Adel

 

 


AKU ADEL


Kenalin namaku Adel, aku seorang cewek umur ku tahun ini 22 tahun.


Sekilas tentang diriku banyak yang bilang tubuhku bagus mulai dari keluarga ku teman ku sampai sampai kebanyakan pedagang yang aku jumpai berkata seperti itu.


Tinggi ku 165 cm, untuk seorang wanita mungkin itu cukup tinggi dengan wajah yang menarik kulit putih hidung mancung pipi tirus mata yang sedikit sipit dengan bulunya yang lentik membuat wajah ku,,,, orang bilang sih cantik, ya banyak yang memujiku cantik.


Badanku cukup proporsional, ya aku merasa seperti itu dengan ukuran payudara 36c. Lumayan besar bentuk nya pas ditubuhku padat berisi tapi kenyal seperti bulatan mangkok dihiasi puting berwarna pink, tidak seperti payudara wanita lainnya yang katanya sih berwarna kecoklatan.


Indah,,, ya aku selalu mengagumi kedua payudara ku ketika aku bercermin. Keduanya tetap tegak tanpa pernah tertarik oleh gaya gravitasi, bahkan disaat bra tak menyangganya pun mereka tampak sempurna.. aku bangga pada "mereka".


Perutku langsing tak banyak lemak ada disana, seperti kebanyakan atlit lari yang pernah ku lihat di tv saat acara perlombaan olimpiade dunia. Aku tertegun akan bentuknya, ramping seperti tanpa beban. Berpadu dengan pinggul yang besar dengan bongkahan pantat yang menonjol kebelakang, kenyal juga padat ditopang oleh sepasang kaki jenjang putihku.


Aku memang sering memuji tubuhku, ya aku merasa bangga akan hal itu. Seperti yang telah aku jelaskan aku sangat bangga akan kesempurnaan tubuhku. Apalagi jika semua itu dipadukan dengan pakaian ku, pakaian syar'i dengan balutan gamis dan hijab yang menghiasinya.


Ya,,, tubuhku ku sembunyikan dengan itu semua, aku nyaman memakainya. Selain karna memang sudah jadi tuntutan dalam kepercayaan ku, aku berpikir bahwa wanita dengan pakaian yang tertutup itu memiliki aura yang berbeda, lebih dari apapun itu.

Mungkin itu sekilas tentang diriku.


Kini aku tinggal disebuah perkampungan cukup jauh dari titik pusat kota, disini aku menyewa rumah. Rumah sederhana dengan hanya satu kamar tidur, bentuk nya seperti kebanyakan rumah di desa tak jauh beda dengan rumah rumah disekitarnya.


Aku tinggal sendirian dikampung ini, ya hanya sendiri. Kedua orang tua ku tinggal dikota besar, ayah ku sibuk bekerja ibu ku ya hanya sebagai ibu rumah tangga biasa yang mengurus suami nya serta satu anaknya.


Benar, dia adikku tepatnya adik lelaki ku. Saat ini masih sekolah dibangku menengah atas.

Kalian pasti bingung kan kenapa aku memilih hidup sendiri dikampung sementara keluarga ku masih ada dikota. Itu memang keinginan ku sendiri, aku bosan dengan kehidupan kota, hiruk-pikuk nya membuatku tak betah berada disana.


Kami memang sudah berbincang akan hal ini, orang tuaku setuju dengan keputusanku. Meskipun sekarang mereka sepertil kehilanganku, tapi dari hasil pembicaraan itu mereka juga akan pindah ke kampung ini mungkin beberapa tahun lagi disaat adik lelakiku lulus dari sekolahnya dan berbarengan dengan pensiunnya ayah ku dari pekerjaannya.


Banyak hal yang kami diskusikan, mulai dari apakah aku bakal betah hidup didesa, apakah aku bisa hidup sendiri disana atau tidak. Pertanyaan pertanyaan itulah yang membuat kedua orang tuaku seakan ragu atas keputusanku ini. Mereka bersih keras membujukku agar aku mau menurutinya. Kedua orang tuaku menyarankan aku untuk pergi nanti saja berbarengan dengan kami semua. Karna mungkin mereka khawatir karna aku ini seorang wanita.


Namun dengan yakin aku mengutarakan keputusanku kepada mereka, yang pada akhirnya mereka setuju dengan keputusanku.


Hingga hari ini, aku sudah dua hari berada dikampung ini suasananya membuatku nyaman tak banyak terdengar deruan suara kendaraan yang membuat telinga ku kebisingan seperti dikota.


Mungkin ada kendaraan juga disini tapi tak banyak sepengelihatanku. Disini sepi hanya terdengar suara burung yang masih banyak hinggap di dahan pohon. Suara anak anak kecil yang berlarian saat mereka bermain setelah mereka pulang sekolah.


Rumah ku nampak sederhana dengan halaman depan yang lumayan luas, satu ruangan tamu, satu kamar tidur, dapur dan kamar mandi dibelakang nya. Belakang rumah ku terdapat banyak pepohonan nampak seperti kebun yang dikelola warga disini.


Dihari ketiga aku tinggal disini, aku diberitahu oleh ibuku untuk secepatnya melapor ke pak RT bahwa aku tinggal disini dan menjadi salah satu warganya. Aku tak tahu rumah Pak RT dimana, jadi aku berkunjung saja ke rumah tetangga sebelahku untuk menanyakannya. Aku sampai dirumah Pak RT berkat arahan tetangga ku tadi.


"Assalamualaikum, permisi.... permisi,,,"


Tak ada yang menyaut dari dalam, aku masuk ke halaman rumah sampai di depan pintu aku ketuk.


Tok... tok... tokkkk

"Assalamualaikum permisi..."


'Apa gak ada orang yah didalam, apa Pak RT kerja?' Gumamku dalam hati. Ku cobak ketuk lagi.


Tok.. tok.. tokk,, permi..... si.


"Iya sebentar, tunggu."


'Akhirnya ada seseorang didalam.'


"I i yaa, Pak."


Pintu pun terbuka, seseorang keluar dibaliknya. Terlihat kaget saat melihatku.


"Waalaikumsalam, ehhh."

Dengan raut muka yang melongo.


"Maaf ini benar rumah Pak RT pak?"

Kataku menanyakannya.


"Iya betul mbak, saya sendiri pak RT disini. Mohon maaf mbak siapa dan ada keperluan apa ya mencari saya? Sepertinya saya baru liat mbak disini."

Jawab Pak RT menjelaskan.


"Saya Adel pak, saya mau melapor tentang kepindahan saya kekampung ini."

Ucapku.


"Ohh iya silahkan mbak masuk dulu."

Akupun ikut masuk berjalan dibelakang Pak RT.


"Duduk mbak, saya ambilkan dulu dokumennya." Akupun mengangguk.


Pak RT berjalan ke dalam kamarnya.

'Mbak adel cantik banget itu wangi lagi, gila badannya kaya model gitu, susunya sekel, bokong nya montok bener.'

Pikiran Pak RT melayang seketika.


'Mimpi apa aku semalem bisa liat wanita sempurna kaya gitu, dikampung ini kan jarang banget cewek muslimah badannya bagus gitu, ehhh ada sih tapi masih dibawah mbak Adel cantiknya, yang ini bener bener beda.'

Gumam pak RT dalam hatinya.

Setelah mencari, Pak RT lalu kedepan dan duduk di kursi samping Adel.


'Uhhh wanginya kamu mbak Adel.' Seketika hidung pak RT mencium aroma yang begitu menyenangkan.


"Mbak Adel boleh saya lihat KTP nya sebentar?"

Kata Pak RT bertanya.


"Ini pak."

Ucap Adel, seraya menyerahkan KTP nya ke pak RT.

Tak sengaja kulit tangan mereka bersentuhan, sekejap tapi......


'Hmmm mulusnya tangan mu mbak Adel.'

Adel pun sedikit terkejut saat jari tangan halusnya sedikit menyentuh kulit tangan nya pak RT.


'Duh,,, Pak RT kok kaya seneng gitu, senyum senyum sendiri lagi jadi takut.'

Gumam Adel dalam hatinya.


Tak lama Pak RT selesai menulis identitas Adel di buku dokumen daftar warga kampung nya.


"Ini Mbak Adel KTP nya sudah saya tulis disini, mulai sekarang Mbak Adel sudah menjadi warga kampung sini. Kalau Mbak Adel butuh bantuan atau mau bertanya tanya tentang kampung ini, mbak bisa hubungi saya ya, dengan senang hati saya akan membantu."

Ucap pak RT menjelaskan kepada Adel.


"Iya Pak RT, terimakasih banyak sudah dibantu. Saya pamit dulu ya pak."

Jawab Adel sembari berdiri lalu keluar dari rumah pak RT yang diikuti pak RT dibelakangnya.


Setelah memakai sandal, Adel berbalik dan mengucap salam lalu pergi meninggalkan rumah Pak RT.


Pak RT membalas salam Adel sambil tersenyum.

'Gila gila gila lihat itu pantat nya montok bener kamu mbak Adel, meski tertutup rapat baju syar'i badan mu ituloh mbak kaya gitar spanyol, lekuk lekuknya ajib banget dah mbak. Duh duh duh bikin nafsu birahi ku muncul lagi nih mbak setelah sekian lama jadi duda. Hmmmm bisa nyicip ga ya nanti huhhh. Tadi lihat di KTP sih masih belum kawin, masih 22tahun. Euhhhh masih perawan kah mbak Adel dirimu? Semoga deh semoga aja nanti bisa nyicip punyanya mbak Adel pasti mantep banget itu. Penasaran sama toketnya kalo di remes pasti kenyal dah itu, diliat aja kaya mangkok mie ayam jumbo cap ayam jago jualannya Mas Dodo. Ooooooooo jadi melayang banget ini pikiran ku.'

Gumam pak RT didalam hatinya saat melihat Adel berjalan pulang meninggalkan rumah nya.


"Astaghfirullah........"


'Nyebut kamu te, pikiranmu itu loh kotor banget.

Dasar otak mesum!!!. Cewek bersih gitu mau kamu rusak?. Gimana kamu ini te, te... Duda badjingan!!'


Bisik dalam kepala Pak RT yang bergelut dengan segala pikiran mesumnya.


"Duh kok aku jadi mikir kotor gitu ya!!

Mana mungkin juga cewek alim gitu mau ngelakuin hal hal yang aku pikirkan tadi.

Dasar pe'a...

Te te... Kelamaan jadi duda nih pikiran kemana mana.

Wes wes lupain lah!!...."


Aku berjalan meninggalkan rumah Pak RT, menyusuri jalan setapak kampung ini. Jalan kecil yang sunyi sepi tak terdengar deru kendaraan bermotor disini. Kebanyakan orang orang disini kalau tidak jalan kaki ya pakai sepeda, mungkin hanya beberapa saja yang mengendarai motor.


Tidak seperti di kota, gang gang sempit saja motor parkir dimana mana. Pakai knalpot berisik juga.

'tol*l' emang!! Ehhh kok kasar hihi.


Disini nyaman, udaranya sejuk masih banyak pohon pohon besar disisi jalannya. Suara burung bersahutan terbang bebas dari satu pohon ke pohon lain. Di kota suara burungnya sih bersahutan juga, tapi ya di dalam sangkar. Kasihan ya burungnya terkurung gitu. Di kota yang terbang bebas ya 'burung' yang lain. Ehhh kok gitu?? Ahahaha...


Ku perhatikan sekeliling jalan yang ku lewati.

Ada warung, pos ronda, tanah kosong seperti lapangan. Mungkin tempat untuk menggelar acara acara penting. Ada rumah kosong juga, sepertinya sudah lama tidak ditempati. Atap depan rumah nya sudah mau roboh, pekarangan depan nya sudah banyak tanaman liar. Serem sih ini, hhhiiiii.


Cukup jauh jarak rumah ku dengan rumah Pak RT tadi. Mungkin untuk orang orang disini, jarak segini sih terhitung dekat tapi untuk aku yang tinggal dikota dan jarang sekali berjalan jauh. Ini cukup melelahkan.


Sebentar lagi aku sampai dirumah, kira kira dua puluh meter lagi dari sini. Rumah ku sudah terlihat, lima meter saat aku akan meraih pegangan pagar rumah ku, aku berpapasan dengan dua orang anak SMA. Aku tersenyum pada mereka. Mereka membalas senyumanku.


"Misi mbak..."


"Iya permisi mas..."


Aku membalas salam mereka sambil sedikit membungkukkan badanku.

Aku sampai didepan gerbang rumahku. Kubuka gerbangnya, aku masuk dan menutupnya kembali. Tanganku mencoba memasukan kunci gerbang, tapi pandanganku tertuju pada kedua anak tadi. Mereka melaju perlahan sambil sesekali melihat ke arah belakang, ya ke arahku tentunya.

Kulihat mereka berbisik bisik, entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin mereka membicarakan ku.

Aku beranjak dari gerbang itu, berjalan perlahan menuju pintu rumah. Aku ingin beristirahat sejenak dari sedikit rasa lelah ini.


Dani = D

Tono = T


T

Dan, Dan lihat Dan!!!.


D

Iya, aku lihat juga Ton! Kamu pikir aku buta apa?.


T

Gila toh Dan, cakep yo...


D

Hooh Ton, kaya bidadari.

Siapa ya? Orang barukah?.


T

Mungkin Dan, baru lihat aku.

Wih kita punya tetangga baru yo, cantik lagi.

Bisa nih.... Hehe..


D

Bisa apa Ton? Kenal aja belum..

Kamu ini...


T

Bisa dijadiin pacar lah Dan!.


D

Apaan maen pacarin aja.

Mana mau dia sama kamu Ton.

Hampir tiga taun di sekolah aja ga ada perempuan yang jadi pacar kamu.

Ini belum kenal udah mau dijadiin pacar.

Ton, Ton.


T

Bukan ga ada Dan, aku aja yang gak mau jadi pacar mereka. Ga ada yang cantik sesuai seleraku Dan.


D

Huuuuu, pilih pilih segala. Kamu aja gak ganteng menurutku. Ahahaha.... Gantengan aku kemana mana.


T

Yeeee, kamu juga jomblo selama ini!


D

Ya aku kan, gak fokus cari pacar. Aku fokusnya belajar Ton biar jadi orang sukses nanti!.


T

Iya deh iya, siap calon orang sukses.


D

Yoweslah, ayo lanjut pulang.


T

Ayo......


Dani dan Tono, melanjutkan kembali langkahnya.

Ya mereka berdua adalah warga asli kampung ini.

Karna disekolah sedang ada rapat guru dadakan, mereka bisa pulang lebih cepat dari hari biasanya.


Beruntung bagi mereka berdua, di tengah perjalanan pulang mereka sempat berpapasan dengan seorang wanita cantik yang masih terlihat muda. Wanita yang jarang mereka temui di kampung ini. Parasnya, bentuk tubuhnya, dan mungkin sifat ramahnya.


Akankah pertemuan singkat ini membawa mereka pada sesuatu yang menyenangkan?

Ataaaaauuuuu.....


Kita nantikan di episode episode berikutnya!.


[dadah]


Bersambung.......


:::::::::::::::::::::


#2


RASA ITU KEMBALI DI PERKENALAN


Lelah juga ya, padahal gak jauh jauh amat aku berjalan harus sering sering olahraga nih badan.


Aku merebahkan tubuh ku diatas sofa, bahu ku sandarkan, kedua kaki ku selonjorkan menyentuh keramik lantai rumahku. Ku tarik napas dalam-dalam, dadaku naik turun mengikuti iramanya. Kuteguk segelas air yang ku ambil dari dapur tadi.


Segar rasanya...


Ku ambil ponselku, ku perhatikan layarnya. Tak ada notifikasi masuk.


Huhhhhh...


Ku taruh lagi disamping tubuhku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak sering memakai ponsel saat aku tinggal disini. Aku ingin menikmati kesederhanaan, tanpa ada banyak teknologi mengelilingi ku.


Ngapain lagi ya sekarang?

Hemmmm...

Aku belum nyuci bajuku sejak dua hari yang lalu.

Apa aku nyuci sekarang aja ya sekalian capek.

Kalo aku tunda tunda nanti malah numpuk.

Kalo udah numpuk pasti bakalan lebih capek nanti nyucinya.

Lagian disini mana ada laundry ya kan?

Ehh atau ada ya?

Ahhh entahlah, nanti aku cari tahu.


Mumpung masih jam sepuluh pagi masih ada waktu untuk sinar mentari menyinari pakaian ku nanti, hihi.


Aku menuju ke kamar, ku buka gamis dan jilbabku.

Aku berencana memakai daster saja saat mencuci.

Daster lengan panjang tanpa motif, ya polos berwarna merah muda. Warna kesukaanku. Ku padukan dengan hijab instan dengan warna serupa.


Aku kumpulkan beberapa pakaian yang akan ku cuci.

Tidak terlalu banyak rupanya, hanya tiga stel gamis, dua jilbab, dua pasang pakaian dalam dan sepasang kaus kaki. Aku memasukkan semuanya kedalam keranjang lalu kubawa ke kamar mandi. Tak ada mesin cuci, aku harus mencucinya sendiri dengan kedua tanganku. Ini memang bukan kebiasaanku, tapi aku harus belajar. Mau tak mau. Dikota aku tinggal memencet tombol lalu menunggu semua selesai. Disini aku harus mandiri, semua ku lakukan dengan kemampuanku sendiri.


Oh iya, dirumah yang aku sewa ini tak ada tv, tak ada kulkas, tak ada kipas, apalagi ac. Disini sudah dingin menurut ku. Hanya ada kompor gas satu tungku yang aku beli diperjalanan saat menuju ke kampung ini. Untung nya beberapa peralatan memasak sudah tersedia sebelum nya dirumah ini, jadi aku tidak perlu repot-repot membeli. Peralatan seperti lemari, sofa, kasur sudah tersedia. Mungkin peninggalan pemilik rumah ini, entahlah.


Semuanya masih terlihat baik, masih layak pakai menurutku. Lemari yang pintunya masih tertutup dengan rapat. Sofa yang kulitnya tak terlihat ada sobekan. Serta kasur busa yang terasa empuk dengan penyangga dipan yang kokoh, tak ada suara berdecit. Aku beruntung.


Dapur sederhana yang bersih, tak banyak noda yang menempel pada dinding nya. Juga kamar mandi yang lumayan luas, tipikal bangunan dikampung mungkin ya. Luasnya seukuran kamar tidur ku dengan bak mandi setinggi perutku. Ember dan peralatan mandi sudah tersedia. Airnya melimpah, begitu keran dibuka air mengucur deras dari lubangnya. Jernih tentunya. Terasa dingin, beda dengan air dirumah ku dulu.


Dindingnya hanya dilapisi semen tanpa cat, membuat suasana didalamnya menjadi sedikit gelap. Lampu harus menyala saat berada didalamnya. Dinding yang tak terlalu tinggi dengan celah diantara ujung dinding dan genteng. Meski terdapat celah tapi cahaya matahari tak begitu menyinari karna terhalang oleh pohon pohon besar yang ada di belakang rumah ini. Beratapkan genteng tanpa plafon, dengan lampu bohlam yang menggantung. Menambah keremangan khas kampung.


Jari jari tanganku mulai mengucek ngucek kain kain itu, menambahkan nya sabun menyiramnya dengan air. Terus berulang sampai semuanya selesai. Tak begitu terlatih, tapi lumayan lah. Harum, menyengat lubang hidungku. Cukup bersih terlihat dipandangan mataku.


Huhhhhhhh...


Kuperas setiap pakaiannya, kumasukan ember lalu kubawa kedepan rumah. Betul, tak ada halaman belakang untuk menjemur. Tak ada pintu belakang seperti kebanyakan rumah, hanya ada satu akses untuk keluar masuk yaitu pintu depan. Disana tempat menjemur pakaian, hanya ada tiga tali yang terbentang dari lima yang aku lihat. Dua lainnya putus, biarlah jemuranku pun tak begitu banyak. Perkiraan ku tiga tali saja cukup.


Ku letakkan satu persatu di atas tali, tak lupa ku peras terlebih dulu agar airnya berkurang sehingga bisa lebih cepat kering. Ku lihat matahari begitu bersinar, panasnya perlahan menjadi terik. Baguslah pikirku tak butuh waktu lama untuk pakaian pakaian ku ini menjadi kering sempurna.


Belum sepenuhnya tali jemuran terisi, aku mendengar seseorang menyapa dari depan gerbang rumahku.


"Assalamualaikum mbak Adel."


"Ehh waalaikumsalam Pak RT ya?.."


"Iya mbak, hehe."

"Udah jam segini loh mbak kok baru nyuci?"


"Iya Pak, tadinya mau besok pagi tapi tadi nanggung aja setelah pulang dari rumah Pak RT sekalian capek Pak."

"Lagian gak ada kerjaan juga Pak, mending nyuci aja mumpung belum banyak pakaian kotornya."


"Ohhh gitu ya mbak!"


"Iya Pak, takutnya kalo udah numpuk banyak malah bikin capek dan males ngerjainnya."

"Hehehe, aku gak biasa nyuci sendiri Pak."


Aku sedikit menunduk dengan senyum kecil tersungging dibibirku..


"Iya mbak, kelihatan kok hhe.."

"Baju mbak basah, airnya nyiprat kemana mana."


"Ehhh..."


Aku menunduk melihat bajuku. Benar saja bagian depan dasterku basah pada bagian perut juga dadaku. Hijab ku juga banyak cipratan cipratan airnya kulihat. Dasterku nyeplak bersatu dengan kulit. BH ku menerawang di balik kain dasterku yang basah.


Astaghfirullah...

Kok aku ga sadar sih, bisa bisanya pada basah gini!


Alih alih aku menutup dadaku yang basah dengan lenganku, aku malah membiarkannya terbuka apa adanya.


Ku arahkan kembali pandanganku. Tertuju pada sepasang mata lelaki di depanku.

Owhhhh, mata mesum itu seakan akan menelanjangiku. Tapi aku tetap tak berusaha menutupinya.


Aku kenapa?

Aku wanita berhijab yang alim, yang seharusnya tak mempertontonkan lekuk tubuhku pada seseorang yang bukan muhrimku.


Tapi....

Aku membiarkannya.


Aku kenapa?


Apakah rasa itu kembali lagi, rasa yang pernah membuatku hampir terjerumus pada hal tabu.

Rasa yang membuatku mengerti akan kenikmatan.

Kenikmatan duniawi yang sebenarnya.

Apakah rasa itu benar benar hadir lagi.


Apa mungkin?


"Hehe, iya Pak RT saking semangatnya nyuci jadi basah dehhhhh. Maklum pak masih belajar."


"Gapapa mbak, nanti juga pinter kok nyuci nya.

Kalo udah ahli pasti sekali kucek langsung bersih, ahahaha."


"Ahaha bisa aja Pak RT..."


"Ngomong ngomong Pak RT mau kemana?"


"Biasa sih mbak inspeksi lapangan."


"Duh duh gaya banget pak bahasanya."


"Ehehe, ya bahasa kitanya sih ngiterin kampung mbak. Muter muter ngecekin warga. Siapa tahu ada yang butuh pertolongan."


"Ohhh gitu ya pak, Pak RT suka nolongin warganya?"


"Ya jelas toh mbak Adel, saya itu RT yang paling suka menolong warganya. RT yang terkenal baik hati mbak."


"Kok muji diri sendiri sih pak?"


"Eladalah bener juga ya mbak, yang muji kan harusnya orang lain ya.

Hehe."


"Hemmmm.. kebetulan nih pak saya butuh bantuan Pak RT.

Tapi....."


"Kenapa mbak?"


"Saya kan warga baru pak. Apa boleh ditolong juga?


"Lohhhh mbak Adel ini, justru warga baru yang harus saya prioritaskan mbak."


"Beneran pak?"


"Iya dong mbak, serius."


"Emang mbak mau minta tolong apa mbak?"


"Emmmm,,,, itu pak...."

"Pak RT masuk aja dulu deh, duduk dulu di kursi itu."


"Iya mbak."


Pak RT membuka gerbang lalu masuk kehalaman depan rumah ku. Ia duduk di kursi kayu panjang tepat disampingku menjemur pakaian.


"Aku mau minta tolong bapak gantiin lampu di kamarku pak. Lampunya kurang terang, agak redup. Aku gak nyampe kalo ganti sendiri."


"Ohhhh itu mbak, aman kalo cuma ganti lampu doang mah."


"Oke pak, tapi aku beresin jemur pakaianku dulu ya pak, nanggung dikit lagi."


"Iya mbak, silahkan."


Aku kembali pada kegiatanku sebelumnya, menjemur pakaian setelah tadi terpotong oleh obrolanku dengan Pak RT.


Ku ambil kain itu, memerasnya, menyibaknya, lalu menyampaikannya diatas tali. Terus berulang sampai kain terakhir tersaji. Aku menunduk, menungging, mengangkat kedua lenganku, dan sedikit membusungkan dadaku karna memang seperti itu kegiatan menjemur pakaian.


Dengan segala gerakan yang aku lakukan, Pak RT bisa bebas menyaksikan lekuk tubuhku. Dari ujung jariku sampai atas kepalaku. Dengan dasterku yang cenderung tipis dan basah di beberapa bagian menjadikan tampilan ku kian menggiurkan.


Itu ku dapat saat aku beres menjemur pakaian terakhirku. Ku lihat Pak RT melongo ke arah ku, tepatnya ke arah dadaku.


"Pak, pak, Pak RT...."


Aku melangkah mendekatinya, melambai lambaikan kedua tanganku.


"Pak RT..."


Dengan sedikit nada tinggi aku kembali memanggilnya.


"Ehhh,, ehhh, iya mbak Adel. Ada apa mbak.. iya ada apa?"


Ia terlonjak kaget saat itu, mulutnya gelagapan. Salah tingkah rupanya.


"Bapak kenapa sih, kok gitu banget ngeliatin akunya?"


"Ngg,, ngga kok mbak gak apa apa. Hhe"


"Ya udah pak, ayo masuk!!"


"Iya mbak."


Aku dan Pak RT memasuki rumahku.


"Duduk dulu aja ya pak, aku mau ambil dulu lampunya. Kayanya masih ada di tumpukan kardus harus di cari dulu."


"Pak RT mau minum apa?"


"Gak usah repot repot mbak."


"Gak repot kok pak. Kopi?"


"Kopi deh boleh.."


"Siap, bentar ya..."


Aku melangkah ke arah dapur.

Aku mengambil gelas dan sendok, lalu berpikir sejenak.


Hahhh....., aku lupa ini bukan dapur rumahku di kota sana. Kupandangi meja dapur didepanku. Kosong!

Hanya ada teko yang isi nya air putih.


Aku berdiri dipintu dapur, mengarahkan pandangan ku pada lelaki yang tengah duduk di sofa ruangan depan.


"Pak!..."


"Iya mbak.."


"Kopinya ternyata gak ada...hhe"


"Lohhh.... Tadi katanya nawarin kopi?"


"Lupppaaaa... Aku kira ini dapur rumahku di kota.

Aku kan gak suka ngopi jadi gak ada stoknya pak. Belum belanja juga disini, hehe maaf ya..."


"Ahhhh gak papa toh mbak, santai aja. Wes air putih aja mbak gapapa sama sama air kok. Ada kan?"


"Kalo itu ada dong pak. Kalo gak ada air putih sih aku dehidrasi ya, kehausan tinggal disini."


"Iya juga ya...."


Aku membawa dua gelas besar berisi air putih. Satu untuk Pak RT dan satu lagi untuk diriku sendiri.

Ku taruh di atas meja didepan sofa.


"Silahkan pak diminum!"


"Iya mbak, terimakasih ya."


"Sama sama pak."


Pak RT mengambil gelas itu lalu meminumnya. Aku pun sama, meneguknya sampai isi dalam gelas itu habis.


"Haus mbak?"


"Hhe, haus pak. Capek juga ya nyuci dan jemur pakaian sendiri."


"Kalo masih belajar sih ya mungkin capek mbak, tapi kalo udah terbiasa ya gak bakalan deh mbak. Malah seger mbak kaya abis olahraga gitu."


"Hemmm emangnya Pak RT suka nyuci baju sendiri?"


"Ya jelas nyuci sendiri dong mbak, kan saya tinggal sendiri dirumah."


"Jadi Pak RT tinggal sendirian dirumah? Istri bapak, kemana?"


"Sudah lama gak ada mbak."


"Cerai?"


"Sudah lama dipanggil sama yang maha kuasa mbak."


"Duhhh maaf ya pak aku gak tahu."


"Gak apa apa mbak, memang sudah takdir."


"Anak bapak?"


"Belum sempat punya mbak, dulu istri saya sakit setelah keguguran. Mungkin mentalnya down, gak bisa nerima keadaan. Setelah kejadian itu dia selalu murung mbak, gak ceria seperti biasanya. Dia jadi pendiam tubuhnya makin kurus karna nafsu makannya hilang gitu aja."


"Saya waktu itu sudah pasrah mbak buat kehilangan istri saya. Sudah melakukan berbagai cara buat bantu sembuhin dia, tapi hasilnya nihil. Sampai waktu yang saya takutkan tiba mbak. Dia pergi untuk selama-lamanya."


Pak RT menundukkan kepala dan wajahnya. Matanya mulai berlinang tapi tak sampai meneteskan. Tangannya terlihat sedikit gemetar di pandanganku.

Tak ku kira ada kisah sedih dalam hidupnya.


Aku bangkit, kini duduk bersebelahan disampingnya.

Sangat dekat.

Menempel tanpa ada jarak, sampai lutut kananku bersentuhan dengan lutut kirinya. Tangan kiriku menyentuh paha nya, hinggap tepat diatasnya. Tangan kananku mulai menempel dipunggungnya.

Bergerak naik turun seraya mengelusnya.


"Maaf ya pak, aku gak tahu soal itu."


"Gak apa apa mbak.."


"Bapak yang tabah ya, hidup memang sulit ditebak pak. Pasti ada aja alur yang gak kita tahu dan tiba tiba terjadi begitu aja."

"Bapak harus sabar menjalaninya. Kuat ya pak!."


"Iya mbak, terimakasih."


Kini tubuhnya mulai tegak, wajahnya menoleh pada pandanganku. Sangat dekat seperti tanpa sekat.

Bibirnya tersenyum penuh makna. Sebuah ketegaran hati yang dijalani sampai kini.


Aku membalas senyuman nya. Senyum penyemangat yang membuatnya lebih hebat.


Kikuk, kini ia membuang pandangannya, kembali menunduk meratapi hidup. Tersirat dari sikapnya yang menginginkan sesuatu. Aku tahu itu.


"Pak.."


Kataku lirih..


"Bapak boleh kok meluk aku!"


Tubuhnya tersentak kaget. Ia melihatku, bola matanya membulat mulutnya terbuka menganga.

Tak percaya.

Diam tak menjawab.


Ini terlalu lama.


Ku rentangkan kedua tanganku, mendekatkan tubuhku padanya. Aku mulai memeluknya. Wajahku menempel pada rambut belakangnya. Payudara ku menyentuh bahunya. Ia pasti merasakannya. Aku tahu itu.


"Bapak harus kuat ya."


Tak langsung menjawab, ada jeda diantara keterkejutan ini.


"Iya mbak, pasti!"


Tangan kirinya mulai bergerak keluar, mencari punggungku. Sementara tangan kanannya ikut menjemputnya.

Kini kami berpelukan, sempurna.

Cukup lama.


Sampai akhirnya.....


"Sudah mbak, terimakasih."


Suara itu muncul. Mengakhiri pelukan, seperti bel yang berbunyi pertanda pulang.

Kami merenggangkan jarak, aku menggeser tubuhku sedikit menjauh darinya.


Pikiranku kembali, kenapa aku bisa sedekat ini dengan lawan jenisku. Bahkan aku tak pernah sedekat ini dengan ayahku, meski hanya pelukan antara ayah dan anak perempuan kecilnya. Jarang, bahkan sangat jarang.

Tapi ini berbeda, auranya seperti menenangkan.

Membawaku pada rasa yang pernah aku nikmati dulu.


Apa aku akan mengulangnya lagi?

Hanya dengan kisah cerita masa lalu, aku seakan terhipnotis tenggelam didalamnya.


Mungkin tidak, ini hanya sebuah kesedihan. Dan aku ikut terhanyut pada alurnya. Semoga saja, ini terlalu cepat jika melibatkan nafsu. Apalagi terinjeksi dengan suntikan birahi, bisa bisa aku terpuaskan sendiri.


Tahan Del, ini bisa diperdebatkan. Antara kesedihan cinta dan nafsu belaka.


"Mbak, mbak Adel.. kok ngelamun?"


"Ehhh, iya pak ada apa? Kenapa?."


Aku terkejut Pak RT memanggilku, aku masih kalut dengan pikiran pikiran ku yang mulai berdatangan. Padahal tidak aku undang.


"Lampunya ada tidak mbak?"


"Ahh iya pak sampe lupa kita mau benerin lampu..

Setahu ku aku sudah bawa dari kota pak, tapi aku lupa nyimpennya di kardus yang mana."


"Buka aja satu satu mbak, gak banyak kan?"


"Cuma tiga kardus lagi si pak yang belum aku buka, kalau tidak salah."


"Aman mbak, saya bantu cariin kalo gitu.

Dimana kardusnya mbak?"


"Ada didalam kamar pak. Yuk masuk aja!"


"Gak apa apa saya masuk kamarnya mbak?"


"Gapapa kok pak, gak ada yang aneh sama kamarku."


"Ayo!."


"Oke."


Kami berdua memasuki kamar, aku membuka satu kardus dan Pak RT membuka satu lainnya.

Ku buka ku perhatikan isi dalamnya, tak langsung ku lihat dibagian atasnya. Tak ada kotak yang bergambarkan lampu. Ku keluarkan satu persatu.

Kulirik kardus yang Pak RT buka, sama. Iya keluarkan satu persatu barang yang berada paling atas. Menelisik semakin dalam, mungkin memang berada paling bawah, aku tak tahu pasti.


"Ahh ini mbak ada!"


Ia mengambil salah satu kotak bergambarkan lampu, memperlihatkannya padaku.


"Alhamdulillah syukurlah, ketemu juga akhirnya.

Coba di buka aja pak!"


"Iya, mbak.."


"Lohhhh kok bentuk lampunya kaya gini mbak, beda. Ini kaya bentuk telur."


"Ehhhhh...."


Mataku melotot, mulutku menganga melihat benda yang di pegangnya.


"Ehhh itu, itu, itu..... Pak.."


"Yahhhh kok geter mbak?...."


"Pak stop pak, jangan jangan pak, hentiin pak. Pencet lagi tombolnya!"


"Ii iya mbak."


Klikkk.


Aku kaget sekaget kagetnya, jantungku berdegup sangat cepat. Sangat sangat cepat. Bagaimana kalo Pak RT tahu kegunaan benda itu. Aku bisa malu.


Pak RT mengalihkan pandanganya ke arah ku. Ia menatapku dalam dalam seakan mengetahui sesuatu.


Aku menatapnya juga, kurasakan wajahku memerah.

Aku malu, sungguh malu jika ia benar benar tahu.

Ia mulai tersenyum, senyumnya begitu jahat. Senyum yang menekanku pada rasa gugup.


"Saya tahu benda ini mbak.."

"Ini...."

"Ini...."


Gak pak, bapak gak seharusnya tahu. Bapak gak tahu benda itu pak....

Aku semakin tenggelam dalam gugup dan rasa maluku.


"Ini..."

"Ini..."

"Buat pijat kan mbak? Mbak suka dipijat juga?"


Akhhhhhhhhhhhhhhhhh..... Tuhan...

Untung saja, untung saja...

Huhhhhh..

Lega rasanya..


"Ii iya pak, aku suka dipijat. Di kota dulu aku sering dipijat kok, hhe."


"Ohhh, gitu ya mbak."

"Emang kuat mbak, getarannya bikin rileks ke otot?"


"Hemmmm, cukup aja sih pak rasanya. Aku pakai buat tangan, betis sama tengkuk leher aja palingan pak. Lebih enak pakai tangan langsung sih pak.

Iya heeh gitu, hhe."


"Ya jelas toh mbak, pakai tangan langsung lebih ampuh, lebih bikin rileks. Saya juga bisa mijat loh mbak, barang kali mbak Adel mau dipijat sama saya!"


"Ihhh, kalo dipijat sama bapak mah, yang ada nanti bukan dipijat tapi nanti malah dielus elus.."


"Hahhh, di elus elus?? Apanya mbak?"


"Ehhhh.. ii itu i itu.. gak, gak jadi pak hehe."


"Saya kan profesional mbak, aman kok..."


"Nggg... Ngg.. nggak deh pak, makasih."

"Cari lagi deh pak lampunya!"


"Iya mbak."


"Apa mungkin di kardus yang satunya pak?"


"Mungkin mbak, tapi ini kita keluarin dulu semuanya aja, pasti ada di kotak telur alat pijat itu mbak. Ketuker kayanya, mbaknya salah masukin."


"Iya kali ya pak, saya lupa hehe."


"Nah ini kotak, alat pijat tadi."


Ia membukanya dan benar saja ada lampu di dalamnya.


"Tuhkan mbak ketuker."


"Iya pak."


Ia penasaran dengan gambar dikotak itu. Memandangnya dan membacanya perlahan.


*Alat pemuas wanita*


Ia memandangiku.


Aku terdiam memandangnya.


"Alat pijat kecil gitu bisa bikin puas mbak?"


Aku gelagapan dengan pertanyaan itu, sial. Lagi lagi aku ada diposisi seperti ini. Bagaimana aku menjawabnya?.


"Iii iya pak. Cukup puas sih pak menurutku hhe."


"Lohhh aku ya meremehkan kekuatan alat pijat ini toh ya... Kecil kecil gini bisa bikin puas ternyata.

Boleh saya coba mbak?"


"Jjjj ja jangan pak. Ini khusus wanita. Iya cuma untuk wanita kaya aku pak, hhe. Kalo untuk pria kaya bapak gak akan kerasa pak. Iya gitu... Hhe."


"Ohhhh khusus wanita toh."


"Sini pak alat nya!"


Aku mengambilnya dari tangan Pak RT, menggenggamnya erat. Kenapa bisa ketahuan sama dia sih kan jadi malu. Untung dia gak tahu fungsi alat ini yang sebenarnya.


Huuuhhhhh.... Selamet....


"Kita langsung ganti lampunya aja ya pak!"


"Oke. Tinggi juga ya plafonnya. Ada kursi atau meja yang tinggi gak mbak buat saya naik?"


"Kayanya pada pendek pendek deh pak, yang pas cuma lemari pakaian yang plastik itu."


"Boleh deh mbak, asal kuat aja nopang tubuh saya."


"Harusnya sih kuat ya pak."


"Kita coba aja mbak."


Pak RT kemudian menarik lemari itu, berhenti tepat di bawah lampu kamarku.


"Mbak.. agak reyot ya?"


"Hihi, iya pak. Aku kira kokoh tadi. Jadi gimana pak?"


"Kita coba dulu aja deh, semoga kuat. Tapi mbak pegangin ya, soalnya saya agak takut sama ketinggian, hehe."


"Aman pak, aku bantu pegangin nanti."


Pak RT mulai menaiki lemari itu. Memang reyot pikirku.


"Eeee ehhhhh... Mbak pegangin mbak."


"Iya pak, ini aku pegang kok."


Pak RT mulai berdiri, setelah sebelumnya jongkok menyeimbangkan dirinya. Aku berdiri di depannya, kami berhadapan. Aku sedikit mendekat kedepan saat ia mulai berdiri. Lemari itu bergoyang pada setiap gerakan yang dilakukan. Aku kuatkan peganganku. Tangan ku mendekap erat lemari itu.


Pak RT telah berdiri sempurna dihadapanku. Tak disangka posisi wajah ku sejajar dengan selangkangannya. Ya tepat di hadapan kemaluannya.


#Aduhhh mbak muka mu kok bisa pas didepan burungku toh. Rete junior kesenengan ini mah mbak.

Jangan lihat ke atas ya mbak, tolong#


Aku menengadahkan wajahku ke atas, melihat tangan Pak RT membuka lampu yang lama.


#Yah kok lihat ke atas sih mbak?. Si rete junior bangun ini mbak jadinya. Duhhh muka mu mbak cantik bener. Coba mulut mu di buka mbak, di depan mu ada punyaku yang siap dilahap mbak#


Kulihat mata Pak RT melirik lirik ke bawah melihat wajahku. Ada yang aneh kah dengan wajahku?


"Tolong ambilkan lampu barunya mbak!"


"Iya pak, sebentar."


Kedua tanganku masih memegang pinggiran lemari itu, menahannya agar tidak bergerak. Satu tanganku harus ku lepas untuk mengambil lampu. Letaknya ada di belakang kakinya, mundur lebih jauh dari tempat aslinya tadi. Mungkin menggelinding saat naik tadi. Lemarinya sedikit bergoyang saat aku mencoba mengambil lampu. Tangan kanan ku meraba raba keberadaannya, karna pandanganku terhalang selangkangan Pak RT. Sedikit kutundukkan kepalaku melihatnya.

Itu dia... Happpp..


"Eeeehh ehhhh mbak."


Lemarinya bergoyang, keningku menyundul kemaluannya.


Dapat, akhirnya...


"Ini pak lampunya!"


Kusodorkan lampu itu dengan tangan kanan ku. Sedikit gerakan itu membuat lemarinya kembali bergoyang. Lebih dari yang sebelumnya.

Wajahku mendongak ke atas, berbarengan dengan itu kemaluannya menempel dengan daguku.


Sial menurutku, kenapa celananya makin mengembang. Apa burung didalamnya siap untuk terbang? Hihi


"Iya mbak.."


#Duhh mbak si rete udah gak kuat menahan mbak.#


"Ayo cepetan pak, aku udah pegel nih megangin lemari nya!"


"Iya mbak ini sedikit lagi selesai."


"Nahhhh... Sudah mbak."


"Alhamdulillah,,, syukurlah."


Aku mundur dan melepaskan peganganku pada lemari itu.


"Lololohhhhh... Mbak kok dilepasin sih mbak..

Ini saya belum turun ini."


Ku tertawa melihat kepanikan di wajahnya.


"Ahahahaha syukurin, makannya jangan terbangin burungnya di depan muka ku pak."


"Itu kan gak sengaja mbak, saya gak ada niat kok mbak."

"Mbak pegangin lagi mbak lemarinya, gak bisa turun ini saya!"


Aku mendekat, mencoba memegangi lemari itu. Tapi tak untuk ku tahan, aku malah semakin menggoyangkannya.


"Ehhh mbak mbak, kok malah digoyangin sih mbak.

Jatuh nanti saya mbak... Tolong mbak. Stop mbak ampun mbak..."


Aku semakin tertawa terbahak bahak melihat ekspresi wajahnya.


Ahahahahahaha....


Aku lepas kontrol, goyangannya semakin cepat.

Pak RT tak tahan, ia memutuskan untuk melompat, dan......


Brukkkkk,,,,,


"Aduhhhhhh........."


Ia terjatuh ke lantai kamarku, ia mendarat dengan kaki yang tidak seimbang. Pantatnya ikut terjatuh mengenai lantai.


"Aduhhhh mbak... Mbak Adel kok tega sih mbak. Sakit nih pantat saya. Pinggang saya linu mbak."


"Maaf pak, habisnya tadi burung bapak nyundul nyundul muka aku."


"Itukan gak sengaja mbak, burung saya mana tahan kalo didepannya ada wajah cantiknya mbak."


"Iya iya pak, maaf.."

"Sakit ya pak?"


"Sakit dikit mbak."


"Sini aku bantu berdiri pak."


Aku mendekatinya, ia terduduk dilantai. Kedua kakinya terjulur kedepan. Aku dibelakangnya, ku apitkan kedua tanganku pada masing masing ketiaknya. Mengangkatnya perlahan. Dadaku menempel kembali, kini pada punggung bagian atasnya.


"Berat pak..."


"Hhe, makasih mbak."


Kududukkan ia dikasur kamarku.


"Sakit banget pak?"


"Sedikit aja sih mbak, nanti juga sembuh."


"Jadi gak enak aku pak."


"Gapapa mbak, tenang aja. Saya kan kuat.

Aman, aman aja mbak.

Nanti saya balur pake balsem juga sembuh kok mbak."


"A a aku ada balsem kok pak, biar aku yang bantu balurin ke pinggang bapak."


"Gausah mbak, ntar ngerepotin."


"Ihh, kok repot sih pak, gak ngerepotin dong kan cuma gitu doang. Lagian aku yang nyebabin bapak jadi sakit gini. Aku harus tanggung jawab."


"Ya boleh deh, kalo mbak Adel maksa."


"Oke, pak."

"Bentar aku ambil dulu balsemnya."


Ini dia...


"Bapak tiduran aja dikasur biar gampang balurinnya."

"Geseran dikit ke tengah pak!

"Oke sip."


Aku menaikan bajunya sebatas punggung. Aku ambil balsemnya secuil jari ku. Ku taruh diatas kulit pinggang Pak RT. Ku usap usap keseluruh pinggangnya, kutambahkan dengan sedikit tekanan agar lebih meresap pada pori pori kulit nya.


Aneh rasanya, kulit tangan ku bersentuhan langsung dengan kulit pinggang lawan jenisku. Aku tak pernah seperti ini sebelumnya. Tak pernah dekat bahkan bersentuhan dengan seorang lelaki, kecuali ya keluargaku sendiri, ayah dan adik lelaki ku.


Tapi sekarang, aku menghilangkan batasan itu bahkan pada lelaki yang baru baru ini aku kenal.


Aku kenapa?


Apa rasa itu bakal timbul lagi?

Kalaupun iya, apa aku bisa merealisasikan nya dikampung ini?

Aku masih perlu waktu untuk menjawab pertanyaan pertanyaan dalam pikiranku.


Tiba tiba terdengar dering panggilan dari ponsel Pak RT...


"Sebentar mbak."


Ia mengambil ponselnya dari saku celananya. Membaca sebuah nama pada layar.


Ia menekan tombol jawab..


"Halo Te, lagi dimana kamu?"


"Iya halo Pak RW, saya lagi biasa pak inspeksi lapangan. Ada apa toh pak?"


"Biasa Te, temani saya rapat di kelurahan hari ini, siang nanti."


"Saya lagi pak?"


"Lohhh, yo iya. Siapa lagi yang saya percaya selain kamu, gak ada Te. Yang lain mah kurang."


"Ya oke deh pak, siap laksanakan."


"Yaudah kamu siap siap sekarang!"


"Loh kok sekarang pak, kan nanti siang?"


"Sekarang kamu ke kantor RW dulu kan harus ada yang dibahas toh. Biar kamu tahu nanti topik pembahasan di kelurahan sana."


"Iya pak iya, segera meluncur."


"Oke, tak tunggu ya, cepet!"


"Iya iya pak."


"Halah... Selalu aja mendadak."

"Mbak saya izin pamit ya. Bos udah nunggu mbak."


"Iya pak."

"Duh gayanya yang jadi kepercayaan Pak RW."


"Hehe.. bener kan mbak saya memang yang terpercaya di kampung ini."


"Iya pak, aku percaya. Bapak hebat."


Sambil aku menepukkan kedua telapak tanganku dan di akhiri dengan mengangkat kedua jempolku.


Pak RT hanya tersenyum.


Kami melangkah keluar dari kamar menuju luar rumah. Ia melewati pintu depan aku berhenti didepan pintu.


"Saya pamit ya mbak, assalamualaikum.."


"Iya pak. Waalaikumsalam.."

"Semangat rapatnya.."


Pak RT tersenyum, membuka pagar depan lalu menutupnya kembali.


"Hati hati pak."


"Iya mbak."


Ia berjalan pergi, aku masuk kembali.


Bersambung


:::::::::::::::::::::


#3


NAFSUKU LAH YANG MENANG


Capek banget rasanya, padahal cuma nyuci sedikit perasaan.

Harus bener bener olahraga nih nanti.

Kalo gini terus masa tiap habis nyuci aku ngerasa capek banget. Harus ada perubahan dong.


Tapi olahraga dimana ya di kampung ini, apa ada tempat buat olahraga disini?

Entahlah, nanti aku cari tahu lagi.

Di kota sana aku suka dengan olahraga bulutangkis, baik dengan keluarga ku di waktu akhir minggu atau dengan teman dekatku di lapangan dekat rumahku.


Tapi itu udah lama banget aku lakuin. Sebelum aku pindah kesini pun mana sempat kita berolahraga bareng. Semua sibuk dengan kesibukannya masing masing.


Gerah banget ya abis nyuci, aku mandi aja deh. Masih siang sih tapi gapapa deh, daripada lengket gini badanku.


Kuputuskan untuk mandi siang ini.

Aku berjalan ke kamar mandi, handuk dan peralatan mandiku sudah ada disana. Ku tutup pintu, tak perlu ku kunci aku hanya sendiri dirumah ini. Ku buka hijabku, lalu dasterku dan yang terakhir BH serta celana dalamku. Ku simpan pada keranjang tempat pakaian kotorku.


Kini aku sudah tak memakai sehelai benangpun, aku telanjang. Ya pasti kan aku mau mandi. Aku mengambil gayung mengisinya dengan air didalam bak. Mengguyurkan nya pada sisi kanan tubuhku, ku ambil lagi lalu ku guyurkan pasa sisi kiri tubuhku. Tiga kali aku mengulangnya. Sampai yang terakhir aku mengguyur kepalaku sampai ujung kakiku.


Ku ambil sabun cair kesukaanku, aroma lavender menyeruak masuk pada indra penciumanku. Harum rasanya, menenangkan pikiranku. Ku baluri pada seluruh bagian tubuhku. Kulitku terasa licin setelah sabun itu menerpanya. Ku gosok dengan ekstra pada bagian tubuh yang terdapat lipatan. Leherku, ketiakku, payudaraku, belakang lututku, sikuku, belahan pantatku, serta selangkanganku.


Ku basahi sedikit rambut panjangku, ku ambil botol sampo lalu kutuangkan pada telapak tanganku. Ku gosok gosok sampai busanya keluar. Lalu ku usapkan pada rambutku. Kini wangi lidah buaya tercium dihidungku. Aku merasa cocok memakai varian ini. Rambutku terasa sehat mengembang tanpa ada kerontokan. Meski sehari hari mahkota tubuhku ini aku tutup dengan hijabku, tapi merawatnya adalah suatu keharusan bagiku. Rambut yang indah, sehat alami memang keinginan semua wanita bukan?


Ku ambil gayung lagi, menyidukkan air ke dalamnya.

Mengguyurkan kembali pada tubuhku, mulai dari atas kepalaku sampai ujung kakiku. Begitu terus ku ulang sampai aku yakin kulit tubuhku benar benar bersih dari sampo dan sabun.

Sudah pikirku, dan yang terakhir aku guyurkan ke atas kepalaku secara perlahan. Meresapi setiap tetesan air yang membilas pori pori kulitku. Aku merasakan sesuatu ketika mataku terpejam lama. Sejenak aku mengingat kejadian bersama Pak RT tadi.


Pelukan hangat kami, serta tonjolan dibalik celananya yang mulai bangkit. Birahiku kini mulai beranjak naik. Rasa yang dulu pernah aku rasakan saat aku hidup dikota. Hidup dengan berbagai cerita kelam yang penuh dengan kenikmatan. Rasa yang coba aku tinggalkan karna ku tahu itu memabukkan. Membuatku merasa ketagihan dan terus berulang.

Lagi dan lagi.


Sampai akhirnya kuputuskan untuk menyudahinya.

Dengan segala pertimbangan, dan yang terberat adalah kehilangan. Ya jauh dari keluarga, tapi itu sudah jadi pilihan. Ku pikir dengan tempat baru yang begitu tenang adalah sebuah jawaban benar dari semua kesalahan.


Tapi sepertinya aku salah menilai, pikiran ku dangkal.

Tak panjang seperti keinginan. Dengan kesendirian, justru aku bebas melakukan. Ya, aku tak berpikir sampai sejauh ini. Disini aku tinggal sendiri tak ada yang menemani. Aku bebas melakukan apa saja yang aku mau tanpa ada yang tahu. Terutama keluargaku.


Aku dengan leluasa memasukkan seseorang, lawan jenisku tanpa khawatir. Berdiri sedekat mungkin dengannya lalu memeluknya. Bahkan kulit telapak tanganku bisa dengan bebas menyentuh kulit pinggangnya. Lalu wajahku yang bersentuhan dengan kemaluan pria dihadapanku sendiri.


Semudah itu aku melakukannya, tak ada batas batas yang mencoba menghadangnya. Mengalir begitu saja seperti aku sudah terbiasa. Apa aku salah membiarkan ini? Kurasa tidak, portalnya sudah kembali aku buka secara tidak sengaja.


Kupikir kepindahanku ke tempat yang tenang ini bakal membuatku berubah menjadi lebih baik. Tapi kurasa itu tak sepenuhnya benar. Disini aku bisa melakukan apapun yang aku mau tanpa diatur oleh orang tuaku. Disini aku bebas, dan mulai saat ini aku ingin mencobanya kembali seperti dulu lagi.


Ku buka mataku, pikiranku kalut bertempur dengan masa lalu. Akankah aku menguburnya atau menjemputnya kembali. Tapi iblis memang ada dimana mana, tameng imanku rapuh. Hanya dengan pikiran lamaku yang datang kembali, aku mempersilahkannya untuk hadir lagi dalam kehidupanku saat ini.


Ku ambil handuk untuk mengeringkan kulitku yang basah. Menggosok keseluruhan tubuhku. Kusimpan kembali dibalik pintu kamar mandi. Aku duduk bersimpuh dilantai, terasa dingin tapi tak apa. Punggungku ku sandarkan pada dinding yang bersebelahan dengan pintu. Pandangan ku mengarah pada dinding belakang ujung rumahku. Terlihat daun daun pohon yang bergerak tertiup angin dari celah ujung atas dinding tembok.


Aku fokus pada diriku, ku kangkangkan ke dua kakiku hingga melebar sempurna. Tangan kananku mulai menyentuh selangkanganku. Sementara tangan kiriku berusaha memainkan payudaraku.


"Ohhhhh...."


Aku mendesah, ini desahan pertama semenjak aku vakum sejak lama.


"Ahhhhhh.... Enak banget bisa ngelakuin ini lagi."

"Ahhhhh......."

"Ahhhh...."


Tangan kananku semakin cepat mengusap usap vaginaku, membuka sedikit celahnya lalu memasukan satu jariku seujung kuku. Ya, hanya sedalam itu. Sampai sekarang aku masih perawan, meski aku menikmati masturbasi tapi aku lakukan itu tanpa penetrasi. Aku ingin selaput darahku, ku persembahkan untuk suamiku nanti. Tapi itu hanya anganku saja, aku juga tidak tahu sebatas apa aku kuat menahannya.


Keluar masuk secara konstan, meski hanya sedikit tapi ini nyaman. Meski begitu tetap saja ini terasa kurang, ku pindahkan tangan kiriku menyusul tangan kananku. Kini ia hinggap tepat diatas klitorisku, menyentuhnya dengan halus lalu mencoba memutar mutarnya. Menekannya sesekali begitu terus secara berulang. Aku butuh rangsangan lebih dari ini, tapi bagaimana...


Aku tak membawa ponselku untuk sekedar melihat video porno atau melakukan vcs agar birahiku terus naik.


"Ahhhh,,,, alat pijat itu!"


Ehhh kok alat pijat sih, vibrator maksudnya. Dasar Pak RT ada ada saja. Tadi aku simpan dikamar atau...

Tidak, tadi aku masukkan di saku dasterku kalau tidak salah. Aku berdiri menghampiri keranjang tempat pakaian kotor yang tadi aku pakai. Aku mengambil dasterku, meraba raba sakunya dan...


"Ini dia..."


"Huhhhh... Untung aku sakuin tadi."


Aku kini tak lagi duduk, dinginnya lantai sepertinya sedikit mempengaruhi birahiku. Aku berdiri dekat bak mandi, ku angkat kaki kiriku ku letakan telapaknya pada ujung dinding bak. Aku mangangkang ku mainkan lagi vaginaku dengan tangan kananku. Tangan kiriku memegang vibrator berbentuk telur tadi. Sudah ku nyalakan, getarannya kini menambah rasa nikmat pada klitorisku.


"Ahhhhhh..."


Desahku semakin bertambah kencang, getaran halus benda itu membuatku melayang.


"Ini tuh dipakai disini pak, di memekku."

"Bukan untuk pijat Pak RT."


"Ahhhhh..."

"Pak RT, ahhhhhh...."

"Enak banget pak, memek aku enak pak..."

"Ahhhhh..."

"Burung mu tadi udah mau terbang pak, kenapa kamu pulang.."

"Ahhhh....."

"Padahal memekku udah siap aku berikan untukmu pak."

"Ahhhh..."

"Pak RT enak pak.. pegang memekku ini pak."

"Elus pak, iya gitu pak elus terus pak."

"Ahhhhhhhh..."

"Enak pak enak bangggg ..ngettt pak .."

"Ahhhh .."


Membayangkan kejadian tadi membuatku jadi lupa diri. Kenapa aku ini? Ini bukan aku yang seharusnya.

Kamu wanita alim Del, ingat itu. Pakaianmu serba tertutup. Auratmu, kamu sembunyikan. Tapi kenapa dengan sikapmu yang sekarang?


Katanya kamu mau berubah menjadi lebih baik, tapi nyatanya kamu malah balik seperti dulu lagi.

Ini bukan tujuanmu Del. Ini sudah melenceng dari tujuan awalmu. Ini salah, Adel.


Batinku benar benar berperang, sifat baikku mencoba bertahan tapi sifat jahatkulah ternyata yang menang.


Aku terus mengusap usap vagina ku, entah kenapa kali ini terasa lama. Orgasmeku tak kunjung datang.

Kakiku semakin pegal rasanya, tak sanggup lebih lama lagi menopang tubuhku. Aku harus berpikir lebih tentang ini, tentang bagaimana caranya agar aku lebih terpuaskan.


Yang jadi penghalang adalah karna benteng pertahananku masih tersegel rapat. Aku tak ingin membukanya. Aku tak ingin memaksa untuk menghilangkannya. Apalagi dengan tanganku sendiri, aku tak mau. Biarlah orang lain yang menembus sekat itu walau dengan apapun bentuk skenarionya. Aku belum tahu, oleh siapa, dimana tempatnya dan dengan cara apa.

Biarlah semesta yang mempersiapkan itu semua.


Masih ada satu lubang lagi Del, lubang pantatmu.

Kamu bisa gunakan itu!


Ahhhh itu benar...

Meski dulu aku pernah hampir memasukan sesuatu pada lubang ini, tapi tak sampai aku menikmatinya. Karna, akhirnya aku ketahuan oleh seseorang.

Ya, dia adikku.


(Ehhh)


Tapi sekarang, hanya pilihan itu yang tersisa. Aku harus mencoba. Sakit atau tidak, mungkin nanti akan terbiasa.


Ku turunkan tubuhku, kini aku mencoba posisi yang berbeda. Aku membalikan tubuhku, kepalaku kuhadapkan ke arah pintu. Pantatku ke arah sebaliknya, ya menuju dinding ujung rumahku. Posisiku kini seperti orang merangkak. Kedua lututku menjadi pondasi tubuhku. Diposisi ini memudahkan jari tanganku untuk menusuk lubang pantatku.


Aku mulai mencobanya, jari tengahku ku tekan perlahan. Perih rasanya, tanpa adanya cairan ini adalah penyiksaan. Ku tarik lagi jari tengahku, ku tarik ke depan dan berhenti tepat di bawah mulutku.

Aku mengumpulkan ludahku, menuangkannya pada ujung jari jariku. Ku usapkan diatas lubangnya. Ku ulangi sebanyak dua kali. Semakin banyak cairan mungkin akan semakin mudah masuk, itu pikirku.


Ku mulai menusukkannya lagi, jari tengahku sudah basah. Licin tentunya. Ku tekan sekuat tenagaku, perlahan tapi pasti. Senti demi senti jari ku mulai menerobos lubangnya. Satu ruas, dua ruas dan pada akhirnya tiga ruas jari masuk seluruhnya. Aku berhenti sejenak, menikmati nikmat. Napasku ngos ngosan, dadaku naik turun seperti berlarian.


Ku tarik perlahan, hanya sebagian. Ku masukan lagi, begitu seterusnya sampai berulang. Vibratornya tak lagi ku gunakan, karna tangan kiriku kini menopang tubuh bagian depan. Namun karna tak tahan, kini mulai ku dekatkan. Tangan kiriku mundur menempelkan vibrator itu pada klitorisku. Sementara jari tengah tangan kananku masih dengan kegiatan yang sama.


Kini wajahku lah yang menopang tubuh depan ku. Dinginnya lantai tak lagi ku rasakan, biarlah yang penting kenikmatan itu akan datang.


"Ahhhhh...."

"Enak banget ahhhhhh...."

"Terus , terus , ya terus ......"


Mulutku meracau tak karuan, menikmati nikmat yang sebentar lagi ku rasakan.


Tapi ini masih terasa kurang. Aku berhenti, berdiri perlahan mengambil sesuatu dibagian depan.

Ku ambil sikat gigi, batangnya ku lumuri sabun.

Aku kembali pada posisiku tadi. Ku taruh ujung batang sikat gigi itu pada lubang pantatku. Ya, kini aku memakainya untuk menggantikan jariku.

Ku tekan perlahan, sampai masuk sebagian.


"Enak banget...."

"Ahhhhhhh....."

"Ahhhh..."

"Ahhhh..."


Lebih cepat, terus lebih cepat.

Sampai akhirnya rasa itu kian datang.

Aku balikan tubuhku menjadi terlentang.

Ku biarkan batang sikat gigi itu menancap pada lubang pantatku. Tangan kananku kini menggenggam vibrator, menekannya pada klitorisku. Karna pada bagian itulah aku merasakan kenikmatan. Sementara tangan kiriku menjadi penopang di belakang.


Aku ingin melihat orgasme perdanaku, setelah sekian lama aku tak merasakan. Hingga saatnya tiba,


"Ahhhhhhhhhhhhhh........"

"Aku keluarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr......"


Tubuhku menggelinjang, kedua pahaku bergetar. Napasku memburu, jantungku berdegup kencang.


Cairan orgasmeku muncrat tak karuan.

Aku klimaks dengan sejuta perasaan yang tak bisa ku gambarkan.

Tubuhku lelah, aku terkapar dilantai kamar mandi rumahku.


'Brukkkkk..'


"Ehhhh, ada yang jatuh!"


Masih dengan napas yang ngos ngosan, pendengaranku mendengarkan sesuatu. Seperti barang atau seseorang yang jatuh tepat di belakang dinding kamar mandiku. Aku tak begitu peduli namun suaranya memang jelas terdengar di telingaku.

Aku ingin menikmati sisa sisa kenikmatan ini dulu.


"Meowwwww..."


"Ahhh hanya kucing rupanya..."

"Aku pikir (apa) ?"


Bersambung


:::::::::::::::::::::


#4


REZEKI DANI DI SIANG HARI


Gila badan si mbaknya sih bagus banget!

Gak nyangka aku, dibalik pakaian yang tertutup ada hasrat birahi yang menggebu gebu.

Apa kebanyakan cewek kota gitu ya?

Padahal kelihatannya alim banget loh mbak.

Pake gamis, kerudungnya lebar, muka nya nenangin, tutur katanya sopan kalo ngobrol sama orang.

Ehhh pas sendirian malah usap usap kemaluan.

Gak nyangka aku mbak.

Bener benar gak nyangka.


Aku kemudian berlari, menghampiri rumah sahabat karibku. Kupikir ini bukan rahasia yang harus aku nikmati sendiri. Sahabatku harus mengetahuinya juga. Kami sudah sejak lama hidup bersama, sebagai teman tentunya. Kelahiran ku pun tak lama setelah ia lahir duluan ke dunia. Hanya beda tiga hari saja.


Tempat tinggal kami pun berdekatan. Apa mungkin kedua orang tua kami berbuhubungan secara bersamaan? Ehhhhh.. maksudnya masing masing ye, tapi barengan gitu waktunya. Hehe.


Sejak kecil bermain bersama sampai sekarang berjuang bersama, itulah kita. Aku Dani dan teman ku Tono. Kami saat ini masih duduk di bangku sekolah, tepatnya sekolah menengah atas atau SMA. Sekolahku berada dikampung sebelah, tak jauhlah dari rumahku. Cukup berjalan sepuluh sampai lima belas menit juga sudah sampai.


Saat ini aku dan Tono sedang dalam masa minggu minggu tenang. Oh iya kita sudah kelas tiga, sebentar lagi akan lulus dari SMA. Maka dari itu di sekolah sedang sibuk sibuknya menyiapkan tentang ujian nasional. Guru guru sibuk menyiapkan materi materi pembelajaran tentang ujian, sementara kami para siswa ya tentu sibuk belajar.


Tapi satu minggu ini kami di beri kelonggaran waktu untuk bisa pulang lebih cepat, katanya sih untuk menghindari stres. Dan juga kadang ada rapat dadakan para guru untuk membahas teknis ujian nasional. Jadi di minggu ini adalah masa tenang, kadang kita pulang lebih cepat kadang juga malah gak belajar sama sekali.


Dari hal itulah aku bisa melihat kejadian indah nan langka tadi. Kejadian yang membuat aku tidak percaya seolah olah ini hanya hayalan belaka dan tidak nyata. Tapi sepasang kakiku masih menginjak bumi dan rasa sakit ditubuhku terasa saat aku jatuh tadi. Berarti ini nyata, bukan hanya hayalan semata.


"Ton, Tono, Tonooooooo..."


Aku berteriak dari jauh, sebelum sampai di rumahnya. Rumah Tono.

Sesampainya aku didepan pintu, langsung saja ku ketuk dengan keras.


'Tok tok tok.. tok tok.. tok tok tok tokkkk.'


"Ton, Tono."


Pintupun terbuka.


"Mboh ya salam gitu loh bertamu ke rumah orang tuh!"


"Ehh, iya. Assalamualaikum Ton.."


Nafasku masih ngos-ngosan sejak aku lari tadi.


"Waalaikumsalam. Ada apa toh Dan, kok capek gitu?"


"Ada sesuatu Ton, kamu harus tahu ini!"


"Apaan sih Dan? Langsung kasih tahu aja gitu loh, bikin penasaran aja."


"Bentar Ton, capek ini!"


"Lagian ngapain sih lari lari segala. Ya pasti capek lah."


"Ini kabar terpenting abad ini Ton!"


"Huhhh, kabar apaan sih? Bisa gak langsung kasih tahu aja?"


"Sabar Ton. Agak kering ini mulut, gak akan nawarin aku minum kah?"


"Lah iya lupa. Ngobrol di dalem deh, masuk!"


"Gak usah diluar aja, sambil ngadem. Gak liat apa keringet ngucur gini."


"Yaudah, bentar ye tak ambil minum dulu."


"Iya Ton, makasih."


Tono masuk kedalam rumah untuk mengambilkan ku minum. Capek juga ternyata berlari sambil membawa berita hangat luar biasa, ahahaha.


"Nih Dan minumnya!"


"Oke Ton, makasih banyak."


Ku minum air dalam gelas itu, dengan hanya beberapa teguk saja isi didalamnya hilang tak bersisa.


"Iya, sama sama."

"Wehhh, langsung abis aja."


"Iya Ton, haus banget ini."


"Lagian kenapa harus lari lari sih?"

"Apa sih kabar terpentingnya? Emang sepenting itu?"


"Penting banget Ton! Kamu harus tahu ini."


"Yo apa yang harus aku tahu?"

"Lama bener deh.."


"Bentar ya aku napas dulu. Capek banget ini."


Hhhhhh.. (tarik nafas)

Huuuhhhhh... (buang)

Hhhhhh.. (tarik)

Huhhhhhhhhhhh... (buang)


"Hahhhhhhh.. boleh satu gelas lagi gak Ton?"


"Bocah semprul!!!"


"Demi kesempurnaan cerita yang nanti aku sampein Ton, hhe."


"Dasar.. yaudah sini gelasnya!"


"Agak dipenuhin ya Ton!"


"Iya, iya tunggu!"


"Nih..."


"Oke makasih Ton."

"Hahhhhhh, segerrrr."

"Jadi gini Ton, ehh bentar rumahmu kosong Ton?"


"Kosong Dan, ibu bapak ku kan masih di kebun jam segini, adikku main sama temen temennya.

Kenapa toh?"


"Ini berita rahasia Ton, cukup kita berdua aja yang tahu."


"Rahasia?"


"Heeh Ton, jadi mbak mbak yang kita papasan di gang sebelah tempo hari itu yang kamu mau jadiin pacar, aku lihat dia 'colmek' Ton!"


"HAAAHHHHH, yang bener Dan?"


"Sssttttttt, pelan pelan jir..."


"Hhe, maap maap.."

"Ahhh halu kamu Dan, mana mungkin cewek muslimah alim gitu ngelakuin hal kaya gitu. Yang benerlah Dan.."


"Ehhh buset kaga percaya. Beneran Ton masa aku bohong. Lagian ngapain aku bohong, ngapain juga aku lari lari kesini sampe capek gini kalo aku halu mah."


"Ahh iya juga, kok bisa sih Dan? Si mbak nya ngelakuin dimana?"


"Di kamar mandi Ton."


"Lohhh, kamu ngintipin dia Dan?"


"Gak sengaja Ton.."


"Gila, bener bener gila. Kok bisa sih Dan?"


"Sini aku tak ceritain. Tadi pas pulang sekolah aku langsung disuruh bapakku buat nyari kayu bakar Ton. Katanya aku di suruh nyari di kebun Pak Dirga.


"Ohhh, bapaknya si Mamat?"


"Iya, kata bapakku di kebunnya ada pohon yang batang sama ranting rantingnya udah pada kering, bagus buat kayu bakar. Kesanalah aku, ternyata bener Ton ada banyak ranting sama batang pohonnya yang udah kering, cocok tuh buat di jadiin kayu bakar. Ku kumpulinkan tak jadiin satu. Aku iket Ton, ngiketnya di deket tembok belakang rumahnya si mbak itu. Gak berapa lama, aku ngedenger ada guyuran air dari dalam tembok itu. Ternyata itu kamar mandi Ton. Penasaran dong aku, tak biarin dulu tuh kayu bakar. Aku ngedeket ke tembok itu sambil aku tempelin kupingku. Dan bener Ton, ada suara guyuran air. Pikiranku nebak nebak kan, pasti si mbak lagi mandi. Aku lihat lihat dulu sekitar kebun, aman Ton sepi. Terus aku lihat temboknya kan siapa tahu ada lubang buat aku intip. Lihat ke samping, kiri kanan ke bawah. Gak ada Ton. Ehh pas lihat keatas ada celah besar ternyata Ton. Yang antara ujung temboknya sama genteng gitu Ton!"


"Yang dipisah sama kayu, buat nopang gentengnya Dan?"


"Nah, persis kaya gitu Ton."


"Ya, ya aku paham."


"Celahnya lumayan renggang kan. Tapi ya aku gak nyampe buat lihatnya, soalnya agak tinggi Ton."


"Terus?"


"Aku kepikiran sama batang kayu bakar tadi Ton.

Aku cari yang agak panjang dan besar, biar bisa nopang badanku nanti. Ketemu Ton, ku ambil dua batang kayu itu. Ku tata dan ku tempelkan di dinding temboknya biar kuat. Aku mulai naik di atasnya, agak sedikit goyang sih. Tapi masih kuat buat nopang tubuhku. Pas mataku lihat ke dalam, aku kaget Ton."


"Dia lagi colmek Dan?"


"Belummmmm, dia lagi mandi Ton."


"Ohhh tak kira udah langsung colmek aja."


"Badannya ngadep aku Ton. Bodinya bener bener bagus loh, uhhhhh kaya gitar spanyol. Kamu tahu kan kulit nya si mbak itu?"


"Iya Dan, putih bersih."


"Nah itu, putih banget Ton, bersih lagi kaya gak ada cacatnya. Kelihatan halus meski dilihat dari jauh. Terus toket nya Ton, beuhhhhh. Bulat sempurna, gak ada kendor kendornya. Putingnya juga kecil warna merah muda. Hihhhhh, merinding aku Ton waktu liatnya."


"Terus memeknya gimana Dan?"


"Sabar Ton, ini aku mau jelasin. Pas udah liat toketnya, mata aku turun kan ke bawah. Ku lihat perutnya, rata Ton kaya atlet atlet olahraga gitu. Gak ada lemaknya."


"Wihhh, apa dia atlet Dan?"


"Mungkin Ton, gatau juga. Mungkin sering olahraga kali."


"Lanjut Dan!"


"Nah setelah dari perut kan kebawah ya Ton.

Ini yang bener bener gila menurutku Ton. Memeknya Ton, gila bersih banget Ton gak ada bulu bulunya sama sekali. Bentuknya Ton bagus banget, beda sekali dengan cewek cewek yang pernah kita tonton di video bokep itu Ton, memeknya dah kaya hutan bakau. Lebat banget bulunya, item pula.

Dia mah beda Ton, memeknya tembem. Putih cerah dalemnya warna merah merekah gitu."


"Duhhh jadi kebayang nih Dan."


"Ahhh bagus deh Ton pokoknya, kamu pasti bakal terkesima kalau ngelihatnya."


"Bentar, kamu gak coba coli saat itu Dan?"


"Pengennya sih gitu Ton, cuma gak memungkinkan dong. Aku gerak dikit ajah kayunya udah meleot kaya mau patah. Ya aku tahan aja, sayang juga kan mending lihatin dulu sampe selesai baru coli."


"Ya, ya."


"Terus, pantat nya Ton bahenol banget. Seger banget lihatnya waktu dia nungging buat ngambil sabun. Pengen tak tampar rasanya Ton. Lubang pantatnya juga bersih Ton, gak ada item itemnya."


"Wihhh gurih tuh, si mbak emang pinter ngerawat kulitnya deh Dan."


"Heem Ton, bener."

"Rambutnya juga bagus menurutku, hitam berkilau gitu, panjang juga sepunggunglah kira kira."


"Terus adegan colmek nya, Dan?"


"Nah itu Ton, yang aku gak ekspek bakal terjadi.

Setelah dia mandi kejadiannya Ton. Dia mandinya sih ya biasa aja ya, selayaknya kita mandi pada umumnya. Sabunan terus sampoan, terus ya dibilas sampai bersih. Habis itu ya handukan.

Aku kira udah selesai sampai disitu Ton, aku udah siap siap mau turun padahal. Tapi kok gak ada suara pintu kebuka ya, aku penasaran dong. Aku lihat lagi ke dalam kamar mandi itu. Dan jderrrrrr... Aku kaget untuk yang kedua kalinya Ton. Aku lihat handuknya sih sudah tersampir di gantungan pintu kamar mandi. Dan dia duduk dilantai sambil ngangkang Ton. Memeknya di mainin sama tangannya. Di usap, di colek colek gitu.

Uhhhhhh, kontolku sih waktu itu udah tegang banget ya lihatnya. Gila Ton, bisa lihat langsung cewek cantik colmek depan mata sih rezeki banget ya."


"Wihhhhh keren Dan."


"Belum berhenti sampe disitu Ton, ternyata si mbak ngeluarin sesuatu dari saku dasternya."

"Coba tebak apa Ton?"


"Apaan Dan?"


"Tebak dulu lah!"


"Apa ya, dia ngambil hape buat di rekam gitu."


"Bukannnn. Itu sebuah alat Ton."


"Hemmmm, dia ngambil timun."


"Bukan!"


"Hemmm, terong."


"Bukan!"


"Hemmmmmm, wortel."


"Bukan dong Ton, dikira si mbaknya mau masak sayur apa di kamar mandi."


"Yo apa dong, alat buat colmek kan itu."


"Hemm ada benernya juga sih, tapi bukan Ton. Dia pakai alat yang ada teknologinya."

"Dia ngambil vibrator Ton!"


"Wihhhhhhh... Canggih! Bisa begeter tuh."


"Yupppppp.. bener banget Ton, pas ditempelin di atas klitorisnya dia sampe merem melek kejang kejang gitu."


"Di tempel doang Dan, gak dimasukin kah?"


"Kayanya si mbak masih perawan deh Ton, soalnya gak ada penetrasi di lubang memeknya."

"Ehhh,,, ada deng tapi cuma sebatas kuku jari tengahnya doang yang masuk."

"Tahu gak Ton setelah itu apa yang dilakuin si mbak nya?"


"Apa tuh, Dan?"


"Dia malah nusuk lubang pantatnya pake jari, Ton. Sambil nungging, ngadep aku lagi. Jelas banget Ton."


"Whatttttt... Boolnya Dan?"


"Anjiiirrrrlah, so inggris kamu."


"Hhe, beneran Dan nyolok lobang boolnya?"


"Iya, Ton. Gila kan. Cewek alim gitu bisa bisanya punya birahi tinggi kaya cewek pemeran bokep yang pernah kita lihat."


"Wahhhh bener bener si mbak itu, cewek liar rupanya."

"Sepertinya memang masih perawan sih Dan, kalau dia lebih milih nusuk lubang bool daripada lubang memeknya."


"Heem. Benerkan apa kataku."

"Tapi gak sampai disitu Ton, ada lagi kejutannya."


"Apa tuh Dan?"


"Dia ngambil sikat gigi!"


"Sikat gigi, kok?"


"Iya, aku juga aneh Ton, kok lagi colmek mau nyikat gigi. Ternyata bukan buat itu Ton, gagang sikat nya dia lumurin sabun. Terus di masukin ke lubang boolnya Ton."


"Busetttttt dah, bar bar juga dia Dan."


"Iya, keluar masuk keluar masuk dengan ritme yang cepet. Kaya udah biasa gitu ngelakuinnya. Sama desahannya sih Ton yang buat aku gak tahan, gila sampe teriak teriak keenakan dia. Apalagi pas dia mau orgasme Ton, makin kenceng aja desahannya."

"Oh iya lupa, selama colmek itu ada seseorang yang dia sebut sebut namanya Ton."


"Pacarnya Dan?"


"Bukan!"


"Kok kamu tahu bukan?"


"Ya karna yang di sebut itu Pak RT, Ton."


"Hahhhhhhh... Kejutan apalagi ini Dan?"


"Kaget kan, Ton. Aku juga sama. Kok bisa bisanya si mbak nyebut nyebut nama Pak RT, pas lagi colmek lagi."


"Kok bisa, Dan?"


"Ya mana ku tahu Ton."


"Atau mungkin si mbak ada skandal sama Pak RT ya Dan?"


"Hemmm, cieee elah. Cemburu nih. Ahahaha udah keduluan sama Pak RT rupanya. Kalah cepet kamu Ton."


"Duhhhh, berat nih kalau saingannya Pak RT mah."


"Ahahahaha, Tono Tono..."

"Lanjutin yang tadi ya, kan belum beres."


"Iya iya."


"Nah pas lagi kenceng kencengnya masukin gagang sikat itu, kayanya dia mau orgasme Ton. Udah mau nyampe klimaksnya soalnya desahannya makin keras aja aku denger. Dia berhenti masukin gagang sikatnya. Dia balik badan jadi terlentang, tapi tetep ngangkang. Sikat giginya juga gak dia cabut masih nancep di lubang boolnya."


"Uhhhhh..."


"Iya, Ton. Dia nempelin lagi vibrator nya ke klitorisnya."

"Dia udah gak tahan ku lihat. Dia teriak sekenceng kencengnya Ton dan apa yang terjadi..."


"Apa Dan?"


"Memeknya muncrat, Ton. Kemana mana, banyak banget, gilaaaaa!!! Dia squid Ton, ehh apa itu istilahnya?"


"Squirt Dan.."


"Ya itu, Ton."


"Squid mah, squid game kali."

"Ahaha.."


"Ahahahaha..."

"Sampe dia kecapean Ton, dadanya naik turun. Napas nya ngos ngosan kaya abis olahraga. Kaya aku tadi, ya persis kaya gitu tuh."

"Cuma hanya sebatas itu Ton, aku lihatnya!"


"Ohhhh, emang udah beres sampe disitu?"


"Aku keburu jatoh Ton!"

"Kayu yang aku injek patah akhirnya."

"Untung patahnya pas udah mau beres."


"Hah, kamu jatoh? Ketahuan dong?"


"Hampir, Ton."

"Si mbak udah nebak ada yang jatuh."


"Dia tahu ada yang ngintip berarti, Dan?"


"Aku pikir gak sih Ton, soalnya aku pura pura jadi kucing. Aku bilang meowwww aja dengan logat kucing."


"Wihhhh cerdas kamu Dan."


"Terus aku denger samar samar si mbak ngucap,"

"Ahhh kucing rupanya!"

"Ku kira apa!"


"Ahahahaha. Padahal yang ngintip emang beneran kucing ya Dan?"


"Hahhhh???"


"Kucing garong."


AHAHAHAHAHAHAHA.........

Kami berdua tertawa bersama sama.


Bersambung.


:::::::::::::::::::::


#5


PERSIAPAN


Hahhhhh..

Hahhhhh...

Hahhhhh....


Nafasku masih terasa berat ku rasa. Dadaku naik turun menyesuaikan iramanya. Badanku lemas, tulang tulangnya sesara terlepas dari tubuhku. Pahaku masih saja bergetar.


Aku merenung sejenak.


Kenapa aku ini?

Kenapa ini terjadi lagi?

Bukankah aku ingin berubah, dan meninggalkan semua kegiatan ini?

Tapi, kenapa aku malah menikmatinya lagi?

Aku sadar ini salah!

Aku bingung harus bagaimana?

Apa aku pasrah saja dan memulai lagi semua ini?

Aku sudah membukanya, akan susah jika aku langsung menutupnya begitu saja.


Mungkin ini adalah awal petualangan ku di kampung ini. Kampung yang tadinya kupikir akan mengubahku menjadi wanita baik baik. Tapi aku salah, disini dikampung ini aku akan memulai segalanya. Memulai apa yang pernah terulang dimasa lalu. Memulai apa yang tak pernah kalian tahu.


Huuhhhh..

Nikmat banget rasanya bisa ngelakuin ini lagi.

Aku gak nyangka, bahkan ini lebih enak dari yang pernah aku lakuin sebelum sebelumnya.

Gila, cuma ngebayangin sosok Pak RT doang vaginaku bisa muncrat kemana mana.

Gila sih ini, gimana kalau beneran ngelakuin sama beliau bisa kejang kejang aku dibuatnya.


Aku mencoba berdiri dengan sisa sisa tenaga ku.

Tangan ku meraih tembok bak mandi, menjadikan penyangga agar aku bisa berdiri sempurna.


Hahhhhhh... Lelahnya..

Capeknya ngalahin aku kalau habis olahraga saja.

Apa mungkin karna tadi habis nyuci ya, jadi lelahnya double double?

Ya mungkin juga sih, tapi lelah yang ini ada enak enaknya, hihi.


Tangan kananku ku arahkan menuju pantatku, disana masih ada sesuatu yang menancap memenuhi dinding lubang pantatku.

Ya sikat gigi itu masih menancap disana.

Agak aneh sih, bisa bisanya aku kepikiran ngelakuin itu tadi. Tapi, rasanya memang enak meski agak sakit dan perih ya diawalnya.

Mungkin aku masih harus banyak belajar dan banyak mencoba, siapa tahu nanti lubangnya terbiasa.


Apa aku renggut saja keperawananku?

Toh itu kan cuma selaput darah.

Hemmm, gak dulu deh!

Mungkin itu bakal berharga kedepannya.

[Mungkin ya]


Lagian masa aku sendiri sih yang merenggutnya, kan gak asik ya. Pengalaman hilang keperawanannya sama diri sendiri, sama tanganku sendiri.


Ngga, ngga deh!

Harus sama seseorang yang aku cinta, itu inginku sejak dulu.

Tapi sama siapa Del? Punya pacar aja, engga!

Yaaaa gatau deh.....

Pusing mikirin begituan...


Duhhh aku harus mandi lagi kan jadinya.

Lengket juga kalau keringetan gini.


Lalu tanganku mengambil gayung mengguyurkan airnya keseluruh tubuhku. Ku baluri lagi kulitku dengan sabun, mengusapkan busanya sampai ujung jariku. Kubasuh sampai semuanya bersih.


Tak perlu lama, tadi juga sudah.

Ku ambil handuk, ku keringkan seluruh tubuhku.

Ku simpan handuk itu kembali di gantungan belakang pintu. Aku tak memakainya lagi, tugasnya sudah selesai sampai disini. Tubuhku keluar dari kamar mandi, tak tertutupi. Padahal sebelumnya aku tak pernah melakukan ini.


Berjalan tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhku. Tak apa, aku sendirian dirumah ini. Tak ada yang melihat juga kan? Itu pikirku saat ini.


Berubah!

Ya kini aku sudah berubah.


Ku masuki kamarku, berdiri tepat didepan cermin besar tempat aku merias tubuhku.

Pikiranku melayang, ia berucap.......


Kamu cantik Del, tubuhmu bagus!

Setiap orang berhak melihat tubuh indahmu!

Dan,

Setiap lelaki berhak merasakan tubuh seksimu!


Aku tersenyum mendengarkan itu.

Mataku melihatnya, menelusuri setiap inchi bagian tubuhku.

Rambutku yang panjang hitam berkilau.

Sorot kedua mataku yang bersinar.

Hidungku yang mancung.

Bibirku yang seksi.

Payudaraku yang sekal.

Pinggangku yang ramping.

Vaginaku yang indah memukau.

Serta kedua kakiku yang jenjang.


Aku bak seperti model. Model kelas atas yang siapapun ketika melihatnya akan terpana.

Ya,itulah aku saat ini.

Aku Adel dan inilah kisahku.


=¥=¥=


"Aku jadi pengen liat juga Dan."


"Itu harus Ton."

"Bagus banget deh pokoknya, masih kebayang bayang ini badan si mbak di kepalaku."


"Tapi kapan Dan?"


"Hemmm, kalau biasanya sih mandi kan dua kali ya.

Ya pagi atau sore Ton."


"Tapi kan kita gak tahu waktu pastinya Dan."


"Iya Ton, itu masalahnya. Harus kita pikirin dulu."


"Kalau mandi pagi kan, biasanya sebelum subuh Dan. Kita juga harus ke mesjid kan. Gak ada waktunya. Mungkin pas mandi sore Dan."


"Iya Ton, tapi kalau sore apa gak takut ketahuan.

Sore kan banyak orang yang pada pulang dari ladang, banyak yang lalu lalang."


"Iya juga ya Dan, resikonya besar. Atau siang aja Dan."


"Siang belum tentu si mbaknya mandi lagi Ton, kayanya tadi juga si mbak kepaksa mandi. Soalnya aku denger dia habis nyuci baju jadi sekalian mandi abis itu."


"Ohhh gitu ya Dan. Jadi gimana dong? Gak akan ada kesempatan lagi buat ngintipin dia mandi dong."


"Santai aja Ton pasti ada jalan!"


"Jalannya mah ada Dan, waktunya yang gak ada."


"Nah, itu tahu."

"Gimana ya, aku juga bingung."

"Hemmm, kalo pagi kan kita solat subuh berjamaah di mesjid bareng bapak kita ya. Kalau gak ikut solat, pasti jadi tanda tanya ya."


"Heeh, Dan. Gak ada alasan buat gak ikut solat subuh berjamaah di mesjid. Ya kecuali sakit, tapi masa kita sakit terus kita keluar rumah subuh subuh. Kan gak mungkin."


"Hemmmm... Keluar rumah subuh subuh.."

"Hemm!!!"

"Aaaahhhhhh..."


"Apaan sih ngagetin aja."


"Aku ada ide Ton."


"Ide apa Dan?"


"Kita ngintipnya waktu mandi pagi aja Ton."


"Kan gak bisa Dan, tadi kamu sendiri yang bilang."


"Kali ini bisa Ton, gimana kalau kita bohong aja."


"Bohong? Bohong kan dosa Dan."


"Halah masih inget dosa, ngintip cewek mandi itu lebih dosa Tono."


"Hehehe iya juga Dan."

"Bohong gimana emangnya?"


"Gini Ton, kita pura pura ada kegiatan solat subuh berjamaah aja di sekolah. Doa bersama untuk kelancaran ujian nasional nanti. Nah perginya kan sebelum solat subuh tuh. Ada waktu buat ngintip si mbak mandi. Gimana Ton ide ku?"


"Mantap Dan, cerdas banget idemu. Aku setuju."


"Oke Ton, subuh nanti ya."


"Siap Dan."


"Ehh tapi kita nanti harus bawa bangku panjang Ton.

Buat berdiri nanti, gak mungkinkan pakai batang kayu lagi. Ntar yang ada malah patah lagi."

"Kamu ada Ton?"


"Aman Dan, aku ada di belakang rumah. Kita bawa aja nanti."


"Jangan nanti Ton, harus disiapin sekarang. Kalau kamu bawa nanti pas pergi subuh subuh sih ibu bapakmu bakal curiga."


"Iya juga ya, ngapain juga ke sekolah bawa bangku."

"Jadi?"


"Aku bawa aja deh sekarang, sekalian ngambil kayu bakar tadi."


"Oke deh kalo gitu Dan."

"Jam empat harus udah siap ya!"


"Oke, aku pulang ya Ton."


"Iya Dan, makasih informasinya."


"Siap......"


Aku membawa bangku ke kebun belakang rumah si mbak. Bangkunya aku taruh tepat di tempat untukku dan Tono mengintip nanti.


Nah ... Sudah pas!

Gila!!! Niat banget kita wkwkwk.

[Semoga aja gak ketahuan ya]


Aku kembali mengumpulkan ranting ranting pohon untuk ku jadikan kayu bakar. Setelah di rasa cukup aku tali lalu aku bawa di atas bahuku. Sejenak aku menoleh pada tembok dan bangku yang ku simpan tadi.


Semoga aku bisa melihat lagi tubuh polosmu nanti mbak.


Semoga......


Ku langkahkan kaki ini menjauh dari tempat yang ku anggap memberi keberuntungan untukku. Dengan kayu bakar yang ku pikul di atas bahu kananku.

Rasa lelah kembali menghampiriku, haus di kerongkongan mulai menampakkan dirinya lagi.


Jadi haus lagi nih, bulak balik ngambil kayu bakar.

Jajan minum dulu deh di warung mbok Yeni.


"Mbok teh puncak satu."


"Iya empat ribu Dan."


"Nih mbok uang nya."


"Kembali enam ribu ya Dan, nih. Nuwun."


"Iya, sama sama mbok."

"Mbok aku ikut duduk disini ya, mau ngaso dulu bentaran."


"Iya Dan, sok aja. Habis darimana emangnya Dan, kelihatan capek gitu?"


"Cari kayu bakar mbok di kebun Pak Dirga, biasa disuruh bapak."


"Ada Dan?"


"Ada mbok, tuh. Lumayan lah buat stok dirumah."


=¥=¥=


Aku sudah memakai pakaianku saat ini, lengkap dari ujung rambut sampai ujung kakiku. Seperti biasa dengan gamis kesukaanku, kali ini berwarna biru muda. Senada dengan gamisku, aku memakai hijab dengan warna yang sama. Tak lupa aku memakai pakaian dalam didalamnya. Warna putih cocok pikirku, agar tidak terlalu mencolok terlihat dari luar.


Ku poles wajahku dengan sedikit make up, natural saja. Aku suka itu, tidak berlebihan. Rencananya aku ingin berjalan jalan di kampung ini, ya hanya sebatas ingin tahu saja daerah yang aku tinggali saat ini. Lagian dirumah pun aku tidak ada kegiatan lain, kalau hanya berdiam diri kan sayang aja waktunya terbuang percuma.


Nafsuku pun sudah ku tuntaskan tadi, terasa lebih segar saat ini. Apalagi tadi mandi dua kali, hihi.

Ku semprotkan parfum ditubuhku, sedikit saja cukup. Yang penting terasa harum di penciumanku.


Kulangkah kan kaki keluar dari rumahku. Hari menjelang sore saat ku tatap langit. Cocok pikirku, tidak terlalu panas. Awan awan berkumpul menutup cahaya matahari yang bersinar.


Dari kejauhan aku melihat warung. Aku teringat dapurku yang kosong melompong, bahkan teh dan kopi pun tak ada.


Apa aku belanja dulu saja ya di warung itu?, baru setelahnya aku lanjut jalan jalan.


Ku dekati warung itu, cukup lengkap pikirku.

Barang barangnya penuh sampai luar. Ku lihat juga seorang lelaki yang sedang memandangku, matanya tidak berkedip, tubuhnya pun tidak bergerak, kenapa dengan anak ini? Aneh.


Ehh tunggu! Sepertinya aku pernah melihatnya.

Ohhh,, iya dua anak sekolah yang berpapasan didepan rumahku tempo hari.


Aku tersenyum padanya.

Namun ia masih dengan sikap yang sama, diam tanpa gerakan dan tanpa sepatah kata. Benar benar aneh kurasa.


"Permisi Bu."


"Iya mbak, mau beli apa?"


"Beli ini, kopi, teh, gula, garam, beras, telur, mie instan, sama sabun cuci Bu."


"Wah, ngeborong nih mbak?"


"Iya, Bu."


"Panggil si mbok aja, mbok Yeni. Sebentar ya."


"Hemmm, iya mbok. Aku Adel"


"Mbak orang baru ya? Saya belum pernah lihat."


"Iya, mbok. Baru pindah beberapa hari yang lalu."


"Tinggal dimana mbak?"


"Di rumahnya Bu Darmi, rumahnya saya sewa mbok."


"Ohhhh rumah Darmi mbak, iya iya. Tinggal sama keluarga mbak?"


"Ngga mbok, saya tinggal sendiri. Keluarga saya masih dikota masih ada kesibukan pekerjaan."


"Sudah menikah mbak?"


"Belum mbok masih lajang, hhe."


"Yo, nda apa apa mbak, mbak kan masih muda. Masih panjang perjalanan hidupnya."


"Iya mbok."


"Tapi pasangan sudah ada kan?"


"Belum juga mbok, masih jomblo, hihi."


"Wehhh ladalah. Masih single toh.. mbok kira sudah ada yang punya. Mbak kan cantik loh, kok masih sendiri toh mbak?"


"Belum ada yang mau mungkin mbok, gatau juga."


"Ya jodoh mah gak akan kemana ya mbak."


"Iya mbok betul."


"Hehhhh Dan, matamu itu loh gak kedip kedip dari tadi liatin mbaknya."

"Heyyyy Dani!!!"


"Ehhh, ehhh iya mbok, ada apa kenapa mbok?"


"Kamu itu loh ngeliatin nya kok gitu banget Dan."


"Gak kok mbok, gak kenapa kenapa."

"Aku cuma kaget aja ada bidadari dateng ke kampung ini. Hhe."


"Woalahhhhh.. udah jago gombal ya kamu Dan!"


"Apa sih mbok, jujur itu!"


"Halah kamu ini. Hati hati ya mbak dia emang suka kurang ajar."


"Loh kok kurang ajar sih mbok, aku kan gak ngapa ngapain!"


"Pokoknya hati hati aja ya mbak sama anak anak disini, terutama sama si Dani ini sama ada lagi tuh satu temannya si Tono. Mereka berdua sepaket mbak. Mbak kudu jaga diri."


"Apa sih mbok, aku kan gak salah apa apa. Mbok jangan nuduh aku yang ngga ngga dong!!"


"Sudah sudah mbok!"


Aku tersenyum saja melihat tingkah laku mereka berdua, seperti ibu dan anak yang sedang bertengkar. Tapi lucu jadinya.


"Ini mbak."


"Jadi berapa semuanya mbok?"


"Tiga puluh ribu mbak."


"Ini mbok uangnya."

"Oiya mbok, disini ada jual sayuran juga ngga mbok?"


"Si mbok nggak jual mbak, kadang kadang aja jualnya. Soalnya jarang habis mbak, keburu layu."


"Ohhh gitu ya mbok."


"Tapi tenang mbak, disini ada yang jual khusus sayur kok. Namanya mang Asep, tukang sayur keliling. Tapi gak nentu mbak waktunya, suka suka dia aja kalau jualan."


"Gak setiap hari gitu mbok?"


"Iya, mbak. Kadang seminggu cuma dua kali, kadang tiga kali, kadang gak jualan sama sekali. Kadang pagi kadang siang kadang sore, wes suka suka dia pokoknya mbak."


"Kok gitu ya mbok?"


"Katanya sih, dia keliling ke kampung sebelah juga mbak sama ada kerjaan lain katanya."


"Bukannya karna banyak di utangin sama ibu ibu dikampung ini mbok?" Dani ikut menimpali.


"Hussss, kamu ini malah suudzon gitu Dan."


"Ya karna kan ibu ku juga sering ngutangin mang Asep, mbok. Ahahaha"


"Lohhh jadi karna diutangin sama ibu mu Dan, mang Asep jarang jualan ke kampung ini?"


"Wehhhhh kok jadi nyalahin ibu ku toh mbok, bukannya semua ibu ibu gitu ya? Sering ngutang sama mang Asep."

"Apa jangan jangan mbok juga?"


"Semprulll kamu Dan, mbok kan jualan juga Dan, gak mungkin lah mbok ngutang."


"Ya siapa tahu mbok."


"Yo ngga lah."

"Ehhhh Dan, lihat tuh bapakmu. Kayanya nyariin kamu!"


"Lah iya mbok."


"Daniiiiii, mana kayu bakarnya udah ditungguin dari tadi!!!!"


Terlihat sesosok bapak bapak berdiri diujung jalan. Berteriak memanggil anaknya.


"Iya pak iya, tunggu."


"Kamu sih lama ngasonya, Dan. Bukannya dari tadi dianterin."


"Ya kan capek mbok, istirahat dulu."


"Kelamaan istirahat nya."


"Justru bagus mbok, untung kelamaan disini jadi bisa sempet lihatin bidadari. Hehe."


"Halah,, udah sana pulang Dan. Udah ditungguin juga."


"Iya mbok iya, makasih mbok ya."


"Iya."


"Mari mbak Adel duluan, udah dipanggil raja terakhir. Hhe"


"Iya mas, hati hati."


Dia tersenyum padaku, aku balas senyumannya.

Ia berlari secepat mungkin menghampiri bapaknya yang masih berdiri menungguinya. Entah apa yang terjadi setelah itu. Mereka sudah menghilang diujung jalan.


"Kecil kecil udah jago gombal, Dani Dani."


"Tapi kelihatannya dia baik kok mbok."


"Baik kelihatannya mbak, dalemannya kan gak nampak mbak. Mbak belum tahu. Pokoknya hati hati deh ya mbak."


"Iya mbok, makasih banyak ya mbok."


"Iya mbak, semoga betah ya di kampung ini."


"Kalau gitu saya pamit ya mbok, assalamualaikum."


"Iya mbak, waalaikumsalam. Hati hati."


Aku berjalan kembali menuju rumahku. Kulihat langit, kecerahannya tiba tiba memudar. Awan awan berkumpul tepat diatas ku berdiri. Warnanya sedikit kelabu. Apa akan turun hujan hari ini?


Aku sampai dirumahku, langsung menuju dapur untuk menyimpan belanjaan yang aku beli tadi. Sayup sayup terdengar rintik rintik air yang jatuh.

Aku ke depan, melihat keluar dan ternyata benar. Hujan rupanya. Akhirnya ku putuskan untuk istirahat saja.


Bersambung


:::::::::::::::::::::


#6


SIAPA SANGKA


Udara dingin berhembus di seantero kampung. Tapi tidak menggugurkan tekad ke dua anak remaja, yakni Dani dan Tono. Dengan niat yang menggebu gebu dan persiapan yang sangat matang, mereka bertekad untuk melakukan.


Mereka tahu ini salah, bahkan mereka mengerti ini dosa. Tapi nafsu sudah menjadi bubur.

Adaaahhhh.. nasi dong itu!

Tapi nafsu sudah mengalahkan akal sehat mereka.

Mereka rela berbohong demi mewujudkan ini semua.


Waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk pergi ke tempat ibadah, malah mereka gunakan untuk pergi ke tempat yang salah. Tempat yang mereka anggap sebagai harta karun tersembunyi.

Tempat terpampangnya seorang bidadari yang tak tertutupi.


Akankah kesempatan itu terulang kembali bagi Dani?

Akankah menjadi kesempatan perdana untuk Tono?

Atau bahkan menjadi sebuah penyesalan?

Atau menjadi jalan panjang sebuah perjalanan?


Hemmm entahlah, waktu yang akan menjawabnya.


Langit masih gelap, ayam jantanpun belum mulai berkokok. Tapi Dani dan Tono sudah bersiap di dalam rumah mereka masing-masing. Mempersiapkan segalanya demi tercapainya tujuan mereka.


"Dan, kamu sudah siap?"


"Siap dong Ton, aman."


"Yaudah ayo."


"Ayo.."

"Ibu bapakmu gak curigakan, Ton."


"Ngga, Dan mereka percaya aja."


"Oke kalau begitu, berarti aman Ton."


"Harusnya, Dan."


"Ohh iya Ton, kemarin aku ketemu sama si mbak lagi."


"Beneran Dan?"


"Iya Ton, di warung si mbok Yeni waktu aku balik lagi ambil kayu bakar. Aku mampir dulu ke warungnya beli minum sambil ngaso dulu sebentar. Ehh, gak lama si mbak muncul Ton. Dia belanja barang barang buat masak gitu lah."


"Wahhh, kok kamu terus sih yang beruntung Dan."


"Yeee, namaku kan ada lucky nya Ton."

"Dani Lucky Darmawan."


"Alah, itu Luki Dan. Bukan lucky beruntung."


"Ya anggap aja begitu Ton."

"Ehhh iya aku sudah tahu namanya Ton.


"Siapa Dan?"


"Adel Ton, mbak Adel."


"Wiihhhh, bagus juga namanya ya, cantik persis kaya orangnya. Kamu kenalan sama dia Dan?"


"Ngga Ton, mbak Adel sama mbok Yeni yang kenalan."

"Aku sih merhatiin wajah dia aja, cantik banget Ton kalau dari deket."


"Jadi makin gak sabar nih Dan, liat mbak Adel telanjang."


"Sabar Ton."


Udara dingin tidak menghambat mereka untuk berjalan di pagi yang masih buta ini. Mereka berjalan dengan penuh tekad, penuh keyakinan akan keberhasilan.


"Udah mau sampai nih Ton."

"Inget ya kita gak boleh berisik."


"Iya, aku tahu Dan."


"Suara sekecil apapun bisa aja kedenger ke dalem kamar mandi nya. Soalnya suasana diluar kan sepi."


"Oke, Dan aku paham."


"Kita gak boleh ngobrol selama ngintip, pake aja bahasa isyarat atau bahasa tubuh kita."

"Oke?"


"Siap, Dan."


Keduanya sampai di belakang rumah itu. Dengan kaki yang berjintit ketika melangkah semakin dekat. Menghindari suara suara yang bisa saja terdengar oleh si empunya rumah. Mereka telah siap, berdiri sempurna diatas bangku yang sudah mereka siapkan. Menunggu seorang target buruan mereka.

Dua pasang mata sudah siap mengintai mangsanya.


Hening! tak ada suara, tak ada percakapan. Mereka berdua telah sepakat untuk tidak berbicara. Sampai akhirnya, suara pintu tertutup terdengar. Menandakan seseorang telah masuk kedalamnya.

Benar! Seorang wanita cantik telah bersiap membuka pakaiannya.


=¥=¥=


Hari ini aku mau jalan jalan lebih pagi aja ahh, kalau siang atau sore ntar malah hujan lagi kaya kemarin.

Tidak ada pakaian kotor untuk ku cuci hari ini. Nyapu, ngepel nanti saja lah setelah pulang jalan jalan sekalian capek.


Aku membuka pakaian tidurku, kali ini piyama bermotif bunga bunga warna coklat muda. Kusampirkan pada gantungan di belakang pintu, tak ku taruh ke keranjang. Besok malam akan ku pakai lagi, toh tidak setiap tidur aku berganti pakaian. Pakaian tidur hari ini masih bersih untuk dipakai esok hari. Biar tidak sering nyuci.


Kini aku sudah telanjang, bersiap untuk merasakan dinginnya air di kampung ini. Semakin hari aku semakin terbiasa dengan rasa ini. Rasa dingin kini telah menyatu dengan ragaku. Maka, tanpa ragu ku guyurkan air dalam gayung ke seluruh tubuhku. Berulang sampai ku rasa cukup.


Ku ambil sabun cair kesukaan ku, sabun lavender berwarna ungu. Ku tuang pada telapak tanganku, ku usapkan pada kulit tubuhku. Menyeluruh sampai semuanya tersabuni. Ku usap di kedua payudaraku, sebuah usapan dengan cara memutar. Ibu jari dan jari telunjukku bermain main pada masing masing puting payudaraku. Ku tekan dan ku pijat perlahan.


Ahhhhhhh... Geli rasanya. Payudaraku mengeras, putingku menegang. Sungguh udara pagi ini meningkatkan birahiku. Namun, cukup pikirku. Kini tangan kananku turun ke arah selangkang. Vagina ku, aku usap. Ku bersihkan sampai benar benar bersih. Ini adalah aset paling berharga milikku, aku harus menjaganya. [Benar benar menjaganya].


Aku menggelinjang saat telapak tangan ku tanpa sadar menyentuh klitorisku. Pagi ini memang berbeda dari pagi biasanya. Nafsuku benar benar menggebu, saat bagian bagian sensitif dari tubuhku tersentuh oleh tanganku. Tapi aku harus bisa menahannya, jika setiap hari aku lakukan ini mau jadi apa aku ini?.


Ternyata akal sehat ku masih ada, baguslah. Pahaku, betisku sampai ujung jari kakiku sudah ku sabuni. Tapi aku baru tersadar, aku belum menyikat gigiku.

Kenapa tak ku lakukan di awal tadi sebelum mengguyur tubuhku. Kadang nafsu membuat kita sedikit lupa diri. Tak apa lah, tadi ataupun sekarang tak jadi masalah.


Ku ambil sikat beserta pasta gigi. Ku tuangkan isinya tepat diatas bulu bulu sikatnya. Aku menggosok gigiku. Gigiku yang putih dan tertata rapih. Kalian akan melihatnya ketika aku tersenyum. Selesai, aku berkumur kemudian, membasuh mulutku dan mencuci sikat gigi itu.


Sejenak aku teringat saat ku melihat gagang sikat.

Benda ini yang tertancap di lubang pantatku, saat aku orgasme. Ingin ku menancapkannya lagi. Tapi lagi lagi akal sehatku muncul. Membuang semua keinginanku jauh jauh.


Ini masih pagi Adel, jangan rusak harimu dengan hal hal dosa seperti keinginanmu. Tahan Del, tahan. Kamu bisa kok. Ayo kamu pasti bisa!


Ku taruh sikat gigi itu pada tempatnya.


Tidak hari ini sikat, mungkin lain kali saja!


Segera ku basuh tubuhku setelah itu, rasa dingin kian lama kian terasa di kulitku. Guyuran air sampai terasa di ujung syarafku. Cukup pikirku, tubuhku kini terasa lebih segar. Mandi pagi memang begitu menyegarkan.


Ku ambil handuk, ku usapkan pada kulit tubuhku yang basah. Tanganku, kakiku, perutku, punggungku, hingga kepalaku, semuanya. Sampai ketika aku mengusap wajahku, mataku melihat sesuatu. Kuperhatikan sejenak ujung dinding itu. Sepasang mata sedang memperhatikanku. Tidak tidak kali ini aku melihat dua pasang mata memperhatikanku, dua orang sedang mengintipku.


"Astaghfirullah!!!!"


Kata itu terucap di dalam hati, tak bersuara seperti seharusnya. Aku ingin teriak tapi mulutku membisu.

Kenapa aku ini?

Aku pura pura tak tahu supaya tak curiga, ku usap kembali wajahku dengan handuk. Sambil sesekali aku meliriknya. Benar, diluar sana ada dua pasang mata yang melihatku mandi. Melihat tubuhku yang sedang telanjang dengan leluasa.


Siapa mereka? Kenapa mereka tega melakukan ini?

Aku marah dalam diriku, darahku naik sampai ubun ubun kepalaku. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku teriak agar mereka kabur berlarian?

Hemm, tidak! Itu akan membuat mereka lolos begitu saja. Lalu aku harus apa?


Aku berbalik membelakangi mereka. Sejenak berpikir apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Sambil memakai handukku menutupi tubuhku. Aku beranjak keluar kamar mandi lalu menutup pintu.


=¥=¥=


"Akhirnya Dan, aku bisa liat tubuh telanjangnya mbak Adel."


"Sssstttttt, pelan pelan ngomongnya Tono. Ntar kedengeran, bahaya."


"Oke oke maaf Dan."


"Gimana, mantep kan?"


"Juara Dan, kaya model model papan atas badannya. Toket sama memeknya sih gak nahan Dan, mulus bener. Sayang aja si mbak gak colmek Dan."


"Ya itu sih, pasti sulit kita lihatnya Ton. Kemarin aku beruntung aja bisa liat dia colmek. Lagian ini kan masih pagi Ton masa udah colmek aja."


"Iya juga ya, bener kamu."

"Terus kita ngapain sekarang Dan? Ini udah selesai kan?"


"Kita jalan ke sekolah lah, ngapain lagi?"


"Masih pagi banget ini Dan, kalau udah berangkat ke sekolah."


"Ya mau ngapain lagi Ton, kan udah selesai ngintipnya."


"Yaudah deh, ayo."


Saat mereka melangkahkan kaki untuk meninggalkan tempat itu, ternyata......


"Heyyyyy kalian ngintip aku ya????"


"Ehhhhh..."


Setelah aku berpikir, aku harus melabrak mereka. Karna jika ku biarkan mereka tidak akan jera.

Aku keluar rumahku dan menghampiri mereka ke belakang. Aku hanya memakai handuk saja saat itu. Tak ada waktu untuk berpakaian, lama sedikit mereka akan kabur begitu saja. Aku tak peduli, saat ini pikiranku hanya tertuju pada mereka.


Keduanya sangat terkejut akan kehadiran ku. Tunggu, mereka terkejut karna aku yang muncul tiba tiba atau terkejut karna aku keluar hanya memakai handuk, entahlah. Yang kulihat raut wajah mereka kaget saat kedatanganku.


"Kalian berdua ngintipin aku mandi?"


"Ehhh, ngg nggg ngga mbak. Ngga kok."


"Lalu kalian sedang apa disini pagi pagi buta gini sudah ada didekat kamar mandi rumah orang?


"Kami, kami hanya numpang lewat saja mbak."


"Jangan bohong kalian!"

"Aku sudah lihat kalian dari dalam!"


"Iiii iya mbak, maaf kami tidak sengaja."


"Tidak sengaja? Apa maksudnya tidak sengaja?"

"Lalu bangku itu apa, heyyyy kalian sudah mempersiapkannya?"

"Tega ya kalian sama aku, aku salah apa sama kalian?"

"Aku orang baru disini. Kalian sudah tega berbuat seperti ini sama aku."


Dengan nada bergetar, air mataku mengalir keluar. Aku menangis saat itu. Tubuhku lemas, aku berjongkok memeluk lututku juga menundukkan kepalaku. Aku sesenggukan menahan tangis.


"Hiks hikssss hikksss. Kalian tega ya sama aku."


"Ngga mbak , kami hilaf mbak maafin kami mbak..."


"Iya mbak maafin kami. Kami janji ngga akan ngulangin lagi."


"Telat tahu ngga, kalian sudah lihat tubuh telanjang aku. Aku sudah terhina."


"Maaf mbak, maaf."


"Pokoknya kalian akan aku laporkan sama Pak RT."


"Yah jangan dong mbak, jangan dilaporin."


"Iya mbak jangan dilaporin, aku takut mbak. Aku takut kalau bapakku tahu dan marah mbak."


"Justru itu, aku akan laporin kalian biar kalian dimarahi."


Aku berdiri, mataku melotot memperhatikan mereka.

Tapi mereka hanya tertunduk, mereka ketakutan sudah tertangkap basah olehku. Sepertinya aku mengenal mereka, ku perhatikan wajah keduanya. Ya itu Dani, pemuda yang menggombaliku dengan sebutan bidadari kemarin di warung mbok Yeni. Dan satunya lagi pasti Tono, teman Dani yang disebut mbok Yeni.


"Ayo ikut aku ke dalam, jangan kabur! Aku sudah tahu kalian."


"Mbak ampun mbak, jangan laporkan kami mbak, tolong mbak ampun."


"Sudah ayo!"


"Iya mbak."


Aku berjalan duluan, mereka mengikutiku dibelakang. Kami bertiga masuk ke dalam rumah.


"Duduk, diam disitu, jangan coba coba buat lari."

"Ingat!!!"


Aku membentak mereka. Mereka hanya diam menunduk. Terutama Tono, gestur tubuhnya tidak mampu menyembunyikan ketakutannya. Berbeda dengan Dani, ia terlihat tenang meski sama sama ketakutan. Hemmmm, ada yang aneh!!!


"Aku mau pakai baju dulu. Habis itu kalian ikut denganku ke rumah pak RT."


Mereka makin tertunduk mendengar itu, sampai tidak berani melihatku.


Aku beranjak ke dalam kamar, membuka handukku lalu melemparnya ke atas kasur. Ku buka lemari pakaian ku, ku ambil pakaian gamis merah mudaku tak lupa dengan hijabku dengan warna senada. Langsung saja aku memakainya, lalu melihat cermin untuk sekedar merapihkannya. Tak perlu berdandan pikirku. Aku harus buru buru ,tak ada waktu.


Aku keluar dari kamarku.


"Ayo!"


Sejenak mereka memandangiku.


"Ayo, ikut aku!"


Mereka masih terduduk di kursi, melihatku dengan tatapan berbeda.


"Mbak yakin mau keluar rumah dengan pakaian itu?"

Dani memulai pembicaraan.


"Kenapa memangnya?"


"Mbak ngga mau pakai daleman dulu gitu?"

"Pentil susu mbak kelihatan jelas mbak, pantat mbak juga tuh."

Dani menambahkan, ia berkata jujur kali ini.


Aku melihat dadaku, benar saja puting payudara ku terlihat menonjol.


Argkhhhhhh, kenapa aku bodoh? Kenapa aku ceroboh, Adel....


"Oke kalian tetap tunggu disini!"


Aku berjalan ke kamar dengan rasa malu.

Kenapa sih, gak kepikiran kalau belum pakai dalaman? Kan jadi malu aku, bodoh bodoh dasar Adel ceroboh.


Ku buka kempali hijab dan gamisku. Aku mengambil BH dan celana dalamku. Kali ini kupastikan telah memakainya. Lalu kulanjutkan dengan memakai gamis dan hijabku kembali.


Aku menghampiri mereka lagi. Kuperhatikan mereka wajahnya terlihat pasrah. Terutama Tono, mukanya pucat seperti maling yang tertangkap basah. Ehh bukan maling deng tapi tukang ngintip. Sampai akhirnya,,,,,,,


"Akhhhhhhh haaaaahhhhh hahhhhhhhhh..."


Tono menangis dengan keras..


"Hahhhhhh ahhhhhhh haaahhhh..."

"Ampun mbak, ampun. Jangan laporin kami mbak ampun. Kami janji ngga akan ngulanginnya lagi mbak. Tolong jangan laporin kami mbak...."


Dengan nada memelas, Tono bersih keras meminta ampunan dariku.


"Ngga, gak ada ampun ampun ya. Kalian akan tetap aku laporkan ke Pak RT biar kalian jera!"


"Jangan mbak ampun, tolong jangan dilaporin."

"Hahhhhhhhhh ahhhhhhh hahhhhhhh"


Tangis Tono semakin keras saja terdengar, seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh ibunya.

Tapi tidak dengan Dani, ia terlihat begitu tenang.

Hemmmm....


"Apaan sih Ton, kaya anak kecil aja sampai nangis gitu. Udah tenang aja Ton, santai..."


"Tapi, tap ta tapi Dan, kita mau dilaporin Dan, semua orang akan tahu kita suka ngintip Dan. Kita bakal malu."


"Udah tenang aja Ton, tenang tenang. Udah jangan nangis, badan aja gede tapi cengeng. Kita gak harus takut Ton sama gertakan mbak Adel, santai aja udah."


"Ohhhh jadi kamu gak takut kalau aku laporin."

"Oke kalau begitu."

"Ayo, sudah ikut aku!!!"


"Mbak yakin mau laporin kita?"


"Iya lah, yakin seyakin yakinnya. Orang aku lihat sendiri kalian yang ngitipin aku mandi tadi."


"Yaudah mbak laporin aja sana!"


"Yaudah ayo ikut, kita kerumah Pak RT sekarang!"


"Eitsss tunggu dulu mbak. Kalo mbak mau laporin kita, kita juga mau laporin mbak. Ehhh bukan laporin deng, tapi mau sebarin rahasia mbak."


"Rahasia???"


"Iya, rahasia mbak. Rahasia yang gak mungkin semua orang bakal tahu. Tapi kalau mbak laporin kami, ya rahasia itu jadi ketahuan sama semua orang dikampung ini."


"Rahasia apa memangnya?"

Suara ku mulai melemah dengan tekanan dari Dani.


"Sebenarnya aku sudah dua kali ngintipin mbak mandi."


"Sudah dua kali, kapan?"


"Kemarin, waktu mbak mandi siang siang. Mbak ingat dengan suara seekor kucing?"


"Kucing?? Ahhhh iya aku ingat."

"Kenapa dengan suara kucing itu?"


"Apa mbak gak sadar kalau suara kucing itu sebenarnya, itu aku!"


"Ohhh jadi kamu pura pura jadi kucing biar gak ketahuan?"


"Iya, betul mbak.. meowwwww...."

"Apa mbak belum sadar?"


"Tunggu tunggu. Berarti kalau kamu ngintip aku pas mandi siang itu, kamu juga lihat aku sedang......"

"Astaghfirullah......."


"Iya mbak betul tebakan mbak. Aku lihat mbak Adel lagi colmek setelah selesai mandi. Seru loh mbak lihatnya, bikin tegang. Hehe."


Aku terdiam mematung di dekat pintu. Tak bisa bergerak, tak bisa berkata kata. Aku ketahuan sedang masturbasi oleh Dani.


"Jadi kalau mbak tetep mau laporin kami, ya berarti rahasia mbak juga akan tersebar."

"Bayangkan saja seorang mbak Adel yang muslimah dengan pakaian syar'i nya sedang mengusap usap memeknya. Menusuk lubang boolnya dengan gagang sikat gigi sampai memeknya muncrat kemana mana."

"Uhhhhh kalau beneran kesebar sih bisa jadi keos mbak kampung ini."

"Gimana menurut mbak?"


"Tapi ta tap tapi, ii it iituuuu, cuma......"


"Cuma apa mbak, cuma bercanda, cuma coba coba?"

"Atau cuma main main?"

"Main main kok nyebut nyebut nama Pak RT mbak pas lagi sange sange nya?"

"Hayooooooo...."


"Hahhhhhh...."


Aku terkejut, sangat sangat terkejut dengan perkataan Dani. Ia telah mengetahui segalanya. Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.

Jantungku berdebar, berdegup lebih kencang dari biasanya.


Aku kalah, dan mereka menang.

Aku diserang balik oleh Dani. Pertahananku rapuh.

Aku runtuh.....


"Cukup Dan, cukup!"


"Jadi mbak masih mau ngelaporin kami?"


"Ngga, mbak gak jadi ngelaporin kalian."


"Nah gitu dong, kan sama sama enak mbak jadinya."


"Tapi...."


"Iya mbak, aku ngerti. Rahasia dijamin aman."


"Wihhh kamu memang cerdas Dan."


"Yoiii Ton, namanya juga Dani Lucky Darmawan. Si paling beruntung ahahahaha."


"Ahahahahaha"


Dani dan Tono tertawa berasamaan, sementara aku semakin lemah tak berdaya. Ingin rasanya aku pingsan, dan melupakan semua ini. Menganggap ini tak pernah terjadi. Tapi tak mungkin, ini nyata dan benar adanya.


"Kalian boleh pulang sekarang!"


"Hahhhhh.. kok kita di usir sih mbak? Lagian ini udah jam tujuh mbak, kita mau kemana? Ke sekolah udah telat, pulang ke rumah juga gak mungkin dong. Kita numpang dulu disini aja ya mbak, hhe."


"Ehhhhhhh, kok gitu?"


"Ya gimana mbak, udah telat soalnya."


"Yauda iya, kalian boleh diem dulu disini sementara."


"Oke, makasih mbak."

"Mbak jangan sedih gitu dong mukanya, ntar cantiknya ilang loh."


"Ihhh bener bener kamu ya Dan, tukang gombal."


"Duduk mbak, apa nggak pegel berdiri terus!"


"Iya Ton, pegel sih. Hhe."


Suasana sudah mulai mencair saat itu.


"Nahhh gitu dong mbak senyum, kan makin cantik jadinya."


"Iya mbak jadi makin cantik." Tono menambahkan.


"Apa sih kalian, kan jadi malu.."


"Cieee malu malu kucing, meowwwww..."


"Ihhh...."


"Aduhhhhhh..."


Aku mencubit paha Dani.


"Nahhhh mulai dari sekarang kita jadi temenan ya mbak!"


"Temenan? Sama kalian?"


"Iya mbak, kita kan tetanggaan juga."


"Hemmmm iya deh, terserah kalian."


"Tapi ada syaratnya nya mbak kalau mau jadi temen kita!"


"Lohhh kok..."


"Emang ada ya Dan?"


"Sssttttt, diem dulu Ton."


"Ada mbak, syaratnya mbak harus nurutin apa yang kita perintahkan!"


"Kok, jadi mbak yang harus nurutin kalian?"


"Ini demi rahasia mbak supaya tetap aman mbak!"


"Kamu kok gitu sih Dan sama mbak, jahat tahu gak."


"Nggak jahat mbak, ini demi kepentingan bersama."


"Tapi jangan yang aneh aneh ya."


"Justru harus yang aneh mbak, kalau yang biasa biasa mah ngapain. Rugi."

"Inget mbak, demi rahasia yang aman jaya sentosa."


"Iya, emang apa syaratnya?"


"Gampang sih mbak, mbak tinggal nurutin yang kita mau aja!"


"Contohnya?"


"Tono kan belum lihat mbak colmek, nah sekarang mbak colmek lagi di hadapan kita mbak!"


"Hahhhhhh yang bener aja kamu Dan."

"Kok gitu sih, dasar kalian otak mesum. Jadi bener ya apa yang dibilang sama mbok Yeni, mbak harus hati hati sama kalian berdua. Dan kejadian deh sekarang."


"Hehehehe, udah deh mbak gak usah jaim sama kita.

Lepasin aja mbak lepaskan. Aku tahu kok mbak tipe cewek yang kaya apa. Kalau orang kota tuh bilangnya 'cewek binal'. Ya kan mbak?"


"Hemmmm oke..."


[Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Dan ini adalah awal dari segalanya]


Dadah


Bersambung


:::::::::::::::::::::


#7


KESEPAKATAN, CERITA MASA LALU DAN TANTANGAN


"Heeemmmm.. Oke!"

"Tapi mbak juga punya syarat buat kalian!"


"Apa tuh mbak?"


"Kalian gak boleh nyentuh badan mbak, terutama kedua tangan kalian ya."


"Yah gak asik mbak mah."


"Iya mbak gak asik ah, gak bisa grepe grepe dong?"


"Hehhh jaga ya mulutnya, kalian pikir mbak cewek murahan apa? Bisa seenaknya kalian sentuh."


Aku menaikan nada bicaraku, seolah olah sedang memarahi mereka. Padahal ya aku sedang pura pura.

Aku ingin tahu seperti apa sifat asli mereka. Semoga saja mereka penurut seperti yang aku mau. Jadi aku tidak di dikte oleh mereka. Bahaya juga kalau aku sampai jadi budak mereka berdua, hihhh gak kebayang.


"Ii iyaa mbak, iya maaf."

"Tapi kan mbak udah colmek, ehhh masturbasi mbak."


Nada bicaranya memelan, bahkan hampir tak terdengar.


"Kalian pikir mbak gak punya harga diri apa? Inget ya mbak ngelakuin itu kan atas dasar keinginan mbak sendiri dan gak ngelibatin orang lain. Jadi bebas dong kalau mbak mau masturbasi. Toh nggak ngerugiin kalian ini. Jangan pikir kalau mbak pernah ngelakuin itu terus kalian anggap mbak ini binal ya! Itu kan hak mbak sebagai perempuan, mbak juga punya nafsu yang harus disalurkan. Tahu ngga?"


"Iya mbak kami paham."


"Iya mbak paham kok, paham."


Jawab mereka berdua sambil kepala mereka tertunduk. Mungkin mereka kaget mendengar amarahku yang tiba tiba. Biarlah, aku sengaja melakukan itu agar mereka paham dan tak salah dalam menilaiku.


"Mbak kok jadi marah gitu sih? Tadi kan aku bercanda mbak. Maaf!"


"Hmftttttt,, Ahahahahahahahaha.."


Aku tertawa seketika, sudah tak bisa lagi menahannya.


Hahhhhh!!!

Mereka berdua tercengang melihatku.


"Mbak kenapa?"


"Ahahahahaha,,, ngga kok gak pa pa."

"Hihi,, lucu ya liat kalian diem ketakutan gitu."

"Ahaha...."


"Kita kan kaget, mbak tiba tiba marah gitu."


"Iya mbak, mbak kenapa sih?"


"Hihihi, mbak cuma bercanda kok tadi. Mbak ngga marah beneran."


"Kok bisa gitu sih mbak, aneh deh!"

"Liat tuh si Tono mbak, badannya udah menciut gitu."


"Hhe, takut ya Ton?"


"Iya mbak, takut banget! Aku pikir tadi salah ngomong."


"Ahh payah Tono, badan aja gede nyalinya gak ada. Lihat tuh Dani, dia mah tenang tenang aja."


"Ya gimana ya mbak, abisnya kaget."


"Emang payah mbak si Tono, nyali sama badannya ga sebanding. Gampang takutan dia mah."


"Yaudah, maafin mbak ya! Mbak mau ngetes kalian aja sebenernya. Mbak gak mau kalian nganggap mbak kaya perempuan murahan yang kalian pikirin.

Meskipun mbak pernah ngelakuin masturbasi bukan berarti mbak jadi cewek yang gampangan kan. Yang bisa disentuh sentuh, yang bisa digrepe grepe seenaknya. Mbak juga sama kaya cewek biasa lainnya, cuma mbak pernah itu aja. Mungkin cewek yang lain dikampung ini juga sama, pernah ngelakuin itu. Tapi ya ga diintipin sama kalian berdua aja, jadi gak ada yang tahu. Hhe."


"Iya mbak, aku janji deh bakal nurut sama mbak."


"Iya mbak, aku juga. Janji!"


"Oke deh kalau gitu, sip."


"Mbak aku boleh tanya sesuatu ngga?"


"Tanya apa Dan?"


"Soal colmek itu mbak, kok mbak bisa ngelakuin itu sih? Pasti kan ada penyebab awalnya mbak."


"Kamu penasaran ya Dan?"


"Iya mbak, secara kan penampilan mbak bertolak belakang sama... ya itu kelakuan mbak! Hhe."


"Hihihi.. oke kalau kamu pengen tahu. Mbak bakal ceritain. Panjang sih sebenernya, bakal lama loh."


"Gapapa mbak kita siap dengerin kok."


"Jadi dulu dikota sana mbak emang udah pernah masturbasi sebelumnya. Ya bisa dikatakan sering lah. Soalnya hal hal yang berbau sex itu bikin nagih Dan, jadi pengen ngulangin terus. Sampai akhirnya jadi ketagihan."


"Awalnya ya karna lingkungan, tempat tinggal mbak dikota deket dengan tempat prostitusi."


"Wihhh beneran mbak?"


"Iya Ton, ya ngga deket deket banget sih. Jadi mbak suka lihat cewek cewek yang pakaiannya minim gitu, cuma pakai tengtop sama rok pendek sepaha. Tapi keluarga besar mbak kan sedikit religius ya, paham lah sedikit banyak tentang agama. Jadi mbak dari kecil udah ditanamkan tentang norma norma agama itu, mulai dari pakaian, aturan sama tingkah laku dan yang lain lain lah ya. Kalian juga pasti paham."


"Mbak mikirnya kok mereka bisa sebebas itu, beda banget kan sama mbak. Kok mbak gak boleh kaya mereka? Kok pakaian mbak tertutup, tapi mereka terbuka. Pikiran pikiran kaya gitu tuh yang buat mbak makin penasaran. Makin beranjaknya usia tuh makin besar lagi rasa penasarannya mbak. Apalagi usia remaja kan rasa ingin tahu tentang sesuatu hal itu menggebu gebu ya."


"Nah mbak cari lah di internet Dan, Ton. Perilaku wanita yang memamerkan tubuhnya. Muncullah satu kata yang asing bagi mbak. Eksibisionis..."


"Eksibisionis, apa tuh mbak?"


"Jadi kaya perilaku menyimpang gitu sih Dan, jadi si orang pengidap eksibisionis itu suka mamer mamerin alat kelaminnya ke orang lain. Mungkin itu buat cowok ya, kalau cewek sih setahu mbak ya gak se spesifik itu. Cewek mah ngga sampai lihatin alat kelaminnya, mungkin hanya sebatas pakai pakaian yang minim dan seksi. Atau pakaian ketat, terus gak pakai daleman."


"Hemmm kaya mbak tadi, waktu mau ngelaporin kita ke Pak RT. Mbak kan gak pakai daleman."


"Itu sih lupa Ton, beda namanya juga buru buru."

"Dasar.."


"Aku pikir mbak eksibisionis juga?


"Mungkin sih Dan."


"Tuh kan..."


"Dulu mbak pernah ngelakuin hal hal semacam itu waktu... setahun lalu kalau ngga salah. Waktu perjalanan pulang sehabis reunian SMA. Waktu itu mbak naik motor sendiri, pakai pakain hitam putih. Atasan kemeja putih dan bawahan rok hitam. Daleman nya warna merah marun, cukup kontras sih.

Nah sewaktu di perjalanan pulang, hujan turun deras lagi. Mbak gak bawa jas hujan, tapi entah kenapa mbak pengen hujan hujanan waktu itu. Lanjut lah mbak ngendarain motor itu lewat jalan utama. Pas itu lampu merah mbak berhenti didepan. Awalnya kosong cuma mbak aja yang berhenti. Makin lama makin banyak, kebanyakan cowok lagi. Mbak sadar baju kemeja mbak yang basah pasti bakalan nyeplak dan BH mbak samar samar tembus kelihatan. Tapi saat itu mbak ngga nyoba buat nutupin itu, mbak bisa aja kan nutupin sama ujung hijab mbak. Ehh mbak malah sengaja narik ujung hijab mbak buat disampirin ke pundak mbak. Makin keliatan kan BH mbak. Tapi disitu lah mbak malah ngerasa bangga sama apa yang mbak lakuin. Apalagi mbak ngerasa semakin banyak yang liatin mbak."


"Uhhhhh ternyata mbak ini seperti itu!"


"Seperti apa emangnya, Ton?"


"Hehehe..."


"Nah sejak saat itu lah, mbak jadi ada rasa ketagihan ngelakuin hal-hal itu. Mbak pernah gak pake BH juga waktu ketemu tukang paket. Beli nasi goreng waktu malem malem, COD an beli barang sama cowok. Banyak deh, sampe lupa mbak...."


"Terus sampe sekarang mbak masih kaya gitu?"


"Ngga Dan, mbak sempat pernah taubat dulu karna ketahuan."


"Ohhh mbak pernah ketahuan juga?


"Pernah Ton, sama adik mbak sendiri lagi. Malu rasanya waktu itu, malu banget."


"Ahahahaha, kok bisa sih mbak?"


"Nih mbak ceritain ya."


"Iya mbak."

"Iya mbak."


"Jadi setelah mbak tahu arti dari eksibisionis itu, mbak makin menyelam tuh di dunia internet. Internet negatif ya yang 18+ gitu. Mulai dari lihat poto cewek cewek seksi, cerita cerita dewasa, komik komik hentai sampai video porno. Mbak udah pernah lihat itu semua. Dari video porno itu mbak jadi tahu masturbasi, awalnya ya iseng coba coba lama lama enak juga. Hihi."


"Ketagihan tuh mbak jadinya. Tapi mbak belum mau sampai penetrasi mbak kan masih perawan. Sampai akhirnya mbak nyoba masukin sesuatu ke lubang pantat mbak, dari jari terus pensil mbak pernah masukin."


"Kalo kemarin sikat gigi ya mbak?"

"Ahahahaha"


"Ahahahahahaha, Dani... Kamu mahhhh...."

"Ya karna pengen coba lagi kemarin."


"Lanjut mbak."


"Iya Ton, nah lama lama kan makin penasaran ya. Setelah berkali kali lihat adegan masturbasi di video porno, jadi pengen coba kan. Dengan nafsu yang menggebu gebu dan pikiran yang dangkal mbak putusin buat penetrasi di vagina mbak. Gak ada cara lain lagi nafsu udah di ujung banget deh pokoknya. Gak peduli lah sama keperawanan waktu itu. Yang penting mbak ngerasa nikmat aja."


"Mbak masturbasinya dikamar diatas kasur, sambil ngangkang mbak coba masukin timun. Ukurannya sedeng kira kira dua jari mbak. Udah mulai enak tuh, ujung timunnya udah masuk sedikit demi sedikit. Mungkin sekitar dua sentian ya, tinggal didorong aja udah masuk kan. Mbak udah mulai mendesah juga waktu itu, udah mulai enak yang mbak rasa."


"Ehhh... Pintu kamar mbak ada yang buka. Adek mbak kepalanya nongol lihatin selangkangan mbak. Dia melongo gak bicara apa apa. Mbak kan waktu itu lagi merem ya, jadi ada ngelag nya. Gak sadar kalau adek mbak masuk ngelihatin. Pas mbak buka mata, mbak langsung teriak..."


"Adek ngapain masuk kamar mbak, kok ngga ngetok dulu sih. Main masuk masuk aja!"


"Bodohnya mbak, mbak gak langsung nutupin vagina mbak. Mbak malah megangin timun sambil dua tangan mbak nutupin payudara doang. Padahal kan vagina mbak lebih jelas terlihat, soalnya waktu itu emang langsung ngarah ke pintu."


"Adek mbak gelagapan ngejawab pertanyaan mbak, tapi matanya tetep ngelihatin vagina mbak.

Mbak langsung sadar, mbak tutup deh pake tangan kiri."


"Ii itu mbak, mau pinjam sajadah punya mbak." "Punyaku kotor soalnya."


"Kenapa gak ketok dulu sih, main masuk aja?"


"Aku kira mbak ngga lagi.... Mbak lagi apa sih? Kok telanjang gitu?"


"Udah kamu gak perlu tahu. Tuh ambil aja di lemari sana. Awas ya jangan bilang bilang mama sama papa."

"Awas loh!!!"


"Iya mbak, aku pinjam dulu ya sejadahnya. Makasih."


"Udah deh, adek mbak keluar kamar, pintunya ditutupin lagi sama dia. Gila, mbak waktu itu kaget banget ketahuan adek sendiri lagi masturbasi."


"Masa mbak gak tahu kalau dirumah ada adek mbak sendiri?"


"Mbak gak tahu kalau adek mbak hari itu pulang cepet Dan, biasanya dia pulangnya sore jam empat atau jam lima lah. Mbak juga gak kunci pintu kamar mbak soalnya mbak kan sendirian dirumah. Nggak nyangka aja bisa kepergok gitu, mungkin itu pertanda buat mbak belum boleh ngelakuin itu kali ya."


"Mungkin aja mbak."


"Iya Ton."


"Tuhan masih sayang sama mbak berarti, buat jaga keperawanan nya mbak. Masa di ambil tangan sendiri, ehhh sama timun deng."


"Iya kali ya, ahahahahaha bisa aja kamu Dan."

"Nah sejak saat itu, mbak jadi canggung kalau ketemu adek mbak. Apalagi kalau ngobrol, jadi bicara seadanya aja. Ada kali seminggu berada di fase kecanggungan. Jadi trauma deh mbak."


"Terus hubungan mbak sama adek mbak setelah itu?"


"Setelah satu minggu itu mbak mutusin buat ngobrol sama adek mbak, soalnya papa sama mama udah mulai curiga. Kok jadi jarang ngobrol, jarang bercanda apa kita lagi musuhan. Daripada nanti bisa ketahuan kan repot ya. Jadi mbak beraniin aja buat cerita ke adek mbak kalau waktu itu mbak khilaf dan janji nggak bakal ngelakuin lagi. Dan nyuruh dia buat tutup mulut jangan sampai cerita ke papa sama mama. Tapi sebagai gantinya mbak ngasih sesuatu ke adek mbak."


"Wihhh ngasih apa tuh mbak?"


"Ada deh, rahasia kalau itu Ton. Hihi."


"Ahhh gak seru mbak, main rahasia rahasiaan."


"Hemmm kepo kamu Dan."

"Pokoknya setelah kejadian itu mbak berhenti total ngelakuin hal hal yang berbau sex. Mbak vakum. Sampai akhirnya mbak mutusin buat pindah ke kampung ini deh."

"Tahu ngga kalian tujuan mbak pindah ke kampung ini?"


"Hemmm biar mbak bisa tenang, terus terbebas dari hal hal porno kan? Ituu eeee apa ya itu eee..."


"Healing mbak..."


"Nah itu Ton."


"Ya bener Ton, Dan. Tujuan awal mbak itu ya buat healing nenangin diri dari hal hal kotor kaya gitu.

Ehhh.. tau nya mbak salah. Mbak malah pengen hal hal yang pernah terjadi dulu, mbak ulang lagi. Apalagi waktu kejadian ditolongin Pak RT pas bantu gantiin lampu di kamar itu, jadi kebuka lagi deh masa kelam mbak."


"Emang Pak RT ngapain mbak?"


"Cuma bantu gantiin lampu aja sih Dan, cuma waktu ganti lampunya ada yang berdiri di depan muka mbak. Nah kejadian itulah yang buat mbak sange, terus masturbasi deh."


"Colmek mbak!"


"Iya itu..."

"Terus ketemu sama kalian, dua anak mesum. Jadi makin bikin mbak pengen ngelakuin lagi deh!"


"Ahahahaha... Gak salah kok mbak, mbak ketemu sama kita. Kita bakal jadi partner mbak."


"Partner? Partner apa Dan?"


"Iya Dan, partner apa?"


"Partner eksib tentunya! Atau partner ngentot kali mbak kalau mbak mau ehehehe.."


"Enak aja, mulut nya ya tolong dijaga!"


"Tapi bener itu mbak, apa kata Dani! Kita bisa jadi partner buat ngerealisasiin keinginan mbak. Kita bisa bantu pastinya."


"Bener Ton, setuju aku!"


"Heeemmmm, boleh juga tuh!"

"Tapi inget ya dengan syarat yang mbak ajuin tadi. Kalian harus nurut apa kata mbak. Sama mbak gak mau di kasarin dan gak mau disuruh suruh, kecuali mbak yang minta. Dan kalian jangan paksa mbak buat ngelakuin hal hal yang mbak gak suka, atau belum suka tepatnya hihi. Biarkan ini mengalir apa adanya."

"Oke???"


"Oke mbak."

"Oke mbak."


"Deal ya?"


"Deal."

"Deal."


"Jadi kapan colmeknya mbak?"


"Baru juga dibilang Ton."


"Ya kan cuma nanya mbak, nanya doang mah boleh kan?"


"Ya boleh sih Ton, mau sekarang emang?"


"Ya terserah mbak sih, kita kan gak boleh maksa."


"Anak pinter. Hihihi. Hemmm nanti deh ya, mbak laper belum sarapan. Pengen makan dulu. Lagian waktu kita masih panjang kok, masih pagi juga ini."


"Oke deh mbak, aman aja. Tapi kita boleh ikut sarapan nggak mbak? Hhe"


"Iya mbak kita juga belum sarapan nih."


"Huuuuuuu, bela belain ngintip tapi perut masih kosong. Dasar kalian..."


"Hehehe, tadinya kan mau sarapan disekolah setelah abis ngintip, ehh ketahuan. Jadi disekap deh disini."


"Ehhhh enak aja, gak disekap ya! Kalian aja yang pengen lama lama disini. Eh iya sekolah kalian gimana, bolos dong?"


"Ahhh gapapa mbak, lagi masa tenang kok. Gak belajar juga."


"Masa tenang?"


"Iya, bentar lagi ujian kelulusan mbak. Jadi sekarang libur dulu belajarnya, biar gak stres."


"Ohhhh gitu."


"Lagian daripada ketemu Pak Joko disekolah mending lama lama disini ketemu bidadari, hhe."


"Alah gombal aja kamu Dan, Pak Joko siapa?"


"Wali kelas kami mbak, ganteng loh!"


"Loh kok, nawarin gitu?"


"Ya kali aja mbak, ahaha."


"Nggak yah! Emmmmm ganteng mana sama Pak RT?"


"Ya jelas ganteng Pak RT lah mbak, badannya bagus masih muda juga. Dia duda loh mbak!"


"Ihhh kalian ini, kok malah nawar nawarin gitu. Tapi kasian ya beliau keluarga kecilnya udah pergi ninggalin dia, padahal baru sebentar menjalani kehidupan rumah tangga. Heeemmmmm.."

"Ihhhh udah udah aahhh kok jadi ngomongin orang sih."

"Kan kita mau sarapan!"


"Kita boleh ikut sarapan juga kan mbak?"


"Iya boleh, tapi cuma ada telur sama mie instan doang. Mbak belum beli sayur, kata mbok Yeni sih ada mang Asep yang jualan sayur keliling tapi gak tahu deh kapan jualan ke kampung ini nya. Mbak masih nungguin dia."


"Dia mah gak bisa di prediksi mbak kapan kedatangannya, manusia langka dia emang. Hhe."


"Mbak bikinin nasi goreng aja ya? Ada nasi sisa kemarin tapi dingin, jadi mending di goreng aja ya."


"Siap mbak, apapun kalau bidadari yang buat mah pasti enak kok."


"Heeemm.. gombal lagi deh kamu Dan."


"Ehehehe..."


"Yaudah mbak ke dapur dulu ya, kalian tunggu disini.

Kalau mau minum ambil sendiri aja ya, anggap aja rumah sendiri."


"Oke mbak."


=¥=¥=


"Beruntung kita Dan."


"Iya Ton, hampir aja kita dilaporin tadi. Untung di kepala masih ada ide, kalau ngga sih bisa gempar kampung ini."


"Iya Dan, emang pinter kamu. Bisa membalikan keadaan gitu. Hebat!"

"Terus rencana kita apa Dan?"


"Rencana? Hemmm... Ngga ada deh kayanya Ton. Kita ikutin apa maunya mbak Adel aja. Toh kita kan udah sepakat juga sama perjanjiannya."

"Kamu ada rencana lain emang?"


"Nggg ngga ada juga sih Dan."


"Yaudah kalau gitu, kita ngikut mbak Adel aja. Kalau dikasih sesuatu ya berarti itu bonus aja. Lagian mbak Adel juga udah terbuka sekarang. Berarti tugas kita ya mantau dan nemenin dia aja, siapa tau dia mau eksib di kampung ini."


"Berarti dengan kata lain kita bantu arahin dia aja gitu ya Dan?"


"Yaappppss bener Ton, arahin dia ke arah kebinalan!"

"Ahahahahaha"


"Ahahahahahahahah.."


"Wihhhh seneng banget nih roman romannya, pada ngetawain apa sih?"


Aku menghampiri mereka setelah selesai memasak nasi goreng didapur. Menaruh tiga piring nasi di atas meja didepan kita.


"Ini mbak, ngetawain Tono waktu nangis tadi."


"Ohhhhh.... Kok bisa nangis sih Ton?"


"Ya takut mbak."


"Emang cengeng dia mbak, waktu main dilapangan aja ketemu ular dia langsung nangis padahal ular kecil."


"Weitssss,, orang ularnya udah didepan mata. Udah mau gigit kaki saya mbak, ya takut lah! Mau kecil mau besar juga kalau berbisa ya sama ajah, digigit ya mati Dani."


"Alah alesan, bilang aja emang cengeng!"


"Udah udah, kok malah pada berantem sih. Udah ayo dimakan nasi goreng nya. Maaf ya cuma ada ini dirumah, belum sempet belanja."


"Gapapa kok, segini juga udah Alhamdulillah mbak."


"Iya mbak, yang penting mah bisa makan, perut kenyang. Hhe.

Makasih ya mbak.


"Iya sama sama, di abisin ya!"


"Pasti mbak."


Kami makan dengan lahapnya, mungkin karna kami lelah dengan kejadian di pagi tadi. Jadi rasa lapar sangat terasa di dalam perut. Tak butuh waktu lama semua nasi diatas piring habis kami santap. Tono yang pertama menghabiskannya, tak salah sih badannya memang sesuai dengan keahlian makannya. Dilanjutkan Dani dan yang terakhir aku tentunya. Saat sedang mengambil piring dan akan membawanya ke dapur,,,,,, teriakan dari luar rumah mengejutkan ku.


"Saaayuuuuuuuuurrrrr,,, sayurrrrrnya sayurrrrrr....

Ibu ibu sayurrrrrrrrr...."


"Ehhhh... Itu mang Asep bukan yah?"


"Iya mbak bener, itu mang Asep."


"Mbak mau beli sayur?"


"Iya Dan."


"Yaudah aku panggilin ya biar dia berhenti."


"Ja jangan dong Dan, nanti ketahuan!"


"Ahhh iya juga ya."


"Yaudah mbak mau panggil dulu ya supaya berhenti didepan."


"Iya mbak, sini mbak biar aku yang bawa piringnya ke dapur!" Tono menghampiriku dan mengambil piring dari tanganku.


"Makasih ya Ton."


"Iya mbak."

Tono berjalan ke belakang untuk menaruh piring itu.


Aku berjalan kedepan, membuka pintu rumah lalu memanggil tukang sayur itu.


"Mangggggg, mau beli sayur!"

Aku memanggilnya sambil tangan ku melambai lambai menandakan agar dia berhenti.


"Iya mbak."


"Sebentar ya mang aku ke dalam dulu ngambil uang nya."


Ia hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Aku kembali kerumah menuju kamarku untuk mengambil uang di dompet. Namun Dani menahanku sejenak.


"Mbak aku ada ide, mbak kan dulu pernah eksib gak pakai BH waktu nemuin tukang paket, gimana kalau sekarang mbak coba lagi!"


"Gila apa, mbak kan gak tau situasi disini Dan. Harus banget sekarang?"


"Iya mbak, mumpung mang Asep datang mbak, kapan lagi coba. Ibu ibu disini juga udah pada pergi ke ladang mbak kalau jam segini. Paling cuma mbak doang yang beli."


"Heemmmmm..."


"Nanti aku pantau deh mbak, aman! Nanti kalau ada apa apa aku yang bantuin mbak."

"Gimana mbak?"


"Oke Dan, mbak terima tantanganmu."


Dani hanya tersenyum memandangku, sementara aku bergegas menuju ke dalam kamar. Aku ambil dompetku, kubuka gamisku lalu membuka BH ku. Aku memakai gamisnya lagi. Sejenak ku pandangi diriku dicermin. Putingku terlihat menonjol diatas kain tipis merah muda gamisku. Sempurna!


'Ini saatnya Del, ini sudah waktunya, jadilah kamu yang dulu. Tunjukkan tubuhmu padanya!'


Aku tersenyum pada diriku sendiri, aku akan memulainya, sekarang!


Kembali aku keluar kamar, membawa dompet ditangan kiriku. Aku berhenti didepan Dani.


"Gimana Dan?"


"Mantap mbak."

Sambil dua jempol tangannya mengarah kepadaku.


Ia melihat ku dari atas sampai bawah, dan berhenti tepat diselangkanganku.


"Mbak, celana dalem nya!"


"Harus juga Dan?"


"Iya mbak, biar totalitas."


"Yaudah deh."


Aku menarik ujung gamisku sampai pinggang, ku tarik celana dalam ku untuk melepas nya. Dan terlepaslah, kini aku sudah tidak memakai penghalang pada organ intimku, hanya kain tipis yang menutupnya.


"Nih Dan, simpenin ya!"


Aku memberikan celana dalamku pada Dani, iya menerima dengan kedua tangannya lalu mencoba menghirupnya.


"Aaahhhhh, wangi mbak."


"Dasar!"


Aku hanya tersenyum padanya. Kulanjutkan langkah kakiku keluar rumah menuju mang Asep, tukang sayur. Aku sudah berdiri didepan roda sayurnya.


"Maaf ya mang lama, tadi nyari dulu dompetnya. Lupa nyimpennya dimana, ternyata keselip di bawah tas."


Ia tak membalas pernyataanku. Ia terdiam memandangiku, wajahnya melongo, mulutnya menganga. Mematung, tak ada gerakan. Wajar pikirku, ini memang tujuanku. Membuatnya tak berkutik ketika melihat kecantikan parasku.


"Mang,, mang,, mang Asep! Halo... mang."

"Mang gak apa apa."


Aku mencoba menyadarkannya, kulambaikan telapak tanganku tepat didepan wajahnya. Tidak berhasil, ia tetap diam membisu.


"Mang, mang Asep... Mangggggg...."


Aku taruh dompet ku ditumpukkan sosin, kedua tanganku meraih bahunya. Ku goyangkan tubuhnya sambil memanggil namanya.


"Mang,,, manggggg,, mang Asep, sadar mangggg..."


Sampai akhirnya,,,,,


"Ehhhhhh iii iiya iiyya mbak iyaaaaa. Duh sampe kaget saya mbak liat mbak nya.."


"Emang saya kenapa mang?"

"Ada yang aneh kah sama muka saya mang?"


"Nggg nggg gggga ngggaaaa kok mbak gapapa."


"Saya mau beli sayuran sosin ya mang, wortel juga."


"Iya mbak silahkan dipilih aja apa yang mbak mau!"

"Mbak baru ya tinggal disini?"


"Iya mang, baru beberapa hari yang lalu aku pindah kesini."


"Ohh pantesan saya baru lihat mbaknya."


=¥=¥=


"Ton, Tonooooo,, sini cepet!"


"Apa sih Dan?"


"Udah sini dulu, cepetan!"


"Iya iya, apa sih?"


"Kamu kok lama abis ngapain sih, Ton?"


"Cuci piring lah Dan!"


"Ohhhh sambil dicuci, aku kira disimpen doang. Rajin kamu ya!"


"Aku mah emang rajin orangnya, gak kaya kamu."


"Wiettttsss aku emang gak rajin tapi pinter Ton." "Kamu harus garis bawahi itu."


"Siap, si paling pinter."

"Emang ada apa sih Dan?"


"Lihat tuh diluar!"


"Mbak Adel lagi beli sayur sama mang Asep."


"Aduhhh Tono, liat dengan jeli dadanya mbak Adel!"


"Wihhhh, ada yang nonjol Dan."


"Hooh...."


"Mbak Adel gak pake BH Dan?"


"Iya Ton, tadi aku suruh buat lepas BH nya."


"Emang pinter kamu Dan."


"Jelas Ton, kita kan partner eksibnya mbak Adel sekarang. Jadi kita harus merealisasikan kebinalannya. Kita harus bantu dia Ton."


"Oke Dan, siap laksanakan!"


"Nih Ton!"


"Apa ini Dan?"


"Liat aja dulu!"


"Wadidawwww, ini kan celana dalam Dan."


"Iya emang itu celana dalam Ton."

"Punyanya mbak Adel!"


"Hahhhhh, yang bener Dan?"


"Beneran Ton, masa aku bohong sih."


"Ja jadddd jaadiiii,,, mbak Adel juga gak pake celana dalam Dan."


"Betul sekali, tadi aku suruh lepasin juga Ton. Nanggung soalnya, biar totalitas sekalian. Iya gak Ton?"


"Wihhhh emang paling pinter deh temenku ini, kali ini aku sembah kamu suhu ku...."


"Alah lebay kamu Ton. Coba dihirup Ton, rasakan aromanya!"


"Aaahhhhhh wangi bener Dan memeknya mbak Adel."


"Pastilah Ton, memeknya aja bersih gitu. Pasti wangi."

"Ntar kamu lihat deh pas mbak Adel muterin roda."


"Iya Dan, kita pantau dulu."


=¥=¥=


"Lihat akunya, atau lihat apanya nih mang? Daritadi mang lihatin dada aku mulu, kan aku jadi malu mang."


"Habisnya ada yang nonjol mbak, dibalik gamis mbaknya. Maaf nih mbak bukan kurang sopan atau apa, mbak gak pakai BH ya?"


"Ehhhhhh... Emang kelihatan yang mang?"


"Ya jelas toh mbak, dada mba kan besar terus gak pakai BH. Putingnya ya jadi kelihatan kemana mana."


Aku tak berusaha menutupinya karna ini memang tujuanku. Aku malah menarik ujung hijabku dan menyampirkannya di pundakku. Dadaku semakin terlihat jelas kali ini.


"Tuhkan mbak, jelas banget ada yang nonjol gitu."


"Hihi iya mang aku pikir gak kelihatan tadi.

Soalnya semua pakaian dalam ku lagi aku cuci mang.

Aku gak bawa stok banyak waktu pindahan kesini. Terus tadi pas aku nyuci baju ya sekalian aja semuanya dicuci."


"Semuanya mbak?"


"Iya mang, semuanya BH sama celana dalam aku!"


"Kalau semuanya, jadi mbak nggak pakai celana dalam juga dong?"


"Hihi iya mang, tuh lihat!"


Aku bergerak memutari roda yang asalnya aku berseberangan dengannya, kini aku berada di sampingnya. Sedikit ku tunggingkan pantatku, mengarahkan padanya.


"Gak pakai kan mang?"


"Ii iya iya mbak, jelas mbak gak pakai celana dalam. Jelas banget pantat mbak, bahenol."


"Masa sih mang, nggak ah biasa aja tuh!"


Kali ini kedua tanganku meremas bongkahan pantatku dan sedikit mengangkatnya.


"Biasa aja kan mang?"


"Wowwww itu mah luar biasa mbak. Jadi pengen ngeremes juga mbak."


"Jangan dong mang, dosa tahu!"


"Gak apa apa deh mbak kalau dosa juga, saya siap menanggungnya, asalkan bisa pegang pantat mbak!"


"Hhuuuussttt,, gak boleh gitu dong mang, gak boleh main main sama dosa pamali tahu. Kecuali mang Asep orang nya pemberani."


"Jadi boleh pegang nih mbak?"


"Coba aja kalo berani!"


Mang Asep mulai menurunkan tangan kanannya menghampiri pantatku untuk berusaha meremasnya.


Tapi dari kejauhan terdengar suara teriakan dan langkah kaki yang terburu buru.


"Mang Aseppppp, mang Asep kemana aja baru kesini lagi?"


Mang Asep seketika terkejut, tangannya ia tarik kembali berpegangan pada roda sayurnya. Aku tak kalah terkejutnya kutarik kembali ujung hijabku. Kututupi puting payudaraku setertutup mungkin.

Semoga tidak curiga itu pikirku saat itu.


Seorang ibu yang belum ku tahu siapa, mendekati kami dengan langkah cepat.


"Biasa Bu Ratmi, sibuk! Ada kerjaan sama sodara bangun rumah di proyek."


"Kirain teh ga akan jualan lagi mang!"


"Ya masih jualan lah Bu, proyeknya udah beres. Jadi saya jualan sayuran lagi."


"Saya beli brokoli, tahu, tempe, sama ikan nila ya mang!"


"Iya Bu."


"Ehhh ini mbak Adel ya?"


"Iya Bu, saya Adel, saya yang tinggal di rumah ini sekarang."


"Iya mbak, saya Ratmi tinggal di ujung jalan sana. Mbak Adel ini ayu tenan ya, tinggi juga kaya model mbak."


"Ahhhh ngga kok bu biasa aja."


"Beneran deh mbak, iya kan mang Asep?"


"Yo jelas Bu Ratmi, cantik luar biasa mbak Adel ini."


"Tuhkan mbak, mang Asep aja mengakuinya. Tapi inget istri loh mang, di rumah ada anak juga."


"Yeee Bu Ratmi teh gimana, saya kan cuma mengungkapkan kenyataan aja kalau mbak Adel itu memang cantik. Kok jadi disuruh inget istri, ya pasti inget lah bu."


"Hati hati aja ya mbak! Hihi."


"Iya bu."

Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Jadi berapa semuanya mang?"


"Lima puluh ribu bu!"


"Ini mang uangnya."


"Pas ya bu, terima kasih."


"Iya sama sama mang. Yaudah kalau gitu saya pamit dulu ya, lagi rebus air didapur takutnya malah habis nanti kalau lama ditinggal."

"Mari mbak Adel, semoga betah ya dikampung ini."


"Iya bu, mari silahkan."


Bu Ratmi pergi meninggalkan kami.


"Duhhhh ganggu aja Bu Ratmi ini. Coba lagi ya mbak, tadi kan belum sempet pegang."


"Eitttssss...."


Aku berpindah ke sisi lain roda sayur, menjauh dari mang Asep.


"Kesempatan mang Asep sudah hangus, cuma ada satu kali kesempatan aja ya mang. Tadi harusnya mang Asep gerak cepet mang."


"Ya mbak, kok gitu sih. Tadi kan ada Bu Ratmi mbak."


"Pokoknya kesempatan kali ini udah habis, mungkin lain kali bakal ada kesempatan lagi mang, hihi."


"Yahhhhh dasar Bu Ratmi sialan. Gak jadi pegang kan."


"Hussshhhh, ga boleh ngomong gitu dong mang."


Wajahnya kini terlihat lesu, aku tidak tega jadinya. Apa aku kasih hadiah aja ya? Hemmm,, menarik.


"Mau nambah apa lagi mbak, tempe tahu mungkin atau ayam?"


"Tempe sama tahu boleh deh mang. Beli ayam gak yah?"

"Sama ayam juga deh mang sekalian."

"Jadi berapa semuanya mang?"


"Bentar mbak saya hitung dulu."

"Lima puluh ribu mbak semuanya, tapi karna mbak udah jadi pelanggan saya ada diskon deh. Saya diskon jadi tiga puluh ribu aja."


"Wihhhh ada diskon juga ternyata, mang Asep baik juga ya orang nya."


"Iya dong mbak, buat pelanggan yang baru pertama beli kesaya saya pasti kasih diskon biar jadi pelanggan tetap nantinya."


"Ohhh gitu ya mang, kalau gratis boleh ngga mang?"


"Duhhh kalau gratis mah, saya rugi dong mbak."


"Kalau gratis tapi saya kasih pegang, rugi nggak mang?"


"Haahhhhh yang bener mbak? Kalau itu sih gak akan rugi mbak saya ikhlas ngasih nya juga."


"Oke deh deal ya!"


"Iya mbak, deal!"


"Mau pegang yang bawah atau yang atas?"


"Yang atas emang boleh mbak?"


"Heem, sesuai pilihan mang Asep aja!"


"Kalau gitu mah saya pilih yang atas aja mbak."


"Oke mang, tapi inget cuma sekali pegang aja ya!"


"Oke mbak, siap."


Aku berpindah lagi, kini berdiri disamping mang Asep. Tubuh kami saling berhadapan.


"Aman kan mang?"


"Aman mbak, sepi."


"Ayo mang!"


"Iya mbak."


Kedua tangan mang Asep kini sudah berada di atas payudaraku. Jari jarinya mulai meremas, bukan meremas biasa. Tapi meremas dengan penuh nafsu, kini ibu jari dan jari telunjuknya memainkan puting payudaraku. Keduanya dipilin oleh nya, diputar putar lalu ditekan. Ini tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan di awal. Ku kira ia tak akan seberani ini. Aku hanya mengira ia akan memegangnya sebentar saja setelah itu selesai. Tapi tidak, dugaan ku meleset. Ia benar benar memanfaatkan kesempatan ini. Sampai suara desahanku terucap dari mulutku.


"Aaahhhhhh, mang udah mang. Stop mang stop, berhenti!"


"Bentar lagi mbak, uhhhhhh susu mbak......"


"Udah mang stop!"

Ku pegang kedua tangannya, ku dorong menjauh dari payudaraku.


"Udah ya mang, ini udah kelewatan!"


"Ii iiya mbak iya mbak. Maaf mbak maaf, saya gak tahan soalnya, kenyal banget susunya mbak gede lagi. Maaf ya mbak maaf, sekali lagi saya minta maaf.

Ngapunten mbak...."


"Iya mang, gapapa. Gausah minta maaf gitu."

"Aku takut ada yang lihat aja kalau kelamaan, kan bisa bahaya nanti."


"Iya mbak, maaf saya kelepasan."


"Yaudah gapapa, kalau gitu makasih banyak ya mang udah ngasih aku belanjaan gratis."


"Iya mbak, saya loh yang makasih udah dikasih kesempatan buat megang punya mbak."


"Iya mang sama sama, ohhh iya jangan sampai ada yang tahu loh mang. Ini jadi rahasia kita!"


"Oke mbak aman!"


"Yaudah aku masuk dulu ya mang.

"Dah mang Asep......"


"Iya mbak."


Aku masuk kedalam sambil menjinjing kresek belanjaan, belanjaan gratis tentunya, hihi.

Setelah aku melewati pintu, Dani dan Tono berdiri memberi tepuk tangan untuk ku.


Prok prok prok prok...

Prok prok prok....


"Hebat banget mbak, mbak berani banget tadi!"


"Gila mbak, sampai speechless aku ngelihatnya mbak."


"Yeeeeeee, berhasil kan!!!"

"Gimana menurut kalian?"


"Buat permulaan, itu sih debest mbak."


"Iya mbak, level mbak udah tinggi. Udah kaya pemain pro. Gak ada takut takut nya mbak, berani banget ngalir aja gitu. Mbak ga ada gugup gugupnya juga kita lihat. Mantap mbak!"


"Masa sih, berlebihan nih kalian."


"Beneran mbak."


"Iya mbak, mbak gokil deh."


"Makasih ya, ini kan berkat dorongan kalian juga mbak bisa senekat ini."


"Jadi menang banyak mang Asep mbak."


"Iya mbak, keenakan tuh mang Asep."


"Kok bisa di biarin ngeremes susu mbak sih?"


"Ini, tukeran sama belanjaan ini Dan. Mbak dikasih gratis sama mang Asep, jadi mbak kasih pegang aja.

Mbak kasih pilihan mau yang atas atau yang bawah. Mang Asep milih nya yang atas, yauda deh!"


"Ohhh jadi barter gitu mbak?"


"Iya Ton."


"Mbak gak risih apa, mang Asep kan udah tua mbak. Udah hampir kakek kakek loh mbak?"


"Gini Ton, eksib itu gak mandang usia gak mandang dia itu siapa, dan gak mandang ganteng atau jeleknya. Yang terpenting itu kita nyaman ngelakuinnya aja. Terus ada rasa bangga kalau udah ngelakuinnya, apalagi kalau tubuh kita sampai dipuji puji. Seneng deh pokoknya."


"Kalian tahu ngga mang Asep adalah cowok pertama yang nyentuh badan mbak loh."


"Wah wah wah emang bener bener beruntung itu mang Asep, jadi yang pertama megang susu pula."


"Berarti kita juga boleh megang dong mbak?"


"Ngga boleh dong, kalian kan udah janji sama mbak.

Inget yah perjanjian tetep perjanjian ga boleh diingkari."


"Iya mbak."

"Iya mbak."


"Jadi mau sekarang?"


"Ayo mbak!"


"Asiiikkkkkk.... Akhirnya aku bisa lihat langsung juga Dan."


"Yoi Ton. Selamat menikmati."


Bersambung


:::::::::::::::::::::


#8


EKSPEKTASI DAN KEGAGALAN


"Mau dimana? Di kamar mbak aja atau disini?"


"Disini aja deh mbak, biar bisa sambil duduk kita nontoninnya."


"Oke deh, kalau itu mau kamu Dan."

"Ada request ngga?"


"Hemmm apa ya mbak? Mbak buka gamisnya tapi tetep pake hijab ya mbak!"


"Emmm kamu suka tipe yang begituan ya Dan?"


"Hhe iya mbak, lebih menggoda aja."


"Kalau kamu Ton, mau mbak gimana?"


"Aku sih... ,gak ada deh mbak. Samain kata Dani aja."


"Oke deh, bentar ya! Mbak buka gamisnya dulu."


Aku membuka gamisku, hijabku tetap ku pakai sesuai keinginan Dani.


"Wooowwww, badan mbak bagus banget!"


"Iya mbak kaya model."


"Model apa tuh Ton?"


"Model.... apa ya.. itu loh.. model..... Bokep mbak."

"Ahahahahaha."


"Ahahahahahahaha..."


"Kamu mah, masa nyamain mbak kaya model bokep sih. Nggak ah gamau, model catwalk gitu atau model majalah. Malah model bokep!"


"Ehehe abis nya mbak bikin sange mbak. Cocok kalau jadi model bokep."


"Hemmm tapi yang kelas atas kan?"


"Iya dong, yang udah profesional gitu mbak. Kalau model yang amatir mah, mbak udah beda kelas. Nggak selevel mbak."


"Kamu ini bisa aja, dasar."

"Jadi posisi nya gimana?"


"Mbak duduk di sofa yang panjang aja. Kita geserin dulu meja sama sofa pendeknya."

"Ayo Ton, bantu!"


"Iya Dan, siap."


"Nah gini aja mbak, kita berdua nontonnya dari sini!"


"Oke deh."


Dani dan Tono menggeser sofa yang akan mereka duduki. Posisinya sekarang saling berhadapan dengan ku.


"Mbak mulai ya!"


Aku duduk disofa, punggungku aku sandarkan. Kedua kakiku aku lebarkan, posisi ku mengangkang saat ini. Vaginaku pasti terlihat jelas oleh mereka berdua.


"Mbak malu tahu nggak!"


Aku merapatkan kembali kedua kakiku, berusaha menutup vaginaku dari pandangan mereka.


"Yahhh, kok ditutup lagi mbak?"


"Malu Dan!"


"Gak usah malu lah mbak, Dani kan udah pernah lihat mbak colmek juga."


"Ya itu kan mbak diintipin Ton, mbak juga gak tahu ada Dani lihatin mbak, jadi mbak bisa leluasa ngelakuinnya."

"Kalo sekarang kan didepan mbak ada kalian berdua yang lihatin mbak. Mbak jadi gugup rasanya."


"Yah gimana dong mbak?"


"Gatau Ton, mbak belum sepercaya diri itu kayanya."


"Heemmm mbak kan malu kalau kita lihatin langsung, gimana kalau mbak colmek nya sambil merem aja? Mbak kan gak lihat kita jadinya, anggap aja kita gak ada mbak."


"Iya mbak, bener kata Dani."


"Kamu ya Dan, pinter banget selalu aja ada solusinya."


"Iya mbak, dia emang pinter. Kita harus akui itu haha."


"Heemm, Ton bener."


"Mungkin itu bakat mbak, gatau deh."


"Yaudah mbak coba ya!"


"Iya mbak."

"Iya mbak."


Aku kembali membuka kedua kakiku, kali ini mataku aku pejamkan. Tak melihat mereka berdua, aku jadi bisa lebih fokus jadinya. Tangan kananku ku usapkan di atas vaginaku. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit hingga cairan dalam vaginaku mulai keluar. Membasahi permukaannya, kuratakan keseluruhan bagiannya. Ku usap klitorisnya, ku tekan tekan hingga mulutku tak tahan untuk mengeluarkan desahan. Aku mendesah.


"Aaahhhhh.."


"Aahhhhh.."


"Aahhhhhhhh..."


"Enak Dan.. ahhhhhhh... Enak banget Ton..."


Tangan kiriku kini hinggap di payudara kiriku. Mencoba meremasnya dan mengusap usap putingnya. Putingku sudah mengeras kali ini, ku tekan ku pijit pijit dengan jari telunjuk dan ibu jariku.


"Ahhhh... Nikmat banget ini..."


"Ahhhhhhhh.."


"Aaaaahhhhhh..."


"Mbak... Mbakkk!!!...."


Suara Dani menyadarkanku, aku membuka mata lalu memandangnya. Tangan kananku masih ku gerakkan untuk mengusap usap vaginaku.


"Iya Dan."


Suaraku lemah, sedikit parau terdengar.


"Mbak kita boleh sambil coli ngga?


"Iya mbak, kita juga udah gak tahan lihatin mbak colmek."


"Iya boleh kok. Pake minta ijin segala kan tinggal keluarin aja."


"Takut mbak marah.


"Nggak kok, mbak ngga marah kalian coli aja asal inget sama perjanjiannya ya!"


"Iya mbak, siap."

"Iya mbak, makasih."


Mereka berdua kemudian berdiri, menarik turun celana mereka sampai terhenti diatas mata kaki. Mereka melakukan itu berbarengan, lucu juga melihat kekompakan mereka. Sahabat baik memang harus seperti itu pikirku.


Penis mereka mencuat, terlihat jelas oleh mataku. Ini pertama kalinya juga aku melihat penis cowok secara langsung, kalau lihat di video mah udah sering dulu. Ku perhatikan sejenak, keduanya sudah tegang sempurna. Milik Dani lebih kecil dari milik Tono, lebih pendek juga. Penis Tono terlihat sedikit lebih panjang.


Sesuai tubuh mereka pikirku, tidak berbanding terbalik. Dani dengan tubuh kurusnya memiliki penis yang lebih kecil dan pendek dibandingkan Tono yang lebih besar dan panjang dengan tubuh gemuknya.

Dengan melihat penis mereka, tubuhku terasa tersentak. Aku mulai lebih percaya diri melakukan ini.


Kali ini mataku tak aku pejamkan, aku membiarkannya terbuka sambil melihat dua kejantanan pria di hadapanku.


Mereka mengocoknya dengan semangat, sangat bersemangat pikirku. Wajar, ini adalah pertama kalinya bagi mereka. Coli sambil melihat wanita dihadapannya masturbasi. Ini kesempatan langka bagi mereka, mereka harus memanfaatkannya.


"Ahhhh mbak Adel, bagus banget memek mbak.

Pengen aku masukin kontolku mbak."


"Iya mbak, memek sama susu mbak bagus banget.

Aku pengen ngentotin mbak."


"Anjirrrr enak banget mbak, bisa coli sambil liatin mbak colmek."


"Jilatin kontol aku mbak, aku pengen crot di mulut mbak."


"Aaahhhhhhh..."


"Ahhhhhh.."


"Aaahhhhhhhhh...."


"Aaahhhhhhhhhhhh....."


Suara mereka saling bersahutan, kata kata kotor dan kasar keluar dari mulut mereka. Emang ya, nafsu itu bisa mengalahkan segalanya. Mereka berdua memang orang baik aku tahu itu, tapi mereka juga mesum. Orang baik yang mesum, aneh juga. Apa itu biasa aja? Entahlah.


Aku tak mau kalah, ku balas ceracauan mereka.


"Iya Dan, kocok terus burungmu Dan, yang kenceng.

Ayo terus Dan!"


"Kamu juga Ton, cepetin ngocoknya. Burungmu yang gede gak akan muat masuk vagina mbak Ton."


"Ayo kocok terus kalian berdua."


"Ahhhhh iya mbak..."

"Aaahhhhhh enak mbak.."


"Aaaahhhh udah pengen keluar aku mbak..."


"Ayo Ton, kocok terus sampai keluar Ton...."

"Ayo Dan kamu juga, semangat ngocoknya...."


"Iii iya mbak, ini aku kocok terus kok kontolku..."


"Mbakkkk gak kuat mbak.... Udah mau keluar...."


"Ayo keluarin Tonnnnn..."


"Assalamualaikum mbak Adel...."


Kami bertiga menengok ke arah suara didepan rumah. Lalu berpandangan satu sama lain.


"Ada yang manggil mbak, siapa ya?"


"Kaya suara Pak RT mbak."


"Assalamualaikum mbak Adel.."

"Mbak Adel ada dirumah?"

"Mbak Adel..."


"Iya Pak, sebentar!"


"Ja jang jangan mbak, kok mbak sahutin sih? Kan bisa pura pura ngga ada orang mbak."


"Ohhh iya lupa Dan. Gimana dong? Udah terlanjur."


"Yah mbak mah, nanggung nih udah mau keluar juga."


"Ya maaf, lupa!"


"Sialan Pak RT ngapain sih ganggu orang lagi enak aja!"


"Iya Pak RT sialan bikin kentang aja!"


"Udah udah, kalian pake lagi celananya. Kalian ngumpet di dalam kamar mbak ya. Jangan bersuara, inget!"


"Iya mbak."

"Iya mbak."


"Mbak mau pake gamisnya dulu!"


"Mbak gak pake daleman?"


"Gausah deh Dan, mbak kan mau eksib lagi ada mangsa baru, hihi."


"Pake aja deh mbak, ya! please..."


"Loh kok gitu?, tadi kamu yang suruh mbak buat gak pakai daleman, kok sekarang...."


"Aku takut mbak kalau ketahuan Pak RT."


"Kok jadi kamu yang takut sekarang Dan, kenapa?"


"Dani emang takut sama Pak RT mbak, dulu pernah dimarahi dia sama Pak RT gara gara ketahuan maling mangga di kebun Pak Somad."


"Ohhh gitu Dan. Trauma masa lalu ya?"


"Iya mbak, pake ya mbak! Buat Pak RT pengecualian deh mbak."


"Hemmmm, gapapa Dan tenang aja aman kok." "Percaya sama mbak. Oke!"


"Iya deh mbak."


"Yaudah cepet sana ngumpet!"


"Iya mbak."

"Iya mbak."


"Ehhhh mbak tunggu dulu!"


"Apalagi sih Dan?"


"Sepatu kita mbak, ada diluar!"


"Kamu ya, ketakutan banget sama Pak RT."

"Nanti mbak tutupin sama kain lap deh, biar gak kelihatan."


"Oke mbak."


"Udah sana ngumpet!"


Mereka berdua berlari menuju kedalam kamarku. Pintu mereka tutup agar tak terlihat dari luar. Aku mengambil kain lap untuk menutup sepatu mereka.

Aku berdiri di depan pintu, mempersiapkan diriku.

Ku buka pintu rumahku, aku melangkah keluar lalu dengan cepat ku dorong dua pasang sepatu milik Dani dan Tono ke belakang pot tanaman. Lalu ku tutupi dengan kain lap. Aman pikirku.


"Iya Pak RT ada apa ya?"


"Ini mbak, mau nagih iuran keamanan dan ronda, sama uang sampah juga!"


"Ohhhh iya tunggu sebentar ya! Aku ambil uangnya.

Pak RT mau masuk dulu?"


"Boleh deh mbak, sambil numpang istirahat sebentar!"


Aku masuk ke rumah lebih dulu, di ikuti oleh Pak RT kemudian.


"Silahkan duduk pak!"


"Iya mbak terimakasih."


"Jadi semuanya berapa pak?"


"Semuanya empat puluh ribu mbak, keamanan dan ronda dua puluh ribu dan sampah dua puluh ribu juga."


"Bentar ya pak aku ambil uangnya dulu."

"Ehh dompetku dimana ya?"


"Kenapa mbak, kaya bingung gitu?"


"Nyari dompet pak."


"Di kamar mungkin mbak.


"Nggak pak, tadi aku habis beli sayuran di mang Asep. Belum sempet simpen dikamar, dimana ya?"


"Ohhh mbak udah ketemu sama mang Asep?"


"Iya pak, udah tadi!"


"Hati hati ya mbak sama dia, dia mesum orangnya! Ngomongnya suka ceplas ceplos mbak, kotor lagi.

Apalagi tangannya mbak, suka gatel. Nyolek nyolek pelanggannya kalau lagi beli sayur. Hati hati deh mbak sama mang Asep!"


"Ohhhh, gi gittt gitu ya pak?"


"Heem mbak, tapi mbak tadi gak diapa apain kan?"


"Ngg nggggg ngggaaa kok pak, aku a aaaman pak. Iya aam ammmann pak, hhe."


"Syukur deh mbak kalau gitu."


"Iya pak, tadi ada Bu Ratmi juga kok pak waktu aku belanja."


"Ohhh sama Bu Ratmi, bagus deh mbak. Pokoknya jangan sampai cuma berduaan aja sama mang Asep mbak. Dia suka manfaatin kesempatan mbak."


"Eeehhhh iya pak, iya."


Kok omongan Pak RT tentang mang Asep bisa bener ya, bisa sama dengan kejadian yang aku alami.


"Emang udah pernah kejadian pak? Mang Asep pernah ngelakuin apa?"


"Setahu saya sih, ya gitu mbak suka ngegodain ibu ibu yang belanja. Omongannya jorok mbak, tangannya juga gatel. Pernah kepergok colek colek tangannya Bu Desi mbak. Itu sih yang saya tahu, soalnya yang laporan kesaya cuma kasus itu aja. Gatau deh kalo yang gak lapor, mungkin ada ajah mbak. Itu juga Bu Desi jadi malu sehabis laporan tentang yang dilakuin sama mang Asep. Mungkin ibu ibu yang lain ada juga yang jadi korbannya, cuma ya gitu mbak gak ada yang laporan. Takut jadi malu juga kali. Gatau deh, saya juga gak bisa terus terusan mantau dia mbak."


"Ohhhh pantesan aja, tadi Bu Ratmi juga nyuruh aku hati hati sama mang Asep pak."


"Nah bagus itu mbak, kalau udah dikasih tahu sama Bu Ratmi. Mbak jadi bisa jaga diri."


"Ehhhh, iii iya pak. Aku bisa jaga diri kok, tenang aja. Hhe."


Yah gimana ya pak, aku malah rela tubuhku disentuh sama dia tadi. Aku malah suka sama orang kaya mang Asep pak, eksib ku jadi lebih gampang. Singa dikasih daging sih, ya langsung diterkam. Hihi.

Aku berbicara dalam hatiku.


"Ohh di kresek sayuran pak, aku baru ingat tadi aku masukin kedalam nya."


"Kresek itu mbak!"


"Ohh iya itu pak, tadi lupa nyimpennya dimana, hhe."


Aku mengambil dompetnya lalu mengeluarkan uang lima puluh ribu satu lembar.


"Ini pak uangnya!"


"Oke saya terima ya mbak, ini kembaliannya sepuluh ribu. Terimakasih."


"Aku yang makasih loh pak."


"Hahhh..."


"Iya, Pak RT udah mau nagihin uang iuran ke setiap warganya."


"Ya itu kan sudah tugas saya mbak."


"Tapi dikota sana, ngga kaya gini loh pak. Warganya sendiri yang harus setor ke rumah RT nya. Ngga dijemput kaya gini."


"Ohhh mungkin memang sistemnya beda kali mbak."


"Iya ya pak, tapi Pak RT rajin loh, gak banyak pemimpin yang mau susah ngurusin warganya."


"Ya sudah kerjaannya kaya gini mbak, ini kan tugas dari Pak RW juga. Gak mungkin saya tolak mbak bisa dipecat nanti saya haha."


"Capek pasti ya pak, keliling keliling?"


"Ya capek mbak, tapi ya sekalian olahraga juga biar tetep sehat."


"Iya pak, kelihatan kok badan bapak bagus kaya atlit pak, hihi."


"Ngga kok mbak biasa aja ah, orang kurus gini."


"Kok kurus sih pak, badan bapak tuh berisi tau."


"Masa sih mbak?"


"Iya, coba di angkat bajunya sedikit!"


"Jangan deh mbak, saya malu mbak. Gak baik juga lihatin aurat saya ke lawan jenis saya. Apalagi mbak kan wanita muslimah gini."


"Dikit aja pak, aku penasaran soalnya!"


"Jangan deh mbak, malu saya. Ga enak mbak."


"Ayo dong pak!"


Wajahku memelas, berharap dia mau menuruti permintaanku.


"Sedikit aja ya mbak......"


"Tuhkan pak, kotak kotak gitu!"


"Hehe, ngga kok mbak biasa aja ini."


"Pak RT kok merendah gitu sih? Itu kan jelas berbentuk gitu pak. Kok bisa sih pak?"


"Ya mungkin berkat rajin olahraga aja sih mbak. Tinggal sendirian ya mau ngapain lagi kan, jadi ya diolahragain aja deh."


"Boleh pegang gak sih pak, aku dari dulu suka kebayang rasanya megang perut sixpack tuh kaya gimana."


"Jangan deh mbak, saya ngga enak! Mbak Adel kan cewek, bukannya yang bukan muhrim gak boleh saling bersentuhan ya mbak?"


"Heeemm gitu ya pak."


"Setahu saya sih gitu ya mbak, dosa katanya.

Mbak kan pasti lebih paham dari saya."


"Hhe iya pak bener, gak boleh saling bersentuhan hehe. Cuma aku penasaran aja pak rasanya megang perut yang sixpack gitu, hhe."


"Jangan deh mbak, malu saya ga enak sama mbak."


Aku kikuk saat itu, malu rasanya permintaan ku di tolak mentah mentah. Padahal kalau itu mang Asep aku yakin dia secara sukarela menyerahkan tubuhnya untuk aku sentuh. Tapi kok pak RT berbeda ya, dia seperti ingin menjaga diriku. Apa mungkin karna pakaian ku ini? Gamis dan hijab yang aku pakai di keseharianku. Sehingga pak RT menilaiku sebagai wanita muslimah yang baik.


Mungkin juga, memang harus seperti itu logikanya. Wanita yang tertutup oleh gamis dan hijab, jangankan bersentuhan kulit pandangan mata saja harus ia jaga. Tapi aku kan bukan wanita seperti itu Pak RT, aku wanita muslimah yang berbeda. Iiihhhh bete deh.


Aku harus mencobanya lebih keras lagi, jangan sampai aku gagal. Tapi dilihat dari gelagatnya yang berusaha menolak, aku jadi ragu ngelakuinnya. Apa orang baik gak boleh diginiin ya? Bener juga apa kata Dani tadi, Pak RT jadi pengecualian. Kalau aku paksakan dan dia gak terima, bakal bahaya gak sih?

Aku jadi takut juga sama kaya Dani.


Huuuhhhh, baiklah!


"Ehem ehemmm,, cuaca hari ini agak panas ya mbak. Mulut saya jadi agak seret gini. Hhe."


"Eeehhhh,,, tuhkan pak sampe lupa nyediain minum.

Bentar ya aku buatin kopi dulu!"


"Iya mbak, sudah ada kopi emang mbak?"


"Sudah pak, kemarin beli di warung mbok Yeni."


"Iya mbak, makasih ya."


"Sama sama pak, bentar ya!"


Aku melangkah menuju dapur, mengambil gelas lalu menuangkan bubuk kopi kemasan kedalamnya. Mengisinya dengan air panas dari dispenser. Ku aduk lalu ku bawa kedepan.


Duh mejanya belum aku pindahkan lagi tadi.


"Pak, boleh minta tolong mejanya digeserin ke depan sofa!"


"Ohh boleh mbak. Sebentar...."

"Nah, sudah."


"Makasih ya pak."


"Iya mbak."


"Ini pak kopinya, silahkan diminum!"


"Waahhhh kopi hitam, kesukaan saya ini mbak.

Makasih ya."


"Iya pak, sama sama."


"Saya minum ya mbak."

"Ssllllluuuurrpppp.... Ahhhh enak mbak.."


"Alhamdulillah kalau enak dan Pak RT suka."

"Maaf ya pak tadi habis disapu, jadi belum di taruh ke posisinya lagi.


Lagi lagi aku berbohong, padahal tadi habis ada pertunjukan disini pak, hihi.


"Ehh iya mbak gapapa, aman kok."

"Pantesan muka mbak keringetan gitu, abis beberes rumah ya mbak?"


"Heeemmmmm cuma nyapu sama nyuci sedikit sih pak."


"Ohhh bukannya kemarin kemarin sudah nyuci mbak?"


"Iya pak, tadi nanggung aja pengen nyuci semua dalemanku, BH sama celana dalam pak."


"Semuanya mbak, gak disisain sepasang buat di pakai gitu mbak?"


"Ngga pak, nanggung aja. Jadi ku cuci semua.

Nih aku juga sekarang lagi ga pakai daleman pak!"


Aku mengangkat ujung hijabku, memperlihatkan bulatan payudaraku yang menggunung. Dengan dua tonjolan yang mencuat dibalik gamis tipisku.

Tapi.....


"Eehhhh mbak, jangan gitu mbak,, tutupin mbak tutupin jangan di lihatkan, pamali mbak dosa...."


Pak RT membuang pandangannya, sambil tangan kirinya menutupi ujung matanya. Berusaha untuk tidak melihat dadaku.


"Ehhh iya pak iya..."


"Tutup dulu mbak tutup!"


"Iya pak sudah."


Aku turunkan kembali ujung hijabku, kututup kembali puting ku yang sudah menonjol ini setertutupnya.

Malu rasanya, aku yakin mukaku sedikit memerah saat ini.


"Kalau gitu saya pamit dulu ya mbak!"


"Ehhh kok buru buru pak?


"Iya mbak saya mau muter lagi, takut kesorean nanti.

Pamit ya mbak."


"Kopinya tidak dihabiskan dulu pak?"


"Lain kali ya mbak, maaf tidak saya habiskan.

Saya pamit, assalamualaikum..."


"Iya pak, waalaikumsalam....."


Pak RT meninggalkan ku dengan terburu buru.

Kenapa dia? Ada apa dengannya? Apa aku salah menilainya? Atau memang kelakuanku yang salah?


Aku kembali terduduk di sofaku.

Dani dan Tono keluar dari kamar menghampiriku, lalu duduk di depanku.

Pandangan mereka aneh terhadapku.


"Kenapa muka mbak merah?"


"Ehhhh, keliatan ya Dan?"


"Jelas mbak, merah banget malah."


"Iya mbak, kenapa emangnya kok jadi sedih gitu?"


"Mbak gagal Ton, mbak malu rasanya."


"Kok bisa mbak?"


"Iya Ton, ternyata pak RT orangnya baik. Dia ngga seperti yang mbak kira, mbak salah nilai dia. Dia mbak sentuh aja gak mau, terus mbak kasih liat dada mbak, ehhh malah pergi. Dia orang baik Ton, gak seharusnya mbak ngelakuin itu sama dia. Dia nilai mbak itu seperti wanita muslimah yang harus dijaga. Sedangkan mbak malah coba godain dia. Malu tahu, malu banget rasanya."


"Tuh kan mbak apa aku bilang, Pak RT itu pengecualian. Mbak gak percaya sih."


"Iya Dan kamu bener, ternyata gak semua orang itu bisa dijadiin partner eksib ya."


"Ya kalau itu sih gatau juga ya mbak, mungkin mbak harus pahami karakternya dulu mbak. Baru setelah itu eksekusi."


"Iya kali ya, mbak asal eksekusi aja tadi. Jadi malu sendiri gini kan. Aaahhhhhhhhhh... Maluuuuuuu..."


"Ahahahaha yaudah mbak, udah kejadian ini kok mau gimana lagi."


"Iya Dan, tapi kan mbak jadi bete."


"Jangan cemberut gitu dong mbak, cantiknya ilang loh! Ini juga belum keluar loh mbak!


Tangannya menunjuk ke arah selangkangannya.


"Apa sih Ton, nanti lagi deh mbak jadi ngga mood."


"Yah semangat dong mbak, masa baru gagal satu kali udah nyerah gitu aja!"


"Mbak gak nyerah Dan, mbak lagi bete aja."


"Sayang banget loh mbak, mbak udah bagus waktu sama mang Asep. Udah hampir sempurna mbak. Sayang aja kalo berhenti karna gagal sama Pak RT.

Masih ada yang lain loh mbak."


"Iya Dan iya, mbak paham kok."

"Emang Pak RT orang nya religius ya?"


"Kalau yang aku lihat sih, dia emang sering ke mesjid mbak, sering jadi muadzin juga. Kadang suka ngasih ceramah juga kalau khutbah Jum'at. Mungkin emang pengetahuan agamanya tinggi mbak, jadi imannya kuat. Gak kaya mang Asep, dikasih kesempatan dikit langsung dimanfaatin sama dia."


"Ahahahaha...."

"Ahahahahahaha...."

"Ahahahahahahahaha...."


Kami bertiga tertawa bersama sama.


"Nah gitu dong mbak, ceria lagi."


"Iya Ton, ya kalau orangnya gitu sih jelas susah lah. Tadi juga Pak RT ngewanti wanti mbak buat hati hati sama mang Asep, katanya dia orang nya mesum suka colek colek ke ibu ibu yang beli sayur. Dia terus terusan ngingetin mbak buat jaga diri. Padahal mbak udah dibilangin gitu ya, ehh mbak malah maksa nyobain eksib ke Pak RT dan hasilnya gagal."

"Kalian gak ngasih tahu mbak sih."


"Mana sempet mbak, orang dadakan gitu."


"Mungkin mbak butuh istirahat sebentar mbak, biar pikiran mbak rileks lagi."


"Iya Dan, kita pindah ke kamar aja yukkk sambil tiduran!"


"Ayo mbak."

"Oke mbak."


Kita bertiga menuju ke kamar, tubuhku langsung ku rebahkan diatas kasur. Disusul Dani di sebelah kananku dan Tono disebelah kiriku. Aku berada diantara mereka.


"Ternyata gak gampang ya!"


"Gampang kok mbak, kalau sama orang yang tepat sih aku rasa mbak bakal gampang ngelakuinnya. Pokoknya kalau Pak RT itu pengecualian deh."


"Iya mbak, lupain aja yang sama Pak RT anggap aja gak pernah terjadi."


"Mana bisa Ton, secepet itu ngelupain ini aja mbak masih kepikiran. Gimana nanti kalau mbak ketemu sama Pak RT lagi, gimana dengan pemikiran dia tentang mbak. Pasti dia pikir mbak itu cewek......

Aaaahhhhhhh.. maluuuuuuuu..."


"Yah susah move on dong mbak kalau kaya gitu mah.

Semangat dong mbak!"


"Ya gimana, kalian ada saran?"


"Aahhaaaa,,, ada dong mbak. Jalan terbaik selalu ada."


"Apa tuh Dan?"


"Aku ada ide mbak, buat ngembaliin semangat mbak yang sedikit kendor, salah satu caranya adalah bikin mbak sange dan birahi lagi. Jadi nanti mbak bakal ada niat lagi buat ngelakuin eksib."


"Gimana tuh, mbak masturbasi lagi?"


"Hemmm, lebih dari itu boleh gak sih mbak?"


"Lebih dari itu? Maksud kamu, penetrasi gitu? Gak lah mbak kan masih perawan. Perawan mbak cuma buat suami mbak nanti."


"Ya nggak yang depan sih mbak, lubang yang dibelakangnya hhe. Yang pernah dimasukin gagang sikat gigi itu loh mbak. Ehehe."


"Ahahahaha.."

"Ahahahahahaha..."


"Kamu ya bisa aja bikin mbak ketawa.

Masih aja nginget nginget itu."


"Ya gimana ya, masa kontol kita kalah sama sikat gigi."

"Gak terima lah kita ya Ton."


"Iya mbak, masa sikat gigi aja bisa kontol kita ngga."


"Ahahaha,, dasar kalian anak mesum.."

"Yakin burung kalian mau masuk ke lubang pantat mbak?"


"Apa sih mbak kok burung, kontol mbak kontol!

Mbak harus dibiasain ngomong jorok mbak biar cepet sange dan biar keluar karakter asli mbak nya!"


"Gak ah, jangan maksa ya, mbak belum terbiasa ngucapin itu!"

"Yaudah, mau sekarang?"


"Kapan lagi mbak, ya sekarang dong. Udah gak sabar nih aku!"


"Aku juga sama mbak udah gak sabar!"


"Yaudah siapa duluan jadinya?"


"Aku lah mbak, aku kan yang punya ide!"


"Yee gak bisa gitu dong Dan, aku juga berhak merawanin boolnya mbak Adel duluan!"


"Ngga ngga Ton, yang punya ide lah yang dapet duluan!"

"Ayo mbak, aku yang duluan!"


"Ngga bisa gitu dong Dan, mbak Adel pasti mau sama kontol aku yang lebih gede dibanding kontol kamu."

"Ayo mbak, sama aku duluan aja!"


"Ehhhhh stop stop stop, kok malah pada berantem sih. Ngga jadi mbak kasih nih!"


"Jangan dong mbak, kamu sih Ton."


"Gara gara kamu tuh Dan."


"Iiihhhhh stoppp, stop ngga!"


"Iya mbak iya."


"Jadi mbak mau siapa yang duluan?"


"Biar adil, suit deh kalian. Yang menang yang duluan.

Masa gara gara pantat mbak kalian malah berantem."


"Ya aku kan pengen jadi yang pertama buat merawanin lubang bool mbak."


"Yeee,, aku juga pengen kali Ton. Emang kamu aja yang pengen duluan. Enak aja."


"Ihhh kalian mah, udah ih. Malah berantem lagi. Sekali lagi mbak denger kalian berantem, mbak gak jadi kasih deh. Mending kasih ke mang Asep aja."


"Jangan dong mbak! Keenakan mang Asep kalau gitu."


"Iya mbak kok malah dikasih mang Asep sih!

Jelas jelas kita yang mau, kok ngasih ke orang lain."


"Ya habis nya kalian malah berantem. Ayo lah katanya mau bikin mbak sange mau naikin birahi mbak lagi, gimana sih kalian ini. Kalau kalian berantem mah yang ada mbak marah, bukannya sange! Paham gak! Kan bisa gantian juga, lagian lubang pantat mbak kan udah pernah mbak masukin jari mbak, jadi ya udah ga perawan lagi itungannya Dani, Tono."


"Ya kalo jari mah gak masuk itungan mbak, pokoknya mbak nilainya kontol siapa yang pertama masukin ke lubang bool mbak itulah yang berhasil ngambil perawannya mbak. Gitu mbak!"


"Ya terserah deh, kalian mau mikir nya gimana."


"Yaudah ayo kita suit aja Dan!"


"Oke Ton, siapa takut."


"Nah gitu dong! Mbak jadi juri ya. Suit nya tiga kali kesempatan, yang menang dua kali dia yang berhak duluan. Suitnya kertas gunting batu ya. Oke!"


"Oke."

"Oke."


"Satu dua tiga..."


Happpppp...


"Aduuuhhhhh..."


"Tono gunting, Dani kertas, Tono yang menang. Satu nol buat Tono!"


"Yeesssss, aku yang menang Dan."


"Santai Ton, masih ada kesempatan!"


"Siap? Satu dua tiga...."


Haaaaapppp..


"Alaaahhhhhhhhh..."


"Tono gunting, Dani batu, Dani yang menang. Satu sama, skor imbang. Wihhh sengit nih!"


"Yaaaahahahaha, tuhkan Ton. Santai aja, kali ini aku yang menang."


"Babak penentuan yah. Siap? Satu dua tiga..."


Hhhhhaaaappppp.... [adegan slow motion]


#bayangin aja gitu ya hehe


"Yeeessssss....."


"Aaahhhhhhh, payahhhhhh. Kenapa kalah..."


"Tono kertas, Dani batu, Tono yang menang. Dua satu untuk kemenangan Tono. Yeeeeee selamat Tono!"


"Oke mbak makasih."

"Ahahahayyyy, kali ini aku yang menang ya Dan." "Yessss....."


"Iya iya Ton, aku tahu. Sombongnya! Lihat aja nanti."


"Lihat apa Dan? Kan kamu duluan yang lihatin aku ngentot boolnya mbak Adel."

"Ahahahaha...."


"Udah udah, jangan lesu gitu dong Dan. Ntar kan kamu kebagian juga. Tapi abis Tono hehe."


"Mbak mah, sama aja."


"Tapi inget ya sama perjanjiannya, jangan di ingkari!"


"Iya mbak aku inget kok."


"Apa coba Ton, sebutin!"


"Tangan kita gak boleh nyentuh mbak, mbak gak mau dipaksa sama apa ya tadi?"


"Tuh kan lupa, jangan sampai lupa ahhhh!"


"Ada lagi emang mbak?"


"Kalian harus nurut sama mbak, inget ya disini mbak yang pegang kendali. Kalau mbak bilang gak mau, berarti kalian gak boleh maksa mbak. Pokoknya harus nurut deh!"


"Iya mbak Adel, kami paham."

"Iya mbak Adel, kami paham."


"Bagus!!!"

"Yaudah, kita mulai aja ya Ton!"


"Oke mbak, aku udah siap ini."


"Kamu mau mbak gimana?"


"Aku mau mbak telanjang aja!"


"Oke!"


Aku membuka gamisku, kini tubuhku telanjang lagi dihadapan mereka berdua. Hanya menyisakan hijabku yang membungkus kepalaku.


"Hijabnya?"


"Di buka juga deh mbak! Rambutnya di kuncir ya mbak, biar lebih seksi, hhe."


"Oke! Selera kalian berbeda ya ternyata."


Ku buka hijabku, lalu ku ambil karet ikat rambut di atas nakas samping kasur tempat tidurku. Ku ikat rambutku sesuai permintaan Tono. Sejenak ku lihat diriku dicermin, benar apa kata Tono aku terlihat lebih seksi. Telanjang dengan rambut yang ku ikat ke belakang.


"Posisinya mau gimana Ton?"


"Mbak nungging aja deh, biar gampang nanti masukin nya."


"Oke Ton."


Aku menungging di depan Tono yang sudah ikut telanjang juga sama sepertiku. Dengan penis yang sudah tegak mengacung siap untuk menerobos lubang pantat ku.


Tono menggenggam penisnya dan mengarahkannya ke lubang pantat ku. Kulit kepalanya sudah menempel tepat pada sasarannya. Aku merinding merasakannya, sensasi yang berbeda yang baru pertama kali aku rasakan.


Lubang pantatku bersentuhan dengan kepala penisnya. Penis besar Tono akan masuk ke lubang pantatku yang kecil. Tak pernah terbayang sebelumnya. Ini adalah awal dari kisah persetubuhanku di kampung ini. Kamu harus bisa dan kamu harus terbiasa, Adel.......


"Siap ya mbak!"


"Iya Ton, mbak udah siap."


Bersambung


:::::::::::::::::::::


#8


EKSPEKTASI DAN KEGAGALAN


"Mau dimana? Di kamar mbak aja atau disini?"


"Disini aja deh mbak, biar bisa sambil duduk kita nontoninnya."


"Oke deh, kalau itu mau kamu Dan."

"Ada request ngga?"


"Hemmm apa ya mbak? Mbak buka gamisnya tapi tetep pake hijab ya mbak!"


"Emmm kamu suka tipe yang begituan ya Dan?"


"Hhe iya mbak, lebih menggoda aja."


"Kalau kamu Ton, mau mbak gimana?"


"Aku sih... ,gak ada deh mbak. Samain kata Dani aja."


"Oke deh, bentar ya! Mbak buka gamisnya dulu."


Aku membuka gamisku, hijabku tetap ku pakai sesuai keinginan Dani.


"Wooowwww, badan mbak bagus banget!"


"Iya mbak kaya model."


"Model apa tuh Ton?"


"Model.... apa ya.. itu loh.. model..... Bokep mbak."

"Ahahahahaha."


"Ahahahahahahaha..."


"Kamu mah, masa nyamain mbak kaya model bokep sih. Nggak ah gamau, model catwalk gitu atau model majalah. Malah model bokep!"


"Ehehe abis nya mbak bikin sange mbak. Cocok kalau jadi model bokep."


"Hemmm tapi yang kelas atas kan?"


"Iya dong, yang udah profesional gitu mbak. Kalau model yang amatir mah, mbak udah beda kelas. Nggak selevel mbak."


"Kamu ini bisa aja, dasar."

"Jadi posisi nya gimana?"


"Mbak duduk di sofa yang panjang aja. Kita geserin dulu meja sama sofa pendeknya."

"Ayo Ton, bantu!"


"Iya Dan, siap."


"Nah gini aja mbak, kita berdua nontonnya dari sini!"


"Oke deh."


Dani dan Tono menggeser sofa yang akan mereka duduki. Posisinya sekarang saling berhadapan dengan ku.


"Mbak mulai ya!"


Aku duduk disofa, punggungku aku sandarkan. Kedua kakiku aku lebarkan, posisi ku mengangkang saat ini. Vaginaku pasti terlihat jelas oleh mereka berdua.


"Mbak malu tahu nggak!"


Aku merapatkan kembali kedua kakiku, berusaha menutup vaginaku dari pandangan mereka.


"Yahhh, kok ditutup lagi mbak?"


"Malu Dan!"


"Gak usah malu lah mbak, Dani kan udah pernah lihat mbak colmek juga."


"Ya itu kan mbak diintipin Ton, mbak juga gak tahu ada Dani lihatin mbak, jadi mbak bisa leluasa ngelakuinnya."

"Kalo sekarang kan didepan mbak ada kalian berdua yang lihatin mbak. Mbak jadi gugup rasanya."


"Yah gimana dong mbak?"


"Gatau Ton, mbak belum sepercaya diri itu kayanya."


"Heemmm mbak kan malu kalau kita lihatin langsung, gimana kalau mbak colmek nya sambil merem aja? Mbak kan gak lihat kita jadinya, anggap aja kita gak ada mbak."


"Iya mbak, bener kata Dani."


"Kamu ya Dan, pinter banget selalu aja ada solusinya."


"Iya mbak, dia emang pinter. Kita harus akui itu haha."


"Heemm, Ton bener."


"Mungkin itu bakat mbak, gatau deh."


"Yaudah mbak coba ya!"


"Iya mbak."

"Iya mbak."


Aku kembali membuka kedua kakiku, kali ini mataku aku pejamkan. Tak melihat mereka berdua, aku jadi bisa lebih fokus jadinya. Tangan kananku ku usapkan di atas vaginaku. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit hingga cairan dalam vaginaku mulai keluar. Membasahi permukaannya, kuratakan keseluruhan bagiannya. Ku usap klitorisnya, ku tekan tekan hingga mulutku tak tahan untuk mengeluarkan desahan. Aku mendesah.


"Aaahhhhh.."


"Aahhhhh.."


"Aahhhhhhhh..."


"Enak Dan.. ahhhhhhh... Enak banget Ton..."


Tangan kiriku kini hinggap di payudara kiriku. Mencoba meremasnya dan mengusap usap putingnya. Putingku sudah mengeras kali ini, ku tekan ku pijit pijit dengan jari telunjuk dan ibu jariku.


"Ahhhh... Nikmat banget ini..."


"Ahhhhhhhh.."


"Aaaaahhhhhh..."


"Mbak... Mbakkk!!!...."


Suara Dani menyadarkanku, aku membuka mata lalu memandangnya. Tangan kananku masih ku gerakkan untuk mengusap usap vaginaku.


"Iya Dan."


Suaraku lemah, sedikit parau terdengar.


"Mbak kita boleh sambil coli ngga?


"Iya mbak, kita juga udah gak tahan lihatin mbak colmek."


"Iya boleh kok. Pake minta ijin segala kan tinggal keluarin aja."


"Takut mbak marah.


"Nggak kok, mbak ngga marah kalian coli aja asal inget sama perjanjiannya ya!"


"Iya mbak, siap."

"Iya mbak, makasih."


Mereka berdua kemudian berdiri, menarik turun celana mereka sampai terhenti diatas mata kaki. Mereka melakukan itu berbarengan, lucu juga melihat kekompakan mereka. Sahabat baik memang harus seperti itu pikirku.


Penis mereka mencuat, terlihat jelas oleh mataku. Ini pertama kalinya juga aku melihat penis cowok secara langsung, kalau lihat di video mah udah sering dulu. Ku perhatikan sejenak, keduanya sudah tegang sempurna. Milik Dani lebih kecil dari milik Tono, lebih pendek juga. Penis Tono terlihat sedikit lebih panjang.


Sesuai tubuh mereka pikirku, tidak berbanding terbalik. Dani dengan tubuh kurusnya memiliki penis yang lebih kecil dan pendek dibandingkan Tono yang lebih besar dan panjang dengan tubuh gemuknya.

Dengan melihat penis mereka, tubuhku terasa tersentak. Aku mulai lebih percaya diri melakukan ini.


Kali ini mataku tak aku pejamkan, aku membiarkannya terbuka sambil melihat dua kejantanan pria di hadapanku.


Mereka mengocoknya dengan semangat, sangat bersemangat pikirku. Wajar, ini adalah pertama kalinya bagi mereka. Coli sambil melihat wanita dihadapannya masturbasi. Ini kesempatan langka bagi mereka, mereka harus memanfaatkannya.


"Ahhhh mbak Adel, bagus banget memek mbak.

Pengen aku masukin kontolku mbak."


"Iya mbak, memek sama susu mbak bagus banget.

Aku pengen ngentotin mbak."


"Anjirrrr enak banget mbak, bisa coli sambil liatin mbak colmek."


"Jilatin kontol aku mbak, aku pengen crot di mulut mbak."


"Aaahhhhhhh..."


"Ahhhhhh.."


"Aaahhhhhhhhh...."


"Aaahhhhhhhhhhhh....."


Suara mereka saling bersahutan, kata kata kotor dan kasar keluar dari mulut mereka. Emang ya, nafsu itu bisa mengalahkan segalanya. Mereka berdua memang orang baik aku tahu itu, tapi mereka juga mesum. Orang baik yang mesum, aneh juga. Apa itu biasa aja? Entahlah.


Aku tak mau kalah, ku balas ceracauan mereka.


"Iya Dan, kocok terus burungmu Dan, yang kenceng.

Ayo terus Dan!"


"Kamu juga Ton, cepetin ngocoknya. Burungmu yang gede gak akan muat masuk vagina mbak Ton."


"Ayo kocok terus kalian berdua."


"Ahhhhh iya mbak..."

"Aaahhhhhh enak mbak.."


"Aaaahhhh udah pengen keluar aku mbak..."


"Ayo Ton, kocok terus sampai keluar Ton...."

"Ayo Dan kamu juga, semangat ngocoknya...."


"Iii iya mbak, ini aku kocok terus kok kontolku..."


"Mbakkkk gak kuat mbak.... Udah mau keluar...."


"Ayo keluarin Tonnnnn..."


"Assalamualaikum mbak Adel...."


Kami bertiga menengok ke arah suara didepan rumah. Lalu berpandangan satu sama lain.


"Ada yang manggil mbak, siapa ya?"


"Kaya suara Pak RT mbak."


"Assalamualaikum mbak Adel.."

"Mbak Adel ada dirumah?"

"Mbak Adel..."


"Iya Pak, sebentar!"


"Ja jang jangan mbak, kok mbak sahutin sih? Kan bisa pura pura ngga ada orang mbak."


"Ohhh iya lupa Dan. Gimana dong? Udah terlanjur."


"Yah mbak mah, nanggung nih udah mau keluar juga."


"Ya maaf, lupa!"


"Sialan Pak RT ngapain sih ganggu orang lagi enak aja!"


"Iya Pak RT sialan bikin kentang aja!"


"Udah udah, kalian pake lagi celananya. Kalian ngumpet di dalam kamar mbak ya. Jangan bersuara, inget!"


"Iya mbak."

"Iya mbak."


"Mbak mau pake gamisnya dulu!"


"Mbak gak pake daleman?"


"Gausah deh Dan, mbak kan mau eksib lagi ada mangsa baru, hihi."


"Pake aja deh mbak, ya! please..."


"Loh kok gitu?, tadi kamu yang suruh mbak buat gak pakai daleman, kok sekarang...."


"Aku takut mbak kalau ketahuan Pak RT."


"Kok jadi kamu yang takut sekarang Dan, kenapa?"


"Dani emang takut sama Pak RT mbak, dulu pernah dimarahi dia sama Pak RT gara gara ketahuan maling mangga di kebun Pak Somad."


"Ohhh gitu Dan. Trauma masa lalu ya?"


"Iya mbak, pake ya mbak! Buat Pak RT pengecualian deh mbak."


"Hemmmm, gapapa Dan tenang aja aman kok." "Percaya sama mbak. Oke!"


"Iya deh mbak."


"Yaudah cepet sana ngumpet!"


"Iya mbak."

"Iya mbak."


"Ehhhh mbak tunggu dulu!"


"Apalagi sih Dan?"


"Sepatu kita mbak, ada diluar!"


"Kamu ya, ketakutan banget sama Pak RT."

"Nanti mbak tutupin sama kain lap deh, biar gak kelihatan."


"Oke mbak."


"Udah sana ngumpet!"


Mereka berdua berlari menuju kedalam kamarku. Pintu mereka tutup agar tak terlihat dari luar. Aku mengambil kain lap untuk menutup sepatu mereka.

Aku berdiri di depan pintu, mempersiapkan diriku.

Ku buka pintu rumahku, aku melangkah keluar lalu dengan cepat ku dorong dua pasang sepatu milik Dani dan Tono ke belakang pot tanaman. Lalu ku tutupi dengan kain lap. Aman pikirku.


"Iya Pak RT ada apa ya?"


"Ini mbak, mau nagih iuran keamanan dan ronda, sama uang sampah juga!"


"Ohhhh iya tunggu sebentar ya! Aku ambil uangnya.

Pak RT mau masuk dulu?"


"Boleh deh mbak, sambil numpang istirahat sebentar!"


Aku masuk ke rumah lebih dulu, di ikuti oleh Pak RT kemudian.


"Silahkan duduk pak!"


"Iya mbak terimakasih."


"Jadi semuanya berapa pak?"


"Semuanya empat puluh ribu mbak, keamanan dan ronda dua puluh ribu dan sampah dua puluh ribu juga."


"Bentar ya pak aku ambil uangnya dulu."

"Ehh dompetku dimana ya?"


"Kenapa mbak, kaya bingung gitu?"


"Nyari dompet pak."


"Di kamar mungkin mbak.


"Nggak pak, tadi aku habis beli sayuran di mang Asep. Belum sempet simpen dikamar, dimana ya?"


"Ohhh mbak udah ketemu sama mang Asep?"


"Iya pak, udah tadi!"


"Hati hati ya mbak sama dia, dia mesum orangnya! Ngomongnya suka ceplas ceplos mbak, kotor lagi.

Apalagi tangannya mbak, suka gatel. Nyolek nyolek pelanggannya kalau lagi beli sayur. Hati hati deh mbak sama mang Asep!"


"Ohhhh, gi gittt gitu ya pak?"


"Heem mbak, tapi mbak tadi gak diapa apain kan?"


"Ngg nggggg ngggaaa kok pak, aku a aaaman pak. Iya aam ammmann pak, hhe."


"Syukur deh mbak kalau gitu."


"Iya pak, tadi ada Bu Ratmi juga kok pak waktu aku belanja."


"Ohhh sama Bu Ratmi, bagus deh mbak. Pokoknya jangan sampai cuma berduaan aja sama mang Asep mbak. Dia suka manfaatin kesempatan mbak."


"Eeehhhh iya pak, iya."


Kok omongan Pak RT tentang mang Asep bisa bener ya, bisa sama dengan kejadian yang aku alami.


"Emang udah pernah kejadian pak? Mang Asep pernah ngelakuin apa?"


"Setahu saya sih, ya gitu mbak suka ngegodain ibu ibu yang belanja. Omongannya jorok mbak, tangannya juga gatel. Pernah kepergok colek colek tangannya Bu Desi mbak. Itu sih yang saya tahu, soalnya yang laporan kesaya cuma kasus itu aja. Gatau deh kalo yang gak lapor, mungkin ada ajah mbak. Itu juga Bu Desi jadi malu sehabis laporan tentang yang dilakuin sama mang Asep. Mungkin ibu ibu yang lain ada juga yang jadi korbannya, cuma ya gitu mbak gak ada yang laporan. Takut jadi malu juga kali. Gatau deh, saya juga gak bisa terus terusan mantau dia mbak."


"Ohhhh pantesan aja, tadi Bu Ratmi juga nyuruh aku hati hati sama mang Asep pak."


"Nah bagus itu mbak, kalau udah dikasih tahu sama Bu Ratmi. Mbak jadi bisa jaga diri."


"Ehhhh, iii iya pak. Aku bisa jaga diri kok, tenang aja. Hhe."


Yah gimana ya pak, aku malah rela tubuhku disentuh sama dia tadi. Aku malah suka sama orang kaya mang Asep pak, eksib ku jadi lebih gampang. Singa dikasih daging sih, ya langsung diterkam. Hihi.

Aku berbicara dalam hatiku.


"Ohh di kresek sayuran pak, aku baru ingat tadi aku masukin kedalam nya."


"Kresek itu mbak!"


"Ohh iya itu pak, tadi lupa nyimpennya dimana, hhe."


Aku mengambil dompetnya lalu mengeluarkan uang lima puluh ribu satu lembar.


"Ini pak uangnya!"


"Oke saya terima ya mbak, ini kembaliannya sepuluh ribu. Terimakasih."


"Aku yang makasih loh pak."


"Hahhh..."


"Iya, Pak RT udah mau nagihin uang iuran ke setiap warganya."


"Ya itu kan sudah tugas saya mbak."


"Tapi dikota sana, ngga kaya gini loh pak. Warganya sendiri yang harus setor ke rumah RT nya. Ngga dijemput kaya gini."


"Ohhh mungkin memang sistemnya beda kali mbak."


"Iya ya pak, tapi Pak RT rajin loh, gak banyak pemimpin yang mau susah ngurusin warganya."


"Ya sudah kerjaannya kaya gini mbak, ini kan tugas dari Pak RW juga. Gak mungkin saya tolak mbak bisa dipecat nanti saya haha."


"Capek pasti ya pak, keliling keliling?"


"Ya capek mbak, tapi ya sekalian olahraga juga biar tetep sehat."


"Iya pak, kelihatan kok badan bapak bagus kaya atlit pak, hihi."


"Ngga kok mbak biasa aja ah, orang kurus gini."


"Kok kurus sih pak, badan bapak tuh berisi tau."


"Masa sih mbak?"


"Iya, coba di angkat bajunya sedikit!"


"Jangan deh mbak, saya malu mbak. Gak baik juga lihatin aurat saya ke lawan jenis saya. Apalagi mbak kan wanita muslimah gini."


"Dikit aja pak, aku penasaran soalnya!"


"Jangan deh mbak, malu saya. Ga enak mbak."


"Ayo dong pak!"


Wajahku memelas, berharap dia mau menuruti permintaanku.


"Sedikit aja ya mbak......"


"Tuhkan pak, kotak kotak gitu!"


"Hehe, ngga kok mbak biasa aja ini."


"Pak RT kok merendah gitu sih? Itu kan jelas berbentuk gitu pak. Kok bisa sih pak?"


"Ya mungkin berkat rajin olahraga aja sih mbak. Tinggal sendirian ya mau ngapain lagi kan, jadi ya diolahragain aja deh."


"Boleh pegang gak sih pak, aku dari dulu suka kebayang rasanya megang perut sixpack tuh kaya gimana."


"Jangan deh mbak, saya ngga enak! Mbak Adel kan cewek, bukannya yang bukan muhrim gak boleh saling bersentuhan ya mbak?"


"Heeemm gitu ya pak."


"Setahu saya sih gitu ya mbak, dosa katanya.

Mbak kan pasti lebih paham dari saya."


"Hhe iya pak bener, gak boleh saling bersentuhan hehe. Cuma aku penasaran aja pak rasanya megang perut yang sixpack gitu, hhe."


"Jangan deh mbak, malu saya ga enak sama mbak."


Aku kikuk saat itu, malu rasanya permintaan ku di tolak mentah mentah. Padahal kalau itu mang Asep aku yakin dia secara sukarela menyerahkan tubuhnya untuk aku sentuh. Tapi kok pak RT berbeda ya, dia seperti ingin menjaga diriku. Apa mungkin karna pakaian ku ini? Gamis dan hijab yang aku pakai di keseharianku. Sehingga pak RT menilaiku sebagai wanita muslimah yang baik.


Mungkin juga, memang harus seperti itu logikanya. Wanita yang tertutup oleh gamis dan hijab, jangankan bersentuhan kulit pandangan mata saja harus ia jaga. Tapi aku kan bukan wanita seperti itu Pak RT, aku wanita muslimah yang berbeda. Iiihhhh bete deh.


Aku harus mencobanya lebih keras lagi, jangan sampai aku gagal. Tapi dilihat dari gelagatnya yang berusaha menolak, aku jadi ragu ngelakuinnya. Apa orang baik gak boleh diginiin ya? Bener juga apa kata Dani tadi, Pak RT jadi pengecualian. Kalau aku paksakan dan dia gak terima, bakal bahaya gak sih?

Aku jadi takut juga sama kaya Dani.


Huuuhhhh, baiklah!


"Ehem ehemmm,, cuaca hari ini agak panas ya mbak. Mulut saya jadi agak seret gini. Hhe."


"Eeehhhh,,, tuhkan pak sampe lupa nyediain minum.

Bentar ya aku buatin kopi dulu!"


"Iya mbak, sudah ada kopi emang mbak?"


"Sudah pak, kemarin beli di warung mbok Yeni."


"Iya mbak, makasih ya."


"Sama sama pak, bentar ya!"


Aku melangkah menuju dapur, mengambil gelas lalu menuangkan bubuk kopi kemasan kedalamnya. Mengisinya dengan air panas dari dispenser. Ku aduk lalu ku bawa kedepan.


Duh mejanya belum aku pindahkan lagi tadi.


"Pak, boleh minta tolong mejanya digeserin ke depan sofa!"


"Ohh boleh mbak. Sebentar...."

"Nah, sudah."


"Makasih ya pak."


"Iya mbak."


"Ini pak kopinya, silahkan diminum!"


"Waahhhh kopi hitam, kesukaan saya ini mbak.

Makasih ya."


"Iya pak, sama sama."


"Saya minum ya mbak."

"Ssllllluuuurrpppp.... Ahhhh enak mbak.."


"Alhamdulillah kalau enak dan Pak RT suka."

"Maaf ya pak tadi habis disapu, jadi belum di taruh ke posisinya lagi.


Lagi lagi aku berbohong, padahal tadi habis ada pertunjukan disini pak, hihi.


"Ehh iya mbak gapapa, aman kok."

"Pantesan muka mbak keringetan gitu, abis beberes rumah ya mbak?"


"Heeemmmmm cuma nyapu sama nyuci sedikit sih pak."


"Ohhh bukannya kemarin kemarin sudah nyuci mbak?"


"Iya pak, tadi nanggung aja pengen nyuci semua dalemanku, BH sama celana dalam pak."


"Semuanya mbak, gak disisain sepasang buat di pakai gitu mbak?"


"Ngga pak, nanggung aja. Jadi ku cuci semua.

Nih aku juga sekarang lagi ga pakai daleman pak!"


Aku mengangkat ujung hijabku, memperlihatkan bulatan payudaraku yang menggunung. Dengan dua tonjolan yang mencuat dibalik gamis tipisku.

Tapi.....


"Eehhhh mbak, jangan gitu mbak,, tutupin mbak tutupin jangan di lihatkan, pamali mbak dosa...."


Pak RT membuang pandangannya, sambil tangan kirinya menutupi ujung matanya. Berusaha untuk tidak melihat dadaku.


"Ehhh iya pak iya..."


"Tutup dulu mbak tutup!"


"Iya pak sudah."


Aku turunkan kembali ujung hijabku, kututup kembali puting ku yang sudah menonjol ini setertutupnya.

Malu rasanya, aku yakin mukaku sedikit memerah saat ini.


"Kalau gitu saya pamit dulu ya mbak!"


"Ehhh kok buru buru pak?


"Iya mbak saya mau muter lagi, takut kesorean nanti.

Pamit ya mbak."


"Kopinya tidak dihabiskan dulu pak?"


"Lain kali ya mbak, maaf tidak saya habiskan.

Saya pamit, assalamualaikum..."


"Iya pak, waalaikumsalam....."


Pak RT meninggalkan ku dengan terburu buru.

Kenapa dia? Ada apa dengannya? Apa aku salah menilainya? Atau memang kelakuanku yang salah?


Aku kembali terduduk di sofaku.

Dani dan Tono keluar dari kamar menghampiriku, lalu duduk di depanku.

Pandangan mereka aneh terhadapku.


"Kenapa muka mbak merah?"


"Ehhhh, keliatan ya Dan?"


"Jelas mbak, merah banget malah."


"Iya mbak, kenapa emangnya kok jadi sedih gitu?"


"Mbak gagal Ton, mbak malu rasanya."


"Kok bisa mbak?"


"Iya Ton, ternyata pak RT orangnya baik. Dia ngga seperti yang mbak kira, mbak salah nilai dia. Dia mbak sentuh aja gak mau, terus mbak kasih liat dada mbak, ehhh malah pergi. Dia orang baik Ton, gak seharusnya mbak ngelakuin itu sama dia. Dia nilai mbak itu seperti wanita muslimah yang harus dijaga. Sedangkan mbak malah coba godain dia. Malu tahu, malu banget rasanya."


"Tuh kan mbak apa aku bilang, Pak RT itu pengecualian. Mbak gak percaya sih."


"Iya Dan kamu bener, ternyata gak semua orang itu bisa dijadiin partner eksib ya."


"Ya kalau itu sih gatau juga ya mbak, mungkin mbak harus pahami karakternya dulu mbak. Baru setelah itu eksekusi."


"Iya kali ya, mbak asal eksekusi aja tadi. Jadi malu sendiri gini kan. Aaahhhhhhhhhh... Maluuuuuuu..."


"Ahahahaha yaudah mbak, udah kejadian ini kok mau gimana lagi."


"Iya Dan, tapi kan mbak jadi bete."


"Jangan cemberut gitu dong mbak, cantiknya ilang loh! Ini juga belum keluar loh mbak!


Tangannya menunjuk ke arah selangkangannya.


"Apa sih Ton, nanti lagi deh mbak jadi ngga mood."


"Yah semangat dong mbak, masa baru gagal satu kali udah nyerah gitu aja!"


"Mbak gak nyerah Dan, mbak lagi bete aja."


"Sayang banget loh mbak, mbak udah bagus waktu sama mang Asep. Udah hampir sempurna mbak. Sayang aja kalo berhenti karna gagal sama Pak RT.

Masih ada yang lain loh mbak."


"Iya Dan iya, mbak paham kok."

"Emang Pak RT orang nya religius ya?"


"Kalau yang aku lihat sih, dia emang sering ke mesjid mbak, sering jadi muadzin juga. Kadang suka ngasih ceramah juga kalau khutbah Jum'at. Mungkin emang pengetahuan agamanya tinggi mbak, jadi imannya kuat. Gak kaya mang Asep, dikasih kesempatan dikit langsung dimanfaatin sama dia."


"Ahahahaha...."

"Ahahahahahaha...."

"Ahahahahahahahaha...."


Kami bertiga tertawa bersama sama.


"Nah gitu dong mbak, ceria lagi."


"Iya Ton, ya kalau orangnya gitu sih jelas susah lah. Tadi juga Pak RT ngewanti wanti mbak buat hati hati sama mang Asep, katanya dia orang nya mesum suka colek colek ke ibu ibu yang beli sayur. Dia terus terusan ngingetin mbak buat jaga diri. Padahal mbak udah dibilangin gitu ya, ehh mbak malah maksa nyobain eksib ke Pak RT dan hasilnya gagal."

"Kalian gak ngasih tahu mbak sih."


"Mana sempet mbak, orang dadakan gitu."


"Mungkin mbak butuh istirahat sebentar mbak, biar pikiran mbak rileks lagi."


"Iya Dan, kita pindah ke kamar aja yukkk sambil tiduran!"


"Ayo mbak."

"Oke mbak."


Kita bertiga menuju ke kamar, tubuhku langsung ku rebahkan diatas kasur. Disusul Dani di sebelah kananku dan Tono disebelah kiriku. Aku berada diantara mereka.


"Ternyata gak gampang ya!"


"Gampang kok mbak, kalau sama orang yang tepat sih aku rasa mbak bakal gampang ngelakuinnya. Pokoknya kalau Pak RT itu pengecualian deh."


"Iya mbak, lupain aja yang sama Pak RT anggap aja gak pernah terjadi."


"Mana bisa Ton, secepet itu ngelupain ini aja mbak masih kepikiran. Gimana nanti kalau mbak ketemu sama Pak RT lagi, gimana dengan pemikiran dia tentang mbak. Pasti dia pikir mbak itu cewek......

Aaaahhhhhhh.. maluuuuuuuu..."


"Yah susah move on dong mbak kalau kaya gitu mah.

Semangat dong mbak!"


"Ya gimana, kalian ada saran?"


"Aahhaaaa,,, ada dong mbak. Jalan terbaik selalu ada."


"Apa tuh Dan?"


"Aku ada ide mbak, buat ngembaliin semangat mbak yang sedikit kendor, salah satu caranya adalah bikin mbak sange dan birahi lagi. Jadi nanti mbak bakal ada niat lagi buat ngelakuin eksib."


"Gimana tuh, mbak masturbasi lagi?"


"Hemmm, lebih dari itu boleh gak sih mbak?"


"Lebih dari itu? Maksud kamu, penetrasi gitu? Gak lah mbak kan masih perawan. Perawan mbak cuma buat suami mbak nanti."


"Ya nggak yang depan sih mbak, lubang yang dibelakangnya hhe. Yang pernah dimasukin gagang sikat gigi itu loh mbak. Ehehe."


"Ahahahaha.."

"Ahahahahahaha..."


"Kamu ya bisa aja bikin mbak ketawa.

Masih aja nginget nginget itu."


"Ya gimana ya, masa kontol kita kalah sama sikat gigi."

"Gak terima lah kita ya Ton."


"Iya mbak, masa sikat gigi aja bisa kontol kita ngga."


"Ahahaha,, dasar kalian anak mesum.."

"Yakin burung kalian mau masuk ke lubang pantat mbak?"


"Apa sih mbak kok burung, kontol mbak kontol!

Mbak harus dibiasain ngomong jorok mbak biar cepet sange dan biar keluar karakter asli mbak nya!"


"Gak ah, jangan maksa ya, mbak belum terbiasa ngucapin itu!"

"Yaudah, mau sekarang?"


"Kapan lagi mbak, ya sekarang dong. Udah gak sabar nih aku!"


"Aku juga sama mbak udah gak sabar!"


"Yaudah siapa duluan jadinya?"


"Aku lah mbak, aku kan yang punya ide!"


"Yee gak bisa gitu dong Dan, aku juga berhak merawanin boolnya mbak Adel duluan!"


"Ngga ngga Ton, yang punya ide lah yang dapet duluan!"

"Ayo mbak, aku yang duluan!"


"Ngga bisa gitu dong Dan, mbak Adel pasti mau sama kontol aku yang lebih gede dibanding kontol kamu."

"Ayo mbak, sama aku duluan aja!"


"Ehhhhh stop stop stop, kok malah pada berantem sih. Ngga jadi mbak kasih nih!"


"Jangan dong mbak, kamu sih Ton."


"Gara gara kamu tuh Dan."


"Iiihhhhh stoppp, stop ngga!"


"Iya mbak iya."


"Jadi mbak mau siapa yang duluan?"


"Biar adil, suit deh kalian. Yang menang yang duluan.

Masa gara gara pantat mbak kalian malah berantem."


"Ya aku kan pengen jadi yang pertama buat merawanin lubang bool mbak."


"Yeee,, aku juga pengen kali Ton. Emang kamu aja yang pengen duluan. Enak aja."


"Ihhh kalian mah, udah ih. Malah berantem lagi. Sekali lagi mbak denger kalian berantem, mbak gak jadi kasih deh. Mending kasih ke mang Asep aja."


"Jangan dong mbak! Keenakan mang Asep kalau gitu."


"Iya mbak kok malah dikasih mang Asep sih!

Jelas jelas kita yang mau, kok ngasih ke orang lain."


"Ya habis nya kalian malah berantem. Ayo lah katanya mau bikin mbak sange mau naikin birahi mbak lagi, gimana sih kalian ini. Kalau kalian berantem mah yang ada mbak marah, bukannya sange! Paham gak! Kan bisa gantian juga, lagian lubang pantat mbak kan udah pernah mbak masukin jari mbak, jadi ya udah ga perawan lagi itungannya Dani, Tono."


"Ya kalo jari mah gak masuk itungan mbak, pokoknya mbak nilainya kontol siapa yang pertama masukin ke lubang bool mbak itulah yang berhasil ngambil perawannya mbak. Gitu mbak!"


"Ya terserah deh, kalian mau mikir nya gimana."


"Yaudah ayo kita suit aja Dan!"


"Oke Ton, siapa takut."


"Nah gitu dong! Mbak jadi juri ya. Suit nya tiga kali kesempatan, yang menang dua kali dia yang berhak duluan. Suitnya kertas gunting batu ya. Oke!"


"Oke."

"Oke."


"Satu dua tiga..."


Happpppp...


"Aduuuhhhhh..."


"Tono gunting, Dani kertas, Tono yang menang. Satu nol buat Tono!"


"Yeesssss, aku yang menang Dan."


"Santai Ton, masih ada kesempatan!"


"Siap? Satu dua tiga...."


Haaaaapppp..


"Alaaahhhhhhhhh..."


"Tono gunting, Dani batu, Dani yang menang. Satu sama, skor imbang. Wihhh sengit nih!"


"Yaaaahahahaha, tuhkan Ton. Santai aja, kali ini aku yang menang."


"Babak penentuan yah. Siap? Satu dua tiga..."


Hhhhhaaaappppp.... [adegan slow motion]


#bayangin aja gitu ya hehe


"Yeeessssss....."


"Aaahhhhhhh, payahhhhhh. Kenapa kalah..."


"Tono kertas, Dani batu, Tono yang menang. Dua satu untuk kemenangan Tono. Yeeeeee selamat Tono!"


"Oke mbak makasih."

"Ahahahayyyy, kali ini aku yang menang ya Dan." "Yessss....."


"Iya iya Ton, aku tahu. Sombongnya! Lihat aja nanti."


"Lihat apa Dan? Kan kamu duluan yang lihatin aku ngentot boolnya mbak Adel."

"Ahahahaha...."


"Udah udah, jangan lesu gitu dong Dan. Ntar kan kamu kebagian juga. Tapi abis Tono hehe."


"Mbak mah, sama aja."


"Tapi inget ya sama perjanjiannya, jangan di ingkari!"


"Iya mbak aku inget kok."


"Apa coba Ton, sebutin!"


"Tangan kita gak boleh nyentuh mbak, mbak gak mau dipaksa sama apa ya tadi?"


"Tuh kan lupa, jangan sampai lupa ahhhh!"


"Ada lagi emang mbak?"


"Kalian harus nurut sama mbak, inget ya disini mbak yang pegang kendali. Kalau mbak bilang gak mau, berarti kalian gak boleh maksa mbak. Pokoknya harus nurut deh!"


"Iya mbak Adel, kami paham."

"Iya mbak Adel, kami paham."


"Bagus!!!"

"Yaudah, kita mulai aja ya Ton!"


"Oke mbak, aku udah siap ini."


"Kamu mau mbak gimana?"


"Aku mau mbak telanjang aja!"


"Oke!"


Aku membuka gamisku, kini tubuhku telanjang lagi dihadapan mereka berdua. Hanya menyisakan hijabku yang membungkus kepalaku.


"Hijabnya?"


"Di buka juga deh mbak! Rambutnya di kuncir ya mbak, biar lebih seksi, hhe."


"Oke! Selera kalian berbeda ya ternyata."


Ku buka hijabku, lalu ku ambil karet ikat rambut di atas nakas samping kasur tempat tidurku. Ku ikat rambutku sesuai permintaan Tono. Sejenak ku lihat diriku dicermin, benar apa kata Tono aku terlihat lebih seksi. Telanjang dengan rambut yang ku ikat ke belakang.


"Posisinya mau gimana Ton?"


"Mbak nungging aja deh, biar gampang nanti masukin nya."


"Oke Ton."


Aku menungging di depan Tono yang sudah ikut telanjang juga sama sepertiku. Dengan penis yang sudah tegak mengacung siap untuk menerobos lubang pantat ku.


Tono menggenggam penisnya dan mengarahkannya ke lubang pantat ku. Kulit kepalanya sudah menempel tepat pada sasarannya. Aku merinding merasakannya, sensasi yang berbeda yang baru pertama kali aku rasakan.


Lubang pantatku bersentuhan dengan kepala penisnya. Penis besar Tono akan masuk ke lubang pantatku yang kecil. Tak pernah terbayang sebelumnya. Ini adalah awal dari kisah persetubuhanku di kampung ini. Kamu harus bisa dan kamu harus terbiasa, Adel.......


"Siap ya mbak!"


"Iya Ton, mbak udah siap."


Bersambung


:::::::::::::::::::::


#10


TARGET BARU


Aku selesai dengan mandiku, tak ada yang spesial dengan itu seperti biasa saja. Aku berjalan menuju kamarku, tak memakai handuk tentunya. Kini aku sudah terbiasa telanjang di dalam rumahku, baik ketika sendiri maupun ada Tono dan Dani. Tak ada pengaruhnya untukku, toh mereka kan sudah melihat tubuh telanjangku. Jadi tak ada gunanya ditutupi.


Aku memasuki kamarku, kulihat Dani kini ia pun sudah tertidur sama seperti Tono. Mereka lelah pikirku, setelah seluruh sperma mereka yang disemburkan pada tubuhku. Energi mereka seperti terkuras habis setelah kejadian itu. Kubiarkan saja dulu mereka istirahat, biarkan energi mereka terkumpul kembali.


Apa aku harus istirahat juga? Tapi aku tak merasakan kantuk saat ini. Hanya saja kulitku terasa dingin dan sedikit pusing dikepala ku. Apa aku masuk angin ya? Badanku terasa tidak enak setelah selesai mandi. Tapi perutku sudah mulai keroncongan ku dengar. Aku lapar rupanya, sudah siang juga mending aku masak nasi dulu saja untuk makan siang kali ini. Lauk nya telur dadar saja biar simple.


Aku membuka lemari, ku ambil pakaianku. Kali ini aku memilih daster batik lengan panjang dan hijab instan berwarna coklat. Tak lupa sepasang dalaman berwarna hitam. Aku tak merias wajahku, biarlah aku kan tak akan kemana mana. Aku dirumah saja setelah ini.


Aku membangunkan mereka, dengan niat agar mereka bersiap membersihkan tubuh mereka saat aku memasak. Jadi ketika mereka sudah rapih makanan pun sudah tersaji.


"Dani... Tono... Ayo bangun!!! Sudah siang ini, kita makan siang dulu."

"Ayo... Bangun bangun....."


Tanganku menggoyang goyang tubuh mereka agar cepat terbangun.


"Ehhhh iya mbak... Jam berapa ini mbak?"


"Sudah siang sekarang, ayo bangun kita makan dulu."


"Iya iya mbak, aku ketiduran juga ya mbak?"


"Bukan ketiduran Dan, tidur beneran sampai nyenyak gitu."

"Kamu juga Ton, langsung tidur gitu tadi!"


"Hhe, iya mbak. Abis keluar biasanya emang gitu mbak kalau aku suka langsung ngantuk terus tidur deh, gatau kenapa!"


"Kata Dani sih itu wajar Ton, tuh Dani juga begitu kan!"


"Ehehe iya mbak ternyata aku juga sama, abis keluar ya jadi ngantuk."


"Yaudah, pada bersih bersih sana, cuci muka abis itu kita makan. Mbak mau masak nasi dulu sama telur dadar. Kita makan sama telur aja ya, gapapa kan?"


"Gapapa mbak, aman."


"Iya mbak, segini juga udah makasih dikasih makan."


"Ya mbak kan harus ngebahagiain tamu yang berkunjung ke rumah mbak."

"Mbak masak didapur ya!"


Didapur, aku mulai dengan mencuci beras terlebih dahulu. Di wastafel sederhana yang terbuat dari adukan semen dan batu bata. Tak masalah menurutku, ini pun sudah cukup membantu. Setelahnya ku tuangkan kedalam magic com, mengukur ketinggian airnya memastikan agar ketika jadi nasi nanti teksturnya sudah pas. Tidak lembek tidak juga keras.


Aku belajar tentang hal ini, ibuku yang mengajariku. Kata beliau wanita itu harus bisa memasak, tak harus pandai yang penting bisa. Itu kata kata beliau yang aku selalu ingat, harus bisa memasak. Yang artinya aku harus mandiri jadi aku tidak selalu beli makanan jadi. Untungnya ibuku dulu telaten memberikanku arahan, dan untungnya bumi masih berputar. Ahahahayyyy, dan untungnya aku juga dengan mudah memahami itu.


Jadi disini, dikampung ini dimana aku hidup sendiri aku sudah terbiasa akan hal itu. Ku tekan tombol sebelah kiri, ku pastikan lampu yang bertuliskan 'cook' menyala dengan cahaya merahnya. Tinggal ku tunggu saja sampai nasinya matang.


Aku menyiapkan wajan, mengisinya dengan minyak goreng. Ku nyalakan kompor, ku atur apinya pada posisi sedang. Tiga telur aku aduk bersama, tak lupa menambahkannya penyedap rasa secukupnya. Menunggu sampai minyak goreng menjadi panas, ku masukkan adukan telur ke atas wajan lalu meratakan nya membentuk lingkaran besar yang tipis.


Satu bagian sudah matang, ku balik dan menunggu satu bagian lainnya matang juga. Ku matikan kompor dan kutiriskan telur dadar tadi. Ku potong menjadi tiga bagian yang sama rata. Ku sajikan diatas piring masing masing. Sekarang tinggal menunggu nasinya matang, beberapa menit lagi mungkin.


Dani dan Tono sudah duduk dan menunggu di kursi sofa depan.


"Tunggu ya, nasinya belum matang, bentar lagi kayanya."


"Iya mbak."

"Iya mbak."


"Ehhh ngomong ngomong di kampung ini ada tukang pijit ngga sih Dan, Ton?"


"Hemmmm ada mbak, Pak RT bisa mijit kok!"


"Yang cewek Dan, ada nggak?"

"Kalau Pak RT mah jangan deh, mbak jadi trauma denger kata Pak RT."


"Ahaha jadi trauma gitu mbak sama kaya aku dong." "Dulu ada mbak, tapi baru aja bulan kemarin sudah meninggal!"


"Ohhhh jadi sekarang gak ada lagi ya pemijat cewek?"


"Heemmm aku kurang tahu sih mbak kalau sekarang. Kenapa mbak, mbak pengen dipijat?"


"Iya nih, badan mbak tiba tiba gak enak gitu setelah mandi. Kepala mbak juga agak pusing ini! Pengen dikerokin sih punggung mbak, kayanya mbak masuk angin deh!"


"Ohhhhh, kalau ngerokin doang mah aku juga bisa mbak. Ibuku juga sering aku kerokin kalau dia masuk angin!"


"Kamu bisa Ton, yang bener?"


"Iya mbak, beneran bisa. Orang cuma garis garisin punggung pake koin. Itu mah gampang!"


"Kamu kok gak ikutan nawarin diri Dan, biasanya kalian berdua saling......."


"Dani mah pinter doang mbak, tapi ngga rajin kaya aku. Mana mau dia disuruh kerja, mikir doang dia mau nya!"


"Ohhhhhh... Oke.."


"Hhe iya mbak, pegel nanti tanganku. Ngga deh biar Tono aja."


"Oke deh kalau gitu, abis makan nanti ya Ton!"


"Iya mbak, siap."


Klikkkkkk...


Terdengar bunyi pada magic com yang menandakan kalau nasi sudah matang.


"Nah, nasinya udah matang! Mbak cek dulu ya."


Belum sempat aku melihat nasi tersebut, dari luar terdengar seseorang memanggil namaku.


"Assalamualaikum mbak Adel...."

"Assalamualaikum....."


Aku kemudian memutar tubuhku, ku langkahkan kakiku menuju sumber suara. Di luar pagar sudah berdiri seseorang membawa rantang makanan.


"Waalaikumsalam... Ehh Bu Ratmi."


"Iya mbak Adel, ini saya bawakan pasakan saya tadi yang beli di mang Asep bareng mbak Adel. Ikan nila sambal matah sama tumis brokoli saus tiram."


"Wahhh, jadi ngerepotin Bu, makasih banyak ya!"


"Iya mbak sama sama, nggak ngerepotin kok. Ini kan sebagai bentuk silaturahmi antar tetangga, apalagi tetangga baru biar betah lama lama tinggal disini."


"Iya Bu, pasti betah kok kalau tetangganya baik kaya ibu."

"Mari masuk dulu Bu!"


"Iya mbak."


Aku dan Bu Ratmi memasuki rumah.


"Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam."

"Waalaikumsalam."

"Waalaikumsalam... Mari Bu silahkan masuk!"


"Eehhhhh ladalahhhh.. sudah ada tamu toh."


"Hhe iya Bu Ratmi, kami sudah bertamu lebih dulu."


"Ngapain kamu Tono, Dani ada dirumahnya mbak Adel?"


Wajah mereka berdua terlihat shok mendengar pertanyaan dari Bu Ratmi. Lucu jadinya!


"Ini Bu, mereka berdua mau belajar bareng sama aku!"


"Ohhhhh begitu..."


"Iya Bu, kami sedang les sama mbak Adel. Bentar lagi kan ujian kelulusan Bu. Perlu pelajaran tambahan."


"Iya Bu, mbak Adel kan pinter orangnya jadi kami ditawarin buat les bareng deh."


"Tapi kalian gak ngeluarin buku!"

"Kapan belajarnya???"


"Eehhhhh... Baru mau mulai kok Bu."


"Jangan jangan kalian!"


"Apa sih Bu?"


"Hati hati ya mbak Adel, selain mang Asep dua bocah ini juga mesum mbak kelakuannya."


"Masa sih Bu?"


"Iya mbak, mereka titisan mang Asep juga kalau soal hal hal begituan."


"Kok nuduh kita yang nggak nggak sih Bu?"


"Jangan suudzon dong Bu, gak baik loh dosa itu.

Orang kita niat nya baik buat belajar bareng kok. Cuma belum, soalnya guru les nya tiba tiba masuk angin. Ya kan mbak?"


"Iya Bu, badan saya kayanya masuk angin, hhe."


"Owalah gitu toh."

"Apa mbak Adel belum makan?"


"Tadi pagi sudah Bu, kalau siang ini belum. Baru mau!

Keburu ibu datang."


"Ohh kalian sudah siap siap mau makan toh. Yasudah kalau begitu kalian makan saja pasakan yang ibu bawa, moga moga enak ya!"


"Bu Ratmi sekalian saja makan disini bareng kita!"


"Gak usah mbak, saya sudah makan tadi sebelum kesini. Kalau begitu saya mau pamit pulang dulu ya mbak Adel, ada yang harus dibereskan dulu dirumah. Oh iya mbak Adel nanti dikerokin saya saja setelah makan, saya balik lagi kesini selesai beres beres dirumah."


"Apa tidak merepotkan Bu?"


"Yo ndak toh mbak Adel."


"Makasih banyak ya Bu."


"Iya mbak, yasudah saya pamit ya." "Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam."

"Waalaikumsalam."

"Waalaikumsalam."


Bu Ratmi pun pergi meninggalkan kami bertiga.


"Yah mbak kok malah Bu Ratmi sih yang ngerokin mbak?"


"Hhe ya gimana Ton, dia yang nawarin. Mbak gak enak nolaknya. Maaf ya Ton gak jadi sama kamu."


"Ahahahaha..."


"Gini amat Dan jadi aku, gak beruntung terus!!!"


"Sabar Ton belum rezeki,, ahahaha...."


"Yaudah kita makan dulu, udah laper ini."


"Iya mbak."


"Iya mbak, lauknya jadi nambah nih asiiikkkk."

"Bagi tiga ya ikannya!"


Kita makan bersama dengan lahapnya, yang tadinya hanya ada telur dadar kini bertambah dengan ikan nila dan tumis brokoli pemberian dari Bu Ratmi. Rasanya enak menurutku, tidak kalah dengan masakan di restoran terkenal. Bu Ratmi jago masak rupanya, kapan kapan aku belajar dengannya ah.


"Alhamdulillah,, kenyang juga. Enak ya mbak pasakan Bu Ratmi?"


"Iya Ton, enak banget ini. Bu Ratmi jago masak ya?"


"Dia kan pegawai catering mbak, udah lihai kalau soal masak memasak."


"Ohhhh pantesan. Kapan kapan mbak belajar ah sama dia!"


"Iya mbak, biar mbak jago masak juga. Masakin buat kita ahahahaha..."


"Huuuu enak aja! Maunya kamu itu mah Ton... Kalau mbak masakin kalian terus mah bisa tekor uang makan mbak."


"Iya mbak iya, becanda doang kok!"

"Sini biar aku cuciin piring kotornya mbak!"


"Makasih ya Ton."


"Sama sama mbak."


Tono membawa piring piring kotor itu ke dapur, lalu mencucinya di wastafel. Sungguh rajin ia menurutku. Tak banyak anak muda yang rajin seperti Tono, tidak disuruh tapi menawarkan sendiri. Akan ku beri hadiah nanti kamu Ton.


Setelah beberapa saat menunggu, suara Bu Ratmi terdengar kembali.


"Assalamualaikum mbak Adel.."


"Iya Bu waalaikumsalam, masuk saja Bu."


"Waaahhh sudah pada kenyang nih."


"Iya Bu, pasakan ibu enak banget."


"Makasih loh..."


"Mbak Adel mau belajar masak katanya Bu!"


"Iya toh mbak Adel?"


"Hhe iya bu, kalau ibu mengijinkan."


"Laaahhhh, yo boleh toh mbak, nanti kapan kapan saya ajari mbak Adel."


"Iya bu, makasih ya."


"Iya, yowes mau sekarang mbak dikerokin nya?


"Boleh deh Bu!"


"Dimana mbak?"


"Disini aja deh Bu, gapapa!"


"Loh kalau disini kan ada mereka berdua mbak, mbak gak malu dilihat mereka?"


"Heemmmm, gak apa apa bu, mereka kan masih kecil belum ngerti apa apa. Kalau dikamar panas bu gerah, masih berantakan juga belum saya bereskan."


Padahal ya, kamar memang berantakan sih bekas pergumulan kami tadi. Tapi kalau Bu Ratmi curigakan bisa bahaya nanti.


"Ya sudah kalau begitu. Kalian berdua jangan ngintip ya!"


"Iya Bu Ratmi, kami kan mau belajar ini."


"Ton boleh bantuin mbak ambilin karpet dikamar gak? Nanti gelar disini ya!"


"Oke mbak, sebentar aku ambilin."


"Oke mbak sudah!"


"Makasih ya Ton."


"Iya mbak."


Aku duduk bersila menghadap ke jendela depan, Bu Ratmi tentu di belakangku. Sementara Tono dan Dani duduk di kursi sofa di samping kananku. Ku lihat mereka mengeluarkan buku, wah skenario yang baik pikirku. Bu Ratmi tidak akan curiga kalau begitu caranya. Kalian pintar Ton, Dan!


"Mbak dasternya diturunkan dulu!"


"Ehh iya bu, lupa, hhe."


"Kalian jangan lihat kesini, lihatin buku saja. Belajar yang baik, yang rajin biar pintar. Biar lulus dengan nilai yang memuaskan."


"Iya Bu."

"Iya Bu Ratmi."


Aku membuka kancing depan dasterku, daster yang ku pakai saat ini adalah tipe untuk ibu menyusui, jadi ada tiga kancing di depan bagian dadaku. Lalu aku menurunkannya sampai diperutku.


"Saya mulai ya mbak!"


Aku mengangguk tanda setuju. Koin yang dipegang Bu Ratmi sudah menempel di kulit punggung ku. Terasa dingin dan licin karna sebelumnya sudah dicelupkan pada minyak. Naik turun tangannya menggosok punggungku, mulai dari leher belakang, punggung atas, tengah, sampai di pinggang. Tangannya lihai sekali melakukan itu, sudah berpengalaman pastinya.


"Merah banget loh ini mbak, kayanya mbak memang masuk angin! Mbak Adel ada pusing kepala atau pegal pegal juga?"


"Kepala ku sedikit pusing sih bu, tadi setelah mandi juga badan serasa kaku dan pegal juga."


"Nahhh iya, masuk angin ini mbak! Harus dipijat mbak!"


"Pengennya sih gitu bu, ibu bisa pijat juga?"


"Saya kebetulan gak bisa mbak, tapi tenang suami saya bisa pijat kok mbak!"


"Suami ibu?"


"Iya mbak."


"Hemmm gimana ya bu, saya malu bu kalau sama cowok."


"Aman kok mbak suami saya kan guru ngaji suka ceramah juga, saya jamin gak akan macem macem kok mbak. Dia profesional tenang aja."


"Tapi bu.... Disini emang gak ada pemijat wanita ya bu?"


"Dulu ada mbak, mbok Ayu namanya. Dia emang sudah lama memijat sudah terkenal juga. Tapi ya sekarang sudah tidak ada, sudah meninggal mbak. Tidak ada penggantinya, yang ada ya pemijat pria mbak. Suami saya sama ada Pak RT yang biasa mijat.

Saya juga sering dipijat suami saya kok mbak, jadi aman menurut saya. Mbak gak bakal di apa apain kok, suami saya baik mbak. Yang terpenting kan mbak bisa sembuh. Itu kan tujuan utamanya?"


"Iya sih bu."


Aku berpikir sejenak, menolehkan pandanganku pada Dani dan Tono. Dani mengangguk sementara Tono memberikan jempolnya tanda mereka setuju.


"Boleh deh bu."


"Ya sudah kalau mbak mau, nanti saya panggilkan beliau kesini. Kebetulan dia sudah pulang dari sawah waktu saya balik kerumah tadi."


"Iya bu, makasih ya!"


"Sudah selesai mbak. Merah banget ini mbak harus segera dipijat. Kalau begitu saya pulang dulu ya, tak panggil suami saya semoga belum berangkat lagi dia."


"Maaf ya bu sudah merepotkan!"


"Tidak mbak Adel, tidak merepotkan kok."

"Yasudah pamit ya, ditunggu ya mbak!"


"Iya bu."


Aku menganggukkan kepalaku padanya dengan bibirku yang tersenyum. Bu Ratmi kini telah pulang ke rumahnya, ia memanggil suaminya untuk memijatku. Ini menjadi pengalaman pertama juga bagiku dipijat oleh seorang lelaki. Sebelumnya aku memang pernah dipijat tapi ya dengan perempuan tentunya.


Apakah rasanya akan sama? Entahlah aku kan baru akan coba. Kata Bu Ratmi tadi suaminya memang tukang pijat sungguhan, beliau profesional. Tapi kata profesional itu bagiku adalah kesempatan. Eksib ku akan ku lancarkan pada seseorang yang katanya profesional. Seprofesional apa beliau di hadapanku?


Dihadapan tubuh yang indah ini. Apakah beliau akan tergoda atau bertahan dengan imannya. Aku harus bersungguh-sungguh kali ini. Ini kesempatan kedua aku menghadapi seseorang yang katanya ahli agama. Setelah gagal di percobaan pertama pada Pak RT, aku harus berhasil pada guru ngaji satu ini.


Itu tekadku, semoga saja berjalan dengan baik dan berhasil. Semoga! Karna ini akan menjadi sentuhan sentuhan perdana secara langsung di kulit tubuhku oleh seorang pria. Aku eksaited menunggu ini, menunggu beliau segera hadir.


"Mbak yakin mau di pijat sama cowok?"


"Yakin dong Dan!"


"Tubuh mbak bakal disentuh sentuh loh!"


"Iya Ton, ya namanya juga di pijat pasti disentuh kan."


"Iya sih mbak, tapi......."


"Aman kok Ton, Bu Ratmi kan bilang suaminya pemijat profesional, guru ngaji lagi. Gak akan macem macem kan harusnya?"


"Harusnya sih gitu ya mbak, tapi kan kita gak tahu nantinya gimana. Siapa tahu dia bakal ke goda sama tubuh mbak!"

"Apa mbak nanti mau ngegoda dia jangan jangan?"


"Ya tentu dong Ton, dia kan target baru mbak!"


"Meskipun dia guru ngaji mbak?"


"Ya, iya Ton. Mbak nganggap dia sebagai tukang pijatnya aja Ton bukan sebagai guru ngajinya. Tapi kalau dia tergoda sama tubuh mbak, berarti kan mbak berhasil."


"Betul itu mbak, kalau mbak Adel berhasil menggoda seorang guru ngaji. Waahhhh pencapaian terbaik itu mbak. Kalau ngegoda tukang sayur mah itu udah mainstream mbak, udah biasa. Ini ngegoda ahli agama, beeuhhhh kalau berhasil terbaik deh mbak Adel ini."


"Hehe, kalian bantu mbak ya nanti. Kalau ada kesempatan kalian goda juga dianya apapun caranya. Oke!"


"Oke mbak, aman aja."


"Siap mbak, bisa diatur itu mah."


Beberapa menit kemudian suara yang aku tunggu-tunggu terdengar. Suara dari seorang guru ngaji yang menyejukkan hati. Hhe.


"Assalamualaikum."

"Assalamualaikum...... Mbak.."


Aku menghampirinya ke depan gerbang, menyambutnya dengan senyuman terbaikku.


"Iya waalaikumsalam pak."

"Bapak suaminya Bu Ratmi kan, yang mau pijat?"


"Iya mbak betul, saya yang mau pijat. Kenalkan saya Karjo Wibowo mbak suaminya Bu Ratmi. Panggil saja Pak Karjo!"


Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memperkenalkan diri padaku. Wowww sungguh terlihat kesolehannya, dengan baju koko serta celana bahan dan tak lupa peci yang tersemat di kepalanya. Beliau mau pijat atau mau solat ya?

Mungkin memang seperti ini outfit kesehariannya, tidak usah bingung gitu Del.


"Iya Pak Karjo, aku Adel. Mari silahkan masuk!"


Aku berjalan didepannya memasuki rumahku, beliau mengikutiku dari belakang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

"Waalaikumsalam. Pak Karjo"

"Waalaikumsalam. Pak.


"Duduk dulu Pak, mau dibuatkan kopi dulu?"


"Emmm, mbak Adel mau langsung dipijat atau......."


"Nanti dulu saja pak, biar bapak istirahat sambil minum kopi dulu saja."


"Baik kalau gitu mbak, terimakasih sebelumnya maaf merepotkan."


"Nggak kok pak, ngga ngerepotin. Bentar ya pak saya buatkan dulu kopinya."


"Iya mbak."


Aku bergegas ke dapur, menyeduh kopi untuk beliau.


"Ujiannya memang kapan Dan?"


"Bentar lagi pak, dua minggu lagi."


"Wahhh dua minggu lagi mah, harus belajar bener bener."


"Iya pak, makanya kita belajar sama mbak Adel. Mbak Adel kan pinter siapa tahu nular pinternya. Tapi gurunya lagi ada kendala pak, jadi kurang fokus ngajarnya."


"Iya pak, bapak bikin dia sembuh ya!"


"Ya kalau itu mah tergantung yang diatas Dan, bapak mah cuma perantara. Cuma bantu aja. Ya semoga aja nanti setelah dipijat bisa langsung sembuh."


"Aamiin pak."


"Aamiin, pokoknya bapak kasih pijat yang terbaik pak. Pijat seluruh badan mbak Adel biar cepet sembuhnya!"


"Wwooohhhh, nguawur kamu Ton. Ya gak bisa seluruhnya lah mbak Adel kan berhijab gitu. Gak akan mau lah, paling pijat punggung sama kepalanya aja."


"Ya di coba aja pak siapa tau mbak Adel mau!"

"Yang penting kan sembuh pak."


"Wooohhh, semprul kalian ini!"


Aku melangkah kedepan, mengantarkan kopi untuk Pak Karjo.


"Silahkan diminum kopinya pak!"


"Iya mbak terimakasih."


Tanpa menunggu lama, ia langsung menyeruputnya.

Aku lihat Dani dan Tono seperti ingin minum kopi juga, kenapa aku gak sekalian buatin untuk mereka juga ya, dodol.... Kepala pusing bikin pening, jadi kurang fokus deh.


"Kalian mau juga ya? Bikin sendiri deh ya, mbak lupa gak sekalian. Hehe"


"Hemm mbak mah! Masih ada stok nya mbak?"


"Ada kok, mbak beli banyak."


"Aku buat ya mbak!"


"Ton...."


"Iya Dan, aman."


"Yang dirasain tubuh mbak Adel apa ya? jadi saya bisa pijat yang sesuai dengan dengan apa dirasa!"


"Pusing kepala, badan pegel sama kaku pak. Sama agak linu linu di sekitar paha pak."


"Waahhhh kalau itu mah harus seluruh bagian dipijatnya mbak!"


"Ohhhh seluruh nya ya pak, gapapa deh pak yang penting aku sembuh."


"Mau dimulai sekarang mbak!"


"Boleh pak. Disini atau dikamar aja pak?


"Yooo jangan dikamar toh mbak, saya takut... Maaf ya mbak, terjadi fitnah. Disini saja mbak, biar ada yang ngawasi juga."


"Baik pak kalau gitu."

"Aku harus gimana dulu pak?"


"Mbak Adel duduk sila aja di depan saya, biar saya pijat kepalanya dulu!"


"Oke pak."


Aku menuruti perintah Pak Karjo, duduk bersila didepannya. Persis seperti sedang kerokan tadi bersama istrinya.


"Saya mulai ya mbak. Maaf sebelumnya tangan saya ijin menyentuh kepala mbak nya!"


"Silahkan pak."


Wah bener ternyata, Pak Karjo ini begitu soleh dan profesional tentunya. Pake minta ijin segala, jadi bikin semangat buat godainnya. Semoga kali ini berhasil ya temen temen :)


Tangan Pak Karjo mulai memijat kepalaku, di mulai dari keningku ia unyek unyek, lanjut ke ubun ubunku, kepala bagian samping dan belakang. Enak sekali rasanya, jadi terasa ringan kepalaku. Tapi kalau lempeng lempeng aja bukan Adel namanya.


"Pak hijab aku ngeganggu ya? Aku buka aja ya!"


"Ehhh tidak usah mbak, aman kok!"


"Tapi rasanya tangan bapak agak terganggu dengan hijabku. Aku buka saja ya!"


Aku kemudian melepaskannya, menaruhnya didepan tubuhku. Salah satu auratku sudah terlihat oleh Pak Karjo. Yeeeee, satu tahap telah ku lewati.

Aku melirik ke arah Dani dan Tono, mereka sedang menyeruput kopi di tangannya. Aku tersenyum memberikan jempol kanan ku pada mereka. Sembunyi sembunyi tentunya, jangan sampai terlihat oleh Pak Karjo. Mereka kemudian membalasnya dengan jempol mereka juga. Tiga jempol untuk kami, yyyeeeeee.....


"Padahal tidak dilepas juga tidak apa apa mbak!"

"Maaf ya mbak saya jadi lihat rambutnya."


"Tidak apa pak, biar lebih lancar saja."


Jemari jemarinya sangat lihai menari di kepalaku, terus berulang sampai ucapan dari mulutnya terdengar.


"Sudah mbak, bagian kepala sudah selesai!"


"Iya pak, enak banget kepalaku berasa ringan jadinya."


"Alhamdulillah mbak, kalau ngerasa enakan."

"Sekarang bagian punggung mbak ya!"


"Aku baring aja ya pak?"


"Iya mbak, bagusnya begitu. Sama kalau ada pakai bantal mbak biar muka mbak gak sakit waktu tengkurap."


"Oke pak, Ton sekali lagi ya!"


"Oke mbak."


Tono bergegas menuju kamar, mengambilkan ku bantal. Sebenarnya aku merasa tidak enak terus terusan menyuruhnya, apalagi itu bisa aku lakukan sendiri sebetulnya. Tapi ya mau bagaimana, aku sudah terlanjur bersiap untuk dipijat. Ya aku suruh Tono saja. Tapi tenang Ton nanti kamu bakal dapet hadiah spesial dari mbak, tunggu aja.


"Ini mbak!"


"Makasih ya Ton."


"Iya."


Aku menaruh bantal itu di bawah wajahku, menjadikannya sebagai sandaran.


"Saya lanjut ya mbak! Maaf kali ini tangan saya nyentuh punggung mbak."


"Iya pak silahkan!"


Pak Karjo kini duduk disamping kiriku, tangannya mulai menyentuh punggungku. Memijatnya dari bagian atas, ke tengah sampai ke bawah tepat di pinggangku. Berulang beberapa kali.


"Sekalian tangan sama betisnya ya mbak!"


"Iya pak boleh."


Kini Pak Karjo memijat tangan kiriku, dipijatnya dari bahu sampai telapaknya. Tak lupa ia bunyikan jari jariku. Kretek.. kretek... Tak semuanya bunyi hanya dua yang ku rasa. Ia berpindah pada tangan kananku, sebelumnya ia juga memindahkan posisinya ke sebelah kananku. Berdiri memutari kakiku lalu duduk kembali. Sama seperti tangan kiriku, ia lakukan gerakan yang sama pada tangan kananku.


"Sekarang betis ya mbak!"


"Iya pak."


Ia memundurkan tubuhnya kebelakang, sekarang posisinya ada disamping kanan kakiku. Tangannya kembali memijat bagian tubuhku. Kali ini betis kaki kananku yang lebih dulu. Ibu jari nya menekan betisku dari atas menuju bawah.


"Ahhhhhh...."


"Sakit ya mbak?"


"Iya pak agak nyeri dan linu."


"Ini betis mbak kaku mbak, jarang jalan kaki ya mbak?"


"Iya pak, aku jarang olahraga sebenarnya."


"Ohhh pantes mbak, harus sering digerakkan mbak. Bagus nya sih lari atau jogging mbak. Minimal ya jalan kaki mbak, biar aliran darahnya lancar lagi."

"Mbak sudah lama tinggal disini?"


"Baru beberapa hari sih pak."


"Ohhh belum tahu keseluruhan kampung ini dong?"


"Belum pak, aku baru tahu rumah Pak RT aja sama warung mbok Yeni."


"Hemmm, Dan Ton ajak mbak Adel keliling kampung biar tahu seluk beluknya kampung ini!"


"Iya pak, sudah ada rencana kok. Tadinya setelah kita selesai belajar mau langsung jalan jalan pak. Tapi kan mbak Adel nya ada kendala."


"Ya gak harus hari ini juga! Tapi kalau mbak Adel sudah ngerasa enakan ya tidak apa apa dilanjut jalan jalan."


"Iya pak, semoga setelah pijat sudah sembuh jadi bisa jalan jalan sore."


"Iya, aamiin mbak."

"Saya lanjutkan ya mbak!"


"Ahhhhh pak..."


"Tahan mbak, memang sedikit agak sakit tapi setelahnya bakal enakan kok."

"Tahan ya mbak!"


"Iya pak.. ahhhhh..."


Tangan Pak Karjo terus menekan betisku. Sakit rasanya, tapi ya namanya juga pijat sakit ya wajar kalau enak ya itu namanya grepe grepe, hehe.


Betis kananku selesai kini tangan Pak Karjo berpindah ke betis kiriku, rasanya sama. Sakit tentunya.


"Terakhir telapak kaki ya mbak!"


Terakhir? Udahan dong, kok bentar banget pak. Aku kan belum mulai pak, telanjang aja belum pak. Tapi tenang, bukan Adel namanya kalau berhenti sampai disini.


"Aduhhhh..."


"Kenapa mbak?"


"Geli pak, hhe."


"Tahan ya mbak, dibagian ini banyak saraf saraf yang harus dipijat. Jadi agak lama, mohon ditahan ya mbak!"


"I iya pak, aku tahan."


Sakit juga geli, perpaduan yang bertolak belakang ku rasakan.


"Pak?"


"Iya mbak."


"Selain pijat biasa gini bapak bisa pijat apa lagi?"


"Banyak sih mbak. Pijat refleksi bisa, pijat akupuntur, pijat ibu hamil, pijat payudara sama pijat area kewanitaan saya bisa mbak. Tapi ya ngga semua orang bisa dipijat seperti itu mbak, kalau refleksi dan akupuntur kan ada alatnya. Sama pijat yang khusus perempuan itu ya harus di dampingi suaminya. Khusus yang sudah menikah mbak."


"Yahhh padahal aku mau yang pijat khusus wanita itu pak!"


"Belum bisa mbak buat mbak Adel, mbak belum menikah toh?"


"Iya pak belum."


"Yo ndak bisa mbak."


"Kok gak bisa sih pak, emangnya kenapa?"


"Mbak kan belum menikah, ini khusus untuk yang sudah menikah mbak. Dan wajib ada yang mendampingi biasanya sih suaminya."


"Yahhhh gitu ya pak?"


Aku sedikit kecewa mendengar penjelasan dari Pak Karjo, apalagi syaratnya. Aku kan mau juga pak dipijat seperti itu. Jangan nyerah Del pepet terus sampai dia luluh.


"Gimana kalau mereka berdua yang dampingin aku pak. Mereka aku sudah anggap sebagai partnerku, ehhh kok maksudnya sebagai adikku sendiri pak." "Bisa ya pak?"


"Lohhh kok, mereka kan tetangganya mbak."


"Gapapa kok pak, mereka udah jadi adikku sekarang."

"Aku bayar lebih deh pak buat upahnya!"

"Ya pak ya, bisa ya!"


Aku mengiba pada Pak Karjo berharap dia bisa melakukan pijatannya dan luluh pada keinginanku.


"Ta tapi mbak...."


"Tapi kenapa pak?"


"Pijatnya mengharuskan mbak untuk telanjang mbak, mbak gak boleh pakai apa apa! Apa gak masalah buat mbak?"


Yeee justru itu yang aku mau pak.


"Tidak apa apa pak aku tidak masalah kok, yang penting tubuhku sembuh dan sehat lagi."


"Ta tapi nanti dilihat mereka berdua mbak, gimana?"


"Ahh gapapa pak, mereka kan masih sekolah. Masih kecil juga mereka pak belum ngerti apa apa."

"Ayolah pak, bisa kan?"


"Yasudah kalau mbak memaksa."


"Yeeeeee.. makasih ya pak."


Aku kembali memberikan jempol pada Tono dan Dani, yang menandakan kalau aku telah berhasil lagi. Mereka pun membalasnya dengan memberikan jempol juga serta senyumannya yang penuh makna.


"Sebelumnya saya minta maaf dulu ya mbak, nanti ketika pijat saya bakal lihat tubuh mbak telanjang. Aurat mbak bakal saya lihat, maaf ya mbak. Sama jari jari saya bakal nyentuh kulitnya mbak. Saya minta maaf sekali lagi."


Duuhhh Pak Karjo ini, soleh banget deh. Minta maaf mulu kaya lagi lebaran aja. Suka deh sama tipe tipe yang kaya gini, jadi makin semangat buat eksibnya.


"Iya pak gak apa apa kok, namanya juga pijat. Aku percaya kok sama bapak, bapakkan sudah profesional juga sudah berpengalaman."


"Terimakasih ya mbak."


"Yaudah pak ayo kita mulai!"


"I i iya mbak."

"Mbak ada minyak zaitun kan?"


"Ada pak."


"Ada pak ini, sudah aku siapkan."


"Loh Ton, kan belum disuruh?"


"Aman mbak, kali ini aku inisiatif lebih dulu. Jadi tinggal dipakai deh."


"Makasih Tono..."


"Iya mbak..."


Aku lantas berdiri, menghadap Pak Karjo. Aku mulai membuka daster ku, ku loloskan dari atas sehingga dengan mudah meluncur ke bawah. Kini tinggal bra dan celana dalam hitamku.


"Ini dibuka juga pak?"


"Bagus nya dibuka sekalian mbak, biar tidak kena minyak nantinya."


"Oke pak."


Aku lanjutkan membuka bra ku, pengaitnya sudah terlepas. Ku lepas talinya dari kedua tangan ku. Kini payudara besarku sudah terekspos memperlihatkan kepada tiga orang lelaki didepanku. Tepatnya pada Pak Karjo yang pertama kali melihatnya, melihat salah satu auratku. Auratku yang ia pikir seharusnya tertutup rapat tidak ada yang melihat.


Ku lanjutkan membuka celana dalamku, aku perosotkan ke bawah sampai pahaku. Lalu membiarkannya jatuh dengan sendirinya dibantu oleh gravitasi bumi.


Kini tubuhku benar benar telanjang, dihadapan target baru tentunya. Target yang berbeda dari sebelumnya, seorang target alim yang profesional.

Namun seprofesional apa dirinya jika sudah melihat tubuh telanjangku, aku penasaran!


Ku lihat ekspresi wajahnya, melongo dengan mulut yang sedikit terbuka. Aku kemudian berjongkok di hadapannya.


"Pak aku sudah siap!"


"Ehhh ii i iya mbak, maaf!"


Kulihat dia kaget mendengar suaraku yang menyadarkannya dari lamunan. Kepalanya langsung ia tundukan, sepertinya Pak Karjo merasa malu.

Cie Pak Karjo cie.... Harusnya aku loh pak yang malu.

Hihi.


"Mbak Adel mau yang mana dulu? Pijat payudara atau pijat kewanitaan."


Nada suaranya melemah, ia gugup rupanya.


"Emphhh, payudara dulu deh pak, boleh!"

"Posisinya gimana pak?"


"Mbak tiduran aja terlentang!"


"Iya pak."


Aku merebahkan tubuh ku, ya tubuh telanjangku. Posisiku kini terlentang sementara Pak Karjo disebelah kananku, persis seperti pijat sebelumnya.


"Di mulai dari perut ya mbak!"


"Iya pak."


Botol minyak zaitun diambilnya, lalu dituangkan isinya ke atas perutku. Tangannya tampak ragu menyentuh perutku, tapi akhirnya telapak tangannya menempel juga.


"Maaf ya mbak."


Aku mengangguk lalu merasakan jari jemarinya mulai memijat perutku. Nikmat rasanya ada geli gelinya gitu. Berulang pada bagian atas bawah samping, pokoknya seluruh perutku ia pijat. Selesai dengan perutku, ia terhenti sejenak.


"Maaf ya mbak maaf banget, bukannya saya lancang."


"Iya pak tidak apa apa. Di pegang saja!"


Aku tahu ia tampak ragu, lalu kedua tanganku memegang masing masing pergelangan tangannya. Membantunya untuk segera hinggap diatas gunung kembarku.


"Tidak apa apa pak, dilanjut saja!"


Ia mengangguk, kedua tangannya segera memijat payudaraku. Ia melakukan pada payudara sebelah kiriku terlebih dahulu. Tangan kirinya ada di bagian atas sementara yang kanan dibagian bawahnya. Gerakan melingkar dilakukannya, dengan sedikit tekanan ia pijat secara halus sisi samping payudaraku. Meremasnya secara keseluruhan dengan teknik pijatan, terus berulang sampai dirasa selesai.


Namun aku merasa ada yang kurang, ya... Puting ku tak disentuhnya sama sekali. Gila benar benar profesional pikirku. Padahal putingku sudah menegang sejadi jadinya, tapi malah tak disentuhnya.


Kini kedua tangannya beralih pada payudara kananku, gerakannya sama seperti sebelumnya.

Aku mulai merasa kalau birahiku perlahan naik.

Rasa nikmat di payudara semakin kurasakan.

Hingga akhirnya aku sedikit mendesah, dan Pak Karjo menyadari itu.


"Aaahhhh...."


"Ehhh,, sakit ya mbak? Apa terlalu kencang?"


"Ngga pak, enak! Dilanjut saja gapapa."


Tangannya terus memijat payudaraku sampai dirasa selesai ia menghentikannya.


"Sekarang pijat ketiak ya mbak, biar memperlancar aliran darahnya! Sebenarnya bisa untuk memperlancar ASI juga, tapi karna mbak Adel belum menyusui jadi belum ada efeknya. Tapi karna pijat ini satu kesatuan dengan pijat payudara, jadi tetap saya lakukan ya mbak!"


"Iya pak silahkan."


"Tangan mbak tolong diangkat keatas ya!"


Aku mengangkat kedua lenganku ke atas, menaruh kedua telapaknya di belakang kepalaku.


Pak Karjo mulai memijat ketiakku, geli rasanya seperti di kelikitiki. Tak terlalu lama, ia sudah selesai di keduanya. Tak ada pijatan yang spesial hanya rasa geli saja yang ku rasakan.


"Pijat payudaranya sudah selesai ya mbak!"

"Sekarang tinggal pijat kewanitaan."

"Tapi sekali lagi saya bertanya, apa mbak yakin mau melanjutkannya?"


"Yakin dong pak!"


Dengan penuh keyakinan aku mengatakan itu.


"Soalnya vagina mbak akan tersentuh oleh tangan saya mbak!"


"Iya pak, tidak apa apa kok. Lanjutkan saja ini demi kesehatan kan pak?"


"Iya mbak, tujuan pijatnya untuk kesehatan organ intim wanita. Terutama untuk yang sudah menikah, bisa jadi lebih bergairah dalam hubungan suami istrinya. Karna pijat ini lebih ditekankan agar vagina bisa lebih kuat dalam menerima rangsangan."


"Tapi untuk yang belum menikah seperti mbak bisa juga agar nanti sudah terbiasa saat hubungan intim dengan suami mbak."


"Baik pak, kalau hasilnya memang bisa memuaskan. Dilanjut saja!"


"Baik mbak, saya lanjut ya!"

"Maaf sebelumnya, ijin ya mbak."


"Iya pak, silahkan."


Tangan Pak Karjo mengambil botol minyak zaitun, menuangkannya pada pahaku dan vaginaku. Uhhhh geli rasanya saat lelehan minyak itu mengalir pada bibir vaginaku. Ia mulai dengan paha kananku, ia pijat seperti biasa. Dengan sedikit tekanan dari atas lututku sampai pangkal pahaku. Kini ia berpindah ke paha kiriku, dengan gerakan yang sama ia memijatnya. Selesai.


"Pahanya sedikit direnggangkan ya mbak!"


Aku menuruti perintahnya, ku buka pahaku. Kini tubuhnya berpindah, ia berada di antara kedua pahaku, di tengah tengah tepatnya. Persis didepan vaginaku. Posisinya mengahadapku dengan kedua lutut sebagai alasnya.


Ia mulai kembali dengan memijat paha dalamku, bergerak naik menuju vaginaku. Uhhhhh nikmat rasanya... Pinggir vaginaku dipijatnya, gerakan lembut memutar memberikan rangsangan berlebih untuk otot saraf vaginaku. Rasanya enak banget, melebihi saat aku masturbasi dengan tanganku sendiri.


Mungkin tangannya sudah terlatih dan berpengalaman, jadi memang beda sekali rasanya. Aku merasakan cairan orgasmeku akan keluar. Gila dipijat saja sampai horni begini. Apa tidak apa apa ya kalau sampai keluar? Tapi ya tidak mungkin juga aku tahan. Ahhh aku tak peduli yang penting aku merasakan kenikmatan di pijatan kali ini.


Kedua lututku di naikan, posisiku sekarang mengangkang seperti seorang wanita yang akan melahirkan. Pijatan nya masih berlanjut, kini pahaku kembali dipijatnya. Paha dalam ku terus menerima tekanan dari jemarinya. Kini ia posisi kan kakiku seperti semula, memijat kembali pinggir vaginaku. Pijatan yang lembut dan perlahan membuatku semakin tidak tahan.


Tiga kali gerakan itu dilakukan Pak Karjo. Sampai yang terakhir posisi kakiku tetap mengangkang. Jarinya kini lebih berani bermain di vaginaku, dielusnya dengan perlahan bibir vaginaku. Kini salah satu jempolnya menyentuh klitorisku. Aku tak tahu ini termasuk dalam gerakan memijat atau bukan. Atau ini hanya gerakan improvisasinya saja.


Aku tak tahu, aku tak bisa membedakannya. Jempol yang satunya berusaha mengelus elus vagina dalamku. Uhhhhhh rasanya melebihi ekspektasiku. Kini tidak hanya jempolnya saja yang menyentuh klitorisku, telunjuknya kurasakan ikut bermain disana. Di putar putar klitorisku, lalu sedikit ditekannya.


"Aahhhhhh pak..."

"Enak pakkk..."

"Terusin pakkkkk...."

"Jangan berhenti......"


Aku meracau sembarang, aku harusnya tak mengatakan itu pada guru ngaji didepanku. Ehhhh tukang pijat maksudku, hhe. Aku yakin gerakan ini bukan lagi gerakan memijat. Tak terdengar suara dari Pak Karjo, menandakan ia juga menikmati permainannya di vaginaku.


Gerakan jemarinya terus berulang, sampai saat ku rasakan jempolnya sedikit masuk ke dalam lubang vaginaku. Mungkin sebatas kuku. Ia tarik keluar masuk secara berulang. Untungnya hanya masuk sebatas itu, mungkin ia sadar kalau aku belum menikah dan tentunya masih perawan. Dan itu betul.


Sampai akhirnya aku tak kuat lagi menahan gelombang orgasmeku. Aku klimaks di tangan tukang pijatku.


"Aahrrghhhhh.."

"Aaahhhhhhhhhhh... Aku gak kuat pak, akkkkuuuuu kkkeeellluuaaaaaarrrrrrrrr........"


Tubuhku mengejang, pinggulku terangkat ke atas seperti seseorang yang sedang kayang. Aku tak tahan, cairan vagina ku menyembur dengan derasnya. Lagi lagi aku squirt. Cairanku mengenai baju Pak Karjo banyak sekali, menjadikannya basah di bagian depannya.


"Ahhhh..."

"Ahhhhhhhh..."

"Aaaahhhhhhhhh..."


"Maaf pak aku gak kuat, aku gak bisa tahan ...."


"I ii iya mbak, sebenarnya saya juga su su sudah ti ti tidak kuaaatttt mbak!"

"Boleh saya keluarkan juga mbak?"


"Iya pak boleh kok, bapak boleh coli di depan ku pak."

"Silahkan!"


Aku mempersilakannya melakukan itu. Kini ia membuka resleting celananya mengeluarkan penisnya. Ehhhh tunggu tidak tidak ini bukan penis, ini kontol. Tono pasti berkata seperti itu. Ukurannya jumbo melebihi ukuran milik Tono pastinya.


Sudah tegang sejadi jadinya, dengan dibalut urat disekujur batangnya. Aku bergidig memandanginya. Tangannya mulai mengocok kontol besarnya itu, posisinya sangat dekat dengan vaginaku. Tidak sampai menempel untungnya. Apa aku biarkan menempel saja? Hemmmmm.... Tidak kali ini.


Semakin cepat tangan Pak Karjo mengocoknya, tapi belum ada tanda tanda akan keluar ku lihat. Ekspresi wajahnya menahan kenikmatan, desahannya tidak ia keluarkan. Mungkin ia malu, tak apa tak ada masalah dengan itu.


"Saya bantu ya pak!"


Aku kemudian bangkit dari tidurku, berjongkok dihadapan nya. Posisi kita jadi sama, sama-sama berjongkok. Kupegang bahunya, lalu berkata...


"Bapak berdiri saja biar aku bantu keluarkan!"


Ia menuruti perintahku, kini ia berdiri dengan kontolnya yang mengacung menghadap tepat ke arah wajahku. Aku menggenggamnya dengan satu tanganku, gila ini besar sekali. Ibu jariku bahkan tak bisa menyentuh ujung jari telunjukku. Tak cukup dengan satu tanganku, kini tangan kiriku bergabung bersama tangan kananku menggenggam rudal milik Pak Karjo.


"Ehhhh mbak..."


"Sssttttt, tidak apa pak aku bantu."


Ku gerakan maju mundur, ritmenya langsung ku percepat saja agar bisa cepat keluar. Tapi tidak berhasil, langsung saja ku majukan mulutku melahap kepala kontolnya. Ku emut langsung, lidah ku menari nari pada lubang kencingnya.


"Ahhhhh mbak, enak mbak!"


Akhirnya aku mendengar desahannya, keluar juga ternyata. Mungkin Pak Karjo semakin merasa keenakan ya.


Aku berhenti mengocoknya, lidahku kini menjilati batangnya. Dari pangkal sampai ke ujungnya. Tapi tetap saja belum kulihat tanda tandanya. Aku kemudian membusungkan dadaku, payudaraku yang besar semakin terlihat menonjol saja dihadapannya.


Ku arahkan pada kontol besarnya, ku jepit di sela sela payudaraku, lalu ku tekan dengan kedua tanganku.


"Ayo pak, gerakin!"


Tanpa banyak bicara, Pak Karjo langsung saja menggerakan pinggulnya maju mundur. Perlahan lalu semakin cepat. Kadang kepala kontolnya menyentuh bibirku, lalu kukecup saja. Kadang juga aku menjilatnya saat mendekat. Ku goda beliau dengan kata kataku.


"Ayo pak keluarin!"

"Sembur mukaku dengan sperma kontol besarmu pak."

"Ayo pak, aku siap pak."

"Ayo keluarin pak....."


"Iya mbak, ini saya sudah mau keluar mbak. Sudah tidak tahan...."

"Mbak aaakkuuuuuuu keeeluuarrr mbaaakkkk..."


Ia lalu menggenggam kontolnya, mengocoknya sebentar sampai.......


Cccrrrooootttt... Ccrrrroooottt.... Ccrrooottttt...


Ia semburkan spermanya di wajahku, banyak banget yang aku rasa. Seluruh wajahku lengket terbaluri spermanya, aku seperti sedang luluran memakai lidah buaya saat ini. Sampai tetes terakhir Pak Karjo terduduk dengan nafas yang ngos ngosan. Matanya masih terpejam dadanya naik turun menikmati ejakulasinya.


"Banyak banget pak keluarnya!"


Aku sedikit menyusut sperma yang ada di mataku, agar aku bisa melihat tentunya. Mendengar suaraku, Pak Karjo tersadar ia membuka matanya dan.....


"Astaghfirullah mbak. Apa yang sudah saya lakukan mbak?"

"Maaf mbak, saya benar benar minta maaf mbak!"

"Saya khilaf mbak."

"Saya tidak tahan tadi mbak."

"Maafkan saya mbak, saya terlalu bernafsu sama mbak."

"Maaf mbak, sekali lagi saya minta maaf mbak."

"Tolong jangan laporkan saya mbak!"

"Saya salah mbak.."

"Saya takut mbak..."


Kini Pak Karjo terduduk lesu, ia memeluk lututnya sambil menundukkan kepalanya. Aku bergerak mendekatinya, mengelus punggung nya lalu berkata....


"Tidak apa apa pak, ini sudah terjadi. Bapak tidak salah kok, tidak ada yang salah dengan kejadian ini." "Kita sama sama menikmatinya kan?"


Mendengar perkataanku, kepalanya ia tegakkan kembali meski masih kulihat tatapannya kosong. Ia hanya melihat ke depan tanpa memandangku.


"Aku janji tidak akan melaporkan bapak, bapak tenang aja pokoknya."

"Semua bakal aman kok!"


"Maaf ya mbak, sekali lagi saya minta maaf."

"Saya sudah berlaku kurang ajar terhadap mbak."

"Saya sudah menghinakan mbak sebagai wanita."

"Maaf mbak, maaf."

"Harusnya saya bisa tahan syahwat saya."

"Tapi saya malah seperti itu mbak."

"Saya khilaf mbak."

"Saya sudah kelewatan mbak."

"Tolong mbak jangan laporkan saya mbak."

"Saya tidak ingin istri saya tahu kelakuan saya yang bejat ini mbak."

"Tolong mbak, saya minta maaf."

"Maafkan sayyyyy..."


Muuuaaachhhh...


Kukecup bibirnya agar dia berhenti berbicara, dan itu berhasil. Ia kaget seakan tak percaya. Ia memandangku tanpa sepatah kata. Matanyalah yang berbicara seakan berkata,

'iya mbak terimakasih'


"Sudah pak, bapak tenang saja. Semua aman kok." "Tidak akan ada yang tahu tentang kejadian ini. Kami bertiga bisa bapak percaya."


"Iya pak, gak usah segitunya kali pak. Aman pak kita gak akan lapor kemana mana kok. Rahasia aman terjamin."


"Iya pak santai aja santai, kalemin."


"Ta ta tapi, kalian sudah melihat kelakuan bapak tadi."

"Kalian pasti mikir yang ngga ngga tentang saya."


"Ya itu pasti lah pak, seorang guru ngaji melakukan hal tidak senonoh kepada pasien pijatnya, ahahaha."


"Daniiiii, jangan gitu ahhhhh gak boleh."


"Hhe."


"Kok bisa sih pak, Pak Karjo gak tahan ya lihat tubuhnya mbak Adel?"


"Ini lagi kamu Tono, udah ahh jangan bilang kaya gitu gak enak didengernya!"

"Mending kamu ambilin minum buat mbak sama Pak Karjo!"


"Oke mbak siap!"


"Sekalian aku juga ya Ton!"


"Iyaaaa..."


"Bapak tenang aja pak, tadi aku cuma bercanda kok. Pokoknya gak akan ada yang tahu selain kita berempat pak. Kita janji bakal tutup mulut."


"Iya pak, tuhkan Dani juga udah bilang gitu. Bapak pokoknya tenang aja sekarang ya!"


"Ini pak diminum dulu biar rileks!"


Tono menaruh baki yang berisikan empat gelas air minum di atas meja.


"Bapak duduk dulu ajah dikursi, sambil istirahat. Di minum ya pak minumnya, aku mau cuci muka dulu gak tahan lengket gini! Bentar ya mbak tinggal dulu."


"Iya mbak!"


"Sini pak duduk!"


"Iya Dan."


"Bisa kali pak burung cenderawasihnya di masukin sangkar dulu!"


"Ehhh maaf, lupa. Hhe."


"Bukan burung cenderawasih Dan itu mah."


"Emang apaan Ton?"


"Burung unta, ahahahaha..."


"Ahhahaahahaha..."


"Kalian ini, bisa aja..."


"Kok bisa gede gitu sih pak?"


"Yang sering di pijat Ton, bapak kan bisa mijat."


"Ohhh bisa untuk itu juga ya pak."


"Ya bisa tapi harus telaten, dan nggak instan butuh waktu lama juga. Bapak kan bisa pijat sendiri jadi ya lama lama bisa sebesar ini."


"Tuh Dan, yang kamu pijat juga sama Pak Karjo. Yang kamu kan kecil."


"Gak yah, ogah banget. Kalau yang pijatnya mbak Adel mah aku mau. Tapi kalau dipijat Pak Karjo, gak deh gapapa punyaku kecil juga."


"Ahahahaha...."


Aku kembali dari kamar mandiku, mukaku kini sudah terasa lebih segar. Aku kemudian duduk bersila di karpet tempat aku dipijat tadi. Bantalnya ku peluk kujadikan penutup payudara dan selangkanganku.


"Saya minum ya mbak air nya!"


"Iya pak silahkan."


"Dasternya gak dipake lagi mbak?"


"Nggggg gausah deh, nanti aja setelah mandi. Badan mbak masih lengket karna minyak zaitun tadi. Gak enak kalau kena kain."


"Kirain sekalian bersihin badan!"


"Nggak, cuma cuci muka doang."


"Maaf ya mbak, sekali saya minta maaf. Saya gak bermaksud buat lakuin itu tadi. Saya kebawa suasana dan gak bisa menahannya mbak."

"Mohon maaf ya mbak!"


"Iya pak saya maafin deh, biar bapak gak minta maaf terus. Udah kaya lagi lebaran aja minta maaf terus."


"Abisnya saya ngerasa bersalah mbak."


"Udah bapak gak salah kok, dan gak ada yang salah."


"Yasudah kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya mbak, Dani, Tono. Saya mohon pada kalian jangan sampai ada yang tahu ya. Dan jangan sampai saya dilaporkan. Saya takut!"


Pak Karjo mengeluarkan dompet dari saku celananya, ia mengeluarkan uang pecahan seratus ribuan sebanyak tiga lembar. Membagikannya masing masing satu lembar kepada kami.


"Ini uang tutup mulut, inget ya tolong jaga rahasia ini. Terutama pada istri saya, jangan sampai dia tahu. Bisa dipecat nanti saya jadi suaminya. Tolong ya!"


"Siap Pak Karjo, aman terkendali."


"Makasih pak, rahasia aman ditangan kami."


"Kok saya dikasih juga pak? Kan saya yang harusnya bayar bapak buat upah pijatnya, tadi saya janji buat bayar lebih kan."


"Gak usah mbak saya kasih gratis saja."


"Yeeeee makasih ya pak."


"Yasudah saya pamit ya, takut istri saya curiga lama lama disini."


"Iya pak, makasih ya Pak Karjo."


"Iya."


Baru saja Pak Karjo hendak berdiri, dari luar seseorang berteriak memanggilnya.


"Pakkk'eee"

"Assalamualaikum.... Pakkk'eee sudah beres kah?"


"Eladalahhhhhh, istri saya mbak kemari, baru saja diomongin udah muncul saja.. aduh gimana ini mbak!"


Kami semua terkaget dengan kedatangan Bu Ratmi.


"Mbak di pake dulu dasternya."


"Iya iya."


Aku memakai dasterku dengan terburu buru.


"Hijabnya mbak jangan lupa!"


"Iya, mana ya?"


"Itu mbak ketutupan bantal."


"Nah ini.."


Aku memakai hijab instanku, tepat disaat Bu Ratmi berdiri didepan pintu rumahku. Huuuhhhhh... Hampir saja.


"Sudah beres toh pak?"


"Sudah bu, sudah beres tadi bapak ngobrol dulu sama Dani dan Tono."


"Yasudah pak ayo pulang, sebentar lagi kan harus ngajar ngaji gak enak kalau terlambat."

"Mbak Adel sudah enakan badannya?"


"Sudah bu, jadi berasa ringan badan saya. Suami ibu enak pijitannya, bikin nagih. Nanti kapan kapan saya dipijat lagi deh."


"Jelas mbak, saya aja sering keenakan kalau lagi dipijat beliau. Ehhh..."


"Hussstttt, sudah sudah jangan diteruskan bu. Kalau begitu saya pamit ya!"


"Kita berdua pamit ya mbak Adel, Dani, Tono."


"Iya, Pak Karjo Bu Ratmi..."


"Assalamualaikum."

"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

"Waalaikumsalam."

"Waalaikumsalam....."


Mereka berdua pamit meninggalkan rumahku. Aku menutup pintu lalu kembali masuk ke dalam.


"Hampir aja ketahuan mbak."


"Iya Dan, hampir."


"Mbak sih gak pake baju."


"Ya kan biar sekalian nanti."


"Tapi tadi gila sih mbak, itu sempurna banget menurutku. Mbak hebat, makin hebat aja."


"Iya mbak, top banget, debest deh pokoknya. Gak ada lawan. Mbak binal banget tadi."


"Yeeeeeee, berhasilkan! Makasih ya bantuannya."


"Itu mah improvisasi mbak sendiri, tadi kan kita diem doang cuma ngeliatin."


"Iya mbak, mbak makin jago kalau soal goda menggoda. Apalagi ngegoda suami orang. Mbak itu ibarat 'tetangga baru adalah maut' Ahahahaha.."


"Ahhahaahahaha.."


"Iya juga ya, bisa aja kalian.. yang penting kan berhasilnya itu loh dan hasil akhirnya."


"Ini....."


Aku mengangkat selembar uang berwarna merah dan mengibaskannya.


"Iya mbak, bisa bisanya kita dibayar sama Pak Karjo."


"Enak kan?"


"Enak banget mbak, bisa dapet duit cuma cuma, lumayan buat jajan."


"Yaudah nih buat kalian aja, bagi dua ya lima puluh lima puluh!"


"Loh kok dikasih ke kita mbak?"


"Gak papa kan ini semua berkat kalian juga yang bantuin mbak sampai berhasil gini. Mbak puas deh kali ini. Ternyata seorang guru ngaji pun bisa mbak taklukan."


"Ya siapapun itu pasti gak bakalan tahan lah mbak liat tubuh seksi mbak, apalagi dikasih toket mbak yang gede itu. Plus ditambah memek mbak yang bersih tiada duanya itu, boleh dipegang pegang lagi sampe jempolnya masuk. Siapa yang tahan mbak?"


"Hehehehe..."

"Iya keliatan sampe masuk ya jempolnya?"


"Jelas mbak, untung cuma masuk segitu. Kalau semuanya sih jebol mbak."


"Pak Karjo beruntung banget mbak, bisa ngeremes susu mbak sama colmekin memek mbak. Sampai sampai iman nya goyah tadi. Sekelas itu aja bisa runtuh mbak, apalagi sekelas mang Asep mbak. Udah diterkam langsung, dicabik cabik mbak nya."


"Iya ya, ya tubuh mbak ini kan anugerah dari Tuhan. Harus mbak manfaatkan. Bener gak?"


"Bener banget mbak."


"Setuju mbak, mbak harus makin eksplor tubuh mbak. Biar makin binal."


"Siap, tentunya dong!"

"Yaudah mbak mau mandi, udah gak enak kulit mbak!

Kalian gak pulang?"


"Kita kan mau jalan jalan mbak!"

"Jadi kan?"


"Ehhh iya. Jadi dong, mbak udah ngerasa enakan kok. Atau kalian mau mandiin mbak?"


"Gimana caranya orang gak dibolehin nyentuh."


"Nah itu tahu........"


"Huuuuuu dasar, udah sana mandi!"


"Tunggu ya......"


Bersambung


:::::::::::::::::::::


#11


KETEGANGAN


Aku telah selesai mandi, mengeringkan badanku dengan handuk putihku lalu memakainya. Ku langkahkan kakiku menuju kamarku, sejenak aku berhenti dihadapan Tono dan Dani.


"Mbak harus pakai daleman atau gak usah?"


"Pakai lah mbak!"


"Iya mbak pakai ajah, kitakan mau jalan jalan bukan mau eksib."

"Atau mbak.....?"


"Kirain mbak kalian mau mbak gak pakai daleman lagi."


"Ya gak harus selalu gitu mbak, kita kan harus lihat situasi dan kondisinya gimana!"


"Iya mbak, kita kan mau jalan jalan keliling kampung. Resikonya besar kalau mbak ketahuan gak pakai pakaian dalam. Pelan pelan aja mbak, santai. Segala sesuatunya harus dipikirkan matang matang."


"Wihhh keren kamu Ton, tiba tiba bisa mikir begitu. Keren! Keren."


"Iya dong mbak, sesekali sih bisa. Kalau berkali kali mah ya gak mungkin, kapasitasnya terbatas ahahaha.."


"Bener tuh mbak kata Tono, pelan pelan aja gak usah buru buru. Kalau ada kesempatannya, baru deh mbak eksekusi."


"Yaudah deh kalau gitu. Mbak pakai baju dulu ya!"


"Iya mbak, dandan yang cantik ya!"


"Iyaaa..."


Aku memasuki kamarku, duduk dibangku sederhana yang terbuat dari plastik. Menghadap ke depan cermin tempat aku merias wajahku. Handukku masih menempel di badanku, kulirik sejenak punggungku di cermin tanda kemerahan masih jelas terlihat disana. Benar kata Bu Ratmi warnanya merah darah, aku masuk angin rupanya.


Tapi semoga saja segera sembuh, setelah aku kerokan juga dipijat badanku memang terasa berubah. Tak lagi kaku seperti sebelumnya, pusingku juga perlahan menghilang. Badanku terasa ringan jadinya, itu karna efek pijat atau karna efek orgasme ya? Atau karna efek keduanya, entahlah yang jelas sekarang aku merasa lebih bersemangat.


Aku rias sedikit wajahku, tak perlu berlebihan. Cukup dengan bedak tipis dan lipstik dengan warna lembut, natural saja pikirku. Toh kedua bocah yang sekarang selalu dekat denganku juga bilang kalau wajahku memang sudah cantik, mau pakai make up atau tidak pun tak jadi masalah. Seneng deh kalau dipuji begitu, hihi.


Ku pilih pakaianku dilemari, gamis berwarna coklat muda dengan kancing di bagian depannya. Untuk hijab nya aku memilih model scarf dengan motif bunga bunga berwarna coklat yang sedikit lebih gelap. Dalamannya aku pilih warna putih saja, tidak ada yang spesial dan tidak kelihatan juga nantinya.


Ku pakai satu persatu sampai semuanya menempel ditubuhku. Aku bercermin kembali memastikan semuanya terpakai dengan sempurna. Tak lupa ku semprotkan parfum, sedikit saja yang penting ada wangi di tubuhku.


Aku keluar kamar, berjalan mendekati Tono dan Dani. Wajah mereka nampak berseri melihat kedatanganku.


"Waahhhh bidadari mau kemana nih sore sore gini?"


"Cantik banget mbak!"


"Apasih kalian, malu tahu ngga. Ngeliat nya gak usah gitu biasa aja!"


Wajahku memerah, entah mengapa aku jadi malu diperhatikan oleh mereka sebegitunya. Padahal sekarang aku memakai pakaianku dengan lengkap, tubuhku tertutupi. Tapi kenapa aku merasa malu, sedangkan saat aku telanjang tadi aku merasa biasa saja. Aneh memang!


"Kok malu sih mbak, biasa aja kali!"


"Iya mbak gak usah malu, mbak kan mau memperlihatkan kecantikan mbak pada semua orang dikampung ini. Mbak harus percaya diri!"


"Masa ke semua sih Ton, banyak banget dong."


"Ya perumpamaan doang mbak, ya gak mungkin juga ke semuanya."


"Yaudah deh ayo, keburu makin sore!"


"Ayo, kita mah udah siap daritadi juga."


"Kalian tunggu didepan, mbak mau kunci pintunya dulu!"


"Oke mbak."

"Oke mbak."


Oh iya aku memakai tas kecil untuk menaruh dompet, dan kunci rumahku. Siapa tahu aku nanti mau membeli sesuatu diperjalanan.


Aku berjalan keluar, menutup pintu dan menguncinya. Aku memakai sandal, sandal wanita ya bukan sandal jepit, hihi. Berjalan meninggalkan rumah, lalu menutup pagar. Kami berjalan bertiga, menyusuri jalan setapak yang nampak lebar. Kukira cukup untuk satu mobil melintas dijalan ini. Tapi tak pernah ku dengar deru suara mobil melintas selama beberapa hari aku tinggal disini.


Sunyi sepi, itu lah yang kurasakan. Tak ada suara knalpot kendaraan, tak ada suara klakson dan tak ada suara miring yang berasal dari mulut tetangga, ehh hihi. Aku berjalan di belakang mereka berdua, mengikutinya entah kemana.


"Ngomong ngomong kita mau kemana emangnya?"


"Ya muterin kampung ini aja mbak!"


"Lihat lihat aja mbak, gak ada yang begitu menarik sih disini. Paling di hutan kampung sebelah mbak, ada sungai disana!"


"Iya deh sekalian mbak jalan jalan gerakin kaki."


"Nah itu mbak, sekalian olahraga."


"Atau mbak mau main ke rumah kita?"


"Boleh deh, mbak pengen tahu juga rumah kalian."


"Oke mbak!"


"Sekalian jalan aja ya mbak, rumah kita diujung sana yang deket dengan gapura kampung."


"Iya."

"Ehhh tunggu, ini udah lama kosong rumahnya Dan?"


"Lama banget mbak, dari kita SMP udah kosong."


"Sayang banget ya padahal bagus, luas juga."


"Iya mbak, pemiliknya merantau ke kota mbak katanya tapi gak pernah balik lagi kesini. Awal awal sih sering nengokin rumahnya sebulan sekali. Anak pemiliknya kan temen kami juga mbak. Tapi lama kelamaan di tinggal gitu aja mbak. Gak ada kabar lagi, gatau deh kenapa. Mungkin mereka udah kaya terus lupa kalau punya rumah disini hehe."


"Dulu kita sering main dirumah ini loh mbak, memang bagus sih. Perabotannya juga termasuk modern mbak daripada yang kami punya. Memang mereka termasuk orang kaya sih dikampung ini. Sayang aja jadi gak keurus gini."


"Ohhhh gitu ya, serem gak sih dalemnya Ton?"


"Nggak mbak, gak ada serem serem nya malah. Gak pernah ada kejadian aneh sih mbak, aman aja selama ini."


"Iya mbak, gak pernah ada hal mistis yang terjadi sih. Kita kalau ngelewat sini malem malem juga gak ngerasa takut. Soalnya masih diurus sama warga disini mbak. Kaya motongin rumput liarnya sama bersihin lantainya mbak."


"Ohhh ada yang khusus bersihin rumah ini juga?"


"Nggak khusus sih mbak, kalau lagi ada kegiatan kerja bakti aja. Nah para warga bantu bersihin deh."


"Ohhh gitu, oke deh. Mbak penasaran aja sama dalemnya."


"Mbak penakut ngga?"


"Mbak rasa ngga sih, gatau juga deng. Belum pernah ngalamin dan ngerasain hal hal begituan sih Dan."


"Yaudah, lanjut ya mbak!"


"Ayo."


Kami bertiga berjalan kembali, setelah sebelumnya berhenti sejenak didepan rumah kosong yang terbengkalai. Aku penasaran saja dengan rumah itu.

Melanjutkan langkah kami menyusuri jalanan dikampungku ini.


"Nah itu mesjid utamanya mbak dikampung ini, semua kegiatan keagamaan biasanya diadain disana."


"Yang sebelahnya Dan?"


"Itu gedung serbaguna mbak, buat acara acara gitu!"


Tak jauh dari situ kulihat lapangan voli dan bulutangkis yang bersebelahan yang dipisahkan oleh jaring jaring tali.


"Kapan kapan ajakin mbak main bulutangkis dong!"


"Mbak bisa emang?"


"Ya bisa dong, kamu pikir mbak gak bisa olahraga gitu? Bulutangkis doang mah mbak jago."


"Mainnya harus pagi sih mbak, biar gak banyak anginnya!"


"Iya, kalian punya raketnya?"


"Ada kok mbak kita punya, kapan kapan deh kita main."


"Oke Dan."


"Mbak!"


"Apa Ton?"


"Mbak lihat kesana deh! Ada pohon mangga kan?"


"Iya ada Ton mbak lihat."


"Nah itu pohon mangga yang dicuri sama Dani terus ketahuan sama Pak RT mbak."


"Beneran Dan?"


"Iya mbak, TKP nya disitu. Dipohon mangga yang itu. Padahal cuma nyuri satu doang mbak ngga sekarung, aku dimarahi habis-habisan sama Pak RT. Ya namanya anak remaja kan mbak, bandel dikit mah wajar."


"Yeee gak bisa gitu dong Dan, yang namanya nyuri mau sedikit atau banyak ya tetep aja salah. Mau usianya berapapun juga ya tetep salah gak bisa dibenarkan."


"Iya sih mbak, tapi aku jadi trauma mbak gegara itu. Jadi takut banget sama Pak RT."


"Kalau kamu sampai trauma sih, kayanya udah berlebihan ya ngga sih Dan?"


"Iya mbak aku pikir gitu juga, tapi ya udah lah. Udah terjadi juga."


"Tapi bagus itu Dan, setelah itu kan kita gak pernah nyuri lagi."


"Emang kalian dulu tukang nyuri?"


"Iya mbak sering, pokoknya kalau ada pohon yang berbuah kita ambil duluan buahnya. Tapi ya cuma satu atau dua aja mbak, buat cemilan kita ajah."


"Heeemmm bandel juga ternyata kalian ya!"


"Dulu itu mbak."


"Sekarang?


"Kalau sekarang bandelnya ke hal lain mbak, ahahaha."


"Dasar...."


"Ahahahaha.."

"Ahahahaha..."


Tak jauh dari lapangan, kulihat ada sebuah pos ronda disitu. Sebuah pos yang berbentuk seperti saung. Aku ingin berhenti sejenak disana, rasanya kakiku sedikit pegal padahal baru sebentar berjalan.


"Kita istirahat di pos ronda itu dulu ya, mbak capek kaki mbak pegel!"


"Baru bentaran jalan mbak, udah capek lagi."


"Kan kalian tahu mbak tadi udah keluar, jadi kaki mbak pegel."


"Oke deh mbak."


Aku berjalan ke arah pos itu, semakin mendekat kulihat ada yang sedang tertidur di dalamnya. Seseorang yang memakai seragam berwarna hijau dengan tulisan hansip didada kirinya dan nama Jamal di dada kanannya.


"Lah ada mas Jamal rupanya!"


"Lah iya, kerjaannya kok tidur terus hansip satu ini."


Tono lalu mendekati beliau menepuk nepuk bahunya dan memanggil namanya.


"Mas Jamal, bangun mas, mas.... Mas bangun!"


"Ehhhh.. ada apa toh?"


"Bangun mas, bukannya jaga malah tidur."


"Ohhh kalian, ada apa toh Tono Dani?"


"Gak ada apa apa sih, cuma pengen ikut duduk di pos aja sekalian istirahat."


"Alaahhhh kirain ada apa ngebangunin."


"Kok tidur sih mas, kan harusnya jaga?"


"Ya jaganya kan malem malem Dan, sekarang ya tidur dulu. Lagian ya aman toh jam jam segini. Jam rawan kan malem malem."


Setelah berbincang sejenak dengan Dani dan Tono, hansip ini baru menyadari keberadaanku. Ia menolehkan pandangannya padaku, tepatnya tertuju ke wajahku.


"Weissshhhh... Kok ada bidadari Ton? Apa aku udah meninggal ini atau aku mimpi ini Dan?"


"Ahahaha..."

"Ahahahahahaha..."


Aku hanya tersenyum melihat tingkah lucunya.


"Loh kok pada ketawa sih? Mbak ini siapa toh bidadari bukan ya? Mbak ini mau jemput saya toh?"


"Apasih mas, ngelindur ya sadar mas sadar!"


"Ahaha dia manusia mas, sama kaya kita. Bidadari bidadari palamu.."


"Ohhh tak pikir mbaknya bidadari yo."

"Siapa ini Ton?"


"Dia tetangga kita mas, rumah nya yang dulu ditempati Bu Darmi!"


"Ohhh yang deket kebun Pak Bagas Ton."


"Iya, betul mas, sebelahan."


"Ohhhhh ya ya ya.. pangling aku toh mbak liat nya. Ayu tenan mbak ini."


"Nggak kok mas biasa aja, aku Adel. Salam kenal ya mas."


"Iya mbak, aku Jamal mbak. Bertugas mengamankan keadaan di sekitar kampung ini dari segala macam ancaman dan teror teror yang menakutkan."


"Lebay banget mas, bilang aja hansip!"


"Hehe, nah itu mbak, sebut saja hansip."


"Duduk mbak, katanya pegel!"


"Ehh iya Dan, mas Jamal aku ikut duduk ya!"


"Iya mbak silahkan, tapi lantainya kotor mbak agak berdebu gapapa? Atau mbak mau duduk di pangkuan saya?"


Aku yang sudah siap untuk duduk mengurungkannya, mendengar ajakan dari mas Jamal aku kembali berdiri.


"Emangnya mas Jamal ngga berat kalau pangku aku?"


"Ehhhh, ya ngga toh mbak, aku kuat kok. Sini mbak!"


Ia menepuk nepuk pahanya, mengajak ku agar duduk dipangkuannya.


"Boleh deh mas."


Aku tersenyum padanya, kaki kananku aku naikan mencoba menaiki pos ronda itu. Kulihat wajahnya melongo, seakan tak percaya aku akan menuruti perintahnya. Tapi dengan secepat kilat Tono berkata.


"Ehh ehhh jangan mbak jangan!"


"Iya mbak jangan, keenakan mas Jamal nantinya. Baru kenal kok udah berani mangku anak orang. Mesum kamu mas!"


"Yah, gak boleh ya Ton, Dan?"


"Jangan mbak, jangan mau!"


"Duduk disini aja mbak!"


Aku kembali menurunkan kaki kananku, berdiri sejenak sambil berkata.


"Yah gak dibolehin nih mas Jamal sama Tono dan Dani, aku duduk disini aja ya!"


"Yah mbak, pahaku sudah siap diduduki ini mbak."


Aku melihat raut wajahnya, ia begitu kecewa dengan keputusanku yang tidak jadi duduk dipangkuannya. Ya pasti gak jadi lah mas Jamal aku kan cuma bercanda barusan, baru kenal kok udah berani mangku aku. Emangnya aku cewek apaan, hihi.


"Gak boleh pangku pangku mas, dosa hhe."


"Dosa ya mbak?"


"Heemm..."


"Maaf deh mbak, aku kelewatan!"


Aku hanya tersenyum padanya tanpa mengucapkan kata.


"Huuu dibilangin dosa aja, baru nyadar!"


"Iya nih mas Jamal, emang mbak Adel cewek gampangan apa. Kan keliatan dari pakaiannya. Sembarangan maen pangku pangku aja."


"Iya, iya maaf..."

"Maaf ya mbak Adel, tadi cuma bercanda."


"Iya gapapa mas."


"Mas jamal nanti malem ada ronda kan?"


"Iya, malem ini jadwalnya warga RT 4 Dan."


"Masih pakai jadwal yang dulu mas?"


"Nggak Ton, ada perubahan aku jadi kebagian tiga hari dalem seminggu asalnya kan cuma dua hari."


"Kok bisa mas?"


"Iya Dan, mas Paijo kan resign jadi hansip. Tinggal aku sama Pak Jaka berdua."


"Ohhh gitu ya mas, hansip bisa resign juga ternyata ya."


"Bisa lah, mas Paijo dapet kerjaan dikota Dan diajak sodaranya. Jadi dia ngundurin diri deh jadi hansip."


"Kalian berdua suka ikut ronda juga?"


"Dulu suka mbak, kami ada jadwal ronda juga. Tapi dari sebulan kemarin dapet kompensasi buat libur dulu. Biar fokus ke sekolah aja katanya kan udah mau kelulusan."


"Ohhh gitu ya, emang kebagian rondanya sebulan berapa kali?"


"Sebulan empat kali mbak!"


"Nah mas Jamal aja yang jelasin."


"Jadi seminggu kebagian satu kali mbak, tiap hari beda RT yang jaga rondanya. Berhubung di RW kita ada tujuh RT jadi pas deh. Dalam satu minggu kebagian semua. Nah jadwal satu bulan, harinya bergantian jadi gak di hari yang sama terus. Misalnya di minggu pertama RT 1 ronda di hari senin, nah tiga kali ronda berikutnya bisa di hari selasa, jumat atau minggu mungkin. Pokoknya di acak deh, itu mah urusan Pak RW."


"Kalau mas Jamal sendiri?"


"Aku dulu cuma kebagian dua hari dalam seminggunya mbak, berhubung hansipnya sisa dua jadi tiga hari deh sekarang."


"Berarti mas Jamal, ketemu warga yang berbeda ya setiap rondanya?"


"Betul mbak, setiap hari beda warga."


"Ohhh oke oke."


"Naik gajih dong mas kalau kerjaannya bertambah?"


"Mana ada Ton, sama aja gajih mah gak ada naeknya. Segitu-gitu aja."


"Mas Jamal dibayar?"


"Iya dong mbak, aku kan kerja jadi hansip. Di bayarnya karna jadi hansipnya ya mbak, bukan karna rondanya. Rondanya ya karna bagian dari kerjaan hansip itu sendiri."


"Iya mas. Gajih nya gede mas?"


"Eemmm cukup aja sih mbak buat pengangguran kaya aku mah. Yang penting bisa buat makan mbak."


"Masih suka pada bawa makanan gak sih mas kalau ronda?"


"Akhir akhir ini makin jarang Dan, kalau ada yang bawa juga paling cuma sedikit. Sekali makan juga langsung habis."


"Ohhh gak kaya dulu ya mas?"


"Iya, dulu mah banyak banget Dan. Kamu kan tahu sendiri, dulu banyak donaturnya. Sekarang mungkin belum masuk waktu panen Dan, jadi sulit deh.

Paling Pak Karjo yang suka bawa makanan, itu juga kalau istrinya ada catering."


"Kalau kopi mas?"


"Nah itu juga Ton sama aja sekarang gak ada yang bawa, buset dah! Dulu mah ada termos dua disini, kopi dua renceng kalau mau tinggal seduh. Sekarang mah kosong melompong. Bapak bapaknya udah pada ngopi duluan dirumah sebelum datang kesini. Udah pada dibuatin sama istrinya. Lah aku yang jomblo ini gak ada yang buatin kalau modelannya kaya gini mah. Biasanya tinggal seduh."


"Ahahaha sabar mas, mungkin lagi pada kere."


"Hooh Ton, jadi ya aku gak ngopi kalau ngeronda. Jadi harus tidur dulu nih sore sore gini biar malem nanti gak ngantuk."


"Mas Jamal kalau mau ngopi nanti malem datang aja ke rumah, nanti aku buatin!"


"Yang bener mbak?"


"Bener nggak ya, bener ngga Dan?"


"Kasih aja mbak, kasian mas jamal butuh segelas kopi. Stok kopi mbak kan masih banyak dirumah!"


"Bayar tapi ya mas, hihi."


"Ayo mbak lanjut lagi, keburu makin sore ini."


"Ayo deh."


Namun dari kejauhan terlihat seorang bapak berjalan menghampiri kami.


"Dan, bapak kamu itu Dan!"


"Lah iya, Ton."


"Dan, bantu bapak nyari kayu bakar dulu!"


"Udah sore gini pak."


"Makanya sebelum gelap bantu cari dulu. Kamu ditungguin dari tadi siang gak pulang pulang, kemana aja?"


"Hhe, belajar di rumah mbak Adel pak."


Aku kemudian menolehkan wajahku melihat bapaknya Dani, memberikan senyuman kepada beliau. Dan dibalas dengan senyuman juga olehnya.


"Yaudah ayo!"


"Iya pak, mbak aku tinggal dulu ya, mbak berdua sama Tono gapapa kan?"


"Iya, gapapa kok Dan."


"Buruan Dani...."


"Iya pak, iya."


Dani meninggalkan kita, ia harus mengikuti bapaknya untuk mencari kayu bakar. Tinggal aku dan Tono yang tersisa.


"Mbak tinggal kita berdua, mau lanjut atau besok lagi aja?"


Aku pikir ini kesempatanku untuk memberikan hadiah pada Tono, hanya kita berdua tanpa diketahui oleh Dani.


"Kita kerumah kamu aja yah, mbak haus!"


"Oke mbak, mas tak tinggal dulu ya kita mau pulang."


"Iya mas Jamal kita mau pulang dulu, makasih ya buat tumpangannya."


"Iya mbak Adel, hati hati."


"Iya mas, assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam mbak."


Aku dan Tono melanjutkan kembali perjalanan, kini hanya kita berdua tanpa ada Dani.


"Rumah kamu masih jauh Ton?"


"Bentar lagi kok mbak, itu didepan tinggal belok kanan sampe deh."


"Dirumah ada siapa Ton?"


"Harusnya sih kosong mbak kalau jam segini. Belum pada pulang dari ladang."


"Biasanya pulang jam berapa?"


"Jam lima mbak biasanya. Kenapa emang mbak?"


"Mbak mau kasih kamu hadiah, atas kebaikan kamu sama mbak."


"Hadiah?"


"Iya Ton, kamu selalu nurut sama mbak. Maaf ya Ton kalau kamu selalu mbak suruh suruh!"


"Ohhh itu mbak, gapapa kali mbak. Santai aja, aku kan emang rajin anaknya. Jadi udah terbiasa kalau disuruh suruh."


"Ya tetep aja kamu harus dapat hadiah!"


"Emang hadiahnya apa mbak?"


"Ada deh, nanti mbak kasih tau dirumah kamu."


"Oke deh, itu rumah aku mbak. Nah yang kuning itu rumahnya Dani."


"Ohhh rumah kalian deketan..."


"Iya mbak, kita sahabat dari kecil."

"Bentar ya mbak, aku cek dulu adikku ada apa ngga di dalem."


"Iya Ton."


"Dek, dek, adekkkk..."

"Ngga ada mbak, kosong. Aman...."

"Mari mbak silahkan masuk..."


"Iya Ton, makasih."

"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."

"Duduk dulu mbak, aku ambil minum dulu sebentar."


Aku memasuki rumahnya dan duduk di kursi ruang tamunya. Rumah sederhana yang sangat bernuansa jaman dulu, dengan dinding yang tak sepenuhnya memakai batu bata. Hanya sepertiga bagian yang memakai tembok. Duapertiga lainya memakai anyaman bambu, yang aku tahu namanya bilik kayu. Ya semacam itu.


Ada lemari besar yang berada di ruangan ini, sepertinya sebagai sekat antara ruang depan ini dengan ruang disebelahnya. Entah ruangan apa aku belum tahu. Bentuknya sangat klasik kulihat, mungkin terbuat dari kayu jati. Mungkin juga itu bekas peninggalan keluarga Tono sebelumnya.


Tak ada plafon yang menggantung diatas, hanya ada anyaman balok kayu yang tersusun rapih dengan asbes yang menimpanya. Ya tidak memakai genteng kulihat. Mungkin akan terasa panas jika disiang hari.


"Ini mbak silahkan diminum!"


"Makasih banyak ya Ton."


"Iya mbak."

"Ngomong ngomong mbak mau ngasih hadiah apa buat aku?"


"Kamu mau apa dari mbak?"


"Heeeemmmm apa ya mbak bingung..."


"Kamu kan belum nyobain masukin penis kamu ke lubang pantat mbak, mau nyobain sekarang Ton?"


"Haaahhhh dirumahku mbak? Yang bener?"


"Iya disini. Atau mau dirumah mbak aja?"


"Yahhh balik dong mbak keburu abis waktunya."


"Yaudah disini aja berarti, mau?"


"Mau banget mbak!"


"Tapi kita cuma punya waktu sebentar Ton."


"Iya mbak, waktu kita cuma satu jam lagi sampai orang tua ku balik dari ladang. Cukup nggak yah mbak?"


"Mbak kira sih cukup Ton, emang kamu kuat nahan selama itu. Satu jam kan lama loh."


"Iya juga sih mbak, yaudah deh ayo!"

"Mbak kok berani sih mbak ngelakuin ini dirumahku?"


"Ngga ada waktu lagi kan Ton, ini aja mbak ngedadak mikirinnya. Kebetulan Dani ngga ada, jadi ya ini saatnya."

"Kamu sendiri berani nggak Ton?"


"Berani lah mbak, siapa takut!"

"Ehhhh bentar mbak aku kunci dulu pintunya."


Tono berbegas melangkah menuju pintu, ia geser selotnya mengunci pintu tersebut. Sedikit mengintip keluar lewat jendela memastikan keadaan sekitar aman.


"Aman mbak."


"Oke Ton, mau disini atau dikamar?"


"Ga ada kamar aku mbak, aku tidur disebelah tuh disitu!"


"Ohhh, dikamar ibu?"


"Jangan dong mbak, bunuh diri itu namanya."


"Ahahahahaa...."

"Ahahahahahaha...."


"Disini aja deh, gapapa kan mbak?"


"Gapapa kok Ton, dimana pun mbak mah hayu aja."


"Wahhhh makin maju aja mbak waktunya!"


"Iya Ton, ngobrol terus kita."

"Mbak harus telanjang atau gak usah?"


"Hemmm gak usah deh mbak, biar nanti gak ribet."

"Mbak nungging aja ya!"


"Oke Ton."


Aku menuruti kemauan Tono, posisi ku menungging kedua tanganku berpegangan pada kursi didepan ku. Aku menarik celana dalamku sebatas paha, tak ku loloskan seluruhnya. Sementara Tono sudah membuka celana seragam sekolahnya beserta celana dalamnya, ia simpan dilantai disamping dirinya.


"Mbak!"


"Iya Ton."


"Kayanya gak bakalan keburu deh mbak!"


"Masih lama kok Ton waktunya."


"Iya mbak, cuma... Kan mbak tahu sendiri dulu kontolku gak bisa masuk dengan mudah. Apalagi sekarang dengan waktu yang mepet gini. Bakalan sakit mbak kalau menurutku, aku gak tega!"


"Iya juga ya Ton, kamu ada minyak zaitun nggak?"


"Nggak punya mbak, ada juga minyak goreng!"


"Masa pake minyak goreng sih Ton, tega kamu. Ntar mateng dong lubang pantat mbak."


"Hehehe.."


"Lotion ada nggak Ton?"


"Gak ada juga deh mbak kayanya, setahu aku keluargaku gak ada yang make begituan mbak."


"Yaahhhhhh kalau gitu sih, gak bisa ya Ton?"


"Iya mbak, bisa sih kalau dipaksa tapi nggak deh gak tega aku kalau mbak Adel kesakitan."


"Duhhhhh perhatiannya anak mesum satu ini...."


Aku berbalik lalu kedua tanganku memegang pipinya dan mengunyel ngunyelnya.


"Ehhh ehhh mbak..."


"Terus kamu maunya gimana?"


"Hemmm gak ada mbak."


"Kok gak ada Ton?"


"Ya gimana, aku kan gak boleh nyentuh mbak. Mau gimana lagi?"


"Duh duh duh.. ngambek nih ceritanya."

"Hemm yaudah deh, karna mbak emang mau kasih hadiah ke kamu jadi mbak bolehin kamu nyentuh mbak sekarang!"


"Yang bener mbak?"


"Iya, tapi inget cuma sekarang doang ya setelah kamu bareng sama Dani lagi, ya gak boleh nyentuh mbak lagi. Dan satu lagi jangan cerita cerita ke dia!"


"Beneran mbak?"


"Iya beneran."


"Seriusan?"


"Serius Tono, ahhhhh kelamaan mau nggak?"


"Mau dong mbak, mau banget...."


"Oke kalau gitu, mau pegang payudara mbak atau vagina mbak?"


"Yahhh pilihan lagi ya mbak?"


"Heem..."


"Sebelum milih aku boleh ngajuin satu permintaan gak mbak?"


"Apa itu Ton?"


"Maaf mbak kalau mbak gak mau juga gapapa, aku pengen mbak bilang jorok gitu. Mbak jangan bilang payudara atau vagina tapi bilang toket sama memek gitu mbak biar makin sange aku nya."


"Ohhh kamu mau nya gitu Ton?"


"Hhe iya mbak, kalau gak mau juga gapapa kok mbak aku kan gak boleh maksa, itu sih cuma saran aja hehe."


"Iiihhhhhh gemes deh.."


Lagi lagi aku mengunyel ngunyel pipi Tono.


"Aduh aduh mbak sakit mbak."


"Habisnya kamu mintanya gemesin banget tau nggak. Yaudah mau megang toket mbak atau memek mbak."


"Ahhhhh makasih mbak...."

"Eeemmm gak boleh dua duanya ya? Sulit mbak kalau milih salah satu..."


"Yeeee kamu mah...."

"Yaudah deh mbak bolehin pegang dua duanya!"


"Beneran mbak?"


"Heemph, udah ayo cepetan keburu pada pulang!"


"Iya mbak."


Kedua tangan Tono mendekati payudaraku, hinggap diatasnya dan langsung meremasnya dari luar gamisku.


"Ayo Ton, remas yang kenceng Ton. Toket mbak sekarang punya kamu Ton."


"Iya mbak."


Tono terus meremasnya kuat kuat, tangannya seperti sedang membuat adonan kue. Tak lama tangan kanannya turun ke bawah, menyibak ujung bawah gamisku sampai ke pinggang. Tangannya lalu menarik celana dalamku dan meloloskannya dari kakiku, ia simpan bersamaan dengan celana dalamnya.


Tangannya lalu melebarkan kakiku, aku mengangkang saat ini. Posisiku duduk di kursi, Tono berada didepan ku dengan posisi berjongkok. Tangan kanannya kemudian menyentuh kulit memekku. Ya aku harus mengikuti arahan Tono untuk menyebut memek dan toket, aneh sih tapi tak apalah aku coba saja.


Mengelusnya, menekannya, dan sesekali mencubit klitorisku.


"Ahhhh iya Ton terus Ton, gesek gesek memek mbak Ton.."

"Aaaahhhhh... Enak Ton..."

"Terus Ton... Gesekin klitoris mbak Ton..."

"Aaaahhhh...."

"Aaahhhhhhhh..."


Aku terus meracau merasakan kenikmatan di memekku. Dalam satu hari ini memekku berkali kali merasakan yang dinamakan nikmat. Luar biasa pikirku, aku jadi seliar ini sekarang. Dengan mudah aku merasakan kenikmatan di organ intimku.


"Mbak aku boleh kaya Pak Karjo tadi nggak?"


"Iya Ton, lakuin aja apa yang kamu mau! Mbak punya kamu sekarang."

"Ahhhhhh..."

"Aaahhhhhhhh Ton enak Tonnnn.."


Tangan kiri Tono menyusul turun ke memekku, jempol kirinya kini bermain main di klitorisku. Sementara jempol kanannya, berusaha menusuk liang memekku sama seperti yang dilakukan Pak Karjo tadi dirumahku.


"Terus Ton, tusuk memek mbak Ton...."

"Gerakin yang cepet Ton..."

"Mbak ngerasa makin enak..."

"Ahhhh..."

"Aaahhhhhhh..."

"Aaahhhh Tono..."


Tanganku membuka kancing depan gamisku, menarik ke atas BH ku hingga kedua toketku mencuat keluar. Aku mulai meremasnya, aku sudah tidak kuat menahan birahiku. Pentilnya juga ikut ku mainkan, memutarnya, memencetnya hingga memilinnya.


Nafsuku sudah tidak tertahankan lagi, ini lebih dari yang aku rasakan saat bersama Pak Karjo tadi. Aku terus meremas remas toketku. Sementara Tono dengan telaten memainkan kedua jempol nya. Tapi kemudian jempol kanannya iya tarik. Digantikan dengan jari telunjuknya, ia masukkan satu buku jari ke liang memekku. Menggerakkannya secara perlahan keluar masuk memekku.


"Aaahhhhh terus Ton, mbak gak kuat Ton..."

"Masukin lebih dalem Ton..."

"Mbak gak tahan..."

"Aaahhhh..."

"Aahhhhhhhh.."


Entah kenapa mulutku mengatakan itu, aku spontan mengeluarkan kata itu. Menyuruhnya agar jarinya lebih dalam memasuki lubang memekku, dan itu artinya selaput darahku bisa saja robek oleh jari Tono. Aku kenapa? Aku tak peduli, nafsuku sudah diubun ubun. Aku harus merelakannya.


"Ton masukin jari kamu lagi Ton, tambah lagi jarimu!"

"Masukin dua Ton...."

"Aahhhhhh.."


Tono mengikuti perintahku, kini jari tengahnya sudah berada di liang memekku bersamaan dengan jari telunjuknya.


"Iya mbak, aku coba..."


"Aaahhhh Ton, enak Ton..."

"Terus Ton.. lebih dalem lagi Ton, masukin lebih dalem Ton, mbak mohon!"


Kenapa aku malah memohon? Kamu yakin Del?

Arghhhh pikiran itu menggangguku saja. Biarlah ini keputusanku, menyesal atau tidak itu urusan nanti. Yang penting aku bisa merasakan kenikmatan yang sesungguhnya kali ini.


Tapi Tono, tidak sedikitpun memasukan kedua jarinya lebih dalam lagi. Aku tidak merasakan itu, jarinya hanya masuk sedikit tak lebih dalam dari sebelumnya.


"Ayo Ton,, masukin lebih dalam lagi, mbak mohon Ton.. mbak udah gak tahan...."

"Aaahhhhh.."


"Mbak yakin?"


"Yakin Ton, ayo masukin Ton...."


Tono menghentikan gerakannya, aku terdiam memandangnya.


"Sayang mbak kalau pake jari ku doang. Aku masukin pake kontolku ya mbak!..."


Aku mengangguk tanda setuju.


Ia berdiri lalu mengarahkan kontolnya tepat di liang memekku. Mendorongnya perlahan sampai kepala kontolnya berusaha memasuki memekku. Lubang memekku yang masih sangat sempit menyulitkannya untuk segera masuk menerobos pertahanan terakhirku ini.


"Aaaahhhhhh..."

"Ayo Ton, masukin Ton mbak udah gak tahan...."

"Masukin semuanya Ton, mbak rela kok dimasukin kontol kamu...."

"Aaahhhh.."

"Tono, ayo... Mbak udah gak tahan nn nn. ....."


Akhirnya kurasakan kepala kontolnya sudah masuk di liang memekku. Ia memaju mundurkan pinggulnya perlahan.


"Aahhhh enak mbak, kontolku kerasa enak banget..."

"Memek mbak sempit banget mbak..."

"Susah masuk nya ini...."


"Iya Ton, gapapa paksa aja Ton, mbak udah siap..."

"Masukin lebih dalem lagi Ton..."


"Ahhhh..."

"Aahhhhh...mbak yakin? Aaahhh.. enak mbak.."


"Yakin Ton,, yakin banget mbak... Memek mbak buat kamu Tonnnnn.."

"Aahhhh..."

"Ayo Tonnnn..."


Semakin cepat gerakan Tono, tapi hanya sebatas kepala kontolnya saja yang keluar masuk memekku. Aku tak tahan, kulingkarkan kakiku ke pinggangnya. Mencoba mendorong pinggulnya agar kontolnya bisa masuk lebih dalam lagi.


"Tonnnn mbak mohon Ton... Masukin semua Ton.. mbak udah gak tahannnn... Ton."


Aku mendorong pantatku, agar kontol Tono bisa semakin masuk ke memekku. Tapi karna ukuran kontol Tono yang cukup besar dan lubang memekku yang masih sangat sempit jadi gerakan itu terasa sia sia, kontolnya tetap tertahan sebatas kepalanya dan Tono menyadari itu. Ia menghentikan gerakannya.


Tono menatapku, aku pun menatapnya.


"Jangan mbak!"


Ia mengatakan itu sambil menggelengkan kepalanya. Aku tersadar akan sikapku. Aku terlalu terbawa oleh nafsuku sendiri. Dan Tono menyadarkanku, ia sangat gentle menurutku. Aku telah memberinya, tapi ia berusaha menolaknya karna ia tahu itu seharusnya bukan dia yang mendapatkannya. Sungguh romantis kamu Tono, so sweet banget, mbak suka deh....


"Aku jilatin aja ya mbak, gapapa?"


"Terserah kamu Ton, mbak milik kamu sekarang. Bikin mbak keluar ya, mbak udah gak tahan....."


"Iya mbak."


Tubuhnya turun, ia berjongkok kembali didepan ku. Kepalanya tepat didepan memekku, lidahnya ia keluarkan menyentuh bibir memekku.


"Aaahhhh iya Ton, gitu Ton terus jilatin memek mbak Ton..."

"Aaaahhhh.."

"Aaahhhhhhh..."


Slurrrpppp... Sssluuurrppp... Ssluuurrppp...


Suara jilatan lidah Tono di memekku. Aku sudah tak tahan, sepertinya orgasmeku tak lama lagi.


Kedua tangan Tono kini meremas toketku, telapak tangannya kini menyentuh kulit toketku secara langsung tanpa ada penghalang lagi. Ia remas remas keduanya, pentilnya ia tekan tekan, ia putar putar. Menambah rasa birahiku menuju puncaknya.


"Iya Ton, terus remes toket mbak Ton, yang kuat Ton.."

"Mbak udah gak tahan Tonnnnn..."

"Aahhhhh .."

"Aaahhhhhhhh..."

"Ton mbak mau keluarrrrrr......"

"Tonooooo mbak kellllluuuuaaararrr........"


Tubuhku mengejang, pinggul ku terangkat. Namun lidah Tono masih saja menjilati memekku.


Ssrrrrrrrr......

Cccrrrtttttt... Cccrrrrrrtttttt.... Cccccrrrrttttttt....


Cairanku keluar, menyembur dengan derasnya membasahi wajah Tono. Seperti biasa aku squirt lagi. Aku melihat Tono membuka mulutnya, membiarkan cairan orgasmeku memasukinya. Kok malah diminum gitu sih Ton, apa enak?


Lidah Tono terus menjilati memekku, membersihkan sisa sisa cairan orgasmeku yang masih ada. Tapi memekku jadi linu karnanya.


"Ton udah Ton, jangan dijilat terus. Memek mbak linu Ton..."


"Ehhh iya mbak, maaf. Abis enak mbak gurih. Hehe."


Ia kemudian berdiri, mengambil kain lap lalu mengelap lantai yang basah bekas cairan orgasme ku yang muncrat tadi. Nafasku ngos ngosan lagi, seperti biasa sehabis keluar pasti seperti itu. Capek banget asli gak bohong aku mah.


"Sini Ton, berdiri lagi di depan mbak!"


"Mbak mau ngapain?"


"Kamu kan belum keluar Ton, nikmatin aja ya!"


Aku menggenggam kontol Tono dengan tangan kananku, mengocoknya perlahan.


"Jangan deh mbak, gapapa aku gak sampai keluar juga. Aku takut orang tuaku keburu pulang."


"Masih lama loh Ton, setengah jam lagi. Masih ada waktu, gak usah takut."


"Ta tapi mbak."


"Udah, percaya deh sama mbak."

"Paling kamu keluar bentar lagi kan?"


"Iya deh mbak, aku nurut mbak ajah."


"Nah gitu dong."


Aku memajukan kepalaku, bibirku mencium ujung kepala kontolnya. Lidahku menjilati batangnya, dari pangkal hingga ke ujung. Sementara tangan kiriku sibuk memainkan biji pelernya.


"Aaahhhhh enak mbak... Enak banget kontolku..."

"Terus mbak, jilat terus mbak..."

"Aaahhhh enakkkkk..."


Slurrrrppp,,, sllluuurrrpppp... Slluuuurrppp..


Aku terus menjilati kontolnya, aku coba masukan kepalanya ke dalam mulutku. Sebisa mungkin tak mengenai gigiku, itu pelajaran yang aku dapat dari Dani. Aku gerakan kepalaku sehingga kontolnya keluar masuk di mulutku. Lebih dalam dan terus semakin dalam, kontol Tono memasuki ruang mulutku sampai aku mencoba memaksakannya. Hingga akhirnya ujung kontolnya menyentuh tenggorokanku.


Hoeeekkkkk, orghhhh... Hoekkkkkk... Aahhhhhh...


Aku ingin muntah rasanya, mataku berair dan liurku menetes dari bibirku, sebagian hanya menggantung tak mau jatuh.


Hahhhhh... Hhhaaaahhhhh... Haaahhhhh...


"Gak usah dipaksain mbak!"


"Iya Ton, mbak penasaran aja pengen nyoba. Tapi gini rasanya...."


Aku kemudian menggenggam kontolnya dengan tangan kananku, ku kocok lagi dengan cepat.


"Belum mau keluar Ton?"


"Belum mbak, tapi bentar lagi deh kayanya!"


"Tangan mbak pegel nih Ton."


"Yaudah mbak udahan aja gak papa kok, kan bisa lain kali lagi mbak."


"Yah jangan gitu dong Ton, harus sampai keluar biar sama sama enak. Tadi pagi cepet keluarnya Ton, kok sekarang lama?"


"Gatau nih mbak, aku degdegan ini jadi kurang fokus!

Aku gesek gesek di memek mbak ya kaya tadi?"


"Ga akan dimasukin aja Ton?"


"Jangan mbak, itu kan milik suaminya mbak nanti."


"Heemmm anak baik."


Aku menoel kepala kontolnya dengan ujung jari telunjukku.


"Posisi mbak kaya gimana?"


"Mbak nungging deh, nanti jepit kontolku sama paha mbak ya!"


"Oke Ton."


Aku menungging kembali seperti pertama tadi. Tono memasukkan kontolnya disela sela paha dalamku, batangnya menyentuh bibir memekku.

Ia mulai menggerakan pinggulnya maju mundur.


"Cepetin Ton, gak ada waktu lagi!"


"Iya mbak, ini aku cepetin."


Tono mempercepat gerakannya, sangat cepat kurasa..


"Aaahhhhh... Mbak enak mbak memek mbak anget..."

"Aahhhhh.."

"Aahhhhhh.."


"Iya terus Ton, entot mbak Ton, entotin memek mbak sesukamu Ton... Terus Ton.. lebih kenceng lagi Tonnn.."

"Aahhh..."

"Aaahhhhh..."


Tono terus menggenjotku, irama nya makin cepat. Kulihat jam dinding, masih ada waktu sepuluh menit lagi.


"Ayo terus Tonnn..."


"Iya mbak aku udah mau keluar mbak, udah di ujung ini..."

"Aku boleh keluarin di toket mbak kan?"


"Iya Ton boleh."


Aku mengubah posisiku, dengan cepat aku berjongkok di depannya. Dadaku aku busungkan siap menerima semburan sperma dari kontol Tono.


Tangan Tono mengocok kontol nya dengan cepat.


"Mbaaakkkk aku maauuu kkeeelluuuuu....."


"Assalamualaikum... Ton."

"Kamu ada didalam?"

Tok.. tok.. tokkk...

"Bukain pintunya nak!"


Kami berdua terkaget dan saling memandang. Kontol Tono langsung menciut seketika, padahal sedikit lagi isinya bakal keluar.


"Mereka pulang mbak, gawat mbak gawat...."


"Iya Ton, gimana ini?"


Aku dan Tono berbisik, supaya tidak ketahuan oleh mereka.


"Tono kamu di dalam nak?"


"Ii iii iyaa bu sebentar lagi di kamar mandi."


Teriak Tono menjawab panggilan ibunya, ia berpura pura seolah olah ada di kamar mandi.


"Mbak kancingin lagi bajunya!"


"Iya Ton, ini lagi dikancingin. Kamu pakai celana mu!"


"Iya mbak, celana dalam nya mbak!"


"Masukin tas kamu aja, keluarin buku nya!"


"Iya mbak. Aku buka ya?"


"Iya, Ton."


Klekkkk...


Suara selot pintu terbuka. Terlihat seorang ibu berdiri didepan pintu, ia melihatku.


"Ehhhh ada tamu toh rupanya?"


Aku tersenyum padanya.


"Bapak sama Tini mana bu?"


"Lagi ke belakang nyimpen peralatan."


"Ohhhh.."


"Ini siapa toh Ton?"


"Kenalin bu ini mbak Adel, guru les ku."


"Guru les?"


"Iya bu, kenalin aku Adel, guru les nya Tono."


"Ohhh iya, saya Maryanti ibu nya Tono mbak.

Kalian belajarnya berdua?"


"Eeeuhhhh... Bertiga bu, iya bertiga sama Dani. Tadi dia dipanggil bapaknya disuruh pulang."


Tak lama bapak dan adiknya Tono masuk juga ke dalam rumah.


"Loh loh Ton ada tamu rupanya, pacarmu ini Ton?"


"Bukan lah pak, dia guruku. Guru lesku."


"Ohhhh tak kira pacarmu, ayu tenan soale. Maaf ya mbak."


"Iya pak."


"Kasih minum dong Ton tamu nya! Mbak Adel sampe keringetan gitu."


Deeghhh, jantungku mau copot rasanya mendengar itu. Gimana kalau ibunya curiga.


"Sudah bu tadi."


"Pasti capek ya mbak ngajarin anak saya?"


Ehehe, aku hanya tersenyum tak menjawab pertanyaannya.


"Bukan karna ngajarnya yang capek bu, emang rumah ini panas kok."


"Iya maaf ya mbak, memang kadang terasa panas kalau untuk orang baru yang tidak terbiasa. Maklum dikampung tidak ada AC."


"Iya bu, tidak apa apa."


"Dek salim dulu sama tantenya!"


Adik Tono mendekati ku, lalu meraih tanganku dan menempelkan di dahinya.


"Aku Tini tante, adiknya mas Tono."


Ia memperkenalkan diri padaku.


"Iya, aku Adel dek Tini, gurunya mas Tono. Salam kenal ya."


"Tak tinggal kebelakang dulu ya mbak Adel, mau bersih bersih!"


"Iya pak silahkan."


"Mbak Adel makan dulu bareng kami ya!"


"Tidak usah bu, tidak usah merepotkan sebentar lagi sudah mau pulang kok. Sudah mau malam juga."


"Kok buru buru mbak?"


"Iya bu, takut kegelapan kalau tidak segera pulang."


"Ohhh ya sudah kalau begitu. Rumah mbak dimana memangnya?"


"Dekat kok bu, di rumah Bu Darmi."


"Ohh disitu, Ton kamu antar mbak Adel pulang kasihan kalau pulang sendirian!"


"Tidak usah bu, saya bisa pulang sendiri kok belum terlalu gelap juga."


"Tidak apa mbak Adel, gak enak anak gadis pulang sendiri menjelang waktu maghrib. Takut ada yang nyulik, hhe."

"Ayo Ton diantar!"


"Iya bu. Ayo mbak."


"Iya Ton, kalau gitu saya pamit pulang dulu ya bu."


"Iya mbak, hati hati ya! Pakkkk, mbak Adel mau pulang sini dulu."


"Ohhh sudah mau pulang toh, hati hati ya mbak." "Kamu yang anter Ton?"


"Iya pak aku yang anter."


"Yowes hati hati."


"Pamit ya pak, bu, dek Tini. Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam....."


Aku berjalan menjauh dari rumah Tono. Meninggalkan keluarganya yang menjadi saksi bisu perbuatanku pada anaknya. Tono mengantarkanku pulang.


"Gila mbak, hampir aja ketahuan!"


"Iya Ton nyaris banget, tapi mbak kaget waktu ibumu bilang mbak keringetan. Ngajar kok sampai keringetan gini. Kira kira ibumu curiga nggak ya Ton?"


"Gatau mbak, kayanya sih ngga ya kan emang rumahku panas mbak, jadi wajar aja kalau keringetan. Aku dan bapakku juga suka lepas baju apalagi kalau siang."


"Ya semoga aja gak curiga ya, apalagi pintunya dikunci. Terus didalemnya cuma ada dua orang Ton, keringetan pula. Kalau mbak jadi ibumu pasti bertanya tanya kan, lagi ngapain mereka? Ahahaha.."


"Ya gatau deh mbak, kalau nanti aku pulang kerumah terus ibuku nanya yang nggak nggak berarti dia curiga mbak. Kita liat nanti aja."


"Iya Ton, yang penting kita gak kepergok aja tadi."


"Mbak sih, disuruh udahan gak mau."


"Nanggung Ton, kamu kan harus keluar juga."

"Mbak liat jam masih ada sepuluh menit lagi, mbak pikir masih ada waktu. Ehhh ternyata engga."


"Hemmm mbak mah, hampir ketauan iya tapi gak sempet keluar juga. Bahaya banget mbak."


"Iya, maaf ya Ton. Tapi tadi lucu loh waktu ada suara dari luar kontolmu langsung ciut gitu jadi titit ahahaha.."


"Ya gimana ya, kontol ku juga takut ada di situasi tadi mah mbak."


"Kontolmu sekarang gimana Ton?"


"Kentang mbak, udah diujung padahal tinggal disemburin doang tadi."


"Masih mau dikeluarin gak?"


"Haahhh? Jangan aneh aneh deh mbak."


"Gak aneh kok Ton, bool mbak kan masih tersedia buat kamu. Dirumah mbak ada pelumas loh, mau nggak?"


"Heemmmmm, ayo deh mbak, hhe."


"Nah gitu dong."


Aku berjalan bersama Tono di suasana senja. Langit yang mulai menggelap menemani kami diperjalanan.


Kita sampai di depan rumah. Aku membuka gerbang lalu membuka kunci pintu. Membukanya lalu masuk kedalam rumah disusul Tono. Tak lupa ia menutup pintunya kembali.


"Langsung aja ya Ton biar nggak kelamaan."


"Iya mbak, dikamar aja ya mbak!"


"Kamu mau dikamar Ton?"


"Iya mbak."


"Oke ayo."


Aku dan Tono kemudian memasuki kamar. Ku buka hijabku, gamisku dan BH ku. Tono pun sama, sampai kita kembali telanjang bersama sama.


"Celana dalam mbak di tas kamu ya?"


"Ehhh iya, lupa gak dibawa tadi."


"Gapapa buat kamu aja, buat kenang kenangan, hihi."


Tono kemudian mengambil botol minyak zaitun diatas lemari, menuangkannya diatas batang kontolnya lalu mengocoknya.


"Mbak nungging lagi Ton?"


"Hemmm gausah mbak, mbak tiduran aja sambil ngangkang. Aku sambil pengen liat memek mbak."


"Iya Ton."


Aku bergegas memposisikan tubuhku sesuai keinginan Tono. Aku berbaring dikasur lalu membuka pahaku selebar lebarnya agar memudahkan kontol Tono memasuki liang boolku. Tak lupa ia menuangkan minyak zaitun juga diatas memekku dan lubang boolku. Memekku jadi mengkilat karena minyak itu.


"Aku coba ya mbak!"


"Iya Ton, kamu paksa aja sampai masuk mbak bakal tahan kok."


"Iya mbak, aku usahain ini."


Kepala kontolnya mulai masuk menerobos liang boolku.


"Sssshhhhhh... Aahhhhh... Ton.."


"Tahan mbak, dikit lagi masuk.. aahhh.."


Ia tarik lagi kontolnya, lalu dengan tekanan yang lebih lagi ia dorong kembali.


"Aaahhhhh Ton... Berhenti dulu!"


"Iya mbak, ini udah masuk kepalanya mbak. Tinggal aku dorong aja."


"Tahan dulu Ton, perut mbak kerasa mules ini."


"Mbak sakit perut?"


"Bukan Ton, kontol mu itu loh kegedean sakit nya sampai berasa ke perut."


"Ohhhh, kalau sakit gitu udah aja deh ya mbak jangan diterusin?"


"Nanggung Ton, mbak kan udah janji juga sama kamu."

"Kamu langsung dorong aja ya Ton biar cepet masuk. Biar mbak ngerasain sakitnya juga sekalian."


"Mbak yakin?"


"Iya udah ayo Ton. Mbak udah siap."


"Siap ya mbak!"


"Iya.."


Aku memejamkan mataku, bersiap dengan rasa sakit yang akan aku rasakan. Meski kontol Dani sudah bisa membobol liang boolku tapi tetap saja kehadiran kontol Tono seperti barang baru. Memang harus ada penyesuaian lagi. Liang boolku juga pasti sudah berubah ke bentuk semula, mengecil kembali. Dan kontol Tono dua kali lipat kontolnya Dani.


Aku merasakan Tono kembali menuangkan minyak zaitun ke kontolnya. Karna minyak itu juga ikut meleleh ke kulit pantatku. Ia mencoba menekannya, ia ikuti perintahku tadi. Perlahan ia tarik, lalu dengan keras ia dorong berharap kontolnya bisa masuk lebih dalam lagi.


"Aaarghhhhhh.. Ton... Aaahhhhh terus Ton.."


Aku meringis menahan sakit, tak apalah aku coba menahannya. Aku tahu ini hanya sementara, dan aku akan merasakan nikmat setelahnya.


"Ayo Ton dorong lebih dalam lagi!.." "Aaaarrrggghhhhhh..."


Tono terus mendorongnya dan dengan sekali hentakan ia berhasil memasukan seluruh kontol besarnya ke dalam liang boolku. Ia berhenti sejenak, merasakan jepitannya.


"Haaahhhhh... Haahhhhh.. akhirnya mbak masuk juga. Haaaaahhhh..."


"Iya Ton, masuk semua ya?"


"Iya mbak, semuanya."


"Gerakin lagi Ton, buat kontolmu keenakan di dalem bool mbak."


"Iya mbak aku mulai lagi ya."


"Heeh Ton, semau kamu aja."


Tono kemudian memulai lagi gerakannya. Ia maju mundur kan pinggulnya. Kali ini terasa lebih lancar. Lubang boolku berarti sudah menerima keberadaan kontol Tono. Perlahan ia menambah kecepatannya, kontolnya mungkin sudah tak tahan lagi ingin menyemburkan sperma yang tadi sempat tertahan.


"Aaahhhhhh... Ton... Enak Ton... Bool mbak jadi enak gini Ton ... Terus Ton cepetin...."

"Aaahhhh..."

"Ahhhhhhhhhhh..."


"Iya mbak, aku juga udah gak kuat pengen keluar mbak...."


"Iya Ton keluarin aja... Ayo Ton nn n..."

"Aaaahhhhh..."

"Sssttttttt, aahhhh... Tonnnn enaaakkkkk..."


Tono semakin cepat menggenjot pantatku, iramanya konstan tak melambat tak juga bertambah cepat. Kedua tangannya kini memegang pahaku, mendorongnya agar merapat ke tubuhku. Pantatku terangkat, semakin memudahkannya dalam menggenjot liang boolku. Sampai akhirnya Tono menyerah.


"Mbbbaaakkkk aakkuu kkeluuarrrrr mbakkk..."


Ia menekan kuat kuat pinggulnya, menusukkan kontolnya pada lubang boolku yang paling dalam.


Cccrroootttt... Crroootttttttt... Cccrrooootttt....


Rasa hangat menghiasi lubang boolku, aku merasakan itu. Tono mengeluarkan spermanya didalam, cairan itu terasa banyak sekali.


"Maaf mbak, aku keluarin di dalam!"


"Gapapa Ton, aman kok."


Tono mulai melepas pegangannya pada pahaku, kini pahaku sudah berada di atas kasur lagi. Ia perlahan menarik keluar kontolnya.


Plopppp...


Kurasakan cairan spermanya memenuhi ruang pantatku, perlahan meleleh keluar mengenai kulit disekitarnya.


"Ada tisu nggak mbak?"


"Itu di meja rias mbak!"


Tono kemudian mengambil tisu itu, lalu mencoba mengelap spermanya yang meleleh keluar dari liang boolku.


"Makasih ya Ton."


"Iya mbak."


"Udah puas kan sekarang?"


"Udah mbak, puas banget malah hehe."


Ia kemudian merebahkan tubuhnya disamping kiriku.


"Ton tadi dirumahmu kenapa kontolmu gak masukin lebih dalem ke memek mbak, kenapa cuma kepalanya doang?"


"Aku takut mbak!"


"Takut? Takut kenapa Ton, padahal mbak udah ngijinin kamu juga tadi. Mbak udah ikhlas loh perawan mbak di ambil kontol kamu."


"Ya takut aja mbak, gatau kenapa! Gak tega aja, aku gak berhak deh mbak buat jadi yang pertama. Mbak kan pernah bilang kalau suami mbak nanti yang mbak pengen buat ambil keperawanannya mbak."


"Iya sih Ton, tapikan itu dulu. Sekarang mbak berubah pikiran, setelah mbak tahu nikmatnya ngentot mbak jadi gak peduli sama keperawanannya mbak. Itu kan cuma selaput darah doang Ton gak lebih."


"Ngentot mbak?"


"Iya Ton, sesuai yang kamu suruh. Kayanya mbak udah mulai terbiasa deh ngomong begituan. Hihi."


"Iya mbak, tapi aku juga bingung mbak. Kan kasihan suami mbak nanti dapetin mbak yang muslimah, seorang wanita yang solehah tapi udah gak perawan. Mbak kebayang gak gimana perasaan suami mbak nanti kalau tahu itu?"


"Heemmm iya sih Ton, suami mbak pasti kaget. Pas malam pertama ternyata memek mbak udah gak ada segelnya. Terus dia kecewa, terus mbak diceraikan sama dia padahal baru sebentar menikah. Iiiiihhhhhh, serem Ton ngebayanginnya juga. Gak mau ah."


"Nah itu mbak, aku yang sebagai lelaki juga pasti bakal ngerasain hal yang sama."


"Jadi mbak harus tetap jaga ya Ton?"


"Iya dong mbak, menurutku sih gitu, harus ada yang mbak jaga jadi mbak gak kelewatan ngejalanin ini kedepannya. Mbak harus punya batasan mbak, jangan terlalu dipaksain. Resikonya kan besar juga buat hidup mbak. Kalau sampai ketahuan sih bisa bahaya mbak. Mbak mah enak orang baru dikampung ini, kalau ketahuan kan tinggal pindah lagi aja ke tempat yang lain, beres. Sementara aku yang dari kecil hidup disini, kalau sampai ketahuan sih bisa mati berdiri aku mbak. Dani aja yang cuma ketahuan nyolong mangga satu buah, bisa sampe trauma gitu mbak. Apalagi aku kalau ketahuan pas lagi ngentot mbak, tamat sudah riwayatku mbak.

Jadi, bukannya aku mau nasihatin mbak, tapi... Eeeuhhhh ya gitu deh mbak.."


"Iya Ton maafin mbak ya, tadi mbak maksain kehendak mbak. Mbak gak tahu waktu, mbak juga gak tahu situasi dan kondisinya. Padahalkan itu rumah kamu ya Ton. Kok mbak bisa bisanya berbuat seenaknya tanpa mikirin dampaknya. Maaf ya Ton, sekali lagi mbak minta maaf. Mbak kalau udah sange suka bodoh Ton, gak bisa berpikir jernih. Mbak janji deh gak bakal sembarang lagi. Mbak janji juga buat jaga keperawanan mbak demi kamu. Mbak bakal jaga sekuat yang mbak bisa ya Ton. Tapi kamu harus kasih tahu mbak juga, kamu harus tahan mbak kalau kalau mbak berbuat kaya tadi lagi. Ya Ton..."

"Kamu maafin mbak kan Ton?"

"Ton, kamu gak maafin mbak?"

"Kamu marah sama mbak?"

"Ton kok ga dijawab sih?"


Aku menolehkan kepalaku ke kiri melihat wajahnya.

Sialan dia malah tidur, matanya terpejam dengan hangatnya. Mungkin perkataanku malah ia jadikan lagu pengantar tidurnya. Aku mendorong dorong bahunya agar Tono terbangun.


"Ihhhhh Tono, kok malah tidur sih. Jangan tidur dong."


"Eehhh ehhh iya mbak.."


"Mbak cerita panjang lebar juga, malah gak didengerin."


"Hhe maaf mbak, kebiasaan kalau abis keluar jadi ngantuk deh."


"Hemmmm dasar, yaudah kamu pulang gih. Ibumu nanti tambah curiga lagi kamu kok lama pulangnya."


"Yaudah deh mbak, aku pulang ya!"


"Iya.."


Tono kemudian memakai kembali baju seragam dan celananya. Berjalan menuju kedepan rumah dan membuka pintu. Aku mengikutinya dari belakang, ia lantas berjalan keluar rumah ku. Aku berdiri didepan pintu. Tono menutup kembali pintu gerbangnya, lalu pamit ke padaku.


"Pamit ya mbak, assalamualaikum.."


"Iya Ton waalaikumsalam, hati hati.."


Aku melambaikan tanganku sambil tersenyum kepadanya. Saat aku akan berbalik menuju rumahku, seorang lelaki berjalan didepan rumahku dan berhenti. Astaghfirullah aku sedang telanjang saat ini, bagaimana ini? Aku mencoba menutupi sebisanya bagian intimku dengan kedua tanganku. Tangan kiriku menutup payudaraku, sementara tangan kananku menutupi vaginaku.


"Gak usah ditutupi gitu mbak, saya kan sudah pernah lihat juga!"

"Itu tadi Tono mbak?"


"Ohhhh Pak Karjo, kaget aku pak aku kira siapa tadi."

"Huuhhhhh..."

"Iya pak itu Tono.."


"Mbak Adel abis....... sama Tono?"


Gestur tangannya membentuk sesuatu, ia mengepalkan tangannya dengan jempol yang terhimpit diantara telunjuk dan jari tengah. Dan aku tahu maksudnya.


"Nggg ggga kok pak,, nggakkk..."


"Kalau gugup gitu berarti iya loh mbak, hehe."


"Hemmm, Pak Karjo mau kemana?"


"Yeee kok gak dijawab toh mbak, gapapa mbak rahasia kita bersama aman. Tenang aja."


"Hhe, iya pak, tebakan bapak bener. Tapi masih yang belakang pak belum yang depan."


"Uuuhhhh mbak suka yang belakang ya?"


"Iii iiya pak, yang depan belum siap, hehe."


"Oke deh mbak. Saya mau ke mesjid dulu mau solat isya, bentar lagi adzan mbak."


"Iya pak."


"Nah itu, sudah terdengar suara adzannya mbak."

"Pamit ya mbak, dipakai baju nya mbak dingin, hhe."

"Assalamualaikum..."


"Iya pak, waalaikumsalam..."


Aku buru buru masuk kedalam rumah, setelah melihat Pak Karjo berjalan meninggalkan rumahku. Kemudian aku menguncinya, lalu duduk di kursi sofa. Aku ingin menenangkan diriku sejenak. Gila kaget aku, ku kira tadi siapa ternyata Pak Karjo. Gak lihat situasi kamu Del, padahal baru dikasih tahu Tono tadi. Maafin mbak Ton, mbak gegabah lagi duh. Pak Karjo jadi tahu deh skandal kita. Untung yang lewat Pak Karjo, coba kalau bapak bapak yang lain, bisa diperkosa aku. Ngeri ihh Del. Harus lebih nahan aku nanti.


"Huuhhhh.. mandi dulu deh biar tenang, udah lengket juga ini kulit."


Aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi. Mulai mengguyurkan air keseluruh tubuhku. Segar rasanya, tak lupa sabun dengan aroma lavender yang menjadi kesukaanku aku balurkan ke seluruh tubuhku. Heeemmmm harum sekali aromanya. Kubasuh keseluruhan tubuhku, mengeringkannya dengan handuk lalu berjalan menuju kamarku.


Aku kini memakai daster pendek berwarna merah muda tanpa lengan yang hanya menutupi sebagian pahaku. Dengan celana dalam hitam dan tak memakai BH tentunya. Itu kebiasaanku kalau hendak tidur, agar payudaraku bisa terbebas dan aku nyaman bernafas. Kulihat wajahku di cermin, terlihat segar tanpa balutan make up. Aku mengambil karet ikat rambut diatas nakas, ku kuncir rambut ku kebelakang.


Perutku berbunyi, aku lapar rupanya. Mie instan dengan sebutir telur tentu adalah perpaduan yang sangat ciamik di kala malam hari ini. Aku menuangkan air ke dalam panci mini menaruhnya diatas kompor, dan aku menyalakannya. Ku siapkan mangkuk lalu ku buka bungkus mie, menuangkan seluruh bumbunya ke atas mangkuk tadi. Ku tunggu air didalam panci mendidih, tapi.....


"Assalamualaikum mbak Adel..."

Tok .. tok .. tokkk...

"Mbak Adel, assalamualaikum..."


Terdengar panggilan dari depan rumahku. Siapa malam malam begini hendak bertamu. Suaranya terdengar seperti lelaki, apa itu Pak Karjo yang mau meminta jatah padaku setelah tahu hubunganku dengan Tono. Mungkin saja, tak apalah pikirku sudah terlanjur ketahuan mau gimana lagi.


Aku mematikan dulu komporku, lalu berjalan ke depan. Aku mendengar suara pagar terbuka, langkah kaki mendekat. Ya itu Pak Karjo, ia sudah pernah masuk ke rumahku jadi ia tinggal masuk saja tanpa menunggu aku persilahkan. Tak usah ganti baju lah, toh ia sudah melihat semuanya.


Aku lalu membuka pintu rumah ku ke bagian dalam.


"Assalamua......."


"Ehhhh mas Jamal..."


Aku kaget ternyata dugaanku salah, bukan Pak Karjo rupanya. Itu mas Jamal hansip yang aku temui tadi sore. Mau apa ia kemari malam malam begini? Duh baju ku!


"Mas Jamal beneran kesini?"


Kulihat wajahnya melongo, seakan terpana melihat keseksian tubuhku dengan daster yang aku pakai saat ini. Yaaaa, aku baru ingat. Tadi aku menyuruhnya datang ke rumahku malam ini, aku akan membuatkannya kopi. Duh sampai lupa, tapikan tadi aku hanya bercanda saja kok dia mikirnya serius sih.


"Mas, mas Jamal!"


"Ehhh iya mbak."


"Mas Jamal ngelihatin apa sih, gitu banget ngeliatnya?"


"Eeehhh itu mbak, ada yang nongol hhe."


"Ohhh ini maaf ya, aku gak nyangka bakal ada tamu yang mau berkunjung malam malam begini mas. Jadi aku sudah pakai baju tidur gini. Keliatan ya mas?"


"Hehe ii i iya mbak, besar nonjol juga."


"Jangan dilihatin terus ah mas, malu aku."

"Mas kesini mau.......? Ahhh kopi ya mas, yang tadi sore di pos ronda?"


"Iya mbak, betul."


"Padahal aku tadi cuma bercanda loh mas, kan gak bilang iya juga."


"Ohhhh mbak nya bercanda toh, aku kira serius loh mbak, jadi aku bela belain datang malam malam gini. Yoh malah ganggu orang mau tidur jadinya, maaf ya mbak aku toh salah sangka ternyata. Maaf ya mbak jadi ganggu waktunya mbak. Kalau gitu ya aku pamit deh mbak. Mari mbak assalamualaikum..."


Mas Jamal kemudian membalikan badannya dan mulai melangkah pergi dari hadapanku tanpa menunggu jawaban dari mulutku.


"Eeh eehh mas, tunggu mas!"


Ia berhenti lalu berbalik memandang wajahku.


"Masuk deh mas, aku buatkan kopi!"


"Yang bener mbak?"


"Iya mas, beneran. Mau kan?"


"Ii ii iya mbak. Ma ma mau."


"Yaudah ayo, gak enak kan kalau pulang lagi dengan tangan hampa?"


"Hhe."


Iya hanya tersenyum memandangku.


"Pintu pagarnya tolong ditutup dulu ya mas, sama pintu rumahnya sekalian."


"Iya mbak."


"Duduk mas, aku buatkan dulu kopinya."


"Makasih ya mbak."


Aku berjalan kedapur, sementara mas Jamal sudah duduk di kursi sofa. Aku mengambil gelas, menuangkan kopi saset lalu mengisinya dengan air panas dari dispenser. Aku aduk dan jadilah kopi buatanku. Aku mengantarnya ke depan, lalu menaruhnya diatas meja. Aku duduk di kursi sofa sebelahnya.


"Silahkan diminum mas kopinya!"


"Makasih ya mbak."


"Iya."


"Mbak Adel udah mau tidur ya. Maaf ya aku ganggu!"


"Nggak kok mas, aku baru aja mau masak mie sebelum mas Jamal datang. Mas udah makan?"


"Tadi siang udah kok mbak."


"Kalau makan malem?"


"Belum mbak, hhe."


"Kebetulan dong, aku buatin mie ya!"


"Ehhh gak usah mbak."


"Gapapa mas, biar sekalian masak nya."


"Yauda deh, boleh mbak."


"Oke, bentar ya. Mau pake telor ngga mas?"


"Boleh mbak."


Aku kini memasak dua mie instan, satu untukku dan satu lagi untuk mas Jamal tamuku. Ku nyalakan lagi kompor nya, ku tambahkan air kedalam panci mini tadi. Ku buka bungkus mie untuk mas Jamal, menuangkan seluruh bumbunya ke dalam mangkuk.


Air didalam panci sudah mendidih, ku masukan kedua mie nya ke dalam. Telurnya ku masak nanti masing masing. Tiga menit sudah berlalu, mie nya sudah matang menurutku. Aku tuangkan ke dalam mangkuk masing masing beserta kuahnya. Selanjutnya aku merebus telur, menunggunya sampai matang lalu ku sajikan diatas mie tersebut.

Voalaaaa. Adel mie buatanmu numero uno ahahayy.


Aku membawanya ke depan.


"Ini mas mie nya silahkan di makan!"


"Makasih banyak ya mbak Adel, jadi ngerepotin gini."


"Nggak kok mas, buat mie doang mah gak repot."


"Hhe iya mbak. Mbak orang baru ya dikampung ini? Aku gak pernah lihat mbak sebelumnya."


"Iya mas, baru pindah kesini beberapa hari yang lalu."


"Ohhhh mbak tinggal sendiri?"


"Iya mas, sendirian aku."


"Ohhh sendirian ya mbak, oke mbak..."


"Kenapa memangnya mas?"


"Nggg gapapa mbak, iya gak apa apa.. mie nya enak mbak mbak jago masak ya?"


"Hemmm mengalihkan pembicaraan,, dasar."


"Hehehe.."


"Matanya loh mas, lagi nyuap juga tetep lihatin dada aku."


"Hhe maaf mbak gak tahan."


"Lihat apa sih mas?"


"Lihat itu mbak, yang nonjol nonjol hhe."


"Kelihatan banget ya mas?"


"Banget mbak, besar terus nonjol juga. Enak dilihatnya mbak."


"Huuu dasar.. emang gak pernah lihat yang beginian mas?"


"Yang bulet kaya punya mbak, belum pernah lihat langsung mbak. Yang udah ngondoy mah sudah pernah mbak."


"Emang punyaku bagus ya mas?"


"Bagus banget mbak, sempurna. Dilihat dari luar daster juga udah keliatan buletnya, apalagi liat langsung mbak.. uuuhhhh gak tahan aku mbak."


"Ahhhh bohong mas Jamal mah!"


"Masa aku bohong toh mbak, aku jujur loh dari lubuk hati yang paling dalam."


"Mas Jamal kan belum lihat langsung kok udah bisa bilang bagus, kalau mas Jamal sudah lihat langsung baru deh bisa bilang bagus."


"Emang boleh lihat langsung mbak? Biar aku bisa bilang dada mbak bagus."


"Hemmm boleh gak yah?....."

"Gak boleh dong mas! Nanti pacarku marah loh kalau tahu."


"Emang mbak udah punya pacar mbak?"


"Udah dong, tapi dia lagi kerja diluar pulau mas. Jauh dari aku."


"Lohhhh mbak kesepian dong?"


"Iya nih mas, ya namanya juga jauh paling cuma bisa video call an mas."


"VC ya mbak? Ada S nya nggak mbak?"


"Kadang kadang sih mas, kalau pacarku lagi birahi ya aku tambahin S nya, hihi.."


"Duh duh mbak, aku makin gak tahan ini mbak! Aku ikut ke kamar mandi ya mbak?"


Mas Jamal lalu bergegas berdiri untuk menuju kamar mandi. Tapi aku segera menahannya.


"Ehh ehh mas, tunggu dulu. Aku kan belum bolehin!"


"Yah mbak udah nggak tahan ini."


"Mas mau pipis?"


"I ii iya mbak."


"Mau pipis biasa atau pipis enak?"


"Ehhhh.. pi pi pipiiiss bi a saa mbak."


"Pipis biasa kok ada yang nonjol gitu, tuh!"


Aku menunjuk selangkangan mas Jamal, terlihat disana ada sesuatu yang menonjol mengacung tegak berdiri, hehe.


"Ehhh, hhe maaf mbak abisnya udah gak tahan liat susunya mbak. Maaf!"


"Kalau mau pipis enak disini aja kali mas, daripada disana cuma ngebayangin aku doang mending disini bisa lihat langsung."


"Ehhh eee mmaangg bo bb bbbbb boo boo....."


"Boleh kok mas, silahkan aja. Ga baik juga kan kalau ditahan tahan bisa jadi penyakit loh mas."


"Be be bener ben benaran mbakkk?"


"Iya, mas coli aja."


"Makasih mbak."


Mas Jamal segera menurunkan resleting celananya, membuka ikat pinggangnya dan menurunkan celana panjang hansipnya. Ia kemudian mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya. Tuuuiiingggg.. benda itu sudah terlihat keras mengacung mengarah padaku. Ukurannya sedang sedang saja, lebih besar dari punya Dani dan lebih kecil dari punya Tono, penis mas Jamal ada diantara mereka. Tapi ada yang lain ku lihat, panjangnya gak masuk akal pikirku. Lebih panjang dari semua penis yang pernah aku lihat secara langsung, gila.


Ia kemudian mengocoknya perlahan, menggerakan tangan kanannya maju mundur mengurut batang penisnya.


"Panjang banget mas!"


"Iya mbak, ini yang dinamakan pentungan hansip mbak. Hehe."


"Jangan bilang bilang ke yang lain ya mas, awas aja kalau yang lain sampe tahu."


"Iya mbak, buat apa juga aku ngadu ke yang lain mending aku nikmatin sendiri ehehe."


"Ayo mas cepet keluarin, aku udah ngantuk nih! Udah malem juga."


"Yah bentar dong mbak, baru aja mulai. Tahan ya mbak tahan dulu ngantuknya. Kontolku ini tahan lama mbak gak bisa keluar cepet. Kecuali mbak ikut bantuin, hhe."


"Enak aja, mas Jamal keluarin sendiri aja."


"Lama loh mbak bisa sampai tengah malem kalau sama aku sendiri."


"Selama itu mas?"

"Gak mungkin ahhhh..."


"Iya mbak, liat aja nanti."


"Ya jangan dong mas, aku kan udah ngantuk ini."

"Cepetin dong mas ngocoknya, kalau lambat gitu sih ya kapan keluarnya."


"Ini kan lagi menikmati mbak, aku kan gak mau buru buru keluar juga."


"Lohhhh kok gitu mas?"


"Makanya mbak bantuin ya? Ayo mbak biar cepet keluar."


"Bantuin gimana mas?"


"Bantu kocokin mbak!"


"Ihhh nggak yah, enak ajah gamau ahh. Mas kocok sendiri aja!"


"Yaudah kalau mbak mau nunggu lama mah."


"Ehhh ehh jangan gitu dong mas, kok jadi aku yang terpojok sih."


"Ya kan mbak yang nyuruh aku coli disini, salah sendiri. Mbak harus tanggung jawab!"


"Yaudah deh, tapi aku gak mau nyentuh penisnya mas. Dan mas Jamal jangan sampai berani beraninya nyentuh aku juga! Nanti bakal aku laporin mas Jamal ke polisi."


"Oke mbak, gapapa."

"Tapi kalau mbak gak mau nyentuh kontol ku dan aku gak boleh nyentuh mbak, gimana mbak bantuinnya?"


"Emmm, gimana yahhhh?"


Gak ada pilihan lain sepertinya, biarlah ini rezeki mas Jamal.


"Aku buka deh daster aku mas."


"Nah boleh tuh mbak, akhirnya bisa lihat langsung susunya mbak."


Aku membuka dasterku, meloloskannya melalui ke dua bahuku lalu melorotkannya kebawah lepas dari kakiku. Kini aku hanya memakai celana dalam hitamku. Kedua tanganku melingkar didepan payudaraku berusaha untuk menutupinya.


"Wooowwww bagus banget susu mbak, gak ada kendor kendornya mbak, sekel banget. Pasti kenyel ya mbak kalau diremes."


"Gak, ga boleh nyentuh inget."


"Iya, tapi jangan ditutupin juga dong mbak. Percuma dong gak keliatan, sama aja kaya pake baju mbak."


"Yaudah nih."


Aku menurunkan kedua tanganku, kini payudaraku sudah terbebas dan menjadi hidangan hangat untuk mas Jamal lihat.


"Cepetan dong mas, makin ngantuk nih mataku!"


"Bentar mbak, udah mulai kerasa ini."

"Duhhh makin gak tahan sama tubuh mbak, pengen grepe grepe mbak!"


"Nggak yah!"


"Mbak naikin tangannya dong ke atas kepala, terus jilatin ketiak mbak!"


Aku langsung menurut kali ini, tidak ada bantahan yang keluar dari mulutku. Aku menaikan kedua tanganku ke atas kepala, lalu lidahku ku julurkan menjilat ketiakku.


"Gini mas!"


"Iya mbak, uuhhhh mbak seksi banget tahu ngga.

Aku gak kuat mbak.... Maaf!"


Mas Jamal lalu bergerak mendekatiku, dengan secepat kilat kedua tangannya hinggap di payudaraku, ia langsung meremasnya dengan kuat. Tak lupa puting ku juga ia mainkan.


"Mas jangan mas jangan... Kok mas gini sih, kan mas janji gak bakal sentuh aku.. mas stop mas udah berhentiiii......"


Mas Jamal tidak menggubrisku, tangannya terus saja meremas payudaraku. Bahkan kini bibirnya mendekat mencari bibirku, ia ingin menciumku. Tapi aku masih bisa menahannya, kedua tanganku berada di pundaknya mencoba untuk menjauhkan tubuhnya dari tubuhku. Kepalaku menggeleng geleng ke kiri dan ke kanan menghindari bibirnya agar tidak bersentuhan dengan bibirku.


"Mas stop ahhh, udah mas! Sadar mas Jamal sadar.. berhenti mas.. aku gak mau dikasarin mas,.. udah berhenti.."


"Aku gak tahan mbak,, maaf!"


Nafsu yang sudah begitu menggebu, membuatnya buta. Janjinya yang tadi ia ucapkan kini ia ingkari. Tangan kanannya kini ia turunkan menyentuh celana dalamku. Ia mencoba menariknya lolos dari kakiku. Ia berhasil, dengan cepat ia melemparkannya.


Aku yang sedang duduk dikursi tak bisa berbuat banyak, punggungku terdorong ke sandaran kursi. Sementara kini tangan kirinya memegangi kedua pahaku, mendorongnya rapat dengan payudaraku. Tangan kanannya menggenggam penisnya mencoba mengarahkannya pada bibir vaginaku.


"Mas stop mas, sudah jangan diteruskan.. sadar mas sadar... Mas jamallllll......"


Aku masih bersih keras mengingatkannya, tapi apalah daya bisikan iblis pada hatinya membuat perkataanku seakan tak ada artinya. Ujung penisnya kini sudah menempel dengan bibir vaginaku, berusaha mencari lubangnya untuk ia masuki.


"Maaf, mbak aku ingin coba untuk yang pertama kalinyaaaa ......"


Ia sedikit mendorong pinggulnya berusaha menekan penisnya agar segera masuk ke lubang vaginaku.


Aku tersadar akan hal itu, tenagaku mungkin tak banyak lagi. Tapi kalau tidak sekarang, perawanku akan hilang. Aku kumpulkan tenagaku, tangan kiriku mendorong dadanya sekuat yang aku bisa. Dan tangan kananku aku ayunkan sekeras mungkin sampai hinggap di pipi kirinya.


Plaaaakkkkkk....


Aku menamparnya, suaranya begitu keras. Aku tepat sasaran, berhasil. Targetku lengah, kedua tanganku mendorong dadanya dilanjutkan dengan kedua kakiku menendang tubuhnya. Tak kusangka aku berhasil, pertahanan mas Jamal lumpuh ia terjatuh dilantai sambil memegangi pipinya.


"Aaahhhhhh... Sakit mbak!"


Aku meringkuk di kursi, mataku berlinang air mata. Aku tak sampai menangis, entah kenapa! padahal aku nyaris saja diperkosa. Apa sekarang aku sudah kuat?


"Sakit mana sama hati aku mas. Mas barusan mau perkosa aku mas! Kok mas tega sih? Mas kan udah janji gak bakal nyentuh aku, kenapa mas malah ngelakuin itu?"


"Maaf mbak aku khilaf! Aku gak bisa tahan nafsuku."

"Maaf mbak jangan laporin aku mbak."

"Aku mohon!"

"Aku gak ingin dipenjara mbak ...."


"Mas Jamal jahat, kenapa tega ngelakuin ini ke aku mas? Mas baru kenal aku tadi sore, kenapa sekarang berani ngelecehin aku mas. Padahal aku udah baik loh mas sama mas, aku udah nurutin mau nya mas. Tapi kenapa mas malah balas aku seperti itu. Mas tinggal bilang aja padahal pasti aku turuti, tapi kenapa mas nyerang aku? Aku gak suka dipaksa mas, aku gak suka kekerasan. Badan aku jadi sakit karna kekasaran mas Jamal."


"Maaf mbak maaf, aku bener bener khilaf. Bener bener gak tahan lihat tubuh mbak."

"Aku memang bejat mbak, aku hansip yang bejat mbak. Aku harusnya jagain mbak bukan malah memperkosa mbak."

"Aku salah mbak..."

"Mbak laporin aku aja.."

"Aku rela mbak.."

"Aku harus membayar kesalahanku mbak.."

"Silahkan laporkan aku mbak, aku siap menerimanya!"


"Nggak! aku gak akan pernah laporin mas Jamal."


"Haaahhhhh?"


"Aku gak mau ini sampai diketahui orang lain mas, kalau aku laporin mas sama aja aku seperti ngelaporin diriku sendiri. Aku bakal jadi omongan warga kampung ini kalau aku jadi korban pemerkosaan. Aku gak mau mas! Mas tahu, aku bisa aja tadi teriak buat minta tolong kalau aku lagi diperkosa. Tapi aku tahan itu, aku gak mau itu terjadi. Aku gak mau semua orang tahu tentang kejadian ini, karna aku harus menjaga nama baikku mas!"


"Jadi mbak gak akan ngelaporin aku?"


"Iya mas, gak akan."


"Makasih ya mbak. Mbak orang baik ternyata, aku salah menyalahgunakan kebaikan mbak Adel. Maaf mbakkk,, sekali lagi aku minta maafffffffff...."


Huuaaaaaaaaa...

Huhhuuuaaaaaaaaa...

Eehhhhhheeuhhhhhhh...

Huuuaaa..


"Eeh ehh kok nangis sih mas, jangan nangis dong mas. Ntar malah kedengeran tetangga, ketahuan jadinya."


Heeheuhheuuuhehhhhhh...


"Maaf mbak, saya ngerasa salah banget."


"Udah udah jangan nangis. Lupain aja kejadian tadi. Gak usah dipikirin mas!"


"Iya mbak, makasih ya udah baik sama aku mbak padahal kita baru aja kenal."


"Iyaaa, yaudah sini mas nya berdiri depan aku!"


"Mau apa mbak?"


"Udah nurut aja dulu."


"Iya mbak."


Mas Jamal kemudian berdiri didepanku yang masih duduk dikursi.


"Tadi ini belum keluar kan?"


"Ehhh... Iya mbak belum sempet hhe."


"Kali ini aku bantuin sampai keluar ya. Tapi inget, mas Jamal gak boleh nyentuh aku. Mas diem aja ikutin arahanku. Oke!"


"Iya mbak siap."


Kedua tangannya kini berada di belakang tubuhnya, ia menurutiku. Aku menggenggam batang penisnya, begitu panjang. Lalu aku membusungkan dadaku, payudaraku menggembung seperti balon. Penis mas Jamal aku simpan disela sela payudaraku. Daging payudaraku mengapit batang penisnya. Lalu kedua tanganku menekan sisi luar payudaraku sehingga penis mas Jamal tertimbun didalamnya.


"Gerakin maju mundur mas!"


"Iya mbak."


Segera ia memaju mundurkan pinggulnya, penisnya yang panjang sesekali menyentuh daguku.


"Cepetin mas, biar cepet keluar!"


"Iya mbak, ini aku cepetin."


Gerakannya bertambah cepat, ritme nya naik, irama nya semakin tinggi. Penisnya ngebut di payudaraku.


"Stop mas stoppp.. terlalu cepet dagu aku kesundul sundul nih, gak nyaman."


"Yah padahal udah kerasa nih mbak, udah pengen keluar. Aku kocok sendiri aja deh mbak!"


"Jangan!"


Aku menahan tangannya, agar tetap berada dibelakang seperti sebelumnya.


"Biar mbak sendiri yang bikin Jamal junior ini keluar."


Aku membuka mulutku memasukkan kepala penisnya kedalam. Ku emut, ku jilati dengan lidahku.


"Aahhhhhh... Mbak enak mbak.. terus mbak..."

"Aaahhhhh..."

"Aaaahhhhhhh..."


Aku memblowjob lagi penis yang berbeda, sekarang penis yang panjang beda dari yang lainnya. Aku mencoba men deepthroat penis mas Jamal, setelah gagal pada penis Tono tadi. Aku penasaran untuk mencobanya lagi.


Hhhhooorrghhhh... Haahhh... Haahhh..


Tak mungkin masuk seluruhnya, tapi aku tetap mencobanya lagi.


Hooakkkkkksssssss... Hhhhooorghhhh...

Haahhh hhaaaaahhh..haaahhhh..


"Ahhh enak banget seponganmu mbak, kontolku berasa disedot sedot."

"Aaahhhh ...."

"Bentar lagi aku keluar mbak.."


Slurrrppppp.. ssslluurrppppp... Slluurrppp...


Aku jilati kepala penisnya, keseluruhan batangnya juga ku mainkan biji pelernya.


"Keluarin di dalam mulutku aja ya mas!"


"Iiii ii iya mmbbaakkk.."


Aku memasukan kembali penisnya kedalam mulutku. Tangan ku mendorong pantat mas Jamal agar memompa penisnya. Iya paham maksudku, segera iya gerakan pinggulnya maju dan mundur. Sekarang penisnya mengentot mulutku. Dari yang awalnya perlahan kini bertambah kencang. Aku merasakan kedutan di penisnya, tandanya ia akan segera keluar.


"Mbak, aku gakk taaahhhannnn mbaakkk..."

"Aaaaakuuuu keeluuarrrrrr mbakkk..."


Mas Jamal berhenti menggenjot mulutku, penisnya masih terdiam di dalam. Ku rasakan semburan hangat spermanya memenuhi ruang mulutku, sebagian langsung ku telan karna memang langsung masuk menuju kerongkonganku dan sebagian lagi menggumpal di atas lidahku.


Mas Jamal kemudian menarik penisnya keluar dari dalam mulutku. Terlihat menciut, mengecil dari ukuran sebelumnya.


"Hahhh... Hahhh... Hahhhhh..."

"Enak banget mbak, bener bener enak mulut mbak." "Sepongan mbak juara deh!"


"Makasih ya mas atas pujiannya, sperma mas banyak banget nih."


"Iya mbak, telen semuanya jangan disisain."


"Ini udah habis aku telen.."


"Mbak binal banget loh mbak, aku gak nyangka!"


"Gak akan bakal ada yang nyangka mas, apalagi buat orang baru. Hihi."


"Iya mbak aku aja sampe kegocek loh."

"Dengan pakaian mbak yang tadi sore aku lihat, beda banget dengan sekarang yang aku rasain. Bener bener binal mbak. Hebat!"


"Tapi inget ya mas, semua ini cuma terjadi kali ini aja. Gak akan pernah ada kejadian ini untuk yang kedua kalinya."


"Iya mbak."


"Dan inget juga jangan kasih tahu kesiapa siapa, jangan sampai ada yang tahu tentang skandal kita ini. Jangan bercerita ke orang lain, meskipun itu sahabat mas Jamal sendiri. Mas Jamal nikmatin sendiri aja jangan dibagi bagi. Oke!"


"Iya mbak aku ngerti kok."

"Kalau aku cerita ya aku juga bakal kena nantinya.

Rahasia aman terjamin mbak."


"Oke deh mas, aku percaya sama mas Jamal. Udah malem banget nih, sana pulang. Ehh mas mau ronda ya?"


"Iya mbak, jadwal sama RT 4 malem ini."


"Oke mas, inget jangan sampai bapak bapak yang lagi ronda curiga ya."


"Iya mbak aman, tenang aja."


"Oke. Udah sana, pake celananya!"


Mas Jamal kemudian memakai celana hansipnya kembali dan mengancingkan ikat pinggangnya. Sudah rapih kembali, kemudian ia berjalan kedepan pintu. Baru saja ia hendak membukanya aku segera menahannya.


"Ehh mas tunggu!"


Aku mengambil celana dalam hitamku dari lantai lalu menyerahkannya pada mas Jamal.


"Ini mas oleh oleh dariku."


"Beneran mbak?"


"Iya, cepet sakuin jangan sampai bapak bapak ronda tahu ya."


"Siap mbak, pasti! Lumayan buat coli nanti mbak hehe."


"Iya terserah mas aja, mau diapain juga."


"Makasih banyak ya mbak."


"Iya sama sama. Nanti tolong kunciin pagernya ya mas!"


"Beres mbak, kalau gitu aku pamit ya. Makasih banyak untuk sajiannya ya mbak, aku menikmati banget."


"Iya mas sama sama, inget ya apa kataku tadi!"


"Siap mbak, assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam.."


Mas Jamal pergi meninggalkan rumahku, tak lupa ia mengunci terlebih dahulu pagarnya sesuai perintahku tadi.


Aku terdiam sejenak, berdiri didepan pintu sambil menghela nafasku.


"Hhhhuuuuhhhhh... Seru juga ya hari ini! Gak nyangka aku...."


Aku kemudian berbalik, memasuki rumahku. Namun baru satu langkah aku maju seseorang memanggilku.


"Mbak Adel tunggu!"


Aku kembali membalikan tubuhku, ya tubuh telanjangku. Melihat siapa gerangan yang memanggil namaku di kegelapan malam.


"Eehhh Pak Karjo lagi."


"Iya mbak abis pulang ronda."


"Kok sudah pulang pak, mas Jamal aja baru mau mulai! Ehhh...."


Aku menutup mulutku seketika, aku keceplosan.


"Besok saya ada ceramah subuh mbak, jadi ada dispensasi boleh pulang cepat."

"Mas Jamal dari sini ya mbak?"


"Ehhhh, ngg nggaa kok pak, nggaaa."


"Kok mbak Adel masih belum pake baju sih?"


"Itt ittuuu, ssosooalnyaa gegeeraahh pak, iya gerah. Panas didalam rumahku pak."


"Kalau gugup berarti bener lagi ya mbak!

Udah mbak ga usah bohong, tadi aku lihat dari jauh mas Jamal lagi ngunci pager ini. Terus waktu papasan, mukanya berseri seri gitu mbak, senyum senyum sendiri lagi. Terus pas lihat mbak kok masih telanjang aja. Dikasih apa sih mbak dia sampe ceria gitu?"


"Hhe, Pak Karjo mah dateng nya pas aku telanjang terus. Cuma aku kasih kopi kok pak!"


"Tenang mbak rahasia terjamin kok."

"Cuma dikasih kopi atau susu mbak?"


"Ehhh, eeeumm hhe susu nya juga pak."


"Susu yang depan apa sama yang belakang juga mbak?"


"Susu ini doang kok pak."


Aku meremas payudaraku sambil mengatakan itu dihadapan Pak Karjo.


"Waaahhhh enak bener mbak hansip satu itu?"


"Hhe gak sengaja sih pak sebenernya. Niatnya cuma mau ngasih kopi tapi keterusan ngasih susunya juga."


"Sampe keluar mbak?"


"Mas Jamal doang, aku nggak sempet pak!"


"Wahhh kentang dong mbak?"


"Heeemmm iya sih pak, kenapa? Pak Karjo mau juga?"


"Mammaauuu mbak, emang boleh mbak?"


"Terserah bapak aja, tapi Pak Karjo kan dulu udah pernah janji buat gak ngelakuin lagi. Inget kan pak?"


"Ya janji kan cuma janji mbak, selama gak ketahuan mah masih bisa diingkari, hehe."

"Boleh mbak?"


"Boleh pak!"


"Asssikkk..."


Tangan Pak Karjo lalu mencoba membuka kunci pagar...


"Eeh eehhh pak mau ngapain?"


"Lohh katanya boleh mbak."


"Ya jangan sekarang dong pak, udah malem ini aku ngantuk capek juga pak. Lagian besok kan bapak harus ceramah subuh. Masa malemnya ngentot tetangga dulu sih pak. Kan aneh hihi."


"Ehhh kok... Tapi iya juga sih mbak, nanti istri saya juga curiga. Bisa bahaya mbak."


"Itu tahu pak, kapan kapan deh ya pak nanti aku kasih Pak Karjo juga."


"Oke mbak, siap. Kalau gitu pamit ya mbak." "Assalamualaikum.."


"Iya pak, waalaikumsalam..."


Aku masuk kedalam rumahku menutup pintu juga menguncinya. Haaaahhhh.. lagi lagi Pak Karjo. Udah ketahuan dua kali aku sama dia. Dan aku harus ngasih juga tubuhku buat dia. Sudahlah aku lelah sekarang, hari ini sungguh luar biasa. Sangat sangat luar biasa, hampir ketahuan, hampir diperkosa. Hahhhh... Lengkap sudah... Sekarang aku ingin tidur saja.


Bersambung


:::::::::::::::::::::


#12


#Tono


Aku pulang kembali kerumahku, setelah sebelumnya aku mengantarkan mbak Adel pulang karna disuruh oleh ibuku. Niatnya memang hanya itu, tapi mbak Adel malah memberiku lebih saat sampai dirumahnya. Waktunya kan pasti jadi lebih lama dari yang hanya sebatas mengantarnya pulang.


Aku harus pakai alasan apa jika ibuku bertanya! Berbagai alasan aku pikirkan di kepala ku, otak ku memilah milah manakah satu dari sekian banyak alasan yang masuk akal untuk aku utarakan pada ibuku nanti. Hemmm bingung juga mau pakai alasan yang mana. Biarlah aku pilih spontan saja nanti, aku sih berharap ibuku tidak bertanya apa apa. Semoga!.


Aku sampai di depan rumahku, mengucap salam lalu membuka pintu. Memasukinya lalu duduk sejenak dikursi. Ibuku datang menghampiri, lalu duduk dikursi sebelahku.


"Ton, ibu mau bicara sama kamu, penting!"


"Penting bu?"


"Iya, soal kamu sama guru lesmu tadi!"


"Guru lesku, ohhh mbak Adel bu?"


"Iya."


Apa yang mau ibu bicarakan sama aku tentang mbak Adel? Apa ibuku benar benar curiga? Kalau ia, aku harus bagaimana? Kuharap tidak!


"Hemmm, bapak kemana bu?"


"Bapakmu ke mesjid, tuh lihat jam sudah waktunya isya! Kamu gak denger adzan tadi?"


"Hhe, denger kok bu."


Aku semakin gugup dibuatnya. Gestur tubuhku tidak bisa menyembunyikannya.


"Ton!"


"Iya bu, ibu mau bicarain.... apa?"


"Ibu mau kamu jujur sama ibu! Tentang mbak Adel sama kamu Ton."


"Jujur? Aku sama mbak Adel? Emang ada apa bu?"


"Ibu nemuin celana dalam wanita di dalem tas kamu waktu ibu beresin buku belajarmu. Itu punya mbak Adel kan?"


Deeghhhh,, jantungku seakan mau copot mendengar itu. Detaknya tiba tiba berhenti. Aku mematung. Bagaimana ini bisa terjadi, barang bukti yang aku pikir sudah mengamankannya. Malah dengan mudah ketahuan. Aku menatap sejenak wajah ibuku, lalu menunduk kemudian.


"Benarkan Ton, itu miliknya mbak Adel?"


Sekali lagi ibuku bertanya, memastikan bahwa benar celana dalam itu milik mbak Adel.


"Ii ii itu milik....."


Mulutku berhenti berucap, aku tak tega menyebutkan namanya.


"Jujur saja sama ibu Ton, ibu tidak akan marah kamu kan anak yang jujur. Kasih tahu ibu Ton!"


"I i iya bu, itu milik mbak Adel. Maaf!"


"Ibu sudah curiga waktu pintu rumahnya kamu kunci dari dalam. Lalu ibu lihat wajah mbak Adel keringetan. Awalnya ibu kira itu memang karna kondisi rumah kita yang memang panas, tapi ini kan sudah sore tidak seharusnya merasa kepanasan. Sampai akhirnya ibu menemukan celana dalam wanita di dalam tasmu. Kamu sama mbak Adel sudah melakukannya Ton?"


"Mmmmaaaaffff bu, aku khilaf!"


Aku semakin menundukkan kepalaku, kedua tanganku aku taruh diatas lututku saling bertindih. Wajahku aku tenggelamkan disana, mataku mulai berlinang menyadari kesalahan yang telah aku perbuat. Kesalahan besar yang sampai diketahui oleh ibuku sendiri.


"Tidak apa Ton, jangan menangis!"


Ibuku mengusap punggungku, berusaha menenangkanku agar aku tidak menangis.


"Mmaaafinn aku bu, aku salahhhh! Jangan marahin aku bu, aku takut aku sudah berbuat dosa."


"Ibu gak marah kok Ton, ibu juga dulu pernah muda sama seperti kamu. Ibu juga tahu rasanya kalau kita sudah tidak tahan. Cuma bedanya ibu wanita dan kamu laki laki, beda cara melampiaskannya. Tapi nafsunya ya sama saja, memang harus dilampiaskan. Bisa ke orang lain atau cukup oleh diri sendiri. Kamu sudah remaja Ton, nafsu kamu mungkin sedang menggebu-gebu. Jadi menurut ibu itu wajar saja, selama tidak ada yang merasa dirugikan."


Aku kemudian mengangkat kepalaku, mengusap air mataku dengan kedua tanganku. Wajahku menoleh pada ibu.


"Ibu gak marah sama aku?"


"Tidak Ton, ibu memakluminya. Asal tidak ada paksaan diantara keduanya. Kamu tidak maksa mbak Adel buat ngelakuinnya kan?"


Aku menggelengkan kepalaku, tanda setuju.


"Kamu sudah 'kentu' sama mbak Adel, Ton?"


"Bebe be belum bu. Cuma sebatas saling pegang aja. Mbak Adel masih perawan kok, aku gak berani bu."


"Hemmm itu pilihanmu Ton, kamu sudah besar bisa memilih yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah. Ibu cuma berpesan, jangan sampai ketahuan. Apalagi kalau bapakmu sampai tahu, bisa hancur rumah ini. Kamu juga bisa habis dipukuli bapak. Kamu ingat Ton, kamu cuma ketahuan nyuri mangga satu buah aja bapakmu marah besar sampai kamu di pukuli sapu lidi. Apalagi kalau kamu ketahuan 'ngewe' sama perempuan!"


Aku terperanjat mendengar itu, aku memandang wajah ibu lalu berkata.


"Ehhh... Iya bu, aku paham!"


"Inget ya Ton, jangan sampai ada yang tahu. Kamu harus menjaga rahasia ini. Kalau sampai ada yang tahu bukan cuma kamu saja yang malu, ibu bapak bahkan adikmu akan merasakan malunya juga Ton! Apalagi orang orang kan melihat mbak Adel itu sebagai wanita muslimah Ton, selalu pakai gamis dan berhijab. Jadi tolong kamu jaga ya, Ton!"


"Iya bu, aku coba sebisaku."


"Dan inget satu lagi, Ton."


"Apa itu bu?"


"Jangan main disembarang tempat!"

"Resikonya kan besar itu Ton. Ibu tahu kalau sudah sange, nafsu bisa membutakan pikiranmu. Tapi yo mboh dipikir dulu gitu loh. Masa nekat main dirumah sendiri, kan kamu tahu jam segitu ibu bapakmu sudah mau pulang. Gimana toh, Ton?"


"Hhe."


Aku menggaruk rambut dikepalaku yang tak terasa gatal dengan senyum anehku yang tersungging dibibirku.


"Mbak Adel yang maksa bu, aku sih udah coba buat ngelarangnya. Tapi tetep dia lakuin sampai waktu nya memet dengan kedatangan ibu."


"Ohhh jadi mbak Adel itu..... Ton?"


"Dia ngga seperti yang ibu bayangkan bu, mbak Adel itu gak seperti yang ibu lihat dari luar. Dalemnya beda bu!"


"Hemmm gitu ya? Coba ceritain tentang mbak Adel Ton!"


"Ceritain bu?"


"Iya Ton, ibu penasaran aja kok bisa luarnya tertutup tapi dalemnya... Yang katamu bilang tadi."


"Agak aneh sih bu, cerita beginian ke ibu!"


"Anggap aja ibu temen curhatmu Ton. Ini kan tentang pendidikan sex juga Ton!"


"Iya deh bu aku ceritain, sebenernya mbak Adel itu cewek yang hyper bu."


"Hyper? Apaan itu Ton, bahasa Inggris ya?"


"Eeeuhhh, iya bu artinya itu kaya berlebihan gitu bu sulit dikendalikan. Jadi kaya yang pengen terus gitu."


"Ohhhh..."


"Nah dia tuh kaya gitu bu, cuma dia ngga ngeliatin aja ke orang lain dengan cara berpakaian muslimah bu. Padahal mah sifat sesungguhnya ya bertolak belakang dengan apa yang dipakainya."


"Sangean gitu Ton?"


"Ya, semacam itu lah bu."


"Jadi tadi juga gitu?"


"Iya bu, dia kan udah keluar duluan nah sementara aku belum. Karna dia belum ngerasa puas dan aku harus keluar juga jadi ya dia paksa buat terus ngelakuin padahal waktunya udah mepet. Dan aku udah berusaha nolak juga loh bu, tapi ya emang dasarnya mbak Adel itu cewek yang ibu bilang tadi ya aku ikutin mau dia aja, gak bisa nolak bu. Sampai akhirnya aku udah mau keluar bu, tapi ibu sama bapak keburu pulang."


"Ga jadi keluar dong Ton?"


"Iya bu, masuk lagi kayaknya. Punyaku juga langsung menciut bu ketakutan kalian datang. Hhe."


"Harus dikeluarin loh Ton, nanti kamu uring uringan kaya bapakmu. Bapakmu juga gitu kalau belum keluar. Udah sana ke WC keluarin dulu, Ton!"


"Udah kok bu!"


"Kok udah, tadi katanya belum sempet keluar Ton?"


"Udah bu dirumah mbak Adel, waktu tadi aku anterin pulang."


"Ladalah dilanjut toh rupanya."


"Hhe iya bu. Mbak Adel yang nawarin, ya aku kan gak bisa nolak bu. Mbak Adel itu sebenernya baik loh bu, cuma ya itu 'gak bener'."


"Pantes aja cuma nganterin pulang, kok kamu pulangnya lama. Lagi 'main' toh."


"Hehe ya gitu deh bu."


"Main apa Ton?"


"Ehhh... Mainnnnnn? Malu aku bu nyeritainnya!"


"Halaaahhh, kamu tuh. Daritadi kan sudah cerita juga. Gapapa diceritain aja, ibu kan pengen tahu juga kamu sudah ngelakuin apa aja sama perempuan yang katanya guru les itu. Hihi."


"Aahhh ibu mah..."


"Ayo Ton!"


"Ya aku main belakang bu."


Nada bicaraku melemah mengatakan itu, sampai sampai tak begitu terdengar oleh telinga ibuku.


"Haahhh? Apa apa Ton barusan main belakang?"


"Iya bu."


"Di pantatnya Ton?"


Aku menganggukkan kepalaku tanpa menjawabnya.


"Loh loh loh ternyata mbak Adel ini, duuuhhh gak sangka ibu loh mbak."

"Terus terus Ton?"


"Harus diceritaiin ya bu?"


"Nanggung loh Ton sekalian aja."


"Ya mbak Adel yang minta bu, dia nawarin aku buat masukin punyaku ke lubang pantatnya. Ya udah aku coba bu, aku kan harus nurutin apa mau dia apalagi dia udah sange gitu bu, hhe."


"Lanjut Ton!"


Ibuku mendengarkan dengan seksama, sepertinya ia antusias ingin tahu lebih jauh.


"Awalnya emang susah bu, sempit banget lubangnya. Tapi ya lama lama akhirnya bisa juga setelah dipaksa."


"Gak sakit apa ya Ton?"


"Kata dia sih sakit diawalnya aja bu, tapi setelah digenjot ya enak enak aja bu. Sampai aku juga keenakan terus keluar deh didalem lubangnya. Ehehehe."


"Duh duh anak ibu udah pernah ngerasain lubang bool ternyata. Bapakmu juga kalah toh Ton, belum pernah masuk lubang yang belakang."


"Hhe, ibu mau coba? Coba aja bu enak loh!"


"Bocah semprulll, gundulmu....aku ini ibumu loh."


Tangan kanan ibuku menjitak kepalaku.


"Ehhh, ehh, ehhh. Bu bu sakit bu. Bukan dengan aku lah, ya ibu sama punyanya bapak. Punyaku kan miliknya mbak Adel..."


"Huuuuu dasar, ibu pikir kamu yang mau ngajak ibu. Gila aja, ibu sama anak kandungnya ngentu. Bisa heboh kampung ini."


"Ya nggak lah bu, aku juga masih waras kali bu."

"Tapi ibu coba aja sama bapak, mbak Adel aja sampe keenakan loh bu."


"Gak ah, sakit Ton, dulu kan bapakmu juga minta itu sama ibu tapi baru kepalanya doang yang masuk ibu udah kesakitan. Dan gak pernah mau lagi sampai sekarang."


"Emang punya bapak gede ya bu, atau gedean punyaku? Hhe."


"Udah ah, jangan liatin itu ke ibu, dosa tahu!"


"Hehe, iya iya bu."


"Assalamualaikum... Bapak pulang!"


"Waalaikumsalam.."

"Waalaikumsalam..."


Obrolan kamipun berakhir setelah kedatangan bapak. Dan kami pun bersikap seperti biasa, seolah olah tak terjadi apa apa.



=¥=¥=


KEBIMBANGAN


Aku terperanjat dari tidurku, kulihat jam dinding di kamarku.


"Astaghfirullah udah jam 9 pagi ini, telat banget bangun tidurnya. Aku kecapean deh kayanya, kemaren bener bener hari yang gila. Dari pagi sampe malem yang aku lakuin isinya sex semua, udah gila emang kamu Del."


"Kalau ibuku tahu, sudah pasti aku dimarahinya. Anak gadis kok bisa bisanya bangun tidur sudah siang gini. Malam tadi kamu ngapain aja?

Pasti gitu perkataannya, hihi."


Aku bergegas menuju ke kamar mandi, dengan tubuh telanjangku aku berjalan memasukinya. Aku berjongkok lalu ku buang air seni ku yang ku tampung seharian kemarin. Aku berdiri lalu mengambil sikat gigi dan menuang pasta giginya ke atas bulu bulu sikatnya. Lalu memasukan ke dalam mulutku dan mulai menggosok gigiku.


Kulanjutkan kegiatan mandiku dengan memakai sabun dimukaku, sabun khusus muka ya sabun berbentuk gel dengan kandungan vitamin c agar mukaku senantiasa cerah bersinar, dan glowing tentunya, hihi.


Selesai dengan itu, kini bagian utamanya. Aku mengguyur seluruh badanku membasahinya sampai kesela sela kulit tubuhku. Kulanjutkan memakai sabun kesukaanku, seperti biasa sabun dengan aroma lavender yang membuatku tenang. Dari leher sampai ujung jari kakiku tak luput dari baluran busa sabun. Kuusap usap kedua payudaraku, perutku, punggungku, sampai paha dan selangkanganku. Vaginaku tentu jadi bagian ternikmat saat aku sabuni, apalagi saat klitorisnya tersentuh jari jariku.


Inginku menggosoknya lebih lama dan merasakan kenikmatannya. Tapi aku sudah mendapatkannya kemarin, seharian penuh. Masa aku melakukannya lagi hari ini, itu berlebihan menurutku. Mending aku tabung untuk hari esok atau hari esoknya lagi, agar kenikmatannya bisa semakin terasa nikmat.


Aku kemudian mengguyur lagi tubuhku, dengan lebih banyak air yang aku guyurkan. Memastikan keseluruhan kulit ditubuhku bersih dan tak ada sabun yang tersisa.


Selesai, aku mengambil handukku. Lalu mengeringkan tubuhku, aku lap dari atas sampai ke bawah sampai benar benar kering. Ku simpan kembali handukku di gantungan lalu keluar dari dalam kamar mandi menuju kamarku.



=¥=¥=


'Sekilas cerita dari mang Asep'


"Duhhh mbak Adel kemana ya, kok gak keluar udah jam sembilan padahal. Apa dia pergi ya? Apa aku harus nunggu atau lanjut keliling aja? Tadi pagi udah kesini tapi mbak Adel gak ada sekarang kesini lagi belum ada juga. Kemana ya?"


"Tapi sepi disini gak ada yang beli. Ahhh... nunggu dulu aja deh, biarin sambil istirahat. Duh kebelet kencing lagi! Kencing dimana ya? Ahh belakang rumah mbak Adel aja lah, gak akan keliatan toh lagi sepi juga."


Mang Asep kemudian berjalan menuju ke belakang rumahnya mbak Adel, ia berniat untuk membuang air kencingnya. Sesampainya ia disana langsung saja ia turunkan resleting celananya dan mengeluarkan penisnya. Memegangnya dengan tangan kanan dan mengarahkan lubang kencingnya ke tanah didepannya sampai air didalam nya keluar mengucur seperti air mancur.


Tapi dikesepian itu, telinganya mendengar sesuatu dari dalam bangunan rumah mbak Adel. Gemericik air yang sedang diguyurkan, suara itu yang membuat mang Asep penasaran. Setelah selesai dengan kencingnya, ia kembali memasukkan penisnya ke dalam celananya dan menutupnya.


"Kaya ada suara air, ini kamar mandi rumah mbak Adel bukan ya? Lahhh kok ada bangku panjang disini, siapa yang duduk duduk disini ya? Apa mbak Adel, kalau lagi mumet sendirian duduk disini sambil liatin kebun? Ahhh sebodo teuinglah, gak peduli juga."


"Tapi bisa buat liat kedalem ini, ada gunanya juga ternyata. Naik ahh!"


Mang Asep menaiki bangku itu dengan hati hati, takut takut ia terjatuh. Kepalanya berada tepat disela sela bolongan dinding bangunan itu.


"Ya Tuhan, itu mbak Adel kan? Mbak Adel lagi mandi!

Ohh baru bangun rupanya, tadi berarti mbak Adel masih tidur bukan pergi. Ya ya ya. Gila tubuhmu mbak, putih gitu bersih lagi gak ada cacatnya. Udah kaya model aja mbak badanmu, tinggi langsing perutnya itu loh rata kaya gak ada lemaknya. Owwhhh memekmu mbak, bagus banget gak ada bulunya. Tembem mbak bersih gitu mbak, pasti harum enak buat dijilat mbak. Jadi kepengen aku mbak."


"Ya mbak, sabunin semuanya mbak. Susu mbak, aahhhh ternyata bener mbak dugaan ku emang gede susunya mbak. Kemaren untung udah bisa megang aku mbak meski ketutup baju. Tapi sekarang aku udah bisa liat langsung mbak. Beruntung banget aku mbak, untung tadi nunggu dulu gak lanjut keliling kalau lanjut gak bisa liat tubuh indah dan seksi punyamu mbak."


"Ahhh iya mbak sabunin terus memekmu mbak. Memek tembem mbak elus elus mbak, ayo aku liatin ini mbak. Duhhh jadi pengen coli nih, tapi nanti aja lah aku coli didalem kamar mandi sana. Sambil bayangin tubuh telanjang kamu mbak, uhhhh."


"Ehhh gerobak sayurnya, lupa!"


Mang Asep turun dari bangku tempat ia mengintip, lalu berjalan menuju ke depan rumah nya mbak Adel tempat gerobak sayurnya ia tinggalkan. Dari kejauhan ia melihat ada seorang ibu yang berdiri memilih milih barang dagangannya.


"Tuhkan ada orang beli."


"Mang Asep dari mana sih, kok jualannya malah ditinggal sendiri?"


"Abis kencing bu, kebelet tadi."


"Ohhh. Aku beli ini ya mang, tempe tahu sama bakso terus cabai juga!"


"Iya bu, itu aja?"


"Iya mang."


"Jadi dua puluh lima ribu bu."


"Ini mang uang nya, pamit ya makasih."


"Iya bu, sama sama."


Ibu itu pergi setelah selesai berbelanja pada mang Asep, meninggalkan ia sendirian lagi kali ini.


"Mbak Adel bakal belanja daganganku gak ya?

Harus beli sih ini, kalau gak beli aku ketok aja pintunya biar mbak Adel keluar. Aku kan pengen liat dia pakai baju apa sekarang, setelah tadi liat dia telanjang. Ahaha."


"Saaayuuuuuuuuurrrrr,,, sayurrrrrnya sayurrrrrr....

Ibu ibu sayurrrrrrrrr...."



=¥=¥=


Aku telah berpakaian kembali, kali ini daster merah marun yang ku pakai lengan panjang bermotif bunga. Dipadukan dengan hijab instan berwarna hitam dan sepasang dalaman berwarna hitam juga tentunya. Aku membiarkan wajahku tanpa riasan, biarlah aku tak akan kemana mana mungkin hari ini. Atau aku akan mengexplore lagi tubuhku, entahlah gimana nanti saja biar semesta yang mengatur jadwalnya.


"Saaayuuuuuuuuurrrrr,,, sayurrrrrnya sayurrrrrr....

Ibu ibu sayurrrrrrrrr...."


"Mang Asep? Dia datang lagi rupanya, ada yang harus aku beli nggak yah? Sayur? Tumis kangkung enak kali yah sama tempe goreng! Beli itu aja deh."


Aku membuka pintu rumahku, memakai sendal lalu menghampiri gerobak sayur mang Asep.


"Mang beli..."


"Ehhh mbak Adel, baru selesai mandi ya?"


"Iya mang, kok mang Asep tahu kalau aku baru selesai mandi?"


"Tahu dong mbak, kan tadi li......... Ehhh kan kelihatan dari badan mbak yang wangi sabun sama seger gitu."


"Ohhh kirain tadi li... itu lihat aku mang."


"Yo nggak toh mbak, nggak lah... Masaaaa lihat sih mbak, gak mungkin!"


Kegugupannya menyiratkan sesuatu, hemmm ada apa ya?


"Mbak mau beli apa mbak? Mau masak lagi kah?"


"Iya mang, tiba tiba pengen masak tumis kangkung sama tempe goreng. Enak yah kayanya?"


"Ahhh kebetulan mbak kangkung sama tempe tersedia, seger seger mbak kaya badan mbak yang seksi itu gak ada cacatnya."


"Emangnya mang Asep tahu kalau badan aku gak ada cacatnya? Kan belum pernah lihat."


"Ya sudah pernah lah mbak, tadi kan saya li...... (Alaaaahhh, keceplosan lagi Sep) Euhhhh ya ngebayangin gitu mbak kan kelihatan tuh bentuknya, hehe."


"Li.. li.. li.. terus dari tadi, li.. apa sih mang?"


"Ngg ngnggga kok mbak, gak ada apa apa. Li.. lidah suka keserimpet kalau ngomong mbak.. ya itu hhe."


Makin aneh sikapnya mang Asep ini, ada sesuatu kayanya!


"Ohhh itu, yaudah aku beli kangkung sama tempenya ya mang!"


"Iya mbak, cuma itu doang mbak? Ayam, ikan atuh mbak sekalian! Bumbu bumbunya juga!"


"Nggak dulu deh mang kalau ikan sama ayam, kalau bumbu boleh deh mang yang buat tumis kangkung yah mang!"


"Oke mbak, bawang putih, bawang merah, sama cabe rawit. Udah mbak ini!"


"Jadi berapa semuanya mang?"


"Emmmmphhh, be be bentar mbak..."


"Kok jadi liatin dada aku lagi sih mang, lagi ngitung juga!"


"Hhe iya mbak, gak ada yang nonjol lagi kaya kemaren mbak. Gak keliatan sekarang..."


"Iya lah mang, sekarang kan aku pake BH."


"Tapi emang nonjol kok mbak, warna pink bagus banget sekel..."


"Kok tahu mang?"


"Tadikan saya li..... Ehhh nggak mbak nggak..."

(Alaaahhh sia keceplosan lagi, dongo kamu Sep)


"Lidahnya keserimpet lagi mang?"


"Nah iiy iya itu mbak, hhe."


Heemmm makin mencurigakan rasanya!


"Ada diskon lagi gak mang?"


"Diskon kan untuk pembelian pertama aja mbak!"


"Kalau gratis mang?"


"Kalau mau gratis ya paling kaya kemaren mbak, hhe."


"Boleh deh mang, nih!"


Aku membusungkan dadaku ke arahnya.


"Yang lain dong mbak, susu mbak kan udah kemaren."


"Pantat aku mang?"


"Iya mbak, sekarang giliran pantatnya mbak."

"Tapi, mbak pake celana dalam yah?"


"Iya mang pake."


"Dibuka ya mbak!"


"Loh kok dibuka mang, kan sama aja. Pegang nya juga dari luar daster aku kan."


"Beda mbak nanti rasanya!"

"Kalau mbak tetep pake, jadi cuma lima puluh persen doang."


"Kok gitu mang?"


"Mau nggak mbak?"


"Yaudah aku buka, tapi liatin sekitar dulu!"


"Aman kok mbak, sepi banget ini gak akan ada yang lewat kayanya."


Aku menuruti permintaan mang Asep ini, aku terlebih dahulu menggeser posisi badanku. Kini aku berdampingan dengan badan mang Asep merapat ke pagar. Segera tanganku berusaha menurunkan celana dalam ku secara perlahan dan tanpa harus terlihat isi dalamnya oleh pandangan mata mang Asep. Setelah berhasil membukanya, aku pegang celana dalamku.


"Ayo mang, keburu ada yang datang!"


"Ehhh bentar mbak, saya boleh barter celana dalam mbak nggak sama dagangan saya?"


"Heemmm boleh pak, nih!"


Aku memberikan celana dalamku kepada mang Asep. Dengan cepat ia mengambilnya dari tanganku dan langsung menghirup didepan hidungnya.


"Hmmmmppphhh.. harum mbak!"


"Ihh jorok tau ngga mang, udah udah cepet sakuin ntar keliatan sama orang lain lagi!"


"Iya mbak iya."


Mang Asep pun segera memasukan celana dalamku ke dalam saku celananya.


"Ayo mang cepetan!"


"Iya mbak iya, bawel banget mbak Adel ini."


"Biar ngga ketahuan kan mang."


Mang Asep mulai memegang pantatku, posisiku sekarang membelakanginya. Perlahan demi perlahan tangannya mengusap ngusap bongkahan pantatku, ia memutar mutar tangannya mengelus keseluruhan pantatku. Aku mulai merasakan jika ia mulai meremas remas pantatku, semakin lama semakin bertambah kencang kurasa.


Aku harus mengakhiri ini!


"Mang, udah mang.. mang Asep udah!"


"Bentar mbak dikit lagi yah."


Mang Asep terus saja meremas pantatku, sampai sesuatu ku rasakan. Tangannya mendorong punggung ku ke bawah, sampai posisi badanku kini menjadi menungging. Dalam posisi ini pantatku semakin terlihat mencuat dan memudahkannya untuk meremas dan membelainya secara keseluruhan. Sampai akhirnya, tangannya mencoba menekan vaginaku, mengelus elusnya sejenak sampai aku ikut terbawa suasana dan mendesah.


"Aaahhhh..."


Aku menikmati perbuatannya dalam waktu beberapa detik. Sampai aku menyadari hal itu. Aku langsung berdiri sedikit menjauh dari tubuhnya, kubalikan badanku menghadapnya.


"Kok gitu sih mang, kok sampai megang itu aku? Kan perjanjiannya pantat doang mang!"


"Hhe maaf mbak gak tahan saya."


"Dassarrrr..."


"Mbak saya ikut ke kamar mandi mbak ya, udah kebelet ini pengen pipis. Ya mbak!"


Aku hanya menganggukkan kepalaku tanda setuju kalau aku mempersilahkannya. Ia dengan cepat masuk ke dalam kamar mandiku dan menutup pintunya, bahkan suara pintu tertutup pun sampai terdengar keluar olehku saking terburu burunya.


Aku kemudian masuk kedalam rumahku sambil membawa kresek belanjaanku dan tak lupa menutup pintu. Aku bawa kresek itu dan menyimpannya di dapur. Sekilas aku mendengar mang Asep memanggil manggil namaku. Untuk apa? Kudengar juga desahan setelahnya.


Apa mang Asep pipis enak ya? Masa pipis biasa sambil mendesah kan gak mungkin juga. Atas rasa penasaranku, aku mencoba mengintipnya dari lubang kunci dipintu. Lubangnya cukup untuk mengamati kegiatan mang Asep didalam kamar mandi. Dan benar saja saat aku pertama melihatnya ia sudah tak memakai pakaiannya. Mang Asep sudah telanjang bulat sambil tangannya sedang mengocok batang penisnya.


Betul sekali dugaanku, setelah ia meremas pantatku dan memegang vaginaku mang Asep tak tahan ingin langsung coli rupanya. Sialan emang! Lihat aja nanti mang... Hemmmm!


Mang Asep mendekat ke arah pintu! Mau apa dia? Apa sudah selesai atau dia ingin membuka pintunya? Aku segera beranjak untuk sembunyi dibalik tembok dapur. Tapi tak ada suara pintu terbuka, ku tunggu beberapa detik untuk memastikan. Ya benar, malah sekarang terdengar suaranya menyebut nyebut lagi namaku.


Aku mencoba untuk mengintipnya kembali, sebelah mataku ku posisikan tepat dilubang kuncinya lagi. Kini kulihat tangan kirinya memegang celana dalam hitamku, menempelkannya tepat didepan hidungnya sambil sesekali ku lihat celana dalamku dihirupnya seperti diluar tadi. Ohhh tadi dia ngambil celana dalamku disaku celana rupanya. Sementara tangan kanannya terus saja asik mengocok batang penisnya. Ukurannya persis seperti punya Tono jika aku bandingkan. Lumayan lah, mungkin ukuran standar orang orang dikampung ini ya segitu.


Akan kugoda kamu mang Asep, tunggu saja.

Aku terus melihatnya, terus mendengarkan desahannya juga ocehannya. Sampai aku dengar kalau ia tadi sudah melihat tubuh telanjangku. Haaahhh, tadi? Kapan? Dimana?


Samar samar aku mendengar ia mengoceh seperti ini.


"Duh mbak Adel akhirnya kesampaian juga aku coli di kamar mandimu ini mbak sambil ngebayangin tubuh indahmu mbak, tubuh seksimu, tubuh telanjangmu itu yang aku lihat tadi waktu kamu mandi mbak. Uhhhh bagus banget mbak susu sama memekmu mbak, apalagi pas disabunin mbak uuhhhhhh bikin aku sange mbak. Pengen megang susu sama memekmu langsung mbak, tanganku sudah gak tahan mbak... Aahhhh..."


Haaahhhhh mang Asep sudah lihat tubuh telanjangku. Jadi, tadi kata li..li..li.. itu artinya lihat! Mang Asep ngintipin aku mandi rupanya, kurang ajar memang seenaknya aja ngintipin aku mandi. Memang bener apa kata Bu Ratmi, mang Asep, Dani dan Tono itu sebelas duabelas mereka. Kelakuannya sama aja!


Awas ya mang akan aku balas, aku gak akan biarin kontol mang yang jelek itu, yang bengkok ke kanan, yang jahitan sunatnya gak rapih itu bisa seenaknya ngecrot di dalam kamar mandiku. Awas aja!


Ku amati pergerakan tangannya yang sedang mengocok, jika semakin cepat berarti sudah mau keluar tentunya. Dan aku harus mencegah itu terjadi. Sampai akhirnya waktunya telah tiba.


"Mbak Adel aku gak tahan mbak, kontolku ingin muncrat di atas susu montokmu yang kenyel itu mbak."

"Ahhhh.."

"Ahhhh.."

"Aaahhhhh gak kuat mbak mau muncrat..."

"Aakkuuu kkkeellllluuuu......."


Kkklekkkk... Aku membuka pintu kamar mandi dan langsung memasukinya. Berdiri tepat dihadapan mang Asep.


"Ohhhh jadi mang Asep tadi ngintipin aku mandi ya, enak banget mang langsung coli gitu setelah tangannya tadi megang megang pantat sama memek aku. Mang Asep kok tega sih coli sambil ngebayangin tubuh aku mang?"


"Eehhh mbak, kok masuk mbak, saa sa saya gak sengaja taa ddi ngntippiinn mbak maan manndi mbbaakkk.. maaf mbakk maaff saya saalllahh.."


Suaranya tergagap mendengar penjelasanku, ia gugup rupanya. Ku lihat penisnya sudah mulai menciut tak sebesar tadi, dan ku yakin isi cairan didalamnya belum sempat keluar. Yeeee aku berhasil.


"Enak aja maaf maaf, mang Asep kurang ajar ya sama aku, kok tega sih mang? emang aku salah apa sama mang Asep. Apa karna aku minta dagangan mang Asep secara gratis terus?"


"Eehhh mbak, nggak kok mbak mbak Adel gak salah yang itu saya udah berbuat kaya gini ke mbak Adel. Maafin saya mbak maaf,, saya bener bener minta maaf mbak."


"Gak perlu minta maaf!"


Nadaku semakin tinggi mengucapkan itu.


"Katanya mau ngecrotin susu aku mang ayo! Ini udah ada didepan mata mang Asep, kontol mang belum keluarkan? Ayo mang!"


"I i iitu cuma bercanda kok mbak, saya gak bermaksud begitu sama mbak Adel."


Kurasakan dari gestur tubuhnya yang kini seakan ketakutan mendengar suaraku. Memang nada bicaraku, aku sedikit tinggikan untuk mengintimidasi saja dan ini hanya bagian dari skenarioku. Tidak benar benar marah, aku padanya. Maaf ya mang Asep, hihi.


Aku melangkahkan kakiku sangat pelan, mendekat ke arahnya sambil membuka hijabku, melemparnya ke keranjang pakaian kotor. Lalu disusul dengan dasterku aku loloskan dari kepalaku sampai terlepas seluruhnya. Aku melemparkannya juga ke keranjang.

Kini tinggal BH hitamku saja yang menempel pada tubuhku. Aku tak ikut melepaskannya, hanya menariknya kebawah saja sampai kedua payudaraku menyembul keluar.


Aku berjalan mendekati mang Asep, semakin mendekat sampai ia terlihat mundur merapat ke dinding.


"Ini kan yang mang Asep mau?"


Nada bicaraku tetap sama seperti sebelumnya, tetap mengintimidasi. Tanganku sambil meremas remas payudaraku. Aku terus melangkahkan kakiku semakin dekat dengan tubuhnya, sangat dekat sampai payudaraku menyentuh dadanya dan vaginaku kutekan menyentuh penisnya.


Sayang, (ia) tak bangun kembali, (ia) tampak layu saat ini, padahal pasangannya datang untuk menghampiri.


"Ayo mang, tadi katanya mau remes susu aku, tadi katanya tangan mang Asep mau megang memek aku juga. Ayo mang semuanya sudah ada di depan mata mang Asep. Kaya gini loh mang!"


Tanganku meremas payudaraku tepat didekatnya.


"Eehhh mbak kok, mbak gini mbak... Saya cuma bercanda tadi mbak...sumpah mbak! Ampun mbak... Jangan laporkan saya mbak.. tolong!"


"Kenapa mang, kok sekarang malah takut? Tadi katanya mau ngecrot di susu aku yang kenyel ini mang. Kok sekarang gak berani mang? Kok mang Asep malah minta ampun sama aku, kenapa mang?"


"Uuudah mbakkk udahhh, saya minta maaf mbak... Ampun mbak, saya salah mbak udah kurang ajar sama mbak... Ampun mbak..."


Mang Asep semakin ketakutan dengan semua ocehanku. Tapi aku menikmati ini, ini pengalaman baru menurutku ahahaha.


"Kok minta ampun sih mang, ini loh susu aku udah ada didepan mata mang Asep. Tinggal remes aja mang! Tapi kalau mang Asep berani!"


Muka jutekku tiba tiba ku keluarkan membuat mang Asep semakin ketakutan. Aku kemudian jongkok di hadapannya, membusungkan dadaku dan menekannya ke atas dengan kedua tanganku. Semakin mencuat susuku ini.


"Ayo mang Asep, katanya tadi mau muncrat di atas susuku! Ini mang udah aku kasih loh.."


"Mbak udah mbak, maaf saya emang salah mbak. Saya ngaku salah mbak,, ampun mbak tolong..."


Mang Asep mencoba melangkah. Tapi kedua tanganku menahan pahanya, ia tetap pada posisinya semula.


"Mau kemana mang? Mang Asep kan belum keluar, ayo kocok lagi kontolnya mang. Lihat tuh jadi layu gitu aku gak tega liatnya mang!"


"Udah mbak biarin saya keluar!"


"Gak boleh! Mang Asep harus muncrat dulu di susu aku."


"Nggak mbak, udah cukup mbak!"


"Atau mang Asep malah pengen muncrat di memek aku mang?"


Dengan nada pelan, aku semakin menggodanya.

Aku kemudian merubah posisiku, kini aku duduk dilantai kamar mandi dengan mengangkangkan kedua kakiku. Tangan kananku hinggap di atas memekku, lalu mengelus elusnya. Aku terus menggoda mang Asep.


"Ayo mang kocok lagi kontolnya, memek aku udah siap nih buat di muncratin sperma kontolnya mang Asep. Ayo mang cepet mang!"


Tidak ada pergerakan dari mang Asep, tubuhnya kaku, kakinya gemetar tangannya juga sama. Apa aku berlebihan ya? Mungkin juga, ya sudah aku beri dia kejutan saja setelah ini.


Namun baru aku hendak berdiri untuk mempersilahkan tangannya menyentuh tubuhku, dan memberi tahunya kalau aku tadi hanya bercanda. Seorang ibu berteriak dari luar rumahku, beliau memanggil nama mang Asep. Mungkin ingin membeli dagangan mang Asep.


"Mang Asep..... Mang Asep....dimana sih mang?

Ini gerobaknya loh ditinggal disini gitu aja!

Mang Asep......maaaannnggggggg....."


Kami berdua terkejut mendengarnya.


"Mbak ada yang manggil saya mbak, saya keluar dulu!"


Dengan terburu buru mang Asep menjauh dari tubuhku, dari gelagatnya mang Asep nampak senang kalau perlakukanku tadi telah berakhir.

Aku loh cuma bercanda mang Asep!


"Pake dulu bajunya mang!"


"Iya mbak."


Aku dan mang Asep memakai pakaian kami masing masing.


"Mbak Adel..... Assalamualaikum..."

Tok... Tokk .. tokkk...

"Mbak Adel ada dirumah tidak?"


"Itu Bu Ratmi mbak!"


"Iya mang, suara Bu Ratmi."


"Sautin dulu mbak biar gak curiga!"


"Iya mang."

"Iya bu waalaikumsalam, sebentar!"


Aku selesai berpakaian lebih dulu ketimbang mang Asep. Aku berjalan ke depan menemui Bu Ratmi.


Kleekkk, ku buka pintu.


"Ehhh Bu Ratmi."


"Iya mbak Adel, mbak Adel lihat mang Asep tidak?

Saya mau beli sayur, tapi cuma ada gerobaknya saja. Mang Asepnya tidak ada mbak. Barangkali mbak lihat?"


"Ada kok bu, mang Asep lagi di kamar mandi. Mules katanya kebelet buang air besar."


"Ohhh pantesan. Tak kira kemana, dipanggil panggil tidak ada orangnya."


Mang Asep keluar kamar mandi, lalu berjalan mendekati kami berdua.


"Hhe maaf Bu Ratmi, tadi numpang buang air besar dulu. Mules bu!"


"Iya mang, aku mau beli ayam sama sosin mang!"


"Boleh bu, ayo!"


Mereka berdua lantas keluar dari rumahku menuju gerobak sayur mang Asep. Aku masih berdiri didepan pintu, sambil otakku berpikir sesuatu. Seperti ada yang kurang, tapi apa ya? Aku terus mengingatnya, hheemmmmm.. apa ya?

Aku menurunkan tanganku ke pinggang dan mengingat sesuatu. Ahhhh.. celana dalam, ya barterannya belum aku ambil.


Aku kemudian menyusul mereka.


"Mang."


"Iya mbak."


"Hadiah untuk aku tadi belum aku ambil mang lupa, hhe."


"Hadiah? Hadiah apa ya mbak?"


"Itu loh mang barter CD..."


Aku berbisik di telinga mang Asep, ku lihat wajah Bu Ratmi seperti kebingungan menyaksikan aku dan mang Asep.


"Ohhh itu mbak, boleh deh mbak. Mbak mau apa?"


"Heemmmm, ikan nila itu boleh gak mang?"


"Boleh kok mbak, itu aja?"


"Iya mang, itu aja kok. Cukup."


"Nih mbak!"


Mang Asep membungkuskan ikan nila yang aku tunjuk dan memberikannya kepadaku.


"Makasih ya mang, buat ikan nila gratisnya!"


"Loh gratis mbak?"


"Iya Bu Ratmi gratis, hadiah dari mang Asep yang baik hati di hari ini. Katanya semua pelanggannya dapat hadiah gratis dari mang Asep bu khusus hari ini. Ayo bu silahkan dipilih!"


"Yeeee beneran ya mang, asikkk dapet dagangan gratis."


"Loh loh loh,, kok gitu mbak?"


Aku hanya tersenyum kepadanya.


"Nggg ngg ngga kok Ratmi gak geratis bu..."


"Yeee mang kok mbak Adel dapet gratis aku nggak, jangan pilih kasih gitu dong sama pelanggan mang. Aku loh pelanggan setia mang Asep."


"Ya ya gak gitu, mbak Adel kan tadi udah...."


"Makasih loh mang, aku mau ayam gratis ya. Sama sosin ini mang!"


"Ehhh.. ehhh.. ngga bu ngga...."


"Aku pamit ya Bu Ratmi, mang Asep.. makasih ya mang.. assalamualaikum."


"Iya mbak, waalaikumsalam.."


"Iiyya mbak, waalaikumsalam..."


Ku lihat mukanya, kecut sekali seperti jeruk nipis yang belum matang. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua. Apa Bu Ratmi mendapatkan belanjaannya secara gratis atau mang Asep menolaknya dan memaksa Bu Ratmi untuk tetap membayar.


Entahlah aku tak sempat mendengarkan kelanjutan obrolan mereka. Kalau pun Bu Ratmi dapet gratis juga kan mang Asep ini yang rugi. Aku sih masa bodoh, hihi. Biarlah, nanti aku beri hadiah juga buat mang Asep. Sabar ya mang nanti ada surprise dari aku. Tunggu aja mang Asep pasti dapet.


Aku berjalan menuju pintu, memasuki rumahku lalu menutupnya kembali. Aku berjalan ke dapur untuk menyimpan kresek ikan nila tadi. Lalu kembali kedepan dan duduk di kursi sofa.


"Haaahhhhhh... Aku berlebihan gak yah tadi ke mang Asep? Mang Asep kaya ketakutan gitu sampai penisnya layu dan gak bangun lagi. Padahal udah dikasih liat payudara sama vaginaku, tapi tetep aja."


"Aku belum sempet ngasih tau lagi kalau aku cuma bercanda. Belum sempet minta maaf juga, Bu Ratmi sih keburu datang. Ganggu aja ibu mah!"


"Heeemmm, semoga aja mang Asep tau kalau aku tadi bercanda. Aku gak serius kok tadi mang, becanda doang. Tapi tadi mang Asep minta ampun terus, apa setakut itu ya dia? Kalau dia nganggap tadi aku beneran gimana ya? Dia bakal ngapain aku ya, balas dendam kah. Ihhh jadi serem!"


"Hemm.. tau ah bingung. Besok juga kan dia kesini lagi, tinggal aku jelasin deh beres kan. Aman Del tenang aja!"


Bersambung


:::::::::::::::::::::


#13


VIDEO CALL DAN KETERKEJUTAN


"Masak dulu deh, laperrrr...."


Ku langkahkan kakiku menuju dapur. Tumis kangkung dan tempe goreng adalah menu makanan yang akan ku buat. Ku petik seluruh daunnya dan ku potong kecil kecil batang batang kangkung itu. Ku cuci lalu ku tiriskan.

Bawang merah, bawang putih serta cabai rawit ku potong seluruhnya. Tempe juga, ia mendapatkan perlakuan yang sama dariku. Aku memotongnya tipis, hanya beberapa potongan saja yang ku anggap cukup untuk aku sarapan kali ini. Tak lupa ku rendam sejenak di mangkok yang berisi air garam.


Kata ibuku, supaya tempenya lebih gurih setelah matang. Aku memasak seluruhnya, mulai dari menggoreng tempe sampai menumis kangkung.


"Huuhhh... matang juga akhirnya!"


Aku mulai melahapnya, dalam sekejap piring makanku sudah terlihat kosong saja. Enak juga ternyata masakanku, aku punya bakat memasak rupanya. Padahal baru sebentar aku memakannya sudah habis saja, rasanya enak atau karna aku memang sudah lapar banget ya? Entahlah.....


Selesai makan, aku termenung sejenak di atas kursi yang sedang aku duduki. Meratapi kisahku yang sedang aku jalani. Sebuah kisah terlarang yang seharusnya tak pernah terjadi, tapi kini malah aku nikmati. Bukan tujuanku menjadi seperti ini, bukan pula maksudku menjalani ini. Semesta mengalir begitu saja, mendorongku agar masuk kedalamnya.


Keberanian akan tantangan perlahan muncul. Mencuat semakin tinggi, memperkokoh ruang pondasi. Tak ada rasa takut yang dulu menyelimuti, sekarang runtuh bersemayam menjauh dari diri.


Malu hanyalah belenggu yang mengganggu. Aku tak butuh itu.

Kepercayaan akan kebersamaan adalah keutamaan. Janji dari hati seakan jadi ukiran yang dibutuhkan. Sementara sesal yang dulu pernah hinggap, hanyalah pelengkap yang telah usang. Tak berguna, tak ada gunanya. Kini tinggal ku nikmati, hati yang terisi kebinalan diri.


"Udah lama aku gak lihat media sosialku, bagaimana ya sekarang? Apa ada update yang benar benar seru? Atau hanya itu itu saja yang diberitakan? Aku juga belum mengabari keluargaku, apa mereka sehat disana?"


Aku rindu adik kecilku Aldi, Aldi Mahesa Putra. Meski sudah beranjak remaja, tapi aku masih menganggapnya seperti adik kecilku. Adik kecil yang dulu selalu bermain bersamaku, tertawa riang, bercanda bahkan tangis yang dilalui bersama.


Tak ada jarak diantara kami, selalu berdua selalu bersama. Sampai kejadian terlarangpun terjadi, meski hanya satu kali. Tapi aku yakin ia menginginkannya lagi.


"Aku chat adikku deh!"


Aku membuka aplikasi pesan, WhatsApp kalian pasti tahu dan menggunakan itu. Ku mulai mengetiknya.


"Assalamualaikum dek, apa kabar? Baikkan dek?"


Kirim....


Tinggal ku tunggu balasan darinya, aku tak tahu kapan ia akan membalasnya yang bisa kulakukan sekarang ya hanyalah menunggu.


Satu menit dua menit tiga menit sepuluh menit bahkan tiga pulu menit aku menunggunya, namun belum ada balasan dari adikku. Sampai aku mendengar suara adzan berkumandang, suara yang dulu begitu merdu di telingaku. Suara yang dulu jika aku mendengarnya membuatku terdiam, mencoba memperhatikannya untuk membalas setiap seruannya.


Aku yang dulu antusias mana kala suara itu selesai, itu artinya aku harus melaksanakan kewajibanku. Kewajibanku menghadapnya, Sang Pencipta. Tapi, kini aku mengabaikannya, aku melalaikannya, aku mencoba tak mengingatnya. Kini semua itu bukan kewajiban, bukan pula keharusan aku mulai melupakannya.


Sejenak tinggal disini aku jadi jarang solat ya, padahal aku tahu itu kewajibanku. Tapi apa boleh menyandingkannya dengan kelakuan binalku? Aku tetap melaksanakan kewajibanku, tapi aku juga terus melakukan kebinalanku. Entahlah dosa itu antara aku dan Penciptaku, hanya Beliau yang tahu!


Aku bergegas menuju kamar mandiku, ku ambil air wudhu kemudian. Terlintas sebuah pertanyaan didalam pikiran, apa aku harus mandi dulu? Tapi tadi aku sudah mandi! Apa menggoda seorang tukang sayur membuat diriku kotor? Nggak kan harusnya.


Ahhh... Gatau lah bingung juga mikirin begituan.


Aku menuju kamarku setelah berwudhu. Membuka hijab instanku dan dasterku. Membuka lemari dan mengambil celana dalamku. Aku mengamatinya, jumlahnya semakin berkurang. Beberapa telah ku berikan pada mereka yang telah berhubungan denganku, aku harus membelinya dikemudian hari.


Aku memakainya, mengambil mukena berwarna coklat tua dan memakainya juga.


Aku menggelar sajadah dipojokan kamarku. Mulailah aku melaksanakan kewajibanku dan diakhiri dengan doa. Aku telah selesai menunaikannya. Suara dering notifikasi terdengar dari ponselku, aku langsung mengambilnya dan membacanya. Adikku membalas chatku.


"Waalaikumsalam kak, aku baik kok, baik baik aja. Kak Adel sendiri gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah kalau baik baik aja dek. Kakak juga baik kok disini."


Aku membalas chatnya. Tak lama adikku membalasnya lagi.


"Aku kangen kakak tahu ngga! Sekarang dirumah aku cuma sendirian kak kalau pulang sekolah, gak ada kakak. Sepi! Ibu sama ayah kan pulangnya sore banget kadang malem juga. Aku kesepian kak!"


"Uuududududuhhhh.... Kasian adeknya kakak kesepian, sendirian dirumah. Kakak juga kangen tahu sama kamu, bukan kamu doang dek."


Aku membalasnya lagi, dan tak lama adikku membalasnya juga.


"Kak video call yuk, aku pengen liat wajah kakak!"


"Boleh dek."


Tak lama panggilan video pun muncul dilayar ponselku. Aku menerimanya, dan kini kami sedang dalam panggilan video.


"Hallo kak!"


"Hallo dek. Kamu lagi dirumah sekarang?"


"Iya kak, dirumah. Udah pulang sekolah aku, biasa kak pulang cepet gurunya rapat tadi persiapan ujian kelulusan."


"Ohhh gitu dek, ayah sama ibu gimana kabarnya dek? Mereka sehat kan?"


"Sehat kok kak mereka, cuma ya gitu kerjaannya makin sibuk aja gak ada waktu dirumah."


"Sabar ya dek, mereka kan kerja buat kita juga. Buat biayain kita."


"Iya kak, ehh kak Adel betah disana kak?"


"Betah dong dek, disini sepi buat kakak nyaman. Gak berisik kaya disana dek."


"Hemm gitu ya kak. Muka kakak makin cantik deh aku lihat."


"Iiihhhh, adiknya kakak kok udah bisa gombal sih sekarang?"


"Bukan gombal kak, itu kenyataan!"


"Iya kah, bukannya dari dulu muka kakak emang cantik?"


"Dan sekarang makin cantik kak, ehehehe."


"Duhduh... Iya deh iya."


"Kak tahu nggak, aku sering keinget kejadian waktu itu loh. Terus sering ngebayangin lagi hadiah yang kak Adel kasih buat aku! Aku pikir itu awal perjalanan kita loh kak, aku pikir kedepannya bisa dapet lebih dari itu. Ehh ternyata cuma sekali itu doang, terus kakak pergi deh ninggalin aku sendirian dirumah ini."


"Yaaahhhh jangan sedih dong dek. Kakak minta maaf deh, dulu kakak mikirnya kan pengen berubah dek. Jadi kakak pengen menyendiri dulu jauh dari suasana yang bikin kakak serba salah itu. Kakak juga malu sebenernya sama kamu dek waktu ketahuan itu. Kakak udah coba berusaha lupain. Ehh kamu malah keinget terus ya dek? Hadiah itu kan.... Ya kakak juga gak nyangka dek bakal ngasih itu ke adek. Cuma ya udah gak ada pilihan lain, ternyata kamu mikirnya lebih dari itu ya dek."


"Iya lah kak, dikasih yang enak sekali kan pengennya enak terus gitu kak. Ehh ternyata enggak! Tau ngga kak, aku jadi sering coli setelahnya. Gak tahan kak sama sepongan kakak."


"Ihhh dek bahasanya! Kamu ya jadi gitu ditinggal kakak bentaran doang padahal, udah berubah aja. Jangan keseringan coli dek gak baik tahu!"


"Gak tahan aku kak, lagian aku dirumah juga sendirian kalau habis pulang sekolah. Kan bete, ya coli deh kak hhe."


"Ihhh jadi mesum gitu kamu dek!"


"Ya habisnya gara gara kakak sih, aku jadi sering sange kalau lagi ngebayangin mulut kakak nyepongin kontol aku, lidah kakak jilat jilatin kontol aku.... Aaarrghhhhh... Sekarang juga aku jadi pengen coli nih kak!"


"Ya ampun adek, bener bener ya ngomongnya jadi vulgar gitu. Kamu kok jadi mesum gitu sih dek, siapa yang ngajarin? Kamu sekolah di sekolah islami kok malah jadi kaya gitu dek?"


"Hhe jangan bawa bawa sekolah deh kak, kalau soal nafsu mah bakalan beda kak. Gak ada sangkut pautnya kak."


"Iya sih dek kakak juga ngerasa gitu kok sama kaya adek. Ehhhh... Nggak kok dek ngga!"


"Sama kaya aku kak? Apanya yang sama kak?"


"Ngga kok dek ngga,, hhe kakak salah ngomong!"


"Kak Adel aneh deh...."


"Hehe, kamu udah makan dek? Belum kan, makan dulu gih!"


"Apaan sih kak, lagi sange gini malah disuruh makan. Aku kan pengennya coli kak."

"Kak bantuin aku ya!"


"Bantuin apa dek?"


"Bantuin aku coli kak, hhe. Mau yah kak?"


"Astaghfirullah adek! Kamu ya... Liat dek kakak kan lagi pake mukena, adek tahu kan kakak abis ngapain? Masa disuruh bantuin coli sih dek! Tadi kan kakak abis nyari pahala dek, masa langsung dapet dosa. Gimana sih kamu dek?"


"Yahhh kak.. kak Adel mah tega sekarang sama aku. Udah gak sayang lagi sama adeknya sendiri."


"Kok gitu sih dek mikirnya? Kakak tetep sayang kok sama kamu."


"Ya kakak kalau sayang sama aku, ya bantuin aku dong kak. Lupain tentang dosa kak, anggap aja itu gak ada!"


"Gila ya kamu dek, sampe sebegitunya jalan pikiran kamu. Sange boleh dek, tapi jangan sampe bodoh dong!"


"Hehe kakak mah, aku kan gak bodoh kak. Aku kan gak memperkosa anak orang kak, aku kan gak ngambil perawan anak orang juga. Gak ada yang dirugikan, aku cuma pengen coli aja kak! Atau kakak ngerasa dirugikan sama adeknya sendiri?"


"Eemmpphh... Iya juga ya dek. Kok pinter sih kamu dek?"


"Hehe, kalau lagi sange emang suka pinter kak!"


"Daaasaarrrr... Mana ada kaya gitu."


"Jadi gimana kak, mau yah?"


"Kakak bantuin nya gimana emang?"


"Yeeessss...."


"Jelasin dulu dek, kakak kan belum tentu mau. Udah yas yes aja kamu."


"Kakak tinggal telanjang aja, terus sambil colmek kak. Gitu doang kok kak!"


"Yaudah deh...."


"Nah kan mau.... Hehe."


"Yauda deh... Gak jadi!"


"Ehh ehhh kak kok gitu sih..."


"Habis nya kamu..."


"Iya iya, maaf!"


"Kakak tetep pake mukena aja ya?"


"Boleh kak, senyamannya kakak aja, yang penting aku bisa liat susu sama memeknya kakak."


"Iya deh dek."


Aku dan adekku bersiap untuk adegan terlarang selanjutnya. Tak pernah terpikir olehku sebelumnya jika aku bakal melakukan hal ini lagi dengan adikku sendiri. Ia benar benar berubah saat ini, mungkin ada andil ku juga yang merubahnya. Ya tentu saja karna hadiah yang pernah aku berikan padanya dulu.


Itu awal mula perubahannya, yasudah lah mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur, sudah terjadi juga. Toh adikku juga mesumnya denganku, kakaknya sendiri. Jadi ya nikmati saja tanpa ada yang ditutup tutupi.


"Kakak tiduran aja ya dek!"


"Iya kak, terserah kakak aja."


"Bentar dek kakak lepas daleman kakak dulu."


Aku menaruh ponselku diatas kasur, membuka bra dan celana dalamku. Kini aku hanya memakai mukena, tanpa apapun didalamnya. Aku kemudian berbaring diatas kasurku. Mengambil ponselku kembali dan mengarahkan layarnya didepan wajahku.


"Liat nih kak!"


"Ihhh udah telanjang aja kamu dek."


Adikku memperlihatkan keseluruhan tubuhnya, ia menjauhkan ponselnya agar semuanya terlihat olehku.


"Iya dong kak, biar nambah sange hehe."

"Buka dong kak, kasih lihat!"


"Iya dek iya."


Aku menyingkapkan kain mukenaku, payudaraku kini terlihat oleh mata adikku.


"Nih dek! Buat adek kakak tersayang yang mesum hihi."


"Wwwoooowww bagus banget kak, makin gede bentukannya kak pentilnya juga makin ngacung gitu kak!"


"Iya gitu dek? Sama aja ah kaya dulu."


"Beda kak, makin gede sekarang. Kata temenku kalau susu cewek makin gede karna sering diremes kak. Kakak sering ngeremesin susu kakak sendiri ya?"


"Eehhhhh... Eeuuuhhhh,, i iiya dek sering juga kok. Buat kesehatan aja dek... Takutnya ada sesuatu hhe."


Padahal mah, emang sering diremes dek. Sama cowok, banyak lagi ahaha.


"Liatin memeknya juga dong kak!"


"Nih dek!"


Aku menyingkap lagi mukenaku, kini bagian roknya. Vaginaku kini terlihat juga oleh adikku.


"Uuhhhhhh makin bagus aja kak memek kakak. Nambah tembem loh kak itu! Kata temenku juga kalau memek cewek makin tembem berarti sering dimainin kak. Punya kakak?...."


"Eehhhh.. perasaan kamu aja mungkin dek. Kamu kan udah lama gak liat, jadi pas sekarang liat kaya beda gitu padahal mah sama aja dek."


"Kakak ngga sering mainin kan?"


"Ihhh adek, ya ngga dong dek. Kakak maininnya waktu disana aja, waktu ketahuan kamu doang."


"Beneran kak?"


"Iya dek, buat apa kakak bohong."


"Beda loh kak bentuknya aku lihat."


"Tau ah bete...."


Aku mencoba menutupi kegugupanku atas pertanyaan adikku. Ia mungkin telah melihat perubahan pada organ intimku, dan aku yakin ia akan terus mengarah pada keingintahuannya.


Aku mengarahkan kamera ponselku ke langit langit kamar tak lagi memperlihatkan wajah dan tubuhku.


"Eeehhh ehhh kak, kak Adel jangan marah dong aku cuma bercanda kak tadi."

"Kak, kakak ih... Maaf kak!"


"Wwlleeeeee..."


Aku mengarahkan ponselku pada wajahku lagi, memeletkan lidahku pada pandangan adikku.


"Ahahahahaha...."


"Ihhhh kak Adel mah gitu mainnya..."


"Ehehehe.. lucu tahu nggak dek ekspresi kamu tadi. Kecewa gitu.. ahahaha..."


"Kirain beneran marah kak?"


"Ya ngga dong dek, buat apa kakak marah."

"Kamu masih coli?"


"Masih lah kak."


"Mana coba kakak pengen liat punya kamu?"


"Nih kak!"


Adikku mengubah ke tampilan kamera belakang, memperlihatkan penisnya yang kurasa jadi lebih besar juga dari yang terakhir aku lihat. Apa aku sebut kontol saja ya? Iya deh...


"Wiiihhh dek, lebih besar gak sih dek itu? Kaya beda dari yang dulu..."


"Iya kak, kontolku ada perubahan sekarang."


"Kok bisa dek, kamu apain?"


"Dipijet kak, sama pake minyak lintah biar makin gede."


"Ohhhh emang bisa ya dek pake itu?"


"Bisa lah kak, ini hasilnya kontolku jadi lebih gede kak. Sama sering coli aja sih kak kayanya yang bikin jadi gini, hehe."


"Effort banget ya kamu dek!"


"Iya kak, setelah aku ngerasain enaknya disepong mulut kakak jadi pengen lebih aja buat kontolku. Aku cari cari caranya ternyata banyak yang nyaranin pake minyak lintah aja, dan inilah hasilnya kak!"


"Waahhh hebat kamu dek.."


"Ini kan buat kakak juga, siapa tau kakak tertarik dengan kontolku. Siapa tau memek kakak mau jadi pasangan kontolku hehe."


"Enak aja! Kasih buat istrimu nanti lah dek masa kakak yang jadi targetnya... Bocah semprullll..."


"Ehehehehe.. ya kali aja kak!"


"Nggak yah!!!"


"Kak aku kan dulu gak diboleh nyentuh sama kakak. Kakak sekarang nyentuh diri kakak sendiri dong!" "Grepe grepe gitu gak, remes remes susu kakak sama elus elus memek kakak. Ya kak, please!"


"Aduhhh dek bener bener bocah mesum ya kamu dek sekarang. Kakak gak nyangka kamu berubah secepat ini. Yaudah deh kakak bakal nurutin apa mau kamu."


"Makasih ya kak."


"Iya dek."


Aku langsung saja meremas remas payudaraku dengan tangan kananku. Sementara tanganku yang kiri tetap memegangi ponselku.


"Gini kan dek!"


"Iya kak gitu, kakak seksi banget bikin aku sange." "Terus kak... Iya terus remes kak..."

"Aahhhh..."

"Aaaahhhh.."

"Kontolku enak kak..."


"Nih lihat dek!"


Aku mengarahkan kamera depan ponselku ke memekku, jariku mengelus elusnya.


"Aahhh kak, memek kakak bagus banget kak. Bersih gitu kak pengen megang aku kak. Boleh nggak kak?"


"Boleh dong dek, tapi yakin cuma dipegang doang?"


"Emang boleh diapain lagi kak?"

"Aaahhhh.."


Aku membuka bibir memekku, memperlihatkan lubang nya pada adikku.


"Liat nih dek, memek kakak. Lubang memek kakak masih sempit banget nih dek. Kamu gak pengen gitu masukin kontol kamu ke dalem lubang memek kakak.

Ayo dek masukin kontol besarmu itu dek! Masuk gak yah dek kontol kamu ke memek nya kakak."


"Aaaahhhhh kakkk, kakak binal banget kak. Aku gak nyangka kakak bisa ngomong gitu kak."


"Tapi kamu suka kan dek?"


"Iya suka banget kak, terusin kak..."

"Aaahhh..."


"Ayo dek kocok terus kontolmu dek. Muncratin sperma kamu di memek kakak dek. Memek kakak ini cuma punya kamu dek."


Aku terus menggodanya dengan perkataanku, memancing birahinya agar semakin memuncak.


"Kak, bukan sperma tapi peju kak. Kontol aku pengen banget mejuin memek kakak.."

"Aahhhhh kak Adel..."


"Iya dek cepet pejuin memek kakak dek. Memek kakak pengen dipejuin sama kontol kamu dek. Memek kakak gatel pengen disodok kontol gede kamu dek. Ayo dek terus kocok dek. Bikin memek kakak puas dek..."


"Kak aku makin gak tahan kak, udah pengen keluar kak!"


"Iya dek terus dek, liat nih dek memek kakak udah ikuatan basah juga dek!"

Aku merasakan sedikit cairan memekku merembes keluar. Aku terangsang juga rupanya. Tapi kini aku lebih fokus pada adikku saja, aku ingin ia segera menuntaskan birahinya. Aku terus mengelus elus bibir memekku yang sudah basah.


"Aaahhhh.. iya kak. Itu berarti memek kakak udah siap dicolok kontolku kak. Kontolku udah siap genjotin memek kakak... Aahhhhh ..."

"Kak... Kak Adel bentar lagi kak, bentar lagi keluar kak.. udah gak tahan aku kakkkk...."


"Iya dek, kocok lebih kenceng dek, keluarin semua pejumu dek.. ayo terus dek...."


"Iya kak, aku mau keluar ini kakkkkk...."


Tok.. tokk.. tokkk....

"Assalamualaikum mbak Adel.."


"Ehhhhhh dek, ada tamu dek didepan rumah!"


Ake terperanjat, mendengar seseorang memanggil namaku.


"Denger deh dek!"


"Assalamualaikum mbak Adel..."

Tok.. tokk.. tokkk..

"Mbak ada dirumah?"


"Iya kak, ada yang manggil kakak diluar."


"Udah dulu ya dek, kakak mau lihat tamunya dulu!"


"Yah kak, nanggung banget ini udah mau keluar padahal."


"Ya gimana dek, orang ada tamu didepan. Kakak gak enak kalau gak ditemui, siapa tau penting kan."


"Yaudah deh kak."


"Kamu keluarin sendiri aja ya dek atau mau dilanjut lagi nanti? Nanti kakak video call kamu lagi deh kalau udah selesai. Ya dek?"


"Iya kak."


"Dahhh adek...."


"Dahhh kakak....."


Aku mematikan panggilan videoku bersama adikku. Menyimpan ponselku diatas kasur, dan berjalan kedepan menemui tamuku.


"Iyaa waalaikumsalam..."


Kubuka pintu rumahku, dan muncullah dua bocah karibku. Dani dan Tono!


"Ehhh kalian rupanya, masuk Dan, Ton! Udah pulang sekolah kalian?"


"Iya mbak, makasih."


"Udah mbak, terus mampir dulu kita kesini!"


Dani dan Tono masuk kedalam rumahku, mereka langsung saja duduk dikursi sofa.


"Kalau mau minum ambil sendiri aja ya!"


"Iya mbak."


"Mau makan juga? Kalian laperkan?"


"Mbak udah masak?"


"Udah tadi Dan, tapi cuma tumis kangkung sama tempe goreng doang. Beli di mang Asep tadi, gapapa?"


"Ya gapapa dong mbak, dikasih makan aja udah bersyukur kita."


"Iya mbak, santai aja kali Tono mah dikasih makan apa aja juga pasti dia makan mbak."


"Hehe,, betul itu Dan."


"Yaudah sana kalian makan dulu!"


"Mbak gak ikut makan?"


"Nggak, mbak udah makan tadi."


Dani dan Tono melangkah ke dapur mengambil makan, sementara aku melangkah ke kamar mengambil ponselku.


Kami duduk kembali dikursi sofa, Dani dan Tono memakan makanan mereka dan aku memainkan ponselku.


"Mbak pake mukena abis........... Mbak udah tobat?"


"Huusssshh... Nggaakk kok,, itu kan kewajiban mbak Ton. Kewajiban kalian juga loh..."


"Hehe... Kirain aku mbak udah tobat dan beralih kejalan yang lurus dan benar...."


"Yaaa nggakk gitu Tonn.. mbak kan.... Ahh udah ah jangan bahas itu.."


"Iya iya mbak."


"Mbak tadi ketemu mang Asep, gak diapa apain mbak?"


"Eemmphhhh... Ngg ngga nggakk kok Dan, dikit aja sihhh.."


Aku ceritain ke mereka nggak yah tentang perbuatan aku ke mang Asep tadi,, emmm gak usah deh.


"Dikit mbak?"


"Iya Dan, cuma ngegodain doang. Keburu ada Bu Ratmi lagi."


"Ohhh, bagus deh mbak kalau gitu."


"Kok bagus sih Dan, jelek dong mbak kan jadi gak bisa eksib lagi sama mang Asep."


"Aku kurang srek aja mbak sama mang Asep, gatau kenapa!"


"Kok gitu sih Dan, aneh deh kamu."

"Jangan jangan kamu juga Ton?"


"Nggak kok mbak, aku mah gimana mbak aja. Sesuai sama hati mbak aja sih."


"Aku juga gatau kenapa mbak, kaya kurang srek aja gitu mbak. Gitu deh pokoknya susah jelasinnya. Hhe."


"Dasarrr kamu Dan, ada ada aja.."


Tiiinnnggg..


Tiba tiba dering notifikasi ponselku berbunyi, sebuah chat masuk diaplikasi WhatsApp. Segera saja aku membacanya.


"Kak tamunya udah pergi belum, aku kentang nih!"


"Belum dek, bentar ya tungguin."


"Masih lama kah kak?"


"Bentar lagi dek."


"Iya kak, aku tunggu."


Otak ku berpikir sejenak, gimana kalau aku sekalian goda saja adikku dengan keberadaan Dani dan Tono.

Mungkin akan lebih seru, adikku memang harus tahu tentang kebinalanku disini. Setelah tadi hanya percakapanku yang vulgar, sekarang saatnya aksiku yang tak kalah vulgar juga. Mesum lebih tepatnya.


"Dan, Ton mbak mau cerita sesuatu tentang adek mbak."


"Cerita apa mbak?"


"Jadi gini tadi sebelum kalian datang, mbak sama adek mbak lagi video call. Video call sex tepatnya."


"Haahhh, VCS mbak? Dengan adik mbak?"


"Iya Ton, VCS! Adek mbak yang ngajak duluan katanya dia kangen sama mbak, awalnya cuma video call biasa lama lama adek mbak minta lebih sama mbak. Pengen mbak telanjang, dianya sambil coli. Katanya kangen sama sepongan mbak dulu."


"Ehhh tunggu tunggu, mbak udah pernah nyepong adik mbak?"


"Hhe, iya dulu."


"Ohhh, jadi yang mbak bilang pernah kasih hadiah itu, nyepong kontol adik mbak yah?"


"Heeh, Ton kamu bener banget."


"Terus mbak!"


"Ya jadi gini Dan, gimana kalau kita goda adeknya mbak bareng bareng sama kalian."


"Gimana tuh mbak, caranya?"


"Jadi gini strateginya! Eehhhh kok strategi sih,, bukan bukan apa itu istilahnya?"


"Skenario mbak, strategi mah kita mau perang sama adik mbak. Ahaha..."


"Nah iya itu, maaf lupa!"


"Jadi gini skenario nya, mbak VC lagi sama adek mbak tapi mbak udah telanjang terus salah satu dari kalian manggil mbak, pelan pelan tapi. Adek mbak bakal curiga tuh, nah nanti kamu muncul di samping mbak terus dadah dadah ke adek mbak. Setelah itu kenalin diri, dialognya ya nanti spontan aja yah. Terus mbak pengen salah satu dari kalian minta sepong sama mbak, dan mbak ngelakuin itu. Pilih dulu deh, pilihannya disepong atau ngentotin bool mbak. Dani mau apa?"


"Heemmm aku disepong aja deh mbak!"


"Oke Dan, kamu berarti ngentotin bool mbak ya Ton!"


"Iya mbak siap."


"Tapi yang masuk kamera satu satu ya, berarti Dani dulu yang inframe sementara kamu Ton ngumpet dulu ya, hihi. Pokoknya jangan sampai kelihatan di kamera. Pake kamera depan kok, jadi kamu berdiri dibelakang ponsel mbak juga gak akan kelihatan. Tapi pinter pinter kamu deh, ya Ton!"


"Oke mbak."


"Soalnya kamu inframe nya tiba tiba Ton, waktu mbak lagi nyepong kontolnya Dani. Ponselnya kan dipegang Dani terus awalnya ngarah ke muka mbak, lama lama ke punggung mbak terus ke pantat mbak. Keliatan deh kamu Ton lagi genjot boolnya mbak. Terus kamu kenalan deh sama adeknya mbak.

Gimana menurut kalian skenario mbak?"


"Gila mbak, perfecto!"


"Emang debest mbak Adel ini soal pereksiban duniawi. Sungkem kita mbak!! Mbak mah gak ada obat."


"Yaudah, selesai makan kita eksekusi ya!"


"Oke mbak."


"Siap mbak, laksanakan."


"Ehhh kelupaan! Nanti yang pegang ponsel mbak, gantian ya pokoknya sesuai arahan mbak tadi. Buat sebagus mungkin ya nanti."


"Iya mbak."

"Iya mbak."


Mereka berdua pun selesai makan. Kini kami bertiga sudah ada di dalam kamarku. Aku melepas mukenaku, sementara Dani dan Tono melemas seragam sekolah mereka juga celana dalam, tentunya.


Kami semua sudah telanjang bulat. Aku kini sudah berbaring diatas kasurku, Dani dan Tono menunggu didepanku. Mereka berdua menunggu giliran untuk melaksanakan aksinya. Ku lakukan lagi panggilan video kepada adikku, tak lama ia mengangkatnya.


"Hallo adek. Maaf yah nunggu lama."


"Hallo kak, iya gapapa kok kak. Tadi emang siapa kak?"


"Temen baru kakak dek, pengen ngobrol sebentar katanya."


"Ohhhh temen kakak, mukena kakak kemana?"


"Kakak copot aja dek, gerah!"

"Yaudah kamu lanjut coli lagi gih!"


"Udah kok kak, ini kan sambil coli."


"Mana liat."


"Ini!"


Adikku mengubah ke kamera belakang ponselnya, memperlihatkan kontol besarnya yang sedang ia kocok dengan tangan kanannya.


"Oh iya dek, udah tegang lagi aja itu kontol dek. Gak tahan ya pengen muncrat?"


"Iya lah kak, tadi udah diujung padahal. Sekarang mulai lagi deh dari awal, tapi gak akan lama kok kak udah mulai kerasa juga."


"Tahan ya dek!"


Aku memberi kode kepada Dani. Ia mengangguk lalu berkata pelan.


"Mbak Adel remes dong susu mbak!"


"Eeh eeh kak kok ada suara cowok sih dikamar kakak?"


"Suara cowok dek?"


"Iya kak aku denger barusan."


"Ayo mbak remes susunya!"


"Tuh tuh kak, aku denger lagi."


"Kamu halu mungkin dek?"


"Nggak mungkin aku halu kak, aku denger banget suaranya barusan."


"Emang bilang apa dia dek?"


"Dia nyuruh remes susu kakak!"


"Haahhhh? Kaya gini dek?"


Aku memberikan kode lagi pada Dani.


"Mbak Adel remes susu mbak dong!"


"Iya kak kaya gitu! Ehhhh...."


Kulihat wajah adikku dilayar ponsel, ia nampak kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.


"Ohhh itu mah suara temen kakak tadi dek!"


"Temen kakak, jadi.........?"


Dani bergerak ke sebelah kiri ku, ia memposisikan tubuhnya berbaring sama sepertiku. Bahu kita berdua pun saling menempel.


"Halloooo adeknya mbak Adel, aku Dani salam kenal ya...."


Dani memperkenalkan dirinya pada adikku dengan tangan kanannya yang melambai-lambai ke arah kamera.


"Lohh lohhh kak, kok kakak berdua dikamar, kak kok kakak gak malu telanjang ada temen kakak. Kok dia juga telanjang sih kak? Kok kalian bisa begitu kak?"


"Kenapa sih dek, gelagapan gitu ngomongnya?"


"Kak ini beneran kan kak? Bukan mimpikan?"


"Iya dek, kita kan lagi video call an ini dek."


"Kok bisa sih kak? Dia kan temen kakak tadi kakak bilang, kok bisa telanjang barengan gitu?"


"Ya bisa dong dek, adek sama kakak aja dulu telanjang bareng kan! Sekarang ya kakak sama temen kakak telanjang bareng juga dek, hihi."


"Bisa kok adeknya mbak Adel, ehhhhh..."

"Mbak nama adek mbak siapa belum mbak kasih tahu!"


Dani berbisik kepadaku, aku lupa belum memberi tahu nama adikku.


"Dek kamu kenalin diri kamu ke Dani dong!"


"Ii iiya kak, aku Aldi mas Dani, saa saalam kennnaall jujuuga."


"Panggil nama aja ya Al, kitakan seumuran kan?


"Iii ii ya Dan, boleh....."


"Dek tadikan kamu pengen remes susu sama megang memek kakak, sekarang boleh gak Dani aja yang meraktekin keinginan kamu tadi. Mumpung ada dia loh dek!"


"Hahhhh? Yang enak Dani dong kak?"


"Ya anggap aja itu kamu dek, habisnya kan kamu jauh dek. Yang deket sama kakak sekarang kan cuma Dani."


"Gimana dek, boleh ya?"


"Nanti kakak anggap Dani itu kamu deh!"


"Ya gimana kakak aja deh, aku nurut aja sama kakak."


"Oke dek, makasih ya dek udah bolehin kakak di grepe grepe sama Dani."


"Iya Al, makasih banyak loh udah ngizinin aku buat grepe grepe tubuh kakakmu sendiri."


"Ya aku kan gak ada pilihan, terserah kalian aja deh!"


"Ayo Dan!"


"Iya mbak."


Dani mulai memegang susuku, ia remas kuat kuat sampai aku mendesah.


"Aaahhhh dek, terus dek remes susu kakak dek. Biar susu kakak makin gede dek. Tadi kamu bilang kalau sering diremes bisa bikin tambah gede kan dek? Ayo adek remes yang kenceng susu kakak dek!"


"Iya kak ini aku remes yang kenceng ya mbak, ehh kak!"


"Hihi, kamu mah Dan..."


"Salah mbak, keceplosan. Hhe."


Dani menganggap dirinya sebagai adikku, Aldi. Bagus Dan, improvisasi yang bagus. Hebat kamu.


"Iya dek terus dek, susu mbak enak ini dek kamu remes remes!"


"Kak aku boleh megang memek kakak juga ngga?"


"Boleh dong dek dengan senang hati, pegang aja dek semau kamu. Memek mbak kan punya kamu dek, kamu bebas mau ngelakuin apa aja di memek mbak.

Ayo dek pegang!"


"Iya mbak, ehhh maaf. Iya kak, aku pegang ya kak."


Tangan Dani dengan gerak cepat menyentuh memekku, ia langsung memainkan jarinya disana. Memekku dielusnya, dilebarkan dengan kedua jarinya. Kamera ponselku ku arahkan pada memekku saja, tapi tetap memakai kamera depan. Agar Tono tidak tersorot karna dia masih duduk didepanku, menunggu gilirannya. Wajahku kini tidak tersorot kamera ponselku, aku berbisik pada Dani.


"Dan jempol kamu masukin sedikit ya kaya Pak Karjo waktu pijat dulu."


"Iya mbak, siap."


"Ayo dek, elus elus memek kakak dek. Kakak udah sange berat nih dek, pengen dicolok juga sama kamu!"


"Ayo Dan!"


Aku memberi kode padanya untuk segera mencolok memekku dengan jempolnya.


"Aku colok ya kak memek kakak!"


"Iya dek ayo... Aahhhhh dek, enak dek."


Aku semakin mendekatkan kamera ponselku ke lubang memekku yang sedang dicolok oleh jempol Dani, agar adikku bisa semakin melihatnya.


"Eeehhh eehhhh kak stop kakkkk, kok dimasukin beneran kakkk. Kakak kan masih perawan kak!"


"Aahhh enak dek... Gapapa kok dek asal jangan dalem dalem aja nyoloknya."

"Gerakin dek gerakin jempol kamu dek... Memek kakak udah gak kuat dekkkk... Pengen muncrat dek..."


Jempol Dani bergerak keluar masuk di lubang memekku, hanya sebatas satu buku jari saja jadi tetap aman bagiku.


"Adek kamu udah mau keluar belum dek?"


"Belum kak, aku jadi susah keluar kak. Aku dikagetin kakak terus, kontolku juga ikut kaget jadinya kak. Menciut lagi ini, jadi susah deh keluarnya kak."

"Kakak keluar duluan gapapa ya dek, udah gak tahan ini memek kakak..."


"Iya kak, terserah kakak aja!"


"Dan kamu yang pegang ponsel mbak, pake kamera belakang aja ya terus arahin ke memek mbak!"


"Iya mbak."


Dani kini yang merekam aksiku, satu tangannya memegang ponsel dan satu lainnya bekerja dimemekku. Jempolnya terus keluar masuk di lubang memekku. Jari telunjuknya pun ikut memainkan klitorisku. Rasanya memang sungguh nikmat.


"Terus dek kocok terus memek kakak dek, enak banget jempol kamu dek, keluar masuk memek kakak dek... Aahhhhhh..."

"Kakak keeellluuaaaaaarrrrrr dekkk..."

"Aaaaahhhhhhhh.........."


Aku memuncratkan cairan memekku, sangat deras. Lagi lagi aku squirt! Nafasku seperti biasa, ngos ngosan tentunya.


"Haaahhhh.."

"Haaahhhh..."

"Haaaahhhhhh.."

"Kakak istirahat bentar ya dek."


Dani terus menyorot memekku dengan kamera ponselku. Kadang ia mendekatkannya sedekat mungkin lalu menjauhkan nya dan menyorot keseluruhan tubuhku. Jago juga Dani jadi kameramen.


"Sini dan ponselnya!"


"Ini mbak."


Aku mengambil ponselku kembali dari tangan Dani, secepat mungkin aku menekan tombol ikon kamera dilayar. Kini kamera depan yang menyorot wajahku.


"Dek gimana tadi?"


"Gila kak bagus banget tadi, memek kakak bisa muncrat juga ternyata. Indah banget kak diliatnya.

Tapi tadi jempolnya Dani, ngentotin memek kakak gapapa itu kak? Kakak masih perawan kan?"


"Aman kok dek, orang cuma masuk dikit. Kakak masih perawan kok, tenang aja dek."


"Syukurlah kak, aku khawatir tadi jempolnya Dani masuk semuanya. Untung nya cuma sedikit doang. Hhe."


"Cie ada yang khawatir sama keperawanan kakaknya sendiri."


"Iya dong kak, kakak kan belum nikah. Kalau kakak udah gak perawan, terus ayah sama ibu tahu kan gawat kak."


"Iiihhh ,, perhatian banget deh adek kakak ini. So sweet, makasih ya dek."


"Iya kak."


"Ehhh dek kamu belum keluar juga?"


"Belum kak, gatau aku juga kenapa jadi lama gini. Mungkin karna tadi sempet kentang ya jadi ogah ogahan deh keluarnya. Tapi tadi sih aku gak fokus ke kontolku, lebih fokus liatin memek kakak, hehe."


"Dassaaar kamu dek..."


"Ohh iya dek, Dani katanya mau disepong kaya kamu dulu dek boleh nggak?"


"Hhhaaahhh? Disepong kak?"


"Iya Al, boleh ya aku juga kan mau ngerasain mulut nya kakakmu. Kontolku pengen disepong juga Al.

Boleh ya?"


"Tuh dek, boleh kan?"


"Iiii iya bobo boll boleh kokkk, teerrserahh kalian deh pokoknya."


"Yeee, dibolehin tuh Dan sama Aldi!"


"Iya mbak, seneng deh. Makasih ya Al."


"Ii iya Dan."


"Kamu kameramennya ya Dan!"


"Oke mbak, siap."


Aku menyerahkan ponselku kembali pada Dani. Ia dengan sigap merubahnya menjadi kamera belakang. Posisinya kini berdiri diatas kasur sementara aku jongkok didepannya, tepatnya didepan kontolnya.


Sementara Tono ada dibelakangku, ia bersiap siap karna sebentar lagi adalah adegannya. Tak lupa juga tangan Tono menggenggam botol minyak zaitun milikku. Kontolnya pun sudah mengkilat dan ia tetap usap usap agar tetap berdiri.


"Kakak mulai ya dek!"


"Iya kak."


Dani yang menjawab, ia masih berpura pura menjadi adikku. Mulutku membuka mempersilahkan masuk kontol Dani ke dalamnya. Pertama tama aku kecup kepala kontolnya.


"Mmmuuaaachhhh..."


"Aaahhhhh kakkkk...."


Lalu kemudian menjilat batang kontolnya, dari ujung sampai pangkalnya berulang kali.


"Aahhhh kak.. enak kak.."


Kini ku mulai memasukan kepalanya, kusedot, kukenyot hingga pipiku kempot.


"Aaarggghhhhh kak... Enak banget kak ngilu kontolku."


"Tahan ya dek."


Aku mencoba memasukkan nya lebih dalam lagi, lebih dalam lagi dan semakin dalam. Sampai akhirnya menyentuh bagian terdalam mulutku.


"Hoaaaakkksss... Hoooookkksss ..."

"Hhooorrrggghhhhh.... Aaahhhhh...."

"Kookkkkhhhhsss.... Aaahhhh..."

"Sluuurrpppp.."

"Ssllluurrrppppp.."

"Aaahhhhh..."

"Mentok dek kontol kamu dimulut kakak.."


Aku mengatakan itu sambil menatap ke kamera, binal sekali aku rasanya. Tangan kananku juga sambil mengocok batang kontolnya Dani.


"Kamu suka dek?"


"Iya kak aku suka."


"Ahhhhh kak enak banget kak... Sepongan kak Adel. Kontolku berasa disedot sedot kak."


Aku memberi kode kepada Tono, ia segera mendekat ke arahku sambil kontolnya yang sudah dilumuri minyak zaitun mengarah tepat dilubang boolku. Ia mulai tekan sedikit demi sedikit. Aku mulai tak konsen pada kontol Dani, ku hentikan sejenak mengulumnya tapi tanganku tetap mengocoknya meski dengan gerakan yang pelan.


Tono terus berusaha, ia tekan dengan sekuat tenaga agar kontolnya bisa masuk kedalam lubang boolku. Dan akhirnya masuk juga, ia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur secara perlahan. Kamera yang dipegang Dani masih tertuju ke wajahku. Aku melanjutkan kulumanku pada kontol Dani.


"Aaahhh enak kak, seponganmu enak banget.."


"Iya dek, kontolmu juga enak dek..."


Tak lama setelah Tono mulai menggenjotku, adikku mulai menyadari sesuatu yang menurutnya aneh.


"Kak?"


"Iya dek."


"Kok badan kakak, maju mundur gitu kak. Kaya kehentak hentak gitu kak. Kakak kenapa?"


"Gapapa kok dek.. aahhhhhh.."


"Nggak kak, kakak kaya aneh gitu kak. Badan kakak kaya ada yang ngentotin dari belakang kak."


"Ma masa sih dek?"


"Iya beneran kak, badan kakak kedorong dorong gitu."


Tanganku memberikan kode kepada Tono agar lebih cepat menggenjotku. Ia melakukannya.


"Tuh tuhkan kak, badan kakak makin kedorong gitu ke depan."


"Emang kakak kaya yang lagi dientot ya dek?"


"Iya kak, jelas banget."


"Kaya gini dek?"


Tangan ku pun memberi kode pada Dani agar menyorotkan kameranya ke Tono. Dengan perlahan ia gerakan ponselku menyorot pantatku dan kontol Tono. Dani berhenti disitu.


"Kak kak, astaghfirullah kak Adel. Kakak beneran lagi dientot kak? Haaahh... Hahhh.. hahhh..."


Ku dengar suara adikku seperti terkejut dan terengah engah.


"Iya dek, kakak lagi dientotin temen kakak yang lain nih dek. Dia pengen ngentotin kakak katanya..."

"Aaahhhh..."


Dani lalu menggerakkan kembali ponselnya sampai menyorot wajah nya Tono.

Tono masih menggenjot boolku. Lalu ia memperkenalkan diri pada adikku.


"Hallooo Aldi, kenalin aku Tono Al temennya kak Adel. Salam kenal ya Al...."


"Hahhhh... Haaahhhh... Hahhhhh..."

"Kok, kok bisa sih kak? Kakak dientotin gitu sama temen kakak.. aku gak nyangka kak. Tadi kakak bilang masih perawan kak, tapi kakak sekarang lagi dientot memeknya."


"Beneran kok dek kakak masih perawan!"


"Tapi itu kan kakak lagi dientotin kak, berarti kontol temen kakak masuk ke memek kakak dong?"


"Siapa bilang kontol Tono masuk ke memek kakak, kamu lihat deh lebih jelas!"


"Deketin Dan!"


"Oke mbak."


Dani mendekatkan kamera ponselku ke arah pantatku, sementara Tono memperlambat gerakannya.


"Kelihatankan dek masuk kemana?"


"Astaghfirullah kak, kakak di tusbol? Bool kakak ternyata yang dientot Tono kak."

"Haaahhh.. hahhh..hahhhh.."

"Kok bisa sih kak? Aku gak nyangka banget kakak jadi sebinal ini kak."

"Haaahhh... Hahhh..hahhh.."


"Kakak masih perawan kan dek?"


"Iya kak, aku percaya. Ta taaa taapii kak...."

"Aaduhhhh kaaakkk.."

"Kak aku kaya mau pingsan ini... Dada aku sesek kak..."

"Hahhhhh..."


"Eehhhh dek dek... Kok gitu dekk.."

"Ton berhenti dulu!"


Tono berhenti menggenjotku, aku kemudian duduk diatas kasur. Kontol Tono terlepas dari lubang boolku.


Ppploooopppp...


"Sini Dan ponsel mbak!"


Aku dengan cepat meraihnya, mengubah nya menjadi kamera depan lagi yang menyorot wajahku.

Ku lihat adek ku sedang terduduk, nafasnya seperti tertahan. Aku khawatir seketika itu juga.


"Dekkk dekkk... Kamu gak apa apa kan dek.."


"Kepala aku tiba tiba pusing mbak, liat bool mbak digenjot tadi. Kaya mau pingsan ini!"


"Eehhh dek jangan pingsan dek..."

"Kamu baik baik aja kan?"


"Gatau kak aku kaget aja, kaya kena serangan jantung kak ini.. berat banget nafas aku kak..."


"Duhhh kok jadi gini sihhh dek..."

"Mending kamu minum dulu deh dekkk.. tenangin diri kamu dek!"

"Cepetan dekkk.."


"Ii iya kak, aku ambil minum dulu!"


Aldi menaruh ponselnya di atas kasur. Sementara aku, Dani dan Tono merasa khawatir dengan keadaan adikku disana.


"Duhh gimana nih, kok sampai gitu sih dekkk..."


Aku melirik ke Dani dan Tono.


"Tenang mbak mungkin Aldi cuma kaget mbak, liat kakaknya."


"Iya mbak, mbak Tenang jangan panik."


"Gimana mbak gak panik Ton, tadi kan kamu lihat sendiri gimana kondisi dia disana."


"Ya,, mbak sih aneh aneh aja idenya. Tega banget sama adik sendiri."


"Ya mbak kan gak tahu bakal kaya gini."


"Udah mbak tenang aja, mungkin Aldi cuma dehidrasi mbak cuma butuh minum doang."


"Iya kali ya.."


"Iya mbak tungguin aja!"


"Duh mana lagi adek mbak kok lama ngambil minum doang juga?"


"Sabar mbak."


Tak lama Aldi muncul, mulutnya terlihat basah bekas air minumnya. Ia memegang ponselnya kembali.


"Haaaaahhhhh..."


"Gimana dek, udah baikan?"


"Udah kak, aku kaget aja barusan ternyata. Gak siap liat kakak dientotin gitu hehe."


"Alhamdulillah syukurlah dek, kakak khawatir tadi. Kirain kamu bakal kenapa napa!"


"Iya kak aku gak apa apa kok, baik baik aja aku."


"Maaf ya dek, kakak buat kamu kaget sebegitunya tadi. Kakak gak bermaksud lakuin itu ke kamu dek."


"Iya kak, aku ngerti kok. Niat kakak cuma mau bikin aku terkejut doang kan? Aku nya aja yang nganggapnya berlebihan kak. Aku gak siap kak."


"Iya dek, ternyata malah jadi begini."


"Yaudah kak, aku mau istirahat aja dulu ya kak. Mau nenangin pikiran aku! Kalian kalau mau lanjut, lanjutin aja ya."


"Iya dek, maaf ya! Tapi beneran kamu gak apa apa dek?"


"Iya kak, aku aman kok."


"Kabarin kakak lagi kalau kamu kenapa napa ya dek!"


"Iya kak, aku pamit ya kak, Dani, Tono... Dadahhhh..

Assalamualaikum..."


"Iya dek waalaikumsalam.."

"Waalaikumsalam.."

"Waalaikumsalam.."


Adikku pun mengakhiri panggilan videonya. Aku lantas menaruh ponselku diatas kasur.


"Haaahhhhh,, kita berlebihan ya tadi?"


"Banget sih mbak menurutku."


"Iya mbak kelewatan deh kayaknya."


"Mbak gak nyangka akhirnya begini, padahal yang mbak pengen tuh. Kalian keluarin peju kalian di mulut sama bool mbak barengan gitu. Terus adek mbak juga sama barengan keluarnya. Ehhh diluar skenario ternyata."


"Strategi mbak salah, mbak terlalu fokus sama penyerangan sampai lupa sama pertahanan."


"Iya, bobol deh ya jadinya?"


"Iya mbak, mbak kalah deh sama adiknya mbak."


"Haaahhhh, udahlah udah kejadian juga..."


"Terus kita mau lanjut mbak?"


"Mbak udah gak mood Ton. Kayanya nggak deh, tapi kalau kalian mau keluarin ya sok aja. Tapi sama sendiri ya, mbak lihatin aja."


"Kalau aku nggak deh mbak, aku juga kaya ngerasa gak enak sama Aldi."


"Iya mbak, kita pulang aja deh!"


"Yaudah kalau gitu."


Aku merasa mood ku jadi tak karuan, masih ada rasa tak enak pada adikku sendiri. Aku lebih memilih tak melanjutkan aktivitas sex kami, begitu juga dengan Dani dan Tono. Mereka memilih untuk pulang saja.

Keduanya kini telah memakai kembali seragam mereka, dan bersiap siap untuk pulang.


Aku mengantarkan mereka sampai depan pintu saja, aku bersembunyi di baliknya. Ini masih sore, aku tak ingin ketahuan tentunya sedang bertelanjang mengantar kepulangan dua anak remaja.


"Pamit ya mbak, assalamualaikum.."


"Assalamualaikum.."


"Iya waalaikumsalam, hati hati."


Aku kemudian menutup pintu rumahku kembali. Berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Ku teguk gelas berisi air sampai habis, aku haus rupanya. Aku berjalan kembali kedepan lalu duduk dikursi sofa. Masih dengan keadaan telanjang aku mulai merenungi kejadian tadi. Aku berlebihan pada adikku sendiri. Apa yang telah aku lakukan sampai sampai adikku terkejut sebegitunya. Tega kamu Del sama adik sendiri. Niat mau kasih surprise malah kasih bencana buat dia. Bener bener emang kamu Del. Kamu bukan kakak yang baik.


Beberapa menit aku terdiam diatas kursi yang aku duduki. Merenungi kesalahan yang aku perbuat. Yaudah lah mau gimana lagi sudah kejadian ini.

Mandi enak kali ya, biar tenang pikiranku. Habis itu tidur sebentar biar rileks juga badanku.


Heeemmmm rileks?


Aku lalu berjalan ke kamar melihat ponselku. Tak ada chat dari adikku, ia tengah beristirahat sepertinya. Ku taruh lagi ponselku, dan berjalan.......


"Assalamualaikum mbak Adel.."

"Mbak Adel ada dirumah?"


Baru aku mau berjalan ke kamar mandi, sudah ada yang memanggil lagi namaku. Suara cowok ku dengar, siapa ya tak terlalu jelas. Mukena saja biar cepat. Aku memakai mukena yang tadi kupakai. Berjalan ke depan untuk menemui tamuku lagi.


"Assalamualaikum mbak..."


"Iya waalaikumsalam.. sebentar!"

Aku membuka pintu, dan mendapati seorang bapak sedang berdiri di depan pagar rumahku.

"Pak Karjo?"


"Iya mbak."


"Ada apa ya pak?"


"Boleh masuk dan ngobrol sebentar mbak?"


"Emmmphh.. masuk aja pak dibuka pagarnya."


"Iya mbak."


Pak Karjo membuka pagar dan masuk ke teras rumahku, lalu berhenti di depan pintu.


"Mbak, mumpung saya punya waktu nih mbak. Mbak lagi sendiri kan? Tidak ada Tono dan Dani?"


"Ii iiya saya sendirian pak. Sekarang pak? Sore hari gini, gak nanti malam aja pak?"


"Kalau boleh sih sekarang mbak, malam saya ada ceramah setelah isya."


"Bapak nggak ngajar ngaji?"


"Ngajar kok mbak, magrib nanti."


"Sibuk banget ya pak jadwal bapak?"


"Ya lumayan sih mbak, makanya cuma sore ini saya ada waktu kosongnya. Gimana mbak, mau nggak?"


"Gimana ya?...."


"Saya bayar deh mbak, kaya tempo hari. Ya mbak, ayolah mbak!!!...."


"Heemmmmmm....."


Bersambung


:::::::::::::::::::::


#14


KEBERUNTUNGAN KARJO


"Assalamualaikum mbak Adel.."

"Mbak Adel ada dirumah?"


Baru aku mau berjalan ke kamar mandi, sudah ada yang memanggil lagi namaku. Suara cowok ku dengar, siapa ya tak terlalu jelas. Mukena saja biar cepat. Aku memakai mukena yang tadi kupakai. Berjalan ke depan untuk menemui tamuku lagi.


"Assalamualaikum mbak..."


"Iya waalaikumsalam.. sebentar!"


Aku membuka pintu, dan mendapati seorang bapak sedang berdiri di depan pagar rumahku.


"Pak Karjo?"


"Iya mbak."


"Ada apa ya pak?"


"Boleh masuk dan ngobrol sebentar mbak?"


"Emmmphh.. masuk aja pak dibuka pagarnya."


"Iya mbak."


Pak Karjo membuka pagar dan masuk ke teras rumahku, lalu berhenti di depan pintu.


"Mbak, mumpung saya punya waktu nih mbak. Mbak lagi sendiri kan? Tidak ada Tono dan Dani?"


"Ii iiya saya sendirian pak. Sekarang pak? Sore hari gini, gak nanti malam aja pak?"


"Kalau boleh sih sekarang mbak, malam saya ada ceramah setelah isya."


"Bapak nggak ngajar ngaji?"


"Ngajar kok mbak, magrib nanti."


"Sibuk banget ya pak jadwal bapak?"


"Ya lumayan sih mbak, makanya cuma sore ini saya ada waktu kosongnya. Gimana mbak, mau nggak?"


"Gimana ya?...."


"Saya bayar deh mbak, kaya tempo hari. Ya mbak, ayolah mbak!!!...."


"Heemmmmmm..... Yaudah deh pak, boleh. Masuk pak!"


"Iya mbak, makasih."

"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam... Duduk pak!"


Aku kemudian menutup pintu lalu menguncinya.


"Bapak mau minum dulu? Aku buatin kopi pak!"


"Gak ngerepotin kan mbak?"


"Nggak dong pak, bapakkan tamu harus disuguhi."


"Emmmpphh, kalau disuguhi yang itu mbak?"


Tangan kanannya menunjuk ke selangkanganku.


"Kalau yang ini, buat suami aku nanti pak! Buat bapak yang belakang aja ya hihi tapi inget khusus Pak Karjo harus bayar!"


"Kok dibedain gitu sih mbak? Emang Tono sama si Jamal bayar juga mbak?"


"Ngga dong pak, mereka sih aku kasih gratis gak usah bayar!"


"Loh loh kok diskriminasi mbak, gak adil mbak Adel mah."


"Ya terserah aku dong pak, suka suka aku! Lagian Tono kan masih sekolah belum punya penghasilan pak, mas Jamal juga gaji dari jadi hansip gak seberapa pak. Kasian kan mereka kalau harus bayar juga!"


"Heeeemmm iya sih mbak, tapi kan saya juga gaji nya gak seberapa mbak sama kaya si Jamal."


"Pak Karjo kan ada istri, kalau mau tinggal minta ke istri. Kalau mas Jamal kan mau minta ke siapa pak? Ya aku kasih aja cuma cuma hihi."


"Yahhh gitu ya mbak?"


"Iya pak, ya itu sih gimana bapak aja kalau mau bayar ayo kalau nggak juga ya gapapa. Aku kan gak maksa."


"Yaudah deh mbak iya saya bayar! Yang depan mbak lepas berapa emangnya?"


"Haaahh??? Pak Karjo ihhh, nggak ya pak. Ini gak ada harganya, memek aku cuma buat suami aku nanti Pak Karjo. Not for sale. titik!"


"Iya deh iya mbak."


"Bapak pikir aku cewek murahan apa, bisa segala dibeli?"


"Lahhh ini kan mau saya beli mbak!"


"Eeehhh iya ya pak, hhe lupa."


Pak Karjo mengeluarkan selembar uang seratus ribu, dan memberikannya padaku.


"Ini mbak!"


"Satu lembar pak?"


"Iya mbak, tempo hari kan saya bayar segitu!"


"Hari ini harga naik pak, hhe."


"Yahh mbak Adel mah bisa gitu mbak, tiba tiba harga naik jadinya! Yaudah nih satu lembar lagi!"


"Yeeeeyyyy, makasih ya Pak Karjo. Dua lembar cuma sentuh tubuh aku doang ya pak, gak termasuk penetrasi loh. Yang belakang apa lagi yang depan!"


"Astaghfirullah mbak Adel, kok jadi ada aturannya sih mbak! Tempo hari gak ada kaya gini gini!"


"Ya tempo hari kan gak sengaja pak, masih perkenalan. Kalau sekarang udah full realese, hihi."


"Yaelah mbak gitu banget sama orang tua!"


"Yeee mau tua atau muda kalau soal ginian mah, aku juga harus untung dong Pak Karjo!"


"Iya iya, jadi nambah berapa mbak biar bisa dapet semua?"


"Kalau semua sih, satu lembar lagi deh pak biar aku nya all out ke bapak!"


"Yah kurangin deh mbak, sisa yang biru ini! 50 ya?"


"Heeemmmppp Pak Karjo mah, kok malah nego sih."


"Gak ada lagi mbak, tuh kosong sisa ini satu lembar lagi warna biru!"


"Yaudah deh gapapa pak, spesial buat hari ini ada diskon buat bapak."


Ohh iya kalian jangan mikir aku lonte ya, nggak! Aku gak kaya gitu. Ini kan cuma....... Ya gitu deh pokoknya, kan lumayan juga uangnya bisa aku kasih ke Tono sama Dani atau buat mas Jamal juga. Hmmm? Masing-masing satu lembar deh hihi. Inget! Awas aja kalau kalian mikir aku kaya gitu, ngambek aku nanti!


"Nih mbak!"


"Oke pak, makasih ya pak."


"Iya sama sama. Langsung mulai deh mbak keburu abis waktunya!"


"Iya pak ayo, dikamar aja ya pak!"


"Disini aja mbak, sambil lesehan biar pijatnya leluasa."


"Pijat? Emang aku mau dipijat pak?"


"Hhe saya pengen mijat dulu mbak Adel, biar mbak makin terangsang gitu mbak!"


"Ohhh yaudah deh, tapi aku gak harus bayarkan pak? Percuma dong kalau aku bayar jasa pijatnya, uang yang dari bapak balik lagi ke bapak."


"Ngga kok mbak, gak usah bayar. Ini inisiatif saya aja biar makin seru hehe. Pokoknya kalau mbak mau pijat bilang saya aja mbak, tak kasih gratis buat mbak Adel mah. Tapi yang sekarang gak bener bener dipijat ya mbak, cuma....... Hhe."


"Iya pak, terserah bapak aja. Tubuhku kan udah bapak bayar, hihi. Jadi Pak Karjo bebas mau lakuin apa aja ke tubuh aku. Tapi inget ya pak ada batasannya, pokoknya gak boleh ada penetrasi dimemek aku. Jangan lagi kaya tempo hari ya pak, jempolnya nakal hihi. Takutnya sekarang bapak gak tahan kan, bahaya loh pak!"


"Iya mbak iya siap."


Pak Karjo lalu menggelar matras yang ia bawa di dalam tas pijat nya. Mengeluarkan beberapa perlengkapan mulai dari botol cairan seperti minyak,hingga lilin aromaterapi pun ia persiapkan. Niat sekali rupanya Pak Karjo ini, sudah seperti pemijat profesional saja.


"Loh Pak Karjo bawa lilin juga?"


"Iya mbak biar tenang suasananya, biar makin intim kita pijatnya hhe."


"Bisa aja bapak, terbaik deh pokoknya."


Pak Karjo kemudian menata lilin tersebut, ia simpan sebanyak dua buah di samping matras lalu menyalakannya.


"Wangi ya pak, bikin tenang. Apa gorden jendelanya perlu ditutup pak?"


"Boleh, kalau mbak Adel mau. Kalau suasananya gelap bakal lebih terasa mbak!"


"Hemmm gitu ya pak, aku tutup aja deh!"


Aku segera menutup gorden jendela rumahku, remang dan sunyi itu yang aku rasakan sekarang. Aku kemudian membuka mukenaku, kini aku sudah telanjang dihadapan Pak Karjo.


"Wahhhh, gak bosen bosen saya liat tubuh telanjangnya mbak Adel. Bikin nafsu saya bangkit mbak hehe."


"Apaan sih pak, nih puas puasin deh liat badan aku biar bapak makin sange!"


"Saya buka baju juga ya mbak!"


"Iya pak."


Pak Karjo kini sudah bertelanjang juga sama sepertiku, baju koko, celana bahan hitam juga pecinya sudah ia tanggalkan. Simbol dari ke solehannya kini tak nampak, yang ada hanyalah sesosok bapak bapak tua yang bernafsu ingin menyetubuhi anak remaja sepertiku.


Aneh juga rasanya, membayangkan seseorang yang terpandang di kampungnya sebagai ahli ibadah kini malah telanjang mempertontonkan auratnya. Kemana imanmu Pak Karjo? Apa memang setipis itu atau bahkan sekarang sudah tidak ada sama sekali?


Memang ya, nafsu itu bisa membutakan. Sama seperti aku tentunya dan perubahan itu tak mengenal waktu, cepat atau lambat pasti akan terjadi. Dan itu harus dinikmati, sama seperti Pak Karjo saat ini. Aku yakin dia pun tak pernah menyangka ini akan terjadi, mungkin kehadiranku di kampung ini menjadi awal terbentuknya dosa dosa indah dalam dirinya.


Kesempatan yang tidak akan ia sia siakan bahkan jika harus mengesampingkan pedoman hidupnya sekalipun. Nafsu! Ya kini nafsunya yang berbicara, kini nafsunya yang menyelimuti diri. Dirinya yang seharusnya menjadi panutan, menjadi contoh akan kebaikan, kekhusyukan serta keimanan.


Namun kini semuanya luntur, karna tergoda tubuhku yang begitu menggiurkan di pandangannya. Tak ada yang suci saat ini, ketika dua insan yang dikekang birahi saling mencoba untuk menikmati.


"Ayo mbak, matrasnya sudah siap. Mbak terlentang ya!"


"Iya pak."


Aku segera membaringkan tubuhku di atas matras yang sudah Pak Karjo siapkan. Posisiku terlentang saat ini. Pak Karjo bergeser ke sisi kanan tubuhku, ia mengambil botol minyak untuk ia taburkan ke atas tubuhku. Tepatnya ke atas perutku, tapi belum satu tetes minyak itu mengenai kulitku terdengar suara panggilan dari depan rumahku.


Tek.. tek.. tek..


"Assalamualaikum mbak Adel..."

"Mbak Adel ada dirumah? Ini saya pak RT mbak!"

"Assalamualaikum........."


Deggg! Kami berdua saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya sibuk akan keadaan.


"Pak, ada Pak RT didepan!"


"Iya mbak saya denger juga, gimana nih mbak?"


Aku terbangun, mengambil mukenaku diatas kursi lalu memakainya. Sementara Pak Karjo.......


"Bapak ngumpet deh di kamar aku, jangan bersuara ya pak! Inget kalau sampai ketahuan bisa bahaya."


"Iya mbak, siap!"


Pak Karjo kemudian berlari ke arah kamarku, membawa tas dan pakaiannya, memasukinya lalu menutup pintunya. Aku berjalan menuju pintu, lalu teringat sesuatu. Matras dan lilinnya? Eeuuhhh..... Biarlah!


Ku buka pintu lalu membalas salam dari Pak RT.


"Waalaikumsalam, ehhh Pak RT ada apa ya pak?"


Nada bicaraku tak seperti biasanya, canggung dan malu menjadi satu karna kejadian tempo hari lalu.


"Ini mbak Adel, eeuhhh anu ini euuhhh ada yang mau saya bicarakan sebentar!"


"Hmmm penting ya Pak RT?"


"Sepertinya penting mbak."


"Yaudah masuk aja pak!"


Entah kenapa ada rasa takut ketika melihat wajahnya, aku yang selalu berani untuk menggoda lawan bicaraku kini tak nampak dalam diriku. Aku selayaknya seorang wanita muslimah yang menjaga lisannya dalam setiap percakapan. Kenapa aku ini? Dan kenapa juga aku harus takut, kenapa juga aku harus canggung dan kenapa juga aku harus malu?


Entahlah, semua itu tak ada jawabannya. Bahkan seorang Dani pun kalah dengan pesonanya Pak RT. Apa aku juga mengalami hal yang sama? Apa Pak RT ini orang yang istimewa?


"Duduk pak! Mau aku buatkan kopi.....lagi?"


"Iya mbak, terimakasih. Tidak usah mbak, nanti merepotkan lagi saya hanya sebentar kok tidak akan lama!"


Pak RT kemudian duduk di kursi sofa single, aku pun sama. Jarak kami berjauhan terpisah oleh meja didepan kami.


Sekilas tentang pikiran Pak RT.


Tuhkan yang kemarin itu cuma pikiran kotorku saja. Sekarang saja mbak Adel pakai mukena, pasti habis solat Ashar kan. Memang wanita muslimah mbak Adel ini, wanita solehah Te. Jangan mikir yang ngga ngga tentang dia. Mbak Adel ini wanita alim loh.


"Tentang apa ya pak?"


Nada bicaraku ragu, pandanganku tak langsung menuju matanya. Aaarrgggkkhhhh... Kenapa aku ini?


"Begini mbak Adel, saya dan Pak Karjo sudah berbincang sebelumnya perihal pengajian di mushola kampung ini mbak. Terutama di RT kita yang kekurangan pengajar, saya lihat mbak Adel kan seorang wanita yang muslimah. Pakai hijab juga di kesehariannya, jadi kalau berkenan kami selaku pengurus mushola mengajak mbak Adel untuk menjadi guru mengaji anak anak mbak!"


"Haaaahhh, guru ngaji pak? A a aku ja jadi guruuu ngaaji Pak RT?"


"Iya mbak."


Aku terkejut, sangat sangat terkejut mendengar perkataan Pak RT, aku beranikan diri menatap wajahnya.


"Tapi pak....."


"Hanya mengajar anak anak saja kok mbak Adel tidak ada yang dewasa. Mereka butuh sosok 'ustadzah' untuk mengajari dan membimbing mereka mbak. Anak anak akan lebih semangat mengaji jika guru nya seorang wanita mbak. Apalagi mbak cantik dan ceria, mereka pasti senang loh mbak."


"Hmmm gimana ya pak, a aa aku belum siap kalau sekarang pak!"


"Iya mbak tidak harus buru buru, mbak bisa pikirkan dulu."


"Baik Pak RT, aku pikirin dulu ya nanti aku kasih tau bapak bersedia atau tidaknya. Kita nanti cuma bertiga pak ngajarnya?"


"Iya mbak, saya, Pak Karjo dan mbak Adel. Mbak Adel tidak harus langsung mengajar mereka, mbak cukup bantu kami saja. Mungkin membantu mengarahkan mereka atau mbak punya ide buat sebuah permainan gitu. Seperti itu mbak, kedepannya kita pikirkan bersama saja. Dan untuk soal upah, mungkin tidak besar hanya uang sukarela dari para orangtua saja. Saya harap mbak berkenan dengan tawarannya, demi kebaikan anak anak disini mbak!"


"Gitu ya pak, saya masih harus pikirin dulu Pak RT tidak bisa langsung kasih keputusan. Maaf ya!"


"Tidak apa apa mbak, saya paham! Wangi ya mbak? Lilinnya? Mbak mau meditasi ya?"


"Ohh iiiitu, itu eeuuhhh..... Iiiya pak, aku mau yoga lebih tepatnya hhe. Nenangin pikiran pak!"


"Oh gitu ya mbak, pantesan ruangannya agak gelap mbak mau yoga ternyata. Bagus itu mbak, bikin rileks tubuh nantinya! Yasudah kalau begitu mbak, saya ijin pamit dulu. Jangan lupa dipirkan ya mbak, kalau sudah yakin dengan keputusannya segera beri tahu saya!"


"Iya baik, Pak RT. Secepatnya aku beri keputusan!"


"Kalau begitu saya pamit ya mbak, terimakasih. Assalamualaikum."


"Iya pak, waalaikumsalam."


Pak RT pergi meninggalkan rumahku. Aku kemudian menutup dan mengunci pintu kembali. Aku duduk di kursi sofa, merenungi tawaran yang diberikan Pak RT tadi. Aku jadi guru ngaji? mana mungkin! Aku tak sesuci yang bapak kira, aku tak sesolehah yang bapak pikirkan. Aku kotor pak, aku berdosa.


Pak Karjo kemudian keluar dari kamarku, lalu duduk disampingku.


"Pak RT sudah cerita ya mbak? Saya dengar dari kamar."


"Iya pak, kenapa bapak gak ngasih tau aku?"


"Tadinya saya mau ngasih tau mbak nanti setelah ini, tapi keburu keduluan Pak RT mbak!"


"Kenapa aku pak?"


"Mbak cocok jadi guru, jadi guru mengaji tepatnya. Mushola kita sepi mbak, sejak tidak ada lagi guru wanita. Anak anak jadi ogah ogahan untuk mengaji, mereka malah milih untuk bermain. Katanya saya sama Pak RT galak mbak, padahalkan cuma ngasih teguran saja. Kami butuh sosok seperti mbak Adel untuk mendisiplinkan mereka. Yang jelas, hal utamanya sih biar mereka semangat mengajinya mbak, jika ada mbak Adel di mushola. Saya yakin itu!"


"Emmm gimana ya pak, aku bingung mikirinnya. Aku aja sama Pak Karjo lagi kaya gini sekarang. Kok tiba tiba aku jadi guru ngaji. Di panggil ustadzah lagi nanti. Gak masuk akal ah pak!"


"Ya orang lainkan gak tahu kelakuan kita begini mbak. Yang mereka tahu saya pakai bajo koko dan peci setiap hari kalau keluar rumah, sama seperti mbak Adel yang pakai gamis dengan hijabnya. Dan mereka cukup tahu itu mbak!"


"Iya pak aku tahu itu, tapi kalau skandal kelakuan kita terbongkar dan diketahui semuanya mereka bakal pikir kita tidak pantas pak! Masa seorang guru ngaji kelakuannya bejat, masa seorang guru ngaji pria berzina dengan guru ngaji wanitanya!"


"Ngomong bejatnya biasa dong mbak, ya saya sekarang emang bejat mbak tapi ya mau gimana lagi toh pasangan yang bejatnya juga sama sama mau, hhe."


"Iiihhh Pak Karjo mah, ya maka dari itu pak aku bingung jadinya!"


"Gak usah bingung mbak, tinggal jalani aja. Cuma sebentar kok mbak, dari magrib sampai isya aja."


"Nanti aku pikirin lagi deh pak, masih belum siap! Ehh tunggu dulu Pak Karjo milih aku bukan niat pengen deket sama aku kan? Inget loh pak, hubungan kita cuma berlaku dirumah ini aja. Hanya antara tukang pijat dan pelanggannya, jangan sampe melebar ke arah lain ah pak bahaya tau!"


"Iya mbak, tenang aja aman kok. Lagian saya gak ada niat kesitu, yang nawarin pertama mbak buat jadi guru ngaji malah Pak RT mbak. Saya ya ngikut aja, siapa tau........... Hhe"


"Tuhkan! Ujung ujungnya kesitu. Ngga ah pak gak mau aku!"


"Yah kok gitu sih mbak, saya bercanda doang barusan mah gak kesitu deh beneran."


"Awas ya, awas aja kalau Pak RT sampe curiga!"


"Iya, jadi mbak Adel mau jadi 'ustadzah' ? Ehh guru ngaji anak anak?"


"Ih geli pak denger aku dipanggil ustadzah, gak pantes tau sama kelakuan aku."


"Ya gak harus dipanggil ustadzah juga, kan bisa Bu Adel atau mbak Adel atau.... ya apapun itu mbak. Senyamannya mbak aja. Mau ya?"


"Ih tetep maksa, nanti deh soal itu ini kita mau lanjut gak pak keburu adzan Maghrib tau!"


"Ya mau dong mbak, kan saya udah bayar masa gak jadi rugi dong! Masih setengah lima mbak, masih ada waktu satu jam lebih dikit buat kita bercinta. Hehe aman tenang aja."


"Yaudah aku tiduran lagi ya pak!"


"Iya mbak."


Aku kembali membuka mukenaku, berbaring terlentang diatas matras. Pak Karjo lalu bergeser ke samping kiriku seperti tadi, tangannya mengambil botol minyak lalu dituangkan ke atas perutku.


Dingin dan licin, itu yang kurasa saat kedua tangan Pak Karjo mulai memijat perutku. Tidak! Tidak benar benar memijat hanya mengelus dan mengusapnya saja. Dituangkannya lagi minyak itu, kali ini ke atas payudaraku juga ke kedua lenganku.


"Aaaahhhhhhh....."


Aku mendesah saat kedua tangannya meremas kedua payudaraku. Remasannya pelan, begitu lembut ku rasakan. Pengalamannya memang teruji saat ini. Dengan gerakan memutar perlahan ia berhasil membangkitkan gairahku.


"Aakhhhhh.... Enak pak."


Kini kedua jarinya yang bermain di puting payudaraku, ibu jari dan telunjuknya memutar mutar lingkaran putingku menekankannya dengan lembut sampai aku kembali mendesah.


"Hhhmmmmm... Aaaahhhhh... Pak enak banget susu aku, bapak jago deh!"


"Iya mbak, nikmatin aja."


Pak Karjo terus bermain main di payudaraku, lumayan lama. Mungkin ia sangat menyukai bentuknya yang padat namun kenyal. Sampai akhirnya ia menyudahinya, tangannya kini mengusapkan minyak di tangan kananku. Membalurinya sampai tanganku mengkilat karna minyak itu. Ia mengeserkan tubuhnya ke sebelah kiriku, dan melakukan hal yang sama pada tangan kiri ku.


"Ketek mbak mulus, gak ada bulunya putih bersih gak kaya istri saya udah kaya hutan bakau mbak lebat bener, hehe."


"Yyeee malah dibandingin, gak boleh tau pak apalagi sama istri sendiri. Gitu gitukan itu pasangan bapak, pasangan sehidup semati Pak Karjo yang cinta sama bapak."


"Saya kan gak bilang nggak cinta sama istri saya mbak, saya cuma bilang kalau keteknya lebat sama bulu gak bersih kaya punya mbak Adel, itu aja gak ada ngebanding bandingin. Hhhuuuu dasar jomblo!"


"Eehhhh, kok! Emm jadi gitu cara mainnya? Oke kalau Pak Karjo yang mulai, bawa bawa status lagi. Awas aja nanti!"


"Hehehe......."


"Aaaahhhhhh.... iiiiiihhhhhhhh. Awas ya! Aku bales nanti."


Pak Karjo mencubit puting payudaraku tiba tiba, sedikit sakit rasanya. Ia tersenyum senang melihat ke arahku. Dasar guru ngaji mesum! Ia kemudian pindah, menggeser posisinya kedepan vaginaku diantara kedua pahaku.


"Saya jilat dulu ya mbak memek mbak! Pengen ngerasain lagi, hehe."


"Iya pak, sok aja terserah bapak!"


Slurrrpppsss.... Sssllluuuurrpsss.... Ssssllluuurrppss.


"Aaaahhhh geli pak, enak..... Memek aku enak pak.. terusin pak jilat terus memek aku pak...aahhh....."


"Ah enak banget memekmu mbak, gurih. Wangi lagi mbak... Ahh. Buat saya ya mbak, saya ketagihan sama memek mbak!"


"Gak! Memek aku buat suami aku nanti pak, bukan buat bapak."


"Yahhh saya dapet luarnya doang mbak?"


"Iya dong pak, masih aja iihhh Pak Karjo mah udah dibilang juga. Bapak dapet luarnya, lubangnya buat suami aku nanti. Jangan maksa Pak Karjo, ngebet banget mau memek aku. Pak Karjo tuh beruntung tau udah bisa nyicipin tubuh aku, orang lain kan belum tentu pak. Bapak tuh harusnya bersyukur, bukan malah maksa aku terus buat ngasih memek aku pak. Percuma! Gak akan aku kasih, titik!"


"Iya deh iya, maaf mbak Adel! Kok jadi diceramahin sih mbak, yang harusnya ceramah kan saya. Yaudah deh langsung ke intinya aja, mbak nungging ya!"


"Eehhh kok gitu sih pak? Jangan marah dong pak!"


"Saya gak marah kok mbak cuma bete aja! Ayo cepet mbak nungging!"


"Yaaahhh jangan bete dong pak, masa mainin memek akunya segitu doang sih kaya tempo hari gitu pak sampai memek aku muncrat!"


"Gak, segini aja cukup!"


"Aaaahhhhh, Pak Karjo mah gitu deh. Nanggung pak, barusan udah enak. Ayo jilatin lagi pak! Please....."


"Nggak! Udah gak mood saya. Ayo mbak nungging! Langsung ngewe boolnya mbak aja deh biar cepet selesai."


"Iiiihhhhh gak mau! Aku gak akan kasih bool aku selama memek aku belum muncrat duluan!"


"Laaaahhhh, kok gitu? Perjanjiannya kan sesuka saya mbak."


"Iii iiya sih pak, aaakkhhh udah pak ayo jilatin lagi!"


"Nnnngggaaakkkk!!!!!"


"Yaudah sini aku cium dulu, biar mood bapak balik lagi."


"Haaahhh???? Cium?"


"Iya."


Aku dengan cepat menarik tangannya, kepalanya terdorong maju tepat di depan kepalaku. Tubuhnya menindih tubuhku, kontolnya kurasakan menyentuh bibir memekku. Aaaahhhhh.


Cuuupppp... Ccccuuupppp.... Muuuaaachhhh...


"Udah balik lagi belum moodnya pak?"


Kulihat mata Pak Karjo berbinar, mungkin ia tidak percaya dapat mencium bibirku. Wajahnya nampak berubah, aura mesumnya kembali terpancar, hihi berhasil.


"Waaaahhh gak nyangka saya bisa dikecup gitu sama mbak, makasih ya!"


"Iya pak, yaudah ayo lanjutin lagi. Udah gak tahan pengen dijilat!"


Pak Karjo kemudian memainkan lidahnya lagi di memekku, rasanya memang sungguh nikmat. Beda ya kalau yang sudah berpengalaman mah agak gimana gitu, gak kaya Tono dan Dani. Mungkin karna mereka masih pemula kali ya, ya gitu deh! hihi.


"Aaahhhhh, iya gitu pak... Terus pak mainin lidah bapak di lubang memek aku pak...aaahhhhhh.. enak pak terusin......."


Pak Karjo memang pandai membuat birahiku naik, hanya dengan lidahnya saja aku semakin gelagapan dibuatnya. Kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri menahan rasa geli dan nikmat di memekku. Pinggulku juga sampai terangkat, sampai sampai hidungnya kurasakan menempel dikulitku. Ini saatnya hihi.


"Mbak, mbak lepas mbak, mmmpphh...mpppphhh...mmmmbbakkk.. nhhggaak bbahhasbbiisshahh nhhaaphhaasss mmmaabhhakskkk...."


Aku menekan kepala Pak Karjo dengan kedua tanganku, sekuat tenaga. Dengan sekuat tenaga yang aku bisa. Ku dengar suaranya tak jelas terucap. Rasain! Rasain pembalasanku Pak Karjo!


Pppllllaaaakkkk.... Ppplllaaakkk....


Dua tamparan hinggap di kanan dan kiri pahaku. Aku melonggarkan tekananku pada kepala Pak Karjo. Ia buru buru menegakkan kepalanya sambil mengambil nafas dalam dalam.


"Aaaawwwww, sakiiiittttt pak!"


"Hhhaahhhh... Hhhaaaahhh.. haahhhhh... Mbak mau bunuh saya? Gak bisa napas ini! Hhhuuuuuu....."


"Sakit tau pak, merah tuh!"


Terlihat pahaku yang kini memerah akibat tamparannya tadi.


"Ya abisnya, mbak Adel kuat banget neken kepala saya. Kehabisan napas ini hidung mbak! Dasarrrr mbak ini...."


"Hehehe rasain! Itu pembalasan yang tadi buat Pak Karjo."


"Emmpp mainnya bales balesan ya sekarang, oke kalau itu mau mbak!"


Pak Karjo lalu memegang pinggangku dengan kedua tangannya. Dengan kekuatan besarnya ia balikan tubuhku hingga posisiku kini menjadi tengkurap, lalu ditarik nya pantatku ke atas hingga aku setengah menungging. Pak Karjo berdiri dengan lututnya mengarahkan batang kontolnya ke lubang pantatku.


"Eehhh ehhh kok langsung sih pak, memek aku kan belum keluar. Sebentar lagi pak, aku belum puas sama jilatan bapak."


"Rasain! hehe. Nanti juga keluar mbak kalau kontol saya udah ngentot bool mbak, sekalian aja. Waktu terbatas mbak. Tahan ya mbak!"


"Ehh pak basahin dulu, pake minyak dulu pak!"


"Gausah deh mbak, udah mau masuk juga ini."


"Nggak, gamau gamau sakit tau pak. Kontol bapak gede gitu main masukin aja."


"Kan udah pernah sama Tono mbak!"


"Ya tetep Pak Karjo, butuh pelumas juga. Kan udah kering lubang bool aku udah balik ke bentuk aslinya. Gimana sih?"


"Hhe iya juga ya."


Pak Karjo lalu mengambil botol minyak dan menuangkannya di seluruh batang kontolnya lalu ia menuangkannya juga di lubang boolku.


"Nah gitu pak, biar licin tau ngga!"


"Iya iya, ini kan udah. Bawel deh mbak Adel ini. Siap ya mbak mau tak masukin ini!"


"Iya, pelan pelan ya pak!"


Pak Karjo mulai mendorong kontolnya menusuk lubang pantatku, perlahan tapi pasti kontol itu masuk. Dari kepalanya hingga setengah bagian kontolnya.


"Aaarrghhhhhh... Mbak enak banget mbak! Sempit banget bool mbak Adel.. aakkhhhh."


Pak Karjo mulai menggerakan pinggulnya secara perlahan, aku yakin ia ingin menikmati setiap jepitan di lubang pantatku.


"Hhmmmmm... Hhmmm.. hhmmm... Aaahhhhh enak pak terus pak ... Cepetin lagi pak!"


"Sabar mbak, saya gak mau cepet cepet keluar mbak. Saya pengen nikmatin bool mbak lebih lama!"


"Gak ada waktu lagi pak, tinggal setengah jam lagi... Aaakhhhhhh, enak pak..... Kencengin pak aku mohon.. aku gak tahan... Aaaahhhhhh...."


"Masih lama mbak, sabar! Eerrgkkhhhhh.... Enak banget mbak, saya udah pengen keluar ini!"


"Ayo pak, kita keluarin bareng bareng! Abis itu kita mandi pak.... Aaaahhhh..."


"Kita? Mandi? Saya mandi disini mbak? Aaaakkkhhh..."


"Iya pak, kita mandi bareng abis ini... Eeeeuughhhh. Dalem banget pak!"


"Haaahhhh??? Yang bener mbak?"


"Iya pak, makanya cepetan! Tapi buat aku keluar dulu."


"Siap mbak Adel, rasakan ini!"


Mendengar ajakanku untuk mandi bersama, Pak Karjo langsung mempercepat gerakannya. Ia genjot pantatku seperti orang kesetanan, sangat cepat tanpa ampun. Pantatku sampai terdorong dorong diatas matras. Aku kini tak lagi menungging, kaki sudah ku selonjorkan kebawah. Memekku menyentuh matras.


"Aaarrgghkkkkk pak, gak sekenceng ini kali pak! Aawwwhhhhh.... Pak Karjooooo....eeeuummmpphhh... Hhemmpphhh..aahhhh...hhmmpphhh...paaakkk udahh paaakkkk sstopppp..."


Ploookkk... Plooookkksss.. plloooookkkssss...


"Aaahhhh paakkk, Paakkk Kaarjooo uudahh pakk... Paannttatt aakuuu sssakiittttt.. paakkk.. udahhh berhentiiii pakkkkk....saaaakiitttttttt..... Eemmmm!"


"Nanggung mbak udah mau keluar ini...aaahhhhh..."


Plokkk...plloookk..ppplllokkkk...plllookksss..plokkk...


"Sssssaaakiiitttttt pakkkk... Uudahhh... Daalemmm bangett pakkk... Hikkkssssss...."


Air mataku perlahan keluar, tapi tak disadari oleh Pak Karjo. Ia terus menggenjotku dengan cepat, akal sehatnya hilang seketika. Kenapa aku beri tahu dia tadi kalau aku akan mengajaknya mandi, dia jadi psikopat yang sedang menerkam mangsanya. Rasanya sakit, lubang pantatku terasa perih dihantam terus menerus dengan kecepatan tinggi.


"Aaaarggghhh mbak saaayyyaaaa kkeelluuaarr mbakk......"


Jjjleeebbbbb, kontol Pak Karjo masuk sedalam dalamnya di lubang pantatku.


Cccrrroottt... Cccrrrooottt.....ccrrooottttt....


Pak Karjo menindih tubuhku, sementara kontolnya masih bersemayam dilubang pantatku. Dadanya terasa menempel di kulit punggung, hidungnya mengendus rambutku dengan nafas dalam.


"Hhaahhh... Hhaahhh..hhhaaahhh.. enak banget mbak!"


Aku memiringkan kepalaku ke arah kanan tepat dibawah wajahnya.


"Hiiikkkksss...hhhiikkksss....."


Pak Karjo kemudian terperanjat kaget mendengar tangisanku yang lirih. Ia menaikan dadanya lalu berkata.


"Mbak Adel nangis?"


"Hikksss..."


Aku tak menjawabnya, perlahan tangisku mereda. Hanya linangan air mata yang masih mengalir di ujung mataku.


"Mbak, mbak Adel beneran nangis? Kenapa mbak? Saya terlalu kasar? Pantat mbak sakit? Apa saya terlalu kenceng genjotnya? Mbak, mbak Adel....."


"Sakit tau pak!"


"Sssaaaakit mbak?"


Pak Karjo lalu mencabut kontolnya dari lubang pantatku. Ppplllooooppppp... Ia lalu duduk bersila disamping kanan tubuhku.


"Iya pak, sakit banget tau. Lubang pantatku berasa lecet tau gak pak. Pak Karjo jahat, mainnya kasar, egois pengen enak sendiri. Bapak udah keluar, sedangkan aku belum. Jahat!"


"Eehhh maaf mbak, maapin saya! Tadi enak banget gak ke kontrol jadinya. Sakit ya mbak? Coba saya liat!"


Pak Karjo lalu melihat lubang pantatku, ia lebarkan dengan tangannya.


"Iya mbak merah banget, terus ada putih putih mbak ditengahnya. Kaya bendera negara kita, merah putih hhe!"


"Iiihhh itu mah, sperma bapak! Orang lagi sakit juga malah dibecandain, dasar."


"Bukan becanda mbak, tapi menghibur ehehe maaf ya mbak. Nanti juga sembuh kok!"


"Iya pak, makasih udah ngehibur aku."


"Ayo mbak kita mandi bareng!"


"Liat jam dong pak, tuh tinggal sepuluh menit lagi. Gak akan cukup waktunya juga."


"Mandi saya cepet kok mbak."


"Yaudah bapak mandi aja sana, sendirian."


Aku lalu merubah posisiku, kini aku duduk bersila juga sama seperti Pak Karjo. Kita saling berhadapan.


"Loh kok, malah disuruh mandi sendiri tadi kan barengan katanya!"


"Iya Pak Karjo, kita bakal mandi bareng. Gimana kalau setelah bapak selesai ngajar ngaji? Kita bakal nyabunin badan kita satu sama lain, saling gesekin kulit kita sambil tiduran. Mau kan?"


Sambil berkata itu, aku semakin mendekatkan kepalaku dengan kepalanya. Hidungku menempel dengan hidungnya, lalu.....


Muuuaaachhhh......


Sebuah kecupan kembali mendarat dibibirnya, kecupan manja seharga tiga ratus ribu. Aku lakukan itu karena ia sudah membelinya, dan sudah tentu aku harus memberikan yang terbaik juga untuknya.


Aku duduk dipangkuannya, kakiku melingkar dipinggangnya. Sementara tanganku memegang kepala belakangnya, dan sekali lagi aku mengecupnya.


Mmmuuuuaachh.......


"Waktu kita udah abis Pak Karjo, sekarang bapak harus mengajar ngaji."


"Apa gak bisa dilanjut aja mbak?"


"Nggak, jangan abaikan kewajiban bapak karna aku. Aku gak mau pak bapak harus tetep ke mushola."


"Yaudah deh mbak, tapi nanti dilanjut lagi kan setelah saya selesai dari mushola mbak?"


"Iya pak, nanti setelah selesai bapak langsung masuk aja ya pintunya gak aku kunci. Inget liat keadaan sekitar dulu, pastiin aman sebelum bapak masuk ke rumah aku!"


"Oke deh mbak, beres kalau itu mah aman. Saya cuci muka dulu ya mbak, biar segeran."


"Iya pak."


"Mbak nya turun dulu dong, gimana saya ke kamar mandinya kalau mbak masih duduk dipangkuan saya."


"Ehhh iya, hhe."


"Atau mbak mau dipangku, ikut bareng ke kamar mandi?"


"Eeemmmm? Boleh deh pak, ayo! Kuat kan?"


"Kuat dong mbak. Mbak Adel peluk leher saya, kakinya tahan ke pinggang ya. Siap?"


Pak Karjo berhasil menggendongku, kenapa aku bahagia ya diperlakukan seperti ini? Apa aku........? Ngga dong Del, ini hanya karna kamu udah dibayar olehnya jadi kamu harus all out memberikan semuanya. Terkecuali 'rasa', jangan libatkan rasa Del bisa bahaya. Inget!


Aku digendong olehnya memasuki kamar mandi, lalu aku didudukan di tembok bak mandi. Seperti anak kecil rasanya hihi. Aku lalu turun kemudian berjongkok untuk mengeluarkan air seniku. Pak Karjo mencuci mukanya lalu melapnya dengan handuk yang ada di belakang pintu. Aku pun sama dengannya. Setelah selesai Pak Karjo memakai pakaiannya yang ia sembunyikan di kamar.


Sudah terlihat rapi, seperti seharusnya. Dengan baju koko dan peci sebagai simbol ketaqwaannya.


"Mau kemana sih Pak Ustadz, ke mushola ya? Disana kan ngajar ngaji ya, kalau disini ustadz?"


"Ngajarin mbak Adel tentang kepuasan dan kenikmatan, ahahahaha."


"Ahahahaha. Dasar! Udah sana buruan pak, keburu adzan!"


"Iya iya, saya nitip tas ya mbak."


"Iya, perhatiin dulu sekitar ya pak, kalau aman bapak keluar."


"Iya mbak, pamit ya assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Pak Karjo pergi meninggalkan rumahku, ia mengendap ngendap berjalan pelan sambil memperhatikan sekitar. Aku mengintipnya dari balik pintu, melihatnya menjauh lalu hilang tak terlihat. Ku tutup pintu kembali. Tak menguncinya agar Pak Karjo nanti mudah memasukinya.


Aku lalu duduk dikursi sofa dengan ketelanjanganku. Aku merenung meresapi ajakan dari Pak RT juga Pak Karjo, duo guru ngaji yang mengajakku untuk bergabung menjadi pelengkap mereka. Aku bingung, bagaimana dengan kelakuanku yang seperti ini. Apa pantas aku menjadi seorang guru, kelakuanku saja tak pantas ditiru. Kalau aku menerima pasti aktivitas eksibku bakal terhambat, kalau aku tolak pasti tidak enak sama Pak RT.


Lalu bagaimana? Aaarrgggkkkkhhhhhh.... Pusing aku memikirkannya! Biarlah gimana nanti saja......


Perlahan aku merebahkan diriku, rasa kantuk kini melekat di kepalaku. Mataku kian menutup, lalu aku tertidur......


"Mbak, mbak Adel bangun! Mbak, bangun mbak!"


"Eeuummmm... Ehh, ehh siapa kamu? Tolong......"


"Ehh ehh mbak, sadar mbak! Ini saya Pak Karjo!"


"Ohhh Pak Karjo, aku kira maling yang mau perkosa aku tadi, hhe. Iiiihhhh udah telanjang aja bapak."


"Enak aja disamain sama maling, tapi kalau yang mau perkosa mbak Adel iya kali ya hehe. Biar langsung mbak."


"Gak, gak boleh Pak Karjo! Cukup tadi yang belakang aja."


"Hemm, yaudah ayo mbak keburu malem banget!"


"Iya iya, tapi dingin gak sih pak?"


"Yeee gimana mbak Adel ini, tadi ngajak saya buat mandi bareng. Kan nanti kita bakal saling menghangatkan mbak!"


"Ya udah deh, ayo! Dasar tukang maksa. Gendong lagi!"


"Hhuuu, dasar ustadzah manja!"


"Biarin, wwllleeeee......"


Pak Karjo kemudian menggendongku, posisinya sama seperti tadi aku digendong didepan tubuhnya. Kami memasuki kamar mandi, lagi lagi aku didudukan di tembok bak mandi. Aku masih memeluknya, tak ingin lepas dari hangat tubuhnya. Tubuh yang sebelumnya telah memberikan pahala untuk anak anak yang diajarnya, tubuh yang sebelumnya telah terucap kata kata suci.


Aku merasakan hal yang berbeda, aku merasa dicintai aku merasa disayangi oleh seorang bapak yang usianya mungkin dua kali lipat usiaku saat ini. Yang lebih pantas menjadi ayahku, bukan pasangan seks ku. Apa karena dia seorang ustadz jadi aku semakin tertarik, apa karena pengalamannya dalam dunia pijat yang bisa dengan sangat lembut membangkitkan gairahku?


Aku tak mengerti, yang jelas sekarang aku menikmati ini. Aku kembali mengecup bibirnya.


Ccccuuuupppppsss... Muuaacchhhhh....


"Bapak pinter bikin aku sange tau nggak pak! Bapak jago bikin birahi aku naik, Pak Karjo hebat."


"Hebat? Saya?"


"Iya."


"Belum mbak, saya belum hebat kalau belum bisa dapetin memeknya mbak Adel! Hhe."


"Iiiihhhh kan gitu lagi, udah deh pak jangan maksa nanti aku malah tergoda. Gak mau ahh, kan udah aku bilang berkali kali memek aku tuh cuma buat suami aku nanti pak. Paham gak sih? Apa Pak Karjo mau jadi suami aku, biar bisa dapetin memek aku?"


"Boleh emang mbak?"


Pak Karjo dengan semangat mengatakan pertanyaan itu?


"Ya nggak dong pak, hihi. Bapak kan udah punya istri aku gak mau jadi yang kedua. Udah deh pak, stop berharap dapetin memek aku. Gak bakal aku kasih juga! Atau mungkin nanti kalau aku udah punya suami, terus aku ijin ke suami aku kalau memek aku pengen di genjot juga sama Pak Karjo. Itu pun kalau bapak mau nunggu, hihi."


"Yahhh kelamaan dong mbak, kapan mbak nikahnya!"


"Yeee, ya sabar dong pak. Guru ngaji kok gak sabaran aneh deh."


"Ehh bukan gak sabarnya yang aneh mbak, tapi pengen memek mbaknya yang aneh. Kok guru ngaji pengen memek cewek yang bukan muhrimnya ahahaha."


"Ahahaha iya ya pak, kok bisa sih pak! Iman bapak setipis tisu sekarang. Gara gara aku ya pak?"


"Bukan gara gara mbak, tapi gara gara setan yang sering gangguin kita. Dan mereka berhasil hehe."


"Diiihh, kan harusnya bapak nolak bujuk rayu setan itu. Ini malah makin mendalami, gimana sih guru ngaji satu ini?"


"Ya namanya juga nafsu mbak, siapa yang bakal tahan. Apalagi disuguhin bidadari yang cantiknya luar biasa gini, badannya bagus, seksi, putih, susunya gede, memeknya menggoda, pantatnya bahenol. Siapa yang bakal tahan mbak?"


"Hhhuuuu, gombal! Dasar guru ngaji mesum. Udah ahh pak ayo langsung mandi aja lama lama dingin."


"Ayo. Ehh bentar mbak kan tadi belum keluar, mau dikeluarin dulu?"


"Emmm? Pas mandi aja deh pak sekalian, bisa kan?"


"Bisa dong, ustadz Karjo bakal muasin ustadzah Adel. Mmmuuaachhh...."


"Aaaahhhhh......"


"Aku dulu yang mandiin bapak ya, habis itu bapak yang mandiin aku!"


Pak Karjo mengangguk tanda setuju. Aku turun dari bak mandi, mengambil gayung lalu mengguyurkan air ke badan Pak Karjo. Tiga kali aku lakukan itu sampai kulitnya benar benar basah terkena air. Aku menuangkan sabun cair kesukaanku pada tubuhnya, aroma lavender membuatku tenang.


Ku gosok lembut bagian dadanya, lehernya hingga bahunya. Kusentil putingnya, Pak Karjo tersenyum padaku, ku balas dengan senyuman. Tidak, tidak! Ku balas dengan kecupan.


Muuuaacchhhh.....


Aku melanjutkan kembali, kini ketiaknya berlanjut ke lengan sampai jari jarinya yang kiri juga yang kanan. Turun ke perutnya, ku usapi perlahan. Pinggang nya tak lupa aku sabuni juga. Kini aku berjongkok, dihadapanku kini terpampang sebuah benda pusaka legendaris milik bapak tua ini. Besar panjang membuatku kagum akan kegagahannya. Aku melewatinya dulu, ku simpan untuk bagian terakhir.


Paha Pak Karjo aku sabuni, kiri dan kanan dua duanya mendapatkan bagian. Turun ke lutut, betis sampai jari kaki bergantian kanan dan kiri. Ku ambil botol sabun cair kembali menuangkannya pada batang kontol Pak Karjo yang sudah tegak berdiri, meski ku yakin itu belum pada bentuk terbaiknya. Tangan kananku bermain disana, mengusapnya pelan hingga perlahan menambah tekanan.


Ku genggam batangnya, ku kocok dengan intensitas sedang. Ku lihat wajahnya, ia menutup matanya meresapi setiap inci kenikmatan yang aku berikan pada kontolnya. Licin, kontolnya sangat licin memudahkan gerakan tanganku untuk mengocoknya lebih cepat, semakin cepat sampai akhirnya aku akhiri.


Aku berdiri, mengambil botol sabun dan berpindah ke belakang tubuhnya. Pak Karjo membuka mata, sepertinya bingung. Ia menoleh ke arah ku,


"Kok?"


"Dua ratus lima puluh ribu, cuma buat sekali crot ya pak hihi."


Ku tuangkan sabun cair itu ke punggungnya, ku usap sampai busanya muncul. Aku memeluk tubuhnya, kulingkarkan kedua tanganku di dadanya. Memeluknya dengan erat, hingga tentu saja payudara besarku menempel dan terhimpit di punggungnya. Aku menggerakan tubuhku naik dan turun secara perlahan, meresapi setiap gerakan dan sentuhan. Putingku mengeras ku rasakan, rasanya sangat menggairahkan.


Aku melepas pelukanku didadanya, tangan kiriku kini memeluk lehernya sementara tangan kananku hinggap lagi di kontolnya. Aku berbisik ditelinganya.


"Nikmatin ya pak, tapi aku gak janji sampai keluar hihi."


"Hhhhmmmppphhh.... Aahhhhhh..."


Tangan kiriku kini bermain di dada kanan Pak Karjo, jari telunjuk dan jempolku memutar mutar putingnya. Sedangkan tangan kananku semakin mempercepat kocokannya. Desahan demi desahan keluar dari mulutnya saat ku jilati belakang telinganya.


"Aaahhhh.. mbak...enak geli.... Aaahhh terus mbak kocok yang cepet... Aahhh."


"Bapak udah mau keluar?"


"Bentar lagi mbak... Aahhhhh... Terus mbak..."


"Iya pak."


Aku mengocoknya semakin cepat, cepat sekali sampai tiba tiba....... Aku berhenti.


"Kok berhenti lagi sih mbak?"


"Simpen buat nanti ya pak, jangan dikeluarin dulu. Masih bisa tahan kan?"


"Biii....saaa mbak!"


"Oke pak, aku kasih lebih ya!"


"Lebih?"


"Heem."


Aku lalu mengambil gayung mengisinya dengan air lalu membasuh kontol Pak Karjo dari sisa sabun.


"Udah bersih pak!"


"Iii iiya mbak, mau..... diapain mbak?"


Aku memberikan senyuman padanya, lalu......


Cccuuuppppp......


Ku kecup kepala kontolnya.


"Ehhhh mbak kok....."


"Bapak belum pernah diginiin?"


"Belum mbak, istri saya selalu nolak kalau saya minta, jorok katanya."


"Heeemm, aku kasih yang pertama buat bapak. Nikmatin ya pak!"


"Iiii iiyaa mbak... Aahhhh."


Aku mengecupnya lagi kemudian ku jilati lubang kencingnya mengulum kepala kontolnya seperti permen lolipop, hihi. Ku masukan lebih dalam, aku maju mundurkan kepalaku menikmati batang kontol Pak Karjo.


"Aaahhhhh... Enak mbak, mulut mbak enak banget nyepong kontol saya, anget mbak!"


Hhoookkkks .. hhoookkksss.. gllookkk.. gglllookkkss..


"Ssstttt'aaahhhhh..."


Aku memasukan seluruh batangnya kedalam mulutku. Terasa penuh kontol Pak Karjo ini di mulutku sampai ujung kontolnya menyentuh dinding terdalam ruang mulutku. Aku diamkan beberapa detik disana.


"Hhhhmmmppphhh.... Sssttt'aaarrgghhh...."

"Cukup ya pak!"


"Iya mbak, makasih. Kontol saya disedot gitu mbak, enak banget rasanya. Haahhh..hhhaaahh.."


"Hihi iya pak, pengalaman pertama harus dibikin enak dong pak. Yuk pak sekarang giliran bapak mandiin aku!"


"Iya mbak."


Aku berdiri, Pak Karjo mengguyur tubuhku. Ia ambil botol sabun lalu menuangnya di dadaku. Tangannya dengan cepat mengusap payudaraku. Busa sabun sudah terbentuk disana, ia pelintir kedua putingnya. Aku meringis.


"Eemmmpphhh..."


"Balik badan mbak!"


Ia memegang pundakku lalu memutar tubuhku, kini aku membelakanginya. Sabun cair kembali menyentuh kulit punggungku, ia mengusapnya. Kedua tanganku tak luput dari usapannya. Ketiak, pinggang, dan perutku diusapnya juga. Kini Pak Karjo berjongkok, giliran pantatku yang ia sabuni. Tangannya meremas bongkahan pantatku, memijatnya, memencetnya. Ia lama bermain disana.


Sampai akhirnya tangan Pak Karjo mengusap memekku dari belakang.


"Hhhmmmmmm... aaahhhhhh..."


Lalu ia turun ke pahaku, betisku hingga jari kakiku. Ia berdiri lalu memelukku, kedua tangannya hinggap di payudaraku. Dadanya menempel dipunggungku, sementara kontolnya yang tegak mengacung terselip diantara paha dalamku dan menyentuh bibir vaginaku.


Telingaku juga ikut dijilatinya, tangannya masih meremas payudaraku lalu ia berbisik.


"Susu mbak kenyal banget, saya suka. Suka banget mbak! Buat saya ya?"


"Terserah bapak, asal jangan dibawa pulang aja hihi."


"Sekarang ya mbak, udah gak tahan kontol saya!"


"Mau dimasukin pantat aku lagi pak?"


"Udah gak sakit emang mbak?"


"Emmm gatau pak, sekarang sih gak kerasa gak tau kalau udah dimasukin."


"Hheemm gak usah deh mbak, gak tega kalau mbak kesakitan lagi kaya tadi hhe."


"Hemm baru nyadar sekarang, dasar!"


"Hhe maaf, gini aja deh mbak saya selipin kontol saya di paha mbak. Bentaran doang kayanya, udah di ujung juga ini mbak!"


"Oke deh pak, kita keluarin bareng. Aku nungging ya!"


"Iya mbak."


Aku menurunkan tubuh atasku, posisiku kini menungging didepan Pak Karjo. Kedua tanganku berpegangan pada tembok bak mandi. Pak Karjo mulai menggerak pinggulnya maju mundur, perlahan tapi pasti. Meski hanya menyentuh bibir memekku, rasa nikmatnya tetap ku rasakan. Bahkan saat batang kontolnya menggesek klitorisku, uuuhhhh.. enak banget rasanya.


Plokkkk..pppllooookkk..pplloookkss..


"Aaahhh terus pak, genjot yang kenceng aku udah mau keluar pak!"


"Iya mbak, ini saya cepetin... Aahhhh.. saya juga udah mau keluar mbak.. ahhh."


"Keluarin bareng pak... Aahhh... Aggghhhh...aahhh.."


Pllllokk..ploookkk..pplllokkksss..pplokks..ppllookk..


"Aaaakkhhhh.. bentar lagi pak, bentar lagi aahhh.."


"Iya mbak, saya juga!"


Plakkk.. plaakkk..pplllakkk...


"Aaaawwwww... Pak..."


Tangan Pak Karjo tiba tiba menampar pantatku dengan keras.


Pplookkkk..pploookkk..pllookk...


"Uuuuuhhhhh .. iya pak, tusuk bool aku sama jari bapak... Ooouuughhhhh... Sambilll gerakin pak oouugghh... Aaahhhh enak pak...."


Dan tiba tiba juga jempol Pak Karjo menusuk lubang pantatku, semakin aku merasakan kenikmatan dibuatnya. Memang pandai Pak Karjo ini, aku harus mengakuinya.


"Ooohhhhh.. mbak saya mau keluar mbak!"


"Aahhhh, saya juga pak...Oouuughhhh.. kkkeelluuarr pak aaarrghhhhhh......"


Cccrrrtttt....ccrttt..cccrttt....ssssrrrrrr...ssssrrrrr...


"Hahhhh.. hhhaaahhhh...hhhahh.."


"Giliran saya mbakkkkk, kkkeelluuuarrr.... Oooowwwhhh..."


Pak Karjo menarik kontolnya dari selipan pahaku, kemudian mengocoknya sejenak dengan kecepatan penuh. Lalu kurasakan spermanya muncrat di belahan memekku.


Cccrrooottt...ccrroott...ccrrooottt....


"Hhhaaaaaahhhh... Hhhaaahhhhh.... Enak banget mbak. Padahal cuma diselipin doang loh, memek mbak memang juara mbak!"


"Hhhaaahhhh, iya pak. Kontol bapak juga hebat klitoris aku sampe enak banget walau cuma kegesek batang kontol bapak."


"Apalagi kalau dimasukin ya mbak, pasti lebih enak!"


"Iiiihhh gitu lagi deh Pak Karjo mah."


"Hehehe."


"Udah yuk pak, langsung bilas aja. Udah makin malem ini."


"Iya mbak, mbak duluan aja!"


Aku mengguyur tubuhku, membersihkan sisa sisa sabun sampai benar benar bersih. Ku lihat Pak Karjo berjongkok, mungkin ia kelelahan dengan dua kali ejakulasi yang ia dapatkan. Aku lalu mengguyurnya sampai bersih dari sisa sisa busa sabun. Kami selesai mandi. Ku keringkan tubuhku dan tubuh Pak Karjo dengan handuk.


Kami keluar kamar mandi menuju ruang depan. Pak Karjo langsung saja memakai pakaiannya.


"Makasih banyak ya mbak, nikmat banget tadi. Bapak berasa jadi muda lagi bisa ngewe sama mbak Adel, hhe."


"Iya pak sama sama, aku juga makasih sama bapak. Gimana, dua ratus lima puluh ribu worth it kan pak? Hhe."


"Dengan harga segitu sih worth it banget mbak, nanti saya rekomendasiin ke temen temen saya deh mbak hehe."


"Enak aja, nggak yah. Aku bukan lonte tau pak, dasar!"


"Ahahaha, becanda kali mbak. Ngapain juga nawarin ke yang lain mending dipake sendiri, ya nggak mbak?"


"Gatau, terserah Pak Karjo aja. Udah sana pak buruan pulang, dicari bu Ratmi loh nanti!"


"Iya mbak, ini kan lagi beres beres."


Pak Karjo memasukan perlengkapannya, matras dan lilin sudah ia masukan ke dalam tasnya.


"Kapan kapan lagi ya mbak?"


"Kok lagi sih pak? Gak ahh nanti keterusan."


"Yaaahhh... Cuma kali ini doang mbak?"


"Iya pak, kalau lain kali harga naik hehe."


"Hemmm, berapa?"


"Lima ratus ribu dua jam!"


"Loh kok?"


"Nggak, nggak bercanda pak. Udah sana udah malem!"


"Iya."


"Sejuta semaleman!"


"Haaahhhh???"


"Hhe, nggak ihh bercanda doang pak."


"Mahal banget mbak, gak mampu saya kalau segitu mah."


"Nggak pak ihh bercanda doang. Udah udah sana, dua ratus lima puluh ribu itu udah kelamaan ini pak, harusnya udah selesai dari tadi!"


"Perhitungan banget mbak sama pelanggan perdana, harusnya kasih bonus gitu loh mbak!"


"Bonus???"


"Iya, memek mbak! Ahahahaha...."


"Iiihhh dasar, guru ngaji mesum. Udah sana pulang!"


"Iya, saya pamit ya mbak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam pak, inget! Liat keadaan sekitar baru keluar, jangan sampai ada yang tau."


"Iya mbak, saya inget."


Pak Karjo keluar dari rumahku, ia mengendap ngendap berjalan perlahan tanpa suara. Melihat ke kanan dan ke kiri memastikan keadaan aman. Aku melihatnya dari balik pintu, hanya kepalaku yang ku tengokkan untuk melihatnya. Memastikan kepulangannya tanpa ada gangguan. Setelah menutup pagar, Pak Karjo memberiku jempol pertanda keadaan aman. Aku hanya mengangguk, lalu menutup pintu dan menguncinya.


Hhhuuuuuhhhhh, lelah sekali. Pengalaman baru aku dapatkan lagi. Ternyata seperti ini rasanya berhubungan tapi dapat bayaran, menarik!


Perutku terasa lapar, aku kemudian makan terlebih dahulu dan langsung tidur setelahnya. Berharap hari esok aku dapat pengalaman baru lagi.


Bersambung.


:::::::::::::::::::::


#15.1


KEBERUNTUNGAN LAINNYA


Hari ini aku bangun tepat pada waktunya, pukul setengah lima pagi sebelum adzan subuh berkumandang. Aku lalu menuju kamar mandi, untuk mandi tentunya hihi. Mandi besar kali ini, karena kemarin aku telah berbuat dosa dengan tukang pijat tetanggaku sendiri ehh bukan bukan, guru ngaji lebih tepatnya. Jadi ya aku harus bersuci di mandi kali ini, meskipun nanti mungkin aku akan kotor lagi ehehe.


Udara dingin menyelimuti diri, terperangkap dalam pori-pori kulit yang tak terhindari. Dinginnya air menyapa hati yang semakin liar tak tertahan. Menembus batas keimanan dan sebuah tujuan terbelokkan. Tak lagi dijalan yang lurus, tak lagi dijalan yang diberkahi. Tapi kenapa aku malah menikmati, perjalanan baru yang aku geluti sekarang ini antara dosa dan kenikmatan.


Aku selesai dengan mandiku, ku langkahkan kaki ke kamar tempat tidurku. Memakai pakaian lengkap, penghangat tubuhku dipagi ini. Dalaman putih bersih seperti kulitku dipadukan dengan daster merah muda dengan sedikit motif bunga. Juga hijab instan yang sederhana dengan warna senada.


Adzan subuh sudah berkumandang, lantas aku menggelar sajadahku memakai mukena lalu bersiap untuk kewajibanku. Aku tak tahu apakah ini diterima atau tidak, yang jelas aku sudah menaati perintahnya meski memang sulit untuk menjauhi larangannya. Setidaknya ada keseimbangan dalam hidup, antara dosa dan pahala. Walau dosa akan terus ada, tapi pahala harus bisa menutupinya. Iya kan?


Cie ustadzah Adel, udah cocok belum? Hihi.


Selesai dengan itu, aku memasak nasi didapur. Persediaan beraspun semakin menipis, minyak goreng sudah hampir habis. Sayuran apalagi, tidak ada sama sekali. Lauk paukpun hanya tinggal telur, tak ada ikan tak ada daging. Terlalu riskan apabila aku menyetok terlalu banyak, tak ada kulkas disini. Resiko lebih cepat busuk sangat bisa terjadi, mubazir nantinya sayang.


Sambil menunggu nasi matang aku menggoreng telur saja, telur mata sapi yang amat simple. Tinggal pecahkan cangkangnya lalu tuangkan kewajan, jangan lupa dibalik agar kedua sisinya matang merata beres deh. Nanti belanja ke mang Asep aja deh semoga dia kesini ya. Aku juga belum minta maaf soal kejadian tempo hari, ngerasa bersalah deh udah keterlaluan sama dia. Adel, Adel orang tua kok di bercandain gitu sih! Iya maaf, kan gak tau bakal setakut itu mang Asep lagian Bu Ratmi sih ganggu aja jadi gak sempet kasih hadiahkan ke mang Asep nya, huuuu sebel deh.


Nasi pun matang, aku langsung saja sarapan. Nasi hangat dan ceplok telor, memang sederhana tapi tak apa karna rasa syukur adalah segalanya. Masih banyak kan diluar sana yang kesusahan untuk makan, ya aku disini beruntung meski hidup sendiri tapi masih bisa menikmati sebuah hidangan sederhana ini.


Alhamdulillah perut sudah kenyang, tinggal beres beres deh. Pertama ku rapihkan kasur tempat aku tidur, ku perhatikan banyak noda kotor di spreinya. Hemm harus di cuci sepertinya! Cuci aja deh sekalian sama pakaian kotorku yang lain, sekalian olahraga pagi juga kan.


Aku mulai mencucinya, ku oleskan sabun cuci ku gosok dengan sikat hingga benar benar bersih. Ku tambahkan pewangi pakaian dalam rendaman ember, ku diamkan sejenak sampai wanginya meresap. Ku peras lalu aku jemur didepan rumah. Mentari mulai menyinari langit yang perlahan menampakkan cahayanya.


"Assalamualaikum mbak Adel."


Seseorang mengucapkan salam padaku, ia berhenti di pagar depan rumahku.


"Ehhh Pak RT, waalaikumsalam pak."


"Wiihhh pagi pagi gini udah beres nyuci nih mbak?"


"Hihi iya pak, mumpung gak ada kerjaan ya nyuci aja deh. Spreinya udah mulai kotor nih pak!"


"Mbak nyuci sprei jangan jangan mbak ngompol ya? ehehe."


"Ihhhh nggak lah Pak RT, mana mungkin pak aku kan udah gede gini masa masih ngompol di kasur sih. Ehhh kalau ngompol sih nggak pak, kalau pipis iya. Pipis enak Pak RT (ehhh astaghfirullah ini kan pak RT Adel jangan coba coba deh)."


"Pipis enak mbak?"


"Ehh ngga ngga kok pak ngga, ngga jadi pipis hhe."


"Mbak Adel gak apa apa?"


"Nggak kok pak, aku gapapa! ( Tuh salah tingkah kan, nyoba nyoba sih sama Pak RT. Dasar Adel!)."

"Pak RT mau kemana pagi pagi udah rapih gitu?"


"Ada kegiatan mbak di balai desa, semua perangkat harus datang tanpa terkecuali."


"Ohhh pantesan, ganteng loh pak! Ehhh."


"Hahhh??? Apa barusan mbak?"


"Ehhh ngga ngga ngga pak! ( Duh kok keceplosan terus sih, tapi ya emang keliatan ganteng kok Pak RT. Pake kemeja biru muda celana bahan item sepatu pantofel, badan keker atletis, uuuhhhh. Ke KUA aja deh pak, lamar aku hihi )


"Beneran gak apa apa mbak Adel?"


"Emang aku kenapa pak?"


"Nggak sih gapapa, ada yang aneh aja hhe."


"Aneh ya pak? Baju aku kah? Nggak kok pak, biasa aja!"


"Bukan bajunya tapi sikap mbak!"


"Ohhh..... Sikapnya ya pak, hhe. ( Ya pasti aneh lah Pak RT kan aku salah tingkah liat kegantengan bapak. Ehh bukan bapak deng mas RT harusnya hihi )


"Udah udah lupain aja mbak!"


"Hhe, iya. Pak RT mau mampir dulu? Aku buatin kopi....... lagi!"


"Gak usah mbak, mampir terus nanti malah ngerepotin. Kopi mbak nanti habis kalau disuguhin ke saya terus hhe."


"Buatin kopi kan gak repot pak, tinggal tuang pake air panas terus kalau abis juga tinggal beli lagi di warung mbok Yeni."


"Makasih deh mbak, tapi saya udah ngopi tadi dirumah lain kali deh ya. Oh iya mbak, gimana? Udah ambil keputusannya?"


"Emmm soal..... Guru ngaji ya pak? Belum sih pak, minggu depan deh pak aku kabarin lagi. Masih bingung soalnya masih mikir mikir juga aku nya."


"Yaudah deh mbak, gapapa gak usah buru buru. Mbak bilang dulu aja sama orang tua mbak kalau perlu biar mbaknya yakin."


"Iya pak, pokoknya minggu depan aku kasih keputusannya deh. Mau atau ngga nya, ya pak!"


"Iya mbak, yaudah kalau gitu saya pamit dulu ya gak enak kalau sampe telat."


"Iya pak, hati hati dijalannya!"


"Emm iya mbak, makasih. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam pak."


Huuuuuuhhhhh.... Kenapa Pak RT jadi menarik perhatianku sekarang? Biasa liat dia pake kaosan doang terus sekarang pakai kemeja rapih jadi keliatan beda gitu. Auranya berwibawa, badannya sih bikin aku sange pagi pagi gini. Badan kekarnya pengen aku elus elus, pengen nyubit otot ototnya pasti keras. Apalagi itu nya, aaahhhhh sayang Pak RT gak bisa digoda. Sayang banget, padahal aku suka dia. Ehhhhh..... Keceplosan lagi hihi.


Jemur pakaiannya udah, apalagi ya? Nyapu sama ngepel deh sekalian sambil nungguin mang Asep datang. Aku menggambil terlebih dahulu hp ku, ku setel musik untuk menemaniku menyapu dan mengepel lantai nanti.


Lagu sudah terputar di hp ku, mengiringi setiap gerakan sapu yang aku pegang.


Meski ku bukan yang pertama di hatimu

Tapi cintaku terbaik untukmu

Meski ku bukan bintang di langit

Tapi cintaku yang terbaik


Ku dendangkan sebuah lagu kesukaanku.


Suka deh sama lagu ini, kaya cinta aku. Terbaik! Tapi buat siapa ya hihi buat Pak RT kah? Hemmm mungkin....... iya mungkin ngga. Gatau deh buat yang mau aja pokoknya hhe.


Nyapu udah beres tinggal ngepelnya, aku lalu menuju kamar mandi untuk mengambil lap pel juga ember yang berisi air. Ku tuangkan pewangi lantai sedikit ke dalamnya. Ku peras lalu aku pel deh semuanya, semua lantai dirumahku sudah bersih dan wangi. Heemmmmpphhh wangi apel!


Huhhhh capek juga ya, aku kemudian mengambil air minum dan beristirahat di kursi sofa. Aku baru ingat kalau di tasku ada beberapa sisa camilan dan snack yang aku bawa waktu perjalanan ke kampung ini. Ku ambil di kamar dan membawanya ke kursi. Ya benar masih tersisa beberapa, ku ambil snack keripik kentang ku makan sambil memainkan hp ku.


Tak terasa sudah jam sembilan saja waktu berlalu. Tapi tak ku dengar teriakan khas dari suara mang Asep. Biasanya jam sembilan atau sebelumnya dia sudah ada didepan rumahku, kenapa sekarang tidak ada? Kemana dia ya, ada proyek lagi kah? Duhhh gawat nih, beli perlengkapan makan nya kemana dong? Apa di sekitar sini ada pasar ya?.


Ku cek di aplikasi google maps di hp ku, lumayan jauh ternyata. Jalan kaki sih gak mungkin ya, bisa gempor kaki ku ini. Aku belum tahu apakah ada alat transportasi yang lewat di kampung ini. Angkot mungkin atau ojek! Aku harus bertanya pada seseorang nih, Bu Ratmi kali yah? Boleh deh nanti aku mampir ke rumahnya.


=¥=¥=


[Sekilas tentang pikiran mang Asep yang sedang jauh disana perihal kejadian tempo hari di kamar mandi rumah mbak Adel.]


Heemmm awas aja ya mbak, akan saya balas nanti. Tunggu aja pasti mbak bakal kapok, mbak pasti menyesal karena sudah melakukan hal itu ke saya. Mbak pikir mbak siapa hah? Seenaknya aja ngebully saya. Saya memang udah tua mbak, tapi kontol saya nanti bisa ngerobek robek lubang memek mbak. Tunggu aja mbak Adel, siap siap dengan kontol saya. Memek mbak bakal ngerasain kontol saya ini ahahahaha.


Sialan emang ukhti satu ini, awas aja nanti. Akan aku perkosa kamu nanti mbak kekekeke.

Setelah selesai proyek ini, akan saya atur strategi matang matang buat bisa masuk rumah kamu secara diam diam mbak. Akan saya maling keperawananmu mbak Adel. Kita akan ngewe bersama semalaman mbak. Saya bakal mempersiapkan kejantanan saya dari resep buatan si Dayat mbak, dia ahli meracik obat kuat semalam suntuk. Berdiri tegak tanpa ampun. Akan saya koyak koyak memekmu mbak. Rasakan nanti!


Saya akan belajar dulu cara membuka kunci pintu tanpa ketahuan mbak, biar rencana saya ini berhasil dan pasti berhasil mbak. Siap siap ya mbak Adel kekekeke.


=¥=¥=


Aku kembali ke kamar mandi, menyimpan peralatan mengepelku lalu mencuci mukaku. Aku bersiap siap untuk pergi ke pasar. Ku poles wajahku dengan make up yang sederhana, tak perlu berlebihan karna kalian tahu aku kan cantik hihi.


Ku pilih pakaianku dilemari, kali ini tak lagi gamis. Aku pilih kaos polos putih yang pas di badanku, dilengkapi cardigan sebagai luaran dengan warna senada. Hijabnya ku pilih jilbab pashmina bahan rayon berwarna coklat muda. Kemudian ku padu padankan dengan rok plisket warna hijau mint yang sangat menggoda. Kalian bayangkan saja seperti apa, cantik deh pokoknya.


Aku sempat berpikir sejenak, apa ini gak berlebihan? Aku kan cuma mau ke pasar bukan ke mall, itu pun pasti pasar tradisional bukan yang modern. Pasti becek nggak sih? Tapi ya udah lah, cantik kok di tutupi ya di umbarlah biar semua orang tau. Ya kan? Hihi.


Oh iya, ku semprot parfum terlebih dahulu. Wanginya pasti bakal membuat lelaki terpincut deh hihi. Kok jadi terlalu pede gini ya ahaha biarin deh. Tas kecil tak lupa ku selendangkan di bahuku, ku taruh kunci, dompet dan hp ku didalamnya.


Aku sudah siap, ku tinggalkan rumah setelah menguncinya memastikan keadaan aman untuk aku tinggal. Aku berjalan ke arah rumah Bu Ratmi tak terlalu jauh dari rumahku.


Tok.. tok.. tok..


"Assalamualaikum.... Bu, Bu Ratmi!"


"Waalaikumsalam, ehh mbak Adel. Wihhh cantik banget mau kemana mbak?"


"Mau ke pasar bu!"


"Owhhh ke pasar..... Ke pasar kok cantik gini sih mbak ke mall itu harusnya. Nanti banyak yang menggoda loh mbak, hati hati ihh!"


"Iya bu, ga apa apa aku bisa jaga diri kok!"


" Ke pasar bareng siapa mbak, sendiri?"


"Nah itu dia bu yang mau aku tanyakan ke Bu Ratmi, apa disini ada transportasi yang bisa nganter ke pasar bu?"


"Disini sih memang jarang mbak, angkot gak ada yang lewat sini. Cuma ada ojek mbak, itu juga kalau beliau gak kerja. Biasanya ada di samping gapura depan mbak, dia suka mangkalnya disitu. Namanya Pak Imron, kerja kuli bangunan mbak. Kalau nggak kerja dia ngojek, tapi saya ngga tau dia sekarang kerja atau mangkal disana. Mungkin mbak Adel bisa ngecek sendiri ya mbak."


"Ohh gitu ya bu, iya deh nanti saya ke depan buat ngecek ada apa tidaknya. Emm Pak Karjo sudah berangkat bu?"


"Belum mbak, ada panggilan pijat nanti siang. Sekarang mah suami saya lagi nyuci. Nah itu dia mbak, baru diomongin langsung nongol."


Ku lihat Pak Karjo muncul dari dalam rumahnya membawa ember besar berisikan pakaian didalamnya.


"Ehhh ada mbak Adel rupanya, mau kemana mbak pagi pagi gini udah cantik bagaikan bidadari?"


"Huuussstttt pak, kok ngomong nya genit gitu sih sama tetangga sendiri?"


"Ehhh ngga kok bu bercanda barusan, maaf maaf!"


"Kok, seenak udel aja ngomong cantik ke wanita lain didepan istri sendiri lagi. Ibu loh pak gak pernah dibilang cantik, di puji juga gitu loh!"


"Ya kan mbak Adel mah emang cantik bu."


"Halahhh, gombal kok didepan istri sendiri. Maaf ya mbak Adel mulut suami saya emang suka gitu, genit genit gak jelas."


"Iya bu gak apa apa. Aku mau ke pasar Pak Karjo!"


( Ibu gak tau aja kemarin lubang pantat aku habis dihajar sama kontol suami ibu, hihi )


"Oh ke pasar mbak, mau saya anter mbak?"


"Weladalah pak, kamu itu sekarang malah mau nganter. Opo toh maksudnya pak?"


"Ehhh iya bu ampun bu, bercanda doang kok bu! Loh orang cuma bercanda kok dianggap serius sih."


"Yo mau nganter pake apa kamu loh pak gak ada kendaraan, sosoan mau nganter mbak Adel."


"Ya itu bu, bercanda kan orang gak ada kendaraan buat nganternya."


"Sudah sudah bu, pak kalau begitu aku permisi ya. Takut kesiangan nanti malah panas hhe."


"Iya mbak silahkan, hati hati dijalan ya mbak."


"Iya bu, mari Pak Karjo. Assalamualaikum."


"Iya mbak, waalaikumsalam."


"Waalaikumsalam."


Aku pergi meninggalkan mereka berdua, suami istri yang lucu pikirku hihi. Ku langkahkan kaki menuju gapura depan. Sesampainya disana aku melihat seorang pria yang sedang duduk diatas motornya. Apa itu ya yang dibilang oleh Bu Ratmi? Apa itu Pak Imron? Coba aku tanya deh.


"Assalamualaikum pak, bapak Pak Imron kan?"


Dia melihatku, pandangannya terfokus pada wajahku. Matanya tidak berkedip, mulutnya sedikit terbuka. Ia diam terkesima.


"Pak, pak.. halo pak......"


Aku melambaikan tangan ke arah wajahnya, lalu ia sedikit terkejut menyadari itu.


"Ehhh ehh ii i iya mbak iya, waalaikumsalam. Saya Imron mbak betul."


"Kenapa sih pak gitu banget ngeliatnya? Ada yang aneh ya pak sama aku?"


"Nggak kok mbak, nggak ada saya cuma kaget aja ada wanita cantik di depan saya mbak, hhe maaf."


"Ohh gitu ya pak, emang aku cantik ya pak?"


"Cantik banget mbak, dikampung ini sih nggak ada yang secantik mbak."


"Masa sih pak, jangan berlebihan ahh gak baik tau."


"Bener kok mbak, saya bilang sesuai fakta."


"Iya deh iya pak, bapak bisa anter aku ke pasar?"


"Bisa dong mbak, saya kan kang ojek. Saya anter kemanapun juga bisa."


"Berapa ongkosnya pak? pulang pergi ya nanti bapak tunggu aku selama belanja."


"Lima puluh ribu deh mbak, gapapa buat mbak.... mah. Hhe."


"Ohh iya, aku Adel pak."


"Iya buat mbak Adel, lima puluh ribu aja."


"Oke deh pak ayo!"


"Siap mbak, silahkan naik! Oh iya mbak ke pasarkan lumayan jauh, kita juga bakal lewatin jalan jelek mbak. Mbak bisa pegangan ke saya biar nggak jatuh hhe."


"Ohh gitu ya pak, harus pegangan pak?"


"Harus mbak, nanti takut gak seimbang kalau gak pegangan."


"Iya deh pak, oke ayo!"


Aku sudah menaiki motor Pak Imron, motor bebek jadul yang bodinya sebagian sudah di copot tak utuh lagi. Pak Imron menarik gas motornya kami melaju dengan kecepatan pelan. Kurasakan motor yang bergetar di seluruh rangkanya, terutama dipijakan kakiku sudah seperti kursi pijat saja motor Pak Imron ini.


Shocknya pun terasa keras, tak ada redaman sama sekali di pantatku. Pinggangku bakal jadi korban nih kayanya hemm sudahlah mau bagaimana lagi. Satu satunya transportasi yang bisa mengantarku ya motor Pak Imron ini, syukuri saja.


Sudah beberapa ratus meter kami tempuh, ku rasakan jalannya mulai berbatu di sana sini. Lubang jalan yang berukuran besar dan kecil tersebar dimana mana. Perlu keahlian khusus untuk bisa menghindarinya. Mungkin ini yang dikatakan Pak Imron tadi kalau aku memang harus berpegangan padanya.


"Mbak kita mulai lewat jalan jelek nih, saran saya sih mbak pegangan dari sekarang kalau ngga mau jatuh!"


"Harus banget pegangan ya pak?"


"Iya mbak! Bahaya nanti."


Jegggluuukkkk....


"Ehhh, ehhh....."


"Ehh, ehhh ehh pak, pelan pelan aja deh pak!"


"Ini kan udah pelan mbak, emang jalannya aja jelek sama lubang dimana mana. Saya harus bulak belokin stang motor saya ini ngindarin lubang mbak. Mbak pegangan aja deh, biar aman!"


"Iya deh pak, iya ini aku pegang."


Aku tidak hanya memegang samping jaketnya, tapi ku peluk saja pinggangnya sekalian. Daguku aku sampirkan di bahu kanannya. Rasain nih pak, aku bakal goda bapak sebagai target baru aku, hihi.


"Ehh mbak, saya kan cuma nyuruh mbak pegangan bukan meluk. Jangan mbak gak enak di lihat orang!"


"Gapapa pak, biar makin aman kan. Aku peluk aja deh ya, gak ada yang marahkan pak? Gak ada yang liat ko pak, sepi gini jalannya juga."


"Ta ta tapi itu mbak itu, eeeuhhh itu mbak....."


"Apa sih pak itu itu uta itu?"


"I i itu mbak ada yang nempel dipunggung saya."


"Ohhh kirain apaan pak, ya gimana pak kan aku meluk bapak jadi ya dada aku pasti nempel deh hihi. Udah pak fokus aja ke jalan!"


"I i iya mbak iya."


Pak Imron terus memacukan motornya, perlahan tapi pasti lubang lubang itu ia hindari.


"Masih jauh ya pak? Jalannya bakal jelek terus kaya gini pak?"


"Lumayan sih mbak, jeleknya cuma sampai kaki gunung didepan sana mbak. Tahan ya mbak bentar lagi kok."


"Iya pak, pinggang saya gak enak nih pak berasa remuk naik motor bapak."


"Ya gimana ya mbak bukan salah motor saya sih, emang salah jalannya aja yang jelek gini. Motor saya rusak juga gara gara lewatin jalan ini terus. Ya mau gimana lagi, mau benerin motor juga nanti pasti rusak lagi kalau jalannya masih gini mah mbak."


"Iya juga ya pak, ehh tapi jangan ngerem ngerem gitu dong pak! Dada saya kegencet gencet nih dipunggung bapak."


"Saya ngerem kan buat ngindarin lubang mbak, bukan sengaja buat susu mbak kegencet di punggung saya."


"Ehh kok susu sih pak, vulgar deh Pak Imron. Ini tuh dada tau pak."


"Hhe maaf deh mbak, orang orang sini sih bilangnya itu susu gak salah kan."


"Iya deh iya pak, sama aja kok. Aduhhh.... Tuhkan di rem lagi!"


"Lubangnya dalem mbak, memang harus di rem motornya! Mau coba gak pake rem mbak?"


"Coba pak!"


"Oke."


Pak Imron menarik tuas gas nya, kali ini ia tidak menekan rem motornya. Motor melaju melahap bebatuan yang tersusun tidak rapih disepanjang jalan. Lubangpun sesekali ia gilas saja tanpa sempat ia hindari. Rasanya seperti di kocok kocok, pantatku terpental pental dari jok motornya. Mual rasanya ditambah tulang pinggang yang terasa ngilu saat membentur lubang.


Bletakkkk... Bleeetuukkk...jeeeedddukkk.. jedakkk..


"Pak pak rem pak rem, pake remnya lagi pak....!"


"Apa saya bilang mbak, tadi kan ngerem emang harusnya begitu bukan saya sengaja!"


"Iya deh iya pak, maaf aku udah nuduh bapak."


"Iya mbak, aman kok santai aja."


"Pelan pelan aja deh pak, sakit nih pinggang aku perutku juga jadi mual ini."


"Iya mbak, maaf ya mbak jadi gak nyaman mbak Adel nya. Habisnya mbak gak percaya saya sih tadi."


"Iya pak gapapa."


"Waduuhhhhh mbak liat deh ke depan!"


"Kenapa pak?"


"Itu liat mbak, becek bener jalanannya."


"Lah iya pak, pak stop dulu pak stop!"


"Ii iya mbak."


Pak Imron pun menuruti permintaanku, ia memberhentikan motornya sebelum melewati jalanan becek didepan. Mungkin sekitar sepuluh meter lagi jarak dari kita berhenti.


"Duh pak rok aku bisa kotor nih kalau dipaksain lewat, gimana dong?"


"Ya gimana mbak, gak ada jalan lain soalnya."


"Kok bisa becek ya pak, tadi di kampung kita nggak?"


"Mungkin semalem disini hujan mbak, tuh liat mbak langitnya memang mendung di daerah sini!"


"Iya juga ya pak, duhh bakal hujan dong nanti!"


"Gatau deh mbak, semoga aja ngga. Cuma mendung aja."


"Iya pak, kalau keujanan sih bakal repot nanti lewat jalan ini."


"Iya mbak, pasti licin kalau basah. Jadi gimana nih mbak? Mbak angkat aja roknya sampai ke lutut!"


"Takut tetep kotor ahhh pak, nanti nyiprat dari belakang lagi! Aku lepas aja deh pak."


"Haaahhhh??? Dilepas mbak? Mbak nggak malu?"


"Malu sama siapa pak, kan gak orang yang lewat. Sepi kan? Tuh gak ada yang lewat jalan ini selain kita berdua."


"Iya yang lain emang gak lewat sini, tapi kan ada saya disini mbak!"


"Pak Imron ini gimana sih, ya bapak jangan liat dong. Bapak liat kedepan aja!"


"Lah iya juga mbak, gak kepikiran saya."


"Yaudah, bapak liat kedepan dulu, aku mau buka rokku!"


"Iya ini udah kok."


Pak Imron pun melihat ke arah depan, aku turun dari motornya berada disebelah kiri. Aku mulai melepaskan rokku, setelah meloloskannya dari kedua kakiku lalu aku lipat sampai lipatan terkecil dan aku pegang di tangan kananku. Kini aku berdiri tanpa bawahan hanya celana dalam putihku yang menutupi selangkanganku. Aneh mungkin jika dipikir dengan logika, tapi ya ini aku. Adel si cewek eksibisionis, ini lebih menantang dari apapun. Percaya deh, ditengah jalan aku melakukan ini, ya meski sepi tak ada yang lewat ini jadi pengalaman baru buatku.


"Udah pak!"


Tiba tiba Pak Imron menengok ke arah kiri, ia melihat tubuh bawahku yang hanya menyisakan celana dalam saja.


"Astaghfirullah mbak Adel. Mbak gak malu?"


Ia kembali mengarahkan pandangannya kedepan, sambil kedua tangannya menutupi wajahnya.


"Kok Pak Imron malah liat sih, aku kan cuma bilang udah pak bukan bilang liat."


"I i iya mbak maaf mbak, saya gak sengaja. Maaf!"


"Iya iya pak, yaudah kita jalan lagi pak!"


"Iya mbak."


Aku kembali menaiki motor Pak Imron, ku taruh rokku disela sela antara perutku dan pinggangnya. Aku kembali memeluknya, ku lingkarkan tanganku di pinggangnya payudaraku tentu saja menempel di punggungnya lagi. Motor kembali melaju, kini tantangannya semakin bertambah, selain harus menghindari lubang kini Pak Imron harus berhati hati karna banyak genangan air dan lumpur yang licin yang bisa saja membuat kami terjatuh.


"Aduuuhhh pak!"


Payudara ku terasa tergencet saat motor menggilas lubang yang tertutup genangan air.


"Ehh maaf mbak gak keliatan lubang nya."


"Fokus dong pak kedepan, malah lirik lirik paha aku pak."


"Hhe maaf mbak penasaran saya, putih banget kulit mbak."


"Dasar, Pak Imron."


Motor kembali melaju perlahan, menghindari lubang melewati genangan air.


"Yah yah yah pak.... iiiiihhhhh takut."


"Eeeeiittttssss, maaf mbak licin."


Aku semakin mempererat pelukanku saat ban belakang motor terasa limbung dan mengesot melewati lumpur yang licin.


"Iya pak, aman kok. Kaget aja barusan."


"Mbak ada motor didepan mbak, gimana?"


"Waduhhh pak, emmm biarinlah pak cuek aja. Dia juga gak akan nyadar pak, paling fokus ke jalan yang rusak."


"Mbak gak malu kalau di liatin?"


"Ya malu dong pak, ini kan darurat mau gimana lagi. Bapak bawa motornya biasa aja jangan bikin curiga!"


"Oke mbak ehehe siap! Lah mbak itu mah si Rahmat temen saya mbak, yang suka nganter belanjaan ke mbok Yeni!"


"Loh kok tambah pelan sih pak?"


"Bentar mbak! Mat.....!!!"


"Ehh kamu Ron."


Motor kami saling berhenti, apa apaan Pak Imron ini kok malah berhenti sih? Bukannya terus jalan aja, dasar ya. Awas aja nanti!


"Loh loh kok, mbak ngg nng nggak pake celana sih?"


"Hhe iya pak, takut kotor pak rok aku jadi dicopot aja hhe."


"Waaahhh beruntung kamu Ron dapet penumpang bening gini, seksi lagi naek motor cuma pake celana dalem. Putih banget mbak pahanya pasti mulus itu!"


"Iya dong Mat, paha mbak Adel mah putih bersih mulus lagi. Tuh!"


Tiba tiba tangan kanan Pak Imron memegang pahaku lalu mengelusnya perlahan.


"Ehhh kok, pak?"


"Tuh kan mulus Mat, mulus banget ini. Coba deh!"


Tangan kanan Pak Rahmat pun sama kini memegang pahaku dan mengelusnya perlahan.


"Lah iya Ron, mulus banget ini."


"Ehhh ehhh apaan sih bapak bapak ini seenaknya megang megang paha orang, gak boleh tau dosa...! Udah ahh sana tangannya."


Aku memukul pelan tangan Pak Imron dan Pak Rahmat sampai keduanya menarik kembali tangan mereka.


"Gak sopan tau, pelecehan ini namanya pak!"


"Hhe maaf mbak, salahin Pak Imron tuh saya mah cuma di ajak sama dia. Maaf ya mbak. Saya duluan ya udah ditunggu sama mbok Yeni. Assalamualaikum."


Motor Pak Rahmat pun kembali melaju meninggalkan kami berdua.


"Bapak kok gitu sih, malu tau aku! Jahat!!! bapak berani pegang pegang paha aku. Pelecehan tau nggak pak, emang bapak pikir aku cewe murahan apa?"


Dengan nada lembut aku katakan itu, tidak ada nada marah tidak ada nada mengancam hanya gertakan lemah yang tidak menakutkan.


"Ma ma maafkan saya mbak, maaf saya udah kelewatan ya mbak. Saya khilaf mbak tadi, cuma pengen kasih liat ke temen saya aja kok tadi gak lebih mbak. Gak ada maksud lain kok mbak, sumpah!"


"Maksud lain? Emang maksud apa pak? Jangan jangan maksud yang itu ya pak?"


"Ma ma maksud...... Ehh mbak...."


Aku langsung memegang selangkangan Pak Imron. Mencomot sesuatu yang menyembul di balik celananya, ya kontolnya sudah terasa mengeras di telapak tanganku.


"Heemmm ini ya pak maksud Pak Imron, udah bangun loh pak punya bapak hihi kasian. Ayo pak jalan lagi udah makin mendung nih!"


"I i iya mbak iya."


Motorpun kembali melaju perlahan, jalan becek masih terlihat didepan sepertinya masih agak jauh. Untung saja sangat sepi jalanan ini, aman deh.


"Maaf ya mbak, tadi gak seharusnya saya lakuin itu. Saya gak tahan liat paha mbak, jadi saya pegang deh. Maaf mbak!"


"Enak aja pak, masa minta maaf doang sih pak aku rugi dong kalau gitu mah. Pokoknya pas dikampung nanti aku laporin sama mas Jamal biar bapak dihukum hormat bendera seharian."


"Jamal??? Si Jamal hansip mbak?"


"Iya pak hihi."


"Jangan dilaporin dong mbak kan gak sengaja tadi, maaf!"


"Emmm, oke aku gak akan laporin. Tapi ada syaratnya pak!"


"Apa tuh mbak?"


"Ehhh.. adduhhhh..... Susu aku sakit pak kegencet terus nih."


"Hhe, gak keliatan mbak lubangnya."


"Syaratnya bapak kasih liat kontol bapak ke aku pak!"


Aku berbisik di telinga kanan Pak Imron.


"Haaahhhhh... Ko ko kontooolllll sa saya mmbak? Mbak ma mau liliat kontolll sayaaa?"


"Iya pak, aku penasaran sama bentuk kontol secara langsung itu kaya gimana. Katanya ada helmnya ya pak? Pasti lucu deh bentuknya."


"Kalau itu syaratnya sih, sa saya bisa mbak."


"Yang bener pak, bapak gak malu liatin kontol bapak ke aku?"


"Ko kontol? Mbak Adel nggak risih bilang kontol mbak? Saya sih malu mbak sebenernya tapi ya kalau mbak mau liat ya gak jadi malu deh hehe."


"Huuu dasar Pak Imron, memang kontol kan pak namanya kata temenku kalau kecil itu penis tapi kalau besar itu kontol pak. Punya bapak besar kan?"


"Besar dong mbak! Mbak beneran pengen liat kontol saya?"


"Iya pak, serius aku."


"Kita berhenti dulu sebentar ya mbak!"


"Iya pak."


Pak Imron memberhentikan motornya ke sisi kiri, lalu tangannya dengan cekatan membuka resleting celananya dan mengeluarkan kontolnya yang sudah tegang.


"Waaawwww tuh kan pak aku gak salah bilang tadi, ini memang kontol pak besar banget punya bapak. Berurat lagi, helmnya gede ya pak hihi lucu."


"Mbak Adel suka?"


"Iya pak suka banget liatin nya. Tau gak pak ini pertama kalinya aku liat kontol cowok secara langsung loh. Ternyata bagus ya pak bentuknya lucu jadi pengen ngelus hihi." ( Aku bohong ya pak maaf hihi )


"Mbak gak pernah liat emang? Boleh kok mbak di elus kalau mau, gak gigit kok!"


"Pernah sih pak punya adik aku tapi dia masih kecil banget, beda juga bentuknya sama punya bapak. Emang boleh pak? Istri bapak gak akan marah?"


"Ya jangan sampai istri saya tau dong mbak! Boleh kok mbak kalau mbak mau!"


"Emmm jadi rahasia ya pak? Antara kita berdua, hihi. Aku coba elus ya pak."


"Iya mbak."


Aku mendekatkan tangan kananku ke batang kontol milik Pak Imron, ku elus perlahan merasakan tonjolan urat yang menyembul di kulitnya. Gila bikin sange tau nggak!


"Aaahhhhh."


"Boleh aku genggam pak?"


Aku berbisik pelan ditelinganya.


"Bo boleh mbak, silahkan."


Aku kemudian menggenggam batang kontol miliknya, besar banget satu genggam penuh di telapak tanganku.


"Boleh aku gerakin pak?"


Aku terus menggodanya dengan nada manja.


"Iya mbak, terserah mbak Adel aja. Aaahhhh."


Tanganku bergerak mengelus batang kontolnya maju dan mundur. Perlahan lahan sambil kurasakan urat uratnya yang menekan telapak tanganku.


"Aaahhhh mbak enak banget mbak, tangan mbak halus banget. Kontol saya makin keras mbak dikocokin tangan mbak. Aaakkhhhhh....."


"Hihi enak ya pak? Tapi udah cukup ya pak, nanti kita gak sampe sampe di pasarnya kalau banyak berhenti gini."


"Yah mbak kok udah mbak, padahal lagi enak ini kontol saya baru mau tegang sempurna ini mbak."


"Hihi, jangan kecewa gitu dong pak, nanti dilanjut deh kita belanja dulu ke pasar. Ke buru hujan pak, tuh liat langitnya makin gelap!"


"Iya deh mbak saya mah nurut mbak Adel aja."


"Pinter deh Pak Imron, kalau bapak nurut sama aku nanti aku kasih yang menarik buat bapak hihi."


"Apa tuh mbak?"


"Mending sambil jalan aja pak!"


"Iya mbak."


Pak Imron kembali melajukan motornya.


"Apa tuh mbak yang menariknya?"


"Hihi penasaran ya pak? Nanti deh, bapak nanti juga pasti tau tunggu aja ya pak!"


"Heemmm iya deh mbak. Ehhh kok di pegang lagi sih mbak? Aaahhhhhh...."


"Nanggung pak, habisnya bapak gak masukin lagi kontolnya kan aku jadi pengen megang lagi."


"Ya masih keras toh mbak, sakit kalau langsung dimasukin nunggu lemesan dulu hhe."


"Ohhh gitu ya pak."


"Iya mbak, tapi kalau mbak pegang lagi mah ya bakal keras terus mbak, gak lemes lemes nanti."


"Hihihi maaf ya pak, habisnya aku penasaran sama kontol bapak pengen megang terus pak anget soalnya."


"Mbak suka banget sama kontol saya?"


"Bangettttt.... pak. Suka banget aku sama kontol bapak."


"Yaudah kalau gitu mah pegang aja terus mbak!"


"Gapapa emang pak? Bapak konsentrasi nggak bawa motornya, nanti malah keenakan kontolnya terus gak fokus ke jalan deh. Bahaya tau pak!"


"Aman kok mbak asal tangan mbak nggak aneh aneh aja sama kontol saya selama perjalanan."


"Oke deh pak kalau gitu, aku pegang terus ya pak biar gak kabur kontolnya. Sayang kontol bagus gini kalau kabur harus dijaga baik baik. Ya kan pak?"


"Hehe iya mbak, betul sekali. Aaahhhhhh...."


"Ini jalan jeleknya masih lama kah pak?"


"Bentar lagi kok mbak, itu didepan udah pertigaan ke arah jalan rayanya kok."


"Ohh iya pak, nanti aku pakai rok nya lagi dimana?"


"Ya dipertigaan itu mbak, sebelum ke jalan rayanya."


"Oke deh pak."


Kami sampai dipertigaan jalan yang di sebut oleh Pak Imron, motornya dia hentikan di bawah pohon besar disamping kiri jalan.


"Nah disini aja mbak, ayo dipakai dulu roknya!"


"Iya pak."


Aku turun dari motornya, berdiri disebelah kiri lalu memakai kembali rok plisket ku. Aku menaiki motor lagi setelahnya. Kini aku sudah duduk dijok motor Pak Imron.


"Sudah pak ayo jalan lagi!"


Motor melaju lagi, kini jalanannya tampak lebih mulus dari yang tadi aku lalui sudah diaspal meski tak semulus jalanan ibukota. Aku kembali memeluknya, saat tanganku ingin memegang kontolnya ehh sudah tidak ada rupanya.


"Loh pak, kok kontol bapak gak ada?"


"Hhe saya masukin tadi waktu mbak Adel pake rok, malu mbak ahh takut diliat orang nanti. Belum siap saya, bahaya mbak!"


"Yahhh, yaudah deh pak gapapa. Tapi nanti boleh pegang lagi kan aku?"


"Emmm boleh gak yah?"


"Iiihhhhh kok gitu sih pak, boleh dong yah yah!"


"Kalau mbak pegang kontol saya, saya pegang apa?"


Aku berbisik ditelinganya, dengan nada menggoda aku katakan ini....


"Bapak pegang kepala aku waktu aku ngulum kontol bapak, gimana?"


"Haahhhhh??? Apa mbak? Beneran?...... Ehhh ehhh ehhh..."


"Iiihhhh kagetnya biasa aja dong pak, mau jatoh ini!"


"Aduhhh aduhh, jangan dicubit dong mbak sakit pinggang saya."


"Abisnya bapak gak fokus nyetirnya, bahaya tau!"


"Ya orang kaget barusan. Beneran mbak, mbak mau ngulum kontol saya?"


"Kalau diijinin sih aku mau pak."


"Ya Allah mimpi apa saya semalem mbak, dapet rezeki super duper nomplok di siang bolong gini."


"Jadi gimana pak diijinin gak?"


"Ya pasti diijinin dong mbak, masa saya tolak. Gak baik kan nolak rezeki mbak."


"Hihi semangat banget pak, tapi gak sekarang ya pak liat situasi dan kondisinya dulu. Kalau memungkinkan kita lakuin, gapapa kan pak?"


"Ahhh gapapa mbak aman aja saya mah, yang penting jadi dikasih hehe."


"Oke deh pak, pasarnya mana sih pak? Udah deket kan, dari tadi gak nyampe nyampe."


"Bentar lagi kok mbak, setelah belokan itu lurus dikit nyampe deh kita dipasar mbak!"


"Syukurlah pak, pegel banget pinggang aku lewatin jalan tadi."


"Iya mbak, kalau gak biasa lewat sih emang bikin gak enak badan mbak. Tapi kan pulangnya kita bakal lewat situ lagi mbak, pinggang mbak makin sakit nanti sampe rumah ahaha."


"Ahhh iya juga ya pak, gak ada jalan lain emang pak?"


"Gak ada lah mbak kalau ada juga saya lewat situ tadi. Nah udah sampe nih mbak!"


"Iya pak, Pak Imron tunggu disini ya saya mau belanja dulu."


"Iya mbak siap."


Aku memasuki lorong pasar, sementara Pak Imron menungguku diparkiran. Pertama aku membeli lauk pauk dan sayuran, bumbu bumbu dapur dan beberapa snack untuk camilan. Aku lalu mendatangi toko toko yang menjual pakaian, fokusku untuk membeli celana dalam yang stoknya sudah mulai berkurang, beberapa sudah aku berikan pada partner seksku.


Ku perhatikan setiap toko toko pakaian itu, sampai akhirnya aku menemukan toko yang khusus menjual pakaian dalam. Banyak pilihan disana, mungkin semua jenis dijual di toko itu. Aku mendekatinya, lalu mencoba untuk memilih milih berbagai macam celana dalam.


"Ayo mbak dipilih silahkan, bebas pilih mbak. Ayo ayo silahkan semua ada semua bisa dibawa pulang!"


"Iya mas, banyak banget ya jenisnya bingung aku jadinya mas."


"Iya mbak, lengkap disini semua ada. Dipilih aja mbak murah murah kok!"


"Bagus yang mana ya mas buat aku, bingung nih boleh bantu pilihin nggak? Aku mau beli empat deh."


"Semua bagus kok mbak, buat mbak yang cantik jelita ini menurut saya yang itu tuh mbak yang model thong. Model seamless juga bagus kok mbak apalagi model g-string mbak lebih seksi hehe. Model berenda juga cocok buat mbak, cocok buat dinikmati suami mbak nanti hhe."


"Iihhh mas ini, aku belum nikah mas belum punya suami yang nikmatin ya aku sendiri hihi."


"Ohhh mbak nya belum nikah toh, belum ada yang bisa nikmatin dong ya. Tapi bagus kok mbak cocok buat mbak."


"Beneran nih mas cocok buat aku? Aku belum pernah coba soalnya, cuma punya yang model biasa aja."


"Cocok dong mbak, dijamin! Kalau nggak cocok balikin lagi aja gapapa hehe."


"Iihhh jorok dong mas, udah dipake juga masa dibalikin lagi sih."


"Hehe gapapa mbak buat koleksi saya."


"Hmmm dasar."


"Coba aja semua modelnya mbak, kalau mbak gak suka ya gak usah dibeli."


"Oke deh mas, aku coba satu satu ya gapapa kan?"


"Gapapa dong mbak silahkan aja."


"Kamar gantinya emang dimana mas?"


"Emmm gak ada kamar ganti sih mbak disini, paling cuma ada ruangan kosong aja disebelah sana. Aman kok mbak sepi soalnya, kalau mau nanti saya antar mbak nya."


"Emm boleh deh mas, tapi aman kan mas malu nanti aku kalau ada yang liat!"


"Aman mbak saya jamin, kan nanti saya yang jagain."


"Oke deh mas, aku pilih satu satu ya."


"Iya mbak, mau sekalian sama bh nya mbak?"


"Kalau bh aku masih banyak kok mas, yang hilang cuma celana dalam aja!"


"Hilang mbak, kemana?"


"Gatau mas, hilang aja gitu mungkin ada yang ngambil waktu dijemur."


"Waduuhhhh, enak bener maling nya mbak bisa punya celana dalem bekas mbak nya."


"Lohhh kok enak sih mas? Emang nya celana dalem aku dimakan apa hihi."


"Ehhh ngga kok mbak, ya enak aja hehe."


"Hhuuuu dasar."


Tanganku sibuk memilih berbagai macam model celana dalam yang aku mau, ada enam yang aku pilih untuk aku coba nanti. Kalian sudah pasti tahu kan apa yang bakal terjadi nanti, yap betul sekali saatnya eksib. Its show time, pedagang daleman ini sepertinya masih berumur tiga puluh tahunan, tubuhnya gemuk perutnya buncit gak pernah olahraga nih kayanya hihi sibuk jualan apa ya.


"Saya bonusin dua bh deh buat mbak, sok dipilih aja mbak gratis buat mbak yang cantik ini."


"Beneran mas?"


"Iya mbak serius, mbak pelanggan pertama saya hari ini jadi saya kasih bonus deh gapapa."


"Waahhh makasih ya mas, aku pilih yang ini deh sama yang ini!"


Aku memilih bh model bikini dan renda, sepertinya bagus.


"Bagus kan mas yang ini?"


"Bagus dong mbak, cocok dipake di susu mbak. Ehhh di dada mbak maksudnya hhe maaf mbak keceplosan."


"Ga usah minta maaf kali mas, kan emang ini susu mas namanya hihi."


Sambil berkata itu, aku menempelkan kedua tanganku di payudaraku dan sedikit meremasnya. Kulihat pandangan matanya tak berkedip menyaksikan perbuatanku hihi. Ini baru awal ya mas, nanti bakal lebih lagi deh aku persembahkan buat mas.


"Gitu banget ngeliatinnya mas!"


"Ehhh maaf mbak hehehe."


"Yaudah anter aku cobain semua ini ya mas."


"Iya mbak mari saya antar."


Aku mengikutinya dari belakang.......


Bersambung


:::::::::::::::::::::


#15.2


KEBERUNTUNGAN LAINNYA


Aku mengikutinya dari belakang, ia berjalan menyusuri lorong pasar. Memang sangat sepi kelihatannya tak ada pengunjung lain selain aku sendiri. Ruangan ruangannya pun banyak yang tutup, hanya didepan tadi saja ramai toko yang masih berjualan. Hanya saja memang sepi pengunjungnya.


"Nah disini mbak, mbak masuk aja ke dalam ada kaca cermin juga disana walau udah pada retak mbak hhe. Saya balik lagi ke toko ya mbak!"


"Ehh ehh mas kok aku ditinggal sih, takut tau sendirian disini. Mas disini aja tungguin aku, yah?"


Ruangan ganti ini sih tidak seperti ruang ganti pakaian pada umumnya, hanya ruangan toko biasa seperti yang lain. Ada kaca cermin yang lumayan besar dan tinggi, mungkin bekas pintu lemari tapi ya gitu sudah ada retakan dan pecah menjadi dua. Gak masalah sih aku tetap bisa bercermin dan tubuhku masih terlihat jelas disana. Letaknya yang diujung pojokan pasar membuat ruangan ini terasingkan, mungkin tak akan ada orang yang lewat kesini secara tidak sengaja. Apalagi sekarang sepi pengunjung, dan ini saatnya aku bereksib ria. Yeeeyyy.


"Emmm nanti kalau ada yang beli ke toko gimana mbak?"


"Kan sepi mas pasarnya juga, sebentar aja kok mas aku takut sendirian nanti kalau ada yang perkosa aku gimana? Pas lagi ganti celana dalam sama bh terus ada yang meluk aku dari belakang langsung grepe grepe badan aku gimana?"


"Ehhhh?????"


"Aku takut mas, mas mau tanggung jawab kalau aku kenapa napa? Ya mas ya tungguin disini!"


"Iiii iiyaaa mbak, sasasaya tunggu disini jagain mbak. Heeh jagain mbak, siap."


"Nah gitu dong mas, bentar ya aku cobain celana dalem sama bh nya dulu. Jangan ngintip ya mas awas loh....... ehhh boleh deng hihi."


"Hahhhhh???"


Aku beranjak masuk ke dalam sementara si mas penjual menungguku diluar, ia duduk di bangku panjang yang memang sudah tersedia disitu. Duduk di samping pintu ruangan itu, jadi jika ia ingin mengintipku ia tinggal tengokan saja kepalanya ke kanan dan ia bisa melihatku dengan jelas. Apakah ia seberani itu? Kita lihat saja nanti, hihi.


Aku mencoba celana dalam yang pertama, model thong warna merah muda. Ku buka dahulu rok plisketku lalu ku gantungkan di gantungan baju di sebelah kananku, disusul dengan membuka celana dalamku. Aku merasakan ada kepala yang menongol di pintu, aku yakin si mas mengintipku. Ekor mata kiriku merasakan gerakan itu, yes aku berhasil baru buka rok dan celana dalam saja ia sudah berani mengintipku. Aku biarkan saja dulu ia menikmati pemandangan indah ini karena saat membuka celana dalam itu aku lakukan dengan gerakan perlahan, erotis tentunya hihi.


Aku lalu memajukan tubuhku mendekat cermin setelah aku gantungkan juga celana dalamku. Ku dekatkan selangkanganku, aku usap perlahan dengan tangan kananku lalu mundur kembali. Itu ku lakukan sebagai pemanasan untuk hadiah si mas, semoga ia makin sange ya lihat aku lakuin itu hihi.


Aku lalu mengambil celana dalam model thong. Aku simpan seluruhnya di rak kayu yang beralaskan plastik kresek hitam. Aku lalu mencobanya, melihatnya dicermin lalu ku gerakan kanan dan kiri terus berputar melihat bokongku. Emm bagus juga pikirku.


Aku kemudian membukanya, kali ini posisiku menghadap ke samping cermin atau membelakangi pintu yang ada kepala si mas nongol disitu. Aku pura pura tidak tahu kalau ia mengintip, biarkan saja sampai ia puas hihi. Dengan gerakan perlahan aku buka celana dalamku, pantatku aku tunggingkan. Mungkin celah vaginaku bisa terlihat oleh matanya, baguskan mas memekku hihi liat deh sepuasnya.

Ku simpan celana dalam model thong itu, lalu ku ambil yang model berenda kali ini warna hitam.


Aku pakai kemudian, posisiku masih membelakanginya. Saat sudah ku pakai sempurna, kedua tanganku meremas bongkahan pantatku. Ini mas nikmatin ya hihi. Aku lakukan gerakan tadi berlenggok ke kanan juga ke kiri. Cukup deh sekarang hidangan utamanya.


Aku melepasnya, sekarang model g-string yang ku pakai. Sambil memakainya perlahan aku tengokkan kepalaku melihat ke arah pintu, langsung saja kepala si mas ditariknya. Hayoloh ketauan ngintip hihi. Ku lihat cermin, sempurna! Celana model g-string melekat di selangkanganku warnanya merah cerah kali ini.


Aku lalu berjalan keluar melihat si mas, ini saatnya Del perlihatkan padanya hihi. Aku keluar dan berdiri menghadapnya, kulihat kepalanya sudah akan mengintipku lagi tapi ia kaget akan keberadaanku dihadapannya lalu buru-buru ia tarik kembali. Wajahnya tegang seperti maling yang sedang tertangkap basah saja, lucu pikirku.


"Hayo loh, ketauan ngintipin aku ya mas! Kenapa sih mas ngintip aku lagi ganti celana dalem?"


"Ehhh ngg ng nggak kok mbak, ii ituuu ta tadi cu cu cuma........"


Ucapannya gagap, ia tidak bisa bicara dengan selayaknya.


"Cuma apa mas, cuma liat hihi."


"Ngg nggak kok mbakkk, cu cuma...."


"Lucu deh mas nya kalau ke gep gitu, nih aku liatin langsung aja mas gak usah ngintip ngintip lagi pegel loh nanti lehernya."


"Ehhh mbak kok, mbak gak maa ma maluuu mbaakkk?"


"Malu sih mas cuma yaudah lah ya mas kan udah liat juga tadi. Ya kan?"


"Iii iiyaaa mbak, maaf ya! Gak tahan soalnya pengen liat hhe."


"Hhuuuu dasar mas ini, disuruh jaga malah ngintip. Gimana mas cocok nggak aku pakai ini?"


"Cococococookkkk mbak, cocok banget di pake mbak yang kulitnya putih bersih itu. Jadi keliatan seksi mbak hhe apalagi sekarang mbak masih pake baju dan hijab mbak, tapi bawahnya cuma pakai g-string. Seksi banget mbak."


"Hihi makasih ya mas buat pujiannya. Yaudah mas duduk didalem aja liatin aku nyobain satu satu celana dalemnya, sama kasih penilaian buat aku ya mas cocok atau ngga nya hihi."


"Bebebebeneran mbak, saya boleh masuk mbak?"


"Iya mas, mau nggak?"


Dengan nada manja aku katakan itu padanya, kalian pasti tau lah gimana ekspresi si mas. Mupeng parah ahaha.


"Ma ma mau mbak, mau banget saya."


"Yaudah ayo!"


Aku dan dia masuk ke dalam, ia duduk di kursi plastik yang tengahnya bolong. Tau lah ya bentukannya gimana.


"Bagus kan mas yang model g-string ini?"


"Iya mbak, bagus kok. Cocok banget di pake mbak."


"Oke mas, sekarang aku ganti yang model bikini ya mas sepasang sama bh nya juga. Aku suka deh model sama warnanya, aku suka biru muda mas. Mas tau aja selera aku kaya gimana hihi."


"Iii iya mbak, mbak sih cocok deh pake warna apa aja. Kulit mbak putih soalnya hhe."


"Apa iya mas?"


"Iya mbak beneran sumpah, ga bohong saya."


"Iya deh iya mas, aku percaya mas jujur. Makasih ya mas."


"Hehe iya mbak."


Aku lalu melepas celana dalamku, kini vagina dan pantatku bisa dengan leluasa ia lihat. Kemudian ku lepas cardiganku, aku sempat melihat wajahnya sekilas. Ia bengong melihat apa yang aku lakukan, mungkin ia masih tidak percaya apa yang kini ia lihat dipandangannya. Seorang wanita muslimah yang dengan sengaja memperlihatkan kemolekan tubuhnya, tanpa rasa malu tanpa rasa canggung. Aku senyum padanya, ia membalas senyumanku.


Aku lepas baju kaos putihku, kemudian yang terakhir tentu bh ku. Semuanya sudah terlepas hanya menyisakan hijabku saja yang masih ku pakai, aku kini telanjang di hadapannya. Gila sih jiwa eksibku memang sudah di level tinggi sekarang ini. Ibu, ayah anak wanitamu kini sudah berubah.


Aku pura pura malu dihadapannya, ku tutup puting kedua payudaraku dengan tangan kananku sementara tangan kiriku menutup vaginaku.


"Mas liatinnya kok gitu banget sih, aku malu tau mas."


( Udah keliatan semuanya, masih malu juga. Gimana aku ini ahaha )


"Ehh maaf mbak, saya terpesona liat badan mbak. Bagus banget mbak, seksi kaya model majalah dewasa. Hot banget mbak ini."


"Iiihhhh kok disamain kaya model porno sih mas, jahat ihhh!"


"Ehhh ngga nggak mbak bukan gitu maksud saya, euhh euhhh aduhhhh gimana ya mbak tadiiiii....... Maaf mbak saya salah ngomong tadi....."


"Hihihi gapapa kok mas, aku cuma bercanda kok barusan. Santai aja kali mas, emang aku seksi ya mas?"


Kedua tanganku kini meremas payudaraku, beberapa kali gerakan sampai kulihat wajahnya semakin kaget dan mulutnya menganga.


"Masssss.....?"


"Se se seksi sekaliiii mbak, saya sampai gak tahan liat nya."


"Hihi gak tahan liat aku nya atau gak tahan sama punyanya mas. Tuh liat ada yang bangun loh mas!"


"Ehh iya mbak maaf, suka gak sopan emang bangunnya sembarangan hehe."


"Sakit loh mas terkekang gitu punya mas, keluarin aja gapapa kok!"


"Hhaaahhh????? Mbak gak salah bilang kan?"


"Nggak kok mas, aku nyuruh mas keluarin punya mas biar gak sakit."


"Serius mbak gapapa?"


"Emmm jangan deh mas, nanti aku diperkosa lagi sama burungnya mas. Gak mau ahhh jangan deh mas jangan dikeluarin. Aku takut!"


"Yahhh kok gitu sih mbak, tadi bilangnya boleh mbak!"


"Emmm gimana ya, asal burung mas janji baik sama aku sih yaudah deh boleh. Tapi janji dulu!"


"Iii iiya mbak saya dan burung saya ini berjanji bakal baik sama mbak nya, sumpah."


"Hihi semangat gitu mas bilangnya. Emm tapi gak gratis loh mas!"


"Ehhh bayar mbak?"


"Heem."


"Berapa mbak?"


"Hmmm berapa ya? Seikhlasnya mas aja deh, aku gak enak nentuin tarifnya hihi takut kemahalan nanti masnya gak jadi kalau kemurahan malah aku yang rugi. Seridhonya mas aja, nanti mas boleh sambil coli deh liatin aku ganti celana dalem sama bh. Tapi janji burungnya harus baik sama aku."


"Waaahhhhh mimpi apa semalem saya mbak, gak nyangka saya sekarang bisa coli sambil liatin badan telanjang mbak. Iya mbak iya saya siap bayar mbak, tenang aja!"


"Oke deh mas, deal ya?"


"Deal mbak! Aku keluarin ya mbak."


"Apanya mas yang dikeluarin?"


"Burung aku mbak, udah siap terbang ini."


"Yakin burung mas, bukannya itu kontol ya mas?"


"Ehhh kok mbak bilang......."


"Memang itu kontol kan mas, aku ngga salah kan?"


"Ii iya mbak, ini kontol! Mbak bener banget gak salah kok."


Aku lihat dia merasa kaget saat aku bilang kontol barusan. Biasa aja kali mas aku kan udah biasa bilang kaya gitu hihi.


Dia mulai mengeluarkan burungnya ehh bukan maksud aku kontolnya. Sudah tegak sempurna ternyata, ukurannya sih biasa aja ya standar sih. Lumayan lah, ya udah lah ya gak akan aku apa apain ini. Dia masih berdiri, kemudian menurunkan celana hitam panjang nya beserta celana dalamnya sekalian sampai lutut lalu ia duduk kembali dikursi sambil tangan kanannya mengelus elus batang kontolnya.


"Udah tegang aja mas kontolnya, udah gak kuat ya? Hihi, ayo mas kocok terus. Semangat!"


"Iya mbak ini saya kocok kontol saya, aaahhhhh... Enak banget mbak bisa coli sambil liatin badan telanjang mbak yang seksi... Aahhhhh."


"Iya mas, nikmatin ya selagi ada jarang jarang loh aku gini ke orang lain. Mas jadi satu satunya cowok yang beruntung loh mas!"


"Iya kah mbak, waahhhh emang beruntung saya mbak hari ini. Makasih ya mbak, makasih banyak."


"Iya mas sama sama. Aku pakai yang bikini ini ya mas, yang pilihan mas tadi."


"Iya mbak silahkan.... Aahhhh."


Aku mengambil celana dalam model bikini yang bertali di kedua sampingnya. Hemmm.... Aku ada ide!


"Mas tolong bantu iketin ya!"


"Bo boleh mbak. Sini saya bantu iket."


Aku memakainya, mendekat ke arah dia. Tangannya bergetar meraih tali lalu mencoba mengikatnya, sebelah kiri dan sebelah kanan ketika aku berbalik.


"Sudah mbak!"


"Ehh, arggghhh.... Nakal deh mas, kontolnya udah baik malah tangan mas nya yang nakal. Dasarrr!"


Pantatku diremas tiba tiba oleh tangan kirinya, membuatku sedikit kaget tapi ya gak masalah lah ya dikit ini kok hihi.


"Hhe maaf mbak gak tahan pengen megang mbak. Sumpah pantat mbak montok banget, bahenol mbak seksi!"


"Ihhh dari tadi muji aku terus, makasih loh mas. Sekarang iketin bh nya ya mas, tolong!"


"Oke mbak."


Aku memakai bh model bikini yang juga bertali, tali atasnya aku sampirkan di leher sementara tali belakangnya di ikat oleh si mas. Lagi lagi aku merasakan tangannya bergetar kali ini kulitnya lebih banyak menyentuh kulit punggungku.


"Sudah mbak."


"Aaahhhh nakal deh tangan mas nya, dasar ihh!"


Lagi lagi tangannya meremas pantatku, kali ini dengan kedua tangannya cukup lama mungkin ada sepuluh detik ia menikmati pantatku. Ku biarkan saja, tidak apa dia menang banyak dari tubuhku yang penting sesuai dengan bayarannya nanti hihi.


"Gak gratis loh mas megang megang pantat aku, ada bayarannya!"


Aku maju mendekat ke cermin, memperhatikan diriku dari pantulannya. Seksi sekali aku saat ini.


"Tenang mbak uang mah gak seberapa, yang penting saya bisa ngerasain pantat bahenolnya mbak."


"Aseeekkkk, mahal loh tapi mas. Mas sanggup nggak?"


"Aman mbak, berapapun mbak minta nanti saya kasih tenang aja."


"Yeeeyyyy bener ya mas? Suka deh aku sama masnya hihi. Mas mau pegang pantat aku lagi?"


"Mau banget mbak."


"Sini mas deket ke aku!"


"Iya mbak."


Dia bangun dari duduknya, lalu melepaskan celana dalam dan celana panjangnya yang tadi masih sempat tertahan dilututnya. Kemudian berjalan mendekatiku dan langsung saja tangannya meremas kedua bongkahan pantatku. Meremasnya dengan keras tanpa ampun.


"Pelan pelan ihhh mas, sakit tau! Mau kemana sih buru buru amat?"


"Hehe maaf mbak gak tahan saya, suka banget sama pantatnya mbak. Putih mulus kenyal mbak enak banget buat di remes."


"Iya tapi jangan keras gitu dong mas kan sakit pantat aku nya!"


"Iya iya mbak maaf. Mbak boleh pegang susu mbak juga nggak?"


"Boleh mas, tapi nambah lagi bayarannya hihi."


"Oke mbak siap."


"Oke sip mas hihi. Ayo sini pegang! Mas mau aku hadap mas atau gini aja?"


"Gini aja deh mbak, gapapa."


"Oke."


Tangannya kini sudah hinggap di kedua payudaraku tidak menyentuh langsung karna bikininya masih ku pakai, emm mungkin belum kita tunggu saja aksinya kedepan.


"Aaahhhhh masss enak."


Kedua tangannya mulai meremas kali ini lebih lembut kurasakan. Baguslah ia sudah paham.


"Iya mbak, aahhhh ternyata susu mbak lebih kenyal besar lagi mbak. Pentilnya udah keras loh ini mbak!"


"Ya gimana gak keras orang mas remes gitu, disentil sentil lagi."


"Hehehe iya mbak, enak banget mbak susu mbak ketagihan saya ini."


Kedua tangannya semakin intens meremas payudaraku, kadang ditekan kadang saling ditempelkan hingga kedua payudaraku terjepit. Kini tinggal satu tangannya saja yang bermain di payudaraku, satunya lagi turun ke pinggangku berusaha melepas ikatan celana dalam bikiniku.


Yang bagian kanan sudah terlepas ikatannya, selanjutnya bagian yang kiri kini sudah terlepas juga. Namun kain itu masih tersangkut diselangkanganku.


"Kok dilepas mas ikatannya?"


"Hehe nanggung mbak, boleh ya?"


Tanpa menunggu persetujuan dariku, ia langsung menarik celana dalam bikiniku ke belakang dan ia lempar ke tumpukan celana dalam lainnya di sebelah kanan kami. Lalu kontolnya ia selip kan di selangkanganku diantara kedua paha dalamku, kulitnya menggesek bibir vaginaku.


"Eemmpppphh, kok di selipin disitu sih mas kontolnya? Gak ahh mas jangan, aku takut! Tadi kan udah janji kalau kontol mas mau baik sama aku."


"Hhe cuma dikit kok mbak nakalnya, janji deh cuma selipin doang gak akan sampe masuk."


"Awas ya aku pegang janji mas, awas aja kalau macem macem ke memek aku bakal aku laporin ke ayah aku."


"Loh kok malah ke ayah mbak, kan harusnya ke pihak yang berwajib mbak."


"Emang mas mau aku laporin ke pihak yang berwajib?"


"Ya engga dong mbak, jangan!"


"Yaudah aku laporin aja ke ayah aku biar dijewer kupingnya sampe merah hihi."


"Tenang aja mbak, saya kan gak ngapa-ngapain mbak cuma nyelip dikit doang kok."


"Udah ahhh mas cabut, takut khilaf mas nya ntar aku jadi gak perawan lagi deh."


"Waaahhh mbak masih perawan toh?"


"Iya mas makanya aku takut kalau mas khilaf nanti, jangan ya mas please. Aku percaya kok sama mas, mas orang baik. Ya mas cabut!"


"Iya deh mbak, saya cabut."


Dia mencabut kontolnya dari selangkanganku, lalu mundur satu langkah menjauh dariku. Aku berbalik, kini aku menghadapnya.


"Makasih ya mas."


"Maaf ya mbak, saya gak tau mbak masih perawan. Maaf juga kalau bikin mbak takut tadi. Mau tak pakein lagi celana dalamnya mbak?"


"Iya mas gapapa, gak usah deh mas udah nanggung juga. Aku lepas bh nya sekalian ya!"


"Ehhhh?"


Aku lalu melepaskan bh ku, kini aku kembali telanjang dihadapannya.


"Diselipin disini aja mau gak mas?"


Aku menunjuk kedua payudaraku, kulihat wajahnya melongo seakan kaget dengan penawaranku yang tiba tiba.


"Di susu mbak?"


"Iya di susu aku."


"Kontol saya di selipin di susu mbak?"


"Iya mas, kalau yang ini boleh deh buat kontol mas aku gak akan khawatir."


"Ma ma mau dong mbak kalau gitu mah."


"Yaudah ayo, aku jongkok ya mas."


Aku kemudian jongkok didepan dia, kontolnya langsung aku selipkan di sela sela payudaraku. Aku tekan keduanya sampai kontolnya terjepit.


"Ayo mas gerakin, anggap aja mas lagi ngewe aku ya. Nikmatin mas selagi ada hihi."


"Iii iiya mbak, gak nyangka saya bisa ngewe susu mbak yang alim ini."


Si mas mulai menggerakan pinggulnya perlahan menikmati setiap sentuhan batang kontolnya di kulit payudaraku.


"Kok alim sih mas, kalau aku alim mah gak akan kaya gini kali mas."


"Ohhhh iya, jadi mbak ini ukhti binal dong?"


"Yups, betul mas sebut saja aku ukhti binal yang sekarang susu nya lagi di entotin kontol mas. Ayo mas genjot lebih cepet, keluarin mas keluarin aja di susuku ini."


"Iya mbak, aaahhhhhh enak banget susu mbak kenyal anget mbak. Kontol saya keenakan mbak.. aaaahhhhhhh...."


Sssrrrttt... Sssrrrttt... Sssrrttttt...


"Aaaaaahhhhh gak kuat saya mbak, pengen keluarrrrrrr......"


"Iya mas ayo keluarin, genjot lebih cepet mas... Aahhh mas kontol mas enak mas, susu aku sekarang buat mas. Ayo mas keluarin sperma kamu mas, susu aku udah siap nampung semua sperma kamu mas.

Aaahhh... Ahhhh.. aaaaahhhhh...masss......"


"Mbak kontol saya gak kuat mbak, saya kkkeelluuuaaaarrr mbakkkk.....aaakhhhhhh...."


Ccrrooottt... Crrot...ccrrroootttt.....


Spermanya muncrat diatas payudaraku, banyak banget aku rasa kentel lagi warna putih bersih. Enak nih kayanya, aku cobain ah nanti hihi.


"Hhaahhh.. hhahhh.. haahhh.... Lemes banget saya mbak gak kuat berdiri ini."


Si mas langsung terduduk dilantai, kedua kakinya selonjor ke depan. Namun ada satu yang menarik perhatianku, ya kontolnya masih tegak berdiri meski tak sekeras tadi.


"Mas kok kontol mas masih tegak aja sih, jadi suka deh aku perkasa gitu hihi. Boleh aku emut gak mas sambil bersihin sisa sperma mas?"


"Haahhh??? Mbak mau ngemut kontol saya? Beneran mbak?"


"Iya mas, kalau di bolehin sih."


"Ya tentu boleh dong mbak, ayo mbak di emut aja! Tapi pelan pelan ya mbak kepalanya masih linu hehe."


"Oke mas siap."


Tangan kananku menggenggam batang kontolnya, mulutku mendekat lalu....


"Cuuppp...."


Aku mengecup kepala kontolnya, lalu menjilat lubang kencingnya.


"Aaarrggghhhhh mbak, enak mbak tapi linu dijilatin gitu... Aahhhhh..."


"Tahan ya mas, bentar lagi bersih kok."


Aku kembali menjilati kepala kontolnya yang berwarna merah gelap, ku pastikan sisa sisa spermanya sudah bersih disana. Aku kemudian menjilati bagian bawah batang kontolnya keseluruhan dari ujung ke ujung.


"Aaaarrggkkkhhhh mbak geli mbak."


Ku emut kepalanya kemudian, lalu ku sedot dengan kencang sampai pipiku kempot ku rasakan.


"Aarrrggkkhhh mbak cukup mbakkkk liinuuuu bangetttt mbak, udah mbak udah..... Cukup mbak, gak kuuuattt sayaaa mbakkkk."


"Eemmmmm.... Mmuuuaacchhhhhh.... Hihi maaf ya mas keenakan aku nya."


Aku mencabut mulutku dari kepala kontolnya. Posisiku masih disitu, bersujud di depan kontol si mas tapi kini badanku sudah aku tegakkan.


"Masih linu ya mas? Padahal aku mau ngasih bonus loh buat mas yang terakhir sebelum aku pulang!"


"Hahhhhh? Apa itu mbak?"


"Eeemmmm mas tahan ya, kalau masih linu bilang aja nanti aku berhenti atau gausah aja sekalian hihi. Bentar aku lap dulu sperma mas di susu aku, banyak banget ihhh mas."


Aku lalu berdiri mengambil tisu di dalam tas kecilku. Ku ambil beberapa lembar lalu aku lap spermanya sampai bersih.


"Siap ya mas?"


"Emang mbak mau apa?"


"Sssstttt ... Nikmatin aja!"


Aku kemudian naik ke atas selangkangan si mas, tanganku mendorong pelan dadanya agar ia berbaring di lantai. Ku duduki kontolnya, kini bibir vaginaku kembali bersentuhan dengan batang kontolnya. Aku mulai menggerakan pinggulku maju mundur secara perlahan, nikmat rasanya kepala kontolnya menekan nekan klitorisku.


"Aaaahhhhh.... Masssss..."


Aku mendesah menikmati kenikmatan ini.


"Mbak enak mbak, terus gesekin memek mbak di kontol saya mbak.... Aahhhhhh."


"Iya mas, mas mau nyusu juga ngga?"


"Boleh mbak?"


"Boleh, tapi ada tambahannya lagi hihi."


"Beres mbak aman."


"Yaudah, nih mas nyusu sepuasnya deh!"


Aku mendekatkan payudaraku ke wajahnya, dan tanpa lama mulut si mas langsung saja menyosor putingnya. Kedua tangannya pun tak tinggal diam, mereka meremas payudaraku dengan semangat.


"Aahhh mas pelan aja mas, ga usah kenceng kenceng gitu. Aku kan ada disini gak kemana mana kok."


"Eeuummphh.. eeuummphh.. eummphh....."

"Sssluuurrppp.. sslluurrpppp.. sslluurruppp..."

"Aaakkkkhhhh.... Cuuupppp...ccuupppsss..."

"Mmuuuaaachhhhh......mmuuaachhh..."

"Sslluuurrppp....."


"Aaaarrggghhh massss geliii massss... Tapii enakk."


"Hhe sayang mbak kalau gak dinikmatin semuanya, kapan lagi kan. Mbak terus gesekin yang kenceng mbak. Kontol saya udah mau keluar lagi ini, gak tahan sama gesekan memek mbak."


"Iya mas aku kencengin ya!"


Aku menambah kecepatan gerakanku, pinggulku maju mundur dengan ritme yang kencang.


"Aaahhh mas enak masss..."


"Iya mbak terus mbak, saya keluaarrrrr...."


Ccrroott.. ccrroott.. ccrroottt.....


"Haaahhhh.. hahhhhh.... Makasih ya mbak, enak banget kontol saya... Huuuuuhhhhhhh... Lemes mbak...."


Aku ambil lagi tisu beberapa lembar lalu ku lap ceceran sperma yang ada diperutnya yang sebagian mengenai perutku juga. Aku lap semuanya sampai bersih.


"Udah yu mas, udah kelamaan kita disini. Kok gak ada yang mergokin kita sih mas, pasar ini memang sepi pengunjung ya?"


"Bentar mbak lima menit ya! Memang sepi mbak, ramenya ya waktu libur aja, hari minggu. Kalau hari hari biasa ya kaya gini sepi. Jadi aman kok mbak, gak ada yang tau hehe."


"Ohh gitu ya mas, oke deh kalau gitu."


Aku lalu memakai kembali pakaianku, di mulai dari bh lalu celana dalamku. Tapi aku berhenti sejenak saat akan memakainya.


"Mas! Mas mau celana dalam aku nggak? Kita barter!"


"Beneran mbak? Mau dong."


"Yaudah nih, maaf ya aku lempar."


Aku melempar celana dalamku ke arah perutnya dan dengan sigap ia menangkapnya.


"Barter sama yang mana nih mas?"


"Itu ambil semua aja mbak, saya kasih gratis buat mbak!"


"Hahhh yang bener mas? Mas gak bohong kan?"


"Iya mbak serius saya, ambil aja semua buat mbak!"


"Yeeeeyyyy makasih banyak ya mas. Nih sekalian sama bh aku juga mas."


Aku melepas bh ku lalu melemparkannya pada si mas.


"Makasih ya mbak, buat penglaris di toko siapa tau jadi nambah rame yang beli."


"Hihi bisa aja mas ini, dasssaarrr!"


Aku kemudian memakai pakaianku kembali, kali ini aku tidak memakai dalaman. Biarlah meski aku ada banyak pilihan tapi tidak ku pakai saja, harus ku cuci dulu biar bersih dan terbebas dari kuman serta bakteri. Aku gak mau vagina dan payudaraku alergi, terus gatel gatel. Nggak deh, gak mau.


Sudah rapih, aku bercermin sejenak merapikan pakaianku. Aku lantas mengajak si mas untuk segera bangun dan memakai celananya lagi.


"Mas ayo, istirahatnya di toko aja nanti kan bisa!"


"Iya mbak iya."


Dia berdiri dan langsung memakai celananya. Akhirnya selesai juga eksibku kali ini, tinggal sama Pak Imron berikutnya hihi. Kami berdua berjalan ke arah toko lalu sampai disana. Kulihat ya memang sepi keadaannya belum banyak pengunjung yang berlalu lalang. Hanya para pedagang yang sedang mengobrol satu sama lain. Semoga saja mereka tidak curiga dengan kedatangan kita berdua yang bersamaan.


"Sini mbak, saya kantongin dulu."


Aku memberikan semua celana dalam dan bh pilihanku padanya, lalu ia memasukan ke dalam kantong kresek warna hitam.


"Ini mbak."


"Makasih banyak ya mas, ini aku terima ya!"


"Iya mbak sama sama. Oh iya saya boleh minta nomor mbak?"


"Buat apa mas?"


"Buat nawarin dagangan saya hehe."


"Heemmm alibi mas mah, buat nawarin dagangan atau buat nawarin kontolnya?"


"Ehhh mbak jangan keras keras, nanti ada yang denger bahaya!"


"Ehehe iya maaf mas, yaudah nih catet 0869 xxxx xnxx."


"Oke mbak makasih ya! Oh iya ini, bentar mbak...."


Dia mengambil dompet dari laci meja dagangnya lalu mengeluarkan uang lembaran merah sebanyak lima lembar. Ia berikan kepadaku.


"Ini mbak, diterima ya!"


"Lima ratus ribu mas?"


"Iya mbak cukup kan? Atau kurang?"


"Emm cukup mas cukup kok, tapi mas ikhlaskan ngasih uang ini ke aku?"


"Ikhlas dong mbak, saya kan udah dikasih enak nya sama mbak. Sampe ngecrot dua kali lagi, bisa remes remes susu mbak juga udah bersyukur saya. Cuma belum bisa buat mbak keluar aja hehe keburu abis waktunya. Ehh dari tadi saya belum tau nama mbak!"


"Ohh iya kita belum kenalan ya mas. Aku Adel mas! Gapapa ko mas mungkin lain kali hihi."


"Saya Tio mbak. Oke deh kalau butuh lagi saya hubungi mbak ya."


"Yaudah saya terima ya uangnya mas, makasih banyak mas Tio udah di kasih daleman gratis juga."


"Iya sama sama mbak Adel."


"Pamit ya mas, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati hati dijalan mbak."


"Iya mas."


Aku pergi meninggalkan toko si mas, berjalan menyusuri lorong pasar sambil membawa belanjaanku. Oh iya tadi belanjaanku aku titip ke si mas ya lupa diceritain tadi hehe. Aku keluar pasar melangkah menuju ke parkiran motor tempat Pak Imron menungguku, tapi tak kutemukan dirinya hanya motornya saja yang kulihat. Namun dari sebelah kiri aku mendengar teriakan seseorang memanggilku.


"Mbak! Saya disini...."


"Aku menoleh ke arahnya, lalu melihatnya."


Oh Pak Imron, ternyata dia nunggu aku disana. Disebuah saung tempat beristirahat mungkin ya, sepertinya begitu sih.


"Ayo pak kita pulang!"


Pak Imron segera berjalan ke arahku.


"Belanja apa aja sih mbak, mbak darimana? Lama bener mbak."


"Hhe maaf ya pak lama nunggunya, ada urusan sebentar tadi sama pemilik toko hihi."


"Yaudah ayo mbak udah mendung banget ini, kita bakal kehujanan deh mbak kayanya."


"Ayo pak, belanjaannya digantung didepan ya pak!"


"Iya mbak sini!"


Pak Imron menggantung belanjaanku di cantolan motornya. Kami berdua segera pergi meninggalkan pasar karena langit sudah semakin mendung, awan hitam sudah berkumpul diatas kepala. Tinggal menunggu waktu pasti air dari langit akan jatuh menimpa bumi, menimpa kami.


Motor melaju dengan kecepatan sedang, Pak Imron mungkin gak berani ngebut juga takut kali bawa aku hihi. Jalan mulus sudah terlewati kini kami masuk lagi melewati jalan becek yang berlubang.


"Mbak roknya mau dilepas lagi?"


"Gak usah deh pak, mau pulang ini kalau kotor juga tinggal cuci. Lanjut jalan aja pak udah mulai gerimis ini!"


"Iya mbak, gimana dong?"


"Bapak gak ada jas hujan?"


"Gak ada mbak, gak punya saya."


"Hemm ya udah deh pak kita hujan hujanan aja kalau gitu. Udah lama juga aku gak hujan hujan pak hihi."


"Yaudah deh mbak, tapi didepan ada saung gitu deh mbak kita bisa neduh disana. Kalau keburu itu juga mbak hehe."


"Itu sih masih jauh pak, hujannya udah mulai turun ini."


"Ya mau gimana lagi mbak, terima nasib aja kita kehujanan."


"Iya pak."


Hujanpun mulai turun dengan derasnya, membasahi baju yang kami pakai. Kuyup, basah semua sampai ke dalam dalam terasa hingga pori pori kulit. Perjalan ke rumah masih jauh, jalanan semakin becek dan licin. Lubangpun semakin tak terlihat tertutup genangan air. Sesekali motor Pak Imron menggilasnya menyebabkan motornya oleng ke kanan dan ke kiri. Tapi ia tetap teguh berusaha untuk menstabilkan stang motornya dengan kekuatan otot lengannya yang kekar.


Meter demi meter telah kami lalui, udara dingin semakin terasa ditubuhku. Sampai tiba tiba petir menyambar dengan keras membuat kami berdua kaget seketika dan berteriak.


"Jelegeerrrrrr....."


Suara petir itu begitu keras terdengar di telinga.


"Aaaaaakkkkkhhhhh... Astaghfirullah, astaghfirullah hal adzim....."


"Astaghfirullah mbak... Keras banget petirnya."


"Astaga, iya pak kenceng banget ihhh. Aku takut pak, saung nya dimana sih pak? Masih jauh nggak?"


"Harusnya sih didepan mbak, bentar lagi sampe kalau nggak salah didepannya ada pohon deh mbak."


"Iya pak kita neduh dulu disana aja ya, aku takut kesamber petir kalau dilanjut."


"Iya mbak, ya saya juga takut mbak sama. Nah itu mbak didepan udah keliatan!"


"Iya pak, ayo kesana dulu."


Kami sampai didepan saung yang di jelaskan Pak Imron, saung sederhana dari kayu dan bambu tempat beristirahat petani yang mempunyai kebun didepannya.


Motor Pak Imron berhenti dan parkir di samping saung itu. Posisi saung agak masuk ke dalam kebun, tidak pas disamping jalan jadi agak tertutup oleh pagar kebun yang tersusun dari pohon singkong. Ada pohon nangka di dekat jalan masuk ke saung ini, jadi saung ini mungkin akan terlihat samar dari jalan.

Aman berarti hihi.


Aku kemudian masuk ke saung itu lalu duduk disana, sementara Pak Imron tangannya dengan cekatan mengambil kresek belanjaanku lalu membawanya dan menyimpannya di pojokan saung. Ia lalu duduk di pinggir saung kakinya menjuntai ke tanah.


"Bakal lama deh mbak hujannya, ini sih badai mbak bukan hujan biasa."


"Iya pak, bakal lama ini. Gimana dong mau lanjut aja? Tapi aku takut petir pak."


"Iya mbak sama saya juga, kalau kesamber sih nyawa saya melayang mbak."


"Betul itu pak, terus gim........"


Jeleeeegeerrrr..........


Suara petir kembali menyambar dengan kerasnya, membuat kami kaget terutama Pak Imron. Ia sampai melompat dari pinggir saung dan sekarang duduk ditengahnya.


"Astaghfirullah mbak, kaget saya lagi diomongin langsung muncul aja itu petir. Bikin jantungan aja, huuuuuhhhh..."


"Ahahaha iya ya pak tiba tiba aja muncul, bapak sampe loncat gitu."


"Laahhh malah ketawa si mbak mah, orang lagi ketakutan juga."


"Hihi iya pak maaf, habisnya bapak lucu kagetnya."


"Gimana nih mbak bisa sampe sore ini kalau nunggu hujannya reda?"


"Ya gimana pak, ga ada pilihan deh. Kita harus nunggu sampe hujannya reda emang bapak mau kalau kesamber petir?"


"Ya enggak dong mbak, gak ada deh orang yang mau kesamber sama petir."


"Yaudah kalau gitu pak, berarti kita harus nunggu disini sampe hujannya berhenti atau nggak sampe kecil deh, biar gak ada petir yang menyambar."


"Yaudah deh mbak."


"Dingin ya pak?"


"Kan lagi ujan mbak, ya dingin dong."


"Iiihhhh maksudnya ini pak baju aku kan basah jadi makin dingin gitu."


"Ohhh ya gimana mbak kan gak bawa baju ganti."


"Iya sih pak, apa aku buka aja ya pak?"


"Ehhh kok dibuka mbak, kan ada saya disini mbak gak malu?"


"Ya malu sih pak tapi ya dingin kalau tetep dipake."


Aku kemudian membuka kancing cardigan ku yang paling atas.


"Ehh mbak beneran di buka?"


"Iya pak, gapapa deh pak ga ada orang lain ini."


"Lah kan justru ada saya mbak, saya bisa liat nanti."


"Ya biarin, bapak liat aja!"


"Laaahhhhh....."


"Mau liat gak pak?"


"Hhe ya kalau ditawarin mah mau mbak hehehe."


"Hemm tuhkan ujung ujungnya mah mau."


Aku lalu meneruskan membuka kancing cardiganku dan melepasnya. Ku buka juga hijabku kemudian kaos putihku. Kedua payudaraku langsung terpampang di hadapan kedua mata Pak Imron. Ku lihat dia, lucu memang ekspresi wajahnya membuat ku tertawa kecil.


"Hihi gitu banget pak liat susu akunya!"


"Besar mbak, putih lagi. Pasti kenyel ya mbak?"


"Iya dong pak, bagus kan? Bapak mau pegang?"


"Bagus banget mbak, bo bo boleh emang mbakkk?"


"Ya nggak dong pak hihi."


"Yahhh kirain boleh mbak."


"Pak Imron gak kedinginan? Buka aja bajunya pak!"


"Gak usah deh mbak malu saya, buka buka baju di depan perempuan."


"Alah Pak Imron ini, buka baju malu tapi ngeliatin kontolnya gak malu. Dasarrrr.... Udah pak buka aja biar kita sama sama bugil di saung ini, mau aku yang bukain pak?"


"Ehhh mbak....."


Aku langsung mendekati tubuh Pak Imron, tanganku langsung saja melepas jaketnya lalu disusul dengan kaos oblongnya. Waaaawwww aku terkesima dengan bentuk badannya, meski tidak besar tapi otot ototnya terbentuk. Dadanya bidang perutnya sixpack bahunya juga terlihat kekar di mataku. Wahhh kuli bangunan memang beda ya badannya, bikin sange hihi.


"Waawww bagus banget badan bapak, aku suka deh sama perut cowok yang sixpack kaya Pak Imron gini pak."


"Biasa aja kok mbak, saya udah tua apa menariknya."


"Iihhh badan bapak tuh menarik tau dimata wanita, punya kelebihan loh pak kalau badannya bagus gitu."


"Iya kah mbak?"


"Iya dong pak, aku aja sampai terkesima gitu liatnya. Sampai pengen megang deh pak, boleh aku pegang nggak pak?"


"Ya nggak dong mbak hehe."


"Iiiiihhhh bapak mah gitu ihh, balas dendam ya ceritanya.... Gitu ihhh bikin aku bete aja....."


"Ahahaha ya abisnya tadi saya gak dibolehin pegang, ya udah deh saya bales mbak. Maaf cuma bercanda mbak."


"Gak tau ahh bete...."


"Yah kok gitu mbak, yaudah nih mbak saya bolehin pegang deh sepuasnya!"


"Gak gamau, udah gak mood aku pak."


"Yaudah saya pake lagi aja bajunya mbak!"


"Ehh ehh jangan dong pak hehe, tadi bercanda kok pak. Aku mau pegang sebenernya penasaran kaya apa rasanya megang perut sixpack tuh kaya apa."


Aku mengalah, ku korbankan rasa maluku untuk Pak Imron. Aku pikir dia yang akan meminta minta padaku ternyata aku salah, malah aku kini yang meminta padanya.


"Gak gamau, saya juga udah gak mood buat kasih pegang perut saya ke mbak. Mending kasih buat istri saya nanti dirumah, terus lanjut ngewe uuhhh mantap mbak.


"Aaahhhh gitu ihh bapak mah sama aku, malah mau ngewe lagi sama istrinya. Bilangnya depan aku lagi, kan aku jadi sange pak. Kalau bapak sama istri bapak, aku sama siapa pak nanti ngewenya?"


"Ya sama pacar mbak lah, siapa lagi!"


"Aku jomblo ihh pak gak punya pasangan, tega loh Pak Imron sama aku."


"Ehehehe mau pegang perut saya?"


"Heem."


"Oke, tapi mohon dulu sama saya hhe."


Sialan emang Pak Imron ini kenapa jadi dia yang pegang kendali kan harusnya aku yang ngedikte dia, emang ya pengalaman berbicara buat hal hal kaya gini. Tapi gapapa lah aku ikutin aja mau nya dia, aku penasaran sama tubuh kekarnya sama biar seru aja sih. Toh kalau dia gak mau juga gak mungkin hehe kalaupun mungkin ya bakal aku paksa hihi.


"Pak Imron aku penasaran pengen banget megang perut sixpack nya bapak, bolehkan?"


Dengan nada manja aku ucapkan itu, tubuhku merangkak mendekatinya lututku aku jadikan tumpuan. Kedua tanganku meraih tangan Pak Imron, mengangkatnya lalu mendaratkannya diatas payudaraku. Aku memandangnya, lalu seketika menganggukan kepala dengan bibirku yang tersenyum berharap dia mengerti apa yang aku pikirkan.


Dan benar saja kedua tangannya meremas payudaraku perlahan. Putingnya ia mainkan, ia tekan lalu dicubitnya dengan pelan. Aku mendesah menikmati permainan tangannya di payudaraku.


"Aaaahhhhh, enak pak terus..... Aaahhhh..."


Kulihat wajah Pak Imron, matanya hanya tertuju pada payudaraku. Kulit wajahnya mulai sedikit memerah, mulutnya merapat tak ada sepatah katapun yang keluar. Ia terdiam dengan sajian di hadapannya.


"Pak kok bapak diem?"


"Hhe gak nyangka saya mbak, bisa ngerasain susu bagus kaya gini. Besar, kenyal, halus, mulus mbak!"


"Iya pak, susu aku punya bapak sekarang."


Dengan nada manja aku berbisik di telinga kirinya, ia sedikit terkejut mendengar itu aku tahu karna bahunya tiba tiba tersentak.


"Yang bener mbak, susu ini pupupunya saa sayaa mbak?"


"Iya pak, nikmatin aja! Aku kasih ini buat bapak."


"Iiiyaaa mbak."


Pak Imron semakin gugup, tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.


"Isep aja putingnya kalau bapak mau!"


"Boboleh mbaakkk?"


"Boleh dong, nih!"


Aku merapatkan dadaku ke kepalanya, dengan posisi kami saat ini memudahkan mulut Pak Imron untuk menghisap puting payudaraku karna posisinya yang sejajar. Pak Imron memang berpengalaman, tubuhnya memang kekar dan berotot tapi cara dia menikmati payudaraku sangat lembut. Dengan perlahan ia menghisap puting payudaraku, sesekali dijilatnya sampai basah oleh air liurnya. Lalu ia hisap tapi tidak kasar, aku suka diperlakukan seperti ini. Lemah lembut tidak grasak grusuk.


Cukup lama Pak Imron bermain di payudaraku, aku rasa ia amat menikmatinya karna saat ia bermain disana ia tak berbicara sepatah katapun. Hanya meremas, menjilat dan mengecupnya, ia terfokus di payudaraku.


"Pak?"


"Iya mbak."


"Berhenti dulu sebentar! Suka banget ya pak sama susu aku?"


"Hhe iya mbak, seumur hidup saya baru ngerasain kalau susu itu ada yang bentuknya bagus kaya gini."


"Emang punya istri bapak gak bagus?"


"Nggak mbak, kurang! Yang pasti gak sebagus punya mbak Adel ini. Punya istri saya mah kecil mbak, agak kendor lagi. Jauh banget sama punya mbak, sempurna kaya gini."


"Bentar deh pak, aku buka rok aku dulu dingin lama lama."


Aku kemudian berdiri memperosotkan rok plisketku dan melepasnya dari kedua kakiku. Pak Imron nampak kaget melihat aku yang sedang membuka rokku.


"Lohhhh mbak kok gak pake celana dalem? Lah iya mbak juga gak pake bh ya? Kemana daleman mbak, kok gak dipake?"


"Hehe iya pak, tadi pas dipasar aku kan beli daleman baru pak terus daleman yang lagi aku pake diminta sama pedagangnya."


"Lololohhhh kok bisa gitu mbak? Gak masuk akal itu! Mbak barter? Tukeran gitu mbak?"


"Iiihhhh kepo deh bapak ini, pengen tau ya pak? Nanti sambil aku ceritain deh pak, sekarang bapak buka celananya juga ya biar sama kaya aku!"


"Kita bugil berdua mbak? Disini? Mbak gak takut apa?"


"Iya pak, nganggung kan atasnya juga udah kebuka biar sekalian sama bawahnya. Lagian sepi kan pak mana masih hujan deras ini. Gak akan ada yang lewat kali pak, kalaupun ada ya udah biarin aja."


Tanpa menunggu persetujuan dari Pak Imron, kedua tanganku segera membuka kait celananya menurunkan resletingnya dan menarik lepas celana hitam panjang beserta celana dalam nya sekaligus.


"Angkat dikit pantatnya pak!"


Pak Imron menurutinya, ia angkat sedikit pantatnya agar memudahkanku dalam melepas celananya. Kini kami berdua sudah bertelanjang di saung ini diantara kebun dan derasnya hujan yang mengguyur.


Aku bergerak kembali mendekati tubuhnya, posisinya kini duduk dengan kedua kakinya yang lurus kedepan. Aku lalu duduk di pahanya berhadapan dengan wajahnya.


"Belum puaskan tadi pak? Ayo isep lagi susu aku pak!"


Tanpa berkata apapun langsung saja mulutnya menghisap puting payudaraku. Masih dengan lembut ia menghisapnya, sesekali ia menyedot kulit payudaraku sehingga menimbulkan sedikit bekas kemerahan disana. Diremasnya payudaraku bergantian kanan dan kiri, bila ia memainkan putingku dengan mulutnya di sebelah kiri maka payudara kananku yang diremasnya begitu juga sebaliknya.


"Aaaahhhhh enak pak, terus hisap yang kenceng pak!"


Dinginnya angin kini tak terasa di tubuhku, rasa hangat yang timbul akibat menempelnya tubuh kami menghilangkan udara dingin disekitar. Aku lalu merapatkan pinggulku ke arah perutnya, kini kontol Pak Imron sudah tergesek di vaginaku. Aku biarkan sejenak menikmati rasa hangat disana.


Lama sekali Pak Imron menikmati payudaraku, memang suka sekali ia dengan payudaraku ini. Lama lama lecet nih putingku hihi.


"Udah kali pak, lama banget main di susu akunya."


"Hehe abis enak mbak, beneran deh pengen ngenyot terus gak berhenti."


"Udah ahh pak nanti lecet puting aku."


"Iya deh mbak."


Raut wajahnya sedikit kecewa kulihat, sabar ya pak kan bisa nanti lagi hihi.


"Jangan sedih gitu dong pak, kalau sampe lecetkan gak bisa bapak kenyot lagi susu aku pak. Gimana hayo? Nanti lagi kan bisa pak, susu aku punya bapak kok sekarang hihi."


"Hehe, ceritain yang tadi dong mbak yang mbak tukeran celana dalem!"


"Pengen tau ya pak, bapak penasaran kenapa daleman aku bisa diminta sama pedagangnya?"


"Iya mbak, saya penasaran kok bisa sih."


"Oke deh aku ceritain ya pak."


Pak Imron antusias untuk mendengar ceritaku, kedua tanganku melingkar di kepalanya. Sesekali aku mengusap-usap rambutnya. Gila udah kaya sepasang kekasih aja kita ini hihi ya namanya juga sange mau gimana lagi nikmati aja selagi ada.


"Tadi kan aku beli daleman ya pak, tadinya aku cuma mau beli celana dalem aja tapi dikasih bonus bh sama si pedagangnya. Ya aku kan seneng ya pak di kasih gratis gitu, terus kan banyak pilihannya banyak banget modelnya pak aku sampe bingung mau pilih yang mana. Ehh si pedagangnya nyaranin aku buat nyobain satu satu aja pak, sama dia milihin buat aku juga yang modelnya bikini. Bapak tau kan bikini?"


"Iiiiyaa mbak ttatau, yang buat berenangkan?"


"Nah iya pak yang kaya gitu, masa aku disuruh pake bikini coba buat apa kan pak. Aku kan berhijab kapan coba aku pake bikini, kan gak mungkin ya pak! Kalau aku berenang juga masa pake begituan ya aku pake baju biasa aja atau pake baju olahraga. Bener kan pak? Masa aku pake pakaian seksi ditempat umum, gak mungkin kan pak aurat aku diumbar gitu aja. Dasar emang si pedagang."


"Ehemmm....."


"Ehhh kenapa pak?"


"Ini mbak telanjang didepan saya, aurat mbak kemana mana ini."


"Hehe ini kan bukan tempat umum pak, lagian ini darurat pak kita kan abis kehujanan jadi gapapa kan!"


"Heeemmmm iya deh iya mbak, lanjutin mbak hhe!"


"Oke pak, nah abis itu aku kan mau nyobain dalemannya tapi gak ada kamar gantinya pak kata si pedagang cuma ada ruangan kosong gitu dipojokan pasarnya. Ya aku iyain aja deh aku kan emang mau nyobain dulu cocok atau nggak nya pas aku pake nanti. Nah aku minta anter sama si pedagangnya pak dan dia anterin aku. Pas udah nyampe emang cuma ruangan kosong aja sih pak gak kaya kamar ganti cuma ya ada kaca cermin aja itupun udah retak retak. Si pedagang nya malah mau ninggalin aku sendirian coba pak, kan aku takut ya gimana coba pas aku lagi ganti celana dalem terus ada yang datang dan perkosa aku. Gimana pak?"


"Ya jangan dong mbak, kasian mbak nya."


"Nah makadari itu pak, aku nyuruh si pedagangnya buat nemenin aku ganti daleman pak."


"Hahhhhh beneran mbak, dia liat mbak ganti daleman?"


"Hihi belum pak, aku suruh dia nunggu diluar jagain aku."


"Ohh tapi kok belum mbak, berarti setelah itu dia liat dong?"


"Iya pak, pas aku lagi nyobain celana dalem barunya ternyata dia ngintipin aku pak. Keliatan deh memek aku sama dia, beruntung ya pak dia?"


"Emmm hhe iya mbak."


"Yaudah karna nanggung ya aku suruh dia masuk aja kedalem liatin aku ganti celana dalem pak, dia juga aku suruh buat bantu pakein cd sama bh yang modelnya bikini pak. Bapak tau nggak tangannya si pedagang itu nakal pak!"


"Na na nakalll mbak, nakal gimana maksudnya?"


"Iya pak, masa pantat aku tiba tiba diremes coba. Nakal kan?"


"Huuuuhhhh iya mbak itu mah nakal banget."


"Terus gak lama dari itu, si pedagangnya pengen megang sama ngeremes susu aku juga coba pak. Ngelunjak kan pak dia sama aku."


"Iii iiiyaaa mbak iyaa, kurang ajar emang. Terus mbak tolak dia?"


"Hihi tadinya mau aku tolak pak cuma dia mau bayar aku. Aku kan jadi bingung ya pak, akhirnya aku tolak aja bilang ke dia jangan deh mas aku kan cewek muslimah."


"Nah bagus itu mbak, tolak aja orang kaya begitu mah udah kurang ajar sama mbak. Masa cewek muslimah berhijab gini seenaknya dipegang pegang."


"Iya pak aku tolak dia, ehhhh tau nggak pak? Dia malah ngasih bayaran yang lebih tinggi coba, aku kan jadi tergoda pak. Yaudah aku terima aja pak tawaran dari dia hihi."


"Hhhaaaaaahhhhhh??????? Jadi dia tetep megang susu mbak?"


"Iya pak, dia langsung remes remes susu aku sama kaya yang bapak lakuin barusan hihi."


"Hehe, yah gimana sih mbak tadi katanya mau nolak malah dikasih juga ujung ujungnya."


"Ya gimana ya pak rezeki kan gak boleh ditolak. Kan lumayan pak aku dapet lima ratus ribu dari dia sama itu pak celana dalem sama bh gratis."


Aku menunjuk ke kresek bungkusan yang disimpan dipojokan saung. Kami terus mengobrol dalam posisi ini, sangat intim kurasakan seperti deeptalk sepasang kekasih saja hihi.


"Ahhh iya sih mbak lumayan juga dapet lima ratus ribu cuma buat remes remes susu doang."


"Eiitttsss nggak cuma itu doang kok pak, masih ada yang lain juga. Aku ceritain lagi ya pak!"


"Ehhh ada yang lain lagi mbak?"


"Iya pak kan belum selesai, nah abis itu dia ngelepasin iketan tali celana dalem aku pak terus dia tarik sampe lepas. Kontolnya loh pak nyelip di memek aku, gila aku kan gak siap sama takut juga ya pak. Lagian aku kan masih perawan kalau tiba tiba dia dorong kontolnya masuk kan gawat ya pak, perawan yang aku jaga selama ini hilang gitu aja sih aku bakalan gak terima."


"Ohhh iya iya mbak, jangan sampe lepas gitu aja sih mbak. Sayang kalau buat orang baru yang nggak mbak kenal."


"Nah itu dia pak, perawan aku ya buat suami aku nanti kan pak. Kok dia malah nyelipin kontolnya di memek aku. Sama kaya gini sih pak, kontol bapak juga nyelip di memek aku hihi. Awas ya pak jangan sampe masuk loh."


"Hehehe iya mbak aman, saya tau batasannya kok tenang aja."


"Hihi makasih ya Pak Imron."


Muuuaaacchhhhh...... Aku mengecup pipi kirinya, lalu memberikan senyuman terbaikku untuknya. Wajahnya nampak kebingungan, mungkin ia malu. Hihi sudahlah.


"Abis itu dia narik kontolnya lagi pak, soalnya aku bilang ke dia kalau jangan ngelakuin itu aku takut nantinya dia khilaf. Terus aku tawarin aja ke dia buat nyelipin kontolnya di susu aku aja. Soalnya ya aman kan pak kalau diselipin di susu."


"Wiihhh, terus dia mau mbak?"


"Ya jelas dong pak, siapa yang bakal nolak di kasih susu aku ini hihi ya nggak pak?"


"Hehehe iya juga ya mbak, saya aja sampe ketagihan gak mau lepas dari gunung kembar yang menawan ini."


Cuuuuppppp..... Bibir Pak Imron mengecup puting susuku sebelah kanan.


"Aahhhhhhh...... Tuhkan bapak juga sampe ketagihan gini."


"Iya mbak, pokoknya susu mbak yang terbaik deh hehe."


"Huuu... Dasarrr. Aku langsung aja jongkok didepannya pak kontol dia langsung diselipin di susu aku, dia genjot dengan keras pak kaya lagi ngewe aja. Gak lama dari itu dia keluar pak, mungkin karna keenakan kali ya hihi dia muncrat di atas susu aku pak banyak banget."


"Waaahhhh susu mbak emang juara berarti mbak bias bikin kontol ngecrot. Yah berarti ini bekas kontol sama pejunya dia dong mbak? Mana saya udah emut sama jilatin lagi."


"Hihi iya pak, udah aku lap pake tisu kok pak tapi ya belum di cuci sama sabun aja. Emmm sama udah basah kena air hujan kok harusnya sih udah bersih pak."


"Iya mbak gapapa, susu mbak tetep enak kok hehe. Abis dia ngecrot udahan kan mbak?"


"Aku pengennya udahan pak, kan udah kelamaan juga aku inget bapak yang lagi nungguin aku di parkiran."


"Aahhh iya mbak, saya nungguin mbak sampe abis kopi dua gelas loh mbak. Ngutang dulu sama si Bejo tukang asongan saya mbak hehe."


"Hihi nanti aku ganti deh pak uang kopinya, maaf ya pak soalnya abis ngecrot kontol dia masih tegang aja. Aku kan jadi tergoda lagi deh pak hihi."


"Lah masih lanjut mbak?"


"Masih pak, sayangkan kontol yang masih tegang di anggurin."


"Aahhhh dasar mbak Adel ini, ukhti binal! Eehhhh maaf mbak maaf, salah ngomong saya. Maaf mbak maafin!"


"Iiihhh kok bapak berpikiran gitu sih sama aku, kok nuduh yang nggak nggak ke aku. Kok aku di bilang ukhti binal sih pak, maksud bapak apa?"


Aku mencoba memancingnya, seolah olah emosiku keluar. Aku berpura pura marah padanya, padahal hanya bercanda hihi.


"Ngg ngg nggaakkk kok mbakkk, gak bermaksud saya. Maafin mbak, maaf!"


"Emang kenapa kalau aku ini ukhti binal pak, bapak mau apain aku haahhh???"


"Ampun mbak ampun, jangan marah dong mbak saya bercanda tadi."


Ekspresinya memelas, wajahnya sedikit bersedih. Pak Imron terus meminta maaf padaku hihi iya pak aku maafin, lagiankan cuma bercanda pak kok diseriusin gitu.


"Apa, apa bapak bilang? Coba ulangi lagi!"


"Saya cuma bercanda tadi mbak, sumpah."


"Kalau bapak bercanda ya aku juga sama pak cuma bercanda ahahahaha."


Aku tertawa lepas setelah melihat ekspresi tidak percayanya. Wajahnya melongo mendengar jawabanku.


"Aaadduuhhhh.... Sakit ihh pak, kok puting aku di gigit sih? Jahat Pak Imron....."


Tiba tiba saja puting kiriku di gigit olehnya, tidak kencang hanya bikin kaget saja padahal lagi enak enaknya ngetawain dia ahaha.


"Mbak Adel yang jahat, kirain saya marah beneran."


"Hihi gak kok pak, ngapain aku marah sama bapak. Bapakkan orang baik, bapak boleh panggil aku apa aja kok terserah bapak."


"Iya mbak, ehh lanjutin yang tadi mbak."


"Ehh iya lupa pak, sampai dimana ya tadi?"


"Kontol dia yang masih tegang mbak!"


"Ohh iya, nah setelah itu aku deketin dia lagi pak. Posisi dia kan lagi duduk ngangkang, aku langsung tindihin dia aja pak. Aku duduk di pahanya persis kaya posisi kita sekarang, terus aku dorong dia supaya tiduran dilantai. Aku gerakin deh pinggulku pak biar memek aku ngegesek kontolnya, uuuhhh enak banget pak apalagi waktu kepala kontolnya nyundul nyundul klitoris aku nikmat banget rasanya. Kaya gini nih pak."


Aku menggerakan pinggulku juga sama dengan apa yang aku ceritakan pada Pak Imron. Ku gesekan memekku ke batang kontolnya.


"Ehhh mbak, kok?"


"Nah kaya gini pak yang aku lakuin tadi sama dia. Bapak tiduran juga ya!"


"Iya mbak."


Aku mendorong tubuh Pak Imron untuk berbaring di lantai saung. Posisi kita sekarang persis sama dengan yang aku lakukan dengan mas Tio tadi di pasar.


Aku semakin menggeseknya, pinggulku bertambah kencang. Maju kemudian mundur, perlahan cairan memekku merembes keluar membuat gerakan yang aku lakukan menjadi semakin lancar.


"Aaahhhh... Enak pak, memek aku geli kegesek kontol bapak yang berurat ini. Aahhhhhh."


"Sama mbak kontol saya juga enak digesekin memek mbak yang tembem ini, aaahhhhhh... Enaknya mbak."


"Dia langsung crot lagi pak waktu aku gesekin gini... Aahhhhhh..."


"Pastilah mbak, orang enak gini memek mbak. Gak masuk aja udah seenak ini mbak apalagi sampe masuk... Aaakkkhhhhhh....."


"Hihi bapak mau keluar juga?"


"Belum sih mbak, masih lama kayanya."


"Berhenti dulu ya pak, aku beresin ceritanya dulu bentar lagi selesai kok. Apa gak usah di ceritain lagi?"


"Emmm ceritain lagi deh mbak, penasaran daleman mbak kemana tadi!"


Aku turun dari atas badan Pak Imron, lalu ikut berbaring disebelah kanannya. Tidak sepenuhnya berbaring posisiku agak menyamping ke arahnya. Aku tergoda dengan bentuk perutnya yang sixpack, menggiurkan menurutku. Tangan kiriku menopang kepalaku sementara tanganku bermain di perutnya, sesekali ku usap usap. Jari jemariku menari diatasnya.


"Ehh iya belum diceritain ya pak, jadi gini pak waktu dia udah beres crotkan aku langsung pake pakaian soalnya ya udah kelamaan bangetkan. Terus waktu aku mau pake celana dalem, aku ada ide pak buat ngasihin ke dia ehh dia mau ternyata pak. Yaudah aku kasih aja cd sama bh aku terus dia bilang buat barter aja sama yang aku pilihin tadi semuanya. Alhamdulillah kan pak dapet gratis, lumayan rezeki. Terus pas aku mau pamit di kasih uang deh lima ratus ribu sama dia pak, yyeeeeyyyy."


"Hmmm ternyata inisiatif mbak sendiri, kirain dia yang minta. Bener bener ya mbak ini, emang binal."


"Hihi biarin tapi bapak suka kan kebinalan aku?"


"Suka dong mbak, kan jadi rezeki saya juga bisa nyicipin badan mbak."


"Enak aja nyicipin emang badan aku makanan pak di icip icip, daaasaaarrrr."


Aku mencubit hidungnya, tidak keras hanya gemas saja hihi.


"Aduuhhhh.... Kok di cubit sih mbak."


"Hihi abisnya bapak lucu sih jadi aku cubit deh. Perut sixpack bapak bikin aku sange loh pak, gemes pengen nyubit iiiihhhhhh....."


"Aaawwwww, mbak mah dicubit beneran."


"Hihi....."


JEEELEEGGEERRRRRRR........


"Aaaaahhhhhhhh....... Astaghfirullah pak astaghfirullah....."


"Astaghfirullah.... Alah sia mbak, kenceng bener suara petirnya."


Aku reflek memeluk Pak Imron, wajahku mendekap di dadanya. Ku peluk dengan erat sambil aku ketakutan akan suara petir yang menggelegar tadi.


"Iya pak ihh aku takut pak."


"Tenang mbak ada saya kan disini, seenggaknya di saung ini kita aman mbak. Apa ini gara gara kita telanjang gini ya mbak?"


"Gatau juga ya pak, gak juga sih harusnya pak ya emang karna lagi hujan deres aja makanya ada petir."


"Iya juga sih mbak, tapi saya jadi takut mbak."


"Takut kenapa pak, takut petir?"


"Bukan mbak, takut karna perbuatan kita ini. Ini kan salah mbak gak seharusnya terjadi."


"Apa iya pak? Tapi kan kita gak ada paksaan loh pak, bapak gak maksa aku. Aku pun gak maksa bapak."


"Yeeee yang diatas kan mikirnya lain mbak, kita kan bukan muhrim aurat mbak juga ke umbar gitu aja. Ini dosa sebenarnya mbak, tapiiii........."


"Tapi apa pak?"


Aku memperhatikan wajahnya dengan seksama menunggu jawabannya yang menggantung tak selesai terucap, sampai sesuatu terjadi.


JEEELEEGGEERRRRRRR........


Petir kembali menyambar bumi, dengan suara kerasnya mengejutkan kami yang tengah terhanyut akan pikiran pikiran liar yang menusuk sanubari. Tentang salah dan benar, tentang sebuah dosa yang coba kami nikmati.


"Astaghfirullah.....Aaakkkhhhhhhh pak takutttt..."


Aku memeluknya erat, semakin erat.


"Tuh kan mbak apa saya bilang, emang karna perbuatan kita ini petirnya jadi makin keras kan."


"Emmm tapi aku gak percaya ahh pak sama yang begituan, toh yang denger petirnya juga bukan kita aja kan yang lagi ibadah, yang lagi berbuat kebaikan juga pasti denger suara petirnya pak."


"Ya iya juga ya mbak, emang karna hujan aja mungkin ya."


"Iya pak, tapi udah mulai ngecilin juga sih pak ujannya kayanya bentar lagi reda ini."


"Iya mbak, yaudah kita siap siap pulang aja mbak kalau gitu."


"Ihhh mau kemana pak?"


"Ya pulang mbak, kalau udah reda emang mbak mau tetep disini?"


"Iya! Tapi sama Pak Imron disini."


"Haahhhhhh???."


Ccuuupppppppp....


Aku mengecup pipi kanannya, ia memandangku heran. Mata kami saling bertatapan, sayu. Aku memajukan wajahku mendekati wajahnya lalu bibirku mengecup bibirnya.


Cuuuupppppppsssss... Muuaachhhh...


Pak Imron semakin bingung dengan kelakuanku, aku hanya tersenyum padanya.


"Aku pengen buat kontol bapak muncrat, Pak Imron mau?"


Pertanyaan macam apa yang aku lontarkan, udah gila. Ya pasti mau lah pake ditanyain segala, Adel Adel hihi.


Tanganku menggenggam batang kontolnya yang tegak menegang seperti rudal dengan urat uratnya yang menonjol layaknya akar pohon beringin. Begitu nyata begitu terasa. Kulit telapak tanganku jelas merasakannya. Ada sensasi tersendiri yang aku rasakan saat ini, aku sangat menikmati.


"Mau mbak, tapi ......."


Aku menatapnya dalam.


"Tapi apa pak?"


"Tapi saya gak bisa bayar mbak, kaya si pedagang di pasar itu."


"Iiiiiiiihhhhhhhh, kirain apaan pak. Bapak gak usah khawatir buat Pak Imron aku kasih tubuh aku gratis, gak usah bayar bahkan mungkin aku yang bayar bapak nanti kalau bapak bisa bikin aku puas hihi."


"Haaahhhh beneran mbak?"


"Iya pak, kita kan satu kampung. Bahkan mungkin kita tetanggaan, aku harus saling berbagi sama tetangga aku pak. Apalagi tetangganya baik kaya bapak, aku pasti dengan suka rela ngasih tubuh aku ke tetangga baik itu kaya Pak Imron."


"Emang bener bener binal kamu mbak, saya nggak nyangka sumpah."


"Hihi binal ya pak, tapi bapak suka kan?"


"Ya suka dong mbak, suka banget malahan. Udah kaya punya istri ke dua aja saya mbak."


"Anggap aja aku istri keduanya bapak tapi jangan diseriusin ya pak, cuma pura pura aja."


"Hehe iya mbak tenang, aman pokoknya."


"Yaudah, kita mulai ya pak!"


"Mbak yakin kita main disini, ditempat terbuka gini? Kalau ada yang liat terus kita ketahuan gimana mbak?"


"Yakin dong pak, orang sepi gini kok daritadi kita disini juga gak ada yang lewat pak. Kalaupun kita ketahuan ya aku ajak join aja bareng kita hihi."


"Ya salammm, gak ngerti lagi deh saya sama jalan pikiran mbak Adel ini."


"Hihihi ya gimana ya pak, aku kan binal. Aku tuh haus akan kontol tau nggak pak, apalagi kontolnya bagus kaya punya Pak Imron ini makin tergila gila aku jadinya."


"Yaudah mbak nikmatin aja kontol saya ini, saya kasih buat mbak Adel tercinta."


"Aaaaaaaaa, makasih Pak Imron buat kontolnya hihi. Emmm bapak udah pernah ngerasain anal belum pak?"


"Anal? Apa itu mbak? Baru denger saya."


"Hihihi ternyata bapak gak seliat yang aku kira, bapak polos ya ternyata. Itu loh pak ngewe dilubang bool."


"Astaghfirullah mbak....."


"Apasih pak kagetnya berlebihan gitu. Kan aku cuma nanya pak udah atau belum?"


"Belum lah mbak, istri saya mana mau lubang boolnya di ewe."


"Nahhh itu pak, bapak mau coba?"


"Haahhhh? Coba? Bool pantatnya mbak Adel?"


"Iya pak, bool aku."


"Katanya sih sakit loh mbak, waktu dimasukinnya."


"Nggak kok pak cuma di awal aja dulu sakitnya, sekarang mah malah enak waktu lubang bool aku dimasukin kontol hihi. Ehhhhh....."


Aku menutup mulutku, keceplosan deh. Adel Adel sering banget keceplosan hihi.


"Berarti mbak udah pernah?"


"Hehehe udah pak."


"Alamakjang.... Yang depan masih disegel tapi yang belakang udah buka gembok ternyata."


"Ya justru itu pak, karna yang depan masih aku segel jadi main yang belakang aja deh hihi. Enak loh pak, kata Dani sama Tono rasanya enak banget waktu kontol mereka ngewe bool aku. Bapak mau coba juga kan? Eehhhh adduhhhhhhh......."


( Terus aja keceplosan, mulutmu itu loh Del gak bisa dijaga )


Pak Imron kaget mendengar itu, mendengar kata Dani dan Tono sampai sampai ia mengangkat badannya lalu terduduk sambil menatapku. Aku mengikutinya juga, aku duduk namun tertunduk.


"Dani sama Tono mbak? Mereka udah pernah ngerasain lubang bool mbak?"


"Iya pak, Dani yang pertama merawanin bool aku setelah itu baru Tono."


Aku menatap wajah Pak Imron, dengan segala kebingungan dan ketidakpercayaan yang muncul diwajahnya.


"Halaaaahhhhh..... Mbak Adel mbak Adel....."


"Bapak kenal mereka?"


"Kenal banget mbak, mereka tetangga saya kan. Orang tua mereka ya temen saya mbak. Saya liat kecilnya mereka ehh pas udah remaja malah kebagian ngewe bool mbak ahaha beruntung ya mereka."


"Lahhh tetanggaan toh pak, rumah bapak yang mana?"


"Yang ditengah diantara rumah mereka mbak."


"Ohhh rumah bapak yang itu."


"Tapi jangan bilang bilang sama mereka ya mbak, malu saya hehe."


"Iya pak aman kok, rahasia terjamin hihi."


"Oke deh mbak."


"Ayok pak kita mulai, bapak mau langsung ngewe bool aku atau mau aku sepong dulu?"


"Duh disuruh milih lagi, dua dua nya enak kan mbak. Terserah mbak aja deh."


"Nggak, harus bapak yang nentuin."


"Sepong dulu deh mbak, tapi kalau pas di sepong udah keluar nanti gak kebagian bool mbak dong. Apa ngewe bool mbak dulu ya? Ngewe bool mbak dulu deh."


"Hihi sampai bingung gitu pak, yaudah aku sepong dulu bentaran terus abis itu baru ngewe bool aku ya pak."


"Hehe nah gitu aja mbak."


"Yaudah ayo pak!"


"Ayo mbak."


Bersambung


:::::::::::::::::::::


#15.3



KEBERUNTUNGAN LAINNYA


"Bapak berdiri deh pak, biar aku jongkok didepan bapak."


"Kalau berdiri riskan ketahuan mbak, ntar ada yang lewat liat gimana?"


"Iihhhh takutan gitu sih Pak Imron ini, gak bakal deh pak kan sepi jalanannya. Udah aku bilang juga tadi kalau ada yang liat terus nyamperin ya ajak gabung aja ya kan hihi."


"Yaudah deh terserah mbak Adel, saya ngikut aja."


"Nah gitu dong pak. Yaudah bapak berdiri!"


"Iya mbak."


Pak Imron pun lantas berdiri dihadapanku, kedua tanganku segera menggenggam batang kontolnya. Ku kocok sebentar lalu ku lahap dengan mulutku.


"Aaaahhhhh, mbak."


"Hihi tahan ya pak!"


"Enak bener mulut mbak, kontol saya baru pertama kali ngerasain disepong mbak."


"Nikmatin ya pak!"


"Iya mbak, aaahhhhhh."


Aku kembali memasukan kontolnya ke dalam mulutku, enak banget rasanya. Uratnya begitu terasa di lidahku, batangnya keras seperti singkong. Meski memang berwarna gelap tapi aku menyukainya, rasanya beda dari semua kontol yang pernah aku nikmati. Mungkin kontolnya Pak Imron ini yang terbaik saat ini, gak tau ya kedepannya mungkin bakal ada lagi hihi.


Ku jilati keseluruhan batangnya, dari pangkalnya hingga ke ujung tentunya. Kepalanya, lubang kencingnya, semua terlumuri oleh air liurku. Bijinya tak lupa aku sedot juga, ini pengalaman pertama bagiku dan Pak Imron lah yang merasakannya.


"Aaaahhhhh mbak enak banget biji saya disedot gitu."


"Hihi aku pengen nyoba pak, enak ya pak bijinya aku sedot gini?"


"Iya mbak, enak banget. Aaaaarrrgggggghhhhhh.."


"Hihi keenakan gitu pak."


"Mbak udah deh mbak, gak kuat saya disedotin gitu!"


"Iya deh pak, ini udah kok."


Aku menyudahi perbuatanku di kontolnya Pak Imron. Sekarang tiba saatnya kontol Pak Imron menyodok liang boolku, jadi makin gak sabar deh hihi.


"Bapak mau aku gimana?"


"Emm nungging aja deh mbak."


"Oke deh pak, aku nungging ya!"


"Iya mbak."


Aku mengubah posisiku, kini aku menungging di hadapannya. Tanganku bertumpu pada lantai saung, lututku juga. Aku selayaknya anjing saja yang siap untuk disetubuhi hihi.


"Pak pelan pelan ya, basahin dulu lubang boolku sama ludah bapak!"


"Iya mbak, tenang aja saya paham kok. Aman!"


Cccuuuhhhhh....


Kurasakan cairan ludah Pak Imron menempel di lubang boolku, ia meratakannya. Jempolnya perlahan masuk kedalam menusuk lubang boolku.


"Aaaahhhh pak, enak. Terus pak gerakin jempol bapak!"


"Iya mbak."


Jempolnya kurasakan keluar masuk dilubang boolku, tidak cepat hanya perlahan saja tapi itu membuat birahiku semakin naik. Aku sudah siap sekarang hihi.


"Pak masukin kontol bapak sekarang pak, aku udah gak kuat!"


"Iya mbak siap."


Pak Imron menekan kepala kontolnya masuk, perlahan tapi pasti sedikit demi sedikit kontolnya masuk kedalam lubang boolku.


"Arrgghhh pak, sakit!"


"Haahhhh? Sakit mbak?"


"Dikit pak."


Pak Imron kemudian menarik kontolnya keluar, lalu meludahinya dan menempelkannya kembali di lubang boolku.


"Tahan ya mbak, mbak kan udah pernah sebelumnya. Abis ini enak kan?"


"Iya pak, kadang suka sakit di awalnya aja. Nanti bakal enak kok. Ayo pak masukin lagi!"


"Iya mbak."


Pak Imron menekan pinggulnya lebih kuat lagi sehingga semua batang kontolnya masuk ke dalam lubang boolku. Perlahan Pak Imron menggerakkan pinggulnya maju dan mundur.


Plokkkkk.. plokkkkk.. plokkkk..


"Aaahhhh mbak enak banget bool mbak, kontol saya kejepit gini mbak. Aaakhhhhhh....."


"Iya pak, terus pak terus genjot terus bool aku pak. Lebih kenceng lagi pak, aaaaahhhhhh...... Bentar lagi aku keluar pak."


"Aaakkkhhhhh, kontol saya juga mbak udah pengen keluar lagi aja ini mbak gak kuat sama jepitan lubang bool mbak Adel. Aaaaarrrgghhhhhhh...aaaahhh...."


Plaaaakkkk... Plllaaaaakkkk....


Tiba tiba tamparan keras mendarat di pantatku, sakit sih tapi biarlah aku gak peduli. Mungkin Pak Imron penasaran dengan pantat bahenolku hihi.


"Aaarrrghhhhh iya pak tampar pantat aku pak, sodok lebih keras pak aaaahhhhh....."


"Iya mbak, pantat mbak menggiurkan banget mbak putih montok lagi saya suka banget mbak, aahhh.."


Plaaakakkkk.... Plaaakkkkk....


"Aaaarrrgghhhhh.... Udah pak ahh sakittt lama lama."


"Hehe iya mbak maaf, gak tahan saya."


Pak Imron terus saja menggenjot pantatku tanpa ampun, ritme nya konstan tidak melambat tidak juga bertambah cepat.


"Pak saya mau keluar pak, udah diujung! Aaaahhhhhhhhhhhh...... Aku keluar duluan pak, maaffffff.... aaakhhhhhhhh... Cepetin pak genjotnya tolong... Aaahhhhhh..."


Pak Imron langsung saja mempercepat genjotannya, kali ini aku pun sampai terhentak hentak kedepan karna kuatnya sodokan kontol Pak Imron. Gila udah kaya disundul sundul aja ini pantatku. Dan benar saja tanpa menunggu lebih lama lagi cairan kemaluanku keluar dengan derasnya. Ya aku squirt, memekku muncrat banyak sekali.


Plooookkk... Pplokkkkk... plloookkkss.. plokkkksss....


"Aaaahhhhhhhhh.... Pak aku keluarrrrr... aahhhh..."


Pak Imron menghentikan genjotannya, ia tarik keluar kontolnya dari lubang boolku. Aku kelonjotan merasakan sensasi klimaksku, badanku lelah aku ambruk dilantai saung.


"Gila mbak sampai muncrat muncrat gitu memek mbak!"


"Haaahhhh.. hahhh.. haahhh.. iya pak abis kontol bapak enak banget sih aku jadi menikmati gini deh. Memek aku sampai muncrat muncrat kan."


"Baru liat saya mbak, memek bisa sampai muncrat gitu. Hebat mbak Adel."


"Haahhh.. haahhh.. itu biasa kali pak, tapi ya gak semua perempuan bisa sampai muncrat. Kalau kontolnya bisa bikin enak sih ya pasti muncrat pak hihi."


"Istri saya gak pernah sampe muncrat loh mbak, kan kontolnya sama ini punya saya."


"Emmm gatau deh pak, mungkin istri bapak kurang menghayati aja hihi. Istirahat dulu bentaran ya pak, lemes aku."


"Iya mbak, santai aja."


"Atau mau lanjut aja pak? Aku sambil tiduran aja ya!"


"Hmmm boleh deh mbak, kalau mbak nawarin hehe."


"Yaudah pak, ayo!"


Pak Imron kembali bersiap, kontolnya ia arahkan tepat di lubang boolku. Ia menekannya perlahan dan bleeessss, masuk semuanya.


"Aaakkhhhhhh mbak enak...."


"Awas ya pak jangan masukin ke lubang yang satunya, bahaya hihi."


"Iya mbak, tenang aja. Gesekin dikit boleh kan mbak hhe?"


"Kalau digesek ya gapapa pak, asal jangan masuk aja. Inget!"


"Oke mbak."


Pak Imron kemudian menarik keluar kontolnya, kini ia gesekan di bibir vaginaku yang telah basah oleh cairan orgasmeku tadi. Dengan perlahan ia gerakan maju dan mundur, meresapi setiap sentuhan antara kulit kontolnya yang berurat dan kulit vaginaku yang merah muda merona bagaikan daging segar.


"Aaaahhhh mbak enak banget kontol saya mbak, padahal baru digesekin luarnya doang apalagi kalau sampai dimasukin mbak pasti bakal lebih enak mbak. Aaaakkkhhhhh....."


"Hihi gak boleh dimasukin pak, cukup digesek aja ya."


"Dikit mbak, kepalanya doang boleh nggak?"


"Ngga pak gak boleh, nanti bapak lepas kontrol aku gak mau."


"Janji deh mbak, cuma kepalanya doang."


"Engga ahhh pak aku takut, jangan ya pak! Digesekin aja ya."


"Yah mbak, kepalanya doang kok mbak. Tiga celup deh, ya mbak?"


"Emmm aku takut pak."


"Engga sampe dalem kok mbak, cuma masuk kepalanya aja gak akan nembus selaput perawan mbak kok. Ya mbak saya mohon pengen ngerasain memek mbak."


"Jangan ya pak, aku takut bapak kelepasan nanti."


"Yaudah deh mbak, gapapa."


Pak Imron lalu menghentikan gesekannya, ia menggenggam batang kontolnya lalu mengarahkannya lagi ke lubang boolku. Ditekannya pelan sampai masuk seluruhnya, kemudian ia gerakan. Terlihat oleh pandangan mataku, wajahnya nampak kecewa tidak ada lagi nafsu yang terpancar seperti tadi sebelum aku menolak tawarannya.


Apa aku ijinin aja ya, toh cuma kepalanya aja yang masuk. Dulu juga Tono pernah ngelakuin itu bahkan aku sampai pasrah kalau dia masukin lebih dalem dan ngambil keperawananku. Tapi ya itu kalau aku yang lepas kontrol yang ada Pak Imron malah keenakan dapet perawan aku. Gimana ya? Bingung nih hihi.


Emmm gapapa deh ya, semoga aja Pak Imron pegang janjinya cuma masukin kepala kontolnya aja. Dan semoga aku juga bisa tahan ya hihi.


"Pak berhenti dulu! Bapak kenapa?"


"Hahh? Saya, gapapa kok mbak. Emang kenapa mbak?"


"Keliatan loh pak, muka bapak berubah kaya kecewa gitu. Bapak marah sama aku ya?"


"Ehhh engga kok mbak, kenapa saya marah? Gak marah kok."


"Tapi raut wajah bapak kaya yang kecewa gitu."


"Nggak kok mbak, saya biasa aja kaya tadi."


"Masa biasa kok ngewe bool aku nya gak nafsu gitu sih pak, aku tahu kok pak bapak kecewa sama penolakan aku tadi. Aku takut pak, takut kebablasan nantinya. Takut bapak atau aku sendiri yang gak bisa tahan nafsu. Aku udah janji bakal ngasih perawan aku buat suami aku nanti pak. Aku harap bapak ngerti ya, bukannya aku gak mau tapi emang belum waktunya aja pak. Maaf ya buat bapak kecewa!"


"Haahhh gapapa kok mbak, saya yang salah kalau gitu udah maksa mbak. Saya gak tau diri mbak, saya kan bukan siapa siapa mbak kok minta yang gak seharusnya saya minta ke mbak. Saya yang salah mbak, maaf ya!"


"Nggak kok pak, ga ada yang salah. Yang salah cuma nafsu hihi."


"Hehe iya mbak, nafsu ternyata yang salah. Yaudah saya lanjut genjot ya mbak!"


"Nah gitu dong pak, semangat lagi jangan lesu gak enak diliatnya hihi."


Pak Imron pun kembali menggenjot lubang boolku, kali ini ia terlihat lebih semangat raut wajahnya juga tidak terlihat kecewa lagi seperti sebelumnya. Emmm aku kasih aja deh ya mumpung Pak Imron lagi ceria hihi.


Pllokkkk... Plookkkkk... Ploooookkkk....


"Ehhh pak katanya ,,, emmphhh mau ngewe mmpphh me memek aku pakkk aaahhhh....."


"Hhaaahhhh???"


Pak Imron menghentikan gerakannya, ia nampak bingung dengan apa yang aku bicarakan barusan.


"Kan gak boleh mbak, mbak yang bilang sendiri tadi."


"Hmmm mau gak pak? hihi. Aku bolehin deh buat Pak Imron tapi kali ini aja, ya pak?"


"Beneran mbak?"


"Iya pak, beneran."


"Serius mbak?"


"Serius pak."


"Mbak yakin?"


"Iiiiiihhhhhh bapak mah, sekali lagi nanya gak jadi nih. Yakin lah pak, aku gak enak sama bapak tadi udah nolak."


"Hehe iya mbak iya, saya janji deh cuma tiga celup aja gak lebih abis itu saya ngentotin bool mbak lagi terus crot deh. Udah gak kuat mbak, udah di ujung ini peju saya ehehe."


"Yaudah pak ayo!"


"Iya mbak, siap ya?"


"Heem pak. Inget!"


"Iya, belum juga masuk."


"Hihihi."


Pak Imron dengan sabar mengarahkan kepala kontolnya ke lubang memekku, perlahan tapi pasti kepalanya mulai masuk. Batangnya ia genggam erat dengan tangan kanannya memastikan hanya kepalanya saja yang akan memasuki liang surga milikku.


Syukurlah, lega rasanya Pak Imron bisa menepati janjinya. Satu celup sudah ia lakukan, kontolnya ia tarik kembali.


"Uuuhhhhh mbak enak banget memek mbak, anget mbak jadi nagih."


"Heeeyyyyy!!!"


"Iya iya, dua kali lagi."


Kembali Pak Imron melakukan hal yang sama ia menggenggam batang kontolnya lalu memasukan kepalanya, ya hanya sebatas itu.


"Aaaarghhhhhhh mbak emang bener bener enak memek mbak, ketagihan saya mbak."


"Gak boleh ketagihan ahh pak, kan cuma kali ini aja."


"Iya deh mbak, sekali lagi ya mbak!"


"Iya pak."


Pak Imron kembali menusukan kepala kontolnya ke dalam lubang memekku, kali ini kurasakan ia menusuknya lebih dalam. Aku sedikit berontak, lalu mencubit pahanya.


"Aarrggghhh sakit mbak."


"Nakal deh Pak Imron, kok makin ditusukin sih pak?"


"Hehe maaf mbak, saya kira mbak gak ngerasa ehehe."


"Ya kerasa lah pak gimana sih hihi."


"Udah mbak, udah tiga celup. Gak penasaran lagi saya sama memek mbak jadinya. Makasih ya mbak udah ngijin kontol saya ini masuk dikit ke memek mbak."


"Iya pak, sama sama. Cukup kan tiga celup pak hihi?"


"Kurang sih mbak, tapi untuk permulaan ya itu cukup mbak."


"Haahhh??? Permulaan, enggak ya pak gak ada untuk yang selanjutnya. Cukup kali ini aja."


"Hehe iya mbak, bercanda doang kok."


Jelleeeeggeerrrrrrrrrr......


"Aaaaahhhhhhhhhhh pak, astaghfirullah astaghfirullah......."


"Astaghfirullah mbak, gak ada aba abanya itu petir main bunyi aja. Kaget ini."


Aku refleks menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan, sementara tubuh Pak Imron terhentak seakan jantungnya akan copot dari dadanya. Aku merasa deg degan, mungkin Pak Imron juga sama. Sialan emang lagi asik ngobrol malah tiba tiba denger suara petir, mana kenceng lagi.


"Duhhh mbak, harus cepet cepet pulang ini mbak."


"I i i iya pak, petirnya makin kenceng aja nihhhh bikin aku takut."


"Yeeee, saya juga sama mbak... Takut!"


"Yaudah pak cepetan deh ewe bool aku lagi!"


"Yahhhh mbak....."


"Kenapa pak?"


Aku mendengar sedikit nada kecewa yang dilontarkan oleh Pak Imron.


"Liat deh mbak! Kontol saya malah layu gini duh."


Aku melihatnya, dan benar saja kontol Pak Imron melemas bagai anak ayam yang kedinginan. Meringkuk tak ada tenaga, aneh sih pikirku.


"Kok bisa sih pak, tadi kan masih keras banget pak?"


"Gatau nih mbak, apa ketakutan karena petir barusan ya."


"Ya mungkin aja sih pak, gatau juga deh aku. Aneh deh kontol bapak bisa takut gitu denger petir. Tiba tiba layu, apa kesamber mungkin pak?"


"Iiihhhh serem deh mbak, masa sih kesamber petir. Orang gak ada kilatannya ke saung ini."


"Itu buktinya langsung lemes gitu ahahaha."


Aku seketika menertawakannya, lucu jadinya kok bisa kontolnya ketakutan saat petir menyambar.


"Jangan gitu dong mbak, kasian kontol saya ini. Coba mbak kocok dulu siapa tau bangun lagi!"


"Iya deh pak, aku coba ya."


"Iya mbak."


Aku kemudian bangun dari tidurku, sementara Pak Imron kini duduk mengangkang menghadap kearah ku. Kedua tanganku kini menggenggam batang kontolnya yang sudah lemas. Ku usap perlahan, ku kocok dengan ritme pelan memastikan batang itu menegak seperti sebelumnya.


Namun kocokan ku tak membuat kejantanannya bangkit kembali, usahaku nihil. Ini benar benar aneh kurasa, kok bisa seperti ini sih padahal kontol nya belum berejakulasi. Ia belum sempat memuncratkan spermanya, dasar petir sialan kan jadi kasian aku melihatnya.


"Pak, gak bangun bangun nih kontolnya bapak!"


"Lahhh iya mbak, duh gimana dong mbak kok bisa gini ya?"


"Ya aku juga gak tau pak. Aku sepong deh ya pak siapa tau kalo sama mulutku bisa bangun lagi."


"Boleh deh mbak, semoga bisa ya mbak kan saya takut kalo kontol saya gak bisa bangun lagi."


"Iya pak."


Aku lalu membungkukkan tubuhku, mulutku mulai mendekat kearah kontol Pak Imron. Tapi, baru saja akan mengulumnya sesuatu terjadi lagi.


Jelleeeeggeerrrrrrrrrr......


Petir dengan suara yang lebih kencang dengan tiba tiba menyambar lagi. Sontak kami berdua terkejut, sangat sangat terkejut. Sampai sampai aku melompat dan memeluk tubuh Pak Imron.


"Astaghfirullah, astaghfirullah pak...... Aku takut...."


"Astaghfirullah, astaghfirullah........ Saya juga mbak sama."


Tangan Pak Imron memelukku erat, begitu juga denganku. Sama eratnya, sangat erat. Saling menempel satu sama lain. Hujanpun turun dengan deras kembali, bahkan sepertinya melebihi sebelumnya.


"Duhhh mbak, hujannya malah makin deras nih."


"Iya nih pak, gimana dong kita pulang aja deh ya!"


"Lahhhh, mbak yakin?"


"Ya terus gimana dong pak? Disini malah kita ketakutan kan, gak enak juga lagi ngewe terus dikagetin sama suara petir. Gak lepas pak ngewenya."


"Iya sih mbak, yaudah deh mbak kontol saya juga gak bangun lagi ini. Bener mbak kayanya kontol saya juga ikut ketakutan karena petir. Duhhh kalo sampe gak bisa bangun lagi sih bahaya nih mbak."


"Iya loh pak, nanti kita coba lagi dirumah aku aja pak!"


"Hahhhh maksud mbak?"


"Ya kita terusin ngewenya di rumah aku pak, bapak kan belum keluar."


"Mbak yakin?"


"Emmmmm gatau juga sih pak hehe. Gimana nanti deh pak yang penting kita pulang dulu aja sekarang."


"Ya oke deh mbak, ayo!"


Bersambung..


:::::::::::::::::::::

#15.4

KEBERUNTUNGAN LAINNYA​

Aku dan Pak Imron memutuskan untuk pulang saja ke rumah meski hujan makin deras mengguyur. Daripada terus berada di saung ini, yang ada malah kemaleman kita nanti. Kalo sampe gelap dijalan kan berabe dong, aku pun yakin lampu motor Pak Imron pasti redup. Ditambah suara petir yang makin menggelegar membuat ketakutan kita semakin bertambah.

Pak Imron memakai pakaiannya kembali, meski basah ya mau bagaimana lagi toh kita kan mau hujan hujanan hihi.

"Ayo pak kita berangkat sekarang!"

"Lohhhh, mbak kok masih telanjang aja? Pake dulu dong bajunya mbak!"

"Harus ya pak?"

"Ya Allah mbak, masa mbak mau telanjang gitu diperjalanan?"

"Hihi iya iya pak, ini aku pake kok."

Emang ya jiwa jiwa eksibisionisku mulai berangsur naik, sulit buat ditahan. Tapi ya gak terang terangan juga kan ya ahahaha. Aku memakai kembali pakaianku, meski basah aku tetap memakainya. Ya mau bagaimana lagi toh aku dan Pak Imron juga mau menembus derasnya hujan, pasti basah lagi kan hihi.

Ku pakai rok plisketku, kemudian disusul kaos putihku dan cardigannya sekalian. Tanpa dalaman tentunya hihi. Hijabku juga tidak aku pakai, biarlah sekali kali aku memperlihatkan rambutku pada dunia. Mahkota wanita yang seharusnya aku tutupi, tapi kali ini hujan dan itu sebuah pengecualian.

"Ayo pak berangkat!"

"Hijabnya gak dipake mbak?"

"Gak usah deh pak ribet, basah soalnya."

"Yaudah deh kalo mbak maunya gitu, ayo kita berangkat."

"Lesgoowwww pak."

Aku membawa semua barang bawaanku, mengikuti langkah Pak Imron yang berjalan lebih dulu didepan ku. Hujan mengguyur tubuh kami berdua dengan derasnya, entah mengapa hujannya kian bertambah deras saja padahal tadi sempat sedikit mereda.

Pak Imron menyalakan motornya, aku kemudian naik diatasnya. Tak lupa ku taruh semua belanjaanku digantungan depan. Pak Imron melajukan motornya, tak bisa kencang hanya kecepatan standar yang bisa ia kendalikan. Bukan dia tidak mampu tadi kondisi jalanlah yang mengurungkan semua itu.

Karna yang sudah kalian tahu disaat kami berangkat ke pasar tadi, jalanan dikampung ini sangat tidak bersahabat. Lubang dimana mana, ditambah guyuran air hujan yang membuat jalan ini semakin licin untuk dilalui. Maka dari itu hati-hati menjadi sebuah kunci. Kunci keberhasilan untuk kami agar sampai dengan selamat ditujuan, yaitu ya rumahku.

Aku dan Pak Imron tak banyak bicara, tak banyak kata yang kami lontarkan. Hujan yang terlalu deras membuat obrolan kami tak saling terdengar, percuma. Aku menyuruh Pak Imron untuk fokus saja ke jalanan, menghindari setiap lubang dan lumpur tanah yang bisa saja membuat kami terjatuh.

Diperjalanan pulang yang begitu melelahkan, suara petir beberapa kali terdengar. Menggelegar, mengusik rasa takut kami dibawah derasnya air hujan. Tapi ya mau bagaimana lagi, kami harus melewati itu. Biarlah telinga ini mendengar gemuruhnya, karna yang terpenting keseluruhan tubuh kami ini bisa sampai dengan selamat ke tempat tujuan yaitu rumahku.

Pak Imron dengan lihai membawa motornya, menghindari setiap lubang yang kami lewati. Meski ada saja beberapa lubang yang ia harus hantam, karna ya tidak mungkin untuk dihindari. Pinggangku serasa remuk melewati jalanan ini, aku yang pada dasarnya anak rumahan jarang sekali merasakan adrenalin seperti ini. Melewati jalan becek yang berlubang dibawah guyuran deras air hujan dan menggelegarnya suara petir, sungguh pengalaman yang mungkin akan aku ingat terus.

Singkat cerita sampailah kami dikampung, aku dan Pak Imron memasuki gapura. Hujan masih turun dengan derasnya, ia menepikan motornya sejenak disamping pohon besar.

"Kok berhenti disini pak?"

"Saya nanti langsung pulang aja ya mbak."

"Kok pulang sih pak?"

"Sudah mau malem nih mbak, bentar lagi juga maghrib. Kasian istri saya dirumah gak ada yang nemenin mbak, mana hujannya makin deras lagi."

"Ohhh gitu ya pak, tapi kan bapak belum keluar tadi. Gak enak aku pak, sebentar aja deh pak mampir dulu ke rumah aku terus bapak langsung entotin pantat aku deh. Gimana pak?"

"Duhhh gimana ya mbak, emmmmmm......"

Ku lihat Pak Imron nampak kebingungan dengan tawaranku, mungkin ia juga khawatir dengan istri dan anak anaknya dirumah.

"Yakin nih pak gamau? Belum tentu ada kesempatan lain lagi loh pak."

"Emmm mau sih mbak tapi......."

"Istri bapak udah nungguin ya dirumah?"

"Nah itu mbak, saya khawatir sama istri saya dirumah."

"Yaudah deh pak gapapa, aku ngerti kok bapak habis nganter aku ke rumah boleh langsung pulang aja."

"Iya mbak, maapin saya ya mbak."

"Kok malah minta maaf sih pak, kan Pak Imron gak salah apa-apa. Justru aku yang harus minta maaf sama bapak belum bisa bikin kontol bapak muncrat hihi."

"Gak apa-apa sih mbak, nanti kan bisa sama istri saya aja dirumah. Gampang mbak hehe."

"Iya deh pak, atau mau coba disini aja pak? Mumpung sepi loh hihi."

"Laaahhhh, jangan dong mbak kalau ada yang liat mati berdiri kita berdua mbak."

"Ya tergantung yang liatnya siapa pak, kalau cewek ya gawat tapi kalo cowok ya kita ajak main bertiga hihi."

"Adddaaaaahhh, mbak Adel ini bener bener ya gak habis pikir saya sama keinginannya."

Pak Imron geleng geleng kepala mendengarnya, lucu deh jadinya hihi.

"Iya pak iya, bercanda doang kok ya kali aku bisa senekat itu. Bahaya tau pak."

"Lahhh itu mbak Adel tau, kok masih ngajak saya sih disini lagi."

"Iiiiihhhhh bapak mah, kan aku bercanda tadi pak gak serius. Kalo ngentot nya dirumah baru aku serius pak, gimana pak mau ngga?"

"Yahhhh mbak mah, goda goda saya terus. Udah dong mbak nanti saya malah mau lagi kasian anak istri saya nungguin dirumah."

"Hihihi iya pak, nanti lagi deh ya pak aku tunggu Pak Imron dirumah."

"Hahhhh??? Beneran mbak? Katanya gak ada kesempatan lain lagi."

"Ya emang gak ada pak."

"Ahhh gimana sih mbak, tadi ngajak sekarang bilang gak ada kesempatan. Bingung saya jadinya."

"Emmmm kalo bapak pengen ngga bingung, mending sekarang aja pak, gimana?"

"Astaghfirullah mbak Adel, bener bener ya bikin saya gak kuat. Yaudah deh mbak ayo!"

"Ehhhh pak, kok berubah pikiran."

"Ya daripada bingung kan, malah kepikiran nanti. Ayo deh mbak sebentar aja."

"Sebentar??? Yakin pak sebentar? Sekarang ngentotnya dirumah aku loh lebih nyaman gak takut ada yang liat pak. Masa sih cuma sebentar aja hihi."

"Hehe ya gimana nanti deh mbak. Kita liat nanti aja, saya sih pengennya sebentar yang penting kontol saya muncrat aja mbak. Tapi kalo mbak yang maksa mau lama sih saya gak tau ya, siapa tau mbak ngasih memeknya hhe."

"Iihhh ngga ya pak kalo itu, memek aku! udah cukup tadi aja gak boleh lagi lagi. Kalo bool aku bebas deh mau bapak pake sampe puas juga hihi."

"Iya mbak iya, kan siapa tau aja mbak nya nyerah. Jadi saya bisa nyicip lagi memek mbak ehehe."

"Ngga ya pak, aku gak mau lagi. Cukup pantat aku aja titik."

"Yaudah yaudah iya, ayo deh mbak kita jalan lagi."

"Ayo pak, kita ngentot hihi."

Akhirnya berhasil juga Pak Imron aku bujuk hihi. Aku kan pengen ngerasain kontol gedenya lagi, kontol berurat yang aaahhhhhh gak kuat. Meski tadi ketakutan waktu petir menyambar, lemes tak berdaya. Aneh sih kok bisa ya sampe lemes gitu, itu kontolnya yang takut atau Pak Imron nya ya? Aahhh ntahlah males juga mikirin itu, yang penting sekarang kita mau ngentot lagi hihi.

Dadahhhhhh....

Ehhh kok dadah sih...

Kami berdua melanjutkan perjalanan kembali, rumahku sudah dekat karna kami sudah memasuki perkampungan. Tidak ada orang yang terlihat diluar, mungkin karena ya hujan sangat deras serta hari yang mulai gelap. Adzan Maghrib pun sebentar lagi akan berkumandang kurasa, tapi entah lah apa ada yang pergi ke masjid saat hujan deras seperti ini. Aku tak tahu, mungkin saja Pak RT atau yang lainnya.

Sekarang aku lebih fokus ke Pak Imron tentunya hihi ehhh bukan deng, lebih tepatnya ya ke kontolnya beliau hhe. Diperjalanan aku dikejutkan dengan seseorang yang berjalan memakai payung di derasnya hujan. Dari kejauhan aku tak jelas melihat wajahnya karna payung yang dipakai nya sedikit turun ke bawah menutupi wajahnya.

Tetapi dari caranya berjalan, aku bisa tebak itu siapa. Ya, seperti yang aku sudah bayangkan tadi benar saja itu Pak RT. Dengan baju koko dan peci hitamnya serta sarung yang iya naikan dipinggang nya ia terlihat begitu alim, begitu meneduhkan di pandangan mataku. Memang Pak RT ini begitu berbeda di mataku, seperti seseorang yang spesial bagiku.

Apa aku suka padanya? Entahlah mungkin iya, aku juga gak tahu pasti tentang itu. Yang jelas setiap kali bertemu aku merasakan perasaan yang berbeda di dadaku.

Aku gelagapan hijabku tak kupakai lagi tadi sehabis dari saung, rambutku pasti terlihat jelas oleh Pak RT. Duh gimana ini, kalau sama Pak RT sih ini jelas memperlihatkan aurat. Bahaya dong! Gimana ya makin deket lagi mana puting payudaraku keliatan nonjol lagi. Duhhhh kok bisa pas gini sih ketemunya, kenapa ngga pas aku udah sampe rumah Pak RT baru lewat sini. Iiiiihhhh sebel deh, kalo tanganku nutupin rambut nanti pentilku yang keliatan. Lebih bahaya gitu gak sih, aku pasti malu kan kalo Pak RT sadar akan hal itu. Mending kedua tanganku nutupin duo pentil ini ya, lebih aman. Biar saja lah rambutku terlihat oleh Pak RT, habisnya mau gimana lagi. Iya gitu aja deh hehe.

Semakin mendekat motor kami dengan beliau, Pak RT berhenti begitu juga dengan Pak Imron. Ia menepikan motornya dihadapan Pak RT.

"Mbak Adel kok hujan hujanan begini, habis darimana?"

"Dari pasar pak, tapi hujan deras disepanjang jalan."

"Ohhh gak neduh dulu mbak? Ini lagi Pak Imron malah hujan hujanan bareng mbak Adel."

"Sempet neduh sih Pak RT, tadi di saung tapi gak kuat sama suara petirnya. Takut aku pak."

"Lahhh iya Pak RT petirnya nyamber terus tadi, udah keburu gelap juga ini hari jadi ya terpaksa hujan hujanan gini."

"Ohhh begitu, mbak Adel kok gak pake hijabnya mbak?"

"A.. aaa...aa...aaaa...ann..anuuuu Pak tttaaddii, eeeeee (aaaaduuuhhhhh gugup lagi) aaa.. annuuu iitttuu pak, iituuuu......."

"Anu anu kenapa toh mbak?"

"Tadi ketinggalan di wc pasar Pak RT, saya juga kaget tadi waktu nyamperin saya kok gak berhijab mbak Adel nya."

"Iiii..ii..iiyaaa Pak RT ke..ke.. ketinggalan di wc waktu aku ngaca mau pipis hhe... Iya iyaaaa begitu Pak."

"Lohhhh kok bisa ketinggalan sih mbak, mbak Adel gak nyadar atau gimana? Itu kan mbak pake setiap saat, loohhh kok bisa lupa. Maaf loh mbak Adel, sekedar mengingatkan tapi itu aurat loh mbak."

"Iii...ii..iiyyyaa Pak RT maaf."

Aku menunduk merenungi kesalahanku. Tak bisa banyak berkata-kata lagi untuk menyanggah pernyataan Pak RT.
Tapi sepertinya Pak Imron menyadari itu.

"Tadi waktu saya nunggu di pasar, geluduk sudah pada bunyi Pak RT mungkin mbak Adel buru buru keluar untuk pulang jadi tidak sadar kalo hijabnya belum dipakai. Ya kan mbak?"

"Eehhhh ii...iiii...yaaa Pak Imron seperti itu, taa.. ttaadiii.... Buru buruuuuu... Iiii..iiyyaa buru buru banget aku keluar wc nya."

"Tuhkan Pak RT, kelupaan bukan kesengajaan."

"Ooohhh seperti itu mbak, yasudah kalo gitu saya mau lanjut ke mesjid ya bentar lagi sudah masuk waktu Maghrib. Assalamualaikum mbak Adel, Pak Imron saya duluan. Pak Imron gak mau ikut bareng saya ke mesjid?"

"Hhe basah Pak RT baju saya, lain kali ya pak."

"Laaahhh kok lain kali, masih punya waktu memang nanti?"

"Doakan saja Pak RT hehehe."

"Yasudah, pamit ya assalamualaikum."

"Iya Pak RT waalaikumsalam, hati-hati ya pak."

"Iya pak, monggo. Waalaikumsalam."

Kami bertiga berpisah kembali, Pak RT melanjutkan langkahnya ke arah mesjid sementara aku dan Pak Imron menuju rumahku.

Aku terkesima dengan perkataan Pak Imron barusan. Ia mencoba membelaku dihadapan Pak RT, padahal tidak aku suruh tadi. Mungkin ia inisiatif kali ya melihat aku yang terdiam membisu tak bisa menyangkal akan kesalahanku. Uuuuhhhhh suka deh sama cowok yang kaya gitu, eehhh tapi aku cukup suka sama kontolnya aja deh masa sama orangnya juga. Cukup Pak RT aja orang yang aku suka,,, upppss. Hehe.......

Tak lama setelah itu kami berdua sampai dirumah. Aku turun lalu membukakan pagar dan mempersilahkan Pak Imron memasukan motornya ke dalam halaman rumahku.

Aku berpikir kalo waktu kita berdua tidak banyak, maka dari itu setelah ku buka kunci pintu aku langsung saja menarik tangan Pak Imron ke dalam rumahku lalu ku tutup pintu dan.......

Penasaran kan apa yang akan aku lakuin sama Pak Imron di waktu yang sempit ini, hehe nanti deh ceritain Pak RT dulu.

Sementara itu,

"Duhhh mbak Adel kok bisa bisanya kelupaan pake hijabnya ya, jadi kelihatan kan rambutnya.

Astaghfirullah ya Allah, maafkan hambamu ini yang sudah melihat aurat wanita. Gak sengaja, beneran deh. Ampun ya Allah, tapi ya gimana ya dilihat dosa gak dilihat sayang. Hujan hujan lihat wanita cantik layaknya bidadari, aaaaahhhh Alhamdulillah rezeki hehe.

Tapi kok mbak Adel gak berusaha nutupin rambutnya pake tangan ya, malah ia lingkarkan dua duanya di dada. Aneh juga sih, kok malah nutupin dadanya apa dada mbak Adel nyeplak ya.

Ehhh duhhh kok jadi mikir yang aneh aneh sih aku ini, orang mau ibadah ke mesjid juga.
Te... Tee gimana toh kamu ini malah mikir mesum...
Astaghfirullah...... Maaf mbak Adel gak sengaja hehe. Dah ahh lanjut jalan lagi."

"Pak RT,,, Pak RT,,,"

"Loohhhh Bu Risma ada apa bu kaya kebingungan gitu, hujan hujan gini mau kemana bu?"

"Iya nih Pak RT saya lagi cari suami saya, kok hujan hujan gini sudah mau malam tapi belum juga pulang. Saya khawatir pak beliau kenapa napa. Biasanya jam 5 juga sudah pulang kerumah. Kemana ya dia? Duuhhhh pak kemana toh kamu ini, bikin khawatir ibu saja....."

"Laaahhh Pak Imron bu?"

"Looohhh piye toh Pak RT, suami saya yo Pak Imron... Siapa lagi coba..."

"Hhe iyooo toh Bu Risma bercanda."

"Lagi khawatir gini malah di becandain, gimana toh Pak RT."

"Iyo bu maaf, Bu Risma gak usah khawatir tadi saya lihat Pak Imron lagi nganter penumpang bu."

"Alhamdulillah.... lagi ngojek toh dia pak syukurlah kalo gitu. Saya kira kemana dia Pak RT."

"Iya Bu Risma aman kok tenang aja, Pak Imron baik baik saja. Yasudah kalo gitu bu, saya mau lanjut ke mesjid sudah mau masuk waktu Maghrib soalnya. Assalamualaikum."

"Iya Pak RT, waalaikumsalam. Makasih atas informasinya Pak RT."

"Iya bu sama sama."

Pak RT kembali melanjutkan langkahnya untuk menunaikan ibadah ke mesjid. Namun Bu Risma yang sempat lega kini menjadi bingung, ia lupa bertanya ke Pak RT kemana suaminya itu mengantar penumpang.

Bu Risma galau apa iya harus menyusul suaminya atau ia pulang saja dan menunggu suaminya kembali ke rumah. Namun ditengah kebingungannya itu, muncul sebuah rasa gundah akan sesuatu hal yang tengah dilakukan suaminya.

Ntah perasaan darimana yang bisa membuat Bu Risma berpikir seperti itu, mungkin koneksi seorang istri. Ntahlah.....

Bu Risma memulai langkahnya, mencari keberadaan suaminya yang ia pun tak tahu tepatnya dimana. Namun firasat kuat mengantarkannya untuk terus melangkah, meski hujan deras masih terus mengguyur.

Sementara di dimensi lain,,,,,

Setelah ku tutup pintu depan rumahku, aku langsung saja membuka pakaian ku sampai aku kembali telanjang bulat dihadapan wajah Pak Imron.

"Ayo pak, langsung aja kata bapak kita kan gak punya banyak waktu. Aku nungging ya pak!"

Aku kemudian memposisikan tubuhku menungging, kedua tanganku aku sandarkan pada kursi sofa. Sementara pantatku tepat mengarah pada kontol Pak Imron.

"Bentar mbak saya buka dulu pakaian saya."

Pak Imron membuka pakaiannya, beliau telanjang juga dengan kontol yang kulihat masih layu dan mengkerut.

"Pak kok belum bangun kontol bapak?"

"Iya nih mbak, gatau saya juga apa kedinginan ya!"

"Ya bisa jadi sih pak, sini aku angetin dulu pak!"

Aku berbalik, posisi ku kini berjongkok dihadapan kontolnya Pak Imron. Kuraih dengan tangan kananku, perlahan ku masukan ke dalam mulutku kujilati batangnya, kusedot kepala kontolnya, dan kumainkan biji pelernya dengan tanganku yang lainnya.

Tapi hasilnya nihil, tak ada perubahan yang aku rasakan. Kontolnya tetap saja layu, tak gagah seperti tadi. Tak ada kepala helm yang merekah merah, tak ada urat urat yang menonjol layaknya akar pohon.

Kini lebih terlihat seperti pisang yang sudah kematangan. Huufthhh... Kok bisa gini sih, kontolpun ada anomalinya hehe.

"Pak kok gak bangun bangun sih?"

"Ya saya juga gak tau mbak, biasanya gak kaya gini kan. Orang tadi aja tegang setegang tegangnya, mbak kan ngerasain sendiri tadi. Bool mbak udah disodok kontol saya."

"Iya sih pak, tapi kok sekarang..... Apa jangan jangan karna petir tadi waktu di saung ya pak? Kontol bapak jadi gak bisa bangun lagi."

"Iiiiiiihhhh masa sih mbak, jangan nakut nakutin dong mbak. Serem itu...."

"Ya ini kan buktinya pak, coba kontol mana yang disepongin sama cewek cantik kaya aku terus gak bangun? Gak ada pak, yang lain sih pasti bangun bahkan bisa langsung muncrat loh pak."

"Aaakhhhh masa sih mbak kontol saya gak bisa bangun bangun lagi? Ngeri lah mbak, ntar istri saya siapa yang muasin kalo kontol saya gini...."

"Ya cowok lain lah pak, Pak RT mungkin hihi."

"Laahhhh jangan dong mbak, memek istri saya ya punya saya dan khusus untuk saya."

"Looohhhhh kok bapak egois, ini kontol bapak juga gak khusus lagi buat istri bapak. Pak Imron malah kasih ke aku hihi. Berarti memek istri bapak juga bisa dong dipuasin sama cowok lain hhe."

Aku tersenyum melihat raut wajah Pak Imron, wajah bingung dan pasrah menjadi satu.

"Hayoooo malah ngelamun hihi."

"Eehhh ngga kok mbak."

Bu Risma terus melangkah di derasnya hujan, kepalanya iya tengokkan ke kanan juga ke kiri berharap menemukan keberadaan suaminya. Sampai akhirnya ia melewati rumah Adel dan melihat keberadaan motor suaminya yang terparkir dihalaman rumah itu.

Sontak saja ia merasa senang karna perjuangan nya telah membuahkan hasil. Ia menemukan suaminya kini berada. Ia masuk ke teras rumah Adel, lalu mengucapkan salam dan mengetuk pintu.

"Assalamualaikum..... Tok.. tok.. tok....
Assalamualaikum pak... Tok.. tok..tok... Pak bapak didalam? Tok.. tok.. tok.. Pak Imron... Pak .. ini ibu.. pak... Bu Risma... Assalamualaikum....."

"Ehhhh mbak, iii...iisss..isssstrriii saaa...saa..saya mbak. Istriii saya kesini mbak, gi..gi..gimana ini mbak?"

"Waduhhhh pak kok bisa tau Pak Imron ada disini ya?"

"Motor saya kan ada diluar mbak, istri saya mungkin nyariin saya terus ngeliat motor saya ada didepan rumah mbak Adel."

"Laahhh iya ya pak."

"Gimana ini mbak? Bahaya kalo ketahuan."

"Ya pake baju sama celananya dong pak, gimana sih!"

"Hhe gugup mbak."

"Yaudah Pak Imron ke dapur aja, pura pura lagi ngecek plafon yang bocor. Nanti istri bapak aku yang temuin. Cepet cepet pak! Lama ihhhh."

"Iya iya mbak, ini kan lagi pake celana."

"Nanti aja didapur sana pak!"

"Iya mbak iyaaaaa...."

Pak Imron pun berjalan cepat menuju dapur meski celana yang dipakai belum melekat sempurna ditubuhnya. Lucu sih cara ia berjalan hehe.
Akupun segera berlari ke kamarku untuk mencari gamis dan hijab tuk kupakai menemui istrinya Pak Imron. Aku berteriak sambil berjalan menghampiri pintu.

"Iya waalaikumsalam, sebentar bu!"

Aku kini berada didepan pintu bersiap menemui beliau, kubuka perlahan lalu senyum menghiasi bibirku. Mata kami saling beradu pandang, lalu mulailah pembicaraan.

"Ibu....???"

"Saya Risma mbak, istrinya Pak Imron saya cari cari beliau tadi lalu lihat motornya ada disini jadi...."

"Oohhh ibu istrinya Pak Imron, beliau ada kok bu didapur sedang mengecek atap plafon yang bocor."

"Alhamdulillah syukurlah kalau ada, tadi ibu sudah khawatir tidak biasanya dia jam segini belum pulang mbak. Biasanya jam 4 juga sudah pulang kerumah."

"Iya bu maaf, tadi siang aku pake jasa ojeknya Pak Imron untuk belanja ke pasar tapi setelah diperjalanan pulang malah kehujanan. Tadi sempat juga neduh sebentar di pinggir jalan tapi hujannya gak kunjung berhenti bu, jadi terpaksa deh hujan hujanan basah kuyup kita."

"Ohhhh seperti itu toh mbak, yasudah tidak apa apa tidak perlu minta maaf kan bukan salah mbak juga. Oiya ngomong ngomong nama mbak siapa? Mbak orang baru ya disini? Ibu belum pernah lihat soalnya."

"Ehh iya bu, kenalkan namaku Adel bu. Belum lama tinggal dikampung ini. Silahkan duduk dulu bu, mau dibuatkan minum?"

"Ohh mbak Adel, tidak usah repot-repot mbak tidak haus juga saya orang cuacakan lagi dingin hehe."

"Laahhh iya ya bu."

Tak lama keluarlah Pak Imron dari persembunyiannya ehh dari dapur maksudnya.

"Mbak ini ada beberapa yang bocor saya periksa barusan... Ehhh ada ibu toh, mau kemana bu hujan hujan begini?"

"Laaahhhh si bapak malah nanya gitu, yo aku nyari kamu toh pak udah jam segini belum pulang pulang khawatir aku, anak anak juga pada nanyain."

"Hhe iya bu maaf, abis hujannya deras banget gak berhenti berhenti lagi dari tadi. Yo jadi neduh dulu tadi tapi ya kalo neduh terus sampe tengah malem mungkin pulangnya, bahaya toh bu motor bapak juga gak ada lampunya. Jadi ya terpaksa pulang saja sambil hujan hujanan basah deh semuanya hehe."

"Iyo pak tidak apa apa, nanti kalo bapak masuk angin ibu yang kerokin. Yang penting bapak pulang dengan selamat saja ibu bersyukur."

"Waaahhh terimakasih ya bu."

"Sini pak, duduk dulu aku buat kan minum. Teh manis hangat ya? Sama ibu juga...."

"Gak usah repot-repot toh mbak!"

"Gapapa bu, tamu harus dilayani dengan baik. Iya kan? Tunggu sebentar ya!"

Mereka berdua tersenyum padaku, aku lantas menuju dapur untuk membuat teh manis hangat. Untung saja air termosnya masih ada dan masih panas juga. Kubuatkan tiga gelas untuk kita bertiga. Tak butuh waktu lama, aku menghidangkannya untuk mereka.

"Diminum ya pak, bu!"

"Duh jadi ngerepotin nih mbak Adel."

"Ngga kok bu, gak ngerepotin cuma buat teh manis hangat saja kok."

"Makasih ya mbak."

"Iya mbak Adel makasih ya."

"Iya bu, pak sama sama. Mau sekalian makan juga? Kayanya aku masih ada telur didapur."

"Tidak tidak mbak, tidak usah. Ibu sudah makan dirumah."

"Kalo Pak Imron mau?"

"Hmmmm, gak usah mbak nanti dirumah saja. Sayang kalo masakan istri saya yang enak gak saya makan, mubazir hhe."

"Alah bapak ini bisa saja...."

"Ehehehe yo memang enak toh bu."

Kami mengobrol semakin intens, banyak pertanyaan yang dilayangkan padaku. Mulai dari keadaan orang tua dikota sana, pendidikan, kehidupan, juga tak lupa tentang percintaan dan masih banyak lagi tentunya.

Sampai aku perhatikan ada yang aneh dari mata dan pandangan Pak Imron, setiap ia melihatku matanya selalu tertuju pada dadaku dan aku baru menyadarinya. Aku lupa tadi tak memakai BH dulu, kini dengan gamis yang langsung menyentuh payudaraku putingnya memang terlihat menonjol.
Bodoh memang aku, menerima tamu wanita dengan keadaan seperti ini hihi.

Pantesan Pak Imron meliriknya terus, gimana sih Pak Imron malah lirik lirik pentilku kan ada istrinya yang bisa lihat tingkah laku dia dengan jelas. Dasar... Padahal tadi kan udah liat secara langsung, udah megang juga, bahkan udah dia kenyot. Tapi masih aja diliatin depan istrinya, kan konyol kalo ketahuan kan bisa perang dunia ke tiga wkwk.

Dan yang aku khawatirkan benar terjadi, Bu Risma mulai curiga akan kelakuan suaminya. Ia nampak melihat arah tujuan mata Pak Imron lalu melihat dadaku. Tuhkan bener curiga, Pak Imron aaaahhhh kan aku jadi malu sama Bu Risma.

Aku pura pura saja tidak tahu tentang puting payudaraku yang menonjol dibalik gamisku. Biar terkesan tidak sengaja hihi. Laluuuu....

"Pak, bapak liatin apa toh gitu banget liatin mbak Adelnya?"

"Eeehhhhh eehh ti..ti..tidak bu, tidak lihat apa apa ha..ha..hanya lihat mbak Adel saja. Kan bapak lagi ngobrol sama mbak Adel."

"Tapi ibu lihat mata bapak itu loh, malah lihatin susunya mbak Adel.... Bapak ini."

"Ehh ti..tidak kok bu. Bapak ti..tidak lihat itu bu, tidak."

"Astaghfirullah..!!!"

Aku kaget mendengar perkataan Bu Risma, ia to the point dengan apa yang dilihatnya. Langsung saja ku lingkarkan kedua tanganku menutupi payudaraku. Wajahku sedikit memerah kurasa, sepertinya aku malu huhu.

Pak Imron sih aaahhhhh, matanya gak bisa dijaga. Udah dikasih liat polosan juga, masih aja curi curi pandang. Ketahuan kannnn huhuhu.

"Eehhh ke..keliatan ya bu?"

Aku gugup, kurasakan dari nada bicaraku yang tak lancar.

"Iya mbak jelas ada yang nonjol di dada mbak."

"Ehh maaf ya bu, aku lupa pake daleman tadi. Buru buru soalnya keburu ibu datang jadi lupa deh."

"Gak apa mbak, kan emang sudah mau tidur gak baik juga pake BH saat tidur suka engap ke dadanya. Emang dasar mata suami saya aja mbak yang jelalatan, ada istrinya kok malah liat punya cewek lain. Gimana sih pakkkkk, punya ibu kan masih bagus ini."

"Nggggggaaa kok bu, bapak liat muka mbak Adel kok waktu ngobrol. Ibu saja yang salah sangka sama bapak."

"Mana ada pak, orang ibu lihat sendiri kok. Masih saja ngeles bapak ini."

"Sudah sudah pak, bu jangan bertengkar ini salahku kok nerima tamu tapi dengan pakaian seperti ini. Maaf ya, kalau gitu aku ke kamar dulu mau pakai daleman ya bu!"

"Laaaahhh gak usah toh mbak, sudah terlanjur ini. Kita juga sudah mau pulang mbak sudah malam. Bapak sudah beres kan?"

"Sudah bu, sudah dicek tinggal diperbaiki nanti. Iya mbak gak usah dipake saja biar susu mbak terbebas dari belenggu ehehe..... Ehhh astaghfirullah..."

Kulihat Pak Imron terkejut dengan perkataannya sendiri, ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Bapakkkkkkkkk iiihhh mulutnya itu loh, awas ya nanti dirumah lihat aja nanti!"

Bu Risma terlihat kesal aku perhatikan, bagaimana tidak didepan istrinya saja ia terang terangan berani menggodaku hihi dasar Pak Imron ini berani sekali. Atau dia cuma keceplosan ya, gatau ahhh itu kan urusan dia hehe.

"Ngga kok bu bercanda barusan mah hhe."

"Yasudah kalau gitu, kita pamit ya mbak."

"Iya mbak Adel saya dan ibu pamit pulang dulu."

"Iya pak, bu silahkan maaf jadi merepotkan kalian berdua."

"Tidak kok mbak, tidak merepotkan kan emang tugas saya sebagai tukang ojek buat antar dan jemput penumpang yang penting saya dibayar hhe."

"Astaghfirullah pak, sampai lupa aku ongkosnya. Sebentar ya pak aku ambil dulu ke kamar."

Aku berjalan ke kamar, ku raih dompet dan ku ambil lima lembar uang dengan nominal tertinggi di negeri ini. Kurasa cukup untuk upahnya yang sudah seharian mengantarkanku.

"Ini pak, tidak banyak semoga cukup untuk upah bapak seharian ini. Diterima ya pak."

Aku memberikannya ke Pak Imron, beliau menerimanya lalu.....

"Laaahhhh ini sih kebanyakan mbak!"

"Tidak apa pak, ambil saja untuk bapak sebagai rasa terimakasihku seharian ini sudah diantar ke pasar tadi. Makasih banyak ya pak."

"Alhamdulillah... saya yang terimakasih loh mbak."

"Iya pak sama sama."

"Terima kasih banyak loh mbak Adel, semoga selalu diberikan rezeki yang melimpah dan kesehatan juga tentunya. Aamiin."

"Aamiin......"

"Nih bu, ibu yang pegang!"

"Terimakasih ya pak."

"Huuuuu dikasih duit aja langsung senyum senyum gitu, tadi marah marah sama bapak."

"Ya habisnya kan bapak tadi mesum gitu sama mbak Adel, ibu jadi cemburu. Sekarang sih sudah tidak, nanti ibu kasih sesuatu buat bapak hehe."

"Waaahhh beneran bu, ya sudah ayo kita pulang."

"Iya pak beneran, eehhh maaf mbak, ada mbak Adel ya. Maaf maaf ibu terlalu kesenengan mbak jadi lupa masih ada mbak Adel dengerin."

"Iya bu gapapa, kan lumrah kalo untuk suami istri. Semangat Pak Imron, puaskan Bu Risma ya hihihi."

"Laaahhhh mbak ini, saya jadi malu."

"Yaudah ayo bu, mbak Adel mau ikut?"

"Iiiihhhh bapak ini gimana toh malah ngajakin main bertiga."

"Ya siapa tau boleh bu."

"Enak aja, sama ibu dulu."

"Ohhh habis itu sama mbak Adel bu?"

"Euhhhh ngelunjak ya bapak ini!"

"Emang boleh pak?"

"Saya sih gimana ibu mbak hehe."

"Haaaahhhhhh.......?????"

"Ehehehe gak kok bu ngga, aku cuma bercanda hihi."

"Hahhhhh..... Kaya yang kuat aja bapak, sama ibu juga seringnya tepar duluan. Ini pengen tempur bertiga."

"Ya kan bisa dicoba dulu bu, siapa tau kuat ya ngga mbak Adel?"

"Iya pak, kalo gak dicoba kan kita gak bakal tau ya pak."

"Haaaahhhhhh.......?????"

"Ngga ngga ngga bu, bercanda kok hihi."

"Serius juga gapapa kok mbak."

"Iiiiihhhhh bapak ini, malah nawarin...."

"Aaahhh aahhh ahhhh sakit sakit bu sakitttt ampun.."

Kulihat tangan kanan Bu Risma mencubit pinggang Pak Imron, ia sampai kesakitan dari tubuhnya yang terangkat keatas.

"Ampun bu ampun, sakit....."

"Habisnya bapak gitu sama ibu."

"Iya bu iya, yasudah kita pulang bu."

"Iya ayooo pak."

"Mbak kami pamit ya, assalamualaikum."

"Assalamualaikum mbak Adel."

"Waalaikumsalam, hati hati ya."

Mereka berdua keluar dari rumahku, aku mengikutinya dari belakang. Lalu.....

"Laaahhh mbak, ini belanjaan mbak Adel masih ada dimotor saya."

"Lahh iya juga pak, tadi belum sempat aku bawa kedalem hehe. Pelupa emang aku ini."

"Bukannya lupa mbak, tadikan buru buru kita hhe."

"Iiihhh apaan sih pak, orang lupa juga."

"Buru buru ngapain toh pak?"

"Ndak tau bu, tadi waktu sampe tangan bapak ditarik suruh langsung masuk kedalem sama mbak Adel. Coba ibu tanya langsung saja!"

"Bener mbak, ada apa toh?"

"Eehhh ii..ii..tuuu bu itu eeeuuu aaaduuhhh nggak kok bu, bapak bohong. Apaan sih Pak Imron ini orang aku gak narik tangan bapak juga."

"Yakin mbak gak ngelakuin itu tadi hehe."

"Iiihhh gak tau ahhhhhh."

"Harus jujur loh mbak ahahaha."

"Sudah sudah bapak ini sudah tua juga, masih aja mainan kaya anak kecil."

"Huuuuuu awas ya pak, liat aja nanti aku bakal bales!"

"Sudah sudah, ayo pak kita pulang!"

"Ini mbak belanjaannya."

"Iya pak sini aku bawa kedalem."

Aku menaruhnya diatas meja terlebih dahulu. Pak Imron sudah menaiki motornya begitu juga dengan Bu Risma. Tak lupa ia memakai payung yang tadi dipakainya, karna hujan masih saja mengguyur dengan derasnya.

"Pamit ya mbak!"

"Iya hati hati."

Mereka berdua pergi, menghilang ditengah derasnya hujan. Aku kembali kedalam rumah menyimpan semua belanjaanku ke tempatnya masing masing. Sayur dan daging ke dapur dan pakaian ke dalam lemari kamarku.

Aku teringat jika gerbang depan belum aku kunci, tak butuh waktu lama untuk berpikir aku segera berlari ke gerbang depan untuk menguncinya. Meski air hujan mengguyur tubuh dan pakaianku, tak apalah kan hanya sebentar ini.

Kalaupun basah kan ya tinggal ganti saja hihi. Main air diluar memang seseru ini, aku seperti anak kecil lagi rasanya.

Gerbang sudah ku kunci, aku kembali ke teras rumah. Sedikit mengusap usap gamisku dan mengelus wajahku dari air hujan sampai tiba tiba seseorang lewat didepan rumahku.

"Assalamualaikum mbak Adel, kok malah basah basahan lagi mbak?"

"Iya nih Pak RT, abis ngunci pintu gerbang barusan jadi agak basah deh ini. Pak RT baru pulang dari mesjid ya, mau MAMPIR dulu pak?"

Ia pun bingung, lalu....

Bersambung.......

---------

---------

#16

RASA YANG MULAI TUMBUH​

"Assalamualaikum mbak Adel, kok malah basah basahan lagi mbak?"

"Iya nih Pak RT, abis ngunci pintu gerbang barusan jadi agak basah deh ini. Pak RT baru pulang dari mesjid ya, mau MAMPIR dulu pak?"

Ia pun terlihat bingung.

"Mampir ya mbak?"

"Iya pak, aku bikinin kopi. Mau?"

"Emmmm......."

"Emmmmm???"

Sempat lama Pak RT berpikir, namun akhirnya....

"Boleh deh mbak, tapi sebentar aja ya mbak sudah malam gak enak dilihat tetangga."

"Iya pak, itu sih terserah Pak RT mau sebentar atau... Lama juga boleh pak..... Ehhhh ngga ngga kok pak becanda aku hihi....."

"Mbak Adel ini ada ada saja."

"Hehe, yaudah ayo pak silahkan masuk."

"Iya mbak, terimakasih."

Aku dan Pak RT masuk kedalam rumah. Ku persilahkan ia untuk duduk dan aku melangkah ke dapur untuk membuatkannya kopi.

"Duduk dulu ya pak, aku ke dapur dulu buat kopinya."

"Iya mbak, silahkan."

Di dapur aku membuatkan kopi untuknya, hanya satu gelas saja. Aku tidak minum kopi soalnya, hanya teh dan air putih saja. Ku minum segelas air putih sebelum aku ke depan memberikan kopi untuk Pak RT.

Uuuuuhhhh segar sekali tenggorokanku, hihi.

"Ini pak kopinya."

Aku taruh itu di meja tepat dihadapannya.

"Makasih ya mbak, tapi kok cuma untuk saya aja mbak. Mbak Adel gak buat juga?"

"Ngga pak, aku gak minum kopi. Tapi barusan sudah minum air putih kok didapur."

"Ouuu iya mbak, terimakasih ya. Repot-repot sudah buatkan saya kopi."

"Ngga lah pak, buatin kopi kok dibilang repot. Kalo bapak nyuruh buatin saya pizza, itu baru repot pak hihi."

"Hehehe, iya juga ya mbak."

"Ayo pak silahkan diminum kopinya!"

"Iya mbak, saya minum ya."

Pak RT pun meminum kopinya, tapi baru satu seruput hinggap di mulutnya sesuatu terjadi....

"Duhhh....."

"Ehhhhh... Kenapa pak? Tidak enak kah?"

Pak RT menyemburkan kopi dari mulutnya, sebagian terhambur ke depan sisanya menetes ke baju koko dan sarung yang dipakainya.

"Hhe... Panas mbak."

"Duuuhhh pak pelan pelan dong minumnya!"

"Iya mbak, harusnya saya seruput malah saya tenggak ternyata panas kopinya."

"Jadi kotor kan tuh pak baju bapak sama sarungnya. Tisu..... Mana ya tisu, oohhh itu dia."

Aku mengambil tisu di lemari, ku ambil beberapa lembar lalu langsung saja aku usapkan ke baju koko dan sarung Pak RT tanpa menunggu persetujuannya.

Ku usap usap kain bajunya sampai agak kering, lalu turun ke sarung yang ia pakai. Ku usap juga dengan terburu-buru tanpa aku sadar yang ku usap adalah bagian sarung yang bersentuhan langsung dengan kemaluan Pak RT, duuhhhh kok bisa sih Del.

Namun aku terus mengusapnya, sampai perlahan sesuatu bangun dari tidurnya. Kemaluan Pak RT mulai berdiri, sedikit demi sedikit mulai menegakkan tajinya. Sesuai dengan usapan yang aku berikan.

Aku bertanya tanya dalam otakku, kok bisa langsung tegak begini? Apa didalam sarungnya Pak RT tidak memakai celana dalam ya? Soalnya kalo pake kan pasti ketahan, tapi ini langsung tegak sejadi jadinya.

Hhheeemmmm.... Ihihi. Menarik.......

Fyi, kejadian itu berlangsung cepat ya, gak mungkin juga dilama lamain dong Pak RT kan pasti keburu sadar.

"Ehhh mbak, jangan mbak! cukup mbak cukup... Udah mbak....."

Dengan segera Pak RT menutupinya dengan kedua telapak tangannya. Kulihat wajahnya memerah menahan malu tentunya.

"Ehhhhh iya pak, maaf gak sengaja aku pak. Maaf pak maaf aku gak sengaja bangunin punya bapak."

Akupun menunduk malu, entah mengapa jika dengan Pak RT keberanian ku untuk menggoda jadi hilang seketika. Aku merasa jadi wanita alim yang sesungguhnya. Ada apa denganku ini?

Apa aku benar benar suka dengan beliau ya. Aaahhhh entahlah aku pun tak tahu.

"Saya yang minta maaf mbak, saya udah kurang ajar sama mbak Adel. Gak bisa nahan kemaluan saya biar gak bangun mbak. Sekali lagi saya minta maaf mbak."

"Iya pak, aku juga minta maaf ya udah seenaknya ngelus ngelus kemaluan bapak. Sampe bangun lagi aahhh maafin aku ya pak."

Aku terus menunduk sambil mengatakan itu, tak kuat untuk bertatapan dengannya. Setakut itu aku, kenapa ini? Aku berbeda 180 derajat ketika tadi siang dengan Pak Imron. Dengan Pak RT aku kikuk gini jadinya, anehhh... Benar benar anehhh pikirku.

"Iya mbak, tidak apa apa lupakan saja kejadian barusan anggap tidak pernah terjadi."

"Iya pak."

Tak banyak kata yang aku ucapkan, aku masih menundukan kepalaku.

Beberapa saat hening terasa, rasa canggung begitu nyata diantara kita. Sampai aku mencoba mengucapkan sesuatu.

"Diminum lagi kopinya pak, sayang keburu dingin nanti."

Dengan nada rendah yang nyaris tak terdengar aku ucapkan itu.

"I i i iya mbak, saya minum lagi ya."

Pak RT memegang gelas kopi itu lalu ia angkat dan segera meminumnya. Aku meliriknya, ia seruput beberapa tegukan. Ku lihat masih ada sisa kopi didalam gelasnya. Ia taruh gelas itu di atas meja.

"Tidak dihabiskan pak? Sayang nanti mubazir."

"Cukup mbak, terimakasih saya sudah kenyang."

Kenyang? Hanya minum setengah gelas kopi bisa buat kenyang. Ini Pak RT bercanda kah? Atau dia gugup, grogi, salah tingkah? Aaaahhh entahlah, bingung aku jadinya.

"Kalo gitu saya mau pamit pulang dulu ya mbak sudah terlalu malam ini, tidak enak juga kalo dilihat yang lain."

"I i i iya pak, silahkan. Benar tidak akan dihabiskan pak kopinya?"

Dengan nada lembut dan sedikit gemetar aku ucapkan itu. Sayangkan kalo setiap Pak RT minum kopi buatan ku tapi tak pernah dihabiskan. Aku melirik ke arah sarungnya, masih saja berdiri kemaluan Pak RT. Apa kopi bisa buat itunya jadi bangun ya makanya Pak RT menolak menghabiskannya.

Heeemmm mungkin saja.....

"I i iya deh mbak, saya habiskan....."

Ia mengambil lagi gelas kopi itu, mencoba meneguknya sampai habis sesuai dengan apa yang aku mau.

Tapi...... baru saja ia meneguknya, terdengar suara berisik dari luar. Entah itu siapa, tapi dari suaranya aku sepertinya kenal.

"Mbak Adel, assalamualaikum......"

"Assalamualaikum mbak, ini kita Dani dan Tono."

"Iya mbak, mbak Adel udah tidurkah?"

"Mbak, mbak assalamualaikum........"

Pak RT terperanjat kaget mendengar suara itu, sampai sampai air kopi yang sedang diminumnya tumpah ke wajahnya lalu mengalir ke bawah tepat ke baju kokonya.

"Eeeeehhhh...... Waduhhhh mbak, siapa itu?"

"Duuuhhh pak tumpah lagi kan kopinya."

"Saya kaget mbak, kalo gitu saya pulang dulu ya mbak, assalamualaikum."

Tanpa menunggu persetujuan dariku Pak RT langsung berdiri dan melangkah menuju pintu. Dan disaat ia berdiri aku kembali melihat kemaluannya yang masih saja tegak berdiri dibalik sarungnya.

Ia tak mencoba menutupinya, mungkin terburu buru, mungkin lupa atau mungkin tidak peduli? Ya mungkin salah satunya.

Ia melangkah, membuka pintu lalu dengan cepat memakai sandal. Aku mengikutinya dari belakang.

"Pamit dulu Ton, Don."

"Laahhhhh..."

"Eeehhh... iya Pak RT."

"Assalamualaikum."

Dengan tergesa gesa, Pak RT mengucapkan itu tanpa mencoba menutupi tonjolan dibalik sarungnya. Itu ku tahu karna mata Tono meliriknya.

"Waalaikumsalam Pak RT hati hati."

"Waalaikumsalam Pak RT."

Pak RT berjalan dengan cepat dibalik gerimis yang masih mengguyur lalu menghilang ditengah kegelapan malam.

"Mbak?"

"Apa?"

"Mbak baik baik aja kan?"

"Nanti mbak cerita, ayo kalian masuk dulu. Tutup pintunya!"

"Iya mbak."

Mereka berdua masuk kedalam menyusulku dari belakang. Dani menutup pintunya kembali. Mereka duduk bersebelahan seperti biasa.

"Kalian kemana aja baru kesini? Mbak pikir kalian dah lupa sama mbak."

"Mana mungkin kita lupa sama mbak Adel, yang ada aku malah keinget terus sama mbak."

"Betul itu mbak aku juga sama, keingetan terus sama mbak."

"Terus kenapa kalian ngilang?"

"Sibuk belajar di sekolah mbak, apalagi...."

"Iya mbak mumet, seminggu kebelakang belajar terus."

"Ouuuu, iya ya kalian kan mau ujian kelulusan mbak sampe lupa."

" Mbak barusan Pak RT abis ngapain?"

"Iya mbak, kok kaya orang yang lagi buru buru? Ehh kaya orang yang abis ketauan mbak ehehe."

"Hihi, kalian liat ya?"

"Ya pasti dong mbak orang nonjol gitu sarungnya ahahaha."

"Ahahaha tegak sempurna mbak."

"Kok bisa sampe gitu mbak? Bukannya mbak Adel malu kalo dengan Pak RT?"

"Sebenernya gini Dan, Ton mbak ceritain ya.... Ehh kalian mau sambil minum kopi?"

"Emmm ada mbak?"

"Kayanya ada deh Ton, coba kamu cek aja didapur. Kalo ada bikin sendiri ya! Hihi."

"Oke deh mbak, aku cek ya."

Tono beranjak dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya kedapur untuk membuat kopi.

"Ton, biasa hehe."

"Halahhhh, nyuruh aja terus. Iya iya Dan."

"Sekalian Ton, biar pahalamu gede."

"Aaahhh, sakarapemu wae."

"Ada Ton?"

"Iya mbak ada, lima bungkus lagi."

"Iya Ton, syukurlah kalo masih ada. Air panas ditermosnya masih ada? Kalo udah dingin masak air aja ya hhe."

"Iya deh mbak, aku masak air aja. Mbak Adel mau kopi juga?"

"Gak usah Ton, mbak air anget aja ke gelas yang tinggi ya Ton tolong!"

"Oke mbak, aman aja."

"Makasih Tono."

"Makasih Tono, ahaha."

"Apasih Dan?"

"Hhe gapapa mbak, lucu aja."

"Mbak mau ganti baju dulu ya bentar, dingin pake yang ini."

"Iya mbak Adel."

Aku beranjak dari kursi sofa, melangkah menuju kamarku. Membuka semua bajuku yang tadi ku pakai, sedikit dingin mungkin karna terkena air hujan tadi. Aku melihat tubuhku di cermin, masih sempurna pikirku hihi.

Ku buka lemari, ku pilih baju yang akan kupakai tidur nanti. Pakai yang mana ya, daster atau piyama?
Satu menit aku pikirkan itu sampai akhirnya......

Aku keluar tanpa memakai sehelai benangpun hihi. Biarlah mereka kan sudah biasa melihat aku begini.
Aku duduk kembali di kursi sofa. Dani belum melihatku sampai tubuhku menyentuh dudukan sofa itu. Ia melirik dan melihat seutuhnya.

"Lohhhh mbak kok malah gak pake baju?"

Nada bicaranya sedikit keras, itu membuat Tono keluar dari dapur dan melihatku juga.

"Hehe ya emang kenapa Dan, ini kejutan aja buat kalian yang udah belajar dengan giat disekolah hehe."

"Lahhhh dikasih kejutan rupanya. Kejutan doang mbak? Atau dikasih hadiah kah kita malam ini?"

"Iya mbak apa ada hadiah buat kami malam ini?"

"Eeemmmm, hadiah??? Apa ya? Belum ada sih, gak nyiapin itu kan orang kalian aja ngedadak kesininya."

"Hehe iya sih mbak, kangen deh ngewe sama mbak Adel."

"Iiiiihhhh kamu Dan, main ngewe ngewe aja mulutnya hihi."

"Abisnya emang kangen kan Ton?"

Tono berjalan dari dapur dengan membawa nampan berisi dua gelas kopi dan satu gelas air putih. Ia lalu menaruhnya diatas meja.

"Ia mbak, bener kata Dani. Kita kangen ngewe bool mbak Adel."

"Alaaaahhh kalian ini sama aja ternyata otaknya, sama sama mesum."

"Diiihhh..... Mbak juga sama mesumnya sama kita."

"Iya iya deh kita bertiga emang sama sama mesum."

"Badan mbak masih bagus aja ya."

"Emang iya Ton?"

"Iya lah mbak, sempurna kaya bidadari."

"Huuuuuu.... Gombal."

"Beneran mbak, gak ada gombal gombal ini."

"Iya mbak, bener bener sempurna mbak Adel ini."

"Kalian kompak gombalin mbak gini pasti ada maunya kan?"

"Ya masa mbak gak paham sih ehehe."

"Tuhkan tuhkan bener apa dugaan mbak, pasti ada mau nya. Kalian mau bool mbak kan? Hihi."

"Nah itu mbak yang kita inginkan."

"Tapi jangan malem ini ya, besok aja gimana?"

"Yahhhh kok gitu mbak?"

"Mbak cape Ton, kalian libur kan besok?"

"Ton, jangan gitu mbak Adel lagi cape tau kita hormatin. Iya mbak iya gapapa besok juga, kami libur sekolah kok."

"Hhe iya mbak maaf, besok aja besok gapapa kok hhe."

"Kalian gamau bugil barengan kaya mbak, sambil ngocok gitu?"

"Laaaahhh iya juga ya mbak, gak kepikiran kita hehe."

"Kalian fokusnya ngewe jadi lupa kan kalo kalian bisa coli juga hihi."

"Iya mbak, duhhhh kelupaan kita ehehe."

"Yaudah ayo, udah malem loh ini kalian gak dicariin sama orang tua kalian emang?"

Mereka dengan cekatan melepas semua pakaiannya, dengan secepat kilat tubuh mereka udah bugil aja sama kaya aku hihi.

"Udah tegak aja tuh kontol kalian hihi."

"Ya kontol mana yang gak berdiri liat badan mbak yang aduhai gitu mbak."

"Bisa aja kamu Ton."

"Bener mbak kata Tono semua kontol lelaki pasti ngaceng liat badan mbak apalagi sambil bugil gini."

"Tuhkan mbak, Dani juga bilang gitu."

"Iya iya mbak paham kok. Ehhhh kalian malem malem gini sengaja datang ke rumah mbak?"

"Iya mbak, tadi abis dari mesjid kesini. Sekarang jadwal ronda kita mbak. Tapi nanti jam sepuluhan daripada balik dulu ke rumah, mending ke rumah mbak aja hhe."

"Oooouuuuu begitu toh. Dari mesjid berati kalian bareng Pak RT dong tadi solatnya?"

"Iya dong mbak, Pak RT kan yang jadi imam."

"Ouu beliau imam nya?"

Muka ku berseri mendengar itu, senyumku tersimpul kecil di mulutku. Dani menyadari itu, lalu bertanya.

"Iya mbak, kenapa mbak kok senyum senyum sendiri gitu?"

"Eehhhh gak ngga kok, ngga ihh gak senyum senyum mbak ini, biasa aja."

"Denger Pak RT jadi imam langsung salting gitu mbak, jangan jangan mbak sama Pak RT ada........"

"Ada apa ihhh Dan, orang gak ada apa apa kok."

Kutundukan wajahku, kupelankan suaraku saat mengucakan itu. Rasanya malu, rasanya ada sesuatu tapi aku tak tahu apa itu. Apa mungkin rasa cinta hihi. Gatau ahhhh bingung kan jadinya.

"Jangan jangan mbak suka beneran ya sama Pak RT?"

"Haaaaahhhhh apa sih Ton?"

"Tuhkan muka mbak jadi merah tuh, udah mbak ngaku aja. Mbak cocok kok sama Pak RT."

"Hahhh iya kah Dan?"

"Laaaahhhh beneran ternyata ahahaha."

"Iiiihhhh kalian mah gitu......."

"Yaudah sih mbak, gak apa apa juga mbak suka sama Pak RT. Menurutku ya, kalian tuh cocok tau."

"Iya mbak lagian kan mbak single terus Pak RT duda, udah cocok mbak."

"Eeemmmmm kalian setuju?"

"Ya pasti dong mbak, kita mah siapa kalo ngelarang larang gak ada hak."

"Iya mbak, lanjutin aja pasti Pak RT juga mau gak akan nolak."

"Aaaahhhhh makasih ya kalian berdua, sini pelukkk."

Aku berdiri menghampiri mereka, posisiku ada diantara mereka. Ku peluk mereka dengan erat sambil ku goyangkan badan mereka.

"Aaahhh mbak bersyukur punya kalian, makasih ya."

"Iya mbak, tapi udah dong mbak. Engap ini badan kita."

"Ehehehe iya iya maaf."

Aku mundur, lalu duduk kembali.

"Tapi apa Pak RT mau nerima mbak ya, mbak kan udah kaya gini Dan, Ton. Mbak udah kotor."

"Selama Pak RT gak tau sih kayanya bakal nerima nerima aja deh mbak."

"Iya mbak jangan sampai Pak RT tau, kalo tau ya dia pasti mikir mikir lagi."

"Mbak kan masih perawan, jadi aman sih menurutku."

"Gampang deh mbak, nanti kita bantu sampai jadi hehe."

"Aaaahhhh, mbak terharu makasih ya kalian berdua."

"Iya mbak, aman aja."

"Eeehhh mbak katanya tadi mau cerita soal Pak RT yang kontolnya sampe ngaceng gitu."

"Ehh iya mbak sampe lupa hihi maaf ya. Yaudah mbak ceritain deh. Jadi gini, tadi mbak keluar mau ngunci gerbang hujan kan mbak jadi kebasahan. Nah terus Pak RT lewat abis dari mesjid. Mbak nyuruh dia mampir buat minum kopi. Awalnya dia nolak, tapi mbak sedikit paksa dan akhirnya mau juga."

"Terus mbak!"

"Nah setelah singkat cerita setelah kopinya jadi, diminumlah sama dia kan. Entah gugup atau apa dia malah minum langsung kopinya, padahal itu kan panas muncrat dong kopinya kena baju koko sama sarungnya deh."

"Ouuu gitu mbak."

"Iya Dan, mbak langsung reflek kan mbak ambil tisu lalu mbak lap deh. Mbak usap usap baju koko nya dari noda kopi itu, terus lanjut kesarungnya. Nah ternyata noda kopi itu pas ada diatas kontolnya Pak RT huhu. Tapi mbak gak tau kenapa gak sadar akan hal itu mbak terus aja usap usap sarungnya sampai si noda kopi itu bersih."

"Lama kelamaan kontolnya Pak RT bangun....."

"Ehh stop dulu mbak."

"Kenapa Ton?, lagi seru juga."

"Aku boleh sambil coli kan mbak, seru nih ceritanya hehe."

"Boleh dong, kasian kan kontol kalian dah tegang gitu. Kalo dianggurin nanti ngambek hihi."

"Oke mbak."

"Aku juga ikutan coli deh mbak."

"Iya iya, terserah kalian deh."

Tangan mereka mulai aktif maju mundur mengocok kontol masing masing.

"Mbak lanjutin lagi ya ceritanya."

"Iya mbak."

"Heeh mbak."

"Sampe mana ya tadi...... Ohh nah pas bangun itu tiba tiba langsung tegak gitu aja, mbak berpikiran kalo dia gak pakai celana dalem soalnya langsung ngaceng gitu gak ada yang nahan. Dan ternyata bener sih harusnya hehe."

"Mbak jadi malu setelah itu, mbak gak sadar kalo itu Pak RT. Mbak jadi kikuk tau, salah tingkah. Pak RT berusaha buat nutupin kontolnya sama dua tangannya itu. Terus dia mau pamit pulang, tapi aku suruh habisin dulu kopinya. Dia mau, tapi baru sampe gelas itu di mulutnya ehh kalian datang."

"Pak RT ketakutan loh, dia langsung buru buru bangun terus keluar rumah sampe sampe lupa nutupin tonjolan kontolnya. Lucu ya hihi."

"Cuma sebatas itu mbak? Gak ada adegan yang lain?"

"Iya cuma gitu doang, kalian pikir ada adegan ngewenya? Ya ngga lah, kejadian gitu aja bikin mbak malu setengah mati. Ya kali mbak ngewe sama dia."

"Ouuuu gitu mbak, nah berarti memang mbak ada rasa suka sama Pak RT soalnya mbak malu malu kalo ada di deket dia."

"Iya mbak, itu tandanya ada rasa cinta ahahaha wit wiiiwwww."

"Iiiihhh apaan sih kalian, tapi yang mbak rasain sih gitu ya. Mbak suka jadi salah tingkah kalo ketemu Pak RT, suka tiba tiba deg degan juga. Dan gak berani ngegoda kaya ke cowok yang lain."

"Udah deh mbak, kita dukung kok tenang aja."

"Tapi nanti kalian gimana?"

"Gimana apanya mbak?"

"Kita gak bisa seneng senengan lagi kaya gini kalo seandainya mbak jadi istrinya Pak RT."

"Laaaahhhh masih bisa dong mbak, asal gak ketauan aja sama Pak RT nya ahahahaha."

"Iya mbak, sembunyi sembunyi ehehehe."

"Hahhhhh, gila apa kalian. Ya gak bisa gitu dong, bisa mati dibunuh mbak kalo ketauan. Pak RT kan pak Ustadz disini, ahli ibadah juga gimana sih kalian. Ngaco deh pikirannya."

"Hehehe kita mah bercanda mbak, masa kita berani gitu sama guru ngaji kita sendiri. Ngga lah mbak pamali."

"Betul itu mbak."

"Huuuuhhh mbak kira kalian mau nekat gitu. Ehhh ada yang lemes lagi tuh hihi."

"Iya nih mbak, ceritanya gak bikin klimaks. Nanggung banget hhe."

"Tapi mbak udah ngerasa cape malem ini, pengen istirahat gimana dong?"

"Yaudah gapapa kok mbak, lagian waktunya juga mepet bentar lagi kita mau ke pos ronda juga."

"Iya mbak gapapa, gak enak juga kalo kentang hehe."

"Besok deh kalian boleh ngewe bool mbak lagi hihi. Besok kalian liburkan?"

"Iya mbak besok libur."

"Bebas kita mbak besok, bisa seharian ngewe bool mbak ahahaha."

"Halahhhhh, bisa dower bool mbak nanti kalo seharian digenjot kontol kalian mah."

"Ehehehe, iya juga ya mbak."

"Ehhh mbak!"

"Iya Dan, kenapa?"

"Gimana kalo besok kita seneng seneng dulu diluar mbak?"

"Seneng seneng? Mau ngapain emang Dan?"

"Ehh maksudnya jalan jalan gitu mbak."

"Kemana Dan?"

"Iya kemana Dan?"

"Kemana aja deh, yang penting keluar rumah bosenkan dirumah terus. Mbak juga butuh refreshing deh kayaknya."

"Naahhh betul juga kata Dani mbak, mbak harus healing kalo bahasa gaulnya mah hehe."

"Iya ya, boleh deh besok kita healing ya. Kemana kemananya kalian yang tentuin. Ok???"

"Oke mbak siap."

"Siap mbak, aman."

"Yaudah, udah jam sepuluh tuh. Waktunya ngeronda adik adikku hihi. Salam buat bapak bapak disana ya."

"Iya mbak, mbak mau ikut ngeronda juga?"

"Diihhhh mbak kan cewek masa ikut ngeronda sih, gimana ngejar malingnya coba?"

"Ya gak sampe ngejar maling juga mbak, itu mah tugas bapak bapak aja. Mbak mah cukup temenin kita aja, sambil ngobrol hehe."

"Huuuuuu maunya kalian itu mah, tapi kayanya bakal seru juga ya kalo mbak ikut ngeronda hihi."

"Yooooo pasti mbak, bapak bapak bakal pada antusias dan betah ngeronda wkwk."

"Nanti deh mbak pikirin dulu, kan belum tentu diijinin juga sama yang lainnya. Ntar mbak kesana malah disuruh pulang, kan malu jadinya."

"Yaudah deh mbak terserah mbak aja itu mah, kita mah gak bakal maksa kok."

"Iya iya, nanti mbak pikirin lagi deh. Yaudah sana dicariin loh kalo telat nanti."

"Iya mbak, ini kan pake baju dulu kita."

"Hooh mbak sabar dikit napa sih."

"Ngantuk nih mbak Ton, dah pengen tidur."

"Iya iya."

Mereka berdua segera berpakaian kembali.

"Kita pamit ya mbak, assalamualaikum."

"Assalamualaikum mbak, kita ngeronda dulu."

"Iya, waalaikumsalam. Hati hati ya kalian ngerondanya. Salam buat bapak bapak disana ya hihi."

"Huuuuu dasar ukhti genit ehehehe."

"Iiiihhhh awas loh Dani."

"Kaaabooooooorrrrr......"

Dani dan Tono melangkah pergi meninggalkan rumah ku, mereka akan melaksanakan ronda malam ini. Seperti apa yang mereka bilang tadi, kayanya bakal seru kalo aku ikut ronda juga hihi. Mungkin eksib ku bisa tersalurkan disana. Tapi ya harus lebih hati hati juga ya soalnya pasti banyak bapak bapak bukan cuma satu yang bisa bebas aku goda.

Huuuuu bener, aahhh gimana nanti aja deh dah ngantuk aku malam ini. Pengen cepet-cepet besok aja kita healing bareng Dani sama Tono. Kemana ya mereka mau ajak aku?

Ya gatau, kan belum mereka kasih tau hihihi.
Adel Adel.....
Dahhh ahhhh selamat malam, mau tidur dulu.

Dadahhhh......

Bersambung.......



Comments

Popular Posts