Nakalnya Senyum Istriku - poligan24
Nakalnya Senyum Istriku
PROLOG
Dalam keremangan hidup seseorang terselip rasa bahagia juga cahaya yang datang meski hanya satu titik, hanya satu kali atau bahkan tidak sama sekali. Mungkin dari milyaran kemungkinan aku hanya pernah sekali mendaptakan cahaya itu dan kini kian meredup seiring waktu berjalan.
Senyuman yang dulu menduhkan keluarga kecil kami, kini berubah menjadi senyuman nakal yang dapat menjerat siapapun dengan nafsu yang besar, rasanya baru kemarin aku mempersunting wanita cantik itu tapi kini seperti tak mengenal sosok yang sudah bermetafosis bagaikan kupu-kupu.
Setiap langkah anggunnya berubah menjadi satu pertanyaan baru bahkan tiap jari nya bergerak akan menjadi rasa sesal baru yang sebelumnya tak pernah aku bayangakan
Aku pria sakit dengan sejuta pertanyaan harus dihadapkan dengan wanita riang dengan senyum nakal dan rahasianya, lantas adakah sisa cahaya yang mempu menarik ku dari keremangan ini. Atau kian tenggelam ditengah lautan penderitaan yang tak kunjung selesai.
Ruangan bercahaya minim menemaniku dalam setiap pertanyaan yang tak memiliki jawaban – berharap akan usai dengan sendirinya tanpa perlu merubah apapun. Entahlah, rasanya sulit untuk membedakan bayang dengan waktu yang sedang berjalan – tapi asa akan terus ada untuk menjawab semua rasa yang ku pendam dengan erat.
Pagi tak lagi terang dan malam pun tak kunjung gelap, kaki ku masih bisa melangkah meski sudah bercucuran darah yang menetes di sepanjang lorong bawah tanah. Hingga kepala ku mendongak pada sebuah pintu yang menjadi atap sebuah tangga.
Mengedip beberapa kali dan myakinkan jika bau amis dari darahku hanyalah hayalan meski aku masih bingung arti sebuah bayang. Tanganku menggapai tangga terakhir dan napasku rasanya akan habis pada detik berikutnya.
Benar saja belum aku buka pintu itu mataku kembali terpejam dan terpaksa mengulang semua dari awal. Bukan sejak aku membuka mata, lebih dari itu aku akan mengulang cerita ini hingga aku bisa membuka pintu tersebut.
==========
==========
1 | BERSEMBUNYI
Panasnya matahari membuat keringatku mulai turun dari sudut dahi, lalu lalang orang membawa berbagai material bangunan membuat fokusku seakan hilang sesaat. Memilih menyisi Aku berjalan menuju warung makan proyek yang menjadi tempat ternyaman saat ini, senyuman wanita dari balik etalase membuat Aku hanya bisa membalas seadanya.
Namaku Feri, saat ini Aku berusia tiga puluh lima tahun. Profesiku memang terbilang terkenal karena berjasa bagi seluruh rumah, ya Aku adalah seorang arsitek yang saat ini memegang beberapa proyek sekaligus. Maka, waktu adalah hal yang sangat berharga jika dibandingkan dengan hasil yang ku dapatkan selama ini.
Langit mulai menurunkan egonya, awan seperti mengajak orang-orang untuk beristirahat sejenak dan benar saja hujan turun kemudian. Jatuh beriringan dengan tempo yang kian cepat saat orang-orang berlarian masuk kedalam bedeng di sisi bangunan.
Aku hanya bisa mengerutkan dahi dan lagi-lagi ingkar pada Istriku jika hari ini akan pulang cepat.
Namanya Elsa, wanita yang Aku persunting sepuluh tahun lalu dan bisa kalian tebak jika dia adalah seorang wanita cantik yang mengisi malam bahkan siangku. Perbedaan usia yang tak terlalu jauh membuat obrolan kami tak memiliki jarak yang berarti bahkan saat awal pernikahan Istriku sudah jujur tentang hal yang boleh dan tidak boleh kepada ku.
Termasuk urusan seksual yang ia tekankan, memang agak jarang jika mendengar cerita teman-temanku yang akan berkata jika istrinya terlalu pasif dan cendrung diam saat pertama kali melakukan hubungan seksual.
Masih teringat dibayanganku saat melihat Elsa dengan berani membuka pakaiannya dimalam pertama tanpa diperintah. Istriku seperti tahu harus berbuat seperti apa bahkan diriku tak berkutik sedikitpun.
Hujan masih saja turun dan hanya ada kopi yang menemaniku saat ini. Pemilik warung terlihat menata gorengan didalam etalase karena waktu akan memasuki waktu sore hari. Para pekerja masih khusyuk didalam bedeng yang terbuat dari baja ringan itu.
Aku mencoba membenarkan tali sepatu yang tak Aku sadari lepas, menali sembari membayangkan ekspresi muram Istriku yang lagi dan lagi gagal makan bersama.
“tiba-tiba hujan ya Pak.” Ucap pemilik warung yang baru kali ini Aku lihat.
“Iya nih, teteh nya baru?” balasku melihat wajah baru di proyek perumahan ini.
“Iya pak, saya gantiin Ibu yang lagi pulang rawat Bapak dikampung.”
Aku hanya mengangguk dan melanjutkan obrolan basa-basi diantara kami. Namun tidak dengan hujan yang masih setia membasahi bumi dengan tanpa ragu.
Telepon ku berdering dan menampilkan nama Istriku yang Aku tebak akan mengeluarkan omelan.
“Dimana?” tanya nya.
“Masih di proyek sayang, hujan nya belum berhenti.” Jawabku mengalihkan menjadi video call.
Istriku tak membalas dan tiba-tiba sambungan telepon terputus. Namun, belum saja Aku memeriksa koneksi Istriku kembali menelpon yang kali ini menampilkan wajah Istriku yang tak berias.
Mata bulat dengan hidung mancung membuat siapa saja setidaknya melirik dua kali untuk memastikan jika ada wanita secantik Istriku. Ini bukan khayal tapi beberapa kali aku memergoki pria dewasa yang menoleh saat berjalan melewati Istriku di tempat umum.
Mataku melebar saat Istriku mengalihkan kamera nya menuju bawah dan menampilkan piyama berwarna hitam dengan renda tipis, tiba-tiba tubuhku memanas dan was was jika ada orang lain yang melihat istriku dari layar gawai ini.
Mataku dengan cepat melihat kearah belakang dan hanya ada penjaga warung yang duduk sembari bermain gawai, rasanya napas ku mulai kembali normal dan tak bisa menutupi ekspresi terkejut.
Dibalik telepon Istriku hanya bisa tertawa dan menampilkan gigi rata dengan bibir tebal yang ingin segera kulumat saat ini.
Aku mematikan panggilan dengan hati yang berdebar rasanya saat ini keinginan untuk pulang lebih besar daripada kehujanan, segera Aku menghabiskan sisa kopi digelas dan beranjak menuju motor yang terparkir.
Memang lucu saat pernikahan yang sudah berusia 10 tahun tak membuat kami kehilangan gairah terutama diatas ranjang, entahlah mungkin ini keuntungan memiliki istri yang berani seperti Elsa.
Derasnya hujan membuat semua pengemudi memelankan kendaraan dan membuat perjalanan saat ini sangat lambat, belum lagi banjir di beberapa titik yang membuat pengendara lain berada di jalur yang sama.
Tanganku meremas kencang pada stang motor dan berharap bisa memanaskan jari-jari ku, apalah daya hanya dingin yang kian menusuk dan pikiran akan hangatnya rumah. Perjalanan yang saharusnya ditempuh hanya dengan waktu satu jam kini Aku masih bergelut dengan waktu hingga dua setengah jam.
Perkiraan ku ada banjir yang terpaksa membuat jalan ditutup, sedikit pusing Aku memilih untuk menyisi dan beristirahat. Hanya teh panas yang menjadi teman saat hujan sudah berhenti tapi tidak dengan banjir dan macetnya jalan.
Jam sudah menunjukkan angka sembilan lewat saat kendaraan mulai bergerak kembali, tapi tidak dengan Istriku yang tak membalas pesan maupun panggilan. Hanya bisa mengumpat saat melihat jam pada tanganku yang sudah menunjukkan angka sepuluh.
Dan kini Aku sudah berdiri dengan badan yang basah dan hati yang ikut mendingin, rumah tampak sudah gelap dan hanya lampu dapur yang masih setia melawan gelapnya bayang.
Aku berjalan pelan menuju kamar mandi didekat dapur dan melepas semua pakaian termasuk celana dalam yang lembab saat Aku baru sdar jika jas hujan yang kupai ada robek di beberapa jahitannya.
Tak butuh waktu lama untuk sekedar membilas tubuh dan kembali memakai pakaian yang sudah ada diatas meja dekat kamar mandi, dahiku hanya mengerut pelan dan melihat cahaya dari balik pintu kamar.
Krek.
“Yang.” Ucap ku pelan pada Istriku yang sudah berada di atas ranjang dengan posisi membelakangiku.
“Maaf ya, tadi dijalan mecet total.” Lanjutku sembari naik ketas ranjang dan memeluk tubuh Istriku yang kini sudah berganti pakaian.
“Kemana baju yang tadi dipake video call?” rayu ku dan hanya mendapat gelengen kepala.
“Ayah tidur aja, pasti cape.” Balas Istriku dingin dan menarik selimut hingga Aku hanya bisa melihat segumpal kain dengan tubuh Istriku didalamnya.
Napasku terasa berat karena merasa bersalah sudah menjanjikan akan pulang lebih cepat. Namun, lagi-lagi atas nama pekerjaan Aku tak bisa bergerak banyak.
TRINGG TRINGG
Gawai ku berdering dan menampilkan nama seseorang yang Aku pastikan akan menanyakan progress desain yang Aku buat.
“Halo Feri.” Ucap seseorang diseberang telepon setalah Aku menggeser ikon call.
“Halo pak, gimana?” jawabku dan menepuk pelan bahu Istriku yang ternyata ikut mendengarkan.
Sedikit perbincangan yang cepat ku pahami jika desain gedung yang ku buat harus dipercepat dan revisi dibeberapa bagian. Aku melirik pada Istriku yang sudah memasang wajah malas yang membuat Aku tersenyum kecil.
Selesai menelpon Aku hanya bisa menarik napas pelan dan memeluk Istriku yang masih diposisi semula meski kali ini sudah tidak ada selimut yang menghalangi.
“Aku mau kerja dulu ya sayang.” Ucap ku mencium bahu Istriku dan hanya mendapat anggukan.
Ada rasa malas yang membuat langkahku terhenti dan sekedar merenungkan alur hidupku yang tak ku duga akan seperti ini, tapi mataku bisa dengan jelas menatap pintu yang berwarna merah muda yang menjadi semangatku malam ini.
Rumah ini sudah menemani ku selama delapan tahun, ya setelah Aku menikah dengan Elsa Aku memutuskan untuk membuat rumahku ini dengan waktu yang bertahap. Wajar saja karena saat itu namaku belum dikenal sebagai seorang arsitek tapi tidak dengan kali ini, bahkan sudah ada tiga klien yang menjadi waiting list pada dua bulan kedepan.
Rumah ini terdiri dari empat kamar dengan interior yang ku rencanakan seminimalis mungkin dengan pertimbangan psikologisku yang sampai saat ini tak ada satupun yang mengetahui.
Dimulai dari gerbang depan yang Aku buat dengan bahan bata roster berwarna putih dan taman kecil yang berada tepat disamping pintu masuk menuju rumah. Sedangkan didalam rumah untuk sebelah kiri Aku menempatkan kamar tamu dan anak pertamaku, sedangkan di sebelah kanan ada kamarku dan anak keduaku.
Untuk halaman belakang disebelah kiri ada ruangan yang terbuat dari peti kemas bekas yang bernuansa rustic, dan itulah tempat dimana Aku menciptakan banyak desain yang membuat orang terus mencari namaku, bukan sombong tapi hanya itu keahlianku saat ini.
Namun ada satu hal yang tak diketahui oleh siapapun termasuk Istriku, Elsa. Dibawah karpet tua itu Aku membuat pintu rahasia menuju ruang bawah tanah yang terdapat jalan memutar menuju kanan dan berakhir di sebuah ruang rahasia yang bisa memperlihatkan kamarku.
Aneh memang, tapi begitulah diriku yang sampai saat ini belum sembuh dari trauma masa lalu saat kedua orang tuaku acap kali bertengkar bahkan setiap hari. Dan korbannya adalah Aku yang hanya bisa menangis dan bersembunyi dan berharap bumi dapat menelanku dengan utuh.
Dampaknya saat Aku mempunyai masalah, Aku akan pulang dan bersembunyi pada ruangan rahasia itu. Bahkan Aku bisa bersembunyi hingga seharian hanya untuk menenangkan hati saat tahu Istriku sempat mengalami keguguran di kehamilan pertama.
Bukannya tak ingin berobat tetapi rasa yang dibawa oleh masa kecilku terlalu sakit untuk disembuhkan agar seperti semula, entahlah sampai kapan trauma ini akan berakhir.
Yang jelas dihadapan ku sudah ada kertas A3 dengan pensil yang ku genggam, garis yang kutarik dari arah kanan bergerak menuju kiri dan berlanjut hingga tenggelam dalam lautan imajinasi yang membutakan rasa sakit.
Mataku bolak-balik melihat hasil gambar dengan ucapan klienku, merasa ada yang kurang Aku mencoba memperbaiki dan kembali meneliti jika ada yang kurang dan janggal. Namun, saat ini sepetinya cukup sampai disini bahkan langit mulai kembali benderang.
TOK..TOK. TOK..
Aku menoleh dan melihat Istriku dengan pakaian yang sama seperti semalam sedang tersenyum kecil dan membawa nampan berisikan gelas dan mangkuk yang mengepulkan asap.
“Sudah selesai yah?” tanya Istriku saat meletakan nampan pada meja didekat pintu.
“Sudah, dede udah pada bangun belum?” balas ku yang dijawab dengan gelengan kepala.
Kalau sudah sepeti ini Aku tahu jika Istriku akan menggodaku dan benar saja Dia langsung mengambil tempat dipahaku dengan tangan yang dikalungkan.
“Wangi banget istri Aku.” Ucap ku spontan saat Dia menyodorkan lehernya yang putih bersih.
“Ahhhh” Desahnya saat mulutku bergerak menjilati dari atas hingga bawah dengan ritme pelan. Perpaduan keringat dan parfum membuat Aku berdecak beberapa kali karena begitu hangatnya pagi ini.
“Pak Soni datang kemarin mau ngobrol sama kamu” Ucap Istriku ditengah cumbuan yang Aku serang.
“Pak Soni RW baru kita?” tanyaku dan melanjutkan jilatan pada leher Istriku.
“Iya Yah sshhhh katanya masalah tanah sebelah gitu.”
DEG
Aku tertegun saat ada yang membahas tanah sebelah yang mana tanah itu adalah ruangan tersembunyi berada. Memang tanah sebelah hanya tanah kosong yang Aku siapkan jika anakku beranjak dewasa tapi apa yang harus ia katakan saat ada sebuah bangunan yang tertutupi ilalang tinggi berada ditengah tanah kosong.
“Biasa aja kali Yah hehe, firasat Aku si mau di pinjam buat acara agustusan.” Tenang Istriku dan membuat Aku tak kunjung tenang.
“Iya juga, dua bulan lalu udah ngasih sinyal si.” Balasku menutupi rasa gugup.
Istriku menggeleng dan mengambil alih permainan dengan langsung membuka pakaiannya dan pagi ini pun semakin hangat dan kian panas di tiap detiknya.
----
Aku membuka pintu yang berada dibawah karpet ruang kerjaku, ada sebuah tangga dengan lebar satu meter. Kakiku berjalan menelusuri lorong yang disisinya dipenuhi gambar-gambar yang Aku buat sejak kecil. Termasuk foto Ibuku yang Aku koleksi sejak dulu tapi tidak dengan Bapakku yang mungkin Aku sudah muak dan akan langsung membakarnya.
Tak butuh waktu lama Aku sudah berada disebuah ruangan yang berbentuk persegi panjang dengan sisi kiri berupa dinding beton berwarna hijau tosca dan pada sisi kanan ada sebuah jendela berukuran dua kali satu meter.
Jendala itu menampilkan kamarku yang seprtinya belum dirapihkan karena Istriku terlalu bernafsu tadi pagi hingga anakku berteriak kencang untuk mengurusi kebutuhan pagi ini.
Dari sini pula Aku tahu sifat Istriku yang lain, mulai dirinya yang seringkali berbohong saat Ia tanya sedang apa hingga satu fakta yang membuat Aku semakin tertarik dengan ruangan ini.
Mataku menoleh kearah kanan dan mengambil sebuah figura kayu yang berisikan foto Aku dan Elsa saat wisuda. Aku mengelus pelan sebelum telepon ku bergetar dan menampilkan nama Istriku.
“Halo yang.” Ucapku cepat
“Kata Bu Soni suaminya mau kerumah kita. Kamu gak ke kantor kan?” tanya Istriku.
“Aku udah dijalan nih” balasku yang entah mengapa ingin berbohong.
“Kan mobil Aku pakai, kamu naik motor lagi?” tanya Istriku khawatir karena Aku sama sekali belum tidur.
“Naik ojol ini, kamu aja ya yang ngurus masalah sama Pak Soni. Bilang aja halaman di pinggir ga bisa dipakai.” Putusku yang langsung dijawab dengan deheman khas Istriku.
Telepon pun terputus dan menampilkan sebuah wallpaper senyum cantik Istriku saat di Bali tiga bulan lalu.
Wanita yang dapat menerimaku saat belum bekerja, dia juga yang mendamaikan masalah antara Aku dan kedua orang tua.
Wanita yang Aku temui dikantin kampus ternyata sama menaruh hati dan saling paham akan rasa yang meuncul begitu saja. Sedikit Aku ceritakan dia memilih menjadi Ibu rumah tangga meski sudah bekerja diperusahaan ternama sebagai HRD, tapi Ia memlih mengasuh rumah tangga dan aktif disetiap kegiatan komplek.
Kulitnya berwarna putih dengan mata bulat dan hidung kecil yang mancung. Mungkin Aku yang terlalu beruntung mendapatkan Elsa yang notabene berasal dari keluarga harmonis tidak seperti ku yang sudah hancur sedari kecil.
Rasa kantuk segera melanda dan Aku memilih untuk tidur diruangan rahasia ini selain udara yang bersih ditambah rasa aman yang Aku dapatkan saat menyendiri tanpa terggangu oleh siapapun. Empuknya ranjang sepeti racun yang merenggut kesadaranku hingga tak butuh waktu lama Aku sudah masuk kedalam mimpi semu.
Hawa dingin membuat Aku merinding seketika dan terpaksa membuka mata, tanganku melirik jam yang masih melingkar pada pergelangan dan menunjukkan pukul sembilan pagi.
“Sudah dua jam Aku tertidur.” Batinku.
Rasa haus segera datang dan membuatku beranjak dari kasur untuk mengambil minum dari lemari es dipojok ruangan. Sebotal air mineral kini sudah ku genggam sembari duduk tapat didepan kaca yang memperlihatkan kamarku.
Tampak terang namun kali ini sudah tertata rapih yang menandakan jika Istriku sudah pulang dari mengantarkan kedua anak ku yang bersekolah. Aku mengambil napas dalam dan melihat ada email baru yang mengisi kotak notifikasi pada gawai ku.
Desain semalam sudah approve yang berarti hari ini tak ada kegiatan lain selain beristirahat dan ada sebuah buku baru yang akan Aku baca. Pikiran ku terus berjalan sebelum pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Istriku yang sedang memakai handuk dengan rambut basah.
Nafsuku seketika bangkit begitu saja saat bongkahan pantat Istriku membesar karena menunduk untuk mengambil celana dalam pada lemari pakaian. Akupun memilih membuka celana dan mengocok pelan penisku, seketika hawa dingin berubah menjadi panas saat beberapa kali Istriku mengganti pakaian dalam.
Aku menggeleng dan merasa Istriku sangat pemilih bahkan pakaian dalam sekalipun. Kocokan pada penisku berangsur santai dan nikmat, ada ide jahil yang muncul begitu saja dalam benakku.
TRING…TRING
“Halo yang” sapaku dari balik telepon dan membuat Istriku berhenti mencari pakaian dalam.
Kini Aku bisa melihat Istriku dengan tubuh tanpa sehelai benangpun sedang memegang gawai di pipi sebelah kanannya.
“Ada apa yah?” tanya nya.
“Susu kamu kayaknya makin besar deh” ucapku yang membuat tangan Istriku reflek memegang payudara sebelah kanannya.
“Ihhhh, tau ah. Ada apa Ayah tiba-tiba telepon?” tanya nya penasaran dengan payudara yang menggantung.
“Minta tolong dong ambilin gambar di meja Aku. Terus kirim ke kantor hehe” ucapku asal
“kebiasaan deh Ayah udah Aku bilang juga ah” jawab Istriku lucu dan langsung berjalan tanpa memakai pakaian. Aku menggeleng dan tak percaya jika Istriku berjalan santai tanpa menggunakan pakaian, ini adalah hal baru bagiku setelah selama ini melihat dari balik cermin.
Saat berjalan Istriku bersenandung asal dan Aku menahan nafsu sembari tetap mengocok penis, namun belum sampai Istriku masuk ke dalam ruang kerja Aku mendengar suara bel dari pintu depan.
“Sebentar! Teriak Istriku dari balik telepon dan tak lama Aku melihat Istriku kembali masuk kedalam kamar sembari berlari.
“Yah ada Pak Soni kayaknya, ini Aku udahin dulu ya teleponnya. Bye.” Ucap Istriku dan memutuskan panggilan sepihak.
Aku hanya bisa diam dan seketika penisku kembali pada posisi lemah, Istriku terlihat terburu-buru hingga lupa memakai BH dan terlihatlah sudah payudaranya yang hanya terutupi kaos putih tipis dan celana pendek selutut.
Saliva ku naik turun dan tak percaya jika Istriku memilih tak memakai pakaian dalam, Aku hanya bisa menahan nafsu yang bangkit begitu saja. Belum lagi rasa haus yang menjalar dengan cepat dan terpaksa Aku menghabiskan sisa minuman pada botol yang ku genggam.
Kini pilihan ku hanya dua, diam seperti orang bodoh atau bergerak menuju dalam rumah. Tapi apa jadinya jika Istriku tahu jika Aku berbohong, pikiran ku sudah dipenuhi oleh gelembung pertanyaan yang siap meledak kapan pun dan Aku memilih untuk mengintip dari arah belakang rumah.
‘Masa bodoh jika Istriku tahu ruangan rahasia ini’ batinku yang sudah dipenuhi rasa penasaran.
Aku berjalan dengan cepat menyusuri lorong dibawah tanah dan berakhir di pintu berbahan kayu, jantungku berdebar kencang dan kini hanya bisa memikirkan Istriku. Rasanya euforia ini sudah hilang bertahun-tahun setelah kematian diriku akan hal dunia.
Munafik memang tapi begitulah diriku, kehadiran buah hatiku hanya seperti kembang api yang akan hilang sesaat tapi tidak dengan hari ini. Ada rasa jengkel, penasaran bahkan marah secara bersamaan yang datang begitu saja.
Kaki ku melangkah pelan seperti tentara yang mengendap-ngendap dengan mata yang tertuju pada ruang tamu yang hanya tersekat oleh lemari setinggi satu meter yang membentang antara dinding. Kali ini Aku bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oaleh Istriku pada pria tua berambut tipis itu.
“Masuk Pak, kebetulan suami saya baru saja berangkat kerja” ucap Istriku memberi ruang agar Pak Soni dapat masuk kedalam rumah.
Aku hanya bisa mendecih saat melihat mata jelalatan Pak Soni yang tak lepas dari dada Istriku yang tak memakai BH itu, Bagai binatang yang diberi pakan rasanya Pak Soni akan melahap Istriku mentah-mentah.
Detak jantungku berangsur memelan saat tahu jika Pak Soni datang bersama Istrinya, Aku sedikit bersyukur tapi ada rasa sesal yang tak ku mengerti.
Sesudah melihat itu Aku memilih untuk mundur dan kembali pada ruang rahasiaku karena merasa tak ada hal aneh selain obrolan basa-basi yang membosankan.
Hingga waktu sudah menjelang siang dan Istriku keluar untuk menjemput anak ku dari sekolah dan menjadi kesempatan bagiku untuk masuk kedalam rumah tanpa diketahui siapapun. Dari atas ranjang Aku berfikir tak selamanya Aku akan bersembunyi jika sewaktu-waktu mendapat pekerjaan yang diluar jangakauan ku.
‘CCTV’
Kata itu muncul begitu saja sebelum Aku memilih untuk kembali tidur saat merasa sudah tak tahan menahan kantuk yang datang dengan cepat.
BERSAMBUNG.
==========
==========
2 | ADAKAH RUMAH?
“Gila kamu! Anak sendiri kagak diurus!”
“Kamu yang gila, tiap hari main perempuan!”
“Kamu gak inget hah? Aku udah bayar utang keluarga kamu. Anjing juga tau mana tuan mana budak!”
---
Keringat mengucur deras sesaat setelah aku terbangun dari mimpi buruk yang pernah ku alami semasa kecil, ingatan akan orang tua yang terus bertengkar tiap hari membuat diriku tertutup bahkan tak bisa berbicara seperti orang lain pada umumnya.
Hingga seorang wanita cantik yang datang menawarkan sebuah oase ditengah teriknya gurun. Bahkan dengan senyum manisnya ia memberiku dua buah hati yang membuat aku semakin yakin jika gurun yang semula panas mulai berubah dengan pohon yang mengisi di beberapa sisi.
Sudah ada istriku yang duduk menyamping pada sisi ranjang dengan raut muka yang khawatir. Tangannya menempel pada dahi ku yang ternyata sudah dibanjiri keringat.
“Kamu panas” ucap Istriku sebelum pergi keluar kamar.
Tak lama Elsa datang dengan sebuah baskom berisikan air hangat dan diikuti oleh anak ku yang ternyata sudah pulang bahkan hari sudah memasuki petang.
“Ayah sakit ya ?” Ucap anak ku dengan lucu.
“Iya, kamu main aja sama abang” balas Istriku yang membuatku kembali memejamkan mata.
Dengan telaten Istriku mengganti handuk yang sudah lama berada di dahi ku dengan kain baru, Aku merasa berubah menjadi anak kecil yang haus akan kasih sayang jika seperti ini. Tangan itu mengelus pipi ku berkali kali sebelum rasa kantuk yang datang kembali.
---
Aku terbangun saat matahari sudah tenggelam sepenuhnya dan suasana kamar yang sudah sepi, namun Istriku sudah tak ada disisi ku. Kondisi tubuhku mulai membaik dan Aku memutuskan untuk pergi keluar kamar untuk sekedar mengambil air minum saat rasa haus yang datang tiba-tiba.
Anakku sudah nyaman dengan mimpinya masing-masing tapi tidak dengan istriku yang pergi entah kemana, rasa pusing kembali mendera dan membuat Aku duduk pada sofa ruang tamu dengan gelas yang sudah kosong.
Terdengar suara motor dari luar yang menjadi perhatian ku, Aku mendekat pada jendela ruang tamu dan seketika dahiku mengerut melihat Elsa yang turun dari motor yang aku tebak jika itu adalah Pak Soni.
Aku melirik jam yang sudah menunjukkan angka sepuluh malam, aneh rasanya jika ada urusan RW pada jam-jam malam seperti saat ini.
Aku memutuskan untuk masuk kedalam kamar dengan jantung yang kembali berdebar, apakah mungkin Istriku berselingkuh dengan Pak Soni. Atau pikiran liar ku yang muncul ditengah fisik yang sedang menurun, semoga itu hanya sekedar pikiran buruk ku.
Suara pintu terbuka membuat mataku memejam dan menyesuaikan pendengaran agar Istriku tak menyadari jika tidur ini hanya peran belaka agar Aku tahu apa yang dilakukannya.
“Pegel banget shhh ahhh” desah Istriku sesaat saat suara pintu tertutup kembali.
Aku mencoba fokus dan sesaat Aku merasakan tangan istriku sudah menempel pada dahiku, namun ada satu hal yang terasa asing. Bukan hawa maupun rasa tapi ini jauh lebih jelas saat tangan itu kembali terangkat.
‘Rokok?’ sejak kapan atau dari mana bau itu.
Aku tahu betul jangankan rokok sejak dulu Istriku anti dengan rokok tapi ada apa dengan hari ini, pikiran buruk ku kian menjadi saat mendengar suara dering telepon yang diikuti dengan suara pintu terbuka.
‘Se-rahasia itu kah?’ tanya ku dalam hati dengan rasa penasaran yang memuncak.
Aku memilih bangun dan memeriksa jika Istriku sudah keluar kamar – dengan waktu sempit tanganku mengambil tas dari atas meja di depan ranjang. Jangankan rokok, pemantik pun nihil adanya - lantas bau itu berasal dari mana?.
Apakah rasa penasaran ini perlu?. Bisik ku didalam hati karena merasa buntu dan bingung harus berbuat apa. Tanganku bergerak untuk mengambil gawai disamping tas Istriku dan dengan cepat jari-jari ini bergerak cepat mencari cctv pada toko online.
Ada beberapa model yang tersedia dari toko online yang aku cari, hingga ada satu bentuk yang menyerupai sebuah benda. Rasa penasaranku semakin tinggi dan terus mencari hingga dapat sebuah model berukuran mini yang bisa terkoneksi dengan gawai secara langsung.
Senyumku tersungging dan memilih untuk checkout dengan kantor sebagai alamat pengiriman. Aku tak menampik jika ada rasa euphoria berlebih yang muncul dan tak sabar menunggu kamera itu datang.
‘tapi apakah ini perlu?’ batinku.
Entahlah mungkin ini satu-satunya cara agar semua rasa penasaran ini akan terjawab, untuk apa dan akan bagaimana biar aku serahkan pada waktu di masa depan.
KREK
“Ayah?”
“Ehh” jawabku kaget karena kemunculan Elsa yang tiba-tiba.
“Hayoo ada apa?” tanya nya yang datang dan langsung menempelkan telapak tangannya pada dahi ku.
“Udah anget ya” ucapnya dan anehnya bau itu berubah menjadi wangi sabun.
“Ayah besok kerja ya, hehe” ucapku dengan raut dibuat senormal mungkin.
Elsa hanya menggeleng dan duduk didepan meja rias yang berisikan perawatan wajahnya. Tak ada obrolan apapun hingga Aku dan Istriku sudah duduk berdampingan diatas ranjang.
Tangannya mengelus jari-jariku yang sejak tadi ia genggam, aku reflek melihat tangannya yang putih bersih dengan bulu halus yang samar. Cincin berwarna emas dengan berlian kecil yang menjadi penghias diantara lentiknya tangan itu.
“Jadinya pakai lapang Ibu Retno.”
“Maaf ya, bukannya gak mau. Tapi tau sendiri warga sini suka seenaknya kan” alibi ku mencoba untuk lebih santai.
“eh tadi kamu kemana?” tanya ku tiba-tiba.
“ada rapat di rumah Pak RW” Aku hanya berdehem.
Kami kembali diam dan hanya ada suara televisi yang tak aku perhatikan betul karena ada sebuah pertanyaan yang ingin ku sampaikan perihal kepergian Istriku hingga malam, karena tak mungkin jika membicarakan sebuah lapang hingga hampir tengah malam. Entah aku yang terlalu sibuk selama ini atau Istriku yang mengambil kesempatan.
Ranjang bergerak sebentar dan membuat mataku terbuka, ternyata istriku sudah berbaring dengan tubuh membelakangiku. Aku pun mengikuti dengan tangan yang sudah memeluknya dari arah belakang.
‘hangat’
Ada rasa aman juga tenang yang datang bersamaan tapi itu semua tak jauh lebih besar dari rasa penasaran ini yang sudah mengganjal disudut pikiranku. Tak sabar rasanya untuk bertemu besok hari dan memasang kamera di setiap sudut ruang.
---
Sudah satu pekan Aku menunggu momen ini, ya hari ini Istri dan anak-anak ku pergi kunjungan sekolah pada satu tempat wisata. Sebenarnya Aku akan ikut tapi lagi-lagi kebohongan yang Aku tampilkan demi hasrat yang sebenarnya cukup aneh dan terbilang sia-sia.
Tapi inilah diriku yang akan terus tak tenang jika satu hal yang tak terpenuhi dan kini sudah ada lima kamera yang Aku akan pasang di beberapa sudut rumah. Aku sudah membuat list dan jalur kelistrikan yang sudah ku desain jauh sebelum bangunan ini dibuat, karena tidak lain Aku sendiri yang merancang rumah ini.
Dimulai dari ruang tamu yang Aku simpan dipojok dekat pintu karena terdapat beberapa figura foto sehingga kamera ini akan terlihat samar dan menyatu dengan dinding.
Kedua, kamera yang sudah aku ubah warnanya menjadi putih ini ku letakan disudut ruang keluarga dan ditutupi oleh guci berisikan bunga imitasi, sedikit menggeser beberapa barang dan Foila! Kamera kedua sudah terpasang dengan cantik bahkan dalam sesaat Aku sempat lupa dimana letaknya.
Ketiga adalah kamarku hehe, memang ada ruang tersembunyi tapi tak mungkin jika harus berdiam diri setiap hari pada ruang itu.
Adapun kamera keempat dan kelima aku taruh pada sudut yang menampilkan dapur juga ruang makan dan terakhir adalah halaman belakang.
Keringat mulai mengucur saat hari semakin terik, saat ini aku mencoba mengecek melalui gawai dan benar saja ada satu kamera yang belum aktif. Aku kembali membenarkan posisi dan mencoba mengulangi pengecekan kembali, setelah dirasa cukup kini aku kembali menuju kantor saat mendengar ada keluhan klien dari email dan harus berkordinasi ulang dengan pegawaiku.
Jariku tak henti-hentinya mengetuk meja kerja yang sudah dipenuhi sketsa, ada rasa senang juga lega saat kamera sudah berhasil dipasang pada rumahku. Kini aku bisa leluasa mengecek kondisi rumah tanpa harus pulang dan duduk pada ruang rahasia.
“Pak maaf, Pak Anto minta revisi lagi masalah budget.” Ucap Rini dari balik pintu dengan kepala yang muncul tiba-tiba.
“Kebiasaan kamu, ketuk dulu bisa kali” balas ku yang panik karena sedang fokus terhadap komputer yang menampilkan isi rumah dari kamera.
“maaf pak, soalnya di telepon terus” ucap Rini yang Aku tanggapi dengan anggukan dan isyarat untuk keluar.
Jantungku berdetak lebih cepat saat melihat Rini yang tiba-tiba saja masuk tanpa mengetuk pintu, untung saja layar komputer ini membelakangi pintu masuk jika tidak mungkin akan menjadi bahan obrolan kantor satu hari penuh.
Aku pun mengecek email yang masuk dan menampilkan sebuah pesan revisi yang harus selesai hari ini, rasanya pening jika harus memaksakan revisi desain dihari yang sama.
Mataku terpaku pada garis yang kutarik dari kiri menuju kanan dan begitu terus hingga tak terasa langit sudah menghitam dan suasana kantor kian sepi. Hanya ada OB yang masih asik bermain game di sudut ruangan, tak ada kabar dari Istriku perihal jalan-jalan bersama anak-anakku.
Semua masih tampak normal hingga layar komputer ku bergerak yang menandakan jika Istriku sudah pulang dan terlihat raut lelah dari kedua anakku, Aku mencoba memasang earphone pada kedua telinga dan mendengar apa yang dibicarakan antara istri dan anakku itu.
Pada sudut kanan bawah layar komputer ku menunjukkan pukul sembilan malam dan pekerjaan ku belum kunjung usai, rasanya ingin sekali bergelung ria diatas ranjang dengan hangatnya tubuh Istriku saat ini. Tapi apakah daya saat email klienku masuk dan meminta request baru, ada rasa marah tapi itu semua menjadi resiko ku sebagai perencana.
Istriku mulai masuk kamar dan melepas semua pakaiannya, meski hampir memasuki kepala empat tapi aku tak bisa menyangkal jika tubuhnya masih kencang dengan payudara yang membusung. Terlihat istriku memainkan gawai diatas ranjang dengan tubuh yang masih telanjang itu, tak lama pesan masuk kedalam kolom chat ku.
‘Aku baru pulang sama anak-anak’
‘Iya, langsung istrihata ya. Aku kayaknya lembur yang’ balas ku yang hanya dibalas stiker berbentuk jempol.
Mataku kembali beralih pada layar komputer, terlihat Istriku sudah selesai mandi dengan memakai piyama dan duduk manis didepan meja rias. Aku kembali pada gambarku yang sebentar lagi akan rampung, namun fokus ku beralih saat kamera satu pada ruang tamu terlihat berubah.
Ternyata istriku sudah tidak ada didalam kamar rias dan sudah berjalan menuju ruang tamu, jantungku seketika berdetak lebih cepat dari biasanya dan mulai tak sabar apa yang akan terjadi selanjutnya. Tanpa kusadari pensil sudah terlepas dari genggaman dan mata yang menatap lurus pada setiap pixel layar komputer.
Ruangan sudah tertutup sempurna saat dua kali suara besi yang menyentuh kayu dan jendela yang tertutupi kain berwarna cokelat muda. Rasa haus segera mendera dan membuat aku duduk kembali pada meja kerja yang kini berganti menjadi meja pengintaian ku.
Terlihat Istriku yang memakai piyama itu sudah berdiri tepat didepan pintu masuk, tangannya tampak mengikat kencang tali kearah belakang hingga kedua pantatnya semakin tercetak dengan jelas. Ada rasa sesal sesaat karena menaruh kamera yang tak bisa melihat istriku dari arah depan, tapi sudahlah mungkin menjadi tantangan baru untuk memperbanyak kamera.
Istriku hanya diam saat pintu terbuka dan menampilkan seorang pria dengan kantung berwarna putih, siapa itu?
Karena merasa asing dengan pria dengan topi hitam dengan masker putih itu, rasa-rasanya Aku belum pernah melihat saudara Istriku dengan fisik seperti itu. Jantungku kian memacu lebih cepat dan tanpa disadari Aku sudah terlalu fokus dan tak mendengar jika ada suara ketukan pada ruanganku.
TOK..TOK..TOK…
‘Siapa lagi’
Aku melepaskan earphone dan berjalan kerah pintu, rasanya ingin memukul pria dengan senyum lebar itu.
“Asep?” ucap ku dengan menahan emosi
“Maaf Pak, bapak lembur?” tanya OB ku.
“Iya, ada apa?”
“Maaf pak, istri saya ternyata sakit. Kalo boleh saya ijin pulang kampung dulu.” Lanjutnya yang membuat Aku mengerti dan langsung menyetujui kepulangannya.
Tak lama aku kembali duduk diatas kursi dengan segelas air putih yang sudah terisi kembali, namun ruang tamu tamu tampak sudah kosong.
‘Sial’
Aku mengecek kamera dua hingga lima namun nihil, tak ada satupun ruang yang menampilkan sosok Istriku.
Kosong lebih tepatnya.
Aku memundurkan kursi hingga menyentuh dinding belakang, menaikkan pandangan hingga menatap plafond ruangan yang berwarna putih bersih. Lemas rasanya jika membayangkan Istriiku keluar dengan pakaian seperti itu.
“Masuk aja mas”
“suami mu lembur ya”
“iya, masuk mas”
Mata ku terbuka kembali dan terfokus pada Istriku yang sudah tersenyum nakal dengan piyama putihnya, Aku seperti lupa caranya bernapas saat pria asing itu mulai membuka topi dan masker putih sialannya.
“Pak Soni?”
BERSAMBUNG.
==========
==========
3 | MUNGKINKAH
Ada apa pria tua bajingan itu bertamu saat waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam atau urgensi apa yang membuat ketua RW itu datang jika hanya sekedar mengecek warganya. Wajahku memerah menahan emosi saat Istriku mempersilahkan masuk disaat Aku sedang tidak ada dirumah. Tapi ada rasa penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya dan ini tak bisa aku pungkiri.
Tanganku bergetar menahan rasa marah juga cemburu yang bersamaan, sensasi baru yang muncul begitu saja melihat Istriku dengan rambut basah menyambut pria tua yang sehari-hari berkutat disekitar komplek dengan senyum mesum nya itu.
Dan benar saja diantara telunjuk dan jari tengahnya terselip sebatang rokok yang aku taksir berjenis kretek dengan asap yang masih mengepul, perkiraanku benar jika saat itu istriku terkena asap rokok. Namun, apakah selama ini Istriku hanya bersandiwara mengenai asap rokok itu. Buktinya ia dengan santai mempersilahkan bahkan memberi asbak diatas meja.
Istriku terlihat berjalan kearah dapur dengan piyama yang lagi-lagi tak bisa membuat ku fokus, pertemuan antara dua kain yang diikat memaksa payudaranya memberikan sebuah jepitan hingga terciptanya garis cantik yang siap untuk dilihat siapapun. Termasuk Pak Soni yang tak melepaskan pandangan terlebih pantat Istriku yang bergoyang mengikuti gerak langkahnya.
“Bangsat!, kenapa Aku jadi suka gini” ucapku dengan nada lepas.
Suasana kantor sudah sepi dan hanya ada suara jam dinding saat aku melepaskan earphone meski mata ini masih terpaku pada layar komputer.
Aku menatap sebuah figura disebelah kanan, satu tahun lalu dimana kami datang pada sebuah studio kecil dipusat kota. Apakah ini salah atau benar? Tanyaku pada foto yang memperlihatkan senyum manis anakku.
Jari-jariku saling menggaruk dengan angin yang tak memiliki pola sedang otakku yang terus bergerak membuat sebuah ruangan yang hanya berisikan Aku dan Elsa dengan senyum khasnya. Dia dengan gaun selutut sedang melihat ke arahku sembari membawa bungkusan berwarna putih.
Putih?
Aku terbangun dari tidur yang datang sekejap, dengan cepat pandanganku kembali terarah pada layar komputer yang masih menyala.
“enak martabaknya Pak” ucap Elsa yang memakan martabak dengan piyama sialannya.
Kini posisi Pak Soni sudah duduk manis dengan kaki yang terangkat satu diatas pahanya sedangakan Istriku berada disisi kanan Pak Soni dan masih khusyuk menjilati tangan sisa saus dari martabak. Melihat itu penisku bangun tiba-tiba dan suasana ruangan menjadi panas.
“Enak ya saos nya?” tanya Pak Soni dengan diakhiri tawa pelan.
“Iya nih Pak, sampe Aku jilatin”
“Ouh, jadi pengen coba juga saus nya” ucap Pak Soni kembali.
Istriku tertawa dan mendorong piring berisikan martabak agar semakin dekat dengan Pak Seno.
“Tapi dari jari cantik kamu” ucap Pak Seno dengan senyum nakalnya.
‘Sialan’ batinku yang tak mengerti jika Pria tua itu memiliki selera humor recehan yang tak mungkin membuat Istriku tertarik, hingga.
“Bapak bisa aja, nih” balas Istriku mengangkat jari telunjuknya hingga tepat didepan muka Pak Soni.
Aku hanya bisa mengerutkan dahi dengan penis yang sudah menegang sempurna, rasanya seperti menonton sebuah film romansa yang sialnya pemeran wanitanya adalah Istriku. Mungkin ini yang dirasakan suami seorang artis wanita saat istrinya beradegan mesra dengan lawan main – entahlah yang ini memang agak berbeda.
Tanpa membuang kesempatan Pak Soni memajukan mulutnya hingga menyentuh ujung jari telunjuk Istriku, tersenyum sebentar sebelum membuka bibirnya yang tebal.
‘hap’
Tak ada suara yang terdengar hanya gerakan pelan seperti menjilati permen yang Aku saksikan dari cctv. Jilatan itu sangat pelan hingga perlahan Istriku bergerak gelisah, terlihat dari kakinya yang semula rapat kini mulai terbuka. Jilatan itu kian panas saat tangan yang penuh dengan keriput itu diletakan pada lutut Istriku yang tak tertutup kain.
Masih belum ada suara apapun, mungkin kamera yang ku pasang tak mampu mengambil suara desahan sekecil itu, entahlah imajinasi ku sudah bermain termasuk suara yang tak terdengar pada telingaku.
Mata Pak Seno tak kunjung lepas memperhatikan istriku meski mulutnya sudah terlepas dari jari Istriku. Namun, posisi kali ini terbalik saat Istriku memegang tangan Pak Soni.
“Aku mau coba saos juga pak.” Ucap Istriku yang langsung mengangkat tangan Pak Soni dan menarik jari telunjuknya.
Dengan bibir yang digigit Istriku diam dan seperti meminta izin pada Pak Soni untuk memperbolehkannya mengemut jari Pak Soni.
“Emut aja shhhh” Ucap Pak Soni dengan suara yang sudah bergetar, sedang Aku masih berusaha menormalkan urat yang menegang diantar dahiku.
Tanpa lama Istriku melahap jari keriput Pak Soni yang aku tebak berbau rokok yang tebal, tapi aku tak menyangka jika Istriku terlihat menikmati bahkan terlalu menghayati dengan tak melepaskan sedetikpun.
“Mmhhhh enak Mba Elsaaaa” desis Pak Soni yang gelagapan saat lumatan Istriku berubah menjadi sedotan dan aku yakin jika terus begini akan ke arah yang lebih dalam.
“Ahhhhhh” Istriku melepaskan jari Pak Soni dan tersenyum nakal hingga giginya terlihat semua.
Namun, jari itu tak segera kembali – istriku terlihat mengangkat jari itu dan mengarhakan agar terus bergerak ke arah bawah dan berakhir pada sela-sela jepitan payudaranya.
“Mbaaaa” ucap Pak Soni dengan nada tak percaya.
“Hehe, jarang-jarang loh Pak biasanya bapak liatin aku aja waktu rapat.”
“Uhhhh” desah Pak Soni saat jarinya masuk dengan mulus pada jepitan payudara molek Istriku yang tiap hari aku remas itu.
“Enak gak pak?”
Pak Soni menganggukan kepalanya berkali-kali seperti menahan nafsunya dan ditambah tangan kirinya yang berusaha membenarkan celana katun nya yang Aku duga sudah menggelembung menahan untuk segera dilepas.
Jeri itu bergerak naik-turun dengan tempo pelan dengan pelumas dari air liur istriku. Kaki dari istriku pun bergerak hingga piyama yang sejak tadi menutupinya mulai melonggar dengan tali yang tak lagi kencang mengikat. Pak soni mendekatakan posisi duduknya tanpa menarik telunjuknya dari belahan payudara Istriku.
“Anak-anak sudah tidur?” tanya nya dengan jarak yang semakin dekat.
“Sudah pak”
Katua RW itu berdiri dan berpindah menuju samping istriku. Yang membuat aku terheran-heran adalah respon Istrikku yang tak berpindah dan cenderung diam.
“Memang suami mu lagi sibuk-sibuknya?” lanjut Pak Soni setelah berada disisi Istriku yang hanya diam
“Sibuk banget pak” balas Istriku yang mebuat bibir ini rasanya ingin tertawa lebar.
“Tapi masa secantik ini di anggurin aja, kalo ada yang gigit gimana?” goda Pak Soni yang mulai bergerak mengelus rambut istriku yang jatuh di depan dada.
“gigit aja kalo gak takut ketahuan” tantang Istriku yang membusungkan dadanya hingga tak sengaja menyentuh punggung tangan Pak Soni.
Pak Soni kembali tertawa dan memundurkan tubuhnya hingga istriku ikut terabawa karena rambutnya tertarik, rasanya hilang sudah wibawa seorang istri arsitek yang terkenal diseluruh komplek. Saat ini aku melihat seorang jalang dengan semua tipu muslihat selama ini - ada rasa lega saat firasatku ternyata benar adanya.
“Ajarin bapak dong” pinta Pak Soni yang tersenyum.
Istrikku menarik tangan Pak Soni dari rambutnya dan meletakkan diatas paha mulusnya.
“Bapak nih merendah, Ibu aja cerita ke Elsa kalo tiap malam kelojotan digigit sama Bapak” Canda Istriku yang menikmati obrolan mesum ini.
Pak Soni tak menjawab, pria itu mengambil kedua lengan Istriku yang masih dihiasi cincin perkawinan ku, melihatnya lama dan terlihat seperti seorang peramal yang sedang membaca tangan namun kali ini seperti orang bajingan yang tanpa malu bercinta dirumah wanita yang masih berkeluarga.
“bagus banget ya, tadi Aku emut juga manis banget”
“mmhhh shhhh” desah istriku saat Pak Soni kembali memasukkan jarinya kedalam mulut, berbeda dengan sebelumnya kali ini pria itu mencoba memasukkan kelima jari istriku.
“enak hmm?”
“iyaa Pakk shhh”
Aku memilih melepaskan earphone karena sudah tak tahan mendengar desahan demi desahan yang terus berlanjut, sedang penisku sudah menegang dan meminta untuk dilepaskan. Kini posisi ku sudah bersandar sepenuhnya dengan tangan menggenggam penis yang sudah menegang, persetan dengan etika kini Aku hanya merasa puas dan marah yang membentuk sensasi luar biasa.
Rasanya belum siap untuk mendengarkan desahan Elsa bersama pria lain, saat ini hanya gerakan itu yang aku lihat terutama gerakan tangan Pak Soni yang semakin nakal karena sudah memeluk istriku dan menatapnya dalam.
Tanpa gerakan bibir Pak Soni memajukan wajahnya hingga tersisa beberapa centi saja dari istriku, tangan hitam Pak Soni sudah mengusap pelan punggung Elsa. Dalam satu tarikan tali pada piyama istriku terlepas dan kini terlihat lah sudah tubuh istriku yang tak tertutupi apapun.
Aku memasang kembali earphone dan sudah dipenuhi oleh nafsu yang akan meledak kapanpun.
“Cantik banget” rayu Pak Seno yang membuat istriku kelimpungan dengan tubuh yang semakin dekat. Aku tak dapat membayangkan mulut Pak Seno yang bau asap rokok kini baradu napas dengan wajah cantik Istriku.
“mmmmhh” Pak Soni mengambil ciuman pertama yang disambut oleh Istriku, lidah pria tua itu merangsak masuk hingga beberapa kali istriku menepuk bahu nya.
Erangan keduanya lagi-lagi memenuhi pendengaran ku yang sudah tak tahan untuk segera dipuaskan. Tangan ini bergerak mengurut perlahan seiring ciuman istri ku yang semakin cepat dan saat ini aku seperti seorang suami gila yang menikmati sensasi fana.
Pak Soni mulai meremas payudara Istriku yang sudah mengacung dan meminta untuk segera diremas, terlihat kontras saat kulit putih Elsa menempel dengan hitamnya tangan pria tua itu.
“gemes banget liat susu kamu, sayang ya suaminya malah dianggurin” remas Pak Soni semakin membuat Istriku kelojotan dengan mulut yang tak berhenti mendesah.
Mendengar hinaan itu tak membuat ku marah sebaliknya rasa itu bertumbuh dan kocokan pada penisku kian kencang saat kata kotor itu keluar dari mulut Pak Soni.
“shhh terus pak mmhhh”
“shhhh di emut ya sayang”
“emut aja pask shhhhh”
Plup…. Pak Seno melahap payudara putih Istriku dengan kepal yang mendongak.
“Hehehe” tawa Pak Seno tanpa melepaskan mulutnya membuat Istriku tertawa dan membaringkan tubuhnya. Saat ini istriku sudah terlentang dengan Pak Seno yang menjilati kedua payudaranya bergantian.
“lepas dulu pak baju nya”
“mhhhh jilat pak terus sshhhh”
Suara desahan memenuhi ruangan yang semula hanya sekedar ruang tamu, tak pernah terbayangkan ruangan itu menjadi saksi panasnya Istriku yang dijamah oleh Pak Soni.
“stop pak sshhhh udah mau ahhhh”
Ucap Istriku menahan kepala Pak Soni yang sudah berada di depan vagina nya - tapi pria itu tak mendengarkan dan dengan tenaga yang berbanding jauh lidahnya sudah masuk kedalam vagina Istriku yang mulus tanpa bulu itu.
“AHHHHHH” teriak istriku yang membuat ku khawatir jika anakku akan keluar setelah mendengar jeritan itu.
“uhhh wangi banget memeknya mhhh” ucap Pak Soni saat mengambil napas sebelum kembali menjilati vagina Istriku tanpa ampun.
Aku semakin kencang mengocok penisku saat desahan istriku semakin kencang memenuhi pendengaran ku.
‘hebat sekali pria itu’ puji ku tanpa sadar saat Istriku mengejang dengan kedua tangan yang mengepal.
Pipi ku terasa panas dengan telinga yang berdenging saat adrenalin yang begitu besar mengalir begitu saja - terpaksa Aku melepaskan kedua earphone dan mempercepat gerakan tanganku. Hingga tak sampai tiga menit sperma ku menyembur dan mengenai layar komputer.
“ANJINGGG ENAKK” Teriak ku saat merasa beban yang sejak tadi ku tahan lepas begitu saja.
Hanya ada satu pikiran yang terlintas untuk segera pulang, persetan dengan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku merapihkan meja dan memilih untuk pulang tanpa diketahui Istriku yang mungkin sudah terlalu jauh dalam permainannya bersama Pak Soni.
Tapi, ini adalah pekerjaan pertama yang kemungkinan akan menjadi besar jika diselasaikan tapat waktu. Pikiranku bercabang dan bingung harus bertindak seperti apa, kini Istriku sedang mengejang hebat dengan kepala Pak Soni yang masih berada diselangkannya.
Namun, keduanya tiba-tiba bergerak dan langsung memakai kembali pakaian yang sedari tadi sudah berserakan dilantai dan meja ruang tamu. Aku mengerutkan dahi dan berusaha fokus dan menaikkan kembali resleting celanaku.
Pintu Anak kedua ku terbuka dan benar saja jika ia terbangun saat istriku berteriak kencang. Kali ini dewi keberuntungan berpihak padaku saat tak siap jika melihat Istriku akan dimasuki kontol kakek tua yang sudah menegang sejak tadi.
“salim dulu sama kakek nak”
Ada rasa sakit yang tiba-tiba menyentil hatiku saat melihat anak dengan muka polos sehabis tidur itu datang dengan langkah kecilnya langsung mengambil tangan Pak Soni yang tadi menjamah istriku. Rasanya tak tega melihat kejadian itu dan dengan cepat Aku menutup aplikasi cctv ku dan berusaha fokus pada pekerjaan ku.
Melewati malam ditengah kesendirianku dan mencoba melepaskan diri dari jerat masa lalu yang kelam. Entahlah saat ini garis-garis gambar lebih menarik dari pada rasa penasaran tentang apa yang diperbuat Istriku dengan pria lain.
Suara jam juga air dari aquarium menemaniku mengisi waktu yang hilang diantara jutaan orang yang beristirahat. Rasanya tidur hanya menjadi ramuan pelupa sementara yang menjadi obat sementara tapi tidak dengan ingatan sakit tentang masa lalu yang kini akan datang kembali.
BERSAMBUNG
==========
==========
04 | TIPU MUSLIHAT
Asap mengepul dari mangkuk yang berisikan sayur bening dan ikan goreng dengan sambal pada sisinya - aroma sehabis hujan yang bercampur membuat pagi ini semakin hangat dengan senyum manis dari kedua anakku.
Tapi tidak dengan senyuman Istriku yang kini berubah menjadi aneh terlebih saat senyuman itu membuat kerutan samar disisi kedua matanya yang membuatku ingin muntah dan berteriak jalang. Tapi semua itu lenyap saat aku menikmatinya bahkan dengan kesadaran penuh untuk meminta lebih.
“Ayah nanti jadi ketemu nenek?” tanya anakku dengan mulut yang masih asyik mengunyah.
“jadi dong, makanya abisin sayur nya ya.” Balasku sembari melirik Istriku yang tersenyum kecil. Aku menggeleng pelan dan memilih berpindah tempat untuk menyegarkan pikiran.
Kali ini biji kopi dari Sumatra yang menjadi pilihanku untuk mengisi pagi yang dingin. Timbangan mini ini bergerak menuju angka 15 gram dan kembali menuju 0 saat aku mengambil hand grinder.
Menggerakkannya searah jarum jam dan timbul lah aroma kopi yang menyegarkan indera penciumanku, putaran ini bergerak konstan dengan pikiran melayang saat Ibuku membuatkan susu dimasa lalu.
Masa dimana Aku tumbuh dengan sejuta rasa sakit juga tak berdaya saat ringannya tangan Ayahku yang menampar Ibuku di tiap pagi. Bukan dinginnya cuaca tapi dinginnya suasana saat itu yang membuat ku mencoba berlari bahkan melompat untuk mencari tempat yang seringkali orang bilang ‘aman’.
Perutku menjadi hangat saat ada dua lengan memelukku dari arah belakang, napasnya menggelitik hingga membuat aku menoleh pelan dan tersenyum.
“katanya gak mau ngopi dulu” ucap istriku pelan dengan rambut yang terurai hingga menyentuh dada ku.
“lagi pengen tiba-tiba, kamu yakin ga ikut ke rumah ibu kamu?” tanya ku sekali lagi saat istriku akan pergi dengan teman-temannya dengan alasan pesta sebelum pernikahan.
Pelukan Istriku semakin kencang dan membuat aku mendecih di dalam hati, rasanya aku aku akan memberikan nilai nol besar saat akting istriku semakin payah.
“kan cuma sekali, lagian dua hari aja” rayunya yang kesekian kalinya.
Putaran pada grinder ku berhenti saat biji yang berubah menjadi butiran halus. Mengambil dripper dan meletakannya diatas kertas filter.
“Boleh ya?” tanya nya sekali lagi.
“iya, jaga diri kamu.” Balas ku mencoba dengan suara biasa.
“makasih” ucapnya yang sembari mengecup pipiku dan kembali karah belakang, aku memutarkan tubuh dan melihat istriku yang berjalan sembari sesekali meloncat kecil. Begitulah istriku, meski sudah memliki dua orang anak tak menghilangkan sifat riangnya yang seperti itu.
TIN TIN TIN
Suara klakson mobil dari arah luar membuat fokusku terbagi, meletakkan cangkir dan berjalan kerah depan untuk melihat sapaan dari klakson itu.
“Halo Feri!” sapa Maya dari balik mobil sembari tersenyum lebar. Wanita itu adalah sahabat dekat istriku sejak masa sekolah dan akan menikah satu bulan lagi.
Aku berjalan mendekat dan berakhir pada jendela mobilnya sembari memangku kepala dengan kedua tangan yang melipat, mataku bergerak pelan dari arah bawah hingga rambutnya yang kini berwarna merah muda itu.
“Kanapa lo liat-liat gue kayak gitu?” tanya nya yang membuat aku tertawa pelan. Jariku bergerak menunjuk pada roknya yang membuat matanya ikut bergerak.
“ini konsep baju lo gimana si Maya.” Tawaku semakin keras saat tatapan aneh Maya semakin menjadi. Wajar saja saat ini aku seperti melihat peraga busana yang akan pawai pada hari agustusan dengan rambut berwarna merah muda.
“keren kan Fer?” tanya Maya yang membuat aku semakin terpingkal-pingkal.
“iya keren-keren, awas aja istri gue lo jadiin barongsai.” Balasku yang susah menormalkan raut muka.
“ish, awas aja ya.” Ucapnya yang menutup kaca mobil secara otomatis.
Istriku berjalan dari arah belakang dengan blouse berwana hitam dengan punggung terbuka, rasa heran seketika mendera karena baru kali ini istriku berpenampilan terbuka seperti saat ini.
“kamu godain Maya yah!” tanya istriku dengan raut yang ingin tertawa. Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
“dikit doang, lagian aneh pakaiannya kayak badut banget.” Ucapku semakin membuat istriku tertawa.
“yaudah aku pamit dulu ya.” Ucap Istriku, Elsa.
“Siap Nyonya, jangan lupa berkabar ya.”
----
Bayangan daun pada halaman belakang menahan sinar matahari pada tubuhku yang sedang berbaring dengan earphone dikedua telinga. Kedua anakku sedang berenang ditemani mertuaku sekaligus kakek neneknya.
Alunan lagu masuk dengan pelan tak lupa ditemani semilir angin, tiba-tiba semua itu terdistraksi saat suara notifikasi pada gawaiku masuk dan terpaksa aku membukanya.
‘update?’ batinku pelan saat melihat aplikasi cctv ku update secara otomatis.
Karena rasa penasaran jariku bergerak untuk membuka aplikasi bergambar cctv itu, memilih layar yang terbagi tiga kamera dalam satu layar.
Tubuhku menegang saat melihat pintu ruang tamu yang terbuka meski tidak sepenuhnya, jariku menggulirkan hingga terlihat kamera yang berada di ruang makan.
‘Elsa?’
Terlihat dengan jelas jika Istriku yang memakai gaun hitam itu sedang mengaduk isi gelas yang aku tak tahu berisikan apa, tubuhnya bergerak pelan sembari mencicipi.
Rasanya tenggorokanku kering seketika saat melihat pesan istriku lima menit lalu yang mengatakan sudah berada di villa bersama Maya, lantas apa maksudnya jika saat ini sudah berada dirumah.
Bahkan aku tak melihat Maya didalam rumah dan hanya ada istriku yang masih berdiri didepan pantry dan kini sudah berjalan menuju ruang makan.
Istriku tampak duduk dengan kedua tangan yang memegang gawainya, akupun berinisiatif untuk menelpon.
‘nomor yang anda tuju sedang sibuk’
Terlihat senyum manis Elsa mengembang dan sesekali melirik jam dinding yang membuat suasana hatiku kian memburam, akupun memilih memanggil Maya yang seharusnya bersama Istriku.
“Hallo fer.”
“eh may sudah sampai?” tanyaku dengan nada senormal mungkin.
Namun hanya ada suara berisik sesaat dan diam yang cukup lama.
“udah nih fer, ada apa?” hati ku mencelos saat tahu jika Maya masuk kedalam skenario yang dibuat oleh istriku.
“ga ada apa-apa si, mastiin aja. Elsa gimana soalnya ga bisa aku hubungi nih.”
“lagi dikamar mandi. Nanti aku kabarin ya…. Fer aku tutup ya dahhhh”
‘GILA’
Istriku sudah gila dengan semua tipuannya , bahkan Maya ikut melindungi karena kini aku bisa melihat dengan jelas jika maya masih menempelkan gawai pada pipinya sembari berjalan menuju arah ruang tamu.
Aku memilih berpindah pada posisiku saat ini dan berjalan menuju kamar istriku yang menjadi kamarku juga jika menginap dirumah mertuaku.
Mengambil bantal untuk diletakan pada belakang tubuhku dan menarik selimut mencoba menyamankan posisi.
Mataku masih terfokus pada layar gawai yang menampilkan cctv dalam rumah yang saat ini sedang kosong dengan pintu ruang tamu yang terbuka hingga dua menit kemudian pintu itu bergerak dan menampilkan istriku yang berjalan dengan tangan masih menggenggam gawai. Tapi ada satu hal yang berbeda karena istriku sedang diikuti oleh seorang pria dengan topi newsboy dengan kacamata hitam.
Rasa-rasanya bentuk tubuh itu tak asing karena tinggi dan fisik yang agak berisi, Pak Soni?
Dan benar saja pria itu membuka topi dan kacamatanya sebelum duduk di meja makan yang tadi pagi menjadi tempat kami bercengkrama.
“minum apa mas?” tanya istriku yang sudah kembali ke dapur.
“apa aja, susu kamu juga boleh hehe” canda Pak Soni membuat muka ku semakin merah menahan marah juga nafsu yang bersamaan.
Kulihat istriku sedang menyiapkan minuman saat tubuhnya menghadap pantry dan terlihat sedang mengaduk sesuatu. Aku tak menduga jika Pak Soni akan mengikutinya dan dengan cepat memeluk istriku yang masih mengaduk gelas.
“ahhhh jangan di remes pak shhhh” jerit istriku yang masih bisa dengan jelas aku dengar.
Selanjutnya aku tak bisa mendengar apapun karena kepala pak soni yang maju seperti mencium pipi kanan Elsa dan dengan tanpa sopan tangan keriputnya itu meremasi kedua payudara istriku. Penisku mulai bergerak naik dan membuat kamar ini menjadi panas seketika, aku pun mencari remote ac dan memilih meninggalkan gawai ku.
Tak lama aku sudah menyalakan ac dan mengatur posisi kembali sesudah memastikan jika pintu sudah terkunci rapat. Kini istriku sudah membelit lidah dengan posisi diatas pantry, tubuh putihnya menunduk karena menyesuaikan tubuh pak soni yang tak terlalu tinggi.
Keduanya saling membelit dengan tangan yang tak bisa diam, istriku seperti meremas rambut Pak Soni yang sudah jarang-jarang itu sedangkan Pak Tua itu masih asyik dengan meremasi kedua payudara istriku yang ‘mengkel’ itu.
“ahhhh enak banget shhhh” jerit Elsa saat tangan Pak Soni yang merangsek masuk sehingga blouse nya terangkat hingga memperlihatkan kedua paha putihnya.
“diem, nanti tetangga tau kamu yang kentang lagi HAHAHA”
Aku mengerutkan dahi karena setahuku baru sekali ia berselingkuh, namun tidak menutup kemungkinan jika sebelumnya sudah melakukan hal tercela dengan pria lain.
Entahlah, kini fokusku hanya pada istriku yang sedang digendong oleh pak soni ke arah ruang makan dan meniggalkan minuman yang tadi sedang dibuat. Keduanya seperti tertawa tanpa tahu jika saat ini aku sedang mengawasi dengan rasa tak percaya.
Meski sudah berumur Pak soni seperti tidak memiliki beban saat menggendong istriku sembari berjalan ke arah kamar tidurku. Dada ini rasanya ingin meledak saat istriku sudah berada diatas ranjang dengan pria lain yang terpaut usia sangat jauh.
Blouse hitamnya sudah terbuka dan hanya menyisakan celana dalam hitam, sedangkan pak soni kini sudah melepaskan semua pakaiannya termasuk celana dalam sialan yang dilempar pada lemari ku.
Istriku sudah duduk disisi ranjang dengan kaki menggantung sembari menopang tubuhnya dengan kedua tangan kearah belakang, kakinya menjulur ke depan saat tangan pak soni mengangkatnya. Pria mesum itu mulai menjilati jari kaki istriku yang mulus tanpa bulu, rasanya saat ini aku menjadi bodoh karena sudah membuang waktu didalam pekerjaan untuk sekedar membeli semua perawatan tubuh istriku jika saat ini sedang dijilati oleh mulut berbau rokok itu.
Lidah yang sehari hari mengumumkan informasi tentang komplek ku kini sudah berada diantara sela jari-jari kaki istriku, bergerak pelan dan tak melewati satu centi pun. Dimulai dari jali kelingking dan lanjut menuju jari manis – tengah bahkan kelima jari yang dimasukkan secara bersamaan.
Sedangkan istriku hanya bisa pasrah dan meremasi ranjang dan tak henti-hentinya mendesah. Kedua telingaku dipenuhi suara desahan dan pertemuan antara kulit dan lidah yang membuat nafsuku naik seketika.
Pak soni seperti sudah ahli dalam menjilati kaki istriku yang sebelumnya tak pernah aku lakukan, bahkan sesekali menggigiti dan kembali menjilati dengan tempo pelan. Cukup lama pria dengan rambut jarang-jarang itu asyik dengan mainan barunya sebelum mulai naik keatas.
Mengecup mesra kedua tulang kering tanpa menoleh ke arah atas meski kini tangan istriku ikut memegang kepala Pak soni, mungkin istriku sudah terlalu basah jika harus menunggu permainan Pak soni itu.
Dari kecupan itu pak soni mulai naik lagi menuju kedua lutut dan berakhir pada paha istriku yang lagi-lagi tak ada satu bulu pun. Senyuman mesum Pak soni membuat aku tak habis pikir dengan permainan pak tua itu.
“udah pakkk shhhhh” desah istriku setelah sekian lama diam menikmati permainan Pak soni.
“belum juga mulai, masa langsung main colok si” ucap Pak soni dengan kurang ajar sembari menyentil vagina istriku,
“aww, kok gitu si.” Omel istriku yang merapatkan kedua kakinya.
“Mau gini emangnya hmm?” lanjut Pak soni yang mengusap vagina Istriku.
“Ihhh malah di usapp shhhh”
Rasanya aku akan memukul keduanya dengan segala tingkah seperti anak kecil yang tak ingat usia.
“ish, buka lah” ucap pak soni dengan nada cabulnya dan memaksa membuka kedua kaki istriku. Bagai terhipnotis istriku membuka kedua kakinya bahkan ikut membantu saat Pak soni berusaha membuka celana dalamnya.
Dan habislah sudah kini istriku sudah tak tertutupi apapun bahkan vaginanya sudah menjAdi tontonan Pak soni yang hanya diam dan tak berkata sepatah kata pun.
“istriku loh mba waktu muda gak semulus memek kamu” ucap pak soni cepat dan bergerak maju untuk menjilat vagina istriku.
“ahhhhhh” teriak istriku saat muka pak soni sudah terbenam tepat didepan vagina nya yang tak berbulu itu, memang aku yang meminta agar istriku rajin waxing.
“sssllrruuuppp ahhhhhh enak banget memek kamu mbaaa” puji pak soni yang baru saja lima detik menciumi vagina istriku,
“jilat lagi pak, suami aku ga ada apa-apanya haha” sial apa maksudnya, batinku.
Banar saja ketua RW itu kembali membenamkan kepalanya.
“sllrupppp” jilatannya sangat kencang hingga aku bisa mendengar langsung suaranya. Istriku tampak sudah mulai kehabisan tenaga saat jilatan itu kian kencang belum lagi jari-jari keriput yang ikut masuk kedalam lubang vaginanya.
Ada rasa jahil yang terlintas dipikiranku saat ini. Dengan cepat aku memanggil istriku melalui telepon.
TRINGGG TRINGGG
Aku menahan tawa saat ekspresi istriku yang sudah nafsu tinggi terganggu dengan suara panggilanku, aku mendecih pelan saat melihat istriku menepuk kepala pak soni untuk menyingkir.
“haloo ayah” aku menahan tawa saat suara istriku seperti menahan kesal. Kini istriku sudah berdiri didekat jendela kamar dengan tanpa busana.
“udah sampai?, kata Maya kamu tadi di kamar mandi” ucapku mengetes kejujuran istriku
“ehhh, udah nih awwh” gila, pak soni terlihat tak sabar dan sudah mendekati istriku sembari meremas kedua payudaranya.
“ada apa ?” tanya ku mencoba polos.
“engghhh ga ada apa-apa yahhh” aku tertawa kecil.
“kamu sakit?” tanyaku, bertepatan dengan itu pak soni mulai jahil dengan memasukkan jarinya kedalam vagina istriku.
“eunghhh sakit yahh”
Jantungku ikut berdebar terbawa adrenalin yang kian memuncak, aku pun mengeluarkan penisku agar bisa lebih bebas untuk aku kocok.
“oke deh, nanti aku kirimin obat ya…”
TUTTTT
Aku tak bisa menahan untuk segera beronani saat mendengar desahan istriku yang kian keras karena jari-jari kasar pak soni kian cepat mengocok vaginanya.
Akupun kembali menyamankan duduk untuk menikmati sajian langsung dari istriku yang gilanya kini aku mulai menikmati.
Persetan dengan ini semua.
BERSAMBUNG.
==========
==========
05 | ADA APA?
Kepalaku berdenyut saat semakin cepatnya kocokan jari-jari penuh keriput itu menjahili vagina Istriku, dengan tubuh yang menungging istriku masih menggenggam gawai dengan satu tangan yang memegang kusen jendela.
Telapak kaki nya berjingjit dengan kaki yang terbuka lebar, tangan kiri Pak Soni ikut bergriliya dengan meremas payudara istriku yang terbuka. Cahaya matahari menerpa tubuh istriku yang kini sudah telangjang dengan tatapan sayu nya dia merintih pelan dan berangsur keras saat tak henti-hentinya jari Pak Soni bergerak keluar - masuk.
“ahhhhh terus pakk shhhh”
“HAHAHA Kalo gini aja suka. Dulu sok jual mahall kau lonte” ucap Pak Soni sembari mengigit bibirnya menahan rasa gemas.
Aku mulai mengeluarkan penis dari celana saat racauan istriku kian kencang, tangan ku merasakan panas nya penis sekaligus semakin kencangnya jantungku berdebar. Keringat mulai membulat dari sudut keningku saat istriku seperti akan menjerit dengan paha yang mulai bergetar.
“mmmmm pakk mmmm” suara istriku tertahan saat tangan pak soni membekap mulutnya.
“rasain nih lonte.” Ucap pak soni kasar yang anehnya membuat aku semakin bernafsu.
“pakk mmmhhhh” tangan istriku yang semula memegang kusen kini sudah menepuk tangan Pak soni yang membuatnya seperti kehabisan napas.
Dan benar saja tak lama kemudian tubuh istriku bergetar hebat sebelum jatuh seperti kehabisan tenaga dengan cepat - sedangkan Pak soni hanya tertawa dengan tangan yang dipenuhi lendir.
Tanpa menunggu waktu lama pria tua itu mengangkat istriku kembali ke atas kasur dan memposisikan diri diatasnya. Keduanya berdiam diri dengan kedua tangan pak soni yang berada disisi lengan istriku, kaki mulusnya terbuka karena dihalangi kaki pak soni yang berada ditengahnya.
Aku seperti melihat antara budak yang sedang menyetubuhi majikannya karena tampilan Pak soni yang bisa dikatakan jauh dari kata tampan, belum lagi mulutnya yang sering kali merokok. Aku tak dapat membayangkan bau nafas pak soni yang kini berada tepat didepan wajah istriku. Anehnya tak ada penolakan dan hanya ada tatapan nafsu yang mengundang birahi lebih tinggi.
“Suami mu mana?” tanya pak soni memecah keheningan yang sebelumnya hanya disisi deru napas keduanya.
“Lagi kerumah orang tua ku Pak.” Jawab istriku yang masih lemas.
“Ini boleh langsung ?” tanya Pak soni yang yang mengocok penisnya pelan.
“aku cape pak” keluh istriku.
Pak soni hanya mengangguk dan memilih menjauh namun tepat sebelum berdiri pria tua itu dengan nakal meremas kedua payudara istriku secara bergantian yang dibalas denan senyum sayu istriku.
‘bajingan’ batin ku berteriak menahan rasa kesal juga penasaran saat istriku yang sehari-hari terkenal anggun juga sopan kini berbah seperti pelacur yang haus akan nafsu.
Pak soni sudah turun dari ranjang dan berjalan menuju keluar kamar aku lantas menggeser kamera menuju tampilan pada ruang tamu, pria itu nampak duduk diatas kursi makan tanpa mengenakan pakaiannya sembari meminum segelas air putih.
Tangannya mengelus dahi seperti mengambil keringat sebelum mengelapnya pada serbet diatas meja makan. Aku menggeser tampilan kembali menuju kamar dan melihat istriku yang memejamkan mata sembari tangannya menutup kedua payudara nya.
“AC nya bapak nyalakan ya” ucap pak soni yang kini sudah kembali kedalam kamar.
Istriku menoleh dan menganggukkan kepalnya sekali.
“kamu masih muda tapi cepet banget lemes HAHAHAHA” ucap pak soni yamg membuat istriku tersenyum.
“anak dua pak, kan aku juga gak pake pembantu.” Dalih istriku yang membuat aku mendecih karena selama ini jika dipikirkan lebih sering untuk keluar bersama teman-temannya dan menitipkan anaknya pada mertuaku seperti saat ini.
Pak soni kembali naik keatas ranjang dengan penis yang tidak lagi tegang, mengambil tempat disisi istriku yang masih memejamkan matanya. Tangannya bergerak pelan dan mulai meremasi payudara sebelah kanan sedangkan tangan satunya mengocok pelan penisnya yang kini mulai tegang kembali.
Istriku mulai membuka mata dan bergerak gelisah saat lama kelamaan remasan nya berangsur kencang dan sesekali Pak soni mencubit pentil dari istriku. Suara desahannya terdengar lirih dengan racauan menyebut nama pak soni berkali kali.
“ahhhhh shhhh” istriku menggelinjang dengan tangan yang mengambil alih penis Pak soni sedangkan tangan satu lagi meremasi payudaranya sendiri.
“disitu pak shhh, shhhhh”
“gini hmmmm?” tanya Pak soni yang langsung memasukkan kedua jarinya kedalam vagina istriku. Kedua jari itu tidak hanya dimasukkan namun berlanjut seperti diputar hingga membuat istriku bergerak semakin gelisah.
Melihat itu pak soni langsung paham dan mengambil alih permainan dengan bergerak kerah depan istriku hingga kini keduanya saling bertatapan dengan posisi istriku yang berbaring menunggu langkah selanjutnya dari pak soni.
Benar saja tanpa meminta restu dari Istriku, ketua RW itu sudah menempelkan ujung kepala penisnya pada vagina istriku yang aku tebak sudah basah bahkan terlalu becek kali ini. Aku menelan ludah hingga rasanya sudah kering mulut ini hanya untuk mengucapkan sepatah kata pun.
Waktu seperti berjalan lebih lambat saat melihat istriku mulai meremas sprei pada ranjang saat tubuh Pak soni bergerak lambat kerah depan sehingga penis besarnya mulai masuk secara perlahan. Remasan pada sprei pun semakin kuat saat seluruh penis itu sudah tenggelam dan hanya menyisakan lirihan suara pelan dari istriku.
“uhhhh pakkkk sakitttt”
“tahan dulu, memek kamu belum biasa” jelas pak soni yang membuat aku hanya bisa menganga menahan nafsu yang kian menggebu. Rasanya kehilangan tenaga begitu saja saat ingin membuka celanaku untuk segara aku puasi oleh tanganku sendiri.
“udah belum pakk shhhhh sakittthh” rintih istriku tak berhenti saat Pak soni masih belum saja menggerakkan tubuhnya. Tangan yang sudah penuh keriput itu hanya diam diantar tubuh istriku dan matanya seperti memejam menikmati pijatan vagina istriku yang sebelumnya menjadi makanan ku sehari-hari.
“uhhhhh enak banget mbaa, ini kontol bapak kyk diremes.” Pak soni seperti bergetar dengan mata yang memejam menahan rasa nikmat yang selama ini aku rasakan juga.
Tak lama saat pak soni memuji istriku dengan kata kata cabulnya pria itu mulai mencoba menggerakkan pinggulnya yang anehnya membuat pinggul istriku ikut terbawa.
“aduduhh pakkkk” istriku menjerit saat penis Pak soni menarik vaginanya seperti dilumasi lem, penis itu tak lepas dari vagina istriku.
“padahal udah becek tadi hmmmm” ucap pak soni.
Pria tua itu kembali mendiamkan pinggulnya yang semula mulai bergerak, tangannya sesekali meremas payudara istriku yang tak terutupi apapun. Kini payudara beraerola cokelat muda itu sudah dipenuhi bekas kecupan yang memerah bahkan aku tebak akan membiru jika remasan tangan Pak soni tak kunjung berhenti.
Remasan itu kian memelan saat istriku terdistraksi oleh pinggul pak soni yang kembali bergerak hingga membuat kedua tangannya berpindah dari meremas sprei kini menyentuh dada pak soni yang semakin dekat dengan tubuh nya.
Tiap pinggul pria jelek itu bergerak desahan keluar dari mulut istriku yang di iringi rintihan pelan yang sudah pasrah dengan kelakuan Pak soni yang begitu semangat menjamahnya.
Aku sudah berhasil membuka celana dengan hp yang masih kupegang dengan perasaan yang campur aduk, rasanya kepala ku ingin meledak seiring kerasnya desahan istriku yang menyahuti tiap gerakan pak soni.
Kini penis besar pak soni mengaduk ngaduk vagina istriku yang kini sudah banjir oleh cairan kenikmatannya yang pasrah dicabuli oleh pak soni.
“shhhh pakkkkkk shhhh” istriku masih mendesah dan kocokan pada penisku kian cepat untuk segera dipuaskan.
“ughhh rapet banget mba elsaaaa” racau pak soni yang matanya sudah jelalatan melihat payudara istriku yang bergoyang dan benar saja setelah mengucapkan beberapa kata cabul tangan pak soni kembali mencubit puting istriku sembari terus menggerak kan pinggulnya.
“terusss pakkk sshhhhh” tangan istriku ikut meramaikan permainan dengan memegang pinggul Pak soni untuk menambah kecepatan yang langsung diamini oleh pria tua itu.
“ugghhhh dalemmm lagi pakkkk shhhhh”
“udah mentokkk sayangg shhhhh”
Pak soni mempercepat goyangan pinggulnya bahkan aku bisa dengan jelas mendengar pertemuan antara dua kulit yang saling menampar.
Remasan pada kedua payudara istriku membuatnya semakin menjerit dengan kepala yang bergerak gelisah, melihat itu Pak soni hanya bisa mendesis dan menampar payudara istriku. Namun, aku tak melihat raut kesakitan pada muka istriku – sebaliknya raut wajah istriku seperti sudah terbiasa bahkan meminta lebih dengan ikut memegang dada Pak soni.
“memek aku pakk aduhhhhh” raca istriku asal dan aku duga dia sudah tak tahan dengan permainan pak RW itu.
Pak soni melepas payudara istriku dan meletakan tangannya diantara kedua lengan istriku, Nampak dia mulai berfokus menggerakkan pinggul dan menikmati setiap detik perubahan raut wajah istriku yang sesekali seperti akan menangis namun tersenyum di waktu yang sama.
Cukup lama Pak soni bergoyang hingga kaki istriku membelit tubuhnya hingga goyangan pinggul itu berhenti.
“aku coba di atas pak shhh” ucap Istriku kesetanan dan langsung memutar tubuhnya. Pak soni hanya menuruti dan menampar kecil payudara yang menggelantung bebas itu.
“masukin Elsa” ucap Pak soni saat posisi istriku sudah berada tepat diatasnya.
Dalam satu gerakan penis itu kembali masuk kedalam vagina istriku, bagai pelacur dia dengan gemulai mulai menggerakkan pinggulnya dan seperti mengulek sambal.
“aduhhhh bapak gak kuattt” desah Pak soni yang kau duga tak tahan dengan vagina istriku, wajar saja jika sudah berada pada posisi itu aku pun akan kelojotan karena tiap bergerak istriku akan mengencangkan otot pada vaginanya.
“shhhh kontoll bapak sshhhhh”
“udahhhh bapak gak kuat” keluh Pak soni saat goyangan istriku kian cepat dan tak terkendali itu.
Tanpa bertanya Pak soni membalikkan posisi pada gaya semula dan membuat istriku sedikit terkejut.
“ahhhh bapakk shhhh”
“maaf Elsaa gak kuat soalnya shhhhhhh” pak soni mulai menggerakkan kembali pinggulnya dengan tempo sedang.
“uhhhh pakkk ssshhhhhh” istriku kembali mendesah namun kali ini tangannya meremasi payudaranya sendiri karena Pak soni yang fokus pada menggerakkan pinggul.
Napas ku memburu dan tak percaya denga napa yang sedang aku saksikan kali ini, rambutku seperti akan terbakar jika kewarasan ini hilang.
“Elsaa bapak aduhhh shhhhh” Pak soni mempercepat goyangannya dan aku semakin cepat pula mengocok penis. Kedua telingaku dipenuhi suara tepukan antara dua paha yang sudah dipenuhi cairan pelumas berwarna bening.
Goyangan itu semakin cepat dan membuat aku tak percaya jika Pak soni yang sudah berumur memliki stamina luar biasa dan benar saja.
“uhhhhh pakkkk mau nyampeeeeee” istriku semakin bergerak gelisah dan meremas pinggul pak soni untuk segera menyelesaikan permainan.
“tungggu mbaaaa barengggg”
“diluar yaaa paakkk sshhhh”
Pak soni hanya mengangguk meski aku tak tahu apa yang akan dilakukan pria tua itu, aku pun merasa tak lama lagi akan mengeluarkan sperma yang sejak tadi aku tahan.
“terusss pakkkk aduhhhhhh” istriku menjerit saat goyangan pak soni semakin cepat hingga kening pria tua menegang dan terlihat dengan jelas urat yang berada pada sisi kanan keningnya.
“asuhhh rapet banget memek kamu kayak perwan aja sshhhhhh” lagi dan lagi pak soni mengeluarkan kata-kata cabulnya.
Kocokan pada penisku kian cepat hingga muka ku sudah terasa panas, tak lama spermaku keluar dan mengenai layar handphone yang menampilkan istriku yang masih digoyang oleh pria lain yang sialnya adalah ketua rw dari komplek ku.
“akhhhh pakkk akuu mau shhhhh” istriku menjerit bahkan aku tak pernah mendengar istriku menjerit sekeras itu saat akan orgasme.
Pak soni tak mendengarkan istriku dan seperti kesetanan dia mempercepat goyangannya hingga tak sampai dua menit keduanya sama-sama bergetar sebelum diam menikmati puncak kenikmatan yang datang secara bersamaan.
“TERUSSS PAKKKK SHHHHHH”
“DIKIT LAGI MBAAA ANJING ENAK BANGET SHHHH” teriak pak soni
“ayo pakkk Elsa mau shhhhhhhh”
“shhhhh ahhhhhh enak mbaaa elsaaaaa” lenguh apk soni yang disambut tatapan tak percaya dari istriku yang kaget saat Pak soni menyemprotkan sperma di dalam rahimnya.
“paakk kenapa di dalemmm duhhhhh sshhh” racau istriku yang kesal sekaligus melenguh menikmati puncak orgasme nya.
Dengan cepat Pak soni mencabut penis nya hingga keluarlah sperma yang tadi disemburkan tanpa persetujuan istriku. Namun, tanpa bisa di prediksi Pak soni merendahkan kepalanya dan berada tepat didepan vagina istriku yang mengeluarkan cairan putih itu.
“aku sedot aja mba” ucap pak soni dengan cepat dan langsung menghisap sisa cairan kenikmatan mereka, melihat itu aku hanya bisa meringis menahan rasa jijik
Berbeda denganku, istriku seperti tersenyum dan memegang kepala pak soni yang jarang-jarang dari rambut itu. Tak lama Pak soni kembali mendongak dan tersenyum dengan gigi ompong nya.
“udah bersih mbaa”
“heheh makasih pak RW kuuuuu” ucap istriku yang membuat tubuhku merasakan kehilangan tenaga begitu saja.
BERSAMBUNG.
==========
==========
06 | ADAKAH JALAN PULANG
Langit mulai memberi bulan kesempatan bercahaya sedang pohon membisu dengan daun yang bergerak pelan, suara hewan malam menemani rumput yang basah sesudah tersiram hujan.
Badanku masih terasa pegal saat menahan untuk tetap duduk diatas kasur saat mengamati istriku dengan Pak Soni yang semalaman hanya saling peluk, belum lagi hujan yang tak kunjung berhenti dari semalam membuat udara pagi ini sangat cocok untuk bergelung dibalik selimut. Rasa-rasanya pagi ini terasa hampa saat aku bangun tanpa Elsa disamping ku yang membuat pikiran ku melayang pada hal semalam.
Setelah berpeluh keringat setelah berkali-kali orgasme istriku dengan Pak Soni saling berpelukan hingga aku pun ikut mengantuk dengan tangan yang masih memegangi penis, untung saja pintu kamar ini sudah aku kunci dan tak ada gangguan dari mertuaku.
Tanganku membuka kembali gawai yang membutuhkan untuk diisi daya dan aku memilih untuk berpindah menuju kearah jendela dimana aku bisa mencharge sekaligus memainkan diwaktu yang bersamaan. Layar gawai ku menampilkan istriku yang masih dipeluk oleh pak soni dengan tubuh keduanya yang tertutupi selimut berwarna putih.
Tok tok tok
"Makan dulu nak"
suara dari balik pintu membuat pandangan ku teralihkan, setelah memastikan pengisi daya bekerja dengan baik aku berjalan pelan untuk membuka pintu kamar.
"Ehh Bu." Ucap ku sedikit salah tingkah melihat mertuaku yang sedang memegang nampan berisikan sup ayam yang selalu menjadi menu wajib saat aku berkunjung.
"Dari semalam gak keluar, kamu sehat kan?" Tanya ibu dari istriku itu yang sudah memindahkan nampan pada tangan ku.
"Sehat Bu, kemarin tiba-tiba sedikit panas terus ketiduran" alibi ku karena tak mungkin menceritakan jika anaknya sedang berhubungan badan dengan pria lain.
"Ya sudah, anak-anak lagi main sama kakeknya. Kamu jadi pulang hari ini?" Memang aku akan pulang lebih tepatnya sebelum tahu jika istriku membawa pak Soni kedalam rumah.
"Jadi Bu, sebelumnya makasih makanannya hehe" ucapku menutup pintu dan berbalik arah.
Air mataku menetes tanpa dipinta, terus jatuh menuju ujung pipi dan berakhir pada karpet berwarna cokelat muda yang sejak tadi aku injak. Rasanya hanya hangat ini yang aku butuhkan, mustahil jika menuntut lebih pada Elsa yang aku sudah tahu sifat asli nya. Rangkaian cerita yang menjadi akhir paragraf akan berhenti jika ada sebuah titik.
Namun, sayangnya Elsa memberikan sebuah tanda koma saat gawaiku bergetar sesaat yang menandakan bahwa ada sebuah pesan.
'Aku masih sama Maya, besok baru pulang. Happy holiday yaaa'
"Tai" ucapku setelah melihat pesan yang menggantung pada ujung gawai.
Rasanya sesendok sup lebih menarik dibanding kan melihat istriku yang masih bersama pak Soni didalam kamar.
----
Merasa harus memilih waktu sendiri aku memilih untuk pergi dari rumah mertuaku dengan menitipkan dua buah hati yang masih kangen dengan kakek neneknya itu. Mobilku berjalan dengan santai dengan jendela yang aku buka sedikit, angin yang masuk meredakan rasa sakit yang timbul begitu saja saat melihat seorang wanita yang sedang berada diatas motor.
Tak ada yang aneh kecuali perbedaan usia diantara keduanya, entahlah hubungan mereka mungkin hanya sebatas supir dan penumpang. Tapi tidak dengan istriku, yang terang terangan berbohong dan menjalin hubungan dengan pak Soni.
Aku tak tahu pasti kapan itu dimulai yang pasti mulai hari ini aku akan membuat istriku tahu arti sebuah hubungan yang terikat janji. Mobilku bergerak kearah kanan dimana kantor tempat kerjaku berada, bukan kantor utama. Tempat ini hanya aku yang tahu karena memang aku akan datangi saat ide ku berhenti.
"Ehh pak.... Udah lama ga kesini" sapa satpam komplek sesaat setelah aku membuka jendela mobil.
Gerbang komplek pun terbuka dan dengan cepat aku melaju menuju rumah keduaku ini. Komplek yang aku bangun tiga tahun lalu bersama sebuah developer ternama berisikan sekitar tiga puluh rumah dengan konsep Bali yang kental.
Berada diketinggian membuat view pada rumahku ini membuat aku bisa dengan jelas melihat pemandangan kota dengan udara segar yang menyapa. Aku menyalakan televisi dan mengatur agar tampilan cctv pada rumahku bisa terlihat pada TV 55 inch itu.
Setalah merasa pas aku mengambil beberapa alat kebersihan untuk sekedar menyapu agar udara pada rumahku ini sedikit lebih baik. Tak butuh waktu lama aku kembali pada televisi yang menampilkan istriku yang sedang berdiri di depan pantry dengan kemeja putih dan...
'tak bercelana?'
Sedangkan diruang makan Pak Soni sedang merokok dengan tangan memegang gawai, tak ada pergerakan lain sepertinya mereka sedang fokus dengan mengisi perut. Sofa empuk ini membuat otot ku sedikit melemas dan rasa-rasanya sangat nikmat jika bersantai sejenak dengan kopi yang sudah berada di atas meja.
Tapi bukan ini yang aku inginkan, mataku tertuju pada buku sketsa dan dengan cepat aku mengambil nya dari balik lemari yang tertutupi sebuah kaca tipis. Sembari mengamati cctv aku membuka lembar demi lembar yang belum tergores kan garis. Menyamankan posisi aku mulai menarik garis dasar dan berimajinasi tentang rumah yang berkonsep dingin juga hangat secara bersamaan.
Speaker yang berada pada bawah tv tak mengeluarkan suara apapun selain suara batuk dari Pak Soni yang terulang beberapa kali hingga aku merasa terganggu sendiri.
“udah Pak rokoknya, kan lagi batuk.” Ucap Istriku yang membawa dua gelas berwarna putih itu.
“nanggung mba Elsa.” Jawab Pak Soni.
Aku mengalihkan pandangan pada luar rumah yang kembali meredupkan cahayanya karena awan hitam yang mulai berkumpul. Hanya ada obrolan basa-basi antara Istriku dengan Pak Soni yang membuat aku sedikit bosan kali ini, sketsa yang aku buat pun sudah selesai dan rasanya sedikit malas untuk membuat konsep kedua apalagi ketiga.
Aku mengangkat kedua kaki pada meja di depan sofa sedang jari-jariku meremas pelan betis yang sejak kecil menjadi tumpuanku itu. Ada rasa syukur juga bahagia melihat diriku bisa berdiri sendiri meski kedua orang tua ku sudah berpulang pada dekapan tuhan.
Sempat berharap pada Elsa yang saat dulu menawarkan rasa bahagia yang berbeda tapi kini Dia sudah menjadi peran baru dengan membawa seorang pria asing pada rumahnya.
Lantas apa arti rumah jika orang asing bisa dengan santai masuk bahkan mengacak-acak ruangan demi ruangan dengan tanpa diriku. Akankah aneh jika orang asing itu menjadi peran utama pada hubunganku atau aku yang berubah bodoh dengan alasan nafsu sesaat yang aku tak tahu kapan akan berakhir.
Rasa kantuk mendatangiku dengan tiba-tiba.
Ruangan hitam yang hanya berisikan diriku dan kau sebut dengan mimpi membawaku kedalam sebuah palung terdalam. Kau bilang suatu saat akan membawa diriku pada sebuah cerita baru yang dulu hanya di isi oleh amarah kedua orang tua ku.
Namun, dengan hebatnya kau membawa luka yang lebih besar dengan jari manismu kau tusuk jantungku hingga membuat sebuah lubang yang tak bisa di obati oleh siapa pun. Termasuk diriku yang masih menahan rasa sesak karena darah ini terus mengalir bahakan ruangan gelap ini bisa dengan jelas warna merah yang mengalir deras.
“Dasar anak setannnnn”
Ibu ku tetiba datang dari belakang dengan tangan yang memegang sebuah pisau sedang aku hanya bisa menangis dengan tanpa suara.
“Nyesel gua hidupin lo anjing” teriak bapak ku dari arah berlawanan dengan tangan yang memegang sebuah rantai besi.
“pecundang”
“Elsa?”
Kini sudah ada tiga orang dengan raut wajah marah sedang memojokkan diriku pada ruangan tak bersudut yang tak lagi aku bisa definisikan. Ketiganya menuntut pada sesuatu yang tak ku punya, bahkan aku pun bingung harus memulai dari mana jika semua mencuri dariku tanpa sebab.
Gelap yang sejak tadi menemani kini mulai berubah perlahan seperi plastik yang meleleh dan membuat mataku sedikit susah untuk tetap terbuka.
Tak lama Aku terbangun kembali dan sudah berada pada ruangan lembab dengan kaca yang menghadap kamarku dan kini sudah ada Pak Seno, Ibu ku, Bapak ku dan Elsa yang keempatnya tak memakai sehelai benangpun.
Tangan Elsa memegang batu besar dengan darah yang sudah mengalir dari nadi nya – aku hanya bisa mengerutkan dahi karena sebelumnya aku berada dirumah kedua ku.
PRAK!
Kaca di depanku pecah hingga mengenai kaki ku yang masih bertumpu pada atas meja, darah dengan cepat memuncrat hingga membuat seluruh ruangan berbau amis.
Emosi orang di depanku seketika memuncak saat aku mulai bergerak menghindar pada pintu keluar yang berada disebelah kanan. Benar saja semua orang itu berlari mengejar ku saat berhasil membuka pintu, Aku mulai berlari menuju arah lorong bawah tanah.
“ANAK SETANNNNN” teriak semua orang yang mengejar ku.
Tangisku kian kencang saat ruangan kecil ini hanya berisikan umpatan demi umpatan yang selaras dengan darah yang mengucur semakin deras. Bahkan, kaki ku sudah merasa kebas dan mata ku seperti tak sanggup lagi untuk terbuka.
Hingga aku berada diujung lorong bawah tanah dengan napas yang memburu sedang orang di belakangku ikut berhenti tapi tidak dengan mulut mereka yang masih saja mengumpat.
Kepala ku mendongak pada sebuah pintu yang menjadi atap sebuah tangga, mengedip beberapa kali dan meyakinkan jika bau amis dari darahku hanyalah hayalan meski aku masih bingung arti sebuah bayang. Tanganku menggapai tangga terakhir dan napasku rasanya akan habis pada detik berikutnya.
Pintu kayu itu terbuka.
Cahaya masuk pada iris mataku dan dihiasi dua pasang kaki anak kecil yang membuat tenaga ku seperti terisi kembali dan putih yang menyambut dengan rasa hangat datang bersamanya.
“Ayah pulang”
---
Aku terbangun dengan kaki yang masih menempel pada atas meja didepanku, rasanya akan terjadi keram pada detik berikutnya. Benar saja saat kaki kiri menapak pada lantai seperti ada jutaan semut yang menggigiti setiap pori-pori ku.
Keringat membasahi dadaku yang tertutupi kain dua lapis dan ac yang sejak tadi mengalirkan udara dingin tampak mati dengan suasana luar rumah yang sudah gelap.
Aku berjalan pelan dengan kaki yang masih merasakan keram dan benar saja jika listrik pada rumah ku mati total. Wajar saja jika aku merasakan gerah yang begitu hebat dan memilih untuk membuka pintu agar udara masuk sebanyak - banyaknya.
Ku lihat jam sudah menunjukkan angka lima yang berarti aku sudah tertidur selama 4 jam lebih dan pastinya aku melewati apa yang terjadi dengan istriku. Gawai ku tak kunjung mendapatkan sinyal dan kembali menjadi edge, hilang sudah kesempatan ini.
Aku duduk pada sofa semula namun kali ini dengan kaki yang menempel pada lantai, ingatan akan mimpi buruk terulang seperti jam pasir yang jatuh dengan cepat.
Namun, mengapa ada pak soni dan istriku yang tiba-tiba masuk kedalam mimpi ku. Jantungku kembali memburu jika teringat empat orang itu mengumpat dengan emosi yang meledak, belum lagi Pak Soni yang membawa batu tak kalah besar.
Merasa udara semakin panas aku mengemas barang-barangku dan merapihkan kembali buku sketsa yang menjadi satu-satunya tempat aku berkeluh kesah selama ini. Dirasa cukup aku mulai menyalakan mobil dan meninggalkan komplek ini.
Tak lama setelah keluar dari gerbang utama air mulai turun dan membasahi kaca mobilku, rasa-rasanya aku pernah merasakan kejadian dimana kedua orang tua ku meributkan permasalahan yang mereka katakan permasalahan ‘dewasa’ itu.
Tepat saat aku baru saja lulus SD dan hujan pun turun dengan begitu deras tanpa adanya tanda-tanda sebelumnya. Seiring dengan turun nya hujan kedua orang tua ku memutuskan untuk bercerai setelah bertahun - tahun memendam amarahnya masing-masing.
Aku yang kala itu masih memakai seragam memilih untuk mengikuti ibuku dan hingga sekarang aku masih tak paham masalah apa yang mereka ributkan. Tapi yang jelas saat itu kaki ku dipenuhi oleh lebam yang membiru dan bengkak di beberapa bagian.
Sinyal pada gawaiku kembali terisi penuh saat memasuki daerah kota dengan lampu malamnya, rasa lapar segera menghampiri ku yang baru saja memarkirkan mobil tepat didepan jajaran ruko berisikan berbagai jenis makanan.
Rasa-rasanya semangkuk sup iga sungguh menjadi taman yang nikmat dalam mengarungi dinginnya malam, terlebih hujan belum juga kunjung reda.
Tangan kanan ku memegang sendok sedang tangan kiri ku masih bergerak membuka email sebelum memilih untuk membuka aplikasi cctv.
Tak butuh waktu lama aku sudah bisa melihat dengan jelas penampakan isi rumah yang tak berpenghuni di bagian ruang tamu. Aku menggeser ke arah bawah dan benar saja istriku sudah bergelung didalam selimut.
Berbeda dengan siang hari kali ini aku tak melihat batang hidung Pak Soni yang bisa ku tebak sudah pulang kaena tak mungkin beralasan untuk pergi lebih dari dua hari bagi pensiunan seperti dia.
Ada rasa aman yang menyergap saat tahu istriku baik-baik saja – tapi tidak dengan Aku yang mulai bingung dengan semua ini.
Adakah jalan pulang untuk bisa kembali menjadi rumah tangga yang sperti semula tanpa ada orang asing yang masuk dan dengan tega menjamahi istriku. Atau mungkin adakah jalan pulang untuk kembali pada masa kecilku dan bertanya alasan kedua orang tua ku yang dengan sadar memukuli betis hingga rusuk ku.
Lembutnya daging mengalihkan fokusku yang semula terkunci pada tampilan cctv, wajar saja jika tempat ini ramai batinku saat berkali kali memasukkan daging lembut dengan kuah kaldunya.
Setelah menghabiskan semangkuk sup aku mengelus gelas yang berisikan teh hangat yang masih mengepulkan asapnya dan tanpa aku duga istriku terbangun dari tidurnya dan dengan cepat seperti memakai baju asal.
Aku tertegun saat ia hanya memakai kaus tipis tanpa daleman dan short pants hitam untuk berjalan kearah depan. Aku tak bisa melihat dengan jelas karena disebelah meja ku ramai dengan orang-orang yang sedang asyik mengobrol sehingga aku menurunkan cahaya pada layar gawai ku.
“masuk kang, gentian shift ya ?”
Ucap istriku yang kini aku bisa dengan jelas sedang berbicara dengan satpam komplek.
BERSAMBUNG.
==========
==========
07 | PRA TAK DIKENAL
Aku menambah menu demi bisa lebih lama untuk duduk di atas meja yang kini mulai kosong, sedang istriku sedang membuatkan minum dari pojok dapur untuk pria tak dikenal, meski pria itu memakai seragam satpam komplek.
Memang ada beberapa satpam yang bertugas pada komplek tempat aku tinggal tapi baru kali ini aku melihat wajah baru. Pria itu duduk dengan menggenggam pentungan berwarna hitam dan topi cokelat yang masih menempel pada kepala.
“silakan diminum pak” ucap istriku yang datang namun kali ini sudah memaki rok panjang meski masih memakai kaus tanpa daleman itu.
“terimakasih bu” balas satpam komplek yang aku baru tahu bernama Dasep saat istriku berkenalan.
“jadi ada apa ya pak?, kebetulan suami saya lagi dirumah kakek – nenek dari anak - anak” lajut istriku.
“Jadi gini bu, saya baru denger dari Pak RW kalo ibu menjadi penanggung jawab ibu-ibu komplek.”
“betul pak”
“Perkenalkan saya Dasep bu, ngegantiin Pak Agus yang pulang kampung.” Lanjut Dasep dengan gigi ompong nya.
“Oalah, saya Elsa. Jadi mau ambil Sepatu ya?” tanya istriku dengan senyuman khas nya.
“iya bu.” Mendengar itu istriku hanya mengangguk dan berjalan kearah belakang.
Dan benar saja mata pria dengan kulit hitam legam itu tak lepas dari gerakan pinggul istriku yang terlihat molek, belum lagi udara yang masih dingin membuat siapa saja akan berpikiran mesum.
Tak lama istriku kembali datang dengan sebuah box berwarna cokelat dan berjalan pelan sebelum duduk kembali dan menaruh barang yang ia bawa diatas meja ruang tamu.
“makasih bu, jadi besok langsung kerja saja ya bu?” tanya Dasep yang aku perhatikan seperti bergerak gelisah karena aku pun paham saat menaruh box diatas meja tubuh istriku merendah hingga terlihat gundukan kenikmatan yang hanya terbungkus kaos tipis.
“Iya pak, oh iya saat ini umur nya berapa?” tanya istriku yang mendorong gelas sebagai isyarat untuk diminum oleh Dasep.
“saya baru 45 tahun bu, hehe” jawab Dasep dengan tawa aneh nya.
“waduh saya kira masih 30 akhir pak” balas istriku yang anehnya membuat aku semakin menikmati obrolan mereka.
Aku mengelus dahi pelan saat basa-basi istriku seperti menahan seseorang agar tetap disampingnya atau mungkin pendengaran ku yang sudah berubah saat tahu dia ada main dengan Pak Soni sejak kemarin.
Lampu tempat aku makan mulai meredup dan dengan cepat aku keluar dan kembali kedalam mobil dengan telinga yang masih terfokus pada aplikasi cctv pada gawai ku.
Aku terpaksa mendengarkan karena berusaha fokus pada jalan di depanku, ada rasa ingin menepi untuk bisa melihat secara langsung. Tetapi pesan dari anak-anak ku sebelumnya membuat aku hanya bisa menahan rasa penasaran yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Jalanan tampak sepi saat memasuki jam sepuluh malam sedang mobilku berjalan santai dengan kecepatan stabil. Berusaha meremas stir dan tetap fokus meski telingaku tersumpal earphone yang mengeluarkan suara istriku yang tertawa kecil.
“Bapaknya masih seger ya, kalo boleh tau tinggal dimana?” tanya istriku yang membuat kening ku berkerut.
Apa maksud Elsa menanyakan begitu banyak hal pada satpam jelek jika tujuan nya hanya untuk mengambil sepatu. Aku seperti kehilangan ingatan tentang istriku yang selama ini aku kenal – belum lagi ingatan tentang desahan kerasnya berputar di kepalaku hingga saat ini.
“Kala asli saya dari kampung mba, disini ngrantau setelah istri saya meninggal” jawab Dasep.
“aduh maaf Pak, jadi gak enak” ucap istriku yang tak bisa kulihat posisinya kali ini karena sebentar lagi akan sampai menuju rumah mertuaku.
Setelah ucapan itu telingaku tak lagi bisa mendengar suara apapun yang semakin membuat keningku berkerut dengan rasa penasaran untuk segera membuka gawai. Tetapi kini aku sudah berada di depan gerbang utama komplek mertuaku yang membuat aku mempercepat laju mobilku.
Persetan dengan istriku yang sedang asyik dengan pria baru yang jelas saat ini aku harus menjemput ank-anak ku yang ingin cepat pulang. Hal ini adalah permintaan anak ku yang sama sekali tidak diketahui oleh istriku.
Dan benar saja kedua anak ku sudah berdiri didepan rumah dangan tas lucu yang seang mereka gendong.
“Ayahh” ucap anak keduaku yang langsung berlari sebelum memeluk diriku.
Hangatnya tubuh anak ku membuat pikiranku melayang bahkan bercabang, bagaimana jika saat aku pulang istriku bersama seorang satpam jelek itu.
“Ayo yahhh” ucap anak pertamaku yang ternyata sudah berada didalam mobil dan membuat aku melepaskan pelukan dan memilih untuk pamit pada mertua ku.
Aku kembali berada dibalik kemudi, berbeda dengan sebelumnya kali ini suasana mobil tampak hening setelah setengah jam perjalan yang membuat kedua anak ku sudah tertidur pulas. Keringat dingin tiba-tiba muncul begitu saja dari sudut dahiku, aku memikirkan tentang apa yang sedang terjadi di rumahku saat ini.
Lampu merah sedang menyala dan kendaraan sudah mengambil posisinya masing-masing. Aku memilih menyalakan gawaiku yang sebelumnya mati tiba-tiba, benar saja ternyata gawai ku butuh daya untuk mengisi baterai yang sudah habis.
Aku hanya melenguh mengeluarkan napas kasar dan semakin kesal saat tak menemukan kabel yang menjadi penghubung antara mobil dengan gawai ku. Kendaraan yang berada dibelakang ku sudah mengeluarkan suara klakson yang membuat aku terpaksa untuk kembali jalan tanpa sempat mengisi daya pada gawaiku.
Aku mengetuk resah stir mobil yang sudah panas setelah aku meremasnya kencang menahan rasa penasaran yang kian menjadi saat membayangkan jika istriku sudah digerayangi oleh tangan hitam milik Dasep si satpam komplek.
Tapi lagi-lagi aku mempertanyakan posisiku sebagai suami yang dengan senang mengharapakan jika istriku kembali bermain dengan pria lain yang sialnya adalah seorang satpam komplek.
Napasku memelan saat sudah berada didepan sebuah gerbang berwarna hitam dengan lampu kuning yang membendar dari arah dalam. Namun, satu hal yang janggal adalah gerbang rumahku yang terbuka setengah dengan motor matic jadul yang terparkir dekat selasar rumahku.
Aku melirik sebentar pada anakku yang masih tertidur dengan mulut yang terbuka, aku kembali menatap isi rumah yang terang. Aku bergerak untuk membuka kaca mobil dan memilih untuk keluar dari mobil tanpa membawa kedua anak ku.
Langkah ku bergerak pelan dan merasa aneh sendiri karena mencoba bersembunyi didalam rumahku sendiri. Mencoba tak mengeluarkan suara Langkah dan berjalan menuju ruang tamu yang tak terkunci.
KRET….
“Ahhhhh”
---
“Ayah!” ucap istriku dengan nada kencang yane membuat aku terkejut termasuk Dasep yang sedang memegang segelas kopi.
“Ehh, lagi apa ni?” tanya aku dengan cepat.
Istriku tampak membenarkan posisi duduknya yang semula mencondongkan tubuhnya ke arah Dasep yang kali ini hanya bisa tertunduk memeluk box sepatu.
“Ehh, ini kenalin yah satpam baru komplek kita” ucap istriku yang berdiri untuk mendekati ku sedangkan Dasep hanya bisa menganggukkan kepala.
Aku pun menyambut tangan istriku yang sudah terangkat untuk salim pada ku, setelah itu aku kembali berjalan menuju mobil untuk menggendong anak ku yang masih tertidur. Istriku ikut membantu dengan menggendong anak keduaku yang sudah lelap dalam tidurnya.
Saat melewati ruang tamu Dasep hanya menunduk seperti menahan rasa canggung terlebih senyum kecilnya yang semakin membuat suasana semakin aneh. Aku membenarkan letak selimut pada anak pertamaku dan memilih untuk kembali pada ruang tamu yang masih di isi Dasep si satpam jelek.
Aku mengulurkan tangan dengan mencoba agar mimik muka ku se ramah mungkin dan Dasep pun menyambut dengan menurunkan box sepatu nya.
“Saya Feri”
“Dasep Pak” jawabnya yang langsung melepaskan genggamanku.
“Udah lama?” tanya ku ambigu.
“maaf Pak, maksudnya?” tanya Dasep yang menunduk.
“Jadi satpam” lanjut ku sembari memundurkan tubuhku hingga mengenai sisi belakang dari sofa.
“Oalah, udah lama pak. Sebelumnya saya jaga swalayan di perempatan deket SMA” jawabnya yang membuat aku hanya mengangguk.
Istriku tampak membuka pintu kamar anak keduaku dan berjalan santai menuju arahku, Dia duduk kembali pada posisi semula saat aku datang.
Waktu seakan berjalan lambat saat aku dengan jelas meliat payudara istriku yang tercetak dengan jelas terlebih kausnya berwarna putih yang samar-samar memperlihatkan puting nya yang mengacung. Namun, bukan itu yang aku perhatikan tapi ada mata pria lain yang sejak tadi menunduk kini sudah fokus pada dada istriku.
“EHEMM” Aku berdehem saat suasana menjadi semakin aneh dan aku mengelus pergelangan tanganku yang terlilit jam tangan.
Namun dasar satpam dengan IQ rendah, pria itu malah tersenyum dan kembali mengambil gelas yang berisikan kopi. Melihat itu aku hanya bisa menahan rasa gemas dengan menggigit gigi geraham ku bahkan muka ku seperti kepiting rebus saat ini.
Sedang istriku hanya tersenyum dan melanjutkan obralan dengan Dasep tanpa memperhatikan aku yang sudah meremasi tangannya.
“Kang Dasep maaf nih, sudah malam” ucapku memberanikan diri yang langsung mendapatkan tatapan kesal dari istriku.
“ehhh, aduh maaf pak keasikan ngobrol sama Ibu Elsa” ucap Dasep sembari menaruh gelas yang sudah tak berisi.
“Yaudah Saya ijin pamit dulu ya…” ucap Dasep yang langsung berdiri. Bertepatan dengan itu istriku ikut berdiri.
“AYAHHHHH” Aku terkejut tiba-tiba anak pertamaku teriak dan dilanjut dengan tangisan nya yang begitu keras hingga istriku dan Dasep ikut menoleh pada kamar dengan pintu berwarna putih itu.
“Samperin yah” ucap istriku dengan kening berkerut itu. Ada rasa enggan tetapi tangisan anak ku semakin kencang dan memaksa ku untuk berlari kedalam kamar.
Anak ku masih tertutup selimut meski keringat membasahi keningnya dan dengan cepat aku menempelkan telapak tanganku pada kening anak ku itu.
‘panas’ batinku. Aku memilih keluar kamar setelah mengusap pelan tubuh anak ku. Saat sudah berada di depan pintu kamar anak ku, keberadaan istriku dan Dasep tak terlihat.
Jantungku memacu lebih cepat dari biasanya dan memilih untuk masuk kembali kedalam kamar anak ku yang masih meringis itu.
Duduk disampingnya dan menepuk pelan lengan kirinya sedang tangan kananku mulai membuka gawai yang tersambung kabel pengisi daya ini.
Kini tampilan gawaiku sudah berisi tampilan isi rumah dan aku merasa bodoh saat lupa jika kamera cctv tak menampakan kondisi diluar rumah. Aku bergegas kearah depan rumahku melewati arah dapur yang tersambung oleh garasi.
Aku berjalan dengan waktu saat ini karena rasa penasaran yang begitu hebat saat tahu istriku keluar bersama dasep tanpa mengajak diriku. Sial!.
Aku sudah berada di depan pintu garasi yang tertutup dan berusaha mencari celah agar bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan oleh istriku. Aku melihat celah dari cahaya yang masuk kearah dalam, namun sayang tak ada satu sinar pun yang masuk bahkan terlalu gelap untuk melihat barang yang ada didalam garasi ini.
Namun, jika kau berjalan kearah ruang tamu maka dengan jelas aku bisa melihat sandiwara istriku yang kembali seperti istri yang aku kenal selama ini. Aku mengangkat pandangan pada ventilasi berbentuk persegi diatas pintu garasi dan menoleh kerah belakang.
Tangga.
Aku segera mengambil tangga berwarna silver itu untuk meninggikan posisi pandangan ku sehingga bisa dengan jelas melihat kondisi diluar rumahku. Membukanya dengan berusaha tanpa membuat suara, kini aku sudah berada pada anak tangga pertama dengan lutut yang bergetar.
Memang meski aku seorang arsitek sampai saat ini aku masih ketakutan pada ketinggian terlebih batang tangga yang ku naiki hanya bertumpu pada lantai garasi yang cenderung cukup licin jika menumpu tubuh ku.
Dengan keberanian yang tiba-tiba muncul aku melanjutkan pada anak tangga kedua dan tetap saja rasa nya aku seperti akan mati jika melanjutkan hingga anak tangga kelima. Telapak tanganku mengeluarkan keringat dingin sehingga peganganku pada batang tangga menjadi sedikit lebih licin.
Aku mencoba menarik napas pelan untuk lebih tenang saat ini dan dalam satu hentakan napas besar aku melanjutkan langkah pada anak tangga ketiga, keempat bahkan aku kini sudah berada di anak tangga kelima.
Tanganku sudah bisa menggapai ventilasi dengan mudah dan aku mulai meninggikan posisi kepala agar pandanganku bisa dengan jelas melihat kearah luar.
‘anjing!’
Batinku berteriak saat tahu pandangan pada ventilasi ini terhalang jaring-jaring untuk menyaring serangga yang akan masuk dari luar belum lagi pandanganku hanya bisa melihat mobilku dan gerbang diarah depan. Sedang posisi istriku yang berada didepan garasi tak bisa terjangkau oleh penglihatan mataku.
Aku mengeratkan genggaman pada ventilasi yang sudah berdebu ini, namun pikiranku seperti kosong dan merasa tak berguna sebagai kepala keluarga yang saat ini malah berharap jika istriku berselingkuh dengan pria baru.
Namun dari sini aku bisa mendengar dengan jelas apa yang di obrolkan oleh dua manusia kurang ajar di bawahku ini. Berbeda dengan rencana sebelumnya kini aku memilih untuk mendekatkan telinga kearah ventilasi dan mencoba untuk berfokus pada pendengaranku dengan menutup kedua mataku.
Aku masih ingat pada sebuah tayangan di televisi yang berkata jika kita memfokuskan pada satu indera maka indera itu akan berkerja lebih baik, dan kini dengan suasana yang temaram aku memejamkan mata dan berusaha berfokus pada suara diluar.
“makasih ya bu Elsa kopi nya tadi” ucap Dasep.
“santai aja kali Pak, Cuma kopi aja.” Balas istriku dengan nada yang aku duga dibuat sedikit manja itu.
“emang ada apalagi selain kopi?” balas Dasep yang aku duga sudah tak konsen dengan dada istriku yang sejak tadi mengacung itu.
“susu hihi” sialan, benar saja jika istriku kini lebih berani meski tahu aku tadi kedalam untuk mengurusi anak pertama.
“boleh bu?” aku mengerutkan kening dan berusaha mengimajinasikan apa yang terjadi diluar, mana mungkin istriku kembali ke dalam rumah dan membuatkan segelas susu.
“ahhhhh”
‘anjing!’ batinku saat mendengar lirihan desahan yang keluar dari mulut istriku yang aku tak tahu sedang berbuat apa.
BERSAMBUNG.
==========
==========
08 | AKANKAH USAI
Mataku tak kunjung terpejam meski angka pada jam dinding yang menempel tepat diatas meja kamar tidurku sudah menunjukkan pukul satu malam, bahkan Elsa sudah terpejam sejak satu jam lalu.
Melihat matanya yang terpejam membuat aku terbayang saat dua jam lalu dimana dengan jelas aku mendengar desahannya yang tak bisa ku rekam adegan nya, karena hanya ada suara yang menjadi pemandu ku saat itu.
Dan memang setelah desahan itu aku mendengar suara deru mesin motor yang memaksa aku turun dari tangga sebelum istriku masuk kedalam rumah.
Kulihat lagi bibir istriku yang sesekali bergerak pelan dan saat itu pula ada rasa tak tega jika keputusan yang akan aku ambil kedepannya hingga keputusan terburuk adalah bercerai. Namun, jika aku biarkan maka hubungan seperti ini akan merusak mental anak-anak ku yang kelak akan bertanya penyebab orang tua mereka berpisah.
Sebagai seorang kepala keluarga aku tak tega untuk berbohong di depan kedua anak ku – terlebih kebenaran itu menyangkut hubungan istriku dengan pria lain yang selama ini anak-anak ku lihat hanya sebagai warga biasa di komplek ku.
“yah” ucap istriku yang membuat iris mataku bergerak pelan dan berakhir pada iris mata istriku.
“ayah kenapa belum tidur?” tanya istriku yang membuat air mataku jatuh begitu saja, rasanya aku tak bisa menahan rasa kehilangan yang sudah didepan mata ini.
Rambutnya yang terurai ikut bergerak saat jari-jarinya berusaha untuk menggapai pipi ku yang sudah basah, aku teringat kembali akan ibu ku yang selalu mengusap pipiku saat tangisan ku muncul tiap kali pukulan ayahku bersarang di sekujur tubuh.
Masih teringat betul saat tengah malam aku dibangunkan oleh teriak kan ibuku dari luar kamar tidur dan membuat intuisiku secara cepat bergerak otomatis untuk melihat apa yang terjadi diluar kamar.
Saat itu ayahku berdiri dengan botol ditangan sedangkan ibu sudah memegang kepalanya dengan darah yang terus mengucur deras. Aku dengan tergopoh-gopoh mendekati ibu untuk sekedar memeluk dengan tangisan yang tak kunjung berhenti.
“ini yang kamu mau hah!!” teriak ayahku tanpa sebab dan mulai mencuri perhatian ku.
Dari situ aku hanya bisa menganga dengan pipi yang masih basah melihat tangan ayahku mengangkat sebuah botol yang sudah pecah mulai ditempelkan pada sisi leher sebelah kanan.
Dan dengan waktu yang melambat botol itu bergerak menuju sisi kiri dengan di ikuti semburan darah yang mengucur deras hingga membanjiri ruangan dan tubuhku. Darah itu terus mengucur hingga mengenai kaki ku yang masih berada dilantai saat memeluk ibuku.
“maafin ibu yaa” saat itu tangan ibu ku mengusap pelan pipi ku yang sudah basah oleh air mata dan darah segar milik ayahku.
Dana kata itulah yang menjadi batas antara sesal, amarah dan rasa tak percaya apa yang menjadi akhir hidup dari kedua orang tua ku.
Usapan pada pipiku berangsur pelan saat aku membuka mata dan melihat Elsa sudah menangis, aku rasanya akan tertawa saat ini jika ingat wanita dengan bola mata bulat ini baru saja berselingkuh. Enatahlah, mungkin malam ini akan menjadi tanda yang akan aku ingat untuk bisa jalan sendiri tanpa membutuhkan belaian tangan seoarang istri.
Dengan cepat aku mengambil alih jari-jari istriku dan berbalik hingga mataku hanya bisa menatap dinding, tangan istriku kembali bergerak dan meiliit perutku yang aku duga ia merasa ada yang janggal.
Tetapi rasa lelah lebih besar dari rasa benci yang tumbuh begitu saja saat kedatanganku dari rumah mertua - bahkan jauh lebih besar jika terus disiram oleh kebohongan demi kebohongan yang dilakukan oleh Elsa.
---
Aku memutar obeng searah jarum jam saat memsang kamera cctv baru pada halaman depan saat sebelumnya juga memasang pada garasi. Aku terkekeh jika mengingat aku sendiri yang awalnya menolak memasang demi kenyamanan rumah tangga.
Setelah dirasa cukup kuat aku turun dari sebuah tangga yang sebelumnya menjadi teman dalam melihat kelakuan istriku kemarin, aku kembali menaruh tangga dan masuk kedalam kamar anak pertamaku.
Kulihat tubuh kecilnya masih tertidur dengan sebuah kain yan aku letakkan diatas dahinya, setelah dirasa aman dan nyaman aku duduk disisi ranjang sembari mengganti kain kompres dengan kain baru.
Istirku masih mengantar anak keduaku dan katanya akan langsung menuju swalayan untuk membeli beberapa buah yang menjadi menu utama dirumah ini. Kaki ku melangkah menuju ruang kerja pada belakang rumah untuk sekedar membuka email dan memantau kantor ku yang mulai kembali aktif hari ini.
Melihat beberapa pegawai yang sedang sibuk dengan sketsa yang aku kirim tadi pagi dan ada juga yang sedang bermain gawai, aku memaklumkan tapi dengan syarat pekerjaan selesai tepat waktu. Begitulah diriku, rasa trauma yang tak kunjung sembuh seringkali susah membuat diriku mengambil keputusan dan cenderung lari dari masalah yang ada.
Termasuk masalah dengan istriku, Elsa.
KRET…
“Ayah” aku membuka mata saat tanpa sadar kehilangan kesadaran sesaat.
Kulihat anak ku berjalan dengan membawa sebuah boneka beruang yang ia peluk, muka anak ku masih saja pucat dengan bibir yang bergetar. Aku membenarkan posisi duduk dan mengambil alih boneka beruang itu untuk diletakan pada meja kerja ku.
“bunda mana?” tanya nya yang sudah berad dipangkuan ku.
“lagi anter adek ke sekolah, kenapa kesini?” jawabku sembari membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.
Namun aku tak mendengar jawaban dari anak ku yang saat ini sedang mencoret asal pada kertas yang sebelumnya sudah aku siapkan untuk membuat sektsa. Berbeda dengan istriku yang ceria selama ini aku adalah sosok orang tua yang diam dan tak banyak bicara, termasuk cara mendidik ku.
Ada rasa bingung saat akan memeperlakukan anak ku seperti orang lain pada umumnya – pikiran ku seperti terjebak pada sosok orang tuaku dimasa lalu.
“Merawat sakit dengan rasa rindu
Menelan gelap dengan tangan menusuk jantung
Memahami diri sendiri
Dan memaafkannya”
Anak ku membaca sebuah kertas yang aku rekatkan pada dinding didepan meja kerja ku, tuliasan itu dibuat oleh dokter spesialis yang menangani ku dulu. Hatiku bergetar begitu saja dan memeluk lebih erat tubuh anak ku yang mulai kembali tertidur.
KRET…..
Aku menutup pintu anak ku untuk kesekian kali nya saat sudah memastikan dirinya baik-baik saja, tak lama aku mendengar suara obrolan dan sedikit suara tawa dari arah luar.
Aku mendekati dimana suara itu berasal dan berakhir pada rasa terkejut saat melihat Dasep yang sudah berdiri didepan istriku, Elsa.
“Eh Ayah.” Ucap istriku yang membalikkan tubuhnya.
Didepanku kini sudah ada seoarang satpam yang berpakaian lengkap dan istriku yang memegang sebuah kantung belanja berwarna merah muda dengan aksen garis tak beraturan.
Aku hanya menganggukan kepala dan merasa malas jika harus bertemua dua orang tak tahu diri – terlebih ada sebuah notifikasi dari gawai ku yang baru saja muncul. Aku beralasan akan bekerja pada ruangan kerja ku dan meminta agar tak ada siapapun yang mengganggu.
Setelah mengunci pintu diriku berjalan menuju sebuah pintu dibalik karpet berwarna cokelat itu – dengan perlahan menariknya keatas hingga aku bisa melihat sebuah lorong yang menuju ruang rahasia. Kepalaku menengok sesaat sebelum turun kedlaam lorong dan terus berjalan hingga menuju ruang rahasia yang menampilkan kamar tidur ku.
Ranjang yang kududuki terasa dingin dan lembab setelah beberapa minggu aku tak sempat mengunjungi dan tampak ventilasi udara yang sedikit berembuan saat satu minggu ini diguyur hujan yang silih berganti.
Jari ku mengenggam erat ujung ranjang yang tertutupi sprei yang akan kuganti – tariakn oada sprei terus berlanjut hingga semua sisi sudah tak tersangkut pada ranjang dan tampaklah sudah ranjang putih polos yang membuat jantung ku berdebar kencang teringat akan masa lalu ku yang tak pernah tidur diatas kasur nyaman.
Dengan cepat aku membuka lemari dan mengambil sebuah sprei baru unutk dipasangkan pada ranjang yang meminta untuk segera ditutupi. Tak butuh waktu lama aku kembali duduk diatas ranjang dengan spreai baru dan mulai membuka gawaiku untuk memantau istriku yang tak kunjung masuk kedalam kamar.
“diminum pak” ucap istriku yang menaruh sebuah gelas di atas meja ruang tamu dan ikut duduk pada sofa.
Pipiku tiba-tiba basah kali ini, bukan tangisan tetapi ada sebuah cairan yang menetes dari sela plafon yang baru saja menyentuh kulit ku. Mata ku mencoba fokus untuk melihat sebuah titik yang perlahan bergerak hingga menjadi sebuah butiran dan lagi, air itu jatuh mengenai pipi ku.
Aku berdiri dan kembali barjalan menuju sebuah lemari yang menjadi benda pertama yang aku letakan pada ruang rahasia ini, mataku turun kebawah dan berakhir pada sebuah mangkuk keramik berwarna biru langit.
Aku mengambil mangkuk tersebut dan membawanya menuju atas ranjang dengan menambah sebuah kain agar tetesan air yang berasal dari palfon tak menyebabkan percikan pada ranjang disisi nya.
Setelah dirasa pas aku kembali mengambil posisi diatas ranjang dan mulai membuka kembali gawaiku yang sempat aku matikan sesaat – kali ini aku melihat istriku masih tertawa lebar dengan memegang sebuah gelas yang aku duga berisikan minuman dari serbuk matcha itu.
Tak ada orolan menarik sebelum cahaya pada cermin yang menuju kamarku mulai meredup, Aku menaruh gawai pada nakas disisi ranjang dan beridiri menuju tepat di depan cermin.
‘hujan’
Lagi-lagi aku hanya bisa mendesah kecil saat tetesan pada sela plafon kian cepat seiring dengan besarnya hujan kali ini. Mangkuk keramik yang menjadi penampungan sementara kini tak mampu lagi menahan air yang menetes dan terpaksa aku mengganti dengan sebuah vas bunga besar yang sebelumnya aku taruh pada susut ruang.
Berbeda dengan mangkuk yang membutuhkan kain, kini vas bunga yang cukup tinggi membuat air terperangkap didalamnya – aku terkekeh oplan saat tetesan itu menghasilakn suara dengan tempo yang rapat dan membuat aku kembali sadar behwa istriku masih bersama Dasep di ruang tamu.
Saat aku menyakakan gawai ku terdapat notifikasi bahawa sebelumnya istriku menelpon – tepat tiga menit lalu dan membuat kau mengerutkan kening. Aku memilih untuk menelpon kembali istriku yang tak lama dia angkat.
“Halo yah, ini aku buat mie buat Mang Dasep.” Aku menahan rasa kesal begitu saja hingga tanpa sadar tanganku memukul vas bunga.
PRANGGG
“Ayah?” tanya istriku cepat saat suara pecahan vas bunga membuat dirinya terkejut.
“Buat kamu aja sama Dasep – aku lagi meeting.” Putusku yang memilih untuk menutup panggilan dan tersenyum masam melihat kini rungan yang semula tampak rapi sudah berceceran pecahan keramik dari vas bunga.
Air yang semula terkumpul didalamnya sudah membasahi satu sisi ranjang – ditambah air yang menetes dari sela plafon tak kunjung berhenti membuat pikiran ku seperti dihantam sebuah palu besar.
Aku hanya bisa mengumpat beberapa kali dan memilih untuk membereskan pecahan vas bunga yang tersebar hingga keseluruh ruangan, belum lagi pecahan yang berukuran kecil yang membuat aku merendahkan pandangan hingga terlihatlah pecahan kecil yang tersentuh cahaya.
Lap basah yang semula berada didalam mangkuk pertama kini aku buat menjadi kain pel yang bisa membawa pecahan kecil tersebut.
Cukup lama kau bergelut dengan kegiatan ini hingga tak terasa hujan mulai mereda dan mataku dengan cepat bergerak saat melihat pintu kamar istriku terbuka.
Kulihat istriku berjalan pelan menuju lemari pakaian pada pojok ruangan – tangan yang terhiasi cincin perkawainan kami kini sedang membuka lemari yang aku baru tahu jika istriku sedang mengambil handuk beserta kaos hitam polos milik ku.
Tak lama ada sebuah pesan dari istriku yang masuk kedalam notifikasi gawai ku.
“Ayah, aku minjem koas kamu ya…. Mang Dasep kebasahan pas ganti lampu di teras belakang tadi”
Lagi dan lagi aku hanya bisa menahan napas saat tahu istriku sudah begitu dekat dengan pria yang baru dikenalnya kemarin. Anehnya satpam itu dengan leluasa masuk kedalam rumahku yang notabene adalah warga yang baru Ia kenal.
Amarahku sesakan memuncak begitu saja saat ini dan dengan cepat aku berjalan meuju lorong yang menuju ruang kerja ku, maka tak butuh waktu lama aku ssudah berada didalam ruang kerja yang sebelumnya menjadi alasan ku saat meninggalkan istriku bersama Dasep.
Aku mengambil sebuah laptop dan beberapa lembar kertas yang aku simpan pada laci meja kerja ku – entahlah rasanya aku sudah tak nyaman berada didalam rumah bersama istriku saat ini meski dengan posisi yang berbeda.
Batinku rasanya ingin berteriak sekencang mungkin didepan muka istirku sembari menusuknya dengan sebuah botol yang membunuh ayahku dahulu.
Karena memang kini aku tak bisa merumuskan cara agar bisa keluar dari masalah ini selain menghindarinya dengan sejauh mungkin - langkah kaki ku membawa pada ruangan Tengah rumah dimana aku bisa dengan jelas melihat istriku yang masih mengobrol dengan Dasep.
Aku hanya bisa berjalan cepat sebelum melewati keduanya dengan tatapan jijik sekalgius marah pada saat yang bersamaan.
“mau kemana?” tanya istriku dengan cepat saat aku sudah berada didepan pintu.
Aku hanya bisa melewati keduanya dengan tanpa jawaban dan dengan cepat membuka pintu mobil ku saat ini – istriku mengikuti hingga tepat berada diepan pintu mobil.
Tangan istriku mengepal dan mengetuk dengan cepat kaca mobilku yang tak aku tanggapi – rasanya malas hanya untuk membuka kaca mobil terlebih Daep yang sudah berdiri di depan pintu rumah ku.
Aku tak menghiraukan keduanya dan memilih untuk melajukan mobil agar segera meninggalkan rumah meski anak pertamaku saat ini sedang sakit.
Tepat setelah aku keluar dari gerbang komplek hujan kembali turun bersamaan dengn air mataku yang turun hingga tak bisa ku hentikan - pandanganku memburam seiring cepatnya mobil ini membelah derasnya hujan.
BERSAMBUNG.
==========
==========
09 | SURGAWI SEMU
Hujan masih belum berhenti saat aku sudah berada didalam sebuah ruang tunggu klinik dokter yang sejak lama menjadi tempat curhat terakhir ku.
"Feri Irwan" ucap seorang wanita dari balik ruangan tertutup kaca.
Aku mendekati nya dan merendahkan kepalaku untuk bisa melihat dengan langsung.
"Obat nya bisa diminum saat serangan panik, satu lagi bisa rutin seminggu ini satu kali sehari sehabis makan ya" ucap nya yang aku tanggapi secepat mungkin.
Setelah dirasa cukup aku memilih untuk meninggalkan ruangan bernuansa putih dan kelam ini, tepat disinilah aku dipulihkan dari rasa trauma yang sayang nya muncul kembali baru ini.
Masih teringat dengan jelas dokter yang merawat ku dulu hanya menggeleng kan kepala dan dengan cepat tahu penyebab aku datang untuk meminta surga semu berupa obat keras yang bisa melupakan sejenak tentang rasa sakit, kehilangan juga kecewa terhadap dunia.
Hingga yang tersisa hanya untuk bernapas dan mencari tahu sampai sejauh mana tuhan memainkan bidaknya yang sudah tak berdaya ini.
Aku meremas pelan botol plastik bening berisikan beberapa kapsul berwana putih yang sudah menghangat seiring kerasnya aku meremas. Penglihatan ku mulai mengabur saat efek obat yang sudah bekerja melemahkan saraf ku yang sebelumnya menegang melihat ingatan masa lalu.
Dering telepon membangunkan ku, suara keras itu menjadi pengganggu yang terus saja memanggil tanpa tahu jika aku sedang males untuk sekedar bergerak.
"Kamu dimana si?" Tanya istriku setelah satu Minggu aku memilih untuk menghilang dari semaunya termasuk keluarga ku.
Terlintas notifikasi pesan dari istriku sudah menyentuh angka ratusan dan aku hanya bisa diam dan membukanya.
Pesan itu bermula saat aku pergi meninggalkan dirinya yang sedang asyik bersama Dasep - lanjut hingga satu hari kemarin dimana dirinya mengabari akan pergi bersama Maya dan mengintip kan anak-anak pada mertua ku.
Jam dinding dibalik tubuhku terus bergerak seiring dengan cahaya yang semakin terang mengisi seluruh ruangan studio ku pada rumah kedua.
Ya setelah meninggal kan rumah aku memilih untuk mengawasi kondisi rumah pada cctv dan tampaknya tak ada hal janggal karena semenjak aku pergi tak ada pria lain yang masuk kedalam rumahku.
Aku membersihkan sisa makanan yang berada diatas meja dan mencoba mengenyahkan rasa malas yang sebentar lagi akan datang.
Udara siang ini terasa sejuk dengan butiran air yang masih menetes dari sang langit dan jalan masih basah setelah jutaan kali terinjak panasnya ban kendaraan.
Aku menyalakan tv besar yang menjadi alat pemantauan ku selama ini dan bisa ditebak bahwa kondisi rumah sama dengan kemarin. Tak ada hal spesial yang terjadi bahkan mainan anak ku yang berserak pada ruang tengah tak bergerak sama sekali.
TING TUNG
aku terhenyak saat suara bel pada rumahku mengalihkan fokusku pada tv yang masih menampilkan cctv, segera aku mematikan tv dan dengan cepat berjalan menuju pintu depan rumah.
Aku membuka pelan pintu rumahku dan betapa terkejutnya melihat istriku yang sudah berdiri ditemani Maya yang sedang mengerucutkan mulutnya.
Tanpa sepatah kata pun istriku mendorong dan memaksa masuk dan diikuti oleh Maya dengan gerakan yang sama.
"MANA LOE PELAKOR!!" Teriak istriku yang menyusuri seluruh rumah, mungkin jika ada semut - hewan itu akan berlari cepat karena kencangnya suara istriku yang bisa memecahkan gendang telinga.
Masih dengan emosi yang memuncak istriku berlari kearah taman belakang bahkan pintu yang tak bersalah pun turut menjadi korban dengan dibantingnya tanpa rasa ampun.
"Lo sembunyiin dimana ?" Tanya Maya yang saat ini berada disampingku.
"Hah?" Tanya ku yang masih tak mengerti.
"Halah jangan sok polos, lo tiba-tiba kabur ninggalin Elsa. Apalagi kalo bukan masalah cewe" ucap Maya bahkan ludahnya turut keluar hingga mengenai baju ku.
Aku menggeleng pelan dan menutup pintu depan sembari mengecek posisi dimana mobil istriku terparkir, setelah dirasa aman aku berjalan melewati Maya yang masih misuh misuh itu.
Istriku masih saja berjalan panik dan terdiam saat tanganku mengambil alih tubuhnya yang saat ini memakai legging hitam dan kaus putih itu.
"Aku sakit" ucapku yang membuat air mata istriku jatuh begitu saja.
Memang sejak awal kenal aku sudah berterus terang tentang masa lalu termasuk ketergantungan pada obat yang menjadi penenang ku selama ini.
Namun, setelah kelahiran anak pertama dengan ajaib obat yang selama ini menjadi penyokong tak lagi dibutuhkan dan berangsur pulih hingga sekarang aku memutuskan untuk memakan obat sialan itu.
Tangan ku kian erat memeluk tubuhku dan membuat mau tak mau aku ikut memeluk nya.
---
Didepan ku Maya sudah asyik dengan semangkuk bakso dan matanya fokus pada layar tv, sedang diriku masih menunggu istriku yang masih didalam kamar mandi.
"Maaf ya Fer, hehe" ucap Maya yang masih mengunyah itu.
"Hmm, Telen dulu kali baru ngomong" ucapku yang dibalas dengan suapan baru yang tak kunjung selesai karena Maya sudah menghabiskan dua mangkuk dan saat ini masuk mangkuk ketiga.
Istriku datang dengan muka yang masih basah dan tangan yang menggenggam botol berisikan obat milik ku.
"Ini yang mingguan?" Tanya istriku sembari menyodorkan obat padaku, aku dengan cepat mengambil alih dan menempatkan pada sisi bawah meja.
"Dokter Arman lagi?" Tanya istriku yang aku Amini.
"Abis ini mau kemana?" Tanyaku setelah berdiam cukup lama.
"Ke rumah Maya buat nyiapin hantaran pernikahan" ucap istriku yang ditanggapi oleh Maya dengan tatapan tak percaya.
Melihat itu aku berakting dengan senyuman yang tak bisa diartikan oleh siapapun - termasuk diriku.
"Yaudah hati-hati" putus ku yang mengambil sisa mangkuk diatas meja untuk dibawa menuju dapur. Mengambil busa berwarna kuning dan setetes sabun kemudian ku usap pelan pada setiap sisi mangkuk.
Air dingin yang mengalir menjadi temanku saat ini meski sudah ada istriku yang memeluk dari arah belakang sembari mengucapkan salam perpisahan yang aku tangkap adalah sebuah pintu kebohongan baru.
Adrenalin ku kini terpacu kembali dengan rasa penasaran juga rasa antipati terhadap orang orang disekitar ku.
Berbeda dengan satu jam lalu ruangan ini kembali sepi dengan suara televisi yang sengaja aku hidupkan gar tak terlalu kosong, berkali-kali aku mengecek aplikasi cctv dan belum ada tanda-tanda kedatangan istriku.
Meski ada sedikit ragu tetapi rasa yakin ku kini lebih besar jika istriku akan datang bersama pria lain yang tak bisa aku tebak.
Merasa bosan pada acara televisi aku memindahkan pada aplikasi cctv yang berada pad ujung pilihan aplikasi televisi. Dalam satu klik mataku membulat melihat istriku yang tak berbusana berjalan menuju arah dapur sedangkan pada ruang tamu sudah duduk dua orang pria yang tak lain adalah Pak Soni dan Dasep yang sedang asyik dengan rokok nya.
"Ini serius pak kayak mimpi liat ibu Elsa kayak gitu" ucap Dasep dengan senyuman cabulnya.
"Hahaha, nanti kamu cobain memek orang kaya hahaha" balas Pak Soni yang memilih untuk berdiri dan menyusul istriku yang masih berkutat pada dapur.
"Uhhhh" lenguh istriku saat tangan nakal Pak Soni tiba-tiba bersarang pada pantat nya yang terbuka karena saat ini istriku hanya memakai celemek berwarna putih.
Tak sampai disitu tangan yang semula hanya meremas pelan kini menuntut hal lain dengan memasukan jari telunjuk nya pada sela diantara kedua pantat cantik istriku.
Benar saja, istriku merespon dengan semakin menungging kan pinggulnya.
Tak ada suara yang bisa aku dengar saat Pak Soni mendekatkan mulutnya pada kedua leher istriku, namun aku hanya bisa menggelengkan kepala saat gerakan itu direspon dengan senyuman manis dari istriku. Jari keriput milik Pak Soni masih saja berkutat pada belahan vagina istriku sedangkan Dasep sudah gerak gelisah dengan mencuri pandang kearah dapur.
"jangan ah pak" pinta istriku yang merasa risih saat tangan nya masih bergerak memindah kan beberapa bumbu kedalam wajan.
"Bentar aja dek Elsa" Pak Soni tak menghiraukan dan tetap mengusap pantat mulus milik istriku.
Dasep hanya bisa diam dengan mata yang tak kunjung beranjak dari perbuatan cabul Pak Soni yang menuntut untuk dibalas. Tangan keriput milik Pak Soni kini berpindah menuju perut istriku yang bisa dengan mudah disentuh karena celemek yang dipakai terhalang oleh payudara yang membusung.
Istriku hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Pak Soni yang tak kunjung berhenti meski mulutnya sudah berbusa untuk memohon tidak diganggu, namun seperti ingin menunjukkan hasil karya pada Dasep orang tua itu dengan sigap mengabaikan segala permohonan istriku.
Benar saja usapan yang semula hanya berkutat pada perut kini berpindah menuju arah bawah bahkan dengan menggerakkan lebih dalam jari-jari Pak Soni sudah bersarang pada vagina istriku. Aku hanya bisa menahan nafsu saat tangan itu kembali bergerak sedang istriku yang semula risih kini tampak mulai menikmati dengan mulut yang mendesah pelan.
Bagaikan serigala yang diberi sebuah daging segar Pak Soni hanya tersenyum nakal dan menciumi punggung bawah istriku yang terbuka sembari terus menggerakkan jarinya yang aku duga sudah dilumuri oleh cairan kenikmatan itu. Andai saja aku berada pada posisi itu mungkin akan kumasukkan penisku dengan cepat terlebih keringat yang sudah membanjiri punggung istriku yang akan terasa gurih jika ku juga jilat.
Suasana pada ruang tamu ku saat ini semakin terasa gerah terlebih udara yang menipis saat suasana semakin mendung.
Mataku rasanya akan keluar begitu saja saat melihat Dasep mulai mengeluarkan penisnya dan benar saja penis itu sudah mengacung dengan urat yang menonjol pada sisi kanannya.
Aku lagi-lagi tak habis pikir dengan apa yang aku lihat dan imajinasi ku kembali melayang berharap agar Dasep ikut dalam permainan bersama istriku yang kali ini sedang didalam kendali Pak Soni.
Tangan istriku sudah melepaskan segala alat dapur dan saat ini hanya bisa memegang ujung meja pantry dengan kepala yang menggeleng pelan saat jari Pak Soni kian gencar mengocok vaginanya yang sudah basah itu.
"Uhhh pak udah pak sshhh" desah istriku yang bingung saat pak Soni terus mengocok vaginanya yang sudah basah.
"Ikutin aja dek, jangan dilawan mmmhhh" ucap Pak Soni dengan nafas yang memburu.
Kocokan yang semula hanya satu jari kini bertambah hingga tiga jari sekaligus yang membuat istriku semakin memundurkan pinggulnya, bahkan satu tangan yang awalnya hanya meremas sudut pantry kini sudah meremas payudara yang bergetar seiring cepatnya kocokan jari pria tua itu.
"Aduduuhhh pakkk shhhh" desah istriku yang semakin bergerak tak beraturan terlebih suasana yang mendung membuat udara semakin menipis.
Tangan istriku bergerak asal bahkan dengan tanpa sengaja tangannya membuka kran wastafel sehingga aku hanya bisa mendengar gemericik air yang terkena seng yang sangat memekakkan telinga.
Aku memilih melepaskan earphone dan mengganti tampilan cctv menjadi 2 bagian antara Dasep dan istriku yang masih dibawah kendali Pak Soni. Dan benar saja Dasep sudah asyik dalam mengocok kontolnya yang berwarna hitam legam itu - satpam baru komplek ku itu bahkan bangkit dari sofa yang empuk itu dan memilih mendekat hingga hanya tersisa beberapa meter dari istriku.
Tampilan aku rubah kembali menjadi satu bagian hingga aku bisa melihat dengan jelas dan mencoba memasang kembali earphone saat melihat pak Soni mematikan kran wastafel.
Saat mematikan kran wastafel saat itu pula jari-jari Pak Soni berhenti memainkan vagina istriku dan melepas kannya dengan cepat - istriku hanya melenguh dan sekali menoleh pada lawan main nya itu.
Dasep masih saja mengocok kontolnya sendiri hingga tubuhnya ikut membungkuk dan urat pada tangan nya keluar begitu saja hingga membuat istriku hanya tertawa kecil. Pak Soni ikut meramaikan dengan tawa cabul yang aku duga seperti anak kecil yang memamerkan mainan baru nya.
Sesaat setelah wastafel surut Pak Soni menurunkan pundaknya hingga kini sejajar dengan paha istriku yang bersih dari bulu halus itu dan tanpa menunggu lebih lama mulut yang dipastikan berbau tembakau itu sudah bersarang pada vagina istriku.
"Ouhhh pak Soni uhhhhh" istriku kembali menjerit dan mendengar itu aku membuka celana dalam ku yang semula menghalangi.
Tanganku sudah menegang erat penis yang meminta untuk segera dipuaskan, urat penisku menonjol bahkan sudah seperti kehilangan akal aku mengencangkan siara volume dan mencabut sambungan earphone.
Sedikit melirik pada jendela luar dan mengambil bantal tambahan untuk sekedar menyangga punggung ku yang membuat rongga antara kulit dengan sudut sofa.
Kepala pak Soni menggeleng seiring dengan gerakan pantat istriku yang memutar asal dengan kedua tangan yang meremasi payudara nya.
"Pakkk colok pak udah shhhhh" istriku tampak nya sudah berada dititik jurang dan meminta agar cepat diselesaikan.
Benar saja Dasep semakin mempercepat kocokannya begitu pula dengan ku yang baru saja mengeluarkan penis ikut terbawa kedalam permainan.
Pak Soni bangkit dan kembali memposisikan tangannya untuk mencolok cepat vagina istriku.
"Ahhh pakkk teruss" desah istriku yang terdengar seperti tangisan penyesalan ketika memohon untuk segar dipuaskan.
Pak Soni ikut kesetanan dengan mempercepat kocokan jarinya, tangan istriku bergerak gelisah antara jari-jari milik Pak Soni tak dan gerakan yang semakin kencang , namun bocah tua nakal itu masih saja menjahili dan terus bergerilya dengan tempo yang semakin cepat.
Benar saja tak sampai dua menit istriku melolong dengan suara tipis dan tubuhnya bergetar pelan saat kocokan pada vaginanya berangsur pelan dan berhenti.
"Enak hmmm?" Goda Pak Soni setelah mencabut jarinya dari vagina istriku dan bagaikan pemenang olimpiade ketua RW itu berjalan menuju ruang tamu dan memamerkan hasil kecabulan nya pada Dasep yang masih tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
"Nih liat, udah lu nurut aja makanya HAHAHA" Ucap Pak Soni dengan angkuh sembari mengelapkan cairan vagina istriku pada muka Dasep yang masih melongo itu.
Sedang istriku tampak gelisah dengan tangan yang mencoba menggapai paha bagian dalamnya dengan sebuah lap - keringat nya mulai bermunculan sedangkan aku masih berusaha menormalkan jantung dengan semua yang terjadi didepan mataku meski melalui kamera tersembunyi ini.
Namun pikiran buruk yang semula menghinggapi pikiranku kini hilang entah kemana dan rasa-rasanya aku tak membutuhkan sebuah pil berwarna putih itu lagi. Setiap kali istriku merasakan orgasme dengan pria lain saat itu juga adrenalin ku mengalir deras disertai sebuah rasa aman yang datang dengan sesaat.
Tapi satu hal yang aku sadari pula semakin lama hubungan seperti ini terjadi maka akan ada sebuah akhir yang tak bisa aku prediksi hingga saat ini terlebih mentalku yang turun tiap hari.
Pandangan ku hanya bisa berfokus pada televisi tanpa tahu jika saat ini aku hanya sendiri melawan rasa takut juga masa lalu yang menuntut untuk segera dibayarkan - entahlah mungkin besok, lusa atau tahun demi tahun akan seperti ini hingga aku kembali pada masa lalu dan menghentikan semua yang terjadi antara aku dan kedua orang tuaku.
BERSAMBUNG.
==========
==========
10 | AJI MUMPUNG
Beribu-ribu puisi kan ku tulis untuk mendeskripsikan wajah dari Elsa yang dahulu menemani ku mengarungi lautan darah yang membanjiri ruangan dengan ibuku yang terkulai lemas, bulu mata yang lentik dengan susuan gigi rapih membuat siapa saja rela mendekati nya.
Andai saja Elsa hidup di jaman dahulu mungkin ia adalah penyebab peperangan yang disebabkan oleh perebutan akan hatinya, tapi begitulah Elsa yang dahulu aku temui bersama sejuta pesonanya.
---
Aku duduk pada selasar kantin jurusan dengan sebuah botol yang berisikan air putih dengan dicampur bubuk kopi. Menghirup nya pelan dan berusaha menikmati sapuan udara dari hujan yang turun.
Beberapa kali muka ku seperti ditiup oleh angin yang membawa air hujan sedang tubuhku hanya terbungkus jaket tipis berlogo tiga garis yang sudah aku pakai sejak SMA hingga kini menjelang semester akhir.
"Feri ya?" Ucap seseorang wanita yang datang dari arah samping dengan membawa tas selempang berwarna mocca itu.
"Ehh, betul ada apa?" Tanya ku yang tak pernah melihat wanita dengan rambut sepundak serta senyumnya yang membuat hujan ku segera menjadi hangat.
"Aku Elsa, dari komunikasi" ucapnya yang membuat hidupku berubah 360 derajat dan Mambawa sebuah kabar gembira pada anak dengan cacat mental seperti ku.
Benar, aku akui jika saat ini bayangan itu terus berputar hingga aku lupa jika mataku menatap kosong pada layar televisi yang masih menampilkan kondisi rumah ku.
Elsa - istriku kini duduk dengan napas yang terengah dengan tangan memegang sendok berisikan nasi beserta lauk.
"Dimakan dong" ucap Pak Soni yang duduk tepat didepan istriku sedang Dasep berada disebelahnya.
Tapi bagai boneka porselen istriku hanya bergeming dengan sendok yang masih terangkat. Pak Soni menggeleng pelan dan menyentuh tangan istriku.
"Ehh gimana pak?"
"Hmmm, Sep kamu keluar dulu" titah Pak Soni pada Dasep yang dengan cepat dipatuhi oleh satpam itu.
"Ada apa?" Tanya Pak Soni dengan senyum nakalnya, tak lupa tangannya kini menggenggam erat istriku.
"Ga ada apa-apa" balas istriku yang berbanding terbalik dengan air mata nya yang turun perlahan dan dengan cepat diusap oleh Pak Soni.
"Masa gak ada apa-apa malah nangis" pak Soni beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kearah dapur untuk mengambil segelas air setelah melihat gelas pada samping istriku sudah habis tak bersisa.
Meski air putih yang baru dibawa oleh Pak Soni sudah tandas, tak urung membuat mulut istriku terbuka untuk berbicara - kecuali matanya yang kian tak bisa berhenti menyeka. Pak Soni menggeleng pelan termasuk diriku yang merasa aneh dengan segala sifat Elsa yang berubah-ubah layaknya langit. Sebelumnya dia bagaikan awan putih namun dengan cepat berubah menjadi awan hitam mendung yang siap menyambar manusia dengan segala keangkuhannya.
"Aku merasa bersalah sama mas Feri" hatiku tetiba merasa hangat saat kata itu meluncur bebas dan menikam setiap saraf pada muka juga hatiku.
Terdengar aneh tapi begitulah rasanya ada jutaan kupu-kupu yang siap lepas landas dari lubang pusarku saat tahu jika Elsa lagi memikirkan ku meski sebelumnya sudah menjadi bulan-bulanan Pak Soni.
"Kok gitu si?" Tanya Pak Soni dengan raut yang tak bisa dibaca, pria itu bergerak untuk duduk tepat disebelah istriku.
Berbeda dengan sebelumnya kali ini istriku seperti risih dengan melepaskan tangan pak Soni dari atas paha nya yang tak tertutup apapun. Lagi-lagi aku tersenyum bangga dan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi termasuk gerakan tangan Elsa yang mengambil gawai pada sisi meja makan.
Tak sampai lima detik panggilan menghampiri gawai ku yang sejak tadi kudiamkan diatas meja - menampilkan foto ku bersama anak-anak dan juga sebuah tombol merah dan hijau.
Aku berusaha menormalkan rasa haru ku dan menggeser ikon hijau menuju arah atas untuk menerima panggilan dari istriku itu.
"Halo" ucapku membuka panggilan dengan suara yang bergetar menahan rasa tak percaya.
"Halo yah" balas istriku yang kali ini kulihat pada layar televisi sudah berdiri menuju arah belakang untuk menjauh dari jangkauan Pak Soni meski istriku masih tampil tanpa busana.
"Gimana, ada apa?" Tanya ku tak sabar seperti anak yang meminta untuk segera dibuatkan sebotol susu.
'sialan'
Mataku melotot sejadi-jadinya saat melihat pak Soni dengan cepat mengambil alih gawai pada tangan istriku dan dengan cepat menaruh nya diatas meja makan. Aku masih meremas gawai saat tangan keriput pak Soni meremas kedua payudara istriku dari arah belakang.
"Ngapain si" ucap pak Soni dengan suara tertahan dan memajukan posisi selangkangan nya hingga bersarang didepan pantat istriku yang polos itu.
"Uhhh lepas pak shhhh" racau istriku dengan ekspresi yang campur aduk itu.
Bahkan aku bisa dengan jelas mendengar kan lenguhan panjang istriku dari balik panggilan yang belum terputus itu, sepertinya hilang sudah kesempatan untuk kembali menjadi Elsa yang ku kenal karena saat ini dia hanya bisa memejamkan mata saat goyangan pinggul pria tua itu semakin menuntut.
Suara desahan istriku mendadak tak terdengar saat tangan nya terlanjur sadar jika masih berada dalam panggilan denganku dan dengan cepat jari-jarinya menekan ikon merah dan membuat aku kembali masam dan memperbesar suara televisi agar bisa dengan jelas mendengar setiap suara yang keluar dari mulutnya.
Kali ini remasan tangan pak Soni berbeda dari sebelumnya - kali ini lebih kasar dan menuntut seakan tak terima jika istriku merasa bersalah dan tak pantas untuk meminta maaf dariku.
"Sshhaakit pakk" jerit istriku saat rambut panjang ditarik paksa hingga kedua payudara nya membusung dengan bergetar hebat.
Jeritan itu cukup keras hingga membuat Dasep datang dari arah belakang dan berjalan mendekati istriku.
Satpam komplek itu sedikit menggeleng dan menepuk pak Soni agar memelankan suaranya namun nihil peringatan dari Dasep tak di gubris.
"Lu kalo mau diem aja, gak usah jadi pahlawan" ucap pak Soni dingin membuat Dasep kembali menggeleng namun kali ini sembari membuka celananya.
Kali ini sudah ada tiga orang dengan tanpa busana yang terlihat polos dengan segala birahinya masing-masing. Istriku masih menangis saat remasan pada payudaranya semakin kencang dan sesekali ikut ditampar oleh tangan keriput dari ketua RW komplek ku itu.
Tubuhnya yang putih kini berubah menjadi merah saat Dasep ikut meremasi tubuhnya meski dengan posisi berdiri.
"Awas sep, mulai kurang ajar ini Elsa" ucap pak Soni menarik paksa rambut istriku dan mengarahkannya agar kembali pada meja makan dengan posisi menungging hingga kedua payudara terjepit dan menciptakan himpitan antara payudara juga meja.
Pantat istriku yang sebelumnya menjadi bulan-bulanan pak Soni kini berpindah pada tangan Dasep yang ikut dalam permainan. Tampak pak Soni keluar dari rumah yang aku duga pria itu akan membiarkan agar Dasep menggunakan istriku terlebih dahulu.
"Maaf Bu, Dasep masukin ya" izin Dasep yang belum dibalas sudah tanggung masuk.
"Auhhhhh masih kering seppp" jerit istri ku yang tak digubris dan tetap memaksa agar penisnya masuk kedalam vagina istriku.
"Maaf Bu Dasep udah sangee shhh, rapet banget Bu" balas Dasep tanpa peduli langsung menggerakkan pinggul nya hingga timbul suara Antara kaki meja yang bermaterialkan kayu itu dengan lantai granit rumahku.
Tiap kali Dasep memajukan pinggulnya saat itu pula istriku menjerit keras. Mata Dasep memutih dengan kepala yang mendongak seperti tak percaya jika ini semua bisa terjadi sedang tangan istriku menjulur hingga hampir mengenai ujung meja dengan kepala miring.
"Masih kering Dasep shhhhhh" jerit istri ku yang tak ditanggapi sedikit pun.
Goyangan Dasep mulai cepat secara perlahan-lahan terlebih ku tebak jika vagina istriku mulai ikut membasahi sang empu.
Panis hitam dengan urat yang menonjol itu menerobos paksa lapisan demi lapisan yang belum sempurna terlumasi oleh cairan hingga membuat istriku hingga kini mendesah kesakitan. Pak Soni tak kunjung masuk dan seperti pecundang yang kabur dari sebuah peperangan.
Sedang aku seperti melihat atraksi dengan sensasi baru karena baru kali ini melihat istriku yang diperlakukan begitu murah nya yang membuat penisku semakin naik. Tanpa lama aku mulai menaikan kaki ku pada atas meja dan menurunkan resleting hingga kini penisku bebas untuk kupegang.
"Aduduuhhh pakkk" jerit istriku saat goyangan pinggul Dasep mulai kembali bergerak setelah sementara waktu memelih untuk diam. Tubuh Dasep yang hitam legam itu ikut condong kearah depan dengan tangan meremas pantat putih istriku.
"Uhhh buu sexy benget shhhh" penis Dasep mulai masuk dan keluar seiring goyangan nya yang semakin cepat sedang istriku yang semula menjerit kesakitan kini berubah layaknya wanita dengan sejuta birahi.
Tangan nya yang semulai hanya memegang meja kini meminta agar bisa dipegang oleh desep hingga payudaranya ikut terangkat dan terlihat dengan jelas dari arah samping.
"Shhh ahhh terus seppp gilaaa, lebih gede dari pak Soni ahhuuhhhh"
“ahhhh enak banget neng ini kayak di kenyot”
Payudara istriku bergoyang tak tentu arah terlebih perlakuan Pak Soni akhir akhir ini yang secara tidak langsung membuat ukuran payudara istriku sedikit lebih besar.
Benar saja goyangan yang semula hanya menggerakkan payudara istriku kini bertambah hingga ranjang yang menjadi tempat keduanya bercinta ikut bergerak terlabih tenaga super milik Dasep yang membuat istriku semakin merendahkan tubuh bagian depannya.
Mungkin jika aku berada tepat disamping istriku akan tak jauh berbeda seperti melihat perosotan yang berakhir pada tengkuknya yang ditutupi oleh bulu-bulu halus dari anak rambut.
Desahan demi desahan terus keluar diiringi dengan geraman dari mulut Dasep yang sesekali menampar pantat istriku, aku masih membulatkan mata dan tak percaya dengan apa yang terjadi karena dengan jelas beberapa jam sebelum nya aku masih berbincang asyik bersama Maya dan istriku tentunya.
"Auhhh aaaa enakk shhhh" jerit istriku yang terus berusaha melirik kearah Dasep meski tubuhnya terus bergoyang dengan tangan yang tertarik oleh tenaga Dasep.
“Anjing enak banget ini memek terus mbaaa” Dasep menggeram dan mulai beraksi kembali dengan menyatukan helai rambut istriku dan merubahnya menajdi seperti tali yang diikatkan pada seekor kuda – namun berbeda dengan istriku yang tak lebih baik dari seorang pelacur komplek murahan yang dengan rela dan sadar digenjot oleh satpam juga ketua RW.
Aku kembali dengan perhatian penuh terlebih penisku yang sudah sakit menenkan celana pendek yang terhalang celana dalam ini – dengan tenaga yang terisi kembali aku mencoba untuk masuk kedalam permainan jahanam ini.
“ahhhhh seppppp” istriku kembali menjerit saat goyangan pinggul dasep berubah menjadi hentakan dengan ritme jarang-jarang itu.
“ohhhhh enak banggeeettt” ucap Dasep tiap kali kulitnya beradu meski penis hitamnya tak keluar sepenuhnya dari vagina istriku.
Benar saja istriku kian merendahkan tubuhnya dan semakin menunggingkan pingggulnya hingga aku menggeleng pelan meski tangan ini masih terus untuk mengocok penis yang memanas dan tak sampai dua menit aku sudah mencapai puncak kenikmatan kembali meski istriku belum ada tanda-tanda akan keluar cepat.
Spermaku seperti menampilkan jati diriku yang sebenernya yaitu suami lemah yang tak punya kuasa akan dirinya sendiri dan memilih untuk istriku menajdi lebih dari sebelumnya.
“ahhhh enakkk” istriku mendesaha kemabli sesaat saat kupingku kembali terpasang earphone.
“gini hmmmmm nungging aja bangsat” umpat Dasep yang menyudahi hentakannya dan beralih pada goyangan konstan semula dengan ritme yang dipercepat.
“ahhhh pelannn masssshhhh” istirku mengaduh dan tak percaya jika Dasep yang kesetananan menggarapnya seperti tak ada hari esok.
“rapet banget ini mau crott mbaaaa aduhhh” asep berteriak hingga aku tak percaya dengan semua ini – istriku hanya bisa mndesah menhana rasa sakit juga nikmat.
“Bener seppp terusss mau juga ini aahhhhh”
Tia-tiba keduanya terdiam meski Dasep masih menggenjot istriku dengan ritem yang semakin kencang ingga aku bisa dengan jela mendengar suara pertemuan dua kulit berbeda warn aitu.
“SEPPPPPP”
“BUUUUUU”
Keduanya melolong pasrah tak lama setelah goyangan Dasep yang dipercepat hingga saliva ku rasanya berat untuk sekedar menelan ludah.
Kedaunya masih bergoyang pelan dan aku dug ajika Daspe mengeluarkan seluruh spermanya pada vagina hangat istriku yang sebelumnya baru saja digarap jari-jari keriput Pak Soni. Aku hanya bisa berusaha menormalan detak jantung yang masih berdebar kencang dengan bibir kering yang tak sempat aku basahi.
Dengan cepat tanganku mengambil gelas berisikan air putih yang menajdi obat Penawar dahaga – sementara istriku kini mulau mencoba melepaskan rangkulan tangan Dasep yang masih meremasi pantat putihnya hingga berwarna merah itu.
“makasih buu” ucap Dasep dengan nada canggungnya smebari melepaskan penisnya dan hanya disambut oleh anggukan dari kepala istirku yang sudah kehabisan tenaga itu.
Seperti papan tak bernyawa istriku jatuh sesaat setelah dasep melepeskan penisnya dengan menyisakan sperma yang keluar perlahan dari sela vagina istriku yang tepat mengadapa kamera cctv ku. Kulihat mata istriku terpejam denga Dasep yang berjalan keluar dari kamar dengan mengurut penisnya yang basah oleh cairan pelumas milikya sendiri.
Aku hanya bisa memundurkan posisi tubuh dan menciba mengambil napas sedalam-dalamnya dan memutuskan untuk pulang saat ini persetan dengan Pak Soni dan Dasep yang masih berada didalam rumah mungkin ini adalah Keputusan ku yang selama ini kupikirkan.
Tubuhku seperti robot dengan daya penuh yan gdengan cepat membereskan semua barang-barangku termasuk obat-obatan yang baru saja aku minum beberapa jam lalu. Seteleah dirasa rapih dan tak ada hal lain yang tertinggal aku putuskan untuk masuk kedalam mobil dengan warna silver ini.
Menyalakan mesin dan tanpa lama mulai memebelah jalanan dengan kecekpatan yang sedikit cepat dari biasanya dan – Sial.
Jalanan lebih padat dari biasanya dan tersadar jika saat ini adalah jam pulang kerja yang notabene sudah macet seperti biasa – gigiku menahan marah dengan menekan geraham dan memukul stir mobil beberapa kali saat jalanan melambat dan diam dibeberapa meter kedepan.
Hanya bisa mendesah dan berusaha untuk menormalkan detak jantungku yang anehnya seperti berharap jika ada Pak Soni yang masih berada didalam rumah atau melihat istriku yang mungkin akan diagarap kedua orang asing itu.
Semoga saja hayalanku akan terjadi dan mungkin akan menjadi akhir dari semua rahasia istriku yang berusaha ia tutupi – biar jalan dan genangan yang menjadi saksi anatar kisahku yang akan berkahir sesaat lagi.
BERSAMBUNG
==========
==========
11 | BALADA ISTRI CANTIK
Mobilku masih saja diam setelah sekitar setengah jam berada dijalan - normalnya aku hanya membutuhkan setengah jam untuk sampai kerumah namun kali ini jalanan tak memberikan ampun atau tanda-tanda akan bergerak. Hanya bisa meremas kencang stir mobil dan meminggirkan nya pada sebuah minimarket yang menyala diantar gelapnya jalan kali ini.
Mengambil dua botol minuman dari balik pintu freezer dan membawanya pada kasir yang berisikan seorang wanita dengan rambut terikat. Mata ku membulat saat tatapan wanita itu menusuk mataku yang tak percaya jika - Elsa?.
"Ini aja mas?" Tanya wanita dengan seragam tiga warna itu.
Aku masih mencoba menelaah dan lagi pandangan ku tak mungkin salah jika didepanku adalah Elsa - istriku.
"Mas?"
Sial.
Ternyata bukan, memang wanita ini berkulit putih dengan mata yang bulat namun bukan istriku - pikiran ku seperti nya perlahan akan rusak membayangkan apa yang sedang terjadi dirumah dengan pak Soni dan Dasep yang masih leluasa itu.
Aku segera membayar dan memilih berlalu untuk menutupi malu yang tiba-tiba saja muncul bahkan rasanya enggan untuk esok hari datang kembali pada minimarket ini terlebih raut muka bingung kasir yang seperti melihat pelaku pencabulan.
Udara pada mobilku rasanya seperti terhisap entah kemana hingga rasanya sulit untuk sekedar bernapas dengan hati yang lebih tenang – jalanan tampak masih padat bahkan untuk masuk kedalam kemacetan tadi pun aku dibantu oleh tukang parkir yang mulai kesal dengan jalanan hari ini.
Beberapa pengendara disamping kiri ku silih berganti wajah hingga aku tersadar jika jarak mobil dengan rumahku sudah dekat dengan tanda sebuah papan reklame yang belum diganti sejak dua tahun lalu. Kini aku sudah masuk kedalam komplek yang menjadi saksi bisu antar istriku dengan pria-pria nya yang tak bisa ku pungkiri kali ini menjadi hari pembalasan.
Tanpa berlama-lama aku memarkirkan mobil bahkan sebelum turun dari pintu mobil ini aku membunyikan dua kali klakson dengan tempo sedikit lama – entahlah rasanya marah yang aku bawa semakin besar dan bermetafosis seperti bola salju yang menggelinding dan siap menabrak apapun didepan.
Rumahku tampak sepi dengan cahaya remang-remang dari balik semak semak yang sengaja ku pasang untuk mendapatkan kesan hening dan aman - tapi tidak dengan isinya karena beberapa jam lalu istriku tengah asyik dengan penis barunya yang tidak lain adalah Dasep si satpam komplek.
Aku mematikan mesin mobil hingga kini hanya terdengar napas ku yang sedikit terengah menahan rasa amarah juga penasaran yang memuncak hingga ke ubun-ubun bahkan akan meledak jika aku sentuh pelan.
Mataku menengok kearah kanan dimana pintu berbahan kayu itu tertutup yang menjadi pertanda tidak menerima orang lain - termasuk diriku mungkin. Entahlah rasanya aku sedang tak berada dirumah sendiri jika mengingat tentang desahan juga erangan dari mulut istriku yang mengisi gendang telinga.
Membuang napas kasar aku memilih melepaskan seat belt dan membuka pintu mobil dengan satu hentakan yang membuat suara berdebam yang cukup keras. Tanganku meremas kencang tas yang berisikan beberapa barang dan dengan sedikit tergesa-gesa berjalan menuju pintu ruang tamu.
Tanganku tak kunjung diam hingga beberapa kali menjatuhkan kunci yang berusaha aku masukan pada sebuah lubang yang berukuran tak seberapa itu. Aku tak dapat menutupi rasa gelisah yang sudah terdistraksi pada keringat dingin yang membulir dan siap jatuh kapan pun.
Mataku ikut bergerak gelisah dan membulat saat pintu berhasil terbuka begitu saja-
"Ee Elsa?" Tanyaku dengan raut panik, cukup aneh sebenarnya.
"Loh ayah?" Tanya istriku yang kali ini hanya memakai lingerie berwarna putih yang menampilkan mulusnya betis juga lengan - tak lupa belahan dadanya yang tercetak jelas karena himpitan pakaian dalam yang berwarna hitam itu.
"Hai" jawabku dengan cepat karena bingung dengan semuanya, bahkan mataku tak bisa melihat tanda-tanda apapun dari permainan kasar Dasep tadi.
Semua tampak normal bahkan terlalu normal untuk ukuran istri yang berselingkuh dengan dua pria sekaligus - ada rasa sedikit kecewa yang muncul saat tahu jika kedua pria sialan itu sudah hilang entah kemana.
"Anak-anak mana?" Tanyaku sesaat setelah masuk lebih dalam yang dibuntuti oleh istriku yang ikut dengan gerak pelan pula.
"Belum pulang, kamu kok gak ngabarin kalo mau pulang. Udah baikan?" Tanya istriku dengan Sura pelan yang menusuk sakit pada sudut hatiku yang entah mengapa menjadi lemah kembali.
Tangan dengan bulu halus itu memeluk erat perutku hingga hangat yang menyebar masuk pada pori-pori kulitku hingga menutupi seluruh rasa yang sejak tadi tertutupi amarah yang memerah.
Andai saja aku bisa dengan jelas melihat perlakuan istriku didepan mata mungkin rasa hangat ini akan berubah seperti kristal es yang mampu menusuk apapun dengan tajam juga dinginnya.
Udara pada rumahku berubah menjadi dingin dan hanya ada deru napas istriku pada bahu sebelah kanan juga dendam yang lenyap entah kemana. Rasa-rasanya seperti terhisap pada sebuah lubang hitam yang muncul dan menganga diantar uluh hati ku.
"Istirahat ya, aku masih cape nemenin Maya tadi."
'anjing juga tahu kamu bohong'
"Aku tidur duluan ya"
'anjing'
Istriku melepaskan belitan tangannya dan mundur perlahan menuju kamar tidur yang menyisakan tanda tanya besar yang aku sudah simpulkan setelah melihat semua tampak normal bahkan terlalu normal karena tak mungkin pula istriku bangun setelah lelah bermain dengan Dasep.
Bahkan rumah ini terkadang dibantu oleh jasa pembersihan rumah secara online - atau mungkin semua ini adalah kumpulan hayalanku yang terlalu nyata yang orang biasa sebut sebagai skizofrenia.
Aku terpaku pada sebuah jam dinding yang bergerak selaras dengan detak jantung ku yang terasa mendenyut pada sudut dahi - aku memilih untuk merendahkan tubuh dan mengambil sebuah toples plastik bening berisikan obat berwarna putih.
Tak lama setelah obat itu melewati mulut dengan perlahan denyut pada dahiku mengendur hingga gelap yang datang tanpa diminta - tak butuh waktu lama hitam itu berubah menjadi tali baja yang mengikat leherku untuk segara menutup mata.
Hingga gelap itu menjadi sebuah bunga mawar hitam yang berduri dan menusuk tiap jengkal kulitku dan tanpa bisa dicegah kepalaku ini membentur keras lantai dan tak lama aku merasakan sebuah kata yang tak lebih baik dari sebelumnya.
Aku pingsan.
----
Tali baja itu menjulur mengelilingi leher hingga aku hanya bisa tercekat menahan rasa sesak juga perih yang ditimbulkan tali berbahan baja itu, bahkan rasa-rasanya tapi itu menekan kencang hingga urat pada leherku membesar juga akan pecah jika terus seperti ini.
Namun saat aku berusaha melepaskan diri tanganku tertarik pada arah belakang dan membuat tubuhku membusung menahan rasa perih yang teramat dalam terlebih tarikan itu disertai cengkraman yang aku tak tahu berasal dari mana.
Tak lama ada sebuah cahaya yang muncul dan berjalan pelan hingga aku bisa dengan jelas melihat ibuku yang sudah berlumuran darah dengan leher yang hampir putus dan ayahku yang tersenyum dengan tangan memegang sebuah botol kaca.
Tangisanku muncul begitu saja bahkan semakin kencang suara yang ku timbul kan semakin kencang pula ikatan pada leherku dan cengkeraman pada tangan ini. Rasa sakit dengan cepat merambat dari ujung kaki ku yang tak beralaskan apapun hingga sebuah suara yang membuat rasa sakit itu mereda.
"Aku sayang kamu Fer"
Suara rendah itu masuk kedalam telinga ku dan meruntuhkan segala belitan dan menarik semua warna hitam dan menggantikannya dengan cahaya kuning yang membendar hingga mataku terbuka untuk pertama kali setelah selama ini hanya bisa terdiam melihat ibuku yang berlumuran darah.
Mataku berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina dengan tubuh yang bergoyang sedikit karena sebuah tangan yang memeluk ku.
"Udah bangun pak"
"Mas feri gapapa mas?"
Aku masih berusaha untuk memfokuskan pandangan karena mata ini masih bergelut dengan bayangan yang menyamarkan bentuk asli orang yang menyapaku sebelumnya.
Namun suara berat ini tak mungkin pria lain terlebih pakaian berwarna cokelat yang senada dari tas hingga bawah - Dasep.
Ada kepentingan apa pria itu masuk kedalam kamar yang bisa dengan jelas aku ingat menjadi saksi bisu perselingkuhan mereka, aku mencoba bangkit dengan sepenuh tenaga bahkan tangan ini bergetar hebat menahan tubuhku yang berusaha bangkit.
"Jangan dipaksain pak" ucap Dasep yang membuat keningku berkerut setelah menolak bantuan nya yang kedua kali, hingga tubuhku terangkat dan bersandar pada sisi belakang ranjang yang menjadi sandaran.
"Minum dulu yah" ucap istriku dengan nada khawatir, namun tak menggoyahkan rasa ku yang terlanjur menghitam terlebih ada Dasep yang aku tahu betul sedang manjadi pahlawan kesiangan.
Mataku mulai membaik dan perlahan aku bisa melihat bordiran yang membentuk sebuah huruf yang bersambung dan menjadi kata bertuliskan sebuah nama Dasep dengan warna hitam putih.
Aku menolah pada sisi kanan dimana istriku ikut duduk diatas ranjang dan kini menyentuh lembut lenganku yang meremas gelas berisi air - disinilah aku merasa lemah dan tak berdaya untuk sekedar bangkit dari tidur meski begitu dendam ini kembali bersarang.
Mungkin akan dendam itu berubah menjadi parasit yang menggerogoti tubuh ku dengan perlahan dan akan mati jika semua habis ditelan rindu yang menghujam jantungku.
Tangan istriku bergeser pada dahi dan berakhir pada dadaku yang ia tekan pelan.
"Minum obat dulu yah" aku hanya mengangguk dan mengisyaratkan ada maksud apa Dasep masuk kedalam kamar ini.
"Tadi kamu dibantu Dasep yah, aku gak kuat kalo gendong kamu" ucap istriku yang paham.
"Makasih mas" ucapku pada Dasep yang terlihat mulai tak nyaman dengan posisi nya saat ini.
"Antar kedepan mah" ucapku pada perempuan dengan dua anak ini.
"Ayok pak" ajak istriku pada Dasep yang dengan cepat pria itu tanggapi dengan mengikutinya seperti itik.
Aku memejamkan mata saat suara pintu yang menjadi akhir dari perbincangan dan sedikit mengendurkan otot-otot yang sebelumnya tegang menahan rasa dendam. Pintu kembali terbuka dan memperlihatkan wajah polos istriku yang berpakaian dress putih namun dengan motif bunga-bunga kecil yang memenuhi seluruh centi.
Hanya ada suara langkah Elsa yang berjalan mendekati ku tanpa menurunkan senyuman yang bisa berubah menjadi nakal itu - tanpa permisi istriku mengambil tempat disebelah ku sembari mengusap pelan tangan kiriku yang tertutup kain selimut.
Dengan perlahan tangannya menurunkan selimut yang menutupi tubuhku, jari-jari lentiknya meremas pelan tanganku tanpa merubah raut muka penuh senyum. Batinku rasanya akan berkata jika di depanku kini ada seorang penari jalang dengan seribu muka yang akan berubah setiap detik tanpa bekas sedikitpun.
Kini rasanya sepi namun bukan suasana lebih dari itu aku hanya bisa menutup mulut dan merasa semua orang mulai meninggalkan ku satu persatu seperti tanpa rasa. Istriku yang berubah seiring waktu, anak-anak ku yang mulai sering dirumah mertua dan kantorku yang sibuk sendiri. Aku kembali mencoba memejamkan mata saat efek obat yang sebelumnya ku telan.
Gelap segera menyapa dan siap untuk membantuku menyusuri lorong waktu dengan lebih cepat dan menjeda rasa sakit yang timbul beberapa waktu sebelumnya. Dinginnya malam menjadi batas mimpi dan kesadaran yang menipis, tangan istriku tak lagi meremas dan pergi menjauh saat pintu kembali terdengar terbuka.
Aku membuka mata kembali – dan gilanya kali ini langit sudah terang sedang jam dinding menunjukkan angka delapan dengan detik yang terus berlanjut. Mimpi tadi rasa-rasanya terlalu singkat jika aku ingat.
Tenaga ku kembali pulih dengan tangan yang mudah kuangkat untuk mengambil segelas air pada atas nakas. Dahaga ku sudah tuntas tapi tidak dengan rasa untuk membuang air kotor yang sudah menumpuk pada kantung kemih. Aku menyibak selimut dan berjalan pelan kearah kamar mandi yang ternyata sudah basah dengan sandal yang masih teras hangat.
Pikirku bekerja jika istriku baru saja menggunakan kamar mandi ini – aku segera mengambil sikat yang akan menggosok gigi ku, tanpa lama aku segera menyelesaikan kegiatanku dan memilih keluar dari kamar yang tak lebih baik dari penjara ini.
Aku membuka pintu pelan dan sinar dari arah depan segera menerpa muka ku yang masih terasa kebas sehabis dari bangun tidur, aku bergerak kearah dapur dan tak melihat istriku begitu pula halaman belakang yang menjadi tempat istriku menjemur beberapa pakaian.
Aku memutar arah untuk bergerak pada garasi yang terbuka sedikit – dari situlah aku bisa melihat dengan jelas pria buncit dengan kaus polo berwarna abu sedang tertawa sembari memegang perut nya. Pria itu seperti berbicara dengan seseorang tyang terhalang tembok teras depan. Rasa penasaran ku tiba-tiba saja muncul dan dengan cepat aku berjalan untuk mendekati pria itu – tapi dasar hayalan ku yang terlalu besar rasa penasaranku hanya sebatas hingga pintu dapur dan memilih untuk mengendap-endap karena mendengar suara tawa renyah dari istriku.
“kemarin jadi masak terong kan bu?” tanya pria dengan kumis tebal itu.
“belum mas, masih saya taruh di kulkas. Makasih loh udah ingetin.” Balas istriku yang terhalang tembok itu.
“gapapa bu, malah bagus. Atau mau saya ganti terong yang lebih seger. Khusus ibu elsa mah gratis HAHAHA” aku tak habis pikir pria mana lagi yang akan menjamah istriku. Gelapnya garasi membuat sedikit rasa aman pada diriku yang lagi fokus mendengarkan percakapan cabul ini.
“beneran pak?” tanya istriku dengan nada tak percaya dan langsung mencubit perut yang aku duga tukang sayur itu.
“bentar bu saya ambilkan dulu.” Balas pria itu yang berbalik dan kemabli dengan sebuah kresek putih yang berisi terong berukuran besar.
Istriku menyambut dengan tangan yang muncul dari balik tembok untuk mengambil alih kantung kresek dari tangan pria buncit yang sedang tersenyum nakal. Tepat saat tangan istriku akan mengenai kresek itu tangan tukang sayur dengan cepat memundurkan posisi kantung kresek.
“eitss, ada syaratnya tapi HAHAHA” tawa tukang sayur itu disambut oleh tawa istriku.
“ihhh mamang mah ga bener ah, katanya gratis.” Ucap istriku dengan suara rendah.
“pengen di pegang dulu kayak kemarin.”
Jantungku rasanya akan jatuh saat ini saat mendengar kata-kata itu meluncur dengan bebas yang berarti istriku sudah pernah berbuat mesum dengan pria buruk rupa itu – aku tak habis pikir dengan apa yang dilakukan istriku akhir-akhir ini.
“masa disini?” tanya istriku yang menarik kembali tangannya.
“kan ibu tahu sendiri rumah ini paling pojok – dan gak ada rumah lagi” ucap pria itu yang menjatuhkan kantung kreseknya sembari membuka resleting celana jeans nya.
“hmmm, kirain gratis yaudah cepet buka – keburu suami saya bangun.”
BERSAMBUNGG.
==========
==========
12 | SERIBU MUKA ELSA
Mataku mengedip beberapa kali dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi didepan mataku kali ini, rasa-rasanya kedua orang di depanku sadar sedang berada di depan rumah yang memungkinkan untuk orang lain lewat dan melihat kelakuan mereka.
Penis tukang sayur itu sudah berdiri dan membelah resleting celana jeans yang sudah kusam – kakinya melebar hingga aku bia dengan jelas melihat ukuran dari batang yang sudah panas itu. Tangan putih istriku muncul dari balik tembok dan dengan gerakan pelan seperti ragu-ragu.
Hingga mataku bekerja lebih cepat dengan jantung yang berdetak hebat – tangan itu dengan pelan ku lihat bergerak kedepan hingga menyentuh penis tukang sayur itu. Dan benar saja mata tukang sayur itu memejam dengan tangan yang menyentuh tembok sehingga tubuh jangkung nya membungkuk dengan bibir yang mendesis.
Kepalaku rasanya ingin meledak saat ini karena tangan istriku mulai bergerak mengurut penis tukang sayur yang aku baru lihat saat ini. Jari-jari lentiknya mengusap tanpa menekan penis dan hanya mengusap dengan tenpo pelan. Pria yang baru saja membawa sayur ‘gratis’ untuk istriku semakin bergerak gelisah dan mencoba untuk memegan tubuh istriku yang terhalang tembok itu.
“gini aja” ucap istriku saat tangan tukang sayur itu masuk melewati tembok. Aku tersenyum dan mendecih saat melihat tukang sayur itu meminta lebih. Tangan yang berpeluh keringat dengan urat yang menonjol diberbagai sisi itu kembali ditaruh pada tembok dan kembali mendesah saat tangan istriku suah mulai menyamankan posisi.
Terlihat posisi istriku yang awalanya menyentuh dari arah atas kini berubah seperti menengadah dengan arah dari bawah. Aku prediksi jika istriku kini sudah meletakkan lututnya diatas lantai dan mulai mengocok kembali penis pria barunya.
“besok bawa udang ya” ucap istriku yang masih menggerakkan tangannya.
“aduhhhh mahal atuh neng kalo udang” balas tukang sayur itu.
“yakin mahal?” balas istriku sembari menghentikan kocokannya.
“atuhh neng jangan berhenti. Yaudah-yaudah besok emang bawain udang dua kilo” balsa tukang sayur dengan nada sedikit frustasi.
Tanpa lama istriku tertawa dan kembali menggerakkan tangannya dengan tempo pelan dan berangsung cepat seiring terangnya pagi ini.
“mauuu keluar neng aduhhhh shhhhh”
“masaa sih mang hmmmm”
“aduhhhh jangan digituin nengg”
Aku tak habis pikir dengan kelakuan keduanya - belum lagi gerobak sayur yang aku duga berada tepat didepan pagar rumah ku yang bisa dengan cepat memancing orang lain untuk mendekat atau sebesar apa nafsu keduanya hingga tak mempedulikan itu semua.
Mulut ku terasa kering meski beberapa waktu lalu sudah menghabiskan satu gelas air putih - kesadaran ku rasanya akan tertarik kembali jika memaksakan apa yang kulihat saat ini. Aku memilih untuk mundur dan kembali kekamar tidurku saat mata ini mulai mengabur dan tak mungkin untuk pingsan kembali di garasi dan diketahui oleh istriku.
Tak perlu waktu lama aku sudah duduk ditepi ranjang dengan tangan menekan kencang dahi yang menegang - mulutku seperti terhipnotis dan bergerak sendiri untuk memanggil wanita sialan yang sedang bermain dengan pria baru diluar rumah.
"Mahh!" Teriak ku memanggil Elsa yang mungkin sedang menservis tukang sayur jelek itu.
Tak berapa lama istriku datang dengan memunculkan wajahnya namun kali ini disertai raut wajah yang terkejut dan mata yang bergerak gelisah. Melihat gerak-gerik anehnya aku hanya bisa menggelengkan kepala pelan dan menunduk menahan rasa sakit yang lagi dan lagi menyerang kepala ku.
"Yah sakit lagi kepala nya?" Istriku membuka seluruh pintu dan aku masih bisa dengan jelas melihat tukang sayur itu mengintip dari balik pintu ruang tamu yang bisa terlihat dengan jelas dari dalam kamar ini.
"Coba panggil dokter" titah ku yang memilih untuk membalikkan badan menahan rasa amarah juga sakit yang datang bersamaan - seperti bom atom yang akan meledak dan mungkin beberapa detik lagi ini akan terjadi.
Benar saja beberapa detik kemudian aku hanya bisa merasakan dengung bising dikedua telinga dan disusul oleh gelap yang menjadi magnet untuk menutup kedua mata - lagi, aku pingsan.
---
Tak perlu waktu lama aku sudah duduk ditepi ranjang dengan tangan menekan kencang dahi yang menegang - mulutku seperti terhipnotis dan bergerak sendiri untuk memanggil wanita sialan yang sedang bermain dengan pria baru diluar rumah.
"Mahh!" Teriak ku memanggil Elsa yang mungkin sedang menservis tukang sayur jelek itu.
Tak berapa lama istriku datang dengan memunculkan wajahnya namun kali ini disertai raut wajah yang terkejut dan mata yang bergerak gelisah. Melihat gerak-gerik anehnya aku hanya bisa menggelengkan kepala pelan dan menunduk menahan rasa sakit yang lagi dan lagi menyerang kepala ku.
"Yah sakit lagi kepala nya?" Istriku membuka seluruh pintu dan aku masih bisa dengan jelas melihat tukang sayur itu mengintip dari balik pintu ruang tamu yang bisa terlihat dengan jelas dari dalam kamar ini.
"Coba panggil dokter" titah ku yang memilih untuk membalikkan badan menahan rasa amarah juga sakit yang datang bersamaan - seperti bom atom yang akan meledak dan mungkin beberapa detik lagi ini akan terjadi.
Benar saja beberapa detik kemudian aku hanya bisa merasakan dengung bising dikedua telinga dan disusul oleh gelap yang menjadi magnet untuk menutup kedua mata - lagi, aku pingsan.
Aku merasa lelah dengan semua hal yang terjadi berulang kali tanpa bisa menahan rasa sakit ini, semua seperti berkonspirasi untuk menikam setiap urat nadiku. Istriku, anakku bahkan diriku tak mampu menjadi rumah yang nyaman atau sekedar tempat berteduh - terasa singkat dan terlalu cepat.
Ingin rasanya menjadi angin yang berterbangan kearah manapun tanpa peduli rasa bimbang akan masa lalu yang mencekam atau sekedar menjadi air yang berarak menuju laut dan menguap untuk hujan yang membasahi bumi.
Namun sayang semua itu hanya angan yang terhalang jarak yang kubuat sendiri - kurangkai dan kujalin perlahan sejak kecil hingga bermetamorfosis menjadi benang kusut yang aku tak tahu dimana ujung nya.
Aku tak lebih dari lahan gambut yang susah untuk dipadamkan dan direda bila hanya dengan segelas air yang istriku tawarkan, sulit rasanya untuk sekedar mengambil napas dan melanjutkan hidup jika semua tak bisa dikendalikan, kuatur dan kehancuran kapanpun.
Biar semua menjadi abu yang bisa tertiup sang maha dan biar aku menjadi kayu yang terbakar kering untuk melihatnya kuat dari sana.
Nafas ku akan berhenti pada detik selanjutnya dan sebelum itu terjadi adakah sedikit ruang yang kau beri pada pria sakit ini?
----
"Pak... Bisa bangun?"
Aku terperanjat dengan mata yang masih mencoba menyesuaikan dengan cahaya dikamar ku. Aku kembali untuk mengambil nafas sejenak dan berpikir jika ini adalah kesempatan yang Dia berikan padaku untuk bertindak menjadi pribadi yang kuat. Bukan maha tapi hanya bisa dan cukup untuk mengambil tindakan yang akan kulakukan pada detik berikutnya.
"Pak Purnomo?" Tanya ku setelah cukup lama mengedipkan mata dan tak percaya disamping ku kini sudah duduk pria tua dengan rambut putihnya sedang tersenyum tulus. Tak lupa tompel besar dipipi kanannya yang menjadi perhatian lebih semua orang.
Tingginya tak sampai pundak ku bahkan baju nya tampak kebesaran meski aku tahu betul jika jas itu adalah ukuran terkecil.
"Coba lihat jari saya" ucap dokter itu.
Aku hanya bisa membuang nafas kasar dan memeluk pria itu, belasan tahun lalu dimana ibuku terbunuh dan pria inilah yang menyelamatkan diriku dengan perkataan yang aku tahu betul jauh dari kalimat tuhan.
Dia hanya berucap bahwa aku bisa bangkit dan menjadi pribadi yang bertolak belakang dengan ayahku, tak harus beda cukup sedikit beda itu baik. Tak lupa tawa renyahnya sembari mengusap pelan rambutku seperti semasa kecil.
"Kok sakit lagi ?" Tanya dokter itu dengan getar yang merambat hingga kepala ku. Aku hanya tersenyum kecil dan menggeleng pelan dan tertawa seakan tak percaya jika manusia didepan ku masih hidup bahkan terlalu sehat diumurnya yang terbilang sudah cukup uzur.
"Gatau pak, tiba-tiba aja" alibi ku yang tak mungkin jika sakit kepala yang kambuh ini terjadi karena tingkat istriku.
Dokter itu melepaskan pelukan ku dan menaruh ujung stetoskop dibeberapa bagian dada yang langsung aku rasakan dingin – tangan yang sudah keriput itu melepaskan bagian pada telinganya dan melirik pada istriku dengna mengangguk kecil.
Tak ada obrolan setelah itu dan hanya ada suara pintu yang tertutup – jendela yang menari dengan sang gordyn dan aku yang tertidur dengna mata yang berusah untuk tetap terbuka. Semilir angin masuk menggiltiki ujung kaki ku yang tak terututp selimut sedang lenganku yang bergerak pelan mengusap sprei yang kali ini terasa lebih dingin dari biasanya.
Cukup lama aku menunggu istriku yang keluar bersama dokter Purnomo dan selama itu pula aku hanya diam dengan pikiran kosong sembari melihat jam dinding yang bergerak serta kalender yang bergerak tertiup angin.
“Yah, makan dulu” tiba-tiba saja istriku sudah berada ditempat semula dengan tangna yang memegang nampan kayu dengan semangkuk bubur yang masih mengepulkan asapnya. Aku memeposisikin diri agar lebih nyaman untuk makan dan benar saja istriku menaruh nampan itu tepat diatas bantal yang sebelumnya ia tarik dari sisiku dan kembali beridiri.
“ada tamu?” tanya ku kembali pada Elsa yang berdiri dan berbalik arah menuju pintu.
“katanya dokter Purnomo bareng sama istrinya. Kayaknya udah diruang tamu, kamu bisa makan sendiri yah?”
Aku mangangguk dengsn senyum tipis yang sebenarnya taka akan terlihat istriku – namun, batin sepasang suami istri tak pernah bohong hingga tak butuh waktu lama istriku kembali keluar kamar dan meninggalkan diriku sendirian.
Tanganku mengelus pelan sisi mangkuk bubur yang minim dari tambahan bumbu – rasanya hangat dan dapat menggugah selera makanku saat ini tanpa tahu jika panasanya bubur bisa memebuat lidahku kebas. Benar saja aku mengaduh saat sendok yang ku gunakan untuk mengambil bubur seperti siap melelehkan lidahku yang baru saja dimasuki oleh makan sejak kemarin.
Air yang berada disisiku menjadi obat pereda meski rasa kebas tak kunjung hilang dan rasa yang sebelumnya menggelembung diatas kepalaku kini hanya berbuah rasa kebas. Dan hanya ada rasa hangat yang menyapa lidah tanpa rasa lain – aku segera menghabiskan bubur ini dan mengambil dua obat pada toples obat berbeda dan memasukkannya secara pada mulutku.
Aku melirik pada pintu kayu yang tak kunjung terbuka dan rasa kini rasa pensaran ku sudah terlanjur kembali untuk tahu seperti apa wujud istri dokter yang ku angap sebagai orang tua ku sendiri – ada rasa sekedar ingin menyapa dan berterima kasih karena telah datang ke rumahku ini.
Telapak kaki ku sudah menyentuh lantai parket yang anehnya membuat aku tersenyum kecil – mataku bergerak menyusuri jempol kaki hingga kelingking sembari menggerakannya. Bukan rasa penasaran biasa tapi lebih besar dari rasa ingin tahu ku pada Elsa.
Aku mereggangkan otot dan berjalan untuk membuka pintu dengan pegangan berwarna silver itu – saat mataku sudah bisa melihat dengan jelas ruanga tamu saat itu pula ada tiga manusi yang secara bersamaan melirik ku.
“Mas Feri!!” jerit Wanita dengan rambut sebahu yang berdiri dan membuat dokter Purnomo juga istriku mengerutkan dahi dan bergantian melirik diriku juga Wanita itu.
Aku hanya bisa bertanya siapa Wanita itu dan apakah sebelumnya pernah melihat atau kenal tapi sekeras apapun aku berpikir maka semakin aku tak tahu siapa sosok Wanita itu. Saat tangannya mengacung dan melambai saat itu pula payudara besar nya bergetar dan mata yang menyipit.
Sosok Wanita itu memeliki tinggi sepantar dengan Dokter Purnomo – memakai kacamata berwarna merah maroon dengan rambut sebahu. Cukup nyentrik dengan rambut berwarna cokelat dan mata yang akan menyipit saat bibir nya bergerak – aku seperti melihat Wanita keturunan negeri Sakura terlebih kulitnya yang puith mulus.
Aku tersenyum dan berjalan mendekat dengan tangan meremas pakaian tidur yang aku baru sadar sudah diganti oleh istriku – ketiga orang yang sedang duduk diatas sofa mentapku lekat dengan senyum yang tergambar.
Canggung, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambar kan suasana kali ini - didepanku sudah duduk dokter Purnomo dan istrinya yang aku kira adalah anaknya karena terlihat perbedaan usia yang cukup jauh.
Lama aku berpikir saat melihat wanita dengan senyum yang terus tersungging itu tak henti-hentinya menatap ku. Jujur aku tipe pria pemalu yang tak mungkin bertanya terlebih dahulu meski pekerjaan sebagai arsitek membutuhkan skill itu.
Berulang kali aku mencoba untuk menelaah tapi saat itu juga aku tak bisa mengingat dan berakhir dengan senyuman canggung ku yang tersungging.
“kenalin mas Feri ini istri saya, Winda” ucap dokter Purnomo seteleh menyeruput kopi yang disajikan diatas meja. Istriku menyenggol pelan kaki ku agar membalas perkenalan yang didahului oleh dokter tua dengan rambut putih itu.
“Saya Feri” ucap ku yang mengulurkan tangan tapat didepan Wanita yang masih tersenyum dengan kaki yang bergerak gelisah.
“HAHAHA… Santai aja kali” dokter Puronomo tertawa cukup kencang hingga membuat genggaman tangan ku terlepas dan mendelik bingung.
“maaf mas” ucap Winda dengan pipi yang memerah.
“santai mba, udah lama bareng dokter?” tanya ku mencoba ingin tahu dan memundurkan posisi duduk.
Winda berbisik pada dokter sekaligus suaminya itu – terlihat dari gerakannya seperti meminta izin untuk berpindah posisi duduk dan benar saja tak lama Wanita itu sudah berada didepanku.
“ini benerkan Mas Feri?” tanya Winda yang membuat semua orang diruangan ini tertawa bahkan istriku hingga terbatuk saat meminum teh nya.
“yaiyalah masa Feri Rotinsulu – kamu ini ada-ada aja deh” ucap dokter Purnomo yang berusaha memeberhentikan tawanya.
Aku ikut tersenyum dan mencoba untuk lebih santai dengan menaiakan satu kaki pada atas lutut.
“memang ada ap amba?” tanya ku karena Winda hanya tertunduk.
“aku ngefans sama kamu”
Hening.
“HAHAHAHAHA” Ruangan kecil ini menjadi hangat dan mencair sesaat ucapan Winda keluar dari mulut lucunya dan diluar dari ekspektasi semua orang.
Butuh waktu lama hingga semua kembali diam dan menormalakan senyum yang rasa-rasanya susah untuk diturunkan, mungkin akan tetap tersungging jika wajah murung Winda yang terlihat dan bulatan mata marah dari istriku.
Dokter Purnomo mengelus pelan bahhu istri mudanya sembari mengucapkan beberapa kata yang tak bisa aku dengar dengna jelas – tetapi tatapan pria tua itu menyiratkan rasa sayang yang begitu besar. Tak seperti diriku yang mungkin sudah hilang tertelan rasa cemburu juga amarah yang tak bisa aku keluarkan dengan mudah.
“jadi gini Fer, istri saya bekerja sebagai desainer interior dan udah lama suka sama hasil karya kamu. Bahkan kemarin dia datang langsung ke Singapura Cuma untuk liat mall buatan kamu”
Aku tertegun dan tak percaya pada apa yang dikatakan Dokter itu – terlebih penampilan Winda yang lebih mirip seperti anak kuliah dengan mata lucunya itu mungkin semua orang tak akan percaya. Termasuk diriku yang tak memungkiri sedikit terkejut dan memilih mengambil gelas pada meja yang aku tahu milik istriku.
“Jadi?” tanyaku saat suasana hening beberapa detik.
“Istri saya ingin kenalan – kalua boleh bisa ikut satu project sama mas Feri” lanjut Dokter Purnomo yang membuat istirku bergerak gelisah. Aku tersenyum membayangkan reaksi istriku yang mungkin cemburu – ingin aku berteriak jika apa yang dilakukan istriku selama ini lebih parah.
Mataku memutar kearah istriku dan kembali menatap Winda yang kali ini sudah tak menunduk – kaki putihnya menyilang dengan kain yang tersingkap sedikit membuat pikiranku buntu karena saat ini belum ada pekerjaan interior yang mana menjadi keahlian istri dari dokter itu. Tapi disatu sisi aku ingin melihat respon istriku yang mulai cemburu dan rasa penasaran apa yang akan dilakukannya jika aku memilih untuk menerima Winda.
Aku mengetukkan jari diatas lutut dan menggumam agara tak jadi kesan mengada – ada. Dalam satu tarikan nafas bibirku bergerak sesuai huruf vokal yang membuat mata istriku melotot dan Winda yang bergerak kegirangan sembari memeluk dokter Purnomo.
“boleh kebetulan saya lagi butuh desainer interior”
BERSAMBUNG.
==========
==========
13 | BIAR
Mata ku menatap kosong kearah depan sedang istriku masih duduk dengan kaki yang bergerak gelisah. Tepat setelah kepergian dokter Purnomo dan Winda saat itu juga istriku memasang wajah tak suka - wajar saja pria mana yang tak suka melihat wanita berambut pendek dengan muka polosnya duduk mengangkat satu kaki.
"Maksud kamu apa?" Kepalaku menoleh dan menyadari bila istriku memasang wajah cemburu dan tangan yang meremas kursi.
"Aku gak enak sama Pak dokter."
Istriku berdiri dan beranjak meninggalkan ku sembari mata nya tak pindah sedikit pun dari diriku.
"Alasan banget".
Aku hanya bisa menghembuskan napas dan mencoba untuk tenang karena ucapan ku pada Winda tidak sepenuhnya salah karena memang aku sedang mencari ahli interior untuk proyek baruku meski hanya baru rencana.
Namun ingatanku segera melayang karena tau jika kantor ku sudah terisi penuh bahkan ada anak magang yang harus rela bekerja secara daring karena sudah tak ada tempat.
Mataku beralih pada istriku yang masih mondar-mandir antara dapur dan meja makan, rasa pening yang sebelumnya hinggap kini sudah tak terasa dan berganti dengan rasa lapar.
Berjalan pelan dan mencoba mendekati istriku sembari sesekali menyentuh pundak nya meski saat itu pula tangan halusnya langsung menepis.
"Maaf" ucapku
"Makan, langsung istirahat" jawab istriku yang langsung pergi menuju luar rumah dengan meninggalkan semangkuk soto panas.
Rasanya seperti tertusuk ribuan jarum jika membandingkan perilaku istri ku akhir-akhir bermain dengan banyak pria. Uap panas menerpa pipi hingga kuah bening itu memantulkan wajahku dengan samar.
Mungkin ini salah satu cara menyadarkan istriku dengan sendirinya bahwa aku ini ada atau mungkin menjadi petaka baru kedepannya yang tak bisa aku prediksi. Semua pikiran itu berputar bagaikan lotre yang tak bisa aku rekayasa apalagi mengatur semua nya kedalaman kehendak ku.
Sekilas aku mengingat Winda yang tersenyum ke arahku dengan mata berbinar belum lagi dokter Purnomo yang sangat berjasa terhadap kesehatan mental ku. Maka apalah jadinya bila membatalkan apa yang sudah ku ucap tadi meski kesetiaan istriku yang menjadi taruhannya.
Tak terasa makanan pada piringku sudah tandas dan kondisi rumah menjadi hening karena mulutku sudah diam untuk mengunyah dan aku baru sadar jika istriku pergi entah kemana.Mataku bergerak memutar dan berakhir pada halaman belakang dimana sebuah pintu terbuka - gudang.
Aku berjalan melewati pintu belakang dan sebuah taman untuk sampai pada gudang yang terbuka pintunya, dengan perlahan aku terus bergerak hingga pintu itu seperti bergoyang kearah dalam.
"Bundaa!" Teriak ku dengan mata melotot.
Dengan cepat aku melompat karena terkejut saat pintu itu memunculkan sebuah meja.
Istriku hanya bisa tertawa dan memintaku untuk membantu nya mengeluarkan meja itu, meski tak tahu apa tujuan istriku tapi yang jelas kini posisi ku hanya bisa berbuat baik dengan segala cara agar istriku luluh dan mengerti posisiku saat ini.
“udah bantuin aja jangan banyak tanya.” Lanjutnya yang aku amini dengan menggotong nya bahkan mengambil alih karena Langkah istriku yang lebih kecil dan lambat. Beratnya meja tak membuat aku kelelahan terlebih senyum istriku yang membuat hati ini lebih tenang.
Aku mengangkat hingga masuk kedalam rumah dan menaruhnya asal sebelum berbalik badan menampilkan gestur bertanya pada istriku yang mengikuti dari arah belakang.
“mau taruh dimana?” tanyaku padanya yang ikut berhenti tak jauh dariku.
“ya di ruang gambar kamu”
“Maksudnya?” tanya ku yang belum memahami maksud istriku. Wanita yang kini memakai daster berkerah rendah itu menggeleng.
“emang winda-winda itu mau kerja dimana kalo ga disini?” lanjutnya.
Aku mengalihkan pandangan pada plafon dan berusaha berpikir jika apa yang dikatakan istriku benar adanya karena kantor dimana tempat ku bekerja sudah tak mungkin menambah pekerja karena keterbatasan ruang belum lagi tim interior yang merasa tersaingi dengan karyawan baru.
“gimana?” tanya istriku sambil mengecak pinggang seperti menantang.
Lengannya terangkat hingga semakin memperlihatkan halusnya kulit denga bulu-bulu halus yang menutupi malu. Pemandangan itu membuat penisku naik seketika dan dengan cepat aku hilang akal dan menyergap istriku, entahlah rasa ini tiba-tiba meledak begitu saja dan istriku dengan cepat pula menyambut belitan lidahku yang sudah dipenuhi nafsu.
“pelan pelan pahh shhhh” desahnya.
Aku tak menanggapi dan memilih untuk mengangkat istriku hingga duduk diatas meja makan yang tak jauh dari tempat berdiri ku sebelumnya. Bahkan piring sisa aku makan masih ada dan hampir jatuh jika tangan kiriku tak dengan cepat mengambilnya.
Istriku hanya tertawa dan membelitkan tangannya pada leherku, telingaku rasanya panas dan penisku sudah menekan celana ku lebih keras. Istriku seakan tahu karena cumbuan ku yang terputus-putus membuatnya sedikit memundurkan posisi hingga tubuhnya menyentuh piring yang aku pindahkan itu.
PRANG….
“Ayah, kan jadi pecah !”
“Nanti aja” geramku yang sudah tak bisa menahan nafsu yang kini sudah berada diubun-ubun, daster yang dipakai istriku sudah kuangkat bahkan celana dalamnya hilang entah kemana. Mataku terfokus pada vagina nya yang ditumbuhi bulu halus dan tangannya yang ikut meramaikan dengan mencoba memegang penisku yang masih terhalang celana.
“buka” perintahku yang masih meremas kedua payudaranya sedang ia mulai berusaha membuka resleting celanaku meski berkahir dengan sia-sia karena sempitnya jarak kami.
“Cepet yahh”
Tanganku bergetar saat menurunkan resleting bahkan leherku sepertu lupa untuk menelan ludah dan paru-paru yang tak bisa mengambil nafas.
Tak butuh lama penisku sudah mengacung bebas dan meminta untuk segera masuk pada vagina istriku yang sebelumnya dimasuki penis lain – ingatan itu semakin membuat penisku semakin mengacung dan tanpa lama aku sudah menyentuh vagina istriku.
Mataku beralih pada kepala istriku yang menengadah dengan tangan yang disandarkan pada meja sedang aku hanya diam dengan penis yang masih menempel pada vagina istriku.
“AYAHHHHHH!”
Aku tersentak dan menyadari jika hanya berdiri dengan tangan masih memegang meja ini. Rasa-rasanya otakku sudah rusak dan akan hilang jika saja tak segera disadarkan oleh istriku yang masih mengecak pinggan namun dengan pipi yang memerah menahan amarah.
“Pindahin ke ruang gambar kamu, buat Winda” ucapnya yang langsung berlalu melewatiku begitu saja. Aku bergerak pada meja makan dan melihat jika piring sehabis ku makan masih utuh bahkan gelas yang terisi air putih itu hanya diam. Dengan cepat aku mengambil dan menghabiskannya tanpa sisa demi menyadarkan hayalan ku yang semakin samar dengan kenyataan.
Meja yang masih dihiasi debu itu seperti meminta agar aku segera memindahkannya sebelum istriku kembali marah. Akupun kembali mengangkat meja itu dan mengangkatnya kearah ruang kerja ku yang sudah lama tak kubuka ini – hangatnya ruangan selaras dengan furniture yang didominasi oleh kayu.
Sedikit menggeser meja utama dan mengambil posisi agar meja yang akan ditempati Winda sedikit berjarak dengan meja ku. Sesudah itu aku kembali kedalam rumah dan mendapati istriku yang sedang mencuci piring, ada rasa ingin mendekatinya tapi membersihkan meja saat ini lebih menarik dan penting.
Tanpa menyapa aku membuka lemari disebelah istriku dan benar saja wanita yang sudah melahirkan dua buah hati itu hanya diam dan asyik dengan piring-piring itu. Aku sempatkan untuk menoleh sebelum pergi karena tak mendapatkan respon apapun.
Meja yang menjadi saksi saat aku merintis perusahaan konsultan dulu, kini sudah bersih dari debu dan siap untuk dipakai oleh Winda – ada rasa penasaran pada desain yang akan dibuat olehnya tapi rasa itu kalah jauh dengan sensasi satu ruangan dengan wanita cantik yang baru aku kenal.
‘memang hanya istriku yang bisa bermain dengan orang lain’ batinku sebelum mendengar suara bel dari dalam rumah. Bel itu berbunyi berkali-kali hingga aku memilih untuk melihat karena suara yang begitu berisik.
Namun sebelum aku menginjakkan kaki kedalam area rumah, suara itu berhenti dan berganti dengan keheningan yang sama seperti sebelumnya bahkan dapur yang tadi ditempati istriku kini sudah kosong dengan piring-piring yang sudah bersih.
Aku menundukkan kepala saat telapak kaki ku merasakan basah yang mengalir dari bawah wastafel – dingin nya air ditambah lantai yang lembab membuatku terpaku pada serat parket yang sudah basah memanjang hingga menyentuh lemari.
‘rembes’ ucapku pelan.
Jari ku mengikuti aliran air yang berasal dari dalam lemari dibawah wastafel, membukanya dan melihat saluran dari wastafel yang meneteskan air secara cepat. Perasaan ku tak enak saat mendapati air yang menetes tak kunjung berhenti sedang suara bel yang berhenti tak lagi bergema disudut ruang.
Pilihan mudah seperti ini rasanya menjadi sulit akhir-akhir ini, aku kembali berdiri dengan telapak kaki yang basah bahkan baju ku ikut kotor dari percikan air yang masih menetes menunggu tampungan wastafel surut. Suara pintu dari arah belakang membuat aku memutar kepala dan berjalan pelan – istriku.
Elsa sedang berjalan ke arahku diikuti seorang tukang paket yang memakai jaket kumal berwarna hitam namun tak memakai celana. Ya, pria dengan wajah jelek itu berjalan dengan tangan yang sedang mengocok kontol hitamnya mengikuti langkah istriku yang sedang tersenyum penuh arti. Aku diam terpaku dan tak dapat bergerak sedikitpun bahkan susah rasanya untuk menelan ludah atau mengedip saat pria itu mengejekku dengan terus mengocok kontolnya.
Tak lama keduanya ikut diam dan mataku bergerak cepat kearah bawah dan melihat kaki ku masih basah bahkan lantai parket ini kian hitam.
“Ayah!”
Jantungku rasanya hampir copot saat bahuku ikut terdorong dan melihat istriku yang membulatkan matanya dengan mimik seperti resah juga takut. Aku memicingkan mata dan melihat pria asing yang aku lihat sebelumnya sedang mengocok kontol kini berdiri dengan muka yang sama – khawatir.
Kedua kakiku merasakan kebas dan seiring waktu menjalar hingga paha bahkan kepalaku seperti diremas oleh ribuan tangan yang berebut agar aku segera memejamkan mata. Waktu seperti berjalan lambat begitupun pendengaranku yang hilang perlahan meski melihat istriku membuka mulutnya.
-----
Biar
Biar tuhan tahu
Atau sekedar melihat dengan pelan
Aku tetap disini dengan sejuta rasa sakit
Kata-kata itu terus berputar tiada henti dengan warna hitam yang memenuhi pandanganku, suara itu bergema memenuhi pikiran ku dengan rasa sakit yang tak bisa ku tahan lebih lama lagi. Guncangan pada tubuhku kian terasa saat sebuah Cahaya yang kian lama membentuk wajah istriku yang sedang menangis.
Lama rasanya tak melihat istriku tersedu-sedu ditemani kedua anakku yang sedang memeluk ku dari arah yang berbeda – mungkin ini adalah kiamat yang Ia atur untuk diriku. Entahlah apa salah menjadi seorang anak dengan masa lalu hitam juga dingin seperti diriku.
Suasana ruangan ini rasanya seperti tak asing bahkan aroma kayu yang menguar membuat aku memaksakan mata untuk terbuka sepenuhnya dan melihat tanganku yang masih memegang toples berisikan obat berwarna putih dengan kepala yang masih bersandar pada tanganku.
Aku melihat meja yang sudah bersih dari debu bahkan lap yang sudah kubawa dari dapur sebelumnya masih kupegang pada tangan satunya. Rasa-rasanya ingatanku kian menipis seiring waktu berjalan semuanya terasa asing dan hilang dengan waktu yang tak bisa aku ukur dengan apapun.
Suara bel dari arah depan membuat aku membuka mata lebih lebar dan mencoba untuk berdiri meski dengan kaki yang masih lemas. Aku berjalan pelan dan dengan cepat mengenali istriku yang sedang berjalan pula dengan tangan yang masih basah.
‘Sial’
Aku merasa dejavu dengan tempo yang cepat bahkan aku melihat air yang mengalir dari arah wastafel begitu sama dengan ingatan atau mimpi ku sebelumnya, bahkan telapak kaki ku yang menginjak parket masih merasakan basah – seperti mimpi rasanya.
Istriku berdiri didepan pintu dengan Cahaya yang masuk menyinari badannya hingga aku bisa dengan jelas melihat bayang tubuhnya dan tercetak jelas lekuk indah tubuhnya.
Aku merendahkan tubuh dan bergerak pelan hingga duduk dibalik sofa ruang keluarga dan entah mengapa firasatku berkata akan terjadi sesuatu yang sama seperti biasanya.
“Paket bu atas nama hehe”
“kamu kayak ke siapa aja, ini ga COD kan?” jelas itu suara istriku bahkan dengan suara manja.
“COC kali bu, cash on crot hihihi”
“hush pelan-pelan kalo ngomong dong.” Sial ternya pria baru lama-lama aku melihat istriku tak lebih dari seorang jalang bahkan lebih rendah. Namun berbeda dengan mulutku yang inging mengumpat penisku sudah mengacung bahkan semakin keras jika ditekan dengan jari saja.
Kepalaku merasakan denyut berlebih dan mataku ku ingin rasanya untuk melihat secara langsung kondisi istriku yang hanya memakai daster tanpa pakaian dalam itu.
“suaminya ada bu?” tanya pria asing yang semakin jelas ku dengar itu.
“ada lagi tidur, masih sakit dia.” Aku mengerutkan dahi dan berpikir jika bangunku diatas meja ruang gambar nyata adanya. Namun apakah ini sebuah mimpi atau kenyataan.
“waduh pas dong ya bu, ini kan paket terakhir.”
“Bisa aja, yaudah sini paketnya.”
“Yakin bu udah tidur suaminya?” Istriku tak membalas ucapan pria asing itu dan hanya terdengar suara pintu yang tertutup sedikit kencang.
Lututku bergetar sedang tanganku memutih karena meremas kencang telapak tanganku sendiri. Bagaimana tidak dengan santainya istriku membawa pria asing kedalam rumah dengan tak memikirkan jika aku masih berada didalam rumah.
Suara pintu itu berganti dengan keheningan dan tak lama terdengar suara tawa yang memaksa tubuhku untuk berpindah tempat agar bisa dengan jelas melihat apa yang sedang dilakukan oleh istri sialan itu.
Benar saja saat mataku mengintip kearah kanan dimana istriku berada semua itu menjadi jelas bahkan terlalu sakit untuk ku lihat.
BERSAMBUNG
==========
==========
14 | SEMAKIN ASING
Sejak semula manusia memiliki batas yang menjadi pertanda untuk berhenti atau melanjutkan pada batas yang lebih jauh – lebih dalam atau mungkin melewati batas dengan melepas semua hal yang sudah ada. Begitupun aku yang sedang berada disebuah batas yang akan membuka semua pengorbananku selama ini, tepat dibelakangku istriku sedang berselingkuh dengan seorang pria rendahan yang tak aku tahu asal muasalnya.
Lutut ini masih bergetar begitupun gigi geraham ku yang kian kuat menahan rasa amarah juga emosi yang berlebih – batasku akan ditentukan detik berikutnya karena tepat di belakangku mungkin ia sedang mencumbu pria yang baru aku dengar dari suaranya.
Otak ku bekerja keras dengan ruang yang mempersempit pandangan juga pilihanku dan benar saja detik berikutnya yang bisa ku lakukan hanya diam, bahkan saat ini aku bisa mendengar dengan jelas suara jantungku sendiri yang melambat bahkan terlalu lambat untuk seseorang yang dipenuhi amarah seperti ku.
Telapak kaki ku sudah bergerak maju sedang tanganku yang memegang lantai memutih menahan suara juga emosi yang semakin memuncak, udara yang membelai telingaku tak membuat udara disekitar menjadi dingin tetapi memanas dan berubah menjadi arang yang semakin membakar rasa percaya diriku.
“Sini aku buka celananya… udah ngaceng aja hihi”
Luruh sudah kepercayaan diriku untuk keluar dari persembunyian meski mata ini sudah melihat dengan jelas bahwa istriku sedang bersimpuh didepan seorang pria dengan celana kumal dan jaket hitamnya. Pria itu memejamkan matanya sembari mendongakkan kepala sementara istriku yang tersenyum melihat santapan barunya itu.
Aku hanya diam tepat disebuah batas imajiner yang ku buat sendiri. Dengan penuh kesadaran batas itu berubah menjadi belati yang membelah semua rasa kepercayaan pada diriku bahkan layaknya api yang membakar seluruh emosi yang baru saja kupantik dan hanya berakhir pada rasa takut juga serba salah yang kian membesar.
Aku tak tahu cara menyembunyikan rasa bersalah ini – pada anak-anakku, pada dokter yang sudah lama mengobati bahkan pada diriku sendiri yang semakin sering aku khianati demi rasa penasaran juga batas toleransi yang lebih jauh dari semula.
“buka aja bu udah mau diemut nih hahaha”
“aduhh, kok kontolnya nampar si hihi”
Muka ku seperti terbakar dan memilih untuk bersandar pada sofa yang menjadi tempat aku bersembunyi dari semua rasa tidak percaya diriku yang perlahan berubah menjadi palung hitam yang tak aku tahu dimana ujung dari semua ini.
Kesadaranku seperti tertarik pada waktu yang berdetak normal dan pada situasi ini kepalaku menoleh kearah kanan - kiri dan berusaha untuk bisa melihat dengan lebih jelas apa yang dilakukan oleh istriku itu.
Hingga aku menemukan posisi yang tepat dengan bergerak kearah kiri dimana tempat pot bunga imitasi berdiri – dari sini aku bisa dengan jelas melihat istriku masih meletakkan kedua lututnya pada lantai sedang tangan pria yang aku tebak sebagai tukang paket itu mengelus kepal istriku.
Tangan putih istriku masih membelai kedua paha pria yang saat ini memakai celana bahan dengan warna yang sudah hitam juga kumal – jauh berbeda dengan kulit istriku yang bersih juga putih bahkan dari sini aku bisa melihat dengan jelas garis urat kehijauan yang menghiasi punggung tangannya.
Tangan istriku yang semula hanya membelai kini berubah lebih agresif dengan menaikkan posisinya hingga berada didepan selangkangan pria asing itu – tanpa meminta ijin istriku menarik kedua paha pria itu agar lebih dekat. Dan dengan pelan mulut istriku terbuka dalam satu kali gerakan mulut itu menyambar penis panjang milik pria yang aku tebak sebagai kurir itu.
PLOPP…
“uhhhh buuuuu” pria itu mendesis dengan tangan yang mengusap pelan kepala istriku.
Bagaimana tidak mulut manis istriku itu sudah bermuara pada penis hitam yang tak bisa kubayangkan baunya terlebih penis hitam itu ditutupi oleh bulu kemaluan yang lebat. Aku hanya bisa menggelengkan kepala pada selera istriku yang semakin hari menjadi buruk – apakah termasuk diriku diantaranya?.
Mulutnya hanya masuk pada ujung penis sang kurir sedang mata bulat istriku itu mengedip lucu sembari tersenyum yang semakin lama semakin lebar bahkan bibir itu mulai terbuka dan menampilkan deretan giginya yang putih bersih – percuma saja selama ini aku membayar lebih untuk kebutuhan istriku jika saat ini kontol itu yang menjadi santapan favoritnya.
“masukin aja bu kalo diliatin terus nanti muncrat duluan hihi”
“sstt jangan keras keras kalo ngomong hehe” istriku menyentuh punggung tangan si kurir sembari meremasnya pelan.
Tak lama mulut itu terbuka lebar dan dalam sekali gerakan kepala penis sang kurir sudah kembali bersarang didalamnya – sakit. Entah mengapa dari semua pria baru kali ini aku merasakan sakit yang jauh berbeda bahkan kepalaku seperti tak kuasa hanya untuk sekedar bergerak satu mili pun.
Udara bahkan hawa pada ruangan ini seakan terserap pada lubang hitam yang tak lain adalah istriku sendiri. Istriku kali ini mulai menggerakkan kepalanya dengan pelan, usapan tangan pada kepala istriku berubah menjadi remasan kecil yang membuat rambut istriku kusut perlahan.
“ouhhhhh enak banget bu asliii” desis sang kurir yang kelojotan akan permainan mulut istriku, tak ayal tubuh kurusnya membungkuk hingga istriku beberapa kali memundurkan tubuhnya karena gerakan pria itu yang tak bisa diam.
“diem dong jadi kena gigi terus nih” keluh Istriku yang langsung menepuk pria dekil itu.
"glekk glekkk uhukkkkk" rasanya aku akan berdiri jika tak sadar batuk istriku karena tersedak kontol orang lain yang belum aku kenal.
"Uhhhh merinding saya Bu, ini tete nya hmmm" balas kurir saat tahu istriku tersedak dan meremas payudaranya pelan - tubuh pria itu semakin membungkuk bahkan kepalanya hampir sejajar dengan kepala istriku. Tak bisa kubayangkan rasa dari kuluman istriku hingga membuat pria itu bergerak seperti cacing kepanasan belum lagi tangan lentiknya ikut meremasi biji yang sudah basah diselimuti ludah.
“glekkk uhhhhh gini ya kangg hihi” istriku tersenyum lebar sembari menatap mata kurir itu tanpa menghentikan kuluman mautnya.
“iya buu masukin teruss ahhhh”
Istriku berubah seperti lintah yang akan menghisap setiap darah pria dekil itu – tanpa ampun bahkan tanpa memberi waktu lebih untuk bernapas. Kontol hitamnya menjadi bulan-bulanan istriku yang terus bergerak maju-mundur dengan mata yang mengedip lucu.
GLEK..GLEKKKK.. GLEKKK….
Tubuhku kini mulai merespon dengan tangan yang bergerak tanpa sadar menyentuh penis yang ternyata sudah mengacung, debar jantungku masih saja berdetak cepat dengan kaki yang mulai merasakan kebas karena diam diposisi yang aku tak tahu sudah berapa lama ini.
“UHHHH ANGET BANGET BUUU…”
Mataku masih terbuka saat kurir itu mulai menyatukan rambut istriku hingga mirip ekor kuda dan menjambaknya keras kearah belakang hingga semua kontol itu keluar dengan cepat. Namun tanpa rasa bersalah kepala istriku kembali ditarik dan memaksa untuk kembali seperti awal.
“akhhhhh” jerit istriku bersamaan dengan liurnya yang keluar dari mulutnya.
‘gila’
Istriku seperti mainan bahkan lebih hina dari seorang budak yang diceritakan oleh guru sejarah, kini aku seperti melihat mainan yang sudah tak berdaya. Sialnya istriku tampak menikmati atas perlakuan tak sopan kurir jelek itu terlebih kondisinya sudah jauh dari kata rapih.
Rambutnya basah karena produksi minyak berlebih sedang pipinya sudah basah juga merah karena selain menjambak kurir itu menamparnya.
“auhhhhh sakittttt” istriku mulai merasa sesak saat jambakan juga tarikan pada rambutnya berulang beberapa kali hingga kedua tangan istriku bergerak cepat mendorong kedua paha kurir jelek itu. Dengan cepat pria dengan jaket yang masih menempel pada tubuhnya itu jatuh diatas sofa yang bersandar pada tembok.
“huekkkkk” istriku membuang semua liur didalam mulutnya sedang sang kurir tertawa keras dan tanpa memberi ampun tanganya kembali menarik
“telen kontol gua anjingg. Akhhhhhh” tanpa belas kasih kurir sialan itu menarik kembali kepala istriku hingga membentur selangkangannya dengan keras.
Keduanya seperti kesetanan melebihi apa yang aku bayangkan selama ini dan aku tak pernah melihat permainan kasar juga jauh dari adab – suara benturan tubuh istriku terdengar cukup keras bahkan senyum pada bibir istriku kini hilang entah kemana.
“pelan…. Sakitt…..” keluh istriku yang bersimpuh denga kaki yang menempel pada lantai sedang kepalanya mendongak karena rambut yang ditarik oleh pria asing itu.
Leher putih istriku kini memerah dengan urat yang semakin menonjol sedang sang kurir masih tak mengendurkan tenaganya, entah apa permainan yang mereka lakukan dengan segala kekerasan yang ada.
“sakitttt.. udahh sakitttt” istriku merintih dengan air mata yang membasahi pelupuk matanya – tapi itu tak menurunkan tensi permainan keduanya. Entahlah, suara tangisan juga jeritan yang membuat aku tak bisa untuk mengedipkan mata atau hanya menelan ludah.
Tangan hitam itu menarik kepala istriku dengan keras hingga membentur kontol hitamnya yang masih berdiri sedang punggungnya sudah jauh dari sandaran dan semakin dekat dengan bibir sofa. Istriku seperti menarik napas dalam-dalam sebelum memasukkan kontol itu pada mulutnya lagi – berbeda dengan sebelumnya istriku tak menampilkan senyum pada bibirnya dan hanya ada raut masam dengan mata yang semakin berair.
“glekk – glekk udahh sakitttt” istriku merintih di sela-sela gerakan kepalanya yang bergerak maju mundur meski kini dibantu oleh tangan kurir yang belum melepaskan jambakan pada rambutnya.
“salah sendiri muka lu kayak lonte komplek. Makan nih kontol gua” kurir itu kembali berucap dan berusaha menyamakan posisi dengan memundurkan tubuhnya hingga kembali bersandar pada sofa.
Otomatis istriku melepaskan lumatannya dan seperti magnet yang mengikuti arus kutub, perempuan yang dulu mengikat janji dengan ku itu ikut maju hingga pundaknya menyentuh sofa. Tanpa menunggu istriku kembali memasukkan kontol hitam kurir dengan pelan bahkan terlalu pelan karena sudah tak ada lagi jambakan dari sang kurir.
Namun belum usai aku menelan ludah istriku kembali ditarik oleh sang kurir hingga memaksanya untuk setengah berdiri dan yang terjadi selanjutnya adalah istriku menerima belitan lidah kurir yang aku duga sudah berbau masam – terlebih mulutnya yang hitam dengan kumis tipis yang jarang-jarang.
“mmhhh uhhhhh” penisku seketika semakin keras melihat tangan kurir itu meremasi payudara istriku tanpa melepaskan belitan lidahnya – bak gayung disambut istriku tak kalah ganas dengan menekan kepalanya lebih dalam hingga keduanya saling maju mundur dengan tangan yang bergerak asal.
“uhhhhhh hot banget bundaaa” puji sang kurir yang membuat raut wajah istriku berubah seketika dan tangan hitam itu dengan cepat menarik daster istriku yang tak terhalang apapun sedang istriku dengan sigap membuka resleting jaket si kurir.
Tak butuh waktu lama keduanya sudah tak tertutupi sehelai benang pun. Keduanya tampak kontras kali ini belum lagi cahaya dari luar yang membuat aku merasa pusing dan tak sanggup jika terus berada diposisi ini dalam waktu yang lama. Rasa kebas yang semula hanya berada di lutut mulai menyebar hingga tengah pahaku belum lagi tangan kiri yang ikut kebas setelah beberapa lama menopang tubuhku.
Rasa kebas itu perlahan berubah menjadi rasa sakit sehingga aku terpaksa merubah arah tubuhku dengan pelan mungkin agar tak menimbulkan kecurigaan – disinilah kebodohanku yang menjadi bumerang untuk diriku sendiri.
Rasa sakit itu kini merambat hingga perutku bahkan untuk berbalik kearah semula pun ingin mati rasanya – berat. Kepalaku dengan cepat bersandar pada sofa dan hanya bisa mengatur napas agar mulut ini tak mengaduh. Telingaku berdenging pelan dan hanya bisa pasrah saat kecupan demi kecupan istriku terdengar begitu menyakitkan.
Seperti panah yang datang degan lambat dengan semua yang tertanam pada perasaan amarah juga nafsu yang terkungkung didalam kesadaranku.
“uhhhhh remes tete aku uhhh” racau istriku yang semakin membuat tubuhku mati rasa.
“uhhh lembut banget ini anjing” balas pria itu dengan suara besar juga bergetar.
“iyaa mmmhhhhhh, anjingggg” kata kasar itu terucap begitu saja sedang kata itu bagaikan kapak besar yang memutus saraf nadiku hingga rasa sakit yang berubah menjadi mati rasa dengan telingaku yang tak bisa berhenti berdenging.
Suara pertemuan bibir mereka bagaikan lagu penyiksaan yang tak kunjung usai bahkan semakin menjadi saat keduanya saling tukar rintihan dengan jeritan yang membuat tubuh ini semakin tak berdaya.
“uhhhhh emut lagi bu “ racau kurir itu dengan suara beratnya. Aku tak lagi mendengar suara kecupan – perlahan berganti dengan desahan dari kurir yang aku duga sudah tunduk melihat istriku yang berada dibawahnya.
“terus masukin jangan diem aja bu, udah ngaceng banget ini.” Keluh pria itu dengan nada yang aku tahu sedikit kesal.
“pelan-pelan aja lah. Buru buru emang mau kemana?” tanya istriku yang mengeluarkan suara manjanya.
“nanti suami ibu bangun gimana liat istrinya kayak lonte hahaha” sial.
“suami saya sakit parah, diemin aja. Kontolnya paling gak bisa berdiri walau saya udah bugil juga.”
Dadaku seperti terbelah oleh besi panas yang memutus seluruh jaringan otot juga tulangku dan hanya tersisa kehampaan yang ku telan sendiri. Rasa-rasanya semua amarah yang ku pendam kini hilang entah kemana bahkan kini aku tak lagi berhasrat untuk membalikan tubuhku.
“tolol banget suaminya. Susu kayak gini masa dianggurin HAHAHAHA”
“Makanya remes terus akhhhhh uhhhhhhh” lenguh istriku yang semakin membuat tubuhku lemas sejadi-jadinya.
“auhhhh enak banget mulut lu. Memek lo ga gatel hah?”
Instingku rasanya menguat dua kali lipat hingga pahaku kini hanya merasakan kesemutan yang berangsur-angsur mulai pulih dan dengan cepat tubuhku bergerak kearah kiri dan mencari posisi yang pas untuk kembali bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan keduanya.
Benar saja kini aku melihat istriku sedang duduk diatas sofa dengan tangan yang terbuka selebar-lebarnya dengan mata yang fokus menatap kurir yang masih berusaha melepaskan sepatu juga jaket kumalnya. Keduanya sama-sama saling mengigit waktu dengan mempercepat gerakan membuka pakaian masing-masing, tanpa terkecuali istriku yang sudah polos dan hanya diam sembari meremas kedua payudaranya.
PLAKKK..
Tangan hitam kurir itu menampar keras payudara istriku yang hanya dibalas dengan desisan manja.
PLAKKK..
“akhhhh perih anjing” teriak istriku yang membuat nyaliku ciut seketika.
“perek diem aja nerima kontol, gausah berisik anjing.”
Kepala kurir itu kini merendah dan semakin dekat dengan selangkangan istriku yang bebas dari dari daki hitam – jauh berbeda dengan tubuh kurir itu yang banyak memiliki bekas luka belum lagi jerawat yang masih menumpuk di kedua pipinya.
Jauh sekali dari perumpamaan kopi-susu karena yang ada kini aku hanya membayangkan seekor anjing yang mencabuli majikannya.
Kedua tangan istriku kini sudah bersarang pada kepala sang kurir yang masih menikmati suguhan memek istriku – kepalanya menggeleng sedang tangannya ikut menjahili memek milik wanita yang tak tahu malu itu.
“udahhh ahhh gatel kalo dijilat gitu teruss akhhhh” desah istriku.
“sabar emang mau kemana si?” tawa kurir itu tanpa menghentikan jilatannya.
“cepetan lahhh… aduh itu nya shhhhh”
PLAKKK…
Pria itu lagi-lagi menampar istriku dengan tenaga yang cukup besar terlihat kulit putihnya berubah menjadi merah dengan cepat – aku tak habis pikir dengan semuanya.
“Sakittt…” desah istriku.
“Berisik banget haha… bilang dulu mau di entot” goda kurir itu dengan senyum jeleknya.
“mau di entot shhhhh” balas istriku yang masih dibuat meriang oleh lidah pria itu.
“sambil teriak!”
“BURUAN ENTOTTT”
‘anjing’
Tanpa menunggu lama kurir yang kini sudah polos tanpa busana itu bangun dan dengan posisi setengah berdiri memasukkan kontol hitamnya pada vagina istriku yang aku duga sudah dibanjiri lendir bening buah dari jilatan mau pria dekil itu.
Kini posisi istriku sudah melebarkan pahanya sejauh mungkin dengan tangan yang memegang pinggang pria itu sembari menunggu untuk segera dihujam. Sedang tangan sang kurir memegang sandaran sofa yang menjadi tumpuan tubuh kurusnya dan dalam satu hentakan kontol hitam itu sudah bersarang kedalam vagina istriku.
“AHHHHHH ANJINGG SAKIT BANGETT” Teriak istriku.
“uhhhhhh dalem banget buuuu” pria itu menggeram dengan mata yang terpejam.
Istriku tak menanggapi dan hanya mengiggit bibir bawahnya sedang kedua tangannya semakin mencengkram kulit lawan mainnya sedang pinggul pria itu masih diam meski kontol hitam nya sudah masuk sepenuhnya. Hawa pada ruangan ini semakin panas belum lagi langit yang memuram karena berat menahan massa air di udara.
Pada detik berikutnya aku merasakan sakit yang berbeda – rasanya aku berubah seperti pecandu rasa sakit yang meminta dosis lebih tinggi dalam melihat apa yang dalakukan istriku. Atau kini sudah tak pantas ku sebut sebagai manusai lagi?.
Keduanya hanya diam dan saling tatap seperti tenggelam dalam imajinasi yang dibuat-buat oleh hal hina dan tak lebih baik dari diriku yang hanya diam seperti sebuah patung tak bernyawa. Tatapan mereka seakan lebih dalam pada detik selanjutnya dan tanpa diminta istriku menarik pinggul pria itu agar lebih dalam pada inti tubuhnya.
“uhhhhhh dalem banget bu… memek ibu jepit banget ini aduhhhhh” pria itu semakin meremang dengan mata yang masih terpejam sedang istriku meringis meanhan rasa nikmat yang aku duga tak terhingga itu.
“gerakin tolongg….” Rintih istriku yang semakin dalam necakar pinggul pria itu.
PLOKKK…PLOKKKK.PLOKK…
Suara benturan pinggul keduanya kini terdengar keras, pria itu seperti menanam setiap hentaknnya sedang istriku menerima dengan rasa percaya tanpa bertanya lebih jauh. Tiap hentakan pinggulnya dibalas dengan rintihan istriku yang kini hanya diam terpaku pada sang kurir yang Jauhari kata tampan itu.
“uhhhhhhh terussss mentokin uhhhh” desah istriku yang semakin memajukan vaginanya agar kurir itu lebih leluasa lagi..
“uhhh buuu jepit banget iniiii” pria itu mengangguk dan semakin kencang menghentakkkan kontol panjangnya tanpa melaihat raut muka istriku yang seperti kesakitan itu.
“ohhhhhhhh gede banget uhhhh..” desah istriku yang sudah lebih santai menerima kontol pria itu.
Kurir itu tak melepaskan kesempatannya terbaik sepanjang hidupnya karena payudara istirku yang menganggur dan seperti meminta untuk ikut dipuaskan juga.
Mulut hitamnya sudah bersarang pada aerola merah muda istriku tanpa mengendurkan gerakan pada pinggulnya terlebih istriku yang kepanasan dengan keringat yang mengucur deras.
“anjing enak banget aku kencengin ya auhhh” pria itu kini memepercepat tempo hentaknnya dengan tangan yang tak luput untuk meremasi payudara istriku yang sudah merah karena ditamapa bebrapa kali.
“teruss uhhhhhh” istirku semakin meninggikan posisi pinggulnya.
PLOK…PLOKK….PLOKKKK
“AHHHH enak banget buuuu”
“terus ahhhhhh cepetin mauuu…” aku tersenyum kecil.
Keduanya seperti kerasukan setan dengan harapan yang hampir sampai.
“uhhhhhh terusss sakittttttt” istrku menjerit sedang pria dengna rambut pendek itu terus fokus menggerakkan pingulnya maju-mundur tanpa memberi ampun pada istriku.
BRAKK…
Pintu ruang tamu rumahku tetibia saja terbuka tanpa tamu – angin besar. Hujan sudah turun disertai petir yang menggelegar beberapa kali dan kondisi runag tamu semakin gelap.
Tapi tidak dengan pasangan gila didepanku karena hanya melirik sebentar sebelum melanjutkan kembali pergolakan panas nya. Istriku kini mengambil alih permainan saat pria dekil itu melirik kerah belakang saat pintu tebuka.
Kini pria itu berganti tempat dengan duduk santai bersandar pad sofa sedang istriku sudah duduk diantar kedua pahanya dengan kontol yang tenggelam dilembah surgawinya.
Payudara bulanya menggantung bebas dan dilahap dengan cepat oleh kurir itu – suara hujan menyamarkan suara meraka dan kini hanya ada benturan air hujan dengan tanah dan mataku yang sulit untuk berkedip.
Istriku bergerak pelan naik-turun dengan kepala yang menunduk berusah melihat ciuman yang dilakukan kurir pda payudara mulusnya. Gerakan pinggul istriku seperti menarik ulur penis hitam yang sudah tegang maksimal sedang mata istriku memejam dengan mulut yang terbuka menahan rasa kenikmatan yang tak ada dua.
“AKHHHH ANJING UDAH MAU KELUAR BANGSAT” Teriak kurir itu yang melebih suara hujan.
Istirku semakin cepat menggerakkan pinggulnya dan tangan kurir itu ikut memegang pantanya. Tak butuh waktu lama tubuh istriku bergetar diikuti kurir sialan itu yang ikut bergerak gelisah tak karuan.
“AKHHHH ANJINGGG” Teriak keduanya dibarengi dengan suara petir dari arah luar.
Istriku sudah dibanjiri keringat sedang kurir itu hanya tersenyum Lelah dengna tangan yang mengelusi kepala wanita yang sudah memuaskannya.
Aku mencoba untuk memejamkan mata dan menghirup aroma tanah juga hasil perbuatan mereka yang diluputi hawa panas juga getir.
Saat aku membuka mata, keduanya masih berada diposisi yang sama dengan mata yang sama-sama terpejam dan terlihat raut kebahagiaan dari wajah istriku. Jantungku perlahan mulai tenang dan mencoba untuk berjalan mundur dengan berusaha tak mengeluarkan suara.
Hilang sudah kesempatan emasku untuk membuktikan apa yang dilakukan istriku dan kini tersisa manusia lemah sepertiku yang tak layak untuk tetap bernapas pada detik berikutnya. Rasa ini semakin menjauh kan ku dengan istriku yang saat ini semakin asing atau bahkan sudah tak kukenali sebagai wanita yang dulu mengikat janji untuk selalu bersama tanpa mengkhianati.
---
“Selamat datang, maaf kantor ku belum siap Nerima penambahan orang. Tempatnya belum cukup.” Ujarku pada wanita yang saat ini memakai dress putih dengan dua kancing atasnya yang terbuka.
“haha, gapapa kali mas kan yang penting bisa kerja bareng.” Jawabnya yang semakin membuat penisku mengejang.
“langsung aja mba.”
Bersambung.
==========
==========
15 | TAMPAK SAMA
"SAH !!!"
Teriakan belasan orang yang kala itu tersenyum haru memenuhi gendang telinga ku yang masih menempel pada bantal lembab ini. Ruangan dengan kaca yang menembus kamar ku menjadi tempat aku menjauh tapi tidak bisa lepas untuk menatap istriku yang masih terlelap setelah menggempur orang asing.
Baju nya yang kusut masih belum berubah sedang rambutnya masih terlihat basah oleh keringat yang muncul dari pori-porinya. Mata ku melirik pelan pada jam yang terus maju kearah kanan dimana tak bisa mundur atau sekedar berhenti untuk melirik kenangan indah yang tiap detik sudah terkunci oleh rangkaian sandi bernama takdir.
Pilu yang terlalu menggelap dengan senyum yang tak berharap untuk bisa kembali pada semula, termasuk tubuhku yang masih enggan untuk bergerak meski sore sudah menyambut langit untuk segera meredupkan sinarnya. Hanya bisa melamun dan mengambang di atas samudera ketakutan yang tak berujung dan berharap agar esok segera terwujud dengan segala kehendak-Nya.
Kaki telanjang istriku bergerak pelan sebelum tangannya menggapai gawai yang berada disebelah nya, matanya mengedip lucu dengan rambut yang masih berantakan ia mulai duduk sedang aku bersiap untuk segera meninggalkan tempat aku bersembunyi.
Ada rasa enggan yang berlebih saat tulang ekorku meninggalkan dinginnya kasur ini, napasku tersela beberapa kali dan dengan satu gerakan cepat aku berjalan membuka pintu dan kembali pada ruang gambar dimana aku berperan sebagai pria bodoh dengan segudang ketakutan yang sebenarnya jauh dari kata yakin.
Tak butuh waktu lama ketika mataku sudah melihat pintu yang berbentuk persegi diatas ku, tanganku sudah menggenggam erat pada tangga dan menahan napas.
"Persetan dengan semua" ucapku sembari menggerakkan kaki secara simultan dengan kepala yang menengadah membuka pintu berbahan kayu itu.
Seketika cahaya lampu menerpa mukaku yang sudah dipastikan dipenuhi debu dan keringat yang sudah mengering, kian lama aku diam maka selama itu pula pikiran ku kosong dan bingung harus bertindak seperti apa didepan istriku yang kini entah dimana.
"Ayah !" suara istriku terdengar dengan jelas di iringi dengan langkah kakinya yang membuat lamunan ku berakhir dengan cepat. benar saja tanpa menunggu waktu lama pintu ruang kerjaku sudah terbuka dengan sepenuhnya.
"Ayah, udah bangun?" tanya nya dengan rambut yang masih berantakan. berjalan perlahan dengan pakaian kusutnya ia tersenyum kecil dengan langkah yang memelan saat sudah tersisa beberapa centi dari ku.
Dingin.
Pipiku terasa dingin saat telapak tangan istri ku menempel dari ujung pelipis hingga pipiku dan bergerak menuju kening ku yang tertutupi rambut. Rasa nyaman segera menyelimuti ku dan jantungku semakin berdetak dengan lebih pelan.
“kamu sakit pah”
Hanya tiga kata itu yang membuat jantungku kembali berdetak dengan cepat sedang langkah itu kembali terdengar dan membuat aku membuka mata, menyaksikan tumit cantiknya meninggalkanku tanpa berbalik sedikitpun. Mata ini kembali menelan cahaya yang masuk pada bola mata agar bisa dengan jelas melihat suasana yang ada saat ini.
Diluar hujan masih turun dengan deras sedang jendela yang mengembun di beberapa sisi membuat pemandangan diluar tampak samar. Mencoba untuk merasa baik-baik saja tapi tidak dengan rasa sakit yang masih ada dari sudut mataku dan berakhir menjadi sebuah bayang samar sebelum setetes air mata yang jatuh pelan melewati pipiku.
kepala ku mendongak dan melihat langit-langit ruang kerjaku yang ikut sedih atas apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Mereka seakan paham meski diam dan menerimaku tanpa meminta apapun - sedang istriku yang selama ini ku jaga hanya menanya kabar agar rumah tak terlalu sepi.
Kreeettt
"Minum obat dulu pah" benar saja, aku tersenyum kecil dan berjalan pelan kearahnya.
Kini pakaian nya sudah berganti dengan rok panjang dengan baju berkerah rendah, kakinya tertutup rapat sedang tangannya tepat diatas paha dengan jari-jari memegang nampan kayu yang aku tahu betul menjadi oleh-oleh tahun lalu.
tak ada hal spesial lain selain wajahnya yang lekat menatapku dengan rasa yang aku tebak tidak jauh dari kasihan, iba atau bahkan mencemooh ku sebagai pria pesakitan dengan segala kekurangan.
tatapan itu jauh berbeda saat orang asing yang baru ia kenal menjilati setiap jengkal tubuhnya atau tetangga yang setiap hari ku sapa dan berubah menjadi serigala dalam satu detik setelah melihat senyum maut dari istriku.
"Obatnya jangan dilihat aja pah, ayo di minum"
aku menghela napas dan berusaha agar terlihat baik-baik saja dan dalam satu kali tegukkan obat berwarna putih tulang itu sudah masuk kedalam mulutku.
"hujan nya belum berhenti, papah baru bangun?" tanya nya dengan raut yang sama namun pundaknya sudah tak setegang tadi.
"iya baru bangun, sekarang mau pergi dulu mah beli laptop untuk Winda."
"ga bisa nanti aja ya?, kamu masih sakit loh pah."
"kan dia besok mulai kerja, dan aku cuma punya satu laptop." dalih ku yang berusaha pergi dari ketidaknyamanan ini.
istriku hanya menggeleng pelan tangan putihnya kembali memegang dahi ku yang masih dipenuhi oleh peluh - jarinya seperti mengetuk dan mengusap rambutku yang sudah tak tertata. sejenak penciumanku menghirup aroma pandan yang tak lain adalah bau dari sperma tukang paket tadi siang.
Jantungku seakan cepat hingga ke perut bahkan pori-pori kulitku kini bekerja ekstra untuk menahan semua keringat yang ingin muncul dari sela-nya. Andai Istriku tahu mungkin ia sudah menahan malu dan menyiapkan seribu kebohongan lainnya yang tak lain untuk menutupi tingkah lakunya akhir-akhir ini.
"malah makin panas pah, kamu yakin diluar masih hujan loh"
"yakin mah, ini kan demi kita juga." balasku yang baru sadar kata apa yang baru saja terucap dari bibir ini.
'Demi kita'
mungkin orang normal akan merujuk pada dua orang yang semula mereka dan berubah menjadi kita pada kondisi tertentu - tapi tidak dengan istriku yang memilih menjadi asing saat ini.
"terserah kamu lah." putus istriku yang memilih pergi dan berjalan tergesa untuk keluar ruang kerja ku.
mataku melihat rintik hujan yang masih memahat jendela sedang jariku bergerak pelan untuk menangkapnya dan tanpa sadar membuat sebuah sketsa huruf yang membelah embun.
'Winda'
Aku hanya bisa menggeleng dan seperti mendapatkan energi baru yang masuk ditengah dada dan merasuk kedalam semua perasaan yang mungkin sedang mati suri. Mungkin wanita itu adalah jalan keluar ku - namun apa bedanya aku dengan istriku yang sama-sama mengkhianati ku.
"Persetan dengan dunia" decihku yang langsung berdiri dan memilih untuk keluar dari ruangan ini. mataku kembali melihat ruang tamu yang kini tampak kosong dan sunyi. Kain penutup meja masih terjatuh dan menyatu dengan kaki sofa, melihat itu keyakinanku makin bulat bahwa sejak tadi adalah kenyataan dan bukan khayalan semata.
Aku berbalik kearah kamarku dimana pintu yang berbahan kayu itu terbuka sedikit dan tanpa menunggu lama aku kembali berjalan untuk sekedar mengganti baju sebelum berangkat membeli keperluan kerjaku esok hari, karena tak mungkin hanya bermodalkan ucapan didepan dokterku kemarin.
Belum sampai tanganku pada pegangan pintu ada sebuah suara yang membuat bulu kudukku berdiri dan ini bukan karena hujan atau tubuhku yang terlalu panas untuk sekedar berjalan.
“Ia nih, dia maksa mau keluar. Udah aku bilang diluar masih hujan.” Itu suara istriku.
Aku semakin mendekatkan kepalaku dan berharap bisa mendengar dengan jelas apa dan siapa yang sedang berbicara dengan istriku karena tak mungkin jika pria asing lain yang berani masuk kedalam wilayah privasi ku.
“Pak Soni si enak bilang gitu, aku gimana dong… mana sekarang masih hujan” gila, kini istriku sedang berbicara dengan Pak RW yang menjadi awal dari semuanya. Ada rasa penasaran berlebih yang timbul begitu saja untuk sekedar memperluas pandanganku tapi tak mungkin juga hingga bisa melihat dengan jelas karena istriku dipastikan akan mematikan panggilan pada gawainya.
“Kan ada aja alasannya. Yaudah aku kabarin kalo suamiku udah pergi ya” sial, aku semakin bimbang denga napa yang harus aku lakukan saat ini. Tapi apapun yang kulakukan semua akan bermuara pada kesalahan ku diawal dan ini menjadi sebab-akibat yang aku tanam sejak awal.
Tak ada kata mundur, berhenti atau memilih untuk menyudahi semuanya saat ini. Biar semua mengalir bagaikan angin yang masih diantara sela daun yang tumbuh di taman belakang rumahku – dan dengan tanpa permisi aku masuk kedalam kamarku.
“jadi berangkat?” tanya istriku yang langsung menodong dengan sebuah kata yang aku bisa tebak.
“Jadi, udah janjian juga sama tukang computer langganan aku.” Bohongku untuk kesekian kali.
“yaudah hati-hati, ini kamu langsung berangkat?”
“iya mah, ganti baju dulu. Aku nitip rumah ya.”
Hanya ada anggukan yang aku dapat sebelum melihat dirinya berdiri kearah lemari pakaianku. Disaat inilah aku merasakan kasih sayang darinya tapi kedepannya mungkin aku akan membencinya saat tahu Pak RW akan datang untuk meneguk cintanya dengan cara bejat.
----
Wiper pada kaca depan mobilku bergerak konstan menyapu tiap bulir yang baru saja turun dari langit sedang embun yang mulai menebal aku masih duduk pada kursi kemudi dengan tangan yang meremas pelan stir mobil. Istriku sudah masuk kembali kedalam rumah tak lama setelah mengantarkan hingga teras depan, suara mesin mulai tak terdengar saat hujan yang kembali deras seiring waktu dan langit yang semakin menghitam tertutup jutaan bulir air yang turun.
‘semoga apa yang kubayangkan tak akan terjadi’ ucap batinku yang dengan mantap menginjak pedal gas meninggalkan halaman rumahku yang sudah basah setelah berkali-kali dijatuhi air hujan.
Jalanan komplek tampak sepi dan hanya ada daun yang berserakan setelah tertiup angin juga air yang jatuh tanpa henti. Mobilku menyusuri jalan dengan kecepatan pelan dan berusaha mengamati jalan yang baru aku sadar kini jauh lebih rapih dari biasanya – mungkin kinerja RW ku yang bagus merawat komplek bahkan merawat nafsu istriku. Ingin tertawa rasanya jika mengingat tingkah ku dahulu yang tak jauh dari menaruh bara panas didalam sekam yang sekian lam menjadi rasa cemburu juga dendam yang begitu pahit.
Namun fokusku pada jalan tiba-tiba saja teralihkan saat motor 2 tak dengan pengemudi yang aku sangat kenal melewati mobilku – Pak Soni.
Pria itu melaju dengan helm hitam dan aku tahu betul motor tuanya pernah terparkir saat menikmati tubuh istriku beberapa bulan lalu. Bahkan helm itu belum diganti dan masih sama dengan yang ia pakai untuk mengunjungi beberapa warga akhir-akhir ini.
Jantungku tiba-tiba saja berdegup kencang bahkan jantung ku kini memompa darah lebih cepat hingga terasa detakan konstan nya pada pelipis dan tanpa sadar pula cengkraman pada stir mobilku makin kuat dan benar saja motor Pak RW berbelok kearah kanan dimana jalan itu adalah rumahku.
Tak ada pikiran lain kali ini selain putar balik dan memergoki pria tua sialan itu, karena sudah bisa dipastikan jika ia akan kembali menjadi pria nakal yang terikat oleh senyum istriku. Aku tak habis pikir berapa pria lagi yang akan memenuhi semua hasrat yang istriku punya.
‘TING’
Mas ini Winda, besok jadi kerja di rumah mas kan?
Sial, istri dari dokterku dengan waktu yang kurang tepat menanyakan perihal kerjanya. Pilihanku kini hanya melanjutkan mobil dan memantau lewat cctv. Karena tak mungkin untuk kembali dan tak jauh dari kata bodoh karena aku yang memaksa untuk keluar demi membeli laptop yang sebelumnya hanya alibi semata.
Jika ini yang menjadi jalan hidupku mungkin tak ada pilihan lain selain memantapkan diri untuk melanjutkan perjalan dan meninggalkan yang selama ini membuatku dadaku tak berhenti untuk bekerja ekstra untuk menarik napas lebih dalam.
Ku buka gawai yang menjadi alat satu-satunya dan melihat chat dari Winda masih menggantung diantar notifikasi lainnya. Jari-jari ku bergerak cepat membalas pesan dari wanita yang sebenarnya menarik perhatianku itu.
Bisa mba Winda, Ijin aku save ya nomornya
Begitu balasku yang kali ini membuka aplikasi cctv yang menjadi magnet saat ini – benar saja motor itu sudah terparkir dihalaman rumahku.Aku tersenyum tipis dan memilih untuk opsi screen record dan menaruh gawaiku pada dashboard demi menjaga konsentrasi dalam mengemudi mobil ini.
Dibutuhkan waktu lebih dari dua puluh menit untuk sampai ditempat ini, ruko yang bergaya romawi dengan display laptop juga gawai yang memenuhi etalase bening. Senyum ramah pemilik toko menjadi semangatku untuk memilih laptop terbaik untuk Winda, persetan dengan istriku yang sudah memilih pria lain.
Kini aku hanya membawa dompet karena gawaiku sudah ku tinggal didalam dashboard mobil yang jelas aku akan muntah jika melihat pria botak dengan gigi ompong itu menjilati tubuh mulus istriku. Karena tak mungkin juga aku membawanya kedalam toko laptop ini – mungkin akan menjadi bencana besar jika ada yang melihat kelakuanku menonton film dewasa tanpa mengenal tempat yang wajar.
Mata ku tak henti-hentinya membaca spesifikasi laptop yang akan aku beli karena kebutuh Winda pasti membutuhkan laptop yang kencang juga tahan banting mengingat jobdesk nya yang berkutat pada render dan modelling 3D.
Aku tak bisa berbohong bila jantungku masih berdetak tak wajar bahkan beberapa kali pemilik toko menawariku minum – mungkin karena muka ini pucat atau aku yang terlalu bergerak gelisah. Rasa bodo amat yang aku coba dalami nyatanya tak lebih dari actor amatir yang berusaha nampak natural, keringatku menetes pelan dari pelipis bahkan tanganku bergetar saat menunjukkan beberapa pilihan laptop.
Hingga gelap yang muncul dari kedua mataku mulai merambat dari bawah dan hanya keheningan setelahnya.
Aku kembali tak sadarkan diri.
Bersambung
==========
==========
16 | PELITA DI UJUNG NESTAPA
Mataku masih menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam penglihatan, ada banyak warna yang bisa kulihat saat ini setelah sebelumnya hanya ada hitam dan pekat yang menemani.
"Syukur deh pak, akhirnya."
Hanya suara itu yang menarik paksa kesadaran ku untuk bisa lebih bertenaga menggerakkan anggota badan ku.
Rasa dingin seketika menusuk seluruh saraf yang menjalar dari telapak kaki hingga betis yang lama kelamaan menjadi rasa hangat juga aman. Aroma Citrus yang menguat semakin membuat ku sadar jika saat ini hujan masih belum berhenti dan posisi yang masih berada di toko laptop, meski kali ini langit sudah menghitam dengan pelita yang tak memberikan kasih nya.
"Bapak tadi jatuh tiba-tiba, kurang lebih udah tiga puluh menit." Jelas pria dengan mata menyiratkan bahwa ia tadi telah membantuku.
Aku hanya bisa mengangguk pelan dengan badan yang sudah sepenuhnya duduk pada kursi pengunjung toko ini. Namun dengan hebatnya badanku saat ini kembali pada kondisi semula - cukup aneh memang.
Tanpa berdosa jari telunjuk ku bergerak pada atas etalase dan memutuskan untuk membeli laptop berwarna hitam pekat yang memang menjadi incaran ku. Mata pemilik toko seperti tak menyangka jika aku kembali seperti semula setelah kehilangan kesadaran beberapa saat lalu.
Dengan terbata karyawan toko mengambil unit pilihanku pada gudang yang berada di lantai dua, tanpa lama laptop itu sudah berada ditangan ku.
Lampu jalan pada pelataran sepanjang ruko sudah menyala, meninju gelap yang tertelan bulan. Jalanan hanya menyisakan rintik kecil yang memecah tenangnya genangan air pada sela-selanya.
Napasku yang semakin pelan mencoba mengerti arti dari semua ini, berharap agar semua segera usai agar sang pelita datang dengan harap meski tak sebesar semut yang baru saja ku tepuk pada leher ini.
'Ah aku sudah merecord istriku' kalimat itu secara tiba-tiba muncul dan mengganggu fokusku dalam melihat suasana parkiran, tanpa lama aku berjalan untuk masuk kedalam mobil yang sudah dipastikan kotor oleh cipratan air.
Dengan cepat aku bisa mengambil gawai yang sudah panas itu dan tanpa lama ku ketuk tombol untuk memberhentikan fitur screenrecord. Darahku seketika mengalir dengan cepat dengan kepala berdenyut dan tangan yang bergetar aku menggeser pada aplikasi galeri.
Hawa di dalam mobil memanas meski sudah kugeser pada dingin yang lebih maksimal - wiper mobil masih bergerak saat telingaku sudah terpasang earphone yang menjadi alat pendengar paling cocok saat keadaan ini.
'Air Hujan'
itu yang aku lihat dari kamera yang kupasang disekitar teras - bahkan hingga menit kelima video ku hanya itu yang bisa kulihat. ada rasa penyesalan yang muncul begitu saja jika ternyata Tua bangka itu tak jadi mengunjung istriku.
Detik demi detik berjalan dengan pasti dan masih saja sama, tak ada yang berubah. Jariku mencubit layar dan memindahkan kearah bawah video agar bisa melihat dengan jelas kamera pada ruang tamu.
terlihat istriku duduk dengan kemeja putih yang baru ku tahu ia mungkin memkai hotpants pendek karena menampilkan paha mulusnya. sesekali bibir merah nya tersenyum kecil dengan gawai yang tak berpindah sejengkal pun.
Tak sampai satu menit aku memandangi istriku dari video yang kuputar, ia mulai berdiri dan menruh gawainya diatas meja ruang tamu. Benar saja ia seperti tak memakai celana sama sekali, kemeja putihnya menjuntai lurus hingga setengah paha dan mulai berjalan kerah pintu depan.
aku kembali mencubit layar video agar bisa bergerak pada kamera teras yang sebelumnya hanya menampilkan air hujan dan halaman yang basah.
'Anjing' desahku saat melihat Pak Soni yang sedang melepaskan jas hujan beningnya - disisi lain istriku bersandar pada kusen pintu yang sudah terbuka secara penuh.
Ku jeda video yang sedang di putar dan secara cepat napasku memburu dengan mata yang menoleh kearah kiri-kanan sembari melihat suasana diluar mobil yang sedang kutumpangi ini.
Kuputuskan untuk menginjak pedal gas dan memutar stir mobil kearah rumahku, mulut ini tak bisa tertutup rapat dan pipiku tak bisa diam seakan tahu jika adrenalin yang mengalir mampu membuat seluruh syaraf ku bekerja dengan kemampuan yang diluar kebiasaan.
Hanya ada suara mesin dan ketukan jari pada stir yang menemani ku untuk mempertebal rasa percaya diri dan mungkin selanjutnya akan seperti ini hingga sore tak lagi menampilkan pelita yang datang bersama nestapa.
Jalanan tampak sepi dengan kendaraan bahkan pedagang jalanan baru memulai aktivitas nya setelah menjeda beberapa saat setelah hujan yang menjadi tokoh utama pada sore ini. Tak banyak yang berubah kecuali jantungku yang masih berdetak dengan kencang juga gigi yang semula hanya tersenyum kini perlahan mulai mengeluarkan tenaga nya.
Memang di satu sisi aku ingin melihat istri ku secara langsung, tapi tak dapat ku bohongi pula jika harapan bahwa istriku tak berselingkuh jauh lebih besar.
Aku masih sayang pada istriku.
Hanya tersisa satu belokan didepan dan akan tampak pagar rumahku, tanganku mulai memelemas dari pegangan sedang bahuku masih saja tegang - mungkin badanku yang mulai terbiasa dengan semua ini. Naif jika aku tak menikmatinya atau bahkan bodoh jika aku menampik semua pikiran kotor yang bersarang hingga palung terdalam bawah sadarku.
Kuturunkan kecepatan mobil ini hingga tak jauh berbeda dengan seekor siput sedang mataku menatap kearah kanan dimana rumahku berada - hanya tersisa sepuluh meter didepan bahkan kini mataku bisa melihat lapangan hijau yang menjadi tempat penyamaran ruangan rahasia ku.
'Huft'
Kosong. Parkiran yang sedari tadi sudah mengganggu pikiranku nyatanya hanya berisikan air hujan yang membasahi carport bahkan pintu yang kulihat pada cctv tertutup rapat dengan lantai yang basah pula. Meski pagar rumahku yang terbuka lebar menjadi tanda terakhir jika Pak Soni benar datang.
"Ayah!"
Betapa terkejutnya saat suara yang berasal dari belakang tubuhku begitu keras - belum lagi tangan nya yang menepuk pelan pundak ini.
"Eh, dari mana?" Tanyaku cepat.
"Ini tadi Ibu sama Bapak nganter anak-anak, katanya udah kangen sama kamu." Lanjut dengan gigi berseri.
Ada rasa kecewa yang muncul meski tak sebesar rasa rinduku pada anak-anak yang sudah lumayan lama tak kuliah wajahnya.
Perempuan dengan pakaian kemeja putih itu sudah berjalan melewati ku meski kini ia memakai legging hitam panjang yang menutupi putihnya kulit kakinya. Aku mengikuti langkahnya dengan tangan yang menjinjing tas yang berisikan laptop baru, yang pasti esok kan tiba dengan segala rahasianya.
----
Telinga ini masih merasakan bayang suara tawa dari anak-anak ku yang berlarian saat ibunya memberi mereka sarapan. Kini hanya ada sepi yang menyelinap dari ruang kosong jiwa juga gendang telinga, aroma masakan dari arah dapur menyapu malu-malu hidung ini dan dinginnya lantai menjadi teman saat diriku berkutat pada meja gambar.
Benar, hari ini Winda resmi menjadi karyawan ku dan tentunya dibarengi dengan tatapan sinis dari istriku sejak tadi pagi. Mungkin jika aku tega akan kuarahkan dia pada kaca paling besar di dunia ini agar tahu jika ia yang memiliki sifat tak lebih baik dari jalang murahan.
Posisi laptop sudah ku pastikan akan membuat Winda nyaman juga dispenser air yang sebelumnya hanya ada di dapur kini sudah menghiasi sudut ruangan yang baru ku tahu terkesan dingin ini. Rasanya seperti mendapatkan napas baru bahkan semalam aku tak sempat membuka hasil rekaman video antara istriku dengan Pak Soni - semuanya seakan lenyap begitu saja dengan rasa antusias atas kehadiran Winda pagi ini.
TING TONG...
Aku bergidik dan dengan cepat berjalan menuju pintu depan dimana sumber suara bel itu ditekan - firasat ku Winda sudah datang dan benar saja.
"Pagi mas" Sapa wanita dengan senyuman lucunya.
"Pagi, dokter nya mana?" Jawabku yang dengan cepat membuat senyum nya menjadi masam.
"Tau ah, masa nanya dokter." Tangan nya memegang pinggang dengan pipi yang memerah.
"Hehe, yaudah masuk dulu Win" putus ku yang memberi jalan pada Winda dengan memiringkan badan.
Aroma parfumnya menguar hingga ingin rasanya bersin saat ini , jujur saja aku sedikit tak suka harum yang terlalu mengganggu seperti ini - rasanya aroma obat nyamuk lebih baik.
Tak lama aku mengambil alih perjalan singkat yang membawa wanita ini pada sebuah pintu yang berhiaskan figura desain pertama ku.
Kubuka pintu ini dengan pasti dan aroma kayu juga wewangian citrus menyamarkan parfum dari Winda yang masih saja menganggu.
“Selamat datang, maaf kantor utamaku belum siap terima penambahan orang. Tempatnya belum cukup.” Ujarku pada wanita yang saat ini baru kusadari memakai dress putih dengan dua kancing atasnya yang terbuka.
“haha, gapapa kali mas kan yang penting bisa kerja bareng.” Jawabnya yang semakin membuat penisku tiba-tiba menegang.
“langsung aja mba.” Ucapku dengan tangan menunjuk meja kerja nya.
"Langsung gimana nih?" Tanyanya balik.
Sial.
Wajah dan dadanya begitu asyik untuk kulihat selama mungkin terlebih mulutnya yang tak berhenti mengajakku untuk mencicipinya. Mungkin ini yang dirasakan Pak Soni saat menatap istriku dengan lekat.
"Langsung duduk aja, saya baru sembuh jadi belum bisa berdiri lama-lama" alibi ku agar ia tak sadar jika penisku sudah menegang maksimal.
"Masa udah berdiri aja, baru aja segini mas" ucapnya pelan tanpa ia tahu jika aku bisa mendengar nya dengan jelas.
Mungkin jika akal ku tak ada ia sudah ku dorong paksa hingga penis ini bisa bersarang dengan nyaman pada lubang hangat nya. Tapi aku bukan lah istriku atau Pak Soni yang terlalu jauh melayani warganya hingga urusan selangkangan.
Kini sepi kembali menguasai ruangan bahkan Winda yang semula mengomentari semua isi ruangan kini hanya diam dan fokus pada laptop barunya.
"Ini password laptopnya apa ya?" Ucapnya tiba-tiba.
"Eh, bukannya ga di password ya win" balasku cepat dengan kepala menoleh empat puluh lima derajat.
"Ahahaha, tegang amat mas. Perasaan yang karyawan barunya aku" sial mungkin gerak-gerik ku terlalu kentara atau ia yang memiliki sikap sifat terlalu santai.
"Ini aku langsung kerjain aja kan?" Tanya Winda.
Aku mengangguk dan tersenyum kecil - benar saja senyum nya hilang dan berganti dengan raut cemberut.
Mataku sudah terkunci pada layar hitam dengan puluhan tools yang menjadi temanku selama ini, menarik garis demi garis sesuai arahan tim survei ku yang semalam menelpon. Waktu seakan berjalan cepat dan Winda sudah nyaman dengan posisi nya sebagai modeling 3D, beberapa kali kulirik pekerjaan yang ia lakukan dan bisa ketebak jika ia sudah ahli dalam bidangnya.
Berbeda dengan karyawan dikantor ku yang harus kuarahkan beberapa kali agar satu visi, memang dokter langganan ku tak salah memilih istri.
Tak seperti ku yang terlalu naif untuk tak membuka mata lebih lebar dan memilih istri yang setia dan mempercayai suaminya apapun yang terjadi - tapi pantaskah aku mengeluh jika semua ini adalah kehendak ku?.
Langit lagi-lagi belum memunculkan sinar yang menyapu ruang kosong dan hanya ada rasa sendu juga dingin, istriku masih asyik dengan arisan wali murid sembari menunggu anak-anak ku pulang sekolah.
Detik memakan menit sedang jam menunggu untuk segar dilewati - Winda hanya diam sedang aku berpikir untuk memulai pembicaraan karena posisi ini sangat menyiksaku yang sudah tak ada kerjaan. Mungkin rasa santai ini yang aku rindukan saat merintis studio gambar tapi nyatanya jal ini memperlambat kerja otakku lama-lama dan hanya berkutat pada pertemuan demi pertemuan yang tak kunjung berakhir.
"Win, sudah siang kamu mau makan apa?" Tanyaku saat jam hampir menyentuh angka dua belas, wanita itu menoleh dan melepaskan earbud nya.
"Enaknya apa?" Tanya nya balik.
"Kok nanya balik, biasanya istriku masak tapi tadi ia izin pulang kerumah mertuaku" balasku yang ikut menatap Winda dengan lekat.
Wanita yang belum mengancingkan kemeja nya itu tersenyum kecil dan merubah arah kursi kerjanya hingga kini saling berhadapan denganku. Jarinya mengetuk dagu dan berpose seperti berpikir meski aku tahu ia akan bertanya kembali.
"Makan mas aja gimana, hihi"
Jantungku rasanya ingin copot saat ini, terlebih ia membuka lebar kedua kaki dengan dada yang semakin ia busungkan.
"Maksudnya?"
"Aku tahu dari tadi mas liat susu aku kan, hahaha" Kursi yang semula hanya diam mulai bergerak perlahan dengan kakinya yang tak lepas dari lantai hingga dengan gerakan lambat lututnya sudah bersarang pada lututku.
Matanya seperti elang yang tak akan melepaskan mangsa buruannya bahkan tangan putihny mulai bergerak kearah depan dimana tanganku yang masih kaku untuk bergerak meski hanya sejengkal, udara yang dingin kini berganti menjadi perasaan canggung juga aneh.
“Dari awal aku udah tau kok mas punya masalah sama mba Elsa” Aku tak bisa menyembunyikan rasa terkejut terlebih Winda adalah orang asing yang datang begitu saja dan dengan tiba-tiba Ia berkata demikan tanpa memperhatikan situasi.
“Ga ada kok” balasku yang langsung mendapat tepukan ringan pada lututku.
Tawanya kembali terdengar dengan kepala yang bergerak pelan, rambut halusnya yang membalah sisi samping pipi mulai berjatuhan.
“Bercanda kali ah, serius amat ini arsitek” lanjutnya yang membuat jantungku mungkin kembali berdetak normal.
“Ya balik lagi ke topik semula, kamu mau makan apa?” tanyaku sekali lagi berupaya untuk mengalihkan pembicaraan karena jujur saja penisku menegang sejak tadi.
Memang jika dibandingkan istriku jauh lebih menarik karena payudaranya yang bulat belum lagi pantat faforitku tak bisa dilupakan – tapi apalah dayaku jika kini dihadapakan dengan Winda yang penuh dengan misterinya datang membawa penawar yang sebelumnya dimiliki istriku.
“Kalo bakso gimana?” usulnya setelah lama diam.
Aku hanya mengangguk dan dengan tanpa lama membuka aplikasi dimana aku bisa memesan bakso panas yang menjadi usulan karyawan bar uku, Winda. Tak ada obrolan lain setelahnya bahkan Winda sudah kembali pada posisi semulanya dengan telinga yang kini tertutup earphone.
Apa yang kini aku harapkan dan apa bedanya diriku dengna Elsa yang bermain dengan pria lain dibelakangku. Bukankah aku membutuhkan pelampiasan rasa amarah ku selama ini – apa dengan berselingkuh menjadi penawar dari semua rasa gundahku yang kian tak terarah?.
Tangan Winda bergerak lincah diatas laptop tapi tidak dengan pikiranku yang diam menunggu agar waktu bisa lebih berjalan cepat agar bisa menjadi alasan untuk sekedar masuk kedalam ruangan rahasia ku – mengambil napas dan kembali menghadapi semua masalah yang akan datang.
TING
Gawaiku berbunyi yang menandatakan jika pesanan baksoku sudah datang dan benar saja suara itu disusul bunyi bel yang membuat Winda tersenyum kecil. Aku melangakah keluar meninggalkan ruangan kerja dan menyususul ojol yang sudah tak sabar untuk segera disambut.
----
Dihadapanku sudah ada dua mangkuk bakso yang masih mengepulkan asap tipis – sedang di Seberang meja Winda sedang bermain gawainya, mungkin mengabari dokter Purnomo jika dirinya baik-baik saja bersamaku.
Akh benar Winda istri dari dokter penyelamatku jadi pikiranku sejak tadi hanya omong kosong yang aku buat-buat untuk mengatakan jika aku baik-baik saja.
“Mas suka cewek kan?”
Uhuk…
“suka lah” Jawabku dengan nada tinggi saat dengan tiba-tiba Winda berkata ditengah kunyahan bakso nya.
“mmm, atau aku kurang ya?” lanjut Winda yang kembali menatapku lekat.
“Maksudnya?” tanyaku kembali dan mengambil minum disudut meja.
Saat ini aku semakin bingung dengan semua tingkah Winda yang mendekat juga secara bersamaan menjauh bagaikan tak saling kenal. Posisiku semakin sulit dan tak bisa kubohongi jika akupun merasakan kebingungan yang tak berkesudahan.
“Gerah ah”
Tanpa kuduga kemeja yang semula hanya melepaskan dua kancing kini bertambah menjadi tiga dengan pakaian dalam yang bisa kulihat dengan jelas dan bakso yang masih ku kunyah rasanya seperti hambar.
“ternyata masih suka ya mas?” tanyanya tanpa ekspresi.
Jarak yang hanya terpisah dengan meja makan kini semakin menyempit tatkala Winda beridir dan mulai melepaskan kancing keempat– Ia masih berjalan dan semakin memperlihatkan semua tingkah genitnya.
“Mas tangan aku pegel, bisa bantu bukain?. Gerah soalnya” lagi, Winda berkata tanpa menampilkan ekspresi meski aroma parfumnya sudah didepan mukaku.
Akal ku terbang begitu saja dan tanpa bertanya ulang jari-jari sialku sudah lebih dulu bergerak untuk membantu Winda melepaskan kancing kelima sekaligus menjadi pertahanan terkahirnya. Napasku memburu dan mataku tak bisa berapaling dari dadanya yang sudah membusung.
Dari sini aku bisa melihat dengan jelas jika kulit Winda sudah berkeringkat bahkan bulirnya jatuh perlahan dari leher hingga masuk kedalam belahan payudara ranum yang terbungkus bra berwarna hitam.
“Panas banget ya mas.” Ucapnya yang kembali pada posisi semula terlihat santai tapi tidak dengan hatiku yang sudah panas diabakar api nafsu.
“Winda tolong kamu apa sebenarnya?” kata ku dengan suara bergetar.
“Eh, mas mau nya apa dong kalo gitu?” tantangnya bertingkah bodoh.
Penisku sudah tegak maksimal dan aneh rasanya jika harus melanjutkan suapan dari mangkuk bakso yang masih terisisa beberapa buah. Winda masih tertawa sembari mengunya bakso yang ia punya dengan perlahan dia mengerling dan terus menggodaku dengan mengibaskan kemeja yang masih tersangkut pada bahu indahnya.
Udara yang menekan bumi rasanya menyesakkan terlebih hujan yang tak kunjung turun untuk sedikit memberi ruang pada kata-kataku yang tertahan diujung lidah.
“Dokter gimana kabarnya?” tanyaku sesaat setelah menenangkan hati yang panas dan melanjutkan mengunyah.
Winda hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan tangan yang tak melepaskan sendok dari jari-jari yang dihiasi cincin perkawinannya.
“Kok jadi bahas suami ku sih?” tanyanya tak menjawab pertanyaanku.
Winda kembali beranjak dari kursinya dan memilih untuk beridiri – dengan tangan yang mengepal ia berjalan melaluiku dan berakhir pada pintu belakang rumah yang sekaligus akses menuju ruangan kerja.
Ada yang salah dengan ini, jujur tubuhku tak bisa menolak jika disuguhkan payudara ranum miliknya tapi tak bisa ku sanggah pula rasa yang begitu hebat untuk menolak ajakan mautnya. Terlepas dari bayang-bayang istriku rasanya itu tak seberapa jika dibandingkan dengan semua tingkah laku ibu dari anak-anak ku.
Ku lihat Winda bersandar pada kusen pintu dengan tangan yang kini saling memeluk, kepalanya sesekali menunduk dengan kaki yang bergoyang pelan seperti menendang angin.
Sudahlah, aku memilih mengalah dengan ikut menghampiri Winda.
Belum sempat aku mendekat wanita itu sudah berbalik dan menatapku lekat – tangannya yang menekan dada tentunya semakin membuat payudara yang terbungkus bh itu semakin menonjol.
“Mas Feri inget aku gak sih?” tanya Winda.
Jujur saja aku bukan seorang pengingat apalagi masalah wanita yang berada didepanku – karena semasa hidupku hanya ada Elsa.
“Maksud kamu?” tanya ku balik karena tak dapat menemukan jawaban setelah mencoba berpikir meski kurang daru satu menit.
“Ish, kita dulu satu fakultas dan aku sering nyapa kamu.”
TING TONG….
Belum sempat aku menjawab suara bel mengejutkan kita berdua.
BERSAMBUNG.
==========
==========
17 | DI UJUNG MALAM MUSIM PENGHUJAN
TING TONG.....
Winda dengan terburu-buru mengancingkan kembali seluruh pengait yang sebelumnya terlepas dan aku menunggu hingga kancing ketiga sebelum berdiri menghampiri pintu depan.
Tanpa lama muncul kepala istriku, Elsa. Dia tersenyum kecil dengan tangan yang menenteng tas belanja berukuran sedang dan dibelakangnya diikuti anak-anak ku yang sudah menampilkan muka ngantuk dan lelah.
"Kok di kunci?" Tanya istriku sesaat setelah masuk kedalam rumah.
"Kan ga ada orang lain, takutnya ada yang masuk pas aku di ruang kerja." Balasku yang hanya mendapatkan anggukan kepala darinya.
Menghembuskan napas pelan dan memilih untuk menggendong anak keduaku yang sudah meminta kode dengan mengangkat kedua tangganya - hangat rasanya saat tubuh ringkih ini ku dekap dan kepalanya yang bersandar pada bahu ku menjadi pengingat jika yang kulakukan sebelumnya adalah kesalahan.
"Ayah aku ngantuk" ucapnya pelan sembari menenggelamkan muka polosnya.
Aku hanya tertawa kecil dan membawanya untuk masuk kedalam rumah, tak jauh dari pandangan ku Elsa sudah asyik mengobrol dengan Winda yang duduk di meja makan. Berbeda dengan kemarin kini keduanya bagaikan sahabat yang sudah lama tak bertemu dan aku bisa tebak jika tatapan Winda padaku hanya menyiratkan tatapan bingung juga sedih secara bersamaan.
Entahlah, mungkin hanya pikiran atau kepercayaan diriku yang berlebih ketika diberi kesempatan untuk membuka kancing kemeja milik Winda.
Tak butuh waktu lama untuk mengatur posisi anakku yang sudah terlelap meski kubawa hanya beberapa meter dari pintu masuk, tangannya masih memeluk guling yang ku simpan pada dada.
"Yah, kamu gimana si masa hari pertama kerja udah dapet job." Ucap istriku cepat tak lama setelah aku bergabung dengan keduanya.
"Ya kan emang lagi overload jadi langsung kerja, Winda aman-aman aja kan?" Tanya ku balik pada istri dari dokter Purnomo itu.
"Aman mas Feri, hehe"
Kerlingan mata itu tak berbeda bahkan lebih berani meski istriku ada disisinya.
"Ya kan biasanya gitu, waktu aku kerja dulu juga hari pertama masih pengenalan." Balas istriku tak ingin kalah.
"Hmm, iya deh besok sekalian aja main di taman bermain biar kamu seneng." Jawabku asal dan memilih untuk meninggalkan keduanya yang menyisakan raut kesal.
Rasanya aroma kayu lebih sehat untuk menenangkan pikiran ku dibanding terus mendengarkan suar tinggi dari istriku meski hanya berisikan ucapan kosong untuk menghibur dirinya sendiri tatkala aku berada dirumah.
----
Sore feri keluar nyari angin
Pengenalan tentang dalam nya arti sebuah hubungan
Melihat Winda dengan dokter Purnomo
Tangis feri pecah sesaat melihat anaknya pulang dari nyari angin
Melihat rekaman cctv Elsa dan pak soni
Istrinya yang semakin membuat marah
----
Matahari mulai malu-malu sedang angin berhembus dengan pelan, sore ini selepas mengerjakan tugas kantor aku duduk dibawah pohon rindang pada taman komplek. Winda sudah pulang beberapa menit lalu sedang Istriku masih berada dirumah dengan anak-anak.
Udara sore ini lebih dingin dari biasanya terlebih hujan baru saja berhenti dan bangku taman pun harus ku keringkan dengan sapu tangan yang selalu kubawa. Komplek tampak sepi dan jalananpun hanya diramaikan oleh daun yang berjatuhan - mengikuti takdir nya masing-masing dan menyatu dengan tanah kembali.
Begitupun dengan ku yang masih belum mengerti apa yang terjadi akhir-akhir ini. Mulai dari istri ku dengan segala tingkah nya dan Winda yang mengungkapkan telah mengenal ku sejak lama, mungkin aku kenal dan lebih besar pula kemungkinan aku untuk lupa akan kehadirannya dimasa lalu.
Jujur saja jika bisa memilih masa depan mungkin aku tak akan masuk kedalam perangkap yang ku buat sendiri - menjahitnya rapih hingga aku dia pasti kan tak dapat kembali.
Apakah semua ini adalah salahku?.
Atau tuhan kurang puas melihat diriku yang dilumuri darah juga rasa sakit yang mengisi setiap pori-pori kulitku. Jeritan ibuku, teriakan bapak ku, bahkan desahan Elsa bersama banyak pria terus menggaung didalam pikiran.
Ia bagaikan anjing yang mengigit dagingku dengan gigi taringnya hingga tak mampu kulepas atau bergerak sedikitpun - semua seperti bermuara untuk mendapatkan seluruh hidupku yang sudah kosong ini.
Pipiku baru saja terkena tetesan air dari ujung daun yang bergoyang mengikuti arah angin - matahari kian tak terlihat dan gelap rasanya akan datang dalam waktu kurang dari satu jam.
Lidahku rasanya sudah rindu dengan satu atau dua teguk kopi yang bisa membangkitkan syaraf lidah - pahit dan asam akan menjadi obat sesaat sebelum aku kembali kedalam rumah dan menatap senyum nakal Elsa yang mulai ku benci saat ini.
Taman komplek yang kurancang rasanya sudah pas dengan jalanan setapak berbahan paving yang lembab - perpaduan warna abu dan merah menjadi penuntun ku untuk terus berjalan menuju cafetaria didepan komplek.
Tak butuh waktu lama indera penciumanku sudah disambut oleh wangi biji Arabika yang menguar dari segala sudut, ada beberapa orang yang sibuk dengan minumannya masing-masing termasuk diriku yang masih memilih menu didepan kasir.
"Filter nya satu pakai biji dari Papua" ucapku pada kasir yang ku taksir masih berumur awal dua puluhan itu.
"Baik, ditunggu ya kak"
Aku menelisik seluruh ruangan cafe yang memiliki dua lantai ini - berjalan pelan sambil meremasi nota dari kasir.
Terus berjalan dan dalam sepersekian detik aku melihat pantulan diriku pada cermin yang dipajang di sudut ruang kosong - aku yang memakai Hoodie dengan mulut tertutup masker.
Tak lebih baik dari seorang penguntit atau introvert yang terpaksa membeli kopi karena sudah tak kuat akan rasa pahit yang menggantung dipikiran - belum usai pikiran ku mengalir mata ini menangkap sosok yang kuingat betul.
Winda.
Wanita yang baru sehari bekerja denganku itu duduk berdua bersama dokter Purnomo yang masih memakai jaket kulit. Aneh rasanya melihat kecantikan Winda bersanding dengan pria tua yang sibuk mengunyah makanan yang sudah dipesan.
Entah mengapa intuisi ku berkata untuk tidak menyapa keduanya dan bernjak menaiki tangga yang menghubungkan dengan lantai dua. Tempat favorit ku karena bisa melihat taman pada lantai satu juga udara yang lebih segar karena tak ada perokok yang diperbolehkan masuk kedalamnya.
Mengambil tiga tissue di dekat tangga sebelum membawanya pada meja yang berada di sudut pagar - dan betul dari sini aku bisa melihat dokter Purnomo dan Winda yang asik mengobrol disebelah kanan bawahku meski aku tak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan.
Alunan lagu Coolcat dari Queen membuat jariku mengetukkan jari pada sudut meja sembari memainkan tissue yang sudah kubawa.
Lima hingga sepuluh menit pesanan kopi ku belum juga datang - tapi tidak dengan Winda dan dokter Purnomo yang kedatangan tamu.
Seorang pria yang kuduga umurnya tak jauh berbeda dengan dokter Purnomo. Itu analisa gembelku karena melihat uban dan caranya berjalan yang mungkin lebih lambat dibandingkan pria seumur ku.
Dokter Purnomo tertawa sesaat pria itu datang dan langsung duduk dihadapan keduanya. Mataku melirik ke arah Winda yang ikut tersenyum manis sembari menyambut tangan pria itu - mungkin pria itu teman dokter Purnomo atau siapapun aku tak peduli karena kopiku sudah berada didepan mataku.
Hawa dingin sungguh cocok dengan hangatnya kopi yang terasa penuh dengan cita rasa. Dua hingga tiga teguk sudah ku selesaikan sebelum kembali melihat aktivitas ketiga orang di bawah ku.
Mata ku menyipit saat melihat posisi pria yang baru datang itu kini sudah berpindah posisi tepat dismaping Winda.
Seketika naluri ku yang sudah melihat kelakuan istriku dengan banyak pria muncul begitu saja, jika firasatku benar maka apa bedanya diriku dengan orang lain atau lebih jauh apa bedanya ketiga orang dibawah ku dengan binatang?.
Ketiganya tertawa lepas dengan Winda yang semakin mendekatkan tubuhnya pada pria tua itu - apa tidak dingin dengan pakaian yang sama ditempat outdoor dengan hawa dingin seperti ini?.
Tanpa sadar tangan ku mengambil gelas kopi dan meminumnya sedikit demi sedikit dan hanya itu yang kulakukan.
Apakah aku harus berpindah tempat atau tetep disini seperti orang bodoh yang terlalu penasaran dengan hubungan Winda juga dokter Purnomo.
Rasa-rasanya rasa penasaran ku lebih besar dan harus segera diselesaikan - entah apa tujuannya karena gelas kedua kopi ku sudah datang.
Aroma kopi mengalihkan fokus ku yang sebelumnya terpaku pada Winda dan suaminya tapi tidak untuk dua menit karena setelah tegukan ketiga mataku langsung tertuju pada ketiga oranga yang berada dibawah ku ini.
Kopi yang kupegang rasanya sudah tak menarik saat tangan pria asing itu sudah berpindah dari muka meja menuju paha mulus milik Winda yang sedari pagi mengganggu fokus kerja ku.
Ya, tangan yang sudah dipenuhi keriput itu sangat kontras dengan paha Winda yang tersingkap karena saat ini wanita itu memakai rok diatas lutut - Dokter Purnomo pun hanya tersenyum dan seakan-akan membiarkan pria itu menjahili istrinya.
Sampai saat ini aku tak tahu dan mungkin saja pria itu adalah Ayah dari Winda, rasanya cukup sore ini untuk memenuhi rasa penasaran ku. Tapi, apakah seorang Ayah akan bertindak seperti meremas payudara anaknya?.
Pria dengan gigi ompong itu seperti mengawasi keadaan sebelum tangannya bergriliya meremasi payudara milik istri dari seorang dokter terkenal - meski hanya sekali dan tampak seperti usapan biasa tapi tak bisa dibohongi jika melihat itu rasa penasaran yang baru ku pendam muncul kembali dengan sejuta tanya yang sudah haus akan jawaban.
Satu kali tangannya bergerak untuk melecehkan maka satu kali pula tawa dari bibir dokter Purnomo terlihat dan itu semakin membuat rasa panas di dada ku muncul begitu saja - bahkan kali ini rasanya aku sudaj muak dengan semua fantasi orang yang sialnya terjadi padaku juga. Winda pun terlihat nyaman meski kali ini sedang berada di tempat umum yang notabene akan banyak orang yang memperhatikan gerak-gerik yang mencurigakan, termasuk diriku.
Pria asing itu terus bicara dengan Winda yang berusaha ia rangkul dari arah belakang dan tentu saja wanita itu menyambutnya dengan berusah untuk mendekat, sungguh aneh melihat wanita muda yang bertingkah layaknya jalang.
Rangkulan itu tak bertahan lama saat dokter Purnomo berdiri dan diikuti oleh dua orang didepannya - mereka memutuskan untuk pergi dari coffee shop ini dan menyisakan pertanyaan besar dipikiranku.
Kini hanya ada kopi dan pikiran ku yang menggantung didalam hayalanku. hingga gawai ku bergetar.
"halo yah." suara istriku sesaat setelah aku menggeser panggilan.
"Iya, ada apa?"
"masih diluar?" tanyanya.
"Iya, biasa lagi beli kopi di depan komplek"
"Yaudah, hati-hati" ucap istriku yang langsung menutup dengan sepihak.
Rasanya sudah cukup untuk menenangkan pikiran dan aku harus kembali pada rumah yang mungkin mulai bermetafosis menjadi neraka dengan segala isinya.
Café yang semula sepi kini mulai ramai terlebih suasana yang mendukung untuk sekedar duduk dan menyesap kopi panas yang tak bisa kupungkiri jika rasa dari setiap minuman yang disajikan begitu nikmat dan aromatik. Tanganku masih bersarang pada saku jaket yang sedikit mengurangi rasa dingin dari malam ini.
Winda dan Dokter Purnomo benar sudah tak terlihat dan hanya aku yang berjalan pelan menyusuri trotoar yang akan membawaku pada Elsa dan setiap kebohongannya, benar kebohongan.
Pikiran ini langsung tertuju pada rekaman yang sudah kusimpan sejak kemarin bahkan tak sempat ku pikirkan sedikit saja – rasanya terlalu aneh dan marah yang muncul dengan begitu saja menyulut layaknya kertas yang terkena bara menyala.
Kaki ini terus bergerak dengan mata yang tak lepas dari gawaiku – bangku taman rasanya berubah menjadi magnet yang secara otomatis menarik untuk segera ku duduki. Taman yang sore tadi sepi kini masih sama bahkan lebih hening karena malam sudah menjemput dan langitpun gelap dengan awan yang berubah menjadi abu.
Aku menarik napas panjang sebelum menyentuh layar aplikasi pemutar video yang sudah ku jeda sebelumnya.
Tak sampai satu menit telinga dan mata ini sudah terkunci pada sebuah sandiwara yang selama ini kutunggu bahkan mungkin melebihi nikotin yang menjerat jutaan jiwa saat ini – semua bercampur menjadi satu seakan semua tampak hilang dan hanya ada cahaya dari gawai yang masuk ditengah gelapnya taman komplek ini.
Suara rintik hujan yang memenuhi pendengaran ku sedang istriku masih diam pada kusen pintu yang terbuka satu sisi. Pak soni tampak sesekali melirik putihnya kulit istriku yang hanya tertutupi kemeja putih polos yang semakin mengeluarkan aura nakalnya.
Masih tak ada percakapan diantara keduanya atau suara hujan yang terlalu keras sehingga telinga ini tak bisa menerka apa yang sedang istriku ucapkan - karena sampai menit ini hanya ada pak Soni yang merapihkan jas hujan sebelum berjalan mendekati istriku.
Jujur saja jantungku kembali bekerja ekstra saat tahu keduanya mulai menggenggam tangan dengan erat bahkan mesra melebihi aktor manapun. Senyum nakal pak tua itu membuat bulu kuduk ku merinding dengan hawa di taman komplek yang semakin dingin tentu saja menambah suasana menjadi tak menentu. Mata ku masih mengikuti setiap adegan pada rekaman cctv yang sampai saat ini hanya ku yang mengetahuinya - genggaman itu mulai terlepas dengan berubah menjadi rangkulan tangan pak Soni pada bahu istriku.
Aku mengambil napas sejenak dan berusaha untuk menenangkan jantung ku yang kini berdegup dengan cepat - meski ini bukan pertama kali aku melihat istriku berselingkuh tetapi rasanya seperti menemukan hal baru yang membuat adrenalin ini kembali mendidih.
Istriku menutup pintu dengan kasar sedang pak Soni hanya tertawa dengan tangan yang tak lepas dari bahu istriku.
"Kok ditutup si hmm?" Tanya pak Soni dengan jari-jari yang mengelus pelan bahu Elsa.
"Biar orang ga tau pak, masa jam segini berkunjung ke rumah warga si" balas istriku dengan suara gemas yang secara ajaib membuat bibir ku tersungging mengejek.
"Kan kamu sendiri yang mau dijunjungi, masa lupa si ?" Tanya pak Soni kembali sembari menarik istriku untuk duduk disampingnya.
Istriku hanya tertawa kecil dan kembali berdiri meski gerakan pak Soni seperti tak melepaskan kepergiannya.
"Bapak RW mau minum apa?" Tawar istriku yang berdiri tepat didepan pak Soni yang menyamankan posisinya bahkan kaki yang kuduga sudah keriput itu naik diatas meja tamu.
“Buru-buru banget si cantik, air putih aja.”
Belum sempat istriku bergerak mulut pak tua itu kembali bergerak yang membuat mataku melotot.
“Tapi buka dulu kancing nya.” Sialnya istriku seakan dihipnotis dan mensetujui permintaan Pemimpin komplek ini.
Jari-jari lentik yang masih dihiasi cincin perkawinan mulai membuka satu kancing teratas hingga lehernya bisa terlihat lebih jauh – belum saja menyelesaikan permintaan pak soni memberi kode dengan mengankat tiga jari nya.
Lagi dan lagi istriku tersenyum kecil dengan tanpa bertanya mulai membuka kancing kedua hingga ketiga lalu diikuti oleh pak Soni yang ikut membuka celana bahan kusam nya itu.
“Kita suit deh biar adil, gimana?” tanya Pak Soni dengan senyum jail nya.
“Maksud bapak?”
“Kalo Bapak menang kamu buka satu kancing dan sebaliknya kalo kamu menang kamu buka dua kancing”
“Ish enak di Bapak dong kalo gitu” Protes istriku yang hanya ditanggapi oleh tawa kecil – tapi itu hanya sementara karena selanjutnya istriku mensetujui rayuan pria tua itu.
Dengan posisi yang belum berubah keduanya mulai memainkan permainan suit yang diawali oleh Pak soni yang memilih untuk bentuk kertas – istriku secara bersamaan mengeluarkan bentuk batu dengan tangan terkepal.
“HAHAHAHA” Pak Soni tertawa lepas saat tahu bentuk yang ia pilih memenangi permainan pertama dan hanya mendapat raut sedih dari muka Elsa.
Tanpa disuruh istriku mulai membuka kancing ke empat dan ke lima dengan cepat – tapi pak Soni pun tak kalah usil dan ikut membuka baju nya sehingga hanya terisisa celan pendek berawana abu muda.
Tanpa lama keduanya mulai memasuki permainan kedua yang sialnya istriku kembali mengalami kekalahan yang mau tak mau membuat dirinya kembali membuka kancing ke enam dan terkahir – Pak Soni kali ini tak tertawa dan hanya diam seperti menyesuaikan keadaan yang membuat dirinya hanya mematung melihat istriku.
Ditengah lamunan pak Soni istriku memilih bernajak dari tempat berdirinya dan berjalan menuju dapur yang kutebak untuk mengambil segelas air - pria tua itu kini hanya duduk mengamati istriku dari arah ruang tamu sembari mengelus pelan kemaluannya yang dipastikan sudah berdiri menahan rasa nafsu yang menggebu.
Kini kedua tangan istriku sudah menggenggam dengan erat gelas bening berisikan air yang ikut bergoyang seiring gerakan nya berjalan mendekati pak Soni yang semakin nyaman dengan posisinya.
“Sini mba aku haus.” Perintah Pak Soni dengan nada menahan nafsu tentunya.
Penisku semakin keras saat melihat video rekaman yang memperlihatkan tubuh istriku bisa dinikamati oleh orang lain - kemeja nya semakin tak beraturan saat semua kancing sudah terlepas. Tanpa lama pak Soni sudah menghabiskan seluruh isi gelas dan memberik kode agar istriku duduk didekatnya dengan menepuk sofa.
“Elus punya bapak dong” ucap Pak Soni yang tak mendapat penolakan sedikitpun. Istriku sudah duduk disebelahnya dengan payudara ranumnya yang bebas dilihat.
Tangan putih itu bergerak menuju selangkangan pak Soni yang masih tertutup celana kusam berwana abu, mengelusnya pelan bahkan terlihat diam jika aku tidak mendekatkan mata pada layar gawaiku.
“Udah keras aja burungnya pak hmm” ucap istriku dengan nada datar tapi tidak dengan manusia sialan yang memejamkan mata dengan gigi mengigit bibir hitamnya.
“uhhhh bisa kerasin lagi gak?” pinta pak Soni yang mengaduh saat gerakan tangan istriku terlalu pelan.
“Banyak minta nya nih Pak RW.” Balas istriku yang gemas sembari mencubit penis pria itu.
“aduhh hehe” tawa Pak Soni yang membuat pipi ku semakin panas.
Keduanya seperti sepasang muda-mudi yang sedang dipuncak nafsu tak berujung, desahan itu keluar begitu saja saat gerakan lambat berubah menjadi lebih cepat dan kini celan abu itu semakin tersingkap hingga aku bisa melihat dengan jelas kamaluan hitam yang tak bisa kubayangkan aromanya.
Layaknya pelacur murahan istriku mengikuti setiap permintaan pak Soni yang semakin mengrah pada hal cabul juga menjijikan – betul saja tangan keriput yang sejak tadi hanya merangkul bahu istriku saat ini mulai menuntun untuk permintaan yang lebih gila.
“Bapak kan belum cuci-cuci burungnya” tolak istriku saat kepalanya diarahkan untuk menjilati penis pria tua.
Tanpa banyak kata pak Soni hanya menggeram dan menambah kekuatannya untuk mendorong kepala istriku yang mau tak mau untuk mengikutinya.
“Ouhhh emang ga salah mulut kamu sayang uhhhh” desahan yang lolos begitu saja dengan mata yang memejam.
Kepala Elsa bergerak naik-turun sembari tangannya yang ikut bergerak meraba saluruh tubuh pak Soni yang sudah tak tertutupi apapun. Tapi itu hanya bertahan seentar karena video yang kupunya menunjukkan sepuluh detik terakhir.
Dan hanya desahan pak Soni sebelum layar gawai ku kembali pada menit pertama yang menjadi akhir dari rekaman cctv ku.
Jantungku masih berdebar dan diliputi adrenalin yang masih pada posisi tinggi – angin malam seakan tak dapat mengusik diriku yang kebingungan dengan tingkah laku wanita yang sudah melahirkan dua anak ku itu.
Hanya keheningan saat ini tapi semua buyar saat suara dering dari gawaiku yang membuat perhatianku terpecah, Elsa?.
Dering itu terus berbunyi dan aku tahu betul jika harus pulang saat ini – persetan dengan semua kelakuan istirku yang semakin menjadi-jadi setiap harinya.
Bersambung.
==========
==========
17 | DI UJUNG MALAM MUSIM PENGHUJAN
TING TONG.....
Winda dengan terburu-buru mengancingkan kembali seluruh pengait yang sebelumnya terlepas dan aku menunggu hingga kancing ketiga sebelum berdiri menghampiri pintu depan.
Tanpa lama muncul kepala istriku, Elsa. Dia tersenyum kecil dengan tangan yang menenteng tas belanja berukuran sedang dan dibelakangnya diikuti anak-anak ku yang sudah menampilkan muka ngantuk dan lelah.
"Kok di kunci?" Tanya istriku sesaat setelah masuk kedalam rumah.
"Kan ga ada orang lain, takutnya ada yang masuk pas aku di ruang kerja." Balasku yang hanya mendapatkan anggukan kepala darinya.
Menghembuskan napas pelan dan memilih untuk menggendong anak keduaku yang sudah meminta kode dengan mengangkat kedua tangganya - hangat rasanya saat tubuh ringkih ini ku dekap dan kepalanya yang bersandar pada bahu ku menjadi pengingat jika yang kulakukan sebelumnya adalah kesalahan.
"Ayah aku ngantuk" ucapnya pelan sembari menenggelamkan muka polosnya.
Aku hanya tertawa kecil dan membawanya untuk masuk kedalam rumah, tak jauh dari pandangan ku Elsa sudah asyik mengobrol dengan Winda yang duduk di meja makan. Berbeda dengan kemarin kini keduanya bagaikan sahabat yang sudah lama tak bertemu dan aku bisa tebak jika tatapan Winda padaku hanya menyiratkan tatapan bingung juga sedih secara bersamaan.
Entahlah, mungkin hanya pikiran atau kepercayaan diriku yang berlebih ketika diberi kesempatan untuk membuka kancing kemeja milik Winda.
Tak butuh waktu lama untuk mengatur posisi anakku yang sudah terlelap meski kubawa hanya beberapa meter dari pintu masuk, tangannya masih memeluk guling yang ku simpan pada dada.
"Yah, kamu gimana si masa hari pertama kerja udah dapet job." Ucap istriku cepat tak lama setelah aku bergabung dengan keduanya.
"Ya kan emang lagi overload jadi langsung kerja, Winda aman-aman aja kan?" Tanya ku balik pada istri dari dokter Purnomo itu.
"Aman mas Feri, hehe"
Kerlingan mata itu tak berbeda bahkan lebih berani meski istriku ada disisinya.
"Ya kan biasanya gitu, waktu aku kerja dulu juga hari pertama masih pengenalan." Balas istriku tak ingin kalah.
"Hmm, iya deh besok sekalian aja main di taman bermain biar kamu seneng." Jawabku asal dan memilih untuk meninggalkan keduanya yang menyisakan raut kesal.
Rasanya aroma kayu lebih sehat untuk menenangkan pikiran ku dibanding terus mendengarkan suar tinggi dari istriku meski hanya berisikan ucapan kosong untuk menghibur dirinya sendiri tatkala aku berada dirumah.
----
Sore feri keluar nyari angin
Pengenalan tentang dalam nya arti sebuah hubungan
Melihat Winda dengan dokter Purnomo
Tangis feri pecah sesaat melihat anaknya pulang dari nyari angin
Melihat rekaman cctv Elsa dan pak soni
Istrinya yang semakin membuat marah
----
Matahari mulai malu-malu sedang angin berhembus dengan pelan, sore ini selepas mengerjakan tugas kantor aku duduk dibawah pohon rindang pada taman komplek. Winda sudah pulang beberapa menit lalu sedang Istriku masih berada dirumah dengan anak-anak.
Udara sore ini lebih dingin dari biasanya terlebih hujan baru saja berhenti dan bangku taman pun harus ku keringkan dengan sapu tangan yang selalu kubawa. Komplek tampak sepi dan jalananpun hanya diramaikan oleh daun yang berjatuhan - mengikuti takdir nya masing-masing dan menyatu dengan tanah kembali.
Begitupun dengan ku yang masih belum mengerti apa yang terjadi akhir-akhir ini. Mulai dari istri ku dengan segala tingkah nya dan Winda yang mengungkapkan telah mengenal ku sejak lama, mungkin aku kenal dan lebih besar pula kemungkinan aku untuk lupa akan kehadirannya dimasa lalu.
Jujur saja jika bisa memilih masa depan mungkin aku tak akan masuk kedalam perangkap yang ku buat sendiri - menjahitnya rapih hingga aku dia pasti kan tak dapat kembali.
Apakah semua ini adalah salahku?.
Atau tuhan kurang puas melihat diriku yang dilumuri darah juga rasa sakit yang mengisi setiap pori-pori kulitku. Jeritan ibuku, teriakan bapak ku, bahkan desahan Elsa bersama banyak pria terus menggaung didalam pikiran.
Ia bagaikan anjing yang mengigit dagingku dengan gigi taringnya hingga tak mampu kulepas atau bergerak sedikitpun - semua seperti bermuara untuk mendapatkan seluruh hidupku yang sudah kosong ini.
Pipiku baru saja terkena tetesan air dari ujung daun yang bergoyang mengikuti arah angin - matahari kian tak terlihat dan gelap rasanya akan datang dalam waktu kurang dari satu jam.
Lidahku rasanya sudah rindu dengan satu atau dua teguk kopi yang bisa membangkitkan syaraf lidah - pahit dan asam akan menjadi obat sesaat sebelum aku kembali kedalam rumah dan menatap senyum nakal Elsa yang mulai ku benci saat ini.
Taman komplek yang kurancang rasanya sudah pas dengan jalanan setapak berbahan paving yang lembab - perpaduan warna abu dan merah menjadi penuntun ku untuk terus berjalan menuju cafetaria didepan komplek.
Tak butuh waktu lama indera penciumanku sudah disambut oleh wangi biji Arabika yang menguar dari segala sudut, ada beberapa orang yang sibuk dengan minumannya masing-masing termasuk diriku yang masih memilih menu didepan kasir.
"Filter nya satu pakai biji dari Papua" ucapku pada kasir yang ku taksir masih berumur awal dua puluhan itu.
"Baik, ditunggu ya kak"
Aku menelisik seluruh ruangan cafe yang memiliki dua lantai ini - berjalan pelan sambil meremasi nota dari kasir.
Terus berjalan dan dalam sepersekian detik aku melihat pantulan diriku pada cermin yang dipajang di sudut ruang kosong - aku yang memakai Hoodie dengan mulut tertutup masker.
Tak lebih baik dari seorang penguntit atau introvert yang terpaksa membeli kopi karena sudah tak kuat akan rasa pahit yang menggantung dipikiran - belum usai pikiran ku mengalir mata ini menangkap sosok yang kuingat betul.
Winda.
Wanita yang baru sehari bekerja denganku itu duduk berdua bersama dokter Purnomo yang masih memakai jaket kulit. Aneh rasanya melihat kecantikan Winda bersanding dengan pria tua yang sibuk mengunyah makanan yang sudah dipesan.
Entah mengapa intuisi ku berkata untuk tidak menyapa keduanya dan bernjak menaiki tangga yang menghubungkan dengan lantai dua. Tempat favorit ku karena bisa melihat taman pada lantai satu juga udara yang lebih segar karena tak ada perokok yang diperbolehkan masuk kedalamnya.
Mengambil tiga tissue di dekat tangga sebelum membawanya pada meja yang berada di sudut pagar - dan betul dari sini aku bisa melihat dokter Purnomo dan Winda yang asik mengobrol disebelah kanan bawahku meski aku tak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan.
Alunan lagu Coolcat dari Queen membuat jariku mengetukkan jari pada sudut meja sembari memainkan tissue yang sudah kubawa.
Lima hingga sepuluh menit pesanan kopi ku belum juga datang - tapi tidak dengan Winda dan dokter Purnomo yang kedatangan tamu.
Seorang pria yang kuduga umurnya tak jauh berbeda dengan dokter Purnomo. Itu analisa gembelku karena melihat uban dan caranya berjalan yang mungkin lebih lambat dibandingkan pria seumur ku.
Dokter Purnomo tertawa sesaat pria itu datang dan langsung duduk dihadapan keduanya. Mataku melirik ke arah Winda yang ikut tersenyum manis sembari menyambut tangan pria itu - mungkin pria itu teman dokter Purnomo atau siapapun aku tak peduli karena kopiku sudah berada didepan mataku.
Hawa dingin sungguh cocok dengan hangatnya kopi yang terasa penuh dengan cita rasa. Dua hingga tiga teguk sudah ku selesaikan sebelum kembali melihat aktivitas ketiga orang di bawah ku.
Mata ku menyipit saat melihat posisi pria yang baru datang itu kini sudah berpindah posisi tepat dismaping Winda.
Seketika naluri ku yang sudah melihat kelakuan istriku dengan banyak pria muncul begitu saja, jika firasatku benar maka apa bedanya diriku dengan orang lain atau lebih jauh apa bedanya ketiga orang dibawah ku dengan binatang?.
Ketiganya tertawa lepas dengan Winda yang semakin mendekatkan tubuhnya pada pria tua itu - apa tidak dingin dengan pakaian yang sama ditempat outdoor dengan hawa dingin seperti ini?.
Tanpa sadar tangan ku mengambil gelas kopi dan meminumnya sedikit demi sedikit dan hanya itu yang kulakukan.
Apakah aku harus berpindah tempat atau tetep disini seperti orang bodoh yang terlalu penasaran dengan hubungan Winda juga dokter Purnomo.
Rasa-rasanya rasa penasaran ku lebih besar dan harus segera diselesaikan - entah apa tujuannya karena gelas kedua kopi ku sudah datang.
Aroma kopi mengalihkan fokus ku yang sebelumnya terpaku pada Winda dan suaminya tapi tidak untuk dua menit karena setelah tegukan ketiga mataku langsung tertuju pada ketiga oranga yang berada dibawah ku ini.
Kopi yang kupegang rasanya sudah tak menarik saat tangan pria asing itu sudah berpindah dari muka meja menuju paha mulus milik Winda yang sedari pagi mengganggu fokus kerja ku.
Ya, tangan yang sudah dipenuhi keriput itu sangat kontras dengan paha Winda yang tersingkap karena saat ini wanita itu memakai rok diatas lutut - Dokter Purnomo pun hanya tersenyum dan seakan-akan membiarkan pria itu menjahili istrinya.
Sampai saat ini aku tak tahu dan mungkin saja pria itu adalah Ayah dari Winda, rasanya cukup sore ini untuk memenuhi rasa penasaran ku. Tapi, apakah seorang Ayah akan bertindak seperti meremas payudara anaknya?.
Pria dengan gigi ompong itu seperti mengawasi keadaan sebelum tangannya bergriliya meremasi payudara milik istri dari seorang dokter terkenal - meski hanya sekali dan tampak seperti usapan biasa tapi tak bisa dibohongi jika melihat itu rasa penasaran yang baru ku pendam muncul kembali dengan sejuta tanya yang sudah haus akan jawaban.
Satu kali tangannya bergerak untuk melecehkan maka satu kali pula tawa dari bibir dokter Purnomo terlihat dan itu semakin membuat rasa panas di dada ku muncul begitu saja - bahkan kali ini rasanya aku sudaj muak dengan semua fantasi orang yang sialnya terjadi padaku juga. Winda pun terlihat nyaman meski kali ini sedang berada di tempat umum yang notabene akan banyak orang yang memperhatikan gerak-gerik yang mencurigakan, termasuk diriku.
Pria asing itu terus bicara dengan Winda yang berusaha ia rangkul dari arah belakang dan tentu saja wanita itu menyambutnya dengan berusah untuk mendekat, sungguh aneh melihat wanita muda yang bertingkah layaknya jalang.
Rangkulan itu tak bertahan lama saat dokter Purnomo berdiri dan diikuti oleh dua orang didepannya - mereka memutuskan untuk pergi dari coffee shop ini dan menyisakan pertanyaan besar dipikiranku.
Kini hanya ada kopi dan pikiran ku yang menggantung didalam hayalanku. hingga gawai ku bergetar.
"halo yah." suara istriku sesaat setelah aku menggeser panggilan.
"Iya, ada apa?"
"masih diluar?" tanyanya.
"Iya, biasa lagi beli kopi di depan komplek"
"Yaudah, hati-hati" ucap istriku yang langsung menutup dengan sepihak.
Rasanya sudah cukup untuk menenangkan pikiran dan aku harus kembali pada rumah yang mungkin mulai bermetafosis menjadi neraka dengan segala isinya.
Café yang semula sepi kini mulai ramai terlebih suasana yang mendukung untuk sekedar duduk dan menyesap kopi panas yang tak bisa kupungkiri jika rasa dari setiap minuman yang disajikan begitu nikmat dan aromatik. Tanganku masih bersarang pada saku jaket yang sedikit mengurangi rasa dingin dari malam ini.
Winda dan Dokter Purnomo benar sudah tak terlihat dan hanya aku yang berjalan pelan menyusuri trotoar yang akan membawaku pada Elsa dan setiap kebohongannya, benar kebohongan.
Pikiran ini langsung tertuju pada rekaman yang sudah kusimpan sejak kemarin bahkan tak sempat ku pikirkan sedikit saja – rasanya terlalu aneh dan marah yang muncul dengan begitu saja menyulut layaknya kertas yang terkena bara menyala.
Kaki ini terus bergerak dengan mata yang tak lepas dari gawaiku – bangku taman rasanya berubah menjadi magnet yang secara otomatis menarik untuk segera ku duduki. Taman yang sore tadi sepi kini masih sama bahkan lebih hening karena malam sudah menjemput dan langitpun gelap dengan awan yang berubah menjadi abu.
Aku menarik napas panjang sebelum menyentuh layar aplikasi pemutar video yang sudah ku jeda sebelumnya.
Tak sampai satu menit telinga dan mata ini sudah terkunci pada sebuah sandiwara yang selama ini kutunggu bahkan mungkin melebihi nikotin yang menjerat jutaan jiwa saat ini – semua bercampur menjadi satu seakan semua tampak hilang dan hanya ada cahaya dari gawai yang masuk ditengah gelapnya taman komplek ini.
Suara rintik hujan yang memenuhi pendengaran ku sedang istriku masih diam pada kusen pintu yang terbuka satu sisi. Pak soni tampak sesekali melirik putihnya kulit istriku yang hanya tertutupi kemeja putih polos yang semakin mengeluarkan aura nakalnya.
Masih tak ada percakapan diantara keduanya atau suara hujan yang terlalu keras sehingga telinga ini tak bisa menerka apa yang sedang istriku ucapkan - karena sampai menit ini hanya ada pak Soni yang merapihkan jas hujan sebelum berjalan mendekati istriku.
Jujur saja jantungku kembali bekerja ekstra saat tahu keduanya mulai menggenggam tangan dengan erat bahkan mesra melebihi aktor manapun. Senyum nakal pak tua itu membuat bulu kuduk ku merinding dengan hawa di taman komplek yang semakin dingin tentu saja menambah suasana menjadi tak menentu. Mata ku masih mengikuti setiap adegan pada rekaman cctv yang sampai saat ini hanya ku yang mengetahuinya - genggaman itu mulai terlepas dengan berubah menjadi rangkulan tangan pak Soni pada bahu istriku.
Aku mengambil napas sejenak dan berusaha untuk menenangkan jantung ku yang kini berdegup dengan cepat - meski ini bukan pertama kali aku melihat istriku berselingkuh tetapi rasanya seperti menemukan hal baru yang membuat adrenalin ini kembali mendidih.
Istriku menutup pintu dengan kasar sedang pak Soni hanya tertawa dengan tangan yang tak lepas dari bahu istriku.
"Kok ditutup si hmm?" Tanya pak Soni dengan jari-jari yang mengelus pelan bahu Elsa.
"Biar orang ga tau pak, masa jam segini berkunjung ke rumah warga si" balas istriku dengan suara gemas yang secara ajaib membuat bibir ku tersungging mengejek.
"Kan kamu sendiri yang mau dijunjungi, masa lupa si ?" Tanya pak Soni kembali sembari menarik istriku untuk duduk disampingnya.
Istriku hanya tertawa kecil dan kembali berdiri meski gerakan pak Soni seperti tak melepaskan kepergiannya.
"Bapak RW mau minum apa?" Tawar istriku yang berdiri tepat didepan pak Soni yang menyamankan posisinya bahkan kaki yang kuduga sudah keriput itu naik diatas meja tamu.
“Buru-buru banget si cantik, air putih aja.”
Belum sempat istriku bergerak mulut pak tua itu kembali bergerak yang membuat mataku melotot.
“Tapi buka dulu kancing nya.” Sialnya istriku seakan dihipnotis dan mensetujui permintaan Pemimpin komplek ini.
Jari-jari lentik yang masih dihiasi cincin perkawinan mulai membuka satu kancing teratas hingga lehernya bisa terlihat lebih jauh – belum saja menyelesaikan permintaan pak soni memberi kode dengan mengankat tiga jari nya.
Lagi dan lagi istriku tersenyum kecil dengan tanpa bertanya mulai membuka kancing kedua hingga ketiga lalu diikuti oleh pak Soni yang ikut membuka celana bahan kusam nya itu.
“Kita suit deh biar adil, gimana?” tanya Pak Soni dengan senyum jail nya.
“Maksud bapak?”
“Kalo Bapak menang kamu buka satu kancing dan sebaliknya kalo kamu menang kamu buka dua kancing”
“Ish enak di Bapak dong kalo gitu” Protes istriku yang hanya ditanggapi oleh tawa kecil – tapi itu hanya sementara karena selanjutnya istriku mensetujui rayuan pria tua itu.
Dengan posisi yang belum berubah keduanya mulai memainkan permainan suit yang diawali oleh Pak soni yang memilih untuk bentuk kertas – istriku secara bersamaan mengeluarkan bentuk batu dengan tangan terkepal.
“HAHAHAHA” Pak Soni tertawa lepas saat tahu bentuk yang ia pilih memenangi permainan pertama dan hanya mendapat raut sedih dari muka Elsa.
Tanpa disuruh istriku mulai membuka kancing ke empat dan ke lima dengan cepat – tapi pak Soni pun tak kalah usil dan ikut membuka baju nya sehingga hanya terisisa celan pendek berawana abu muda.
Tanpa lama keduanya mulai memasuki permainan kedua yang sialnya istriku kembali mengalami kekalahan yang mau tak mau membuat dirinya kembali membuka kancing ke enam dan terkahir – Pak Soni kali ini tak tertawa dan hanya diam seperti menyesuaikan keadaan yang membuat dirinya hanya mematung melihat istriku.
Ditengah lamunan pak Soni istriku memilih bernajak dari tempat berdirinya dan berjalan menuju dapur yang kutebak untuk mengambil segelas air - pria tua itu kini hanya duduk mengamati istriku dari arah ruang tamu sembari mengelus pelan kemaluannya yang dipastikan sudah berdiri menahan rasa nafsu yang menggebu.
Kini kedua tangan istriku sudah menggenggam dengan erat gelas bening berisikan air yang ikut bergoyang seiring gerakan nya berjalan mendekati pak Soni yang semakin nyaman dengan posisinya.
“Sini mba aku haus.” Perintah Pak Soni dengan nada menahan nafsu tentunya.
Penisku semakin keras saat melihat video rekaman yang memperlihatkan tubuh istriku bisa dinikamati oleh orang lain - kemeja nya semakin tak beraturan saat semua kancing sudah terlepas. Tanpa lama pak Soni sudah menghabiskan seluruh isi gelas dan memberik kode agar istriku duduk didekatnya dengan menepuk sofa.
“Elus punya bapak dong” ucap Pak Soni yang tak mendapat penolakan sedikitpun. Istriku sudah duduk disebelahnya dengan payudara ranumnya yang bebas dilihat.
Tangan putih itu bergerak menuju selangkangan pak Soni yang masih tertutup celana kusam berwana abu, mengelusnya pelan bahkan terlihat diam jika aku tidak mendekatkan mata pada layar gawaiku.
“Udah keras aja burungnya pak hmm” ucap istriku dengan nada datar tapi tidak dengan manusia sialan yang memejamkan mata dengan gigi mengigit bibir hitamnya.
“uhhhh bisa kerasin lagi gak?” pinta pak Soni yang mengaduh saat gerakan tangan istriku terlalu pelan.
“Banyak minta nya nih Pak RW.” Balas istriku yang gemas sembari mencubit penis pria itu.
“aduhh hehe” tawa Pak Soni yang membuat pipi ku semakin panas.
Keduanya seperti sepasang muda-mudi yang sedang dipuncak nafsu tak berujung, desahan itu keluar begitu saja saat gerakan lambat berubah menjadi lebih cepat dan kini celan abu itu semakin tersingkap hingga aku bisa melihat dengan jelas kamaluan hitam yang tak bisa kubayangkan aromanya.
Layaknya pelacur murahan istriku mengikuti setiap permintaan pak Soni yang semakin mengrah pada hal cabul juga menjijikan – betul saja tangan keriput yang sejak tadi hanya merangkul bahu istriku saat ini mulai menuntun untuk permintaan yang lebih gila.
“Bapak kan belum cuci-cuci burungnya” tolak istriku saat kepalanya diarahkan untuk menjilati penis pria tua.
Tanpa banyak kata pak Soni hanya menggeram dan menambah kekuatannya untuk mendorong kepala istriku yang mau tak mau untuk mengikutinya.
“Ouhhh emang ga salah mulut kamu sayang uhhhh” desahan yang lolos begitu saja dengan mata yang memejam.
Kepala Elsa bergerak naik-turun sembari tangannya yang ikut bergerak meraba saluruh tubuh pak Soni yang sudah tak tertutupi apapun. Tapi itu hanya bertahan seentar karena video yang kupunya menunjukkan sepuluh detik terakhir.
Dan hanya desahan pak Soni sebelum layar gawai ku kembali pada menit pertama yang menjadi akhir dari rekaman cctv ku.
Jantungku masih berdebar dan diliputi adrenalin yang masih pada posisi tinggi – angin malam seakan tak dapat mengusik diriku yang kebingungan dengan tingkah laku wanita yang sudah melahirkan dua anak ku itu.
Hanya keheningan saat ini tapi semua buyar saat suara dering dari gawaiku yang membuat perhatianku terpecah, Elsa?.
Dering itu terus berbunyi dan aku tahu betul jika harus pulang saat ini – persetan dengan semua kelakuan istirku yang semakin menjadi-jadi setiap harinya.
Bersambung.
==========
==========
18 | AKHIR
Gigiku tak hentinya mengetuk setiap kuku yang berada diantara keduanya – mata ini menatap kosong pada taman juga lahan tempat menjemur pakaian yang basah dikarenakan hujan semalam. Istriku masih mengantar kedua anakku sedang Winda tak tahu rimbanya setelah mengatakan tak enak badan beberapa menit lalu.
Kaca yang semula bisa menembus pada taman kini perlahan mulai tertutup embun dari dalam belum lagi jarak pandang ku yang entah mengapa semakin sering mengabur tiap harinya. Semua berkumpul menjadi rasa gelisah yang tak berkesudahan juga tak tahu akan berakhir seperti apa. Kuku ini sudah habis ku gigiti hingga hanya ada rasa perih jika terus melanjutkan untuk mengigitinya – kulihat bekas gigitan ku dan hanya bisa mendesah kecil jika mengingat rekaman video istriku dengan pak Soni kemarin.
Ada rasa penasaran untuk memutar ulang video semalam, tapi rasa itu tak sebesar rasa sakit yang datang seperti mengigiti hati yang semakin gelap atau bahkan tak terisisa sedikit ruang untuk cahaya.
Adakah ada belas kasih tuhan dalam hari-hari ku berikutnya atau hanya sekedar menjalani karma yang tak berkesudahan hingga semua siap menikam leherku dengan tanpa rasa bersalah apalagi dosa. Jika itu benar maka apa bedanya diriku dengan hewan yang tanpa bisa melawan ketika diburu atau burung yang tersangkar dengan penjara mewahnya?.
Sulit bagiku untuk tetap sadar terlebih beban pekerjaan yang mulai kulepaskan satu-persatu dan tampaknya udara pagi ini begitu nyaman jika dilewati dengan bermalas-malasan. Goresan rintik hujan pada kaca jendala mulai berdatangan silih berganti bertukar dengan suara gemuruh pada langit yang membuat mataku terbuka untuk sesaat – mencoba kembali memejamkan mata tapi tampaknya suara itu membuat tidurku tak nyaman.
Aku melirik pada pintu rahasia yang menuju ruangan bawah tanah dan tanpa diperintah kaki ini sudah berjalan sendiri sedang tangan yang membuka kuncinya. Tak butuh waktu lama aku sudah berjalan pada lorong yang berbahan beton unfinished, rasa dingin segera menjalar saat por-pori kulitku bersentuhan langsung dengan molekul udara yang lebih lembab.
Aku menyalakan exhaust pada sudut ruangan sebelum duduk pada atas ranjang yang sama lembabnya – ada rasa dingin yang kurindukan atau rasa menyendiri yang selalu menjadi teman sejak dulu.
Masih sama, begitu kata otak ku saat melihat kondisi kamar yang semalam ku tempati dengan istriku. Tak ada pelukan apalagi hubungan yang lebih jauh.
Semenjak kedatangan Winda kemarin, istriku menjadi dingin bahkan terlalu asing jika kulihat raut mukanya. Ada rasa tak tega sebenarnya sebelum mengingat semua tingkah laku yang ia tunjukkan dibelakang ku - apakah aku harus jujur padanya?.
Atau tetap ku simpan sendiri atas nama kesehatan mental ku, entahlah rasanya hawa dingin ini lebih nyaman jika aku melanjutkan ritual memejamkan mata. Menghirup udara dengan tangan yang menggapai ujung selimut - menariknya untuk lebih dekat dan rasa hangat yang perlahan menarik ku kembali kedalam mimpi yang lebih dalam lagi.
Aku hilang
Tertelan rasa gelisah yang tak berkesudahan
Entah siapa yang menyentuh tapi mata ini dengan cepat terbuka begitu saja. Istri ku Elsa sudah duduk dengan tangan yang memegang gawai nya.
TING
Aku dirumah, kamu mau dimasakin apa?
Begitu isi pesan darinya.
Baru saja ingin kubalas istriku dengan cepat berdiri dan melemparkan gawai itu pada tepi kasur. Dahi ku mengkerut dengan sekejap bahkan kali ini mulutku hanya berjarak satu centi dari cermin yang menampilkan kamarku.
Aku bergeser kearah kanan agar bisa melihat ruang tamu lebih jelas meski hanya dari sela pintu yang tak tertutup sempurna.
Cctv
Begitu isi kepalaku yang dengan cepat ku amini dengan membuka aplikasi pemantauan yang sudah menjadi teman dekatku.
Aku kencangkan volume agar bisa dengan jelas mendengar apa yang dibicarakan oleh istriku pada manusia yang masih berada di luar itu.
"Yakin nih ga ada?" Suara itu tak asing bagiku dan benar saja tak lama muncul kepala botak dari wajah pintu.
Matanya berputar berulang kali seperti memastikan bahwa tidak ada orang sebelum tangan keriput nya bergerak usil menyentuh kulit istriku, Elsa.
Anjing sialan.
Penis ku mengacung begitu saja bahkan rasanya lebih sesak dari sebelumnya. Aku pastikan jika volume gawaiku sudah maksimal dan tugasku kini hanya memantau dari cermin.
Pak Soni sudah masuk kedalam rumahku diikuti oleh Elsa yang membuntuti nya. Melihat tingkah laku pak Soni rasanya membuat emosi naik - dirinya seperti tak mempercayai ucapan istriku karena masih memutar kepalanya kearah dalam rumahku.
"Dibilangin gak ada dirumah" ucap istri ku yang menggema dari speaker gawai ku.
"Hehe, pastiin aja. Gak enak masa RW bertamu sendirian kayak gini. Hahahaha."
Istriku hanya tersenyum masam dan duduk pada sofa yang kutebak sama dinginnya dengan kasur ku.
Pak Soni membalikkan badannya dan hanya diam melihat istriku yang sibuk merapihkan meja tamu, pria itu hanya diam dan dengan pasti mulai berjalan mendekati Elsa.
"Rajin amat nih, pagi-pagi udah rapihih meja. Rapihin kontol pak RW kapan nih?." Jantung ku berdebar mendengar ucapan kotor dari pak tua jelek itu.
"Gak sopan ih lama-lama pak RW. Entar saya kasih tau Bu RW baru tahu rasa." Balas istriku dengan suara marah nya.
"Bukan gitu, kemarin kan nanggung banget Bu. Mana kontol saya udah tegak kayak hiasan yang ibu pegang. Hihihi" istri melirik pada vas bunga yang dengan cepat ia lepas.
"Ihhh pak RW jorookk. Tau ah aku mau masak dulu." Putus istri ku yang berdiri meninggalkan pak Soni yang masih berdiri.
"Eits mau kemana sih. Masa kontol aku dianggurin gini" hentak pak Soni yang memegang tangan Elsa.
Istriku kali ini tampak tak nyaman, begitu juga dengan penis ku yang semakin merasa sesak.
Tak ada obrolan diantara keduanya karna pak Soni yang mulai menuntun istri ku untuk kembali pada sofa semula menjadi tempat istriku duduk.
Istriku hanya diam mengikuti dan kini sudah duduk disamping pria tua yang memakai kemeja biru terang dengan jaket berbahan jeansnya. Tangan cokelat tua nya mulai menggapai saku dalam jaket dan mengeluarkan sebuah kertas yang semua orang tahu jika itu adalah uang.
Sama seperti denganku Elsa ikut heran dengan tingkah orang tua itu karena dengan tanpa ada aba-aba sudah menaruh uang pada meja yang hanya berjarak dua jengkal darinya.
"Bapak punya ide, hehe" ucap pak Soni setelah menjejerkan uang berwarna merah disepanjang lebarnya meja.
"Ide apa tuh? " Tanya istri ku yang mulai penasaran.
"Semalem bapak liat kuis di tv. Gimana kalo kita adu suit tapi bapak bedain dikit aturannya" senyum nya yang dihiasi gigi ompong itu membuat bulu kuduk ku merinding sejadi-jadinya.
"Tau ah, lagi sibuk juga malah jadi main game gini. Aku mau masak pak" racau istriku yang kutebak ikut jengah.
"Sabar dong cantik. Kalo bapak menang suit sekali kamu kulum burung bapak hahaha."
"Kalo bapak kalah?" Tanya istriku cepat.
"Kamu ambil uang ini lima ratus ribu. Kita bagi jadi dua aja soalnya cuma bawa sejuta."
Tanpa bertanya pada cenayang aku pun sudah tahu jawaban istri ku.
"Ayo aja kalo bapak berani"
"Hahahaha nah gitu dong. Kita mulai ya cantik" balas pak Soni yang membuat jarak. Jantung ku semakin berdebar begitu juga dengan tangan ku yang sudah bersarang pada penis yang mengacung.
Mulut pria itu mulai bergerak memberi aba-aba satu hingga tiga yang entah mengapa semua gerakan nya melambat pada mataku. Istriku sama tersenyum nya dengan tangan yang mengepal dan siap untuk melepaskan jarinya pada jarak - namun Mili detik berikutnya membuat mataku berbinar karena....
"Yeayy aku menang" tawa istriku menguar begitu saja dengan mulut yang tersenyum lucu.
"Uasuuu..." Teriak pak Soni yang mengeluarkan bentuk gunting sedang istriku batu.
Tanpa lama istriku mengambil uang yang berada pada sisi meja - tapi tampak nya tak semudah itu karena tangan pak Soni yang menahan gerakannya.
"Biar pak RW saja yang memberikan hadiah nya HAHAHA" sialan ada saja ide orang tua itu.
Istriku hanya tersenyum kecil karena masih merasa euforia kemenangan nya sebelum tangan pak Soni bergerak mengambil uang pada meja dan memindahkan pada paha istri ku.
"Aku masukin boleh ?" Tanya pak Soni yang mendapatkan anggukan dari istri ku. Bajingan.
Pak Soni mengambil satu lembar uang berwarna merah itu dan bergerak pada dada istriku yang hanya memakai kaus dengan kerah rendah. Gerakan tangannya begitu pelan dan mendayu saat kertas itu mulai masuk kedalam sela payudara Elsa yang putih itu.
"Uhhh mba susu mu itu lho bikin aku ga bisa tidur" ucapnya getar.
"Masa sih, ayo dong masukin jangan di tempelin aja. Gatel tau kalo gini terus"
Pak Soni hanya mengangguk dan melanjutkan gerakan tangannya untuk menaruh lebih dalam uang itu.
Kini hanya tersisa beberapa Mili saja - uang itu mulai masuk kedalam himpitan payudara Elsa yang semakin terjepit saat kedua pundak istri merapat kearah dalam.
"Kok malah dijepit si cantik AHAHHA"
"Biar ga jatuh uangnya ke perut."
Uang itu semakin dalam tenggelam dalam kenikmatan dan aku hanya bisa melihat jari telunjuk pak Soni yang berada tepat diatas payudara istriku.
"Masukin terus pak" ucap istriku yang entah mengapa kini terbawa permainan pak Soni.
Mendengar itu pak Soni mengikuti perintahnya tanpa protes sedikit pun, dengan gerakan yang masih lambat telunjuknya masuk kedalam belahan payudara Elsa.
"Uhhhh anget mbaaa"
"Kurang dalem pak RW"
"Akhhh aku jadi ngaceng banget ini. Tanggung jawab loh"
Jari keriput itu kini sudah bersarang pada payudara Elsa dengan tanpa gerakan lain.
"Nah kita lanjut permainan kedua aja pak."
Pak Soni hanya mengangguk karena matanya masih fokus pada payudara istriku. Keduanya mengepalkan tangan kanan dan dengan aba-aba yang dipimpin istriku kini mulai lah ronde kedua.
"Satu...duaa.. TIGAAA"
Secara lambat kepalan tangan pak Soni bergerak membentuk bentuk batu - tapi tidak dengan istriku. Wanita sialan itu hanya diam dengan kepalan nya dan membuat pak Soni terheran-heran sebelum bergerak menjadi bentuk gunting. Istriku sengaja mengalah - bajingan.
"Ehh kok mba.. " kata itu lolos begitu saja dari mulut pak Soni. Istriku hanya tersenyum tipis dan melepas jari pak Soni pada belahan payudaranya.
"Langsung aja pak. Aku sange"
Jari-jari Elsa mulai membuka celana bahan pak Soni sedang sang empu hanya tersenyum kecil sembari merubah arah duduknya dan mengarahkan agar istriku duduk pada lantai.
Kini istriku hanya seorang wanita rendahan yang bersimpuh pada lantai dengan tangan yang menggenggam penis hitam pak Soni yang sudah mengacung itu.
Anehnya penisku tak berdiri atau bahkan jantungku yang semula berdebar berubah menjadi tempo lambat dan terlalu lambat.
Aku memundurkan wajah pada cermin yang sejak tadi menjadi pembatas.
Pantulan wajahku terlihat samar sedang kaki menjadi lemas dan terpaksa aku hanya bisa duduk pada sudut ranjang sembari menatap lurus pada foto pernikahan ku dengan Elsa di atas meja kamar.
Suara pada speaker gawai ku masih menggema antara tawa juga desahan yang saling bersahutan antara dinginnya pagi.
Tak ada lagi rasa penasaran atau nafsu yang bangkit dari dalam hati - hanya ada kehampaan yang merongrong setiap saraf atau pemikiran akan jalan keluar yang lebih baik. Sekilas suara ibuku menggema dan tak lebih baik dari saat ini.
Mataku masih menatap lurus pada cermin yang bentuknya tak berubah hanya ada kosong dan sepi yang masih dipenuhi oleh suara dari speaker gawai ku.
Dari samping kiri aku melihat istriku berjalan tertatih dengan pak Soni yang mengikuti langkahnya dengan tawa jumawa. Namun, lagi dan lagi rasa amarah atau nafsu tak kunjung terpantik dan menyisakan rasa kosong yang membuat kaki ku seperti tersetrum jutaan volt.
Rasa itu menjalar terlebih saat istri ku dengan tergesa melepas semua pakaian yang menutupi kulit mulusnya sedang pak Soni tanpa melepas kemeja lusuh nya masih fokus mengocok penis hitam agar tetap berdiri. Istriku masih tersenyum nakal dengan semua rasa bangga nya ia memamerkan lekuk tubuh milikku itu - tangannya menggosok selangkangan setelah sebelumnya meludah pada telapak tangan yang masih dihiasi cincin pernikahan pada jari-jarinya.
"Masukin pak ayo sshhh" istriku sudah mengambil posisi dengan merendahkan tubuhnya dengan kedua tangan memegang kasur dan kaki yang terangkat hingga terlihat seperti anjing bodoh.
Pak Soni masih tertawa dengan mengambil posisi pada belakang tubuh istriku sembari menampar pantat putih itu tanpa rasa iba.
Istriku sesekali menjerit kesakitan dan semakin merendahkan dadanya hingga payudara nya menyentuh muka ranjang dengan kepala yang menggeleng lembat.
Keduanya seperti menatapku dari balik cermin sedang rasa sakit yang berasal dari kaki ku kini kian naik hingga perut.
"Masukin dong pak RW ahhhh" tanpa lama penis hitam itu sudah memompa vagina istriku. Semakin cepat gerakan pria tua itu semakin tak terkontrol pula gerakan istriku yang terangsang begitu hebatnya.
Tangannya bahkan ikut meremasi payudaranya sendiri hingga bekas merah yang sangat terlihat jelas olehku. Semua terasa lambat bahkan dari sini aku bisa melihat dengan jelas peluh yang turun dari ujung dahi hingga pipinya.
Sedang aku?
Rasa sakit yang kurasakan semakin naik hingga seperti rasa mencekik yang hampir menyentuh nadiku.
Perih, bahkan mengedipkan mata pun berat rasanya. Jantung ku mulai berdebar kencang saat goyangan istriku semakin kencang pula - apa yang harus ku lakukan saat ketidakberdayaan ini kembali teulang seperti masa laluku yang melihat pembunuhan di depan mata.
Kedua hewan didepan ku seperti dirasuki milyaran setan yang membuat umpatan juga desahan lolos begitu saja - desahan itu seperti pisau yang perlahan merenggut kesadaran ku. Penglihatan ini tak lebih tebal dari rambut atau bahkan udara yang tak memiliki bentuk pasti.
Hingga hitam yang datang saat rasa perih yang sudah naik hingga pipi dan telinga ku. Pasrah dan merasa tak berdaya begitulah yang kurasakan saat istriku dan pak Soni seperti akan mendapatkan puncak kenikmatan.
Dalam rasa tak berdaya aku melihat setitik cahaya dari sudut mataku yang tak berbentuk, ia lebih wangi dari bunga atau lebih segar dari halimun.
'lawan'
Bisikan wanita itu menggema hingga warna hitam yang sebelumnya sudah menutupi pandangan mulai hilang perlahan dan rasa sakit ini tak lagi terasa.
Desahan istri ku tak lagi membuat ku bernafsu dan kali ini lebih buruk dari gonggongan anjing jalanan. Tanpa sadar tangan ku sudah memmenggem sebuah martil dengan kepala baja besar - dengan percaya diri aku kembali berdiri dengan rasa melepas belenggu yang mengkungkung perasaan yang selama ini kutahan.
"Ahhh pakk soniii shhh udahhh mauuu.....
DARRRRR...
"AYAHHH??"
Tanpa pamrih aku memukul kaca cermin yang menjadi penghalang diriku - pecahan kaca itu merobek kulit istriku bahkan pak Soni hanya bisa mematung tatkala melihat diriku yang sudah memegang martil ini.
"Anjing juga masih bisa hormat sama tuan nya "
Lirihku pelan sebeleum darah segar yang menampar pipiku dan erangan terakhir dari Elsa, istriku.
Usai sudah semuanya, biar ini menjadi rasa bahagia ku dengan melihat istriku yang bersimbah darah sedang pria tua itu bersujud memohon ampunan.
Ada rasa kebanggaan melihat pria asing yang masuk kedalam hidupku tak berdaya dengan penis yang menciut sekecil-kecilnya.
Namun detik berikutnya kepala dengan rambut plontos itu sudah tak berdaya karena rasa amarahku yang belum surut. Biar kamar ini dibanjiri dengan air kebahagiaan dan rasa bangga ayahku saat menyiksa dulu.
TAMAT
==========
==========

Comments
Post a Comment