Ternyata Febby - Spino @semprot
1. Febby: 24 tahun
TB 160 cm, BB 55 kg, NEN 34 B.
Febby adalah sosok yang cantik dan ramah. Perawakannya cukup seksi didukung dengan pantat yang besar. Ia adalah seorang karyawan di salah satu klinik kecantikan di Semprot City. Febby memiliki pacar bernama Kevin.
2. Kevin: 24 tahun
TB 175cm, BB 60kg, MR.P 10cm
Kevin adalah seorang lulusan teknik informatika yang kini harus bekerja berbeda pulau dengan Febby. Kevin adalah tipikal anak mami yang memiliki kekayaan yang cukup banyak tetapi memiliki sifat yang malas bekerja. Sehingga ia harus dicarikan kerja oleh orang tuanya di tempat yang jauh untuk melatih kemandiriannya. Kevin memiliki tampang rupawan namun tidak dengan kemampuan sexnya.
3. Bagus: 24 tahun
TB 170cm, BB 65 kg, MR.P 17cm
Bagus adalah teman masa kecil Febby dan ia baru diterima sebagai supervisor produksi di salah satu industri di Semprot City. Bagus memiliki tampang yang lumayan tampan tapi masih kurang dibanding Kevin, namun Bagus memiliki kemampuan sex yang hebat.
=============
=============
Part 1. Dua Sejoli LDR
POV: Penulis
Bagus sedang berkutat dengan laptopnya di meja kecil kamarnya di sebuah kos-kosan yang cukup ramai. Suara tawa renyah dari arah dapur komunal samar-samar terdengar, dan ia langsung tahu itu pasti Febby. Mereka berdua tanpa sengaja bertemu kembali beberapa minggu lalu dan ternyata menjadi penghuni kos yang sama. Dulu, saat masih kecil di kampung halaman, Bagus hanya menganggap Febby sebagai teman bermain yang ceria.
Namun, sosok Febby yang kini hadir di hadapannya, dengan tubuh seorang wanita dewasa dan tatapan mata yang kadang menyimpan kilatan menggoda, menimbulkan perasaan yang berbeda, sebuah rasa tertarik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Terlebih, ia tahu Febby memiliki pacar bernama Kevin yang sedang bekerja di luar kota, menjalani hubungan jarak jauh yang sudah berjalan beberapa bulan.
Beberapa hari yang lalu, saat mereka berdua sedang mencuci pakaian di jemuran belakang kos, Febby mengenakan kaus ketat tanpa lengan dan celana pendek yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Tanpa sadar, mata Bagus sempat terpaku pada lekuk tubuh Febby, terutama pada bagian pantatnya yang tampak berisi. Febby menyadari tatapannya dan hanya tersenyum kecil sambil melontarkan candaan ringan yang membuat Bagus salah tingkah. Sejak saat itu, Bagus jadi lebih sering memperhatikan Febby, meskipun ia selalu berusaha mengingatkan dirinya bahwa Febby adalah milik orang lain.
Malam ini, Bagus memutuskan untuk membuat kopi di dapur. Saat ia berjalan keluar kamar, pintu kamar Febby terbuka sedikit dan ia melihat Febby sedang berdiri di depan cermin, hanya mengenakan tank top tipis berwarna gelap dan celana pendek super pendek yang memperlihatkan lekuk pinggulnya. Febby tampak sedang memoleskan sesuatu di bibirnya. Pemandangan itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum Febby menyadari keberadaannya dan terkejut.
"Eh, Bagus? Mau ke dapur?" tanya Febby, sedikit salah tingkah sambil buru-buru menutup pintu lebih rapat.
"I-iya," jawab Bagus gugup, merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Ia bisa mencium samar aroma parfum Febby yang manis dan sedikit sensual. Ia kembali mengingatkan dirinya bahwa Febby sedang menunggu telepon dari pacarnya.
Di dapur, saat Bagus sedang menunggu air mendidih, Febby bergabung dengannya. Ia sudah mengenakan kaus longgar, namun Bagus masih bisa merasakan sisa-sisa ketegangan dari momen sebelumnya di depan kamar. Febby bersikap seperti biasa, mengambil gelas dan menuangkan air dingin. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali melirik ponselnya yang tergeletak di meja. Ada sedikit raut murung di wajahnya yang tidak seperti biasanya.
"Sibuk?" tanya Bagus basa-basi, mencoba memecah keheningan.
"Nggak juga," jawab Febby singkat, matanya kembali ke layar ponsel.
Setelah air mendidih, Bagus membuat kopinya dalam diam. Febby masih berkutat dengan ponselnya, sesekali mengetik sesuatu lalu menghapusnya lagi. Ia tampak gelisah.
"Aku balik kamar dulu ya, Gus," kata Febby tiba-tiba, meraih ponselnya. "Mau VC sama Kevin kayaknya."
Bagus mengangguk kecil, merasa sedikit lega sekaligus kecewa. Lega karena Febby tampaknya memang fokus pada pacarnya, namun kecewa karena kesempatan untuk berinteraksi lebih lanjut dengannya tertutup.
Bagus kembali mencoba fokus pada pekerjaannya yang menumpuk. Ia meraih tas laptop di samping mejanya untuk mengeluarkan charger, namun tangannya hanya menemukan kabel data dan beberapa dokumen. Ia mengerutkan kening, mencoba mengingat di mana ia terakhir kali melihat charger laptopnya. Seketika, ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu, saat Febby dengan wajah memelas meminjam chargernya karena chargernya tertinggal di rumah temannya. Febby berjanji akan segera mengembalikannya. Namun, hingga malam ini, charger itu belum kembali ke tangannya.
Bagus berjalan menuju pintu kamar Febby, beberapa langkah dari kamarnya. Ia mengangkat tangannya hendak mengetuk untuk menanyakan soal chargernya, namun tangannya mendadak menggantung di udara. Dari balik pintu kayu yang tipis itu, ia mendengar suara Kevin yang keluar dari speaker ponsel, volumenya cukup keras karena Febby sepertinya sedang melakukan video call dengan mode loudspeaker.
"...terus kamu beneran pakai tank top yang itu, Yang? Yang talinya tipis banget itu?" suara Kevin terdengar berat di seberang sana, seperti suara pria yang sedang menahan napasnya dalam-dalam. "Sumpah ya, dari layar aja kamu kelihatan seksi banget. Aku pengen banget ada di situ sekarang."
Febby tertawa kecil, suara tawanya terdengar malas, manja, sekaligus sangat menggoda. Terdengar bunyi pegas tempat tidur yang berderit pelan saat ia mengubah posisi tubuhnya di atas kasur. "Makanya, cepetan balik, Ayang... Di sini aku kesepian, tahu. Cuma bisa melukin bantal doang tiap malam sambil bayangin kamu ada di sini."
"Cuma meluk bantal? Yakin nggak mainin yang lain?" Kevin berhenti sejenak, suaranya terdengar semakin parau. "Jangan-jangan tangan kamu juga lagi sibuk di bawah sana sambil ngebayangin aku? Aku tahu ya, Yang... kamu itu paling nggak tahan kalau cuma meluk bantal."
Febby mendesah manja, sebuah desahan panjang yang terdengar sangat intim. Terdengar gesekan halus sprei kasur, seolah Febby sedang menggeliat dengan sengaja di depan kamera. "Ih, Ayang sok tahu banget sih... Tapi ya kalau aku lagi mainin sendiri emangnya kenapa? Kamu mau liat tangan aku lagi ngapain sekarang di bawah sini?"
Bagus di luar pintu menahan napasnya sekuat mungkin sampai dadanya terasa sesak. Jantungnya berdebar kencang hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri yang berpacu di telinga. Kakinya terasa seperti dipaku ke lantai kayu lorong kos, tak mampu bergerak sedikit pun, terjebak oleh rasa penasaran yang berdosa.
"Sialan kamu, Yang... jangan bikin aku makin tegang," geram Kevin, terdengar suara napasnya yang semakin memburu di speaker. "Ayang... coba deketin lagi dong kameranya ke bawah. Aku mau lihat lebih jelas. Kamu tahu kan bagian mana yang paling aku kangenin?"
"Sabar dong, Ayang... langsung minta yang aneh-aneh aja sih," bisik Febby. Nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, justru terdengar semakin berani. Terdengar suara ponsel yang digeser, didekatkan ke area dadanya. "Gimana? Udah cukup deket belum?"
"Kurang... turunin dikit lagi kameranya, Yang. Nah... iya, di situ. Jangan gerak," suara Kevin terdengar tercekat seolah ia sedang menelan ludah dengan susah payah. "Gila, putih banget... Kamu sengaja ya nggak pakai bra di balik tank top itu?"
Febby tertawa lagi, tawa yang terdengar sangat dalam dan bergetar. "Kan mau tidur, Ayang. Jadi lebih enak dilepas... biar bebas. Mau lihat lebih jelas nggak? Nih... aku kasih lihat nenen aku dikit ya, biar kamu makin nggak bisa tidur di sana."
Di luar, Bagus memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan Febby yang sedang menarik sedikit pinggiran kain tank top-nya untuk memamerkan puncak dadanya ke layar ponsel memenuhi pikirannya dengan liar.
"Lepasin aja semua bajumu, Yang. Aku mau lihat kamu polos sambil remas nenen kamu sendiri di depan kamera. Aku pengen banget lihat kamu desah sambil sebut nama aku sekarang."
Suara Febby terdengar semakin dekat dengan mikrofon ponselnya, napasnya mulai terdengar tidak beraturan dan berat. "Oke... aku buka ya. Ini spesial buat kamu, Ayang... liat, puting aku udah tegang banget begini. Rasanya haus banget pengen kamu kenyot, pengen kamu emut sampai aku lemes..."
Terdengar suara kain yang ditarik perlahan melewati kulit, disusul suara pakaian yang jatuh dengan ringan di atas kasur. Febby mendesah panjang, sebuah suara yang terdengar sangat basah.
"Tuh... udah nggak pakai apa-apa lagi sekarang. Puas nggak liatnya, Yang? Kamu liat kan aku udah kepengen banget sekarang? Andai kamu ada di sini, aku bakal langsung buka paha lebar-lebar dan biarin kamu hajar aku sampai aku keluar berkali-kali..."
Bagus meremas pinggiran kausnya sendiri dengan kuat, merasakan aliran darahnya mendidih dan bagian bawahnya terasa menegang hebat. Ia bisa membayangkan dengan sangat gamblang bagaimana Febby sedang memamerkan tubuh polosnya di depan kamera ponsel itu, melengkungkan punggungnya sambil mendesah nikmat memanggil nama kekasihnya.
Ia membayangkan Febby dengan ekspresi menggoda, memperlihatkan bagian tubuhnya kepada kekasihnya melalui layar ponsel. Pikiran itu membuatnya semakin terangsang. Ia merasa tidak pantas menguping momen pribadi seperti ini lebih lama lagi. Rasa bersalahnya bercampur dengan gejolak hasrat yang tiba-tiba muncul.
Dengan perlahan dan hati-hati, Bagus menarik diri dari depan pintu kamar Febby. Ia memutuskan untuk tidak jadi mengetuk. Kehadirannya saat ini pasti akan sangat mengganggu. Lebih baik ia kembali ke kamarnya dan menunggu sampai Febby selesai dengan panggilan videonya. Mungkin setelah itu, suasana akan lebih santai untuk meminta kembali chargernya.
Sesampainya di kamar, Bagus duduk di tepi tempat tidur, mencoba menenangkan dirinya. Namun, bayangan Febby dan suara-suara intim dari balik dinding tipis kos-kosan itu terus berputar di benaknya. Ia merasa tegang dan penasaran. Ia jadi bertanya-tanya, bagaimana Febby akan bersikap padanya setelah percakapan yang begitu pribadi dengan kekasihnya itu? Apakah Febby menyadari kehadirannya di dekat pintu kamarnya? Dan bagaimana ia harus bersikap saat akhirnya bertemu dengan Febby nanti?
Bagus menghela napas panjang. Ia memutuskan untuk mencoba mengalihkan pikirannya dengan kembali melihat laptopnya, meskipun ia yakin konsentrasinya akan sangat terganggu oleh kejadian beberapa menit yang lalu. Ia harus menunggu, meskipun rasa ingin tahu dan gairah dalam dirinya terasa begitu kuat.
=============
=============
Part 2. Si Binal yang Kentang
POV: Penulis
Di dalam kamar, setelah Bagus menjauh dari pintu dengan napas memburu, suasana di dalam justru semakin liar. Febby yang sudah menanggalkan tank top-nya kini benar-benar hanya mengenakan celana pendek tipis, membiarkan sepasang nenennya yang putih bersih terpampang jelas di depan kamera. Kevin di seberang telepon terdengar sudah sangat kehilangan akal sehatnya.
"Gila, Yang... nenen kamu cantik banget. Aku dari tadi nggak berhenti ngocok liatnya," bisik Kevin parau, suara napasnya terdengar kasar di speaker ponsel. Tiba-tiba suara Kevin merendah, penuh rahasia. "Yang... kamu kangen nggak sih sama punya aku? Mau liat nggak? Dia udah bangun banget nih dari tadi denger desahan kamu."
Febby yang sedang berbaring miring sambil meremas salah satu nenennya sendiri langsung tersenyum nakal. Matanya berkilat penasaran. "Ih, Ayang... kok tiba-tiba? Tapi ya kangen sih... emang udah segede apa sekarang? Coba liat dong, aku mau liat jagoan aku..."
"Liat aja sendiri ya," sahut Kevin serak. Terdengar suara resleting celana yang ditarik turun dengan kasar. Kevin kemudian mengarahkan kamera ponselnya ke bawah, memperlihatkan penisnya yang sudah ereksi tegak dan menegang. "Nih... dia udah nggak sabar pengen ketemu kamu, Yang."
Febby mendekatkan wajahnya ke layar ponsel, matanya melotot kagum melihat pemandangan itu. "Uhh... jagoan aku ternyata udah tegang banget! Gila ya, makin keliatan gede aja kalau lagi kayak gitu, Yang. Sumpah, aku jadi pengen megang langsung... pengen aku kenyot sampai kamu lemes..."
Meskipun penis Kevin sesungguhnya hanya berukuran sekitar 10 cm, Febby menatapnya dengan kekaguman yang jujur. Baginya, pemandangan di layar itu adalah lambang kejantanan yang luar biasa. Karena Kevin adalah satu-satunya pria yang pernah ia lihat organ intimnya secara langsung, Febby merasa ukuran tersebut sudah sangat besar dan gagah, sanggup membuatnya tak berdaya tiap kali mereka bertemu.
Gairah Febby meledak melihat milik kekasihnya. Tanpa diminta lagi, tangannya turun ke pinggang celana pendeknya. "Ayang, liat ya... aku buka semuanya buat kamu. Aku juga udah kangen banget pengen kamu masukin..." Febby menarik celananya hingga lepas dan menendangnya ke lantai, membiarkan tubuhnya kini polos total.
Febby merebahkan tubuhnya telentang, kakinya terbuka lebar memperlihatkan area pribadinya yang mulai mengkilap karena cairan yang merembes. "Kamu liat nggak, Yang? Memek aku udah becek banget nungguin kamu... mmmh..." Ia mulai memasukkan jarinya sendiri, mengaduk lubangnya yang hangat sambil terus menatap layar.
Di layar, Kevin tampak semakin beringas. Gerakan tangannya mengocok miliknya sendiri semakin cepat, wajahnya memerah padam menahan nikmat. "Terus, Yang... mmm... mainin terus... aku bayangin itu tangan aku yang lagi ngaduk-ngaduk di dalam situ," geram Kevin dengan napas tersengal-sengal.
Febby semakin terbawa suasana. Ia memejamkan mata, kepalanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri sambil terus mendesah keras menyebut nama Kevin. Suara becek dari gesekan jarinya terdengar sangat jelas bersahutan dengan erangan Kevin yang mulai liar. Puncak kenikmatan itu sudah di depan mata; tubuh Febby mulai bergetar hebat, keringat tipis mulai membasahi leher dan belahan dadanya yang berayun. Mereka berdua sudah benar-benar di ambang klimaks.
Tapi tepat saat Febby mulai merasakan gelombang kontraksi pertama yang nikmat di bawah sana, tiba-tiba...
Telolet! Telolet! Telolet!
Tiba-tiba, suara dering telepon yang khas, nada dering hp operasional kantor Kevin, memecah keintiman mereka. Kevin tersentak, ia menoleh ke arah suara dering yang berasal dari nakas di samping tempat tidurnya – ponsel kantornya.
Dengan raut wajah yang sangat terpaksa, Kevin menghentikan aktivitas tangannya dan menghela napas berat yang terdengar sangat kecewa di speaker. "Aduh, Ayang... bentar ya... itu telepon dari kantor kayaknya di HP operasional," katanya dengan nada menyesal yang sangat dalam.
Febby membuka matanya yang sayu, menatap layar dengan tatapan kosong dan kecewa karena interupsi yang datang di detik-detik terakhir itu. "Hah? Sekarang banget, Yang? Nggak bisa nanti apa?" suaranya terdengar serak, hampir merengek karena gairahnya sudah di ubun-ubun.
Kevin meraih ponsel kantornya, dan saat melihat nama yang tertera di layar—"Bos Besar"—ia menghela napas panjang seolah seluruh tenaganya tersedot keluar. "Kayaknya penting banget, Ayang. Maaf banget ya," jawab Kevin sambil menggeser ikon hijau. Ia tidak memutus panggilan video dengan Febby, membiarkan Febby melihatnya menerima panggilan tersebut.
Suara berat seorang pria terdengar samar-samar namun tegas dari speaker ponsel kantor Kevin yang baru diangkat, "Kevin! Kamu di mana? Ini ada masalah mendesak di sistem, kamu harus segera kembali ke kantor sekarang juga!"
Kevin menjawab dengan nada yang diusahakan tetap profesional meski napasnya masih tersengal, "Iya, Pak... ini saya lagi siap-siap segera meluncur..." Ia melirik Febby di layar dengan ekspresi bersalah yang luar biasa, sementara suara atasannya masih terus mengoceh memberikan instruksi di latar belakang.
Febby menghela napas panjang, meratapi rasa nikmat yang sudah hampir mencapai puncak namun kini tertahan paksa. Ia hanya bisa melihat Kevin yang kini harus membagi fokusnya; telinganya mendengarkan bosnya, sementara matanya masih menatap tubuh polos Febby dengan sisa-sisa hasrat yang harus dipendam. Suasana intim yang tadi panas membara seketika buyar, berganti dengan suasana tegang urusan kantor.
"Oke, Pak... siap, saya segera ke sana dalam sepuluh menit," kata Kevin mengakhiri panggilan di ponsel kantornya. Ia kembali menatap Febby di layar dengan wajah memelas. "Ayang... maaf banget ya... aku harus pergi sekarang. Gila, bener-bener nggak tepat waktunya."
Febby menghela napas lagi, kali ini lebih berat dan terdengar sedikit ketus. "Ya udah deh, nggak apa-apa. Kerja sana," jawabnya singkat. Rasa kecewa dan "kentang" yang luar biasa jelas terdengar dalam nada suaranya yang mendingin.
"Maaf ya, Ayang. Janji deh, nanti malam kita lanjutin lagi ya sampai kamu puas?" bujuk Kevin dengan suara lembut, mencoba meredam kekesalan pacarnya.
Febby hanya mengangguk kecil tanpa berani melihat ke arah kamera lagi. Rasa tanggung yang menyiksa membuatnya merasa tidak nyaman di seluruh tubuhnya. "Iya, Yang. Hati-hati di jalan."
"Aku matiin dulu ya, Ayang. Jaga diri baik-baik ya di kosan," pamit Kevin sebelum akhirnya memutus sambungan.
Layar ponsel Febby seketika menjadi gelap gulita. Ia terbaring telentang di tempat tidurnya yang kini berantakan, merasakan sisa-isisa gairah yang belum tersalurkan berdenyut-denyut di area bawahnya. Rasa tanggung itu membuatnya merasa sangat kesal, seolah-olah ia baru saja dijatuhkan dari ketinggian tepat sebelum mendarat di awan.
Namun, sisa-sisa gairah yang tadi membuncah masih terasa terlalu kuat untuk diabaikan begitu saja. Bayangan wajah Kevin yang penuh hasrat dan pemandangan miliknya yang menegang tadi masih membekas sangat jelas di benak Febby. Darahnya masih mendidih.
Febby memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memfokuskan kembali pikirannya pada sensasi panas yang masih menggelayuti tubuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, membusungkan dadanya yang polos, dan perlahan-lahan tangannya kembali turun ke bawah. Jari-jarinya mulai meraba kembali bibir sensitifnya yang sudah sangat basah dan hangat.
"Mmm... ahh..." desah lembut pertama kembali lolos dari bibirnya. Ia memutar jari-jarinya di atas klitorisnya dengan ritme yang lambat namun pasti. Ingatan akan bisikan-bisikan nakal Kevin tadi kembali membakar imajinasinya.
Febby mulai menggerakkan tangannya dengan ritme yang semakin mantap dan cepat. "Hhh... enak... ahh..." erangnya pelan. Ia membayangkan seolah-olah tangan Kevin lah yang sedang bermain di sana, mengaduk cairannya yang kental. Ia semakin terhanyut, melupakan sejenak kekesalannya pada urusan kantor Kevin.
Febby terus membelai dirinya sendiri dengan gerakan yang semakin binal. Tubuhnya menggeliat di atas sprei, kaki-kakinya meremas kain kasur dengan kencang. Sensasi nikmat itu perlahan kembali merayapi tulang belakangnya, menggantikan rasa kecewa tadi. Erangan-erangan kecil yang semakin basah mulai terdengar dari bibirnya yang terbuka.
Napas Febby mulai tersengal-sengal lagi, dadanya naik turun dengan cepat. "Ohh... Kevin... mmm... Ayang... andai kamu ada di sini sekarang..." bisiknya lirih dengan mata terpejam rapat. Sentuhan pada dirinya semakin intens, jarinya mulai bergerak keluar-masuk dengan suara becek yang memenuhi kamar sunyi itu.
Gerakan tangannya semakin liar dan cepat, wajah Febby merona hebat, dan ia menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga untuk menahan gelombang nikmat yang sebentar lagi akan meledak. "Aahhh... hampir... sedikit lagi... uhhh..."
Tepat di detik-detik krusial saat ia merasa tubuhnya akan segera meledak dalam puncak kenikmatan, suara ketukan pelan yang sangat nyata terdengar dari pintu kamarnya.
"Tok! Tok!"
Febby tersentak kaget sampai hampir melompat dari kasur, matanya langsung terbuka lebar seolah baru saja disambar petir. Sentuhan jarinya di antara selangkangannya yang sudah sangat basah terhenti seketika. Sensasi nikmat yang sudah di ujung tanduk itu buyar begitu saja, meninggalkan rasa perih dan sesak yang luar biasa di area bawahnya karena gagal mencapai puncak.
"Siapa?!" teriak Febby dari atas kasur dengan nada ketus, suaranya masih berat dan serak. Tubuhnya masih polos total, telentang di atas sprei yang berantakan.
"Sorry ganggu, Feb. Ini aku, Bagus. Baterai laptopku mati total nih, aku mau ambil charger-ku sebentar kalau boleh?" suara Bagus terdengar dari balik pintu.
Mendengar nama Bagus, Febby hanya mendengus kesal. Ia merasa cukup aman karena yang datang adalah Bagus, tetangga kos yang sudah biasa ia temui. Ia menyambar tank top tipis dan celana pendeknya yang tergeletak di lantai, lalu memakainya begitu saja tanpa repot-repot mencari bra. Kain tank top itu melekat di payudaranya yang proporsional, namun karena tanpa penyangga, bentuk putingnya yang sedang sangat keras tercetak sangat jelas di balik kain.
Ia bangkit dari kasur dengan kaki yang terasa sedikit lemas, menyambar charger di atas meja, lalu berjalan menuju pintu. Febby langsung menarik gagang pintu dan membukanya cukup lebar, berdiri di ambang pintu dengan sosok yang benar-benar berantakan.
Bagus menarik napas panjang, matanya langsung terpaku pada pemandangan di depannya. Ia tidak menyangka Febby akan membuka pintu selebar itu dalam kondisi seadanya. Meskipun payudara Febby tidak besar, namun posisinya yang berdiri tegak tanpa bra di balik kain tipis membuat Bagus sulit untuk mengalihkan pandangan. Rambutnya awut-awutan, wajahnya merah padam, dan kilap keringat tipis membasahi leher serta belahan dadanya yang naik-turun dengan cepat.
Aroma tubuh Febby yang sedang terangsang hebat menguar kuat, mengisi celah di antara mereka. Bagus menyadari puncak payudara Febby yang keras menonjol menantang di balik kain tipis itu, seolah-olah menunjukkan betapa panasnya suasana di dalam kamar itu sebelum ia mengetuk pintu.
"Nih," kata Febby singkat sambil menyodorkan charger itu. Tangannya masih sedikit gemetar, mempertegas bahwa gairahnya masih terjebak di ubun-ubun.
Bagus menerima charger itu, tapi ia sengaja tidak langsung pergi. Ia malah menatap Febby dari atas sampai bawah dengan tatapan nakal yang sangat menyelidik.
"Makasih ya, Feb," kata Bagus sengaja memperlambat bicaranya, suaranya terdengar lebih berat. "Gila, wajah kamu merah banget, Feb. Kamu lagi nggak enak badan? Kok sampai keringetan gitu padahal di dalam kan dingin?" goda Bagus sambil tersenyum tipis. Matanya sengaja turun, memperhatikan puting yang menonjol di balik kain tank top Febby.
Febby menyadari arah mata Bagus, namun rasa "nanggung" yang menyiksa membuatnya tidak terlalu peduli. "Apa sih, Gus... Enggak kok, cuma gerah aja tadi habis beres-beres kamar," jawab Febby cepat, mencoba menghindar tapi suaranya justru terdengar sangat serak dan basah.
Bagus mengangkat satu alisnya, ia semakin berani memancing karena melihat kondisi fisik Febby yang memanas. "Beres-beres kamar sampai kayak gini banget? Kayaknya capek banget ya, sampai napas kamu sesak gitu. Kamu yakin nggak apa-apa?" Bagus menatap leher Febby yang basah oleh keringat dengan tatapan penuh arti.
Febby merasa pipinya semakin panas. "Dih, sok tahu kamu! Udah ah, aku cuma lagi capek aja," kilahnya konyol sambil mencoba menjaga keseimbangan kakinya yang masih terasa gemetar.
Bagus terkekeh rendah, suaranya terdengar sangat menggoda. "Ya udah, cepet beresin... kasihan itu kamu keringetan banget sampai lepek gitu baju kamu. Hati-hati lho, Feb... nanti malah meriang lho kalau kelamaan basahnya." Bagus menekankan kata "basah" sambil memberikan tatapan nakal yang seolah-olah bisa menembus celana pendek Febby.
Febby merasa lututnya makin lemas mendengar kata-kata Bagus yang sangat ambigu dan tepat sasaran itu. "Udah ah, rese kamu! Aku mau lanjut... istirahat lagi," jawabnya ketus sambil mencoba segera menutup pintu dengan tangan yang masih gemetar. Karena terburu-buru ingin segera lari kembali ke kasurnya, Febby mendorong pintu itu sedikit keras hingga terdengar suara dbrak kecil, mengira kunci otomatisnya sudah menyangkut sempurna.
"Oke deh, Feb. Aku balik dulu. Thanks ya..." kata Bagus cepat.
Bagus kemudian berjalan ke kamarnya dengan senyum kecil di wajahnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala pelan, menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. Namun, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih lanjut. Urusannya sekarang adalah mengisi daya laptopnya yang sudah mati.
Setelah Bagus kembali ke kamarnya, ia langsung mencolokkan charger yang diberikan Febby ke laptop dan stop kontak. Lampu indikator pengisian daya menyala, membuatnya menghela napas lega. Setidaknya, ia bisa kembali menggunakan laptopnya sebentar lagi.
Namun, saat ia meletakkan kembali adaptor charger itu di meja, matanya menangkap detail stiker kecil bergambar kucing di sana. Stiker itu... rasanya familiar. Ia ingat betul Febby sangat menyukai kucing dan menempelkan stiker serupa di beberapa barang miliknya.
"Lho... ini kan chargernya Febby?" gumam Bagus pelan dengan kening berkerut. Ia melihat stiker kucing itu sedikit terkelupas di bagian sudutnya, persis seperti yang pernah ia lihat di barang-barang Febby lainnya.
Sadar bahwa mereka tidak sengaja bertukar charger karena suasana yang terburu-buru tadi, Bagus langsung berniat mengembalikannya mumpung belum terlalu lama. Ia tidak ingin Febby kebingungan mencari chargernya sendiri nanti. Bagus mencabut kembali kabel itu dari laptopnya. Ia berjalan kembali menuju kamar Febby yang hanya berjarak beberapa langkah.
Sesampainya di depan pintu kayu itu, Bagus sudah mengangkat tangannya, bersiap untuk mengetuk. Namun, gerakannya terhenti. Matanya menangkap sesuatu yang tidak beres; pintu kamar Febby ternyata tidak tertutup rapat. Sepertinya, akibat bantingan pintu yang dilakukan Febby tadi, lidah kuncinya tidak sempat masuk ke lubang kunci dan justru terpental kembali. Pintu itu kini menyisakan celah sekitar dua sentimeter yang menganga.
Tanpa berniat mengetuk lagi karena merasa baru beberapa menit yang lalu mereka berinteraksi, Bagus mendorong pintu itu perlahan. Pintu berayun terbuka tanpa suara, dan Bagus melangkah masuk sedikit ke dalam area kamar.
Pemandangan di depannya membuat jantung Bagus serasa berhenti berdetak. Ia membeku, matanya membelalak lebar. Febby, yang mengira sudah aman setelah menutup pintu tadi, terlihat berbaring telentang di tempat tidur dengan kaki yang sedikit menekuk.
Febby tidak melepas pakaiannya, melainkan menyingkap tank top tipisnya ke atas hingga batas dada, memperlihatkan payudaranya yang polos dan kecokelatan tanpa bra. Putingnya terlihat sangat tegang dan mengeras, sementara tangan kirinya meremas pelan salah satu sisinya. Yang lebih mematikan, tangan kanan Febby tampak masuk ke dalam celana pendeknya, bergerak secara ritmis dengan gerakan yang Bagus tahu betul artinya.
Matanya terpejam rapat, wajahnya merah padam dengan napas yang memburu. Desahan-desahan pelan yang serak mulai lolos dari bibir Febby. "Mmmh... ahh... sedikit lagi..." rintih Febby lirih, tubuhnya sedikit menggeliat nikmat.
Tiba-tiba, entah karena merasa ada embusan angin dari pintu yang terbuka, mata Febby terbuka. Pandangannya langsung bertabrakan dengan sosok Bagus yang sudah berdiri di dalam kamarnya, menatap lurus ke arah tangannya yang masih berada di dalam celana.
Ekspresi kenikmatan di wajah Febby seketika runtuh, berganti dengan horor dan malu yang luar biasa. Matanya melebar sempurna, dan rona merah padam menjalar cepat ke seluruh pipi hingga lehernya. Ia dengan sangat panik menarik turun tank top-nya dan mencabut tangannya dari balik celana, lalu menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya.
Bagus merasakan ledakan gairah yang hebat di selangkangannya, bercampur dengan rasa canggung yang luar biasa. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia bergegas meletakkan charger milik Febby itu di atas meja dekat pintu, takut jika ia memegangnya lebih lama, ia akan menjatuhkannya.
"Eh... i-ini... maaf, Feb... kamu salah kasih charger... ini punya kamu. Aku taruh sini ya," suara Bagus tercekat dan bergetar hebat.
Bagus tidak sanggup lagi menatap mata Febby. Setelah menaruh charger itu, ia segera berbalik badan dan buru-buru keluar, menutup pintu kamarnya sendiri dengan sedikit keras di belakangnya. Di dalam kamarnya, Bagus bersandar di balik pintu dengan napas memburu, bayangan tangan Febby di balik celana pendeknya terus menghantui pikirannya.
=============
=============
Part 4. Nafsu yang Tersalurkan (Lanjutan 1)
POV: Penulis
Bagus masih mematung dengan jantung yang berdegup kencang, menunggu jawaban atas pertanyaannya. Pandangan Febby yang tadi terkunci pada selangkangannya kini perlahan naik, menatap mata Bagus dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara sisa rasa malu dan rasa ingin tahu yang sudah di ujung tanduk.
"Maksud kamu... periksa apa lagi, Feb?" ulang Bagus dengan suara serak. Ia merasa sangat tidak berdaya berdiri di sana dengan kondisi yang begitu terbuka di depan teman kosnya sendiri.
Febby tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia perlahan memajukan wajahnya. Bagus mengira Febby akan beranjak pergi, namun dugaannya salah besar. Febby justru sedikit merunduk, hingga embusan napas hangatnya terasa menyentuh kulit Bagus yang sedang menegang hebat.
"Gus... ini beneran beda banget sama yang biasa aku temuin," bisik Febby pelan, seolah sedang bergumam pada dirinya sendiri. "Boleh aku... aku pastiin sendiri? Aku pengen tau apa ini beneran sekeras yang aku liat..."
Sebelum Bagus sempat mencerna kalimat itu, Febby melakukan sesuatu yang membuat napas Bagus seketika terhenti. Febby tidak menggunakan tangannya, melainkan mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan yang sangat lembut tepat di bagian ujung kejantanan Bagus.
Cup.
Hanya sebuah sentuhan bibir yang singkat, tapi bagi Bagus, rasanya seperti ada aliran listrik yang merambat ke seluruh sarafnya. Tubuhnya tersentak kecil, dan tangannya refleks mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih.
"Feb! Kamu... kamu ngapain?" tanya Bagus panik, suaranya bergetar hebat antara kaget dan sensasi aneh yang mendadak menyerang.
Febby mendongak, menatap Bagus dengan mata yang tampak sangat sayu. "Tadi aku bilang mau periksa, kan?" jawabnya dengan nada lirih. "Jujur, Gus... aku udah nggak karuan dari tadi gara-gara teleponan sama Kevin, tapi pas liat kamu... aku malah jadi makin bingung. Aku cuma pengen ngerasain bedanya..."
Bagus menelan ludah dengan susah payah. Rasa bersalahnya pada Kevin kembali mencuat, tapi melihat Febby yang berada di depannya dengan wajah yang begitu memohon, pertahanannya perlahan menguap.
"Feb... ini nggak bener... Kevin itu pacar kamu," gumam Bagus lemah, meski ia sama sekali tidak menunjukkan gerakan untuk menjauhkan diri.
"Aku tau, Gus... aku tau ini salah," balas Febby pelan, suaranya hampir hilang. "Tapi aku nggak bisa berhenti mikirin ini dari tadi. Asalkan cuma kita yang tau... nggak apa-apa kan?"
Febby kembali menunduk. Kali ini bukan sekadar kecupan singkat, ia membiarkan bibirnya yang hangat menyentuh permukaan kulit Bagus lebih lama, merasakan setiap denyut dan panas yang menguar dari sana dengan penuh rasa ingin tahu yang dalam.
Bagus menelan ludah dengan susah payah. Rasa bersalahnya pada Kevin kembali mencuat, namun melihat Febby yang berada di depannya dengan wajah yang begitu memohon, pertahanannya perlahan menguap.
"Feb... ini nggak bener... Kevin itu pacar kamu," gumam Bagus lemah, meskipun tubuhnya sendiri tidak bisa berbohong bahwa ia sangat menikmati kedekatan ini.
Febby mendongak sejenak, menatap Bagus dengan tatapan yang sangat jernih meski sayu. "Aku tahu, Gus. Aku sayang banget sama Kevin, hatiku tetap punya dia," bisik Febby dengan nada yang jujur, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri sekaligus menenangkan Bagus. "Tapi... aku cuma manusia biasa. Aku penasaran banget sama kamu, sama apa yang aku liat tadi. Ini cuma soal rasa ingin tahu, Gus... nggak lebih."
Bagus terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Keheningan yang berat menyelimuti kamar itu, hanya terdengar suara detak jam dinding dan napas mereka yang saling memburu. Bagus menatap mata Febby, mencoba mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang pahit.
Ada rasa sesak yang aneh di dada Bagus—menyadari bahwa dirinya hanya akan menjadi "objek pembanding"—namun di saat yang sama, gairah yang sudah membakar akal sehatnya membuat ia tidak sanggup untuk berbalik arah.
Bagus terdiam. Keheningan di dalam kamar itu mendadak terasa begitu pekak, hanya menyisakan suara detak jantung yang berpacu di balik dada mereka masing-masing. Bagus menatap Febby yang masih berlutut di depannya; ada pemandangan yang sangat kontras antara wajah Febby yang polos dan posisi mereka yang begitu intim sekarang.
Bagus menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan suaranya yang sudah pecah. Ia memegang bahu Febby, memberikan sedikit jarak agar ia bisa menatap mata wanita itu dengan jelas.
"Jadi... kamu mau apa sekarang, Feb?" tanya Bagus parau.
Pertanyaan itu singkat, namun terasa begitu berat di udara. Febby tertegun, menatap lantai keramik kamar Bagus sejenak sebelum kembali mendongak dengan tatapan yang sangat sayu.
"Aku... aku beneran kentang banget dari tadi, Gus," bisik Febby, suaranya bergetar karena menahan malu sekaligus hasrat yang sudah di ujung tanduk. "Tadi pas vc... Kevin tiba-tiba harus pergi buat kerjaan di saat aku udah hampir... kamu tau kan? Rasanya tuh kayak dijatuhin dari tempat tinggi pas lagi sayang-sayangnya."
Febby menarik napas panjang, mencoba meredam denyut yang masih terasa di bawah sana. "Terus pas aku coba tuntasin sendiri, kamu tiba-tiba ngetok pintu buat ambil charger. Aku kaget setengah mati, gairahku langsung keputus paksa lagi. Dan puncaknya... pas kamu balik lagi buat anter charger yang ketuker tadi."
Febby menelan ludah, suaranya semakin lirih. "Tiga kali, Gus. Tiga kali gairahku dipancing terus diputus gitu aja. Aku bener-bener ngerasa nggak tuntas."
Febby menatap Bagus dengan pandangan memohon, seolah menyerahkan keputusan akhir di tangan pria itu. "Aku cuma mau kita sama-sama puas buat malam ini aja. Aku penasaran banget sama kamu... tapi aku nggak bisa bohongin perasaanku ke Kevin. Aku bakal tetap jadi Febby-nya dia setelah ini. Tapi untuk sekarang... aku pengen ngerasain ini sama kamu. Kamu... apa kamu bisa terima kalau aku cuma minta gitu?"
Bagus memejamkan mata rapat-rapat, rahangnya mengeras hingga urat di lehernya menegang. Penjelasan Febby yang begitu detail tentang rentetan kejadian tadi membuatnya paham bahwa wanita di depannya ini sedang berada dalam kondisi "darurat" seksual yang sangat hebat. Ada rasa takjub sekaligus bangga karena dirinya—dan ukurannya yang besar—menjadi jawaban atas rasa tidak tuntas yang dirasakan Febby terhadap Kevin.
"Oke, Feb," gumam Bagus akhirnya dengan nada pasrah yang sangat dalam. "Intinya aku gamau ngerusak hubungan kalian dan aku rasa kamu juga punya keinginan yang sama. Ayok kita kelarin kentangmu malam ini." Ucap Bagus dengan senyum penuh arti.
Mendengar itu, Febby seolah mendapatkan oksigennya kembali. Ia melepaskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada. Tanpa menunggu sedetik pun, ia kembali menundukkan kepalanya. Kali ini, gerakannya tidak lagi tertahan.
Febby mulai melumat bagian kepala penis Bagus dengan bibirnya yang hangat. Kecupan-kecupan kecil itu perlahan berubah menjadi lumatan yang lebih berani. Ia merasakan tekstur yang begitu padat dan suhu panas yang menguar dari kejantanan Bagus, sesuatu yang jauh lebih mengintimidasi dibandingkan apa pun yang pernah ia rasakan bersama Kevin. Di tengah sensasi itu, Febby tetap memegang teguh janjinya di dalam hati: ini hanya soal fisik, hanya soal rasa penasaran yang harus tuntas malam ini juga akibat akumulasi "kentang" yang menyiksanya sejak tadi.
Di sela-sela isapannya yang semakin intens, sebuah kilasan kekhawatiran sempat melintasi benak Febby. Ia sadar, dengan ukuran Bagus yang begitu dominan dan kontras dari milik Kevin, ada kemungkinan besar dirinya akan ketagihan dan sulit melupakan sensasi ini di kemudian hari. Namun, pikiran rasional itu segera buyar dan tenggelam di bawah gelombang nafsu yang sudah terlanjur menguasai seluruh sarafnya.
Di sisi lain, Bagus pun merasakan pergolakan yang sama. Sambil menikmati setiap inci sentuhan bibir Febby, ia sadar di dalam hatinya bahwa sekali saja pintu ini dibuka, ia pasti akan mendamba untuk mengulangnya lagi setelah malam ini. Ia tahu janji mereka untuk sekadar "menuntaskan malam ini" akan menjadi tantangan yang sangat berat bagi akal sehatnya kelak.
Febby semakin dalam melumat, membiarkan lidahnya menari dengan rakus di sepanjang urat-urat yang menonjol di batang penis Bagus. Dari posisinya yang duduk di kursi, ia memajukan tubuhnya hingga dadanya yang hanya terbalut kardigan rajut menekan paha Bagus. Genggaman tangannya di paha Bagus semakin erat, kuku-kukunya sedikit menusuk kulit pria itu karena sensasi nikmat yang mulai meledak di kepalanya.
"Mmmph... slruph..." Febby mengeluarkan suara isapan yang sangat basah dan berat. Ia memejamkan mata, benar-benar menikmati bagaimana diameter Bagus yang luar biasa tebal itu mengisi seluruh rongga mulutnya hingga terasa penuh sesak.
"Ahh... Gus... enak banget," gumam Febby lirih saat ia melepaskan lumatan sejenak hanya untuk mengambil napas. Matanya mendongak menatap Bagus dengan tatapan binal yang penuh damba. "Punya kamu... kok bisa sesempurna ini sih? Aku suka banget teksturnya... urat-uratnya kerasa banget di lidah aku... panas banget, Gus."
Bagus mengerang rendah, tangannya yang besar merasuk ke sela-sela rambut Febby, bukan hanya untuk mengarahkan, tapi juga sebagai bentuk apresiasi. Ia menatap wajah Febby yang sudah berantakan oleh gairah—bibir yang memerah basah dan mata yang sayu—dengan pandangan yang sangat memuja.
"Kamu juga, Feb... kamu jauh lebih hebat dari yang aku bayangin," bisik Bagus dengan suara serak yang penuh kekaguman. "Mulut kamu... kerasa hangat dan pas banget buat punya aku. Aku nggak nyangka kamu bisa seberani ini, dan jujur... kamu kelihatan cantik banget pas lagi kayak gini."
Febby tersenyum tipis mendengar pujian itu, rona merah di wajahnya semakin pekat. Merasa tersanjung, ia kembali menundukkan kepalanya dengan semangat yang lebih membara. Ia membiarkan bibirnya membalut kepala penis Bagus yang besar, menghisapnya dengan tekanan yang lebih dalam seolah ingin membuktikan bahwa ia memang sehebat yang Bagus katakan.
"Ahhh... Feb... pinter banget kamu," geram Bagus dengan rahang mengeras. "Tarik terus, Feb... iya, kayak gitu. Kamu beneran bikin aku gila malam ini. Aku suka banget cara kamu liatin aku dari tadi."
"Habisnya... aku nggak bisa tahan, Gus," jawab Febby di sela-sela aktivitasnya, suaranya terdengar sangat manja namun binal. "Aku pengen ngerasain semuanya... aku pengen tau seberapa dalam aku bisa bawa kamu masuk."
Febby mulai memompa kepalanya dengan ritme yang lebih dalam, hingga pangkal tenggorokannya sesekali tersedak oleh ukuran Bagus yang mengintimidasi. Namun, bukannya takut, ia justru semakin tertantang. Suara isapan yang basah, desahan napas Febby yang memburu, dan pujian-pujian rendah dari Bagus menciptakan atmosfer yang benar-benar lepas dari segala batasan moral.
Bagus tetap berdiri kokoh, menunjukkan keperkasaannya yang luar biasa. Meskipun rangsangan Febby terasa begitu maksimal, ia mampu menjaga staminanya agar kenikmatan ini tidak berakhir terlalu cepat. Ia ingin Febby benar-benar puas mengeksplorasi setiap jengkal dirinya.
"Kamu bener-bener luar biasa, Feb. Bibir kamu... isapan kamu... ini jauh lebih enak dari apa pun yang pernah aku rasain," bisik Bagus sambil sedikit mendorong pinggulnya ke depan, menambah kedalaman ke dalam mulut Febby yang hangat.
Febby menerima dorongan itu dengan erangan nikmat yang panjang. "Ahhn... Gus... jangan berhenti puji aku... aku suka banget dengernya..." rintihnya pendek sebelum kembali tenggelam dalam lumatan yang lebih liar, benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan apa pun selain sensasi adiktif yang diberikan oleh keperkasaan Bagus.
Bagus merasa kakinya mulai sedikit bergetar karena harus menahan berat tubuh dan gairah yang memuncak secara bersamaan. Ia ingin posisi yang lebih stabil agar bisa menikmati pelayanan Febby dengan lebih maksimal.
"Feb, bentar..." bisik Bagus parau. Ia memegang bahu Febby, memberi isyarat agar wanita itu mundur sejenak. Bagus kemudian menarik kursi meja kerja itu sedikit ke belakang dan mendudukinya, membuat posisinya kini lebih rendah dan santai.
Febby tidak membuang waktu. Tanpa perlu diminta, ia segera turun dari kursi dan berpindah posisi menjadi berlutut di atas lantai keramik di antara kedua kaki Bagus yang terbuka lebar. Kini, kejantanan Bagus yang tegang sempurna berada tepat di depan wajahnya, sejajar dengan bibirnya yang masih basah.
"Ahhh... Gus, dari sini kelihatan makin gede banget," bisik Febby dengan napas yang memburu. Matanya berkilat menatap ujung penis Bagus yang berdenyut pelan. Ia segera menyambar kembali batang kokoh itu, melumatnya dengan lebih binal dari sebelumnya.
Bagus menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, membiarkan kepalanya terdongak ke langit-langit. Kedua tangannya kini merasuk dalam ke sela-sela rambut Febby, mencengkeramnya dengan mantap.
"Slruph... mmmph... ahhh..." Febby menghisapnya dengan tarikan yang sangat kuat.
"Ugh... Feb... ya Tuhan, pelan-pelan..." geram Bagus dengan rahang mengeras. Sensasi saat Febby berlutut membuatnya merasa sangat dominan. Sesekali, Bagus tidak tahan hanya diam; tangannya yang berada di rambut Febby mulai memberikan dorongan ritmis. Ia menekan kepala Febby maju, memaksa batangnya yang besar itu masuk lebih dalam hingga menyentuh tenggorokan Febby.
"Mmmgh! Mmmph!" Febby mengerang teredam saat merasakan ukuran Bagus memenuhi seluruh rongga mulutnya hingga ke pangkal. Alih-alih menolak, Febby justru semakin liar. Ia memegang paha kekar Bagus, menarik tubuhnya sendiri agar bisa menelan lebih banyak lagi.
"Iya... telan semuanya, Feb... pinter banget kamu," bisik Bagus dengan suara yang sangat rendah dan pecah. Ia kembali mendorong kepala Febby masuk, membiarkan kepalanya sendiri terombang-ambing oleh nikmat yang luar biasa. "Ahhh... gila... mulut kamu bener-bener surga, Feb. Kenceng banget..."
Febby melepaskan hisapannya sejenak, wajahnya memerah padam dengan napas yang tersengal-sengal. "Gus... ahh... aku suka banget pas kamu dorong kayak tadi... rasanya penuh banget di dalem sini," rintihnya binal, sebelum kembali melahap kepala penis Bagus dan memainkannya dengan lidah yang lincah.
Suara isapan yang basah dan berat ( slruph, slruph ) mendominasi keheningan kamar. Bagus sesekali melenguh keras saat lidah Febby menyapu bagian bawah kepalanya. "Ahhh... Feb... ssshhh... sedikit lagi aku bisa lepas kendali kalau kamu terus begini."
Febby justru mendongak sambil tetap mempertahankan batang Bagus di bibirnya, menatap Bagus dengan mata yang sangat menantang dan binal, seolah sengaja ingin melihat pria perkasa itu menyerah di bawah mulutnya. Ia mempercepat ritme pompanya, membiarkan Bagus merasakan betapa haus dan laparnya dia akan sensasi yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Bagus merasakan sensasi yang luar biasa hingga ia harus mencengkeram sandaran kursi dengan sangat kencang. Posisi Febby yang berlutut di antara kedua kakinya memberikan kendali penuh bagi Bagus untuk menikmati setiap inci keahlian wanita itu.
"Sumpah, Feb... ssshhh... kamu pinter banget," geram Bagus dengan suara yang hampir habis. Ia merasakan bagaimana lidah Febby bekerja dengan sangat teknis, menekan di titik-titik saraf yang paling sensitif. "Aku nggak nyangka kamu bakal sejago ini... mulut kamu bener-bener tahu cara bikin aku gila."
Febby melepaskan isapannya sejenak, meninggalkan jejak saliva yang mengkilap di sepanjang batang penis Bagus yang berdenyut. Ia mendongak dengan napas yang masih tersengal, matanya terlihat sangat binal namun jujur.
"Aku emang suka banget ngelakuin ini, Gus... aku suka manjain Kevin dengan mulutku," bisik Febby dengan suara yang serak dan manja. Ia mengusap sudut bibirnya yang mulai memerah. "Tapi biasanya... Kevin nggak sekuat kamu. Baru sebentar aku mainin, dia udah langsung keluar. Makanya aku nggak pernah bisa benar-benar puas eksplorasi kayak gini."
Febby kembali memegang batang kokoh Bagus, meremasnya dengan penuh kekaguman. "Tapi kamu... kamu beda banget, Gus. Dari tadi aku udah usaha keras, tapi kamu malah makin keras dan kokoh. Aku jadi makin semangat... aku pengen tahu seberapa lama kamu bisa tahan sama mulutku."
Mendengar pengakuan Febby yang membandingkannya dengan Kevin, harga diri pria Bagus melambung tinggi. Ada kepuasan batin tersendiri saat tahu bahwa ketahanannya jauh melampaui pacar Febby. Bagus kembali merasuk ke sela rambut Febby, menariknya sedikit agar wanita itu kembali mendekat ke arah kejantannya.
"Kalau gitu, jangan berhenti, Feb," bisik Bagus dengan nada menantang dan penuh otoritas. "Tuntasin semua rasa penasaran kamu yang nggak bisa kamu dapet dari dia. Aku bakal kasih kamu semua waktu yang kamu butuhin buat puas-puasin mulut kamu malam ini."
"Ahhh... Gus, kamu beneran cowok perkasa," rintih Febby binal. Ia segera membuka mulutnya lagi, kali ini lebih lebar dari sebelumnya.
Slruph... mmmph!
Febby melahapnya dengan rakus. Bagus tidak tinggal diam; ia mulai memberikan dorongan pinggul yang lebih dalam, membuat penisnya masuk hingga pangkal dan memaksa Febby mengerang teredam di sela-sela tenggorokannya. Suasana di kamar itu semakin memanas, suara isapan yang basah dan berat ( slurph, slruph ) bercampur dengan erangan kepuasan Bagus yang sesekali melenguh keras.
"Gila, Feb... mulut kamu bener-bener pas banget," desah Bagus dengan mata terpejam rapat. "Isap terus... iya, tekan di situ... ahhh, fuck... enak banget, Feb!"
Febby semakin liar, ia merasa sangat dihargai oleh pujian-pujian Bagus. Ia menggunakan tangannya untuk membantu memompa, sementara mulutnya memberikan tekanan isapan yang sangat kuat, benar-benar ingin membuktikan bahwa ia adalah "ahli" dalam hal ini kepada pria yang sanggup mengimbanginya.
Gairah yang berkumpul di mulut Febby kini menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhnya, terutama ke area di antara kedua pahanya yang sudah sangat basah. Ia melepaskan lumatan dari kejantanan Bagus dengan suara kecapan yang basah, lalu bangkit berdiri dengan gerakan yang terburu-buru.
Tanpa basa-basi, Febby langsung menyambar bibir Bagus. Mereka berciuman dengan sangat liar dan kasar; lidah mereka saling beradu, bertukar saliva di tengah napas yang tersengal. Febby merapatkan tubuhnya, membiarkan dadanya yang hanya terbalut kardigan rajut menekan dada bidang Bagus.
"Gus... ahh... aku nggak tahan lagi," rintih Febby di sela-sela ciuman panas mereka. Napasnya terasa membakar di leher Bagus. "Aku mau lebih... aku harus periksa kontol kamu lebih jauh lagi. Aku pengen ngerasain ini di dalem aku..."
Febby menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Bagus dengan mata yang sudah benar-benar kehilangan kewarasan. "Gus... kamu punya kondom? Kamu simpan stok di sini?"
Bagus terdiam sejenak, napasnya berat dan wajahnya merah padam. Ia menggeleng perlahan dengan suara parau. "Enggak ada, Feb. Aku nggak punya... aku udah lama jomblo, nggak kepikiran buat sedia itu di kamar."
Mendengar Bagus tidak punya kondom, Febby sempat mematung. Logikanya yang tersisa mencoba menarik rem darurat. "Gus... serius nggak ada? Tapi... tapi bahaya, Gus. Aku sama Kevin selalu pake, aku nggak pernah berani kalau nggak ada pengaman..." gumamnya dengan suara yang mulai pecah karena bingung. Ia mencoba menjauhkan sedikit pinggulnya, namun kakinya sudah terlalu lemas untuk benar-benar melangkah pergi.
Bagus tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengambil langkah maju, memojokkan Febby hingga punggung wanita itu membentur meja kerja. Bagus merengkuh pinggang Febby dengan kedua tangannya yang besar, lalu dengan sengaja ia menempelkan kejantanannya yang panas dan keras tepat di belahan memek Febby yang terhalang kain celana tipis.
"Ahhh... Gus..." Febby mendesah keras, kepalanya terkulai ke bahu Bagus.
Bagus mulai menghujani leher Febby dengan ciuman-ciuman basah dan isapan yang dalam, meninggalkan tanda kemerahan di sana. Sambil bibirnya bekerja di leher, pinggul Bagus mulai bergerak pelan, memberikan gesekan ritmis yang menekan titik sensitif Febby di balik pakaiannya.
"Gimana, Feb? Masih mau mikirin kondom?" bisik Bagus tepat di telinga Febby, suaranya sangat rendah dan penuh godaan. "Punya aku udah sesak banget, dan aku bisa ngerasa di bawah sana kamu udah basah kuyup. Kamu beneran mau berhenti sekarang cuma gara-gara nggak ada karet?"
"Gus... ssshhh... please..." Febby meremas rambut Bagus, matanya terpejam rapat. Setiap gesekan dari kejantanan Bagus yang besar itu terasa seperti sengatan listrik yang membakar sisa kewarasannya. Ukuran Bagus yang mengintimidasi itu seolah sedang "mengetuk" pintu kewarasannya melalui balik kain.
Bagus semakin menjadi-jadi. Ia mengangkat satu kaki Febby dan melingkarkannya ke pinggangnya, membuat posisi mereka semakin rapat tanpa celah. Kini, penis Bagus yang tegang sempurna itu benar-benar menekan telak di pusat gairah Febby. Bagus menggerakkan pinggulnya lebih tegas, menggerus area sensitif Febby dengan tekanan yang pas.
"Nngghhh! Gus... ahh, enak banget..." Febby mulai mengerang liar. Napasnya memburu, keringat dingin mulai muncul di dahinya. "Gede banget... Gus, kerasa banget punya kamu di situ..."
"Ini baru di luar, Feb. Bayangin gimana rasanya kalau ini semua masuk ke dalam dan kamu ngerasain panasnya langsung tanpa penghalang apa pun," goda Bagus lagi, sambil tangannya mulai merayap masuk ke balik kardigan Febby, meremas pinggangnya dengan posesif. "Yakin mau pake kondom? Bukannya kamu pengen periksa semuanya? Kalau pake karet, kamu nggak bakal tahu rasa aslinya..."
Febby sudah tidak kuat lagi. Pertahanannya hancur berkeping-keping. Rasa "kentang" yang terakumulasi sejak vcs tadi, ditambah godaan fisik Bagus yang begitu dominan, membuatnya benar-benar hilang akal. Logika tentang keamanan dan Kevin menguap, digantikan oleh rasa lapar akan ukuran Bagus yang begitu menggiurkan.
"Persetan... ahh... persetan sama kondomnya," rintih Febby dengan suara binal yang sangat nekat. Ia mencengkeram wajah Bagus dan menciumnya dengan kasar, menyalurkan semua rasa frustrasinya. "Masukin, Gus! Kontolmu jadi kontol kedua dihidupku! Kontolmu yang pertama kali bakal masukin aku ga pake kondom, Gus! Aku nggak peduli lagi... aku mau ngerasain punya kamu langsung di dalem aku. Masukin, Gus... please..."
Mendengar permohonan yang begitu pasrah dan liar dari Febby, Bagus tidak menunggu lagi. Ia menyeringai puas, lalu mengangkat tubuh Febby sepenuhnya dan membawanya menuju tempat tidur.
Begitu kaki mereka menyentuh tepian kasur, Bagus langsung menendang sisa celananya yang tadi sudah melorot hingga terlepas sepenuhnya. Sementara itu, tangan Bagus bergerak cepat membuka kaosnya. Ia kemudian membuka kancing kardigan rajut Febby satu per satu dengan napas yang memburu. Febby membantu dengan gerakan tergesa, menyibakkan kain itu hingga menampakkan tubuh bagian atasnya yang polos tanpa bra. Payudaranya yang kenyal dengan puting yang sudah mengeras sempurna kini terpampang jelas di depan mata Bagus.
"Gila... kamu cantik banget, Feb," bisik Bagus sesaat sebelum ia menarik turun celana Febby dalam satu gerakan cepat.
Kini keduanya telanjang bulat di atas kasur. Febby segera merebahkan dirinya, napasnya tersengal-sengal saat ia merasakan sprei dingin bersentuhan dengan kulit punggungnya yang panas. Ia membuka kedua pahanya lebar-lebar secara naluriah, membiarkan area kewanitaannya yang sudah sangat basah dan berdenyut itu terekspos sepenuhnya di bawah tatapan lapar Bagus.
Bagus tidak langsung melakukan penetrasi. Ia merangkak naik, menindih tubuh Febby dengan otot-otot dadanya yang keras. Ia kembali menyambar bibir Febby dengan ciuman yang menuntut, sementara tangannya mulai menjelajahi keindahan tubuh wanita itu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.
"Gus... ahh... puji aku lagi," rintih Febby di sela ciuman mereka.
Bagus melepaskan ciumannya dan turun ke arah payudara Febby. Ia melumat salah satu puting yang sudah mengeras itu dengan mulutnya, sementara tangannya yang lain meremas payudara yang satunya dengan posesif. "Kamu beneran sempurna, Feb. Kulit kamu, aroma kamu... semuanya bikin aku susah buat nahan diri lebih lama lagi."
"Nngghhh! Gus... geli tapi enak banget," desah Febby sambil melengkungkan punggungnya.
Sambil terus memanjakan payudara Febby, tangan kanan Bagus perlahan merayap turun, melewati perut rata Febby yang kencang, hingga jemarinya menyentuh area yang sudah sangat becek di antara kedua paha Febby. Begitu jarinya menyentuh klitoris Febby, wanita itu tersentak hebat.
"Ssshhh... basah banget, Feb," bisik Bagus di telinga Febby sambil mulai memainkan jarinya, melakukan fingering dengan ritme yang lambat namun menekan. Suara becek dari cairan alami Febby yang beradu dengan jemari Bagus ( plok, ceplus ) memenuhi keheningan kamar. "Kamu beneran selemes ini cuma karena liat punya aku tadi?"
"Iya... ahh... karena kamu beda, Gus," rintih Febby dengan mata terpejam, menikmati setiap gesekan jari Bagus yang terasa sangat ahli. "Jari kamu aja kerasa kuat banget... gimana kalau punya kamu yang masuk... ahhn, Gus... masukin jarinya lebih dalem..."
Bagus menuruti permintaan itu, ia memasukkan dua jarinya sekaligus ke dalam lubang Febby yang menjepit ketat. Ia merasakan dinding-dinding hangat itu membalut jemarinya dengan sangat kuat. "Kenceng banget, Feb. Kamu beneran kayak belum pernah disentuh cowok lain selain dia."
"Cuma dia, Gus... ahh, cuma dia kontol yang pernah masuk ke aku," desis Febby parau. Ia memegang tangan Bagus, memandu gerakan jari pria itu agar lebih liar.
Bagus semakin meningkatkan intensitas fingering-nya. Jari-jarinya bergerak dengan lincah dan terampil di dalam dan di sekitar klitoris Febby. Ia merasakan tubuh Febby semakin menegang di bawahnya, napasnya semakin cepat dan pendek.
Febby mulai meracau tak jelas, desahannya semakin keras dan histeris. "Aaaahhh... Gus... ohhh... itu... itu dia..." erangnya dengan suara tercekat, pinggulnya bergerak naik turun tanpa kendali mengikuti irama jari-jari Bagus.
Entah karena Febby memang sudah sangat terangsang dan kentang sejak awal, atau karena teknik fingering Bagus yang begitu tepat sasaran, Febby merasa gelombang kenikmatan yang luar biasa menjalari seluruh tubuhnya. Ia mencengkeram bahu Bagus erat-erat, kukunya sedikit mencengkeram kulit Bagus.
"Mmmph... Gus... aku... aku mau keluar..." bisiknya dengan suara bergetar, matanya terpejam rapat, air mata kebahagiaan mungkin sudah menggenang di sudut matanya. Ia merasakan sensasi puncak yang semakin mendekat.
Bagus merasakan denyutan hebat di dalam vagina Febby, pertanda bahwa orgasme sudah di ambang pintu. Ia semakin mempercepat gerakan jarinya, ingin memberikan Febby pelepasan yang maksimal.
"Oh Tuhan... Gus... aaaaahhhhhh...!" Febby menjerit keras saat gelombang orgasme dahsyat menghantam tubuhnya. Otot-otot vaginanya berkontraksi hebat mencengkeram jari-jari Bagus. Tubuhnya menegang lalu melemas, napasnya tersengal-sengal.
Bagus terus memberikan sentuhan lembut di sana hingga kontraksi orgasme Febby mereda. Ia mencium lembut kening Febby yang berkeringat, merasakan kehangatan tubuhnya yang baru saja mencapai puncak kenikmatan.
Setelah gelombang orgasme Febby mereda, napasnya masih tersengal-sengal dan tubuhnya terasa lemas. Ia membuka matanya perlahan dan menatap Bagus dengan tatapan sayu namun penuh kepuasan.
"Gila... Gus..." bisik Febby dengan suara serak, masih merasakan sisa-sisa kenikmatan yang luar biasa. "Ini... pertama kalinya aku bisa keluar secepat ini... cuma karena fingering." Ia tampak benar-benar terkejut dan kagum dengan apa yang baru saja ia alami.
Ia mengusap pipi Bagus dengan lembut, senyum kecil terukir di bibirnya. "Kamu hebat banget sih, Gus..." pujinya dengan nada tulus. "Nggak nyangka tangan kamu... seajaib itu."
Bagus tersenyum mendengar pujian Febby. Rasa bangga dan puas memenuhi dadanya karena berhasil memberikan kenikmatan yang begitu intens bagi Febby. Ia membalas usapan Febby di pipinya.
Setelah beberapa saat membiarkan Febby menikmati sisa-sisa orgasmenya, Bagus bertanya dengan nada lembut namun penuh harap, "Feb... kamu masih sanggup?" Ia menatap mata Febby, ingin tahu apakah Febby masih memiliki keinginan untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, mengingat mereka berdua sama-sama sudah sangat terangsang.
Febby mengerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya. Ia kembali menatap penis Bagus yang masih ereksi di dekatnya. Gairah dalam dirinya belum sepenuhnya padam, dan rasa ingin tahu untuk merasakan kejantanan Bagus di dalam dirinya masih sangat besar.
Ia menarik napas dalam-dalam dan mengangguk pelan dengan senyum menggoda. "Sanggup banget, Gus..." bisiknya dengan nada penuh hasrat. "Masa iya cuma keluar sekali? hihihi..."
=============
=============
Part 5. Nafsu yang Tersalurkan (Lanjutan 2)
POV: Penulis
Mendengar jawaban Febby yang penuh hasrat, Bagus tersenyum penuh arti. Febby dengan gerakan anggun bangkit dari samping Bagus dan kini berada di atas tubuhnya, menghadap wajah Bagus.
Dengan tatapan penuh gairah, Febby kembali meraih penis Bagus yang masih berdiri tegak. Ia membelainya sejenak dengan lembut, merasakan denyutan di dalamnya. Kemudian, tanpa ragu, ia mendekatkan bibirnya.
Kali ini, Febby memberikan lebih banyak ludah pada penis Bagus sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya. Sensasi penis Bagus yang basah dan licin semakin meningkatkan kenikmatan bagi keduanya.
Isapan Febby kali ini terasa lebih dalam dan lebih intens. Ia memompa mulutnya naik turun dengan ritme yang menggairahkan, sesekali menjilat kepala penis Bagus dengan lidahnya. Suara decapan ludah yang bercampur dengan desahan mereka semakin memenuhi kamar Bagus.
Bagus kembali mengerang nikmat, tangannya meraih pinggul Febby, memegangnya erat seolah ingin mengarahkan gerakan Febby. Ia menikmati setiap sensasi yang Febby berikan dan merasa tertantang untuk mempertahankan ereksinya.
Febby terus menyepong Bagus dengan penuh semangat, sesekali menatap mata Bagus dengan senyum menggoda. Ia menikmati setiap reaksi yang ia timbulkan pada Bagus, dan gairahnya sendiri pun semakin membuncah.
"Enak banget, ya, Gus?" bisiknya di sela-sela isapannya, merasakan ereksi Bagus semakin mengeras di dalam mulutnya.
Bagus hanya bisa menjawab dengan erangan tertahan, terlalu menikmati sensasi yang Febby berikan. Ia merasa semakin dalam dalam pusaran kenikmatan, namun puncak orgasmenya masih terasa jauh.
Merasakan penis Bagus yang semakin keras dan ia sendiri yang masih diliputi gejolak nafsu, Febby melepaskan isapannya. Ia menatap Bagus dengan mata sayu yang penuh hasrat, senyum menggoda bermain di bibirnya.
Dengan gerakan perlahan namun penuh tekad, Febby mengangkat pinggulnya dan memposisikan dirinya di atas tubuh Bagus. Ia meraih penis Bagus dengan kedua tangannya, membelainya dengan lembut dari pangkal hingga kepala.
Bagus hanya bisa menatap Febby dengan napas tertahan, merasakan sentuhan lembut Febby di kejantanannya dan mengantisipasi langkah selanjutnya. Ereksinya semakin menguat melihat Febby yang begitu bersemangat.
Febby mengarahkan kepala penis Bagus ke vaginanya yang terasa basah dan berdenyut. Saat penis Bagus mulai memasuki dirinya sedikit demi sedikit, Febby menatap mata Bagus dengan intensitas yang semakin membara. Desahan kecil lolos dari bibirnya saat merasakan sensasi penuh dan nikmat yang mulai menjalar.
"Gus..." bisik Febby dengan suara serak di antara desahannya. "Ini... pertama kalinya... ada kontol... tanpa kondom... masuk ke memek aku..." Pengakuan itu terlontar begitu saja, menekankan betapa spesialnya momen ini baginya.
Ia menarik napas dalam-dalam lagi dan perlahan menurunkan tubuhnya. Ia merasakan penis Bagus semakin dalam merobek kehangatan di dalam dirinya. Matanya kembali melebar karena terkejut dengan ukuran yang ia rasakan.
"Ya Tuhan... ini... bener-bener besar, Gus..." bisiknya lagi, kali ini dengan nada kagum yang bercampur dengan sedikit rasa terkejut dengan seberapa penuh ia merasa. Ia merasakan peregangan yang berbeda dari biasanya.
Bagus merasakan Febby yang semakin dalam merengkuhnya, merasakan kehangatan dan keketatan yang luar biasa di sekitar penisnya. Ia mengerang pelan menikmati sensasi yang begitu intens. "Dan memek kamu... uhh... sempit banget, Feb..." bisiknya dengan suara tercekat, merasakan cengkeraman erat di sekeliling kejantanannya.
Febby kini sudah duduk sepenuhnya di atas Bagus, penis Bagus tertanam sepenuhnya di dalam dirinya. Ia menahan napas sejenak, menyesuaikan diri dengan ukuran yang memenuhi dirinya dan merasakan betapa eratnya cengkeraman vagina Bagus. Kemudian, ia menatap Bagus dengan senyum kemenangan yang penuh gairah. "Nah... sekarang kita benar-benar kenalan lebih dalam, kan?" bisiknya dengan nada sensual sebelum mulai bergerak naik turun perlahan, merasakan setiap gesekan yang terjadi di antara tubuh mereka.
Febby mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan, bergerak naik turun di atas penis Bagus yang tertanam di dalam dirinya. Setiap gerakan menciptakan gesekan yang nikmat di antara tubuh mereka, membuat desahan-desahan kecil lolos dari bibir Febby.
Setelah beberapa saat menyesuaikan diri, Febby mengubah gerakannya menjadi maju mundur secara perlahan. Ia merasakan setiap inci penis Bagus yang mengisi dirinya, sensasi penuh dan hangat yang membuatnya semakin terangsang.
"Aaaahhh... Gus..." desah Febby tertahan, menikmati setiap gerakan yang ia lakukan. Ia merasakan kenikmatan yang berbeda dari biasanya, mungkin karena ukuran penis Bagus yang lebih besar atau karena sensasi tanpa kondom yang lebih intens.
Ia terus bergerak maju mundur dengan ritme yang semakin meningkat, sesekali mencondongkan tubuhnya ke depan dan mencium bibir Bagus dengan penuh gairah. Tangannya mencengkeram bahu Bagus dengan erat, menahan keseimbangan dan menikmati setiap sentuhan kulit mereka.
Desahan Febby semakin keras dan panjang, menunjukkan betapa nikmatnya sensasi yang ia rasakan. Ia memejamkan matanya, sepenuhnya hanyut dalam gerakan dan kenikmatan yang ditimbulkan oleh penis Bagus di dalam dirinya.
Bagus hanya bisa mendesah dan mengerang menikmati setiap gerakan Febby di atasnya. Ia merasakan cengkeraman ketat vagina Febby di sekitar penisnya, dan setiap gerakan naik turun serta maju mundur Febby semakin meningkatkan gairahnya. Meskipun kenikmatan yang ia rasakan sangat intens, Bagus yang tahan lama masih merasa jauh dari klimaks. Ia menikmati setiap detik kebersamaan intim ini dengan Febby, merasakan setiap gesekan dan desahan yang keluar dari bibirnya.
Febby semakin hanyut dalam kenikmatan yang diberikan oleh penis Bagus di dalam dirinya. Bayangan tentang Kevin seolah menghilang dari benaknya, digantikan oleh fokus sepenuhnya pada sensasi yang ia rasakan saat ini. Setiap gerakan naik turun dan maju mundur yang ia lakukan terasa begitu nikmat, dan ia ingin terus merasakannya.
"Mmmhhh... enak banget, Gus..." desah Febby berulang kali, semakin mempercepat gerakannya. Ia benar-benar terhipnotis oleh sensasi yang ditimbulkan oleh kejantanan Bagus di dalam dirinya.
Sementara Febby bergerak di atasnya, Bagus mengamati tubuh Febby dengan tatapan penuh kekaguman. Lekuk tubuh Febby yang bergerak naik turun di atasnya terlihat begitu seksi dan menggairahkan. Ia mengangkat tangannya dan membelai pinggang Febby yang ramping, lalu perlahan naik hingga mencapai payudaranya yang tanpa bra.
Bagus meremas lembut payudara Febby, merasakan putingnya yang menegang di bawah telapak tangannya. "Kamu seksi banget sih, Feb..." bisiknya dengan suara serak yang penuh hasrat, matanya tidak lepas dari tubuh Febby yang bergerak di atasnya.
Febby semakin mendesah hebat mendengar pujian Bagus dan merasakan sentuhan tangannya di payudaranya. Ia semakin mempercepat gerakannya, merasa semakin dekat dengan orgasme yang kedua.
"Aaaahhh... Gus... jangan berhenti..." pintanya dengan nada memohon, menikmati setiap sentuhan dan gerakan yang mereka lakukan bersama. Ia benar-benar terbuai dalam momen intim ini, melupakan sejenak tentang Kevin dan hanya fokus pada kenikmatan yang Bagus berikan.
Bagus semakin bersemangat mendengar desahan dan permintaan Febby. Ia terus membelai payudara Febby sambil menikmati setiap gerakan Febby di atasnya. Ia merasa sangat beruntung bisa berbagi momen intim yang begitu intens dengan tetangga kosnya ini.
Gerakan Febby di atas Bagus semakin cepat dan intens. Desahannya berubah menjadi erangan tertahan, tanda bahwa puncak kenikmatan sudah semakin dekat. Cengkeramannya pada bahu Bagus semakin erat, tubuhnya menegang sejenak sebelum akhirnya bergetar hebat.
"Oh Tuhan... Gus... aaaaahhhhhh...!" Febby menjerit keras saat gelombang orgasme kedua menghantam tubuhnya. Kontraksi hebat kembali ia rasakan di vaginanya, mencengkeram erat penis Bagus yang masih tertanam di dalamnya. Ia melemaskan tubuhnya dan ambruk di atas dada Bagus, napasnya tersengal-sengal.
Bagus merasakan kontraksi hebat di sekitar penisnya dan mengerang nikmat. Meskipun ia belum mencapai klimaksnya, ia merasa sangat puas bisa memberikan kenikmatan yang begitu dahsyat bagi Febby hingga dua kali.
Febby masih terengah-engah di atas dada Bagus, wajahnya memerah dan rambutnya berantakan. Ia memeluk erat tubuh Bagus, merasakan detak jantungnya yang masih berpacu cepat.
"Gila... Gus..." bisik Febby dengan suara serak yang penuh kepuasan. "Kamu... hebat banget..." Ia mendongak sedikit dan menatap mata Bagus dengan senyum lebar. "Nggak nyangka... kamu sehebat ini di ranjang." Pujian itu terlontar tulus dari hatinya.
Ia mengecup singkat bibir Bagus, masih terlalu lemas untuk bergerak banyak. "Makasih ya, Gus... buat kenalan yang luar biasa ini..." bisiknya lagi sebelum kembali merebahkan diri di dada Bagus, menikmati sisa-sisa orgasmenya.
Bagus memeluk erat tubuh Febby, merasakan kehangatannya dan detak jantungnya yang mulai melambat. Rasa bangga dan kebahagiaan memenuhi dadanya. Ia merasa sangat dekat dengan Febby saat ini, melupakan status mereka sebagai tetangga kos.
Beberapa saat Febby berbaring lemas di atas dada Bagus, menikmati sisa-sisa orgasmenya. Napasnya perlahan mulai teratur. Bagus merasakan Febby yang mulai rileks, namun ereksinya sendiri masih terasa kuat dan mendesak.
Tanpa menghiraukan Febby yang masih terengah-engah, Bagus mulai menggerakkan pinggulnya perlahan, menggesekkan penisnya yang masih tertanam di dalam Febby. Gerakannya semakin lama semakin terasa, tidak lagi sekadar sentuhan lembut.
Febby merasakan pergerakan Bagus yang semakin jelas di dalam dirinya. Ia mendesah pelan, membuka matanya dan menatap Bagus dengan sedikit kelelahan dan terkejut.
"Gus..." bisik Febby dengan suara serak, masih merasa lemas setelah orgasme yang bertubi-tubi. "Aku masih capek..."
Bagus terus bergerak, meskipun pelan, namun tidak menghentikannya. Ia menatap mata Febby dengan tatapan penuh hasrat, seolah tidak mendengar keluhan Febby. "Aku pengen terus ngerasain kamu, Feb," bisiknya dengan nada rendah yang penuh keinginan, tangannya membelai pinggul Febby.
Ia sedikit mempercepat gerakannya, tidak lagi terlalu memperhatikan kondisi Febby yang tampak masih belum pulih sepenuhnya. Hasratnya untuk terus bersatu dengan Febby terlalu kuat untuk ditahan.
Febby kembali mendesah, merasakan sensasi yang meskipun tidak seintens sebelumnya, tetap terasa. Ia memejamkan matanya sejenak, merasakan tubuhnya yang masih lelah dipaksa untuk kembali aktif.
"Gus... pelan-pelan..." pinta Febby dengan suara lirih, mencoba untuk mengatur ritme Bagus meskipun tenaganya belum pulih.
Bagus terus bergerak dengan ritmenya sendiri, tidak terlalu memperdulikan permintaan Febby untuk melambat. Ia terlalu fokus pada kenikmatan yang ia rasakan dan keinginannya untuk terus bersama Febby.
Meskipun awalnya merasa lelah, gerakan Bagus yang terus-menerus dan sensasi penisnya yang masih tertanam di dalam dirinya perlahan kembali membangkitkan gairah Febby. Desahan-desahannya mulai terdengar lagi, kali ini bercampur dengan sedikit erangan kenikmatan.
Tidak sampai dua menit Bagus memompa tubuhnya dengan ritme yang stabil, Febby merasakan gelombang kenikmatan yang semakin kuat menghantam dirinya. Sensasi yang berbeda dan lebih intens dari orgasme sebelumnya mulai menjalar di seluruh tubuhnya.
"Ohhh... Gus... ini... ini beda..." bisik Febby dengan suara tercekat, merasakan tekanan yang semakin kuat di perut bagian bawahnya. Ia mencengkeram bahu Bagus dengan erat, merasakan sensasi aneh namun nikmat yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Tiba-tiba, cairan hangat menyembur keluar dari vaginanya, membasahi perut Bagus. Febby terkejut dan merasakan sensasi yang luar biasa intens. Ia menjerit keras, "Aaaaaahhhhhh...!" Tubuhnya bergetar hebat, dan ia merasakan pelepasan yang jauh lebih dahsyat dari orgasme-orgasme sebelumnya.
Bagus merasakan cairan hangat membasahi perutnya dan merasakan kontraksi hebat di sekitar penisnya. Ia terkejut namun juga menyadari bahwa Febby baru saja mengalami squirt. Ia mengerang nikmat, merasakan sensasi yang berbeda dan luar biasa ini.
Febby masih terengah-engah di atas tubuh Bagus, merasakan sisa-sisa kenikmatan yang luar biasa. Ia membuka matanya dengan tatapan terkejut dan kagum. "Gus... apa... apa ini?" bisiknya dengan suara bergetar, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Bagus memeluk erat tubuh Febby yang basah. "Kamu... kamu squirt, sayang..." bisiknya lembut, merasakan kebahagiaan dan keintiman yang semakin mendalam di antara mereka.
Febby masih tampak bingung namun juga sangat puas. Ia baru saja mengalami pengalaman seksual yang benar-benar baru dan tak terlupakan.
Febby ambruk lemas di atas dada Bagus, masih terengah-engah dan merasakan sisa-sisa gelombang kenikmatan yang luar biasa. Keduanya terdiam beberapa saat, hanya suara napas mereka yang memenuhi kamar. Cairan hangat bekas squirt Febby terasa sedikit lengket di perut Bagus.
Kurang lebih lima menit berlalu dalam keheningan yang intim. Febby mulai merasa tenaganya sedikit pulih, meskipun masih terasa lemas. Bagus yang sedari tadi memeluk Febby dengan erat, merasakan Febby mulai bergerak sedikit.
Dengan suara lembut, Bagus berbisik di telinga Febby, "Feb... ganti gaya yuk?"
Febby sedikit mengangkat kepalanya, menatap Bagus dengan mata sayu namun penuh minat. "Gaya apa, Gus?" tanyanya dengan suara serak.
"Doggy yuk?" tawar Bagus dengan nada sedikit menggoda. Ia membayangkan pemandangan indah tubuh Febby dari belakang dan ingin merasakan sensasi penetrasi dari sudut yang berbeda.
Mata Febby berbinar mendengar tawaran Bagus. Ia belum pernah mencoba posisi doggy style sebelumnya, dan rasa penasaran bercampur dengan gairah kembali menggelora dalam dirinya.
"Hmm... boleh deh, Gus..." jawab Febby dengan senyum nakal. "Aku pengen tahu... seberapa dalam kamu bisa masuk dari belakang."
Dengan perlahan, Febby bangkit dari atas Bagus dan mengambil posisi merangkak di atas kasur. Ia menoleh ke belakang, menatap Bagus dengan tatapan menantang. "Ayo, Gus... tunjukkin kedalaman kamu."
Bagus tersenyum penuh arti melihat kesediaan dan antusiasme Febby. Ia segera berlutut di belakang Febby, siap untuk melanjutkan petualangan intim mereka ke babak berikutnya.
Dengan hati-hati, Bagus mengarahkan penisnya ke pintu masuk vagina Febby yang masih terasa basah. Sentuhan pertama kulit bertemu kulit kembali membangkitkan gairah keduanya. Perlahan, ia mendorongkan kejantanannya masuk ke dalam Febby dari belakang.
Febby menahan napas sejenak saat merasakan penis Bagus mulai memenuhi dirinya dari sudut yang berbeda. Sensasi penuh dan dalam langsung terasa. Ia mendongakkan kepalanya sedikit, bersandar pada kedua tangannya yang menumpu tubuhnya di kasur, dan mendesah pelan. "Hhhng..."
Saat Bagus semakin dalam memasukinya, Febby merasakan peregangan yang lebih intens di dalam dirinya. Ukuran penis Bagus terasa semakin besar saat menelusuri setiap sudut vaginanya dari belakang. Sensasi ini terasa berbeda dan lebih menggelora dari posisi sebelumnya.
"Ini... sshh... makin gede Gus" bisik Febby dengan nada terengah-engah, merasakan penis Bagus yang terasa semakin kokoh dan memenuhi dirinya dengan lebih maksimal. "Dan shhh... makin dalam juga..." Ia merasakan Bagus bisa menjangkau titik-titik sensitif yang berbeda dari posisi woman on top.
Bagus yang kini berada di belakang Febby merasakan cengkeraman ketat di sekitar penisnya. Ia mengerang nikmat mendengar komentar Febby tentang ukuran dan kedalamannya. Sensasi penetrasi dari belakang ini terasa sangat memuaskan baginya.
"Enak Feb?" bisik Bagus di telinga Febby sambil memegang pinggulnya, siap untuk memulai gerakan selanjutnya.
Febby mengangguk cepat tanpa menoleh, desahannya semakin keras. "Mmmph... banget, Gus... terus..."
Bagus mulai menggerakkan pinggulnya perlahan, menarik dan mendorong penisnya masuk dan keluar dari tubuh Febby. Setiap gerakan terasa nikmat dan dalam, memenuhi Febby dengan sensasi yang berbeda dari sebelumnya.
Mendengar desahan Febby yang semakin intens, Bagus secara bertahap meningkatkan tempo goyangannya. Gerakannya menjadi lebih cepat dan lebih kuat, menciptakan gesekan yang semakin membakar di antara tubuh mereka.
Febby kembali mendesah hebat, merasakan sensasi yang luar biasa dari penetrasi yang dalam dan ritme Bagus yang semakin cepat. Ia mencengkeram sprei kasur dengan erat, menikmati setiap gerakan yang diberikan Bagus dari belakang.
Tidak berselang lama, Febby merasakan tekanan yang sama seperti saat ia squirt sebelumnya. Sensasi aneh namun nikmat itu kembali menjalar di perut bagian bawahnya. Ia mulai meracau tak jelas, erangan kenikmatannya semakin histeris.
"Ohhh... Gus... ini... mau keluar lagi..." bisik Febby dengan suara tercekat, merasakan gelombang kenikmatan yang semakin dahsyat menghantam dirinya.
Bagus merasakan kontraksi hebat di sekitar penisnya dan mengerang nikmat. Ia memeluk erat Febby yang basah. "Gila, Feb. Kamu binal banget. Aku baru tahu kamu bisa se-" Bagus tidak melanjutkan, hanya tersenyum bangga, merasakan kebanggaan sebagai pria yang berhasil memicu reaksi yang belum pernah dialami Febby sebelumnya.
"Aaaaaahhhhhh...!" Febby menjerit keras saat cairan hangat menyembur keluar dari vaginanya untuk yang kedua kalinya. Tubuhnya bergetar hebat, dan ia merasakan pelepasan yang luar biasa intens.
Bagus terus memompa tubuh Febby beberapa saat, menikmati sensasi squirt yang kedua ini. Kemudian, ia memperlambat gerakannya dan akhirnya berhenti, memeluk erat tubuh Febby yang basah dan lemas.
Keduanya terengah-engah, menikmati keintiman dan kenikmatan yang baru saja mereka alami bersama. Febby kembali ambruk di atas kasur, merasakan kelelahan yang nikmat dan kebahagiaan yang meluap-luap.
Tanpa berlama-lama menikmati momen setelah Febby squirt yang kedua, Bagus kembali memegang pinggul Febby dan melanjutkan gerakannya. Ia kembali memompa penisnya masuk dan keluar dari tubuh Febby dengan tempo yang stabil.
Meskipun Febby masih terasa lemas dan baru saja mengalami orgasme yang dahsyat, sensasi penis Bagus yang kembali bergerak di dalam dirinya mau tak mau membangkitkan kembali sedikit gairahnya. Namun, kelelahan juga masih terasa.
"Hhhng... Gus... pelan dikit..." desah Febby dengan suara serak, mencoba mengatur napasnya.
Bagus terus bergerak dengan ritmenya, seolah tidak terlalu mendengar permintaan Febby. Hasratnya untuk terus bersatu dengan Febby masih sangat kuat.
"Aahh... Gus... aku capek..." Febby kembali mendesah, kali ini dengan nada memohon agar Bagus memperlambat atau berhenti sejenak. Tubuhnya masih terasa lemas dan sensitif.
Namun, Bagus terus memompa, gerakannya kini sedikit lebih cepat. Ia menikmati setiap desahan Febby dan cengkeraman vaginanya di sekitar penisnya.
"Mmmph... Gus... udah... ahh... berhenti sebentar..." Febby kembali memohon, suaranya semakin lirih karena kelelahan bercampur dengan sedikit kenikmatan yang tak bisa ia sangkal.
Bagus tidak menghentikan gerakannya. Ia terus memompa dengan tempo yang stabil, menikmati setiap desahan dan erangan yang keluar dari bibir Febby. Sensasi yang ia rasakan terlalu nikmat untuk dihentikan.
Tanpa disangka, meskipun merasa lelah dan memohon untuk berhenti, gelombang kenikmatan kembali menyerbu tubuh Febby. Desahannya kembali meninggi, kali ini bercampur antara lelah dan pasrah pada kenikmatan yang diberikan Bagus.
"Aaaahhh... Gus... ohhh... nggak kuat..." Febby kembali menjerit tertahan saat orgasme kelima menghantam tubuhnya. Kontraksi hebat kembali ia rasakan, meskipun tidak sekuat sebelumnya. Ia ambruk lemas di atas kasur, napasnya tersengal-sengal.
Bagus terus memompa beberapa saat, menikmati kontraksi di sekitar penisnya. Kemudian, tanpa memberi Febby banyak waktu untuk beristirahat, ia kembali meningkatkan temponya.
"Hhhng... Gus..." desah Febby lagi, merasakan penis Bagus kembali bergerak intens di dalam dirinya. Meskipun lelah, tubuhnya kembali merespons rangsangan.
Tidak lama kemudian, Febby kembali merasakan sensasi puncak yang tak tertahankan. "Aaaaaahhhhhh... uhhhh...!" Ia menjerit lebih keras, orgasme kelima menghantam tubuhnya dengan gelombang kenikmatan yang luar biasa. Kontraksi hebat kembali ia rasakan, dan ia benar-benar lemas di atas kasur.
Bagus akhirnya memperlambat gerakannya dan berhenti, memeluk erat tubuh Febby yang basah dan lemas. Ia mencium lembut punggung Febby, merasakan kehangatan tubuhnya yang baru saja mengalami puncak kenikmatan berkali-kali.
Setelah Febby mengalami orgasme kelima dan masih terengah-engah di atas kasur, Bagus merasakan gejolak klimaksnya sendiri semakin kuat. Sensasi di ujung penisnya semakin intens, dan ia tahu ia tidak akan bisa menahannya lebih lama lagi.
"Febby..." bisik Bagus dengan suara serak yang penuh hasrat, tangannya membelai lembut punggung Febby yang basah. "Aku... aku mau keluar..."
Febby yang masih lemas dan menikmati sisa-sisa orgasmenya, perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Bagus dengan mata sayu. Meskipun merasa lelah, ia masih menunjukkan perhatian pada Bagus.
"Mau keluar ya, Gus?" tanyanya dengan suara lirih.
Bagus mengangguk pelan, wajahnya sedikit meringis menahan puncak kenikmatan yang semakin dekat. "Iya... balik badan ya?" pintanya lembut, ingin menatap wajah Febby saat ia mencapai klimaks.
Dengan perlahan dan sedikit dibantu oleh Bagus, Febby membalikkan badannya hingga kini ia berbaring telentang menghadap Bagus. Ia membuka lebar kedua kakinya, mengangkang di hadapan Bagus dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur.
Bagus menatap Febby yang kini mengangkang di hadapannya, tubuhnya yang basah dan ekspresi lelah namun puas di wajahnya semakin membangkitkan hasratnya yang terakhir. Ia memposisikan dirinya di antara kedua kaki Febby, siap untuk menyudahi petualangan intim mereka.
Tanpa menunggu lebih lama, Bagus menempelkan penisnya yang sudah sangat tegang ke pintu masuk vagina Febby yang masih terasa basah dan hangat. Perlahan, ia mendorongkan dirinya masuk, kembali memenuhi Febby dengan kejantanannya.
Febby yang tadinya hanya berbaring lemas, kembali merasakan sensasi penis Bagus yang memasuki dirinya. Meskipun tubuhnya masih terasa lelah, sentuhan intim ini kembali membangkitkan sedikit gairahnya. Ia mendesah pelan, "Hhhng..."
Bagus mulai memompa dengan ritme yang stabil, merasakan cengkeraman lembut vagina Febby di sekeliling penisnya. Ia menatap wajah Febby yang terlihat sedikit lelah namun tetap menunjukkan ekspresi menikmati.
Setiap gerakan Bagus semakin terasa nikmat bagi Febby. Meskipun kelelahan masih mendera, sentuhan penis Bagus di dalam dirinya sulit untuk diabaikan. Desahan-desahannya mulai terdengar lagi, kali ini lebih dalam dan lebih panjang.
"Aahh... Gus..." desah Febby tertahan, merasakan setiap gerakan Bagus yang semakin intens. Meskipun ia sudah mencapai klimaks berkali-kali, sentuhan Bagus masih terasa menyenangkan.
Bagus terus memompa, merasakan kenikmatan yang semakin memuncak. Ia bisa merasakan kontraksi kecil di sekitar penisnya, pertanda klimaksnya sudah semakin dekat. Ia terus menatap wajah Febby, menikmati setiap desahan dan ekspresi yang ditunjukkannya.
Tidak berselang lama, Febby kembali merasakan gelombang kenikmatan yang mulai menjalar di tubuhnya. Sensasi orgasme itu kembali muncul, dan ia merasakan kontraksi kecil di vaginanya.
"Mmmph... Gus... kayaknya... mau keluar lagi..." bisik Febby dengan suara serak, merasakan puncak kenikmatan yang semakin mendekat meskipun tubuhnya masih terasa lelah.
Namun, alih-alih mempercepat gerakannya, Bagus justru memperlambat tempo pompaannya. Gerakannya menjadi lebih pelan dan dangkal, membuat Febby merasa sedikit frustrasi.
"Aahh... Gus... kok pelan? Jangan disiksa begini... aku nggak kuat, hhh..." Febby mengerang histeris, tubuhnya melengkung kaku hingga punggungnya nyaris terangkat dari kasur. Seluruh sarafnya sudah terbakar, jantungnya berdegup liar menanti hantaman terakhir yang tak kunjung datang.
Bagus justru berhenti total. Ia membiarkan kontolnya yang berurat, besar, dan panas membara tetap tertanam diam, menyumpal penuh lubang Febby yang terus berdenyut-denyut becek dan menjepit kencang. Bagus menumpu tubuhnya, menatap mata Febby yang sudah kehilangan kewarasan—pupilnya melebar, bibirnya gemetar karena haus akan pelepasan.
"Kamu mau keluar sekarang, Feb? Mau aku tuntaskan?" bisik Bagus dengan suara berat yang penuh ancaman. Ia sengaja menarik kontolnya keluar sampai tersisa ujungnya saja, membiarkan bibir vagina Febby yang merah merona mengatup kosong, lalu ia menghujamkannya kembali dengan sentakan kasar hingga pangkalnya menabrak keras mulut rahim Febby. DUG.
"AAHHH! Gusss...!" Febby memekik tertahan, matanya berputar ke atas saat merasakan leher rahimnya disodok paksa oleh ukuran Bagus yang luar biasa.
"Jawab, Feb! Kamu mau aku muncrat di mana?" tanya Bagus lagi, kali ini ia menarik keluar miliknya sepenuhnya hingga suara PLOK yang basah terdengar nyaring di kamar yang sunyi itu. Ia membiarkan Febby merasa kosong dan gila sesaat. "Di mulut atau aku banjirin di dalam?"
"Gus, jangan dicabut... jangan, hhh... masukkan lagi, tolong..." tangis Febby pecah, ia merangkak mendekat, jemarinya mencengkeram paha Bagus, memohon seperti budak nafsu. "Keluar di mulut saja... aku telan semua sperma kamu, Gus... tapi jangan di dalam... nanti aku hamil... hiks... aku takut..."
Bagus menyeringai liar, ia memegang dagu Febby dan memaksanya menatap kontolnya yang berdenyut-denyut merah tua di depan wajahnya. "Kalau mau di mulut, aku berhenti sekarang. Tapi lihat diri kamu, Feb. Memek kamu sudah becek begitu, rahim kamu sudah haus ingin disodok. Kalau aku cabut, kamu bakal gila karena nanggung sampai pagi. Kamu mau... aku tinggalin kamu dalam kondisi tersiksa begini?"
Bagus kembali menghujamkan miliknya dalam satu sentakan brutal, JLEBB, langsung mentok ke titik terdalam, membuat Febby menjerit sejadi-jadinya.
"Pilih sekarang!" bentak Bagus sambil mulai memompa dengan ritme kasar dan cepat. PLOK, PLOK, PLOK. Suara daging beradu dan cairan yang mencuati terdengar begitu binal. "Aku banjirin rahim kamu sampai luber, atau aku cabut sekarang juga? Pilih, Febby!"
Febby sudah tidak bisa berpikir. Nama Kevin sudah hangus dari otaknya. Yang ada hanya rasa panas, besar, dan nikmat yang merusak segalanya. Ia tidak sanggup lagi menahan gatal di rahimnya yang ingin segera diguyur sperma panas Bagus.
"Iyahhh Gus... hhaah... terserah kamu! Siksa aku, Gus! Masukkan semua!" raung Febby, tangannya mencengkeram rambut Bagus, menarik pria itu agar menghujamnya lebih dalam lagi. "Banjirin aku! Muncratin semua sperma kamu di dalam rahimku! Aku mau jadi milik kamu malam ini! Keluarin di dalam, Gus! SEKARANG!"
Dalam hati, Febby berbisik lirih, "Maafkan aku, Kevin..." Ia merasa bersalah telah melangkah sejauh ini dan akan membiarkan pria lain mengeluarkan spermanya di dalam dirinya. Namun, hasratnya dan situasi saat ini membuatnya merasa tidak memiliki pilihan lain.
Mendengar penyerahan total yang begitu binal, Bagus kehilangan kendali terakhirnya. Ia memompa dengan kekuatan penuh, menghantam lubang Febby tanpa ampun.
"Oke, kalau itu mau kamu... aku habisin semuanya di dalam, Feb! Terima semuanya!" geram Bagus dengan rahang mengeras.
Febby menjerit histeris, tubuhnya bergetar hebat menghadapi orgasme yang paling menghancurkan dalam hidupnya. Ia sudah pasrah, membiarkan gerbang rahimnya terbuka lebar untuk menerima lahar panas dari pria yang bukan kekasihnya itu.
Febby menatap Bagus dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara hasrat dan sedikit penyesalan. Saat Bagus kembali memompa tubuhnya dengan intens, Febby berbisik dengan suara serak,
"Gus... kamu... kamu akan jadi orang pertama... yang keluar di rahimku..."
Pengakuan itu terlontar begitu saja, menekankan betapa intim dan berisikonya momen ini baginya. Ada sebuah penyerahan diri sekaligus sebuah pengingat akan batasan yang selama ini ia jaga.
Bagus yang mendengar pengakuan Febby semakin terpacu. Kata-kata itu bagaikan bahan bakar yang memompa gairahnya hingga titik maksimal. Ia semakin mempercepat gerakannya, merasakan klimaksnya semakin dekat.
"Maka aku akan membuatmu menyesal telah mengizinkanku, sayang," balas Bagus dengan nada rendah yang penuh janji, terus memompa tubuh Febby dengan intensitas tinggi.
Febby kembali mendesah hebat, merasakan kenikmatan yang bercampur dengan sedikit kecemasan. Namun, sentuhan Bagus dan sensasi klimaks yang semakin dekat membuatnya pasrah pada momen ini.
Di tengah gerakan Bagus yang semakin menggila dan dalam, Febby kembali merasakan kontraksi hebat di perut bagian bawahnya. "Mhhnghh... ahhh... Gus... mau keluar lagi..." erangnya tertahan, merasakan gelombang squirt yang ketiga kali atau orgasme keenamnya yang menyembur keluar dari vaginanya yang basah kuyup, membasahi perut Bagus dengan sensasi hangat yang menjalar.
Tepat saat Febby mengalami squirt, Bagus merasakan denyutan hebat di pangkal penisnya. "Ughhh... Feb... anjing... ahhh... aku... muncrat..." raungnya tertahan, otot-otot perutnya menegang saat ia membenamkan seluruh kejantanannya sedalam mungkin ke dalam vagina Febby yang mencengkeramnya dengan nikmat. "Hhh... ahhh... di dalem... di dalem..."
Keduanya terdiam sejenak, napas mereka tersengal-sengal hebat. "Haaaaah... hhaaaah..." desah Febby panjang, merasakan lemas yang luar biasa setelah orgasme bertubi-tubi. "Ughhh... ahhh... kontol mu... Gus..."
Bagus masih memeluk erat tubuh Febby yang basah, merasakan denyutan klimaksnya yang terakhir. "Mphhh... Feb... memek mu... ahhh... nikmat... banget..." erangnya tertahan, merasakan kehangatan cairan spermanya membanjiri rahim Febby. "Haaaaah... hhaaaah..."
Setelah beberapa saat, Febby membuka matanya yang sayu dan menatap Bagus dengan tatapan linglung namun puas. "Aahh... Gus... anjir... beneran... keluar di dalem... seenak ini... ya ampun..." bisiknya dengan suara serak yang penuh keheranan. "Ughhh... kontol kamu... bener-bener... bikin nagih... ahhh..."
Bagus mengecup kasar leher Febby yang basah. "Sssshhh..." desahnya pelan. "Memek kamu... udah jadi... milik kontolku... malam ini... ahhh..." Ia merasakan keintiman yang mendalam setelah berbagi klimaks yang begitu intens dan tanpa pengaman. "Haaaaah... hhaaaah..."
Febby menatap mata Bagus, mencari kejujuran di sana. Ia melihat pantulan hasrat dan kebanggaan. Ia menghela napas panjang, sebuah napas pasrah bercampur lega. Tangannya terangkat, mengusap lembut keringat di dahi Bagus. "Sekarang... kamu punya semua yang kamu mau, Gus..." bisiknya, menerima konsekuensi dari malam itu.
Malam itu, kelelahan fisik namun penuh kebahagiaan dan keintiman yang baru, Febby memutuskan untuk tidak kembali ke kamarnya. Ia menginap di kamar Bagus, terlelap dalam pelukan hangat pria yang baru saja memberikan pengalaman seksual yang luar biasa baginya.
=============
=============
Part 6. Sex dan Orgasme Pertama Febby
POV: Febby
Namaku Febby, usiaku 24 tahun. Banyak yang bilang aku manis, dan kurasa aku setuju dengan itu. Dengan tinggi 160 cm dan berat 55 kg, aku merasa cukup proporsional. Beberapa bahkan bilang aku seksi, terutama karena bagian tubuh belakangku yang katanya cukup menonjol. Aku bekerja sebagai karyawan di sebuah klinik kecantikan di kota ini, pekerjaan yang cukup menyenangkan dan membuatku merasa percaya diri.
Aku punya pacar, namanya Kevin. Usianya sama denganku, 24 tahun. Kami pertama kali bertemu saat masih kuliah di kampus yang sama. Kevin, dengan wajahnya yang rupawan, langsung menarik perhatianku di salah satu acara organisasi mahasiswa yang kami ikuti. Dari sana, kami mulai dekat, sering belajar bersama di perpustakaan, dan akhirnya menjalin hubungan asmara. Sayangnya, setelah lulus kuliah, Kevin yang mengambil jurusan teknik informatika, harus bekerja di luar pulau karena pekerjaan yang dicarikan oleh orang tuanya. Meskipun jarak memisahkan, kami berjanji untuk tetap menjaga hubungan ini.
Saat Kevin ulang tahun yang ke-22, aku sudah berniat memberikan hadiah spesial padanya. Sejak jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan berbagai kebutuhan yang diperlukan mulai dari kue, hadiah, dan juga kondom. Yak, benar, hadiah spesialku adalah keperawananku sendiri. Sebelumnya, aku dan Kevin memang sudah sering melakukan foreplay, saling menyentuh dan berciuman hingga Kevin mencapai puncak gairah, namun kami berdua belum pernah berhubungan seks dengan siapapun.
Sore hari itu, setelah selesai dengan jadwal kuliahnya, seperti biasa ia langsung mampir ke kosku. Saat ia membuka pintu, aku langsung menyambutnya dengan senyum lebar sambil menyanyikan lagu "Selamat Ulang Tahun" dengan suara sedikit sumbang karena gugup. Di meja kecil sudah tertata kue cokelat sederhana dengan lilin angka 22 yang menyala di atasnya, serta sebuah bungkusan kado kecil di sampingnya.
Kevin tampak terkejut dan langsung tersenyum bahagia. "Wah, kamu repot-repot banget, sayang!" ujarnya sambil menghampiriku dan mengecup keningku. Kami kemudian duduk berdua di tepi kasur, menikmati kue sambil Kevin membuka hadiah dariku, sebuah action figure karakter favoritnya. Suasana terasa hangat dan nyaman. Perlahan, obrolan kami mereda, dan tatapan kami bertemu. Ada kehangatan dan kerinduan yang terpancar dari mata Kevin. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam tanganku lembut, lalu mendekatiku perlahan. Bibirnya menyentuh bibirku, awalnya hanya kecupan singkat, namun kemudian berubah menjadi ciuman yang lebih dalam dan penuh gairah.
Ciuman kami semakin dalam, lidah kami saling bertautan, menciptakan suara decapan basah yang membangkitkan hasrat. Tangan Kevin kini bergerak lebih berani, meremas lembut payudaraku dari luar bra.
"Mmmhh... ayang..." desahku tertahan, merasakan sentuhan itu menjalar ke seluruh tubuhku.
"Sayang..." bisik Kevin di sela ciuman, napasnya hangat menerpa leherku. Tangannya kini menyelusup ke bawah braku, menyentuh langsung kulit sensitifku. Aku menggeliat kecil, merasakan sentuhan jari-jarinya yang lembut namun membangkitkan gairah.
"Aahhh..." desahku lebih keras saat Kevin memilin lembut putingku. Aku balas memeluknya erat, tanganku kini berada di balik punggungnya, merasakan otot-ototnya yang menegang. Aku meremas rambutnya pelan, menikmati setiap sentuhan yang kami berikan.
Kevin melepaskan ciumannya dan menatapku dengan mata sayu. "Kamu... cantik banget, sayang..." bisiknya sebelum kembali mengecup bibirku, kali ini lebih lembut namun penuh tuntutan.
Aku membalas ciumannya dengan penuh semangat, tanganku kini bergerak turun, menyentuh perutnya yang rata, lalu berhenti tepat di atas gesper celananya. Kevin menarik napas dalam.
"Ayang..." desahnya tertahan saat aku mulai membuka kancing celananya perlahan.
"Ssshh..." balasku lirih, mengecup rahangnya sebelum kembali fokus pada pekerjaanku. Saat resleting terbuka, kejantanannya yang sudah berdenyut hebat menyapa mataku. Wow, batangnya terlihat begitu besar dan kokoh, sekitar 10 cm panjangnya. Aku mengulurkan tangan, menyentuhnya dengan lembut, merasakan permukaannya yang halus namun tegang.
"Oh, sayang..." erang Kevin tertahan saat tanganku mulai bergerak naik turun. Aku bisa merasakan getaran di tubuhnya. Aku semakin berani, mengecup ujung kepalanya yang terasa begitu panas.
"Kamu suka?" tanyaku lirih di dekat telinganya.
Kevin hanya menjawab dengan erangan tertahan dan anggukan kecil. Aku semakin bersemangat, membuka mulutku dan menerima kejantanannya lebih dalam. Sensasi penuh dan hangat di dalam mulutku membuatku semakin bergairah. Aku menghisap dan menjilatnya perlahan, merasakan Kevin yang terus mengerang nikmat, sesekali kepalanya mendongak ke belakang. Tangannya kini memegang erat pinggangku, seolah menyalurkan seluruh kenikmatannya padaku.
"Aahhh... ayang... enak banget..." desah Kevin di sela-sela erangannya. Aku tersenyum kecil di sela-sela aktivitasku, merasa bangga bisa membuatnya senikmat ini.
Kenikmatan yang kurasakan saat menghisap kejantanan Kevin sungguh luar biasa. Aku bisa merasakan denyutan hebat di dalamnya, dan erangan nikmat yang keluar dari bibirnya membuatku semakin bersemangat. Setelah beberapa saat, aku melepaskan isapanku, wajahku sedikit basah dan bibirku terasa penuh. Kevin membuka matanya, menatapku dengan tatapan penuh hasrat dan rasa terima kasih. Kami melepas semua pakaian kami tanpa tersisa sehelai benang pun.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku bergerak naik ke pangkuannya, menghadapnya. Kevin secara otomatis melingkarkan tangannya di pinggangku, menahan tubuhku agar tidak jatuh. Aku merasakan kontolnya yang masih tegang menekan bibir vaginaku yang sudah basah. Perlahan, aku mulai bergerak maju mundur, menggesekkan klitorisku yang sudah sangat sensitif terhadap kontol Kevin.
"Mmmhh... ayang... enak banget..." desahku tertahan, merasakan gesekan nikmat ini. Kontolmu keras banget, sayang..."
"Sayang... kamu bikin aku makin horny..." bisik Kevin dengan suara serak, tangannya meremas pinggangku kuat. "Gesek terus, sayang... pasti basah banget tuh memek kamu..."
Aku semakin bersemangat mendengar kata-kata vulgar Kevin. "Iya, ayang... udah banjir nih..." balasku sambil bergerak semakin liar di pangkuannya. Setiap gesekan terasa begitu intens, membuat cairan di antara kedua kakiku semakin banyak.
"Memek kamu ngejepit kontolku gini bikin aku pengen cepet-cepet masukin, sayang..." ujar Kevin dengan napas tersengal-sengal.
Sambil terus menggesekkan vaginaku di atas kontol Kevin dan mendesah nikmat, aku membisikkan tepat di telinganya dengan suara rendah dan menggoda, "Ayang... mhh... mau masukin? Mmmhh... masukin ke mana, hmm?"
Kevin menatap mataku dengan penuh hasrat, lalu menjawab dengan suara serak dan mendesah tertahan, "Hhh... ke memek kamu, sayang... kontol aku udah siap banget perawanin memek kamu... hhh..."
Mendengar jawaban Kevin yang begitu panas, aku semakin terangsang. Aku mempercepat gerakan menggesekkan vaginaku di atas kontolnya, sambil menjulurkan lidah dan menjilat daun telinganya dengan sensual. "Oh ya? Siap banget mau perawanin memek aku, hmm?" bisikku dengan suara bergetar, lalu menggigit kecil cuping telinganya.
Kevin memejamkan matanya sejenak, lalu membuka kembali dengan tatapan penuh tekad. "Iya, sayang... aku pengen banget perawanin kamu... pengen ngegenjot memek kamu sampe kamu nggak bisa jalan... pengen nyemprotin sperma aku yang banyak ini di dalam rahim kamu biar kamu hamil anak aku..." jawab Kevin dengan suara rendah dan penuh hasrat.
Percakapan panas dan penuh hasrat seperti ini memang sudah menjadi bumbu dalam foreplay kami. Kami berdua sama-sama menikmati permainan kata-kata vulgar yang semakin membakar gairah. Biasanya, sesi menggesek di pangkuan seperti ini akan berakhir dengan Kevin yang mencapai orgasme karena gesekan yang intens dari vaginaku. Namun, kali ini berbeda. Ini adalah ulang tahun Kevin yang ke-22, dan aku sudah menyiapkan kejutan spesial untuknya. Aku ingin mewujudkan semua percakapan fantasi kami malam ini.
Setelah Kevin mengatakan keinginannya untuk segera meniduriku dan menghamiliku, aku semakin terangsang. Sambil terus bergerak menggesekkan vaginaku di atas kontolnya yang keras, aku berbisik dengan suara serak, "Ayang... kamu bilang pengen masukin... ya udah... masukin aja..."
Kevin tampak terkejut dan menghentikan gerakannya, menatapku dengan mata melebar penuh tanya. "Serius, sayang? Kamu... kamu beneran ngizinin aku masukin sekarang?" tanyanya dengan suara tercekat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
Aku tersenyum sensual, semakin mempererat pelukanku di lehernya. "Iya, ayang... ini hadiah ulang tahun spesial buat kamu... hadiah keperawanan aku..." bisikku tepat di telinganya, membuat Kevin semakin tegang.
Mendengar penjelasanku, dengan gerakan cepat dan penuh gairah, Kevin membaringkanku dengan lembut di atas kasur. Ia segera memposisikan dirinya di antara kedua pahaku, kontolnya yang sudah sangat keras berdenyut-denyut dan sudah menyentuh pintu masuk vaginaku, bersiap untuk menembus keperawananku.
Namun, tepat sebelum ujung kontol Kevin menyentuh lebih dalam, aku menahan pinggulnya dengan kedua tanganku. "Mmmhh... ayang..." desahku tertahan, menatap matanya dengan tatapan penuh nafsu namun juga sedikit gugup. "Pake... pake kondom dulu ya, sayang..."
Kevin terhenti, menatapku dengan sedikit kebingungan. "Kondom? Aku... aku nggak bawa, sayang..." ujarnya dengan nada menyesal.
Aku tersenyum lembut, lalu dengan suara rendah dan sensual aku berkata, "Tenang aja, sayanggg... udah aku siapin kok..." Kemudian, dengan gerakan anggun, aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju laci di sampingnya untuk mengambil kondom yang sudah kusiapkan.
Kembali ke sisi Kevin yang sudah menungguku dengan tidak sabar, aku membuka kemasan kondom dengan gerakan perlahan, sengaja mengulur waktu untuk semakin membuatnya tegang. Sambil menatap matanya lekat-lekat, aku mulai memasangkan kondom di atas kontolnya yang sudah berdiri tegak dan berdenyut-denyut.
"Kontol kamu gede banget ya, sayang..." bisikku sambil mengelus permukaannya yang sudah terbungkus karet tipis. "Pasti enak banget nih di dalam aku..."
Kevin hanya bisa mendesah tertahan, matanya tidak lepas dari setiap gerakanku. "Cepetan dong, sayang... aku udah nggak sabar pengen ngerasain kamu..." ujarnya dengan suara serak.
Aku semakin memperlambat gerakanku, menikmati setiap sentuhan dan tatapan kami. "Sabar ya, sayang... ini kan malam spesial kita..." Aku mengecup ujung kontolnya yang terbungkus kondom dengan lembut. "Udah siap?" bisikku menggoda.
Kevin mengangguk cepat, matanya penuh nafsu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia memposisikan dirinya tepat di antara kedua pahaku. Dengan perlahan namun pasti, ia menekan ujung kontolnya ke pintu masuk vaginaku. Aku menarik napas dalam, merasakan sentuhan pertama yang asing namun membangkitkan rasa ingin tahu yang besar.
Kevin mencium bibirku lembut, seolah memberikan semangat. Kemudian, dengan satu dorongan pelan namun mantap, ia mulai memasuki tubuhku. Aku mengerang kecil, merasakan peregangan dan sedikit rasa sakit bercampur dengan sensasi hangat yang baru. Kevin berhenti sejenak, memberiku waktu untuk menyesuaikan diri.
"Ahhh… ayanggg…" desahku.
"Sakit ya, sayang?" bisiknya khawatir.
Aku menggigit bibirku, lalu menggeleng pelan. "Sedikit... tapi nggak apa-apa... terusin, sayang..." ujarku dengan suara bergetar.
Kevin kembali bergerak perlahan, semakin dalam memasuki tubuhku. Aku terus mengerang, merasakan sensasi penuh yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Saat kontolnya sudah masuk sepenuhnya, Kevin terdiam sejenak, memelukku erat.
"Masuk semua, sayang..." bisiknya lembut di telingaku.
Aku mengangguk, membalas pelukannya erat. "Pelan-pelan sayang ssshh… masih agak sakit" desahku pelan.
Kevin melanjutkan pompaannya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia akhirnya orgasme di dalam kondomnya. Aku sendiri malam itu belum tahu apa itu orgasme karena masih merasakan sedikit perih di vaginaku. Meskipun begitu, ada sensasi nikmat yang aneh saat melakukannya bersama Kevin. Aku pun merasa lega karena telah memberikan hadiah ulang tahun yang sangat spesial untuk Kevin. Kami berbaring berpelukan, napas kami masih terengah-engah setelah aktivitas yang panas itu.
Seminggu berlalu sejak malam ulang tahun Kevin. Selama itu, kami tidak melakukan aktivitas seksual lagi. Vaginaku masih terasa sedikit perih, dan Kevin tampak lebih khawatir padaku. Ia sering bertanya apakah aku baik-baik saja dan memastikan aku merasa nyaman. Aku sendiri merasa senang dengan perhatian lebih yang diberikan Kevin. Aku merasa diperhatikan dan disayangi.
Malam itu, Kevin datang lagi ke kosku. Setelah berpelukan dan bercerita, Kevin kembali membelai tubuhku dengan lembut. Kali ini, rasa perih di vaginaku sudah jauh berkurang. Kevin menciumiku dengan lembut, dan perlahan, hasrat di antara kami kembali membara.
Dengan hati-hati, setelah memastikan kondom terpasang, Kevin kembali memasuki tubuhku. Gerakannya kali ini terasa lebih nyaman, dan aku mulai bisa menikmati sensasi kebersamaan ini lebih dalam. Kevin bergerak lembut namun berirama, dan aku merasakan sensasi aneh yang menyenangkan di setiap gesekannya.
"Sakit ya, sayang?" bisik Kevin khawatir.
Aku menggigit bibirku, lalu menggeleng pelan. "Sedikit... tapi nggak apa-apa... terusin, sayang..." ujarku dengan suara bergetar.
Kevin kembali bergerak perlahan, semakin dalam memasuki tubuhku. Aku terus mengerang, merasakan sensasi penuh yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Saat kontolnya sudah masuk sepenuhnya, Kevin terdiam sejenak, memelukku erat. Kemudian, ia mencium bibirku dengan lembut, seolah meminta maaf dan memberikan ketenangan.
Ciuman lembut itu perlahan berubah menjadi lebih dalam dan penuh gairah. Lidah kami saling bertautan, dan meskipun masih ada sedikit rasa perih, aku mulai merasakan sensasi nikmat yang aneh bercampur dengan rasa sayang yang kurasakan pada Kevin.
Saat ciuman kami terlepas, Kevin menatap mataku dengan lembut. "Gimana rasanya, sayang? Masih sakit?"
Aku menggeleng pelan, mencoba tersenyum. "Udah nggak terlalu kok, ayang... malah... enak..."
Kevin tersenyum lebar mendengar pengakuanku. "Beneran enak, sayang?" bisiknya dengan nada penuh harap sambil terus bergerak perlahan di dalamku.
Aku mengangguk, melepaskan desahan pelan. "Iya... aneh tapi enak... kayak... pengen lagi..."
"Pengen aku gerakin lebih cepet?" tanya Kevin, suaranya mulai terdengar tegang.
Aku tanpa sadar mengangguk, merasakan hasratku mulai kembali membuncah. "Iya... tapi pelan-pelan dulu ya, sayang... aku masih beradaptasi..."
"Oke, sayang... pelan-pelan..." Kevin terus bergerak lembut, sesekali mengecup bibirku, leherku, dan dadaku. "Kamu ngerasain apa, sayang?" bisiknya di telingaku.
"Emmhh... penuh... terus kayak ada geli juga di bawah sana..." jawabku jujur, merasakan sensasi yang semakin intens.
"Geli yang bikin pengen aku terus gerakin?" goda Kevin.
Aku menggigit bibir bawahku, merasakan tubuhku mulai memanas. "Mungkin..." bisikku menggoda.
Kevin terkekeh pelan, lalu mempercepat gerakannya sedikit. "Gimana sekarang, sayang? Udah mulai enak?"
"Emmhh... enak... jangan berhenti ya, sayang..." desahku, merasakan setiap gerakan Kevin di dalamku semakin intens dan menyenangkan.
"Nggak akan berhenti, sayang..." bisik Kevin di telingaku, napasnya terengah-engah. "Aku pengen bikin kamu ketagihan sama aku..."
Kevin mempercepat gerakannya, dan aku tanpa sadar mengikuti gerakannya. Sensasi penuh di vaginaku semakin kuat, tapi ada yang aneh... seperti geli yang semakin memuncak di bagian bawah sana.
"Ayang..." desahku tertahan, merasakan sensasi geli yang semakin intens. "Aku ngerasa aneh di bawah... kayak... geli banget..."
"Geli yang enak, sayang?" tanya Kevin dengan suara serak, terus memompa di dalamku.
"Iya... tapi makin lama makin kuat..." jawabku terengah-engah, mencengkeram bahunya erat. "Cepetin sayanggg... kencengin genjot memek akuu..." pintaku tanpa sadar, merasakan geli itu seperti akan meledak.
Kevin tanpa ragu mempercepat gerakannya lagi. Setiap tusukannya terasa semakin dalam dan membuat ketagihan. Aku merasakan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya, jauh lebih menyenangkan dari malam pertama kami. Kali ini, rasa perih sudah hilang, digantikan oleh kenikmatan yang luar biasa bercampur dengan geli aneh yang semakin memuncak.
Dan saat geli itu mencapai puncaknya, aku tanpa sadar melepaskan teriakan keras, "AHHH GELII SAYANGGGG... ENAK BANGETTTT..." Bersamaan dengan teriakan itu, gelombang kenikmatan yang meledak membanjiriku. Otot-ototku menegang tanpa terkendali, dan aku merasakan denyutan nikmat yang membius di seluruh vaginaku. Aku melepaskan erangan panjang yang membebaskan, akhirnya merasakan orgasme pertamaku yang begitu dahsyat.
Kevin merasakan perubahan di tubuhku dan semakin mempererat pelukannya, terus bergerak beberapa saat sebelum akhirnya ia juga mengerang panjang dan tubuhnya menegang hebat di atasku. Aku merasakan denyutan kuat spermanya di dalam kondom, bersamaan dengan sisa-sisa gelombang nikmat yang masih menjalar di tubuhku.
Hari itu aku kembali melakukan seks dengan Kevin hingga dua kali. Aku benar-benar tergila-gila dengan pengalamanku merasakan orgasme dan ingin terus mengulangnya. Hari-hari setelahnya pun aku rutin berhubungan seks dengan Kevin dan tetap menggunakan kondom. Kevin sempat meminta untuk tidak menggunakan kondom namun aku menolaknya karena khawatir akan hamil. Sayangnya rutinitas kami berhubungan seks harus berhenti saat kami lulus dan Kevin mendapat pekerjaan di luar pulau sehingga kami harus LDR.
=============
=============
Part 7. Teman Lama, Penghuni Baru
POV: Febby
Saat ini, aku tinggal di sebuah kos di Jalan Melati, Semprot City. Lucunya, teman kosku adalah Bagus. Dia teman masa kecilku. Kami tumbuh besar di lingkungan yang sama, bermain bersama sejak kecil, bahkan rumah kami di kampung pun bertetangga. Sekarang, dia baru saja diterima sebagai supervisor produksi di sebuah pabrik yang lokasinya juga tidak terlalu jauh dari Jalan Melati. Bagus juga punya daya tarik tersendiri, meskipun mungkin tidak serupawan Kevin.
Beberapa minggu yang lalu, aku pulang kerja dengan sedikit lelah. Saat memasuki area kos, aku melihat seorang pria asing sedang berbicara dengan Ibu Kos di depan salah satu kamar kosong. Pria itu tampak familiar, tapi aku tidak bisa langsung mengenalinya dari belakang.
"Selamat sore, Bu Kos," sapaku sambil tersenyum.
Ibu Kos menoleh dan balas tersenyum. "Eh, Mbak Febby sudah pulang. Ini lho, Mbak, ada calon anak kos baru. Kenalan dulu ya."
Pria itu berbalik, dan betapa terkejutnya aku! Ternyata dia adalah Bagus.
"Bagus?!" seruku tak percaya.
Mata Bagus juga melebar saat melihatku. "Febby? Kamu... ngekos di sini juga?"
"Iya! Aku udah dari kuliah ngekos di sini," jawabku masih немного kaget. "Kamu... ngapain di sini?"
"Aku lagi cari kosan, Feb. Baru diterima kerja di kota ini," jelas Bagus sambil tersenyum lebar. "Nggak nyangka banget ketemu kamu di sini!"
Ibu Kos ikut tersenyum melihat keakraban kami. "Wah, kalian sudah saling kenal toh? Lebih enak dong, jadi nggak canggung."
"Iya, Bu," sahut Bagus antusias. "Febby ini temen kecil saya di kampung. Nggak nyangka banget bisa ketemu lagi di sini."
Aku masih sedikit terkejut dengan pertemuan ini. Dari semua kos di Semprot City, kenapa Bagus bisa menemukan kos yang sama denganku? Ini terasa seperti takdir yang lucu.
"Jadi, kamu mau ngekos di sini, Gus?" tanyaku penasaran.
"Iya nih, Feb. Tempatnya kayaknya enak, tenang, terus kata Ibu Kos nggak ada jam malam," jawab Bagus sambil melirik Ibu Kos.
"Betul, Mas Bagus," timpal Ibu Kos. "Di sini bebas, yang penting saling menghormati sesama anak kos."
Bagus kembali menatapku dengan senyum penuh arti. "Kalau ada kamu di sini, Feb, kayaknya bakal lebih betah nih ngekos."
Setelah keterkejutan awal, suasana menjadi lebih santai dan penuh basa-basi. Kami bertukar cerita singkat tentang bagaimana masing-masing bisa sampai di Semprot City. Bagus bercerita tentang proses melamar pekerjaan yang akhirnya membawanya ke pabrik yang ternyata tidak terlalu jauh dari Jalan Melati, tempat kosku berada. Aku pun menceritakan sedikit tentang pekerjaanku saat ini.
Ibu Kos tampak senang melihat kami sudah saling mengenal. Beliau menjelaskan lebih detail tentang peraturan kos, fasilitas yang tersedia, dan tentu saja, biaya sewa kamar. Bagus mendengarkan dengan seksama, sesekali bertanya beberapa hal. Aku sendiri ikut memberikan beberapa informasi tambahan berdasarkan pengalamanku selama ngekos di sana.
Setelah melihat kamar kosong yang ada, Bagus tampak tertarik. Kamarnya memang cukup nyaman, isiannya lengkap dengan kasur, lemari, dan meja belajar. Jendelanya juga menghadap ke taman belakang kos, sehingga suasananya cukup tenang.
"Gimana, Mas Bagus?" tanya Ibu Kos setelah Bagus selesai melihat kamar. "Cocok?"
Bagus tersenyum lebar sambil menatapku sekilas. "Cocok banget, Bu. Saya ambil kamar ini deh."
Ibu Kos tampak senang. "Wah, alhamdulillah. Seneng Ibu punya anak kos baru yang ternyata sudah kenal Mbak Febby."
"Iya, Bu," sahut Bagus antusias. "Jadi nggak akan terlalu canggung nanti."
Setelah itu, Bagus mengurus administrasi pendaftaran kos dengan Ibu Kos. Aku menemaninya sambil sesekali memberikan saran atau menjawab pertanyaannya. Rasanya lucu dan menyenangkan bisa bertemu kembali dengan teman masa kecil di tempat yang tidak terduga ini.
Setelah Bagus resmi menjadi anak kos di sini, aku merasa ada warna baru di hari-hariku. Sejak Kevin harus bekerja di luar pulau dan kami menjalani hubungan jarak jauh, aku sering merasa kesepian. Penghuni kos yang lain kebanyakan adalah pekerja atau mahasiswa yang sibuk dengan urusan masing-masing dan cenderung cuek. Kehadiran Bagus, seorang teman yang sudah kukenal sejak kecil, terasa seperti angin segar.
Awalnya, aku senang karena akhirnya ada teman ngobrol di kos. Kami sering menghabiskan waktu di common space setelah pulang kerja, bercerita tentang hari yang kami lalui, atau sekadar menonton televisi bersama. Mengingat kembali masa kecil kami di kampung juga selalu menjadi topik yang menyenangkan dan membuat kami tertawa. Kehadiran Bagus sedikit mengobati rasa rinduku pada Kevin, meskipun tentu saja dengan cara yang berbeda. Bagus lebih seperti seorang sahabat yang bisa diajak berbagi cerita dan menghabiskan waktu bersama secara fisik.
Namun, semua itu berubah semenjak tadi malam. Bagus memergoki aku sedang masturbasi akibat "kentang" setelah ditinggal video call oleh Kevin. Aku yang merasa tidak enak kemudian pergi ke kamar Bagus untuk meminta maaf. Mungkin karena kondisi yang masih "kentang", obrolanku dengan Bagus malah membangkitkan nafsuku. Mulai dari aku yang penasaran untuk melihat penisnya Bagus sampai akhirnya dia berhasil mengentotku.
Saat Bagus pertama kali mеlepaskan celananya di hadapanku, aku benar-benar terkejut. Di depanku mеnggantung penis yang tampak mеnggairahkan dan... luar biasa besar. Aku tidak menyangka Bagus memiliki kejantanan sebesar itu. Selama ini, aku selalu menganggap penis Kevin yang berukuran sekitar 10 cm sudah termasuk besar. Setiap kali kami bercinta, aku selalu merasa terisi penuh dan puas. Namun, pemandangan di depanku malam itu benar-benar membuka mataku. Penis Bagus tampak jauh lebih panjang dan tеbal. Aku меnaksir panjangnya sekitar 17 cm, hampir dua kali lipat ukuran Kevin.
Malam itu, aku benar-benar mengalami perubahan besar karena Bagus. Aku yang selama ini selalu mengutamakan keamanan dan tidak pernah mau berhubungan seks tanpa kondom, malam itu mengecualikan Bagus. Nafsuku yang membara melihat penisnya yang besar mengalahkan segala prinsipku. Aku membiarkan Bagus memasuki tubuhku tanpa pelindung, sebuah keputusan yang belum pernah kubuat sebelumnya dengan Kevin. Dan malam itu pula, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan squirt. Sensasi luar biasa yang mengguncang seluruh tubuhku, melebihi apapun yang pernah kurasakan dengan Kevin. Yang lebih gila lagi, aku membiarkan Bagus menjadi pria pertama yang mengeluarkan spermanya di dalam rahimku. Semua akal sehatku menguap begitu saja, menyisakan gejolak nafsu membabi buta pada kejantanan memikat milik Bagus.
Aku tidak lagi menjadi Febby yang selalu menjaga jarak dan aturan. Sentuhan Bagus telah membuka mataku pada sisi diriku yang selama ini tertidur lelap, sebuah hasrat terpendam yang kini bangkit dengan liar. Aku telah menjelma menjadi wanita yang berani mengeksplorasi setiap inci keinginanku, tidak lagi takut untuk melepaskan kendali dan menikmati setiap sentuhan intim yang begitu membakar dari Bagus. Merasakan sisa-sisa denyutan nikmat di sekujur tubuhku, mengingat jelas setiap detail perpaduan panas yang kami lakukan, dari desahan tertahan hingga gerakan-gerakan tanpa malu, aku akhirnya mengakui dengan jujur pada diriku sendiri, sebuah pengakuan yang terasa asing namun membebaskan: "Ternyata Febby... sebinal ini.
=============
=============
Part 8. Pagi yang Panas
POV Febby
Pagi itu aku terbangun di kamar Bagus, cahaya matahari yang lembut menyelinap melalui celah tirai dan menerpa wajahku. Sensasi tubuhku yang sedikit pegal mengingatkanku pada malam yang penuh gairah. Tanpa sadar, sebuah senyum kecil merekah di bibirku. Kilasan-kilasan adegan intim bersama Bagus berputar di benakku seperti film pribadi yang penuh dengan sentuhan panas dan desahan tertahan. Aku meraba perutku perlahan, mengingat kejutan luar biasa yang kurasakan semalam.
Kutolehkan kepala, mendapati Bagus masih terlelap di sampingku. Wajahnya tampak begitu damai dan polos dalam tidurnya, kontras sekali dengan kebringasannya saat bercinta. Ada guratan senyum tipis di sudut bibirnya, seolah ia pun menyimpan mimpi indah tentang malam kami. Aku mengamatinya lekat-lekat, menyimpan setiap detail wajahnya dalam ingatan.
Senyumku semakin lebar. Rasa puas dan bahagia мени penuh hatiku, bercampur dengan sedikit rasa nakal mengingat semua batasan yang telah kami langgar. Tiba-tiba, di tengah kebahagiaan itu, sosok Kevin melintas dalam benakku. Senyumku masih tertahan, namun kini bercampur dengan sedikit rasa geli dan penasaran. Apa ya, yang akan Kevin katakan kalau dia tahu semua yang telah terjadi di ranjang ini? Ekspresi terkejutnya, mungkin sedikit rasa tidak percaya, pasti akan sangat lucu. Aku membayangkan wajahnya yang biasanya tenang itu mengernyit bingung.
"Tenang saja, Kevin," bisikku dalam hati, menatap langit-langit kamar Bagus. "Hatiku tetap milikmu, sungguh. Tapi untuk saat ini... biarkan Bagus yang memuaskan sisi diriku yang baru ini. Aku akan menjelajahi diriku lebih jauh bersamanya, menemukan hal-hal baru yang bahkan tidak kutahu ada. Dan saat kamu kembali nanti, aku yakin... aku akan bisa memberikanmu kepuasan yang jauh lebih besar dari sebelumnya."
Saat pikiran tentang Kevin mulai mereda, mataku tanpa sengaja tertuju pada selimut di sampingku. Di baliknya, samar-samar terlihat bentuk yang begitu familiar dan telah memberiku kenikmatan luar biasa semalam. Kontol Bagus tampak berdiri tegak di balik kain tipis itu, seolah memanggil untuk disentuh. Insting binal dalam diriku langsung bangkit. Aku ingin merasakan lagi teksturnya di telapak tanganku, mengingat bagaimana liarnya ia menusukku semalam. Tanpa ragu, uluran tanganku bergerak mendekat, siap untuk membangunkan kembali "teman tidurku" pagi ini.
Jemariku dengan lembut menyentuh permukaan selimut yang menutupi kejantanan Bagus. Perlahan, aku menarik kain itu sedikit ke bawah, membiarkan pemandangan yang begitu memikat itu tersingkap sepenuhnya. Kontol Bagus tampak begitu gagah dalam tidurnya, urat-uratnya terlihat jelas di sepanjang batangnya yang kokoh. Kepalanya yang merah tampak begitu sensitif, mengingatkanku pada setiap desahan yang lolos dari bibirnya semalam.
Tanpa bisa menahan diri, telapak tanganku kini sepenuhnya menggenggamnya. Kulitnya terasa hangat dan halus di bawah sentuhanku. Aku menggerakkan tanganku perlahan ke atas dan ke bawah, merasakan bagaimana ia terasa besar dan keras di dalam genggamanku. Sensasi itu langsung memicu kembali memori-memori panas semalam, setiap tusukan yang dalam, setiap erangan kenikmatan yang kami bagi.
Kepalaku menunduk, dan bibirku mengecup lembut ujung kontol Bagus yang merah. Aroma khasnya langsung menyeruak, memicu gelombang hasrat yang membakar dalam diriku. Lidahku menjilat permukaannya dengan nakal, merasakan teksturnya yang merah dan sedikit asin. Aku tahu, ini adalah cara terbaik untuk membangunkan "teman tidurku" dan memulai pagi ini dengan cara yang tak terlupakan.
Kepalaku semakin menunduk, dan bibirku membuka perlahan, menyambut kepala merah kontol Bagus yang sudah mulai terasa berdenyut di telapak tanganku. Dengan lembut, aku memasukkan ujungnya ke dalam mulutku. "Mmmhh..." desahku lirih, merasakan teksturnya yang merah dan hangat menyentuh lidahku. Aroma khasnya semakin kuat, memicu hasrat yang membakar dalam diriku. Aku menghisapnya perlahan, memberikan tekanan lembut dengan bibir dan lidahku. "Ahhh..." desahku sedikit lebih keras saat merasakan kontolnya semakin keras di dalam mulutku. Bagus masih terlelap, namun aku bisa merasakan sedikit pergerakan di tubuhnya, tanda bahwa ia mulai terusik. Aku teruskan jilatanku, kini sedikit lebih dalam, membelai batangnya dengan lidahku dari pangkal hingga ujung. "Enghh... enak..." desahku tertahan, menikmati setiap gerakan dan sensasi yang kurasakan. Suara desahan lirih akhirnya lolos dari bibir Bagus.
Matanya sedikit terbuka, tampak merah dan bingung sebelum akhirnya fokus pada wajahku yang berada tepat di bawah sana. Aku tersenyum nakal di sela-sela jilatanku, tahu betul efek yang kubuat padanya. Pagi ini, aku akan memastikan ia bangun dengan cara yang paling menyenangkan.
"Ahhh... emhh... Febb..." desah Bagus berat, suaranya tercekat di antara nikmat dan kantuk yang masih меnghimpit. Matanya perlahan terbuka, menatap langit-langit kamar dengan pandangan sayu yang mulai fokus padaku.
Aku sedikit mengangkat wajahku, menyunggingkan senyum lebar yang terasa begitu menggoda. Mataku berbinar nakal saat menatapnya. "Hhh... slurp..." Selamat pagi," bisikku riang, dengan nada ceria yang kontras dengan aktivitas bibirku yang kembali bekerja. "Sluurp... mmmh..."
"Kamu ngapain, Febb?" tanya Bagus dengan suara serak khas bangun tidur, bercampur dengan sedikit kebingungan dan... aku yakin, sedikit ketertarikan yang mulai terusik. "Enghh..." desahnya lagi saat aku kembali memberinya tekanan lembut.
Aku terkekeh pelan, merasakan geli menggelitik perutku. "Hhh... slurp..." "Hmm, apa ya?" jawabku pura-pura berpikir, sebelum kembali menatapnya dengan senyum jahil. "Slurp... mmmh..." "Aku cuma mau mastiin kamu bangun dengan cara yang paling menyenangkan," ujarku, mengulang kalimat awal dengan penekanan menggoda dan tatapan mata yang nakal, sebelum kembali sepenuhnya memberikan perhatianku padanya. "Slurp... ahhh..." desahan Bagus kini terdengar lebih jelas dan tertahan.
Setelah beberapa saat, Bagus kembali mendesah pelan. "Mhngh..." Ia mencoba menggerakkan tangannya, meraih rambutku. "Jam berapa ini, Febb?" tanyanya dengan suara masih berat dan sedikit linglung.
Aku hanya menggelengkan kepala tanpa mengangkat wajah, terlalu asik dengan sensasi yang kurasakan. "Sluurp..." Aku benar-benar tidak peduli dengan waktu saat ini. Fokusku sepenuhnya tertuju pada kejantanan Bagus di dalam mulutku, pada setiap desahannya yang semakin dalam, dan pada kenikmatan yang perlahan mulai menjalar di tubuhku juga. "Mmm... gatau..." jawabku akhirnya, singkat dan sedikit teredam, sebelum kembali sepenuhnya menikmati setiap gerakan dan teksturnya. Waktu benar-benar bukan prioritasku saat ini.
Dengan mata masih setengah terpejam, tangan Bagus bergerak perlahan, meraba-raba mencari ponselnya di nakas. Setelah menemukannya, ia sedikit memiringkan kepala untuk melihat layar. "Enggh..." desahnya lagi, kali ini dengan sedikit keterkejutan. "Ini sudah jam setengah tujuh, Febb..." ucapnya dengan suara sedikit lebih jelas namun masih serak. Ia berhenti bergerak sejenak, merasakan bibirku masih melingkupinya dengan nikmat. "...kamu nggak kerja? Ini kan hari Jumat?" tanyanya, sedikit khawatir namun tetap menikmati sensasi yang sedang kuberikan.
Aku mendongak sedikit, masih melingkupinya dengan mulutku, dan menyunggingkan senyum nakal. "Sluurp..." "Aku mau sarapan dulu sebelum kerja," jawabku dengan suara sedikit teredam namun jelas menggoda, sebelum kembali sepenuhnya menikmati kejantanannya.
Bagus menghela napas panjang, "Mhh... ahhh..." Ia memejamkan matanya, kini seolah menyerah pada kenikmatan yang kuberikan. Tangannya yang tadi memegang ponsel kini terlepas dan kembali meraih rambutku, membelainya lembut. Ia tidak lagi bertanya tentang waktu atau pekerjaanku. Ia paham betul "sarapan" seperti apa yang kumaksud pagi ini. "Enggh..." desahnya pelan. "Sarapan yang spesial ya? Jadi, kamu mau nelen semuanya sampe nggak ada sisa, hmm?"
Aku mendongak sedikit, masih melingkupinya dengan mulutku, dan menjawab dengan nada menggoda, "Iyahhhhh... aku mau sarapan protein. Protein peju hihihi..." Aku menyunggingkan senyum nakal sebelum kembali sepenuhnya menikmati kejantanannya. "Sluurp... mmmh..."
Setelah beberapa saat, Bagus kembali membuka matanya, menatap langit-langit dengan senyum tipis di bibirnya. "Mhngh..." Ia menarik napas dalam-dalam sebelum berucap dengan suara serak penuh hasrat, "Wah, kamu emang nakal banget ya, Febb... hhmm... Mulutmu ini... jagoan banget." Ia menggoda dengan nada santai namun tetap vulgar dan sensual.
Aku mendongak sedikit, menatap matanya sambil tersenyum seksual. "Emang mulut ini doang yang bikin kamu senikmat ini?" tantangku utama.
Bagus menoleh sedikit, menatapku dengan tatapan penuh hasrat. "Hhh... Beruntung banget ya Kevin bisa disepong gini..." desahnya utama.
Aku semakin intens mengulum kejantanannya, merasakan setiap denyutan yang mengalir di sana. Mendengar ucapan Bagus, aku mengedipkan mata seksual sambil tersenyum nakal. "Iya... Kevin tuh emang beruntung banget punya aku yang bibirnya pintar gini... uhmm..." Aku mengeratkan isapanku sebelum kembali sepenuhnya menikmati "sarapan" pagiku. "Sluurp... mmmh... ahhh..."
Setelah beberapa saat, aku melepaskan isapanku, menyisakan sedikit cairan bening di ujung kontol Bagus. Aku menatapnya dengan senyum mengejek. "Tapi kasihan juga sih Kevin... ceweknya udah kena hantam kontol besar ini... hihihi..." Aku tertawa kecil, melihat ekspresi terkejut bercampur geli di wajah Bagus.
Bagus menimpali sambil tertawa puas, "Hahaha... Iya, mana ceweknya keenakan lagi. Kayaknya udah nggak berasa tuh kalau dimasukin kontol Kevin lagi."
Aku nampak berfikir sejenak, lalu menjawab sambil terkekeh pelan, "Hmmm... gatau ya... keknya cuma geli deh... hihihihi..." Kemudian aku melanjutkan dengan nada yang lebih lembut namun tetap seksual, "Tapi gitu-gitu juga, dia tetep pacar aku. Hati aku tetep cuma buat dia."
Bagus menatapku dengan alis terangkat, lalu bertanya dengan nada menggoda, "Kalau memeknya?"
Aku menjawab sambil tersenyum lebar dan sedikit menggoda, "Memek, mulut, nenen, bibir... pokoknya semua yang bisa muasin kamu jadi punya kamu... hihihi..."
Bagus menatapku dengan alis terangkat, sedikit menyeringai seksual sambil tersenyum. "Terus Kevin kebagian apa dong kalau gitu?" tanyanya utama.
Aku menunduk, kembali melingkupi kejantanannya dengan bibirku dan menghisapnya dalam-dalam. "Sluurp... mmmh..." Sambil melakukan itu, aku menjawab dengan nada seksual, "Hmmm... sisanya kali yaaa... hihihi..."
Bagus mendesah kenikmatan, "Mhnggh... Gilaaa... enak banget, Febbbb... nggak mau dimasukin aja?"
Aku menghentikan sejenak isapanku, mendongak menatap Bagus dengan senyum lembut. "Nggak mau ah... memekku masih agak perih... entar malem aja yaaa..."
Sambil mengatakan itu, tanganku yang bebas mulai memainkan biji kontol Bagus dengan gerakan memutar yang lembut namun menggoda. Bagus membenamkan tangannya di rambutku, mendesah semakin keras, "Engghhh... Iya... iya... enak banget, Febb..."
Aku menatap Bagus dengan kagum sambil terus mengocok kontolnya. "Kamu kuat banget sih, Guss... kalau Kevin, pasti udah keluar dari tadi aku sepongin."
Bagus mengerang pelan, "Mhmmm... Gatau yaaa... hehe... Kocokin sambil nenen sini, Feb..."
Aku mengangguk dan perlahan menggeser posisi, memberikan ruang untuk menyusu pada salah satu nenenku sambil tetap mengocok kontol Bagus dengan tangan yang lain. Aku mendesah kenikmatan, "Mhh... Gigit putingnya, Guss..."
Tiba-tiba, Bagus melepaskan tangannya dari rambutku dan menarik wajahku mendekat. Bibirnya menggerapas bibirku dengan kasar namun penuh gairah. Ciuman kami menjadi panas dan membara, lidahnya menyerbu masuk ke dalam mulutku, bertautan dengan lidahku dalam tarian seksual yang menggairahkan. Aku mengerang tertahan di sela-sela ciuman, merasakan napasnya yang menggebu-gebu menyapu wajahku. Aroma maskulinnya mengisi indra penciumanku, membuatku semakin terhanyut dalam gelombang nafsu yang memuncak. Air liur kami membasahi bibir dan dagu saat ciuman menjadi semakin intens dan menuntut. Tanganku mengencang menggenggam kontolnya yang makin menegang, merasakan denyutannya yang semakin cepat menyelaraskan diri dengan ritme ciuman kami yang membara.
Di tengah ciuman yang membakar, tiba-tiba tangan Bagus melepaskan bibirku dan menampar pantatku dengan keras. "Plak!" Aku mendesah kenikmatan, "Mhh... lagi, Gusss..." merasakan sensasi antara sakit dan nikmat menjalar melalui tubuhku. Tamparan itu membuat ciuman kami terpisah, namun tatapan mata Bagus menunjukkan gairah yang membara.
Bagus menatapku dengan senyuman seksual. "Suka ditampar pantatnya, hah?" tanyanya dengan nada menggoda. Aku menjawab dengan suara mendesah penuh gairah, "Iyaahhh... sukaaa, Gusss..."
Bagus mengerang rendah, menatap pantatku dengan gairah yang membara. "Gemes aku sama pantatmu, Febb... gede banget, kenyal lagi..." Plakkk! Bagus kembali menampar pantatku dengan keras. Aku kembali mendesah kenikmatan, "Mhh..."
Tiba-tiba, Bagus mengerang tertahan, "Shittt... mau keluar, Feb..." Mendengar itu, aku merasa memiliki tanggung jawab untuk membuatnya mencapai puncak kenikmatan secepat mungkin. Tanpa membuang waktu, aku membungkuk dan mengembalikan mulutku ke kontol Bagus. Aku menyepongnya dengan penuh gairah, mengulumnya dalam-dalam dan memainkan lidahku di sepanjang kepala dan batang kontolnya. Isapanku menjadi semakin intens dan cepat, mengikuti ritme napas Bagus yang semakin menggebu-gebu.
"Sluurp... mmmhh... ahhh..." desahku tertahan, merasakan denyutan nadi Bagus yang semakin kuat di dalam mulutku. Aku mengerahkan seluruh kemampuanku, memberikan pelayanan terbaik untuk membuatnya mencapai puncak kenikmatan. "Engghhh... enaaakkk..." erang Bagus di sela-sela isapanku, tangannya menekan pangkal kepalaku semakin dalam. "Ughhh... ahhh... mau muncrat, Febb..."
Dan kemudian, Bagus mengerahkan seluruh sisa tenaganya. "Ahhh... aku keluar, Febbbb..." cairan kental dan hangat menyemprot mengisi rongga mulutku. "Crooottt... crooottt... croooottttt... crooottttt... crottt... crottt..." Bagus terus memuncratkan spermanya, mengalir menyeluruh di lidah dan langit-langit mulutku. Aku tetap mengulumnya dengan nikmat, menelan setiap tetes cairan mengandung kehidupan itu.
Setelah Bagus selesai memuncratkan seluruh spermanya, aku melanjutkan mengulum kontolnya dengan lembut, membersihkan setiap tetes cairan kental yang tersisa. Lidahku menjilat kepala dan batang kontolnya hingga benar-benar bersih, memastikan tidak ada setetes pun yang terbuang sia-sia. Setelah selesai, aku mendongak menatap Bagus dengan senyum seksual. "Mmmhh... sperma kamu enak banget, Guss..." pujiku dengan nada menggoda.
Setelah itu kami berpelukan dan saling menggesekkan kulit, Bagus melihat ponselnya dan menyadari waktu sudah menjelang pukul 7.30 pagi. Bagus mengajakku bersiap-siap karena ia harus sudah di kantor pukul 8.30, dan aku pun sama.
Aku kemudian memungut pakaianku yang berserakan di lantai dan memakaikannya kembali. Setelah itu, aku mengucapkan selamat tinggal singkat pada Bagus dan kembali ke kamarku sendiri untuk bersiap-siap menuju kantor. Sepanjang waktu bersiap-siap, pikiranku melayang-layang, membayangkan pengalaman menggairahkan apa yang menantikanku saat pulang kantor nanti. Aku merasa gairah membara dalam diriku, menunggu saat-saat menikmati keintiman bersamanya lagi.
=============
=============
Part 9. Rencana Nakal
POV: Febby
Cahaya lampu fluorescent klinik kecantikan terasa menyengat, kontras dengan remangnya kamar Bagus semalam. Aku duduk di meja, harusnya fokus mencatat jadwal treatment klien, tapi pikiranku melayang liar. Aku masih bisa merasakan jejak tangan Bagus di pantatku—rasa perih bercampur desiran nikmat yang kini terasa seperti bayangan, namun begitu nyata.
"Feb, ayo makan siang!" ajak Sella, rekanku, sambil berjalan mendekat.
"Oh iya udah jam segini" jawabku cepat sambil melihat jam, mencoba terlihat normal.
Tiba-tiba, aroma disinfektan yang menyengat dari bilik sebelah menyergap hidungku. Ugh. Perutku tiba-tiba terasa diaduk. Aku menahan napas sejenak, menelan ludah, dan memaksakan senyum. Tidak. Itu cuma bau alkohol. Tapi rasa mual itu, meski hanya sekelebat, cukup untuk memicu alarm bahaya.
Sambil menenangkan diri aku berkata, “Eh aku ke toilet dulu deh Sel, kamu duluan aja”
“Yaudah deh kalau gitu, jangan lupa makan lho, kasian lambungmu” jawab Sella sambil berjalan meninggalkanku.
Setelah Sella pergi, aku segera bergegas ke toilet, mengunci diri. Aku menyandarkan dahi ke pintu dingin. "Gila, Feb, kamu harus tenang," bisikku pada pantulan diriku yang tampak gelisah.
Jemariku refleks meraba perutku, lalu membuka kalender di ponsel. Jantungku mencelos. Aku menghitung cepat. Malam itu. Malam tanpa pengaman. Malam Bagus mengeluarkan seluruh isinya di dalam sana. Dan sialnya, malam itu adalah masa suburku meskipun itu Adalah hari terakhir.
Bodoh. Bodoh sekali kamu, Febby! Aku memaki diriku sendiri. Selama ini aku mati-matian menjaga diri dari Kevin, khawatir hamil. Tapi demi penis Bagus yang 17 cm itu, semua prinsip lenyap. Ketakutan akan kehamilan, akan kehancuran hubungan dengan Kevin, tiba-tiba membanjiri dadaku. Ini bukan lagi main-main. Ini konsekuensi nyata.
Aku menutup mata, menekan rasa panik. Tapi anehnya, di tengah ketakutan itu, ingatan tentang Bagus memelukku, menampar pantatku, dan bisikannya yang menuntut... itu lebih kuat. Aku butuh dia. Aku butuh dia meredam rasa cemas ini dengan kenikmatan lagi.
Di dalam toilet, langsung saja aku ambil HP, tanganku agak gemetaran. Aku tahu aku seharusnya menghubungi Kevin, tapi sialnya aku malah buka chat Bagus—dia biang keroknya, tapi juga satu-satunya obat penenangku.
Febby (12:05): Gus, aku nggak bisa kerja. Aku mual banget. Kepala aku isinya pantat yang merah sama crotan kamu doang. Aku takut.
Tak sampai semenit, Bagus langsung balas. Dia sama sekali nggak panik. Justru balasannya santai dan malah ngegoda.
Bagus (12:05): Mual? Hahaha. Udah sarapan protein VIP tadi pagi ya? Udah deh, jangan panik. Kamu cuma perlu fokus sama rasa nagihnya.
Rasa takutku bukannya hilang, malah bercampur sama sange yang tanggung.
Febby (12:06): Jangan gitu ah. Aku beneran cemas. Kok kamu nggak takut sih? Ini masa suburku lho, Gus.
Bagus (12:07): Ngapain takut sama yang enak-enak? Gini deh, nanti kamu pulang, mampir apotek. Beli pil kontrasepsi darurat. Masih keburu kok.
Sial, kenapa aku bisa lupa ide segampang itu? Perasaanku sedikit melega, setidaknya ada solusi cepat.
Febby (12:08): Oh iya ya, yaudah deh aku coba cari nanti. Tapi ada satu masalah lagi Gus!
Bagus (12:08): Masalah apa tuh?
Febby (12:09): Aku sange Gusss… Aku ga fokus kerja. Aku keinget terus kontol kamu yang gede itu nancep di aku? Panas banget!
Bagus langsung pasang mode flirting level maksimal. Dia tahu dia harus me-recall kenikmatan yang bikin aku hilang akal.
Bagus (12:10): Sama, Feb. Aku juga nggak fokus. Aku lagi bayangin suara desahan kamu tadi pagi waktu aku tampar pantatmu. Pantatmu itu emang ditakdirkan buat kontolku, bukan buat kursi kantor.
Febby (12:11): Aahh... Sialan kamu! Kamu tahu aku suka! Nghhh... Terus aku ingat waktu aku squirt di kamu... Kamu nggak bisa bayangin gimana nagihnya aku sama kontol kamu yang segitu gede. Kontol Kevin bukan apa-apa kalo dibandingin.
Gairah langsung mengambil alih akal sehatku. Aku berdiri di depan cermin toilet kantor. Aku membuka sedikit kancing baju kerjaku, meremas payudaraku sendiri dari luar bra, dan mengambil foto close-up dari dadaku yang tertekan di balik seragam.
Febby (12:12): Aku lagi di toilet sekarang, Gus. Tetek aku pengen banget dihisap kamu! Lihat, gara-gara kamu, aku jadi sange di jam kerja!
Bagus (12:12): Kamu binal banget ya! Aku suka! Aku janji, nanti malam aku hisap sampai kamu lemas. Apalagi waktu kamu bilang "isi penuh rahimku". Aku mau dengar lagi malam ini.
Respon Bagus membuat klitorisku berdenyut hebat. Air liurku terasa mengering.
Febby (12:13): Aku basah, Gus. Serius. Aku nggak sabar ngerasain mulut kamu nyusu di tetekku lagi kayak tadi pagi. Rasanya kamu menghisap sampai ke perut.
Bagus (12:14): Aku tahu, Feb. Aku bisa bayangin putingmu yang keras di mulutku. Tadi pagi, mulut kamu juga jago banget. Aku hampir gak tahan buat crot. Kamu sengaja goda aku ya?
Febby (12:15): Aku sengaja, Gus. Aku sengaja mau kamu makin sange! Kamu emang hebat, baru kali ini ada yang kuat aku sepong lama. Apalagi kontol kamu gede banget, rasanya penuh sampai tenggorokan. Malam ini aku mau lebih lama lagi. Aku mau kamu crot lagi di mulutku kayak tadi pagi!
Bagus (12:16): Hahaha. Pintar! Kamu emang ditakdirkan buat nakal, Feb. Aku pastiin kamu spermanya bakal langsung masuk ke lambung kamu. Tapi ingat, aku nggak mau cuma di mulut. Aku mau memek kamu yang ngejepit aku sampai kita squirt bareng lagi.
Febby (12:17): Aku mau, Gus! Aku mau telen sperma kamu. Aku mau banget kamu genjot memek aku sampai squirt lagi! Kamu tahu kan aku menjerit dan airku muncrat di kasur kamu? Aku mau kamu crot lagi di dalam sampai aku nggak bisa jalan besok! Aku mau kamu rusak memek aku!
Bagus (12:18): Aku Feb, aku suka kamu minta dirusak. Aku paling suka waktu kamu udah nggak bisa bedain mana sakit mana enak. Aku mau kamu malam ini cuma ingat nama aku.
Febby (12:19): Iyah Gus. Kontol kamu bikin aku lupa segalanya. Di pikiranku cuma ada kontol kamu.
Bagus (12:20): Ehh tapi kalau kamu takut hamil, aku ga bisa crot dalem lagi dong?
Pertanyaan Bagus membuatku berfikir sejenak. Aku tau dia ingin memancingku. Di satu sisi aku memang takut akan risiko kehamilan, tetapi di sisi lainnya aku ingin mengulang kenikmatan saat Bagus mengisi rahimku dengan sperma hangatnya. Aku bingung, tapi nafsu terlanjur menguasai diriku. Toh juga kemarin adalah masa suburku yang terakhir dan aku juga akan minum obat untuk pencegah hamil.
Febby (12:23) Gausah Gus! Aku mau kamu crot lagi di dalam memek aku. Aku mau rahimku penuh sama spermamu.
Bagus (12:24): Oke kamu yang mau yaaa hahaha. Malam ini kita akan main lebih gila lagi. Btw, kamu pulang jam berapa Feb?
Febby (12:25): Aku pulang jam 4.30 Gus. Paling jam 5 udah sampai kos, kalau jalannya nggak terlalu macet.
Bagus (12:26): Oke. Hari ini aku pulang jam 5. Nanti kita ketemu sekitar jam 6 ya.
Febby (12:26): Oke gapapa, Gus. Aku siap menunggu hihihi.
Bagus (12:27): Tapi aku mau request sesuatu buat nanti malem.
Febby (12:27): Request apaan Gus?
Bagus (12:27): Aku mau kita main di kamarmu, Feb!
Febby (12:28): Hah? Di kamarku? Kamu serius?
Bagus (12:29): Serius lahh. Aku mau lihat seberapa liar kamu bisa bergerak di tempat yang biasa kamu dan Kevin pakai.
Aku terkejut mengetahui permintaan Bagus. Tempat dimana aku dan Kevin biasa bercinta kini akan aku pakai bersama pria lain dan dia adalah teman masa kecilku. Entah kenapa aku semakin horny membayangkan hal itu. Sambil tersenyum, benakku berkata, “Hihihi, maaf ya Kevin. Kayaknya kontol kamu bener-bener tergantikan deh di memek aku. Tapi tenang, di hatiku tetep cuma ada kamu kok!”
Febby (12:31): Kamu beneran gila, Gus! Tapi aku suka! Iyah malem ini kita main di kamar aku.
Bagus (12:31): Mantappp! Ga aku ga sabar mau genjot memek kamu.
Febby (12:32): Uhh Gus, sebenarnya cuma Kevin yang boleh make tempat itu, tapi berhubung semalem kamu udah make tempatnya Kevin juga jadi yaudah deh. Lagian siapa suruh ninggalin aku lama-lama, kan jadi digantiin sama kamu hihihi.
Bagus (12:33): Hahaha, sebenernya aku ga bakal gantiin Kevin kalau urusan kontol.
Febby (12:33): Trus apa dong?
Bagus (12:33): Ya aku kalahin lah, kan kontolku lebih BESARRRR….
Febby (12:34): Gusss… kamu emang paling bisa bikin aku basah. Ga sabar deh ketemu kontol besar ini hihihi.
Bagus (12:35): Emang kalau udah ketemu mau diapain?
Febby (12:36): Awalnya sih pengen tak elus-elus, tapi berhubung kontolmu nakal dan suka berontak, akhirnya aku siksa pake mulut aku.
Febby (12:36): Ehh tapi gatau sih, mulut aku yang nyiksa kontol kamu atau justru kontol kamu yang nyiksa mulut aku hihihi…
Bagus (12:37): Ugh, dasar binalll… Awas aja ya nanti.
Febby (12:37): Hihihi, yaudah deh Gus. Aku udah agak legaan. Mau makan dulu nih.
Bagus (12:38): Oke sampai ketemu di kamar Cewek Binalkuuu...
Febby (12:38): Aahh... Oke, Tuan Berkontol Besar.
Akupun keluar dari toilet dan menemui Sella di tempat biasa kami makan siang.
“Lama amat Feb di toiletnya, kamu gapapa kan?” tanya Sella.
“Gapapa kok Sell, tadi cuma agak mual aja pas cium aroma desinfektan,” jawabku menjelaskan.
“Mual? Desinfektan? Jangan-jangan kamu hamil Feb?” selidik Sella.
Aku kaget dengan tuduhannya, “Ya enggak lah, gimana mau hamil orang cowokku aja gak disini,” jawabku berusaha tenang dan tidak salah omong di depan Sella.
Sella adalah teman dekatku di kantor dan ia adalah teman curhatku untuk segala urusan termasuk hubunganku dengan Kevin. Usia kami tidak terpaut jauh, hanya beda beberapa bulan saja. Saking dekatnya aku dengan Sella, dia tau semua kisah cintaku dengan Kevin termasuk kisah lepasnya perawanku. Sella sendiri sudah menikah setahun lalu dan kini hanya tinggal bersama suaminya di sebuah komplek perumahan. Btw, suaminya ini adalah satu-satunya pria yang pernah pacaran dan akhirnya menikah dengannya.
Dari segi penampilan, Sella memiliki paras yang cantik dengan tinggi 150 cm dan tubuh yang proporsional, cocok lah untuk disebut sebagai petite girl hehe. Sehari-hari ia selalu mengenakan hijab dan pakaian yang menutup auratnya. Meskipun demikian, Sella adalah orang yang seringkali berbicara tanpa filter termasuk untuk urusan ranjang. Dia bahkan dulu sering menceritakan bagaimana keseruannya di ranjang bersama suaminya meskipun kini sudah tidak pernah menceritakan itu lagi (mungkin malu juga ya cerita gitu terus hihihi).
“Yaa siapa tahu hamilnya sama tetangga kos, kan sering terjadi tuh di kota-kota besar hahahaha”, jawab Sella sambil tertawa.
Aku semakin kaget dengan ucapannya. Aku tau dia asal menjawab tapi karena aku baru saja main belakang dengan Bagus, ucapan itu seperti langsung menelanjangin diriku sendiri. “Enak ajaaaa... Jangan-jangan kamu yang ada main sama tetangga komplek hehehe”, jawabku membalikan bola panas.
“Emangggg... wleee”, jawabnya sambil menjulurkan lidah. “Yaudah cepet pesen, keburu habis ini jam istirahat”
“Oh iya, aku pesen dulu deh”, jawabku tanpa melanjutkan topik obrolan. Aku kemudian melanjutkan rutinitasku hingga jam pulang kantor.
Jam 17:05: Febby Tiba di Kos
Aku mematikan layar ponsel, wajahku memerah, dan senyum binal itu kembali merekah. Urusan risiko sudah diatasi. Sekarang, fokusnya adalah pengkhianatan yang paling liar.
Aku buru-buru pulang. Setelah membeli pil kontrasepsi darurat di apotek terdekat—langkah terakhir untuk meredakan kepanikan masa suburku—aku langsung menuju kamar kos.
Jantungku berdebar tak karuan. Ini bukan lagi karena takut akan perselingkuhan, tapi karena ide gila yang Bagus berikan. Aku segera mengunci pintu kamar. Kamar kecil tempat aku dan Kevin biasa berbagi tawa, merajut rencana masa depan, dan... bercinta.
Aku mengeluarkan pil kontrasepsi darurat dari saku, menelannya dengan satu tegukan air putih. Konsekuensi fisik telah kuredam. Sekarang, tidak ada alasan lagi untuk menahan diri. Aku siap sepenuhnya untuk Bagus.
Aku membuka ponsel.
Febby (17:07): Gus, aku udah sampai.
=============
=============
Part 10. Invasi Bagus
POV: Bagus
Halo, namaku Bagus. Aku adalah seorang pekerja disebuah industri di Semprot City. Aku memiliki tinggi 170 cm dan BB 65 kg. Wajahku biasa-biasa saja, tidak ganteng tapi tidak jelek juga. Kata mantanku sih, aku punya ukuran penis yang besar dan dia selalu puas bercinta denganku. Yap, betul, tidak ada yang salah dengan kata mantan. Sebenarnya, kisah cintaku kandas saat aku masih kuliah di kota tetangga, dia adalah gadis yang merenggut keperjakaanku (meskipun aku juga dapat perawannya sih hehehe). Perpisahanku terjadi sekitar setahun lalu saat aku hampir menuntaskan studiku. Sejak saat itu aku belum pernah lagi menjalin hubungan cinta apalagi seksual dengan seseorang. Bukan sok jual mahal sih, tapi aku cuma pengen lebih fokus untuk menata karir dan masa depanku sendiri.
Sampai kemudian aku mendapat pekerjaan dan mulai tinggal di Semprot City. Aku tinggal disebuah kos-kosan di Jalan Melati. Disanalah aku bertemu teman masa kecilku yang bernama Febby. Sebuah kebetulan memang, siapa sangka kami bertemu lagi disini dan tinggal di tempat kos yang sama. Awalnya, memang tidak ada yang aneh dengan pertemuanku dan Febby. Tapi semua berubah sejak kejadian malam itu.
Semua berawal saat aku tanpa sengaja mendengar Febby melakukan video call dengan Kevin pacarnya. Tak kusangka Febby yang yang selama ini ku anggap teman biasa justru menunjukkan sisi liar saat bersama pacarnya. Juga momen setelah itu, dimana aku melihat Febby memuaskan dirinya sendiri saat aku hendak menukar charger laptop miliknya. Aku tidak menyangka ternyata Febby punya nafsu birahi yang cukup besar sampai-sampai dia harus melakukan masturbasi.
Malam itu, Febby datang ke kamarku dengan perasaan bersalah dan niat untuk memperbaiki suasana. Namun itu semua justru menjadi momen perselingkuhan pertamanya. Yap, malam itu kami bercinta dengan hebat. Aku berhasil membuatnya merasakan squirt pertamanya. Aku juga menjadi orang pertama yang bercinta tanpa kondom dengannya. Dan yang paling gila adalah malam itu rahimnya pertama kali terisi sperma dan sperma itu berasal dari penisku. Entah kenapa aku sampai berani melakukan creampie pada gadis itu. Tapi mengingat lagi wajahnya yang penuh gairah itu, rasa-rasanya justru dia yang menginginkan creampie itu meskipun mulutnya sempat menolak.
Dan pagi harinya, kami kembali melakukan kegiatan seksual. Bukan bercinta, dia hanya melakukan blowjob. Tapi itu selalu membayangi ingatanku. Aku teringat bagaimana dia memperlakukan penisku. Dia menghisapnya dengan mulut penuh air liur. Dia sengaja menahan napas, menghisap penisku dalam-dalam, dan akhirnya menelan semua sperma panas dariku, membuktikan betapa binalnya dia, betapa dia kecanduan akan sensasi terlarang ini.
Kini, setibanya aku di kamar kosku, aku melihat notifikasi pesan di ponselku.
Febby (17:07): Gus, aku udah sampai.
Yap, malam ini kami berjanji untuk mengulang permainan panas kami semalam. Bedanya, kali ini permainan itu akan dilakukan di kamar Febby, di ranjang tempat dia dan Kevin pacarnya biasa melakukannya. Meskipun aku single, tapi aku pribadi tidak ada niatan untuk merebut Febby dari Kevin dan menjadikannya sebagai kekasihku. Bagiku, bisa merasakan kenikmatan dari semua bagian tubuhnya aja udah cukup (ya cukup lah gilak, kapan lagi sensasi ngentot sama pacar orang spek binal kek gini hahaha).
Aku kemudian membalas pesan Febby.
Bagus (17.33): Oke aku mandi dulu ya Feb.
Aku pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Sebelum mandi aku melakukan shaving pada rambut-rambut halus di badanku. Yaa meskipun wajahku gak ganteng-ganteng amat, setidaknya aku adalah pria yang bersih dan rutin merawat diri hehe. Sebenernya tidak ada yang spesial dari mandiku kali ini. Hanya mandi biasa dengan treatment biasa yang ku jalani. Terpenting adalah aku selalu tampil wangi karena itu akan menjadi daya tarik bagi wanita hahaha. Aku mengenakan setelan kaos polo sport dan bawahan celana sport tanpa CD (ngapain juga pake CD, bakal telanjang juga nanti hahaha). Aku kemudian menghubungi Febby.
Bagus (18.11): Ready nih Feb.
POV: Febby
Setelah berkabar pada Bagus kalau aku sudah di kos, aku pun bergegas untuk mandi. Aku berusaha mempersiapkan diriku sebaik mungkin untuk malam ini. Selesai mandi, aku langsung mengeringkan badanku dengan handuk sekaligus ku gunakan untuk melilit tubuhku dan berjalan menuju meja rias. Aku merias tipis wajahku untuk memberikan kesan segar dan sensual pada diriku.
Saat sedang make up, tiba-tiba ponselku berdering. Saat aku lihat ternyata video call dari Kevin. Aku mengangkat call tersebut dan meletakkan HP-ku di meja dengan menampilkan bagian atas tubuhku yang terlilit handuk hingga wajahku sembari melanjutkan make up ku.
"Hai, Sayang! Abis mandi ya?" suara Kevin terdengar lembut. Wajahnya tampak lelah namun familiar di layar, tersenyum dari seberang pulau.
"Hello, Ayanggg… Iya ini baru banget kelar mandi. Kamu baru pulang ya?" jawabku manja, sambil mengoleskan blush on. Aku berusaha agar tanganku tidak gemetar dan suaraku terdengar normal. Sial, kenapa dia harus telepon sekarang?
"Wih, kamu cantik banget, Sayang. Iya aku baru pulang. Kamu mau kemana emangnya?" Kevin bertanya dengan nada penasaran yang hangat.
Aku sedikit tercekat dan bingung untuk mencari alasan. "Kepoo ihh, wleeee..." Jawabku untuk sekedar mengalihkan topik, menjulurkan sedikit lidahku ke arah kamera.
"Ih serius, mau kemana?" tanya Kevin penuh selidik.
"Gaada kemana-mana kok sayang. Kan pacarmu ini emang suka dandan aja," jawabku, berharap Kevin percaya.
Aku melirik ponselku dan ada notifikasi pesan dari Bagus. Aku membaca isi notifikasi pesan itu dengan sekilas.
Bagus (17.33): Oke aku mandi dulu ya Feb.
Membaca pesan Bagus, aku tanpa sadar tersenyum lebar. Bayangan Bagus telanjang, sedang merawat kejantanannya untukku, rasanya terlalu binal.
"Sayang? Kok kamu senyum-senyum sendiri?" Kevin bertanya, suaranya dipenuhi rasa ingin tahu.
Aku cepat-cepat menoleh ke kamera, senyumku sedikit memudar. "Eh? Nggak kok, Ayang. Ini ada chat lucu di grup kantor," alibiku, merapikan eyeliner seolah itulah fokusku. "Biasa deh, gossip tentang Ibu Direktur."
Kevin menghela napas. "Hhh, yaudah deh. Tadi aku di kantor ribet banget, Yang. Aku harus revisi laporan sampai malam. Mana Mama tadi telepon lagi, nanyain aku makan siang apa. Ribet deh," keluhnya, nadanya kembali pada kebiasaan merengek.
Aku mengangguk, mendengarkan. Kevin selalu mengeluh tentang hal-hal kecil. "Kamu sih, Ayang. Jauh-jauh kerja, masih aja diurusin kayak anak kecil sama Mama kamu," godaku, meskipun ada nada kejengkelan di baliknya.
Aku meraih lip tint merah dari kotak riasku. Aku mematut diri di cermin sebentar, lalu mengaplikasikan pewarna bibir itu perlahan-lahan. Aku sengaja membiarkan gerakan ini terlihat jelas di kamera, memastikan bibirku terlihat penuh dan menggoda.
"Wih, bibir kamu, Sayang..." Suara Kevin di seberang sana langsung berubah serak. Dia tampak menahan napas. "Merah banget. Jadi pengen nyium. Rasanya pasti manis kayak permen..."
Aku menyeringai kecil. Aku tahu Kevin sangat menyukai bibirku, terutama saat baru diolesi lip tint. Aku sengaja memonyongkan bibirku ke arah kamera, memberikan ciuman virtual yang genit.
"Kenapa? Kangen dicium bibir ini ya, Sayang? Makanya cepat pulang dong," godaku. Aku merasakan sedikit gairah yang dibangun Kevin, meskipun aku tahu gairah ini akan segera kupersembahkan untuk Bagus.
"Kangen banget, Sayang. Aku kangen ngegigit bibir kamu sampai kamu desah," jawab Kevin, nadanya sudah sangat mesum.
Aku memejamkan mata sejenak, membayangkan gigitan itu. Aku membuka mata, lalu dengan sensual, aku menggigit bibir bawahku sendiri, menunjukkannya pada kamera. "Mmmmh... kalau gitu, jangan cuma janji dong, Ayang. Aku juga kangen gigitan kamu yang nakal itu"
Kevin mengerang keras di seberang sana. "Aduh, Sayang, jangan mancing aku! Aku jadi nggak fokus. Kamu tahu kan kalau aku lihat kamu kayak gitu rasanya uhhh..." Dia terdengar frustrasi. "Aduh, kamu mau ke mana sih pakai dandan kayak gitu? Aku nggak rela kamu cantik-cantik buat orang lain."
"Siapa juga yang buat orang lain? Kan aku cuma milikmu, Sayang” Aku tertawa renyah, tawa yang penuh dengan kepalsuan.
Aku cuma milikmu? Batin Febby mencibir genit. Dalam batinnya Febby berkata, “Hihi... sori ya ayang, aku emang pacarmu dan aku sayang banget sama kamu! Tapiii... tubuhku ini sebenarnya udah bukan milikmu lagi sayang. Semuanya udah jadi milik Bagus hihi. Dan malam ini aku dandan demi Bagus. Bahkan bibir yang kamu bayangin tadi, bentar lagi bakal nempel dan puasin kontol besarnya Bagus hihihi”
"Udah ya, aku mau pakai baju dulu ya, Sayang," kataku, kini aku mulai berjalan menjauh sedikit dari meja rias, bersiap mengambil pakaian.
"Eh, sebentar!" Kevin memprotes cepat. "Jangan pakai baju dulu, Sayang. Aku kangen liat badan kamu”
Aku tersenyum penuh kemenangan. Kevin selalu mudah dikendalikan oleh birahi. Dalam hatinya Febby berkata, “Oke Sayang, puas-puasin dulu liat badan aku sebelum dipake Bagus, hihihi”
“Kamu mau liat aku telanjang, Sayang?”, godaku membuat Kevin penasaran. Tanganku bergerak ke ikatan handuk di dadaku. Perlahan, sangat perlahan, aku mengendurkan ikatan itu. Handuk yang tadinya menutupi tubuhku hingga dada kini terlepas sepenuhnya, memperlihatkan seluruh tubuhku tanpa terhalang apa pun.
"Sayang..." Kevin mengerang lirih sembari mengocok penisnya di seberang sana, matanya terpaku.
Aku menahan napas, menikmati sensasi telanjang di depan Kevin. Aku berpose sedikit, memiringkan tubuhku agar lekuk pinggul dan payudaraku terlihat jelas di layar ponsel yang masih terletak di meja.
Aku menatap Kevin dengan tatapan paling menggoda, lalu dengan satu tangan, aku meremas pelan salah satu payudaraku. Gerakan itu membuat putingku sedikit menegang, dan aku tahu Kevin pasti bisa melihatnya jelas.
"Gimana, Ayang? Udah nggak kangen lagi kan?" tanyaku dengan suara yang dibuat mendesah.
"Gila, Sayang, kamu seksi banget! Mau liat memek kamu Sayang!” pinta Kevin, nadanya sudah memohon, penuh tuntutan birahi.
Aku tertawa kecil, meliukkan badan genit. "Kamu mau liat memeknya ya Sayang? Kamu kangen memeknya ya Sayang?”
“Iyahhh mau memeknya Sayang… ohhh…” jawab Kevin mempercepat kocokannya.
Aku menuruti keinginannya. Aku mengambil langkah mundur sedikit, memastikan Kevin dapat melihat seluruh tubuhku di kamera. Aku mengangkat satu kakiku ke atas kursi dan membuat vaginaku jadi terekspose sepenuhnya oleh Kevin. Sayangnya, setiap inci tubuh yang ia lihat saat ini, sebentar lagi akan menjadi milik Bagus hihihi.
Puas menggoda Kevin dengan pose itu, aku kemudian mengambil setelan tanktop dan hotpants hitam tipis yang biasa aku gunakan sebagai baju tidur. Aku kembali ke depan kamera, membiarkan Kevin melihatku telanjang saat aku mulai mengenakannya.
Aku mengangkat tank top di atas kepala. Perlahan, aku menarik kain tipis itu ke bawah, sengaja memperlambat gerakannya. Kain itu turun membelai leherku, lalu turun melewati puncak payudaraku, hingga akhirnya menutupi dada. Setelah tank top itu menutupi dadaku, kainnya yang sangat tipis memperlihatkan bentuk putingku yang menonjol.
"Gila, Sayang... jangan nyiksa aku," desah Kevin.
Aku menyeringai, lalu aku meraih hotpants. Aku memutar tubuhku sedikit membelakangi kamera saat aku memakainya, memberikan Kevin pemandangan punggungku, sebelum kemudian membalikkan badan dengan cepat, menonjolkan lekuk pinggulku dalam balutan celana super pendek itu.
Aku berjalan ke cermin sebentar, berpose genit dan sensual, memiringkan pinggulku dan mengikat rambutku tinggi-tinggi. Pose ini membuat lekuk tubuhku terlihat maksimal.
Aku kembali mendekati ponsel. Aku mencondongkan badanku ke depan, memberikan Kevin pemandangan dada yang nyaris tumpah.
Tepat saat aku siap mengucapkan godaan penutup, layar ponselku berkedip. Sebuah notifikasi WhatsApp masuk di bagian atas layar.
Bagus (18.11): Ready nih Feb.
Jantungku langsung berdebar kencang, hasrat Bagus mengalahkan Kevin seketika. Aku harus cepat.
"Udah ya Sayang, aku mau beli makan dulu nih" kataku dengan nada setenang mungkin meskipun pikiranku sudah melayang akan kenikmatan yang akan diberikan oleh Bagus sesaat lagi.
"Beli makan? Tapi sebentar lagi dong, Sayang! Aku lagi...." Kevin terdengar semakin frustrasi, suaranya tercekat. Dia sudah mencapai titik tertinggi hasratnya, dan aku tahu dia kentang saat ini.
Aku tertawa tipis mendengarnya sekaligus dalam hati berkata, “Rasain tuh kentang. Lagian siapa suruh bikin aku kentang kemarin hihi”.
“Gamau wlee… kamu kelarin aja tuh colinya sendiri Sayang hihihi… bye bye Kevin Gantengggg…”
Tanpa menunggu balasan atau protes lebih lanjut dari Kevin, aku segera menekan tombol merah. Sambungan terputus.
Jantungku berdebar kencang. Aku telah berhasil menuntaskan godaan terakhir untuk Kevin. Kini, saatnya Bagus.
Aku meraih ponsel, mengirim pesan singkat untuk memastikan Bagus segera datang.
Febby (18.12): Sini Gus, aku juga dah ready.
Aku merasakan lonjakan adrenaline yang memabukkan. Kevin sempat beberapa kali menghubungiku lagi, namun tak kuhiraukan. Aku membalikkan ponselku, memastikan tidak ada lagi gangguan dari dunia luar. Yang penting sekarang hanya aku dan Bagus.
Sambil merapikan rambutku sekali lagi, aku mendengar ketukan pelan dari pintu, dan aku tahu itu bukan imajinasiku.
Tok. Tok.
Itu Bagus.
Aku berjalan ke pintu, menarik napas dalam.
Saat aku membuka kuncinya dan memutar kenop, Bagus sudah berdiri di depan pintu. Ia tampak segar dengan kaos polo sport dan celana sport yang terlihat santai, namun matanya langsung memancarkan api hasrat saat melihatku.
"Hai, Feb," sapa Bagus pelan, suaranya sedikit serak.
Aku tidak memberinya kesempatan untuk mengucapkan kata lain. Aku segera melangkah mundur, membuka pintu lebih lebar. "Masuk, Gus. Cepat!" perintahku, nadaku tidak sabar.
Bagus langsung melangkah masuk, dan begitu pintu tertutup rapat, aku langsung menyambar tubuhnya. Aku berjinjit dan melingkarkan lenganku di lehernya.
"Aku sange banget, Gus," bisikku, tanpa menunggu jawaban.
Bibirku langsung menemukan bibirnya. Ciuman kami langsung panas dan menuntut. Lidahku bergerak liar, menginvasi mulutnya dengan gairah yang sudah tertahan sejak tadi. Aku bisa merasakan aroma sabun dan parfum Bagus yang segar, bercampur dengan aroma hasrat yang semakin kuat.
Bagus membalas ciumanku dengan tidak kalah buas. Satu tangannya menekan punggungku, menarik tubuhku agar lebih rapat dengannya, sementara tangan yang lain menopang kepalaku, memperdalam ciuman.
Aku meremas bahunya, merasakan otot-ototnya yang tegang. Tubuh kami menempel rapat, terhalang hanya oleh baju tipis yang kupakai dan kaos polo Bagus.
Ciuman itu begitu intens, seolah kami sedang berusaha menebus waktu yang hilang.
POV: Penulis
Bagus benar-benar terkejut. Ia mengira sambutan Febby hanya akan berupa senyuman genit, tapi yang ia dapatkan adalah serangan total. Gadis itu mencumbuinya dengan buas, seperti orang kelaparan. Lidah Febby bergerak tergesa-gesa, menuntut dominasi. Bagus merasakan napasnya sendiri tersengal karena intensitas ciuman itu, tapi ia menyukai kejutan ini.
Ia balas menarik pinggang Febby mendekat, membalas setiap ciuman dengan gairah yang sama besarnya.
Tiba-tiba, Febby melepaskan ciumannya sebentar, hanya cukup untuk menarik napas. Wajahnya memerah, mata binalnya menatap Bagus.
"Tadi... aku baru selesai video call sama Kevin," bisik Febby, suaranya parau karena ciuman. Ia tidak melepaskan pelukannya, justru ia menekan dada Bagus.
Bagus hanya mengerutkan dahi, sedikit terkejut Febby membahas pacarnya di saat seperti ini. Ia tidak sempat bertanya, karena Febby sudah melanjutkan.
"Dia... dia minta aku telanjang, Gus," lanjut Febby, nada suaranya bergetar antara kegembiraan dan rasa bersalah yang disukai. "Aku turutin, aku goda dia... sampai dia... dia kentang di sana hihihi…"
Febby tertawa kecil, tawa yang sangat nakal. Ia kembali mencium Bagus, tapi kali ini ciumannya lebih lembut, memindahkan energi kemarahan dan birahi yang sebelumnya ia salurkan pada Kevin, kini sepenuhnya pada Bagus.
"Aku beneran sange bangettt Gus," bisik Febby lagi di sela-sela ciuman. "Malam ini... kamu harus bikin squirt lagi berkali-kali."
Bagus mengerti. Birahi Febby saat ini adalah hasil dari frustrasi dan kemenangan atas Kevin. Febby tidak hanya ingin bercinta; ia ingin memuaskan dendam kecilnya, dan Bagus adalah alat yang sempurna untuk itu.
"Tentu saja," gumam Bagus, ia balas mencium Febby dalam-dalam, kali ini mendorong Febby mundur perlahan hingga punggungnya menyentuh dinding kamar. "Malam ini kita tidak akan berhenti sampai kamu puas total, Sayang."
Bagus menekan tubuh Febby, merasakan hotpants tipis yang Febby kenakan. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Febby, dan ia tahu, di balik kain tipis itu, Febby benar-benar siap untuk dipuaskan.
Bagus tidak membuang waktu lagi. Ia menyudahi bisikan Febby dengan ciuman yang mendalam. Ia menjepit tubuh Febby di antara tubuhnya dan dinding, membiarkan hasratnya memimpin.
Ciuman itu kini berubah menjadi pertukaran napas yang panas. Hanya terdengar suara basah kecipak bibir dan lidah yang saling beradu, memenuhi keheningan kamar. Keduanya kehabisan napas, namun menolak untuk melepaskan ikatan yang begitu kuat.
Tangan Bagus yang awalnya menopang punggung Febby, kini bergerak turun, melingkari pinggang Febby, menekan gadis itu agar bagian bawah tubuh mereka bersentuhan erat. Ia bisa merasakan area sensitif Febby yang hanya terhalang oleh hotpants tipis itu.
Febby mendongak, mendesah pelan di sela-sela ciuman. "Mmmhh... lebih dalam, Gus!" pintanya, nadanya tersiksa namun penuh kenikmatan.
Bagus merespons dengan mendorong lidahnya lebih dalam, menjelajahi setiap sudut mulut Febby. Ciuman mereka terasa seperti tergesa-gesa, terburu-buru, seperti ingin mengejar waktu yang hilang.
"Kamu wangi banget, Gus," bisiknya, sebelum akhirnya menjatuhkan bibirnya, tidak lagi di bibir, melainkan di leher dan tulang selangka Bagus.
"Ah! Febby!" erang Bagus, terkejut dengan sentuhan dingin dan basah bibir Febby di kulitnya. Ciuman-ciuman basah Febby itu kini bergerak turun, menciptakan jalur hasrat di lehernya.
Ciuman bibir mereka adalah perkenalan yang intens, tapi sentuhan kulit ke kulit itu mengisyaratkan bahwa permainan malam ini baru saja dimulai.
Bagus tidak sanggup menahan gairah yang dibangun oleh cumbuan Febby di lehernya. Pikirannya kosong, hanya dipenuhi Febby dan kamar ini.
Setelah sekitar satu menit penuh Febby menjelajahi leher Bagus dengan bibirnya, Bagus mengakhiri cumbuan itu dengan mengunci tatapan mata Febby. Wajah mereka begitu dekat, napas mereka berburu memanas.
"Pindah Feb," gumam Bagus, suaranya dalam dan serak.
Tanpa menunggu persetujuan, Bagus mengaitkan kedua tangannya di bawah paha Febby. Dengan mudah, ia mengangkat Febby, menggendongnya dengan gaya bridal, sementara kaki Febby secara refleks melingkar erat di pinggang Bagus. Kain hotpants tipis itu terasa lembut di kulit Bagus.
Febby terkejut sejenak, namun langsung tertawa genit dan senang karena tindakan Bagus yang tiba-tiba. Ia memanfaatkan posisi baru ini.
"Mau bawa aku kemana, Gus?" tanya Febby, suaranya mendesah.
"Ke tempat di mana aku bisa lihat seluruh tubuhmu dengan jelas," jawab Bagus. Ia berjalan maju dua langkah menuju meja rias.
Kreeett... Terdengar suara gesekan kaki Bagus dengan lantai saat ia tiba di depan meja rias.
Bagus tidak menurunkan Febby ke lantai, melainkan langsung mendudukkannya di atas permukaan meja rias. Febby kini duduk menghadapnya, dengan posisi lutut tertekuk dan terbuka sedikit karena terdorong ke belakang oleh Bagus, sementara Bagus berdiri di antara kedua kakinya.
Posisi ini membuat mata Bagus sejajar dengan dada Febby yang hanya tertutup tank top tipis.
Bagus segera melanjutkan aksinya, tidak ingin melewatkan satu detik pun. Ia memegang pinggul Febby kuat-kuat, lalu kembali menundukkan kepala dan mencumbu bibir Febby lagi, lebih mendalam dari sebelumnya. Ciuman itu diiringi desahan tertahan dari keduanya.
Febby merespons dengan menjambak rambut Bagus di belakang kepala, menariknya mendekat, memastikan Bagus tidak akan mundur.
Di posisi duduk ini, Febby lebih leluasa. Tangan kirinya menjangkau punggung Bagus dan menggaruknya pelan, menciptakan sensasi nyeri yang menyenangkan bagi Bagus.
Sementara bibir mereka sibuk, tangan Bagus bergerak ke atas, meremas bahu Febby, lalu turun menyentuh pinggangnya. Ia mendorong tubuhnya lebih maju, hingga pangkal pahanya bersentuhan langsung dengan area sensitif Febby di balik hotpants tipis itu.
"Ah! Gus..." Febby mengerang keras di sela-sela ciuman saat merasakan gesekan yang begitu intim.
Setelah sekitar tiga menit bercumbu intens dalam posisi baru itu, Bagus memutuskan untuk menghentikan ciuman, membiarkan Febby mengatur napas.
"Ini baru awal, Feb," bisik Bagus, napasnya tersengal di telinga Febby. Ia menatap Febby dengan sorot mata yang penuh janji.
Bagus menjauhkan wajahnya sedikit, membiarkan Febby mengatur napas. Jarak sedekat ini membuat Bagus bisa melihat pantulan hasrat di mata Febby yang binal.
"Kamu siap?" tanya Bagus, suaranya pelan dan mengancam, penuh gairah.
Febby tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk cepat, lalu menarik wajah Bagus mendekat dan mencium pipinya. "Bikin aku cepat keluar, Gus!"
Bagus mengangguk puas. Tangannya yang tadinya memegang pinggul Febby kini bergerak ke ke depan, menyelipkan jari-jarinya di bawah hotpants tipis Febby. Ia merasakan kain itu terangkat sedikit, dan kemudian, jari-jarinya menemukan kulit lembut Febby.
Febby tersentak. "Mmmhh..." desahan tertahan itu keluar dari bibirnya.
Bagus tidak membuang waktu. Ia tahu area mana yang harus ia tuju. Dengan satu gerakan cepat, ia menarik hotpants tipis itu ke samping. Ia mulai menjelajahi area sensitif Febby dengan sentuhan sensual yang lambat dan memancing.
"Gus..." erang Febby, kali ini lebih keras. Ia mencengkeram bahu telanjang Bagus, punggungnya melengkung sedikit karena sensasi yang tiba-tiba.
Bagus menggunakan mulutnya untuk menahan desahan Febby, mencumbu bibir Febby lagi dengan ciuman yang memabukkan. Di balik desahan dan suara basah ciuman mereka, hanya Bagus dan Febby yang tahu apa yang sedang terjadi di bawah sana.
Selama hampir dua menit Bagus fokus menciptakan sensasi di tubuh Febby, Febby hanya bisa merespons dengan gerakan pinggul yang tak beraturan dan desahan yang semakin menguat. Ia sudah tidak peduli dengan sekitarnya.
Tangan Bagus kini beralih menahan paha Febby, menahannya tetap di meja rias, sementara tangan yang satunya kembali menyerang area sensitif Febby. "Nanti kamu squirt lagi, Sayang," bisik Bagus di telinga Febby, mencoba memprovokasi kenikmatan Febby hingga batas maksimal.
Perkataan Bagus memicu Febby. "Ah! Bagusss... please... lebih cepat... jangan berhenti!" rintih Febby, suaranya kini terdengar memohon dan panik. Ia mulai bergerak gelisah di atas meja.
Bagus tersenyum penuh kemenangan. Ia tahu Febby sudah mencapai ambang batasnya.
Bagus meningkatkan ritme sentuhannya, bergerak dengan kecepatan yang presisi dan mematikan. Ia sepenuhnya fokus pada hasrat Febby, mengabaikan nyeri akibat cengkeraman kuku Febby di bahunya.
Wajah Febby kini sudah tertekuk. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Ia tidak lagi mencumbu Bagus; ia hanya menyandarkan dahinya di bahu Bagus. Desahan Febby berubah menjadi rintihan panjang yang tercekik. Seluruh tubuhnya menegang di atas meja rias.
"Aku... aku mau keluar Gusss...!" Febby menjerit tertahan, suaranya hampir tidak terdengar karena ia menahan napas.
"Lepaskan, Sayang. Keluarkan semua!" Bagus berbisik tajam di telinganya, mendorongnya.
Febby menggigit bahu Bagus sejenak, lalu melepaskan erangan panjang, suara Aaaahhh! itu terdengar bergetar hebat di kamar. Tubuhnya bergetar tak terkendali.
Pada saat yang sama, Bagus merasakan kehangatan yang tiba-tiba dan deras membasahi tangannya dan mengenai polo shirt yang iya kenakan.
"Oh Shit! Aku squirt, Gus! SQUIRT!" teriak Febby, suaranya kini bercampur antara kepuasan dan keterkejutan.
Gerakan Bagus baru berhenti setelah ia merasakan tubuh Febby melemas, jatuh ke dalam pelukannya. Napas Febby tersengal-sengal, memburu, dan ia terengah-engah puas. Kaos polo Bagus kini tampak basah.
Setelah sekitar empat menit serangan jari Bagus yang intens, Bagus berhasil membawa Febby mengalami squirt yang pertamanya di malam ini.
Bagus menahan tubuh Febby yang lunglai. Ia mencium kening Febby yang basah oleh keringat.
"Gimana, Feb? suka dimainin pake jariku?" tanya Bagus lembut, suaranya kembali normal, penuh kemenangan.
Febby perlahan mengangkat kepala, matanya masih berkaca-kaca karena ledakan squirt yang baru ia rasakan. Ia tersenyum puas, senyum yang begitu nakal.
"Luar biasa, Gus," bisik Febby, suaranya masih parau. "Kamu benar-benar yang terbaik... aku bahkan lupa kalau Kevin pernah ada.
=============
=============
Part 11. Invasi Bagus (Lanjutan 1)
POV: Penulis
Setelah Febby mengalami squirt pertamanya di malam itu—Bagus tersenyum lebar. Kepuasan di wajah Febby adalah hadiah terbesar. Ucapan Febby bahwa ia melupakan Kevin sepenuhnya, hanya menambah kobaran gairah Bagus. Ia tidak berniat merebut Febby; yang ia inginkan hanyalah berbagi kenikmatan yang begitu intens bersama Febby.
Bagus melepaskan ciuman di kening Febby. Ia mundur sedikit, tangannya yang basah oleh cairan Febby kini menahan kedua sisi pinggul gadis itu, membiarkan Febby duduk di atas meja rias sambil mengatur napas. Bagus masih mengenakan kaos polo-nya, yang kini terlihat sedikit basah.
"Aku senang mendengarnya," gumam Bagus, suaranya kini kembali tenang, namun matanya memancarkan keganasan yang baru. Ia menggesekkan ibu jarinya di paha Febby, membersihkan sisa-sisa basah itu.
"Baru jari aja kamu udah segila itu, Feb. Gimana kalau yang lain?" tanya Bagus, nadanya santai namun sangat provokatif.
Febby tersenyum genit. Matanya berbinar, memandangi dada Bagus yang tertutup kaos itu. "Aku mau kamu ambil alih, Gus. Ambil alih semuanya."
Febby mengaitkan tangannya di leher Bagus, menariknya lebih dekat.
"Aku akan mengambil alih," janji Bagus. Ia mengalihkan pandangannya ke hotpants tipis yang masih tersangkut di paha Febby. Tanpa ragu, ia meraihnya dan menarik pakaian itu hingga terlepas sepenuhnya. Kain hitam itu teronggok di lantai.
Kini, Febby duduk telanjang bagian bawah di atas meja rias, siap sepenuhnya.
Bagus mengamati Febby, tubuhnya yang mungil namun berisi, lekuk-lekuk yang diumbar tanpa malu. Ia membungkuk, tidak lagi mencium bibir, melainkan mendaratkan ciuman dalam di perut datar Febby, bergerak semakin ke bawah.
"Kamu wangi sekali, Sayang," bisik Bagus di kulit Febby, sebelum akhirnya ia menjatuhkan lututnya ke lantai.
Gerakan Bagus yang tiba-tiba berlutut itu membuat Febby terkesiap. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya memegang tepi meja rias erat-erat, menanti sentuhan berikutnya.
Bagus mendongak sejenak, menatap Febby, sebelum akhirnya ia membalas pandangan gadis itu dengan tatapan penuh hasrat.
"Aku akan mencicipi kenikmatanmu, Feb," ucap Bagus pelan, nadanya sensual. "Aku ingin kamu tidak akan pernah bisa melupakan sensasi ini."
Gerakan Bagus yang tiba-tiba berlutut itu membuat Febby terkesiap. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya memegang tepi meja rias erat-erat, menanti sentuhan berikutnya.
Febby menatap Bagus, ada sedikit keraguan di matanya yang masih binal. "Kevin nggak pernah kayak gini, Gus. Seriusan," bisik Febby, mengakui pengalaman barunya yang minim.
Bagus mendongak sejenak, menatap Febby, sebelum akhirnya ia membalas pandangan gadis itu dengan tatapan penuh hasrat. Wajahnya serius, namun mata Bagus memancarkan janji.
"Makanya kamu sama aku sekarang," jawab Bagus santai, nadanya sensual. "Udah, percaya aja, Feb. Ini bakal gila banget. Jauh lebih enak dari apa pun yang pernah kamu rasain."
Bagus memposisikan dirinya di antara kedua paha Febby. Hanya terdengar suara napas Febby yang memburu saat Bagus mulai mendekat.
Ia mulai dengan sentuhan lembut lidahnya, menjelajahi bagian terluar, membuat Febby semakin penasaran.
"Ahh... Gus..." rintihan Febby menjadi suara pertama yang memecah keheningan.
Bagus mendalami aksinya. Ia menggunakan seluruh kemampuannya, menciptakan tekanan dan ritme yang bervariasi. Suara basah yang intim kini terdengar samar di sela-sela dengungan AC kamar. Febby mulai bergerak gelisah di atas meja riasnya.
Febby menjepit kepala Bagus dengan kedua pahanya, menarik Bagus lebih dekat, lebih dalam, lebih intens. Kepalanya mendongak, matanya tertutup rapat.
"Gila, Kevin nggak pernah mau jilmekin aku!" seru Febby lirih, setengah menyesal, setengah gembira.
Bagus menarik wajahnya sedikit, hanya untuk bisa berbicara tanpa menghentikan sentuhan lidahnya sepenuhnya. " Kenapa dia nggak mau?" bisik Bagus, napasnya terasa hangat di kulit Febby.
Febby menggeleng, ekspresinya dipenuhi kenikmatan yang menyakitkan. "Nggak tahu, Gus! Aku nggak tahu, dan aku nggak peduli sekarang!"
"Terusin, Gus! Enak banget! Terusin!" Febby memohon.
Bagus tersenyum di antara paha Febby, mematuhi perintah itu. Ia mendalami aksinya. Ia menggunakan seluruh kemampuannya, menciptakan tekanan dan ritme yang bervariasi. Suara basah yang intim kini terdengar samar di sela-sela dengungan AC kamar.
Saat mencicipi lebih dalam, mata Bagus memperhatikan area di sekitar mulutnya.
"Bulunya lebat ya, Feb?" bisik Bagus, sedikit teredam karena posisinya.
Febby terkesiap, lalu tertawa kecil (Haaah...) di antara napasnya yang memburu. Kepalanya terkulai ke belakang, matanya masih terpejam.
"Iya, Gus. Aku biarin lebat. Kevin suka yang kayak gini katanya," jawab Febby, suaranya dipenuhi gairah. "Emang kamu... nggak suka, Gus? Nggghhh..."
Bagus menarik wajahnya sekali lagi, menatap mata Febby dengan intensitas membara.
"Jujur, Feb? Aku lebih suka yang bersih, tanpa bulu. Lebih enak buat dijilatin," jawab Bagus terus terang.
Febby menarik napas panjang (Sssshhh...), senyumnya kini menunjukkan tekad.
"Yaudah, kalau gitu nanti aku bersihin aja. Lagian, Kevin juga nggak pernah mau giniin aku, jadi buat apa aku biarin lebat buat dia? Aahh..."
Bagus mengangguk dan kembali fokus sepenuhnya. Ia melanjutkan ritme cumbuan yang intens dan terfokus.
Tiba-tiba, tubuh Febby menegang ekstrem, jauh lebih keras dari sebelumnya. Matanya yang sebelumnya terpejam kini terbuka lebar, menatap langit-langit kamar.
"Gus! Aku mau keluar! Aku squirt lagi! Ini yang kedua!" Febby berteriak panik sekaligus penuh ekstasi. Tangannya mencengkeram tepi meja rias dengan kekuatan penuh.
Bagus hanya menahan Febby di pinggul. Ia tidak peduli dengan kaosnya yang basah kuyup. Ia hanya ingin Febby mencapai batasnya.
"KELUAR! KELUAR SEMUA, GUSS! AAAAHHHH! SSSQUIRTTTT!"
Kali ini, cairan hangat menyembur keluar, membanjiri wajah Bagus dan membasahi kaos polo-nya hingga ke dada. Suara desisan uap dan desisan napas Febby beradu dengan suara aliran cairan yang deras.
Febby lemas dan basah kuyup, sementara Bagus menjauhkan diri dengan senyum kemenangan murni—kemenangan karena ia berhasil memberi Febby kenikmatan yang belum pernah ia rasakan.
Bagus bangkit, kaos polo-nya kini benar-benar basah kuyup, menempel di tubuhnya. Ia melepaskan kaos itu dan melemparnya sembarangan ke lantai, bergabung dengan hotpants Febby. Bagus kini berdiri telanjang dada, memamerkan otot perutnya yang keras.
Febby mendongak, matanya berkabut, memandangi sosok Bagus yang semakin menggoda. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, menyentuh pipi Bagus yang masih sedikit basah.
"Gus..." Febby berbisik, suaranya serak. "Gila... Aku nggak nyangka..."
Bagus membungkuk lagi, bukan untuk melanjutkan aksinya di bawah, melainkan untuk mendekatkan wajah mereka. Ia mencium Febby lagi, ciuman kali ini jauh lebih lambat, lebih dalam, dan penuh kepemilikan. Bau parfum Bagus bercampur dengan aroma intim yang kuat.
Setelah ciuman panjang itu usai, Bagus menyandarkan dahinya ke dahi Febby. Napas mereka saling berkejaran.
"Masih kuat, Feb?" tanya Bagus, nadanya rendah dan menggoda, tatapannya beralih dari mata Febby ke arah area di antara kakinya. Ia tahu, setelah semua yang terjadi, Febby sudah sangat siap untuk langkah selanjutnya.
Setelah Febby mengalami squirt keduanya malam itu, ia menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan cepat. Sisa-sisa getaran hebat masih terasa di ujung sarafnya. Ia menatap dada bidang Bagus yang kini telanjang, berkilat karena keringat dan sisa cairan yang membasahinya.
"Masih... masih kuat, Gus," bisik Febby dengan suara yang hampir habis. Ia menyandarkan punggungnya ke cermin meja rias, merasakan sensasi dingin kaca yang kontras dengan panas tubuhnya. "Tapi... kasih aku napas sebentar. Kamu bener-bener bikin aku habis, Gus."
Bagus terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat maskulin dan penuh kemenangan. Ia tidak menjauh, justru semakin mengunci posisi Febby. Kedua tangannya bertumpu di meja rias, di sisi kiri dan kanan paha Febby, memerangkap gadis itu sepenuhnya.
"Napas aja, Feb. Aku nggak ke mana-mana," gumam Bagus. Ia mendekatkan wajahnya, menghirup aroma leher Febby yang kini bercampur antara parfum mahal dan aroma gairah yang pekat.
Bukannya menjauh, Bagus justru kembali meraih bibir Febby. Awalnya hanya pagutan lembut, namun dalam hitungan detik, ciuman itu berubah menjadi medan perang lidah yang sangat panas. Febby membalasnya dengan rakus, seolah oksigen yang baru ia hirup hanya digunakan untuk memperpanjang cumbuan ini. Lidah mereka bertautan, saling membelit, dan menciptakan suara kecapan basah yang memenuhi keheningan kamar.
Ciuman Bagus terasa begitu dominan, mengisap bibir Febby hingga gadis itu mengerang di dalam mulutnya. Nafsu Febby yang tadinya coba ia redam untuk mengambil napas, kini perlahan-lahan merayap naik kembali, lebih besar dan lebih menuntut dari sebelumnya.
Gairah itu membakar setiap inci sarafnya, membuat tubuh bagian bawah Febby mulai bereaksi sendiri. Tanpa sadar, ia mulai menggeliat di atas meja rias. Dengan kedua tangan yang kini menjambak rambut belakang Bagus untuk memperdalam ciuman, Febby mulai memajukan pinggulnya. Ia mencari-cari kehangatan di balik celana sport yang dikenakan Bagus.
"Nghhh... Gus... ahhh..." Febby melepaskan tautan bibir mereka hanya untuk mendesah berat, suaranya kini terdengar lebih parau.
Akhirnya, nafsu itu meledak. Febby mulai menggesek-gesekkan vaginanya yang masih basah kuyup ke arah tonjolan keras di balik kain tipis celana Bagus. Setiap gesekan memberikan sensasi listrik yang luar biasa, membuatnya lupa akan rasa lelah yang baru saja ia keluhkan.
"Sssshhh... enak banget, Gus... keras banget punya kamu," rintih Febby, matanya terpejam erat sementara kepalanya bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan. "Gus... Kevin nggak pernah sekeras ini... ahhh... punya dia nggak pernah bikin aku segila ini," rintih Febby jujur, mengakui keunggulan Bagus tepat di depan wajahnya.
Ia terus memompa pinggulnya, menggesekkan klitorisnya yang sangat sensitif ke batang besar Bagus yang terhalang kain, menciptakan suara decapan basah yang semakin jelas terdengar di antara mereka.
"Lihat nih... memek aku udah nggak sabar pengen ditusuk sama punya kamu... ahhh... lebih keras, Gus! Gesek lebih keras!" Febby benar-benar sudah hilang kendali. Nafasnya yang panas menerpa kulit Bagus, dan setiap desahannya adalah undangan murni bagi Bagus untuk segera melakukan invasi yang lebih dalam.
Bagus tidak butuh kata-kata untuk memahami apa yang sedang dirasakan Febby. Ia bisa merasakan denyut gairah yang merambat dari rahim Febby melalui gesekan intens di meja rias itu. Dengan satu gerakan yang sigap dan penuh kuasa, Bagus menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Febby, mengangkat tubuh yang kenyal dan berisi itu dalam sekali sentakan.
Febby secara refleks langsung melingkarkan kakinya yang jenjang erat-erat di pinggang Bagus, membiarkan area intimnya yang tanpa penghalang bersentuhan langsung dengan perut Bagus yang keras. Bagus tidak berkata apa-apa; tatapan matanya yang gelap dan napasnya yang teratur namun berat menunjukkan bahwa ia memegang kendali penuh atas gairah mereka berdua.
Setiap langkah Bagus menuju ranjang menciptakan guncangan yang membuat tubuh padat Febby bergesekan erat dengan tubuhnya, membuat Febby hanya bisa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bagus sambil terus mendesah tertahan.
Ia merebahkan Febby di atas ranjang besar dengan sprei yang tertata rapi—ranjang yang menjadi saksi bisu hubungan Febby dan Kevin. Begitu punggung Febby menyentuh kasur yang empuk, Bagus tidak membiarkan ada celah udara di antara mereka. Ia segera merangkak naik, menindih tubuh berlekuk Febby dengan beban tubuhnya yang maskulin. Tanpa sepatah kata pun, Bagus kembali menyerang bibir Febby dengan ciuman yang jauh lebih menuntut dan dalam.
Slurp... mmmph... suara basah dari tautan bibir mereka memenuhi keheningan kamar, bersahutan dengan deru napas yang semakin memburu.
Ciuman itu tidak lagi sekadar pagutan, melainkan sebuah penguasaan. Lidah Bagus menjelajah dengan rakus, mengisap lidah Febby dan dinding mulutnya hingga gadis itu mengerang tertahan. Febby merespons dengan tidak kalah buas; tangannya bergerak liar, satu menjambak rambut belakang Bagus dan yang lainnya meremas bahu kokoh pria itu, berusaha menariknya agar semakin tenggelam dalam cumbuan mereka.
"Nghhh... ahhh... mmmhh..." desah Febby pecah di sela-sela ciuman. Suaranya terdengar serak, sebuah perpaduan antara kenikmatan yang menyiksa dan rasa lapar yang belum terpuaskan.
Ciuman Bagus mulai turun ke arah rahang, memberikan gigitan-gigitan kecil yang menggoda sebelum akhirnya mendarat di ceruk leher Febby. Di sana, ia memberikan isapan kuat yang menciptakan suara chuuup... yang dalam, meninggalkan jejak merah kepemilikan di kulit mulus Febby.
"Ahhh! Gusss... pelan... hhh... enak banget..." rintih Febby, kepalanya mendongak ke belakang, mengekspos lehernya lebih luas agar Bagus bisa menjelajah lebih jauh.
Di bawah sana, tubuh mereka terus bergerak gelisah. Gesekan antara tank top tipis Febby dan dada telanjang Bagus menciptakan suara gesekan kain yang samar, namun intens. Febby terus meliukkan pinggulnya yang berisi, merasakan kerasnya kejantanan Bagus yang kini tertekan hebat di antara paha mereka yang saling mengunci.
Cipak... cipok... suara ciuman itu kini berpindah-pindah, dari leher menuju tulang selangka, lalu kembali lagi ke bibir dengan ritme yang semakin cepat. Febby merasa seolah seluruh dunianya kini hanya berisi suara napas Bagus, aroma tubuhnya yang maskulin, dan sensasi basah yang terus menjalar di kulitnya.
Kamar itu kini bukan lagi milik Febby dan Kevin. Kamar itu telah bertransformasi menjadi ruang kedap suara yang hanya berisi orkestra desahan dan erangan nafsu yang memuncak. Febby mencengkeram sprei ranjang itu hingga kukunya memutih, tubuhnya bergetar setiap kali bibir Bagus menyentuh titik-titik sensitifnya, seolah-olah ia sedang bersiap untuk ledakan yang lebih besar dari sekadar squirt.
Cumbuan yang semakin panas dan suara decapan basah yang memenuhi kamar rupanya belum cukup bagi Febby. Rasa lapar di perut bawahnya sudah berubah menjadi rasa haus yang menyiksa. Ia merasa tank top tipis yang ia kenakan dan celana sport yang masih melekat di tubuh Bagus adalah penghalang besar yang menghina gairahnya.
"Nghhh... Gus... buka... cepet buka..." rintih Febby di sela-sela ciuman mereka yang liar.
Tanpa menunggu instruksi, tangan Febby bergerak turun dengan tergesa-gesa. Jemarinya yang gemetar karena dorongan adrenalin segera meraih pinggiran celana sport Bagus. Ia tidak lagi peduli dengan kelembutan; Febby menarik kain celana itu dengan paksa, berusaha membebaskan kejantanan besar yang sejak tadi ia rasakan menekan perutnya.
Bagus memberikan ruang, ia sedikit mengangkat pinggulnya, membiarkan tangan agresif Febby bekerja. Febby mencengkeram kain celana itu, menariknya ke bawah dengan sekali sentak. Sreeet... suara kain yang bergesekan dengan kulit terdengar kasar di tengah sunyinya kamar.
Begitu celana itu tersingkap hingga ke lutut, pemandangan yang selama ini menghantui pikiran Febby akhirnya terpampang nyata di depan matanya. Di bawah remang lampu kamar, kejantanan Bagus yang berukuran 17 cm itu mencuat keluar dengan gagah, berdiri tegak dan berdenyut-denyut seolah menantang keberanian Febby.
"Ahhh... ya Tuhan... Guss..." desah Febby tertahan. Matanya berkabut saat melihat urat-urat yang menonjol di sepanjang batang yang tebal dan berwarna merah gelap itu. Ujungnya yang besar tampak sudah basah oleh cairan pre-cum, berkilat memantulkan cahaya lampu.
Febby tidak bisa menahan diri. Ia segera menggenggam batang kokoh itu dengan kedua tangannya, merasakan panas yang menyengat dan denyutan kehidupan di telapak tangannya. Ukuran itu terasa begitu mendominasi, jauh melampaui apa yang biasa ia genggam di ranjang ini.
Sambil terus mendesah kencang, Febby mulai mengocoknya dengan ritme yang berantakan, sementara tubuh berlekuknya terus menggeliat di bawah Bagus. Ia menatap wajah Bagus dengan tatapan binal, seolah memohon agar pria itu segera mengakhiri siksaan manis ini.
"Masukin, Gus... aku mohon... ngerasa kontol kamu di tangan aku aja udah bikin aku mau gila... ahhh! Cepet rusak aku di sini, Gus!"
Febby menarik Bagus agar kembali menindihnya, sementara tangannya tetap tidak melepaskan genggaman pada kejantanan Bagus, mengarahkannya tepat ke depan area intimnya yang sudah sangat banjir dan terbuka lebar.
Bagus melihat betapa frustrasinya Febby di bawahnya. Tangan gadis itu mencengkeram kejantanannya dengan rakus, berusaha mengarahkan batang besar itu agar segera menusuk masuk ke dalam dirinya yang sudah sangat banjir. Namun, Bagus justru tersenyum tipis—senyum yang penuh kuasa. Ia tidak ingin memberikan kenikmatan itu dengan mudah.
Setiap kali tangan Febby menarik penis Bagus menuju lubang vaginanya, Bagus dengan sengaja menahan beban tubuhnya dan sedikit memundurkan pinggulnya. Ia justru hanya membiarkan bagian ujungnya yang besar dan basah menggesek-gesek permukaan klitoris Febby yang sudah sangat membengkak.
Slep... slep... suara gesekan antara kulit yang basah itu terdengar sangat intim dan menggoda.
"Gusss... ahhh... jangan diginiin aja... masukin!" rintih Febby, pinggulnya melenting ke atas, mencoba menjemput milik Bagus.
Bagus justru tertawa rendah di telinga Febby. "Sabar, Sayang. Kamu bilang mau ngerasain semuanya, kan? Kalau langsung masuk, nanti cepet selesai."
Bagus mulai melakukan gerakan memutar dengan ujung penisnya di bibir vagina Febby yang terbuka lebar. Ia memberikan tekanan yang pas, namun tetap menolak untuk memberikan penetrasi penuh. Ia membiarkan cairan pre-cum darinya bercampur dengan air gairah Febby yang melimpah, menciptakan pelumas alami yang membuat setiap gesekannya terasa semakin licin dan menyiksa.
"Aaaahhh! Bagusss! Jangan pelit... please..." Febby merintih, air mata kenikmatan mulai menggenang di sudut matanya. Ia merasa seolah sedang digantung di tepi jurang.
Melihat Febby yang sudah hampir gila, Bagus akhirnya memberikan sedikit "umpan". Dengan satu sentakan pinggul yang presisi, ia mendorong kepalanya yang besar masuk. Hanya kepalanya.
Slup... "Ohhh... God... Ahhhh!" Febby menjerit, matanya mendelik ke atas saat merasakan kepuasan sesaat ketika bagian paling sensitif dari dirinya direnggangkan oleh diameter kepala penis Bagus yang luar biasa tebal. Rasa "penuh" itu terasa sangat nyata, jauh lebih padat daripada apa pun yang pernah Kevin masukkan ke sana.
Namun, tepat saat Febby mengira Bagus akan menghujamnya hingga dalam, Bagus justru menariknya keluar lagi hingga hampir lepas, lalu kembali menggesek-geseknya di luar.
"Gus! Kamu jahat! Kenapa ditarik?! Masukin lagi... aku mohon... rahim aku pengen ngerasain punya kamu!" Febby kini benar-benar memohon, tangannya mencengkeram sprei ranjang Kevin hingga kainnya berkerut hebat, sementara kakinya yang melingkar di pinggang Bagus berusaha menarik pria itu agar tidak menjauh.
Bagus menatap Febby dengan tatapan lapar. Ia menikmati pemandangan wajah Febby yang tersiksa oleh nafsu di ranjangnya sendiri. Ia ingin Febby benar-benar mengakui bahwa ia sudah kalah telak malam ini.
Bagus melihat bagaimana tubuh berlekuk Febby melengkung seperti busur di bawahnya. Keringat mulai membasahi sprei, menciptakan aroma gairah yang semakin menyengat di kamar itu. Febby sudah di titik nadir; ia tidak lagi terlihat seperti wanita kantor yang anggun, melainkan seorang wanita yang sedang memohon belas kasihan pada instingnya sendiri di atas ranjangnya sendiri.
"Gus... aku mohon... jangan cuma di depan... sakit, Gus... rasanya penuh tapi kosong... masukin semuanya..." rintih Febby, suaranya pecah menjadi isakan kecil yang binal.
Bagus justru sengaja melambatkan gerakannya. Ia membiarkan batang kokohnya yang panas hanya membelai bibir vagina Febby yang sudah membengkak dan sangat sensitif. Ia menikmati bagaimana otot-otot di sana berkedut, seolah-olah berusaha "menghisap" masuk kejantanan Bagus namun selalu gagal karena Bagus menahannya dengan kekuatan lengannya.
"Kamu mau ini, Feb?" bisik Bagus, suaranya rendah dan serak tepat di telinga Febby. Ia sengaja sedikit menjauhkan tubuhnya, hanya menyisakan ujung kepalanya yang besar menyentuh permukaan area sensitif Febby. "Bilang dulu... kontol siapa yang sekarang lagi di depan memek kamu? Kontol siapa yang bikin kamu nangis kayak gini di kasur tempat kamu biasa sama Kevin?"
Pertanyaan Bagus adalah racun sekaligus penawar. Febby mencengkeram bantalnya sendiri, membenamkan wajahnya di sana sejenak sebelum mendongak dengan mata merah yang basah. Di bantal ini biasanya ia mencium aroma Kevin, tapi sekarang, aroma maskulin Bagus-lah yang mendominasi indranya.
"Punya kamu, Gus... ahhh... kontol besar kamu... kontol Bagus!" jerit Febby pasrah. Ia sudah tidak peduli lagi pada statusnya sebagai pacar Kevin. "Kontol Bagus lebih enak... lebih gede... Kevin nggak ada apa-apanya! Tolong... masukin, Gus... rusak aku!"
Bagus menyeringai puas. Ia kembali memberikan "hadiah" kecil; ia mendorong masuk kepalanya perlahan, lebih dalam sedikit dari sebelumnya, hingga mengenai titik paling sensitif di dinding depan vagina Febby.
Sluuup...
"AAAHHHH! GUSS! ITU DIA! NGGGHHH!" Febby menjerit kencang, tubuhnya menegang hebat. Kakinya yang jenjang melingkar di pinggang Bagus dengan kekuatan penuh, berusaha mengunci agar Bagus tidak ditarik keluar lagi.
Namun, Bagus tetap memegang kendali. Dengan kontrol yang luar biasa, ia justru berhenti tepat di sana. Ia membiarkan Febby merasakan betapa besarnya diameter kepala penisnya yang sedang meregangkan lubang Febby hingga batas maksimal di atas kasur itu. Ia membiarkan Febby "menikmati" rasa sesak itu tanpa memberikan gerakan maju sedikit pun.
"Tahan, Feb. Rasain dulu gimana rasanya kepala aku ngerobek memek kamu," gumam Bagus. Ia mulai menggerakkan pinggulnya secara melingkar, membuat kepalanya yang besar mengaduk-aduk bagian depan vagina Febby tanpa menusuk lebih dalam.
Slurp... ceplok... suara cairan yang teraduk di sana terdengar sangat kotor di keheningan kamar kos itu.
"Gusss... jangan cuma kepalanya... ahhh... nanggung banget! Ini nyiksa, Gus! Aku mau dalemnya... aku mau rahim aku dipentok sama kamu!" Febby mulai menggila. Ia mencoba menggerakkan pinggulnya sendiri untuk "menelan" sisa batang Bagus, namun Bagus tetap menahan beban tubuhnya, membuat Febby hanya bisa bergerak sia-sia di bawahnya.
Setiap kali Febby mencoba mendorong, Bagus justru menarik keluar hampir sepenuhnya, membiarkan Febby merasa "hampa" sesaat sebelum kembali mengetuk-ngetuk pintu rahimnya dengan ujungnya yang panas. Penundaan ini membuat air gairah Febby semakin melimpah, hingga membasahi paha mereka berdua dan meresap ke dalam sprei tempat Febby biasa tidur.
Bagus menahan seluruh beban tubuhnya di atas Febby, membiarkan kejantanannya yang panas dan berurat menekan tepat di bibir vagina Febby yang sudah membengkak hebat. Ia sengaja diam, membiarkan ujungnya yang besar hanya menari-nari di sana, mengumpulkan air gairah Febby yang melimpah hingga membasahi paha mereka berdua.
"Gus... hhh... please... Gus, jangan cuma diginiin," rengek Febby dengan suara serak. Air mata kenikmatan membasahi pipinya saat merasakan ujung Bagus yang besar hanya mengetuk-ngetuk pintunya tanpa mau masuk. "Masukin, Gus... aku mohon... rahim aku sakit, kerasa kosong banget... hhh... ahhh!"
Bagus merunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Febby yang panas. Ia memberikan senyum miring yang penuh arti sebelum mengeluarkan kalimat yang membuat jantung Febby mencelos.
"Kamu yakin mau punya aku masuk, Feb? Inget, punyaku ini jauh lebih besar dari yang biasa kamu terima," bisik Bagus rendah, suaranya mengandung nada peringatan yang menggairahkan. "Kalau nanti memek kamu jadi longgar gara-gara dipaksa telan kontol aku, terus Kevin balik dan ngerasa ada yang aneh... gimana? Kamu mau tanggung jawab kalau dia tahu ada orang lain yang udah make kamu selain dia?"
Febby terengah-engah, matanya yang sayu menatap Bagus dengan tatapan binal yang tak bisa disembunyikan lagi. "Nggak peduli... hhh... aku nggak peduli soal itu, Gus!"
"Oh ya?" Bagus memancing lagi, ujungnya sedikit menekan masuk, hanya seujung kuku, membuat Febby memekik kecil. "Beneran nggak peduli kalau dia ngerasa longgar? Nanti dia nanya, kenapa punya kamu nggak serapet dulu... kamu mau jawab apa?"
"Aku bakal bilang... hhh... aku bakal bilang kalau aku emang butuh yang lebih gede!" Febby meracau, egonya sudah runtuh total. Ia menarik leher Bagus agar wajah mereka sejajar. "Biarin longgar, Gus! Biarin rusak! Aku mau kamu hancurin memek aku malam ini... aku mau tiap kali Kevin masuk nanti, aku cuma bisa ngerasa hampa karena nggak ada yang sekeras dan sepadat punya kamu! Masukin, Gus... cepet!"
Bagus menyeringai puas mendengar pengakuan itu. "Jawaban yang bagus, Feb. Kalau gitu, jangan nyesel kalau besok kamu susah jalan."
Bagus terdiam sejenak, menatap Febby yang sudah benar-benar pasrah. Kamar itu seketika menjadi hening, hanya menyisakan suara deru napas mereka yang berat. Bagus sedikit memundurkan pinggulnya, menciptakan jarak beberapa sentimeter hanya untuk memberikan ruang bagi sebuah hantaman yang mematikan. Urat-urat di kejantannnya semakin menonjol, berdenyut panas seiring adrenalin yang memuncak.
Tanpa peringatan lagi, Bagus mencengkeram pinggul berisi Febby dengan kuat hingga jemarinya tenggelam di kulit kenyal itu. Dalam satu hentakan pinggul yang eksplosif, bertenaga penuh, dan tanpa sedikit pun keraguan, ia menghujamkan seluruh kejantannya hingga mentok ke dasar rahim Febby dalam satu gerakan tunggal yang brutal.
SLRRUUUPP... JLEBB!
"AAAAAAGHHHHHHH!!!!"
Febby menjerit sejadi-jadinya. Jeritan itu memenuhi kamar kosnya, sebuah suara yang melambangkan penyerahan diri total. Diameter Bagus yang luar biasa tebal meregangkan dinding vaginanya hingga batas maksimal yang menyakitkan sekaligus nikmat, sementara panjangnya menghantam leher rahim Febby dengan telak—sebuah titik terdalam yang belum pernah terjamah sebelumnya oleh siapapun.
Detik itu juga, saraf Febby mengalami korslet hebat. Tanpa perlu gerakan tambahan, gelombang kejut dari hantaman perdana yang brutal itu memicu orgasme instan. Seluruh tubuh berlekuknya menegang kaku, punggungnya melengkung ke atas hingga tidak menyentuh kasur, dan matanya mendelik putih selama beberapa detik.
Ia tidak squirt; kali ini otot-otot vaginanya justru menjepit kejantanan Bagus dengan kekuatan yang luar biasa kencang—sebuah orgasmic grip yang panas dan mencekik, seolah-olah rahim Febby sedang berusaha "memangsa" seluruh batang besar Bagus agar tidak bisa ditarik keluar lagi.
"Nghhh... ahhh... mmmhhh! Guss... ya Tuhan... ahhh... penuh banget... hhh... kerasa sampai ke perut..." Febby terengah-engah hebat, tubuhnya bergetar dalam fase puncak orgasme yang panjang dan menyiksa.
Bagus menggeram rendah, membiarkan kejantannya terperangkap di dalam jepitan maut vagina Febby. Ia menikmati denyutan dinding rahim Febby yang menghisapnya dengan rakus. Di ranjang ini, dominasi Bagus telah mutlak. Ia menatap wajah Febby yang masih dalam kondisi trance, menyadari bahwa mulai detik ini, tubuh Febby telah memiliki "tuan" baru yang kehadirannya tidak akan bisa dihapus oleh siapapun.
Setelah denyutan orgasme instan Febby perlahan mereda, Bagus tidak memberikan waktu bagi gadis itu untuk sekadar mengatur napas. Bagus masih berada jauh di dalam, terkunci oleh dinding vagina Febby yang masih bergetar. Ia menatap Febby yang terkulai lemas dengan mata sayu, lalu ia mulai melakukan gerakan pertamanya.
Bagus menarik keluar tubuhnya secara perlahan. Sangat perlahan.
Sluuuurrrppp... Suara vakum yang basah terdengar jelas saat batang besar Bagus tersedot keluar dari lubang Febby yang sangat ketat. Febby tersentak, tangannya yang masih lemas refleks mencengkeram lengan berotot Bagus.
"Nghhh... Gus... jangan dikeluarin... hhh... dingin..." rintih Febby, merasa hampa seketika saat ruang di dalam dirinya yang baru saja penuh kini perlahan mengosong.
Namun, tepat saat kepala penis Bagus hampir mencapai pintu keluar, Bagus kembali menghujamkan seluruh bebannya dengan satu sentakan pinggul yang jauh lebih cepat dari sebelumnya.
PLAK! JLEBB!
"AAAHHH!" Febby memekik, tubuhnya terpental kecil di atas kasur akibat hantaman keras dari pertemuan paha mereka.
Bagus mulai membangun ritme. Keluar hampir habis, masuk hingga mentok. Setiap kali Bagus menghujam masuk, suara tamparan kulit yang basah (Plak! Plak! Plak!) mulai memenuhi kamar kos tersebut, beradu dengan suara decitan ranjang yang mulai mengikuti irama bertenaga Bagus.
"Gimana, Feb? Tadi katanya mau dirusak, kan?" bisik Bagus di sela-sela napasnya yang mulai memburu. Ia mempercepat temponya. Kini, ia tidak lagi lembut. Setiap sodokan dilakukan dengan kekuatan penuh, memaksa Febby untuk menerima setiap inci dari kejantanannya.
"Ahhh! Ahhh! Ahhh! Guss... iyahhh... p-pentok terus! Gede banget... ahhh... kerasa banget uratnya, Gus!" Febby meracau, kepalanya bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan.
Air gairah yang melimpah akibat orgasme tadi kini menjadi pelumas yang membuat setiap gerakan Bagus menghasilkan suara cipak-ceplok yang sangat bising dan kotor. Febby merasa rahimnya seolah sedang diaduk-aduk. Setiap kali Bagus menghantam leher rahimnya, Febby merasa matanya berkabut, dunianya seolah hanya berputar pada poros kejantanan Bagus.
"Tuh kan... denger suaranya, Feb," Bagus terus memprovokasi sambil menghantam lebih keras. "Memek kamu udah becek banget begini... ini suara pengkhianatan kamu ke Kevin. Kamu lebih suka dihajar kasar begini daripada dielus-elus sama dia, kan?"
"Iyahhh... hhh... aku mau dikasar-in sama kamu, Gus! Ahhh! Hajar lagi! Lebih dalem!" Febby sudah benar-benar hilang harga diri. Ia mengangkat kakinya lebih tinggi, melingkarkannya ke bahu Bagus agar pria itu bisa menembusnya lebih dalam lagi tanpa penghalang.
Di bawah lampu kamar yang remang, Bagus bisa melihat bagaimana lubang Febby yang malang dipaksa untuk terus terbuka lebar, memerah karena harus menelan diameter yang tidak proporsional dengan kapasitasnya. Namun, Febby justru terlihat sangat menikmati "kerusakan" itu. Ia mencengkeram bantalnya, membenamkan wajahnya di sana untuk meredam jeritan kenikmatannya yang semakin menjadi-jadi seiring dengan ritme Bagus yang semakin brutal dan tak terkendali.
Keheningan kamar kos itu telah pecah sepenuhnya oleh suara-suara kotor yang dihasilkan dari pergulatan mereka. Bagus semakin menggila, kedua tangannya kini tidak lagi hanya mencengkeram sprei, melainkan menyusup ke bawah pinggul Febby, mengangkat bokong berisi gadis itu agar posisinya semakin terbuka lebar untuk menerima setiap inci kejantannya.
PLAK! PLAK! CEPLOK!
"AAHHH! GUSS! JANGAN BERHENTI! TERUSSS!" Febby menjerit, suaranya sudah serak namun penuh dengan nada lapar.
Setiap kali Bagus menghujam masuk, Febby merasakan tekanan yang luar biasa dari batang tebal itu. Ia merasa seolah-olah seluruh organ dalamnya sedang ditata ulang oleh milik Bagus. Rasa panas menjalar dari titik pertemuan mereka, menjalar ke seluruh tulang belakangnya, menciptakan sensasi kesemutan yang nikmat sekaligus menyiksa.
Bagus mempercepat ritmenya. Hantaman itu kini datang bertubi-tubi seperti mesin yang tak punya rasa lelah. Bagus tidak memberikan jeda sedikit pun bagi Febby untuk sekadar mengambil napas. Setiap kali Febby mencoba mendesah, Bagus membungkamnya dengan hantaman yang lebih keras, membuat jeritan Febby tertahan menjadi rintihan yang binal.
"Dengerin, Feb... denger suara memek kamu yang lagi dihajar begini," bisik Bagus dengan napas yang memburu di ceruk leher Febby. "Kamu suka kan? Kamu suka ngerasa sesak dan mau pecah kayak gini?"
"Iyahhh... ahhh! Suka, Gus! Rusak aku! Aku mau keluar lagi... hhh... aduhhh, mau keluar!"
Tubuh Febby mulai bereaksi terhadap kecepatan yang brutal itu. Perutnya bergejolak, dan dinding vaginanya mulai berkedut-kedut hebat secara ritmis—pertanda bahwa ledakan kedua sudah berada di depan mata. Ia bisa merasakan urat-urat di batang Bagus yang bergesekan dengan titik sensitifnya, menciptakan gesekan yang sangat panas dan licin.
"Guss! Aku mau keluar! Ahhh! Lebih cepet, Gus! Mentokin semuanya! Ahhh! GUSS!"
Bagus memberikan "serangan" terakhir. Ia melakukan sepuluh hentakan tercepat dan terkeras yang pernah Febby rasakan seumur hidupnya. Setiap hujaman membuat kepala Febby mendongak ke belakang, matanya mendelik, dan tangannya mencengkeram udara dengan putus asa.
JLEBB! JLEBB! JLEBB!
"AAAAAAAGHHHHHH!!!!"
Febby meledak untuk kedua kalinya. Kali ini jauh lebih hebat dari yang pertama. Tubuhnya seolah dilempar ke atas kasur; kakinya yang melingkar di bahu Bagus menegang kaku, jemari kakinya meringkuk kuat, dan seluruh otot tubuhnya bergetar hebat.
Orgasme kali ini begitu panjang dan dalam. Dinding vagina Febby menjepit Bagus dengan sangat ketat, memberikan tekanan vacuum yang hampir membuat Bagus kehilangan kendalinya. Febby terus meracau tak jelas, memanggil nama Bagus di tengah desahannya yang tak beraturan, sementara rahimnya berdenyut-denyut kencang seolah sedang berusaha memeras sisa-sisa tenaga dari kejantanan Bagus yang masih tertancap dalam di sana.
Febby terkulai lemas, napasnya tersengal-sengal dengan dada yang naik-turun dengan cepat. Di ranjangnya sendiri, ia baru saja merasakan standar kenikmatan yang akan membuatnya merasa "haus" seumur hidup.
Febby masih terengah-engah hebat, tubuh berlekuknya masih bergetar sisa dari ledakan orgasme kedua yang baru saja menghancurkan seluruh sarafnya. Matanya sayu dan berkabut, menatap langit-langit kamar kosnya dengan kosong seolah jiwanya baru saja dicabut paksa dari raga. Bagus tidak menarik keluar kejantannnya; ia tetap membiarkan batang besarnya yang panas dan berurat tertanam diam di dalam, menikmati bagaimana dinding vagina Febby yang lelah masih berdenyut-denyut menjepitnya dengan sisa-sisa tenaga yang tak beraturan.
=============
=============
Part 12. Invasi Bagus (Lanjutan 2)
POV: Penulis
Suara napas Febby yang memburu memenuhi keheningan kamar yang remang itu, bersahutan dengan detak jantungnya yang berdegup kencang hingga getarannya terasa menembus ke dada Bagus yang sedang menindihnya. Bagus merunduk, menumpu beban tubuhnya dengan kedua siku di samping kepala Febby, menatap dalam-dalam wajah gadis itu yang tampak begitu berantakan—rambutnya yang panjang kusut masai di atas bantal, bibirnya bengkak karena cumbuan kasar, dan rona merah gairah yang menjalar hebat dari leher hingga ke dadanya yang naik-turun dengan cepat mencari oksigen.
"Gimana, Feb? Masih bisa napas?" bisik Bagus rendah, suaranya terdengar begitu dominan dan berat di telinga Febby yang panas.
Febby hanya bisa menjawab dengan rintihan kecil yang hampir tak berbentuk kata-kata, "Hhh... hhh... G-Gus... ampun... gede banget punya kamu... penuhh banget..."
Bagus tersenyum miring, sebuah seringai kemenangan yang manipulatif. Ia kemudian sedikit menarik keluar batangnya, membiarkan udara dingin sejenak menyentuh bagian dalam Febby yang sedang membara, sebelum kemudian ia mendorongnya kembali masuk secara perlahan namun sangat dalam hingga ke pangkal.
Sluuuup...
"Kamu ngerasa nggak, Feb? Lubang kamu udah mulai 'nerima' ukuran aku. Tadi pas awal kamu hampir nangis karena kesempitan, tapi sekarang... lihat gimana punyaku masuk lancar banget karena kamu udah terbuka lebar begini," Bagus terkekeh sinis, memberikan satu sentakan kecil di dalam yang membuat tubuh Febby tersentak kaget.
"Kamu tau apa artinya itu, Feb?" Bagus melanjutkan dengan nada yang semakin memojokkan mental gadis itu. "Artinya, mulai malam ini, tiap kali Kevin balik dan nyoba masuk ke sini, dia bakal ngerasa kayak masuk ke ruangan kosong. Kamu udah aku bikin longgar, Feb. Kamu bakal terus ngerasa hampa kalau bukan ukuran aku yang ngisi kamu sampai mentok kayak gini. Kamu yakin masih mau punya aku masuk lagi?"
"Nggak peduli... hhh... biarin aja... aku cuma mau punya kamu sekarang... hhh... hajar lagi, Gus... rusak aku sesuka kamu..." racau Febby, egonya sudah hancur lebur oleh kenikmatan yang diberikan pria yang bukan kekasihnya itu.
Bagus menyeringai puas mendengarnya. Tanpa memberikan waktu sedikit pun bagi Febby untuk memulihkan tenaga, Bagus mencengkeram kedua lengan Febby dan memaksanya untuk duduk, sebelum akhirnya dalam satu gerakan yang luar biasa kuat dan dominan, Bagus berdiri tegak dari ranjang sambil mengangkat tubuh Febby sepenuhnya ke udara.
Secara refleks karena takut terjatuh, Febby langsung melingkarkan kedua kaki jenjangnya ke pinggang kokoh Bagus dan memeluk leher pria itu dengan sangat erat. Dalam posisi menggendong yang intim namun brutal ini, seluruh beban tubuh Febby sekarang sepenuhnya bertumpu pada satu titik fokus: kejantanan Bagus yang masih tertancap di dalamnya. Gravitasi memaksa batang tebal dan panjang itu menghujam masuk secara vertikal, melesat melewati batas yang biasanya sanggup ditampung Febby, hingga benar-benar menekan dasar rahimnya dengan telak.
SLRRUUUPP... JLEBB!
"AAAAAAGHHHHHHH!!!!"
Febby menjerit sejadi-jadinya, wajahnya terbenam di ceruk leher Bagus sementara seluruh tubuhnya menegang kaku. Tanpa tumpuan kasur, rasa "penuh" itu berubah menjadi tekanan yang sangat ekstrem hingga ia merasa seolah-olah batang Bagus menembus sampai ke ulu hatinya.
Bagus kemudian mulai melangkah perlahan menuju meja rias, memberikan hentakan-hentakan alami di setiap langkahnya yang membuat Febby merintih kencang. Ia memposisikan tubuh mereka agar berdiri menyamping tepat di hadapan cermin besar meja rias tersebut. Kini, Febby hanya perlu sedikit menolehkan kepalanya ke arah samping untuk melihat seluruh profil penyiksaan yang sedang terjadi pada tubuhnya sendiri.
"Liat cermin, Feb. Liat gimana punya aku nembus kamu," perintah Bagus, suaranya parau menahan puncak gairah.
Febby menoleh dengan napas yang terputus-putus. Matanya yang sayu melebar seketika saat melihat pantulan mereka di cermin dari sisi samping. Ia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana setiap inci batang kokoh Bagus menghilang seluruhnya ke dalam dirinya, memaksa lubangnya melebar hingga batas maksimal yang tak masuk akal, lalu keluar hanya menyisakan ujung yang bengkak sebelum dihantam masuk kembali dengan suara tamparan kulit yang basah.
SLRUUUPP... PLAK!
Bagus mulai memompa dengan ritme yang lebih liar, menyentakkan pinggulnya ke atas dengan bertenaga. Di cermin itu, Febby melihat kontras yang luar biasa: tubuhnya yang tampak rapuh dalam gendongan Bagus sedang dipasak berkali-kali oleh ukuran yang terasa begitu raksasa bagi kapasitasnya.
"Liat... kamu nempel di aku kayak gini, padahal Kevin mungkin nggak akan pernah kuat gendong kamu sambil hajar rahim kamu sedalem ini," bisik Bagus lagi, memancing hancurnya sisa kesetiaan Febby.
"Iyahhh... ahhh... cuma Bagus! Kevin nggak kuat... ahhh! Gede banget... ahhh... terus, Gus! Hancurin aku! Aku mau liat semuanya di cermin!" Febby menjerit, menarik kepalanya ke belakang agar bisa melihat lebih jelas setiap hantaman itu di pantulan kaca.
Suara cipak-ceplok terdengar semakin bising di kesunyian malam itu, karena dari posisi samping, cairan gairah Febby terlihat jelas meluber keluar dan membasahi pangkal paha Bagus yang berotot setiap kali ada hentakan keras ke atas. Febby merasa rahimnya benar-benar sedang dipahat ulang, menyadari bahwa mulai detik ini, memori fisiknya tentang Kevin telah terhapus oleh dominasi Bagus yang tak tertandingi.
Bagus tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambat; sebaliknya, otot-otot lengannya yang kekar semakin menegang hingga urat-uratnya menonjol, mencengkeram bokong Febby dengan kekuatan yang seolah ingin menyatukan tubuh gadis itu dengan tubuhnya sendiri. Ia mulai melakukan pompaan vertikal yang sangat bertenaga di depan cermin. Bagus tidak sekadar bergerak maju-mundur; setiap kali ia menyentakkan pinggulnya ke atas dengan ledakan tenaga dari otot inti dan pahanya, ia membiarkan seluruh berat tubuh Febby jatuh menghantam ke bawah secara bersamaan.
Hasilnya adalah sebuah tumbukan ganda yang mengerikan; batang Bagus yang keras menghujam ke atas dengan kecepatan tinggi, sementara rahim Febby terhempas ke bawah oleh gravitasi untuk menjemput hantaman itu.
PLAK! PLAK! PLAK!
Suara hantaman kulit paha Bagus yang kokoh ke pantat berisi Febby terdengar seperti suara cambuk di dalam kamar yang pengap itu. Bagus meningkatkan ritmenya hingga ke titik di mana tubuh Febby hanya bisa terguncang-guncang hebat tanpa daya dalam gendongannya. Setiap kali batang yang mendominasi itu masuk mentok, Febby merasa seolah-olah ia sedang dipasak hidup-hidup.
"Liat... kamu nempel di aku kayak gini, padahal Kevin mungkin nggak akan pernah kuat gendong kamu sambil hajar rahim kamu sedalem ini," bisik Bagus lagi, suaranya parau dan berat.
"Iyahhh... ahhh... cuma Bagus! Kevin nggak kuat... ahhh! Gede banget... ahhh! Teruss, Gus! Sedikit lagi!" Febby menjerit histeris. Wajahnya memerah padam, keringat bercucuran dari pelipisnya.
Di titik ini, Febby mulai merasakan sensasi yang luar biasa asing dan dahsyat. Setiap kali kepala penis Bagus menghantam leher rahimnya, ia merasa ada aliran listrik yang merambat dari perut bawahnya hingga ke seluruh saraf di tulang belakangnya. Rasa nikmat itu sudah mencapai level yang menyiksa; ia merasa ada gelombang panas yang menggumpal di area kandung kemihnya, siap untuk meledak.
"Gusss... ahhh! Tunggu... mmmhhh! Itu dia... di situ terus, Gus!" Febby meracau dengan mata mendelik. Ia bisa merasakan urat-urat di batang Bagus seolah sedang memijat paksa titik sarafnya yang paling sensitif. Geli yang ia rasakan sudah tidak tertahankan, membuatnya ingin menangis sekaligus tertawa binal. "Aduh, Gus! Aku mau pipis... ehhh bukan... aku mau pecah! Sesuatu mau keluar! G-Gus, cepetin! Hajar lagi! Aku mau squirt! Aku mau keluar banyak banget! Ahhh! Ahhh! Terusss, Gus! Jangan berhenti!"
Febby sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia memajukan pinggulnya, memaksa dirinya sendiri untuk tertusuk lebih dalam oleh ukuran Bagus yang melampaui batas itu. Ia merasa seolah-olah seluruh cairan di dalam tubuhnya sedang ditarik menuju satu titik, menciptakan tekanan hidrolik yang membuat perut bawahnya terasa sangat kencang dan keras. "Gus! Sekarang! Aku mau keluar! Hancurin aku sekarang! AHHH!"
Detik itu juga, saraf Febby mengalami korslet total.
"AAAAAAAGHHHHHHH!!!!"
Febby menjerit dengan suara yang melengking tinggi, tidak lagi terdengar seperti manusia. Bersamaan dengan jeritan itu, tubuhnya mendadak tersentak kaku dalam kondisi yang mengerikan. Ia mengalami kejang hebat. Kedua tangannya yang semula memeluk leher Bagus kini mencengkeram udara dengan jari-jari yang melengkung kaku seperti cakar. Punggungnya melengkung secara ekstrem hingga tulang rusuknya menonjol, dan kedua kakinya yang melingkar di pinggang Bagus bergetar luar biasa kencang secara ritmis.
Seketika itu juga, semburan cairan hangat yang sangat deras meledak keluar dari lubangnya. Cairan itu menyemprot kuat, membasahi perut dan paha Bagus, bahkan sebagian memercik ke permukaan cermin di samping mereka. Febby mengalami squirt dengan volume yang sangat melimpah, saking hebatnya hingga ia benar-benar kehilangan kendali atas otot-otot tubuhnya sendiri.
Tubuhnya terus bergetar hebat dalam kondisi kejang orgasme yang panjang dan menyiksa. Matanya berputar ke atas, hanya menyisakan bagian putihnya saja, sementara mulutnya terus terbuka namun hanya desisan napas yang keluar. Ia benar-benar kehilangan kesadaran motoriknya; sarafnya kewalahan menerima banjir kenikmatan yang dikirimkan oleh ukuran Bagus yang melampaui batas kewarasan manusia normal.
Bagus tetap menahan tubuh Febby yang sedang kejang-kejang itu dalam gendongannya yang kuat. Ia bisa merasakan dinding vagina Febby menjepit batangnya dengan kekuatan yang luar biasa—sebuah orgasmic grip yang mencekik, panas, dan berdenyut kencang. Cairan squirt itu terus menetes ke lantai, menciptakan bunyi tik-tik yang kotor di tengah keheningan kamar. Febby tampak benar-benar hancur; ia lemas seketika setelah kejang itu mereda, kepalanya jatuh terkulai di bahu Bagus seperti boneka kain yang talinya diputus secara paksa.
Setelah badai orgasme yang meluluhlantakkan saraf Febby mereda, Bagus tidak langsung membawanya kembali ke ranjang. Dengan napas yang masih menderu berat dan keringat yang membanjiri tubuhnya, Bagus melangkah mundur satu langkah menuju meja rias. Dengan satu tangan tetap memeluk pinggul Febby agar tidak jatuh, tangan lainnya menarik kursi kayu di depan cermin tersebut.
Bagus duduk di sana dengan posisi tetap menggendong Febby. Ia membiarkan gadis itu duduk tegak di atas pangkuannya, saling berhadapan, sementara kejantannya yang masih tegang keras dan panas tetap tertancap dalam, terjepit sempurna di dalam tubuh Febby yang masih berdenyut sisa kejang tadi.
Tempo yang tadinya brutal seketika turun drastis. Keheningan kamar kini hanya diisi oleh suara napas mereka yang bersahutan. Febby terkulai lemas, menyandarkan keningnya di bahu Bagus. Dadanya naik-turun dengan cepat, mencoba meraup oksigen yang seolah hilang saat ia squirt hebat tadi.
"Masih hidup, Feb?" bisik Bagus parau, suaranya terdengar sangat rendah dan dalam di dekat telinga Febby yang masih memerah.
Febby hanya bisa merintih kecil, suaranya hampir hilang. "G-Gus... jahat... kamu bener-bener... hhh... ngerusak aku..."
Bagus terkekeh pelan, getaran di dadanya terasa langsung ke tubuh Febby. Ia mengusap sisa-sisa air yang membasahi paha mereka berdua dengan telapak tangannya yang kasar. "Bukannya kamu sendiri yang minta dirusak? Aku cuma nurutin kemauan kamu. Lagian, liat di cermin itu... kamu keliatan jauh lebih 'hidup' sekarang dibanding pas kamu cuma sama Kevin."
Febby perlahan mendongakkan kepalanya, menatap matanya sendiri yang sayu dan berkabut di pantulan cermin. "Ini gila... aku nggak pernah ngerasa se-penuh ini seumur hidup aku... hhh... punya kamu bener-bener nyentuh titik yang nggak pernah aku tau ada di sana. Rasanya tadi... kayak mau mati, Gus. Aku beneran nggak bisa gerak pas kamu hajar tadi."
"Itu karena tubuh kamu kaget nerima ukuran yang seharusnya nggak muat masuk sedalem itu," Bagus mencengkeram dagu Febby, memaksanya menatap matanya. "Tapi sekarang kamu ketagihan, kan? Kamu ngerasa gimana punyaku masih di dalem sekarang? Kerasa denyutannya? Kerasa panasnya?"
Febby memejamkan mata, meresapi denyutan hangat yang masih terasa nyata di rahimnya. "Iyah... masih berasa penuh banget... hhh... anget... kayak nggak mau lepas, Gus."
Bagus tersenyum tipis. Ia merunduk sedikit, hanya memberikan kecupan-kecupan ringan di dahi, lalu turun ke pipi, dan berakhir dengan mengecup lembut sudut bibir Febby. Hanya sebuah kecupan singkat yang menggoda, seolah ia ingin memberikan jeda yang tenang bagi gadis itu.
Namun, bagi Febby, kecupan tipis itu justru terasa seperti siksaan. Rasa nyaman dan "penuh" di bawah sana membuat seluruh sarafnya menjadi sangat sensitif. Sentuhan bibir Bagus yang hanya sekilas itu bukannya menenangkan, malah memicu rasa haus yang lebih dalam. Febby merasa bibirnya mendadak kering, dan ia mendambakan lebih dari sekadar kecupan santun.
Perlahan, Febby menggerakkan kepalanya, mencari bibir Bagus. Ia membalas kecupan itu, awalnya hanya lumatan kecil yang ragu, namun perlahan ia menjadi lebih berani. Febby mulai menghisap bibir bawah Bagus, memancing pria itu untuk membuka mulutnya. Saat Bagus akhirnya membiarkan celah itu terbuka, Febby langsung menyambutnya dengan lidah yang mencari tautan.
Ciuman itu pun mulai naik intensitasnya secara bertahap. Febby yang tadinya hanya mengikuti, kini mulai memimpin irama. Ia merapatkan tubuhnya, melingkarkan tangannya lebih erat di leher Bagus, dan memperdalam pagutan itu hingga suara decapan basah mulai terdengar memenuhi sudut meja rias. Lidah mereka saling membelit dengan ritme yang pelan namun pasti, menciptakan sensasi panas yang kembali menjalar ke seluruh tubuh.
Febby melenguh di sela-sela ciuman itu, merasa gairahnya kembali berkumpul di satu titik. Penyatuan bibir mereka yang semakin intim membuat Febby merasa seolah-olah ia sedang menyedot kekuatan Bagus. Rasa haus akan dominasi pria itu bangkit kembali. Tanpa sadar, kakinya yang melingkar di pinggang Bagus semakin menjepit erat.
Ritme napas Febby mulai kembali memburu. Di tengah ciuman panas yang ia pancing sendiri itu, pinggulnya mulai bergerak secara naluriah. Awalnya hanya sebuah gesekan kecil, gerakan naik-turun yang sangat tipis dan perlahan, seolah ia sedang menguji seberapa dalam ia bisa merasakan batang Bagus di posisi duduk ini.
"Mmmhhh... Guss..." desah Febby pelan saat ia mulai mengangkat pinggulnya sedikit demi sedikit, lalu menurunkannya kembali hingga mentok dengan gerakan yang sangat lembut namun penuh perasaan.
Bagus melepaskan pegangannya pada punggung Febby, meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi kayu tersebut, memberikan ruang bagi Febby untuk mengeksplorasi gairahnya sendiri. "Eh? Kok malah goyang sendiri? Tadi katanya udah rusak?" goda Bagus dengan suara serak, matanya menatap lekat bagaimana Febby mulai bergoyang dengan ritme rendah di atas pangkuannya.
Febby tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya terus memperdalam ciumannya sambil perlahan-lahan meningkatkan kecepatan goyangan pinggulnya, menikmati setiap inci ketebalan Bagus yang kembali mengaduk dinding vaginanya yang sudah sangat sensitif.
Ritme yang tadinya lambat dan penuh perasaan itu kini mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dan menuntut. Febby tidak lagi hanya sekadar mencari rasa "hangat" di dalam dirinya; ia kini sedang memburu sisa-sisa puncak yang belum tuntas di kepalanya. Sambil tetap menempelkan bibirnya pada bibir Bagus—terkadang menghisapnya dengan liar, terkadang hanya menempelkan keningnya sambil terengah-engah—pinggul Febby mulai bergerak dengan kekuatan yang lebih besar.
Febby mengangkat tubuhnya perlahan, membiarkan batang besar Bagus meluncur turun hingga hampir terlepas dari lubangnya yang merah dan menganga, hanya untuk kemudian menghempaskan bobot tubuhnya sendiri kembali ke bawah dengan sengaja.
Sluuurrrp... Jleb!
"Ahhh... hhh... G-Gusss..." Febby mendesah panjang, matanya terpejam rapat sementara tangannya mencengkeram bahu Bagus hingga kuku-kukunya memutih.
Setiap kali ia turun mentok, ia sengaja memutar pinggulnya perlahan, membiarkan diameter Bagus yang masif menggosok seluruh dinding vaginanya secara melingkar. Ia bisa merasakan setiap tekstur urat dan denyutan dari kejantanan Bagus yang seolah-olah sedang memijat titik-titik saraf sensitifnya yang paling dalam. Suara gesekan basah yang kotor antara pangkal paha mereka mulai terdengar ritmis, bersahutan dengan napas Febby yang semakin pendek.
Bagus hanya diam memperhatikan, kepalanya bersandar di kursi dengan seringai tipis. Ia menikmati pemandangan di depan cermin: Febby yang binal, dengan rambut berantakan dan tubuh yang masih basah oleh sisa squirt tadi, kini bergerak naik-turun di atasnya dengan penuh nafsu. Bagus sengaja membiarkan tangannya tetap di sandaran kursi, membiarkan Febby merasa seolah-olah dia memegang kendali, padahal sebenarnya dia hanya sedang tenggelam lebih dalam ke dalam jeratan Bagus.
"Terus, Feb... makin kenceng kamu goyang, makin dalam punya aku masuk," bisik Bagus memanasi.
Febby menggigit bibir bawahnya, raut wajahnya menunjukkan perpaduan antara kenikmatan dan rasa frustasi. Ritmenya semakin naik. Kini, goyangan itu tidak lagi lembut. Febby mulai menghantamkan dirinya sendiri ke bawah dengan frekuensi yang lebih cepat.
Plak... Plak... Plak...
"Hhh... hhh... Guss! Ini... ahhh! Ini enak banget... tapi aku nggak nyampe-nyampe... hhh... dalemin lagi, Gus! Pake tangan kamu... hhh... pegang aku!" Febby mulai meracau. Ia merasa goyangannya sendiri tidak cukup kuat untuk menembus dinding pertahanannya yang terakhir. Ia merasa lapar akan kekuatan Bagus yang brutal tadi.
Goyangan Febby menjadi semakin liar dan tidak beraturan. Ia mulai merasa gemetar di paha dalamnya karena otot-ototnya mulai kelelahan, namun nafsunya justru menolak untuk berhenti. Ia ingin Bagus kembali menjajahnya, ia ingin merasakan sentakan vertikal yang menghancurkan rahimnya seperti saat mereka berdiri tadi.
"Gusss... tolongin... hhh... aku mau lagi... hajar aku lagi... ahhh!" Febby akhirnya menyerah pada egonya, ia berhenti bergoyang sejenak hanya untuk memeluk leher Bagus dengan sangat erat, memohon dengan napas yang memburu di telinga pria itu agar Bagus kembali mengambil alih permainan.
Bagus melihat Febby yang mulai berjuang sendiri dengan napas tersengal. Alih-alih hanya diam, Bagus mulai memainkan taktik yang lebih kejam. Saat Febby mengangkat pinggulnya ke atas untuk mencari ancang-ancang, Bagus justru mengikuti gerakan itu sedikit ke atas—bukan untuk menghujam, melainkan hanya untuk memastikan ujung batangnya tetap menyangkut di mulut rahim Febby, menghalangi gadis itu untuk mendapatkan ruang gerak yang ia inginkan.
"Gusss... ahhh! Jangan ditahan... aku mau gerak..." rengek Febby, wajahnya sudah basah oleh air mata gairah dan keringat.
"Gerak aja, Feb. Kan nggak aku lepas," bisik Bagus dingin. Ia sengaja mengencangkan otot-otot di kejantanannya, membuatnya berdenyut keras di dalam diri Febby. Denyutan itu terasa seperti pukulan-pukulan kecil yang sangat sensitif, namun Bagus menolak untuk memberikan dorongan maju.
Saat Febby mencoba menghantamkan dirinya ke bawah dengan tenaga sisa, Bagus justru melakukan gerakan menahan. Ia tidak membiarkan Febby turun sepenuhnya. Ia menopang pinggul Febby dengan pahanya yang keras, membuat Febby hanya bisa menggantung di tengah-tengah.
"Ahhh! Gus, kok berhenti di situ?! Turunin aku! Aku mau mentok... hhh... aku mau ngerasa ujungnya!" Febby meracau, tubuhnya bergetar hebat karena otot pahanya sudah mulai kram.
"Kamu terlalu buru-buru, Feb. Nikmatin dulu sensasi 'nggantung' ini," Bagus justru mulai memutar-mutar jemarinya di pinggang Febby, memberikan sentuhan ringan yang justru membuat bulu kuduk Febby berdiri. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya, menjilat sisa keringat di leher Febby tanpa sedikit pun membantu goyangan gadis itu.
"Guss... please... hhh... jangan digituin... ini geli banget... mmmhhh!" Febby mulai menangis frustasi. Ia merasa bagian dalamnya sedang "digelitik" oleh ukuran Bagus yang masif namun tidak bergerak. Rasa penuh yang menggantung itu benar-benar menyiksa sarafnya hingga ke titik gila.
Setiap kali Febby merengek minta dihantam, Bagus hanya memberikan hentakan kecil yang sangat dangkal. Hanya sekitar dua inci gerakan masuk-keluar yang sangat lambat, tepat di bagian yang paling banyak saraf sensitifnya, namun sengaja menjauhi titik G-spot yang sedang haus-hausnya.
"Gusss! Kurang dalem! Ahhh! Masuk lagi... please... hantam rahim aku lagi kayak tadi! Aku mau pecah, Gus! Jangan cuma diginiin... hhh... rasanya mau mati!" Febby memohon dengan suara serak, tangannya mencengkeram lengan Bagus sampai kuku-kukunya memerah. Ia merasa kandung kemihnya kembali tertekan, namun karena Bagus tidak memberikan hantaman keras, ia tidak bisa squirt lagi.
Bagus tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat merendahkan di depan cermin. Ia menghentikan gerakan kecilnya, membiarkan batangnya yang masif hanya diam membatu di dalam diri Febby, menciptakan rasa "penuh" yang menyiksa tanpa ada penyelesaian. Ia mencengkeram dagu Febby, memaksa gadis itu menatap pantulan dirinya yang sedang bergetar hebat.
"Liat diri kamu di cermin, Feb. Kamu bilang kamu sayang banget sama Kevin, kan? Kamu bilang hati kamu cuma buat dia?" bisik Bagus kejam. "Tapi liat lubang kamu sekarang... liat gimana badan kamu malah nangis-nangis minta dihajar sama punya aku. Coba kamu bayangin Kevin ada di depan kamu sekarang. Apa yang mau kamu bilang ke dia?"
Febby menggelengkan kepalanya dengan liar, air mata frustasinya menetes membasahi paha Bagus. Rasa haus di bawah sana sudah mencapai titik gila, merusak seluruh sisa logikanya.
"Jawab, Feb! Bayangin Kevin denger ini. Bilang sama dia, apa kamu masih bisa hidup kalau cuma sama dia?" tekan Bagus, sengaja memberikan denyutan keras pada batangnya di dalam rahim Febby.
"G-Gus... hhh... Vin... Kevin, maafin aku..." rintih Febby dengan suara pecah, pandangannya kosong menatap cermin seolah benar-benar melihat sosok calon suaminya di sana. "Vin... hati aku... sayang aku cuma buat kamu... hhh... selamanya cuma buat kamu..."
Bagus menyeringai, ia menyentuh leher Febby dengan kasar. "Tapi badan kamu, Feb? Bilang sama Kevin tentang badan kamu!"
"T-tapi Vin... hhh... aku nggak bisa... badan aku butuh Bagus... hhh... punya kamu nggak cukup buat ngerusak aku kayak gini..." Febby meracau, suaranya naik satu oktav karena frustasi fisik yang tak tertahankan. "Maafin aku, Vin... tapi please... ijinin aku... ijinin aku tetep dipake sama Bagus... hhh... aku butuh dihancurin sama dia biar aku bisa tetep cinta sama kamu... hhh... ijinin Bagus ngerusak rahim aku terus, Vin! Aku mau dipake Bagus selamanya... ahhh! Gus, tolonggg... hajar aku sekarang!"
Mendengar pengakuan yang begitu menyimpang—di mana Febby memohon izin pada Kevin agar tetap bisa menjadi pemuas nafsu Bagus—Bagus merasa egonya melambung tinggi. Ia telah memenangkan peperangan ini; ia tidak hanya menguasai tubuh Febby, tapi ia membuat Febby mengakui bahwa cintanya pada Kevin butuh "suplemen" dari kekerasan seksual yang Bagus berikan.
Bagus menyeringai puas mendengar pengakuan hancur Febby. Alih-alih mencabut miliknya, Bagus justru semakin menekan pinggul Febby ke bawah, memastikan batangnya tetap terkunci rapat di dalam rahim gadis itu.
"Kalau itu maumu... aku bakal penuhi rahim kamu sampai kamu nggak bisa mikirin hal lain selain rasa penuh ini," bisik Bagus dengan suara yang sangat rendah dan parau.
Bagus kemudian bertumpu pada kekuatan otot pahanya. Sambil tetap duduk, ia merangkul tubuh lemas Febby dan perlahan bangkit dari kursi meja rias. Febby memekik tertahan, kedua kakinya yang melingkar di pinggang Bagus bergetar hebat karena ia bisa merasakan setiap inci batang Bagus bergeser dan menekan dinding vaginanya lebih keras akibat perubahan gravitasi.
Penyatuan mereka sama sekali tidak terputus; Bagus membawa Febby dalam posisi menggendong depan menuju tempat tidur, sementara batangnya yang masif tetap menyumbat lubang Febby dengan sempurna. Setiap langkah yang diambil Bagus memberikan sentakan-sentakan kecil di dalam perut Febby yang membuatnya terus mendesah tanpa henti.
Begitu sampai di pinggir ranjang, Bagus tidak langsung merebahkan Febby. Ia perlahan menurunkan kaki Febby ke kasur, namun tetap memosisikan tubuh gadis itu membungkuk ke depan. Dengan gerakan yang sangat ahli dan dominan, Bagus memutar tubuh Febby secara perlahan. Batangnya yang tebal merotasi di dalam diri Febby, menciptakan sensasi gesekan melingkar yang sangat tajam hingga Febby menggigit bibirnya kuat-kuat.
"G-Gusss... hhh... rasanya aneh... mmmhhh! Masih di dalem... ahhh!"
Bagus menekan punggung Febby hingga gadis itu menungging sempurna dalam posisi doggy style, sementara kejantanan Bagus sama sekali tidak pernah keluar dari sana. Posisi ini membuat batang Bagus yang tadinya masuk dari depan kini menghujam dari belakang dengan sudut yang jauh lebih dalam.
"Sekarang liat... seberapa banyak aku bisa ngisi kamu dari sini," geram Bagus.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Febby untuk menyesuaikan diri dengan posisi baru itu, Bagus langsung memulai serangan balasan yang paling brutal. Ia mencengkeram pinggul Febby dengan kedua tangannya, lalu mulai menghantamkan pinggulnya maju dengan ledakan tenaga yang mengerikan.
PLAK! PLAK! PLAK!
Suara hantaman kulit mereka terdengar berat di kesunyian kamar. Dari posisi ini, setiap tusukan Bagus terasa jauh lebih menyesakkan. Febby hanya bisa membenamkan wajahnya di bantal sambil mengerang rendah. Ia merasa rahimnya benar-benar sedang dipijat habis-habisan oleh ukuran Bagus.
Rasa nikmat yang bertumpuk sejak di meja rias tadi kini memuncak dengan cara yang berbeda. Tidak ada semburan, namun rahim Febby mulai berdenyut dengan kontraksi yang sangat kuat. Dinding vaginanya menjepit batang Bagus begitu erat, seolah-olah menghisapnya untuk masuk lebih dalam lagi.
"G-Gusss... ahhh! Ahhh! Itu... di situuu! Mmmhhh!"
Hanya dalam beberapa hentakan yang presisi, seluruh tubuh Febby mendadak menegang. Ia tidak meledak, melainkan mengalami orgasme dalam yang sangat intens. Tubuhnya gemetar hebat, jari-jari kakinya meringkuk kaku, dan ia hanya bisa mendesah panjang dengan napas yang terputus-putus sementara bagian dalamnya terus-menerus menjepit dan memeras kejantanan Bagus dalam gelombang kenikmatan yang panjang.
Bagus terus menghajar lubang Febby tanpa ampun. Suara hantaman kulit paha Bagus yang memukul pantat Febby terdengar nyaring dan basah di keheningan kamar. Febby sudah tidak bisa lagi bicara jelas; dia cuma bisa merintih parau sambil mencakar-cakar sprei karena rasa nikmat di rahimnya sudah menumpuk di ubun-ubun.
Tepat saat tubuh Febby mulai kaku dan matanya mendelik ke atas—tanda dia mau meledak—Bagus tiba-tiba berhenti total.
Bagus nggak mencabutnya. Dia cuma diam di dalam, membiarkan batangnya yang berdenyut keras menyumbat rahim Febby tanpa ada gesekan sedikit pun.
"G-Gus... hhh... kok berhenti? Terusss... please, jangan digantung gini..." rintih Febby dengan napas putus-putus. Tubuhnya gemetar hebat karena orgasmenya tertahan di ujung saraf.
Bagus justru merunduk, menjilat keringat di leher Febby sambil berbisik santai tapi tajam, "Enak ya, Feb? Padahal tadi katanya sayang banget sama Kevin, tapi sekarang lubang kamu malah jepit punya aku kenceng banget begini. Mau keluar ya?"
"I-iyah... hhh... mau keluar, Gus! Tolong... hajar lagi..." Febby memohon-mohon, pinggulnya gerak liar coba memancing Bagus buat gerak lagi.
Bagus malah menarik batangnya pelan-pelan, inci demi inci, sampai cuma sisa ujungnya aja yang nyangkut di bibir lubang Febby yang sudah merah dan bengkak. Dia sengaja menggantung posisinya di situ.
"Feb... aku udah di ujung banget nih" bisik Bagus lagi dengan napas panas. "Tapi dipikir-pikir... mending aku keluarin di punggung kamu aja ya? Biar aman, biar nggak ada bekasnya di dalem. Sayang kan rahim kamu kalau aku isi penuh sekarang? Gimana, aku tarik ya?"
Mendengar itu, Febby langsung histeris. Bayangan rasa "penuh" itu hilang sebelum dia meledak bikin dia hampir gila. Dia merengek binal, pinggulnya bergerak-gerak putus asa mau menelan balik punya Bagus.
"Jangan! Hhh... jangan ditarik, Gus! Masuk lagi! Ahhh!" Febby merengek, air matanya menetes ke bantal. "Aku nggak mau di punggung! Maunya di dalem! Please, Gus... aku butuh kamu di dalem! Penuhin rahim aku... hhh! Jangan ada yang tumpah di luar! Aku mau ngerasa kamu tumpah semua di rahim aku sekarang! Cepetan, Gus... penuhin aku!"
Bagus menyeringai puas. Ia bisa merasakan bagaimana lubang Febby berdenyut-denyut putus asa di ujung batangnya, sebuah pemandangan yang memberikan kepuasan ego yang luar biasa baginya. Ia menekan pinggulnya pelan, menggesekkan ujungnya secara melingkar di bibir vagina Febby yang sensitif, membuat gadis itu hampir gila karena sensasi yang sengaja digantung.
"Yakin mau aku penuhin?" bisik Bagus dengan nada rendah yang sangat berat. "Kalau aku tumpahin semuanya di dalam sekarang, rahim kamu bakal terasa penuh banget sama peju aku. Beneran mau aku habisin di dalam?"
"I-iyah... hhh... aku mau! Aku mau semuanya di situ! Penuhin sekarang, Gus! Ahhh! Hajar aku!" jerit Febby, menyerahkan seluruh harga dirinya hanya demi penyelesaian di dalam.
Mendengar pengakuan final itu, Bagus langsung menghujamkan seluruh panjangnya kembali ke dalam dengan satu sentakan brutal yang sangat keras hingga mentok menghantam leher rahim.
JLEBBB!
"AAAAAAHHH!!!!" teriak Febby melengking.
"HHH-ANJING... FEB! SEMPIT BANGET!" Bagus ikut berteriak parau, matanya mendelik saat merasakan lubang Febby yang sangat panas menjepitnya tanpa ampun.
Bagus langsung memacu ritmenya dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ia tidak lagi memberikan napas; ia menghajar rahim Febby dengan belasan genjotan terakhir yang sangat brutal dan bertenaga.
PLAK-PLAK-PLAK-PLAK-PLAK! Suara tamparan kulit pantat Febby yang dihantam paha kokoh Bagus terdengar sangat nyaring dan basah, bergema di seluruh sudut kamar. Di sela-sela hantaman itu, terdengar suara kotor dari pelumas alami yang diaduk paksa di dalam sana—CIPAK-CEPLOK-SQUISH!
"G-Gusss! Ahhh! Terusss! Hancurin aku, Gus! Lebih dalem! Mmmhhh... KONTOL KAMU GEDE BANGET! AH!" jerit Febby dengan kepala mendongak liar, matanya terpejam erat sambil menikmati rasa penuh yang menyiksa.
"IYAH, FEB! TERIMA INI! LIAT GIMANA MEMEK KAMU NELEN PUNYA AKU! HHH-AAAHHH!" Bagus menyahut dengan suara parau yang meninggi. Setiap hantamannya kini disertai suara desahan napas yang berat—HHH-RRGGHH!—saat ia sengaja membiarkan seluruh berat tubuhnya menumbuk ke depan.
Suasana kamar menjadi sangat pengap oleh aroma gairah dan suara erangan yang saling menimpali. Pada lima hentakan terakhir yang paling brutal, Bagus mengangkat sedikit tubuh Febby dan menguncinya, memberikan ruang untuk sebuah dorongan vertikal yang sangat presisi.
"GUSSS!!! SEKARANGGG!!!! TUMPRAHIN SEMUANYA! KELUARIN DI DALEM RAHIM AKU!!!!" teriak Febby sejadi-jadinya, tangannya mencengkeram sprei hingga robek.
"AAAHHH-SHHHITT! TERIMA PEJU AKU, FEB! HABIS KAMU MALAM INI! KELUARRR!!!"
JLEBB! JLEBB! JLEBB-MENTOK!
Bagus memacu dorongan terakhirnya hingga batang besarnya benar-benar merenggangkan leher rahim Febby sampai maksimal. Saat itulah, bendungan Bagus pecah, dan tepat di detik yang sama, saraf Febby mengalami korslet total.
"AAAAAAAGHHHHHH!!!!" Febby meledak dalam orgasme kejang yang paling destruktif seumur hidupnya. Tubuhnya melengkung ekstrem ke atas hingga punggungnya tidak menyentuh kasur. Seluruh otot vaginanya menjepit kejantanan Bagus dengan kekuatan yang luar biasa kencang—sebuah jepitan maut yang panas dan berdenyut liar, seolah rahim Febby sedang berusaha "memangsa" seluruh batang Bagus tepat saat cairan panas itu menyembur.
SYUUUTTT... SYUUUTTT... CRRRIIITTT-BRRRTTTT!
Bagus mengerang panjang, suaranya terdengar seperti raungan singa yang puas. Tubuhnya menegang kaku seperti beton seiring dengan spermanya yang meledak keluar dalam tekanan hidrolik yang sangat tinggi. Febby bisa merasakan setiap denyutan panas dari pangkal Bagus—DED-DED-DED!—saat cairan kental itu menyemprot berkali-kali, menghantam dinding rahimnya yang sedang berkontraksi hebat.
"AAAAAAHHH-GUSSS! PANESSS! DALEM BANGET! AH!" Febby menjerit melengking, matanya berputar ke atas hingga hanya terlihat bagian putihnya saja. Ia merasakan rahimnya seolah "dicuci" dan dipaksa mengembang oleh banjir cairan yang meluap-luap. Suara SQUELCH... SQUELCH... terdengar dari dalam vaginanya saat cairan Bagus mengisi setiap celah yang tersisa, beradu dengan banjir orgasme Febby sendiri.
Bagus tidak berhenti. Ia justru semakin menekan pinggulnya maju, membiarkan batangnya tetap menyumbat lubang Febby agar muatannya tidak tumpah. "Rasain, Feb... rasain gimana rahim kamu aku penuhin pakai punya aku... bukan punya Kevin," bisik Bagus dengan napas yang memburu di leher Febby.
"Hhh... hhh... penuh h... Gus... rahim aku penuhh banget sama punya kamu... hhh... anget... aku keluar lagi, Gus! Aku meledak bareng kamu! Ahhh!" Febby meracau lemas, tubuhnya masih kejang-kejang kecil karena orgasme yang terlalu panjang dan dalam.
Mereka berdua membeku dalam posisi itu selama hampir satu menit. Hanya terdengar suara SLURP... yang basah setiap kali Bagus melakukan gerakan kecil di dalam kolam spermanya sendiri yang kini memenuhi Febby. Bagus terus menekan pinggulnya maju, mengeluarkan desahan napas "Hhhh-aaahhh..." yang penuh kemenangan, sementara Febby terus merintih parau, merasakan perut bawahnya terasa sangat berat, padat, dan "terjajah" sepenuhnya oleh Bagus.
=============
=============
Part 13. Satu Desahan, Dua Kepuasan
POV: Penulis
Keheningan di kamar kos itu hanya dipecahkan oleh deru napas yang mulai teratur, namun tensi di atas ranjang tetap terasa panas. Bagus masih berada di belakang Febby dalam posisi doggy style yang sangat dalam. Setelah beberapa menit terdiam untuk mengumpulkan tenaga, otot-otot di lengan Bagus kembali mengeras. Bukannya langsung menarik diri, ia justru sedikit menekan pinggulnya ke depan, membuat batangnya kembali menghujam dasar rahim Febby yang masih sangat sensitif.
Bagus mulai melakukan gerakan-gerakan mikro; sebuah gesekan pelan, melingkar, dan sangat dalam di dalam kolam cairan hangat yang baru saja ia tumpahkan.
"Nnggh... Gus... ahh..." Febby merintih, bahunya bergetar hebat saat merasakan urat-urat Bagus kembali menyapu dinding rahimnya. "Jangan... jangan digerakin dulu, Gus... hhh... masih penuh banget... perut aku mual kalau kamu gerak gitu..."
Bagus tidak berhenti. Ia justru merundukkan kepalanya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Febby yang basah oleh keringat. Ia memberikan kecupan-kecupan basah di sana, sebelum akhirnya menghisap kulit tengkuk Febby dengan kuat, menandai gadis itu dengan kissmark yang merah menyala.
"Mual karena penuh, atau karena kamu terlalu suka sensasinya, Feb?" bisik Bagus dengan suara parau yang rendah. "Rahim kamu masih ngeremes punya aku kenceng banget di dalem... kamu kayak nggak mau kehilangan setetes pun cairan aku."
"Hhh... penuhh, Gus... sumpah..." Febby meracau, matanya terpejam erat sambil menikmati rasa penuh yang menyiksa itu.
Bagus menyeringai puas. Dengan satu sentakan pelan namun tegas, Bagus akhirnya mulai menarik dirinya keluar secara bertahap.
SLRRRUUUUUPPP...
Suara vakum yang basah dan kental itu bergema di kamar yang sunyi. Bersamaan dengan tarikan itu, Febby melepaskan desahan yang panjang dan sangat dalam. "AAAHHH-HHHNNNGGGHHH...!" Suaranya terdengar sangat parau, seolah setiap inci syaraf di lubangnya sedang meronta merasakan gesekan penarikan yang lambat itu. Begitu kejantanan Bagus benar-benar tercabut, Febby mendongakkan kepalanya ke belakang tanpa suara, merasakan sensasi hampa yang tiba-tiba menyergap secara drastis.
Bagus segera meraih pinggul Febby, membantu memutar tubuh gadis yang sudah lemas itu hingga kini mereka duduk berhadapan di tengah ranjang yang kacau balau.
Febby terduduk lemas dengan kedua tangan menumpu di belakang, napasnya masih putus-putus dan dadanya naik turun dengan cepat. Bagus tidak membiarkannya beristirahat begitu saja. Ia meraih dagu Febby, memaksanya menunduk.
"Liat ke bawah, Feb," perintah Bagus, suaranya dingin namun penuh otoritas.
Febby menunduk, matanya yang sayu melebar saat melihat lelehan putih yang kental dan sangat melimpah terus merembes keluar dari sela pahanya yang masih terbuka. Cairan itu mengalir perlahan, melumuri kulit paha bagian dalamnya yang mulus sebelum akhirnya menetes jatuh di atas sprei.
Pemandangan itu—melihat dirinya sendiri dibanjiri oleh ejakulasi Bagus yang meluap-luap dari rahimnya—justru mengirimkan sengatan adrenalin yang liar ke sarafnya. Febby memperhatikan bagaimana cairan itu berkilau di bawah lampu kamar yang temaram, menciptakan sebuah pemandangan yang sangat provokatif di tubuhnya sendiri.
"Gus... itu... banyak banget..." bisik Febby, suaranya bergetar. Bukannya merasa risih, ia justru merasa pemandangan itu sangat sexy. Ada kepuasan binal yang muncul saat melihat bukti fisik penaklukan Bagus yang begitu nyata dan melimpah. "Kenapa kelihatan sexy banget, Gus... aku suka liatnya..."
Bagus menyeringai puas, merasa egonya terpenuhi melihat binar liar di mata Febby. Ia menarik pinggang Febby mendekat hingga tubuh polos mereka kembali menempel, namun kali ini ia tidak memburu Febby dengan rakus.
Bagus menangkup wajah Febby dengan kedua telapak tangannya yang besar, lalu menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang hangat. Tidak ada lagi paksaan atau gerakan lidah yang liar; ciuman ini terasa sangat dalam, lambat, dan penuh rasa nyaman yang ganjil. Febby memejamkan matanya, membalas lumatan lembut Bagus sambil menyandarkan seluruh berat tubuhnya ke dada pria itu.
Kehangatan dari bibir Bagus seolah menenangkan saraf-saraf Febby yang tadi bergejolak. Suara decapan lembut di antara pagutan mereka memberikan nuansa intim yang tenang, seolah waktu berhenti sejenak di tengah kamar yang berantakan itu. Febby mendesah pelan di dalam ciuman itu, menikmati sisa-sisa gairah yang kini mendingin menjadi rasa lemas yang damai.
Momen hangat itu bertahan selama beberapa detik, menciptakan jeda yang tenang di tengah atmosfer kamar yang masih pengap. Febby perlahan melepaskan tautan bibir mereka, matanya masih sayu menatap Bagus yang tampak begitu dominan di depannya. Ia merasakan cairan di pahanya mulai mendingin, memberikan sensasi lengket yang mengingatkannya pada betapa intensnya "invasi" yang baru saja ia terima.
"Gus..." bisik Febby, suaranya masih serak. Ia melirik sprei di bawahnya yang kini benar-benar berantakan dan basah. "Mandi yuk. Aku ngerasa lengket banget gara-gara peju kamu."
Bagus terkekeh rendah, suara tawanya terdengar berat dan puas. Ia mengusap sisa keringat di dahi Febby dengan ibu jarinya. "Dihhh… bukannya tadi kamu yang jerit-jerit minta keluar di dalem? Sekarang malah nyalahin aku."
Febby mencubit pelan lengan berotot Bagus, lalu mencoba berdiri. Namun, saat kakinya menyentuh lantai, ia sedikit limbung karena lututnya masih terasa seperti jeli. Bagus dengan sigap menangkap pinggangnya.
"Sini, biar aku gendong. Kaki kamu masih gemeteran gitu, sok-sokan mau jalan sendiri," ejek Bagus.
Bagus mengangkat tubuh polos Febby ke dalam gendongan depan. Febby refleks melingkarkan kakinya di pinggang Bagus, yang secara tidak sengaja membuat area sensitifnya kembali bergesekan dengan kulit perut Bagus.
"A-ahhh... pelan, Gus! Masih sensitif tau," protes Febby sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah di leher Bagus.
"Sensitif atau kamu pengen lagi?" sahut Bagus sambil melangkah masuk ke kamar mandi sempit di sudut kamar.
Bagus melangkah masuk ke kamar mandi sempit itu dengan langkah mantap, tetap menggendong Febby di depannya. Begitu kaki mereka menginjak ubin, Bagus memutar keran shower. Air dingin seketika mengguyur keduanya, membuat Febby memekik nyaring dan semakin erat melingkarkan kakinya di pinggang Bagus, menyembunyikan wajahnya yang memerah di ceruk leher pria itu.
"Ssshh! Gus! Dingin banget, pelanin dikit airnya!" keluh Febby sambil tertawa kecil, meskipun ia sendiri tidak berniat turun dari gendongan yang hangat itu.
Bagus malah terkekeh, suara tawanya yang berat bergema di ruangan yang sempit. "Dingin biar saraf kamu nggak putus, Feb. Tadi itu kamu udah kayak kesetrum, kalau nggak diguyur air dingin bisa-bisa kamu nggak sadar sampe besok."
Bagus mengambil sabun cair, lalu sambil tetap menggendong Febby—membiarkan paha dalam gadis itu menjepit pinggangnya—tangan besar Bagus mulai menyabuni punggung mulus Febby yang masih memerah. Ia menggosoknya dengan gerakan memutar yang dalam, memberikan pijatan yang membuat Febby mendesah lega.
"Enak banget, Gus... di situ..." bisik Febby, kepalanya terkulai di bahu Bagus.
"Enak ya? Tadi kayaknya lebih enak pas aku hantam dari belakang," goda Bagus sambil sengaja sedikit menggoyangkan pinggulnya, membuat area sensitif mereka yang masih licin oleh sabun saling bergesekan.
"Gus! Jangan mulai deh, aku beneran lemes," protes Febby sambil mencubit pelan telinga Bagus. "Tangan kamu juga, itu sabunin punggung ya punggung aja, jangan malah nyelip ke bawah," protes Febby saat tangan Bagus terus-terusan bermain di bongkahan pantatnya.
"Lho, ini namanya servis lengkap, Feb. Kamu udah bayar pake jeritan tadi, sekarang aku kasih bonus pembersihan menyeluruh," canda Bagus dengan nada mesum yang kental.
Setelah selesai dengan punggungnya, Bagus perlahan menurunkan kaki Febby ke ubin. Begitu kaki Febby menyentuh lantai, ia hampir saja merosot kalau Bagus tidak sigap menahan pinggangnya. Febby berdiri dengan sedikit bertumpu pada pundak Bagus, napasnya masih satu-satu di bawah guyuran air.
Bagus kini mulai menyabuni bagian depan tubuh Febby. Saat tangannya turun ke arah perut bawah yang tampak sedikit kencang, ia menyeringai. "Gimana? Puas nggak servis dari aku?"
Febby menghembuskan napas panjang, membiarkan air menyiram wajahnya yang lelah namun tampak bersinar. "Nggak usah ditanya, Gus. Kamu bener-bener nggak kasih aku napas sedikit pun. Aku ngerasa saraf aku kayak korslet semua."
Febby kemudian meringis pelan saat jari Bagus tak sengaja menyapu bagian paling sensitifnya yang masih terasa berdenyut hebat. "Tapi serius, Gus... pelan-pelan di situ. Sumpah, kayaknya punya aku bengkak gara-gara kamu. Rasanya... kayak masih ada yang ganjel di dalam, padahal ini udah kena air terus."
"Bengkak ya wajar, Feb. Tadi itu bukan sekadar masuk, tapi aku bener-bener ngubek rahim kamu kalau kamu lupa," goda Bagus. Matanya melirik nakal ke arah sela paha Febby yang tampak kemerahan. "Mau aku kompres ga biar kempes? Biasanya kalau dikasih obat lagi, bengkaknya langsung ilang," jawab Bagus sambil menggoyangkan penisnya yang setengah keras.
Febby langsung memelotot dan mendorong pelan dada bidang Bagus yang basah. "Enggak ya! Jangan ngaco! Sumpah, Gus, buat sekarang... kayaknya nggak ada ronde kedua. Nyerah aku. Punya kamu itu nggak manusiawi gedenya, lubang aku butuh waktu buat balik normal lagi. Bisa-bisa aku nggak bisa jalan kalau kamu lanjut sekarang."
Bagus tidak tertawa keras, ia hanya menatap Febby dengan tatapan yang sangat dominan. Ia menarik pinggang Febby mendekat hingga tubuh polos mereka kembali menempel rapat tanpa celah di bawah air.
"Nggak ada ronde kedua?" Bagus berbisik tepat di telinga Febby, suaranya terdengar sangat menggoda. "Kita liat nanti, Feb. Biasanya kalau udah bersih begini dan kamu liat punya aku bangun lagi, kamu sendiri yang bakal ngerangkak minta diisi. Kamu itu tipe yang makin sakit, malah makin ketagihan."
Febby hanya bisa menelan ludah, tidak mampu membantah karena ia tahu tubuhnya seringkali lebih jujur daripada mulutnya. Merekapun menuntaskan mandinya dan mengeringkan tubuh mereka dengan handuk.
Begitu mereka melangkah kembali ke area kamar yang masih pengap oleh aroma gairah, Febby berjalan perlahan menuju nakas dengan handuk yang melilit longgar. Ia mengambil ponselnya yang baru saja berhenti bergetar.
5 Panggilan Tak Terjawab: Sayang (Kevin) 4 Pesan WhatsApp Baru
Bagus berdiri tepat di belakang Febby, masih tanpa busana, memperhatikan reaksi Febby dari pantulan cermin rias. Ia meletakkan kedua tangannya di pundak Febby, memberikan sedikit remasan posesif, seolah ingin mengingatkan gadis itu siapa yang baru saja "menandainya" secara fisik.
Febby masih berdiri di depan meja rias, sementara Bagus berdiri di belakangnya tanpa jarak. Kulit mereka yang masih hangat setelah mandi saling bersentuhan, memberikan kontras yang aneh dengan udara kamar yang mulai mendingin. Febby menatap layar ponselnya, membaca pesan-pesan dari Kevin yang masuk di waktu yang berbeda.
Kevin (19.15): Sayang, udah balik belum belinya? Kok belum kabarin aku?
Kevin (19.50): Feb? Kamu di mana? Aku telepon kok nggak diangkat?
Kevin (20.30): Sayang, kok nggak ada kabar sama sekali? Kamu baik-baik aja kan di jalan? Kabarin aku ya kalau udah di kos.
Kevin (21.20): Febby, please angkat... Aku khawatir banget kamu kenapa-napa.
"Cemas banget ya cowok kamu," bisik Bagus tepat di telinga Febby. Suaranya yang rendah memberikan sensasi geli yang membuat Febby merinding. "Padahal kamu lagi sibuk jerit-jerit di bawah aku."
"Gus, jangan gitu... aku harus bales apa yang masuk akal?" rintih Febby pelan. Ia mulai mengetik dengan jemari yang terasa berat: '
Febby (21.42): Ayang, maaf banget ya bikin khawatir. Tadi habis beli makan aku langsung balik, terus rebahan sebentar eh malah ketiduran. HP-ku aku cas jadi nggak denger kamu telepon.'
Bagus yang membaca pesan itu langsung menyeringai puas di depan cermin. Tangannya menyelinap masuk ke balik handuk Febby, sengaja memberikan tekanan pada perut bawah Febby yang tadi ia keluhkan terasa bengkak.
"Ketiduran? Bukannya sampe pingsan ya tadi? Hahaha…" ejek Bagus.
"Bagus! Diem!" Febby memejamkan mata saat jari Bagus mulai bermain di sela pahanya yang masih terasa sensitif dan berdenyut.
"Bilang juga ke dia kalau memek yang tadi kamu pamerin lewat VC, sekarang kondisinya lagi bengkak dan merah gara-gara aku," Bagus melanjutkan provokasinya, menciumi pundak Febby yang tidak tertutup handuk.
"Gus... hhh... jangan bikin aku panik," ucap Febby sambil menahan napas saat tangan Bagus memberikan gerakan yang menuntut di bawah sana.
Febby masih terpaku menatap layar ponsel di depan meja rias. Bagus, yang berdiri tepat di belakangnya, mulai memberikan kecupan-kecupan panas di pundak Febby, sengaja ingin menguji ketahanan gadis itu.
Tiba-tiba, ponsel di tangan Febby kembali bergetar hebat. Nama "Sayang (Kevin)" muncul di layar. Kali ini bukan pesan teks, melainkan panggilan video. Kevin tampaknya benar-benar ingin memastikan kondisi Febby secara langsung.
"Gus... dia video call!" bisik Febby panik, tangannya bergetar menunjuk layar. "Muka aku berantakan, bibir aku merah... dia pasti tahu aku habis ngapain!"
Bagus, yang masih dalam kondisi polos, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Matanya menatap pantulan mereka di cermin rias—Febby yang tampak kacau dengan rambut berantakan, dan dirinya yang tampak begitu dominan.
Bagus melingkarkan tangannya di pundak Febby, memberikan remasan posesif yang membuat Febby merinding. "Angkat aja, Feb. Kasih liat wajah kamu yang habis aku pake itu ke dia. Kita liat, dia bisa bedain nggak muka capek karena tidur sama muka capek karena habis dihajar habis-habisan sama aku."
"Gus, jangan gila!" Febby merintih, matanya melirik Bagus.
"Kalau kamu nggak angkat, dia bakal makin curiga. Kamu mau itu?" jawab Bagus seolah memberi solusi.
Logika Bagus ada benarnya, meski terasa kejam. Febby menggigit bibir bawahnya yang masih terasa sedikit berdenyut. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia melepaskan diri dari dekapan Bagus. Ia segera menyambar ponselnya yang masih bergetar, lalu berlari kecil menuju ranjang yang spreinya masih kusut dan basah.
Febby melemparkan handuknya ke lantai, membiarkan tubuhnya polos sejenak sebelum menyelinap masuk ke bawah selimut tebal untuk menyembunyikan segala bukti fisik dari perbuatannya dengan Bagus. Ia mengatur bantal agar posisinya setengah duduk, menata rambutnya sedemikian rupa agar menutupi lehernya, lalu menarik napas panjang untuk menormalkan detak jantungnya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia akhirnya menekan tombol hijau.
Layar ponsel menyala, menampilkan wajah Kevin yang tampak sangat kontras di kamarnya yang terang. Ia terlihat kacau, matanya menyipit saat menatap layar, berusaha membedah setiap inci wajah Febby yang muncul dalam remang cahaya lampu kamar kos.
"Sayang! Ya ampun... beneran ketiduran ya?" suara Kevin meledak, ada nada lega yang bercampur dengan sisa-sisa kejengkelan. "Aku beneran panik, Yang. Kamu bilang beli makan bentar tapi menghilang tiga jam tanpa kabar sama sekali. Aku pikir kamu kenapa-napa di jalan."
Febby memejamkan mata sesaat, memberikan akting terbaiknya. Ia mengerang pelan dan mengusap matanya seolah-olah baru saja dipaksa bangun dari tidur yang sangat lelap.
"Hhh... maaf ya, Ayang. Tadi beneran langsung rebahan pas balik dari beli makan, eh malah keterusan parah. Aku capek banget kayaknya, sampe nggak denger HP bunyi..." ucap Febby, suaranya sengaja dibuat parau—yang kenyataannya parau karena habis mendesah hebat di bawah Bagus.
"Aduh, syukur deh kalau cuma ketiduran. Aku udah mau mikir yang macem-macem tadi," Kevin menghela napas panjang, lalu ia terdiam sejenak. Matanya menatap intens ke arah Febby di layar. "Btw, kamu kelihatan cantik banget malem ini, Yang. Mukanya kelihatan fresh tapi sayu-sayu gimana gitu... bibir kamu juga kelihatan lebih merah dari biasanya."
Febby menelan ludah, hatinya mencelos. Dalam hatinya berkata, “Cantik lah, orang baru suntik vitamin pejuh. Hihihi…” Ia segera menarik rambutnya ke depan untuk menutupi lehernya lebih rapat. "Bisa aja kamu... ini rambutku berantakan banget, Ayang. Aku malu sebenernya kalau kamu liat kayak gini."
"Enggak, justru berantakan gini yang bikin aku makin kangen," Kevin terkekeh, namun nada suaranya perlahan berubah menjadi berat dan penuh tuntutan. "Ngeliat kamu kayak gini aku jadi inget sama hutang kamu yang belum lunas. Hehe…"
Febby mencoba tetap tenang meski ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Hutang apa, Ayang?"
"Jangan pura-pura lupa," Kevin menyeringai nakal di layar. Ia menggerakkan ponselnya, memperlihatkan dadanya yang bidang tanpa baju. "Tadi sore kamu udah bikin aku sange berat terus kamu tinggal gitu aja."
Kevin mendekatkan wajahnya ke kamera, matanya tampak gelap oleh gairah. "Sekarang kamu udah bangun, tanggung jawab dong... lanjutin yang tadi ya? Aku nggak bakal bisa tidur kalau nggak kamu tuntasin malam ini."
"Ayang, tapi aku masih lemes banget baru bangun... kepalaku masih agak pusing," Febby mencoba menawar, berharap Kevin akan luluh.
"Nggak mau tahu, Feb. Kamu udah bikin aku kentang parah tadi," Kevin mendesak, suaranya semakin parau. "Sekarang aku mau liat nenen kamu lagi. Buka selimutnya dikit, aku mau liat puting kamu yang tadi sore kamu remes-remes itu."
Febby menggigit bibir bawahnya. Ia melirik sekilas ke arah kegelapan di sudut kamar, di mana ia tahu Bagus masih berdiri memperhatikan sandiwara ini dengan tatapan yang bisa membakarnya kapan saja.
Febby merasa terpojok. Di satu sisi, Kevin terus menuntut lewat layar, sementara di sisi lain, ia bisa merasakan kehadiran Bagus yang perlahan mendekat.
"Sayang... ayolah, tunjukin ke aku," desak Kevin lagi, suaranya makin berat. "Aku pengen liat nenen kamu yang bulat itu sambil aku kocok punya aku di sini. Cepetan, buka selimutnya."
Febby menghela napas pasrah, tangannya yang memegang ponsel sedikit gemetar. Ia perlahan menarik ujung selimut tebal itu turun, namun hanya sampai batas tengah payudaranya saja. Ia sengaja tidak membukanya semua, membiarkan hanya belahan dan bagian atas payudaranya yang kenyal menyembul dan memberikan efek menggoda.
"Dikit aja ya, Ayang... aku masih ngantuk banget sebenernya," bisik Febby dengan suara manja yang dipaksakan.
"Aduh, Feb... nanggung banget! Turunin lagi dikit napa, aku mau liat putingnya," rengek Kevin di layar. Matanya tampak melotot, berusaha mengintip lebih dalam ke balik bayangan selimut. "Tadi sore aja berani pamer semuanya, masa sekarang pelit sama pacar sendiri."
Tepat saat perhatian Febby terfokus sepenuhnya untuk berdebat dengan Kevin, terdengar suara “kreeettt” dan ia merasakan kasur di dekat kakinya sedikit amblas. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Tanpa bicara, Bagus sudah merangkak naik ke atas ranjang.
Febby berusaha tetap menatap kamera, namun matanya membelalak saat ia merasakan hawa panas tubuh Bagus menyelinap masuk ke bawah selimut yang sama dengannya.
"Feb? Kok diem? Turunin dong selimutnya," desak Kevin, sama sekali tidak sadar bahwa di kamar itu, Bagus sedang bergerak di antara kedua kaki Febby yang tertutup selimut.
Febby merasakan tangan Bagus mulai merayap di pinggangnya yang polos. Bagus tidak langsung menyerang; ia memberikan remasan kuat di sana, seolah ingin mengingatkan Febby bahwa dialah yang memegang kendali fisik saat ini. Kulit tangan Bagus bergesekan dengan kulit lembut Febby, menciptakan sensasi yang membuat bulu kuduk Febby berdiri.
"A-ah..." Febby refleks mengeluarkan suara tertahan, matanya langsung tertuju pada layar, takut Kevin menyadari sesuatu.
"Kenapa, Sayang? Kamu sange ya cuma aku suruh buka selimut?" Kevin malah tertawa percaya diri di seberang sana. Ia melihat ekspresi Febby yang tampak menahan sesuatu dan mengiranya sebagai gairah murni untuknya. "Baru digituin aja udah mendesah. Makanya, buka semuanya, Feb..."
“Iiiyaahhh… aku sambil mainin memek aku Sayanggg,” jawab Febby dengan jantung berdegup kencang.
Di bawah selimut, gerakan Bagus semakin berani. Ia mulai mengelus paha dalam Febby dengan ujung jarinya, memberikan tekanan-tekanan kecil di dekat area yang masih sangat sensitif dan berdenyut. Febby menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berjuang keras mempertahankan posisi ponselnya agar tetap stabil meskipun tubuhnya mulai menggeliat gelisah karena ulah Bagus.
Sentuhan Bagus di bawah selimut tidak lagi sekadar elusan. Ia seolah tahu persis di mana letak titik saraf Febby yang sedang berada di puncak sensitivitasnya. Dengan satu gerakan yang sangat terukur namun bertenaga, Bagus merenggangkan kedua paha Febby, lalu menekan kuat klitoris Febby yang masih bengkak menggunakan ibu jarinya.
"A-ahhh! Nngghhh... hhh...!"
Febby langsung memekik tertahan. Tubuhnya tersentak hebat, punggungnya melengkung hingga kepalanya terlempar ke bantal. Matanya mendelik nikmat, menatap kosong ke arah langit-langit kamar sementara ponsel di tangannya sedikit miring, menangkap ekspresi wajahnya yang benar-benar hancur oleh gairah.
"Anjir, Feb! Kamu langsung mendesah gitu?" Kevin di layar tampak kaget sekaligus sangat kegirangan. Ia melihat wajah Febby yang memerah dan mulutnya yang sedikit terbuka, menghirup udara dengan rakus. "Gila... asli, bibir kamu seksi banget kalau lagi mangap gitu, Feb. Aku jadi kangen banget disepong sama kamu... kangen rasanya bibir kamu ngisep punya aku sampe habis."
Febby masih berjuang mengatur napasnya yang menderu. Jari Bagus di bawah sana tidak berhenti; ia justru semakin intens melakukan gerakan memutar yang dalam, memaksa Febby untuk terus merasakan sensasi panas yang menyiksa sekaligus nikmat. Ia tahu jika ini diteruskan Kevin akan curiga dengan kondisinya dan ia tak lagi punya kesempatan untuk memberikan alasan. Otaknya berputar cepat mencari jalan keluar.
"Kamu... hhh... kamu beneran kangen banget sama bibir aku, Ayang?" bisik Febby serak, mencoba mengalihkan perhatian Kevin dari keganjilan gerak tubuhnya di bawah selimut.
"Kangen banget, Sayang. Sumpah," jawab Kevin cepat.
"Tapi ada syaratnya," potong Febby dengan suara yang dibuat selembut mungkin namun tegas. "Kita pindah ke voice call aja. Matiin kameranya sekarang."
Kevin mengernyitkan dahi di layar, tampak bingung dan kecewa di tengah gairahnya. "Loh, kok gitu? Kenapa harus dimatiin sih? Kan aku pengen liat muka kamu. Itu kan yang bikin makin sange."
Febby menghela napas pelan, memasang wajah yang seolah-olah sedang sangat penuh imajinasi dan gairah yang dalam, sebuah akting yang sempurna di tengah tekanan fisik dari Bagus.
"Ngghh… aku mau nyoba suasana baru, Yang,” jawab Febby sambil berfikir keras mencari alasan. “Bayangin kamu coli sambil denger suara aku yang lagi mendesah sambil nyepong punya kamu uhh… mmmhhh…” Febby mencoba menjelaskan sambil terus menikmati permainan Bagus di bawah sana.
Mendengar desahan kekasihnya, Kevin malah semakin semangat mengocok penisnya. Iya tetap mencoba menawar agar tetap melakukan video call dengan Febby, “Desahanmu seksi banget, Sayang. Tapi aku masih pengen liat mukamu yang seksi itu Sayanggg…” pinta Kevin dengan memelas.
Febby yang sudah mulai malas berfikir lagi akhirnya mengeluarkan jurus ngambeknya, “Yaudah kalo gak mau gausah call sekalian. Aku matiin ajahhh… sshhh…”
Kevin, yang logikanya sudah lumpuh oleh gairah, akhirnya tidak punya pilihan lain. "Jangannn… Iya kita voice call aja ya, Sayang.”
"Nah gitu dong. Bentar ya, Ayang... aku matiin dulu, habis ni langsung aku telepon suara. Siap-siap ya..." ucap Febby lembut sebelum akhirnya benar-benar memutus sambungan video.
Begitu layar ponselnya gelap dan panggilan berakhir, Febby langsung melempar ponselnya ke kasur. Tubuhnya langsung lemas dan ia menjerit tertahan saat Bagus memberikan satu tekanan terakhir yang sangat keras sebelum akhirnya berhenti.
"Ahh! Bagus... gila kamu! Hampir aja aku ketahuan gara-gara kamu nggak mau diem!" maki Febby dengan napas tersengal ke arah gundukan selimut di depannya, sementara ia bisa merasakan Bagus hanya terkekeh pelan dari bawah sana.
Bagus perlahan muncul dari balik gundukan selimut, menyingkap kain tebal itu dengan gerakan malas yang penuh kemenangan. Wajahnya tampak sangat puas, menatap Febby yang masih terengah-engah dengan sisa adrenalin yang memuncak.
Febby berusaha menormalkan detak jantungnya yang menggila. Ia menatap ponselnya yang tergeletak di sprei, lalu melirik Bagus yang kini sudah duduk bersandar di bantal dengan tatapan menantang. Otak Febby berputar cepat; dia tahu Kevin tidak akan melepaskannya begitu saja malam ini, dan dia juga tahu tubuhnya sendiri masih sangat menginginkan Bagus.
"Gus, dengerin aku," bisik Febby, suaranya kini berubah menjadi tegas dan penuh rencana. Ia merangkak mendekat ke arah Bagus, menatap mata pria itu dalam-dalam. "Aku bakal telepon dia balik, tapi cuma suara. Aku bakal bikin dia mikir aku lagi nyepongin dia, padahal aku sama kamu di sini."
Bagus menaikkan sebelah alisnya, tertarik. "Terus?"
"Kamu... tetep di posisi ini. Nyender, buka kaki kamu lebar-lebar," perintah Febby sambil tangannya mulai mengelus paha dalam Bagus yang kokoh. "Aku bakal berlutut di depan kamu. Aku bakal kasih dia pertunjukan suara yang nggak bakal dia lupain, tapi kamu harus janji... jangan keluarin suara sedikit pun. Biarin aku yang kendaliin semuanya."
Bagus menyeringai, ia menyukai sisi manipulatif Febby yang satu ini. "Oke. Your show, Feb. Kita liat seberapa hebat kamu mainin dua cowok sekaligus dalam satu waktu."
Febby mengambil ponselnya, mengatur posisinya agar berlutut tepat di antara paha Bagus. Ia meletakkan ponsel itu di atas kasur dengan posisi loudspeaker menghadap ke arah mereka. Sebelum menekan tombol panggil, ia memberikan tatapan binal pada Bagus, lalu menjulurkan lidahnya sedikit untuk membasahi bibirnya sendiri.
Tut... Tut...
"Halo? Sayang? Kok lama banget?" suara Kevin langsung menyambar dari speaker, terdengar sangat tidak sabar.
Febby tidak langsung menjawab. Ia sengaja meraih milik Bagus yang sudah menegang hebat, lalu menjilat ujungnya dengan suara yang sangat basah dan nyaring—SLRRRPH—tepat di depan mikrofon ponsel.
"Sabar, Sayang... aku tadi nyari posisi yang pas buat ngebayangin kamu," ucap Febby ke arah ponsel, suaranya dibuat serak dan menggoda.
"Posisi apa? Kamu lagi ngapain sekarang?" tanya Kevin dengan napas memburu.
Febby menggenggam milik Bagus yang terasa panas di kulit telapak tangannya. "Aku lagi di depan kamu, Ayang... Kamu lagi nyender di bantal, buka kaki lebar-lebar buat aku... dan aku lagi berlutut di antara paha kamu, ngeliatin punya kamu yang besar dan tegang banget ini..."
Sambil berbicara pada Kevin, Febby menatap Bagus dengan tatapan nakal. Ia kembali melahap milik Bagus, kali ini lebih dalam, menciptakan suara isapan vakum yang nyata.
Di sela-sela isapannya, Febby menjauhkan mulutnya sedikit dari ponsel, lalu berbisik sangat pelan menuju telinga Bagus dengan gaya genitnya yang mematikan. "Liat Gus... dia ngerasa ini real banget... padahal cuma kamu yang dapet aslinya..."
Febby semakin mendalami perannya. Matanya menatap tajam ke arah Bagus, seolah sedang menantang pria itu untuk tetap diam di bawah siksaan nikmat yang ia berikan. Tangannya bergerak lincah, memijat pangkal milik Bagus untuk memastikan aliran darah di sana tetap maksimal.
"Mmmpphhhh... slrrrppphhh... ggglluupphh!"
Febby melakukan gerakan isapan yang sangat vakum. Suara gesekan antara bibirnya yang basah dan batang milik Bagus tertangkap sempurna oleh mikrofon ponsel yang tergeletak di atas kasur.
"Ya Tuhan, Sayangg... suara itu..." Kevin mengerang di telepon, suaranya terdengar sangat parau dan tak berdaya. "Kok bisa kedengeran se-basah itu? Aku berasa bisa ngerasain lidah kamu lagi muterin kepala punya aku sekarang... ahhh, Sayang! Jangan berhenti!"
Febby menarik mulutnya keluar perlahan hingga menyisakan suara plok yang nyaring. Ia terengah-engah, wajahnya kini benar-benar merah padam. Ia kembali mendekatkan wajahnya ke telinga Bagus, menjauh dari jangkauan ponsel, dan berbisik dengan nada yang sangat mengejek sekaligus menggoda.
"Kevin payah banget ya, Gus... cuma denger suara mulut aku aja dia udah mau gila," bisik Febby, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Bagus. "Padahal dia nggak tau... kalau mulut aku sekarang lagi penuh sama punya kamu yang jauh lebih besar dari punya dia... hihihi…"
Bagus hanya bisa merespons dengan cengkeraman kuat pada rambut Febby. Urat-urat di lehernya menegang hebat, dan napasnya tertahan di tenggorokan. Ia sangat ingin mengerang, namun ia tahu itu akan merusak permainan gila Febby.
Febby kembali ke arah ponsel. "Ayang... hhh... aku mau masukin semuanya sekarang. Aku mau kamu ngerasa sampe ke dalem kerongkongan aku... aku mau kamu ngerasa dijepit kenceng banget sama otot mulut aku... mmmpphhhh!! Gggllupphh!!"
Febby melakukan deepthroat yang sangat dalam dan berani. Ia membiarkan pangkal milik Bagus menekan langit-langit mulutnya, menciptakan suara tersedak yang sangat nyata. Air mata sedikit menggenang di sudut matanya karena refleks, namun ia justru menikmatinya.
"Gila... Sayang! Isep terus! Ahhh, jepitannya kenceng banget!" Kevin mulai meracau tak keruan di seberang sana. "Aku bisa ngerasain vakumnya... ahhh, dikit lagi Feb! Aku udah di ujung! Aku mau keluar di dalem mulut kamu!"
Febby mempercepat ritmenya. Kepalanya bergerak maju mundur dengan liar, membiarkan rambutnya berayun menyentuh paha Bagus. Di satu sisi, Kevin sedang berjuang mencapai puncaknya hanya dengan suara, sementara di sisi lain, Bagus benar-benar menikmati servis brutal dari Febby.
"Mmmpphhh... slrrrppphhh... mmmhh..."
Febby sedikit menjauhkan bibirnya dari milik Bagus, memberikan jeda yang cukup panjang agar suara napasnya yang berat bisa terdengar jelas oleh Kevin melalui mikrofon ponsel.
"A-ayang... hhh... kamu denger suaranya?" bisik Febby ke arah ponsel, suaranya sengaja dibuat serak dan mendayu. "Mulut aku udah penuh banget sama liur aku sendiri... saking kangennya aku sama kamu. Aku lagi gunain lidah aku buat neken bagian bawah batangnya... kerasa banget dia keras dan berdenyut di dalem mulut aku."
"Ahhh, sial... jilat, Yangg! Jilat semuanya!" Kevin mengerang gila di seberang sana, suara napasnya terdengar semakin berantakan. "Jangan berhenti, ceritain lagi... apa yang kamu rasa di mulut kamu sekarang?"
Febby menatap Bagus yang sedang bersandar tenang namun dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh gairah. Keringat mulai membasahi dahi serta dadanya yang bidang, namun Bagus masih tampak sangat kokoh dan memegang kendali atas tubuhnya sendiri. Febby kemudian menjilat sepanjang batang milik Bagus dari bawah ke atas dengan lidah yang ditekan kuat, menciptakan suara jilatan yang panjang dan basah.
"Lerrrp... mmmhh... manis banget, Sayang," ucap Febby mendeskripsikan sensasi itu pada Kevin, padahal matanya terkunci pada mata Bagus. "Sekarang... lidah aku lagi muterin bagian kepalanya... aku tekan sedikit pake bibir aku... kerasa nggak, Ayang? Aku lagi mainin bagian ujungnya pelan-pelan..."
Sambil mengatakan itu, Febby benar-benar memberikan sentuhan lidah yang sangat detail pada milik Bagus. Bagus hanya merespons dengan cengkeraman yang lebih dalam pada sprei kasur, otot-otot lengannya menegang keras, menunjukkan bahwa ia sedang menikmati setiap detik "servis" yang diberikan Febby tanpa terburu-buru.
Febby menjauhkan sedikit wajahnya dari ponsel, mendekat ke arah paha Bagus yang panas, lalu berbisik dengan nada yang sangat mengejek dan genit—suara yang hanya diperuntukkan bagi pria di depannya.
"Dengerin dia, Gus... dia beneran mikir ini punya dia yang lagi aku manjain," bisik Febby sambil mengelus batang Bagus dengan jemarinya yang lentur. "Padahal yang lagi ngerasain bibir aku sekarang itu kamu... dia cuma dapet suaranya, tapi kamu dapet aslinya. Jauh lebih enak punyaku kan daripada bayangannya?"
Bagus hanya menatap Febby dengan seringai tipis yang dominan, seolah menantang Febby untuk melakukan lebih dari itu. Ia tampak sangat menikmati bagaimana Febby membagi dirinya antara kenyataan dan sandiwara.
Kembali ke ponsel, Febby kembali melahap milik Bagus setengah bagian, lalu mulai memberikan sedotan yang sangat ritmis namun tetap dengan tempo yang santai.
"Mmmphhh... ggglluupphh... mmmhh..."
"Gila... Yangg! Suara vakumnya... ahhh!" Kevin mulai meracau tak keruan. "Isep terus, Sayang... jangan dikasih napas! Aku mau kamu bener-bener ngerasain setiap inci punya aku..."
Febby semakin berani mempermainkan imajinasi Kevin. Sambil terus memberikan isapan-isapan kecil yang ritmis pada milik Bagus, ia menyelipkan jemarinya ke sela pahanya sendiri yang meski sudah bersih setelah mandi, kini mulai kembali terasa hangat dan berdenyut karena adrenalin.
"A-ayang... hhh... kamu tau nggak?" bisik Febby ke arah ponsel, suaranya terdengar sangat parau seolah ia sedang menahan gairah yang meluap. "Sambil mulut aku sibuk ngisep kamu... tangan aku yang satu lagi lagi main di memek aku... hhh... memek aku udah mulai basah lagi, Sayang..."
"Ahhh... Sayangg... seserius itu kamu sange gara-gara aku?" suara Kevin terdengar sangat bangga sekaligus semakin terangsang di seberang sana. "Ceritain ke aku... sebasah apa kamu sekarang?"
Febby melirik Bagus, matanya berkilat nakal saat ia memberikan usapan lembut pada pahanya sendiri, lalu ia mendekatkan bibirnya kembali ke mikrofon ponsel.
"Basah banget, Ayang... kayaknya aku udah mau banjir lagi gara-gara ngebayangin kamu," ucap Febby mendeskripsikan kondisi imajiner itu pada Kevin. "Aku bayangin jari-jari aku ini tangan kamu yang lagi buka paha aku lebar-lebar... rasanya panas banget, trus sekarang udah lengket juga gara-gara kamu..."
"Gila... Sayangg... kamu bikin aku mau mati," geram Kevin, suara napasnya kini benar-benar berantakan.
Febby menjauhkan ponsel itu sejenak dari bibirnya, lalu mendekat ke telinga Bagus. Dengan suara yang sangat rendah dan genit, ia membisikkan kenyataan yang berbeda.
"Liat Gus... dia bangga banget mikir aku basah gara-gara suara dia di telepon," bisik Febby sambil menjilat cuping telinga Bagus. "Padahal aku mulai basah lagi gara-gara liat kamu yang makin tegang di depan aku... dia cuma dapet ceritanya, tapi nanti kamu yang bakal masukin aslinya ke memek aku."
Bagus hanya menatap Febby dengan tatapan yang sangat dalam dan dominan. Ia meraih tengkuk Febby, memberikan tekanan pelan agar Febby kembali fokus pada miliknya. Bagus tampak sangat menikmati bagaimana Febby memutarbalikkan fakta demi memuaskan ego Kevin sekaligus memprovokasi gairahnya sendiri secara nyata.
Febby kembali melakukan isapan yang lebih kencang, kali ini dengan teknik vakum yang lebih kuat, menciptakan suara slurrrpphhh yang sangat nyaring.
"Mmmpphhh!! Gggllupphh!!"
"Sayanggg! Itu dia! Isep terus!" Kevin berteriak tertahan di telepon. "Aku bener-bener ngerasa mulut kamu lagi nyedot aku sekarang... ahhh! Sedotannya kenceng banget, Sayang! Terusss!!"
Febby benar-benar sedang berada di puncak permainannya. Ia menikmati setiap detik pengkhianatan ini—bagaimana ia bisa terdengar begitu patuh dan memuja di telinga Kevin, sementara di depan matanya, ia sedang melakukan pelayanan yang jauh lebih brutal untuk Bagus.
"A-ayang... hhh... aku mau masukin semuanya sekarang," bisik Febby ke arah ponsel, suaranya sengaja dibuat gemetar seolah ia sedang mengumpulkan keberanian. "Aku mau kamu ngerasa sampe ke dalem kerongkongan aku... aku mau kamu ngerasa dijepit kenceng banget sama otot mulut aku... mmmpphhhh!!"
Tanpa menunggu balasan Kevin, Febby langsung melakukan deepthroat yang sangat dalam pada Bagus. Ia membiarkan kejantanan Bagus menghujam hingga ke pangkal tenggorokannya, menciptakan suara tersedak yang nyata dan berat—ggghh-kkkhhh—yang langsung terpancar jelas lewat speaker ponsel.
"ARGHHH! Sayangg! Itu dia!" Kevin memekik di telepon, suaranya pecah karena gairah yang sudah di ujung tanduk. "Suara tersedak kamu... gila... kenceng banget! Terus Sayang! Sedot yang kuat! Aku udah mau keluar... ahhh!"
Febby menarik kepalanya perlahan, menyisakan suara plok yang sangat nyaring dan basah. Air mata sedikit menggenang di sudut matanya karena refleks deepthroat tadi, namun ia justru tersenyum binal ke arah Bagus. Ia menjauhkan bibirnya dari ponsel sejenak, mendekat ke arah perut Bagus yang berotot.
"Gila Gus... si Kevin sampe jerit-jerit cuma denger aku keselek punya kamu," bisik Febby sangat pelan, suaranya mengandung ejekan yang kental. "Dia pikir aku keselek punya dia yang kecil itu... padahal kamu yang beneran bikin aku sesak napas di sini. Liat tuh, dia udah mau keluar cuma gara-gara imajinasi..."
Bagus hanya bisa merespons dengan cengkeraman yang semakin kuat di rambut Febby. Napasnya kini tertahan, matanya menatap Febby dengan tatapan yang seolah ingin melahap gadis itu hidup-hidup setelah telepon ini berakhir. Bagus tampak sangat terkesan dengan betapa lancarnya Febby membagi fokus antara akting suara dan aksi nyata.
Febby kembali ke arah mikrofon ponsel, memberikan isapan vakum yang sangat berisik.
"Slrrrppphhh... mmmpphhhh... ggglluupphh!"
"Ayangg... hhh... Ayangg! Sedotannya kenceng banget! Ahhh! Dikit lagi... dikit lagi, Sayang!" Kevin mulai meracau tak keruan, suara tubuhnya yang bergerak cepat di kasur terdengar samar-samar di telepon. "Keluarin di mulut kamu ya, Sayang! Bayangin kamu telen semuanya! Ahhh! SAYANGGGG!!"
Suara Kevin mencapai puncaknya—sebuah erangan panjang yang serak dan tak berdaya—sebelum akhirnya hanya menyisakan deru napas yang sangat berat dan tersengal-sengal di ujung telepon. Di atas ranjang, Febby masih terus memompa milik Bagus dengan mulutnya, memberikan ritme yang stabil namun mematikan, sengaja ingin menyiksa Bagus sedikit lebih lama lagi.
Febby terus memberikan isapan-isapan kecil pada milik Bagus, bahkan setelah Kevin mengerang hebat di seberang sana. Ia ingin memastikan suara slrphhh yang basah itu tetap menjadi penutup yang manis di telinga pacarnya yang malang.
Febby perlahan melepaskan mulutnya dari milik Bagus dengan suara kecapan basah—plok—yang sengaja ia buat terdengar nyaring di mikrofon. Ia menghirup udara dengan rakus, wajahnya merah padam dengan mata yang berkilat nakal menatap Bagus.
"Hhh... hhh... gila... Yang, sumpah," Kevin bergumam lemas di seberang sana. "Kamu emang hebat banget, Yang. Aku bener-bener lemas sekarang."
Febby menjilat ibu jarinya sendiri sambil menatap Bagus yang masih tegang di depannya. Ia kemudian mendekatkan ponsel ke bibirnya dengan nada suara yang sangat manja.
"Ih, kok udah lemas aja sih, Ayang?" bisik Febby genit, memberikan tawa kecil yang sangat menggoda. "Padahal aku baru aja mau nawarin servis tambahan. Masa kamu udah menyerah sih? Kamu terlalu semangat ya karena aku manjain barusan?"
"Hahaha, ya gimana... suara kamu itu maut banget, Yang," jawab Kevin bangga.
Febby menyeringai, ia mulai merangkak naik ke atas tubuh Bagus, membiarkan dadanya yang polos bergesekan dengan dada bidang Bagus. Matanya menatap Bagus penuh tantangan sementara bibirnya terus bicara ke ponsel.
"Ayang, kamu tahu nggak? Di sini aku malah makin nggak bisa diem," ucap Febby, suaranya semakin serak dan dalam. "Memek aku rasanya panas banget, berdenyut-denyut... kayak lagi minta diisi sesuatu yang keras dan besar. Sayang banget ya kamu jauh, padahal aku udah banjir banget ini, pengen banget dihajar lagi sampe ampun..." ucap Febby sembari memberikan pandangan penuh nafsu kepada Bagus.
Hening sejenak. Febby merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak saat suara Kevin di seberang sana berubah dingin.
"Dihajar lagi? Emang siapa yang abis hajar kamu, Feb?" tanya Kevin singkat, nadanya penuh kecurigaan yang menusuk.
Deg. Febby tersentak, ia baru sadar telah melakukan blunder fatal karena terlalu terbawa suasana di depan Bagus. Ia melirik Bagus yang justru menyeringai puas, seolah menanti kehancuran sandiwara ini. Namun, otak binal Febby bekerja kilat. Ia langsung tertawa kecil, suara tawa manja yang sengaja dibuat sedikit merajuk.
"Ih, ya dihajar sama kamu lah, Sayang! Masa kamu lupa sih waktu kita terakhir main?" sahut Febby cepat, membelokkan konteks ke masa lalu mereka. "Maksud aku itu... aku kangen banget dihajar kasar kayak waktu itu. Sampe sekarang aku masih ngerasa 'haus' gara-gara sisa servis kamu yang terakhir. Makanya, denger suara kamu gini aja aku langsung banjir lagi..."
Kevin terdiam sesaat, lalu terdengar helaan napas lega disertai tawa bangga. Egonya sebagai lelaki langsung tersanjung oleh ingatan itu. "Oalah... kirain apaan. Hahaha, iya juga ya. Aku juga nyesel banget nggak ada di sana sekarang buat hajar kamu lagi, Feb."
Febby menghembuskan napas lega yang sangat panjang. Ia berhasil lolos. Dengan sisa keberaniannya, ia memutuskan untuk memberikan dorongan terakhir agar Kevin benar-benar merasa "berhutang" padanya.
"Yaudah... makanya, kamu cepet-cepet pulang dong, Sayang," rengek Febby dengan nada yang sangat manja, sambil tangannya mulai membimbing milik Bagus agar tepat berada di mulut rahimnya. "Jangan biarin aku 'kelaparan' terus di sini. Aku butuh kamu yang asli, bukan cuma suara kayak gini."
"Sabar ya, Sayang... aku juga pengen banget cepet balik," jawab Kevin dengan nada menyesal sekaligus sayang. "Tahan dikit ya, nanti pas aku balik, aku janji bakal bikin kamu nggak bisa jalan."
Febby menyeringai binal ke arah Bagus mendengar janji Kevin, padahal kenyataannya ia akan segera dibuat "nggak bisa jalan" oleh pria lain dalam hitungan detik.
Febby memberikan kedipan binal pada Bagus dan mulai menggesekan penis keras Bagus yang basah karena air liurnya sendiri. Ia bisa merasakan ujung kejantanan Bagus yang panas menyusuri lipatan vaginanya yang sudah sangat basah dan berdenyut. Sensasi itu hampir membuatnya kehilangan kendali suara, namun Febby justru semakin liar mempermainkan Kevin.
"Udah ya, Sayang... aku mau tidur sekarang," bisik Febby, suaranya terdengar sangat parau dan dalam, sebuah nada yang bagi Kevin terdengar seperti kantuk yang seksi, padahal itu adalah gairah yang tertahan. "Aku udah nggak kuat lagi..."
"Yah, Sayang... jangan dulu dong," Kevin memelas di telepon, suaranya terdengar sangat tidak rela. "Biarin teleponnya nyala, Feb. Aku pengen nemenin kamu tidur, pengen denger napas kamu terus. Sebentar lagi ya?"
Febby memutar bola matanya ke arah Bagus, ia memberikan desahan napas yang terdengar seperti orang yang sangat mengantuk, padahal ia sedang menahan dorongan Bagus di bawah sana.
"Nggak bisa, Ayang... manja banget sih kamu," goda Febby dengan tawa kecil yang dipaksakan.
"Feb, sebentar aja... aku masih pengen denger suara kamu," desak Kevin lagi, masih mencoba menawar.
Gesekan memek Febby dan kontol Bagus terasa makin intens. Febby menggigit bibirnya kuat-kuat, matanya mendelik liar menatap Bagus. Ia harus segera mengakhiri ini sebelum ia menjerit di depan mikrofon.
"Nggak boleh, Ayang. Titik," ucap Febby dengan nada manja yang tegas, memberikan kesan seolah ia adalah pacar yang sedang merajuk cantik. "Sekarang kamu tidur, aku juga tidur. Bye, Ayang. I love youuu…"
"Yah... yah, Feb? Tapi..."
Klik.
Febby langsung menekan tombol merah sebelum Kevin sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia menghembuskan napas kasar, melempar ponselnya ke ujung kasur dengan gerakan seolah membuang sampah. Rasa enggan dan muak pada Kevin seketika menguap, berganti dengan kilat gairah saat ia menoleh pada Bagus.
"Berisik banget sih dia, ganggu aja," gerutu Febby binal.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Febby langsung menerjang Bagus. Ia mencengkram rahang Bagus dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang sangat rakus dan kasar. Lidah Febby menelusup masuk, mencicipi sisa-sisa liurnya sendiri yang masih tertinggal di bibir Bagus. Ia mencium pria itu seolah-olah dunianya akan berakhir malam ini.
Di sela-sela ciuman panas yang memburu itu, Bagus menarik sedikit wajahnya, memberikan jarak hanya beberapa milimeter agar ia bisa membisikkan provokasi tepat di depan bibir Febby yang bengkak.
"Tadi di kamar mandi ada yang bilang apa, Feb? 'Nggak ada ronde dua, aku beneran lemes'..." Bagus menyeringai, jemarinya mencengkram pinggul Febby dengan kuat. "Tapi liat kamu sekarang. Kayaknya kamu jauh lebih basah dibanding pas kena air shower tadi."
Febby menatap Bagus dengan ekspresi yang benar-benar hancur oleh nafsu. Matanya mulai mendelik ke atas, menunjukkan bagian putihnya—sebuah pose ahegao yang sangat binal—dengan lidah yang sedikit terjulur keluar, basah oleh sisa liur yang menetes di sudut bibirnya. Ia merengek pelan, suaranya terdengar sangat memelas dan centil.
"Ih... hhh... jahat kamu, Gus... ngetawain aku terus," rintih Febby dengan napas yang terputus-putus. "Iya, aku ngaku... aku emang binalll. Tadi aku emang lemes, tapi setelah mainin punya kamu sambil call Kevin aku jadi horny berat, Gus. Rasanya panas banget, Gus... tolongin aku..."
Febby menggeliatkan pinggulnya dengan sangat genit, menekan vaginanya yang banjir ke arah milik Bagus yang keras. "Lagian siapa suruh kamu punya yang segede ini... dibanding punya Kevin, punya kamu jauh lebih bikin aku gila... Hhh...”
Bagus terkekeh rendah, jemarinya kini merayap naik dan mencengkeram rambut Febby, menariknya ke belakang hingga leher jenjang gadis itu terekspos. "Gila kamu ya... bisa-bisanya kamu menghina pacar kamu sendiri padahal baru aja bikin dia keluar lewat telepon. Kamu bener-bener butuh diajarin sopan santun ya, Feb?"
"Hih... bodo amat sama Kevin! Sekarang cuma ada kamu, Gus..." balas Febby memelas, matanya semakin mendelik nikmat dengan wajah yang merah padam. "Hajar aku beneran... masukin yang dalem... buat aku lupa kalau aku punya pacar! Tolong, Gus... cepetan masukin... hhh!"
Bagus memegang pinggul Febby, memposisikan kejantannya yang masif tepat di depan lubang Febby yang sudah berdenyut-denyut menuntut. Sebelum menekannya masuk, Bagus memberikan tatapan dominan yang mematikan.
"Inget ya, Feb... ini hukuman karena kamu udah terlalu binal malem ini."
Bagus menyentakkan pinggulnya ke atas dengan satu dorongan brutal dan sangat kuat.
JLEBBB!
"AAAHHH-HHHNNNGGGHHH...!!!"
"Nah... hhh... penuhh... penuhh banget, Gusss...”
Setelah itu, tidak ada lagi kata-kata yang keluar selain erangan dan deru napas yang saling bersahutan. Mereka tenggelam sepenuhnya ke dalam lautan birahi yang semakin liar, di mana setiap sentakan Bagus dibalas dengan ayunan pinggul Febby yang seolah tak kenal lelah, hingga akhirnya tenaga mereka terkuras habis oleh kepuasan yang meledak berkali-kali. Menjelang fajar, keheningan kembali menyelimuti kamar kos itu, menyisakan dua tubuh yang tergeletak lemas dan saling berpelukan tanpa busana di atas ranjang yang berantakan. Mereka tertidur lelap dalam dekapan masing-masing, membiarkan peluh yang mengering dan bau penyatuan mereka menjadi saksi bisu atas kegilaan yang baru saja terjadi, melupakan sejenak pengkhianatan manis yang telah mereka rajut sepanjang malam.
=============
=============
Part 14. Pulang
POV: Kevin
Namaku Kevin, usiaku 24 tahun. Kalau kalian melihatku, kalian pasti setuju kalau aku punya modal yang lebih dari cukup untuk membuat wanita mana pun jatuh hati. Dengan tinggi 175 cm dan berat 60 kg, aku punya perawakan yang atletis didukung dengan wajah yang banyak orang bilang rupawan. Aku adalah lulusan teknik informatika, sebuah gelar yang cukup mentereng, meskipun jujur saja aku sebenarnya orang yang malas bekerja. Aku lebih suka menikmati kemewahan yang diberikan orang tuaku daripada harus membanting tulang seperti orang kebanyakan. Bagiku, hidup itu harus dinikmati dengan santai, apalagi dengan segala fasilitas dan kekayaan yang sudah tersedia untukku.
Bicara soal wanita, aku punya pacar yang sangat cantik bernama Febby. Kami pertama kali bertemu saat masih kuliah di kampus yang sama. Dengan tampangku yang di atas rata-rata, tidak sulit bagiku untuk membuat Febby terpikat sejak awal. Kami sering menghabiskan waktu bersama, mulai dari perpustakaan sampai akhirnya menjalin hubungan asmara yang sangat intim. Momen yang paling membanggakan bagiku adalah saat aku berulang tahun yang ke-22. Sore itu di kosnya, Febby memberikan hadiah yang paling spesial, yaitu keperawanannya. Aku ingat betul betapa bangganya aku saat dia melihat kejantananku dan bilang kalau milikku gede banget. Meskipun ukurannya sekitar 10 cm, tapi bagi Febby, itu sudah sangat besar dan memuaskan. Aku adalah pria pertama yang merasai rahimnya, pria pertama yang membuatnya merasakan orgasme sampai dia berteriak geli dan ketagihan.
Aku sangat percaya diri dengan kemampuanku di ranjang. Setiap kali kami berhubungan seks, Febby selalu mendesah nikmat dan tampak sangat puas dengan permainanku. Dia bahkan sangat disiplin memintaku memakai kondom karena dia bilang hanya ingin aku yang menghamilinya nanti. Aku sangat menghargai prinsipnya itu, karena bagiku itu adalah bukti bahwa Febby sangat menjaga kehormatannya dan hanya ingin aku yang mengisi rahimnya. Aku sering membisikkan kata-kata mesum padanya, berjanji akan menyemprotkan sperma yang banyak ke dalam rahimnya, dan dia selalu menyambutnya dengan desahan manja. Di mataku, Febby adalah milikku seutuhnya, dan tidak akan ada pria lain yang bisa memberikan kenikmatan sehebat yang aku berikan padanya.
Namun, semua rutinitas panas kami harus terhenti sementara. Sekarang aku terpaksa tinggal di sebuah pulau yang jauh dari Semprot City. Ini adalah rencana orang tuaku yang merasa aku terlalu manja sebagai anak mami. Mereka ingin melatih kemandirianku dengan mencarikanku pekerjaan di tempat terpencil ini. Aku benar-benar benci harus bekerja di sini, jauh dari kenyamanan dan jauh dari Febby. Tapi aku bertahan karena aku tahu ini tidak akan lama, apalagi sudah 3 bulan lamanya dan aku merasa Febby justru semakin gila padaku karena menahan rindu.
Aku yakin Febby adalah wanita yang setia dan tetap menjaga tubuhnya hanya untukku, menunggu kepulanganku untuk kembali menghajarnya di ranjang. Kejadian semalam adalah bukti nyata betapa dia sangat mendambakan aku. Awalnya saat video call, aku melihatnya baru selesai mandi dan hanya terlilit handuk. Aku merasa sangat berkuasa saat memintanya membuka handuk itu dan memamerkan vaginanya di depan kamera. Tapi sial, dia malah mematikan telepon dengan alasan mau beli makan, membuatku kentang parah. Namun, saat kami lanjut lewat voice call beberapa jam kemudian, egoku benar-benar terbayar lunas. Aku bisa mendengar betapa binalnya dia melayaniku lewat suara; suara isapannya begitu nyata, begitu basah, bahkan dia sampai tersedak berkali-kali seolah-olah dia benar-benar sedang melahap habis milikku ini sampai ke tenggorokannya. Mendengar dia mendesah parau dan mengaku sange berat hanya karena voice call denganku membuatku merasa sangat perkasa. Meskipun tidak dilanjutkan dengan sleep call karena Febby ingin segera tidur tanpa ditemani call dariku, namun aku merasa sangat jantan karena meskipun jauh, aku tetap bisa membuatnya "banjir" dan menguasai tubuhnya sepenuhnya lewat imajinasi. Aku yakin, tidak akan ada pria lain yang bisa membuat dia segila itu selain aku.
Sabtu pagi di pulau ini terasa jauh lebih cerah dari biasanya. Aku duduk di beranda mes sambil menyesap kopi hitam, menikmati angin laut yang berhembus pelan. Tapi yang benar-benar membuat pagiku indah adalah memori tentang voice call semalam. Suara Febby yang mendesah, isapannya yang basah, sampai suaranya yang tersedak berkali-kali—aku masih bisa merasakannya di telingaku. Aku merasa sangat jantan; meskipun jauh, aku tetap pemenang tunggal di hatinya.
Aku melirik ponselku. Sudah jam 08.15. Aku ingin menyapa gadisku yang pasti masih terlelap karena kelelahan membayangkan kejantanan 10 cm-ku.
Kevin (08.15): "Pagi, Sayang... Masih tidur ya? Pasti capek banget habis 'main' sama aku di telepon semalam ya? Hehehe."
Kevin (08.16): "Bangun, Sayang... jangan lupa mandi, biar memek kamu yang basah gara-gara aku semalam jadi seger lagi. I love you."
Aku menunggu balasan manjanya, tapi sepuluh menit berlalu, pesanku masih centang dua. Aku tersenyum sendiri. "Pasti dia beneran pingsan karena sange semalam," pikirku sombong. Aku membayangkan dia meringkuk di balik selimut, meraba bekas "permainan" imajiner kami.
Baru pada pukul 09.20, ponselku akhirnya bergetar.
Febby (09.20): "Pagi juga, Ayang... Duh, maaf ya baru bales. Aku beneran baruuu aja bangun. Masih di kasur nih, nyawa belum kumpul semua. Badanku lemes banget, Sayang..."
Febby (09.21): "Kamu sih semalam nakal banget di telepon, bikin aku sange sampe lemes tengah malem. Ini aku mau lanjut mandi dulu ya, lengket banget rasanya gara-gara kamu semalam. Tunggu yaa..."
Kevin (09.22): "Hahaha, ya maaf. Habisnya kamu seksi banget sih semalam. Mandi yang bersih ya, Sayang. Gosok pelan-pelan bagian yang lengket itu, bayangin itu tangan aku yang lagi nyabunin kamu."
Febby (09.23): "Ihh Ayang mesum! Iya-iya, ini mau mandi kok. Nanti kabarin lagi ya kalau aku udah siap."
Aku meletakkan ponsel dengan perasaan menang. Rasanya sangat memuaskan mengetahui bahwa meskipun jarak memisahkan, aku tetap punya kontrol penuh atas gairahnya. Satu jam kemudian, tepat pukul 10.30, dia kembali mengirim pesan.
Febby (10.30): "Seger banget habis mandi lama! Eh iya Ayang, mau kasih tau... hari ini aku mau pulang kampung ya. Biasalah tiap Sabtu kan emang jadwalnya aku nengok Mamah."
Febby (10.31): "Kebetulan si Bagus juga mau balik ke kampung hari ini. Jadi aku barengan sama dia aja ya, kita konvoi naik motor masing-masing biar di jalan ada temennya. Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?"
Aku membaca pesan itu dua kali. Ada sedikit rasa heran yang muncul, kenapa harus barengan?
Kevin (10.33): "Loh, tumben banget kamu barengan sama Bagus pulangnya, Sayang? Biasanya kan kamu berangkat sendiri atau naik bus."
Jeda balasannya kali ini terasa agak berbeda. Dia seolah-olah sedikit malas membahas detailnya, nadanya berubah jadi agak defensif.
Febby (10.36): "Ya nggak gimana-gimana, Ayang. Kebetulan aja emang mau pulang bareng, jamnya sama. Daripada aku sendirian di jalan kan bahaya, mending ada temennya. Dia kan temen kecil aku juga, masa nggak boleh?"
Pesan itu terasa agak ketus, seolah dia tidak nyaman aku bertanya terlalu jauh. Aku segera mengalah, tidak ingin merusak suasana paginya hanya karena cemburu pada teman masa kecilnya. Aku tahu mereka sudah kenal lama, jadi aku merasa aman-aman saja.
Kevin (10.38): "Eh, bukan gitu maksud aku, Sayang. Ya boleh lah, malah bagus kalau ada yang jagain kamu daripada sendirian di jalan. Aku lebih tenang kok kalau kamu ada temen konvoinya."
Kevin (10.39): "Salam ya buat mamah di sana. Jaga diri baik-baik, jangan nakal ya di kampung. Inget, rahim kamu cuma punya aku! Jangan biarin ada yang nyentuh kamu selain aku."
Febby (10.41): "Iya-iya Ayang. Kan kamu tau aku cuma mau sama kamu. Rahim aku mah udah kamu booking selamanya, hehehe. Ya udah aku jalan dulu ya, ini udah mau berangkat."
Kevin (10.42): "Oke, hati-hati di jalan ya, Sayang. Love you!"
Febby (10.43): "Love you too, Ayang! Muach!"
Aku menyandarkan tubuh dengan puas. Perjalanan Febby bersama Bagus sesungguhnya bukan sebuah masalah bagiku. Bagus sendiri hanya sekedar teman yang kebetulan dari kampung yang sama. Lagian mana mungkin Febby berpaling pada pria lain setelah merasakan kemewahan dan kehebatan yang aku berikan?
Tepat saat aku sedang senyum-senyum sendiri menatap layar ponsel yang baru saja menampilkan balasan manja Febby, sebuah panggilan masuk memecah lamunanku. Layar menunjukkan nama "Mama Sayang". Aku segera menegakkan punggung dan berdehem sedikit, membersihkan suara sebelum mengangkatnya.
"Halo, Ma. Ada apa telepon pagi-pagi begini?" sapaku dengan nada yang lebih tenang. Tiga bulan di pulau ini memang sedikit banyak telah melunturkan sifat kekanak-kanakanku.
"Halo, Sayang! Mama ada kabar baik buat kamu. Mama baru saja bicara panjang lebar dengan Papa semalam," suara Mama terdengar begitu bersemangat dan bangga di ujung telepon.
"Kabar apa, Ma? Papa marah lagi?" tanyaku ragu.
"Justru sebaliknya! Papa bilang, laporan dari kantormu di sana sangat memuaskan. Papa bangga kamu bisa bertahan tanpa fasilitas rumah, tanpa mobil, dan benar-benar bekerja serius. Papa rasa kamu sudah cukup berubah dan sudah jauh lebih mandiri sekarang."
Aku menarik napas lega. Ada rasa bangga yang tulus merayap di dadaku. Ternyata kerja kerasku selama tiga bulan ini tidak sia-sia di mata Papa.
"Jadi, karena Papa lihat kamu sudah bisa dipercaya, Papa setuju buat tarik kamu balik ke Semprot City seminggu lagi, Vin! Papa sudah siapkan posisi untukmu di sebuah perusahaan rekanan di kota. Kamu sudah dianggap lulus dari 'pelatihan mental' ini."
Jantungku berdegup kencang. Inilah yang aku tunggu-tunggu. Kembali ke peradaban, kembali ke sisi Febby. "Serius, Ma? Akhirnya Kevin bisa pulang?"
"Iya, Sayang. Tapi ada syaratnya dari Papa. Papa mau kamu tetap mempertahankan kemandirianmu ini. Mama dan Papa sudah membelikanmu satu unit rumah di sebuah perumahan, namanya Green Garden. Letaknya nggak terlalu di tengah kota, tapi lingkungannya sangat tenang dan privat. Kamu tidak akan balik tinggal di rumah Mama, tapi kamu harus belajar mengelola rumahmu sendiri di sana."
"Mama sudah siapkan furnitur standarnya, jadi kamu tinggal bawa koper saja. Papa mau kamu mulai hidup sebagai pria dewasa yang punya tanggung jawab penuh," tambah Mama lagi. "Oh iya, satu lagi, Vin. Kalau nanti kamu merasa kesepian atau butuh teman di sana, Mama nggak keberatan kalau kamu mau ajak Febby tinggal bareng. Mama rasa kamu sudah cukup dewasa untuk menentukan siapa yang mau kamu ajak ke rumahmu sendiri."
Aku hampir tidak percaya mendengarnya. Restu terselubung dari Mama benar-benar membuat rencanaku terasa makin sempurna.
"Oke, Ma. Kevin mengerti. Kevin bakal buktiin kalau Kevin bisa urus rumah itu sendiri. Makasih banyak ya, Ma. Kevin bakal siapkan semuanya buat pulang."
Aku menutup telepon dengan senyum lebar, membayangkan potensi rumah di Green Garden itu. Aku tahu daerahnya; bukan kompleks mewah yang mencolok, tapi sangat asri, tenang, dan setiap rumah punya pagar tinggi yang menjaga privasi penghuninya. Ini justru jauh lebih baik daripada tinggal di apartemen atau kos-kosan elit yang terlalu ramai. Tempat itu akan menjadi sarang yang sempurna bagiku dan Febby. Aku bisa membawanya tinggal di sana kapan pun aku mau tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi. Dukungan Mama yang memperbolehkan kami tinggal bersama adalah lampu hijau bagiku untuk menjadikan rumah itu tempat kami menghabiskan waktu berdua sepuasnya tanpa gangguan siapa pun.
POV: Penulis
Sementara Kevin merasa bangga atas kejadian pagi hari yang dialaminya, suasana pagi di kamar Febby justru terasa berbeda. Di dalam kamar yang masih temaram itu, aroma keringat dan sisa pergumulan semalam masih menggantung jelas. Febby baru saja meletakkan ponselnya setelah mengirim balasan terakhir untuk Kevin, lalu menyandarkan tubuhnya yang polos ke dada bidang Bagus yang masih bersantai di sampingnya.
Bagus, yang sejak tadi memperhatikan dari balik bahu Febby, terkekeh rendah. Tangannya yang kasar mulai meraba pinggang Febby lagi, menariknya lebih rapat.
"Gimana? Dia percaya kamu baru bangun?" tanya Bagus dengan nada mengejek.
Febby mengangguk pelan, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Percaya banget. Malah dia minta maaf karena udah bikin aku 'lemes' lewat telepon semalam. Katanya aku harus mandi yang bersih, gosok pelan-pelan bagian yang lengket karena dia ngebayangin itu tangan dia yang nyabunin aku."
Tawa Bagus pecah mendengar itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala, merasa lucu melihat betapa percaya dirinya Kevin di seberang pulau sana. "Kasihan juga pacar kamu itu. Dia pikir cuma lewat suara di telepon bisa bikin kamu se-lengket ini? Dia nggak tahu kalau aslinya kamu lemes gara-gara aku 'hajar' sampai subuh."
"Hush, jangan keras-keras," tegur Febby sambil mencubit pelan lengan Bagus, meski ia sendiri tidak bisa menahan tawa kecilnya. "Tadi aku juga udah bilang kalau kita mau konvoi motor bareng buat pulang kampung. Dia awalnya agak heran sih, tapi ujung-ujungnya ya percaya aja. Malah dia nitip salam buat Mamah dan ngingetin kalau rahim aku udah dia booking selamanya."
Bagus menarik dagu Febby agar menatapnya, matanya berkilat penuh kemenangan. "Dia bilang rahim kamu punya dia? Coba tanya sama diri kamu sendiri, rahim kamu sekarang lagi nampung punya siapa? Punya dia yang cuma modal suara, atau punya aku yang dari semalam masuk terus tanpa ampun?"
Febby hanya terdiam, wajahnya memerah saat mengingat bagaimana Bagus benar-benar tidak memberikan celah sedikit pun bagi Kevin untuk "hadir" di sana. Ia merasa seolah-olah sedang menjalani kehidupan ganda yang berbahaya, namun sangat candu.
"Udah, ah. Kita harus siap-siap," gumam Febby sambil berusaha bangkit dari kasur, meski selangkangannya terasa sedikit perih setiap kali ia bergerak. "Bantu aku bangun, Gus. Kaki aku beneran gemeteran gara-gara kamu."
Bagus bangkit dengan santai, lalu membantu Febby berdiri tanpa melepaskan pandangannya yang nakal. "Ya udah, mandi gih. Gosok yang bersih ya, sesuai perintah pacar tersayang kamu itu."
Febby berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang sedikit goyah, sementara Bagus beranjak dari tempat tidur dan mulai mengenakan pakaiannya kembali. Ia tidak banyak bicara lagi, menyadari bahwa mereka harus segera bergerak sebelum jalanan mulai padat.
"Aku balik ke kamar dulu ya, mandi. Biar seger pas di jalan," ujar Bagus singkat. Ia membuka pintu kamar Febby perlahan, melongok sedikit ke lorong untuk memastikan suasana sepi sebelum melangkah keluar menuju kamarnya sendiri.
Febby hanya mengangguk kecil sebelum menutup pintu kamar mandi. Di bawah kucuran air, ia mencoba membasuh tubuhnya dengan cepat. Meski ini perjalanan rutin setiap minggu, rasa lelah akibat aktivitas semalam membuat mandi pagi ini terasa lebih krusial agar ia tidak mengantuk saat berkendara nanti.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, keduanya sudah bertemu di area parkir kosan. Persiapan mereka sangat sederhana karena perjalanan menuju rumah hanya memakan waktu sekitar dua jam. Bagus hanya membawa satu ransel kecil yang langsung ia gendong, sementara Febby memasukkan tas kecilnya ke dalam bagasi motor matic-nya. Tidak ada barang yang perlu diikat atau persiapan rumit; mereka sudah terbiasa dengan rute ini.
Bagus sempat mengecek kondisi ban motor Febby secara sekilas, memastikan semuanya aman untuk perjalanan singkat mereka. "Bensin masih aman, Feb?" tanyanya sambil mengenakan helm.
"Masih setengah, nanti isi di SPBU depan aja sekalian jalan," jawab Febby sambil merapikan jaketnya.
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Bagus menyalakan mesin motornya. Febby mengikuti dari belakang, mengenakan helm dan sarung tangannya dengan cekatan. Tumben memang mereka pulang barengan minggu ini, biasanya mereka punya jadwal sendiri-sendiri, tapi kali ini konvoi berdua terasa lebih praktis.
Dengan satu anggukan kecil sebagai isyarat, Bagus mulai menjalankan motornya keluar dari gerbang kosan, disusul oleh Febby tepat di belakangnya. Mereka perlahan membelah kemacetan kota, memulai perjalanan dua jam menuju kampung halaman.
POV: Febby
Angin jalanan yang menerpa sepanjang dua jam perjalanan tadi sedikit membantu menjernihkan kepalaku, meski rasa pegal di pinggang dan paha sisa semalam tidak bisa benar-benar hilang. Begitu sampai di rumah, suasana tenang khas pinggiran kota langsung menyambutku. Bau masakan Mama dari dapur dan suara TV yang menyala di ruang tengah memberikan rasa nyaman yang aneh, seolah menutupi kegaduhan rahasia yang baru saja kulakukan di kosan.
Setelah mandi dan menyapa Mama, aku langsung merebahkan diri di kasur kamarku. Aku meraih ponsel, teringat bahwa aku harus segera memberi kabar pada Kevin agar dia tidak berpikiran macam-macam.
Febby (14.20): "Ayang, aku sudah sampai di rumah Mamah yaa. Ini baru banget selesai mandi dan mau rebahan sebentar. Capek juga ya di jalan tadi, panas banget."
Hanya butuh beberapa detik sampai statusnya berubah menjadi typing. Kevin sepertinya memang sedang menunggu pesanku.
Kevin (14.21): "Syukurlah kalau sudah sampai, Sayang. Istirahat ya, jangan capek-capek. Tadi di jalan aman kan bareng Bagus? Dia nggak macem-macem atau bawanya ngebut kan?"
Febby (14.22): "Aman kok, dia jagain di belakang terus tadi. Emang dasarnya aku aja yang jarang naik motor jauh jadi gampang pegel, hehe."
Kevin (14.23): "Ya sudah, rebahan dulu sana. Eh iya, Sayang... aku punya kabar yang bener-bener luar biasa buat kamu. Aku udah nggak tahan mau kasih tahu ini!"
Febby (14.24): "Kabar apa, Ayang? Kok kayaknya seneng banget?"
Kevin (14.25): "Seminggu lagi aku pulang, Yang! Papa sudah narik aku balik ke Semprot City karena performa kerjaku dianggap bagus di sini. Dan yang paling gila... Papa sama Mama beliin aku rumah di perumahan Green Garden!"
Aku menatap nama perumahan itu di layar ponsel dengan perasaan yang mendadak campur aduk. Green Garden.
"Oh, itu kan kompleknya Sella," gumamku pelan. Aku langsung teringat Sella sering bercerita betapa tenangnya tinggal di sana. Dunia memang sempit; tidak kusangka Kevin akan memiliki rumah di lingkungan yang sama dengan rekan kerjaku itu. Tapi, pikiranku tidak bertahan lama di sana, karena pesan Kevin berikutnya jauh lebih mengejutkan.
Kevin (14.26): "Rumahnya di kompleks yang tenang dan privat banget, Feb. Mama bahkan bilang kalau kamu boleh tinggal bareng aku di sana kalau kita mau. Kamu bayangin kan? Kita bakal punya tempat sendiri. Aku bakal jadi pria dewasa yang urus kamu sepenuhnya di rumah itu."
Aku tahu orang tua kami memang sudah sangat mendukung hubungan ini, tapi izin untuk tinggal bersama secara terbuka adalah level yang berbeda. Di satu sisi, ada rasa bangga karena Kevin akhirnya dianggap dewasa oleh Papanya. Namun di sisi lain, dadaku terasa sesak oleh sebuah dilema yang pahit.
Selama ini, kepulangan Kevin adalah sesuatu yang aku tunggu-tunggu sebagai status. Tapi sekarang, dengan adanya Bagus, rencana "tinggal bersama" ini terasa seperti jeruji emas. Kalau aku benar-benar tinggal di sana, pengawasan Kevin akan menjadi 24 jam penuh. Tidak akan ada lagi waktu untuk Bagus, tidak akan ada lagi "servis protein VIP", dan tidak akan ada lagi kegilaan yang baru saja kunikmati semalam.
Dukungan orang tua kami seolah-olah mengunci jalanku untuk terus bermain api. Semuanya jadi terasa begitu resmi dan serius, sementara sebagian diriku masih sangat menginginkan keliaran yang diberikan Bagus—sesuatu yang Kevin tidak punya.
Febby (14.28): "Serius, Ayang? Ya ampun, aku kaget banget... tapi seneng dengernya. Selamat ya, akhirnya kerja keras kamu diakui Papa. Jadi beneran kita bakal punya rumah sendiri di Green Garden?"
Kevin (14.29): "Iya, Sayang. Rumah itu bakal jadi bukti kalau aku serius sama kamu. Aku udah nggak sabar mau pamerin rumah baru kita nanti. Tunggu aku seminggu lagi ya, istri masa depanku. I love you so much."
Aku membalas dengan emotikon hati, sebuah balasan yang terasa sangat kontras dengan gejolak di hatiku. Aku meletakkan ponsel di samping bantal dan menatap langit-langit kamar rumah Mamah. Aku senang Kevin pulang, tapi aku belum siap kehilangan sensasi yang diberikan Bagus.
=============
=============
Part 15. Dilema dan Halangan
POV: Bagus
Senin pagi ini rasanya tidak ada yang istimewa. Aku berdiri di depan pintu kamar 206, menyesap sisa kopi hitam terakhirku sebelum berangkat ke kantor. Kemeja kerjaku sudah rapi, lengan sudah kugulung hingga siku—setelan standar sebagai supervisor. Sebelum benar-benar melangkah menuju tangga, mataku sempat melirik ke arah ujung lorong. Di sana, di kamar nomor 210 yang letaknya paling pojok, pintu kayu itu masih tertutup rapat.
Sepi. Tidak ada suara aktivitas, tidak ada suara langkah kaki yang biasanya terdengar samar dari arah sana.
Aku merasa sedikit heran. Sejak kami berpisah di persimpangan jalan saat pulang kampung hari Sabtu siang kemarin, Febby benar-benar menghilang dari radar. Tidak ada kabar sama sekali. Padahal, jika mengingat apa yang kami lalui sepanjang minggu lalu, intensitas di antara kami bisa dibilang sangat luar biasa. Aku tahu betul bagaimana dia menikmati setiap detiknya, bagaimana dia selalu menuntut lebih setiap kali aku memberikan performa terbaikku. Tapi pagi ini, atmosfer di lantai dua ini mendadak terasa dingin dan kaku.
"Mungkin dia lagi mau fokus sama pacarnya," pikirku santai sambil mengedikkan bahu.
Aku bukan pria yang ambisius untuk merebut dia dari Kevin. Sejak awal, hubungan kami sudah sangat jelas: ini hanya soal kepuasan fisik tanpa ikatan. Aku menghargai statusnya sebagai calon istri orang lain, karena justru itulah yang membuat permainan ini tidak merepotkan bagiku. Tidak ada drama, tidak ada tuntutan emosional yang berlebihan. Jadi, kalau sekarang dia tiba-tiba mendiamkanku atau mencoba menjaga jarak, aku tidak merasa perlu untuk bertanya apalagi mengejarnya.
Aku mematikan rokok di asbak kayu yang terletak di dekat pintu kamarku, menyambar kunci motor, dan melangkah mantap menuju tangga. Karena kamarku lebih dekat dengan tangga daripada kamarnya, aku langsung berbalik arah tanpa perlu melewati area pojok tempatnya berada. Bagiku, kalau dia memang ingin menjauh atau sedang merasa bersalah pada pacarnya, itu adalah haknya. Aku tidak akan mengintervensi privasi atau pilihannya.
Aku menuruni tangga dengan santai, menyalakan mesin motor di parkiran, dan berangkat kerja dengan pikiran yang jernih. Pekerjaan di kantor lebih penting daripada memusingkan kenapa seorang wanita mendadak diam. Jika dia butuh, dia tahu di mana kamarku. Kalau tidak, ya sudah. Aku menjalani hari Senin ini seperti biasa, fokus pada laporan dan supervisi timku, membiarkan urusan di lantai dua kosan itu tetap berada di luar jangkauan kepalaku untuk sementara.
POV: Febby
Dua hari terakhir ini adalah siksaan yang aku ciptakan sendiri. Sejak pesan Kevin tentang rumah di Green Garden itu masuk, ada rasa takut yang mendadak melumpuhkan akal sehatku. Rumah itu bukan sekadar bangunan; bagiku, itu adalah simbol jeruji yang akan segera mengunci hidupku. Kevin ingin kami tinggal bersama di sana, memulai hidup baru sebagai pasangan yang "mandiri" di bawah atap pemberian orang tuanya.
Setiap kali aku menutup mata, aku mencoba membayangkan diriku menjadi pacar yang baik bagi Kevin, mengurus rumah baru kami, dan melayaninya di ranjang setiap malam. Tapi masalahnya, ingatanku selalu berkhianat. Bayangan kelembutan Kevin justru tertutup oleh memori tentang betapa kasarnya Bagus mencengkeram pinggangku. Aku ingin berhenti. Aku benar-benar ingin menyudahi kegilaan ini sebelum Kevin pulang dua minggu lagi. Aku ingin membersihkan diriku, menghapus aroma Bagus dari kulitku, dan kembali menjadi Febby yang "layak" untuk menghuni rumah Kevin nanti.
Itulah alasannya aku mengunci diri. Aku sengaja berangkat sangat pagi dan pulang larut malam hanya untuk menghindari kemungkinan berpapasan dengan Bagus di lorong lantai dua. Aku bahkan tidak berani melirik ke arah kamar 206 saat melewati pintunya menuju kamarku di pojok. Aku ingin membuktikan bahwa aku punya kendali, bahwa aku tidak se-adiksi itu pada apa yang diberikan Bagus.
Namun, memasuki Rabu malam, pertahananku mulai retak secara tragis.
Di dalam kamar 210 yang sunyi, aku berbaring menatap langit-langit. Udara malam ini terasa sangat gerah, atau mungkin memang darahku yang sedang mendidih. Aku merasa kosong—kosong dalam arti yang sebenarnya. Rahimku seolah berdenyut, menuntut tekanan dan rasa penuh yang hanya bisa diberikan oleh penis 17 cm milik Bagus.
Aku mencoba mengalihkan pikiran dengan mengirim pesan mesra pada Kevin, tapi saat Kevin membalas dengan kata-kata manis tentang betapa dia merindukan "elusan lembutku", aku justru merasa sesak. Elusan lembut? Aku sedang tidak butuh kelembutan. Aku sedang butuh dihajar. Aku butuh suara tamparan kulit yang nyaring dan napas yang terputus-putus. Rencana tinggal bareng Kevin di Green Garden terasa begitu hambar jika dibandingkan dengan satu jam saja di bawah kuasa Bagus.
Sial, aku benar-benar sange berat.
Rasa haus ini bukan lagi sesuatu yang bisa kuredam dengan imajinasi atau sentuhan tanganku sendiri. Aku sudah terlanjur "dirusak" oleh standar yang dipasang Bagus. Dua hari tanpa "asupan" darinya membuatku merasa seperti pecandu yang sedang sakau. Aku benci diriku sendiri karena begitu lemah, tapi tubuhku tidak bisa diajak kompromi. Sisi binalku yang selama ini ia manjakan kini meronta-ronta minta dibebaskan.
Aku melirik ponselku. Pukul 22.30. Lorong lantai dua pasti sudah sepi.
Dengan tangan gemetar dan napas yang mulai tidak beraturan, aku membuka aplikasi WhatsApp. Aku mencari kontak Bagus. Aku ragu selama beberapa menit, jemariku menggantung di atas layar. Aku tahu, sekali aku mengirim pesan ini, maka rencana "tobatku" resmi gagal. Tapi denyutan di bawah sana sudah tidak tertahankan lagi. Aku butuh dia. Sekarang.
Febby (22.35): "Gus... kamu sudah tidur?"
Aku menatap layar ponselku, menunggu balasan Bagus dengan napas yang semakin berat. Aku merasa seperti pengkhianat, bukan hanya kepada Kevin, tapi kepada janjiku sendiri untuk berhenti. Namun, hasrat ini terlalu nyata untuk diabaikan. Aku butuh seseorang untuk mendengar betapa kacaunya pikiranku malam ini.
Bagus (22.38): "Belum Feb. Kenapa?"
Aku menarik napas panjang, jemariku gemetar saat mulai mengetik. Aku memutuskan untuk menumpahkan semuanya, kejujuran pahit yang selama dua hari ini kupendam sendiri di kamar pojok ini.
Febby (22.40): "Gus, sebenarnya aku mau curhat... Jujur, dua hari ini aku sengaja jaga jarak karena aku takut. Kevin kasih tahu kalau dua minggu lagi dia pulang. Dia baru aja dibelikan rumah sama orang tuanya di Green Garden, dan dia mau kami langsung tinggal bareng di sana segera setelah dia balik."
Aku berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa kering sebelum melanjutkan. Bayangan rumah pemberian orang tua Kevin itu seperti beban besar yang menekan pundakku.
Febby (22.41): "Makanya aku coba buat berhenti. Aku mau nyudahi semua ini sama kamu, Gus. Aku pengen coba jadi cewek baik-baik lagi buat Kevin sebelum dia sampai sini. Aku pengen ngerasa 'bersih' pas kami mulai tinggal bareng di rumah itu nanti."
Aku menunggu beberapa saat. Bagus hanya membaca pesanku (centang biru). Keheningannya membuatku semakin gelisah, memaksaku untuk mengakui betapa gagalnya rencana tobatku itu di hadapan kebutuhan biologisku yang sedang memuncak.
Febby (22.43): "Tapi aku nggak kuat, Gus. Aku bener-bener ketagihan sama kamu. Baru dua hari aku coba sok setia, badan aku rasanya mau pecah. Aku sange banget, Gus... aku bener-bener ketagihan sama kontol kamu yang gede itu. Aku ngerasa bersalah banget sama Kevin apalagi dia udah disiapin rumah sama ortunya, tapi sekarang aku nggak bisa bohong kalau aku cuma pengen ngerasain kamu masuk lagi ke dalem aku."
Aku memejamkan mata setelah menekan tombol kirim. Rasanya memalukan mengakui hal sevulgar itu—mengakui bahwa rencana masa depanku untuk tinggal di rumah baru bersama Kevin kalah telak oleh rasa haus akan penis 17 cm milik pria di kamar 206 itu. Aku sudah menjadi budak dari rasa penuh yang ia berikan.
Layar ponsel kembali menyala.
Bagus (22.45): "Jadi kamu mau berhenti karena rencana tinggal bareng di rumah baru pemberian ortu Kevin, tapi sekarang malah curhat sange ke aku? Lucu juga kamu, Feb."
Aku menggigit bibir bawahku keras-keras. Balasannya tidak menghakimi, tapi justru membuatku merasa semakin binal karena mengakui kelemahanku sendiri di hadapannya.
Febby (22.46): "Emang lucu, Gus. Aku juga ngerasa gila. Tapi beneran, setiap aku bayangin nanti tinggal bareng Kevin di rumah itu, aku malah kepikiran gimana rasanya kalau kamu yang ada di sana. Aku nggak bisa nahan lagi... sisa dua minggu ini malah bikin aku makin haus sama kamu. Aku mau ngerasain semuanya selagi masih bisa, selagi aku belum 'dikurung' sama Kevin di rumah itu."
Aku menatap layar ponsel dengan jantung berdegup kencang, menunggu apa respon Bagus setelah tahu bahwa aku benar-benar sudah tidak berdaya menghadapi adiksi pada tubuhnya.
Aku menunggu balasan Bagus dengan napas yang semakin tidak beraturan. Pengakuanku sudah sangat telanjang, dan sekarang bola ada di tangannya. Aku berharap dia langsung menyuruhku datang malam ini juga untuk meredam api yang sedang membakar tubuhku di kamar 210 yang sunyi ini.
Layar ponselku menyala kembali.
Bagus (22.48): "Aku mengerti, Feb. Kalau memang itu maumu, aku sepakat. Aku bakal muasin kamu buat terakhir kalinya sebelum kamu pindah ke rumah baru pemberian ortu Kevin itu."
Jantungku melonjak lega membaca kalimat pertamanya. Aku hampir saja bangkit dari kasur untuk bersiap, sebelum pesan berikutnya masuk dan seketika membuatku lemas.
Bagus (22.49): "Tapi masalahnya, aku sudah nggak di kos sekarang."
Dahiku berkerut. Aku segera mengetik dengan cepat, rasa cemas mulai merayap.
Febby (22.49): "Maksud kamu? Kamu lagi di luar? Aku tungguin sampai kamu balik, Gus..."
Bagus (22.50): "Bukan gitu. Aku lupa kasih tahu karena kita nggak ngobrol, tadi pagi aku sudah berangkat dinas ke kantor pusat. Aku di luar kota sampai Jumat. Aku baru balik ke kos Jumat sore sepulang kantor."
Aku tertegun menatap layar ponsel. Tubuhku rasanya lemas seketika. Rasanya seperti sudah berada di depan mata air saat sedang sekarat kehausan, tapi gelasnya mendadak ditarik menjauh. Rasa menyesal langsung menghujam dadaku begitu dalam.
Kenapa aku harus sok kuat selama dua hari ini? Kenapa aku harus mencoba melakukan 'detoks' bodoh sejak Senin kemarin? Seandainya aku tidak menuruti egoku dan menghubungi Bagus lebih awal, mungkin malam Senin atau malam Selasa tadi aku sudah berada di bawah kungkungannya. Sekarang, aku harus menanggung akibat dari gengsi dan ketakutanku sendiri.
Febby (22.52): "Ya ampun, Gus... serius? Aduh, aku nyesel banget baru chat kamu sekarang. Ternyata kamu udah berangkat dari pagi tadi? Aku bener-bener nggak tahu harus gimana nahan sange ini sampai Jumat..."
Layar ponsel menunjukkan status typing yang agak lama, membuat jantungku kian berdebar.
Bagus (22.53): "Sabar ya... simpan dulu rasa haus kamu itu. Bayangin aja dulu apa yang bakal aku lakuin ke kamu nanti. Aku janji, Jumat malam nanti aku bakal kasih 'perpisahan' yang nggak bakal kamu lupain, bahkan setelah kamu pindah ke rumah baru itu. Aku bakal bikin kamu ingat terus gimana rasanya jadi milik aku seharian."
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Kata-katanya yang lembut tapi menggoda itu justru membuat imajinasiku liar. Kalimat itu bukannya menenangkan, malah membuat api di bawah sana semakin berkobar. Dua hari ke depan akan menjadi neraka bagiku.
Febby (22.55): "Kamu jahat banget sih, Gus... bikin aku makin ngebayangin yang nggak-nggak. Ya udah, aku tunggu sampai Jumat malam. Janji ya, kamu harus bener-bener habisin aku nanti? Jangan kasih aku ampun."
Bagus (22.56): "Iya, Feb. Janji. Sekarang coba tidur ya, elus-elus dulu aja sendiri sambil bayangin aku. Sampai ketemu Jumat malam."
Aku meletakkan ponsel di samping bantal, meringkuk sambil memeluk guling dengan erat. Sialan. Jumat malam terasa masih berabad-abad lagi. Aku terpaksa sepakat, terpaksa menunda, dan terpaksa membiarkan tubuhku tersiksa oleh rasa sange yang memuncak, membayangkan bagaimana Bagus akan benar-benar "menghabisiku" lusa nanti sebagai tanda perpisahan kami.
Keesokan harinya, tepatnya pada Kamis malam, birahiku terasa semakin memuncak daripada malam sebelumnya. Aku berbaring telentang di atas kasur, menatap langit-langit kamar 210 yang terasa semakin sempit. Ponselku tergeletak diam di samping bantal. Sejak percakapan dengan Bagus semalam, kepalaku tidak berhenti memutar skenario tentang apa yang akan terjadi besok malam. Namun, di tengah gairah yang membuncah, ada satu ketakutan besar yang mulai menggerogoti pikiranku.
Aku merasakan sesuatu yang sangat familiar di bagian bawah perutku. Rasa kram halus yang hilang timbul, dibarengi dengan pinggang yang mulai terasa pegal.
"Jangan sekarang... tolong, jangan sekarang," bisikku lirih sambil meremas bantal.
Sebenarnya, aku sudah merasakan tanda-tanda ini sejak beberapa hari lalu—mungkin sejak Selasa. Perut yang sedikit kembung dan emosi yang mudah naik turun. Tapi aku memilih untuk mengabaikannya, berharap itu hanyalah gejala stres karena memikirkan Kevin yang mau pulang atau karena efek "sakau" akan sentuhan Bagus. Aku sangat berharap jadwal datang bulanku meleset bulan ini. Hanya butuh dua atau tiga hari lagi saja agar aku bisa menuntaskan "perpisahan" ini dengan Bagus.
Aku bangkit menuju kamar mandi, memeriksa dengan perasaan was-was. Masih bersih. Belum ada flek merah yang muncul, tapi rasa nyeri di perut bawah ini semakin nyata. Ini adalah dilema yang sangat menyiksa. Di satu sisi, tubuhku menuntut untuk dipuaskan oleh Bagus besok malam—sebuah hasrat yang puncaknya justru sering terjadi saat aku menjelang haid. Di sisi lain, jika tamu bulanan itu datang besok pagi atau sore, maka rencana perpisahan panas yang sudah kami janjikan akan hancur total.
Aku kembali ke kasur, mencoba memijat perutku sendiri dengan minyak hangat. Pikiranku kacau. Bayangan tentang bagaimana Bagus akan "menghabisiku" di hari Jumat nanti terus beradu dengan bayangan pembalut yang mungkin harus kupakai besok. Aku tidak bisa membayangkan betapa kecewanya aku jika besok malam aku hanya bisa bersandar di bahu Bagus tanpa bisa merasakan "isi" yang sangat aku idamkan itu.
"Tolong... kasih aku satu malam saja," pintaku pada tubuhku sendiri.
Aku benar-benar berharap haid ini bisa tertahan sedikit lebih lama. Aku ingin perpisahan dengan Bagus menjadi kenangan yang paling membekas, sesuatu yang sangat intens sebelum aku benar-benar ditarik ke dalam realita kehidupan bersama Kevin di rumah barunya. Aku memejamkan mata, berusaha tidur sambil terus berdoa agar besok pagi saat aku terbangun, sprei kasurku masih tetap bersih.
Jumat pagi, aku terbangun dengan perasaan berat di perut bawah yang tidak bisa lagi kuabaikan. Begitu aku beranjak dari kasur, rasa dingin dan lembap yang paling aku takuti akhirnya terasa. Aku bergegas ke kamar mandi dengan jantung berdebar kencang, berharap itu hanya firasat burukku saja.
Sial. Apes banget.
Warna merah itu terlihat jelas di sana. Harapanku hancur seketika. "Kenapa harus hari ini?" umpatku kesal sambil memukul tembok kamar mandi pelan. Rasa nyeri haid yang mulai menjalar ke pinggang terasa sepuluh kali lipat lebih menyakitkan karena dibarengi rasa kecewa yang luar biasa. Rencana perpisahan yang sudah kubayangkan sejak Rabu malam, adiksi yang sudah kupupuk selama berhari-hari, semuanya hancur berantakan karena siklus bulanan yang tidak bisa kompromi.
Hasratku yang sudah di ubun-ubun mendadak berubah menjadi rasa frustrasi yang membuatku ingin menangis. Aku benar-benar uring-uringan sepanjang pagi. Saat bersiap berangkat kerja, aku terus melirik ponsel, bingung bagaimana cara mengatakannya pada Bagus.
Akhirnya, dengan tangan gemetar karena emosi yang tidak stabil, aku mengirim pesan singkat.
Febby (07.15): "Gus... kamu nggak perlu buru-buru balik sore ini. Aku apes banget. Pagi ini aku haid. Rencana kita malam ini batal."
Aku menunggu sambil menyandarkan dahi ke pintu kamar mandi. Tak butuh waktu lama sampai Bagus membalas.
Bagus (07.18): "Yah... baru juga aku semangat mau jalan balik siang ini. Serius, Feb? Nggak bisa ditunda sehari lagi itu tamunya?"
Febby (07.19): "Mana bisa ditunda, Gus! Aku juga mau nangis rasanya. Padahal aku udah nungguin kamu banget. Badan aku udah pegal semua kepikiran kamu, eh malah begini."
Bagus (07.21): "Ya sudah, mau gimana lagi. Namanya juga alam. Jangan uring-uringan gitu, nanti malah makin sakit perutnya. Simpan aja dulu haus kamu itu, nanti kita cari waktu lagi kalau sudah bersih."
Membaca balasan "simpan aja dulu" dari Bagus bukannya menenangkan, malah membuatku semakin frustrasi. Dia tidak tahu betapa tersiksanya aku menahan ini sendirian di kosan kemarin.
Sepanjang hari di klinik, aku benar-benar tidak bisa fokus. Setiap kali aku merasa ada cairan yang mengalir, aku teringat betapa seharusnya cairan yang membasahi daerah itu malam ini adalah milik Bagus, bukan darah haid ini. Mood aku hancur berantakan.
Sore harinya, saat jam pulang kantor tiba, aku merasa tidak sanggup jika harus pulang ke kosan. Membayangkan aku berada di kamar 210 sementara Bagus ada di kamar 206 tanpa bisa melakukan apa pun hanya akan membuatku semakin stres. Aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah orang tuaku saja.
Febby (16.45): "Gus, aku langsung balik ke rumah Mama ya, nggak ke kosan. Aku bener-bener lagi nggak karuan gara-gara gagal ketemu kamu. Maaf ya..."
Bagus (16.50): "Loh, langsung pulang? Nggak mau ketemu dulu bentar?"
Febby (16.52): "Nggak usah, Gus. Aku takut kalau liat muka kamu malah makin pengen dan makin sedih karena nggak bisa ngapa-ngapain. Aku mau tenangin diri dulu di rumah. Semoga minggu depan atau sebelum aku bener-bener pindah ke rumah Kevin, masih ada kesempatan lagi buat kita ya?"
Bagus (16.55): "Iya, Feb. Masih ada waktu kok sebelum si Kevin balik. Istirahat yang bener di rumah, jangan dipikirin terus. Sampai ketemu nanti kalau sudah beres haidnya."
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas dengan perasaan hampa. Kata-kata Bagus memang menenangkan, tapi rasa haus yang belum tuntas ini terasa seperti api yang dipadamkan paksa namun masih menyisakan bara. Aku melangkah menuju rumah orang tuaku dengan satu harapan besar: semoga haid ini cepat selesai, karena aku benar-benar butuh "perpisahan" itu sebelum hidupku resmi terkunci bersama Kevin.
=============
=============
Part 16. Kesempatan?
POV: Penulis
Terminal kedatangan Bandara sedang di puncaknya. Suara riuh penumpang dan pengumuman kedatangan yang bergema menciptakan kebisingan yang justru membuat Febby merasa semakin terasing. Di sebelah kanannya, Ibu Kevin tak henti-hentinya merapikan penampilan Febby, sesekali mengusap lengannya sambil berkata betapa Kevin pasti sangat merindukan calon istrinya.
Febby hanya bisa memberikan senyum tipis yang dipaksakan. Ia merasa tubuhnya sangat tidak stabil; haid hari kedua selalu menjadi yang terberat baginya. Perut bawahnya terasa melilit, menciptakan sensasi nyeri yang membuat emosinya naik-turun. Namun, rasa sakit fisik itu sebenarnya tidak seberapa dibandingkan kegelisahan yang ia rasakan di dadanya.
Ponsel di genggamannya terasa dingin. Sebelum turun dari mobil tadi, Febby sudah memastikan semua jejak digitalnya bersih. Chat dari Bagus sudah ia arsipkan jauh ke bawah, tidak ada notifikasi yang tersisa, bahkan nama Bagus pun sengaja tidak ia cari di kolom pencarian agar tidak muncul di riwayat terbaru. Sejak Jumat sore itu, ia memang tidak lagi menghubungi pria itu. Ada rasa gengsi dan marah yang tertahan karena rencana "perpisahan" mereka batal, namun di sisi lain, keheningan ini adalah cara Febby untuk mencoba "sadar" sebelum Kevin benar-benar kembali ke pelukannya.
"Nah, itu dia! Kevin!" seru Ayah Kevin sambil melambaikan tangan dengan penuh semangat.
Dari pintu keluar otomatis, sosok Kevin muncul. Pria itu tampak sangat segar dengan kemeja rapi yang pas di tubuhnya, kontras dengan koper besar yang ia tarik dengan penuh energi. Begitu matanya menangkap sosok Febby, senyum Kevin langsung merekah lebar—sebuah senyum tulus tanpa beban yang justru membuat Febby merasa seperti seorang kriminal.
"Sayang!" Kevin setengah berlari menghampiri.
Tanpa memperdulikan tatapan orang-orang di bandara, Kevin langsung menjatuhkan kopernya dan menarik Febby ke dalam pelukan yang sangat erat. Tubuh Febby seolah tenggelam dalam dekapan Kevin yang kokoh. Bau parfum Kevin—aroma citrus yang elegan dan sangat bersih—menyerbu indra penciumannya. Harusnya aroma ini memberikan rasa aman, namun bagi Febby, aroma ini terasa asing dibandingkan aroma maskulin tajam yang selama ini menghantuinya di lorong lantai dua kosannya.
"Aku kangen banget, Sayang... Sumpah, nggak tahan lagi pengen cepat-cepat pulang," bisik Kevin tepat di telinga Febby, memberikan kecupan-kecupan kecil di pelipisnya.
Febby mencoba mengatur napasnya yang mendadak sesak. Ia memaksakan kedua tangannya untuk membalas pelukan Kevin, mengelus punggung pria itu dengan gerakan yang kaku. "Aku juga, Sayang. Capek banget ya perjalanannya?"
Kevin melepaskan pelukannya sedikit, namun kedua tangannya tetap menangkup wajah Febby. Ia menatap mata Febby dengan binar penuh cinta. "Capeknya langsung hilang pas lihat wajah kamu, Sayang. Kamu kok agak pucat? Kamu kurang enak badan ya?"
"Iya Sayang, ini... hari kedua. Perut aku lagi nggak enak banget," jawab Febby pelan, mencoba memberikan alasan logis untuk raut wajahnya yang muram dan mood-nya yang sedang tidak stabil.
"Oalah, pantesan. Maaf ya Sayang, kamu jadi harus repot-repot jemput aku ke bandara dalam kondisi begini," Kevin mengecup kening Febby lama, sebuah ciuman yang sangat lembut dan penuh kasih. "Nanti dari sini kita makan dulu ya sama Mama Papa, habis itu kita mampir sebentar ke rumah baru. Aku pengen kamu lihat beberapa furnitur yang sudah datang."
Febby hanya mengangguk pelan, berusaha menjaga topeng senyumnya agar tidak luntur di depan calon mertuanya. "Iya Sayang, terserah kamu aja. Aku ikut."
Mereka berjalan menuju parkiran dengan tangan Kevin yang terus menggenggam erat jemari Febby, seolah tidak ingin kehilangan satu detik pun waktu tanpa bersentuhan dengan wanita itu. Di sepanjang jalan, Kevin terus bercerita dengan antusias tentang rencana masa depan mereka, sementara Febby hanya bisa menyahut sesekali dengan panggilan "Sayang" yang terasa sangat berat di lidahnya.
Setelah melewati kemacetan yang melelahkan dari bandara, mereka akhirnya sampai di rumah orang tua Kevin. Suasana hangat langsung menyelimuti begitu langkah kaki mereka memasuki ruang makan. Aroma masakan rumah yang menggugah selera telah tersaji di atas meja, sengaja disiapkan untuk merayakan kepulangan sang putra kebanggaan.
Febby duduk di sebelah Kevin, berusaha keras untuk terlibat dalam obrolan keluarga yang penuh suka cita. Sesekali, ia memaksakan diri untuk tertawa saat Ayah Kevin melontarkan candaan tentang masa depan mereka. Namun, di bawah meja, tangan Febby terus meremas ujung blusnya sendiri. Rasa nyeri di perutnya akibat haid hari kedua terasa kian menusuk, beradu dengan kegelisahan batin yang sulit ia jinakkan. Setiap kali Kevin mengambilkan lauk ke piringnya sambil berbisik, "Makan yang banyak, Sayang, kamu pucat banget," Febby hanya bisa membalas dengan senyum tipis yang terasa berat.
Selesai makan siang dan berbincang sejenak, Kevin yang tampak tidak sabar segera mengajak Febby menuju rumah baru mereka di Green Garden. Di dalam mobil, Kevin terus menggenggam tangan Febby, sesekali mengecup jemarinya dengan penuh perasaan.
Begitu sampai di depan bangunan minimalis modern yang akan menjadi pelabuhan hidup mereka, Kevin membuka pintu dengan binar mata yang luar biasa bahagia. "Akhirnya kita sampai di sini lagi, Sayang. Besok semuanya sudah mulai resmi," ucap Kevin sambil menuntun Febby masuk ke dalam.
Setelah puas berkeliling di rumah baru mereka di Green Garden, sore itu Kevin membawa Febby kembali ke rumah orang tuanya. Sesuai kesepakatan, Febby akan menginap di sana malam ini agar besok pagi mereka bisa mulai bergerak lebih awal. Di meja makan, Kevin tak henti-hentinya membahas detail rencana kepindahan mereka.
"Jadi sudah fix ya, Sayang," ujar Kevin sambil menyuapkan sisa makan malamnya dengan semangat. "Besok Senin, aku fokus pindahan barang-barangku dulu dari sini ke Green Garden. Truk sudah siap jam sepuluh pagi. Kamu nggak usah izin kantor besok, kerja saja seperti biasa. Nanti sore sepulang kantor, baru kamu mampir ke sana bantu aku tata-tata barang pribadi yang ringan."
Febby mengangguk pelan, sesekali menyeruput teh hangat untuk meredakan nyeri di perutnya. "Iya, Sayang. Besok sore aku langsung ke Green Garden habis jam kantor selesai."
"Nah, baru nanti hari Selasanya giliran kamu yang libur, kan?" Kevin memastikan lagi sambil tersenyum lebar.
Febby memaksakan senyum manis sebagai balasan. "Iya Sayang, aku sudah izin kantor juga kok buat hari Selasa. Jadi aman."
Malam semakin larut. Febby sudah berada di dalam kamar tamu rumah orang tua Kevin yang biasanya ia tempati jika menginap. Kamar itu harum, rapi, dan sejuk, namun batin Febby terasa gersang. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya yang gelap.
Pikirannya melayang pada keheningan yang ia bangun sendiri. Sejak kejadian Jumat sore yang gagal itu, Febby sama sekali tidak menghubungi Bagus. Tidak ada pesan "Apa kabar?", tidak ada permintaan maaf karena batal bertemu, bahkan tidak ada keinginan untuk sekadar mengintip status pria itu. Ia merasa dunianya sedang terbelah. Di satu sisi, ia sedang dipersiapkan untuk menjadi istri sempurna bagi Kevin, namun di sisi lain, ia merasa ada bagian dari dirinya yang masih tertinggal dan belum tuntas bersama Bagus.
Pintu kamar terbuka pelan. Kevin masuk dengan rambut yang masih basah setelah mandi. Ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong. Kevin duduk di samping Febby, melingkarkan lengannya di bahu wanita itu, lalu menciumi lehernya dengan penuh kerinduan yang sudah tertahan selama berbulan-bulan.
"Sayang... kangen banget," bisik Kevin, suaranya mulai merendah, penuh dengan nada mancing yang sudah sangat dikenali Febby.
Kevin mulai merebahkan tubuh Febby perlahan ke atas ranjang. Tangannya mulai menjelajah dengan lembut, mencoba mencari celah untuk membangkitkan gairah Febby. Ciuman Kevin turun ke arah pundak, semakin lama semakin menuntut. Sebagai pria yang sudah lama tidak bertemu calon istrinya, Kevin jelas mengharapkan sebuah penyambutan yang hangat malam ini.
Namun, Febby merasa tubuhnya membeku. Setiap sentuhan Kevin justru membuatnya teringat betapa berbedanya rasanya saat Bagus yang melakukannya. Ia merasa sangat bersalah, namun ia juga tidak bisa memaksakan hasratnya yang sedang mati suri.
"Vin... maaf ya, Sayang," bisik Febby sambil menahan tangan Kevin yang mulai merayap di pinggangnya. "Aku beneran nggak bisa malam ini. Ini hari kedua, perutku kram banget dari tadi. Buat gerak saja sakit."
Kevin berhenti sejenak, menatap mata Febby dengan raut kecewa yang berusaha ia sembunyikan di balik senyum pengertiannya. "Masih sakit banget ya, Sayang? Maaf ya, aku tadi terlalu nafsu karena kangen banget sama kamu."
"Nggak apa-apa, Sayang. Maaf ya aku belum bisa layanin kamu," jawab Febby pelan, mengusap pipi Kevin dengan rasa bersalah yang semakin menumpuk.
"Iya, nggak apa-apa. Kamu istirahat saja ya. Sini aku peluk," Kevin akhirnya hanya menarik selimut dan memeluk Febby erat-erat.
Di dalam dekapan Kevin yang begitu hangat dan penuh kasih sayang, Febby justru terjaga sepanjang malam. Ia merasa seperti seorang penipu besar. Panggilan "Sayang" yang terus ia ucapkan terasa seperti racun yang ia telan sendiri. Ia tahu, esok hari ia harus mulai berhadapan dengan realita kepindahan yang sesungguhnya, dan itu berarti ia akan semakin dekat dengan perpisahan permanen dari gairah terlarang yang selama ini ia nikmati.
Hari Senin pun tiba. Bagi Febby, hari itu berjalan seperti kabut yang membosankan sekaligus mencemaskan. Di kliniknya, ia bekerja seperti robot; memberikan senyum profesional kepada pasien, mencatat rekam medis, namun pikirannya terus melayang ke dua tempat: rumah baru yang megah di Green Garden, dan kamar kosnya yang kini terasa seperti sel isolasi.
Sesuai rencana yang disusun Kevin, sore itu sepulang kantor Febby langsung meluncur ke Green Garden. Begitu sampai di depan rumah, ia melihat sebuah truk pindahan baru saja beranjak pergi. Pintu pagar terbuka lebar, memperlihatkan kesibukan yang luar biasa di dalam.
"Sayang! Kamu sudah sampai?" seru Kevin dari ambang pintu. Ia tampak berkeringat, kemeja kantornya sudah diganti dengan kaus oblong yang basah oleh peluh, namun wajahnya memancarkan kepuasan yang luar biasa.
"Baru saja, Sayang. Gimana? Sudah masuk semua barangnya?" tanya Febby sambil mendekat, membiarkan Kevin mengecup pipinya yang memerah karena udara sore.
"Sudah, Sayang. Tinggal tata-tata saja. Sini masuk, lihat deh kamar kita sudah mulai berbentuk," Kevin menggandeng tangan Febby dengan antusias.
Febby menghabiskan waktu berjam-jam sore itu untuk membantu Kevin. Ia membantu mengeluarkan baju-baju Kevin dari koper, menggantungnya satu per satu di dalam lemari walk-in closet yang sangat luas. Ia juga membantu menata koleksi buku dan perlengkapan kerja Kevin di ruang belajar.
"Capek ya, Sayang? Maaf ya, harusnya kamu istirahat karena lagi haid, tapi aku senang banget kamu ada di sini," ucap Kevin sambil memeluk Febby dari belakang saat mereka berdiri di balkon lantai dua, menatap matahari yang mulai tenggelam.
"Nggak apa-apa, Sayang. Aku juga senang bisa bantuin kamu," sahut Febby lirih. Panggilan "Sayang" itu kini terasa semakin pahit di lidahnya. Ia melihat kemapanan ini—rumah ini, Kevin, masa depan ini—dan ia merasa seperti sedang mengkhianati takdirnya sendiri.
Setelah hari mulai gelap dan sebagian besar barang Kevin tertata, Kevin segera mengajak Febby untuk kembali ke kosan. "Yuk, Sayang. Sekarang aku antar kamu balik ke kosan. Malam ini aku menginap di tempatmu ya, biar besok pagi kita nggak perlu jemput-jemputan lagi. Bangun tidur, kita langsung angkut barang-barangmu ke sini."
Hati Febby mencelos. "Kamu beneran mau menginap di kosan malam ini, Sayang?"
"Iya dong, Sayang. Aku mau bantu kamu packing sisanya malam ini. Masa calon suaminya nggak bantuin," Kevin menjawab dengan nada final yang penuh kasih sayang.
Perjalanan menuju Jalan Melati terasa begitu mencekam bagi Febby. Begitu mobil Kevin memasuki gang sempit yang menuju kosan mereka, Febby merasa dadanya semakin sesak. Ia melirik ke arah jendela, melewati deretan warung dan keramaian khas Jalan Melati yang sangat ia kenali.
Saat mereka menaiki tangga menuju lantai dua, Febby berdoa di dalam hati agar tidak berpapasan dengan Bagus. Pikirannya kalut. Sejak Jumat itu, ia benar-benar buta akan keberadaan Bagus. Tidak ada pesan masuk, tidak ada tanda-tanda pria itu mencarinya.
Begitu sampai di depan kamarnya, Febby membuka pintu dengan tangan gemetar. Kevin masuk dengan santai, meletakkan tasnya di atas meja kecil yang kini penuh dengan kardus.
"Nah, Sayang. Mana lagi yang harus aku masukin kardus?" tanya Kevin sambil mulai melipat beberapa barang yang berserakan.
Malam itu, suasana di kamar Febby terasa sangat aneh. Kevin sibuk mondar-mandir, sangat berisik dan mendominasi ruangan yang biasanya sunyi itu. Sementara itu, Febby duduk di tepi ranjang dengan perasaan yang terbelah. Setiap kali ia mendengar suara langkah kaki di lorong depan kamarnya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia takut itu adalah Bagus.
"Sayang... kamu melamun terus?" Kevin mendekat, duduk di samping Febby dan mulai merangkulnya. "Kamu masih sakit perut ya? Sini, aku pijitin kepalanya biar rileks."
Kevin kemudian merebahkan tubuh Febby. Di bawah lampu kamar yang temaram, Kevin kembali mencoba memancing. Ia menciumi leher Febby, tangannya mulai menggerayangi tubuh Febby dengan penuh kerinduan yang seolah tak kunjung padam. "Sayang... sudah hari keberapa sih? Aku kangen banget, beneran..."
Febby memejamkan mata rapat-rapat. Saat bibir Kevin menyentuh kulitnya, sebuah flashback mendadak menghantam kepalanya. Ia teringat bagaimana di posisi yang sama, di kasur yang sama, tangan Bagus pernah mencengkeramnya. Selama beberapa detik, Febby terhanyut dalam bayang-bayang pria di kamar sebelah itu, membayangkan sentuhan yang lebih liar dan menuntut.
Namun, saat Kevin berbisik lembut, "I love you, Sayang," Febby tersentak. Ia membuka mata dan menyadari pria yang ada di atasnya saat ini adalah Kevin—pacarnya yang baik, calon suaminya yang tulus.
"Vin... jangan, Sayang. Masih deras banget, aku lagi nggak nyaman," Febby kembali menolak, suaranya terdengar serak dan hampir menangis. Bukan karena sakit fisik, tapi karena rasa jijik pada dirinya sendiri yang baru saja membayangkan pria lain di pelukan Kevin.
"Ya sudah, ya sudah... maaf ya, Sayang," Kevin menghela napas panjang, tampak sangat tertahan namun ia tetap berusaha menjadi pria yang pengertian. Ia menarik Febby ke dalam pelukannya, mencoba memberikan rasa nyaman yang justru terasa seperti siksaan bagi batin Febby.
Sepanjang malam itu, Febby hanya bisa menatap langit-langit kamar. Di seberang tembok sana, mungkin Bagus sedang tidur, atau mungkin sedang terjaga menyadari bahwa ada pria lain di kamar Febby malam ini. Kesadaran bahwa besok adalah hari terakhirnya di sini membuat Febby merasa seolah-olah ia sedang menunggu eksekusi mati bagi gairah binalnya.
Selasa siang itu, cuaca di luar sangat terik, namun hati Febby terasa jauh lebih panas. Sejak pagi, ia terus-menerus melirik ke arah pintu kamar 206. Ia membantu Kevin mengangkut barang dengan sisa tenaga yang ada, tapi fokusnya terpecah. Hingga jam menunjukkan pukul sebelas siang, Bagus sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.
Apa dia sengaja menghindar? Apa dia bahkan nggak peduli kalau ini hari terakhirku di sini? pikiran itu terus menyiksa Febby. Ada ketakutan yang nyata menyelinap di dadanya; ketakutan bahwa ia akan pergi dari Jalan Melati tanpa sebuah kata pamit, tanpa sebuah kepastian, dan tanpa merasakan aroma pria itu untuk terakhir kalinya.
Kamar 210 di pojok lorong kini sudah benar-benar kosong. Kevin, dengan sisa semangat yang luar biasa, mengangkat dua tas besar terakhir.
"Sayang, aku langsung taruh ini ke bawah ya. Mobil sudah aku buka bagasinya," seru Kevin sambil menoleh ke arah Febby yang masih berdiri mematung di tengah ruangan yang kini bergema. "Kamu bawa tas kecilmu, terus langsung turun saja ya? Aku tunggu di bawah, biar kita bisa langsung cabut."
"Iya, Sayang. Habis ini aku turun," jawab Febby dengan nada hampa.
Febby masih berdiri di tengah ruangan, menatap dinding-dinding yang kini bersih. Namun, tepat saat ia baru saja hendak melangkah keluar dengan rasa kecewa yang mendalam, telinganya menangkap suara bariton yang sangat ia kenali dari arah lorong. Suara yang selama beberapa bulan ini selalu berhasil mengacak-acak logikanya.
Itu suara Bagus.
Darah Febby mendesir hebat. Ia mendengar Kevin menyapa Bagus dengan nada ramah tepat di depan kamar 206. Mendengar suara pria itu di detik-detik terakhir kepindahannya membuat napas Febby tercekat. Rasa lapar yang tadinya ia tekan paksa mendadak meledak. Ia tidak bisa pergi begitu saja. Ia tidak akan membiarkan Kevin memenangkan hari ini sepenuhnya.
Di luar, Kevin sedang berbasa-basi sambil menahan berat tas di tangannya. "Gus, thanks ya sudah jadi tetangga yang baik buat Febby selama dia di sini. Maaf kalau saya atau Febby ada salah-salah kata."
Bagus menyambut jabatan tangan itu dengan senyum tipis. "Sama-sama, Vin. Santai saja. Sukses ya buat kalian berdua."
"Oke, duluan ya, Gus! Barang berat nih," pamit Kevin sambil terkekeh pelan. Langkah kakinya yang mantap terdengar menjauh menyusuri tangga hingga suaranya menghilang di lantai bawah.
Begitu lorong sunyi, Febby segera keluar dari kamarnya. Langkahnya cepat, hampir berlari kecil menuju kamar 206. Benar saja, Bagus masih berdiri di ambang pintu, tampak rapi dengan kemeja kerjanya, menatap Febby dengan sorot mata yang seolah tahu bahwa wanita itu sedang sekarat karena merindukannya.
Tanpa satu patah kata pun, Febby tiba-tiba mendorong bahu Bagus dengan kuat ke dalam kamarnya. Bagus terhuyung mundur, dan dalam sekejap Febby ikut masuk, membanting pintu hingga tertutup rapat. Klik.
Di balik pintu yang terkunci, Febby langsung menghambur. Ia menarik kerah kemeja Bagus dan membungkam bibir pria itu dengan sebuah french kiss yang sangat brutal. Ciuman itu adalah ledakan gairah yang ia simpan rapat-rapat sejak kegagalan hari Jumat. Lidah mereka bertautan dengan rakus, saling mengecap dan menuntut di tengah temaramnya kamar yang penuh rahasia itu.
Febby melepaskan tautan bibir mereka sejenak, napasnya memburu di depan wajah Bagus. "Aku bakal kangen ini, Gus. Sumpah... aku bakal kangen banget sentuhan kamu," bisik Febby parau dengan tatapan mendamba. "Semoga... semoga setelah aku pindah, masih ada kesempatan buat kita."
Bagus menyeringai nakal, ia menarik pinggang Febby lebih rapat hingga tak ada celah di antara mereka. "Kalau nggak ada kesempatan, ya kita yang buat kesempatan itu, Feb," sahut Bagus rendah, suaranya terdengar seperti janji gelap yang manis.
Mendengar itu, gairah Febby kembali tersulut. Ia kembali melumat bibir Bagus lebih dalam, sebuah french kiss kedua yang lebih basah dan panas—seolah mengunci janji rahasia mereka. Febby merintih pelan saat tangan Bagus meremas pinggangnya, memberikan sensasi terbakar yang membuatnya merasa begitu "hidup" dibandingkan kehidupan steril yang ditawarkan Kevin.
Setelah beberapa saat, Febby akhirnya melepaskan diri. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Wajahnya yang tadinya muram kini berubah drastis; sebuah senyum ceria yang sangat tulus merekah di bibirnya. Kekhawatirannya hilang. Ia merasa menang karena tahu kepindahannya bukan berarti akhir, melainkan awal dari sebuah permainan baru yang lebih menantang.
"Sana turun. Kasihan Kevin kelamaan nunggu di bawah," bisik Bagus sambil mengusap sudut bibir Febby yang basah.
Febby mengangguk dengan binar mata yang kembali hidup. Ia membuka pintu kamar 206 dan melangkah keluar menuju tangga dengan langkah yang terasa sangat ringan. Kabut abu-abu yang menggelayuti kepalanya sejak di bandara seolah tersapu bersih. Wajah yang tadinya pucat pasi kini merona karena aliran adrenalin. Ia menuruni tangga bukan lagi sebagai wanita yang terpaksa pindah, melainkan sebagai wanita yang baru saja mendapatkan 'napas' buatannya."
Di dekat mobil, Kevin sudah menunggu sambil bersandar di pintu kemudi. Begitu melihat Febby muncul dari gang, Kevin langsung tersenyum lebar. "Lama banget, Sayang? Ada yang tertinggal di atas?"
Febby membalas senyuman Kevin dengan sangat manis dan penuh keceriaan yang telihat natural. "Nggak, Sayang. Cuma tadi memastikan sudah benar-benar gaada barang yang ketinggalan. Yuk, jalan!"
Kevin menoleh, sedikit terkejut melihat binar mata Febby. "Sayang, kamu kelihatan segar banget sekarang. Senang ya akhirnya kita benar-benar pindah?" Febby hanya tertawa kecil—tawa yang renyah dan sungguhan. "Iya, Sayang. Aku merasa... jauh lebih baik sekarang."
Mobil mulai bergerak meninggalkan Jalan Melati, membawa Febby menjauh dari lorong gelap lantai dua yang penuh kenangan. Kevin menggenggam erat tangan Febby, menceritakan dengan antusias betapa bahagianya dia karena mereka akan memulai hidup baru di Green Garden. Febby hanya menatap keluar jendela dengan senyum kemenangan yang tak kunjung hilang dari wajahnya. Di lidahnya, ia masih bisa mengecap sisa rasa dari ciuman Bagus, sebuah rahasia yang ia bawa pergi dengan penuh gairah baru.
Febby melirik Kevin yang sedang menyetir, lalu kembali menatap jalanan dengan pikiran yang jauh melayang. Ia tidak lagi merasa sedih meninggalkan kosannya, karena ia tahu "perpisahan" ini hanyalah sebuah jeda. Kata-kata Bagus tentang membuat kesempatan terus bergema di kepalanya seperti mantra yang manis sekaligus berbahaya. Bagi Febby, rumah mewah di Green Garden hanyalah tempat tinggal barunya bersama Kevin, namun hati dan gairahnya akan tetap mencari celah untuk kembali pada Bagus. Ia sadar, selama ia dan Bagus sepakat untuk menciptakan kesempatan itu, maka tidak ada satu pun pintu yang benar-benar tertutup bagi mereka.
FINISH.
=============

Comments
Post a Comment