Dea, Your Lewdly Neighborhood - nympherotica @semprot

 


Chapter 1 — Corruption to Lewdiness


Buatku, ada plus dan minus dari diselenggarakannya kembali Pelajaran Tatap Muka yang sempat dihentikan selama hampir dua tahun semenjak awal Pandemi Covid-19. Meski, aku ga bisa menimbang lebih banyak plus atau minusnya, sih. Tapi yang jelas, bagi orang sepertiku yang sudah nyaman dengan sekolah lewat Pelajaran Jarak Jauh, rasanya susah banget untuk kembali ke kebiasaan mandi pagi dan berangkat ke sekolah lagi.

Untungnya, aku ga ngerasain hal itu sendirian. Ada banyak teman sekelasku yang mengeluhkan hal yang sama. Walaupun Pelajaran Tatap Muka sudah berlangsung selama dua minggu, tapi masih banyak juga murid-murid di sekolahku yang telat masuk kelas. Alasannya klise: lupa kalau harus ke sekolah dan malah menyalakan laptop untuk Zoom meeting.

"Dea! Deaaaaa!"

Di antara berisiknya suara murid-murid yang berseliweran di lorong menuju kantin sekolah, aku masih hafal banget suara yang memanggilku itu. Masker medis ga jadi penghalang bagi suara cemprengnya untuk mendominasi kegaduhan di lorong.

"Apaan sih, Laraaas? Berisik banget kamu, mah." Aku menatap galak kepada si yang punya suara cempreng, saat dia berjalan mendekat. "Ga enak tau, akunya jadi diliatin! Dikiranya aku yang budek!"

"Hehehe," Laras cuma ketawa cengengesan aja sebagai responnya, "maaf, kebiasaan soalnya. Eh, De, tadi gua baru dapet info dari Kakel, kalo ROHIS mulai hari ini, nih."

"Hah? Mulai jam berapa?"

Laras pun acungin tiga jari. "Jam tiga, setengah jam setelah bel pulang."

"Ih, gila apa? Ga mau, ah! Dadakan banget. Lagian aneh banget, sih, ekskul udah ga jalan hampir dua tahun, kok pas mau kelas tiga baru mulai lagi. Biar apa, coba?"

"Ya kan ga jalannya karena pandemi, De." Laras kemudian megangin lengan aku. "Udah, pokoknya hadir nanti sore, ya?"

Aku pun menghela nafas panjang. Aku yakin, sesi perdana ekskul yang kuikuti ini pasti akan canggung banget nanti. Ya bayangin aja, dari awal aku masuk sekolah pas kelas 1 SMA, ga pernah ada kegiatan aktual dari ekskul yang aku daftar itu.

"Ga janji, Ras. Soalnya aku—"

"—Kalo ga dateng, nanti potong nilai. Gitu anceman dari Kakel," potong Laras, terus dia nepuk-nepuk bahu aku, lalu kabur begitu aja.

Kan... memang lebih banyak minusnya, Pelajaran Tatap Muka ini. PTM memberi kesempatan bagi sekelompok orang yang merasa punya kuasa untuk mengatur kehidupan siswa pasca sekolah, yang harusnya, itu jadi hak penuh siswa. Ekskul-ekskul sok penting yang suka pakai cara maksa ini, contohnya. Harus banget pakai ancaman segala?


———​


Sesuai dugaanku, sesi ekskul perdana ROHIS diisi oleh suasana canggung yang bikin ga nyaman. Apalah itu suasana ekskul yang asik dan cair, yang ada malah tiap anggotanya disuruh saling mengenalkan diri yang disertai ketawa kikuk dan senyum maksa. Kakak-kakak pembina yang terdiri dari dua ikhwan dan dua akhwat pun ga terlatih untuk mencairkan suasana. Terlebih ikhwannya, ampun deh. Suka diem-diem ngelirik para siswi ROHIS, termasuk ke aku juga. Mereka mau menggelar kajian atau cari daun muda, sih?

"De, pulangnya bareng, ya? Ya, ya, yaaaa?"

Tiba-tiba aja aku sudah disergap Laras dari belakang. Dia seenaknya mengguncang-guncang badanku sambil menunggu jawaban.

"G."

Muka Laras langsung syok begitu mendengar jawaban ketusku. "Ih, kenapaaaaa?"

"W kzl ama u."

"Ya ampun, Deaaa. Masih dendam gara-gara gua paksa hadir nge-ROHIS, ya?"

"Bodo amat. Dah, ya. Gojek w udah sampe, nih."

Aku pun melenggang pergi, ga kutengok lagi reaksi Laras setelah kembali mendengar jawaban ketusku. Kupercepat langkahku menuju gerbang sekolah, dimana bapak ojek online yang kupesan di aplikasi sedang menunggu persis di depannya.

"Andrea Nadia, ya?" tunjuk seorang bapak-bapak berperawakan tambun yang memakai jaket ojek online.

"Kok bapak tau nama panjang saya, sih?" tanyaku heran, tapi mengangguk untuk mengkonfirmasi pertanyaan si bapak.

"Loh, kan Neng sendiri yang cantumin di aplikasi." Si bapak kemudian menyerahkan helm padaku. "Biar aman, Neng."

Wah, benar juga. Duh, bahaya nih kalau pakai nama lengkap. Aku jadi ga nyaman kalau dikenali orang asing begini.

"Sesuai aplikasi ya, Neng."

Aku pun mengangguk, lalu naik ke jok belakang motor si bapak ojol. Saat sudah naik, aku langsung menemukan satu hal yang ingin banget kukeluhkan: motor bapak ojol ini tipe motor yang tangkinya ada di depan dan biasanya bervolume besar, jadi semacam jenis motor yang laki banget, gitu. Nah, karena itu, jok motornya jadi tinggi, sehingga menyulitkanku yang pendek ini untuk naik. Masalahnya lagi, joknya tipe yang makin ke belakang, makin tinggi. Kebayang, ga? Jadi posisi dudukku merosot terus.

Maka, jadilah sepanjang jalan aku kerepotan membetulkan posisi dudukku supaya bagian depan badanku ga berdempetan dengan punggung si bapak. Aku juga yakin banget, bapak ojol ini tahu kalau aku kesulitan duduk nyaman, tapi ku kira, dia ga ambil pusing soal itu.

"...ini talas berapa sekarang, Neng?" tanya si bapak, tiba-tiba, yang tentu aja bikin aku heran. Buat apa sih nanya harga talas segala?

"Ga tau, Pak."

Si bapak diam dulu, terus ngomong lagi. "Talas satu?"

"Pak, maaf nih. Tapi saya ga pernah merhatiin Talas," balasku, agak kencang karena mesti berlomba dengan deru angin.

"Kenapa ga naik kelasnya, Neng? Kok bisa?"

Hah? Siapa sih yang ga naik kelas? "Bapak nanya apa sih, sebenernya?!"

"Eneng. Kelas. Berapa. Sekarang?" balas si bapak, setengah teriak.

Oh... itu pertanyaannya. Kombinasi lengkap deru angin, helm dan jilbab yang melilit kepalaku sukses bikin aku budek. Akhirnya, aku jadi malu sendiri. Duh, mau diumpetin dimana mukaku nanti pas turun dari motor?

Akhirnya, aku ga jawab aja, dan malah kembali sibuk membetulkan posisi dudukku yang mulai merusut lagi ke arah si bapak. Tapi kali ini, si bapak ojol kayaknya kerepotan dengan kelakuanku yang makin aktif di belakangnya.

"Neng, jangan goyang-goyang. Bapak susah ini stabilin nyetirnya."

Kok jadi aku yang disalahin? Kan ini gara-gara jok motor si bapaknya yang ga sesuai standar! "Ini... saya... merosot mulu, Pak. Jadi ga nyaman..."

"Neng, jangan digoyangin—"

Daaaaan, yap. Si bapak ojol kehilangan keseimbangan, lalu motornya oleng ke kiri, dan selanjutnya... aku ga tau apa yang terjadi, tapi yang jelas sekarang aku malah duduk di atas rerumputan di pinggir jalan. Motor si bapak sudah merebah ke kiri, masih dalam kondisi mesin menyala, dan badan kirinya bergesekan dengan trotoar. Sementara si bapak... oh, itu dia. Bapaknya sedang nungging, gaes. Dengan muka mencium rumput.

Dari yang bisa aku mengerti, motor yang dikendarai si bapak jatuh setelah menabrak trotoar. Lalu kami terpental ringan ke sisi kiri, dan ajaibnya, aku ga menderita luka sedikitpun. Sementara si bapak ojol... yah... begitulah. Saat dia bangun, aku bisa melihat celana jeansnya sobek di kedua lututnya. Lalu kayaknya ada luka gores, karena kedua lutut si bapak kini dihiasi darah segar.

"Duh... luka tuh lututnya, Pak—"

Seakan ingin melengkapi kesialanku sore ini, hujan deras turun serentak mengguyur badan kami. Memang sih, cuaca sore ini sudah mendung dari sejak aku pulang sekolah tadi. Tapi dari sekian banyak waktu, kenapa hujannya baru turun sekarang?!

Sialnya, karena suasana jalan sedang sepi dan lengang, jadi ga ada orang lewat untuk bantu aku dan si bapak ojol. Setelah buru-buru menepuk-nepukkan badan dari remah-remah tanah dan rumput, aku membantu si bapak untuk mendirikan motornya. Tapi si bapak ga bilang apa-apa, bahkan setelah melihat usahaku untuk mendorong motor beratnya sampai berdiri tegak. Kayaknya, si bapak ojol sedang kesal. Ekspresi mukanya bersungut-sungut terus dari tadi.

Akhirnya, sepanjang sisa perjalanan, kami ga saling bicara. Sekarang, yang ga nyaman bukan cuma posisi dudukku aja. Tapi juga perasaanku. Kok, rasanya kayak ini salah aku, ya, sampai bikin si bapak jatuh? Atau lebih tepatnya, aku yang disalahkan. Memang ga secara gamblang nyalahin aku, sih. Tapi dari ekspresi muka kesal dan mendiamkan aku kayak gini, itu kentara banget nyalahin akunya. Kan aku jadi ga enak...

"Pak, lukanya gimana? Sakit banget, ya?" tanyaku, enggan. Tapi ga ada jawaban dari si bapak. Entah karena ga dengar, atau sengaja ga mau jawab.

Duh, jadi makin ngerasa ga enak akunya. Yaudah deh, aku coba inisiatif obatin aja kalau sudah sampai rumah. "Pak, maaf ya, gara-gara saya... jadi jatoh Bapaknya. Nanti kalau udah sampe, mampir dulu ya, Pak. Saya kasih obat merah sama plester dulu lututnya. Gimana?"

Si bapak ngerespon sekarang. Tapi dia cuma ngangguk aja.

Sumpah, sore ini lengkap banget kesialanku. Udahlah telat pulang sekolahnya, kehujanan, jatuh dari motor, dan sekarang ditambah dijutekin sama bapak ojolnya.


———​


Saat sudah sampai, aku buru-buru buka pagar, lalu mempersilakan si bapak ojol untuk parkir di garasi. Lalu, setelah meminta si bapak untuk duduk di kursi teras, aku segera mengambil kotak P3K dari dalam rumah.

"Pak, ini kotak P3K-nya. Obat merah sama plester ada di dalem." Si bapak cuma angguk-angguk tanpa ngomong, tanpa nengok ke aku juga. Keselnya awet ya, Pak? "Oh iya, Bapak mau minum apa?"

"Teh manis anget aja, kalo ga ngerepotin," balas si bapak, dingin.

Sabar... sabar... berkali-kali aku menyabarkan diri sambil mengusap dadaku yang terlalu membusung ke depan ini. Segera aku ke dapur, membuat segelas teh manis hangat. Tapi begitu sudah jadi, aku kok jadi kepingin, ya? Jadinya, aku buat satu gelas lagi untukku. Lalu kutaruh dua gelas teh manis di atas nampan, dan kubawa ke teras.

"Pak, ini diminum dulu teh manisnya," kataku, sambil menaruh dua gelas teh manis hangat di meja. Untukku, dan untuk si bapak. Lalu, kulihat lutut si bapak yang belum dia obati. Dengan segera, aku pun menemukan masalahnya. "Gunting buat motong plesternya ga ada, ya, Pak? Saya lupa, sebentar, ya, Pak. Saya ambil dulu."

"Hm," balas si bapak. Ih sumpah deh, ngambeknya kayak bocah ini bapak-bapak! Dia ini sikapnya begitu tuh terinspirasi dari cerita-cerita teenlit di Wetpet apa gimana, sih?

Setelah mengambil gunting dan kembali ke teras, aku melihat si bapak sedang menyeruput teh manis hangatnya. Kusodorkan saja gunting itu di atas meja. "Pak, saya mau ke dalam dulu, ya. Bapak bisa tunggu sampai hujannya reda di sini. Misi, Pak," kataku, sopan.

Aku pun meneguk sampai habis teh manisku, kemudian masuk ke dalam rumah. Segera kuganti baju seragamku yang basah kuyup. Tapi begitu aku melihat pantulan diri di cermin, aku baru menyadari sesuatu. Ternyata, seragamku yang basah kuyup justru memperlihatkan bra hitam yang kupakai, dan jilbabku tidak cukup panjang untuk menutupi bagian dada!

Aku yang ga sadar karena terlalu sibuk, justru jadi panik sekarang. Berarti, bapak ojolnya kemungkinan besar ngelihat dalamanku, dong? Mana tadi waktu aku kasih teh manis, akunya segala menunduk-nunduk pula. Makin jelaslah si bapak ngelihat bra hitamku. Astaga...

Rasa panik membuatku jadi salah tingkah. Untuk mendistraksi, aku buru-buru membuka seluruh bajuku hingga telanjang bulat. Kulihat diriku sendiri di cermin. Mataku pun terfokus pada pinggangku yang mulai berlemak. Kucubit-cubit ringan pada bagian itu, yang spontan membuatku menghembuskan nafas panjang.

"Efek kelamaan sekolah dari rumah, nih. Jadinya ngemil mulu."

Karena badanku termasuk pendek, kalau ada kenaikan berat badan sedikit saja, efeknya langsung terlihat pada badanku yang jadi melebar. Hampir dua tahun sekolah dengan PJJ, merubah badanku yang langsing jadi lebih... berisi? Efeknya jadi kemana-mana. Buah dadaku jadi makin besar, hingga aku harus naik ukuran bra dari cup C ke D, dan yang biasanya pakai bra di lingkar buah dada 34, sekarang jadi naik ke 36. Lemak juga sukses menyebar ke beberapa bagian tubuhku yang lain, seperti paha, lengan, pinggul, pantat dan sisi perut.

Untungnya, karena aku biasa pakai baju longgar, lekukan badanku jadi ga terlalu kelihatan. Tapi kalau melebar lebih dari ini... ya bisa kelihatan jelas juga. Aku bisa ngebayangin, kalau makin melebar, aku nanti jadi mirip anak sapi New Zealand: putih, semok dan penuh dengan susu.

"Untung kamu mah cakep, Dea. Jadi termaafkan kalau semok juga," kataku, pada diri sendiri sambil menatap cermin.

Dulu, aku bangga ketika sering dibilang kembarannya Nissa Sabyan. Lucu, pipi penuh, menggemaskan dan berkacamata. Dari puluhan orang yang berinteraksi denganku, hampir semuanya bilang kalau aku mirip vokalis grup gambus itu. Tapi sejak Nissa Sabyan digosipin selingkuh dengan member grup gambusnya yang lain, siapa namanya tuh? Ayus-ayus itu lah, aku jadi sebal kalau masih ada yang bilang aku mirip dia. Hingga akhirnya, aku terpaksa berdamai dengan diri sendiri dan ambil sisi positifnya: yang penting cakep.

Oke, cukup sesi narsisnya. Sekarang mari ganti baju dengan cekatan.


———​


Sudah setengah jam lebih si bapak ojol duduk di teras depan, tapi hujan juga belum ada tanda-tanda mau reda. Mau kuusir dengan halus, akunya ga tega. Tapi aku juga takut kalau cuma berduaan saja di area rumah dengan si bapak.

Karena sehari-harinya aku hampir selalu sendirian di rumah, dan kedua orangtuaku adalah tipe yang bekerja saat dapat proyek. Kalau mereka sedang dinas, mereka bisa pergi berhari-hari, bahkan bisa sebulan penuh. Aku jadi merasa sedang ngekos di rumah sendiri.

Kulirik jam di dinding. Sudah pukul setengah enam sore. Aku makin takut kalau malam nanti, hujan belum juga reda dan si bapak masih menunggu di teras. Aku ngeri membayangkan hal yang engga-engga terjadi padaku. Tapi... kalau ada apa-apa, aku hanya perlu teriak saja, kan?

Akhirnya, aku memilih untuk berdiam diri di atas ranjang kamarku, sambil memeluk guling. Aku berusaha untuk menajamkan pendengaran, untuk fokus ke suara-suara ganjil, seperti ketika ada orang yang membuka pintu depan, misalnya. Tapi aku semakin merasa kesulitan untuk fokus, karena berangsur-angsur, badanku terasa panas. Awalnya kupikir ini panas demam karena kehujanan. Tapi aku tahu panas demam itu bagaimana, dan... ini lain rasanya. Seperti... panas yang membuat darahku berdesir. Membuatku jadi... apa istilah yang tepatnya, ya? Jadi... bergairah.

Aku juga merasa mukaku panas sekali. Kubenamkan saja mukaku di guling, sambil kupeluk erat. Hal ini membuat ujung guling menyentuh erat bagian selangkanganku.

"Hngghh!"

Aku spontan terperanjat karena kaget akan sensasi geli yang tiba-tiba kurasakan di bagian tengah selangkanganku. Aku pun terbengong, keheranan akan apa yang barusan kurasakan. Karena penasaran, aku mencoba menyentuhkan ujung guling ke bagian selangkanganku lagi...

"Hmmmphh..."

Aku segera menutup mulutku, karena tanpa sadar sudah mendesah. Meski pelan, tapi aku takut kalau suaraku kedengaran sampai luar. Aku semakin heran, karena aku belum pernah merasa sesensitif ini. Padahal aku sekarang sedang memakai celana kain yang lumayan tebal, selain celana dalam yang membalut kemaluanku. Tapi entah kenapa sentuhan dari gulingku tetap terasa intens di bagian itu.

Aku yang semakin penasaran, jadi ingin mencoba menyentuhkan gulingku ke bagian itu lagi. Untuk ketiga kalinya, aku mendesah kegelian saat bagian guling menyentuh kemaluanku. Lalu keempat kali, kelima kali, hingga aku sudah lupa ini keberapa kalinya aku menyentuhkan guling ke kemaluanku.

"Ehh... kok jadi gini... aku... kenapa...?"

Tiap sentuhan yang kulakukan semakin menambah rasa geli yang berubah jadi rasa enak yang sulit dijelasin. Aku pun sudah ga cuma menempel-nempelkan guling ke kemaluanku saja, tapi juga sudah berani menggesek-gesekkannya. Semakin digesek, rasanya semakin enak. Aku berusaha menutup mulutku agar desahanku ga keluar, tapi aku makin sulit menguasai diri.

"Ahh... ahhh... ini enak banget, kegesek... oohh... iyahhh... terus... terussshhh..."

Entah sejak kapan, tapi aku baru sadar kalau sekarang aku sedang tiduran dengan posisi menyamping menghadap tembok, dengan guling yang kujepit menggunakan kedua pangkal paha, menempel erat di kemaluanku dan menggesek-gesek bagian itu dengan intens banget. Desahan-desahan keenakan keluar dari mulutku tiap kali kemaluanku digesek dengan permukaan guling.

"Aahhh, iyaahhh... terus... oohh... enak... enak... hhhh... aku kenapa... ooohhh... gila, gila, gila... enak bangettt... auuhhh!" Aku semakin liar menggoyangkan pinggulku dan menggesekkan kemaluanku, hingga berangsur-angsur, ada rasa geli seperti ingin pipis yang kurasakan. "Aahh.. mau... pipis... tapi nanggung... ooohhh... ini enak banget... ngghhh... lagi.. ahh... iyahh... aahh... enak, astaga... enak bangeeeeettt! Oohh, ohhh, mau pipis... mau pipis... mau... mau... ahhh... nngghh... ya, ya, ya... ooouuhhh... aku—aku pipis, aku pipisss... aku—aaahhhhhhhhhhhh~!!!"

Badanku bergetar hebat seiring derasnya air pipis yang keluar dari lubang kencingku. Aku belum pernah merasa keenakan seperti ini, tenggelam dalam badai kenikmatan yang menggulung-gulung hingga membuatku mengejan tiap kali kenikmatan itu datang. Badai itu berlangsung beberapa lama, sampai akhirnya berangsur-angsur mereda hingga meninggalkanku yang terbaring lemas, memeluk erat gulingku dengan nafas tersengal dan muka memerah panas.

Setelah beberapa saat, aku akhirnya bisa mengatur nafas dan langsung tersadar dengan apa yang kulakukan. Aku pun spontan melihat ke arah selangkanganku, dan merasa kaget banget saat tahu kalau celana kainku sudah basah kuyup di bagian itu. Kekagetanku naik puluhan kali lipat, saat melihat si bapak ojol, yang kukira sedang duduk di teras sambil menunggu hujan reda, justru sekarang sedang berada di ambang pintu kamarku. Sebuah senyum menyeringai terlihat jelas di mukanya.

"Saya pikir ada ribut-ribut apa. Eh, ternyata si Eneng lagi keenakan, ya?" tanyanya, dengan nada mengejek.

Aku yang masih lemas, ga bisa memerintah banyak pada badanku untuk bergerak. Jadinya, aku cuma bisa pasrah, saat si bapak ojol makin mendekat ke arahku. Meski, aku tahu, sorot mataku menyiratkan ketakutan luar biasa, saat melihatnya mendekatiku.

Aku ingin teriak, tapi bahkan mulutku ga bisa membuka.

==========

==========
Chapter 2 — Here's the Trouble, and Make It Double






Kalau saja aku bisa menyebut hal yang paling kusesali selama aku hidup, aku akan bilang berkali-kali, setiap waktu, dengan sepenuh benci, bahwa mengiyakan paksaan Laras untuk hadir di ekskul ROHIS adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kalau saja tadi siang aku ga takut dengan ancamannya, dan lebih memilih pulang tepat waktu, aku berani banget untuk bilang, bahwa, aku ga akan mengalami nasib yang seburuk sekarang. Maksudku, apa yang lebih buruk dari terancam diperkosa oleh bapak tua yang ga kamu kenal sama sekali?

Saat tangan-tangan kasar si bapak ojol meraihku, aku bisa melihat kelebatan itu. Kelebatan dari rekap singkat seluruh kehidupanku. Aku ingat, waktu kecil aku sering diantar mengaji setiap mau maghrib. Oh, aku juga ingat tentang rasa bahagia saat baru bisa lancar naik sepeda. Aku masih ingat dengan jelas, rasa panik dan takut saat melihat darah mens pertamaku. Kemudian Umi datang, memelukku sampai aku tenang, lalu menjelaskan dengan baik tentang apa itu menstruasi, berikut pelajaran-pelajaran lain yang berkaitan dengannya. Aku... ingat, hal terpenting yang Umi bilang padaku, dulu: wajib hukumnya untuk menjaga keperawanan sebelum menikah.

Aku rasa... aku akan gagal di tugas itu, sekarang.

"Pak, Bapak... Bapak mau apa?! Pak, heh, Pak!" kataku, lirih. Meski masih terlalu lemas untuk berkata dengan lebih lantang, tapi kepanikan terasa jelas di tiap getar suaraku.

Badan lemasku pun hanya bisa menghalau ringan jamahan tangan si bapak, yang tentu saja, ga berhasil. Tangan-tangannya malah sukses bergerilya pada buah dadaku. Aku menyesali keteledoranku yang ga mau pakai bra saat ganti baju tadi, dan seakan mempermudah si bapak untuk lebih bebas meremasi bagian itu, meski masih terhalang kaos.

"Pak, jangan... Pak, nanti saya teriak! Beneran! Saya bisa teriak, loh! Pak, Pak! Jang—"

Aku benci mengakui ini, tapi begitu jari-jari si bapak mencubit kedua putingku, yang, baru saja dia temukan letaknya, ada sensasi tersetrum yang menjalar ke seluruh badanku dan memberi rasa ketagihan yang aneh. Aku tahu, aku tahu! Pikiranku menolak perlakuan mesumnya, tapi badanku justru merespon! Ini gila, sih. Sumpah.

"Heh, kenapa kelojotan gitu, Neng? Baru dipelintir gitu pentilnya, udah heboh aja," kata si bapak ojol, sambil menyeringai mesum.

Wajahnya yang ga akrab kukenali, sekarang tambah kelihatan blur di mataku. Oh, mungkin karena terhalang air mata yang mengumpul. Aku ingin menangis, aku ingin teriak, aku ingin bilang bahwa aku ketakutan, aku ingin orang ini menghentikan perbuatannya terhadapku. Tapi, aku merasa badanku sekarang mengkhianatiku dengan cara paling cabul yang pernah aku tahu. Tiap kali putingku dicubit, apalagi dipilin-pilin oleh jari-jari si bapak, badanku menggelinjang heboh akibat ga kuat menahan kenikmatan spontan yang berpusat di putingku, lalu menjalar dengan cepat ke seluruh badan.

"Mmmpphhh... hhh... hahhh...."

Aku berusaha menutup mulut sekuatnya agar desahan itu ga keluar. Aku berusaha sekeras mungkin menunjukkan kepada si bapak, kalau aku ga menikmati perlakuan cabulnya. Tapi makin kutahan desahanku, perlakuan si bapak makin beringas pada putingku. Dia semakin kasar memelintir putingku, dan anehnya, justru aku semakin suka dan merasa keenakan. Hingga akhirnya...

"Nngghhh... ooohhh... itu diapain, Paaaakkhhh... ge-geli... puting saya... kegelianngghhh..."

Desahan itu akhirnya keluar juga, dan aku ga percaya kalau aku bahkan bisa mengeluarkan desahan sebinal itu. Hal ini bikin si bapak senyum-senyum kegirangan. Dia pikir aku menyukai perbuatannya mainin putingku, dan kenyataannya, meski badanku menikmati, tapi hatiku engga! Aku sama sekali ga menikmati ini! Aku... aku...

"Ahhh... ooohhh... ngghhh... oohhh... ooohhh... a-ada... ada yang... aaa... aaahhh..."

Aku refleks menjepit pahaku saat perasaan nikmat yang bergulung-gulung itu kembali datang. Rasanya mirip-mirip dengan yang pertama, tadi. Aku merasa kemaluanku berdenyut-denyut heboh, dan tiap denyutannya justru membuat badanku ikut bergetar. Aku juga merasa ada yang keluar dari lubang kemaluanku, dan membuat celanaku tambah basah.

"Gila, cuma dimaenin teteknya aja bisa keluar si Neng! Berasa dapet duren runtuh, nih, gua!"

Euforia yang dirasakan si bapak ojol, justru berbanding terbalik dengan rasa lemas yang melandaku. Aku yang begitu lemas, jadi ga tau harus berbuat apa. Rasa rileks yang kurasakan setelah badai kenikmatan itu membuat rasa takutku menurun. Aku jadi ga terlalu panik lagi. Lebih ke... jadi lebih bodo amat, aja. Aku hanya ingin istirahat, karena rasa rileks ini membuatku mengantuk.

Aku cuma bisa menatap sayu saat tangan si bapak menyibak kaosku. Dia bersiul penuh kekaguman saat melihat sepasang buah dadaku, yang menurutnya besar, padat, mulus dengan puting berwarna pink cerah. Dimain-mainkannya bagian itu. Kadang dia goyang-goyangkan, kadang diremasi kuat-kuat, kadang ditampar-tampar ringan.

Aku semakin mengantuk, saat si bapak mulai mempreteli bajuku. Mulai dari kaos yang dia lepas, lalu dilempar ke lantai, lanjut ke celana kainku... dan... dan... sekarang dia mulai menurunkan celana dalamku. Semakin turun... melewati lutut... lalu... terlepas seluruhnya.

Sekarang, si bapak sedang menatap liar ke seluruh bagian tubuh telanjangku. Sementara aku terlalu mengantuk untuk mencoba menghalangi matanya dari melihat ketelanjangan ini. Kepalaku rasanya ga beres. Seperti berputar... pusing, pening, seperti semua hal yang kulihat dengan mataku sedang bergoyang sekarang. Semakin aku mencoba untuk melawan rasa pusing itu, semakin berat kantuk yang kurasa. Aku... sungguh ingin melawan. Aku ga ingin diperkosa. Tapi kenapa justru aku diam saja saat tangan si bapak merenggangkan kedua pahaku?

"Memeknya pink banget, Neng! Masih perawan nih, kayaknya. Bulunya juga baru tumbuh dikit. Duh, seger banget keliatannya." Si bapak, sekilas mengusap sisi bibirnya memakai lengan. "Jadi ngiler saya, nih."

Aku coba mengumpulkan lagi sisa-sisa akal sehatku. Aku, yang terlampau lemas ini, kini mencoba sekuatnya untuk merapatkan pahaku. Tapi si bapak menahannya menggunakan kedua tangan, dan aku ga punya tenaga lebih untuk melawan tenaga si bapak.

"Ngantuk ya, Neng?" Si bapak merangkak maju, mendekati wajahku. Dia merogoh kantong jaketnya, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil. Dia... membuka botolnya, lalu mengarahkan mulut botol ke bibirku yang membuka. "Nih, saya tambahin lagi. Kali ini mah minum langsung aja, ga usah dicampur ke minuman. Biar efeknya lebih kenceng."

Tawa mengejek si bapak adalah hal terakhir yang kudengar, sebelum cairan dari botol kecil itu tumpah ke mulutku. Rasa cairan ini agak manis, tapi teksturnya kental banget. Sialnya, cairan itu justru kutelan habis bersama dengan liurku sendiri, karena aku begitu kehausan dan kerongkonganku kering banget sekarang.

Hal selanjutnya yang kuingat, adalah si bapak pergi dari kamarku, entah untuk apa. Sementara aku merebah di ranjang kamarku, berbugil ria, dan masih dengan kantuk yang mengganggu. Tepat saat aku sudah pasrah pada kantuk dan ingin tidur, rasa panas itu hadir lagi. Rasa panas yang langsung menjalar ke sekujur badan. Tapi kali ini rasanya lebih heboh dari yang tadi.

Aku yang ga siap dengan transisinya yang mendadak banget, malah jadi kebingungan sendiri. Pikiranku tiba-tiba diisi dengan hal-hal mesum. Aku bahkan jadi bergairah saat mengingat perlakuan si bapak waktu tangannya mencubit putingku. Aku juga merasa kegerahan. Aku berkeringat heboh. Rasanya panas. Badanku panas. Lalu... lalu... kemaluanku juga terasa panas, dan gatal. Rasa gatal yang membuatku ingin sekali menyentuh bagian itu. Lalu rasanya jadi makin intens. Makin heboh. Makin sulit kutahan. Tapi kenapa harus kutahan? Aku cuma perlu menyentuh kemaluanku agar rasa gatalnya hilang, kan?

"Hhhhhaaaahhh... oooohhhh..."

Tepat saat kusentuh kemaluanku, rasa gatal itu malah bertambah parah. Rasa gatal yang nikmat, memintaku untuk menyentuhnya lagi. Lagi. Lagi, dan lagi. Kutekan-tekan dan kugesek bibir kemaluanku sendiri karena aku jadi nagih dengan rasa gatal yang nikmat ini. Aku bahkan sudah lupa kalau, baru saja, aku habis digerayangi sama orang asing yang masuk tanpa izin ke rumah dan kamarku. Yang aku ingin sekarang cuma gimana caranya aku bisa terus dapat rasa nikmat dari menyentuh kemaluanku ini.

"Iyahh, iyaahh... enakk... ooohh... enak bangett... hahhh... haahhh... gila, gua ga pernah ngerasa... oohhh, ngerasa seenak ini, hhahh... hhhaaahh... ngghhh..."

Aku terus menggesek-gesekkan bibir kemaluanku, makin lama makin cepat, lebih cepat... lebih cepat lagi... hingga aku... aku...

"NNGGGHHHH... GUA... GUA... AHHH, AHHH, GUA PIPIS LAGIIII... OOOHHHH...."

Cairan bening seperti pipis keluar deras dari lubang kencingku, menyemprot heboh ke sprei, lantai, entah mana lagi. Badanku kembali bergetar hebat saat pipisku keluar, dan kali ini justru menikmatinya tanpa perlawanan. Kubiarkan pipisku keluar sederas-derasnya. Sampai habis. Sampai kusadari kalau sprei ranjangku sudah basah kuyup sekarang. Tapi aku ga puas. Aku ingin lagi. Aku ingin menikmati rasa keenakan saat kemaluanku digesek-gesek, dan saat aku pipis nikmat itu lagi.

Aku pun mengulangi hal yang sama. Lagi. Berkali-kali. Sampai si bapak kembali masuk ke kamarku, aku tetap melakukannya. Dan dia di sana, di ambang pintu, menatapku liar dan cabul.

Dan aku menyukainya.


———​


"Oohhh... Pak, ini gimana...? Ahh... ahhh... saya ga bisa... oohh, sshh... ga bisa berenti mainin... ahhh, ahhh... mainin memek saya..."

Aku menatap bingung pada si bapak, yang kini sedang asik menyaksikanku sedang menggesek-gesek kemaluan... maksudku, memekku sendiri. Iyah, memek. Kata si bapak, aku harus menyebut bagian itu dengan memek. Ga perlu canggung. Ga perlu malu. Menjadi vulgar justru malah bikin aku jadi lebih bersemangat.

"Ga bisa berentinya kenapa, Neng?" tanya si bapak, sambil menghembuskan asap rokok ke udara.

"Ini enak bangettt... makin digesekin... makin enak! Saya ketagihan, Pak..."

"Yaudah, turutin aja kalo enak. Ga perlu berenti, ya kan?"

"He'eh," aku pun mengangguk, "ga perlu berenti... terus... oohh, ooohhh... nngghhh..."

Aku tahu ini terdengar gila, tapi sekarang aku malah nikmatin banget mainin memekku. Sudah ga ada rasa takut saat si bapak mendekatiku, seperti beberapa saat lalu. Aku bahkan merasa senang, saat bisa menunjukkan betapa aku menikmati sesi mainin memekku di depan si bapak.

"Neng, saya ikutan boleh, ga?" tanya si bapak, setelah membuang puntung rokoknya ke lantai.

Tentu saja, itu bukan pertanyaan. Karena kalau aku bilang ga boleh pun, si bapak akan tetap memaksa. Akhirnya, aku mengangguk, lalu lanjut mainin memekku. Aku bahkan menyodorkan buah dada... ah, maksudku, tetekku, ke si bapak untuk dia perlakukan sesukanya. Lalu aku melihat si bapak kini mulai membuka seluruh bajunya. Dia pun telanjang dalam sekejap. Badannya gemuk, dengan perut buncit dan kulit cokelat matang yang merata ke seluruh badan. Tapi... sesuatu yang menggantung itu... membuatku sampai menelan ludah.

Sebuah penis, dan ini kali pertama aku melihatnya langsung.

"Ini namanya kontol, Neng," kata si bapak, sambil memegangi batang keras berwarna hitam itu dengan tangan kiri. "Udah pernah liat kontol, belum?"

Aku menggeleng, tapi mataku ga bisa berpaling dari batang itu. Batang keras yang berurat dan menegang itu. Ukurannya kayaknya besar untuk kugenggam dengan tangan. Bener deh, ga tau kenapa, aku ingin banget megang... apa namanya tadi? Ya, pokoknya megang itu, deh.

"Kon... apa tadi, Pak? Ngghhh..."

"Kontol, Neng. Coba ulangin."

Ternyata namanya kontol, bukan penis. "Kontol. Ya, kan?"

Si bapak tersenyum puas. "Mau pegang?"

Tanpa menjawab, aku meraih kontol si bapak dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku masih sibuk mainin memek. Saat kontolnya kugenggam, aku menahan nafas. Ada sensasi aneh yang membuatku makin bergairah saat memegang kontolnya. Daraku makin berdesir.

"Tangan si Eneng alus banget, sih."

"Suka, Pak?"

Si bapak mengangguk. "Kocokin kontol saya, Neng."

Aku tampak kebingungan mendengar intruksi si bapak. Tapi untungnya, si bapak sigap. Dia meraih tanganku yang sedang menggenggam kontolnya, lalu dia gerakin tanganku maju dan mundur, seperti sedang mengocok. Aku belajar hal baru, dan aku ga sabar ingin mengaplikasikannya sendiri.

"Ahh... iya, gitu Neng. Kocokin terus. Tangannya alus banget, Neng. Kontol saya keenakan dikocokin pake tangan sealus ini."

Mendengar pujiannya, aku jadi makin semangat ngocokin kontol si bapak. Badanku juga kugeser supaya makin deket ke pinggir ranjang, dimana si bapak lagi berdiri sambil keenakan karena kontolnya aku kocok-kocok penuh semangat. Sekarang, ujung kontol si bapak, yang keliatan kayak mulut kecil itu, berada deket banget dengan pipiku. Sesekali bahkan kontolnya sampai nyentuh pipi dan telingaku. Terus, aku jadi sadar kalau tiap kali kontolnya nempel, pipiku jadi ada cairan bening yang kental gitu.

"Ini... apa, Pak? Ahhh, ada yang keluar... nempel di pipi saya... nngghhh..."

"Itu... susah jelasinnya, Neng. Pokoknya kalo laki-laki terangsang banget, nanti kontolnya keluar cairan kayak gitu."

"Rasanya enak, ga, Pak?"

"Cobain aja, Neng."

Tanpa pikir panjang, aku langsung menjilati ujung kontolnya, tempat cairan bening itu keluar terus. Rasanya agak asin, tapi sejauh ini enak. Kok... aku jadi mau lagi, ya? Akhirnya aku ngejilatin kontol si bapak, lagi. Ujung kontolnya aku jilatin, sampai lidahku masuk-masuk ke mulut mungil itu. Si bapak menggelinjang geli tiap lidahku masuk.

"Neng, jilatin juga batangnya, dong."

Aku mengangguk. Jilatanku merambat ke bagian batangnya. Kubasahi batang berurat itu, sambil sesekali kukocok cepat. Kombinasi jilatan dan kocokan tanganku bikin si bapak ngerasa keenakan banget. Rambutku diusap-usap, dan aku dipuji karena pinter banget ngelayanin kontolnya.

Tapi entah kenapa, aku merasa ada yang kurang. Gesekan jari-jari di memekku sekarang rasanya sudah ga seenak tadi. Aku pun bingung. Aku ingin terus merasa keenakan. Tapi aku ga tau harus gimana lagi.

"Pak, nnnggg... memek saya gatel terus... tapi rasanya udah ga seenak pas digesekin. Hhh... gimana, nih?"

Si bapak tersenyum lebar. Dia meraih kedua sisi pinggulku, lalu dia tarik badanku sampai memutar, ke pinggir kasur. Sekarang, kepalaku berada di dekat tembok, dan kedua kakiku menyentuh lantai di sisi kasur. Pahaku mengangkang lebar. Sementara memekku bersentuhan dengan kontol si bapak.

"Eneng ngerasa gatel?" tanyanya.

Aku mengangguk, pelan. "Iyahh, tapi bingung yang paling gatel dimana. Soalnya memek saya gatel semuanya, Pak."

"Coba dirasa-rasain, Neng." Si bapak agak menekan kontolnya ke bibir memekku. "Apa gatelnya ada di dalem memek Eneng?"

Pertanyaannya membuatku sadar, bahwa memang benar rasa gatalnya seakan terpusat di bagian dalam memekku. Bagian yang ingin banget aku garuk, tapi ga bisa kujamah.

"Saya bisa garukin buat Eneng. Tapi garukinnya pake kontol. Gimana?"

Aku diam sebentar, berpikir. Umi bilang kalau ga jauh dari lubang memekku, ada selaput tipis yang berfungsi sebagai tanda kalau aku masih perawan. Kalau selaput itu dijebol, berarti aku sudah ga perawan, dong?

"Gimana, Neng, boleh ga?" tanya si bapak lagi, kali ini sambil menekan-nekan kontolnya ke lubang memekku. Jujur saja, rasanya enak banget saat kontol si bapak menekan lubang itu.

Aku ingin menjaga keperawananku, tapi rasa gatal yang berpusat di dalam memekku, ditambah sentuhan enak dari kontol si bapak membuatku ga bisa berpikir jernih. Maka...

"Iyah, Pak! Garukin aja. Garukin memek saya, Pak. Garukin pake kontol Bapak."

Satu kalimat itu seakan jadi persetujuan bagi si bapak untuk berbuat lebih jauh. Dia menggesek-gesekkan ujung kontolnya di sekitar lubang memekku, yang memang sudah basah banget dan licin. Saking licinnya, aku bisa ngerasain kontol si bapak lancar banget menggesek memekku.

"Masih perawan, Neng?"

Aku mengangguk, ringan. Tepat saat si bapak mulai menekan kontolnya memasuki lubang memekku, aku menggigit bibir.

"Tahan sedikit ya, Neng, kalo sakit."

Kontol si bapak masuk sedikit demi sedikit ke dalam memekku. Aku bisa merasa kontolnya memenuhi ujung liang memekku, lalu terasa mentok saat ingin masuk lebih jauh. Saat mentok itu, rasanya agak perih sedikit, dan membuat rasa panas bergairah yang menderaku jadi agak hilang. Tapi si bapak justru lebih memilih memaju-mundurkan kontolnya sampai sebatas bagian yang mentok itu. Dia melakukannya berkali-kali, sampai aku merasa sudah ga sakit lagi tiap dia memasukkan kontolnya sampai bagian yang mentok itu. Aku justru merasa keenakan dan nyaman saat kontolnya keluar dan masuk sekarang.

"Oohhh... Pak, kok enak? Padahal... tadi... ooohh... ngghhh... tadi sakit, lohhh..."

"Soalnya, hhhahh, haahh, memek Neng udah biasa sama kontol saya, nih. Masukin lebih dalem, ya?"

"Lohhh, ehhh... ini emang... belum masuk... semuahhh?"

"Baru pangkalnya doang, Neng. Hhh... saya pengen nembusin perawan Eneng, tapi takut Eneng sakit."

"Oohh... Pak, hhh... tapi yang paling gatel emang di dalem itu, Pakkkhhh..."

Si bapak langsung menindih badanku. Tetekku dan dadanya pun menempel erat. Dia juga merenggangkan kedua pahaku lebih lebar. "Saya masukin ya, Neng. Saya masukin... lebih dalemmm..."

Badan gemuknya yang menempel dan menindihku, justru membuatku merasa nyaman dan terlindungi. Kulit kami yang sama-sama telanjang bersentuhan dan bergesekan, menimbulkan sensasi tersendiri bagiku. Aku pun memeluk si bapak, sambil bersiap karena kurasakan kontol si bapak menekan lebih jauh ke dalam memekku.

"Neng, saya ambil perawannya... yaaa... nngghhh!"

Dalam satu kali hentakan, kontol si bapak amblas seluruhnya ke dalam memekku. Aku menjerit kaget karena rasa sakit yang tiba-tiba meradang di bagian selangkangan, tapi kutahan sebisanya karena aku ga diberi kesempatan untuk menenangkan diri. Si bapak, setelah berhasil menjebol keperawananku, justru malah memompa memekku dengan cepat. Rasa perihnya cukup membuatku agak sadar dari rasa pusing, tapi ga lama, karena setelah rasa perih itu hilang, kini berganti jadi rasa enak yang belum pernah kurasakan seumur hidup.

"Oohhh, ooohhh, ooohhh, enak, enak, enak, enak, enak, oohhh... nggghhh, memek saya... memek saya diapainnhh... oohhh, masuk... keluar... masuk lagi... iyahhh... enak, Pak... enak... ahhh, enakkk..."

"Sama, Neng! Saya juga... hahh, hahh... keenakan! Memek Neng sempit banget! Kontol saya... haduhh... ahhh... berasa lagi dipijettt...!"

"Terus, Pak... terus... memek saya dipompa terus... genjot terus... perkosa saya terus, Pak... ahhh, ahhh... ga nyangka... diperkosa ternyata enakkkhhh..."

"Suka, Neng? Hah?" Si bapak tiba-tiba menghujam memekku keras-keras, membuatku blingsatan dalam kenikmatan yang susah kuungkapkan. "Suka dientot gini? Suka, ga, dientot sama saya?"

Aku mengangguk, meracau sejadi-jadinya. "Suka banget! Ini rasanya dientot, iyahhh? Jadi namanya dientot, ya Pak? Terusinnn... auuhhh... gila, gila... kontol Bapak masuk dalem banget ke memek saya... gila, ini enak banget... entotin terus, Pak. Memek saya buat Bapak entot, emang!"

Si bapak tersenyum puas mendengar ocehan cabulku. "Di luar mah alim, ternyata kotor juga mulutnya, ya?"

"Ahhh... emang... mulut saya emang kotor, Pak. Tapi Bapak suka, kan? Ohh, oohh, oohh, ahh, ahh, yahh... yahhh... ahhh, ahhh...," aku pun mendekatkan mulutku ke telinga si bapak, "entotin terus... ayo, Pak! Kapan lagi bisa ngentotin perawan kayak... hhh... kayak saya. Memek saya udah nagih banget minta dientot terus... sekali nyoba jadi ketagihan... ga mau berenti!"

Mendengarnya, si bapak jadi makin cepat menggenjot memekku. Aku sudah ga bisa berkata-kata, hanya racauan, desahan dan erangan nikmat yang keluar dari mulutku tiap kali kontol si bapak menghujam dalam-dalam. Lalu, saat rasa nikmat itu makin intens, sensasi nikmat yang bergulung-gulung itu hadir kembali. Sensasi nikmat yang disertai rasa ingin pipis, yang aku ingin banget rasain lagi.

"Pak, Pak, Pak... saya... saya mau pipis, saya mau pipis, saya mau..."

"Iya, Neng. Jangan ditahan, pipisin aja. Ayo, Neng. Pipis aja, buruan!"

"PIPPPIIIISSSSSSSSSS—NNGGHHHHHHHH—OOOOOOOOOHHHHHHHHHHHHHHH... Keluar, keluar.... KELUAR PIPISNYA, PAAAAKKKK!!!"

Aku mengapit pinggul si bapak dengan kedua kaki, tepat sesaat sebelum aku mulai menggelinjang heboh. Lalu, pipisku menyemprot deras, kurasa membasahi kontol dan bagian selangkangan lainnya dari si bapak. Tubuhku bergetar hebat saat aku pipis, dan memekku jadi super sensitif hingga tiap gerakan yang menyentuhnya, membuat memekku jadi keenakan dan kegelian heboh. Parahnya lagi, si bapak ga berhenti saat aku sedang pipis. Dia tetap menggenjot memekku sekuat tenaga, membuatku merasa... merasa...

"PAK, BAPAK, SAYA PIPIS LAGIIIII—OOOOOHHHHHHH! GILA, GILA, GILAAAAAAAAA! EEENNNAAAAAKKKK BANGETTTTT, NGGGHHHHHHH!!!"

Tepat saat pipis susulanku, si bapak membenamkan kontolnya dalam-dalam ke bagian terdalam memekku. RASANYA HINGGA TERASA MENTOK KE UJUNGNYA! Lalu... lalu... ahhh, aku rasa ada cairan... hnnggg... cairan yang menyembur dari kontolnya ke... ke... ke memekku.

"Hhh... hhh... saya keluar, Neng. Saya keluar... saya keluar... hahhh... hahhh... hahhh..."

Kontol si bapak masih berdenyut beberapa kali saat dia menyemprotkan cairan dari kontolnya ke dalam memekku. Tapi aku merasa lemah. Terlalu lemah untuk terus merasakan kontolnya di dalam sana. Kesadaranku pun perlahan-lahan menghilang. Aku bahkan ga sempat berkata-kata. Yang kuingat terakhir kali adalah, wajah si bapak yang begitu dekat. Sangat dekat dengan wajahku.

Kemudian bibirnya, menciumi bibirku. Begitu liar dan basah. Lalu semuanya jadi gelap.


———​

Saat aku tersadar, aku langsung merasa ada kenikmatan yang meradang di bagian selangkanganku. Oh, ternyata si bapak sedang asik menggenjot memekku lagi. Aku ga tau ini yang keberapa kali, karena aku sempat tertidur tadi. Atau itu sebenarnya pingsan?

"Eehhh, ehhh... Pak... saya dientotin lagi, hhhmm?"

Si bapak, langsung menatapku sambil senyum cengengesan. "Iya, Neng. Saya mau pulang, soalnya. Sayang-sayang nih kalo ga ngentotin Eneng lagi."

"Oohh, iyahh... Pak, entot terus. Enak soalnya, Pak. Ahhh, ahhh, ahhh..," spontan aku memeluknya erat, "Bapak, ngghhh... jangan pulang... besok aja... ahhh, ahhh... pulangnya... ya?"

"Emang ga ada orang tuanya, Neng? Hhhah, hahh... nanti kalo ketauan, gimana?"

"Orang tua... sayaaaa... ahhh, pulangnya... hhhh... baru besok lusaaa... Pppaaakkk..."

Mendengar jawabanku, si bapak langsung mempercepat genjotannya. Memekku jadi makin keenakan saja. Dia bahkan meremasi tetekku kuat-kuat, sambil terus menggenjot memekku dengan liar. Aku pun dengan cepat langsung larut dalam birahi, meski baru saja bangun.

"Neng, Bapak mau keluar lagi, nih!"

"KELUARIN, PAK! KELUARIN! SAYA JUGA MAU PIPIS LAGI! SAYA JUGA... OOOOOHHHHH... MMMPPHHHH..."

"KELUAR DI DALEMMM, NENGGGGG!"

Cairan dari kontolnya kembali menyembur deras di dalam memekku, bersamaan dengan pipis beningku yang muncrat ga karuan mengenai area selangkangannya. Si bapak membiarkan kontolnya dulu di dalam memekku, lalu saat aku merasa nyaman karena ada benda asing yang mengganjal di dalam sana, dia tiba-tiba mencabut kasar kontolnya, dan membuatku merasa geli hebat hingga aku pipis lagi.

"Pppakk... geli... saya... pipis... ooohhhh..."

Entah sudah berapa kali aku pipis. Yang kuingat, pipis ini beda dengan pipis saat aku buang air kecil. Ada sensasi geli dan enak yang menjalar ke sekujur tubuh saat aku pipis dengan versi ini.

Setelah saling menenangkan diri dengan rebahan dan mengatur nafas, aku pun mengambil bajuku yang berserakan di lantai. Lalu aku bangun, bersandar pada dinding, dan menutupi badan telanjangku dengan baju. Aku menghela nafas, memandang kosong ke jendela.

Kehilangan keperawanan ternyata ga sesakit itu. Malah, justru aku menikmatinya. Aku ga ingin mempercayai ini, tapi memang itu yang aku rasa. Tapi ada rasa sedih juga, karena aku ga berhasil menjaga amanat yang Umi titipkan padaku. Padahal, selama ini alasanku menarik diri dari pergaulan antar lawan jenis adalah karena ingin menjaga keperawananku dan ga tenggelam dalam pergaulan bebas.

Tapi nasibku justru berada pada skenario terburuk. Aku diperkosa oleh orang asing, yang bahkan aku ga hafal namanya. Maksudku, namanya ada di aplikasi ojek online di HP, tapi serius deh, untuk apa aku menghafal nama orang ini? Maksudku, aku bahkan ga menyangka akan diperkosa oleh dia. Parahnya lagi, aku menikmati perkosaan itu.

Beneran, deh. Aku pikir aku adalah seburuk-buruknya manusia.

Pikiranku sekarang sedang kalut, tapi juga entah kenapa... ada rasa tenang. Gimana kalau aku jadi ketagihan? Gimana kalau rasa enak yang aku alami ini bikin aku jadi mau lagi dan lagi? Gimana kalau aku sudah ga bisa jadi diriku yang kemarin? Yang sebelum dinodai oleh bapak ini?

Tapi pikiran kalutku cuma bertahan sebentar. Karena ketika aku melihat kontol si bapak yang setengah tegang sedang merebah bebas, pikiran kalutku berganti jadi pikiran cabul. Saat pikiran cabul itu memenuhi otakku, badanku juga bereaksi dengan menghadirkan lagi rasa panas yang membuatku jadi... terangsang. Lagi.

Aku pun merangkak ke atas badan si bapak. Aku ga pernah belajar ini sebelumnya, tapi instingku menuntunku untuk duduk di atas selangkangannya. Lalu kutempelkan kontolnya ke bibir memekku yang masih basah, dan kugesekkan pelan.

"Eh, Neng... Saya masih capek, Neng."

Aku tersenyum kecil, lalu menggigit bibir. "Bapak tenang aja. Saya yang goyang. Kalo belum tegang juga, saya gesekin aja ke memek saya. Gapapa, kan?"

Bener, deh. Tiap kali kontol si bapak menggesek memekku, rasa gelinya buat aku menggelinjang dan ketagihan. Aku suka sensasi nikmatnya, dan aku punya firasat... bahwa aku akan ketagihan dengan segala hal cabul ini.


———​


Sayup-sayup suara kokok ayam, perlahan berbisik pelan di telingaku. Kesadaranku perlahan mengumpul. Kepalaku terasa berat dan pening, bahkan penglihatanku terasa berputar. Aku berusaha sadar sepenuhnya.

Kulihat jam di dinding. Oh, sudah pukul setengah enam. Kusibak tirai jendela, dan melihat suasana di luar sudah mulai terang. Ah... aku telat subuhan, sepertinya. Lagipula, aku harus mandi dulu.

Aku... kotor.

Kulihat kembali ranjangku. Si bapak ojol masih tertidur pulas di atasnya. Dengan kondisi telanjang pula. Entah sudah berapa kali aku memintanya menggenjotku semalam. Kayaknya, dia kecapean banget sekarang.

Aku pun mengambil HP yang ternyata kuisi dayanya dari kemarin sore. Aku membuka Whatsapp, lalu mengetik sebuah pesan, yang kutujukan ke wali kelasku. Berkabar bahwa aku ga enak badan dan mau izin sakit hari ini. Setelahnya, aku berlalu menuju dapur. Masih dengan bertelanjang bulat. Aku lapar, dan aku ga peduli soal baju.

Di dapur, kuambil semua bahan masakan yang memungkinkan untuk kumasak dengan cepat. Saat sedang memotong sayur, aku melihat gelas bekas teh manis hangat yang kubuat kemarin sore. Teh manis itu... kalau dipikir-pikir, rasanya agak aneh. Ada rasa manis yang ga biasa. Lalu setelah minum teh itu, badanku jadi panas, dan aku merasa terangsang banget.

Kuingat-ingat lagi. Semalam, aku juga diberi cairan aneh dari botol kecil milik si bapak. Aku coba merangkai petunjuknya, dan langsung sampai pada satu kesimpulan: aku telah diberi obat perangsang.

Aku pun mengangkat bahu.

Yah... ga seburuk itu, ternyata. Aku cuma kehilangan keperawanan, bukan nyawa. Lagian, ga sesakit itu. Malah enak. Jadi, ruginya dimana?

Aku kembali lanjut memasak, untuk dua porsi. Bapak itu perlu mengisi tenaganya. Karena habis ini, aku mau minta dia perkosa aku lagi. Atau, kalau akunya yang minta, jadi namanya bukan perkosa?


———​


"Neng, makasih banyak ya udah diijinin nginep," kata si bapak, sambil memakai jaket ojolnya.

Aku tersenyum ringan. Pikiranku langsung mengingat lagi sesi ngentot kami berdua dari pagi. Di ranjang kamarku, di dapur, ruang tamu, bahkan kamar orang tuaku. Dia juga mengeluarkan cairan putih kentalnya, yang kutahu belakangan namanya sperma—atau peju, dia menyebutnya, di dalam memek, di paha, perut, tetek, punggung, muka, dalam mulut, bibir, ketiak, bahu, lengan, bahkan betis dan kakiku. Bapak ini benar-benar punya stok peju yang banyak, kayaknya. Aku juga diajari banyak gaya ngentot, dan kupakai kesempatannya untuk belajar sebaik mungkin.

Aku mendekati si bapak. Kubelai dadanya, sambil menggigit bibirku dan berkata, "nginep enak, kan, Pak?"

Si bapak ojol cuma bisa tertawa lebar. Lalu kuantar dia sampai pintu depan. Si bapak pun menuju motornya yang terpakir di garasi, lalu saat sedang menghidupkan mesin motor, dia menengok kepadaku. "Neng, kalau...," dia menunjuk perutnya sendiri, beberapa kali, "...nanti hubungin saya aja, ya?"

Tentu, aku mengerti maksudnya. Aku pun mengangguk, pelan. Akan kupastikan kalau aku hamil, dia yang pertama kali kuhubungi. Tadi aku sempat bertukar nomor dengan si bapak. Oh, ya. Namanya Pak Jumadi.

Setelah Pak Jumadi pergi, aku menutup pintu. Kulihat lagi botol kecil yang sedari tadi kugenggam. Botol pemberian Pak Jumadi. Lalu kuingat lagi pesannya soal botol itu. Dia bilang, botol itu berisi obat perangsang yang dia beli dari kios kecil baru yang suka pakai nama-nama Chinese aneh dan menjual obat kuat dan lain-lain itu. Tadinya dia ingin pakai obatnya untuk mengerjai tetangganya yang sudah dia incar dari lama, tapi karena dia kesal karena, menurutnya, gara-gara aku dia jadi jatuh, jadi... ya... dia pakai padaku. Lalu aku jadi ingat, keteledoranku yang lupa mengambil gunting untuk plester roll, dan juga menaruh minumanku di samping minumannya, yang justru memberi Pak Jumadi kesempatan untuk menaruh obat perangsang pada minumanku.

Well... shit happen, sometimes.

Lalu, aku minta botol itu dari dia. Sebelum dia kasih, dia bilang, kayaknya ini termasuk obat keras racikan. Penjualnya mewanti-wanti, kalau satu botol kecil untuk tiga kali pemakaian. Untuk satu orang, cuma boleh satu kali pemakaian. Ga boleh dua kali pakai untuk satu orang yang sama, atau obatnya akan mempengaruhi saraf yang mengatur libido dan membuat orang yang mengkonsumsinya jadi gampang banget terangsang. Bahkan aku pikir, efek obatnya bisa lebih buruk dari itu, tapi Pak Jumadi ga cukup pintar untuk mengerti penjelasan si penjual.

Iya, aku tahu. Ini bagian brengseknya. Pak Jumadi pakai obatnya dua kali ke aku. Itu menjelaskan kelakuan binalku yang sulit diterima nalar dari semalam.

Aku pun tersenyum. Satu senyum yang... aneh. Senyum putus asa, tapi juga merasa bersemangat. Senyum dari orang yang tahu kalau satu babak dalam hidupnya sudah berakhir, tapi cukup terbuka untuk menyambut babak lainnya.

Jadi... ini idenya. Kalau sudah terjadi sekali, mungkin ga akan ada yang kedua kali. Tapi kalau sudah terjadi dua kali, gimana kalau bablas saja sampai tiga kali?

Aku membuka tutup botol itu. Bibirku membuka, menunggu cairan dari botol itu tumpah ke dalam mulutku. Saat beberapa tetes cairan itu memasuki mulut, tanpa ragu langsung kutelan. Lalu kubuang botol kaca kosong itu ke tempat sampah.

Aku kembali melucuti daster yang kupakai, kulempar asal ke lantai. Aku diam sebentar, merasakan sesuatu. Efek obatnya sudah mulai terasa. Aku hafal rasa panasnya.

Aku kembali tersenyum, sebelum kututup pintu kamarku.
==========

==========
Chapter 3 — I Mark This Place as My Territory, With My Pee!





Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi lewat sepuluh. Harusnya jam segini aku sudah di jalan ke sekolah. Tapi karena dari kemarin Abi dan Umi sudah pulang, aku bisa agak santai. Kalau Abi dan Umi lagi ada di rumah, mereka punya kebiasaan untuk nganterin aku ke sekolah. Skemanya selang-seling; hari ini Abi nganterin pakai motor, besok Umi nganterin pake mobil.

Aku lebih suka kalau dianter sama Abi. Karena pakai motor, jadinya bisa sat set sat set. Berangkat agak mepet ke jam masuk sekolah pun ga masalah. Meski Abi adalah tipe bapak-bapak yang kalem, tapi kalau sudah naik motor, kemampuannya setara joki balap liar.

Katanya, dulu sebelum Abi hijrah dan nikahin Umi, Abi tuh termasuk salah satu pentolan geng motor jalanan. Masa mudanya dihabisin dengan balap liar dan taruhan setiap malam. Pertemuannya dengan Umi yang bikin Abi mendadak ninggalin kehidupan liarnya dan ngejar Umi sampai halal. Romantis, ya?

Sementara sekarang, anak satu-satunya terancam jadi maniak seks. Haduh.

Aku ga bercanda saat bilang aku terancam jadi maniak seks. Setelah minum obat perangsang racikan yang melebihi dosis pakai itu, aku merasa ada perubahan besar padaku. Dari mulai perubahan fisik, seperti tetek dan putingku yang kencang terus setiap saat, badanku yang sensitif banget terhadap sentuhan, hingga perubahan psikis macam isi otakku yang selalu mikirin hal mesum 24/7, dan aku jadi mudah terangsang tanpa kenal kondisi dan waktu. Aku jadi susah fokus ke hal-hal lain, termasuk pelajaran.

Parahnya lagi, kalau aku tahan birahiku, aku justru makin ga fokus. Di tingkatan yang lebih ekstrem, kepalaku bisa pusing dan sakit. Aku jadi gampang stress kalau nafsuku ga tersalurkan. Sebaliknya, kalau aku sudah puasin nafsuku, rasa lega itu datang, jadi aku bisa rileks. Tapi itu juga ga lama, karena hanya dalam hitungan menit, aku terangsang lagi.

Dua hari kemarin saat absen sakit, aku gunain waktuku di rumah untuk eksplor kondisi baruku. Tiap selesai bermasturbasi, aku bisa merasa rileks sampai kira-kira lima belas menit hingga setengah jam. Ya, kalau aku mau lanjut, aku bisa banget terangsang dan masturbasi lagi habis orgasme. Tapi karena aku ingin tahu dibatas mana sampai mana aku bisa menahan nafsuku, jadi aku mencoba ga masturbasi lagi. Yang kuingat, aku bisa bertahan sampai kira-kira maksimal tiga jam. Lebih dari itu, aku akan sulit fokus, gampang marah, berkeringat dingin, badan demam dan muka memerah, juga sering gemetar.

Persis seperti orang yang lagi sakau.

"Dea, udah siap semua?" tanya Abi, sambil memakai jaket jeans lusuh kesayangannya.

Aku mengangguk, lalu salim ke Umi yang sudah menunggu di ruang tamu, setelah itu aku menyusul Abi yang kini sedang menghidupkan mesin motornya. Kulihat punggung Abi yang lebar. Punggung seorang bapak. Aku berandai-andai, sebagai pemimpin keluarga, pasti banyak beban yang dia pikul di pundaknya.

Tanpa sadar, aku tertawa getir. Menertawakan diri sendiri.

"Umi, Dea berangkat dulu, ya," kataku pada Umi, "Assalamu'alaikum."

Umi melambaikan tangan dengan ringan, padaku dan Abi. "Wa'alaikumsalam. Baca do'a di jalannya, ya, sayang."

Aku naik ke jok belakang motor, lalu memegang jaket Abi erat-erat. Habis keluar pagar, aku tahu aku akan kembali ngerasain gimana tegangnya balap liar sama Abi.

Kulirik jam tangan sekilas. Aku punya waktu kira-kira dua jam lebih untuk menahan hasrat seksualku yang menggebu-gebu, terhitung sejak terakhir kali bermasturbasi di kamar mandi setengah jam lalu. Kalau aku bertahan sampai batas waktunya, maka aku akan ngerasain efek psikologis ini di waktu jam pelajaran kedua. Pikiran taktisku berputar cepat. Aku harus sudah bisa masturbasi di akhir jam pelajaran pertama, supaya bisa lebih tenang belajar di sekolahnya. Lalu tinggal ngelakuin lagi di interval selanjutnya, dan aku bisa melewati hari ini tanpa ada masalah.

"Sip! Ayo, jalan, Bi! Dea udah siap!"

Abi menggeber motornya, lalu mengganti gigi. "Semangat banget kamu. Ini baru anak Abi!"


———​


Sekolahku sebenarnya termasuk sekolah negeri favorit di daerahku. Karena sekolah favorit, golongan muridnya gampang ketebak: si pintar dan berprestasi, si anak orang kaya, dan si paling keterima di sekolah lewat jalur anak guru atau pejabat penting.

Karena ada golongan macam begini di sekolahku, makanya kelakuan murid-muridnya juga bisa ditebak. Murid yang pintar dan ga macem-macem itu seragamnya biasa aja. Tahulah, yang gombrong, kerahnya kaku dan ga suka dikecilin itu. Murid yang kaya, seragamnya juga bagus-bagus, cewek-ceweknya suka pakai seragam yang dikecilin sampai ketat dan kelihatan lekuk tubuhnya, ditambah ada aja aksesoris branded yang dipakai tiap hari. Lalu, ada golongan murid pintar dan ga kaya, tapi juga mau gaul. Jadinya mereka dijadikan kunci jawaban sama kelompok murid-murid yang kaya. Yang terakhir, ini yang nyebelin. Si anak guru dan pejabat. Tengil, gayanya urakan, seragamnya sengaja dibikin kayak gaya preman, dan sikapnya otoriter. Kalau bermasalah dengan mereka, nanti akan diaduin ke orang tuanya, yang tentu saja, menjabat jadi guru di sekolahku. Gurunya juga sama bobroknya, ga bisa bersikap objektif. Kalau anaknya berantem sama murid lain, si murid lainnya itu yang nilainya dibikin jelek.

"Hai, Dea. Dua hari ini kenapa ga masuk? Kata Mami, kamu sakit, ya?"

Aku melirik malas ke asal suara. Cowok yang nyapa aku ini namanya Rian. Badannya kurus, jerawatan, rambutnya sering lepek. Ga enak diliat, pokoknya. Tapi kelakuannya tengil banget, mentang-mentang ibunya jadi guru di sekolah ini. Sialnya, ibunya itu wali kelas aku.

"Kepo banget kamu, Tono. Kalo udah tau aku sakit, kenapa masih nanya?"

"Ih, pagi-pagi udah jutek aja. Untung akunya sayang sama kamu, jadi gapapa kalo kamu manggil aku Tono. Itung-itung, panggilan sayang." Ih... dia ketawa-tawa lagi.

Namanya Adriantono. Aku ga hafal nama panjang, ga penting juga. Dia selalu maunya dipanggil Rian, karena menurut dia Tono itu nama yang kampungan. Sok kota banget emang manusia modelan begini.

Oh iya, aku pakai 'aku-kamu' ke Rian, Tono, apalah itu, bukan berarti karena kita deket, ya. Aku terbiasa pakai 'aku-kamu' ke orang yang aku kenal, mau sebenci apapun aku ke orang itu. Untuk ke orang yang lebih tua, aku menyebut diri sendiri dengan 'saya', dan menyebut mereka dengan menggunakan awalan 'Pak, Bu, Mba, Mas' lalu disertai nama mereka. Kalau ke orang tua sendiri, sih, pakainya nama sendiri.

Udah ga aku gubris si Tono yang masih sibuk ngegombal. Tujuanku cuma ke kelasku aja. Kalau sesuai rencana, aku akan taruh tas ranselku di kursi, lalu pergi ke toilet siswa. Tahu sendiri lah mau ngapain.

"Deaaaaa! Kemana ajaaaaaa?" tanya beberapa teman sekelasku yang cewek, begitu aku masuk ke kelas.

"Aku sakit. Ini juga masih ga enak badan, tapi dipaksain masuk," balasku, tentu aja bohong. Mana ada orang sakit tapi masih ngentot dan masturbasi seharian penuh.

"Ih, udah ga usah dipaksain. Kamu mah, takut banget disusul nilainya sama Freddy."

Aku spontan menengok ke arah orang yang habis disebut namanya. Yap, di sanalah dia, duduk di bangku paling depan di baris kedua. Cowok kuper yang masuk ke golongan murid pintar tapi ga gaul. Aku nyebut dia si nomor dua.

Siapa si nomor satu? TENTU SAJA AKU, HAHAHAHAHAHAHA.

Ehem.

Saat Freddy tahu kalau aku nengok ke arah dia, cowok itu langsung betulin letak kacamatanya pakai jari tengah. Anjir... gaya wibu. Malesin.

"He can take the first podium or whatever, I think I don't care anymore," gumamku, lalu jalan menuju kursiku sendiri. Kutaruh tasku, lalu lanjut lagi keluar kelas.

Baru saja kaki kananku menginjak ubin keramik pertama setelah melewati pintu kelas, bel tanda masuk sekolah berbunyi. Aku pun spontan mengepalkan tangan. Mampus. Mana memekku udah mulai kerasa berdenyut-denyut minta disentuh, lagi.

Akhirnya, demi menjaga citra siswa teladan, aku pun urung ke kamar mandi dan balik badan. Kembali ke mejaku.


———​


KOK TIBA-TIBA ADA ULANGAN FISIKA DADAKAN, SIH?! Mampus banget, udah ga belajar akunya, harus nahan horny juga, terus ga boleh ke kamar mandi lagi. Guru Fisikaku memang terkenal disiplin kalau sedang ulangan. Siswa ga diperbolehkan ke kamar mandi sebelum ulangan selesai. Jadinya, aku cuma bisa merapatkan paha buat nahan rasa geli dan gatal di memekku, yang sudah basah banget dan ga sabar minta diapa-apain ini.

Lagian juga, kalau aku ke kamar mandi untuk masturbasi, aku yakin pasti akan lama. Masalahnya, aku belum selesai ngerjain soal-soalnya. Kalau aku tinggal, terus aku lupa waktu, nanti yang ada malah kena remidial akunya. Satu-satunya cara, ya selesain soalku dan tunggu durasi ulangannya kelar.

"Dea, Ibu diemin dari tadi, tapi kok kamu ga ada kesadaran untuk lepas jaket kamu, ya?" tanya si guru fisika, saat aku lagi berusaha fokus ngerjain soal terakhir.

Aku melongo dulu, sebentar. "Eh... anu, Bu. Itu... saya—"

"—Saya apa?" potong si ibu guru.

"Saya lagi sakit, Bu. Lagi demam. Kalo lepas jaket, saya kedinginan."

Si ibu guru langsung mendekat ke mejaku. "Iya, nih. Kamu keringet dingin," katanya, sambil perhatiin keningku, yang memang aku rasain lagi berkeringat. Sikapnya pun langsung melunak. Kombinasi citra siswi teladan, lagi dalam kondisi sakit, dan muka memelasku sukses bikin bu guru ga galak lagi. "Kamu ada batuk, ga?"

Aku menggeleng.

"Demam diatas 36,5 derajat?"

Aku menggeleng lagi.

"Pilek? Hilang penciuman? Pengecap?"

"Bu, saya cuma demam biasa. Ga covid, kok."

"Ibu cuma menjalankan SOP. Tindakan preventif." Bu guru kayaknya ngelirik ke lembar ujianku, lalu berkata, "coba diselesaikan dulu soal terakhirnya, Dea. Nanti Ibu ijinkan kamu ke UKS. Nanti Ibu bilang ke guru lainnya setelah jam pelajaran ini."

Aku. pun. tersenyum. lebar. Ga dapet kamar mandi, langsung dapet UKS. Bigger space, better place.

Ga sampai lima menit setelah itu, aku langsung nyerahin lembar ujianku ke si bu guru. Saat aku nyerahin, aku denger suara bisik-bisik di belakangku.

"Gila si Dea, udah selesai aja."

"Otaknya laen emang."

"Dia mah hobi bikin ngiri orang lain."

Aku tersenyum bangga mendengarnya. Komentar-komentar sirik itu lebih seperti pujian bagi kupingku.

"Aku duluan, ya, kawan-kawan mediokerku!" ucapku, sambil melambaikan tangan ke teman-teman kelasku yang menyedihkan.


———​


Tahu, ga, alasan kenapa aku pakai hoodie ke sekolah hari ini? Tentu saja aku pakai seragam juga di baliknya. Kerah seragamku menyembul dari lubang leher hoodieku, kok. Masalahnya adalah, aku ga pakai kaos dalam dan bra di balik seragamku! Kalau hoodienya aku buka, ya kelihatan jelas dong kalau aku ga pakai bra.

Jadi, ketika sampai di dalam UKS, langsung saja kubuka hoodieku. Ah... aku merasa lebih bebas. Untung saja lagi ga ada yang menjaga UKS, jadi aku bisa bebas buka hoodie dan membiarkan putingku mencuat hingga timbul di seragam. Untuk jaga-jaga, kukunci pintu UKS dari dalam, jadi aku akan tahu kalau ada orang yang mau masuk, dan memberi cukup waktu untuk beberes.

Kupreteli kancing seragamku, hingga lepas semua. Sekarang, belahan tetekku makin bebas terekspos lewat celah seragam yang membuka. Nah, ini bagian pentingnya. Selain ga pakai bra, aku ke sekolah juga ga pakai celana dalam. Jadi, di balik rok lebar dan panjang sebetis yang kupakai, ga ada apa-apa lagi selain kulitku.

Sumpah, rasanya deg-degan banget ke sekolah ga pakai daleman. Ada rasa takut ketahuan, tapi juga ada sensasi excited gitu. Gimana, ya... rasanya tuh, kayak, aku harus bersikap biasa aja, tapi aku tahu kalau aku ketahuan, maka tamat reputasiku. Ini memberi sensasi berlebih yang bikin aku makin horny.

Aku pun mencopot dasiku, lalu mengikatkannya ke kepala belakang, membekap mulut. Aku ingin memastikan kalau suaraku ga keluar dari ruangan ini. Untuk proteksi ganda, kupakai kembali maskerku.

Setelahnya, aku duduk di atas ranjang UKS. Kebetulan, ranjang tempat aku duduk berseberangan dengan lemari peralatan kesehatan yang mepet ke tembok di belakangnya, dan berhadapan persis denganku. Di salah satu pintu lemari itu ada cermin yang cukup panjang, sehingga aku bisa melihat pantulan diriku sendiri yang sedang mengangkang lebar sambil mengelus-elus memekku yang sudah banjir.

"Uuuhhh... udah ga sabar minta disentuh, ya?" Aku mulai membelai bibir memekku, dan seketika rasa merinding itu hadir. "Nngghhh... ga pernah ga enak emang ngelus memek sendiri..."

Karena sudah horny berat, aku ga sanggup untuk mengatur tempo masturbasiku. Kugesek memekku dengan cepat, dan beberapa kali aku menggelinjang heboh saat ada bagian tertentu di memekku yang tersentuh. Aku yang penasaran, langsung memelankan tempo gesekanku, lalu meraba pelan. Mencari-cari bagian yang enak itu.

"Ini... apa, kayak kacang gini bentuknya? Lucu banget, kacang pink."

Aku terheran saat menunduk, melihat ada bagian daging kecil yang mencuat, berada di pertemuan bibir memek bagian dalamku, tepat beberapa senti di atas lubang kencing. Saat belajar bagian reproduksi wanita, aku menghafal nama-nama berikut letak bagian organ wanita di buku pelajaran, tapi selama ini ga pernah berani untuk melongok ke milikku sendiri. Saat masturbasi kemarin pun, aku cuma fokus bermain di lubang memekku saja. Jadi aku bingung, daging kecil mirip kacang polong ini tuh apa.

Lalu aku ingat, bahwa ada bagian kecil bernama klitoris yang terletak pada bagian anterior vulva. Bagian ini begitu kecil, hingga seringkali tersembunyi saat labia minora menutup. Aku pun meraba bibir memek bagian luar, lalu berasumsi kalau bagian itu adalah labia majora. Saat aku membuka labia majora, ada lapisan lainnya yang lebih kecil, yang aku asumsikan adalah labia minora. Kalau aku ikuti jalurnya ke atas, maka aku akan menemukan klitoris di pertemuan labia minora. Tapi... klitorisku kok kayak beda, ya? Bentuknya kayaknya lebih besar dari yang ada di buku? Kayak bengkak dan memerah gitu.

"Mmmppphhhhh..."

Saat kusentuh bagian itu, meski pelan, aku langsung seperti merasa tersetrum! Aku melenguh panjang. Klitorisku enak banget pas disentuh! Gila, rasanya kayak langsung melayang. Geli, enak, tapi bikin nagih. Akhirnya kusentuh lagi. Lalu aku melenguh lagi. Kuulangi lagi. Lagi...

"Hhmmmpp... nngghhh... uuuhhh... uuuhhh... aaahhh... mmmmhhh..."

Bekapan dasi pada mulutku sukses membuat desahanku tertahan. Karena yakin ga akan terdengar ke luar ruangan, aku meneruskan menyentuh klitorisku. Kali ini, aku berimprovisasi. Kuputar-putar kacang kecil itu, habis itu kugesek ringan, dan saat nafsuku sudah memuncak, aku menggeseknya dengan cepat. Desahanku makin menjadi-jadi, dan badanku menegang. Aku terus memainkan klitorisku sampai tiba rasa enak bergulung-gulung yang mengumpul di memekku.

"HHHNNGGGG... NNGGGHHHHHHHHHHHH... HMMMPPPPPPPPP... OOOOOOHHMMPPHHH..."

Aku pipis, deras banget ke lantai! Pipis beningku muncrat beberapa kali, membasahi beberapa petak ubin di depanku. Badanku bergetar heboh menyambut orgasme keduaku hari ini. Mataku melotot, melihat pipisku yang masih terus muncrat ga karuan ke lantai. Sementara kedua tanganku mencengkram kencang sprei ranjang UKS.

Setelah badai orgasme mereda, dan pipisku berhenti, aku langsung merebah ke ranjang. Kedua kakiku masih mengangkang, masih dalam kondisi melipat. Aku berusaha mengatur nafas, tapi rasa bersemangat karena menemukan stimulasi baru membuatku ga sabar dan langsung memulai sesi masturbasi berikutnya.

Lalu, aku pipis lagi. Berkali-kali. Kueksploitasi habis-habisan klitorisku, dan tiap orgasme yang datang karenanya membuatku pipis yang heboh dan berantakan. Aku sudah lupa hitungan berapa kali aku orgasme. Yang jelas, saat aku merasa sudah cukup puas dan bangun dari posisi rebahan, aku langsung bingung saat melihat air bening yang menggenang di lantai samping ranjangku.

"UKS ini punya alat pel, ga, ya?"
==========

==========
Chapter 4 — School Fun





"Coba lidahnya dijulurin."

Aku langsung ngejulurin lidah, mengikuti intruksi Bu Siska. Untuk beberapa saat, Bu Siska mengamati lidahku sambil sesekali mengeluarkan suara "hmmm" yang aku ga tau maksudnya apa.

"Huhah hehom, Hu?"

"Udah, kok." Bu Siska lalu duduk di sampingku, di ranjang UKS.

"Jadi, kesimpulannya gimana, Bu?"

"Ya... setelah Ibu amati, lidah kamu panjang juga, Dea."

Aku langsung mengernyit. "Yah, Bu... kirain tadi mah meriksa kesehatan aku, kayak dokter-dokter gitu. Kan kalo dokter suka ngeliat ada indikasi penyakit dari warna lidah yang berubah, tuh. Kirain Ibu juga gitu, tadi."

Bu Siska ketawa mendengar protesku. Teteknya yang gede banget itu berguncang-guncang mengikuti gerak tawanya. "Ya tadinya emang gitu, maksudnya. Cuma Ibu sekalian iseng." Bu Siska kemudian memberiku termometer suhu badan. "Dijepit di ketiak. Kalo warna lidah kamu normal, kok."

Aku kembali melakukan intruksi Bu Siska. Karena badanku sekarang sensitif banget, jadi saat termometer menyentuh ketiakku, langsung terasa geli yang menyengat di bagian itu. Aku hampir kelepasan mau mendesah, tapi buru-buru kutahan supaya Bu Siska ga curiga.

"Berapa lama ini dijepitnya, Bu?"

"Satu menit, ya." Lalu Bu Siska beranjak dari ranjang, menuju lemari. Dibukanya lemari, mencari sesuatu. Kayaknya sedang mencari obat. "Ibu suka sebel, deh. Kalau abis ambil obat, suka pada ga taruh di tempatnya lagi. Kan jadi susah nyarinya."

"Emang aku mau dikasih obat apa?"

"Parasetamol aja, dulu. Badan kamu panas, soalnya."

"Bu, udah semenit." Aku buru-buru ngelepasin termometer dari jepitan ketiakku. "Nggg... ini berapa, ya?"

"Mana, coba Ibu liat." Bu Siska mengambil termometer yang kusodorkan. Raut wajahnya langsung berubah heran. "39,6 derajat. Ini kamu serius cuma ngerasa panas aja badannya, Dea?"

Aku mengangguk, polos.

"Ga ada keluhan lain? Ini badan kamu panas banget, bukan anget lagi. Coba tes lagi," katanya, sambil menyodorkan termometernya lagi padaku.

Kuulangi proses mengukur suhunya, dan hasilnya tetap sama. Bu Siska keheranan, karena seharusnya dengan suhu badan setinggi itu, aku sudah kejang-kejang. Tapi aku justru menunjukkan gejala sebaliknya. Tetap tenang, ga merasa demam, dan hanya sesekali berkeringat dingin. Tapi aku memang masih merasakan rasa panas di seluruh badan seperti hari-hari kemarin, sih. Bukan panas demam, lebih ke... panas horny.

"Nih, parasetamolnya diminum dulu. Ibu mau bikin surat pengantar ke guru piket, supaya kamu diijinin pulang lebih dulu."

"Kan... aku ga kenapa-kenapa, Bu."

"Dea, badan kamu tuh panas banget. Ibu yang khawatir kalau kamu masih ngotot tiduran di UKS, bukannya ke dokter."

"Kan Ibu sering obatin murid-murid yang dateng ke UKS, jadi sama aja kayak aku ke dokter, kan?"

"Dea," Bu Siska mencubit pipi bulatku, "Ibu tuh guru Biologi, bukan dokter. Ngaco amat sih, kamu."

Kalau aku disuruh pulang, berarti aku ga bisa lagi masturbasi di UKS sampai sisa jam pelajaran, dong? Masalahnya, aku sudah horny lagi, dan aku ga akan bisa bebas masturbasi kalau di rumau, karena ada kedua orang tuaku.

Tapi untung banget Bu Siska datang ke UKS setelah aku selesai bersih-bersih lantai dari pipisku sendiri. Pintu yang kukunci dari dalam, kasih aku cukup waktu untuk beresin seragamku. Lalu, karena ga ada alat pel di ruangan ini, jadi aku pakai alternatif untuk bersihin lantainya. Coba tebak pakai apa? Jaketku. Sekarang sebagian jaketku basah. Mana sedang kupakai untuk nutupin seragamku yang tembus pandang, lagi.

"Kamu tunggu di sini, ya. Ibu mau ke meja piket guru, ngasih surat pengantar. Nanti kalau kamu sudah boleh pulang, kamu bisa telepon orang tua kamu untuk minta jemput. Oke?"

Aku mengangguk pelan. Lalu kuamati Bu Siska yang sedang berjalan ke pintu. Kuamati lebih detil. Bu Siska ini punya badan yang seksinya kayak pemain bokep. Teteknya gede banget, sampai seragam gurunya kelihatan sesak dan ketat. Bagian lain yang ketat di seragam Bu Siska adalah pantatnya. Besar, bulat, dan kelihatan menggoda. Saat Bu Siska berjalan membelakangiku, pandangan mataku ga bisa berpaling dari pantatnya.

Sepeninggal Bu Siska, aku jadi mengkhayal yang engga-engga. Ngebayangin kalau Bu Siska telanjang, pasti badannya seksi banget. Teteknya yang gede itu jadi menggantung karena sudah ga disangga bra. Aku jadi ngebayangin, kalau aku lagi ngeremesin tetek Bu Siska. Ah... rasanya pasti enak banget di telapak tanganku.

Bayangin Bu Siska bikin aku makin horny. Apalagi kalau inget wajah cantiknya. Rasanya... aku pengen cium bibirnya. Mau aku lumat, basahin pake liur. Duh, fantasiku jadi makin liar! Gila, gila, gila! Padahal Bu Siska dan aku tuh sama-sama cewek, tapi kenapa aku juga bisa terangsang sama Bu Siska?

Apa ini juga efek obat perangsangnya, jadi bikin aku bisa terangsang dengan gender apapun? Ga tau, deh. Yang jelas, sekarang aku habis menyibak rok ke atas, dan mulai elus-elus memekku lagi sambil ngebayangin Bu Siska. Aku tahu, aku tahu. Harusnya aku ga begini. Aku bisa aja ketahuan Bu Siska, atau murid lain yang masuk ke ruangan ini. Maksudku, bahkan Bu Siska ngebiarin pintu UKS terbuka, dan sekarang aku lagi masturbasi sambil menghadap ke pintu!

Tapi sensasi masturbasi sambil harap-harap cemas takut ketahuan justru bikin aku makin dan makin horny! Aku justru makin nekat. Kupejamkan mata, biar bisa lebih fokus ngebayangin Bu Siska. Sementara kedua tanganku aktif ngeremesin tetek dan gesekin memekku. Rasa cemas takut ketahuan orang lain, justru malah bikin aku sengaja ingin ketahuan.

"Ahhh... ahhh... Bu... Ibu... badannya seksi banget... ngghhh... ga tahan banget liat badan Ibu, sshhh..."

Aku mainin lagi klitorisku, diputar-putar dan dipilin-pilin. Aku pun mendesah keenakan saat kacang itu kumainin. Sementara kedua tanganku sibuk dengan puting dan klitoris, kedua kakiku menegang, jadi tumpuan bagi pantatku yang sekarang spontan ku angkat tiap kali rasa enak dari klitoris menjalar ke seluruh badan.

"Bu... ahhh, ahhh... Bu Siska... aku... aku... m-mau... mmm... oohh, oooh, ooohh... Bbbuuu... akuuUUUUU PIPPPIIISSS—"

Buru-buru kugigit lengan kiriku agar suara erangan orgasmeku ga keluar ke luar ruangan. Gigitanku makin keras, seiring rasa enak yang datang bertubi-tubi menghajar memekku. Meski masih memejam, tapi aku bisa rasain jari-jari dan telapak tangan kananku basah oleh muncratan pipisku sendiri, dan aku pasrah saja kalau pipisku tumpah bermuncratan ke sprei.

Orgasmeku bikin aku lupa segalanya. Yang ada di kepalaku cuma rasa enak yang bikin aku bahagia.

Setelah badai orgasme mereda, badan tegangku yang terangkat-angkat tadi, langsung merebah lemas ke ranjang. Mataku memejam erat, bibirku megap-megap mencari udara. Aku mencoba atur nafas. Satu, dua. Satu, dua. Pelan, pelan...

Spontan, aku pun tersenyum. Ternyata bermasturbasi sambil bayangin orang lain itu menambah sensasi enaknya, deh. Aku jadi ketagihan, dan mau ngelakuinnya lagi di rumah. Tentu, bahan fantasinya masih Bu Siska. Masih banyak skenario yang mau kubayangin dengannya di dalam kepalaku.

Tapi, tepat saat aku mulai membuka mata lagi, aku melihat orang yang tadi kujadikan objek fantasi, sekarang sedang berdiri tepat di sisi ranjangku. Kedua alisnya naik, bibirnya tersenyum lebar. Lalu, dia menggelengkan kepala.

"Kenapa manggil-manggil Ibu, Dea? Kamu lagi bayangin Ibu lagi ngapain di kepala kamu?" tanya Bu Siska, dengan nada meledek.

Aku... langsung meneguk ludah. Tenggorokanku tercekat, ga bisa bersuara. Bahkan, bibirku terlalu kaku untuk membuka.


———​


Di ruang UKS yang terkunci dari dalam dan hanya ada aku dan Bu Siska, aku menunduk malu sambil menceritakan semuanya ke Bu Siska. Ga semuanya banget, sih. Ada bagian yang terpaksa harus aku rombak, supaya masalahnya ga melebar. Aku mengaku ke Bu Siska, kalau tiga hari yang lalu, aku ga sengaja minum obat perangsang cair yang kukira obat suspensi untuk maag. Efek obatnya begitu kuat, sehingga aku jadi terangsang terus tiap waktu, bahkan setelah berhari-hari.

Aku menghilangkan bagian Pak Jumadi, dan perkosaan yang dia lakuin. Sisanya, ya... aku jujur saja. Sudah kepalang basah. Aku juga jujur ke Bu Siska, kalau sebelum Bu Siska datang menengokku di UKS, aku sudah masturbasi berkali-kali.

"Jadi, dari asumsi kamu, panas badan kamu yang sampai 39 derajat—"

"—39,6 derajat, Bu."

"Iya, segitulah," Bu Siska menghela nafas panjang, "jadi itu karena efek panas dari obat, yang bikin kamu terangsang terus-menerus?"

Aku mengangguk malu.

"Terus, udah berapa kali kamu masturbasi hari ini?"

Sekarang, aku mengangkat bahu.

"Kamu lupa hitungannya? Oke, Ibu ganti pertanyaannya. Kapan aja... masturbasinya?"

Aku berpikir sejenak. Kuhitung-hitung momen masturbasiku. "Di kamar pas baru bangun, di kamar mandi... terus... sama di UKS ini. Udah, itu aja, Bu."

"ITU. BANYAK. YA. DEA." Bu Siska menghela nafas lagi. "Maaf, Ibu kekencengan ngomongnya. Tapi Dea, Ibu harus peringatin kamu, terlalu banyak masturbasi itu ga baik buat fisik dan psikis kamu."

"Iya, aku tau, Bu. Di artikel yang aku baca juga bilangnya gitu."

"Kalau udah tau, kenapa masih ga bisa dikendaliin hasratnya?"

"Ya... ga bisa ketahan lama-lama, Bu. Aku udah coba, tapi susah. Kalau aku berusaha ga masturbasi, aku jadi gampang panik, stress, susah fokus, pikiran isinya yang jorok-jorok mulu. Susah, Bu."

Bu Siska tampak memijit-mijit keningnya. Kayaknya dia pusing mikirin aku. Ini bikin aku jadi merasa bersalah. Akhirnya, aku menunduk lagi. Malu. Ga berani tatap Bu Siska.

"Siapa aja yang tau kelakuan kamu?" tanya Bu Siska, kini suaranya lebih dipelanin.

"Ga ada. Cuma aku aja." Ga deng, ada Pak Jumadi yang tahu. Tapi ga mungkin aku bilang, kan?

"Oke. Ibu juga akan jaga ini tetap jadi rahasia. Tapi Ibu minta, Ibu minta tolong banget sama kamu, Dea, jangan diulangi yang tadi."

Aku pun heran dengan maksud omongannya. "Masturbasinya yang jangan diulangi, Bu?"

"Bukan, sikap ga hati-hati kamu itu." Bu Siska menoleh ke arah pintu UKS, bikin aku ikut menoleh ke arah yang sama. "Kalau aja tadi bukan Ibu yang masuk ke sini, bisa habis kamu, Dea. Kamu itu siswi berprestasi di sekolah, bisa hancur citra kamu kalau kamu ketahuan lagi... ya, gitu lah."

Nggg... aku jadi makin heran, nih. "Jadinya, aku tetep boleh masturbasi, Bu?"

"Engga, ga boleh. Harusnya ga boleh. Tapi kalau menurut kamu itu susah, tolong, hati-hati banget ngelakuinnya. Ngerti?"

Aku mengangguk tanda mengerti. Lalu, dimulailah ceramah Bu Siska soal dampak mengerikan masturbasi. Ceramah yang berlangsung puluhan menit, dan ga fokus kudengarkan karena ada distraksi yang menggangguku: wangi parfum yang dipakai Bu Siska.

"...Jadi, kita akan cari cara supaya bisa menetralisir efek obat perangsang yang kamu minum. Kamu masih simpen botolnya, kan? Pasti masih ada sisa obatnya, dan Ibu bisa meneliti kandungan di dalamnya apa aja, dan jadi bisa tau cara kerja obatnya mempengaruhi bagian apa aja di badan kamu. Besok, Ibu minta kamu bawa botolnya ke sekolah, terus kasih ke Ibu. Ngerti, ga?"

Ah... ini wangi parfum apa, sih? Enak banget wanginya, bikin aku pengen ngendus langsung dari sumbernya aja. Bukan, bukan botol parfum sumbernya, tapi sumber yang lain. Badan Bu Siska.

"Dea? Halo?"

"Oh, iya Bu? Kenapa, Bu?"

"Kamu ga dengerin Ibu ngomong ya dari tadi?" tanya Bu Siska. Mukanya tampak kesal.

"Denger kok, Bu. Sampe di 'bawa botolnya ke sekolah', kan?"

"Terus apa yang kamu bengongin?"

"Parfum Ibu. Wanginya enak banget, kerasa sampai ke kepala, Bu," jawabku, lirih. Nafasku mulai memburu.

"Oh, ini merk—eh, Dea? Kamu ga...."

Aku menunduk. Kedua tanganku saling mengepal. Pahaku saling merapat erat. "Aku... horny, Bu. Maaf. Maaf."

Bu Siska, lagi-lagi menghela nafas panjang. Entah sudah keberapa kali dia menghela nafas panjang saat bersamaku hari ini. "Karena wangi parfum Ibu?"

Aku mengangguk, pelan. "Maaf, Bu. Tiba-tiba aja... dan ga bisa aku kendaliin..."

"Tapi kata kamu, ada interval dari habis orgasme sampe kamu terangsang lagi, kan? Berarti bisa kamu tahan, dong, dengan asumsi kamu terakhir masturbasi itu yang pas kamu ketahuan Ibu."

Sekarang aku menggeleng. "Ga tau, Bu. Ini rasanya beda. Kepala aku pusing, ga bisa... fokus sama sekali. Terus... detak jantung aku cepet banget. Rasa mau masturbasinya kuat banget, Bu."

Aku terus menunduk, ga berani lihat Bu Siska. Cukup lama hening berada di antara kami. Semakin lama heningnya, semakin aku ga bisa menahan hasrat ingin masturbasi. Tapi aku terlalu takut sama Bu Siska untuk nekat ngelakuin itu sekarang juga. Tapi, tapi... makin kutahan, makin tersiksa rasanya.

Setelah sekian hening, Bu Siska akhirnya menghampiriku. Dia menyentuh bahuku. Ada rasa kesetrum yang intens saat Bu Siska menyentuhku, dan membuat rasa hornyku meningkat drastis.

"Dea, kamu bisa... ngelakuin itu di ranjang. Ibu ijinin," kata Bu Siska, yang bikin aku langsung ngelihatin dia dengan tatapan ga percaya.

"Ngelakuin... apa, Bu?" tanyaku, retoris. Aku tahu maksudnya, tapi cuma mau meyakinkan saja.

"Ya... itu, supaya kamu rileks. Ibu temenin."

Aku menatap Bu Siska lebih lama. Pipinya memerah, kelihatan jelas di wajah cantiknya yang putih. Bu Siska kadang menggigit bibirnya sendiri, lalu ketika sadar kuperhatikan, dia langsung salah tingkah.

"Kalau kamu bengong, nanti Ibu berubah pikiran."

Aku mengangguk mengerti, lalu bangun dari kursi tempat kami mengobrol, untuk menuju ranjang. Kurebahkan diriku, membuat diriku tiduran senyaman mungkin. Sementara Bu Siska menarik kursi untuk duduk di sebelah ranjangku.

Jujurnya, sih, ada rasa malu karena mau masturbasi saja harus dilihat guruku sendiri. Tapi rasa horny ngalahin rasa canggungku. Kulebarkan paha, dan kusingkap rok abu-abu. Memek basahku pun kini terekspos bebas. Lalu, kumulai sesi masturbasiku dengan mengelus-elus memekku, pelan. Kunikmati sentuhan erotis ini. Jari-jariku bergerak perlahan menyusuri belahan memekku yang sudah berlendir. Lalu kuarahkan jari telunjuk dan tengahku untuk menggesek bibir memek. Kutekan-tekan juga bagian itu, dan kadang kuapit bagian bibir luar memekku dengan dua jari karena gemas dengan bentuk memekku yang tembem itu.

Aku ga berani menatap Bu Siska secara langsung, jadi aku curi-curi pandang ke arahnya lewat ekor mata. Bu Siska tampak sedang mengamatiku bermasturbasi. Mukanya kelihatan serius banget. Ga ada yang bicara di antara kami.

Ku mulai lagi rangsangan yang lebih intens pada memekku. Aku mulai berani mengelus-elus klitorisku yang sudah membengkak. Tiap kusentuh, aku mengejang geli. Klitorisku enak banget saat disentuh, dan aku langsung ketagihan ingin menyentuhnya lagi. Terus... kusentuh bergantian antara klitorisku, lalu turun ke bawah ke lubang memekku, kumasukkan jari telunjukku ke dalam lubang yang telah basah itu, kukeluarkan lagi... kuoles cairan memekku ke sekitar bibir memek, dan terakhir ke klitorisku.

"Hhmmmpp... aahhh, aahhh... uuuhhh... ssshh... aaahhh..."

Aku mulai berani mendesah di hadapan Bu Siska. Kuulangi pola stimulasi pada memekku, sampai seluruh bagian memekku sudah basah dan licin. Lalu, kupercepat temponya. Ini membuat desahanku jadi makin kencang dan liar.

"Ahhh... enak... ooohhh... geli... ahhh, ahhh... klitorisnya enak... aauuuhh... nngghh..."

Karena Bu Siska diam saja, jadi aku berinisiatif untuk bertanya. "Bu... boleh, ga... aku... nggghhh... bayangin Ibu... lagi?"

Bu Siska ga menjawab dengan kata-kata. Cuma anggukan pelan yang dia beri sebagai tanda persetujuannya. Aku yang menengok ke arahnya saat Bu Siska mengangguk, langsung tersenyum lebar.

"Aaahh... Ibu wangi... aku suka banget wanginya... bikin... bikin... ooohhh... bikin horny, Bu... nngghhh... tau ga, Bu? Aku suka banget... ahhh, ahhh... sama badan Ibu. Seksi, montok... padahal... padahal aku juga cewek, Bu... tapi aku suka banget sama badan Ibu."

Aku hampir ga percaya kalau kata-kata sekotor itu keluar dari mulutku, dari aku yang selama ini dikenal santun dan penuh prestasi, yang alim dan bisa jaga ucapan. Tapi kontradiksi seperti ini yang justru makin bikin aku horny. Lalu, aku mulai fokus memasukkan jariku. Sambil mencolok-colok memek dengan satu jari, desahanku jadi makin liar.

"Aku lagi bayangin Ibu telanjang... bayangin badan seksi Ibu aku peluk... aku jilatin... terus... ke tetek Ibu... teteknya gede... aku bisa benamin muka di belahannya... uuhhh... pasti wangi banget teteknya, ya, Bu? Aku pasti kesenengan banget... ahhh, ahhh... aku remessss... teteknya... ahh, Bu, aku udah gila banget pasti... ngebayangin cabulin guru sendiri... aahhh, maafin aku, Bu... mmmpphhh..."

Selanjutnya, cuma racauan liar yang keluar dari mulutku. Aku terlalu fokus bermasturbasi, sampai baru sadar kalau badanku selalu bergetar dan tegang tiap kali telapak tanganku menyentuh klitoris. Akhirnya, kembali jariku bermain di daging kecil itu, demi mengejar rasa geli dan enak yang intens.

Diluar dugaan, Bu Siska meraih tangan kananku yang dari tadi menggenggam erat besi pinggir ranjang. Disentuhnya punggung tanganku, lalu digenggam. Aku merespon sentuhan Bu Siska. Kulepas saja genggamanku pada besi, lalu gantian kugenggam tangan Bu Siska. Bersentuhan tangan dengannya malah bikin aku makin tenggelam dalam birahi.

Di momen ini, aku kayaknya sudah ga tertolong lagi.

"Bu... Bu... klitorisnya geli banget... ahhh, ahhh, ahhh... aku maininnnhhh... ahhh, geli, geliii... pengen pipisss... aahhh, Ibu... tangannya halus banget, Bu... ahhh... Bu Siska, Bu... aahhh... Bu Sis—"

Jantungku hampir copot ketika Bu Siska tiba-tiba melumat bibirku yang meracau, dengan bibirnya! Bibirnya aktif mengulum bibirku, melumat dan membasahinya dengan liar. Ga butuh waktu lama juga bagiku untuk beradaptasi. Aku pun mengimbangi lumatan bibirnya. Bibir kami saling berpagutan, bergantian antara bibir atas dan bawah. Aku ga peduli sebasah apa bibirku sekarang karena liur kami berdua, tapi yang jelas aku nikmatin banget bibir Bu Siska yang lembut ini.

Bu Siska sejenak melepas pagutan bibirnya dariku. Dia menarik wajahnya, sedikit. Wajah kami begitu dekat. Aku bisa ngerasain nafasnya yang memburu.

"Mmhhh... Bu... kok aku dicium—"

Bu Siska kembali melumat bibirku. Kali ini lebih liar. Aku sampai kesulitan mengimbangi permainan bibirnya yang lincah. Bahkan, kali ini Bu Siska mengikutsertakan lidahnya. Lidah itu masuk lewat bibirku yang membuka, bersentuhan dengan lidahku untuk mengajaknya beradu. Kami berpagutan, saling melumat, dan saling bermain lidah dalam pacuan birahi yang menggebu.

Lalu aku rasain ada sesuatu yang... cair, yang masuk ke mulutku, saat kami berpagutan dan bermain lidah. Bu Siska ternyata sengaja memberi liurnya ke mulutku. Anehnya, aku suka diperlakukan begitu. Kuhisap lidah beserta liur Bu Siska. Kutelan sampai habis, lalu Bu Siska memberiku liurnya lagi, kutelan lagi, dan berulang berkali-kali. Aku bahkan ga merasa jijik sama sekali.

Sementara bibirku sibuk meladeni bibir Bu Siska, tangan kiriku masih aktif menggesek-gesek klitorisku sendiri. Tapi ada sensasi mendadak yang bikin aku kaget; tiba-tiba Bu Siska masukin satu jarinya ke dalam memekku. Aku ga tahu jari yang mana, tapi aku rasa jarinya masuk makin dalam, lebih dalam... menyusuri dinding atas liang memekku. Lalu...

"HHHHNNGGGGGGGGGG—"

Eranganku tertahan karena mulutku masih disumpal mulut Bu Siska. Tapi aku yakin, Bu Siska tahu alasanku mengerang; jarinya yang masuk ke liang memekku begitu dalam, sampai menyentuh suatu titik yang ketika dia tekan, rasanya bikin aku menggelinjang ga karuan saking enak sensasinya. Titik itu pun dia tekan berkali-kali, digesek-gesek cepat. Badanku otomatis menyentak-nyentak ga kuat menahan kenikmatan baru yang intens banget ini. Ditambah gesekan klitoris dengan jariku sendiri, kenikmatan yang aku rasain di memekku jadi berkali-kali lipat rasanya.

"HHNNGGG... MMMPPHHH... MMMPPPHHH... HHHH... MMMHHH... MMMHH, MMHHH, MMMHHH, MMMFFHHHH, ENNGGGHHHRRHHHH..."

Aku orgasme, aku orgasme, aku orgasme! Pipisku menyembur deras tanpa bisa kutahan, dan aku bisa mendengar suara becek dari pipisku yang bermuncratan ke tangan Bu Siska, yang, masih terus mengocok memekku tanpa ampun. Aku bahkan ga bisa minta Bu Siska untuk berhenti, karena bibir dan lidahnya sengaja masih terus menyumpalku.

"NNGG... NNNGGG... HHHH... MMMHHHH," dengan susah payah, akhirnya aku bisa lepas dari lumatan bibir Bu Siska, "BU... BU... GELI BANGET, AKU KELUARRR... AKU KELUARRR... AKU PIPPIIISSSSS... BBBBAANYAK BANGETTTT... AKU... PIPP—"

Bibirku kembali berhasil dilumat Bu Siska. Kali ini lebih lihai sehingga aku ga bisa ngelepasinnya. Sementara di bawah sana, memekku sedang dikocok-kocok oleh jarinya tanpa ampun, tanpa jeda. Aku sudah ga tahu berapa kali aku pipis karena kocokan jari Bu Siska, karena tiap selesai pipis, Bu Siska masih terus mengocok memek sensitifku sehingga orgasme lainnya langsung menyusul tanpa jeda.

Tiba-tiba, Bu Siska mencabut kasar jarinya dari dalam memekku, dan bikin aku kelojotan ga karuan. Pahaku spontan merapat, kakiku melipat erat, badanku mengejan-ngejan heboh. Bu Siska tetap melumat bibirku, sambil menikmati badanku yang ga bisa menahan badai demi badai orgasme. Tapi permainan bibir dan lidahnya berangsur-angsur melambat, seiring badanku yang makin rileks. Sampai ketika aku sudah tenang, Bu Siska melepas kuluman bibirnya.

Tampak seutas jaring liur yang membentang di antara bibir kami berdua saat Bu Siska menarik wajahnya dariku.

"Dea," Bu Siska tampak tersengal, mukanya merah banget, nafasnya memburu cepat, "pulangnya Ibu anter aja, ya. Tapi mampir dulu ke rumah Ibu. Ada tugas dadakan yang harus kamu kerjain."

Mendengarnya, aku langsung tersenyum lebar. Badanku merinding, ngebayangin tugas macam apa yang akan dikasih Bu Siska ke aku.

"Kalau udah segeran, rapih-rapih, ya," katanya lagi, sambil membelakangiku. Lalu, Bu Siska melihat ke sekeliling, seperti mencari sesuatu. "Eh, iya. Ibu perhatiin kamu ga pake celana dalem, ya? Celana dalem kamu kemana, Dea?"

Aku cuma bisa tersenyum kikuk dalam merespon pertanyaannya. "Eng... ga bawa, Bu. Aku ga pake daleman dari rumah," jawabku, sambil cengengesan.

Bu Siska spontan menengok ke arahku lagi, lalu menggelengkan kepala. "Gila banget kamu," katanya
==========

==========
Chapter 5 — Extended Fun part 1





Bu Siska 'baik' banget, ya. Sampai rela luangin waktunya untuk anterin aku pulang. Tas ranselku juga diambilin di kelas, jadi aku tinggal tunggu di meja piket aja. Pas lagi nunggu, aku sempat ditanya-tanya guru piket yang sedang jaga. Pertanyaan prosedural, seperti sakit apa, gejalanya apa, dari kapan.

"Emang repot ya, kalo orang tua dua-duanya sering kerja di luar kota. Jadi ga bisa jemput anak pas lagi sakit. Untung banget Bu Siska mau anterin kamu pulang, De," komentar pak guru piket padaku.

Aku spontan heran, tapi otak taktisku langsung paham. Bu Siska pakai alasan orang tuaku yang sedang kerja untuk nganterin aku pulang. Memang bohong aja dianya. Orang tua aku lagi di rumah kok dua-duanya.

"Iya, Pak. Tadi juga selama saya istirahat di UKS, Bu Siska ngerawat saya dengan baik."

"Nah, itu orangnya udah dateng," kata pak guru piket.

Aku pun menengok ke arah yang si bapak lihat. Bu Siska sedang berjalan ke sini sambil menggendong tas ranselku dan menjinjing tas kulitnya. Memperhatikan caranya berjalan yang anggun tapi seksi itu bikin pipiku memerah dan jantungku berdebar kencang. Wajahnya yang dibalut jilbab putih kelihatan cantik banget di mataku, dan aku ga sanggup menatap wajahnya lama-lama, karena semakin kutatap, semakin kencang debar jantungku.

"Dea, bisa bawa sendiri tasnya?" tanya Bu Siska. Aku mengangguk, lalu Bu Siska menyerahkan tasku.

"Pak, saya pulang dulu, ya."

"Mari, Pak." Bu Siska mengalungkan tangannya di pundak kiriku, lalu menuntunku berjalan menjauh.

Kami lalu menuju parkiran sekolah yang tepat berada di belakang gedung utama. Bu Siska mengambil kunci mobil dari dalam tasnya, lalu memencet kunci jarak jauh. Aku menyusul Bu Siska yang masuk mobil lebih dulu. Karena cuma berdua, jadinya aku duduk di jok depan. Saat sudah berada di dalam mobil, aku baru sadar kalau kaca film Bu Siska ini gelap banget. Kayaknya sekitar 80-90%. Pantes aja, tadi saat aku lihat kaca depan mobilnya dari luar, ga kelihatan apa-apa di dalamnya.

"Bu," aku menoleh ke kanan, ke arahnya, "ini ga apa-apa aku dianter sampe—"

Ternyata wajah Bu Siska sudah deket banget dari wajahku, dan kedua tangannya langsung memegangi pipiku. Bibirnya yang lembut pun mendarat di bibirku, dan Bu Siska langsung melumatnya dengan ganas. Awalnya aku kaget dengan ciuman tiba-tibanya, tapi... persetan lah, aku juga mau bibir Bu Siska!

Bibir kami pun saling berpagutan. Lidah saling membelit, dan saling bertukar liur yang kami sedot dan telan dengan senang hati. Bu Siska juga suka banget menyedot lidahku, dan aku ikuti juga perlakuannya. Karena ciumannya makin ganas, mulut, pipi dan dagu kami sampai basah oleh liur.

Aku baru sekali berciuman di seumur hidupku, dan ciuman pertamaku itu dengan Pak Jumadi. Sementara ciuman keduaku ternyata dengan seorang perempuan, yang bahkan adalah guruku sendiri. Tapi Bu Siska berhasil memberi kesan bahwa ciuman itu menyenangkan, dan aku ketagihan.

"Dea, kamu keberatan ga kalau kita ga jadi ngerjain tugasnya di rumah Ibu? Kayaknya di rumah lagi rame. Ada mertua Ibu lagi nginep. Ga apa-apa?" tanya Bu Siska, setelah menarik bibirnya dariku.

"Ga apa-apa, kok, Bu." Tentu saja, aku ga bisa menyembunyikan kekecewaan di nada suaraku. Aku pikir, aku bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Bu Siska.

"Makanya, kita ke tempat lain aja," sambung Bu Siska, "hotel, misalnya. Jadi bisa lebih fokus kerjain tugasnya, kan?"

Aku hampir-hampir kena serangan jantung saat Bu Siska menyebut kata "hotel". Aku pun menunduk malu, tapi ga bisa kusembunyikan senyum lebar yang menghiasi pipiku. "Aku ikut Ibu aja," jawabku, tersipu.

"Oke, kita ke Amaris aja, ya." Bu Siska menyalakan mesin mobil, lalu kembali menoleh padaku. "Setuju, kan?"

Duh, senyumku jadi makin lebar, kan.


———​


Bu Siska adalah guru Biologi di sekolahku, yang merangkap jadi guru piket UKS. Beliau jadi salah satu guru favorit murid-murid, karena cara mengajarnya yang asik dan informatif. Selain itu, Bu Siska juga modis dan menarik secara fisik, jadi punya nilai lebih di mata cowok-cowok di sekolahku.

Nama panjangnya adalah Fransiska Nathalie. Bu Siska itu mualaf, ikut ke agama suaminya saat menikah, makanya ada tambahan nama baru di depan nama aslinya, Siti Amina. Sebelum pindah agama, Bu Siska ternyata seorang penganut katolik yang taat. Bahkan beliau resmi tergabung di paduan suara gerejanya. Tentu saja, dengan latar belakang se-relijius itu, keputusan Bu Siska pindah agama ditentang keras oleh keluarganya sendiri. Tapi Bu Siska ini tipe pribadi yang keras; kalau sudah maunya, ya maunya.

Aku jadi ngebayangin, sehebat apa prospek suaminya sampai sekelas Bu Siska rela pindah agama. Zakir Naik pasti approve kalau suaminya Bu Siska daftar jadi muridnya.

"Ibu nikah tahun 2018. Waktu itu, umur Ibu masih dua puluh empat. Baru dua tahunan, lah, jadi guru honorer setelah lulus dari kampus," katanya, sambil pandangannya terus fokus menyetir.

"Berarti sekarang Ibu masih dua puluh delapan? Masih muda banget, Bu." Aku menatap Bu Siska, lama. Seakan terhipnotis oleh kecantikannya. "Cantik banget, lagi."

"Gombal banget!" Bu Siska tertawa ringan, lalu tangan kirinya perlahan mengelus bibirku. "Tapi... Ibu jadi seneng dipuji kamu."

Aku ngebiarin ibu jari Bu Siska bermain di bibirku. Meski Bu Siska kini mulai masukin jarinya ke dalam mulutku, aku masih diam. Sejujurnya, aku suka diginiin. Bu Siska lama masukin ibu jarinya di mulutku, dan meski ga saling bicara, tapi aku seperti tahu banget maunya Bu Siska apa.

Kuhisap saja jarinya, lembut dan penuh perasaan. Ga lupa kubasahi pakai lidah, lalu kuemut-emut. Bu Siska perlahan menarik ibu jarinya, dan kini gantian masukin telunjuknya ke mulutku. Aku ulangi perlakuanku pada ibu jarinya tadi, ke telunjuknya. Sambil menjilati dan mengemut telunjuk Bu Siska, aku diam-diam melirik guruku ini. Bu Siska sekarang tampak sedang menggigit bibirnya sendiri sambil menyetir.

Ga kerasa, perjalan kami pun berakhir. Mobil sudah masuk ke area hotel, dan Bu Siska langsung menuju ke parkiran yang ada di basemen. Setelah memarkir mobilnya, Bu Siska menatapku, lama. "Kalau kamu berubah pikiran, kita bisa pergi aja dari sini," katanya.

Sepertinya yang ragu bukan aku, tapi Bu Siska. Dia tenggelam di permainannya sendiri, terus sekarang kalut untuk memilih antara melanjutkan, atau berhenti. Mungkin dia terbawa suasana saat menciumku di UKS itu, lalu merasa sudah kepalang basah jadi dilanjut saja. Tapi sekarang, entah karena alasan apa, Bu Siska ragu.

Jadi, mari aku usir rasa ragunya, demi kebaikan kami berdua.

Aku pun meraih tangan kirinya, lalu kuarahin ke tetekku yang masih terbungkus seragam dan hoodie, tanpa bra, jadi Bu Siska bisa ngerasain tetekku yang empuk. Lalu, kutatap dirinya, dengan pandangan paling menggoda yang aku bisa. "Bu, aku ga sabar untuk dijamah sama Ibu. Aku bisa jadi... boneka seks personal buat Ibu. Bu Siska bisa ngelakuin apa pun yang Ibu mau... ke badan aku," godaku, menatapnya sambil menggigit bibirku.

Bu Siska langsung merinding sehabis denger godaanku. Pipinya memerah, dadanya turun naik. "Siapa yang ngajarin kamu ngomong kayak gitu, Dea?!" tanyanya, agak histeris.

"Improvisasi?" balasku, sambil mengangkat bahu.


———​


Meski baru kali ini ke hotel, tapi aku bisa tahu kalau hotel bintang tiga keatas punya privilege yang menyenangkan. Resepsionisnya ga repot untuk kepo ke seorang guru dan muridnya, yang sama-sama berhijab dan masih memakai seragam dinas guru dan siswa, yang menyewa sebuah kamar hotel di siang bolong, hanya berdua saja, dan meminta ranjang yang single dengan ukuran queen size. Aku ga punya kuasa untuk mengatur apa yang si resepsionis pikirin, tapi aku menghargai etikanya yang melayani kami dengan baik. Tanpa tatapan curiga, tanpa ekspresi bertanya-tanya.

Kamar kami ada di lantai 5, di nomor 512. Letaknya ada di paling ujung setelah keluar lift lalu belok kanan. Karena berada di ujung, maka ketika buka pintu kamar, aku langsung melihat jendela yang mengarah ke jalan raya. Aku langsung terkesima saat masuk ke kamar. Maksudku, kamarnya biasa saja. Iya, ada kasur, ada meja kayu kecil yang dipasang pakai bracket di dinding, lemari kecil untuk pakaian, satu kursi, dua rak kecil di tiap sisi kasur, dan TV di dinding. Bukan interiornya yang bikin aku takjub, tapi fakta bahwa aku akhirnya ngerasain juga masuk ke kamar hotel.

Gila... ga pernah kepikiran buatku, untuk bisa ngehotel gini.

"Kamu kayaknya ga pernah ke hotel, ya, Dea?" tanya Bu Siska. Lalu dia taruh tas jinjingnya di atas meja.

Aku menggeleng. "Kepikiran aja engga, Bu."

"Berarti ini momen pertama kamu, dong?"

"Iya, sama guru sendiri, lagi. Jadi ada rasa seneng yang gimanaaa, gitu, Bu."

Bu Siska langsung senyum-senyum sendiri. Lalu, dia ke kamar mandi untuk pipis, dan mempersilahkan aku untuk duduk atau tiduran kalau capek. Aku iyain aja. Tapi pas Bu Siska sudah masuk kamar mandi, aku lebih memilih untuk nungguin dia di depan pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca itu.

Kulepas hoodieku, kulempar ke pojokan lantai. Lalu, kulucuti juga rok panjangku, dan memekku pun terekspos bebas. Tapi karena seragam lengan panjangku cukup panjang sampai pangkal paha, memekku jadi ga terlalu kelihatan, kecuali kalau tanganku mengangkat. Sengaja ga kulepas jilbab yang kupakai. Ga tau kenapa, tetap pakai jilbab di kondisi memekku terbebas gini justru buat aku merasa horny.

"Dea, kok kamu malah berdiri di..."

Kalimat Bu Siska terhenti, pas ngelihat aku sudah setengah telanjang. Aku sengaja ga ngomong apa pun. Kusingkap saja seragamku, bikin memekku kelihatan jelas di mata Bu Siska. Aku tatap matanya, menunggu dia bereaksi. Dalam beberapa detik diamnya kami, aku seperti bisa dengerin suara detak jantungku sendiri saking tegangnya suasana di sekeliling kami.

"Deaaaa, gemesin banget sih, kamu!"

Bu Siska langsung menyambar bibirku. Aku balas ciumannya. Bibir kami saling melumat lagi. Ga ada puasnya emang kalau ciuman sama Bu Siska. Aku pun dipojokin ke dinding, badanku dikunci sama badannya, bikin aku susah gerak. Bu Siska makin liar ciumin aku, dan makin lama, aku makin kesusahan untuk imbangin ciumannya. Tapi aku pasrah aja. Kan aku mau Bu Siska ngelakuin apa pun yang dia mau ke aku.

Sambil diciumin secara sporadis, tangan Bu Siska juga aktif buka kancing-kancing seragamku. Dipretelin satu-satu, sampai membuka. Telapak tangannya langsung mendarat ke pinggangku. Aku spontan merasa seperti kesetrum waktu kulit pinggangku bersentuhan dengan kulit tangan Bu Siska. Gila... kayaknya memekku sudah basah lagi, deh.

Perlahan, tangannya kayak merambat naik. Aku tahu tangannya mau kemana, tapi kubiarin aja. Aku justru nunggu telapak tangan halusnya sampai ke tetekku. Tapi tangan Bu Siska berhenti di perut atasku, seakan ragu untuk naik lebih jauh lagi.

"Nggg... Dea... ga apa-apa Ibu pegang?" tanyanya, masih malu-malu.

"Terserah Ibu. Bu Siska bisa lakuin apa pun ke aku."

Terus... Bu Siska langsung lepas kontrol, dong. Kedua tangannya ga ragu lagi mendarat di sepasang tetekku yang sudah mengencang dari tadi. Diremas-remas tetekku, sambil aku diciumin dan dan diajak bertukar liur. Aku pun menggelinjang keenakan, tapi ga bisa berbuat banyak selain membalas ciuman Bu Siska.

Lalu, Bu Siska menarik diri, tiba-tiba. Aku yang sempat keheranan, langsung mengerti maksud dia, karena Bu Siska buru-buru ngelucutin rok seragamnya, hingga nyisain celana dalam putih yang tutupi memeknya. Bu Siska langsung menyasar bibirku lagi. Kali ini, dia coba nyelipin sebelah pahanya di antara pahaku. Ooohhh... pahanya langsung nyentuh memekku. Sentuhan paha lembutnya kerasa enak banget.

"Mmmpphhh... Buuu... pahanya nakal, bikin geli...," desahku, sebelum kucium lagi bibir sensualnya.

Bu Siska malah makin sengaja gerakin pahanya. Memekku digesek-gesek, pelan. Aku merasa memekku jadi makin basah, dan lendirnya mungkin basahin paha Bu Siska. Lalu, aku juga coba ngelakuin hal yang sama. Aku selipin paha kananku ke selangkangan Bu Siska.

"Bu, boleh, gaaa?"

Bu Siska justru membuka kedua kakinya supaya pahaku bisa masuk di antaranya. Lalu, Bu Siska langsung menjepit pahaku, kenceng banget. "Boleh, Sayang. Boleh banget! Uuuhh... Dea gemesin banget di mata ibu."

Jadilah paha kami saling menjepit, dan saling menggesek memek satu sama lain. Kami juga masih terus berpagutan, dan tangan Bu Siska masih aktif remesin tetekku.

"Dea... kayaknya... sshhh... udah basah... ooohhh... banget, ya?" tanya Bu Siska, disela kegiatan gesekin memekku pakai pahanya.

"Apanya... ooohhh... Bu?"

"Nngg... itu... ahhh... vaginanya..."

Aku spontan tersenyum nakal. Kudeketin mulutku ke kuping Bu Siska, lalu berbisik, "itu namanya memek, Bu."

"Ih, vulgar... banget... nngghhh, kamu!" responnya, tersipu malu. Berbanding terbalik dengan pahanya yang makin berani dan agresif gesekin memekku.

"Iya, ga nyangka ya, Bu... kalau mulut siswi alim kayak aku... oohh, oohhh... tuh kotor, nngghh... banget? Padahal... aahh, ahhh... kalau di sekolah... aku tuh... ngghh... santun banget... mmpphh..."

"Iya... Ibu aja... ahhh, ahhh... kaget... kamu bisa... aahhh... seliar ini..."

Bu Siska tiba-tiba narik badan aku ke samping, bersamaan dengan badannya yang juga bergeser. Lalu aku diputar, jadi sekarang ngebelakangin dia. Di depanku sekarang ada cermin panjang, yang terpasang di tembok. Wah... kami berdua kelihatan jelas di cerminnya.

Bu Siska kemudian bersandar di tembok, lalu tarik badan aku supaya bersandar ke badannya. Kaki kanannya lalu merentang dari belakangku, lewat di antara kedua pahaku. Kakinya merentang sampai meraih cermin, lalu dipertahankan posisi kakinya, jadi kedua pahaku sekarang menjepit kakinya.

Aku langsung turunin badanku, sampai memekku kesentuh kulit pahanya lagi. Aku pun spontan menggelinjang geli. Tanpa nunggu aba-aba, kugesekin memekku di pahanya yang mulus. Maju dan mundur, sambil kedua tanganku merentang ke belakang, mencengkeram seragam Bu Siska. Tangan Bu Siska sendiri sekarang remesin tetekku, sambil sesekali dipilin dan dicubit putingnya. Karena tetek dan memekku dirangsang bersamaan, bikin aku makin menggelinjang keenakan.

"Bu... ahhh, ahhh... liat deh, di cermin. Kita berdua... aahhh, aahh, oohhh... sshh... liar banget, ya? Masih pake jilbab... masih pake seragam... tapi senakal ini. Aku lagi, ooohhh, uuuuhhh... lagi gesekin memek ke paha guruku sendiri... aahhh, uuhhh... Bu Siska... aku... nggghhh... paha Ibu enak bangeeettt!"

Gesekan di memekku jadi makin cepat dan makin ga karuan. Aku bahkan bisa dengerin bunyi becek tiap kali memekku bergesekan dengan paha Bu Siska. Tapi rasa enak di memekku ini berbanding terbalik dengan rasa lemas dan gemetar pada kedua lututku. Memekku makin nagih rasa geli dan enaknya saat bergesekan dengan paha Bu Siska, dan makin kugerakin pinggulku, makin capek kakiku harus menopang berat badanku.

"Bu... ahhh... ahhh... ahhh, aku... ahh...."

Akhirnya, lututku ga kuat lagi. Aku jatuh terduduk di lantai, dengan kedua kaki gemetar. Bu Siska yang sigap, langsung bantu aku berdiri, lalu aku dipapah ke ranjang. Duh, jalannya susah banget dengan lutut lemas gini. Setelah tiba di pinggir ranjang, aku pun direbahin pelan-pelan sama Bu Siska.

"Bu... aku lemes banget," kataku, lirih.

Bu Siska pun duduk di pinggir ranjang, di sampingku. Dia merespon dengan mengelus-elus pipiku, sambil tersenyum dan berkata, "iyalah lemes, kamu seharian horny gitu. Ibu kalau jadi kamu udah pingsan, kali."

"Tapi memek aku masih gatel, Bu. Ngghhh... rasanya gatel banget, nagih terus minta dipuasin," balesku, sambil mengangkang lebar, kemudian meraba memekku yang sudah becek banget ini.

"Dea, stop dulu. Jangan berlebihan..."

Aku tahu Bu Siska ga serius dengan perkataannya. Karena ekspresi mukanya justru kelihatan nikmatin banget pemandangan aku yang lagi gesek-gesekin klitoris dan bibir memekku sendiri. Bu Siska bahkan sampai gigit bibirnya, dan pandangannya ga lepas dari bagian bawah badanku.

"Ahhh... aku cuma lagi gesek-gesek aja, kok, Bu. Tuh," aku nunjukin jari telunjuk dan tengahku yang berselimut lendir ke Bu Siska, "ini ga berlebihan, kan?"

Lalu aku pandangi kedua jariku ini. Basah banget, dengan lendir yang memenuhi seluruh bagiannya. Entah pikiran apa yang muncul di kepalaku, tapi aku spontan mengemut kedua jariku ini, dan menghisap habis lendirnya. Setelah kering, aku pun mengulangi lagi menggesek-gesek memekku, dan kembali kuemut lagi jari-jariku. Rasa lendirku sendiri cenderung agak asin, tapi ga tahu kenapa aku justru ketagihan sama rasanya. Jadi kulakuin lagi beberapa kali, sampai...

"Dea, stop!"

Bu Siska tiba-tiba menggenggam tanganku. Lalu, dia mandangin aku, lama. Aku bisa ngelihat napasnya memburu cepat, dan ada sedikit liur yang menetes dari sela bibirnya yang membuka.

"Janji, ya, kamu ga akan pingsan?" tanyanya, dan belum sempat kujawab, Bu Siska sudah menyasar bibirku untuk dia kulum dengan buasnya.

Ciuman Bu Siska jadi makin liar dari sebelum-sebelumnya. Dia memagut, mengulum serta menghisap bibir atas dan bawahku dengan tempo yang cepat dan ganas. Lidahku juga ga luput darinya. Lidahku dihisap kuat-kuat, dan kadang lidahnya juga ikut mengajak lidahku untuk saling membelit. Kami juga beberapa kali bertukar liur, dan Bu Siska menelan liurku tanpa rasa ragu.

Setelah ciuman liar dan panas yang berlangsung selama beberapa menit itu, Bu Siska perlahan menarik diri dariku. Dia berdiri di pinggir ranjang. Kedua tangannya pun melucuti celana dalamnya, dan membuangnya asal ke lantai.

Aku yang baru pertama kali melihat memek lain selain punyaku, terkesima saat melihat memek Bu Siska. Memeknya berwarna krem pucat, dengan bibir memek yang sudah bergelambir. Tapi Bu Siska merawat memeknya dengan mencukur habis bulu pubisnya, hingga memek Bu Siska kelihatan mulus banget di mataku.

"Maaf, ya, emmm... itu... memek... Ibu... ga sebagus punya kamu," katanya, malu-malu.

Ga bagus apanya, Bu Siska tuh merendah untuk meninggi! Karena saking terkesimanya, aku sampai ngiler saat pandangin memek dia.

"Dea, kata kamu... Ibu boleh ngelakuin apa pun ke kamu, kan?" tanyanya, sambil naik ke ranjang. Bu Siska lalu berdiri sambil mengangkang, tepat di atas mukaku. Diturunin lah pinggulnya hingga kedua kakinya melipat dan lututnya jadi tumpuan badannya, sehingga memeknya yang sudah basah banget itu turun makin dekat ke mukaku. "Jadi, Ibu mau kamu... makan... memek Ibu, ya? Ini tugas tambahan yang Ibu kasih buat kamu."

Habislah sudah, memek Bu Siska membekap mulut dan mukaku. Maka, tanpa ragu, kujilati dan kuemut saja memeknya, yang ternyata, rasanya enak banget ini. Mmmhh... jilatanku kumulai dari ujung bawah memeknya, yang kujilati dengan intens sampai masuk ke lubang memeknya, lalu lanjut lagi lebih ke atas... jilat terus... sampai ke... klitorisnya, yang sengaja kupakai bagian tengah lidahku yang menggesek klitoris Bu Siska sampai ke ujung lidahku.

"Dea... Dea... Ibu—Ibu... ooooOOOOOHHHHHH!!!"

Di sapuan pertama lidahku, justru membuat Bu Siska bergetar hebat. Kayaknya Bu Siska dapet orgasme pertamanya, deh. Orgasme pertama yang dicapai lewat serangkaian sesi foreplay yang intens dan lama.

Badan Bu Siska bergetar heboh, sambil pinggulnya menggoyang ke depan dan belakang, bikin memeknya menggesek mulut dan mukaku dengan cepat. Yasudah, sekalian aja aku jilatin lebih liar lagi. Apalagi saat Bu Siska mau mengangkat pinggulnya, refleks aku tahan dengan kedua tangan, bikin Bu Siska kesusahan menghindar dari jilatanku di memeknya yang lagi super sensitif karena baru orgasme.

Ga lama, datanglah orgasme kedua. Kali ini lebih heboh dari yang pertama. Lalu orgasme selanjutnya, lalu selanjutnya, dan selanjutnya...

Aku ga pernah bisa puas dengan rasa memek seenak ini. Mmmhhh.
==========

==========
Chapter 6 — Extended Fun part 2





Setelah pergumulan panas penuh desah dan erangan selama berjam-jam, aku dan Bu Siska pun tumbang. Badan kami berdua merebah lemas di atas ranjang, yang selimut tebalnya sudah acak-acakan. Ditambah noda-noda cairan bening yang bercipratan ke segala bagiannya.

Seragamku dan seragam Bu Siska juga sudah berserakan di ranjang dan di lantai. Kepala kami berdua sudah lepas dari balutan hijab, menyisakan rambut yang acak-acakan dan lepek karena keringat. Badan telanjang kami pun saling berpelukan, paha saling mengapit, dan mukaku terbenam di antara belahan dada besar Bu Siska yang sedang naik-turun karena napasnya yang masih memburu.

"Dea... mmmhh, kamu wangi banget," katanya, sambil mengelus pipiku, yang kemungkinan penuh dengan bekas kecupan bibir bergincu miliknya.

"Perasaan tadi pagi aku mandinya ngasal, deh, Bu. Kok bisa wangi, sih? Apa Ibu salah ngendus, mungkin?"

"Ih, beneran. Kamu tuh wangi banget. Wanginya bikin Ibu pusing, jadi horny terus."

Aku senyum-senyum sendiri mendengarnya, lalu makin membenamkan mukaku lebih dalam di belahan dada Bu Siska.

"Padahal Ibu ga pernah punya orientasi seksual sama perempuan, loh. Baru sama kamu aja, Ibu jadi begini," tambahnya. Bu Siska lalu mengecup keningku, lembut.

Ih, aku seneng, deh. Jadi merasa disayang banget kalau diginiin sama Bu Siska. Siapa sangka, guruku ini yang memang terkenal lembut ke murid-murid di sekolah, bisa jadi lebih lembut dan intim begini saat lagi berdua denganku.

"Ibu tertarik secara seksual sama aku dari pas di UKS itu, ya?"

"Iya. Dari pas mergokin kamu lagi masturbasi itu. Kamu wangi banget pas lagi masturbasi sendirian itu. Terus Ibu jadi bingung karena habis ngendus wangi badan kamu, Ibu jadi terangsang."

Aku seketika menyadari sesuatu. Aku pun spontan ngelepasin diri dari pelukan Bu Siska, lalu mengambil posisi duduk bersila di ranjang, berhadapan dengannya yang masih tiduran menyamping ke arahku.

"Kenapa, Dea? Ada yang salah?"

"Bukan, Bu. Emmm... aku pikir, Ibu tuh terangsang sama aku karena liat aku masturbasi di depan Ibu, terus Ibu jadi ga tahan. Tapi ternyata karena wangi badan aku, ya? Nah, ini yang aku bingung." Aku langsung mengendus ketiakku sendiri, dan merasa keheranan setelahnya. "Aku ga bisa ngendus wangi badanku sendiri, Bu. Kalau menurut Ibu aku wangi, sedangkan aku merasa ga ada wangi apa-apa, jadi yang Ibu endus itu wangi apa?"

Bu Siska spontan ikut duduk. Rambut hitam lurus sebahunya bergerak lembut. Lalu dia ambil kacamatanya yang tergeletak di meja kecil, memakainya di hadapanku. Ih, makin cantik aja sih Bu, kalau pakai kacamata.

"Feromon...," katanya, menggumam sendiri.

"Feromon?" Aku mengernyitkan dahi.

"Kamu masih inget pelajaran Ibu soal isyarat kimiawi yang digunakan serangga, kan?"

"Nnggg... yang mana, ya, Bu?"

"Penelitiannya Jean-Henri Fabre, waktu mengamati ngengat jenis great peacock. Ring a bell?"

Ah... Bu, sejak otakku isinya hanya hal-hal mesum saja, kualitas otakku ini jadi ga secemerlang biasanya, Bu. Jadi, beri aku waktu beberapa detik untuk...

"Ih, lama kamu, mah!" Bu Siska, masih dengan tubuh telanjangnya, langsung sibuk melakukan presentasi darurat kepadaku. "Lewat banyak jurnal ilmiah dan penelitian, ilmuwan percaya kalau feromon adalah zat kimia yang berfungsi sebagai isyarat kimiawi, yang biasanya terjadi pada genus yang sama. Feromon bertugas untuk merangsang dan memiliki daya pikat seksual pada jantan maupun betina.

"Pada beberapa genus, katakanlah serangga, rangsangan ini biasa digunakan oleh serangga betina untuk menarik serangga jantan supaya membuahi betina tersebut. Nah, yang pertama meneliti soal feromon ini tuh Jean-Henri Fabre, tahun 1870. Waktu itu, awal penelitian Jean-Henri bermula saat dirinya kebingungan karena ngengat betina jenis great peacock yang baru aja keluar dari kepompong, lalu dia letakkan di kandang kawat di meja studinya itu dirubungi lusinan ngengat jantan yang entah datang darimana, dan tanpa dia tahu gimana bisa para ngengat jantan itu mengetahui posisi si ngengat betina.

"Tahun-tahun setelahnya, Jean-Henri Fabre berhasil membuktikan keterlibatan zat feromon sebagai faktor utama dalam proses pembuahan serangga. Lalu, penelitian Jean-Henri Fabre ini dikembangin oleh Adolph Butenandt, untuk melengkapi penelitian soal feromon, yang ternyata, ga cuma diproduksi pada serangga."

"Nggg... terus, Bu?" tanyaku, yang baru kusadari sedang mengelus-elus memekku sendiri sambil memperhatikan Bu Siska yang sedang presentasi. Beneran, deh. Bu Siska kelihatan seksi banget kalau presentasi soal Biologi dengan telanjang begini.

"Nah, penelitiannya Adolph Butenandt ini membuktikan, kalau feromon juga diproduksi pada manusia. Pusat produksinya ada di kelenjar endokrin. Bedanya dengan hormon, feromon tuh menyebar ke luar tubuh, dan ditangkap oleh manusia lain lewat organ vomeronasal di bagian dalam indera penciuman. Aslinya, feromon ini ga bisa dideteksi lewat bau-bauan, tapi deteksi lewat vomeronasal bikin si penangkap feromon jadi bisa membaui wewangian aneh dan khas yang mempengaruhi otak mereka, terutama pada bagian rangsangan seksual—kalau jumlah feromon di udara yang dideteksi si vomeronasal ini ada pada jumlah yang sangat banyak. Ini menjelaskan kenapa manusia bisa terangsang karena mencium bau-bauan yang khas dari manusia lain, terutama orang yang membuat mereka tertarik.

"Tapi... seharusnya feromon yang dihasilkan gender perempuan cuma bisa dideteksi sama testosteron, yang tentu aja, ada di laki-laki, dan sebaliknya, feromon yang dihasilkan gender laki-laki, hanya mempengaruhi estrogen. Tentu aja, ini juga dipengaruhi oleh kromosom X dan Y. Kalau rasio kromosomnya ga stabil, seseorang bisa terangsang saat mendeteksi feromon sesama gendernya.

"Jadi, dari penjelasan Ibu tadi, Ibu menarik hipotesis, kalau feromon yang kamu hasilkan, yang entah gimana caranya bisa sekuat itu, bahkan bisa mengacaukan rasio kromosom, dan mempengaruhi bahkan ke sesama gender. Tentu aja hipotesis ini masih prematur, karena Ibu belum punya banyak data untuk ngebuktiin bahwa feromon yang kamu produksi itu bisa mempengaruhi baik testosteron maupun estrogen," tutup Bu Siska, sambil mengatupkan kedua tangannya.

"Mmmm... jadi... Ibu tertarik sama aku?"

Bu Siska spontan kebingungan. Kayaknya, dia ga siap dengan pertanyaanku. "Kok kamu fokusnya malah kesitu, sih?"

"Ya sejauh yang aku tangkap dari penjelasan Ibu, untuk bisa terangsang berarti harus tertarik dulu ke orang tersebut, kan?"

"Atau, orang tersebut harus terpapar feromon dengan jumlah yang sangat banyak dan berlangsung dengan frekuensi yang lama." Bu Siska pun menunduk, menggigit bibirnya. "Ibu takut... ini karena pengaruh feromon, Dea. Ibu bahkan bingung, apa ini bisa dikategorikan suka atau apa..."

"Bu," aku tatap Bu Siska, lekat dan dalam, "aku suka cara Ibu kalau lagi presentasi, kalau lagi ngomong, kalau lagi jalan, kalau lagi ketawa dan senyum, kalau lagi perhatian sama aku. Aku suka Ibu. Aku ga tau ini pengaruh feromon atau bukan, tapi aku suka Ibu."

"Dea... jangan gitu, Ibu beneran bingung." Mata Bu Siska menghindari mataku.

Perlahan, aku pun merangkak menuju ke arahnya, sambil berkata, "aku mau cium Ibu, ya? Kalau Ibu ga suka aku, Ibu bisa nolak. Tapi selama Ibu diam aja, aku masih akan terus maju."

Dan sesuai dugaanku, Bu Siska masih diam ketika badanku sudah sampai di lututnya. Bahkan ketika aku sengaja menempelkan tetekku ke lututnya, Bu Siska masih tetap diam. Lalu kugapai dagunya, agar mukanya berhadapan dengan mukaku. Bibirku maju, mendekat. Pelan. Meski aku bisa melihat kebingungan di ekspresinya, tapi bibir Bu Siska justru membuka, seakan siap menyambut bibirku.

Hingga tinggal sedikit lagi bibirku mencapai bibirnya, Bu Siska berkata, "Dea... Ibu..."

Tapi ucapannya terhenti, saat bibirku mendarat mulus. Kukecup pelan bibirnya, dengan sebuah kecupan mesra. "Bu, aku suka Ibu," bisikku, sebelum kembali mengecup bibirnya.

"Dea... kamu bikin Ibu—"

Kukecup lagi bibirnya, disertai lumatan ringan. "Suka banget sama Ibu."

"Dea—"

Kukecup lagi. Kali ini sambil menjulurkan lidahku sedikit, mencapai ujung lidahnya.

"Mmmmhhh... DEA! GEMESIN BANGET, SIH!"

Oww, badanku spontan didorong Bu Siska hingga merebah di ranjang. Lalu Bu Siska menindih badanku, kemudian bertubi-tubi mendaratkan ciuman bibirnya di sekujur mukaku. Pipi, kening, hidung, mata, alis, dagu, dan bibir ga luput dari hujan ciumannya. "IBU JUGA SUKA SAMA KAMU! KAMU BIKIN IBU GILA, DEA!"

Iya, iya, aku bisa ngerasain, kok, Bu. Karena Bu Siska sekarang mulai merambat mencumbu leherku. Dia bahkan menyedotnya dan menggigit-gigit kecil di sekujur sisi kiri leherku. Aku tentu saja menikmati ini. Kupeluk erat saja Bu Siska, sambil membiarkannya melakukan apapun pada badanku.

"Jadi... mmmhhh... ini karena feromon atau... ngghhh... Bu Siska emang suka aku?"

"Atau keduanya? Ga tau, deh," balasnya. Cumbuan Bu Siska terus merambat turun hingga menyentuh tetekku.

Akhirnya, aku cuma bisa menikmati saat Bu Siska mulai mencumbu seluruh badanku lagi. Rasa geli dan enak yang aku rasain jadi meningkat berkali-kali lipat, karena didorong efek psikologis yang tercipta berkat racauan mesranya padaku. Kalaupun ini karena feromon, kayaknya aku ga terlalu peduli. Karena bagiku, perhatian dari Bu Siska dan perlakuannya atas badanku sudah lebih dari cukup untuk membuat hatiku berbunga-bunga saat ini.


———​


Setelah banyak, banyaaaaak banget sesi seks kami yang penuh keringat, lendir, desahan dan orgasme, aku dan Bu Siska mutusin untuk check out pada jam tujuh malam lebih dua belas. Itu pun karena aku ditelpon sama Umi berkali-kali, karena ternyata aku lupa kabari Umi kalau mau pulang telat. Untungnya, Umi langsung percaya alasanku yang kehabisan battery saat ngerjain tugas tambahan dari Bu Siska, karena Bu Siska juga ikut bicara dengan Umi.

Saat kami keluar dari lobi hotel, bertepatan dengan berkumandangnya adzan Isya. Kami pun saling berpandangan, lalu saling merasa malu kepada dosa nikmat yang baru saja kami lakukan.

Duh, suasananya jadi awkward, kan.

"Dea, kamu beneran mau pulang naik gojek? Ga mau Ibu anter sampai rumah aja?" tanya Bu Siska, yang sedang temenin aku menunggu ojek online di pelataran hotel.

"Ih, Ibu. Kan arah rumah kita beda. Ibu langsung pulang aja, nanti kita ketemu di sekolah besok."

"Tapi ini udah malem, kan. Ibu khawatir kalau kamu pulang sendiri." Bu Siska tampak mengamati sekeliling, lalu sembunyi-sembunyi menggenggam tanganku.

Kupegang saja tangannya, erat. "Justru karena udah malem, aku yang khawatir sama Ibu. Aku ga apa-apa. Ibu kalau udah sampe duluan, bisa kabarin aku, kok. Aku juga gitu, nanti. Gimana?"

Bu Siska langsung ngelihatin aku, matanya penuh binar kagum. "Ih, beneran, deh! Kamu pengertian banget. Ibu ngerasa yang lebih muda disini." Bu Siska tampak sedikit menggigit bibirnya. "Jadi pengen cium."

"Besok ya, Bu? Di sekolah. Mau?" bisikku.

Bu Siska langsung mengangguk penuh semangat. Tepat setelahnya, jemputanku pun datang. Seorang bapak berperawakan tambun, berjaket ojek online dan mengendarai motor besarnya datang menghampiriku.

"Neng Andrea, ya?" tanya si bapak, sambil menunjukku. Kuperhatiin, sekilas lirikan matanya beralih ke Bu Siska dan tetek besarnya yang menonjol dari balik seragam gurunya.

"Iya, betul. Yuk, Pak," sahutku, lalu menyambar helm penumpang yang dia kasih.

Aku pun salim ke Bu Siska, ga lupa juga cium pipi kanan dan kiri, yang kelihatannya cuma sekedar nempel, padahal sih... kecupannya pakai lidah segala.

"Hati-hati di jalannya, ya. Kabarin Ibu kalau udah sampe," seru Bu Siska, sambil melambaikan tangan.

"Ibu juga kabarin aku, ya!"

Motor ojek onlineku pun meninggalkan area hotel. Kutengok Bu Siska yang sedang berjalan menuju parkiran, lalu kembali kulihat arah depan. Ketika area hotel sudah berada jauh dari motor, dudukku pun jadi lebih rileks. Karena jok motor ini tinggi, dudukku jadi gampang merosot ke depan. Tapi kali ini, sengaja aku biarin dudukku merosot, hingga tetekku pun berhimpitan dengan punggung si bapak ojol.

"Neng, abis ngapain tadi di hotel?" tanya si bapak ojol, membuka pembicaraan.

"Ah, Pak Jumadi, kepo, deh! Pokoknya sesuai sama yang Bapak bayangin, aja."

Pak Jumadi pun geleng-geleng kepala. Katanya, "baru ga ketemu berapa hari, Neng, udah makin liar aja."

Yap, penjemputku adalah Pak Jumadi. Bukannya aku ga sengaja dapat Pak Jumadi saat memesan ojek online. Aku memang sengaja menghubunginya lewat chat Whatsapp. Demi tumpangan gratis, dan ada perlu lain dengannya. Untungnya, Pak Jumadi ga keberatan, dan lagi dekat dengan lokasiku. Jadilah aku dijemput sama dia.

"Pak, tau bongkaran rumah yang di Krukut itu, ga?" tanyaku, tiba-tiba.

"Bongkaran kontrakan petakan yang adanya di sebelah kanan kalo dari arah kita, Neng? Yang setelah terowongan tol yang baru dibangun itu, kan?"

"Iya, bener. Mampir ke situ ya, nanti. Bentar aja, Pak."

Pak Jumadi diam sebentar. "Mau ngapain, Neng? Kan sepi itu kalo malem gini."

Ah, si bapak ini pura-pura ga tahu aja. Aku yakin dia tahu kok kemana arah pembicaraan ini.

"Justru saya lagi nyari tempat sepi, Pak. Cuma di situ yang kepikiran. Soalnya saya mau minta diewe, Pak. Memek saya udah gatel banget minta disodok dari kemarin. Tapi ga mungkin ngelakuinnya di rumah saya. Orang tua saya lagi ada di rumah, soalnya," jawabku, tanpa basa-basi.

"Kangen kontol saya, ya, Neng? Sampe ngebet banget minta diewe di bongkaran rumah."

Aku ga merespon pertanyaan Pak Jumadi dengan kata-kata. Sebaliknya, tangan kiriku yang langsung merayap cepat ke selangkangannya yang masih tertutup celana bahan. Meski dari luar, tapi aku bisa ngerasain kalau kontol si bapak sudah mulai menegang, dan dengan gemasnya langsung kuremas-remas saja. Baru megang saja, memekku sudah berdenyut-denyut seakan ga sabar ingin dimasukin sama kontol gemuk Pak Jumadi.

Melihat kelakuanku, Pak Jumadi kembali geleng-geleng kepala. Dia pun mempercepat laju motornya. Membelah jalanan yang tumben sekali terasa lengang malam ini.
==========

==========
Chapter 7 — Extended Fun part 3 (last)





Di Jalan Raya Krukut, Depok, tepatnya setelah kolong jembatan tol yang baru dibangun, ada bekas kontrakan petakan tiga pintu yang sudah lama dibiarin terbengkalai setelah sebelumnya dibongkar. Tiap unit kontrakan itu punya tiga petak ruangan. Karena yang dibongkar itu cuma jendela, atap, pintu, dan tembok ruang paling depan dan belakang, jadinya tembok petak kedua masih berdiri tegak.

Meski aku tahu kalau kontrakan ini sudah lama dibongkar, tapi baru pagi ini bongkaran kontrakan ini menarik perhatianku, saat aku diantar Abi ke sekolah pakai motor. Tempatnya tuh... gimana ya, seperti halnya bongkaran bangunan pada umumnya, ya terbuka gitu deh di beberapa bagiannya. Tapi yang menarik, aku bisa bayangin kalau ada beberapa sudut-sudut yang ketika kita berada di sana, kita ga kelihatan sama orang yang lewat. Pemikiran ini bikin aku dapat ide, kayaknya... seru... kalau... aku bisa ngewe di sana.

Aku rasa, ide itu akan terealisasi, sebentar lagi. Memekku sampai berdenyut-denyut karena sudah ga sabar.

"Beres, Neng. Udah saya umpetin motornya," kata Pak Jumadi, yang muncul dari balik petak kedua pada bongkaran kontrakan paling kiri.

Setelah kita sampai di lokasi beberapa menit lalu, Pak Jumadi langsung sigap umpetin motornya di kontrakan sebelah kiri. Tapi ga gampang untuk umpetin motornya, karena Pak Jumadi harus dorong motornya keluar jalan aspal, lalu harus bersabar dengan susahnya proses ngedorong motor di landasan berbatu. Setelah beres, motornya pun kini tersembunyi di balik tembok, yang ku kira, ga akan kelihatan sama orang yang lewat.

Tapi kalau masukinnya aja susah, gimana keluarin motornya, ya, nanti? Ah, biar deh. Itu urusan dia. Biar lebih ada usahanya ini orang. Maksudku, bahkan dia ambil perawanku dengan bantuan obat perangsang. Ga ada kerja kerasnya banget, kan?

Untungnya, suasana sekitar memang lagi sepi banget. Jadinya, aku bisa buru-buru ngumpet di petak kedua pada bongkaran kontrakan yang tengah. Aku pilih ngumpet di sini, karena tembok depannya yang kelihatan paling minim lubang, juga karena tembok samping di kiri dan kanannya masih berdiri kokoh.

"Aman, Pak?" tanyaku, sambil bersiap membuka kancing seragamku.

Pak Jumadi mengacungkan jempol. "Aman, Neng. Ga bakal ada yang tau kalo kita lagi di sini," katanya, ngeyakinin aku.

Sambil mempreteli kancing satu persatu, aku juga celingukan ke sekitar. "Tapi serem juga, ya, Pak. Siapa sih yang ngide bikin kontrakan yang ga ada bangunan tetangga di kiri-kanannya gini?" komentarku, yang langsung ditanggapi dengan tawa oleh Pak Jumadi.

"Ya justru karena ga laku, makanya sepi, terus dibongkar." Pandangan Pak Jumadi pun ga lepas dari isi seragamku yang makin terekspos seiring makin banyak kancing yang lepas. "Takut sama setan, Neng?"

Mendengarnya, aku langsung tertawa getir. Rasanya, di keadaanku yang sekarang, justru jadi ironis kalau aku takut dengan makhluk yang katanya malah senang kalau ada manusia yang berbuat dosa. "Saya udah kepalang horny, Pak. Ga mikirin takut-takut sama yang begituan," setelah semua kancing seragamku terbuka, aku langsung menyodorkan sepasang tetek montokku ke Pak Jumadi, "nih, Pak, buat Bapak karena udah mau jemput saya."

"Ah, masa hadiahnya cuma tetek, sih, Neng? Mmhhh." Meski komplain, tapi tetek kananku dicaplok juga, sambil ngeremas yang kiri.

"Duh... geli...," aku menggigit bibir saat Pak Jumadi mulai mengemut putingku, "...hadiahnya kan... saya, Pak. Terserah Bapak... mau ngapain aja... saya terima, nnngghhh..."

Sebenarnya aku ga punya banyak waktu untuk bermesum ria di ruang terbuka begini, karena aku harus pulang sesegera mungkin biar Abi dan Umi ga khawatir. Tapi rasa enak karena kedua tetekku dirangsang bikin aku ga bisa menimbang skala prioritas. Makin terangsang, makin aku lupa diri. Akhirnya aku pasrah saja menerima kenyataan bahwa aku sedang dilecehin sama Pak Jumadi.

Atau lebih tepatnya, aku yang meminta untuk dilecehin. Hhhh... gatel banget memang kamu, Dea!

Pak Jumadi ga banyak bersuara. Mungkin karena sadar akan suasana sekitar yang sepi dan ga mau bikin kita ketahuan. Kalau gitu, sekarang penentunya ada di aku. Harusnya aku bisa tutup mulut juga. Tapi bener deh, rangsangan yang aku terima bikin aku ga tahan untuk mendesah.

"Mmmhhh... Paaakkk... iyahhh, gigit-gigit kecil kayak gitu. Emmmhh... auuuhhh... itu putingnya udah tegang banget... uuhh... digigitin... dijilatin... diisep-isep... terussshhh... terusssshhhh...."

Meski suasana sekitar yang gelap dan cuma terbantu oleh cahaya bulan, tapi karena kulitku yang putih, membuat Pak Jumadi bisa ngelihat ada banyak bekas merah yang dibuat Bu Siska di tetekku. Kata Bu Siska, tanda merah itu namanya cupang. Aku nikmatin banget proses pembuatan cupang ini. Rasanya sakit bercampur enak saat permukaan kulitku dihisap dan digigit kecil-kecil. Makanya, aku nagih saat Bu Siska buat satu cupang di leherku, dan berujung jadi banyak di sekujur leher sampai tetekku.

"Wah, ini siapa yang nyupang, Neng?" bisik Pak Jumadi saat pandangi banyak tanda merah di tetekku.

"Oohhh, itu... yang tadi... yang nemenin saya nungguin Bapak."

"Itu guru Eneng? Wah, wah... ada bakat ngelesbi juga ya, Neng?"

"I-iyahhh... itu guru... AAUUHHH—" Aku spontan menggigit lengan kananku, untuk meredam erangan tiba-tiba yang keluar karena Pak Jumadi sedang membuat cupangan di salah satu bekas cupang yang dibuat Bu Siska. "Oohh... Ppaaakkk... bikin lagi, Paaaakkk... bikin yang banyakkk..."

"Iya, Neng. Ini abis bikin satu lagi." Lidah Pak Jumadi pun liar banget ngejilatin seluruh permukaan tetekku. Baik di bagian daging yang kenyal dan putingnya ga luput dari sapuan lidah basah si bapak. "Pasti belom mandi dari hotelnya, ya, Neng? Ini masih bau keringet banget, saya suka. Terus ini teteknya pasti belom dibilas yang bekas dijilatin sama dicupangin gurunya. Bikin makin nafsu saya jilatinnya."

Bukannya tersinggung karena dengerin komentar mesum Pak Jumadi soal diriku dan Bu Siska, justru bikin aku makin horny. Badanku menggelinjang saat ngebayangin bekas mulut Bu Siska pada badanku, ternyata dinikmati juga sama Pak Jumadi. Rasanya sekarang sudah ga ada bagian yang luput dari mulut si bapak pada tetekku, seperti halnya yang dilakuin Bu Siska sepanjang siang sampai petang ini kepadaku.

"Engghh... engga, Pak, ga sempet mandiii... soalnya udah malemmm... kan saya harus pulang, ooohhh..."

Pak Jumadi kayaknya makin ga tahan. Sekarang dia lepas kancing celananya, terus keluarin kontol gemuknya yang sudah mengeras dari balik celana dalam. Celana panjang dan dalamannya sendiri langsung melorot ke kaki, bikin kontolnya menggantung bebas. Aku ngerasain kontol tegang itu pun menempel-nempel ke bawah perutku yang masih berbalut rok abu-abu.

"Neng, langsung aja, ya? Saya udah ga tahan, nih." Tangan Pak Jumadi yang lihai itu langsung menyelinap ke balik rok panjangku. Dia agak kaget ketika mendapati bahwa aku ga memakai celana dalam. Jari-jari kasarnya itu pun meraba bibir memekku, yang memang sudah basah dari tadi. "Nih, Eneng juga udah becek banget. Gampang lah dimasukkinnya."

Aku mengangguk pasrah. Ku biarkan Pak Jumadi yang mulai menyingkap rokku ke atas, lalu dia mengangkat sebelah kakiku sambil dia renggangkan selebar mungkin. Dia kemudian memposisikan kontol tegangnya ke bibir memekku. Aku spontan ingin mendesah karena merasa kegelian, tapi segera kugigit bahu Pak Jumadi agar suaraku ga keluar.

"Saya masukin, ya, Neng," bisiknya di sisi kiriku. Meski pakai hijab, tapi bisikannya kedengaran jelas, kok.

Pak Jumadi mulai arahin kepala kontolnya ke bibir memekku. Dia gesek-gesek supaya kepala kontolnya ikut licin terkena lendir memek. Aku cuma bisa menggigit bahu Pak Jumadi lebih keras, karena sensasi geli yang aku rasain di bawah sana terasa makin intens. Kemudian, Pak Jumadi mulai ngedorong kontolnya masuk ke lubang memekku. Pelan. Baru masuk sepertiga kepalanya, langsung dia tarik lagi. Lalu dia dorong lagi lebih jauh, habis itu dia tarik lagi. Begitu terus, sampai setengah bagian kontolnya masuk.

Aku yang sedang menanti-nanti kontol Pak Jumadi untuk masuk sepenuhnya ke memekku, sampai menahan nafas karena tegang. Meski sekarang setengah bagian kontolnya sudah masuk, tapi rasa gatal dan greget di dalam memekku masih terasa. Aku ingin dimasuki lebih dalam lagi!

Dan kayaknya, Pak Jumadi menangkap keinginanku. Dia lalu mengangkat kakiku yang satunya. Kedua kakiku sekarang terangkat, dengan posisi melipat dan belakang lututku dia topang dengan kedua lengannya. Badanku mengangkat dan bertumpu pada lengan Pak Jumadi, dan aku lumayan kagum dengan kekuatannya yang sanggup menopang badanku.

Sementara badanku terangkat dan kakiku mengangkang lebar, Pak Jumadi kembali mendorong kontolnya supaya masuk lebih jauh ke memekku. Tadinya, aku pikir Pak Jumadi akan mendorong pelan, seperti yang tadi, tapi...

"HHHNNNGGGGGGHHH!"

Erangan kaget lolos keluar dari celah mulutku yang sedang menggigit keras bahu Pak Jumadi. Dia ternyata langsung mendorong kontolnya kuat-kuat hingga mentok di memekku, dan aku yang ga siap dengan kejutannya jadi kaget banget. Apalagi sodokan mentoknya terasa enak banget, bikin aku otomatis mengerang. Lalu disusul dengan rasa gemetar di sekujur badanku, seiring rasa geli, keenakan dan ingin pipis yang meledak-ledak spontan terasa di memekku. Aku langsung orgasme di penetrasi pertama.

"Pak, Pak, Pak... memek saya masih... ahhh, ahhh, ahhh, oooouuhhh... OOOOHHNNGGGMMMFFFF!" Aku spontan kembali menggigit bahu Pak Jumadi untuk meredam desahan. Sementara, Pak Jumadi yang ga peduli kalau memekku masih sensitif habis orgasme, justru langsung menggenjot memekku dengan liar dan cepat. Kontolnya yang keluar dan masuk di memek sensitifku bikin dinding memekku terstimulasi lebih gila lagi. "HHHNNGGG! MMMMFFFF... MMMMFFFFHHH... OOOHHH... OOOHHHH... EEEERRRGGHHH!"

Aku sudah ga peduli lagi kalau memekku sedang digenjot habis-habisan oleh Pak Jumadi. Yang aku rasain sekarang cuma rasa nikmat yang datang bertubi-tubi, dan ga kasih aku jeda bahkan untuk bernafas. Tanganku pun memeluk erat punggungnya, melingkar dari bawah ketiak hingga mencengkeram bahunya. Sementara kedua kakiku kini mengapit pinggangnya yang masih terus bergerak maju dan mundur, dan kedua tangannya kini mencengkeram dua bongkah pantatku sambil menopang berat badanku.

Aku pun ga tahu sudah berapa lama aku digenjot dalam posisi ini. Yang aku tahu cuma rasa enak ketika kontol Pak Jumadi keluar-masuk di memekku, dan tiap kontolnya masuk tuh rasanya sampai mentok banget. Aku juga ga ingat sudah berapa kali aku orgasme. Yang jelas, karena ketika orgasme aku ga diberi jeda untuk merilekskan memekku yang super sensitif, jadinya memekku makin gampang untuk meraih orgasme berikutnya, lalu berikutnya lagi, dan seterusnya.

Ga ada lagi desahan verbal yang keluar dari mulut kami. Cuma nafas tersengal dari Pak Jumadi di kupingku, dan erangan tertahan dari mulutku yang masih menggigit bahunya. Lalu ku dengar nafas Pak Jumadi makin ga teratur. Makin memburu. Hujaman kontolnya juga makin cepat dan kasar. Kayaknya dia juga mau orgasme. Makin eratlah jepitan kakiku di pinggangnya, dan pelukanku pada punggungnya. Hatiku jadi bersemangat karena tahu kalau Pak Jumadi akan segera ngeluarin pejunya sebentar lagi.

Dan pada satu hentakan kuat, kontol Pak Jumadi melesak sampai mentok di memekku. Rasanya mentok banget, hingga aku merasa kalau kepala kontol Pak Jumadi sampai mencium bibir rahimku. Tentu saja, ini kasih efek nikmat yang jauh lebih gila dari yang sebelumnya aku rasain. Saking enaknya, aku sampai mengejan hebat. Apalagi saat kontol Pak Jumadi terasa berdenyut kencang saat mentokin memekku. Denyutannya berbalas dengan denyutan pada dinding memekku, dan ini bikin kontol Pak Jumadi memuncratkan pejunya. Sumpah, kerasa banget pejunya menyemprot kuat beberapa kali saat kontolnya berdenyut terus.

Semprotan peju Pak Jumadi bikin aku orgasme untuk kesekian kali. Yang ini bahkan sampai bikin lututku gemetar heboh. Aku pun pasrah saja, saat pipis enakku bermuncratan dengan derasnya karena efek orgasme yang ga bisa aku tangani.

Pak Jumadi pun masih terus mentokin kontolnya ke memekku, bahkan lama setelah pejunya ga lagi bermuncratan. Kayaknya dia kesulitan mau cabut kontolnya, soalnya pinggangnya masih terjebak di antara jepitan melingkar dari kedua kakiku. Baru setelah badanku berhenti mengejang, kakiku mulai lemas dan lunglai. Aku pun lepasin jepitanku pada pinggangnya, lalu kembali menapak tanah. Setelah itu, Pak Jumadi perlahan cabut kontolnya.

Begitu badan kami ga lagi terkoneksi, aku langsung jatuh duduk. Lututku lemas banget, rasanya sampai gemetar kalau berdiri. Aku pun memandang kosong. Rasanya orgasme yang terakhir membuatku hilang akal. Kupandangi kontol Pak Jumadi yang sudah mulai lemas. Kontol basah yang kelihatan mengkilap karena licin terkena lendirku. Aku ingin ngomong sesuatu, tapi otakku ga sanggup memprosesnya, dan mulutku akhirnya cuma bisa bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara.

Pak Jumadi pun berkata sesuatu, tapi aku ga bisa fokus sama apa yang dia katakan. Akhirnya, Pak Jumadi pergi setelah beres-beres, ninggalin aku yang masih duduk di lantai kotor, dengan seragam membuka yang mengekspos tetekku, hijab yang sudah berantakan, dan kacamata yang letaknya sudah ga simetris.

Setelah agak lama, aku akhirnya kembali bisa menguasai diri. Pak Jumadi juga balik lagi. Ternyata tadi dia sedang keluarin motor dari kontrakan sebelah. Saat balik menjemputku, Pak Jumadi tertawa melihatku yang seperti orang kebingungan karena kebanyakan bengong.

"Masih belom sadar, Neng?" tanyanya, sambil membantuku berdiri.

Setelah susah payah berdiri, ternyata lututku masih lemas. Jadinya aku langsung bersandar di dinding supaya ga jatuh lagi. "Udah, Pak. Cuma badan saya lemes banget, nih," jawabku.

Ga disangka, Pak Jumadi mau untuk pasang kancing seragamku seperti semula. Dia juga pakaikan jaketku. Saat sedang pakai jaket, aku agak kaget ketika menyadari kalau ada sesuatu yang mengalir keluar dari selangkanganku, dan turun melewati pangkal paha.

"Sini, saya bantu ke motornya, yuk. Tapi cepet, ya, takut ketauan orang."

Aku mengangguk, kemudian ngebiarin Pak Jumadi memapah badanku hingga ke motor. Aku juga dibantu untuk naik ke jok belakang, dan si bapak segera naik setelahnya. Motor pun dinyalakan, dan kami berdua buru-buru pergi dari tempat itu.

Sepanjang jalan, aku ga bicara sepatah kata pun. Aku terlalu lemas dan malas untuk ngomong. Tapi kurekatkan badanku ke badan Pak Jumadi. Aku peluk erat, sambil kusandarkan kepalaku ke punggungnya.

Ahhh... jadi ini yang namanya rasa tenang sehabis orgasme. Ini perdana aku rasain, dan rasanya menyenangkan. Tapi setelah kupikir ulang, aku butuh berhari-hari tersiksa oleh rasa horny dan puluhan orgasme buat mencapai fase ini. Gila. Panjang juga prosesnya.

Ah, bodo amat, deh. Aku ga mau mikir apa-apa lagi.


———​


Sesampainya di depan pagar rumah, aku langsung lepas helm yang baru aku pakai saat baru masuk gerbang komplek, dan kuberikan ke Pak Jumadi. Karena aku tahu orang tuaku sudah menunggu di teras, aku jadi pura-pura cek HP di depan Pak Jumadi.

"Pak, bayarnya sudah pakai gopay, ya," kataku, sambil menghadap ke Pak Jumadi dan memberi kedipan mata sebagai kode.

Untung si bapak ini sigap. Dia langsung lihat HP-nya, terus acungin jempol ke aku. "Udah masuk, Neng. Sip, sip. Jangan lupa kasih ratingnya bintang lima, ya, Neng," balas dia.

Aku mengangguk pelan. Karena aku sedang memunggungi orang tuaku, jadi mereka ga bisa lihat kalau sekarang aku sedang menatap Pak Jumadi dengan tatapan nakal penuh nafsu dan gigi yang menggigit bibir bawah. Lalu aku balik badan, dan segera buka pintu gerbang kecil. Umi buru-buru menyambutku yang baru masuk garasi, sementara Abi sedang telponan, entah dengan siapa. Tapi Abi sempat menyambut salimku, tersenyum, lalu masuk duluan ke dalam.

"Abi kamu tuh udah was-was aja dari tadi," Umi menepuk pundakku, pelan, "tumben banget kamu pulang jam segini. Lama tadi pelajaran tambahannya?"

"Lumayan, Umi. Tadi ada ekskul ROHIS, terus abis itu ikut remidial di rumah Bu Siska. Kan kemarin lusa Dea ga masuk, karena sakit. Jadi ga ikut ulangannya Bu Siska," jawabku. Gila, lancar banget bohongku ke Umi.

"Bu Siska tuh baik, ya. Umi seneng deh kamu punya guru yang perhatian."

"Iya, Umi. 'Baik' banget. Dea kayaknya disayang deh sama Bu Siska."

Umi pun tersenyum lega mendengar apa yang aku bilang. Lalu Umi mengajakku masuk ke dalam rumah, sebelum akhirnya menutup dan mengunci pintu depan. Mengurungku di rumah yang para penghuninya bisa saja kalap dan membantaiku kalau mereka tahu bahwa, di balik jaket, seragam, hijab dan rok panjang yang kupakai ini, tersembunyi badan penuh cupang di leher dan dada, dan peju di dalam memek dan paha.

Dan aku malah menikmati sensasi takut ketahuannya. Entah, mungkin aku sudah sakit jiwa.
==========

==========
Chapter 8 — Unexpected New Friend





Aku telat, aku telat, aku telaaaaat! Gara-gara kemarin aku capek banget, jadinya tidurnya bablas sampai pagi. Padahal, biasanya aku sudah bangun dari sebelum Subuh, loh. Tapi kali ini aku justru baru bangun hampir jam 7! Itu pun karena...

"Rasain, kamu tuh. Makanya kalo tidur jangan sampe bablas gitu. Udah ga subuhan, dibangunin juga susah. Kalo Umi ga ngeguyur kamu, ga bakal kamu inget sekolah."

Umi masih terus ngomelin aku dengan konten yang berulang dari sejak belum berangkat. Meski lagi nyetir, tapi Umi punya konsentrasi luar biasa untuk ngomel sambil ngebut di jalan tol Desari. Tapi tipikal ibu-ibu, konten omelannya selalu sama dan berulang. Persis kayak orang kena dementia.

Aku ga jawab omelan Umi. Pertama, karena aku tahu aku salah, jadi alih-alih daripada membela diri dan malah berujung nambahin masalah, mending diem aja. Kedua, karena mulutku lagi ngunyah sarapan yang baru sempat aku makan di mobil. Umi akan marah banget kalau aku ngomong sambil makan. Kata Umi, itu kebiasaan setan, dan muslimah yang baik ga mengikuti kebiasaan setan.

Setelah keluar dari pintu tol Andara, Umi masih ngebut meski tahu kalau pintu gerbang sekolahku sudah ditutup pada saat ini. Tapi karena di perempatan DDN macet panjang, akhirnya aku minta diturinin di pinggir jalan. Dari sini, deket kok jalan ke sekolahku.

"Dea, salim dulu! Bisa-bisanya kamu lupa salim!"

Tuh... Umi ngomel lagi karena aku buru-buru turun dari mobil tanpa salim. Karena dilihatin banyak orang, akhirnya aku malu-malu samperin mobil Umi, yang masih kejebak macet. Setelah salim dan ucap salam, aku balik lagi, jalan cepat-cepat menuju sekolah.

Pas lagi jalan, ponselku yang berada di saku, berdering. Karena aku aktifin fitur getar kalau ada panggilan masuk, jadi getarnya bikin tetek kiriku geli. Enak juga rasanya. HEH, INI BUKAN WAKTUNYA NIKMATIN BEGINIAN, DASAR MESUM!

"Assalamu—"

"Sayang, kamu dimana? Kok Ibu ga ngeliat kamu sih dari tadi?"

"Nnggg... Bu Siska?"

Suara di seberang telepon berhenti sejenak. "Emang siapa lagi yang panggil kamu 'sayang', sampe harus nanya dulu gitu?"

Wah, suaranya jadi jutek. "Ga gitu, Bu. Tadi aku ga liat siapa yang nelpon. Ini aku di...."

Belum selesai aku nerusin kalimatku, aku sudah sampai di gerbang sekolah, dan Bu Siska ada di baliknya. Dia berdiri sambil memasukkan tangan kiri di kantong seragam, dan tangan kanan mengenggam ponsel yang dia gunain untuk telepon aku. Situasi kami persis seperti sepasang kekasih yang ga bisa bersama karena dibatasi gerbang pemisah, dan cuma bisa tatap-tatapan ke satu sama lain.

Bu Siska langsung tutup telepon, lalu dia ke pos satpam. Beberapa detik kemudian, dia keluar bersama salah seorang satpam yang langsung bukain gerbang kecil. Lalu, Bu Siska menghampiriku. "Masuk dulu, ayo kamu udah telat banget, Dea," katanya, sambil menarik tanganku.

"Eh, ga apa-apa, nih, Bu?"

"Harusnya ga boleh. Tapi Ibu kasih kamu kompensasi, untuk kali ini aja. Kalo kamu telat lagi, Ibu ga bisa nolongin kamu lain kali."

Bu Siska terus ngegandeng aku dari gerbang sekolah hingga ke koridor yang ada meja piketnya. Aku mau ngomong sesuatu, tapi kayaknya Bu Siska lagi buru-buru, jadi aku tunggu aja. Pas sudah sampai meja piket, Bu Siska baru berhenti jalan.

"Makasih banyak, ya, Bu, tapi... nggg...," aku menarik seragam Bu Siska, lalu menunjuk tangan kami yang sedang bergandengan, "...maksud aku, ga apa-apa kita pegangan tangan gini di area sekolah?"

Bu Siska spontan lepasin genggaman tangannya. Mukanya langsung merah banget kayak tomat. Dia pun lihat kiri-kanan, kayaknya berharap ga ada yang merhatiin sikap kami berdua tadi. Terus, dia natap aku, dan bilang, "kamu kenapa ga ngingetin Ibu dari tadi, sih?"

"Ibu kayaknya lagi buru-buru, soalnya. Jadi aku biarin aja."

"Ya iya lah buru-buru! Ini udah masuk jam pelajaran kedua. Dari jam pelajaran pertama, kamu ga ada. Ibu sampe harus alesan ke kamar mandi supaya bisa nungguin kamu di gerbang, biar tetep bisa ikut pelajaran Ibu. Kalo ga Ibu tungguin, kamu baru dibolehin masuk di bel jam pelajaran ketiga nanti, tau."

Oh... iya... jadwal hari ini kan pelajaran Biologi di jam pertama dan kedua. Pantes Bu Siska ngomel, karena kalau aku telat, aku ga akan bisa ikut pelajaran dia. Karena aturan di sekolahku ini, kalau siswanya telat, maka harus tunggu di gerbang sekolah selama jam pelajaran pertama dan kedua. Sanksinya juga akumulatif. Kalau telatnya sampai tiga kali, berturut-turut atau pun engga, siswa yang telat disuruh pulang dan besoknya diminta menghadap wali kelas bersama dengan wali muridnya. Itu kenapa Bu Siska minta ke satpam untuk izinin aku masuk, karena kalau tanpa bantuan Bu Siska, aku harus nunggu lama.

"Dea, kamu masuk kelas duluan, nanti selang berapa menit, gantian Ibu yang masuk. Masih ada waktu setengah jam buat kamu kerjain ulangan yang Ibu kasih. Soalnya udah ada di meja kamu, ya," tambah Bu Siska, sambil dorong punggung aku supaya jalan lebih dulu ke kelas.

"Kok ulangan sih, Bu?!" balasku, panik.

Aku berusaha keras mengingat apa Bu Siska sebelumnya pernah menyebut akan ada ulangan hari ini, tapi hasilnya nihil. Duh, mana belum belajar juga.

"Ulangan dadakan. Makanya, jangan telat biar bisa ikut ulangan." Tepat sebelum aku naik tangga, Bu Siska menarik lenganku. "Atau kamu... Ibu kasih kunci jawabannya aja, ya? Gimana?"

Aku pun tatap Bu Siska, lama. Mataku berbinar-binar bahagia karena terharu dengan kebaikan Bu Siska. Lalu, aku tersenyum kecil. Kugelengkan kepala, pelan, beberapa kali. "Ga perlu, Bu. Consider it done, aja," kataku, penuh percaya diri.

Pasti sekarang aku lagi keliatan keren banget di mata Bu Siska.

"Dih. Sombong banget ini anak." Bu Siska mencibirku sambil bertolak pinggang. Tetek besarnya jadi lebih membusung sekarang.

"I love you too, Bu."

Aku pun menaiki anak tangga, menuju kelasku di lantai dua. Sekilas, ku lirik Bu Siska, yang mukanya kembali merah merona. Mungkin akibat ucapanku barusan.


———​


Setelah jam pelajaran Biologi habis dan semua murid diminta kumpulin lembar ulangan, aku langsung merutuki diri sendiri. Gila, soalnya banyak yang aku lupa! Dari dua puluh soal essay, aku cuma sanggup jawab setengahnya. Sisanya aku pasrahin ke Bu Siska aja, mau kasih aku nilai berapa.

"Dea, tadi bisa jawab berapa soal?" tanya Freddy yang tiba-tiba samperin aku yang lagi stress sendiri. Ini anak tumben banget sok akrab ke aku. Biasanya anteng aja duduk diem di mejanya.

"Ih, Dea mah jangan ditanya. Semua dia jawab," kata teman sebangku di sebelahku, lalu dia pun nyenggol lenganku, "Ya kan, De?"

Aku cuma bisa tersenyum getir untuk ngebales pertanyaan tadi. Sementara ketika aku melirik Bu Siska yang sedang menata lembar ulangan siswa, Bu Siska pun melirikku. Pandangan kami bertemu, dan Bu Siska langsung ngelihatin aku dengan pandangan mengejek. Kelihatan jelas banget di sorot matanya.

Mampus. Remidial ini, sih. Duh, rekor tanpa remidialku bakal pecah. Bukan mau sombong... ga, deh, emang mau sombong, aku tuh selama ini belum pernah remidial. Freddy, si nomer dua aja, yang kata orang-orang pinter banget itu, pernah remidial walau cuma sekali. Kalau nanti aku remidial, levelku jadi turun dan setara dengan si nomer dua itu.

Duh, akhirnya ngerasain yang dirasain kaum medioker, deh.

Karena suntuk, akhirnya aku mutusin untuk ke toilet. Kebetulan guru di jam pelajaran selanjutnya lagi pemberkasan, jadi para murid cuma disuruh ngerjain soal-soal di buku Lembar Kerja Siswa. Kesempatan ini aku pakai buat ke toilet. Kebelet banget, soalnya. Kebelet pengen masturbasi, buat redain stress!

Oh iya, sebenarnya, sejak semalam yang akunya ngentot dengan Pak Jumadi itu, bikin rasa hornyku jadi turun drastis, dan tetap stagnan sampai sekarang. Maksudnya, urgensi untuk bermasturbasi jadi jauh berkurang, dan badanku ga sesensitif kemarin-kemarin. Sensasi panas di badanku yang bikin aku horny setiap waktu itu juga sudah hampir reda.

Seharusnya kesempatan ini aku pakai untuk menjalani hidup dengan normal, kayak sebelum-sebelumnya. Tapi karena aku stress akibat ga mampu selesein semua soal ulangan Biologi dengan baik, aku butuh pelampiasan supaya merasa lebih baik. Aku butuh dorongan dopamin supaya stressku berkurang, dan salah satu cara paling gampang untuk dapat dopamin, ya dengan masturbasi.

Langkah kaki membawa aku ke toilet paling sepi di lantai dua. Letaknya ada di ujung selasar, sebelahan dengan lab komputer. Di lantai dua, sebenarnya ada dua toilet; di samping tangga dekat kelasku, dan di sebelah lab komputer. Toilet ini ga pernah dikunjungi murid-murid. Di keadaan paling darurat pun, mereka lebih milih ke toilet di lantai lain—kalau yang di lantai dua penuh. Alasannya, karena toilet ini dikenal angker, jadi ga ada yang berani ke sini.

Entah sudah berapa rumor yang beredar seputar toilet ini. Ada yang bilang, kalau dulu sekitar tahun 2000-an, pernah ada siswa yang gantung diri di toilet ini karena diselingkuhi pacarnya yang juga siswi di sekolah ini. Ada juga yang gosipin, kalau sebelum rumor gantung diri itu, ada siswi yang gugurin kandungannya dan tewas karena pendarahan di salah satu bilik toilet. Lalu, ada cerita soal penjaga sekolah yang mati dicekik arwah penasaran penunggu toilet.

Rumor-rumor itu tumbuh subur karena dilestarikan secara turun temurun dari satu angkatan ke angkatan setelahnya. Imbasnya, toilet ini jadi sepi, padahal sering dibersihin sama penjaga sekolah. Bukannya aku ga percaya setan, hantu dan sejenisnya, tapi dilogikaku, kalau penjaga sekolah aja ga ada masalah saat bersihin toilet ini, berarti toiletnya ga seangker itu, kan?

Ku masuki area toilet yang memang ga berpintu ini. Ini juga pertama kalinya aku masuk ke sini. Bukan karena takut, lebih ke... efisiensi. Kelasku kan dekat dengan toilet yang non angker, masa harus jauh-jauh ke toilet yang sepi dan suasananya suram gini, sih?

"Eehhh..."

Baru dua langkah aku jejakin di sini, aku sudah mendengar ada suara-suara ganjil. Seperti... suara gesekan benda yang digesek dengan cepat. Lalu... ada suara rintihan lirih yang bisa sayup-sayup kudengar. Bulu-bulu di tengkukku langsung meremang. Makin aku berjalan mendekati bilik-bilik toilet, makin jelas pula suara rintihannya. Seperti rintihan pilu dan kesakitan.

Pikiranku langsung merangkai skenario yang ga aku inginkan. Di otakku, aku ngebayangin ada hantu perempuan yang lagi merintih kesakitan. Jangan-jangan... itu suara rintihan dari hantu siswi yang katanya tewas akibat pendarahan?!

Aku ingin buru-buru kabur, tapi tetap sebelum badanku berbalik, pintu bilik yang letaknya paling ujung, sedikit membuka. Mungkin... karena angin. Iya, kan, angin, kan? Pasti angin yang mendorong pintu bilik itu jadi agak membuka. Tapi anehnya, pintu bilik lain tertutup rapat.

Kini, aku ngerti banget kenapa di film-film horror, para tokohnya justru malah ngedeketin sumber keganjilan yang berpotensi munculin hantu. Bukan karena mereka sok berani, tapi justru karena penasaran. Rasa penasaran yang ngedorong kakiku untuk melangkah, deketin bilik itu. Aku cuma mau ngecek ada apa di dalam sana. Karena... suara rintihan yang aku dengar, terasa makin jelas saat aku mendekat ke bilik itu.

Pelan-pelan, ku dorong pintu bilik. Sejenak, tanganku ragu untuk mendorong lebih jauh. Sumpah, tanganku keringetan. Aku ga siap kalau ternyata di balik pintu ini, justru aku nemuin hantu berdarah-darah yang akan langsung nyergap aku. Ku tarik lagi tanganku, urung mau buka pintu. Tapi...

Ah, bodo amat, deh!

Ku dorong dengan keras pintu bilik. Begitu membuka sepenuhnya, aku langsung menahan nafas, karena...

"Aaaahhh, aaahhh, nnggghhhhhh... ooooohhhhh!"

Di depanku, aku menemukan seorang perempuan sedang duduk di toilet sambil mengangkang. Sebelah tangannya menggenggam erat sebilah batang yang berada tepat di selangkangan. Perempuan itu langsung mengejan sambil mengarahkan batangnya, tepat ke arahku. Sedetik kemudian...

"Oohh, shit, shit! So-sorry, aaahhh... shhhiiitt!"

Batang yang digenggam perempuan itu ngeluarin cairan putih kental yang menyembur heboh ke arahku. Semburannya terlempar jauh, hingga mengenai seragam, pipi dan kacamata yang kupakai. Bahkan ada juga yang mengenai sisi bibirku yang membuka.

Karena menemukan kejadian yang diluar ekspektasi, aku jadi bengong. Refleks, lidahku menjulur, menjilati cairan kental yang menempel di sisi bibirku. Hmmm... rasanya asin dan getir, tapi ada rasa gurih juga. Aku pernah mencicipi yang kayak gini. Pejunya Pak Jumadi, rasanya mirip dengan yang sedang kucicipi ini. Tapi yang ini lebih enak, beneran. Ga ada rasa pahit kayak pejunya Pak Jumadi.

Oke, ini ternyata peju.

"Eh-aduh, maaf, maaf! Aduh, gimana nih?!"

Si perempuan panik. Dia buru-buru bangun, lalu pakai bagian seragamnya yang sudah dilepas kancingnya untuk mengelap peju yang berlumuran di seragamku. Terus dia tambah panik, ketika batang yang masih menggantung di selangkangannya itu malah mengenai rok panjangku. Ujung batangnya masih terdapat sedikit cairan, dan sekarang menempel di rokku.

"Yah, eh... aduh... mampus gue, mampus, mampus, mampus! To-tolong banget, jangan bilang siapa-siapa, plis, ya? Ya?" pintanya, sambil terus berusaha bersihin cairan peju dari seragamku.

Butuh sekian detik berikutnya untukku supaya bisa menguasai diri sepenuhnya. Setelah berhasil, aku pergi ke wastafel. Kupercik air ke beberapa bagian seragamku yang ternodai peju. Yap, ga begitu bersih, tapi yaudah lah. Lalu, aku deketin si perempuan yang kini lagi beresin seragamnya sendiri dengan kondisi panik.

"Nggg... hei," aku menggenggam erat kedua bahunya, "tenang dulu. Tarik nafas panjang. Bawa santai. Oke?"

Dia pun mengangguk, lalu tarik nafas panjang, dan dihembuskan pelan. Aku suruh dia untuk ulangi beberapa kali.

"Udah lebih tenang?"

Dia kembali mengangguk. "Ma-makasih, ya."

"Jadi, gini," aku berdehem kecil, "ini bukan pertama kalinya aku disemprot peju, jadi aku ga begitu kaget. Tapi—"

"—apa itu peju?" tanya si perempuan, memotong.

"That sticky, white thing of yours. Sperma, bahasa bakunya."

Si perempuan mengangguk-angguk, mengerti.

"Pertama, aku syok karena aku baru pertama kali ngeliat ada perempuan yang punya kontol. Maksud aku... kamu perempuan, kan? Kamu keliatan banget kayak—"

"—apa itu kontol?" tanyanya lagi, tentu setelah memotong omonganku.

"Penis. Kalo penis tau, kan?" Dia pun mengangguk, sekali. "Potong omonganku sekali lagi, dan aku akan teriak terus bilang kalo kamu tuh perempuan berpenis. Jadi, kalo kamu mau aku ga bilang siapa-siapa, kita ngomong secara bergantian. Aku tanya, kamu jawab. Oke?"

Dia mengangguk lagi. Ada ketakutan di sorot matanya saat menatapku.

"Oke, kita ulangi, ya. Pertama, kamu ini perempuan atau laki-laki? Kalau laki-laki, kenapa masuk ke toilet perempuan? Kalau perempuan, kenapa punya 'itu'?" tanyaku, sambil menunjuk ke arah selangkangannya yang sekarang sudah tertutup rok. Lalu, aku pun ngelanjutin, "Kedua, kamu murid baru, ya? Aku ga pernah liat kamu sebelumnya. Kalau iya, kamu ada di kelas mana? Kalau bukan, kenapa masuk ke sekolah ini?"

"Nggg... aku boleh ga jawab?"

"Jawab atau aku teriak."

"Baiklah, baiklah." Dia celingukan ke sekitar, lalu menarik lenganku untuk masuk bareng ke bilik yang tadi. "Kita ngobrol di sini aja, ya. Aku janji ga akan macem-macem, tapi kamu juga janji ga akan teriak."

"Aku bisa teriak dari tadi kalau aku mau, tapi kan nyatanya engga aku lakuin. Kecuali, kalo kamu ga mau jawab pertanyaan aku."

Si perempuan pun duduk di toilet. Dia menarik nafas panjang, lalu menatapku, dalam. Setelah tarikan nafas panjang yang kedua, dia pun mulai bercerita.


———​


Oke. Jadi cewek tadi tuh namanya Fah. Aku lupa nama lengkapnya, ingetnya cuma nama panggilan dia aja. Fah bilang, kalau dia adalah murid pindahan dari luar negeri, dan baru resmi masuk kelas hari ini. Umurnya delapan belas, setahun diatasku. Fah ini punya wajah yang imut dan bentuk badan yang mungil, tentu dilengkapi kulit mulus dan putihnya.

Fah ngaku ke aku, bahwa dia sebenarnya terlahir sebagai laki-laki. Tapi sejak kecil, dia punya kecenderungan untuk merasa kalau dirinya lebih cocok jadi perempuan. Karena orangtuanya adalah tipe yang liberalis, jadi mereka ga ambil pusing saat Fah mutusin untuk lebih banyak pakai baju-baju perempuan daripada yang sesuai gendernya. Mereka juga merasa, kalau muka Fah terlalu cantik sebagai cowok, dan cocok-cocok aja dengan baju cewek.

Waktu Fah sudah lebih dewasa, Fah mutusin mau rubah gender jadi cewek tulen. Karena di negara tempat Fah tinggal sana gonta-ganti gender adalah hal lumrah (iya, bahkan mereka punya delapan belas klasifikasi gender), dan orangtuanya pun ga ada masalah dengan itu, Fah mulai prosesnya untuk jadi cewek tulen. Dari umur dua belas, Fah rajin konsumsi obat hormon—yang bikin teteknya tumbuh jadi mirip kayak cewek pada umumnya. Suara Fah juga lebih mirip suara cewek daripada suara cowok. Suaranya feminim banget, bikin aku merasa kalau aja aku ga ngelihat kontolnya tadi, aku yakin banget kalau Fah adalah cewek tulen.

Semakin dewasa, Fah juga sadar bahwa administrasi data dirinya itu penting. Fah pun mulai urus administrasi untuk melegalkan kalau dia cewek, tapi terbentur di urusan kelamin, karena kelaminnya masih cowok. Untuk bisa diakui secara legal kalau Fah adalah seorang transgender, maka Fah harus operasi untuk merekonstruksi kelaminnya.

"Harusnya aku operasi kelamin tahun ini di Bangkok," katanya, sambil menghela nafas, "tapi karena Papa ada proyek baru di Jakarta, jadi kami sekeluarga terpaksa pindah. Tapi mungkin itu bantuan semesta, supaya aku ga operasi kelamin. Karena sejujurnya... aku masih takut."

"Aku yang cewek aja ga kebayang kalo kontol dipotong itu gimana." Ngebayanginnya aja, bikin aku bergidik ngeri.

"Iya. Aku takut kalo operasinya gagal. Ga siap, entah, deh."

"Terus, pas daftar ke sekolah ini, kepala sekolah dan guru-guru tau kamu tuh cowok?"

Fah menggeleng. "Papaku palsuin dokumen identitasku, jadi di dokumenku, aku itu gendernya cewek," katanya, sambil meletin lidah. "Untung banget ga ada double check di sini."

"Iya. Administrasi negara ini emang agak kacau soal pengecekannya."

"Jadiiii... aku mohon banget sama kamu, Andrea—"

"—panggil Dea aja."

"Iya, Dea, aku mohon banget, banget, banget ke kamu, jangan kasih tau siapa-siapa soal ini, ya? Kalo ini sampe kesebar, reputasi Papaku juga terancam."

Aku spontan langsung menoyor keningnya. Meski baru kenal, tapi sikapnya yang suka serba asal ini gampang bikin aku kesal. Bodo amat deh kalau dia pikir aku kurang ajar, padahal baru kenal. Dia juga kurang ajar kok. Belum kenal malah pejuin mukaku. Ya... meskipun ga sengaja, sih.

"Heh! Kalo ga mau ketauan, ya hati-hati! Ngapain masturbasi di kamar mandi? Kamu tuh harusnya bersyukur, karena ketauannya sama aku. Coba kalo sama orang lain, udah selesai nasib kamu sekarang."

Untuk sejenak, aku mikirin lagi kata-kataku barusan. Bukannya aku juga niat mau masturbasi di kamar mandi, tadi? Kadang, aku memang butuh cermin supaya malu sama diri sendiri yang suka berstandar ganda.

"Iya, iyaaaaa!" Fah menggenggam kedua lenganku, lalu tersenyum lebar. Ini anak, manis banget kalau lagi senyum.

"Lagian kenapa masturbasi? Ga ketahan?" tanyaku. Sebenarnya, ini pertanyaan yang paling bikin aku penasaran. Tapi baru dapat kesempatan nanya sekarang.

"Pernah ga, sih, kamu ngerasa... badan kamu panas, tapi bukan panas demam. Lebih ke... apa, ya... panas yang jadi bikin kamu terangsang. Dan kalo lagi begitu, kamu ga bisa apa-apa sebelum redain rasa terangsangnya. Kamu ga bisa berpikir jernih, kamu ngerasa pusing dan sakit kepala, otak kamu isinya pikiran-pikiran porno terus... ya pokoknya gitu, deh. Itu yang aku rasain selama ini, makanya aku nekat masturbasi di sini."

Oh. Itu sih yang aku rasain banget. Tenang, Fah, i feel you.

"Kayaknya kita bisa jadi temen deket, deh," kataku, sambil tersenyum lebar. Aku pun menjabat tangan Fah, yang baru aku sadari kalau tangan itu sebelumnya dia pakai untuk bermasturbasi. Ew.

"Kamu... masih mau temenan sama aku, bahkan setelah tau kalo aku kayak gini?"

"No prob. You're human being, after all. Tapi aku masih belum maafin kamu soal cairan lengket itu, loh." Lalu, aku pun tarik tangan Fah, keluar dari toilet. "Kita kayaknya udah kelamaan di sini. Takut nanti dicariin. Balik ke kelas masing-masing?"

Fah mengangguk, pelan. Dia lalu tatap mataku, dalam. Habis itu, dia tersenyum. Senyum paling manis yang pernah kulihat. Ga deh, senyum manis Fah ada di peringkat kedua. Peringkat pertama tetap senyumnya Bu Siska.

"Rạb khwām s̄eī̀yng h̄rụ̄x s̄ūỵ s̄eīy xokās̄," kata Fah, dalam bahasa yang aku ga ngerti. Sambil keluar dari toilet, dia ngomong lagi, "Take risk, or lose chance. Thai poverb, one of my fav. I took my risk to masturbate on toilet room, therefore, i met you. My first cloooose friend in here, the most beautiful one that I ever know. Isn't fate awesome, Dea?"

Duh, ga tau kenapa mukaku langsung terasa panas. Apa aku tersipu karena ucapannya, ya? "Just shut up, you're being cringe," kataku, sambil memalingkan muka.

Fah menyenggol pelan lenganku, lalu sambil mengedipkan sebelah mata, dia berkata, "aw, Dea! Akuin aja, kamu tersipu, kan?"

Aku rasa, mukaku merah banget sekarang, dan Fah kelihatannya bahagia melihatku yang sedang tersipu. Cewek(?) ini tuh bisa banget godainnya.
==========

==========


    Jul 1, 2022 

    Add bookmark
    #292

Chapter 9 — Wild Night part 1





"Deaaaaaa! Ih, tungguin dong, De!"

Aku yang sudah hafal banget siapa pemilik suara cempreng yang terus-terusan manggilin aku itu, mutusin untuk ga ngegubris panggilan dia dan jalan lebih cepat menuju kantin. Aku masih trauma kalau nurutin panggilannya. Terakhir kali aku merespon, aku berujung kehilangan keperawanan dan jadi maniak seks (sekarang tensi gairahku lagi mereda, sih... but hey! Siapa yang tahu kalau nanti aku bakal kumat lagi atau engga). Meski pun bukan dia penyebabnya secara langsung, tapi tetap aja aku ga bisa bohong ke diri sendiri kalau aku ga kesal sama cewek ini.

"Dea, astaga! Awet banget marahnya. Plis dong, tungguin dulu."

Yah, lenganku berhasil dia jangkau. Dia tarik lenganku, bikin pergerakanku terhenti. Terus, dia pun berdiri di hadapanku.

"Ada apa, sih, Ras? Aku laper, nih. Mau ke kantin."

Cewek di hadapanku ini, Laras, memonyongkan bibirnya. "Ya kan seenggaknya bisa tungguin gua dulu sebentar. Lu sengaja nyuekin gua ya, De? Masih marah dari yang waktu itu?"

Aku ga merespon Laras. Aku cuma diam, ngeliatin dia dengan tatapan paling jutek yang aku bisa.

"Oke, gua minta maaf. Maaf banget kalo kemarin itu maksa-maksa lu buat ikut ROHIS. Gua janji, ga akan maksa lagi. Pokoknya besok-besok gua cuma ngajakin aja; kalo mau ikut ya alhamdulillah, ga ikut juga yaudah. Gimana?"

Aku merasa tatapan jutekku memudar, setelah ngeliat ekspresi mengiba Laras dalam meminta maaf. Kayaknya dia beneran menyesal. Akhirnya, ku tarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dari mulut secara perlahan. Nafasku keluar bersamaan dengan rasa jengkelku pada Laras yang ku pendam selama ini.

"Aku maafin." Ku sambut uluran tangan Laras. "Tapi janji, jangan gitu lagi, ya? Aku ga suka dipaksa atau diancam-ancam gitu. Janji?"

"Janji, De. Kita baikan?"

"Kita baikan."

Meski sudah baikan, tapi karena hubungan pertemanan kami sempat renggang beberapa hari belakangan, interaksiku dengan Laras jadi canggung. Kita cuma jalan bareng ke kantin, tanpa ada obrolan berarti. Mungkin, memang butuh waktu.

Pas sampai di kantin, aku melongo karena semua tempat duduk sudah penuh. Ada juga yang kosong, tapi pasti ga bisa dipakai duduk, karena sudah ada satu orang yang booking meja untuk rombongannya yang akan menyusul. Macam kalau lagi nongkrong di kafe aja. Akhirnya, aku urung jajan di kantin, dan mutusin beli makan di pedagang kaki lima yang banyak mangkal di depan gerbang sekolah aja.

Baru beberapa langkah, aku baru sadar kalau Laras ga ikut. Dia berdiri aja di pintu kantin, memandang sekelilingnya. Tapi mukanya keliatan jelas lagi kebingungan.

"Ga ikut ke depan, Ras?" tanyaku, sambil menengok ke dia.

Laras menggeleng. Dia tersenyum tipis. "Duluan aja, ga apa-apa. Gua mau balik ke kelas, De."

Karena aku sudah berteman lama sama Laras, aku hafal banget gelagat dia kalau lagi kebingungan begini. Aku deketin Laras lagi, terus bilang, "laper, kan? Yuk, kita makan gado-gadonya Pak Imron. Aku yang traktir."

"Eh-engga, bukan. Gua ga laper. Beneran, De—"

Tanpa basa-basi lagi, aku tarik lengannya, supaya dia ikut aku ke gerbang sekolah. Laras tuh harus dipaksa; karena meski dia bilang ga lapar, tapi aku tahu perutnya lagi kelaparan sekarang. Aku bahkan ragu kalau dia sudah sarapan.

Laras itu teman dekatku dari SD, jadi aku hafal banget kondisi dia dan keluarganya gimana. Dia berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan, malah kadang kekurangan. Ayahnya seorang honorer di Dinas Lingkungan Hidup, bekerja sebagai penjaga pintu air. Sementara ibunya cuma ibu rumah tangga biasa yang harus mengurusi empat anak, dan Laras adalah yang tertua. Adik-adiknya ada yang baru masuk SMP, dan ada yang masih SD dan TK.

Ada masa-masa dimana keluarga Laras jadi serba kekurangan. Tiap awal tahun, gaji pegawai honorer itu akan telat, karena kata Laras, APBD belum turun. Karena gajinya telat, ayah Laras jadi ga bisa menghidupi keluarganya dan terpaksa berhutang. Makanya tiap awal tahun, keluarga Laras banyak hutang, dan baru bisa dilunasi di bulan Maret ketika gaji sudah cair. Untuk ekonomi keluarganya bisa stabil lagi juga butuh waktu, makanya di bulan-bulan tertentu, Laras ga dibekali uang jajan kalau sekolah. Alasannya demi memangkas pengeluaran. Ini yang bikin dia sering ga makan kalau lagi jam istirahat.

Terus kalau ga dibekali uang jajan, dia pulangnya gimana? Rumah Laras jaraknya cuma tiga kilometer dari sekolah. Untuk berangkat, Laras diantar ayahnya. Tapi kalau pulang, karena ga ada ongkos, dia pulangnya jalan kaki. Tiga kilometer itu lumayan jauh, loh; dan Laras ngelakuinnya rutin tiap hari.

Aku bisa ngebayangin kalau aku ga akan sanggup jadi Laras dengan kondisi yang seperti itu. Tapi Laras memang cewek kuat. Dia ga pernah mengeluh sama kondisi ekonomi keluarganya, meski kadang suka iri juga sama cewek-cewek seumurannya yang bisa pergi ke kafe atau nonton di bioskop. Jadi, kadang kalau aku lagi ada uang jajan lebih, aku yang ajak dia ke kafe dan nonton film-film terbaru.

Secara umum, Laras itu cewek yang menyenangkan dan inspiratif. Cuma orangnya memang suka ga pekaan. Jadi suka nyusahin orang lain tanpa sadar. Tapi Laras juga tipe yang akan minta maaf setulus mungkin kalau dia sadar sama kesalahannya.

Setelah pesan dua piring gado-gado, kami pun duduk di pinggir taman kecil di dekat gerbang. Tempat ini memang biasa dipakai murid-murid yang pesan makanan dari penjual di luar gerbang, kok. Jadi selain aku dan Laras, ada banyak murid lain yang duduk berbaris di tempat yang sama.

"Dea, pulang nanti... boleh bareng, ga?" tanya Laras, sambil aduk-aduk piring gado-gadonya. Aneh, dia ga makan, ga kayak biasanya.

"Boleh, kok. Mau sekalian nginep aja? Kan besok libur."

Laras spontan langsung nengok ke aku. Matanya penuh binar-binar bahagia. Seperti campuran rasa lega dan terharu. Ini anak aneh banget, karena biasanya kita tiap abis berantem dan baikan, dia ga sedramatis ini.

"Eh, beneran? Mau banget, De. Nanti gua pinjem baju juga, ya? Lagi males pulang dulu ke rumahnya, De. Nanti gua ngabarin orang rumah aja."

"Idih. Mana buat baju aku mah dipake sama kamu. Badan montok gitu, kok." Sekilas, aku nengok ke bagian dadanya. Kayaknya... teteknya tambah gede, ya? "Ras, itu kayaknya tambah gede, deh."

"Hah? Apanya?"

"Teteknya. Apa lagi emang?" tanyaku, sambil menunjuk ke dadanya.

Sejenak, Laras bengong. Matanya membulat, alisnya naik. "De, frontal banget ngomong lu! Siapa yang ngajarin, heh? Ga biasanya nyebut 'tetek'."

Omongan Laras bikin aku tersedak. Buru-buru aku ambil botol air mineral di sampingku, lalu meneguk sampai sisa setengah. Aku lupa, kalau Laras taunya aku tuh cewek rumahan yang alim dan polos. Makanya... mungkin dia kaget pas denger aku bisa ucapin kata yang menurut dia frontal itu.

Ah, gara-gara Pak Jumadi sialan, nih!

"Eh... anu... lagi nyoba lebih... hnnggg... lebih santai aja. Biar ga dibilang kaku terus, ehe," balasku, sambil cengengesan.

Sekilas, mata Laras memicing. Kayaknya dia curiga sama aku. Tapi bodo amat, aku pura-pura tetap kalem aja. Habis itu, Laras mulai makan gado-gadonya. Sekarang, dia makan dengan lahap. Dibanding tadi, sekarang dia keliatan lebih tenang dan ceria.

Serius, deh. Aku jadi khawatir sama ini anak. Apa dia kenapa-kenapa saat kita lagi berantem, ya? Mungkin, dengan suasana yang lebih privat, Laras mau cerita nanti.

Saat sudah hampir selesai makan, tiba-tiba ada cewek yang manggil-manggil aku dan Laras dari kejauhan. Mataku memicing. menengok ke asal suara. Beberapa puluh meter di lapangan basket sana, ada cewek yang berjalan cepat ke arah kami. Dari rambut bob selehernya, kulit putih dan badan langsingnya, aku dengan cepat mengenali siapa cewek ini: Fah, si anak baru yang beberapa jam lalu nyemprotin pejunya ke kacamata dan pipiku.

Sekarang, aku bahkan mulai merasa bersalah kalau harus mereferensikan Fah sebagai cewek. Duh, Gusti...

"Ih, Laras sama Dea makan ga ajak-ajak!" seru Fah, saat berada di hadapan kami.

"Loh, Fah kenal sama Dea?" tanya Laras, kebingungan. Dia bolak-balik menunjuk aku dan Fah.

"Baru aja kenal, tapi kita udah temenan, dong." Fah kedipin mata ke Laras, sementara aku cuma bisa tersenyum remeh.

"Dih. Baru pengen cerita ke Dea kalo ada anak baru di kelas gua. Ah, ga asik nih kalian berdua." Laras menyudahi makannya, lalu menaruh piring di alas beraspal. "Gimana bisa kenalannya?"

"Ketemu di kamar mandi," balasku, "itu tuh, di kamar mandi yang angker itu. Sebelum kamu nanya ngapain aku di kamar mandi angker, itu karena kamar mandi samping kelas aku lagi penuh. Ya kan, Fah?"

Sekarang gantian, Fah yang tersenyum meledek, disertai kedua lengannya yang terangkat—persis kayak gestur cewek-cewek di anime.

Baru sebentar kami mengobrol, bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. Aku buru-buru kembaliin piring ke tukang ketoprak, lalu bayar untuk dua porsi. Setelahnya, aku, Laras dan Fah kembali ngobrol sambil berjalan menuju kelas masing-masing. Setelah naik tangga, aku pamit ke Laras dan Fah karena sudah tiba di depan kelas, sementara karena mereka ada di kelas yang sama, mereka jalan bareng ke kelas.

Setelah duduk di kursiku, aku sejenak merenung. Rasanya baru beberapa hari aku berada dalam pengaruh obat perangsang yang kuminum itu, tapi rasanya kayak lama banget. Selama beberapa hari itu, aku jadi mirip orang yang gila seks. Isi hariku cuma seputar masturbasi dan ngeseks. Bahkan, aku memberi pengaruh buruk ke guruku sendiri dan menjalin hubungan sesama jenis. Sekarang, ketika pengaruh obatnya mereda, aku bisa berpikir lebih jernih dan merenungi semua tindakanku sebelumnya.

Ternyata, memang paling enak kalau jadi orang normal, ya. Bahkan rasa stressku akibat ulangan Biologi tadi bisa aku alihkan ke hal-hal non seksual sebagai pelampiasannya.

Aku pun mengatupkan kedua tangan, lalu mengusap muka. Merasa bersyukur akan momen tenang ini, meski aku ga tau akan bertahan berapa lama.


———​


"Dea! Deaaa!"

Ini siapa lagi sih yang manggil? Kenapa sih tiap aku jalan sendirian, pasti ada aja yang manggilin? Huh! Huuuuh!

Pas aku nengok ke belakang, ternyata yang manggil itu Bu Siska. Aku ga jadi kesel. Malah aku senyum-senyum saat ngeliat tetek Bu Siska bergoyang-goyang akibat goncangan saat dia sedang berlari kecil, menghampiriku.

"Pulang bareng sama Ibu, yuk?"

Bu Siska ga nawarin aku pulang bareng. Dia maksa, karena sekarang lengan aku dia tarik, dan aku dipaksa ikut dia ke parkiran tempat mobilnya berada. Aku sih seneng kalau pulang bareng Bu Siska, meski nanti di mobil akan ada satu-dua kali sesi ciuman penuh gelora. Eh, ciuman sama Bu Siska, ya? Wah... asik juga.

EH, NANTI DULU! KAN UDAH JANJI PULANG BARENG LARAS!

"Bu, Bu," aku mengerem langkahku, "sebentar dulu, deh. Aku ga bisa pulang bareng Ibu hari ini."

"Kenapa?" tanya Bu Siska, jutek banget, sumpah.

"Aku udah janji pulang bareng Laras. Terus, aku ajak dia nginep di rumah aku."

"Larasati Khairiyah, yang anak kelas Sebelas IPA-2 itu? Kalian temenan, ya?" Mata Bu Siska memicing. Sorot matanya yang berubah tajam itu seakan menusuk masuk hingga ke hati. "Oh, iya. Kamu ga ngajak Ibu nginep di rumah kamu?"

"Ih, Ibu kan ada suami. Masa suaminya ditinggal?"

"Terus kamu bisa asik-asik berduaan sama si Laras sepanjang malem, dan ngebiarin Ibu cemburu sendirian?"

"Kan... aku sama Laras cuma... temen... Bu. Astaga, Bu, Laras temen aku dari SD."

"Ibu juga tadinya cuma guru kamu."

Aku menarik nafas dalam-dalam. Baru sehari hubunganku dengan Bu Siska berjalan mesra, tapi di hari kedua, dia sudah mulai cemburu buta. Aku bisa menebak bahwa hubungan ini bisa berpotensi ga sehat kalau masalah cemburu buta ini ga segera diatasi. Ayo, Dea, jadi dewasa dan tenangkan guru berdada brutal tapi kekanakan ini.

"Ibu mau nginep di rumah aku juga, ga?"

Bu Siska mengangguk cepat. Matanya berubah dari memicing jadi berbinar bahagia.

"Tapi nginepnya bareng Laras, ya?"

Lalu bisa ku lihat kalau binar bahagia di matanya seketika menghilang. Bu Siska spontan memanyunkan bibirnya. Gemes banget ini guru.

"Oke, Ibu mau. Ga apa-apa bareng Laras juga." Bu Siska lalu buka pintu mobilnya. "Si Larasnya sendiri dimana, De?"

"Nungguin dari tadi di gerbang sekolah, Bu."

"Ih, yaudah cepetan sana jemput dia. Kok Ibu jadi ngerasa bersalah, sih, jadinya? Udah buruan, Ibu keluarin mobil dulu."

Aku cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan guruku ini. Lalu aku keluar dari area parkiran, menuju gerbang. Sudah ada Laras yang menunggu. Eh, sebentar. Ada Fah juga. Kenapa mereka berduaan, ya?

"Yuk, Ras. Kita pulangnya sama—"

"—Dea, aku ikut nginep, yaaaa!" potong Fah. Aku langsung nengok ke dia. Mulutku membuka karena syok dengan perkataannya. "Tadi Laras cerita kalo dia mau nginep di rumah kamu. Terus aku bayangin, kayaknya asik. Jadi aku mau ikut. Pasti boleh, kan?"

"Tapi-tapi-tapi... rumah aku—"

Belum selesai aku ngomong, mobil Bu Siska sudah tiba di samping kami bertiga. Kaca depan pun turun perlahan, kemudian muka Bu Siska muncul dari baliknya. Alisnya merengut ketika dia liat ada satu orang tambahan.

"Ayo, cepet naik. Antri nih di belakang," kata Bu Siska, sambil membuka kunci pintu mobil. Suaranya kedengeran, soalnya.

Akhirnya, ku dorong Fah dan Laras untuk naik ke mobil Bu Siska. Lalu aku pun naik ke jok depan. Aku tau, dari ekspresi mereka berdua, mereka keliatan kebingungan dengan situasi yang ada. Aku berhutang penjelasan ke mereka, dan akan kujelaskan nanti. Pokoknya yang penting keluar dulu dari lingkungan sekolah.


———​


"Jadi kamu ajak nginep Laras karena di rumah kamunya sendirian?" tanya Fah, yang duduk di jok belakang.

"Iya. Abi udah berangkat duluan ke tempat proyek tadi pagi. Proyeknya di luar kota. Sementara Umi ada kerjaan di luar kota juga, tapi beda kota sama Abi."

"Abi? Umi?" tanya Fah lagi. Kayaknya dia kebingungan.

"Abi itu ayah, dan umi itu ibu. Bahasa arab," balas Laras. Fah pun ngangguk-ngangguk tanda mengerti.

"Kalo Bu Siska ikut nginep juga?" Kali ini, giliran Laras yang bertanya.

Bu Siska ga langsung menjawab. Dia fokus menyetir, karena sedang melewati jalur perempatan. Setelah lewat, baru Bu Siska buka suara. "Iya. Ibu mau numpang periksa lembar ulangan murid-murid. Ga bisa ngerjain di rumah. Lagi banyak orang, berisik banget jadinya."

Aku, Laras dan Fah serentak mengangguk bersamaan. Kami semua paham, kalau profesi guru itu memang menuntut tanggung jawab yang tinggi, dan salah satu penunjangnya adalah lingkungan yang kondusif. Kalau bekerja di kondisi yang berisik, nanti malah ga bener periksa lembar jawaban murid-murid.

Eh, atau itu cuma alesannya Bu Siska aja, biar bisa nginep di rumah aku?

"Enak banget ga, sih, kita nginep bareng di rumah Dea?" Fah histeris sendirian. Kayaknya, di mobil ini, dia doang yang ceria, deh.

Lalu, obrolan pun berlanjut ke topik lain. Fah ceritain kehidupannya waktu masih tinggal di Bangkok, sementara Bu Siska cerita kalau dia pernah liburan ke Pattaya. Akhirnya, Fah dan Bu Siska ngobrol berdua. Mereka nyambung ternyata.

Sementara aku melirik ke belakang, ke arah Laras. Dia duduk berseberangan dengan jok tempat aku duduk. Aku liat, Laras ga bersikap kayak biasanya, karena dia yang biasanya itu sikapnya heboh. Cerianya mirip dengan Fah. Kini, Laras tampak murung, tapi tiap kali aku pergoki, dia langsung berusaha menceriakan diri. Tapi aku yakin, ada sesuatu dengan Laras.

Aku berharap, di antara berisik dan ramainya sekitar, kami masih punya waktu berdua untuk saling terbuka dan bercerita tentang masalah yang dipendam oleh satu sama lain
==========

==========
Chapter 10 — Wild Night part 2





Setelah lebih dari satu jam perjalanan, akhirnya mobil yang kami tumpangi sampai juga di depan rumahku. Aku segera buka gembok pagar, lalu dorong pagarnya sehingga mobil Bu Siska bisa masuk ke pelataran rumah. Begitu sudah parkir, kumpulan cewek-cewek berhijab ini segera mengekor di belakangku untuk masuk ke dalam.

Iya, yang ceweknya memang berhijab. Cuma satu orang yang ga berhijab, dan itu pun dipertanyakan gendernya.

Berada di komplek perumahan di daerah Mampang, Depok, rumahku terletak di paling ujung pada blok K. Rumahku sendiri terkesan terisolir, karena di samping kiri dan seberang rumah tuh masih berupa kavling tanah kosong yang ditumbuhi rerumputan tinggi. Sementara rumah-rumah tetangga berada di sebelah kavling kosong tersebut. Abi yang waktu itu lagi kaya-kayanya (dan dibantu sama mertua), membeli dua kavling di perumahan ini, lalu dibangun jadi satu rumah yang cukup besar.

"Gede juga rumahnya Dea, ya," begitu komentar Fah yang melongo saat melihat bangunan rumahku.

"Emang kamu tinggal dimana selama di Jakarta, Fah?" tanyaku, penasaran. Aku ingin mastiin soal dugaanku tentang cewek(?) ini.

"Apa, tuh, apartemen gitu, deh. Papaku cari rumah yang bisa disewa selama di Jakarta, tapi ga ada yang cocok. Akhirnya ketemu di daerah Xeno... apa sih itu, Xenopethy?"

Aku merengut saat mendengar kata ganjil itu. "Itu di daerah mana?"

"Jakarta Selatan, kayaknya."

"Mungkin itu daerah Senopati, ya?" Sekarang, giliran Bu Siska yang nanya.

"Nah, iya itu! Senopati! Aku tinggal di Senopati Suite. Kalo kata Mama, itu apartemen griya tawang, gitu."

Aku dan Laras masih kebingungan dengan istilah 'griya tawang', sementara Bu Siska tampak menarik nafas dalam-dalam. Aku pikir Bu Siska tau istilah itu, jadi aku tanya ke dia apa itu griya tawang.

"Kita...," Bu Siska menatapku dengan tatapan mengiba, "...lebih akrab dengan istilah asingnya daripada saduran ke Bahasa Indonesia. Griya tawang itu kalo orang luar biasa nyebutnya... penthouse."

Oh. Sekarang aku tau arti dari tatapan iba Bu Siska. Dia meratapi nasib kami bertiga; aku, Laras, dan dirinya sendiri, yang levelnya jauh berada di bawah Fah. Karena sering nonton drama korea, aku cukup sering liat penthouse yang dipakai sebagai latar tempat tokoh utama yang kaya raya. Jenis apartemen yang cuma bisa aku liat di drakor itu, kini ditinggali oleh salah satu teman baruku, yang bahkan gendernya aja bikin bingung.

Fah yang terlalu polos untuk ngerti seberapa mahalnya harga penthouse, cuma menatap kami bertiga dengan pandangan kebingungan. Dugaanku ternyata benar. Fah ini super duper kaya raya. Dia bahkan pakai tas ransel dari brand eksklusif buat bawa buku pelajaran! Aku pikir tadinya itu barang KW, tapi setelah tau kalau Fah tinggal di penthouse, aku jadi yakin tas ransel seharga puluhan juta yang sedang dia gendong ini adalah barang asli.

"De, udah yuk meratapi nasibnya. Gua seret, nih. Butuh minum. Kira-kira berapa lama lagi kita dapet minum, De?" seloroh Laras, memecah keheningan.

Karena disindir Laras, aku baru ngeh kalau belum sajiin minum ke tamu-tamuku. Loh, bahkan kami aja belum masuk ke dalam rumah. Segera aku copot sepatu, lalu ngacir duluan ke dapur. Ku bikinin sirup sisa lebaran untuk empat gelas. Ga lupa kubus-kubus es batu ku tumpahkan ke satu wadah besar, biar mereka bisa ambil sendiri seberapa banyak untuk gelasnya.

Saat kembali ke ruang tamu, aku ngeliat ekspresi terkejut Fah. Dia bengong saat Bu Siska dan Laras sudah lepas jilbab. Rambut lepek Bu Siska langsung tergerai lemas, sementara kondisi rambut Laras masih lebih segar karena dia pakai jilbabnya asal-asalan, jadi lebih berkesempatan dapat udara yang masuk lewat sela-sela jilbabnya yang ga rapat. Laras punya rambut panjang sepunggung yang agak ikal di bagian bawahnya, sementara Bu Siska kayaknya potong rambut jadi sebahu. Duh, jadi keliatan lebih seger, ga, sih?

"Loh, Bu Siska sama Laras kenapa lepas jilbab?" tanyaku, heran.

"Ya kan ga ada cowok di sini. Masa di depan sesama cewek, masih harus dipake jilbabnya?" balas Laras.

Aku cuma bisa tersenyum kecut. Andai aja mereka tau kalau Fah ini cowok...

...yang sedang dalam tahap jadi cewek seutuhnya.

Setelah melepas dahaga, aku bilang ke mereka kalau mau goreng kroket beku dulu buat cemilan. Aku baru ingat kalau punya banyak cemilan beku di kulkas. Mending inisiatif, daripada nanti disindir Laras lagi.

Dapurku letaknya ada di belakang, melewati ruang tengah, ruang makan, dan lorong yang terdapat kamar-kamar di sisi kiri dan kanannya. Jadi ga akan kelihatan dari ruang tamu. Ternyata saat aku menuju dapur, ternyata Bu Siska mengekor di belakang. Aku baru sadar, karena begitu nengok ke belakang, Bu Siska langsung pojokin aku ke pintu kulkas. Belum sempat aku bereaksi, Bu Siska langsung melumat bibirku dengan ganas. Agresif banget ini guru. Tak patut, tak patut...

"Mmhhhh... Ibu kangen banget sama kamu, Dea." Bu Siska sejenak menarik bibirnya dari bibirku, lalu pandangi aku dengan tatapan mesra. "Sekarang Ibu punya banyak waktu sama kamu. Ibu ga sabar mau lepas kangen!"

Bu Siska ga menunggu respon dariku. Dia kembali melumat bibirku, kali ini lebih ganas dari yang sebelumnya. Aku sampai kewalahan mengimbangi lumatan bibirnya, yang bergerak lihai pada bibirku yang licin. Mungkin karena ga dalam kondisi yang terlalu terangsang, aku jadi bersikap lebih pasif dalam merespon ciuman Bu Siska. Pagutan bibirnya ku balas seadanya, dan hanya merespon singkat saat lidahnya mengajak lidahku menari.

Tapi ciuman liar Bu Siska justru mulai bangkitin lagi gairahku. Perlahan namun pasti, sensasi panas di badanku kembali muncul. Rasa panasnya bikin aku terangsang. Ketika bibirku terus dilumat Bu Siska, otakku mulai bayangin hal-hal mesum yang mau aku lakuin dengannya. Nafasku jadi memburu. Dadaku turun-naik dalam tempo yang cepat. Sementara tanganku mulai menggerayangi pinggangnya.

Begitu aku sudah lebih hanyut dalam permainannya, Bu Siska justru lepasin diri dariku. Dia mundur tiba-tiba, lalu bersandar di pinggir meja keramik. Aku yang merasa kehilangan, cuma bisa kebingungan sambil ngeliatin Bu Siska. Bibirku masih membuka, berusaha memancing Bu Siska untuk melumatnya lagi.

Tapi Bu Siska tetap berdiri di tempatnya. Dia malah mengusap bibirnya yang basah karena berlumuran liur. Lipstick merah merona yang dia pakai juga memudar karena berciuman denganku.

"Bu... eh, kok... udahan?" tanyaku, kebingungan. Aku refleks mendekati Bu Siska. Tanganku berusaha menggapai badannya, supaya ketika aku sudah bisa meraih dia, aku bisa ngelanjutin lagi sesi ciuman liar tadi. "Akunya ngerasa kentang, nih, Buuuu! Masa tiba-tiba udahan, sih?"

"Mulai 'panas' lagi, ya, badannya? Rasa panasnya muncul setelah kita ciuman tadi, ya?" tanya balik Bu Siska. Nada bicaranya kedengeran banget seperti ilmuwan yang sedang mengobservasi kelinci percobaannya. "Asumsi Ibu makin mengarah ke positif, Dea. Sejujurnya, selain memang beneran kangen, Ibu juga mengobservasi sikap kamu yang jadi lebih pasif dari pagi ini. Menurut Ibu, perbedaan drastis dari kamu yang agresif secara seksual kemarin, dengan hari ini yang... lebih pasif, kemungkinan besar berhubungan dengan gairah kamu yang menurun. Mungkin efek obatnya mereda, entah. Tapi kalau sesuai dengan teori Ibu, obat itu sudah bercampur dengan darah—bahkan mungkin sudah di level sel. Cuma butuh stimulus untuk bikin efek obatnya aktif lagi. Makanya, mungkin, sekarang kamu sedang merasa badannya 'panas', kayak kemarin-kemarin, karena kandungan kimia dalam obat perangsangnya bereaksi lagi."

"Nggg... maaf, tapi aku ga follow penjelasan Ibu. Kepalaku pusing banget. Sekarang juga badanku makin panas, nih. Akunya horny banget!" Aku pun berhasil meraih bajunya. "Plis, lanjutin, ya, Bu? Yaaaa?"

Tapi... Bu Siska justru menepis tanganku. Dia mundur ke arah lorong, sambil berkata, "nanti, ada waktunya. Sekarang segitu dulu, ya, Dea sayang. Lebih dari ini, dan kita akan ketahuan, soalnya Ibu alesan mau ke toilet, tadi. Tapi Ibu bisa ulur waktu supaya kamu bisa lepasin tensi seksual kamu. Ibu akan ajak Laras dan Fah ngobrol, sementara kamu bisa..."

"Iya, iya, i know. Aku ga mungkin ga masturbasi, Bu. Memekku udah berdenyut-denyut dan ngerasa basah banget sekarang."

"Si vulgar, emang." Bu Siska menghampiriku lagi. Dengan cepat, dia mengecup keningku. "Maaf, ya, kalau kesannya kamu jadi bahan observasi Ibu. At some point, I can't resist your charm, Dea. Kamu terlalu menggairahkan untuk ga dicium."

Udah, deh. Dia pun pergi ke ruang tamu. Ninggalin aku yang kebingungan, sendirian. Seiring rasa panas yang semakin menjalar ke seluruh badanku, rasa hornyku pun melonjak naik secara mendadak, hingga dibatas yang ga tertahankan. Kepalaku makin sakit. Rasanya kayak mau pecah. Aku bisa ngerasain urat-urat di pelipisku menegang.

Aku... harus cari pelampiasan. Aku harus pakai sisa akal sehatku untuk menguasai keadaan, sebelum aku benar-benar lepas kendali. Ku buka kulkas, dan mencari-cari apapun yang bisa aku pakai untuk bermasturbasi. Plastik demi plastik ku keluarkan. Didorong rasa panik, horny dan sakit kepala yang makin parah, aku makin ga karuan saat mencari isi kulkas.

"Timun? Oh, iya, masih ada timun!" Aku tersenyum lebar saat nemuin sebatang timun segar yang tersimpan di salah satu plastik kresek pada boks sayur. Ini bisa banget aku pake!

Tanpa ragu, aku ambil timun itu, lalu pergi ke kamar mandi terdekat dari dapur setelah beresin asal isi kulkas yang aku acak-acak. Aku tutup pintu kamar mandi, lalu duduk bersandar pada dinding keramik. Aku ga peduli rok abu-abuku basah oleh lantai. Aku pun tarik ke samping pada bagian celana dalamku yang tutupi selangkangan, lalu mengangkang selebar mungkin.

"Ahhh, iyaaahhh... ini dia, satu... dua... ti—"

Buru-buru ku tutup mulutku saat ku masukin ujung timun ke memekku yang sudah basah kuyup dan berdenyut-denyut. Rasanya agak sakit pas baru masukin. Tapi aku ga peduli. Terus ku paksa masuk timunnya sampai seperempat batangnya sudah berada di dalam memekku. Lalu aku tarik lagi, dan masukin lagi sedikit lebih jauh hingga batang timunnya sudah licin.

Anehnya, aku tersenyum bahagia ketika batang timun itu sesak memenuhi memekku. Cuma butuh sedikit adaptasi selama beberapa saat, dan kini aku sudah lancar menyodok memekku pakai timun.

Aku gunain tangan kanan untuk berusaha menutup mulut rapat-rapat agar ga ada satu pun desahan yang bisa keluar. Sementara tangan kiriku bergerak cepat, maju-mundur menyodok memekku dengan timun. Rasanya ga seenak kontol Pak Jumadi, tapi ini lebih baik daripada pakai jari. Karena sekarang, seluruh bagian liang memekku seperti meronta-ronta ingin dipuasin.

Karena timunnya aku kendaliin pakai tangan sendiri, aku jadi lebih bebas arahin timunnya ke bagian-bagian di liang memekku. Ku arahin ujung timun menggesek dinding atas memek, dimana ketika bagian itu disentuh, rasanya paling enak dan bikin aku menggelinjang. Aku pun melotot saat memandangi tanganku gerakin timun keluar-masuk begitu lancar, malah sampai kedengaran bunyi becek yang nyaring.

Padahal baru sebentar aku sodok-sodok memekku pakai timun, tapi sensasi orgasme itu sudah mulai bisa aku rasain. Rasa geli dan enak yang bergulung-gulung bikin aku makin cepat sodok memekku. Kakiku sampai menegang, dan pinggulku mengangkat sementara punggungku merosot ke lantai kamar mandi yang basah. Aku ga peduli seragamku sekarang mulai basah, toh nanti ganti baju juga. Fokusku sekarang cuma gimana caranya aku bisa orgasme.

Dan rasa enak yang mengumpul itu makin menjadi-jadi. Aku yang makin dekat dengan orgasme, langsung cabut timun dengan kasar, dan cairan pipisku pun menyembur deras. Pinggulku bergetar heboh saat orgasmeku datang. Getarannya senada dengan pipisku yang menyembur amat deras, bagai air yang jebol setelah sekian lama tertampung di bendungan.

Setelah badai orgasme mereda, pinggulku langsung ambruk ke lantai. Badanku tergolek lemas, dengan kedua paha yang mengangkang lebar. Untuk beberapa saat, pemandanganku hanya berupa plafon putih kamar mandi, sampai akhirnya dengan sisa tenaga aku pun bangun.

Saat berdiri, aku spontan sadarin sesuatu. Sakit kepalaku hilang, dan kepalaku sekarang rasanya enteng banget. Badanku juga jadi jauh lebih rileks dari biasanya. Pasti efek orgasme, nih. Ajaib, ya. Kalau saja aku tahu dari dulu bahwa masturbasi bisa bikin rileks, niscaya aku dengan senang hati bermasturbasi tiap sebelum ujian sekolah.

"Yaaahhh, becek banget, nih." Aku menghela nafas saat mencopot celana dalamku, dan ngeliat benda itu sudah basah kuyup. "Pisahin dulu, susah nyucinya."

Ku gantung celana dalamku di gantungan yang terpasang pada dinding, lalu bersiap keluar kamar mandi untuk ganti baju. Seragamku basah oleh air di lantai kamar mandi, soalnya. Lalu setelah aku bangun, aku menyadari masalah baru. Timun yang tergeletak di lantai ini harus ku apain?

Kalau aku keluar sambil genggam timun, nanti jadi pertanyaan kalau ada yang liat. Diumpetin pun aku ga ada kantong. Lalu, muncul ide cemerlang yang agak bobrok di kepalaku.

Sambil berdiri, aku buka lebar kedua pahaku. Lalu, pelan-pelan aku masukin lagi timun itu ke memekku. Ahhh... rasanya enak, dimasukin lagi. Aku masukin lebih jauh, sampai timunnya terbenam di dalam memek. Lalu, aku menjepit paha supaya si timun ga turun dan keluar. Setelah urusan timun beres, aku pun menuju ke pintu.

Tepat saat aku buka pintu, ada Fah yang sedang berdiri di depanku. Sambil meringis dan memegangi selangkangan, dia berkata, "aku pinjem kamar mandinya, ya? Aku mau... pipis...."

"Eh-oh, iyaudah," aku gelagapan karena kaget mendapati Fah berada di depanku, "silahkan, Fah."

Sumpah, aku kaget saat tahu ada Fah. Tiba-tiba aja dia muncul dari balik pintu. Kayaknya kekagetanku juga berasal dari faktor bahwa aku percaya kalau Bu Siska bisa ulur waktu supaya ga ada yang ke arah dapur dan kamar mandi. Ulur waktu my ass...

Awalnya, aku berusaha santai saat aku minggir supaya Fah bisa masuk ke kamar mandi. Tapi ketika mataku melirik cepat ke bagian selangkangan Fah yang dia pegangin terus itu, aku pun bengong seketika saat ngeliat tonjolan besar pada roknya. Maksudku, itu menonjol banget sampai keliatan jelas. Pantes dia tutupin terus pakai tangan.

Aku pun iseng ngelirik ke belakang saat Fah sudah di dalam. Dia sekarang sedang menyingkap roknya, dan keluarin kontolnya yang... astaga... gede banget! Kontolnya berwarna putih kemerahan, dengan urat-urat yang menegang di sepanjang batangnya. Mungkin karena aku ga begitu jelas ngeliat kontol dia saat di toilet sekolah, aku jadi kaget saat ngeliat kontolnya sekarang. Kontol yang pertama kali ku lihat itu punya Pak Jumadi, dan bahkan punya Fah jauh lebih baik dari punya si bapak itu.

Maksudku... panjangnya, diameternya... gila, udah panjang, gede lagi! Aku jadi ngiler dan cuma bisa bengong sambil ngeliatin terus ke arah kontol Fah yang sedang keluarin air kencing ke lubang toilet. Gimana bisa dia nyembunyiin kontol segede itu di balik rok panjang?

"Ih, malu ah diliatin gitu!"

Fah buru-buru tutup pintu kamar mandi, dan aku langsung kecewa karena kehilangan tontonan. Merasa kecewa, aku pun berlalu ke kamarku untuk ganti baju. Sepanjang jalan di lorong, aku terbayang-bayang kontol Fah yang gede itu, dan malah bikin memekku berdenyut-denyut lagi. Apalagi karena sedang ada timun di memekku, denyutannya jadi lebih berasa.

Haduh... gara-gara kontol Fah, sih. Rasanya pengen banget masukin kontol itu ke memekku. Pasti bisa sampai mentok banget.

Lalu aku berandai-andai, apakah Fah bisa terangsang kalau sama cewek? Tapi masa iya dia bisa terangsang, dia saja pengen jadi cewek, kok. Tapi begitu aku mendengar suara Bu Siska yang sedang ngobrol dengan Laras, aku jadi kepikiran sesuatu. Bu Siska yang ngaku kalau orientasinya normal saja bisa terangsang sama aku, berarti bisa berlaku juga buat Fah, kan?

"Timun tadi sih ga ada apa-apanya sama punya Fah," gumamku sambil manyun-manyun.

"De, ngapain di dapur, lama amat?" tanya Laras begitu melihatku keluar dari lorong.

"Goreng kroket, lah," jawabku, sinis. Laras nanyanya ga enak banget nadanya.

"Terus, kroketnya mana?" tanya dia lagi. Kali ini, matanya sambil menelusuri sekitarku.

"Eh... itu... ehehe, sebentar, ya. Kroketnya masih... nggg... masih beku, ini lagi dicairin. Tunggu, yaaaa."

Segera aku balik ke dapur, padahal tadinya sudah sampai di depan kamar. Biarin deh masih basah-basahan gini, yang penting gorenf kroket dulu. Biar ga bawel lagi tuh anak.

Tapi begitu aku sampai dapur, Fah baru aja keluar dari kamar mandi. Mukanya keliatan capek, tapi juga keliatan segar. Pas ngeliat aku, Fah langsung senyum lebar. Ih, manis banget senyumnya.

"Makasih, ya, kamar mandinya," katanya. Fah lalu buru-buru pergi ke depan.

Saat Fah sudah pergi, aku langsung masuk ke kamar mandi. Aku lupa beresin celana dalamku tadi. Pasti Fah ngeliat deh pas pakai kamar mandinya. Tapi begitu aku ngeliat celana dalamku, aku langsung sadar kalau letaknya sudah berbeda dari saat aku tinggalin tadi.

Di gantungan, ada lima pengait, dan aku hafal tadi tuh aku gantung celana dalamku di pengait kedua dari kiri. Nah, sekarang ada di tengah. Berarti ada yang pindahin, kan? Sementara yang ke kamar mandi setelah aku cuma Fah, berarti dia yang pindahin letak celana dalamku.

Tapi buat apa dia pindahin? Oh, apa celana dalamku sempat jatuh tadi, ya?

Aku pun ambil celana dalamku, untuk kumasukin ke plastik sebelum aku taruh di keranjang kotor. Tapi begitu aku genggam, aku merasa ada hal ganjil yang aku rasain di telapak tanganku. Rasanya telapak tanganku jadi lengket. Begitu aku cek, ternyata di bagian selangkangan pada celana dalamku terdapat banyak cairan putih kental. Cairannya sendiri saking banyaknya sampai melumuri seluruh bagian itu.

Aku colek telapak tanganku yang terpapar cairan itu, lalu aku emut telunjukku. Eemmm... ini peju. Tapi kalau peju...

"Masa iya, sih, dia pake celana dalamku buat masturbasi?" Aku pun berpikir keras, "tapi kalau begitu, berarti dia terangsang sama aku, gitu? Jadi ini bikin dia ga normal, dong? Eh, atau malah jadi normal, karena dia suka sama cewek? Eh, gimana, sih? Ga tau, deh!"

Proses berpikir kerasku justru malah bikin aku pusing sendiri.

Terlepas dari orientasi Fah yang sudah lempeng atau temporer aja, aku jadi senyum-senyum sendiri saat tahu celana dalamku dia pakai buat masturbasi dan tumpahin pejunya ke celana dalamku. Ih, harusnya mah marah, bego! Tapi ya gimana... pikiranku kotor, sih.

Tanpa pikir panjang, aku pakai lagi celana dalamku. Saat bagian yang terdapat peju itu bersentuhan dengan bibir memekku, aku pun senyum-senyum sambil merinding geli. Ngebayangin ada peju orang lain di celana dalam yang aku pakai justru malah bikin aku horny lagi.

Aku pun mutusin untuk pakai celana dalam ini seharian. Biarin, ga akan aku lepas bahkan setelah ganti baju. Lalu, setelah selesai urusan di kamar mandi, aku pun ke dapur untuk lanjutin urusan goreng kroket yang tadi sempat tertunda lama. Pokoknya, kalau kroketnya lama jadinya, salahin Bu Siska aja.

Sekilas, sebuah ide gila melintas di otak mesumku, tepat saat aku sedang menggoreng kroket. Semalam, saat aku dibonceng Pak Jumadi, aku ga sengaja nemuin botol kecil di kantung jaketnya. Aku duga, itu obat perangsang yang sama yang dipakai Pak Jumadi untuk cekokin aku, soalnya botolnya mirip. Jadinya, aku ambil diem-diem deh dari kantongnya. Nah, gini idenya:

Gimana kalau obatnya aku campurin saja ke minuman yang mau aku sajiin ke tamu-tamuku? Kan, lebih banyak orang yang kayak aku, lebih baik. Aku jadi merasa ga sendirian lagi menghadapi siksaan libido ini.

Ga apa-apa. Mereka pasti akan ngerti. Ya, kan?
==========

==========
Chapter 11 — Wild Night part 3







"Eh, jadi juga cemilannya. Emang ribet banget ya, De, goreng kroket doang? Lama banget kita nungguinnya, tau." Laras jadi orang pertama yang langsung menyambar setumpuk kroket goreng yang baru saja aku sajiin di meja. Sedetik kemudian, dia spontan melempar kroket yang dia ambil, kembali ke piring saji. "Eehh, panas, panas, panas! Dih, De, ga bilang-bilang kalo masih panas, ih!"

"Gitu emang kalo orang ga sabaran, suka ga mikir. Namanya digoreng deep fry, ya masih panas luar-dalemnya," balasku, sambil tertawa lebar saat melihat Laras yang masih meniup jari-jarinya.

Bu Siska dan Fah jadi orang yang lebih beradab dari Laras. Mereka ga langsung makan kroket yang jelas-jelas masih kelihatan asapnya ngebul itu. Tentu saja, terhindar dari kulit yang kepanasan adalah salah satu keuntungan dari menjadi orang beradab dan sabar—dan sesungguhnya, ga ada ruginya juga untuk jadi lebih sabar, kok.

Daripada capek ngeliat tingkah Laras, aku memilih untuk kembali ke dapur. Aku tuang sebotol besar Coca Cola yang ku ambil dari kulkas, ke wadah botol kaca. Karena volume wadahnya berukuran 3 liter, jadi Coca Cola ukuran 1,5 yang aku tuang seluruhnya ini cuma mengisi setengah volume wadah kaca. Jadi keliatan sedikit, ya...

Tambahin es batu aja, sih. Jangan kayak orang susah.

Lalu, puluhan kubus es batu ku masukkan ke wadah. Bulir-bulir air yang sering muncul di permukaan wadah kalau kondisi wadahnya dingin pun langsung bermunculan. Keliatannya seger banget, beneran. Untuk penyempurna, ku rogoh kantung celana. Aku tuang obat yang aku curi dari Pak Jumadi semalam. Satu tetes dulu.

Oke, satu tetes lagi. Karena kayaknya kurang nendang kalau setetes doang. Eh, setetes lagi, deh. Biar ga ragu sama efek obatnya.

Hmmm... tapi rasanya kok...

Tuang aja lah semuanya, biar jadi pengabdi nafsu tuh mereka bertiga.

Tinggal diaduk biar tercampur merata, dan... all done! Aku bawa wadah kaca ini ke ruang tamu, dan langsung menyuguhkannya ke tamu-tamuku. Karena aku malas cuci gelas, jadinya aku paksa mereka maklum untuk pakai gelas yang sebelumnya aku sajiin ke mereka. Tuan rumah mah bebas.

Saat aku balik ke ruang tamu, ada perubahan drastis dari sikap beberapa orang. Bu Siska tampak sibuk pakai jilbabnya kembali, dan Laras tampak gusar sambil terus memandangi layar ponselnya.

"Dea, maaf ya, Ibu ga sempat icip kroketnya. Ibu baru terima telpon, ada perlu mendadak di rumah. Jadi ga bisa nginep. Lain kali aja, gimana?" tanya Bu Siska ke aku, sambil dia beresin tasnya.

"Mmmm... yaudah, Bu." Aku senyum kecil sambil memandangi Bu Siska. Ga bisa kusembunyiin rasa kecewa, yang pasti keliatan jelas dari ekspresi mukaku. "Kan emang mendadak juga, jadi mungkin banget kalo ga jadi."

Imajinasi liarku soal bagaimana nanti malam aku dijamah habis-habisan oleh Bu Siska, langsung buyar seketika. Tapi tenang, tarik napas, Dea. Masih ada dua calon kontestan lagi yang punya prospek gede.

"Bu Siska... nggg...," tiba-tiba, Laras ikut berdiri, "saya bisa bareng, ga, Bu? Mau ikut sampe Gandul."

"Loh, kamu ga jadi nginep?" tanya balik Bu Siska.

"Tetep jadi, Bu. Tapi ini ada perlu sebentar sama temen, mendadak soalnya." Lalu, Laras neguk segelas Coca Cola yang baru aja dia tuang ke gelasnya, habis itu nengok ke aku. "De, gua pergi bentar, ya. Nanti balik lagi, kok."

"Emang mau ngapain?" tanyaku.

"Mau COD barang, sebentar," jawab Laras. Mukanya tampak gusar, dan saat dia menjawab, dia menghindari tatapanku.

"Terus pulangnya gimana?"

"Nanti dianter kok sama temen gua."

Aku makin ngeliat gelagat aneh darinya. Sikap Laras seperti orang panik yang sedang diburu waktu. "Kalo temen kamu ga mau nganter, gimana?"

"Kok lu jadi overprotektif gini, sih, De?" tanya balik Laras. Nadanya sinis, dan intonasi suaranya meninggi. Ga enak banget didengernya.

"Bukan overprotektif...," aku tarik napas panjang sekilas, mencoba sabar, "Yaudah, nanti kalau urusannya udah selesai, kabarin, ya? Kalo ga dianterin pulang, kita jemput."

Fah, yang dari tadi anteng minum Coca Cola, langsung nyamber, "Kita ini... siapa aja?"

Aku pun langsung melotot ke Fah. "Kita berdua, MINUS BU SISKA. Kan Bu Siskanya pulang. Atau, aku aja yang jemput Laras, kamu di sini aja Fah, tapi aku mintain tolong sesuatu. Beresin sisa makan dan minum, terus sama beresin yang di kamar mandi. Gimana?"

Oh, aku sengaja kasih penekanan nada di bagian "beresin". Aku tebak, Fah pasti tau maksudnya apa. Dia langsung kesedak pas lagi minum saat tadi aku ngomong itu, jadi aku anggap dia ngerti maksudku.

"Kita jemput Laras," respon Fah, sambil acungin jempol.

Bu Siska dan Laras pun pamit. Aku dan Fah anter mereka sampai mobil Bu Siska keluar dari garasi, lalu kembali masuk ke dalam rumah. Begitu masuk, aku denger ada notifikasi pesan masuk dari ponselku. Pas aku baca, isinya bikin senyum-senyum sendiri. Chat dari Bu Siska tuh emang romantis, ya. Segala bilang tadi pamitnya pengen plus cium juga, tapi takut ketahuan.

Aku pun baca chat terakhir yang baru aja Bu Siska kirim. "Another... hotel... session, maybe?"

Tau, ga... baca chatnya aja, bikin memekku berkedut-kedut. Rasanya aku seekspresif itu, sampai bibir atas dan bawahku kompak senyum-senyum.

Oke, back to bussiness. Dari tiga target, satu gagal total, satu cuma neguk segelas, dan satunya lagi minum kayak dia manusia paling ga pernah icip Coca Cola. Yang terakhir ini paling berprospek, nih. Tinggal tunggu obatnya bereaksi aja, dan mari lihat jadi seperti apa dia nanti.

Begitu kembali ke ruang tamu, aku segera duduk di samping Fah. Sengaja aku duduk mepet banget sama dia, untuk lebih memberi kesan intimidasi pada apa yang mau aku lakuin ke Fah. Sadar kalau aku sengaja mepetin diri ke dia, Fah langsung geser duduknya. Ya aku pepetin lagi, lah. Dia geser lagi. Aku mepet lagi, sampai akhirnya dia ga bisa geser lagi karena sudah di ujung sofa.

"Jadi, kamu sekarang udah nafsu ke cewek?" tanyaku, lugas dan tegas.

Tentu saja, Fah langsung kelabakan. Mukanya pucat sekali, guys. Matanya terkesan menghindari tatapan mataku. Haha, dia grogi. Saking groginya, dia berkali-kali habisin soda di gelasnya, lalu tuang lagi, untuk dihabisin lagi.

"Nngghh... gimana... mm-maksudnya?" Eh, dia gugup, loh.

"Ih, jangan pura-pura ga tau." Aku deketin mukaku, sampai cuma berjarak beberapa senti dari muka Fah. "Yang di celana dalemku, itu cairan apa kalau bukan sperma?"

"Eh... itu... nngg..."

"Di sini, yang bisa keluarin sperma cuma kamu, kan? Mau pake alesan apa lagi—"

"Iya, iyaaaaa! Aku ngaku! Maaf, Dea, maaf banget, ih. Akunya kelepasan, beneran," potong Fah. Dia panik banget sekarang.

Gampang banget bikin ngakunya...

"Kelepasan apanya? Emang segampang itu kamu ngeluarin sperma? Segampang itu juga spermanya muncrat ke bagian selangkangan di celana dalemku yang lagi digantung?"

Iya, Dea. Cecar terus biar dia makin terpojok.

"Bukan, bukan. Maksud aku... ngg... itu..."

"Lagi gugup, atau lagi cari alesan?"

"Kamu... lagi marah, ya?"

Aku mau ketawa aja pas denger pertanyaan anak ini. Lucu banget. "Menurut kamu?"

Fah diam sejenak, mengamatiku. "Aku... ga bisa bedain kamu marah atau engga, Dea. Ekspresi muka kamu kayak lagi nahan marah, tapi juga kayak santai gitu. Aku bingung, beneran!"

"Oke, gini aja. Kamu tenangin diri dulu, minum dulu Colanya sebanyak yang kamu mau, terus kalau udah pengen cerita, cerita aja. Aku dengerin. Gimana?"

Fah pun ngangguk. Dia langsung neguk segelas Coca Cola lagi. Beneran, gampang banget ini anak dicekokinnya. Lalu, aku liat ke wadah kaca. Kayaknya Fah sudah ngehabisin setengah dari keseluruhan Coca Cola, deh. Berkurangnya banyak banget.

"Sekarang udah pengen cerita?" tanyaku, setelah menunggu beberapa kali Fah ngehabisin isi gelasnya.

"Belum. Aku masih mau minum ini."

"Kamu kayak yang belum pernah minum itu aja."

Fah mengangguk, kemudian kembali meneguk sodanya lagi. Aku jadi membelalak, merasa ga percaya dengan pengakuannya.

"Serius? Kamu yang sekaya ini, ga pernah minum Coca Cola?!"

"My dad... did some sort of... restrictions," Fah menuang Coca Cola ke gelasnya untuk yang kesekian kali, "Salah satunya, melarang anggota keluarganya untuk konsumsi minuman manis. Katanya, minuman manis cuma menyusahkan hidup. Gula tinggi, kalori tinggi, pemicu diabetes dan juga berpotensi tinggi memicu sejumlah penyakit kronis lainnya. Ga ada dampak positif yang signifikan dan berjangka panjang dari mengonsumsi minuman manis secara berkala."

Lalu, Fah mengangkat kedua bahunya, sambil berkata, "Tapi beberapa peraturan... dibuat untuk dilanggar. Ya kan, Dea?"

"Iya, betul. Seperti peraturan ga tertulis untuk jangan pake celana dalem orang lain sebagai objek masturbasi, contohnya. Mungkin banget untuk dilanggar, kan?"

Fah langsung meringis sambil menghindari tatapan mengintimidasiku. Dia yang tadinya sudah mulai tenang, kembali gelagapan karena ga bisa mengantisipasi sindiranku terhadapnya. "Sejujurnya, nggg... aku tadi cuma mau pipis aja, be-beneran, Dea. Cuma... itu... aku ga sengaja mergokin kamu... lagi sama timun... di kamar mandi... waktu aku mau masuk—"

"—KOK MAIN MASUK GITU AJA KE KAMAR MANDI?" potongku. Sungguh, aku memekik ga percaya karena pengakuan Fah justru bikin aku merasa diserang di permainan yang aku buat sendiri.

"Eh, ngg... k-karena aku taunya pintu kamar mandi ga dikunci, jadi... ya, aku buka aja. Aku kira ga ada orang. Terus... nggg... aku liat kamu... tapi cuma sebentar, karena buru-buru aku tutup lagi. Terus... terus... aku nungguin kamu selesai. Nunggunya di depan pintu kamar mandi."

Aku rasa, aku harus lebih sadar lain kali, untuk mengunci pintu kalau mau masturbasi—atau sekalian saja dibuka lebar-lebar biar orang bisa bebas liat.

Duh, aku jadi malu sama Fah jadinya, kan...

"Jadi... itu alesannya kamu horny terus pake celana dalem aku?"

Fah menggeleng, pelan. "Waktu mergokin kamu, aku cuma ngerasa ga nyaman, belum sampai horny. Tapi begitu masuk kamar mandi, aku... nggg... gimana jelasinnya, ya? Aku mengendus aroma unik. Itu... dari celana dalem kamu. Ga bau, dan bukan yang wangi juga. Tapi... aromanya bikin aku horny, dan... badanku jadi 'panas'. Kalau sudah di kondisi begitu, aku ga bisa untuk ga masturbasi, Dea."

"Ohh... agak rumit, tapi aku ngerti. Seperti rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh, tapi bukan demam. Terus, alih-alih bikin badan lemes, justru malah bikin horny. Gitu, kan?"

Fah mengangguk, antusias. Pasti sekarang dia seneng karena ada yang ngertiin problem dia. Tenang, Fah. Aku bukan hanya mengerti, tapi juga ngerasain hal yang sama. Aku paham banget gimana tersiksanya kalau rasa horny itu ga dituruti. Tapi aku jamin, beberapa menit lagi, kamu akan ngerasain sensasi yang beda dari rasa 'panas' yang selama ini kamu rasain.

"Maaf kalau kamu jijik, tapi... tadi aku ga tahan banget, jadinya aku endus-endus celana dalem kamu yang aku tempelin ke mukaku, hehe," katanya.

"Yakin cuma diendus aja?" tanyaku, penasaran. Mukaku makin mendekat ke mukanya.

"Nnggg... aku jilatin juga, sambil aku masturbasi. Begitu... mmm... mau orgasme, aku pakai celana dalem kamu buat tempat buang sperma... gitu." Fah langsung spontan menarik mukanya agar bisa ngeliat mukaku dengan lebih jelas, lalu dia pun mengerutkan kening saat ngeliat ekspresiku yang ga marah sama sekali. "Tunggu, kamu ga marah sama kelakuan aku?"

"Engga, aku malah excited!"

Aku yang dari tadi gemetar karena saking bersemangatnya dengerin cerita Fah, sudah ga tahan lagi. Aku ambil gelas kaca yang sedang dia pegang, dan aku taruh ke meja. Lalu, aku naikin rok seragamku ke pinggang, sambil aku naik ke atas Fah, kemudian duduk di pahanya.

"Kamu tau, ga, celana dalemnya aku apain?"

Fah menggeleng, pelan. Tapi aku ngeliat matanya ga berpaling dari celana dalam yang sedang ku pakai, yang sengaja aku pamerin ke dia.

"Aku pake, tanpa aku bersihin dulu spermanya. Fah, sperma kamu yang di celana dalem aku jadi nempel nih ke memek aku. Ga nyaman, jadi licin, sih... tapi ga apa-apa, aku suka sensasinya." Lalu, pandanganku spontan beralih ke selangkangan Fah, yang masih tertutup rok seragamnya, karena ngeliat ada yang menonjol dari balik roknya. "Sekarang... badannya 'panas' lagi, ga? Pasti iya, kan? Kamu horny, kan?"

"Dea... kamu mau... ngapain—"

Fah cuma bisa menggigit bibirnya pas kedua tanganku dengan lancangnya langsung menyusup masuk ke balik roknya, untuk meremasi kontol dia, yang, baru aku tahu sudah menegang meski masih dibalut celana dalam. Saat telapak tanganku ngerasain sensasi dari tekstur kontol Fah, aku langsung bergidik semangat, karena bisa ngerasain kalau kontol Fah ini gede banget! Wah, makin akunya ga sabar. Tanganku pun bergerak cepat. Aku keluarin kontol Fah dari sarangnya.

Mataku langsung melotot, karena ngeliat kontol Fah dari dekat. Gila... kontolnya putih, bersih lagi. Terus ukurannya itu gede banget, sampai jari-jariku ga muat ngegenggamnya. Dan bahkan aku harus megang kontol Fah dengan dua tangan, karena selain gede, kontolnya juga panjang! Ahhh... beruntung banget ga, sih, dapet yang kayak gini?

"Fah, aku juga sama kayak kamu, tau," kataku, sambil ngocok kontolnya pakai dua tangan. Si sibuk emang. "Aku juga sering ngerasain rasa 'panas' yang bikin horny itu, dan susah nahan kalau rasa 'panas'nya udah muncul. Aku rasa... kita ini cocok kalau jadi binatang, deh. Like... I'm the horny bitch, and you're the horny not-so-alpha-but-with-big-long-cock shemale."

"Dea, Dea, Dea, Deaaaa... tunggu dulu, De... De... nngghhh... ja-jangan di... di... ahhh... dikocokin dulu... a-aku... aku... uuuhhh... DEAAAAAAA!"

Fah memberi respon penolakan atas apa yang sedang aku lakuin ke kontolnya. Dia ngedorong badan aku, tapi tenaganya terlalu lemah, jadi ya aku tetap lanjutin ngocok kontolnya. Ah, gila, makin dikocok, malah makin keras nih kontol. Aku jadi makin ga sabar pengen cobain kontol Fah, tapi aku harus menunggu efek obatnya bekerja dulu.

Oh, atau obatnya sudah bekerja, tapi Fah masih menahan diri karena bingung dengan orientasinya? Kalau stimulus yang dia butuhin, so be it.

"Dea, kamu ga bisa... ngghhh... begini..."

"Kenapa emangnya?" Sambil sebelah tanganku terus ngocok kontol Fah, tanganku yang lainnya mulai buka kancing seragamku sendiri.

"A-aku ga punyaaa... ketertarikannn... seksual sama cewek... uuhhh... ja-jadi... aku ngerasa ga nyaman... aahh... ka-kalau diginiin sama ka... nnngghh... kamu..."

"Terus... kenapa kamu masturbasi pakai celana dalem aku?"

"Kan udah aku... bilangggg... kalau... ahhh, ahhh... kalau aku horny sama... aroma di... ahhh... di celana dalem kamu..."

"Oh, kalau cuma aroma, aku bisa sediain." Aku pun menyodorkan badanku yang sudah lebih banyak terekspos karena kancing seragamku sudah sukses kupreteli. Badan setengah telanjangku kudekatkan ke muka Fah, supaya dia bisa nikmatin aroma badanku dengan leluasa. "Mungkin ga sekuat di memek aku, tapi aroma badan aku juga banyak feromonnya, kok."

Yap, sekarang aku lebih sadar dengan cara kerja feromon dan kondisiku yang mengeluarkan feromon yang kuat saat sedang terangsang. Penjelasan Bu Siska semalem bikin aku lebih melek, untuk lebih lihai dalam gunain feromonku untuk menarik perhatian insan-insan gampang horny. Cuma perlu improvisasi aja; jadi sedikit lebih nakal, binal, dan liar.

Aku sengaja nyodorin bagian-bagian tertentu di badanku, yang memroduksi feromon dalam jumlah besar, ke muka Fah. Mulai dari belahan tetekku—kubuat muka Fah terbenam di belahannya, lalu aku alihkan ke leher dan sengaja nyodorinnya lama supaya Fah akrab dengan feromonku.

Kemudian aku beralih ke spot lain. Sengaja ku gesek-gesek bahuku ke pipi dan hidungnya, dan terus hingga mencapai ketiak. Aku ga tau apakah Fah ini punya fetish terhadap ketiak atau efek obatnya sudah bekerja sepenuhnya, tapi dia yang tadinya pasif saat ku sodorin bagian badanku yang lain, justru sekarang spontan aktif mengendusi ketiakku yang mulus tanpa bulu itu.

"Aahhh... rasanya aneh diciumin gitu... tapi kamu boleh jilatin... kalau mau, Fah..."

Mendapat konsen dariku, Fah langsung ngejilatin ketiakku mulai dari dekat sisi luar tetekku, terus hingga ke bawah lengan. Uuhhh... rasanya geli banget, DAN ENAK! Ini kali pertama aku dijilatin ketiaknya, dan aku langsung suka. Fah kayaknya juga suka... dia masih terus ngejilatin dan ciumin ketiakku dengan liarnya.

"Dea... wangi banget, sih! Aku... mmhh... ga tahan, maaf... maaf banget, ya... wanginya bikin aku... ketagihan..."

Fah ngebenamin muka sepenuhnya di ketiakku, sambil terus ciumin dan jilatin bagian itu. Bukannya merasa jijik, aku justru keenakan sampai muka Fah aku jepit di antara lengan dan sisi dadaku. Rasanya erotis banget, ketika aku tau ada orang yang bahkan rela jilatin ketiakku demi mengejar sensasi nagih yang ga akan habis dia nikmati, dan hal ini bikin aku makin terangsang.

"Kamu mau... ahhh... stop di ketiak aku aja, atau mau coba bagian lain juga? Kalau mau, aku buka BH, nih, Fah."

Fah ga jawab. Dia masih terlalu asik mengendusi aroma badan bercampur keringat di ketiakku. Jadi, aku aja yang ambil inisiatif. Ku lepas seragam sekolahku supaya bisa bergerak lebih leluasa. Lalu kedua tanganku meraih kaitan besi bra di punggung. Jari-jari terampilku dengan mudah melepas kaitannya, dan dalam sekali tarik, braku sudah lolos sempurna—tentu diselingi momen Fah yang harus minggir dari sekitar dadaku saat aku melepas bra. Kini, sepasang tetek kenyal dan montokku sudah bebas dari pengekangnya.

Aku biarin jilbabku masih terpasang di kepala. Sesi intim kemarin bareng Bu Siska di depan kaca saat di kamar hotel, bikin aku sadar kalau aku keliatan lebih erotis saat telanjang namun dengan jilbab yang masih terpasang. Dan segala sesuatu yang membuatku merasa erotis, justru bikin aku jadi makin terangsang.

"Dea... badanku 'panas' banget... ini lebih parah dari yang biasanya. Aku bahkan merasa... sekarang kamu keliatan merangsang banget," kata Fah, tapi tatapan matanya ga menatapku, melainkan menatap tetekku yang menggantung bebas.

"Sama... aku juga..." Kembali aku kocok kontol Fah yang makin menegang. Saat kulit telapak tanganku nyentuh permukaan batang kontolnya lagi, aku langsung kaget bercampur senang, ketika telapak tanganku ngerasain urat-urat di batang kontol Fah yang mengencang seiring kontol dia yang juga makin tegang. "Kontol kamu gede banget, Fah. Memek aku dari tadi berdenyut-denyut, ga sabar mau ngerasain kontol kamu."

"Kontol? Memek? Itu... ahhh, merujuknya ke alat vital, ya?"

Aku mengangguk. "Iya. Kontol sebagai kata ganti untuk penis, dan memek untuk vagina. Belum pernah denger, ya?"

"Mama banyak... ahhh, aahhh... ajarin aku percapakan dengan bahasa Indonesia... baik yang baku, dan yang ga baku... tapi belum pernah denger... kontol dan memek... ahhh, Dea... enak banget tangannya, sih! Oh, iya... di sini, alat vital... uuhhh... disebutnya... itu?" tanya Fah, keheranan.

"Oh, bukan. Itu cuma bentuk vulgar dari kata penis dan vagina, but I like the sense of being kinky when I spit those vulgar words."

"Well... Dea... is the kinkiest person... I... ahhh, ahhh... ever met!"

"Oh, really? I am flattered."

Aku pun mengangkat diri dari posisi duduk, hanya untuk melepas celana dalamku. Lalu, aku kembali ke posisi semula, menduduki pangkal paha Fah. Tapi kali ini, memekku yang sudah ga terhalang celana dalam ini sengaja aku tempelin ke kontol Fah. Sumpah, memekku udah basah banget! Jadi, lendir memekku ini melumasi kontol Fah tiap kali kelamin kami bergesekan.

Fah mendesah tiap kali aku menggesek kontolnya. Sementara, aku yang merasa bibir memekku penuh banget saat diganjel batang kontol Fah, jadi ikutan mendesah juga. Desahan yang keluar dari mulut kami makin ga terkontrol, seiring gesekan memekku yang makin liar pada kontolnya. Apalagi tiap kali klitorisku kena kontol Fah. Uuuhh... rasa gelinya sampai bikin merinding!

"Fah... masukin, yaaaa? Aku... uuhh... udah ga tahannnhhh..."

Fah cuma diem, tapi dari ekspresinya keliatan banget kalau dia lagi mikir keras. Aku yang ga sabar, malah sengaja gesekin kontol Fah lebih cepet lagi, bikin dia gagal fokus terus.

"A-aku... belum pernah, Dea... aku masih... ooohhh... nngghh... takut..."

"Ga apa-apa, ga usah... uuhh... takut. Kamu diem aja... biar kontol gede kamu... mmmhhh... aku yang goyang."

Karena Fah diem aja setelahnya, aku anggap dia setuju sama proposalku. Ya aku ga mikir dua kali, langsung deh aku angkat pinggulku, terus genggam kontol Fah pakai tangan kiri, sementara tangan kiri ku pakai untuk menumpu badan. Aku arahin kontol Fah ke lubang memekku yang sudah licin dan basah banget ini. Ku gesek-gesek dulu, untuk mastiin kepala kontolnya sudah licin. Setelah posisinya ku rasa pas, aku pun mulai nurunin pinggulku. Pelan-pelan...

Aku bisa ngerasain kalau kontol Fah perlahan mulai membuka lubang memekku. Serius deh, baru kepalanya aja tapi rasanya memekku udah sesak banget! Nah, pas pinggulku lebih turun lagi, dan kontol Fah sudah menuhin pangkal lubang memekku, aku kesulitan untuk jaga keseimbangan, jadinya...

"HHHHHNNNGGGGGGGG... FFFFAAAAHHHHHH...!!!"

Aku kepeleset, jadinya pinggulku turun mendadak, dan ini malah bikin kontol Fah menghentak dan masuk sekaligus ke memekku! Rasanya memekku kayak didobrak pentungan gede yang terasa sampai mentok ke bibir rahim! Badanku langsung gemeteran karena orgasme yang muncul mendadak akibat dimentokin kontol Fah, dan aku ga siap dengan efeknya. Aku langsung blingsatan di atas badan Fah. Aku ciumin dan jilatin pipinya, bibirnya, matanya, lehernya, pokoknya ga kontrol banget, deh!

"Dddeaaa... penis aku... aahh, aahh, kayak... dipijet... enak banget... ini... uuuhhh... kamu apainnhhh?"

"Kontol, Fah! Sebutannya kontol!" Aku kulum dan jilat bibirnya, lagi. "Aku klimaks, beneran, cuma gara-gara mentokin kontol kamu ke memek aku! Gila, ini gila banget!"

Sebenarnya, memek aku masih sensitif akibat orgasme barusan, tapi aku ga peduli! Aku goyangin pinggulku cepat-cepat, dengan gerakan maju dan mundur, goyangin kontol Fah yang penuh dan nyesekin memek aku. Tiap goyangan yang aku buat, memekku merasa keenakan banget! Rasanya setiap saraf yang ada di memekku ga luput dari sentuhan kontol Fah, thanks to her(?) big cock!

"Ahh, ahhh, ahhh... gila, ahhh... kontol kamu enak banget, paling enak, ga ada yang nyaingin rasanya! Aku... aahh, ahhh... bisa ketagihan sama kontol seenak ini, Fah!"

Aku bisa liat kalau Fah juga menikmati goyanganku. Dia mendesah tiap kali aku bergoyang, dan aku nikmatin banget ekspresi muka keenakannya. Aku jadi makin semangat goyangin kontol Fah, dan aku juga makin keenakan karenanya.

"Ahhh... Deeaaaa... penis aku, ahh... maksudnya... k... kontol aku... ahhh, ahhh... ngerasa enak banget... digoyangin gini... uuhhh... a-aku takut... aku ke-ketagihannn... va—"

Buru-buru aku lumat bibirnya, terus bilang, "memek, Fah. Repeat... ahhh, after... nngghhh... me. Memek, gitu."

"M... memm... mek. G-gitu, ya?" balas dia, lengkap dengan ekspresi polosnya.

Aku tersenyum lebar, lalu melumat bibirnya lagi. Entah sejak kapan aku mulai berani cium bibirnya, tapi aku nikmatin banget momen melumat bibir Fah sambil goyangin kontolnya. Fah yang tadinya masih pasif dan ngebiarin aku yang aktif melumat bibirnya, sekarang juga ikut balesin lumatanku. Kami bahkan sudah saling membelit lidah dan tukar liur.

Sekarang, Fah makin ga terkendali. Dia lepasin kancing seragamnya, lalu keluarin teteknya dari balik BH, dan mulai sibuk remesin teteknya sendiri. Aku justru godain dia dengan nempelin tetekku biar kena sentuh tangannya. Fah cuma senyum-senyum sendiri tiap kali jari-jarinya nyentuh tetekku.

"Mau pegang?" tanyaku, disela desahan dan erangan erotis yang keluar dari mulutku.

"Nggg... boleh?"

Pertanyaan polos dari Fah justru bikin aku gregetan. Aku langsung tarik badannya dari posisi menyender di sofa. Lalu, aku sodorin kedua tetekku ke mukanya, dan aku peluk erat. Fah ga punya pilihan lain, selain menikmati tetek bulatku. Dia ga cuma ngeremesin aja, tapi juga sambil menghisap dan menggigit kecil putingku.

Nah, disela kegiatanku menggoyang kontol Fah ini, aku mulai merasa kalau tangan Fah sudah ga aktif di tetekku. Kedua tangannya pindah jadi ngeremesin pantatku. Macem-macem deh yang dia lakuin. Kadang pantatku ditampar, diremesin, atau dicubit kecil-kecil. Kayaknya dia gemes, deh. Ya aku sih justru nikmatin banget, hehe.

Tapi, aku mulai ngerasa aneh ketika remasan Fah makin bergeser ke arah dalam. Bahkan sesekali jari-jarinya bersinggungan dengan lubang pantatku, tapi aku diemin aja karena aku pikir dia ga sengaja. Aku malah lebih fokus goyangin kontol Fah, karena jujur aja, kontolnya enak banget di memek aku.

"Ehhh? F-Fahhh... kamu... nngghh... ngapainnn?"

Aku kaget banget ketika jari Fah mulai nekan-nekan lubang pantatku. Aku pikir ga sengaja, tapi kok jarinya malah makin intens? Malah dia sampai gesekin lubang pantatku, terus... terus...

"G-geli... Fahhh... jangan... ahhh... ahhh... di situ... kan... di situ jorokkk... nggghhh..."

"Tapi... mmhhh... mmm... uuhhh... aku suka... pantat kamu, Dea. Ga apa... eemmm... apa, ya? Nanti juga enak, kok," balas dia, sambil terus isepin tetekku.

Yaudah lah, aku pasrah aja. Jadinya, aku terus goyangin kontol Fah di kondisi tetek dan puting aku bergantian diremesin dan diisepin, juga lubang pantat aku yang terus digesekin pakai jari Fah. Sejujurnya, aku merasa ga nyaman, tapi sumpelan kontol Fah bikin aku lupa diri.

Lalu jari Fah pergi dari lubang pantatku, dan aku rasa dia pindah ke bibir memekku, yang masih diganjal kontolnya. Dia meraba bibir memekku sebentar, lalu... balik lagi ke lubang pantatku, kemudian gesekin bagian itu lagi. Dia ulangin kegiatannya beberapa kali, sampai aku merasa kalau lubang pantatku jadi licin.

"Dea, aku... ahhh, ahh.. masukin jari, ya, pantatnya..."

Aku ngangguk aja, tuh, pas dia bilang gitu. Sepersekian detik kemudian, aku baru sadar kalau dia mau masukin jari ke lubang pantatku. Belum sempat aku protes, Fah sudah...

"Hhnnggg... Fffahhh... itu... pantat aku... diapainnnhhh?"

Fah ga jawab. Mulutnya sibuk sama putingku, begitu pun jarinya. Aku bisa ngerasain kalau jari Fah sudah masuk ke lubang pantatku. Cuma masuk sedikit, terus ditarik lagi, masukin lagi sedikit lebih dalam, ditarik lagi. Terus begitu sampai jarinya masuk semua. Akunya yang justru merasa aneh, ada rasa ganjil yang ga nyaman saat lubang pantatku dimasukin sesuatu, tapi entah kenapa juga merasa enak banget waktu dimasukin. Sensasi geli dan enaknya sulit diungkapin, tapi ketika digabung dengan sensasi sesak pada memekku, aku merasa seperti terbang.

Makin ku goyang lebih cepat lah kontol Fah. Di sisi lain, Fah juga makin lancar keluar-masukin jarinya di lubang pantatku, sambil tanpa henti isepin puting dan remesin tetekku yang satu lagi.

"Dea, Dea... aku mau... ahhh, cabut... dulu! Aku... aku... kayak mau... ahhh, ahhh, uuuhhh... keluar... beneran, ahhh, Deeaaa... cabut, cabut duluuuu!"

"Bareng aja! Bareeenggg... nnngghhh... aahhh, aaahh, keluar barengggg... aku juga... mau... ahhh, sedikit lagi... ahhh, Fahhh..."

"Tapi, ahhh, ahhh, oohhh, nanti... keluar di dalemmm... ooohhhh... Deaaa..."

"Ga apa-apa! Keluarin aja! Beneran! Ayooo... keluarin di dalem, Fah! Keluarinnn... memek aku udah siap... nyambut peju kamuuu... ahhh, ahhh, aku goyangin, yaaa... cepetin lagi, ya... ahhh, ahhh, ayooo... aku mau pejuuuuu..."

Fah tiba-tiba narik kepala aku, bikin muka aku tertarik ke mukanya. Bibirku pun langsung dia sambut dengan bibirnya. Tanpa jeda, bibirnya melumat bibirku dengan liar, sementara aku merasa kalau Fah mengangkat pinggulnya, jadi...

Gila! Kontolnya jadi melesak dalem banget ke memekku! Di momen kontolnya sampai mentok hingga ke bibir rahimku, aku langsung orgasme! Rasa orgasme yang bergulung-gulung dan datang bagai badai ini ga bisa aku antisipasi. Badanku kelojotan di atas Fah, dan bisa aku rasain kalau kontol Fah juga berdenyut-denyut, dan...

AAAAHHHH... KONTOLNYA MUNCRAT DI DALEM MEMEKKU! Gilaaaaa, pejunya malah langsung ke rahim! Fah nyemprotin pejunya beberapa kali, dan aku merasa memekku penuh banget sekarang!

Aku dan Fah pun menikmati orgasme dengan erangan tertahan, karena kami saling menyumpal bibir satu sama lain memakai bibir masing-masing. Sementara badanku masih gemeteran akibat badai orgasme yang ga kunjung mereda, sementara Fah masih menegang sambil mentokin kontolnya ke memekku.

Setelah orgasme kami mereda, Fah langsung bersender ke sofa. Badannya lemas lunglai, dengan dada yang naik turun karena napas yang masih memburu. Tentu saja, aku juga ngerasain hal yang sama. Akhirnya, aku pun condong hingga menempel ke Fah dan ngebiarin seluruh beban badanku bertumpu ke dia.

"Dea... aku... mau tanya, deh," bisik Fah, di tengah napas tersengalnya.

"Apa?"

"Kita... tadi... ngapain? Kok... kok bisa sih aku... sama kamu..."

Ku kecup pipinya, lalu berbisik di kupingnya, "Enak, ga?"

Fah spontan mendesah, akibat bisikan pelanku yang ku tambahkan dengan jilatan pada kupingnya. "Ih, Dea! Aku serius, nih! Sumpah, ya, aku tuh masih shock, tau ga!"

Wah, rupanya dia panik. Fah lalu mengeluh betapa dia bingung dengan orientasinya sekarang. Dia harus mengakui bahwa apa yang kita lakuin tadi tuh memang enak, tapi justru itu jadi bukti baru bahwa dia bisa terangsang dengan perempuan. Dia bahkan sampai mikir kalau upayanya suntik dan minun suplemen hormon supaya gedein teteknya itu jadi sia-sia kalau ujung-ujungnya dia malah jadi hetero.

"Kayaknya ga ke semua perempuan, deh, Fah," ucapku, santai. Aku mengelus pipinya, berusaha nenangin dia. "Paling cuma ke aku aja, iya, kan?"

Mata Fah langsung memicing. "Kok kamu bisa sepede itu?"

"Kamu horny ga kalau liat Laras atau Bu Siska?" tanyaku, yang langsung dijawab Fah dengan gelengan kepala.

"Nah, terus... aku ada bukti lainnya." Mataku langsung mengarah ke bawah, ke lokasi dimana kelamin kami bertemu. Diikuti mata Fah yang menuju ke arah yang sama. "Kalau kamu ga tertarik sama aku, kontol kamu ga akan sekenceng ini di dalem memek aku, bahkan setelah kamunya keluar. Iya, ga?"

Fah spontan terdiam. Tapi dalam diamnya ini, justru kontolnya yang bergerak-gerak di dalem memekku. Karena aku masih sensitif banget, jadi tiap gerakan sekecil apa pun dari kontolnya, bikin aku merasa seperti kena setruman kecil.

"Ini kan... bisa jadi karena kamunya ga lepasin kontol aku. Woooo~"

Ih, udah bisa lancar ngomong "kontol" dia. Seneng, deh.

"Oh, yaudah, yaudah. Aku lepas, yaaaa." Tanpa nunggu reaksi Fah, aku langsung bangun dari atas pinggulnya. Pas kontol Fah lepas dari memekku, aku langsung bisa rasain ada yang keluar dari memekku ini. "Sekarang gimana, udah ilang rasa tertariknya?"

Fah kembali diam. Memandangi kontolnya yang masih menegang, tegak sempurna itu. Aku jadi ikutan ngeliat ke objek yang sama. Tuh... kontol semenggiurkan itu, yang ukurannya gede banget itu, dengan urat-uratnya yang mencuat di kulit, dan keliatan mengkilap akibat dilumuri cairan memekku... siapa yang ga tergoda sama kontol kayak gini, coba?

"Fah?" tanyaku, lagi. Aku jadi serem, soalnya Fah bengongnya kelamaan. Takut dia kesurupan.

"Dea..." ucap Fah, lirih. Matanya melirik ke aku.

"Ya?"

"Aku... kayaknya 'mau' lagi." Serius, ekspresi Fah keliatan hopeless banget saat mandangin aku. "Boleh, ga?"

Aku pun tersenyum lebar. Meski ga etis, tapi sekarang aku merasa sebagai seseorang yang bisa membuat orang lain pindah keyakinan karena perbuatanku. Lalu, sambil melucuti pakaian, aku bilang ke dia, "Di kamar aku aja, ya."

Tanpa nunggu respon Fah, aku dan badan telanjangku berjalan menuju kamar. Di belakangku, aku denger suara Fah yang buru-buru bangun. Belum sampai pintu, Fah sudah berhasil nyusulin aku. Di pintu kamar yang masih menutup, aku dan Fah berciuman sambil bergesekan badan. Ih, Fah ganas banget sekarang, aku hampir ga punya kesempatan untuk buka pintu.

Ah... akhirnya. Saat pintu terbuka, lumatan bibirku pada bibir Fah terlepas karena badanku terdorong ke belakang secara mendadak. Tapi Fah berhasil narik badanku, cuma untuk dia ciumin lagi bibirku. Terus... aku didorong ke ranjang, dan dia buru-buru buka seluruh seragamnya, sebelum nyusul naik ke atas ranjang. Menindih badanku.

Hal pertama yang Fah lakuin setelah naik ke ranjang adalah lebarin kedua pahaku. Yang kedua, dia pegang kontolnya, lalu arahin dan gesek-gesekin ke bibir memekku, sebelum akhirnya dia ketemu lubang memekku, dan... masukin sekaligus dalam satu hentakan... sampai mentok!

"Aaaa... Fahhh... a... aku... klimmm... mmmmhhh... mmmaaakkksss... lagiii...!!!"

Tentu saja, badanku geter-geter lagi. Ini orgasme ketiga yang terjadi akibat Fah mentokin kontol gedenya itu sampe ke bibir rahimku. Tapi kali ini Fah ga peduli sama reaksiku. Dia terus-terusan sodokin kontolnya dengan kekuatan penuh, bikin orgasmeku ga berhenti-berhenti. Ya... badanku terus-terusan geter-geter jadinyaaaa!

Begitu di ranjang, aku langsung dientot dengan liar. Apa itu cumbuan saat foreplay? Ga ada. Adanya tuh Fah cumbu leher, bahu dan mukaku sambil terus genjotin memekku.

Gilaaaaa... aku suka banget diginiin! Ga usah peduliin waktu, ya, fokus entotin aku aja, Dear teman shemale-ku.
==========

==========
Chapter 12 — Wild Night part 4






Untuk urusan perkontolan, sebenarnya aku ga punya banyak referensi. Pengalaman pertamaku dengan kontol adalah pas sama Pak Jumadi, jadi aku ga ada pembanding lain kalau mesti ngebandingin kontol Pak Jumadi dengan Fah. Meski begitu, even an amateur can tell the differences just by looking at them; ukurannya, warna kulitnya, kekuatannya... punya Fah menang kemana-mana.

Ini sudah hampir maghrib, tapi Fah masih ga berenti-berenti genjotin memek aku. Entah sudah berapa kali orgasme yang aku sambut, dan berapa kali juga Fah keluarin pejunya di dalem memekku, dia masih belum mau udahan juga. Tentu, kami juga coba berbagai macam gaya, posisi, whatever istilahnya apa. Aku sudah ga bisa inget gaya apa aja, tapi salah dua favoritku adalah doggy dan WOT. Tahu lah alesannya kenapa...

Biar mentok. Ehe.

Oh, ada lagi! Di dua gaya itu, Fah punya kebiasaan selalu mainin lubang pantatku. Sama kayak waktu kita ngeseks pertama kali tadi, dia suka banget nyolokin sampai aku ngerasa mules. Tapi... ada rasa yang enak banget, itu tuh... pas bibir lubang pantatku dilebarin untuk dicolok-colok gitu.

"Deaaaaa... ahhh, ahhh, aku mau keluar... aahhh... lagi!"

"Yess, yess... keluarin aja, biar tambah banyak pejunya di memek akuuu... ahhh, ahhh, ooohhh..."

Hentakan pinggul Fah makin ga terkendali pas lagi ngentotin aku dari belakang gini. Tusukan jempolnya di lubang pantatku juga makin dalem. Malah sekarang jempolnya gerak-gerak di dalem lubang pantat. Sementara aku sih cuma bisa pasrah aja sambil nungging dan berusaha bikin badan semeliuk mungkin, biar ngebantu Fah makin gampang mentokin kontolnya.

"Dea, Dea... aku... ahhh, ahhh... mmmauu... aahhh, mmmaauu... nnnggghhh... OOOOHHHHHHHHHH!!!"

Aku cuma bisa benamin muka di kasur sambil gigit sprei, dan dengan kedua tangan ngeremes sprei kuat-kuat, saat Fah mentokin kontolnya sampai kerasa mau ngebuka bibir rahimku. Aku bisa rasain memek dan rahimku makin penuh sama peju dari Fah, yang diisi mulai dari tadi siang. Apalagi, kombinasi sodokan mentok kontolnya di memekku dan tusukan jempolnya yang dalem di lubang pantatku, nganterin aku ke kenikmatan tertinggi yang bikin aku orgasme! Aku pipis di kasur, dengan posisi nungging sehingga pipisku bermuncratan ga karuan ke sprei. Bahkan ada juga yang mengalir deras lewat paha. Di momen orgasme disertai pipis ini, aku sampai gemeteran hebat—malah sampai nangis segala karena saking ga bisa nahan luapan kenikmatan yang bertubi-tubi menghantamku.

Setelah selesai dengan ejakulasinya, Fah cabut kontolnya terus rebahan di samping aku. Aku sendiri masih di posisi nungging; masih gemeteran dan nikmatin memekku yang masih kedutan. Napas kami berdua memburu. Akhirnya, setelah beberapa menit, aku nyusul Fah rebahan juga di sampingnya.

"Ih, Dea nangis?" tanya Fah. Lalu dia usap air mata di pipiku.

"Iya! Enak banget soalnya, gila ga si sampe nangis gini," balasku, sambil ketawa lepas.

"Aneh banget sih kamu, De," responnya sambil mengacak-acak rambutku yang memang sudah berantakan dan lepek ini, lalu dia ikutan ketawa bareng.

Setelah tawa mereda, kami terdiam. Mata memandang lurus ke langit-langit kamar. Cuma ada suara napas yang berusaha diatur sebaik mungkin. Hening. Ku kira, kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Isi pikiranku melompat-lompat dalam kecepatan yang ga bisa kuimbangi. Aku mikirin sesi ngeseks dengan Fah tadi, lalu dengan Bu Siska kemarin, Pak Jumadi... lalu pindah lagi ke topik non seks macam hubungan pertemananku dengan Laras, sekolahku, kondisi mentalku, lalu... hubunganku dengan kedua orangtua.

Untuk yang terakhir ini, aku langsung otomatis senyum getir. Aku yang sekarang adalah versi terburuk yang orangtuaku ga pernah mau bayangkan, alih-alih harapkan. Kalau mereka tahu anaknya sekarang jadi gila seks, pasti mereka sedih, kecewa, sakit hati, marah dan segudang perasaan negatif lain yang campur aduk. Bahkan, mereka pasti jijik denganku.

Hal-hal yang sekarang aku geluti, adalah yang selalu dianggap tabu oleh lingkungan keluargaku. Ga cuma dianggap tabu, tapi juga ditakuti, dijauhi, dimusuhi dan diperangi. Tentu saja, karena mereka agamis sekali, dan yang ku lakukan sangat bertentangan dengan prinsip beragama. Di pemahamanku yang sekarang, aku memaknai bahwa agama adalah kekangan dari hal-hal yang aku mau, dan yang aku lakukan adalah berontak dari kekangan itu, menuju kebebasan.

Lalu, sayup-sayup suara adzan Maghrib dari pengeras suara milik masjid komplek sampai ke kamarku. Haaah... senyumku makin getir jadinya.

"Dea, ini pengalaman yang ga akan aku lupain seumur hidup."

Suara Fah memecah lamunanku. Aku spontan nengok ke dia, lalu bilang, "Kamu ngomongnya kayak yang ga akan ngelakuin lagi. Ini bukan yang pertama dan terakhir kalinya, loh. Kalau dari aku, aku maunya kita begini terus."

"Tapi... aku ga yakin nanti bisa lagi atau engga."

Mataku memejam, lalu tersenyum. "Kamu udah keluar berkali-kali di dalem aku, aku yakin pasti bisa. Kan aku bilang, kamu tertariknya ke aku doang, bukan ke semua perempuan."

"Ih, si pede emang." Fah mencubit lenganku, lalu tertawa lepas. "Kita baru kenal tadi pagi, tapi udah bisa se-'akrab' ini. Gila, ga, sih?"

"Kamu tuh yang gila! Ngapain celana dalem orang dipake buat bahan masturbasi?" seruku.

"Ih, kamu sama gilanya! Celana dalem ada spermanya bukannya dicuci, malah dipake!"

Kami pun ketawa bareng, begitu lepas dan nyaring. Ngetawain keadaan ga pernah seasik ini sebelumnya. Lalu, masih dengan badan sama-sama telanjang dan lagi tiduran, kami saling ngobrol dan tukar cerita. Kesempatan ini aku pakai untuk kenal Fah lebih jauh lagi, dan ngebiarin Fah untuk kenal aku lebih dalam. Aku cerita sesuai porsi yang bisa aku bagi ke dia, begitu pun sebaliknya. Obrolan kami pun mengalir, gonta-ganti topik hingga ga kerasa, sekarang lagi nyerempet ke bahasan seksual.

"Kamu pernah anal, ga?" tanyanya, tiba-tiba.

Jujur, aku kaget dengan pertanyaan Fah, dan ga siap untuk ngejawab. Bukan karena ga punya materi jawab, tapi karena aku bahkan ga pernah kepikiran untuk ngelakuin itu sebelumnya. Tapi, belum sempat aku jawab, Fah udah lanjut ngomong, "Aku pernah, Dea. Pertama kalinya itu, waktu aku kecil."

"Waktu kecil? Ini kita ngomongin anal, yang itu, kan?" Aku memberi penekanan pada nada bicaraku. "Sodomi?"

Fah ngangguk. "Iya, bener, kok."

"Hah? Gimana ceritanya kamu masih kecil udah berani anal?"

"Ih, waktu kecil dulu, aku tuh diperkosa, tau."

Aku langsung diem. Tema sensitif, nih. Harus hati-hati kalau ngomong. "Maaf, ya... aku ga tau," kataku, lirih.

"Eh, kamu kenapaaaa? Kok murung, gitu?" Fah spontan mencubit pipiku. "Ga apa-apa, santai aja. Aku udah move on, kok."

"Tapi pasti berat bagi kamu, kan?"

"Dulu sih, iya. Malah sampe depresi gitu." Mata Fah menerawang, mengarah ke langit-langit. "Waktu aku kecil, tukang kebun yang udah lama kerja pada keluarga aku mutusin pensiun. Emang orangnya udah tua juga. Terus... dapet deh, tuh, tukang kebun baru. Bapak-bapak gitu, asik orangnya. Manly banget muka sama postur badannya. Kalau masih muda, aku yakin dia bisa jadi model.

"Nah, aku kan emang dari kecil udah kemayu, ya. Aku tuh dari kecil ngerasanya lahir dengan gender yang salah. Gayaku feminin, ditambah muka dan badan aku kayak cewek banget. Jadinya cocok aja pas pake baju perempuan," kata Fah, terus dia ketawa sendiri.

"Lanjut, ya... jadi aku tuh suka sama si tukang kebun baru ini. Aku umur 7 tahun, sementara si tukang kebun umurnya 42. Jauh banget, kan? Tapi aku ga peduli. Tiap ada kesempatan, aku nemenin dia. Aku juga suka ajak makan siang di taman rumah. Awalnya sih, dia jaga jarak. Mungkin ngerasa ga pantes...

"Tapi karena aku terus deketin, ya akhirnya jadi akrab. Awalnya cuma aku senderan di lengannya, terus aku dipangku, malah sering sambil dipeluk dari belakang. Akunya juga seneng digituin. Jadi ga pernah nolak."

"Bentar, deh." Aku bangun dari tidurku, lalu duduk bersila. Aku ingin menyimak cerita Fah dengan lebih serius. "Tukang kebun kamu ini... tau kan kalo kamu tuh cowok?"

Fah ngangguk. "Ya aku kan kalo di rumah ga selalu pake baju perempuan, Dea. Pasti tau lah orangnya. Nah, suatu hari, aku diajak ke bagian terjauh dari kebun rumah. Katanya ada tempat yang nyaman kalo udah diberesin. Aku ikut-ikut aja. Eh, taunya... malah disodomi.

"Rasanya sakit banget, karena bibir pantat aku tuh dibuka lebar-lebar supaya kontol dia bisa masuk terus. Aku disodomi berkali-kali waktu itu. Setelah selesai pun, aku ditinggal gitu aja. Aku juga ga bisa jalan pulang, karena pantatku sakit banget. Akhirnya, ada pembantu yang nemuin aku, lalu aku dibawa pulang ke rumah. Setelahnya, berhari-hari aku demam dan ga bisa jalan. Aku juga kesakitan tiap mau BAB."

Wah... dia keterusan terbiasa ngomong "kontol"nya, nih. Oh, iya, ayo nyimak lagi. "Terus... keluarga kamu tau?"

"Tau, kok. Pembantuku itu yang bilang, lalu setelah diselidiki, akhirnya ketauan pelakunya si tukang kebun itu."

"Setelah itu? Dilaporin ke polisi?"

"Engga. Si tukang kebun itu dicari orang suruhan Papa. Setelahnya, aku ga pernah denger kabarnya lagi. Tapi kalau tau track record orang-orang suruhan Papa, aku yakinnya si tukang kebun itu dihilangin, which means... out of this world, I think."

Aku spontan menelan ludah. I think... I got myself involved into some random shemale with tragic past and dangerous family. Okay...

"I am sorry, ya, Fah." Aku kembali rebahan, lalu peluk Fah erat-erat. "Aku ga seharusnya tau ini, tapi terima kasih udah cerita, dan percaya aku untuk nampung cerita kamu."

"Dea...," Fah balas pelukanku, erat, "Kamu baik banget, sih, jadi orang! Makasih, ya."

Wah... pelukan kami berdua jadi makin erat. "Ada sesuatu yang bisa aku lakuin untuk ngehibur kamu?" tanyaku, sambil usap-usap punggungnya. (Anyway, punggung Fah mulus banget! Aku yang cewek tulen gini jadi merasa minder, karena masih suka jerawatan punggungnya, hih!)

"Ih, ga perlu repot-repot!" Lalu, Fah diem dulu, kayak lagi mikir keras. Ga lama, dia senyum lebar, sambil mandangin aku. "Actually, there is this one thing you could do for me..."

Aku masih bertanya-tanya apa yang Fah mau dariku. Tapi perasaanku langsung ga enak pas tangannya ngeraba pantatku, lalu pelan-pelan mengarah ke... lubang pantatku.

Sekali lagi, aku menelan ludah.


———​


Fah banyak cerita soal hidupnya, terutama di bagian paling pribadi. Dia cerita tentang perkosaan yang menimpa dia waktu kecil bikin dia mengidap beragam gangguan mental, seperti gangguan stres pascatrauma (atau yang lebih dikenal dengan sebutan PTSD) yang berkembang menjadi gangguan panik, depresi (dari tingkat mayor, distimia hingga ke psikosis), gangguan bipolar tipe 1, dan keinginan untuk bunuh diri.

Iya, kondisi mentalnya memang segawat itu. Aku pikir, punya satu tipe gangguan mental aja sudah ganggu banget, apalagi kalau mengidap gangguan mental ganda. Dari semua gangguan mental yang dia sebut, beberapa ada yang butuh waktu lama untuk sembuh, beberapa ada yang ga bisa sembuh sama sekali. Makanya, Fah punya psikolog dan psikiater pribadi yang dipekerjakan oleh keluarganya untuk memantau, mendiagnosis, dan mengelola kondisi mental dia.

Selain gangguan mental, Fah juga mengidap kelainan seksual berupa hiperseksual dan homoseksual. Hiperseksual terbentuk akibat efek dari obat-obatan yang dia konsumsi untuk menekan gejala pada gangguan mentalnya. Karena ada bagian di otaknya yang dibatasi, mental Fah jadi ngembangin mekanisme pertahanan diri dalam bentuk pelarian—dalam kasus Fah, berupa seks. Semakin dalam dan lama gangguan mentalnya ditekan, maka semakin parah juga hiperseksualnya.

Beberapa tahun belakangan, Fah juga menyadari bahwa hiperseksualnya berkembang dari trauma dan depresi akibat perkosaan yang dia alami. Fah ga lagi ngeliat perkosaan terhadap dirinya sebagai tragedi, tapi sebagai pemicu dan contoh tentang bagaimana seharusnya dia menikmati pemenuhan hasrat seksualnya.

Hiperseksual juga yang mengamplifikasi homoseksual Fah, yang memang sudah ada sejak lahir, ke tingkat yang lebih ekstrem. Fah jadi ketagihan dianal. Entah sudah berapa kali dia ngeseks dengan cowok-cowok penyuka sesama jenis yang dia kenal dari dating apps, atau bahkan bisa dia comot gitu aja dari kelab malam. Kalau dia ga dapet seks, pemenuhan hasratnya yang selalu tinggi dan menggebu-gebu itu ya dengan jalur masturbasi. Nah, hiperseksual justru bikin Fah jadi ga fokus menjalani hidup, uring-uringan, dan emosional kalau ga dituruti hasratnya, dan gejala ini berlangsung dalam frekuensi yang sering setiap harinya.

Makanya, dia harus masturbasi... demi hidup yang stabil dan baik tiap hari. Kayak aku, gitu. Ehehehehe...

Tapi denger cerita Fah, aku jadi ngerasa bersalah karena sudah kasih obat perangsang ke minumannya. Kayak... aku tuh justru malah nambahin hiperseksualnya ke tingkat yang lebih ekstrem lagi, ga, sih? Ya... salah satu gejalanya ya ini: dia mau anal aku! Sesuatu yang ga pernah dia coba sebelumnya, karena dia selalu jadi yang dianal aja.

Oh, tapi untuk sampai ke tahap itu, kayaknya masih jauh. Karena lubang pantatku kecil dan kontol Fah akan amat sangat kegedean untuk masuk ke bagian itu, maka harus ada serangkaian proses adaptasi yang mesti aku tempuh. Nngg... salah satunya....

"Fah... serius nih, aku harus pake ini?" tanyaku, sambil terus memandangi logam emas seukuran dua jari yang bentuknya aneh ini, yang sedang ku pegang.

"Iya, biar terbiasa. Mau, ya? Please, lama-lama juga enak, kok!" responnya, lengkap dengan muka mengiba dan tangan mengatup.

"Apa tadi namanya? Butt-what?"

"Buttplug, Dea. Kalau kamu mau pake, buttplugnya buat kamu."

"Ini... bekas kamu?"

"Oh, engga, kok. Itu cadangan yang ga pernah aku pake, cuma beli aja karena keliatan elegan. Aku punya favoritku sendiri," Fah merogoh isi tasnya, ngambil benda yang mirip dengan yang aku pegang, "Lucu, kaaaan?"

Sebuah buttplug lainnya, dengan warna perak, dia pamerin di depanku. Lalu, dia juga nyodorin botol plastik bening berisi gel kepadaku. Katanya, itu pelumas. Biasa dia pakai kalau mau masukin buttplug ke lubang pantatnya. Udah gila ini anak rupanya. Ke sekolah ga cuma bawa buku pelajaran, tapi juga mainan seks. Mind blowing.

Kalau dibikin perbandingan, jadinya begini:

● Level kegilaanku:
Your average main character of sex literature.

● Level kegilaan Fah (kalkulasi dari kenekatan, keberanian, dan gila beneran berdasarkan rekam medis):
To infinity and beyond.

Diluar fungsinya yang nyeleneh, harus aku akui kalau tampilan benda ini bagus banget. Kapan lagi aku punya buttplug dengan sepuhan emas di permukaannya? Hahahahahaha... ga akan pernah. Aku harus berterima kasih ke Fah atas pemberiannya yang... absurd ini.

"Kamu ga apa-apa kasih ini ke aku?" tanyaku, lagi. Berkali-kali ku pandangi sepuhan emas pada buttplug ini. "Rapih banget ngelapisinnya, ya. Ga keliatan sama sekali kalau ini tuh logam besi yang disepuh emas."

"Emang bukan, Dea. Itu emas asli. 24 karat. Aku lupa beratnya berapa, mungkin sekitar 100 gram. Kurang lebih, sih, segitu. Kalau punya aku dari emas putih, kayaknya lebih berat dari yang kamu pegang, soalnya punya aku agak lebih gede sedikit. Dua-duanya aku beli lewat custom order sama artisan langganan, jadi ga ngecewain hasilnya. Oh, iya, karena dari emas, jadi buttplug ini anti karat."

Oh, aku ga bisa ngomong apa-apa. Segera aku ambil HP yang berada di sampingku, lalu aku cari harga emas hari ini. 978 ribu per gramnya. Coba... kalau aku kaliin 100 jadi berapa, ya? Oh. Sembilan puluh tujuh juta delapan ratus ribu rupiah. Hmmm... mahal juga, ya.

Aku senyum getir. INI BANYAK BANGET DIGITNYA, ANJIR! Aku mau nangis aja. Aku sekarang lagi megang buttplug seharga hampir seratus juta, dan ujung-ujungnya cuma buat dipake di pantat. Jadi, kalau aku pakai benda ini, apakah berarti value lubang pantatku bertambah senilai seratus juta?

Yang jelas, buttplug ini ga bisa sembarangan dibawa ke toko emas maupun pegadaian, apalagi yang syari'ah. Sungguh aset yang problematik. Tapi sebelum Fah berubah pikiran, mending aku turutin aja maunya dia. Gimana pun juga, sembilan puluh tujuh juta itu duit, meski adanya di lubang pantat.

Aku pun langsung nyamber pelumas yang Fah bawa. Aku olesin sebanyak mungkin ke buttplug hibahku ini. Lalu, aku olesin juga ke lubang pantatku. Agak geli dan ganjil rasanya, tapi bayang-bayang emas seharga sembilan puluh tujuh juta langsung mampu menepis rasa ganjil.

"Fah... help me with this, please?" pintaku, lalu nyodorin buttplugku kepadanya.

"With pleasure. Dea, nungging, ya."

Aku pun menungging dengan setengah badan bertumpu pada meja, dalam posisi membelakangi Fah. Sementara Fah mulai membuka pantatku. Ga lama, aku ngerasain ada sentuhan logam dingin di bibir lubang pantatku. "Coba, deh, kamu rekahin lubang pantat kamu," katanya.

"Hah? Gimana caranya?"

"Mengejan gitu. You know how."

"Oooh, oke. Hhmmfff...."

Saat aku mengejan, Fah malah neken buttplugnya masuk ke lubang pantatku. Lalu, aku disuruh mengkerutkan bibir lubang pantat, sementara dia ngebiarin buttplugnya terhisap otot-otot bibir lubang pantatku. Aku mengulangi repetisi ini beberapa kali, sesuai dengan intruksi Fah, hingga...

"Aaahhnngg... Fahhh... ada... ada yang masuuuukkk... nnnggghhhh..."

Aku bisa ngerasain kalau tiap kali aku mengejan dan mengkerutkan lubang pantatku, sedikit demi sedikit buttplugnya makin masuk. Nah, sekarang justru aku ngerasa ada sesuatu yang mengganjal liang pantatku. Semakin lama, malah semakin lebar dan dalam. Sampai akhirnya...

"Done. Welcome to the club, Dea."

"Aaaaaa... Fah, Fah... ini rasanya kok aneh, ya? Kayak... disumpel, gitu..."

Karena bentuk buttplugnya seperti gabungan kerucut dengan sedikit silinder tipis yang mempunyai lingkaran datar di ujung bawahnya, jadi ketika bagian pangkal kerucutnya sudah masuk sepenuhnya ke dalam liang pantatku, yang tersisa di bagian luar hanya bagian lingkaran datarnya aja. Rasanya pun aneh dan bikin aku kegelian tiap bergerak. Tapi coba ku nikmati saja dulu.

"Berapa lama aku harus pake ini?" tanyaku, tanpa melihat Fah. Mataku tertuju pada sofa yang tadi siang jadi arena ngeseks perdanaku dengan teman shemale-ku ini.

"Hmmm... semalaman? Ga perlu khawatir, nanti kamu juga akan terbiasa, kok."

"Oke, aku coba ya—"

Aku buru-buru nengok ke belakang, karena aku barusan ngerasain ada sesuatu yang menggesek bibir memekku. Aku masih kesusahan ngeliat Fah sedang apa di belakangku, tapi lewat ekor mata, aku bisa liat kalau dia sedang upayain sesuatu.

"Aku ga sabar mau anal kamu, Dea. Sambil nunggu yang ini siap," Fah menekan-nekan buttplug yang masih mengganjal lubang pantatku, "Aku mau pake lubang satunya dulu, ya...."

"Fah? Nanti dulu, emang boleh masukin bareng-bareng gini?" balasku, panik. Sekarang aku tahu benda apa yang menggesek memekku. Itu adalah kontol Fah, yang kembali tegang dan mengeras.

Fah, yang masih terus gesekin kontolnya di bibir memekku yang masih basah ini, ngejawab, "Ga ada yang bilang ga boleh, Dea. Uuhhh... aku udah ga tahan! Aku masukin, yaaaa...."

"I-iya... at least, pelan-pelan masukinnya... yyyaaaaa—HHHNNNGGGGGGGGG... MMMMFFF... OOOOHHHHH... AKU BILANG PELAN-PELAAAANNNNN!!!"

Iya, aku orgasme lagi. Aku jadi selemah ini sekarang, tiap kali kontol Fah perdana masukin memekku dengan cara menghentak dan mentokin sampai paling dalem, aku langsung orgasme tiba-tiba. Sudah hafal lah, ya, kalau aku orgasme gimana; badan gemeteran, mulut meracau ga jelas, mata merem-melek, dan memekku sampai pipis segala. Kali ini, mengucur deras ke lantai di kolong meja.

Dan kombinasi buttplug yang mengganjal lubang pantatku, ditambah tusukan-tusukan agresif kontol Fah di memekku, bikin kenikmatan yang aku rasain jadi berlipat ganda. Aku sudah ga peduli keadaan sekitar. Yang aku tahu, aku cuma bisa pasrah dientot Fah dari belakang. Erangan dan desahan binal ga berhenti keluar dari mulutku, juga dari mulut Fah yang sedang ngentotin aku sambil ngeremesin pantatku.

Bahkan, saking ga sadarnya sama sekitar, aku baru ngeh kalau ada Laras yang kini tiba-tiba duduk mengangkang di sofa, di hadapanku. Aku spontan kaget, lalu berusaha fokus ke kesadaranku untuk tahu kalau di hadapanku ini beneran Laras atau cuma imajinasiku.

"Fah... Fah... ahhh, ahhh, uuhh... stop dulu, stoppp duluuuu...." pintaku, sambil coba mendorong badan Fah untuk menjauh. Tapi percuma, Fah ga peduli. Dia malah makin kenceng genjotin memekku, bikin aku ga berkutik tiap kali kepala kontolnya mencium bibir rahimku.

Akhirnya, dengan kesadaran yang tersisa, di tengah-tengah gempuran kontol Fah, aku berusaha meraih sosok di depanku. Ternyata... bisa ku pegang pahanya. Ini... beneran Laras! Eh, gawat banget! Aku ga bisa ngebiarin Laras ngeliat aku kayak gini! Aku jadinya merasa kepergok, kan!

Tapi ada yang aneh dari penampilan Laras. Jilbab dan seragamnya terpasang, tapi acak-acakan. Juga ada bau rokok yang kuat di sekitarnya, dan...

Laras tiba-tiba bangun, mendekatiku sambil memegang kedua pipiku, lalu mencium bibirku. Aku yang ga siap, cuma bisa diem aja saat Laras berusaha masukin lidahnya ke dalam mulutku. Eehh... tapi ada bau aneh dari aroma mulutnya. Bau ini mirip dengan yang aku rasain saat lagi berciuman dengan Pak Jumadi. Bau rokok bercampur alkohol.

Jangan-jangan... Laras mabuk?

Tapi aku ga dikasih kesempatan berpikir lebih lama. Gempuran kontol Fah yang makin menjadi-jadi bikin fokusku goyah terus! Apalagi ciuman Laras yang makin liar seakan sengaja ngegoda aku buat ngebales dia. Astagaaaaa, kalian diem dulu bisa ga, sih? Aku perlu mikir dan pelajarin situasi sekitar, woy!

Atau... yaudahlah, pasrah aja dulu. Gimana nanti, yaudah nanti aja diurusnya. But still... this is too much to handle. Uuhhh.
==========

==========
Chapter 13 — Wild Night part 5 (last)






"Fah, Fah! Ahhh, ahhh... ihh, dibilangin berenti duluuu... a-ada... ahh, oohhh... ada Laras, nih!" racauku, sambil coba sekuat tenaga ngedorong pinggang Fah supaya berhenti bergerak.

Tapi karena aku ga ada tenaga untuk bikin perlawanan, jadinya usahaku sia-sia. Fah justru makin agresif. Sodokan kontolnya makin keras, cepat dan lebih menghentak. Dia pun meracau ke aku, "Ga bisa, ahhh, ahhh... memek kamu enak bangettt... aku ga bisaaa... ahhh, ooohh, fuck, fuck... aku ga bisa berenti, Deaaaa!"

God, she(?) is helpless.

Malam ini, suasana di ruang tamu rumahku jadi lebih hidup dari biasanya. Suara desahan dari Fah memenuhi tiap sudut ruangan, sementara Laras masih aktif melumat bibirku meski aku berkali-kali menghindar dari lumatannya. Lama-lama, ciuman Laras yang makin intens bikin aku tergoda juga. Sesekali, aku lepas kontrol dan ngebales ciuman Laras. Bibir kami pun saling melumat, disusul lidah yang saling membelit dan menjilat satu sama lain.

Bertahun-tahun temenan, aku ga pernah kepikiran bisa berciuman dengan Laras. Makanya, ketika kami ciuman, ada rasa aneh yang susah dijelasin. Kayak canggung, bingung, tapi pengen juga... semua campur aduk. Tapi... aroma ganjil yang keluar dari mulut Laras ini makin kuat terendus hidungku. Beneran kayak aroma alkohol. Tapi tetep sih, aku nikmatin terus bibirnya.

Saat aku lagi nikmatin ciuman sama Laras, tiba-tiba dia narik mukanya dariku. Aku jadi bisa ngeliat mukanya lebih jelas. Matanya sayu banget. Mukanya juga merah. Persis kayak orang lagi mabuk. Duh... ini anak kenapa?

"Gua tuh... kaget banget, tau! Pas buka pintu, gua langsung mergokin lu berdua lagi ngentot di ruang tamu! Asik banget, ya, ngentotnya, sampe ga sadar ada gua yang ngeliatin dari tadi?" omelnya. Dari nada bicara, gestur badan, dan ekspresi muka, jelas banget keliatan kalau dia lagi mabuk.

"Dari... tadinya... ahhh, ahhh... berapa... mmhhh, lama?" tanyaku.

"Ya dari pas lu dientot Fah!" Laras menepuk-nepuk pipiku, pelan. "Ada kali lima menitan. Ga tau, lah, jangan banyak nanya lu, anjing!"

Aku cuma diem saat Laras ngomel. Sebenarnya, aku ga bisa ngomong apa-apa juga, karena mesti nahan rasa nikmat akibat sodokan kontol Fah yang mentok terus ini. Karena ga dapet jawaban dariku, Laras jadi gemes. Dia pun ngejambak rambutku, bikin mukaku mendongak ke arahnya. Aku... cuma bisa meringis sambil mendesah aja diperlakukan kayak gini.

"Oi, Fah! Ternyata lu punya kontol, ya? Ga nyangka gua." Dia ketawa lepas sambil ngeliatin Fah yang masih aja sibuk genjotin memekku.

Yang ditanya, cuma ngejawab seadanya. "Panjang... ahhh, ahhh... ceritanya, Larasss..."

Laras cuma senyum tengil sehabis denger jawaban Fah, yang masih sempet-sempetnya ngomong saat lagi genjotin aku. Kemudian, Laras pun beralih ke aku, "Gua kenal lu dari jaman SD, De. Gua taunya lu alim-alim aja jadi cewek. Eh, taunya bisa binal gini juga? Dih, sok alim lu!"

Ah... Laras ngeludahin mukaku setelah selesai ngomong. Terus, jambakannya juga makin kenceng, bikin aku makin meringis kesakitan. Anehnya, aku pasrah aja digituin sama Laras. Bahkan, saat dia ngejilat ludahnya sendiri di pipi dan hidungku, terus julurin lidahnya ke bibirku, aku malah membuka mulut dan ngebiarin ludahnya mengalir ke dalam mulutku.

"Gitu, kan, yang... ahhh, ahhh... kamu... ahhh, ngghh... mau?" tanyaku, setelah menelan ludah Laras. Mulutku membuka lagi, nantangin Laras untuk kasih ludahnya lagi ke aku.

Tapi justru jambakan dia yang malah makin kenceng, dan sebelum aku teriak kesakitan, Laras tiba-tiba nampar pipiku. Aku kaget banget! Laras ga pernah kayak gini sebelumnya. Bertahun-tahun temenan, semarah apa pun dia, ga pernah berani nampar aku.

"Ahhh... kalian lagi main BDSM gitu, ya? Lucu banget! Aku... ahh, ahhh... juga mau ikutan, yaaa!" Fah yang salah sangka sama sikap aku dan Laras, malah ikutan nyiksa aku. Dia nambahin beberapa tamparan keras di pantatku, beriringan dengan genjotannya yang makin menjadi-jadi. "Pantat kayak gini... ahh, ahh, uuhh... emang harus disiksa, ya, kan, Ras?"

"Iya, Fah. Terusin aja. Dia suka kok disiksa. Lonte kayak gini ga perlu disayang-sayang," respon Laras.

Saat dia natap aku, aku bisa ngerasain ada amarah yang menggelegak dari sorot matanya. Laras pun ngeludahin mukaku lagi. Terus, aku ditampar lagi. Sambil ngejambak aku lebih keras lagi. Lalu aku diludahin lagi. Ditampar lagi. Diludahin lagi, terus begitu sampai mukaku penuh dengan ludahnya dan kedua pipiku memerah. Di sisi lain, Fah juga makin kasar terhadap pantatku. Akibat remasan dan tamparan kencangnya, aku sampai ngerasa nyeri dan panas di bagian itu.

"Dea...," bisik Laras, "Kalau gua tau lu bisa segampang ini ngentot bahkan sama waria, harusnya gua korbanin lu aja dari dulu ke para debt collector sialan itu. Dasar lonte gratisan, pecun murahan, benci banget gua sama lu, tau, ga."

Kata-kata Laras bikin mataku berkaca-kacs. Tiba-tiba sudah basah aja kedua mataku, dan air mata yang mengumpul itu pun pecah, mengalir jatuh lewati pipi. Rasanya sakit banget, dihina-hina sama orang yang sudah ku anggap sahabat sendiri. Aku bisa tahan dengan tamparan dan ludahan Laras, tapi aku ga bisa tahan dengan omongannya.

"Ras... kamu ngomong apa? Aku... aku... mmmhhh... aku ga ngerti..."

"Lu nangis tapi masih bisa-bisanya nikmatin dientot Fah, De. Udah ga waras lu, emang," ejek Laras, sambil menoyor kepalaku. Lalu, masih dengan gestur seperti orang mabuknya, Laras pun kembali berkata padaku, "Tau ga, gua tadi pergi kemana? Gua disuruh nyamperin cowok, dia debt collector. Dia ngancem, kalo gua ga nurutin nyamperin dia ke kosannya, dia bakal aduin gua ke orangtua gua kalo gua punya utang jutaan. Bayangin, kalo orangtua gua sampe tau bakal gimana jadinya. Mereka aja makan sehari-hari udah susah, gimana mau bayar utang pinjol."

"Utang jutaan? Pinjol? Kamu... ahhh... ahhh... siapa yang punya utang? Kamu?"

"Iya, gua! Kok lu kayak yang kaget gitu, sih? Jadi lu tuh enak, Dea. Kalo mau apa-apa, tinggal minta ke orangtua. Lah, gua? Mau punya HP bagus aja orangtua gua ga sanggup beliin, sampe gua harus ngutang ke pinjol. Lu kalo ga ada makanan di rumah, bisa mesen atau makan di luar! Kalo gua ga ngutang, mana bisa gua makan enak!"

"T-tapi... ahhh, ahhh, nngghhh... yang punya utang... kannnn... kamuuu... ahh, mmhhh, oohh, ooohhh, hnggg... kenapa marahnya ke... akuuu?"

"Bacot lu, lonte!" Satu tamparan keras lainnya mendarat di pipiku. Air mataku yang sedari tadi mengalir, jadi makin deras akibat sakit hati atas hinaan dan tamparan lainnya dari Laras. "Lu ga tau kan, kalo selama ini gua terpaksa ngentot sama tuh debt collector, cuma supaya gua bisa ulur waktu jatuh temponya. Lu tuh ga tau penderitaan gua, ya, bangsat! Katanya sahabat, katanya kalo ada apa-apa cerita, lu aja marah sama gua sampe diemin gua berhari-hari!"

Hei... tunggu dulu. Kenapa jadi seakan-akan aku yang salah? Kenapa dia ngelimpahin semuanya ke aku? Memang apa yang aku lakuin sampai aku pantas jadi samsaknya dia? Kenapa dia yang bikin masalah, tapi seakan aku yang harus tanggung jawab?

Rasa sesak yang mengumpul di dadaku, berubah jadi amarah yang menggelegak. Aku juga seharusnya bisa ngelakuin hal yang sama; nyalahin Laras atas semua hal yang menimpaku. Dia ga sadar apa, gara-gara dia maksa aku ikut kegiatan ekskul, aku jadi diperkosa, aku jadi ditipu untuk minum obat perangsang, aku jadi gila seks, mentalku terganggu, badanku jadi gampang dicicip sana-sini, aku bahkan harus selalu merasa bersalah terhadap orangtuaku atas apa yang aku lakuin! Dia gila apa, ga mikir sampai kesitu?

"Kamu bisaaa... nngghh... hina-hina aku, ngatain aku... ahhh, ahhh, ahhh... lonte, Ras. Tapi liat siapa yang... ahhh, ahhh, uuuuhhh... rela dientot cuma demi... ulur jatuh tempo?"

Aku tatap mata Laras dalam-dalam. Aku kasih liat dia ekspresi paling binal yang bisa ku buat. "Seenggaknya, aku nikmatin dientot... orang yanggg... ahhh, uuhhh, mmmfff... ahhh... make badan aku! Siapa yanggg... ahhh... pantes disebut lonte... sekarang?" ucapku, disertai senyum mengejek. Lalu, aku pun meracau lebih liar lagi, sambil bilang ke Fah, "terusss... Fahhh... sodok lebih kenceng lagi... ooohhh, iyaahhh... harder... mentokin memek aku, nngghhh... kasih liat ke cewek tukang komplain ini... gimana kamu make memek aku, Fahhh..."

Dan... yap, Laras sukses termakan provokasiku. Aku ditampar lagi, berkali-kali. Sudah ga kehitung pula berapa kali Laras ngeludahin aku lagi, atau ngehina aku sambil teriak di depan mukaku. Tapi aku ga berhenti nunjukkin ekspresi keeanakan di depan Laras, bikin dia makin marah. Semakin dia marah, aku makin disiksa, tapi justru aku makin suka. Aku menikmati ekspresi marah Laras, yang kini cuma bisa menggeram karena siksaannya padaku sudah ga mempan.

Tiba-tiba, Laras bangun dari duduknya. Dia naikin rok seragamnya ke pinggang, kasih liat selangkangannya yang masih tertutup celana dalam ke aku dan Fah. Lalu, dia buka celana dalamnya, dan langsung duduk lagi di pinggir sofa, dengan posisi mengangkang dan tangan bertumpu ke belakang. Terlihat memek Laras yang ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar bibir memeknya, merekah lebar dan terekspos sempurna.

Laras pamerin memeknya yang sudah belepotan cairan kental berwarna putih. Masih dengan gestur kasarnya, dia pun sodorin memeknya ke mukaku, sambil sebelah tangannya kembali menjambak rambutku, narik kepalaku supaya lebih deket lagi ke memeknya. Sampai akhirnya, mulutku pun menempel ke bibir memek Laras. Nngghh... ada aroma amis yang kuat dari memek Laras, dan aku sudah cukup hafal dengan aroma ini. Aroma peju.

"Heh, lonte gratisan! Bersihin memek gua sampe ke dalem-dalemnya, gua ga mau ada peju yang masih sisa di dalem memek gua. Ayo, cepetan!" maki Laras, sambil terus jambakin rambutku.

"Uuuhhh... ahhh, ahhh... kenapa aku harus bersihin memek... ahhh, ahhh... kamuuu?"

"Udah, bersihin aja, cepetan! Ini lonte banyak nanya! Kalo lu bersihin memek gua, nanti gua maafin."

"Aku... ga perlu... ahhh, mmmhhh... maaf kamu. Tapi, sebagai sahabat yang baik... mmmhhh...," ku julurin lidah, tepat ke klitoris Laras, bikin dia langsung menggelinjang, "...sini, aku bersihin, Ras..."

Untung saja aku sudah punya pengalaman dengan Bu Siska. Jadi aku ga canggung lagi ketika harus menjilati memek Laras. Sambil meringis menahan sakit, aku mulai menjilati memek Laras dengan sapuan lidahku di sekitar bibir memeknya. Aku fokus bersihin sisa-sisa peju yang masih menempel di bibir memek Laras. Saat aku lagi ngejilatin, badan Laras mulai menggeliat, dan jambakannya pada rambutku mulai melemah. Sesekali, aku jilatin juga klitorisnya, bikin Laras ga bisa tahan untuk ga mendesah.

"Ahhh... lu udah biasa jilat memek, ya, lonte? Jago juga... ahhh... lidahnya..."

"Aku ga tau kalo... ahhh, ahhh... hubungan kalian sampe sejauh ini... uuhhh, uhhh...," komentar Fah, yang kini sedang disajiin pemandangan aku yang tengah jilatin memek Laras.

"This is... mmhh, ahh, ahh... our first time," balesku, disela kegiatanku. Lalu, kepalaku kembali didorong Laras untuk lanjut ngejilatin.

"Oh, masa? Glad forrr... aahhh, ahhh... both of youuuu..."

Setelah bagian luar memek Laras bersih dari peju, aku langsung sibak bibir memeknya pakai lidah. Kupakai lidahku untuk menari-nari di dalam memeknya. Ternyata, peju yang ada di dalem memek Laras banyak banget. Bahkan saat lidahku masih berada di pangkal lubang memeknya, cairan peju sudah mengalir keluar.

Aku ga punya pilihan selain mentransfer peju dari memek Laras ke mulutku. Begitu masuk ke mulut, aku ga berpikir panjang, langsung aku telan tanpa ragu. Uuhhh... rasanya pahit! Mana panas di kerongkonganku, lagi.

"Ahhh, gilaaaa... ini lonte belajar jilat memek dari mana, sih? Ooohhh... nngghhh... enak bangettt... iyahhh, terus... ahhh... terusss... lonte, jilatin terusss... memek guaaaaa..."

Ga puas cuma ngejilat, aku juga melumat dan hisap memek Laras. Kadang, aku kombinasiin dengan tusukan lidahku di lubang memeknya. Oh, aku juga pakai jari-jariku sekarang, untuk mencapai bagian memek Laras lebih dalam. Begitu jariku ku cabut, peju yang masih ada di dalam juga ikut keluar, yang langsung mulutku sambut untuk ku hisap.

"Deeaaa... ahhh, ahhh, ahhh... sumpah, aku horny banget liat kamu jilatin memek Laras gituuuu! Ahhh, ahhh, fuck, fuckkk... Dea, Deaaa," Fah kembali nampar pantatku, tapi tangan satunya dia pakai untuk gerakin buttplug yang masih terpasang di lubang pantatku, "Ahhh, ahhh, ahhh... Dea, Dea... aku mau keluar lagi... aku mau... aku mau... ahh, oohhh... yess, yeesss... Deaaaa... aku keluarinnn... ahhh, di dalemmmm lagi, yaaaa?"

Karena aku lagi sibuk jilatin memek Laras, aku angkat aja sebelah tanganku, lalu acungin jempol. Fah pun jadi makin beringas ngentotin aku. Berkali-kali kontolnya dia bikin mentok, membuat aku menggelinjang keenakan dan makin liar jilatin, emut, dan hisap memek Laras. Laras sendiri juga makin ga kontrol. Dia rapetin kedua paha, bikin kepalaku terapit dan jadi susah napas.

"Deaaa, Deaaaa... ahhh, ahhh, gua sampe ngileeerr... enak banget jilatan luuu... ahhh, dasar lonte, ahhh, Dea lonteeee... nngggghhhh... ngghhhh..," racau Laras. Nih anak omongannya makin ga kontrol, aja.

Sementara Fah juga ngeracau makin liar, seiring sodokan kontolnya yang makin ga kontrol. "Ahhh, fuck, fuck, mau keluarrr... Deaaa... aku mau keluaarrr... ahhh, ahh, ahhh... di dalemmm... aku keluar di dalemmmm, yaaaaa? Aku... aku... nngghhh... ahhh, ahhh, ooohhh... mmmaauuu... mauuu... DEEEAAAAAAAAAAA!!!"

Satu sodokan kuat lagi-lagi menguak bibir rahimku. Aku bisa ngerasain kontol Fah berdenyut di dalem memekku, seiring kontolnya yang terus semburin peju hingga ke dalam rahimku. Ahhh... apa ini yang dimaksud dari istilah 'rahim anget'?

Sodokan terkuat Fah juga anterin aku ke orgasme yang dahsyat. Aku lagi-lagi pipis di lantai, bermuncratan ga karuan sampai lututku tergelincir karena lantainya licin. Aku juga gemeteran akibat ga mampu menahan nikmat orgasme, dan malah ngelampiasinnya dengan makin liar sedot memek Laras. Aku ga tau, deh, yang ku sedot ini cuma cairan peju yang masih ada di dalem memeknya, atau sudah bercampur dengan cairan memek dia juga. Yang ku bisa soalnya cuma sedot dan telan aja.

Sedotanku juga bikin Laras meracau ga karuan. Aku ga bisa denger jelas racauannya, karena kepalaku dijepit kuat banget sama paha dia. Yang aku tahu, pinggul Laras bergerak dan bergetar heboh selama beberapa detik, saat aku masih terus nyedotin memeknya.

Setelahnya, baru deh pahanya melemas, dan kepalaku bisa bebas dari himpitan. Buru-buru ku tarik napas sedalam mungkin, sebagai kompensasi atas keterbatasan oksigen saat aku terjebak di selangkangan Laras barusan. Lalu, aku meraba mukaku. Basah dan licin banget, kayaknya gara-gara dilumuri cairan dari memek Laras yang acak-acakan memenuhi muka.

Aku pun agak mendongak. Ku lihat Laras, yang kini bersandar di sofa dengan dada yang turun naik akibat napasnya yang memburu. Ga berapa lama, badannya makin lemas, lalu dia ambruk ke sofa, dalam posisi tiduran menyamping. Matanya memejam, dan rona mukanya merah banget. Ada sedikit senyum yang terbentuk di mukanya.

Dengan gampangnya, Laras langsung tertidur pules. Ninggalin aku dan Fah, serta kelamin kami berdua yang masih menyatu.

"Ngeselin banget... abis akunya dihina-hina, disiksa, sama disuruh jilatin memeknya, terus dia tidur gitu aja?" Aku pun geleng-geleng kepala, lalu tarik napas dalam-dalam.

Fah ketawa denger omonganku. "Can I fuck her, Dea? I can still go for one more round." tanyanya, tiba-tiba.

"Hah? Eh, kenapa? Kamu bisa horny sama dia?"

"Mmm... gimana ya? Ini karena gemes sih, karena aku agak kesel denger omongannya tadi. Meski lagi mabuk, tapi ga semestinya dia ngomong gitu. Berarti kan, selama ini dia nyimpen uneg-uneg yang jelek soal kamu, karena orang yang mabuk itu suka ngeluarin hal yang dia simpen terus di hatinya." Fah cabut kontolnya, pelan-pelan, dan sengaja ngebiarin aku perlahan ngerasa kehilangan rasa sesak di memekku. "Lagian, belum tentu juga aku bisa horny sama dia. Mending aku sama kamu, kan? One more round before sleep?"

Aku pun senyum lebar, terus sambut tangan Fah yang ngajak aku berdiri. Sebenarnya, aku yakin aku ga bisa nyembunyiin muka lelahku dari Fah, tapi gimana dong, akunya juga masih pengen. Tapi sebelum aku ikut Fah ke kamarku, aku pandangi Laras. Meski masih sakit hati akan kata-katanya, tapi aku juga memendam rasa kasihan ke dia. Hidupnya susah, jadi dia sering salah langkah dalam ambil keputusan. Ga sekali dua kali dia terjebak di situasi sulit, dan mungkin, lagi-lagi aku yang harus beresin masalahnya.

"Kalo kamu lagi mikir kamu mau bantu dia, ga perlu. Aku bisa bantu, kok." Fah, seakan bisa membaca isi pikiranku, ucapin hal yang bikin aku kaget. "Masalahnya, aku ga mau. Aku ga suka ada orang yang bukan cuma ga bertanggung jawab dengan masalahnya sendiri, tapi juga nyalahin orang lain. Tapi... aku bisa pikir ulang, kalau..."

"Kalau apa? Ih, ngegantung gitu ngomongnya."

Fah, berbisik pelan di kupingku, "Kalau analnya jadi. Ga harus malam ini, pelan-pelan aja. Tapi aku mau mastiin dengan booking duluan dan bikin perjanjian antara kita."

"Ih, kalo itu sih, cepat atau lambat, aku juga akan dianal kamu." Lalu, aku malu-malu menatap Fah. "Akunya... juga mau coba, tapi grogi karena belum pernah. Nanti pas mau... yang lembut, ya?"

Sejenak, Fah diam sambil mandangin aku. Ga butuh waktu lama, dia langsung cium aku dengan membabi buta, habis itu tanganku ditarik dan aku digiring menuju kamarku. Pas sudah di dalam kamar, Fah kembali ciumin aku, lalu ngomong, "Dea, kamu tuh gemesin banget, sih! Ga ada lawan nih gemesinnya!"

Aku ngerespon Fah dengan julurin lidahku. Dia malah makin gemes, jadinya aku dicumbu habis-habisan. Terus aku didorong hingga rebahan di kasur, dan dia kembali lanjutin cumbuannya di leher dan sekitar bahuku.

"Mmm... Fah, buttplugnya... aku pake semaleman aja, ya? Biar... terbiasa pas dianal... nanti," ucapku, disela-sela cumbuan enak dia.

"Ga ngerti lagi, deh," Fah geleng-geleng, sambil mandangin aku dengan tatapan penuh takjub, "kamu keliatan gemesin dan cantik banget sekarang. Kayaknya... aku suka kamu, deh, Dea."

Dan Fah pun melumat bibirku. Kami berciuman, berpagutan dan saling membelit lidah lumayan lama, sebelum akhirnya Fah kembali beralih ke leherku dan kecupin bagian itu lagi. Sementara di bawah sana, aku ngerasa ada benda tumpul yang keras, lagi gesek-gesekin memek aku. Wah... akunya seneng banget! Aku pun langsung mengangkang, biar kontol Fah bisa gampang masuk. Pas kontolnya sudah berada di bibir memekku, aku meluk dia erat-erat, sambil bisikin kupingnya, "Sodok yang kenceng, ya. Satu... dua...."

"TIGA!" seru Fah, bersamaan dengan kontolnya yang kembali melesak masuk ke memekku, dan langsung mentoooooookkkk... nggghh...

Tanpa kasih jeda ke aku yang harus adaptasi lagi sama ukuran kontolnya, Fah langsung genjotin aku tanpa ampun, bikin aku meronta keenakan sambil tangan dan kakiku mengapit badannya. Aku sampai harus gigitin bahu Fah, tiap kali racauanku hampir ga kontrol dan berpotensi jadi teriakan. Tapi tiap kali aku gigit, sodokan dia makin keras dan kencang. Ahhh... ini enak banget....

Tapi disela kegiatan ngentot ini, pikiranku melayang, mikirin banyak hal, terutama soal pencapaian hidup. Aku senang, karena sekarang aku sudah bisa nyelesein masalahnya Laras, tanpa harus keluar uang sepeser pun. Tadinya sih aku mau pakai uang tabungan, cuma kayaknya ga perlu. Ada Fah, dan permintaannya untuk analin aku.

Lalu, aku merapal dua nama di benakku; Bu Siska, dan Fah. Dua orang yang bilang sendiri kalau mereka suka aku. Sejujurnya, aku tersanjung. Perasaan diinginkan oleh orang lain gini tuh bikin aku ketagihan. Aku merasa keberadaanku penting dan tervalidasi. Dan aku mau perasaan semacam ini bisa aku nikmati secara lebih. Aku mau... semua orang yang aku punya ketertarikan dengannya, jadi suka aku, mau aku, memuja aku.

Aku rasa... aku punya tujuan hidup baru. Rupanya, enak juga jadi playgirl. Hahaha.
==========

==========
Chapter 14 — Gloomy Hearts in the Wrong World






Pagi ini, aku kebangun dengan perasaan lelah luar biasa. Sumpah deh, badanku pegal-pegal semua. Malah, ada rasa perih di pipi dan pantatku. Spontan aku inget-inget yang semalem. Oh... pantesan perih, abis ditamparin...

Di momen ngumpulin nyawa ini, aku tiba-tiba kepikiran sesuatu. Aku curiga, kalau obat perangsang yang aku campurin ke minuman bersoda kemarin, ga cuma punya efek aprodisiak aja, tapi juga ada semacam kandungan penambah vitalitas. Kalau iya memang ada, ini ngejelasin kenapa Fah bisa kuat banget ngentotin aku dari kemarin sore sampai tengah malam tadi.

Dan sekarang aku ngerasa kelamin aku agak perih, terus ngerasa jadi lebih longgar juga akibat terus-terusan disumpal kontol Fah. Belum lagi rasa ga nyaman di lubang pantatku, karena pakai buttplug selama berjam-jam. Kalau bukan gara-gara aku merasa mules setelah sesi ngentot terakhir semalam, aku ga akan dibolehin untuk lepas buttplug sama Fah.

Ngomong-ngomong soal Fah, aku menyadari kalau dia ada di sampingku, masih tidur dengan posisi menyamping sambil meluk aku. Yap, pelan-pelan bangunnya... biar dia ga ikutan kebangun. Nah, pas badanku geser ke tepi ranjang, pahaku ga sengaja nyenggol kontolnya yang lagi menggantung. Ih, imut banget kalau lagi ga tegang gini. Ukurannya ga ada sepertiganya telapak tanganku. Tapi kenapa kalau sudah tegang bisa segede itu, ya?

Makin diperhatiin, kok aku justru malah jadi gemes terus pengen kulum kontolnya, sih? Pasti lucu, daging imut ini bisa masuk semua ke mulutku. Tapi setelah liat jam di dinding, aku urungkan niat. Sudah hampir jam enam, dan kali ini aku pikir perutku yang lebih butuh asupan. Maka, ku kedipkan mata ke kontol mungil itu. "Not this time, baby," ucapku, sambil beranjak dari ranjang.

Sebelum keluar kamar, aku perhatiin diri sendiri dulu di cermin. Penampilanku acak-acakan banget. Rambut berantakan, ada bekas cupangan dimana-mana, dan badan telanjang dengan banyak bekas peju yang telah mengering. Ku buka lemari, ambil sepotong kaus dan celana bahan pendek. Masa iya, keluar kamar ga pake baju? Aku ga segila itu, kok.

Yaelah, Dea... kamu ke sekolah aja pernah ga pake daleman. Segala bilang "aku ga segila itu, kok". Ah, suka lupa diri nih ughtea.

Setelah pakai baju dan keluar kamar, hal pertama yang aku lakuin adalah ngecek Laras yang tidur di sofa ruang tamu. Pas aku cek, dia masih tidur. Pules banget tidurnya. Tapi pose tidur cewek ini ga ada anggunnya sama sekali. Ngangkang lebar, dan memeknya jadi keliatan kemana-mana.

Anyway, sedikit review: rasa memeknya Laras enak juga. Tapi masih lebih enak punya Bu Siska. Beda sih memang, memek anak sekolahan yang finansial keluarganya red flag mulu, dibandingin sama memek guru PNS yang keluarganya kaya jadi dia bisa perawatan. Wah, aku keren banget sudah bisa sinis kayak gini.

Selesai ngecek Laras, aku balik ke kamar untuk ambil buttplug dan pelumas, lalu menuju ke kamar mandi. Fah bilang untuk sering pakai buttplug supaya nanti terbiasa dipenetrasi. Dia juga bilang soal higienitas buttplug harus selalu diperhatiin, sebelum dan sesudah dipakai, karena biar gimana pun juga lubang pantat itu pada dasarnya, ya... kotor. Iya, manusia memang segila itu, untuk berani ambil resiko ngelakuin seks lewat sarang bakteri.

Ah, tapi enak ini, jadi sesuai sama resikonya, lah. Terima kasih Sodom dan Gomorah, karena menemukan cara lain untuk menikmati seks!

Oh iya, katanya Fah lagi, harus sering ngelakuin enema. Buat yang ga tau, enema adalah prosedur masukin cairan ke dalam kolom usus melalui anus. Fungsi enema tuh merangsang pergerakan usus untuk melancarkan pencernaan dan pembuangan kotoran, terutama kalau merasa masih ada sisa kotoran di rektum setelah pup. Biasanya, ada kit khusus untuk enema. Tapi enema juga bisa pakai air mengalir. Caranya adalah dengan menyemprot anus dengan air bertekanan tinggi sampai airnya masuk ke rektum, terus si praktisinya mengejan supaya kotorannya keluar bersama dengan air. Dengan begitu, rektumnya jadi bersih dan siap untuk dipenetrasi dengan lebih aman.

See, aku bukan cuma cewek maniak seks aja, kan? Brain and bitch, best of both worlds. Thanks Professor Hulk for the quote, aku edit sedikit, ya.

Setelah selesai enema, bersih-bersih, dan pasang buttplug disusul kembali pakai celana, aku pun keluar dari kamar mandi. Ada rasa ga nyaman saat berjalan dengan logam emas yang menyumpal lubang pantatmu. Tapi aku jadi semakin nikmatin sensasi ini. Aku mulai mikir, kayaknya ga butuh waktu lama lagi buatku untuk siap dianal.

Lalu, sambil nunggu yang lain bangun, aku masak beberapa menu sarapan. Cuma ngehabisin sisa stok sayur dan telur di kulkas. Aku ga tau mereka nanti mau makan atau engga, yang penting bikinin dulu aja.

Saat aku lagi potongin wortel, aku denger ada langkah kaki yang mendekat ke arah dapur. Dalam sepersekian detik, otakku berpikir keras tentang siapa yang nyamperin aku. Sejujurnya, aku lebih senang kalau Fah yang nyamperin, karena aku akan bingung harus bersikap apa kalau Laras yang datang. Itu pun kalau dia ingat. Tapi... semoga dia ga ingat kelakuannya saat mabuk semalam.

"Dea... lagi apa?"

Aku spontan nengok ke asal suara. Sebenarnya, dari suaranya aja sudah ketauan kalau itu Laras, tapi ga tau kenapa aku tetap nengok. Dia jalan sempoyongan ke arah tempat cuci piring, terus rada membungkuk di bak cucian, dan... dia muntah. Berkali-kali. Sampai anaknya sendiri badannya gemeteran. Sehabis muntah, Laras ambil minum di dispenser, terus nyamperin aku.

"Sini, gua bantuin potong wortelnya. Ini mau bikin apa?" tanya dia, dengan nada suara yang masih kedengeran lemes.

"Ih, muntah kamu tuh bersihin dulu! Jorok banget, dibiarin gitu aja." Tentu saja aku protes. Semalem tuh aku sudah bersihin peju di memeknya, masa iya pagi ini harus bersihin muntahnya juga?

"Engga, ah. Jijik, tau."

"Apalagi orang lain!" spontan ku cubit lengannya, "Cepetan, nanti keburu tambah bau, Ras!"

"Iya, iya...." Laras akhirnya mau juga bersihin muntahnya. Dia siram muntahnya hingga mengalir ke pipa pembuangan, plus sekalian sikat bak cuci piring sampai bersih. "Tuh, udah bersih. Sekarang apa lagi, De?"

"Katanya mau bantuin masak? Ga jadi?"

"Oh, iya. Lupa. Mana, sini." Laras nih barbar banget. Dia ngerampas talenan dan wortel dari area kerjaku. Terus, alih-alih ambil pisau yang ku genggam, dia malah ambil pisau yang baru. "Ih, lu mah bisa aja pake piso yang itu. Gua mah susah makenya. Terlalu tipis. Oh, ini wortelnya potong gimana?"

"Potong memanjang aja. Aku mau bikin bakwan."

Setelah Laras ngurusin wortel, aku beralih ke yang lain. Potong daun bawang, potong kol, campur terigu sama air, cuci toge, dan sampai mau ngulek cabe untuk sambel pun, Laras masih belum selesai motongin wortelnya. Emang lelet ini anak.

Tapi ga ada obrolan baru di antara kami selama proses persiapan masak. Aku merasa kami sama-sama masih canggung efek habis berantem, jadi ga ngobrol banyak kalau cuma berdua. Tapi sumpah, ya, aku tuh deg-degan apa Laras inget kejadian semalem atau engga. Makanya pas lagi sama-sama diem gini justru bikin aku mikir berlebihan.

"Eh, lu tau, ga? Gua semalem hampir aja ga bisa balik ke sini. Berat banget kepala gua, tipsy gitu, De," kata Laras, memecah hening di antara kami. Kemudian, dia setor potongan wortel yang akhirnya selesai juga, ke aku. Terus, dia berdiri nyender di meja dapur, cuma berjarak beberapa sentimeter dariku. Pandangan matanya justru malah tertuju ke arah kulkas, saat dia ngomong, "Akhirnya gua mesen ojol aja. Agak kesusahan, sih, cuma untungnya gua nyimpen alamat rumah lu di akun gua. Jadi ga sampe yang kerepotan mesti ngetik dulu, tinggal pilih alamat lu, pesen, nunggu bentar, dateng deh."

Sekarang, aku beneran khawatir kalau sebenarnya saat dia tiba di rumahku itu, dia belum benar-benar mabuk. Gimana kalau ternyata dia masih sadar terus inget apa aja yang dia lihat dan yang kita lakuin semalam. Tapi aku juga terlalu takut untuk nanya apa aja yang dia ingat sebelum tidur di sofa itu. Duh, gimana dong?

"Ras, tipsy itu apa, sih?" Akhirnya, pertanyaan itu yang aku ajuin.

"Ya kayak lagi setengah mabok, setengah sadar gitu. Mengawang-ngawang," jawab Laras.

Tentu, aku tau apa itu "tipsy". Aku cuma butuh pertanyaan bodoh aja supaya bisa pura-pura ga ngerti apa-apa tapi tetap merespon omongannya Laras.

"Gua ga gitu inget, sih, pas dianter ojol tuh gimana. Burem memori gua, De. Kayak skip gitu. Makin lama makin berat kepala gua. Tau-tau udah di rumah lu, masuk, gitu-gitu... tidur, deh."

Oh, kayaknya dia ga inget di bagian mergokin aku dientot Fah, dan adegan-adegan setelahnya. Syukurlah, aku jadi merasa lebih aman. Oke, sekarang kita kembali fokus ke bikin bakwan.

"Mmm... Dea. Gua... minta maaf."

"Atas?" Wah, perasaanku ga enak, nih.

"Atas... sikap gua semalem. Marah-marah, namparin sama jambak lu, ngata-ngatain lu juga. Gua ga mau bela diri dengan bilang sikap gua begitu karena pengaruh alkohol, meski emang kenyataannya gitu. Tapi beneran, gua nyesel udah bersikap kayak gitu ke lu. Gua buruk banget jadi sahabat..."

Yah, dia inget, ternyata. Hehe. Mampus deh aku. Yaudahlah, sekalian aja tanyain biar jelas semuanya. "Sejauh mana yang kamu inget, Ras?" tanyaku, berbarengan dengan aku yang hentiin kegiatan masakku.

"Ya semuanya. Kan gua skip cuma pas dianter ojol aja. Pas gua buka pintu rumah lu, terus liat lu lagi ngentot sama Fah, siapa juga yang ga bakal ilang maboknya kalo liat adegan yang bikin syok kayak gitu. Apalagi gua taunya lu tuh alim banget, ya kaget lah gua. Tapi, ya, De... kalo gua kondisinya lagi ga mabok, mungkin gua cuma bisa diem aja kayak patung. Tapi semalem gua ngerasa jadi lebih berani, jadi bisa sampe begitu..."

Wah, dia inget semuanya. Aku pun senyum ke Laras, senyum yang getir. "Sampe begitu itu... maksudnya sampe kamu berani cium aku?" tanyaku, sudah ga pakai rem.

Laras ngangguk, terus jawab, "Iya, sampe yang maksa lu buat bersihin peju di memek gua juga."

Kembali aku cubit lengannya, dan kali ini cubitanku lebih keras supaya makin berasa. Laras langsung memekik kesakitan, sambil usap-usap lengannya. Lalu, dengan tatapan judes, aku bilang ke dia, "Ga asik banget kamu. Sumpah. Ga mikir kamu, tuh, aku dipaksa bersihin sama nelen peju yang ga tau punya siapa. Kalau bukan karena lagi keenakan dientot Fah, ga bakal mau aku, mah."

"Iya... makanya gua minta maaf. Dimaafin, ya?" pinta Laras, sambil genggam kedua tanganku. Matanya melihatku dengan tatapan penuh mengiba.

"Ceritain dulu, masalah kamu yang ini tuh kenapa. Apa tuh, segala utang, pinjol, sama debt collector juga. Kalo mau aku maafin, jangan ada yang ditutup-tutupin lagi, deh, Ras. Percuma sahabatan dari lama kalo kita ga saling terbuka."

"Kayaknya, ini berlaku untuk kedua belah pihak, deh. Gua mana tau kalo ternyata lu juga ngelakuin seks bebas. Kan gua taunya lu selama ini yang alim, sopan, ga macem-macem anaknya. Tapi... iya, gua bakal cerita masalah gua, dan gua harap, lu juga."

"Aku dengerin, Laras. Jadi, kamu kenapa?"


———​


Aku kenal Laras dari kelas 2 SD. Waktu itu, aku baru pindah sekolah, dan ditempatin wali murid di bangku sebelah dia. Kesan pertamanya sih, aku merasa kalau aku ga akan bisa temenan sama anak ini.

Laras kecil tuh pemberani, galak, susah diatur, dan tomboy. Dia ga suka main lompat karet bareng cewek-cewek lain saat jam istirahat. Yang dia suka itu kegiatan fisik yang bikin dia aktif; macam main bola, basket, berantem sama murid cowok, merundung yang lebih lemah dari dia, dan segudang kebarbaran lain. Kelakuannya juga sama kasarnya saat di dalam kelas. Ga ada satu hari pun, aku ga diintimidasi sama dia. Suka minjem uang tapi ga dibalikin (aku pikir dia malak aku, tapi pakai istilah minjem biar lebih halus), suka pakai barang-barang aku secara sembarangan, dan malah suka ngehabisin bekal aku.

Laras mulai berubah jadi baik ke aku, saat aku nolongin nyingkirin kodok yang nemplok di punggungnya. Dia takut sama kodok, makanya ga bisa apa-apa saat itu. Setelah itu, aku dan dia jadi deket. Aku kan lemah banget waktu kecil, jadi suka diganggu cowok-cowok. Tapi Laras yang selalu pasang badan. Dia yang mukulin murid-murid cowok itu, tiap kali mereka ngeledekin aku.

Masuk masa puber saat kami mau lulus SD, kepribadian Laras jadi agak berubah. Dia jadi lebih mendekati cewek pada umumnya. Dia jadi suka pakai rok, duduknya ga ngangkang lagi, ngomongnya diperhalus, suka senyum ke cowok pula. Aku ga ngerti apa yang bikin dia berubah, bahkan keluarganya pun ga paham dia kenapa. Tapi saat aku mergokin dia senyum-senyum saat abis tukeran nomor Whatsapp sama satu cowok di kelasnya, aku jadi ngerti: Laras berubah karena suka sama cowok itu.

Hubungan kami sempat merenggang saat Laras akhirnya pacaran sama cowok itu. Meski aku, Laras, dan pacarnya masuk ke SMP yang sama, tapi Laras terlalu fokus sama pacarnya. Ke kantin berdua, pulang sekolah berdua, kalau mereka jalan pun, aku ga pernah diajak. Karena hubungan kami renggang, aku jadi mikir untuk coba berteman dengan yang lain. Aku yang pada dasarnya pemalu, jadi coba membuka dan memberanikan diri untuk temenan sama murid-murid di kelasku, dan kelas-kelas lainnya. Sampai akhirnya, aku sudah ga begitu peduli lagi tentang Laras, dan kehidupan bucinnya.

Di suatu pagi saat kelas 2 SMP, aku ga sengaja dengar gosip kalau ada murid cewek kelas sebelah yang ketauan berbuat mesum di sekolah. Aku ga peduli sama gosipnya, sampai mereka menyebut nama Laras. Begitu aku selidiki, ternyata memang Laras teman SD ku yang mereka maksud. Laras sendiri, untungnya, cuma kena sanksi diskors selama seminggu—dengan pertimbangan orangtuanya yang kesulitan keuangan kalau Laras dikeluarkan dari sekolah. Iya, sanksinya harusnya Laras dikeluarkan, tapi pihak sekolah masih berbaik hati.

Sementara pacarnya, langsung dipindahin sama orangtuanya karena malu. Ga cuma pindah sekolah, tapi juga pindah rumah. Jadi cuma Laras yang masih tinggal. Lalu, aku pikir Laras akan kapok, tapi ternyata malah makin jadi. Dia jadi sering gonta-ganti cowok, baik yang satu sekolah, beda sekolah, maupun yang sudah kuliah, atau bahkan bekerja; dan gosip miring soal dia jadi makin santer terdengar. Aku cuma bisa istighfar tiap kali dengar gosip soal Laras, karena memang kontennya semengkhawatirkan itu.

Titik balik berubahnya Laras terjadi di suatu hari, saat kami sudah kelas 3 SMP. Di sore itu, aku ga sekolah karena sedang demam. Di luar hujan deras, dan ga tau kenapa aku memilih untuk duduk selimutan di sofa ruang tamu sambil memandang ke luar lewat jendela, daripada tiduran di ranjang kamar. Saat lagi bengong ngeliatin hujan, aku ngeliat ada seseorang yang berdiri di depan pagar rumahku. Dia hujan-hujanan. Berkali-kali dia mondar-mandir, sesekali mau membuka slot pagar, lalu urung lagi.

Karena penglihatanku kurang jelas kalau ga pakai kacamata, aku ga tau dia siapa. Setelah pasang kacamata, aku jadi tau kalau dia... Laras. Aku langsung lempar selimut, dan tanpa pikir panjang segera lari sambil hujan-hujanan, ke luar untuk buka pagar. Laras keliatan kaget waktu aku lari keluar, sempat mau kabur tapi sudah keburu aku tarik tangannya. Setelah ku paksa, akhirnya dia mau ikut masuk ke rumahku.

Tentu saja, aku dimarahin Abi dan Umi, karena hujan-hujanan padahal lagi demam. Tapi setelah ngeliat aku bawa Laras yang lagi murung, mereka berhenti marahin aku. Kami berdua lalu disuruh mandi, dan setelahnya langsung ke kamar. Di dalam kamar, setelah beberapa obrolan ringan dan tanya kabar, Laras akhirnya cerita... kalau dia ternyata habis digilir sama pacarnya dan teman-temannya. Aku sudah ga tau ini cowok yang mana.

Laras cerita semua, tentang dia yang relain keperawanannya buat mantan pacar pertamanya, lalu patah hati dan jadi bucin sana-sini, sampai rela digilir sama cowok-cowok cuma biar merasa diperhatiin, dan diinginkan. Laras terjebak di lingkaran setan, yang makin dia berusaha keluar, justru malah terjebak lebih dalam. Di akhir pelariannya, Laras justru sadar ketika cowok-cowok yang menggilir dia justru malah asik main PS setelah dapet badan dia. Laras ga dipeduliin, bahkan mereka ga tau ketika dia pulang dan hujan-hujanan, ga punya ongkos, ga bisa menghubungi siapa-siapa untuk minta jemput.

Di sore itu, persahabatan kami yang sempat renggang, terjalin lagi dengan lebih kuat. Aku ga kasih pendapat apa pun, cuma dengerin dia cerita, lalu peluk dia. Laras nangis kenceng banget. Lalu kami berdua nangis sampai sesenggukan. Kami tidur bareng, lalu saat aku bangun untuk sholat Subuh, Laras ikut bangun dan minta berjama'ah. Setelahnya dan hari-hari berikutnya, banyak perubahan lain dari Laras. Dia jadi berhijab, ga lagi bucin soal cowok, lebih banyak belajar, dan lebih nempel ke aku.

Makanya, aku marah banget ketika sekarang Laras cerita kalau dia habis digilir sama debt collector yang berurusan sama dia, berikut teman-temannya. Bajingan itu ga cuma meras Laras untuk berhubungan badan sama dia, tapi juga cekokin minuman keras ke Laras, ajak teman-temannya buat gilir Laras, bahkan keluar di dalem! Darahku mendidih saat ngebayangin kalau nanti Laras hamil anak salah satu dari mereka. Sebinal-binalnya aku sekarang, aku tetap ga terima kalau sahabatku satu-satunya ini dijadiin piala bergilir oleh orang-orang brengsek yang ga jelas, tukang peras, dan kriminal.

"Emang awalnya salah di gua, De. Gua yang kebelet pengen punya HP bagus, sampe daftar pinjol terus ngutang. Tapi... ya gua ga tau, kalo akan begini jadinya," ucap Laras, lirih.

Dia berusaha senyum saat ngeliat ke aku, tapi aku bisa liat jelas badannya yang gemeteran saat bercerita. Lalu, aku terbayang lagi akan trauma Laras yang dulu. Yang mati-matian berusaha kami berdua kubur supaya Laras bisa fokus ke masa depannya, tapi justru malah bangkit denga. level yang makin parah.

"Sekarang utangnya ada di nominal berapa, Ras?"

Laras tarik nafas panjang, lalu gigit jari. Ekspresi paniknya ga bisa dia tutupin lagi. "Bunga dan denda jatuh temponya jalan terus. Dari awal gua minjem 2 juta, dan cair cuma 1,6 juta, sekarang total bayarnya nyampe di angka 9 jutaan."

"Hah?! Itu berapa lama kamu ngutangnya?!"

"Utangnya sekitar 2 bulan lalu, tapi jatuh temponya cuma dua minggu dari tanggal cair. Jadi... sekitar baru satu setengah bulan gua ga bisa bayarnya. Gua juga ga nyangka kenapa bisa segede itu. Karena gua ga bisa bayar, gua jadi diteror sama debt collectornya. Setelah dia tau kalo nasabahnya cewek, gua diancem-ancem, terus dia nawarin supaya jatuh temponya diundur, asal mau nemenin dia karaokean. Pas gua sanggupin, ternyata gua dikasih obat tidur di minuman gua, terus dibawa ke hotel. Abis itu... ya gitu, udah bisa ketebak.

"Gua dipake di hotel, direkam, rekamannya dijadiin bahan ancaman selain dia ngancam mau kasih tau ortu gua soal utang. Makin lama, ancamannya makin parah. Gua ga cuma dipake doang, tapi juga dioper ke temennya, temennya lagi, temennya lagi, dicekokin obat-obat yang ga jelas itu apa tapi efeknya bikin gua pusing, dipaksa mabok sampe teler, dipake rame-rame dalam keadaan mabok berat, dan gua ga tau apa lagi yang mereka perbuat ke gua."

Laras menunduk, kedua tangannya melipat, mencengkeram baju kuat-kuat. Dengan suara bergetar, Laras lanjutin ucapannya, "Setiap hari rasanya kayak di neraka, Dea. Gua bahkan sampe sesering mungkin sujud minta pertolongan, tapi ga pernah dateng. Gua ikut ROHIS, dengerin kajian, dengerin ceramah-ceramah di Youtube, mandi wajib, sholat, cuma biar gua bisa ngeyakinin diri kalo gua ga sehina itu. Tapi yang ada malah gua makin ngerasa ga pantes untuk beribadah. Gua pengen mati, tapi kalo gua bunuh diri, nanti kasian ortu gua yang nanggung utang gua. Gua bingung, ngerasa buntu, ngerasa sendirian, kotor, hina, ga berguna—"

Aku langsung meluk Laras, erat banget. Punggungnya ku usap-usap pelan. Badan Laras makin bergetar di pelukanku, tapi sudah ga ada kata-kata yang keluar. Maka, aku berbisik ke dia, "Ras, udah ceritanya. Udah, ya. Sekarang, kita fokus nenangin diri dulu, baru cari solusi. Oke? Semua pasti ada solusinya. Percaya, ya?"

Laras masih diem. Tapi ada tangis yang berusaha dia tahan mati-matian supaya ga pecah. Kedua tangan gemetarnya mulai melingkar di pinggang dan punggungku. Kerasa banget gemetarnya. Pelukannya pun makin erat, dan mukanya makin terbenam di bahuku.

"Ras, ga apa-apa kalo mau nangis. Ga apa-apa, beneran. Lepasin aja. Biar lega...," duh, tenggorokanku tercekat, nih, jadi makin susah ngomong, "...kan, malah aku yang mau nangis jadinya—"

Tangis Laras pecah saat tanganku mengusap kepalanya. Laras belum pernah nangis sepilu ini sebelumnya. Rasanya seperti beban berat yang selama ini dia simpan, keluar semua bagai air bah pada bendungan yang jebol. Aku juga jadi ikutan nangis. Ikut ngerasa sakit hati atas deritanya Laras, dan refleksi akan deritaku sendiri: aku ga mau jadi begini, aku ga pernah ngebayangin akan jadi sekotor ini. Rasa bersalah, kecewa, marah, sakit hati, rendah diri dan segudang perasaan jelek lain yang berkumpul dan bergulung-gulung, yang selama ini aku tekan dan coba untuk ga mengakuinya, pecah detik ini juga. Berhamburan jadi satu emosi yang bikin aku remuk redam.

Aku mengerti perasaan Laras, dan akhirnya aku mengerti perasaanku sendiri. Makanya aku nangis, makanya kami nangis. Karena kalau seisi dunia jadi jahat dan menjahati kami, maka kami bisa apa selain nangis? Menangisi diri sendiri, menangisi satu sama lain yang punya derita yang sama, menangisi kepolosan yang terenggut paksa mau pun yang hilang akibat terlena hal-hal fana, menangisi hidup yang ga semulus yang kami bayangkan...

...dan menangisi akhirat yang kini rasanya jauh dari jangkauan.


———​


Aku ga tau, apa ini karena aku ngebumbuin adonannya ga bener, atau memang adonannya bercampur sama air mata aku dan Laras... soalnya bakwannya keasinan! Salahku juga, ga icip satu bakwan yang mateng paling pertama buat koreksi rasa, dan malah goreng semua adonannya. Ini sih jadinya susah dimakan...

Ujung-ujungnya, kami jadi makan mie goreng. Emang paling bener dari awal tuh bikin mie instan; anti gagal, praktis, ga usah ngebumbuin. Yah, mubazir banget nih bakwannya. Tapi aku pikir, ini resiko yang harus aku terima kalau ga serius dan ga fokus dalam merencanakan sesuatu. Oh, statemen tadi berlaku baik untuk bakwan, dan juga untuk hidupku.

Fah yang ternyata sudah bangun (dan berpakaian, tentunya) jadi yang paling lahap menyantap Indomie goreng. Dia cerita, kalau di rumahnya cuma ada merk Lemonilo, dan rasanya ga seenak Indomie. Kami setuju kalau Indomie goreng ada di kasta tertinggi permie-gorengan, makanya kami menikmati makannya. Ya tapi jangan diabisin sendiri juga, dong!

Iya, bikin 5 bungkus, dicampur semua di satu panci gede. Dan aku rasa, masing-masing aku dan Laras cuma kebagian sebungkus, sisanya diabisin Fah. Tapi dia cukup sportif saat kami protes, makanya dia bilang kalau nanti pesen makan online aja kalau kurang.

Ya jelas kurang, dia 3 porsi sendiri.

Oh, iya. Fah ga nanya kenapa mata kami sembap. Tapi aku pikir dia ngeh, kok, karena saat aku bercermin keliatan jelas banget mataku kayak orang habis nangis heboh. Hal yang sama juga keliatan di mata Laras. Tapi aku menghormati keputusannya untuk ga mau kepo dan menikmati momen bareng-bareng.

Saat aku bawa panci bekas makan ke dapur, aku baru ngeh kalau Fah ternyata ikutin aku di belakang. Tapi dia mengarah ke kamar mandi, sedangkan aku mau cuci piring. Ketika dia keluar, pas banget dengan aku yang baru selesai cuci. Jadi, dia nyamperin aku.

"Aku tuh tadinya 'mau' lagi pagi ini, tapi tadi ga sengaja nguping kamu sama Laras, jadi morning wood aku kena cancel, deh," ucap Fah sambil ketawa ringan.

"Ih, nguping sampe mana?"

"Semua. Agak rumit masalah Laras, ya, tapi coba aku tanya orangtuaku, apa yang bisa mereka bantu."

Aku langsung kaget, dong. Ngapain bawa-bawa orangtua? "Heh, emang mau ngapain pake ngomong ke orangtua kamu segala?"

"Dea, aku bisa bantu Laras, tapi paling maksimal cuma sampai sebatas uang aja. Sedangkan kalau aku minta ke orangtuaku, pasti lebih banyak yang bisa mereka bantu." Fah lalu bikin gestur nyombong gitu. "Inget, aku tuh disayang sama mereka. Jadi, kalo aku tertarik sama sesuatu atau seseorang, mereka akan usahain maksimal soal itu. Termasuk urusan-urusan yang ga ada hubungan langsung dengan orang tersebut."

Aku spontan senyum lebar. Kayak lagi nemu harapan. Aku pun bilang makasih ke Fah, dan hatiku jadi merasa legaaaaa banget, karena solusi yang aku cari datang sendiri. Tadinya, aku sudah overthinking akan masalahnya Laras. Kalau soal uang, aku bisa pakai tabunganku untuk bayar utang Laras. Tapi kayaknya orang-orang itu ga akan selesai dengan Laras cuma karena utangnya sudah dibayar, kan? Nah, yang aku pengen, yaudah ga usah deh tuh Laras diganggu-ganggu mereka lagi.

To hell with that, bahkan ini udah masuk ke ranah kriminal!

Aku pun peluk Fah, erat. Meski baru kenal, ternyata dia baik banget. Mungkin Fah adalah simbolisasi dari keyakinan kecilku, bahwa masih ada hal-hal baik yang akan datang, sesulit apa pun hidupmu.

"Eh, Dea. Buttplugnya masih kamu pake?" tanya Fah, tiba-tiba.

Ditanya tiba-tiba gitu, bikin aku ga siap jawab. Aku ngangguk pelan jadinya.

"Ih, aneh kamu, mah. Lagi sedih-sedihan tapi malah pake buttplug," komentar dia, lalu pergi ninggalin aku, bahkan sebelum aku bisa memberi penjelasan untuk membela diri. Aku cuma bisa bengong, cukup lama, dengan mulut menganga.

Maka, setelah berhasil sembuh dari rasa syok akibat statemen judgemental Fah, aku ngelakuin sesuatu yang tadinya sama sekali ga pernah ku lakuin: acungin jari tengah, ke koridor tempat Fah lewat sehabis ninggalin aku.

"Touché," ucapku, lalu pergi ke kamar mandi untuk lepas buttplug.
==========

==========
Chapter 15 — I'm a Hard Carry in MOBA Game Called "Life"






Sepanjang hari, kami lewati tanpa ada satu pun kegiatan aneh-aneh termasuk di dalamnya. Aku bersyukur, karena Fah dan kontolnya jadi lebih behave di depanku dan Laras. Birahiku juga ga rewel, malah cenderung kalem. Mungkin karena sudah dipuasin habis-habisan kemarin.

Karena Laras inget sepenuhnya dengan apa yang dia liat semalam, maka Fah jadi ga kesulitan untuk ngejelasin ke Laras kalau dia adalah seorang shemale. Dia ceritain ke Laras, sebagian besar yang sudah dia ceritain ke aku (kecuali bagian tragedi masa lalunya). Laras, yang kayaknya ga bisa mengolah banyak informasi baru dengan cepat dalam satu waktu, jadi syok setelah dengerin cerita Fah. Dia berakhir bengong, dengan mulut membuka dan tanpa bisa berkata-kata.

"Makan dulu, biar ga masuk angin," ucapku ke Laras, sambil masukin beberapa biji french fries ke mulut membukanya.

"Dea, ih! Kalo orang lagi bengong, tuh, jangan disuapin," respon Laras, sambil mulai kunyah french fries di mulutnya, "Kan jadi kaget guanya."

"Kalo kaget, makanannya dilepehin, bukan dikunyah. Emang dasarnya aja kamu doyan."

"Udah masuk mulut. Mubazir kalo dilepeh lagi."

Aku mengernyitkan kening. "Ya ga mubazir kalo kamu pungut terus masukin mulut lagi."

Laras juga ikutan mengernyit. "Lu gitu kalo lagi lepehin makanan, De?"

"Engga, sih," aku ambil sebiji french fries, "Tapi kalo konteksnya peju, iya. Semalem gitu. Fah keluarin di mulut pas lagi aku blowjob, tapi aku ga siap, jadi aku lepehin. Terus aku jilatin lagi pejunya, dan aku telen. Ga mubazir, kan?"

Laras, cuma bisa geleng-geleng kepala sebagai respon atas ucapanku. "Astaghfirullah, Dea... itu mulut kayak ga ada saringannya," katanya, sambil usap-usap dada.

"Mulut kamu juga gitu pas ngata-ngatain aku semalem."

Check mate. Laras kalah debat. Dia berakhir diem sambil manyun-manyun, tapi ga hentiin dia dari ngemil french fries. Fah yang nyimak perdebatan kami berdua, cuma bisa ketawa ngakak. Dia merasa bahwa ini adalah hiburan buatnya.

Oh iya, kami bisa makan french fries karena Fah pesen ke McD lewat Gofood. Ga cuma kentang, dia juga pesenin ayam goreng, nugget, burger, beserta minuman soda dan dessertnya. Total ada 12 medium fries, 12 spicy dan original chicken, 6 nugget, 3 big mac, 3 cheese burger, 6 Coca Cola-Sprite-Fanta, 3 Coke dan Fanta float, 3 chocolate sundae, dan 3 Mc Flurry Oreo. Aku lupa total harganya berapa, karena aku dan Laras sudah istighfar duluan saat ngeliat saldo Gopay Fah yang sampai di angka dua digit, tepatnya hampir mencapai angka 20 juta.

Anak Gopay plus mah memang ada di kasta yang berbeda, ya. Apalah aku ini yang mau pesan Gofood aja harus cari yang lagi promo. Ini bikin aku mikir, kalau memang sebaiknya aku ajak Fah aja tiap hari ke rumah, jadi aku ga perlu lagi mikirin perkara makan siang.

"Eh, Fah, tapi kok bisa sih kamu ga ketauan?" tanya Laras, setelah berhasil bangkit dari rasa kalah dan rendah dirinya dariku.

"Makanya aku pake rok yang ga ketat, selain itu juga kalo lagi pake celana dalem, kontolnya aku tekuk ke bawah, jadi ga menonjol dari balik rok," jelas Fah.

Aku dan Laras spontan mengernyitkan kening. "Ga sakit?" tanya kami, yang juga berbarengan.

"Engga, kalo lagi ga tegang. Makanya," Fah melirik ke aku, "Jangan bikin aku tegang kalo di sekolah, ya. Nanti ketauan kalo aku bukan cewek asli."

"Kenapa kamu ngeliriknya ke aku?" balasku.

"Kamu feromon berjalan, Dea. It's hard to resist when you're around, especially when it's just the two of us."

"Oh," aku mengangguk setuju, "Good point."

Sejenak, suasana jadi hening. Tapi Laras tiba-tiba ngomong sesuatu, yang otomatis memecah keheningan. "Gua emang syok pas tau Fah bukan cewek tulen, tapi...," kini, gantian Laras yang melirik ke aku, "...Gua lebih syok pas tau kalo Fah ngentotnya sama lu, De. Kayak, gila banget, Dea yang gua tau selama ini tuh beda banget sama Dea yang gua liat semalem. Sekarang juga gini, ngomongnya vulgar banget."

"Kayak kamu ga gitu aja mulutnya, Ras. Tuh, enteng banget ngomong "ngentot", kan?" balasku.

"Ya beda. Gua mah emang mulut kampung, jadi luwes aja ngomong kotor. Lah, elu De, gua masih inget lu ngomong "penis" pas pelajaran Biologi SMP aja muka lu langsung merah."

"Namanya juga hidup, Ras. Ga ada yang pasti. Kata guru ngaji kita dulu waktu kecil, yang udah pasti buat kita kan cuma jodoh, rezeki, dan kematian," balasku lagi, sambil senyum bijak. Aku merasa sekarang ini aku sudah mirip Mamah Dedeh versi remaja.

Tepat setelah aku ngomong begitu, adzan Dzuhur pun berkumandang. Aku dan Laras spontan saling berpandangan. Lalu, kami berdua ketawa canggung karena sama-sama menyadari kemana arah maksud ucapanku barusan. Padahal akunya juga asal ngomong aja.

"Ras," panggilku.

"Mau ngajak mandi junub? Yuk," balas Laras.

"Ih, kok tau aja, sih?!"

Aku dan Laras ketawa ngakak bareng, karena ternyata kami berpikir hal yang sama. Fah ga begitu ngerti konten yang kami bahas, tapi dia ikut ketawa murni karena kami ketawa. Di akhir tawa, dia bilang, "Kalian emang sedeket itu, ya. Keliatan banget, kok."

"Iya. Makanya, aku bersyukur soal itu," jawabku, sebelum pamit ke Fah, untuk mandi. Sementara Laras masih akan terus ngemil kentang, kalau ga aku tarik kerah belakang bajunya buat nyeret dia mandi.


———​


"Laras ga mau ikut aku aja? Nanti aku anterin sampe rumah," ucap Fah, yang langsung direspon dengan gelengan kepala sama Laras.

"Makasih udah nawarin, tapi gua nanti mau pulang sendiri aja," jawab Laras, sambil ketawa ringan.

Setelah denger jawaban Laras, Fah mengangguk. Dia lalu nyamperin supirnya, dan terlibat dalam obrolan yang cukup lama. Aku ga tau apa yang mereka bahas, karena aku dan Laras berdiri di teras, sementara Fah di depan pagar. Tapi kalau boleh menebak, kayaknya sih obrolan serius; karena ekspresi muka supirnya keliatan serius saat mengangguk-angguk dalam merespon ucapan Fah.

Oh iya. Fah pulang saat sore, dengan dijemput oleh supirnya. Karena banyak hal dari Fah yang mengesankan kalau dia berasal dari keluarga kaya raya, seperti tinggalnya di penthouse, tasnya harga puluhan juta, buttplug dari emas asli.... bikin aku sudah bisa menduga kalau dia dijemput pakai mobil yang ga medioker. Dugaanku tepat, dong. Dia dijemput pakai mobil yang keliatannya elegan dan mewah.

"Range Rover, Dea...," ucap Laras dengan nada antusias. Matanya ga kedip sama sekali saat mandangin mobil bercat hitam yang terparkir di depan pagar rumahku.

"Iya, Ras. Itu mahal kan, ya?"

"Itu RR Sentinel, Dea. Mobil mewah yang biasanya cuma dipake sama dubes negara kaya, atau sama sultan minyak. Ini kayaknya yang versi 2019. Harganya 6,5 sampe 7 milyar, gitu. Mobil jenis SUV, dilengkapi kaca dan bodi anti peluru, anti bom dan ranjau, mesinnya supercharged V8 5000 cc, 375 horse power dengan 32 DOHC—"

"—Kamu kok bisa tau-tauan soal mobil, sih, Ras?" potongku. Racauan Laras harus segera ku hentikan, karena aku liat belum ada tanda-tanda dia berhenti ngejelasin.

"Gara-gara sering liat-liat artikel mobil di internet. Awalnya cuma buat bahan ngayal, siapa tau gua nanti dapet suami orang tajir melintir terus gua disuruh beli mobil pilihan gua, jadi siap-siapnya dari sekarang. Eh, lama-lama jadi suka baca-bacanya. Mungkin kalo nanti pas dewasa gua ga dapet suami orang kaya, seenggaknya bisa ngelamar kerja jadi sales mobil."

Aku kayaknya nyerah deh, ngobrol sama cewek ini. Halunya ga ketolong. "Kurang-kurangin lah, Ras," ucapku, sambil berlalu ninggalin dia, nyamperin Fah.

"Dea, aku pulang, ya! Terima kasih untuk 24 jam yang menyenangkan banget!" Fah meluk aku, erat banget. Lalu dia mendekat ke kupingku, membisiki sesuatu, "Next time aku nginep lagi, kita anal, ya? Until then, please keep up the training, Deaaa~"

Sambil mengangkat alis, aku juga acungin jempol ke Fah. "I'll do the best! Oh, iya, terima kasih juga untuk waktunya, momennya, ngebeliin makanannya, dan banyak lagi! Sama... terima kasih udah mau bantuin Laras!" seruku, antusias. Ini dari hati banget aku ngomongnya, karena memang aku bersyukur ketemu orang sebaik Fah.

"Aku pulang dulu. Sampai ketemu hari Senin di sekolah."

Setelah cipika-cipiki (yang kayaknya dia bikin sengaja kena sisi bibir), Fah buka pintu mobil. Aku masih berdiri di tempatku, saat mobil Fah melaju pelan, ninggalin area rumahku. Laras juga dadah-dadah heboh sampai mobil Fah hilang dari pandangan kami. Setelahnya, aku balik badan, lalu nyamperin Laras.

"Ayo, kita beresin utang kamu," ucapku, tegas.

Laras mengernyit. "Beresinnya gimana?"

"Kamu ke aplikasi pinjolnya, minta nomor rekening, virtual account, terserah. Yang penting resmi."

"Iya, tapi beresinnya gimana? Dilunasin? Bayarnya pake apa? Gua ga ada duit segitu, De."

"Iya, dilunasin. Pake duit Fah, tadi pas kamu mandi lama banget itu, aku sama dia ngobrol. Terus dia transfer uang ke rekening aku buat bayarin utang kamu. Dia bilang ngasih, bukan minjemin, jadi ga usah dibalikin. Dia juga kasih tau, bayarnya jangan lewat perantara debt collector. Rawan ditipu." Aku segera tarik tangan Laras, untuk masuk ke dalam rumah. "Oh iya, tadi dia minta nomor WA debt collector yang neror dan peras kamu. Aku kirimin nomor Fah, nanti kamu yang kirim kontak orangnya ke Fah langsung, ya."

"SERIUS? DIA TRANSFER BERAPA DUIT, DEA?! EH, KOK DIA GAMPANG BANGET SIH NGASIH DUIT BERJUTA-JUTA?!" pekik Laras, yang langsung aku sumpal mulutnya pakai tangan biar ga tambah berisik.

"Kenapa fokus kamu ke nominalnya, sih?" Aku cubit pipinya, bikin Laras teriak kesakitan. Lalu, aku buka aplikasi mobile banking di HP ku, kemudian cek mutasi rekening. Aku tunjukin layar HP ke Laras, yang setelah ngeliat nominalnya, mata Laras makin melotot. "Dia transfer 20 juta. Katanya dipake dulu buat bayar utang, sisanya buat kamu. Tapi Fah ngeliat kamu tuh kayaknya boros orangnya, dan iya emang bener, jadi dia minta aku yang pegang. Suruh kasih 500 ribu seminggu, kata dia."

"Ya Allah, Dea... duit jajan gua sehari aja cuma 10 ribu, kadang malah ga dikasih. Ini 500 ribu seminggu, berarti dari Senin sampe Jumat seharinya 100 ribu kan, ya? Sepuluh kali lipetnya, Dea... Alhamdulillah, alhamdulillah. Bisa gua borong itu kantin..."

Laras buru-buru masuk ke dalam, lalu berdiri menghadap kiblat di ruang tamu. Sekejap kemudian, dia langsung sujud syukur. Lama banget. Saat bangun, keningnya sudah memerah karena kelamaan sujud di lantai tanpa alas. Tapi matanya berkaca-kaca. Badannya gemetar, tapi ku pikir gemetar gembira, karena ekspresi mukanya menyiratkan demikian.

"Ini mesti gara-gara mandi junub sama sholat, Dea!" Laras pun sujud syukur sekali lagi. Terus, dia bangun dan narik tangan aku, menuju kamar mandi. "Yuk, udah adzan Ashar tuh dari tadi. Kita ga boleh nunda-nunda sholat," ucapnya.

Padahal yang tadi pas adzan masih ngemil McFlurry tuh dia, loh. Bisa-bisanya...

"Eh, nanti dulu. Terus lu dapet apa, De?" tanya Laras, tiba-tiba.

"Dapet ngentot, lah. Aku mah dipuasin semaleman sama Fah."

"Mulut lu ga ada saringannya banget sekarang, ya." Mata Laras memicing padaku. "Maksud gua, dia ga ngasih lu apa gitu?"

Tadinya aku mau bilang kalau dia kasih aku buttplug dari emas murni. Tapi untuk bilang ke Laras bahwa aku dikasih penyumpal lubang pantat saja rasanya ga etis, apalagi bilang kalau bahannya dari emas. Jadi, aku menggeleng saja. "Engga kasih apa-apa, aku ga minta soalnya," jawabku.

Laras tampak mikir sebentar, lalu dia kembali tatap aku. "Yaudah, sisa uangnya kita bagi dua. Tapi uang gua tetep lu yang pegang. Pertama, gua ga punya rekening. Kedua, iya bener gua boros orangnya, kalo dipegang gua semua nanti abisnya cepet," balas dia.

Laras ini bebal banget kalau dibilangin, cuma kalau lagi sadar, pada dasarnya dia berhati lembut dan gampang diarahin. Kalau aja dia ga suka grasak-grusuk dan mikir berkali-kali sebelum ambil keputusan, mungkin akan lurus-lurus aja hidupnya. Semoga kali ini belum terlambat.

"Makasih loh, inisiatifnya. Tapi engga, Ras. Sisanya buat kamu semua, tapi aku aturin dengan bikin rekening baru atas nama kamu. Kita berdua ke bank, kamu bawa KTP, ya. Setelah punya rekening, aku yang pegang dulu. Nanti ada transparansinya. Aku kirimin bukti mutasi rekening juga secara berkala. Gimana?"

Laras senyum lebar. Dia langsung meluk aku, erat banget. Wangi shampo di rambutnya tercium olehku. Duh, jadi agak horny. Tapi buru-buru ku tepis perasaan itu. Aku ingin menikmati momen intens ini sebagai dua orang yang bersahabat dari kecil, yang sedang merayakan momen penting di hidup mereka.

"Ayo kita wudhu, Dea! Lalu setelahnya, kita bereskan urusan dengan pinjol sialan itu!" seru Laras, yang kembali ngelanjutin perjalanannya menuju kamar mandi.

Aku tertawa geli. Laras selalu keliatan lucu kalau lagi ngomong pakai bahasa baku.


———​


"Ras, permission di aplikasinya nonaktifin aja semua."

"Emangnya biar apa?"

"Ih, kata artikel yang tadi aku baca, biar HP nya ga disadap sama aplikasi pinjol." Aku pijit-pijit kecil pelipisku yang mulai terasa menegang, karena pusing banget ngurusin urusannya Laras dari tadi. "Oh iya, nomor si debt collector itu udah dikasih ke Fah?"

"Udah kalo itu, mah. Tadi langsung gua kirim kontaknya, kok. Emang buat apa Fah minta kontak orang itu?"

"Ga tau, Ras. Ga berani bayangin juga," ucapku, dingin.

Sudah setengah jam lebih kami berdua uprek-uprek aplikasi pinjol di HP Laras. Tadinya, aplikasi pinjolnya dia uninstall gara-gara panik, makanya harus diinstall ulang lalu masuk pakai akun yang dia daftarin untuk pinjam uang. Setelah berhasil masuk, yang pertama muncul di layar HP adalah nominal jumlah hutang yang harus Laras bayar. Beneran 9 jutaan, ternyata...

Tentu saja, sebelum kami putusin untuk bayar, aku minta Laras untuk telpon ke layanan pelanggan. Setelah tersambung, si CS ga pakai basa-basi lagi langsung menghimbau Laras untuk ngelakuin pelunasan. Larasnya justru kebingungan meresponnya, jadinya dia diem aja, dan ujungnya malah aku yang handle.

Aku pun jelasin kalau mau ngelakuin pelunasan, dan meminta diarahin ke cara pembayarannya. Untungnya, CS yang aku sedang telponan ini melayani dengan baik dan komunikatif. Ga butuh waktu lama, setelah masuk ke M-Banking, aku pun transfer ke nomor virtual akun resmi milik si pinjol. Oh, nominalnya langsung otomatis muncul. Oke, mari bayar hutang sialan ini (pakai duit orang).

"Sudah dilunasi, ya, Mbak. Silakan dicek," ucapku, sopan.

"Baik, Kak. Tunggu sebentar, ya." Setelah beberapa menit, si CS pun kembali. "Pembayaran sudah diterima, Kak. Terima kasih atas pelunasannya. Di sini saya sampaikan, akun Kakak sedang dalam masa pemulihan. Kakak juga dapat kredit skor yang tinggi, nih. Jadi limit pinjaman selanjutnya juga meningkat, Kak. Per besok, Kakak sudah bisa mengajukan pinjaman baru—"

"—Engga, Mbak. Ga perlu repot-repot jelasin. Ga akan minjem lagi, kok. Beneran. Berarti ini sudah selesai, kan, Mbak?" potongku.

"Iya, sudah, Kak. Terima kasih atas kerja samanya, ya. Selamat sore, dan semoga sehat selalu. Oh iya, aplikasinya jangan dihapus, Kak. Siapa tau nanti berubah pikiran—"

Segera ku putus sambungan telpon. Dasar mulut marketing, bisa banget ngerayunya! Aku sih ga akan kemakan omongan dia, tapi Laras yang dari tadi nguping bisa aja jadi mikir sesuai sama yang si CS tadi omongin. Aku ga mau ada masalah pinjol-pinjolan musim kedua.

Aku pun kasih balik HP nya Laras. Ku tatap dia, tajam. "Udah, ya? Abis ini jangan ada utang-utang lagi ke siapa pun, terutama pinjol, ya? Janji?" ucapku, sambil mengacungkan jari kelingking.

"Iyaaaaaa!" Laras senyum lebar, "Udah beres, De?"

"Udah," balasku, ketus. Lalu, aku melirik ke HP nya yang lagj dia genggam. Masih dengan nada ketus, aku berkata, "Ras, bener, deh. Saran aku mah, jual aja HP itu, ya? Itung-itung buang sial. Nanti duitnya tambahin pake duit yang dikasih Fah, beli HP baru. Kamu ga mau fresh start, apa?"

Laras diem, lama. Dia tatap HP nya dalam-dalam. Ada lenguhan napas berat setelahnya. "Nanti deh, gua pikir-pikir dulu, ya. Untuk sekarang, guanya masih belum nentuin mau apa," jawab dia.

"Yaudah. Tapi tolong perhatiin saranku, ya. Semuanya. Jangan ada pinjol lagi. Kalo diancem-ancem orang, ngomong ke aku, nanti kita lapor polisi. Kalo ga ada duit, bilang. Kalo mau pergi tanpa aku, infoin perginya kemana. Soal HP juga, pikirin yang bener, ya?"

Laras angguk, pelan. Terus, dia tatap aku. Dia juga kasih aku senyum lembut. "Iya, gua tau, Dea. Makasih banyak udah perhatian, ya? Gua ga tau mau balesnya gimana, nih," ucap dia. Ku dengar ada sedikit getar dalam nada suaranya.

"Balesnya jadi orang bener, aja. Jangan aneh-aneh. Bisa, kan? Janji, ya?"

"Iya, Dea. Janji. Beneran." Laras senyum lagi, kali ini makin lebar. "Dea, makasih banget, ya?"

"Iya, Ras. Sama-sama, ya."

"Beneran. Gua makasih banget..."

"Iya, Ras, iyaaaa. Aku tau, kok."

Laras geleng-geleng kepala, ga tau apa maksudnya. Lalu, sambil nunduk, dia ngomong lagi, "M-makasihh... udah... b-bantuinnn... gua..."

Laras ga pernah bisa selesain ucapannya, karena ga ada lagi suara yang keluar. Matanya juga berkaca-kaca, air matanya tinggal tunggu pecah aja. Badannya gemetaran banget. Pertahanan fisik dan mentalnya seperti mau runtuh, saat masalah besar yang menghantui hari-harinya telah selesai. Hanya satu usapan ringan dariku pada lengannya, dan pertahanan Laras runtuh seluruhnya.

Dia nangis sekerasnya, dengan nada paling pilunya. Badannya gemetar, lalu melemas perlahan. Aku bisa bayangin, bahwa selama ini Laras merasa tegang terus akibat masalah hutangnya. Jadi, ketika masalahnya sudah selesai, badannya baru bisa rileks. Pola serupa juga dialami mentalnya. Laras bisa menangis sejadinya sekarang. Melepas semua sesak yang membelenggu dan membebaninya dalam satu sesi tangisan.

Aku peluk dia, lalu ku usap rambutnya. "Jangan khawatir, ya? Nangis aja, ga usah mikirin hal lain. Kita selesain semuanya, satu per satu. Aku temenin," ucapku, lembut.

Tangisan Laras makin keras terdengar, seiring dirinya yang menghambur ke aku. Sore ini, Laras membiarkan dirinya berserah dalam sendu dan duka, juga haru dan lega.

==========

==========
Chapter 16 — My Significant Other






"De, makasih banyak banget buat hari ini. Lu bener-bener malaikat penolong gua, sumpah! Ga akan gua lupain budi baik lu. Kalo ada yang bisa gua bantu, bilang aja! Pasti gua sanggupin."

Ini sudah kesekian kalinya Laras muji aku, dan aku harap ini yang terakhir. Soalnya konten pujiannya mulai cringe, nih. Gatel kuping aku tuh dengerinnya!

"Kamu bisa bantu aku dengan berenti ngomong." Aku melirik ke ibu-ibu ojol di depan pagar, yang masih dengan sabarnya nungguin Laras. Yang ditunggu malah ngedrama mulu di teras. "Heh, kasian itu ibunya nungguin terus!"

"Ih, galak banget. Tapi ga apa-apa, Dea kan baik." Laras peluk aku, erat. Dadaku langsung sesak, karena tetekku harus berhimpitan dengan tetek Laras yang ga kalah gede dengan punyaku. "Sampe ketemu Senin, yaaaa!"

"Bacot. Pulang sana, biar aku bisa cepet-cepet me time."

Laras langsung lari ke pagar, tapi baru beberapa langkah, dia berhenti, balik badan lalu ngeliatin aku. Sambil senyum jahil, dia bilang, "Kalo sendirian... nanti ditemenin setan, loh."

"LARAAAAAAAAS! GA LUCU BANGET, YA!"

Laras kembali ngacir, dan berhasil menghindari lemparan sandalku. Lincah juga dia. Lalu, setelah naik di jok belakang, dia pun dibawa pergi si ibu ojol, menjauh dari rumahku. Ninggalin aku yang mulai mikir macam-macam soal hantu-hantuan saat ini, karena cuma ada aku sendirian di rumah.

Sekilas, aku tersenyum. Ada rasa lega saat melepas Laras pulang dengan diantar ibu ojol. Entah kenapa, kekhawatiranku berkurang drastis saat tau kalau ojol yang kami pesan ternyata dapatnya ibu-ibu. Di malam hari begini, aku pikir akan lebih aman kalau Laras pulang dengan diantar sesama perempuan.

Selepas Laras pergi, aku pun menggembok pagar, lalu masuk ke dalam rumah. Ku kunci pintu, dan setelahnya, aku masuk kamar. Setelah semua orang pergi dan suasana kembali sepi, pikiran-pikiran acak yang selama ini berisik, kembali bermain-main di kepalaku. Ku dengarkan salah satunya; tentang citra diri.

Selama ini, aku ga begitu peduli dengan citra diriku. Maksudku, aku selama ini lurus-lurus saja dalam menjalani hidup (beberapa hari belakangan ga masuk hitungan). Hidupku hanya berisi hal-hal yang berada pada kadar 'seperlunya'. Berteman seperlunya, main sebutuhnya, makan secukupnya, berdandan sewajarnya, dan belajar sebisanya. Kalau pun dalam belajar, aku jadi cepat menangkap pelajaran dan selalu berada dalam peringkat teratas, ya mau gimana lagi? Memang dapatnya segitu.

Selain dikenal pintar, aku ga punya spesialisasi lain. Ada sih, beberapa yang bilang kalau aku cantik dan lucu. Tapi aku pikir itu cuma faktor segmentasi saja. Kayak... memang ada orang-orang yang punya ketertarikan lebih terhadap cewek berkacamata yang pakai jilbab, kan?

Put that aside, aku bahkan kalah telak jika dibandingin dengan cewek-cewek populer di sekolahku. Mereka cantik warisan keturunan yang digabung dengan perawatan, body goals, rambut salon, lengkap dengan pernak-pernik aksesoris bermerk. Apa aku iri? Engga. Karena aku ga punya ketertarikan untuk jadi pusat perhatian. Atau, seperti itu yang aku yakini selama ini.

Tapi, kali ini aku penasaran... seperti apa sebenarnya citra diriku di mata orang lain? Apa memang aku sealim dan sepolos itu, makanya Laras kaget setengah mampus saat tau kalau aku juga bisa jadi liar? Jika aku merubah citraku, apa reaksi orang lain akan sama seperti reaksi Laras? Apa dengan merubah citraku, aku bisa jadi pusat perhatian?

Sepertinya, aku tertarik untuk mencari tau, dan dalam sekejap, otakku memproses sebuah ide untuk membantuku mewujudkannya.


———​


Ah, hari Senin. Minggu-minggu lalu, aku masih mengutuk akan eksistensi hari Senin yang datangnya cepat sehingga bikin hari liburku ga berasa. Bukan berarti hari liburku diisi dengan kesibukan. Tapi bahkan meski pun cuma rebahan, aku merasa 2 x 24 jam hari liburku ga cukup untuk puasin dahagaku akan gegoleran di tempat tidur.

But fear not, my fellow readers! Becauseth from today onward, I shall maketh sure that it will be differenth! Aku bersemangat banget, nih, ke sekolah. Semoga pengorbanan hari Minggu yang ku isi untuk merealisasikan ideku akan membuahkan hasil. Apa hasilnya? Mari, kita cari tau sekarang juga.

"Pagi, Dea...."

Salah seorang teman sekelasku berakhir bengong saat menyapaku di koridor sekolah. Aku cuma balas sapaannya dengan senyum, lalu terus berjalan menuju kelas. Di sepanjang koridor juga, aku menyadari kalau banyak pasang mata lain yang perhatiin aku. Tipe yang merhatiinnya tuh sampai ikutin kemana pun aku gerak, loh.

Oh, ini rasanya jadi pusat perhatian? Lumayan, lumayan...

"Pagi, semuanya!" sapaku pada para penghuni kelasku saat aku baru tiba di ambang pintu.

Kebetulan, sekarang yang ada di kelas cuma para cowok aja, dan aku ga tau kemana para ceweknya. Saat perhatian mereka tertuju ke aku, reaksi mereka sama persis dengan reaksi temanku yang menyapa di koridor tadi. Bengong lama, sambil terus ngeliatin aku jalan ke mejaku.

"Anjing, Dea! Lu toge amat, ternyata!" pekik salah satu cowok. Dia memang terkenal bermulut kasar, sih. Tapi aku yakin, kata-katanya tadi bermakna pujian.

"Deaaaa, lu kenapaaaa?! Abis libur kok jadi ngetat, sih?!" teriak yang lain.

Banyak komentar senada yang ditujukan ke aku dari cowok-cowok lain. Aku sih ga merespon berlebihan, cuma kasih senyum sama penjelasan tipis-tipis aja. "Darurat, nih. Jemuran aku ga ada yang kering, jadi aku akalin pake seragam SMP, cuma ganti logo OSIS di saku aja," balasku.

Iya, yang ku pakai sekarang ini seragamku saat SMP. Relevan dengan penjelasanku ke mereka, aku ganti logo OSIS seragamku biar jadi seragam SMA. Biar apa? Biar ketat saat dipakai, karena seragamku yang biasanya ku pakai sekarang terlalu longgar dan ga sesuai dengan tujuanku saat ini. Tapi alasan awal aku beli seragam baru saat baru masuk SMA adalah, karena seragamku yang lama memang sudah mulai mengetat, dan (tadinya) aku ga nyaman memakai baju yang ngeliatin lekuk tubuh. Jadi aku ganti. Apalagi saat seragam ini dipakai lagi sekarang, makin ketat saja di badanku. Lekukan pada dada besarku yang membusung, pada pinggang yang meliuk, dan pinggulku yang semok jadi keliatan jelas. Apalagi aku cuma pakai jilbab pendek, yang otomatis ga menutup sampai ke bagian dada. Makin keliatan jelaslah cetakan bra hitam yang ku pakai, serta kancing-kancing di bagian dada yang keliatan banget kesulitan untuk bertahan pada kaitannya.

"Lu ngapain pake seragam ngetat, si, Dea? Bikin orang pengen ke kamar mandi aja, ah!"

Aku pun senyum tengil. Mereka ga siap untuk menerima tampilan seragam ketatku. "Yaudahlah, aku pake hoodie aja! Pada ga jelas!" balasku, pura-pura kesal, sambil pakai hoodie yang dari tadi ku sampirkan di tas ransel.

"EH, JANGAAAAAAAAN!" teriak mereka, serempak. Terlambat, hoodienya sudah tuntas ku pakai.

Dari sekian banyak cowok di kelas yang jadi caper padaku pagi ini, aku perhatiin cuma Freddy (si nomor dua) yang sikapnya beda. Alih-alih buat interaksi langsung, dia mah cuma diem sambil sesekali curi-curi pandang ke aku. Kan kalau begini, akunya yang jadi gemes. Aku jadi mikir, apa godain dia aja nanti pas jam istirahat, ya?

Lalu, bel tanda jam pelajaran pertama pun berbunyi. Setelah semua murid masuk kelas, ga lama ada Bu Siska yang masuk. Eh... kan hari ini ga ada pelajaran Biologi? Kok ada Bu Siska, sih?

"Buat yang penasaran kenapa ada Ibu, ga usah panik. Ini memang jam pelajaran Bahasa Indonesia, kok. Bu Ningsih ga masuk, jadi Ibu diminta untuk isi jam pelajarannya," ucap Bu Siska. Lalu, dia ngelirik ke aku. Alisnya langsung naik sebelah. Dia pun bertanya, "Kamu ngapain masih pake jaket saat jam pelajaran, Dea? Kamu sakit?"

"Engga, Bu," kataku, sambil menggeleng. "Seragam aku terlalu ketat, kata yang lain. Makanya aku tutup pake hoodie."

"Kok bisa ketat? Kamu sengaja kecilin?"

Lalu, aku ceritain saja ke Bu Siska soal seragamku. Bu Siska pun mengangguk-angguk mengerti. Mungkin salah satu faktor Bu Siska mudah ngerti, adalah karena beliau juga pakai seragam dinas yang ketat banget di bagian dada. Bedanya denganku, Bu Siska kayaknya sudah ga bisa lagi mengupayakan soal keketatan seragamnya. Saat di hotel, beliau cerita kalau dirinya susah untuk pakai baju apa pun karena ukuran teteknya yang gede banget itu. Jadi untuk baju paling longgar pun, akan selalu mengetat di bagian dada. Apalagi seragam guru, coba?

Jam pelajaran Bahasa Indonesia, dan pelajaran lain setelahnya sudah aku lalui. Aku sadar, saat Bu Siska mengajar sebagai guru pengganti, beliau sering curi-curi pandang ke aku. Ini bikin aku senyum-senyum, apalagi saat aku dikirimi pesan di WA sama beliau. Isinya, meminta aku untuk ke toilet sepi di lantai dua saat mendekati akhir jam pelajaran keempat. Awww, senyumku jadi makin lebar.

Saat jam pelajaran keempat mau habis, aku izin ke guru yang mengajar untuk pergi ke toilet yang Bu Siska maksud. Setelah sampai, aku mencari-cari Bu Siska, tapi ga ketemu. Pas aku balik badan mau keluar, tiba-tiba aku ditarik oleh seseorang, ke bilik toilet. Belum sempat aku mempelajari keadaan, aku sudah dicium ganas sama Bu Siska, sambil tangannya cekatan kunci pintu bilik.

"Mmmhhh... I miss you so fucking much it drives me crazy, Dea," bisik Bu Siska saat lepasin pagutan bibirnya, "Ga ngeliat kamu dua hari, jadi pangling karena kamu keliatan makin cantik, deh."

"Ah, perasaan Ibu aja, mungkin... aku biasa aja—mmhhh..."

Bu Siska ga ngebiarin aku selesein omonganku, karena bibirnya kembali aktif melumat bibirku. Ga ada satu bagian bibirku pun yang terlewat dari lumatan bibirnya. Ga butuh waktu lama untukku menyesuaikan diri, dan kami sudah saling berbalas melumat bibir sambil tukeran liur.

"Eh, Ibu penasaran sama seragam kamu. Mau liat dong, seketat apa," ucapnya, setelah puas melumat bibirku.

Ga banyak omong, aku langsung mengangkat hoodie sampai ke leher, bikin seragamku jadi nampak jelas. Bu Siska sampai bengong dan ngiler saat ngeliat seragam yang ku pakai. Katanya, "Ini sih kayak cuma nempel di badan aja. Ketat banget. Cocok, seksi banget keliatannya. Kamu pegangin jaketnya biar ga turun, ya."

"Emang Ibu mau ap...."

Tangan Bu Siska cekatan banget saat mempreteli kancing seragamku. Tanpa sempat protes, sudah ada empat kancing yang lepas, bikin seragamku membuka dan pamerin sepasang tetekku yang masih dibungkus bra. Ga izin ke aku, Bu Siska langsung benamin mukanya ke belahan tetekku, sambil dia remas-remas kedua tetekku. Aku spontan sedikit melenguh, karena akhir-akhir ini bagian dadaku memang jadi lebih sensitif.

"Dea... Ibu jadi ga tahan. Pulang nanti, ke hotel, yuk?" tanya Bu Siska, sambil terus mainin tetekku.

"Ehh... ga bisa, Buuu... aku pulang bareng Larasss... nanti, uhhhh..."

"Yahhh... terus gimana, dong? Ibu kangen banget sama kamu, tapi waktunya ga ada terus. Ibu malah sampe uring-uringan di rumah—"

Ku lumat bibirnya dengan ganas dan liar. Aku bahkan menjulurkan lidah, mengajak lidah Bu Siska untuk saling membelit. Saat Bu Siska ngomong tadi, bikin aku gemas, dan aku ga tahan untuk ga cium beliau. Saat Bu Siska membalas lumatan bibirku, aku meraih rok panjangnya. Aku tarik hingga tersingkap ke atas, lalu setelah naik sampai sepaha, aku pun meraih selangkangannya. Ku raba celana dalam Bu Siska. Uuuhh... sudah lembap dan basah. Makanya, ku sibak celana dalam Bu Siska dari samping, lalu jari-jariku langsung sibuk mencari klitorisnya.

"Mmmhhh... Deaaaa... kamu ngapainnnn?"

Segera aku berbisik di kupingnya, "Mainin memek Ibu. Boleh, kan? Ibu kan juga mainin tetek aku."

"Haaahhh... kan Ibu... masih ada jam ngajar, Deaaa... nanti kalo celananya basah... aaahhh, uuuhhh... Ibu jadi ga nyaman ngajarnya..."

Aku ga gubris dia. Ku lumat lagi saja bibirnya biar ga berisik. Memang dia pikir kalau dia ciumin bibir aku, terus mainin tetek aku, akunya ga basah, gitu? Oh, iya, ketemu juga clitnya. Sudah agak bengkak, kayaknya Bu Siska sudah lumayan terangsang, deh. Makanya, aku mainin saja. Ku gesek-gesek lembut, dengan gerakan yang variatif. Kadang ku gesek maju-mundur, kadang bikin gerakan berputar, dan sesekali ku pelintir bagian itu. Ini bikin Bu Siska mendesah ga karuan, yang untungnya suaranya tertahan akibat ku lumat bibirnya.

Sejujurnya, aku agak sesak kalau harus berhimpitan dengan Bu Siska di posisi saling berhadapan gini. Tetek Bu Siska yang ga cuma gede banget, tapi juga kencang ini tuh sampai nekan dada aku, bikin aku susah napas. Tapi namanya juga lagi larut dalam birahi, hal-hal kayak gini ga akan jadi masalah.

"Hhhaaahh... hhaaahh... Deaaa... aahh, ahhh... geli, Dea. Bbbeneraaannn... stoppp dulu, nanti Ibu ga kuattt..."

Bodo amat, sih, Bu. Mau Ibu suruh aku berhenti pun, aku ga akan dengerin. Memek Ibu sudah basah banget, masa iya ga aku mainin? Lagipula, sudah bener kok mulutnya aku sumpal pakai mulutku, kenapa harus lepasin diri sih, Bu? Sini, aku lumat lagi bibirnya. Mmmhh...

Setelah memek Bu Siska semakin basah, aku segera gesekin jari telunjuk dan tengahku ke pangkal lubang memeknya. Kayaknya Bu Siska tau apa yang mau aku lakuin. Dia berkali-kali gelengin kepala sambil kasih tatapan mengiba, tapi ga aku gubris. Cuma butuh sekali dorongan, dan dua jari aku pun masuk sepenuhnya ke dalam memek Bu Siska. Lalu, aku pakai telapak tanganku untuk menempel di clitnya, jadi ketika aku mulai gesekin memek Bu Siska pakai jari, clitnya pun ikut kegesek.

"Mmmm... mmmhhh... Dddeeaaa... Ibu... Ibu... ahahh... ahhh... gga... tahannnn..."

Bu Siska makin blingsatan saat dua jariku yang sedang bereksplorasi di dalam memeknya, mulai nemuin g-spotnya. Ga sia-sia aku baca artikel di internet. Artikelnya bilang, kalau biasanya g-spot perempuan ada di sepuluh sentimeter dari bibir vagina. Ciri-cirinya adalah bagian dinding vagina yang bertekstur bergerinjal. Kalau bagian itu distimulasi, perempuan akan mengalami rasa nikmat yang dahsyat. Digabung dengan stimulasi pada klitoris, rasa nikmatnya akan naik berkali-kali lipat.

Aku sudah coba sendiri kalau lagi masturbasi. Jadi, aku rekomen sekali ngelakuin ini kalau lagi self service atau lagi melayani pasangan, ya.

Maka, gabungan rangsangan pada g-spot dan klitorisnya bikin Bu Siska lupa diri. Dia lumat bibirku dengan ganas, hingga ga peduli kalau kadang kacamata kami saling beradu. Dia juga sampai jilatin pipi, dagu, dan hidungku, sambil pinggulnya ikutan goyang mengiringi gerakan tanganku.

"Dea, Ibu mau keluar, Ibu mau keluar, Ibu mau... ahhh, ahhh... Ibu mauuuu..."

Bu Siska mengambil keputusan tepat dengan langsung melumat bibirku ketika orgasmenya datang. Meski badannya gemetaran, tapi cuma desahan tertahan lirih yang keluar dari mulut tersumpalnya. Sementara di bagian selangkangannya, aku merasa tanganku yang masih berada di memeknya jadi basah banget. Apalagi saat aku tarik tanganku, cairan yang melumuri tanganku jadi bercipratan ke lantai.

"Haahh... Dea... celana dalem Ibu... aahhh... haahhh..." Bu Siska pelan-pelan duduk di toilet, sambil menahan bagian atas tubuhnya pakai kedua tangan, karena ku lihat lututnya masih gemetaran. Kemudian, dia susah payah melepas celana dalamnya, lalu nunjukin ke aku. "Gara-gara kamu, nih... mmmhh... jadi ga bisa dipake," katanya.

Wah... celana dalam Bu Siska basah banget saat aku raba. Ini sih sudah lepek. Tadinya aku mau bodo amat aja, tapi kasihan juga kalau Bu Siska datang ke kelas-kelas lain tanpa pakai celana dalam di balik roknya. Gimana pun juga, Bu Siska itu guru, yang martabatnya harus terjaga—kecuali kalau lagi sama aku. Ehe.

Jadi, aku nawarin Bu Siska sebuah solusi. "Ibu mau pake celana dalem aku, ga? Kayaknya punyaku masih sedikit basahnya."

Untuk sesaat, Bu Siska melongo saat mendengar ideku. Cukup lama, sampai akhirnya dia ingat untuk menutup mulutnya yang membuka. "Kamu beneran nawarin Ibu untuk pake celana dalem bekas kamu?" tanyanya, setengah ga percaya.

"Ibu ga mau, ya? Karena jijik, ya?"

"Eh, ga gitu!" Bu Siska langsung menggeleng cepat. "Ibu sih seneng banget, beneran! Tapi masalahnya, kamu nanti gimana? Masa ga pake celana dalem?"

"Ya ga apa-apa, Bu. Kan ini bukan kali pertama aku ke sekolah ga pake daleman." Aku pun menyingkap rok seragamku ke atas, lalu pamerin celana dalam thong hitamku ke Bu Siska. "Kalo Ibu mau, aku lepas nih celana dalemku."

"Astaga... dia ke sekolah pake thong, dong." Bu Siska pun mengusap wajah frustasinya. Lalu, setelah satu hembusan napas panjang, dia ngomong lagi, "Ibu mau! Mana, siniin celana dalem kamu."

Dan... begitulah. Aku lepas celana dalamku, kasih ke Bu Siska, dan dia langsung pakai di depanku. Kelihatan agak sempit, karena pinggul Bu Siska lebih besar dariku, tapi justru jadi lebih seksi, karena celana dalam sempit itu bikin kumpulan lemak mungil yang bersarang di pinggulnya jadi mencuat akibat tertekan tali celana dalam. Bu Siska juga kelihatan agak gemetar saat bagian selangkangan celana dalamku menyentuh dan menempel di memeknya. "Rasanya kayak sentuhan memek secara ga langsung," katanya.

"Bu, aku mau celana dalem Ibu, ya?" pintaku, sambil menjulurkan tangan terbuka kepadanya.

"Eh, buat apaan?"

"Buat bahan masturb, Bu. Ibu juga boleh jadiin celana dalemku buat bahan masturb Ibu, kalo mau," jawabku, sambil masih menagih ke dia.

Agak malu-malu, Bu Siska kasih celana dalamnya. Langsung saja aku simpan di kantong hoodie. Setelah transaksi celana dalam selesai, kebetulan banget bel tanda istirahat berbunyi. Bu Siska yang panik karena takut ketahuan murid-murid, segera ajak aku keluar dari bilik. Tapi sebelum pintu membuka, aku cium bibirnya. Ku beri lumatan kecil, serta lidah yang mengantar liur masuk ke mulutnya.

"I love you, Bu." Ku lumat sekali lagi bibirnya, sebelum keluar dari bilik.

Bu Siska ga menjawab. Dia pilih cepat-cepat keluar dari toilet tanpa nengok ke aku. Muka merah meronanya menunduk malu. Tapi ga berapa lama, ada bunyi notifikasi di HP ku yang ada di saku. Saat ku baca pesan WA yang baru masuk, aku senyum-senyum sambil tersipu. Isi pesannya adalah, Bu Siska ajak aku pacaran.

Wah... kalau ajakan ini aku iyakan, apa ini berarti aku sudah resmi gabung ke grup pelangi?


———​


Sebagai anak rumahan, dengan latar belakang keluarga yang ketat soal beragama, tentu saja aku ga pernah mengalami yang namanya pacaran. Bukan berarti aku ga laku, ada juga kok beberapa cowok yang nembak aku, tapi selalu aku tolak karena aku ga mau menjalin hubungan. Takutnya, nanti malah jadi jembatan untuk mendekati zina. Eh... aku ga pacaran pun, malah sudah zina duluan. Kalau dari awal aku tahu takdirnya akan jadi begini, mending ku terima saja cowok-cowok itu dulu. Anggap saja untuk ngumpulin pengalaman.

Tapi konyol juga, ya. Kalau aku mau dengan ajakan Bu Siska, berarti pengalaman pacaran pertamaku adalah dengan sesama cewek. Uuhhh... kibaran bendera pelangi di benakku jadi makin berkibar-kibar.

Sebentar, deh. Aku harus merunut pros dan cons-nya dulu. Oke, dari cons-nya: hubungan romantis antara guru dan murid saja masih banyak yang bilang tabu, apalagi guru dan muridnya sama-sama cewek? Itu satu. Yang kedua, BU SISKA SUDAH PUNYA SUAMI, YA, DEA! Ketiga... otomatis dengan segala hal terlarang ini, akan mempersempit ruang gerak kami berdua, dan ini akan sangat berdampak ke faktor emosional kami saat menjalani hubungan. Sementara pros-nya... jadi bisa makin bebas macam-macam sama Bu Siska. That single factor alone, can make me drooling...

Oh, I'm really drooling right now.

"Buat jawaban pertanyaan tadi: aku mau!" seruku di telepon, saat koneksinya baru tersambung ke Bu Siska.

"Mau... apa, nih?" Sejenak, dari seberang sana cuma ada hening, lalu ga lama terdengar suara teriakan heboh. "EH, MAU YANG ITU DI WA TADI, YA? KAMU SERIUS?!"

"SERIUS! AYO KITA PACARAN!" seruku, ga kalah heboh.

Sambungan telepon kami langsung diputus Bu Siska. Aku langsung liat ke layar HP, karena sekarang begitu banyak chat masuk yang dikirim Bu Siska. Isi kontennya cuma emoji hati dan bibir, dalam jumlah yang banyak banget dan dikirim berkali-kali.

Oh, ternyata ini yang namanya love-bombing. Haha.

Ternyata, suaraku saat menelepon didengar seisi kelas. Seluruh penghuni kelas pun diam, sambil ngeliat ke aku dengan pandangan seakan ga percaya. Aku jadinya kebingungan, dong. Salahku apa sampai diliatin begini?

"LU PACARAN SAMA SIAPA, DEAAAAA?!"

"DUNIA UDAH MAU KIAMAT, KALO DEA YANG BIASANYA ALIM SAMPE MAU PACARAN!"

"Anjir... Dea akhirnya pacaran..."

Segudang komentar heboh pun terus berkicauan di sisa jam istirahat. Beberapa ada yang maksa aku untuk kasih tau aku pacaran dengan siapa, tapi aku bilang rahasia. Ini berarti, suara Bu Siska di seberang telepon tadi ga kedengaran, kan?

Satu menit sebelum bel tanda masuk jam pelajaran kelima berbunyi, HP ku masih berisik oleh notifikasi dari chat Bu Siska, yang ternyata masih heboh kirim emoji, ucapan mesra, dan nanya soal mau ngehabisin waktu berdua di hotel mana.

Maka, aku jawab saja, sebelum aku fokus pada pelajaran selanjutnya. Ku baca lagi dalam hati, tentang apa yang aku baru ketik, "Mau coba suasana baru? Nanti sore kalau aku udah di rumah, Siska ke rumah, yaaaa. I miss you! Let's have lots of fun in my bed!"

And... send. Oh, this is gonna be watery... and fun.
==========

==========
Chapter 17 — Nymphomania






Tepat saat bel pertanda jam pelajaran terakhir selesai, HP ku bergetar. Aku ga tau ini notifikasi apa, karena kalau lagi jam pelajaran, HP ku masuk ke mode senyap. Berhubung guruku baru saja keluar kelas, segera aku lihat HP. Takutnya, itu notifikasi dari Bu Siska.

"WA dari Freddy?" Aku spontan nengok ke tempat dia duduk. Pas banget, dia pun lagi nengok ke arahku. Tapi dia buru-buru buang muka pas aku pergokin. Idih, kenapa sih tuh anak? Aneh banget.

Karena aku tipe yang rajin simpan nomor anggota kelas, jadi aku langsung tau kalau tadi Freddy yang chat. Tapi beneran, deh, tumben banget Freddy kirim WA, loh. Hampir setahun sekelas sama dia, baru kali ini dia kirim chat personal. Jadi deg-degan mau bukanya, kan...

Ada momen aku membeku selama beberapa detik setelah baca chat darinya. Lalu, aku harus kembali baca chat Freddy lagi, untuk ngeyakinin diri sendiri kalau aku ga salah baca dan ga salah ngerti. Ini dia serius, ngechat aku buat minta aku ke belakang sekolah? Heh, dia mau ngapain...?

"Ada yang penting. Ini ancaman. Jangan sekali-sekali bilang guru." Aku agak ketawa saat baca chat susulan dia. Bahasanya cringe banget. Yaudahlah, turutin dulu aja maunya apa.

Kubalas chat dia, masukin HP ke kantong jaket, lalu beresin barang-barang di meja. Sebelum aku keluar kelas, aku ngelirik ke dia. Yang dilirik langsung sadar, mata kami pun bertemu. Lagi-lagi, dia salting lalu menunduk malu.

"Lucu juga," gumamku, sebelum akhirnya pergi.

Freddy ini teman sekelasku yang keberadaannya seperti antara ada dan tiada. Dia ga pernah keliatan akrab dengan teman sekelasku yang lain. Anaknya juga suka menyendiri kalau lagi istirahat. Suka ngomong sendiri juga, dan suka pakai referensi anime yang dia adopsi jadi gestur sehari-harinya; kayak pakai umpatan jejepangan kalau lagi kesel sama orang, betulin kacamata pakai jari tengah, dan sebagainya. I could say... he's a freak.

Oh, tapi dia pinter kok. Seenggaknya cukup pinter untuk selalu ada dibawah levelku, yang selalu peringkat satu di segala lini akademik; sebut saja ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan semester, try out, bahkan tugas-tugas harian sekali pun. Makanya, aku selalu nyebut dia 'si nomor dua'. Aku ga bilang dia kurang pinter, memang akunya aja yang overpower.

Secara fisik juga dia ga menarik. Tingginya sama denganku, dan untuk ukuran remaja laki-laki seumurannya, dia termasuk pendek. Badannya ga atletis, tapi ga yang kurus banget juga. Fisiknya cenderung lemah, karena kalau pelajaran olahraga termasuk yang cepat tumbang di menit-menit awal. Penglihatannya juga buruk, makanya berkacamata kayak aku. Kulitnya memang putih, sih. Orangtuanya chindo, aku pernah liat waktu pembagian raport tengah semester. Ibunya cantik banget, gila! Glamor gitu. Ayahnya juga modis, badannya tegap dan atletis. Ganteng pula. Aku heran kenapa anaknya ga ngewarisin good looking dari ayah-ibunya.

Dan sekarang aku makin heran, kenapa juga dia minta ketemu di belakang sekolah? Segala pake ancaman, kan bikin akunya overthinking.

"Nomor du—ehem, Fred!" Aku jalan mendekat ke Freddy, yang sedang berdiri sambil nyender ke dinding. "Ada apa, sih? Katanya penting?"

"Ba-baka!" Freddy betulin letak kacamatanya pakai jari tengah, lalu celingukan ke sekitar. "Jangan berisik, nanti ada yang tau kita di sini!"

"Oh, sori." Sekarang, aku berdiri berhadapan dengan dia, sambil kedua tanganku masuk ke kantong depan hoodie. Lalu, aku ambil selembar permen karet, dan kuberikan padanya. "Nih, tadi beli dulu di kantin."

Sekilas, Freddy terpaku saat aku nyodorin permen karet. Lalu, dengan gestur ragu, dia ambil permen karetnya dari tanganku. "S-sankyu, Dea. Aku terima permintaan maafnya," katanya.

"Jadi, ada apa?"

Freddy masih diem. Gesturnya kikuk, kayak bingung mau ngapain. Akhirnya, dia rogoh saku celana, ambil HP. Dia utak-atik HP nya sebentar, lalu kasih unjuk aku sesuatu di layar HP. Awalnya, aku males-malesan ngeliat, tapi setelah ngelirik sekilas, mataku spontan melotot, dan mulutku membuka lebar.

"Heh, ngapain kamu ngevideoin aku?! Ini kapan ngerekamnya?!" tanyaku, panik. Aku berusaha meraih HP Freddy, tapi dia cukup cekatan buat menghindar. Atau, akunya yang ga cukup cepat?

Lagian, masa iya ga panik, kalau yang ditunjukkin Freddy itu adalah video aku yang lagi jalan di kelas, tapi ketangkep basah ga pakai celana dalam. Videonya diambil dari sudut bawah, jadi langsung bisa ngerekam isi rokku, yang dimana aku ga pakai celana dalam (malah sampai sekarang), karena celana dalamku sudah aku kasih ke Bu Siska. Tadinya aku mau nyangkal kalau yang di video itu aku, tapi karena rekamannya ga berhenti setelah merekam isi rok, tapi lanjut ke merekam aku yang lagi jalan sambil membelakangi kamera, makanya aku ga bisa berkutik. Siapa lagi cewek yang pakai hoodie di kelas tadi, coba?

"A-aku lagi rekam bahan materi belajar, te-terus... HP nya jatoh. Posisinya kamera belakang menghadap ke atas, terus ka-kamu lewat. Setelah kamu lewat, a-aku ambil HP, ternyata masih merekam. Ma-makanya, Dea... ini ga sengaja kerekamnya." Freddy kembali mengawasi keadaan sekitar, lalu balik natap aku. "Ta-tapi aku serius! Kalo kamu ga nurutin permintaan aku, video ini akan aku sebarin! B-biar se-seluruh sekolah tau, kamu ke sekolah ga pake ce-celana dalem!"

Aku coba inget-inget keterangan yang dikasih tau Freddy. Oh, inget. Saat jam pelajaran keenam, aku lagi ke meja salah satu temanku, pas HP Freddy jatuh tepat di depanku. Karena aku ga mikir aneh-aneh, ya aku langkahi saja HP nya. Kalau tau ternyata jadi begini, mending aku tendang saja HP nya tadi.

"Pertama, Fred, kalo kamu sebarin video itu, aku bisa lapor polisi. Pake UU ITE aja, udah cukup. Kedua, aku masih bisa ngeles soal ke sekolah ga pake celana dalem. Ngelesnya aku ga akan bikin terhindar dari rasa malu, iya betul, tapi seenggaknya persepsi orang bisa kugiring. Ketiga," aku keluarin HP dari kantong hoodie, tunjukkin layar HP ku ke dia, "Percakapan kita udah aku rekam. Aku nyalain rekaman dari sebelum ketemu kamu, jadi semua obrolan kita kerekam semua. Bisa bayangin kalo rekaman ini kesebar, nasib kamu gimana?"

Sekarang, gantian Freddy yang panik. Dia gelagapan dan ga berani tatap aku. Yaudah, aku lanjutin aja intimidasinya.

"Di momen ada cowok ngajak ketemu cewek di belakang sekolah yang sepi aja udah bikin curiga, jadi aku harus ngelakuin persiapan. Untuk jaga-jaga. Jadi, sekarang kita satu sama. Sampe sini kamu bisa ngerti, Fred?"

Freddy diem terus. Mukanya menunduk, dan kedua tangannya genggam erat HP. Karena aku merasa ga ada lagi yang perlu dibicarain, maka akunya mutusin untuk pergi. "Ga ada lagi yang mau diomongin, kan? Aku pergi, ya. Sampe ketemu besok di sekolah, nomor dua," kataku, sambil tersenyum tipis.

"A-aku serius! Kalo kamu pergi tanpa dengerin aku, akan aku sebar videonya! Ga apa-apa aku hancur, tapi kamu juga, kan? Seenggaknya, aku ga sendirian!" Wah, mukanya merah banget pas ngomong tadi. Napasnya juga tersengal. Ini dia lagi marah, grogi, atau campuran keduanya?

Denger ancamannya, aku jadi takut juga. Meski aku tau itu cuma gertakan, tapi ga ada yang bisa jamin dia ga kalap. Aku pun ngebayangin, betapa repotnya hidupku kalau rekaman aku ga pakai celana dalam kesebar. Lalu... ada dua bayangan orang yang berkelebat di kepalaku; Abi dan Umi.

"Yaudah, yaudah. Aku ga jadi pergi. Tapi sebelum itu," aku tarik napas panjang, lalu hembusin perlahan, "kita harus tenang dulu. Situasinya tense banget, ga, sih?"

"Se-setuju." Freddy pun ngelakuin hal yang sama. Setelah lebih tenang, dia ngomong lagi, "Aku mau sesuatu dari kamu, dan kamu harus turutin, Dea."

Aku tarik napas panjang sekali lagi. Di akhir hembusan napasku, aku tersenyum kecut. Aku bisa menebak arahnya kemana. Serius, aku cukup familiar dengan plot kayak gini; lewat film porno yang beberapa hari ini intens kutonton. Maka, kumasukkan HP ke saku rok, lalu dengan kedua tangan, aku naikin hoodie yang kupakai hingga melewati dada. Setelahnya, tanganku cekatan melepas kancing seragam dari baris kedua hingga paling bawah, bikin seragamku kebuka dan pamerin tetek beserta belahannya yang masih tertutup BH.

Freddy spontan bengong saat aku pamerin belahan tetekku ke dia. Matanya ga lepas dari bagian belahan. Segera saja aku tarik tangan kirinya, lalu aku buat mendarat di tetek kananku. Aku agak ngerasain sensasi tersetrum saat telapak tangannya menempel di tetek kananku, bikin degup jantungku jadi lebih cepat.

Tapi Freddy buru-buru tarik tangannya. Dia pun melotot ke aku. "Kamu ngapain, sih, Dea?!" tanyanya, setengah membentak.

Aku mengenyitkan dahi. "Loh, kamu mau badan aku, kan?"

Freddy menggeleng tegas. Dia bikin gerakan membuat tanda salib yang dimulai dari dahi, dada lalu ke tulang selangka kanan dan kiri, sambil menggumam pelan. "Engga, aku ga mau."

Ouch. Harga diriku tertohok sekali saat mendengar ada cowok yang ga mau badanku. Hei, ini badan yang bahkan bisa godain cewek dan transgender setengah mateng, loh!

"Serius? Bukannya tadi kamu minta?"

"Siapa yang bilang?"

"Kamu, lah—eh...," aku langsung mikir cepat, "Eh, kamu mah ga ngomong gitu, ya?"

Freddy ngangguk, terus diem. Aku jadi ikutan diem. Kami berdua diem, lama. Yah, kan... jadi awkward. Pipiku juga jadi panas karena menahan malu. Untuk beberapa saat, aku jadi bingung mau gimana.

"Ehem," aku buru-buru kancingin seragamku, dan turunin hoodie ke posisi semula, "Maaf, ya. Jadi... kamu mau minta apa, Fred?"

"Aku... aku mau kamu sengaja ngalah!"

"Maksudnya?"

"Nilai kamu... ja-jangan sampe lebih tinggi dari nilai aku. Mau nilai ulangan, nilai tugas harian, dan nilai ulangan semester nanti. B-bisa, kan?"

Aku langsung melongo. "Gitu doang? Serius?"

"A-apanya yang gitu doang?"

"Gampang. Consider it done. Yah, Fred... kalo cuma mau minta gitu aja, gausah pake ngancem-ngancem segala. Tinggal ngomong aja, kok."

"Ka-kamu ngegampangin permintaan aku?"

"Bukan ngegampangin," aku pun menepuk-nepuk pundaknya, "Tapi emang gampang. Yaudah, di sisa semester ini, aku akan ngalah. Aku ga tau motif kamu apa sampe minta hal kayak gini, tapi aku yakin kamu udah pikirin."

"Kok... kamu gampang banget setujunya?" Gantian, sekarang Freddy yang melongo.

"Hidupku banyak ribetnya, Fred. Kalo ada kesempatan bikin satu hal di hidupku jadi gampang, kenapa harus aku sia-siain? Udah, ya," aku pun pamit ke dia, "Ketemu besok. Bye. Oh iya, soal video tadi... jangan disebar, ya? I'll keep my promise, so you do yours."

Aku pun melenggang pergi ninggalin Freddy. Di sepanjang koridor, aku kembali mikirin permintaan dia. Setelah dipikir ulang, aku masih ga nyesel karena sudah sanggupin permintaannya. Fokus aku sudah banyak terbagi, dan kondisi mentalku makin sulit untuk diurus, jadi harus ada yang aku sisihkan dari daftar prioritas. Tau dong yang mana? Yap, belajar.

Sejujurnya, aku merasa penat hidup dalam aturan dan keteraturan, kekangan, dan berada di bawah kendali orang lain sebagai pemegang otoritas hidupku. Capek tau jadi siswi berprestasi yang harus memenuhi ekspektasi banyak orang. Aku ingin hidupku lebih longgar, dan bikin aku bisa bernapas lebih lega. Mungkin... sekarang titik baliknya.

Pas lagi ngelamun, tiba-tiba HP ku berdering. Oh, telepon dari Laras. Segera kuangkat saja.

"Yo, Ras. Kamu dimana?"

"Dea, maaf ga jadi pulang bareng. Gua dijemput sama Bapak," katanya, dari seberang telepon.

"Beneran? Foto, ya."

"Ih, posesif banget jadi cewek." Tapi sebelum Laras dapet omelan dariku, dia langsung sanggupin permintaanku. "Iya, iya, nanti gua fotoin. Daaah, Dea. Hati-hati pulangnya, yaaa!"

"Geura, Ras."

Telepon pun ditutup, dan semenit kemudian, aku dikirimi foto Laras lagi selfie dengan bapaknya. Wah, naik motor berdua sore-sore gini... enak banget, kayaknya. Aku jadi iri. Coba aja aku tiap hari diantar-jemput sekolahnya sama Abi, pasti aku ga akan mengalami nasib diperkosa orang dan berujung jadi maniak seks gini.

Oke, cukup sedih-sedihnya. Sekarang lakuin rencana cadangan. Ke ruang guru, aaaah. Mumpung deket. Siapa tau masih ada Bu Siska. Eh, kebetulan banget orang yang diomongin baru saja keluar dari ruang guru. Dari gesturnya sih, kayaknya dia juga mau pulang.

"Loh, Dea? Ga jadi pulang bareng Laras?" tanya Bu Siska, keheranan.

"Engga, Bu." Aku pun langsung menggandeng lengannya. "Mau pacaran aja."

Bu Siska langsung panik. Dia celingukan ke sekitar, lalu setelah dirasa keadaan aman, dia pun menyambut gandenganku. Sepanjang jalan menuju parkiran, senyum lebar ga ada habis-habisnya terkembang di wajah Bu Siska.

"Jadi mau ke rumah kamu?" tanya Bu Siska. Nadanya lembuuut banget.

Aku langsung mengangguk mantap. Lalu, aku segera bisikin dia, "I miss you, tau. I really want your pussy to grind my face back and forth. Will you, Bu?"

Bu Siska langsung tersipu, hahaha. Mukanya juga jadi merah karena malu. Tapi dia jadi senyum-senyum sekarang, dan aku suka banget ngeliat Bu Siska senyum gini.

Senyum yang sama lebarnya juga terkembang di wajahku. Tapi kadang ada liur yang ga sadar menetes keluar, karena sekarang isi otakku penuh dengan hal-hal binal yang mau aku lakuin dengan Bu Siska nanti, saat di rumahku.


———​


Lagi-lagi, ranjangku jadi saksi bisu akan momen zina panasku dengan orang yang berbeda. Setelah pertama kalinya dengan Pak Jumadi, lalu Fah, dan sekarang dengan Bu Siska. Aku jadi makin merasa bersalah sama Abi dan Umi, karena kalau mereka ga ada, rumahnya aku pakai untuk berzina.

"Deaaaa... kamu belajar ngejilat memek... uuhhh, uuuhhh... dari mana, siiihhh? Enak bangettt dijilatin sama kamu, tuhhh..."

Haruskah aku jawab? Sekali pun aku mau, nyatanya aku ga bisa. Mulutku disumpal memek Bu Siska, yang sekarang sedang dudukin mukaku. Yaudah, bisa apa aku selain bikin Bu Siska mengerang-erang dengan jilatanku?

"Deaaa, Deaaa... clitnya... aahhh, ahhh... clit Ibu jangan dijilatin teruuusss... aahhh, aahhh, ahh, ahh, ahh, ahhh... uuhhh... ngghhh... uuuhhh... oohh, Deaaa, ahh, ahh... ahhh... Ibu keluar, Ibu keluar... aahh, ahh... yess... yeeesss... mmmm... OOOHHH—DEAAAAAA!!!"

Aku yang terjebak diantara kedua pangkal paha dan selangkangan Bu Siska, ga bisa kabur saat Bu Siska mengerang dan menggelinjang akibat orgasme pertamanya. Mukaku jadi basah karena Bu Siska dengan ganasnya gesekin memeknya ke sekujur muka, karena ingin menghindar dari jilatanku yang masih terus menarget bibir memek dan klitorisnya.

Aku pun ga tinggal diam. Kupegangi pinggangnya erat-erat, sambil lidahku terus menari-nari di bagian selangkangannya. Aku ga peduli dengan kondisi Bu Siska yang masih dilanda orgasme, atau suara bergetarnya yang memohon supaya aku berhenti jilatin memeknya. Karena aku tau, kalau aku terus ngejilatin memek Bu Siska, maka...

"DDDEEEEAAAAA... AAHHHH... AHHH... AHHHH... IBU KELUARRR LAGIIII, NIIIHHH!!!"

Orgasme susulan melanda Bu Siska, dengan rentang waktu hanya selisih beberapa menit dari yang pertama. Kali ini, orgasmenya disertai pipis bening yang bermuncratan amat kencang, langsung ke mulutku. Ga pakai pikir panjang, langsung ku sedot dan ku telan habis pipis Bu Siska. Mmmhh... rasanya enak banget, dan ga bau pesing. Pipis karena squirt memang yang terbaik!

Karena aku belum berhenti jilatin memek Bu Siska, meski orangnya sendiri sampai mohon-mohon sambil blingsatan ga karuan, aku jadi bisa terus-terusan sedot cairan yang keluar terus dari memeknya. Aku bahkan bikin Bu Siska orgasme lagi, untuk yang ketiga kali, keempat kali, kelima...

"AAAHHH, AHHH, AHHH... DEAAA, ENAK BANGET, ENAK BANGET, MULUTNYA ENAK BANGETTT... OOOHHH... NGGHHHH... MULUT PACAR IBU INI KOK BISA ENAK BANGETTT GINI SIHHH...?!!! DDDEEAA, DDEEEAAAA... MAAF, MAAF... AHHH, AHHHNGGG... IBU PIPISSS... AHHH, IBU PIPIS LAGIIIII!!!"

Total enam kali Bu Siska multi orgasme, saat aku jilatin memeknya, sebelum dia akhirnya tumbang ke samping, lalu tiduran pasrah di ranjang. Aku yang sudah terangsang sampai bikin kepala pusing, langsung sigap bangun dan ciumin bibir Bu Siska dengan ganas. Bibir kami pun saling mengulum, dengan lidah saling beradu dan bertukar liur.

"Uuuhhh... Bu... let me try something, ya?" ucapku, sebelum mencaplok bibirnya lagi.

"Ehh... apa, nih? Ahhh, ahhh... wait, Ibu masih lemesss..."

Tapi ga aku dengerin permintaannya. Aku segera beralih ke bagian bawah badan Bu Siska. Lalu, ku rentangkan kedua pahanya, bikin memek Bu Siska terekspos jelas. Memek tanpa bulu karena waxing ini menggoda banget untuk ga dianggurin gitu aja. Jadi, ku angkat kaki kanannya, lalu aku selipin kakiku di bawahnya, jadi paha kanannya menindih paha kiriku, dan paha kananku yang gantian menindih paha kirinya. Sambil aku tarik kaki kanannya dan memposisikan selangkanganku di antara kedua pahanya, aku pun rebahin diri di posisi menyamping sehingga posisi kedua paha kami saling mengapit selangkangan satu sama lain, dengan memek yang menempel erat.

"Ffffuuuuuccck! Gila, ini sih enak banget rasanya... Bu Siska... enak banget kena memek Ibu... ahhhh..."

Sensasi saat bibir memekku menempel dengan memek Bu Siska tuh enak luar biasa! Memekku bisa ngerasain permukaan memek Bu Siska yang legit, lembut, dan basah. Padahal baru nempel gini aja, tapi rasanya aku sampai mau klimaks gara-gara rasa geli dan enak pada memekku.

Aku belajar posisi ini dari film porno. Di film-film porno bergenre lesbian, posisi ini seringkali jadi posisi terakhir saat dua orang cewek sedang ngeseks. Mereka sebut ini... scissoring; karena posisinya memang kayak dua gunting yang saling membuka, lalu pangkalnya saling beradu. Karena keseringan nonton film porno lesbian untuk bahan riset, aku jadi hafal polanya; kalau mereka mulai ngelakuin scissoring, berarti sudah mau selesai ngeseksnya.

"Dea, Deaaa... nanti dulu, memek Ibu masih sensitif... ahhh, ahhh, ahhh... oohh, Deeaaaaaa..."

"Ya ga apa-apa, Buuuu... dinikmatin aja, yaaa? Enak, ga? Uuhh, Buuu... memek aku enak banget pas gesekan gini sama memek Ibu, mmmhhh... aaaahhh..."

Sambil goyangin pinggul untuk gesekin memekku dengan memek Bu Siska, aku pun meluk kaki kanannya yang merentang di sampingku. Goyanganku sendiri sudah ga jelas arahnya kemana; kadang maju mundur, menyamping, atau goyang memutar. Bu Siska cenderung pasif, cuma bisa remas sprei sambil mendesah heboh. Ih, mageran nih si Ibu, mah. Mentang-mentang sudah orgasme sampai enam kali.

Tapi serius deh, adu memek kayak gini ternyata enak banget, woy! Makin digesekin, malah makin licin karena cairan pelumas kami berdua keluar terus tiap dapet rangsangan. Seringkali, klitoris kami berdua juga bergesekan. Bisa bayangin, ga, kalo clit ketemu clit tuh rasanya gimana? AKUNYA SAMPAI MENGGELINJANG SAKING ENAK BANGET RASANYA, ANJIR! Malah akunya sampai ngiler saking ga kontrol diri gara-gara cuma fokus ngerasain enak di memekku.

"Bu, Bu, Bbbuuu—fuckk, fuckk, ahh, anjinggg, memeknya... memeknya... ooohhhh—ffffuuuuccckkk, memeknya enak banget anjingggghhh! Aku mau keluar, Buuu! Aku mau, ahhh, ahhh, ahhh... aku mauuuuu..."

"Ihhh, nanti duluuu... nanti, ahh... ahhh... Ibu baru ngerasa enak banget, ahhh... nnngghhh... ja-jangan keluar duluuu, Deaaaa...!"

Gesekan memekku pada memek Bu Siska mulai ga terkontrol. Gerakanku bahkan jadi heboh banget sampai bikin ranjangku berderit keras. Ah, bodo amat! Ini enak banget, gilaaa! Pas lagi ganas-ganasnya ngegesekin memek, orgasmeku datang tanpa aba-aba. Biasanya tuh, orgasmeku datang dalam bentuk perasaan nikmat bergulung-gulung yang selalu muncul kalau aku mau orgasme. Yang sekarang ini, rasanya kayak ada perasaan meledak yang datangnya tiba-tiba banget, bikin badanku spontan tersentak lalu menegang sambil gemetaran tipis-tipis.

Ahh... ehhh... aku ga bisa kontrol diriku sendiri, nih! Memekku masih terus-terusan gesekin memek Bu Siska, meski orgasmeku ini justru bikin memekku jadi sensitif banget. Ini bikin aku serba salah, karena selain merasa keenakan, tapi aku juga tersiksa sama rasa gelinya yang menjalar ke seluruh badan. Tapi badanku ga mau berhenti karena saking nagih sama rasa enak dan sensasi geli menyiksanya. Auuhhh... tolongin, doooong!

"Dea, Dea, Dea... ooohhhh... memeknya, memeknya gesekin teruuuusss... Ibu ga kuat, ahhh, ahhh, ahhh, uuhhh... oouuuhhh... Ibu ga kuat, Ibu mau keluar jugaaa... yahhh, terus Deaaa... teruuuusss...."

"Bu, Bu, aku pipisss... aku pipisss... maaf memeknya aku pipisin, yaaa... aahhh, ahhh, ahhh... oooohhhhh... nggghhhh... ffffuuucccckkk... keluar, ahhh... keluuuaaarr pipisssnyaaaaaa...."

"DEAAAAA, GILA SIH INI ENAK BANGETTTT! IBU... IBU... AHHH, AHHH... IBU KELUARRR... IBU KELUARRRR... LAGIII... NNGGGHHHHH..."

GILAAAAA AKU ORGASME LAGI, DONG! Kali ini lebih acak-acakan, karena bareng sama pipis yang bermuncratan ga karuan di memek Bu Siska, malah saking derasnya sampai keluar-keluar dan kena ke pangkal paha kami berdua, juga perut Bu Siska. Badanku kembali menghentak-hentak, yang bikin memekku jadi makin heboh gesekin memek dia. Apalagi Bu Siska juga lagi orgasme. Tiap hentakan badanku langsung direspon otomatis dengan hentakan badannya yang sama hebohnya denganku. Kondisi ini berlangsung sampai beberapa menit, hingga akhirnya orgasme kami mereda. Ninggalin napas tersengal dan badan yang sesekali gemetar karena geli.

Aku dan Bu Siska pun merebah lemah di atas ranjang. Masih dalam posisi memek saling menempel, kami bahkan ga punya tenaga untuk beranjak. Setelah beberapa menit istirahat, Bu Siska akhirnya bergerak. Dia sekarang duduk, tapi memeknya masih ditempelin ke memekku, dan paha kami pun masih saling mengapit. Lalu, dia angkat kaki kananku untuk dia taruh di bahunya.

Kan aku jadi makin ngangkang, ya, makin kebuka lah memekku. Eh, Bu Siska malah makin nempelin memeknya, bikin aku menggelinjang geli. Dia juga peluk paha kananku, sambil mulai... ahhh... mulai... goyangin pinggulnya...

"B-Buu...?"

"Gantian, ya... mmhhh... Ibu yang goyanggg... auuhhh... makin licin gini, makin enak..."

Aku cuma bisa pasrah saat Bu Siska gantian menggesek memekku. Aku juga disajiin visual yang bikin aku makin horny; Bu Siska dan ekspresi binalnya, juga tetek gedenya yang berguncang-guncang saat dia bergoyang. Sadar kalau aku ngeliatin teteknya terus, Bu Siska justru sengaja meremas tetek dan mainin putingnya sendiri. Dia bahkan bisa hisap putingnya, sambil sengaja gesekin tetek satunya ke kakiku.

"Ahhh, ahhh... Bu... kok jadi binal gini, sih?" tanyaku, disela desahan liarku yang mulai ga kontrol lagi.

"Suka, gaaa? Mmhh..."

"Banget, Bu! Sukaaa... banget, ahhh..."

Bu Siska lalu pegang kaki kananku, dia tekuk hingga telapak kakiku menghadap ke mukanya. Tau apa yang dia lakuin? Dia emut jari-jari kakiku, dong! Udah, deh, aku ga bisa mikir apa-apa lagi. Aku cuma bisa remesin tetek sendiri sekarang, sebagai respon dari rangsangan nikmat di memek dan jari-jari kakiku. Ngeliat aku remesin tetek, Bu Siska malah lebih liar lagi. Goyangannya jadi makin cepat, dan dia juga jilatin telapak kakiku, lanjut ke tumit, betis hingga ciumin lututku. Aku makin ga kuat menahan rasa enak bercampur geli ini...

"Kali ini... ahhh, ahhh... Ibu mau benerannn... nginep, yaaa?" tanyanya, tiba-tiba.

Aku tersenyum lebar, lalu mengangguk penuh semangat. "Biar... ahh, uuhhh... bisa pake aku... semaleman, kan? Ooohhh... Buuu... gesekan memeknya enak bangeeeettt... Aku ketagihan banget sama goyangan Ibu, nngghhh..."

"Iya, iyahhh... Ibu mau pake kamu sepuasnya, mau pake kamu semaleman... oohhh, uuuhhh... teruuusss... nanti kita izin ga masuk aja... biar bisa lanjut ngentot... ahhh, ahhh... lagi dari pagi... gimana?"

"Mauuu, mau banget! Iyahhh, pake aku, Bu, pake sepuas Ibu! Lecehin aku, ahhh, ahhh... aku kan mainan Ibu, yang... ooohhh... yang bisa dipake kapan ajaaaaa... Kalo pacaran tuh... ahhh, uuuhhh... gitu, kan? Pacarnya bisa jadi pemuas nafsu, kan, Buuu...?"

Bu Siska jadi gemes setelah denger omonganku. Dia makin cepet gesekin memeknya, yang bikin aku makin ga karuan mendesah dan menggelinjang. Memek kami juga sudah basah banget, karena tiap Bu Siska ngegesek, ada bunyi berkecipuk gitu. Ih, seru banget, sih!

Duh, aku semangat banget, nih! Jadi ngebayangin kalau kami akan gesek-gesek memek semalaman, lalu tidur... terus lanjut lagi paginya, terus siangnya, sorenya... fuck! Ngebayangin aja bikin aku pengen pipis lagi, gilaaaa!

Hari pertama pacaran aja udah bisa seliar ini. Gimana kedepannya, ya?


———​


Aku terbangun karena mendengar ada suara berisik yang aku masih belum tau arahnya dari mana. Mataku pun mengerjap, mencoba sadar sepenuhnya meski rasa pusing akibat kurang tidur masih terasa banget di kepala. Kutajamkan pendengaran. Kukira... suara berisik itu asalnya dari arah belakang. Dari dapur, tepatnya.

Eh, aku baru sadar kalau Bu Siska ga ada di ranjang. Jadi luas soalnya. Berarti yang bikin berisik di dapur tuh dia, ya? Uuuhh... tidur lagi, deh. Masih ngantuk...

Belum sampai masuk ke fase mimpi, aku merasa ada yang mengusap-usap pipiku. Mataku pun mengerjap beberapa kali. Di hadapanku, sekarang duduk seseorang yang masih terus mengusap pipi dan membelai rambutku. Agak burem kalau baru bangun, apalagi ga pakai kacamata. Hadeh.

"Sayang... bangun, yuk."

Aku mengerjap lagi, lalu maksa untuk melek sepenuhnya. Ternyata Bu Siska. Cuma pakai BH dan celana dalam. Rambut sebahunya tergerai lemas, ikut bergoyang tiap kali dia ngelakuin pergerakan.

"Uuuhhh... Ibu bangun dari kapan?" tanyaku, sambil kucek-kucek mata.

"Ih, kok masih manggil 'Ibu', sih? Kan semalem kita udah sepakat, manggilnya pake 'aku-kamu'."

"Oh, iya. Lupa." Aku pun mencium pipinya sebagai tanda maaf. "Ehem. Good morning, Yang!"

"Manis banget sih pagi-pagi! Jadi makin sayang!" Bu Siska spontan meluk aku erat-erat.

Jadi... seingetku, ditengah-tengah sesi ngentot semalam, Bu Siska mau aku ga manggil dia pakai embel-embel 'Ibu' lagi kalau lagi berdua. Katanya, biar lebih intim. Padahal, kalau ngomongin intim, yang aku lakuin sama dia kurang intim dari mana? Tapi, yaudah... aku turutin maunya, meski agak canggung diawal. Selanjutnya sih malah jadi kinky, karena ada sensasi yang bikin horny saat aku manggil orang yang statusnya guruku dengan sebutan mesra.

Dan aku suka banget!

"Sayang, kalo mau sarapan, bilang ya. Aku udah masakin, nanti tinggal aku anterin ke kamar aja," kata Bu Siska. Lembuuuut banget ngomongnya. Sambil usap-usap pipi lagi.

Sekarang terjawab, deh, alesan ada suara berisik di dapur tadi. Sumpah, enak banget punya pacar! Pagi-pagi sudah ada yang masakin. Kalau begini, sih, akunya ketagihan pacaran. Hahahaha.

"Ehhh... aku ambil sendiri aja, ga apa-apa, beneran."

"Ga, dong. Kan kamu lagi capek. Istirahat dulu, ya. Biar aku yang urusin." Bu Siska pun kecup bibirku. Pelan dan mesra. "Kalo nanti masih capek juga, izin sekolah aja. Gimana?"

Aku spontan ngeliat jam dinding. Masih jam lima. Kalau aku kejar mandi dan siap-siap berangkat, masih keburu sebetulnya. Tapi aku juga mengiyakan kata-kata Bu Siska; aku masih capek banget, setelah semalaman dipakai habis-habisan sama dia. Ga kehitung juga sudah berapa kali aku orgasme, aku sudah lost count saat orgasme yang kelima.

"Ibu sendiri—eh, maksudnya... kamu sendiri, gimana? Mau ke sekolah hari ini?"

Bu Siska angkat bahu. "Ada beberapa yang mesti diurus, sih. Tapi ga terlalu penting juga. Bisa dipending. Kalo kamu ga masuk, aku juga ga masuk," katanya, lugas.

Loh, kok pengambil keputusannya jadi di aku? Ini yang lebih dewasa sebenarnya siapa, sih? "Aku kayaknya males masuk, Yang. Tapi... mau aku paksain dulu aja. Kalo ga masuk, nanti absensinya jadi jelek. Kamu ikut?"

Bu Siska ga jawab. Dia malah senyum sambil usap-usap kepalaku. Lalu, dia pun kecup pipiku, sambil bilang, "Tuh kan, Dea emang teladan. Nanti semoga di kelas dua belas, wali kelasnya aku, ya. Biar bisa ngawasin langsung."

"Ih, ga nyangka banget kita bisa gini ya hubungannya." Aku pun ketawa geli, disusul Bu Siska yang juga ketawa. Lalu, aku beranjak dari ranjang, sambil tarik tangannya. "Mandi bareng, yuk? Masih ada waktu kalo mau..."

Aku sengaja ga selesein ucapanku, juga lepas tarikan tanganku. Masih dalam keadaan telanjang bulat, aku dengan santainya keluar kamar, menuju kamar mandi. Tentu saja, di belakangku ada Bu Siska yang mengekor. Belum sampai pintu kamar mandi, punggungku sudah habis dia kecup secara sporadis.

"Emmhh... ini mandi bareng pertama kita, ya?" tanyaku, sambil buka kaitan BH Bu Siska.

Sementara aku sibuk buka kaitan BH, Bu Siska justru lagi pelorotin celana dalamnya. Sekarang, dia sudah setengah telanjang. "Akan ada mandi bareng lain, kan?" tanyanya, lembut di kupingku.

"Iya, dong!" Oh, BH nya berhasil aku lepas. Kini tetek gede Bu Siska menggantung bebas, menggodaku untuk menjamahnya. "These are mine?"

Bu Siska pun mendorong aku ke dalam kamar mandi, lalu dia ikut masuk, sebelum akhirnya menutup pintunya secara perlahan. Di dalam, dia langsung menarik kepalaku hingga mukaku terbenam di belahan teteknya. Oooh, wangi aromanya kuat banget, bikin aku langsung horny. Sambil peluk aku, dia pun berbisik di kupingku, "All yours, Sayang. I'm all yours."

Awww... seneng deh, punya pacar yang romantis gini. Meski sama-sama cewek, sih. Tapi aku ga ngeliat ada masalah dari hubungan sesama cewek gini. Atau, akunya yang sudah ga normal?

Segera kukesampingin pikiran asalku, dan kembali fokus ke bongkahan lemak dan daging bertekstur lembut yang dibalut kulit mulus ini. Kayaknya, aku mesti buat cupangan lain, deh. Karena sebanyak apa pun, ga akan cukup untuk menghias tetek Bu Siska.

Seneng banget ga, sih, punya pacar yang badannya seenak ini? Well, lucky me.


———​


"Yang, aku masuk sekolah dulu, ya?" tanyaku, sambil melepas seat belt.

Yang ditanya langsung senyum. Pas aku mau salim, eh tanganku malah ditepis. Dia pun ngomel, "Kalo sama pacar tuh jangan salim, tapi gini..."

Ehhh, aku langsung dicium. Tepat di bibir. Kubalas ciumannya, dan kami sedikit beradu lidah dan bertukar liur sebelum kami menyudahinya. "Sampe ketemu di sekolah, Sayaaang!" ucapku, sebelum keluar dari mobil.

Aku sengaja minta diturunin di Pasar Pondok Labu. Hematku, akan menimbulkan kecurigaan kalau kami ke sekolahnya barengan. Meski banyak yang bisa jadi alesan, sih. Tapi aku ga mau ambil resiko. Lagian, Bu Siska juga akan telat. Dia harus pulang dulu ke rumah untuk ganti daleman. Soalnya yang dia pakai dari kemarin itu celana dalemku, itu pun agak sempit di dia jadi ga nyaman. Sementara aku ga pakai seragam ketat kayak kemarin dulu, untuk kasih kesan bahwa yang kemarin memang kondisi darurat dan bukan akunya yang caper.

Oh iya, nanti ada ulangan Matematika. Aku sih yakin bisa ngerjain, tapi aku sudah janji buat ngalah sama Freddy. Jadi nanti sengaja disalah-salahin aja. Masalahnya, dia bisa dapet nilai sempurna ga, ya?

Well, the rest is his problem, though.

Haaah... ini menyenangkan. Aku suka dengan dinamika kehidupanku yang sekarang. Ga selalu bersih, malah lebih banyak kotornya. Tapi seenggaknya aku menikmati hidupku; baik dan buruknya. Aku merasa lebih bebas, dan engga lagi terlalu terikat pada prinsip-prinsip warisan yang didoktrinkan kepadaku. Akan selalu ada konsekuensi, dan aku yakin, aku akan memetiknya suatu saat nanti. Tapi aku mau terus maju.

Aku mau menerima dan menikmati hidupku, tanpa penyesalan dan dendam. Kayak... yaudah sih kalo udah ga perawan, dan ga apa-apa juga kalo malah berakhir jadi orang yang hiperseks. Like the wise man once said, "Everything happen for a reason", kan? As for the reason... I'll figure it out somehow.

Oh iya, ngomong-ngomong soal hiperseks, aku baru nemu istilah untuk cewek yang punya kelainan seks jenis itu; di dunia medis, mereka disebut... nymphomania.
==========

==========
Chapter 18 — There's Always First Time for Everything






Ga kerasa sih, masa belajarku di kelas sebelas sudah mau berakhir. Minggu depan tuh sudah ujian semester. Justru karena makin dekat ujian ini, aku makin khawatir. Bukan ujiannya yang jadi kekhawatiranku, tapi peringkatku saat pembagian raport nanti. Karena dari awal semester nilai-nilaiku selalu bagus dan teratas di kelas, bahkan di seluruh jurusan IPA, aku jadi takut kalau pun aku sengaja bikin nilaiku jelek saat ujian semester, tapi hasilnya masih tetap bagus juga.

Kok kesannya kayak aku lagi nyombong, ya? Ih, tapi beneran kepikiran ini, mah.

Gini, gini... kalau peringkatku masih paling atas, artinya aku gagal turutin permintaannya Freddy, terus kalau orangnya ngambek, nanti video aku ke sekolah ga pakai celana dalam bisa-bisa disebar sama dia. Bukan berarti aku ga punya rencana cadangan untuk ngebalesnya, sih. Tapi aku cuma ga mau repot sama dampak yang berpotensi ditimbulkannya aja.

Makanya, aku ajak Freddy ketemuan di belakang sekolah lagi sore ini. Karena aku sudah tiba duluan, jadinya aku mesti nunggu si nomor dua, yang belum ada tanda-tanda mau datang juga. Tapi setelah sepuluh menit nunggu, akhirnya dia datang, kok.

"D-Dea, ada apa?" tanya Freddy, pas baru sampai. Ga ada basa-basinya ini orang.

"Minta maaf dulu, kek, karena bikin aku nunggu," balasku, ketus. Aku melototin dia sambil kedua tangan terlipat di dada.

"K-kan ga ada detil kita ketemunya d-di jam berapa, jadi aku pikir ga apa-apa u-untuk catat materi dulu di kelas. Ka-kalau posisinya dibalik, aku juga ga akan keberatan nunggu duluan."

"Oh, iya. Bener juga." Di momen ini, aku mulai mempertanyakan apakah aku beneran lebih pinter dari dia atau cuma faktor hoki saja. "Fred, aku mau nanya, nih. Tapi sebelumnya, aku mau jelasin situasinya dulu."

"Tanya apa?"

Lalu, aku pun ngejelasin kekhawatiranku lebih dulu ke dia. Tentang nilai raport dan kemungkinan peringkatku nanti. Aku pastiin untuk pilih kata-kata yang mudah dimengerti dan ga multi tafsir, jadi Freddy ga akan salah paham. Setelah selesai ngejelasin, aku pun bertanya, "Kalo kondisinya kayak gitu, gimana? Pasti peringkat tuh ga diliat berdasarkan nilai ujian semester aja, kan?"

Freddy tampak mikir. Mukanya serius banget. "Bener juga. Aku ga mikir sampe kesitu, Dea. Tapi kan nilai kita ga jauh beda, seharusnya nilai kamu turun sedikit udah bisa bikin aku di peringkat satu, dong?" tanyanya, setelah melalui serangkaian proses mikir.

"Bener. Aku sependapat. Tapi disini letak masalahnya. Aku bisa aja sengaja ga dapet nilai sempurna, masalahnya... kalo kamu juga ga dapet nilai sempurna, ya sama aja boong, kan?"

"My average score is 9, Dea. That shouldn't be the—"

"—Of course that will be the problem," potongku, "Mine's 10. Aku ga pernah ada salah di semua aspek tugas dan ujian akademik tiap mata pelajaran eksak (beneran, bahkan di ulangan Biologi dadakan kemarin aja, aku bener semua meski aku ga yakin sama jawaban essaiku). Let's say I give you handicap, but how do you fill the gap?"

Freddy diem lagi. Nah, kicep kan dia. Aku mah sampai overthinking mikirin ini, eh dia baru kepikiran. Ga visioner ini orang! Untungnya, aku mikirin masalah berikut dengan solusinya. Jadi, aku usulin satu ide ke dia.

"Aku punya solusi. Ini simpel banget," kataku, penuh keyakinan.

"Apa?"

"Kita belajar bareng. Gimana? Dengan belajar bareng, aku jadi bisa bantuin kamu untuk make sure kamu dapet nilai sempurna pas ujian nanti."

Freddy melongo. Satu detik, dua, lima... sepuluh detik dia melongo setelah denger ucapanku. Setelah otak bekunya mulai mencair dan dia bisa mikir lagi, dia pun ngerespon, "Kenapa aku harus belajar bareng sama sainganku?"

"Dih. Yang dari awal anggap kita saingan kan kamu doang. Aku sih engga. Lagian," aku pun melangkah maju, berusaha lebih deket ke dia, "Aku mau urusan diantara kita cepet selesai. Dari sekian banyak solusi, aku mikir ini yang paling efektif supaya kamu bisa dapet peringkat pertama."

'Tetep aja, ini tuh ga bisa diputusin mendadak..."

"Bisa. Mulai besok, tiap pulang sekolah kita belajar bareng. Kalo kamu keberatan belajarnya di rumah kamu, bisa kok di rumah aku, atau dimana aja yang menurut kamu nyaman."

"Ta-tapi, De—"

"—Ga pake tapi. Percaya sama aku, kamu ga akan ketemu cewek sebaik aku, yang udah di-blackmail tapi masih mau bantuin orang yang ngancem dia. Udah, ya, aku pulang duluan. Ketemu besok, Fred," aku potong omongannya, sekalian pamit pergi. Lagi-lagi, Freddy aku tinggalin sendirian, persis kayak minggu lalu saat pertama ketemu di belakang sekolah.

Begitu aku sampai di gerbang sekolah, aku pun liat sekitar. Cari seseorang. Pas banget, ada bapak-bapak tambun pakai jaket ojol sedang melambaikan tangan ke aku. Segera, deh, aku samperin dia. Saat sudah dekat, aku bisa liat kalau dia senyum kepadaku.

"Udah lama nih ga liat si Eneng," ucap si bapak ojol. Aku masih hafal banget nada bicaranya yang terkesan melecehkan ini.

"Dapet barangnya, Pak?" tanyaku, buru-buru. Aku ingin mastiin sesuatu, karena ini berhubungan dengan langkah selanjutnya yang akan aku ambil.

"Dapet, lah. Namanya juga langganan, stoknya diadain terus," balasnya. Dia pun merogoh kantong jaket, lalu keluarin sebuah botol kecil untuk diberikan ke aku. Tapi buru-buru aku tolak.

"Di rumah aja kasihnya, Pak. Rame di sini." Aku pun ambil helm yang dia sodorin, lalu aku naik ke jok belakang motornya. "Pak Jumadi udah makan? Kalo belum, nanti mampir dulu ke warung makan Padang. Makannya di rumah saya aja tapi, ya?"

"Wih... mantep banget, Neng. Jadi seneng sayanya."

"Iyalah seneng, kan abis makan nasi Padang, gantian makan saya."

"Mau, dong! Udah lama banget, nih, saya ga ngerasain Eneng."

"Makanya saya ajak Pak Jumadi ke rumah. Kayak engga tau aja maksudnya apa," aku menepuk pundaknya, sebagai tanda kalau aku sudah siap jalan, "Saya bosen, Pak, akhir-akhir ini cuma ketemu timun aja."

Denger keluhanku, Pak Jumadi cuma ketawa ngakak. Lalu, dia nyalain mesin motor, terus lajuin motornya dengan kecepatan sedang, ninggalin area sekolahku.


———​


Begitu sampai rumah, aku segera persilahkan Pak Jumadi untuk parkirin motornya di car port, sementara aku buka kunci pintu. Saat pintu membuka, aku pun masuk dengan Pak Jumadi yang mengekor di belakang. Kerasa banget tangannya yang mulai usil, sedang ngeremesin pantatku. Aku diem aja, berusaha memaklumi tingkah kurang ajarnya.

"Pantatnya kayaknya makin semok, Neng." Pak Jumadi langsung duduk di sofa, sambil satu tangannya terus remesin pantatku. "Iya, bener. Tambah mantep, nih."

"Iya. Gara-gara diremesin sama orang-orang, Pak."

"Wih," Pak Jumadi terperanjat, dia bersiul kagum sebagai respon atas balasanku, "Kok jadi liar banget sekarang, Neng?"

"Ini kan gara-gara obatnya situ, Pak. Bikin saya jadi cewek binal yang akhirnya ngentot sana-sini. Ga enak tau, saya jadi repot hidupnya, Pak."

"Sori, deh, Neng," katanya, sambil buka plastik kresek berisi sebungkus nasi Padang, "Tapi nikmatin, kan?"

Aku ga jawab, jadinya aku cuma ketawa ringan sebagai respon. Lalu, aku pun duduk di sampingnya, ngeliatin dia makan. Aku sengaja belinya cuma sebungkus, karena aku sendiri sudah masak untuk diriku sendiri tadi pagi. Aku ga mau dia makan masakanku, soalnya kalau sampai makan, aku jadi merasa seperti istrinya yang suguhin dia makan setelah pulang kerja.

"Pak, saya mau pipis dulu, ya."

Pak Jumadi ngangguk, lalu lanjutin makan. Khidmat banget. Iyalah, lauknya kikil sama cumi, gimana ga bikin nikmat makannya? Kirain dia masih tau diri pas diajak beli nasi Padang, karena tau kalau akan aku bayarin. Eh... malah pesan yang mahal-mahal. Ngerampok dompet pelajar ini, sih, namanya.

Saat lagi pipis, aku mikirin ulang keputusanku yang mengajak Pak Jumadi ke rumah. Aku tau banget keputusanku akan berakhir kemana. Pasti ujung-ujungnya ngentot, nih. Tapi aku sudah siap. Meski kontol Pak Jumadi bukan favoritku, tapi punya dia yang paling tersedia sekarang. Tadinya aku sudah ajak Fah, tapi dia bilang beberapa minggu ini akan sibuk, jadi ga bisa main sepulang sekolah.

Aku juga sudah eneg banget sama timun, yang akhir-akhir ini aku jadiin alat masturbasi. Kayak... butuhnya daging asli, nyolok-nyolok sampai dalem ke memekku. Perkara ga dapet kontol saja bisa bikin aku frustasi banget, loh.

Aku juga mulai menghindari Bu Siska per hari ini. Bukannya ga sayang, perasaanku ke dia masih menggebu-gebu, kok. Iyalah, baru seminggu pacaran, jelas masih onfire. Yang aku hindari cuma hobinya yang suka ajak aku ke hotel. Karena ujung-ujungnya pasti akan ngeseks, dan aku gregetan kalau ngeseks sama Bu Siska. Soalnya, nanti aku akan kepengen banget ada kontol yang nusuk memekku, dan Bu Siska ga punya itu.

Apa minta dia buat beli dildo aja, ya? Biar lebih variatif kalau ada improvisasi gini. Tapi... ide itu kusimpan untuk nanti. Fokus dulu saja sama yang tersaji di depan mata. Lalu, kututup sesi brainstorming ini dengan menceboki memekku.

Selesai pipis, aku sengaja ga pakai celana dalam lagi. Aku juga putusin untuk lepas BH, kemudian pakai seragam lagi. Setelahnya, aku pun bercermin di kaca wastafel. Kupandangi diriku dan seragam yang kupakai. Tuh, gimana ga bikin horny orang lain, coba. Udah jilbaban, berkacamata, mukanya polos padahal binal, anak sekolahan, ga pakai daleman pula.

Saat keluar dari kamar mandi, aku ngeliat Pak Jumadi yang lagi cuci tangan di keran cuci piring. Udah ga ada sungkannya ini orang di rumahku. Lalu, dia ambil gelas dari rak perabotan, kemudian ambil minum di dispenser. Aku sih ngeliatin aja sambil melipat tangan di dada.

Setelah gelas yang ketiga, Pak Jumadi menyudahi minumnya. Eh, dia baru sadar ada aku yang lagi ngeliatin, dong. "Seret banget ya, Pak? Minumnya ga nyantai gitu," tanyaku, sambil tersenyum meledek.

"Ah, bisa aja si Eneng. Abisnya saya ga disuguhin minum sih, Neng. Jadi ambil sendiri, kan," jawabnya, sambil terkekeh geli.

Aku pun tersenyum sinis. "Ga, Pak, saya kapok suguhin minum ke Pak Jumadi. Nanti dikasih obat perangsang lagi."

Pak Jumadi ga jawab apa-apa. Dia malah ketawa lepas saat dengar omongan sinisku. Lalu, dia kasih botol kaca yang tadinya mau dia kasih ke aku saat di depan sekolah. "Buat apaan, sih, Neng?" tanyanya.

"Ada, deh."

"Pasti buat ngerjain orang, ya, Neng?" tanya dia lagi. Kepo amat ini orang.

"Kalo iya, emang kenapa, Pak? Emang Pak Jumadi aja yang boleh cekokin orang?" Sekilas, hatiku tersentak akan omonganku barusan. Aku merasa sudah berubah dari korban menjadi pelaku, yang, kini resmi masuk ke lingkaran setan.

Lagi-lagi, dia ketawa lepas. Dia pun merogoh kantong jaketnya lagi, keluarin plastik obat berwarna biru. Dari plastik obat itu, dia ambil sebutir tablet, untuk dikasih ke aku. "Nih, Neng. Biar ga melendung. Diminum dulu, ya," katanya.

"Apaan nih, Pak?"

"Pil KB. Takutnya Neng lagi masa subur. Jaga-jaga aja." Aku langsung bengong, dong. Beliau ini ternyata bukan sembarang beliau. Pemain diantara pemain ini, mah. Segala sedia pil KB juga, apa ga takjub tuh akunya.

Lagian, kalau sampai bawa-bawa pil KB, berarti ini sih dia memang niat mau keluarin di dalem. Tapi aku memang butuh obatnya. Kupikir, fisik dan mentalku belum siap untuk hamil. Maka, kuminum obat pemberiannya, lalu meneguk segelas air putih sebagai pendorong.

Setelahnya, Pak Jumadi langsung beralih ke belakangku, dan dengan sigap langsung remesin pantatku lagi. "Ga pake celana dalem, ya, Neng?" tanyanya, sambil bersiul.

"Engga, Pak. Ribet." Aku berusaha menjauh darinya, tapi Pak Jumadi justru langsung mendekapku. Tangannya langsung bergerilya di bagian dadaku. "Pak, di kamar aja, yuk."

"Ga ah, Neng. Saya udah ga tahan." Dia pun mulai meremasi kedua tetekku. Karena ga pakai BH, jadi lebih gampang baginya untuk meremas dan nemuin putingku. Sambil dipilin-pilin, dia juga gesek-gesekin selangkangannya ke pantatku. "Duh, Neng... pantatnya kenyal banget, sih! Pengen saya caplok aja!"

"Caplok gimana, sih, Pak—eh, eh... Pak, mau ngapain?"

Sumpah, meski badannya tambun, tapi gerakannya gesit juga. Aku yang ga sempet mengantisipasi pergerakannya karena baru terhanyut rasa enak pada kedua putingku, baru sadar kalau dia sudah naikin rokku sampai pinggang. Terus, pahaku ditarik, jadinya aku nungging sekarang. Pas aku nengok ke belakang, Pak Jumadi sudah jongkok, dan mukanya pas banget ada di depan pantatku.

Ga pakai lama, dia langsung mencaplok pantatku. Dijilat dan digigit juga, sambil satu tangannya remesin bongkahan pantat yang lain. Duh, remesannya enak. Mau ga mau, aku jadi nikmatin, kan...

"Neng, mmmhh... ssllurrpp... mulus banget, sih, pantatnya? Putih lagi, kayak pantat model. Cuma punya Neng mah berisi banget, semok, Neng!" komentarnya, disela kegiatan menjilati pantatku.

Pas lagi enak-enaknya nikmatin remasan dan jilatan dari Pak Jumadi, aku kok merasa lidahnya makin lama makin geser, ya? Aku juga merasa kalau bagian selangkanganku lagi dibuka. Spontan aku nengok lagi. Aku pun ngeliat dia sudah ada di depan selangkanganku.

"Ehh, Pak... ih, engga, ah... itu mulutnya bekas cumi, Pak—nngghhhh..."

Terlambat. Lidahnya sudah mendarat persis di bibir memekku, yang langsung dia jilatin dengan liar. Aku ga dikasih kesempatan untuk mencerna situasi. Yang aku tau, sekarang aku lagi ngerasain memekku keenakan karena dijilatin Pak Jumadi dari belakang. Uuuhh... tiap jilatannya bikin aku gemeter, tau!

"Mmm... slluurrp... aemmm... Neng, memeknya wangi banget. Sedep, deh. Terus ini udah basah juga. Aemmm... saya jilatin sampe kering, ya, Neng?"

"Mmm...mana bisa, Paaaakkkhhh... aahh, aaaahhh... yang ada, mmm-malah... tambah basaaahhh..."

Aku ga tau sudah berapa lama Pak Jumadi jilatin memekku. Karena yang aku fokusin cuma rasa enak yang lidahnya kasih. Aku bahkan nurut aja saat dia minta aku lebih nungging lagi, supaya dia bisa lebih leluasa jilatin memekku. Setelah aku menungging, dia jadi bisa masukin jari ke dalem memek, sementara lidahnya jilatin klitorisku. Ini bikin lututku jadi lemas dan gemetaran.

"Paaakk, Paaakk... uuuuhhh... enak banget... nggghhh... lidahnya enak banget, sih, Paaaakk? Jarinya juga... ooohhh... aahhh, aahh..."

Aku ga tau dia lagi ngapain di belakangku, karena aku lagi mendongak sambil merem sebagai efek dari rasa nikmat yang dia kasih di memekku. Yang aku rasain sekarang, cuma jarinya aja yang main-main di dalem memekku, menggelitik semua sudut dindingnya. Jadilah aku makin menggelinjang keenakan.

"Uuuhhh... Pppaakk—eh? K-kok dicabut, sih—"

Racauanku terhenti oleh sensasi ganjil pada bibir memekku. Kayak lagi ditempelin benda tumpul. Lagi-lagi, aku nengok ke belakang. Tapi belum sempat nengok, mukaku sudah mendongak ke atas akibat rasa enak yang tiba-tiba menjalar dari lubang memekku ke seluruh tubuh. Ternyata memekku dimasukin kontolnya Pak Jumadi...

"Aaaaaa... k-kontol... aaahh, aaaaa... ada kontol masuk... nngghhh..."

"Duuhh... Neng, masih sempit banget, ngegrip gitu memeknya, hahhh... haahhh... kontol saya bisa-bisa ga kuat lama, nih!"

"Yyyaa... gapapa, Pak. Nanti kalo udah kuat lagi, masukin lagi aja... yang penting, ooohh... yang penting saya dikontolin, Paaakkkhhh..."

Uuuhh.. aku kangen banget sama kontol, sumpah! Keluar, masuk, keluar, masuk... meski ada rasa yang ga dapet kalau pake kontolnya Pak Jumadi, tapi sensasi dinding memekku digesekin pakai kontol gendutnya sudah cukup bikin aku keenakan. Aku jadi mulai goyangin pantatku, sebagai respon tiap kali dia sodokin kontolnya.

Tangan Pak Jumadi juga ga bisa diem. Kadang kedua tangannya mencengkeram pinggulku, supaya dia bisa lebih terarah saat sodokin kontolnya kuat-kuat. Kadang kedua tangannya grepein tetekku dan mainin putingnya, kadang juga gantian sebelah tangannya ke bawah untuk mainin klitorisku. Pokoknya, apa pun yang dia lakuin ke badan aku, aku cuma bisa pasrah sambil mendesah keenakan.

"Aaaa... aaa... Pppaaakk, saya... uuuhh, uuhh, saya mau pipisss... gimana, nih? Mau keluar, Paaakk... mau pipiisss... ga tahan, nngghh... udah ga tahannnn..."

Denger racauanku, Pak Jumadi justru makin heboh ngentotin aku sambil mainin klitorisku lebih cepet lagi. "Pipis aja, Neng. Hooohh, pipisss... basahin aja lantainya... gapapa, sok keluarin aja, ya," katanya.

"IYAHHH, IYAHHH... AUUHHHH, NGGHHHHH... PIPPPIIISSS... SAYA PIPISSS, PAAAKKK... SAYA PIPIISSSS... OOOOHHH... NNGGHHHH..."

Yaudahlah, aku klimaks. Orgasmeku datang dibarengi pipis enak yang langsung mengalir deras basahi lantai. Tapi Pak Jumadi ga pengertian sama sekali. Memekku yang lagi sensitif banget karena orgasme, justru makin kenceng dia sodokin. Dia bikin aku jadi blingsatan heboh dan meracau ga karuan. Beneran tega!

Aku pun pipis berkali-kali dibuatnya. Lantai yang kupijak jadi becek banget. Mana lututku masih gemeteran. Kalau kakiku sudah ga kuat napak, bisa kepeleset pipis sendiri, tau. "Pak, Pak... udah dulu, udah duluuuu... ahhh, ahhh... ih, beneran, Paaakkk," teriakku, disela gempuran kontolnya pada memekku.

Untungnya, Pak Jumadi mau dengerin. Dia pun cabut kontolnya, pelan-pelan... dan begitu terlepas, aku langsung jatuh terduduk. Badanku otomatis meringkuk karena menahan kejang yang sesekali masih ada dari sisa-sisa orgasme. Ngeliat akunya lagi meringkuk, Pak Jumadi justru malah ketawa. Ih, ya, sumpah ini orang jahat banget!

"Ihhh, Pak! Saya tuh kalo lagi klimaks sampe pipis gitu, jangan malah disodokin terus, dong! Ga kuat saya tuh nahan gelinya, Pak! Apalagi sambil berdiri, lemes nih dengkul saya!"

Bukannya merasa bersalah setelah aku ngomel, ketawa dia malah makin kenceng, dong! Sebel banget, sumpah! Kalau saja badanku ga lemes gini, dia sudah aku pukul sekuat tenaga.

Tapi ujung-ujungnya, dia bantuin aku untuk berdiri, sih. Aku kira mau dipapah ke kamar, eh taunya badan aku diputer sampai belakangin dia, terus punggungku didorong sambil pinggangku ditarik. Jadinya aku nungging lagi, dan badan atasku jadi bertumpu pada meja dapur. Pak Jumadi pun langsung gesekin kontolnya ke memekku, dan ga pakai aba-aba...

"Ahhhhhhnnnggg... Pppak, kok dientot lagii, siiihhh?"

"Maaf, Neng, maaf bangettt... saya udah ga tahan... hhhh... hhhaaahh..."

Memekku yang sudah becek banget ini justru mempermudah Pak Jumadi buat sodokin kontolnya. Makanya, dia naikin frekuensi sodokannya. Lagi-lagi, aku terhanyut dalam kenikmatan darinya. Badanku yang tadinya bertumpu di meja dapur, spontan bangun dan langsung nempelin punggung ke dada si bapak. Ga berhenti sampai disitu, tangan kiriku bergerak melingkar ke belakang lehernya. Sambil aku menengok ke belakang, kutarik kepala Pak Jumadi, lalu aku lumat bibirnya yang kasar. Mmmhh... bau rokok! Tapi karena sudah keburu horny, kunikmati saja permukaan bibirnya yang kini sudah basah oleh liurku.

"Mmmhh... mau... oohh, oohh, ludahnya, Paaak... kasih ke aku," ucapku, sambil membuka mulut dan menjulurkan lidah.

Pak Jumadi nurut. Dia tetesin liurnya lewat ujung lidahnya, langsung ke mulutku. Dalam kondisi normal, aku pasti jijik banget. Tapi karena lagi dientotin gini, akunya justru jadi tambah horny kalau dapet liurnya dia. Setelah liurnya kutelan, aku pun melumat bibirnya lagi. Kali ini ditambah lidahku yang aktif ajak lidahnya untuk saling membelit. Tangan Pak Jumadi pun perlahan pindah ke tetekku. Kedua bongkah daging itu dia grepein dengan kasar. Malah akunya jadi horny banget saat jari-jarinya cubitin kedua putingku kuat-kuat. Agaknya, makin aku dikasarin, malah makin suka.

Setelah agak lama dia ngentotin aku dari belakang, Pak Jumadi tiba-tiba cabut kontolnya. Jelas, aku langsung kebingungan, dong! Baru mau protes, eh badanku diputar lagi. Sekarang, aku jadi berhadapan dengannya. Pak Jumadi lalu angkat sebelah kakiku, sementara dia masukin lagi kontolnya ke memekku yang merekah. Sambil tangan kirinya menopang paha kananku, tangan kanannya bertumpu pada meja dapur, dan pinggulnya bergerak maju-mundur, memompa memekku.

"Seksi banget dientot pake seragam gini, sih, Neng!" Dia pun mempreteli kancingku, jadi kedua tetekku sekarang beneran bebas terekspos. Sambil grepein salah satunya secara bergantian, dia berkomentar lagi, "Ini tetek juga makin montok aja. Siapa aja yang udah megang, Neng?"

"Ahhh, ahhh... sama Pak Jumadi... jadi tiga orang, kok."

"Termasuk yang, hhh... hhh... guru Eneng yang ketemu di depan hotel itu?" Saat aku mengangguk pelan, Pak Jumadi ngomong lagi, "Doyan ngelesbi, Neng? Liar banget Neng Dea, sekarang. Wah, wah... jadi kagum saya."

"Ahhh, hhhh... iyahh, Pak, saya doyan kontol... tapi, ngghhh... doyan memek jugaaaa..."

Mata sayuku pun lekat memandangi Pak Jumadi, sambil bibirku sengaja merekah. Sengaja aku pancing dia supaya menciumku, yang memang pancinganku ampuh, sih. Bibirku pun dia lumat dengan ganas, sampai liur kami bercampur dan belepotan di sekitar mulutku.

Aku ga tau berapa lama dia entotin aku diposisi sekarang, tapi belum ada tanda-tanda dia mau keluar juga. Sementara aku sudah kalang kabut tiap kali kontol gemuknya nyodokin memekku. Ga ada lagi yang bisa aku lakuin selain pasrah menerima tusukan kontolnya, ya paling imbasnya desahanku jadi makin liar aja, sih. TAPI TUMBEN BANGET, SIH, INI ORANG TUA LAMA KELUARNYA? Kakiku udah lemes banget loh ini, tolonglaaaaaah!

Makanya, gara-gara lututku lemes banget, aku jadi kehilangan keseimbangan, terus ambruk ke lantai. Meski Pak Jumadi megangin kaki kananku, tapi tetap saja ga bisa menahan bobot tubuhku sepenuhnya yang tiba-tiba ambruk. Aku beneran sudah lemes banget. Eh, bukannya dibiarin istirahat, aku malah dipaksa bangun. Badanku sampai dipaksa diangkat. Ih, bener-bener, deh! Jelas akunya nolak. Aku sampai harus pakai sisa tenagaku untuk singkirin kedua tangannya, terus menjauh darinya dengan cara merangkak.

Menyedihkan banget...

Saat lagi merangkak, aku ngerasain kalau rokku yang sempat agak turun, disingkap lagi ke pinggang. Astaga, bahkan aku mau dientot dia dengan posisi lagi merangkak gini, dong? Aku berusaha menjauh, tapi pinggangku dia pegang dan tahan.

"Pppaak... sebentar, ihhh... saya lemes bangettt... nanti malah ga nikmatin, ya? Sebentar, yaaaaa?"

Pak Jumadi ga menggubris. Lalu, aku ngerasain kontolnya lagi digesek-gesekin di bibir memekku, dimasukin sesekali, dikeluarin, digesekin lagi ke area sekitar lubang pantatku, kemudian masuk ke memekku lagi. Aku pun dientot kasar beberapa saat sampai aku mengerang keras-keras saking ga kuat menahan rasa nikmatnya.

"PAAAKKK, PPPAAAAKKK... AAUUHHH... AAAHHH... PAAAKKK, AHHH, NANTI DULUUUU... AHHH, AHHH, NGGHHH... OOHH, OOHH, IYAHHH... DISODOK... AHHH, DIENTOTIN MULUUU... AHHH, MEMEK SAYA GA KUAT, MEMEK SAYAAAA—eehhh?"

Aku spontan kebingungan pas dia cabut kontolnya. Duh, mana lagi enak-enaknya. Otomatis aku pun lebih menungging supaya Pak Jumadi mau masukin kontolnya lagi. Eh, berhasil! Aku seneng banget di dalam hati, saat ngerasain kontolnya sudah nempelin memekku lagi. Tinggal tunggu dimasukin aja....

Wait? Kok malah geser ke...

"Ehhh, eehh... Pak, mau ngapain? Itu salah lobang, loh. Memek saya tuh ke bawah lagi..."

Dia diem aja. Malah kontolnya yang masih aktif menekan-nekan lubang pantatku. Tekanan kontolnya juga kuat, aku bisa ngerasain kalau sedikit demi sedikit, lubang pantatku semakin membuka tiap kali Pak Jumadi mendorong kontolnya.

"Pppakkk? Saya belum pernah di—nnngggghhhh... PAAAAKKK, SAYA JANGAN DIANAAAAL!"

Terlambat. Aku bisa ngerasain sebagian kontolnya sudah ngelewatin lubang pantatku, dan sekarang sedang nikmatin pijatan otot-otot pada rektumku. Rasa ngilu dan sakit pun seketika menjalar ke seluruh pantat, pinggang, paha dan punggung, sebelum akhirnya menjalar ke seluruh tubuh. Eh... tapi cuma sebentar. Sehabis itu, rasa sakitnya hilang, dan tersisa rasa ngilu yang cuma terasa samar, karena ajaibnya, otot-otot rektum dan lubang pantatku yang berkontraksi justru memberiku rasa enak yang ga pernah aku rasain sebelumnya.

Aku bahkan takjub kalau ternyata aku bisa ngelakuin anal semudah ini! Aku pikir, ada dua faktor utama kenapa ini jadi mudah; latihan tiap hariku selama seminggu lebih dengan butt plug yang Fah kasih, serta pelumas alami dari cairan memekku pada kontol Pak Jumadi, dan yang dia olesin di lubang pantatku.

"Gilaaaaa, sempit bangetttt, Neng! Kalo gini, beneran cepet keluar saya, mah!"

"Eehhh? Tahan dulu, Paaakkk... saya baru dapet enaknya, hhhh... jangan keluar duluuu..."

Pak Jumadi pun neken kontolnya lagi, bikin kontol gemuknya masuk lebih jauh menjelajahi rektumku. "Saya usahain, Neng! Tapi ga janji, yaaaahhh...," katanya.

Setelah beberapa kali keluar masuk, sekarang kontol Pak Jumadi sudah mulai lancar ngentotin lubang pantatku. Selama proses itu pula, rasa enak yang aku rasain meningkat berkali-kali lipat, bikin mataku sampai juling ke atas saking baru kali ini ngerasain euforia dianal, dan ternyata enak banget banget banget! Saat sudah lancar dianal pun, rasa enak itu ga hilang, malah terus meningkat.

"Paakk, oohh, oooohhh... nggghhh... terusss... terusss... enak banget dianal, Paaakkk... saya ketagihannn... ahhh... ngghhh... lagi, lagiii... aahhh, ahhh, auuhhh... saya pipisss... ooohhh... pipiiissss..."

Aku ga bisa hitung sudah keberapa kalinya aku pipis. Yang pasti, saat dianal, aku jadi lebih mudah orgasme. Rasa mules pada perut dan ngilu di rektumku malah mengamplifikasi rangsangan yang kuterima, sehingga bikin aku ngerasain sensasi nikmat yang ada di level berbeda. Tiap beberapa tusukan, pasti aku orgasme sampai pipis. Lantai dapurku jadi seperti tergenang rembesan air kulkas yang bocor, karena saking banyaknya volume pipisku yang menggenang. Gawat, nih, kalau terus-terusan begini, aku bisa dehidrasi!

"Neng, Neng... saya mau keluarrr... hhhhh... ini... keluarin dimanaaa?"

"Terserah, terserah, keluarin aja, bebas, Pak! Keluarinnnhhh... analin saya teruusss... perkosa anus saya, Pakkk... iyahhh, aaahhh... ahhhh... ngghhhh..."

Tiba-tiba, Pak Jumadi raih kedua lenganku yang lagi aku pakai sebagai tumpuan badan. Dia tarik tanganku, bikin badanku ambruk ke lantai. Pipi dan tetekku pun menempel dan bergesekan dengan ubin, akibat dari badanku yang ikut bergerak tiap kali dia mendorongku. Saat kedua tanganku ditarik ke belakang, bikin badanku jadi lebih bisa menahan sodokannya yang makin kuat. Ini berimbas ke sodokan kontolnya yang melesak lebih jauh lagi pada rektumku. Lalu...

"NENG, SAYA KELUARIN DI DALEM PANTAT, YAAAAAA!"

"NGGGHHHHH, HAAAHHH, AAAHHH, AAAAHHH, OOOHH... OOOHHH... GILAAA, ENAK BANGET, ENAK BANGETTT, DIANALIN PAK JUMADI TUH ENAK BANGEEEEETTT! LAGI, PAAKKK, LAGIII... MAU DIPAKE ASAL-ASALAN SAMA BAPAK LAGIII... OOOHHH, OOOHHH, OOOHHH... KELUARIN AJA PAK, KELUARINNNN SEMUANYAAAA... KASIH KE SAYA, KELUARIN DI DALEM SEMUANYAAAAAAA...!!!"

Aku ngerasain kontol Pak Jumadi yang dia sodok dalam-dalam ini, sedang berkedut-kedut di rektumku. Bersamaan dengan itu, gelombang orgasmeku yang kesekian kalinya ini pun datang dan meledak-ledak. Saat ini, sistem vaskular, saraf, dan endokrin di tubuhku kayaknya mencapai puncak performanya, deh. Soalnya, gelora gabungan dari badai dopamin, endorfin, dan oksitosin yang bergemuruh saat menyebar liar ke seluruh tubuhku ini masif banget. Aku jadi merasa penuh dan hangat. Rasa ngiluku hilang. Otot-otot panggulku pun jadi rileks dan menegang pada pergantian yang luar biasa cepat. Aku... aku merasa terlalu penuh. Aahh... ini menyenangkan! Aahh, ahhh... euforianya ga bisa aku atasi! Otakku jadi penuh dengan sensasi nikmat yang ga bisa aku jelasin! Gilaaaaaa... aku kenapa, sih? Aku jadi merasa bergairah banget! Aku ketagihan sama sensasinya! Terus. Ayo, terus. Hormon-hormonku, mengamuk sepuasnya! Bikin aku lebih gila dari ini! Aku ga peduli, aku cuma bisa ngerasain bahagia dan enak sekarang!

"AAHHH... KONTOL... KONTOL TUH ENAK BANGETTT... OOHH, OOHHH... SAYA KELUARRRHHH... AAHHH, AHHH... PIPISSS LAGIIII... MAAF, MAAF JADI BECEK BANGET... AHHH, NGGGHHH... UUHH, PIPISSS... MMFFFF... AAAAAAHHHHHHH~♡♡♡"

Badanku bener-bener ga terkendali saat dilanda orgasme ini. Aku meracau dan mengerang sekerasnya, dan aku ga peduli kalau ada orang lain yang dengar. Aku bahkan sampai menjilat-jilat lantai, menjilati liur yang mengalir tanpa sadar dari sisi bibirku. Mulutku membuka, menerima pipis beningku yang bermuncratan sampai ke muka. Aku pasti sudah gila karena mau-maunya meneguk pipis orgasmeku sendiri. Tapi aku sudah ga tau harus gimana lagi. Otakku sudah menyerah pada kenikmatan ini.

Pak Jumadi ngebiarin badanku menggelepar ga karuan, sambil dia tetap memegangi dan menarik kedua tanganku. Di akhir momen orgasmeku, badanku pun mulai melemas. Lalu, aku melunglai, sampai akhirnya diam dengan napas terengah-engah. Saat melihatku sudah lebih tenang, dia pun lepasin kedua tanganku, serta menarik kontolnya dari lubang pantatku. Pelan-pelan... dan dibuat senyaman mungkin. Ada rasa menggelitik dan enak saat kontolnya perlahan ditarik, dan melewati bibir lubang pantatku. Rasa itu mencapai puncaknya saat kepala kontolnya akhirnya tercabut, dan aku pun kembali orgasme kecil. Badanku jadi gemetaran lagi, tapi karena lemas, aku cuma bisa pasrah saja.

"Sampe kapan mau nungging gitu, Neng?" tanya Pak Jumadi sambil terkekeh geli.

Ih, aku juga ga mau nungging terus gini! Cuma karena akunya juga ga punya tenaga buat bergerak, jadinya ya cuma bisa nungging. Eh, tiba-tiba Pak Jumadi meraih badanku, dan aku dibuat duduk bersandar di kulkas. Lalu, dia pun ninggalin aku untuk pergi ke kamar mandi. Mau bersih-bersih, kayaknya.
==========

==========
Di momen begini, aku pikir serotonin sedang bekerja di otakku. Jika dopamin, endorfin, dan oksitosin bekerja barengan demi memberi efek bahagia, euforia, merasa intim dan bergairah, juga meredakan rasa sakit dan nyeri... maka serotonin adalah hormon yang bekerja secara mandiri. Setelah orgasme mereda, baru deh dia kejar target. Pelepasan serotonin ke otak mengakselerasi otakku untuk menekan depresi dan perasaan sedih, rendah diri, kecewa dan perasaan negatif lainnya yang bisa banget timbul sehabis ngeseks.

Seharusnya aku sedih sekarang, karena aku ga berhasil menepati janji ke Fah, kalau aku akan kasih dia first time analku. Harusnya aku kecewa, karena orang yang beberapa minggu lalu memperkosaku justru lagi-lagi memperawani lubang pantatku, setelah dia juga berhasil dengan lubang yang satunya. Tapi aku merasa baik-baik saja sekarang. Aku merasa tenang. Malah terkesan ceria, karena sejujurnya aku merasa senang di dalam hati, karena dapetin pengalaman anal yang enak banget. Emosiku ga meledak-ledak. Stabil dan terjaga dengan baik. Kayaknya, serotoninku ini berkualitas banget, deh.

Aku pun benerin letak kacamataku yang sempat ga pada posisinya saat tadi dianal Pak Jumadi. Pelan-pelan, aku bangkit. Saat bergerak, rasa ngilu kembali hadir di panggulku. Tapi cuma samar-samar, atau akunya saja yang sudah lebih terbiasa?

Ada satu hal yang kembali terlintas di kepalaku. Sebuah pertanyaan. Apakah aku memang punya bakat untuk jadi seorang hiperseks dan obat perangsang dari Pak Jumadi membangunkannya dari kondisi dorman, atau gara-gara obat perangsangnya yang punya efek kuat makanya aku jadi seorang hiperseks? Aku ga tau jawabannya, dan mungkin masih belum bisa jawab dalam waktu dekat, tapi ada satu hal yang aku yakini: obat perangsangnya punya andil penting.

Lalu, timbul pertanyaan lainnya: apa yang terjadi padaku kalau aku mengkonsumsi obat perangsang itu secara terus menerus? Aku pun masih belum tau jawabannya, tapi aku tergelitik untuk mencari tau. Yap, cuma ada satu cara untuk cari taunya...

"Neng," Pak Jumadi yang baru keluar dari kamar mandi, kasih aku botol kaca berisi cairan bening lainnya, "Cadangan saya, buat Neng aja. Itung-itung terima kasih saya, karena udah bolehin nganalin Eneng."

"Siapa yang bolehin? Situ yang maksa-maksain, tau!" omelku padanya. Lalu, aku menyambut sodoran tangannya, mengambil botol kaca itu. "Untung enak pas dianalnya, kalo engga, pasti saya udah senewen banget sekarang."

Yang diomelin, cuma bisa cengar-cengir, merasa ga bersalah. Beneran bikin kesel ini bapak-bapak.

"Pak, pernah mikir, ga, kalo hormon di badan kita itu kompleks banget cara kerjanya?" tanyaku, tiba-tiba. Tentu saja, dia cuma bisa bengong. "Terus... pernah mikir juga, ga, gimana kalo hormon-hormon itu ternyata bisa dimanipulasi, dikonteks ini, digandakan jumlah produksinya? Misal, lewat suplemen atau... obat tertentu."

"Duh, saya mah ga ngerti Neng Dea ngomong apa," responnya, sambil garuk-garuk kepala.

"Kalo ternyata bisa digandakan jumlah produksinya, maka kualitas fungsi dari hormon itu bisa ga jadi naik berkali lipat dari nilai awalnya? Atau... cuma produksinya aja yang membludak, tapi fungsinya tetap sama? Ini yang mau saya cari tau." Aku pun membuka tutup botol yang sedang kugenggam. Dalam satu momen, kuminum habis isinya, bahkan sebelum Pak Jumadi sempat bereaksi. "Kalo hipotesis saya bener, bahwa obat ini mengamplifikasi jumlah dan kualitas kerja hormon seksual saya... kayaknya saya akan terus butuh Pak Jumadi, deh."

"Saya beneran ga ngerti Eneng ngomong apa, tapi kalo Neng butuh saya, mah, ya saya siap banget. Tapi jangan sering-sering minum obatnya, Neng. Nanti takut kenapa-kenapa."

Wah, iya. Dia beneran ga ngerti apa yang aku omongin dari tadi.

"Pak, sebelum obatnya bekerja, saya mau nanya, nih." Aku pun deketin dia, makin deket, sampai tetekku menempel di dadanya. "Mau pulang aja, atau nemenin saya? Kalo nemenin, berarti mesti ngentotin saya terus-terusan. Soalnya... saya sekarang... mulai horny lagi, Pak..."

"E-eh... saya pulang aja, deh, Neng. M-mau kasih setoran ke bini," katanya, gugup.

Agaknya, Pak Jumadi gentar juga. Sejauh aku kenal dia, staminanya ga sekuat itu, kok. Kalau sudah ejakukasi, butuh waktu agak lama sampai dia bisa terangsang lagi. Waktu pertama kali itu saja, dia sampai kewalahan karena aku minta terus. Makanya, mungkin dia trauma kali ini akan sama kayak waktu itu.

Buru-buru dia pergi ke ruang tamu, ambil tas slingnya, lalu pamit pulang. Setelah beresin seragamku yang acak-acakan, aku pun anterin dia sampai pagar. Setelah motornya melaju pergi, ada rasa kecewa yang merayap di hati. Beneran, aku pengen banget dianal lagi. Cuma aku ga mau pakai timun di kulkas. Aku butuhnya kontol, dan satu-satunya kontol berprospekku hari ini baru saja pulang.

"Yaudahlah, mau gimana lagi. Adanya cuma timun," rutukku, sambil berbalik menuju rumah.

Tapi baru saja mau masuk, aku mendengar ada suara piring berdenting yang nyaring. Asalnya dari jalan. Spontan aku nengok ke belakang, dan ngeliat ada tukang siomay yang mengendarai sepeda dengan gerobak kecil di jok belakang sedang melewati jalan depan rumahku. Secepat kilat mataku mengobservasi. Kayaknya penjualnya masih muda, deh. Kurus, mukanya ga ganteng tapi seenggaknya bersih dan segar, dan penampilannya cukup rapi. Oke, skornya lumayan. Bisa nih buat diprospek.

Kalau niatnya sudah jelek, memang ada saja jalannya, ya. Tipu daya setan ini memang luar biasa.

"Bang!" seruku, sambil melambaikan tangan ke arahnya. Sambil melangkah, aku berseru lagi, "Mau somaynya, dong."

Bagai agen MLM yang sudah dapat pembekalan latihan, aku melangkah dengan penuh percaya diri. Aku tau, kalau diliat dari dekat, pasti tukang siomay ini akan sadar kalau aku ga pakai BH di balik seragamku. Tapi aku ga peduli. Kan tujuanku memang mau godain tukangnya.

Lagipula, kalau aku bisa tahan dengan Pak Jumadi, seharusnya tukang siomay ini juga ga masalah. Secara postur dan muka, masih lebih mending dari Pak Jumadi, kok. Yang perlu aku lakuin sekarang berusaha bikin dia tergoda.

"Makan di sini apa dibungkus, Teh?" tanyanya. Dia pun turun dari sepeda.

"Di sini aja, tapi pake piring Abangnya, bisa?"

"Bisa dong, Teh—"

Sesaat, si tukang siomay terdiam pas aku sudah berada persis di depannya. Kutangkap matanya langsung menyisir penampilanku dari atas sampai bawah, lalu ke atas lagi dan berhenti tepat di dadaku. Meski pakai seragam yang longgar, aku yakin, kok, masih bisa keliatan jelas kalau aku ga pakai BH. Sadar aku perhatiin, dia jadi salting sendiri. "M-makan sini kan, Teh? Beli berapa?" tanyanya, grogi.

"Beli dua puluh ribu, ya. Campur aja. Oh iya, Bang," aku membuka pagar kecil, "Dimasukin aja sepedanya, bikinnya di sini. Soalnya saya makannya agak lama. Abang bisa santai dulu di teras. Nanti bayarnya saya lebihin, deh. Gimana?"

"E-eh, ga usah, Teh. Beneran, saya di sini aja. Ga enak kalo sepedanya masuk."

"Justru saya yang ga enak kalo Abang nunggu di luar. Beneran, ga apa-apa. Panas kalo di luar, seenggaknya kalo di halaman kan ada kanopi, Bang."

"Beneran, nih? Ya-yaudah kalo gitu, mah." Aku mau ketawa ngakak saat denger ada gemetar dalam suaranya. Kayaknya grogi banget nih abangnya. "Misi, ya, Teh..."

"Iya, Bang. Oh iya, saya mau masuk dulu, mau ganti baju. Nanti tolong anterin kalo udah jadi, ya. Makasih, Bang."

Saat aku sudah di kamar, aku lepas seragamku. Kemudian, disusul jilbab, ciput, lalu kubiarkan rambut lepek dan kusutku tergerai. Heboh banget lepeknya. Pasti gara-gara dientot Pak Jumadi tadi, nih. Setelahnya, aku pun bercermin.

Sejenak kupandangi tubuh telanjangku. Ngeliat sekilas saja, aku sudah bisa sadar ada yang berbeda. Tetekku jadi agak turun, tapi gedenya masih sama. Eh, apa malah tambah gede, ya? Tapi kalau soal bentuknya yang agak turun, aku pikir gara-gara makin berat. Lagian ga masalah juga, sih. Bentuknya masih padat dan kenyal, kok.

Ahhh... tapi putingku jadi agak pucat. Warnanya sudah ga secerah dulu. Ini pasti karena keseringan dieksploitasi.

Oh, iya. Harus buru-buru ganti baju. Jadi lupa kalau itu tujuan utamaku ke kamar. Awalnya, aku bingung mau pakai baju apa. Kalau pakai kaos dan celana, rasanya kayak kurang menggoda. Sementara aku juga ga punya kostum nakal yang sengaja dibikin untuk kasih pandangan menerawang ke tubuh pemakainya. Tunggu sebentar...

Kalau baju yang menerawang, sih, aku punya!

Segera kuambil mukena yang tersampir pada capstock di balik pintu. Sepasang atasan dan bawahan mukena hitam, yang bahannya tipis jadi menerawang banget kalau dipakai. Kupakai saja tanpa pakai daleman lagi. Lalu setelah selesai, aku pun keluar kamar. Pas banget ada suara ketukan di pintu depan. Pasti dari abang siomaynya.

"Ya, Bang? Makasih udah dianterin, yaaa," ucapku, sambil melangkah ke pintu.

Bohong kalau aku bilang biasa saja saat pakai mukena kayak gini. Jantungku berdegup kencang banget. Rasanya kayak ada drum band di dadaku. Pemikiran bahwa cuma ada kain tipis sebagai pemisah antara tubuh telanjangku dan mata si abang siomay, sudah cukup bikin aku deg-degan parah. Tapi aku juga merasa semangat banget dan penasaran apa yang akan terjadi padaku nanti. Ini jadi bikin aku tambah horny!

Kini aku sudah berdiri berhadapan dengan abang siomay. Aku menikmati banget ekspresi si abang yang canggung, saat ngeliatin aku pakai mukena begini. Saat aku bercermin pakai mukena tadi, aku bisa ngeliat dengan cukup jelas, lekuk badan dan bagian-bagian pribadi tubuhku dari kain yang menerawang. Jadi, aku asumsiin kalau abangnya juga ngeliat hal yang sama.

"Bang? Saya minta piringnya..."

Aku ketawa saat si abang siomay, saking terpakunya, jadi ga sadar kalau dia masih pegangin terus piring siomay buatku. Setelah tersadar, dia langsung gelagapan sendiri, lalu kasih piringnya ke aku. "Ma-maaf, Teh. Beneran, maaf. Jadi bengong sayanya," katanya, gugup.

"Bengongin apa, emang?"

"Eh, engga... itu... anu, Teh," si abang siomay makin grogi, "Sa-saya balik ke sepeda dulu, ya."

Sebelum dia berbalik, aku sigap tarik bajunya. Lalu, aku tanya dia, "Abang ga apa-apa? Keringetan gitu. Mau ngadem? Bisa di ruang tamu, nanti saya nyalain AC. Gimana?"

"E-eh, gi-gimana, Teh? Emang... boleh?"

"Kan saya ajakin, berarti boleh. Mau?" Si abang siomay pun ngangguk, pelan.

Saat si abang siomay sudah masuk, pintu pun kututup. Aku beralasan kalau ga ditutup, AC nya ga dingin. Setelahnya, kutaruh piring di meja, sementara aku duduk di sofa yang berbeda dengan si abang. Sebelum aku mulai makan, aku pun bertanya ke dia, "Bang, kalo saya ga ada uang buat bayar, saya boleh bayar pake yang lain?"

"Hah? Pake apa, Teh?"

"Badan saya, misalnya. Bisa, ga?" kataku, tanpa basa-basi. Lalu, aku pun tarik kain mukenaku pada bagian dada, bikin bagian itu jadi ketat. Tetekku pun tercetak jelas pada kain hitam tipis yang menerawang. "Abang dari tadi ngeliatin ini, kan? Kalo penasaran, pegang aja ga apa-apa," kataku, lagi.

"E-eh... gimana, ya, Teh... saya bingung. Ini bukan preng-preng gitu, kan, Teh?" tanyanya, sambil celingukan ke sekitar ruangan. Ekspresinya makin keliatan kalau dia lagi cemas.

"Bukan lah, Bang. Saya ga suka prank orang." Lalu, aku perlahan bangun, dan duduk di sebelahnya. Jarak kami pun makin dekat.

"Sejujurnya, nih, Bang, saya lagi horny banget. Terus kebetulan saya liat Abang. Saya mau ngajakin... tapi kan ga mungkin tiba-tiba ngajakin ngentot gitu aja, kan? Makanya... saya pura-pura pesen somay, seenggaknya biar Abang masuk ke rumah dulu." Lalu, aku pun berbisik ke kupingnya, "Kalo Abang mau, tolong kunci pintu depan, ya. Kalo ga mau, Abang bisa balik ke sepeda, dan saya ambil uang terus nyamperin buat bayar."

Aku bisa denger suara ludah yang ditelan. Si abang siomay langsung menatapku, ga percaya. "Se-serius, Teh? Saya bisa ngentot sama Teteh?" tanyanya.

Aku mengangguk, pelan. "Badan saya buat Abang. Terserah mau dientot pake gaya apa, berapa lama, saya mau digimanain aja, disuruh apa aja... terserah Abang."

"Teh, ini mah saya nanya sekali lagi, ya. Serius?"

Aku mengangguk lagi. Kugenggam tangan kirinya, lalu arahin ke tetek kananku. Aku biarin telapak tangannya ngerasain tetekku yang kenyal, tapi sudah mengencang karena sudah horny banget ini. "Ini buktinya saya serius, Bang. Jadinya, mau?"

Si abang siomay ga meresponku. Dia langsung tarik tangannya, lalu bangkit dari duduk. Aku sudah kecewa, karena kupikir yang kudapat adalah penolakan. Tapi begitu si abang siomay malah kunci pintu, cemberutku berubah jadi senyum lebar.

"Saya dari tadi udah nahan, loh, Teh. Jangan plin-plan ya," katanya, sambil mendekatiku.

Aku pun menggeleng. Lalu, kutatap dia dengan pandangan menggoda, disertai senyum dan bibir bawah yang sengaja digigit. Jantungku pun berdegup makin kencang, saat tubuhnya makin dekat denganku.

"Oh, iya... Abang boleh keluar dimana aja, ya," kataku, manja, sebelum menyambut tubuhnya yang langsung menghambur, menindihku di sofa.

Ih, aku senang, deh, karena bisa lanjut ke ronde dua, meski dengan orang yang berbeda.
==========

==========
Chapter 19 — Life's Full of Surprise






"Pagiku cerah, matahari bersinar. Kugendong tas merahku, di pundak. Selamat pagi semua, kunantikan dirimu. Di depan kelasmu, menantikan kami."

Hngg... lanjutan liriknya apa, ya? Duh, aku lupa. Terakhir nyanyi lagu itu waktu masih SMP, soalnya. Aku bahkan ga kenal siapa yang nyanyi, dan pembuatnya juga. Pokoknya taunya gara-gara lagu itu banyak yang pakai untuk konten Tiktok, terus karena sering dengerin jadinya suka keputer tiba-tiba di otak.

Tapi lagu yang aku nyanyiin ini memang beneran mewakili suasana hatiku sekarang. Maksudku, rasain deh. Cuaca pagi ini cerah banget, udaranya segar, matahari masih malu-malu mau naik, jalanan ga macet dan karenanya, baru jam enam kurang tapi aku sudah tiba di sekolah.

Karena bisa datang lebih pagi, aku jadi punya waktu lebih. Segera kutuju kantin. Tuh, kan... kalau sepagi ini, masakan yang dijual juga masih fresh dan hangat. Lebih banyak pilihannya juga. Makanya, kuambil kotak bekal dari dalam ransel merah bataku, lalu kuisi kotak bekalnya dengan berbagai macam makanan. Nah, bekal makan siang sudah aman, deh.

"Kamu kenapa kayaknya puas banget bisa ngeborong risoles sama pastel Bu Retno?" tanya seseorang, tiba-tiba. Kok aku kayak kenal sama suaranya, ya?

Spontan aku balik badan. Ada Bu Siska sedang berdiri sambil melipat kedua tangan. Aduh, mataku langsung otomatis mengarah ke dadanya yang membusung. Refleksku ternyata bagus, kelakuanku yang jelek. "Eh, ada kam—maksudnya, Bu Siska, ehe. Nnggg... biasanya tiap mau beli udah abis, Bu. Jadi mumpung masih ada banyak, aku borong aja," jawabku.

Bu Siska pun mengangguk tanda mengerti. Dia pasti paham perasaanku yang ga mau kehilangan gorengannya Bu Retno, karena memang seenak itu. Bu Retno ini terkenal spesialis risoles, pastel, dan combro di kantin. Kalau sudah mulai jualan, pasti ga lama langsung habis. Laku berat.

"Dea, ada yang mau Ibu omongin. Kamu ada waktu pulang sekolah nanti?" tanyanya, lagi.

"Ada, kok, Bu. Mau ke rumah?" Tapi, aku langsung ragu akan omonganku barusan. Kok aku merasa seperti ngelupain sesuatu yang penting, ya?

"Gimana kalo kita ngemall aja? Ibu mau belanja tas, sekalian kita ke kafe, mau?"

Eh? Eeeeehhh? Jalan bareng, nih? Apakah ini yang namanya kencaaaaan?

"WAH, MA—" aku spontan langsung berhenti ngomong karena baru ingat sesuatu. BARU INGET, KAN AKU ADA JANJI BELAJAR BARENG SAMA FREDDY SETIAP HARI SEPULANG SEKOLAH MULAI HARI INI! "E-eh, Bu... maaf, ga jadi, ga bisa sore ini. Aku udah ada janji duluan," balasku, meralat omonganku sebelumnya.

"Janji?" Ah... muka ramah Bu Siska seketika berubah jutek. "Janji sama siapa? Penting emangnya?"

"Sa-sama... Freddy, Bu."

"Ngapain?" tanya dia lagi. Nadanya makin ketus.

"Belajar... bareng?"

Eh, dia tambah ketus, dong. "Kok kayak ragu gitu jawabnya?"

"Abisnya Ibu jutekin aku. Kan akunya jadi takut," balasku. Langsung saja aku kombinasiin nada bicara memelasku dengan tatapan mengiba, tertuju lurus ke matanya. Biasanya, cara ini ampuh bikin Bu Siska melunak.

"E-eh, maaf, maaf. Ibu ga sengaja. Maaf bikin kamu takut, ya, soalnya," Bu Siska memantau keadaan sekitar dulu, sebelum deketin aku dan berbisik pelan, "Aku cemburu, Dea. Kamu bisa punya waktu sama orang lain, tapi sama aku engga. Maafin, ya? I love you."

Ga bisa berkata-kata aku, tuh, kalau sudah diucapin "i love you" sama Bu Siska. Kalau begini, yang akhirnya luluh jadinya siapa, coba?

"Iya, Bu, ga apa-apa," aku berdehem, berusaha keluar dari situasi yang bikin salting, "Makanya kalem dulu, aku mau jelasin. Jadi gini..."

Lalu, aku pun jelasin rencana kegiatan belajar barengku dengan Freddy. Karena aku maunya ini belajar bareng yang intensif, jadi aku kasih pengertian ke Bu Siska kalau aku akan belajar bareng sampai ujian semester. Tentu saja, aku ga kasih tau detilnya. Bu Siska bisa ngamuk kalau aku ngadu bahwa aku diancam sama teman sekelasku sendiri dan sebagai gantinya, aku harus sengaja bikin nilaiku ga lebih tinggi darinya.

Untungnya, aku masih setia kawan. Hey, si nomor dua, you owe me one!

"Iya, ya. Harusnya Ibu lebih ngertiin kebutuhan kamu." Bu Siska pun pegang kedua pundakku. "Yaudah, Ibu dukung. Tapi... asal jangan di rumah kamu belajar barengnya."

"Ih, kenapa gitu, Bu?"

"Kamu masih nanya?" tanya balik dia, nadanya berubah ketus lagi, loh.

Aku cuma ketawa, lalu mengangguk tanda mengiyakan ucapannya. Aku sih sebenarnya tau alasannya ngelarang belajar bareng Freddy di rumahku, cuma pura-pura ga tau saja. Bu Siska ini gampang cemburu, jadi asik banget kalau digodain pakai hal-hal yang bikin dia panas.

"Ngomong-ngomong, Dea, kamu kenapa seharian kemarin ga ada kabar? Baru ngabarin Ibu aja tadi subuh. Kamu kenapa? Lagi ga enak badan kemarin?"

Ah... itu... gimana jawabnya, ya? "Iya, Bu. Kayaknya aku kecapean, jadi pulang sekolah langsung tidur seharian. Aku lupa jelasin dichat tadi, ya? Maaf ya, bikin Ibu khawatir."

"Engga apa-apa, sih. Ibu cuma kepikiran aja," lalu, Bu Siska pun undur diri, sambil melambaikan tangan ke aku, "Ibu mau ke ruang guru dulu, ya. Selamat sarapan, Dea."

"Dadaaah, Say—Bu Siska!" ucapku. Yang diucapin sempat melotot saat aku hampir keceplosan bilang panggilan spesialku ke dia.

Sepeninggal Bu Siska, aku langsung duduk sambil makan risoles, juga diisi dengan evaluasi diri. Aku cukup kaget dengan kemampuan berbohongku yang semakin terlatih dan taktis, saat menjawab pertanyaan Bu Siska soal aku yang ga ada kabar kemarin. Dulu, aku ga pernah bohong. Abi dan Umi selalu ajarin aku untuk ngomong jujur, atau jika kontennya berpotensi bikin sakit hati, diutamakan diam. Setelah aku jadi 'kotor' dan berpasrah diri dengannya, aku jadi pintar bohong. Seakan itu adalah bakat terpendam yang butuh pancingan tertentu untuk bangkit.

Tentu saja aku beneran kecapean, tapi aku bohong soal tidur seharian. Yang bener tuh, aku ngentot seharian. Meski sama Pak Jumadi cuma sebentar, tapi karena efek euforia pertama kali dianal dan malah enak, juga efek obat perangsang yang kuminum sebotol penuh, bikin aku jadi ga kontrol dan berakhir ngentot dengan tukang siomay.

Sejujurnya, aku kaget sama stamina si... duh, aku lupa namanya lagi... ah, iya, inget! Namanya Bang Ari. Dia tahan lama banget, tau. Pas lagi ngentot, dia lama keluarnya, kayak, lamaaaaa banget. Sebagai perbandingan, Fah tuh cepet keluarnya, tapi bisa berkali-kali ngentotnya karena meski udah keluar tapi masih keras aja kontolnya. Kalau Pak Jumadi, meski cepet keluar juga, tapi tenaga sodokannya mantap. Nah, Bang Ari ini meski ga sekuat Pak Jumadi nyodoknya, tapi lama banget keluarnya. Aku bisa orgasme belasan kali dalam durasi satu jam, dan dia baru keluar sekali.

Meski kontolnya ga segede dan sepanjang Fah, atau segemuk Pak Jumadi, tapi kalau digenjot secara konstan dalam waktu yang lama kayak gitu, ya aku nikmatin juga. Ini bikin aku belajar, kalau stamina yang tahan lama juga berperan penting dalam menentukan enak atau engga ngentotnya. Apalagi ditambah dengan berbagai macam posisi, duh...

Oh iya, perbandingan lainnya adalah karena Bang Ari ini tahan lama, jadi bisa banget gonta-ganti gaya selama ngentot. Aku yang tadinya terbiasa dengan sesi satu posisi untuk satu kali ejakulasi, jadi seneng banget ketika ketemu yang kayak si tukang siomay itu. Aku sudah ga bisa hitung berapa kali aku orgasme cuma dengan satu posisi aja, lalu Bang Ari minta aku ganti gaya ini-itu, aku orgasme lagi, dan diulang-ulang terus sampai akhirnya dia yang ejakulasi.

Ngebahas Bang Ari, aku jadi keinget lagi sama sesi ngentot kemarin, bikin... jadi pengen lagi. Aku bahkan ga nyangka kalau aku bisa jadi seliar itu. Maksudku, aku belum pernah mengulum kontol yang basah dan licin karena bekas dipakai untuk nyodokin memekku, dan aku ngelakuin itu kemarin. Aku juga jadi punya kesempatan untuk latihan diposisi woman on top, dari yang goyangnya masih kaku sampai lancar banget dan bikin aku orgasme terus-terusan. Apalagi? Banyak. Bang Ari juga jago jilatin memekku, dia juga bisa bikin aku klimaks cuma dengan mainin tetekku, terus... dia juga sempat nganalin aku.

Sumpah, cara dia analin aku tuh enak banget! Aku bahkan sampai ketagihan, dan minta dia analin aku terus. Caranya masukin kontolnya yang lembut, tusukannya yang bertempo, kalau aku mulai mules pun dia langsung kasih jeda, uuhhh... bikin nagih banget, kan?

"Dea, lu ngelamunin apaan sampe ngiler gitu?!"

Waaaaah, aku kepergok! Aku ga tau kalau ternyata di kantin ini ada salah satu teman sekelasku, dan dia ngeliat aku ngelamun sampai ngiler, dong!

"Hah? Eh?" Aku buru-buru menyeka liurku pakai seragam. "Aku masih kebayang-bayang makanan yang aku makan kemarin. Enak banget, soalnya. Jadi ngelamunin pengen makan lagi."

"Makanan apaan? Ya kali, De, sampe ilernya netes-netes gitu."

"Foie grass?" jawabku, asal. Aku bahkan ga yakin dengan keampuhan jawabanku.

Diluar dugaan, temanku malah mengangguk-angguk. "Elit... elit... mantep banget, deh, emang. Berasa kayak Siska Kohl ya, De, makan hati angsa?" tanyanya, lengkap dengan binar mata takjub.

Aku cuma bisa ketawa ringan untuk meresponnya. Lalu, aku tawarin saja bekal gorenganku ke dia sebagai pengalih perhatian. Ga sampai dua suapan, dia sudah lupa sama perkara ngilerku.

Balik lagi ke ngomongin Bang Ari. Untungnya, aku sudah simpan nomornya. Jadi kalau lagi mau yang long run, aku bisa chat dia. Aduh... kalau begini, rasanya aku jadi makin mirip cewek gatel yang cuma peduli akan hasratnya sendiri. Makin kesini, makin hilang gengsiku.

Tapi, yaudahlah... hidup cuma sekali, karenanya, harus dimanfaatkan sebaik mungkin dan tanpa terhalang gengsi, kan?


———​


Sepulang sekolah, aku bergegas pergi ke McD Cinere. Aku dan Freddy memang sepakat untuk ketemu di sana. Tadinya, aku mau ajak dia belajar bareng di rumahnya saja, tapi dia nolak. Malu, katanya. Dia ga pernah bawa teman sekolahnya main ke rumah, apalagi cewek, tambahnya lagi.

Akhirnya, diputusin kalau belajarnya di McD saja, sambil makan siang yang sudah kesorean ini. Iya, kayaknya aku juga kepengen spicy chickennya. Sudah lama juga lambungku ga dikasih junk food.

Karena dari sekolahku ke tempat tujuan cuma butuh satu kali naik angkot, jadi aku mutusin untuk jalan saja ke pertigaan Pondok Labu, tempat angkot ngetem. Ah, sudah lama juga aku ga naik angkot. Grogi ga, ya, nantinya?

"Dea!" teriak seseorang kepadaku, "De, tungguin dulu!"

Aku langsung nengok ke belakang. Laras lagi lari-lari kecil, mengejarku. Dari pandanganku, tampak teteknya yang tercetak pada seragam ketatnya itu sedang berguncang-guncang indah tiap kali kakinya menapak bergantian. Setelah berhasil mengejarku, dia langsung mengatur napasnya yang tersengal.

"De, gua panggil-panggil dari pas di gerbang, tau!" protesnya.

Aku cukup kaget sama pernyataannya, karena sepengalamanku, suara Laras tuh cempreng banget jadi gampang dikenali. Memang sih, tadi aku juga lagi mikirin sesuatu. Kalau aku aja ga ngeh sama panggilan dia, berarti aku mikirnya dalem banget tadi, sampai ga sadar sama keadaan sekitar.

"Eh, maaf, ya, Ras. Akunya lagi bengong. Ada apa?" Lalu, aku spontan ingat kalau aku belum kasih uang dia untuk minggu ini. Buru-buru kuambil dompet di tasku. "Eh, ini, Ras. Minggu ini aku belum kasih, kan?"

"Bukan soal itu! Ini lebih penting!" pekiknya. Lalu, dia diam dulu, dan ga lama dia ambil beberapa lembar seratus ribuan yang kusodorkan padanya. "Ini juga penting, deh. Eh, serius, De, gua mau kasih tau hal gawat!"

"Apa sih? Ngomong aja cepetan, Ras."

"Inget debt collector yang meres dan ngancam gua gara-gara utang gua itu, ga?"

Aku mengangguk, pelan. Dengan hati-hati, aku bertanya, "Kamu diancam lagi sama orang itu? Bukannya urusan utangnya udah selesai? Mau apa lagi dia sama kamu? Tuh, kan, harusnya kita lapor ke polisi aja, Ras!"

"Eeeh, bukan, bukan. Jangan nyerocos dulu, De. Lu mesti liat ini." Laras pun ambil HP nya, membuka suatu laman pada aplikasi browsernya, lalu nunjukin aku sesuatu. "Berita tadi pagi. Baca, deh."

Aku pun membaca laman berita yang Laras tunjukin. Isi beritanya tentang sekumpulan warga di daerah Gandul yang menemukan lima orang tewas di sebuah kontrakan. Menurut hasil penyidikan sementara, diduga kelima orang tersebut tewas karena keracunan minuman keras, karena ditemuin juga banyak botol miras oplosan. Diperkirakan waktu kematiannya sudah berlangsung lebih dari dua hari, karena kondisi mayat sudah membusuk dan menimbulkan bau busuk menyengat sehingga diketahui warga. Serem juga beritanya, ya. Eh, tunggu dulu. Jangan-jangan...

"Ras, masa iya, sih?" tanyaku, dengan intonasi penuh ga percaya.

Seakan berpikiran sama, Laras memintaku membaca lebih detil tentang alamat tempat kejadian perkaranya. "Ini alamat kontrakan yang sering gua datengin waktu itu, Dea. Ini alamat kontrakannya si debt collector bajingan itu! Liat, deh. Bahkan inisial yang tewasnya juga sama kayak pelaku yang ngancem gua!" pekiknya, sambil melotot heboh.

Seketika, badanku gemetar hebat sampai-sampai aku limbung. Untungnya, di dekat tempat kami mengobrol ada warkop. Laras segera bantu aku jalan ke sana, menjagaku supaya ga jatuh.

"Mang," Laras langsung sigap memesan ke penjaga warkop, "Teh manis anget satu, es teh manis satu, ya."

Ga tau kenapa, aku bisa tau kalau tes manis hangat yang Laras pesan itu buatku. Maka, aku pun mengkoreksi pesanannya. "Yang satunya es teh manis juga, Mang."

"Ih, lu mah lagi lemes malah minum es!"

"Ya Allah, Ras, cuacanya lagi panas banget, loh. Ngide apaan sih mesen minuman anget?" Aku pun beralih ke penjaga warkop, sambil mengacungkan dua jari. "Bikinin es teh manis dua, Mang."

Laras berhenti mendebatku saat penjaga warkop segera bikinin pesenan kami. Lalu, dia kembali ke topik utama. Sambil berbisik, Laras pun berkata, "Gua ga yakin mereka tewas keracunan miras, De. Firasat gua bilang, kalo mereka tuh—"

"—Ngomongnya nanti aja, Ras. Di sini banyak orang," potongku.

"Terus bahasnya di mana?"

Aku menerima sodoran gelas dari penjaga warkop dengan tangan yang masih tremor, lalu kembali beralih ke Laras. "Di chat aja, tapi nanti malem, ya. Aku masih ada janji sore ini," kataku.

"Sama siapa?"

"Freddy. Belajar bareng di McD. Mau ikut?"

Laras menggeleng mantap begitu dengar kata "belajar bareng". Dia memang alergi sama semua kegiatan yang berhubungan dengan belajar. Maka, dia lebih memilih bersabar nungguin aku punya waktu senggang daripada ikut aku ke McD.

"Menurut kamu... siapa?" tanyaku, sambil menyeruput es teh manisku.

"Gua yakin kita mikirin orang yang sama, Dea. Gua ga tau gimana caranya, tapi gua yakin banget pasti dia pelakunya."

Aku tau bahasan kita merujuk ke satu orang: Fah. Tapi berbeda dengan Laras, aku yakin Fah bukan pelaku utama. Atau setidaknya, dia menjembatani pelaku utama untuk membunuh orang-orang yang telah menggilir Laras. Ini cuma hipotesis kasarku, tapi menurutku, Fah lebih cocok berperan jadi pemikir taktis daripada pelaku yang terjun langsung ke arena jagal.

Otakku pun berpikir cepat. Dari ceritanya tentang latar belakang keluarga, traumanya, cerita lain tentang caranya nyelesein masalah, itu semua mengerucut ke satu kesimpulan bahwa Fah berasal dari keluarga yang ga sembarangan. Atau... lebih tepatnya, dari keluarga yang berbahaya.

"Ras, mobil yang dipake jemput Fah waktu itu apa namanya?" tanyaku, penasaran.

"Range Rover Sentinel. Kenapa gitu?"

"Kalo ga salah, kamu waktu itu jelasin kalo fitur mobilnya tuh anti peluru, bom, ranjau dan punya peredam dari hantaman, kan?"

Laras mengangguk, pelan. Untuk sekian detik, dia baru mengerti kemana arah pertanyaanku. Maka, aku bertanya sekali lagi ke dia, "Pernah mikir, ga, bisnis apa yang keluarganya jalani sampai harus punya mobil anti peluru untuk kemana-mana?"

Laras langsung diam. Dia cuma menatapku dengan pandangan cemas. Di akhir hembusan napas panjangnya, sambil masih menatapku, Laras meneguk ludahnya sendiri.



———​


Aku dan Laras sepakat untuk pisah dan pergi ke tujuan masing-masing; aku ke McD dan Laras pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan di angkot, otakku ga berhenti mikir keras tentang berita yang Laras kasih tau. Aku beneran yakin kalau mereka dibunuh, lho. Masalahnya, aku ga bisa bermodal keyakinan saja untuk jelasin ini ke orang lain.

Aku berusaha berpikir lebih pelan. Jangan terburu-buru. Mari dibedah satu-satu. Pertama, kalau beneran Fah pelakunya, gimana dia bisa tau orang-orang itu yang menggilir Laras? Dia pasti butuh data, kan? Dapetnya dari mana...

...Oh, iya! Kontak Whatsapp si debt collector yang Fah minta ke Laras bisa banget jadi dasar data untuk profiling target. Bener banget! Dia bisa aja cari tau lewat metode lain, tapi aku pikir pegang kontak langsung adalah cara paling efektif.

Kedua, kalau Fah ini pelakunya, ini ngejelasin kenapa dia selalu sibuk sepulang sekolah dalam seminggu belakangan. Aku duga, setelah dia dapet kontak target, dia akan mulai susun materi profiling target, seperti mapping rute jalur yang biasa pelaku lalui, tempat kerja dan lokasi rumah, koneksi dengan orang-orang sekitar, frekuensi kapan saja kontrakannya ramai oleh teman-temannya, kegiatan apa saja yang mereka lakuin, kendaraan yang dipakai, dan lain-lain. Untuk ngelakuin semua itu, butuh banyak waktu dan fokus yang intens. Kalau aku jadi Fah dan punya target yang harus dilenyapkan, aku juga akan nolak saat diajak main supaya waktuku terpakai maksimal untuk fokus ke targetku.

Ketiga, gimana kalau ternyata Fah cuma minta targetnya dilenyapkan tanpa dia terlibat secara strategis didalamnya? Berarti ada pekerja profesional yang bermain peran utama disini. Kuterka, prosesnya ga ujug-ujug kasih miras yang diracun terus mereka mati, melainkan butuh serangkaian proses panjang. Pelakunya bisa saja ngelakuin pendekatan ke target selama beberapa hari hingga cukup akrab, sampai main ke kontrakannya, kenal dengan rekanan si target, dan lain-lain.

Tapi motif apa yang dipakai untuk bikin seorang pembunuh berencana bisa dekat dengan targetnya? Untuk jawab pertanyaan ini, aku harus liat dari perspektif targetnya. Apa yang bikin mereka bisa gampang dekat dengan orang baru? Uang? Bisa jadi, karena pekerjaan si target ini kan debt collector. Tapi pasti ada yang lebih mudah dari uang, kan?

Lalu, aku ingat Laras dan cerita depresifnya tentang jadi budak seks si debt collector itu selama sebulan lebih. Iya, aku tau motifnya apa: seks. Cara paling gampang untuk dekat dengan orang lain adalah dengan nunjukin bahwa individu tersebut punya ketertarikan seksual dengan targetnya, atau, membuat targetnya percaya bahwa individu tersebut adalah tipe pribadi yang gampang dieksploitasi.

"Kalo yang aku deduksiin ini ternyata bener," aku menggigit jempol, lalu tersenyum pede, "Mungkin aku harus ambil jurusan Kriminologi di UI aja kali, ya."

Sejujurnya, aku tau bahwa ada yang salah dengan diriku, dan sesuatu itu kian hari semakin menggerogoti. Aku sadar banget, kalau gemetarku tadi saat di depan Laras bukan karena aku syok akan berita yang kubaca, melainkan karena lonjakan adrenalin yang tiba-tiba memenuhi jantungku dan bikin aku hampir ga kontrol diri saking bersemangatnya. Gila kan, aku bisa-bisanya merasa bersemangat setelah tau ada orang mati. Aku harap, kewarasanku masih bisa bertahan, karena jika engga, aku yakin aku akan sangat berpotensi jadi sosiopat.

Maka, kuintenskan istighfar sambil berusaha mengusir perasaan bahagia atas kematian orang-orang yang telah menyakiti sahabatku.

"Kiri, Pak."

Setelah angkot berhenti, aku pun turun di pinggir jalan yang terdapat gapura selamat datang di kota Depok. Habis tengok kiri-kanan, aku pun menyeberang ke McD yang letaknya ada di pinggir area Mall Cinere. Duh, pasti Freddy sudah di sana. Ngomel ga, ya, dia?

Diluar dugaan, dia ga ngomel sama sekali. Alasannya karena ga ada kepastian janjiannya jam berapa. Sesuai sama apa yang dia bilang ke aku. Sportif juga ini cowok. Tapi ya gitu, dia langsung ajak aku belajar bareng.

"Aku pesen dulu, deh, ya?" tawarku. Freddy mengangguk, lalu dia kembali kerjain soal-soal di buku try out.

Setelah memesan, aku gabung lagi. Sebelum mulai belajar bareng, aku kasih segelas Fanta ke Freddy, sebagai kompensasi atas upayanya nunggu aku.

Oke, mapel sore ini Matematika. Sambil ngemil es krim dan minum soda, aku dan Freddy bahas berbagai soal dan cara penyelesaiannya. Ga kerasa, sudah setengah jam kami belajar.

"Fred, sebenernya, ini bisa dipersingkat. Hasilnya akan sama dengan rumus yang diajarin ke kita, tapi dengan rumus yang ini bisa mempersingkat waktu."

"Tapi bukannya guru ajarinnya rumus yang ini?" tanya dia, sambil nunjuk ke lembaran kertas di mejanya.

Oh. Sekarang aku baru beneran sadar, kenapa dia selalu jadi yang nomor dua. Dia ga tau, bahwa jadi pintar saja ga cukup untuk mencapai peringkat satu. Ada banyak faktor penting lainnya, termasuk improvisasi; sesuatu yang dia ga punya.

"Oke, sekarang aku tanya. Kalo soalnya pilihan ganda dimana penilai ujian ga perlu berurusan dengan rumus yang kita pake, gimana? Mereka kan taunya jawabannya bener, Fred. Penggunaan rumus yang lebih efektif untuk dipake di soal pilihan ganda, bisa mempersingkat waktu pengerjaan soal," aku pun menyeruput Coca Colaku, "waktu yang tersisa jadi lebih banyak, kan? Bisa banget, tuh, dipake buat periksa ulang jawabannya sebelum diserahin ke pengawas. See my point?"

Freddy tertegun, sebelum akhirnya mengangguk tanda mengerti. Lalu, dia menatapku penuh arti, seakan mau mengakui apa yang bikin dia ga pernah bisa menang dariku selama ini. Aku pun tersenyum manis saat dia ngeliatin aku, bikin dia langsung salting dan memalingkan muka, juga buru-buru meneguk gelas Fantanya.

Senyumku malah terkembang makin lebar, saat ngeliat dia minum buru-buru disertai sikap grogi begitu. Harusnya santai saja minumnya, nomor dua. One drop at a time, they say
==========

==========
Hari-hari pun berlalu, dan rutinitas belajar bareng Freddy pun berakhir karena mulai Senin ini, kami sudah masuk minggu ujian semester. Seperti biasa, soal-soal itu bisa kukerjakan dengan gampang. Sesekali, kulirik Freddy. Ekspresi cemasnya keliatan jelas di mukanya. Akhir-akhir ini dia jadi suka cemas gitu, kenapa ya?

Saat ujian kedua, aku bisa selesai jauh lebih cepat dari yang kukira. Masih ada sisa waktu setengah jam, dari enam puluh menit yang diberikan. Karena ingin ke toilet, jadi aku kumpulin saja lembar ujianku, lalu keluar kelas lebih dulu.

Baru saja aku mau masuk toilet, lenganku tiba-tiba ditarik seseorang. Spontan aku nengok. Ternyata Freddy. Dari ekspresinya, dia kayak lagi menahan marah. Napasnya juga memburu, dan cengkeraman tangannya pada lenganku juga kuat sehingga bikin aku meringis kesakitan.

"K-ke belakang sekolah, cepet! S-se... sekarang, Dea!"

"Tapi aku mau pipis, Fred—"

"—Mau aku sebar videonya, hah?" potongnya. Dia pun nunjukin video yang ada aku di dalamnya. Jempolnya bersiap menekan opsi kirim, dan aku liat tujuannya. Grup WA kelas.

"Oke, oke. Lepasin dulu, aku ga mau ada masalah baru kalo ada yang liat kamu narik-narik aku. Lagian, aku ga akan kabur, kok." Freddy ngeliatin aku, lama, lalu dia lepasin cengkeraman tangannya. "Duluan. Aku ikut di belakang."

Kuikuti dia berjalan lewati koridor dan turun tangga. Sesekali, kulirik pelipisnya yang basah karena keringat. Berkali-kali bagian itu dia seka. Saat dia lengah, kubuka HP dan mengetik cepat pada aplikasi Whatsapp. Untungnya, jarak dari toilet tadi sampai ke belakang sekolah lumayan jauh, jadi aku punya waktu untuk beberapa kali mengetik pesan.

Setelah sampai di belakang sekolah, dia memantau keadaan sekitar. Dirinya keliatan lebih tenang saat mengetahui bahwa suasana sekitar masih sepi, karena murid-murid dan guru lain masih di dalam kelas.

"Aku beneran ga boleh pipis dulu, Fred?" tanyaku, tegas. Kutatap matanya tanpa berkedip.

Freddy malah langsung ngamuk. "Ka-kalo emang ga ketahan, ya k-kamu pipis aja di-di sini!"

Aku masih terus menatapnya, menunggu dia bilang kalau dia ga serius dengan ucapannya barusan. Tapi Freddy ga berucap lagi. Oke, berarti dia serius. Aku pun angkat bahu, menyerah dalam adu ngotot dengannya. Maka, kusingkap rok sampai pangkal paha, lalu kuturunkan celana dalamku hingga lutut, dan aku pun jongkok di depannya.

"Ini salah kamu yang ga bolehin aku ke toilet, ya." Aku bergetar saat pipisku mulai mengucur keluar. Aku rasain pipisku lumayan deras, dan airnya mengalir lancar di peluran semen yang kupijak, menuju rerumputan kecil di depanku.

Kulirik sekilas. Freddy tampak kikuk saat melihatku pipis di depannya. Ya... sebenarnya aku juga merasa bersemangat gitu, sih, karena berani pipis di depan teman sekelasku. Tapi aku pura-pura cuek saja.

Setelah yakin ga ada sisa yang keluar, aku kembali merapikan seragamku, lalu berdiri berhadapan dengan Freddy lagi. Kutanya apa maksudnya ngajak aku ke belakang sekolah.

"P-pokoknya kamu harus tanggung jawab!" jawabnya. Loh, ya aku kaget, dong. Tanggung jawab apa, nih?

"Kok tiba-tiba nuntut tanggung jawab? Kamu ga waras, ya?"

"Ini gara-gara kamu. Sejak belajar bareng itu, aku jadi ga bisa fokus belajar! Isi otakku cuma hal-hal kotor yang nista dan tabu. Berkali-kali aku coba konsentrasi, tetep aja ga bisa. Udah berhari-hari begini." Dengan napas memburu dan menahan marah, Freddy menatapku, tajam. "Apa yang kamu lakuin ke aku, Dea?!"

"Ngelakuin apaan? Beneran udah gila kamu, nuduh ga jelas gitu. Aku aja bingung kamu kenapa!"

Oh, tentu saja itu cuma sandiwara. Iya, tuduhan dia benar, kok. Selama seminggu belajar bareng sama dia, sebelum mulai belajar bareng, pasti aku beliin dia minuman. Tapi sebelum kuserahin, minumannya kucampur obat perangsang dulu. Dosis kecil per gelas. Tapi karena tiap hari, aku pikir efeknya jadi berakumulasi.

Iya, akunya salah dan jahat. Tapi aku punya alesannya, kok. Inget waktu Freddy nolak aku saat aku buka seragam dan nawarin badanku ke dia? Kejadiannya bikin sakit hati banget, tau. Aku ga pernah dapet penolakan, apalagi dari orang kayak dia. Saat aku tau aku ditolak, saat itu juga aku mikir rencana buat bales Freddy. Nah, sekarang, rencananya sudah berjalan setengah. Di momen ini lah penentuan sisanya.

"Ga usah banyak alesan, Dea! Aku tau kamu ngelakuin sesuatu biar aku ga fokus belajar! Kamu ga mau aku ambil peringkat kamu, kan?!"

"What nonsense are you blabbering about, loser? Kalo kamu ngerasa ga mampu fokus belajar, jangan malah nyalahin orang lain, dong!"

Mendengar ejekanku, Freddy jadi mendekat. "Dea, otak aku kacau sekarang. Isinya hal-hal mesum. Aku harus ngelampiasin ini, kalo ga aku akan lebih kacau lagi," katanya.

"So?"

Freddy ga ngejawab. Dia malah langsung meremas kedua tetekku kuat-kuat. Tentu, aku refleks meringis kesakitan. Tapi kubiarin dia remesin tetekku dengan bersikap pura-pura ga berdaya. Aku bahkan pasrah saat dia mendorong badanku hingga punggungku menempel ke tembok.

Ehh... ternyata enak juga diremas kasar begini. Ada sensasi sakit tapi juga enak yang lain dari biasanya. Justru aku jadi malah menunggu-nunggu perlakuan kasar lain dari Freddy kepadaku. Tapi aku spontan mencengkeram pergelangan tangannya, saat dia mau merobek kancing seragamku. Mendapat perlawanan, Freddy kembali melotot.

"Kamu diem! Mau aku sebar video kamu, hah?!" ancamnya.

"Ga gitu, Fred!" Cengkeraman tanganku menguat. "Aku janji akan diem, tapi kamu ga perlu robekin seragamku juga. Pikir panjang, lah. Nanti kalo aku balik ke kelas dan semua orang tau seragamku robek, mereka akan simpulin aku terindikasi jadi korban perkosaan. Siapa nanti yang akan kena?"

Wah... dia langsung jadi lebih tenang. "B-bener juga. Oke, oke. T-tapi kamu diem! Sekali kamu melawan, akan aku sebar video kamu, Dea," katanya, tergagap.

Aku mengangguk, lalu kuturunkan kembali tanganku. Aku pun pasrah saat Freddy berusaha melepas kancing-kancing seragamku. Saat empat kancing sudah lepas, dia pun masukin kedua tangannya ke balik seragam. Telapak tangannya yang mendarat di tetekku yang masih tertutup BH langsung meremas kasar lagi bagian itu.

Sejujurnya, aku terangsang banget! Aku mau lebih dikasarin lagi, dong! Tapi aku harus pura-pura jadi orang yang berada dibawah ancaman. Jadinya, kunikmati diam-diam remasan kasarnya.

Saat lagi asik nikmatin remasan kasar Freddy, dia tiba-tiba berhenti. Aku sampai protes dalam hati, tapi langsung bingung saat ngeliat dia lagi memantau sekitar. Setelah kembali yakin kalau keadaan masih sepi, dia pun buka resleting celananya. Susah payah dia keluarin sesuatu dari balik celananya... dan aku pun bengong. Wow, panjang juga.

Kontolnya memang kurus, tapi panjang. Aku kira lebih panjang dari punya Pak Jumadi. Teksturnya halus dan berwarna cerah. Tapi yang bikin lucu, sebagian besar area kepala kontolnya masih tertutup kulit. Ga sunat nih cowok, hahaha.

Anyway, kontolnya bisa mentok ga ya kalau dimasukin ke memekku? Uuhh... harus kontrol diri, Dea. Inget, kamu kan lagi dibawah ancaman. Jangan malah semangat gitu!

"Roknya dinaikin, Dea!" Freddy memerintahku. Oh, baik, Tuan. Aku mau diapain, sih?

Kunaikkan rokku sampai pinggang, lalu kupegang dengan kedua tangan supaya ga jatuh. Lalu Freddy menurunkan celana dalamku hingga pangkal paha, bikin memekku agak keliatan di pandangannya. Ga pakai lama, dia langsung memposisikan kontolnya tepat di antara paha dan bibir memekku. Karena kontolnya panjang, jadi permukaannya langsung menempel dari klitoris hingga ujung bibir memek. Aku hampir ga bisa menahan geli saat dia mulai gesekin kontolnya. Kurapatkan bibirku supaya desahanku ga keluar.

"Dea, diem, ya! Jangan bersuara... aku... aku mau gesekin penisku ke vagina kamu," perintahnya, lagi. Oh, nomor dua, bahasa kamu baku banget, sih.

Mulai deh, tuh, pinggulnya bergerak maju-mundur yang bikin kontolnya bergesekan terus sama memekku. Rasanya ga keruan. Aku harus menahan nikmat, tapi harus bersikap pasif dan pasrah, tapi juga ga kuat kalau digesekin terus-terusan. Penderitaanku diperparah saat Freddy kembali remesin kasar kedua tetekku. Aku harus gimana, nih? Ini tuh enak banget, astagaaaaa!

Bermenit lamanya kurapatkan bibirku agar desahanku ga keluar. Rasanya aku mulai capek menahan rangsangan yang Freddy kasih. Jadinya, aku pun nangis. Sumpah, ini metode biologis terakhir yang badanku bisa lakuin demi biar bisa ekspresiin rasa enak yang aku rasain. Tapi kayaknya Freddy mengartikannya beda, deh. Dia malah tersenyum puas saat liat aku nangis, sambil makin cepet gesekin kontolnya.

Aku merasa kalau sebentar lagi aku mau klimaks. Pinggulku jadi otomatis gerak sendiri, maju dan mundur ikutin tempo gesekan kontol Freddy. Pahaku juga melebar, bikin kontolnya jadi punya akses lebih sehingga sering menyerempet mulut lubang memekku. Nah, karena memekku sudah licin banget, jadi kepala kontol dia tuh suka ga sengaja hampir masuk gitu. Eh, akunya malah berharap kontolnya beneran masuk...

Dari sisi Freddy, aku juga merasa kalau dia sudah mau ejakulasi. Gesekan kontolnya makin brutal. Kayaknya ini sudah bukan menggesek lagi, deh, tapi jadi menusuk gitu. Soalnya, kepala kontolnya jadi makin sering lewatin mulut lubang memekku. Kan, kalau dia terus-terusan tusukin kontolnya gini, bisa-bisa kontolnya beneran...

"HHHMMMMMPPPP—"

Buru-buru kusumpal mulutku dengan kedua telapak tangan. Aku klimaks, dan ini enak banget rasanya! Freddy yang keheranan saat ngeliat badanku gemetaran, justru malah sodokin kontolnya kuat-kuat ke memekku. Aahhh... kepala kontolnya... mmmasuk... ke memekku, ooohhh...

Meski cuma masuk kepalanya saja, tapi aku bisa rasain pangkal lubang memekku penuh terisi. Lalu, karena aku lagi orgasme, otot-otot dinding memekku pun berdenyut kencang sehingga terasa seperti memijat kepala kontolnya Freddy. Yang aku prediksi pun terjadi. Aku bisa rasain kontolnya juga berdenyut, lalu muntahin peju yang langsung mengisi lubang memekku. Ahhh, gila... ini sih namanya dia keluar di dalem...

Begitu siklus orgasmeku mereda, aku langsung dorong badan Freddy hingga dia menjauh. Aku pun cepat-cepat memakai celana dalamku, lalu menurunkan rok dan merapikannya. Sambil mengelap kacamata dan menyeka air mata, kutatap dia, tajam.

"Aku ga akan bilang ke siapa pun soal apa yang kita lakuin tadi. Aku juga berharap apa pun yang kamu lampiasin ke aku, bikin kamu jadi lebih tenang. Tapi aku ga suka diancam terus-terusan, Fred. Jadi, kalo kamu masih ancam aku lagi, silakan sebar videonya, aku ga peduli. Tapi aku pastiin, kalo kamu akan menderita karena ga bisa lampiasin hasrat seksual kamu, karena aku udah ga mau nurutin kamu," kataku, sambil memasang kembali kancing seragam.

Freddy yang sedang bersusah payah masukin kontolnya ke balik celana, balik menatapku. "K-kamu ancam aku, sekarang?!" hardiknya.

"Iya. Kita kuat-kuatan aja, siapa yang lebih ngotot. Pada akhirnya, kamu yang lebih butuh aku daripada aku butuh kamu, Fred." Aku pun memasang kacamataku lagi, terus menunjuk dadanya. "Inget juga, kalo ada apa-apa, kamu harus tanggung jawab. Karena tadi... kamu keluarin di dalem. Tau resikonya, kan?"

Kutinggalkan Freddy yang diam mematung. Aku ga peduli soal apa yang dia pikirin, karena tujuanku sudah tercapai. Sekali dia mencoba seks, pasti akan ketagihan. Liat saja, dia ga akan bisa lepas dariku.

Saat berjalan melewati aula, aku mendapati Fah yang baru keluar dari ruang itu. Oh iya, ruang aula sekolahku berada tepat di belakang tempat aku dan Freddy berada tadi. Sebelumnya, aku memang sengaja menghubungi Fah saat mengekor di belakang Freddy tadi, untuk minta tolong ke dia supaya merekam kegiatanku dengan Freddy saat di belakang sekolah. Kuberi tau lokasinya, sisanya tinggal Fah yang atur mau merekamku dari sudut mana.

Saat Fah melihatku, dia langsung bertanya, "Videonya nanti mau buat apa, sih, Dea?"

"Buat jaga-jaga, kalau dia nekat mau sebar video aku di HP nya. Kalo dia mau ancurin reputasiku, aku bisa ngelakuin lebih, Fah."

"Uuuhhh... scary." Fah tertawa lebar, lalu merangkul lenganku sambil menarikku ke kantin. "I was right. Everything seems funnier and more thrilling when I'm with you."

Aku tersipu akan pujiannya. Mulutnya jago banget bikin baper orang. "Kan sekarang kamu udah ga 'sibuk', kapan bisa 'main' bareng?" tanyaku. Sengaja kuberi penekanan pada kata "sibuk" dan "main", berharap Fah tau apa maksudku.

"Tau darimana aku ga sibuk?"

"Berita," balasku, singkat. Fah agak kaget, keliatan dari perubahan ekspresinya. Tapi dia cepat menguasai diri, lalu senyum ke aku. Disenyumin begitu, justru bikin aku yang kaget beneran. "Jadi... bener?!"

"Bener, kok."

"Ih, cerita dong!"

"Nanti aja kalo habis ujian, ya. Sekarang kita kenyangin perut dulu di kantin. Bills on me," katanya, riang.

Kutarik tangannya, dan kami saling berlarian di koridor. Ada kelegaan yang aku rasa. Akhirnya, aku bisa pastiin kalau Laras akan aman mulai sekarang. Ga akan ada orang-orang bajingan yang mengganggunya lagi, jadi dia bisa fokus berproses dan membentuk diri. Aku memang sesayang itu sama Laras, sampai ikut bahagia saat tau bahwa teman di sampingku ini... mau repot-repot lenyapin orang-orang yang jahat sama Laras dari dunia ini, untuk selama-lamanya.

"Should I pay you back for that?"

"Nah." Fah menggeleng pelan, lalu tersenyum padaku. "Free of charge for special customer, Dea."
==========

==========
Chapter 20 — Shit Happen, They Say






"Abi sama Umi kapan pulangnya, sih? Sebentar lagi ambil raport, tau. Dea ga mau ambil raportnya sendirian."

Senyum tercetak jelas di wajah Abi, pada proyeksi tampilan beliau di layar HP-ku. Tampak Abi mengganti tampilan kamera depannya dengan kamera belakang, memperlihatkan pondasi bangunan yang jauh dari kata selesai. Dari tangkapan kamera belakang pula, aku ngeliat Umi sedang berjalan sambil ngeliatin lokasi proyek. Aku senyum-senyum sendiri saat ngeliat Umi, karena helm proyek yang dia pakai ga cocok banget sama gamisnya.

"Ihhh, Umi nyebelin banget. Kalo ada waktu, kenapa ga pulang aja? Malah nyamperin Abi dulu," protesku lagi, dan Abi kembali senyum padaku.

"Tau, tuh. Ga bilang-bilang mau dateng. Udah nongol aja barusan. Katanya sengaja, biar kalo Abi selingkuh langsung disaksiin di depan mata," kata Abi, sambil terus menyorot Umi yang baru sadar lagi direkam panggilan video.

Abi dan Umi memang sering banget ninggalin aku untuk urusan kerja. Durasinya bisa berhari-hari, berminggu-minggu, atau sebulan penuh. Eh, Abi doang deh yang bisa sampai sebulan gitu. Kalau Umi paling lama ninggalin aku cuma dua minggu.

Pekerjaan Abi itu kontraktor, sedangkan Umi kerja sebagai desainer baju muslim. Yang paling sering keluar kota sudah pasti Abi, karena rata-rata proyeknya ada di luar Jabodetabek semua. Beliau harus tinggal sekian waktu untuk mengawasi jalannya proyek, jadi ga bisa sedikit-sedikit pulang ke rumah. Sementara Umi, meski jarang dinas, tapi sekalinya ada pameran busana bisa nginep lama. Kalau cuma sekitaran Jakarta, Umi bisa pulang-pergi. Tapi kalau pamerannya ada di luar kota, ya nginep lama di hotel.

Nah, beberapa kali dalam setahun jadwal kerja di luar kota mereka bisa berbarengan. Kalau sudah begitu, aku pasrah saat ditinggal mereka berdua. Padahal biasanya kalau Abi berangkat, Umi yang di rumah, dan sebaliknya.

"Itu Dea, Bi? Dea, kan?" Terdengar suara Umi, yang langsung buru-buru mendekat ke kamera. Lalu tampilan video Abi seketika berguncang, dan sedetik kemudian tampilan layar Abi sudah pindah ke kamera depan lagi. Kali ini, wajah Umi yang tampil. Rupanya HP Abi direbut paksa. "Ihhhh, anak Umi makin cantik aja mentang-mentang ditinggal terus. Gimana ujiannya? Lancar?"

"Alhamdulillah, lancar dong Umi," balasku, sambil senyum-senyum sendiri karena dibilang cantik. Eh, harusnya aku lagi bete sama Umi! Buru-buru kutekuk lagi mukaku. "Umi pulang, doooong! Kan dari Semarang bisa langsung ke rumah, ini mah kenapa harus mampir ke Bandung dulu, sih?"

"Umi pegel kalo nyetir dari Semarang sampe Jakarta. Kan lumayan kalo Abi yang nyetir dari Bandung, sekalian ajakin Abi pulang. Kalo ga disamperin, nanti lupa pulang orangnya, terus takutnya kepincut cewek sini," ucap Umi.

Meski aku ga ngeliat Abi di layar, tapi aku bisa dengar jelas perkataan lantangnya ke Umi. "Masha Allah, Umi, kan Abi cintanya sama Umi ajaaa!"

"Meski tau kalo sebenernya punya kuota sampe empat?" tanya Umi sambil nengok ke samping.

"Kuota Abi satu doang, from dunya until jannah," balas Abi, yang langsung disoraki sama para pekerja lain yang ikut dengar. Aku takut kalau suara sorakannya kedengeran ke seantero kantin.

Abi memang tipe suami yang ga malu untuk mengekspresikan rasa cintanya ke istri, bahkan di depan umum sekalipun. Meski seringkali, aku yang anaknya suka muak saat liat tingkah cringe Abi ke Umi. Mungkin niatnya mau romantis, tapi yang liat malah jadi pengen nabok saking keselnya.

"Besok Abi sama Umi pulang, kok. Kamu ambil raportnya kapan?" tanya Abi, yang lagi nempelin pipinya ke pipi Umi tapi terhalang helm proyek masing-masing.

"Belum dikasih tau. Tapi kayaknya Jum'at minggu depan, soalnya hari ini kan hari terakhir ujian semester. Biasanya ambil raport seminggu setelah semesteran," Aku meneguk segelas es susu coklat sebelum melanjutkan, "Kenapa besok pulangnya? Hari ini ajaaaaa! Kan Bandung deket. Bisa, kan?"

"Bisa, sih," jawab Abi, tapi dari nadanya terkesan ragu. "Abi lapor ke atasan dulu, ya. Kalo semuanya bisa remote buat hari ini, nanti tinggal bikin to-do list ke mandor. Nanti Abi kabarin kalo bisa pulang hari ini."

"Bener?"

"Beneeeer, Dea. Demi cinta Abi ke Umi kamu, Abi pulang secepatnya begitu dapet izin."

"Iiiiihhh, Abi cringeeeee! Dasar bapak-bapak bucin!" Aku spontan bergidik geli. Level kenorakan Abi sudah ga bisa kutolerir lagi. "Udah, ya. Dea mau siap-siap buat ujian terakhir. Do'ain semoga lancar, ya. Wassalamu'alaikum, Abi, Umi!"

"Wa'alaikumsalam, Sayang," ucap mereka, berbarengan.

Panggilan video pun berakhir. Aku menarik napas panjang, karena entah kenapa jadi punya beban berat di hati gara-gara sudah menyajikan adegan noraknya Abi ke Fah. Kutengok dia, yang lagi makan mie rebus. Aku pun meringis saat ngeliat mukanya.

"Sorry for the scene, ya," ucapku.

Diluar dugaan, Fah justru ketawa lebar. "Itu lucu tau. That level of romance is amazingly fantastic."

"Ga, itu norak." Aku menggerutu.

Fah mengusap pelan bahuku. "Cheerish while it last, Dea. Some people take it for granted, and regret it later. Menurut aku, orangtua kamu tuh lucu banget, dan aku yakin, deep down... kamu juga terhibur dengan kelakuan mereka, kan?"

Aku jadi senyum lagi setelah dihibur Fah. Ini bikin aku mikir. Buatku, Fah adalah pribadi yang baik. Baiiiiik banget. Meski fakta bahwa Fah bertanggung jawab atas tewasnya lima orang yang menggilir Laras masih berputar di benakku. Lagipula, orangnya sudah konfirmasi sendiri, meski ga secara tersurat. Jadi aku sudah dapat gambaran lebih luas tentang orang kayak apa Fah ini, dan penilaianku tetap sama: Fah itu baik. Tapi soal kasus itu... dia masih belum mau cerita detil bahkan setelah lima hari berlalu. Saat aku desak, dia cuma bilang, "belum saatnya".

"Jadi, kapan kamu mau cerita?" tanyaku.

"Soal?"

"Yang tewasnya lima orang di berita Senin kemarin itu."

"Hmmm," Fah tampak mikir, "Sepulang sekolah, gimana? Kemarin aku bilang mau ceritanya setelah selesai ujian, kan?"

"Mau sekalian ngemall, ga, pulangnya? Aku sekalian mau ke supermarket. Mau beli bahan masakan buat masak-masak nyambut Abi dan Umi."

"Kalo pulang barengnya bisa," Fah tampak berpikir sebentar, lalu senyum ke aku, "Tapi untuk sekarang ini, aku ga bisa bebas keluar, Dea. I'll just drop you, then."

"Got it. Nanti aku ajak Laras, siapa tau mau ikut."

"Ga perlu, Dea."

Jawaban singkat darinya bikin aku heran. "Kenapa? Kalian berantem?"

Fah menggeleng, pelan. "Laras menghindar dari aku akhir-akhir ini. Tiap aku ajak ngobrol, dia selalu pamit karena mau kerjain sesuatu, tapi aku tau, dia cuma mau menghindar dari aku aja. Dia... 'tau', ya?"

"Engga, sih, baru sampe ditahap curiga. Dia bahkan ga bisa jelasin dasar kecurigaannya apa." Aku meneguk habis sisa susu coklat di gelas, lalu ngelanjutin, "Mau kamu kasih tau aja? Biar dia tau kejelasannya."

Fah langsung menggeleng sebagai respon atas pertanyaanku. "Cuma kamu yang aku percaya," katanya.

"Tapi kenapa cuma aku?"

"Isn't it obvious?" Fah menatapku, dalam. Dia bicara dengan suara pelan, tapi cukup jelas untuk aku dengar. "I'm in love with you, Dea."

Aku ga bisa berkata-kata saat denger ucapannya. Lidahku kelu, lebih-lebih saat melihat rona merah di pipinya saat wajahnya menghadapku. Kami saling memandang, lama. Tanpa gerak dan suara.

Sungguh, momen ini menyiksaku. INI APAAN SIH KOK ADEGANNYA KAYAK DI SERIAL DRAKOR, WOOOY!

Tiba-tiba, Fah berdiri sambil memalingkan muka. Sekilas, aku ngeliat rona merah di pipinya makin cerah. Ih, dia malu, ya? Orang sehiperaktif dia bisa merasa malu? Fah pun pergi ke salah satu kios kantin, membayar untuk pesanannya dan pesananku juga, lalu main pergi saja tanpa menghampiriku lagi.

"Ketemu lagi pas pulang sekolah, yaaa!" seruku padanya. Aku pastiin suaraku cukup keras untuk dia dengar.

Fah spontan berhenti, lalu sambil memunggungiku, dia mengacungkan jempol kirinya. Habis itu, dia lanjut jalan lagi. Cepat juga jalannya, kayak orang lagi salting. Dia ninggalin aku sendirian di kantin yang mulai ramai oleh murid-murid yang baru keluar dari kelas.

Baiklah, sekarang saatnya merutuk pada nasib. Dalam momen merutukku, aku mempertanyakan kepada dunia, kenapa ga pernah ada orang normal yang suka aku. Pertama, guru perempuanku sendiri, dan sekarang...

Aaaaargh, kenapa kehidupan percintaanku gini amat, sih? LAGIAN, KOK DIA BISA SUKA SAMA CEWEK? Bukannya dia sukanya sesama batang kontol, ya? Apa jangan-jangan dia sebenernya biseks? Terus kalo gitu, berarti usahanya jadi cewek tulen selama ini sia-sia, dong?! Kalau ujung-ujungnya suka cewek, mah, ngapain numbuhin tetek sih Fah?!

Hufff... aku jadi emosi sendiri. Kalem, kalem... coba istighfar dulu. Coba ingat-ingat, Dea, apa yang bikin dia suka sama kamu. Fuck, suka apanya! Jelas-jelas dia bilangnya "in love with you", berarti kan... perasaannya... sedalem itu, kan?

Seingatku, Fah seringkali bilang kalau aku tuh pengecualian, kalau aku itu spesial di matanya. Aku pikir itu cuma bentuk upaya dia untuk lebih dekat denganku aja. Eh, ternyata beneran punya rasa. Apa ini karena aku yang ambil perjakanya, ya?

Tenang, Dea. Mari lihat sisi positifnya. Dia kaya raya, bisa mode hybrid tergantung kebutuhan, (terduga) mafia, dan... well, at the very least... kontolnya gede. That one aspect alone is enough for me, though. Sisanya cuma bonus.

Tapi bonusnya kebanyakan, pffft.


———​


Agaknya, aku paham kenapa mapel Agama dijadwalin sebagai penutup ujian semester kali ini. Mungkin biar setelah kerjain ujian, murid-murid cowok jadi tercerahkan untuk sholat Jum'at, dan yang ceweknya jadi inget untuk jalanin sholat Dzuhur. Strategis juga yang bikin jadwal, nih.

Seperti biasa, aku ngumpulin lembar ujianku lebih cepat dari yang lain. Tapi ada yang lebih cepat dari aku, tau. Freddy sudah kumpulin lembar ujiannya lebih dulu. Aku sih santai aja, karena memang soal ujianku dengan dia beda. Mapelku Agama Islam, sementara dia Katolik. Jadi, aku berpikir dia memang bisa menjawab soal-soal itu dengan gampang sesuai dengan bidangnya.

Pas keluar kelas, aku ga liat Freddy sama sekali. Kemana tuh orang? Cepat juga ngilangnya. Tapi syukurlah kalau dia ga ada di sekitar. Sejujurnya, sejak kejadian di belakang sekolah itu, aku jadi jaga jarak sejauh-jauhnya dari dia. Sebaliknya, Freddy jadi gencar deketin aku lewat berbagai cara. Mulai dari ajakin aku ke rumahnya untuk belajar bareng, ngechat aku terus-terusan, bahkan ikutin aku kemana-mana selama di sekolah. Seriously, he's a freak! Semua tindakan agresifnya itu dia lakuin cuma biar dia dapet badanku aja.

Makan tuh sikap sok-sokan nolak pas aku tawarin badanku waktu itu. Sekarang, setelah kena pengaruh obat perangsang, jadi kelabakan sendiri, kan? Jadi ga fokus belajar, cemas terus, sering sakit kepala; aku juga gitu kok waktu pertama kalinya kena obat itu. Tapi yaudah, biar dia urus masalahnya sendiri. I'm so done with him.

Seperti biasa (lagi), aku langsung menuju toilet lantai dua untuk pipis. Begitu masuk toilet, aku langsung menuju bilik terdekat, angkat rok, turunin celana dalam, lalu duduk di kloset sambil tersenyum lega saat pipisku mengucur. Lega...

Oke, sekarang saatnya nungguin Fah. Jadi, kubuka pintu bilik, dan...

"Fred?" Aku seketika mengambil langkah mundur saat mendapati Freddy ada di depan bilik yang kumasuki. "Ngapain kamu di toilet cewek?!"

Aku perhatiin kondisi dia ga normal banget. Napasnya memburu kencang, sorot matanya tajam, dan dia keringetan terus sampai keliatan lepek. Bahkan ada urat yang menonjol di pelipisnya, indikasi bahwa dia sedang dalam kondisi tegang.

Lagian, kok dia bisa tau kalo aku ada di toilet ini? Bahkan sampai nunggu di depan bilik yang aku masuki. Dia ngikutin aku tanpa aku sadar, gitu?

"Dea, please, k-kasih aku seks... kali ini, aja. A-aku beneran ga tahan..."

"Engga mau, Freddy. Yang di belakang sekolah itu pertama dan terakhir." Aku pun ngumpulin keberanian untuk menerobos blokadenya. "Minggir. Aku mau pulang."

"Ga boleh, Dea. Kamu ga boleh pulang." Pelan-pelan, dia mendekatiku. Sumpah, dia nyeremin banget! Sekarang dia bahkan sudah masuk ke bilik. "Kalo kamu pulang, nanti aku gimana? Aku udah ga mempan kalo cuma masturbasi. Please, Dea. Kita kan udah ngelakuin ini sekali. Ga ada bedanya kan kalo ngelakuin lagi?"

"Fred, jangan gila, deh. Jangan maksa aku, dan jangan bebanin masalah kamu ke aku. Sekarang minggir, aku mau pulang, beneran!"

"Ga bisa! Kamu ga boleh pulang!"

Gawat, gawat, gawat! Freddy makin ngedorong aku jauh dari pintu bilik. Dia bahkan langsung tutup dan kunci pintu. Terus... dia buka celananya, dan langsung keluarin kontolnya. Tegang banget, udah keras gitu. Tapi dia mau ngapain? Kenapa dia nyodorin kontolnya ke aku? Kan aku ga mau. Kok dia maksa? Aku mau diapain sama dia? Eh, eh... apa aku mau diperkosa?

Rasa ngeri yang menjalar cepat ke seluruh tubuh, bikin aku refleks membuka mulut. "TOL—"

"Ssshhh... jangan berisik, Dea. Ini cuma sebentar, kok," potong Freddy, sambil membekap mulutku tepat sebelum aku sempat teriak.

Tentu saja aku meronta. Aku melawan sekuatnya. Tapi sebuah tinju telak menghantam perutku. Aku langsung duduk di kloset dan melipat badan sebagai reaksi spontan agar mengurangi rasa sakit yang kurasa. Aku bahkan ga bisa bersuara saking ga bisa mengatasi rasa sakit di perut ini. Di sisi lain, Freddy makin mendekat. Dia bahkan ga peduli denganku yang lagi merintih kesakitan.

Maka, dengan lengan lemahku, aku berupaya mendorong dia untuk ga makin dekat. Tapi sia-sia. Tanganku gampang dia singkirin begitu aja. Saat berhasil gapai aku, dia malah maksa aku berdiri. Lalu badanku diputar dan sekarang membelakanginya. Sambil angkat rokku dan turunin celana dalamku, dia bilang, "Kalo kamu nurut, aku ga akan mukul kamu lagi. Diem aja, ya?"

Aku mengangguk cepat. Aku ga mau dipukul lagi. Rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang. Aku ga mau ada rasa sakit tambahan. Jadi... dengan seluruh badan gemetar menahan takut, kulebarkan paha. Aku pun berusaha menungging, dan kedua tangan bertumpu di dinding bilik. Tapi badanku ga mau menurut. Poseku kaku. Punggungku ga semeliuk saat aku sukarela minta dientot cowok-cowok yang selama ini nikmatin badanku.

"Ma-mana sih lubangnya? Ah, ini dia. D-Dea... aku masukin, ya..."

"Fred, nanti dulu, nanti dulu, aku belum basah! Nanti malah sakit di akunya kalau dipaksa—nggghhhhh... sakit, sakit, udah, jangan tambah dimasukin... sakit, Fredd... sakit, beneran—"

Satu tinju lagi menghantam punggungku. Rasanya dadaku langsung sesak, dan seketika suaraku tertahan.

"Diem, Dea. Diem. Mau dipukul lagi?"

Aku spontan menggeleng cepat. Iya, iya, aku nurut. Aku ga mau dipukul lagi. Sakit banget. Aku kapok. Makanya, aku gigit bibirku sendiri sebagai upaya terakhirku untuk menahan sakit dan perih di memekku saat kontol Freddy masuk makin dalam. Ketika kontolnya sudah masuk semua, air mataku tiba-tiba mengalir. Aku menangis... tapi untuk apa? Hal apa yang aku tangisi? Kenapa sekarang hatiku merasa sedih dan sakit yang teramat sangat?

Untuk beberapa kali sodokan, aku harus menahan perih yang luar biasa karena memekku masih ga keluarin cairan pelumas. Kontol Freddy jadi seret banget, dan rangsangan yang diterima saraf pada dinding memekku bukan rasa nikmat, tapi sakit perih. Lalu pada sodokan yang entah keberapa kali, rasa perihku mulai reda. Memekku mulai keluarin pelumas, dan rasa enak sedikit demi sedikit bisa kuterima.

Tapi aku ga mau ini! Kenapa sih badanku kayak berkhianat? Aku ga mau ngentot, aku ga mau badanku kotor saat harus menyambut Abi dan Umi nanti! Aku ga mau nikmatin kontol Freddy, tapi kenapa memekku justru malah kirim sinyal rangsangan ke otakku? Aku ga mau, beneran. Aku mau udahan. Aku mau pulang...

"Enak, ya? Enak, kan? Ngeseks sama aku enak, kan? Hhh... hhh... Dea, bilang enak, gitu."

Iya, sodokannya memang enak, tapi aku menolak untuk mengakui. Aku ga mau ini. Mau seenak apapun dia mentokin kontolnya di memekku, hatiku ga bisa dipaksa. Kelaminku bisa menikmati, tapi hatiku sakit. Aku mau ini berakhir secepatnya.

"Dea, bilang enak, hhh... hhh... dong! Mau aku pukul lagi? Ga kapok?"

Engga, aku ga mau dipukul. Aku takut. Iya, aku nurut. "Iyahhh... enak... sodokan kamu enak... ahhh, ahhh..."

Tiba-tiba, HP-ku yang ada di saku seragam bergetar. Kayaknya ada telepon masuk. Buru-buru kurogoh saku, dan ngeliat ke layar HP. Jantungku rasanya seperti dipukul godam saat ngeliat nama kontak yang tertera di layar. Abi. Aku langsung panik. Tanganku pun menggapai-gapai Freddy, berusaha bikin dia berhenti. Tapi usahaku percuma. Dia kayak orang lagi kalap.

"Fred, ayahku nelpon! Tunggu sebentar... ahhh, aahh... aku serius... berhenti dulu—mmmpph—"

"Persetan sama ayah kamu. Kalo berani, angkat aja telponnya, hhh... nanti biar ayah kamu tau... kalo kamu lagi jadi budak seks aku!"

Mulutku langsung dia sumpal dengan tangannya. Bahkan lubang hidungku juga dia tutup, bikin aku kesulitan bernapas. Disaat yang sama, sodokannya jadi makin ga beraturan. Temponya dipercepat, dan tiap sodokannya terasa keras dan mentok sampai ke ujung memekku.

"Keluar, nih... ahh, ahh, Dea, aku keluar, aku... nngghhhh!"

Freddy menyodokkan kontolnya dalam-dalam saat dia ejakulasi. Pejunya jadi bermuncratan ga karuan di dalam memekku. Setelah sodokan kuatnya, kontol dia masih berdenyut beberapa kali, sebelum akhirnya dia cabut dengan kasar. Lalu, aku didorong hingga jatuh duduk di samping kloset. Aku ga tau apa lagi yang terjadi, karena saat aku membuka mata, Freddy lagi membuka pintu bilik lalu pergi ninggalin aku begitu aja.

Untuk beberapa detik, aku cuma bengong memandangi ruang toilet yang kosong. Getar HP nyadarin aku dari kondisi bengongku. Pelan-pelan, aku bangkit lalu kututup dan kukunci pintu bilik. Aku pun duduk di kloset, tanpa merapikan seragam bawahku yang masih acak-acakan.

Aku liat layar HP. Abi telpon aku untuk yang kesekian kali. Kutarik napas dalam-dalam, coba tenangin diri. Lalu aku mencoba senyum, kemudian mencoba-coba intonasi suara yang riang. Setelah yakin, aku mengangkat telpon.

"Assalamu'alaikum, Anaknya Abi dan Umi." Terdengar suara Abi dan Umi dari seberang telepon.

"Abi, maaf. Dea ga bisa ucapin salam, lagi di toilet." Aku menelan ludah untuk meredam getar pada suaraku. Harus dibuat ceria, Dea!

"Oh, apa Abi telepon nanti aja?"

"Ga, ga apa-apa. Dea masih lama juga kayaknya. Takut ada yang penting."

"Oke, deh. Bismillah," sekilas, ada jeda di kalimatnya, "Anaknya Abi, ada kabar baik, nih! Abi sama Umi bisa pulang sekarang. Abi udah dapet izin. Ini lagi siap-siap loading barang ke bagasi mobil."

Suara Abi yang berat terdengar riang saat nelpon aku. Kayaknya Abi lagi seneng banget. "Syukurlah, Abi. Nanti Dea masak, deh. Abi sama Umi mau dimasakin apa?"

"Ga usah repot-repot, Sayang," kali ini suara Umi yang terdengar, "Kamu masak buat makan siang kamu aja. Kami paling sampenya abis Maghrib. Nanti setelah drop barang, kita makan di luar, ya?"

"Waaah... beneran? Yaudah, Dea tunggu, ya. Oh iya, pulangnya hati-hati di jalannya. Bilangin Abi ga usah ngebut."

"Yaaah... padahal Abi mau pecahin rekor Abi yang kemarin, tuh," giliran Abi yang bersuara.

"Abi nurut kek sama anak sekali-sekali," balasku.

"Iya, iya. Abi cuma bercanda." Lalu, kudengar suara mereka bicara berbarengan, "Yaudah, tungguin kami, ya. Wassalamu'alaikum, Sayang."

"Iya, Abi, Umi. Dea tutup, ya."

Saat aku sudah mastiin kalau telponnya beneran berakhir, aku langsung menunduk. Seketika, tangisku pecah. Aku ga tau kenapa bisa sesedih ini, tapi aku merasa kalau aku benar-benar bikin mereka kecewa. Aku tau mereka ga tau kalau aku habis diperkosa. Tapi aku beneran kecewa sama diri sendiri. Aku merasa kotor. Aku ga bisa menyambut kedua orangtuaku dengan kondisi sekotor ini.

Tangisku jadi makin deras. Aku bahkan sudah ga tau aku menangis untuk apa. Tapi hatiku jadi makin terasa sakit. Sakit banget. Menjalar hingga ke tiap sudut badan. Di tiap rasa sakitnya, muncul juga rasa hina dan rendah diri. Bahkan aku bisa-bisanya nyalahin diri sendiri atas perkosaan yang menimpaku. Rentetan kejadian ini terjadi karena aku nurutin egoku. Kalau saja aku ga macam-macam dengan Freddy dari awal, aku ga akan merasa serendah ini sekarang.

Bukan. Harusnya lebih kutarik lagi kebelakang. Ke akar masalahnya. Kalau saja aku ga dicekoki obat dan diperkosa Pak Jumadi, aku ga akan jadi perempuan murahan sakit jiwa begini. Hidupku sekarang berantakan, mentalku hancur, sifatku jadi banyak berubah. Diatas semua itu, aku jadi cewek hiperseks yang narsis, egois, dan self oriented. Aku ga bisa balik ke versiku yang dulu. Ga akan bisa. Sekarang aku merasa kayak barang bekas yang ga bisa didaur ulang.

Rusak. Cacat. Kotor. Hina. Menjijikan.


———​


"Dea, kamu beneran ga apa-apa?"

Ekspresi khawatir tercetak jelas di wajah Fah. Pandangannya ga lepas dariku. Meski berkali-kali aku bilang bahwa aku baik-baik saja, tapi Fah tetap ga percaya. Saking khawatirnya, dia bahkan ga mau beranjak masuk mobil meski aku bilang ga jadi ikut pulang sama dia.

"Aku beneran ga apa-apa. Cuma agak ga mood aja. Aku kayak lagi pengen sendiri dulu," buru-buru kutatap dia, sambil memaksakan senyum, "Eh, ini ga ada hubungannya sama kamu, loh."

"Aku ngerti. Yang aku ga ngerti, kenapa kamu tiba-tiba jadi murung gini? Ada yang jahatin kamu, ya?"

Pertanyaan terakhirnya tepat banget. Iya, memang ada yang jahatin aku. Tapi aku ga mau cerita. Aku capek. Aku mau nanggung semuanya sendiri aja. Ga mau libatin orang lain lagi. Jadi, kujawab pertanyaan Fah dengan gelengan kepala. "Aku cuma sedih, orangtuaku ga jadi pulang hari ini," kataku, lirih. Duh, aku bohong lagi.

"Yakin cuma itu?"

"Beneran." Kuacungkan dua jari, membentuk huruf V. "Jadi, aku mau sendiri dulu, ya. Nanti kalo aku udah enakan hatinya, aku mau denger cerita kamu."

"Oh, soal itu... aku kasih teasernya, deh." Fah pun deketin mulutnya ke samping kepalaku. Sambil berbisik, dia bilang, "Bukan aku pembunuhnya, Dea. Aku ga punya kemampuan dan mental sehebat itu, aku cuma anak SMA biasa, kayak kamu. Tapi... aku emang serahin 'pekerjaan'nya ke profesional. Ada tim pengamanan privat milik keluargaku, yang kadang bisa dialihfungsi sebagai... eksekutor."

"That's... a relief." Kuelus pipinya, lalu memberi senyum manis padanya. "Makasih banyak, ya."

"Kamu lega karena bukan aku yang ngelakuin?"

"Bukan, kok."

"Terus, lega kenapa?"

"Karena udah tau fakta sebenarnya. Fakta bahwa orang-orang itu mendapatkan kematian yang ga mudah, dan kamu memfasilitasi dendam aku dan Laras dengan sangat baik. Itu melegakan, tau."

"Tapi... aku pelaku pembunuhan berencana, loh. Kamu ga apa-apa masih temenan sama aku?"

"Don't fucking care. We'll both go to hell, anyway. So why bother?"

"Indeed. Why bother?"

Kami pun tertawa lepas. Untuk sekejap, aku melupakan fakta bahwa aku baru saja jadi korban perkosaan, dan malah menikmati momen dengan Fah. Karena di detik setelahnya, otakku yang rese ini kembali membawa ingatan kejadian di toilet tadi. Tawaku pun perlahan memudar.

"Nona Fah." Seorang pria berbadan tegap dan berbaju safari hitam, muncul dari balik pintu kemudi mobil Fah. "Tuan Besar baru saja telepon, pesannya minta Nona supaya cepat pulang."

"Oh, oke. Nyalain mesinnya dulu aja, Gio. Nanti aku masuk," balas Fah kepada pria itu. Lalu, Fah beralih kepadaku. Matanya memandang jauh ke dalam mataku. Lekat dan teduh. "Baik-baik, ya," katanya, lembut.

"Iya, kamu juga."

Setelah memberi pelukan hangat, Fah masuk ke dalam mobil lewat pintu belakang. Sembari mobilnya melaju, dia buka kaca dan berkali-kali melambaikan tangannya sampai mobilnya lewati gerbang dan hilang dari pandanganku.

Sepeninggal Fah, aku mutusin untuk pulang. Saat melewati gerbang sekolah, aku ngeliat sosok yang aku kenal banget. Freddy. Dia lagi jalan bareng dua orang dewasa, keluar dari warung mie ayam yang berada di samping SMP yang menempel dengan sekolahku. Mereka bertiga menuju mobil sedan yang terparkir di pinggir jalan. Si pria dewasa langsung menuju pintu kemudi, sedangkan yang wanitanya sedang membukakan pintu buat Freddy.

Aku tebak, mereka adalah kedua orangtuanya. Astaga, dia... bisa-bisanya makan mie ayam bareng keluarga, sehabis merkosa dan mukulin perempuan? Aku ga bisa berkata-kata. Beneran. Saking syoknya, badanku sampai menegang dan kaku.

Menyadari kehadiranku yang lagi mengamatinya, Freddy pun nengok ke aku. Ga sampai sedetik, dia langsung memalingkan muka. Aku masih belum berkedip saat ngeliat dia masuk ke mobil, bahkan setelah mobilnya melaju pergi. Pandanganku masih lurus, memandang kosong pada jalanan yang sedang dilalui kendaraan.

Tanganku pun mengepal. Gigi bergemelutuk menahan geram. Sorot mataku menusuk tajam. Kuingat-ingat lagi sorot matanya saat nengok ke aku, tadi. Pun dengan ekspresi mukanya. Tatapan jijik dan ekspresi merendahkan darinya itu ga akan hilang dari ingatanku. Dia baru berhasil perkosa aku sekali, lalu jadi merasa menang, gitu? Gila, darahku ga pernah semendidih ini.

Aku berjanji, setelah kuhabiskan momen dengan Abi dan Umi, akan kubalas dia, dan kubuat menderita sampai dia merasa saking putus asanya, dia ga akan sanggup hidup di dunia ini lagi. Kutarik lagi kata-kataku tentang hidup damai karena melepaskan amarah dan dendam. Engga, ternyata dendam itu harus tetap ada. Sebagai bensin untuk amarah, agar nyala apinya tetap berkobar dan membakar.

Just you wait. Eye for an eye, bangsat.
==========

==========
Chapter 21 — We Love You, Dea






Cuma satu hal yang aku pikirin selama perjalanan pulang tadi. Mandi. Aku harus mandi, bebersih total. Sebersih-bersihnya. Aku ga mau secuil pun najis yang dikasih Freddy masih nempel di badanku. Ga sudi. Karena dia, aku jadi beneran ga nyaman dengan badanku sendiri.

Maka, begitu sampai rumah, kukunci pintu lalu kubuka seluruh seragamku sejak di ruang tamu. Aku berlarian telanjang menuju kamar mandi. Kunyalakan shower, langsung basahi diri dari ujung kepala hingga kuku kaki. Berkali-kali aku sabuni badan dan bagian kemaluan. Aku juga berjongkok dan mengejan sekuatnya, berharap sperma dia keluar seluruhnya.

Di bawah kucuran air shower, aku duduk di lantai sambil menekuk kaki. Kupeluk lututku dan kubenamkan muka di paha. Membiarkan air memercik pada tengkuk dan punggung. Mataku menatap kosong, benakku larut dalam bengong.

Kalau aku sekarang sekotor ini, bisakah aku kembali bersih? Bisa ga, sih, waktu terulang lagi? Balik ke masa aku masih jadi anak perempuan yang bisa menjaga kepercayaan kedua orangtuaku. Ke masa dimana hidupku engga sekacau sekarang. Ke masa dimana aku ga perlu merasa berat hati tiap kali mau ngaji dan sholat.

Tangisku hadir lagi. Pecah dan mengalir di pipi, lalu berbaur dengan air keran saat jatuh ke paha. Inginku berteriak, tapi hati terasa enggan. Aku malu. Pada ruang-ruang kosong yang jadi saksi bisu akan desah dan erangan binal pada momen perzinahanku. Maka, aku tutup rapat mulutku. Ga peduli seberapa gemetarnya aku menahan pilu.

Kuingat, dalam bidang psikologi, ada istilah monkey mind; artinya kondisi seseorang yang memiliki pikiran yang 'melompat-lompat' dari satu hal ke hal lain, yang, isi kontennya berupa ketidaktenangan, kegelisahan, kecewa, marah, murung, sedih, dan sifatnya mendistraksi. Itu yang lagi aku rasain. Pikiranku melompat-lompat dengan lancarnya, berpindah dari satu trauma ke trauma lain. Kacaunya benakku jadi lengkap dengan hadirnya suara-suara yang terus memberiku rentetan pertanyaan, tanpa memberiku kesempatan jawab.

Lalu, monyet di dalam kepalaku berhenti melompat. Aku bisa bayangin, dia ada di sana... bergelayutan sambil menatapku. Muka jeleknya tersenyum. Dia membisikiku pertanyaan. Sebuah pertanyaan sederhana, tapi ga mampu kujawab. "Kan badan kamu udah hina dan kotor dari lama, tapi kenapa sedihnya baru sekarang?"

Tangisku pecah sejadinya. Aku meraung, berteriak panjang hingga suaraku parau. Sesak yang berkecamuk di dadaku, ga bisa lagi kutahan. Jijik. Aku jijik sama diriku sendiri. Rasa jijik dan hina ini merayap cepat ke seluruh badan. Aku jadi benci badan ini. Kugaruk dan kucakar lengan, betis, dan kaki. Entah kenapa, otakku justru memutar ingatan tentang momen-momen aku ngeseks dengan banyak orang. Maka, kubenturkan kepala ke belakang. Bunyi benturan keras pada tembok terasa menenangkan di kupingku. Coba sekali lagi, deh.

Ah, sudah lebih tenang.

Kepalaku sakit dan pusing. Pandanganku terasa berputar. Kuputuskan untuk merebah pada lantai. Tidur menyamping dan meringkuk. Lama. Mencari tenang, mengharap damai. Kepalaku masih berisik, tapi bunyi gemericik air menenangkanku.

Lama... kelopak mataku jadi berat. Makin berat, seiring memudarnya pandangan dan kesadaran. Akhirnya, kutemukan kedamaian saat kelopak mataku menutup... dan pandanganku menghitam.

Kantuk ga pernah semenggoda ini sebelumnya.


———​


Tebak siapa yang ketiduran di kamar mandi? Yak, betul. Andrea Nadia ketiduran berjam-jam di kamar mandi, dengan kondisi telanjang dan dikucuri air shower yang lupa kututup. Efeknya, aku jadi masuk angin sekarang. Kayaknya mau pilek juga, soalnya ada demam dan bersin-bersin.

Aku putusin untuk merubah prioritas keinginanku saat Umi pulang nanti. Tadinya mau dimanja, tapi kayaknya aku mau minta dikerokin aja, deh. Biasanya, aku minum Tolak Angin tiap kali masuk angin, sih. Dicampur ke teh manis hangat, lalu diminum dalam sekali angkat gelas. Tinggal tunggu keringetan, dan badanku langsung enakan. Tapi kali ini, aku mau yang beda. Aku memang belum pernah dikerok, tapi aku mau coba. Kayaknya enak kalau liat Abi sendawa terus tiap lagi dikerok Umi.

"Astaghfirullah, gelap banget ini rumah," keluhku, pada ruang gelap saat aku keluar dari kamar mandi.

Buru-buru aku nyalain lampu di tiap ruangan. Soalnya, aku percaya kalau hantu itu suka sama tempat gelap, juga waktu Maghrib. Nah, sekarang tuh lagi keduanya. Aku belum pernah punya pengalaman horror disetanin, dan mau rekor itu tetap terjaga.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."

Suara adzan dari pengeras suara masjid komplek sampai ke kupingku. Entah kenapa, langkahku langsung otomatis menjejak ke kamar mandi. Aku berdiri di pintu, seulas senyum mengembang. Kok aku bertanya-tanya, sih? Memang harusnya begini, kan?

Kakiku pun melangkah maju. Yang kiri lebih dulu, sementara mulutku bergerak membaca do'a. Aku berdiri menghadap keran, yang kebetulan dirancang searah dengan kiblat. Setelah membaca niat, aku memulai prosesi mandi junub. Setelahnya, aku berwudhu. Berharap air yang memercik ke sebagian besar badanku ini bisa membuatku merasa... sedikit lebih 'bersih'.


———​


Sehabis sholat Isya, kulirik HP yang tergeletak di atas meja belajar. Baru mau aku ambil, HP ku bergetar. Ada chat masuk. Begitu aku buka, aku pun tersenyum. Dari Umi, ngabarin kalau Abi dan Umi sudah masuk Tol Lingkar Luar menuju Jakarta Selatan. Umi minta maaf karena waktu pulangnya jauh dari estimasi, katanya, mereka terjebak macet di Bekasi. Sekarang, mereka beneran lagi menuju rumah. Pulang ke aku, anak mereka satu-satunya.

Setelah kubalas, aku matiin HP untuk kuisi dayanya. Biar lebih cepat terisi. Aku pun kembali ke sajadah. Mengulang kebiasaan lama, tiduran di atas sajadah favoritku. Karena bahannya lembut dan tebal, aku suka banget rebahan di sajadah ini. Kalau sudah rebahan, biasanya aku jadi gampang tidur.

Iya. Nih, akunya sudah mengantuk lagi.


———​


Suara ketukan di pintu depan cepat membangunkanku dari tidur. Kulirik jam dinding. Pukul dua pagi. Aku langsung bangun cepat, lalu duduk sambil mengucek mata. Kulihat lagi jam dinding itu. Iya, beneran jam dua pagi! Astaga, kaget banget!

Kalau bukan karena ada yang ngetuk pintu, aku pasti ketiduran sampai pagi. Eh, iya, aku harus cek siapa yang ngetuk. Pasti Abi dan Umi, kan? Semoga iya, karena kalau bukan, aku pasti takut banget jadinya. Duh, mana masih muka bantal dan pakai mukena gini.

Aku segera berjalan cepat menuju ruang tamu. Kusibak tirai jendela, mengintip ke luar. Mataku langsung melebar saat ngeliat siapa yang datang. Abi dan Umi! Buru-buru aku buka pintu. Tentu saja, mereka ga mengantisipasi saat aku langsung melompat, memeluk mereka berdua.

"Jawab salam dulu, dong, baru meluk!" protes Abi, sambil lengannya balas memelukku.

"Wa'alaikumsalam, Abi, Umi!" Kulepas pelukanku. Agaknya, aku terusik sesuatu. Tapi kutepis buru-buru perasaan itu. Lalu, aku menyambut uluran tangan kanan Abi sambil tersenyum. Mau salim. Saat keningku menempel pada punggung tangannya, senyumku memudar. "Umi, gantian Dea mau salim juga."

Setelah salim ke Umi, senyumku makin pudar. Tapi buru-buru aku paksain untuk ceria lagi. Aku ga mau mereka tau kalau aku lagi cemas.

Aku pun mengamati kedua orangtuaku. Meski raut lelah keliatan jelas di muka mereka, tapi aku liat muka mereka cerah banget. Air muka mereka pun teduh. Memang beda, sih, kalau rajin kena air wudhu. Enak aja gitu diliatnya. Pengamatanku pun beralih ke sekitar mereka. Ga ada koper, plastik atau kardus yang biasanya mereka bawa kalau habis dari luar kota.

"Barang-barangnya kemana, Abi?" tanyaku, penasaran.

"Ada di mobil semuanya. Tapi mobilnya ga ada, lagi nginep di bengkel," jawab Abi.

Setelah Abi dan Umi masuk ke dalam rumah, buru-buru dong aku melongok ke halaman parkir. Eh iya, bener ga ada mobilnya. Aku pun spontan pasang ekspresi heran, memandangi Abi dan Umi. "Emang mobilnya kenapa? Kok di bengkel?"

"Itu lah yang mau Abi jelasin. Mobilnya tiba-tiba rusak, mogok di tol Lingkar Luar. Terus diderek sampe keluar tol. Alhamdulillah, kita nemu bengkel. Jadinya mobil diinepin. Terus, Abi sama Umi ga ngabarin karena HP kita berdua mati. Gitu, kesayangnya Abi."

"Terus... Abi sama Umi pulangnya ke sini gimana?"

"Ada bapak-bapak baik yang anter sampe rumah." Kali ini, Umi yang jawab. "Gara-gara kita pesen taksi online, tapi ga dapet-dapet, makanya Abi sama Umi jalan sambil nyari. Eh, tiba-tiba ada yang nawarin numpang kendaraannya. Mana ga mau dibayar lagi. Padahal jauh, loh. Ih, Ya Allah... berkah banget beliau, tuh."

"Oh, gitu." Aku pun memeluk mereka, lagi. Kali ini lebih erat, meski semakin erat kupeluk mereka, semakin terjawab kecemasan yang dari tadi kurasa. "Abi, Umi, mau dimasakin sesuatu, ga? Apa gitu, yang anget-anget? Pasti laper dan kedinginan, kan?"

Abi dan Umi saling berpandangan. Lalu, Abi bertanya ke Umi, "Abi belum laper. Kalo Umi gimana?"

"Sama, Abi. Umi mau bersih-bersih dulu aja," jawab Umi.

"Abi sama Umi sempet tidur ga tadi di jalan? Mau tahajud bareng? Dea udah lama, ih, ga tahajudan bareng Abi-Umi."

Kembali, mereka saling memandang. Lalu, mereka berbarengan nengok ke aku sambil senyum. "Iya, nanti," ucap Abi, disusul Umi dengan bilang, "Dea duluan aja, ya."

Aku agak kaget dengar jawaban mereka. Ga biasanya mereka menunda ibadah, bahkan yang sunnah sekali pun. Dengan benak penuh keheranan, aku mengangguk lalu ambil wudhu, dilanjut melaksanakan tahajud di kamarku. Setelah selesai membaca do'a sehabis tahajud, aku dengar suara ketukan di pintu.

"Iya, Abi, Umi?" tanyaku, sambil membuka pintu.

"Boleh masuk? Abi sama Umi mau nemenin Dea, sebentar. Ga apa-apa?" tanya Umi. Nadanya lembuuuut sekali.

Awalnya aku heran, tapi kututupi keherananku dengan tawa. "Ih, ya ga apa-apa, dong. Namanya juga orangtua. Umi kok nanyanya aneh banget?"

Kupersilakan mereka masuk. Karena memang aku berencana mau tidur, aku pun duduk berselonjor di ranjang. Umi pun naik ke ranjang, duduk manis di sampingku, sementara Abi duduk pada tepi ranjangku. Mereka memandangiku, lama.

"Dea, lagi ada masalah, ya?" tanya Umi.

Aku refleks ingin menggeleng, tapi kukontrol diriku agar ga berbohong di depan mereka. Seenggaknya, aku ingin ada waktu dimana aku bisa jujur kepada kedua orangtuaku. Seperti hari-hari lalu. Seperti waktu yang ga akan bisa kembali lagi itu.

Akhirnya, cuma senyum tipis yang bisa kuberi sebagai responnya.

"Umi liat dari pas kamu buka pintu, mata kamu sembap, lho." Umi makin dalam menatapku. "Hidup kamu ga mudah ya saat kami ga ada? Umi minta maaf, ya. Umi malah kerja dan ninggalin kamu sendirian." Lalu, tangan Umi bergerak cepat meraih lengan Abi, sambil bilang, "Abi juga minta maaf ke Dea, dong."

Dicubit lengannya, Abi langsung bereaksi. Sehabis usap-usap lengan, Abi menatapku. Sama dalamnya dengan tatapan Umi. "Abi minta maaf, ya. Abi pergi-pergi terus. Ga jaga Dea. Kurang luangin waktu buat keluarga. Tapi Abi harap Dea ngerti, kalo yang Abi lakuin adalah demi keluarga," kata Abi. Sumpah, Abi ga pernah ngomong selembut ini sebelumnya.

Aku masih terdiam saat Abi mengakhiri kalimatnya. Jujur, aku bingung harus merespon apa. Kayak... tiba-tiba orangtuamu pulang dini hari, lalu ke kamarmu dan ngomongin hal-hal yang ga pernah keluar di pembicaraan sehari-hari. Oh, oh... apa ini yang namanya deep talk versi keluarga?

"Abi, Umi... jangan khawatir. Dea ngerti. Ada hal-hal yang memang ga selalu butuh penjelasan. Kayak alamiah aja, gitu. Abi dan Umi ga usah minta maaf, karena ga salah juga." Ah... gawat, tenggorokanku tercekat. Aku jadi kesulitan ngomong kalau gini. "Harusnya... Dea yang minta maaf, soalnya...."

Kalimatku sengaja kugantung. Aku ga sanggup selesein. Sungguh. Dadaku menyesak, soalnya. Aku harus tetap kontrol emosiku, atau tangisku akan pecah saat ini juga, dan aku ga mau Abi dan Umi liat aku nangis. Seenggaknya, bukan di momen ini.

Serentak, Abi dan Umi bersamaan menghambur, memelukku. Bukan pelukan yang hangat, karena badan mereka dingin. Sedingin tadi saat aku salim ketika mereka baru tiba. Mungkin karena terlalu lama terpapar udara malam. Mungkin... seharusnya aku usir pikiran buruk yang sedang mengusikku ini. Tapi hatiku jadi hangat. Damai. Tenang dan menenangkan. Mungkin aku mendramatisasi, tapi aku merasa perasaan mereka tersampaikan padaku. Tanpa kata-kata pun aku mengerti, kalau Abi dan Umi sayang aku.

Tuh, kan... aku nangis. Tangisku pecah dalam pelukan mereka. Aku merasa memiliki dan kehilangan di saat bersamaan. Perasaan aneh yang ga pernah aku rasakan sebelumnya. Mengamplifikasi sedih dan bahagiaku, bercampur baur jadi tangis dan raungan emosi.

Abi dan Umi ngebiarin aku nangis sepuasnya. Memelukku dalam durasi yang lama, hingga aku bisa meluapkan semua. Setelah agak mereda, aku justru malu pada Abi karena pundaknya sekarang penuh dengan ingus. Sebel banget, bisa ga, sih, kalau nangis tuh yang anggun, gitu?

"Terakhir kali kamu nangis kayak gini tuh waktu masih kecil, loh," Abi mengusap kepalaku, lalu lanjutin ceritanya, "Dulu pas kecil, kamu tuh suka tantrum. Kalo lagi tantrum, duuuh... heboh banget nangisnya!"

"Terakhir Dea tantrumnya gara-gara apa, tuh, Bi?" tanya Umi pada Abi.

"Apa ya... gara-gara Abi tinggal kerja, kayaknya, Mi." Abi kembali bicara padaku. "Kamu nangis heboh, megang-megang kaki Abi supaya ga pergi. Ga bisa ditenangin. Akhirnya, Abi peluk Dea. Abi usap-usap punggungnya, terus Abi bisikin, "kalo mau Abi cepet pulang, do'a aja", gitu. Eh abis itu kamu ngacir ke tempat sholat, langsung do'a supaya Abi ga pergi."

"Akhirnya Abi beneran ga pergi, kan?" tanyaku.

"Tetep pergi, dong. Tapi setelah kamu tidur. Abi jadi telat kerja, dimarahin atasan. Tapi ga apa-apa. Abi mending dimarahin atasan daripada dimarahin Dzat yang titipin kamu ke Abi, karena bikin kamu sedih."

"Habis itu, tiap Abi pergi kerja, kamu udah ga pernah tantrum lagi, Sayang," ucap Umi, sambil hapus air mataku. "Kamu selalu do'a, minta Abi cepet pulang, semoga selamat terus bawa jajanan. Alhamdulillahnya, Abi jadi dapet rejeki terus. Siapa tau karena do'a Dea."

"Makanya... Abi sama Umi... minta Dea do'ain kami terus, ya?" ucap mereka, hampir berbarengan.

"Iya, Abi, Umi. Dea tau, kan amalan yang ga akan terputus itu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan," aku memberi jeda, karena tenggorokanku kembali tercekat, "Do'a anak yang sholehah, kan?"

Abi dan Umi berbarengan mengangguk. Mereka pun lepasin pelukan. Menatapku lama dan dalam, dengan sorot mata yang penuh sedih dan muram. "Bisa, Sayang?" tanya Abi.

Gantian, aku mengangguk. Lalu, Abi dan Umi pamit sambil beranjak dari ranjang. Kuhembuskan napas panjang, lalu menatap mereka yang sedang berdiri, memandangiku.

"Sekarang... Abi dan Umi mau istirahat?" tanyaku.

"Iya. Kayaknya tidurnya bakal pules banget, deh. Bisa-bisa ga bangun lagi, nih. Soalnya capek banget," balas Abi. Ih, Abi tuh memang suka bercanda, tapi kali ini sorot mata sedihnya ga bisa ditutupi dariku.

Saat Abi dan Umi mengucap salam, lalu melangkah pergi, rasa kehilangan yang berkecamuk di dadaku makin membesar, pada tiap langkah mereka yang menjauh dariku. Aku ingin bangun, lalu menahan mereka untuk ga ninggalin aku, lagi. Tapi aku ga bisa. Badanku kaku. Seakan ada beban berat yang menahanku. Tapi aku tau, bibirku masih bisa bergerak. Aku masih bisa menahan mereka lebih lama, meski cuma bertambah beberapa menit saja.

Maka, meski tenggorokanku makin tercekat karena sakit pada hati, atau tangis yang bersiap pecah lagi, aku ga peduli. Aku membuka bibir, menguntai kata-kata.

"Sebelum... Abi dan Umi keluar dari kamar ini, Dea... mau ngomong sesuatu. Bismillah," ucapku. Kuambil napas panjang, hembuskan perlahan, lalu melanjutkan kalimatku. "Pertama, terima kasih banget, banget, banget, banget, banget, banget... karena sudah jadi orangtua yang luar biasa baik buat Dea selama ini. Dea ga tau harus bilangnya gimana, tapi Dea beneran bersyukur bisa jadi anak Abi dan Umi. Kalo misal Dea bisa lahir lagi, dan ditanya mau jadi anak siapa, pilihan Dea ga akan berubah. Ga akan.

"Kedua... hufff," ah, gimana, sih... air mataku mulai mengalir lagi, tapi aku harus terus, harus kuat, karena habis ini kesempatannya ga akan ada lagi, "Dea mau bilang, kalo Dea bisa jaga diri. Abi sama Umi tenang aja, jangan mikirin Dea lagi. Fokus aja sama urusan Abi dan Umi, ya. Dea yakin bisa kuat, kok, ngejalanin hidup ini."

Abi dan Umi cuma senyum. Tapi senyumnya lebar banget. Ekspresi sedih yang berusaha mereka sembunyiin dari tadi juga udah ga ada. Sekarang, mereka keliatan lega. Tanpa kata, tanpa suara. Cuma senyum tulus, yang bikin hatiku makin sakit saat memandanginya.

"Ketiga dan terakhir... makasih, ya, udah bikin pengalaman pertama Dea sama hantu-hantuan dan hal-hal serem, jadi berkesan. Dea ga akan lupain ini. Makasih banget, Abi dan Umi udah bela-belain pulang untuk mampir, sebelum pergi ninggalin Dea...," yah, air mataku makin deras keluar, nih, "...Untuk selamanya."

"Kamu udah tau, ya," ucap Abi, lirih.

Umi kembali memandangiku dengan tatapan sedih. "Dari kapan taunya, Sayang?"

"Dari... awal. Dari pas peluk... dan salim, itu. Badan Abi dan Umi dingin banget. Suhunya ga wajar, lebih dingin dari suhu ruang. Suhu tubuh manusia ga ada yang sedingin itu, apalagi ini di wilayah sub-tropis. Tadinya, Dea masih coba mikir positif, mungkin Abi dan Umi badannya dingin karena terlalu lama di luar. Tapi pas tadi Abi dan Umi meluk Dea, suhunya tetep dingin, padahal udah lama di dalem rumahnya.

"Terus... Dea jadi mikir, Abi sama Umi pulangnya lama pasti karena ada apa-apa. Ga bawa barang juga, padahal biasanya seenggaknya bawa HP atau dompet, kan? Dea perhatiin dari tadi, ga ada tuh barang-barangnya. Abi sama Umi juga mengelak pas Dea ajak sholat. Kenapa? Karena udah ga bisa sholat, ya? Iya, kan? Abi sama Umi... udah ga ada, kan? Ini mampir buat perpisahan, kan? Abis Abi sama Umi keluar dari kamar ini, Dea ga akan ketemu kalian lagi, kan?"

Abi dan Umi cuma diam saat aku cecar dengan banyak pertanyaan. Aku sendiri sudah ga bisa liat mereka dengan jelas, karena mataku bias akibat air mata. Tangisku makin menjadi-jadi. Bohong kalau aku bisa kuat mengantar kepergian mereka dengan hati tegar.

"Dea," ucap Umi, lembut, "Umi sayang sama Dea. Umi pengen ngehabisin waktu lebih lama lagi sama Dea, Umi yakin Abi juga ngerasain hal yang sama. Tapi waktu kami sudah habis. Yang mengantar kami ke sini sudah nungguin di luar."

"Dea... anak Abi yang pinter, yang baik... kuat-kuat jalani hidup, ya? Abi dan Umi udah ga ada saat Dea dewasa nanti, saat Dea nikah dan punya anak. Kami ga bisa ajari Dea lebih banyak ilmu kehidupan lagi. Kami akan fokus dengan urusan kami di alam kubur, sementara Dea masih menjalani urusan dunia. Kami ga akan ada di sebagian besar umur Dea, tapi kami yakin, Dea bisa dan sekuat itu untuk hidup sebaik-baiknya," ucap Abi. Sorot mata sedihnya beneran melukai hatiku.

Mereka pun mendekat, ulurin punggung tangan kanan mereka ke aku. Kusambut tangan Abi. Dengan khidmat, kutempelkan keningku di punggung tangannya yang dingin, lalu... kukecup bagian itu, untuk yang terakhir kali. Kulakukan hal yang sama pada tangan Umi.

"Kami pamit, ya?" ucap mereka, sambil senyum padaku. "Wassalamu'alaikum, Dea."

"Wa'alaikum..." Aku berusaha mengakhiri salamku, tapi ga bisa. Tangisku lebih mendominasi, mengambil alih kemampuanku dalam berlisan.

Ga ada lagi yang bisa aku lakuin selain melihat Abi dan Umi keluar dari kamarku, dan menghilang di balik pintu yang setengah membuka. Tangisku makin menjadi-jadi, dan berlangsung belasan menit setelahnya, bahkan berjam-jam sepeninggal mereka. Memori baik dan buruknya, sedih, senang dan hebatnya... terputar jelas di benakku.

Semua kenangan itu buatku sadar, bahwa Abi dan Umi sebegitunya sayang aku; semua perhatian mereka, ilmu yang mereka bagi, waktu yang mereka luangkan, apa-apa yang mereka perjuangkan... dan harapan untuk terus bersamaku, meski berakhir ga selama yang mereka kira.

Tapi itu cukup. Bagiku, perasaan mereka cukup dan penuh, tersampaikan dengan baik kepadaku. Justru karena itu, tangisku ga bisa berhenti. Menangisi mereka yang waktunya sudah habis di dunia, tapi perasaannya tetap tinggal, bersemayam di hatiku... dan ga lekang oleh waktu.

Berurai air mata, wajahku pun mendongak, menatap langit-langit kamar. Pandanganku kosong, menerawang jauh. Pikiranku menembus materi. Lebih jauh lagi. Ke atas, ke singgasana dimana Tuhan berada. Waktu kecil dulu, aku percaya kalau Tuhan ada di atas sana. Di tempat tertinggi dan termulia.

Sambil terus memandang ke atas, hatiku bertanya. Kupertanyakan takdirku pada-Nya. Pada apa yang Dia gariskan dan jadi misteri bagiku. Pada kuasa-Nya untuk mengambil hal-hal berhargaku. Pada cara-Nya dalam menguji imanku.

Dalam satu hari, aku hancur lebih buruk dari biasanya. Apa kehancuranku juga bagian dari skenario-Nya? Tapi buat apa? Kenapa aku seakan diberi kebahagiaan untuk aku pupuk dan lestarikan selama belasan tahun hidupku, hanya untuk dituai jadi derita dan kehilangan?

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa?

Satu kata tanya itu berulang terus di kepala. Berisik bagai pendemo rusuh yang memegang toa. Terus kutatap Dia. Menunggu jawaban. Lama. Dan jawaban itu ga pernah ada.

Aku pun menunduk lesu. Bangun dari ranjangku dan keluar kamar, hanya untuk terpaksa menerima fakta bahwa cuma ada aku di rumah ini. Aku mengitari rumah, mencari sosok Abi dan Umi. Di dapur, di halaman belakang, di kamar mandi, dan di kamar mereka. Semua ruangan kosong. Kuhampiri ruang tamu. Pintu depan terkunci dari dalam. Ga ada yang keluar rumah dari tadi.

Kubuka lagi kamar mereka. Aku pandangi ruangan ini. Sepi. Benda-bendanya masih berada di tempat masing-masing. Aku pun jatuh terduduk di ambang pintu. Tangisku hadir lagi. Kali ini, aku beneran percaya kalau tadi Abi dan Umi sengaja mampir untuk mengucap perpisahan. Kalau pengalaman tadi... bukan mimpi.

Satu hal lagi yang aku yakini, yang akan menggenapi firasatku bahwa Abi dan Umi sudah ga ada. Jika nanti aku nyalain HP ku, aku akan tau beritanya. Berita tentang apa yang terjadi pada mereka.

Maka, saat adzan Subuh berkumandang, aku pun bangkit. Bukan untuk ambil wudhu. Sekarang, aku menganggap hubunganku dengan Tuhan adalah hubungan yang transaksional. Ketika sesuatu terenggut dariku lebih banyak dari yang aku dapat, aku merasa ga wajib lagi untuk jadi seseorang yang taat beragama. Imanku runtuh. Aku ga lantas langsung membenci Beliau dan takdir-Nya, sih.

Karena, aku bahkan sudah ga peduli apa pun lagi.

Kuambil beberapa baju di lemari. Menyiapkan beberapa obat-obatan, dompet, juga tisu. Akan banyak tangis nantinya, jadi aku harus bersiap. Semua barang itu aku masukin ke tas ransel. Aku juga ganti baju. Kulepas mukena, lalu kupilih asal baju dan jilbab untuk aku pakai. Setelahnya, aku cabut charger, dan sambil menggenggam HP, aku duduk di ruang tamu.

Aku menunggu. Firasatku bilang, pagi nanti, akan ada yang datang. Memintaku ikut mereka ke rumah sakit atau kemana pun itu, sambil mengusap punggungku dan menjelaskan dengan hati-hati. Memberi wejangan untuk senantiasa sabar, sampai aku muak mendengarnya.

Mataku sembap, perutku lapar, badanku capek karena terus menangis, hatiku sakit, dan aku ga peduli. Aku sudah ga peduli semuanya lagi.


———​


Jam setengah enam pagi, ada ketukan di pintu depan. Aku langsung bersiap. Kumasukkan HP ke saku jaket, lalu berjalan ke pintu. Saat pintu terbuka, berdiri dua orang paruh baya di depanku. Om dan tanteku. Rumah mereka ada di Jakarta Utara. Jauh kan ke Depok? Kalau bukan karena urusan penting, buat apa mereka datang sepagi ini? Dan sialnya, aku tau urusan apa itu.

"Dea... mau kemana?" tanya tanteku. Ekspresinya kaget saat liat aku sudah berkemas dan siap pergi.

"Mau ketemu Abi sama Umi. Dea dijemput buat ke sana, kan?"

"Iya. Tapi kamu tau darimana kalo mau dijemput? Kan dichat juga cuma ceklis satu, jadi Om pikir kamu belum tau." Kali ini omku yang bicara.

"Oh, maaf. Dea matiin HP dari semalem. Tapi Dea udah tau, kok. Abi sama Umi sendiri yang sampein." Aku pun permisi pada mereka, lalu setelah menutup dan mengunci pintu, aku berjalan menuju mobil. Saat aku sadar kalau om dan tanteku ga bergeming sambil menatapku dengan tatapan penuh heran, aku ngomong lagi, "Makin cepet kita urus, makin cepet juga bisa dikubur, Om, Tante. Yuk."

Sengaja kusiapkan sikap sedingin dan sedatar mungkin, agar mereka ga perlu repot-repot menghibur dan menunjukkan empati selama perjalanan. Ini berguna juga untukku, supaya aku ga buang-buang air mata.


———​


Jenazah Abi dan Umi ada di kamar mayat RS Fatmawati. Dari keterangan polisi yang menangani perkara, orangtuaku terlibat dalam kecelakaan tunggal di jalan tol Lingkar Luar Jakarta. Dari rekaman cctv di tempat kejadian, polisi bilang kalau mobil yang orangtuaku tumpangi banting stir ke kiri untuk menghindari bus di depan mereka yang tiba-tiba ngerem mendadak, lalu mobilnya menabrak dinding underpass, mental dan terbalik. Keduanya meninggal di tempat, dengan waktu kejadian pukul sembilan malam.

Aku tersenyum kecil. Berarti yang dini hari tadi nemuin aku tuh Abi dan Umi tapi bukan versi yang masih hidup, tentunya. Ironis, ya. Selama ini aku ga pernah punya pengalaman ketemu hantu, tapi sekalinya punya, itu dengan kedua orangtuaku.

Kutengok sebentar jenazah mereka. Kusibak kain putih itu, lalu lagi-lagi, aku tersenyum. Wajah mereka cerah dan tersenyum. Seakan sudah siap saat menyambut ajal. Air mataku pun mengalir lagi. Ih, aku jadi gampang nangis sekarang. Tapi ini tangis bersyukur. Aku bahagia, setelah melihat wajah Abi dan Umi yang ceria.

Setelah urusan administrasi dan lain-lain, jenazah orangtuaku dibawa mobil ambulans ke rumah. Om dan tanteku yang ikut bantu mengurus, dengan sigap mengawal sambil mengabari kerabat lainnya. Jadi, saat jenazah Abi dan Umi sedang dimandikan di masjid komplek rumah, para pelayat sudah banyak yang kumpul di rumahku.

Tapi ga kukira... ternyata yang datang banyak banget! Mereka menangisi Abi dan Umi, yang terbujur kaku di ruang tamu, sudah terkafani dan ditutupi jarik. Banyak juga yang berusaha menghiburku, dan aku tanggapi dengan baik.

Aku juga mendengar secara seksama ketika para pelayat membicarakan kebaikan kedua orangtuaku semasa hidup. Tentu, aku jadi makin bersyukur dan berbangga hati. Syukurlah, orangtuaku adalah orang-orang baik. Tapi semakin kudengarkan cerita mereka, semakin sesak dadaku terasa. Lalu makin sesak... dan aku juga kesulitan bernapas, sampai...

Tiba-tiba aku ambruk ke lantai. Saat pandanganku menghitam, aku sudah ga ingat apa-apa lagi.


———​


Setelah prosesi penguburan yang berlangsung haru dan khidmat (dimana aku masih pingsan dan berakhir cuma dapet ceritanya doang), aku jalani sisa hari Sabtu dengan lesu. Ga mau makan, ga mau minum, lemas karena sering nangis, dan kesulitan melihat karena mataku terlampau bengkak. Saat aku bercermin, aku agak terhibur. Mataku seperti habis dipukul, dan tampilannya terlihat lucu.

Lalu aku kembali tenggelam dalam duka. Aku juga izin ga gabung saat beberapa anggota keluarga besar menggelar tahlilan selama tujuh hari, mulai dari malam ini. Sepupu-sepupu yang entah dari keluarga yang mana juga datang menjengukku, tapi aku mengunci pintu. Aku sembunyi di kamarku.

Saat lagi bengong sambil memandangi langit-langit kamar, HP ku berdering. Emang, sih, HP ku sejak tadi siang sudah berisik sama notifikasi. Tapi aku enggan untuk mengecek. Kali ini, deringnya tanda ada telepon masuk. Kulirik malas, hanya untuk tau bahwa kontak Fah yang muncul di layar.

Angkat, ga? Angkat, ga? Apa angkat aja? Atau... engga? Saat lagi menimbang-nimbang, dering HP ku berhenti. Udahan teleponnya. Aku pikir akan aku angkat, kalau dia telepon lagi. Karena kalau seseorang meneleponmu lebih dari sekali, pasti ada hal yang penting.

Eh, iya. Dia nelepon lagi. Yaudah, yaudah... aku angkat, deh.

"Halo? Kenapa, Fah?" tanyaku. Suaraku masih serak karena keseringan menangis.

"Dea! Kamu kemana aja?! Grup WA kelas-kelas sekolah kita lagi rame!" Dia kenapa, sih? Baru juga ngomong, langsung heboh gini.

"Rame kenapa? Aku ga ngecek HP daritadi."

"Video kamu yang ga pake celana dalem itu kesebar! Aku yakin banget yang nyebar itu Freddy, tapi aku ga punya bukti! Sekarang seisi sekolah lagi rame nanyain kamu, ada yang bilang hari Senin nanti... kamu bakal dipanggil guru-guru!"

Wah... kesialanku masih berlanjut, ternyata. Yaudah, mau gimana lagi? Pasti sudah banyak yang liat. "Oh, yaudah kalo kesebar," responku, datar.

"Kamu... ga merasa apa, gitu? Marah, kesel, dendam? Apa kita sebar balik aja? Video yang Freddy ngapa-ngapain kamu di belakang sekolah itu aku rekamnya jelas, kok. Bisa banget dipake buat bales dia."

Iya, ya. Harusnya aku panik sekarang. Harusnya aku lagi mikirin strategi untuk merespon video itu, dan langkah balasannya. Tapi buat mikirinnya aja, aku ga ada hasrat. Males. Biarin aja, aku ga peduli.

"Aku lagi ga ada waktu ngurusin yang kayak gitu, Fah. Tapi makasih, loh, buat infonya."

"Dea, kamu lagi kenapa?" Suaranya di seberang sana berubah intonasi. Kedengeran kayak lagi khawatir. "Eh, sebentar, deh. Rumah kamu rame banget. Lagi ada acara?"

"Iya. Lagi ada tahlilan."

"Tahlilan... itu apa?"

"Acara dzikir dan do'a bareng gitu, diadainnya kalo ada yang meninggal."

"Siapa... yang... meninggal, Dea?" tanyanya, kali ini, nadanya dibuat hati-hati banget.

"Abi sama Umi."

Fah diem dulu. Dengan penuh ketidakyakinan pada nada suaranya, dia bertanya lagi, "Abi sama Umi itu... panggilan buat orangtua kamu... kan?"

"Iya, Fah."

"Aku ke rumah kamu sekarang. Tunggu, ya." Sekarang, suara Fah berubah panik.

"Eh, ga usah. Beneran. Udah malem, ga apa-apa—"

"—POKOKNYA, AKU KE RUMAH KAMU SEKARANG!" Setelah motong omonganku dan teriak padaku, Fah langsung tutup telepon. Aku sampai harus gosok-gosok kupingku karena saking pengangnya akibat teriakan dia.


———​


Cuma butuh waktu satu jam bagi Fah untuk sampai ke rumahku. Dia juga kabarin aku saat mau sampai, jadi aku bisa siap-siap ke depan rumah untuk sambut dia. Begitu turun dari mobil, aku spontan angkat alis saat ngeliat baju yang dia pakai. Kemeja hitam yang kelonggaran, dipadu dengan skinny jeans hitam dan topi hitam. Sepatu kasualnya juga berwarna sama. Niat banget mau ngelayatnya.

"Tumben kamu dandannya boyish gini—"

Fah meluk aku, erat banget. Eh, dia malah nangis, dong. Ih, kenapa dia yang sedih? Kan aku yang kehilangan orangtuaku? Mana langsung nangis heboh, lagi. Malu tauuu, diliatin banyak orang! Lagian, kalau dia nangis gini, akunya juga jadi ikut sedih, dan bisa-bisa...

Yah, kita malah berakhir nangis bareng. Ga lucu banget.

Setelah tangis kami mereda, Fah longgarin pelukannya. Dia tatap aku, lama. Matanya jadi sembap gitu. "Kenapa... kamu... uuhh... ga kasih tau aku?" tanya Fah, sambil masih nangis sesenggukan.

"Kan ini aku kasih tau..."

"Kenapa ga dari sebelum-sebelumnyaaa?!"

"Aku ga mau dikasihani, Fah." Kuusap punggungnya, yang justru bikin dia nangis heboh lagi. "Tapi makasih, loh, karena udah mau dateng."

"Aku ga mengasihani! Kan kita temen, kan kita deket... masa aku ga sedih kalo orangtuanya temen aku meninggal?"

"Iya, terima kasih, ya."

"Orang-orang di sekolah udah tau?"

Aku menggeleng. "Awalnya sih karena ga sempet. Sekarang, ga pengen kasih tau juga. Gitu."

"Aku pikir... kamu harus kasih tau mereka, Dea."

"Akan. Senin nanti, aku kasih tau, kok. Sekalian mau infoin hal lainnya. Selama nungguin kamu tadi, aku mikirin ini: aku mau pindah sekolah."

Fah langsung bengong. Dia ga bisa berkata-kata. Maka, aku lanjutin omonganku. "Ga cuma pindah sekolah. Aku juga mau pindah rumah. Keluar dari lingkungan ini. Mau jalanin hidup baru."

Bengongnya Fah jadi bertambah lama. Kayaknya dia butuh waktu untuk mencerna omonganku, deh. "Terus... kamu mau kemana?" tanya dia, akhirnya.

"Belum tau. Tapi aku udah ga mau tinggal di sini lagi, Fah. Hidupku udah terlalu kacau. Banyak sedih, banyak luka. Aku mau tenangin diri dulu. Urusan nanti, biar diurus nanti aja."

"Aku boleh jadi bagian hidup baru kamu, ga?" tanyanya lagi. Pandangannya mengiba padaku.

Ih, ekspresinya bikin aku pengen ketawa aja. Harus tahan, harus tahan. "Kalo aku bilang ga boleh?"

"Ya aku maksa!"

Respon ngototnya jadi pelatuk yang bikin aku ga bisa menahan tawaku lebih lama. Aku tertawa lepas, sementara Fah dan pelayat lain yang dari tadi memperhatikan kami berdua, menatapku dengan ekspresi heran. Di saat begini, aku kira mereka pikir bahwa aku sudah gila.

Mungkin mereka benar. Tapi bukannya ga apa-apa untuk jadi gila sesekali? Hitung-hitung untuk refreshing. Karena mempertahankan kewarasan di masa sulit seperti ini jauh lebih menyiksa, daripada menyerah dan jadi gila. Karena saat ini, suara-suara di dalam kepalaku terdengar makin intens, dengan hasutan mereka yang semakin menggoda.
==========

==========
Senin ini, aku sengaja datang telat ke sekolah. Telatnya juga ga nanggung, jam sepuluh. Pas jam istirahat. Kehadiranku diketahui guru piket, yang langsung omelin aku panjang lebar. Ga aku dengerin juga guru ini ngebacot apa. Suara-suara di kepalaku makin berisik, dan aku terlalu fokus dengerin mereka daripada ceramah guruku.

"Kalo kamu udah ngerti, sekarang kamu ke ruang Kepala Sekolah dulu. Pak Kepsek titip pesan ke guru-guru, kalo ada yang liat kamu, sampein kalo kamu diminta ketemu Pak Kepsek," kata guru piket itu.

Aku mengangguk, lalu pamit. Di jalan menuju ruang Kepala Sekolah, aku melewati banyak murid—dan semuanya ngeliatin aku dengan tatapan sinis, beberapa sampai di level jijik. Aku pikir, itu hak mereka. Aku ga bisa mengatur sikap orang lain padaku, jadi diriku saja yang aku atur. Dengan bersikap bodo amat.

"Eh, ada Dea. Hari ini pake celana dalem, ga, ke sekolahnya?" celetuk salah seorang murid.

Cewek dari kelas lain, tapi saat kelas sepuluh kami sekelas. Aku ga pernah suka sama cewek ini, karena selalu ngeliatin aku dengan sinis. Sikapnya juga ga pernah enak ke aku. Iya, ke aku doang. Ke teman-teman sekelasku yang lain ga begitu. Aku ga pernah bisa ngerti sama sikap anehnya ke aku.

"Ih, gila loh gue dicuekin," tambahnya, saat aku ga nanggepin sindirannya.

Aku masih terus jalan. Tiba-tiba, tas ranselku seperti ditarik. Aku pun jatuh duduk di lantai. Tulang ekorku sakit banget saat menubruk permukaan lantai yang keras. Saat aku masih meringis sakit, cewek caper ini ngomong lagi, "Selain orangtua lo ga ngajarin buat pake celana dalem kalo kemana-mana, mereka juga ga ngajarin lo cara merespon orang kalo lagi ngomong sama lo, ya?"

Sumpah, aku bengong saat dengerin dia. Abi dan Umi salah apa sampai harus dibawa-bawa ke dalam konten sindirannya? Kalau dia punya masalah sama aku, jangan bawa-bawa orangtuaku!

Aku pun bangun. Kutepuk-tepuk pinggulku sebagai upaya untuk mengurangi rasa sakit. Setelahnya, kutatap cewek di depanku. Saat mulutnya membuka lagi dan bersiap ngomong sesuatu, tanganku mengayun cepat. Satu tamparan mendarat mulus di pipi kirinya. Kayaknya lumayan keras, soalnya bunyinya nyaring.

Habis ditampar, dia malah bengong. Mungkin ga nyangka kalau aku bisa seberani itu. Iya lah, pasti kaget. Soalnya, selama ini aku dikenal kalem dan lembut. Siapa yang nyangka? Setelah bengongnya udahan, dia bersiap nyerang aku, tapi kesempatan saat dia bengong tadi sudah aku pakai untuk lepasin ranselku, lalu kuayunkan kuat-kuat padanya. Awww, ranselku sukses menghantam kepala. Ransel berisi buku-buku tebal milik perpustakaan yang tadinya mau kukembalikan, malah aku pakai dulu untuk menggebuk kepala orang.

Cewek itu pun limbung, lalu terhuyung-huyung dan tersungkur ke lantai. Untuk beberapa saat, dia ga bergerak. Lalu, dia merintih pelan sambil memegangi kepala. Kutatap dia, dingin. Rasanya ingin sekali lagi kuhantam kepalanya, tapi aku ga punya waktu. Aku pun ninggalin dia, bergegas lanjutin tujuanku, dengan berbagai pasang mata terus ngeliatin aku.


———​


Sesi obrolanku dengan Kepsek berlangsung alot. Si Kepsek, yang merasa dirinya mewakili sekolah, tetap ngotot kalau alasanku ga pakai celana dalam di video yang tersebar itu ga masuk akal. Padahal aku udah bilang, kalau celanaku basah kuyup saat aku bilasan setelah pipis, jadi ga aku pakai lagi. Lagipula, pikirku aku pakai rok panjang, jadi ga akan ada yang tau. Mana bisa aku prediksi, kalau ternyata ada orang bodoh yang bisa-bisanya merekam dari lantai.

Oh, tentu saja aku bohong soal alasanku. Aku ga mau menyeret Bu Siska ke dalam masalah ini.

"Pak, udah berapa banyak, sih, kasus murid ketangkep basah berbuat mesum di sekolah ini? Saya ga mesum, saya cuma ga pakai celana dalem aja," kataku.

"Ya itu sama saja tindakan asusila!"

"Darimananya?"

"Apa pun alasannya, kamu ga dibenarkan untuk ga pakai celana dalam ke sekolah, apalagi kamu termasuk murid berprestasi. Bukan cuma nama kamu yang jelek, tapi nama sekolah juga!"

"Saya ga mau bertele-tele, Pak. Kita langsung ke intinya aja. Jadi pihak sekolah maunya saya gimana?"

"Ada sanksi berat yang harus dijatuhkan buat kamu, Nadia. Kalau kamu mau tetap sekolah di sini, kamu harus tinggal kelas. Terlepas dari nilai-nilai kamu yang baik, poin kesalahan kamu juga tinggi, dan itu ga bisa ditolerir. Atau... kamu bisa naik kelas tapi pindah sekolah. Bapak bisa kasih rekomendasi untuk itu. Ini kebijakan yang bisa Bapak kasih ke kamu, untuk membalas prestasi kamu buat sekolah selama ini."

"Oh, saya memang mau infoin kalo saya mau pindah sekolah, kok, Pak. Pas banget kalo gitu. Jadi, kita ada di persepsi yang sama, kan? Saya akan urus kepindahan saya, secepatnya."

"Baik. Tolong beritahu orangtua kamu, ya. Urusan administrasi kepindahan harus diurus wali murid, Nadia."

"Orangtua saya udah meninggal, Pak. Jum'at malam kemarin. Jadi administrasinya biar saya sendiri yang urus."

Lucu juga saat ngeliat muka Pak Kepsek yang kaget ketika aku beritahu kalau Abi dan Umi sudah meninggal. Dia bahkan masih ga bisa berkata-kata saat aku pamit ninggalin ruangannya. Setelah dari ruang Kepala Sekolah, tujuanku selanjutnya adalah kelasku. Karena jam istirahat sudah selesai, dan meski sekarang lagi class meet, tapi pasti sebagian besar murid ada di kelas. Aku juga ga ada niatan masuk sekolah. Tujuanku datang tuh cuma pamit aja.

Saat aku masuk kelas, suasana yang tadinya ramai berubah drastis jadi hening. Semua mata tertuju padaku. Asik banget, kayak lagi di pentas. Makanya, kupakai momen ini untuk bicara.

"Hai, semuanya. Gimana hari libur kalian? Pasti enak, ya, liburan sambil ghibahin aku di grup WA?" Aku terkekeh geli sambil memandangi mereka. "Maaf, ya, dua hari ini aku ga ngerespon apa-apa. Aku masih urusin acara tahlilan kedua orangtuaku. Tapi aku tetap menikmati saat bacain nyinyiran kalian semua, kok."

Kulihat, ekspresi mereka semua langsung berubah. Wajah-wajah canggung itu nampak jelas, saling berkasak-kusuk ke satu sama lain. Mereka enggan merespon, seenggaknya sampai salah seorang teman kelasku berani bertanya, "De... orangtua kamu... meninggal?"

"Iya. Tewas kecelakaan Jum'at malam kemarin. Tapi itu urusanku, kok. Ga penting juga buat kalian—"

"—Ya kan... kita ga tau kalo orangtua kamu meninggal," potong yang lain, nada membela dirinya mengesankan kalau dia ga mau merasa disalahin karena sudah ikutan nyinyirin aku saat videoku tersebar.

"Emang. Menurutku, poinnya sih jangan suka nyinyir aja. Kan kita ga tau orang yang dinyinyirin itu lagi kenapa. Tapi, no offense, loh. Aku kan ga bisa kendaliin sikap buruk kalian, jadi ya sah-sah aja kalo kalian mau nyinyirin orang. Toh, kualitasnya jadi keliatan, kan?

"Oh, iya. Aku ke sini cuma mau pamitan. Aku mau pindah sekolah. Terserah kalian beranggapan kalo aku malu gara-gara video itu, aku bodo amat. Ga penting juga kasih tau kalian alesanku apa. Intinya, aku mau pamit, dan minta maaf kalo selama jadi teman sekelas, aku punya banyak salah ke kalian. Gitu."

Lalu, aku pun berjalan mendekati meja milik cowok yang dari tadi menunduk tiap kali mataku menatap tajam padanya. Sekarang, aku sudah di depan mejanya. Kupandangi dia. Lama dan dalam. Tanpa ada sepatah kata pun keluar selama beberapa menit berdiri di depan dia.

"Fred," kataku, akhirnya, "Laki-laki itu yang dipegang kata-katanya. Kan kamu sendiri yang bilang, kalo ga mau videonya disebar, aku harus ngalah sama kamu. Aku udah turunin nilaiku, tugas juga aku sengaja salah-salahin. Aku bisa dapet nilai sempurna, tapi aku menghormati perjanjian kita. Tapi kenapa kamu engga? Kenapa kamu sebar videonya?"

Serentak, seluruh murid di kelas nengok ke Freddy. Muka mereka kaget banget setelah denger omonganku. Beberapa langsung ribut-ribut, sisanya berbisik ke teman sebangkunya, menyusun asumsi. Sementara aku, kulanjutkan penghakimanku pada Freddy.

"Ga cukup sampe disitu, kamu juga lecehin aku. Ga nyangka, sih, kamu ternyata bejad. Kenapa? Kamu merasa menang gara-gara cuma punya video aku yang ga pake celana dalam?"

Freddy langsung bangun sambil gebrak meja. Dia mencengkeram kerah seragamku. Matanya melotot dan memerah, tapi aku ga gentar. Reaksiku tetap sama, menatapnya dengan tatapan hina. "Ja-jangan sembarangan kalo ngomong! Ma-mana buktinya aku yang sebar video kamu?! Kalo kamu ga bisa buktiin, kamu berarti fitnah aku! Akan aku laporin kamu ke polisi!" teriaknya.

"Oh? Ya silakan. Tapi denger baik-baik, nomor dua. Kalo aku keluarin buktinya, kamu ga akan punya muka lagi untuk berada di kelas ini. Tapi ga akan aku keluarin sekarang. Nikmati aja hidup kamu dulu, nanti juga ada saatnya kamu ketar-ketir." Aku pun mengetuk-ngetuk punggung tangannya. "Lepas. Aku mau pulang. Jijik tau, kalo kelamaan deket-deket sama pemerkosa. Mau aku laporin ke polisi, sekarang?"

Ya... emang pada dasarnya Freddy itu pengecut, jadi ketika dapet ancaman dari orang lain, dia akan spontan mundur. Freddy lepasin cengkeramannya pada kerahku, lalu kembali duduk dengan kikuk. Tapi kali ini, semua mata tertuju ke dia, dan ga lepas bahkan setelah sekian lama. Aku ga tau apa yang akan terjadi sama Freddy setelah ini, tapi aku ga peduli. Maka, aku pun keluar kelas dan berniat membereskan sisa urusanku di sekolah ini.

Di koridor menuju tangga lantai satu, ada Fah yang sedang nungguin aku. Ekspresi khawatir terlihat jelas di mukanya.

"Laras ada di kelas, ga?" tanyaku.

Fah menggeleng. "Dia ga masuk. Kenapa? Mau pamitan, ya?"

"Tadinya. Cuma yaudah kalo ga ada. Mungkin lagi sibuk belanja."

"Belanja?"

Lalu, aku ceritain ke Fah kalau kemarin aku transfer seluruh sisa uang pemberian dia ke e-wallet Laras. Aku pecah jadi tiga transaksi, ke OVO, Gopay, dan Shopeepay miliknya. Mengingat aku hafal banget tabiat dia kalau lagi punya uang, jadi aku bisa berasumsi kalau hari ini dia lagi belanja dan senang-senang. Aku sudah bisa duga hal ini sejak saat aku chat dia kemarin dengan maksud ingin kasih semua uang titipan Fah ke dia, Laras terima-terima aja. Bahkan dari ketikannya, kayak dia senang akan keputusanku.

Lupa tuh dia sama semua omongannya saat aku baru selesein masalahnya. Tapi ga apa-apa, namanya juga manusia. Kan tempatnya khilaf dan salah. Tinggal tungguin aja, pas sudah sadar dari khilafnya, yang dia cari siapa.

"Kamu belum mau kasih tau aku mau pindah kemana?" tanya Fah, membuka topik baru.

"Aku aja belum tau mau pindah kemana. Mungkin ikut om dan tante aku dulu. Nanti kalo udah lulus SMA, aku ga tinggal sama mereka lagi."

"Berkabar, ya? Janji?"

Aku tergelak saat Fah acungin kelingkingnya ke aku. "Kamu punya kontak aku. Tinggal hubungin aja, tau."

"Kan kamu bisa block aku."

"Kata-kata yang lucu banget, keluar dari mulut orang yang mempekerjakan pemburu bayaran dan intel buat jadi agen keamanan." Aku sambut kelingkingnya. Jari kami pun saling bertaut. "Tapi aku janji, kok."

Aku bersyukur masih punya Fah. Di saat semua orang yang berhubungan denganku sedang egois mementingkan dirinya sendiri, Fah tetap setia. Ada di sampingku. Nemenin duka dan tangisku. Sering tanya kabar. Sering ingetin dan kirim makanan.

Bu Siska tadinya juga begitu, sebelum masalah video itu tersebar. Dia langsung hilang. Ga kasih kabar, ga nanyain aku juga. Aku ga ngerti, entah dia marah, kecewa, atau cuma mau cari aman saja. Tadi saat papasan di ruang guru, Bu Siska juga sering menghindar saat kutatap. Ga ada interaksi antara kami, dan aku anggap itu sebagai selesainya hubungan kami berdua.

Jadi, setelah aku pamit ke Fah, aku lanjutin langkahku menuju gerbang sekolah. Pikirku, begitu kakiku melewati gerbang itu, aku ga akan kembali lagi. Harus siap. Kuapresiasi semua kenangan baikku di sekolah ini, dan menerima kenangan buruknya. Bukan untuk dimaafkan lalu dilepas, tapi untuk diingat-ingat bahwa pihak-pihak tertentu di sekolah ini turut andil dalam merusak hidupku.

"Dea, mau pulang duluan, ya?" Ingat Tono yang muncul di chapter 3? Yang anak wali kelasku, dan tokoh yang ga signifikan itu? Sekarang dia lagi berdiri bersandar di gerbang.

"Iya. Kenapa, gitu?" tanyaku, jutek. Sejauh yang aku ingat, hubunganku dengan Tono ga pernah baik. Dia arogan ke murid lain, suka gombal kalau ke aku, dan selalu deketin aku dengan cara yang menyebalkan. Jadi, ketika aku dicegat dia sekarang, pikiranku udah jelek aja.

"Nih," Tono serahin sebuah kotak kardus yang dibungkus plastik putih padaku, "Aku udah coba. Kalo lagi ga dengerin sesuatu, lumayan ampuh jadi penutup telinga. Jadi suara dari luar ga begitu kedengeran. Apalagi kalo dipake buat setel musik, beuuuh... mantep banget, Dea! Jernih suaranya!"

Dia ngomong apa, sih? Bikin penasaran aja. Buru-buru kubuka kotak kardus ini. Isinya headphone, dan... merk terkenal. Ada kartu garansi dan struk pembelian juga. Pasti harganya mahal. Kubaca struk pembelian, berusaha mencari nominal harga. Tapi Tono buru-buru rebut struk itu dari tanganku, dan langsung dia kantongin. Kelupaan dibuang, katanya.

"Ngapain kasih ini ke aku?" tanyaku, heran. Sekilas tadi, aku liat angka dua diikuti lima digit lainnya pada bagian harga di struk pembelian.

"Buat dengerin musik, Dea. Jadi kamu ga perlu dengerin omongan orang yang jelek-jelek tentang kamu."

Tono, orang semenyebalkan dan senorak dia, ternyata sepeduli ini ke aku? Ga bisa dipercaya. Pasti dia ngarepin imbalan dariku, deh. "Ini hari terakhir aku ke sekolah, loh. Aku ga akan bisa balikin pemberian kamu. Ga masalah?"

Tono tampak kaget, tapi dia lalu senyum. "Ga apa-apa," katanya, "Aku ikhlas. Emang tujuan dari awal mau hibur kamu. Semoga membantu, ya."

"Tapi ini mahal harganya, loh. Kamu duit darimana?"

"Adalah. Ga usah dipikirin." Ih, sok cool banget ini cowok.

"Habis ini kita ga akan ketemu lagi. Kamu ga minta kontak aku?" tanyaku, lagi.

"Dea, kalo kamu ga mau kasih, aku ga maksa. Yang penting kamunya nyaman." Tono spontan nengok ke samping saat ada yang manggil dia. Oh, ibunya. Mungkin dia mau diwanti-wanti untuk jangan deket-deket aku. "Dea, udah dulu, ya. Mami manggil, nih. Kamu hati-hati pulangnya, yaaa. I love youuu!"

Tono berlari cepat, ninggalin aku yang masih bengong, memandangi headphone pemberian dia. "Rejeki anak yatim-piatu," kataku, sambil angkat bahu.

Aku lanjutin langkahku yang sempat tertunda. Kali ini, kakiku menjejak mantap. Langkah pertama keluar dari sekolah. Aku masih ingin nengok ke belakang, memandangi mantan sekolahku untuk yang terakhir kali. Tapi aku kuat-kuatin diri. Ga ada waktu untuk nengok ke belakang, karena jika aku lakuin, aku pasti akan menyesali keputusanku.

Kali ini, aku ga pesan ojek online untuk pulang. Belajar dari kesalahan. Ada sepupuku yang sudah siap nyalain mesin motor. Mumpung kerabatku masih tinggal di rumahku sampai tujuh harian, jadi aku berdayakan aja salah satunya. Setelah aku duduk nyaman di jok belakang, motor yang membawaku pun pergi.

Aduh... aku lupa balikin buku-buku yang kupinjam ke perpustakaan sekolah. Yaudah lah, buku doang. Piala-piala dan medali hasil lomba dan olimpiade yang kumenangkan juga disimpan di lemari kaca sekolah, kok. Jadi, harusnya impas.

Eh... engga impas, dong. Apa yang kuberi jauh lebih berharga dari buku-buku lama yang materi isinya aja bisa catut dari sana-sini. Mikirinnya aja bikin aku muak. Baik sekolah, teman-temanku, bahkan hidup; kuberi mereka sebanyak yang aku bisa, tapi balasannya? Semua yang kupunya terenggut dariku.

Jadi, persetan semuanya. Mulai sekarang, aku akan hidup semauku, sesuai dengan caraku.

Tapi aku khawatir harapanku ga akan berjalan mulus, karena... suara-suara di kepalaku ini ganggu banget! Sumpah, deh! Kalo begini, aku perlu ke psikiater, ga, sih?






—End of Season 1—
==========

==========
—Season 2—

Chapter 0:
Prologue to A Brand New Madness​






Saat usiaku baru masuk lima belas, aku ingat kalau ada dua orang asal Depok yang diberitakan sebagai suspek pertama Covid-19. Mereka adalah sepasang ibu dan anak. Lucunya, mereka adalah tetanggaku. Jadi, ketika ibu-anak itu dinyatakan positif, komplek rumahku langsung sepi selama seminggu. Orang-orang ga mau keluar rumah karena takut tertular.

Waktu itu, pengetahuan publik soal Covid-19 masih minim, dan media gencar banget beritain endemi di Wuhan yang memang lagi gawat-gawatnya. Aku pikir, karena pemberitaan itulah masyarakat di sini jadi dapat gambaran yang menyeramkan soal virus itu. Jadi, selain warga sekitarku ga mau keluar rumah, mereka juga menyerbu supermarket sekitar untuk menyetok bahan baku. Akhirnya, timbul panic buying. Kepanikan ini juga menular ke kota-kota sekitar.

Berita soal pasien pertama Covid-19 itu juga jadi awal mula rentetan kejadian luar biasa di Indonesia. Mulai dari penetapan status pandemi, penerapan PPKM yang awalnya dijadwalin cuma dua minggu dan malah keterusan sampai dua tahun, penyebaran virus yang masif, wisma atlet alihfungsi jadi rumah isolasi dadakan, kebiasaan pakai masker, biaya PCR yang mahal banget (meski berangsur turun, sih), banyak rumah sakit penuh diisi pasien Covid, penerapan Pelajaran Jarak Jauh untuk sekolah, adanya istilah Work From Home untuk pekerja, perekonomian jadi lesu, dan banyak berita kematian mendadak yang diumumkan lewat toa masjid dua sampai tiga kali dalam sehari. Sungguh efek kupu-kupu yang mengerikan.

Setelah pencabutan status PPKM dan penggantian status pandemi jadi endemi pada awal kuartal ketiga tahun 2022, aku dan (kuyakin) masyarakat lainnya sudah bisa bernapas lega. Covid-19 bukan lagi sebuah ancaman, karena semenjak mutasi virusnya sudah masuk ke varian Omicron, gejalanya sudah lebih ringan. Angka kematian harian pun bisa ditekan, dan kegiatan yang sempat berubah atau terhenti selama pandemi jadi bisa dijalanin lagi.

Tapi saat aku baru lulus SMA di pertengahan 2023, lagi-lagi mutasi baru dari Covid-19 ditemukan. Varian dengan gejala paling berbahaya namun sempat dinyatakan punah, Delta, ditemukan di India dan secara cepat menyebar kembali ke seluruh dunia. Negara-negara yang sudah mencabut status pandemi, kembali dipaksa mengumumkannya lagi. Termasuk di Indonesia.

Nah, setengah tahun setelahnya, pandemi pun mereda. Tapi sisa-sisa dampaknya masih terasa, sih. Konser-konser dan pariwisata yang sempat ramai di akhir 2022 dan awal 2023 kembali terhenti, dan sampai menjelang pertengahan 2024 belum mulai lagi. Pandemi kedua ini juga berdampak ke aktifitas perkuliahan. Aku seharusnya sudah menikmati Pelajaran Tatap Muka secara penuh, tapi akibat diberlakuinnya PPKM baru dengan skala nasional, jadinya aku harus ngelakuin Pelajaran Tatap Muka yang digabung dengan Pelajaran Jarak Jauh.

Skema ini bertahan bahkan sampai aku selesai semester dua. Saat baru masuk semester tiga, status PPKM dilonggarin (dari yang tadinya level 3 ke 2) membuat aktivitas luar ruangan engga begitu dibatasi lagi. Tapi pembatasan ruang publik dan jam malam masih tetap diberlakuin, sih...

Tapi ini bukan cerita soal pandemi. Ini soal kehidupan baruku di kota orang. Serang, ibukota provinsi Banten, berjarak sekitar 100 kilometer dari Jakarta. Kota ini adalah tempat aku berkuliah dan memulai hidup baru. Nilai plusnya, orang-orang di sini ga mengenalku sebagai Dea.

Sejujurnya, tadinya aku ga pernah kepikiran untuk pindah ke kota ini. Tujuan awalku tuh Bandung atau Jogja. Biasa, kemakan stereotipe. Seperti banyak orang yang ketularan meromantisasi Bandung dan Jogja, aku juga sempat terpengaruh. Pola pikir recehku bikin aku memilih kampus berdasarkan kotanya (yang juga malah berdasarkan imaji di kepalaku). Bandung? tempat wisatanya banyak, jajanannya enak-enak, dan cuma 260 kilometer dari Jakarta. Sementara meski ga sedekat Bandung, Jogja kuanggap sebagai kota yang nyaman dengan biaya hidup serba terjangkau. Soal urusan kampus, aku bisa atur. Warisanku banyak, bikin aku mampu masuk ke kampus manapun yang aku mau.

Tapi kenapa malah berakhir memilih Serang? Simpel. Kampus incaranku (yang baru aku tau saat aku hampir lulus SMA) akreditasinya bagus, punya jurusan yang aku mau, juga dekat dengan Jakarta jadi ga perlu jauh-jauh dari Fah. Makin jauh jarak antara aku dan dia, makin lama juga bagi Fah untuk samperin aku. Aku ga mau waktunya habis di jalan. Udah ketemunya cuma seminggu sekali, masa harus maklum sama jarak juga.

"Tapi kalo aku balik ke Bangkok, kita jadi makin jauh, kan? Jadi sama aja bo'ong, dong?" tanya Fah, yang sedang duduk bersila dengan kepalaku di pangkuannya.

"Ih... kapan?" Aku langsung bangun dari rebahan. Kupandangi pacarku ini, dengan tatapan paling memelas yang kubisa. "Call me toxic, but wherever you go, I go. I won't let you and your dick leave me alone."

"Isn't it ironic?" Fah langsung mengecup bibirku. Dengan jarak antar wajah kami yang begitu dekat, dia ngomong lagi, "Dua tahun lalu, aku yang ngejar-ngejar kamu, ga mau pisah. Liat sekarang, posisinya malah terbalik gini."

"Oh, sekarang kamu udah berenti ngejar-ngejar aku?"

"Ya... kan sekarang udah dapet kamunya, mau dikejar gimana lagi? Kerjaan aku kan tinggal jagain kamu biar ga kabur, aja."

Denger omongan Fah, mukaku langsung memerah. Cewek jadi-jadian ini emang jago banget ngegombalnya! "Ih, Faaaaaaah! Bisa banget bikin tersipunya!"

Aku langsung menghambur ke badannya. Badan kami berdua pun jatuh ke kasur dalam posisi berpelukan. Kutindih Fah, dan kuciumi seluruh mukanya. Pacarku gemesinnya ga ada obat! Matanya, caranya menatapku, bibirnya, tarian lidahnya saat menyambut lidahku, lehernya yang jenjang, toketnya yang mungil tapi kenyal... ih, semuanya! Semua yang ada di Fah bikin aku gemas!

Saat aku dan Fah asik bercumbu, tv yang dari tadi aku nyalain tapi ga kutonton itu berganti acara. Di acara yang membahas seputar selebriti itu, pembawa acaranya sedang tampilin liputan terbaru mengenai seorang aktor yang baru-baru ini lagi tenar. Saat nama si aktor disebut, aku spontan menengok ke layar tv. Pandanganku pun menajam.

"Kapan kamu mau mulai rencananya?" tanya Fah. Dia malah ikut menonton tv.

"Belum saatnya. Aku masih perlu beberapa persiapan lagi. Tapi perkembangannya berjalan terus, kok."

Aku pun beranjak dari atas badan Fah, merangkak untuk ambil remote. Kumatikan tv, lalu duduk bersila di atas karpet. Aku berusaha tenangin diri, karena tiap kali aku ngeliat muka aktor itu, darahku langsung mendidih.

Tiba-tiba, Fah meluk aku dari belakang. Pelukannya erat dan membuat nyaman. "Kamu masih punya aku, Dea. You'll be fine, I promise," bisiknya, mesra. Fah memang paling bisa menebak isi pikiranku.

Aku pun senyum. Kuusap lengannya, untuk memberi sekaligus mencari ketenangan. "Keep helping me with all of these, ya? The revenge, voices that constantly speaking in my head, my lustful behavior, et cetera...."

"I'll accompany you, through thick and thin."

Aku pun menengok ke samping, lalu kucium bibirnya yang lembut itu. Setelah berbalas pagutan bibir dan belitan lidah, entah siapa yang memulai, tapi kini aku dan Fah sudah bergumul di atas kasur. Bertelanjang bulat dan bergesekan badan. Saling menghangatkan satu sama lain; dari cuaca dingin akibat hujan seharian, juga dari luka hati mendalam yang entah kapan sembuhnya.
==========

==========
Chapter 1:
A Problematic Girl Called Nadia​






Untuk kesekian kali, bunyi alarm kembali mengusik tidurku. Awalnya, aku mau biarin alarmnya mati sendiri, kayak yang sudah-sudah. Tapi karena keburu sadar dan susah mau tidur lagi, aku jadi bangun sepenuhnya. Suara alarmnya emang ganggu banget. Saking ampuhnya, biasanya aku cuma butuh satu alarm supaya bangun. Tapi tidak dengan pagi ini.

Aku harus bersusah payah lepas dari dekapan Fah, demi bisa meraih HP-ku yang letaknya emang jauh dari tempat tidur. Setelah merayap di karpet, tanganku sampai juga ke tepi meja belajar, tempat HP-ku berada.

Saat kulihat layar HP, aku jadi kesal sendiri. Waktu nunjukin baru jam lima pagi. Ngapain juga aku pasang alarm sepagi ini, coba? Mana ini alarm kelima dari rentetan teror alarm yang sengaja aku pasang sendiri.

Oh, aku tidurnya pules juga sampai lewatin empat alarm. Iyalah, badan capek dan kurang tidur. Hal yang biasa terjadi kalau Fah lagi nginep di kosanku.

Eh, tunggu, deh. Fah? Nginep di kosan? Mampus, aku baru inget!

"Fah, bangun!" Aku goyang-goyangin badannya yang telanjang bulat ini. Duh, kontolnya jadi ikutan goyang lagi. "Faaaaaah, bangun, dong! Nanti telat ngampus kamunyaaaa! Ihh, kan udah dibilangin jangan nginep lagi. Yang udah-udah kan kamunya telat, masa sekarang telat lagi?"

Wah... dia masih tidur. Ga heran kalau alarm ga bikin dia bangun, aku guncang-guncangin aja dia masih pules tidurnya. Tapi ada sih cara pamungkas untuk bikin dia bangun. Biasanya aku simpan buat last resort kalau ga mempan pakai cara-cara normal. Berhubung tiap kali dia nginep situasi banguninnya selalu begini, jadi ya aku pakai terus caranya.

Aku bergerak cepat menuju laci meja belajarku. Kuambil dildo yang kusimpan di laci bawah, lalu lumuri dengan pelumas. Setelahnya, aku kembali ke Fah, dan angkat kedua kakinya sambil aku rentangkan lebar-lebar. Sip, lubang pantatnya jadi terekspos maksimal. Aku olesin juga pelumas ke bibir lubang Fah. Nah, persiapan selesai. Selanjutnya, aku gesekin kepala dildo yang kupegang ke lubang pantatnya, dan dalam hitung mundur dari tiga, dua, satu...

"Mmmmmmhhhh... nnngghhhh...!!!" Fah mengerang heboh saat dildo sudah masuk setengahnya. Badannya juga tersentak, lalu menegang. Sip, dia sudah sadar sepenuhnya.

"Bangun! Kamu nanti telat ke kampusnya, tau," omelku, sambil terus mendorong dildo hingga masuk lebih dalam lagi.

"Tapi ga gini, nggghhh... masa tiap kali aku nginep, dibanguninnya—DEAAAA, ITU MASUK BANGET LOOOH!"

"Siapa suruh tidurnya kebo?" Sekarang, kutarik dildonya hingga tersisa kepalanya di dalam pantat Fah. "Kamu mau bangun sekarang atau aku terusin analin pake dildo?"

"I-iya, aku bangun sekarang!" Fah berusaha bangun sambil terus tatap aku dengan ekspresi meringis. Dia pakai kedua sikunya sebagai tumpuan badan. "Cabut dulu dildonya, ya? Aku belum si—NNNGGGHHHHHHH, DEAAA, DEAAA... UDAH DULUUUUU!"

Aku berubah pikiran. Aku ga jadi kasih dia opsi, karena setelah ngeliat ekspresi meringisnya, aku malah gemes dan menikmati. Makanya, aku analin aja dia. Dildonya sengaja aku keluar-masukin dengan cepat. Lalu, telapak tanganku yang satunya juga kulumuri liurku, sebagai pelicin saat aku mengocok kontol Fah.

Gabungan dari penetrasi anal pakai dildo dan kocokan tanganku pada kontolnya, bikin Fah cepat terbuai dalam rangsangan. Ekspresi meringisnya berganti jadi keenakan. Mata sayunya terus tatap aku, sementara mulutnya mendesah tanpa henti. Tiap kali dia sadar lagi dieksploitasi, Fah mau protes. Tapi gerakan kedua tanganku jadi makin cepat, dan protesnya hanya berakhir jadi sebatas wacana.

"Deaaa... Dea... aku mau keluar, aku mau keluar... please, please... pejunya mau keluar... ahhh, ahhh... aku mauuu... NGGGHHHH... KELUAAAAARRR!"

Mulutku yang membuka, langsung mengulum dan menghisap kepala kontol Fah. Uuuhh... pejunya langsung bermuncratan di dalam mulutku, dan karena aku hisap, pejunya jadi ga bisa keluar lewat celah mulut yang kini menutup rapat. Sebagian pejunya muncrat ke kerongkonganku, dan langsung kutelan; sementara sisanya masih mengumpul di mulut. Setelah Fah berhenti berejakulasi pun, aku masih mainin peju Fah pakai lidah untuk kuolesin di kepala kontolnya. Tentu saja, sambil terus kuhisap kuat-kuat, sebelum akhirnya kutelan juga sisa peju Fah di mulutku.

"Ahhh... Dea emang gila, masokis, ga waras...," katanya, sambil atur nafas, "Ini masih pagi, tau. Tapi aku udah dibikin lemes aja. Kalo gini, gimana aku bisa ngampus, coba?"

Fah pun keliatan lega saat dildo ini aku keluarin dari pantatnya. "Mandi. Cepetan. Sebelum aku berubah pikiran analin kamu lagi," ancamku, sambil ngeliatin dia dengan tatapan jutek.

Untungnya, pacarku ini nurut. Dia langsung bangun, terus ambil handuk. "Titip bersihin ini, ya," kataku, sambil sodorin dildo ke dia, saat dia mau ke kamar mandi.

Saat Fah sudah mandi, aku jadi bengong sendiri. Sekarang aku horny banget, tapi aku ga mau buang waktu lebih banyak. Cuma karena jarak antara kosanku dengan kampus tuh deket, bukan berarti aku bisa santai. Senin pagi ini aku juga harus pergi ke bank, untuk urus kartu ATM yang ga sengaja aku patahin di Sabtu kemarin. Lagian Fah juga harus buru-buru, atau dia akan telat.

Maka, aku merapatkan paha. Kugigit bibir sebagai pengalihan rasa gatal di memekku yang mengganggu. Makin kutahan birahiku, makin aku sulit berpikir sehat. Suara-suara di kepalaku pun berisik banget, menghasutku supaya menuruti nafsu.

Uuuhhh... ini menyebalkan banget. Kepalaku sampai pusing sekarang. Aku mau kontol Fah, dan mikirinnya aja bikin sakit kepala. Aaarrgh!

Baiklah. Karena aku sayang sama diri sendiri, aku ga mau diriku tersiksa nafsu lebih lama. Makanya... sekarang aku pun bangun, lalu berjalan menuju kamar mandi. Tanpa ketuk lebih dulu, kubuka pintunya, yang ga pernah dikunci kalau ada Fah di dalamnya. Tentu saja, Fah kebingungan ngeliat pacarnya nyamperin dia. Bertelanjang bulat, nafas memburu, dan muka memerah menahan nafsu.

"Aku mau mandi bareng, dong," ucapku, lirih.

Tapi Fah langsung lempar sabun mandi ke aku, yang kena toketku terus membal dan akhirnya jatuh ke lantai. "Bullshiiit! Paling kamu lagi horny banget terus mau ngajakin ngentot, kan?" teriak dia. Heboh banget sih ini orang.

"Ehehehe." Merasa tebakannya Fah benar, aku jadi malu sendiri. "Tapi boleh, ga, sih? Kan nanti kamunya jadi telat..."

"Another bullshiiiiit!" Fah pun langsung sodorin kontolnya yang sudah setengah tegang ke aku. "Mau ini, kan?" tanyanya, lalu sambil goyang-goyangin kontolnya, dia ngomong lagi, "Sini, Dea, siniiii..."

Ah... liurku menetes dari sisi bibir yang membuka. Ga pakai pikir panjang, aku langsung berlutut di depan Fah. Membuka mulut lebar-lebar, untuk melahap batang kesayanganku ini sejauh yang aku mampu. Awalnya cuma sampai pangkal lidah, tapi aku paksain lagi. Terus kulahap hingga kepala kontolnya ga sengaja menyentuh amandelku, dan aku spontan merasa ingin muntah. Tapi kutahan aja. Aku malah melahap kontolnya lebih jauh lagi hingga tiga perempat bagian kontol Fah berada di mulutku.

Saat kontolnya mencapai kerongkonganku, aku menatap ke atas, ke mata Fah. Setelah kontak mata yang intens, Fah pun geleng-geleng kepala. "Pagi-pagi udah dapet deepthroat. Lucky me," katanya, sambil gigit jari telunjuknya.


———​


Senyumku ga berhenti terkembang mulai dari saat keluar kamar mandi, pakai baju, sarapan, hingga anterin Fah keluar dari kosan. Daaaang, that was one of the best morning sex I ever had! Seks yang menyenangkan berefek pada pelepasan dopamin dalam jumlah banyak, yang berdampak pada peningkatan mood. Kalau mood naik, orang akan jadi lebih ramah, bahagia, dan produktif. Itu yang aku rasain sekarang. Jadi Dea yang ceria.

Fah malah terus ngeliatin aku dengan tatapan aneh. Mungkin di pikirannya, aku sudah selangkah lebih maju untuk jadi gila. Habisnya, aku jadi super ramah. Semua penghuni kosan yang berpapasan denganku pun aku sapa. Kebiasaan ini cuma terjadi tiap Senin pagi, itupun dengan kondisi Fah nginep di kosanku.

"Pak Atsu udah sampe mana?" tanyaku, setelah bukain pintu pagar untuk pacarku.

Fah angkat bahu. "Tadi sih bilangnya baru keluar parkiran hotel. Mungkin sebentar lagi sampe."

Sambil gendong tas ransel Louis Vuitton-nya di pundak kiri, Fah bersandar di tembok, lalu menyulut rokok. Posenya keren banget, sumpah. Tiap aku nemenin dia nunggu penjemputnya di depan kosan, kuperhatiin pasti banyak orang yang ngeliatin Fah. Apalagi sekarang ini. Semua orang yang lewat, pasti nengok ke Fah dengan durasi minimal dua detik. Malah ada yang ngeliatinnya dari ujung jalan ke ujung lainnya.

Selain posenya yang fotogenik, Fah juga ditunjang outfit yang ga ngotak kerennya. Dibalik balutan jaket denim trucker Stone Island warna biru dongker yang kegedean, dia pakai oversized t-shirt hitam Vetements yang dia rombak jadi crop tee. Jadi perut ratanya bebas terekspos. Untuk bagian bawahnya, ada straight pants denim warna biru langit merk Versace, yang dia pakai di bawah pinggang dan bikin bagian atas celana dalam Calvin Klein-nya keliatan. Dia juga pakai kaus kaki, yang meski ga keliatan karena ketutupan celana, tapi merknya Gucci. Setelahnya, ada Balenciaga Triple S warna putih sebagai alas kakinya.

Kalau ditotal dari atas sampai bawah, Fah kayak etalase baju branded berjalan seharga puluhan juta. Setelah merhatiin pacarku dan ngaca ke diri sendiri, aku jadi minder. Dari semua yang kupakai, paling mahal cuma kacamata merk William Palmer yang aku beli untuk gantiin kacamata lama yang framenya patah saat ga sengaja aku dudukin. Jilbab beli di Rabbani, oversized hoodie nge-war di akun thrift Instagram, celana kulot beli di Pasar Rau (dan nawar!), sepatu pakai Heiden Heritage hasil flash sale di Shopee.

See? Aku tuh anaknya lokal pride banget yang penuh kesederhanaan, kan? Iya, kan? Ga apa-apa meski ga pakai barang branded, kaaaaan? Akunya insecure, nih!

"Kamu ngapain ngeliatin aku sampe lama banget?" tanya Fah, memecah fokus observasiku.

"Nggg... ga apa-apa. Aku cuma mikir, kamu keren banget. Beneran. Orang-orang juga sampe ngeliatin kamu gitu."

Fah malah ketawa. Lalu, dia natap aku sambil bilang, "Tapi yang aku liat cuma kamu, Dea."

Ish, aku jadi salting, kan. Aku langsung buang muka biar dia ga liat pipi merahku. Meski udah pacaran setahun lebih, tapi masih mempan aja aku digombalin dia. Ketawa Fah justru malah makin menjadi-jadi. Sumpah, ya, Pak Atsu lama banget! Cepet sampe, doooong, biar aku bisa lepas dari situasi salting ini!

Eh, panjang umur! Yang diomongin pun tiba. Range Rover Sentinel yang selalu dipakai sebagai transportasi pribadi Fah melaju pelan, untuk menepi di depan kami. Setelahnya, seorang pria tua dengan brewok dan kumis tipis pun keluar lewat pintu kemudi. Pria tua itu memakai setelan jas, lengkap dengan dasi.

"Selamat pagi, Nona Fah. Maaf atas keterlambatannya," kata pria itu sambil membungkuk ke Fah. Lalu, dia sedikit mengangguk saat menyapaku. "Selamat pagi, Nona Nadia."

"Ga apa-apa, Pak Atsu. Emang dari awal aku kasih info juga udah lewat dari rencana, kok," jawab Fah, "Menurut Pak Atsu, masih keburu ga aku ngampusnya kalo berangkat jam segini?"

Yang ditanya, tampak mikir sebentar. Lalu, dia ambil HP dari kantong celana. Dia tampak sibuk nelpon seseorang, lalu setelah minta ketemu di gerbang tol Serang Timur, Pak Atsu tutup teleponnya. "Saya sudah pesan vooridjer supaya perjalanannya lebih cepat. Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanyanya ke Fah.

"Great! Thanks, Pak Atsu!" Lalu, Fah ngeliatin aku, sementara aku langsung menggeleng. Karena udah lumayan lama dekat, entah gimana caranya aku dan dia jadi kayak bisa baca pikiran satu sama lain. Aku tau banget tatapan matanya yang minta cium itu. "Ih, Dea pelit!"

"Ini tempat umum, gila! Tuh, banyak santri lagi jajan juga," kataku, sambil menunjuk ke samping gedung kostku yang berupa pesantren.

"Wuuuuuu!" Tapi dia ga nyerah. Kali ini dia ajakin aku cipika-cipiki. Setelahnya, dia pamit ke aku. "Sampe ketemu hari Minggu, yaaa! Gonna miss you, muah, muah! I love youuu!" katanya, dengan suara keras, yang bikin orang-orang sekitar ngeliatin aku.

"Udah jangan banyak bacot! Buruan minggat, sanaaa!" Aku bukain pintu mobil, terus dorong punggungnya supaya cepet masuk. "Gausah nginep-nginep lagi nanti, ah! Repot akunyaaa!"

"Ih, ngatur. Bodo amat hari Minggu aku mau nginep lagi, pokoknya!"

Udah deh tuh, dia masuk ke mobil. Kemudian, Pak Atsu juga pamit ke aku. Mobil pun melaju pelan ninggalin jalan kecil ini, dan hilang dari pandangan setelah belok kanan. Sepeninggal Fah, aku merutuk dalam hati selama perjalananku menuju jalan raya. Berkali-kali mempertanyakan kenapa Senin pagiku sekarang harus selalu seperti ini.

Lalu, aku meraba perut bagian bawahku, tempat dimana rahimku berada. "Dari kemarin dia keluarin di dalem mulu, mana lagi masa subur. Duh, semoga ga hamil, deh," gerutuku.

Tapi gerutuanku ga bertahan lama, setelah ingatan tentang apa yang aku dan Fah lakuin di kamar mandi tadi kembali hadir di benakku. Aku pun senyum-senyum lagi.

"Beli es krim, aaaaaah~" kataku, sambil menuju ke minimarket di samping pom bensin.


———​


Setelah beres urusan kartu ATM, aku langsung berentiin angkot yang lewat. Bank yang aku kunjungi dan kampusku berada di jalur angkot yang sama, kok. Enaknya, hari ini cuma ada kelas siang, artinya aku bisa jajan dulu di kantin. Lagipula, aku udah janjian sama beberapa orang di kampus, jadi ga bikin bosen saat ada di masa-masa nungguin jam kelasnya dimulai.

Karena kuliahnya masih lama, aku bisa santai saat angkotnya ngetem. Di kota ini, kalau bukan di sekitaran Mall of Serang, angkotnya ga lama juga sih ngetemnya. Selain itu, aku juga jarang naik angkot, karena kosanku deket banget sama kampus jadi bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jadi ngangkot ini cuma ketika aku pergi sendirian yang tujuannya di luar wilayah Pakupatan.

Untuk moda transportasi di kota ini, aku lebih suka pakai angkot atau jalan kaki. Kalau kepepet, paling aku setopin taksi yang lewat atau pesan taksi online. Kenapa ga pakai ojek online aja? Ga, aku masih trauma hahahaha. Memang sih, ga semua ojol tuh kayak Pak Jumadi. Tapi tetap aja, mencegah lebih baik daripada misuh-misuh sendiri, kan?

Saat nungguin angkotnya jalan, aku iseng buka aplikasi M-Banking di HP. Pas cek saldo, di rekeningku cuma ada dua juta sekian. Duh, bunga deposito masih dua minggu lagi cairnya, sementara aku udah harus bayar UKT. Jumlahnya jelas melebihi saldo rekeningku.

Di momen begini yang bikin kekesalanku sama kampusku bertambah. Kampusku itu keterlaluan pelitnya. Anak yatim piatu dan pengangguran tanpa beasiswa kayak aku ini masih aja dikasih biaya UKT hampir enam juta. Sebenarnya pihak kampus liat akunya mampu secara finansial dari sudut pandang mana, sih?

Untungnya, aku punya warisan peninggalan Abi dan Umi. Jumlahnya sih sampai delapan ratus juta; dari jual rumah, tanah, motor, tabungan dan asuransi (ini semuanya dibantu urus notaris keluarganya Fah, mantap kan?). Untuk asuransi, karena pakai syariah, jadi yang cair ga sebesar asuransi konvensional. Tapi aku tetap bersyukur soal itu. Kan lumayan, buat nambahin saldo rekening.

Jadi, meski ga punya warisan dalam bentuk aset, tapi aku punya uang delapan ratus juta sekian dalam bentuk deposito di bank BUMN yang suku bunganya nol koma lima persen per bulan. Sampai saat ini aku masih merasa miris, sih. Orangtuaku cari uang dengan cara halal sampai (literally) meninggal, akunya menikmati hasil riba. Di akhirat nanti, aku pasti akan digebuk Abi dan Umi.

Tapi di atas kertas, statusku jutawan, loh. Umur sembilan belas, nih, bos! Padahal, sebenarnya kondisi finansialku menyedihkan. Aku ga berani investasi, ga berani juga buka usaha, tapi ga mau juga uangku habis gitu aja karena aku pakai terus-terusan tanpa ada pemasukan. Saat ini, yang kepikiran cuma deposito aja. Lumayan, tau, tiap enam bulan sekali aku dapat dua puluh empat juta.

Nah, penyakit kambuhanku adalah tiap bunganya cair, aku langsung hedon jajan sana-sini. Setelah dua bulan dan ngehabisin belasan juta untuk jajan dan jalan-jalan, saldo rekeningku akan menipis. Lalu empat bulan sisanya aku ngerem gaya hidup habis-habisan. Sambil nunggu bunga deposito cair lagi, tentunya. Siklus itu pun terus berulang sejak setahun lalu, sampai sekarang.

Eh, angkotnya jalan lagi. Kututup aplikasi M-Banking, lalu mulai putar otak gimana caranya bisa dapet enam juta secara cepat. Kan kalau ada tambahan uang buat bayar UKT, uang bunga depositoku jadi ga diutak-atik, kan? Kalau ga diutak-atik, berarti ada tambahan enam juta buat jajan. Lumayan banget, tuh.


———​


"Nadia, ko mau mengobrol dimana?" tanya senior kampusku, Maria, saat dia berjalan deketin aku.

"Eh, terserah Kak Maria aja. Bebas aku, mah."

"Eh? Ko memangnya ada kelas jam berapa?" tanyanya lagi.

Aku coba ingat-ingat jadwalku hari ini. "Jam... dua?"

Maria tampak mikir, terus tarik lenganku untuk ikutin dia. "Baru jam sepuluh. Sa lagi mau frappe. Ke Starbucks, mau? Mungkin masih sepi kalau sekarang."

Mukaku langsung panik, dong. Segelasnya bisa hampir lima puluh ribu, dan aku lagi kondisi ngirit, nih! Tapi mau nolak ga enak karena udah bilang "terserah". Duh, pasrah aja, deh. Rupanya, kayaknya aku keliatan banget paniknya. Jadi sambil senyum, cewek berkulit cokelat dan berparas manis ini ngomong lagi, "Sa yang traktir, Nadia. Uang OF baru turun, hehehe."

Panikku hilang, lalu berganti senyum. Kaki-kaki yang enggan melangkah ini jadi ringan saat mengekor Maria. Hidupku memang cuma digerakkan oleh beberapa faktor sederhana, dan salah duanya adalah seks, dan traktiran.

Maka, dengan dibonceng Maria, motor matic yang dia kendarai ninggalin area kampus. Di jalan, beberapa kali cewek ini ngerem mendadak supaya ga nabrak angkot yang main nyerobot jalur kiri buat turun-naikin penumpang. Akibatnya, toketku jadi nempel mulu kalau dia ngerem mendadak. Dia sih diem aja, tapi aku yakin kok pasti punggungnya ngerasain sesuatu yang kenyal dan empuk tiap kali toketku nempel.

Ngomong-ngomong soal Maria, kakak tingkat di kampusku ini adalah seorang perantau. Dia lahir dan besar di Ambon, tapi bisa-bisanya milih kampusku buat jadi tujuan kuliah selepas lulus SMA. Maksudku, warga lokal sini aja kaget begitu tau aku yang dari Jakarta mau-maunya kuliah di kampus di pinggiran Serang. Saat aku tau kalau Maria adalah perantau dari Ambon, aku jadi ngerti perasaan warga lokal yang kaget itu. Berarti, kalau mereka juga tau Maria asalnya dari timur Indonesia sana, kagetnya jadi berlipat ganda mungkin, ya?

Setauku, Maria berprofesi sebagai model gravure. Itu tuh, model semi dewasa. Postur badannya yang memang seksi bikin dia cocok banget untuk jadi model gravure. Bayangin aja, kulitnya cokelat langsat, mulus lagi. Wajahnya manis, matanya bulat dan sorotnya teduh, alisnya tebal tanpa harus diukir pensil, hidungnya mancung dan berpadu dengan bibir yang sensual. Kalau itu masih kurang, liat toketnya. Gede banget. Punyaku mah kalah. Tapi ga cuma gede, toketnya juga kencang. Aku cuma sampai liat belahannya aja, sih, but I know fine boobs when I see one. Badannya juga sekal, dengan pinggang yang meliuk ke dalam lalu melebar di pinggul.

Secuil jiwa lesbianku pun setuju kalau penampilan fisik Maria emang bikin ngiler.

Oh, iya, balik lagi ngomongin model gravure. Bedanya dengan model dewasa beneran, model gravure itu ga sampai telanjang, maksimal cuma kasih liat pose sambil pakai dalaman aja. Ga cuma aku yang tau fakta ini, tapi juga seisi kampus. Makanya, Maria sering dapat cibiran dari para cewek, dan pelecehan verbal dari yang cowok. Aku sempat nguping saat Maria diomongin di belakang oleh beberapa orang saat di kantin. Kata para penggunjing itu, "Bayar kuliahnya pake foto-foto buat bahan coli."

Jahat banget, sumpah.

Padahal, mereka ga tau dalamnya Maria. Saat aku kenal dia lebih jauh, cewek ini tuh baik banget. Anaknya humanis, gampang berempati, ramah juga, suka nolongin aku saat kerepotan nugas, dan masih banyak, deh. Saat masa OSPEK, Maria yang belain aku saat aku jadi incaran perundungan sekelompok kakak tingkat cewek ganjen dan sok populer. Dari situ, aku bertekad mau kenal dia lebih jauh lagi, dan setelah beneran kenal dekat, dia baiknya ga ada obat. Seeeee? This world is fucked up enough, and we need more people like Maria to survive a day, tauk!

"Nadia, su sampai. Ko turunlah, jangan bengong terus."

Ah, iya. Beneran udah sampai. Sambil turunin kaki, aku pun membalas, "Abisnya di jalan ga diajak ngobrol. Ya aku bengong aja."

Aku mengekor Maria saat menuju kasir yang dijaga seorang barista. Maria pesan chocolate frappe ukuran venti, sedangkan aku pesan menu yang sama, cuma dengan ukuran dibawah yang Maria pesan. Setelahnya, kami pun pergi ke salah satu meja di pojok ruangan.

"Apa yang mau ko obrolkan, Nadia?" tanya Maria. Ga pakai basa-basi.

Maka, aku pun juga ga perlu berbasa-basi dengannya. "Aku mau minta diajarin bikin konten di OF, Kak."

Maria malah bengong. Dia sampai kucek-kucek kuping. "Sa tak salah dengar ini? Apa ko yang salah omong, Nadia? Heeee... ko jilbaban, masa bikin-bikin konten pakai baju-baju seksi?"

"Ih, aku mah serius. Aku beneran minta diajarin, Kak Maria."

"Sa juga serius. Bagaimana ko mau ngonten dengan jilbab ko itu?"

"Ya kan bisa aku lepas." Tiba-tiba, sebuah ide gila terlintas di benakku. "Atau bikin kontennya pake jilbab aja, ya? Kan jadinya bisa memfasilitasi orang-orang yang fetishnya sama cewek jilbaban."

Denger omongan asalku, lenganku langsung dikeplak Maria. "Tuhanmu tak marah, kah?"

"Tuhan Kak Maria gimana?"

"Ya marahlah, pasti. Cuma sa su tak peduli. Sa butuh uang untuk kuliah. Tapi ko kenapa mau jadi model gravure? Butuh uang?"

Aku mengangguk. Kuberitau dia tentang nominal bayaran UKT untukku yang jumlahnya hampir enam juta. Setelah dengar omonganku, Maria langsung emosi. "Kampus ko itu memang tak ngotak, Nadia. Mereka pikir yang dari luar Serang ini punya banyak uang, hah? Kalau saja sa tak punya cita-cita jadi guru bahasa Inggris buat anak-anak di kampungku, lebih baik sa ikut Mama bertani di desa."

"Atas nama Maria dan Nadia!"

Seruan si barista langsung memecah emosi Maria. Setelah sedikit menenangkan diri, dia beranjak dari kursi menuju tempat pengambilan minuman. Aku perhatiin pantatnya saat dia berjalan. Meski ga terlalu tercetak pada celana bahannya, tapi aku bisa menerka kalau pantat Maria itu bulat dan kencang. Beneran bikin ngiler...

"Punyamu." Maria sodorin minuman yang kupesan, lalu dia duduk kembali. "Ko su pikir baik-baik soal ini, Nadia?"

"Udah, Kak. Aku serius mau mulai ngonten. Dapet uangnya lumayan, kan?"

"Ko pikir darimana sa punya motor PCX cuma butuh dua bulan kumpulkan uang?"

Oke, berarti terkonfirmasi kalau jualan konten di platform yang Maria geluti itu berpotensi dapat uang banyak. "Tuh, kan. Makanya tolongin aku, ya? Ajarin adek tingkatmu ini, pleaaaaaase?" Sambil meraih sebelah tangannya, aku juga menatap Maria dengan pandangan mengiba.

Tangan satunya yang ga lagi kugenggam erat dipakai Maria untuk mengurut pelipisnya. Sambil hembuskan nafas panjang, dia menjawab, "Minggu nanti, ko main ke sa punya studio. Sa lihat apa ko bisa pose-pose. Kalau ternyata ko bisa, sa ajari ko jadi model gravure, sekalian sa tutorkan ko punya konten."

"Ancrit juga Kak Maria, bisa sampe punya studio segala. Tuh beneran, deh, ngonten tuh bisa dapet duit instan, kan?"

"Studio mini, ada sa buat di ruangan tak terpakai di rumah kontrakanku. Nanti sa bagikan lokasinya di Whatsapp." Lalu, Maria setengah berdiri, dan condongin badannya ke aku. Dia berbisik pelan, "Sekalian sa punya syarat untuk ko. Sa ajari ko bikin konten, ko ajari sa bicara seperti orang Jakarta. Deal?"

"Maksudnya... gimana, Kak?" Aku spontan memasang tampang bingung, karena masih belum ngerti sama apa yang dia syaratin ke aku.

"Ko ajari sa bicara seperti ko ini, Nadia."

"Pake aku-kamu, gitu?"

"Ya, dan lain-lain juga. Bahasa gaulnya, logat, pemilihan kata. Sa fasih berbahasa Inggris, Nadia. Tapi sa sering ditertawakan kalau beralih ke sa punya bahasa sehari-hari."

Tanpa pikir panjang, aku segera menjabat tangan kanan Maria. "Deal! Hari Minggu, ya?"

"Hari Minggu. Sa su mantapkan niat, awas kalau ko tak jadi. Sa piting ko punya leher, nanti."

Aku cuma tertawa saat Maria mengancamku. Mungkin kalau dia beneran memiting leherku, aku malah akan memohon-mohon supaya badanku digrepein. Bayangin, aku ga berdaya, kesusahan bernafas, digrepein toketnya, bahkan difingering memeknya... atau, atau... malah dimasukin dildo di memek dan lubang pantatku. Uuuhhh... ngebayanginnya kejauhan!

Setelah obrolan tadi, aku dan Maria beralih topik. Macam-macam, ada bahasan seputar perkuliahan, curhatan Maria tentang penyusunan skripsinya, rasa keponya tentang kehidupan pacaranku dengan seorang transgender, atau bahkan hal-hal receh seperti video-video viral di Tiktok yang bikin ketawa.

Ga kerasa, waktu hampir menuju pukul setengah dua siang. Kami berdua pun mutusin untuk menyudahi sesi nongkrong di kafe ini. Tapi sebelumnya, Maria mau ke toilet dulu. Sementara aku menunggu sambil menyeruput habis chocolate frappe-ku.

Saat menunggu, aku tiba-tiba kepikiran sesuatu yang penting. Hari Minggu kan waktunya Fah ngapelin aku! Terus kalau akunya malah pergi ke rumah Maria, Fah ditinggal sendirian, dong? Ga lucu juga kalau tiba-tiba aku ajak dia ke sana. Ah, iya... mana aku belum bilang ke Fah soal mau coba bikin konten dewasa.

Kalaupun bilang, akan dibolehin, ga, ya? Terus... kalau ga dibolehin dan ga jadi kerjasama bareng Maria, apa aku akan tetap berakhir dipiting lehernya sama dia?

Awww... please choke me harder, Mommy~♡
==========

==========
Chapter 2:
Should I Take it as "Yes"?​






"Mang, mau seporsi, ya. Pake lauk kayak biasa, dibungkus."

Pedagang nasi kuning gerobakan yang kusamper ini, langsung sigap bikinin pesananku. Karena sudah langganan hampir tiap pagi, jadi tukangnya sudah hafal aku pakai lauk apa saja. Aku pun duduk di kursi plastik yang disediakan. Karena lupa bawa HP ke luar, jadi sekarang aku mati gaya. Cuma bisa bengong sampai pesananku jadi.

"Nadia, kamu ga ngampus? Jam segini kok belum jalan?"

Aku menengok ke asal suara. Oh, ternyata berasal dari salah satu teman cewek di kampusku, yang kosannya berdekatan dengan kosanku. Sepagi ini, dia sudah rapih. Kayaknya ada kelas pagi. Tampak dia lagi buru-buru, sampai dia harus mengunyah roti sambil jalan.

"Oh, aku mau sarapan dulu. Laper."

Cewek itu pun langsung berenti. "Bukannya kamu ada kelas pagi juga? Nanti kalo telat gimana?" tanyanya, sambil natap aku.

"I'll be fine, Michelle," jawabku. Setelahnya, aku diberitau tukang nasi kuning, kalau pesananku sudah jadi. Maka, aku pun ambil pesananku, lalu bayar ke si penjual. Selesai berurusan dengan penjual nasi kuning, aku berjalan menghampiri Michelle. "Makasih, ya, udah mau khawatir. See you there, katingku yang rajin banget."

"Do I have to take that as an insult?"

"I was praising youuuuu!" Kudorong punggungnya supaya dia lanjutin perjalanannya lagi, sambil ngomong, "Udah ah, nanti kamu telat."

"For Lord's sake, Nadia, kamu santai banget! Pokoknya, aku udah bilangin, ya," balasnya, sebelum lanjut jalan menuju kampus.

Kuperhatiin punggung Michelle saat cewek itu terus berjalan lewati halte depan kampus. Tas ranselnya kayaknya penuh banget, pasti di dalamnya banyak buku-buku tebal. Badan mungilnya kuat juga, bawa tas ransel sepenuh itu.

Haaah... dia emang rajin banget, ya. Aku jadi ngeliat refleksi diriku yang dulu saat ngeliat Michelle. Pintar, rajin belajar, ga pernah telat, selalu ikuti aturan, dan suka ajak orang lain untuk hidup dengan baik dan benar. Jadi ga perlu banyak drama di hidupnya.

Sekilas, terbersit sebuah pertanyaan di kepalaku. Kalau jalanku lurus-lurus saja, apa sekarang aku akan jadi seperti Michelle? Kalau jawabannya iya, maka salahkah aku karena jadi iri sama dia?

Sepeninggal Michelle, aku juga pulang ke kosan. Karena pagi ini anginnya lagi kencang, rambut hitam sebahuku jadi berkibar-kibar ga tentu arah. Aku jadi menyesali keputusanku yang ga mau pakai jilbab saat mau ke luar tadi. Atau minimal, harusnya aku bawa ikat rambut.

Saat baru sampai kamar kosanku, aku kepikiran lagi soal omongannya Michelle. Dia benar juga, untuk ukuran mahasiswi baru di universitas paling top di kota Serang, aku terbilang santai banget. Teman-teman kampusku aja sampai heran sama sikap santaiku. Kalau ada kelas pagi, jam setengah tujuh mereka udah rapih dan siap berangkat. Aku? Malah keluar kosan buat beli sarapan. Masih pakai baju tidur, pula.

Tapi aku ga mau terlalu pusing mikirin omongan orang. Kalau nanti aku telat masuknya, yaudah. Aku ga mau diburu-buru kalau ada kelas pagi, dan aku juga ga bisa merubah peraturan kampus, kan? Jadi, ya... tinggal terima resikonya aja. Maka, aku pun makan lauk sarapanku sambil cek HP. Oh, ada panggilan tidak terjawab dari Fah. Kutelpon balik aja.

"Sayang, ada apa?" tanyaku, setelah telepon tersambung, "Maaf tadi pas beli sarapan HP-nya ga aku bawa."

"Oh, iya ga apa-apa. Aku cuma mau nanya karena baru inget. Kamu belum bayar UKT buat semester ini, kan? Belum turun uang depositonya, ya?"

"Belum. Masih sepuluh harian lagi, Yang. Kok kamu tau aja, sih?"

"Soalnya biasanya kamu suka laporan ke aku kalo abis bayar ini-itu. Aku sih indikatornya gitu aja. Oke. Aku bayarin—"

"Kita udah pernah bahas ini, kan?" potongku, "Inget jawaban aku apa?"

"Kamu mau apa-apanya mandiri... iya, aku inget. Aku cuma mau bantu, soalnya kamu ga pernah mau dibayarin kuliahnya. Maaf, ya. Tapi ga apa-apa kalo belum bayaran, gitu?"

"Paling ada denda sedikit. But no biggie." Aku pun menyuap sesendok nasi kuning. Setelah beberapa kali kunyahan, aku lanjut ngomong, "Kamu mau nanya itu doang?"

"Oh, iya. Ada lagi, deh. Minggu nanti aku mau dari pagi ketemunya, ya. Aku samperin kamu, terus kita ngedate. Gimana?"

"Nggg... sebenernya aku udah ada janji hari Minggu nanti. Ga yang bikin kamu ga bisa ke sini juga, kok. Tapi kayaknya ga memungkinkan untuk kita ngedate, karena aku ga tau janjiannya sampe kapan."

Ga ada suara balasan dari Fah setelah aku selesai ngomong. Setelah aku nunggu agak lama, baru dia bicara. "Kamu ada janji sama siapa?" tanyanya. Ada nada kecewa yang berusaha dia tutupi dari aku, tapi aku udah cukup peka untuk sadari itu.

"Sama temen kampus. Cewek, kooook. Urusan kerjaan gitu."

"Hah? Kerjaan?" Nah, kan, nada kecewanya berubah jadi penasaran. "Maksudnya bahas pekerjaan? Kamu kerja?"

"Eh, iya. Aku belum bilang, ya? Maaf, kelupaan. Iya, aku kerja. Baru mau dikenalin, sih, kerjaannya apa dan gimana. Kalo cocok, aku mau lanjut terus, ya."

"Terus kuliahnya gimana?"

"Ya sambil kuliah juga. Kayaknya ga akan ganggu kegiatan kuliah aku, kok. Semoga, sih..."

"Ih, makanya kan aku bilaaaaang... aku aja yang biayain, biar kamu ga usah kerja-kerja gitu, Dea. Nanti kalo kuliahnya keteteran gara-gara kamu kerja, gimana? Terus—"

"Aku kerja jadi model gravure. Minggu nanti trial dulu," potongku, cepat. Aku udah malas nanggepin soal dia yang mau biayain aku ini-itu.

Dari seberang sana, terdengar suara batuk yang intens. Aku sampai harus menyimak suara Fah yang sedang meneguk minum. "Model... apa tadi?" tanyanya, setelah beberapa kali berdehem untuk atasi tersedaknya.

"Gravure. Konsepnya nonjolin bagian-bagian tubuh cewek gitu. Nanti aku pake baju-baju seksi, terus difoto," jawabku, memberi penjelasan singkat.

"Iya, aku tau gravure itu apa. Aku cuma sempet ga percaya aja kamu ngomong gitu. Masalahnya, kamu beneran mau kerja jadi model gravure?"

"Why not?"

"Kamu ga apa-apa kalo badan kamu dijadiin konsumsi untuk bahan masturbasi cowok-cowok?"

"Bukannya... kamu pernah bilang, kamu fantasiin aku kayak gitu? Ya ini mau aku realisasiin, mumpung ada kesempatannya. Plus, aku juga dapet uang. Win-win solution. Sekarang aku tanya, aku diizinin jadi model gravure, ga, sama kamu?"

Kudengar suara Fah habis menelan sesuatu. Lalu, dia bertanya lagi, "Aku boleh ikut dan liat selama kamu foto-foto, kan?"

"Should I take it as "yes", Sayang?"


———​


Setelah aku jelasin pekerjaan yang mau kucoba ke Fah, dia malah semangat banget ngedukung aku. Katanya, dia ga sabar ngeliat aku pakai baju-baju seksi terus difoto dalam banyak pose. Emang ga waras tuh shemale. Kalau pacar yang normal tuh ngelarang, minimal protes. Eh, dia malah ngedukung, bahkan sampai mau beliin aku kostum segala.

Tapi aku ga bisa langsung mengiyakan saat Fah minta ikut. Karena ini urusanku dengan Maria, ya aku harus tanya yang bersangkutan dulu. Karena merasa ga enak kalau tanya lewat chat, maka aku mutusin untuk nanya langsung saat ketemu, sehabis kelas nanti.

Lagipula, kan aku ada sesi ajarin dia soal dialek Jakarta. Sesinya tiap hari, sih, dan ga dibatasi waktunya berapa lama. Sampai sebosennya dia, aja. Dihitung dari hari Selasa kemarin, total sudah ada empat hari aku ngajarin dia; dengan tiap sesi berlangsung selama sekitar dua jam.

"Baik, sebelum saya sudahi kelas hari ini, saya mau kasih tugas. Cuma satu soal saja, kok. Catat baik-baik soalnya, ya."

Dosen yang sedang berdiri di depan kelas, tampak sedang beresin buku-bukunya yang ada di atas meja. Sementara itu, teman-teman kelasku sudah bersiap dengan pulpen dan buku tulis. Aku justru ngeluarin HP dari saku. Kunyalain aplikasi perekam suara.

"Sebutkan dan jelaskan macam-macam ilmu komunikasi, serta berikan contoh masing-masing jenisnya sebanyak lima buah, lalu tuliskan pandanganmu tentang penerapan masing-masing ilmu komunikasi tadi dalam kehidupan nyata, ditulis tangan menggunakan kertas folio A4, dengan jumlah minimal dua ribu dan maksimal lima ribu kata. Dikumpulkan Senin depan, ya. Dah, itu aja," tutup si dosen.

Kustop rekaman, lalu kembali masukin HP ke saku. Aku pun merutuk dalam hati. Soal yang dikasihnya sih cuma satu, tapi jawabannya sama aja kayak ngerjain karangan bebas. Mana tulis tangan lagi. Kan pegel, Pak! Issshhh... dosen Sosiologi yang satu ini memang terkenal nyebelin banget kalau kasih tugas. Seharusnya aku ga berharap banyak saat beliau ngomong tadi.

Saat si dosen ninggalin ruangan, kelas pun bubar. Aku segera ke kantin untuk ketemu Maria. Ga kuhiraukan suara cowok-cowok yang manggilin aku, beberapa cuma berani ngeliatin aku aja. Kayak... mereka kok heboh banget, sih, hari ini?

Saat sudah sampai kantin, Maria sudah ada di sana. Duduk sendirian, dengan earphone terpasang di kedua kupingnya. Maria baru sadar kalau ada aku, saat aku duduk di hadapannya.

"Nadia, kamu kenapa tak pakai jilbab hari ini?" tanyanya, saat ngeliat aku.

Wah, susunan kata saat dia bertanya sudah lumayan rapi. Cuma dialeknya aja, sih, yang masih terasa kental. Tapi ini lumayan banget perkembangannya, lho. "Lagi males aja, Kak," jawabku, singkat.

"Heee... memang boleh begitu?"

Aku pun tertawa saat ngeliat ekspresi keheranan Maria. Sambil menyibak rambut hitam berkilauku pada sisi kanan dan kiri, aku menjawab, "Ya ga boleh, sebenernya. Cuma aku maunya gini."

Memang ada masa-masa dimana aku ga pakai jilbab saat keluar. Biasanya saat rambutku lagi bagus-bagusnya, atau saat cuaca terik banget, atau karena lagi ga mood jilbaban saja. Tapi makin kesini, malah makin sering. Apalagi untuk pertama kalinya, hari ini aku ke kampus cuma pakai crewneck warna mocca, boyfriend denim pants, dan slip on Vans. Saat beberapa temanku bertanya, aku sudah menyiapkan jawaban sebagai protokol standar: jilbabnya lagi dicuci semua.

"Sudah gila rupa-rupanya adik tingkatku ini. Aku berani taruhan, selama jalan ke sini, kamu dipandangi cowok-cowok, kan?" Saat aku mengangguk, Maria pun ngomong lagi, "Iman mereka yang tipis itu malah kamu robek-robek dengan penampilanmu yang biasanya tertutup, sekarang jadi terbuka. Hari ini kamu lepas jilbab, besok mungkin kamu ke kampus pakai crop tee."

Aku spontan kaget, karena Maria berhasil menebakku. Memang rencananya aku mau pakai crop tee kalau nanti ke kampus tanpa pakai jilbab lagi.

"Kenapa kaget? Aku nebaknya betul?" Maria geleng-geleng kepala, sambil sodorin aku kertas menu. "Kamu mau pesan apa?"

"Crushed chicken, Kak."

"Crushed chicken—ayam geprek, maksudmu? Sa pukul ko pu kepala, ya!"

Eeeh, cara ngomong alaminya balik lagi. Kayaknya kalau dia dalam kondisi spontan ucapinnya, otomatis pakai bahasa daerahnya, deh.

Nah, sesi latihan yang kami jalani ini tujuannya biar Maria bisa lancar pakai bahasa Indonesia. Kalau soal dialek, aku ga yakin itu bisa dihilangkan dengan mudah. Susah untuk menghilangkan kebiasaan yang sudah menahun. Tapi targetku yang sebenarnya adalah agar dia, meski dalam kondisi bawah sadarnya pun, bisa mengendalikan kapan harus berbahasa Indonesia, dan kapan pakai bahasa daerahnya.

Latihannya juga ga sulit. Cuma ngobrol biasa aja. Tapi Maria harus konsisten dan konstan berbahasa Indonesia dalam setiap percakapan. Dia juga harus memperhatikan susunan SPOK, dan aku pikir itu tantangan berat baginya karena kebiasaan bahasa daerahnya bikin susunan kalimat yang Maria ucapin jadi terbolak-balik.

"Kak, soal hari Minggu nanti... bisa dibahas di sini, ga?" tanyaku. Suaraku pun kupelankan.

"Iya, bagaimana, Nadia? Apa yang mau dibahas?"

"Aku udah bilang ke pacarku, dan udah diizinin juga. Masalahnya... dia mau ikut untuk nemenin. Katanya, dia excited banget mau liat aku pake baju seksi terus difoto-fotoin, gitu."

Maria langsung naikin alis. "Masalahnya dimana?"

"Ya karena pacarku ikut?"

"Nadia, sini sa kasih tau ko pu kuping. Mau ko ajak kampus ini pu mahasiswa ribuan pun, kalau mereka tak ganggu saat sesi pemotretan, ya tak masalah," jawabnya, sambil ngeliatin aku dengan tatapan gemas.

"Kak, bahasa Indo, Kak," kataku, ngingetin, "Ya kalo ganggu, gimana?"

"Oh, iya. Maaf. Aku masih suka kelepasan. Nah, kalau pacarmu ganggu," Maria pun acungin dua jarinya, dilebarkan hingga membentuk huruf V, lalu tiba-tiba dia rapetin, "Aku potong penisnya biar jadi cewek tulen, sekalian."

"Ih, jangaaaaaaaaaaaaan!" Gawat, aku malah spontan memekik, bikin beberapa pasang mata langsung memandang ke arahku.

Ngeliat responku, Maria justru tatap aku dengan pandangan ngeremehin. "Suka kamu sama penis pacarmu, Nadia? Tak rela sekali sepertinya kalau pacarmu jadi cewek tulen."

Aku jadi merasa tertantang. Belum tau kakak tingkatku ini tentang bentuk kontol yang bikin aku ketagihan banget itu. Maka, aku ambil HP, lalu ke galeri untuk cari-cari foto selfie Fah di kaca kamar mandinya, yang hampir selalu dia kirimin kalau mau mandi. Untuk stok foto pacarku, tenang saja, aku punya banyak. Nah, ketemu.

Aku pun letakin HP di meja, lalu geser pakai telunjuk ke sisi Maria. "Kalo Kak Maria punya pacar kayak gini... suka juga, ga?"

Detik itu juga, pandangan Maria ga lepas dari foto Fah yang terpampang di layar HP-ku. Bahkan ga ada kata yang keluar dari mulutnya. Yang aku dengar jelas cuma suara dia saat menelan liurnya sendiri, berbarengan dengan wajahnya yang tersipu malu hingga harus dia tutupi dengan kedua tangan, yang jari-jarinya membuka.

Setelah berhasil mengatasi saltingnya, Maria berdehem. Lalu, dia pun bilang ke aku, "Minggu nanti, aku tunggu kamu dan pacarmu, ya."
==========

==========
Chapter 3:
Manic Phase​






Saat Fah bilang mau datang pagi, aku berekspektasi bahwa dia mau datang jam tujuh atau delapan. Sekarang baru jam setengah lima. Bahkan adzan Subuh baru selesai berkumandang, dan dia bilang sudah di depan kosan. Fah memang paling bisa ngerusak tidur pagiku di hari Minggu!

Karena gembok pagar biasanya baru dibuka jam setengah enam oleh pengurus kosan, jadinya aku harus ke bawah dan buka gemboknya pakai kunci serep. Saking buru-burunya, aku bahkan cuma pakai daster tanpa daleman. Untung banget di luar masih sepi, jadi ga ada yang liat aku turun tangga cepat-cepat hingga bikin toketku bergoyang bebas.

Tapi saat aku baru sampai koridor, aku ketemu Fah. Seperti biasa, dia tampil modis dan 'terbuka'. Masing-masing tangannya menjinjing tas besar, yang entah isinya apa. Ditambah, dia juga gendong tas ranselnya. Ini orang niat mau main apa mau pindahan, sih?

"Loh, kok kamu bisa masuk?" tanyaku, heran.

"Tadi aku ketemu sama... siapa tuh, yang anaknya pemilik kost? Dia mau ke masjid, katanya. Jadi sekalian dia keluar, akunya masuk, deh."

"Gia? Wah, tumben banget." Aku langsung merasa heran, karena setau aku, cewek itu ga pernah ke masjid saat Subuh sebelumnya. Tapi buru-buru aku tepis rasa heranku. Biarin aja, urusan orang ini. Aku beralih ke tas besar yang dijinjing Fah. "Itu tas gede-gede gitu isinya apa?"

"Kostum, Dea. Ada bunny girl, virgin killer, seifuku, terus... ada beberapa kostum karakter anime. Ada barang-barang lain juga. Banyak, sih. Nanti kamu liat sendiri aja."

"Setas penuh? Dapet dari mana?"

"The perks of being rich," jawabnya, sambil ketawa.

Aku spontan geleng-geleng kepala. Merasa ga habis pikir, kenapa bisa-bisanya trap satu ini enteng banget habisin uang untuk beli kostum, yang belum tentu juga dipake semuanya. Cuma gara-gara dia segitu excited-nya liat aku mau photoshoot...

Aku pun meraih tas besar di kiri Fah. "Sini, aku bawa salah satunya."

Tapi Fah langsung menolak. Katanya, "Ih, biarin aja. Aku kan cowok, jadi harus kuat bawa barang berat."

"Tapi capek, kan?"

Fah mengangguk dengan polosnya. "Iya, sih."

"Makanya, siniin biar aku yang bawa!" Penuh emosi, aku langsung menyambar tangan kiri Fah, dan ambil tas besarnya untuk kujinjing. "Aku lagi PMS, nih, bawaannya emosi mulu. Jangan bikin kesel, ya."

Fah ngangguk pelan, lalu diem dulu. Ini bikin aku mikir, apa aku kelewatan sama dia, ya? "Maaf, ya. Kamu udah repot-repot ke sini dari sepagi ini, tapi disambut sama marah-marahnya aku. Yuk, kita ke kamar. Mau?" bujukku, sambil pegang tangannya.

Tapi Fah masih diem. Kan akunya jadi deg-degan. Takut dia marah sama aku.

"Dea," katanya, setelah beberapa saat diem aja, "Kayaknya aku harus tinggal sama kamu, deh."

"Eh, kok tiba-tiba?"

"Soalnya aku nemu cara supaya kamu ga perlu ngerasain PMS."

Oh, jadi tadi dia diem tuh buat mikir, gitu? "Apa caranya?"

"Ngentotin kamu tiap hari, jadi at least kamu ga akan ngerasain PMS selama sembilan bulan, kan?" balasnya, polos banget.

Si anjjjjjj... udah dikhawatirin malah bikin tambah kesel aja! Spontan kuacungkan jari tengah di depan mukanya, lalu melempar tas yang kujinjing ke lantai. Aku pun melangkah cepat, ninggalin Fah yang kesusahan bawa tas. Kusumpal kedua kupingku pakai tangan, biar aku ga peduli sama rengekan manjanya.


———​


Tentu saja, aku ga bisa marah lama-lama ke pacarku ini, apalagi setelah dikasih orgasme nikmat yang bertubi-tubi. Aku ga tau ini orgasme yang keberapa, tapi rasanya bikin aku kehilangan tenaga. Tubuh telanjangku pun tergeletak lemas di atas kasur lantai. Dengan posisi kaki mengangkang lebar, memekku yang merekah karena habis dipompa kontol gede Fah terekspos jelas.

Fah masih belum ejakulasi. Dia lagi ambil minum, dua gelas. Salah satu gelasnya lalu dia kasih ke aku, sambil dia juga minum. Iya, ih, kerongkonganku kering banget. Pacarku tau aja. Aku pun senyum-senyum sendiri, saat menyadari kalau Fah perhatian banget sama aku.

Setelah selesai minum, Fah langsung ambil posisi di atasku lagi. Sambil duduk, dia gesekin kepala kontolnya ke bibir memekku. Uuhhh... masih sensitif, tau! Setelah gesekin beberapa saat, kepala kontolnya dia posisiin di lubang memekku. Lalu, sambil menindihku, dia dorong kontolnya pelan-pelan. Dia pun nanya, "Sayang, masih marah?"

"Uuuuddddaaaahhh... eenngggaaaaaaaaaaa...!" Seenggaknya, kasih aku waktu untuk jawab dulu, kek, sebelum dimasukin! Fuuuuck, mana mentok banget, lagi!

"Kalo udahhh... ahhh... engga marah, aku boleh... keluarinnn... ahhh, ngghh... di dalemmm?" tanyanya, sambil terus genjotin memekku. Gerakannya sih pelan, tapi tiap genjotannya bertenaga dan melesak dalam-dalam, sehingga selalu mencium bibir rahimku.

Ditanya begitu, aku langsung memegangi pipinya. Kutatap dia dengan pandangan sayu. "B-biasanya... uuhh, ngghh... ahhh... jugaaa... ga nanyaaa... duluuuu... kan?" balasku.

"Berarti, ahhh, ahhh, ahhh... boleh?"

Aku mengangguk. Kucium bibirnya, dan kulumat dengan ganas. Lidahku masuk ke mulutnya, menagih liur untuk kuambil dan kutelan. Setelah beberapa saat berpagutan mesra, kulepas bibirku, lalu bilang ke dia, "Boleeeehhh... wajib, Yangghhh... wajib keluarin di daleeemmm... entotin aku terus, entotin teruuusss..."

"Aahhh, fuuuck! Deaaa, kamu bikin horny banget, sumpah!"

Tubuhku dan tubuhnya bergesekan intens saat Fah terus memompa kontolnya di memekku. Toketnya yang kecil, tapi bulat dan kencang ini juga selalu menggesek toketku. Kalau dientotin begini, aku bisa apa sih selain pasrah dan peluk dia erat-erat?

"Kamu... ahhh, ahhh, mau hamilin aku, yaaa? Makanya... oohh, ngghhh... mau keluarinnn... di dalemmm?"

Sambil mengangguk, Fah jawab, "Iyahhh, iyahhh... I love you, Dea! I love youuu soooo... ngghhh... fucking muchhh, I want to, ahhh, ahhh... have babies... with youuu!"

"Lots of babies? Aahhh, ahhh... mmmhhh, uuhhh... Fahhh, kontolnya kerasa makin gede di... ahhh, di memek akuuu!" Kutarik kepalanya hingga terbenam di leherku, dan aku berbisik ke dia, "Well... cum insideeee me, pleaseeee? Use this... ahhh, ahhh... baby factory of mine... as much as youuu want, uuuhhhh... Fahhh... Sayanghhh... mentok bangettt, kontolnya mentok teruuusss... bikin akunya ga berenti, ahhh, ahh, ahhh... keenakan, Yanggghhh..."

Setelah aku bisikin, Fah jadi makin semangat genjotin memekku. Dia makin cepet genjotin dan makin kuat mentokin kontolnya. Udah ga ada kata yang keluar dari mulut kami berdua, selain desahan binal yang kedengeran jelas di kuping satu sama lain.

Sambil kupeluk erat, kedua kakiku juga naik, melingkar di pinggangnya. Sekarang, tubuhnya ga bisa lepas dariku. Dia cuma bisa terus genjotin aku aja, sepuasnya. Iya, gitu, akunya dientot terus, yaaa...

"Dddeeeaaaaa... ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh... aaakuuu... akkkkuuu... mmm... oohhh, oohh, ahhh, mmmhhh... mmmauuuu... kkkeeluuuuaaarrrr...."

"Kkkeluarinnn... ahhh, ahhh... keluarinnn... aaajjjaaa... aahhh, uuhh, aahhh... oohh, oohhh, oohhh... mentokin, Yangghh.. mentokin teruuuss... ciuminnn rahimmm aku... iyahh, ahhh, ahh, aaahhh... let me... let me have your baby... hamilin akuuuu... ahhh, ahhh... aku pasrah, aku mau dihamilin kamuuuu, uuhhh, ahhh, ahhh, aahhh, gila ini enak bangettt... ahhh, aku, aku sampeeeee—"

Fah menyumpal mulutku dengan mulutnya, berbarengan dengan sodokan terkuat dan terdalamnya ke memekku. Aku bisa rasain kepala kontolnya berdenyut-denyut sambil terus menciumi bibir rahimku. Aaahh... pejunya bermuncratan, banyak banget. Pejunya... langsung masuk ke rahim. Gila, aku beneran dibuahi langsung ke rahimnya, nih?

Bersamaan dengan ejakulasi Fah, aku juga menggapai orgasme yang kesekian kali. Badanku gemetar ga karuan, sementara otot-otot memekku berkontraksi karena orgasme yang dahsyat, bikin dinding memekku menyedot dan memijat kontol Fah yang masih menancap dalam. Kulampiaskan orgasmeku dengan peluk badan Fah erat-erat, dan kedua kaki yang semakin mengapit pinggulnya. Aku juga melumat bibir Fah tanpa henti, mengais liurnya, serta menjilati seluruh mukanya.

Ciuman dan jilatan ganasku menurun intensitasnya, saat orgasmeku mereda. Aku ketawa saat tau kalau pipi Fah licin oleh jilatanku. Dia ga terima, makanya dia gesekin pipinya ke pipiku. Lalu kami berciuman. Lembut dan hangat. Berpagutan pelan, serta diselingi satu kecupan di tiap lumatan intens.

"Dea... aku ga mau cabut, ya? Masih betah di dalem memek kamu," ucap Fah, sambil terus ciumin pipiku.

Kulihat matanya jadi makin sayu. Kuusap kepalanya, lalu biarin kepala serta badannya merebah di atas badanku. "Ngantuk, ya? Aku juga ngantuk. Tidur dulu, yuk?"

"Tapi... aku ga mau cabut kontol aku..."

"Iya, iya," kuusap lagi kepalanya, "Ga dicabut. Biarin aja di dalem. Biar ga ada peju yang keluar, ya?"

Fah mengangguk, pelan. "I'm being serious when I said I want to have a baby with you. I love you, Dea. I'm so in love with you."

"I know. I love you." Kupeluk erat pacarku, berusaha memberitau dia bahwa aku punya perasaan yang sama. "Now, let us sleep. I love you, Fah. Don't leave me alone, ya?"

Tapi Fah ga jawab. Ternyata, dia udah tidur. Idih, sebel banget. Tapi aku malah senyum-senyum sendiri. Aku benar-benar menyadari dan menikmati perasaan yang membuncah ini. Aku sayang banget sama Fah. Sebagai teman, sahabat, pacar, dan orang yang aku mau untuk bersama sampai tua nanti.

Tanpa sadar, air mata mengalir di kedua pipiku. Deras alirannya beriringan dengan semakin meluapnya berbagai macam perasaan yang bercampur baur di hatiku. Bahagia, sedih, takut kehilangan, khawatir, bangga, lega, bersyukur... dan rasa yang ga bisa kujelaskan tiap kali Fah muncul di kepalaku, di pandanganku, saat kudengar suaranya, saat dekat maupun jauh. Apa ini yang namanya cinta? Entah.

Aku ga pernah ngerasain euforia sehebat ini, sebelumnya.


———​


Aku dan Fah bangun hampir bersamaan di jam sepuluh lewat. Engga, sih, sebenarnya aku yang bangun duluan, lalu kuguncang-guncang badannya yang masih nindihin aku. Untungnya, kali ini Fah langsung bangun. Padahal aku sudah niatin mau ambil dildo di laci.

Kebangun dalam kondisi yang kelaperan parah, aku ajakin Fah makan mie instan. Aku punya stok banyak di lemari penyimpanan makananku. Mau rasa apa aja ada. Ga suka Indomie? Aku punya Mie Sedap sampai Samyang. Mengoleksi mie instan berbagai merk dan rasa adalah salah satu hobi kecilku yang terbawa hingga sekarang, dan aku cukup bangga dengan itu. Seenggaknya, ada hobi yang masih bertahan; setelah hobi puasa sunnah dan mengaji yang kutinggalkan akibat perubahan ideologi.

Untuk masak mie, aku harus keluar kamar menuju dapur bersama. Dapurnya ada di tiap lantai, berada di ruang sebelah tempat mencuci. Aku sendiri ga pernah cuci baju di kosan, karena langganan laundry antar-jemput. Aku juga jarang ke dapur, karena sebagian besar sesi makanku dari pesan online, atau makan di luar. Jadi, adalah pemandangan langka bagi penghuni kosan yang lain kalau ngeliat aku ke dapur.

"Teh Nadia, tumben masak. Lagi mau bikin apa?" tanya Gia, yang ngeliat aku sedang sibuk bukain bumbu mie. Setelah liat empat bungkus mie instan kuah di meja dapur, dia ganti pertanyaan. "Masaknya banyak banget, buat siapa aja?"

Gia, anak dari pemilik kosan yang tinggal di bangunan terpisah (tapi masih berada di satu area) dari gedung kost yang kutempati ini, emang terkenal kepo. Rasa penasarannya tinggi banget. Dia suka bertanya banyak hal, mulai dari tema receh sampai urusan yang sensitif; seperti agama, umur, pekerjaan, dan urusan ranjang. Tapi meski anaknya kepo, kupikir untuk konsumsi pribadi saja. Karena ga pernah ada aduan dari Gia ke orangtuanya, soal kelakuan penghuni kost yang aneh-aneh, yang dia pergoki sendiri.

"Dua bungkus buat aku, sisanya buat Fah," jawabku, singkat. Lalu aku ingat kalau Subuh tadi Gia sudah baik mau bukain gembok pagar buat Fah. "Eh, yang tadi pagi, makasih ya. Kamu membantu sekali, Gia."

"Hehe. Iya, sama-sama, Teh Nadia. Gia seneng kalo bisa bantu."

"Kamu dari mana, ini?"

"Abis disuruh Mamah beresin kamar kosong yang di lantai tiga. Katanya ada yang mau isi."

"Wah, bagus, dong. Jadi penuh semua, sekarang." Saat kuliat air di panci sudah mendidih, kumasukin dua bungkus mie instan. "Sebagai bentuk terima kasih karena udah bantuin aku tadi pagi, kamu mau dibuatin mi juga, ga?"

"Boleh, deh," katanya, tanpa sungkan, "Ada mi goreng?"

"Banyak. Mau rasa apa dan berapa bungkus?"

"Mmm... rasa goreng Rendang?" Dia tampak ragu-ragu mau ngomong sesuatu. Yaudah, aku tungguin aja sampai dia berani ngomong. "Teh... kalo ada tiga bungkus, Gia boleh minta? Nanti Gia yang masak sendiri, kok."

Aku agak terperanjat saat dengar Gia minta tiga bungkus mie. Padahal badannya langsing, tapi nafsu makannya boleh juga. Kulirik perutnya yang tertutup tanktop putih ketat yang dia pakai. Perutnya bisa serata itu, tapi kenapa makannya banyak, ya? "Oke, aku ambilin dulu, ya. Kamu bisa bantuin aku masukin telur ke panci, ga?"

"Beres, Teh. Makasih, yaaa!"

Saat aku kembali ke kamarku, aku langsung tepuk jidat saat ngeliat Fah masih rebahan di kasur, dan masih bertelanjang bulat. Aku pikir pas kuajakin makan mie tadi, dia mau siap-siap pakai baju. Eh, ternyata malah tidur lagi. Akhirnya, kuambil bantal di karpet, lalu kulempar ke mukanya.

"Aduuuuh! Apaan sih, Dea?!" teriak Fah karena kaget, saat aku bangunin mendadak.

"Apanya yang apaan? Katanya mau bantuin? Ditungguin malah tidur lagi," balasku, "Ngomongnya mau punya anak. Pacarnya bikin mi sendirian aja boro-boro dibantuin, ditemenin juga engga!"

"I'm up! I'm uuuuuuuup!" Fah langsung panik, lalu buru-buru cari kaus untuk dipakai. "Nyebelin banget, pake bawa-bawa anak segala, ih!"

Meski sekarang tampangku sedang jutek, tapi dalam hati sih ketawa saat liat pacarku ini sedang panik. Fah emang takut kalau aku lagi galak, dan dia baru tau hal ini setelah kami berpacaran. Jadi, kayak agak kejebak gitu, sih. Eh, tapi dulu saat aku masih lebih muda dari sekarang, aku ga galak, kok. Sifatku justru banyak berubah setelah Abi dan Umi ga ada.

Setelah ambil mie yang Gia mau, aku balik lagi ke Fah. Sekarang, dia udah pakai kaus oversize yang panjangnya sampai tengah paha. Mataku langsung memicing ke selangkangannya. Sadar akan maksud tatapanku, Fah langsung angkat kausnya. Oh, ternyata dia pakai celana pendek, dan cukup menutupi tonjolan di selangkangannya, kok.

"Bantuin aku di dapur, kalo engga, aku berangkat sendiri nanti siang," ancamku, sebelum keluar kamar.

Saat balik ke dapur, Gia sedang menuang mie dari panci. Aku langsung maklum saat ngeliat telur di dalam panci sudah pecah. Untung ga berekspektasi berlebihan ke cewek ini. Baiklah, ini buatku aja. Aku yang akan buat sendiri untuk Fah, habis ini.

"Gia, ini, ya." Kutaruh tiga bungkus mie di meja dapur, lalu aku bikin mie untuk Fah. "Kamu kalo mau bikin mi, tungku sebelah kosong, tuh."

"Engga, Gia nunggu Teteh aja."

Tiba-tiba, Fah sudah muncul di belakangku. Dia celingukan, ngeliat ke semangkok mie yang sudah matang, dan yang masih direbus. "Punya aku yang mana?" tanyanya, sambil nempelin dadanya ke punggungku, dan aku rasa dia sengaja banget gesekin toketnya yang ga seberapa itu.

"Belum jadi. Ini lagi aku bikin," responku, jutek.

"Lama bang—"

Belum selesai dia ngomong, aku langsung nengok dan mendelik kepadanya. Fah, menuruti insting bertahan hidupnya, langsung tutup mulut rapat-rapat. Setelahnya, dia malah meluk aku sambil merengek kayak anak kecil. "Udaaaah, akunya jangan dimarahin teruuuus," katanya.

"Kok Teh Fah sama Teh Nadia lucu banget, sih? Akrab banget keliatannya," komentar Gia. Dia ketawa ngeliat tingkah kami berdua. "Mana tiap hari Minggu Teh Fah main ke kosannya Teh Nadia mulu. Kayak lagi nyamperin pacar aja."

Aku dan Fah spontan kaget. Apa yang diomongin Gia tepat banget kena ke hati kami berdua. Tapi aku lebih cepat menguasai diri, sementara Fah masih grogi. Maka, kujawab saja, "Oh, emang kami kan pacaran, Gia."

Dengar responku, Fah cuma bisa melotot ke aku sebagai ekspresi syoknya. Mulutnya masih membuka, tanpa ada kata yang keluar dari sana.

Sementara itu, sekarang gantian Gia yang kaget. Kayaknya, dia ga siap dengan fakta yang kubeberkan. "E-eh, beneran, ya? Ka-kayak... umm... lesbian, gitu?" tanyanya, terbata-bata.

"Yah, begitulah. Aku dan Fah saling sayang, makanya kita pacaran. Gia ga percaya?"

"E-eh, ga gitu, Teh! Gia percaya, kok—"

Gia berhenti ngomong saat aku melumat bibir Fah di depannya. Aku bahkan masukin lidahku ke mulut Fah, ajak lidah pacarku ini untuk saling bersentuhan. Lalu, kututup ciuman singkat ini dengan melumat seluruh bibir Fah, kemudian mengecupnya, ringan.

Setelahnya, aku kembali fokus ke mie yang harus kuaduk. Aku tinggalin Fah dan Gia, yang sama-sama sedang mematung dan bingung harus berkomentar apa.

"Wa-wah... Gia ga nyangka. Ta-tapi... Gia do'ain, semoga awet, ya." Gia buru-buru ambil mie yang kukasih di atas meja dapur, lalu pergi dengan gestur grogi. "Gia masak dulu... di rumah, ya, Teh," pamitnya.

"Gia," kupanggil dia dengan nada yang datar. Lalu, setelah menatapnya dengan mata memicing dan bibir tersenyum tipis, aku bilang ke dia, "Jangan bilang-bilang Mamah, ya. Nanti kalo Gia bilang ke Mamah Gia, aku bisa diusir dari sini. Kalo aku diusir, ga ada yang bantuin Gia lagi, loh, kayak waktu aku bantuin Gia belajar untuk SNBT kemarin. Kalo Gia ngerti dan paham, Gia bisa bilang "oke", sambil ngangguk."

"O-oke, Teh," jawab Gia, cepat.

"Ngangguknya mana?"

"I-iya," Gia mengangguk cepat, dan tanpa menatap balik ke aku, dia bilang, "Oke. Gia ngerti dan paham."

Gia buru-buru pergi dari dapur. Sekarang, cuma ada aku dan Fah, dengan aku yang lagi sibuk tuang mie yang sudah matang ke mangkuk. Setelah lama jadi figuran yang cuma jadi saksi percakapan antara aku dan Gia, Fah akhirnya buka suara. "Kamu... kenapa malah kasih tau ke dia kalo kita pacaran, heeeeh?"

"Mungkin tadi dia cuma asal ngomong aja, tapi kita tau, yang dia omongin itu bener. Efek ke kitanya akan berbeda, dibanding kalo Gia nuduh kita pacaran padahal kitanya cuma temenan. Tebakan yang tepat kena sasaran tuh bisa bikin targetnya jadi panik, syok, kaget, dan kalo udah begitu, apapun yang dilakuin sebagai bentuk pertahanan diri justru malah membuka kelemahan kita jadi lebih lebar lagi.

"Kalo kita diem aja, Gia yang punya sifat kepo banget, justru akan mengejar jawaban dari kita. Kalo ga dapet jawabannya, dia akan bikin kesimpulan sendiri. Sementara, kalo kita mengelak, efek panik dan kaget yang kita rasain akan memengaruhi kualitas kita dalam bikin alasan. Lalu, alasan yang ga masuk akal justru akan bikin Gia curiga.

"Tau Tsun Tzu? Penulis buku "Art of War"? He said, "offense is the best defense". I simply cut her curiosity with the fact that was delivered directly. Bungkam rasa penasarannya, dan dia ga akan nanya-nanya lagi. Lalu tambahin aja sedikit tekanan dengan ungkit hal penting yang pernah aku lakuin buat dia. There, check mate."

"Are you Zhuge Liang in your previous life? The way you explain it to me feels like we're in an open war." Fah ga berhenti geleng-geleng kepala. "Entah aku harus merasa ngeri atau bangga."

"Belum terlambat kalo kamu mau berubah pikiran, sebelum kamu terjebak seumur hidup sama aku." Kuberikan semangkuk mie ke Fah, sementara aku membawa mangkuk mieku sendiri. "Yuk, makan di kamar. Abis itu mandi dan siap-siap. Aku janjian sama katingku jam satu siang, loh."

"Berubah pikiran? Ga, lah! I'm more than ready with all the mental tortures from you for my entire life, Dea," katanya, sambil menyenggol toketku pakai sikunya.

"Dasar trap gilaaaaa!"

Kami berdua pun ketawa heboh, sambil menyusuri koridor lantai dua.


———​


Karena Fah minta Pak Atsu untuk ga perlu nungguin dia, maka pelayan pribadinya yang serbaguna itu langsung pulang begitu Fah tiba di kosanku. Tadinya aku mau protes, karena kemana-mana jadi ga praktis kalau Pak Atsu ga ada. Tapi setelah Fah jelasin kalau dia keberatan karena punya beban merasa ditungguin, aku jadi ngerti. Pasti ga nyaman, mau ngapain aja harus ditungguin orang lain.

Akhirnya, kami naik Gocar ke rumah kontrakan Maria. Ternyata, kami dapat supir yang asik. Pak supirnya sediain mikrofon untuk karaokean di mobil. Katanya, servis biar penumpang ga bosen. Plus, supirnya pasang layar kecil di belakang jok depan. Jadi kita bisa nyanyi sambil ikutin lirik yang muncul di layar. Makanya, selama di jalan, kami pun karaokean sepuasnya.

"Came a timeeeee, when every star faaall, brought you to tears agaiiiin! We are the very hurt you soooold. And what's the worst you takeeee, from every heart you breaaak?! And like a blade you'll staiiinnn. Well, I've been holding oooon TONIGHT!

"What's the worst that I can saaaay? Things are better if I stay. So long and goodnight, so long and goodnight. Well, if you carry on this waaaay! Things are better if I stay. So long and goodnight, so long and goodnight."

Gilaaaaa, aku bahkan bisa bebas nyanyiin lagu rilisan tahun 2004, yang aku aja belum lahir di tahun segitu! Baik si supir taksol dan Fah malah ga nyangka aku tau dan hafal saat nyanyiin Helena. Mereka pikir, cewek kayak aku ga akan tau My Chemical Romance.

"Ih, aku tau, lah! Awalnya tuh gara-gara nonton Umbrella Academy. Terus tau fakta kalo serial Netflix itu berdasarkan komik yang dibuat sama Gerard Way, aaaand... setelah aku kepoin, ternyata doi itu mantan vokalis band. Yaudah aku coba dengerin lagu-lagunya di Spotify, and well, their songs really kicked me out of my soul," kataku, memberi penjelasan. Efek euforia habis nyanyi bikin aku bersemangat saat ngejelasin.

"Tapi aku ga nyangka aja, sih, kamu bisa nyanyi selepas itu," balas Fah. Dia senyum lebar saat ngeliat aku seekspresif ini, sekarang.

"Aku tegang, Fah. Aku tegang bangeeet! Aku butuh pelampiasan. I'm gonna do something I haven't done before, of course I. AM. SO. FUCKING. NERVOUS!"

Senyum Fah perlahan memudar. Dia malah tatap aku, lama banget. Berusaha mengobservasiku. Aku tau seharusnya aku lebih kontrol diri, tapi aku ga bisa menolak diriku sendiri yang menggoda untuk terus berekspresi. Kalau mau ketawa, ya ketawa aja. Mau teriak, ya teriak yang kencang. Pokoknya harus lepas!

"Dea... aku mau tanya. Dengerin aku." Fah langsung pegang kedua lenganku, erat.

"Apa, Fah? Eh, nyanyi lagi, yuk. Masih ada waktu, kan? Please, ya? Yaaaa? Ayo cari lagu lain buat dinyanyiin!"

"Engga, Dea, sini liatin aku. Liat aku dulu." Fah menatapku, tajam. Ekspresinya serius banget. Cengkeraman tangannya di lenganku juga makin kencang, dan bikin aku ga betah! Aku spontan memberontak, berusaha lepasin diri dari cengkeraman Fah. Tapi pacarku malah mencengkeram lenganku lebih kuat lagi. "Dea, hei, liat aku. Liat aku!"

Saat Fah membentak, aku langsung diam. Aku liatin dia. Aku ga bisa dibentak gini. Aku ga mau liat dia lagi. Tapi aku harus. Kata Fah, aku harus terus liat dia. Tapi mukanya galak banget sekarang. Aku takut. Beneran. Aku ga ngerti, Fah kenapa? Kok jadi galak sama aku?

"Obatnya udah ga kamu minum, ya?" tanya Fah, berusaha pelan dan hati-hati.

"Obat apa? Ngomong yang jelas, akunya takut dibentak lagi!"

"Carbamazepine, asam valproat, aripiprazole, dan escitalopram. Obat-obatan yang aku ingetin tiap hari untuk kamu konsumsi itu udah ga kamu minum?!" tanya Fah lagi. Kali ini, aku menangkap nada panik yang ga bisa dia sembunyiin.

"I hate them drugs, makes me feel so normal and unmotivated. So I threw it through my window, last week. Ga apa-apa, kan?" jawabku, santai. Aku spontan tertawa saat ingat bagaimana obat-obat itu terjun bebas setelah melewati jendela kamarku. "Kamu mesti tau gimana tersiksanya aku saat harus terus konsumsi obat-obatan ga jelas itu selama sebulan penuh. Kalo lepas obat gini, justru akunya malah jadi hepi banget!"

"For fuck sake, it's not drugs, Dea! It's your medication pills!" Fah yang duduk persis di belakang jok kemudi, langsung menepuk pak supir. Dia bilang ke supir itu, "Pak, tau psikiater yang buka praktek di kota ini, ga? Atau rumah sakit yang ada poli jiwanya, atau... atau... rumah sakit mana aja, Pak, biar ke UGD dulu. Masalah tarif, nanti saya tambahin, Bapak sebut aja maunya berapa."

"Eeehhh? Aku ga mau ke rumah sakit atau psikiater, ya! Kamu pikir aku gila?!" Aku pun berontak sekuatnya, dan akhirnya berhasil lepasin diri dari cengkeraman Fah. Dengan cepat, aku ambil dompet di tasku, lalu keluarin silet yang selalu kusembunyiin di salah satu lubang kartu. Silet ini pun langsung kutempelkan ke pergelangan tangan kiriku, sambil berkata ke Fah dan supir taksol, dengan nada pelan dan tegas, "Ke tujuan semula, ya. Aku udah janji sama Maria. Ga boleh batal. Kalo masih ngotot bawa aku ke psikiater, mending aku bunuh diri aja."

Fah langsung meraupkan kedua telapak tangannya ke muka. Kayaknya dia frustasi ngurusin aku. Tuh, kan. Emang seharusnya aku mati aja. Biar ga nyusahin Fah lagi. Kalau aku mati, seenggaknya Fah cuma sedih sebentar, terus lanjutin hidupnya.

Eh, tapi bukannya aku mau terus hidup untuk balas dendam? Iya, aku mau. Mau banget, malah. Tapi godaan untuk mati sedang memenuhi kepalaku. Apalagi suara-suara berisik di kepalaku ini terus teriakin aku untuk nambahin luka sayatan di pergelangan tangan.

Kata suara-suara di kepalaku ini, jahitan pada dua bekas luka sayatan yang kubuat sebelumnya, sudah menyatu dengan daging dan merapat. Menutup luka. Jadi harus dibuat lagi. Apalagi aku sudah hafal dimana letak urat nadi. Kata mereka lagi, kali ini sayatannya harus dibuat memanjang secara vertikal. Kalau sayatannya vertikal, dokter akan kesulitan menjahit lukanya.

"Dea, Dea... Dea!" Teriakan Fah sadarin aku dari lamunanku. "Iya, kita ga akan ke psikiater. Tapi kamu buang dulu siletnya. Bisa, kan?"

Aku menggeleng. Ujung silet pun sudah menancap ke kulit, membuat setitik luka yang mengeluarkan sedikit darah. Fah makin frustasi. Akhirnya, setelah ambil nafas dalam-dalam, lalu dia hembuskan perlahan... Fah menatapku. Dalam dan lama. Sorot matanya tampak sedih dan sendu.

"Kalo kamu mati, aku juga ikut. Kamu bisa ga sayang sama diri sendiri, tapi apa kamu ga sayang sama aku? Kamu mau aku ikut mati, susul kamu? We... depends our lives on each others, loh. Inget, kan?"

Fah berusaha meraihku, gerakannya pelan dan hati-hati. Aku pikir tangannya mau meraih silet yang masih menempel di pergelangan tanganku, tapi ternyata dia meraih kepalaku. Mengusapnya perlahan, dengan gerakan lembut yang menenangkan.

"Suara-suara di kepala kamu ini ga selalu kasih tau hal yang benar, Dea," katanya, "Aku bisa pastiin itu, karena aku juga ngerasain hal yang sama. Keinginan untuk bunuh diri itu masih sama kayak dulu, tapi aku inget, sekarang aku punya kamu. Aku ga bisa mati gitu aja. Aku harap, kamu juga berpikir gitu juga, ya?"

Suara Fah berhasil mendobrak riuhnya suara-suara di dalam kepalaku. Kucerna baik-baik kata-katanya. Kulawan suara-suara berisik yang masih bersemayam di kepalaku, sesuai sarannya. Tenangkan diri, Dea. Ayo, coba mulai dari atur nafas. Pakai nafas perut aja. Ga apa-apa keliatan agak buncit di depan Fah, memang kenyataannya kamu agak berlemak perutnya gara-gara keseringan makan. Yang penting, ingat bahwa pernapasan perut sangat membantu untuk bikin rileks badan dan mental.

Sudah? Pinter. Yuk, beralih ke tahap selanjutnya. Coba kamu liat, tangan kanan kamu megang apa. Silet? Nah, coba ditarik tangannya dari pergelangan tangan satunya. Jauhin siletnya. Lebih jauh lagi. Ga apa-apa, cuekin aja suara-suara di kepala. Kalau kamu nurutin suara-suara itu, kamu nanti kehilangan Fah, loh.

Makanya, saat aku membuang asal silet dari tangan kanan, Fah ga mampu lagi membendung rasa khawatirnya. Dia langsung peluk aku erat-erat. Melepas tegang yang dia tahan dari tadi. Fah dengan hati-hati juga usap darah di luka pada pergelangan tanganku dengan tisu. Pandangannya ga lepas dari luka baru dan bekas luka sayatan di pergelangan tanganku. Itu hanya setitik luka kecil dan dua bekas luka sayatan sepanjang beberapa sentimeter yang sudah menutup. Tapi kukira, untuk psikis Fah dampaknya luar biasa hebat.

Setelah bersihin lukaku, Fah ambil kotak obat kecil yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Sambil menghela nafas panjang, dia memilah-milah obat. Lalu, setelah disortir beberapa kali, dia kasih aku beberapa butir tablet, juga botol minum yang dia ambil dari saku ranselnya.

"Nama obat kita emang beda, tapi fungsinya sama, kok. Karena aku pikir kita sama-sama Bipolar tipe 1, jadi obat untuk Bipolar aku bisa kamu konsumsi juga. Aku udah pilihin empat jenis obat yang punya fungsi sama dengan yang biasa kamu minum. Untuk mood stabilizer aku punya lithium, kalo antikejang kita sama-sama asam valproat, antipsikotik aku ada risperidone, dan antidepresan aku punya sertraline," kata Fah, memberi penjelasan lengkap pada obat-obatan yang sedang kugenggam. Lalu, dia pun bertanya ke supir taksol kami. "Masih jauh ga, Pak, ke tujuan?"

"Tinggal delapan ratus meter lagi, Teh," jawab si supir. Aku ngeliat dia ngelirik kami lewat spion tengah. "Itu teteh satunya udah ga apa-apa?"

"Aman, Pak," balas Fah. Dia pun kembali tatap aku. "Sebentar lagi sampe, Dea. Yuk, diminum dulu obatnya. Kan kita ga mau ada orang lain tau soal ini."

Sebenarnya, aku enggan banget untuk minum obat yang Fah kasih. Efeknya sih memberiku ketenangan dan mood yang baik, tapi aku juga harus tersiksa dengan rasa pusing yang jadi efek samping obatnya, bahkan aku ga tau itu dari obat yang mana. Tapi, karena aku sayang Fah, dan ga mau ngeliat dia sedih dan capek lebih dari ini, maka kuturuti permintaannya.

Dalam sekali telan, kuminum empat tablet sekaligus. Lalu kudorong dengan air minum.

Ga lama setelah aku minum obat, mobil yang kami tumpangi pun sampai di depan sebuah rumah. Dari jendela, aku memandangi rumah tipe modern minimalis yang berada di depanku. Boleh juga rumah pilihannya Maria. Tapi rumah sebagus ini, berapa biaya sewa perbulannya?

"Pak, tarifnya sudah via Gopay, kan?" tanya Fah, memastikan. Saat si supir mengangguk, Fah rogoh beberapa lembar seratus ribuan dari dompetnya. "Ini tips buat Bapak."

"Eh, ini mah banyak banget, Teh!"

"Ga apa-apa, ambil aja, Pak. Oh, iya, saya minta tolong dua hal, ya; pertama, tolong bantu bawain tas kami, ya. Berat soalnya. Yang kedua, anggap aja yang tadi Bapak liat ga pernah terjadi, ya. Bisa kan, Pak?"

Setelah urusan bayar dengan si supir, aku diajak Fah untuk turun dari mobil. Tas besar berisi kostum yang Fah bawa, juga totebag milikku dan tas ransel Fah, dibantu dikeluarin oleh pak supir. Sehabis itu, supirnya pergi gitu aja tanpa ngomong apapun. Mungkin masih syok karena ternyata bawa penumpang berpenyakit mental.

"Kamu yakin masih mau photoshoot, Dea?" tanya Fah. Dia genggam tangan kiriku, erat.

Aku mengangguk, pelan. Kepalaku mulai agak pusing saat aku mengangguk, dan terasa sedikit berputar. Duh, efek obatnya mulai terasa, nih. "Aku kan udah minum obat. Aku yakin ga akan kambuh, at least... sampe kita ke psikiater lagi, kan?"

"Kamu sekarang lagi ada di fase mania," balas Fah, mewanti-wanti, "Sebisanya, kendaliin perasaan kamu supaya ga jadi euforia berlebihan, ya. Aku ngerti bahwa resistensi tiap orang tuh beda-beda, but don't ever give in to those 'voices', again. Please."

Aku pun menarik nafas panjang, lalu hembuskan perlahan. Kukepalkan tangan dan kueratkan genggamanku dengan Fah, berusaha menguatkan diri dan hati.

"Kalo kamu udah siap, sekarang kita buka pagar ini, terus masuk berdua." Sambil terus genggam tanganku, Fah mengiringi langkahku menuju rumah Maria.

Kata-kata Fah justru bikin aku deg-degan. Why do you have to give me final boss vibe, sih, Fah?
==========

==========
Chapter 4:
A Short Tour to My Past​






Aku mengira bahwa gejala awal dari ketidakberesan mentalku dimulai setelah Abi dan Umi meninggal. Beberapa hari setelah kepergian kedua orangtuaku, aku jadi sering menyendiri. Dalam kesendirianku, aku seringkali merasa tertekan saat teringat suatu kenangan yang traumatis. Rasa tertekan itu pun berkembang jadi stress, kemudian naik tingkat lagi menjadi depresi.

Saat sedang dalam fase depresi, aku menjadi individu yang ga fungsional. Ga mau makan, sering bengong, suka menangis berlebihan, hingga kehilangan kemampuan motorik untuk sementara. Dari mulai ga bisa memegang gelas dengan baik, sampai lupa caranya berjalan. Fase depresi ini bisa berlangsung dalam durasi yang acak; dari hanya beberapa hari, hingga berminggu-minggu.

Setelah berhasil lewati fase depresi yang menyiksa, tiba-tiba saja, aku bisa jadi orang yang super ceria. Bahagia terus pokoknya. Aku bahkan bisa ketawa pada hal-hal yang ga lucu, dan sering bereuforia secara berlebihan hingga teriak-teriak, berlarian ga tentu arah, atau menari sampai kelelahan saat ada musik yang diputar.

Di fase ini, aku juga jadi lebih gampang untuk menyakiti diri sendiri. Mentalku mengembangkan pola menyakiti diri secara impulsif jika ada trauma mental yang muncul tiba-tiba. Aku beranggapan bahwa itu adalah bentuk distraksi, agar tidak larut dalam depresi. Aku bisa secara spontan membenturkan kepalaku, menyayat lengan dengan benda tajam, menampar-nampar pipiku sendiri, dan aku akan melakukannya sambil ketawa lepas.

Setelah hari-hari penuh euforia berlebihan itu, aku akan kembali masuk ke fase depresi. Perpindahan fase itupun berulang. Membentuk siklus. Beban mentalku yang berakumulasi saat berada di satu fase, bergulung-gulung dan kian membesar saat pindah ke fase lainnya. Beragam perasaan negatif yang menumpuk tanpa tersalurkan membuat mentalku terdampak semakin parah, dan saat berada di fase depresi memperparah dampaknya. Kalau di fase euforia aku hobi menyakiti diri, saat berada di fase depresi, aku mungkin banget untuk berani mencoba bunuh diri.

—​

Percobaan bunuh diri pertamaku terjadi saat aku berada di awal semester ganjil pada kelas 3 SMA. Sebagai anak baru di sekolah swasta berakreditasi A yang berada di pinggir utara Jakarta, aku memilih untuk ga menjalin hubungan sosial dengan teman sekelasku. Aku dikenal sebagai siswi penyendiri, anti sosial, kuper, dan selalu murung. Jadi, ga ada yang mencariku saat aku absen sakit selama hampir dua minggu.

Tentu saja absenku bukan karena sakit biasa. Di puncak depresiku, aku mencoba bunuh diri dengan menenggak cairan pembersih lantai. Aku pikir semua cairan pembersih lantai sama saja, tapi Super Pel ternyata ga seampuh itu. Bukannya mati keracunan, aku malah berakhir muntaber akut selama tiga hari. Di hari keempat, aku dehidrasi parah, jadi om dan tanteku (karena aku tinggal di rumah mereka) membawaku ke rumah sakit.

Di rumah sakit, kata dokter aku kena peradangan usus. Jadinya aku dirawat selama seminggu penuh untuk pengobatan intensif. Selesai rawat inap, selain dapat resep obat-obatan untuk rawat jalan, aku juga dapat rujukan ke poli jiwa. Obatnya kutebus, surat rujukannya kubuang.

—​

Lalu, ada percobaan kedua. Aku kapok dengan cara sebelumnya, jadi aku belajar bikin tali simpul lewat Youtube. Setelah mahir, langsung aku praktekin. Kubeli tali tambang, aku ikatkan di kayu ventilasi kamarku. Setelahnya, aku berdiri pada kursi kayu lalu masukin kepalaku ke lubang tali. Kutarik nafas dalam-dalam, lalu dalam sekali sentak, aku jatuhkan kursi yang menopangku, dan bisa diduga kejadian setelahnya. Aku tergantung, menggelepar di ambang pintu kamarku...

...Hanya selama tiga detik. Karena kayu ventilasinya tiba-tiba ambruk dan aku jatuh dengan keras ke lantai. Untuk kedua kalinya, aku gagal mati. Udah gitu, beban pikiranku bertambah. Aku jadi mikir, apa aku seberat itu sampai kayunya ambruk?

—​

Gagal mati justru malah bikin overthinking. Aku yang sehari-harinya malas makan, makin ga mau sentuh makanan. Terbayang-bayang penghinaan yang semesta kasih ke aku: seorang gadis gagal gantung diri karena badannya berat. Yaudah, aku ga mau makan. Meski lambungku perih dan asam lambung sampai naik ke kerongkongan, aku tetap ga mau sentuh makanan apapun.

Akhirnya, aku kena maag kronis. Aku jadi punya secercah harapan untuk mati. Tapi ada saja cara hidup untuk nyelametin aku. Om dan tanteku dengan telaten minumin aku air rebusan daun Binahong. Katanya, sih, terkenal untuk mengatasi maag. Eh, beneran manjur! Maag yang kuderita jadinya ga separah itu.

—​

Bayangin, aku sampai punya perasaan stress karena gagal mati berkali-kali. Hidup saja sudah bikin depresi, ditambah mau mati masih dihalang-halangi. Kayak... yaudah, sih, orangtuaku pengen banget hidup tapi malah dimatiin. Pakai cara yang tragis, lagi.

Karena frustasi, aku ambil saja pisau dapur. Lalu di depan tanteku yang lagi masak, aku sayat pergelangan tangan kiriku. Darah segar langsung bermuncratan. Aku ga tau kemana aja, tapi aku sempat liat ada percikan darahku yang mengenai kangkung di wajan.

Tanteku langsung panik. Beliau teriak-teriak, hingga tetangga berdatangan ke rumah. Aku ga tau lagi kelanjutannya bagaimana, tapi saat aku sadar, aku sudah ada di rumah sakit. Pergelangan tangan kiriku diperban, dan tempurung tangan kananku dipasangi selang infus. Di sampingku, ada tanteku yang sedang tidur di kursi.

Hari-hari setelahnya, tanteku masih belum mulai nanyain aku perihal upaya bunuh diri yang aku lakuin itu. Aku yakin, beliau greget sekali ingin bertanya, tapi masih menahan diri. Alih-alih kepo atau kasih nasihat tanpa diminta, beliau justru urusin aku dengan telaten dan sabar. Aku disuapi, diseka badannya supaya kulitnya ga kering, dibantu ganti baju, suka dibawain masakannya, sampai diusap dan dibelai tiap mau tidur. Perlahan, fokusku pun bergeser. Aku jadi ga begitu tertarik lagi untuk mati.

—​

Di suatu malam, aku terbangun karena ingin pipis. Tapi aku urung, saat ngeliat tanteku yang bermukena, sedang duduk bermunajat sambil mengangkat tangan. Sedikit kata, lebih banyak suara tangis yang tertahan keluar dari mulutnya. Aku pun terdiam. Enggan bergerak, yang berpotensi mengganggu kekhidmatan momen berdo'a tanteku.

Hingga diam canggungku berubah jadi haru, saat tanteku mulai berkata, meminta pada Tuhan untuk tidak memberiku cobaan yang melebihi batas kemampuanku. Tanteku mengulang kalimat do'a yang sama sampai tiga kali, baru berlanjut ke do'a berikutnya. Di balik selimut, diam-diam aku menangis. Sekali lagi, aku menyadari kalau aku sedang disayang.

Akhirnya, aku mutusin untuk lanjutkan hidup. Aku mau bahagiain tanteku. Bukan berarti omku ga baik, makanya ga aku jadiin alasan utamaku untuk hidup. Beliau baik banget, kok, cuma karena sibuk kerja jadi jarang ketemu, dan interaksi serta kemistri antara kami ga terbentuk maksimal.

Maka, setelah keluar dari rumah sakit, aku kembali semangat untuk hidup normal. Aku ke sekolah, belajar giat, mulai berteman dengan satu-dua orang yang kemudian bertambah hingga sekelas penuh. Di rumah pun aku sudah ga banyak mengurung diri lagi. Aku sering bantu-bantu tanteku masak, untuk lauk di rumah, ataupun untuk usaha kateringnya.

Bagaimana dengan siklus depresi dan bahagia berlebihanku? Masih ada, tapi aku coba berdamai dengannya. Susah banget, sih, berusaha hidup normal dengan mental yang berantakan. Tapi aku terus mencoba semampuku. Melewati hari demi hari, membuat target sederhana tiap bulannya: aku harus bertahan hidup hingga bulan berikutnya. Tiap ada keinginan untuk bunuh diri lagi, aku langsung mencari tanteku, dan ajak ngobrol beliau. Topiknya ga penting, aku cuma butuh distraksi, dan aku merasa saat itu solusi terbaik adalah dengan berada dekat tanteku.

—​

Sayangnya, saat pandemi kembali melanda dunia (termasuk Indonesia), om dan tanteku dinyatakan positif covid-19. Entah tertular dari mana. Karena gejalanya parah, mereka dirujuk ke rumah sakit. Kemungkinan besar terinfeksi varian Delta dengan mutasi genetik terbaru. Padahal mereka sudah vaksin wajib dua kali, dan booster dua kali. Tapi karena varian Delta memang terkenal ganas, tanteku ga bertahan. Beliau meninggal di ruang isolasinya. Dari rekam medis, dinyatakan meninggal akibat pneumonia.

Aku merasa sesak saat membayangkan tanteku meninggal dalam kesendirian, tanpa ditemani orang-orang terdekat, yang diharapkan ada di momen terakhirnya. Padahal malam sebelumnya aku masih video call dengan beliau. Bercerita banyak hal, berterima kasih padanya atas perhatiannya selama ini padaku, dan berkat beliau, aku bisa lulus SMA dengan nilai-nilai yang baik. Lalu, saat kabar duka itu datang esok paginya, semua yang aku bilang ke beliau di malam sebelumnya seakan terasa bagai mimpi.

Lagi-lagi, orang yang kusayang direnggut dariku. Menyedihkan sekali.

—​

Selama dua hari pertama setelah meninggalnya tanteku, aku cuma bisa bengong. Menatap kosong pada tembok, langit-langit, atau lantai. Tanpa ada air mata yang jatuh. Di hari ketiga, akhirnya tangisku pecah setelah fase syoknya berakhir. Aku kembali tenggelam dalam depresi. Rambutku rontok, buku tangan lecet dan berdarah karena terus-terusan meninju tembok, serta mata sembab dengan kantung mata tebal karena ga tidur berhari-hari.

Belum selesai dengan sedihku, aku menerima kabar dari rumah sakit kalau omku akhirnya menyusul tanteku. Diduga karena kesehatannya menurun drastis, imbas dari ada yang sengaja kasih tau beliau kalau istrinya sudah meninggal lebih dulu. Padahal, saat mengurus jenazah tanteku di rumah sakit, dokter sudah mewanti-wanti aku dan kerabat lain yang hadir, agar ga kasih tau berita duka dulu sampai kondisi omku membaik. Tapi ada saja orang sialan yang telepon omku untuk kasih tau kabar itu. Dari keterangan suster yang jaga dan juga pasien satu kamarnya, kondisi omku memburuk setelah terima telepon, lalu menangis sepanjang sore dan malam, lalu pada tengah malam beliau dinyatakan meninggal.

Dalam seminggu, aku bolak-balik ke rumah sakit yang sama untuk mengurus jenazah pengganti orangtuaku. Bahkan dengan semua derita hidup yang bertubi-tubi, rupanya semesta masih punya kejutan buatku. Alih-alih bantu menguburkan jenazah omku, kerabat dari pihak beliau malah saling ngotot tentang siapa yang berhak atas harta omku. Karena mendiang om dan tanteku ga punya anak kandung (dan ga angkat anak juga), jadi ga punya pewaris atas harta mereka. Mulai deh kerabat-kerabat haram jadah itu berlomba mengklaim bahwa masing-masing dari mereka adalah pewaris yang sah.

Dua hari setelahnya, tiba-tiba datang notaris ke rumah yang kutempati. Sang notaris juga memanggil para kerabat yang bersiteru untuk datang, lalu nunjukin surat wasiat dari om dan tanteku, sambil jelasin bahwa mereka telah menghibahkan seluruh harta mereka ke aku, bersama dengan harta warisan Abi dan Umi yang om dan tanteku bantu urus dan siapkan untukku. Tentu saja, ga ada yang terima. Tapi para kerabat ini terlalu pengecut untuk protes di depan notaris, karena sang notaris sudah lebih dulu mewanti-wanti bahwa surat wasiatnya punya kekuatan hukum. Sepeninggal sang notaris, para kerabat yang entah siapa pula ini langsung kompak bersatu untuk menggulingkan musuh mereka bersama: aku.

Kata mereka, aturan pembagian harta ga bisa pakai hukum negara. Harus hukum agama. Dalam hukum agama mereka, aku dibilang ga berhak sepeserpun atas harta om-tanteku, karena aku bukan anak kandung. Harus kerabat dari masing-masing pihak yang berhak. Mereka juga bilang, kalau warisan kedua orangtuaku terlalu riskan untuk dipegang remaja seumuranku, jadi mereka memaksa untuk mengelolanya. Ada juga yang terang-terangan bilang kalau ada hak bagian mereka dari warisanku.

Karena aku ga mau ambil pusing, jadi aku ikut kata mereka saja perihal hak waris harta om-tanteku. Tapi, aku membela mati-matian soal warisan peninggalan Abi dan Umi. Aku ga peduli dengan uangnya, tapi aku ga mau hasil jerih payah kedua orangtuaku diambil begitu saja sama orang yang serakah. Eh, aku malah dituduh gila harta, serakah, sampai difitnah bahwa aku menyantet Abi, Umi, om dan tanteku agar mereka meninggal dan hak warisnya jatuh ke tanganku. Parahnya lagi, malah aku juga diultimatum untuk segera pergi dari rumah yang kutempati. Aku dikasih batas waktu sampai hari ketujuh acara tahlilan omku.

Aku ga mau menunggu selama itu. Maka, kuambil pisau di dapur, lalu di depan para kerabat gila harta yang sedang berkumpul di ruang tamu, aku kembali menyayat pergelangan tangan kiriku. Lagi-lagi, darahku bermuncratan. Dalam sekejap, aku kehilangan banyak darah. Tubuhku lunglai ke samping. Kepalaku membentur tembok, sebelum aku ambruk ke lantai.

Sayup-sayup, kudengar ada suara yang kukenal. Suara yang sudah lama ga aku dengar. Saat itu, pandanganku sudah menggelap, jadi aku ga tau siapa sosok bersuara familiar yang sedang mendekapku. Dia berteriak memanggil bantuan, sambil menekan-nekan luka sayatanku agar darahnya ga terus keluar. Lalu, aku ga ingat apa-apa lagi.
==========

==========
Chapter 5:
Lusty Trance (1)​






"Nadia, aku tidak yakin kalau dempulannya akan bertahan saat kita buat video, nanti." Maria terus liatin pergelangan tangan kiriku, yang sedang dia genggam dengan dua tangan. "Must be hard for you, ya, sampai dua kali begini."

Aku cuma senyum saat merespon Maria. Kutatap pergelangan tangan kiriku. Bekas luka jahitannya sudah ketutup foundation, dan Maria ngelakuinnya dengan cukup rapi. Tapi aku emang ragu, kalau ini ga akan kehapus, sih. Maka, aku tanya ke Maria, "Ada yang bisa aku pake untuk nutupin ini, ga, Kak?"

"Ada, tapi aku tak yakin cocok dengan kostum... oh, atau kamu mau pakai armband?"

"Ada warna putih?"

"Ada, sebentar." Maria buru-buru ke kamarnya, lalu kembali setelah beberapa menit. "Ini, pakai saja," katanya, sambil kasih aku sebuah armband elastis. Kupakai aja armband putih itu di pergelangan tangan kiriku. Oke, masalah selesai.

Maria pun kembali lanjutin make up wajahnya. Tadinya sempat tertunda, karena aku minta tolong Maria untuk mendempul bekas luka di tangan kiriku. Setelah wajahnya selesai dirias, Maria juga kasih touch up pada wajahku. Saat aku bercermin, aku sempat bengong. Mengagumi riasan natural look yang Maria aplikasikan di wajahku. Aku cantik banget.

Aku mau nengok ke Fah, ah. Mau pamer—ok, dia langsung angkat dua jempol tangannya, plus dua jempol kaki juga. Quick, as always.

Sebelum sesi photoshoot dimulai, Maria kasih tau beberapa hal saat briefing. Pertama, sesi ini akan terdiri dari pemotretan sebanyak sepuluh pose dan video dengan durasi lima belas menit. Kedua, temanya adalah sensual massage; dengan Maria sebagai terapis dan aku sebagai pasiennya. Ketiga, aku dan Maria akan pakai media gel berbahan dasar air sebagai pelumas, jadi aku harus coba pakai gelnya dulu untuk tau apakah aku alergi atau engga. Keempat, saat sesi rekam video berlangsung, Fah ga boleh menginterupsi. Ga boleh bersuara juga. Tapi dia tetap boleh nonton, kok.

Nah, ini yang paling penting. Terakhir, pembagian pendapatan dari jual konten akan diatur dengan rasio 35% untukku, dan 65% untuk Maria. Karena kontennya ada di akun Maria, jadi penjualan konten akan masuk ke akun dia. Setelah ditransfer ke Paypal dan dicairkan ke akun bank lokal, maka Maria akan langsung transfer ke aku. Komisiku sendiri berlaku selama kontennya tayang, jadi bisa banget kalau dikemudian hari aku masih menerima fee dari Maria.

"Kalau kamu sudah mengerti, kamu bisa tanda tangan di surat kontrak ini, Nadia," Maria pun kasih aku secarik kertas dan sebuah pulpen, "Di bawah kanan, ya, sebagai pihak kedua."

Tanpa pikir panjang, aku bubuhkan tanda tanganku di kertas. Seharusnya sih aku memang baca isi kontraknya dulu, tapi kepalaku terlalu pusing untuk baca huruf-huruf yang kecil itu. Sambil serahin kertas kontraknya ke Maria, aku pun berkata, "Cuma Kak Maria yang jadi terapisnya, kan? Aku ga akan disuruh pijet-pijet juga, kan?"

"Iya, cerewet. Kok kamu khawatir begitu? Fun fact, aku betulan bisa pijat, lho. Dua tahun pengalaman part time di spa."

"Eh, kok aku baru tau, Kak? Itu waktu kuliah juga?"

Maria mengangguk mantap. Dia percaya diri banget. "Early semester, Nadia. Hidup aku susah waktu awal kuliah. Jadi harus part time. Tapi dari situ, aku belajar pijat terapi sampai lumayan jago, lho. Semoga muscle memory-nya belum lupa."

"Nah, kalo aku keenakan terus ketiduran, gimana?"

"Kutoyor kepalamu. Mau?"

Aku spontan menggeleng. Katingku ini galak, nih. "Jadi, kapan kita bisa mulai, Kak?"

"Kamu say something dulu ke pacarmu, Nadia. Habis ini kita harus fokus ke konten, soalnya."

Oke, kalau begitu. Aku pun nyamperin Fah, yang masih asik duduk di sofa sambil makan cokelat batangan. Karena masih pusing banget, aku jalannya jadi agak sempoyongan. Pas udah di depannya, kupeluk dia, lalu kulumat bibirnya. Lidahku pun berupaya mencuri cokelat yang ada di mulutnya. Mmm... dapet. Setelahnya, aku kecup ringan bibirnya, sebelum kusudahi ciumanku. "Aku kerja dulu, ya, Sayang," ucapku, mesra.

Sumpah, ya, aku ngerasa keren banget saat bilang begitu ke dia. Dea nih boss, umur sembilan belas udah punya kerjaan!

"Deaaaa... fokus, heh! Jangan tipsy-tipsy banget, dong! Masa akunya dicium di depan temen kamu? Kan ga enak," bisik Fah, yang menyatakan protesnya.

"Ih, why not? Kan kamu pacar aku. Udah, ya. I love you, Fah!"

Aku samperin lagi Maria, yang lagi mengatur posisi beberapa tripod. Sebuah kamera DSLR bermerk tersemat kencang pada salah satu tripod, sementara tripod lainnya dipasangi lampu untuk pencahayaan dan mikrofon. Setelah beres, Maria minta aku duduk di matras karet yang sudah disiapin, yang dikelilingi ragam tripod.

"Kamu perkenalan diri dulu, sambil hadap ke kamera, ya," kata Maria, "Ga ada scriptnya, jadi pintar-pintar kamu saja."

Di kondisi normal, aku pasti akan canggung banget untuk ngelakuin apa yang Maria intruksikan. Aku ga terbiasa di depan kamera. Apalagi kalau harus monolog perkenalan diri, pasti ga akan lancar. Tapi sekarang aku cukup pede, kok. Aku yakin aku bisa ngelakuin ini. Aku merasa hebat dan penuh semangat, soalnya.

Meski aku yakin sudah ga berada dalam fase mania, tapi efek obat yang Fah kasih ga secepat itu bisa meredam gangguan bipolarku. Kayaknya, sekarang aku berada di fase hipomania; yang tingkatannya lebih rendah dari fase mania. Gejalanya mirip, tapi lebih bisa aku toleransi karena intensitasnya lebih rendah. Untuk orang yang diklasifikasikan sebagai pengidap bipolar tipe 1, sebenarnya akan jarang untuk sampai ke fase hipomania. Mungkin ini sebagian efek dari obatnya, yang, meski belum bekerja sepenuhnya, tapi seenggaknya manjur dalam menekan bipolarku. Makanya aku bisa merasa sepede ini, tanpa harus lepas kendali kayak orang gila.

Maka, aku lakuin apa yang Maria suruh. Kuambil nafas panjang, hembuskan perlahan, lalu menatap penuh percaya diri ke arah kamera. "Halo, semuanya—"

Tiba-tiba, Maria memotong. "Sorry, Nadia. I forgot to tell you to do it in English."

Fuuuuuuck! Rasa pede yang sudah aku kumpulin pun buyar gitu aja. Fokusku juga terpecah jadinya. Aku langsung melotot ke Maria, dan direspon dia dengan angkat bahu. Nyebelin!

"Okay," aku berdehem singkat, "Aku ulang, ya. I got this." Kembali aku tarik nafas panjang, hembuskan perlahan, lalu kuremas-remas kepalaku, bikin rambutku jadi agak acak-acakan. Dengan sorot mata yang sayu, kutatap kamera. "Hello—let's cut this crappy intro. I'm not good with that. All I know best is to make use of my body to please all of your fetishes, fantasies, or even desires. You'll figure how it works; you spend lots of money to me, and I'll make you jerk your cock off 'till you can't do it anymore for the rest of the day. Sounds fair enough, right?

"I accept any request, except the bizzare ones such as peeing, scat, etc. Or, if the number is promising, I'll reconsider it and even willing to be your personal slut. I expect a lot from you, so please don't let me down, 'kay? LewDea here, much love!"

"...Aaand, cut!" Maria acungin jempol ke aku. "LewDea?"

"My username. Has it already been taken?"

"Aku tak tahu, Nadia. Coba aku cek dulu," Maria buka HP-nya, fokus sebentar ke layar, lalu nengok ke aku lagi, "No one use it. You can come up with the name."

"Great! Eh, Kak, ini lagi rehat dulu, kan?" Setelah Maria mengangguk, aku tanya dia lagi, "Kalo gitu, aku ke pacarku dulu, ya. Mau minta tolong—"

"Aku lagi bikin, sedikit lagi akun kamu udah ready! Kamu bisa lanjut, Yang!" potong Fah, setengah teriak ke aku.

SIGAP BANGET, WOY! Setelah bilang terima kasih ke Fah, kutatap Maria. Alisku mengangkat beberapa kali. "Pacarku hebat, kan?"

"Pamer saja kerjaanmu." Maria pun ngelakuin sedikit perenggangan. "Yuk, kita mulai photoshootnya."


———​


Di atas matras, aku diarahin Maria untuk ngelakuin beragam pose. Untuk lima pose pertama, aku harus ambil ulang foto berkali-kali per satu pose. Kayaknya udah puluhan kali take ulang, deh. Tapi setelahnya, aku mulai beradaptasi dan jadi lebih lancar dan sadar kamera.

Pose-pose yang Maria arahin ini rata-rata vulgar, loh. Ada pose dimana aku harus angkat tangan, lalu lipat ke belakang, sementara punggungku condong ke depan sehingga toketku jadi membusung banget, apalagi aku juga jadi pamer ketek. Untung banget abis waxing kemarin, jadi pede aja pas diminta pamer ketekku yang mulus. Lalu, ada pose lain dimana aku duduk bersila, tapi kedua lenganku menjepit toketku, jadi belahannya keliatan padat banget.

Lalu, aku diminta untuk berpose bebas. Maria ga lagi arahin poseku. Awalnya, aku kebingungan. Mana aku tau pose yang kubuat keliatannya kayak apa di kamera. Ga ada bayangan sama sekali. Tapi sebuah pencerahan mampir ke kepalaku. Suara-suara menyebalkan di kepalaku memberi tips. Iya, suara-suara yang biasanya nyuruh bunuh diri itu kini kasih aku saran aku harus berpose kayak gimana. Tumben banget, kan?

Kata 'mereka', aku harus ngebayangin pose yang sensual, yang bikin orang-orang yang ngeliat jadi terangsang. Ga usah munafik, tujuan gravure itu bukan seni, tapi untuk jadi bahan masturbasi. Seni itu cuma alibinya aja, biar keliatan lebih etis. Pencerahan itu pun kasih aku ide. Terbayang banyak pose yang bisa aku tunjukin ke Maria.

Maka, aku pun posisiin diriku seperti orang yang lagi ngelakuin doggy sex. Pantatku naik ke atas, sementara punggungku turun hingga membentuk liukan. Maria potret aku dari samping, dan minta wajahku menghadap ke kamera. Sambil menatap lensa dengan pandangan sayu, kugigit bibir bawahku, dan bikin ekspresi yang sebinal mungkin.

Lalu ada pose dimana aku meremas kedua toketku sambil tetesin liur ke belahannya. Ada juga yang akunya duduk mengangkang, dengan satu tangan menggesek memekku dari luar celana dalam, sambil gigit satu jari. Atau ada pose close up dimana aku membuat ekspresi ahegao (mata dibuat menjuling ke atas, bibir membuka, serta lidah menjulur maksimal) sambil menarik bra kemben yang kupakai, sehingga belahan toketku lebih jelas terekspos.

Setelah pose yang terakhir aku lakuin, Maria menatap ke layar kameranya, sambil geleng-geleng kepala. "Memang dasar kerudung dusta," katanya, sambil bersiul senang.

Setelah dirasa cukup, Maria menyetop sesi pemotretan. Kali ini, aku diminta untuk istirahat dulu, sementara dia mengganti kamera dan menambah satu kamera lagi yang diletakkan di posisi berbeda. Saat aku tanya kenapa dia harus ganti kamera, Maria bilang kalau dia memang membedakan peruntukan kamera untuk foto dan video. Katanya, biar ga ribet sortir file saat edit-edit, nanti. Biar praktis aja modal jutaan. Ckckck.

Saat istirahat, aku kembali samperin Fah. Aku duduk di pangkuannya, dengan posisi saling berhadapan. Kuciumi pipi dan bibirnya dengan ganas, karena sejujurnya, aku horny banget sekarang. Pose-pose yang aku lakuin tadi bikin aku horny, dan pelampiasan terbaik adalah Fah.

"Tadi aku udah lulus jadi bahan masturb, ga, Yang?" tanyaku, disela kecupan pipiku padanya.

"Dea, ih, jangan kayak gini. Ga enak sama temen kamuuuu, beneraaaan!" Dasar munafik. Mulutnya protes, tapi badannya diem aja saat aku ciumin muka dan lehernya.

"Oh, don't mind me. You can do... whatever you please," timpal Maria. Dia masih sibuk utak-atik tripod, tuh.

"Denger, kan?" Aku deketin wajahku ke kuping Fah. "Aku horny banget, Yang. Kamu berani ngentot di sini, ga? Aku aja yang gerak, kamu diem aja. Gimana?"

"Tapi ini di rumah orang, Dea. Ga sopan, tau," balas Fah, sama berbisiknya denganku.

"Tapi aku horny banget. Sumpah. Aku ga bisa fokus kalo begini." Posisi dudukku bergeser hingga menindih selangkangan Fah. Aku pun menggoyangkan pinggulku, bergerak ringan untuk gesekin kontol Fah. Meski masih sembunyi di balik hotpant, tapi kontolnya sudah terasa keras saat bergesekan dengan memekku. "Tuh... kamu juga udah keras, gitu. Please?"

"Enggaaaaaaa! Pulangnya aja, ya? Aku janji, deh, akan habis-habisan ngentotin kamunya. But not here, ya, not in front of your friend—"

"You guys done?" Maria tiba-tiba memotong, "Karena persiapannya sudah hampir selesai."

"We're almost done, Kak. Wait, ya!" seruku ke Maria.

"Tuh, kan. Udah sana, balik lagi ke studio," balas Fah, mukanya panik banget.

Tapi aku ga peduli. Tangan-tanganku bergerak cepat menyingkap hotpant Fah, keluarin kontolnya yang besar, berurat, dan menegang sempurna dari balik celana. Disaat Fah berusaha masukin kontolnya lagi, aku sudah menyibak celana dalam yang kupakai, lalu arahin kontol Fah ke lubang memekku yang sudah basah banget. Dengan cepat, aku bergerak maju ke depan, bikin kontol pacarku ini langsung masuk sepenuhnya ke memekku.

"Dea, Dea, Dea... itu masuk, itu... aaahhhh..."

"All I need... is one fine thrust to the... mmmhhh... deepest part of my pussy, Yanghhh."

Badanku menegang saat kontol Fah masuk hingga menyentuh bibir rahimku. Kepalaku sampai mendongak saking keenakan dimasukin kontol Fah. Setelah biarin kontolnya di dalem untuk nikmatin remasan-remasan dinding memekku, perlahan aku angkat pinggulku. Pelan-pelan, kontol Fah pun keluar.

"Sisanya... nanti... ya? Aku lanjut kerja dulu," kataku, lalu kulumat bibirnya yang membuka.

Sebelum aku turun dari pangkuannya, Fah buru-buru pakai kaus oversize-nya untuk tutupin kontolnya. Sementara aku langsung melenggang ke Maria, sambil tersenyum lebar ke arahnya. Kakak tingkatku ini cuma bisa geleng-geleng kepala saat liat kelakuan liarku. "Di kampus kamu tak begini, lho, Nadia," komentarnya, sambil berdecak kagum.

Aku ketawa aja saat merespon Maria. "There's so much more I can do than that," balasku, sambil menjulurkan lidah.


———​


Ada briefing singkat sebelum aku mulai proses syuting. Karena temanya adalah sensual massage, jadi aku harus rebahan di matras karet yang Maria sediakan di studio. Aku juga ga boleh keberatan dipijat Maria, dan akan sangat mungkin kalau selama sesi pijat, Maria akan menyentuh bagian-bagian sensitifku, baik sengaja maupun engga. Oh, tentu saja aku ga keberatan. Selain dapat pijatan gratis, aku juga berkesempatan dipegang-pegang sama cewek tulen yang seksi.

Saat syuting dimulai, aku pun tengkurap di matras. Ga ada bajuku yang dilepas, dan Maria juga ga sebut aku akan lepas bra kemben dan celana dalamku, sih. Setelah aku tengkurap, Maria mulai berlutut di sisiku, lalu membaluri punggung atasku dengan gel. Uuuuh... dingin juga gelnya.

Deket-deketan dengan Maria bikin aku deg-degan! Buat yang lupa, aku udah pernah punya pengalaman ngelesbi sebelumnya. You know with who. Tapi bukan berarti karena udah lama ga deketan sama cewek, akunya jadi lupa sensasinya. Bibit-bibit lesbian yang sempat terkubur dan kering, malah tumbuh subur tiap kali wangi aroma tubuhnya tercium olehku.

Apalagi saat telapak tangan Maria menyentuh kulitku. Duh, sensasinya bikin merinding. Mukaku sampai terasa panas, karena tegang akibat disentuh lagi sama cewek setelah sekian lama. Maria pun mulai memijat punggung atasku. Jari-jarinya menekan urat dan otot, mengurutnya lalu dilepaskan perlahan. Gilaaaaaaa, pijatannya enak banget!

Sekilas, Maria berbisik ke aku, "Badan kamu tak pernah dipijat, ya? Kaku sekali, Nadia. Seperti gelonggongan kayu."

Aku ingin menjawab, tapi aku ingat kalau mikrofonnya sedang menyala. Aku takut omonganku kedengeran. Jadinya, aku senyum-senyum aja.

Maria memijat punggungku selama beberapa menit. Aku menikmati sekali tiap pijatannya, dan merasa badanku jadi lebih rileks. Beneran jago loh dia. Keren banget seniorku ini. Sekarang, pijatan Maria mulai bergeser ke tengah punggung. Bra kemben yang kupakai ga mengurangi rasa enak yang tangan-tangan Maria berikan. Senyumku jadi makin lebar karenanya.

Kemudian, tangan Maria bergeser lagi. Kali ini terpusat di punggung bawahku. Oooohhh... semua kekakuan dan pegal-pegal di bagian itu jadi terurai. Makin terbuailah aku sekarang. Aku pasrah aja menerima pijatannya.

Saat badanku semakin rileks, Maria ganti pusat pijatannya lagi. Malah, aku agak kaget saat berbarengan dengan tangannya yang bergeser ke punggung atas, dia juga nempelin bagian depan badannya ke punggungku. Aku bisa rasain toket besarnya. Padat, kencang, tapi kenyal... menggesek punggung bawahku... hingga ke atas.

Maria mengulang gerakan itu selama beberapa kali. Punggungnya nyaman banget tiap kali bergesekan dengan toketnya. Uuhh... jangan berhenti, ya. Tapi yang kuharap ga terjadi. Maria berhenti gesekin toketnya di punggungku, hanya untuk dia beralih ke... pantatku? Ahhh... sekarang gantian pantatku yang dia pijat. Diurut perlahan dari bawah ke atas. Diulang lagi. Kadang disertai remasan pelan.

"Mmmhhh..."

Aku segera rapatkan mulutku agar ga ada lebih banyak rintihan yang keluar. Ih, kontrol dong, Dea! Masa gitu aja ngerasa keenakan?

Maria terus memijat pantatku. Dia tarik celana dalamku ke dalam lipatan pantat, sehingga kini ada lebih banyak area yang terekspos. Dia baluri lebih banyak gel ke pantatku, lalu kembali dia remas-remas ringan. Di titik ini, tanganku sudah mulai mengepal karena menahan rangsangan.

Setelahnya, Maria kembali memijat dan mengurut pantatku. Jari-jari dan telapak tangannya menjamah seluruh bagian itu, dan beberapa kali, jempolnya sempat menyerempet mampir ke bagian selangkanganku. Apalagi saat dia beralih memijat pangkal pahaku, jempolnya makin sering nyerempet. Ada rasa geli, tapi gregetan juga saat Maria ngelakuin itu. Aku jadi berharap jempolnya bisa mampir lebih jauh.

Saat dia makin intens memijat pahaku, jari-jari nakalnya semakin sering menjamah labia majora-ku. Bahkan bagian terluar dari memekku pun sensitif, tau! Aku berkali-kali merasa geli campur enak karenanya. Desahan dan rintihan pelanku pun ga bisa terkontrol lagi. Sementara pinggulku jadi bereaksi tiap kali Maria menyentuh sisi sensitifku.

Lama-lama, Maria ga ngelakuinnya secara sembunyi-sembunyi lagi. Dia menindihku, dan nempelin kedua toketnya di punggung bawahku. Sementara tangan kanannya dia fungsikan untuk menjepit labia majora-ku, dan sesekali menyingkap celana dalamku untuk menyentuh labia minora. Desahanku makin jadi, dan aku beneran kesulitan untuk terus merapatkan bibirku.

"Aa... ahhh, mmmhhh... Kak... tangannya..."

"Tak apa, Nadia. Just give in," bisiknya. Sentuhan-sentuhan jemarinya pada pinggir memekku pun makin intens.

Maria terus maju-mundurin badannya di punggungku, sementara sekarang jari-jarinya berada di celana dalamku, menggesek memekku dari luar. Tentu yang begini aja tuh berasa banget sentuhannya. Apalagi ditambah sensasi gesekan toketnya pada punggungku, kombinasi rangsangan ini bikin aku melayang-layang.

"K-kak... Kak... aku... aku basah banget, kayaknya... aaahh... mmff... geli, geli banget... oohhh..."

Tiba-tiba Maria berhenti. Aku yang sempat terlena, kini berusaha menggapai akal sehatku lagi. Sisa-sisa desahan masih lirih terdengar, tapi coba aku kendaliin. Lalu, dia minta aku untuk berbalik dari posisi tengkurap. Bagai sedang dihipnotis, aku nurutin permintaannya begitu aja.

Setelah aku rebahan, Maria mulai olesin gel ke bagian perut dan dadaku. Di bagian perut, dia cuma meraba-raba aja. Tangannya justru lebih aktif saat berada di dadaku. Dia memijat bagian toketku yang ga tertutup kemben. Diurut perlahan, dipijat lagi, kemudian diremas-remas.

Entah kenapa, aku merasa enak banget saat Maria ngelakuin rangsangan ke toketku. Padahal bagian tersensitif dari toketku, puting, ga dimainin. Tapi rangsangan yang dia lakuin sekarang bikin badanku gelisah dan menggelinjang. Nafasku jadi memburu, bikin dadaku keliatan banget pergerakan turun-naiknya.

Sampai akhirnya, Maria merangsang seluruh bagian toketku. Kiri dan kanan, secara bersamaan pakai kedua tangannya. Toketku diremas, dipijat dan diurut secara bergantian. Aku makin menggelinjang. Desahanku jadi ga karuan. Apalagi dia juga sengaja pakai telapak tangannya untuk menggesek putingku sambil meremasi toketku. Aku ga tahan lagi. Rasa gelinya bahkan sampai ke memekku. Gawat, kalau ini diterusin, bisa-bisa aku...

"Aahhh, ahhh, aahhh... Kak, Kaaaak... auhhh... ngghhh... haaa... aaahhhhh—"

Kurapatkan mulutku saat orgasmeku datang. Gila, aku bisa orgasme bahkan hanya dengan dirangsang toketnya! Badanku menggelinjang dan menggelepar ga terkendali. Kedua tanganku mencengkeram sisi matras, dan kedua kakiku bergantian bergerak seperti mengayuh pedal.

Maria ngebiarin aku menikmati orgasmeku. Dia elus-elus toketku, sambil minta aku untuk atur nafas. Setelah lebih tenang, aku pun bangkit dan merangkul Maria. Didorong nafsu yang masih meninggi, aku cium bibirnya. Di kecupan pertama aku dapat bibirnya, tapi selanjutnya Maria menghindar. Jadi aku cuma dapat pipinya saja.

Aku ga peduli lagi kalau sekarang aku sedang direkam. Mataku sayu sekali, menatap Maria dengan penuh nafsu. Wajahku kubenamkan di lehernya, lalu berbisik ke dia, "Kak, aku horny banget. Beneran. Please. Have sex with me. Diapain aja aku pasrah. Pake aku, please, please... I want to have sex so bad, Kak."

"But I'm not really into girl, Nadia. Kamu kan juga bisa have sex dengan pacarmu," balas Maria, sama berbisiknya.

"Bullshit! Aku tau, kok, tiap kali kita ngobrol, Kak Maria selalu liatin badan aku, kan? Kalo ada bajuku yang terbuka, mata Kak Maria sering curi-curi pandang. Emang aku ga ngeh, apa?"

"Pacarmu gimana?"

"She'll understand."

Maria pun larut dalam bingungnya. Dia udah ga mengelak lagi saat aku kecupi pinggir bibirnya. "Mmhh... Nadia, kamu buat aku bingung. Aku sudah lama tidak ngelesbi."

"Then you just need to give in. Pleaseee, memek aku gatel banget... minta dijamah, Kak!"

Dia pun tatap mataku. Mencari kesungguhan dalam sorot mataku. "Can I?"

"I'm all yours! Use me as you please," balasku, sambil terus menciumi lehernya.

Maria tampak berpikir sebentar. Lalu, dia pun kecup pipiku. Habis itu, dia beralih ke kupingku. Menggigit kecil daun kupingku, lalu berbisik, "Aku boleh minta sesuatu?"

"Say it."

Suara bisikannya pun semakin pelan. Setelah Maria selesai bicara, aku tersenyum lebar padanya. Aku mengangguk sekali sebagai tanda setuju, lalu kuraih wajahnya, sambil wajahku maju. Bibir kami pun saling bersentuhan, lalu saling melumat ringan, dilanjut pagutan-pagutan liar dan lidah basah yang saling bermain liur.

Sesaat, kutarik wajahku dari Maria, untuk menengok ke Fah. Dia masih duduk di sofa, dengan kedua paha merapat dan wajah meringis. Tatapan mata Fah juga sama sayunya denganku. Kayaknya dia juga horny saat nyaksiin adegan pijat-memijat tadi.

Tanpa bersuara, aku mengangkat tanganku. Aku tunjukkin tanganku yang setengah mengepal sedang turun-naik di udara, ke Fah. Memberi kode padanya; kalau dia memang horny, dia boleh masturbasi sambil ngeliatin aku. Setelah kuberi tanda, Fah gigit bibirnya, lalu menyingkap kausnya. Ternyata kontolnya masih belum dia masukin dari tadi saat aku tinggalin dia.

Fah pun mulai mengocok kontolnya sendiri, sesaat sebelum aku kembali beralih ke Maria. Kembali melumat bibirnya, untuk berciuman ganas dan penuh nafsu, sambil saling menggesek toket masing-masing ke satu sama lain.
==========

==========
Chapter 6:
Lusty Trance (2)​






Ada perbedaan yang unik, tentang sensasi saat badanmu dijamah oleh cewek dan cowok. Ketika aku ngeseks dengan cowok, aku bisa ngerasain maskulinitas mereka. Pergerakan mereka kasar, sigap, bertenaga namun kaku. Bahkan dengan Fah yang jadi-jadian inipun, aku masih bisa ngerasain 'sentuhan' khas cowok darinya. Meski sensasinya ga seintens saat aku dengan cowok tulen.

Tapi ketika aku ngelakuin hubungan seksual dengan sesama cewek, sentuhan-sentuhan yang mereka lakuin tuh kasih sensasi yang berbeda. Cara mereka menyentuhku dengan lembut, gesturnya yang gemulai, serta naluri alamiah mereka untuk melibatkan emosi dan perasaan saat seks membuatku sangat menikmati perlakuan mereka. Aku pasti udah ga normal, karena juga menikmati aktifitas seks sesama jenis. Tapi bukannya yang dicari dari seks adalah rasa nikmatnya, ya? Mau lawan jenis atau sesama jenis, toh aku menikmati hubungan seksualku dengan keduanya.

Makanya, aku menikmati banget saat sedang dicumbu Maria. Kecupan demi kecupan yang dia kasih ke leherku bikin aku menggelinjang geli. Di sisi manapun dia membenamkan wajahnya, aku pasrah aja. Kusibak juga rambutku, biar leherku terekspos seluruhnya untuk dia cumbui.

Sekarang, aku sedang duduk bersila, dengan punggungku ditopang Maria. Dari belakang, dia terus mencumbui leher dan tengkukku. Karena bagian itu sensitif banget, desahanku spontan keluar tiap dia merangsangku. Ini baru dicumbu lehernya, loh! Gini aja aku udah menggelinjang terus kayak cacing kegerahan.

Apalagi saat dia juga iseng mencubit-cubit kedua putingku pakai jari-jarinya. God, I'm so helpless I don't know what to do with myself.

"Nadia, what's with all the movement?" bisiknya, ditengah-tengah kombinasi kecupan dan sapuan lidahnya pada tengkukku.

"How... aahh, ahhh... can I stay still... mmmhhh... when you do this to meeeee?!"

"Do this?" Fuuuuck! Sekarang dia juga gigit-gigit kecil bagian pundak dan leherku. Lalu, sambil kecupin tengkukku lagi, dia bilang, "Say it, Nadia," terus dia kecup lagi, "You don't like it?" dan kecup lagi, "Want me to stop?"

"Nnnoooo... don't. Please. Don't stoooppp... ahhh, Kak... you're unbelievable... ahhh, aaahh... there's so much a lips of yours can dooo... mmmff... aaahhhh!"

Gilaaaaaa! Tiap kecupan bibirnya pada tengkukku bikin aku menggelinjang heboh! Geli banget, dan aku ga tahan sama rasa gelinya, tapi aku juga ga bisa ngelakuin apapun. Aku cuma bisa pasrah saat dia cumbui semaunya. Bahkan ketika wajahku dia tarik ke wajahnya, aku nurut aja. Bibirnya dengan gampangnya melumat bibirku yang membuka. Lalu lumatannya ganti kecupan, berganti lumatan lagi, kecupan lagi... terus begitu hingga liurku menetes saking menikmati berciuman dengannya.

"Nadia, have you ever masturbate?" bisiknya lagi. Kali ini, daun kupingku yang jadi sasaran lumatan bibirnya. "Nevermind. Of course you have."

Itu pertanyaan apa, sih? TENTU SAJA AKU PERNAH! "And.. ahhh, what are you gonna do... mmmhhh... with that?"

"Care to do it in front of me?"

Serentak, satu ingatan lama pun muncul di kepalaku. Ingatan tentang gimana dulu aku juga bermasturbasi di ruang UKS, di depan... Bu Siska. Lalu, dengan cepat otakku menampilkan ulang memori-memoriku saat bersamanya. Waktu yang aku habiskan bersama Bu Siska, obrolan kami, momen-momen mesra, dan... caranya berhenti peduli padaku, saat aku ada di titik terendahku.

Seharusnya memori buruk yang muncul paling akhir itu ampuh untuk membuatku turn off. Tapi situasi sekarang yang mirip dengan saat pertama kali dengan Bu Siska itu justru bikin aku lebih terangsang lagi. Maksudku... dengan sesama cewek, sentuhan-sentuhannya yang lembut dan mesra, caranya memintaku bermasturbasi di depannya... aku kangen sensasi ini! Aku beneran kangen ngeseks dengan cewek!

Maka, kuturuti permintaan Maria. Masih duduk bersandar padanya, aku buka lebar pahaku. Suasana yang panas dan intens bikin aku ga nyantai. Sebelah tanganku langsung mendarat di toket kiri, sementara tangan lainnya menyasar bibir memekku yang masih tertutup celana dalam. Aku pastiin Maria ngeliat apa yang sedang aku lakuin; meremasi toketku sambil menggesek permukaan memekku pakai jari.

Sesekali, kulirik Fah. Dia juga masih terus mengocok kontolnya, sambil ngeliatin aku menjamah diriku sendiri. Kontol panjang dan besar beruratnya... dia kocokin terus, sambil ngeliatin aku dilecehin temanku sendiri. Dia ga marah, kan? Dia nikmatin pemandangan aku bermasturbasi begini, kan? Aku bikin dia horny banget, ya?

Ngeliat Fah mengocok kontolnya cepat-cepat, bikin aku pengen ngelakuin hal yang sama. Aku pun naikin tempo gesekin memekku, sambil melirik nakal ke dia. Sesekali, aku sengaja berciuman dengan Maria, lalu balik menatap ke Fah lagi. Makin digoda, dia justru makin semangat mengocok kontolnya. Sekarang, dia juga angkat kausnya, sehingga dia bisa remas-remas toket mungil nan padatnya itu.

"Don't forget that we're recording now, Nadia. There is this thing you can't do; show either your pussy or tits. But I'm good if you want to either rub it from outside, or...," Maria menuntun tanganku, mengarahkannya dari menggesek memekku dari luar untuk masuk ke balik celana dalam, "fingering yourself from behind your panty."

Aku mendongak heboh saat jari-jariku menyentuh bibir memekku sendiri. Basah banget permukaannya! Kalau begini... aku masukin satu jari aja pasti... ahhh... gampang banget! Jari tengahku masuk, ahhh... masuk semua. Nambah, ga? Iyalah! Kali ini masukin jari manis... ahhh, kedua jariku bergesekan di dalam memekku sendiri. Terus, kalau digerakin keluar-masuk rasanya juga... ahhh, ahhh....

Dagu Maria bersandar di bahuku. Saat aku melirik lewat ekor mata, dia sedang perhatiin jari-jariku yang terus kocokin memekku sendiri. Sekarang dia juga mainin kedua toketku, sambil fokus ngeliatin aku bermasturbasi. Diliatin olehnya plus digrepein dia justru bikin aku makin semangat. Kocokan jariku semakin cepat, lebih cepat lagi...

"Ahhh, ahhh... I can't do it anymore, Kaaaak... ooohh, uuhh... mmmhh... it feels so good I think I wanna cuuummmhhh!"

Maria ga merespon. Dia masih fokus liatin aku kocokin memekku sendiri. Jari-jarinya juga sibuk memilin dan mencubit putingku, yang temponya dia samain dengan desahanku.

"Kak, Kaaaak... ahhh, ahhh, ahhh, ahhh, uuuhh... oohh, please... my boobies... do anything you want with it... please do more, ahh, ahhh..."

"You like it?" bisiknya, diakhir dengan lidahnya yang bermain-main di kuping kiriku.

"There's no... fucking way... I don't like itttt! Fuuuccck, I really want to cum, I'm closer, Kak, ahhh, ahhh... I want to cummm, I want tooo—"

"What if I don't want you to cum, yet?" respon Maria, "Just kidding. You can cum as much as you want, Nadia."

"Really? My pussy... this closeeeee... to ahhh, aahhh... oohhh, to... uuhhh... ahh, ahh, ahhh, ahhh, ahhh... to... mmhhhfff... cummm, I'm cumming, I'm cumminggggg... KAK MARIA, I'M CUMMING SO MUCH I FEEL LIKE I'M SQUIRTINGGGG!!!"

Kedua jariku masih terus mengocok memekku saat orgasmenya datang. Kocokanku bahkan ga berhenti saat lubang kencingku memuncratkan cairan squirtku. Bunyi becek yang nyaring pun jadi latar belakang suara saat aku terus mengocok memekku hingga puncak orgasme.

Rasa geli dan nikmat yang berasal dari memekku yang timbul akibat orgasme pun dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh. Memberi efek geli, gemetar, sensitif terhadap sentuhan, dan rasa nikmat bertubi-tubi yang sulit dijelaskan kata. Aku menggelepar ga karuan. Kakiku menendang-nendang ke depan, ditekuk, lalu meregang kuat. Sebelah tanganku yang sudah ga meremasi toketku lagi, mencakar-cakar udara untuk mencari pegangan.

Ahh, dapat! Tanganku mendarat di kepala Maria. Segera kutarik kepalanya, mendekat kepadaku yang kini sudah berputar jadi berhadapan dengannya. Aku menciumi bibirnya, pipinya, wajahnya, keningnya, hidungnya. Semua yang tampak di depan mataku ga luput dari ciuman bibirku. Malah kupegangi kedua pipinya, lalu kulumat bibirnya yang membuka. Mengais liurnya yang segar, lidahnya yang menari sambut lidahku, juga rasa lipbalmnya yang manis.

Saat orgasmeku mulai mereda, aku pun jadi lebih tenang. Masih kuciumi wajahnya disela aktifitas mengatur nafasku. Mataku masih sayu, badanku masih nagih dengan rangsangan, dan memekku masih gatal minta dijamah. Tapi aku ga bisa bebas ngelakuin yang kumau selama masih di depan kamera!

Seakan membaca keresahanku, Maria membisikiku, "Cium aku di bibir sekali lagi, Nadia, lalu kita bisa stop merekam videonya."

Langsung kucium bibirnya. Sebuah ciuman kilat, yang disusul ciuman lainnya yang lebih lembut. Ehe, malah dua kali ciumnya. Setelahnya, Maria dan aku bangun dari matras. Kuperhatiin Maria saat dia langsung beralih ke kameranya. Aku masih bingung mau apa, tapi Maria langsung kasih kode supaya aku samperin Fah.

Iya, kan ada kontolnya Fah. Yang paling bisa menggaruk memekku hingga bagian terdalamnya. Maka, aku beralih ke pacarku ini. Oh, dia masih ngocokin kontolnya. Kali ini temponya ga sekencang tadi, sih. Saat kudekati, Fah ga berkutik. Pun saat aku kini berlutut di antara kedua pahanya.

"Lama, ya, nunggunya? Mau aku kasih mulutku dulu?" tanyaku, sambil mengecup ringan kepala kontolnya.

Fah ga menjawab. Dia cuma mengangguk pelan. Mata sayunya terus menatapku. Aku hafal betul, sekarang dia lagi horny banget, dan kalau sudah kayak gini birahinya akan susah turun sampai dia terpuaskan. Dia juga ga akan bisa berpikir jernih untuk sementara waktu.

Jadi, kubasahi kepala kontolnya lebih dulu. Liurku mengalir lewat ujung lidah yang menjulur. Setelah banyak liur yang turun, kubaluri kontolnya dengan lidah. Menyapu dari bagian paling ujung, bergerak melingkar hingga turun ke pangkal kontolnya. Aku suka banget saat jilatin kontol Fah, karena lidahku bisa ngerasain urat-urat kencang yang menonjol di permukaan batangnya.

Mulutku pun kembali ke kepala kontolnya. Kuciumi bibir kontol Fah, kadang kuhisap pelan. Lalu mulutku membuka, mencaplok bagian kontolnya yang kubisa. Uuhh... cuma dapet sampai setengahnya. Langsung kukulum sambil turun-naikin kepalaku. Aku kasih dia blowjob terbaik yang mulutku bisa.

Karena aku kalau kasih blowjob tuh suka belepotan, jadi liurku kemana-mana. Berlumuran di sekujur kontolnya. Kupakai tangan kiriku untuk kocok kontol Fah, sekalian baluri liurku sampai merata. Sementara tangan kananku bekerja di testisnya. Kumainkan bola-bola ini, kadang dilumuri liurku juga. Di sisi Fah, dia juga sedang memilin-milin putingnya sendiri, sambil nikmatin gabungan rangsangan yang aku kasih untuknya.

"Mmmhhh... aaahh, ahhh, Deaaa... aahhh, akuuu... oohh, fffuuuuck, Deaaaa why you're soooo fucking good at thissss?" Fah meronta keenakan. Pinggulnya sampai naik-turun, bikin kontolnya jadi menyodok-nyodok mulut kerongkonganku. "Ahh, ahhh... aku nanti keluar... kalo, kalooo... ooohhh, oohhh—eh?"

Aku berhenti tepat saat Fah lagi keenakan banget. Dia sampai kebingungan, tuh. Tapi dia langsung ngerti saat aku berdiri, lalu lucuti kemben dan celana dalamku, kemudian naik ke atas sofa. Fah pun lepas semua baju yang melekat pada dirinya. Dengan kondisi sama-sama telanjang bulat, kini aku berlutut di atas selangkangannya. Aku arahin memekku ke kontolnya, dan turunin pinggulku... pelan, lebih pelan lagi. Ahhh, kepala kontolnya mulai menguak bibir memekku. Uuhhh... terus masuk lagi, ahh... udah dibasahain gini tapi masih aja seret masuknya... mmmmhhh! Masuk semua... mmmhh! Masuknya enak bangeeeeet!

"Ittadakimasu, Sayaaang! Still the best cock I've ever taste!" pujiku ke Fah, saat kontolnya masuk dalam-dalam ke memekku.

Kontol Fah yang sudah licin langsung masuk ke memekku tanpa kesulitan. Apalagi memekku juga udah basah banget, makin mempermudah prosesnya. Langsung aku goyangin pinggulku maju dan mundur. Aku mengulek kontol Fah dalam goyangan yang lembut namun intens. Tiap aku goyangin kontolnya, aku dan Fah berakhir mendesah berbarengan.

"Yanghh, hhh... hahhh... tadi pas lagi ngerekam video... ahh, ahh... Maria nanya ke aku... uuhh, nngghhh..."

"Nanya... ahhh, ahhh... apaaaa?" balas Fah.

"Nanyaaa... soal dia minta izin... ahh, ahhh... ahhh... ke aku, mau pinjem kamu, Yangghhh..."

"Mmmhh... maksudnya?"

Aku pun berhenti goyang. Susah banget ngomong sambil goyangin kontol Fah, bikin aku mendesah mulu. But no shit, kontolnya diem di memekku kayak gini aja masih kerasa enak banget! "Maria mau ngerasain pengalaman dientotin kamu. Dia tertarik dan penasaran sama kamu, tau. Ga apa-apa, kan, Yang?"

Fah langsung kaget. Mukanya sampai melongo gitu. "Terus kamunya?"

"Ya aku liatin aja. Kalo aku ga tahan paling aku join. Giman—"

Fah spontan memotong, "Bukan. Maksud aku, perasaan kamu gimana? Terima aja gitu?"

"Malah akunya juga mau. Itu salah satu syarat yang Maria kasih ke aku, supaya dia mau grepein aku, Yang."

Mulut Fah membuka makin lebar. Kayaknya dia syok. "Kamu ngejual aku?"

"Can't help," aku spontan angkat bahu, lalu, wajahku mendekat ke kupingnya, "Kalo kamu ga terima, kamu bisa jual aku juga nanti. Tawarin aku ke siapapun yang kamu mau. Liat aku dijadiin bahan masturbasi, terus bisa juga aku digrepein mereka, dilecehin, dioper sana-sini, dipake rame-rame, dan mungkin dihamilin. Gimana? Fair enough, kan?"

Aku bisa rasain kontol Fah membesar di memekku, setelah aku godain dia. Hahaha, makin terangsang, ya? Nih, aku bikin kamu jadi ga bisa mikir apa-apa lagi.

Kugerakin pinggulku turun-naik, bikin kontol Fah keluar masuk di memekku yang sudah becek. Tiap aku angkat pinggulku, dinding memekku yang diganjal kontol gede Fah jadi serasa kembali merapat, hanya untuk kembali dikuak kontol saat kujatuhkan pinggulku lagi. Kupeluk juga Fah, dan aku jilatin lehernya yang jenjang, terus naik hingga kupingnya. Setelah basahin kuping, aku berbisik pelan, "Bayangin, Yanggh... memek Maria juga pasti keenakan... ahh, ahhh, ahhh... kalo dimasukin kontol... ahhh, uuhh, mmhhh... seenak punya kamuuu..."

"Ahhh, ahhh, ahhhh... Dea gilaaaaa! Bisa-bisanya aku dijadiin barter buat muasin kamu... auuhhh... fuuuck, kontol aku mentoook... ahhh, ahhh... bibir rahim kamu ciumin kontol aku terus, Deaaaa!"

"Tapi... ahhh, aaahhh... suka sama aku, kannn?"

Fah mengangguk. Lalu dia mencaplok ganas toketku. Mulutnya bergantian isepin puting kanan dan kiri.

"Sayang jugaaa?"

"Banget! Sayang banget! Aku... uuhh, oohh... hahhh, ahhh... sayang banget sama kamu!"

"Cinta juga, gaaa? Mau kan... ahhh, ahhh... hamilin akuuu? Nanti, nanti... oohhh... kamu ngentotin Mariaaa... eehhh... oohh, ooohhh... tapi keluarin pejunyaaa... di dalemmmm... ahhh, aahh, ahhh... memek akuuu, yaaaa?"

"Iyahh, iyaaahhh! Aku cinta kamuuu! Aku cinta kamu, Dea! Aku mau nurut sama semua mau kamuuu! Ahhh, ahhh... aku mau ngentotin temen kamuuu, sini memeknya... ahhh, ahhh... sini biar aku entotin dia... kayak... ahhh, ahhh... mmmhhh... kayak aku ngentotin kamuuu..."

Great. Fah kayaknya sekarang ada di fase mania. Aku hafal banget ciri-cirinya. Dia memang lebih stabil dariku kalau di kondisi normal, tapi bipolar Fah rawan kambuh kalau lagi horny. Cuma butuh godaan yang bikin dia terangsang banget, dan dia akan masuk ke fase manianya. Kalau udah begini, dia ga akan bisa kendaliin dirinya sendiri. Hasrat seksualnya akan naik drastis, dan lebih gampang untuk diarahin sesuai yang aku mau.

What's better than seeing your lover in his sexual extacy?

Dengan tiba-tiba, aku bangun dari duduk. Ini bikin kontol Fah juga keluar dari memekku. Lalu aku beranjak darinya, berputar ke belakang. Tapi aku kaget, karena Maria udah ada di hadapanku, berdiri kurang lebih satu meter dariku.

Wow, ternyata dia udah telanjang juga. Badannya bagus banget. Bentuknya curvy, dengan lengan, perut, paha, dan pantat yang sedikit berlemak. Tapi kulit kecoklatannya juga keliatan kencang, kok. Meski badannya lebih curvy dariku, tapi dia keliatan lebih fit dan menarik. Mungkin karena rajin nge-gym, kali, ya?

Saat aku beralih ke toketnya, sepasang buah dada itu keliatan besar, padat, dan kencang, dengan putingnya yang berwarna hitam dan aerola di sekitarnya yang kecoklatan. Besarnya kayaknya seukuran Bu Siska (ooohh I love big boobies!). Kalau bandingin sama punyaku, aku masih sedikit kalah besar. Tapi ini bukan soal kompetisi. Aku ga iri, kok. Justru aku malah bahagia, karena jadi punya lebih banyak toket untuk aku grepein.

Nah, sekarang mataku menyasar ke bawah. Ohhh, Maria punya sedikit bulu-bulu pubik di bagian atas memeknya, yang dia tata rapi jadi segitiga. Lucu bangeeet! Sedikit berbeda dengan aku dan Fah yang suka waxing bulu kelamin sampai mulus, Maria cuma sisain bulu pubiknya di bagian itu. Sadar aku sedang merhatiin memeknya, dia malah sengaja colek-colek memeknya, terus kasih liat ke aku telunjuknya yang dilumuri lendir bening.

"Aaah, bikin pengen aja!" Kutarik lengannya, lalu kumasukin telunjuknya ke mulutku. Aku hisap dan sedot lendir yang berada di telunjuknya. "Kak, pacarku bisa dipake untuk waktu terbatas, ya. Go, go, gooo!"

"Thanks a lot, Nadia. I owe you a scissoring for this," balasnya.

Aku beralih ke belakang dia. Lalu kudorong badannya ke arah Fah, sambil bilang, "Looking forward to it."

Maria kini berhadapan dengan pacarku. Fah masih duduk sambil kocokin kontolnya, sementara Maria bersiap jongkok di atas selangkangannya. Keliatan banget ada kecanggungan di antara mereka. Iyalah, kenal baru sebentar tapi udah mau ngentot gini, wajar kalo grogi. Baik Fah dan Maria sama-sama senyum kikuk, saat kelamin mereka pertama kali bersentuhan.

"I'm sorry if you are forced to do this, ya, pacarnya Nadia," kata Maria, sambil gesekin bibir memeknya di kepala kontol Fah.

"Uuuh... kita bukannya udah kenalan tadi?" balas Fah, "Just call me by my name. Now, if you don't mind, I'm itching to taste your pussy."

"Such straight-forward ladyboy," respon Maria, "Pleasure's all mine."

Maria pelan-pelan turunin pantatnya, dan kuliat kontol Fah mulai tertelan memek Maria. Sedikit demi sedikit, kontol yang selama kenal pemiliknya itu hanya eksklusif milikku, kini akhirnya ngerasain memek lain selain punyaku. Ada rasa sedih dan kehilangan yang mendadak hadir di hatiku, tapi aku juga ga menampik akan sensasi mendebarkan yang kurasa. Aku menikmati proses penetrasi kontol Fah yang kini masuk sepenuhnya ke dalam memek Maria.

"NADIAAAAA... PENIS PACARMU INI BESAR SEKALI!"

Lutut Maria langsung gemetar saat menerima kontol Fah. Aku spontan merespon dengan ketawa. Dari sudut pandangku yang berada di depan mereka, aku ngeliat batang kontol Fah mengisi lubang memek Maria, hingga ga menyisakan celah sedikitkpun. Kayaknya penuh banget, ya.

"Rasanya gimana, Kak?"

"Enak! Aahh, aahhh... enak sekali! Agak sakit tapi tak masalah, mungkin karena vaginaku harus adaptasi. Tapi aku yakin akan ketagihan penis pacarmu, Nadia!"

Maria mulai turun-naikin pantatnya. Tiap kali pantatnya naik, bibir memeknya ga langsung mengikuti gerakannya. Lubang memek dia seperti menghisap batang kontol Fah kuat-kuat. Waaah... memek Maria apa serapat itu, ya?

"Penis Fah ini yang paling besar, ahhh, oohh, oohh... dan enak dari yang pernah aku coba, Nadia. Aahhh, aaahh... vaginaku sesak... perih, tapi enaaak..."

Di sisi lain, kuliat Fah juga menikmati memek Maria. Ekspresinya keenakan banget gitu, kok. Dia sampai gigit bibir terus tiap kali Maria gerakin pantatnya. Aku jadi iri. Ga terima kalau pacarku bisa menikmati memek lain selain punyaku. Aku... kesal sama mereka.

Tunggu, apa ini yang namanya cemburu? Oh, jadi begini rasanya...

Tapi aku juga menikmati pemandangan ini. Aku ga ingin mereka cepat-cepat selesai, tapi aku juga mau ada di posisi Maria. Aaargh, aku jadi bingung! Apalagi memekku juga gatal minta dimasukin kontol. Haruskah aku masturbasi dulu sambil liat mereka ngeseks?

Pake nanya. Haruslah!

Maka, aku pun duduk mengangkang di lantai. Kubuka lebar-lebar pahaku. Tangan-tanganku langsung sigap menjamah bagian-bagian sensitif tubuhku. Tapi grepein toket udah ga cukup puasin aku lagi. Apalagi, memekku masih nagih minta dimasukin meski kini udah ada dua jari yang kocokin.

Aaaaargh! Mau secepat apapun aku kocokin memekku pakai jari, rasanya ga bisa senikmat saat pakai kontol! Karena sia-sia, kucabut aja jari-jariku. Sekarang memekku justru makin nagih gara-gara ga dapet rangsangan sama sekali.

Duuuuh, aku mau dimasukin kontol! Craving banget, astaga! Mereka belum selesai juga ngentotnya? Masih lama, ya? Baru kali ini aku merasa masturbasi jadi ga senikmat biasanya. Apa karena ga fokus? Apa karena aku sebenarnya ga serela itu liat Fah ngentot dengan cewek lain?

Sekarang, aku liat Maria malah diem dan Fah yang mompain kontolnya dari bawah. Katingku itu sampai teriak-teriak keenakan, karena tiap kali Fah tusukin kontolnya, itu kayaknya sampai dalem banget. Enak, kan, ditusuk-tusuk sama kontol pacarku? Makanya cepetan gantian, aku juga butuh. Aku mau. Aku ga tahan lagi!

"Oh, God! Nadia, Nadiaaaa... ahhh, ahh, ahhh, ahhh, oohh, oohh, dalam sekali, dalam sekaliii... ahhh, aaaahh, penis pacarmu menyodok dalam sekaliii!"

Maria mendesah makin heboh seiring tempo tusukan Fah yang makin cepat. Tapi aku kesal, kenapa sih dia harus laporan ke aku hampir tiap waktu? Iya, aku tau rasanya enak! Aku yang hafal banget gimana rasanya, tau. Apalagi kalau udah disodok kuat-kuat sampai mentok. Pasti kewalahan, kan?

Setelah menghujamkan kontolnya dalam-dalam sambil meluk Maria, aku liat Fah berhenti memompa memeknya. Dia coba atur nafas. Maria justru ambil kesempatan, dia tarik kepala Fah, bikin wajahnya jadi terbenam di belahan toket Maria. Mana toketnya gede banget, lagi. Pasti kamu nikmatin, kan, Fah?

Oh, sekarang Maria bangun dari atas badan Fah. Terus, dia duduk bersandar di sofa. Dibukanya lebar-lebar kedua paha, lalu sambil buka lubang memeknya pakai jari, Maria intruksiin Fah untuk ngentotin dia dari depan. Fah juga gampang banget nurutnya. Pacarku ini pun berdiri, sambil gesek-gesekin kepala kontolnya ke bibir memek Maria.

"Aku masukin lagi, ya..."

"Iyahhh, my pussy is all yours for now, pacarnya Nadia—maksud aku... Fah. Ram your big cock into my—HNNGGGGGG!!!"

Maria langsung mendongak ketika Fah menghujamkan kontolnya dalam-dalam ke memek seniorku. Apalagi, Fah juga langsung memompa memek Maria dengan kecepatan tinggi. Maria seperti ga dikasih ampun. Dia meronta-ronta keenakan lebih heboh dari sebelumnya.

Sekarang badan Fah juga jadi condong ke Maria. Badan mereka saling menempel, dengan toket yang saling bergesekan. Mereka juga saling berpelukan erat, dengan kontol yang terus memompa memek tanpa henti. Aaaaaaaaaaaa... aku beneran iri banget! Aku juga mau kayak gituuu! Kayaknya intim banget, sumpah!

Karena makin ga sabar, aku pun duduk di sofa. Di samping mereka. Ngeliatin mereka lagi ngentot dengan lebih jelas. Gila, vibe intimnya kerasa banget. Oh, BAHKAN SEKARANG MEREKA CIUMAN, DONG! Bibir mereka saling melumat, dan desahan-desahan binal masih tetap bisa keluar dari celah bibir mereka.

Aku ga bisa apa-apa selain menjamah diriku sendiri, lagi. Aku horny berat, tapi ga bisa maksa mereka udahan juga. Akhirnya sekarang gesekin memek lagi pakai jari, sambil ngeliatin mereka. Tapi kini aku fungsikan kedua tanganku; satu untuk fingering, dan satunya lagi menstimulasi klitoris. Desahanku pun bergabung dengan desah mereka, memenuhi ruangan.

"Ahhh, ahhh, ahhh, oohh, ahhh, uuhhh... Fah, Fah... penis kamu paling enak, paling enaaaak... ahhh, ahhh, aku ketagihan sama penis kamuuu... ohhh, ooohh, terusss... iyahh, teruusss... pakai aku sepuas kamuuu, ahhh, ahhh, ahhh..."

Kating kampusku ini binal banget ternyata kalau dientot. Mulutnya berisik karena mendesah terus. Aku harus lakuin sesuatu! Makanya, wajahku pun mendekat ke Maria, lalu kusumpal bibirnya dengan bibirku. Kuluman dan pagutan ganas ga habis-habisnya kami lakuin, dengan sesekali lidah kami bertemu untuk saling membelit.

Tentu tanganku ga tinggal diam. Dengan posisi menungging di atas sofa, tangan kiriku mainin klitorisku sendiri sementara tangan kananku menjamah memek Maria. Kucari klitorisnya, dan setelah ketemu, aku lakuin hal yang sama dengan yang aku lakuin ke diriku sendiri. Aku pilin-pilin daging kecil itu, dan menggeseknya sesekali. Atau kutekan-tekan dengan lembut.

Digarap secara keroyokan begini bikin Maria makin blingsatan. Kayaknya dia sudah mau orgasme. Maka, kupercepat gesekan jari-jariku pada klitorisnya. Enak, kan, rasanya dimainin clitnya sambil dientotin kontol gede? Makanya, ayo cepetan orgasme! Aku juga mau dientot Fah!

"Nadia, Nadia... ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, kamu... ahh, ahh... berhenti... nanti aku cepat, ahhh, ahhh—mmmfff!"

Karena mulutnya makin susah disumpal, aku ga punya pilihan. Aku berdiri di sofa, lalu arahin memekku ke wajah Maria. Kubenamkan wajahnya ke memekku yang basah banget ini. Aku ga peduli kalau dia kesusahan bernafas, karena sekarang aku sedang gesekin memekku ke seluruh wajahnya. Rasa enak dan puas pun memenuhi hatiku. Apalagi saat akhirnya mulutnya mau jilatin dan hisap memekku.

"Aaahhh, gitu kek dari tadi... iyahhh, jilat terusss... Kak, lidahnya masukin... iyahh, gituuu. Aaaahh... mulut kakak tingkat aku ini enak bangeeeeet!"

Maria ngejilatin memekku cuma sebentar, karena tiba-tiba badannya menghentak-hentak heboh. Bersamaan dengan itu, kedua tangannya mencengkeram pahaku, dan mulutnya jadi menghisap memekku kuat-kuat. Saking keenakannya, aku sampai ngiler... DAN AKU SQUIRT! Orgasmeku yang datang tiba-tiba ini bikin badanku menegang, seiring pipisku yang mengucur deras langsung ke muka Maria. Badan Maria sendiri masih menegang dan menggelepar saat aku pipisin dia. Oohh... mungkin dia juga sedang orgasme, ya...

Setelah tegangnya mereda, badanku jadi lemas. Aku langsung merusut hingga menindih badan Maria. Rasanya enak banget, skinship sama dia dalam keadaan sama-sama telanjang begini.

"Nadia, kamu berani sekali kencingin aku," kata Maria. Ekspresinya keliatan jutek.

Spontan, aku melet ke dia. "Ga sengaja tau, Kak," balasku, "Let me lick it clean, ya."

Tanpa menunggu persetujuan Maria, aku langsung jilatin seluruh mukanya. Dimulai dari dagunya, lalu berlanjut ke pipi. Tapi saat aku beralih ke hidung Maria, aku ngerasa ada yang nempelin sesuatu ke memekku. Sebelum aku sempat nengok ke belakang, lubang memekku sudah dimasuki. Ahhh... aku kenal sensasi ini! Kontol Fah masuk memekku lagi, yeay!

"Ahhh... it has to be your pussy, Dea, so I can cum anytime without have to worry about cumming inside," kata Fah, sambil mulai genjot memekku dengan perlahan.

"Of course. I'm yours, after all. You can use... mmmhhh... my pussy and impregnate me as much as... uuhh... you want."

Kontol Fah dengan lancarnya keluar-masuk di memekku. Tiap tusukannya, selalu sengaja dia bikin mentok. Ga butuh waktu lama bagiku untuk jadi gila karena tusukan-tusukan kontolnya yang selalu mencium bibir rahimku.

Aku pun terusin kegiatanku yang sempat tertunda. Kembali kujilati wajah Maria. Kali ini, jilatanku berlangsung ganas dan sporadis. Bukannya kering dari pipisku, wajah Maria malah makin basah karena air liurku juga. Tapi dia nikmatin, kok. Tuh, bibirnya bahkan menangkap lidahku setiap lewat area itu.

"Aahhh, aaahhh... Kak, tadi dimentokin terus, gaaa? Kontol Fah enak, kaaan? Di aku mentok teruuus... uuuhhh..."

Maria pun senyum lebar sebelum menjawab, "Mentok juga, Nadia. Penisnya luar biasa! Aku sampai kewalahan tiap kali dia menyodok aku."

"Iya, kaaan? Enak banget, kaaaannn? Mau lagi, ga? Ahhh, aaahhh... sumpah, Kak, kontolnya nyentuh bibir rahim aku teruuuusss..."

Maria langsung menghindar dari tatapanku. Tapi ga lama, karena dia kembali tatap aku, lalu mengangguk malu-malu. Dia ga jawab pakai kata-kata, tapi dari anggukan dan tatapan matanya sudah cukup menjawab pertanyaanku.

Tapi aku mau menikmati kontol Fah dulu. Aku biarin dia sodokin memek aku sepuasnya. Awalnya masih pelan, lalu lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Aku sampai kewalahan karena sekarang dia ngentotin aku dengan cepat dan bertenaga.

"Aahhh, aaahh, Yangghh... katanya, aaaaahhhng!" dia mentokin kontolnya terus, "Katanya... Maria mauuu... dientot kamu, ahhh, ahhh," dan mentokin lagi, "Mau dientot lagiii... sama kamuuu!"

"Mmm... maksudnya, aahhh, aaahhh... gantian gitu, masukinnya?" balas Fah. Haaaaaa... sodokannya makin kuat!

"Iyaahhh, beneeeer! Cabut dari, ahhh, ahhh, ahhh... memek aku, terus masukin ke memek Mariaaa!"

Fah segera cabut kontolnya dari memekku, lalu aku ngerasain ada pergerakan dari bawahku. Sedetik kemudian, badan Maria bergetar. Wajahnya juga langsung nunjukin ekspresi keenakan. Saat aku nengok ke belakang, kuliat Fah lagi maju-mundurin pinggulnya.

"Enak, Kak?" tanyaku, ke Maria. Kukecup ringan bibirnya.

Maria mengangguk beberapa kali. Wajahnya kayak lagi menahan nikmat, sampai memerah gitu. Dia balas kecupanku yang tadi dengan lumatan pada bibirku.

Saat aku dan Maria berciuman, aku kaget saat kontol Fah kembali sodokin memekku. Uuhhh... aku digenjot lagi. Cukup lama, sampai aku nikmatin banget sodokannya dan merasa kehilangan ketika Fah cabut kontolnya, lalu masukin ke memek Maria lagi, dan diulang terus. Dia ngelakuin ini cukup lama, sampai kami berdua jadi gila dibuatnya.

"Dea, I'm cumming... aku mau... ahhh, ahhh, ahhh... aku udah ga tahannn... should I cum inside you? It's okay kan, yaaaa?"

Fah yang lagi ngentotin Maria, langsung cabut kontolnya terus masukin ke memekku. Dia langsung ngentotin aku dengan cepat. Keluar, masuk, keluar, masuk... tiap sodokannya bikin aku keenakan sampai ga mampu bersuara. Tiba-tiba, sodokan kontolnya jadi makin cepat, lebih cepat lagi... dan akhirnya dia menghujam memekku begitu kuat, sampai-sampai aku spontan mendongak dan menegang saat kontolnya sedikit menguak bibir rahimku. Ada rasa ngilu yang menyertai nikmat yang aku rasain, yang justru malah bikin tambah enak. Lagi-lagi, aku orgasme hebat! Kali ini, bersamaan dengan Fah yang sedang memuncratkan pejunya, langsung ke rahimku.

"AAAAHH, AAAAHHH... PEJUNYA SAMPE RAHIMMM, AAHHH... FAH, INI SIH GA MUNGKIN GA BIKIN HAMIL, GILAAAA!"

Lubang kencingku pun nyemprotin pipis berkali-kali. Ga tau deh kena bagian mana aja di badan Maria. Aku ga bisa mikir, karena sibuk sama badai kenikmatanku sendiri. Di akhir orgasmeku, badanku melemas dan kesadaranku perlahan memudar. Dengan sisa tenaga yang kupunya, buru-buru aku geser badanku ke samping. Sekarang, aku duduk bersandar di sofa, dengan badan yang terkulai lemas.

"Fah, I need to rest, ya. You can do Maria," kataku, ke Fah. Lalu aku beralih ke Maria, "Kak, ga keberatan ngentot lagi sama Fah, kan?"

Sebenarnya, sih, aku juga ga sepenuhnya rela kalau pacarku ini ngentot sama Maria dan aku ga ikutan. Tapi aku juga capek banget, dan sekarang aku mulai mengantuk. Kesadaranku perlahan memudar, dan aku ga punya tenaga untuk tetap terjaga. Yaudah, mau gimana lagi. Fah ga akan puas kalau cuma sekali ejakulasi, dan aku pikir Maria jadi solusi terbaik yang kupunya.

"Memang dia masih bisa tegang, Nadia?" tanya balik Maria. Ih, lucu, mukanya keheranan gitu.

Wah, belum tau dia...

Pertanyaan Maria pun terjawab saat Fah sodokin kontolnya ke memek Maria lagi. Spontan, dia mendongak akibat sodokan kuat dari Fah. Setelahnya, Maria menatapku lalu tersenyum lebar. Dan senyumannya adalah hal terakhir yang kuliat, sebelum kantukku memaksa mataku untuk menutup.

"Don't cum inside Maria, ya. If you want to cum, my pussy is 24 hours open for you," kataku, mewanti-wanti Fah, "Otherwise she let you to cum ON her and NOT THE INSIDE, don't impregnate other girl beside me..."

Lalu, aku pun makin tenggelam dalam kantuk yang membuai dan menenangkan. Ga peduli dengan desahan-desahan binal yang berasal dari sampingku.
==========

==========
Sambil menunggu jemputan taksol yang sedang menuju ke sini, aku dan Fah yang sudah menunggu di depan rumah Maria, kini sedang berpamitan dengan tuan rumah. Kirain Maria mau pamit duluan sama aku, eh ternyata dia malah nyamperin Fah, dan berpelukan dengan pacarku. Mana pelukannya erat banget, lagi. Padahal aku yang udah lama kenal dia, tapi yang dipeluk duluan malah Fah. Emang beda, ya, cewek kalau udah kena kontol, tuh. Jadi mentally attached.

Sekarang, dia gantian nyamperin aku. "Nanti aku kabari kalau sudah tayang, ya." Maria memelukku erat, bikin toket kami berhimpitan. "Hari ini berkesan sekali, Nadia. Thanks a ton, really."

Aku langsung senyum-senyum sendiri. Iya, memang berkesan banget. Siapa sangka kalau hari ini aku malah ngelakuin threesome sama pacar dan teman kampusku? Hidup memang penuh kejutan; kadang bikin enak, tapi seringnya isinya hal-hal menyedihkan.

"Ada ga, sih, yang bisa aku lakuin untuk naikin komisiku, Kak?" tanyaku. Aku masih kepikiran soal persentase komisiku yang cuma 35%, padahal aku yang dieksploitasi habis-habisan.

"Heee... ko mau minta berapa, memangnya?"

"50%? Too much, ga?"

Maria spontan menoyor kepalaku. "Bisa ko edit-edit? Sewa studio? Beli properti? Ada kamera—"

Sebelum Maria ngomel lebih panjang, kukeluarin jurus andalanku yang pasti bikin dia ga sanggup nolak. "Kalo komisiku naik, nanti Kak Maria bisa ngentot sama Fah lagi. Gimana?" potongku.

Ekspresinya langsung bingung. Dia sampai gigit jempol, mikir keras banget kayaknya. Pada akhirnya, dia ajak aku berjabat tangan. Kan... apa kubilang? Rupanya dia ketagihan kontolnya Fah, sampai mau barter dengan naikin komisiku sebesar 15% hanya demi dia punya kesempatan ngentot lagi dengan pacarku. Mana ga pakai pikir lama. Berarti kontol Fah bernilai 15% komisi, ya. Ckckck. Boleh juga.

"Dea... kamu jual aku lagi?" tanya Fah. Dia menatap ga percaya ke aku.

"Kamu kayaknya menikmati ngentot sama Maria, sampe aku udah tidurpun, kalian masih ngentot. Jadi pasti kamu ga keberatan, kan, kalo aku pake kontol kamu untuk naikin komisiku? It's a win-win solution for us all. Maria dapet kontol, aku dapet 50%, kamu dapet memek lain selain punyaku. See my point?"

"Tapi cuma kamu yang dapet profit disini." Fah pun manyun-manyun lucu. Gemesin!

"Precisely!" Aku menunjuk ke bagian selangkangan Fah, yang kini sudah tertutup celana pendek. "Mulai sekarang, kamu harus hati-hati sama kontol kamu. Aset, tuh."

Fah cuma bisa bengong saat dengar jawabanku. Sementara Maria ketawa ngakak ngeliat tingkahku dan Fah. Tiba-tiba, mobil jemputan kami pun datang. Maka, aku pamit ke Maria, lalu gandeng tangan Fah menuju mobil.

"Eh, Nadia. Aku baru ingat, tas kamu bagaimana? Tak dibawa, kah?" tanya Maria, berseru dari depan rumahnya.

"Simpen aja dulu, Kak. Nanti juga aku ke sini lagi," balasku, ga kalah kencang nadanya.

Saat aku dan Fah sudah di dalam mobil, aku tatap pacarku dalam-dalam. Kusiapkan hati, untuk ngomong hal yang mengganjalku dari tadi. "Aku cemburu, tau," kataku, ketus.

"Soal?" tanyanya, spontan, "Oh, yang tadi? Tapi kan, itu karena kamu yang nyuruh."

"I know. Aku cuma bilang aja. Kirain aku akan baik-baik aja liat pacarku lagi nge—"

Buru-buru, Fah tutup mulutku. Sambil melotot, dia bilang, "Ngomongnya jangan nyeplos-nyeplos banget, Deaaaa!"

Oh iya, ya. Setelah berjanji kalau aku akan lebih menjaga omonganku, Fah lepasin bekapannya dari mulutku. "Ya... pokoknya aku cemburu. Mental dan perasaan aku tersiksa. Aku mau kamu memvalidasi itu."

"Aku ngerti. Aku akan lebih jaga perasaan kamu—"

"—Kamu ngomong apa?" potongku, "Aku mau kamu gituin aku terus!"

"Hah? Haaaah?!"

"Mental sama perasaan aku emang tersiksa, tapi aku juga dapet banyak enaknya. Aku nikmatin apa yang aku liat, kok. Aneh. Kayak ga rela, ga suka, iri, tapi juga nagih pengen ngeliat kamu gitu terus. Aku suka sensasinya, suka banget malah. Aku juga suka saat aku cemburu, tapi akunya helpless. Ngerti, ga?"

Fah mengangguk, pelan. "Jadi... aku harus gimana?"

"Let's do it more often! Aku juga dapet pencerahan ini: bayangin, selama ini aku kalo lagi fase mania, sukanya nyakitin diri sendiri, kan? Gimana kalo yang disakitin tuh diganti, dari fisik ke mental? So there won't be another bruise and scar on my body. Ide aku bagus, kan?"

Fah langsung meraupkan kedua tangannya ke muka. Ekspresinya frustasi banget. "Nanti kita omongin lagi kalo udah di kost kamu, ya," balasnya, lembut dan hati-hati.

"While we do another round?" tanyaku. Aku menatapnya dengan pandangan menggoda.

"Eh? Tapi aku agak—"

"—You can do it with another girl for so long, of course you can do it for longer time with me, kan? Iya, kaaaaan? Nanti nginep, kaaaan?" potongku. Lalu, aku deketin bibirku ke kupingnya. "Kalo kamu capek, ga apa-apa, istirahat aja. Tapi aku boleh ngelakuinnya sama tetangga kosanku, kan? Terus... kamu mau liat aku secara langsung, atau kamu diem aja di kosanku saat aku main di kamar cowok-cowok itu? Nanti aku telepon kamu, kasih tau aku lagi diapain aja. Gimana? Will you please me like you did with Maria, or will you let some guy take your place to please me?"

Aku hampir ga bisa menahan ketawa saat liat wajah Fah pucat sehabis aku bisikin. Dia berkali-kali elus dada dan ambil nafas panjang. Setelah lebih tenang, dia genggam tanganku, tatap aku dalam-dalam, lalu berkata, "I'll do my best, Dea. Tapi ga apa-apa, kan, kalo dibantu viagra?"

Sebuah senyum lebar pun mengembang di wajahku. "You always do your best for me. I love you, boyfie."
==========

Comments

Popular Posts