Urip tersenyum, ia lalu membuka mulutnya tuk mengucapkan sepatah kata pada majikan alimnya.


“Izinkan saya untuk memuasi nafsu gedemu ini non… Hakhakhak” tawa pak Urip yang kembali mencumbu bibirnya.


“Mmmpppphhhh” desah Nayla sambil memejam saat pinggul pembantunya itu terus menghujami vaginanya dengan kejam.


“Ssllrrppp mmmpphhh… Mmpphhhh… Mpphhhhh” desah pak Urip sambil terus menghisap bibir bagian atasnya saat pinggulnya terus bergerak naik turun menghujami vagina majikannya. Dekapan tangannya pada jemari majikannya juga dipererat. Ia benar-benar menikmati persetubuhannya. Ia bahkan sampai memejam agar semakin menikmati perzinahan mereka.


'Mmppphhh… Mmpphhh… Iniii diaaa… Terus setubuhi akuu paakkk… Jangan berhentiii… Aaahhhh nikmat sekaliii… Ayoo terus setubuhi aku paaakkk…'


Ujar Nayla malu-malu di dalam hati.


Bibir pak Urip terus menekan bibir majikannya hingga membuat kepala Nayla terbenam diatas ranjang tidurnya. Sedangkan kedua tangannya menggerakan kedua tangan Nayla diatas kepalanya. Ia pun melepas cumbuannya hanya untuk menjilati ketiaknya. Lidahnya bergerak maju mundur. Lidahnya menjilati ketiak Nayla tanpa pernah kendur.


“Aaaahhhhh… Gelii aahhh paakkk… Aaahhhh” desah Nayla yang akhirnya bisa berkata lagi selain mendesah.


“Ssssllrrppp mmpphhh… Ssllrppp mmpphhh” Desah pak Urip sambil menjilati ketiaknya,


Ia pun berpindah dengan menjilati ketiak satunya. Lidahnya benar-benar bernafsu saat menjilati ketiak mulus itu. Belum lagi dengan hujamannya yang terus ia lakukan. Ia benar-benar merasakan kepuasan, rasanya seperti sedang bercinta dengan bidadari surga.


“Ouuuhhhh… Ouhhhh…. Puas sekali saya nonn… Ouhhh” Desahnya yang kali ini mengincar payudaranya.


“Aaahhhh bappaakkk… Aaahhhhh” desah Nayla saat payudaranya diremas-remas oleh pembantu tuanya.


“Aaahhhh… Aaahhhh puaskah dirimu non ? Ini kan yang dirimu cari-cari selama ini ? Hakhakhak” tawa pak Urip sambil terus meremasi payudaranya.


“Aaahhhh… Aahhhh… Inniiii” desah Nayla masih kesulitan tuk mengakui kenikmatan yang ia dapatkan.


“Hakhakhak sok sekali dirimu non… Akui saja ? Atau genjotan saya kurang kerasa ?” Tanya pak Urip kali ini sambil mencengkram kedua susunya lalu menarik putingnya yang membuat tubuh Nayla terangkat.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhh kerasaaa… Keraaaasa kok paakkk “ desah Nayla yang membuat pak Urip tersenyum dibuatnya.


“Hakhakhak pembohong… Nih saya tambah genjotan saya… Terima yah ! Hennkgghh !” desah pak Urip yang benar-benar menambah frekuensi genjotannya sambil memegangi pinggul majikannya yang membuat pinggul akhwat sholehah itu terangkat saat menahan hujamannya.


“Aaaahhhhhh… Aaahhhhh pelaannn… Ouhhh… Paakkk aahhhhh nikmat bangeett” Desah Nayla keceplosan.


“Aaaahhhh… Aahhhh nikmat kan ? Nikmat bangettt kan ? Hakhakhak “ tawa pak Urip puas.


“Iyyahhh… Aahhhhhh… Aaahhhh… Aaahhhhhh” desah Nayla yang tak sanggup menahan diri lagi tuk menahan sodokan pak Urip.


Maju mundur maju mundur pak Urip terus menggempur pinggul Nayla tanpa pernah mengendur. Hujamannya begitu kejam yang membuat akhwat cantik itu menjerit dengan penuh kepuasan. Kedua tangannya memegangi tangan pak Urip di pinggulnya. Ia terus bertahan dengan berteriak sekeras-kerasnya saat menahan hujaman pembantu tuanya.


“Ah… Ahh… Ahhh… Aaauhhhhhhhh” desah pak Urip saat menancapkan penisnya sedalam-dalamnya yang membuat akhwat alim itu terdorong maju ke belakang.


“Aaaaahhhh pakkk dallemm bangeettt ouuhhhh” desah Nayla yang hampir saja mendapatkan klimaksnya akibat kuatnya sodokan penis pembantunya.


“Hakhakhak… Sekarang, lepas hijab itu sayaangg… Saya ingin ngentot sama lonte… Cepat buka hijabmu itu !” Ucap pak Urip menarik paksa hijab yang Nayla kenakan.


Aaaahhhh


Akhwat alim itu kali ini benar-benar telanjang bulat tanpa menyisakan satu helaipun pada tubuh indahnya. Pak Urip pun akhirnya dapat melihat wajah indah Nayla dengan jelas tidak seperti semalam yang agak remang-remang. Pak Urip langsung jatuh cinta pada potongan rambut Nayla yang pendek sebahu. Ia pun langsung membuka kaus polonya agar bisa sama-sama telanjang seperti majikannya.


“Hah, akhirnya kita bisa sama-sama telanjang juga yah sayang… Mari kita lanjutkan, persetubuhan kita yang penuh gairah ini… Hakhakhak” Tawa pak Urip sambil menarik tubuh Nayla agar akhwat telanjang itu bisa menunggangi penisnya disaat dirinya memilih tiduran diatas ranjangnya.


Uuuhhh bappaakk desah Nayla saat sudah duduk diatas penis pembantunya.


Dari bawah pak Urip dapat melihat melihat keindahan tubuh yang dimiliki oleh akhwat yang sudah telanjang itu.


Mulai dari lekuk tubuhnya yang menyerupai gitar spanyol. Lalu pinggulnya yang sungguh bahenol. Lalu perhatian pria tua itu teralihkan pada mulusnya kulit yang dimiliki olehnya. Juga dengan bulatnya payudara yang dimiliki olehnya. Lalu diakhiri dengan ekspresi wajah yang membuat pak Urip jadi semakin bernafsu akan keseksiannya. Kalau dipikir-pikir, Nayla sudah seperti boneka seks saja. Tubuhnya begitu sempurna. Tubuh seksinya itu cocok untuk menjadi pelampiasan seksual pembantu tuanya.


MEC8M7T

https://thumbs4.imagebam.com/6b/f4/35/MEC8M7T_t.jpeg   6b/f4/35/MEC8M7T_t.jpeg

'MULUSTRASI NAYLA


“Hah… Hah… Hah” Desah Nayla yang sambil malu-malu menatap wajah pembantu tuanya itu.


Ia heran kenapa pria tua itu terus tersenyum sambil memperhatikan lekuk tubuhnya. Ia jadi merasa tak nyaman apalagi saat harus telanjang bulat untuk pertama kalinya secara langsung di hadapan lelaki lain selain suaminya sendiri.


“Aaaaahhhh” Desah Nayla saat tubuhnya tiba-tiba terlontar naik ketika pak Urip mulai kembali menghujami rahim majikannya.


“Saayyaanngg” Panggil pak Urip pada majikannya.


“Hah… Hah… Hah… Apa lagi pak ?” Tanya Nayla yang masih sok jual mahal.


“Udah siap kan buat digoyang ? Hakhakhak” Ucap pak Urip yang mulai kembali menggerakkan pinggulnya hingga membuat akhwat bercadar itu nyaris kehilangan keseimbangan saat tidak memiliki sesuatu untuk ia pegang.


Untungnya ia menemukan lutut pak Urip yang sedang ditekuk ke atas. Ia pun memegangnya. Ia pasrah saat pria tua itu kembali menggempur vaginanya.


“Aaaahhhh… Aaaahhhh… Aaaahhhh” desah Nayla naik turun saat menunggangi penis tua pembantunya itu.


“Aaaahhhh… Aaaahhhh… Indah sekali non… Indah sekali pergerakan susu non” Desah pak Urip saat memperhatikan tubuh majikannya dari bawah.


Nampak payudara bulat Nayla bergondal-gandul tanpa henti. Susu bulat itu bergoyang naik turun. Goyangannya jadi semakin cepat seiring hujaman pak Urip yang semakin dahsyat. Tubuh majikannya terlontar naik turun dengan cepat. Nayla terus digempur. Tubuh polosnya terus dihajar yang membuat akhwat telanjang itu hanya bisa berteriak dengan kencang.


“Aaaahhhh bappaakk… Aaahhhhh… Aaahhh pelaaannnn” Desah Nayla meringis keenakan.


'Aaahhhhh nikmat banget… Ouhhhh yaahhh seperti ini… Rasa ini yang membuatku suka tiap kali disetubuhi oleh pak Urip… Terus sodok tubuhku paaak… Terus hajar rahimku...'


Batin Nayla keenakan hingga tanpa sadar meremasi kedua payudaranya sendiri.


Pak Urip pun tersenyum senang saat melihat kebinalan akhwat majikannya itu. Kedua tangannya pun mengelusi paha mulusnya. Elusannya naik hingga ke pinggulnya. Lalu elusannya kembali turun ke paha mulusnya. Lalu elusannya kembali naik tuk mendekap pinggul seksinya.


“Aaaahhhhh… Aaahhh… Terusss remess susumu itu nonn… Remesss yang kencennggg… Ini belum seberapa soalnya… Saya akan membuatmu mendesah lebih kencang lagi !” Ucap pak Urip yang tiba-tiba memperkuat hujaman penisnya.


“Aaahhhh iiyyaahh… Aahhhhh nikmat bangeett… Aaahhh bappaakk… Aaahhhhh tungguuu… Aaaahhhhh” desah Nayla terkejut saat tubuhnya semakin terlontar tinggi disaat hujaman pembantunya semakin keras.


Semakin tinggi ia terlontar maka saat jatuh rahimnya akan semakin ditusuk oleh penis tegak yang sudah gagah berdiri di bawahnya. Benar saja, rasa dari tusukan penis pembantunya jadi semakin nikmat. Nayla jadi semakin meremas susunya dengan kuat. Kadang putingnya dipelintirnya sendiri. Kadang putingnya dicubit sendiri. Kadang ia hanya meremasnya. Kadang ia hanya mengelus naik turun lalu berganti menjadi maju mundur ditengah persetubuhan yang ia lakukan itu.


Lama kelamaan Nayla semakin menikmatinya. Ia pun mulai tak malu-malu lagi untuk menunjukkannya dihadapan pembantunya.


“Aaaahhhh nikmat bangeettt paaakkk… Aahhhh terusss… Aaahhhhhh” Desah Nayla semakin resah akan kenikmatan yang menjalar di tubuhnya. Nafsunya yang semakin tinggi ditambah dirinya yang dipengaruhi oleh efek dari obat perangsang itu membuatnya jadi semakin bergairah saat memadu kasih dengannya.


Namun hujaman terlalu kuat yang pembantunya lakukan membuatnya sampai terjatuh diatas pelukan pria tua itu. Sambil tersenyum pak Urip langsung memeluk tubuh majikannya. Tangannya menekan punggung majikannya ke arahnya. Ia pun dapat merasakan empuknya dada majikannya yang sedang menekan dadanya. Pinggulnya pun bergerak semakin cepat. Ia terus menghajar vagina majikannya untuk memberikan kepuasan kepadanya.


“Aaaahhh paaakkkk… Aaahhhhh… Aaahhhhhh” desah Nayla sambil memejam saat menahan hujaman pembantunya yang dahsyat.


“Aaaahhhh… Aaahhhhhh… Manisnya wajahmu ini non… Ayooo teriak lebih keras lagiii… Jeritlah sepuasmu… Lampiaskan nafsumu itu non…” Desah pak Urip sambil menatap wajah Nayla dengan jarak yang begitu dekat.


“Aaaahhhhh iyyahhh paakkk… Tolonggg teruss… Terusss sodokk yang kencenng paakkk… Akuuu gak kuat lagii… Aku gak bisa nahan diri lagi” Ucap Nayla jujur mengakui dirinya sangat menikmati persetubuhannya ini.


“Aaahhhhh… Aaahhhh sudah pasti non gak bakal bisa nahan diri… Non itu lonte… Mana ada lonte yang nahan diri disaat bercinta… Ayoo sini non… Liat wajah saya… Tatap mata sayaaa !” Desah pak Urip memaksa majikannya.


“Aaahhhhhh iyyaahhh paakkk… Iyyaaahhhh” desah Nayla sambil menatap wajah jelek pembantunya.


Pak Urip jadi semakin bergairah saat menatap wajah sangek majikannya yang sedang menatap wajahnya. Tatapan penuh nafsu dari majikannya itu membuat pak Urip jadi semakin bersemangat untuk menggempur rahimnya. Tangannya pun menekan kepala bagian belakang majikannya ke arahnya. Bibirnya pun ia majukan. Sadar kalau pak Urip ingin mengajaknya berciuman membuat Nayla segera memejam membiarkan bibir tua itu mencumbu bibirnya.


“Mmmppphhhhh” desah mereka sambil bercumbu menikmati persetubuhan mereka yang semakin panas itu.


Bibir mereka bersentuhan. Bibir mereka saling bertubrukan. Bibir mereka saling cipokan hingga terdengar suara mengecap ditengah persetubuhan mereka. Pak Urip dengan penuh nafsu menghisap bibir bagian atas Nayla. Nayla yang terbawa nafsu membalas dengan menghisap bibir bagian bawah pembantunya. Lidah mereka bahkan ikutan dengan memasuki mulut lawan mainnya. Lidah pak Urip menyelinap masuk ke dalam mulut majikannya. Lidah Nayla juga ikutan menyelinap ke dalam mulut pembantunya. Mereka benar-benar melampiaskan nafsu mereka. Tak peduli dengan siapa mereka bercinta. Mereka saling meluapkan hasrat seksual yang ada di dalam tubuh mereka.


“Mmpphhhh… Mmmpphhh… Mmppphhh”


Tangan kiri pak Urip turun tuk mengusapi bokong mulusnya. Kadang ia juga menamparnya. Tangan kanannya pun ikutan dengan menekan bokong majikannya hingga membuat penisnya semakin dalam saat menggempur rahim majikannya.


Nayla sungguh menikmati persetubuhannya. Saking nikmatnya ia mulai merasakan adanya tanda-tanda orgasme yang membuatnya segera melepas cumbuannya untuk menatap wajah pembantunya.


“Aaaaaaahhhhhh… Aaaahhhhh… Aaahhhhh yangg ceppaat paakk… Akuu mauu kelluaarr… Akuu mauu dappeett aahhhhh” desah Nayla yang tidak mampu menyembunyikan perasaannya lagi ditengah gejolak birahi yang semakin menghampiri.


“Aaaahhhhhh… Aaahhhh tenang aja nonnn… Saya tau kok apa yang harus saya lakukan sekaranggg” Desah pak Urip sambil kembali menekan kepala Nayla agar bisa kembali mencumbu bibirnya.


“Mmpphhhh… Mppphhh iyaaahhh… Mmpphhh” desah Nayla yang semakin menikmati persetubuhannya dengan pembantunya.


Pinggul pak Urip bergerak naik turun. Pergerakannya sangat cepat hingga terdengar suara cipratan dari dalam vaginanya. Pinggulnya terus menggempur tanpa pernah mengendur. Pinggulnya terus menghujam dengan sangat kejam. Terkadang tangannya juga bergerak mengelusi punggung mulus majikanya. Bibirnya juga aktif menjepit bibir majikannya untuk menikmati manisnya bersetubuh dengannya.


Pergerakan cepat yang dilakukan secara terus menerus oleh pembantunya itu membuat Nayla semakin merasakan adanya tanda-tanda. Tanda-tanda dari lezatnya bercinta yang dimulai dengan adanya gejolak birahi yang muncul dari dalam diri. Lalu gejolak itu merangsang seluruh tubuh yang ditandai dengan mengencangnya tiap anggota tubuh yang membuatnya terlihat jadi semakin indah. Nampak susunya mengencang. Nampak susunya jadi semakin bulat saat terhimpit disela-sela tubuh mereka. Vaginanya juga jadi semakin sempit yang membuat penis pembantunya semakin terjepit. Tanda-tanda itu semakin besar saja. Deru nafasnya pun kian berat dan dadanya jadi sesak tiap kali penis pembantunya itu menyundul dinding rahimnya.


“Mmppphhhh… Mmpphhhh aaahhhh… Terusss paakkk… Teruusss…. Terusss sodok akuuu paakkkkk” Desah Nayla yang semakin keenakan.


“Aaaahhhhhh iyyaahhh… Iyyaahh nonn… Iyyaah… Ouhhh nikmatnyaaaa…. Nikmat sekali memekmu ini nonnn” desah pak Urip merasakan sempitnya rahim dari majikannya disaat sedang terangsang-terangsangnya.


Hampir dua menit mereka bercinta di posisi seperti itu. Nayla yang terus digempur merasa tidak kuat lagi. Ia sudah berada diambang batas. Nafsunya sudah melebihi batas maksimalnya. Sudah saatnya untuk cairan cintanya keluar dari dalam lubang kencingnya. Penis pak Urip terus menstimulusnya. Penis itu terus keluar masuk tuk menghisap-hisap lubang vagina majikannya untuk mengeluarkan cairan cintanya.


“Aaaahhhhhh sebentar laggiii… Sebentar lagiii… Aaahhh iyaahhh… Iyaahhhh… Aaahhh bapaakkk akuuuuu….” Desah Nayla yang membuat pak Urip peka.


“Aaahhh siaappp… Terimaa ini… Terima sodokan kontol sayaa iniiii… Keluarlaahhh… Keluarkan semuanya noonnn… Hennkgghhhh !!!” desah pak Urip yang langsung menancapkan penisnya dalam-dalam yang membuat Nayla menggelinjang merasakan kepuasannya.


“Aaaahhhhh bapppaakkkkk… Kellluuaaarrrr !!!” Jerit Nayla sepuas-puasnya.


'Cccrrrttt… Cccrrrttt… Cccrrrttt….'


Cairan cinta Nayla langsung menyembur dengan deras menyirami penis pembantunya. Tubuh Nayla kelojotan. Matanya merem melek tak karuan. Akhirnya ia berhasil mendapatkannya. Sebuah kenikmatan yang sedaritadi menjalar tubuhnya. Ia berhasil melampiaskannya. Ia berhasil mendapatkannya setelah digempur habis-habisan oleh pembantunya.


“Ouuhhhh… Ouhhhh yahhh… Ouhhh nikmatnyaa… Hah… Hah…. Ouhhh puasnyaa”


Lirih Nayla menikmati sisa-sisa orgasmenya.


Tubuhnya tergeletak lemas diatas perut tambun pembantunya. Kepalanya pun ia tidurkan pada dada empuk pembantunya. Ia masih ngos-ngosan. Akhirnya ia berhasil mendapatkan kepuasan melalui persetubuhannya bersama pembantunya.


“Hakhakhak… Puasnyaa… Ouhhhh yahhh… Gilaaa… Hakhakhak” Tawa pak Urip meski belum keluar namun ia bisa merasakan puasnya bercinta saat menyodok-nyodok rahim majikannya.


“Ayooo non… Sekarang waktunya giliran saya” Ucap pak Urip tak tahan lagi yang ingin menyemburkan spermanya di dalam tubuh majikannya.


“Tunggu paakkk… Akuu capekkk… Akuuuu… Hah… Hah… Hah” desah Nayla ngos-ngosan.


Namun pak Urip tak peduli. Ia pun segera mengambil posisi duduk lalu menidurkan Nayla dalam posisi terlentang dihadapannya. Nampak Nayla terbaring lemas. Wajahnya terlihat lelah. Bibirnya agak sedikit membuka yang membuat pembantu tua itu semakin bernafsu untuk melahap bibir itu lagi.


'Hakhakhak… Banyak sekali kejadian indah yang terjadi di vila ini… Baru pertama kali dateng, saya udah langsung memejuhi memekmu… Terus kemarin sore saya berhasil memejuhi mulutmu… Kemarin sore non juga udah ngerasain nikmatnya bercinta bertiga kan ? Terus dengan binalnya semalam non malah VCS-an dengan pak Beni… Sialan emang mana non sampe telanjang bulat lagi… Sebagai hukumannya, saya akan memberikan pelajaran tambahan untuk semakin membinalkanmu non… Ini merupakan tahap lanjutan agar non gak kaget waktu melakukan dobel penetresiyen nantinya… Hakhakhak…'


Batin pak Urip sambil menatap wajah majikannya dengan penuh nafsu.


“Ayo balik badan… Saya akan mengakhirinya dengan gaya favorit saya… Ayo cepet nungging… Saya mau ngentot non pake gaya anjing kawin !” Ucap pak Urip yang segera dituruti oleh Nayla dengan lemas.


Saat Nayla baru membalikkan badannya. Saat pinggulnya sudah ia naikkan sehingga pinggulnya menatap penis pembantunya. Saat wajahnya hendak ia angkat untuk bersiap disetubuhi dari belakang oleh pembantunya. Tiba-tiba ia sudah mulai merasakan adanya benda tumpul yang mendekati lubang kenikmatannya. Saat Nayla mengangkat wajahnya, ia menemukan adanya cermin besar yang memperlihatkan bayangan mereka saat hendak mengakhiri persetubuhan terlarang mereka.


Terlihat wajah cantiknya dengan pasrah siap disetubuhi oleh pembantunya. Nampak payudara bulatnya yang menggantung dengan indah di bawah. Nampak tangannya mencengkram sprei ranjangnya untuk bersiap menahan hujaman pembantunya.


Pak Urip pun juga sudah bersiap. Kedua tangannya sudah mencengkram pinggul ramping majikannya. Wajahnya pun menatap cermin sesaat untuk menikmati detik-detik pelajaran tambahan yang akan ia berikan.


“Bersiaplah… Hennkgghhhhh !!!” Desah pak Urip saat memajukan pinggulnya. Ia tersenyum. Ia tersenyum saat memasuki lubang yang masih perawan itu.


Mata Nayla membuka lebar. Ia tak menduga. Ia tak mengira. Saking terkejutnya ia segera menoleh ke belakang saat ia merasakan anusnya dimasuki oleh benda tumpul yang sangat keras.


“Paaakkkk apaa iniii… Aaaaahhhhhhhh“ desah Nayla yang langsung lemas merasakan duburnya dimasuki oleh penis jantan pembantunya.


Ini diluar dugaan. Ia tak menduga pak Urip akan memasukan penisnya ke dalam duburnya. Penis pak Urip yang sudah sangat basah dengan mudah memasuki dubur sempitnya. Meski sempat terhalang karena penis itu terlampau besar. Namun dengan dorongan 'extra' tenaga yang pak Urip lakukan membuat penis itu terus mendorong masuk menuju titik terdalam dari dubur rapatnya.


“Aaaaaaahhhhh nikmatnyaaaa…. Hakhakhak” Tawa pak Urip yang mampu meng-anal dubur majikannya.


Nikmat mana lagi yang ia dustakan ?


Bercinta dengan seorang akhwat bercadar saja sudah sangat nikmat. Belum lagi akhwat bercadar itu memiliki rupa yang cantik jelita. Belum lagi akhwat bercadar itu memiliki tubuh yang indah menggoda. Belum lagi ia bercinta disaat akhwat bercadar itu sedang tidak mengenakan apa-apa. Ia dapat melihat lekuk tubuhnya. Ia juga dapat menikmati keindahan wajahnya. Apalagi juga kalau ia bercinta melalui duburnya. Dubur merupakan lubang tersempit yang bisa dimasuki tuk mendapatkan kepuasan seksual yang amat sangat. Meski persetubuhan melalui dubur merupakan cara terlarang. Tapi siapa yang peduli selama dirinya bisa mendapatkan kepuasan ?


Itu lah yang ada di pikiran pak Urip sekarang. Ia tak perlu meminta izin kepada Nayla untuk melakukannya. Ia tak perlu meminta izin karena dia adalah pemilik dari lonte bercadar yang sehari-harinya dipanggil dengan nama 'Nayla Salma Nurkholida'.


“Aaaahhhh sakkittt paakk… Aahhhh keluarkaann… Aahhh itu gakk muaaat !” Jerit Nayla merasakan siksaan birahi di dubur sempitnya.


“Aaaaaahhhhh nikmatnyaaa… Aaaaahhhh saya gak menduga rasanya bakal senikmat ini non… Hakhakhak… Bersiaplah… Bersiaplah untuk mengakhiri kenikmatan ini” desah pak Urip yang mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur.


“Aaahhhhh paaakk… Aaahhhh… Aaaahhhh” desah Nayla yang hanya bisa pasrah.


Tubuh polosnya terdorong maju mundur. Susu gantungnya bergoyang gondal-gandul. Teriakan kepasrahannya memenuhi seisi ruangan. Teriakan yang dilakukan oleh seorang akhwat yang sedang di anal oleh pembantu tuanya.


Nayla hanya bisa meringis kesakitan menahan sodokan yang memenuhi lubang duburnya. Ia semakin kuat dalam mencengkram sprei ranjangnya. Matanya pun memejam. Ia tak kuasa menahan siksaan yang dilakukan oleh pembantu tuanya.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhh… Aaahhhhhhh mantaappnyaaa”


Perasaan yang sebaliknya ditunjukkan oleh pembantu tuanya. Ia terlihat sangat menikmati perzinahannya. Kedua tangannya berulang kali mengusap punggung mulusnya. Wajahnya pun tersenyum penuh kebahagiaan dikala dapat bercinta melalui lubang pantatnya. Matanya terus merekam wajah sangek yang ditunjukkan oleh majikannya melalui cermin dihadapannya.


Meski demikian, ia agak menyesal sekarang. Saking terburu-burunya saat hendak menyetubuhi majikannya. Ia sampai lupa untuk tidak merekam aksi mereka menggunakan handycamnya.


'Aaahhhh… Aaahhhh… Gapapalah… Lain hari kan bisa lagi… Hakhakhak…'


Batin pak Urip tertawa.


“Paaakkk hentiikaannn… Inii sakittt pakkk… Rasanyaa sakitt bangettt… Aahhhh hentikaan paakk… Cukkuuppp” Jerit Nayla menahan perih.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Mentang-mentang udah dapet enaknya malah minta udahan… Enggak ! Enak aja yah” Ucap pak Urip yang justru semakin mempercepat sodokannya.


“Aaahhhh paakkk… Jangaaannn… Jangann dicepetinnn aaahhhhh” Jerit Nayla memejam menahan tusukan penis pembantunya pada dubur sempitnya.


“Aaahhhh… Aaahhhhhh… Tahan aja nonnn… Ibarat dubur non masih perawan… Dulu non pas masih pecah perawan juga kesakitan kan ? Nah sekarang non juga kayak gitu… Liat aja… Entar bakal enak kok… Lain kalau saya anal lagi, non bakal ngerasa ketagihan… Pegang kata-kata saya ini nonn !” Desah pak Urip sesumbar.


Meski Nayla memahami kata-kata yang sudah pak Urip ucapkan. Tapi ia tetap saja merasakan sakit di duburnya. Ia pun mencoba pasrah. Lagipula setelah ini semua akan berakhir kan ? Persetubuhannya bakalan usai kan ?


'Ayoo Naayyy… Tahan sebentar… Sebentar lagi perzinahanmu akan usai !'


Batin Nayla memotivasi diri.


Namun pak Urip terus saja membombardir dubur Nayla tanpa henti. Hujamannya diperkeras. Frekuensi sodokannya dipercepat. Berulang kali penisnya menggesek-gesek dinding dubur itu dengan sangat keras. Cairan cinta Nayla yang membasahi penisnya memudahkannya untuk keluar masuk di dalam dubur sempitnya. Nafsu seksualnya membuat pak Urip terus menyodok-nyodokkan penisnya hingga mentok. Luar biasanya, pak Urip mampu memasukkan keseluruhan penisnya. Nayla sampai membuka mulutnya lebar-lebar. Apalagi saat kedua tangannya ditarik oleh pembantunya ke belakang sehingga tubuhnya semakin terangkat naik.


“Aaaahhhh… Saya udah gak kuat lagi… Dengan gaya ini… Saya akan memejuhi duburmu, non… Hakhakhak” Bisik pak Urip yang sudah bertekad memejuhi duburnya.


Nayla pun ketakutan. Ia tahu kalau pak Urip hendak mengakhiri persetubuhannya, pak Urip akan menggenjotnya dengan sangat kuat dan cepat. Masalahnya yang akan digenjot oleh pembantunya adalah dubur sempitnya. Ia pun ketakutan. Ekspresi wajahnya terlihat jelas melalui pantulan cermin dihadapannya.


“Siaaapppp ? Satu, dua, tiga… Hennkgghhh !!!” Desah pak Urip saat menarik tangan Nayla ke belakang lalu menghentakkan pinggulnya kuat-kuat ke depan.


“Aaaahhhhhhhh bappaaaakkkkk” Jerit Nayla saat tubuhnya tersentak dan kedua payudaranya bergetar.


Dengan segera pak Urip memaju mundurkan pinggulnya. Sesuai dugaan, gerakannya cukup stabil dan kencang. Saking kencangnya terdengar bunyi koplokan saat pinggul mereka saling berbenturan. Pak Urip tersenyum senang sambil melihat persetubuhan mereka dari cermin di depan. Pak Urip jadi semakin bergairah. Ia semakin terangsang melihat aksi 'live' mereka sendiri melalui pantulan cermin dihadapannya.


Pak Urip seperti sedang menaiki motor 'Harley Davidson' saja. Ia pun menarik gasnya. Akibatnya pinggulnya semakin bergerak maju mundur dengan kencang. Susu bulat majikannya juga terdorong maju mundur dengan kencang. Bahkan teriakan penuh kepuasan juga disuarakan dengan sangat kencang.


Seperti apa yang pak Urip ucapkan. Cairan cinta mulai menstimulus dinding duburnya membuat Nayla tak lagi merasakan sakit saat dianal oleh pembantunya. Ia tak lagi menjerit kesakitan. Ia malah menjerit kenikmatan merasakan pengalaman baru yang diajarkan oleh pembantu tuanya. Ia pun mendapatkan banyak pelajaran yang berharga. Terutama yang berkaitan dengan yang namanya persetubuhan.


“Aaahhhhh… Aaahhhhh… Aaahhhh bappaakk… Ouhhhh” desah Nayla dengan nada berbeda yang membuat pak Urip tersenyum senang.


“Aaahhhhh… Aaahhhhh… Udah mulai enakkan ? Hakhakhak apa kata saya ? Nanti bakal enak kokk… Tapi maaf yak ini gak bakalan lama karena saya udah gak kuat lagi” Desah pak Urip sambil terus menghujami dubur sempitnya.


Jepitan luar biasa yang diberikan oleh dubur majikannya membuat pak Urip tak sanggup menahan gairah birahinya lagi. Ia ingin keluar. Ia ingin menuntaskan perzinahannya sekarang. Hujamannya pun diperkencang. Kedua tangannya semakin menarik Nayla ke belakang. Tubuh Nayla semakin terangkat. Susunya semakin bergoyang cepat. Suara gempuran antar pinggul mereka terdengar kuat. Mereka terus bercinta dengan dahsyat terutama ditengah orgasme pembantunya yang semakin dekat.


“Aaahhhh… Aaahhhhh… Aaahhhh bappaakkk” Jerit Nayla memejam.


“Aaahhhh sayaa gak kuat lagiii… Saya gakk sanggupp lagii… Terima ini nonnn… Terima pejuh saya iniiii” desah pak Urip tak kuasa menahannya lagi.


Dengan satu hentakkan yang kuat, pak Urip menancapkan penisnya sedalam-dalamnya di dubur majikannya. Tubuh pak Urip pun bergetar. Akhirnya dengan satu tusukan yang kuat, ia berhasil mendapatkan orgasmenya di dalam dubur majikannya.


“Aaaahhhhh kelluaaarrrrr” Jerit pak Urip sepuas-puasnya sambil menarik tangan Nayla ke belakang.


“Aaaaaaahhhhhhh” Desah Nayla memejam hingga payudaranya terlontar maju ke depan.


'Crrroottt… Cccrroottt… Ccrroottt !!!'


Pak Urip merem melek penuh kepuasan. Mulutnya terbuka lebar merasakan kenikmatan yang begitu memuaskan. Lututnya melemah. Energinya terkuras. Pegangannya pada tangan Nayla pun terlepas yang mengakibatkan akhwat bercadar itu terjun bebas saat tersungkur di atas kasur. Tubuh gempal pembantunya ikut ambruk menindihi tubuh langsing Nayla. Mereka ngos-ngosan penuh kepuasan. Pak Urip yang masih mengeluarkan satu tetes dua tetes spermanya terus mendorong pinggulnya sambil mencumbui bahu mulus serta punggung halus majikannya.


“Mmppphhh puasnyaaa… Mmphhh… Mmppphhhhh” desah pak Urip menikmatnya.


“Ouhhhhh… Ouhhhhh…. Aaaahhhhh” desah Nayla saat merasakan duburnya hangat diisi oleh sperma pembantu tuanya.


Mereka pun terus diam dalam posisi itu selama beberapa menit. Setelah energinya terkumpul kembali, pak Urip segera bangkit. Dengan perlahan ia menarik keluar penisnya hingga lelehan sperma itu pun tumpah ke bawah melewati bibir vagina majikannya. Spermanya itu pun terus jatuh hingga mengenai sprei ranjangnya. Pak Urip tertawa puas. Ia dengan bangga menyatakan ia berhasil membinalkan akhwat bercadar yang merupakan majikan alimnya.


“Ayo balik badan, non” Ucap pak Urip kembali mendekat lalu kembali mencumbui bibirnya.


“Mmpphhhh… Mmppphhhhhhh… Mmpphhhh” desah Nayla tertahan saat bibirnya terus dicumbu dengan penuh nafsu dan susunya diremas dengan begitu gemas.


“Hah… Hah… Hah… Cuiihhhh” Desah pak Urip yang meludahi mulut majikannya setelah puas mencumbunya.


“Mmppphhhh” desah Nayla yang terpaksa menelannya.


“Hakhakhak… Ayo bersihkann… Bersihkan sampai tuntas !” Ucap pak Urip yang kali ini memaksa masuk penisnya yang baru memasuki dubur majikannya ke dalam mulutnya.


“Mmmppphhhhhhh” Nayla pun menahannya. Meski ujung gundulnya sudah mentok mengenai kerongkongannya. Pak Urip terus mendorongnya hingga ia benar-benar puas setelah menyetubuhi majikannya.


“Hakhakhak… Bener-bener gak ada puasnya saya tuk menyetubuhimu, non… Serius deh… Setelah ini, saya akan menyetubuhimu lebih keras lagi… Saya akan menyetubuhimu lebih nafsu lagi… Hah… Hah… Hakhakhak… Nikmatnya punya lonte pemuas sepertimu, non… Hakhakhak” Tawa pak Urip yang langsung meninggalkannya setelah puas menodai majikannya.


“Uhhukkk… Uhhuukk… Ouhhh… Uhhuukk” Nayla sampai terbatuk-batuk saat bangkit duduk diatas kasurnya. Ia benar-benar kelelahan setelah dipaksa memuasi penis pembantunya. Mulutnya, vaginanya bahkan duburnya kudu bertahan ditengah gempuran penuh nafsu pembantunya. Ia pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Wajahnya pun ia tengokkan pada cermin yang menjadi saksi persetubuhan terdahsyatnya tadi.


Terlihat Nayla dengan kondisi berantakan dengan rambut yang acak-acakan. Dua susu bulatnya berwarna kemerahan setelah diremas dengan penuh nafsu oleh pembantu bejatnya. Dadanya masih naik turun setelah digempur tanpa ampun. Ia yang kelelahan kembali berbaring diatas ranjang tidurnya. Kedua tangannya ia rentangkan. Kedua kakinya ia lebarkan. Ia pun memejam. Ia pun kembali membatin di dalam hati.


'Puas banget… Hah… Hah… Hah…'


Batinnya merasakan persetubuhan terdahsyatnya bersama pak Urip.


'Kenapa ini ? Kenapa aku gak menyesali perzinahanku tadi ? Ini aneh…'


Batinnya heran.


'Hah… Hah… Hah… Haruskah aku pasrah saja ? Haruskah aku memilih menjadi lonte saja ? Jujur ini mengasyikkan… Aku sanget menikmati peranku menjadi pemuas nafsunyaa…'


Batin Nayla sambil meremasi dadanya dan juga mengusapi bibir vaginanya.


“Aaaahhhhh… Aahhhhh… Lagiii… Aku butuhh lagii… Aahhhh” Desah Nayla yang belum puas setelah dianal oleh pembantunya.


Terlihat pak Urip tersenyum sambil berdiri di dekat pintu masuk kamarnya. Ia tertawa. Ia tertawa bangga karena berhasil mendidik majikannya dengan baik.


Pak Urip pun berjalan mendekat. Di tangan kanannya ia membawa timun besar. Ia pun membuka mulutnya sambil menatap wajah cantik majikannya.


“Butuh bantuan ? Hakhakhak” Tawa pak Urip yang segera dijawab anggukan oleh Nayla.


Pak Urip segera memasukan timun itu ke dalam vaginanya. Nayla pun mendesah. Ia menjerit penuh kenikmatan saat dirangsang lagi oleh pembantu tuanya.


“Aaahhhhh… Aaahhh… Aaahhhhhh kelluuaaarrrr” Jerit Nayla tak lama kemudian.


Pak Urip pun tersenyum puas melihat binalnya akhwat yang sudah telanjang itu. Dilihatnya tubuh mulus majikannya dari atas ke bawah. Mulai dari wajah cantiknya sampai ujung kakinya. Ia lalu menatap timun yang sudah basah terkena cairan cinta majikannya. Ia lalu membatin di dalam hati.


'Kayaknya non Nayla butuh mainan baru deh… Hakhakhak…'


Batinnya sambil menatap timun yang sedang ia pegang.


MEC8LY3

https://thumbs4.imagebam.com/98/6a/a6/MEC8LY3_t.jpg   98/6a/a6/MEC8LY3_t.jpg

'NAYLA


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


*-*-*-*

Beberapa jam kemudian di tempat yang berbeda.


“Siap yaahhh… 1, 2, 3”


'Cekreeekkk !!!'


“Ayo ganti gaya… Coba deh Put, kamu agak miring kesini biar kamu bisa menunjukkan betapa mewahnya 'dress' yang kamu kenakan ini… Nah iya kayak gitu… 1, 2, 3”


'Cekreekkk !!!'


MEBQ0WK

https://thumbs4.imagebam.com/57/93/42/MEBQ0WK_t.jpg   57/93/42/MEBQ0WK_t.jpg

'PUTRI


Pose demi pose telah Putri lakukan demi mengendorse barang yang dikenakan oleh dirinya. Ia tampil anggun dengan balutan gamis panjang yang menutupi keindahan tubuhnya. Cadarnya yang dikenakannya juga melengkapi penampilan indahnya. Fotografernya pun sampai tak bosan untuk memotret keindahan selebgram bercadar yang ada dihadapannya.


“Oke sekarang istirahat dulu… Nanti kita lanjut lagi yah, Put”


“Iyya mas… Makasih yah” Jawab Putri sambil tersenyum.


Rasanya memang agak canggung saat bekerja dengan orang asing yang baru ditemuinya. Ya, yang memotretnya barusan bukanlah Andri. Kebetulan Andri sudah ada 'job' lain yang membuatnya tidak bisa memotret Putri.


Sempat ada kekhawatiran di hati Putri saat mengetahui kalau fotografernya nanti bukan lah Andri. Tapi untungnya ia bisa melaluinya. Fotografernya juga pintar dalam mengarahkan. Putri pun tak mempermasalahkan. Ia pun lanjut beristirahat sambil mengenakan dress yang ia pakai.


“Akhirnya istirahat juga… Duh udah jam 11 aja yah… Gak kerasa waktu berjalan cepet banget” Ucap Putri saat duduk beristirahat sambil memainkan hapenya.


“Hmmm” Cukup lama Putri memperhatikan layar hapenya. Ia tak berbicara apa-apa bahkan jemarinya juga diam tak melakukan apa-apa.


Ia masih kepikiran seseorang. Seseorang yang membuatnya dimabuk cinta yang membuatnya tak bisa berhenti memikirkannya.


“Kok aneh banget yah ?” Lirihnya sambil tersenyum memandang foto DP seseorang di aplikasi whatsappnya.


“Cinta emang buta… Aku sampai gak punya alasan untuk menjelaskan cerita kali ini” Lirihnya sambil menatap foto seorang pria tua yang memiliki badan kekar itu.


“Pakk Bennii ? Kenapa aku sampai tergila-gila padamu ? Apa pesonamu yang membuatku jadi seperti ini, pak ?” Lirih Putri yang hanya bisa tersenyum memikirkan semua kejadian yang sudah terjadi padanya.


“Tapi mana mungkin orangtuaku mengizinkanku menikah dengannya… Jarak rentang usia kami berbeda jauh… Pak Beni juga bukan dari kalangan orang-orang kaya… Pasti orangtuaku akan menolak keras kalau aku bilang ingin menikah dengannya” Lirih Putri jadi kepikiran.


“Hah… Heran deh… Mas Andri aja yang cakep gitu kok bisa-bisanya kalah sama pak Beni yah ? Maafin aku yah mas… Tapi mas sekarang nomor dua di hati aku” Lirih Putri tersenyum memikirkannya.


Seketika perut Putri berbunyi yang membuatnya kembali melihat ke arah jam tangannya.


“Duhh kok laper yah ? Cari 'snack' dulu aja kali yah buat nambal rasa laperku” Lirih Putri yang langsung berdiri lalu berjalan keluar untuk mencari jajanan.


Putri dengan anggun melangkah keluar untuk mencari makanan. Sesampainya di luar setelah berjalan beberapa langkah, seketika ia terdiam saat melihat seseorang.


'Loh, itu kan… Pak Beni ?'


Batin Putri saat melihat pria tua kekar yang sedang menyapu jalanan.


Tanpa berpikir panjang, Putri langsung mendekat menghampiri sosok kekar itu. Wajahnya pun tersenyum dari balik cadarnya. Entah kenapa ia begitu bahagia saat melihat pria tua yang begitu dicintainya.


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


“Paaakkk… Assalamualaikum… Bapaakk apa kabar ?” Tanya Putri setelah menghampirinya.


“Ehhh mbak Putri yah ?” Tanya Pak Beni terkejut bisa menemui akhwat bercadar itu lagi.


“Hehe iya pak… Ketemu lagi nih kita” Jawab Putri malu-malu.


“Hehe iya nih mbak… Saya baik kok… Mbak sendiri gimana ?” Tanya balik pak Beni sambil berhenti sejenak untuk menatap keindahan akhwat yang ada dihadapannya.


“Baik juga kok” Jawab Putri malu-malu.


“Ehhh mbak ada disini ada apa yah ? Saya biasa nyapu disekitar sini tapi kok jarang liat mbak di area sini sih ?” Tanya pak Beni penasaran.


“Hihihih iya pak… Kebetulan studio pemotretan aku ada di dekat sini… Makanya bapak jadi bisa liat aku di area sini” Ucap Putri terus menunduk tanpa berani menatap wajah pria tua kekar itu.


“Oalah pantes” Jawab pak Beni menanggapinya.


“Hmmm kemarin gimana ? Enak pak ?” Tanya Putri yang seketika membuat jantungnya berdebar kencang.


“Ehh mak… Maksudnya ?” Tanya pak Beni dengan tegang.


“Ya nasi ayam bakarnya ? Kan kemarin aku kasih nasi ayam bakar ? Jangan-jangan gak dimakan yah ?” Tanya Putri terlihat kecewa.


'Oalah nasi rupanya… Saya kira mbak Putri tau kalau semalam saya habis VCS-an sama mbak Nayla…'


Batin pak Beni lega.


“Dimakan kok… Bahkan saya sampai nambah nasi loh dengan nasi yang udah dimasak di rumah saya” Jawab pak Beni yang membuat Putri kembali tersenyum.


“'Alhamdulillah'… Aku jadi seneng dengernya” Jawab Putri bahagia.


“Makasih mbak… Buat lauknya kemarin sore” Ucap pak Beni yang membuat Putri lebih bahagia lagi.


“Sama-sama pak… Hihihihi” tawa Putri malu-malu.


Saat Putri melihat ke arah jam tangannya lagi. Ia menyadari kalau waktu semakin mepet. Waktu pemotretan sesi kedua akan segera dimulai sedangkan perutnya masih kelaparan ingin diisi makanan.


“Hmmm maaf pak… Aku permisi dulu yah… Aku mau nyari makanan sebentar… Eh yah, bapak mau makan juga gak ? Aku yang nraktir” Ajak Putri berharap pak Beni mau menerimanya.


“Eh gak usah mbak… Tadi saya juga baru ngemil kok… Kalau gitu silahkan aja mbak… Saya juga mau lanjut kerja dulu” Ucap pak Beni menolak karena merasa tidak enak.


“Hihihih kalau gitu kapan-kapan aja deh yah… Permisi pak… Wassalamualaikum” Ucap Putri pamit.


“Iyya mbak… Hati-hati yah” Jawab Pak Beni tanpa menjawab salam dari Putri.


Sekilas Putri sempat heran kenapa pak Beni tidak menjawab salamnya. Apakah karena Pak Beni memang gak terbiasa mengucapkan/menjawab salam ?


Ditengah kebingungannya, ia pun berusaha melanjutkan perjalanannya untuk mencari makanan. Namun baru satu langkah ia berjalan, kakinya tersandung sebuah batu yang membuatnya jatuh ke depan.


“Aaaaaahhhhh” Jerit Putri terkejut.


Pak Beni yang mendengar lalu melihat apa yang terjadi pada Putri lekas datang menghampiri. Tangannya langsung mendekap tubuhnya dari samping. Tangan kanannya mendekap punggungnya sementara tangan kirinya mendekap dadanya.


“Mbakk… Mbak gapapa ?” Tanya pak Beni mengkhawatirkannya.


“Hehe ga… Gapapa… Iya gapapa” Jawab Putri merinding saat menyadari dada bulatnya dipegang oleh pria tua kekar itu.


Tak sengaja mata Putri bergerak ke arah tangan pak Beni. Mata pak Beni pun ikut bergerak ke arah tangannya sendiri. Mata pak Beni pun membuka. Ia menyadari kalau dirinya baru saja memegang bagian privasi dari akhwat bercadar itu.


“Eeehhh maaf mbak… Maaf… Bukan bermaksud” Ucap pak Beni panik yang membuatnya buru-buru membenari pegangannya saat mendekap tubuh Putri.


“Hehe gapapa pak… Aku tahu bapak gak sengaja kok… Makasih yah” Ucap Putri jadi canggung.


“Iya gapapa… Hmmm hati-hati yah” Ucap pak Beni juga canggung.


“Iya pak… Makasih… Aku pergi dulu yah… Permisi” Ucap Putri berjalan menjauh.


Pak Beni pun hanya mengangguk saja. Ia pun dengan segera menatap tangan kirinya lalu menggerakkan jemarinya dengan pelan.


'Kenyal banget… Susunya mbak Putri kenyal banget… Gak heran sih, ukurannya aja segede gitu… Mana masih perawan lagi… Ya, seharusnya sih masih perawan kalau gak gara-gara Urip kampret itu…'


Batin pak Beni senang sekaligus kesal.


Sementara itu, Putri terus berjalan sambil memegangi dada yang baru saja disentuh pak Beni. Entah kenapa ia merasakan adanya getaran yang membuatnya jadi terus kepikiran. Bahkan sekarang, Ia masih merasakan adanya sentuhan tangan pak Beni di dadanya. Putri tersenyum, seketika ia jadi kepikiran sesuatu di tengah perjalanannya.


'Kalau aku gak bisa menikah dengannya… Setidaknya apa gapapa yah kalau aku menyerahkan tubuhku kepadanya ?'


Batin Putri tersenyum malu-malu.


'Mumpung aku udah gak perawan lagi… Apalagi yang harus aku jaga untuk mas Andri nanti ?'


Batinnya seketika kepikiran hal seperti itu.


“Ya, kayaknya iya deh… Itung-itung juga buat membalas kebaikan pak Beni… Apalagi pak Beni belum pernah menikah kan ? Pasti kasian kalau di usia sekarang belum sempat ngerasain yang namanya berhubungan badan” Lirih Putri hingga wajahnya memerah.


“Duh kok aku jadi kepikiran kayak gini yah ?” Lirihnya lagi sambil menoleh ke belakang.


Matanya pun teralihkan pada tubuh kekar pak Beni. Pak Beni sedang bertelanjang dada yang membuat Putri dapat menikmati keindahan tubuh pria tua itu.


Kapan yah aku bisa memberi hadiah ini ke pak Beni ? Duh kok aku jadi deg-degan yah ? Gimana juga yah aku bilangnya ? Eh kalau nanti pak Beni nolak gimana ? Ah gak mungkin… Orang waktu itu aja pak Beni sampai beronani waktu jagain aku kok… Ya aku mau… Aku akan menyerahkan tubuhku suatu saat nanti… Tunggu aku yah pak… Aku akan balas kebaikan bapak… Hihihihi…


Batin Nayla sambil tersenyum-senyum sendiri.


*-*-*-*

Satu jam kemudian di salah satu vila yang berada di Puncak.


“Semua barangnya udah siap kan ? Ada yang ketinggalan” Tanya Miftah kepada istrinya.


“Udah semua kok mas… Kayaknya udah semua” Jawab Nayla dengan raut wajah menyesal.


“Masuk ke mobil yukkk… Awas hati-hati kepalanya… Akhirnya kita bisa kembali pulang ke rumah yah” Ucap Miftah saat membantu istrinya masuk ke mobil.


Miftah terlihat begitu perhatian pada istrinya. Nayla jadi merasa tidak enak. Ia merasa tak pantas untuk berada di posisi ini karena tiap kali ia berada di belakangnya, yang ia lakukan hanyalah berzina bersama pria-pria tua.


Dengan pakaian yang nyaris mirip saat berzina dengan pak Urip di pagi tadi. Nayla pun duduk bersandar pada kursi belakang sambil merenungi perbuatannya sebagai istri dari suaminya.


'Bener-bener gak layak… Apa yang aku lakukan selama ini bener-bener gak layak… Astaghfirullah… Maafkan dosaku selama ini, kenapa aku tega mengkhianati cintanya demi sebuah kepuasan ?'


Batin Nayla menyesal.


Lagi, saat akal sehatnya kembali ia dapatkan, yang bisa ia rasakan hanyalah penyesalan setelah berhasil mendapatkan kepuasan. Jauh berbeda disaat dirinya kehilangan akal sehatnya. Ia menunjukkan sisi binalnya. Sisi yang bahkan tak pernah ia tunjukkan dihadapan suaminya.


Wajahnya semakin terlihat kelelahan. Ia lelah karena terlalu banyak pikiran yang harus dipikirkan. Ia pun menaruh jemarinya pada dahinya. Ia masih kepikiran. Ia bahkan tak sadar saat pak Urip dan Miftah sudah naik di kursi depan.


“Dek… Ada apa ? Kok mukanya gitu ?” Tanya Miftah mengejutkan Nayla.


“Eh gak kok… Enggak iyya enggak hehe” Jawab Nayla dengan canggung.


Pak Urip yang mengamati dari spion tengah hanya tersenyum senang. Ia masih tak percaya dirinya bisa memasuki semua lobang kenikmatan yang dimiliki oleh akhwat bercadar itu. Bahkan dirinya juga bisa melihat keseluruhan tubuhnya yang jarang diperlihatkan kepada orang-orang.


'Hakhakhak… Kenikmatan apa lagi yang bisa saya dapatkan darimu, non Nayla ?'


Batin pak Urip tak sabar untuk menantikan kisah selanjutnya dari perzinahannya bersama majikan alimnya.


“Saya pamit dulu yah… Kapan-kapan saya mampir kesini lagi !” Ucap Miftah kepada pak Rudi.


“Hahaha siap pak… Hati-hati di jalan” Ucap pak Rudi melambaikan tangan.


Pak Urip pun mulai menjalankan mobil. Terlihat Nayla menoleh ke kaca untuk melihat vila yang sudah menjadi saksi bisu kebinalannya selama di daerah Puncak ini. Namun sekilas matanya bertemu dengan mata pak Rudi. Terlihat pak Rudi tersenyum penuh kepuasan yang membuatnya merinding ketakutan. Ia jadi teringat juga saat dirinya harus melayani pak Rudi ketika mulutnya sibuk melayani penis pak Urip.


Banyak kisah yang sudah terjadi selama hari liburan ini. Nayla semakin pusing memikirkan semuanya. Ia jadi mengantuk. Ia ingin tidur saja berharap akan ada hari cerah yang menunggunya saat terbangun suatu saat nanti.


*-*-*-*

Beberapa menit kemudian di perjalanan


Ketika Nayla tertidur pulas, Miftah dan pak Urip terus asyik mengobrol selama perjalanan pulang. Menyadari adanya keheningan di kursi belakang. Miftah pun menoleh ke belakang untuk melihat keadaan.


“Loh dek… Tidur lagi ?” Ucap Miftah kesal.


“Ada apa pak ? Kok kesel gitu ?” Tanya pak Urip sambil fokus menyetir.


“Engga… Istri saya kok belakangan jadi suka tidur… Tadi pagi bangun telat… Kemarin pas pertama kali dateng ke vila juga langsung tidur… Heran deh… Padahal ini kan liburan, waktu liburan kok malah digunain buat tidur aja” Ucap Miftah geleng-geleng kepala.


“Oalah haha ya gapapa itu pak… Wanita itu justru kudu sering tidur… Kalau jarang yang ada bisa bikin stress loh pak” Ucap pak Urip mengejutkan Miftah.


“Loh emang bener itu pak ?” Tanya pak Miftah tak percaya.


“Bener itu pak… Saya pernah denger dari temen saya… Di otak wanita itu ada zat yang kalau gak ditidurin ya bakal bikin wanita itu stress… Biarin aja… Mungkin itu cara 'healing' non Nayla agar terbebas dari beban pikiran” Ucap pak Urip bijak.


“Oalah gitu yah… Hmm yaudah deh… Mungkin iya juga sih yah… Di rumah sibuk kerja… Mungkin ini cara healingnya dengan beristirahat sebanyak mungkin” Ucap Miftah menyetujui ucapan pembantunya.


“Hehe iyya pak” Jawab pak Urip sambil tersenyum sendiri.


'Tau aja sih pak… Kalau di rumah istri bapak sibuk ngangkang ngelayani saya… Hakhakhak…'


Batin pak Urip tertawa.


Kebetulan saat itu mereka tiba di lampu merah. Pak Urip menghentikan laju mobilnya sejenak. Ia memanfaatkan waktu itu untuk menatap wajah Nayla yang tengah tertidur pulas. Ia merasa kasihan melihatnya kelelahan setelah melayani dirinya.


'Yang sabar yah non… Jadi lonte emang butuh kerja keras… Tapi tenang, saya juga akan bekerja keras agar dapat membinalkan dirimu…'


Batin pak Urip tersenyum.


MEC8LY0

https://thumbs4.imagebam.com/4d/db/e3/MEC8LY0_t.jpg   4d/db/e3/MEC8LY0_t.jpg

'NAYLA


'Hakhakhak… Cantik-cantik kok lonte… Ya cocok lah…'


Batin pak Urip yang masih tak menyangka dirinya bisa berulang kali menggagahi majikannya.


Seketika lampu sudah berubah menjadi warna hijau. Sebelum mobil kembali ia lajukan. Matanya sepintas melirik ke arah resleting tas Nayla yang agak sedikit terbuka. Ia melihat ke arah botol minuman yang sudah berkurang setengahnya. Ia tersenyum. Ia tersenyum lalu menginjak pedal gasnya untuk membawa kedua majikannya pulang ke rumah.


*-*-*-*

Pada saat yang sama di vila yang baru ditinggali mereka bertiga.


“Hah lumayan… Lumayan… Meski baru dapet mulut sama gesek-gesek memeknya doang… Lumayan lah masih bisa ngecrotin tubuhnya juga” Lirih pak Rudi mengingat kejadian kemarin sore.


“Asoy banget deh emang… Gila, bisa-bisanya pak Urip beruntung banget yah ? Enak banget tiap hari pasti digoyang terus sama mbak Nayla” Lirihnya sambil berjalan memasuki vila untuk beres-beres ruangan.


Saat memasuki kamar yang ditempati oleh Nayla bersama suaminya. Ia menyadari adanya keanehan yang terjadi pada ranjang tidur di ruangan itu.


“Lohh ini ?” Ucapnya yang membuatnya langsung mendekat tuk duduk di tepi ranjang itu.


“Basah… Ya ini basah… Jangan-jangan !!!” Ucap pak Rudi kepikiran sesuatu.


'Pasti pas saya pergi bareng mas Miftah, mereka berdua kembali bercinta di kamar ini ?'


Batin pak Rudi menduga.


Saat tangannya meraba-raba sprei tersebut. Ia juga menemukan noda basah lain. Kali ini noda tersebut agak sedikit kental yang membuatnya langsung menduga kalau itu adalah noda bekas sperma.


“Aaiihhh sialan… Ditinggal lagi kan sama mereka !” Lirih pak Rudi kesal.


“Bisa-bisanya mereka gak ngajak saya buat enak-enak… Kasian pak Urip kudu muasin mbak Nayla sendiri” Ucapnya sambil buru-buru memelorotkan celananya.


Penisnya sudah mengeras. Pikirannya sudah mesum membayangkan segala kemungkinan yang terjadi di vila ini.


“Aaaahhhhh… Aahhhhh… Aaahhh mbak Naylaaa” Desah pak Rudi sambil coli.


Ia pun membayangkan dirinya tengah digoyang oleh akhwat bercadar itu. Hal itu membuatnya jadi semakin bernafsu. Ia menelanjangi dirinya lalu berfantasi sambil mengusap-ngusap sprei ranjang yang basah itu.


“Aaahhhhhh… Aaahhhh… Aaahhhh nakal banget kamu yah mbaakk… Kontol saya sampai cenat-cenut gini” Desah pak Rudi semakin puas.


Hampir lima menit ia bermasturbasi sambil membayangkan sang bidadari. Ia pun mengeluarkan hapenya untuk melihat foto yang berhasil ia tangkap di kemarin sore. Terlihat jelas Nayla yang sudah setengah telanjang menyisakan hijab serta jaketnya saja tersungkur dilantai setelah dipaksa melayani mereka berdua. Terlihat jelas wajah kebingungan Nayla saat hampir kepergok suaminya. Ia yang saat itu bersembunyi bersama pak Urip diam-diam mengabadikan momen yang menegangkan itu.


“Aaahhhhh… Aahhh… Saya gak kuat lagi… Saya mau keluaar mbaak… Uhhhh mantapnyaa… Aaahhh yahh kkkellllluuaaarr !!!” Jerit pak Rudi dengan sangat puas.


'Ccccrrroottt… Cccrrroootttt… Cccrrrooottt !!!'


Sperma pak Rudi menyembar deras membasahi sprei yang sudah basah itu.


Ia pun berbaring ngos-ngosan. Berfantasi sambil membayangkannya saja sudah sepuas ini. Ia pun penasaran pada pak Urip. Kira-kira bosan gak yah tiap hari harus melayani nafsu mbak Nayla ?


'Mana bisa ? Mana bisa bosan melayani akhwat secantik dia… Hahaha ada-ada aja pikiran saya !'


Lirih pak Rudi tertawa.


Setelah puas meluapkan fantasinya. Ia pun kembali berpakaian untuk beristirahat sejenak sambil menghirup udara segar di halaman luar.


Sambil berjalan ia menyalakan sepuntung rokoknya. Ia pun menghisap rokoknya sambil duduk di dekat pintu gerbang depan.


MEC1UFV

https://thumbs4.imagebam.com/e6/ab/67/MEC1UFV_t.jpg   e6/ab/67/MEC1UFV_t.jpg

'PAK RUDI


Saat lagi asyik-asyik merokok. Tiba-tiba ada pengendara motor yang berhenti lalu datang menghampiri.


“Eh pak Rudi apa kabar ?” Ucap lelaki itu yang membuat pak Rudi berdiri lalu mendekat sambil memegangi sepuntung rokoknya.


“Hahahaha pak Mansur… Tumben main kesini… Lagi santai apa gimana nih ?” Ucap pak Rudi yang ternyata mengenali sosoknya.


MEC9LLM

https://thumbs4.imagebam.com/05/c1/db/MEC9LLM_t.jpeg   05/c1/db/MEC9LLM_t.jpeg

'PAK MANSUR


“Wokwokwok ya begitulah… Lagi sepi pesanan nih” tawa pak Mansur malu.


“Ya gapapa namanya juga kerjaan… Ada kalanya rame ada kalanya sepi… Yang penting mah bisa selalu hepi… Iya gak pak ? Hahaha” ucap pak Rudi sambil menyebat rokoknya lagi.


“Iyya betul wokwokwok… Oh yah, saya mau nanya nih pak ?” Ucap pak Mansur kepada penjaga vila itu.


“Ada apa pak ? Ya tanya aja mumpung saya lagi santai juga” Jawab pak Rudi kepada tukang ojek 'online' yang mengenakan jaket berwarna hijau itu.


“Bapak kenal mbak bercadar yang tinggal disini kan ?” Tanya pak Mansur mengejutkan pak Rudi.


“Lohhh kenapa emang ?” Tanya pak Rudi terkejut.


“Siapa namanya ? Boleh kenalin ke saya gak ? Gak sengaja waktu saya lagi jalan kesini, saya ngeliat mbak-mbak itu malah masturbasi di dalem mobil ('baca : Chapter 9')... Mana ekspresi wajahnya enak banget lagi… Jadi nafsu saya pak” Ucap pak Mansur yang semakin membuat pak Rudi terkejut.


“Hah ? Apa iya ? Di mobil ? Hahahahah… Emang udah gak ketolong deh binalnya” Ucap pak Rudi tertawa.


“Loh bapak udah tau ? Bapak kok gak keliatan kaget gitu ?” Tanya pak Mansur heran.


“Lah wong saya aja diajak pembantunya main trisom loh” Ujar pak Rudi membanggakan dirinya.


“Loh beneran ? Jadi mbak-mbak itu emang binal yah ? Beruntung banget sih bapak” Ucap pak Mansur iri.


“Iyya dong… Saya gitu hahaha… Nih buktinya” tawa pak Rudi sambil menunjukkan bukti foto setelah menodai akhwat bercadar itu.


“Waahhhh iyya… Beruntung banget sih bapak… Kapan-kapan ajak saya juga dong pak… Gara-gara kejadian di mobil itu saya jadi pengen ngerasain jepitannya memek akhwat bercadar itu gimana” Ucap pak Mansur ngarep.


“Loh kok pede ? Hahahha… Wani piro ?”


“Kita barter aja gimana ?” Ucap pak Mansur mengejutkan pak Rudi.


“Barter ?” Tanya pak Rudi bingung.


“Hehe tenang saya gak dateng dengan tangan kosong kok… Baru-baru ini saya tuh diajak sama seseorang buat muasin istrinya… Gak tau kenapa padahal istrinya cantik banget loh… Mungkin orang itu punya 'fantasy cuckold' kali yah” Ucap pak Mansur sambil mengeluarkan hapenya.


“Eh mana coba liat ?” Tanya pak Rudi penasaran.


“Nih dia fotonya” Ucap pak Mansur memamerkan foto seorang istri yang berhasil ia gagahi.


MEC9LLK

https://thumbs4.imagebam.com/0a/3d/26/MEC9LLK_t.jpg   0a/3d/26/MEC9LLK_t.jpg

“Wuihhhh serius pak ? Ini nih ? Beneran nih ? Ini mah cewek 'highclasss' pak… Kok bapak bisa sih ?” Tanya pak Rudi langsung iri.


“Wokwokwok… Sebenarnya saya juga beruntung sih… Dia kan sering belanja 'online' nih… Nah cukup sering saya nganterin barang yang ia pesan ke rumahnya… Dia itu sebenarnya dosen muda di salah satu kampus terkenal loh… Eh pas terakhir nganterin tiba-tiba diajak suaminya buat main bareng dia… Kalau udah diajak gitu, siapa yang bisa nolak coba ?” Ucap pak Mansur menceritakan pertemuannya dengan wanita cantik tersebut.


“Wahhh sialan emang… Tapi emang beneran nih ? 'Real' nih ? Jangan-jangan bapak cuma ngada-ngada lagi… Ada video pas enak-enaknya gak ?” Ucap pak Rudi mencurigai cerita pak Mansur.


“Tenang pak… Pasti ada dong… Coba main ke forum ini… Tau gak tentang forum ini ? Punya akunnya kan ? Kalau gak punya daftar dulu sana… Main ke igo… Disana udah tersedia lengkap 'thread' tentangnya… Nih liat deh videonya” Ucap pak Mansur memamerkannya.


“Wuihhh ini sih saya punya akunnya tapi dah jarang 'on' lagi belakangan ini… Btw kok disensor sih ?” ucap pak Rudi kecewa.


“Wokwokwok… Ya iyalah namanya juga privasi… Kalau kesebar ya bahaya… Kalau yang gak disensor ada nih di hape saya” Ucap pak Mansur menunjukkan videonya.


“Wuihh iya beneran ? Sialan banget kok bapak bisa sih ?” Ucap pak Rudi tak mengira.


“Wokwokwok… saya gitu” Ucap pak Mansur yang kali ini membanggakan dirinya sendiri.


“Eh bentar-bentar saya liat-liat kok kayak kenal yah ?” Ucap pak Rudi saat melihat foto wanita itu dengan jelas.


“Wokwokwok… Betul, bapak punya akun di forum ini kan ? Dulu ada cerita yang terkenal namanya Ada Cerita di Pesantren… Tau yang namanya ustadzah Nada ? Nah dia itu mulustrasi di cerita itu” Ucap pak Mansur yang membuat pak Rudi terkejut.


“Jadi bapak selama ini udah ngentot sama mulustrasi asli dari . . . “ Kata pak Rudi terpotong karena saking terkejutnya.


“Yaps benar” Ucap pak Mansur yang membuat pak Rudi melongo tak percaya.


“Oke… Oke… Nanti biar saya atur deh… Saya usahakan agar bapak bisa main sama mbak Nayla… Tapi beneran nih saya bisa main sama akhwat itu siapa namanya ?” Tanya pak Rudi mupeng.


“Wokwokwok rahasia dong… Tapi saya juga mesti izin dulu ke suaminya… Kalau diizinin baru saya konfirmasikan lagi” Ucap pak Mansur.


“Santai… Saya juga butuh izin ke pembantunya kok… 'Deal' yah… Kita nanti bisa tukeran korban… Hahaha” tawa pak Rudi bernafsu.


“Gak usah tukeran… Kita main sama-sama aja” Ucap pak Mansur yang membuat pak Rudi tersenyum.


Mereka pun telah berjanji agar bisa mewujudkan impiannya masing-masing. Bisakah suatu saat nanti mereka berkolaborasi ? Atau hanya sebatas mimpi ?


BERSAMBUNG

;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 12

TEMPAT PELAMPIASAN

Keesokan harinya,


“Hah… Capek, kayaknya gara-gara kemaren kebanyakan tidur deh… Atau gara-gara kecapekan digituin yah ?” Lirih Nayla saat berbaring diatas ranjang tidurnya.


Ia masih merasakan pegal-pegal di badannya. Ia pun teringat kejadian di hari sebelumnya setelah dirinya pulang dari liburan. Dari siang menjelang sore sampai waktu tidur tiba. Dirinya hanya tidur-tiduran di atas ranjang bukan karena ingin bermalas-malasan. Tapi karena sangat kelelahan setelah dipaksa melayani pejantan-pejantan tua selama di vila di waktu liburan.


Aneh memang, kenapa setelah berlibur dirinya malah kelelahan ? Bukannya berlibur itu untuk menghilangkan rasa lelah sekaligus untuk merefleksikan pikiran ? Entahlah, hari ini pun sama. Ia pun memutuskan untuk berbaring sejenak setelah membuatkan bekal lalu mengantar suaminya berangkat bekerja.


Seketika ia menolehkan wajahnya ke arah pintu masuk kamarnya. Saat menyadari pintu sudah tertutup rapat. Ia tersenyum lalu mengusap dadanya sejenak. Ia merasa lega, setidaknya itu membuat pembantunya tidak memiliki akses masuk menuju kamar tidurnya.


“Oh yah, udah jam berapa ini ?” Tanya Nayla sambil melihat ke arah jam dindingnya.


“Ehhh udah mau jam setengah sembilan aja ternyata… Gawat dong, aku telat minum obat !” Ucap Nayla panik.


Ia segera bangkit ke posisi duduknya. Namun, baru saja ia duduk tepi ranjangnya. Ia sudah merasakan sakit-sakit di punggungnya.


“Adduuhhh… Kok punggungku malah sakit sih ?” Keluh Nayla sambil memegangi tulang belakangnya.


“Masa encok sih ? Gak ah… Aku kan masih muda ? Pasti ini gara-gara sering dibolak-balik sama pak Urip” Ucap Nayla kesal sendiri saat teringat perlakuan pembantunya di vila kemarin.


“Duhhhh… Atau jangan-jangan gara-gara kebanyakan tiduran juga kali yah ?” Lanjutnya sambil berdiri lalu berjalan perlahan mendekati pintu keluar.


Saat pintu kamarnya sudah dibuka, ia melongokkan wajahnya untuk melihat keadaan. Ia agak heran sekaligus sedikit curiga setelah mendapati sepinya keadaan di rumahnya.


“Pak Urip kok gak keliatan yah ? Lagi pergi apa yah ? Wah 'alhamdulillah'” Ucap Nayla mensyukuri keadaan.


Ia pun berjalan keluar dari kamarnya. Secara perlahan sambil memegangi punggungnya, ia melanjutkan perjalanannya menuju teras rumah untuk melihat keadaan.


“Eh beneran dong gak ada pak Urip ?” Kata Nayla tersenyum senang.


Wajahnya semakin tersenyum cerah saat samar-samar dirinya melihat dari kejauhan adanya sesosok pria tua berperut tambun yang pergi menjauh menaiki motornya.


“Pak Urip beneran pergi yah ? Huft 'alhamdulillah'… Pergi aja yang jauh sekalian pak… Jangan balik lagi !” Ucap Nayla merasa lega.


Ia lalu menutup pintu depan rumahnya. Ia lalu duduk di kursi ruang tamu rumahnya. Ia melepas hijabnya sekaligus cadar yang menutupi sebagian wajahnya.


“Dah lama semenjak bisa bebas lepas hijab kayak gini ?” Ucap Nayla sambil menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengibas-ngibaskan rambut pendeknya. Ia lalu mengambil ikat rambut untuk mengikat ujung rambutnya. Tampak leher jenjangnya begitu indah. Nampak sudut dagunya dari samping seperti lebah yang sedang bergantung. Setelah rambutnya sudah terikat. Ia pun duduk sejenak sambil merenungi keadaan.


Tangan kanannya membuka toples makanan untuk mengemil makanan. Ia merasa lapar, tapi malas untuk melakukan sarapan. Setelah wafer 'snack' yang tadi diambilnya habis. Ia mengambil wafer lain untuk melanjutkan cemilan paginya.


“'Alhamdulillah', aku masih merasa normal kayak gini… Aku gak sangek-sangek lagi…” Lirihnya sambil terus mengemil wafer tersebut.


“Entah kenapa aku jadi keinget momen dulu… Sewaktu aku menganggap pak Urip sebagai orang yang bisa aku percaya… Saat sebelum kejadian air lemon itu terjadi… Aku masih bisa merasakan kedamaian kayak gini… Bahkan saat pak Urip kerja di halaman rumah, aku masih bisa santai sambil mengemil wafer 'snack' kayak gini… Sedangkan belakangan ini ?” Lirihnya sambil kembali mengemil wafer 'snack' itu.


“Yang ada aku gelisah terus… Hidupku gak tenang… Tiap hari, aku harus berjuang untuk melawan nafsu birahiku… Jujur itu melelahkan… Aku harap aku gak kambuh lagi… Aku juga harus menjauh dari orang-orang yang pernah menyetubuhi diriku… Baik itu pak Urip ataupun pak Beni… Hah” Lirih Nayla sambil mendesah sedikit mengingat dirinya harus memaksa diri untuk menjauhi pak Beni.


“Maafin aku pak… Aku harus menjauh dari bapak… Bukan karena aku benci bapak… Tapi ini demi kebaikanku juga kebaikan bapak” Lirihnya sambil terus mengemil menikmati 'snack' wafer itu.


Saat sedang asyik merenung sambil mengemil makanan. Ia teringat sesuatu saat tak sengaja telinganya mendengar suara tertentu.


'Saayyuurr… Saayyuurrr…'


“'Astaghfirullah'… Iya juga, aku harus belanja sayur… Baru inget di kulkas gak ada bahan masakan sama sekali” Ucap Nayla yang langsung menutup toples makanannya lalu mengenakan hijab dan cadarnya lagi untuk bersiap pergi untuk berbelanja sayuran di pagi hari.


Namun baru beberapa langkah ia melewati gerbang depan. Ia dikejutkan oleh adanya suara yang memanggil namanya.


“Mbak Nayla… Hehe” Ucap seseorang yang membuat Nayla menoleh.


“Pak Beni ?” Lirih Nayla terkejut hingga membuat jantungnya berdebar kencang.


Akhirnya, ia pun bertemu salah satu dari dua orang lelaki tua yang pernah menyetubuhinya. Ia pun bingung harus berbuat apa sekarang. Ia hanya bisa diam sambil menundukkan wajahnya. Ia hanya berharap agar pak Beni tidak membahas momen saat diri mereka melakukan VCS lagi, karena itu hanya akan membuatnya malu. Ia bahkan enggan untuk mengingat lagi perbuatannya waktu itu.


“Mbak apa kabar ?” Tanya pak Beni sambil senyum-senyum sendiri.


“Baiikk” Jawab Nayla sambil menunduk.


“Waaahhh mbak makin cantik yahhh” Puji pak Beni sambil mengamati lekuk tubuh Nayla.


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


MEBG1T9

https://thumbs4.imagebam.com/b6/6d/89/MEBG1T9_t.jpg   b6/6d/89/MEBG1T9_t.jpg

'NAYLA


Jujur Nayla merasa tidak nyaman saat mata pria tua kekar itu terus memelototi tubuh indahnya. Nayla yang pagi itu mengenakan kaus santai berlengan panjang yang ia padukan dengan celana 'training' longgar yang tidak mencetak kaki jenjangnya juga dengan hijab lebar berwarna merah serta cadar yang memiliki warna serupa jadi merasa risih dibuatnya. Ia berharap pak Beni segera mengakhiri perkataannya agar dirinya bisa cepat pergi menjauh darinya.


“Makasih” Jawab Nayla dingin.


“Hehe, waktu itu . . . “ Ucap pak Beni yang membuat Nayla deg-degan.


“Saya gak nyangka, malam itu saya bisa liat mbak telanj . . . . “ Lanjut pak Beni namun segera di potong oleh Nayla.


“Cukuppp… Jangan bahas itu lagi… Aku mau pergi” Ucap Nayla mengejutkan pak Beni. Ia langsung berbalik badan lalu berjalan pergi menjauhi pak Beni.


“Ehhh tunggu mbak… Saya . . .” Ucap pak Beni yang ingin mengobrol lebih lama lagi.


“Ada apa ? Apa ada yang perlu bapak bahas ?” Tanya Nayla berhenti sambil berdiri membelakangi pak Beni.


Pak Beni pun terdiam seolah bingung harus melakukan apa. Ia merasa sifat tetangga alimnya itu berbeda dari saat ketika mereka melakukan VCS di malam hari itu.


“Gak ada” Jawab pak Beni dengan segera.


“Kalau gitu, aku mau pergi… Permisi” Ucap Nayla langsung pergi.


Pak Beni pun diam membisu melihat sisi belakang tubuh Nayla yang kian menjauh. Ia hanya diam saja. Ia terus memandangi Nayla yang semakin menjauhi dirinya.


“Mbak Nayla kenapa yah ? Kok tatapannya keliatan kayak membenci saya ? Apa saya telah melakukan kesalahan ?” Tanya pak Beni heran.


Pak Beni pun hanya menggelengkan kepala. Ia akhirnya langsung pergi untuk bekerja sambil membawa sapu yang sedari tadi ia pegang menggunakan tangan kanannya.


Sementara itu Nayla terus berjalan mendekati warung gerobak mang Yono. Saat ia merasa sudah jauh dari tetangga tuanya, ia pun menghentikan langkah kakinya hanya untuk menoleh ke belakang. Terlihat pak Beni berjalan dengan lemas yang membuat Nayla merasa tidak enak. Ia pun terus memandangi pak Beni hingga pria tua berbadan kekar itu hilang dari pelupuk matanya.


'Maafin aku yah pak… Sekali lagi maafin aku… Mungkin bapak merasa aku cuek apa gimana ?… Tapi jujur, aku gak mau kita terlalu deket lagi… Aku gak mau mengulang dosa yang sama lagi… Aku takut nafsuku membuatku terlena dan mengajak bapak untuk melakukan perzinahan lagi… Aku mau berhijrah… Aku gak mau mendekati perzinahan lagi… Mungkin aku terkesan jahat karena cuma memanfaatkan bapak untuk melampiaskan nafsu birahiku… Tapi bukan itu maksudku pak… Semoga bapak akan paham… Aku bukan wanita yang seperti itu…'


Batin Nayla. Ia tahu bahwa kesempatan untuk berzina dengannya terbuka lebar saat nafsunya tiba-tiba bangkit menguasai dirinya. Mumpung sekarang ia masih bisa mengendalikan tubuhnya. Ia berusaha untuk menjauh agar nanti ketika nafsunya bangkit, ia tidak kembali mendekati pak Beni hanya untuk meminta kepuasan darinya. Ia tak mau menjadikan pak Beni tempat pelampiasan. Ia pun merinding. Ia merasa takut andai nafsunya kembali bangkit menguasai diri lagi. Ia terus berharap agar tidak dikendalikan nafsu birahinya lagi. Ia tidak mau berubah menjadi akhwat binal lagi. Ia enggan untuk merelakan harga dirinya hanya demi kepuasan sesaat saja.


'Semoga mulai detik ini aku bisa… Semoga aku bisa untuk menjadi Nayla yang dulu lagi…'


Batinnya lalu melanjutkan perjalanannya untuk membeli sayur di warung mang Yono.


*-*-*-*

Sementara itu pak Beni terus merenung dalam perjalanannya bekerja menuju tempat tujuan. Ia terus memikirkan sikap Nayla tadi. Ia lalu membandingkannya dengan sikap Nayla saat melakukan VCS dengannya di malam hari. Ia heran sekaligus penasaran. Apa yang membuat sikapnya berubah drastis seperti tadi ?


Padahal Nayla yang ia kenal adalah Nayla yang binal yang mengajaknya bercinta untuk memuaskan nafsu birahinya. Kenapa tiba-tiba Nayla malah bersikap seperti tadi ?


“Apa jangan-jangan ? Pak Urip yang membuatnya terpaksa untuk bersikap seperti tadi ? Ya, pasti seperti itu… Pasti Nayla dipaksa menjauhi saya gara-gara kepergok dekat dengan saya ? Kalau benar, kurang ajar sekali pak Urip ini ! Bisa-bisanya ia memaksa mbak Nayla bersikap seperti tadi !” Lirih pak Beni yang malah berpikiran seperti itu.


“Padahal kesempatan itu baru saja datang mendekati saya ! Kenapa si Urip sialan mau menjauhkan kesempatan itu dari saya !” Ucap pak Beni jadi kesal sendiri membayangkan kalau itu beneran terjadi.


“Hah, mbak Nayla… Wajahmu yang cantik memang lah tidak sebanding dengan wajah saya yang burik… Aroma tubuhmu yang wangi & seksi memang lah tidak sebanding dengan tubuh saya yang bau terasi… Meski demikian, salah kah saya yang mencintai keindahan lekuk tubuhmu itu ? Saya masih ingat betul saat-saat ketika diri mbak telanjang bulat di depan saya… Meski masih melalui hape, saya langsung terpana saat melihat lekuk indahmu yang begitu aduhai, serta bokong montokmu yang begitu semlohai, juga susu bulatmu yang begitu bohai… Ah, padahal saya berharap kita bisa bermesum-mesuman lagi mbak… Andai itu terjadi, saya pasti akan menggenjotmu semalaman… Saya jamin, saya gak akan berhenti menggenjotmu untuk memuaskan nafsu birahimu itu !” Lirih pak Beni sambil mengelus-ngelus penisnya sendiri.


“Duh kok jadi sangek yah gara-gara mikirin bodi mbak Nayla !” Ucapnya saat merasakan penisnya mulai mengeras gara-gara pikiran kotornya.


Ia pun terus berjalan sampai dirinya tiba di titik tempat dimana ia bekerja. Sambil berusaha fokus menyapu, namun pikirannya yang terlanjur keruh membuatnya membayangkan tubuh polos Nayla berikut suara desahannya yang masih terekam jelas di dalam ingatannya.


“Hah… Hah… Hah… Siaalll, jadi pengen coli lagi nih !” Batin pak Beni kesal.


Ia pun berusaha untuk menghalau pikiran kotornya disaat bekerja. Ia mencoba melihat ke sekitar tapi yang ada ia malah melihat mahasiswi seksi yang suka memakai rok mini berkeliaran di sekitarnya. Terkadang ia juga melihat mahasiswi bercadar yang membuatnya semakin teringat akan binalnya sosok Nayla.


Ia pun baru sadar bahwa dirinya berada di dekat kompleks asrama mahasiswa. Pantas saja banyak mahasiswi-mahasiswi muda yang berlalu-lalang disekitarnya. Ini sudah seperti ujian baginya. Karena sudah tak tahan, ia pun menyerah lalu matanya jelalatan melihat mahasiswi-mahasiswi bercadar yang lewat disekitarnya. Tangannya juga diam-diam mengelus-ngelus penisnya. Ia membayangkan kalau itu adalah Nayla. Ia mendesah pelan. Ia menikmati aksi mesumnya di pagi hari ini.


“Hah… Hah… Hah… Mbak Naylaa… Gara-gara mbak nih, saya jadi nafsu gini !” Batinnya saat mulai terang-terangan mengusap-ngusap penisnya sambil memandangi akhwat bercadar yang lewat disekitarnya.


“Aaahhhh… Aahhhhh… Saya pasti akan menyetubuhimu sekali lagi mbak… Pasti… Pastiii ituuu !” Desahnya dengan pelan sambil terus mengelusi penisnya sendiri.


Tapi seketika matanya bertemu dengan mata mahasiswi bercadar yang ia jadikan fantasi saat itu. Pak Beni diam mematung. Apalagi saat mahasiswi itu melaporkan perbuatannya pada pria kekar yang berdiri di sampingnya.


Pak Beni pun menundukkan wajah lalu berpura-pura menyapu lagi. Ia berusaha menjauhkan diri dari sosok akhwat bercadar yang ia jadikan fantasi tadi.


“Apa yang tadi bapak lakukan ?” Ucap seseorang sambil memegangi bahu pak Beni dari belakang.


“Anuuuu . . .” Ucap pak Beni saat berfikir sambil menolehkan wajahnya ke belakang menghadap ke arah pria kekar itu.


Belum sempat pak Beni menjelaskan, tiba-tiba laki-laki kekar itu memukul pipi pak Beni hingga membuat pria tua kekar itu tersungkur ke tanah.


'Bruuukkkk !!!'


Sontak pak Beni terbangun dari nafsu birahinya. Ia tidak lagi sangek. Ibaratnya seperti disiram menggunakan seember air dingin yang membuatnya tidak mengantuk lagi.


“Jaga mata bapak… Jaga juga tangan bapak… Sekali lagi bapak melakukan hal itu pada istri saya… Saya akan bawa tindakan bapak tadi ke kantor polisi !” Ucap laki-laki kekar itu sambil menunjuk muka pak Beni.


Pak Beni pun hanya terdiam sambil mengangguk. Ia sadar kalau ini merupakan kesalahannya. Ia tak bisa melawan. Ia pun pasrah sudah kepergok melecehkan istri dari pria yang menonjoknya tadi.


“Yuk sayang, kita pergi !” ucap laki-laki itu sambil menggandeng lengan akhwat bercadar yang tadi dijadikan fantasi oleh pak Beni.


“Hah sial !” Lirih pak Beni sambil memegangi pipinya sebelum ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Ia pun terus menatap akhwat bercadar tadi yang semakin menjauhi dirinya. Ia juga merasa iri pada pria kekar tadi. Ia pun berharap bisa seperti laki-laki tadi yang bisa menggandeng lengan akhwat bercadar yang ia jadikan fantasi tadi.


“Andai itu terjadi… Ya andai itu terjadi…” Ujarnya sambil melanjutkan pekerjaannya.


*-*-*-*

“Beli ini yah mang… Berapa ?” Tanya Nayla saat memilih sayuran yang ingin ia beli.


“Wuihhh beli terong yah non ? Gede amat !!! Buat apa hayooo !” Ujar mang Yono saat melihat terong yang dipilih oleh Nayla.


“Ya buat dimakan lah… Buat apa lagi coba !” Ketus Nayla kesal.


“Huahahah iya mbak percaya… Sama kentang juga yah ? Semuanya Sepuluh ribu aja mbak” Kata mang Yono tertawa.


Makasih yah mang... Ini uangnya, pas kan ? Ucap Nayla setelah mengeluarkan uang dari dompetnya.


Iyya mbak... Lagi-lagi pas... Padahal maunya lebih, biar bisa nganterin kembalian lagi ucap mang Yono yang tak digubris oleh Nayla.


Nayla dengan tatapan risih langsung berbalik badan. Ia ingin menjauh dari segala pemicu yang membuat nafsunya bangkit lagi. Sedangkan mang Yono pun terus memperhatikan Nayla yang kian pergi. Ia hanya tersenyum setelah menggodanya. Ia terus tersenyum sambil memperhatikan sisi punggung Nayla yang kian menjauh darinya.


“Eh ini ?” Ucap Mang Yono saat tak sengaja melihat ke arah gerobak sayurnya.


Lalu, sementara itu.


Hah... Beli sayur udah terus sekarang waktunya masak buat entar malem ah... Eh apa sore aja yah masaknya ? Tapi sekarang mumpung lagi gak ada pak Urip... Eh tapi kalau masak sekarang ya bakal dingin kalau buat entar malem ? Aku juga gak rela kalau masakanku malah dimakan pak Urip pas siang nanti... Aahh pusing deh lirih Nayla kesal sendiri.


Mungkin aku harus istirahat dulu kali yah buat nenangin pikiranku... Tapi daritadi aku juga udah istirahat terus... Hah kapan kerjanya ? Serba salah deh jadinya... Semua gara-gara pak Urip ! Gerutu Nayla saat berjalan pulang menuju rumahnya.


Tak terasa, ia telah tiba di pintu masuk rumahnya. Ia membukanya lalu menutup pintunya lagi.


Hah gerah banget deh... Gak nyangka Jakarta bakal sepanas ini... Mungkin karena belakangan tinggal di Puncak kali yah ucapnya sambil melepas hijab kemudian cadar berwarna merahnya.


Nayla yang saat itu cuma mengenakan kaus berlengan panjang serta 'training' longgar yang tidak mencetak kaki jenjangnya segera menuju dapur untuk menaruh bahan-bahan sayuran yang baru saja dibelinya.


Hah, akhirnya selesai beli sayur juga ucapnya sambil duduk di kursi di dekat meja makan rumahnya.


Nayla merasa kelelahan. Padahal yang dilakukannya sedari tadi hanyalah beristirahat lalu membeli sayur di warung mang Yono. Ia pun heran pada tubuhnya. Kenapa ia jadi mudah lelah ? Apakah karena energinya sering disedot mang Yono melalui lubang vaginanya ?


Hah 'astaghfirullah', oh yah obatnya ucap Nayla sambil menepok jidatnya.


Hampir aja aku kelupaan... Bisa gawat kalau aku gak rutin minum obatnya ucap Nayla buru-buru pergi ke kamarnya.


Ia segera membuka pintu almarinya. Ia lalu mengambil sebuah botol yang ia sembunyikan di dalam tas ranselnya. Ia sengaja menyembunyikannya agar tidak dicurigai suaminya karena botol itu sendiri memiliki rupa yang jarang dilihat oleh orang-orang. Ia tidak mau ditanya suaminya sedang meminum air apa. Ia juga tidak mau kalau tiba-tiba suaminya meminta minuman itu karena penasaran akan rasanya.


“Aaahhhh segarnya” Katanya setelah menenggak minuman itu sekali.


Terlihat minuman itu tinggal tersisa sedikit. Tak terasa, ia sudah beberapa hari melakukan terapi dengan air ramuan ini. Meski hasilnya belum sesuai dengan apa yang ia harapkan, ia pun terus berharap agar dirinya bisa terbebas dari siksaan nafsu birahi yang kadang suka bangkit menguasai diri.


Setelah ia menenggak botol minuman itu sekali. Ia pun mengelap sisa air itu di tepi bibirnya menggunakan lengan bajunya.


'Alhamdulillah' aku udah minum lagi... Harusnya aku gak kambuh lagi kan ? Daritadi aja sampe jam segini aku gak kambuh-kambuh lagi... Moga aja aku bisa berubah... Moga aja aku gak gampang sangean lagi ucap Nayla optimis.


Yokk bisa yokk... Kamu pasti bisa... Kamu itu bukan lonte murahan... Jadi jangan nyerah lagi yah dengan keadaan ! Ucap Nayla memotivasi dirinya.


*-*-*-*

Sementara itu, pak Beni kembali melanjutkan pekerjaannya dengan menyapu jalanan. Terlihat tangan kirinya memegangi pipinya yang masih agak sakit. Sebenarnya, itu bukan lah luka yang berarti bagi pak Beni. Itu hanya lah luka ringan baginya. Dalam beberapa waktu, mungkin luka itu tidak terasa lagi olehnya.


“Tapi kok masih sakit yah ? Kayaknya mas-mas tadi sering olahraga deh… Tonjokannya kuat banget” Ucap pak Beni sambil terus menyapu jalanan.


Tak terasa jam sudah mendekati pukul setengah 10 siang. Sinar matahari semakin tinggi. Udara semakin panas yang membuat pak Beni terpaksa membuka beberapa kancing seragamnya hingga memperlihatkan sedikit dada bidangnya.


Nampak keringat membanjiri keningnya. Padahal ia sudah mengenakan topi. Tapi tampaknya udara semakin berapi-api. Ia lalu mengibas-ngibaskan seragam kemejanya sambil melanjutkan pekerjannya.


“Pak Benii !”


Seketika ada suara yang memanggil namanya. Pak Beni menoleh. Tangan kirinya ia taruh di dekat keningnya agar pandangannya semakin jelas tak terhalang oleh silaunya sinar mentari pagi.


“Siapa yah ?” Lirih pak Beni sambil mendekat.


Samar-samar ia melihat seorang akhwat berhijab yang berdiri melambaikan tangan kepadanya. Akhwat itu mengenakan masker. Akhwat itu juga mengenakan rok panjang serta 'blouse' longgar bermotif bintik-bintik. Akhwat itu berdiri memanggil namanya sambil memegangi buku di tangan kirinya.


MECB6M1

https://thumbs4.imagebam.com/60/8c/7b/MECB6M1_t.jpg   60/8c/7b/MECB6M1_t.jpg

'PUTRI


“Siapa itu ? Mahasiswi sekitar sini yah, eh itu kan mbak Putri ?” Ucap pak Beni saat mulai mengenali sosoknya.


Mengetahui Putri memanggil namanya. Pria tua berbadan kekar itu langsung mendekat sambil membawa sapu serta cikrak di kedua tangannya.


Terlihat Putri tersenyum senang melihat pria tua yang dicintainya mendekat. Apalagi setelah melihat penampilannya yang semakin mendekat. Pak Beni terlihat gagah dengan beberapa kancing yang dibuka olehnya. Tubuhnya yang tegap serta cara jalannya yang jantan membuat Putri jadi semakin jatuh hati kepadanya. Putri pun semakin deg-degan dibuatnya.


“Mbak Putri yah ? Ada apa ? Kok mbak Putri ada disini sih ?” Tanya pak Beni heran.


“Loh kampus aku kan deket sini pak… Tempat kosanku juga gak jauh dari sini loh” Ucap Putri mengejutkan pak Beni.


“Loh beneran ? Oalah, saya baru tau loh” Ucap pak Beni yang membuat Putri tertawa.


“Hihihihi bapak lagi kerja yah ? Aku gak ganggu kan ?” Tanya Putri tersenyum.


“Enggak kok, oh yah ? Mbak Putri gak kuliah emangnya ?” Tanya pak Beni.


“Hari ini gak ada pelajaran kok pak… Tadi aku ke kampus Cuma buat ngumpulin tugas aja… Sebenarnya sih sekarang gak ada pelajaran” Jawab Putri sambil menatap wajah pak Beni. Pak Beni pun terlihat hanya manggut-manggut saja. Seketika Putri terpikirkan sebuah ide saat melihat wajah memelas pak Beni.


“Bapak kepanasan yah ? Kalau bapak istirahat sebentar di kosanku gimana ?” Ajak Putri yang mengejutkan pak Beni.


“Eh saya ? Ke kosan mbak ?” Tanya pak Beni tak percaya.


“Hihihih iya… Mampir yuk pak bentar… Temenin aku… Nanti aku buatin minuman deh” Ajak Putri agak sedikit memaksa.


Pak Beni yang merasa tak enak kalau harus menolak kebaikan Putri lagi akhirnya mengangguk menyetujui. Sebenarnya ia juga ingin beristirahat sebentar ditengah teriknya sinar mentari yang semakin naik.


“Tapi apa gapapa mbak ? Gak dimarahin sama temen kos mbak kalau saya kesana ?” Tanya pak Beni ragu.


“Tenang, kamar kosanku aman kok… Pemiliknya juga jarang di kosan… Emang kosan khusus mahasiswa jadi banyak juga kok temen-temen aku yang bawa temennya ke kamar” Jawab Putri santai.


“Ya tapi, saya kan bukan temen-temen kayak temen-temennya mbak… Saya cuma tukang sapu jalanan mbak… Apa nanti mbak gak dimarahi ?” Ucap Pak Beni khawatir.


“Tenang pak… Semua aman kok” Jawab Putri sambil berkedip lalu tersenyum menatap pak Beni.


Entah kenapa diberi kedipan serta senyuman seperti itu membuat hati pak Beni berdebar kencang. Meski ia agak kebingungan, ia pun akhirnya manut saja saat diminta Putri untuk datang menuju kamar kosnya.


'Hihihi akhirnya sebentar lagi aku bisa berduaan dengan pak Beni… Hmmm kosan rame gak yah ? Kalau gak, moga aja aku bisa melakukannya sekarang . . .'


Batin Putri sambil menatap wajah pak Beni.


Terlihat pak Beni berjalan tegak sambil menatap ke depan. Pak Beni jadi terlihat semakin gagah di mata Putri. Putri jadi senyum-senyum sendiri saat berjalan disampingnya. Ia tak merasa malu meski ada beberapa teman mahasiswanya yang menatap heran ke arahnya.


Memang cinta itu buta yah ? Tapi kalau cinta kepada pria tua ? Bukannya itu keterlaluan ? Tapi bagi Putri tidak, karena cinta itu tidak memandang segala aspek kehidupan. Apalagi kalau cuma karena rentang jarak usia.


Tak terasa mereka sudah tiba di depan pintu masuk kosan Putri. Terlihat kosan sepi sekali. Seketika Putri tersenyum sambil memandang pak Beni.


'Hah… Haruskan kubalas perbuatan baik pak Beni sekarang ? Mumpung kosan sepi… Mumpung aku lagi berdua bareng pak Beni… Tapi, kok aku malah deg-degan sendiri yah… Rasanya jadi kurang siap aja kalau aku menyerahkan tubuhku sekarang…'


Batinnya sambil terus memandang pak Beni.


“Hmmm mbak…” Ucap pak Beni membangunkan Putri dari lamunannya.


“Eh iya pak” Ucap Putri terkejut.


“Kosan mbak kok sepi banget yah ? Apa lagi pada kuliah semua ?” Tanya pak Beni yang terkejut saat memandang lorong kos yang begitu sepi.


“Hehe iya deh kayaknya… Masuk yuk, kebetulan kamar aku paling ujung… Deket kamar mandi disana” Ucap Putri sambil menunjuk ke arah yang ia maksud.


“Oalah disana yah ? Ada berapa orang emang yang tinggal disini ?” Tanya Pak Beni sambil mulai berjalan disebelah Putri.


“Ada sekitar enam belas sih pak termasuk aku… Tiap kamar dihuni satu orang… Kamarnya juga cukup luas, jadi aku cukup nyaman tinggal disini… Hihihi” Tawa Putri malu-malu sambil menatap pak Beni.


Lagi, senyuman Putri meluluhkan hati pak Beni. Senyumnya begitu indah yang entah kenapa membuat jantungnya semakin berdegup kencang. Namun mata pak Beni malah menatap dada Putri. Terlihat dadanya begitu menonjol dibalik 'blouse' longgarnya. Pikiran pak Beni pun jadi kemana-mana. Nafsunya yang tadi padam sejenak kembali bangkit gara-gara memikirkan isi dari 'blouse' yang dikenakan oleh Putri.


'Itu kok makin menonjol aja yah ? Padahal jelas-jelas bajunya longgar… Gimana ukurannya yah ? Oh yah, apa jangan-jangan susu mbak Putri makin membesar ? Astaga, kok pikiranku kotor lagi yah… Bisa gawat kalau nafsu saya bangkit sekarang… Mana cuma berduaan doang sama mbak Putri lagi… '


Batin pak Beni gelisah.


Setibanya mereka di kamar Putri. Pak Beni dipersilahkan masuk terlebih dahulu baru disusul oleh Putri. Terlihat kamar akhwat yang sebentar lagi mau menikah itu terlihat rapih. Sprei ranjangnya tertata rapih. Bantal dan gulingnya tertata rapih. Bahkan buku yang ditaruh berjejeran di rak juga tertata rapih. Pak Beni pun diminta untuk duduk di tepi ranjang sedangkan sapu dan cikrak yang ia bawa diminta untuk ditaruh di belakang pintu masuk kamar.


“Bapak sini dulu yah, aku mau buatin sesuatu buat bapak” Ucap Putri yang lagi-lagi tersenyum sambil menatap pria tua kekar itu.


Kali ini pak Beni benar-benar takluk pada senyuman manisnya itu. Bahkan ia juga ikut tersenyum. Matanya pun terpaku pada keindahan wajahnya. Ia manut, saat Putri mulai berbalik badan untuk menuju kulkas yang tersedia di dekat dapur kos-kosan. Mata pak Beni menatap bokong Putri yang begitu menonjol.


'Asyik nih kayaknya kalau minta mbak Putri nungging di tepi ranjang ini…'


Batin pak Beni kembali mesum.


'Tuh kan… Gawaattt, duh kudu gimana yah buat lampiasin nafsu saya ?'


Batin Pak Beni kebingungan.


'Kalau saya ajak mbak Putri kira-kira mau gak yah ? Ah mana mungkin, saya gak mau kayak pak Urip… Gimana kalau nanti mbak Putri malah membenci saya ?… Gimana kalau nanti mbak Putri juga lapor ke mbak Nayla, yang ada nanti saya dibenci sama keduanya… Terus nasib kontol saya gimana ? Duhh, Kenapa makin kesini kok kontol saya makin ngaceng yah ?'


Batin pak Beni sambil ngelus-ngelus penisnya sendiri.


Pikirannya yang semakin keruh serta nafsunya yang membuatnya semakin tak tahan membuatnya memberanikan diri untuk mengeluarkan penisnya dari balik celana kerjanya.


Nampak penisnya sudah berdiri tegak melalui selipan resleting celananya yang terbuka lebar. Pak Beni pun menumpukan tangan kirinya ke atas ranjang yang berada di sebelah kiri pinggangnya. Matanya pun ia pejamkan. Sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengocok penisnya naik turun sambil membayangkan Putri yang ada di ruangan ini sedang mengocoknya dengan penuh kelembutan.


“Aaaahhhhhh… Aaahhhhh mbaakkk… Aaahhhh mbakk Putriiii… Mmmpphhhh” desah pak Beni yang semakin hanyut dalam lautan nafsu birahi.


Ia tak peduli dirinya ada dimana saat ini. Ketika nafsu datang, ia bisa melakukan apa saja termasuk beronani di dalam kamar kos akhwat bercadar yang menjadi bahan fantasinya saat ini. Ia pun membayangkan Putri yang sudah telanjang bulat berjongkok dihadapan dirinya lalu tangannya dengan gemulai mengocokkan penisnya sambil menyentuhkan ujung gundulnya pada pipi mulusnya.


Membayangkan hal itu membuat pak Beni semakin bernafsu. Kocokannya dipercepat. Dekapannya semakin kuat dan desahannya terdengar semakin nikmat.


Tanpa ia sadari, akhwat bercadar yang tadi keluar untuk membuatkan minuman untuknya kembali memasuki kamarnya. Saat Putri membuka pintu kamarnya secara perlahan, ia dikejutkan atas apa yang dilakukan oleh tamunya di dalam kamarnya.


'Astaghfirullah… Pak Beni !!!'


Jerit Putri di dalam hati.


Terlihat pria tua kekar itu sedang beronani. Ia bermasturbasi sambil membuka beberapa kancingnya yang membuatnya terlihat semakin seksi. Putri pun menenggak ludahnya sekali. Ia diam terpana melihat betapa menggairahkannya pak Beni.


'Ehhh titidnya pak Beni kok ? Wah pantes aja belakangan ia gak pernah jawab salam aku… Tapi gapapa, itu gak mengubah rasa cintaku padanya !'


Batin Putri yang baru menyadari keimanan pak Beni.


Putri yang sebenarnya hendak menyerahkan tubuhnya pada pak Beni langsung diam-diam mendekati. Ia merasa ini adalah waktunya. Tidak ada lagi untuk hari setelahnya. Ini adalah harinya. Hari untuk membuktikan perasaan cintanya kepada pria tua berbadan kekar yang ada dihadapannya.


Sambil terus memandangi penis kekar yang sedang dikocok itu. Ia duduk di sebelah pak Beni yang membuat kehadirannya mulai disadari olehnya.


“Eeehhhh mbaakk !!! Maaf, ini bukan seperti yang mbak liaat !”


Sontak pak Beni terkejut. Terlihat wajahnya panik saat kepergok beronani di dalam kamar Putri.


“Hihihihi tenang pakkk… Aku tahu kok” Ujarnya sambil malu-malu saat mendekatkan tangannya ke arah selangkangan pria tua kekar itu.


Sambil tersenyum malu-malu, tangannya menggenggam penis pak Beni. Pak Beni langsung memejam merasakan betapa mulusnya tangan dari mahasiswi bercadar yang baru saja pulang dari kampusnya itu.


Apalagi saat tangan Putri mulai bergerak naik turun secara perlahan. Mata pak Beni langsung merem melek keenakan. Sentuhan tangannya benar-benar merangsang nafsu birahi pak Beni. Putri pun tersenyum malu-malu. Ia mulai membuka mulutnya lalu memberanikan diri menatap mata pak Beni.


“Hayooo bapak nakal yah… Bapak tadi ngapain di kamar aku ?” Tanya Putri sambil menaik turunkan tangannya pada penis pak Beni.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh… Tadi itu… Ouhhh nikmat banget mbaaakkk” Desah pak Beni yang semakin bernafsu.


“Hihihihi tadi apa ?” Tanya Putri dengan nada menggoda.


“Aaaaahhhh… Aahhhh… Tadi saya kebayang mbak… Aaahhhh mbak cantik banget… Saya jadi gak tahan lagi” Ucap pak Beni mengakui.


“Hihihihi terus kalau aku cantik kenapa bapak malah buka resleting… Terus kok ininya juga dikeluarin ? Hayooo bapak nafsu sama aku yah ?” Tanya Putri dengan vulgarnya yang membuat pak Beni semakin bergairah.


“Aaahhhhh… Aaahhhh iyyaahhh… Mbak seksi sekali… Saya udah gak kuat semenjak ngeliat mbak telanjang waktu itu” Ucap pak Beni sambil keenakan mendesah yang membuat Putri tersenyum senang.


“Hihihihi bapak nakal yah… Gara-gara bapak ngeluarin titid, aku jadi ikutan nafsu loh… Bapak harus tanggung jawab pokoknya” Ucap Putri kali ini sambil menekan-nekan ujung gundul yang masih tertutupi kulupnya itu.


“Aaahhhhh… Aaahhhh… Apa yang harus saya lakukan ? Apa yang harus saya lakukan untuk mempertanggung jawabkan semuanya ?” Tanya pak Beni sampai merinding keenakan.


“Bapak harus muasin aku… Bapak gak boleh keluar sebelum aku puas disetubuhi bapak…. Hihihihi” Bisik Putri saat mendekati telinganya yang membikin pak Beni merinding merasakan sensasinya.


“Hah… Hah… Aaahhhhh… Aahhhhhh” desah pak Beni terkejut setelah mendengar bisikan di telinganya itu.


Terlihat Putri hanya tersenyum sambil memainkan penis pejantannya. Putri juga tersenyum malu-malu. Baru pertama kali dirinya melakukan tindakan senakal ini. Ia kemudian terus mengangkat wajahnya agar pria tua yang ia cinta bisa menikmati keindahan wajahnya.


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


MEBEAY2

https://thumbs4.imagebam.com/40/11/34/MEBEAY2_t.jpg   40/11/34/MEBEAY2_t.jpg

'PUTRI DI PANDANGAN PAK BENI


“Aaaaahhhh… Aaahhhhhh… Aaahhhhh…” Desah pak Beni sambil bangkit berdiri dihadapan Putri.


Kocokan tangan Putri terlepas. Putri pun duduk malu-malu saat pak Beni berdiri tegak dihadapannya.


Nampak tiba-tiba pak Beni memelorotkan celananya. Ia juga membuka seluruh kancing seragamnya. Matanya dengan tajam menatap keindahan tubuh Putri. Ia sedang berapi-api. Ia sudah berniat untuk melampiaskan seluruh nafsunya pada tubuh Putri.


Putri pun jadi gugup tapi juga tersenyum malu-malu menyadari pak Beni telah bersiap untuk menerkam dirinya. Tiba-tiba bahunya disentuh oleh pak Beni. Tubuhnya didorong hingga terlentang diatas ranjang tidurnya sendiri. Kedua tangannya direntangkan melebar ke kanan kiri. Tubuh pak Beni mendekat. Tubuh kekarnya sudah berada diatas tubuh Putri yang terlentang diatas ranjang tidurnya. Nampak wajah mereka berdekatan. Putri dengan malu-malu pun menatap wajah pak Beni.


“Saya akan memuasimu mbak… Bahkan ketika mbak puas, saya tidak akan keluar karena saya akan terus memuasimu selamanya” Ucap pak Beni sambil menatap mata Putri. Putri hanya tersenyum sambil menatap ketegasan matanya. Meski hidungnya dapat mencium aroma busuk dari mulut pak Beni. Ia justru semakin deg-degan menyadari pak Beni semakin bernafsu untuk menyetubuhi dirinya.


“Ayo buktikan pak… Aku juga gak sabar untuk merasakan kejantanan bapak saat memuasi aku… Hihihihi” Tawa Putri malu sendiri setelah mengucapkan kalimat tadi.


“Boleh saya lepas masker mbak ?” Ucap pak Beni sambil tersenyum.


Berbicara dengan jarak sedekat ini dimana tangannya mendekap erat kedua tangannya membuat pak Beni jadi semakin bernafsu. Ia pun berniat untuk melahap habis bibir manisnya setelah maskernya terlepas dari wajah manisnya.


“Boleh” Jawab Putri sambil menganggukkan kepalanya.


Tangan kanan pak Beni pun melepas masker yang dikenakan Putri. Nampak wajah manisnya terlihat jelas dimata kepalanya. Bibirnya yang merekah. Pipinya yang memerah. Serta keseluruhan wajahnya yang membuat pak Beni bergairah. Putri terlihat cocok dengan kacamata yang dikenakannya. Setelah tersenyum sejenak, pak Beni langsung menyosorkan bibirnya untuk menghabisi bibir yang begitu menggodanya.


“Mmmppphhhh” Desah mereka berdua saat bercumbu.


Bibir mereka melekat. Lidah mereka juga keluar untuk saling jilat. Terlihat mereka sangat bernafsu saat bercumbu untuk pertama kalinya.


Dikala bibir pak Beni menjepit bibir bagian atas Putri. Maka Putri membalas dengan menjepit bibir bagian bawah pak Beni. Bibir mereka kemudian saling dorong lalu lanjut menjadi saling sepong. Terasa cengkraman tangan mereka diperkuat saat cumbuan bibir mereka semakin nikmat.


“Mmppphhhh sudah sejak lama saya ingin mencumbumu seperti ini mbakkk… Mmppphhh nikmat sekali bibirmu ini… Mmpphhhh” desah pak Beni dengan penuh nafsu.


“Mmpphhh iyyahhh pakkk… Aku juga… Sejujurnya aku juga udah lama pengen kayak gini sama bapak… Mmppphhh” desah Putri dengan manja.


“Mmmppphhh iya kah ? Mmmpphhh kok kita sama ? Kalau gitu ayo kita lampiaskan bersama-sama” desah Pak Beni yang semakin serius untuk memuasi tubuh akhwat bercadar itu.


“Iyyahhh paakkk… Mmpphhhh” desah Putri pasrah membiarkan pria yang dicintainya bertindak sesukanya.


Pak Beni semakin bernafsu setelah mendapatkan izin untuk memuasi tubuh mahasiswi bermasker itu. Tangannya kini mulai aktif meremasi dada Putri dari luar 'blouse' yang masih dikenakannya itu. Bibirnya jadi semakin binal. Bibirnya menghisap bibir atas Putri dengan sangat nakal.


Putri pun melenguh penuh kenikmatan merasakan remasan di dadanya yang begitu bertenaga. Remasan pria tua itu membuat darah di tubuhnya menyebar memberikan kepuasan yang diterima oleh seluruh badan. Juga dengan cumbuan yang ia terima membuatnya ingin membalas cumbuan pria tua itu.


Entah kenapa ia jadi ingin mencumbu pria tua itu. Ia melakukannya bahkan tanpa malu-malu. Ia juga terlihat bernafsu yang membuatnya tampak ahli dalam bercumbu. Padahal ini kali pertama ia berciuman dengan seseorang. Mungkin karena terlalu banyak menonton drama korea yang ada adegan cumbuannya. Ia jadi semakin ahli dalam bercumbu meski ini kali pertama ia melakukan itu.


“Mmpphhh… Mmpphhh… Mmpphhhh” desah mereka berdua dengan penuh nafsu.


Tangan pak Beni kemudian mengincar resleting yang ada di belakang punggung Putri. Ia menurunkannya. Lalu menariknya pelan-pelan melewati kepala mungilnya. Dalam sekejap Putri sudah bertelanjang dada menyisakan behanya saja.


Keseksian tubuhnya membuat pak Beni dengan penuh nafsu mencumbu perutnya itu. Lidahnya juga keluar dengan menjilati pusarnya. Jilatannya naik menuju gunung kembar yang masih tertutupi behanya. Kedua tangannya pun mendekat untuk merangsang pinggang rampingnya. Putri memejam nikmat. Desahannya semakin terdengar menggoda.


“Aaahhhh paaakk… Aaahhhhh… Aaahhhhh mmmpphhh” desah Putri dengan penuh gairah.


Pak Beni jadi semakin bersemangat. Tangannya lalu mengangkat 'cup' bra yang menghalangi puncak dari gunung kembar itu. Saat matanya mendapati betapa pinknya puncak dari gunung kembar itu. Mulutnya langsung mendekat untuk menyusu di payudara kenyal itu.


“Mmpphhhhh… Mmpphhh sllrrpppp… Mmppphhh manis sekali susumu mbaakk… Sssllrrppp” Desah pak Beni sambil menyeruput putingnya itu.


“Aaaahhhhhh… Aaaahhhhh… Aaaahhhh bappaaakkk” desah Putri nampak pasrah saat menikmati seruputan nikmatnya.


Pak Beni yang benar-benar bernafsu mencengkram kedua payudara indah itu. Putingnya jadi semakin mencuat. Mulutnya secara bergantian menghisap pentilnya sambil terkadang lidahnya ikut menjilati dan terkadang hanya menjilati sekitar areolanya saja.


“Aaaahhhhhh… Aaaahhhhh… Aaaahhhh paakkkkk mmpphhh” desah Putri sampai terangkat.


Puas menjilati susunya, Jilatan pak Beni kembali turun menuju perut ratanya. Ia benar-benar puas tapi masih butuh sesuatu yang lebih untuk meluapkan nafsu besarnya. Ia akhirnya memelorotkan resleting roknya lalu menariknya turun melewati kedua kaki jenjangnya.


“Aaaaaaahhhhhh” desah Putri yang kini tinggal menyisakan hijab, celana dalam serta stockingnya saja. Behanya yang tadi terangkat saja sudah ditarik oleh pak Beni agar tidak menghalangi keindahan tubuh mulusnya.


“Ouuhhhhh… Ouhhhh mulusnya kulitmu ini mbakk… Pasti mbak suka banget merawat tubuh mbakk yaahhhh” desah pak Beni ngos-ngosan sambil mengelusi paha mulusnya.


“Aaaahhhh… Iyahh aku suka banget paakk… Aaahhhh geliiii… Aaaahhhhhh” desah Putri merinding merasakan usapan dari tangan kasar pria tua kekar itu.


“Waaahhh kalau gitu beruntung banget saya bisa menikmati hasil dari perawatan tubuhmu ini” Ucap pak Beni yang hendak memulai menjilati tubuhnya lagi.


“Mmppphh iyaahh paakkk… Aku sengaja merawat tubuhku untuk bapaakk… Ini semua hadiah buat bapak… Silahkan nikmati… Cuma ini yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan bapaak” desah Putri malu-malu saat menunjukkan hadiahnya itu.


Pak Beni langsung tersenyum senang mendengar ucapannya. Ia dengan beringas langsung memelorotkan celana dalam Putri untuk melihat betapa pinknya bibir vagina yang dimiliki olehnya.


Bibir pak Beni sampai kering saat melihat betapa indahnya tubuh Putri yang sudah bertelanjang bulat. Ia lalu menjilati bibirnya sendiri. Matanya pun men-'scan' dari ujung hijab sampai ujung kaki yang masih tertutupi stockingnya.


Ia merasa beruntung sudah diberi hadiah seindah ini oleh Putri. Ia akhirnya mendekat untuk menikmati hadiahnya tersebut.


“Ssslllrrrppppp” Seruput Pak Beni saat mulutnya menghisap bibir vagina Putri.


“Aaaaaaahhhhhhhh” desah Putri hingga pahanya menjepit wajah Pak Beni di selangkangannya.


Namun pak Beni tak berhenti. Sambil memegangi paha mulusnya. Lidahnya naik turun di dalam lubang vagina Putri. Bibirnya juga merapat di bibir vagina Putri. Mulutnya menghisap kuat-kuat hingga cairan cintanya tersedot keluar. Pak Beni mulai merasakan rasa asin di mulutnya. Ia juga mencium aroma amis yang justru membuatnya semakin bernafsu. Pak Beni tanpa henti menjilatinya juga menghisapi cairan cintanya.


“Aaahhhhh… Aaahhhh paaaakkkk… Aaahhhhh” desah Putri menggeliat merasakan nikmat di bibir vaginanya. Tangannya berulang kali mencengkram sprei ranjangnya. Terkadang tanpa sadar ia juga meremas susu bulatnya. Akhwat yang masih mengenakan kacamata itu mengerang. Ia benar-benar puas yang membuatnya tak menyesali pilihannya untuk menyerahkan tubuhnya pada pria tua yang sangat dicintainya.


“Mmppphhh… Sssllrrppp mmppphhh… Mmmpphhh puas banget mbakkk… Hah… Hah… Hah” desah pak Beni ngos-ngosan lalu berdiri tegak sambil mengusap tepi bibirnya saat cairan cintanya yang baru saja ia sedot nyaris menetes keluar dari sana.


“Aaaaahh… Hah… Hah… Hah” desah Putri yang juga ngos-ngosan setelah dipuasi oleh bibir pak Beni.


'Hah… Hah… Hah… Capek banget… Baru disedot aja udah capek kayak gini… Apalagi nanti pas pak Beni mulai make titidnya…'


Batin Putri yang tak habis 'thinking' dengan hebatnya nafsu pak Beni saat memuasi dirinya.


“Saya mulai yah mbakk… Saya udah gak kuat lagi” Desah pak Beni sambil melepas seragamnya yang membuat tubuh kekarnya terlihat jelas dihadapan mata Putri.


'Seksi bangetttt !!!'


Batin Putri terpesona.


Ia tak pernah melihat pria sekekar ini sebelumnya. Dadanya yang bidang serta bahunya yang lebar ditambah dengan perutnya yang kotak-kotak. Putri hanya bisa geleng-geleng kepala. Belum lagi dengan warna kulitnya yang begitu gelap serta batang penis yang bentuknya mirip pentungan satpam itu.


Putri jadi menenggak ludah. Ia jadi semakin gugup saat akan diperawani untuk kedua kalinya, kali ini oleh pria yang sangat ia cinta.


Pinggang rampingnya sudah didekap. Matanya pun bertemu dengan mata pak Beni yang semakin berapi-api. Entah kenapa jantungnya jadi berdegup kencang. Apalagi saat bibir vaginanya merasakan adanya benda tumpul yang menyundul-menyundul bibir vaginanya.


“Siaaappp yahhh mbaaakkkk… Heennkgghhhh !!!” Desah pak Beni saat mulai menusukkan penis yang tak disunatnya ke dalam rahim hangat seorang akhwat berhijab yang sehari-harinya mengenakan cadar.


'Jleeeebbbbb !'


“Aaaaahhhh paaakkk” Desah Putri sampai mencengkram kembali sprei ranjangnya.


Penis itu dengan mulus masuk ke dalam lubang vagina Putri. Meski terlihat mulus, sebenarnya Putri sendiri mengalami kenikmatan yang begitu memuaskan. Tubuhnya terangkat. Gesekan nikmat yang ia rasakan untuk kedua kalinya membuatnya sampai merinding merasakan kepuasan yang tiada tanding. Putri memejam. Nafsunya menggelora. Ia sangat terangsang. Akhirnya di pagi hari ini, dirinya bisa mewujudkan impiannya dengan bercinta bersama seorang pria yang sangat ia cinta.


Pak Beni juga demikian, meski terlihat mulus-mulus saja. Namun ia sendiri merasakan jepitannya yang begitu merangsang gairah birahinya. Terasa penisnya seperti dipijit-pijit saat diapit di dalam lubang vagina Putri yang begitu sempit. Ia pun sejenak memperhatikan perbedaan warna kulitnya dengan warna kulit Putri.


Perpaduan kulit mereka sudah seperti energi yin & yang saja. Perpaduan kulit mereka juga seperti kopi yang dicampur dengan susu saja. Saat pinggulnya semakin maju. Terasa pijitan dinding vagina Putri semakin menjepit penisnya. Ia pun kembali menghentak pinggulnya. Terasa ujung kulupnya bergetar merasakan kepuasan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bercinta dengan akhwat yang baru saja lepas perawan memang sangat nikmat. Rasanya hampir tidak ada bedanya. Putri terasa seperti seorang perawan saja dilihat dari sempitnya lubang vaginanya.


“Oouuuuhhh mbaaakkk nikmat banget memekmuuu… Gak pernah saya bercinta dengan memek sesempit ini sebelumnya” Puji pak Beni yang membuat Putri malu.


“Aaahhhh bapakkk jugaa aahhhh jangan didorong lagiil… Titit bapak gak muat paaakkk… Titid bapak kegedean” Desah Putri yang membuat Pak Beni tersenyum.


“Hennnkgghhhhh… Ini bukan titid mbak… Tapi kontol !” Ucap pak Beni yang semakin bernafsu hingga menerjang lubang sempit Putri hingga mentok mengenai dinding rahimnya.


“Aaaahhhhh paaakkkkk… Iyyahhh jangan dorong lagi paakkk… Aahhhh kontol bapakkk gede bangeettt” desah Putri tanpa malu-malu karena sudah sangat bernafsu.


Cairan cintanya semakin menggenang di dalam lubang vaginanya. Tubuh Putri juga semakin kencang. Susunya membesar yang membuatnya jadi semakin nikmat di pandang. Pak Beni pun diam sejenak sambil memperhatikan tubuh indah Putri. Pak Beni tersenyum senang. Setelah puas menikmati pemandangan berupa gunung kembar. Ia lalu menghentakkan pinggulnya maju mundur untuk menikmati kenikmatan lainnya dari tubuh mahasiswi bercadar itu.


'Jleeebbbb… Jleeebbb… Jleeebbb !!!'


Terdengar suara pinggul pak Beni maju mundur.


“Aaaaahhhhh… Aaahhhhh… Aaahhhh paakkk” Desah Putri keenakan.


Pak Beni mulai menggerakan pinggulnya secara teratur. Penis itu terus bergerak di dalam secara maju mundur. Terasa gesekan di dinding vaginanya begitu terasa. Terasa sensasi hangat di penisnya membuat pak Beni tertawa.


“Aaahhhhh… Aaahhhh… Nikmat banget memekmu mbaakk… Aaahhh… Saya jadi pengen terus menggenjotmu mbaaakkk !” Desah pak Beni yang sudah bertelanjang bulat.


“Aaaahhh iyaahh paakkk… Bapaakkk jugaaa aahhhhhh… Tapi pelann pelannn paakkk… Aku gak kuaatt… Aaahhhh… Aaaahhhh” Desah Putri bertahan sekuat tenaga ditengah terjangan penis pak Beni yang begitu terasa.


Sesuai dengan 'image' fisiknya yang kekar. Kekuatan pak Beni terlampau besar dalam menghujami lubang vagina Putri. Penisnya yang juga besar dengan tega keluar masuk di dalam lubang vagina Putri. Penis itu terus menghujaminya. Penis itu terus menyodok kemaluannya. Penis itu terus menghukum vaginanya karena sudah berani membangkitkan nafsu birahinya.


Tangan pak Beni pun tak sanggup lagi kalau hanya diam mendekap pinggang rampingnya. Ditengah terjangan yang semakin kuat, tangannya mulai bergerak mengusapi kulit mulusnya. Perut rata Putri dielus. Terasa perutnya begitu mulus. Kulitnya juga begitu halus. Pak Beni pun tersenyum senang. Ia lalu melanjutkan perjalanannya dengan mengusapi buah dadanya.


“Aaahhhh… Aahhhh… Aaahhhhh… Kenyalnya susumu ini mbaakkk… Kenyaall sekaliii… Ouhhhh… Ouhhhhhh” desah pak Beni saat meremas susunya dengan begitu kuat.


“Aaahhhh sakkitt… Aahhh paakkk… Aaahhhh” desah Putri sambil memegangi tangan pak Beni yang meremasinya kuat.


“Aaahhhhh… Aahhhhh maaf mbakkk… Haahaha… Saya bernafsu… Saya terlampau nafsu” Ucap pak Beni sambil terus meremasi susu bulatnya.


Dikala tangannya mencengkram kuat maka jemarinya menekan-nekan puting susunya hingga membuat akhwat berkacamata itu memejam nikmat. Terkadang jemarinya juga mencubitnya dan terkadang jemarinya cuma menggelitiki puting susunya. Pak Beni benar-benar menikmati hadiah yang diterimanya. Ia terus memainkan susu bulat itu. Ia memainkannya dengan penuh nafsu.


“Aaahhhhhh… Aaahhhh… Aaahhhhhh… Ayo sini mbakk” Ucap pak Beni setelah memelankan genjotannya lalu mengajak Putri berdiri dihadapannya.


“Hah… Hah… Hah… Iyyah paakk” Jawab Putri patuh. Dengan lemas kakinya berdiri dihadapan pak Beni. Pinggangnya kembali didekap olehnya. Sisi bagian belakangnya juga ditahan olehnya. Lagi-lagi cumbuan maut diterima oleh akhwat berkacamata itu dari pejantan tuanya.


Mereka kembali berciuman. Bibir mereka kembali bercumbu. Bibir mereka saling hisap dengan penuh nafsu. Bibir mereka saling mendorong tanpa ampun. Liur pun menetes disela-sela bibir mereka. Terlihat betapa beringasnya mereka. Terlihat betapa nafsu telah menguasai diri mereka berdua.


“Hah… Hah… Hah” Desah pak Beni tanpa mengucapkan sepatah kata sambil menatap wajah Putri.


“Hah… Hah… Hah” Desah Putri yang juga tanpa mengucapkan sepatah kata sambil menatap wajah pak Beni.


Terlihat mereka saling senyum. Terlihat dua insan yang sama-sama sudah telanjang bulat itu tersenyum. Wajah mereka terlihat cerah. Terlihat tubuh polos mereka begitu indah.


“Ayo balik badan mbak… Saya udah gak sanggup lagi… Saya pengen nyodok memek mbak lagi” Ucap pak Beni ngos-ngosan.


“Iyyahhh paakkk… Aku juga… Hah… Hah… Hah” Jawab Putri patuh.


Dalam posisi berdiri membelakangi. Punggung Putri agak didorong sedikit hingga membuatnya menungging membelakangi pak Beni. Terlihat susu bulatnya jadi menggantung indah. Susunya seperti buah melon yang siap dipetik saja. Memang terdapat beberapa perbedaan dari susu yang dimiliki oleh akhwat yang jarang melakukan persetubuhan. Terlihat susu Putri masih kencang. Ukurannya juga bulat sempurna. Bentuknya agak berbeda dari punyanya Nayla yang agak lebih berisi akibat sering diremas-remas oleh seseorang. Memang sekilas masih terlihat indah punyanya Nayla. Pak Beni masih ingat betul bagaimana rupa dari susunya Nayla. Namun hal itu tidak akan mengurangi nafsunya untuk menyetubuhi akhwat yang sudah menungging dihadapannya.


Melihat Putri sudah menungging siap untuk disetubuhi. Pak Beni langsung mengambil posisi. Penisnya ia arahkan di depan pintu masuk vaginanya. Kedua tangannya juga sudah memegangi pinggul Putri. Saat pinggulnya ia dorongkan, terasa penis itu kembali masuk menyodok lubang vaginanya.


'Jleeeebbbbb !!!'


“Aaaaahhhhhhhhhh” desah mereka berdua bersamaan.


Pak Beni langsung menggempur vagina Putri tanpa ampun. Pinggulnya bergerak maju mundur dengan cepat. Pinggulnya dengan tega membombardir lubang vagina Putri tanpa pernah merasa lelah.


“Aaahhhhhh… Aaahhhhh… Aaaahhhhh” desah Putri pasrah.


Nafsunya yang kian memuncak membuatnya tak peduli dengan erangan-erangan yang dikeluarkan oleh Putri. Ia malah jadi semakin bernafsu. Ia pun menusuk-nusukkan penisnya dengan beringas. Ia menyodok vagina Putri dengan sangat ganas. Tangannya juga menampar-nampar bokong Putri karena gemas. Terlihat bokong Putri memerah. Terdengar erangannya jadi semakin bergairah.


'Plaaakkk… Plaaakkk… Plaaakkk !!'


“Aaahhhhh… Aaahhhh paakkk… Aaaahhhh” desah Putri kewalahan.


Ia pun nyaris ambruk, untungnya tangannya masih bisa bertumpu pada tepi ranjang tidurnya. Terlihat susunya bergondal-gandul dengan indah. Susunya bergerak maju mundur setelah disetubuhi tukang sapu itu dengan penuh gairah.


“Ayoooo berdiriii !!!” desah pak Beni sambil menarik kedua tangan Putri ke belakang.


“Aaaahhhhhhhhh”


Tubuh Putri jadi terangkat naik. Dadanya jadi membusung ke depan. Setiap kali pak Beni melakukan sodokan maka semakin indahlah goyangan di kedua payudaranya. Putri terlihat pasrah. Matanya memejam membiarkan vaginanya diobrak-abrik secara suka rela. Memang rasanya amat sangat nikmat. Ia tak menduga kalau bercinta bisa langsung seenak ini. Perlakuan pak Beni dan pak Urip memang berbeda. Bersama pak Beni, dirinya bisa mendapatkan kepuasan yang tidak terkira.


“Aaahhhhh… Aaahhhhh… Aahhhhh rasakannn kontoolll sayaa ini mbaakkk… Rasakaannn iniii… Rasakaannn iniii !” Desah pak Beni semakin bernafsu saat menyodok-nyodok vaginanya.


“Aaahhhh iyaaahhhhh… iyaahhhh… Yanggg keraasss… Lebiihhh keraasss ouhhhhhhh” desah Putri yang semakin menikmati persetubuhannya.


“Aaahhh iyaaahhh…. Iyaahhh mbaaakkk… Terimaaa iniii… Terimaa kontol saya iniii… Akan saya buat memek mbak becek… Akan saya buat mbak puas dengan kuatnya sodokan saya” Ucap pak Beni memperkuat sodokannya.


“Aaahhhh iyaahh paakkk… Aahhhh keras bangeett… Kuat banget sodokan bapaakkk… Aaahhhh… Aaahhhhh” Jerit Putri semakin pasrah.


Ditengah sodokan yang semakin kuat, kedua tangan Putri tiba-tiba dilepas oleh pak Beni hingga membuat akhwat berkacamata itu ambruk ke ranjang tidurnya. Putri pun jatuh tersungkur diatas ranjang tidurnya. Kelamin mereka yang tadi bersatu jadi terlepas. Terlihat Putri tak berdaya diatas ranjang tidurnya.


“Hah… Hah… Hah” desah Putri ngos-ngosan.


“Ayo kita akhiri sekarang mbak” Ucap pak Beni yang tiba-tiba menaiki tubuh Putri lalu merapatkan kedua kakinya. Nampak lubang vagina Putri semakin menyempit. Pak Beni pun naik lalu memasukan penis tak disunatnya lagi. Saat penis itu masuk menembus liang senggama Putri. Terasa tusukannya begitu terasa yang membuat Putri sampai harus menggigit bantal yang berada di dekatnya.


“Mmpphhhh paakkkkkkk” Jerit Putri dengan keras.


Pak Beni yang sebenarnya sudah tak kuat lagi langsung jatuh menindihi Putri. Dada bidangnya menempel pada punggung mulusnya. Kedua tangannya kembali mendekap jemari Putri lalu merentangkannya ke kanan juga ke kiri.


Pinggulnya mulai kembali bergerak. Pinggulnya bergerak secara naik turun untuk menggempur rahim dari bidadari berkacamata itu.


“Aaahhhhh… Aaahhhhh… Nikmatnyaaa… Nikmatnyaaa memek akhwat bercadar sepertimu mbaaakkk” desah Pak Beni sambil menyodok rahim Putri.


“Aaahhhhh… Aaahhhh iyaahhh paakkk… Kontol bapak juga enaaakk… Terus setubuhi aku paakkk… Terusss puasi tubuhku” Ucap Putri tanpa malu-malu lagi akibat terlalu bernafsu.


“Aaahhhh… Aahhhhh… Pasti mbaakkk… Pasti… Akan saya pejuhi rahimmu agar mbak bisa hamil dari sodokan saya iniii” Ucap pak Beni penuh nafsu yang membuat Putri semakin bergairah.


“Aaahhhh iyaahhh… Iyaahhh… Kalau aku hamil apa bapak mau bertanggung jawab ?” Iseng Putri bertanya.


“Aaahhh pastiii mbaakkk… Saya akan bertanggung jawab… Saya akan menikahimu agar saya bisa menggenjotmu lagi dan lagi… Akan Saya ubah dirimu menjadi mesin pembuat anak nanti” Ucap pak Beni dengan penuh nafsu.


“Aaahhhhh… Kalau gitu hamili aku paakkk… Aku siappp… Aku pasrah agar aku bisa nikah dengan bapak” Ucap Putri yang sudah dibutakan oleh nafsu dan cintanya. Ia tak memperdulikan masa depannya. Yang ada dipikirannya hanyalah kepuasan dan hidup bersama pria yang dicintainya. Ia pun rela melakukan apa saja termasuk berubah menjadi mesin pembuat anak seperti yang sudah pak Beni ucapkan sebelumnya.


“Kalau gitu terima ini… Terima lagiii… Heenkgghhh… Hennkgghhh !!” Desah pak Beni menyodokkan penisnya lebih kuat lagi.


“Aaahhhh… Aahhhh… Iyaahhhhhh” Desah Putri semakin pasrah.


Hampir lima menit mereka bersetubuh dalam posisi itu membuat diri mereka tak sanggup untuk menahan diri lagi. Nafsu mereka sudah memuncak membuat rahim mereka sudah siap untuk menembak. Penis pak Beni mulai berdenyut pelan setelah dijepit berulang kali oleh lubang vagina Putri. Rahim Putri juga mulai berdenyut setelah disodok berulang kali oleh ujung kulup penis pak Beni.


Tubuh mereka semakin bergairah yang membuat tubuh mereka jadi semakin indah. Tubuh Putri mengencang dengan susu bulatnya yang semakin membesar dan kenyal. Tubuh pak Beni juga semakin kencang yang membuat penisnya semakin keras dan kuat dalam menghujami rahimnya.


Pak Beni lalu memiringkan tubuhnya sambil menarik tubuh betinanya. Putri pun disetubuhi dalam posisi miring ke samping. Tangan kanannya tertindihi tubuhnya. Tangan kirinya tergeletak begitu saja diatas perutnya. Nampak tangan pak Beni menyelinap masuk ke depan untuk mengelusi payudara bulatnya. Pak Beni terus menggempur. Penisnya dengan kencang bergerak secara maju mundur.


“Aaahhhhh… Aaahhhhh… Saya gak kuat lagiii… Saya akan keluar sebentar lagiiii” Desah pak Beni tak tahan lagi.


“Aaahhhhhh aku jugaa paakkk… Aku mau pipiss… Rasanyaaa aku mau pipis paaakkk” Desah Putri merem melek keenakan.


Terlihat pinggul pak Beni semakin beringas. Sodokannya semakin ganas. Ditengah deru nafasnya yang terengah-engah. Remasan tangannya semakin kuat. Susu Putri teremas dengan begitu nikmat.


Semua rangsangan itu membuat diri mereka semakin tak sanggup lagi. Tubuh mereka pun menegang. Nafas mereka semakin berat. Terasa cairan cinta mereka mulai mendekati lubang kencing masing-masing.


Pak Beni terus menggempur. Putri pasrah digempur. Dengan satu sodokan yang kuat membuat cairan cinta mereka keluar menyembur.


'Ccrrrooottt… Crroott… Ccrroottt… !!!!”'


“Aaaahhhhhh keellluuaaarrrr !!!” Desah mereka berdua secara bersamaan.


Tangan kiri pak Beni mencengkram susu Putri dengan sangat kuat. Bibirnya dengan ganas mencumbu tengkuk lehernya hingga menyisakan noda memerah disana. Pinggulnya pun terus menyodok maju. Meski sudah mentok, pinggulnya masih ia dorong-dorong hingga dinding rahim Putri tersodok oleh ujung kulup penis itu.


Mata mereka sama-sama merem melek keenakan. Nafas mereka sama-sama berat setelah olahraga ranjang secara bersama-sama. Nafsu mereka akhirnya terlampiaskan. Rasanya sungguh puas. Mereka berdua akhirnya bisa sama-sama menuntaskan rasa penasaran mereka.


“Aaahhhhhhh… Aaahhhhh nikmat sekali… Hah… Hah” desah pak Beni setelah puas menyetubuhi.


“Hah… Hah… Hah” desah Putri tak berkata-kata.


'Akhirnyaaa… Akhirnyya selesai jugaa… Hebat banget pak Beni bisa bertahan selama iniii… Duhhh nanti kalau aku hamil beneran gimana ? Moga aja gak dulu lah yah… Aku mesti kuliah… Aku juga mesti menikah agar orang tuaku tidak kecewa padaku karena hamil diluar pernikahan… Apa kata mereka kalau aku sampai hamil duluan ? Moga aja gak hamil lah yah sekarang…'


Batin Putri yang sebenarnya was-was dengan sperma pak Beni yang ada di rahimnya.


Setelah birahi mereka terlampiaskan. Pak Beni pun menarik lepas penisnya hingga lelehan sperma yang baru dibuangnya mengalir deras melalui lubang vagina Putri. Spermanya sangat banyak. Sperma itu pun jatuh membasahi sprei ranjang kosan Putri.


“Hah… Hah… Mbak gapapa ? Beneran mbak gapapa kalau nanti mbak hamil ?” Tanya Pak Beni was-was dengan nasib akhwat bercadar itu.


“Hah… Hah… Gapapa pak… Gak usah dipikirin… Makasih yah, udah memuasiku” Ucap Putri sambil tersenyum.


“Justru saya yang harusnya berterima kasih… Gak sepantasnya pejuh saya ada di dalam rahim akhwat secantik mbak” Ucap pak Beni merendah.


“Hihihih pantas kok… Bapak hebat… Sudah sepantasnya bapak yang jago memuasi menanam benih bapak di rahim aku” Ucap Putri malu-malu.


“Hah… Hah… Hah… Sekarang apa ? Mbak mau istirahat kah ?” Tanya Pak Beni sambil memberani kan diri memeluk Putri.


Putri hanya geleng-geleng kepala. Ia malah bangkit ke posisi duduk lalu melepas hijabnya juga ikatan rambutnya. Pak Beni pun terkejut hingga berbaring dalam posisi terlentang menatap Putri.


“Bapak masih ada waktu kan ?” Tanya Putri kembali berbaring sambil mengusap dada bidang pak Beni.


“Hah… Hah… Ada kok mbak, kenapa ?” tanya pak Beni tersenyum sambil memandang mata Putri.


“Tolonggg ajariii akuuu” Ucap Putri malu-malu sambil mendekap ujung kulup dari penis pria tua itu.


“Ajari ?” Tanya pak Beni kebingungan.


“Heeem” Jawab Putri mengangguk malu-malu.


“Aaahhhh… Ajari apa mbak ?” Tanya pak Beni mulai mendesah saat tangan Putri dengan nakalnya mulai mengelusi penis yang baru memuntahkan spermanya itu.


“Ajari aku, bagaimana caranya tuk memuasi bapak… Hihihihi” Ucap Putri sambil memejam lalu memajukan wajahnya tuk mencumbu pak Beni.


Pak Beni pun ikut memejam lalu memajukan bibirnya tuk menerima cumbuan Putri. Mereka saling cumbu sejenak. Bibir mereka bersentuhan. Bibir mereka juga saling apit sebelum mereka menyudahinya.


“Kalau gitu ayo naiki saya” Ucap pak Beni yang membuat Putri tersenyum malu-malu.


“Begini ? Mmpphh” desah Putri saat mulai menunggangi penis pak Beni.


Pak Beni tidak langsung berbicara. Tapi ia menatap sejenak keindahan tubuh Putri yang kali ini sudah tidak tertutupi apa-apa. Hanya kacamata serta 'stocking' saja yang melekat pada tubuh indahnya. Susu bulatnya terlihat. Rambut panjangnya yang tergerai indah juga terlihat. Pak Beni perlahan mulai kembali bernafsu. Penisnya yang tadi melemas mulai kembali mengeras setelah dijepit oleh rahim bidadari yang tersesat itu.


“Yaahhhh seperti itu… Ayo gerak mbak… Ayo naikan tubuh mbak… Anggap saja mbak sedang menunggangi banteng liar yaitu saya” Ucap pak Beni yang membuat Putri malu-malu sendiri.


Putri pun mulai beraksi. Ia menaik turunkan tubuhnya. Terasa dinding vaginanya tergesek oleh penis yang mulai mengeras itu. Payudaranya bergondal-gandul. Putri yang sudah lepas hijab dan masker itu menatap mata pak Beni dengan penuh cinta.


“Aaahhhhh… Aaahhhh… Aaahhh bapaaakkk” desah Putri tersenyum senang.


Mereka pun langsung memulai ronde kedua mereka tanpa mengistirhatkan tubuhnya terlebih dahulu.


*-*-*-*

Setengah jam telah berlalu semenjak diri Nayla meminum obat ramuannya. Dengan menggunakan pakaian yang masih sama seperti apa yang tadi ia kenakan saat membeli sayur di warung mang Yono, Nayla melanjutkan aktifitasnya dengan memasak untuk persiapan makan siangnya. Ia berencana ingin membuat menu makan siang yang sederhana. Lagipula tidak ada orang lain di rumah ini selain dirinya sendiri. Pak Urip ? Untuk apa menyiapkan makanan tuk pria bejat sepertinya ? Itu yang ada di benak Nayla sekarang. Ia pun terus memotong satu buah kentang yang baru dibelinya dalam posisi memanjang.


Hah, kira-kira segini kebanyakan gak yah ? Tanya Nayla setelah memotong setengah dari kentang tersebut.


Hmm coba ah aku cek resepnya lagi… Loh catetannya dimana yah ? Ah iya, kan ada di dompet ! Loh dompetku juga dimana yah ? Apa mungkin ketinggalan di kamar ? Mau ke kamar nanggung, yaudah ah dikira-kira aja kata Nayla yang lalu menyimpan sisa potongan kentang itu ke dalam kulkas.


Nayla yang saat itu berencana untuk memasak 'french fries 'mulai membumbui potongan kentang itu dengan bumbu yang ia ketahui. Ia mengingat-ngingat resep yang pernah ia baca. Lalu ia memanaskan minyak lalu menggorengnya hingga berwarna coklat keemasan.


Akhirnya, jadi juga ucap Nayla tersenyum senang.


Setelah meniriskan kentang yang ia goreng ke atas piring, tiba-tiba sesuatu yang tak asing kembali ia alami.


'Eh, lagi ?'


Batinnya saat payudaranya agak terasa gatal yang membuatnya ingin meremas sesaat.


'Tahann Nayyy… Jangan diladenin… Biarin aja, nanti juga hilang sendiri kok !'


Batinnya mencoba bertahan.


Tapi sialnya rasa gatal itu malah makin menjadi. Tangan Nayla jadi tak sanggup untuk menahan diri. Tangan kanannya meremas dada sebelah kiri. Baru sekali ia meremasnya, ia sudah merasakan kenikmatan yang amat sangat. Mata Nayla sampai memejam. Ia tak sanggup membukanya akibat terlalu menikmati remasannya.


“Mmmppphhhh ini gawaatt… Kenapa mulai kerasa lagi ?” Lirihnya saat berdiri diam di dekat kompor di dapurnya.


Jemari kanannya pun menggelitiki putingnya dari luar kaus yang ia kenakan. Rasanya nikmat. Jemarinya kembali meremasnya. Mulutnya sampai membuka penuh kepuasan. Tangan kirinya sampai ikut-ikutan. Kedua tangannya jadi meremas kedua payudara bulatnya secara bersamaan.


Saking nikmatnya, tubuhnya berjalan mundur sendiri hingga sampai di pintu kulkas di area dapur rumahnya. Sambil bersandar pada pintu kulkas itu, ia meremasi kedua susunya dengan penuh nafsu. Ia juga menggoyangkan susunya naik turun. Ia kembali meremasnya lalu menekan-nekan putingnya sendiri. Wajahnya terlihat menggairahkan. Ia benar-benar binal saat tak kuasa menahan rasa gatal pada tubuh indahnya.


“Aaahhhh nikmat bangeett… Aaaahhhh kenapa lagi sih ini ! Ouhhhhh enak bangett rasanyaaa… Mmpphhhh” desah Nayla saat meremasi kedua susunya sendiri.


Kenikmatan itu mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Tidak hanya di payudaranya saja, tapi juga mulai menjalar ke arah vagina sempitnya.


“Ouuhhhh memekku… Mmpphhh gatelll bangeettt” Desah Nayla saat menurunkan tangan kanannya untuk menekan-nekan vaginanya dari luar celananya.


Nayla pun melangkah maju. Matanya merem melek menahan kenikmatan yang ia dapatkan. Saat vaginanya semakin terasa gatal, ia menjerit keras yang dibalas dengan tekanan jemarinya ke arah bibir vaginanya.


Aaaaaaaahhhhhhhh desah Nayla sampai nyaris terjatuh.


Untungnya tangan satunya sigap dengan bertumpu pada tepi meja makan dihadapannya. Ia pun menunduk lalu tangan kanannya jadi semakin kuat dalam menekan-nekan bibir vaginanya.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Aaahhhh” desahnya hingga pinggulnya bergoyang menahan kenikmatan yang ia rasakan.


Nafsu yang semakin membara membuat tubuhnya mengencang. Kedua susu bulatnya juga membesar. Nampak susunya menonjol dari balik kaus yang ia kenakan. Vaginanya juga semakin basah. Jemarinya jadi semakin bergairah untuk menekan-nekan kemaluannya dari luar celananya.


“Aaaahhhhhh kenapa inii ? Mmpphhh kenapa tubuhku begini lagi ?” Lirihnya sambil terus meremasi dadanya juga menekan vaginanya dari luar celana yang ia kenakan.


Tiap kali susunya teremas, kenikmatan yang ia rasakan semakin dahsyat. Tiap kali vaginanya ditekan, tubuhnya sampai merinding saat merasakan adanya setruman kecil yang merangsang vaginanya. Nafasnya pun kian memberat. Ia yang sebelumnya baik-baik saja tiba-tiba menjadi ngos-ngosan seperti baru saja melakukan olahraga pagi.


“Mmppphhhh tolloonggg ! Ada apa dengan diriku ini !!!” Lirihnya sambil duduk di kursi dekat meja makan lalu mengangkangkan kakinya lebar-lebar.


Matanya memejam sambil duduk menyandar pada sandaran kursi dibelakangnya. Tangan kirinya meremas payudara bulatnya yang semakin kenyal. Tangan kanannya bahkan sampai masuk ke dalam celananya lalu menekan biji klitoris yang membuatnya kejang-kejang penuh kenikmatan.


“Aaaahhhhhhh… Aaaahhhhhh enakk bangett… Aaahhhhh” desah Nayla semakin mendesah.


Ia yang tak kuat lagi mulai mengangkat naik kaus berlengan panjangnya. Kedua susunya mulai terlihat meski terhalangi behanya. Ia lalu melepas behanya yang membuat susunya terlihat dengan begitu jelas. Jemarinya jadi kian bebas untuk memainkan payudara bulatnya.


Terlihat Nayla menggelitiki puting sebelah kirinya. Lalu menekannya. Lalu menariknya. Lalu mencubitnya hingga dirinya kembali menjerit merasakan kenikmatan saat dicubit.


Nayla juga mulai melepas kausnya karena tidak tahan lagi. Ia sudah bertelanjang dada. Dari atas ke bawah, ia tak tertutupi oleh apa-apa. Akhwat yang sehari-harinya terbiasa mengenakan hijab beserta cadar itu kini sedang bertelanjang dada memamerkan susu kenyalnya juga rambut pendek sebahunya. Matanya memejam nikmat saat kedua tangannya meremasi kedua susunya dengan kuat.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh tolloonggg… Tolongg akuuu… Aaaahhhh” desah Nayla yang merasa tak kuat lagi.


Ia akhirnya melepaskan satu-satunya pertahanan terakhirnya yakni celana trainingnya berikut celana dalamnya. Nayla akhirnya bertelanjang bulat. Ia tak mengenakan apa-apa lagi. Tak ada satupun kain yang menutupi keindahan tubuhnya saat ini.


“Aaaahhh nikmat sekalliii… Aahhhhhh aku gak kuat laggiii… Aku butuh sesuatu untuk melampiaskan nafsuku… Apa itu ? Apa yang aku butuhkan untuk memuaskan nafsuku ?” Ucapnya semakin gelisah.


“Oh yah, terong yang baru aku beli !” Ucap Nayla saat teringat terong yang baru saja ia beli dari mang Yono.


Ia dengan telanjang bulat berjalan menuju kulkasnya. Ia lalu berjalan menuju sofa ruang tamu sambil membawa terong itu menggunakan tangan kanannya. Sesampainya ia disana, ia langsung mendudukkan tubuh polosnya lalu melebarkan kakinya lebar-lebar.


“Aaahhhhhhh” desah Nayla saat terong yang baru saja keluar dari kulkas itu disentuhkan ke bibir vaginanya.


Ia lalu mendorong terong itu ke dalam. Terong itu kian membelah bibir vaginanya hingga semakin masuk ke dalam. Terasa sensasi dingin disana. Nayla pun mendesah. Ia menikmati masturbasinya menggunakan terong yang baru saja dibelinya.


“Aaahhhhh nikmat bangeett… Mmppphhh yaahhh… Mmppphhh” desah Nayla yang langsung mulai menggerakan terong itu keluar masuk secara perlahan.


Sensasi dingin dari terong yang keluar masuk di dalam vaginanya itu membuatnya seperti sedang ditusuk menggunakan kontol yang memiliki rasa mentol. Ada sensasi semriwing di dinding vaginanya yang membuatnya tak bisa berhenti untuk menggerakkan terong tersebut. Akibatnya ia mulai mempercepat gerakan terong itu. Gerakannya semakin cepat yang membuatnya jadi semakin terasa nikmat. Ia pun tak sanggup untuk menahan diri lagi. Ia pun memutuskan untuk melampiaskan semuanya mumpung tidak ada orang lain di dalam rumahnya.


“Aaaahhhhhh… Aaaahhhhhh… Aaahhhhhh” desah Nayla sepuas-puasnya.


Dikala tangan kanannya menggerakkan terong di dalam vaginanya maka tangan kirinya memainkan payudaranya dengan meremas-remasnya juga memelintir putingnya. Kedua kakinya jadi semakin mengangkang. Desahannya jadi semakin lantang.


“Aaahhhhh… Aaahhhh paakkk… Aaahhhh pakk Beniiii” desah Nayla yang justru memejam membayangkan pak Beni.


Sosok kekar yang selalu menjadi tempat pelampiasan nafsunya itu kembali hadir di dalam benaknya. Meski tadi ia mencoba menjauh darinya tapi ia kini sadar bahwa dirinya sangat membutuhkan sosoknya. Ia pun rindu akan belaian tangannya pada tubuh indahnya. Ia rindu akan sodokan penuh kenikmatan dari penis kekarnya. Ia juga rindu akan ucapannya yang berjanji akan menyetubuhinya secara terus menerus tanpa henti.


“Aaaahhhhh sodok memek aku paaak… Aahhh yahh seperti itu… Aahhhhh lebih kuat lagii… Ayoo sodok aku yang kerasss paaakkk” desah Nayla yang semakin binal ketika dikendalikan oleh hawa nafsunya.


Gerakan terongnya pun jadi semakin cepat. Terdengar bunyi cipratan air dari dalam vaginanya.


“Aaaahhhh… Aaahhh paakkk… Mmpphhhh paaakk Benii lagii apa yaahhh ??? Aku VC ahhhh !!” Desah Nayla yang saking sangeknya hingga ingin mengajak pak Beni melakukan 'video call' lagi. Padahal dirinya sedang telanjang bulat. Padahal ada terong yang sedang nyungslep di dalam vaginanya. Tapi ia tetap nekat melakukan panggilan video dengan tetangga kekarnya. Ia mengambil hape yang tergeletak di meja ruang tamunya. Ia sudah memencet tombol 'video call'. Suara mendengung pun keluar dari dalam telponnya.


'Tuuttt…. Tuuuttt…. Tuutttt !!!'


“Ayo angkaat paakk… Angkaaat…. Mmppphhhh” Ucap Nayla sambil terus menggesek-gesek dinding vaginanya menggunakan terongnya.


“Cepeettt paakkk angkaat… Aku butuh kontol bapaakkk… Aku butuh kata-kata kotor dari bapaakkk” Desah Nayla yang sudah sangat terangsang.


Sambil menunggu, ia kembali menaruh hapenya di meja ruang tamu. Ia kembali menyodok vaginanya juga meremasi payudaranya. Posisinya yang duduk menghadap ke pintu masuk membuatnya jadi terbayang sesuatu.


'Gimana kalau tiba-tiba pak Urip muncul dari balik pintu terus mendapatiku lagi kayak gini ? Aku pasti akan diperkosa habis-habisan… Aku pasti bakal dihukum dengan kenikmatan yang begitu memuaskan… Aaahhhh kenapa aku malah pengen diperkosa pak Urip lagi sihhh ? Duhhhh gawaatt bangettt… Otakku makin kotor gara-gara nafsuku ini ! Cepaaat siapa saja tolong puasi akuuu !! Tolongg hilangkan nafsu ini dari tubuhkuuu !!!'


Batin Nayla yang sudah tak peduli lagi asal bisa mendapatkan tempat pelampiasan untuk memuaskan nafsu birahinya.


'Mmpphhh pakkk Beni mana sih ? Sesibuk apa sih dia sampai gak menjawab panggilanku ? Bukannya ia sudah berjanji akan menjadi pemuas nafsuku ?'


Batin Nayla kesal saat pak Beni tidak menjawab panggilannya.


*-*-*-*

'BEBERAPA SAAT SEBELUMNYA


“Aaaaahhhh paakkk… Aahhhh terusss… Teruss yang keraas paakkk… Aaahhhh” Desah Putri yang terkapar tak berdaya diatas ranjang tidurnya.


“Aaahhhh iyaahh mbak Putt… Aaahhh nikmat sekaliii… Terima ini… Terima sodokan saya iniii !” Desah pak Beni yang sedang asyik menggempur tubuh mahasiswi berkacamata itu.


Seketika dering hapenya berbunyi. Pak Beni pun menoleh sejenak lalu kembali menatap Putri. Posisi hapenya yang sedang telungkup membuatnya tak mengetahui siapa nomor yang sedang menghubunginya saat itu. Ia membiarkan teleponnya terus berbunyi. Ia lebih memilih fokus memuasi Putri. Kapan lagi dirinya bisa mendapatkan kesempatan seperti ini ?


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Itu hapenya paakk… Mmpphhh bunyiii” desah Putri sambil menatap pak Beni.


“Aaahhh…. Aaahhhh biarkan saja mbaakkk… Memuasimu adalah tugas utama saya” Desah pak Beni membalas tatapan Putri.


Putri pun tersenyum. Pak Beni juga. Tanpa memperdulikan suara dering telepon yang terus berbunyi. Mereka terus bercinta, bahkan mereka juga berciuman agar diri mereka bisa fokus pada persetubuhan yang sedang mereka lakukan.


“Mmppphhhh… Mmpphhhhhh” desah mereka berdua secara bersamaan.


*-*-*-*

Ihhh pak Beni mana sihhh... Lagi dibutuhin malah gak ada... Mmpphh... Mmpphhh Ucap Nayla kesal yang kemudian melampiaskannya pada lubang vaginanya.


Meski Nayla gagal menghubungi pak Beni untuk meminta kepuasan. Ia tak berhenti dalam mengocok vaginanya untuk mencari kenikmatan. Bahkan kocokannya malah semakin menjadi. Kocokannya dipercepat. Bahkan ia sengaja mendorong terongnya lebih dalem lagi hingga keseluruhan terong itu nyaris terlahap di dalam vaginanya. Dikala ujung terong itu menyundul dinding rahimnya. Mulutnya langsung membuka lebar. Matanya terbuka sejenak sebelum kembali menutup untuk menikmati rangsangannya. Nayla sudah benar-benar binal sekarang. Penampilannya jauh berbeda dengan janjinya yang ingin berhijrah menjadi Nayla yang dulu lagi.


“Aaaaahhhhhhh… Aaahhhhh… Aaahhhhh” Desah Nayla sambil mengangkat kedua kakinya ke sofa yang ia duduki saat ini.


Diam-diam ketika sedang asyik-asyiknya bermasturbasi sambil memejam. Terdapat seseorang yang mengintip dari sela-sela pintu masuk yang rupanya tidak tertutup rapat. Sesosok itu pun terkejut melihat binalnya sesosok wanita telanjang yang sedang bermasturbasi di dalam. Ia pun tak menyangka. Meski agak ragu, ia menyadari bahwa tidak ada wanita lain yang tinggal di rumah ini selain wanita yang sehari-harinya mengenakan cadar itu.


MEC8M7T

https://thumbs4.imagebam.com/6b/f4/35/MEC8M7T_t.jpeg   6b/f4/35/MEC8M7T_t.jpeg

'MULUSTRASI NAYLA TELANJANG


'Itu mbak Nayla yah ? Wow !'


Batinnya terpana.


Diam-diam tanpa sepengetahuannya, sesosok asing itu menyelinap masuk sambil mengelusi penisnya yang mulai mengeras. Dirinya menjadi deg-degan menyadari ia semakin dekat dengan wanita binal yang sedang bermasturbasi itu.


“Aaaahhhhhh… Aaahhhhhh… Aahhhh enak bangett… Terusss sodokk paakk… Aaahhhh” desah Nayla tanpa menyadarinya.


Sosok misterius itu semakin mendekat. Ketika sosok itu sudah berada di depan Nayla, sosok itu langsung melancarkan aksinya yang dulu sempat tertunda.


“Aaaahhhh teruss… Teruss pakk… Iyaahhhhh… Aakuuu mmpphhhh” Desah Nayla tertahan saat mulutnya disekap oleh seseorang. Ia terkejut. Jantungnya berdegup kencang. Matanya pun langsung membuka lebar. Ia tak menyangka ada orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya.


MEBE9O7

https://thumbs4.imagebam.com/31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg   31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg

'Manggg Yoonnooo !!'


Batin Nayla terkejut.


“Huahahaha… Kan, sudah saya duga… Saya sempat curiga kenapa mbak Nayla beli terong segede ini dari saya” Ucap Mang Yono tersenyum.


“Mmppphhhh… Mmmppphh” desah Nayla tertahan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia seperti ingin bilang kalau ini tidak seperti apa yang tukang sayur itu ucapkan. Namun ia tak bisa berkata apa-apa saat mulutnya ditahan oleh tangan mang Yono dari depan.


“Huahaha saya sempet nyesel dulu karena menyia-nyiakan kesempatan itu… Sekarang kesempatan itu kembali datang… Saya gak akan menyia-nyiakannya lagi… Saya akan menyetubuhimu… Saya akan menggenjotmu untuk memejuhi memekmu !” Ucap mang Yono dengan penuh nafsunya sambil menurunkan resleting celananya.


Nampak penis berwarna hitam itu sudah keluar dari dalam celananya. Pria tambun yang memiliki kumis tebal itu pun bersiap untuk menggantikan terong yang sedari tadi memuasi rahim akhwat telanjang itu.


“Tunggu maangg… Ini bukan seperti yang mamang kira… Aku… Akuuuu aaaaahhhhhh” Desah Nayla saat terong itu dicabut lalu digantikan dengan penis besar yang langsung melesat cepat ke dalam.


'Jleeebbbbb !'


“… Maaaannnggggggg !!!! Jerit Nayla dengan manja.


Aaahhhh mantaappnyyaaaaa desah mang Yono setelah menancapkan penis tak bersunatnya.


Penis itu dengan tega langsung masuk mengenai titik terdalam dari rahim Nayla. Nayla sendiri sampai kejang-kejang dibuatnya. Vaginanya yang begitu gatal tiba-tiba digaruk oleh penis hitam berhoodie yang ukurannya tidak 'friendly'. Penisnya sungguh besar. Seperti badan dari tukang sayur itu yang gempal. Penis tukang sayur itu juga gempal dengan kulup yang menutupi ujung gundulnya.


Hah... Hah... Hah desah mereka berdua langsung ngos-ngosan.


Huahahah... Hah... Hah... Puasnyaaa... Niat saya tadi yang mau ngembaliin dompet mbak yang ketinggalan eh malah dibalas dengan kenikmatan yang sangat memuaskan... Mbak lupa yah tadi pas ngeluarin uang dari dompet, mbak malah naruh dompet mbak di gerobak saya ? Atau jangan-jangan itu undangan agar saya bisa memuasi mbak ? Tanya mang Yono ngos-ngosan.


'Dompet ? Jadi dompetku tadi ketinggalan di gerobak mang Yono ?'


Batin Nayla terkejut.


Aaaahhhh... Ituu... Ituuu... Ucap Nayla tak bisa berkata-kata karena saking lemasnya.


Kalau gitu saya anggap itu sebuah undangan yah, mbak... Hennkgghhh kata mang Yono yang langsung menggerakkan pinggulnya karena tak tahan lagi dengan kenikmatan yang ingin ia dapatkan.


“Uuuuhhhhhhh maangggg !!!” Desah Nayla dengan sangat manja.


Penis mang Yono langsung bergerak dengan kecepatan penuh. Wajahnya bahkan sampai belepotan peluh. Ia begitu sesumbar untuk memenuhi rahim Nayla dengan pejuh. Tampak kilatan matanya berapi-api. Ia sungguh bernafsu untuk menyetubuhi sang bidadari. Matanya merekam setiap senti lekuk tubuhnya yang begitu seksi. Ia benar-benar 'happy'. Akhirnya impiannya terwujud untuk menyetubuhi sang bidadari.


Aaahhhh... Aahhhh... Aaahhhh mantaappnyaaa... Mantaapp sekali jepitan memekmu mbaaakkk !! Desah mang Yono dengan sangat puas.


Uhhh maannggg iyyaahhh... Aahhh pelaannn... Pelaann maannggg desah Nayla terkejut akan besarnya nafsu mang Yono.


Meski demikian, akhirnya ia dapat melampiaskan nafsunya melalui sodokan penis tukang sayur itu yang begitu bernafsu. Nayla yang sedang duduk di sofa dalam posisi mengangkang hanya bisa pasrah. Akhwat cantik yang sudah bertelanjang bulat itu hanya mampu membiarkan tukang sayur yang masih berpakaian lengkap itu menyetubuhinya dengan penuh kepuasan.


Mang Yono terus memegangi pinggulnya. Tukang sayur itu terus menggempur sambil menikmati goyangan dada Nayla yang begitu makmur.


Aaaahhhh... Aaahhhh... Aaahhh maanngggg desah Nayla yang mulai mendapatkan adanya tanda-tanda orgasme.


Mang Yono pun tersenyum. Ia tak menduga bisa membuat akhwat cantik yang sehari-harinya mengenakan cadar puas dengan menggunakan penis saktinya.


Aaahhhh... Aahhhh.... Aaaahhh... Puas ? Saya juga... Gara-gara terlalu bernafsu saya jadi mau keluar pas memuasimu mbak... Huahahaha tawa mang Yono yang juga mulai merasakan adanya tanda-tanda.


Ketika nafsu sudah memuncak. Tak ada alasan untuk menahan diri lebih lama lagi, mang Yono segera bertindak. Genjotannya yang tadi sudah kuat kini diperkuat lagi. Tangannya yang tadi mendekap pinggangnya kini naik mendekap payudaranya. Terasa kekenyalan disana. Terasa kesempurnaan yang membuat nafsu mang Yono tak tertahankan.


Aaahhhh... Aahhhh gilaaaa... Aaahhh gak nyangka saya bisa memuasi akhwat seseksi ini... Huahahha tawa mang Yono yang begitu bahagia.


Aaahhhh... Aaahhh... Aaahh manggg... Mamanggg aaaahhhh desah Nayla semakin keras hingga matanya memejam menahan genjotan tukang sayur itu yang semakin ganas.


Pinggul mang Yono terus bergerak maju mundur. Ia dengan penuh tekad terus menggempur. Tak ada alasan baginya untuk mundur. Ia tidak ingin impiannya hancur. Ia ingin terus menyodok rahimnya hingga membuat spermanya mengucur.


Aaaaahhhhh... Aaahhhh... Aaaaahhhh desah mereka berdua dengan sangat kencang.


Sofa yang Nayla duduki sampai bergoyang ditengah gempuran mang Yono yang semakin kencang. Ia terus mengganyang Nayla. Ia terus membuat akhwat seksi itu berteriak dengan penuh kepuasan.


Aaaahhhh mamaanggg... Aaahhhh... Aahhhh sebentarr lagiiii !! Jerit Nayla yang membuat mang Yono tertawa.


Aaahhhh samaa... Samaa mbaakk... Saya jugaaa... Saya udah gak tahan lagi tuk menghamilimu mbaaakkk... Hennkgghhh !!! Desah mang Yono dengan penuh nafsu.


Nafsu mereka sudah mendekati puncak. Terasa kelamin mereka sama-sama berdenyut cepat. Mang Yono merasakan penisnya terjepit. Nayla merasakan vaginanya menyempit. Mereka sama-sama sudah tak kuat. Mereka sama-sama mengharapkan kepuasan yang sebentar lagi akan mereka dapatkan.


Aaahhhh... Aaahhhh... Akhirnyaaa... Akhirnyaaa mbaakk... Saya gak kuat lagiii... Sayaa gak kuatt lagiiii jerit mang Yono ngap-ngapan.


Aaahhh maanggg saya jugaaa... Saya jugaa maanggg... Uhhhh desah Nayla pasrah.


Aaahhh yahhhh... Aahhh yaahhh... Aaahhhh dikit lagiii... Dikitt lagiii... Hennkgghhh desah mang Yono yang langsung mementokkan ujung kulupnya lalu mendongakkan wajahnya naik ke atas.


Aaaahhhh maannggggg jerit Nayla yang membuat vaginanya semakin berdenyut kencang. Nayla tak kuat lagi. Akhirnya gelombang cintanya pun menyembur deras meski terhalang oleh penis tak bersunat itu.


Kelluaarrr !!! Jerit Nayla duluan.


Aaaahhh saya jugaaa jerit Mang Yono menyusul tak lama kemudian.


'Crroottt... Ccrrrooott... Ccrroootttt !!!'


Lagi, vagina Nayla kembali diisi oleh sperma pejantan tua lagi. Ia benar-benar tak menyangka dirinya yang menjaga pola hidupnya lagi-lagi dipejuhi oleh pejantan tua lagi. Kalau ia diperkosa seperti yang pak Urip lakukan, mungkin ia tak begitu menyesal dengan alasan karena dirinya tak bisa melawan. Tapi kali ini ? Dirinya yang justru bertingkah hingga membuat mang Yono berkesempatan untuk menikmati tubuhnya.


Nayla pun hanya bisa merem melek penuh kepuasan. Tubuhnya lemas. Ia tak bisa melakukan apa-apa selain bernafas.


Hah... Hah... Hah... Puasnya saya mbak... Huahaha... Tapi sayang, saya terburu-buru... Saya jadi kurang menikmati persetubuhan kali ini kata mang Yono sambil tersenyum puas menatap wajah cantik Nayla.


Hah... Hah... Hah Nayla pun hanya bisa mendesah.


Pikirannya kalut. Ia benar-benar tak habis pikir dengan perbuatannya kali ini. Bahkan saat pak Urip & pak Beni tidak ada disekitarnya pun, dirinya masih bisa berzina dengan tukang sayur yang sudah lama ia kenal. Memang rasanya memuaskan tapi ia benar-benar kesal dengan jalan takdir yang harus diterimanya.


'Aku ini apa ? Kenapa aku begitu mudah untuk berzina ? '


Batin Nayla kebingungan.


'Haruskah aku menyerah untuk berhijrah ? Haruskah aku berubah menjadi lonte saja ? Lagipula, ini gak ada ruginya kan ? Aku malah suka bisa bercinta dengan pria-pria hebat seperti mereka...'


Batin Nayla sambil mengangkat wajahnya tuk menatap wajah mang Yono. Terlihat tatapan matanya begitu bernafsu. Ia memandang wajah tukang sayur itu dengan penuh nafsu.


Seketika muncul bayangan wajah pak Urip & pak Beni di kiri kanan wajah mang Yono. Ia jadi kepikiran. Gimana yah rasanya digempur oleh mereka bertiga sekaligus ?


Makasih ucap Nayla tanpa sadar.


Sama-sama mbak... Huahaha... Ini dompet mbak... Saya cek isinya masih sama... Cuma satu lembar uang dua ribuan... Huahhaa udah kaya abis nyewa lonte seharga 2rb aja... Itupun minjem ke lontenya... Huahahha tawa mang Yono yang lalu menarik lepas penisnya dari dalam vagina Nayla.


Uuuhhhhhh desah Nayla sambil menundukkan wajah tuk melihat lelehan sperma tukang sayur itu yang keluar begitu deras.


Ini bersihkan mbak... Huahaha tawa mang Yono sambil berdiri tegak dengan tangan yang berkecak pinggang.


Iyaahhh mmpphhh... Mmpphhh desah Nayla yang langsung duduk tegak untuk membersihkan sisa sperma di penis tukang sayur itu.


Ssllrpp aahhh desah Nayla setelah membersihkannya lalu membuka mulutnya tuk memperlihatkan sperma yang ia dapat melalui kulumannya. Nayla dengan binal tiba-tiba menelan sperma itu. Ia lalu menyandarkan tubuhnya kembali setelah dipuasi oleh tukang sayur bertubuh gempal itu.


Huahaha gak nyangka ternyata cadar yang mbak pake itu kedok aja yah... Rupanya mbak ini kerdus... Bispak lagi... Huahahah... Oh yah ini alamat rumah saya... Kalau mbak masih penasaran dengan saya, mbak bisa kunjungi rumah saya kapan-kapan... Saya kosong sewaktu sore sampe malem... Jujur, saya masih penasaran juga meski sudah dua kali menodai tubuhmu kata mang Yono teringat dulu dan sekarang. Ia lalu memberikan secarik kertas bertuliskan alamat rumahnya.


Nayla dengan senang hati menerimanya. Ia pun heran pada dirinya sendiri. Ia tidak marah atau tersinggung ketika dirinya dituduh kerdus dan bispak. Ia juga biasa saja saat dikata cadar yang digunakan hanya kedok untuk menutupi nafsu liarnya. Ia jadi bertanya-tanya. Apa jangan-jangan semua yang diucapkan mang Yono benar yah ?


Hah... Hah... Hah Nayla yang kelelahan hanya terengah-engah saat melihat mang Yono tersenyum lalu pamit meninggalkan dirinya.


Apa keputusanmu Nay ? Lirihnya.


Sejujurnya sih aku masih penasaran... Apalagi aku memang butuh kepuasan setelah mas Miftah gak mampu memuasi diriku... Hmmmm, haruskah aku ke rumahnya ? Lirihnya sambil menaruh kertas itu di meja ruang tamunya.


Seketika ia mendengar notif dari hapenya berbunyi. Saat ia melihatnya, rupanya ia mendapat balasan pesan dari pak Beni.


Ada apa mbak ? Maaf tadi saya lagi bekerja, gak sempet ngangkat panggilan videonya balas pak Beni berbohong.


Gak ada, oh yah... Kapan-kapan aku mau bertemu... Ada yang mau aku omongin ke bapak balas Nayla yang masih telanjang bulat di ruang tamunya.


Apa itu ? Balas pak Beni penasaran.


Nanti aja... Pas kita ketemu, baru aku obrolin langsung apa yang ingin aku omongin ke bapak


Siap mbak balas pak Beni yang tak dibalas lagi oleh Nayla.


Nayla masih terengah-engah. Dadanya naik turun setelah dipuaskan oleh tukang sayur langganannya. Tiba-tiba ia tersenyum. Sepertinya ia sudah memutuskan jalan hidupnya. Tangan kirinya tiba-tiba meremasi dadanya sedangkan tangan kanannya menekan-nekan biji klitorisnya. Di otaknya hanya ada penis dan penis saja. Ia telah menyerah. Ia telah menghamba pada kepuasan nafsu. Ia pun ingin disetubuhi lagi oleh pejantan-pejantan tua yang telah berhasil memuaskannya.


Bapaakkk... Aaahhhh... Aaaahhhh desah Nayla yang semakin tersesat.


*-*-*-*

'Sementara itu di kamar kosan Putri


'Mbak Nayla ngapain yah tadi ngajak VC ?'


Batin pak Beni penasaran.


Ia jadi kepikiran, apa jangan-jangan mbak Nayla hendak mengajaknya melakukan VCS lagi ? Kalau benar demikian, ia bakalan menyesali perbuatannya karena lebih memilih Putri ketimbang Nayla itu sendiri.


'Apa iya begitu ?'


Batin pak Beni yang sedang berbaring di ranjang lalu menoleh ke samping untuk menatap wajah mahasiswi cantik yang sudah tertidur lelap.


Paaakkkk desah Putri saat tidur miring sambil memeluk dada bidang pak Beni.


Iyya mbaakkk jawab Pak Beni sambil mengelusi punggung tangan Putri.


Ronde ketiganya nanti dulu yah... Aku capek... Aku mau istirahat dulu, nanti kita lanjut lagi... Hihihihi ucap Putri yang sudah dibutakan oleh perasaan cintanya sendiri.


Iyyaahhh... Mbak istirahat aja dulu yah ucap pak Beni tersenyum yang membuat Putri pun ikut tersenyum sambil memejamkan matanya.


Saat Putri beristirahat. Pak Beni pun jadi kepikiran. Entah kenapa ada sedikit rasa penyesalan atas perbuatan yang baru saja dilakukannya.


'Hmmm rasanya kok kayak abis selingkuh dengan mbak Putri yah ? Agak gimana gitu, rasanya kayak baru mengkhianati nafsu mbak Nayla ke saya...'


Batin pak Beni sambil terus menatap wajah Putri.


'Jujur, mbak Nayla jauh lebih cantik... Lekukannya juga jauh lebih menarik... Tapi untuk urusan jepi't'-menjepit, memek mbak Putri jauh lebih sempit... Mungkin karena mbak Putri jarang disodok kali yah, sedangkan mbak Nayla kan udah sering digenjot suaminya, makanya gak terlalu sempit lagi… Tapi gitu-gitu jepitannya mbak Nayla masih terasa nikmat kok… Eh, apa jangan-jangan gara-gara pak Urip ? Memek mbak Nayla jadi gak terlalu rapet lagi ?'


Batin pak Beni kesal sendiri.


'Aahhhh sial... Jadi bingung pilih yang mana... Rapetnya memek mbak Putri ? Atau indahnya body mbak Nayla ?'


Batin pak Beni bingung sendiri.


*-*-*-*

Sementara itu, di sebuah klinik herbal yang sudah sering ia kunjungi belakangan ini. Pak Urip memasuki ruang praktek sambil tersenyum menatap dokter tampan itu.


Selamat siang dok... Ini saya, hakhakhak tawa pak Urip sambil menyalami dokter tampan itu.


Eh bapak... Silahkan duduk... Kenapa lagi nih pak ? Kurang manjur yah obat kemarin ? Tanya dokter tampan itu.


Hakhakhak... Bukan begitu, saya cuma ingin bertanya, apa benar ada seorang wanita yang mengenakan cadar pernah datang ke klinik ini ? Tanya pak Urip tersenyum.


Ohh saya masih ingat... Iya ada... Cuma ada satu yang pernah datang kesini ucap dokter itu setelah mengingat-ngingat.


Hakhakhak sudah saya duga... Non Nayla beli obat itu dari sini rupanya kata pak Urip tertawa.


Ah iya, betul... Namanya Nayla... Saya masih ingat kata dokter tampan itu.


Eh kok bapak nanyain dia ? Bapak kenal ? Lanjut dokter itu bertanya.


Itu majikan saya dok... Dia wanita yang saya targetkan dengan obat perangsang yang saya beli disini ucap pak Urip tersenyum.


Oalah pantesan... Dia waktu itu ngeluh kalau dia itu kena efek dari obat perangsang tapi dalam jangka waktu yang lama... Itu aneh menurut saya... Yang saya tahu sebagai ahli medis, obat perangsang ya hanya akan efektif sampai orang itu mendapatkan orgasmenya... Atau paling tidak, maksimalnya ya 4-5 jam... Gak mungkin sampai berhari-hari begitu kata dokter itu yang membuat pak Urip tertawa.


Hakhakhak... Sepertinya non Nayla tertipu omongan saya... Eh lebih tepatnya terbodohi sih... Saya waktu itu bilang ke dia kalau setelah itu dia akan terkena efeknya selama berhari-hari... Sepertinya dia percaya dan malah datang kesini... Terus, apa yang dokter kasih ke dia ? Tanya pak Urip.


Ya saya beri dia tambahan obat perangsang saja... Lagian keluhannya waktu itu aneh sih… Lagipula pas saya cek, dia itu ternyata punya nafsu yang besar... Jadi mungkin aja keluhannya waktu itu bukan karena efek dari obat perangsangnya saja... Tapi juga efek dari nafsunya yang amat besar... Saya yakin, seyakin-yakinnya kalau dia sendiri bisa melayani 3-4 orang sekaligus dalam satu waktu ucap dokter itu dengan begitu yakin.


Oalah, 3 sampai 4 orang yah ? Boleh dicoba nih kata pak Urip tersenyum lebar.


Heem, jadi mau beli obat lagi nih ? Tanya dokter itu kepada pak Urip.


Hmm ya satu boleh lah... Buat jaga-jaga... Hakhakhak tawa pak Urip.


Oh buat dia lagi ? Apa gak mubazir ? Saya yakin kalau bapak sudah sering menyetubuhinya, pasti psikisnya akan mengubahnya secara perlahan... Dia pasti tidak akan nolak bahkan secara sukarela akan melayani bapak karena sisi liarnya yang selama ini terpendam akan bangkit menguasai dirinya kata dokter itu saat menjelaskan sambil mengambil obat yang diminta pak Urip.


Hakhakhak saya tahu itu... Saya ingin mencobanya pada akhwat lain... Sepertinya saya menemukan korban baru yang menarik kata pak Urip.


Woww... Apa dia tampan ? Tanya dokter itu.


Eh, hakhakhak... Dia akhwat dok... Akhwat kata pak Urip.


Wah sayang sekali... Coba dia tampan... Atau minimal yang berpengalaman seperti bapak lah kata dokter itu sesaat setelah menghampiri pak Urip lalu membelai dadanya dari luar kaus yang dikenakannya.


Sontak pak Urip langsung panas dingin. Diperlakukan seperti ini ? Oleh seorang lelaki ?


Hehe sayangnya dia akhwat dok kata pak Urip lalu menenggak ludahnya.


Padahal laki-laki jauh lebih menarik loh kata dokter itu sambil berdiri lalu agak memiringkan sedikit pinggulnya.


'Dihhh jadi cowok kok gemulai !'


Batin pak Urip misuh sendiri saat melihat dokter tampan itu.


Semuanya 120 ribu pak... Tapi kalau untuk bapak boleh gratis tapi ada syaratnya kata dokter itu kembali menghampiri yang membuat pak Urip panas dingin lagi.


Ah gak usah... Saya punya uangnya kok... Ini... Terima kasih yah... Saya pergi dulu kata pak Urip buru-buru pergi sebelum bulu kuduknya semakin berdiri.


“Huft sayang sekali… Padahal saya penasaran banget sama pengalamannya” Ucap dokter itu kembali duduk di meja kerjanya. Ia kembali memainkan hapenya untuk melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda dengan melihati foto cowok-cowok kekar yang hanya mengenakan celana dalamnya saja.


'Sementara itu,


Setelah sampai di tempat parkir. Ia pun menatap nama klinik serta foto dokter tadi yang terpasang di depan klinik.


Ganteng-ganteng kok homo... Dih gak malu sama saya ? Gini-gini aja saya bisa dapetin non Nayla juga mbak Putri loh... Lah pak dokter kok malah ? Ujarnya sambil merinding.


Dokter Amir... Dokter Amir... Semoga bapak segera dapet hidayah yah... Hakhakhak tawa pak Urip sambil mengenakan helmnya lalu berangkat pulang menuju rumahnya.


'Kalau apa yang dikatakan dokter homo itu benar, non Nayla pastinya sudah binal... Sepertinya yang menghalanginya cuma satu... Yakni harga dirinya atau mungkin juga image alim yang sudah terlanjur melekat di dirinya... Saya harus menghilangkan semua itu... Saya harus bisa membuatnya binal, agar tubuh seksinya bisa dipakai siapa saja... Hakhakhak...'


Batin pak Urip senyum-senyum sendiri.


'Terus obat yang baru kubeli ini ? Kepada siapa yah obat ini kan kuberikan ? Haruskah ke non Nayla lagi biar kebinalannya semakin menjadi ? Atau, haruskah kulebarkan sayapku untuk membinalkan mbak Putri ?'


Batin pak Urip tersenyum.


Seketika, Pria tua berperut tambun itu langsung membayangkan Putri & Nayla tengah menari-nari dihadapannya sedangkan ia duduk menikmati tarian mereka berdua yang begitu erotis. Tidak ada satupun pakaian yang melekat pada tubuh mereka berdua. Hanya cadar dan hijabnya saja. Membayangkan hal itu pun membuat ia tertawa. Ia tak sabar untuk menikmati hasil dari usahanya selama ini.


Tungguuu saja hingga waktunya tiba... Saya pasti akan menguasai tubuh kalian berdua... Hakhakhak


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


BERSAMBUNG

;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 13

JALAN HIDUP NAYLA

Suatu hari, sekitar pukul empat sore di salah satu kosan di dekat kampus terkenal di ibu kota.


“Aaaahhhh… Aaahhhhh… Aaahhhh bapaaakkk”


Terlihat pria tua berbadan kekar itu terus menggempur. Staminanya begitu kuat. Wajahnya berkeringat. Otot-otot di lengannya sampai menonjol keluar saat memegangi tubuh seorang akhwat berkacamata yang sedang berbaring dalam keadaan tak berdaya. Terlihat mata pria tua itu begitu bernafsu. Jelas ia sangat bersungguh-sungguh. Jepitan vaginanya yang begitu terasa membuat pria tua itu serius untuk memuasi akhwat yang rupanya masih menjadi mahasiswi itu.


“Aaahhhhh… Aahhhh… Aaahhhh mbaakkk Puttt… Saya udah gak kuat lagiii… Saya mauuu kelluaar lagiii !!!” Desah pria tua kekar itu.


“Aaaahhhhhh keluarin paakkkk… Aku jugaaa… Akuu udah gakkk kuat… Aaahhhh kontol bapakkk kuat banget sih bisa bertahan selama ini !” Desah akhwat berkacamata itu dengan begitu takjub.


Pak Beni sang pria tua kekar itu sudah tak sanggup lagi. Sudah semenjak jam sepuluhan sampai jam empat sore, ia terus menggempur tubuh akhwat berkacamata itu. Fisiknya mulai melemah. Kedua lututnya mulai melemas. Namun matanya yang terus menatap pergerakan payudara Putri memaksa tubuhnya agar tetap memanas. Ia terus menghajar tubuh Putri. Gairahnya pun semakin menjadi-jadi. Tak ada lagi kenikmatan yang dapat menandingi ini. Pak Beni puas, ia segera mengakhiri persetubuhannya dengan sodokan ternikmat yang menembus rahim dari akhwat berkacamata itu.


“Aaaaahhhhhhh…. Aaahhhhhhh… Terima iniiii… Terima inii mbaakk… Aaahhhh sayaaa kelluuaaarrrrr !!!” Desah pak Beni sambil mendorong pinggulnya hingga ujung kulupnya menyundul dinding rahim dari akhwat berkacamata itu.


“Aaaahhhhhh paaakkkk… Daleemm bangeettt…. Ouuhhhhh” desah Putri hingga tubuhnya terangkat lalu matanya memejam nikmat.


'Ccrrooottt… Crrroottt… Ccrroottt….'


Lagi, rahim Putri terisi lagi. Meski siang tadi ia sempat khawatir kalau dirinya akan hamil. Tapi dirinya pasrah saat rahimnya dipejuhi lagi. Rasa puas setelah bercinta dengan pak Beni membuat Putri tersenyum senang. Meski tubuhnya lemas dan tak bertenaga. Ia sangat puas karena bisa bercinta dengan seorang pria yang sangat dicintainya.


“Hah… Hah… Hah” Deru nafas mereka pun bersatu. Mata mereka saling memandang. Mereka sama-sama tersenyum senang.


Pak Beni yang baru saja menghujami vagina Putri dengan gaya missionaris langsung menindihinya. Dadanya dapat merasakan keempukan susu Putri. Wajahnya juga langsung menindihi wajah Putri. Bibir mereka bersentuhan. Mereka pun saling berciuman. Kedua jemari mereka juga melekat. Sedangkan pinggul pak Beni terus didorongkan agar ujung kulupnya bisa terus menyundul dinding rahimnya tuk menambah sensasi akan kenikmatannya.


“Mmppphhhh… Mpphhh… Mmpphhh” desah mereka saling cumbu.


Puas mereka berciuman, pak Beni pun membaringkan tubuhnya disebelah tubuh Putri. Kedua insan yang sama-sama sudah telanjang itu hanya sanggup menatap kosong ke arah langit-langit ruangan. Mereka masih sama-sama ngos-ngosan. Pak Beni yang memiliki tubuh kekar pun sampai lemas setelah dipaksa memejuhi tubuh Putri selama tujuh kali.


“Hah… Hah… Hah… Makasih yah pak, gak nyangka hari ini kita bisa sampe tujuh ronde hihihihi” tawa Putri malu-malu.


“Hah… Hah… Sampai lemes banget saya mbak… Habis, mbak seksi sekali sih… Saya jadi gak puas-puas saat merasakan jepitan memekmu itu mbak… Rapet banget memek mbak” Puji pak Beni yang membuat Putri tersipu malu.


“Hihihi makasih… Kontol bapak juga perkasa banget sih… Aku jadi gak ada tenaga lagi buat berdiri… Bapak harus tanggung jawab loh kalau besok aku gak bisa berjalan lagi” Kata Putri malu-malu yang membuat pak Beni tersenyum.


“Hahah tenang mbak… Kalau besok mbak gak bisa berjalan ? Biar saya yang gendong mbak ke kampus besok… Terus saya bawa mbak ke toilet, biar bisa saya genjot lagi di toilet” Kata pak Beni yang membuat Putri tersenyum.


“Dasar mesum ih… Capek tau” Kata Putri sambil menepuk hidung pak Beni.


“Biarin… Sudah resiko mbak karena mengajak saya bercinta” Kata pak Beni sambil memiringkan tubuhnya tuk memeluk tubuh telanjang Putri.


“Hihihih iyya deh… Ampun pakkk… Ampunnn” kata Putri sambil memiringkan tubuhnya lalu membelai kedua pipi pak Beni.


Tak terasa mereka sudah bercinta selama berjam-jam lamanya. Mulai dari sekitar jam 10 dan diakhiri sampai jam 4 sore. Tak terasa mereka terus bercinta selama enam jam penuh. Ya, mungkin terpotong sebentar saat Putri beristirahat di siang hari. Tapi tetap, selama enam jam penuh mereka sama-sama telanjang untuk memuasi pasangan. Mereka tak berhenti, rahim Putri terus diisi. Mereka pun tersenyum puas. Namun kini mereka tak memiliki tenaga untuk melalui sisa hari yang begitu berkesan ini.


“Paaakkk aku laper… Makan yuk” Kata Putri yang teringat bahkan dirinya sampai melewatkan makan siang demi memuasi pak Beni.


“Aahh iya saya juga laper mbak… Mau makan dimana ?” tanya Pak Beni.


“Hmmmm bapak masih bisa jalan kan ? Ke warung ayam bakar yang waktu itu gimana ? Tenang aku yang traktir kok” Ucap Putri tersenyum.


“Eeehhh kita makan disana ?” Tanya pak Beni.


“Iya lah pak… Masa disini sih ? Hihihihi” kata Putri yang membuat pak Beni kembali terpana gara-gara senyumannya.


“Hmmm yaudah, tapi kita gimana ? Mandi dulu atau langsung berangkat ?” Tanya pak Beni bingung.


“Mandi dulu lah pak…. Biar ganteng… Terus kita pake pakaian yang rapih… Terus kita makan bareng disana” Kata Putri.


“Tapi mbak, saya gak punya baju rapih… Saya Cuma punya seragam ini” Kata pak Beni.


“Seragam juga kemeja kan ? Itu rapih kok gapapa… Aku suka hihihihi… Tapi nanti kancingnya dibuka beberapa yah biar keliatan seksi” Kata Putri yang membuat pak Beni tersenyum.


“Iya mbak kalau gitu gapapa deh… Yuk mandi dulu” kata Pak Beni.


Kamar Putri yang berada di dekat kamar mandi membuat pak Beni bisa dengan mudah memasuki kamar mandi. Putri melihat keadaan diluar sejenak. Rupanya keadaan tak terlalu ramai. Meski ada beberapa yang berlalu lalang. Tapi perhatian mereka tak terarahkan ke kamar mandi. Putri pun akhirnya ikut masuk ke dalam kamar mandi. Mereka berdua pun mandi bersama. Namun karena saking nafsunya, Putri akhirnya kembali disetubuhi pak Beni. Samar-samar terdengar suara desahan mereka. Terdengar suara sodokan antar pinggul yang begitu nikmat. Mereka pun terus bersetubuh di dalam ruangan yang cukup sempit itu.


“Aaaahhhhh…. Aahhhh… Pelaannn paakkk… Nanti kedengeran !” Lirih Putri.


“Aahhh iyahh maaf… Aahhhh saya gak kuat… Saya aaaahhhhh” desah Pak Beni menarik penisnya keluar lalu meminta Putri berjongkok dihadapannya.


Akhirnya mereka resmi mengakhiri persetubuhan mereka di hari ini. Wajah Putri bersimpuh sperma. Spermanya cukup banyak meski sudah keluar berkali-kali.


Betapa beruntungnya pak Beni di hari ini. Meski di awal hari ia sempat dicueki oleh wanita yang ia cintai lalu dipukuli oleh pria kekar yang merupakan suami dari akhwat bercadar yang ia jadikan fantasi. Pertemuannya dengan Putri telah mengubah keberuntungannya di hari ini. Ia memejuhi rahim Putri berkali-kali. Bahkan wajah cantik Putri juga tak luput dari sperma kentalnya yang berwarna putih. Apalagi setelah ini dirinya akan ditraktir. Pak Beni hanya geleng-geleng kepala. Sejenak hanya ada nama Putri di kepalanya. Sepertinya perlahan Putri mulai merenggut hatinya dari Nayla.


MEBEAY2

https://thumbs4.imagebam.com/40/11/34/MEBEAY2_t.jpg   40/11/34/MEBEAY2_t.jpg

'PUTRI


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


*-*-*-*

Pada saat yang sama di salah satu rumah mewah di ibukota.


“Eh mas, udah pulang…” kata Nayla yang segera datang menyambutnya.


“Dek… Apa kabar ? Loh kok lepas hijab sama cadar… Pak Urip mana ?” Tanya Miftah sambil menoleh ke kanan kiri.


“Gak tau mas… Dari pagi gak keliatan… Jadinya dari pagi adek gak pake hijab sama sekali” Kata Nayla malu-malu.


“Ehh gak izin kerja ?” Kata Miftah.


“Gapapa mas…. Biarin aja… Mungkin ada urusan mendadak… Hari ini adek juga gak sibuk kok… Adek juga udah masakin sesuatu buat mas” Kata Nayla.


“Oh yah apa itu ?” Tanya Miftah tersenyum.


Tiba-tiba Nayla merangkulkan lengannya ke leher belakang Miftah. Kakinya juga berjinjit. Matanya pun menatap mata suaminya dengan penuh cinta.


“Kasih hadiah adek dulu dong baru nanti adek kasih tau” Jawab Nayla sambil sesekali mengecapkan bibirnya untuk memberinya kode.


“Ohhh hadiah nih ? Iya… Tutup matanya yah dek” Kata Miftah memahami.


Nayla segera menutup matanya. Dalam sekejap bibir Miftah dimajukan lalu mengecup bibir Nayla selama beberapa detik saja.


'Cuupppp !'


“Gimana ? Puas sama hadiahnya ?” Tanya Miftah malu-malu.


“Ihhhh bentar amat” Keluh Nayla.


“Hahahaha nanti mas kasih yang lama setelah adek ngasih tau jawaban mas tadi” Kata Miftah yang membuat Nayla cemberut.


“Huh dasar… Liat sendiri sana di dapur” Kata Nayla.


“Yaudah deh… Mas liat dulu yah” Jawab Miftah yang sebenarnya bukan jawaban yang Nayla inginkan.


'Ihhhh kok malah pergi beneran ? Nyebelin deh dasar gak peka… Emang beda yah, laki-laki yang bernafsu padaku sama yang enggak… Keliatan banget mas Miftah gak nafsu ke aku… Hah, kenapa saat-saat begini aku malah merindukan ciumannya pak Urip… Aku ingin bibirku ditarik menggunakan bibirnya… Aku ingin bibirku didorong dengan penuh nafsu olehnya…'


Batin Nayla saat merenung sesaat.


'Hah, entah kenapa kok aku jadi semakin yakin dengan pilihan jalan hidupku ini yah… Hmmm haruskah aku main ke rumahnya besok ? Jujur aku masih penasaran dengan mang Yono… Main sebentar aja udah bikin aku puas kayak pagi tadi… Gimana kalau aku mainnya lama yah ? Uhhhh pasti bakal berkesan banget deh…'


Batin Nayla yang sudah keruh pikirannya.


MEBXDFG

https://thumbs4.imagebam.com/4b/1d/65/MEBXDFG_t.jpg   4b/1d/65/MEBXDFG_t.jpg

'NAYLA


MEBEP8B

https://thumbs4.imagebam.com/81/b4/4c/MEBEP8B_t.jpeg   MEBEP8B_t.jpeg

'MIFTAH


*-*-*-*

Malam harinya,


Di atas ranjang tidur yang biasa mereka tempati bersama. Nayla sudah terbaring dengan menggunakan piyama yang menutupi keseluruhan tubuhnya. Rambut pendeknya terlihat. Tonjolan di dadanya juga terlihat. Saat tertidur, Nayla memang tidak mengenakan bra apalagi hijabnya. Nayla masih ingat betul perkataan ibunya bahwa wanita itu kalau tidur lebih baik jangan memakai beha agar peredaran darah yang mengalir ke dadanya bisa lancar.


Saat berbaring dalam posisi miring, Nayla yang masih belum tidur malah terpikirkan sesuatu.


'Pak Urip dari pagi kemana yah ? Kok aku gak ngeliat perut tambunnya sama sekali…'


Batin Nayla penasaran.


Entah kenapa di malam hari itu dirinya merindukan sosok pak Urip. Sosok yang biasanya rajin memuasi dirinya. Tapi entah kenapa di hari ini pak Urip malah absen memuasi dirinya. Padahal Nayla sudah memutuskan jalan hidupnya. Ia telah menyerah berhijrah dan lebih memilih pasrah untuk menjadi pemuas saja. Tapi saat dirinya seperti ini, dirinya malah tidak bertemu dengan pak Urip.


'Hah, untung aja tadi pagi dompetku ketinggalan… Hmmm dikasih alamat juga lagi… Dateng gak yah besok hari ? '


Batinnya sambil mengeluarkan secarik kertas dari saku piyamanya.


“Dek belum tidur ? Eh kertas apa itu ?” Tanya Miftah mengejutkan Nayla.


“Eh mas… Enggak… Cuma catatan kerja aja kok hehe” Kata Nayla buru-buru memasukan kertas itu lagi ke dalam sakunya.


“Oalah” Jawab Miftah yang langsung berbaring di sebelah istrinya.


Nayla pun menyambutnya dengan memeluk tubuh suaminya. Mereka saling pandang sejenak. Miftah tampak bahagia saat memandangi wajah cantik istrinya.


“Memang bikin sejuk wajahmu ini dek… Mas suka… Rasanya adem banget kalau ngeliat wajah adek” Kata Miftah yang membuat Nayla tersipu malu.


“Hihihi makasih yah mas” Jawab Nayla tersenyum.


“Tidur yuk… Udah malem… Besok ada kerjaan kan ?” Tanya Miftah.


“Hmmm lusa sih mas” Jawab Nayla.


“Oh yah ? Hahahaha… Tapi tidur aja yuk… Mas udah ngantuk banget soalnya” Kata Miftah tertawa malu.


“Iya mas… Yuk” Jawab Nayla agak kecewa.


Mereka pun sama-sama memejam. Namun Nayla masih ingat betul kata-kata yang diucapkan suaminya di sore tadi.


'Katanya mau ngasih aku ciuman yang lama ? Sampe sekarang pun aku masih belum dapet ciuman dari mas… Huft malah dilupain !!!'


Batin Nayla sebelum dirinya benar-benar terlelap dalam tidurnya.


*-*-*-*

Keesokan harinya sekitar pukul setengah tujuh pagi.


“Saayyyuurrr… Saayuurrr… Sayurnya ibu-ibu… Sayur segarnyaaa”


“Eh itu dia mang Yono !” Lirih Nayla yang langsung meluncur ke depan pintu untuk melihat langsung sumber suara itu.


“Mas, adek mau beli sayur dulu yah” Kata Nayla pada suaminya yang sedang bersiap mandi.


“Oh iya dek… Iya” Jawab Miftah tersenyum.


Nayla lalu buru-buru mencari hijab simpel serta masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Dengan terburu-buru ia keluar rumah. Ia yang saat itu mengenakan daster syar’i berukuran longgar berlari untuk menemui pria tua berperut tambun yang baru saja memejuhi rahimnya kemarin pagi.


“Maannggg… Saayyurrnya maanggg” Teriak Nayla memanggil yang membuat mang Yono memberhentikan gerobak sayurnya.


Menyadari bahwa yang datang mendekatinya adalah akhwat bermasker yang baru kemarin ia gagahi membuat pria tua yang juga berkumis tebal itu melebarkan senyumnya.


“Mbakk Naylaa… Mau beli apa nih ? Huahahaha” Tawa mang Yono senang.


“Hehehe terongnya ada mang ?” Tanya Nayla berbasa-basi terlebih dahulu.


“Hmmm terong yang buat sayur apa yang buat . . . .” Tanya mang Yono tersenyum yang membuat Nayla tersenyum malu.


“Yang sayur lah… Masa buat itu, hihihih” Tawa Nayla malu-malu.


Menyadari Nayla meladeni omongan kotornya membuat mang Yono terpancing. Ia lalu kembali menanyakan hal-hal kotor untuk memancing nafsu birahi akhwat itu lagi.


“Hmmm pasti gara-gara terong kemarin dipake buat masturbasi yah mbak, makanya sekarang beli yang baru lagi ? Huahahaha kenapa gak disayur aja yang kemarin ? Kan ada tambahan rasa manis-manisnya gitu” Kata mang Yono yang membuat wajah Nayla memerah.


“Hihihih enggak ah pak… Terong yang kemarin udah lembek… Ujungnya udah bonyok, beda sama ujung itu yang kemarin bikin aku… Hmmm hihihi” tawa Nayla malu-malu tak sanggup melanjutkan.


“Hayooo ujung apa nih ? Yang bikin mbak Nayla kenapa nih ?” Tanya Mang Yono yang semakin mesum. Mengobrol hal kotor seperti ini dengan akhwat cantik yang sehari-harinya mengenakan masker atau cadarnya itu membuat penis mang Yono mulai mengeras.


“Ujung yang item pokoknya… Yang keras juga kayak pentungan” Jawab Nayla malu-malu.


“Waahhh yang kayak apa yah ? Bisa beri petunjuknya gak mbak ?” Tanya mang Yono sambil ngelus-ngelus penisnya dari luar celananya.


“Pokoknya yang gede mang… Item… Panjang lagii… Pas sekali masuk bisa bikin aku menjerit nikmat pokoknya… Hihihihi” Tawa Nayla malu sendiri setelah berbicara seperti ini dengan tukang sayur langganannya.


“Oh yah ? Hmmmm ujungnya ketutupan sesuatu gak ?” Tanya Mang Yono sambil menatap wajah Nayla dengan mesum.


“Hmmmm iyya mang… Ujungnya kayak ketutupan babat sapi gitu… Udah gitu tebel lagi” Jawab Nayla sambil melihat tonjolan celana yang sedang mang Yono elus.


“Ohhh yahhh ? Hmmm ukurannya segede ini gak ?” Tanya mang Yono sambil menggenggam penisnya dari luar celananya.


“Waaaahhhh iyaahh… Segede itu pokoknya… Itu terong yah ? Kok dimasukin ke celana sih ? Hihihihi” Tawa Nayla.


“Bukan dong… Masa terong dimasukin ke celana… Ini namanya kontol… Kontol pake tol” Kata mang Yono yang membuat Nayla tertawa.


“Ah masa ? Gak percayaa tuuhhh” Jawab Nayla menggoda.


“Ohh gak percaya ? Mau lihat nih ?” Tanya mang Yono yang segera dijawab anggukan oleh Nayla.


Dengan percaya diri, Mang Yono langsung menurunkan celana kolornya lalu memperlihatkan penis raksasa yang kemarin baru memasuki vagina sempit Nayla.


“Waaahhhhh gedee bangeettt… Iya ini… Ukurannya kayak gini” Kata Nayla sambil menutupi mulutnya dari luar masker yang dikenakannya.


Mang Yono pun tertawa puas. Lalu buru-buru memasukannya lagi ke dalam celana karena khawatir akan ada orang lain yang melihatnya.


“Huahahah kok jadi kesini-sini obrolan kita… Duhh gara-gara mbak… Saya jadi gak fokus jualan nih” Kata Mang Yono memegangi kepalanya.


“Hihihihi habis sih… Kan mamang dulu yang mulai” Kata Nayla sambil menunduk malu setelah mengingat perbuatannya itu.


“Eh saya yang mulai yah ? Habis, mbaknya juga sih… Kok ngeladeni omongan saya… Saya kan jadi kebawa alur” Kata mang Yono.


“Hihihi maaf yah mang… Habis sih aku kan masih . . . .” Jawab Nayla terhenti karena terlalu malu tuk mengucapkannya.


“Masih penasaran sama kontol saya yah mbak ?” Tanya mang Yono yang membuat Nayla tersenyum malu.


“Hehe iya mang… Hmmm mamang ada waktu kosong kapan ?” Tanya Nayla mengejutkan mang Yono.


“Eh jangan-jangan ? Mbak mau main ke rumah saya yah ?” Tanya mang Yono deg-degan.


“Iyyahhh manggg” Jawab Nayla malu-malu sambil menunduk.


Sikap ramahnya saat menjawab. Gerakan gemulainya saat berdiri dihadapannya. Juga obrolan mesum yang baru saja diucapkannya. Mang Yono jadi semakin deg-degan. Ia lalu melihat ke arah jam tangannya untuk mengecek waktu yang ia punya.


“Hmmm mbak penasaran nih ? Kalau gitu saya tes dulu gimana ?” Tanya mang Yono.


“Eh, tes ? Tes apa ?” Tanya Nayla terkejut.


“Nanti kalau mbak lulus tes… Saya kasih tau kapan waktu luang yang saya punya” jawab mang Yono yang anehnya membuat Nayla bersemangat.


“Ehhh emang apa tesnya pak ?” Tanya Nayla.


“Kalau mbak masih penasaran dengan kontol saya… Coba mbak kulum kontol saya sekarang… Saya mau tahu, seberapa penasaran sih mbak dengan kontol saya” Ucap mang Yono sambil mengeluarkan penis besarnya lagi lalu melihat ke kanan juga ke kiri untuk mengecek keadaan.


“Huh kirain… Masa gini aja di tes” Jawab Nayla yang langsung berjongkok lalu menurunkan maskernya.


Mang Yono terkejut melihat Nayla langsung patuh dengan ucapannya. Pria tua berperut tambun itu semakin deg-degan. Ia lalu melihat kanan kiri untuk mengecek keadaan lagi. Saat mulut dari akhwat bermasker itu membuka lalu mencaplok batang penisnya. Mang Yono langsung memejam nikmat saat merasakan adanya kehangatan dan kelembapan yang merangsang penis tak bersunatnya.


“Ouuuuhhhhhhh mbaaaakkk” Desah mang Yono puas.


Nayla awalnya memasukan seperempat dari penis besar itu. Lalu kepalanya ia mundurkan agar mulutnya dapat menjepit ujung kulupnya saja. Lalu ia berdiam sejenak agar lidahnya di dalam dapat menggelitiki ujung gundulnya yang mulai terbuka. Lidahnya dengan lihai bergerak naik turun. Lidahnya juga berfokus menyerang lubang kencingnya saja. Mang Yono jadi merem melek. Mulutnya juga membuka. Apalagi saat mulut Nayla bergerak maju hingga setengah dari penis mang Yono terlahap olehnya.


“Ouuuhhh mbaaaakkkk” desah Mang Yono sambil geleng-geleng kepala.


Saat Nayla memajukan mulutnya. Bibirnya dengan manja menyapu kulit penis mang Yono yang berwarna hitam itu. Lidahnya juga mulai melilit laksana ular piton yang siap untuk menjepit. Meski Nayla sudah merasakan mentok di ujung kerongkongannya. Ia terus memaksa maju hingga mulutnya melahap ¾ dari penis milik pria tua itu.


“Aaaaahhhh mbaaakkkk” Desah mang Yono kali ini sambil memegangi kepala Nayla.


Nayla masih belum puas. Dirinya yang masih penasaran mencoba untuk terus mendorong kepalanya maju hingga ujung hidunya itu menyentuh dari rambut lebat yang dimiliki oleh mang Yono. Mulutnya juga sudah mencapai pangkal dari penis hitam itu. Tercium aroma selangkangan yang memuakkan hidungnya. Namun Nayla terus bertahan. Bahkan tangannya sampai memegang bokong pak Urip lalu mendorongnya ke arahnya selagi mulutnya terus maju tuk melahap keseluruhan dari penis hitam itu.


“Mmmpppphhhhhh” desah Nayla yang akhirnya mulai bersuara.


“Ouuhhh hebat banget mbaakkk… Ouuhhh kontol saya sampai ketelen semuanyaa… Aaahhh yahhh” desah mang Yono sangat menikmati kulumannya.


Saat sedang asyik-asyiknya diservis oral oleh Nayla. Tiba-tiba mang Yono melihat adanya ibu-ibu lain yang mendekat.


“Ehh mbakk… Ada orang lain kesini… Udah… Udaahh” Kata mang Yono sambil menepuk kepala Nayla dengan pelan.


“Mmpppphhhh” Desah Nayla buru-buru melepasnya lalu menutup mulutnya lagi menggunakan masker sebelum berpura-pura mencari sayur yang ada di bagian bawah gerobak mang Yono.


“Ehhh kalian lagi apa ?” Tegur ibu-ibu yang baru datang itu.


“Apaan bu ? Orang lagi belanja” Kata Mang Yono yang untungnya sudah memasukan penisnya tepat waktu.


“Belanja… Oalah mbak Nayla… Saya kira siapa… Gak mungkin lah mbak Nayla melakukan apa yang ada di pikiran saya… Hihihi” Tawa ibu-ibu itu malu.


“Ehhh emangnya ada apa yah bu ?” Tanya Nayla berpura-pura tidak tahu.


“Ahhh enggak mbak… Saya kira tadi mbak, hihihihi” tawa ibu-ibu lagi sambil menepuk lengan Nayla karena malu.


“Dihhh pagi-pagi udah aneh aja… Kenapa sih bu ?” Ucap mang Yono berusaha untuk menjauhkan topik pembicaraannya itu.


“Enggak… Enggak… Kirain tadi… Ah udah deh… Saya mau beli bawangnya aja mang” Kata Ibu-ibu itu karena malu.


“Nih berapa ?” Tanya mang Yono.


“¼ kilo aja mang, nih duitnya… Harganya masih sama kan ?” Tanya ibu-ibu itu.


“Sama kok… Ini yah” Ucap mang Yono saat memberikan kresek berisi ¼ kilo bawang.


Nayla yang sedari tadi terus berpura-pura membeli sayur akhirnya lega setelah ibu-ibu itu mulai pergi menjauhi mereka berdua.


“Huft hampir aja” Kata Nayla sambil memegangi dadanya.


“Huahahha gila… Pengalaman yang sangat mendebarkan… Waahh hebat banget sih sepongan mbak tadi… Bikin saya panas dingin” Kata mang Yono yang membuat Nayla malu.


“Mmpphhh jadi, kapan ?” Kata Nayla malu-malu.


“Nanti jam 9 saya udah mulai kosong kok… Saya mau ambil cuti aja hari ini… Saya udah gak tahan pengen disepong lagi soalnya…. Huahahah” Tawa mang Yono yang membuat Nayla tersenyum malu.


“Kalau gitu, tunggu aku jam 9 yah mang… Aku permisi dulu” Kata Nayla setelah mendapatkan informasi dari mang Yono.


“Eh iya, terongnya satu dong pak… Hihihi” Tawa Nayla malu saat kelupaan sayur yang ingin ia beli.


“Nih, satu buah terong yang paling gede… Biar mbak puas” Kata mang Yono yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihih ada-ada aja… Aku pulang dulu yah mang… Permisi” Kata Nayla yang langsung pergi sambil menunduk malu.


Dalam perjalanannya pulang, Nayla langsung kepikiran. Padahal hari ini ia tidak merasa sangek sama sekali. Tapi kok, ia secara sukarela malah nurut aja saat mang Yono memintanya mengulum penisnya.


Biasanya ia melakukan kemaksiatan gara-gara diserang oleh birahi tingginya. Kali ini ia melakukan kemaksiatan hanya karena rasa penasarannya. Nayla pun memegangi dadanya yang deg-degan. Ia juga memegangi mulutnya yang baru saja ternoda.


'Jadi lonte, kayaknya bakal seru nih… Hiihihihih…'


Batin Nayla yang sudah tak sabar untuk meraskaan kejantanan mang Yono lagi.


*-*-*-*

MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan kurang dua puluh menit. Pak Urip yang sedang berada di dapur rumah majikannya bersiap untuk melancarkan aksi selanjutnya. Pertama, ia ingin memeriksa keadaan majikan alimnya terlebih dahulu. Apakah majikan bercadarnya itu sudah berubah menjadi lonte seperti yang sudah dokter homo itu bicarakan ? Atau, masihkah majikan bercadarnya itu menyembunyikan sifat binalnya demi harga dirinya sebagai seorang akhwat yang sudah bersuami ?


“Hakhakhak… Patut ditunggu nih… Apapun hasilnya, saya akan menggenjotmu lagi hari ini !” Ujar pak Urip yang begitu merindukan lubang ternikmatnya setelah kemarin ia tak menemuinya demi mengurusi obat perangsang yang ia beli dari dokter homo tersebut.


Ia pun bersembunyi di dapur sambil membuat kopi untuk menyemangati dirinya sebelum menyetubuhi akhwat majikannya. Ia semakin tak sabar. Penisnya sudah gatal ingin memejuhi rahim yang sangat sempit itu.


“Hmmmm hampir setengah jam setelah mandi, kok non Nayla belum keluar dari kamarnya yah ?” Ujar pak Urip curiga.


Pria tua berperut tambun itu pun berjalan menuju kamar Nayla. Wajahnya juga menengok ke sekitar, terutama ke arah kamar mandi untuk mencari tahu, apakah Nayla pergi ke kamar mandi lagi ?


“Hmmm enggak ada” Katanya setelah menoleh ke arah kamar mandi yang pintunya terbuka.


Ia pun buru-buru menuju kamar tidurnya. Ia berencana ingin menyergapnya saja. Ia pun bersiap. Tubuhnya yang gempal sudah berdiri tegak. Ia menatap pintu kamar Nayla yang ada di hadapannya. Ia tahu, biasanya pintu kamar majikannya itu dikunci rapat. Ia tak peduli kalau sampai merusaknya selama dirinya bisa menyetubuhi tubuh seksinya.


“Siaappp… Yaaaaaaaaa !”


'Bruukkkk !!!'


“Loh gak dikunci ? Kenapa repot-repot mau dobrak pintu segala ?”


Pak Urip pun membuka pintu kamar Nayla setelah menubruk pintu itu menggunakan bahunya. Saat melihat ke dalam, ia terkejut saat menyadari tidak ada majikannya di dalam.


“Loh, non Nayla kemana ?” Ujar pak Urip terkejut.


Seketika terdengar suara mesin motor dinyalakan. Pak Urip buru-buru ke depan dan melihat majikan yang ia cari-cari itu rupanya sudah menarik gasnya. Lalu pergi menaiki motornya menjauh dari rumahnya.


“Aiihh siaalll… Udah kabur rupanya…” Kata pak Urip kesal.


Ia pun bingung harus melampiaskan nafsunya kemana. Ia tak mengira kalau majikan alimnya itu bakal lolos dari pengawasannya. Ia pun hanya bisa mengepalkan kedua tangannya lalu mendesah tuk menenangkan dirinya.


“Hah, untungnya masih punya rekaman bokepnya… Sambil nunggu non Nayla pulang… Mending nyoli sambil ngeliat rekamannya lagi… Hakhakhak” tawa pak Urip yang langsung menelanjangi tubuhnya untuk melihat rekaman 'handycam' yang ia punya.


“Aaahhhhh… Aaahhhh… Aaahhhh non Naylaaaa !!!” Desah pak Urip yang cuma bisa nyoli sendiri.


*-*-*-*

“Hmmm habis lampu merah terus belok kanan yah ?” Ucapnya sambil mengendarai motornya dikala matanya memperhatikan secarik kertas yang ia pegang menggunakan tangan kirinya.


Berulang kali tangan kirinya juga memegangi stang kirinya untuk menjaga keseimbangan motornya. Saat ia menemukan adanya belokan, ia kembali memperhatikan kertas itu untuk mencari tahu, sudahkah waktunya untuk berbelok ? Atau terus lanjut agar bisa menuju tempat tujuannya ?


“Hmmm belum, masih lurus ternyata” Katanya sambil berhenti sejenak di perempatan saat ia mendapati adanya lampu merah.


Nayla saat itu tampil cantik dengan gaya busananya yang terlihat seperti wanita muda yang belum menikah. Ia tidak terlihat seperti biasanya. Ia terlihat trendy yang membuatnya lebih terlihat seperti seorang mahasiswi dibandingkan akhwat yang sudah bersuami.


MEBE9P5

https://thumbs4.imagebam.com/1b/18/f6/MEBE9P5_t.jpg   1b/18/f6/MEBE9P5_t.jpg

'NAYLA


Lihat saja penampilannya sejenak. Dengan kaus panjang berwarna hitam juga kemeja bermotif kotak-kotak yang tak ia kancingkan. Penampilannya sudah memperlihatkan gayanya bak anak muda jaman sekarang. Belum dengan celana panjang berwarna putih juga dengan hijab dan masker berwarna putih. Tas yang ia selempangkan di lengan kanannya semakin menegaskan kalau Nayla saat itu ingin terlihat seperti wanita lajang yang belum menikah.


Sambil menunggu lampu berwarna hijau menyala. Ia pun melihat ke sekitar untuk menghafal rute agar nantinya ia bisa lebih mudah andai ingin datang ke rumahnya lagi.


“Oke, lampu udah hijau… Waktunya aku jalan lagi” Katanya sambil menarik gas motornya.


Motor yang Nayla kendarai terus melaju dengan kecepatan pelan. Kepalanya terus menengak-nengok ke sekitar untuk menghafal jalanan. Hampir lima belas menit ia berkendara. Tak terasa, ia menemukan jalan gang kecil yang merupakan rute terakhir menuju alamat yang ia cari-cari.


MECGDY4

https://thumbs4.imagebam.com/cd/b7/68/MECGDY4_t.jpeg   cd/b7/68/MECGDY4_t.jpeg

'JALAN GANG


“Jadi ini jalan gangnya ? Hmmm cukup kumuh yah disini” Kata Nayla saat melihat betapa sempitnya jalan yang harus ia lalui. Bukan sempit secara harfiah. Bukan karena sempitnya gang yang harus ia lalui. Melainkan karena banyaknya pedagang kaki lima serta pejalan kaki yang sering berlalu lalang di gang tersebut. Nayla pun mendesah pelan, ia bingung memikirkan cara agar motornya bisa masuk ke dalam gang tersebut.


“Hmmm gimana cara lewatnya yah ?” Kata Nayla bingung.


Seketika ia melihat ada motor lain yang bergerak ke arahnya berjalan begitu saja. Setelah motor itu melewatinya, Nayla pun berfikir mungkin ia hanya harus berjalan siapa tau pejalan kaki dihadapannya bisa menyingkir dengan sendirinya. Toh ini juga jalanan umum kan ?


Nayla akhirnya tancap gas. Dengan kecepatan pelan ia melajukan motornya melewati jalan gang tersebut. Sontak penampilannya yang mencolok menjadi pusat perhatian warga disekitar. Bahkan pedagang kaki lima yang mangkal di tepi gang pada terpana melihat kecantikan sang dewi. Banyak sekali orang-orang yang berhenti hanya untuk melihat penampilan sang bidadari. Waktu sudah seperti di 'stop' saja. Nayla yang menyadari hal itu hanya cuek saja. Ia pun terus melaju hingga akhirnya ia tiba di sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun cukup layak untuk ditinggali.


“Hmmm pasti ini rumahnya mang Yono… Tuh kan ada gerobak sayurnya… Menurut catatan di kertas ini, rumahnya itu berada tepat sebelum rumah yang ada gerobak martabaknya… Apa mungkin tetangganya mang Yono suka jualan martabak yah ? Hmmm gak tau ah… Aku mau ketuk pintu rumahnya dulu aja” Kata Nayla setelah memarkirkan motornya dihalaman rumah mang Yono.


“Duuhhh kok jantungku malah deg-degan gini yah ?” Kata Nayla saat berdiri di depan pintu rumah mang Yono.


Tangannya pun ragu untuk mengetuk pintu rumah itu. Fakta bahwa kedatangannya hanya untuk menyerahkan tubuhnya menjadi sesuatu yang tak disangka olehnya. Tentu, ia menyadari perbuatannya ini merupakan perbuatan yang tidak benar. Tapi ada dorongan tersendiri yang membuatnya merasa harus menyerahkan tubuhnya pada pemuasnya itu. Ia penasaran. Ia masih penasaran setelah disetubuhi secara barbar meski hanya sebentar.


'Mang Yonoo… Hmmm hebat juga permainannya kemarin… Meski cuma sebentar tapi ia sanggup membuatku puas… Apa yah rahasianya ? Jadi penasaran kalau mainnya lama bakal gimana…'


Ucapnya dalam hati.


Setelah berdiri cukup lama, akhirnya ia mengangkat tangannya. Jemarinya agak mengepal meski meninggalkan cukup ruang di dalam. Lalu ia pun memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya. Setelah tiga kali ia mengetuk pintu rumah mang Yono. Ia pun mengeluarkan suaranya yang jernih untuk memanggil pemilik rumah ini untuk keluar.


“Permisi maanngg… Ini aku, Naylaa” Ucap Nayla setelah mengetuk pintunya.


Jantungnya jadi semakin berdebar setelah mengucapkan salam kepadanya. Ia mendadak gugup. Ia pun melihat sekitar karena khawatir kehadirannya yang mencolok menarik perhatian tetangga-tetangganya.


'Mang Yono mana sih ? Kok gak buru-buru bukain ? Padahal gerobak sayurnya ada…'


Batin Nayla gelisah.


'Tookkk… Tookkk… Tookkk…'


“Permisi paakkk… Ini aku, Nayyy…”


Seketika gagang pintu itu turun lalu membuka menampakkan wajah pria tua berperut tambun yang dilengkapi dengan kumis tebal yang ia kenal.


MEBE9O7

https://thumbs4.imagebam.com/31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg   31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg

'MANG YONO


“Huahaha… Akhirnya dateng juga… Saya tunggu cukup lama loh” Kata mang Yono tersenyum mesum.


“Hehe maaf mang, aku tadi nyari-nyari rumah mamang dulu” kata Nayla malu-malu.


“Ayok masuk… Sebelum ketahuan tetangga… Saya gak mau tetangga saya bilang eh si Yono kemarin bawa cewek bispak ke rumahnya… Huahaha” Tawa mang Yono saat melihat penampilan mencolok Nayla.


“Eh bispak ? Bispak itu apa mang ?” Tanya Nayla polos.


“Bispak itu bisa pake… Maksudnya ya non bisa dipake sama siapa aja termasuk saya” Kata mang Yono setelah menutup pintu rumahnya lalu menguncinya dari dalam. Sekilas mang Yono juga menutup rapat korden depan rumahnya. Menyadari sebentar lagi dirinya akan segera digagahi membuat jantung Nayla jadi berdegup semakin kencang.


“Akhirnya kita aman mbak… Cuma ada kita berdua di dalam rumah ini” Kata mang Yono mendekat sambil mendekap kedua pinggang ramping bidadari bermasker itu.


“Hehe iya mang” Kata Nayla semakin deg-degan dibuatnya.


Apalagi saat mang Yono dengan beraninya menatap mata indahnya. Nayla merasa tidak nyaman. Tapi hal itu malah membuatnya berdebar sehingga Nayla dengan malu-malu menurunkan pandangannya untuk menunduk ke bawah.


Menyadari sifat Nayla yang malu-malu tapi mau membuat tukang sayur itu semakin gemas akannya. Tangannya yang sedari tadi mendekap pinggang Nayla mulai merangkak naik. Usapan tangannya yang semakin mendekati payudara Nayla yang masih tersembunyi dibalik kausnya membuat akhwat bermasker itu sampai merinding dibuatnya.


“Mmppphhh” Desah Nayla yang membuat mang Yono merinding mendengar suaranya.


“Seksi banget lekukanmu ini mbaaakkk… Gak nyangka, ada akhwat cantik yang datang ke rumah saya untuk menyerahkan tubuhnya” Katanya sambil mencengkram payudara Nayla setibanya disana.


“Aaaaaahhhhhhhh” Desah Nayla sambil menaikkan wajahnya menatap langit-langit ruangan.


“Mimpi apa saya semalam bisa menikmati tubuh sesempurna ini… Gak cuma lekukanmu yang indah… Susumu juga indah ternyata… Mbak pake beha kan ? Kok saya udah ngerasain bulatanmu ini yah ? Ouhhhhh dari luar aja udah kerasa kekenyalannya… Gimana nanti pas saya ngeremes susumu pas lagi telanjang” Desah mang Yono saat memperkeras remasannya di dada Nayla.


“Aaaahhhh maanggg pelaannn… Mmppphh remasan mamang terlalu kuaaat” desah Nayla sambil memegangi kedua tangan tukang sayur itu.


“Huahahaha justru itu sayaannggg… Susu seindah ini kudu diremas kuat-kuat… Biar saya bisa ngerasain sensasinya ngeremes susu seorang akhwat… Huahahhaa” Tawa mang Yono saat memperkuat remasan tangannya.


“Aaaaahhhh maaanngggg… Aaahhhh kenceng bangeett… Ouhhh maannggg” desah Nayla sampai merinding dibuatnya.


Melihat ekspresi wajahnya yang tersiksa oleh rangsangannya membuat mang Yono jadi ingin berbuat lebih. Tangan kirinya dengan nakal memasuki kaus yang Nayla kenakan. Sedangkan tangan kanannya menurunkan resleting celana Nayla lalu melepas kancing haknya. Tangan kanannya pun masuk ke dalam celana Nayla.


Dikala tangan kirinya meremas-remas dada kanan Nayla dari dalam kausnya. Tangan kanannya dengan liar mulai masuk ke dalam celana dalamnya untuk menekan-nekan biji klitoris dari akhwat yang sudah bersuami itu.


“Aaaaahhhhhh… Aaahhhhhhh” desah Nayla semakin terangsang.


“Huahahahah mendesahlah… Mendesahlah yang kencang mbaaakkk… Ouuhhh mana udah basah gini memeknya… Mbak udah sangek banget yahhh… Mbak udah sangek kan ?” tanya mang Yono bersemangat.


“Aaaaahhhhhh… Aaahhhhh… Iyyaahh mangg… Mamang hebat banget bisa bikin aku terangsang secepat ini… Ouhhh manggggg” desah Nayla dengan sangat manja.


Mang Yono tertawa puas melihat akhwat binal yang tersiksa dihadapannya. Ia pun mendorong tubuh Nayla hingga ke dinding rumahnya. Jemari kirinya di dalam mulai menurunkan cup bra yang Nayla kenakan. Jemari kirinya menggelitiki puting sebelah kanannya. Jemari kirinya juga kadang menekan-nekannya lalu menariknya yang membuat Nayla semakin menjerit keras.


“Aaaahhhhh mannnggg”


Sementara jemari kanannya mengusapi klirotisnya dengan gaya memutar. Jemari kanannya itu terus menggelitikinya bahkan mencubitnya yang membuat akhwat binal itu jadi semakin tersiksa.


“Ouhhhhh maannggg… Ouhhh jangan digituinn… Aaaahhhhh”


Nayla jadi menggoyangkan pinggulnya. Tanganya yang pasrah ia taruh ke dinding di belakangnya. Desahan demi desahan ia keluarkan untuk melampiaskan nafsunya saat dirangsang oleh tukang sayur langganannya.


“Huahahahah… Ayo terus mendesah… Mendesahlah yang keras mbaaakkk”


“Aaaahhh iyaahhh manggg… Aahhhhh… Aaahhhh jangannn masukkkkk… Ouhhhh” desah Nayla saat ia merasakan vaginanya dimasuki oleh jemari telunjuk tukang sayur itu.


“Huahahahah baru jari saya aja memek mbak udah njepit banget… Aahhhh jadi gak nahan saya gimana rasanya pas kontol saya yang dijepit… Ayo pemanasan dulu mbaakk… Nikmati jari saya… Ayooo nikmati inniii “desah mang Yono saat ia mulai menggerakkan jemarinya naik turun.


“Aaahhh iyaahh manggg… Aaahhhh nikmat sekalii… Aaahhh terusss… Aaahhhh“ Desah Nayla sambil terus menggeal-geolkan pinggulnya.


Nayla yang saat itu masih berpakaian lengkap terus saja dirangsang. Tangan kiri mang Yono jadi semakin liar dalam meremasi kedua payudaranya dari balik kaus yang masih dikenakannya. Berulang kali jemarinya itu berpindah meremasi kedua payudaranya. Kadang tukang sayur itu meremas payudara sebelah kirinya lalu berpindah ke kanan. Kadang ia hanya memainkan pentilnya kadang ia juga menyiksanya dengan menariknya kuat. Kadang ia juga menekannya lalu kembali meremasnya yang membuat Nayla merasakan kenikmatan yang amat sangat hanya dari remasan yang ia terima di dadanya.


Belum juga melalui vaginanya. Tangan kanan mang Yono berulang kali menekan-nekan klitorisnya dari balik celana yang masih dikenakan olehnya. Jemari kanan tukang sayur itu terus menekan-nekannya. Kadang ia juga mencubitnya. Kadang jemarinya turun tuk membelah liang senggama itu. Akibatnya vagina Nayla semakin basah. Lembah kenikmatan yang belakangan sering dimasuki pentungan raksasa itu semakin banjir dipenuhi cairan cintanya sendiri.


Nayla gelagapan. Ia sangat-sangat terangsang oleh rangsangan tukang sayur itu. Memang paling nikmat saat bercinta dengan pria-pria yang jauh lebih tua darinya. Nayla jadi puas saat dilecehi. Pengalaman yang dimiliki oleh pria tua itu mampu membuat Nayla terpuaskan hingga membuatnya ketagihan diperlakukan seperti ini oleh mereka.


Entah kenapa baru diperlakukan seperti ini saja sudah membuat Nayla yakin. Ia yakin bahwa ia ingin terus dilecehi oleh pria-pria tua yang mampu memuaskannya. Pria-pria seperti pak Urip, pak Beni & mang Yono adalah favoritnya. Terutama pak Urip meski ia berat hati untuk mengakui karena sudah berulangkali dipermainkan birahinya olehnya. Tapi jujur, ia menyukai caranya. Dalam hati ia ingin diperkosa lagi. Ia ingin bercinta lagi. Ia ingin telanjang lagi dan menikmati hari-hari indah saat bersama pembantu tuanya itu.


'Aaaahhhh… Aaahhhh… Nikmat bangettt… Ayo mangg terusss… Mmpphhh ayoo nodai aku… Zinahi aku maanggg… Zinahi akuuu !!!'


Batin Nayla saat terus dirangsang oleh tukang sayur itu.


“Aaaahhh mamaanngggggg” Jerit Nayla terkejut saat kocokan tangan kanan mang Yono dipercepat.


Vagina Nayla terasa diobok-obok olehnya. Terdengar bunyi cipratan semakin keras yang berasal dari dalam celananya. Pinggul Nayla bergoyang. Tubuhnya pun lemas hingga jatuh memeluk tubuh gempal pejantannya itu. Nayla tersiksa. Ia terus menjerit saat dilecehi habis-habisan oleh pejantan tuanya.


“Aaahhh mangg cukuppp… Cukupp mangg aaaaahhhhh” desah Nayla hingga ia memundurkan pinggulnya tuk bertahan.


“Huahahhaa nikmatnyaaa… Ada licin-licinnya memek mbakk… Ouhhh gak kebayang kalau ini kontol saya yang lagi ngobrok-ngobok memek mbak… Huahaha” Kata Mang Yono puas.


“Aaahhh cukuppp… Aaahhh yahhhhh… Hah… Hah… Hah” Desah Nayla ngos-ngosan saat mang Yono menghentikan kocokannya di dalam vaginanya.


Sambil memeluk erat tubuh gempalnya, nafas Nayla memberat dan dadanya terasa sesak. Matanya pun merem melek penuh kepuasan. Kedua lututnya melemas. Ia tiba-tiba didorong kebawah oleh tukang sayur itu hingga membuatnya berlutut tepat dihadapan pinggulnya.


“Mmpphhhh manisnya cairan cintamu ini mbaakk… Mmppphhh” desah mang Yono saat menghisap jemari kanannya.


Nayla yang melihatnya dari bawah hanya ngos-ngosan. Ia terlihat kelelahan hanya setelah dilecehi menggunakan kedua tangan gempal tukang sayur itu.


'Hah… Hah… Hah… Hebat banget… Belum digenjot aja udah bikin aku secapek ini…'


Batin Nayla terkagum.


“Ayoo non kita lanjut ke langkah selanjutnya !” Ujar mang Yono saat menurunkan celana kolornya.


Seketika penis gempal yang berwarna hitam itu mencolot keluar mengejutkan Nayla. Wajah Nayla yang berada tepat didepan penis hitam itu menjadi terkejut. Sekilas Nayla dapat menghirup aroma selangkangan penis hitam itu. Nayla lalu menaikan pandangannya. Nampak mang Yono menganggukan kepalanya.


Nayla yang paham mulai mendekap penis itu pelan-pelan. Mang Yono pun memejam merasakan dekapan halus dari tangan bidadari itu. Saat tangan Nayla mulai membelainya pelan, terasa kepuasan yang sulit untuk mang Yono jelaskan.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhhh” Desah mang Yono sambil menatap akhwat bermasker yang sedang mengocoki penisnya dibawahnya.


Nayla terus mengocoki penis itu. Kocokannya semakin cepat sambil matanya menatap mata mang Yono dengan penuh kepuasan. Nayla merasa puas setelah dihadiahi penis sebesar ini oleh tukang sayur langganannya. Sesuatu yang tak ia dapat dari suaminya. Jelas penis suaminya tak sebanding dengan penis pria-pria tua yang pernah memuasinya. Perlahan tertanam dalam otak Nayla bahwa bercinta dengan pria tua jauh lebih memuaskan karena pengalaman yang jauh lebih banyak dibandingkan pria yang lebih muda atau seumuran dengan Nayla.


“Mmpphhhh… Mmppphhhh”


Otaknya yang mulai teracuni pemikiran seperti itu membuatnya jadi lebih mudah terangsang saat berzina dengan pria-pria tua. Termasuk tukang sayur yang sedang ia kocoki ini. Nayla sangat terangsang saat sedang mengocok penisnya. Jemarinya dengan lihai bergerak maju mundur. Jempolnya bahkan mulai menekan ujung gundul dari penis tak bersunat itu saat mulai mengeras.


Ini menarik, Penis yang ujung gundulnya tertutup kulup saat sedang lemas tiba-tiba memunculkan ujung gundulnya saat sedang mengeras.


Nayla mendapatkan pengalaman baru saat bercinta dengan pria tua yang tak disunat. Ia jadi semakin bersemangat. Ia pun mengocok penis tak bersunat itu dengan begitu cepat.


“Aaahhhhhh… Aaahhhhh… Teruss mbaakkk… Ouhhh lebih cepat” Desah mang Yono.


“Mmpphh iyaahh maanggg” Desah Nayla patuh.


Tidak hanya ia percepat. Dekapan tangannya juga ia perkuat. Penis mang Yono jadi dibetot. Penis itu dikocok hingga membuat mata mang Yono melotot. Tak pernah ia dirangsang senafsu ini oleh seorang wanita. Apalagi wanita itu merupakan wanita alim yang indah bak permata. Mang Yono menurunkan pandangannya. Ditatapnya wajah indah dari seorang akhwat yang sedang tersesat. Nayla mengocoknya dengan hebat. Kocokannya terasa amat sangat nikmat. Mang Yono pun puas dengan servisnya yang begitu dahsyat.


“Aaaahhhh nikmat sekaliii… Aaahhhhh mantappp sekaliiii” desah mang Yono ngos-ngosan.


“Mmpphhh… Mmpphhhh” desah Nayla sambil menatap ujung gundul dari penis hitam itu.


Dikala jemari kanannya mengocok batang penisnya maka tangan kirinya memijit kandung kemihnya. Nampak cairan 'precum' mulai keluar dari dalam lubang kencingnya. Mang Yono memejam nikmat. Ia pun tak tahan ingin segera merasakan jepitan seorang akhwat.


“Aaahhh cukuppp mbaakk… Cukuppp… Ayo berdirii” Kata mang Yono yang segera dipatuhi oleh Nayla.


“Mmpphh iyyah manggg” Desah Nayla.


“Ayo balik badan… Cepat… Saya gak tahan lagi !” Ucap mang Yono yang sudah begitu bernafsu.


Sebelum tubuh Nayla benar-benar dibalikkan. Tangan mang Yono menarik paksa bra yang dikenakan oleh Nayla. Saat tubuhnya sudah dibalikkan, Nayla diminta menungging dimana tangannya bertumpu pada dinding. Celana Nayla dipelorotkan hingga kelutut. Celana dalam Nayla juga ikut turun ke lutut. Nampak payudara Nayla bergantung dari balik kaus yang dikenakannya. Nampak lipatan berwarna merah muda yang begitu menggoda..


“Huaahaha… Indah sekaliii… Akhirnya sebentar lagi saya bisa merasakannya lagi… Akhirnyaaa… Akhirnyaaa… Hennkgghhhhh !!!” desah mang Yono yang langsung menancapkan penisnya hingga melesat begitu dalam menembus ke arah dinding rahim Nayla.


“Aaaaaahhhh mangggggg !!!” Jerit Nayla dengan begitu nikmat.


Terasa penis itu terus maju hingga menyundul dinding rahim dari bidadari cantik itu. Ujung penis itu terus menyundul. Meski ia sudah tahu kalau penisnya sudah mentok tapi ia terus menyodoknya tuk merasakan sensasi mentok.


Belum lagi dengan jepitan dinding vaginanya yang semakin menjepit. Penis mang Yono terasa dicekik. Tangannya gemas hingga meremas dada indah Nayla yang sedang menggantung bebas. Nayla pun melenguh penuh kepuasan. Rasanya begitu puas meski baru disodok sekali oleh tukang sayur langganannya itu.


“Ouhhhh… Ouhhh manggg… Ouuuhhh !!!!” Desah Nayla ngos-ngosan.


“Hah… Hah… Hah… Nikmat sekalii… Baru kayak gini aja udah nikmat sekalii !” Kata mang Yono puas.


Sungguh pemandangan langka yang tak bisa dipercaya. Seorang akhwat bermasker dengan pakaiannya yang begitu 'trendy' tengah menungging dimana celananya turun sampai ke lutut. Terlihat juga dadanya yang besar menggantung dengan begitu bebasnya dari balik kaus yang masih menutupinya. Kemejanya juga turun menutupi akses pandangan di kanan kiri tubuhnya. Sedangkan dibelakangnya, ada sesosok pria tua bertubuh gempal yang tengah menungging sambil meremasi dada bulat Nayla yang mirip buah melon. Penisnya sudah menyelinap masuk ke dalam vaginanya. Kaus polonya masih melekat menutupi perut tambunnya. Celana kolornya sudah turun ke lutut memperlihatkan bokong montoknya. Bagaimana bisa ada akhwat alim yang bahkan sudah bersuami rela diperlakukan seperti ini oleh pria tua berwajah buruk rupa yang juga merupakan tukang sayur langganannya ? Berbagai peristiwa yang sudah Nayla alami lah yang dapat menjawab semua pertanyaan yang tidak masuk akal ini. Nayla menyukai pria tua. Tepatnya pria-pria tua yang bisa memuasinya dengan sejuta pengalaman dalam merangsang tubuhnya.


“Aaaaaaaahhhhhhhh” Jerit Nayla saat pinggul mang Yono mulai bergerak.


“Uuuhhhh mantappnyaaa…. Uuhhhhhh… Uhhhhh” desah mang Yono saat menggerakkan pinggulnya dengan pelan.


Seperti yang sudah diharapkan oleh Nayla. Mang Yono dengan segudang pengalamannya tidak langsung tancap gas untuk menghujami rahim akhwat bermasker itu. Ia lebih memilih untuk memainkan birahi Nayla. Meski ia menyodoknya dengan perlahan, ia memberinya sedikit kekuatan yang membuat sodokannya begitu terasa.


Tiap kali penis mang Yono menggesek dinding vagina Nayla. Nayla langsung menggelinjang merasakan sensasinya. Cairan pelumas yang sudah membasahi dinding vaginanya memudahkan penis mang Yono untuk keluar masuk memuaskan birahinya. Belum lagi saat mang Yono mulai meningkatkan kecepatannya. Penis itu keluar masuk semakin kencang. Terasa gesekannya juga semakin kencang. Nafsu yang semakin membara membuat penis mang Yono membesar. Vagina Nayla yang sempit pun terpaksa menahan sodokan penis tak bersunat itu dengan cara mencekiknya yang membuat mang Yono menjerit penuh kepuasan.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhh… Mantap sekali memekmu mbaakk… Aaahhhh” desah mang Yono.


“Mmpphhh iyaahhh… Mmpphhh teruss mangg… Aahhh tolongg dikencengin lagiii” Desah Nayla yang tak sabar.


“Huahahaha sabar mbak… Nikmatin aja… Ada waktunya saya cepet kayak gini” Kata mang Yono yang langsung melesatkan penisnya hingga menyundul dinding rahim Nayla.


“Aaaaaaaahhhhhhhhh” Jerit Nayla sampai terdorong ke depan.


“Ada juga yang pelan kayak gini” Kata Mang Yono mulai memelankan sodokannya lagi.


“Aaahhhh iyaahhh… Aaahhhh… Aahhhh” desah Nayla yang kagum dengan cara mang Yono dalam menyetubuhinya.


“Jadi nikmati aja sodokan saya yah… Saya professional kok… Huahahahha” Tawa mang Yono sambil menampar bokong montok itu karena saking gemasnya.


'Plaaakkk… Plaaakkkk !!!'


“Aaahhh yahh… Aahhh aku manut aja mangg… Tapi tolong puasi akuu… Puasi aku maanngg… Teruss sodok memek akuu uaaahhhhhhh” Desah Nayla saat sodokan mang Yono dipercepat.


“Huahahaha iya pasti mbaakk… Saya gak akan pernah mengecewakan tamu yang datang ke rumah saya” Ujarnya sambil memelankan sodokannya lagi kali ini sambil mengelus-ngelus bokong mulusnya.


Gaya sodokan mang Yono yang kadang cepat kadang lambat cukup membuat Nayla frustasi. Tapi anehnya hal itu justru membuatnya semakin terangsang. Ia jadi ingin meramas dadanya tapi tangannya ia gunakan untuk bertumpu pada dinding ruangan. Nayla merasa birahinya seperti sedang dipermainkan. Tapi itu membuat nafsunya semakin besar. Nayla pun bingung untuk menjelaskannya. Tapi ia patuh saja toh sodokan tukang sayur itu tidak mengecewakannya.


“Aaahhhh… Aahhh… Aaahhh mangggg terusssss” Desah Nayla dengan binal.


Mang Yono tertawa melihat kepasrahan Nayla yang begitu mengharapkan kepuasan darinya. Ia tak pernah membayangkan dirinya dapat mendapatkan kepuasan seperti ini. Siapa yang menduga hari ini dirinya bisa memuasi akhwat bercadar yang merupakan selebgram terkenal ? Membayangkan hal itu membuatnya jadi semakin bernafsu. Ia pun terus menyodoknya sambil mengucapkan sesuatu di dalam hatinya.


'Aaaaaahhhh… Aaahhhhh… Terus sodok yang kenceng nooo… Cewek yang lagi lu genjot itu selebgram terkenal… Bayangin aja lu bisa genjot memek cewek yang punya followers ratusan ribu… Bayangin ! Bayangiinnn… Aaaahhhhh coba merem no… Nikmati jepitan memeknya… Nikmati tiap detik momen saat lu nyodok memeknyaa !!!'


Batin mang Yono memejam tuk merasakan kepuasan yang ia dapatkan.


Mang Yono terus menggerakkan pinggulnya maju mundur. Tangannya juga berulang kali menepuk-nepuk bokong mulusnya hingga merubah warnanya menjadi warna kemerahan. Nampak susu bulat Nayla yang bergantung terus bergondal-gandul. Goyangannya semakin cepat saat pinggul mang Yono bergerak cepat. Goyangannya menjadi pelan saat pinggul mang Yono bergerak pelan.


Terus Nayla disetubuhi dengan gaya cepat lambat. Nayla gelisah, ia jadi ingin digenjot cepat. Andai yang menggenjotnya sekarang adalah pak Urip. Pasti pak Urip sudah tancap gas hingga membuatnya menjerit keras.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Aaahhhhhhhhhhh” desah mang Yono saat menyodokkan penisnya hingga mentok ke dalam.


“Uuuuhhhh mamaaanngggg !!!” Jerit Nayla hingga terdorong ke depan.


Seketika mang Yono langsung menarik lepas penisnya. Nayla yang lemas pun jatuh terduduk dalam posisi lutut ditekuk. Mang Yono pun membalikkan tubuh Nayla agar duduk menghadap ke arahnya. Ia dengan tega mengarahkan penisnya ke wajah Nayla dan memintanya untuk menyepongnya.


“Ayo sepong non… Mumpung kontol saya masih ada rasa asin-asinnya” kata mang Yono sambil tersenyum.


Nayla patuh. Nayla pun menurunkan maskernya hingga mang Yono dapat melihat keseluruhan wajah cantik akhwat binal itu lagi.


“Iyyahhh manggg…. Mmppphhhhh” desah Nayla yang langsung menggenggamnya lalu memasukan penis hitam itu ke dalam mulutnya.


“Aaaaaahhhhh nikmatnyaaaa” Desah mang Yono saat kembali merasakan servis mulutnya.


Nayla dengan rakusnya langsung memaju mundurkan kepalanya. Akibatnya penis yang didalam juga tersapu oleh sapuan bibir dari akhwat binal itu. Nafsunya yang sedari tadi dipermainkan membuatnya jadi ingin melampiaskannya dengan kuluman penuh nafsunya. Nayla menyepongnya. Lidahnya juga bermain dengan melilit penis hitamnya. Terasa rasa asin di lidahnya. Terasa rasa pahit juga di dalam mulutnya. Namun hal itu justru membuat Nayla semakin bernafsu. Lidahnya menggelitiki lubang kencingnya. Terkadang ia juga meletehkannya lalu mencium ujung gundulnya yang keluar. Nayla terlihat sudah seperti tergila-gila saja pada penis tukang sayur itu. Mang Yono tersenyum. Ia bangga bisa melihat akhwat yang ia kagumi melayani penisnya dengan sepenuh hati.


“Mmpphh mangg… Mmppphhhhh” desah Nayla yang kini bahkan mengocoknya lalu menggeseknya ke wajah mulusnya.


Akibatnya wajah Nayla khususnya di bagian pipinya basah terkena campuran liur yang melumuri penis tukang sayur itu. Namun Nayla tak peduli, ia kembali mengulumnya lalu mencium ujung gundulnya lagi.


'Aaahhh nikmat sekaliii… Kontolnya keras… Gede lagi… Aku sukaaa… Aku suka banget kontol mamanggg…'


Batin Nayla dengan penuh nafsunya.


Nayla bahkan sampai berlutut. Kedua tangannya ia taruh pada paha kanan kiri tukang sayur itu. Kepalanya ia gerakkan sendiri. Kepalanya bergerak maju mundur tanpa ia kontrol lagi. Penis itu jadi semakin besar. Penis itu juga semakin basah yang membuat mang Yono tak tahan lagi.


“Tahan sebentar mbaaakk… Hennkgghhh !!!” Desah mang Yono sambil memegangi kepala mungilnya lalu menghentakkan pinggulnya hingga menyodok kerongkongannya.


“Mmppphhhhh” desah Nayla terkejut.


Penis itu terus menyundul kerongkongan Nayla hingga Nayla nyaris tersedak oleh penis hitam itu. Liurnya mulai keluar melewati mulut Nayla yang terbuka. Nayla nyaris terbatuk. Perutnya mual. Tangannya pun memukul-mukul paha mang Yono untuk menghentikannya.


“Uuuuhhhh mantapnyaaaa” Desah mang Yono yang kini mulai menggerakkan pinggulnya.


Penis mang Yono keluar masuk di dalam mulutnya. Ia dengan tega menyetubuhi mulut Nayla untuk mendapatkan sensasi nikmatnya. Dari atas ia dapat melihat wajah Nayla yang tersiksa saat menahan sodokan penis hitamnya. Namun hal itu bukannya membuat ia kasihan tapi justru membuatnya semakin bernafsu. Ia mempercepat gerakan pinggulnya. Penisnya menggesek lidah dan rongga mulut Nayla dengan cepat. Liur yang Nayla keluarkan semakin banyak. Liurnya ada yang mengenai lengan kemejanya juga ada yang jatuh langsung ke lantai.


“Uuuhhhuuukkk… Uhhukkk… Uhukkkk” Nayla terbatuk-batuk setelah penis mang Yono ditarik keluar.


Nayla lega karena akhirnya bisa menghirup udara segar. Ia pun menaikkan wajahnya tuk menatap wajah tukang sayur itu dalam keadaan mata yang berkaca-kaca.


“Huahahahah puas sekali saya mbaakkk” kata mang Yono sambil menarik lepas kausnya juga celananya. Tukang sayur yang biasa berkeliling itu kini sudah bertelanjang bulat. Perut tambunnya terlihat. Komposisi tubuhnya juga terlihat. Tubuh mang Yono tidak ada indah-indahnya sama sekali. Tubuh tua khas om-om gendut itu terlihat dihadapan Nayla. Memang sekilas tidak ada yang menarik, namun penisnya yang berdiri tegak dengan liur yang menyelimutinya membuat mata Nayla tertarik.


“Ayo berdiri”


Nayla pun patuh mendengar ucapannya. Saat ia berdiri tegak dihadapan mang Yono. Tukang sayur mesum itu langsung memelorotkan celana serta celana dalam Nayla hingga membuat akhwat bermasker itu 'bottomless' dihadapannya.


Nampak Nayla yang masih berhijab menyisakan kemeja yang tak ia kancing serta kaus berlengan panjang yang ia kenakan di dalam. Maskernya sudah terlepas. Wajahnya yang manis terlihat. Paha mulusnya juga terlihat. Bahkan lubang tempiknya yang begitu menggodanya juga terlihat. Mang Yono pun semakin bernafsu saat melihat keindahan wanita berhijab itu.


“Ayo waktunya giliran mbak… Sekarang waktunya mbak tuk melampiaskan nafsu besarmu itu” Kata mang Yono setelah menarik tangan Nayla ke arah sofa ruang tamunya.


Mang Yono sudah duduk di sofa panjang. Nayla yang paham langsung duduk menaiki tubuh tambun itu. Saat ia mulai menduduki penis hitam raksasa itu. Ia mulai menjerit merasakan dinding vaginanya kembali digesek oleh penis hitam itu.


“Uuuhhhhhhhhh” desah Nayla merasakan nikmatnya.


Nayla hanya terengah-engah setelah menunggangi penis besarnya. Nafsunya yang menggelora membuatnya menatap wajah mang Yono dengan penuh nafsu. Mata mereka saling pandang. Terlihat nafsu telah berkumandang. Nayla yang sedari tadi dipermainkan bertekad untuk melampiaskannya sekarang.


“Aku boleh mulai maanng ?” tanya Nayla meminta izin.


“Silahkan mbak… Saya udah gak sabar pengen ngerasain goyangan mbak” Jawab Mang Yono tersenyum mesum.


“Kalau gitu aku mulai yaaahhh… Uuuuhhhh” desah Nayla saat mulai mengangkat tubuhnya.


“Aaaaaahhhhh nikmatnyaaaa” Desah Mang Yono tersenyum.


“Aaaaahhhh maaannngggg” Desah Nayla saat ia mulai menjatuhkan tubuhnya.


“Huahahahah nikmat bangettt… Ayo lagi mbaaakkkk” kata mang Yono ketagihan.


“Uuuuuuhhhhhhh” desah Nayla saat mengangkat tubuhnya lagi.


“Ouuuhhhhh gilaaaa” Desah mang Yono memejam.


“Aaaaaaaahhhhhhhh mamanngggg” Desah Nayla saat menjatuhkan tubuhnya lagi.


“Huahahahhahah mantapnyaaa…. Mantapnyaaa” desah mang Yono puas.


Nayla mulai menaik turunkan tubuhnya secara teratur. Tubuhnya ia angkat lalu menghempaskannya dengan kuat ke bawah. Rasanya begitu nikmat. Berulang kali vaginanya seperti diaduk-aduk oleh penis tak bersunat itu di dalam. Nayla sampai merem melek merasakan kepuasannya. Berulang kali ia menatap wajah mang Yono tuk menikmati rupa dari pemuas nafsunya sekarang. Mang Yono terlihat tersenyum melihat bidadari pemuas yang bahkan rela datang ke rumahnya untuk mencicipi penis gempalnya.


Tangan mang Yono pun mendekap pinggang Nayla agar tak terjatuh. Nayla jadi semakin mudah dalam menaik turunkan tubuhnya. Ia yang tak khawatir terjatuh membuatnya mempercepat goyangannya. Tubuhnya digerakkan cepat. Tubuhnya naik turun dengan cepat. Saat pinggulnya turun terasa tusukan mang Yono lebih terasa. Saat tubuhnya diangkat naik hingga menyisakan bibir vaginanya saja yang menjepit ujung gundulnya. Terasa rasa geli-geli nikmat yang membuatnya langsung menurunkannya hingga penis itu menyundul dinging rahimnya.


“Aaaahhh maannggg…. Aaaahhh mamanggg… Aaahhh kontol mamanggg enak bangett… Aku sukaa… Akuuu aaahhhh” desah Nayla disetiap goyangannya.


Mang Yono pun tersenyum melihat betapa binalnya akhwat berhijab itu. Seketika ia penasaran. Ia pun ingin bertanya padanya mengenai penilaiannya saat menggenjot tubuhnya.


“Aaahhhh… Aaahhhhh… Mbaaakkk” Desah mang Yono saat digoyang.


“Aaaahhh manggg…. Ada apaaa ?” Tanya Nayla sambil terus menggoyang.


“Gimana tadi pas saya nyodok memek mbak ?” Tanya mang Yono penasaran.


“Aaahhhh…. Aaahhhh… Mamang jahaaat” Jawab Nayla yang membuat mang Yono tertawa.


“Huahahaha… Kenapa begitu ? Aaahhh… Aaahhhh” Tanya mang Yono lagi.


“Habis mamang suka mainin nafsuku aku…. Kenapa mamang kadang genjot cepet kadang genjot aku pelan… Aku jadi sebel… Aku jadi kesel tau manggg… Aaahhhh… Aaahhhh” Desah Nayla yang jadi mempercepat goyangannya saat teringat kekesalannya.


“Lohhh ? Huahahha… Emang harusnya gimana cara genjot yang benar mbak ?” Tanya mang Yono memancing.


“Aaaahhhh… Aaahhhhh… Harusnya tuh kayak gini maaannggg… Harusnya tuh kayak gini… Aaaahhhhh” desah Nayla yang menggoyang semakin binal.


“Aaaahhh gitu ? Aaahhhh gilaaa…. Aaahhhh binal sekali dirimu mbaaakkk” desah mang Yono yang kewalahan saat membangkitkan nafsu Nayla yang terpendam.


Nayla bergoyang semakin binal. Tidak hanya bergoyang naik turun. Tapi ia juga bergoyang maju mundur. Kedua tangannya yang bertumpu pada bahu mang Yono memudahkannya untuk terus bergoyang.


Penis mang Yono tergerak maju mundur. Penisnya jadi semakin tercekik bagaikan persneling mobil yang digerakkan maju mundur. Kenikmatan itu semakin terasa saat memandang wajah indah Nayla yang begitu bernafsu. Tubuh Nayla yang masih tertutupi pakaiannya yang 'trendy' menambah akan fantasi yang dimiliki oleh tukang sayur rendahan itu. Ia yang memiliki istri gembrot nan ndeso di kampungnya merasa ini adalah hadiah yang besar. Lekuk tubuh Nayla jelas berbanding terbalik dengan istri tuanya. Ia jadi semakin bernafsu. Ia bahkan mencengkram kemeja Nayla tuk menahan goyangan Nayla yang semakin binal.


“Aaaahhhh maaanngg… Aaahhhhh… Aaaahhhhh” desah Nayla dengan penuh gairah.


“Ouuhhhh mbaakkk… Ouhhh nikmat sekaliii… Ouhhhh” desah mang Yono sampai memejam kerena tak sanggup menahan kenikmatan ini lagi.


Nayla yang semakin terangsang menaikkan kausnya hingga kedua payudaranya terlihat jelas dihadapan mang Yono. Nayla langsung meremasinya. Ia memainkan susunya karena tak tahan dengan rasa gatal yang mendera tubuhnya.


“Aaaaahhh gilaa… Aaahhhh binal sekali dirimu mbaakk… Aahhh iyaahh… Remess terusss… Remesss yang kuat mbaaakkk” desah mang Yono terpana akan kebinalan Nayla.


“Aaahhh iyaahhh… Aahhh enak sekaliii… Aaahhh ini maangg susu akuuu… Ayo nikmati maannggg” desah Nayla yang langsung memeluk kepala mang Yono.


Akibatnya wajah mang Yono menubruk dada empuk dari bidadari berhijab itu. Nayla yang kadang menggerakkan kedua bahunya maju mundur secara bergantian membuat wajah mang Yono berulang kali ditampar menggunakan susunya yang bergondal-gandul.


Wajah mang Yono dipukuli. Tapi anehnya, bukannya marah atau membalas pukulan setelah wajahnya dipukuli. Ia justru menikmati dan ingin terus dipukuli menggunakan susu empuk itu. Bahkan lidahnya keluar membiarkan lidahnya itu tersentuh putingnya.


Sungguh kenikmatan luar baisa yang didapatkan oleh mang Yono. Penisnya yang tercekik, wajahnya yang ditampar. Serta tangannya yang mendekap tubuhnya. Semua kombinasi itu menambah gairah akan nafsu mang Yono. Ia menikmatinya. Ia sangat menikmati goyangan Nayla.


“Aaaahhhh cukuupp… Cukupp mbaakk… Kita istirahat dulu” Ujarnya yang hampir kelepasan menerima semua rangsangan Nayla.


“Mmmpppphhhhhh” Desah Nayla yang langsung dicumbu setelah memberhentikan goyangannya itu.


“Mmppphh nakal kamu yah mbaakkk… Hampir aja saya keluar gara-gara mbak” desahnya disela-sela cumbuannya.


“Mmpphhh habis mamang sih mainin nafsu aku tadi… Aku kan jadi bernafsu” Balasnya sambil menikmati cumbuan tukang sayur itu.


“Mmpppphh huahaha… Tapi kontol saya gimana ? Memuaskan kan ?” Tanya mang Yono meminta pendapat.


“Mmpphhh bintang lima kok manggg… Kalau ada angka tujuh aku kasih bintang tujuhh” Balasnya sambil terus bercumbu dengannya.


Mang Yono yang gemas akhirnya berdiri sambil menggendong tubuh ramping akhwat binal itu.


Kedua kaki Nayla berpegangan pada pinggul mang Yono. Kedua tangan mang Yono memeluk pinggang Nayla agar tidak terjatuh. Sambil terus berciuman, mang Yono menggendong Nayla menuju kamarnya agar dapat segera menghabisinya. Mang Yono tak tahan. Ia ingin menghabisinya dengan segera.


“Aaaaaahhhhhhhh” desah Nayla yang dilempar ke ranjang tidur mang Yono.


Nayla terbaring dalam posisi terlentang menghadap tubuh gempal mang Yono yang sudah bertelanjang bulat. Akhwat binal yang sedang tersesat itu menatap tubuhnya dari atas ke bawah. Saat matanya menatap penis besarnya yang masih berdiri tegak. Nayla tersenyum malu-malu. Ia tak menduga vaginanya bakal dipuasi lagi oleh penis sebesar itu.


“Mbaaaaakkkk” kata mang Yono sambil mendekat lalu melebarkan kedua kaki Nayla.


“Iyyahhh maannggg” jawab Nayla dengan manja.


“Huahahahhah dasar nakal yaahhh… Masih pagi tapi udah godain saya aja… Jangan nyesel kalau saya menghukummu dengan keras” kata mang Yono sambil tersenyum.


“Hihihhhih justru aku pengen dihukum mamang… Tapi hukumnya pake kontol yaahh… Hukum aku sampai ketagihan yah mang…” Jawab Nayla sambil mengedipkan matanya.


Segelnya yang sudah terlepas membuatnya jadi semakin liar. Nayla tak peduli lagi dengan siapa ia bercinta asalkan dirinya bisa mendapatkan kepuasan. Bahkan andai ia menemukan pria tua yang menarik perhatiannya di jalan pun, pasti ia juga akan mengajaknya untuk mendapatkan kenikmatan dari penis besarnya.


“Dasar yah… mbak Nayla, lonte” Jawab mang Yono sambil menyelupkan penisnya lagi.


“Uuuuhhh maamanggg iyaahhh… Aku emangg lonteee… Aaahhhh lonte favorit maamanggg” Jawab Nayla dengan binal.


MEBE9O7

https://thumbs4.imagebam.com/31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg   31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg

'MANG YONO


MEBE9P5

https://thumbs4.imagebam.com/1b/18/f6/MEBE9P5_t.jpg   1b/18/f6/MEBE9P5_t.jpg

'NAYLA


“Huahahah tau aja… Siaapp yahh saya hukum… Saya mulaai, heenkkgghhh !!!” desah mang Yono mulai kembali menggerakan pinggulnya.


“Uuuhhhh iyaahh maanngg… Uhhh nikmat bangeeett…. Uhhhh terruusss” desah Nayla dengan manja.


Mang Yono langsung menggempur. Gerakannya langsung cepat saat menikmati jepitan sang akhwat. Sambil mendekap paha mulusnya, ia terus menggerakan pinggulnya secara maju mundur. Dada Nayla yang kembali tertutupi kausnya bergondal-gandul. Kedua tangannya sampai mencengkram sprei ranjang mang Yono dengan kuat. Ia bertahan sekuat tenaga. Ia bertahan sambil menjerit sekeras-kerasnya saat menerima gempuran mang Yono.


“Aaaahhh maaanngg… Aaahhhh… Aaaahhhhhh” desah Nayla manja.


Mang Yono menundukkan tubuhnya. Kedua tangannya kini tidak hanya mengusapi pahanya. Kedua tangannya mulai naik mengusapi perut ratanya. Usapannya semakin naik saat mengangkat kaus Nayla hingga melewati kedua payudaranya. Ia pun terus menggenjotnya sambil melakukan itu semua.


Akhirnya mang Yono dapat melihat goyangan susu itu lagi. Goyangannya yang indah membuat mang Yono bergairah. Ia pun jadi mempercepat genjotannya hingga membuat Nayla hanya bisa pasrah. Nayla tak berdaya. Ia pasrah menyerahkan tubuhnya agar dinikmati olehnya.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Maangg… Aaahhh” desah Nayla sambil memejam karena tak tahan.


“Aaahhhh…. Aahhhh… Mbakk daritadi kok kayaknya binal banget… Mbak kayaknya udah pengalaman yah ? Siapa aja sih yang udah ngerasain jepitan memek mbak selain suami mbak” Tanya mang Yono iseng.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Pak Urip maanngg… Pak Urip udah berkali-kali genjot memekku” Jawab Nayla mengaku.


“Hah ? Huahahhaah… Oh yah ? Terus siapa lagi ?” Tanya mang Yono bersemangat.


“Aaaahhh… Aaahhhhh… pak Beni juga pernah sekaliii maaanggg… Aahhh tapi aku pernah melakukan 'video call' juga sama pak Beniii… Aahhhh iyahhh kami melakukannya pas sama-sama telanjaanngg” Desah Nayla kembali mengaku.


“Huahahhah dasaarrr binaaalllll… Saya kira selama ini mbak itu alim gimana… Rupanya mbak mempunyai jiwa lonte juga yaahhh… Huahahha… Huahahah” tawa mang Yono sambil mempercepat genjotannya tuk memuasi akhwat lonte itu.


“Aaaahhh iyaahhh… Aku juga baru tau belakangan ini maannggg… Aku ini lontee… Akkuuu lonteee… Aaahhhhh” desah Nayla bergairah.


“Huaahhahah… Terus dari sekian laki-laki yang pernah memuasi mbak… Siapa yang paling membuat mbak puas ?” Tanya mang Yono penasaran.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Paakkk Uriippp… Aku pernah sampai keluar berkali-kalii maanngg… Aaaahhhhh” desah Nayla yang membuat mang Yono tertawa.


“Oh yah ? Mulai sekarang saya akan jadi yang pertama di hati mbaakk… Saya akan memuasimu… Saya akan membuatmu puas sepuas-puasnya… Hennkgghhhh” desah mang Yono mempercepat sodokannya.


“Aaahhh iyaahh maanngg… Aaahhhhh… Aaahhhhh terruusss” Desah Nayla dengan penuh gairah.


Mang Yono semakin bersemangat. Ia melampiaskan semua tenaganya tuk memuasi sang akhwat. Fakta mengejutkan yang baru diketahuinya justru membuatnya jadi semakin bernafsu. Ia penasaran, bagaimana rupa ekspresinya saat tubuh seindah ini dinikmati oleh pria-pria tua seperti mereka.


'Beruntung juga pak Urip… Mentang-mentang kerja di rumahnya malah nyambi memuasinya… Si pak Beni boleh juga… Gitu-gitu udah pernah nyicipi memeknya rupanya…. Ah meski jadi yang ketiga, rasa dari memeknya masih enak aja… Liat mbak… Saya akan memuasimu… Saya akan membuatmu ingat terus akan persetubuhan kita di hari ini…'


Batinnya sesumbar.


“Uuuuhhhh maaannnggg” desah Nayla saat tiba-tiba mang Yono menghentikan genjotannya.


“Ayoo mbakkk… Balik badan… Saya ingin menggenjotmu dengan gaya anjing kawin” Kata mang Yono yang membuat Nayla jadi teringat seseorang.


'Gaya anjing kawin ? Ini kan gaya favorit pak Urip…'


Batinnya yang langsung menungging diatas kasur sambil membelakangi mang Yono.


“Indahnyaaa…. Indahnya bokong semokmu ini mbaaakkk” Ucapnya sambil menampar sekali karena gemas.


'Plaaaakkkkk !!!'


“Aaahhh maannggg” desah Nayla dengan manja.


Mang Yono lalu menarik kemeja yang Nayla kenakan lalu ia juga mengangkat kausnya hingga membuat akhwat binal itu telanjang menyisakan hijab serta stockingnya saja. Nampak Nayla yang telanjang kembali menungging bersiap untuk ditusuk lagi. Susunya yang menggantung jadi terlihat jelas. Nayla telah bersiap. Ia bersiap untuk dipuasi lagi oleh tukang sayur langganannya.


'Jleeeebbbbb !!!'


“Aaaaahhhh yaaahhhh” desah mereka bersamaan.


Mang Yono langsung mendekap pinggul mulus Nayla. Pinggulnya juga langsung bergoyang menggempur rahim dari bidadari cantik itu. Sambil merasakan jepitannya yang semakin terasa, ia mengelus-ngelus punggung mulusnya. Terasa kulitnya begitu halus. Ia menduga pasti Nayla sering melakukan perawatan pada tubuh indahnya. Mang Yono tersenyum, ia terus menggempurnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena masih tak menyangka ia dapat bersenggama dengan makhluk semulus ini.


“Aaahhh maannngg… Aahhhh… Aaahhhh”


“Aaahhh mbaaak… Aahhhh… Nikmat sekalii… Nikmat sekaaliiii” desah mang Yono puas.


Mang Yono pun menundukkan tubuhnya hingga tangannya dapat meraih payudara montoknya. Sembari pinggul terus menggempur maka tangannya terus meremas-remas dada bulatnya. Nayla mendesah nikmat. Matanya merem melek kepuasan. Tangannya mencengkram sprei ranjangnya. Pinggulnya bertahan menerima sodokan mang Yono yang semakin keras.


'Plookkk… Plookkk… Plookkk…'


“Aaahhhh… Aahhhh… Nikmat sekalii mbaakkk…”


“Aaahh maanngg… Aahhh teruss… Teruss maangggg”


Nafsu mang Yono yang membesar membuatnya jadi terus mendorong tubuh akhwat yang sudah telanjang itu. Akhirnya tubuh Nayla ambruk ditindihi tubuh mang Yono. Dada Nayla kegencet. Wajahnya pasrah menerima sodokan mang Yono yang terus bergerak naik turun.


“Aaaahhhh… Aahhhh lepas hijabmu ini mbaaakk” desah mang Yono sambil menarik lepas hijabnya.


“Aaahhh iyahhh mangg… Aahhh… Aahhh” desah Nayla yang akhirnya sudah telanjang bulat.


Menatap gaya rambut Nayla yang pendek sebahu itu membuatnya jadi semakin bernafsu. Kebetulan itu merupakan gaya rambut favoritnya. Ia semakin bernafsu melihat wanita yang memotong pendek rambutnya. Menurutnya itu jauh lebih seksi. Ia pun terus menggempur Nayla tanpa henti.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Aaahhhh ayooo sinniiii” desah mang Yono sambil menarik tubuh Nayla hingga miring kesamping. Mang Yono yang memiringkan tubuhnya ke kiri memeluk tubuh Nayla yang ada dihadapannya. Tangan kanannya mendekap susu bulat Nayla yang semakin kenyal. Penisnya masih terjepit di dalam. Pinggulnya terus menggempur tanpa pernah berhenti sedari tadi.


Kepuasan yang tidak terkira membuat nafsu mereka kian membara. Mereka hampir mendekati puncak. Mereka terus mendesah merasakan kepuasan yang tiada tara.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Ayo sini mbaakk… Hadap siniiii” desah mang Yono meminta Nayla menghadapkan wajahnya.


“Aaahhh iyaahh maaannggg” desah Nayla yang menyanggupinya meski dalam posisi sulit.


“Aaahhhh… Aahhhh indahnya wajahmu ini… Beruntungnya saya bisa bercinta dengan wanita secantik dirimu mbaaakkk” Desah mang Yono sambil menatap wajah cantiknya.


“Aaahhhhh… Aahhhh… Aku juga beruntung kok maanngg bisa bercinta dengan laki-laki perkasa kayak mamaanngg” desah Nayla yang semakin menikmati persetubuhan ini.


Cukupp lama mereka saling pandang membuat mereka tak tahan. Bibir mereka gatal. Mereka pun kembali berciuman ditengah persetubuhan mereka yang semakin barbar.


“Mmppphhh… Mmpphhh…. Mmppphhh” desah mereka tertahan.


Suara pergumulan mereka semakin keras. Terlihat sodokan mang Yono semakin ganas. Tubuhnya telah memanas. Nalurinya pun semakin buas. Ia akhirnya menyetubuhi Nayla dengan beringas.


“Mmppphhhh… Mmppphhh… Mmppphhhh” desah mereka saling memejam.


Mereka akhirnya tidak kuat lagi. Nafsu mereka sudah mendekati batas maksimal. Tangan mang Yono semakin kuat dalam mencengkram. Pinggul mang Yono semakin barbar dalam menghujam. Bibirnya juga semakin ganas dalam berciuman.


Dua menit mereka bercinta dalam posisi demikian membuat mereka tak sanggup bertahan lagi. Terasa gelombang itu sudah mendekati lubang kencing masing-masing. Tubuh mereka mengejang. Nafas mereka memberat. Kenikmatan yang semakin menjalar membuat mereka melampiaskannya secara bersamaan.


“Mmppphhh… Mmpphhh terima iniii… Terima sodokan saya iniiiiii” Desah mang Yono tak kuat lagi.


“Mmpphh iyahhh mangg… Aku mau keluuaar… Terus sodok teruss yang kerraassss”


Mang Yono yang tak kuat lagi akhirnya menusukkan penisnya sedalam-dalamnya saat merasakan gelombang birahinya akan muncrat. Ya, ia akan muncrat. Dengan satu sodokan yang kuat, ia pun menyudahi persetubuhan ternikmatnya dengan menancapkan penisnya sedalam-dalamnya.


'Jlleeeebbbb !!!!'


“Aaaahhhh kelluuaaarrrr” Jerit mang Yono dengan dahsyat.


“Aaaahhh manggg akuu jugaaa… Aaahhhhh” jerit Nayla tak lama kemudian.


'Cccrrrooottt… Cccrrrooottt… Cccrrrooottt…'


Penis mang Yono menyemburkan spermanya dengan deras. Rongga vagina Nayla kembali dibanjiri oleh sperma pejantan tua lagi. Mata mereka sama-sama memejam nikmat. Tubuh mereka juga sampai bergidik nikmat. Terasa kelegaan setelah menyudahi persetubuhan mereka. Nafas mereka menjadi sesak. Nafas mereka ngos-ngosan setelah berolahraga secara maksimal. Tubuh mereka berkeringat. Mang Yono pun jadi memeluk tubuh Nayla dengan erat.


“Ouuuhhhh… Ouuhhhh…. Ouhhh puasnyaa” desah mang Yono kelelahan.


“Hah… Hah… Hah… Selesai jugaa… Hah” desah Nayla ngos-ngosan.


Mereka pun terus diam dalam posisi seperti itu. Terlihat jelas kalau mereka berdua sama-sama kelelahan. Namun juga terlihat kalau diri mereka sama-sama puas setelah melalui persetubuhan yang dahsyat. Mang Yono yang berhasil mengumpulkan sedikit tenaganya lagi mulai menarik lepas penisnya hingga lelehan spermanya dengan deras tumpah melalui lubang vaginanya.


Nayla bergidik saat merasakan aliran sperma itu keluar. Nayla tersenyum. Akhirnya rasa penasaran itu terlampiaskan dengan persetubuhan terdahsyat yang pernah dialaminya.


“Hah… Hah… Makasih mbaakk… Saya sangat puas” Puji mang Yono yang membuat Nayla terenyum.


“Aku juga mang… Hah… Hah… Hah… Makasih yah udah muasin aku” Jawab Nayla malu-malu.


Wajah Nayla pun memerah setelah menyadari betapa binalnya ia saat disetubuhi tukang sayur langganannya. Ia yang biasanya menyesal setalah bercinta, kini ia tidak merasakannya lagi. Ia malah tersenyum penuh kepuasan sambil memandang wajah pemuasnya. Ia sangat berterima kasih padanya karena sudah mengajarkan apa itu kepuasan yang sesungguhnya. Meski ia benar-benar puas, persetubuhannya dengan pak Urip saat pertama kali tiba di vila masih menjadi favoritnya. Karena disaat itulah dirinya bercinta saat lagi terangsang-terangsangnya.


“Hah… Hah… Puas banget” desah Nayla ngos-ngosan.


“Saya keluar sebentar yah mbak… Saya mau buatin minuman dulu… Mbak istirahat dulu aja disini” Kata Mang Yono berdiri lalu keluar dari kamarnya.


“Iyyahh manngg” Jawab Nayla memejam lalu menaruh lengannya diatas dahinya.


Selagi ia sendirian sambil memejam didalam kamar. Ia tersenyum merasakan betapa puasnya ia bercinta dengan tukang sayur langganannya. Entah kenapa ia jadi semakin yakin bahwa ini adalah jalan hidupnya yang sesungguhnya. Ia merasa bahagia setelah bercinta dengan pria-pria tua yang sanggup memberinya kepuasan. Apalagi ia melakukannya bukan karena terangsang oleh nafsunya. Ia melakukannya sesuai keinginan hatinya. Ia melakukannya hanya karena rasa penasarannya. Untungnya rasa penasaran itu berhasil terlampiaskan dengan persetubuhan ternikmat yang mang Yono berikan.


“Hah… Hah… Hah… Puas bangeett… Ouhhh mantapnyaaa… Nikmat banget kontol mamang tadi” Lirihnya sambil meremasi payudaranya sambil mengingat-ngingat lagi momen saat disodok menggunakan penis perkasa itu.


“Gara-gara mang Yono, aku jadi penasaran… Gimana yah rasanya kontol-kontol laki-laki tua lain yang aku kenal… Pak Tomi, mang Lasno, pak Rudi dan yang lainnya… Aaaahhh gimana yah rasanya kontol mereka ? Apakah sama ? Apa jangan-jangan semakin tua malah semakin terasa nikmat ? Aaahhhh jadi pengen ngerasain kontolnya mbah-mbah deh… Duhh kok jadi pengen yah… Besok-besok aku mau coba ah, aku penasaran banget deh sama kontol-kontol mereka itu” Lirih Nayla yang kembali terangsang gara-gara membayangkan pria-pria tua.


“Inii mbaakk minumannya… Ini ada es lemon yang baru aja saya peres” Kata mang Yono yang memasuki kamarnya saat masih dalam keadaan telanjang bulat.


“Waahh makasih maanngg” Jawab Nayla yang langsung duduk di tepi ranjang dalam keadaan yang juga bertelanjang bulat.


Mereka pun bersulang saat sama-sama duduk di tepi ranjang. Sungguh pemandangan yang membagongkan ketika ada wanita seksi yang bertelanjang bulat tapi disebelahnya ada pria tua berbadan gempal juga berwajah buruk rupa. Tapi terlihat wajah mereka sama-sama tersenyum. Mereka bahkan saling pandang sekilas sebelum wajah mereka mendekat untuk kembali berciuman.


“Mmpphhh… Mmpphhh makasihh yah mangg” Kata Nayla ditengah percumbuannya.


“Mmppphh buat minumannya kan mbak ?” jawab mang Yono pasrah saat dicumbu oleh Nayla.


“Mmpphh buat kontolnya laahhh hihihhihi” Ujar Nayla yang mengejutkan mang Yono.


Mereka pun terpaksa berhenti minum sejenak tuk membiarkan bibir mereka saling dorong dan saling sepong. Tangan Nayla yang saat itu masih memegang minumannya sengaja menumpahkannya yang kebetulan jatuh mengenai penis mang Yono yang mulai lemas.


“Aaaahhh dinginn” Kata mang Yono yang membuat Nayla tersenyum.


“Oops tumpah… Biar aku bersihkan yah mang” Ucap Nayla berpindah lalu berjongkok dilantai sambil memasukan penis itu lagi ke dalam mulutnya.


“Mmpphhh maniss… Mmphhh ada rasa lemon-lemonnya gitu hihihi” Tawa Nayla sambil mengulum penis tukang sayur itu.


“Aaaaahhh mbaakk… Aaahhhh… Aaahhhh”


Nayla terus tersenyum dalam mengulum penis tukang sayur itu. Penisnya lama-lama mengeras. Lama-lama penis itu juga berdenyut cepat. Tak disangka dalam jangka waktu yang sebentar, penis itu lagi-lagi keluar memuncratkan spermanya.


“Aaaahhh kelluuaaar”


“Mmmppphhh”


Nayla pun menahan semuanya. Memang spermanya tidak sebanyak tadi. Namun sperma itu sudah cukup untuk memenuhi mulutnya.


“Mmpphhh hihihihh” tawa Nayla saat berdiri lalu membuka mulutnya sejenak untuk menunjukkan sperma yang ada di mulutnya.


Di luar dugaan ia menenggaknya. Lalu kembali duduk di tepi ranjang untuk menghabiskan minuman lemon buatan pemuasnya.


Terlihat mang Yono bengong tak percaya. Ia pun terus menatap akhwat binal yang kini sudah bertelanjang bulat tanpa adanya sehelai pakaian lagi.


'Binal sekali dirimu mbaakkk !!!'


Batin mang Yono memuji sikapnya.


BERSAMBUNG

;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 14


KENCAN YANG TAK DISENGAJA

Suatu hari disaat jam sudah menunjukkan pukul 11 siang tepat.


“Aku pulang dulu yah mang… Makasih buat hari ini” Ucap Nayla malu-malu saat berdiri di depan pintu keluar rumah mang Yono.


“Loh buru-buru amat mbak” Jawab mang Yono yang cuma mengenakan sempaknya saja.


“Hihihi buru-buru ? Udah dua jam loh aku disini nemenin mamang… Bahaya kalau kelamaan, nanti itunya berdiri lagi… Aku capek tau” Kata Nayla sambil memeletkan bibirnya.


“Duh melet-melet… Jadi pengen nyepong lidahnya deh” Kata mang Yono yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihi tuh kan… Udah ah… Aku pergi dulu yah mang… Dadaaahhh” Kata Nayla sambil melambaikan tangannya.


“Huahahah iya mbak… Hati-hati di jalan yah” Jawab mang Yono membalas lambaian tangan Nayla.


Nayla pun mengenakan maskernya kembali. Nayla yang sudah mandi dan membersihkan diri bersiap untuk pulang ke rumahnya lagi. Setelah menutup rapat pintu rumah mang Yono, ia segera pergi menaiki motornya. Namun sebelum ia menyalakan mesin motornya, ia berhenti sejenak saat terpikirkan sesuatu.


“Ini kalau aku pulang sekarang pasti bakal dipaksa ngelayanin pak Urip deh… Duh bisa gawat… Aku lagi capek banget soalnya… Pergi kemana dulu yah ?” Kata Nayla bimbang.


Akhwat cantik yang sudah kembali mengenakan pakaian 'trendy'-nya itu terus berfikir. Ia cukup lama duduk di atas motornya untuk memikirkan cara menghindari pak Urip.


“Hah… Apa jalan-jalan ke mall dulu aja kali yah ? Hmmm mana masih jam 11 lagi… Duh masih lama padahal buat nungguin mas Miftah pulang… Yaudah deh ke mall aja” katanya sambil mengenakan helmnya lagi.


Nayla akhirnya mulai menyalakan mesinnya. Ia lalu memutar balik motornya untuk pergi menjauh dari rumah tukang sayur langganannya itu.


'Gilaaaa… Siapa itu cantik banget ? Anaknya mang Yono kah ? Ah gak mungkin… Mang Yono kan non, masa iya anaknya cantik berhijab gitu… Apa pacarnya yah ? Apalagi tambah gak mungkin… Apa urusannya yah dateng ke rumah mang Yono ? Hmmmm curiga deh…'


Batin seseorang yang melihat kepergian Nayla dari balik jendela rumahnya.


*-*-*-*

Setengah jam kemudian pada pukul setengah dua belas tepat.


Di sebuah café yang berada di dalam mall. Terdapat seorang akhwat berhijab yang tengah duduk sendirian di salah satu meja. Hanya segelas kopi dingin yang menemani dirinya. Tangan kanannya berulang kali mengecek hape untuk mencari kesibukan. Ia bosan. Ia merasa bosan hanya sendirian di café tersebut.


“Hah… Ngapain yah ? Baru setengah jam loh” Lirih Nayla sebal.


Nayla yang tampil 'trendy' menarik perhatian orang-orang. Beberapa pria baik yang muda ataupun yang tua, yang menikah atau yang belum menikah, yang kaya ataupun yang miskin semuanya melirik Nayla ketika melewatinya.


Namun Nayla memilih cuek saja. Ia tak memperdulikan tatapan orang-orang yang sedari tadi memperhatikannya. Lagipula itu bukan kali pertama ia diperlakukan seperti ini. Sebagai selebgram, sudah banyak orang-orang yang meliriknya ketika mereka berjalan melewatinya.


MEBE9P5

https://thumbs4.imagebam.com/1b/18/f6/MEBE9P5_t.jpg   1b/18/f6/MEBE9P5_t.jpg

'NAYLA


“Siangg dekk… Sendirian nih ?” Ucap seseorang yang mengejutkan Nayla.


“Ehhh iya pak… Iyahh sendirian” Jawab Nayla sambil melirik sosoknya.


Nayla tampak bingung saat melihat wajahnya. Ia merasa tak mengenalinya. Tapi kenapa laki-laki itu terlihat seperti akrab dengannya ?


“Kalau gitu boleh saya duduk ?” Kata laki-laki itu.


“Ohh iyyah… Boleh… Silahkan” Jawab Nayla tersenyum sambil berusaha bersikap sopan dihadapannya.


Sekilas Nayla mencoba memperhatikan sosoknya. Terlihat pria itu berusia sekitar 50 tahunan, kepalanya besar, wajahnya bulat, kumisnya tipis, rambutnya beruban dan tubuhnya gendut bahkan lebih gendut daripada mang Yono ataupun pak Urip. Pria itu terlihat begitu percaya diri saat duduk dihadapan Nayla. Nayla pun mencoba menerka-nerka siapa laki-laki itu. Apakah rekan kerja suaminya ? Atau mungkin seseorang yang pernah ditemuinya ?


“Maaf ? Bapak siapa yah ?” Tanya Nayla karena penasaran.

MECH5S3

https://thumbs4.imagebam.com/11/47/76/MECH5S3_t.jpeg   11/47/76/MECH5S3_t.jpeg


MEHI9XM

https://thumbs4.imagebam.com/00/d0/dc/MEHI9XM_t.jpeg   00/d0/dc/MEHI9XM_t.jpeg

'OM TRISNO


“Kenalin, saya Trisno… Panggil aja om Trisno… Kalau nama kamu dek ?” Kata om Trisno sambil menjulurkan tangannya.


Nayla pun nyaris mengangkat tangannya tapi kemudian kembali ia letakkan diatas meja bundar didepannya.


“Hehe… Aku Nayla om” jawab Nayla malu-malu.


“Oh maaf saya lupa… Bahahaha… Adek kan akhwat yah… Haram kan berpegangan tangan” Kata om Trisno sambil tersenyum menatap wajahnya.


“Eehhh iya… Hehehe” Jawab Nayla dengan canggung.


Nayla pun semakin kebingungan. Saking bingungnya, ia hampir saja menurunkan maskernya ke bawah untuk meminum minumannya. Untungnya ia ingat, ia pun hanya menarik maskernya ke depan agar bibirnya dapat menjepit sedotan yang ada di gelas minumannya.


'Siapa sih bapak ini ? Minta dipanggil om terus manggil aku adek lagi… Ihh sok akrab banget deh…'


Batin Nayla saat menyeruput minumannya.


“Adek… Hmmm adek keliatan masih muda… Cantik lagi… Adek punya pacar gak ?” Tanya om-om itu tersenyum.


“Pacar ? Enggak om… Tapi aku . . . “ Jawab Nayla terpotong.


“Bahahaha pas banget… Kebetulan, om juga… Masih jomblo nih” kata om-om itu yang membuat Nayla mengernyitkan dahinya.


'Terus kenapa ?Apa-apaan sih ini orang ? Aneh deh…'


Batin Nayla semakin tak nyaman.


“Adek lagi ada waktu kan ? Kalau om ajak jalan-jalan mau gak ?” Tanya om-om itu sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


“Jalan-jalan ?” Tanya Nayla heran.


“Iya… Nanti om kasih uang jajan juga… Adek bebas mau belanja apa aja asal adek mau nemenin om jalan-jalan” Katanya sambil mengeluarkan dompetnya lalu menunjukkan isi di dalamnya. Terlihat banyak lembaran uang berwarna merah dan biru yang cukup banyak hingga membuat Nayla terkejut. Nayla tak menduga rupanya om-om yang duduk didepannya itu merupakan orang yang kaya raya.


“Ehh gak usah om… Aku gak perlu… Aku lagi nunggu temen juga kok” Kata Nayla berbohong.


“Temen ? Bilang aja ke temenmu, kalau kamu ada kesibukan… Mending temenin om aja… Mau yah ? Kamu butuh baju baru ? Apa tas baru ? Nanti om jajanin kamu deh” Bujuk om Trisno sambil tangannya mulai menjalar mendekati tangan Nayla.


“Eeehhhh” Nayla terkejut saat punggung tangannya sudah didekap oleh om-om gendut itu. Nayla hendak menariknya tapi tangan om Trisno menahannya yang membuat Nayla menaikkan pandangannya tuk menatap wajah om-om itu.


Namun om Trisno hanya tersenyum sambil memandang wajah indah Nayla. Nayla pun semakin tidak nyaman. Tapi ia bingung karena tak bisa berbuat apa-apa.


“Cantik sekali dirimu dek… Kok bisa secantik dirimu gak ada yang mau macarin ?” Katanya sambil menarik tangan Nayla lalu mendekatkannya ke wajahnya untuk mengecup punggung tangannya.


Sontak Nayla merinding saat punggung tangannya dicium olem om-om mesum itu. Beruntung, Nayla setelah itu dapat menarik tangannya lagi. Tangan satunya yang tidak dicumbu mendekap pergalangan tangannya yang baru saja dicumbu. Nayla mengernyitkan dahinya sambil menatap wajah om-om itu.


“Apa ini ? Apa yang bapak lakukan ?” Tanya Nayla tersinggung.


“Ini sebagai dp-nya… Nih uang jajan buat kamu” Kata om Trisno yang tiba-tiba memberi Nayla tiga lembar uang berwarna merah. Om Trisno pun mendekatkan tiga lembar uang tersebut dengan cara menyeretnya maju ke dekat tangan akhwat bermasker itu.


“Gak usah om… Aku gak butuh” Kata Nayla sebal.


“Loh gak mau ? Kurang yah… Nih om tambahin” Kata om Trisno sambil tersenyum. Ia lalu menambah dua lembar uang berwarna merah lagi hingga total ada lima lembar uang berwarna merah yang diberikan secara cuma-cuma oleh om-om mesum itu.


“Bukan itu maksud aku om… Maaf aku mau pergi” kata Nayla yang merasa tidak kuat lagi.


“Eh tunggu… Saya beri semua uang yang ada di dompet saya… Tapi syaratnya kamu mau yah nemenin om tidur di hotel malam ini” Kata om Trisno sambil mendekap tangan Nayla hingga memaksanya untuk tetap tinggal di café tersebut.


Nayla yang sebenarnya tidak memiliki sifat matre tidak bergeming sedikitpun dengan godaan yang diberikan oleh om-om gendut itu. Sebaliknya, ia sangat membenci cara pendekatan yang dilakukan olehnya. Nayla paling benci orang-orang yang salah menggunakan uang. Termasuk apa yang dilakukan oleh om Trisno sekarang.


“Heyyy apa-apaan ini ?” Ucap seseorang yang membuat om Trisno dan Nayla menoleh ke arahnya.


MEBHU2J

https://thumbs4.imagebam.com/7b/22/51/MEBHU2J_t.jpg   7b/22/51/MEBHU2J_t.jpg

'ANDRI


“Andriii” Kata Nayla yang membuat om Trisno menoleh ke arahnya.


Andri yang dipanggil namanya langsung mendekat. Om Trisno panik menyadari teman yang ditunggu Nayla telah datang. Ia pun tersenyum menatap wajah Nayla sambil mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.


“Ini kartu nama saya… Kalau kamu kesulitan dan butuh bantuan… Telpon saya… Saya pasti akan datang untuk membantumu… Senang bisa mengenalmu dek” Kata om Trisno yang buru-buru pergi karena tak ingin berurusan dengan Andri.


Setibanya Andri di meja yang ditempati Nayla. Pria tampan yang merupakan calon suami dari Putri itu langsung menoleh ke arah yang dituju oleh om gendut tadi. Andri yang penasaran segera duduk lalu bertanya pada Nayla.


“Nay… Siapa tadi ? Kok dia megang-megang tangan kamu ?” Tanya Andri penasaran.


“Hmmm kurang tau Ndri… Tapi dia sok akrab banget deh” jawab Nayla.


“Sok akrab ?” Tanya Andri bingung.


“Iya, masa baru aja dateng udah manggil aku dek… Terus dia minta dipanggil om lagi… Terus abis itu masa iya mau ngajak aku jalan-jalan terus aku dikasih uang jajan lagi… Aneh deh” Kata Nayla menjelaskan semua yang ia alami pada sahabat laki-lakinya itu.


“Eh yang bener ? Orang itu kayak gitu ke kamu ?” Tanya Andri tak percaya.


“Iyya ndri… Aneh deh pokoknya” jawab Nayla.


“Eh kamu harus hati-hati lagi pokoknya… Kamu tadi lagi dibujuk buat jadi selingkuhannya loh” Kata Andri mengejutkan Nayla.


“Ehhh aku mau dijadiin selingkuhan ?” Tanya Nayla tak percaya.


“Iya… Biasa orang-orang kayak gitu disebut 'sugar daddy'… Dia itu orang kaya yang sukanya ngajak cewek-cewek cantik untuk jadi selingkuhannya dengan modal uang… Hati-hati kamu Nay… Huft untung aja ada aku… Lagian sih kamu . . . .” Kata Andri terpotong saat menatap penampilan Nayla dari atas ke bawah.


“Heleh gak ada kamu aja aku udah nolak duluan kok… Lagian ada apa dengan aku ?” Tanya Nayla heran.


“Kamu cantik banget tau… Kamu kayak masih jomblo aja” Ucap Andri yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihihi ada-ada aja sih kamu Ndri” Jawab Nayla tertawa malu.


“Iya, kamu beneran cantik deh… Cara berpakaian kamu udah kayak 'kids' zaman 'now'… Coba kalau aku gak kenal kamu… Pasti aku udah ngajak kamu nikah sekarang” Puji Andri yang membuat Nayla tersenyum malu.


“Makasih Ndri… Tapi maaf kamu telat… Aku udah nikah duluan hihihih” Jawab Nayla sambil tertawa yang malah membuat Andri kepikiran.


'Aku telat ? Berarti kalau aku ngajak nikahnya sebelum Nayla nikah, aku masih gak telat dong ? Kesempatanku terbuka dong ? Sial kenapa aku gak berani ngungkapin perasaanku waktu dulu yah ?'


Batin Andri sambil mengepalkan tangan kanannya.


“Oh yah… Ngomong-ngomong kamu ngapain disini Nay ? Sendirian lagi ?” Kata Andri sambil melihat sekitar.


“Aku gabut di rumah Ndri… Iya gabut… Aku pengen main tapi gak ada temen yang bisa diajak maen… Alhasil aku nongkrong sendirian deh hihihi” Jawab Nayla berbohong.


“Dasar… Berarti sekarang lagi ada waktu luang dong ?” Tanya Andri.


“Iyya ndri… Aku lagi 'free'” Jawab Nayla tersenyum lalu menyeruput minumannya lagi.


“Kalau gitu kebetulan, aku juga lagi 'free'… Kalau kita nonton gimana ?” Ajak Andri.


“Eh nonton ? Nonton apaan ?” Tanya Nayla penasaran.


“'Breaking news' Sambo !… Ya film di bioskop lah” Jawab Andri yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihihi jadi inget kemarin deh pas lagi asyik nonton badminton malah diganggu” Jawab Nayla saat teringat kejadian kemarin saat menonton tivi dengan santai di rumahnya.


“Sama Nay… Waktu itu lagi nonton bola eh malah layarnya diperkecil… Huft ngeselin” Kata Andri yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihihih bisa gitu yah”


“Oh yah, gimana ? Sekitar 10 menit lagi nih di jam 12 ada film 'Sayap - Sayap Patah' … Udah nonton belum ?” Tanya Andri.


“Eh film apa tuh ? Belum sih” Tanya Nayla tertarik.


“Kurang tau juga yah… Tapi kata temen aku itu film yang 'recommended'… Gimana ?” Tanya Andri berharap Nayla mau menyetujui ajakannya.


Nayla pun berfikir sejenak. Ia mencoba menerka-nerka waktu yang mungkin bisa dihabiskan kalau menonton film. Untuk film bioskop paling waktunya antara 90 - 120 menit. Kalau jam 12 mulai berarti jam 2 udah selesai lah yah ? Lumayan untuk mengulur waktu sampai pulang.


“Boleh deh… Iya aku mau… Kebetulan aku juga bawa uang kok” Kata Nayla yang segera ditolak Andri.


“Dah gak usah… Aku yang traktir… Tiket, 'popcorn' aku yang traktir” Kata Andri dengan begitu percaya diri.


“Eh beneran ? Jadi enak nih hihihi… Tapi jangan deh… Kan kita nontonnya bareng” Kata Nayla merasa tak enak.


“Udah gapapa… Dah lama juga aku gak nraktir kamu kan… Yuk buruan antri, sebelum bioskopnya penuh” Kata Andri yang akhirnya disetujui oleh Nayla.


“Yaudah deh yuk” Jawab Nayla sambil tersenyum.


Mereka berdua pun berjalan bersama. Entah kenapa Andri merasa seperti sedang kencan saja. Ia pun melirik sejenak, nampak penampakan wajah Nayla dari samping membuat jantungnya berdebar. Ia merasa bahagia bisa berjalan di sebelahnya. Padahal cuma berjalan bersama, tapi kok udah bikin jantung deg-degan yah ? Rasa tangan ingin menggenggamnya. Tangannya gatal ingin merangkul lengan bidadari cantik itu.


'Ahhhh indahnya… Gini aja kok udah bikin aku seneng yah… Nay… Nay… Cantik banget sih kamu…'


Batin Andri bahagia.


“Mbak pesen dua tiket, satu popcorn ukuran besar sama dua minuman boba yah” kata Andri kepada penjaga loket.


“Wah kebetulan tinggal dua tiket tersisa… Beruntungnya kalian bisa jadi yang terakhir membelinya… Kalian pasangan kan ? Ini saya beri tambahan popcorn untuk kalian… Silahkan semoga menikmati yah” Kata penjaga loket itu yang membuat Andri & Nayla malu.


“Kita serasi kayaknya… Sampe dipanggil 'couple' loh” Kata Andri yang membuat Nayla tersenyum.


“'Couple' apaan ?” Jawab Nayla malu-malu.


“Loh kata mbaknya kita 'couple' kok… Mau pegangan tangan gak ?” Pinta Andri yang segera ditolak mentah-mentah oleh Nayla.


“Ihh gak yah… Enak aja huft” Kata Nayla tersenyum malu-malu yang membuat Andri ikut tersenyum.


“Haaiihhh padahal sebentar lagi bisa megang tangannya bidadari… Yaudah lah besok lagi” Kata Andri yang terus bisa membuat Nayla tertawa. Nayla merasa bahagia. Memang tidak ada yang lebih menyenangkan saat keluar bersama sahabat yang satu frekwensi.


“Ini mas, mbak tiket sama snacknya… Pintu masuk ada di sebelah sana… Harap masuk karena bioskop akan segera ditutup” Kata mbaknya yang membuat dua pasangan abal-abal itu buru-buru memasuki bioskop.


Mereka berdua pun duduk bersama di pojok belakang bioskop. Seketika lampu menjadi gelap. Film pun dimulai. Nampak Nayla begitu fokus pada layar tancep di depan. Namun Andri malah fokus menatap wajah Nayla dari samping. Bagi Andri, wajah Nayla lebih berarti dibandingkan film yang sedang mereka tonton. Ia bahkan rela menghabiskan dua tiket serta beberapa 'snack' hanya untuk melihat wajah Nayla sedekat ini. Andri tersenyum. Nayla yang saat itu mengenakan hijab serta masker berwarna putih membuat Andri semakin mencintainya. Ia pun bersyukur bisa menghabiskan waktu bersama wanita yang sangat dicintainya.


Waktu terus berlalu. Sesekali mereka berdua meminum minuman mereka. Sesekali tangan mereka merogoh mangkuk 'popcorn' untuk mengemil makanan ringan mereka. Tak terasa adegan sudah mendekati puncak. Nayla begitu fokus pada film di depan. Andri yang tadi teralihkan oleh keindahan wajah Nayla akhirnya mulai ikut menonton. Andri tak menduga ternyata filmnya cukup seru juga. Nayla juga demikian.


Selagi matanya menonton film. Tangan Nayla bergerak-gerak untuk mengambil 'popcorn' itu lagi. Popcornnya yang saat itu ditaruh diatas paha Andri membuat tangan Nayla datang ke tempat itu. Andri terkejut saat tiba-tiba pahanya disentuh-sentuh oleh seseorang. Saat Andri menoleh ke pahanya. Rupanya Nayla sedang meraba-raba pahanya. Andri menduga pasti Nayla sedang mencari popcornya. Sengaja Andri menjauhkan 'popcorn' itu dan benar saja. Tangan Nayla tiba di pusat selangkangannya. Tak sengaja tangan Nayla menepuk-nepuk penis Andri luar celananya. Mata Andri melotot. Disentuh-sentuh saja sudah membuatnya seenak ini. Apalagi saat tangan Nayla tiba-tiba datang tuk mengusapi penisnya. Penis Andri mendadak keras. Tonjolan pun muncul yang membuat Nayla terkejut saat tangannya memegangi sesuatu yang aneh.


“Ehh maaf” Kata Nayla yang rupanya jemarinya tengah mendekap penis Andri dari luar celananya.


“Mau aku buka ?” Tanya Andri mengejutkan Nayla.


“Eeehhh” Jawab Nayla hingga matanya melebar.


“Enggak kok bercanda… Nyari 'popcorn' yah… Ini” Kata Andri saat mendekatkan 'popcorn' itu ke Nayla.


“Huft bikin aku kaget aja kamu Ndri” kata Nayla tersenyum.


“Hehe maaf Nay” Jawab Andri juga tersenyum. Mereka pun kembali menonton film. Namun keadaan menjadi canggung gara-gara kejadian tadi.


'Duhhh lidahku kenapa yah ? Bisa-bisanya aku ngomong kayak tadi… Hampir aja aku buat Nayla marah… Mukanya kayak kebingungan gitu…'


Batin Andri saat matanya terus memaksa menonton film.


'Duhhh nyaris aja aku menyetujui permintaannya tadi… Untungnya Andri buru-buru menolaknya… Bisa belepotan nanti tanganku kalau diminta ngocok kontolnya disini…'


Batin Nayla saat matanya terus memaksa menonton film.


Mereka pun terus menonton tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Nayla yang hendak mengambil popcornya kali ini sambil menolehkan wajahnya agar tidak salah memegang lagi. Andri pun memergokinya. Andri semakin yakin kalau Nayla tidak bisa diajak nakal dari caranya dalam mengambil popcornnya.


'BEBERAPA SAAT KEMUDIAN


Tak terasa film yang mereka tonton sudah selesai. Andri & Nayla pun sama-sama keluar dari bioskop dengan tertib. Mereka pun mengobrol untuk me-'review' film yang mereka tonton itu. Mereka tersenyum saat menjelaskan. Kecanggungan yang tadi ada mulai menghilang ketika mereka bisa kembali mengobrol dengan akrab.


“Eh iya… Kamu lagi libur gak ? Kita jamaah bareng yuk… Habis itu kita makan” Ajak Andri.


“Eh enggak sih… Jam berapa emang sekarang ?” Tanya Nayla.


'Wah udah hampir jam dua yah…' Batin Nayla sambil melihat ke arah jam tangannya.


“Yaudah deh yuk… Dimana emang mushola nya ?” Tanya Nayla.


“Ada sih harusnya di deket sini… Nah itu dia” Kata Andri.


Mereka berdua pun sama-sama menuju mushola. Sesampainya disana mereka lalu berjamaah selayaknya seorang pasangan. Andri begitu bahagia saat berdiri di depan sebagai imam dan Nayla berdiri di belakang sebagai makmum. Mereka pun mulai melakukan peribadatan dengan hikmat. Setelah selesai mereka berdoa bersama bahkan Nayla mengaminkan segala doa yang Andri panjatkan.


Setelah usai mereka tersenyum. Mereka berjalan bersama sambil mencari tempat makan. Seketika Andri terpana saat melihat wajah cerah Nayla di sebelahnya. Nayla jadi malu-malu sambil menatap balik wajah Andri.


“Kenapa ndri ?”


“Enggak ? Cuma heran aja… Kok bisa ada bidadari disini” Jawab Andri yang membuat Nayla tersenyum senang.


“Hih gombal… Dasar cowok… Aku laporin Putri nih” kata Nayla sambil terus berjalan di sebelah Andri.


“Eh jangan dong… Canda kali… Eh itu ada restoran ayam grepek, suka gak ?” Tanya Andri.


“Ayam geprek ? Wah aku suka banget Ndri… Aku suka yang pedes-pedes soalnya” jawab Nayla tersenyum.


“Kalau gitu mau makan disitu gak ?” Tanya Andri.


“Terserah bosnya aja… Kan bukan aku yang bayar hihihi” Tawa Nayla yang membuat Andri tersenyum.


“Jangan nyesel yah… Harus dihabisin loh kalau terserah aku” kata Andri yang membuat Nayla tersenyum.


“Tenang, aku makan banyak kok… Bakal nambah nasi malah hihihi” Tawa Nayla yang akhirnya menuju restoran tersebut.


Mereka pun duduk bersama di salah satu meja yang mereka pesan. Tak lama kemudian apa yang mereka pesan akhirnya datang juga. Mereka pun siap untuk makan. Tangan mereka sama-sama nyelup ke air kobokan. Seketika Nayla terdiam lalu menatap wajah Andri.


“Hmmm ndri… Aku lepas masker boleh yah… Susah soalnya kalau makannya pake masker hehe” Kata Nayla mengejutkan Andri.


“Eh kalau itu terserah kamu Nay… Kalau kamu merasa gapapa ya lepas aja… Kalau kamu ingin terus make ya gapapa juga… Aku gak berhak untuk ngatur kamu kok” Jawab Andri yang diam-diam penasaran bagaimana rupa Nayla ketika tanpa mengenakan masker ataupun cadar.


“Hmmm yaudah aku lepas aja deh” Kata Nayla malu-malu sambil menurunkan maskernya.


Seketika wajah Andri melotot. Ia seperti tersentak kaget. Wajahnya begitu cantik. Andri sampai terdiam tak bisa berkata-kata.


“Hehe kenapa ndri ?” Tanya Nayla heran melihat sikap Andri.


“Kamuu… Kamuuu…” Ucap Andri sampai tak bisa berkata-kata.


“Aku ?” Tanya Nayla sambil tersenyum.


“Cantik banget… Waahh… kecantikanmu melebihi ekspetasiku Nay” Kata Andri yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihihi ada-ada aja kirain kenapa ? Aku mah B aja kok ndri… Cuma wanita biasa yang masih bisa kelaperan… Eh aku makan yah… Dah laper banget gara-gara tadi pagi aku di gen. . .” Jawab Nayla terpotong saat nyaris keceplosan.


Untungnya Andri tidak dengar. Ia malah masih terpana oleh keindahan wajah Nayla.


“Eh dimakan Ndri jangan bengong… Apa gak mau ? Buat aku aja gimana ? Hihihi” tawa Nayla.


“Yeee enak aja… Aku juga laper kali” Kata Andri yang akhirnya mulai makan.


Sambil makan mereka juga kadang mengobrol ringan. Terkadang mereka mengingat momen di masa lampau. Mereka juga tertawa. Mereka begitu bahagia. Terutama Andri yang baru saja melihat kecantikan keseluruhan wajah Nayla untuk pertama kalinya. Entah kenapa ia jadi semakin bertekad. Ia bahkan sampai mengepalkan kedua tangannya. Ia bersungguh-sungguh sambil menatap wajah cantik bidadari yang sedang makan itu.


'Aku harus bisa menikahinya… Aku harus bisa merebutnya dari suaminya sekarang…'


Batin Andri yang sudah cinta mati pada Nayla.


'BEBERAPA SAAT KEMUDIAN


Tak terasa waktu sudah mendekati pukul tiga kurang. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat ketika mereka mengobrol mengkrabkan keadaan. Ya memang, waktu-waktu yang baru mereka lalui bersama membuat kepribadian mereka jadi semakin dekat. Nayla senang bisa menghabiskan waktu bersama sahabatnya. Sedangkan Andri juga senang bisa menghabiskan waktu bersama pacar imajinasinya.


“Aku pulang dulu yah… Makasih udah ditraktir nonton sama makan” Kata Nayla bersyukur.


“Ah tenang aja… Itu bukan masalah kok Nay… Kalau pengen nonton lagi ayo aku temenin… Tapi tangannya jangan nakal yah” Kata Andri yang membuat Nayla tertawa saat mendengarnya.


“Eehhh tadi kan aku gak sengaja… Habis 'popcorn' dipegang sendiri sih, huft” Jawab Nayla malu.


“Hahaha iya tau kok… Aku juga mau ngucapin makasih karena bisa ngabisin waktu bareng kamu… Hati-hati dijalan yah… Mau aku anter ?” Kata Andri.


“Eh gak usah… Gak perlu kok ndri… Makasih… Aku pamit dulu yah… Wassalamualaikum” Kata Nayla pamit.


“Walaikumsalam” Balas Andri sambil melambaikan tangan.


Nayla pun pergi tapi bayang-bayang wajahnya masih tersimpan di benak Andri. Apalagi wajah cantiknya saat melepas maskernya. Nayla sungguh indah. Ia jadi semakin ingin menikahinya.


“Bisa gak yah aku menikahinya ? Ku perjuangkan jandamu, Nay” Lirih Andri yang geregetan ingin memperistri Nayla.


*-*-*-*

Beberapa menit kemudian sekitar pukul tiga lebih sedikit.


Akhirnya sampai rumah juga lirih Nayla setelah mematikan mesin motor lalu melepas helmnya tuk membawanya masuk ke dalam rumahnya.


Baru saja ia berjalan mendekati pintu masuk, sesuai dugaan ada sesosok pria yang sudah berdiri menantinya.


Hakhakhak... Sibuk banget sih non hari ini... Saya sampai kesepian loh sendiri kata pria tua berperut tambun itu.


Pak Urip ? Kata Nayla terkejut.


'Duhh mesti gimana nih ? Mana lagi capek-capeknya lagi... Ogah banget kalau disuruh ngelayanin dia lagi..'.


Ucap Nayla dalam hati.


Jantung Nayla berdebar tatkala pria tambun itu berjalan mendekat. Nayla pun memutar otaknya. Di tangan kanannya terdapat helm dan di jemarinya terdapat kunci. Haruskah ia menggeplak kepalanya sekali lalu pergi ? Bukan ! Itu bukan solusi terbaik. Ia lalu berfikir lagi. Haruskah ia berlari keluar lalu berteriak meminta pertolongan ? Sepertinya bukan, karena ia sudah tidak memiliki tenaga lagi. Kakinya lemas karena sudah diminta mengangkang sejak pagi lalu siangnya diajak jalan-jalan oleh Andri. Lagipula toh andai diminta melayani lagi ia tak mempermasalahkan. Ia hanya lemas dan ingin beristirahat saja.


'Duhh ayo Nay mikir... Gimana cara buat bujuk pak Urip biar gak menzinahimu lagi ?'


Batin Nayla berfikir keras.


Kontol saya merindukan memekmu loh non... Gimana kalau kita ngentot lagi... Mumpung suamimu belum pulang, hakhakhak tawa pak Urip yang langsung meremas dada Nayla dengan kuat.


Aaahhhh paaakkk... Tunggu, jangan sekarang... Aku capekk... Tolong jangan sore ini ! Pinta Nayla pada pak Urip.


Siapa peduli kalau non itu capek kek, lemes kek, laper kek... Kalau saya mau ngentot ya non kudu siap... Saya udah gak tahan pokoknya... Ayo cepet bukaaa kata Pak Urip sambil menaikkan paksa kaus yang Nayla kenakan.


Aahhh tunggu sebentar... Tungguu paakk... Izinkan aku bicara... Tolongg sebentar aja pinta Nayla saat tangan pak Urip terus memaksa dengan menaikan kaus yang Nayla kenakan.


Apa lagi ? Saya udah gak kuat lagiii kata pak Urip tak peduli.


Namun seketika remasan kuat yang begitu bertenaga yang dilakukan oleh Nayla pada penis pak Urip dari luar celananya membuat pria tambun itu terdiam.


Uuhhhhhhh desah pak Urip merinding.


Tolonngg... Izinkan aku berbicara paaakkk... Akuuu boleh kan ngomong sesuatu ke bapaakk ucap Nayla sambil menatap wajah pak Urip dikala tangan kanannya meremas penis pembantunya dari luar celananya.


Kalau bapak masih gak mengizinkan... Aku akan mengocok kontol bapak tapi tolonngg biarkan aku berbicara sebentar kata Nayla yang langsung memasukkan tangannya ke dalam celana kolor pak Urip.


Hah... Hah... Apa ituu ? Cepaatt katakan kata pak Urip yang langsung diam menikmati kocokan dari jemari lembut Nayla.


Sekilas mata pak Urip memperhatikan penampilan Nayla sekarang. Pak Urip langsung bernafsu pada pandangan pertama. Penampilan Nayla sungguh indah bak bulan purnama. Dari atas ke bawah, ia tak menemukan adanya celah yang merusak keindahan penampilan Nayla.


MEBE9P5

https://thumbs4.imagebam.com/1b/18/f6/MEBE9P5_t.jpg   1b/18/f6/MEBE9P5_t.jpg

'NAYLA


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


Perpaduan antara hijab & masker berwarna putih yang menghiasi kepalanya juga perpaduan antara kaus panjang berwarna hitam serta kemeja kotak-kotak yang tak ia kancingkan yang menutupi lekuk tubuhnya juga celana putih panjang yang menutupi kaki jenjangnya.


Belum lagi dengan tatapan genitnya saat memandangi dirinya. Belum lagi dengan gerakan tangan gemulainya saat mengocok-ngocok penisnya. Pak Urip langsung bengong tak percaya. Ia benar-benar menikmati aksi nakal majikannya tersebut.


Aku mau minta maaf ke bapak karena selama ini udah egois... Aku tahu bapak benar... Aku tahu kalau aku ini tidak ada bedanya dengan lonte yang ada di jalanan... Aku mudah sekali terangsang dan sekarang aku ini tergila-gila dengan yang namanya persetubuhan... Aku suka banget sama kontol bapak... Aku bersyukur kontol bapak sudah sering keluar masuk memejuhi rahim aku... Jujur aku ketagihan, tapi aku gak bisa melakukannya sekarang karena aku lelah pak... Tolong izinkan aku beristirahat.... Besok-besok aku pasti akan mengizinkan bapak untuk melakukan apa saja pada tubuhku... Aku janji pak... Ya aku janji lirih Nayla sambil menatap pak Urip dikala tangannya terus mengocok penis pembantunya.


Aaahhh... Aaahhhh... Enggak bisaa... Saya udah bernafsu... Saya akan tetep menggenjotmu sekarang ! Kata pak Urip kekeh ingin menyetubuhinya meski ia juga kagum pada pengakuan Nayla yang mulai jujur akan perasaannya.


Aku tahu... Aku paham... Makanya sebagai gantinya... Aku akan memberi bapak kepuasan dari apa yang bapak minta sekaraangg kata Nayla begitu percaya diri sambil menatap mata pak Urip.


Maksudnya ? Kata pak Urip heran.


Tiba-tiba Nayla melepas maskernya. Wajahnya yang begitu cantik terpampang dihadapan wajah pak Urip. Tidak hanya itu, bibirnya juga sedang tersenyum. Matanya pun menatap pak Urip dengan penuh nafsu. Diperlakukan seperti ini oleh majikan alimnya membuat pak Urip panas dingin. Jantungnya juga berdebar kencang. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Mmpphhh aku akan menyepong kontol bapak... Aku akan memberikan kepuasan melalui mulut aku... Hihihihi kata Nayla kali ini sambil mendesah bahkan mengeluarkan lidahnya tuk membasahi tepi bibirnya. Selain itu tangannya juga mempercepat kocokannya. Terlihat pak Urip berkeringat. Sepertinya sedari tadi pembantu tuanya itu terus bertahan dari serangan birahinya.


Ekspresi wajah majikannya yang begitu binal membuat pak Urip merinding. Ia jadi semakin bernafsu pada kebinalan majikannya itu.


Hakhakhak... Mana ada disepong lebih enak daripada ngentot... Dah saya tetep mau genjot... Lepas celana non sekaraa... Aaaaaahhhh jerit pak Urip saat penisnya kembali dibetot.


Hihihi... Ngentot bukan soal kontol bapak yang dijepit memek aku paakk... Mmpphhh... Tapi ngentot itu soal nuansa... Nuansa yang bisa membuat bapak bergairah... Nuansa yang membuat bapak semakin terangsang... Kata Nayla dengan suara mendesah kali ini sambil meraba dada pak Urip.


Bahkan tangannya mulai mengangkat kaus polo pak Urip hingga terlepas melewati kepala gedenya. Tangannya yang mulus itu kembali meraba dada pak Urip. Pak Urip menenggak ludah. Ia kagum pada cara Nayla saat merangsang tubuhnya.


Mmppphhhh... Gimana rasanya pak ? Enak kan ? Hihihihi kata Nayla sambil mengedipkan mata lalu tersenyum menatap wajah pembantu tuanya itu.


Aaaahhhh... Aaaahhh... Aaahhhhh pak Urip yang mulai hanyut dalam nuansa yang dibangun oleh Nayla hanya bisa mendesah sambil menatap keindahan wajah sang majikan.


Penisnya yang terus dikocok jadi semakin keras. Penisnya yang terus dikocok juga semakin membesar. Nampak Nayla sampai tak sanggup untuk melingkarkan jemarinya pada penis yang lebih mirip pentungan satpam itu.


Pak Urip merinding. Ia pun menatap wajah Nayla dengan tatapan penuh nafsu.


Hihihi


Terlihat Nayla hanya tersenyum memperlihatkan bibirnya yang begitu merekah. Bahkan Nayla juga mendekatkan wajahnya. Wajah mereka semakin dekat. Pak Urip jadi gemas ingin mencumbu bibir manis dari bidadari berhijab itu.


Aaahhhh makin gede aja kontol bapaaakkk... Mmpphhh gak nyangka penis segede ini pernah memasuki memek aku berulang kali... Mmpphhh beruntungnya aku pernah dipuasi oleh kontol bapak yang gede dan perkasa ini... Hihihi tawa Nayla dengan nada agak mendesah hingga deru nafasnya menerpa wajah pak Urip.


Apalagi bibirnya sengaja didekatkan ke bibir pak Urip. Terlihat bibir pak Urip semakin maju. Nayla pun hanya pasrah tersenyum. Namun saat bibir mereka hanya berjarak 5 cm saja, tiba-tiba Nayla mengacungkan jemari telunjuknya ke arah bibir pembantu tuanya.


Hihihi nakal yah bapak mau nyium majikan sendiri... Gak boleh gitu... Biar aku aja yang kali ini nakalin bapak... Biar aku aja yang muasin kontol bapak yang segede ini... Percaya deh, aku bakal bikin kontol bapak muncrat berkali-kali... Hihihi ucap Nayla dengan binalnya yang langsung menunduk untuk menjilat puting pembantunya itu.


Aaaaaahhhh non desah Pak Urip dengan begitu puasnya setelah digoda dan dinakali oleh majikan alimnya.


Baru menjilatnya sekali, Nayla sudah berpindah ke puting satunya kali ini sambil mengecupnya pelan.


Mmmpphhhh desah Nayla dengan manja saat menjepit puting pembantunya menggunakan bibirnya.


Ouuhhhh nikmatnyaaaa desah Pak Urip sampai merinding keenakan.


Lalu Nayla mulai berjongkok sambil menurunkan celana kolor pak Urip. Dalam sekejap pembantu tuanya itu sudah bugil. Nayla pun menatap tubuh pembantunya itu dalam posisi jongkok tepat dihadapan penis tuanya. Nayla tersenyum. Nayla tersenyum manis menatap pembantu bejatnya itu.


Pak Urip terpana saat melihat majikannya saat berdiri dihadapannya. Dari sudut pandangannya, ia dapat melihat penis raksasanya berada tepat dihadapan wajah majikannya yang seolah sedang menantangnya. Bahkan ia sengaja menggerakkan pinggulnya maju hingga ujung gundulnya menyundul pipi mulus majikannya itu.


Anehnya, Nayla justru memejam seolah membiarkan pak Urip menyundul-nyundulkan penisnya ke arah wajahnya. Pak Urip yang gemas pun menggerakkan penisnya tuk mengacak-acak wajah majikannya.


Pak Urip seperti sedang melukis saja. Wajah Nayla ibarat kanvasnya sedangkan penisnya adalah kuasnya. Cairan precumnya yang mulai keluar menjadi catnya. Dengan jiwa seninya pak Urip terus mengeluskan ujung gundulnya pada wajah majikannya. Ia sedang membuat karya seni. Ia pun terus mengelus-ngelus wajah Nayla menggunakan penisnya.


Mmpphhh... Mmmpphhh... Bapak lagi apa ? Kok mukaku basah kata Nayla dengan polosnya berpura-pura tidak tahu.


Aaaahhhh... Aaahhhh... Gak usah sok polos non... Non itu sedang saya lecehi... Aahhh puasnya bisa ngobok-ngobok mukanya selebram terkenal kata pak Urip dengan penuh nafsu.


“Uuhhh pantesss mukaku kok kayak diobok-obok sih… Kontol bapak nakal yah… Cairan bapak mulai muncrat ke aku nih… Hihihihi” Tawa Nayla terus menggoda.


“Uhhhh dasaar… Uhhhh dasar lonte nakalll… Terima kontol saya ini… Terimaaa !!!” Kata pak Urip kali ini sambil memukul-mukulkan penisnya ke wajah Nayla.


“Mmpphhh… Aaahhh… Aammpunn paakkk… Mmpmphh hihihihi” desah Nayla terus menggodanya.


“Aaahhh… Aaahhh dasarrr lonte sialaannn… Saya jadi semakin terangsangg… Aaahhhh” desah pak Urip kali ini sambil melukis di wajah Nayla lagi.


Hihihi beruntungnya bapak jadi yang pertama... Belum pernah ada laki-laki yang melecehkan wajahku kayak gini loh… Bahkan suami aku aja gak pernah... Uuuhhh keras banget sih kuasnya ini... Hihihi tawa Nayla sambil terus memejam.


Aaahhhh... Siaalll... Aaahhh dasar lonte binaalll... Bukannya marah malah keenakan... dasar lonte binaall... Aaahhhh desah Pak Urip yang akhirnya mulai mengocok penisnya sendiri sambil menyentuh-nyentuhkan ujung gundulnya pada wajah Nayla.


Uuuhhhh terusss kocok paaakkk... Kocok yang keraaasss... Terus kocok sampai muncrat ke muka aku desah Nayla sambil memejam lalu tersenyum manis dihadapan penis hitam itu.


MECH5S2

https://thumbs4.imagebam.com/60/e9/2f/MECH5S2_t.jpeg   60/e9/2f/MECH5S2_t.jpeg

'ILUSTRASI NAYLA LEPAS MASKER


Nayla kembali membuka matanya sambil menunjukkan senyum anggunnya. Ia bahkan sengaja mendekatkan wajahnya hingga tersentuh penis pembantunya. Tampak Nayla sangat menikmatinya. Ia terus membiarkan wajahnya dilecehi oleh pembantunya.


Aaahhhh... Aaahhhh... Nikmat sekaliii... Aahhh puasnya bisa melecehi lonte binal iniii desah pak Urip sambil terus mengocok penisnya.


Hihihi enak yah ? Duhhh aku jadi gemes deh pengen mainin kontol bapak lagi... Sini biar aku aja pak... Biar aku yang muasin kontol gede ini desah Nayla yang mulai memegang kendali lagi.


Sambil menjulurkan lidahnya, tangannya terus mengocok lalu mendekatkannya ke arah lidahnya. Lidah Nayla pun menjilat ujung gundul pak Urip. Ia terus menjilati kepala penis pembantunya yang bentuknya mirip jamur sedangkan tangannya terus sibuk mengocok batangnya.


Aaaahhhh... Aaahhh... Terusss nooonnn... Teruuussss desah pak Urip puas.


Hihihi mulai kedat-kedut nih kayaknya... Jadi makin gemes deh... Aauuhhmmpp desah Nayla saat mencaplok penis itu.


Aaaahhh yaaaahhhh desah pak Urip merinding.


Nayla dengan binalnya langsung memaju mundurkan kepalanya. Mulutnya sampai monyong. Ia dengan sibuknya terus menyepong. Tak peduli dengan rasa asin yang terus dirasakan lidahnya. Ia terus memaju mundurkan kepalanya.


Nampak kakinya sampai berlutut. Kedua tangannya bertumpu pada kedua paha pembantunya itu. Matanya memejam menikmati sepongannya yang begitu lezat. Nayla sangat menikmati. Lidahnya bahkan ikut menjilati. Terlihat pak Urip kewalahan. Nafasnya kian berat menahan nafsu majikannya yang begitu besar.


Mmpphhh... Mmpphhh nikmat banget kontol bapaakkk... Mmmpphhh kalau segede ini aku sanggup nyepongin bapak selama sejam desah Nayla dengan binalnya.


Aaahhh gilaaa... Aaahhh enakkk bangett... Aaaahhh terusss nonnn... Terussss desah pak Urip semakin menikmati.


Aaaahhhh iyaaah paakkk... Aku gak akan berhenti... Aku akan terus menyepong kontol bapak sampai mas Miftah pulang nanti... Aaahhh kenapa kontol bapak enak banget sihhh... Mmpphhh aku jadi gak bisa berhenti.... Aahhh nikmat sekaliii desah Nayla dengan binalnya.


Aaahhh noonnnn... Aahhh gilaaa... Aaaahhh binal sekali dirimu noonnn desah pak Urip memejam.


Aaaahhh iyaahhh... Aaahhh enakk bangett... Mmpphhh iya paakk aku binaall... Aku ini emang binaaall paaakk... Aku kan lonte peliharaan bapaakk desah Nayla mengaku yang membuat pak Urip semakin terangsang lagi.


Aaaahhhh kurang ajaaarrr... Aaahhh saya jadi gak tahan lagi... Dasar lonte sialaaannn... Seponganmu kok enaak tenaannn desah pak Urip mulai merasakan adanya tanda-tanda.


Mmpphhh jelas paakkk... Sepongan aku emang paling enaakkk... Karena aku gak cuma nyepong tapi juga nyedot-nyedot kontol bapaakkk desah Nayla sambil menjepit ujung gundulnya saja. Lalu tangan kanannya yang tadi bertumpu pada paha pembantunya mulai mendekap batang penisnya. Tangannya kembali mengocok lalu mulutnya terus menyedot-nyedot.


Aaahhh nonn... Aahhh gilaaa... Aaahhhh nikmat bangettt nonnnn


Mmppphhh ssllrrppp... Mmpphhh slrrpp... Mmpphh nikmatnya kontol bapaaakkk... Mmpphhh aku sampai ketagihan gini desah Nayla sambil terus menyepong.


Aaahhhh... Aaahh gawaaattt... Aaahhh saya mau kelluaarr... Aaahh nonn saya mau kelluaarrr desah pak Urip tak sanggup menahannya lagi.


Aaahhh kelluarinnn... Keluariinn pejuhnya paaakkk... Ayo nodai wajah aku... Aku siappp paakkk... Akuu siapp jadi penampung pejuh bapaakk... Mmpphhhh desah Nayla jadi semakin kuat dalam menghisap ujung gundulnya.


Aaahhhh gilaaa... Aaahhh puas sekaliii... Aaahh... Aaaahhhhh desah pak Urip sampai merem melek.


Pak Urip yang tadinya ingin menggenjot hanya bisa pasrah menerima sepongan Nayla sambil melotot. Sungguh nikmat apa yang sedang majikannya berikan. Memang benar apa kata majikan alimnya. Bercinta bukan soal bertemunya antar kelamin. Tapi bercinta soal nuansa yang membuat mereka semakin bergairah. Godaan yang Nayla berikan saat di awal tadi serta ucapan-ucapan kotor yang keluar dari mulut akhwat berhijab itu yang justru semakin membangkitkan nafsu birahinya. Pak Urip tak kuat. Pak Urip tak sanggup bertahan.


Mmmpphhh... Mmppphhhh keluarkan paaakkk... Jangan ditahan-tahan... Ayo keluarin pejuhnya... Aku udah siap menerima pejuh bapaaakkk


Aaahhh iyaaahhh nonn... Saya mau kelluaarrr... Aahhh terima ini... Terima pejuh saya iniiii desah pak Urip mulai menarik keluar penisnya lalu mengocoknya sambil mengarahkannya ke wajah Nayla.


Aaaahhh... Akkuu siaaappp... Mmmppphhh desah Nayla memejam.


Aaaahhhh yaahhh... Kelluaarrr !!!


'Crroottt... Ccrroott... Ccrroottt !!!'


Akhirnya dengan satu kocokan yang kuat, pak Urip mulai memuncratkan spermanya dengan deras ke wajah Nayla. Pejuhnya sampai belepotan kemana-mana. Pipi, dahi, bibir bahkan sebagian hijab dari Nayla terlecehi oleh sperma nista pembantunya. Pak Urip pun sampai ngos-ngosan merasakan kepuasan dari sepongan majikannya. Ia tak mengira disepong saja bisa membuatnya sepuas ini. Pak Urip lelah tapi terus menatap wajah majikannya dengan penuh gairah.


Mmpphhh bapak nih... Buang pejuh kok sembarangan sih... Hihihi... Aku kan jadi susah ngeliatnya tauu kata Nayla yang masih memejam.


Hah... Hah... Gilaaa... Puas bangettt... Sampe kesedot habis semua pejuh saya non kata pak Urip takjub.


Hihihi siapa dulu pelakunya ? Aku gituuu kata Nayla membanggakan dirinya sendiri lalu berdiri menatap wajah pak Urip.


Melihat wajah cantik Nayla yang bersimpuh sperma membuat gairah birahinya mulai naik. Tapi sayang penisnya masih lemas karena semua spermanya sudah terkuras habis oleh mulut majikannya. Nampak Nayla merangkulkan kedua tangannya pada sisi belakang leher pembantunya. Nayla tersenyum. Ia menatap mata pembantunya dengan mesum.


Gimana pak ? Apa kataku ? Bapak puas kan ? Tanya Nayla sambil mengedipkan matanya.


Puaasss... Puaass sekali hakhakhak... Siapa yang mengajarimu sebinal ini non ? Tanya pak Urip penasaran.


Siapa lagi kalau bukan pemuas nafsuku ? Jawab Nayla sambil tersenyum.


Siapa itu ? Tanya pak Urip juga tersenyum.


Bapaakk dongg... Hihihi jawab Nayla sambil menoel ujung penis dari pembantu bejatnya itu.


Hakhakhakhak pak Urip pun hanya tertawa bangga. Ia senang bisa mengubah majikan alimnya menjadi sebinal ini.


Setelah puas memuasi pemuasnya. Nayla pun pergi begitu saja menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun baru beberapa langkah ia pergi, ia malah berhenti lalu menatap pembantu tuanya itu lagi.


'Aaahhh akhirnya bisa mengalihkan perhatian pak Urip juga… Eh iya…'


Batin Nayla saat terpikirkan sesuatu.


“Paaakkk” Kata Nayla memanggil pembantunya.


Ada apa non ? Jawab pak Urip sambil mengenakan celananya lagi. Ia bahkan nyaris terjatuh akibat kakinya melemah setelah disedot oleh majikannya.


Besok aku harus kerja... Jadi aku gak ada waktu buat nemenin bapak... Tapi lusanya aku 'free'... Bapak bebas ngelakuin apa aja ke aku sebagai ganti jatah bapak di hari ini... Aku pasrah mau diapain apa aja sama bapak... Aku ikhlas karena aku yakin bapak pasti bakal memberikanku kepuasan kata Nayla sambil tersenyum.


Hakhakhak... Terserah saya ? Janji jangan nyesel yah ! Bahkan kalau saya suruh non ngentot sama gelandang tua mau ? Tanya pak Urip penasaran.


Terserah bapak... Kalau itu perintah bapak pasti akan aku lakukan... Tapi gelandangannya yang punya kontol gede yah, hihihi tawa Nayla malu-malu yang membuat pak Urip semakin tertawa.


Hakhakhak sungguh binal sekali isi otakmu non... Liat aja, akan saya carikan non seorang gelandangan terus saya rekam biar non sendiri bisa liat betapa binalnya non nanti kata pak Urip bernafsu.


Mmpphhh aku jadi gak sabar deh... Hihihi... Enak gak yah kontolnya gelandangan kata Nayla yang justru menantang yang membuat pak Urip gemas.


Tepat setelah Nayla berbalik badan lalu pergi meninggalkannya sendiri. Pak Urip langsung tersenyum sambil membatin di dalam hati.


'Gilaaa... Bener juga apa kata dokter homo itu... Sisi liar non Nayla mulai bangkit... Waktunya kesempatan untuk lebih membinalkannya lagi... Oh yah, mumpung tengki pejuh saya abis... Besok istirahat dulu ah, sekalian nyari gelandangan buat non Nayla... Hakhakhak bayangin non Nayla digenjot gelandangan aja udah bikin sange... Kudu siap handycam nih buat ngerekam perzinahan terlarang mereka !!!'


Batin pak Urip bernafsu.


'Astaghfirullah... Barusan aku bilang apa yah ? Aku ngentot sama gelandangan ? Dihh amit-amit deh...'


Batin Nayla yang baru tersadar akan ucapannya. Sambil terus berjalan ke kamar mandi. Hatinya terus berkata-kata merenungi ucapannya tadi.


'Pasti gelandangan itu bakal bau banget... Iyuuhhh jijik deh... Kenapa aku tadi bilang kayak gitu yah ? Ngentot sama gelandang kayaknya berlebihan deh... Duh moga aja pak Urip gak nanggepin omonganku tadi... Aku gak mau... Aku gak mau bercinta dengan seorang gelandangan !'


Batin Nayla merinding membayangkan andai itu terjadi.


Seketika ia terpikirkan satu nama dari gelandangan yang ia kenal. Gelandangan itu cukup terkenal di kompleks rumahnya. Ia membayangkan gelandangan itu menyetubuhinya. Tubuh Nayla seketika bergetar. Ia bahkan tak sanggup membayangkannya hingga selesai.


BERSAMBUNG

;;;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 15

TERNODA

Di sebuah kamar yang terdapat di salah satu rumah yang berada di daerah ibukota.


“Loh masih jam 8 pagi yah ? Tumben waktu berjalan lama” Kata Nayla saat masih berdandan di depan cermin riasnya.


Akhwat cantik yang tengah bersiap-siap untuk menjalani sesi perfotoan itu terus merias wajahnya. Bibirnya yang meski bakal tertutupi cadar atau maskernya ia warnai dengan menggunakan lipstik tipis berwarna pink. Bulu matanya juga ia lentikan. Pipinya ia beri bedak agar terlihat semakin cerah. Nampak Nayla telah bersiap untuk pergi menuju studio fotonya. Tapi masalahnya sesi perfotoan baru dimulai pukul sembilan. Masih ada waktu satu jam lagi yang bisa ia gunakan untuk bersantai-santai ria.


“Ah jangan ah… Kalau aku nyante dulu disini yang ada aku pasti bakal dipake pak Urip… Ribet kalau nanti kudu make riasan lagi… Mending aku pergi sekarang… Sekalian ngobrol sama temen-temen yang ada disana” Kata Nayla telah memutuskan.


Nayla pun berdiri lalu pergi berjalan menuju lemarinya untuk mengambil jaket berwarna putih yang terlihat 'matching' dengan 'outfit' yang akan ia kenakan.


Sesuai perkiraan, statusnya sebagai selebgram terkenal membuatnya terdorong untuk tampil 'trendy' demi menginspirasi akhwat-akhwat yang telah mengikuti akun instagramnya. Sebenarnya Nayla memutuskan untuk tampil sederhana pada pagi hari ini. Ia memutuskan untuk mengenakan pakaian serba putih. Hijabnya berwarna putih, maskernya juga berwarna putih, kaus berlengan panjang yang dikenakannya juga berwarna putih, bahkan rok panjang yang menutupi kaki jenjangnya juga berwarna putih. Sedangkan jaket yang baru saja diambilnya dari almari juga berwarna putih dengan tambahan corak merah yang ada di sekitar lengannya. 'Simple but elegant'. Itu lah konsep yang Nayla pilih sebagai 'outfit' hariannya di hari ini.


MECMNJF

https://thumbs4.imagebam.com/35/e1/95/MECMNJF_t.jpg   35/e1/95/MECMNJF_t.jpg

'NAYLA


“Yaudah deh… Yuk kita berangkat Nay” Kata Nayla berbicara sendiri.


Setelah ia membuka pintu kamar lalu melewati ruang tamu. Terlihat pria tua berperut tambun yang sedang menyapu lantai ruangan. Nayla terkejut. Ia yang sering diperkosa oleh pria tua itu memutuskan untuk menghentikan langkah kakinya karena khawatir dirinya akan diperkosa lagi. Kebetulan pria tua itu menoleh ke arahnya. Pria tua itu tersenyum setelah melihat keindahan penampilan dari akhwat bermasker itu.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


“Hakhakhak… Cantik banget lonteku pagi ini” Kata pak Urip yang langsung mendekati majikan alimnya.


“Ehhh hehe iyya pak… Makasih” Jawab Nayla malu-malu namun juga deg-degan.


'Duuhhh kok pak Urip malah deketin sih ? Ayo dong tolong jangan rusak make-up ku… Aku males dandan lagi tau…'


Batin Nayla penuh harap.


Tangan gempal pak Urip telah melingkar di pinggang ramping Nayla. Wajahnya tersenyum. Matanya menatap mata Nayla dengan penuh nafsu. Nayla sampai tertunduk malu. Bahkan ia sampai merinding saat tangan pak Urip itu mengusap punggungnya.


“Jadi gemes deh… Sayang mau kerja yah ? Coba non libur hari ini… Pasti sudah saya garap dirimu berulang kali non… Hakhakhak” Tawa pak Urip sambil menatap wajah indah Nayla.


Ihhhh... Emangnya sawah pak pake digarap segala jawab Nayla bercanda.


Hakhakhak... Lucu banget sih kamu kata pak Urip yang tiba-tiba melepaskan dekapannya lalu pergi menjauh untuk melanjutkan pekerjaannya lagi.


“Eh” Nayla terkejut. Ia bersyukur pak Urip tidak berniat untuk menggarapnya di pagi ini. Tapi ia tetap heran. Ia pun bertanya-tanya kenapa ?


“Loh non mau kerja kan ? Yaudah buruan berangkat… Apa mau saya garap dulu nih ?” Tanya pak Urip yang membuat Nayla terbangun dari lamunannya.


“Ehh enggak pak… Iyya aku mau berangkat dulu… Aku berangkat dulu yah pak… Wassalamualaikum” Ucap Nayla buru-buru pergi.


“Walaikumsalam… Hakhakhakk” Jawab pak Urip saat menertawakan sikap majikannya.


“Udah jadi lonte aja masih ngucapin salam… Dasar lonte syar’i… Bisa-bisanya masih sok alim padahal kemarin minta diperkosa sama gelandangan ! Oh yah… Ngomong-ngomong hari ini pak Miftah sama Non Nayla sudah pergi… Saya harus mulai mencari nih, gelandangan yang diminta oleh lonte syar’i itu… Sebenarnya kemarin cuma bercandaan sih, tapi respon non Nayla yang malah nantangin bikin saya penasaran juga… Gimana yah ekspresi wajahnya saat digenjot gelandangan tua… Hakhakhak” Lirih pak Urip senyum-senyum sendiri. Ia pun buru-buru menyelesaikan pekerjaannya agar dirinya bisa segera 'hunting' gelandangan untuk ia 'casting'.


“Lumayan kan buat koleksi rekaman pribadi” Lirihnya yang berniat untuk merekam semua kebinalan yang dilakukan oleh majikannya.


*-*-*-*

Sementara itu Nayla,


Motor telah melaju. Sambil duduk mengendarai motornya, Nayla fokus menatap jalanan untuk pergi ke studio rekaman. Dalam perjalanannya ia masih kepikiran ucapannya kemarin. Ia jelas-jelas menantang ucapan pak Urip yang ingin membuatnya bercinta dengan seorang gelandangan. Nayla pun tak habis pikir dengan ucapannya kemarin. Kok bisa-bisanya ia malah berucap seperti itu meski sejatinya ia tak begitu menginginkannya.


'Gelandangan ? Ihhh bayangin aja udah bikin aku merinding… Gak kebayang bau badannya… Ihhh amit-amit deh… Duhhh pusing, kenapa aku malah bilang kayak gitu yah kemarin… Bercinta dengan gelandangan kayaknya keterlaluan deh… Siapa juga yang mau bercinta sama orang yang jarang mandi bahkan gak pernah mandi berhari-hari ?'


Batinnya kesal sendiri.


Bukan masalah status kedudukan yang membuat Nayla merasa risih andai beneran bercinta dengan seorang gelandangan. Karena sejatinya kedudukan bukanlah masalah berarti. Buktinya, ia rela-rela saja saat bercinta dengan seorang pembantu rumah tangga, tukang sayur bahkan tukang sapu jalanan bertubuh kekar.


Namun masalah kebersihan tubuhnya lah yang membuat Nayla agak risih kalau diminta bercinta dengan seorang gelandangan. Itu maklum karena Nayla lahir dari keluarga yang kaya raya. Sejak kecil ia sudah dididik untuk selalu higienis. Ia selalu diajari untuk mencuci tangannya, mandi yang bersih bahkan ia juga rajin merawat keindahan tubuhnya. Bahkan andai makanan yang ia makan jatuh ke lantai saja, ia tidak kembali memakannya namun langsung ia buang karena menurutnya makanan itu sudah tidak higienis lagi.


Lalu bagaimana dengan seorang gelandangan ?


Ia pun terpikirkan seseorang yang ia kenal. Seseorang yang telah menjadi 'role model' seorang gelandangan di kompleks rumahnya.


“Gak kebayang deh kalau pak Urip milih pak Dikin untuk bercinta denganku… Ihhh merinding… Amit-amit deh pokoknya… Moga aja jangan… Tolongg dong jangan sampe pak Urip memintaku bercinta dengan seorang gelandangan… Mending bercinta sama pak Urip aja seharian daripada diminta bercinta dengan gelandangan selama sepuluh menit !” Ucapnya saking tidak maunya bercinta dengan seorang gelandangan.


Memang terpelesetnya lidah lebih jauh lebih berbahaya daripada terpelesetnya kaki. Nayla telah mengalaminya. Ia yang kemarin keceplosan harus menanggung akibat yang telah diperbuat. Meski belum kejadian, ia terus berharap agar dirinya tidak dipaksa bercinta dengan seorang gelandangan, apalagi dengan pak Dikin.


“Panjang umur !” Kata Nayla yang justru melihat pak Dikin tengah duduk meminta-minta di pinggir jalanan.


MECMNJG

https://thumbs4.imagebam.com/24/89/99/MECMNJG_t.jpg   24/89/99/MECMNJG_t.jpg

'PAK DIKIN


Pak 'Sodikin' atau yang lebih diakrab dengan nama panggilan pak Dikin. Ia merupakan pria tua berusia sekitar 60 tahunan yang terbiasa tinggal di jalanan. Ia tak memiliki rumah. Ia terus bertahan hidup hanya dengan mengandalkan pemberian dari orang baik di sekitar. Kulitnya sudah berkeriput. Janggut dan rambutnya sudah beruban. Pakaiannya lusuh. Tidak mempunyai sandal sehingga harus menyeker. Bahkan ada rumor kalau dulu ia diusir oleh anak-anaknya sehingga memaksanya untuk tinggal di jalanan.


Nayla jadi iba sebenarnya saat melihatnya. Apalagi wajah pak Dikin terus memelas. Tangannya terus memegangi topi berisi koin-koin recehan hasil pemberian orang-orang. Nayla yang masih menaiki motornya pun berkendara secara pelan-pelan ke arahnya. Sesaat ia berhenti di depannya. Ia lalu mengeluarkan uang sejumlah lima ribuan dari dalam dompetnya lalu menaruhnya di topi yang dipegangi pak Dikin.


“Ini untuk bapak” Kata Nayla sambil tersenyum ramah.


“Wah banyak banget mbak… Makasih banyak… Semoga kebaikan selalu menyertai mbak” Kata pak Dikin terlihat begitu bahagia.


“Makasih doanya… Aammiinn” Jawab Nayla tersenyum. Akhwat cantik itupun melanjutkan perjalanannya menuju tempat kerjanya. Namun pak Dikin yang duduk diam malah terus menatap Nayla hingga hilang dari pandangan matanya.


“Mbaakk Naylaa !” Seru pak Dikin sambil tersenyum membayangkan wajah indahnya tadi.


*-*-*-*

Sementara itu Nayla,


“Hmmm kasian amat deh tadi mukanya… Apa iya yah yang dikatain orang-orang kalau pak Dikin diusir dari rumahnya sama anak kandungnya ? Jahat banget sih ! Kok ada orang yang tega ke ayahnya sendiri ?” Kata Nayla tak habis pikir.


Seketika saat matanya melihat ke 'speedometer' di motor 'matic'-nya. Ia menyadari kalau jarum penunjuk sudah mendekati huruf E.


“Duh gawat nih bensin mau habis… Hmmm harus isi bensin dulu nih” Kata Nayla yang langsung telingak-telinguk mencari pom bensin terdekat.


Untungnya ia teringat jalan dari pom bensin yang pernah ia datangi dulu. Ia ingat kalau saat itu dirinya sampai tidak perlu membayar karena kebetulan orang yang menjaga merupakan fans beratnya. Ia pun berandai-andai semoga orang yang berjaga masih orang yang sama agar dirinya tidak perlu membayar biaya lagi.


“Hihihihi kok aku jadi pelit yah ?” Kata Nayla tertawa sendiri.


Akhirnya ia menemukan pom bensin yang ia cari-cari. Kebetulan pom bensin itu sedang sepi. Bahkan tak ada satu pun kendaraan yang mengisi bensin disini.


“Wah kebetulan nih… Gak perlu antri” Kata Nayla saat memasuki pom bensin tersebut.


Dengan penuh semangat ia menghentikan motornya di depan tempat pengisian bensin disana. Namun saat Nayla melihat wajah bapak-bapak yang menjaga. Bapak-bapak itu terlihat sedih dengan mata yang berkaca-kaca seperti baru menangis.


“Bapaakk… Bapakk kenapa ? Ini aku Nayla” kata Nayla saat mengenali bapak pom bensin itu yang rupanya sama.


“Ehhh mbak Nayla… Duhh maaf… Hehe gapapa kok mbak… Mau isi berapa ?” Tanya bapak pom bensin itu.


“Penuh sih pak… Tapi bapak emang kenapa ? Kok kayak habis nangis” Kata Nayla yang iba sehingga penasaran ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada bapak pom bensin itu. Sekilas Nayla melihat nama yang tertulis di kemeja seragamnya. Nayla pun teringat kalau bapak-bapak itu bernama Fahmi Purnomo.


MECMNJV

https://thumbs4.imagebam.com/66/36/b0/MECMNJV_t.jpg   66/36/b0/MECMNJV_t.jpg

'PAK FAHMI


“Ini… Gak tau kenapa pom bensin di daerah ini jadi sepi… Padahal dulu ada beberapa kendaraan yang mengisi disini… Jadinya ada rumor dari atasan yang katanya akan menutup pom bensin disini” Kata pak Fahmi yang membuat Nayla sedih. Pak Fahmi pun selesai mengisi tangki motor Nayla. Ia kembali menaruh selang di tempatnya. Bukannya menagih bayaran dari Nayla. Ia malah duduk sambil menutupi wajahnya karena malu gara-gara air matanya kembali turun.


“Eh beneran ? Bapak yang sabar yah pak” Ucap Nayla menghampiri untuk menghibur pak Fahmi.


“Padahal saya dengan senang hati bekerja disini… Saya sedang menabung untuk biaya pernikahan saya yang akan terjadi sebentar lagi… Tapi kok makin kesini malah makin sulit yah… Padahal saya udah berusia 34 tahun… Kalau ditunda lagi otomatis akan makin telat… Emang bener cobaan menjelang pernikahan itu berat” Kata pak Fahmi curhat.


“Iya yang sabar… Itu salah satu cobaan yang harus bapak lalui… Semua orang mengalami hal yang sama kok… Bukan berarti bapak harus berkecil hati… Kalau bapak sabar pasti bapak bisa kok melalui setiap cobaan ini” kata Nayla terus menghiburnya.


“Hehe makasih yah mbak… Duh jadi malu saya… Saya yang lebih tua malah curhat ke yang lebih muda… Tapi makasih banget… Seneng rasanya bisa dihibur sama orang yang saya kagumi” Kata pak Fahmi berusaha tersenyum meski terlihat bahwa wajahnya masih kesulitan menerima takdir yang harus dihadapinya.


“Sama-sama… Sudah tugasku sebagai manusia untuk saling mengingatkan pak… Bapak jangan sedih… Aku yakin calon istri bapak juga pasti sedang berjuang kok… Bapak juga… Jangan menyerah yah… Bapak pasti bisa… Yuk semangat lagi yuk… Bapak pasti bisa melalui semua ini” Kata Nayla menyemangatinya.


“Entahlah mbak… Saya pusing… Entah kenapa saya malah pesimis belakangan ini” Katanya yang justru makin 'down' gara-gara banyak memikirkan yang tidak perlu.


“Paakkk jangann gitu donggg… Aku kan jadi gak tega” kata Nayla yang jadi bingung memikirkan cara untuk menyengamati orang yang pernah memberinya bensin gratis itu.


Seketika ia jadi terpikirkan sebuah ide. Ide yang menurutnya mungkin agak gila. Tapi ia yakin ide itu mampu untuk menyemangati kang pom bensin tersebut.


“Paakkk… Kalau aku beri sesuatu, bapak bisa semangat lagi gak ?” Kata Nayla yang membuat pak Fahmi mengangkat kepalanya lagi.


“Sesuatu ? Gak usah mbak… Aku gak butuh pemberian dari mbakk… Gak perlu” Kata pak Fahmi menolak.


“Tapi ini bukan barang pak, yang aku beri… Ini sesuatu… Sesuatu pokoknya… Aku yakin dengan ini bapak pasti bisa semangat lagi” Kata Nayla sambil berdiri lalu mengajak pak Fahmi ikut berdiri.


“Sesuatu ? Maksudnya ?” Tanya pak Fahmi bingung.


“Iyyah… Sesuatu pokoknya hihihi” kata Nayla sambil tertawa lalu mendekatkan tangannya ke arah selangkangan pak Fahmi.


“Ehhh mbaakkk… Apa iniii ?” Kata Pak Fahmi terkejut.


“Anggap aja ini hadiah dari aku… Hadiah karena bapak pernah menggratiskan bensin untukku” kata Nayla tersenyum sambil menatap mata pak Fahmi dengan mesum. Tangan kirinya mendekap bahu kanan pak Fahmi. Tangan kanannya mengelus-ngelus penis pak Fahmi dari luar celananya.


Nampak tangan kanan Nayla naik turun. Telapak tangannya naik turun mengusap-ngusap celana pak Fahmi yang membuat tonjolan itu semakin timbul. Terlihat wajah pak Fahmi mulai merem melek keenakan. Kang pom bensin berperut tambun itu mulai terengah-engah merasakan belaian tangan Nayla.


“Aaahhhhh… Mbaakkk… Aaahhhh ini enakk sekalii… Aahhhhh” desah pak Fahmi blingsatan.


“Hihihihi enakk yahhh ? Nikmati belaian tangan aku paakkk… Mmppphhh kontol bapak kayaknya gede yah ? Pasti bakal beruntung calon istri bapak nih… Mmpphhh duhhh kok makin keras yahh… Boleh aku liat kontol bapak ?” Pinta Nayla meminta izin.


“Aaahhhhh… Aaaahhhh… Boleehhh… Boleehhh banget mbaaakkk” Kata pak Fahmi yang terkejut dengan kosa-kata kotor yang dikeluarkan oleh akhwat yang ia kenal sebagai selebgram bercadar itu.


Nayla pun berjongkok di hadapan selangkangan pak Fahmi. Jemarinya dengan lihai menurunkan resleting celananya. Tangan kananya pun masuk. Jemarinya menarik keluar penis hitam itu dari balik celana dalamnya. Terlihat penis hitam itu sudah keluar. Bentuknya panjang dan agak bengkok ke samping. Ukurannya juga besar persis seperti tubuhnya yang agak gempal.


“Mmpppphhh udah keras banget nih kontol bapaakk… Aaahhhhh enakknyaaa… Uuhhh pasti bakal puas nih kalau kontol segede ini masuk ke memek aku” Desah Nayla yang membuat pak Fahmi panas dingin mendengarnya.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Mbak mesum banget yah ternyata... Aahhh lembut banget belaian tangan mbaakk… Aaahhh nikmatnyaa… Aahhh kocokin terus mbaakk” desah pak Fahmi yang seketika melupakan masalah hidup yang tadi ditangisi.


“Hihihhi tenang aja paakkk… Aku tahu kok keinginan bapak” Kata Nayla yang terus merangsang penis itu dengan lihai.


Nayla yang sudah pro dalam memuasi penis orang-orang mulai melancarkan aksinya. Tangan kanannya mengocok batang penisnya dengan cepat. Dekapan tangannya juga ia perkuat. Terlihat ujung gundulnya menjadi agak kemerahan akibat aliran darahnya terhambat. Diangkatnya kepala Nayla tuk menatap wajah pria yang sebentar lagi akan menikah itu. Nayla memberikan tatapan binal. Nayla memberikan tatapan bahwa dirinya sangat haus akan penis-penis seorang pria.


Pak Fahmi sampai terkejut sekaligus terangsang hebat saat melihat betapa binalnya ekspresi wajah dari akhwat bermasker itu. Ia tak menduga bahwa di hari ini dirinya bakal dipuasi oleh selebgram favoritnya. Pak Fahmi pun ngap-ngapan. Ia bertahan sekuat tenaga agar menikmati kocokan tangannya lebih lama lagi.


“Aaaahhhh…. Aaahhhh… Nikmat sekaliii… Aaahhh mbaakkk… Ouhhh saya mauu keluuaar… Ouhhh” Desah pak Fahmi tidak kuat lagi.


“Hihihihi udah mau keluar aja… Pasti pertama kalinya yah dikocokin sama seorang wanita ?” Tanya Nayla tersenyum.


“Aaahhhhhh… Aaahhhh… Iyahhh bener mbaaakkk… Ini kali pertama ada wanita yang menyentuh kontol saya… Aaahhh nikmat sekalii… Aahhh kocok teruss mbaakkk” desah pak Fahmi yang semakin berkeringat.


“Hihihihi duh beruntungnya aku bisa muasin seorang perjaka… Ayo keluarin paakk… Keluaariinnn… Uhhhh jadi gemes deh pengen nyium lubang kencing bapaakkk… Mmpphhh jadi pengen jilatin juga dehhh… Ayoo keluuaar… Keluaarinn paakkk” desah Nayla sambil mengarahkan wajahnya tepat di depan lubang kencing tukang pom bensin itu.


“Aaaahhhh iyaahhh… Iyaahh mbaakkk… Ouhhh nikmat bangeettt… Aahhhh mantapnyaa… Aaahhhh… Aaahhhh” desah pak Fahmi blingsatan.


Terlihat dada pak Fahmi sudah naik turun. Wajahnya terlihat tak kuat. Penisnya juga mulai berdenyut cepat. Nayla yang sudah sangat berpengalaman menyadari kalau pak Fahmi sudah tidak kuat lagi. Namun ia sengaja mengarahkan wajahnya tepat di depan penis pak Fahmi. Ia bahkan menyentuhkan ujung gundul pak Fahmi pada masker yang ia kenakan.


“Mmpphhhhh… Mmpphhh aroma kontol bapak enak banget dehhh… Aaahhh aroma khas lelaki… Ayo keluarin paaaakkk… Mmpphhh kontol bapak udah cenat-cenut nihhh” desah Nayla terus mengocoknya.


“Aaahhh iyaahhh… Iyaahhh… Ouhhhh saya gakk kuat… Saya gakk kuat lagiiiiii” Desah pak Fahmi yang semakin mendekati ambang batas.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Mmpphhh… Mmppphhh” desah Nayla yang terus mengeluarkan desahan menggoda tuk merangsang birahi pak Fahmi.


Benar saja. Pak Fahmi semakin tidak kuat. Lututnya melemah. Penisnya semakin kedat-kedut saja. Apalagi kocokan tangan Nayla semakin cepat. Ia mengocoknya tanpa ampun. Ia mengocok batang penisnya hingga membuat tubuh pak Fahmi kejang-kejang dibuatnya.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Saya gak kuat… Saya mauu kelluaar… Uhhhhh mbaakkk… Saya kelluuuaaarrrrr !!!” Jerit pak Fahmi dengan lantang saat spermanya mulai menyembur keluar.


“Eeehhhhh !!!”


Untungnya Nayla dengan sigap menghindar hingga semprotan sperma itu hanya keluar membasahi jalanan. Nayla lega karena pakaiannya tidak ternoda oleh sperma tukang pom bensin itu. Nayla terus mengocoknya hingga titik tetes penghabisan.


Menyadari tangki sperma pak Fahmi sudah habis. Nayla pun berdiri sambil tersenyum menatap pak Fahmi.


“Waaahhh banyak sekaliii… Kalau kena mukaku bisa gawat nanti… Hihihih” Tawa Nayla yang hanya dibalas desahan nafas oleh pak Fahmi.


“Hah… Hah… Hah… Puas sekali… Mbak hebat banget sih… Saya sampai capek banget gini” Kata pak Fahmi takjub pada cara Nayla dalam memuasi tubuhnya.


“Hihihihi itu belum seberapa… Itu baru pake tangan… Itu belum pake mulut sama memek aku lohh” Kata Nayla yang justru menggodanya yang membuat pak Fahmi merinding gila.


“Hah… Hah… Mbak ini binal yah ternyata… Wahhh saya takjub… Saya gak mengira mbak yang saya kagumi selama ini ternyata binal juga” Kata pak Fahmi yang membuat Nayla tersenyum malu.


“Hihihihi maaf sudah menghancurkan imajinasi bapak ke aku… Aku gak sepolos itu emang… Aku juga gak ada pilihan lain supaya bapak gak bersedih lagi” Kata Nayla malu-malu.


“Hah… Hah… Gapapa mbak… Saya justru suka… Karena sebenarnya saya sering beronani sambil ngeliatin foto mbak” kata pak Fahmi yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihihi dasar… Kasian istrinya loh kalau bapak malah sering onani sambil ngeliatin fotoku” Kata Nayla malu-malu yang membuat pak Fahmi gemas.


“Hah… Hah… Habis mbak imut banget sihhh… Saya jadi gak mampu nahan diri… Tapi terima kasih yah… Saya jadi bisa ngelupain masalah tadi…. Saya bersyukur banget bisa dikocok mbak disini” Kata pak Fahmi yang membuat Nayla semakin malu.


“Hihihhi sama-sama… Jangan bersedih lagi yah… Nanti kapan-kapan kalau bapak sudah bisa ngelupain masalah tadi… Aku bakal beri hadiah yang lebih daripada ini” Kata Nayla yang membuat mulut pak Fahmi melongo.


“Apa itu ? Apa mbak mau ngizinin saya bercinta dengan mbak ?” Tanya pak Fahmi bersemangat.


“Hihihhi mungkin” Jawab Nayla berkedip.


Pak Fahmi pun melongo tidak percaya. Ia pun bertekad untuk tidak bersedih lagi. Ia berjanji untuk tidak menangis lagi. Impiannya untuk bisa bersenggama dengan Nayla bakal terwujud kalau ia tidak bersedih lagi.


“Jadi berapa ?” Tanya Nayla yang hendak membayar.


“Gak usah mbak… Harusnya saya yang bayar mbak sejuta karena sudah dipuasi pake tangan mbak” Kata pak Fahmi yang masih bernafsu.


“Hihihihi ada-ada aja… Tapi makasih yah… Oh yah, aku boleh ?” Kata Nayla yang ingin mengelap tangannya yang terkena sisa-sisa sperma.


“Oh boleh… Lap aja di seragam saya mbak”


“Hiihihi makasih… Aku pergi dulu yah…” Kata Nayla hendak pergi.


“Iyya hati-hati yah mbak… Saya berjanji tidak akan bersedih lagi” kata pak Fahmi melambaikan tangan.


Nayla pun pergi menaiki motornya lagi. Ia jadi kepikiran. Kok bisa-bisanya ia kepikiran hal seperti itu yah ? Ia sendiri gak menyangka bakal mengocoki penis seorang tukang pom bensin yang sebentar lagi akan menikah. Tapi ia tersenyum. Ia mendapatkan pengalaman baru lagi. Ia puas karena bisa memuasi penis seorang pria yang bentuknya agak bengkok ke samping.


“Dasar kamu Nay… Makin nakal aja sih… Dah ah sekarang fokus kerja… Aku gak boleh mesum lagi di tempat kerja” Kata Nayla tersenyum yang lalu bertekad untuk berhati-hati agar tidak menciptakan skandal di tempat kerjanya.


*-*-*-*

Siang hari sekitar pukul setengah satu siang.


“Hah, akhirnya istirahat juga” Kata Nayla lega setelah berulang kali berpose mempromosikan gamis yang sedang dikenakannya.


“Nay, liat deh… Kamu lucu banget pake gamis ini” Kata Andri yang mendekat lalu menunjukkan hasil fotonya ke Nayla.


“Eh mana ? Wah iya… Ternyata aku cocok yah pake gamis ini ?” Kata Nayla senang atas hasil jepretan Andri.


“Kamu mah pake apa aja cocok Nay… Pake daster aja cantik… Orang dasarnya aja cantik” Puji Andri yang membuat Nayla tersipu.


“Hihihihi tuh kan gombal lagi… Aku bilangin Putri nih” Kata Nayla tersenyum.


“Huh apa-apa ngelapor… Dasar !” Kata Andri cemberut.


“Hihihihi biarin wleekkkk !!” Kata Nayla mengejek meski lidahnya masih tertutupi cadarnya.


MECMNJC

https://thumbs4.imagebam.com/03/b0/f7/MECMNJC_t.jpg   03/b0/f7/MECMNJC_t.jpg

'NAYLA


Nayla yang saat itu sudah berganti pakaian dengan gamis panjang berwarna coklat serta hijab & cadar berwarna abu-abu terang tersenyum menatap Andri menggunakan matanya. Andri yang sangat mencintai Nayla pun terpana. Ia tersenyum membalas tatapan Nayla. Ia senang dirinya bisa akrab dengan akhwat bercadar yang memiliki ratusan ribu 'followers' di instagramnya.


MEBG1W5

https://thumbs4.imagebam.com/8b/6c/a7/MEBG1W5_t.jpeg   8b/6c/a7/MEBG1W5_t.jpeg

'ANDRI


“Ngeselin” Kata Andri membalas ejekan Nayla.


Andri sambil memperhatikan foto jepretannya berjalan menuju ruang editor. Nayla yang mulai kelaparan pun bertanya pada fotografernya itu.


“Ndri… Kamu masih sibuk yah ? Aku laper nih” Kata Nayla sambil memegangi perutnya.


“Ohh iya Nay… Aku mau ngedit dikit-dikit… Kalau kamu mau makan duluan aja” Kata Andri sambil tersenyum.


“Huft yaudah deh… Aku duluan yah” Kata Nayla sambil berjalan keluar ruangan.


Sinar mentari yang begitu terik membuat Nayla harus menutupi keningnya menggunakan lengan tangannya. Untungnya gamis yang ia kenakan terbuat dari bahan yang cukup adem. Nayla merasakan kenyaman pada gamisnya. Ia jadi tidak terlalu gerah. Ia pun berjalan hingga ke pinggir jalanan untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.


“Hmmm makan pake apa yah ? Disini sepi banget sih ? Gak ada tempat makan sama sekali” Kata Nayla kebingungan.


MECMNJ9

https://thumbs4.imagebam.com/d8/ac/89/MECMNJ9_t.jpeg   d8/ac/89/MECMNJ9_t.jpeg

Terlihat jalanan memang cukup sepi. Bahkan tidak ada pengendara yang lewat sama sekali. Ya mungkin sesekali ada pengendara motor yang lewat. Tapi seringnya tidak ada. Nayla pun jadi bingung. Apa yah yang harus dimakannya untuk mengisi perutnya yang keroncongan ?


Nayla berjalan sebentar ke arah kiri. Ia terus berjalan sambil menengok ke kanan juga ke kiri. Ia berjalan sambil memegangi perutnya. Terdengar bunyi suara dari perutnya. Nayla benar-benar keroncongan menahan laparnya.


“Ehh itu kan ?” Kata Nayla saat melihat gerobak bakso lewat.


“Mang Lasno ?” Lanjutnya saat melihat tukang bakso yang keliling kompleksnya lewat.


“Maanggg… Maanng Lasnooo” Panggil Nayla sambil melambaikan tangannya.


MEBXJ8Z

https://thumbs4.imagebam.com/a2/7b/a0/MEBXJ8Z_t.jpg   a2/7b/a0/MEBXJ8Z_t.jpg

'MANG LASNO


“Ehhh mbak Nayla… Mau beli bakso mbak ?” Kata Mang Lasno menawarkan.


“Iyya mang satu porsi yah” Kata Nayla tersenyum senang saat menemukan sesuatu yang bisa dimakan.


“Mau dibungkus apa makan sini ?” tanya mang Lasno sambil memberi satu kursi kepada pelanggan cantiknya itu.


“Hmmmm makan sini aja deh” Kata Nayla sambil tersenyum saat duduk di kursi.


Sambil menanti bakso yang ia pesan jadi. Nayla melihat sekitar untuk menikmati pemandangan. Memang lokasi yang letaknya tak begitu jauh dari rumahnya itu juga cukup jauh dari pusat kota. Tak heran jarang sekali seseorang atau bahkan pedagang kaki lima yang lewat. Nayla yang sedang menikmati pemandangan jadi berfikir. Apa yang mang Lasno lakukan disini ? Bukan kah jaraknya cukup jauh dari rumah kalau berjalan kaki ?


“Maannggg… Maanng Lasno emang sering keliling sampai sini yah ?” Tanya Nayla penasaran.


“Iya mbak… Kadang-kadang saya keliling sampai sini sih… Tapi gak tiap hari juga… Tergantung penghasilan juga… Kalau disekitar kompleks sepi ya saya sampai keliling kesini” Kata mang Lasno tersenyum menatap akhwat bercadar itu.


“Oalaahhh” Kata Nayla baru tahu.


Ia pun menatap mang Lasno sambil menanti pesanannya jadi. Entah kenapa tiba-tiba ia jadi teringat tukang pom bensin yang ia kocoki tadi. Ia teringat akan rupa penis bengkok yang dimiliki oleh tukang pom bensin tadi. Seketika ia penasaran, bagaimana rupa dari penis mang Lasno yah ?


“Hmmmmm” Lirih Nayla sambil memperhatikan celana mang Lasno.


“Eeehhhh… Itu ?” Lirih Nayla saat tak sengaja menemukan adanya tonjolan di celana mang Lasno. Nayla pun terkejut. Apa yang membuat penis mang Lasno keras padahal dirinya sedang mengenakan pakaian yang normal-normal saja.


'Hmmm ternyata pikiran mang Lasno lagi mesum yah ? Pasti lagi mikirin yang enggak-enggak tentang aku… Hihihihi…'


Batin Nayla mencoba menebak apa yang dipikirkan oleh mang Lasno.


Benar apa kata Nayla. Firasat seorang wanita memang bisa dipercaya. Sambil membuat satu porsi bakso yang Nayla pesan. Mang Lasno mengingat-ngingat saat-saat dirinya ketika memejuhi mangkuk bakso Nayla saat dulu, ketika Nayla memesan baksonya di halaman rumahnya.


'Duhhh… Kok tiba-tiba ketemu mbak Nayla disini yah ? Hmmm kali ini mbak Nayla gak pake beha lagi gak yah ?'


Batin mang Lasno sambil sekali-kali melirik ke arah dada akhwat bercadar itu.


'Duuhh asyem… Mana hijabnya panjang banget lagi… Jadi ketutupan kan… Hmmm kira-kira pake beha gak yah ?'


Batin mang Lasno terus memikirkan yang enggak-enggak kepada Nayla.


Saat sedang asyik-asyiknya berpikiran mesum. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara seorang akhwat yang berasal dari belakang.


“Eehhh maannggg… Ini apa ?” Tanya Nayla sambil menungging hingga wajahnya berada tepat di samping paha mang Lasno.


“Eehhh mbaakkk… Mbak ngapain ?” Kata mang Lasno saat menghadap ke arah Nayla.


“Hihihihi apa nih hayooo… Kok menonjol” Kata Nayla kali ini sambil menekan tonjolan itu.


Sontak mang Lasno terkejut merasakan tonjolan penisnya ditunyuk-tunyuk. Penisnya terus ditekan-tekan dari luar celananya. Seketika ia merasakan adanya setruman kecil yang bersumber dari ujung gundulnya. Mang Lasno merinding. Ia tidak menduga dengan perbuatan yang dilakukan oleh akhwat bercadar itu.


“Aaahhhh… Aaahhhh mbaakk… Apa yang mbaak lakukan ?” Kata mang Lasno panik.


“Hihihi aku cuma penasaran… Hayoo pikiran mamang lagi kotor yah ? Kok kontolnya menonjol” Ucap Nayla yang lagi-lagi mengejutkan mang Lasno.


'Konn… Konntol ? Mbak Nayla bilang kontol ?'


Batin mang Lasno merinding.


Ia tak pernah membayangkan kata-kata kotor itu bisa keluar dari lisan seorang akhwat bercadar. Apa lagi dengan perbuatannya sekarang yang sedang berjongkok sambil mengelus-ngelus tonjolan celananya.


“Aaahhhhh… Aahhhh… Mbaakk ngapaaiinn… Aahhh udah mbaakk… Jangaannn… Nanti diliat orang” Kata mang Lasno yang sebenarnya menikmati tapi khawatir tindakannya itu akan ketahuan oleh warga sekitar.


“Aahhh yang bener udaahhh ? Mamang sebenernya ingin terus kan ? Aku tahu kok kemauan mamang… Bentar yaahhh” kata Nayla yang tiba-tiba memelorotkan resleting celana mang Lasno.


“Eeehhh mbaakk… Mbaakkk… Kok kontol saya dikeluarinn !!!” Kata mang Lasno semakin panik.


“Hihihihi lucu banget kontol bapaakk” Kata Nayla yang menyukai bentuk fisiknya hingga langsung mendekapnya menggunakan tangan kanannya.


“Aaaahhhh nikmat bangeett…. Uuuhhhh tangan mbak halus bangeettt… Saya sampai panas dingin lohhh” Desah Mang Lasno yng mengagumi dekapan tangan Nayla.


“Tuh kan keenakan… Dasar mamang ah… Hihihihi” kata Nayla tersenyum sambil mulai mengocok-ngocok penis milik tukang bakso itu.


Penis mang Lasno yang berwarna hitam mulai ditarik pelan ke belakang oleh Nayla. Lalu dengan pelan ia majukan. Lalu dengan pelan ia mundurkan lagi. Lalu dengan pelan kembali ia majukan yang membuat pemiliknya gelisah merasakan kenikmatannya.


Nayla tersenyum. Genggamannya diperkuat saat mendekap batang penis tukang bakso itu. Lalu tangannya kembali mengocoknya, kali ini dengan kecepatan yang stabil. Tubuh mang Lasno sampai menggigil. Ia tidak mengira penisnya akan dikocok senikmat ini. Mata mang Lasno sampai merem melek keenakan. Penisnya yang mengeras jadi semakin membesar di dekapan tangan akhwat bercadar itu.


“Aaaaahhhh nikmat sekaliii mbaaakk… Aaahhh nakal banget mbak berani melakukan ini ke sayaaa” desah mang Lasno yang membuat Nayla tersenyum malu.


“Hihihii salah sendiri mikirin aku yang enggak-enggak… Coba hayoo tadi habis mikirin apa ?” Tanya Nayla sambil terus mengocok penisnya.


“Aaahhhhh… Aaahhhh… Duluu… Mmppphh… Dulu pas terakhir mbak Nayla mesen bakso di depan rumah… Sebenarnya saya itu diem-diem sambil nyoli gara-gara mbak mesen baksonya pake mukena doang gak pake daleman” Kata mang Lasno mengaku.


“Ohhh hihihhii… Masih inget aja… Yang kata mamang ngasih saus spesial itu yah ?” Kata Nayla terus mengocoknya.


“Aaahhhh… Aaahhh bener bangett… Aahhh sebenarnyaa… Itu bukan saus spesial loh mbaakkk” desah mang Lasno semakin gelagapan menahan rangsangannya.


“Hah, bukan ? Terus ?” Tanya Nayla penasaran sambil terus mengocoknya.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Sebenarnya itu pejuh saya… Iyaahh… Saya mejuhin kuah bakso mbak waktu itu… Maafkan saya mbaakk… Saya minta maaaf… Aaaaahhh… Waktu itu saya khilaf” Kata mang Lasno menyesal.


“Ohhhh pantesan waktu itu rasanya agak aneh… Ternyata kena pejuh mamang yaahhh… Dasaarr ihhhh… Mamang nakal yahhh… Aku hukum niiihhh” Kata Nayla yang tiba-tiba mengangkat cadarnya.


“Eehh mbaakk… mbaakk mau apa ? Mbaak… Aaaaahhhhh” Jerit mang Lasno saat penisnya merasakan adanya hawa hangat serta cairan lembap yang membasahi batang penisnya.


“Mmppphhhhh… Gede bangeettt kontol mamanggg… Mmppphhh mulut aku hampir gak muaat…” Desah Nayla saat melahap penis besar itu.


“Aaahhh aammpunn mbaak… Aaahhh enak bangett… Aaahhhh” desah mang Lasno kewalahan.


“Mmpphhh… Mmpphh rasakann inniii… Mmppphhh rasakan sepongan aku iniii… Mmpphhh” desah Nayla sambil memaju mundurkan mulutnya.


“Aaahhh mbaaak… Aaahhhh gilaaa… Aaahhhh mantapp bangeettt” Desah mang Lasno sampai geleng-geleng kepala.


Berani banget yah mamang mejuhin mangkok bakso aku... Rasakann iniii... Rasakan sepongan aku ini... Mmpphhh... Mmpphhh desah Nayla saat mengulumnya semakin cepat.


Aaaaahhh mbaaakkk... Aaahhh ammpunnn... Aaahhh maafkan saya mbaakk... Aaahhh nikmat banget desah mang Lasno antara tersiksa dan menikmati.


Siapa yang tidak menjerit ketika penisnya dijepit oleh bibir akhwat yang sangat cantik ? Siapa yang tidak mendesah ketika penisnya di lahap oleh seorang akhwat yang memiliki tubuh terindah ? Siapa juga yang tidak kewalahan ketika penisnya di sedot oleh seorang akhwat yang nafsuan ?


Itu lah yang dirasakan oleh mang Lasno sekarang. Berulang kali ia mengatur nafasnya agar tidak keluar duluan. Berulang kali jantungnya deg-degan karena takut ketahuan. Berulang kali ia juga ngap-ngapan saat diberi kenikmatan. Rasanya sungguh nano-nano. Ia pun bingung harus senang atau gelisah. Ia memang sangat menikmati sepongannya. Tapi ia juga was-was karena mereka melakukannya di pinggir jalanan.


“Mmppphhh… Mmppphhh… Nikmatnya kontol maammaang… Jadi mamangg pernah naruh pejuh di mangkuk aku yah maangg ? Mmpphhhh” Desah Nayla sambil terus mengulum penis tukang bakso itu yang semakin mengeras.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh… iyaahh mbaakk… Saya pernah menaruhnyaa… Saya pernaahh aahhhhh… Maafkan saya mbaakkk” Desah Mang Lasno kewalahan saat dihukum Nayla.


“Mmppphhhh… Kalau gitu aku mau minta saus spesial lagi… Cepet keluarin maangg… Aku mau minta saus spesial lagiii” Desah Nayla terus menyepong.


“Eeehhh apaaa ? Aaahhhh… Aaahhh mbak mau saus spesial lagi ?” Tanya mang Lasno terkejut.


“Iyyaahhh… Habiss waktu itu rasanya enak sihh hihihihi” Tawa Nayla saat melepas kulumannya lalu menatap wajah mang Lasno sambil tersenyum dikala tangannya mengocok penis yang semakin basah itu.


Mang Lasno bengong sambil menatap wajah Nayla yang kembali ingin menyepong. Nampak cadarnya diangkat hingga menutupi pandangannya. Mang Lasno jadi dapat melihat bibir dan lidah Nayla yang menjulur keluar. Ia pun melihat bagaimana ujung penisnya dijilati oleh akhwat binal itu. Ujung gundulnya lalu dilahap. Ujung gundulnya tenggelam di dalam mulut akhwat yang semakin liar itu.


“Mmmpphhh… Mmppphhhh… Ssllrrppp… Mmppphhh” desah Nayla saat menjepit ujung gundulnya saja.


“Aaaahhhhh… Aaaahhh… Aaahhh mantep banget sedoatannya mbaakk… Aaahhhh” desah mang Lasno saat penisnya mulai disedot-sedot.


Tidak hanya disedot. Tapi batang penisnya juga mulai dikocok. Nayla pun semakin sibuk dalam memuasi batang penis yang begitu perkasa itu. Liurnya sampai jatuh menetes. Kebinalannya membuat iler mang Lasno juga ikut menetes. Kedua tangannya mengepal kuat. Ia mencoba bertahan ditengah kuluman yang semakin nikmat.


“Aaaaaahhhh… Aaahhh… Mbaakkk saya mauu keluaarr… Aahhh mbaakk… Saya udahh gak kuat lagiii” desah mang Lasno dengan nada yang agak bergetar.


“Mmmppphhhh… Mmpphhh itu bagus maangg… Ayo keluarkann… Jangan lupa mangkuknya yah” Kata Nayla yang begitu bersemangat dalam mengulum penis mang Lasno.


“Aaahhhh iyaahhh… Iyaahhh… Saya udahh siaappp… Saya sudah memegangi mangkuknya mbaaakkkk” Desah mang Lasno sambil memegangi mangkuk menggunakan kedua tangannya.


Nampak sebuah motor lewat di belakang mereka. Untungnya gerobak baksonya menghalangi aksi mesum mereka di siang hari ini.


“Mmpphhh… Mmpphhh… Kalau gitu aku percepat yaaahhh… Akuu perkuat juga hisapan aku” desah Nayla dengan binal.


'Apaaa ? Jadi ini belum cepat ? Jadi ini masih bisa diperkuat ?'


Batin mang Lasno terkejut.


“Uuuuhhhhhhhhhh”


Saat Nayla memperkuat hisapannya dan mempercapat kocokannya. Mang Lasno langsung menjerit nikmat. Benar apa yang dikatakan oleh akhwat bercadar itu. Kali ini kuluman Nayla sudah memasuki level maksimum. Sepongannya benar-benar dahsyat yang membuat mang Lasno berteriak kuat. Tangannya sampai gemetar saat memegangi mangkuk bercap ayamnya. Wajahnya ia angkat menatap langit cerah diatas. Matanya memejam menikmati sepongan yang begitu kejam.


“Mmppphhh… Mmpphhh… Udahh mau kelluar belumm ?” Tanya Nayla sambil terus menyepong.


“Aaaaaahhhh… Aaahhhh… Aaahhhhh”


Namun mang Lasno hanya mendesah. Ia tak memberikan jawaban apa-apa sehingga Nayla terus menyepong.


“Mmppphhhh… Mmppphhh… Mmppphhh”


Seketika Nayla merasakan penis mang Lasno berdenyut cepat. Bahkan lidahnya mulai merasakan cairan 'precum' yang begitu asin. Nayla sadar kalau mang Lasno sebentar lagi akan keluar. Tapi kenapa mang Lasno tidak memberi aba-apa. Kenapa ia hanya mendesah sambil menatap langit cerah diatas.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Ouhhh ini diaaa… Iniii diaaa” Lirih Mang Lasno yang tak didengar oleh Nayla.


“Mmppphhh… Mmpphhh… Dah mau keluuar belum mannggg ?” Desah Nayla ditengah sepongannya.


“Aaahhhh… Aaahhh sebentar lagii… Uhhhhh sebentar lagggiiiiiiii ?” desah Mang Lasno dengan pelan.


“Maaaanngg… Mmpphhh… Mmpphhh” Desah Nayla terus menyepong.


“Aaaahhhh ini diaa… Iniii diaa… Saya mau keluaar… Saya mauu keluuaarr… AAAAAHHHH KELLUAAARRR !!!” Desah Mang Lasno yang tiba-tiba berteriak mengejutkan Nayla.


“Mmpphhh… Mmpphh apa ? Mmppphhhhhh” desah Nayla memejam dikala mulutnya tiba-tiba dibanjiri sperma tukang bakso itu.


Cccrrrooottt… Cccrrooottt… Cccrrooottt !!!


“Aaaahhh mantapnyaaaa” Desah mang Lasno sambil memajukan pinggulnya hingga cadar yang tadi menutupi pandangan Nayla turun menutupi penisnya.


“Mmpphhh maanngg… Mmppphhhh” Desah Nayla sambil menepuk-nepuk paha mang Lasno karena ia nyaris tersedak spermanya.


Untungnya mang Lasno peka. Ia dengan segera menarik keluar penisnya setelah menyudahi tetes terakhir spermanya.


“Uuuuhhh mantaaappp” Desah mang Lasno saat dapat melihat penis hitamnya lagi.


“Mmpphh” Desah Nayla sambil menggerakan jemarinya meminta mang Lasno mendekatkan mangkuknya


Setelah mangkuk itu ditaruh didepan wajah Nayla. Nayla langsung mengangkat cadarnya lalu memuntahkan sperma di mulutnya ke atas mangkuk yang sudah diisi bumbu serta segenggam mie dari bakso yang ia pesan itu.


“Iyyuuhhhh… Asinn bangett… Saus spesialnya asin banget sihh maangg… Minta airnya dong” Kata Nayla yang langsung diambilkan sebotol air oleh mang Lasno.


Nayla pun menenggak botol itu dengan lahap hingga menyisakan setengahnya saja. Setelah merasa segar. Ia pun mengembalikan botol air itu lagi ke mang Lasno. Sambil tersenyum, Nayla pun menatap mang Lasno. Terlihat tukang bakso itu masih tak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi kepadanya. Ia masih bengong. Ia hanya menatap wajah Nayla dengan tatapan kosong.


“Maanngg… Bakso aku mana ? Laperr tauuu” Kata Nayla yang membangunkan mang Lasno dari lamunannya.


“Eehhh iyahh mbakk… Hah… Hah… Hah” kata mang Lasno ngap-ngapan sambil menuang kuah bakso itu ke atas mangkuk yang baru dibumbui saus spesialnya.


Setelah menaruh beberapa butir bakso. Ia segera memberi bakso spesial itu kepada pelanggannya.


“Ini mbaakkk… Hah… Hah… Hah” Kata mang Lasno yang masih kelelahan.


“Hihihi makasih yah mangg… Akhirnya” Kata Nayla yang langsung mengaduk baksonya lalu memakannya dengan lahap.


Mang Lasno pun diam-diam melirik. Rupanya Nayla memakannya dengan lahap. Nayla terlihat sangat menikmati baksonya. Ia pun menduga saat dulu ketika diberi saus spesial yang pertama pasti Nayla juga menyantapnya dengan lahap. Mang Lasno pun masih tidak percaya. Ia merasa beruntung setelah dipuasi oleh akhwat binal itu.


'Luar biasa sekali dirimu mbak !'


Puji mang Lasno dalam hati.


“Hah… Kenyangnya… Ini gratis kan mang ?” Kata Nayla setelah menghabiskan semangkuk baksonya.


“Loh udah habis ? Iyahh… saya kasih gratis aja untuk mbak hari ini… Hah… Hah” Kata Mang Lasno ngos-ngosan.


“Hihihi kalau gitu makasih yah… Aku mau minum di studio aja… Mamang jalannya pelan-pelan yah… Takut lututnya gak kuat nanti… Hihihi” Tawa Nayla yang langsung pergi setelah menyedot sperma mang Lasno sampai habis.


'Hmmm waktunya kerja lagi… Puasnya hari ini bisa muasin dua kontol sekaligus… Hihihih…'


Batinnya saat berjalan kembali menuju studio fotonya.


*-*-*-*

'BEBERAPA JAM KEMUDIAN


“Akhirnya kita selesai juga… Gak kerasa udah mau jam setengah lima aja nih Nay” Kata Andri sambil mengalungkan kameranya saat berjalan mendekati Nayla.


“Iyya nih, Ndri… Hah, capek juga yah ternyata” Kata Nayla sambil duduk di salah satu kursi di dekat ruang ganti pakaian.


MECMNJA

https://thumbs4.imagebam.com/67/9a/26/MECMNJA_t.jpg   67/9a/26/MECMNJA_t.jpg

'NAYLA


MEBG1W5

https://thumbs4.imagebam.com/8b/6c/a7/MEBG1W5_t.jpeg   8b/6c/a7/MEBG1W5_t.jpeg

'ANDRI


Saat Andri duduk di depan Nayla. Akhwat bercadar yang kini masih mengenakan gamis lebar itu pun bertanya kepada fotografernya itu.


“Gimana fotonya ? Dapet banyak foto bagus kan ?” Tanya Nayla penasaran.


“Pastinya Nay… Tenang aja… Mau liat ?” Tanya Andri.


“Mana ?”


Andri pun mendekat lalu menunjukkan satu demi satu foto hasil jepretannya pada wanita yang dicintainya. Sambil menunjukkan fotonya, Andri sekali-kali memeriksa reaksi wajahnya. Terlihat Nayla berulang kali menunjukkan ekspresi wajah penuh kepuasan yang membuat Andri merasa bangga akan pekerjaannya.


“Habis ini mau kemana Nay ? Mau langsung pulang ?” Tanya Andri setelah duduk kembali di kursinya. Ia sangat menyayangkan waktu yang sudah mau selesai. Padahal ia ingin lebih lama lagi hidup bersamanya. Ia ingin menatap wajahnya bahkan hanya sekedar mengobrol dengannya.


“Iyya lah Ndri… Udah sore banget nih… Aku pasti ditunggu suami aku di rumah” Kata Nayla yang merubah raut wajah Andri seketika.


'Ah benar… Kamu sudah menikah !'


Batin Andri berpura-pura tersenyum.


“Kirain mau jalan-jalan dulu kayak kemarin… Kalau masih ada waktu kan, bisa kita jalan-jalan ke mall lagi” Kata Andri yang membuat Nayla tertawa.


“Hihihihi kapan-kapan lagi aja yah Ndri” Jawab Nayla tersenyum namun dianggap Andri bahwa Nayla sebenarnya ingin memintanya berjalan berdua lagi. Padahal Nayla hanya menolak halus. Namun Andri malah berpikiran serius. Andri yang sudah terlanjur tergila-gila pada Nayla pun mulai bercerita. Ia bercerita mengenai tempat bagus yang membuatnya ingin mengajak Nayla bersamanya kesana. Namun Nayla tidak terlalu mendengarkan. Ia sesekali menatap hapenya untuk memeriksa pesan masuk. Sesekali ia juga menatap Andri untuk berpura-pura mendengarkan ceritanya.


Entah kenapa Andri jadi terlalu bersemangat dalam bercerita sehingga ia mengeluarkan kata-kata yang begitu lama. Nayla pun lama-lama bosan juga. Padahal ia hanya ingin beristirahat sebentar setelah lelah berpose seharian. Lama-lama Nayla menjadi melamun. Entah kenapa lamunannya justru membawanya pada aksi mesumnya pada pria-pria beruntung yang ditemuinya sejak pagi tadi.


'Kok bisa yah kontolnya pak Fahmi melengkung gitu ?'


Batinnya saat terbayang aksinya saat mengocoki penis tukang pom bensin itu.


Diam-diam jemari kanannya melingkar sambil mengira-ngira besarnya ukuran penisnya. Seketika ia juga terbayang aksinya saat mengulum penis hitam milik tukang bakso itu.


'Mmmpphhh kontolnya mang Lasno enak juga… Kok rasanya lebih gurih yah… Apa gara-gara dikasih micin ? Hihihihi'


Batin Nayla tersenyum yang membuat Andri senang mengira Nayla tersenyum karena ceritanya.


Jemari kiri Nayla juga melingkar saat mengira-ngira ukuran penis dari tukang bakso itu. Kedua jemarinya yang masih di bawah meja itu ia dekatkan. Ia pun menunduk ke bawah untuk melihat siapa pemilik kontol terbesar diantara keduanya ?


'Mmpphhh kontolnya mang Lasno lebih gede rupanya… Sudah kuduga… Kontolnya pria-pria tua memang lebih menggoda… Aku suka…'


Batin Nayla berpikiran mesum.


Seketika ia mendekatkan lingkaran jemari yang merupakan bentuk kira-kira dari ukuran penis mang Lasno ke arah vaginanya. Nayla tersenyum saat menyadari rupanya ukurannya cukup besar untuk memuaskan vaginanya. Seketika ia jadi terbayang kalau tadi ia menghukumnya menggunakan vaginanya.


'Hihihih pasti mamang bakal kewalahan banget tuh… Pake mulut aku aja udah kejang-kejang… Apalagi kalau aku goyang ?'


Batinnya jadi menginginkan menggoyang tukang bakso itu untuk menyedot saus spesialnya keluar.


'Mmmpphhhh duhhh… Tuh kan jadi sangek… Gara-gara dari tadi belum dapat jatah nih… Mmppphh… Mang Lasnooo… Mamangg harus tanggung jawab… Pak Fahmi juga ! Mmpphhhh…'


Batin Nayla sambil menekan-nekan vaginanya dari luar gamisnya.


Nayla terangsang. Ia terangsang gara-gara belum mendapatkan kepuasan dari pria-pria yang ia nodai. Ia jadi menyadari betapa pentingnya masturbasi. Ia jadi tersiksa gara-gara belum dipuasi. Ia pun terus menekan-nekan vaginanya hingga membuat lubang kenikmatannya itu semakin basah dipenuhi cairan cintanya.


'Mmpphhh mamaangg… Mmpphhh… Mmmpphhh…'


Nayla memejam lalu membayangkan ia menungging bertumpu pada gerobak bakso mang Lasno. Lalu dibelakangnya tukang bakso itu mendekat untuk menyetubuhi vaginanya dengan kuat. Ia mengira pasti akan seru bisa bercinta di pinggir jalanan seperti itu. Apalagi saat ada pengendara yang lewat dan dirinya terus di sikat. Membayangkan hal itu membuatnya jadi semakin bernafsu. Nayla semakin binal. Bahkan fantasinya jadi semakin liar setelah dinodai berulang kali oleh pria-pria tua yang pernah ditemuinya.


'Mmmpphh maamanngg… Mmpphh… Mmmpphhhh…'


Batin Nayla yang kini sudah mengangkat roknya lalu memasukan jemarinya tuk menekan-nekan biji klitorisnya.


Andri yang terus bercerita merasa heran kenapa Nayla tiba-tiba merem melek sendiri. Apakah Nayla mengantuk ? Apalagi kini Nayla terlihat memejam. Andri jadi iba sehingga ingin mendekat untuk menepuk bahunya untuk membangunkannya.


'Mmppphhhh… Mmmppphhh… Mmppphh mamangg terusss… Mmppphhh…'


Batin Nayla memejam sambil terus menekan-nekan biji klitorisnya.


Saat matanya ia buka, ia menyadari Andri sedang mendekat yang membuatnya buru-buru menarik keluar tangannya dari dalam rok gamisnya. Ia lalu berdiri berpura-pura tidak melakukan apa-apa sedari tadi.


Namun Andri yang sedari tadi ingin menepuk bahunya untuk membangunkannya sudah melayangkan tangannya. Sialnya gara-gara Nayla sudah terbangun dan hendak berdiri di hadapannya membuat sasaran tangan Andri meleset hingga mengenai payudara sebelah kirinya.


“Aaaaahhhh” Desah Nayla terkejut saat payudara sebelah kirinya ditepuk pelan.


“Eeehh maaf… Maaf Nay bukan maksud akuuu” Kata Andri panik saat tangannya baru saja menyentuh benda intim Nayla.


“Eeehh apa yaanngg ?” Kata Nayla sambil memegangi payudaranya sambil menatap Andri.


“Enggaakkk… Tadi aku ngeliat kamu merem… Aku kira kamu tertidur… Makanya aku mau nepuk bahu kamu tapi kamu malah berdiri jadinya gak sengaja malah nepuk susu eh payudara kamu Nay” Kata Andri panik mencoba menjelaskan.


“Ohh yaudah mmpphhh… Maaaf aku mau ganti baju dulu… Aku mau pulang” Kata Nayla yang ingin mengganti gamisnya dengan pakaian yang tadi ia pakai saat berangkat ke sini.


“Iyya maaf yah Nay… Aku gak sengaja” Kata Andri menyesal.


Iyya gapapa ndri


Terlihat Nayla sudah memasuki ruang ganti pakaian. Andri jadi terdiam sambil menatap tangan kanannya. Meski ia menyesali perbuatannya ia juga bersyukur karena bisa menyentuh dada bulatnya yang rupanya begitu kenyal.


'Baru kemarin aku bisa ngeliat wajahnya… Eh sekarang aku gak sengaja megang susunya… Beruntungnya aku… Tapi moga aja Nayla gak marah gara-gara aku…'


Batinnya tersenyum.


Sementara itu di dalam ruang berganti pakaian.


“Mmmpphhh… Mmmppphhh… Serius deh ini akuu… Mmpphh…” desah Nayla yang tersiksa gara-gara membayangkan dizinahi mang Lasno.


Sambil duduk di salah satu sofa panjang yang berada di ruangan. Ia mengangkat rok gamisnya lalu menurunkan celana dalamnya hingga ke lutut. Jemarinya dengan tanggap langsung mengelus-ngelus bibir vaginanya yang semakin basah itu. Tangan kirinya juga ia gunakan untuk meremas-remas dada bulatnya dari luar gamisnya. Nayla sangat terangsang. Ia sangat menikmati fantasi mesumnya.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh mamaannggg… Aaahhh enak bangettt kontol mamaaanngg… Terus sodok memek aku maanngg… Terus yang keraaas… Buruuaann sebelum ada motor yang lewat !!” Lirih Nayla yang masih membayangkan dirinya disodok sambil bertumpu pada gerobak mang Lasno.


“Uuuhhh pasti nikmat banget rasanyaaa… Aaahh mamanngg… Terus masukin yang daleeemm… Terus dorong pinggul mamang sampai mentokkk… Aahh yahh seperti ituuu… Ouhh nikmatnyaaa… Ouhhh nikmat banget mamaannggg !!” Lirih Nayla terus berfantasi hingga gerakan jemarinya semakin cepat.


Naik turun naik turun naik turuk gerakan jemari Nayla naik turun dalam mengelus-ngelus bibir vaginanya. Terkadang jemarinya mulai menyelinap masuk tuk membelah liang senggamanya itu. Jemarinya juga mengorek-ngorek dinding vaginanya hingga menambah fantasi akan kemesumannya.


Nayla kian memejam. Wajahnya terangkat naik ke atas. Lenguhan nafasnya pun memberat mengeluarkan suara-suara yang menggoda. Gairah birahi yang semakin meledak membuatnya tak tahan lagi ingin bertelanjang.


Diturunkannya resleting gamis di punggungnya. Ia lalu mengangkatnya naik melewati kepalanya lalu menaruhnya di sampingnya. Ia juga melepas behanya hingga membuatnya bertelanjang bulat menyisakan hijab, cadar serta celana dalam yang masih menyangkut di kedua lututnya. Ia pun menyandarkan punggungnya lalu mengangkangkan kakinya semakin lebar.


“Aaaahhh mamaanngg… Aaahhh yaahhh… Terusss maangg… Sodokk memek aku… Sodok yang kenceengg… Aaaahhhh” desah Nayla semakin liar.


Ia lalu meremas kedua payudaranya sambil memaju mundurkan pinggulnya membayangkan ia sedang menggoyang penis tukang bakso langganannya. Ia membayangkan dirinya tengah menunggangi penisnya. Ia pun meremas kedua payudaranya dengan sangat kencang sambil sesekali memelintir putingnya. Gerakan pinggulnya juga semakin cepat. Ia sangat menikmati fantasi liarnya meski dirinya masih berada di tempat kerjanya.


“Aaahhh maamaanngg… Aaahhh maaanngggg !!” Desah Nayla semakin menikmati aksi mesumnya.


Sementara itu Andri yang penasaran kenapa Nayla gak keluar-keluar dari ruang ganti pakaian memutuskan mendekat untuk memeriksa keadaan. Ia hendak mengetuknya, namun seketika ia mendengar suara yang aneh dari dalam.


“Mmpphhh… Mmpphh terusss… Mmpphh aahh nikmat bangett”


Sontak Andri langsung mengintip. Ia mencoba melihat apa yang terjadi di dalam melalui sela-sela pintu masuk. Namun ia tak mendapati sudut yang ia inginkan. Ia lalu membuka gagang pintu itu dan rupanya tidak dikunci sama sekali. Saat matanya kembali mengintip, ia mendapati Nayla sedang telanjang sambil mengangkangkan kakinya lebar. Terlihat Nayla sedang bermasturbasi. Ia bermasturbasi dengan penuh gairah yang membuat nafsu birahi Andri bangkit.


'Gilaaaa Nayla seksi banget !!!'


Batin Andri terpana.


Reflek tangannya mengeluarkan penisnya melalui resleting celananya. Ia pun mengocok. Ia mengocok penisnya sambil menonton kebinalan Nayla secara diam-diam.


“Aaaahhhh nikmat bangeeettt… Aaahhhh… Aaaahhhh… Gara-gara tadi aku jadi terangsang gini… Aaahhh terusss… Mmpphhh” Desah Nayla yang kembali mengelus-ngelus vaginanya.


'Gara-gara tadi ? Apa jangan-jangan aku yang membuat Nayla terangsang gini ? Pasti iya ! Gara-gara aku yang menepuk susunya langsung membuat Nayla terangsang… Apa yang sudah kulakukan ? Aku sudah membuat wanita yang kucinta tersiksa oleh birahinya !'


Batin Andri menduga.


Namun jelas dugaannya salah. Nayla sedari tadi terus membayangkan mang Lasno. Ia membayangkan pria tua itu tengah meremasi dadanya dari belakang lalu menyodok vaginanya dengan kuat. Membayangkan hal itu membuat Nayla semakin terangsang. Ia pun menikmati aksi mesumnya dengan berfantasi sebanyak mungkin.


“Aaahhh mangg… Aaahhh mmpphhh… Nikmat bangeettt !” Desah Nayla semakin nikmat.


Andri yang semakin tak tahan akan kebinalan Nayla mulai mendekat. Ia diam-diam memasuki pintu masuk lalu mendekati Nayla yang masih memejam nikmat.


“Aaaahhh… Aaaahhhhh” Desahan Nayla yang semakin nikmat membuat pikiran Andri semakin mesum.


“Aaahhhh… Mmpphh yaahhh… Mmmpphhh” melihat Nayla dengan jarak yang semakin dekat membuat Andri jadi semakin tak kuat.


Tanpa sepengetahuan Nayla yang terlalu asyik bermasturbasi sendiri. Andri sudah berdiri tegak dihadapannya. Penisnya yang terus dikocok-kocok sedari tadi sudah berdiri tegak menghadap dada bulat Nayla yang masih diremasi oleh pemiliknya. Andri terus mengocoknya dengan kuat. Ia tak menduga bisa mengocoknya sebebas ini dihadapan wanita yang ia cintai.


“Aaahhhh… Aaahhh… Naayyy… Aaahhhh” Desah Andri menyebut namanya karena keceplosan.


Sontak mata Nayla membuka sedikit. Ia pun sangat terkejut menyadari Andri sudah berada di depannya. Sontak Nayla menutupi dadanya serta vaginanya menggunakan tangan seadanya. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak menduga sahabatnya itu diam-diam memasuki ruangan.


“Aaahhhhhhh Ndrii… Apa yang kamu lakuin !” Teriak Nayla terkejut.


“Aaahhh… Aaahhh… Maaafin aku Naayy… Aku gak kuat gara-gara denger suaramu tadi… Aaahhh tolongg buka tanganmu… Aku mau liat susumu… Aku udah mau keluaar Naayy” Desah Andri ngap-ngapan.


Nayla tahu ini bukan kesalahan Andri yang tidak sanggup menahan nafsu birahinya. Ia yang lengah sehingga mendesah terlalu keras memaksa Andri untuk beronani dihadapan dirinya. Ia akhirnya membuka tangannya untuk menunjukkan dada bulatnya dihadapan Andri. Ia juga duduk tegak yang membuat jarak payudaranya dengan jarak penis Andri jadi semakin dekat. Nayla juga bahkan mengangkangkan kakinya lebar. Nayla pasrah. Ia pun membuang mukanya ke samping karena malu telah melakukannya di depan seseorang yang sangat ia kenal.


“Cepattt keluarin Ndri… Tapi tolong jangan bilang siapa-siapa setelah ini !” Pinta Nayla yang khawatir akan membuat skandal ketika melakukannya di tempat kerjanya.


“Aaahhh iyaahhh Nayyy… Iyaahhh… Aaahhh nikmat sekalii… Aaahhh gede sekali susumu ini Naayyy” desah Andri terus mengocok.


Terlihat Nayla memegangi kedua susunya sendiri seoalah telah menyiapkan tempat untuk landasan sperma Andri yang sebentar lagi akan keluar. Andri pun jadi bersemangat. Tangan kanannya bergerak maju mundur dengan sangat cepat. Matanya menatap susu Nayla yang sangat nikmat. Pinggulnya juga ia majukan disaat nafsu birahinya semakin memuncak.


“Aaahhhh Naayyy… Aaahhh aku gak kuat lagii… Aku mau keluar sebentar lagiiii !!” Desah Andri semakin ngos-ngosan ditengah kepuasannya yang semakin memuncak.


“Mmpphhh… Mmpphhhh… Iyaahh Ndriii… Cepeettt… Cepeett keluarin sebelum ada orang lain yang liaaat” Desah Nayla deg-degan melihat pintu ruangan yang masih terbuka.


Andri pun bersemangat. Ia mengocok penisnya dengan sangat cepat. Ia mendekap penisnya dengan sangat kuat. Ia mencekik penisnya. Ia memuaskan fantasinya. Ia akhirnya bisa bermasturbasi di hadapan wanita yang ia cinta.


Aaaahhhh... Aaahhhhh... Inniii diaaa… Inniii diaa… Terima ini Naayy… Aaahhhh kelluaaarrrr !!!” Jerit Andri sambil memajukan pinggulnya saat spermanya dengan deras tumpah membasahi dada polos Nayla.


'Cccrrroott… Cccrroottt… Ccccrrooottt !'


“Mmpphhhh Ndriii banyaakk bangeeettt” Jerit Nayla terkejut melihat banyaknya sperma yang keluar membasahi dadanya.


“Haaahh… Haah… Haahh… Puasnyaaa… Aahhhh sampai lemes gini aku Naayyy” Desah Andri yang langsung terduduk di lantai karena saking puasnya.


Dari bawah Andri pun melihat bagaimana spermanya yang begitu banyak mengalir turun melewati dada bulat ke perut rata Nayla. Spermanya juga masih turun menuju ke paha bahkan selangkangannya. Andri masih merem melek penuh kepuasan. Ia puas. Ia puas setelah berhasil bermasturbasi dihadapan wanita yang ia cintai.


Nayla pun kagum akan banyak sperma yang keluar membasahi tubuhnya. Ia jadi bingung harus melakukan apa pada sperma ini ? Haruskah ia mengelapnya ? Tapi menggunakan apa ? Gamis di sebelahnya ? Tidak, itu masih milik studio rekaman. Bagaimana nanti kalau pemilik studio ini menyadari ada sperma di gamis yang baru dipakaianya tadi ?


Seketika Nayla menatap Andri yang lemas tak berdaya di hadapannya. Ia yang tak mengira Andri berani melakukan ini langsung berdiri mendekati. Ia lalu berjongkok di hadapan Andri untuk meminta sesuatu kepadanya.


“Ndri… Tolong rahasiain iniii” Kata Nayal memohon.


“Hah… Hah… Hah… Pasti Nay… Maafin aku yang udah bikin kamu terangsang tadi… Aku gak sengaja megang susu kamu… Kamu pasti terangang gara-gara aku kan ?” Kata Andri ngos-ngosan.


“Ehhh… Iya… Iya ndri... Iya” Kata Nayla segera mengiyakan karena tak ingin Andri mengetahui penyebab yang sebenarnya.


“Kalau gitu tolong keluar… Aku mau ganti baju terus pulang” Kata Nayla yang jadi malu-malu.


“Iyahh Nay… Maafin aku yah… Aku akan keluar” Kata Andri yang langsung berjalan keluar meski keseimbangannya goyah karena kakinya masih lemas.


Nayla jadi malu karena baru saja telanjang dihadapan sahabat yang sudah lama dikenalnya. Apalagi ia merasa kalau sahabatnya itu menganggap kalau dirinya itu memiliki 'image' sebagai wanita yang alim & selalu menjaga diri. Wajah Nayla jadi memerah, Ia pun heran pada nafsunya yang begitu besar sampai-sampai tak memandang tempat untuk melampiaskannya.


“Aku mau pulang aja aahhh… Siapa tau aku bisa melampiaskannya dengan aman di rumah” Kata Nayla yang buru-buru melepaskan hijabnya juga cadar yang baru saja ia promosikan.


Ia dengan segera mengambil pakaian yang tadi dikenakannya. Ia bahkan langsung mengenakan kaus berlengan panjangnya tanpa mengelap terlebih dahulu sperma yang ada di dadanya. Ia juga mengenakan roknya. Dalam sekejap ia sudah mengenakan pakaian yang sama seperti apa yang ia kenakan di pagi tadi.


MECMNJE

https://thumbs4.imagebam.com/a1/97/9d/MECMNJE_t.jpg   a1/97/9d/MECMNJE_t.jpg

'NAYLA


Baru saja ia keluar dari kamarnya, ia mendapati adanya pesan dari suaminya. Ia berdiri sejenak untuk membalas satu demi satu pesan dari suaminya. Nayla agak mengernyitkan dahinya lalu melihat ke atas sambil berfikir. Ia lalu tersenyum untuk membalas pesan suaminya lagi.


“Iya mas… Nanti aku beli di jalan aja” Balas Nayla melalui pesan suara yang ia kirimkan.


“Hmmm iya juga yah daritadi aku gak masak di rumah… Beli apa yah di jalan nanti ?”


Lirih Nayla memikirkan makanan apa yang bisa ia beli untuk makan malam nanti.


*-*-*-*

“Hmmm beli apa yaahhh ?” Tanya Nayla sambil menengok ke kanan juga ke kiri dalam perjalanan pulangnya ke rumah.


Ia melajukan motornya pelan. Ia terus mencari makanan dalam perjalanannya pulang. Tapi entah kenapa ia jadi kebingungan. Ia bingung harus membeli apa. Padahal banyak sekali pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan.


“Hmmm jadi bingung kan… Mas Miftah gak bilang spesifiknya apa sih… Padahal tau sendiri cewek itu sukanya pilih-pilih, huft !” Lirih Nayla kesal sendiri.


Ia jadi teringat saat Andri menumpahkan spermanya di dadanya tadi. Meski Andri tampan dan sudah lama dikenalnya. Ia tak memiliki rasa apapun padanya. Ia lebih memilih mang Lasno yang memiliki ukuran penis jauh lebih besar daripada Andri. Jujur ukuran penis Andri biasa-biasa saja saat melihatnya tadi. Bahkan ukurannya nyaris sama dengan milik suaminya. Tapi kok bisa yah mengeluarkan sperma sebanyak tadi ? Bahkan ia masih merasakan kehangatan spermanya di dadanya. Jujur ini tak nyaman. Ia sebenarnya ingin cepat-cepat pulang agar bisa segera mandi untuk membersihkan diri. Tapi ia masih punya satu tugas yang menanti, yakni membeli jatah untuk makan malam nanti.


“Lohhh… Lohhh… Lohhhh” kata Nayla saat melihat jalanan di sekitar.


“Kok sebentar lagi udah mau sampe rumah… Aku kan belum beli apa-apa !” Kata Nayla panik.


Ia sangat mengenal jalanan yang ada di sekitarnya. Jalanan yang ia lalui sekarang merupakan jalanan yang berada di dekat rumahnya. Mungkin beberapa menit lagi dirinya akan tiba di rumah. Tapi kenapa ia masih belum beli satupun makanan untuk makan malam ?


“Oh iyah” Kata Nayla saat melihat ke sudut jalan.


Lokasinya yang berada di dekat perempatan membuatnya tampak menarik perhatian. Nayla pun mendekat. Ia berjalan ke arah tukang nasi goreng yang sudah sangat dikenal disekitaran kompleks rumahnya.


MEBYXIV

https://thumbs4.imagebam.com/81/ad/97/MEBYXIV_t.jpg   81/ad/97/MEBYXIV_t.jpg

'WARUNG PAK TOMI


“Permisi pakk… Pesan nasi gorengnya dua yah” Kata Nayla yang langsung memesan setelah memarkirkan motornya.


“Nasi gorengnya dua yah mbak… Ehh, mbak Nayla yah” Kata pak Tomi terkejut saat melihat wajahnya.


“Hehe iya pak” Kata Nayla malu-malu saat teringat persetubuhannya dengan pak Urip di dalam warung pak Tomi.


“Apa kabarnya mbak ? Pak Urip juga sehat ?” Tanya pak Tomi yang membuat Nayla tersenyum malu.


“'Alhamdulillah' sehat semua kok pak” Jawab Nayla sambil berdiri di samping pak Tomi.


“Oh iya silahkan duduk dulu… Saya mau masakin dulu nasgornya” kata pak Tomi sambil mengenakan celemeknya bersiap untuk memasakan pesanan untuk pelanggannya.


“Hehe iya pak makasih” Jawab Nayla saat duduk di salah satu kursi yang ada di dalam warung pak Tomi.


Sambil menanti, Nayla melihat keadaan di luar yang mulai gelap. Matahari mulai turun. Senja pun datang menyapa dirinya. Tak terasa hari sudah mau berakhir. Tak mengira banyak kisah yang sudah dibuatnya di hari ini. Mulai dari menodai para lelaki sampai dirinya yang sekarang ada disini. Ia jadi heran, meski sudah tiga laki-laki yang ia nodai, tapi kenapa dirinya belum mendapatkan orgasme di hari ini ? Ia diam-diam pun merenung membayangkan penis-penis yang sudah ia nodai. Ia jadi kepengin. Ia ingin melampiaskan hasratnya yang belum terlampiaskan


“Gak nyangka saya… Udah berapa hari yah semenjak mbak ngentot di warung saya” Kata pak Tomi tiba-tiba yang mengejutkan Nayla.


“Eehhh itu hehe… Berapa yah ?” Kata Nayla malu-malu.


“Bahkan beha sama celana dalam mbak yang dikasih pak Urip masih saya gantung loh disini” Kata pak Tomi sambil menunjukkannya ke Nayla.


“Eehhh kok dipamerin gitu sih ?” Kata Nayla malu.


“Hahaha buat jimat mbak… Kebetulan yang beli jadi makin banyak… Emang bener-bener jimat keberuntungan deh itu” Kata pak Tomi yang membuat wajah Nayla memerah.


“Eh masa ?” Tanya Nayla tak percaya.


“Iyya dari yang tua sampai yang muda bahkan dari yang jarang beli sampai yang sering beli semuanya jadi mampir kesini…. Emang bener-bener keberuntungan banget pakaian dalem mbak… Saya jadi kepikiran sama pak Urip… Kok bisa yah orang kayak dia sering ngentotin mbak… Mbak sering dientot pak Urip kan ?” Tanya pak Tomi sambil menggoreng nasinya.


“Hehe iya pak… Sering” Jawab Nayla mengaku malu-malu.


“Tuh kan… Beruntung banget sih pak Urip… Bisa-bisanya dia berulang kali nyelipin kontolnya ke memek mbak… Padahal mbak kan primadona di kompleks sini… Saya aja sampe diam-diam nyoliin mbak… Bahkan saat saya bercinta dengan istri saya, saya sering bayangin mbak supaya bisa sampe klimaks” Kata pak Tomi jadi berbicara vulgar gara-gara adanya Nayla disebelahnya.


Nayla pun hanya tersenyum setelah mendengar pembicaraannya itu. Ia lalu diam sambil menatap wajah tukang nasi goreng itu dari samping. Dari pembicaraannya jelas kalau pak Tomi sangat iri pada pak Urip yang waktu itu berhasil menyetubuhinya. Ia lalu melihat-lihat bentuk tubuh pak Tomi dari samping. Tubuhnya yang gendut serta perutnya yang tambun. Nayla jadi berfikir. Kok diliat-liat posturnya mirip pak Urip yah ? Nayla pun tersenyum sendiri. Ia seketika kepikiran sesuatu.


'Hmmmm mumpung nafsuku dari tadi belum terlampiaskan… Bisa kali yah pak Tomi yang jadi pelampiasanku… Hihihi… Gak kebayang deh pak Tomi yang nafsu banget ke aku bakal menyetubuhiku ? Pasti aku bakalan puas banget… Sekarang tinggal cari cara… Gimana yah cara buat godain dia ?'


Batin Nayla memikirkan cara.


MECMNJB

https://thumbs4.imagebam.com/b9/ad/e5/MECMNJB_t.jpg   b9/ad/e5/MECMNJB_t.jpg

'PAK TOMI


MECMNJD

https://thumbs4.imagebam.com/39/d8/43/MECMNJD_t.jpg   39/d8/43/MECMNJD_t.jpg

'NAYLA


Melihat nasi goreng pesanannya sudah hampir jadi. Nayla pun mulai meluncurkan aksinya untuk menodai seorang pria lagi. Sambil berjalan mendekat, ia tak mengira kalau dalam satu hari ia bakal menodai empat orang laki-laki. Ia pun berencana menjadikan pak Tomi yang keempat sekaligus tempat pelampiasan dari hasratnya yang tertunda. Nayla tersenyum malu-malu. Ia lalu memeluk tubuh gendut pak Tomi dari belakang.


“Paaakkkk… Daritadi aku perhatiin, bapak kayaknya iri sama pak Urip yah ?” Tanya Nayla dengan nada menggoda.


“Eehhh mbaaakkk… Aanuu” Kata pak Urip kaget saat merasakan dekapan hangat dari belakang.


“Mmpphhh aku tahu kok… Aku peka orangnya… Pasti benda ini udah kebelet pengen masuk ke memek aku yah ? Hihihihi” Kata Nayla yang mulai menurunkan tangannya untuk mengusap-ngusap penis pak Tomi dari luar celananya.


“Ituu… Ituuu… Hah… Hah… Mbaaakkk…” desah pak Tomi sambil menengok ke belakang.


“Kok gak dijawab sih ? Ihhh nyebelin deh… Padahal kan kontol bapak udah aku berdiriin… Hihihhi nih kerasa udah keras banget lagi… Aku buka boleh ?” Kata Nayla sambil meniup telinga pak Tomi yang membuat tukang nasi goreng itu merinding dibuatnya.


“Aaaahhh… Boleehhh… Boleeehhh bangeett… Aaahh yaahhh… Aaahhh lembut banget kocokan tangan mbak” Kata pak Tomi saat penisnya mulai dikeluarkan lalu dikocoknya dari belakang.


“Hihihihi gede yah kontol bapaakk… Mmpphhh jadi penasaran deh… Gara-gara omongan bapak tadi saat mengingat-ngingat perbuatan pak Urip dulu… Aku jadi sangek lagi… Hayooo bapak siap tanggung jawab emang ?” Kata Nayla berbohong. Padahal mah sudah dari tadi ia bernafsu namun belum menemukan tempat pelampiasan nafsunya itu.


“Aaaahhh… Aaahhhh… Iyahhh… Saya siaapp… Mbakkk rela saya entot emangg ?” Kata pak Tomi dengan penuh nafsu.


“Hihihihi aku rela kok… Sama siapa aja aku rela… Apalagi sama tukang nasi goreng terkenal yang ada disini… Mmpphhh mana kontolnya gede lagi… Duhhh jadi gak sabar deh” Goda Nayla sambil terus mengocoknya yang membuat tukang nasi goreng itu panas dingin dibuatnya.


“Hah… Hah… Hah… Kalau gitu ayoo… Ayo mbakkk kita ngentot… Saya udah gak sabaran… Saya udah gak tahan ingin ngerasain jepitan memek mbaakk” Kata pak Tomi saking nafsunya yang membuat Nayla tersenyum saja.


“Kalau gitu bapak bisa duduk di kursi kan ? Aku pengen goyang bapak… Aku pengen melampiaskan nafsu aku ke bapak” Bisik Nayla sambil meniup telinganya juga mengocok penisnya.


“Aaahhhh… Aaahhhh iiyyaahh… Bisa mbakk… Bisaaa” Kata pak Tomi langsung duduk di bangku panjang yang ada di dalam warungnya.


Nayla yang masih berdiri langsung membalikkan badannya ke arah tukang nasi goreng bertubuh tambun itu. Dengan tatapan yang menggoda ia langsung menurunkan celana dalamnya. Ia lalu membuangnya sembarangan sebelum berjalan mendekatinya. Nampak tukang nasi goreng itu gugup. Ia masih tak percaya dengan akhwat yang ia kira alim rupanya kini sedang berjalan mendekat untuk menyerahkan tubuhnya.


“Paaakkkk” Kata Nayla sambil melepas kaus polo pak Tomi lalu menggelitiki puting susunya.


“Aaaahhhhh… Aaaahhhh iyaahh mbaakk… Aaahhh” desah pak Tomi geli-geli nikmat.


“Aku penasaran sama bapak” Kata Nayla tersenyum sambil terus menggelitiki puting susunya.


“Aaahhh… Aaahhhh… Penasaran sama apa mbak ?” Tanya pak Tomi.


“Hihihihi sama seberapa nafsu bapak ke aku… Coba aku mau nanya, sejak bapak ngeliat aku digenjot pak Urip… Berapa kali bapak beronani sambil bayangin aku ?” Tanya Nayla kali ini sambil memelintir puting pak Tomi. Bahkan matanya tanpa malu-malu menatap mata pak Tomi. Mata mereka bertemu. Mata mereka saling tatap dengan penuh nafsu.


“Aaaahhh… Aaahhhh… Gak tau mbaakk… Hampir tiap hari… Bahkan sehari ada yang sampai dua kali… Saya nafsu banget sama mbak soalnya… Saya aja sering genjot istri saya sambil bayangin mbaakk” jawab pak Tomi yang membuat Nayla tersenyum.


“Oh yah ? Hihihhi kalau nanti bapak genjot aku beneran gimana ? Bapak sanggup muasin aku ?” Kata Nayla sambil menurunkan salah satu tangannya tuk mengusap penis pak Tomi dari luar celananya.


‘Aaahhhh… Aaahhhhh… Passtiiii… Pasttii mbaakkk… Saya akan menggenjotmu hingga mbak kelojotan nantinya” Kata pak Tomi sesumbar sambil menikmati usapan tangan Nayla di penis hitamnya.


“Hhihihihi yang bener ? Bapak janji ?” Tanya Nayla lagi. Bahkan tangannya sudah masuk ke dalam celananya. Ia mendekap penis itu langsung. Ia juga menekan-nekan lubang kencingnya yang membuat pak Tomi blingsatan tak karuan.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhh… Saya janji mbaaaakkk… Saya pasti bakal muasin mbaaakk… Saya akan membuat mbak mengingat genjotan saya nanti… Saya juga akan membuat mbak ketagihan kontol saya nanti” Desah pak Tomi semakin keras saat tangan Nayla mulai mengocok langsung penisnya dari dalam celananya.


“Hihihihi… Aku pegang kata-kata bapak yah… Selamat bapak lulus tes aku… Mumpung kontol bapak udah keras… Mumpung aku juga udah gak tahan pengen digenjot sama bapak… Kita mulai langsung aja yaahhh… Hhihihihi” Kata Nayla malu-malu saat menurunkan celana pak Tomi sampai ke lutut. Ia lalu menaikan roknya saat akan menunggangi penis tukang nasi goreng itu.


Terasa penis hitam itu mulai menyundul pintu masuk vaginanya. Nayla mendesah. Ia pun menatap pak Tomi dengan penuh gairah.


“Hihihih belum masuk aja aku udah kerasa banget… Aku punya 'feeling' kalau kontol bapak bakalan keras banget nih,” Tawa Nayla yang membuat pak Tomi semakin bergairah akan persetubuhan yang akan dialaminya sebentar lagi.


“Aayooo mbaakk turunnn… Ayooo jepit kontol saya sekaraaanggg… Saya udah gak sabar mbaakk… Saya udah gak sabar pengen digoyaangg mbaak” Kata pak Tomi gemas karena Nayla tak kunjung menjepit penisnya.


“Hihihihi yang sabar dong paaakk… Kontol bapak gede banget tauuu… Susah masukinnya !” Kata Nayla yang mulai menurunkan penisnya pelan-pelan.


“Cepaattt mbaakk… Aaahhh buruan… Saya gakk sabar lagi !” Kata pak Tomi terus mendesak yang membuat Nayla akhirnya mulai menurunkan tubuhnya.


“Siaaapp yaahh paakkk… Mmppphhhhhh” Desah Nayla saat mulai merasakan tusukan dari penis tukang nasi goreng itu.


“Aaaaaaaaaahhhh yaaahhhh” Desah pak Tomi menyusul kemudian disaat penisnya mulai tenggelam di lahap vagina Nayla.


Pak Tomi sambil mendekap pinggang Nayla merasakan betapa kuatnya jepitan dari akhwat bermasker itu. Ia lalu menurunkan tangannya tuk mengangkat rok yang menghalangi pemandangan kelamin mereka berdua. Saat rok itu sudah diangkat hingga ke pinggang, akhirnya pak Tomi dapat melihat penisnya sendiri yang sudah memasuki rahim akhwat bermasker itu. Pak Tomi tersenyum, ia lalu menaikan pandangannya tuk menatap akhwat yang sedang menunggangi penisnya.


“Mmppphhhh kuat bangeettt kontol bapaaakkk… Aaaahhh yaahhh… Belum aku goyang aja udah kerasa bangett” Desah Nayla puas sambil memejamkan matanya.


“Hehe saya kan udah bilang kalau saya akan memuasi mbak… Ayo dong goyaanggg… Mbak juga penasaran sama rasanya kontol saya kan ?” kata tukang nasgor itu mupeng.


“Aaahhhh iyahh paakkk… Aku mulai goyang yahhh…. Uuuhhhhhhh” desah Nayla saat menaikan tubuhnya lalu merasakan nikmatnya penis yang menggesek dinding vaginanya.


“Aaaahhhh nikmatnyaaa… Aaahhhh yahhh hahahaha” Tawa kang nasgor itu puas.


Saat Nayla menurunkan lagi tubuhnya. Terasa penis pak Tomi semakin ambles menuju titik terdalam rahimnya. Nayla sampai merinding. Kedua tangannya sama-sama mengepal di samping. Matanya juga memejam merasakan kenikmatan penis yang begitu menghujam.


“Aaaahhh paaakkkkk” desah Nayla penuh kepuasan.


“Haahahah apa saya bilaannggg… Ayo goyang lagiii mbaakk… Jangan jadi pemalas… Ayo cepat goyang saya yang keras” Kata pak Tomi bernafsu.


“Iyahhh… Iyaahh paakkk… Aaahhhhh… Aaahhhhh” desah Nayla yang mulai bergoyang naik turun.


Nayla mulai mengocok-ngocok penis pak Tomi menggunakan vaginanya. Ia merasakan betapa kuatnya penis hitam itu saat mengaduk-ngaduk vaginanya. Nayla sampai merem melek terus-terusan. Tubuhnya sampai blingsatan merasakan kenikmatan yang tak dapat dijelaskan. Tubuhnya juga kelojotan. Nafasnya ngos-ngosan. Ia terus menaik turunkan tubuhnya sambil memegangi bahu pak Tomi agar tidak terjatuh ditengah goyangannya.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Nikmat sekali goyanganmu ini mbaak… Aahhh teruss… Terusss” desah pak Tomi penuh kepuasan.


“Iyyah paakkk… Aahhhhh… Aaahhhh enak banget kontol bapaak… Aaahhh puasnyaa… Aahhh mantap banget paaakkkk” desah Nayla yang sudah sangat terangsang.


Nafsunya yang tadi tertahan membuat akhwat bermasker itu melampiaskan semuanya pada tukang nasi goreng itu. Nayla terus bergerak naik turun. Pinggulnya terus berpacu tanpa pernah berhenti. Terlihat wajah pria tua itu benar-benar sangat menikmati. Pak Tomi puas. Ia tersenyum merasakan goyangan Nayla yang semakin ganas.


“Aaaahhh yaahhh… Aaahhh paakk… Ouhhhh nikmat bangeetttt” desah Nayla sambil mengangkat kausnya hingga memperlihatkan kedua payudaranya yang begitu megah.


“Waaahhh gede banget mbaaakkk… Hahahaha… Indah sekali bisa ngeliat susu segede ini mendal-mendul… Aaahhh mana mbak gak pake beha lagi… Nakal banget yaahhh… Aaahhhh” desah pak Tomi yang semakin geregetan setelah melihat payudara Nayla.


“Aaaahhh habisnya aku buru-buru paaakk… Aaahhhh nikmat banggeett… Aaahhh enak banget kontol bapaakkk” Desah Nayla sambil meremasi kedua payudaranya.


Pak Tomi tertawa puas melihat kebinalan Nayla. Ia tak pernah membayangkan dirinya berkesempatan untuk menyicipi daging mentah sang akhwat. Terasa penisnya didalam semakin hangat. Terasa penisnya basah oleh cairan cinta sang akhwat. Nafas pak Tomi memberat. Ia pun jadi ingin menyusu pada dadanya yang begitu bulat.


“Eeehhhh” kata pak Tomi menyadari sesuatu.


“Aaahhh paakk… Aaahhh” Desah Nayla sambil menaruh kedua tangannya di kanan kiri tubuhnya setelah melihat pak Tomi hendak menyusu payudaranya.


“Aaahhh.. Aaahhh… Hayooo… Mbak habis dimesumin pak Urip yah ? Kok disusunya ada bekas pejuh” Kata pak Tomi ditengah desahannya.


“Aaahhh bukaannn… Bukaan paakk… Itu bukan pejuhnya pak Urip” Desah Nayla sambil menatap pak Tomi dengan penuh nafsu.


“Oh yah ? Aaahhh… Aaahhhh… Terus itu pejuh siapa mbak ?” Tanya pak Tomi penasaran.


“Itu pejuhnya temen akuu paakk… Tadi temen aku onani terus keluar di susu aku paaakkk” kata Nayla menjelaskan semuanya sambil terus menggoyang.


“Oh yah ? Hahahahah… Dasar mesum… Dasar lonte binal… Ternyata tubuh mbak udah ternoda oleh siapa aja yah ?” Tanya pak Tomi tertawa.


“Aaahhh… Aaahhh… Iyaahhh paakkkk… Tubuh aku udah gak suci lagi… Aku udah teroda… Aku ini penuh dosa paaakkk” Desah Nayla yang membuat pak Tomi semakin bergairah,


“Hahahahha tampilannya aja alim… Tapi dalemannya kotor bahkan lebih kotor dari pelacur berbayar !” Kata pak Tomi mengejek Nayla tuk melampiaskan nafsunya.


“Aaaahhhh… Aaaahhh yaahhh… Aku memang seperti itu paakk… Aku ini lonteee… Akuu ini lonte alimm paakkk... Siapa aja boleh make aku pak... Asal udah cukup umur... Mmpphhh” desah Nayla yang membuat pak Tomi semakin geregetan.


“Aaahhh… Aaahhhh kalau gitu cepat balik badan… Biar saya bisa menggenjotmu dengan keras… Saya ingin melampiaskan nafsu saya sekarang !” desah pak Tomi yang sudah tidak tahan lagi dengan godaan suara Nayla.


“Iyahh paakkk… Uuuhhhhhhh” desah Nayla yang menancapkan penis itu sedalam-dalamnya di dalam vaginanya lalu berdiri tegak tuk membuat penis yang semakin berdiri itu terlihat semakin menggoda.


“Mmmpphhhh aku lepas yaahh paaakkk… Rok aku menghalangi bangeettt” Desah Nayla sambil menurunkan roknya.


“Cepaat… Cepaatt… Saya udah gak tahan lagi mbak !” Kata pak Tomi geregetan.


“Hihihihi dasar nafsuan banget sih bapaaakk… Pasti goyangan aku tadi enak banget yah pak ?” Tanya Nayla sambil melepas jaketnya juga.


“Iyaahhh… Bangett… Bangeett mbaakk… Ayo buruan sini !” Kata pak Tomi yang akhirnya menarik tangan Nayla hingga membuat akhwat bermasker yang kini tinggal mengenakan hijab, masker serta kaus putih yang terangkat naik itu kembali menunggangi penis hitamnya.


“Aaaaaahhhh paaakkkk dalem bangeettt” Desah Nayla yang kembali merasakan kuatnya sodokan penis pak Tomi.


“Hah… Hah…. Mantap banget… Mantapp bangettt bodimu ini mbaakk… Beruntungnya saya pernah menikmati tubuh seindah ini… Rasain yaahh… Heennkgghhh” Desah pak Tomi sambil mendekap pinggang Nayla lalu menggerakkan pinggulnya maju hingga akhwat bermasker itu terlempar naik sebelum kembali jatuh ke pangkuan dirinya.


“Aaaahhh paakk… Aahhh… Aaahhhh dalem bangett… Aaahhhhh” desah Nayla sambil geleng-geleng kepala.


Pak Tomi yang mulai menggerakkan pinggulnya naik turun membuat tubuh akhwat bermasker itu terlempar naik turun diatas pangkuannya. Akibatnya saat tubuh Nayla kembali jatuh ke atas pangkuannya, vaginanya tertusuk begitu keras oleh penis tukang nasi goreng itu. Nayla mendesah penuh kepuasan merasakan tusukan yang begitu bertenaga. Sama halnya dengan Nayla, pak Tomi juga. Pak Tomi jadi semakin merasakan jepitan yang begitu kuat dari akhwat binal yang sudah setengah telanjang diatas pangkuannya.


“Aaahhhh… Aahhhh nikmat sekaliii… Aaahhh yaahhh” desah pak Tomi tersenyum saat melihat pantulan bayangan dari kaca gerobak yang ada di hadapannya. Langit yang sudah semakin gelap membuat pak Tomi dapat melihat dengan jelas pantulan bayangan mereka. Ia tersenyum penuh kepuasan melihat pantulan susu bulat Nayla. Susu bulat itu seperti sedang di 'dribble' saja olehnya.


“Aaahhh paakk… Aaaaahhh nikmat sekallii… Aaahhh sodokan bapak kuat bangeett paakkk” desah Nayla semakin puas.


“Aaahhh… Aaahhhh… Itu sudah jelas mbaakk… Rasakan kontol saya ini… Nikmati apa yang sudah saya berikan ini !” Desah pak Tomi tersenyum puas.


Kenikmatan yang semakin terasa membuat pak Tomi berdiri sambil terus berpacu menyodok-nyodok rahim Nayla. Ia lalu memutar balik tubuhnya hingga mereka sama-sama menghadap ke arah meja di dalam warungnya.


Nayla lalu menungging. Tangannya bertumpu pada tepi meja yang ada di hadapannya. Terlihat mereka terus melakukan persetubuhan. Tubuh Nayla terdorong maju mundur. Susunya juga terus bergondal-gandul. Bahkan pak Tomi semakin menaikkan kaus Nayla hingga penampakkan kedua susunya semakin terlihat. Pak Tomi tertawa puas. Ia terus menyodokkan penisnya sambil menampar-nampar bokong mulus dari akhwat bermasker itu.


'Plaaakk… Plaaakkk… Plaaakkk…'


“Aaahhh paakkk… Aaahhh… Aaahhh yaahhh” Jerit Nayla dengan keras saat pantatnya terus ditabok akibat saking gemasnya.


“Aaahhhh yaahhh… Aaahhhh saya udah gak kuat lagii… Terima ini mbaaakk… Aahhh saya hampir keluaaar” Kata pak Tomi yang mulai merasakan adanya tanda-tanda.


“Aaahhh terusss paakk… Yangg kuaatt… Aku juga udah mau keluuaar paakk… Aaahh nikmat sekaliii… Nikmat sekali sodokan bapak iniiii !!!” Desah Nayla dengan penuh gairah.


Pak Tomi mempercepat gerakan pinggulnya. Ia juga memperkuat sodokan penisnya hingga pinggulnya semakin menubruk paha Nayla dengan keras. Bahkan terdengar suara koplokan yang amat sangat jelas. Sodokan demi sodokan yang terus ia lakukan membuatnya semakin puas. Pak Tomi tak kuat. Ia hampir mendekat puncak birahinya.


'Plokkk... Plokkk... Plokkk !!!'


“Aaaahhh… Aaahhhh… Ouhhhh yaahh… Ouhhh… Saya gakk kuat lagii… Sayaa gakk kuat lagiii” desah pak Tomi saat merasakan orgasmenya semakin dekat.


“Aaahhh iyaahh… Iyyahhh… Akuuu jugaaa… Aaahhhh” Desah Nayla sampai merem melek merasakan kenikmatan yang pak Tomi berikan.


Nafas mereka sama-sama berat. Dada mereka sama-sama naik turun tak mampu menahan kenikmatan yang mereka rasakan. Kedua lutut mereka melemah. Mereka sama-sama sudah mendekati batas maksimal.


“Aaaahhh… Aaahhhh iyaahhh… Rasakannn iniii… Rasakaannn kontol saya iniii… Hennkggghhh !” Desah pak Tomi saat menancapkan penisnya hingga mentok menyundul rahim akhwat bermasker itu.


“Aaaahhhh iyaahh paakkk… Uuuhhhhhhhhhhhhhh” desah Nayla saat tubuhnya terdorong maju ke depan.


'Ccrroottt… Ccrroottt… Cccrroottt !!!'


“Keellluuaaarrrr !!” Jerit mereka secara bersamaan.


Mata mereka sama-sama memejam saat cairan cinta mereka bertemu di dalam kelamin Nayla. Bahkan campuran cairan cinta mereka sampai menetes keluar dari sela-sela kelamin mereka. Mereka sama-sama puas menikmati persetubuhan yang begitu panas. Nafas mereka terus ngos-ngosan. Terlihat jelas raut wajah kepuasan dari mereka berdua.


“Hah... Hah... Hah… Hah… Ouhhh yaahhhh” desah pak Tomi saat menarik penisnya keluar hingga dirinya dapat melihat lelehan spermanya yang keluar dari dalam vagina Nayla.


“Uuuuhhhh” desah Nayla merinding mereasakan aliran sperma tukang nasi goreng itu.


Akhirnya, berakhir sudah petualangan birahi Nayla di hari ini. Mulai dari pagi saat mengocok penis tukang pom bensin, lalu mengulum penis bengkok milik tukang bakso, lalu berlanjut dengan membiarkan sahabatnya yang juga merupakan fotografer favoritnya beronani sambil menatap ketelanjangannya dan diakhiri sekarang saat menikmati sodokan tukang nasgor di daerah kompleks rumahnya.


Kalau dalam sepakbola mencetak tiga gol masing-masing melalu kaki kanan, kaki kiri dan juga sundulan di sebut 'perfect hattrick'. Maka Nayla kali ini telah melakukan 'perfect' ngentot. Nayla merasa puas sekali atas orgasme yang didapatnya di sore hari ini. Bukan hanya karena hebatnya sodokan pak Tomi. Tapi karena kebinalannya dalam menggoda pria-pria beruntung yang ditemuinya di hari ini. Ia pun teringat ucapannya kemarin sore saat menyeruput penis pak Urip.


'Emang bener sih… Ngentot itu bukan cuma soal bertemunya antar kelamin… Tapi juga soal nuansa kebinalan yang sudah aku bangun saat menggoda mereka-mereka ini… Hihihihi…'


Batin Nayla memikirkan kebinalannya.


Ia pun lalu duduk di bangku panjang sambil menurunkan kausnya. Nayla terengah-engah. Tapi ia tersenyum setelah menikmati perbuatannya.


“Hehehe maaf mbak… Nasgornya jadi dingin… Ini pesenan nasgornya udah jadi” Kata pak Tomi sambil memberikan kantung kresek berisi nasgor pesanannya.


“Hah… Hah… Hah… Gapapa pak… Bapak sih kelamaan genjotnya hihihih” Kata Nayla sambil menerima kresek itu.


“Hahahaha habis enak banget sih jepitan mbak… Kapan-kapan kita ngentot lagi boleh yah… Nanti saya kasih gratis nasgor deh… Ini nasgor yang sekarang juga saya gratisin kok” Kata pak Tomi ngarep.


“Hihihihi makasih yah pak udah digratisin… Kapan-kapan deh aku atur waktu… Aku juga ada rencana pengen ngentot rame-rame loh” Kata Nayla yang jadi semakin binal setelah terbiasa melakukan persetubuhan.


“Oh yah ? Boleh tuh nanti saya jadi konsumtor acaranya… Pokoknya soal makanan tenang… Saya bakal masakin nasi goreng buat semuanya biar ada tenaga untuk menggenjotmu rame-rame” Kata pak Tomi bernafsu.


“Hihihihi duhhh… Jadi kebayang deh puasnya nanti… Mmpphhhh kapan yah ? Moga aja dalam waktu dekat ini yah pak… Tapi aku harus pilih-pilih dulu siapa yang pantas untuk menyetubuhi diriku” Kata Nayla bernafsu.


“Saya pantas kan ?” Kata pak Tomi ngarep.


“Pantes kok tenang aja… Hihihihi” Kata Nayla malu-malu yang membuat pak Tomi terlihat begitu bahagia.


Nayla pun membatin saat itu. Ia merenungi ucapan yang baru dikatakannya tadi.


'Hmmmm kok aku jadi kepikiran pengen ngentot rame-rame yah ? Gara-gara kebinalanku di hari ini… Nafsuku pada seorang lelaki jadi gak bisa ditahan lagi deh… Kalau emang terwujud aku pengen ngajak pak Urip, pak Beni, pak Tomi, mang Lasno, mang Yono terus siapa lagi yah ? Mmpphhhh bayangin semua itu terjadi bikin aku gak kuat deh… Duhh gak sabar banget bayangin mereka secara bergantian ngentotin aku…'


Batin Nayla senyum-senyum sendiri.


Seketika ia memikirkan apa kegiatannya di hari esok. Tiba-tiba senyumannya menghilang. Ia teringat kalau besok pak Urip berambisi untuk mencari gelandangan tua untuknya.


'Astaghfirullah… Besok yah ? Moga aja pak Urip gak jadi bawain gelandangan buatku… Apalagi kalau sampe bawa pak Dikin… Ihhh amit-amit deh… Amit-amit jabang bayi pokoknya…'


Batin Nayla merinding saat teringat penampakan gelandangan tua yang baru saja ia temui di pagi tadi.


BERSAMBUNG


;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 16

DEJAVU

Pagi hari sekitar pukul setengah delapan tepat.


Seorang wanita cantik yang menutupi tubuhnya menggunakan daster syar’i serta menutupi sebagian kepalanya dengan hijab simpel serta cadar terlihat berjalan keluar dari dalam rumahnya. Terlihat bahwa tubuhnya jadi lebih berisi daripada biasanya. Pahanya berisi, lengannya berisi bahkan tonjolan di dadanya juga jadi lebih berisi. Ia berjalan dengan penuh percaya diri sambil menunjukkan kelemah lembutannya sebagai seorang istri.


Terlihat wajahnya tersenyum malu-malu. Terlihat ia menundukkan wajahnya karena malu saat kedua kakinya berjalan menuju seorang pria tua berperut tambun yang sehari-harinya berjualan sayur di sekitar kompleks rumahnya. Akhwat itu terlihat malu-malu karena ini merupakan pertemuan pertamanya semenjak persetubuhannya yang begitu bergairah saat dirinya mengunjungi pria tua itu di dalam rumahnya.


“Hehe selamat pagi mang” Kata akhwat bercadar itu malu-malu.


“Eh mbak Nayla… Diliat-liat kok gendutan nih… Pasti lagi bahagia yah ? Huahahaha” tawa mang Yono.


“Eh bukan gendutan mang tapi berisi… Tadi pagi pas aku ngaca juga kaget… Kok aku jadi lebih berisi gini yah hihihih” Jawab Nayla malu-malu.


“Huahaha bukannya sama aja mbak ? Oh yah, kayaknya saya tau penyebabnya kenapa ?” kata mang Yono setelah melihat bentuk tubuh Nayla sesaat.


“Eh kenapa mang ?” Tanya Nayla penasaran.


“Pasti karena mbak sering dipejuhi memeknya nih… Iya kan ? Ngaku coba ! Huahahaha” kata mang Yono yang membuat wajah Nayla memerah malu.


“Eeehhh apa hubungannya coba mang ?” Tanya Nayla sambil memegangi kedua pipinya yang memerah.


“Ya ada dong mbak… Yang namanya pejuh kan mengandung zat tertentu yang bisa bikin gemuk… Makanya biasanya wanita-wanita yang baru menikah pasti jadi lebih berisi karena mereka telah diberi vitamin berupa pejuh itu ke dalam vaginanya… Huahahha… Pasti mbak belakangan sering diberi vitamin yah sama orang-orang ?” Tanya mang Yono yang kembali membuat wajah Nayla memerah.


“Ehhh apa iyya yah ? Jangan-jangan iya deh… Pasti itu penyebab aku jadi berisi gini” Kata Nayla yang setelah dipikir-pikir kok masuk akal juga yah. Apalagi baru kemarin sore dirinya dipejuhi oleh seorang tukang nasi goreng langganannya.


“Nah kan ? Huahahhaa… Tapi gapapa… Justru penampilan mbak jadi lebih menggoda… Kebetulan saya suka yang empuk-empuk gini… Saya sampai ngiler ngeliat tubuh mbak yang lebih berisi kayak gini… Pasti disodok asyik nih” Kata mang Yono yang membuat Nayla tertawa.


“Hhihihihih mesum ihhhh… Dasar tukang sayur mesum… Mentang-mentang waktu itu udah dikasih enak-enak malah ngelunjak yah !” Kata Nayla tersenyum malu-malu.


“Huahahah iya dong… Baru ngentot sekali mana cukup ? Harusnya mah kalau punya pemuas secantik ini sehari minimal sekali lah yah” Kata mang Yono yang berbicara begitu bebasnya disaat tidak ada orang lain selain diri mereka.


“Hihihihi tapi maaf yah mang jangan sekarang… Aku udah dibooking pak Urip” Kata Nayla yang sudah berjanji akan menyerahkan tubuhnya pada pak Urip bahkan ia juga memasrahkan dirinya agar pak Urip dapat melakukan apa saja pada tubuh indahnya.


“Duhh sayang banget… Beruntung sekali yah pak Urip bisa memuasimu setiap hari” Kata mang Yono yang iri pada keberuntungan pembantu tua mesum itu.


“Hiihihi aku yang beruntung pak karena diberi kepuasan yang luar biasa olehnya” Kata Nayla malu-malu saat teringat semua perbuatan yang sudah pak Urip lakukan kepadanya.


“Huahahah jadi sama-sama untung lah yah kalian berdua” Jawab mang Yono sambil menatap mesum akhwat bercadar di depannya itu.


Disaat mereka asyik mengobrol. Tak sengaja wajah Nayla menoleh lalu mendapati pembantu tuanya itu pergi menaiki motornya. Nayla pun terkejut kenapa pak Urip malah hendak pergi menaiki motornya ? Tapi tak lama kemudian ia jadi teringat kalau pak Urip hendak memintanya untuk disetubuhi oleh gelandangan tua. Seketika tubuh Nayla merinding saat melihat kepergian pembantu tuanya itu.


'Apa jangan-jangan pak Urip mau jemput gelandangan itu yah ? Duh serius nih ? Aku kudu ngentot sama gelandangan tua hari ini ?'


Batin Nayla was-was.


MEBXDFG

https://thumbs4.imagebam.com/4b/1d/65/MEBXDFG_t.jpg   4b/1d/65/MEBXDFG_t.jpg

'NAYLA


MEBE9O7

https://thumbs4.imagebam.com/31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg   31/89/67/MEBE9O7_t.jpeg

'MANG YONO


“Mbaakkk… Mbaaakk Naylaaa” Kata mang Yono membangunkan Nayla. Kebetulan mang Yono juga melihat ke arah dimana wajah Nayla menoleh. Mang Nayla pun tersenyum kepada akhwat binal itu.


“Ehhh iya mang ?” Kata Nayla sambil menatap mang Yono.


“Jangan sedih gitu dong… Kayaknya abis sedih nih ngeliat pemuas mbak pergi… Mending sambil nunggu pak Urip pulang, main sama saya dulu gimana ?” tanya mang Yono mupeng.


“Hihihih ngarang ih… Aku gak sedih kok… Gak mau ah main sama mamang wleeekkk… Nanti kalau aku lemes terus pak Urip minta jatah ke aku kan aku yang repot jadinya… Capek tau tiap hari ngelayanin laki-laki mesum kayak mamang… Apalagi kalau sehari dua kali !” Kata Nayla yang membuat mang Yono tertawa.


“Huahahah gapapa… Coba dulu… Biar terbiasa… Coba aja sehari dua laki-laki… Biar nanti lama-lama mbak sanggup muasin lima orang laki-laki dalam sehari” Kata mang Yono yang seketika membuat Nayla kepikiran.


'Eh, iya juga yah ? Kalau aku langsung ngelayanin banyak cowok yang ada aku bakal lemes juga… Mungkin dicoba sehari dua laki-laki dulu kali yah…'


Batin Nayla kepikiran.


“Gimana ? Lonteku ? Huahahaha” Kata mang Yono yang membuat Nayla agak ragu tuk menerimanya juga untuk menolaknya.


“Annuuuu” Kata Nayla berfikir.


“Ehhh mangg Yonooo… Sayurrr… Saya mau beli sayurnya mang” Kata ibu-ibu lainnya yang tiba-tiba datang mendekat.


Untungnya ditengah pembicaraan mereka yang semakin mesum, terdapat ibu-ibu lain yang mulai mendekat untuk membeli sayuran. Terpaksa obrolan mesum mereka pun terhenti. Nayla yang sedari awal sudah datang langsung buru-buru membeli. Ia lagi-lagi memberi terong juga beberapa ikat bayam untuk dijadikan makanan olehnya. Nayla pun buru-buru kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang ia merenungi kata-kata mang Yono. Setelah dipikir-pikir kok omongan mang Yono masuk akal juga yah ?


'Hmmmm siapa yah ? Siapa yah dua orang laki-laki yang akan jadi yang pertama menyetubuhiku secara bersamaan yah ?'


Batin Nayla berfikir.


*-*-*-*

Sementara itu disaat yang bersamaan,


Terlihat sesosok pria tua kekar yang baru saja keluar dari rumahnya. Saat ia keluar, ia melihat akhwat cantik yang juga merupakan tetangganya berjalan pulang sambil membawa kresek berisi sayuran yang baru saja dibelinya. Terlihat wajah cantiknya seperti sedang berfikir. Pria tua kekar itu pun mikir-mikir. Apa yang sedang dipikirkan oleh akhwat cantik itu pagi-pagi ? Apakah karena memikirkan masakan apa yang bakal dibuatnya ? Berhubung ditangannya memegangi kresek berisi sayuran. Atau karena masalah lain yang tidak ia ketahui.


'Hmmm tapi kok kalau dipikir-pikir, apa yah yang ingin mbak Nayla bicarakan ke saya ? Sudah beberapa hari berlalu kok mbak Nayla gak ngomong sesuatu ke saya… Berkali-kali saya chatt juga gak dibalas sama sekali olehnya…'


Batin pak Beni berfikir.


Ia jadi gelisah tiap kali memikirkan apa yang ingin Nayla obrolkan dengannya. Apakah soal hati ? Atau soal birahi yang katanya sulit untuk ia kendalikan akhir-akhir ini ? Memikirkan soal birahi membuat dirinya jadi nafsu lagi. Apalagi seumur-umur ia cuma baru sekali bercinta dengan sang bidadari.


'Hah… Kok jadi nafsu pengen ngentotin dia lagi yah ? Apa lagi gara-gara video call waktu itu… Behhh mantep banget emang bodinya… Jadi nafsu pengen genjot dia lagi deh…'


Batin pak Beni sambil terus menatap tubuh Nayla hingga lama-lama memasuki rumahnya.


Baru setelah Nayla masuk ke rumah, pak Beni mulai berjalan keluar sambil memegangi sapu serta cikrak yang merupakan peralatannya bekerja.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Tapi terik matahari sudah mulai hangat. Pak Beni pun menatap langit untuk melihat betapa silaunya mentari di pagi hari. Ia pun terus melanjutkan perjalanannya menuju titik pekerjaan dimana ia ditugaskan selama seminggu ke depan.


Seketika ia jadi teringat Putri. Sosok mahasiswi yang sudah ia gagahi berkali-kali. Sosok yang katanya akan segera menikah dengan seorang pria yang bernama Andri. Kalau dipikir-pikir, bercinta dengan Putri tidak buruk juga. Setidaknya ia bisa melampiaskan nafsunya di tempat yang semestinya, yakni kemaluan seorang akhwat.


Tapi ada satu hal yang membuat dirinya sangat menyayangkannya. Yakni sensasi, bercinta dengan Putri masih kalah nikmatnya bercinta dengan Nayla. Sensasi bercinta dengan akhwat binal seperti Nayla merupakan puncak kenikmatan dari fantasinya selama ini. Sayang ia jarang mendapatkannya. Meski ia berulang kali melampiaskannya pada Putri, masih saja ada hal kurang yang membuatnya kesulitan untuk menjelaskannya.


“Padahal kan sama aja yah… Sama-sama keluar di rahim seorang akhwat… Tapi kok saya merasa kayak ada yang kurang yah kalau keluar di rahimnya mbak Putri… Entah kenapa kalau keluarnya di rahimnya mbak Nayla baru kerasa puas banget… Sensasi apa yah yang ada pada mbak Nayla tapi enggak ada pada diri mbak Putri ?” Batin pak Beni memikirkan hal tersebut.


Tak terasa ia sudah tiba di tempat tujuan. Sebuah jalan yang letaknya berada di kompleks kampus terkenal. Lagi-lagi, terdapat mahasiswi-mahasiswi cantik baik yang suka berpakaian terbuka dan yang suka berpakaian alim tertutup lewat di sekitarnya.


Pak Beni jadi deg-degan andai bertemu dengan Putri lagi. Apakah ia akan kembali diajak bercinta sampai sore lagi ? Entah kenapa ia jadi berharap bertemu dengan Putri lagi. Apalagi ia sedang bernafsu gara-gara memikirkan Nayla di pagi hari.


“Hah… Kok kayaknya saya jahat banget yah… Cuma jadiin mbak Putri tempat pelampiasan aja…” Lirih pak Beni saat memikirkan perbuatannya kemarin.


“Ah enggak kok… Lagian waktu itu kan saya diajak… Ya, saya cuma ngelakuin aja apa yang mbak Putri minta, yakni muasin nafsunya agar saya bisa keluar dari kamar kosnya” Lirihnya lagi sambil terus menyapu jalanan.


“Paaakk !!”


Saat sedang asyik-asyiknya menyapu. Lagi-lagi, sesosok akhwat yang memiliki suara yang sama memanggil. Pria tua berbadan kekar itu kembali menoleh menatap sumber suara itu, Ya, lagi-lagi. Wajah yang familiar kembali dilihat oleh pria tua kekar itu.


Pak Beni sampai terkejut saat melihatnya. Rasanya seperti dejavu. Perasaan baru beberapa hari yang lalu ia merasakan situasi yang sama seperti ini. Apakah nanti ia bisa merasakan hal yang sama lagi ? Apakah nanti ia akan menyetubuhi rahimnya lagi ?


Entah kenapa memikirkan hal itu membuat penisnya jadi semakin berdiri. Pria tua yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang sapu jalanan itu jadi mupeng ingin menyetubuhi mahasiswi yang rela ia gagahi berkali-kali itu lagi.


“Mbak Putri” Kata pak Beni saat melihat mahasiswi cantik itu berjalan mendekat.


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


MECRL35

https://thumbs4.imagebam.com/8b/80/e5/MECRL35_t.jpg   8b/80/e5/MECRL35_t.jpg

'PUTRI


*-*-*-*

Pada saat yang sama di suatu tempat.


“Hah… Sial… Dari kemaren nyari-nyari masih gak ketemu aja… Apa iya gelandangan yang ada di sekitar sini udah pada digruduk semua ?” Kata pria tua berperut tambun yang mengendarai motornya pelan sambil menoleh-noleh ke sekitar.


Sudah dari kemarin ia mencari-cari pesanan yang diminta oleh majikannya. Tapi sampai sekarang, ia masih belum mendapatkan pesanan majikannya itu. Sebagai pria jantan, ia tak mau membuat majikannya kecewa. Ia pun terus berusaha tuk mencari gelandangan yang bisa ia ajak untuk memuasi nafsu birahi majikannya yang semakin lama semakin sulit untuk dikendalikan saja.


“Hakhakhak… Sial, makin gak sabar ngeliat non Nayla digenjot sama gelandangan tua… Kalau bisa sih nyari lebih dari satu biar sekalian di gangbang tuh lonte binal… Sial dah… Makin ngebayangin kok makin bikin nafsu aja yah ? Akhirnya impianku selama ini bakal terwujud sebentar lagi… Akan kubuat dirimu binal sebinal-binalnya non… Akan kubuat memekmu itu tempat pembuangan pejuh orang-orang baik yang non kenal ataupun yang gak non kenal… Gak sabar ngeliat non hamil gara-gara perbuatan mereka-mereka itu… Jadi penasaran juga deh kalau hamil bakalan jadi anak siapa yah ? Atau jangan-jangan malah anak saya ? Hakhakhak” Tawa pak Urip seperti orang gila saat mengitari ibu kota tuk mencari gelandangan tua.


Seketika saat dirinya mendekati sebuah lampu merah yang posisinya berada di pinggiran ibukota. Ia menemukan seorang pria tua berpakaian lusuh dengan rambut putih serta janggut yang juga berwarna putih. Sekilas, pak Urip melihat adanya beberapa lalat yang berterbangan mengelilingi tubuhnya. Pak Urip tertawa, akhirnya ia menemukan sesosok gelandangan yang bisa ia pakai untuk memuasi nafsu majikannya.


Dengan suka cita ia mengarahkan motornya menuju pria tua itu. Ia lalu memelankan laju motornya saat ia hampir mendekati pria tua itu. Belum sampai saja, ia sudah dapat mencium aroma busuk dari pria tua itu. Pak Urip bahkan hampir muntah. Namun hal itu yang membuatnya jadi makin senang untuk mengajaknya 'join' tuk memuasi majikan binalnya.


“Permisi pak… Boleh ngobrol sebentar gak pak ?” Kata pak Urip saat duduk di sebelahnya.


“Boleh… Ada apa yah pak ?” Tanya gelandangan tua itu.


“Sebelum itu, saya mau ngenalin diri dulu… Saya Urip… Kalau bapak ?” Tanya pak Urip sambil menjulurkan tangannya.


“Saya Dikin… Panggil aja pak Dikin” Jawab pak Dikin yang membuat pak Urip tersenyum senang.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


MECMNJG

https://thumbs4.imagebam.com/24/89/99/MECMNJG_t.jpg   24/89/99/MECMNJG_t.jpg

'PAK DIKIN


*-*-*-*

“Hehe bapak… Ketemu lagi nih, kita” Kata Putri malu-malu setelah mendekati pejantan tuanya itu.


“Kali ini mbak gak kuliah yah ? Apa kuliah ? Jam segini kok belum masuk ?” Tanya pak Beni sambil mengamati 'outfit' yang dikenakan oleh mahasiswi cantik itu sejenak.


Pak Beni terpana saat melihat penampilan Putri yang menurutnya cukup menggemaskan ini. Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini Putri tidak mengenakan kacamatanya. Putri hanya terbungkus gamis longgar berwarna coklat cerah mulai dari bahu hingga ke mata kaki. Sedangkan hijabnya berwarna coklat gelap. Ia juga mengenakan masker berwarna putih. Tampak sederhana memang sekilas, namun pakaiannya yang kebesaran itu justru membuat pak Beni semakin bernafsu. Mungkin karena pria tua kekar itu sudah mengetahui lekuk tubuh dari akhwat yang pernah ia gagahi seharian tersebut.


“Masuk kuliah kok setengah jam lagi… Ada apa bapak ngeliatin akunya kok gitu ?” Kata Putri saat mengamati wajah pak Beni.


“Ehh maaf… Saya cuma kagum aja sama penampilan mbak… Mbak cantik banget… Gak nyangka saya bisa bertemu dengan akhwat secantik mbak lagi di pagi ini” Puji pak Beni yang membuat Putri senyum-senyum sendiri.


“Hihihi ada-ada aja sih bapak… Makasih buat pujiannya” Kata Putri sampai salah tingkah sendiri.


“Sama-sama… Ngeliat mbak kayak gini… Mbak emang pantes dipuji kok” Kata Pak Beni yang semakin membuat Putri salah tingkah setelah mendengar pujiannya.


“Udah ah pak… Aku kan jadi malu… Lagian aku cuma dandan tipis-tipis aja kok hari ini… Tau gitu kalau aku bakal ketemu bapak… Aku pasti bakal dandan yang lebih cantik lagi” Kata Putri menyesali dirinya yang belum tampil maksimal dihadapan pak Beni.


“Udah gapapa mbak… Mbak udah cantik kok… Kalau mbak lebih cantik daripada ini… Bisa-bisa mbak saya culik loh nanti” Kata pak Beni yang membuat Putri tertawa.


“Hihihihi diculik kemana pak emangnya ?” Tanya Putri sambil memukul lengan pak Beni pelan.


“Ke rumah…. Biar mbak bisa saya entot seharian” Kata pak Beni jadi semakin gemas setelah bercengkrama dengan Putri.


“Uhhhhh pasti enak banget tuh… Culik adek dong bang… Hihihhi” Kata Putri yang malah justru ingin diculik.


“Dasar nakal yah… Pagi-pagi udah bikin sangek aja” Kata pak Beni yang jadi geregetan saat melihat wajah menggoda Putri.


“Hihihhi apaan coba ? Orang pengen diculik kok malah bapak sange sih” Kata Putri tersenyum malu-malu.


“Ya, iyalah… Ngebayangin mbak saya culik jadi membuat saya ingin melucuti pakaian mbak lagi… Dengan tubuh seindah ini pasti mudah buat mbak untuk bikin saya sangek lagi… Tuh kan kontol saya mulai keras lagi” kata pak Beni gara-gara ngebayangin tubuh polos Putri.


Mendengar kalau penis pak Beni mulai berdiri lagi membuat Putri tertawa. Putri yang penasaran tiba-tiba mulai menggerakkan tangannya tuk membuktikan perkataan lelaki jantan itu.


“Ah masa sih ?” kata Putri yang tiba-tiba mengelus celana pak Beni. Pak Beni pun terkejut. Pria tua berbadan kekar itu tidak menduga dengan perbuatan yang Putri lakukan.


“Aaaaahhhhh… Ehhh mbaakk… Jangann disini… Nanti diliat orang” Kata pak Beni yang sempet merem melek lalu menjauhkan tangan Putri karena takut dilihat orang lain.


“Hihihih kan cuma ngecek… Ihhh iya bapak udah ngaceng yah… Pasti kebayang waktu bapak ngentotin aku yah ?” Tanya Putri yang justru membuat pak Beni semakin gemas.


“Ya iyalah… Emang mikirin apa lagi yang bisa bikin saya ngaceng kayak gini ?” kata pak Beni yang membuat Putri semakin tertawa.


“Hihihihi bisa jadi mikirin mbak Nayla… Hayooo” Kata Putri yang membuat pak Beni tersentak kaget.


'Eh kok mbak Putri malah nyebut nama mbak Nayla sih ? Apa jangan-jangan mbak Nayla pernah cerita ke mbak Putri ? Ah gak mungkin… Pasti mbak Putri cuma asal nebak aja !'


Batin pak Beni terkejut.


“Mana ada mbak… Mbak Nayla kan udah punya suami… Gak sopan kalau saya bayangin mbak Nayla apalagi sampai pernah bercinta dengannya” kata pak Beni berbohong.


“Hmmm beneran ? Jadi cuma aku nih satu-satunya wanita yang pernah bapak setubuhi ?” Kata Putri tersenyum.


“Iiiyyy… Iyya dong… Cuma mbak yang pernah saya setubuhi… Makanya kemarin saya nafsu banget sampai keluar berkali-kali” Jawab pak Beni terus saja berbohong.


“Hihihih makasih” Jawab Putri yang tiba-tiba langsung memeluk pak Beni.


Sontak pak Beni terkejut saat tubuh kekarnya dipeluk erat oleh akhwat bermasker yang memiliki tubuh ramping menggoda itu. Meski daritadi mereka terus mengobrol mesum, tapi sebenarnya masih ada beberapa mahasiswi ataupun mahasiswa yang lewat di sekitar mereka. Mereka sedari tadi mengobrol dengan sangat lirih. Namun, ketika mereka berpelukan, jelas tindakan mereka menarik perhatian orang-orang sekitar.


“Mbaakk… Udaaahhh mbak… Apa gapapa diliatin orang-orang ?” Tanya pak Beni sambil matanya melihat ke sekitar.


“Gapapa pak… Biarin aja… Aku nyaman kok sama bapak… Aku gak peduli dengan apa tanggapan orang-orang soal hubungan kita” Kata Putri mengejutkan pak Beni.


“Ehh tapi nanti kalau ketahuan temen mbak terus lapor ke dosen gimana ?” Kata pak Beni yang justru panik sendiri.


“Hihihi tenang aja… Tinggal bilang aja kalau bapak itu ayah aku… Ayah yang aku cinta… Bahkan juga aku izinin buat muasin tubuh aku… Hihihihi” kata Putri sambil menatap wajah pak Beni lalu melepas pelukannya untuk memegangi telapak tangan pak Beni untuk mengecup punggung tangannya.


Orang-orang yang melihat Putri salim ke pak Beni langsung menduga kalau mereka berdua memang memiliki hubungan keluarga.


“Liat kan… Masalah beres kan… Hihihihi… Yuk temenin aku” Kata Putri sambil menarik tangan pak Beni.


“Eh kemana ?” Tanya Pak Beni terkejut.


“Anterin aku ke kampus lah pak… Masa seorang ayah gak mau nganterin putrinya ke kampus sih” Kata Putri sambil tersenyum.


“Eh ? Anterin ke kampus ? Hehehe yaudah deh” Kata pak Beni saat terkagum sejenak melihat indahnya senyum Putri.


“Hihihhi tapi kancingnya dibuka satu yah pak… Biar bapak keliatan lebih gagah” Ucap Putri meminta permohonan.


“Kayak gini ?” Tanya pak Beni.


“Nah iya ? Waahhh bapak jadi keliatan seksi deh hihihi… Duh rahimku jadi anget nih” kata Putri dengan vulgarnya yang membuat pak Beni menenggak ludah.


“Dasar binal banget yah ucapan mbak… Jadi panas dingin loh saya” Lirih pak Beni yang justru dijawab Putri seperti ini.


“Sengaja biar bapak makin sayang ke aku… Hihihihi” Jawabnya sambil membetot penis pak Beni diam-diam.


“Aaahhhh mbaakkk… Udahhh ihh… Ketahuan nanti” Kata pak Beni yang membuat Putri tertawa senang.


Mereka berdua pun berjalan bersama. Sungguh unik memang saat melihat ada seorang akhwat berhijab yang mengenakan masker tengah menggandeng lengan pria tua yang mengenakan seragam tukang sapu jalanan. Apalagi kancingnya sudah dibuka beberapa. Nampak dada bidangnya terlihat. Pak Beni dengan tubuh kekarnya membuat beberapa akhwat yang ada disekitarnya terdiam menatap sosoknya. Pak Beni yang diperlakukan seperti ini justru membuatnya jadi semakin percaya diri. Ia pun jadi memikirkan apa yang ada di benak akhwat-akhwat yang terpana saat melihatnya tadi.


'Apa jangan-jangan rahim mereka anget juga yah setelah melihat saya ?'


Batin pak Beni yang jadi semakin percaya diri.


Sedangkan Putri hanya tersenyum saja tanpa memperdulikan tatapan-tatapan akhwat yang menatap kegagahan pak Beni. Ia justru dengan bangga memamerkan kekasih gelapnya. Ia menggandeng lengan pak Beni semakin erat. Ia pun terus berjalan bersama pak Beni hingga diri mereka semakin mendekati gerbang kampus mereka. Sekilas wajah Putri menoleh tuk menatap wajah pejantan tuanya itu.


'Pak Beni emang hot banget sih… Tubuhnya sempurna banget… Emang cocok deh kalau jadi hot daddy aku… Hihihihih…'


Batin Putri tersenyum sendiri.


*-*-*-*

“Oh, jadi nama bapak, pak Dikin yah ? Boleh saja ajak ngobrol kan ? Saya gak ganggu waktu bapak kan ?” Tanya pak Urip sambil tersenyum.


“Ganggu waktu saya ? Buwahahaha… Saya ini pengangguran pak… Kalau mau ngobrol sama saya ya ngobrol aja… Saya gak keganggu sama sekali kok… Saya justru seneng karena punya teman ngobrol lagi” Kata pak Dikin tertawa.


“Hakhakhak bener juga… Yah jadi gini pak sebenernya… Duh dari mana yah mulainya jadi bingung saya hakhakhak” Kata pak Urip sambil memutar otak.


“Loh kenapa ? Bilangin aja pak apa adanya… 'Monggo'… Saya orangnya santai kok… Saya gak pernah tersinggung apa gimana” Kata pak Dikin yang rupanya orangnya cukup 'easy going' juga.


“Ah iya… Bapak kenal mbak ini gak ? Mbak yang duduk disebelahnya mbak berkacamata ?” Tanya pak Urip sambil menunjukkan sebuah foto.


MECROCO

https://thumbs4.imagebam.com/08/7b/c8/MECROCO_t.jpg   08/7b/c8/MECROCO_t.jpg

“Ahhh mbak Nayla” Kata pak Dikin yang membuat pak Urip terkejut.


“Eh bapak kenal rupanya ? Kok bisa ?” Tanya pak Urip penasaran.


“Loh saya itu kenal semua warga yang tinggal dikompleks perumahannya mbak Nayla… Sebaliknya mereka juga kenal saya kok… Hampir semua orang pernah memberi saya bantuan baik itu uang tunai ataupun pakaian… Dulu masih inget banget saya kalau mbak Nayla sama suaminya pernah menyumbangkan sekardus pakaian bekas untuk saya… Baik banget mbak Nayla orangnya” Kata pak Dikin yang diam-diam sambil mengelus peninsya.


Pak Urip yang menangkap momen itu langsung tersenyum menatap pak Dikin.


“Oh yah ? Ngomong-ngomong Bapak nafsu gak ke mbak Nayla” Kata pak Urip secara frontal yang membuat pak Dikin terkejut.


“Eh nafsu ? Ya nafsu lah… Siapa sih yang gak nafsu ngeliat akhwat secantik mbak Nayla… Buwahahaha” Jawab pak Dikin malu-malu hingga membuatnya tertawa sendiri.


“Hakhakhakh… Kebetulan… Bapak beruntung” Kata pak Urip yang membuat tawa pak Dikin terhenti.


“Eh maksud bapak ?” Tanya pak Dikin.


“Baru kemarin sih… Ya, mbak Nayla bilang ke saya… Kalau dia ingin bercinta dengan seorang gelandangan tua… Sepertinya ia bosan bercinta dengan suaminya makanya ingin mencari pengalaman baru untuk bercinta dengan seorang gelandangan… Kebetulan saya bertemu dengan bapak… Apa bapak tertarik untuk bersetubuh dengannya ?” Tanya pak Urip yang membuat pak Dikin tersenyum senang.


“Beneran pak ? Tentu saya tertarik… Saya tertarik banget… Saya itu sangat bernafsu pada mbak Nayla… Udah sejak lama malah saya nafsu banget ke dia… Kalau emang bener mbak Nayla tertarik, tentu akan saya balas rasa ketertarikan itu dengan kepuasan yang tak terkira” Kata pak Dikin dengan penuh keyakinan.


“Oh yah ? Emang bapak punya pengalaman nih ? Bukannya bapak udah lama tinggal sendiri di jalanan ? Udah lama kan bapak gak ngentot sama cewek ?” Tanya pak Urip sambil tersenyum.


“Saya ? Pengalaman ? Buwahahaha… Asal bapak tahu aja yah… Dulu saya sampai diusir sama anak saya ya gara-gara saya nekat memperkosa menantu saya… Saya ini sudah lebih dari kata 'punya pengalaman' untuk memuasi seorang cewek pak… Meski udah bertahun-tahun saya enggak ngentot sama cewek… Saya jamin, saya akan menjadikan sentuhan pertama saya nanti sebagai sentuhan yang penuh arti dan akan meninggalkan kesan yang begitu mendalam pada diri mbak Nayla” kata pak Dikin yang sampai menceritakan pengalaman rahasianya soal dirinya yang berakhir sebagai gelandangan.


“Oh yah ? Beneran itu pak ? Hakhakhak nekat juga yah bapak sampai berani memperkosa menantu bapak” Kata pak Urip kagum akan pengalaman pak Dikin.


“Yah… Pengalaman yang indah… Jujur saya sudah memperkosanya 10 kali… Bahkan saya sampai membuatnya hamil saat itu… Tapi sayang banget pas saya ingin memperkosanya yang ke sebelas kali… Anak saya mempergoki saya… Saya pun diusir… Padahal waktu itu saya hampir memejuhi rahim menantu saya yang udah jadi bumil” kata pak Dikin yang semakin membuat pak Urip tertarik.


“Hakhakhak… Okelah… Kalau gitu bapak lulus wawancara saya… Yuk ikut saya ke rumah… Biar saya anter bapak menuju rumahnya… Bapak siap kan kalau melakukannya sekarang ?” Tanya pak Urip tersenyum.


“Saya siap kapan saja dan dimana saja… Antarkan saya… Akan saya buat akhwat cantik itu mendesah keras saat menerima genjotan saya !” Kata pak Dikin dengan penuh ambisi.


“Hakhakhak… Oke tunggu sebentar” Kata pak Urip sambil mengeluarkan hapenya. Ia lalu mengetik beberapa kata yang kemudian ia langsung kirimkan pada sebuah nomor yang memiliki nama kontak “Lonte peliharaan”.


'Siapkan dirimu non… Saya akan segera pulang… Dandan yang cantik… Kenakan pakaian yang terbaik !'


Batin pak Urip saat membaca ulang pesan yang ia kirim tadi.


*-*-*-*

Setibanya mereka di gerbang kampus.


“Sudah yah mbak… Silahkan dilanjut… Semangat kuliahnya yah” Kata pak Beni sambil menatap Putri.


“Loh kok udah ? Gedung kelasku kan masih jauh pak… Ayo dong anterin aku lagi” kata Putri memaksa sambil merangkul lengan kekarnya.


Pak Beni terkejut. Ia sebenarnya senang tapi ia tak nyaman pada pandangan orang-orang yang terus melihat mereka. Apalagi saat Putri terus memaksa yang membuat tubuh kekarnya mau tak mau menuruti permintaan mahasiswi cantik itu.


“Loh mau sampai mana mbak ? Apa saya boleh masuk ? Saya gak enak loh sama tatapan orang-orang disini” Lirih pak Beni kepada Putri.


“Sampe gedung kelasku aja pak… Bentaran kok… Masa gak mau sih nganterin aku ?” Kata Putri tiba-tiba berhenti melangkah lalu cemberut hingga menyilangkan tangannya di dada saat menatap pria tua kekar itu.


“Maa… Maauuu kok mbak… Tapi saya cuma gak enak aja… Saya kan bukan orang dalem kampus… Saya jadi gak enak kalau mereka mikirnya macam-macam ke saya” Kata pak Beni berusaha menjelaskan.


“Gak usah peduliin… Kan aku ada di sisi bapak… Pokoknya bapak harus nganterin aku, titik ! Mau yah ? Ayo lah” Kata Putri terus memohon.


“Iyy… Iyya mbaakk… Yaudah” Kata Pak Beni yang akhirnya tidak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan Putri.


Disini pak Beni sudah seperti seorang ayah yang menuruti kemauan macam-macam dari anak manjanya. Akhirnya mereka berdua kembali berjalan bersama. Mereka berjalan menuju arah utara ke gedung kelas Putri.


Sembari berjalan, pak Beni pun membatin di dalam hati.


'Mbak Putri ini orangnya cantik tapi suka maksa deh… Duhh ribet juga… Kalau keseringan bisa bikin gak nyaman nih… Males juga kalau harus nurutin kemauannya yang ini itu… Kalau masuk akal kayak kemarin yang disuruh muasin sebelum keluar kamar kos mah masih oke lah… Lah ini ? Duh rasanya kayak ditelanjangin, malu banget rasanya ditatap oleh orang-orang sebanyak ini… Masalahnya tatapan mereka itu kayak menganggap saya itu gimana gitu… Menyebalkan banget pokoknya…'


Batin pak Beni sambil melirik Putri.


Seketika Putri menoleh yang membuat pak Beni buru-buru membuang mukanya.


'Hihihi habis ngelirik-ngelirik yah ? Dasar nakal ih gak jaga pandangan… Duhhh mana pak Beni hot banget lagi… Makin kesini kok bikin aku panas dingin yah… Jadi geregetan pengen buka kancing seragamnya biar bisa ngeliat tubuh indahnya lagi… Gagah banget sih pak Beni ini !'


Batin Putri yang sudah tergila-gila pada tubuh kekar pak Beni.


MECRL3B

https://thumbs4.imagebam.com/c8/b7/9d/MECRL3B_t.jpg   c8/b7/9d/MECRL3B_t.jpg

'LORONG KAMPUS


Saat Putri menatap ke depan, ia menyadari kalau lorong gedung kelasnya tidak terlalu ramai. Entah kenapa ia jadi kepengin sesuatu. Rahimnya anget tiap kali memandang tubuh indah pak Beni. Ia ingin mendinginkannya. Ia ingin mendinginkannya dengan cara menjepit penisnya menggunakan vaginanya.


'Mumpung kampus sepi… Aku ajak pak Beni ngentot lagi ah… Hihihihi…'


Batin Putri yang bersiap untuk menggoda pak Beni.


“Paaaakkkkkk” Kata Putri dengan nada menggoda setelah mereka tiba di dalam gedung tepatnya di lorong gedung kelasnya.


“Ada apa mbak ?” Tanya pak Beni menoleh hingga mereka dalam posisi saling berhadapan.


“Hmmmm hihihih… Aku punya permintaan ke bapak… Bapak sanggup gak menuhin permintaan aku ?” Kata Putri malu-malu bahkan tak berani untuk mengangkat wajah cantiknya itu.


“Permintaan ? Emang, apa yah ?” Tanya pak Beni penasaran.


“Hihihihi mumpung udah lama kita gak begituan lagi… Mumpung disini gak terlalu ramai… Aku mau bapaaakkk . . . . “ Kata Putri malu-malu sambil membelai tubuh pak Beni. Kedua tangannya dengan manja mengusap dada pak Beni. Bahkan jemarinya dengan nakal juga membuka kancing seragam pak Beni. Tatapannya yang menggoda serta senyumannya yang manis menghanyutkan membuat pak Beni sampai melamun sejenak.


Namun tangan Putri yang seakan-akan tengah membugili dirinya buru-buru membangunkannya dari lamunan indahnya. Ia yang tersadar sedang berada dimana buru-buru menyadarkan Putri agar mengurungkan niatnya.


“Astaga naga… Mbak… Kita lagi di kampus loh… Apa yang ingin mbak lakukan ? Jangan mbak… Nanti kita kena masalah loh” Kata pak Beni panik.


“Hihihihi kampus lagi sepi kok… Aku cuma kangen… Aku kangen kontol bapak yang bisa bikin aku menjerit penuh kepuasan… Mmmpphhh gimana yah keadaan kontol bapak ? Apa jangan-jangan makin kesini makin membesar ? Hiihihih” Lirih Putri kali ini sambil membelai celana pak Beni.


Sontak penis pak Beni langsung ngaceng maksimal ketika dibelai dengan begitu manja oleh tangan akhwat bermasker itu. Apalagi sensasi di ruangan terbuka menambah rasa deg-degan yang membuat perlakuan mereka menjadi jauh lebih menantang.


Jujur pak Beni menikmati. Tapi rasa takut akan ketahuan itu yang membuatnya agak ragu untuk melanjutkan aksinya itu.


“Taappp… Taappiii mbaakk… Tolonggg… Nanti kalau ketahuan mbak sendiri loh yang kena masalah” Kata pak Beni yang memperdulikan nasib kuliah Putri.


“Hihihihi makasih udah meduliin aku… Makanya ayo cepetan… Buruan pejuhin memek aku biar aku bisa berangkat ke kelas segera… Sekarang aku keluarin yah kontol bapak” Kata Putri kali ini sambil menurunkan resleting celana pak Beni lalu menarik penis raksasanya keluar dari dalam sarangnya.


“Aaaaaaahhhhhhhh” desah pak Beni merasakan dekapan halus Putri. Ia yang deg-degan terus menoleh ke kanan juga ke kiri. Memang tidak ada yang berlalu lalang disekitar mereka. Tapi jauh di seberang tepatnya di pertigaan lorong yang jaraknya masih cukup jauh ada beberapa mahasiswa yang berkumpul disana. Pak Beni takut namun elusan tangan dari Putri membuat pak Beni jadi bingung haruskah ia menikmati atau menghentikan aksinya ini.


“Mmpphhh tuh kan gede banget kontol bapaakk… Aku jadi makin suka deh… Mmmpphh gak sabar ngerasain kontol segede ini masuk ke dalam memek aku” Goda Putri sambil terus mengocok-ngocok penis hitam itu.


“Aaaahhhhh… Aaaaahhhh… Buruan mbak masukin aja… Buruan sebelum ada orang lain yang lihat” Kata Pak Beni yang ingin buru-buru menyudahi karena khawatir aksi mesumnya ini bakal kepergok orang lain.


“Hihihi yang sabar dong pak… Aku kan mau mainin kontol bapak dulu… Aku mau gedein kontol bapak dulu yah biar nanti rasanya jadi lebih nikmat pas masuk ke memek aku… Biar aku bisa lebih ngerasain gesekan kontol bapak yang udah keras maksimal hihihih” kata Putri sambil terus mengocok penis pak Beni.


“Aaaahhhh mbaaakk… Tapii aaaaahhh…. Aaaahhh yahhh nikmat sekaliii… Aaahhhhh yaahhh” desah Pak Beni sampai merinding saat merasakan kocokan tangan Putri.


Jemari Putri dengan lihai mendekap batang penis tukang sapu jalanan itu. Usapannya yang awalnya pelan lama-lama mulai dipercepat. Bahkan Putri sampai berjongkok agar dapat melihat penis kekar pak Beni dalam jarak yang begitu dekat. Putri terpana akan ukurannya. Putri juga terpana akan rupanya. Putri juga terpana mengingat penis sebesar ini pernah keluar masuk di dalam vaginanya bahkan berulang kali memejuhi rahimnya.


Putri pun memejam mengingat semua sodokan pak Beni yang berniat ingin menghamilinya. Ia membayangkannnya untuk menambah sensasi saat mengocok penisnya. Hal itu membuat pak Beni semakin tak karuan dalam menahan kocokan tangan Putri. Rasanya jadi semakin nikmat. Apalagi saat menahannya sambil menatap wajah indah Putri yang berada tepat di depan penisnya.


MECRL31

https://thumbs4.imagebam.com/ad/b4/e8/MECRL31_t.jpg   ad/b4/e8/MECRL31_t.jpg

'PUTRI


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


“Uuuhhhh makin keras aja nih kontol bapaakk… Hihihi tuh kan lama-lama makin gede” Kata Putri setelah berulang kali mengocok penisnya.


“Aaahhh yaahhh… Aaahhh mbaakk… Aaahhh buruannn… Buruannn mbakk masukin sekarang” Desah pak Beni yang masih ketakutan andai aksi mereka ketahuan.


“Hihihi tenang dong pak… Kalau kontol bapak udah segede gini… Aku kan jadi gak nahan pengen nyepong kontol bapak” Kata Putri yang tiba-tiba menurunkan maskernya lalu mendekatkan mulutnya ke ujung kulup penis pak Beni.


“Eeehhh mbaakk…. Mbaakk… Ehhh tungguu jangggg… Aaaahhhhhh” desah Pak Beni yang sampai merinding merasakan kehangatan dan kenyaman saat penisnya dilahap oleh Putri.


Penis pak Beni yang ukurannya begitu besar dan panjang membuat Putri hanya sanggup melahap ujung gundulnya saja yang perlahan semakin terbuka ketika penis pak Beni berereksi dengan benar.


Mulut Putri pun mulai menyedot-nyedot penisnya. Dekapan tangannya di batang penisnya turut membantu dengan mengocok-ngocoknya. Terkadang lidahnya ikut membantu dengan menjilati lubang kencingnya. Pak Beni jadi panas dingin. Tangannya jadi geregetan merasakan betapa nikmatnya kuluman yang mahasiswi binal itu berikan.


“Mmppphhhh… Mmpphhhh… Nikmat banget sih kontol bapak… Mmpphhh aku jadi gak peduli lagi… Aku cuma ingin kontol bapak… Aku ingin terus mengulum kontol bapak” desah Putri saking menikmati kulumannya.


“Aaahhhh… Aaahhh tunggu mbaakk… Aaahhhh nikmat sekalii… Aaahhhh enak sekali sepongan mbak” desah pak Beni dengan lirih mengingat lokasi dimana mereka beraksi.


“Mmpphh iyaahh dong paakk… Mmpphhh kontol bapak dikasih apa sih ? Kok aku jadi gak bisa lepas gini… Aku jadi pengen… Mmppphhhh” desah Putri saat mencaplok penis pak Beni lebih dalam lagi.


“Aaaahhh yaahhh… Aaahhhh mantapnyaaa… Ouhhh mbaakkk mmpphhhh” desah pak Beni berusah bertahan agar tidak menimbulkan desahan yang mencurigakan.


Terlihat mulut Putri mulai maju mundur melahap penis pak Beni. Kalau tadi ia cuma mengulum ujung kulupnya. Maka kali ini setengah dari penis itu sudah masuk ke dalam mulut Putri. Putri memaju mundurkan kepalanya. Lidahnya di dalam juga membantu dengan membasahi keseluruhan penis itu menggunakan liurnya. Kedua tangan Putri pun mendekap paha pak Beni. Kedua kaki Putri sampai berlutut. Matanya memejam. Ia terus mengulumnya tanpa peduli dengan keadaan. Ia hanya menikmati tugasnya. Ia menikmati perbuatannya saat menodai penis tukang sapu jalanan yang tidak disunat itu. Ia tak memperdulikan dimana ia berada juga statusnya sebagai akhwat alim yang sebentar lagi akan menikah. Ia hanya peduli pada penis pak Beni. Ia pun mulai membayangkan tubuh kekar pak Beni disaat telanjang agar kulumannya terasa lebih nikmat.


“Mmpphhh bapaaakkk… Aku suka banget sama tubuh bapak… Bapak kekar banget… Aku suka sama badan bapak yang bisa bikin aku terangsang terus… Mmpphh apalagi kontolnya… Aku jadi gak sabar pengen ngerasain sodokan bapak lagi di rahim aku… Mmmppphhh” desah Putri yang semakin bersemangat dalam mengulum penis pak Beni.


“Aaaahhh yaahh…. Aaahhhh sepongan mbak kuat banget… Saya juga suka tubuh mbak… Mbak itu seksi… Saya jadi pengen ngeliat tubuh telanjang mbak lagi” Kata pak Beni yang semakin hanyut dan mulai tak memperdulikan dimana tempat mereka saat ini. Mata pak Beni bahkan ikut memejam menikmati sepongan Putri yang semakin dalam.


“Mmmpphhh aku juga paaakkk… Aku gak nahan… Aaaaaahhhhh… Cuiihhhh” desah Putri sambil meludahi penis pak Beni lalu mengocokinya setelah puas mengulum penisnya.


Putri pun menatap wajah pak Beni dengan penuh nafsu. Ia menatapnyaa sambil mempercepat gerakan tangannya dalam mengocok penisnya. Tatapannya yang menggoda membuat pak Beni lama-lama tidak tahan. Perpaduan sikap malu-malu Putri dengan kebinalannya dalam menggoda dirinya membuat pak Beni lama-lama ingin menghukumnya.


“Ayo berdiri mbak… Saya udah gak kuat pengen nyodok memek mbak” Kata pak Beni yang segera dituruti oleh Putri.


“Hihihihi siap paakkk… Ayooo” Kata Putri yang langsung berdiri lalu membelakangi pak Beni sambil menunggingkan pantatnya. Ia sudah bertumpu pada dinding bersiap untuk menerima hujaman pak Beni dari belakang.


Pak Beni meliahat ke kanan kiri sejenak. Menyadari tidak ada orang disana membuat Pak Beni langsung menaikkan rok gamis Putri lalu menurunkan celana dalamnya hingga tersangkut di kedua lututnya. Ia pun mulai mendekatkan penisnya mendekati pintu masuk vagina Putri.


Akhirnya ia bisa mendapatkan kesempatan ini lagi. Apalagi ia mendapatkannya di lorong kampus yang rawan ketahuan oleh teman-teman Putri.


“Dasar mbak yah udah bikin saya geregetan… Sekarang terima kontol saya ini… Terima amarah saya ini… Hennkgghhhh !!!


'Jleeeebbbbb !!!'


“Aaaaahhhh yaahhhhh” Desah Putri dengan manja.


Penis pak Beni dengan cepat langsung ambles menuju titik terdalam dari rahim Putri. Tubuh ramping Putri juga sampai terdorong maju ke depan. Mata Putri juga sampai merem melek merasakan terjangan penis pak Beni yang begitu bertenaga. Putri sangat puas meski ini baru permulaan saja. Ia pun jadi semakin tak sabar untuk merasakan aksi selanjutnya dari pria kekar yang bersiap untuk memuasi tubuhnya.


“Aaaahhhhh nikmat sekali jepitan memekmu ini mbaaak… Siap yaaahhh… Saya akan mulai” desah pak Beni sambil mendekap pinggul Putri ketika pinggulnya mulai ia tarik sebelum membenamkannya lagi ke dalam rahim Putri.


“Uuuhhhhhhhh” desah Putri sambil memejam.


Pak Beni kembali menarik pinggulnya sebelum menyodoknya lagi. Ia menariknya lalu mendorongnya lagi. Ia menikmati jepitan vagina Putri secara pelan-pelan. Ia menikmati setiap momen saat penisnya menggesek dinding vagina akhwat bermasker itu. Rasanya benar-benar nikmat. Meski cuma penisnya yang merasakan jepitan vaginanya namun kenikmatannya telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia pun mulai stabil dalam memaju mundurkan pinggulnya. Ia juga mulai mempercepatnya hingga desahan demi desahan terdengar dari mulut mereka.


“Aaaahhhh nikmatnyaaa… Aaahhh nikmat sekali memekmu ini mbaaak… Aaahhh yaahh… Aaahhhh” desah pak Beni sambil menampar bokong Putri.


'Plaaaakkkk… Plaaaakkk… Plaaaakkkkk !'


“Aaaaahh yaahhh… Aaahhhh sakitt paakk… Aahhh jangan ditampar lagi… Ouuhhhhh dalem banget kontol bapaaakkk” Jerit Putri menahan kebinalannya ini.


“Aaahhhh… Aaahhhh suka-suka saya dong mbaaak… Aaahhhh salah sendiri sudah menggoda saya untuk memuasimu disini… Jangan salahkan saya kalau sampai ketahuan yah mbak !” Kata pak Beni yang sudah tidak peduli lagi.


“Aaaahhh… Aaaahh yaahh… Iyaahh… Aku janji… Asalakan aku bisa mendapatkan kepuasan dari kontol bapaakk” desah Putri yang sudah dilanda nafsu birahi.


Pak Beni semakin mempercepat laju penisnya dalam membombardir lubang kenikmatan Putri. Kecepatannya yang semakin cepat membuat jeritan yang keluar dari mulut Putri semakin kuat. Apalagi tangannya juga sambil meraba-raba permukaan bokong Putri. Bokong Putri di elus. Bokongnya terasa begitu halus. Sesekali ia menamparnya lagi hingga desahan suara Putri semakin terdengar keras.


'Plaaakkk… Plaaakkk !'


“Aaahhh paaakkk… Aaahhh yaahhh… Aaaaahhhh nikmat banget sodokan bapaak” desah Putri yang suaranya mulai menggema di lorong kampus.


Pasangan tua muda yang sudah tak peduli tempat dimana mereka bercinta itu terus berpacu. Pak Beni dengan beringas mulai menyetubuhi Putri dengan ganas. Sodokannya yang mulanya berada di gigi 2 langsung berubah menjadi gigi 7. Saking kuatnya gempuran pinggul pak Beni membuat pinggul Putri berbunyi berulang kali saat terbentur pinggul pak Beni. Putri yang tak sanggup menahan sodokan ini mulai menjerit keras. Apalagi saat tangan pak Beni dengan nakal mulai membelai payudara Putri yang masih bersembunyi di dalam gamis longgarnya.


“Aaaahhhhhhh… Aaaahhhhh paaakkk…. Aaaaahhhhh teruss… Terusss aaaahhhh” desah Putri tak peduli lagi.


“Aaaahhh yaahhh… Aaahhh nikmat banget… Aaahhhh rasanya kayak dicekik nih kontol saya mbaaakk” desah pak Beni dengan penuh nafsu.


Saat mata pak Beni membuka lalu matanya menoleh ke sisi bagian dalam dari lorong kampus tersebut. Ia mendapati adanya bayangan mendekat dari sisi kanan pertigaan lorong kampus tersebut. Seketika ia langsung menghentikan sodokannya. Ia panik lalu berbicara pada Putri.


“Duhh mbak… Kayaknya ada orang mendekat nih” Kata pak Beni sambil mementokkan penisnya ke dalam rahim Putri.


“Uuuhhhh gimana nih pak… Masa udahan ? Lagi nanggung nih” kata Putri yang tidak rela kalau menyudahi perzinahan mereka begitu saja seperti ini.


Seketika pak Beni melihat ke arah sebuah pintu yang agak sedikit terbuka. Ia lalu terpikirkan sebuah ide.


“Itu disana ruangan apa mbak ?” Tanya pak Beni.


“Ohhh itu kamar mandi pak ? Mau kesana ?” Tanya balik Putri.


“Ayo buruan… Kita lanjut disana” Kata pak Beni yang sebenarnya juga kepalang nanggung kalau dipaksa menyudahi perbuatannya begitu saja seperti ini.


Dengan terburu-buru. Kedua pasangan mesum itu langsung masuk ke dalam toilet yang terbuka. Tanpa memperdulikan itu toilet apa, mereka langsung masuk saja lalu juga memasuki salah satu bilik yang berada disana.


“Fiyuhh nyaris aja” kata Putri sambil mengunci bilik pintu di ruangan tersebut.


“Hah… Iya nih… Yuk dilanjut… Udah gak sabar saya ngerasain jepitan memek mbak lagi” kata pak Beni sambil tersenyum mesum menatap wajah Putri.


“Hihihiih… Yang sabar yah… Kalau gitu tolong bukain dong” kata Putri yang minta dibugili.


“Wah mau telanjang yah ? Ide bagus nih” kata pak Beni yang langsung menurunkan resleting gamisnya lalu mengangkatnya melalui kepala mungil Putri. Gamisnya pun terlepas, Putri dengan malu-malu menggantungnya pada gantungan yang berada di balik pintu.


“Behanya juga yah pak” kata Putri malu-malu sambil melepas ikatan bra Putri.


“Terserah mbak aja… Saya ikhlas asalkan bisa ngerasaian jepitan memek mbak lagi” Kata Pak Beni yang hanya duduk di toilet duduk sambil melihat Putri yang mulai menelanjangi dirinya.


“Hihihihi awas bapak ntar makin nafsu loh” kata Putri yang sudah bertelanjang bulat setelah melepaskan beha beserta celana dalamnya juga. Putri tingal mengenakan hijabnya. Bahkan maskernya sudah turun dan dibiarkan menggantung di lehernya sehingga pak Beni dapat melihat polosnya tubuh indah Putri.


“Kalau itu mah udah dari tadi mbak… Duh jadi makin seksi nih… Liat deh… Kontol saya sampai ngangguk-ngangguk ngeliat keindahan mbak Putri” kata pak Beni yang menggerakkan otot penisnya tuk menggoda birahi Putri.


“Hihihihi lucu banget… Bapak juga dong… Aku buka yah kancingnya” kata Putri sambil melepas satu demi satu kancing seragam pak Beni hingga terlepas seluruhnya.


“Terserah… Silahkan lakukan apa aja ke saya mbak” kata pak Beni membiarkan Putri melakukan apa saja pada dirinya.


Putri pun tersenyum. Setelah melepas seluruh kancing seragam pak Beni. Ia juga memelorotkan celana pak Beni hingga turun sampai lutut. Putri yang sudah bertelanjang bulat menyisakan hijab, 'stocking' dan sepatunya itu menatap pak Beni yang tinggal mengenakan seragamnya yang itupun sudah terbuka seluruh kancingnya dan juga celananya yang turun sampai ke lutut. Putri sengaja tidak menelanjanginya karena menurutnya kondisi pak Beni saat ini jauh lebih seksi. Putri pun mendekat tuk menunggangi penis liar itu. Putri ingin menjinakkannya. Ia pun bersiap untuk menungganginya sambil memegangi bahu lebarnya.


“Uuuuuhhh paaakkk” desah Putri merasakan dalamnya sodokan pak Beni.


“Aaaaahhh nikmatnyaaa… Duh gak sabar digoyang sama akhwat binal ini” Puji pak Beni yang membuat Putri tersenyum.


“Hihihihi gak cuma binal tapi juga jago muasin” Kata Putri sambil mengedipkan matanya sebelum tubuhnya mulai ia angkat lalu ia benamkan lagi.


“Aaaahh yaahhh… Iyyah seperti itu mbaak… Ouhhh ayoo lagi… Aaahh yaahhh… Mmpphhh” desah pak Beni puas sambil memegangi pinggang ramping Putri.


“Hihihi enak kan pak ? Aku juga nih… Mmpphhhh… Rasa kontol bapak emang gak ada duanya… Rasanya nikmat banget… Ouuhhhhh” desah Putri saat menatap mata pak Beni.


“Enak banget mbaakk… Rasanya emang josss… Ayo goyang teruss… Goyang kontol saya sampai mampus… Hahahha” tawa pak Beni yang sudah geregetan ingin digoyang Putri.


“Iyyahh paakk… Mmmpphh ini aku goyang kok… Aaahhhh gede banget kontol bapaakkk… Aaahhhh kuatnyaaa… Aaahhhh keras banget sih kontol bapak bikin aku… Aaahhh yaahhh” desah Putri yang mulai stabil saat naik turun menunggangi penis itu. Wajahnya yang sangek membuat pak Beni bergairah. Gerakan susunya yang bergoyang membuat pak Beni semakin sumringah. Goyangan pinggulnya yang sungguh nikmat membuat pak Beni jadi terus mendesah.


Pak Beni sangat menikmatinya. Ia menikmati goyangan Putri sambil menikmati keindahan yang ada di hadapannya.


“Aaaahhhh yaahhh… Aahhh beruntungnya saya bisa menodai tubuh seindah ini… Aaahhh teruss… Ayoo terus goyang mbaaakkk” desah Pak Beni menyemangati.


“Aaahhh iyaahh… Mmpphhhh… Mmpphh yaahh… Aku juga beruntung bisa menunggangi tubuh sekekar ini… Aku suka banget paakk… Aku jadi maauuu… Mmpphhhh” desah Putri yang tiba-tiba mendekatkan wajahnya untuk mencumbu bibirnya.


Ditengah goyangan Putri yang terus berlanjut. Bibir Putri dengan binalnya mendekat untuk menjepit bibir pak Beni sambil menyeruput. Putri menghisap bibir pak Beni. Lidahnya di dalam juga menjilati bibir pak Beni. Ia menikmati cumbuannya sambil terus menggoyang penisnya. Kenikmatan yang begitu terasa membuat pak Beni membalas cumbuannya.


“Mmpphh nakal banget yah kamu mbak… Mmpphhh pagi-pagi bukannya kuliah malah ngajak saya berzina… Mmpphhh untung mbak seksi… Saya jadi ada waktu buat ngelayani mbak” desah Pak Beni ditengah cumbuannya.


“Mmmppphh habis bapak hot banget sih… Aku jadi gerah ingin menikmati kontol bapak lagi… Mmpphhh salah sendiri bapak udah mencuri hati aku… Bapak harus tanggung jawab memuasi diriku… Bapak harus bisa memuasiku terus pokoknya… Kalau bisa setiap hari bapak harus membuat aku menggelinjang oleh sodokan bapak yang begitu memuaskan” desah Putri membalas kata-kata kotor pak Beni.


“Mmpphh tenang aja… Dimanapun dan kapanpun mbak butuh saya… Saya akan datang tuk memuasi tubuhmu… Sekarang ayo fokus berzina… Jangan banyak bicara lagi mbak !” kata pak Beni sambil terus mencumbu bibir manis putri.


“Iyyahh paakk… Mmpphhh aku nurut… Aku akan fokus menikmati kejantanan bapak” desah Putri yang juga terus mencumbu bibir tebal pak Beni.


Dikala bibir mereka yang saling menghisap. Lidah mereka di dalam juga saling berperang dengan menjilati satu sama lain. Lidah mereka seperti sedang pedang-pedangan. Kadang lidah mereka juga seperti sedang bermain 'smackdown'. Terkadang lidah Putri menindihi lidah pak Beni. Kadang lidah pak Beni yang menindihi lidah Putri. Tak jarang pak Beni membawa lidah Putri ke dalam mulutnya. Pak Beni pun menghisapnya. Ia menyeruputnya hingga liur mereka jatuh menetes dari sela-sela mulut mereka.


Sedangkan Putri yang dicumbu seperti ini jadi semakin bersemangat. Ia jadi semakin rajin bergoyang. Ia benar-benar menikmati kebinalannya dengan memuasi tubuh pak Beni.


“Mmpphhh… Mmphhh… Aaahhh… Aaaahhh” desah mereka setelah berhenti bercumbu lalu saling tatap menatap dengan penuh nafsu.


“Aaahhh… Aahhh.. Indah sekali wajahmu ini mbaakk… Indah sekali pokoknya… Saya sampai kehilangan kata-kata” Kata pak Beni yang membuat Putri tersenyum malu.


Putri pun jadi semakin senang. Ia rasa, ia jadi semakin mencintai pejantan tuanya itu.


“Hihihih makasih pak… Mmpphhh aku percepat yah… Aku rasa aku udah mau keluar… Mmpphhh” desah Putri disela-sela goyangannya.


“Aaahhh yaahhh… Saya juga… Saya juga mau keluar kok mbak” balas Pak Beni yang rupanya sudah tidak tahan lagi.


MECRL38

https://thumbs4.imagebam.com/db/b4/7f/MECRL38_t.jpg   db/b4/7f/MECRL38_t.jpg

'PUTRI


MEBE9OA

https://thumbs4.imagebam.com/8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg   8b/af/a7/MEBE9OA_t.jpeg

'PAK BENI


Putri mulai bergerak cepat dalam menggoyang penis tukang sapu jalanan itu. Tubuhnya diangkat lalu diturunkan. Vaginanya diangkat lalu kembali diturunkan. Terasa gesekannya membuat mata Putri memejam. Penis pak Beni yang begitu keras memberikan sensasi tersendiri baginya. Putri sampai mendesah hingga deru nafasnya mengenai wajah pejantan tua yang memiliki wajah jelek itu. Pak Beni hanya bisa merem melek. Ia begitu dimanjakan oleh goyangan serta raut wajah betinanya yang begitu terangsang.


“Aaahhhh teruss… Teruss yang kenceng mbaakk… Aaahh yahh… Mantap sekalii… Aaahhh” Desah pak Beni menikmati goyangan Putri.


“Aaahhh iyaahh pakkk… Iyaaahhh… Aaahhhhh” desah Putri menuruti.


Lagi. Putri mengangkat tubuhnya dibenamkannya. Ia melakukannya sambil memejam karena ingin fokus menikmati goyangannya tuk merasakan gesekan dari penis pria tua yang merupakan tukang sapu jalanan itu. Ia mendesah juga mengerang penuh kenikmatan. Gesekannya membuat lendir di dalam vaginanya semakin banyak. Hal itu lah yang membuat Putri semakin nikmat. Ia kembali mempercepatnya. Dadanya sampai bergoyang naik turun memanjakan mata pejantannya.


“Aaaaahhhhhh” desah Putri terkejut hingga matanya membuka dan mendapati pak Beni tengah menyusu saat dirinya menggoyang tubuhnya.


Putri pun kembali memejam saat mendapatkan rangsangan tambahan yang membuatnya semakin kenikmatan.


Mmpphhh... Mmpphhh... Manisnya susumu... Mmpphh sslllrrppp desah pak Beni sambil menyusu karena gemas akan godaan dari susu bulat itu.


Aahhh paakkk gelii... Aaahhh... Aaahhhh desah Putri merinding.


Mmpphhh nikmatnyaaaa.... Mmpphh... Mmmpphhh desah pak Beni saat menghisap puting susu Putri lebih kuat lagi.


Aaaahhhh... Aaaahhhhhhh desah Putri semakin keras.


Pak Beni dengan beringas langsung meremas dan menyeruput pentil susu Putri hingga puas. Bibirnya mengatup rapat. Lidahnya menggeliat tuk menjilat. Nampak susu Putri semakin basah. Nampak susunya semakin membesar saja.


Aaaahhh... Aaaahhhhh... Aaaahhhh desah Putri semakin keras saat nafsunya hampir mencapai puncak.


Mmpphh aaahhh... Mmpphh yaahhh... Ayo goyang terus mbak... Yang keras... Yang cepat !!! Desah pak Beni menyemangati.


Aaahhh iyyaahhh... Iyyaahhh desah Putri yang sudah tidak kuat lagi. Sama halnya dengan Putri, pak Beni juga. Ia pun menahan birahinya agar bisa keluar bersamaan dengan semprotan betinanya.


Putri mempererat pegangannya pada bahu pak Beni. Ia lalu mengangkat tubuhnya setinggi-tingginya lalu membenamkannya sedalam-dalamnya. Tusukan penis pak Beni jadi semakin terasa. Sensasi liarnya membuat pikirannya semakin bernafsu untuk mendapatkan kenikmatan dari pemuas nafsunya itu.


Aaahhhh... Aaaaahhhh


Putri menggoyang tubuhnya maju mundur. Gerakannya seperti sedang menguleg sambel. Terasa sensasi pedas di vaginanya. Terasa sensasi panas yang membuat dirinya tak pernah puas. Putri kemudian melakukan gerakan memutar. Gerakannya seperti sedang menggerakan persneling mobil. Vaginanya seperti sedang diubek-ubek saja. Nayla puas. Kedua tangannya pun ia taruh di kedua payudaranya agar memudahkan pak Beni untuk menyususu disana.


Aaaahhh... Aaaahhhh... Aaaaahhhhh… Ini pak jilat !


“Mmmpphh ssllrrp… Mmpphh sllrrpp nikmatnyaa… Nikmat sekali susumu mbak”


“Aaahhh yahhh… Aaahhh teruss… Aaahhhhh” desah Putri saat merasakan tanda-tanda orgasme mendekat.


Aaahhh... Aayooo... Lebih cepat... Uhhhhhh desah pak Beni yang blingsatan merasakan goyangan liar Putri.


Gairah Putri memuncak. Nafsunya membara. Tubuhnya semakin panas. Ia pun melampiaskan semuanya dengan menggoyang penis pak Beni lebih cepat lagi. Goyangannya jadi terasa nikmat. Ia pun tak kuat untuk menahan semua goyangan ini lagi.


Aaaahhh paakkk... Aaahhhh... Aaaahhhhh desah Nayla tak kuat lagi.


Ouuhhh yaaahhh... Aaayyooo mbaakk... Terusss... Aaahhh nikmatnyaaaa


Aaahhh akuu udah gak kaut… Aku mauu kelluaarrr, pak... Akuuu maauu kelluaarrr


“Aaahhh saya jugaa… Saya juga udah gak kuat lagi… Ayo keluarkan sama-sama !”


Tubuhnya kembali bergerak naik turun. Gerakannya yang terlalu cepat membuat pak Beni sampai harus memegangi pinggangnya. Ia pun melepaskan cumbuannya pada payudara Putri dan membiarkan akhwat binal itu bergoyang sambil meremas susunya sendiri.


“Aaaahhh yaahh… Aaahhh paakk nikmat bangett… Aaahhhh… Aaahhhh” desah Putri sambil terus bergerak naik turun dikala tangannya terus meremasi kedua payudaranya.


“Aaahh yaahhh… Aaahhh terusss mbaakk... Terus remes lagi yang binaaalll… Puaskan nafsumu itu ke kontol saya !” desah pak Beni yang semakin menikmati kebinalan Putri.


“Aaahhh iyaahhh ouhhh… Ouhhhhh… Aaahhh bapaakkk… Memek aku jadi gatel bangett… Aku mau keluaar… Aku mau keluuaar” Desah Nayla yang jadi semakin binal dalam menggoyang penis pak Beni.


“Aaahhh iyaahhh… Aaahhh terus garuk mbaakk… Garuk memek mbak menggunakan kontol saya” desah pak Beni yang semakin merem melek menahan kebinalan Putri.


“Aaaaahhh iyaahhh… Iyyyaahh… Aaahhh benerannn… Aahhh aku mau keluuaar… Aakuu… Aaahhhh Akuuuu… AAAAAAHHHHHH !!!” Jerit Putri dengan sangat keras.


“Aaaahhhh saya jugaaa… Henggkkhhh !!!” Jerit pak Beni tak lama kemudian.


Putri yang mulai merasakan cairan cintanya mendekat, ia langsung membenamkan tubuhnya sedalam-dalamnya ke arah pangkuan pak Beni. Pak Beni yang juga merasakan cairan cintanya mendekat langsung menancapkan penisnya hingga menyodok rahim terdalam dari Putri. Kelamin mereka pun bersatu. Tak lama kemudian gelombang yang mereka tunggu-tunggupun datang menyusul kemudian.


Aaaahhhh kelluaaaarrrrr !!! Desah mereka bersamaan.


'Jlleeebbbb !!!'


“Paaaaakkkkkkkkkkk… Mmppphhhh” Jerit Putri yang langsung memegangi kedua pipi pak Beni lalu bibirnya mendekat tuk mencumbu bibir pria tua itu dikala cairan cintanya dengan deras keluar mengisi rahim kehangatannya.


“Mmppphhhhh” desah pak Beni kali ini sambil memeluk erat punggung Putri ke arah tubuhnya. Spermanya dengan deras menyusul tak lama kemudian. Rahim Putri pun penuh. Rasanya sungguh nikmat setelah digoyang berulang kali oleh akhwat binal yang sudah ia gagahi berulang kali itu.


“Mmppphhhh… Mmppphhh” desah mereka terus berciuman selagi membiarkan cairan cinta mereka bercampur memenuhi rahim kehangat Putri.


Mata mereka terus memejam. Mereka menikmati persetubuhan mereka dengan terus mencumbu menikmati sepongan di bibir lawan mereka masing-masing. Cukup lama mereka bercumbu hingga tetes terakhir cairan cinta keluar menggenangi rahim Putri. Putri pun melepas cumbuannya. Ia sangat malu hingga wajahnya memerah. Ia lalu berdiri setelah mendapatkan energinya kembali.


“Uuhhhhhhh” desah Putri saat campuran cairan cinta mereka keluar membasahi penis yang sudah lemas itu.


“Hah… Hah… Hah… Puasnyaa… Puas sekali saya mbak hari ini” kata Pak Beni ngos-ngosan.


“Hihihi aku juga pak… Tapi aku masih harus kuliah nih… Mmpphhh… Padahal pengen main ronde dua bareng bapak… Hihihihi” kata Putri yang seolah belum puas kalau main sekali dengan pak Beni.


“Hah… Hah ? Ronde dua ? Duh saya udah gak kuat mbak… Besok-besok lagi yah… Kontol saya udah lemes gini nih” Kata Pak Beni yang justru tak sanggup mengimbangi nafsu Putri.


“Hihihihi tau kok… Goyangan aku hebat banget sih yah, soalnya ?” Tawa Putri.


“Banget… Hebat pake banget” Kata pak Beni sambil memberi jempol pada Putri.


“Hihihih makasih pak” Kata Putri tersenyum manis.


Putri yang harus kuliah akhirnya buru-buru mengenakan gamisnya kembali setelah mencuci vaginanya menggunakan semprotan yang ada di sisi toilet duduk itu. Setelah mengenakan seluruh pakaiannya lagi juga mengenakan maskernya lagi. Ia lalu buru-buru pamit agar tidak terlambat menuju kelasnya nanti.


“Aku permisi dulu yah pak… Ini hadiah perpisahan dari aku… Muuachhh… Sampai bertemu besok lagi… Hihihih” kata Putri setelah memberi ciuman di pipi pak Beni.


“Iyyahh mbak… Hati-hati di jalan yah… Hah… Hah… Puas banget… Sampai lemes gini coba” kata pak Beni yang masih duduk bersandar pada toilet duduk dalam keadaan kemeja terbuka dan celana yang turun sampai ke lutut.


Ia lalu tersenyum membayangkan aksi Putri saat memuaskannya. Ia benar-benar puas pada Putri. Tapi ia jadi teringat Nayla lagi. Setiap kali ia merasakan goyangan Putri, ia jadi ingin merasakan goyangan Nayla lagi.


“Hah capek… Hah capek banget… Setelah saya digoyang Putri untuk yang kedua kalinya… Ternyata goyangannya sangat memuaskan juga… Gak nyesel saya udah digoyang lagi olehnya… Tapi tetep… Hah, mbak Nayla” lirihnya yang masih tetap menginginkan goyangan Nayla lagi.


“Hah… Kapan yah ? Bisa ngentot sama mbak Nayla lagi ? Kangen deh… Pengen ngerasaian sensasi binalnya lagi” Lirih pak Beni tersenyum membayangkan semua itu.


Saat sedang asyik-asyiknya beristirahat sambil menikmati momen-momen setelah orgasme. Seketika pintu bilik terbuka. Terdapat seorang akhwat yang terkejut melihat setengah ketelanjangan pak Beni di balik bilik kamar mandi itu.


“Aaaaahhhhhhhh… Apa yang bapak lakukan ? Bapaakkk ? Bapaak yang waktu itu melecehiku kan ?” Kata akhwat bercadar yang teringat saat pak Beni melecehinya sebelum diberi pelajaran oleh suaminya.


“Eehh tunggu… Tunggu mbakkk… Saya bisa jelaskan… Tolong jangan teriak” Kata pak Beni panik yang akhirnya buru-buru menaikkan celananya lagi.


“Jangan-jangan bapak habis memperkosa mahasiswi sini yah ? Ini gak bisa dibiarin ! Toloonggg… Tolonnggggg” Teriak akhwat itu yang membuat pak Beni kalut.


Pak Beni dengan buru-buru langsung menabrak akhwat bercadar itu. Akhwat itu pun terdorong hingga jatuh dalam posisi duduk di lantai kamar mandi. Dengan cepat ia berlari keluar. Ia pun berlari sambil mengancing seragamnya lagi.


“Duh gawat… Gara-gara mbak Putri keluar tapi gak ngunci pintu bilik tadi… Hampir aja saya ditonjok lagi gara-gara akhwat tadi… Siapa sih akhwat tadi kok jadi sering ketemu terus ? Hah nyaris aja… Ternyata dari tadi saya main di toilet cewek yah ? Pantes aja… Pokoknya saya harus keluar dari kampus ini… Jangan sampai kehadiran saya dicurigai orang lain lagi” Lirih pak Beni sambil terus berlari menjauhi kampus ini.


*-*-*-*

Sementara itu disaat yang sama namun di tempat yang jauh berbeda.


“Loh kok ada pesan masuk ? Dari siapa nih ? Eh pak Urip ?” Kata akhwat cantik yang sedang duduk manis menonton tayangan badminton di depan tivinya.


“Siapkan dirimu non… Saya akan segera pulang… Dandan yang cantik… Kenakan pakaian yang terbaik !... Oalah hihihih… Akhirnya gak lama lagi bisa digenjot pak Urip lagi nih… Dari tadi aku tunggu padahal” Kata Nayla tersenyum setelah membaca isi pesan itu.


Nayla pun segera mematikan tivi lalu beranjak pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap mandi. Membayangkan kalau pak Urip akan menyetubuhinya lagi membuat jantungnya dag-dig-dug sendiri. Ia mengingat-ngingat momen saat pak Urip menyetubuhinya. Ia begitu merindukannya. Ia pun tak sabar bisa dipuasi oleh pembantu tuanya itu lagi.


Setelah membuka pintu almarinya untuk mencari pakaian yang akan ia kenakan untuk menggoda pak Urip. Matanya justru teralihkan pada sebuah botol yang tersimpan baik di dalam tas ranselnya.


“Eh ini kan ?” kata Nayla sambil mengambil botol yang masih tersisa air di dalamnya.


Seketika Nayla tersenyum. Ia lalu duduk di tepi ranjang sambil membuka botol minuman itu.


“Ini kan obat yang bikin aku sangek lagi… Obat yang kubeli dari dokter abal-abal itu… Ihhh nyebelin, niatnya mau beli obat anti perangsang eh malah diberi obat perangsang… Tapi bagusnya aku jadi bisa sebebas ini sih sekarang… Hihihihi” Kata Nayla mengenang momen itu.


“Kalau misalkan aku minum minuman ini… Bisa-bisa persetubuhan nanti bakal semakin bergairah nih… Aku pasti bakal puas banget saat digenjot pak Urip disaat aku lagi nafsu-nafsunya… Tapi, kalau misalkan pak Urip bawa orang lain gimana ? Gelandangan tua yang kemarin dibahas misalnya ? Duh…” kata Nayla khawatir.


“Bisa-bisa aku yang lagi sangek-sangeknya gak bisa berbuat apa-apa selain dinikmati gelandangan tua itu dong… Ihhh amit-amit deh… Gimana yah ? Diminum gak yah ?” Kata Nayla mendadak ragu.


Ditengah kebimbangan yang melanda dirinya, Nayla seketika langsung meminum obat ramuan itu. Ia menenggaknya hingga habis tak tersisa. Ia lalu mengelap bibirnya menggunakan lengan pakaiannya.


“Aaahhh segernya… Hah, moga aja nanti pak Urip dateng sendiri… Moga aja pak Urip gak pulang sambil membawa gelandangan tua… Tapi kok aku punya firasat pak Urip bakal bawa gelandangan tua yah, pak Dikin misalnya… Hmmm entahlah… Mending aku mandi… Terus bersiap-siap tampil cantik buat melayani pak Urip nanti… Hihihihi… Binal banget sih aku, sekarang ini” Kata Nayla sambil tersenyum saat berjalan menuju ke kamar mandi.


Keputusan telah Nayla buat. Ia ingin bercinta saat sedang sangek-sangeknya dengan bantuan obat perangsang lagi. Apakah keputusannya tepat ? Nayla pun telah melempar taruhan tanpa mengetahui kalau ada pria tua rendahan yang berbau busuk yang bahkan memiliki wajah jelek yang tak dapat diampuni lagi tengah mendekat menuju rumahnya. Apakah keputusan Nayla tepat ? Apakah Nayla akan digenjot gelandangan tua ? Lalu apakah pak Urip akan bergabung atau hanya membiarkan mereka berdua saling gempur ? Tunggu kelanjutannya di 'chapter' depan !


BERSAMBUNG

;;;;;;;;;;;;;;;;


CHAPTER 17

KONFLIK BIRAHI

Pagi menjelang siang di salah satu rumah yang berada di ibukota. Tepatnya di sebuah kamar yang biasa ditempati oleh pasangan suami istri. Disana terdapat seorang akhwat yang baru saja mandi. Akhwat itu tengah duduk di dekat meja riasnya sambil berkaca demi menyiapkan penampilan terbaiknya. Sungguh luar biasa parasnya. Matanya yang indah, bulu matanya yang lentik, bibirnya yang merah merona serta hidungnya yang mancung. Semua itu terdapat pada wajah akhwat yang sehari-harinya biasa menutupi sebagian wajahnya dengan cadar.


Baru setelah ia selesai merias wajah indahnya. Ia pun menutupi sebagian wajahnya itu menggunakan cadar yang memiliki warna selaras dengan gamis longgarnya. Akhwat itu bernama Nayla. Nayla sudah selesai bersiap-siap. Satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menunggu. Menunggu pangeran pemuasnya tuk datang agar bisa memberinya kenikmatan yang tak dapat ia bayangkan.


Nayla gelisah. Entah kenapa makin kesini ia merasa gugup saat menanti kedatangan pemuasnya. Ia lalu menatap ke cermin. Ia tersenyum sambil geleng-geleng kepala menyadari dirinya sudah sejauh ini.


“Gak nyangka aku udah segila ini sekarang hihihih… Gak pernah ngebayangin dulu aku bakal jadi sebinal ini… Semua gara-gara pak Urip nih ! Haruskah aku menyesal ? Atau justru bersyukur ? Jujur sih, aku agak menyesal tapi juga bersyukur… Aku sadar kalau sampai mas Miftah sama kedua orangtuaku tahu tentang sikapku belakangan ini, pasti mereka akan kecewa berat… Aku yang dari dulu belajar di Pondok Pesantren tapi nyatanya malah rusak kayak gini pasti mereka akan kecewa banget ke aku… Tapi dengan semua kepuasan yang sudah pak Urip berikan ke aku… Aku ngerasa kayak belajar hal baru… Aku jadi senang karena bisa mendapatkan kepuasan yang tak terkira, sesuatu yang sebelumya aku ragu bisa mendapatkannya dari mas Miftah saja… Untungnya dengan semua pemerkosaan yang pak Urip lakukan padaku… Aku mulai terbiasa… Aku jadi gak ragu lagi untuk menyerahkan tubuhku pada siapa aja… Ya siapa aja… Kecuali gelandangan tua !” Lirih Nayla saat teringat pak Dikin lagi.


“Ihhhh tolong dong… Jangan gelandangan tua juga kali… Huft moga aja pak Urip gak bawa pak Dikin beneran… Tapi kok aku malah ngerasa pak Dikin yang dateng yah… Mana sekarang memekku mulai gatel lagi… Duhhh pak Urip kok belum sampe rumah sih ? Aku udah mulai sangek nih gara-gara obat dari dokter gadungan itu” Kata Nayla sambil sesekali menggesek pahanya tuk menahan rasa gatal di vaginanya.


Ia lalu berdiri tuk melihat penampilannya di cermin. Ia yang ingin memberikan penampilan terbaik saat persembahan tubuhnya pada pak Urip nanti mencoba untuk mengamati adakah yang kurang dari penampilannya sekarang ?


Dari atas ia dapat melihat kepalanya yang tertutupi oleh hijab berwarna favoritnya yakni putih cerah. Sedangkan tubuhnya yang mulai berisi itu tertutupi oleh gamis longgar yang bentuknya mirip seperti gaun mewah yang tampaknya sengaja ia pakai untuk menyambut kedatangan pangeran pemuasnya. Nayla sengaja tampil bak permaisuri yang siap untuk menyambut kedatangan sang pemuas nafsu birahi. Gamisnya itu menyatu dengan rok yang menutupi kaki jenjangnya. Penampilannya terlihat mewah. Sepertinya ia sengaja untuk membuat persetubuhannya nanti begitu wah.


MECX88T

https://thumbs4.imagebam.com/e8/c2/c3/MECX88T_t.jpg   e8/c2/c3/MECX88T_t.jpg

'NAYLA


“Kayaknya cukup deh… Aku cantik… Gak sabar ngeliat ekspresi pak Urip nanti… Hihihii terpesona gak yah liat aku pake gamis mewah kayak gini ? Lirih Nayla penuh harap sambil membayangkan ekspresi wajah pemuasnya nanti.


Seketika ia mendengar suara motor mendekat. Nayla pun langsung berjalan ke arah jendela untuk melihat keadaan di luar. Ya, ia akhirnya melihat motor milik pak Urip memasuki halaman rumahnya. Tapi sekilas ia melihat kalau pak Urip memboncengi seseorang. Nayla tak melihatnya dengan jelas yang membuatnya segera berpindah ke ruang tamu untuk melihat siapa seseorang yang dibawa oleh pak Urip ke rumahnya ini.


“Eh pak Urip bawa siapa yah ? Aku kok ngerasa kalau tadi itu . . . .” Batin Nayla merasa tidak enak. Ia pun terus menduga-duga saat berjalan keluar dari dalam kamarnya.


Apalagi sekilas ia telah melihat celana yang dikenakan oleh orang itu tampak kotor, lusuh dan tentunya tidak sedap dipandang. Nayla merasa kalau itu adalah gelandangan yang sudah dijanjikan untuknya. Nayla seketika bergidik membayangkannya. Tapi ia tak pantang menyerah. Mungkin saja bayangan di benaknya salah. Bisa jadi orang itu cuma orang miskin yang masih suka mandi sehari minimal dua kali.


“Amit-amit deh kalau pak Dikin orangnya… Apalagi yang sejenisnya… Masa gak ada orang lain sih pak ? Yang minimal sering mandi lah… Gak tahan tau kalau sampai nyium bau busuknya” Kata Nayla sambil berjalan menuju jendela rumahnya.


Diam-diam dari dalam ia mengintip keadaan di luar. Terlihat pak Urip sedang mengobrol menutupi orang yang diboncenginya. Tangan Nayla dari dalam bergerak-gerak meminta agar pak Urip menyingkir agar dirinya dapat melihat tamu yang diboncengi oleh pembantunya.


“Siapa sih orang itu ? Kok bikin penasaran yah… Eehhhhh” Kata Nayla sekilas saat melihat wajah tuanya.


“Orang itu ? Gak mungkin ! Jangan-jangan !!! 'Astaghfirullah'… Masa sih ? Ini beneran ?” Kata Nayla yang masih tak mengira saat melihat penampakan tubuhnya. Akhirnya sosok misterius itu terlihat seluruhnya oleh Nayla. Nayla sampai merinding. Ia lalu mengangkat lengan bajunya tuk melihat keadaan tangannya. Ia melihat bulu kuduknya merinding. Rasanya seperti baru melihat penampakkan saja. Nayla pun hanya bisa geleng-geleng kepala saat pasrah menerima keadaan.


“Pak Dikin ? Pak Urip bawa pak Dikin ke rumah ? Aku harus . . . Aku . . . . Aku harus ini nih ? Ngentot dengannya ?” Kata Nayla yang masih tak percaya.


'Tokkk… Tokk… Tokkk…'


“Assalamualaikum non Nayla… Saya sudah sampai rumah… Hakhakhak” Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Nayla buru-buru bersiap berdiri di depan pintu ruang tamunya.


“Walaikumsalam pak” Kata Nayla saat membukakan pintu untuk menyambut kedua pria tua yang ditakdirkan untuk menjadi pemuas tubuhnya sekarang.


Sesuai dugaan, kedua pria tua itu terpana melihat keindahan yang ada pada tubuh Nayla. Dari atas ke bawah. Wajah kedua pria tua itu tak menemukan adanya satu kecacatan yang ada pada penampilan Nayla. Penampilan Nayla sungguh sempurna. Penampilannya berbanding terbalik dengan kedua pria tua rendahan yang masih berdiri tegak tanpa berbuat apa-apa di depan rumah akhwat bercadar itu.


Pak Urip cuma mengenakan pakaian andalannya yakni kaus oblong serta celana kolor tanpa daleman. Sedangkan pak Dikin cuma mengenakan kemeja berlengan pendek yang itupun sudah lusuh serta celana ¾ yang cuma bisa menutupi paha kurusnya.


MECX88V

https://thumbs4.imagebam.com/a7/72/e6/MECX88V_t.jpg   a7/72/e6/MECX88V_t.jpg

'NAYLA


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


MECMNJG

https://thumbs4.imagebam.com/24/89/99/MECMNJG_t.jpg   24/89/99/MECMNJG_t.jpg

'PAK DIKIN


Nayla yang ditatap seperti itu hanya bisa berdiri malu-malu. Apalagi terlihat jelas kalau kedua pria tua itu menatap Nayla dengan penuh nafsu. Nayla pun hanya bisa membayangkan nasibnya yang bakal dipaksa untuk melayani kedua pria berwajah buruk rupa itu. Apakah ia sanggup ? Nayla hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Ia tak sanggup membayangkan. Ia pun pasrah membiarkan semuanya mengalir begitu saja sampai ia menikmati setiap sodokan yang akan diberikan oleh mereka berdua.


“Hakhakhakhak” Tawa pak Urip menatap wajah pak Dikin.


“Buahahahaha… Ini ? Mbak Nayla ?” Tawa pak Dikin menatap wajah pak Urip.


Nayla yang melihat mereka berdua tertawa seolah paham dengan maksud mereka. Pasti pak Dikin terkejut melihat dirinya yang akan menjadi pelampiasan birahinya. Nayla pun sedari tadi tak sanggup mengangkat wajahnya. Ia hanya pasrah saja membiarkan pria-pria tua itu menikmati pemandangan pada tubuh indahnya.


“Hehehe mari masuk pak” Kata Nayla yang buru-buru meminta mereka berdua masuk sebelum ada orang lain yang melihat.


Kedua pria tua buruk rupa itu pun masuk lalu duduk setelah diminta oleh tuan rumah yang cantik jelita itu. Saat kedua pria tua itu duduk di sofa panjang di dalam ruang tamu. Nayla seketika diminta duduk di tengah-tengah dari posisi duduk mereka berdua. Sontak Nayla gugup. Namun tubuhnya hanya menuruti apa yang diminta oleh pembantu tuanya itu.


“Sini non… Duduk disini… Ada yang mau saya kenalkan ke non… Hakhakhak” tawa pak Urip sambil mengajak Nayla.


“Mmmpphh… Iyyah pak” Kata Nayla malu-malu.


Namun baru saja ia hendak melangkah, aroma busuk yang berasal dari tubuh gelandangan tua itu mulai tercium oleh hidungnya. Nayla agak ragu, namun memaksa maju, tiap kali ia mendekat tercium aroma busuk yang semakin terasa. Namun demi melindungi harga diri pak Dikin agar tidak tersinggung, Nayla pun menahan semua itu dan berpura-pura tidak mencium apa-apa.


“Buwahahaha… Indahnya wajah cantik ini… Padahal baru kemarin kita ketemu yah mbak… Masih inget banget saya mbak ngasih saya uang lima ribu kan ? Eh sekarang kita sudah ada disini bersiap-siap untuk bertempur birahi… Denger-denger mbak bosan main sama suami mbak yah ?” Kata pak Dikin sambil membelai paha Nayla.


'Gleeegggg !!!'


Nayla menenggak ludah. Diluar dugaan usapan tangan kotor dari gelandangan tua itu meningkatkan nafsu birahinya


“Oh gitu yah ? Kemarin non Nayla ngasih uang lima ribu yah ? Gak nyangka non sampai bayar lima ribu buat ngajak pak Dikin ngentot… Hakhakhak” Tawa pak Urip menimpali.


“Buukk… Bukaann gitu paakk… Bukan giiituu maksud aku” Jawab Nayla sambil menatap pak Urip.


Seketika tangan pak Dikin membelai dagu Nayla yang masih tertutupi cadarnya lalu mengarahkannya agar dapat menatap wajah tuanya.


“Liat sini dong cantik… Katanya mbak pengen main sama gelandangan tua yah… Ini saya sudah datang… Kok mbak malah ngeliat pak Urip sih ?” Kata pak Dikin sambil tersenyum mesum.


“Bukk… Bukannn gituu paakk… Akuu…. Akuu cuma maluuu… Iyya maluuu” Kata Nayla yang sebenarnya gak sanggup tuk menatap wajah buruk gelandangan tua itu.


“Buwahahahahha… Malu-malu katanya pak Urip” Tawa pak Dikin dengan keras yang membuat pak Urip ikut tertawa.


“Hakhakhak… Emang lonte saya ini… Ehh majikan saya ini orangnya suka gitu… Kalau sebelum main mah suka malu-malu tapi kalau ditengah permainan luar biasa nafsu… Bapak pasti akan mengalami sendiri nanti kebinalan majikan saya ini” Kata pak Urip yang membuat nafsu pak Dikin semakin bangkit.


“Oh yah ? Beneran yang tadi pak Urip bilang mbak ?” Tanya pak Dikin lagi sambil menatap wajah cantik Nayla.


“Iyyy… Iyyaa pakk… He’em” Jawab Nayla malu-malu yang membuat pak Dikin tertawa puas.


'Duhhhh baunya makin terasa gini lagi... Gak kuat deh nyium bau badannya ini...'


Batin Nayla tak tahan.


“Buwahahaha… Kok saya jadi penasaran yah… Coba kita pemanasan dulu gimana ?” Kata pak Dikin yang menjadi tidak sabar untuk menguji kebinalan Nayla.


Pak Dikin pun memelorotkan celananya hingga turun sampai ke lutut. Penisnya yang sudah keluar itu ia sodorkan pada akhwat bercadar disampingnya.


'Apa ? Segini kontolnya pak Dikin ? Gede banget !!!'


Batin Nayla saat pertama kali melihatnya. Pupil matanya sampai membesar. Pak Dikin yang memergokinya pun tersenyum sambil membimbing tangan Nayla ke penisnya.


“Gimana ? Gede kan ? Mbak suka kan ?” Kata pak Dikin yang membuat Nayla menenggak ludah.


Meski penisnya besar, ia sadar kalau penis itu jarang dicuci atau malah jarang diceboki oleh pemiliknya yang membuat Nayla agak ragu untuk menyentuhnya. Meski tangannya dibimbing oleh pak Dikin, ia agak menahannya nakun tenaga pak Dikin lebih kuat hingga memaksa tangannya untuk mendekap penis raksasanya.


'Gleeeggg !!'


“Ssuu... Ssuukka pak” Jawab Nayla agak ragu yang membuatnya terlihat malu-malu yang malah membuat pak Dikin semakin bernafsu.


“Eh saya jangan ditinggal dong… Ayo non… Mainin kontol saya juga” kata pak Urip yang mupeng sehingga ikut bergabung setelah memelorotkan celananya juga. Sekilas penis raksasa yang sering memasuki vagina majikannya itu keluar menantang birahi akhwat bercadar itu.


Nayla yang duduk diantara kedua pria itu hanya bisa menenggak ludah. Ia merinding ketika kedua tangannya sama-sama membelai kedua penis dari kedua pria tua itu. Mata Nayla pun menoleh ke kanan tuk melirik penis milik pak Dikin.


Nayla tak menyangka. Gelandangan tua yang memiliki tubuh kurus itu rupanya memiliki penis raksasa yang ukurannya begitu besar. Warnanya juga sangat hitam. Bahkan ujung gundulnya saja sudah besar yang membuat Nayla berfikir sejenak. Apa muat penis sebesar ini masuk ke dalam vaginanya ?


Saat wajahnya melirik ke kiri tuk menatap penis pak Urip. Ia akhirnya dapat melihat penis tua itu lagi. Penis yang berulang kali memuaskan nafsu birahinya. Sesuai dugaan, baru melihat penisnya saja membuat nafsu Nayla semakin memuncak. Apalagi setelah ketambahan rangsangan dari obat yang ia minum memudahkan nafsunya untuk bangkit saat memegangi penis pembantu tuanya itu.


Setelah memperhatikan kedua penis hitam itu secara bergantian. Kedua tangan Nayla mulai bergerak tuk mengocok penis yang bentuknya telah menggoda birahinya ini. Ia melirik ke kanan lalu ke kiri. Paras mereka tidak ada yang bentuknya surgawi sama sekali. Wajah mereka sama-sama tidak enak dipandang. Namun penis-penis mereka benar-benar menantang sehingga diri Nayla jadi semakin terangsang.


“Aaaahhhhh… Aaahhhh… Buwahahahaa… Baru kayak gini aja udah enak banget… Ayo mbaakk… Ayooo kocok terus kontol saya” Desah gelandangan tua itu.


“Aaaahhhh… Aaahhh… Iyyaahhh… Lakukan seperti biasanya non… Aaaahhh… Kocok yang keras… Betot kontol saya… Mainkan kontol saya sesukamu” Desah pembantu tua itu yang membuat Nayla menenggak ludah untuk kesekian kalinya.


“Mmpphhhh iyyaahhh paakkk… Kontol bapak pada gede-gede semua sih… Mmmpphhh… Aku gak nyangka kontol bapak pada segede ini” Puji Nayla sambil sesekali melirik penis-penis mereka secara bergantian.


'Duhhh kok aku malah nafsu yah... Dasar aku... Dikasih kontol gede aja malah nafsu...'


Batin Nayla mulai tergoda.


“Buwahahahha… Ini belum seberapa mbak… Kontol saya belum ngaceng maksimal loh… Nanti pas kontol saya udah ngaceng banget pasti mbak bakal kaget ngerasain betapa kerasnya kontol yang saya punya” Kata pak Dikin yang membuat Nayla terkejut hingga mata mereka saling menatap.


'Segini belum gede ? Kontol segede ini masih bisa gede lagi ? Hebat banget kontolnya pak Dikin ini ? Ini beneran kan ? Pak Dikin gak bohong kan ? Kok, aku malah jadi makin penasaran yah ?'


Batin Nayla tergoda.


“Loh non lupa yah ? Segini mah belum dikatain gede non… Ini baru setengahnya… Kontol saya belum ngaceng maksimal… Kayaknya non lupa deh gara-gara kemarin kita libur ngentot… Hakhakhakahk” Tawa pak Urip yang membuat Nayla menolehkan wajahnya menatap pak Urip.


'Iya kah ? Kok aku sampai lupa yah gimana ukuran paling maksimal dari kontolnya pak Urip… Pasti gara-gara kemarin aku menikmati kontol-kontol pria lain membuatku lupa akan besarnya kontol pak Urip… Kalau dipikir-pikir iya sih… Memekku udah lama gak dimasukin kontolnya pak Urip… Mmpphhh jadi gak sabar deh… Jadi gak nahan pengen digenjot pak Urip lagi…'


Batin Nayla sambil menatap penis pak Urip.


'Ngomong-ngomong soal pak Dikin… Kontolnya kok nafsuin banget sih… Mmpphhh kenapa aku jadi tergoda gini yah ? Padahal baunya itu loh ! Gak nguatin banget ! Sebenernya daritadi aku risih pengen pergi dari sini… Tapi gara-gara ngeliat ukuran kontolnya… Aku kok jadi penasaran yah… Apa rasanya kontol gelandangan tua enak ? Eh astaghfirullah… Enggak… Jangan sampai masuk… Amit-amit ihhhhh !'


Batin Nayla saat menatap penis pak Dikin lagi dikala tangannya terus mengocok penis pak Dikin naik turun.


Nayla pun sangat menikmati perbuatannya dalam mengocok kelamin-kelamin mereka. Meski aroma busuk yang ia cium semakin kuat. Ia sedari tadi terus menahan nafasnya agar dapat mengocoki penis mereka, terutama penis pak Dikin yang tergolong baru baginya. Seketika ia bimbang. Nafsunya yang semakin memuncak tiba-tiba menginginkan penis pak Dikin untuk ia cicipi.


'Dduuhhhh pak Dikin kok lama-lama nafsuin banget sihhh… Kontolnya bikin gemes aja deh… Mmpphhhh bikin tanganku geregetan aja !'


Batin Nayla yang akhirnya membetot kuat penis pak Dikin hingga membuat pemiliknya terkejut.


“Aaaahhhh… Nahhh kocok yang kuat mbak… Aaahhhh iyahh seperti itu… Ouhhh nikmatnyaa… Kocok yang kuat mbak” Desah pak Dikin yang semakin menikmati.


“Lohhh saya juga dong non… Masa kontolnya pak Dikin doang yang dibetot sih” kata pak Urip iri.


“Mmpphhh iyya pak maaf… Aku daritadi ngeliatin kontolnya pak Dikin soalnya… Aku penasaran sama kontolnya pak Dikin” Jawab Nayla dengan jujur yang membuat kedua pria tua itu tertawa.


“Buwahahhaa… Penasaran ? Apa yang dipenasaranin dari kontol saya mbak ? Bukannya sama aja kayak kontolnya pak Urip ?” Tanya pak Dikin penasaran.


“Mmpphhh beda paaakkk… Pokoknya beda aja… Kontol bapak lebih hitam… Pentolnya juga lebih gede daripunyanya pak Urip dan juga . . . .” Kata Nayla sambil melirik kedua penis mereka tuk membandingkannya. Seketika ucapannya pun terpotong karena lidahnya ragu untuk mengucapkannya.


'Duhhh bilang gak yah... Makin lama kok aku malah nafsu sama bau badannya pak Dikin yah ? Mau bilang tapi takut bikin tersinggung... Gara-gara kontolnya pak Dikin nih... Aku malah jadi kayak gini...'


Batin Nayla bimbang.


“Dan juga ? Kenapa nih mbak ? Buwahahah” Tawa pak Dikin yang semakin menikmati kocokan akhwat bercadar itu.


'Mmpphh bilang aja deh... Aku udah keburu nafsu soalnya... Bodo amat sama bau badannya... Aku udah nafsu banget sama kontol ngacengnya...'


Batin Nayla tak kuat.


“Aroma bapak… Aroma kontol bapak bikin aku nafsu aja… Itu yang bikin aku penasaran banget sama kontol bapak” Ujar Nayla malu-malu yang membuat kedua pria tua itu tertawa keras.


Memang tubuh pak Dikin beraroma busuk karena tidak pernah mandi. Namun aroma kejantanan pak Dikin sebagai lelaki tetaplah ada. Aroma kejantanannya yang bercampur dengan aroma busuk itu justru merangsang otak Nayla agar segera menikmati penis lezat itu. Apalagi tubuhnya sudah terbiasa untuk melayani pria-pria tua rendahan. Ia jadi penasaran. Ia semakin terangsang akan pesona gelandangan tua itu.


“Buwahahaha… Saya juga mbak… Saya juga penasaran sama apa yang ada di balik gamis mbak… Pasti indah banget… Ayo dong kocok… Biar kontol saya makin gede dan mbak bisa menikmati kerasnya kontol saya nanti” Goda pak Dikin tuk merangsang nafsu Nayla.


“Mmpphh iyahh paakkk… Aku pasti akan merangsang kontol bapaakkk… Mmphhh aku akan membuat kontol bapak keras biar aku bisa ngerasain sodokan bapak nanti” Desah Nayla yang semakin tidak kuat gara-gara nafsunya yang semakin memuncak. Sedari tadi wajahnya terus menatap wajah pak Dikin. Tatapannya yang penuh nafsu itu membuat pak Dikin tertawa. Ia pun berharap dirinya bisa segera menikmati kejantanan dari penis pak Dikin.


'Kenapa aku jadi penasaran banget yah… Mmpphh pak Dikin… Aku kok jadi penasaran banget sih sama bapak !'


Batin Nayla sambil terus mengocok penis besarnya.


“Hakhakhak… Mentang-mentang ada mainan baru terus saya diabaikan gitu ?” Kata pak Urip cemburu melihat Nayla justru lebih bersenang-senang dengan penis pak Dikin.


“Mmpphhhh bukan begitu paakk… Maaaaff… Aku cuma penasaran aja tadi… Tapi tetep kok… Kontol bapak paling enak” Kata Nayla yang langsung menatap wajah pak Urip sambil memberikan tatapannya yang begitu binal hingga membuat pak Urip tertawa.


“Hakhakhak… Kalau gitu kocok kontol saya yang nikmat dong… Masa kadang ngocok kadang berhenti sih… Liat aja nanti… Kalau mbak masih kayak gini bakal saya hukum loh… Akan saya sodok memek mbak sekuat-kuatnya biar mbak menjerit-jerit terus pas ngerasaian sodokan saya nanti” Kata pak Urip berniat menghukumnya namun malah membuat Nayla semakin bernafsu.


“Mmpphhh… Mmpphh… Kalau gitu hukum aku aja pak… Aku rela dihukum bapak… Maaf udah milih mainan baru daripada mainannya bapak… Tolong hukum aku sekuat-kuatnya… Aku pasrah pak… Aku pasrah asalkan itu hukuman dari kontol bapak” Kata Nayla yang membuat pak Urip tertawa puas.


“Lohhh kok sekarang kocokan saya sih yang melambat… Mau saya hukum juga nanti ? Saya sodok loh memek mbak pake kontol saya yang gede ini ?” kata pak Dikin kali ini yang protes atas rangsangan tangan Nayla yang tiba-tiba melambat.


“Mmpphhh maaf pak… Aku gak pernah ngocok dua kontol sekaligus… Jadi perhatian aku masih terfokus sama salah satu kontol aja… Maafin aku pak… Kalau bapak mau hukum aku silahkan… Aku pasrah juga kok… Silahkan gantian sama pak Urip buat ngehukum aku nantinya” Kata Nayla yang kali ini sambil menatap mata pak Dikin.


“Buwahahaha gantian ? Bukannya masih ada satu lubang yang mengganggur mbak ?” Kata pak Dikin yang membuat Nayla bingung


“Maksudnya ?” Kata Nayla yang lambat laun baru dipahami kalau yang pak Dikin maksud adalah lubang duburnya. Nayla pun merinding saat pertama kali memahaminya. Ia terkejut mengetahui pak Dikin berambisi untuk memasuki lubang satunya.


“Tenang non… Gak usah khawatir… Anusmu milik saya kok” Kata pak Urip yang membuat Nayla menoleh lalu membuka matanya lebar-lebar.


“Bapaakk mauu ?” Kata Nayla terkejut hingga kocokan tangannya berhenti saat menatap pak Urip.


“Buwahahaha liat sini mbak” Kata pak Dikin sambil membelai dagu Nayla hingga Nayla kembali menoleh menatap gelandangan tua itu.


“Ya, mumpung kita dateng berdua… Kan sayang kalau kita cuma maen ganti-gantian aja kan ?” Kata pak Dikin yang membuat Nayla menenggak ludah.


“Makanya non… Kita ada rencana untuk menusuk dua lubang kenikmatanmu secara bersamaan” Kata pak Urip yang membuat Nayla gemetar membayangkan lubang vaginanya dan lubang duburnya akan dimasuki penis-penis sebesar ini secara bersamaan.


“Tenang gak usah khawatir… Gak usah takut… Nanti mbak sendiri bakal enak kok” Kata pak Dikin yang mulai mengambil alih ketika tangannya gemas dengan meremasi dada Nayla.


“Mmppphhhhh… Mmpphhh pelaannn… Aaahhhhh” Desah Nayla menikmati remasan tangan pak Dikin.


“Hakhakhakh… Selama mbak berada di kendali nafsu birahi… Non gak bakal kesakitan… Yang ada non bakal semakin puas… Jadi nikmati apa yang akan kami berikan saat ini yah” Kata pak Urip sambil menolehkan wajah Nayla lalu mengangkat cadarnya agar dapat menikmati jepitan bibirnya.


“Mmppphhhhhh iyyahhh paakkk… Mmpphhh” desah Nayla saat dicumbu pak Urip.


Nafsu Nayla bergetar. Setelah tadi dirinya diminta memuasi penis-penis pria tua ini. Kali ini giliran kedua pria tua ini yang berkesempatan untuk memuasi Nayla. Pak Dikin sambil tersenyum melihat wajah binal Nayla saat dicumbu oleh pembantu tuanya. Tangan kanannya dengan penuh tenaga meremas dada kanan Nayla dengan sangat kuat. Akibatnya lenguhan nafas Nayla yang tertahan oleh cumbuan pembantu tuanya membuat pak Dikin tertawa melihat ekspresi binalnya. Wajah pak Dikin pun mendekat. Nafasnya yang bau ngos-ngosan di dekat wajah cantik Nayla. Tangan kanannya jadi semakin kuat meremas. Ia lalu mengajak tangan kanan Nayla agar membelai penisnya agar tidak menganggur menikmati rangsangan dari pemuasnya.


“Mmmpphhh… Mmpppphhh” desah Nayla saat dicumbu pak Urip dan tangannya mengocoki penis pak Dikin.


Sementara pak Urip dengan beringasnya mencumbu bibir manis Nayla. Cadar Nayla yang sesekali menganggu diangkatnya hingga pandangan Nayla tertutupi oleh kain cadarnya. Pak Dikin jadi dapat melihat sentuhan bibir mereka berdua. Terlihat mereka bercumbu dengan penuh nafsu. Bibir mereka saling dorong, bibir mereka saling sepong, bibir mereka saling bertubrukann, bibir mereka saling menjepit satu sama lain. Pak Urip dengan beringasnya menjepit bibir bawah Nayla. Nayla pun membalas dengan menjepit bibir atas pembantunya. Terkadang mereka juga saling hisap. Terkadang mereka juga saling jilat. Nampak lidah mereka juga ikut bermain yang membuat percumbuan mereka jadi semakin panas. Nampak lidah pak Urip bergerak masuk ke dalam mulut Nayla. Disana lidah pak Urip menggerayangi rongga mulut Nayla. Disana lidahnya juga bertemu dengan lidah Nayla. Lidah mereka saling jilat. Lidah mereka saling menggeliat. Lidah mereka saling dorong-dorongan tuk memuasi nafsu mereka yang sudah tidak tertahankan.


Terlihat liur mereka sampai menetes. Pak Dikin pun penasaran bagaimana sih enaknya berciuman dengan akhwat bercadar cantik bernama Nayla ?


“Aaaahhhhh…. Aaaahhhh… Iyyahh terusss… Terusss mbaakk… Ouhhh binal sekali dirimu” desah pak Dikin saat menikmati kocokan Nayla.


“Mmmpphhhh… Mmppphhh mulut bapak enak banget… Mmpphhh udah lama aku gak ciuman kayak gini pakkk… Mppphh… Terus cumbu aku… Nikmati bibirku… Puasku aku dengan nafsumu pak” Desah Nayla pada pak Urip.


“Mmppphh…. Mmppphh tenang non… Saya tau kok… Lonte binal sepertimu pasti akan mengucapkan kata-kata itu… Mmpphhhhh” Desah pak Urip sambil menghisap bibir Nayla sekuat-kuatnya.


“Mmppppphhhhhhhh” Hisapan yang pak Urip lakukan membuat Nayla terbawa suasana. Cengkramannya jadi diperkuat yang membuat pak Dikin merinding merasakan penisnya dibetot dengan begitu kuatnya,


“Aaaaaahhh mbaaakk…. Aaahhhhh… Aaaaahhhhhh” desah pak Dikin sampai merem melek.


Puas bercumbu, mereka pun berhenti melakukannya. Cadarnya kembali turun. Nayla dengan segera membalikan wajahnya tuk menatap mainan barunya. Benar saja, terlihat penis pak Dikin membesar. Bahkan lingkaran tangannya tak mampu untuk mendekap penis raksasa itu. Nayla sampai menenggak ludah saat melihatnya untuk kedua kalinya. Wajahnya pun ia naikan tuk menatap gelandangan tua itu.


“Ayo sepong mbak”


Seolah itu perintah dari tuannya, Nayla langsung menuruti. Ia lalu menungging untuk mendekatkan wajahnya pada penis tua itu. Tercium aroma busuk yang semakin menyengat. Namun hal itu bukanlah masalah bagi Nayla karena nafsunya jauh lebih kuat dari aroma busuk dari gelandangan tua itu. Sambil terus mengocok penisnya. Matanya mengamati penis yang menurutnya menggoda itu. Mulut Nayla membuka. Ia jadi semakin bernafsu pada mainan barunya. Ia lalu menaikkan cadarnya lagi sebelum lidahnya keluar untuk menjilati ujung gundul dari gelandangan tua itu.


“Aaaaaaahhhh yaahhh… Aaahhhh gilaaa mbaakk… Baru dijilat pelan aja udah seenak ini !” Desah pak Dikin puas.


Lidah Nayla pun semakin bergerak mengitari ujung gundul dari penis gelandangan itu. Mata Nayla memejam agar lebih menikmati jilatannya. Dari sekian jilatan yang sudah dilakukannya. Lidahnya berhenti pada lubang kencingnya yang membuat pak Dikin semakin blingsatan saat titik tersensitifnya dirangsang oleh akhwat bercadar itu. Nayla terus menjilati lubang kencing gelandangan tua itu. Lidahnya bergerak menyapu naik turun. Lidahnya bergerak menyapu ke kanan juga ke kiri. Ada rasa yang membuat Nayla sangat menikmati jilatannya pada lubang kencingnya. Pak Dikin jadi menggelinjang. Ia sangat menikmati jilatan dari akhwat bercadar itu.


“Aaaahhhh… Aaahhhhh… Terusss mbaaakk…. Aaahhh yahh nikmat sekali” desah pak Dikin puas.


Penisnya terus dikocok sambil dijilati oleh akhwat binal itu. Namun ada satu hal yang membuat gelandangan tua itu tertawa saat dijilati oleh Nayla. Matanya pun menunduk tuk melihat lidah akhwat itu saat menjilati lubang kencingnya.


'Buwahahah gak nyangka… Padahal setiap saya kencing gak pernah cebok… Tapi kok akhwat binal itu malah menikmati lubang kencing saya yah ?'


Pak Urip pun tidak tinggal diam. Setelah puas bercumbu, ia menaikkan rok gamis Nayla hingga bongkahan pantat majikannya terlihat. Pak Urip segera memelorotkan celana dalam Nayla. Kedua tangannya dengan gemas pun mengusapi kulit bokong majikannya yang membuat Nayla merinding merasakan kenikmatannya.


“Mmpphhh… Sssllrrppp… yaahh… Ssllrrppp mpphh” desah Nayla keenakan.


Nayla yang sedari tadi cuma menjilati penis pak Dikin pun akhirnya mulai membuka mulutnya untuk mencaplok setengah dari penis raksasa itu.


“Aaaaaahhhhh mbaaaakkkkk” desah pak Dikin merinding keenakan.


Terlihat mulut Nayla penuh. Mulutnya sudah dipenuhi oleh penis gelandangan tua yang bahkan katanya jarang menceboknya. Nayla dengan penuh nafsu langsung menaik turunkan wajahnya. Mulutnya dengan segera langsung mengulum penis raksasa itu. Nafsu Nayla yang tidak tahan membuatnya segera menikmati mainan barunya. Bibirnya pun menyapu kulit penis pak Dikin. Lidahnya di dalam juga melilit penis pak Dikin. Rangsangan yang begitu memuaskan membuat pak Dikin hanya merem melek saja. Mulutnya terus membuka. Gelandangan tua itu benar-benar terpuasakan saat dilayani oleh servis mewah dari akhwat bercadar itu.


“Aaaaaahhhh yaahh… Aaahhh gilaaa…. Aaahhhh mantap sekali mbak” desah pak Dikin puas.


Sementara itu di belakang terlihat pak Urip mulai mendekatkan wajahnya. Lidahnya pun keluar dari mulutnya saat matanya tergoda melihat lipatan berwarna pink yang ada dibawah lubang dubur akhwat bercadar itu.


Dikala kedua tangannya memegangi bongkahan pantat Nayla tuk melebarkannya maka lidahnya pun bergerak masuk untuk menjilati lubang kenikmatan yang warnanya pink itu.


“Mmpphhhh… Mmppphhhh… Mmpphhhh” desah Nayla merinding saat vaginanya dijilat oleh pak Urip.


“Ssssllrrrppp…. Sssllrrppp mmpphhh… Ssllrrppp manisnya lubang memekmu mbak” Desah pak Urip ditengah jilatannya.


Lidahnya dengan penuh semangat bergerak naik turun. Lidahnya pun dapat merasakan rasa asin disana. Lidahnya terus menggeliat masuk menuju titik terdalam. Berulang kali lidahnya merangsang dinding Nayla. Nayla seperti tersetrum. Tubuhnya tersentak ringan. Namun hal itu membuatnya jadi semakin bersemangat untuk mengulum penis gelandangan tua itu.


“Mmpphhhh… Mmpphhh… Mmpphhh kontol bapak gede banget sihh… Mmphhh… Aku jadi makin nafsu deh sama bapak” desah Nayla yang membuat pak Dikin tertawa.


“Buwahahaha terima kasih sayaangggg… Duh udah kayak raja nih dilayani selir cantik sambil ngeliat mbak dijilmekin” kata pak Dikin tertawa melihat kejadian yang ada di sebelahnya.


“Mmpphhhh apapun akan kulakukan paaak… Aaaaahhh… Gara-gara jilatan pak Urip, aku jadi bernafsu nih buat ngelakuin apa aja” desah Nayla bergairah.


Kepalanya sampai ia miringkan saat menjepit penis pak Dikin dari samping. Lalu kepalanya ia naik turunkan sehingga pak Dikin sendiri dapat melihat penisnya diijepit oleh mulut akhwat binal itu. Hampir lima menit penisnya dikulum oleh Nayla. Pak Dikin pun ingin melakukan hal lain. Ia lalu terpikirkan ide saat melihat keindahan wajah Nayla.


“Apapaun mbak ? Aaaahhh… Kalau gitu ayo sini… Saya ingin mencumbu bibirmu itu sayaanngg” desah pak Dikin yang tak kuat lagi melihat merahnya bibir Nayla yang menggoda.


“Mmpphh iyyahh pakkk… Aku akan kesana” Kata Nayla yang langsung memejamkan mata saat mendekati wajah pria buruk rupa itu. Pak Dikin juga mendekat. Akhirnya bibir mereka pun bersentuhan setelah sekian lama cuma saling menginginkan.


“Mmmmppphhhhhh” desah mereka bersamaan.


Jijik ? Tidak ada. Rasa jijik itu sudah menghilang setelah dikalahkan oleh nafsu birahi Nayla sendiri. Nayla sudah tak peduli lagi disaat nafsunya kian bangkit menguasai diri. Nayla pun mendorong bibir pak Dikin dengan penuh nafsu. Bibirnya bahkan langsung menjepit bibir atasnya. Lidahnya di dalam juga menggeliat tuk membasahi bibir atasnya. Tangan kanannya bertumpu pada bahu pak Dikin agar tidak terjatuh sementara tangan kirinya terus mengocok penis pak Dikin agar membuatnya jadi semakin besar. Akhirnya gelandangan tua itu dapat kembali berciuman dengan seorang akhwat yang cantik lagi jelita. Mereka pun terus berciuman. Mereka terus melampiaskan nafsu yang sudah ditahan sejak pertama kali bertemu.


“Mmmpphhhh… Mmmpphhh… Gak nyangka hebat juga yah mbak saat bercumbu”


“Mmmppphh semua gara-gara pak Urip yang sering menikmatiku pak”


“Mmmpphh oh yah sudah berapa lama kalian melakukannya ?”


“Mmmpphhhh sudah hampir sebulan paakk… Mmpphhh atau kurang ? Entah lah… Aku lupa kayaknya gak nyampe sebulan tapi rasanya lebih dari sebulan”


“Mmmpphhh oh yah…. Kalau mbak main sama saya sebulan gimana ? Mbak mau ?”


“Mmmpphhh kalau bapak bisa memberiku kepuasan aku mau pak… Aku bisa dinikmati siapa aja asal sanggup memuasi nafsuku pak”


“Mmppphhh oh yah ? Gimana kalau saya panggil teman-teman saya… Pasti seru kan bisa main sama 4 gelandangan sekaligus ?”


“Mmppphhh empat ?”


Nayla pun berfikir sejenak. Bermain dengan empat gelandangan sekaligus ? Dirinya yang merupakan akhwat yang terlahir kaya raya diminta bermain dengan empat gelandangan miskin sekaligus ? Tidak masuk akal tapi justru Nayla malah tertantang. Membayangkan hal itu disaat nafsunya sedang berkumpul jelas membuatnya jadi ingin mewujudkannya. Sambil terus bercumbu, ia pun menjawabnya dengan malu-malu.


“Mmmphhh… Kita lihat aja nanti… Kalau berjodoh rencana bapak pasti akan terwujud”


“Mmpphhhh… Pasti… Pasti akan terwujud mbak… Pasti itu… Camkan itu !” desah pak Dikin berambisi tuk mewujudkannya.


Saat sedang asyik-asyiknya bercumbu sambil mengobrol mesum. Tiba-tiba Nayla merasakan adanya benda tumpul yang bersiap-siap masuk ke dalam vaginanya. Nayla sampai melepas cumbuannya sejenak tuk melihat keadaan di belakang. Nayla yang sedari tadi terus menungging diatas sofa rumahnya terkejut melihat pak Urip bersiap untuk menerobos masuk vaginanya dari arah belakang.


“Hakhakhak… Kalian asyik sendiri kayaknya… Kalian gak lupa kalau saya ada disini kan ?” Kata pak Urip sambil menhentakkan pinggulnya sedikit hingga ujung gundul penisnya mulai membelah masuk liang kenikmatan itu.


“Aaaahhhh” desah Nayla yang membuat pak Urip tertawa.


“Buwahahahha enggak kok pak… Bapak mau mulai yah ? Buruan yah pak… Saya juga penasaran sama rasa memeknya nih… Saya gak sabar buat nyodok rahim akhwat binal ini… Iya gak sayang ?” kata pak Dikin sambil kembali mencumbu bibir Nayla.


“Mmpphhh iyahhh… Iyahh pak” Balas Nayla ditengah cumbuannya.


“Hakhakhak… Kalau gitu saya mulai yah… Akan saya buat non Nayla bernafsu agar pak Dikin bisa menikmatinya disaat sedang terangsang-terangsangnya…. Terima ini… Hennkgghhh !!!” Desah pak Urip yang langsung mendorong pinggulnya hingga penisnya itu ambles menyundul dinding rahim majikannya.


“Mmppphhh aaaaahhh” desah Nayla saat tubuhnya terdorong maju. Cumbuannya bahkan sampai terlepas hingga wajah dari akhwat binal itu jatuh diatas pangkuan gelandangan tua itu.


“Eh bapak pelan-pelan dong… Orang lagi asyik ciuman” Protes pak Dikin.


“Hakhakhak maaf pak… Udah lama gak nyodok memeknya soalnya” kata pak Urip senang karena bisa melampiaskan nafsunya pada rahim Nayla lagi.


“Emang udah berapa lama gak ngentot pak ?” Tanya pak Dikin.


“Sehari ? atau mungkin dua hari… Udah lama kan ? Hakhakhak” kata pak Urip yang mulai menggerakan pinggulnya lagi.


“Oalah… Buwahaha lama banget itu pak… Harusnya lonte kayak gini kudu dipake enam jam sekali” kata pak Dikin yang ikut membuat pak Urip tertawa.


“Hakhakhak ide bagus tuh… Okelah saya akan lebih sering memuasimu yah non… Hennkgghhhh” desah pak Urip yang mulai stabil menggerakan pinggulnya maju mundur.


“Aaaahhhhhh… Aaaahhhh… Aaaahhhhh”


Nayla yang masih menungging dan menjatuhkan kepalanya di sebelah penis pak Dikin hanya bisa mendesah merasakan tusukan yang begitu terasa di dalam vaginanya. Matanya terus merem melek keenakan dikala tangannya berusaha untuk terus mengocok penis pak Dikin. Pak Dikin yang bosan sedari tadi terus diam akhirnya terpikirkan sesuatu.


“Sebentar pak...” kata pak Dikin saat memposisikan Nayla. Pak Urip pun sampai berhenti saat diminta oleh gelandangan tua itu.


Nayla diminta menungging tegak diatas sofa rumahnya. Kedua lututnya menempel diatas sofa. Kedua telapak tangannya juga. Dari depan, pak Dikin mulai memasukan penisnya ke dalam mulut Nayla. Nayla pun terpaksa melahapnya. Lalu setelah semua oke. Pak Dikin meminta pak Urip untuk menggerakkan pinggulnya lagi.


“Hakhakhak… Pengen ikut nyodok yah pak ?” tanya pak Urip tertawa.


“Buwahahah iya dong… Pengen ngerasain nikmatnya mulut akhwat soalnya… Hennkgghh !” Desah pak Dikin sambil menusukkan penisnya.


“Mmmppphhhhh” desah Nayla tak kuat saat kerongkongannya ditusuk oleh penis raksasa itu.


“Hakhakhak saya paham kok perasaan bapak… Yaudah saya mulai lagi yah… Hennkgghhh !”


Kali ini giliran penis pak Urip yang menusuk rahimnya dari belakang. Nayla hanya sanggup mengerang. Dari depan mulutnya ditusuk dan dari belakang rahimnya ditusuk. Kedua pria tua ini pun bergerak secara bersamaan. Dikala pak Dikin menarik penisnya keluar hingga menyisakan ujung gundulnya saja maka pak Urip juga demikian. Pak Urip juga menarik penisnya hingga menyisikan ujung gundulnya saja. Dikala pak Urip menghempaskan penisnya hingga menusuk rahim Nayla hingga mentok. Maka pak Dikin juga, gelandangan tua itu menusuk mulut Nayla menggunakan penisnya hingga mentok. Ditusuk dari depan dan belakang secara bersamaan jelas pengalaman baru bagi Nayla. Sejujurnya ia merasa tak kuat tapi ia teringat perkataan mang Yono di pagi tadi.


'Itu benar… Aku harus terbiasa melayani kedua pria ini kalau aku mau dipuasi rame-rame…'


Batinnya.


“Mmmppphhhh… Mmmpphhhh… Mmmpphhh” desah Nayla bertahan sambil memejamkan matanya.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhh… Nikmatnyaaa… Aaahhhh senengnya bisa ngentot memekmu lagi non”


“Mmpphhh paakkk… Mmppphh pelaannn… Mmppphhhh”


“Aaaahhh… Aaaaahhh… Buwahahahaha… Baru lewat mulut aja udah seenak ini… Aaahhhh jadi gak sabar pengen make memeknya”


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Sabar pak… Ini baru juga masuk”


“Buwahahah santai pak… Yang punya mah bisa main sepuasnya… Saya kan cuma numpang”


“Aaaahhh… Aaahhhh bukan numpang pak… Tapi jadi bintang tamu… Hakhakhak”


“Buwahahah iya juga… Bintang tamu buat muasin nafsu akhwat binal ini… Iya gak mbak ?” Tanya pak Dikin sambil menatap akhwat lonte itu.


Namun Nayla tidak menjawabnya. Bukannya tidak mau menjawab. Tapi ia tak bisa menjawabnya. Nayla merasa kesulitan ketika disiksa oleh dua penis raksasa yang begitu perkasa. Tiap kali rahimnya ditusuk vaginanya sampai berdenyut merasakan gesekan dari penis raksasa pembantunya itu. Tiap kali kerongkongannya ditusuk rasanya sampai mau muntah apalagi ditambah dengan bau busuk dari gelandangan tua itu. Ia sebisa mungkin bertahan. Kedua tangannya bahkan sampai mencengkram sofa rumahnya untuk menahan tusukan dari pria-pria tua yang sedang menikmatinya.


“Jangan diajak ngomong pak… Lonte kita ini baru pertama kali main trisom… Jadi masih kesulitan… Kudu adaptasi dulu, iya gak non ?” Kata pak Urip sambil menampar bokong majikannya.


“Aaaaahhhh… Aaahhh yaahhh… Aaahhhh” desah Nayla merasakan tamparan pak Urip.


“Buwahahaha pantesan… Kirain udah pengalaman… Kalau gitu saya cuma diem deh… Nih emut kontol saya… Hisap yang kuat biar mbak bisa bertahan dari sodokan pak Urip” Kata pak Dikin yang akhirnya baru berhenti menyodok mulut Nayla.


“Mmpphhh…. Iyahh pakk makasih… Mmpphhh… Mmmpphhhh” desah Nayla sambil menghisap penisnya tuk bertahan dari sodokan pembantu tuanya.


Meski pinggulnya tak lagi bergerak menyodok mulut sempitnya. Pak Dikin justru semakin menikmati kuluman Nayla dikala penisnya terus disedot-sedot oleh mulut akhwat binal itu. Mulut Nayla sudah seperti penyedot debu saja. Penis pak Dikin terus dihisapnya dengan kuat hingga membuat cairan kental yang ada di dalamnya nyaris keluar. Pak Dikin pun terus bertahan sambil memegangi kepala mungil Nayla. Ia juga menahan nafasnya agar bisa semakin lama bertahan dari serangan sedotan Nayla.


Sementara itu pak Urip dari belakang jadi semakin leluasa. Pinggulnya terus maju menggempur rahim akhwat binal itu. Dikala tangannya terus menampar bokong Nayla hingga kemerahan. Pinggulnya terus bergerak maju mundur tanpa pernah kendur. Terasa vagina Nayla jadi semakin menjepit. Penis pak Urip terus dicekik oleh vagina majikannya yang begitu sempit. Kedua tangannya pun berpindah dengan memegangi pinggang rampingnya. Jemarinya meremas gamis yang masih dikenakannya. Rasanya sangat puas. Pak Urip jadi semakin bergairah. Ia pun merasa gerah. Ia lalu melepas kausnya hingga bertelanjang bulat menyisakan celananya saja yang itupun sudah melorot sampai ke lutut.


“Aaaaaahhhhh… Aaahhhh… Aaahhh mantapnyaaa… Aahhh nikmat sekali memekmu ini nonnnn”


“Mmmppphhhhh…. Mmmpphhh iyahahhh pakkk… Mmpphhh terusss… Terus sodok memek aku yang kenceng paaakk…. Mmmppphhh” desah Nayla saat merasakan vaginanya semakin basah petanda dirinya yang sudah sangat terangsang.


“Aaaahhh yaahhhh… Aaahhhh… Aaaahhhhhh gawwaaattt !!”


Namun pak Urip yang terlanjur bernafsu akibat sudah lama tidak menggenjot majikannya itu justru menarik lepas penisnya dari dalam rahim Nayla. Ia nyaris kebablasan dan hampir saja keluar duluan akibat nikmatnya jepitan vagina majikannya. Nayla pun ambruk begitu saja diatas pangkuan pak Dikin. Sedangkan pak Urip juga duduk lemas diatas sofa sambil mengelap keringat yang ada di dahinya.


“Buawhahaha nyaris keluar yah pak ? Seenak itu kah ?” tanya pak Dikin melihat pak Urip.


“Banget pak… Coba aja sendiri… Saya hampir aja keluar tadi” kata pak Urip memberikan FR nya setelah menikmati rahim majikannya.


“Buwahaha jadi penasaran deh… Sekarang giliran saya yah mbak ? Ayo sini duduk di pangkuan saya… Udah lama loh saya gak menyetubuhi seorang wanita lagi” Kata pak Dikin.


“Mmpphhh iyahh paakkk” kata Nayla patuh.


Nayla pun berdiri sambil menurunkan cadarnya. Ia merapihkan gamisnya sambil menaikkan roknya. Ia juga membuang celana dalam yang daritadi turun sampai ke lututnya. Pak Dikin yang telah siap menanti meloloskan seluruh pakaiannya. Pak Dikin sudah bertelanjang bulat. Nayla pun mulai naik ke atas pangkuannya lalu menjatuhkan tubuhnya hingga vaginanya yang sempit itu akhirnya dimasuki penis milik gelandangan tua.


“Aaaaaaaaaaahhhhhh” desah mereka keenakan.


MECX88Z

https://thumbs4.imagebam.com/0e/f1/91/MECX88Z_t.jpg   0e/f1/91/MECX88Z_t.jpg

'NAYLA


MECMNJG

https://thumbs4.imagebam.com/24/89/99/MECMNJG_t.jpg   24/89/99/MECMNJG_t.jpg

'PAK DIKIN


Nayla yang sedang terangsang-terangsangnya mulai bergerak naik turun tuk memuasi gelandangan tua itu. Ia yang tadi ditinggal pak Urip saat lagi enak-enaknya mulai melayangkan seluruh nafsunya pada gelandangan tua yang ada di hadapannya. Sungguh ironi, dirinya yang sejak kemarin ogah diperkosa pak Dikin namun kini justru dirinya yang terlihat bernafsu untuk memuasi pak Dikin. Terlihat tubuhnya naik turun dengan cepat. Tangannya pun memegangi bahu pak Dikin agar tidak terjatuh. Akhwat binal yang masih berpakaian lengkap itu mulai menggoyang gelandangan tua yang sudah bertelanjang bulat. Dari sini jelas terlihat siapa yang memperkosa dan siapa yang diperkosa.


'Hakhakhak… Kalau diupload pasti bakal rame nih… Terlihat seorang akhwat yang memperkosa gelandangan tua gara-gara gak dapet jatah dari suaminya… Tapi tenang, saya merekamnya untuk koleksi pribadi kok non…'


Batin pak Urip yang rupanya sudah mengambil 'handycam' nya untuk merekam persetubuhan binal mereka.


“Aaaaahhhh…. Aaahhhh… Aaahhhhhh” desah Nayla keenakan.


Gimana mbak ? Enak kan kontol saya ?” Tanya pak Dikin menikmati goyangan Nayla.


“Aaahhh enak bangett… Enak banget pakkk kontol bapaakk… Aaahhhh… Aaaahhhh” desah Nayla sambil merem melek.


“Buwahahaha saya juga mbak… Udah lama kontol saya gak dijepit seenak ini… Gila juga yah ada akhwat sebinal mbak yang mau ngegoyang gelandangan kayak saya” desah pak Dikin kagum.


“Mmmpphhh aku juga heran paakk… Gak tau kenapa kok aku tiba-tiba nafsu ke bapak… Apalagi setelah ngeliat kontol bapak yang segede ini” desah Nayla.


“Buwahahha emang rupanya semua gara-gara kontol yah… Mbak lebih milih main sama yang cakep apa yang punya kontol gede mbak ?” Tanya pak Dikin penasaran.


“Aaahhh jelasss… Jelas yang punya kontol gede paaakk… Aku suka sama yang punya kontol gede… Aahhh itu lebih nikmat…. Itu lebih memuaskan pak” desah Nayla yang jadi lebih bernafsu.


“Kalau gitu puaskan saya… Kontol saya gede kan ?” Tanya pak Dikin.


“Aaahhh iyahhh gede banget… Kontol bapak gede banget paakkk” desah Nayla dengan penuh gairah.


Pembahasan tentang penis gede yang pak Dikin lakukan membuat Nayla jadi semakin bergairah dalam bercinta. Di benaknya ada bayangan penis pak Dikin yang membuat Nayla jadi semakin nikmat dalam bergoyang. Setiap gesekan yang terasa di dinding vaginanya membuat Nayla jadi mabuk kepayang. Terasa goyangannya itu menggaruk vaginanya yang sangat gatal. Nayla terus menaik turunkan tubuhnya. Ia terus menggaruk-garuk vaginanya yang terasa amat gatal.


“Aaaahhhh… Aaaahhhh… Enak banget… Enak banget paaakkk… Ouhhh” desah Nayla sambil meremasi dadanya dari luar gamisnya.


Pak Dikin tertawa melihat kebinalan Nayla dihadapannya. Wajah Nayla memang terlihat sangek. Tapi gamisnya ini menghalangi pemandangan indah dari tubuhnya. Pak Dikin menurunkan resleting gamis Nayla. Ia lalu mengangkat gamisnya dari bawah hingga gamis itu melewati kepala mungil akhwat bercadar itu.


“Buwahaha gini kan jadi lebih seksi… Ayo terus goyang mbaakk… Goyang yang binal… Goyang terus kontol saya !” Kata pak Dikin yang akhirnya bisa melihat tubuh polos Nayla yang hanya menyisakan hijab, cadar dan juga behanya saja.


“Aaaahhhh iyyahhh paakk… Aaahhhh ini nikmat banget… Kontol bapak keras banget… Aku jadi gak bisa berhenti bergoyang paaakkk” desah Nayla sambil terus meremasi dadanya.


Matanya pun menatap pak Dikin dengan penuh nafsu. Kebinalannya semakin memuncak. Ia tak peduli lagi dengan siapa pria tua yang sedang ia goyang . Pinggulnya terus bergerak. Pinggulnya melakukan gerakan memutar. Mulai dari kiri ia memutar pinggulnya tiga ratus enam puluh derajat. Hal itu membuat penis pak Dikin terasa diaduk-aduk. Penis pak Dikin sudah seperti persneling mobil saja. Goyangannya jadi terasa nikmat. Hal itu membuat mata pak Dikin memejam menikmati setiap detik yang ia habiskan bersama bidadari pemuasnya.


“Aaaaahhhh… Aaaahhhh… Terusss mbaaakk… Ayoooo… Ini nikmat banget… Gak pernah saya sampai merem melek gini pas bercinta… Memek mbak luar biasa… Rasanya bikin ketagihan terus mbaakkk !” Desah pak Dikin merem melek.


“Uuuhhhhhhh… Uuuuhhhh iyaahh paakkk… Itu juga yang aku rasain… Kontol bapak bikin ketagihan… Aku gak bisa berhenti ngegoyang kontol bapak” Desah Nayla sambil mengusapi dada pak Dikin tuk merangsang nafsu birahinya.


Nayla pun mengubah jalur goyangannya. Tidak hanya gerakan memutar. Tapi juga gerakan maju mundur. Pinggul Nayla bergerak maju mundur. Penis pak Dikin diaduk-aduk maju mundur. Goyangannya juga dipercepat. Ia bergoyang sambil menatap mata pak Dikin dengan hangat. Dilihat Nayla sudah begitu bernafsu pada pria tua pemuasnya. Vaginanya sudah ia pasrahkan pada lelaki pemuasnya. Akhwat cantik yang sehari-harinya berpenampilan alim itu terus menikmati penis pak Dikin yang merupakan gelandangan tua pemuasnya. Aneh tapi nyata. Nayla benar-benar menikmati penis seorang gelandangan tua.


“Aaaaahhhh nikmat sekaliii… Aaaahhhh cukuupp… Aaahhhh saya mau keluar mbaaakkkk” desah pak Dikin saat merasakan adanya tanda-tanda.


“Uuuhhhhh… Uuuhhhhh… Tapi aku gak bisa berhenti paaakkk… Kontol bapak enak bangett… Aku gak bisa berhenti bergoyang” desah Nayla yang sudah terlanjur enak.


“Aaaaahhhhh… Aaaahhh sudaahhh… Sudaaaahhhhh… Jangan buat saya keluar dulu mbaaakkk… Aahhhh saya gak kuat lagiiiiiiiiiii… Cukuppp…. Cuukuuppp” desah pak Dikin sambil mendorong perut Nayla.


“Aaaahhhhh aku gak bisa… Aku gak bisa berhenti…. Ini lagi enak banget paaakkk” desah Nayla yang tak peduli pada erangan pak Dikin.


“Aaaahhhhhh jangaannn… Jangannn buat saya keluar dulu… Saya mau istirahat… Uuuuhhhhhh” desah pak Dikin yang akhirnya berhasil mengeluarkan penisnya setelah mendorong tubuh akhwat binal itu.


“Iiiihhhhh bappaaakkk” desah Nayla kecewa.


“Hah… Hah… Hah… Tunggu sebentar mbak… Saya sudah hampir keluar… Kalau keluar sekarang nanti rencana yang sudah kami buat akan hilang percuma” Kata pak Dikin menjelaskan.


“Hakhakhak betul itu non… Lebih baik ayo sini main sama saya” Kata pak Urip yang langsung mengambil alih posisi tuk menggilir Nayla sekaligus tuk memberikan waktu istirahat pada gelandangan tuanya.


“Aaaahhhh iyahhh… Kalau gitu buruan pak… Sodok aku… Memek aku udah gatel banget pengen disodok” Kata Nayla yang sudah semakin binal.


“Hakhakhak sabar sayaanggg… Saya akan menyodok memekmu itu kok” Kata pak Urip sambil memposisikan tubuh Nayla menungging menghadap dinding. Kedua tangan Nayla pun bertumpu pada dinding dihadapannya itu. Tak berselang lama penis perkasa yang sudah berulang kali menggetarkan nafsu birahi Nayla itu pun mulai masuk membelah liang senggama milik bidadari bercadar itu.


“Uuuhhhhhh paaaakkkk” desah Nayla sampai merinding keenakan.


“Ouuhhhh yaaahhhh… Mantap sekali memekmu ini nonnnn… Mmmppphhh” desah pak Urip merem melek keenakan.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


MECX88W

https://thumbs4.imagebam.com/91/29/6d/MECX88W_t.jpg   91/29/6d/MECX88W_t.jpg

'NAYLA


Tak butuh waktu lama bagi pak Urip untuk memacu pinggulnya maju. Tepat setelah ujung gundulnya mentok di dalam rahim majikannya. Ia langsung menariknya lalu mendorongnya lagi. Ia kembali menariknya hanya untuk menancapkannya lagi. Ia terus melakukan gerakan yang sama berulang kali untuk memuaskan birahi majikannya itu.


Sudah lama dirinya tidak merasakan nikmatnya akhwat majikannya lagi. Ia pun melampiaskannya sekarang. Ia menghujaminya dengan kuat sambil memegangi pinggang mulus majikannya. Ia pun mengusapinya. Gerakannya naik menuju punggung mulusnya. Terasa kulitnya yang begitu halus menambah sensasi akan persetubuhannya dengan sang dewi. Pak Urip jadi memperkuat hujamannya. Tubuh Nayla jadi terdorong maju mundur saat menerima hujaman dari pembantu tuanya.


“Aaaahhhh… Aaaaaahhhh… Aaahhhhh… Akhirnya… Ini nikmat banget paakk… Aaahhh terusss” desah Nayla puas.


“Aaahhh… Aaahhhh… Iyahhh non… Ini mantep banget… Ouhhh nikmatnya rahimmu ini… Meski udah berkali-kali saya nodai kok rahimmu ini masih rapet aja sih… Aaahhh bikin saya nafsu aja deh” Kata pak Urip sambil mengatur nafasnya.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhh… Habis kontol bapak gede sih… Mau berulang kali bapak ngentotin aku pasti bapak bakal ngerasain jepitan memek aku paakk… Aaahhh terusss… Lagi pakkk… Yang kuat !” Desah Nayla meminta lebih.


“Hakhakhak… Begitu yah ? Oke deh… Akan saya tambah kekuatan saya… Terima iniii… Terima kontol saya iniiii !” Desah pak Urip yang membuat jeritan Nayla semakin keras.


“Aaaahhhhh… Aaaaahhhhhh… Aaaaaahhhh bappaaakkkkk”


Pak Dikin yang beristirahat hanya bisa terengah-engah sambil menatap kebinalan akhwat bercadar yang sedang disetubuhi pembantu tuanya itu. Ia lalu menggelengkan kepalanya membayangkan betapa bahagianya pak Urip yang setiap hari bisa memuasi akhwat majikannya itu. Seketika ia jadi teringat masa lalunya. Masa-masa disaat dirinya sering memuasi rahim menantu cantiknya.


“Buwahhaha gak dimana-mana ada aja cewek cantik yang mau digenjot laki-laki tua hanya demi kepuasan aja” Kata pak Dikin tertawa.


Terlihat tangan pak Urip semakin naik dalam mengusapi punggung mulus Nayla. Ia lalu melepas ikatan bra hingga payudara Nayla tumpah begitu saja. Genjotannya yang diperkuat membuat susu Nayla bergoyang dengan begitu bebasnya. Dari kejauhan, pak Dikin tersenyum melihat goyangan sangat indah dari susu akhwat bercadar itu.


“Ehh ini ? Buwahaha direkam yah dari tadi… Okelah sambil istirahat saya jadi kameramen aja ah” kata pak Dikin sambil memegangi 'handycam' pak Urip lalu merekam persetubuhan mereka yang semakin panas.


“Aaaaaaahhhh… Aaahhh… Aaahhhh… Oouuhhhhh paaaakkk” desah Nayla saat merasakan payudaranya diremas oleh pak Urip.


“Aaahhhh… Aaahhhhh… Kenyal sekali susumu ini nonnn…. Ayo sini… Cepat mendekat” Kata pak Urip menarik tubuh Nayla hingga membuat akhwat bercadar itu berdiri membelakangi pembantunya.


“Aaaahhhh iyaahhh… Aaahhhh mantap sekaliiii paakk… Aaahhhhhh genjot aku lebih keras lagi paaakkkk”


“Dengan senang hati, non” Kata pak Urip sambil memeluk tubuh Nayla dari belakang. Kedua tangannya pun meremas kedua payudara Nayla dengan sangat kuat. Pinggulnya pun dipercepat. Terasa persetubuhan mereka jadi semakin nikmat.


“Aaaaahhhhhh… Aaahhhhhh… Aaaahhhhh” Jerit Nayla semakin keras.


“Aaaahhhh nikmat sekalii… Nikmat sekali tubuhmu ini nonn… Sllrpp… Mmpphhh… Mmpphh yahh… Ssllrrpp” desah pak Urip sambil menjilati leher Nayla.


Nayla jadi semakin terangsang. Tubuhnya benar-benar dinikmati oleh pembantunya secara maksimal. Berbagai titik sensitifnya dirangsang. Vaginanya di sodok, kedua susunya diremes, tengkuk lehernya dijilat yang membuat nafsu birahinya bergetar hebat.


Nayla sampai merem melek merasakan sodokan dari pembantu tuanya itu. Sesuai dugaan, hanya pak Urip lah yang bisa memaksimalkan persetubuhannya yang membuat Nayla terasa terbang ke kayangan.


Pak Dikin pun tak ingin menyia-nyiakan pemandangan indah ini. Pak Dikin bergerak maju untuk merekam persetubuhan nikmat ini dari depan. Terlihat wajah Nayla yang begitu sangek menerima gempuran dari pembantunya yang tua bangke. Pak Dikin pun berfokus pada susu Nayla yang teremas. Lalu rekamannya diarahkan pada gempuran penis pak Urip pada rahim Nayla. Lalu ia kembali menjauh untuk merekam keseluruhan tubuh Nayla dari samping. Pemandangan indah itu membuat pak Dikin tak bisa diam berhenti. Ia benar-benar kagum pada keindahan Nayla yang sedang dinodai pembantunya.


“Aaaahhhh… Aaahhhh… Aaaaaaahhhhhhhh” desah pak Urip saat mementokkan penisnya.


“Uuuhhhhhhh paaakkk “Desah Nayla saat nyaris terjatuh.


Tiba-tiba pak Urip menarik lepas penisnya. Nayla yang sudah lelah menatap pembantunya heran. Di benaknya ia berfikir. Kenapa berhenti ? Bukannya belum ada cairan cinta yang tumpah diantara mereka ? Kenapa pak Urip menarik lepas penisnya ?


“Hakhakhak… Memek mbak udah basah banget nih kayaknya… Sudah saatnya bagi mbak untuk menerima kepuasan dari kami berdua” Kata pak Urip yang membuat Nayla juga menoleh ke arah pak Dikin.


Seketika mata Nayla melebar. Ia merasa sudah waktunya baginya untuk menerima hujaman dari kedua pria tua yang berniat memuasinya.


“Buwahahah akhirnya… Saya udah gak sabar nggenjot memek mbak lagi”


“Ayo non ikut saya ke kamar”


Pak Urip pun menarik tangan Nayla ke kamar yang biasa ditempati oleh kedua majikannya. Setelah memasuki kamar, pak Urip tiba-tiba menarik lepas hijab beserta cadar yang Nayla kenakan.


“Mmmppphhhhhh” Lalu bibirnya mencumbu bibir Nayla dengan penuh nafsu. Setelah puas ia mendorongnya jauh hingga akhwat binal yang kini sudah bertelanjang bulat itu jatuh tak berdaya di atas ranjang tidurnya.


“Aaaaaahhhhh” desah Nayla merasa malu sekali menyadari dirinya sudah bertelanjang bulat lagi.


“Buwahahhaa… Sudah saya duga… Wajah mbak ini memang cantik sekali… Kenapa setiap hari malah mbak tutupi ? Bukannya bagus untuk memberi tahu banyak orang kalau mbak ini aslinya cantik sekali” kata pak Dikin yang akhirnya bisa melihat wajah cantik Nayla tanpa cadarnya.


“Hehe” Nayla pun tersipu. Ia dengan malu-malu hanya melebarkan kakinya tuk menggoda pria-pria tua yang sudah ngiler akan keindahan tubuhnya.


“Hakhakhak… Udah gak sabar yah kayaknya non ini… Ayok sini… Ada satu persiapan lagi untuk melonggarkan anusmu itu non” Kata pak Urip mendekat.


“Satu lagi ?” Kata Nayla kebingungan.


Seketika pak Urip sudah memegangi paha Nayla. Penisnya sudah berada tepat di depan lubang kotorannya. Dalam posisi terlentang. Nayla pun bersiap menerima kenyataan bahwa anusnya akan kembali dimasuki oleh penis pembantu tuanya tadi.


“Hakhakhak… Sudah berapa kali anusmu ini dimasuki kontol non ? Hennkgghhh !!!” Tanya pak Urip sambil menusuk penisnya membelah anus Nayla.


“Uuuuhhhhhhhh… Cuma bapaaakkk… Cuma bapak yang pernah main lewat anusku paakk… Aaahhhh pellaannn” desah Nayla kesakitan.


“Hakhakhak… Oh yah ? Kalau memek non ? Aaahhhhhh” desah pak Urip sambil menusukkan lagi penisnya agar semakin dalam.


“Aaaahhhhh banyakkk paakk… Kalau memek aku udah pernah dimasuki banyak oranggg” desah Nayla sampai menggelinjang menahan rasa sakit sekaligus nikmat yang bercampur menjadi satu.


“Aaaaahhhh sempitnyaa…. Hakhakhak… Siapa aja memangnya orang itu non ?” Tanya pak Urip sambil mendorong penisnya hingga mentok.


“Aaaahhhh pakkk dalemm bangeett… Banyakk paakk… Bapak, pak Beni, mang Yono dan terakhir pak Dikinn paakk… Aaaaahhhhhhhh” desah Nayla sambil mencengkram kuat ranjang spreinya.


“Hakhakhak nakal yah… Bahkan nama suamimu gak disebut… Jadi selama ini non sering main sama pria-pria tua rendahan yah ? Bahkan tukang sayur langgananmu juga ?” Tanya pak Urip terkejut saat baru pertama kali mendengarnya.


“Iyyahhh paakkk… Aaahhh bahkan pak Tomi juga pernaaahhh… Aaahhhh sakitt paakkk… Sakkiitt”


“Hakhakhak tukang nasi goreng itu juga ?” Kata pak Urip semakin tertawa dengan keras.


Pak Dikin yang mendengar pembicaraan mereka menjadi takjub. Rupanya akhwat yang ia kira alim ini sudah pernah dinodai oleh berbagai macam lelaki. Uniknya hanya lelaki tua berwajah jelek saja yang pernah memuasi tubuh seindah ini. Pak Dikin geleng-geleng kepala. Nayla baginya memang bidadari pemuasnya.


“Iyyaahh… pak Tomi pernahhh paakk… Aaahhh pelaannn… Jangan cepet-cepeett” desah Nayla saat merasakan penis pak Urip mulai bergerak.


“Dasar akhwat lonte… Kapan non melakukannya ? Kok saya gak diberi tahu ?” Tanya pak Urip selaku tuannya kesal.


“Aaahhhh kemarin pas bapak nyari pak Dikin… Aku digenjot pak Tomi pas pulang kerja paaakk.. Terus pas bapak gak ada di rumah seharian, aku ke rumah mang Yono minta dipuasi paaakk… Aaahhhh kontol mereka enak banget… Apalagi kontolnya mang Yono yang gak disunat paaakk… Aaahhhh aku jadi ketagihan… Aku jadi pengen disodok mereka lagi paaakkk” Ujar Nayla yang membuat pak Urip tertawa puas.


“Bahkan non sampai ke rumahnya coba… Lain kali kabarin saya… Biar saya bisa mengabadikan perbuatan kalian… Hakhakhak” tawa pak Urip yang jadi semakin bernafsu saat menyodomi anus majikannya ini.


“Aaahhhhh… Aaahhhh kapaann-kappaan yah paakk… Aaahhh iyaahhh… Teruss paakk… Ini mulai enak” desah Nayla yang mulai bisa beradaptasi dengan persetubuhan melalui anusnya.


“Hakhakhak… Baiklah kalau itu kemauan non… Siap yahhh… Akan saya perkuat… Hennkgghhhh !” Desah pak Urip sambil terus menyodok anus dari akhwat binal yang sudah telanjang itu.


“Aaahhhhh… Aaaaahhhh… Aaaaaahhhhh”


Nayla yang sudah terlentang hanya bisa pasrah membiarkan duburnya dinodai oleh penis pembantunya. Tubuhnya yang telanjang bulat ia biarkan dinikmati oleh pembantu tuanya. Ia bahkan mengangkat dadanya membiar susunya bergetar tuk memuaskan birahi pemuasnya. Nalurinya sebagai akhwat pemuas membimbingnya untuk memuaskan siapa saja yang berniat untuk menikmati tubuhnya. Ia pun menatap pak Urip dengan penuh nafsu. Terlihat jelas kalau Nayla membutuhkan kepuasan selalu. Tangan pak Urip yang tidak tahan kembali mendekap kedua payudaranya. Susu Nayla kembali diremas. Mereka berdua pun bersetubuh semakin ganas.


“Aaaaahhhhhhh… Aaahhhhhh… Aaaaahhhhh”


Melihat Nayla memejam sambil membuka mulutnya lebar-lebar membuat pak Dikin tidak tahan lagi. Ia yang sudah terlalu lama menganggur akhirnya ikut bergabung dengan mendekatkan penisnya ke mulut akhwat telanjang itu.


“Mmppphhhh” desah Nayla terkejut menyadari ada penis yang menyumpal mulutnya.


“Buwahahhaa lama banget sih kalian… Saya gak tahan pengen ikut gabung nih… Hennkgghhhh !” desah pak Urip mulai mementokkan penisnya ke mulut Nayla.


Akibatnya Nayla nyaris tersedak. Mulutnya yang mungil kembali diisi oleh penis pak Dikin yang bau busuk sekali. Gelandangan tua itu dengan penuh nafsu menarik keluar penisnya lalu menusuknya lagi. Ia seperti sedang dalam posisi 'push up' saja. Di belakang pak Urip dapat melihat pantat pak Dikin naik turun saat menyodok mulut akhwat binal itu. Kedua pria tua itu pun menikmati pemuasnya hingga lemas. Mereka terus menyodok anus dan mulut Nayla hingga puas.


“Ayo kita mulai aksi kita non” kata pak Urip setelah melepas penisnya.


“Buwahahah akhirnya” kata pak Dikin yang juga menarik lepas penisnya.


“Aaaahhhh uhuukk… Uhuukkk” Nayla yang terbatuk-batuk pun diminta menaiki tubuh pak Dikin yang terlentang diatas kasurnya. Baru saja penis itu masuk ke dalam vaginanya. Tubuhnya sudah didorong hingga akhwat binal itu sudah jatuh ke dalam pelukan pak Dikin. Berada di pelukannya dengan aroma tubuh yang luar biasa busuk menjadi ujian tersendiri bagi Nayla. Ia terus bertahan. Tak berselang lama penis pak Urip pun masuk menembus duburnya lagi.


“Uuuuhhhhhh desah Nayla yang akhirnya merasakan lubang dubur dan vaginanya dipenuhi oleh penis secara bersamaan.


Nayla merasa sedikit pusing. Matanya pun berat sekali. Rasanya agak sakit ketika otot rahim dan duburnya berkontraksi menahan dua penis yang sungguh perkasa sekali. Pak Dikin yang menyadari rasa sakit Nayla mulai menarik kepala Nayla mendekat. Sambil membelai rambutnya yang pendek sebahu. Ia berniat untuk mencumbu akhwat binal itu lagi.


“Sini sayaangg… Mmpphhhhh” desah pak Dikin mencumbunya.


“Mmppphhhhh” Desah Nayla pasrah menerima cumbuannya.


“Oke… Sekarang kita mulai yah pak… Ayo pak mulai nyodok lubang kenikmatan akhwat nakal ini” kata pak Urip sambil mendorong pinggulnya maju.


“Mmpphhh sip paaakk… Mmppphhh” desah pak Dikin yang juga mendorong pinggulnya maju.


“Mmpphhhh paaaakkk” Desah Nayla saat dubur dan rahimnya disodok secara bersamaan.


“Ayoo tarikk lagiii” kata pak Urip memberi aba-aba.


Sontak kedua penis mereka ditarik keluar secara bersamaan hingga menyisakan ujung gundulnya saja.


“Mmppphhhhhh” desah Nayla merinding.


“Ayo doronggg lagii paakk”


'Jleeeebbbbb !!!'


“Aaaahhhh paaakk” desah Nayla hingga cumbuannya terlepas.


“Ayo tarik lagi terus langsung dorongg sekuat-kuatnya”


“Aaaaaahhhhh bapaaaakkkk” desah Nayla sampai geleng-geleng kepala merasakan nikmat dua penis mereka.


Setelah itu penis mereka mulai stabil bergerak keluar masuk secara bersamaan tanpa diberi aba-aba lagi. Pak Urip dengan puasnya menyodok dubur akhwat binal itu. Pak Dikin juga dengan puasnya menyodok rahim akhwat telanjang itu. Terlihat wajah Nayla yang menahan kenikmatan ini. Pengalaman untuk ditrisom pertama kalinya memang sulit. Ia pun berusaha bertahan sekuat mungkin dari serangan birahi kedua pria ini.


“Aaaahhhh… Aahhhh… Aaahhhh gak nyangka saya ada akhwat yang mau dilecehi sehina ini… Buwahaha” tawa pak Dikin melecehi Nayla.


“Aaaahhh… Aaahhhh… Awalnya saya juga gak nyangka pak… Tapi emang dasarnya binal mau diapakan aja juga mau… Beruntung saya punya majikan yang penurut kayak gini” puji pak Urip sambil terus menyodomi Nayla.


“Aaahhhh… Aaahhhh… Kapan-kapan saya boleh make memeknya lagi kan pak ?” tanya pak Dikin sambil terus menyodok rahim Nayla.


“Aaaahhhh… Aaahhh… Coba tanya orangnya langsung pak… Kayaknya sih mau hakhakhak”


“Buwahahaha… Gimana mbak ? Saya boleh main sama mbak lagi kapan-kapan ?” Tanya pak Dikin penuh harap.


MEBS3I0

https://thumbs4.imagebam.com/1b/e6/bf/MEBS3I0_t.gif   1b/e6/bf/MEBS3I0_t.gif

'VIDEO DI BENAK NAYLA


“Aaahhhh…. Aaahhhhh…. Boleh paakk… Boleeehh… Aahhh terusss… Ayo terusss sodok yang kuat paaakkk” desah Nayla menikmati perannya sebagai objek pemuas. Akhirnya ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh wanita di video yang pernah ia tonton. Awalnya memang sulit. Tapi lama kelamaan ia mulai menikmati juga. Rasanya sungguh nikmat dinodai seperti ini. Ia jadi merasa direndahkan yang membuatnya dapat merasakan kenikmatan yang ia inginkan. Ia pun terus pasrah dinodai oleh mereka. Matanya memejam membiarkan pak Dikin menatap kebinalan wajahnya.


MEBE9O4

https://thumbs4.imagebam.com/84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg   84/28/cf/MEBE9O4_t.jpeg

'PAK URIP


MECX88X

https://thumbs4.imagebam.com/51/d4/43/MECX88X_t.jpg   51/d4/43/MECX88X_t.jpg

'NAYLA


MECMNJG

https://thumbs4.imagebam.com/24/89/99/MECMNJG_t.jpg   24/89/99/MECMNJG_t.jpg

'PAK DIKIN


Semakin lama mereka bercinta. Mereka akhirnya mulai mendapatkan tanda-tanda bahwa mereka akan keluar. Khususnya kedua pria yang terus menikmati lubang kenikmatan Nayla. Tubuh mereka bergetar merasakan jepitan-jepitan yang merangsang jiwa. Akibatnya pergerakan pinggul mereka dipercepat. Kedua penis tua itu keluar masuk lubang kenikmatan Nayla dengan cepat. Kekuatan tusukan mereka juga diperkuat. Nayla sampai membuka mulutnya lebar-lebar merasakan tusukan yang luar biasa dari mereka.


“Aaaaahhhhhh… Aaaahhhh paaakk… Aaaahhh” Jerit Nayla.


Pak Dikin yang melihat kebinalan wajah Nayla menjadi tidak tahan. Ia kembali menciumnya. Ia terus menyodok rahim Nayla sambil menciumi bibir manisnya. Terlihat bibir Nayla dijepit. Bibir gelandangan tua itu juga menghisap bibir Nayla sepuas-puasnya. Ia benar-benar menikmati hadiah paginya. Ia pun melampiaskan seluruh nafsunya pada akhwat yang sedang ia puasi ini.


“Mmppphhhh… Mmphhhh… Siaaalll saya udah gak kuat lagi… Saya hampir keluar” desah pak Dikin disela-sela cumbuannya.


“Aaaaahhhh… Aaaahhhh… Kontol saya juga mulai cenat-cenut… Saya udah gak kuat menahan jepitan anusnya ini… Ouuhhh siaall… Siaaallll” Desah pak Urip sambil menjatuhkan tubuhnya.


Sambil mengusapi pinggangnya, pak Urip juga mencumbui punggungnya serta menjilati punggung mulus itu. Ia terus melakukannya dengan terus menyodomi anus majikannya. Rasanya menjadi sangat nikmat. Ia pun tak mampu menahan birahi yang semakin memuncak ini.


“Mmpphhhhh… Mmpphhh bapaaakk… Mmppphhh” desah Nayla yang juga mulai merasakan adanya tanda-tanda.


Dirangsang dari depan dan belakang apalagi oleh pria-pria tua yang berpengalaman membuat Nayla tak sanggup menahan diri lagi. Tubuhnya sudah merinding. Nafsunya bergetar merasakan cairan cintanya mulai mengalir mendekati lubang kencingnya. Tusukan demi tusukan yang kedua pria tua itu lakukan membuat pergerakan payudaranya dengan kuat menggesek dada gelandangan tua itu.


Nafsunya sudah tak tertahankan. Ia dengan pasrah meminta kepuasan dari gelandangan tua dan juga pembantu tua favoritnya.


“Aaaaahhhh… Aaahhhh… Saya gak kuat lagiii…. Saya gak kuat lagii mbaaakkk “Desah pak Dikin setelah melepas cumbuannya sambil menatap wajah Nayla.


“Aaaaahhhhh aku jugaaa paakk… Terusss… Terusss sodok akuuuu” Desah Nayla sambil menatap mata pak Dikin.


“Aaaahhhh saya jugaaa… Saya juga nonnn… Mmpphhhhh… Mmmpphhhh” desah pak Urip sambil mencumbu leher sebelah kiri Nayla dengan penuh nafsunya hingga meninggalkan bekas memerah disana.


“Aaaaahhhhh… Aaahhh iyaahhh… Terusss paakkk… Terus zinahi aku… Ayooo puasi tubuhku ini paaaakkk” Desah Nayla tidak kuat lagi.


Nafas mereka sama-sama memberat. Deru nafas mereka sama-sama ngos-ngosan. Kedua kaki mereka sama-sama lemas setelah menikmati persetubuhan mereka yang semakin memanas.


Sambil terus menyupangi leher Nayla, pak Urip mempercepat gerakan pinggulnya. Penisnya terus menyodomi dubur majikannya hingga membuat penisnya berdenyut cepat. Sedangkan pak Dikin mengalihkan perhatiannya pada susu gantung Nayla dan mulai menghisap pentilnya dikala penisnya terus membombardir rahim kehangatan Nayla itu. Nayla tak kuat. Tubuhnya semakin melemah. Cairan cintanya yang terus dihisap membuatnya tidak sanggup menahan kenikmatan ini lagi.


“Aaaahhhhh… Aaahhh… Akuuuu kelluuuaaaaarrr” Desah Nayla yang akhirnya keluar duluan.


“Ouuhh yaahhh… Memekmu mulai anget mbakk… Ayoo keluarin semuanyaaa… Keluarin sampai habis” desah pak Dikin disela-sela menyusunya.


“Aaaahhhh… Sekarang saya yang mau keluar… Aahhh nonnnn… Saya mau keluaaar… Saya gak kuat lagiii… Sayaaa aaaaaaahhhhhhhhh” Desah pak Urip sambil mementokkan penisnya saat spermanya dengan deras mulai menyembur lubang dubur majikannya.


“Uuuhhh paakkk” Desah Nayla saat duburnya mulai basah disirami lahar hangat pembantunya.


“Aaaaahhhhhh… Aaaahhhhh… Saya jugaa… Saya juga mau keluar mbaaakk” Desah pak Dikin yang menjadi orang terakhir yang belum mendapatkan orgasmenya.


Kedua tangannya pun mengelusi pinggangnya. Pinggulnya berpacu menggenjoti rahimnya. Mulutnya juga terus menyusu menyedot-nyedot susu gantungnya. Akhirnya, akhirnya. Sebuah gelombang mulai ia rasakan mendekati lubang kencingnya. Sebuah gelombang yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun lamanya. Gelandangan tua yang sudah lama tak bercinta ini bersiap untuk memuntahkah lahar hangatnya. Bagaikan gunung volcano yang sudah lama tak meletus. Gunung itu bersiap untuk meledakkan seisi laharnya untuk menimbulkan gempa terbesar yang sudah lama tak dibuatnya.


“Aaaahhhhh… Aaahhhhh… Saya gak kuat lagii… Saya aaahhhh… Aahhhhh… Terima ini… Uuuhhhhhhh kelluuuaaarrrr !!!”


'Jleeebbbbb !!!'


Aaaaahhhh bappaaaakkk Jerit Nayla sekeras-kerasnya.


'Crrrooottt… Cccrrooottt… Cccrrooottt !!!'


Sperma pak Dikin dengan kuatnya menyirami seisi rahim Nayla. Tubrukan pinggulnya saat mementokkan ujung gundulnya membuat tubuh Nayla terdorong maju. Rasanya seperti baru terjadi gempa saja. Guncangannya terasa keras. Bahkan susu gantung Nayla sampai bergetar. Pak Dikin pun terus mementokkan ujung gundulnya hingga spermanya dengan kuat menubruk dinding rahim akhwat yang sudah telanjang bulat itu.


“Aaaaaaahhhh bapppaaaaakkkkk... Mmmppphhhh” desah Nayla dengan kerasnya saat rahimnya dipejuhi oleh gelandangan tua yang sudah lama tak bercinta.


Mereka terdiam sejenak menikmati sisa-sisa orgasme yang begitu memuaskan. Mereka bertiga puas. Nafsu mereka sama-sama terlampiaskan. Terlihat wajah Nayla merem melek merasakan lelehan sperma pak Dikin keluar dari sela-sela vaginanya. Terdengar juga nafas Nayla ngos-ngosan. Kedua pria tua itu juga bernafas dengan begitu berat. Usai sudah persetubuhan mereka yang begitu panas. Pak Urip pun mencabut penisnya hingga spermanya meluncur deras keluar dari dubur majikannya. Pak Dikin juga demikian, ia mencabut penisnya lalu menggeletakkan Nayla di sebelahnya membiarkan Nayla yang sudah telanjang bulat itu merem melek merasakan aliran sperma-sperma pemuasnya yang keluar melalui kedua lubang kenikmatannya.


“Uuuhhhhhh” desah Nayla merem melek.


“Hakhakhak… Akhirnya selesai juga tugas kita” kata pak Urip menatap pak Dikin.


“Buwahahha akhirnya puas juga saya… Akhirnya bisa ngentot lagi setelah sekian lama gak melakukannya… Makasih banyak ya pak” kata pak Dikin pada pak Urip.


“Loh terima kasihnya ke majikan saya dong masa ke saya” kata pak Urip sambil melirik Nayla yang terkapar tak berdaya.


“Buwahahaha iya juga… Makasih yah mbak… Saya puas banget bisa memejuhi rahimmu… Semoga pejuh saya bisa bikin hamil mbak yah” kata pak Dikin sambil mengelusi perut Nayla.


Nayla tidak menjawabnya. Ia hanya merem melek sambil mengatur nafasnya. Terlihat dadanya naik turun setelah dipuasi oleh kedua pria tua ini. Terlihat jelas bahwa akhwat binal itu kelelahan. Ia menyadari betapa sulitnya bercinta dengan dua pria sekaligus. Ia pun memejamkan mata untuk beristirahat sejenak. Ia jadi merenung. Ia merenung membayangkan binalnya dirinya saat ini.


'Puas banget… Puas bangett rasanya bisa ngentot sampai secapek ini… Semuanya gara-gara obat itu… Aku kayak dibius… Bahkan gara-gara obat itu aku rela dipakai siapa aja termasuk gelandangan tua itu…'


Batin Nayla sambil memejam saat mengingat genjotan gelandangan tua itu yang membuat rahimnya membanjir. Nayla merasa rahimnya sangat penuh. Mungkin kalau diberi bibit ikan akan ada ikan yang hidup di rahimnya akibat vaginanya telah diubah menjadi kolam oleh gelandangan tua itu.


Seketika saat wajahnya menoleh ke kanan ia menatap foto pernikahannya dengan suaminya. Ia merenung. Ia membayangkan saat-saat awal ketika menikah dengan suaminya.


'Bisa-bisanya aku berubah drastis kayak gini..'. 'Aku aja enggak mengenali siapa diriku sekarang ? Siapa sih aku ? Aku udah kayak lonte pemuas yang sehari-harinya mengenakan cadar… Aku udah terlanjur jatuh terlalu jauh… kayaknya sulit buatku untuk kembali ke aku yang dulu lagi... Bahkan kayaknya bakalan aneh kalau aku gak ngerasain ngentot sama pria-pria tua lagi... Huft maafin aku yah mas... Aku tetep sayang mas kok... Cuma tubuh aku juga milik mereka yah mas... Aku gak bisa hidup tanpa kontol-kontol mereka... Aku udah ketagihan banget deh... Aku udah ketagihan ngentot banget... Tapi bukan asal ngentot... Aku udah ketagihan ngentot sama pria-pria tua yang bisa membuatku puas... Bahkan kalau gak sama pria tua kayaknya gak puas deh... Dasar kalian, hebat banget sih udah bikin aku ketagihan kayak gini... Terutama bapak...'


Batin Nayla sambil melihat kedua pria itu khususnya ke pak Urip. Terlihat kedua pria itu mengobrol dengan hangat. Seketika Nayla terkejut saat kedua wajah mereka tersenyum sambil menoleh ke arahnya. Nayla jadi merinding ketika melihat tatapan penuh nafsu dari kedua pria itu.


'Eh mereka habis ngobrolin apa yah ? Kok tiba-tiba ngeliatin aku kayak gitu ?'


Batin Nayla yang sudah tak bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Terlihat kedua pria tua itu menatap Nayla dengan mesum. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu sambil menatapi keindahan tubuh mulusnya itu.


BERSAMBUNG


;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;


Comments

Popular Posts