Aku Tetap Mencintaimu - Bootax @semprot

 Part 1 Ketika semua berubah


POV Hilda

Salahkah aku jika rasa cintaku pada suamiku Bagas berkurang, ketika ia tak lagi sama seperti sosok yang dulu membuatku jatuh cinta. Dulu ia seorang alpha male, karisma maskulin terpancar kuat dari dirinya, penuh gairah, gagah mempesona. Sosok itu kini hilang, berganti menjadi sosok lain yang begitu menyebalkan.

Teringat ketika awal aku berjumpa dengannya. Saat itu aku seorang sales marketing yang ditugaskan untuk menawarkan produk pada sebuah perusahaan, PT. Jaya Utama, pemiliknya seorang pria bernama Bagas, pria mapan dan sukses di usia awal 30 an, single dengan penampilan menarik. Seorang perintis bukan pewaris, kurang lebih itu profil yang kudapatkan sebelum aku bertemu dengannya. Sudah muncul kekagumanku padanya bahkan sebelum bertemu dengannya. Aku cukup percaya diri dengan kemampuan marketingku, ditambah asset “body” dan kecantikan yang dianugrahkan Tuhan padaku, sepertinya tidak ada yang tak bisa kujual, apalagi targetnya kaum hawa.

Sesuai harapanku Bagas merupakan sosok pria sempurna, gagah, tampan, berwibawa, sopan, dan yang tidak bisa dipungkiri adalah dia seorang pengusaha sukses. Tidak ada Wanita yag bisa menolak semua pesona itu termasuk diriku. Presentasi berjalan dengan begitu baik, aku senang dia memperhatikanku dengan seksama, walaupun aku tahu, bukan materi presentasiku saja yang dia perhatikan, tapi “diriku” yang sedang ia perhatikan. Ada kebanggaan muncul di diriku, matanya tak berkedip melihat setiap gerak gerik ku. Hal itu memang aku harapkan dan aku persiapkan. Pakaian formal anggun nan elegan sengaja aku pilih untuk momen ini, mengesankan karisma ku sebagai wanita karir sekaligus menonjolkan keindahan tubuhku.

Aku mengundangnya makan malam dengan dalih membicarakan bisnis, padahal aku ingin memikatnya lebih jauh lagi. Jaring yang kutebar, berhasil menangkap mangsanya dengan tepat, aku bisa mengetahui kalua Bagas tertarik padaku, begitu juga dengan diriku, aku tak akan melepaskan dia. Dengan segala pesonaku aku harus mendapatkannya.

Usahaku tak sia-sia tak lama kemudian setelah hubungan kami lebih intim dari sekedar bisnis, hingga kami pun menikah. Pencapaian dari bisnis yang dijalaninya memberikan andil besar dalam kehidupan kami. Segala kebutuhan dan keinginan bisa dipenuhi dengan mudah. Aku hanya disibukkan menjaga penampilan diri demi menyenangkan suami. Sungguh kehidupan sempurna yang kurasakan saat itu.

Tapi semua itu berubah ketika bisnis suamiku hancur. Ia ditipu oleh rekan bisnisnya yang ternyata melarikan uang investasi. Bangkrut, kata paling mudah untuk menjelaskan kondisinya saat ini. Tapi sayang, bukan hanya uang yang hilang. Sebagian diri Bagas pun ikut hilang. Ia tak lagi memperhatikan penampilannya, hari-harinya ia habiskan untuk hal sia-sia, browsing internet, menonton film, bermain games, tidak ada hal produktif yang dilakukannya. Ia tak lebih dari seorang pria pemalas yang hanya menunggu waktu tidur ke tidur, waktu makan ke makan. Perilakunya pun menjadi buruk, tak ada lagi kalimat lembut penuh wibawa, hanya ada bentakan bernada tinggi. Marah hanya untuk hal sepele yang bahkan tidak penting. Tidak ada komunikasi yang terjalin, hanya kata-kata pendek layaknya basa-basi.

Gairahnya kepadaku pun jauh berubah. Dulu, seks menjadi ritual cinta kami yang menggelora. Ekplorasi, frekuensi, variasi, kami lakukan banyak hal untuk menambah bumbu kenikmatan cinta. Paham open minded kami terhadap seks membuka cakrawala seksual yang luas. Tapi sekarang, aku tak lebih hanya seperti objek pemuas nafsu saja. Begitu egois dirinya ketika memintaku untuk melayaninya, hanya kepuasannya saja yang ia fokuskan. Sangat singkat, sangat jarang, dan sangat membosankan. Jika bukan kewajibanku untuk melayaninya, aku muak jika harus menurutinya.

Aku menerima kondisinya yang sedang jatuh, toh kami pun masih punya rumah, kendaraan, dan beberapa aset yang sebenarnya cukup untuk menghidupi kami. Tapi perubahan sikap diri suamiku lah yang membuatku perlahan kehilangan rasa cintaku padanya.

Tak ingin berlarut dalam alur hidup yang membosankan ini, aku putuskan untuk kembali bekerja, berinteraksi dengan dunia luar. Walau aku tahu, hal ini akan memicu pertengkaran hebat antara aku dan suamiku. Tapi keputusanku sudah bulat, ini demi kewarasanku, akan aku bicaraka hal ini dengan Bagas suamiku.

POV Bagas

“Mas aku mau kerja lagi. Boleh ya ?”

Kalimat pertanyaan pendek dari istriku Hilda, membuatku berhenti dari permainan game yang sedang kumainkan. Darahku mendidih, tersinggung dengan kalimat tersebut.

“Memangnya kita udah gak bisa makan sampai kamu harus kerja ?” nada tinggi melengking keluar dari mulutku.

“Aku masih sanggup membiayai kebutuhan mu, buat apa kamu kerja” ego dan arogansiku sebagai suami tak terima dengan apa yang diucapkan Hilda.

“Bukan gitu Mas, aku cuma bosan di rumah terus, aku ingin lebih menikmati hidup, ini juga demi keluarga kita kok” balas istriku berusaha meyakinkanku.

“Oh jadi karena kondisi aku sekarang kamu sudah ga bahagia, ga bisa bawa kamu jalan-jalan, liburan. Makanya kamu bosan dan cari kesenangan lain di luar rumah ?” balasku menekan Hilda, berusaha mengintimidasinya.

“Nggak Mas, nggak, aku terima Mas dengan segala kondisi Mas sekarang, aku tahu Mas lagi “terluka”, makanya aku juga ga pernah nuntut apa-apa dari Mas. Aku cuma minta izin Mas untuk diizinkan bekerja, supaya aku ada kegiatan di luar, supaya nggak jenuh, udah itu aja, bukan karena kurang uang atau apapun. Aku cuma ingin membantu Mas dan diriku sendiri dengan menjaga kewarasanku. Agar apapun yang sedang kita alami saat ini, bisa lebih mudah kita melewatinya” jelas Hilda sambil terisak-isak menahan tangis.

Sejenak aku terdiam, memory ku flashback mundur jauh ke belakang, bagaimana semua ini bisa terjadi, lebih jauh lagi bagaimana aku bertemu pertama kali dengan Hilda. Dia seorang sales marketing di salah satu perusahaan supplier ku. Dengan penuh kepercayaan diri dia datang sendiri ke kantorku untuk mempresentasikan keunggulan dari produk dan layanan perusahaannya. Sebenarnya aku sudah punya perjanjian kontrak dengan supplier lain, tapi harus kuakui bahwa presentasi Hilda cukup menarik. Hilda tidak hanya mempresentasikan produk perusahaannya, tapi juga mempresentasikan dirinya dengan sangat baik. Gesture tubuhnya ketika presentasi bak seorang penari yang meliuk-liukan tubuhnya, menunjukkan setiap lekuk pesona dari tubuhnya dengan pakaian berkelas dan elegan menempel di tubuhnya dari rambut hingga kakinya, dia berhijab namun tidak bisa menutupi keindahan tubuhnya, senyum menggoda senantiasa tersungging dari wajah yang cantik dengan bibir mempesona, membuatku terhipnotis dan akhirnya setuju untuk berkontrak dengan nya.

“Baik Pak, draft perjanjian kontraknya akan saya siapkan sesegera mungkin. Nanti malam bagaimana jika saya mengundang Bapak untuk makan malam di restoran Night Garden, sekalian Bapak bisa tanda tangan untuk kontraknya” kata Hilda dengan elegan menjelaskan semuanya. Seolah menyadari bahwa aku telah terperangkap dalam pesonanya. Aku mengangguk sambil tersenyum sebagai tanda persetujuan.

Malam itu aku datang dengan setelan jas non formal, penuh percaya diri aku melangkah, parfum mahal tercium dari tubuhku. Aku siap berkencan malam ini. Itulah yang terlintas di benak ku, walaupun awalnya ini adalah sebuah jamuan makan malam bisnis, tapi aku ingin memperlakukannya seperti sebuah kencan. Aku masuk ke dalam restoran dengan sambutan ramah dari pramusaji, diantarkannya aku ke sebuah meja yang sudah dipesan sebelumnya. Sesosok Wanita cantik berhijab berdiri di samping meja menyambutku dengan senyuman penuh pesona, pakaiannya lebih elegan, sepertinya ia pun mempersiapkan dirinya untuk malam ini. Tangannya menjulur mengajakku bersalaman. Lembut jemarinya menyentuh kulit tanganku, aroma segar dan mewah dari parfum mahal tercium lembut tidak menusuk dari dirinya. Suaranya lembut menyebut namaku, aku seperti sedang bermimpi bertemu bidadari malam ini.

Makan malam pun berjalan dengan begitu akrab, aku jaga wibawaku, tidak secara vulgar menunjukkan ketertarikanku padanya. Tapi Hilda sepertinya seorang pro player, dia tahu cara memainkan atmosfir malam itu, mulai dari bisnis, hiburan, tema-tema receh, hingga pertanyaan seputar hal pribadi, cukup membuatku tenggelam terbawa arus nya malam itu.

“Ini Pak draft perjanjian kontraknya, silakan dibaca terlebih dahulu, jika ada yang perlu direvisi, silakan disampaikan, akan saya perbaiki segera.” ucap Hilda di penghujung makan malam kami.

Setelah dibaca dan tidak ada hal yang perlu diperbaiki, aku pun menandatanganinya, dan secara tegas aku katakan bahwa aku ingin mengenalnya lebih jauh secara pribadi. Dia memberikan dua nomor yaitu nomor bisnisnya dan nomor pribadinya. Sebuah kode keras bagiku bahwa ia pun ingin dikenal lebih jauh secara pribadi.

Beberapa kali kami berkencan, saling mengenal satu sama lain, banyak hal yang membuat kami cocok, salah satunya paham open minded dalam urusan seks. Cukup terkejut sebenarnya mengetahui Hilda seorang yang menutup dirinya dengan hijab tapi punya sisi petualang dalam dirinya. Tapi fantasy ku justru bersorak kegirangan, membayangkan segala kesenangan yang akan dieksplorasi bersamanya.

Tak lama kemudian kami pun menikah, terasa lengkap pencapaian hidupku dengan Hilda sebagai istriku. Kehidupan suami istri kami dipenuhi gairah, kebanggaan memiliki istri cantik bertubuh indah, dan perilaku bak bidadari. Dia memperlakukanku bagai seorang raja, kebutuhan mata, perut, dan “nunut” ku terpenuhi dengan sempurna. Dia tak lagi bekerja, hanya sibuk merawat dirinya dan diriku. Kehidupan seks kami begitu aktif layaknya pasangan bulan madu dengan durasi tahunan. Ranjang kami selalu panas, saling eksplorasi dan eksploitasi hasrat seksual diri.

Kupandangi istriku, sosok yang sedang menangis terisak-isak. Ia masih sosok yang sama yang membuatku jatuh cinta. Aku lah yang berubah, kebangkrutan membuatku frustasi, aku menjauhkan diri bahkan dari istriku sendiri. Koko keparat, rekan bisnisku yang kupercaya, melarikan uang investasiku dan kolega bisnisku lainnya. Demi menjaga harga diri kujual asset untuk menutup semua kerugian. HIlang kepercayaanku pada orang lain, termasuk istriku, yang kini seolah menjadi asing. Ini salahku, mungkin aku terlalu keras padanya, mungkin kubiarkan saja istriku bekerja, agar tak terkungkung di rumah yang lebih mirip panti rehabilitasi mental untukku.

“Ya sudah kamu boleh kerja, tapi jangan sampai lupa dengan tugas dan kewajibanmu ya,” ucapku dengan nada dingin. Entah apa yang salah denganku, dulu kalimat-kalimat hangat dan lembut selalu mengalir dari mulutku, membuat semua orang terutama istriku nyaman di dekatku. Tapi sekarang lidahku seolah setajam silet, sedingin es. Tidak ada empati, hanya ego dan arogan yang tajam terasa.

Hilda menyeka air matanya, lalu beranjak ke kamar, sambil berucap lirih “terimakasih Mas”.


Part 2 “Babak Baru”

POV Hilda

Akhirnya aku bisa lepas dari rumahku, tempat yang dulu begitu hangat, setiap sudutnya berisikan gairah, kenyamanan dan keamanan, kini semua itu sudah berubah. Tak ada lagi kehangatan, gairah, kenyaman, yang tersisa hanyalah kesunyian dan kehampaan. Kami seperti orang asing, hanya bertegur sapa kalau diperlukan. Setiap kata dan perilaku pasti berpotensi keributan, akhirnya kami saling menjauh, bosan dengan semua konflik yang terjadi. Dingin, sunyi, sepi, dan hampa, itulah yang ku rasakan ketika di rumah, ditambah sosok pria pemalas yang kebetulan adalah suamiku bergentayangan di rumah itu, membuatku muak hanya dengan melihatnya.

Tak terasa sudah 6 bulan berlalu sejak aku mulai bekerja. Aku lebih betah berada di kantor, bercengkrama dengan teman-teman baru ku. Banyak hal baru kutemukan dan kupelajari, aku menemukan gairah hidupku kembali. Pria-pria tampan dan wanita-wanita cantik berseliweran di kantor ini. Candaan eksplisit tak jarang dilontarkan yang membuat suasana menjadi riuh dengan atmosfir sensual yang kental. Aku dengar di kantor ini seks bukanlah hal yang tabu, beberapa pria sudah pernah tidur dengan beberapa wanita disini. Asalkan jangan sampai mengganggu profesionalisme apalagi baper, hanya itu “unwritten rules” nya.

Joko adalah salah satu rekan kerjaku. Dia lebih senior di kantor ini tapi selalu memanggilku dengan panggilan Mbak, karena lebih muda 3 tahun dariku. Tubuhnya atletis dengan kulit sawo matang cenderung gelap. Typikal laki-laki lokal dari daerah Jawa. Logatnya lucu, begitu juga dengan kelakuannya, ada saja yang bisa membuat seisi kantor tertawa. Suatu saat aku mengajaknya makan siang di luar. Itung-itung sebagai terimakasih karena selama disini Joko lah yang banyak membantuku.

“Joko, makan siang keluar yuk” ajakku pada Joko.

“Ditraktir ? Tumben Mbak ? lagi kesambet jin baik ya ?” celetuknya sambil tertawa.

“Iya aku yang traktir. Mau nggak ? Ditawarin malah ngeledek” balasku santai menanggapi candaannya.

“Siapa sih yang bisa nolak, kalau yang ngajak Mbak cantik ini, ditraktir lagi” senyumnya mulai gombal.

Kami berboncengan dengan motornya ke sebuah tempat makan yang lumayan ramai tapi nyaman.

“Pegangan Mbak, motor ini suka galak kalau yang dudukin cewek cantik” sambil tertawa mesum.

“Ah kamu nya aja ini mah, yang sengaja, biar dadaku nempel di punggungmu kan” balasku sambil memeletkan lidah.

“Maklum Mbak, jarang disentuh wanita, jadi kurang tersalurkan hehehe” ujarnya tak ragu melontarkan candaan berbau seks.

Setelah sampai kami memilih tempat duduk yang tidak terlalu ramai. Cukup nyaman untuk kami mengobrol. Kami memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu kami mulai mengobrol ngalor ngidul. Mulai dari tema pekerjaan, politik, gosip kantor, sampai hal-hal eksplisit.

“Wah ga nyangka ya Pak Budi keliatannya alim ternyata suka main Perempuan juga” kataku menanggapi gosip kantor yang beredar.

“Namanya juga laki Mbak, kalau ga suka cewek ya banci namanya hahaha.” Jawab Joko ngasal.

Setelah makanan dan minuman kami tiba, kami pun melanjutkan ngobrol sambil makan.

“Kamu tadi bilang jarang disentuh wanita, jadi kurang tersalurkan. Emangnya ada wanita yang biasa kasih kamu sentuhan ?” tanyaku sambil menahan tawa sendiri.

“Ya ada dong Mbak, jelek-jelek gini aku udah nikah lho Mbak, cuma istriku di kampung, beres kuliah dan dapat kerja langsung aku nikah” jelasnya dengan logat lucu.

“Cepet banget nikahnya, kepergok hansip ya waktu pacaran hahahah” balasku meledek.

“Bukan Mbak, saya nya gampang sangean, makanya daripada kebobolan, mending dinikahin aja Mbak.” Ucapnya seperti bercanda, tapi sepertinya dia jujur.

“Hahaha masa nikah gara-gara sangean doang sih” aku tertawa mendengar cerita Joko yang lucu.

“Eh nggak percaya Mbak nya. Ini saya lagi ngaceng lho Mbak duduk sebelah sama “kerabat” kayak Mbak” ujarnya

“Kerabat apaan sih Joko ? Saudara ?” tanyaku menyelidik.

“Kerudung rapi boba padat Mbak” jawabnya sambil tersenyum genit. “Mbak pake hijab nutup rambut sampai kaki, tapi itu bemper depan sama belakang masih offset aja hehehe, bikin susah fokus orang yang liat”.

“Dasar cabul kamu, liat gitu aja langsung ngaceng hehehe” balasku sambil mencubit tangannya.

Aku tidak marah dengan candaan cabul dari Joko, aku malah menikmatinya, secara tidak langsung Joko memuji keindahan tubuhku, ada kebanggaan terbersit di benak ku. Aku melirik ke selangkangannya, mengecek apa benar yang dia bilang kalau sekarang ia lagi ngaceng dibalik celana kain formal yang dikenakan.

“Hayooo liatin apa Mbak. Penasaran ya beneran ngaceng apa nggak “. Aku terkejut mendengar apa yang diucapkan Joko, apa dia memperhatikan kalau aku melirik ke arah selangkangannya.

“Kalau mau pegang juga boleh Mbak hehehe” tawanya mesum.

“Apaan sih, gitu aja kegeeran, pulang yuk udah beres kan makan nya” jawabku tak mau melanjutkan obrolan itu. Setelah membayar kami pun kembali berboncengan menuju kantor. Kali ini tanganku otomatis melingkar di pinggangnya untuk berpegangan, karena dengan rok span panjang ini mau tak mau aku harus duduk menyamping di motor, dadaku sedikit menempel punggungnya Joko. Anggaplah bonus untuk Joko.

“Beneran nih Mbak ga mau megang, biar ga penasaran Mbak nya” senyum cabul kembali tersungging di bibirnya.

“Apaan sih,” jawabku singkat sambil meninggalkannya di parkiran kantor, tanpa sadar aku tersenyum geli sendiri mendengarnya.

Hasrat ini, gairah ini, akhirnya hadir kembali mengetuk dalam diri. Rasa yang sudah cukup lama hilang. Terkubur kekesalan, kekecewaan, dan kebencian pada sosok bernama Bagas, yang dulu mampu membuatku bertekuk lutut di hadapannya, kini ia tak lebih dari seorang pecundang


Part 3 Semakin Jauh

POV Bagas

Istriku kini makin jarang ada di rumah. Jam 7 pagi dia sudah berangkat ke kantor, lewat jam 7 malam baru pulang ke rumah. Alasannya banyak kerjaan di kantor, macet, ada kegiatan kantor dan banyak lagi hal yang dia sampaikan. Kami makin jarang bicara satu sama lain, makin asing, makin jauh. Tapi ada positifnya, kami jadi jarang berantem. Hilda terlihat senang dan Bahagia setelah bekerja.

Hubungan kami memang sudah tidak harmonis semenjak kebangkrutanku. Biasanya setiap hari kami selalu mengobrol berbagai hal, saling mengapresiasi, saling menvalidasi, saling bertukar cerita tentang hari masing-masing. Kini, hanya basa-basi semata yang keluar dari lisan kami, kata-kata pendek layaknya tegur sapa.

Kehidupan seks kami pun terdampak cukup signifikan. Biasanya dalam sehari pasti ada aktifitas seks yang kami lakukan, mulai dari kissing sampai penetrasi hingga orgasme. Bahkan di masa datang bulannya Hilda, kami tetap berhubungan seks dengan variasi lain seperti Blow Job, Hand Job, atau Boob Job, apapun dilakukan supaya terpenuhi hasrat kami. Tapi kini entah kemana hilangnya libido ku. Aku merasa jarang ereksi, bahkan Ketika melihat istriku telanjang pun, penisku anteng-anteng saja meringkuk dengan tenang. Padahal tubuh istriku tidak kalah dengan selebgram seksi yang berseliweran di FYP IG maupun Tiktok.

Ketika aku menagih jatah berhubungan seks, istriku tetap melayani tapi tanpa gairah, seolah malas, ekspresi muaknya dengan jelas terlihat. Aku pun begitu, yang ada di kepalaku hanya bagaimana secepatnya orgasme, tak lagi mempedulikan istriku menikmatinya atau tidak.

Tak jarang aku lebih memilih menonton film bokep dan bermasturbasi daripada minta jatah ke istriku, setidaknya tidak perlu drama jika onani. Terkadang aku memergoki istriku pun bermasturbasi di kamar mandi, kadang setelah berhubungan dengan ku, dia lanjutkan di kamar mandi, menstimulasi area sensitifnya sendir dengan menggunakan jari atau dildo. Anehnya, walau aku melihat itu, tidak ada keinginanku untuk menggantikan jari-jemarinya atau dildo yang Hilda pakai dengan kontolku. Aku hanya melihatnya, dan berlalu begitu saja.

Hal itu semakin parah ketika istriku bekerja. Sebelum Hilda bekerja kami masih berhubungan seks setidaknya sebulan sekali, tapi kini aku lupa kapan terakhir kami berhubungan seks. Bahkan sekarang Hilda mulai berani menolak ajakanku dengan alasan capek, dan lain-lain. Aku yang memang sudah malas dengan drama, lebih memilih membiarkannya dan melampiaskannya dengan bokep dan onani.

Akhir-akhir ini Hilda terlihat semakin glowing, aura kecantikannya semakin terpancar, pakaiannya semakin hot, walaupun tidak vulgar. Terkadang ia pulang dengan ekspresi lelah tapi puas dan lega. Sepertinya sesuatu dalam dirinya telah terpenuhi dan memberikan kepuasan luar biasa bagi Hilda. Dia semakin jarang ada di rumah, bahkan weekend pun terkadang ada acara di kantornya. Kuperhatikan kini Hilda sering bermain handphone nya sambil tersenyum sendiri, terkadang sampai menggigit bibirnya sendiri sepertinya kagum dan penasaran dengan apa yang dilihatnya. Beberapa kali aku memergokinya sedang menelepon atau video call dengan seseorang dengan sembunyi-sembunyi, terdengar suara Hilda begitu lembut dan manja. Tak begitu jelas apa yang dibicarakan, tapi atmosfirnya sangat mencurigakan.

Tak bisa dipungkiri, aku mulai curiga kalau Hilda berselingkuh. Untuk membuktikan itu, pada suatu hari aku mengikutinya ke kantor tanpa sepengetahuan Hilda. Kuikuti dari mulai awal dia berangkat pagi, kutunggu di depan gedung kantornya sambil sesekali berusaha melongok ke dalam kantornya, untuk mengetahui apa saja yang Hilda lakukan disana. Jika ia keluar kantor untuk makan siang atau apapun, akupun membuntutinya. Sudah 3 hari aku membuntutinya, tapi tak ada hasil apapun. Aku hampir menyerah, hingga di hari ke 4, mulai ada titik terang.

Kulihat istriku keluar dari kantor sekitar jam 10. Dia naik mobil taksi online dengan seorang pria. Sekilas perawakannya memang gagah, keliatannya masih muda, dibawah istriku usianya, sehingga aku pikir ini bukan atasannya. Mereka berdua masuk mobil taksi online dan duduk bersama di belakang, sambil membawa tas dan beberapa dokumen. Mungkin hanya keluar untuk urusan kantor pikirku. Aku ikuti kemana mobil itu pergi, dan betul saja ternyata mobil itu berhenti di sebuah kantor. Aku tetap menunggu istriku disana. Setelah sekitar satu jam lebih, mereka keluar dari kantor tersebut dan pergi lagi dengan taksi online lain, tapi ternyata mobil itu tidak menuju kantor istriku melainkan ke sebuah area pemukiman.

Disini aku mulai curiga, mau kemana sebenarnya mereka. Sekilas memang aku perhatikan gestur istri dan pria ini keliatan sangat akrab, cara bicara, senyum, tatapan mata, seperti pasangan kekasih yang lagi romantis-romantisnya. Berhentilah taksi online itu di sebuah kost-kostan yang cukup bagus. Bangunannya ada 3 tingkat dengan deretan kamar-kamar dengan tembok penyekat hingga balkon di setiap kamarnya. Di depannya ada pagar besi yang selalu tertutup dan dijaga. Sehingga hanya penghuni saja yang bisa masuk, tamu pun hanya bisa masuk kalau bersama penghuni kost.

Kulihat mereka berdua turun lalu laki-laki itu menyapa penjaga gerbang. Penjaga gerbang tersebut membukakan pagar sambil menyambut dengan senyum ramah. Sekilas kulihat penjaga gerbang itu melirik ke istriku dan tersenyum, sepertinya aku tahu apa yang ada di pikirannya. Istriku saat itu memakai rok span warna biru muda panjang yang membentuk lekuk bokongnya, atasan blazernya dibuka dan hanya memakai kemeja warna putih yang lagi-lagi tidak dapat menutup lekukan payudara istriku. Dengan jilbab yang dilingkarkan di leher tentunya area payudara terekspos sempurna. Belum lagi kecantikan dan senyum dengan aura binal yang kuat, tentunya tidak akan ada laki-laki yang tidak tergoda.

Setelah mereka berdua masuk, tentunya aku sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi. Pikiranku berkecamuk, mau apa istriku masuk ke kost an ini bersama seorang pria. Tentu saja hal ini membuat kecurigaan mereka selingkuh makin kuat. Sungguh aneh, amarah dan gairah seolah bercampur jadi satu. Ingin rasanya langsung kulabrak kost an itu, kuobrak abrik sampai kutemukan istriku, kuhajar pria yang berani membawa istriku masuk ke kamar kost nya. Tapi di sisi lain ada rasa penasaran atas apa yang terjadi di kamar kost itu, apa yang Hilda lakukan dengan pria itu. Khayalanku liar mengembara, kubayangkan istriku dijamah oleh pria itu, dilucuti seluruh pakaiannya, dinikmati setiap inchi tubuhnya. Tubuh yang seharusnya hanya jadi milikku, tapi kini kusangsikan hal tersebut. Ada rangsangan timbul dari diri, rangsangan yang timbul dari kecemburuan, kekecewaaan, dan rasa penasaran yang tak terbendung.

Aku menunggu diluar gerbang sambil tetap memperhatikan, ternyata tidak terasa sudah hampir 2 jam lebih mereka di dalam. Setelah keluar, mereka naik taksi online kembali dan kali ini benar-benar menuju kantor. Ketika keluar dari kost-kost an tersebut wajah mereka sepertinya bahagia sekali, wajah yang memancarkan kelegaan dan kepuasan, walau sedikit terlihat ada kelelahan. Aku pulang dengan perasaan campur aduk. Marah, kecewa, sedih, penasaran, cemburu, dll. Dengan emosi tertahan aku berusaha berpikir jernih, bagaimana caranya untuk mendapatkan bukti nyata bahwa mereka memang berselingkuh. Muncul lah sebuah ide gila, tidak mudah, tapi sepertinya bisa dilakukan.


Part 4 Cinta atau Hasrat

POV Hilda

Pihak manajemen terkesan dengan kinerjaku. Sebuah proyek besar dipercayakan padaku. Supply alat-alat industry beserta material pendukung dengan nilai diatas 50 M. Aku dan Joko dipercaya untuk menghandle proyek ini secara eksklusif, otomatis semakin sering dan intens kami berinteraksi. Walaupun Joko lebih lama di perusahaan ini, aku lah yang ditunjuk sebagao team leader nya, karena aku jauh lebih berpengalaman di bidang ini daripada Joko.

Serasa mendapat semangat baru, aku benar-benar mencurahkan energi ku untuk proyek ini. Menyusun proposal, menyiapkan company profile, meeting sana sini, nego ini nego itu, semua kulakukan dengan penuh fokus dan semangat. Joko selalu ada di sisi ku, tanpa banyak tanya dan intervensi, ia jalankan setiap arahanku. Ia menjadi teman diskusi yang baik ketika ada sesuatu yang perlu dibicarakan. Aku benar-benar merasa disupport olehnya, lembur malam, lembur weekend, meeting dengan klien, perjalanan luar kota, dia selalu mendampingiku, bahkan ketika aku tantrum karena ada kendala yang muncul, dia bersedia ikut mendengarkan dan ikut menyelesaikan, walaupun kadang aku malah melampiaskan stress ku dengan memarahinya.

Rasa nyaman tumbuh makin kuat, Joko yang selalu hadir di sisi ku, kini bukanlah sekedar rekan kerja, tapi support system ku. Gosip pun menyebar bahwa aku dan Joko punya hubungan khusus.

“Hilda lo beneran pacaran sama Joko ?” ucap Nela, salah satu rekan kerjaku di perusahaan ini.

“Apaan sih pacaran-pacaran kayak anak SMA aja” jawabku agak risih.

“Eh beneran, gue nanya ini.” selidik Nela semakin menekan.

“Nggak ada apa-apa kok, cuma karena target proyek aja jadi sering banget barengan. Lagian kan gue juga udah punya suami.” Balasku menjelaskan.

“Beb disini 90% udah pada menikah, beberapa udah punya anak lagi, tapi lu liat sendiri kan, affair antar karyawan sini bukan hal yang tabu, buat variasi aja, menambah gairah hidup, biar ga monoton dan membosankan. Itung-itung penambah motivasi kerja. Hahahaha” jelas Nela singkat, padat, namun menegaskan budaya perusahaan ini yang open minded dalam urusan personal relationship.

“Asal jangan baper, dan tetep professional aja” lanjut Nela.

“Kenapa Joko sih Beb ? Lo itu cewek paling hot di kantor ini, cowok-cowok ngantri lho pengen ngedeketin lo.” tanya Nela, ingin tahu alasanku dekat dengan Joko.

“Emang Joko kenapa ? Jelek ? Nggak kan ?” balasku. Nela terdiam tidak menjawab, sepertinya dia mengunggu lanjutan jawabanku.

“Iya sih, banyak yang lebih Ok dari Joko, tapi gue bisa dibilang tertarik dengan kejujuran Joko. Dia tampil apa adanya, tidak berusaha tebar pesona, berusaha memikat targetnya.” Lanjutku.

“Yang paling penting, dia lebih fokus pada kita ketika ada dekat dia, daripada dirinya ketika berada di sekitar kita. Ngerti nggak ?” tanyaku memastikan.

“Apaan sih gue ga ngerti. Kayak psikolog aja lo. Kalau kata gue mah simple, cowok itu pasti tebar pesona dengan ketampanannya, uangnya, dll. Kalau lo suka ya lanjut aja, kalau nggak ya udah deh, tinggal aja.” Jawab Nela dengan ringan sambil mengedipkan matanya sebelah. Seolah memberiku restu nya agar melanjutkan hubunganku dengan Joko.

“Kalau lo ada maen sama siapa ?” balasku bercanda.

“Ada deh” jawab Nela singkat sambil tertawa.

Keakrabanku dengan Joko makin intim, mulai dari godaan verbal, chattingan explisit, sentuhan fisik, semuanya meningkat secara signifikan dari hari ke hari. Kadang dia yang memulai, kadang aku yang memancing. Lebih seringnya aku memang yang memancingnya, sebagai pelampiasan kekosonganku di rumah. Hebatnya Joko, dia selalu tahu batasnya. Tidak pernah merendahkanku, atau membuatku tidak nyaman. Sopan santun selalu ia junjung tinggi walaupun dalam candaan paling vulgar sekalipun. Aku benar-benar merasa di”ratu”kan olehnya. Kadang aku yang gemas sendiri sengaja menggodanya, dengan PAP seksi atau apapun. Ekspresinya yang kocak tak pernah gagal menghiburku. Banyak kesempatan aku habiskan berdua dengan Joko. Karena aku merasa aman dan nyaman disampingnya, mengingatkanku pada pujaan hatiku yang kini hilang.

Tender proyek besar alat-alat industry dan material pendukung senilai lebih dari 50 M, berhasil aku dapatkan. Manajemen kantor mengapresiasi kinerjaku dan tim. Malam itu kami akan merayakannya di sebuah tempat hiburan malam yang cukup terkenal di kotaku. Segala jenis makanan, minuman, mulai dari yang halal hingga non halal tersedia semua dengan diiringi music dengan beat party mengalun mengiringi. Maklum, karena pemilik perusahaan ini seorang expatriate, caranya bersenang-senang mungkin berbeda dengan budaya Indonesia.

“Hilda I know that you are moslem, but this is for you and your team, I couldn’t think any other way to celebrate your success, so just for tonight please enjoy all of this” kata bosku yang bernama George, pria bule asal Amerika, yang tidak hanya jago berbisnis, tapi juga minum dan wanita.

“It’s fine George, I know how to have fun, thank you for your appreciation.” Balasku sambil berterimakasih padanya.

Aku memang berhijab, tapi jujur, banyak juga dosa yang kukerjakan dengan dalih kenikmatan dunia. Jadi tak masalah jika aku minum alcohol malam ini.

Malam semakin larut, alcohol sudah mengalir di darah kami, tubuh kami bergerak sesuai dentuman music yang DJ mainkan. Kami para wanita berkumpul di tengah, berjoget dengan liar, meliukkan tubuh kami memamerkan keseksian kami, para pria membentuk lingkaran mengelilingi kami, seolah membuat barikade agar tidak ada orang lain diluar circle kami yang masuk.

“Let’s protect our lady, so they can enjoy this night freely, hahahaha” ucap George yang juga sudah mulai tipsy.

Sebenarnya para pria juga mendapatkan hiburan langsung dengan mengelilingi kami, mata mereka dimanjakan dengan gerakan-gerakan erotis kami yang sudah setengah sadar. Tak jarang tangan-tangan genit mencuri remas tubuh kami yang bergerak liar tak beraturan. Joko pun salah satunya, ia terlihat menikmati sisi lain dari team leader nya yang biasa ia lihat di kantor, penuh dengan kewibawaan dan ketegasan, kini aku seperti musang betina yang birahi memasuki musim kawin, berlenggak lenggok, sengaja menggesekkan tubuhku pada tubuhnya dan juga pria lainnya. Tapi Joko tetap menjadi sosok yang membuatku tertarik, berbeda dengan pria lain yang berusaha mencuri kesempatan, dia tetap menjadi Joko yang santun walau dalam kondisi liar malam itu. Seolah menjagaku dari jamahan pria lain juga dirinya sendiri, membiarkanku bersenang-senang tapi tetap dalam batas yang aman bagi diriku. Dalam kondisiku yang setengah sadar aku masih bisa menangkap gesture tersebut dari Joko.

Kutarik Joko untuk mengikutiku ke sebuah meja kosong di area pojokan ruangan itu. Aku duduk berdua dengannya. Aku menyeruput tequila ku, sementara Joko meminum bir nya. Sejurus kemudian, tanpa kusadari bibirku mendarat di pipinya. Joko diam membeku, menoleh kan wajahnya ke arahku dengan lambat, mulutnya kaku tidak berkata apapun. Suatu dorongan besar muncul di diriku, sedetik kemudian kucumbu Joko dengan penuh gairah. Tanganku memegang pipi dan kepalanya, memastikannya tidak kemana-mana ketika aku melumat bibir dan lidahnya di balik riuh lantunan lagu DJ dan redup remangnya cahaya di tempat itu. Tiba-tiba sepasang tangan memegang pundakku, mendorongnya pelan namun bertenaga, menghentikan cumbuanku.

“Mbak lagi mabok ya ?” tanya Joko dengan wajah kebingungan. Marah, kecewa, kentang, sange, semua bertumpuk di kepalaku, reflek aku menamparnya, lalu beranjak pergi dari meja itu kembali pada kumpulan wanita yang masih berjoget seperti musang betina birahi yang sedang menarik perhatian para pejantan. Nela mengedipkan mata padaku, ketika aku menghampirinya, seolah memberi kode atas apa yang baru saja terjadi. Aku sedang tak ingin membahasnya sekarang. Aku cuma ingin having fun malam ini.

Waktu menunjukkan pukul 23:00 malam, suara George memecah keriuhan kami. “I know the night was still young, but I have a company to run and mouths to feed. Sorry guys the party should end now, don’t worry there will be another party in the future, as appreciation for your amazing work”. Seruan George menutup pesta malam ini, banyak yang kecewa karena merasa “tanggung”, tapi ini weekdays, tak heran George menghentikannya di level “tanggung”. Kami akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Mungkin ada beberapa orang yang sepertinya “melanjutkan” kesenangan malam ini. Terlihat beberapa orang “berpasangan” menuju kendaraan mereka, padahal mereka bukan “pasangan”. Sementara aku berjalan dengan sedikit tipsy menuju mobilku.

“Saya yang nyetir ya Mbak.” Suara Joko meminta kunci mobilku. Tak banyak bicara aku berikan padanya, kepalaku memang terasa agak melayang saat itu, lebih baik aku tidak menyetir sendiri. Di jalan aku dan Joko tidak banyak bicara, hanya komunikasi terkait arah. Joko belum tahu arah rumahku. Joko berhenti sekitar 100 meter dari rumahku, ia turun dan menyerahkan kemudi padaku.

“Disini aja ya Mbak, ga enak kalau di depan rumah, takutnya suami Mbak lihat” mendengar ucapan Joko entah kenapa mood ku makin jelek. Mabuk yang “tanggung”, gairah yang tak terpenuhi, ditambah setan pemalas yang bergentayangan berwujud suamiku yang baru saja disebutkan Joko. Tanpa menjawab kututup pintu mobil dan melaju ke arah rumah.

Waktu menunjukkan pukul 23:45, lampu sudah dimatikan, hanya beberapa lampu yang masih menyala. Kulihat kamar suamiku sudah gelap, sepertinya dia sudah tertidur. Setelah aku bekerja dan sering pulang terlambat. Bagas tidur di kamar lain, ia tidak mau terganggu jika aku pulang malam dan membuatnya terbangun. Tak masalah bagiku, karena tidur sekamar dan seranjang pun ia tak memiliki fungsi apapun. Aku segera mandi dan membersihkan diri, perlahan mabuk ku hilang, setelah tadi sebelum mandi kuminum segelas air hangat dengan perasan lemon, ditambah hangatnya air yang membasuh tubuhku, merilexkan setiap otot dan saraf.

Tapi ada satu rasa yang belum hilang. Sange. Aku mengingat cumbuanku dengan Joko yang singkat namun cukup panas. Hal itu meninggalkan rangsangan yang tak mau pergi. Dengan tubuh masih basah dan telanjang aku duduk di toilet, membuka pangkal pahaku dan jemariku bermain di area klitorisku, dengan bantuan lotion agar pergerakan jariku lebih licin, kustimulasi vaginaku tepat di area sensitifnya. Kuatur frekuensi dan intensitasnya, supaya efeknya lebih dahsyat. Tangan kiriku tidak tinggal diam, payudaraku tak lepas dari cengkramannya, putingnya dipilin, menambah sensasi geli yang penuh rangsangan. Kubayangkan bagaimana jika cumbuan itu terus berlanjut. Joko akan membaringkanku di sofa meja itu, tangannya mulai bergerilya meraba dan menjamah tubuhku, mulai dari payudara, turun ke perut pinggang, dan bokongku meremas nya dengan gemas karena bentuknya menantang, bergoyang-goyang menggoda setiap aku berjalan, atau mungkin tangannya betah di dadaku. Payudaraku merupakan squishy alami berukuran jumbo, tercipta khusus untuk jadi mainan lelaki dewasa. Cumbuan Joko turun ke leher, walaupun masih tertutup hijab, rangsangannya tetap terasa, menyetrum saraf leherku. Jika kami lebih mabuk lagi, bukan tak mungkin Joko akan menarik hijabku, membuka kancing kemejaku, supaya dia bisa mengakses leher dan payudaraku dengan lebih bebas. Dengan nafsu yang sudah diubun-ubun bukan tidak mungkin kalau Joko akan menaikkan rok ku ke paha dan menarik celana dalam ku agar bisa mempenetrasi batang kontol kebanggaannya ke lubang kewanitaanku. Lagipula malam itu riuh dengan suara music DJ, lampu pun redup remang tak memberikan penerangan yang jelas. Suara desahan ku, tubuh kami yang bergumul. Sepertinya tidak aka nada yang tahu. Atau mungkin kami memang ingin terlihat, ingin dilihat, menambah sensasi yang tidak biasa. Semua bayangan khayalan erotis itu membuat nafsuku semakin tinggi, rangsangan lebih intens aku berikan pada klitoris, vagina dan payudaraku. Orgasme sudah sampai ujung tanduk, lenguhan dan desahan Panjang keluar tak tertahan dari mulutku. Untung kamarku dan Bagas terpisah. Dia tidak tahu apa yang aku lakukan malam ini.

Sungguh menyedihkan, seorang istri melampiaskan hasratnya dengan jarinya sendiri, sementara suaminya mendengkur setelah lelah seharian bermalas-malasan. Sebelum kami berpisah kamar, beberapa kali aku pun bermasturbasi di kamar mandi, sengaja tidak kukunci, sengaja kukeraskan suaraku agar terdengar jelas. Aku yakin Bagas mendengarnya, namun dia acuh, aku merasa sakit hati, hanya dianggap kucing birahi yang sedang menuntaskan hasratnya sendiri, tidak membuatnya tergoda, membantuku melampiaskan birahi ini.

POV Joko

“Go*lox….G*bl*k” makiku pada diri sendiri setelah sampai di kost ku.

“Anjing bego banget, itu bidadari udah sampe nyipok lo, malah diberentiin” aku uring-uringan sendiri menyadari kebodohan yang sudah dilakukan.

Aku sendiri tidak bisa menjelaskan respon ku malam ini pada Mbak Hilda. Aku bukan cowok alim yang menjauhi kemaksiatan, toh aku pun menikmatinya beberapa kali dengan beberapa Wanita. Sosok Mbak Hilda selalu membuat nafsuku naik hingga ubun-ubun. Tapi kenapa pas dikasih malah nolak, dasar ******.

Apa mungkin karena aku sudah menikah dengan Sari, gadis pertama yang aku perawani, Wanita yang benar-benar aku cintai, membuatku tak lagi tertarik pada Wanita lain. Ah itu tidak mungkin, buktinya aku selalu sange setiap melihat cewek-cewek di kantor, dan berakhir dengan onani sambil VCS an dengan istriku atau nonton bokep Ketika istriku tidak mood.

Atau mungkin aku terlalu mengaguminya, terlalu terpesona padanya, Mbak Hilda Bagai Dewi Sensualitas di mata ku, tak pantas jika aku berharap bisa merasakan hangat raganya. Bayangan Hilda tak bisa hilang dari kepalaku, Aku tak bisa tidur. Aku putuskan untuk onani malam ini. Kucoba menelepon istriku untuk VCS an, tapi aku sadar ini sudah lewat tengah malam. Dia pasti sudah tidur. Kubuka situs-situs porno, setengah jam sudah aku berselancar di situs porno tersebut, hingga ku bosan sendiri, tak ada yang menarik. Nafsuku masih belum tersalurkan. Akhirnya muncul ide untuk membuka IG Mbak Hilda, melihat postingan-postingan dirinya menampakkan keindahan lekuk tubuhnya, meng-highlight kecantikan paras nya dengan senyum menggoda. Baru beberapa scroll saja, kontolku mulai ereksi dengan kencang, Kuurut perlahan dari pangkal ke ujungnya kontol. Mataku terpejam mengingat kembali apa yang baru terjadi dengan Mbak Hilda. Jika tidak dihentikan, mungkin aku sudah berada di surga kenikmatan yang diberikan Mbak Hilda. Cukup lama aku beronani, tidak seperti biasanya. Sepertinya efek rangsangan dari Mbak Hilda memang luar biasa. Akhirnya orgasme yang kutunggu sampai juga, luapan lava putih keluar dari mulut penisku. Aku jauh lebih tenang, sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak


Part 5 Dosa pertama (bagian 1)

Memang luar biasa profesionalisme pekerja di perusahaan ini. Setelah party tadi malam, hari ini semuanya tetap masuk kantor, walaupun agak siang. Di perusahaan ini memang tidak memberlakukan jam kerja. Semua orang harus bekerja 8 jam sehari, waktu mulai dan akhir ditentukan masing-masing orang. Target kerja pun jelas, jadi mau datang ke kantor atau tidak, masuk jam berapa pulang jam berapa semuanya fleksibel asalkan target kerja terpenuhi.

Joko yang sudah sampai terlebih dahulu, menyapa Hilda dengan ramah, tidak mengisyaratkan bahwa tadi malam sesuatu terjadi diantara mereka. Hilda yang sedikit canggung membalas sapaan Joko dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Begitu juga yang lainnya, tidak ada yang menjadikan hal yang terjadi tadi malam sebagai sesuatu yang perlu dibahas lagi. “What happened last night, stays in that night”. Kehidupan pribadi dan professional benar-benar dijaga agar tidak mengganggu satu sama lain.

Di minggu depannya, George memangil Hilda ke ruangannya. Sepertinya ada yang perlu dibahas.

“Mr Chen invite us at grand launching their project this week in Bali. I want to go there actually, but I have to go back to US, there will be art show in my kids school. My wife will kill me, if I don’t come home.” Walaupun terlihat seperti bule yang hanya bisa mabuk-mabukan dan main perempuan, rupanya George seorang family Man sejati.

“Ask someone to come with you, I’ll give you 3 days business trip to Bali, fully covered.” Kata George pada Hilda, memberi arahan. Hilda paham dengan arahan bos bulenya itu. Dia kembali duduk di mejanya. Di benaknya ia tahu siapa yang akan dia ajak ke Bali, bukan teman Wanita yang bisa have fun bareng. Tapi seseorang yang sudah lama Hilda incar, mangsa yang harus dia dapatkan. Matanya menatap tajam pada seseorang, senyum tipis tersungging di bibirnya, mengisyaratkan scenario yang telah disusun rapi di kepalanya. Joko tidak menyadari kalau Hilda sedang menatapnya dengan tajam. Dia tetap sibuk dengan aktifitasnya saat ini, hingga suara lembut namun tegas dari seorang wanita yang cukup familiar terdengar di telinga memanggil namanya.

“Joko, tolong kesini sebentar.” Ucap Hilda

Mas-mas Jawa bernama Joko ini pun segera beranjak menuju pemilik suara lembut itu. Senyum merekah di bibir Joko seraya menemui sosok dewi pujaan hati nya, yang sering menjadi khayalan pelampiasan hasrat ketika kesepian melanda. Hilda membalas senyuman Joko dengan senyuman maut yang lebih dahsyat. Jika senyuman Joko adalah cerminan dari hasrat nya, maka senyuman Hilda, bagai Medusa, mampu membatukan siapapun yang melihatnya. Mungkin itu alasan kenapa Joko malah kaku membatu ketika Hilda mencumbunya.

“Joko, kata bos kita disuruh ke Bali besok, ada grand launching proyeknya Mr. Chen. Kamu pake setelan jas yang bagus ya ? Jangan sampai kita keliatan udik disana. Bakal banyak orang kaya dan pejabat disana.” Jelas Hilda pada Joko yang memang jarang memperhatikan apa yang dia pakai.

“Waduuh Mbak, kalau jas doang sih ada, dibeliin Mbak ku waktu nikahan dulu, tapi kayaknya ga bagus-bagus banget juga Mbak”. Jawab Joko

“Coba liat jasnya kayak gimana ?” Hilda mulai cemas dengan penampilan rekan kerjanya ini.

“Yah ini mah jas kondangan, diketawain nanti kamu. Malah bagusan seragam EO nya nanti.”

“Ya udah nanti siang kita ke Mall, beli jas buat kamu, biar keliatan lebih elegan gitu lho, gak kentara banget Mas-mas Jawa nya. Hahaha” canda Hilda pada Joko, walaupun terdengar rasis, tapi Joko paham Hilda hanya bercanda. Intinya Hilda ingin Joko terlihat elegan di acara itu.

Sekalian makan siang mereka berdua ke sebuah Mall ternama di kota Jakarta, tempat brand-brand ternama berkumpul. Setelah beres makan siang yang diisi dengan candaan-candaan Joko yang menggelitik. Hilda membawa Joko ke sebuah toko fashion ternama. Entah tidak sengaja atau sengaja, Hilda menggandeng tangan Joko, jari-jari lembutnya mengenggam erat tangan Joko. Ada kebanggaan di benak Joko, bisa jalan bergandengan tangan dengan bidadari secantik Hilda. Banyak mata tertuju pada mereka, terkhusus Hilda yang memang selalu jadi pusat perhatian dimanapun ia berada. Aura kecantikan membuatnya sulit berbaur dengan lingkungan sekitar.

“Mbak tolong make over temen saya ini. Kasih setelan jas yang berkelas dan elegan biar ga malu-maluin. Hehehe” ujar Hilda pada seorang Wanita cantik pegawai toko fashion ternama itu. Sepertinya Hilda memang langganan di toko ini, terlihat mereka begitu akrab mengobrol.

“Sekalian rambutnya dicukur aja ya biar lebih keren.” Saran Mbak pegawai toko.

“Boleh Mbak, biar ga keliatan kumel. Hahaha” ujar Hilda.

Joko bingung dengan Hilda. Sering sekali dia meledek penampilan Joko, tapi selalu memberi kode keras padanya. Sampai terakhir cipokan. Apa selera Hilda ini memang cowok dengan wajah kampung ya, exotis kalau kata orang bule mah.

“Sepatunya juga ya Mbak, biar matching aja gitu, dari ujung kepala sampai ujung kaki”. Tawaran dari Mbak Pegawai Toko memanfaatkan momen untuk bisa melakukan penjualan lebih banyak.

“Boleh …. Boleh” Jawab Hilda singkat tanda setuju.

Joko menghela napas, sepertinya tabungannya akan habis dalam waktu singkat. Setelah dicukur, lalu fitting setelan jas, dan sepatu, Hilda terlihat puas dengan hasilnya. Karisma Joko berubah dari Mas-mas Jawa ke cowok Asia elegan dengan kulit exotic sawo matang gelap. Tentunya tidak akan ada lagi yang memandang Joko sebelah mata dengan penampilan seperti ini.

Waktunya bayar-bayar, Joko terlihat gemetar sambil menyerahkan kartu debit nya, seolah tak percaya bahwa ia menghabiskan diatas 10 juta untuk semua ini. Beruntung tawaran jam tangan bisa ditolak Joko, karena ia ingat punya jam tangan klasik pemberian ayahnya, yang memang cocok dengan setelan jas nya. Hilda hanya tertawa kecil, geli melihat ekspresi Joko yang beli pakaian seharga motor.

Setelah cipika cipiki dengan Mbak pegawai toko fashion itu, Hilda pun berpamitan dan kembali menggandeng Joko keluar toko. Sekarang penampilan Joko sedikit serasi dengan Hilda. Tidak lagi seperti Nyonya dan Supir nya. Di lobby Mall Hilda melepaskan gandengan tangannya, menatap Joko dengan tajam, memastikan agar ucapannya diperhatikan.

“Aku langsung pulang dari sini, kamu juga pulang aja, ga usah ke kantor lagi. Besok jangan lupa persiapkan semuanya, jangan terlambat. Laptop dibawa juga, walaupun ini grand launching acaranya, siapa tahu kita perlu. Kita bakal 3 hari disana, pergi Selasa pulang Kamis, Jumat nya kita istirahat di rumah, ra perlu ke kantor. Bawa juga pakaian Santai buat 3 hari disana. Jangan baju asal-asalan ya, kita ga akan diem di kamar terus, bakal ada jalan-jalan juga. Ngapain ke Bali kalau cuma di kamar doang.” Joko diam mendengar penjelasan dari Hilda, entah fokus atau terhipnotis.

Setelah wejangan Panjang lebar ke Joko, Hilda berpamitan, ia melambaikan tangan, tersenyum seraya berucap “Dah…” lembut pada Joko. Berpaling meninggalkan Joko menuju taksi berwarna biru yang standby di depan lobby Mall. Goyangan pinggul Hilda terlihat begitu indah dari belakang. Membuat gemas siapapun yang melihatnya. Joko memesan ojek online dari aplikasi untuk pulang ke kost, dengan membawa tentengan tas belanja branded. Dia tak mau bayar mahal lagi, haya untuk pulang ke kost.

Khayalannya mulai menerawang ke alam erotisme, Bali merupakan surga dunia, bikini merupakan pakaian lumrah disana. Payudara, paha, bokong, sepertinya jadi pemandangan indah disana. Semua insan bebas mengekspresikan diri, hal yang tidak bisa dilakukan di daerah lain. Joko membayangkan bagaimana jika dia melihat Mbak Hilda yang dia kagumi dan segani menggunakan bikini di hadapannya, dia senyum-senyum mesum sendiri memikirkannya, sambil packing untuk keperluan besok.

Jika di kost Joko, khayalan mulai menerawang tak terkendali. Berbeda dengan Hilda, rumahnya yang kelam diliputi atmosfir sepi dan sunyi, taka da gairah yang hidup di rumah itu.

“Mas besok sampe Kamis aku ada tugas ke Bali 3 hari.” Ucap Hilda meminta izin dari suaminya Bagas.

“Ke Bali ngapain ? Liburan ? Mana ada ke Bali kerja, akal-akalan aja.” Balas Bagas ketus, tajam menyebalkan melukai hati.

“Nih Mas email undangan resmi nya kalau ga percaya, aku kirim ke WA Mas. Ngapain juga aku bohong untuk urusan gini.” Balas Hilda kesal menahan amarahnya.

“Halah terserah, jangan berani macam-macam ya kamu disana.” Ujar Bagas tidak tertarik membahas lebih lanjut, email yang dikirimkan istrinya ke WA pun tidak dibacanya, ia tidak peduli. Ia melanjutkan permainan game nya yang sempat terhenti karena obrolan Hilda. Hilda tidak membalas, ia pergi ke kamar, berniat untuk packing keperluan besok, ia menahan marah, muak, menyesal kenapa harus meminta izin dari nya.

Sambil packing segala keperluan, mulai dari gaun cantik untuk acara utama, beberapa pakaian santai, tak lupa pakaian renang pun ia siapkan. Sama seperti Joko, rupanya khayalan Hilda pun telah melampaui raganya, tiba duluan di Bali. Tersenyum menatap pakaian renang two pieces di tangannya. Baju renang yang hanya dipakai beberapa kali di rumahnya yang memang ada kolam renang, dan di private pool.

“Apa bawa yang ini aja ya” gumamnya dalam hati, sensasi merinding membayangkan jika ia memakai baju renang two pieces di kolam renang yang tidak private, Dimana pasti akan ada pengunjung lain. Tadinya Hilda akan mengenakan pakaian renang Muslimah yang dia punya, supaya bisa berenang di kolam renang umum, tapi kali ini Bali tujuannya. Tempat orang bisa mengekspresikan diri tanpa dihakimi oleh orang lain, membuatnya yakin untuk mengemas baju renang two pieces itu.

Jantungnya lebih berdebar lagi Ketika ia melihat beberapa set lingerie di lemari nya. Pakaian yang sudah lama tidak ia pakai. Begitu juga dengan G string dan bra yang menggoda. Entah dorongan dari mana, seolah ada yang membisikkan Hilda untuk membawa juga pakaian-pakaian itu.

“Ini Bali, bawa aja Hilda, buat memanaskan suasana.” Birahinya berbicara. Akal sehat Hilda berusaha mematahkan bisikan birahinya. Untuk apa pakaian ini dibawa, buat siapa juga, suaminya kan tidak ikut. Entah kenapa dan apa pertimbangan Hilda, pakaian itupun akhirnya dibawa, ikut dipacking di dalam koper traveling nya bersama pakaian lain. Lebih gila lagi Hilda pun memasukkan beberapa pack kondom yang entah darimana dan bagaimana bisa Hilda memilikinya. Apa itu sisa dari hubungan dengan suaminya. Atau sengaja beli. Seperti sudah mengantisipasi bahwa hal liar akan terjadi di Bali.


Part 5 Dosa pertama (bagian 2)

Hari yang dinanti pun tiba, tepatnya hari Selasa. Hilda dan Joko terbang ke Bali. Hilda berpakaian casual tapi tetap elegan dengan aksesoris sederhana dari kepala hingga kaki, menampakan pesona keanggunan seorang wanita karir yang pergi ke Bali tidak hanya untuk liburan tapi juga urusan bisnis, sementara Joko hanya berpakaian polo shirt dan celana jeans juga sepatu sneaker. Keduanya nampak begitu akrab mulai dari boarding check in, hingga landing di bandara Bali, mereka begitu excited dengan perjalanan ini. Setelah sampai di Bali sebuah mobil dari hotel sudah menjemput mereka, membawa Joko dan Hilda menuju hotel Dimana mereka akan menginap beberapa hari ke depan. Hotel acara Grand Launching mega proyek Mr. Chen berbeda dengan hotel tempat Joko dan Hilda menginap, tapi masih dalam satu kawasan, tidak lebih dari 1 km. Hotel tempat mereka menginap pun tidak kalah elite dibandingkan dengan hotel lainnya. Segala fasilitas dan layanan akan memanjakan mereka selama berada di Bali.

Setelah menyelesaikan check in di resepsionis hotel, Hilda dan Joko diantarkan ke kamar mereka yang berada di lantai yang sama bahkan samping-sampingan, hanya selisih satu nomor kamar.

“Joko kita istirahat sebentar nanti jam 18:00 baru kita berangkat. Ga usah makan malam dulu, nanti aja disana juga pasti banyak makanan. Jangan lupa pakai setelan jas yang kemarin. Mandi yang bersih, yang wangi, biar nggak malu-malui” sederet petunjuk diberikan Hilda pada Joko.

“Siap Bu, Laksanakan” canda Joko sambil menunjukkan sikap dengan tangan hormat.

“Apaan sih, udah sana cepet masuk kamar, hehehe” tawa Hilda melihat kekonyolan Joko.

Setelah beberapa jam berlalu Joko keluar dari kamarnya, ia sudah siap dengan pakaian terbaik seharga motor yang baru dibelinya kemarin dengan Hilda. Cukup “manglingi”, aura Mas-mas Jawa yang begitu kental tergantikan dengan kharisma seorang pria muda elegan, walaupun outfitnya itu tidak akan bisa mengubah logat nya yang medok abis. Joko hendak mengetuk kamar Hilda, tapi diurungkan karena tidak mau mengganggu ritual Wanita yang sedang berdandan, Joko kemudian menuju ke lobby untuk menunggu disana. Setelah memastikan bahwa kendaraan yang akan membawa mereka ke acara Mr. Chen siap. Joko duduk di sofa lobby hotel tersebut sambil memperhatikan kondisi hotel tersebut.

“Cukup mewah hotel ini, tamu-tamunya terlihat berkelas, interior hotel ini pun didesain dengan sangat cantik, mengundang kekaguman setiap tamu yang datang kesini” gumam Joko dalam hati sambil menunggu Hilda datang.

Pandangan Joko terpaku pada satu arah, tak berkedip matanya memandang, mulut sedikit menganga, seolah kaku. Tak yakin dengan apa yang dilihat, sosok familiar namun dalam wujud bidadari. Luar biasa memang perubahan wanita dalam suasana dan lingkungan berbeda, ia sudah sering melihat skin Hilda ketika di kantor, sosok cerdas dan professional, disegani rekan kerjanya. Tapi kini Hilda tampil dengan skin yang berbeda lagi. Dalam balutan gaun malam yang mewah dengan warna lembut tidak mencolok namun cukup menarik perhatian siapapun yang melihatnya, membungkus rapi seluruh kulitnya kecuali tangan, melekuk indah mengikuti kurva alami tubuhnya. Hijab sederhana yang dilingkarkan ke lehernya menutup kepalanya rapi, serasi menambah keindahan dari gaun yang ia pakai. Aksesoris lainnya seperti kalung, gelang, cincin, tas dan sepatu high heels senada, menambah kemewahan dan keanggunan outfit yang dikenakan Hilda malam ini. Menegaskan bahwa malam ini, Hilda sedang menggunakan skin “Angel”.

“Heh bengong, ayo berangkat” seraya mencubit Joko, untuk mengembalikan kesadarannya.

Masuklah mereka ke dalam mobil sedan yang akan mengantarkannya ke lokasi pesta. Semerbak harum wangi lembut mengisi interior mobil tersebut. Bukan parfum mobil, tapi wangi dari Hilda, layaknya bunga. Tidak hanya Joko, Pak Supir pun ikut tersenyum mengagumi pesona dari Hilda, tamu yang berada di mobilya saat ini. Tak lama sampai lah mereka di lokasi pesta. Hilda meminta agar mobil tersebut tidak perlu standby menunggunya. Nanti saja ketika dipanggil baru datang menjemput. Sebelum masuk Hilda sempat membereskan rambut Joko yang sedikit berantakan. Begitu bahagianya Joko, seorang bidadari mau memperhatikan penampilannya malam ini.

Mereka berdua berjalan masuk bersama ke area pesta, resepsionis menyambut ramah dan mengkonfirmasi identitas mereka di daftar undangan. Ini private party, semua tamu harus benar-benar dipastikan undangannya. Nama Hilda dan Joko beserta nama perusahaan mereka tercantum di daftar undangan. Hilda dan Joko kemudian menyapa Mr Chen bersama istri yang berdiri menyambut tamu-tamu undangan yang hadir, di samping Mr & Mrs Chen terlihat beberapa orang yang merupakan jajaran pejabat di Perusahaan Mr Chen sekaligus keluarga terdekat Mr. Chen.

“Oh Hilda I am glad that you are here, Saya memang tak harap orang tua Amerika itu yang datang. Hahaha” ujar Mr Chen bercanda menyambut kehadiran Hilda.

“It’s an honour Mr. Chen, thank you for your invitation, it was amazing. Berkat istri George, kami jadi punya kesempatan untuk hadir di acara sehebat ini. heheheh” Ujar Hilda menanggapi lelucon Mr. Chen. Hilda memang sangat supel menghadapi siapapun, termasuk orang sekelas Mr. Chen. Ditambah penampilannya malam ini yang sulit membuat mata lelaki tak melirik padanya. Hilda sudah menjadi pusat perhatian sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini. Mr, Chen dan keluarganya berasal dari Singapore, namun karena banyak memiliki bisnis di Indonesia dan Malaysia, ia mampu berbicara banyak bahasa termasuk Indonesia. Hilda beberapa kali bertemu dengannya, sehingga tak heran Hilda sudah cukup mengenal Mr. Chen dengan baik, begitu pula sebaliknya.

“Oh ya Hilda, I have another project coming, larger than this one, saya harap kita bisa Kerjasama lagi ya. Next week, please come to my office for project detail.”

“Thank you very much Mr Chen, it would be an honour for our company. Kami harap bisa memenuhi kepercayaan yang sudah diberikan. Saya pribadi yang akan turun langsung untuk menangani semuanya Mr Chen”. Joko hanya bisa menatap penuh kekaguman, melihat keluwesan team leader nya yang cantik bagai bidadari ini. Seperti magnet, kontrak-kontrak pekerjaan seolah datang menghampiri Hilda dengan sendirinya.

Setelah menyapa tuan rumah, mereka diantarkan oleh seorang pramusaji ke meja yang telah disiapkan. Minuman champagne segera dituangkan ke gelas Hilda dan Joko yang ada di meja tersebut. Terlihat beberapa undangan sudah hadir di tempat itu. Sosok-sosok berwibawa, cantik jelita, tampan, berkelas, elegan, terlihat berseliweran di pesta ini. Dekorasi mewah terpasang indah di setiap sudut. Alunan music merdu mengiringi setiap momen di pesta ini. Tak salah Hilda menyuruh Joko untuk make over, agar tidak minder disini.

“Bukan orang-orang sembarangan kan yang datang” ujar Hilda mengaburkan konsentrasi Joko yang sedang memperhatikan kondisi sekitar.

“Iya Mbak, tapi saya cuma bisa planga plongo aja disini. Ga pantes saya ada disini.” Kata Joko yang belum bisa beradaptasi dengan semua ini.

“Tenang aja, ikutin aku aja ya, jangan sampe ilang, hehehe” tangan lembut Hilda menyentuh paha Joko, memberinya ketenangan dari grogi nya malam ini.

Malam makin larut, rundown acara bergulir sesuai rencana, semuanya terlihat enjoy menikmati malam ini. Hilda dan Joko pun ikut terlarut menikmati segala hidangan makanan dan minuman lezat nan mewah, alunan music merdu membuat suasana makin meriah. Hilda membentangkan sayap koneksinya, berkenalan dengan beberapa orang penting yang hadir di acara itu. Tentu mudah baginya, mengingat sejak awal, Hilda memang sudah jadi pusat perhatian. Beberapa tamu lain pun ikut mendekat, berusaha berinteraksi dengan Hilda. Hilda meladeninya dengan sangat baik. Tapi ada perasaan tidak nyaman muncul dari diri Joko, ia tak suka “Mbaknya” dikerumuni pria-pria dengan tatapan lapar, sebagai pria ia pun menyadari itu, bahwa para pria ini mengerumuni Hilda dengan tujuan yang sama, hasrat. Walaupun Hilda tidak merasa keberatan, toh para pria itu mendekatinya dengan santun dan terhormat, tidak ada yang berusaha melecehkan data merendahkan Hilda. Walaupun Joko bukan siapa-siapa dibandingkan para pria tersebut, seolah cemburu, ia tak mau berbagi Hilda dengan siapapun malam ini.

Tangan Joko tiba-tiba melingkar di pinggang Hilda, memeluknya dengan erat, gesture sederhana namun memberikan arti besar dalam persaingan para pejantan malam ini dengan Hilda sebagai Ratu yang sedang diperebutkan. Seolah dengan tegas dan lantang menyatakan “Ini wanitaku”. Hilda menatap Joko yang tiba-tiba memeluk pinggangnya, lalu tersenyum lembut, tidak keberatan dengan apa yang Joko lakukan. Usaha Joko membuahkan hasil, pelan-pelan, satu per satu pria-pria yang tadinya mengerubungi Hilda kini pergi. Meninggalkan hanya Hilda dan Joko. Mereka kembali duduk ke meja mereka.

“Udah mulai berani ya sekarang ?” kata Hilda seraya menatap tajam Joko.

“Be..berani gimana Mbak ?” Joko terbata-bata, bingung dengan ucapan Hilda.

“Tadi, ngapain coba, langsung peluk pinggang aku di depan cowok-cowok itu ?”

“Mau..mau jagain Mbak, dari …dari cowok-cowok itu Mbak”

“Emang cowok-cowok itu kenapa ?” Joko terdiam tak tahu harus menjawab apa.

“Pada sange liat aku ? Emang kamu nggak ?” ucapan menohok dari Hilda membuat Joko terdiam membisu. Kini dia ragu, apa yang dia lakukan tadi benar atau salah. Jangan-jangan Mbak Hilda memang berharap ada cowok yang mendekatinya.

“Terus kenapa waktu aku cium kamu, kamu nya malah ga mau ?” pertanyaan tidak terduga kembali dilontarkan Mbak Hilda pada Joko. Ia semakin bingung harus jawab apa. Ia tak berani menatap sosok wajah cantik yang matanya sedang manatap tajam padanya.

“Sa…saya kaget Mbak waktu itu. Mendadak banget, ga nyangka saya.” Ucap Joko berusaha menjawab.

“Kalau sekarang udah berani ?” Hilda kembali bertanya, dan Joko kembali terdiam bingung

“Kalau aku mau cium kamu sekarang di depan orang-orang ini, kamu sudah siap ?” Napas Joko seolah terhenti mendengar pertanyaan Hilda.

“Ya…ga gitu juga Mbak, jangan disini banget” jawab Joko tak yakin akan jawabannya.

“Hahahaha. Kamu gemesin banget sih Joko.” Hilda tiba-tiba tertawa keras sambil mencubit pipi Joko yang masih tertunduk.

“Wah mabok lagi kayaknya” ujar Joko dalam hati.

“Coba jawab jujur, kenapa kamu berhentiin aku yang lagi cium kamu waktu itu ? Kamu ga suka ?” tanya Hilda tegas tapi tidak setajam tadi.

“Saya ga mau ambil kesempatan dalam kesempitan Mbak. Memang Mbak, saya bukan orang baik, waktu kuliah udah ada beberapa cewek sih Mbak yang sampe tidur bareng. Tapi semuanya kami lakuin atas kesadaran masing-masing, suka sama suka, sama-sama pengen dan saling menikmati. Ga lagi mabok, digoda, diiming-iming sesuatu, apalagi dipaksa. Makanya pas waktu itu kan Mbak nya lagi rada mabok, saya nya yang bingung sebenernya Mbak. Pengennya dilanjutin, tapi khawatirnya malah ngambil kesempatan dalam kesempitan. Karena kalau ga mabok, bisa jadi Mbak ga akan cium saya sampe segitunya.” Jelas Joko jujur pada Hilda.

“Baik banget kamu Joko” ujar Hilda lembut seraya mengelus pipi Joko, dan menatapnya dengan hangat.

“Kamu bener, aku memang lagi mabuk waktu itu, tapi sebenernya aku cium kamu bukan karena mabuk. Karena pengen aja.” Kata Hilda sederhana.

“Mbak, kok mau sih sama saya, padahal di kantor banyak cowok-cowok lain yang lebih baik dari saya, semua cowok juga pasti ngedeketin Mbak, kecuali Kevin yang emang Boti, hehehe” tanya Joko setengah bercanda.

“Kamu ngingetin aku sama orang yang dulu aku sayang. Pria yang buat aku nyaman dan aman di dekatnya. Menjadikanku Ratu di hidupnya. Yang membuatku yakin untuk mengakhiri petualanganku dan menikah dengannya, tapi sayang sekarang dia berubah, makanya aku cari pelarian, ya kamu ini pelariannya. Hahaha”

“Oalah dikirain Mbak nya kelainan atau emang punya fantasy nyeleneh gitu, seneng sama Mas-mas Jawa yang kulitnya item kumel sama medok. Hahahaha” balas Joko melanjutkan candaan Hilda.

“Suaminya Mbak mirip saya dong, item, rada kucel, medok kalo ngomong, dll ?”

“Ya nggak lah, suamiku itu ganteng, bersih walau ga putih banget, tinggi, gagah, badannya bagus berotot, ga kayak kamu rada kurus gitu. Hahaha”

Malam semakin larut, untuk pertama kalinya Hilda dan Joko berbicara hati ke hati bukan sebagai rekan kerja, tetapi bukan juga sebagai pasangan kekasih. Keduanya tahu, mereka berdua punya orang yang mereka cintai dan kasihi di rumah. Hilda punya Bagas, sosok pria yang mampu menaklukan dirinya, yang dikenal sebagai “singa betina” ketika di masa lajangnya. Dan Joko punya Sari, putri Pak Camat, satu-satunya wanita yang pernah ia perawani, sehingga perasaan Joko untuk Sari berbeda dengan para wanita lain yang pernah singgah di pelukannya. Tapi malam ini, disaksikan bulan yang menerangi Bali, mereka mengikrarkan diri sebagai pejantan dan betina yang saling terikat rasa dan hasrat satu sama lain. Mereka lupakan cinta dan kasihnya masing-masing untuk sementara waktu. Jujur pada diri mereka, bukan cinta dan kasih sayang yang mereka butuhkan saat ini, hanya pelampiasan hasrat dan nafsu yang telah lama dipendam.

“Pulang yuk” ajak Hilda pada Joko. Mereka beranjak menemui tuan rumah dan beberapa tamu lainnya untuk berpamitan, seraya sedikit berbasa-basi, Joko dan Hilda meninggalkan pesta itu sambil saling berpegangan tangan. Mereka tidak memanggil mobil hotel untuk menjemput mereka. Hilda dan Joko berjalan di pesisir Pantai yang memang berada di Kawasan hotel tempat mereka menginap. Udara malam, desiran ombak, sinar bulan menerangi mereka, menambah kesyahduan malam itu, menghangatkan perasaan yang kini sedang menggeliat bangkit di diri Hilda dan Joko.

Satelah sampai di depan pintu kamar hotel. Mata Hilda yang sayu menatap Joko dengan tatapan hangat penuh gairah, mendekatkan wajahnya ke wajah Joko dan mengecup bibir Joko dengan penuh kelembutan. Berbeda dengan sebelumnya, kini Joko lebih siap, dan sudah dipastikan bahwa ini bukan pengaruh alcohol, mereka memang mabuk, tapi bukan alcohol. Joko melingkarkan tangannya pada pinggul Hilda, memeluknya erat, menarik tubuh Hilda menempel di tubuhnya. Kecupan berubah jadi ciuman, ciuman berubah jadi cumbuan. Keduanya jujur saling mengutarakan hasratnya lewat bibir, mulut, dan lidah tapi tanpa kata. Hanya desahan lembut dan basah yang terdengar. Sejenak Hilda melepaskan cumbuannya, Joko pun melepaskan pelukannya. Setelah membuka pintu kamarnya, Hilda menarik tangan Joko.

“Masuk yuk” ajak Hilda lembut pada Joko sambil tersenyum sangat cantik penuh harapan agar Joko mau memenuhi ajakannya.


Part 5 Dosa Pertama (Bagian 3)

Malam sudah sangat larut mendekati dini hari, para manusia di tanah dewata ini sedang tenggelam dalam dekapan mimpi mereka. Tapi tidak dengan 2 insan di kamar ini. Birahi yang telah lama terpendam, tak lagi bisa ditahan. Birahi yang muncul karena kesepian dan yang muncul karena kekaguman, berkumpul saling memuaskan di malam ini.

Sedetik setelah Hilda menutup dan mengunci pintu kamar, Joko memeluknya dari belakang wajahnya dibenamkan ke area leher yang masih tertutup hijab. Tangannya mengelus perut Hilda dengan lembut, dadanya menempel di punggung Hilda, memberi kehangatan penuh gairah.

“Dibuka dulu ya” ucap Hilda lembut. Tapi Joko seolah tak mau melepaskan, seraya Hilda melepas Hijab dan outfit nya malam itu, Joko tidak sedetik pun melepaskan pelukan, rabaan, serta ciuman pada tubuh Hilda, tak peduli mendarat dimana bibirnya, tangannya, pelukannya, asalkan tetap menempel pada Hilda, tak menjadi masalah baginya.

Dimulai dari aksesoris seperti kalung dan gelang, Hilda lepaskan dari tubuhnya, diiringi pelukan, dan rabaan manja dari Joko yang tak mau melepaskan tubuh bidadarinya. Hijab penutup rambut yang melilit di leher ditanggalkannya. Leher jenjang terekspos indah, tak butuh waktu lama untuk bibir Joko mendarat disitu, mencium lembut, sedikit menggigit gemas tapi tak sampai meninggalkan bekas, memberikan sensasi geli yang merangsang, apalagi ketika Joko mulai berekplorasi mendekati area telinga.

Dibantu Joko, gaun malam yang menjadikan Hilda pusat perhatian mala mini diloloskan dari tubuhnya, ditarik pelan ke bawah oleh Joko, gaun itu tidak jatuh bebas mengikuti gravitasi ke kaki Hilda, tersangkut lekukan tubuh Hilda yang melengkung indah. Sambil menariknya ke bawah ciuman-ciuman lembut didaratkan Joko ke kulit tubuh yang terkspose dari belakang. Hilda menikmati perlakuan Joko di tubuhnya. Tersisalah bra seksi dan g string yang menutupi dua bagian terindah dari Hilda yaitu payudara dan vagina nya.

Hilda berbalik menghadap Joko, tersenyum binal penuh gairah, meminta ditatap, dilihat, dan diinginkan. Tangannya meraih kepala Joko, bibirnya kembali memagut bibir Joko, mencumbunya lebih dalam, lebih liar dari sebelumnya. Tangan Joko memeluk pinggang Hilda, sedikit jahil, ia menggelitik kecil pinggang Hilda, membuatnya sedikit melepaskan cumbuannya sambil tertawa kecil.

Suasana romantic namun panas sarat akan birahi menaungi atmosfir kamar itu. Ciuman Joko berpindah dari bibir, ke pipi, leher, dan dada bagian atas. Tangannya mulai berani meraba dan meremas lembut payudara yang masih terbungkus bra. Hilda hendak melepas bra nya, tapi Joko ternyata lebih sigap. Jemarinya sudah melepas kait bra dengan cepat. Terpampanglah dua bukit kembar yang begitu indah. Besar, kenyal, bulat, putih, dengan putting dan aerola yang menggoda. Sejurus kemudian mulut Joko mencapluk putting dan aerola indah tersebut. Insting masa kecilnya reflek mengarahkannya. Dijilat, dihisap, kadang digigit kecil, tanpa tenaga berarti. Memberikan efek lenguhan pada pemilik payudara.

“Eeengghhh, Joko….” Hanya itu yang terdengar dari Hilda ketika Joko memainkan payudaranya. Joko membimbingnya ke Kasur. Merebahkan bidadarinya berbaring di atas ranjang, memastikannya berada dalam posisi yang nyaman. Joko membuka pakaian bagian atasnya, namun tidak dengan celananya. Terlihat tubuh Joko yang rampingdengan perut rata, cukup berotot tapi tidak bulky. Joko beringsut mendekati Hilda dan kemudian kembali mencium bibirnya. Lagi-lagi ciuman itu tidak bertahan lama, terus bereksplorasi turun melewati payudara, perut, selangkangan, bahkan paha. Rabaan dan pijatan lembut dengan power sedang, Joko berikan pada tubuh Hilda, menjadikan otot tubuhnya lebih rileks, namun makin terbakar nafsu.

Mata Joko terfokus pada G string yang masih menempel di selangkangan Hilda, kain pertahanan terakhir penutup liang kenikmatan Hilda. Pantas saja walau memakai bawahan ketat, garis celana dalam jarang sekali terlihat. Dengan lembut Joko menciumi G string yang masih melekat itu. Memberikan rangsangan pada objek dibalik g string tersebut.

“Uungghh…” lagi-lagi lenguhan Hilda kembali terdengar, menandakan serangan Joko tepat sasaran. Lama-kelamaan g string itu menjadi lembab, cairan kewanitaan mulai rembes di vagina Hilda. Joko menarik g string tersebut agar terlepas, Hilda membantunya dengan mengangkat sedikit bokongnya. Pemandangan luar biasa tersaji di hadapan Joko. Vagina indah rapi bersih tanpa bulu, dengan belahan vertical yang terlihat lembab. Tanpa pikir Panjang, insting Joko memerintahkannya untuk melahap vagina tersebut. Klitoris, labia mayora dan minora, semuanya mendapat stimulasi yang intens dari mulut dan lidah Joko.

“Aaaahhhh…” tak banyak yang bisa Hilda ucapkan selain lenguhan, seraya tubuhnya menggelinjang refleks tanpa bisa dikendalikan, dengan tangan menekan kepala Joko agar lebih dalam lagi mengexplorasi vaginanya. Cairan kenikmatan mengalir lebih deras lagi. Hilda menerima orgasme pertamanya malam ini dari permainan oral Joko. Mungkin juga yang pertama setelah sekian lama.

“Uuudahhh Joko, masukin” tuntut Hilda, mulai tidak sabar akan birahinya sendiri. Rasa yang telah lama ia lupa. Entah kapan terakhir ia merasakannya. Mendengar perintah dari Ratu nya, Joko segera beranjak, melepaskan diri menjauh dari Hilda. Terlihat raut wajah sedikit kecewa dari Hilda mengetahui Joko menghentikan aksinya. Joko melepaskan celananya sekaligus dengan celana dalam nya, terpampanglah batang kontol yang begitu perkasa menjulang tinggi, tegak paripurna, dengan ukuran diatas rata-rata. Siap melaksanakan tugasnya untuk memberikan kenikmatan pada vagina yang akan dimasukinya. Hilda tersenyum melihat pemandangan tersebut, ia tahu malamnya akan indah dan menyenangkan.

“Ada kondom Mbak ?” tanya Joko yang menyadari bahwa itu bukan kamarnya. Ia membawa stock kondom di tas nya, tapi itu berarti dia harus ke kamarnya terlebih dahulu, dan itu akan sangat merepotkan, mengingat nafsu sudah ada di ubun-ubun.

“Tas kecil di atas meja” ujar Hilda dengan suara agak serak diliputi birahi sambil menunjuk ke sebuah tas kecil di atas meja. Joko bergegas mencari benda yang dimaksud, lantas membukanya, dan mengambil benda yang dicarinya. Dengan sigap Joko menyarungkan kondom tersebut, dan mengoleskan pelumas yang juga tersedia di tas tersebut. Hilda memang sudah mempersiapkan segalanya.

Dengan langkah pasti, Joko mendekati Hilda yang masih berbaring di ranjang dengan kaki mengangkang. Terlihat tangan kanan Hilda sedang memainkan klitoris dan tangan kirinya meremas payudaranya sendiri, sepertinya Hilda tak mau kehilangan intensitas rangsangannya, atau mungkin memang sedang menikmati dan menghibur diri sambil menonton suguhan dari Joko. Sambil mengurut batang penisnya, memastikannya tetap tegak sempurna, Joko kembali menjilat vagina Hilda memastikannya tetap basah dan siap menerima kontol kebanggaannya ini. Joko memposisikan diri di selangkangan Hilda, mengarahkan kepala penisnya tepat di lubang vagina Hilda, menggesekannya menyusuri garis vertical vagina, berulang-ulang ia lakukan itu, memberikan setruman birahi pada Hilda.

“Cepet masukin” nada tegas dengan suara parau binal dari Hilda yang sudah tak sabar dengan godaan Joko di vagina nya. Sekali dorong, dengan pelan namun pasti, penis Joko masuk tenggelam ke dalam lubang kewanitaan Hilda. Tangan kiri Joko menggenggam pinggul Hilda, dan tangan kanannya membimbing penisnya masuk ke vagina Hilda.

“Ooohhhhhh…” ujar keduanya hampir bersamaan menikmati sensasi basah, licin, hangat, seret, berkedut seraya masuknya kontol Joko ke vagina Hilda. Setelah masuk sempurna, Joko tidak langsung menggenjotnya. Dia kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Hilda untuk kembali berciuman. Sambil saling bercumbuan Joko mulai menggerakan pinggulnya ke depan dan ke belakang dengan kecepatan pelan namun dalam bertenaga. Gesekkan batang penis Joko memberikan sensasi garukan nikmat di dinding Rahim Hilda, sepertinya setiap saraf di vagina Hilda mendapat stimulus yang intens. Lengan kiri Joko, dijadikan tumpuan di samping Hilda, agar berat badannya tidak semua membebani Hilda, tangan kanannya sibuk meraba dan meremas payudara Hilda, mulutnya tak henti mencumbu bibir, pipi, leher dan payudara secara bergantian. Hilda menikmati permainan romantic penuh dengan ciuman dan cumbuan ini. Mengingatkannya akan kenikmatan yang dulu ia rasakan dengan Bagas. Body memorynya masih dengan jelas ingat, sensasi yang sama Ketika dulu ia dengan Bagas bercinta, walaupun itu sudah sangat lama.

Entah siapa yang menikmati atau dinikmati. Joko sangat paham akan apa yang dia lakukan, pengalamannya bukanlah isapan jempol. Teknik yang sama dia praktekan pada istrinya Sari ketika malam pengantin. Perawan yang begitu kaku di awal berubah liar dan menuntut untuk dipuaskan. Hilda memang bukan perawan tapi ia adalah bidadari yang sedang Joko “Ratu” kan malam ini. Joko ingin menikmati setiap inchi dari tubuh Hilda, tapi tidak egois, ia pun ingin Hilda menikmati setiap detiknya dari persenggamaan ini.

“Oouuuhhh Joko, kamu pinter, Mbak suka diginiin” puji Hilda pada pejantan yang kontolnya tertancap di dalam vaginanya. Tanpa menjawab Joko, tetap khusyuk melanjutkan apa yang dia kerjakan. Sudah lebih dari 15 menit sejak Joko memasuki Hilda. Joko masih jauh dari kata ejakulasi, dia masih menikmati sensasi gesekkan dan pijatan dari vagina Hilda. Berbeda dengan Hilda, nafasnya makin memburu, pinggulnya pun mulai bergerak sendiri, mengejar birahinya.

“Mbak diatas ya, biar bebas Mbak nya” Joko tahu, Hilda ingin mengejar kenikmatannya lebih dalam lagi. Dengan posisi WOT (Woman On Top), Hilda akan lebih mudah bereksplorasi untuk memaksimalkan rangsangannya. Tanpa melepaskan penisnya, Joko mengubah posisi dari Missionasris ke WOT. Setelah di atas Hilda masih belum melepaskan cumbuanya.

“Kamu tahu aja, apa yang Mbak butuh” sambil tersenyum binal. Tangan Hilda bertumpu di dada Joko, pinggulnya ia gerakkan maju mundur, kadang atas bawah, kadang naik turun, tidak beraturan, semua dilakukan sesuai arahan hasrat dari Hilda. Kedua tangan Joko kini bermain di payudara Hilda, menjaga payudara tersebut dari goncangan akibat liarnya Gerakan pinggul Hilda. Makin lama Gerakan Hilda makin cepat, tubuhnya kembali direbahkan di atas Joko, Hilda sempat memegang sebelah payudaranya dan menyodorkan ke Joko seperti menyusui.

“Nih nenen, kamu suka kan toket Mbak, suka ngeliatin kan, ooouuuhhh” ucap Hilda binal, Ketika nafsunya sudah menguasai kepalanya. Hilda yang biasanya elegan kini berucap sesuatu yang vulgar pada Joko. Tanpa banyak cakap, mulut Joko mencapluk toket yang ditawarkan padanya, kedua tangannya kini berada di bokong Hilda, membantu mempercepat proses keluar masuk penis dari vagina Hilda, mengimbangi hujaman dari Hilda.

“Ppploookk…..plloookkk…”

“Mmmmhhh…ooohhhh….uuuhhhhh……ahhhhh”

Tak ada percakapan yang berarti lagi, yang ada hanyalah desahan dan lenguhan Joko dan Hilda, dua insan yang sedang mengejar nafsu birahi.

“Teruuuusss ….Joko….Ahhh…Mbak mau keluar” perintah betina pada pejantannya.

Joko kembali mempercepat genjotannya, hingga di satu titik, Hilda melenguh panjang kemudian ambruk di atas Joko. Lelehan cairan kewanitaan merembes dari sela-sela vagina yang masih tersumpal oleh kontol Joko. Penis Joko pun memuntahkan cairan lava putih yang cukup banyak, namun tertampung dengan aman di dalam kondom.

Hilda tertidur memeluk Joko setelah mendapatkan orgasmenya, Joko sebenarnya masih jauh dari puas, tapi melihat bidadari nya tertidur pulas, ia pun tertidur sambil memeluk Hilda setelah menuntaskan tugasnya membawa Sang Bidadari terbang ke langit kenikmatan.


Part 6 (Love Lust in Bali) bagian 1

Keduanya terlelap dalam mimpi indah. Senyum tersungging di wajah cantik Hilda setelah melewati malam indah. Perasaan puas dan lega yang telah lama tak lagi ia rasakan. Tak terasa, pagi tiba menyambut indahnya alam di pulau dewata, sinar matahari yang mengintip lewat celah jendela kamar, membangunkan Hilda dari tidur lelap nya. Ia bangun dengan tersenyum, hatinya diliputi perasaan bahagia. Ia bangun dalam pelukan pria yang bukan suaminya, tapi pria itulah yang telah memberikan malam luar biasa yang tak lagi bisa diberikan suaminya. Kecupan lembut diberikan di pipi pria yang masih tertidur lelap dengan dengkuran halus.

Tubuh telanjangnya terasa geli, ada sensasi lucu menggelitik di kulit, sendi, dan otot-ototnya, terutama pada bagian sensitifnya seperti payudara dan vaginanya. Tapi bukan rasa sakit atau ngilu yang mengganggu, justru perasaan geli yang menyenangkan. Tubuhnya terasa segar, seperti baru saja medapatkan service full body massage. Walau tidak dipungkiri ada rasa lelah yang hadir. Seperti selesai olahraga, lelah tapi segar menyenangkan. Hilda bangkit dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Ia ingin mandi membersihkan diri setelah malam yang penuh gairah. Sebelum masuk ke tempat shower, ia sempatkan bercermin.

“Aku cantik, semakin cantik” gumamnya dalam hati.

Aliran air hangat mengalir membasahi tubuhnya dari rambut hingga kaki, setiap lekukan tubuhnya tidak ada yang terlewati. Disabuninya dengan telaten setiap inchi dari kulitnya, rambutnya ia keramas. Sambil membayangkan apa yang baru saja terjadi semalam, ketika tubuhnya dinikmati Joko, atau dirinyalah yang justru menikmati Joko. Tak sadar ia pun tersenyum, tidak ada rasa penyesalan hanya ada kebahagiaan. Selesai mandi ia pun mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lalu memakai piyama yang disediakan hotel, rambutnya dikeringkan dengan hairdryer dan merapikannya dengan sisir. Setelah selesai ia menuju ruang utama tempat pejantannya masih tertidur, dan jejak-jejak malam penuh gairah masih terlihat jelas.

Hilda menuju meja rias, mengaplikasikan riasan ringan dan alami di wajahnya. Dia berencana berkeliling untuk menikmati suasana Bali hari ini. Hilda menyemprotkan parfum dengan wangi segar yang cocok dipakai di udara luar, bra dan celana dalam seksi dia pakai untuk melindungi bagian sensitifnya. Tank top ketat berwarna ungu semakin menonjolkan keindahan payudaranya yang besar, kencang, dan padat seolah mengintip dari bagian atas kaus nya, beserta celana jeans hotpants yang menampakkan paha dan kaki jenjang dengan kulit putih bersih tanpa cela, menjadi pilihan outfit sexy casual nya dalam menjelajahi Bali. Hilda tidak berencana mengenakan hijabnya di sini. Ia ingin bebas menjadi sosk Hilda yang lain. Sebelum turun sarapan untuk mengisi energinya, Hilda mengirim pesan ke ponsel Joko. Berharap ia akan membacanya ketika bangun nanti. Hilda keluar kamar menuju restoran tempat sarapan, beberapa pasang mata menatapnya dengan penuh kekaguman, kecantikan dan keindahannya tak dapat dihiraukan. Setelah mengkonfirmasi diri di meja registrasi. Hilda mengambil beberapa makanan dan menyantapnya dengan Santai di mejanya. Matanya berkeliling menikmati indahnya tempat ini dan pemandangannya. Beberapa mata yang sedari tadi mengamatinya, tak sengaja beradu tatap, beberapa segera mengalihkan pandangan mata, malu karena ketahuan, beberapa cukup bernyali menebarkan senyum ketika beradu tatap. Hilda menanggapinya dengan santai.

Di kamar tempat peraduan Joko dan Hilda, seorang pria terbangun dari tidurnya. Setengah terkejut langsung bangkit duduk dari kasurnya. Seo;a berusaha mengumpulkan ingatan apa saja yang baru saja terjadi. Sebenarnya ia mengingat jelas apa yang baru saja terjadi malam tadi, tapi ia masih belum bisa mempercayainya. Wanita tercantik di kantornya, yang menjadi target incaran para pria, jatuh ke dalam pelukannya tadi malam, lebih gila lagi, ia menyetubuhinya semalam. Matanya melirik sekeliling, ia sadar itu bukan kamarnya, tidak ada siapa-siapa disana, hanya kamar berantakan dengan pakaian nya dan pakaian wanita berserakan tidak di tempatnya, bukti bahwa yang terjadi semalam bukanlah mimpi. Walaupun memang seperti terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

Dia mencari ponsel di kantung celananya, terlihat beberapa pesan masuk diantaranya dari istrinya Sari, tapi yang paling menarik tentunya pesan dari Hilda. Segera ia buka pesan tersebut. “Aku turun sarapan duluan ya, laper soalnya hehehe” chat manja dari Mbak Hilda, Wanita pujaannya. Segera ia membereskan pakaiannya, berniat kembali ke kamarnya untuk beres-beres lalu menyusul Hilda yang sudah 15 menit lebih turun duluan untuk sarapan. Joko tersadar bahwa dia telanjang. Memakai kembali setelan jas yang semalam ia pakai, pastilah cukup ribet. Akhirnya ia pakai piyama yang ada di kamar mandi, piyama satunya sudah basah dipakai oleh Hilda, ia pakai yang masih kering. Ia menyadari bahwa kamarnya ternyata terhubung dengan kamar Hilda, terdapat connecting door disitu, sepertinya Hilda memang sudah merencanakannya. Sayangnya pintu tersebut dikunci dari dari dua arah, sehingga Joko tidak dapat membukanya saat ini, karena kunci di sisi kamarnya belum dibuka. Ia terpaksa keluar dulu dengan hanya memakai piyama di tubuhnya sambil menenteng pakaiannya tadi malam. Di luar kamar ia bertemu dengan pegawai hotel yang sedang membereskan kamar lain, pegawai itu tersenyum, Joko balas senyuman itu singkat lalu masuk ke kamarnya dengan terburu-buru. Joko sadar senyuman pegawai tadi pasti penuh makna, seperti menebak apa yang terjadi pada Joko tadi malam di kamar Hilda.

Joko hanya membasuh wajah dan beberapa bagian dari tubunya, tidak lupa menggosok gigi. Segera menggunakan baju kaos oblong dan celana sweatpants, dengan sendal hotel menuju ke restoran tempat sarapan. Setelah sampai di tempat sarapan matanya berkeliling mencari sosok Hilda sambil mengkonfirmasi identitas di meja registrasi. Ada seorang Wanita cantik melambai seraya tersenyum lebar ke arahnya. Joko agak ragu ap aitu Mbak Hilda atau bukan, karena Wanita yang dilihatnya tidak berhijab, hanya memakai tank top sleeveless ketat dan celana hotpant dangan paha terpapar sempurna. “Hot banget nih cewek” gumamnya dalam hati. Ia mendekati Wanita itu, setelah dekat dan mengamati lebih detail, barulah Joko sadar kalau yang diihatnya memang Hilda.

“Mbak Hilda ?” tanyanya polos memastikan.

“Beneran kamu ga kenal aku Joko ?”

“Tadi malem udah unboxing juga kok. Heheheh” canda Hilda mesum. Untung tidak ada orang lain di dekat meja nya sehingga tidak ada yang mendengar ucapan vulgar Hilda.

“Pangling e Mbak, biasanya setelah ukhti, kok sekarang jadi naughty. Hehehe” balas Joko menggoda.

“Sekali-kali boleh dong lepas hijab, biar bebas aja, mumpung di Bali, ga ada yang kenal juga kok” dengan Santai Mbak Hilda menjelaskan alasannya melepas Hijab.

“Habis sarapan kita jalan-jalan yuk, explore Bali, mumpung disini, dibayarin kantor lagi, masa mau di kamar doang.” Ujar Mbak Hilda merencanakan kegiatan hari ini.

Tidak ada pembicaraan tentang tadi malam, kecuali kata “unboxing” di awal, seolah semuanya biasa saja. Hilda lebih excited untuk merencanakan kegiatan apa saja hari ini.

“Kita naik motor aja ya, biar ga macet” ucap Hilda.

“Aku manut aja Mbak, nggak ngerti juga tempat-tempat di Bali, tapi aku mandi dulu ya, tadi belum sempet mandi soalnya”

“Ih jorok masa belum mandi sih, udah begituan juga” jawab Hilda sambil tertawa kecil.

“Buru-buru Mbak, takutnya kalau kelamaan, Mbak nya nanti diculik orang, udah hot banget lagi.” Jawabnya sekenanya. Mbak Hilda pun tertawa lepas. Terlihat Mbak Hilda lebih Bahagia hari ini, ia lebih sering tertawa, wajahnya pun berbinar cerah, menambah kecantikan alaminya. Tampilan santai dengan make up ringan alami, justru memancarkan kecantikan lain yang tidak pernah Joko lihat sebelumnya. Sungguh berbeda dari hari-hari biasa yang Hilda tunjukkan di kantor.

Beres sarapan dan membahas rencana kegiatan hari ini, Joko dan Hilda kembali ke kamar masing-masing. Joko mandi membersihkan diri dan mengganti baju yang lebih baik untuk jalan-jalan. Sementara Hilda merapikan pakaian yang tercecer serta jejak gairah tadi malam, agar room service lebih mudah untuk merapikannya.

Setelah mendapat motor PCX sewaan, mereka berdua berkelana keliling Bali. Hilda dengan outfit hot & casual sementara Joko dengan kaos oblong dan celana pendek kargo nya. Mereka berdua bagai pasangan kekasih yang sangat serasi. Keromantisan mereka bisa terlihat dari body contact, eye contact, body gesture, dll. Bali memang pulau penuh cinta. Hilda dan Joko yang sehari-hari berperan sebagai rekan kerja, leader dan anggota, kini berperan sebagai sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

Senyum dan tawa lebar selalu menghiasi wajah cantik Hilda. Tak jarang para lelaki melirik ke arah Hilda karena kecantikannya, membuatnya selalu menjadi “beda sendiri” di manapun ia berada. Ada kebanggaan dari Joko, bisa berkencan dengan bidadari seperti Hilda.

Ada perasaan mengganjal dalam diri Joko, Hilda seperti “sayang” padanya. Hal yang tidak pernah ia rasakan Ketika berhubungan dengan Wanita lain, apalagi orientasinya seks. Perasaan yang hanya ia rasakan Ketika bersama Sari istrinya. Tanpa seks pun Joko, maupun Sari akan saling sayang. Tapi berbeda dengan Hilda, mereka berdua sadar bahwa orientasi hubungan ini hanyalah seks, tapi kenapa ada rasa “sayang” yang timbul. Entah Joko yang salah tangkap rasa, atau memang Hilda yang sengaja menunjukkan rasa “sayang” itu. Tapi Joko kembali menepisnya, Hilda seorang Wanita cerdas, tidak akan mungkin ia terjerumus pada kenikmatan sesaat saja, apalagi melibatkan hati dan perasaan.

Sore hari mereka sampai di sebuah beach club yang kebetulan tidak jauh dari hotel. Hilda mengajak Joko menikmati sunset di beach club tersebut. Setelah booking tempat, Hilda pergi ke kamar mandi, sementara Joko berbaring pada tempat yang disediakan. Menikmati indahnya Pantai, matahari yang bergerak turun, dan pemandangan para Wanita seksi dan cantik yang berseliweran tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang memperhatikan tubuh mereka. Mata Joko tertuju pada satu arah, Dimana sesosok Wanita berbikini biru muda dengan balutan kain Pantai menutupi pinggulnya, tapi tetap memperlihatkan sebelah pahanya yang seksi menawan. Payudaranya padat menonjol, tertekan ke arah atas, seperti hendak keluar dari sarangnya. Kacamata hitam menutup matanya, tapi malah menambah pesonanya.

Joko tersadar itu adalah Hilda, selama jalan-jalan rambut Hilda lebih sering diikat, namun sekarang dibiarkan tergerai sempurna.

“Heh …ngelamun lagi.” Ujar Hilda.

“Pangling Mbak”

“Tadi pagi pangling, sekarang pangling, kamu gampang lupa ya” ledek Hilda pada Joko.

“Ya kalau hot, seksi gini, bisa amnesia sebenernya Mbak” canda Joko

2 kali hari ini Hilda berhasil membuat Joko tercengang dengan penampilannya.

“Jalan-jalan di Pantai yuk” ajak Hilda seraya melepas kain penutup pinggulnya. Lagi-lagi mata Joko terbelalak dengan pemandangan di depannya. Lekukan bokong dan pinggul yang indah sempurna, bentuk V dari bikini di selangkangan Hilda membuat jantung berdebar-debar.

“Jangan lupa ngedip ya matanya, biar ga kering, hehehe” ledek Hilda mengetahui Joko tak berkedip melihat apa yang ia pakai saat ini. Joko kemudian mengusap wajahnya, seperti baru saja tersadar dari hipnotis.

Mereka berdua berjalan menyusuri tepian Pantai. Sesekali bercanda saling mencipratkan air. Aksi kejar-kejaran bagai film India pun dilakukan, tentu saja ini adalah pemandangan surgawi bagi Joko, getaran dari bagian tubuh Hilda, mampu membuat siapapun bergeming tak bergerak. Hilda tertawa sangat lepas, ia sangat bahagia dengan semua ini.

Mereka kembali ke tempat yang sudah di booking, Hilda ke toilet sambil memakaikembali kain penutup tubuh bawahnya, sementara Joko berbaring santai. Terlihat Hilda sudah kembali dari toilet menuju tempat Joko berbaring. Tapi Langkah Hilda terhenti, seorang laki-laki berpakaian ala beach boy, membawa kamera DSLR terkalung di lehernya. Sepertinya ia seorang fotografer yang sering membuat konten tentang fotografi dengan objek Wanita cantik, Joko mengetahuinya karena pernah muncul kontennya di beranda IG nya.

Joko tetap memperhatikannya dari tempat pembaringannya, Fotografer itu mengulurkan tangan tanda mengajak berkenalan, Hilda menyambut tangannya dengan ramah. Terlihat fotografer tersebut berbicara beberapa kalimat yang Joko tidak bisa dimengerti. Sejurus kemudian Hilda terlihat berpose seksi di hadapan fotografer tersebut sesuai arahan fotografer itu dengan beberapa gaya. Hilda melepas kain penutup bawahnya, menunjukkan tubuh berbalut bikini nya dengan sempurna, melenggak-lenggok berpose seksi mengikuti arahan dari fotografer nya. Tidak terlihat kekakuan atau kecanggungan, Hilda begitu luwes penuh percaya diri berpose di depan kamera. Tidak hanya gaya, ekspresi Hilda pun layaknya model professional, bisa mengubah ekspresi dari riang, eksotis, menggoda, cantik dan lain-lain. Joko menikmati sajian live fotografi tersebut, hingga tak terasa burung yang tertidur nya tiba-tiba terbangun. Setelah selesai fotografer itupun berterimakasih dan berbagi kontak dengan Hilda untuk memberikan hasil jepretannya, dan meminta izin untuk memposting foto tersebut.

Selesai sesi foto, Hilda tidak segera ke tempat nya, ia menuju bar terlebih dahulu untuk membeli minuman. Sesampainya disana Hilda terlihat memesan minuman kepada bartender. Ada 2 pria berbadan tinggi sepertinya bukan orang local, menghampirinya. Mereka bertiga terlihat membicarakan sesuatu. Sorot mata kedua pria itu terlihat tajam seperti predator mengincar mangsanya. Menelanjangi Hilda dengan kedua mata mereka. Mereka terlihat seperti sedang menggoda Hilda, tapi tidak ada ekspresi risih ditunjukkan olehnya. Terlihat Santai bahkan sepertinya menikmati, Hilda meladeni kedua pria tersebut. Terkadang tersenyum bahkan tertawa.

Joko merasa cemburu melihat itu semua, sama seperti Ketika di pesta Mr. Chen, ia tak terima jika Hilda akan diambil orang lain. Ia menghampiri mereka, langsung memeluk pinggang Hilda.

“This is my husband. Told you this is our romantic vacation” ujar Hilda pada kedua orang tersebut. Cukup terkejut Joko mendengarnya “Husband / Suami ?”, Joko tidak mengerti drama yang sedang dimainkan Hilda, tapi ia tetap memainkannya.

“What’s up guys” ucap Joko sok asik, menggunakan Bahasa Inggris walau lidah Jawa Joko tidak mumpuni

“He could watch, hahaha” ujar salah satu pria dengan menyebalkan

“Or he want to join us, fine with me” jawab yang lainnya. Joko tidak begitu paham apa yang sebenarnya mereka bicarakan, tapi dia berpura-pura paham.

“I'm not in the right mood today. Sorry I'll have to take a raincheck.” Ucap Hilda menegaskan

“Yuk balik ke tempat kita” ajak Hilda pada Joko, mengakhiri percakapan dengan 2 pria ini.

“Your number maybe ?” salah seorang pria berusaha meminta kontak Hilda

“Sorry but no” ujar Hilda tegas

“Can we meet again ?” pria tersebut masih berharap

“Leave it to fate” sambil tersenyum Hilda meninggalkan mereka.

Sesampainya di tempat kami, sambil berbaring Santai Joko menanyakan ada apa sebenarnya, dan siapa mereka.

“Siapa sih Mbak, mau ngapain mereka”

“Biasa cowok-cowok yang mau godain, ngajak party, kalau aku lagi ga sama kamu, mau aja sih aku ikut mereka hehehe” ujarnya genit menggemaskan.

Sekarang Joko paham kenapa Hilda menyebutnya suami, sebagai alasan untuk menolak ajakan para pria itu. Tapi mungkin karena Joko sudah terlalu banyak nonton film porno, ditambah sosok Hilda saat ini lebih mirip Wanita binal yang mengumbar birahi. Pikirannya membayangkan apa yang terjadi kalau sampai Hilda ikut dengan dua laki-laki itu. Semua adegan threesome Male Male Female tergambarkan di benak Joko dengan Hilda sebagai pemeran Wanita nya, membuatnya terangsang dalam lamunannya.

Matahari semakin tenggelam, bulan pun mulai naik. Gelap mulai menyelimuti malam. terbius dalam keromantisan palsu ini. Gairah mulai timbul diantara mereka, birahi perlahan merangkak dari hasrat, terasa hangat menjalar di tubuh mereka. Malam ini akan menjadi panas, lebih panas dari kemarin.

Selesai makan malam romantic di tepi Pantai, keduanya beranjak pulang ke hotel. Hilda tak mengganti pakaiannya, masih dengan bikininya yang ditutup dengan kain Pantai atas dan bawah. Entah malas atau memang sengaja, memberikan pemandangan indah bagi lelaki yang melihatnya atau mungkin juga menjadi kepuasan Hilda tersendiri karena berhasil membuat orang lain hanya tertuju padanya.

Hilda meminta Joko untuk membuka kamar. Setelah masuk, seperti kucing betina yang dalam masa kawin. Hilda mencium Joko dengan penuh gairah, tidak ada peringatan terlebih dahulu, langsung menyambar bibir dan mulut Joko, mendorongnya ke dinding. Joko hanya bisa pasrah menuruti apa yang Mbak nya inginkan. Puas dengan menciumi bibir dan mulut Joko, kini Hilda berjongkok tepat di depan selangkangan Joko. matanya menatap ke atas beradu tatap dengan Joko. Senyum binal mewarnai wajah cantiknya, wajah yang tak pernah ia temui saat di kantor. Tangannya mengelus lembut kontol Joko dari luar celana, sesekali menciumnya.

Dengan terburu-buru Hilda melepaskan celana pendek kargo Joko. Setelah resleting dan pengait celana dibuka, secara otomatis celana tersebut jatuh ke lantai, menyisakan celana dalam berwarna abu-abu. Dengan cekatan Hilda menarik celana dalam Joko hingga terpampanglah kontol Joko yang setengah ereksi. Sejurus kemudian kontol tersebut sudah berada di mulut Hilda, dengan telaten Hilda mengisap menyedot, mengulum batang keperkasaan Joko.

Ketika Joko sedang menikmati sedotannya Hilda, sambil bersandar di dinding kamarnya. Hilda bangkit, lalu menggiring Joko berbaring di ranjangnya. Kontol yang kini mulai tegak, kembali menjadi sasaran kuluman Hilda. Tak banyak yang bisa Joko lakukan selain menikmati service dari Hilda. Mata Hilda sesekali menatap ke arah Joko, ingin melihat ekspresi pejantannya.

“Udah Mbak stop “ pinta Joko pada Hilda, khawatir dia tak lagi bisa menahan ejakulasi dari penisnya yang sedari tadi mendapat stimulus dari mulut Hilda. Setelah melepas penis tersebut, Hilda kemudian melepas satu persatu kain di tubuhnya, hingga menunjukkan bikini yang mampu membuat seluruh laki-laki menelan ludah dibuatnya. Sambil seolah menari erotis, Hilda melucuti semua kain yang menempel di tubuhnya. Kini bidadari Hilda hanya berbusana sebagaimana Ketika ia lahir di dunia ini. Melihat itu sontak Joko mengurut kontolnya sendiri, ingin menambah sensasi kenikmatannya.

Hilda duduk di sofa dengan kaki mengangkang, jari-jari tangan kirinya memainkan vaginanya sendiri, dan tangan kanan mengisyaratkan agar Joko mendekat padanya. Joko paham apa yang harus ia lakukan. Ia segera mendekat dan bersimpuh di depan selangkangan Hilda. Dijilatinya, dikecup, disedot, apapun Joko lakukan dengan mulut, lidah, dan bibirnya untuk merangsang vagina dari Hilda.

“Ohhh,,, terussss” desah Hilda menikmati permainan oral Joko. Dengan inisiatifnya, dimasukkan 2 jari ke dalam vagina Hilda. Tubuhnya menggelinjang hebat cairan mulai merembes di vaginanya. Hilda mendapat orgasme pertamanya malam itu.

Sambil tersenyum puas Hilda mengubah posisinya, menungging naik ke atas sofa. Matanya mengedip memberi kode pada Joko apa yang harus ia lakukan. Joko paham, dia memposisikan kontolnya di vagina Hilda, Bersiap untuk menyetubuhinya dari belakang.

“Pake kondom Mbak ?” tanya Joko

“Ga usah, kamu kan suamiku malam ini, boleh bebas kok mau ngapain aja” ucapnya menggoda penuh gairah.

Tangan kanan memegang batang kontolnya diarahkan masuk ke vagina dan tangan kiri memegang pinggul Hilda. Dalam satu dorongan, penis Joko tenggelam ditelan vagina Hilda. Lenguhan dan desahan Hilda mengiringi prosesi penetrasi yang penuh dengan sensualitas. Kedua tangan Joko kini memegang pinggul Hilda, mengatur ritme dan kekuatan sodokan kontolnya ke vagina Hilda. Berbeda dengan malam sebelumnya, Dimana persetubuhan dijalani dengan penuh kelembutan, sensual, erotis, mala mini hanya ada nafsu dan birahi yang berkuasa. Joko menyetubuhi Hilda seperti anjing yang sedang birahi di musim kawin. Makin cepat, makin kuat hujaman kontol Joko di vagina Hilda, menghasilkan suara tumbukan kulit selangkangan Joko dengan bokong Hilda.

“Plok..plok….ahhh…teruuss sayang…enak” racau Hilda

Kepala Hilda didongakkan ke atas, menunduk ke bawah, terkadang menoleh ke belakang, melihat aksi pejantannya.

“Ahhh..Mbakk..mau keluar….di dalam yaaaa” ucap Joko mendekati ejakulasinya.

Tak terdengar jawaban dari Hilda, ia sibuk mendesah dan melenguh. Joko mempercepat genjotannya, menekan semakin dalam hingga pecah lah semburan sperma di vagina Hilda. Joko memeluk tubuh Hilda dari belakang, tangannya meremas kedua payudara Hilda seraya mencumbui lehernya dari belakang. Hilda menyukai perlakuan itu, ia pun menoleh ke belakang dan saling berciuman dengan penis masih tertancap di vaginanya, menghabiskan sisa-sisa cairan yang belum keluar semua.

“Masih bisa kan ?” tanya Hilda

“Masih dong Mbak, ga kerasa ini masih keras loh nancep di memek Mbak”

Hilda memang merasakannya, walaupun sudah ejakulasi, kontol Joko masih tetap keras, makanya bisa tetap menancap di vaginanya dengan sempurna. Joko kembali menggerakkan pinggulnya, menggenjot Hilda dari belakang, kedua tangannya meremas payudara Hilda, sambil mencumbui lehernya.

Hilda berbalik, duduk di sofa, otomatis penis Joko terlepas, dia pun sedikit terdorong ke belakang akibat pegerakan Hilda tersebut. Hilda memegang kontol Joko yang basah mengkilat, campuran cairan kewanitaan Hilda dan spermanya. Tanpa aba-aba, Hilda menjilati dan mengulum penis yang basah itu seolah ingin membersihkannya. Hilda bangkit dari sofa menggandeng Joko menuju ranjang. Hilda berbaring mengangkang. Missionaris, itulah gaya yang terbersit di kepala Joko Ketika melihat posisi berbaring bidadarinya. Hilda tahu, Joko cukup berpengalaman dalam urusan Wanita, tidak perlu banyak bicara, Joko lansung paham apa yangharus dilakukan. Ia naik ke ranjang memposisikan dirinya di antara kedua kaki mengangkang nya Hilda. Dalam sekali dorongan penisnya hilang menyatu dengan vagina Hilda. Kini Joko ingin bermain dengan payudara Hilda, kedua tangan dan mulutnya sibuk menikmati dua bongkah daging kenyal putih dan besar, lembut tapi penuh gairah. Pinggulnya bergerak maju mundur, dengan penuh tenaga tapi tidak terlalu cepat. Joko ingin menikmati ronde ini lebih lama.

Hilda mengelus-elus rambut dan punggung Joko menunjukkan rasa sayang pada pria yang sedang menyetubuhinya, Hilda terkadang mengangkat wajah Joko yang terbenam di payudaranya untuk saling berciuman. Pinggul Hilda bergerak makin cepat berusaha mengambil alih ritme persenggamaannya, ia akan mencapai orgasme lagi. Joko paham, ia percepat genjotannya, tak mau bidadarinya kecewa, bibir keduanya saling bercumbu.

“Ohhh.Ohhh…Ahhhh” Hilda kembali meraih orgasme nya. Tapi Joko belum, dia masih melanjutkan genjotannya pada memek Hilda. Setelah mendekati orgasmenya, Joko mencabut kontolnya dari memek Hilda, bergeser ke perut Hilda, dan memposisikan kontol nya di tengah payudara. Hilda paham, Joko ingin boob job, dengan kedua tangannya Hilda menjepit kuat kontol Joko diantara payudaranya. Joko kini menggenjot toket Hilda. Tak lama kemudian penis Joko menyemburkan lava putih, karena tekanannya tinggi, semburannya ada yang mengenai wajah, leher dan payudara Hilda. Karena kaget Hilda sedikit terpekik.

“Aww…muncrat..hehehe” ucap Hilda penuh riang. Joko kembali ingin bermain-main dengan Mbak nya. Ia kembali bergeser, kini mendekati kepala Hilda, dia arahkan penisnya yang masih berkedut ejakulasi ke mulut Hilda. Hilda dengan senag hati membuka mulutnya, menyambut kontol kekasihnya masuk ke mulutnya. Joko menggerakkan pinggulnya, seperti sedang menggenjot mulut Hilda. Genjotannya pelan dan tidak dalam, sehingga tidak membuat Hilda tersedak. Joko kembali berejakulasi di mulut Hilda, Joko mencabut kontolnya dari mulut Hilda. Terlihat Hilda memainkan peju Joko yang ada di mulut dengan lidahnya, lalu menelan semuanya, dan tersenyum menatap Joko. Joko membalas tatapan dan senyuman Hilda dengan kekaguman. Sungguh luar biasa Wanita satu ini. Wanita paling cantik, paling binal yang pernah Joko temui.


Part 6 (Love Lust in Bali) bagian 2

“Nakal kamu ya, masa Mbak disuruh nelen peju kamu sih” seolah protes tapi tidak ada ekspresi terpaksa atau marah, hanya senyuman indah yang tersungging di bibir manis Hilda.

“Mbak nya binal banget sih malam ini, jadi terbawa suasana, maaf ya Mbak, kalau Mbak ga suka” dengan tulus Joko meminta maaf.

“Ga apa-apa kok, bukan ga suka, cuma ga nyangka aja, Mbak kan udah bilang, malam ini kamu bebas mau ngapa-ngapain Mbak” jawaban Hilda, kembali membuat birahi Joko membara.

Hilda merangkak di atas ranjang mendekati Joko dengan tatapan tajam, seperti Singa betina yang mendekati mangsanya, lalu duduk di pangkuan Joko secara memeluknya, berhadapan dengan wajah Joko.

“Lanjut yu..” kecupan lembut diberikan Hilda di bibir Joko.

“Bentar Mbak, narik napas dulu” jantung Joko seperti dipaksa untuk berdetak lebih cepat dengan 2 ronde sebelumnya. Ia butuh waktu break lebih lama.

Hilda turun dari pangkuan Joko berjalan menuju mini fridge di kamar hotel tersebut. Lenggak lenggok goyangan pantatnya membuat darah setiap pria berdesir kencang. Alih-alih berjongkok, Hilda memilih untuk menungging, memberikan pemandangan indah bagi pasangannya. Diambilnya satu kaleng bir, lalu kembali ke Joko. Hilda meminum Sebagian dari bir itu lalu meminumkannya ke Joko. Hilda sengaja tidak membawa botol lain untuk Joko. Ia tak ingin dalam kondisi mabuk Ketika bercinta malam ini. Ia ingin merasakan semua sensasinya dalam kondisi sadar.

“Mandi dulu Yuk, biar lebih fresh, nanti Mbak yang mandiin kamu hehehe” ujar Hilda genit.

“Ga akan Cuma mandi dong Mbak kalau barengan mah”

“Emang itu rencananya hehehe” senyum binal Hilda kembali tersungging di bibirnya.

Mereka berdua berjalan menuju kamar mandi bersama-sama dalam kondisi telanjang bulat. Joko yang gemas meremas bokong Hilda, diiringi pekikan manja dari Hilda. Suhu air dari shower diatur agar hangat, tidak terlalu panas tidak terlalu dingin, cukup untuk membuat tubuh mereka yang lengket dibaluti keringat dan lendir cinta merasa nyaman dan rileks. Mereka berdiri di bawah guyuran air hangat, melemaskan otot-otot yang sempat menegang, mengembalikan aliran darah menjadi tenang, menenangkan detak jantung yang memburu. Elusan dan remasan sensual Joko daratkan di beberapa bagian tubuh Hilda, ia memekik kecil kegelian. Joko mengambil sabun mandi cair dan melumuri tubuh Hilda dengannya, seolah memandikan Hilda, walau lebih tepatnya Joko sengaja ingin menyentuh seluruh tubuh Hilda inchi demi inchi nya, tak ingin ada yang terlewat. Hilda menggelinjang kegelian dengan ulah Joko. Benar kata Joko prosesi mandi menjadi lebih rumit kalau mereka mandi bersama. Kini gentian Joko yang dimandikan, berbeda dengan Hilda. Usapan dan elusan Hilda tidak membuatnya geli, namun membuat kontolnya mengeras. Setiap inchi Hilda gosok dengan lembut termasuk penisnya. Cukup lama Hilda mengelus bagian itu. Joko pun tak tinggal diam, kedua payudara Hilda menjadi sasaran remasan kedua tangannya gemas. Bibir mereka saling bercumbu sambil menikmati licinnya gesekkan diantara tubuh mereka. Selesai saling menyabuni, air hangat pun kembali menyemprot dari shower. Melunturkan busa sabun dari tubuh mereka. Hilda merasa gemas dengan kontol Joko yang mengeras sempurna, ia lantas bersimpuh lalu memblow job batang tersebut. Joko sambil membersihkan tubuhnya dari busa sabun, menikmati service yang diberikan Hilda pada penisnya. Tak ingin hanya dia sendiri yang menikmatinya, Joko mengangkat bahu Hilda agar berdiri lalu gantian kini Joko yang bersimpuh, diangkatnya satu paha Hilda dan ditumpukan ke bahunya. Cunnilingus, itulah service yang diberikan Joko pada Hilda sebagai balasan dari Blow Job tadi.

“Udah Joko….geli” Joko paham itu bukan perintah untuk menghentikan tapi perintah untuk melanjutkan ke aksi berikutnya.

“Nungging Mbak, sambil berdiri, nyender ke dinding” Joko mengarahkan Hilda posisi apa yang harus dilakukan.

Masih dibawah guyuran air hangat yang mengalir rintik, Joko memacu pinggulnya menggenjot betinanya dari belakang. Tangan dan dada Hilda bertumpu pada dinding fiberglass, membuat payudaranya tergencet, membuat pemandangan eksotis jika dilihat dari luar.

“Ohhhh…uhhhh..jangan lama-lama Joko, nanti masuk angin” Joko tidak sadar kalau mereka masih di dalam shower room dan masih bermandikan air hangat. Joko pun melepaskan kontolnya dari vagina Hilda. Hilda berbalik kemudian mencubit pipi kekasihnya malam ini.

“Susah banget sih disuruh sabar” sambil tersenyum genit.

“Kan Mbak yang mulai, langsung nyepong kontol saya” jawabnya mesum.

“Abis gemes, keras banget soalnya”

Meraka mengeringkan tubuh mereka dengan handuk. Joko mengenakan kimono lalu menggosok gigi nya. Sementara Hilda melilitkan handuk tadi menutupi setengah payudaranya dan bokongnya. Setelah Joko selesai sikat gigi tiba-tiba Hilda menyuruhnya duduk di toilet. Joko menurut tanpa banyak bertanya. Tali kimono Joko dilepaskan sehingga mencuatlah batang keperkasaan Joko. Hilda memposisikan penis Joko tepat di mulut vagina nya dengan posisi membelakasngi Joko lalu mendudukinya hingga tenggelam semua penis itu hilang ditelan vagina Hilda. Rupanya Hilda pun merasa tanggung atas permainan di shower tadi, ia Cuma tidak mau terlalu lama dalam kondisi tubuh basah, khawatir masuk angin. Tangan Joko memegang pinggul Hilda mengimbangi kecepatan genjotannya. Hilda memang hanya ingin menuntaskan kentang nya, dan tidak berniat untuk berlama-lama, sehingga ritme nya langsung cepat dari masuknya kontol Joko ke vagina Hilda.

“Shhhh…hhhhh..bentar lagi Joko” desah Hilda yang akan segera meraih orgasmenya.

Tubuh Hilda menegang beberapa saat, dengan kepala mendongak ke atas menikmati orgasmenya. Joko memeluk wanitanya dari belakang, membiarkannya menikmati gelombang kenikmatan. Setelah selesai dengan orgasmenya, Hilda kembali pada kesadaran penuhnya, berdiri melepaskan batang keras dari vagina nya.

“Kamu belum keluar kan” tanya Hilda

“Belum Mbak, nanti aja” ujar Joko.

Hilda tersenyum senang, pejantannya tidak egois hanya mengejar kenikmatannya sendiri, tapi juga begitu perhatian, mendahulukannya menikmati orgasmenya. Hilda merasa Joko pandai meratukannya malam ini.

“Jago kamu ya hehehe, tunggu di kasur sana, nanti Mbak kasih kejutan” sambil mengerlingkan matanya menggoda Joko.

Joko menuju kasur, melepaskan kimononya yang agak basah, lalu berbaring sambil berselimut, menutupi bagian bawahnya yang telanjang. Sambil menunggu Hilda, ia menonton Netflix di TV kamar. Penisnya mulai mengkerut, tidak setegang tadi, fokusnya mulai teralih pada alur cerita film yang sedang ia tonton. Hilda menutup pintu kamar mandi, sehingga Joko tidak tahu apa yang sedang Hilda lakukan.

Sekitar 20 an menit kemudian Hilda keluar dari kamar mandi. Joko tercengang dengan mulut terbuka dan mata melotot. Untuk kesekian kali nya Hilda berhasil membuat Joko pangling, Hilda tampil dengan lingerie seksi, riasan wajahnya bold tapi tidak menor berlebihan seolah ingin menunjukkan sisi liar dari dirinya. Napas Joko seolah terhenti melihat pemandangan itu, sosok bidadari kini berubah menjadi sosok wanita binal yang siap mengumbar birahinya.

Hilda melangkah pelan sambil menebarkan senyum penuh gairah, tatapan mata tajam menggoda, tubuhnya berlenggok bagai model di catwalk, kemudian berpose menyamping, berbalik dan berputar memastikan kekasihnya Joko menikmati pemandangan tubuhnya dari semua sisi. Puas menggoda mata dari kekasihnya, Hilda merangkak diatas kasur mendekati Joko. Dengan jarak tinggal se senti antara wajahnya dan wajah Joko ia berhenti lalu berkata,

“Aku ingin malam ini menjadi malam spesial, bukan sebagai Hilda dan Joko, tapi sepasang pria dan Wanita yang saling memuaskan hasrat masing-masing. Setelah malam ini kita akan kembali menjadi Hilda dan Joko dengan kehidupannya masing-masing.” Joko hanya mengangguk membalas Hilda, ia akan patuhi semua yang diinginkan ratunya Hilda malam ini.

“Kamu ga punya penyakit jantung kan ?” Joko menggeleng.

“Ini ada obat aphrosidiac sejenis Viagra tapi lebih kuat lagi efeknya, buat kamu dan aku. Obat ini akan secara konsisten membuat kita terangsang, orgasme tidak akan menurunkan gairah kita, justru sebaliknya, ejakulasi ga akan bikin kontolmu mengkerut, gitu juga dengan vaginaku, akan semakin sensitive setiap orgasme, semakin basah. Durasinya sekitar 1 jam, tergantung stamina. Kamu siap ?” Tanya Hilda tegas.

“Kenapa harus pake obat Mbak, aku bisa bikin Mbak kelojotan tanpa obat” Joko yakin akan kemampuannya.

“Badan kita tetep akan butuh break setiap orgasme nya. Dengan obat ini, Cuma akan ada satu ronde panjang, ejakulasi dan orgasme bukan akhir dari ronde, permainan akan terus berjalan tanpa jeda, makanya perlu badan yang sehat dan stamina yang kuat, karena bahaya, bisa kena jantung kalau ga kuat. Aku ingin malam yang intens, malam panjang tanpa jeda, tanpa break. Hingga akhirnya tubuh kita sendiri yang berhenti” papar Hilda.

Joko sebenarnya cukup kaget dengan semua penjelasan Hilda, sejauh apa, seliar apa Hilda mempersiapkan malam ini, hingga perlu membawa obat seperti itu. Tapi Joko pun penasaran, ia ingin merasakan kenikmatan yang Hilda jelaskan tadi. Hilda menyuapi pil tersebut langsung menggunakan mulutnya ke mulut Joko. Dan ia pun meminum pil yang sama untuk dirinya. Air mineral diminum untuk mendorong pil itu masuk ke tubuh mereka.

Hilda duduk di pangkuan Joko, saling berhadapan mereka saling berciuman, bercumbu dengan panas, saling melumat lidah dan bibir masing-masing. Tangan Joko meremas-remas lembut panta Hilda, sementara tangan Hilda melingkar di leher Joko dan tangan satunya gemas mengelus kepala Joko. Efek obat mulai terasa. Panas gairah menjalar ke setiap bagian tubuh mereka, menuntut pelampiasan. Hilda mengangkat pantatnya dari pangkuan Joko. Penis keras Joko diarahkan masuk ke dalam vagina Hilda yang sudah basah karena efek obat, dan foreplay singkat. Celana dalam Hilda tidak dilepas hanya dikesampingkan, asal kontol Joko punya akses masuk ke vagina nya. Gerakan naik turun Hilda diatas pangkuan Joko, pelan tapi pasti, memberikan sensasi gesekan erotis pada batang kontol dan vagina Hilda. Joko merasakan sesuatu yang berbeda, belum pernah ia merasakan ini, sesnasinya luar biasa, batang kontolnya terasa lebih sensitive, setiap gesekan Hilda seperti sengatan Listrik yang bisa membuatnya ejakulasi kapan saja. Tapi di sisi lain gairahnya makin memuncak, memberinya energi untuk menggenjot lebih cepat dan kuat, ia merasa kontolnya lebih keras dan menebal lebih dari biasanya. Rongga vagina Hilda terasa hangat menggigit, lebih hangat dan sempit dari sebelumnya. Efek obat pun sudah bereaksi di tubuh Hilda, tidak hanya vagina nya, payudara, pantat, den seluruh bagian tubuhnya memanas, menuntut untuk dijamah.

Cumbuan mereka tidak lepas seraya genjotan naik turun antara vagina Hilda dan penis Joko semakin intens. Hilda mendongakkan kepala menikmati sensasi luar biasa yang tubuhnya rasakan, leher jenjang menjadi sasaran cumbuan dari Joko. Hilda menarik bra lingerie nya ke bawah membuat payudaranya terekspos, Kepala Joko diarahkan dan ditekan agar tenggelam dalam kekenyalan payudaranya. Putingnya mengeras, segera dilumat oleh Joko. Genjotan mereka tak lagi Santai, ada sesuatu yang akan segera memuncah. Joko membaringkan tubuh Hilda ke depannya. Tanpa melepas penisnya dari vagina Hilda dengan kaki yang mengangkang, kedua tangannya erat menggenggam pinggul Hilda, membantu mempercepat hujamannya ke vagina Hilda. Orgasme keduanya sudah berada di ujung tanduk, tak terdengar kata, hanya deru desah napas memburu, pendek dan cepat. Keduanya ejakulasi bersamaan, sengatan hebat menjalar di tubuh mereka, bukan orgasme biasa, tapi dipengaruhi oleh obat tadi. Ledakan orgasme yang luar biasa. Tubuh mereka menggelinjang hebat menikmati proses menyemburnya lava putih kental dari kontol Joko dan banjirnya cairan cinta Hilda dari memeknya.

Seperti yang Hilda jelaskan sebelumnya, orgasme atau ejakulasi tidak menjadi akhir suatu ronde, tidak ada break atau jeda. Kontol Joko masih keras, tegak, menegang, sementara memek Hilda masih basah hangat mengempot, dengan rongga yang menggigit. Sadar akan hal itu Joko mengangkat satu kaki Hilda ke bahunya, Joko melanjutkan genjotannya dengan posisi scissor atau gunting. Memberikan sensasi lain bagi penis Joko dan vagina Hilda. Karena saking semangatnya kedua insan ini mengadu nafsu, tak sengaja terlepaslah kontol Joko dari vagina Hilda dan disaat yang bersamaan ternyata penisnya sedang berejakulasi sehingga menyemburlah peju Joko ke perut, dada bahkan sampai ke wajah Hilda. Joko hendak memasukkan kembali kontolnya ke sarang memek Hilda. Tapi tiba-tiba Hilda bangkit dari ranjang dengan posisi merangkak dengan cepat mengulum dan menyedot kuat kontol Joko agar semua pejunya masuk ke mulutnya kemudian menelannya.

Setelah aliran lava putih terhenti Hilda mendorong Joko untuk berbaring, dikangkanginya wajah Joko dengan posisi 69. Hilda memainkan kontol Joko, sementara Joko memainkan vagina Hilda. Tidak hanya lidah, jari pun dimasukkan Joko ke vagina Hilda untuk menambah sensasi, tidak satu atau dua, tiga jari masuk ke vagina Hilda. Terasa cengkraman memek Hilda pada jari Joko yang masuk ke dalamnya, cairan cinta banjir membasahi tangan dan wajah Joko. Joko dengan rakus menjilati dan menyedotnya penuh semangat. Tak mau kalah, Hilda pun menyedot kuat kepala kontol Joko, menimbulkan efek geli yang luar biasa bagi Joko. Hilda kembali bangkit sambil menekan tubuh Joko agar tetap berbaring di bawah. Hilda buka lingerie nya yang sudah koyak akibat liarnya permainan mereka. Penis Joko kembali diarahkan masuk ke vagina nya dengan posisi reverse cowgirl. Genjotan cepat diberikan Hilda pada Joko, Gerakan naik turun pinggulnya tak lagi terkendali, ulekan pinggul Hilda seolah memelintir penis Joko di dalamnya. Joko menampar pantat Hilda beberapa kali, tidak terlalu keras hingga menyakiti Hilda namun cukup untuk menghasilkan bunyi dan membuat pantatnya kemerahan. Dan yang pasti menambah sensasi Hilda yang kini sedang menunggangi Joko. Lagi-lagi mereka mencapai orgasme, entah yang ke berapa.

Sesaat setelah orgasme dominasi Hilda mengendor, Joko mengambil alih, memeluknya Hilda dari belakang lalu membaringkannya menyamping, kaki Hilda diangkat sebelah sehingga Joko bisa melakukakn penetrasi dari belakang, Tangannya memeluk Hilda seraya menggenggam erat salah satu payudaranya. Dijadikan pegangan Ketika Joko menggenjot Hilda cepat dan kuat. Setelah beberapa lama, lagi-lagi Joko mengisi rongga memek Hilda dengan pejunya. Sperma dan cairan kewanitaan Hilda luber dari vagina, membasahi selangkangannya.

Dengan efek obat yang masih bereaksi di tubuh mereka, seolah tanpa Lelah kini Joko memposisikan Hilda menungging doggy style. Penisnya tertancap sempurna bergerak maju mundur menimbulkan suara tepukan peraduan bokong semok Hilda dengan pahanya. Tubuh Joko agak membungkuk ke depan, agar tangan Joko bisa meraih toket Hilda dan menjadikannya pegangan Ketika mengentot Hilda. Hilda ambruk, kini dada dan tangannya rebah di kasur tapi bokongnya masih menjulang tinggi menungging sedang dientot Joko, entah karena Lelah atau mungkin efek obatnya mulai memudar. Tumpuan Joko berpindah dari lututnya, kini seperti setengah berjongkok breeding position. Tangannya menggenggam erat pinggang dengan pinggul membulat Hilda. Genjotannya semakin cepat, seolah-olah ini adalah genjotan terakhir sebelum finish. Joko iseng ia gesekkan jempolnya di lubang anus Hilda dengan pelumas dari memeknya. Sedikit ia tekan jempolnya di lubang anus tersebut sehingga masuklah beberapa inch saja, tidak banyak. Hilda menyadari keisengan Joko, ia sempat berbalik menatap Joko, tapi tak ada kalimat penolakan, Hilda kembali tenggelam dalam jurnag kenikmatan yang sedang diberikan Joko. Tak ada kata yang terucap, tak ada kalimat yang tercakap. Mereka berkomunikasi dengan tubuh, kulit dan kelamin mereka. Dengan Bahasa yang semua makhluk mengerti, yaitu seks.

Puncak orgasme telah diraih, perlahan keduanya ambruk, lunglai, melemah. Efek oabt itu memudar, tubuh mereka menyerah. Hilda berbaring di dada bidang Joko, dalam pelukannya Hilda mengatur napas nya yang tadi memburu. Riuh ricuh suara pergumulan dua insan kini menjadi sunyi. Hanya desiran napas yang masih terdengar pelan.

“Maafin Mbak ya Joko” suara Hilda memecah keheningan. Joko yang hampir tertidur kembali terjaga.

“Aku udah manfaatin kamu”

“Maksud Mbak ?” tanya Joko bingung

“Aku melakukan semua ini, karena ingin mengulang kenanganku dengan Mas Bagas suamiku. Semua yang kita lakukan dari kemarin adalah hal-hal yang pernah kulakukan dengan Bagas. Tempat-tempat wisata, restoran, bahkan hotel ini adalah hotel yang sama dengan yang dulu kami datangi.” Joko mendengarkan dengan seksama cerita Hilda.

“Ibarat Ketika kita rindu masakan Ibu kita yang jauh atau sudah berpulang, lalu kita menemukan makanan sejenis yang rasanya mirip atau mendekati, hal itu bisa membuat kita kembali mengingat kenangan-kenangan indah bersama Ibu.”

“Tapi bukan berarti kita akan menggantikannya dengan masakan baru itu kan. Hanya untuk membangkitkan memory saja.”

“Seperti halnya yang kita lakukan ini Joko. Aku cuma butuh pengingat bagaimana kebahagiaan kami dulu. Tidak ada maksud yang lain.” Joko merenung, dalam hatinya dia tidak terima. Bukan karena ia ingin memiliki Hilda seutuhnya, tapi ia khawatir tak bisa lagi menikmati keindahan Hilda.

“Terimakasih Joko, sekarang tangki cintaku sudah kembali penuh, aku siap mencintai suamiku kembali seperti dulu”

“Setelah ini, kita kembali jadi Joko dan Hilda ya rekan sekantor dengan kehidupan masing-masing.”

“Mbak apa kita bisa kayak gini lagi ?” tanya Joko penuh harap. Hilda terdiam cukup lama, tak menjawab apapun, hanya tersenyum.

Mereka berdua berpisah, Hilda kembali ke kamarnya melalui connecting door. Malam itu keduanya tidur dalam kepuasan. Terutama Hilda, ia bermimpi, mimpi indah tentang kebahagiaan kehidupannya dengan Bagas. Mimpi yang sudah lama hilang kini kembali


Part 7 Ekspektasi

Hilda terbangun karena sinar matahari masuk menyinari wajahnya. Diliriknya jam dengan mata sayu, belum sepenuhnya terbangun. Jam sudah menunjukkan jam 8 lebih. Ia bangun kesiangan, memang sengaja, setelah apa yang terjadi semalam. Beringsut malas Hilda meraih handphone nya, terlihat beberapa pesan, tapi tak ada satu pun pesan dari Bagas. Entah kenapa Hilda mengharapkan ada pesan dari Bagas, walaupun ia tahu, Bagas tidak boleh tahu apa yang dilakukannya tadi malam. Pesan lain yang menarik perhatiannya adalah pesan dari Joko. Hilda tahu pesawat Joko pagi sekali, Joko berencana terbang ke Yogya menemui istrinya Sari yang sedang berkuliah di Yogya, menghabiskan long weekend disana. Joko memang sengaja hanya berpaminta via pesan, karena tidak mau mengganggu, selain itu, seperti yang Hilda sampaikan tadi malam. Setelah tadi malam, mereka berdua kembali menjadi Joko dan Hilda yang punya kehidupan masing-masing.

“Mbak saya berangkat duluan ya, sampai ketemu Senin depan di kantor.” Pesannya singkat.

Ada email dari Joko berjudul kan “Proposal Penawaran”, cukup kaget Hilda melihatnya, untuk apa Joko buat proposal penawaran segala. Hilda tidak menyuruh apapun pada Joko. Ketika dibuka ternyata isinya gambar PAP Penis Joko yang sedang ereksi. Joko menjelaskan kalau tadi pagi ia sangat horny, dan sempat-sempatnya beronani sebelum ke bandara tadi pagi. Hilda tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Ia tidak membalas baik pesan maupun email Joko.

Hilda segera beranjak menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya dari jejak-jejak keliaran tadi malam. Ia masih mengingat betul sensasi kenikmatan yang masih terasa di setiap inchi tubuhnya. Dengan air hangat yang mengguyur dari shower, ia bersihkan setiap bagian tubuhnya tanpa terlewat, sesekali ia tersenyum mengingat momen-momen indah dirinya dan Joko semalam. Seperti Joko, ia pun ingin masturbasi saat itu, tapi segera ditepisnya. Sudahlah malam indah sudah berlalu, saatnya melangkah menyongsong hari baru.

Selesai mandi, dengan outfit casual sederhana, Hilda turun sarapan. Sebenarnya ia sedikit merasa kesepian karena Joko sudah tidak ada. Tapi ya sudah bagaimana lagi, bukankah Joko dan Hilda sudah kembali pada kehidupannya masing-masing. Di tempat sarapan, Hilda mengambil cukup banyak makanan, lebih banyak dari biasanya. Sepertinya Hilda memang butuh asupan kalori lebih, untuk mengganti nutrisi yang sudah terbakar malam tadi. Selesai makan, Hilda segera kembali ke kamarnya. Ia rebahkan tubuhnya di ranjang.

“Hmmmm….aku siap kembali menjadi istri Bagas. Joko sudah mengisi tangki cintaku.” Gumamnya pelan hingga tidak sengaja tertidur di kasurnya. Hilda terbangun dengan sedikit kaget, ia tidak berencana tidur lagi, tapi perut kenyang, kasur nyaman, membuatnya kembali terlelap karena memang tubuhnya masih menuntut istirahat. Flight nya masih jam 3 sore, ia masih punya banyak waktu. Hilda mulai packing-packing pakaiannya, merias wajahnya, dan memilih pakaian untuk dia pulang ke Jakarta.

Hilda tampak cantik dengan balutan hijab trendy, dan pakaian fashionable. Hilda putuskan untuk menggunakan kembali Hijabnya setelah beberapa hari ini melepas bebas rambutnya. Seolah sebagai symbol kesiapannya kembali pada kehidupan sebelumnya. Setelah check out, ia memesan mobil yang akan mengantarnya ke bandara. Sebelum ke bandara, Hilda sempatkan mampir dibeberapa toko untuk membeli oleh-oleh untuk Bagas. Ia pun makan siang di sebuah restoran yang cukup terkenal disana.

Tak terasa kini Hilda telah kembali ke Jakarta, di dalam Taxi berwarna biru muda ia terlihat begitu Bahagia. Bagaimana tidak, Bali meninggalkan memory indah bagi Hilda, dan kini harapan baru muncul di dirinya. Harapan kebahagiaan hidupnya dengan Bagas akan kembali lagi. Waktu berlalu dalam lamunan Hilda, Taxi sudah sampai di depan rumahnya. Setelah membayar ongkos, dia turun dengan membawa semua barang bawaannya. Dengan riang gembira dia masuk ke dalam rumah, segera ia menemui Bagas suaminya di kamarnya. Pelukan hangat diberikan Hilda pada Bagas yang sedang sibuk dengan laptopnya,

“Kangen aku nggak sayang” ucap Hilda sambil memeluk Bagas. Tidak ada respon signifikan dari Bagas. Hanya respon dingin terkesan canggung dari Bagas.

“Nih aku bawain oleh-oeh dari Bali, ini kesukaan kamu lho Mas. Aku sengaja beli buat kamu Mas, soalnya terakhir kita kesana kamu suka banget ya kan.” Tak henti Hilda meluapkan rasa sayangnya pada Bagas. Walaupun Bagas seolah tak bergeming, masih menunjukkan aura dingin yang menyelimuti dirinya.

“Terima kasih” ucap Bagas nyaris tak terdengar. Hilda tersenyum bahagia. Itu ucapan dengan vibe positif yang sudah lama tak ia dengar. “Itu cukup untuk saat ini” gumamnya dalam hati.

Malam itu setelah Hilda beberes barangnya dari koper, mandi membersihkan dirinya dari aroma perjalanan yang baru ia tempuh, ia tidur dengan hati senang. Hari ini berlalu dengan rangkaian hal menyenangkan. Semoga besok akan lebih baik lagi, harapan Hilda dalam hatinya.

Keesokan paginya Hilda terbangun dari tidurnya, di kepalanya ribuan rencana sudah tergambar. Dia akan menjadi “istri yang baik” hari ini. Diawali dengan olahraga ringan, jogging di sekitaran komplek sekitar setengah jam. Kembali ke rumah lalu memasak sarapan bagi dirinya dan suaminya. Dilanjutkan dengan beberes rumah, hal lumrah yang dilakukan seorang istri, sambil menunggu suaminya Bagas bangun untuk sarapan bersama. Di meja makan sudah tersedia berbagai menu khas sarapan yang menggugah selera. Bagas terbangun lalu menuju meja makan, dia ingin tahu aroma apa yang cukup menggoda nafsu makan nya. Hilda menyambutnya dengan mesra. Mempersilakannya duduk dan melayaninya dengan baik. Hilda tak berhenti mengajak Bagas untuk mengobrol, hal-hal ringan di kehidupan mereka, berusaha untuk membuat suasana sarapan mereka hangat. Tapi sayang Bagas hanya menjawab sekenanya. Tidak antusias, hanya ingin menyelesaikan sarapannya dan kembali ke “kesibukannya”. Selesai makan Bagas segera beranjak dari meja makan, meninggalkan Hilda yang masih sarapan dan masih ingin mengobrol dengannya, tapi dia lebih memilih untuk merokok di halaman belakang. Hilda mulai menghela napas, pagi ini tidak sesuai harapannya. Tapi biarlah, Hilda tetap melanjutkan rencananya untuk menjadi istri yang baik hari ini. Semua pekerjaan rumah ia kerjakan. Rumah itu kembali memancarkan keindahannya, sentuhan Hilda menjadikannya hidup. Kenyamanan dan kehangatan kembali menaungi rumah tersebut. Hilda lanjutkan dengan memasak di dapur, setelah berbelanja di supermarket terdekat, untuk mengisi kulkasnya. Menu 4 sehat 5 sempurna dia sajikan dengan penuh kasih dan cinta, bagi orang terkasih dan sayangnya, Bagas. Sungguh menyebalkan, Bagas seolah tak peduli, lebih mirip buta, tuli, dan bisu. Ia tak menghiraukan istrinya yang begitu sibuk hari itu, mempercantik rumah, melayaninya, menghidupkan kembali kondisi rumah yang mati suri. Hilda mengajaknya makan siang di meja makan, Bagas menolak, ia ingin makan di kamar di depan laptopnya. Hilda tetap sabar, ia sajikan makan siang Bagas dan diantarkannya ke kamar Bagas. Setelahnya, ia duduk di samping Bagas yang masih fokus memandang layar laptop yang sedang menampilkan sebuah film. Ia Nampak menikmati makanannya sambil menonton film. Sementara istri cantiknya yang berada di sampingnya tidak ia pedulikan. Lagi-lagi Hilda berusaha untuk mengajak ngobrol, dan lagi-lagi Bagas hanya menanggapi dingin, menjawab sesingkat mungkin, seperti tidak ingin diganggu dengan kesibukannya. Lama kelamaan Hilda Lelah, ia pergi meninggalkan kamar Bagas, masuk ke kamarnya lalu berbaring. Rasa lelah mulai menyelimutinya, tapi rasa kecewa membunuhnya lebih cepat. Hilda tertidur siang itu, setelah segala kesbukannya seharian di rumah.

Di malam hari, ia tetap lanjutkan usahanya untuk menjadi istri yang baik. Setelah mandi sore, ia kenakan pakaian dinas malam istri, berbahan tipis nyaris transparan, menunjukkan setiap pesona tubuhnya. Wajah cantiknya ia rias dengan make up ringan natural, menegaskan kecantikan dirinya. Hilda siap melayani suaminya malam ini. Ucapan romantic, sentuhan manja, suara mesra menggoda, tatap mata sayu meminta, semua Hilda tunjukkan untuk membangkitkan gairah Bagas malam itu. Usahanya tidak sia-sia, Bagas tergoda, mengikutinya masuk ke kamar, mengikuti arahan birahinya. Pelukan, ciuman, cumbuan, sentuhan di area sensitive, Hilda berikan untuk Bagas. Nafsu Bagas mulai terbakar, di atas ranjang kamar Hilda, Bagas mulai menunjukkan gejolak gairahnya, disingkapkannya daster seksi Hilda, celana dalamnya ditarik secara cepat sedikit memaksa. Bagas pun telah menelanjangi tubuh bagian bawahnya sendiri. Dengan terburu-buru ia mengarahkan penisnya ke vagina Hilda, tanpa stimulasi, tanpa foreplay, Bagas berusaha memasukkan kontolnya yang menegang ke vagina Hilda dengan kasar. Beruntung Hilda memang sudah terangsang, vaginanya sudah basah dengan foreplay yang ia lakukan sendiri pada Bagas. Dengan egois Bagas menggerkan pinggulnya maju mundur, cepat tak beraturan, nafsunya meerintahkan tubuhnya untuk segera mencapai klimaksnya, tanpa peduli pada bidadari yang vagina nya sedang dia setubuhi saat ini.

“Mas pelan-pelan Mas, jangan buru-buru” Hilda meminta untuk diperlambat, agar dia pun bisa menikmati persetubuhan itu, agar durasinya lebih lama, agar malam itu tidak berakhir terlalu cepat. Tapi Bagas tidak peduli, bagai sedang bercinta dengan sex doll, ia hanya peduli pada klimaksnya sendiri. Beberapa saat kemudian tubuh Bagas menegang, pertanda ia telah ejakulasi, lava hangat berwarna putih telah mengisi vagina Hilda. Hilda kecewa, permainan sex itu selesai bahkan Ketika Hilda belum merasakan nikmat apa-apa. Yang lebih menyebalkan lagi, setelah ejakulasi, Bagas langsung pergi meninggalkan Hilda. Tanpa ada ucapan, tanpa gesture cinta, yang biasanya diberikan pasangan suami istri setelah memadu kasih. Bahkan seorang pelacur pun akan mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari ini. Mereka dibayar, dipuji atas pelayanannya yang memuaskan, dan dijanjikan untuk repeat order di lain waktu. Tapi tidak dengan Hilda, Bagas meninggalkannya begitu saja, kembali ke kamarnya.

Hilda tidak sanggup lagi, kesabarannya habis, air mata berlinang di pipinya, dengan cairan mani Bagas masih hangat terasa, merembes di vaginanya. Tangki cintanya yang telah diisi ulang sebelumnya di Bali seperti jebol, habis, kosong kembali. Tangki cinta yang rencananya ia gunakan sebagai booster agar dia dapat memperbaiki hubungannya dengan Bagas, seolah sia-sia. Hilda meraih ponsel di meja kecil sisi ranjang nya, scroll-scroll mencari sesuatu yang dapat mengalihkannya malam ini, hingga ia menemukan email dengan subject judul terkait pekerjaan. Hilda penasaran, dibukanya email tersebut, sungguh isinya cukup mengagetkan. Terlihat beberapa foto di email tersebut. Foto pertama terlihat seorang gadis cantik bertubuh polos telanjang menunjukkan keindahan tubuhnya yang sempurna sesuai proporsinya, berkulit putih indah menawan, sedang terbaring lemas atau mungkin tertidur pulas, terlihat kulitnya diliputi keringat dan beberapa bagian yang seperti berlendir. Foto lainnya terlihat Joko sedang selfie di dekat gadis tersebut, dengan tulisan “Sari KO Mbak.” Foto berikutnya lebih vulgar lagi, dia memfokuskan pada kontolnya yang tegak menegang, diarahkannya pada gadis yang sedang terbaring lemas, yang kini Hilda ketahui itu adalah Sari, istri Joko. “Padahal masih minta jatah nih kontol”. Tulis Joko di bawah foto tersebut. Ada satu file video, Hilda klik video tersebut.

“Mas…ohhhh…ehmmm…udah Mas….hmmmm… capek…ahhhh” suara Wanita dalam video tersebut, sambil berbaring bergoyang-goyang sepertinya sedang digenjot oleh Joko dengan posisi misionaris.

“Baru sejam masa udah lemes sih” suara Joko terdengar dengan video masih mengarah pada wajah Sari yang entah menunjukkan ekspresi nikmat, capek, lelah, atau sange. Tidak begitu jelas bagi Hilda. Video itu tidak lama. Hanya sebentar tidak sampai 2 menit.

Hilda bingung antara kasihan atau iri, ingin berada di posisi Sari yang sedang digeprek Joko sampai lemas begitu. Sepertinya apa yang terjadi di Bali telah membangkitkan sisi liar dari Joko yang sebelumnya tertidur. Tak terasa gairah Hilda muncul, setelah tanggung tadi oleh Bagas, dengan cairan hangat yang masih bersemayam di vaginanya, sensasi horny mulai menggelitiknya.

Sambil berbaring menutup matanya, mendesah pelan, menggigit bibir bagian bawahnya, tangan kanan meremas payudara yang telah dikeluarkan dari bra, memilin putingnya sendir, tangan kiri memaikan klitoris dengan sesekali memasukkan jari ke dalam vagina membuat cairan Bagas keluar dari sela-sela vaginanya, kakinya menekuk sambil mengangkangkan selangkangannya, memberikan akses seluas-luasnya bagi vaginanya untuk dijelajahi tangannya sendiri. Hilda membayangkan semua yang pernah terjadi di Bali dengan Joko, terbayang juga bagaimana Sari yang sedang digempur habis-habisan oleh Joko. Hati Hilda telah terisi oleh Bagas sehingga tak menuntut kehadiran Joko, tapi lain halnya dengan tubuhnya, liang kewanitaannya merindukan kehadiran kontol Joko untuk mengisi relung rongga rahimnya dan mengisinya dengan lendir cinta hangat hingga meluber keluar. Fantasinya membawa nya terbang di dalam mimpinya, kembali ke Bali, dan terbang ke Yogyakarta, tempat Joko & Sari berada.


Part 8 Aturan dibuat untuk dilanggar

Pagi hari menyambut Hilda, dengan cerahnya sinar matahari. Tubuhnya terasa malas untuk digerakkan. Apalagi pengalaman tidak menyenangkan tadi malam. Untungnya masih bisa terselamatkan dengan onani, setidaknya terlepaslah birahinya malam itu. Hari ini Hilda tidak ingin kemana-mana hari ini, tapi ia pun tak ingin bercosplay menjadi istri yang baik.

Entah setan darimana, muncul pikiran aneh terbersit di benaknya.

“Tadi malam aku diacuhkan, disia-sia kan, seolah dianggap makhluk tidak berguna. Maka sekarang akan kutunjukkan betapa berharganya diriku.” Tegas Hilda dalam benaknya.

Segera ia bangkit dari ranjangnya, menuju kamar mandi, ia bersihkan sisa-sisa tadi malam. Ia pilih pakaian jogging yang exotic. Jersey running warna ungu ketat, dengan legging hitam yang tak kalah ketat membentuk indah setiap lekukan tubuhnya. Ia kenakan hijab hitam untuk menutupi rambutnya. Beberapa pakaian Ganti, baju renang, dan pakaian casual ia kemas dalam sebuah tas olahraga sedang. Ia berencana keluar hari ini dan menghabiskan waktu di luar, meninggalkan rumah yang toxic ini. Sebelum pergi ia mengucapkan salam dan pamit pada suaminya. Bagas menjawab singkat tanda ia mendengarnya.

Di tempat jogging, ia berlari mengelilingi track. Dengan figure bagai bidadari, apalagi outfit yang meliuk mengikuti kurva tubuhnya, tentunya Hilda menjadi pusat perhatian terutama mata para lelaki. Pantat nya bergoyang kanan dan kiri seirama dengan Gerak kaki nya, seolah memanggil orang yang melihatnya dari belakang. Payudaranya yang turut bergoncang walalupun Hilda sudah menggunakan sport bra, namun mungkin karena ukurannya. Guncangannya tidak dapat teredam sempurna, bagai ingin melompat keluar dari bra tersebut.

Ada kebanggaan melihat kekaguman mata para pria melihat dirinya, juga cibiran para Wanita iri akan asset tubuh yang ia miliki. Apa ini yang disebut “Exhibitionist” ? Kenikmatan Ketika orang lain menikmati tubuh kita.

Selesai jogging, Hilda lanjut ke kolam renang untuk berenang. Ia ganti outfitnya dengan pakaian renang tertutup seluruh tubuh lengkap dengan hijab penutup kepala yang memang dikhususkan untuk perenang Wanita berhijab. Lokasinya masih di area gelanggang olahraga yang sama. Ketika masuk ke area kolam renang, petugasnya sempata menawarkan Hilda untuk berenang di area privat khusus Wanita. Tapi Hilda menolak, ia justru ingin berada di kolam renang mix gender agar dirinya bisa dilihat oleh lawan jenis. Ia beralasan pada penjaga kolam renang bahwa suaminya akan menyusul.

Setelah berenang berbagai gaya bolak-balik di kolam dengan kedalaman sekitar 2 meter, Hilda menepi, bersandar di tembok sisi kolam. Air kolam ini hangat, membuat relax tubuhnya yang tadi Lelah setelah jogging dan melepas penat atas apa yang terjadi di rumah. Hilda menaikkan tubuhnya duduk di tepian kolam. Basah bajunya membuat tubuh seksi nya tercetak jelas. Puting payudaranya pun ikut menyembul, ia memang tidak menggunakan pakaian dalam dibalik pakaian renangnya ini. Beberapa pasang mata mulai meliriknya, bahkan ada pasangan yang berantem gara-gara pria nya melirik ke arah Hilda. Ia tersenyum bangga. “Lihat Mas, istrimu yang kau acuhkan ini, justru menjadi pusat perhatian mata para lelaki” gumam Hilda dalam hati.

Hilda beranjak dari kolam, menuju ruang mandi dan Ganti. Setelah menanggalkan seluruh pakaian renangnya yang basah, ia bilas tubuhnya dengan air hangat yang memancar dari shower. Sensasi hangat menenangkan ia rasakan mengalir ke setiap inchi tubuhnya. Namun ada sensasi lain yang ikut timbul. Horny. Setan sange sepertinya merasuk dalam dirinya, terbayang semua mata yang menatapnya dengan kekaguman yang diiringi dengan nafsu, memberikan sensasi tersendiri bagi Hilda. Jika saat itu ada yang berani menggodanya, mengajaknya untuk berhubungan sex, besar kemungkinan Hilda akan menerima ajakan tersebut. Gairahnya dudah di ubun-ubun, ingin ia menuntaskannya dengan bermasturbasi di kamar ganti tersebut. Hilda bingung pada dirinya, kenapa ia malah jadi terangsang begini, di tempat umum lagi. Hilda berusaha melawan, melupakannya, segera menyelesaikan prosesi mandi dan Ganti pakaian nya. Segera ia keluar dari ruang ganti tersebut dan menuju ke salah satu café yang ada disitu untuk beristirahat.

Sambil menyeruput jus mangga yang ia pesan, Hilda memainkan ponsel nya, sekedar scroll-scroll media sosial, tidak ada hal pasti yang ia cari. Sejenak muncul notifikasi dari rekan kerjanya Nela, ratu gosip kantor yang mengetahui setiap rahasia dari kantor itu.

“Lo free kan, kita hangout yuk” tulis Nela

“Kapan ? Dimana?” balas Hilda

“Plaza……sejam dari sekarang”

“Ok say” tulis Hilda setuju.

Sejam kemudian bertemulah Hilda dan Nela. Kebetulan Nela memang sedang mencari sesuatu di Plaza tersebut dan Hilda menemaninya. Mereka berdua cukup akrab, saling tertawa sepanjang jalan mengelilingi Mall tersebut. Mereka lalu memutuskan untuk duduk di sebuah restoran, setelah memesan beberapa makanan dan minuman dari daftar menu, keduanya lanjut mengobrol.

“Jadi gimana ? Dapet berapa ronde sama Joko ? tembak Nela vulgar

“Gila lo, ngomong ga ada filter banget sih” ujar Hilda hampir tersedak

“Udah lahh, kita bukan anak kecil lagi, biasa itu di kantor kita mah, apalagi Bali hmmm, tempat yang cocok buat memadu kasih hehehe” jelas Nela

“I…Iya …udah” jawab Hilda ragu

“Udah apa say, udah masuk barangnya Joko ya. Hahaha” ledek Nela vulgar.

“Berisik amat sih” gerutu Hilda pada Nela.

Beberapa saat kemudian mereka saling mengobrol satu sama lain, tanpa sadar Hilda menceritakan kondisi rumahnya. Nela tersenyum seraya menghela napas.

“Lakuin apapun yang mau lo lakuin. Yang penting lo happy.” Nasehat singkat tapi cukup mengena di hati Hilda.

“Gw malam ini nginep di rumah lho ya. Suntuk gw di rumah” ujar Hilda yang malas jika harus pulang.

“Sorry say, tapi gw kayaknya ga akan pulang malam ini.” Ucap Nela sambil tersenyum, sepertinya ada yang Nela sembunyikan

“Eh jemputan gw udah datang, sorry ya ga bisa nemenin, terimakasih udah nemenin gw belanja.” Ujar Nela sambil berlalu meninggalkan Hilda. Hilda melihat ada seorang pria, terlihat tampan dan lebih muda dari Nela, mereka berpelukan dan cipika cipiki, menandakan ada hubungan khusus diantara mereka. Apakah memang iya perselingkuhan se”biasa” itu ? Nela yang Hilda ketahui sudah bersuami dan memiliki seorang anak berusia 5 tahun. Apa dia serius Ketika bilang “tidak akan pulang malam ini.”

Weekend itu akhirnya berakhir tanpa sesuatu yang berkesan bagi Hilda. Setelah pulang dari Bali, Hilda berharap ada perubahan besar dalam hidupnya, namu ia salah, justru kekecewaan berlebih yang dia dapatkan. Hari Senin, Hilda masuk kantor seperti biasa begitu pula Joko, melaporkan hasil business trip nya ke Bali. George sangat senang Ketika Mr. Chen meminta perusahaannya untuk kembali bermitra pada proyek selanjutnya. Hilda kembali ditunjuk sebagai leader untuk menangani proyek ini. Setelah lapor Hilda dan Joko kembali ke mejanya masing-masing. Tidak ada komunikasi spesial antara Hilda dan Joko setelah Bali, keduanya sepakat untuk menjaga privasi kehidupan masing-masing dan menjaga profesionalisme di kantor.

Beberapa hari kemudian dokumen tender untuk proyek Mr. Chen telah selesai. Hilda dan Joko berencana untuk mengunjungi kantor Mr. Chen untuk membahas perihal proyek baru yang akan dilaksanakan. Dengan kepiawaiannya, Hilda lagi-lagi mampu meyakinkan para Board of Directors bahwa perusahaannya adalah partner terbaik dalam pelaksanaan proyek ini. Selesai urusan dengan Mr. Chen, Hilda menanyakan perihal kost Joko.

“Joko, kost an mu deket daerah ini kan ?” tanya Hilda

“Iya Mbak, 15 menit lah dari sini. Kenapa Mbak ? Tumben nanyain kost an ku” Joko balik bertanya.

“Bersih kan ? Privasinya gimana ? aman ?” tanya Hilda lebih detail

“Ya lumayan sih, tiap hari aku beres-beres kamar Mbak, walaupun ga sampe ngepel ya, kalau di luar ada OB yang bersih-bersih setiap hari. Masalah privasi aman sih, masing-masing kamar ada sekat jelas, ga gampang dilihat dari kamar sebelah. Lumayan kedap suara juga, makanya ga pernah denger yang aneh-aneh kalau malem. Kost an nya juga campur, jadi banyak seliweran cowok cewek, tapi selama ini ga pernah ada yang aneh-aneh, penjaga kost yang selalu nongkrong di gerbang depan, baik dan ramah orangnya, tapi tegas kalau ada yang ganggu kenyamanan kost.” Jelas Joko

“Mbak mau cari kost an ? tanya Joko

“Emang ga boleh tanya-tanya.”

“Boleh sih cuma ya aneh aja hehehe. Apa kita ke kost an ku aja Mbak, biar semua pertanyaan Mbak terjawab.” Tanya Joko iseng.

“Ok ayo” jawaban Hilda malah membuat Joko kaget.

“Hah beneran Mbak ma uke kost an ku ?”

“Kan tadi kamu yang ngajak, kenapa sekarang malah bingung sendiri.”

“Tadinya bercanda sih tapi ayo lah kalau mau, malah saya yang seneng, hehehe” ujar Joko dengan senyum mesum.

Sampai lah mereka di depan gerbang kost Joko. Seperti yang Joko ceritakan, kostannya cukup bagus. Bangunannya ada 3 tingkat dengan deretan kamar-kamar dengan tembok penyekat hingga balkon di setiap kamarnya. Di depannya ada pagar besi yang selalu tertutup dan dijaga. Sehingga hanya penghuni saja yang bisa masuk, tamu pun hanya bisa masuk kalau bersama penghuni kost. Di gerbang depan ada penjaga berseragam rapi bertubuh tegap, tegas tapi ramah. Joko menyapa penjaga tersebut, sambil sedikit berbincang, entah apa yang dibicarakan. Dengan senyum ramah penjaga itu pun tersenyum menyapa Hilda dan mempersilakannya masuk. Senyumnya mengisyaratkan hal lain, walaupun tidak jelas, tapi matanya melirik tubuh Hilda, menscanningnya dari atas hingga ke bawah. Semua lelaki normal pasti melakukannya. Pesona Hilda cukup sulit untuk membuat mata pria berpaling.

Keduanya naik ke kamar Joko yang berada di lantai 2 paling ujung. Suasana kost an itu sepi, maklum ini weekdays dan masih jam kerja, hanya ada beberapa kamar yang terlihat ada kehidupan. Joko menunjukkan jalan ke kamarnya, membukakan pintu untuk Hilda dan mempersilakannya masuk. AC segera dinyalakan untuk mengusir hawa panas dari dalam kamar. Kamar ini cukup bagus, seperti interior kamar hotel kelas Bintang 3, tidak terlalu mewah tapi cukup bagus. Hilda duduk di kursi yang ada di kamar itu, sambil matanya berkeliling melihat setiap sudut dari kamar itu, lalu beranjak menuju balkon yang menghadap ke jalan.

“Bagus, nyaman, bersih, ventilasinya dan penerangannya juga cukup” ujar Hilda mengomentari kamar Joko.

“Tembok nya juga beton, kedap suara sepertinya”

Joko semakin bingung, Hilda seperti sedang menginspeksi ruangan, tapi untuk apa. Joko tak banyak menanggapi hanya duduk di atas kasur memperhatikan Mbak cantiknya dari tadi. Hilda berjalan ke arah Joko, mendekatkan wajahnya ke wajah Joko. Karena Joko sedang duduk dan Hilda berdiri, otomatis Joko menatap ke atas, ke wajah Hilda.

“Udah berapa cewek kamu bawa kesini ?” tanya Hilda dengan mata menatap tajam.

“E…nggak ada Mbak” entah kenapa Joko jadi gugup ditanya seperti itu.

“Benerrr, nggak bohong? Kamu bilang kan gampang sangean. Gimana cara lampiasinnya ? Istri kamu jauh.”

“Saya paling VCS sama istri, sambil masturbasi barengan. Atau kalau istri lagi ga mood ya paling nonton bokep Mbak.”

“Terus kenapa kamu bisa punya kondom waktu di Bali ?” mata Hilda semakin tajam menusuk mata Joko, menuntut jawaban jujur tanpa kebohongan, dan memang tidak aka nada yang bisa bohong dengan tatapan tajam seperti itu.

“Itu saya siapin buat Mbak.” Jawab Joko singkat tapi padat.

Hilda tersenyum seraya kembali menegakkan tubuhnya. Dengan senyum menggoda, matanya nanar menunjukan gairah yang menggebu, wajahnya memerah tanda birahinya bangkit. Menggigit bibir bawahnya seraya berkata :

“Masih ada kan kondomnya ?” Joko terpelongo mendengar pertanyaan Hilda, tanpa banyak bicara ia membuka laci dan mengeluarkan 1 pack kondom dengan beberapa bungkus kondom di dalamnya, menunjukannya ke Hilda tanpa mengucap apapun.

Perlahan Hilda melepaskan pakaiannya, seolah slow motion, sambil bergerak erotis, merangsang mata pejantannya. Joko tertegun melihat pemandangan itu, dia tidak bergerak menunggu instruksi selanjutnya, dia tak mau merusak vibe yang telah Hilda bangun. Setelah melepas atasan dan bawahannya, kini hanya hijab penutup rambut yang dililitkan ke lehernya, bra sexy berwarna abu yang seolah tak sanggup menahan besarnya payudara Hilda, serta celana dalam jenis thong yang hanya menutup bagian vagina nya saja yang tertinggal di tubuh Hilda.

Dengan jarinya Hilda memerintahkan Joko untuk mendekat. Dengan sigap Joko beranjak mendekati Hilda. Ciuman panas segera didaratkan Hilda ke bibir Joko. Sekejap kemudian ciuman itu berubah jadi cumbuan basah penuh gairah. Keduanya berpacu memainkan lidahnya satu sama lain, melumat, mengulum, menghisap, apapun dilakukan untuk saling menikmati dan dinikmati mulut mereka. Tangan Hilda dilingkarkan di leher Joko, sembari mengusap wajah dan mengelus rambut, tapi fungsi sebenarnya adalah menjaga agar kepala Joko tetap di tempat selama Hilda menuntaskan nafsu bibirnya. Joko memeluk pinggul Hilda dengan lembut, sesekali meraba halus punggung, pinggang, pinggul, dan bokong Hilda secara bergantian.

“Buka bajunya” perintah Hilda pada Joko

Tanpa melepas pagutannya dari bibir Hilda, Joko melucuti semua pakaiannya dimulai dari kemeja kemudian turun ke celana. Tak butuh waktu lama Joko kini bertelanjang bulat. Tangannya tidak lagi kembut, kini berani menggesek vagina yang masih tertutupi celana dalam. Tangan satunya meremas pelan payudara Hilda dibalik bra nya. Hilda paham kini saatnya untuk naik level. Hilda melepaskan cumbuannya dari bibir Joko, lalu turun menyusuri tubuh Joko dengan bibirnya ke pipi, leher, dada bidangya, bahkan puting Joko tidak luput dari serangannya, gigitan kecil berefek luar biasa pada tubuh Joko, lanjut turun ke perut six pack Joko dan berakhir bersimpuh di selangkangan Joko, tempat batang kenikmatannya tegak paripurna siap menjalankan tugas membahagiakan betinanya.

Sekilas Hilda tersenyum, kembali bisa melihat, menyentuh, mencium, bahkan mengulum benda kesayangan yang membuat kenangan di Bali begitu indah. Blow Job Hilda dilakukan dengan ritme pelan, dengan sedotan sedang, tak ingin terburu-buru, diselingi jilatan sepanjang batang dan kuluman pada dua buah zakar nya, Hilda ingin merasakan sensasi kehangatan batang kontol Joko di setiap saraf rongga mulut dan lidahnya. Dengan begitu Joko pasti bisa menikmati blow job lebih lama. Joko hanya bisa menutup mata, dengan tangan bertolak pinggang, menikmati “siksaan nikmat” yang dilakukan Hilda pada kontolnya. Tak berusaha menyentuh Hilda atau sekedar menggerakkan pinggangnya. Joko tak ingin intervensi dari ritme yang dimainkan Hilda. Mmmmuuaachh suara decakan basah terdengar Ketika mulut Hilda melepaskan batang kontol Joko. Hilda berdiri dan menyuruh Joko untuk berbaring di kasur.

Joko menurut bagai anak yang disuruh tidur oleh ibu nya. Hilda lanjut melucuti sisa pakaian yang dikenakannya dengan Gerakan erotis bagai penari striptease profesional, lalu ditumpuk bersama pakaian lainnya. Hilda merangkak mendekati Joko, lalu memutar tubuhnya. Sekarang pantat Hilda berada di dekat kepala Joko, mengangkangi kepalanya, Joko paham, perintah dengan kode 69 baru saja diaktifkan. Tak lagi bisa sabar Joko lantas menyerang vagina Hilda dengan gairah menggebu-gebu. Jilatan, kuluman, sedotan terhadap vagina Hilda, ditambah colokan 2 jari Joko mengobrak abrik dalaman dari vagina Hilda. Desahan dan lenguhan samar terdengar dari mulut Hilda, entah memang suaranya kecil atau Hilda menahannya karena ini di kost an Joko, sehingga Hilda masih belum yakin untuk all out. Tak lupa dengan tugasnya, Hilda kembali mengulum kontol Joko, sesekali diselingi dengan deepthroath ringan, untuk menggoda penis Joko. Joko pun mulai menggerakan pinggulnya naik turun lembut, mengikuti ritme yang Hilda berikan agar tidak tersedak.

“Joko Mbak mau keluar” pekik Hilda tak lagi tahan dengan serangan Joko di vaginanya.

“Cairan bening sedikit memancar membasahi wajah Joko, Hilda squirt. Joko tahu Hilda bisa squirt Ketika di Bali, hanya saja karena saat itu mereka dalam pengaruh aphrosidiac, tapi sekarang murni karena rangsangan yang intens.

Joko menghentikan aktivitasnya di vagina Hilda, membiarkannya menenangkan diri, mengejar kembali nafasnya setelah orgasme.

Hilda berbalik dan meminta kondom tadi pada Joko, diberikannya 1 bungkus. Hilda memasangkannya dengan telaten, ia gunakan lidah dan liurnya untuk membasahi penis Joko agar lebih mudah disarungkan kondomnya. Tapi sepertinya kurang licin. Hilda beranjak dari tubuh Joko lalu mengangkangkan kakinya diatas penis Joko dan mengarahkannya tepat di mulut vaginanya, dengan sekali tekanan ke bawah, amblas lah semua batang kontol Joko tenggelam di dalam vagina Hilda, digerakkan naik turun sedikit, dan didiamkannya sesatat sembari empotan vagina Hilda terasa di sepanjang batang kontol Joko.

Joko hendak bertanya, kenapa Hilda memasukkan penisnya tanpa kondom, namun sebelum bertanya Hilda kembali mengangkat pinggulnya sehingga terlepas lah kontol Joko, tapi kini Kontol itu lebih keras, lebih tegak, dan yang pasti lebih basah karena cairan kewanitaan Hilda. Barulah Hilda berhasil menyarungkan kondom di kontol Joko.

Hilda berbaring disamping Joko dengan kaki mengangkang, posisi misionaris.

“Cepet masukin” titah Hilda pada Joko.

Dengan memposisikan tubuhnya di depan selangkangan Hilda, Joko kemudian memasukkan batang kegagahannya ke dalam vagina betina yang minta dipuaskan. Diawali Gerakan halus, lembut, dan pelan. Bibirnya kembali bercumbu dengan bibir Hilda, tangan Joko bergerilya antara payudara dan pinggang Hilda. Memberi remasan dan rabaan yang menambah rangsangan. Begitupun mulutnya, berotasi antara bibir, pipi, leher dan payudara terutama putting Hilda. Memberi sensasi rangsangan tambahan bagi sang betina. Seiring waktu genjotanyang awalnya halus, lembut, dan pelan, kini menjadi liar dan cepat. Kedua tangannya meremas kencang payudara Hilda sembari mengimbangi genjotan yang cepat.

“Ahhhh..ohhhhh…mmmm….ohhhh” racau Hilda tak karuan mendapat perlakuan kasar penuh gairah dari pejantannya. Tangan Joko pindah memegang pinggul Hilda sedikit mengangkatnya ke atas dan menghujam lebih cepat dan dalam dari sebelumnya.

“Ohhhhh….Jooooo…Kooooo” racauan Hilda ikut bergetar seiring dengan gincangan cepat tubuh Hilda akibat genjotan rpm tinggi dari Joko. Sesaat kemudian Joko mencapai orgasme nya, peju putih kental tertampung di dalam kondom berukuran XL yang dipakainya. Begitu juga dengan Hilda cairan cinta nya merembes di sela-sela lubang vaginanya yang masih tersumpal kontol Joko. Joko ambruk menindih Hilda, kepalanya dibenamkan di payudaranya. Menikmati sisa gelombang ejakulasinya sembari bersandar di bantal ternikmat di dunia. Hilda pun mengatur napasnya sambil mengelus-elus kepala Joko, seperti Ibu yang sedang mengeloni anaknya.

“Lagi yuk Mbak” pinta Joko. Ia masih ingin melanjutkan permainan, gairah mudanya masih membara, satu ronde tidaklah cukup baginya. Buktinya istrinya Sari sampai KO dibuatnya.

“Nanti lagi ya. Udah sore, kita harus balik kantor” jelas Hilda lembut. Waktu menunjukkan pukul 2 siang. Mereka mandi cepat setidaknya untuk menghilangkan jejak signifikan persetubuhan di tubuh mereka. Parfum disemprotkan di tubuh mereka agar aroma fresh tercium dari tubuh mereka setelah pergumulan siang itu. Keduanya keluar dari kost an Joko. Kembali bertemu dengan penjaga gerbang yang tersenyum dengan ramah namun menyimpan kemesuman dalam senyumnya.

Dengan taxi online mereka berdua beragkat menuju kantor, tak banyak percakapan terjadi dalam perjalanan yang menempuh waktu sekitar hamper 30 menit itu, padahal beberapa meneit sebelumnya mereka bergumul dengan panas. Sungguh kontradiktif vibes di kamar kost dan di mobil ini.

Sesampainya di kantor keduanya kembali bersikap seolah tidak ada apa-apa diantara mereka sejam sebelumnya. Keduanya benar-benar menjaga profesionalisme, melanjutkan pekerjaannya sesuai target yang ditetapkan. Dalam hati, Joko masih bertanya-tanya, kenapa Mbak Hilda masih mau bersetubuh dengannya, bukankah cukup tegas Ketika di Bali, bahwa semuanya hanya pelampiasan, pelarian sementara. Dan setelah Bali, tidak ada lagi hubungan, semuanya kembali seperti biasanya. Tapi Joko tahu, sekarang bukan saatnya bertanya, cukuplah ia menikmati apa yang sudah terjadi. Setidaknya satu hal yang pasti, bahwa “persetubuhan” tidak benar-benar terhenti, sebaiknya sekarang itulah yang perlu Joko syukuri.

Bagi Hilda ini adalah “escape plan” yang tidak direncanakan, ia tidak bersiap ketika semua rencananya harus gagal dengan respon negative dari Bagas. Ia biarkan hasratnya yang menentukan langkah berikutnya, walaupun itu berarti membatalkan komitmen sebelumnya yang sudah ia tegaskan pada Joko. Mungkin masih ada cara lain, tetap mencoba menjadi istri yang baik misalnya untuk waktu yang lebih lama. Tapi Hilda tak sanggup, untuk satu hari saja, sangat besar energi yang ia keluarkan dan lebih besar lagi energi yang diperlukan untuk mengobati kekecewaan.

Untuk saat ini “Joko” adalah escape plan terbaik. Kami berdua menikmatinya, dan kami berdua juga tahu aturan mainnya. Persetubuhan di kost itu menjadi yang pertama dan tentunya bukan yang terakhir antara Hilda dan Joko setelah pulang dari Bali. Beberapa tempat menjadi variasi tempat bercinta mereka, tapi kost seperti tempat default untuk memadu nafsu. Tidak rutin tapi cukup sering mereka bercinta. Hingga suatu Ketika Bagas suami Hilda mulai mencium ketidakberesan dari istrinya.


i jepitannya emang lain, makanya Hilda enjoy-enjoy aja, itung2 nyenengin yang punya kontol.

“Ko pindah yuk, dingin toket nya kena tembok”, Hilda kemudian bergeser ke meja dan menungging disana, tanpa melepaskan kontolnya, Joko mengikti pergerakan Hilda. Hilda sepertinya akan orgasme lagi kepalanya dikibas-kibas tidak beraturan dalam posisi nungging di meja. Joko tiba-tiba menarik rambut Panjang isnriku, tidak keras tapi cukup membuatnya mendongak, kaki kanan Hilda naik ke atas kursi dekat meja dan tangan kanannya menarik belahan pantat bagian kanan seolah olah agar memeknya terbuka lebih lebar.

“yang cepet ko” lagi-lagi Hilda memberi perintah. Akhirnya Hilda menerima orgasmenya lagi. Joko mencabut penisnya dan mengalirlah cairan cinta Hilda. Hilda terbaring di karpet lantai dangan cairan cinta masih mengalir. Dengan mata sayu tapi penuh kepuasan,

“hebat kamu ko” sambil tersenyum pada Joko. Joko yang merasa bangga akhirnya bisa menglahkan betina binal istri orang ini, duduk di Kasur dengan kebanggaan seolah olah memamerkan kontolnya sambil mengelus-ngelusnya. Joko merasa kontolnya menjadi lebih tebal kulitnya, tapi tetap sensitive tidak kebas, luar biasa memang obat mahal ini. Hilda bangkit dari karpet lalu mengambil botol minum dan memberikannya ke Joko.

“Jangan sampe dehidrasi ya, bahaya nanti kena jantungnya” bagaikan ahli obat kuat, sepertinya Hilda tau bagaimana karakterisktik obat ini.

“bentar ya” Hilda kemudian masuk kamar mandi lagi. Sepertinya dia sengaja memainkan waktu tidap rondenya supaya stamina pejantannya tetap terjaga, dan mengoptimalkan keinerja obat tanpa membahayakan penggunanya. Dari mana Hilda tau ini semua.

Di dalam wc terlihat Hilda membersihkan beberapa bagian tubuhnya terutama vaginanya, lalu terlihat dia menyemprotkan spray ke memeknya, aku pikir itu parfum, tapi botolnya beda.

“sip sekarang gantian, kamu Ko yang dibikin kelojotan” gumam Hilda di kamar mandi. Sepertinya spray itu untuk menjaga agar Hilda tidak gampang ngecrot. Sambil berlenggok di depan WC Hilda berkata

“udah siap”, Joko yang masih dalam pengaruh obat kuat langsung mengangguk. Dengan seksinya Hilda menghampiri Joko yang sedang duduk diatas Kasur lalu menungging, “jilat” perintah Hilda. Tanpa mengunggu lama Joko langsung menjilatinya, dengan posisi seperti ini jilatan Joko tidak hanya kena vagina nya tapi juga kadang anusnya terstimulasi juga, hal ini membuat Hilda makin cepat terangsang, setelah cukup terangnsang Hilda mendorong Joko untuk berbaring. Hilda menduduki Joko dengan penis tertancap di vagina nya dengan posisi membelakangi Joko dan kemudian bergerak naik turun, depan belakang, ulek2. Semuanya dikombinasikan untuk mendapat dan memberikan kenikmatan. Tangan Joko refleks meremas toket Hilda dari belakang. Ini tentunya menambah rangsangan buat Hilda, dia terkadang membalikkan kepalanya, minta untuk dicium. Ulekan Hilda ini sepertinya memberikan efek luar biasa pada kontol Joko, ia tiba tiba mengerang dan mengeluarkan pejunya di dalam Rahim Hilda. Seolah membalas kelakuannya, Hilda tidak menghentikan ulekannya Ketika Joko ejakulasi, tentu saja rasanya seperti diremas. Banyak peju yang keluar dari memek Hilda, saking banyaknya sehingga tidak tertampung semua. Setelah berhenti ngecrot, Hilda mengangkat tubuhnya dan ternyata kontol Joko masih tegak berdiri walaupun sudah keluar. Hilda tersenyum melihatnya, sepertinya memang itu yang diharapkan. Dia kemudian menjilat sisa-sisa peju di kontol Joko.

“geli Mbak”, tapi tidak dihiraukan oleh Hilda, malah dia semakin semangat untuk menyedot kontol Joko. Dan tiba-tiba Joko ejakulasi lagi di mulut Hilda. Hal yang lagi-lagi tidak pernah Bagas lakukan kepadanya, karena khawatir dia tidak suka, tapi sekarang Bagas lihat Hilda justru dengan sengaja melakakukan itu kepda orang yang bukan suaminya. Dia menelan peju yang ada di mulutnya, sambil tersenyum binal. Joko yang melihat itu Bagai kesetanan langsung menyerang Hilda Kembali. Tapi Hilda menhentikannya dan menyuruhnya berbaring. Joko menurutinya, sekarang Hilda ingin gaya WOT. Tentu ini keahliannya, dengan empotan dan ulekannya, tidak akan ada cowok yang bakal kuat walaupun dalam pengaruh obat kuat. Joko berusaha meraih payudara Hilda, namun sekarang ia menepisnya lalu memegang kuat lengan Joko ke atas kepalanya di Kasur. “diem ko” tatapan tajam, dengan sedikit senyum tersungging mengisyaratkan bahwa jangan main-main dengan Wanita binal yang sedang kamu entot ini, atau mungkin Hilda lah yang sedang ngentotin Joko. Benar saja dengan kombinasi maut efek obat kuat pun terpatahkan Joko dan Hilda mencapai orgasme nya sama-sama. Hilda tumbang di dada Joko, sambil terengah engah begitu pula Joko.

“luar biasa Mbak, ini ulang tahun ku yang paling berkesan”. Ternyata semua kegilaan ini demi merayakan ultah Joko, beruntung sekali keparat itu.

“tadinya saya mau minta ini Mbak” sambil mengelus anus dan meremas pantat. Sambil tersenyum,

“belum waktunya, belum pantas kamu”.

“emang udah ada yang nyoba ? suami?” Hilda hanya tersenyum. Bagas merasa belum pernah melakukannya, senyuman itu apa artinya, apa sudah ada yang pernah berada disana.

“mau mandi bareng ? dikasih bonus sekali mau nggak?”.

“Siap” Joko beranjak dari kasurnya dan masuk kamar mandi, di dalam mereka saling menggoda, meraba, dan merangsang. Joko mendapatkan service blow job dan boob job, Hilda dihajar dari belakang di box mandi sampai Joko ngecrot lagi di dalam Rahim Hilda. Setelah semua pertarungan itu Bagas lihat Hilda memakai Kembali semua pakaiannya dan berdandan, seolah tidak ada yang terjadi. Total sekitar 2 jam an Hilda di kamar kost itu. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Hilda kemudian keluar dari kost dengan diantar Parjo, Parjo senyum-senyum melihat Hilda seolah tidak sabar mendapat copy videonya. Muncul notifikasi di hape Bagas. Parjo mengabarkan kalau Hilda sudah pergi dan meminta Salinan videonya. Bagas kirim link nonton yang tidak bisa dicopy. Khawatir disebarluaskan.

Dengan amarah menggebu Bagas menunggu kepulangan Hilda. Dia mengakui bahwa selama menonton adegan tadi, Bagas pun terangsang bahkan hingga masturbasi dan ejakulasi. Tapi bukan berarti ia menikmatinya, amarah tetap membakar dadanya, tidak rela istrinya disetubuhi pria lain. Bagas bertanya dalam hati, kenapa Hilda bisa jadi begini, walaupun sebenarnya dia tahu jawabannya. Semua sikap dan perilakunya yang menutup diri, tidak mempercayai orang lain termasuk istrinya, sengaja mengacuhkannya, mengasingkannya walau tinggal serumah, itulah jawabannya. Tapi ego nya bangkit, semua yang telah ia lakukan tidak bisa jadi pembenaran perselingkuhan istrinya. Tekadnya sudah bulat, ia tak akan membiarkan istrinya dengan bebas berselingkuh di belakangnya.


gan sengaja mendekatkan payudaranya ke wajah pria, agar pejantannya bisa bebas menikmatinya kapan saja. Ciuman dan cumbuan tak jarang dilakukan keduanya, menambah gairah pergumulan mereka malam itu.

“Aahhhh…..hhhmmmm….come on Mr.Chen…… ohhhhhh…..ahhhh…. I know you can do it. …..ooohhhhh…….Please hold on a little longer…….I’m about to cum.” Ucap sang Wanita memberi semangat pada sang pria.

“ooohhhhh….Hilda…..You’re just amazing……I couldn’t hold on any longer….It’s the best sex I’ve ever had…. I’mm cumming Hilda….I’m cumming for you” Ujar pria yang sudah di ujung puncak kenikmatannya.

“Yes cum inside me Mr. Chen….oooohhhhhh” lenguh Hilda yang sepertinya juga mencapai klimaksnya.

Sang Wanita adalah Hilda, bidadari cantik nan binal yang dengan penuh semangat “mengendarai” kontol pria tua berumur 60 an tahun bernama Mr. Chen seorang Billionaire dari Singapura. Sudah jelas Hilda memenangkan pergumulan ini dengan mudah.

Pria tua tersebut tertidur dengan dengkuran jelas terdengar setelah meraih orgasme terhebat yang ia rasakan selamat hidupnya, semua itu karena service luar biasa dari Hilda. Hilda beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Stelah selesai mandi dengan hanya berbalut kimono mandi, Hilda mengecek Handphone nya, karena tadi di tengah pergumulan ada suara getar dari hapenya. Setelah dicek, ia pun tersenyum membaca pesan yang masuk. Dari no yang familiar, namun tidak disangka akan menghubungi. Bagas suaminya menghubungi nya setelah sekian lama. Senyum kegembiraan tidak dapat ia sembunyikan, senyum dari kerinduan yang lama terpendam. Sambil mesam-mesem Hilda mejawab pesan tersebut.

“Baik Mas, Mas gimana ?”

Kalimat singkat itu akan membuka segel yang telah lama terkunci, segel yang memisahkan mereka, kini akan terlepas, membuat kisah mereka yang sempat terhenti akan kembali berlanjut.


Part 11 OPE

Bagas kini mulai menapaki hidupnya dengan lebih baik, walau tanpa Hilda. Ia jaga Kesehatan tubuhnya dengan rajin berolahraga setiap hari, makan dan tidur teratur, serta kualitas makanan yang dijaga. Begitu juga dengan kondisi ekonominya, berkat dukungan kolega-kolega nya, kini Bagas kembali menjadi seorang “pemain” di dunia bisnis yang namanya cukup disegani. Hampir setahun semua proses ini ia jalani, dan hampir setahun juga Hilda menginggalkannya. Mereka tidak bercerai. Tidak pernah ada gugatan cerai baik dari Hilda maupun Bagas. Kontak telepon mereka pun masih sama, tidak pernah diganti dan tidak pernah saling blok. Begitu juga dengan media sosial, keduanya masih saling follow. Hanya saja tidak ada interaksi diantara keduanya. Keduanya seperti memasrahkan kisah cinta mereka pada Sang Waktu. Tapi untuk saat ini mereka berjalan di jalannya masing-masing.

Hilda masih dengan kesibukannya sebagai marketing di sebuah Perusahaan supplier material industry, bersama dengan Joko, pemuja setia Hilda, sosok yang selalu mengisi kekosongan Hilda, dan senantiasa memberinya kebahagiaan sejati. Bagas sibuk menata kembali hidupnya mulai dari ekonomi hingga Kesehatan jiwanya. Setelah ditinggalkan Hilda beberapa kali Bagas mengunjungi seorang psikolog. Ada sesuatu yang kini berubah di dirinya. Sesuatu yang mengganggu, sesuatu yang bahkan Bagas sendiri pun tidak menyadarinya sebelumnya.

Semua bermula Ketika Bagas secara live streaming melihat bagaimana istrinya bersetubuh dengan pria lain Bernama Joko yang merupakan rekan kerjanya. Memori itu seolah-olah terpatri kuat di benak Bagas. Tidak ada lagi adegan film porno yang bisa menandingi rangsangan yang ditimbulkan oleh adegan Hilda Vs Joko bagi Bagas. Sensasi ledakan rangsangan dari kecemburuan, kecewa, amarah, rasa takut, semuanya berkumpul dan aktif di saat yang bersamaan. Hormon rush mengalir di aliran darah Bagas, membuat otaknya bingung, emosi mana yang harus dikeluarkan terlebih dahulu.

Suatu Ketika dalam kesepian dan kesendirian, Bagas mencoba untuk sewa jasa escort lady dengan rekomendasi teman nya. Sebenarnya bisa saja Bagas meng SSI seorang Wanita kalau hanya untuk sex, tanpa perlu keluar modal sedikit pun. Tapi ia memilih jalur “aman” tanpa drama, seperti transaksi jual beli. Suka – order – ngentot – bayar – pulang – selesai. Tidak ada kebaperan yang diperlukan. Setelah beberapa lama melihat “katalog” dan membaca FR dari masing-masing klien terdahulu. Jatuhlah pilihan Bagas pada seorang Wanita cantik berinisial miss M. Sekilas perawakannya mirip dengan Hilda, tinggi rata-rata Wanita Indonesia, kulit putih bersih, cantik, payudara dan bokong padat, kenyal, berisi, pinggang ramping, dll. Typical asset Wanita yang bakal menggoyahkan iman setiap cowok yang melihatnya. Satu hal yang tidak dimiliki miss M tapi Hilda punya, mata tajam dengan aura sensual yang kuat. Walau miss M berprofesi di industry syahwat, tapi aura yang ditunjukkan adalah aura genit menggoda, memancing mangsa prianya untuk mendekatinya. Tapi Hilda punya aura lain, tampak elegant di luar, tapi binal di dalam, dan itu terpancar dari sorot matanya sehingga mampu membuat pria, terutama yang sudah jadi target mangsanya, tidak hanya mendekat, tapi hingga tunduk bersimpuh menyerahkan dirinya. Entah fetish Bagas terhadap Wanita berhijab atau memang menyesuaikan dengan Hilda yang berhijab, miss M ini kalau diluar berhijab. Hal itu diketahui Bagas Ketika miss M datang ke hotel yang sudah disepakati, ternyata MIss M memakai Hijab Ketika masuk hotel hingga kamar.

Di dalam kamar, Bagas dan miss M mengobrol ringan dan Santai, seperti sepasang kekasih yang memang sudah merencanakan hari itu. Rating GFE : 9 ternyata memang bukan hanya isapan jempol belaka. Bagas seolah tidak merasa sedang menyewa jasa nya, tetapi sedang bersama kekasihnya. Lambat laun basa- basi obrolan ringan mulai semakin akrab, atmosfir pun menjadi lebih hangat. Keduanya mulai saling mendekat dan physical touch pun terjadi. Tangan, paha, bahu, wajah, area-area umum yang disentuh symbol dari keakraban. Berikutnya mulai tereskalasi, menjadi sentuhan intim, kecupan lembut, pelukan, rabaan di area sensitive seperti pangkal paha, punggung, pinggul, pipi, leher, dan gongnya ciuman dalam atau French kiss dilakukan oleh Bagas dan miss M. Keduanya berpagut, saling memainkan lidah, tidak mau mengalah. Tangan Bagas bergerilya ke payudara dan bokong miss M, walaupun permainan “pasangan kekasih” ini begitu nyata, Bagas sadar bahwa ia mengeluarkan uang untuk mendapat perlakuan itu. Dengan prinsip ekonomi, ia ingin mendapat pelayanan sesuai haknya, sesegera mungkin, dan sepuas mungkin. Rabaan lembut ke payudara dan bokong miss M berubah menjadi remasan kuat terukur. Meningkatkan gairah keduanya ke level yang lebih tinggi. Bagas merebahkan tubuh wanitanya di atas kasur lalu mengeksplor apapun yang bisa dieksplore. Sejak awal foreplay, hijab miss M sudah dilepas. Sementara outfit lain berupa long dress ketat meliuk mengikuti lekukan tubuh miss M masih melekat sempurna di tubuhnya. Leher menjadi sasaran Bagas berikutnya setelah puas bermain di mulut, bibir, dan lidah miss M. Aroma harum parfum branded tercium segar masuk hidung Bagas, inilah salah satu ciri escort lady high class, Aromanya menyegarkan, bukan dari parfum murahan, apalagi sekedar wangi sabun. Tapi dari perawatan intensif yang dilakukan secara rutin dengan biaya tidak sedikit, wajar jika DC nya lumayan pricey. Tapi harga tidak bisa bohong, ada uang ada barang, jasa lebih tepatnya dalam hal ini.

Sedikit menindih miss M sambil mencupang leher jenjangnya, Bagas memerintahkan wanitanya mala mini untuk membuka pakaiannya. Bagas duduk agar miss M bisa bangkit dari rebahannya. Sambil tersenyum miss M berdiri di hadapan Bagas. Seperti pertunjukan striptease, miss M berlenggak lenggok erotis seraya melepas pakaiannya satu per satu, sorot matanya menggoda, memancing untuk digoda. Bagas duduk di tepian kasur dan menikmati live show itu dengan tenang. Mulai dari long dres ketat dengan sleting belakang, yang meluncur indah, bagai kulit pisang yang terkupas dari atas ke bawah. Menampakkan miss M dengan underwear set yang tidak kalah menakjubkan. Di luar tampilan hijab, di dalam underwear set yang minim bahan, terbuka, tipis berwarna merah menyala, kontras dengan hijab dan long dress nya yang berwarna teduh. Seperti Kesan yang memang ingin ditunjukkan oleh miss M, alim di luar binal di dalam. Kulit putih bersih lembut dan wangi semakin terekspos memanjakan mata Bagas, payudara menyembul seolah terjepit bra merah ketat dan minta dibebaskan, perut rata dan pinggang ramping hasil dari diet dan olahraga, pinggul melebar indah dengan pantat membulat mencipatakan kurva lekukan sempurna, paha padat berisi tanpa selulit lemak, kaki jenjang sempurna bagai model yang berjalan di catwalk.

Satu per satu pakaian terlucuti, hingga tak ada lagi satu helai kain pun yang menutupi tubuh miss M. Bagas tersenyum penuh gairah menatap matanya. Miss M maju mendekati Bagas, lalu berlutut tepat di selangkangan Bagas yang masih berpakaian lengkap. Dengan jari-jari gemulainya, miss M mengeluarkan batang kejantanan Bagas yang sudah setengah ereksi, tanpa menunda dikulumlah kontol dari klien VIP nya malam ini. Dengan segala pengalaman dan Teknik yang dikembangkan dari puluhan bahkan ratusan kontol yang pernah masuk ke mulutnya, miss M memberikan service terbaik bagi Bagas, yang dengan sukarela mengeluarkan udang yang tidak sedikit untuk bisa bersamanya malam ini.

Ketika sedang menikmati service grade A dari miss M, Bagas tiba-tiba teringat akan Hilda, semua memory tentang Hilda tiba-tiba merasuk dalam benaknya, terutama Ketika Hilda disetubuhi pria lain, juga Ketika Hilda memberinya farewell oral sex pada Bagas. Semua kenangan itu ternyata memberikan gelombang rangsangan dahsyat pada Bagas, tanpa disadari dan diluar kendali Bagas, dia ejakulasi di mulut miss M tanpa aba-aba atau pemberitahuan sebelumnya, durasi blow job yang diberikan miss M pun terhitung baru sebentar, hanya beberapa menit tidak sampai 3 menit. Baik Bagas maupun miss M keduanya terkejut akan hal ini.

“Sorry aku gak sengaja” ujar Bagas merasa bersalah.

“Iiiihhhh….kok ga bilang-bilang sih mau keluar, aku kan jadi ga siap” ucap miss M dengan nada manja. Dengan profesionalisme tinggi miss M tetap tersenyum genit, menggoda kliennya, walaupun ceceran peju menyebar di mulut, bibir, dan wajahnya. Mungkin juga ada yang tertelan. Miss M pun degan sigap mengambil tissue untuk membersihkan peju di mulutnya sekaligus pada kontol dan tubuh Bagas.

“Bentar ya aku ke kamar mandi dulu” ucap manja dari bidadari yang bersama Bagas malam ini.

Bagas hanya mengangguk mengisyaratkan persetujuan. Ia melamun, apa yang terjadi, kenapa bisa secepat itu. Memory terakhir bersama Hilda ternyata membawa masalah bagi Bagas, ia mengalami overstimulated premature ejaculation (OPE), suatu kondisi yang membuat Bagas lebih cepat ejakulasi dari biasanya, hal ini bisa dipengaruhi oleh kondisi fisik dan psikologi Bagas yang memang tidak dalam kondisi fit. Dia mencoba menenangkan diri, masa udah bayar mahal-mahal ga nyampe 10 menit udahan, ujar Bagas menyemangati diri.

Bagas kembali Bersiap untuk ronde berikutnya. Dia lucuti seluruh pakaiannya lalu berbaring di kasur. Tak lama miss M keluar dengan handuk melilit terlingkar di dadanya, walaupun masih terlihat jelas sembulan payudaranya yang tidak tertangkup sempurna. Miss M mendekati kasur dmana Bagas berada lalu merangkak diatasnya mendekati wajah Bagas.

“Sambil nunggu, mau liat aku colmek atau Mas mau jilmek aku?” Dua pertanyaan yang sulit dipilih oleh pria manapun.

“Kamu colmek dulu ya, nanti aku lanjutin jilmek ya” kata Bagas menetapkan tahapannya.

“Ok sayang”. Jawab miss M seraya berjalan menuju sofa yang berada di depan kasur. Miss M melepaskan handuk hingga terjun bebas ke lantai sambil membelakangi Bagas yang masih terbaring di kasur, dua pipi bokong miss M yang terlihat begitu ranum dan kenyal bagai jelly, bergerak indah mengiringi Gerakan jalannya menuju sofa. Miss M duduk menghadap Bagas dengan kedua kaki dibuka lebar, bertumpu pada arm rest dari sofa itu. Terpampang jelas memek miss yang bersih putih kemerahan, dengan lubang rapat walau entah berapa kontol yang sudah ditelannya. Dengan pose erotis lagi sensual, miss M memasukkan jarinya ke mulut dan dijilatinya hingga basah oleh liurnya. Setelah itu, jari basah tersebut digunakan miss M untuk mengobel klitoris nya, memberikan stimulasi pada klitorisnya tersebut, seseklai dimasukkan beberao. Tangan kanan sibuk mengobel memeknya, tangan kiri sibuk meremas payudaranya sendiri dengan sesekali memilin putingnya. Desahan lembut nan manja menggema di kamar itu, memberikan live show terbaik sesuai harga yang dibayarkan. Bagas berusaha untuk tidak berkedip melihatnya, ia memastikan tiap detik dari waktu yang dibayar tidak terbuang sia-sia.

Perlahan tapi pasti penis nya kembali ereksi, walau belum mencapai setengahnya. Bagas memberi kode pada miss M untuk mendekat dan menghentikan aktivitasnya. Setelah dekat Bagas berkata pada miss M untuk mengangkang di kasur, ia ingin melakukan cunnilingus atau jilmek pada vagina miss M. Setelah nyaman memposisikan diri, bersandar pada bantal tebal dan empuk, melebarkan kaki jenjangnya, memberikan akses full pada pejantan yang sudah membayarnya untuk mengeksplorasi memeknya. Tercium aroma wangi dari vagina putih kemerahan milik miss M, dengan cairan kewanitaan yang mulai merembes keluar. Bagas pun menunjukkan keahliannya dalam menservice betina nya. Bagas yang tidak egois dalam bercinta, memang selalu menghargai siapapun partner sex nya, baik itu seorang pelacur maupun seorang ratu, baginya kepuasan dan kenikmatan harus dirasakan semua pihak yang terlibat dalam suatu persetubuhan. Ia pastikan miss M mendapatkan orgasme pertamanya malam ini sebelum lanjut ke menu utamanya. Jilatan, sedotan, kuluman, tusukkan Bagas berikan dengan intens pada titik-titik sensitive kewanitaan miss M, Bagas sangat terampil dalam hal ini, ia belum pernah gagal dalam membuat wanitanya orgasme dengan permainan oralnya. Desahan lembut secara teratur berubah menjadi lenguhan panjang, menandakan miss M telah meraih orgasme nya.

“Ooouuuhhhh…..thankkkk yoouuuu Maassss” ujar miss M sambil menggelinjang menikmati orgasme nya. Mungkin miss M memang jarang bertemu klien yang membuatnya orgasme terlebih dahulu ketika foreplay, kebanyakan cukup egois mengejar orgasme nya sendiri karena merasa sudah membayar, tanpa peduli dengan miss M yang memiliki tubuh.

Bagas bangkit dari posisi jilmeknya, lalu duduk memandang miss M yang masih menikmati gelombang orgasme nya. Melihat kliennya cukup baik dengan memberinya waktu untuk menikmati orgasmenya, miss M segera bangkit lalu dengan segera mencumbu Bagas dengan sangat ganas, lebih ganas dari sebelumnya. Bagas disini seperti didominasi miss M, permainan mulut yang luar bias diberikan oleh miss M dalam cumbuan itu. Service mulut itu berlanjut ke pipi, leher, bahu, dada, putting, perut, dan berakhir di kontol Bagas yang langsung disedot tanpa aba-aba. Sepertinya Teknik ini hanya miss M berikan pada tamu VVIP saja.

Tidak ingin terulang kembali, Bagas menghentikan blow job dari miss M, ia langsung mengarahkan miss M untuk langsung ke menu utama yaitu penetrasi penuh ke memek miss M. Miss M berbaring dengan kaki mengangkang, Bagas memposisikan diri di tengah selangkangan miss M, menyejajarkan kontolnya yang sudah berpelindung di depan mulut vagina miss M. Dengan satu Gerakan, kontol Bagas dengan mudah masuk meluncur ke vagina miss M dengan sensasi pijatan dan empotan hangat selama berada di dalam memek miss M.

Bagas yang nafsunya sudah terbangkitkan sempurna mulai menggenjot miss M dengan kecepatan lambat, dalam, namun kuat. Lagi-lagi Bagas mengingat segala kejadian perselingkuhan istrinya Hilda dengan Joko. Begitu jelas setiap adegannya terputar di benak Bagas. Gerakan lembut penuh sensualitas dan erotisme yang Bagas lakukan Ketika menggenjot miss M, berubah menjadi genjotan liar tak beraturan, dan lagi, hanya butuh beberapa detik setelah genjotan tak beraturan itu, Bagas ambruk menindih miss M yang berada di bawahnya. Bagas mengalami OPE lagi, ia ejakulasi dengan sangat cepat, tidak sesuai dengan harapan diri. Dengan napas masih tersengal-sengal Bagas tetap membenamkan wajahnya dalam pelukan miss M. Hal yang jarang dilakukan oleh seorang pria Ketika berhubungan sex dengan penjaja cinta. Selayaknya kekasih, miss M mengelus-elus kepala Bagas, seolah memberikan kenyamanan baginya. Service yang juga jarang ia berikan pada kliennya.

Ada rasa malu yang besar di diri Bagas, dua kali dia ejakulasi dini, tidak mampu menunjukkan kegagahannya terhadap Wanita yang digagahi nya. Bagas bangkit dari pelukan miss M. Hendak pergi dari tubuh indah yang ada di bawahnya itu.

“Kita coba lagi yuk Mas” ucap miss M yang kini auranya justru tenang dan memberikan kenyamanan, bukan lagi gairah binal.

“Ga usah, terimakasih ya, kamu boleh pulang, uangnya udah ditransfer, ada sedikit bonus untuk kamu.” Ujar Bagas pada miss M setelah bangkit berdiri sambil menggunakan handphone nya.

Miss M pun hanya tersenyum, di dalam hatinya ia bersedia lebih lama lagi dengan Bagas, walaupun service nya sudah terpenuhi sesuai perjanjian 2 kali crot atau maksimal 2 jam. Tapi ada rasa nyaman yang timbul di diri miss M terhadap Bagas. Tapi ia tahu, ia bukan siapa-siapa, hanya escort lady yang dibayar untuk pelampiasan nafsu kliennya. Miss M beranjak menuju kamar mandi dengan membawa tas nya. Terdengar suara air, menandakan miss M sedang membersihkan diri.

Bagas melamun sambil berbaring di kasur setelah menggunakan kimono mandi. TV dinyalakan tapi tidak jelas apa yang dia tonton. Ia merenungi apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Dalam lamunannya samar-samar terdengar suara perempuan berbicara, ternyata itu miss M yang berpamitan. Tidak banyak respon yang Bagas berikan selain senyuman mengiringi miss M keluar dari kamar hotel. Bagas kembali dalam lamunannya, apa ia telah kehilangan kejantanannya, atau kepergian Hilda telah memberi trauma yang cukup dalam di jiwanya.


Bagian 12: Sebuah Kehidupan yang Pulih (Mojo)​


Bagas kembali pada kegiatan rutin hariannya: bangun pagi, olahraga, sarapan, lalu berangkat ke kantor tempat ia menjalankan bisnisnya. Secara ekonomi, Bagas dapat dibilang sudah kembali ke kondisi sebelum ia bangkrut, bahkan lebih baik. Namun, dalam dirinya, ia merasa belum selesai, masih belum cukup. Ia mengisi waktunya untuk membangun kembali semua ambisinya, memperoleh kembali namanya yang sempat hilang, dan menggapai segala pencapaian yang pernah ia raih.

Dia begitu fokus, bahkan seringkali menolak ajakan pesta atau sekadar bersenang-senang dari kolega-koleganya. Salah satunya Stephen, seorang "Chindo Jawa" yang mempercayakan uangnya untuk dikelola Bagas. Stephen ini pemalas, tapi punya banyak uang untuk dihamburkan.

"Ayolah, Bro, lo kerja melulu nyari apa, sih? Duit? Masih kurang yang gua kasih buat lo? Gua tambahin, Bro, enggak masalah. Lo udah bikin gua lebih kaya tanpa gua perlu kerja. Gua kasih apa pun yang lu butuh, asalkan gua nambah kaya lagi, hehehe," ujar Stephen mengajak sahabatnya bersenang-senang.

"Lanjut, Bro, have fun saja. Gua masih ada yang perlu dikerjakan," jawab Bagas singkat.

"Lo mungkin enggak sadar, tapi lo perlu ke psikolog, Bro," Stephen berbicara dengan nada serius.

Sesaat Bagas berhenti dari apa pun yang sedang ia kerjakan. Ia menatap sahabat yang terkenal karena kekonyolannya itu. Tapi, baru sekarang ia mendengar kalimat yang benar-benar bermakna dari seorang Stephen.

"Gua bukan orang gila, Bro, tenang saja. Masih waras kok gua, hehehe," jawab Bagas tidak terlalu menanggapi ucapan Stephen.

"Bro, gua senang ketika lo mau bantu gua handle semua uang gua. Gua kenal lo, insting bisnis lo gila. Tapi lo bukan kayak Bagas yang gua kenal dulu, seorang champion, sang penakluk."

"You can make money, and you did. But it’s not you. Who are you?"

"Lo lari dari sesuatu, ngejar sesuatu, sembunyi, menghindar, berusaha membuktikan sesuatu, tapi lo sendiri enggak mengerti sesuatu itu apa."

"Don’t worry about me, trust me I’m fine, I just do what I can do, just that," bantah Bagas.

"But did you do the things you need to do? For yourself?" balas Stephen.

"Gua tanya simpel, lo jawab secepat dan sejujur mungkin."

"Kapan terakhir kali lo ngentot?"

Bagas diam tidak menjawab.

"Kapan lo terakhir coli?" Masih tetap terdiam.

"Kapan terakhir kali lo ngebokep?" Bagas tetap terdiam.

"Kapan terakhir kali lo horny?" Seolah-olah Bagas memang tidak pernah tahu semua pertanyaan Stephen, ia tidak tahu jawabannya.

"Who are you, man?" ujar Stephen dengan nada mengisyaratkan kekhawatiran.

"I know you were working for me, but you are no money machine, you were my bro, lo makan apa yang gua makan, lu minum apa yang gua minum, kalau gua have fun, lu juga harus have fun."

"Please, bro, see someone, you really need help." Stephen pergi meninggalkan ruang kantor, meninggalkan Bagas yang termenung memikirkan apa yang Stephen ucapkan.


Bagas menatap keluar gedung kantor. Terlihat cahaya-cahaya lampu bertebaran menghiasi malam kota ini. Pantulan dirinya terlihat samar di kaca: seorang pria berusia 30-an dengan setelan jas mahal, tampan, tinggi, tegap. Tidak ada cacat dari sosok ini. Kejadian "misfire" dengan Miss M beberapa waktu lalu ternyata bukan hal sepele. Apa yang disampaikan Stephen benar adanya. Ia kehilangan sesuatu, tapi ia tak tahu apa. Apa "sesuatu" yang dimaksud itu adalah Hilda? Bagas mempertanyakan itu pada dirinya sendiri.

Ia membuka laptopnya. Kini bukan neraca bisnis, kurva penjualan, atau strategi bisnis yang dia lihat, tapi "cara mengobati ejakulasi dini", kata kunci yang dia ketikkan di Google. Sejak malam bersama Miss M, Bagas tidak lagi merasakan rangsangan yang berarti. Bangun tidur pun "kontul"nya tidak ereksi. Melihat foto-foto vulgar, video-video seronok, tidak ada yang menarik perhatiannya. Benar kata Stephen, dulu ia tidak begini. Keliarannya saat muda mengusung tinggi filosofi "work hard play harder".

"Apa aku juga lemah syahwat, ya?" ujarnya bertanya pada dirinya sendiri.

Di mobil dalam perjalanan pulang, Bagas kembali melamun. Dirinya hidup tapi merasa tidak hidup, kehampaan menggerogotinya. Ia mengurungkan niatnya untuk pulang. Bagas berhenti di sebuah kafe dengan konsep open space. Dia duduk dan memesan kopi, lalu memperhatikan orang-orang, diiringi alunan live music.

Dibukanya layar ponsel, ia mengeklik logo Instagram. Dia menggulirkan isi FYP-nya yang kebanyakan menampilkan perempuan berjoget-joget, video-video lucu, dan hal-hal tidak penting lainnya. Hingga berhentilah pada satu postingan milik akun bernama "JustMeHilda". Postingan seorang gadis cantik berhijab trendy, dengan latar belakang pemandangan wisata alam. Senyuman indah tersungging di bibirnya, sinar matahari menambah cahaya dari wajah perempuan di foto itu. Bagas menggulirkan postingan yang berisi 5 foto itu. Di foto terakhir, terlihat close up wajah Hilda dengan ekspresi datar, tapi matanya tajam menatap balik siapa pun yang melihat foto itu. Walaupun hanya foto, karisma Hilda masih jelas terasa. "Alluring beauty". Bagas tersenyum kecil melihat foto itu. Wanita yang dulu pernah ia taklukkan, berhasil ia pikat dengan pesonanya, namun disia-siakan oleh keegoisannya. Atau mungkin Bagas-lah yang ditaklukkan, dipikat oleh Hilda. Hilda menginginkannya, tapi ia malah menyia-nyiakannya.

"Bagas?" suara lembut seorang wanita memecah lamunannya.

Bagas menoleh ke sumber suara. Sosok wanita cantik bak bidadari berdiri di dekatnya: rambut hitam panjang berkilau, tubuh tinggi semampai, ramping. Berpakaian formal nan elegan—blazer dengan dalaman kemeja, bawahan long skirt ketat melukis indah mengikuti lekuk tubuhnya. Wanita itu tersenyum hangat ke Bagas. Sorot matanya memancarkan kehangatan dan keakraban, wajah familiar yang Bagas kenal, terlepas rindu yang lama terlupakan.

"Linda..."


Part 12 B Recovering Life

Bagas hampir tidak mempercayai matanya sendiri, Wanita cantik di depannya bagaikan “unicorn” hampir semua orang mengetahuinya, mencarinya tapi tidak ada yang pernah bertemu dengannya. Linda dan Bagas adalah teman semasa kuliah, begitu juga Peter dan mendiang suami Linda.

“Beneran Bagas ternyata ya, beda banget kamu sekarang, dari tadi aku perhatiin kayaknya kenal tapi siapa, bener ternyata tebakanku” Ujar Linda dengan penuh keakraban.

“Kok bisa ada disini sih” Ucap Bagas singkat tidak tahu harus berkata apa.

“Ya emang kenapa kalau aku disini ? Kan aku juga puya urusan sendiri, ga masalah dong kalau aku di sini, apa perlu izin kamu dulu kalau mau disini ?” Balas Linda mencecar Bagas yang terlihat kikuk bertemu dengannya.

“Eh sorry, maaf, maksudnya kok bisa kebetulan ketemu disini, mmmm, gak nyangka aja.” Jawab Bagas berusaha menutupi kekikukannya.

“Santai aja kali Gas, kamu kok gugup gitu sih kayak ketemu orang mati yang hidup lagi hahaha. Kita Cuma udah lama ga ketemu kok Gas, nyantai aja Gas, hahahah”

Begitu puas Linda menertawakan kekikukan teman nya ini. Mereka memang tidak akrab Ketika kuliah. Keduanya beda circle, Linda berasal dari circle party goers, sama seperti Peter, berlatar belakang keluarga kaya, populer, dan punya banyak privillage lainnya, sementara Bagas hanya mahasiswa dari kalangan biasa, Bagas berkuliah dengan beasiswa, tanpa beasiswa ia belum tentu mampu berkuliah disana. Linda sudah pasti banyak yang mengenalnya, tapi Bagas sebagai mahasiswa beasiswa, sepertinya tidak akan ada banyak yang mengenalnya.

“Jadi gimana boleh aku duduk disini” Tanya Linda menggoda

“Bo..boleh Lin” Bagas terbata-bata

“Hahaha” Linda tak berhenti tertawa sambil menarik kursi di sebelah Bagas.

“Kamu segitunya banget sih ketemu aku, kenapa ?” Linda ingin melanjutkan godaan terhadap teman kuliahnya ini karena sikap kikuk dan gugupnya. Baginya hal ini sangat lucu. Tapi tidak dengan Bagas, baginya ini adalah situasi yang membingungkan, mengakibatkan anxiety bagi Bagas.

Bagaimana tidak, Bagas sangat mengetahui siapa Linda, Ratu kampus yang sangat dipuja-puja jangankan mahasiswa atau civitas akademik di universitas tersebut, bahkan hingga pedagang kaki lima di sekitaran kampus pun mengenal nya. Pesona yang luar biasa dipancarkan oleh Linda. Sebagai pembanding, jika Hilda adalah Wanita yang mampu membuat pria manapun bersedia melakukan apapun untuk mendapatkannya, maka Linda adalah Wanita yang mampu membuat pria bertekuk lutut memujanya. Kurang lebih secara hiperbolik seperti itu. Kepercayaan diri Bagas yang kini bukan lagi sekedar mahasiswa beasiswa, entah kenapa hilang begitu saja, padahal tidak sedikit Wanita yang akan takluk dengan dirinya saat ini. Tapi semua itu seolah-olah tidak berarti di hadapan Linda.

Tidak langsung menjawab pertanyaan Linda. Bagas menyeruput kopi yang ia pesan, dan menghirup vapenya dalam-dalam lalu menghembuskannya kea rah lain agar asapnya tidak mengenai Linda.

“Sorry ya aku ngevape, hisapan terakhir kok, ini aku simpen, kamu ga ngerokok ata ngevape kan ?” kata Bagas yang mungkin karena bantuan kafein dan nikotin, tiba-tiba hilang kikuk dan gugupnya.

“Ga masalah kok, udah biasa nongkrong sama perokok, lanjutin aja”

“Ga sopan ah” balas Bagas sambil tersenyum.

“Tadi apa pertanyaan kamu ? Kenapa aku sampe segitunya ketemu kamu ?” ucap Bagas menegaskan

“Kamu sadar kan kamu Linda, ngaca kan tiap hari, ga lupa kan dengan siapa kamu dan siapa aku waktu kita di kampus, wajar dong aku sampe shock gitu ketemu kamu, disini lagi, ya nggak expect banget lah.” Jelas Bagas yang kini mulai kembali kepercayaan dirinya.

Linda tersenyum Bahagia mendengar ucapan Bagas, kalimat lengkap dengan komposisi pujian, perhatian, excitement, dll.

“Kamu beda banget loh sekarang, dulu kayaknya kurus, baju asal-asalan, ga ada bagus-bagus nya deh. Hahahah” ucap Linda sambil bercanda.

“Emang sekarang gimana ?” Tanya Bagas penuh percaya diri.

Linda tersenyum “Kalau skala 1-10, dulu kamu 3, sekarang 9,9”

“Kenapa ga 10 , tanggung amat” balas Bagas

“Nilai sempurna Cuma buat Tuhan Yang Maha Sempurna” jawab Linda tegas.

Keduanya pun tertawa bersama, malam itu menjadi malam yang hangat bagi Bagas, yang awalnya dalam mood yang kurang baik.

Rangkaian cerita Linda dan Bagas mengalir dengan lancer, mengenang masa lalu kehidupan mereka di kampus. Keduanya seperti sedang melepas rindu. Terpisah jarak dan waktu, dan dipertemukan oleh takdir.

“So what’s the story ? Kita terakhir ketemu di reuni setelah 2 tahun kelulusan kan ya?” tanya Linda

“Iya tahun berapa ya, udah lupa juga, kayakya kamu dulu baru nikah deh. Eh….Sorry for your loss” Bagas teringat kabar yang menginformasikan bahwa suami Linda telah meninggal.

“Ga apa-apa, udah Ikhlas kok, jadi gimana dong ceritanya kok kamu bisa jadi cowok keren gini. Ganteng, gagah. Are you married?” cecar Linda penasaran dengan Bagas.

“Cerita “The Queen” Linda, pasti lebih menarik didengarkan, daripada kisah perjuangan seorang anak kampung di kota besar” ujar Bagas.

“Eh kamu dulu pernah nyuekin aku tau” tiba-tiba Linda menyela.

“Masa sih, ga mungkin ah” balas Bagas

“Iya pernah, waktu itu aku ngajak kamu ke festival apa lah gitu malam-malam. Yang paling gokil itu jawaban kamu yang out fo the box” jelas Linda

“Emang aku jawab apaan” Bagas berusaha mengingat

“Maaf Lin, aku kalau malam suka kedinginan, alergi dingin aku, jaket aku Cuma satu, itupun lagi dicuci, sorry ya ga bisa nemenin” kata Linda menirukan kalimat Bagas saat itu sambil membuat mimic lucu.

“Hahahaha masa sih aku gitu dulu” Ujar Bagas ragu.

“Aku sebel banget beneran, sampe dalam hati aku nyangkanya kamu itu gay, makanya ga mau jalan sama aku” lanjut Linda

“Ya aku emang alergi dingin, dan emang bener kok selama kuliah aku Cuma punya satu jaket, jadi kalau dicuci ya ga bisa keluar malam, hehehe”. Keduanya tertawa lepas terbahak-bahak mengingat kekonyolan itu. Wanita terpopuler di kampus ditolak oleh mahasiswa beasiswa yang ga banyak dikenal orang.

“Kamu kenapa sih ga deket sama aku waktu kuliah, pengen lho aku temenan deket sama kamu.” Ujar Linda

“Aku kagum sama kamu, waktu ada ujian dosen terkiller di kampus kita, malamnya kamu sempetin ngajarin anak-anak sekelas, kalian sampe malem banget masih di kampus, dengan sabar kamu ajarin satu-satu, kamu pulang stelah semua orang paham, dan ternyata hasilnya luar biasa, semua anak kelas ga ada yang dapet E, minimal C, bahkan dosen itupun memuji kelas kita.”. Bagas tersenyum bangga, ternyata dirinya yang bukan siapa-siapa ini mampu membuat ratu kampus menaruh perhatian padanya.

“Kamu duluan deh yang cerita, setelah satu kampus ditaklukan, apalagi yang kamu taklukan” ujar Bagas melempar bola ke Linda.

“Ok ok aku duluan yang cerita, tapi nanti gantian ya.”

Bagas memanggil pelayan café, untuk memesan minum Linda dan beberapa snack untuk menemani obrolan malam mereka. Atmosfir keakraban dan kehangatan sangat kental dirasakan malam itu. Sambil sesekali menyeruput minuman dan makan cemilan Linda menceritakan kisah hidupnya, mulai dari menjadi pemilik sekaligus direktur sebuah brand fashion ternama, hingga kisah keluarganya Dimana kini ia hidup berdua dengan putrinya Bunga setelah ditinggal suami tercintanya.

“Tahu nggak Bagas, siklus metamorfosa seorang Wanita, dari putri kecil yang dimanja dan disayang, lalu menjadi perempuan yang dikagumi dan dipuja, lalu menjadi istri yang dicintai, berlanjut menjadi ibu yang dimuliakan. Tidak mudah but It’s amazing”

“Terkadang aku berharap di satu titik siklus kehidupan, ingin menikmatinya lebih lama, tapi hidup harus terus bergulir. Entahlah sekarang aku berada di siklus mana, aku bukan lagi istri yang dicintai setelah kepergian suamiku, tidak bisa juga dibilang Ibu, dengan perginya putri kecilku Bunga yang kini sudah mengepakkan sayapnya sendiri, meninggalkan rumah, memulai perjalanannya sendiri. Apa aku kembali menjadi Wanita yang dikagumi dan dipuja, atau mungkin aku sudah terlalu tua untuk itu, who knows.” Linda bercerita panjang lebar malam ini, mencurahkan isi hatinya, meluapkan kesepian dan kehampaannya. Senyum kecil tersungging di bibir manisnya, tapi tatapan mata sayu dan kosong tidak dapat berbohong, ada sesuatu di dirinya yang tidak sempurna, walau tidak mampu melunturkan kesempurnaan parasnya.

“Eh sorry kenapa aku jadi menyek-menyek gini sih, hehehe” ujar Linda sambil menyeruput minumannya. Sadar bahwa yang diceritakannya bukanlah hal indah yang menarik untuk didengarkan.

“Ga apa-apa kok Lin, malah aku seneng dengernya. Bukan seneng karena apa yang terjadi sama kamu, tapi seneng bahwa ternyata kita sama, seorang bidadari pun tidak selalu sempurna hidupnya, sama seperti manusia lainnya.”

“Iiiihhhh udah deh pake bilang bidadari segala. Udah tua tau.” Jawab Linda merona.

“Sorry tanya, mungkin ga penting-penting banget, tapi aku pengen tanya, maaf juga bukan merendahkan mendiang almarhum suamimu. Kenapa sih bisa sama Dimas ? kayaknya dia juga bukan circle mu kan ? Kok bisa, amala napa yang dilakui Dimas.hehehe. Kalau ga mau jawab juga ga apa2, maaf penasaran tanya. Hehehe”

“Kenapa sih sama kalian para cowok, banyak banget lho yang tanya kayak gitu, kayaknya aku sama Dimas itu seperti fenomena alam yang melawan segala hukum alam gitu. Hahahaha” Linda tertawa lepas.

“Ketika cowok lain datang untuk mengabdikan dirinya untuk memujaku, Dimas datang menawarkan diri untuk jadi suamiku. Yang berarti dia akan mencintaiku, menyayangiku, menjagaku, melindungiku, sekarang atau nanti, dalam kondisi apapun, bagaimanapun. Bagiku, itu kalimat ungkapan cinta paling sempurna dari semua kata-kata cinta.” Ujar Linda dengan ekspresi penuh cinta dan kasih sayang, mengisyaratkan cintanya pada Dimas memang tulus.

“Sama kaya juga sih dia. Hahahah” Linda Bagas tertawa begitu lepas, mendengar punchline Linda tentang suaminya. Tapi tidak ada keraguan akan cintanya pada suaminya.

“Sekarang kamu ah cerita, pertanyaan aku aja belum dijawab, udah nikah belum ?” Linda balas bertanya pada Bagas.

“Yah, I’m married” jawab Bagas sambil sedikit menghela napas. Linda menangkap gesture itu, tapi tidak mencecarnya lebih jauh.

“Kamu dulu abis lulus langsung dibawa sama geng chindo itu kan, masih kamu sama mereka?”

“Iya, berkat mereka yang mempercayakan aku dengan kekayaan mereka, aku bisa punya kesempatan terjun ke dunia bisnis high level, dimana para titan nya dunia bisnis berada.”

“Kenapa dulu waktu reuni kamu kok ga kayak gini, makanya aku kirain kamu udah ga sama mereka. Kamu udah ikut mereka tapi keliatan kurus, kucel, stress, kita nyangkanya kamu diperbudak lho sama geng chindo, hahahaha”

“Nggak kok, dulu aku emang sengaja ngerjain semuanya sendiri, biar tau rasanya terjun ke dunia bisnis yang sebenarnya. Makanya keliatan “sengsara” hehehe.”

Tak terasa lebih dari satu jam sudah mereka disana, minumam mereka pun sempat di refill. Semakin lama percakapan mereka ada ikatan halus yang mulai terjalin, disadari atau tidak. Bagas yang dengan sabar mendengar setiap curhatan Linda, dengan tatapan dalam pada mata dan wajahnya. Sosok yang dulu mungkin pernah jadi idolanya semasa kuliah, sama seperti pria lainnya di zaman itu, kini dengan antusias bercerita kisah hidupnya pada Bagas. Sekilas Bagas teringat pada wajah Hilda, secara profil Hilda mungkin lebih cantik, karena lebih muda sebenarnya, tapi Linda punya aura yang lebih kuat, dengan body shape lebih tajam, sex appeal Linda terasa lebih kuat daripada Hilda. Perbedaan signifikan ya karena Linda tidak berhijab sementara Hilda berhijab.

“Eh daritadi kamu belum cerita tentang istrimu, cantik ya pastinya, ada fotonya nggak, kayak gimana mukanya ?” ujar Linda penasaran.

“Mirip kamu kalau pakai Hijab” kalimat tersebut meluncur begitu saja dari Bagas, walaupun setelahnya ia terlihat malu sendiri, dengan pura-pura batuk.

“Aku Kristen Bagas, ga mungkin pake Hijab.hahaha”

“Tapi iya sih cantik-cantik lho sekarang cewek-cewek pake Hijab. Jadi pengen juga pake hijab.heheh” Bagas lega, Linda menanggapinya dengan candaan.

Malam semakin larut, makhluk malam keluar dari sarangnya, makhluk siang terlelap dalam tidurnya. Kedua teman yang dipertemukan takdir, masih larut dalam kerinduan. Tapi malam harus berakhir.

“Udah malam pulang yuk” ajak Linda

“Ok, ga nyadar udah malam banget ternyata.” Bagas sebenarnya masih betah mengobrol.

“Antar aku ke hotel ya deket kok.”

“Siap laksanakan” Bagas bergaya hormat seperti militer. Linda tertawa melihatnya.

“Jalan kaki aja yuk, deket kok” ujar Linda. Bagas yang awalnya akan mengambil mobil di parkiran, mengurungkan niatnya.

Selama perjalanan obrolan mereka berlanjut, hal-hal sepele yang diobrolkan. Tangan Linda tiba-tiba merangkul lengan Bagas. Dia sedikit terkejut, tapi Linda hanya tersenyum. Mereka berdua lanjut berjalan hingga beberapa menit kemudian sampai lah di hotel tenpat Linda menginap. Sebuah hotel mewah Bintang 4 atau 5.

“Mau masuk dulu ?” Linda bertanya pada Bagas. Sebenrnya Bagas agak bingung apa yang harus dia jawab, lagi-lagi anxiety nya kembali.

“Mmmm….kayaknya aku langsung pulang aja udah malam” jawab Bagas kikuk

“Ok fine. Bye” Linda memberi salam perpisahan seraya mengecup pipi Bagas, lalu berpaling menuju pintu hotel. Jantung Bagas sempat terhenti seketika, tidak menyangka hal itu terjadi.

“Be…besok masih disini kan ?” tanya Bagas terbata-bata. Linda berhenti lalu berbalik menghadap Bagas.

“Kasih aku alasan, kenapa besok aku harus tetap ada disini” Jawab Linda dengan sorot mata tajam, menusuk hingga sanubari. Otak Bagas dipaksa berpikir cepat, jantungnya terpompa adrenalin.

“Besok kita olahraga sore di taman, habis itu kita makan sea food, ada tempat makan enak disini, gimana ?” Bagas mengutarakan apa yang terlintas di kepalanya saat ini. Bagas ingat Linda ini juga seorang yang jago dan hobi olahraga, alih-alih ngajak nonton atau jalan-jalan, olahraga sepertinya opsi yang lebih menarik.

Linda tersenyum sesaat, masih menatap pejantan yang kini mulai pudar kepercayaan dirinya, setelah ciuman di pipin yang ternyata mampu merobohkan dinding pertahanannya.

“Ok jemput aku disini jam 15:00 ya, see you tomorrow” Linda berpaling kembali menuju pintu hotel seraya melambaikan tangannya.

Detak jantung Bagas kembail berdenyut setelah sempat terhenti beberapa saat. Ia menghela napas panjang, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Berusaha menenangkan dirinya, setelah berhadapan dengan bidadari cantik yang mampu membuat malamnya sempurna. Bagas pulang dengan kebahagiaan, senyum tersungging di bibirnya, entah kapan terakhir ia merasakannya. Hormon endorphin yang mengalir di darahnya membuatnya merasa seperti sedang jatuh cinta.


Part 12 C Recovering Life

Keesokan paginya, Bagas berangkat ke kantor dengan semangat membara. Dia tiba lebih awal, bertekad menyelesaikan pekerjaan secepatnya demi janjinya dengan Linda, teman lama yang baru kemarin ditemuinya. Pesona Linda tak lekang oleh waktu, justru kian bersinar setelah puluhan tahun. Ada daya pikat kuat yang terpancar darinya.

Bagas teringat masa kuliahnya. Linda adalah sosok yang selalu ia jauhi, bukan karena tak suka, melainkan sebaliknya. Dia takut berharap pada sesuatu yang di luar jangkauannya. “Lebih baik tidak berharap daripada terluka,” begitulah prinsipnya dulu. Linda benar-benar 'out of his league' (di luar jangkauannya): cantik, pintar, kaya, populer—entah keistimewaan apalagi yang Tuhan berikan padanya. Namun, takdir memang lucu; sosok yang dulu ia “hindari” kini tiba-tiba hadir di hadapannya. Seolah-olah hidup sedang memainkan prank, menghadirkan sesuatu yang hampir mustahil dalam hidupnya.

Setibanya di kantor, Bagas langsung tenggelam dalam pekerjaan harian: analisis pasar, kurva penjualan, alur distribusi, rantai pasok, dan berbagai detail bisnis lainnya yang bahkan penulis sendiri tak sepenuhnya pahami. Setelah menyelesaikan tugas individual, ia berkoordinasi dengan beberapa rekan internal dan mengevaluasi kinerja tim. Tak berhenti di situ, koordinasi dilanjutkan dengan pihak eksternal: kontraktor, pemasok, ekspedisi, dan semua klien tak luput dihubunginya. Bagas memang ahli di bidangnya; dia tidak hanya bekerja di dunia bisnis, tapi juga hidup di dalamnya. Benar kata Linda, tak heran "gang Chindo" begitu mempercayainya. Mereka tahu seorang jenius seperti Bagas akan mendatangkan kekayaan berlimpah. Berapa pun yang mereka berikan padanya, Bagas akan melipatgandakannya.

Waktu menunjukkan pukul 14.15, saatnya Bagas bersiap untuk kencan larinya. Dari tas gym yang dibawanya, ia mengeluarkan perlengkapan lari: baselayer full-body, kaus sport, celana pendek sport, sepatu lari high-class, dan tak lupa kacamata hitam sport. Lari adalah salah satu olahraga yang Bagas tekuni; ia sanggup menyelesaikan maraton dengan pace 6 menit/km. Setelah mengepak semua kebutuhannya, termasuk baju ganti, Bagas menuju hotel tempat Linda menginap. Dia memarkirkan mobil di sekitar hotel, lalu masuk dan menunggunya di lobi.

Pukul 14.50, masih ada sepuluh menit. Bagas duduk di lobi, memperhatikan orang-orang berlalu-lalang dan menikmati desain hotel, hingga matanya terpaku pada satu sosok yang baru saja keluar dari lift. Leging ketat berwarna hitam sempurna membentuk lekukan pinggang dan pinggulnya, berpadu dengan sepatu olahraga pink. Atasan jaket ungu gelap juga melekat indah mengikuti kurva tubuhnya, dengan inner outfit berwarna putih terlihat di baliknya. Lengkap dengan topi dan kacamata hitam, serta riasan wajah natural, ringan, dan kasual yang sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. Sosok itu cukup menarik perhatian orang di sekitarnya; beberapa lelaki terlihat melirik ke arahnya. Linda memang memiliki pesona yang sulit ditolak, setidaknya untuk sekadar melirik. Dengan langkah jenjangnya yang indah, ia mendekat ke arah Bagas setelah melihat Bagas sudah menunggunya di salah satu sofa.

“Hai, udah lama?” tanya Linda dengan senyum indah merekah.

“Enggak kok, baru sebentar,” jawab Bagas.

“Udah semua, kan? Enggak ada yang ketinggalan? Jalan sekarang, yuk!” ajak Bagas.

“Yuk, siap!” balas Linda.

Keduanya jalan beriringan menuju tempat parkir di mana mobil Bagas terparkir. Dengan gentle, Bagas membukakan pintu untuk Linda agar masuk terlebih dahulu ke mobil. Bagas masuk kemudian di sisi sopir. Bagas baru terpikirkan, semua outfit yang Linda pakai ini apakah memang dia bawa-bawa. Linda ke sini, kan, karena ada acara pekerjaannya, bukan sedang liburan atau apa pun.

“Kamu selalu bawa running gear, ya?” tanya Bagas membuka pertanyaan.

“Kamu merhatiin aku, ya, dari tadi? Hehehe,” bukannya menjawab Linda malah menggoda Bagas.

“Baru kepikiran, sih. Rumahmu kan bukan di sini, tapi running outfit kamu komplit banget,” jelas Bagas.

“Baru tadi pagi beli,” ucap Linda sambil tersenyum manja, sengaja menggoda Bagas.

Mendengar jawaban Linda, Bagas justru terdiam, tak tahu harus berucap apa. Ternyata Linda sebegitu effort-nya untuk “running date” ini sampai outfit pun baru dibelinya. Ada penyesalan di hati Bagas, kenapa tidak ajak sesuatu yang sederhana saja seperti makan siang, nonton, atau sekadar jalan-jalan di taman. Kenapa malah kepikiran lari sore segala yang perlu alat khusus. Tapi di sisi lain Bagas sangat bahagia, idola yang takut ia idolakan dulu kini justru bersedia melakukan effort untuk bersamanya. Jangan-jangan kalau diajak berenang, Linda bakal beli baju renang juga, hehehe. Khayalannya mulai liar berspekulasi, hingga Linda akhirnya bicara, membuyarkan khayalannya.

“Jauh enggak tempat jogging-nya sama tempat kita makan nanti?” Tanya Linda.

“Dekat kok, jalan kaki aja ke tempat makan, mah,” jawab Bagas.

“Nanti habis lari kita mandinya di mana? Balik hotel?” lanjut Linda bertanya.

Bagas terdiam sejenak, dia tidak memprediksi kalau Linda ingin mandi setelah jogging.

“Aku biasanya enggak mandi habis olahraga, nanti saja di rumah mandinya, hehehe,” Bagas mengakui ia tidak memikirkan sampai segitu.

“Kan kita mau jalan-jalan lagi habis jogging, masa jalan-jalan pakai baju lari, sih? Keringetan pula, lengket, lah,” jelas Linda.

Setelah beberapa saat berpikir Bagas teringat kalau gym-nya berada tak jauh dari lokasi tempat makan dan ada fasilitas shower-nya.

“Ada… ada di tempat gym, aku member di sana, cuma ya agak jauh. Jadi dari tempat lari sekitar 500 meter tempat makan, 500 meternya lagi baru gym-nya. Gimana?” jelas Bagas.

“Oke, sip,” jawab Linda singkat. Bagas menghela napas lega, ia khawatir Linda jadi badmood gara-gara mandi.

Di tempat lain, tepatnya kantor Bagas, Stephen kebingungan mencari Bagas.

“Eh, Bagas ke mana, ya? Ada yang lihat? Tumben ngilang anak itu?” tanyanya bingung.

“Enggak ada jadwal cek lapangan, kan, hari ini?” Stephen kembali bertanya pada staf lainnya.

“Gue telepon, lah.” Nada sambung terdengar di handphone-nya.

HP Bagas bergetar, tapi tidak ia hiraukan karena sedang mengemudi.

“Anjir, enggak diangkat. Dia enggak diculik orang, kan?” Stephen tampak mulai khawatir.

Sahabat sekaligus mesin pencetak uangnya, kini tidak bisa dihubungi.

Setelah sampai di parkiran running track, Bagas mengecek handphone-nya, terlihat ada beberapa notifikasi panggilan dari Stephen. Segera dihubungi balik nomor tersebut.

“Halo, kenapa, Bro?” ujar Bagas.

“Lo ke mana, Bro? Tumben enggak ada di kantor? Lagi cek gudang?” tanya Stephen.

“Enggak, lagi ada perlu aja sama teman. Sorry gue enggak bilang dulu sama lo, enggak ada lo tadi,” jawab Bagas.

“Cewek, kan, Bro, teman lu?” tanya Stephen mulai kepo.

“Iya, cewek,” jawab Bagas sedikit berbisik, khawatir didengar Linda. Bagas sudah punya firasat, pasti bakal ngaco arah obrolannya dengan Stephen ini.

“Alhamdulillah. Akhirnya, Bro, gue kembali pada jalan kebenaran, Ya Allah,” ucap Stephen refleks.

“Lu Buddha, bangke, ngapain bawa-bawa Tuhan gue?” balas Bagas sambil menahan tawa.

“Lu enggak akan ngerti kalau gue pakai agama gue, makanya gue pakai agama lu,” lanjutnya menimpali pembicaraan yang mulai tak menentu.

“Oke, Bro, have fun. Kalau mau booking kamar, calling gue lu maunya di mana. Gue bayarin, deh,” ucap Stephen menawarkan dengan segala keyakinan.

“Bangsat lu,” sambil tertawa dengan tingkah sahabatnya itu, Bagas menutup handphone-nya. Tidak disadari ternyata sedari tadi Linda memperhatikannya dari belakang, dan sepertinya cukup bisa dengar dengan apa yang sedang dibicarakan.

“Siapa, Gas, seru banget nelponnya?” tanya Linda.

“Eh, enggak, ini Stephen, bosku, adiknya William kawan kita dulu.”

“Oh, adik William. Ngobrolin apa? Seru banget, sampai ada hotel-hotel gitu tadi kedengarannya,” lanjut Linda.

“Hmm… enggak kok, Lin. Di… dia mau pesan hotel,” ujar Bagas mulai gugup.

“Oke, fine,” lanjut Linda singkat. Bagas lega, Linda tidak melanjutkan pertanyaannya.

Mereka berdua lanjut masuk ke running track, pemanasan dan stretching terlebih dahulu sebelum mulai berlari. Linda terlihat begitu fokus pada gerakannya, sementara orang-orang di sekitarnya pun fokus memperhatikannya. Tak seorang dua orang yang melintas di titik di mana Linda sedang pemanasan pasti melirik ke Linda, memang sulit menutupi keindahan tubuhnya, apalagi pakaian olahraganya saat ini, yang memang didesain untuk melekat ketat menampilkan lekukan tubuhnya. Ditambah paras cantik nan menawan, walau ditutup topi dan kacamata hitam, Bagas yakin masih ada mata yang bisa menemukan kecantikan itu.

“Kamu ngeliatin aku, ya, Gas?” ujar Linda tiba-tiba.

“Ngggak kok,” jawabnya gagap, semakin menegaskan bahwa ia memang memperhatikan Linda.

“Enggak apa-apa kok kalau mau ngeliatin, hehehe,” ucap Linda menggoda.

Linda kemudian lari di jogging track, lebih dahulu dari Bagas, tanpa memberi aba-aba dulu. Bagas mengejar dari belakang, entah Linda sengaja berlari lebih dahulu atau bagaimana tapi yang pasti kini Bagas benar-benar disuguhi pemandangan yang luar biasa dari belakang Linda. Bokong indah nan seksi bergoyang-goyang menggemaskan, menggoda siapapun yang melihatnya. Karena mulai gelisah Bagas mempercepat pace-nya. Kini ia menyusul Linda berada di depannya, ia fokuskan pada track dan napasnya saja, untuk mengurangi kegelisahannya.

“Bagas, jangan cepat-cepat,” suara lembut memanggilnya. Itu pasti Linda. Bagas mengurangi kecepatannya hingga mereka kini lari berdua berdampingan. Ternyata kondisi ini juga tidak lebih baik. Kini Bagas bisa melihat aset depan Linda yang melompat-lompat kegirangan, sepertinya Linda tidak memakai sport bra. Benar saja ketika Bagas melirik ke sekelilingnya, banyak mata lain yang juga memperhatikan Linda. Bahkan dengan sengaja ada bapak-bapak usia 50-an tahun dengan outfit bak atlet veteran, dengan sengaja menyusul Linda dan menolehkan kepalanya ke samping ke arah Linda, melambatkan gerakannya sesaat agar sejajar dengan Linda lalu tersenyum genit padanya. Linda yang menyadari itu hanya menoleh ke arahnya dan membalas senyumannya. Dan atlet veteran itu pun kembali pada pace cepatnya.

Setelah beberapa putaran mengelilingi running track, Linda memintanya untuk berhenti dan beristirahat.

“Gas, udah yuk, capek,” ujar Linda.

Keduanya menepi, mengatur napas, sambil berjalan perlahan. Detak jantung yang berderu kini mulai normal, kecuali Bagas mungkin, yang berusaha menahan deru jantungnya bukan karena cardio, tapi karena hal lain. Bagas segera berlari menuju pedagang asongan yang menjajakan air mineral kemasan dingin, dibelinya 2 botol dan segera disuguhkan pada Linda salah satunya dengan dibuka segel tutupnya terlebih dahulu.

“Terima kasih,” ucap Linda lembut.

Linda segera meminum air tersebut sambil menengadah ke atas. Keringat bercucuran di pipi dan leher putih jenjangnya. Gerakan kerongkongan lembut menelan air dari botol minuman. Pemandangan tersebut cukup membuat Bagas kehilangan dahaganya. Bagas segera memalingkan wajah ketika Linda selesai minum, pura-pura masih meminum minumannya sambil mengecek handphone-nya. Terlihat pesan dari Stephen.

“Gue serius, Bro. Lo mau booking hotel mana, gue booking-in sekarang juga. Apa lagi yang lo butuh? Kondom, obat kuat, sex toys, sebutin, Bro, gue gojekin sekarang juga biar cepat. Belum mulai main, kan, lo?” tulis Stephen di pesan.

“Bangke…,” itu jawaban Bagas singkat.

“Udah yuk, kita bersih-bersih terus makan. Udah capek aku,” ajak Linda.

Keduanya menuju mobil Bagas, lalu melaju menuju gym langganan Bagas. Sesampainya di tempat gym, keduanya masuk dan diterima pegawai front desk dengan ramah.

“Selamat sore, ada yang bisa dibantu?” ujarnya ramah.

“Kami mau ikut mandi saja, Mbak,” ujar Bagas seraya menunjukkan kartu membership platinum.

“Iya, silakan, Kak,” sambil mengarahkan arah kamar mandi berada.

Bagas masuk ke kamar mandi pria dan Linda masuk ke kamar mandi wanita. Guyuran air hangat menenangkan saraf dan otot Bagas yang sedari tadi menegang, bukan karena olahraga tapi respons atas pesona Linda yang tak terbantahkan. Setelah 15 menit Bagas keluar dari kamar mandi, ia keringkan tubuhnya, disemprotkan parfum branded, dan tak lupa deodoran. Ia berpakaian kasual berupa kaus lengan panjang tanpa kerah slim fit di tubuhnya berwarna cokelat muda, dan celana bahan biru navy. Bagas sudah siap, namun Linda belum juga keluar. Setelah 30 menit kemudian keluarlah Linda dengan setelan dress ketat setengah lengan dengan belahan dada agak rendah sehingga mengintiplah belahan dada atasnya yang menggelembung dengan kalung salib yang seolah hampir terjepit di antara belahan dadanya, bawahan rok kembang se-paha berwarna krem menampakkan jenjang kaki putihnya, dan paha yang indah. Sepatu high heels branded berwarna ungu gelap. Rambutnya terurai indah, sedikit bergelombang. Bagas terpana melihatnya, sungguh bidadari dunia itu nyata. Linda mendekat ke arahnya dengan tatapan mata cantiknya.

“Lama, ya, nunggunya? Yuk, udah siap,” ujar Linda.

Bagas dan Linda berangkat dari gym menuju ke tempat makan seafood dengan mobil Bagas. Dari tempat duduk Bagas tercium aroma wangi parfum Linda yang begitu seksi, layaknya pheromone, aroma itu mampu menggetarkan hati Bagas.

“Parfum kamu enak banget,” ujar Linda tiba-tiba seraya mendekatkan hidungnya ke tubuh Bagas. Hal ini tentu saja membuat Bagas salah tingkah, karena sebenarnya dialah yang sedang mabuk aroma dari Linda.

“Parfum biasa kok, Lin, aku juga enggak ngerti mereknya apa,” jawab Bagas. Bagas benar-benar jujur perihal dia tidak mengerti merek parfumnya yang ia tahu harganya mahal. Hilda yang memilihkannya, Hilda benar-benar tahu apa yang bisa meng- upgrade suaminya.

“Kayaknya aku tahu, ini bukan parfum sembarangan, lho. Maksudnya, kalau pun ada 10 orang pakai parfum yang sama, wanginya akan beda-beda. Katanya, sih, gimana hormon dan pembawaan yang pakainya. Kalau lembut orangnya maka aromanya akan terkesan lembut, kalau keras karakternya akan memiliki aroma yang cenderung kuat.”

“Makanya ini enak banget di badan kamu, aromanya itu kayak manis gimana gitu, bikin pengen nempel, hehehe,” ujar Linda menjelaskan dan diakhiri dengan kalimat godaan penuh kegenitan.

Sampailah mereka di sebuah tempat makan seafood di pinggir jalan, tempatnya bukan di restoran, hanya makan di emperan dengan atap tenda. Warung ini tidak akan ada ketika siang, baru buka sekitar jam 5 sore.

“Enggak apa-apa, kan, makan di tempat gini?” tanya Bagas memastikan.

“Ya, enggak apa-apa, lah. Emang kenapa kalau makan di tempat gini?” balas Linda bertanya.

“Ya kan outfit kamu udah maksimal banget gitu, udah kayak sosialita mau hangout, eh malah nongkrong di tempat gini,” Bagas kembali memastikan, ia tak mau bidadarinya merasa risi makan di pinggiran jalan dengan pakaian seperti itu.

“Ya enggak masalah kali, menurut aku cocok-cocok aja kok baju gini buat makan di sini, enggak overdress kok, yang penting kan kelihatan cantik, hehehe,”

“Setiap wanita berhak cantik, kapan pun, di mana pun, dan dalam kondisi apa pun,” jawab Linda dengan senyum cantik lebar di bibirnya. Bagas kembali harus menghela napas. Menahan rasa yang mulai bergeliat efek dari senyuman yang memabukkan itu.

Suasana belum terlalu ramai, beberapa pegawai warung makan masih membereskan alat-alat masak. Linda dan Bagas masuk ke dalamnya memilih satu tempat dekat area pojok, beberapa mata langsung tertuju pada Linda, sosok yang “beda” sendiri, “glowing” sendiri. Kehadirannya di tempat makan seperti ini dianggap sebagai sebuah fenomena alam. Tapi sepertinya sosok Linda ini memang akan selalu berkilau sendiri di mana pun ia berada. Bahkan ada pasangan kekasih yang terlihat berantem setelah sang pria melirik ke arah Linda. Yang membuat Bagas bingung adalah sikap Linda yang sepertinya tenang saja, tidak merasa risi, seolah biasa menghadapi semua tatapan lapar pria di sekitarnya. Seorang pegawai warung makan itu datang menghampiri dengan catatan di tangannya.

“Pesan apa, Mas… Mbak?” tanyanya ramah dengan logat Jawa yang begitu kental, Bagas yakin matanya tertuju pada satu titik yang pasti semua pria meliriknya, karena posisinya berdiri, pasti dia lebih bisa melihat bagian yang tidak terlihat dari depan.

“Kamu mau makan apa, Gas?” tanya Linda sambil memiringkan kepala mendekat ke wajah Bagas dan menatap langsung ke mata Bagas dengan senyum merekah, pertanyaannya biasa, merindingnya yang luar biasa.

“Apa aja, Lin, enggak ada pantangan kok,”

“Oke, karena kamu yang bayar, kita pesta seafood hari ini,” ujar Linda begitu riang.

Beberapa menu Linda pesan, lebih dari 3 menu, Bagas bingung, apa bakal habis pesanan sebanyak itu. Melihat profil tubuh Linda sepertinya tidak akan mungkin makan sebanyak itu, ia pun yang laki-laki ada batas kenyangnya.

“Yakin habis? Apa dibungkus kalau enggak habis?” tanya Bagas.

“Habis lah, masa dibungkus, enggak enak lah,” ucap Linda sambil tertawa kecil.

Sambil menunggu makanan mereka pun saling bercanda, sore ini begitu hangat bagi mereka. Makanan pun datang berbagai macam lauk dari biota laut disajikan, tanpa banyak agenda lagi, keduanya menyantap hidangan di hadapannya, tak lupa Linda berdoa dengan cara agamanya. Menggabungkan kedua tangan di depan dada, sedikit menunduk tanda kekhusyukan, mata terpejam, bibir bergerak lembut merapal doa. Bagas yang melihat itu, tak bisa menutupi kekagumannya. Raga sempurna bak bidadari, otak cerdas dengan ide-ide brilian, dilengkapi hati suci yang senantiasa berdoa pada Tuhannya.

Sepanjang makan keduanya tak henti tertawa, mengobrol lepas bercerita masa lalu yang konyol dan jenaka. Bagas bercerita bagaimana ia bisa survive tanpa uang makan selama seminggu. Ia sengaja menemani teman-teman wanitanya ke kantin, karena ia tahu porsi nasi kantin cukup banyak, para wanita tidak akan menghabiskannya, apalagi untuk mereka yang diet, di situlah Bagas berperan, untuk menghabiskan sisa makanan para teman wanitanya.

“Masa, sih, sampai segitunya, kasihan banget, Hahahaha,” tawa Linda lepas sambil tak berhenti menyantap makanannya.

Bagas begitu bahagia malam ini, sejenak ia lupa akan Hilda, untuk sesaat ia merasa hidup lagi, bergairah lagi, merasakan desiran cinta lagi di hatinya.

“Mas, nasi satu lagi, ya,” Linda mengangkat tangan kanannya memanggil pegawai warung makan.

“Masih kurang?” tanya Bagas pada Linda.

“Pengen nasi lagi, tapi kalau seporsi enggak akan habis, bagi 2, ya, hehehe,” Linda tertawa begitu lucu.

Bagas yang dari tadi memang lebih banyak makan lauknya karena khawatir kekenyangan. Sehingga nasi di piringnya masih cukup banyak. Nasi tambahan pun datang, Linda menyantapnya lagi dengan lahap. Kagum dan heran terlihat di wajah Bagas, bagaimana mungkin seorang bidadari makan seporsi dengan kuli. Apa jogging membuatnya sangat lapar.

“Ah, kamu makannya lama, nih, aaaa,” Linda menyodorkan sejumput nasi dengan lauk di tangannya ke mulut Bagas, ia sempat terkejut tapi akhirnya membuka mulutnya. Sungguh romantis perilaku keduanya malam itu. Keduanya saling mengisi relung hati yang menganga kesepian. Ternyata Linda menyuapi Bagas karena ia sudah merasa kenyang, dan pada akhirnya semua hidangan habis tak tersisa. Bagas yang merasa begah karena makan terlalu banyak ditertawakan Linda dengan begitu puasnya. Setelah membayar tagihan mereka berdua keluar untuk melanjutkan ke lokasi selanjutnya.

“Ke mana lagi kita?” tanya Linda.

“Pulang?” balas tanya dari Bagas.

“Masa pulang, sih, baru jam berapa, kita jalan-jalan dulu, yuk, jalan kaki aja biar metabolisme kita lancar, habis makan banyak,” ujar Linda mengusulkan ide.

Bagas setuju, keduanya berjalan-jalan di sekitaran kota, tak jauh dari lokasi hotel Linda. Keduanya bergandengan tangan, kadang Linda memeluk lengan Bagas. Keduanya seperti remaja yang sedang memadu kasih.

“Kamu belum ceritain tentang istrimu, Gas. Ceritain dong kayak apa dia?” tanya Linda.

Bagas malas bercerita tema itu, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terpojok, tak akan bisa mengelak lagi dari tema tersebut.

“Namanya Hilda, lebih muda 7 tahun dariku, cantik, sangat cantik, kayak kamu mungkin, kalau pakai hijab,” Bagas bercerita dengan intonasi berusaha didatarkan, tak bisa dibohongi, hatinya masih bergejolak setiap nama Hilda disebut.

“Ia sangat baik, idaman para suami, sangat tahu membahagiakan suami…” lagi-lagi Bagas menghentikan ceritanya, hentakan jiwa, semakin terasa, Bagas berusaha tenang.

“Tapi aku menyia-nyiakannya, kuasingkan dia, ketika aku mengasingkan diri,” suara Bagas mulai bergetar, semua kenangan kembali mengisi kepala dan hatinya.

“Ia pergi dengan lelaki lain, lelaki yang lebih bisa memuliakannya, bukan mengekangnya dalam penjara keterpurukan,” air mata Bagas menetes, matanya memerah, emosi yang berusaha ia bendung, kini tak tertahankan. Bagas berusaha menutupinya dengan senyum, namun pahit.

Linda menatapnya tajam, sorot mata itu masuk ke hati dan jiwanya, memancarkan kehangatan, berusaha menenangkan. Kedua tangan lembut menempel di pipi Bagas, menariknya mendekat, kecupan hangat mendarat di pipinya. Bagas terdiam, masih tak yakin apa yang baru saja terjadi, mata Linda masih di situ, menatap matanya hingga tembus ke jiwanya, kecupan kedua mendarat di bibir Bagas. Seketika menghilangkan pedih di hatinya. Mata itu tak beranjak pergi, bagai menarik jiwa Bagas yang mulai tenggelam. Kecupan kembali mendarat di bibir Bagas, kali ini lebih intens, bukan lagi sebuah kecupan, tapi cumbuan yang memaksa. Lebih dalam lebih kuat, menarik bangkit gairah yang tertidur. Beruntung mereka berada di jalanan yang cukup sepi, tidak ada yang benar-benar memperhatikan mereka. Linda mendekat lebih erat, menuntun tangan Bagas untuk memeluk pinggangnya. Tangan Linda masih melingkar di kepala Bagas. Menariknya lebih dalam, masuk dalam cumbuan yang menghanyutkan. Kedua bibir saling berpagut, kedua lidah saling menelusup. Napas Linda mulai menderu, ia menghentikan aksinya.

“Pulang, yuk,” ajak Linda dengan suara sedikit parau, napas sedikit menderu. Linda menarik tangan Bagas, sedikit berlari, seolah ingin cepat sampai di hotel tempat ia menginap. Bagas hanya bisa mengikuti arahan dari Linda, menyesuaikan kecepatannya. Di depan hotel, Bagas sempat terhenti.

“Masuk, ya, Gas,” ujar Linda sambil berbalik karena Bagas berhenti bergerak. Bagas kembali bergerak mengikuti langkah Linda. Genggaman tangan erat Linda tidak sedikit pun berkurang, seolah ia khawatir Bagas akan kabur melarikan diri. Di dalam lift keduanya terdiam, tapi saling tersenyum menatap lembut. Di depan pintu lagi-lagi Bagas menahan langkah, seperti ada keraguan di dirinya.

“Please, Gas, masuk, ya, temani aku malam ini,” tatapan sayu, suara parau tertahan gejolak gairah, gigitan kecil pada bibir bawah. Linda benar-benar memohon Bagas untuk ikut ke kamarnya malam itu. Tidak ada logika yang bisa menolak ajakan itu, ini bukan tentang dosa, bukan tentang setan, tapi tentang kejujuran diri. Ada keraguan yang timbul, keraguan karena luka. Bagas tak yakin, walau akhirnya ia menyerah pada kejujuran hati.


Part 12 D Recovering Life

Linda menggenggam erat tangan Bagas, memastikannya tetap mengikuti Linda masuk ke dalam kamar. Bagas sudah menyerah pada hasratnya, walaupun ketakutannya masih menyelimuti. Pintu kamar tertutup di balik punggung Bagas setelah ia benar-benar berada di dalam. Tak ada lagi kata mundur, pilihannya sudah ditetapkan. Linda terus menggiringnya ke tengah ruangan hotel, area paling nyaman, paling lapang, namun belum bisa melegakan sesak gairah di dada mereka. Setelah yakin tak ada lagi jalan bagi Bagas untuk kabur, Linda perlahan melepaskan genggaman tangannya, berbalik menghadapkan wajahnya ke wajah Bagas. Kedua tangan mereka kini saling menggenggam berpasangan. Mata mereka terpaku satu dengan lainnya, bahkan tak sanggup untuk berkedip. Jantung berdegup, darah berdesir, napas tersengal ringan, pupil melebar namun hanya satu titik yang bisa terlihat. Pada momen itu hening, tak ada suara selain detak jantung kehidupan mereka, dan desiran gairah keduanya. Mulut mereka sedikit terbuka, membiarkan napas mengalir darinya, saling mendekat dengan pasti lalu bersatu, berpagut dalam gairah yang menggebu. Kepala mereka sedikit dimiringkan mencari posisi optimal untuk memaksimalkan cumbuan panas mereka. Lidah menari-nari, saling mengikat satu sama lain, tidak ada yang mengalah, tidak ada yang menyerah. Suara cumbuan basah bergema di setiap sudut ruangan. Desahan dan lenguhan lembut terdengar dari kedua bibir yang berpagut seiring dengan napas mereka karena hidung tak lagi cukup mengalirkan oksigen.

Kedua tangan Linda melingkar merangkul kepala Bagas, mengelus-elus pipi pria yang dengan khusyuk mencintai bibirnya. Tangan Bagas memeluk hangat pinggang Linda yang ramping. Erat, tak ingin berpisah, seolah ingin menghentikan waktu di saat itu. Bagas begitu nyaman, dunianya terhenti di saat itu, tenggelam, melupakan segalanya. Berbeda dengan Linda, tubuhnya menginginkan yang lebih, tak lagi merasa puas, bosan, menuntut. Didorongnya tubuh Bagas sedikit ke belakang, agar ia punya ruang untuk melucuti pakaiannya. Karena pakaiannya berupa dress, dengan mudah Linda melucuti pakaiannya hanya sekali gerakan, hingga terpampanglah tubuh indahnya yang hanya berbalut pakaian dalam yang hanya menutupi bagian kecil dari area sensitifnya. Mata Bagas tertegun melihat suguhan hidangan mata di hadapannya, tak sanggup berpaling, berkedip pun ia menolak. Tapi tak lama, belum puas Bagas dengan sajian mata itu, Linda menyergapnya, seperti memaksa Bagas untuk ikut melucuti pakaiannya.

“Buka Gas, cepetan!” suara parau, berat oleh birahi, tak keras tapi tegas dengan perintahnya. Berdua, 4 tangan 20 jari, berpacu melepas kaus lengan panjang yang dipakai Bagas. Dada bidang, perut six pack, dengan aroma parfum, membuat Linda tergoda. Segera ia menggelayuti tubuh Bagas, tangannya menggerayangi, mulut, bibir dan lidah saling berkoordinasi menjelajahi tubuh seksi Bagas, jilatan, cumbuan, ciuman, dengan gemas Linda berikan pada tubuh Bagas.

Stimulasi Linda yang luar biasa diterima Bagas secara intens, membuatnya tak lagi bisa berpikir jernih, akalnya terkalahkan oleh birahi, sejenak lupa akan ketakutannya. Linda menyusuri tubuh Bagas, seperti singa betina kelaparan yang sedang menjilati mangsanya, dari atas ke bawah. Linda bersimpuh di depan Bagas, tangan Linda dengan cepat meraih celana Bagas, hendak melepasnya, tak sabar untuk menikmati isinya, Bagas dengan kuat menahan Linda. Linda sedikit terkejut dan menatap tajam dengan mata sayu ke wajah Bagas. Tanpa kata yang terucap, Bagas mengambil alih kuasa, menarik tegas tubuh Linda agar naik ke atas. Dihempaskannya tubuh Linda ke kasur yang empuk, sebelum Linda bereaksi, Bagas segera menindih tubuh Linda, dengan buas mencium dan mencumbu seluruh bagian wajah cantik Linda. Dengan teratur turun ke leher Linda, tidak ada seinci pun terlewat.

Tangan Bagas menelusup ke belakang punggung Linda, diangkat tubuh Linda yang sedang mabuk dalam gairah, untuk meraih kaitan Bra nya. Dua bukit kembar nan indah terpampang jelas tanpa penghalang di depan Bagas, tanpa aba-aba Bagas lumat seluruh bagian payudara Linda, seperti menemukan makan favorit yang ia dambakan selama ini. Hisapan, jilatan, kuluman semua Bagas berikan demi menikmati payudara Linda, tak terlupa puting dan aerolanya. Bagian paling menggoda untuk dinikmati. Bagas mencakupnya dengan mulutnya, mulai dengan hisapan kecil nan lembut, hingga sedotan kuat nan kasar. Linda benar-benar dibuat mabuk kepayang dengan apa yang Bagas lakukan, tubuhnya bagai tanpa tulang, terombang-ambing ke sana kemari tanpa kendali.

Penjelajahan Bagas belum berakhir, petualangannya berlanjut ke bagian tubuh bawah dari Linda, turun teratur ke perut seksinya, tangannya meraba dan mengelus lekukan pinggang Linda dengan lembut tapi tegas. Helai kain terakhir yang menempel dari tubuh Linda pun berhasil disingkirkan, ditarik lembut ke bawah, dengan bokong Linda otomatis terangkat seolah paham memberi jalan bagi Bagas melanjutkan aksinya.

Tanpa diminta Linda mengangkangkan kedua kakinya, terpampanglah “Bunga” paling indah dari tubuh wanita, terlihat merekah indah, memancarkan aroma wangi gairah yang menarik pejantan untuk merengguk madunya. Jilatan, hisapan, dan lumatan kecil nan lembut pada setiap bagian vaginanya, Bagas suguhkan untuk merayu sang Bidadari. Linda melenguh pelan namun begitu dalam, desahan mengalir menyertai embusan napas. Matanya terpejam tak kuasa menatap.

Bagas begitu sabar merayu bidadarinya, lebih dari 10 menit ia melakukan aksinya. Linda tak lagi sadar, ia berada di nirwana kenikmatan, kehilangan kendali atas raganya. Semakin lama siksaan kenikmatan pada vaginanya semakin menggila, geli yang tak tertahankan, membuatnya bimbang ingin berhenti atau lanjut.

“Ba…ba…Bagas……Baaa gasssa…” Linda meracau memanggil nama Bagas. Tapi tidak dimengerti maksudnya. Menyuruhnya berhenti atau diteruskan. Bagas dengan telaten tetap melanjutkan apa yang dia mulai, semakin intens, semakin dalam, semakin cepat. Sedotan kecil tepat di area klitoris, seperti tombol trigger bagi Linda.

“Ooooohhhhh….Bbaaaagaaaassss” Linda melenguh panjang, punggungnya melenting matanya tertutup sedikit terbuka pupilnya tenggelam meninggalkan bagian putih dari matanya, mulutnya membentuk “O”, tubuhnya bergetar hebat terutama bagian bokong dan pinggul.

Sebagai pejantan sejati, Bagas memberi kesempatan bagi Linda untuk menikmatinya, tapi ia tidak berhenti, mulutnya kini kembali menjelajah leher Linda. Jemarinya masih bermain di sekitaran vaginanya, menekan dan mengelus lembut. Tangan yang lain sibuk meremas dan memilin sebelah payudara Linda. Ternyata yang Bagas lakukan memberikan gelombang orgasme berikutnya tanpa jeda, sehingga Linda tak lagi sadar apa yang terjadi pada dirinya. Lenguhan yang lebih mirip jeritan kenikmatan terpekik dari kerongkongannya yang sesak oleh deruan birahi, dengan sigap Bagas mencakup mulut Linda dan memberikannya cumbuan dalam dengan lidah menelusup ke dalam rongga mulut Linda. Jeritan itu berhasil teredam, tapi justru memberikan sensasi tambahan pada Linda. Setelah lebih tenang dengan jeda tidak sampai 30 detik, Bagas kembali mengerjai Linda, ia tarik Linda ke tepian kasur, Bagas bersimpuh di depan selangkangan Linda. Kini tidak hanya mulut dan lidah, beberapa jemari ikut masuk menerobos liang kenikmatan Linda. Mulut dan lidah bertugas di area luar, dan jemari bertugas di area dalam, koordinasi sempurna untuk membuat Linda yang seorang pro player pun harus kembali menggelinjang, lupa akan dirinya sendiri. Tak hanya gelombang orgasme, Linda pun squirt di sini, ini bukan pertama kalinya, beberapa kali ada beberapa pria yang berhasil membuatnya squirting. Tapi kali ini berbeda, Linda merasa sukmanya pun ikut terlepas dengan lepasnya squirt dari vaginanya. Pekikan kenikmatan menggema mengiringi terangkatnya bokong Linda seraya menyemburkan cairan kenikmatan dari vaginanya.

Wajah Bagas sempat tersembur cipratan cairan squirt Linda. Bagas tersenyum, misinya berhasil, sang bidadari telah mencapai nirwana kenikmatan. Sambil mengejar napas yang tersengal, Linda membuka matanya lalu tersenyum menatap Bagas, tubuhnya lunglai terbaring tak berdaya, kedua tangan berada di atas kepalanya, kedua pahanya menyilang, saling bergesekan, masih terasa geli nikmat menggerayangi bagian bawah tubuhnya.

Linda memberi kode dengan jarinya agar Bagas mendekat ke arahnya. Bagas yang awalnya berada di dekat kaki jenjangnya, kini beranjak mendekat ke kepala Linda. Setelah sampai, Bagas membelai lembut rambut Linda, mengecup keningnya lembut. Linda masih memejamkan mata, masih tenggelam dalam badai kenikmatan. Dengan gerakan cepat tiba-tiba Linda bangkit duduk, menarik paksa celana panjang yang masih dipakai. Sabuknya terpasang longgar, terlepaslah celana panjang, meninggalkan celana boxer berwarna abu hitam. Linda kemudian meraih celana boxer tersebut, menariknya ke bawah sebelum Bagas berhasil menahannya.

Hal yang Bagas takutkan terjadi, ternyata Bagas sudah ejakulasi sedari tadi, cairan putih lengket sudah berceceran di area penis Bagas. Linda yang masih dalam posisi duduk di kasur, menengadahkan kepalanya, menatap Bagas yang kini tertunduk malu dalam kondisi berdiri.

“It’s fine, let me do the favor” ujar Linda tersenyum. Diambilnya sehelai tisu, lalu dilapnya kepala dan batang penis Bagas, juga beberapa area di sekitarnya. Tidak benar-benar bersih, hanya bagian yang benar-benar lengket oleh cairan putih kental. Sejurus kemudian penis Bagas sudah berada di mulut Linda, disedotnya pelan, dikulumnya secara telaten, sambil memaju-mundurkan kepalanya. Tangannya diletakkan di paha Bagas, untuk pegangan aksinya. Bagas berusaha menahan serangan mulut Linda pada kontolnya. Tapi ia tahu hal itu tak akan bertahan lama. Tak sampai semenit Linda melakukan hal itu terhadap Bagas, kontolnya kembali bersiap untuk menembakkan ejakulasinya kembali. Dengan sigap Bagas mendorong bahu Linda sehingga kepalanya pun ikut terdorong ke belakang dan terlepaslah kontol Bagas dari serangan mulut Linda. Namun sayang, tembakan peju putih kental yang sudah terkokang tak dapat dibatalkan, semburannya mengenai wajah, mulut dan dada Linda. Dengan panik terburu-buru Bagas menyodorkan tisu agar Linda bisa segera melap semburan pejunya. Setelah selesai membantu Linda, Bagas membetulkan celana boxernya, tidak hanya itu, Bagas terlihat akan mengemasi seluruh pakaiannya dan pamit pergi.

“A..aaa…Aku pergi dulu ya” Rasa malu, pecundang, pria lemah menggelayuti pikiran Bagas. Ia tak ingin berpisah malam ini dengan bidadari yang bernama Linda, tapi kemampuan dirinya kini, membuatnya tak pantas dekat dengan sang bidadari. Ketika melangkah menuju pintu kamar, Linda memanggilnya.

“Bagas, sini sayang” kalimat lembut nan manja, terngiang di telinga Bagas. Ia pun berhenti.
“Kamu tahu, apa yang aku benci sekarang?” Linda menjeda pertanyaan retorisnya.
“Kosongnya ranjangku setiap malam.”
“Kemarilah, jangan biarkan aku tidur sendiri malam ini.” Ujar Linda terdengar seperti memohon.
Bagas yang sudah kalah, dipencundangi traumanya, terdiam menatap Linda.
“We can talk” ujar Linda sambil menepuk sisi kasur di sampingnya.


Part 12 E

Bagas mendekat ke arah Hilda, sebagian besar pakaiannya sudah kembali ia pakai.

“Buka…” ucap Linda dengan suara manja dan tatapan menggoda seraya menarik-narik pakaian Bagas. Linda masih telanjang di atas kasur, itulah kenapa ia meminta Bagas untuk kembali telanjang menemaninya.

Setelah Bagas melucuti seluruh pakaiannya, ia beringsut masuk ke dalam bed cover. Linda langsung memeluknya, menggelayut manja di tubuhnya, saling menikmati hangat dari kontak skin to skin.

“Tell me what happened, in detail of course,” ujar Linda sambil merebahkan kepalanya bersandar di dada Bagas.

Bagas mulai bercerita bagaimana awal tragedi terjadi pada dirinya. Dimulai ketika Koko, yang memiliki nama asli Hendarko Sudjatmiko, mengajaknya untuk melakukan kerja sama bisnis. Koko sepertinya sangat paham kalau di belakang Bagas ada Gang Chindo yang memiliki sumber daya melimpah. Koko adalah seorang pebisnis karismatik dengan senyum memikat dan janji-janji manis. Sebenarnya Bagas bukan pertama kali ini mengenal Koko, namanya sudah cukup dikenal, tapi tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok sempurnanya, tersimpan rencana busuk yang akan menghancurkan siapa pun korbannya.

Koko mendekati Bagas dengan skema bisnis investasi yang sangat menggiurkan. Ia meyakinkan Bagas bahwa dengan skema ini, kekayaan Gang Chindo akan berlipat ganda dalam waktu singkat. Awalnya, Bagas ragu, namun presentasi Koko yang begitu sempurna membuat pertahanannya runtuh. Tanpa menyadari bahaya yang mengintai, Bagas menyetujui skema tersebut dan menginvestasikan sebagian besar kekayaan Gang Chindo.

Seminggu kemudian, Bagas mulai merasakan keanehan. Laporan-laporan yang ia terima dari Koko tidak masuk akal. Ia mendapati dirinya dalam ketakutan dan mulai menyelidiki. Ia menemukan kenyataan yang pahit: skema itu adalah penipuan yang dirancang dengan cerdas. Koko menggunakan investasi tersebut untuk menjalankan bisnis ilegal dengan organisasi kejahatan yang terorganisir. Layaknya Bagas yang dipercaya Gang Chindo, Koko ternyata dipercaya oleh sebuah organisasi kriminal untuk mengelola aset mereka.

Menyadari hal itu sangat berbahaya bagi Gang Chindo, Bagas berusaha menyelesaikan semuanya sendiri, tanpa diketahui Gang Chindo. Bagas mengajukan laporan hukum terkait penipuan dan bisnis ilegal, namun Koko tidak kalah cerdik. Dengan dukungan dari organisasinya, Koko berhasil memutarbalikkan fakta. Semua data dan informasi difabrikasi sedemikian rupa, hingga akhirnya hukum pun bisa dikendalikan sesuai dengan keinginannya. Semua tuduhan Bagas berhasil dipatahkan, bahkan pengadilan menyatakan bahwa Koko tidak harus mengembalikan investasi karena kegagalan bukan diakibatkan kelalaian dari pihak Koko.

Malam itu, dunia Bagas runtuh. Ia terlambat menyadari tipu daya Koko. Kekayaan Gang Chindo yang dipercayakan kepadanya kini lenyap. Dengan hati gemetar, ia menghadap William, anak pemimpin tertinggi Gang Chindo, dan menceritakan semua yang terjadi. Bagas siap menerima semua konsekuensinya dan bertanggung jawab atas kesalahan yang ia buat.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Bagas menyerahkan semua yang ia miliki: rumah, mobil, tabungan, bahkan aset-aset pribadinya. Sebuah skema bisnis pun ia kembangkan untuk memulihkan kondisi kekayaan Gang Chindo yang hilang. Setelah semua kerugian tertutupi, Bagas mundur secara terhormat dari Gang Chindo. Ia mundur dengan tetap menjaga kehormatan dan kepercayaan dari geng tersebut. Apa yang terjadi cukup memberikan trauma mendalam bagi dirinya. Ia memang berasal dari keluarga miskin yang berhasil memanjat pohon kesuksesan, namun ia tidak menyadari bahwa jatuh dari ketinggian sangatlah menyakitkan.

Keterpurukan benar-benar merusak diri dan kehidupannya. Ia mengasingkan diri dan menaruh curiga pada siapa pun di sekitarnya, termasuk istrinya, Hilda, wanita yang ia cintai dengan tulus. Sikap buruk dan dingin senantiasa Bagas tunjukkan pada istrinya, memaksa Hilda mencari kebahagiaan lain di luar rumah.

Perselingkuhan Hilda dan Joko, rekan kerjanya, terekam dengan jelas dari spycam yang sengaja Bagas pasang di kamar tersebut. Begitu bergairah, begitu liar, aksi Hilda bersama dengan Joko. Bagas tidak pernah melihat istrinya beraksi sebinal itu ketika bersamanya. Kecemburuan membakar hatinya, amarah merobek jantung cintanya. Tak dimungkiri, Bagas sangat terangsang melihat rekaman video itu. Istri cantiknya bak bidadari bertingkah seperti singa betina yang sedang birahi, mencari pelampiasan nafsunya dari pejantan yang ada di hadapannya. Tapi kebencian dan dendamnya tidak bisa ia pendam, malam itu mereka berpisah, namun Hilda meninggalkan memori perpisahan yang benar-benar terpatri dalam benak Bagas.

Itulah luka yang masih menganga di hati Bagas. Kecemburuan dan amarah akan istrinya yang dengan sukarela dan senang hati mempersembahkan dirinya pada pria lain, membuatnya merasa kalah, lemah, dan direndahkan sebagai seorang lelaki. Secara tidak sadar hal itu ternyata memengaruhi psikologinya. Dia mengidap OPE sejak saat itu. Bahkan kini tak ada film porno yang bisa membuatnya terangsang kecuali rekaman video perselingkuhan istrinya.

“Kamu terlalu mencintainya… selayaknya setiap suami pada istrinya,” ujar Linda singkat setelah mendengarkan cerita Bagas.

“You need help, dan aku tahu siapa yang bisa membantumu. Dia menolongku ketika aku kehilangan jati diri akibat kehilangan Dimas, suamiku. Aku yakin ia bisa membantumu,” lanjut Linda. “Siska namanya, seorang psikolog/seksolog yang cukup dikenal karena reputasinya. Dia temanku. Anakku dan anaknya adalah teman masa kecil.”

“Ikut aku pulang ke kotaku. Kosongkan jadwalmu untuk beberapa waktu, kita tidak tahu perlu berapa lama pengobatanmu.”

Bagas merenung, hatinya bimbang, apa ia akan menemui Siska, seksolog yang direkomendasikan Linda, atau mengabaikan ini semua dan tetap melanjutkan hidup. Dalam lamunannya, tiba-tiba Linda bergerak mengubah posisinya, dari berbaring di dada Bagas, dengan cepat bangkit bertumpu pada lututnya. Lalu ia kangkangi wajah Bagas yang masih terbaring. Vagina Linda terpampang jelas, terlihat lembap, merekah indah, dengan wangi yang khas.

“Jika kamu masih mau menikmati ini, ikutlah denganku,” ucap Linda tegas sembari menyodorkan vaginanya dengan jemari mengelus lembut bagian klitoris di hadapan Bagas yang masih tertegun dengan pemandangan indah itu.

“Atau kamu sudah tidak ingin menikmati memeknya Hilda?” ucap Linda lebih tegas lagi.

Kalimat kedua Linda ini cukup membuat dada Bagas panas. Ia tak mau dipecundangi, ia tak mau kalah. Hatinya berteriak, “Tubuh itu milikku, raga itu hakku, semua kecantikan Hilda adalah punyaku. Aku takkan rela membaginya dengan siapa pun. Hatinya adalah cintaku, maka hanya aku yang berhak atas dirinya.” Hatinya menguatkan jiwanya. Bagas siap melakukan apa pun untuk merebut kembali Hilda.

Sebuah lonjakan energi dan gairah mengalir cepat di darah Bagas. Vagina Linda yang terpampang seolah mengejek, menggodanya untuk segera melahapnya. Tanpa pikir panjang Bagas menggenggam erat paha dan pinggul Linda, menariknya dengan kasar ke arah mulutnya. Tanpa romantisme, tanpa bujuk rayu, dilahapnya dengan buas vagina Linda, mengakibatkan jeritan spontan dari mulut Linda. Jeritan penuh gairah dan kebinalan, entah jeritan kesakitan atau kenikmatan. Bagas tidak memedulikannya, ia hanya ingin melumat vagina tersebut hingga ia menyerah padanya.

Jilatan, kuluman, dan sedotan kasar penuh nafsu ia berikan pada vagina Linda. Pinggul dan bokong Linda dicengkeram dengan kuat, menguncinya dengan pasti, memastikannya tidak bergeser ke mana-mana. Apa Bagas melakukan ini karena gairah atau hanya sekadar memenuhi keinginan Linda? Linda lagi-lagi memekik, entah kesakitan atau kenikmatan.

“Bbbbaaagaaaasss… bbbaaaaggaasss… aahhhh…” racau Linda yang tak dapat dimengerti maksudnya, ingin berhenti atau diteruskan.

“Memek ini milikku,” bagai sebuah bisikan gelap ke benak Bagas, membuatnya semakin buas, tak mau berhenti dengan apa yang dia lakukan.

Beberapa saat kemudian pekikan panjang diiringi dengan lenguhan. Tubuh Linda menggelinjang hebat, namun pinggul dan pahanya terkunci oleh cengkeraman tangan Bagas. Kedua tangannya bertumpu ke belakang, tepatnya ke perut Bagas, punggungnya melenting, menahan gelombang orgasme yang datang bertubi-tubi. Cairan kewanitaan merembes deras dari celah vaginanya, tak tertahankan. Setelah mereda, Linda berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Berusaha menegakkan kembali tubuhnya di atas Bagas sambil menatap mata Bagas yang masih berada di bawah selangkangannya.

“What was that? Enak banget, Bagas.”

Bagas melepaskan cengkeramannya, Linda bergeser tak lagi mengangkangi Bagas. Linda mencium Bagas dengan sangat dalam, sebagai tanda terima kasih karena telah memberikan malam yang luar biasa walau tanpa "kontol" yang berfungsi sempurna.


Part 13 Bandung - Linda

Stephen :”Lo perlu cuti ? berapa lama ? 1….2 minggu ?

Bagas : “Sampai selesai bro.”

Stephen : “Iya, lo butuh berapa lama ?”

Bagas : “Ga bisa dipastiin”

Stephen : “Ya kagak mau lah gua lepasin lo, Lo tipes seminggu aja gua ilang 10 M.”

Bagas : “Gua tetep bakal kerja kok, tapi ga disini, gua remote semuanya”

Stephen : “Yakin bisa lo ? Kalau gua mulai rugi lo harus balik secepat mungkin, baru gua izinin.”

Bagas : “Deal”

Bagas akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran Linda, menemui DR. Siska, sahabat sekaligus seksolog rekomendasi dari Linda. Bagas ingin dirinya sempurna sebagai lelaki. Ejakulasi dini Adalah aib bagi seorang pria. Bagas akan pergi ke Bandung, tinggal di kota itu untuk beberapa lama. Bagas menyewa sebuah apartemen yang direkomendasikan Linda, cukup strategis, tidak jauh dari kota. Setelah menyelesaikan urusannya di kantor Bagas perg menuju Bandung dengan mobilnya. Semua perlengkapan hariannya terkumpul rapi dalam travel bag. Keperluan kecil bisa ia beli di Bandung nanti.

Tibalah Bagas di gedung apartemennya, kunci sudah ia pegang beberapa hari yang lalu. Setelah berkomunikasi dengan pengelola Gedung, pun masuk ke dalam unitnya. Sebuah meja kerja besar dengan beberapa monitor di atasnya, dilengkapi wordesk computer dengan spesifikasi bukan kaleng-kaleng. Belum lagi koneksi internet maha cepat terhubung langsung ke jaringan headquarter di Jakarta. Stephen tidak main-main dalam hal ini, ia memastikan money maker nya tetap bisa menghasilkan uang untuknya.

Waktu menunjukkan pukul 15:14, ia punya janji dengan Linda, menjemputnya di kantornya lalu ke tempat DR. Siska. Dengan setelan rapi namun casual ia berangkat ke tempat Linda. Sebuah Gedung 3 lantai tidak terlalu besar. Dengan brand fashion milik Linda terpampang di depannya. Setelah parker ia masuk yang berbicara pada front desk bahwa ia sudah ada janji dengan Linda. Petugas front desk menelepon Sekretaris Linda untuk memastikan. Beberapa saat kemudian Bagas dipersilakan masuk untuk naik ke lantai 3 dimana ruangan Linda berada.

Seorang Wanita cantik berusia 20an awal menyambutnya, dengan senyum lebar mempersilakan Bagas masuk ke ruangan kerja Linda.

“Hai Bagas” sapaan lembut Wanita cantik penuh keceriaan menyambut kedatangannya. Gesture nya begitu akrab merangkul lalu mencium lembut pipi Bagas. Sekilas memory malam indah di salah satu hotel terbersit di benak nya. Ia tepis bayangan itu, bukan sekarang saatnya memikirkan hal itu.

“Jadi gimana ? Stephen kasih kamu izin ?” tanya Linda

“Iya sih tapi lebih mirip mindahin kantor, dibawa semua ke apartemen” Bagas tertawa kecil

“Dasar Cina ga mau rugi. Ya udah yang penting kamu disini, biar fokus terapinya, supaya bisa dipake lagi itu barangnya, hihihi” Linda tersenyum entah mengejek atau sekedar bercanda tentang penis Bagas yang kehilangan “mojo” nya.

“Yuk berangkat sekarang, keburu macet” ajak Linda

Keduanya berkendara dengan mobil Bagas, menembus sore yang belum terlalu padat menjelang jam kerja kantor. Tibalah mereka di sebuah rumah di Kawasan elite, terdapat 2 gerbang, Linda mengarahkan untuk masuk ke gerbang dengan petunjuk nama Praktek DR. Siska. Di dalamnya terdapat sebuah bangunan yang terpisah dari bangunan utama, tidak terlalu besar namun tidak kecil juga. Linda menekan bel di depan rumah tersebut. Keluarlah seorang Wanita yang tidak kalah cantik dari Linda, berpakaian rapi terlihat sangat professional.

“Hi honey, how are you ?” sapaan akrab terucap dari mulut Wanita tersebut yang diketahui sebagai DR. Siska

“Baik sayang.” Keduanya berpelukan seraya cipika cipiki.

Bagas yang sedari tadi menatap keduanya, hanya bisa menahan birahi melihat keakraban keduanya.

“Oh ini yang mau diservice” ucap Siska sambil melihat ke arah Bagas, tatapannya tajam seperti sedang melakukan profiling terhadap Bagas.

“Iya temen kuliahku Bagas, kenalin” ujar Linda memperkenalkan Bagas

“Siska….” Senyumya ramah

“Bagas” ucap Bagas berusaha cool, padahal dalam dirinya ia sangat malu, menghadapi 2 wanita cantik yang mengetahui bahwa kontolnya tidak berfungsi


Bab 14: Pelabuhan Terakhir

Malam ini begitu dingin, tajam mencekam, menusuk kulit tembus ke tulang. Roda taksi berputar, melaju menjauhi rumah yang pernah menjadi neraka sekaligus surgaku. Di dalamnya, Hilda duduk mematung, menatap pantulan dirinya yang sembab dan lelah di jendela. Air mata telah mengering, menyisakan jejak pahit di pipi. Dada terasa berat, dihimpit rasa bersalah dan penyesalan, namun di saat yang sama, ada kelegaan yang begitu besar. Ia akhirnya bebas. Bebas dari cengkeraman ketidakpedulian Bagas, dari kehausan emosional yang telah lama dirasakannya.

Hilda merasakan kehampaan yang begitu dalam, seperti kapal yang terombang-ambing di tengah samudra tanpa tujuan. Nama-nama teman dan sahabat terlintas di benaknya bagai pulau-pulau kecil di kejauhan, tapi tak ada satu pun yang terasa seperti pelabuhan. Namun, nama Joko seolah muncul mencuat ke permukaan, sebuah mercusuar yang memanggilnya. Ia tahu, pelabuhan itu tidaklah aman, justru penuh dengan badai dan risiko. Pergi ke sana hanya akan membuat masalah semakin rumit. Di tengah kebimbangan itu, Hilda memutuskan memesan sebuah apartemen sederhana di kota itu, memesan untuk beberapa malam, sampai ia menemukan tempat di mana ia akan mengungsi dalam jangka waktu yang lebih lama. Setibanya di apartemen itu Hilda merenung, ia tak tahu harus melakukan apa, ia tak tahu bagaimana jalan hidupnya setelah ini. Nama Joko kembali muncul di benaknya. Seolah hanya nama itu yang mungkin bisa memberi petunjuk bagaimana kisahnya akan tetap bergulir.

Dengan tangan yang gemetar, Hilda meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi perpesanan, menemukan nama Joko, dan menekan tombol panggil. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena campuran kegugupan dan harapan. Setelah beberapa dering, suara Joko terdengar parau dan bingung. Pasti ia baru saja terbangun.

“Halo, Mbak?” suara Joko menyambut, suaranya terdengar lembut namun penuh kehati-hatian, seolah ia bisa merasakan badai yang sedang mengamuk di dalam diri Hilda.

“Joko… aku butuh kamu sekarang,” kata Hilda, suaranya pecah. Ia tidak bisa lagi menahan tangis yang kini meledak. Isaknya terdengar jelas, memenuhi keheningan di seberang sana.

“Mbak? Ada apa? Mbak di mana?” Joko bertanya dengan suara yang bergetar. Panik mulai merayap dalam suaranya.

“Aku… aku sudah pergi, Joko,” bisik Hilda, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku pergi dari rumah. Aku butuh kamu. Sekarang.”

Hening. Joko tidak menjawab. Namun, Hilda bisa mendengar napasnya yang berat. Akhirnya, sebuah kalimat singkat terucap.

“Mbak tenang. Saya ke sana sekarang juga.”

Joko tiba satu jam kemudian. Ia berlari terburu-buru dengan napas tersengal, jaket denim yang melindungi tubuhnya dari dinginnya malam. Di tangannya, sebuah helm terayun-ayun. Matanya memindai setiap sudut gedung apartemen, mencari alamat yang dikirim Hilda. Wajahnya panik, tapi matanya memancarkan ketulusan yang tak tergoyahkan, seolah hanya Hilda yang penting di dunia ini. Ia menekan tombol lift, dan di setiap lantai yang dilewati, jantungnya berdebar makin kencang. Ia hanya ingin segera sampai, memeluk wanita yang suaranya terdengar begitu rapuh.

Setelah menemukan pintu unit apartemen, ia berdiri sejenak, menenangkan diri. Ia mengembuskan napas panjang, lalu mengetuk pintu dengan perlahan, seolah takut mengganggu. Pintu terbuka. Di baliknya, berdiri Hilda dengan mata sembab, rambut berantakan, dan piyama yang kusut. Tanpa menunggu sedetik pun, Hilda menghambur ke pelukan Joko, mencengkeram erat kemejanya. Tangisnya kembali meledak, bukan hanya tangisan penyesalan, melainkan tangisan dengan ribuan emosi yang telah ia tahan selama ini. Joko membalas pelukannya, pelukan dalam, kokoh menghangatkan, menjaga dalam kenyamanan, mencium puncak kepalanya, dan membisikkan kata-kata penenang.

“Jangan khawatir, Mbak. Saya ada di sini. Hanya untukmu, Mbak.”

Mereka masuk ke dalam, Joko menutup pintu di belakang mereka. Keduanya duduk di sofa, Hilda masih dalam pelukan Joko, tubuhnya bergetar. Joko tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membiarkan Hilda menangis, membiarkannya melepaskan semua beban yang telah ia pikul. Setelah tangis Hilda mereda, ia menarik diri, menatapnya dengan sisa-sisa air mata.

“Dia tahu segalanya, Joko,” bisik Hilda, suaranya serak. “Dia… memasang kamera mata-mata di kost-mu. Aku… aku pergi meniggalkannya, Joko. Aku lelah. Sangat lelah.”

Mata Joko melebar. Ia tidak melepaskan pelukannya. "Maafkan saya, Mbak. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Jika ada yang bisa saya lakukan, pasti akan saya lakukan demi Mbak.”

“Nggak Joko, ini bukan salahmu,” potong Hilda. “Ini memang bukan rencanaku dari awal, tapi aku ini, suatu saat inilah konsekuensi yang harus aku terima. Aku hanya ingin kamu tahu. Aku lelah. Selama ini, aku berusaha menjadi yang terbaik untuknya, tetap mendampinginya dalam titik terendahnya, tapi dia tidak pernah melihatnya. Dia sudah tenggelam dalam kegagalannya, tak lagi bisa diselamatkan. Aku… aku lelah, Joko. Sangat lelah.”

Joko hanya mengangguk, mengerti. Ia menuntun Hilda ke ranjang. Mereka duduk di sana, saling berhadapan, dengan tangan Joko masih melingkari pinggang Hilda. Di tengah keheningan yang menyelimuti mereka, Hilda mulai bercerita. Suaranya serak, penuh dengan kepedihan dan luapan emosi yang tertahan.

“Joko… aku… aku nggak tahu harus mulai dari mana. Sejak awal, aku datang ke kamu, itu… itu bukan karena cinta,” bisiknya, suaranya bergetar. “Itu karena aku… aku rindu Bagas. Bagas yang dulu. Sosok yang kuat, yang penuh gairah, yang membuatku merasa seperti wanita paling berharga di dunia.”

Joko menatapnya, matanya tidak menunjukkan kekecewaan, hanya ada pemahaman dan kepedihan yang mendalam. “Saya mengerti, Mbak. Saya tidak pernah marah. Saya senang… karena dengan begitu, saya bisa berada di sisi Mbak.”

“Tapi kamu… kamu membuatku sadar,” lanjut Hilda, air mata mengalir lagi di pipinya. “Aku pikir aku bisa mendapatkan Bagas yang dulu, lewat kamu. Tapi yang aku temukan… adalah seseorang yang jauh lebih baik. Kamu tidak pura-pura jadi orang lain. Kamu tulus. Kamu selalu memanggilku ‘Mbak’, kamu selalu menghormatiku. Itu… itu yang tidak pernah Bagas berikan lagi. Dia sudah benar-benar hilang dan tenggelam dalam kegagalannya. Dia mengasingkan dirinya, menganggapku sebagai orang asing di rumah kami sendiri. Segalanya terasa sia-sia, Joko. Aku mencoba mengembalikan dia, tapi dia tidak ada. Hanya ada tembok yang terbuat dari ego dan kepahitan. Dan akhirnya… bahkan hanya untuk tetap berada di sampingnya pun terasa menyakitkan.”

Joko mengusap air mata Hilda dengan jempolnya. “Mbak… jangan berkata begitu. Mbak tidak perlu merasa bersalah. Saya tahu, ini bukan hal yang mudah. Tapi percayalah… saya selalu ada untuk Mbak. Selalu.”

Hilda menatapnya, matanya penuh dengan rasa terima kasih dan cinta. “Awalnya aku hanya ingin lari dari Bagas. Aku hanya ingin pelarian. Tapi kamu… kamu membuatku merasa seperti manusia lagi. Kamu membuatku merasa seperti aku pantas dicintai. Bukan sebagai pelarian, tapi sebagai seorang wanita.”

Mereka saling menatap, mata mereka berbicara lebih dari seribu kata. Di tengah heningnya malam, mereka akhirnya mengakui perasaan yang selama ini mereka sembunyikan. Bukan lagi sebagai pelarian dan tempat pelampiasan, melainkan sebagai sepasang kekasih yang menemukan pelabuhan terakhir mereka.

Malam semakin larut. Setelah berbagi cerita dan menghapus air mata, keheningan menyelimuti mereka. Bukan keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang penuh dengan makna. Hilda menatap Joko, matanya memohon. Ia tidak ingin lagi ada kata-kata. Ia hanya ingin merasakan.

“Joko… hilangkan rasa sakit ini,” bisiknya, suaranya parau.

Joko mengerti. Ia membaringkan tubuh Hilda di ranjang dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian, seolah Hilda adalah makhluk rapuh yang tak boleh terluka. Keduanya kini berbaring di atas ranjang yang empuk, saling berhadapan. Hilda menghela napas panjang, menenggelamkan dirinya dalam pelukan Joko. Joko memeluknya erat, ciuman lembut mendarat di bibir Hilda, ia membiarkan Hilda mendengar setiap detak jantungnya. Hawa hangat dari tubuh Joko meresap ke dalam tubuh Hilda, menenangkan jiwanya yang hancur. Ini adalah rasa yang hilang dari Bagas. Rasa nyaman dan aman. Hilda membalas kecupan tersebut dengan cumbuan penuh keganasan dan keterburu-buruan. Lidahnya memaksa menyeruak masuk mulut Joko. Joko berusaha mengendalikannya, malam ini bukan tentang nafsu, malam ini tentang cinta dan kasih sayang. Joko mengunci lumatan bibir dan lidah Hilda, membuatnya tak bisa kemana-mana, perlahan tapi pasti, Joko mengambil alih cumbuan tersebut, gelora nafsu HIlda berhasil ia taklukan, dikendalikan untuk sesuatu yang lebih indah.

“Mbak, malam ini akan menjadi malam kenangan indah yang akan menghapus semua luka. Mbak adalah bidadari yang turun dari langit, seorang dewi yang pantas dipuja. Setiap air mata yang jatuh dari mata Mbak adalah permata yang terlalu berharga untuk dibiarkan hilang sia-sia. Mbak tidak hanya cantik, Mbak adalah keindahan itu sendiri, sebuah karya agung yang tercipta dari cinta dan ketulusan.”

Joko tidak terburu-buru, ia menanggalkan pakaian Hilda dengan sentuhan yang lembut dan penuh pemujaan. “Betapa indahnya ciptaan Tuhan,” bisiknya, suaranya serak. “Mbak adalah bidadari.”

Pujian yang telah lama tidak didengar Hilda itu membuat setiap inci kulitnya merinding. Ia membiarkan dirinya pasrah.

Joko tidak langsung melahapnya, ia memujanya dengan mata, seolah Hilda adalah lukisan terindah di dunia. Ia menciumi kening, mata, pipi, dan bibir Hilda dengan penuh rasa hormat. Ia turun ke lehernya, ke bahu, dan ke lengannya.

“Saya akan mengobati setiap luka di tubuhmu, Mbak. Setiap inci, setiap goresan.”

Ia menciumi setiap bagian tubuh Hilda, termasuk bekas-bekas luka batin yang tak terlihat. Ia menyebarkan ciuman lembut, basah, dan hangat di punggung, perut, dan pahanya. Setiap sentuhan adalah sebuah mantra yang menyembuhkan. Hingga akhirnya, ia sampai di payudara Hilda. Ia menatapnya dengan penuh rasa hormat, seolah di hadapannya adalah dua buah gunung suci.

“Ini… ini adalah tanda cinta yang paling indah.”

Ia menjilat dan menghisap puting Hilda dengan lembut. Hilda mendesah, kenikmatan itu sungguh luar biasa. Joko tahu persis di mana harus menyentuh. Di saat yang sama, kedua tangannya yang kuat namun penuh kehati-hatian menangkup bongkahan payudara itu. Jemarinya meraba kehalusan kulitnya, ibu jarinya bermain-main di sekitar puting yang sudah menegang. Dengan perlahan namun pasti, ia meremasnya dengan lembut, merasakan kekenyalan dan kepadatan yang sempurna di dalam genggamannya. Sesekali, ia memilin puting itu dengan ibu jari dan telunjuknya, memancing desahan yang lebih dalam dari bibir Hilda. Kenikmatan itu sungguh luar biasa. Joko tahu persis di mana harus menyentuh. Ia tidak egois, ia hanya ingin membuat Hilda bahagia.

“Joko… aku… aku butuh kamu.”

Joko mengerti. Ia melepaskan puting Hilda dan turun ke area kewanitaannya, merambat dari perut, pinggang, paha, dan bermuara di vagina. Joko memosisikan tubuhnya dengan kepala berada di selangkangan Hilda. Kaki Hilda sedikit terbuka, memberikan akses bagi Joko untuk menjelajahi keindahan di hadapannya. Aroma manis dari tubuh Hilda memenuhi udara, bercampur dengan wangi parfum lembutnya. Ia menjilati, mengulum, dan menyedotnya dengan penuh gairah. Suara “slllrpp… slllrpp…” berirama, ditambah dengan “desahan… desahan” lembut dari Hilda yang mulai menggelinjang. Joko tidak hanya menggunakan lidah, ia juga menggunakan jari-jarinya untuk mengobel klitoris Hilda dan memasukkan jarinya ke dalam liang kenikmatannya.

“Aaaahhh…!” desah Hilda. “Terus, Joko... lebih dalam…”

Joko mematuhi titah bidadarinya. Ia tahu Hilda sudah berada di puncak. Ia terus menjilatinya hingga Hilda mencapai klimaks.

“Aaaaaahhhhhh…!” jeritan kenikmatan dari diri Hilda bergema di ruangan. Tubuhnya melenting, kakinya menendang-nendang tak terkendali. Joko memeluknya, membiarkannya menikmati gelombang kenikmatan.

Setelah napasnya terengah-engah, Hilda kembali menatap Joko dengan mata yang berbinar. “Aku… aku butuh kamu… sekarang,” bisiknya.

Joko mengerti. Dengan kelembutan yang kontras dengan gairah yang membara, ia memosisikan dirinya di antara kedua paha Hilda yang terbuka mengangkang. Ia berlutut di sisi ranjang, menopang tubuhnya dengan kedua tangan, membungkuk di atas tubuh Hilda yang masih bergetar. Pandangan mereka bertemu, mata Joko menatap dalam ke mata Hilda, mencari izin dan kepastian. Dengan anggukan pelan dari Hilda, Joko menundukkan kepalanya, mencium bibir Hilda dengan lembut, dan perlahan-lahan, ia merendahkan tubuhnya, membiarkan ujung kontolnya menyentuh bibir liang kewanitaan Hilda. Ia tidak terburu-buru, hanya menggeseknya lembut, membiarkan Hilda merasakan sentuhan pertama dari penyatuan mereka. Dengan drorongan lembut namun tegas, penis Joko masuk ke dalam liang vagina Hilda yang sudah basah dan hangat, seperti menyelam ke dalam lautan. Hilda mendesah, “ooohhh... mmhhh...” suara desahan yang merdu mengiringi masuknya kontol Joko.

“Sangat indah…,” bisik Joko, matanya menatap mata Hilda dengan penuh pemujaan. “Saya adalah milikmu, Mbak. Malam ini… saya adalah pelayanmu.”

Mereka memulai dengan posisi missionary. Gerakan Joko lambat, penuh perasaan, setiap dorongan adalah sebuah deklarasi cinta. Ia mencium bibir, leher, dan payudara Hilda bergantian. Tangannya meremas payudara Hilda dengan lembut.

“Aku… aku suka…,” bisik Hilda. “Perlahan… Joko… jangan cepat…”

Joko mengangguk, mengerti. Ia terus memuja tubuh Hilda dengan setiap dorongan. “Plok… plok…” suara kulit yang beradu, terdengar puitis di tengah keheningan. Hilda menggelinjang, merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia mencengkeram erat punggung Joko.

“Lebih cepat, Joko… aku butuh… lebih cepat…!”

Joko mendengar perintahnya. Ia mengubah posisi. Dengan lembut dan penuh kehati-hatian, Joko menarik pinggul Hilda, membalikkannya hingga berlutut menghadap bantal. Hilda, seolah mengerti, memosisikan dirinya dengan kepala dan dada terbaring rileks pada bantal dan bokong yang terangkat sempurna. Dari posisi ini, Joko berlutut di belakangnya, kontolnya menghujam lebih dalam, lebih cepat. Ia mencengkeram pinggulnya, dan memujanya. “Mbak adalah ratuku. Ratu yang saya puja… yang akan saya layani sampai akhir…”

Hilda mendesah, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. Ia tidak bisa menahan diri. Ia merasakan kenikmatan yang luar biasa dari genjotan kontol Joko di memeknya. Ia merasakan dirinya dicintai, ia merasa dirinya mulia. Ia tidak lagi merasa seperti wanita yang dicampakkan. Ia adalah ratu di mata Joko.

Hilda menjerit, “Aaaaaahhh…!” jeritan kenikmatan yang dalam. Tubuhnya bergetar, ia mencapai orgasme kedua malam itu. Joko tidak berhenti, ia terus mengentotnya, membiarkan Hilda mencapai puncak kebahagiaan.

Setelah Hilda mencapai puncaknya, ia melirik ke belakang, menatap Joko. Mata mereka bertemu. Joko masih mengentot Hilda dengan lembut membiarkan Hilda menikmati sisa-sisa getara orgasmenya. Hilda tahu, ini adalah saatnya. Ia ingin membalas kebaikan Joko. Ia ingin memberikan sesuatu yang belum pernah ia berikan pada orang lain.

Ia mengambil kendali, penis Joko yang tadinya masih tertancap di vaginanya kini terlepas. Ia membawa Joko ke ranjang, membaringkannya. Ia menciumi leher, dada, dan perut Joko. Tangannya membelai kontol Joko dengan lembut, ia tidak terburu-buru. Ia menurunkannya, dan mencium kontol Joko, ia tidak lagi merasa malu. Ia ingin membalas kebaikan Joko.

Hilda melahapnya, Joko merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Ini bukan hanya sebuah tindakan fisik, melainkan sebuah deklarasi cinta. Hilda menjilat, mengulum, dan menyedot batang penis itu. Ia memberikannya dengan penuh cinta, bukan nafsu. Ia ingin Joko tahu, bahwa ia adalah pria yang spesial.

“Ahhh…!” desah Joko. “Mbak… saya tidak bisa… saya tidak bisa menahannya…”

Hilda bersiap untuk aksi berikutnya, ia belum ingin berhenti. Ia ingin Joko merasa bahagia, ia ingin Joko merasa dihargai. Ia tahu, Joko adalah pria yang tulus, ia pantas mendapatkan yang terbaik.

Ia hentikan kulumannya pada penis Joko. Memposisikan dirinya diatas Joko, tepatnya diatas penis Joko yang tegak paripurna. Dengan posisi setengah berjongkok, ia turunkan bokongnya, hingga kepala penis Joko menyentuh gerbang vaginanya, dengan sigap, tangan kirinya mengarahkan kepala penis tersebut untuk masuk ke liang kenikmatannya, menekan bokongnya lebih rendah lagi, hingga masuklah kontol Joko dengan sempurna, tenggelam pada liang kenikmatan sang bidadari. Kini Hilda duduk sempurna diatas selangkangan Joko, dengan kontolnya yang kini bersemayam di dalam vagina Hilda. Ia tidak bergerak, menatap tajam ke Joko yang sedang terbaring, tersiksa dalam kenikmatan, dengan mata menatap lurus ke selangkangan HIda yang duduk mengangkang diatas selangkangannya, melihat dengan jelas, prosesi ditelannya kontol kebanggannya oleh vagina Hilda.

Walaupun bokongnya tidak bergerak, otot-otot vaginannya lah yang justru aktif bergerak, memijat, mengurut, mencengkeram, batang kejantanan Joko yang sedang tertanam didalamnya. Dengan kedua tangan bertumpu di dada Joko, Hilda mencondongkan wajahnya mendekat ke wajah Joko yang sedang meringis, mendapatkan siksaan dari vagina Hilda terhadap kontolnya. Tanpa kata, hanya menatap tajam dengan senyuman penuh gairah, menambah kecantikan dari sang bidadari.

“Ahhhhh…..MMmmmhhh….Mbakkkk!” Joko mendesah, tak lagi sanggup menahan siksaan kenikmatan ini. Hilda mulai menggerakan pinggulnya naik dan turun, dimulai dengan frekuensi rendah, cengkeraman otot dalam vaginanya tidak mengendur, justru semakin ketat menggigit. Semakin lama semakin cepat, bahkan lebih variatif, ada goyangan, ada gesekan, tidak hanya atas bawah, kanan kiri, memutar, memberikan sensasi pelintir yang luar biasa pada penis Joko. Tapi yang paling tidak dapat Joko tahan, ekspresi wajah Hilda yang tidak berubah, tanpa kata tanpa suara, hanya senyum penuh gairah dengan tatapan tajam, seolah-olah mengisyaratkan penaklukan Hilda pada dirinya.

“Ooohhhh…Mmmbbakkkk…keluar…..mau….keluar.” Joko mendesah, ujung klimaks nya sudah dekat.

“Aaaaahhhhh….ooohhhhhhh….aku….nyammpee Joko.” Lenguhan panjang dikeluarkan HIlda, ia mencapai orgasme ketiganya terlebih dahulu, dengan pinggul tetap bergerak cepat, mengenjot kontol Joko yang masih tegak tertancap di vaginanya.

“Ahhhhhhh….AHhhhhhh…. keluar Mbak” pekik Joko, seiring ejakulasinya yang bertekanan tinggi, menyembur hangat di rongga vagina Hilda. Karena bokong HIlda masih bergerak cepat, tak sengaja terlepas lah tancapan kontol Joko dari vaginanya, sehingga beberapa semburan sperma memancar mengenai bokong bulat, pada, besar Hilda. Dengan cepat dan lihai, tangan HIlda meraihnya dan segera memasukannya kembali ke sarangnya, yaitu liang kewanitaanya, menyelesaikan ejakulasinya di rahim Hilda.

Hilda tersenyum, ia tahu ia telah berhasil. Ia membuat Joko merasa bahagia. Ekspresi Joko yang menggelinjang setelah orgasme hebatnya, merupakan piala kebanggannya.

“Mbak… kamu benar-benar bidadari,” bisik Joko. “Mbak membuat saya merasa jadi pria paling bahagia sedunia.”

Hilda tersenyum, ia tidak bisa menahan air matanya. Ini bukan air mata kesedihan, ini air mata kebahagiaan. Ia akhirnya menemukan apa yang ia cari. Ia tidak lagi merasa seperti wanita yang dicampakkan, ia merasa seperti wanita yang dicintai.

Pagi datang menyambut. Hilda terbangun di pelukan Joko, telanjang. Ia merasa nyaman dan aman. Ia tidak lagi merasa takut. Ia tahu ia telah membuat keputusan yang benar. Satu pertanyaan terbersit dalam dirinya “Apa aku masih mencintainya ?”


Bab 15 : True Love vs Lust

Kehidupan baru Hilda terus bergulir, kini ia tak lagi bersama Bagas, walaupun belum resmi bercerai namun keduanya sudah pisah ranjang. Hilda kini tinggal di sebuah apartemen sederhana namun nyaman di area jantung kota, tak jauh dari kantornya. Joko pun setelah mengetahui bahwa kamar kost nya telah disadap memutuskan pindah kost. Sempat terpikir oleh Joko untuk tinggal bersama dengan Hilda, namun hal itu ditolak Hilda, mereka tetap harus memiliki jarak, harus tetap pada kehidupan masing-masing.

Joko, yang kini telah pindah dari kost lamanya yang dipasangi kamera oleh Bagas, selalu datang dengan semangat yang membara. Ia telah menyewa kost baru, tetapi Hilda tidak pernah mengizinkannya untuk tinggal bersamanya. Setelah setiap pertemuan, tidak peduli seberapa larutnya malam, Hilda akan selalu menyuruhnya pulang. Ia tahu, ia harus menjaga jarak, tidak hanya untuk menjaga profesionalisme mereka di kantor, tetapi juga untuk menjaga hatinya. Ia tidak ingin terlalu bergantung pada Joko.

Hubungan Hilda dan Joko semakin intens seiring waktu. Setelah Hilda pindah ke apartemennya, keduanya tidak lagi bertemu hanya di siang hari sebagai rekan kerja. Hampir setiap malam, Joko akan datang ke apartemen Hilda layaknya sepasang kekasih, terkadang hanya untuk makan malam, tetapi sering kali untuk melampiaskan birahi yang sudah terjalin. Apartemen Hilda menjadi ruang rahasia mereka, sebuah tempat di mana mereka bisa menjadi diri mereka sendiri, tanpa topeng, tanpa aturan. Di malam hari, di ruangan itu mereka menyembah entitas yang sama, Aphrodite, dewi seks, cinta, dan gairah. Bagai dua pemuja yang sudah hapal dengan koreografinya bersinergi dalam setiap gerakan penuh erotisme dan sensualitas, ritual tarian telanjang yang dipenuhi nafsu dan birahi, batas tipis antara cinta dan nafsu. Aphrodite tidak peduli, baginya penyatuan kelamin, pertukaran cairan cinta, adalah persembahan dari pemujanya dan akan dianugerahkan kenikmatan surgawi. Desahan dan lenguhan adalah syair indah mantra pujian baginya. Hampir setiap malam, keduanya mengulang ritual yang sama, seolah tak ada hari esok, tanpa ada Lelah dan tanpa bosan. Masing-masing hapal dengan setiap inchi tubuh pasangannya. Saling menikmati dan dinikmati, tidak ada keegoisan, hanya ada birahi yang jujur, sederhana, hanya menuntut dilampiaskan

Di suatu hari, tidak seperti biasanya, godaan via chat dari Joko tak pernah berhenti sejak pagi. Ia menggombal dengan kata-kata pujian layaknya pujangga, tapi kemudian dilnjutkan dengan foto dan video vulgar, membuat Hilda tak bisa fokus pada pekerjaannya. Seperti kucing di masa kawin, godaan itu tak berhenti walau Hilda beberapa kali berusaha untuk menghentikannya. Menyerah, akhirnya Hilda meladeninya, ia balas chat Joko dengan lebih panas. Ia tahu, Joko hanya ingin bermain, hanya ingin memuaskan nafsunya, tetapi Hilda tidak peduli. Ia tahu bahwa dia pun akan merasakan kenikmatan.

"Mbak, saya rindu. Rindu pada tawa dan desahan Mbak yang bagai melodi surga. Saya tidak bisa fokus bekerja, Mbak. Pikiran saya terus memikirkan Mbak, tak henti-henti. Mbak seperti racun yang membuat saya ketagihan. Saya ingin melihat Mbak sekarang, menelanjangi Mbak, menyentuh, mencium, dan melahap setiap inci dari tubuh Mbak. Saya ingin membuat Mbak melenguh panjang. Saya ingin bibir ini merasakan setiap inci tubuh Mbak. Setiap lubang di tubuh Mbak adalah candu bagi saya. Sekali saja saya merasakannya, saya tidak akan bisa berhenti. Nih Mbak kalau ga percaya," seraya mengirimkan foto penisnya yang sudah sangat tegak dengan background meja kerjanya, menandakan dia melakukannya di jam kerja, ketika yang lain sibuk bekerja.

Hilda hanya tersenyum, hatinya menghangat membaca setiap pesan itu. Ia tahu, Joko tidak akan pernah berubah. Ia adalah pria yang jujur, jujur akan setiap nafsu dan gairahnya, namun tetap menaruh hormat pada setiap wanita.

Hilda membalas dengan singkat, "Dasar cabul. Nanti malam saja. Kamu boleh sepuasnya mau ngapain juga."

Malam itu, Joko mengajak Hilda berkencan. Keduanya memilih sebuah restoran kecil yang jauh dari keramaian. Mereka duduk saling berhadapan, menikmati makan malam yang hangat. Mereka saling melempar candaan dan obrolan.

"Sudah selesai makannya?" tanya Hilda.

"Sudah, Mbak. Tapi saya masih lapar."

"Lapar apanya?"

"Lapar akan kasih sayang, Mbak."

Hilda hanya tersenyum, pipinya merona. "Iya Joko. Habis ini, sabar dikit."

Setelah makan malam, Joko membawa Hilda ke sebuah taman kecil yang indah. Keduanya duduk di bangku, saling berpegangan tangan. Bulan purnama bersinar terang, menerangi wajah mereka.

"Mbak, kenapa Mbak pilih saya?" tanya Joko, suaranya parau.

Hilda menatapnya, matanya penuh dengan kasih sayang. "Kamu... kamu lebih dari yang aku bayangkan. Kamu membuat saya merasa seperti wanita, Joko."

Ia memeluk dengan erat, ia tahu ia telah membuat keputusan yang benar. Ia akan tetap di sisi Hilda, sampai jalan takdir meisahkan mereka.

"Joko, kita harus pulang," bisik Hilda, suaranya parau. "Aku... aku butuh kamu."

Joko mengangguk, ia mengerti. Ia memimpin Hilda ke apartemennya. Setibanya di sana, keduanya tidak berkata apa-apa. Hanya ada keheningan, yang penuh dengan gairah dan nafsu.

Di apartemen Hilda, keduanya menghabiskan malam dengan bercinta, saling memacu birahi, seolah tidak ada hari esok. Mereka telah menghafal setiap inci tubuh masing-masing, setiap sentuhan, setiap titik sensitif. Seks mereka tidak lagi terburu-buru, melainkan sebuah ritual yang penuh dengan gairah dan penghormatan.

Saat mereka sedang berbaring di atas ranjang setelah beberapa ronde yang melelahkan namun memuaskan, Joko memeluk Hilda, merengkuhnya dalam pelukan hangat dada bidangnya. Keduanya telanjang, keringat membasahi tubuh mereka, napas mereka terengah-engah, namun hati mereka dipenuhi kebahagiaan.

“Mbak… ada kabar bahagia,” bisik Joko, suaranya parau.

Hilda tersenyum, “Apa, Joko?”

“Sari… istri saya… dia hamil.”

Hilda terdiam sejenak. Tangannya yang tadinya membelai dada Joko, kini berhenti. Ia merasakan sebuah tusukan di hatinya, namun ia segera menepisnya. Ia harus bahagia.

“Joko… ini… ini kabar yang sangat bagus,” ucap Hilda, suaranya bergetar. Ia membalikkan badannya, memeluk Joko dengan erat. “Selamat, Joko. Kamu akan menjadi ayah.”

Joko membalas pelukannya, “Terima kasih, Mbak. Saya sangat bahagia.”

Hilda tidak menyadari bahwa kebahagiaan itu hanya sesaat. Kalimat berikutnya dari Joko justru akan membuatnya bersedih.

“Mbak… saya… saya sudah mengajukan pengunduran diri. Dalam dua minggu ke depan, saya akan pulang ke kampung.”

Hilda terdiam, ia menahan tetesan air matanya. Ia tahu, ia akan kehilangan Joko, satu-satunya orang yang bisa memberinya kebahagiaan saat ini.

“Tidak apa-apa, Joko,” bisik Hilda. “Aku mengerti.”

Ia memeluk Joko dengan erat, menenggelamkan wajahnya di dada Joko. Ia tahu, dua minggu ke depan akan menjadi waktu yang sangat berharga. Waktu yang akan mereka habiskan bersama-sama, sebelum akhirnya mereka harus berpisah.

Dua minggu berlalu, seperti mimpi yang singkat namun begitu nyata. Di kantor, Hilda dan Joko kembali menjadi dua orang profesional, menjalankan peran mereka dengan sempurna. Tidak ada lagi sentuhan mesra, bisikan nakal, atau tatapan penuh gairah yang terlihat oleh mata orang lain. Hanya ada percakapan bisnis, rapat yang serius, dan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Namun, di balik topeng profesionalisme itu, ada sebuah rahasia yang terjalin erat, sebuah ikatan yang tak terlihat, tapi terasa di setiap sudut ruangan.

Hilda dan Joko semakin intens memadu kasih. Mereka tidak pernah lelah, tidak pernah bosan. Setiap malam, mereka akan bertemu di apartemen Hilda, saling memuja, saling melayani, dan saling menikmati. Mereka tahu, ini adalah yang terakhir kalinya.

Pada hari Jumat, kantor mengadakan pesta perpisahan untuk Joko. Semua rekan kerja berkumpul, mengucapkan selamat dan mendoakan kebahagiaannya. Hilda berdiri di samping Joko, tersenyum, namun hatinya hancur berkeping-keping.

“Joko, kamu akan menjadi ayah yang hebat,” bisik Hilda, suaranya parau.

“Terima kasih, Mbak,” jawab Joko, matanya penuh dengan air mata.

Setelah pesta perpisahan, Joko tidak langsung pulang. Ia pergi ke apartemen Hilda, ia akan menghabiskan akhir pekannya di sana. Keduanya tahu, ini adalah yang terakhir kalinya.

Mulai Jumat malam itu selepas jam kantor, hingga Minggu malam sesuai jadwal kereta api di tiket yang dibeli Joko, di kamar apartemen Hilda, tak ada kata yang terucap, hanya desahan dan lenguhan yang tak lagi diredam, mereka tak berkomunikasi lewat kata, tapi birahi yang saling bersambut. Mereka tahu, kata-kata tidak lagi penting. Yang penting adalah bagaimana memanfaatkan waktu yang tersisa untuk memuaskan dahaga birahi mereka. Mulut mereka terlalu sibuk mencumbu, mengulum, menjilat, menghisap, apapun dari tubuh pasangannya. Pintu kamar apartemen itu nyaris tidak pernah terbuka, kecuali untuk Ojek Online yang mengantarkan pesanan makanan mereka. Tak ada helai pakaian yang benar-benar digunakan. Mereka mandi bukan untuk membersihkan diri, tapi untuk Bersiap memulai ronde yang baru. Seolah tidak Ikhlas waktu terpakai walau hanya untuk tidur, mereka hanya terlelap di antara orgasme yang satu dengan yang lain. Substansi aphrosidiac pun ikut dikonsumsi oleh keduanya, lebih gila dan liar dari Bali, untuk menjaga stamina, menambah gairah, menambah durasi, menambah frekuensi. Setiap jam, menit, dan detiknya didedikasikan hanya untuk satu hal “seks”.

Detik-detik terakhir kebersamaan mereka semakin dekat, mereka berbaring telanjang, berpelukan. Hilda menatap Joko, matanya penuh dengan kehangatan.

“Joko… terima kasih,” bisik Hilda, suaranya parau. “Kamu membuat saya bahagia.”

Joko tersenyum, tersirat kesedihan di matanya. “Mbak… saya nggak mau berpisah dengan Mbak.”

“Aku tahu,” jawab Hilda. “Aku juga.”

Hilda ingin memberikan sesuatu yang istimewa untuk perpisahan mereka. Sesuatu yang akan menjadi kenangan abadi, yang akan mereka kenang sampai akhir hayat.

Waktu menunjukkan pukul 06:00 pagi. Keduanya baru saja menyelesaikan ronde terakhir, tubuh mereka lunglai di atas ranjang. Hilda bangkit dari ranjang, berjalan ke kamar mandi, dan menyalakan air hangat untuk berendam di bathtub. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya rileks. Namun, di dalam hatinya, ia merasakan kehampaan yang tak dapat digambarkan. Ini adalah detik-detik terakhir kebersamaannya dengan Joko. Ia tidak ingin waktu berlalu, ia ingin waktu berhenti.

Hilda bangkit dari bathtub, mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Ia melangkah dengan penuh sensualitas, mendekati Joko yang sedang duduk telanjang, bersandar pada sandaran kasur. Penisnya masih terkulai lemas, mengisyaratkan kelelahan setelah beberapa ronde yang melelahkan.

Hilda berjalan perlahan, mengambil dua tablet afrosidiak dan segelas air di meja kecil dekat ranjang. Satu butir ia telan dengan air minum, sementara yang satunya ia masukkan ke dalam mulutnya. Kemudian, ia naik ke atas tubuh Joko, menyuapkan tablet itu langsung dari mulutnya ke mulut Joko. Ciuman itu menjadi awal dari ronde baru. Ciuman panas dan liar yang penuh gairah, dengan permainan lidah yang memabukkan.

Ciuman Hilda turun, menjelajahi pipi, leher, dada, dan perut Joko. Tangannya membelai kontol Joko dengan lembut. Hilda memberikan blowjob pada penis Joko yang masih terkulai lemas, hingga akhirnya bangkit kembali, siap melaksanakan tugasnya.

"Ah... Mbak..." desah Joko pelan, merasakan sentuhan tangan Hilda.

Hilda menghentikan blowjob-nya. Ia duduk mengangkang di hadapan Joko, kemudian bermasturbasi dengan tangannya sendiri sambil menatap Joko tajam, seolah menggodanya, memancingnya untuk melakukan lebih.

"Mmmh... lihatlah, Sayang... ini semua untukmu..." bisik Hilda dengan suara serak.

Joko yang sedari tadi memperhatikan aksi masturbasi Hilda sambil mengurut penisnya agar tegak maksimal kemudian mendekati Hilda. Ia membungkukkan badannya, memposisikan kepalanya di tengah selangkangan Hilda, tepat di depan vaginanya yang mulai basah oleh cairan kewanitaannya. Ia menjilat, mengulum, dan menghisap vagina tersebut baik di bagian dalam maupun luar. Ia tidak lupa menggosok lembut klitorisnya dan memasukkan dua jari ke liang vagina Hilda. Hilda merasakan kenikmatan yang luar biasa. Punggungnya melenting ke belakang, bertumpu pada kedua tangannya, merasakan permainan lidah, mulut, dan jari Joko.

"Aah... Jooo... Joooo... ahh... yaa... di situ... mmmh..." desah Hilda, matanya terpejam. "Enak... ahh... terus..."

Joko terus menjilati dan mengulumnya, "Enak... ya, Mbak? Hmm... mau lagi? Aaah... liangmu... basah sekali..."

Setelah mencapai orgasme, Hilda menyuruh Joko kembali ke posisi awal, duduk bersandar pada sandaran kasur. Hilda naik ke atasnya dengan berjongkok, bertumpu pada lututnya, memposisikan vaginanya tepat di atas penis Joko. Dengan satu tangan, ia mengarahkan penis tersebut ke lubang vaginanya, kemudian memasukkannya dengan dorongan ke bawah berat tubuhnya. Pinggulnya naik turun dengan kecepatan sedang, matanya menatap Joko sambil tersenyum. Kedua tangannya menggenggam kedua payudaranya dan mengarahkannya ke wajah Joko, seolah menawarkan untuk dinikmati.

"Aaahh... masuk... Masuk... Joooo..." desah Hilda, matanya berbinar penuh gairah. "Yaa... terasa... Joooo..."

"Ahhh... Mbak... empitnya... ahh... kuat sekali..." Joko membalasnya dengan desahan tertahan.

Kedua tangan Joko yang awalnya di pinggang Hilda kini meremas kuat kedua payudara Hilda seraya sibuk mengisap, menjilat, mengulum puting payudara Hilda, dan sesekali menggigit lembut putingnya. Kepala Hilda mendongak ke belakang, dengan tangan merangkul kepala belakang Joko.

"Ahhh... enaaak... hmmm... Jooo... gigit... gigit... ahh..."

"Saaayang... aah..." desah Joko, hisapannya semakin kuat.

Setelah beberapa saat, Hilda kemudian mencium dengan ganas bibir Joko. Ia berbisik, "Aku akan memberikanmu sesuatu yang istimewa, Sayang."

Hilda bangkit, melepaskan penis Joko dari vaginanya, mengambil vaseline, lalu mengoleskannya ke batang penis Joko. Hilda kemudian berbalik, sedikit menungging, dan mengoleskan vaseline ke lubang anusnya. Kembali memposisikan diri di atas penis Joko dengan posisi reverse cowgirl, dan mengarahkan penis Joko ke anusnya, kemudian menekannya pelan-pelan hingga tenggelam seluruhnya di anus Hilda. Hilda menggerakkan pinggulnya naik turun dengan sangat pelan, memastikan Joko merasakan pijatan dan cengkeraman otot anal Hilda di penisnya. Joko yang memperhatikan dari awal proses masuknya kontolnya ke dalam anus Hilda, sangat terkesima, karena ini adalah anal seks pertamanya. Ia tidak menyangka sosok bidadari seperti Hilda ternyata suka anal seks. Tangan Joko meremas gemas kedua bongkahan bokong Hilda yang besar membulat sebagai pelampasan sensasi yang dirasakan penisnya yang sedang di-service anal oleh Hilda.

"Aah... Mbak... gak... nyangka…. cantik-cantik suka di anal ternyata….ahh... tapi... enak sekali..." erang Joko.

"Ini buat kamu, Sayang... mmmh... aku kan udag janji... masu kasih yang beda..." jawab Hilda sambil bergerak.

"Hmmm…..ooohhhh, Mbak! Gigit banget….. Pantat Mbak ternyata candu!" geram Joko, suaranya parau penuh gairah.

Hilda kemudian merubah posisi kembali, melepaskan penis Joko yang tertancap di anusnya. Lalu menungging dengan kepala dan dada berbaring di kasur, bokongnya menjulang tinggi bertumpu pada lututnya. Dengan kedua tangan, ia menarik dua bongkah bokongnya ke samping agar lubang anusnya terekspos, lalu menyuruh Joko untuk melanjutkan anal seks yang tadi terputus. Joko bangkit dari duduknya lalu memposisikan penisnya tepat di lubang anal Hilda dengan posisi setengah jongkok. Ia tidak lupa menambah vaseline di lubang anus Hilda, kemudian menekannya pelan hingga masuk seluruhnya. Kali ini Joko mengatur ritme genjotan yang cenderung cepat dengan kedua tangan menggenggam pinggang Hilda. Ini bukan anal seks pertama Hilda, sehingga ia sudah terbiasa dengan anal seks, Bagas yang mendapatkan keperawanan analnya. Setelah beberapa saat akhirnya Joko ejakulasi di lubang anal Hilda.

"Aaaaaahhh...!!! Sayang... enaaak... aahh..." jerit Hilda, suaranya parau.

"Maaak... ahhh... dalam sekali, Mbak... ahhh... keluar semuaaa..." erang Joko.

Joko ambruk dengan kontol masih tertancap di anus Hilda, sementara tubuhnya menindih punggung HIlda, napasnya tersenggal-senggal seolah baru selesai marathon. Joko mencabut penisnya yang kembali terkulai lemas setelah memuntahkan cairan putih kental di lubang anus Hilda, terbaring lemas di samping Hilda yang masih dalam posisi yang sama, menungging. Cairan kental putih luber dari lubang pantatnya. Hilda pun menikmati anal seks nya dengan Joko, setelah sekian lama terakhir kalinya ia berhubungan anal seks dengan Bagas. Memang ini bukan favoritnya, tapi Hilda akui ia termasuk wanita yang menikmati anal seks.

Hilda merebahkan diri di dada bidang Joko, yang masih mengatur napasnya. Detak jantungnya perlahan mulai stabil. Keduanya saling mengecup, saling membelai. Tatapan mata tajam saling merasuki jiwa. Kata-kata indah perpisahan mulai diucapkan. Detik-detik akhir kebersamaan mereka akhirnya tiba, keduanya harus ikhlas menerima takdir bahwa mereka harus berpisah.

Hilda membelai rambut Joko, "Joko, kamu tahu? Kamu adalah salah satu pria terbaik yang pernah aku temui."

"Mbak... jangan bilang begitu," bisik Joko, suaranya parau. "Saya... saya nggak sanggup. Saya nggak mau berpisah dengan Mbak."

Hilda menatapnya, matanya berkaca-kaca. "Aku tahu. Tapi kita harus. Ini... ini adalah yang terbaik."

Joko hanya bisa memeluk Hilda, ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia terlalu sedih, terlalu hancur. Ia tidak ingin berpisah dengan wanita yang ia cintai.

"Mbak... saya... saya boleh kembali kan ?" bisik Joko, suaranya bergetar.

Hilda tersenyum, "Jangan Joko, hiduplah dengan damai dengan Sari dan anakmu, lupakan aku."

Hilda masih meringkuk dibalik selimut, masih telanjang. Sementara Joko sedang membersihkan diri di kamar mandi. Hilda mulai melamun, memikirkan bagaimana hari-harinya tanpa Joko.

Setelah selesai mandi dan berpakaian, Joko menghampiri Hilda yang sedang pura-pura tidur, mengecup lembut keningnya, lalu beranjak pergi meninggalkan kamar. Ia tidak membangunkan Hilda, karena tak sanggup mengucapkan kalimat perpisahan. Begitu pula Hilda, tak sanggup membuka mata, memilihi pura-pura tidur, agar tak perlu ada kata yang harus diucapkan.

Dari jendela kamar apartemen, Hilda mengintip, menatap ke bawah, terlihat Joko yang masuk ke Taksi Online yang akan mengantarkannya ke Stasiun.

Pada malam terakhir itu, tidak ada air mata, hanya kehampaan di jiwa.


Part 16 : Wild Night

Hampa. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan Hilda setelah kepergian Joko. Bukan hanya kehilangan sosoknya, tapi juga kehilangan alasan untuk bahagia. Joko adalah tambatan terakhirnya, pelabuhan di tengah badai yang diciptakan Bagas. Namun, kini pelabuhan itu telah pergi, meninggalkan Hilda terombang-ambing di lautan kesepian yang tak berujung.

Satu minggu pertama setelah perpisahan terasa seperti kekosongan. Apartemennya yang baru, yang tadinya dipenuhi tawa dan gairah, kini hanya diisi oleh keheningan yang menyesakkan. Setiap sudut menyimpan kenangan akan sentuhan, ciuman, dan bisikan Joko. Aroma tubuhnya masih tercium samar di bantal, memancing rindu yang menusuk. Hilda tak lagi bisa fokus pada apa pun. Untuk menghalau kehampaan itu, ia menjadikan pekerjaan sebagai pelarian.

Ia kembali ke kantor bukan sebagai seorang wanita karier yang penuh ambisi, melainkan sebagai prajurit yang kembali ke medan perang. Aroma kopi yang kuat, dengungan pendingin ruangan, dan ketukan keyboard yang konstan menjadi lagu pengantar hari-harinya. Ia membenamkan diri dalam tumpukan dokumen, membiarkan setiap angka dan laporan menjadi tirai yang menutupi kekosongan di hatinya.

Suatu sore, Nela datang menghampirinya. "Hilda," sapanya lembut, "Tumben, lo belum pulang jam segini?"

Hilda hanya tersenyum tipis, matanya lelah. "Masih banyak yang harus diselesaikan, gue harus lembur."

Nela mendengus pelan, mencondongkan tubuhnya ke arah Hilda. "Lo kangen Joko, ya?" Hilda hanya menatap kosong, tak bergeming. "Kangen orangnya apa kangen 'barangnya'?" goda Nela, melontarkan senyum cabul. "Istimewa banget, nih, kayaknya tuh barang, atau goyangannya kali, ya, yang spesial. Sampai-sampai lo kayak zombie gini. Hahaha."

Hilda tetap diam, hanya tersenyum tipis, bagai tak berjiwa, hanya ada kehampaan. Senyum itu bahkan tidak sampai ke matanya. Nela menghentikan tawanya. Ia melihat ada yang berbeda dari respons Hilda kali ini. Gurauan mesumnya tidak mempan. Ekspresi Hilda benar-benar kosong. "Serius, Hilda, lo enggak apa-apa?" tanya Nela, nada suaranya berubah serius, penuh kekhawatiran.

Nela melihat perubahan pada Hilda. Mata yang biasanya berbinar kini tampak kosong. Aura sensual yang selalu menguar dari dirinya kini tertutup oleh kelelahan. Nela bersimpati. Ia tahu Hilda sedang hancur. "Lo enggak bisa terus-terusan kayak gini, Sayang," ucapnya, menarik Hilda dari meja kerjanya. "Malam ini, lo ikut gue. Lo harus tahu, ada dunia lain di sana, dunia yang bisa bikin lo lupa sama semuanya."

Mereka pergi ke sebuah kafe yang cukup ramai tapi nyaman. Alunan musik lembut memanjakan telinga para pengunjung kafe, suara orang mengobrol saling bersahut-sahutan, menambah riuh kehidupan orang-orang kota setelah jam kerja, sebelum kembali ke kehidupan mereka. Nela membiarkan Hilda mencurahkan semua keluh kesahnya: Tentang Bagas yang tak pernah berubah, tentang perselingkuhannya dengan Joko yang terendus Bagas, tentang Joko yang meninggalkannya karena istrinya hamil, tentang bagaimana ia merasa kesepian dan hampa. Bukan ini kehidupan yang Hilda bayangkan. Ia hanya butuh tempat pelarian sementara hingga Bagas kembali seperti dahulu, tapi yang terjadi, Bagas belum juga kembali, dan tempat pelariannya pun kini ikut berlari. Nela mendengarkan dengan sabar, ia tidak menyela. Ia hanya membiarkan Hilda berbicara, melepaskan semua beban yang telah ia pikul.

Setelah Hilda selesai bercerita, Nela tersenyum. "Gue tahu apa yang lo butuh."

Mata Hilda melebar. "Apa?"

Nela menyandarkan tubuhnya ke kursi, meminum kopinya dengan tenang, lalu mulai bercerita. "Gue sebenarnya udah pengen ajak lo dari dulu. Gue tahu, lo itu **pemain***. Mata lo, cara lo bergerak, aura lo... itu enggak bisa bohong. Tapi gue sadar, lo lagi punya permainan pribadi lo sendiri, jadi gue enggak mau ganggu." Nela berhenti, menyesap kopinya, lalu melanjutkan. "Sekarang, 'permainan' lo sama Joko udah selesai, kan. Udah waktunya lo masuk ke permainan yang lebih besar, Sayang."

Nela mendekat, membisikkan sesuatu di telinganya. "Lo mau tahu rahasia kantor ini? Di sini, seks bukan hal tabu. Bukan cuma sekadar perselingkuhan atau *affair** antar karyawan, tapi sesuatu yang lebih terorganisasi. Sesuatu yang memang disediakan untuk memanjakan para karyawannya. Lo sadar enggak kenapa jarang sekali ada orang mengundurkan diri dari perusahaan ini? Itu karena George, bos kita, menjadikan kantor bukan hanya tempat bekerja, tapi juga 'surga duniawi', tempat di mana kita bisa jadi diri kita sendiri. Bebas, tanpa batas. Ikuti kata hatimu."

Hilda terkejut, namun tidak sepenuhnya terkejut. Ia tahu, di balik topeng profesionalisme, setiap orang memiliki sisi gelap yang tersembunyi. Nela, dengan senyum penuh rahasia, membisikkan sesuatu di telinganya. "Jumat malam minggu ini, nanti gue kabari lokasinya. Lo harus datang, enggak perlu pakai ini," ucapnya seraya sedikit memegang ujung hijab Hilda. "Jadi diri lo sendiri, enggak usah ada topeng."

Jumat itu pun datang, tidak ada yang berbeda dari hari-hari biasanya. Semua orang sibuk dengan **jobdesc*-nya masing-masing. Apakah pesta itu benar-benar akan terjadi malam ini? Siapa saja yang ikut? Ada apa saja di sana? Semua pertanyaan itu berputar di kepala Hilda. Jika memang malam ini bakal ada pesta, kenapa semuanya terlihat biasa saja hari ini? Hilda kembali fokus pada pekerjaannya, hingga pada pukul 16.00, sebuah *broadcast message* masuk ke **handphone**-nya, dari nomor yang belum tersimpan di kontaknya.

“**Dear Ladies and Gentlemen, we would like to invite you to attend our secret celebration party that will be held tonight at 9pm in ********. Express and explore yourself. Show this QR Code at the entrance.*”

Sebuah *QR Code** masuk setelahnya. Hilda iseng membukanya dengan aplikasi pembaca **QR Code*, hanya menampilkan sebuah *link* yang bahkan tidak bisa diakses. Nela kemudian mengirimkan **chat**. “Udah dapet?” “Datang ya, ingat, ya, jadi diri lo yang sebebas-bebasnya.”

“Oke, Beb,” jawabnya singkat, seolah sudah paham dan siap menyambut pesta nanti malam, padahal tidak sama sekali. Perubahan mulai terlihat di kantor, beberapa orang mulai tersenyum aneh, tak seperti biasanya. Sorot mata mereka berbinar, seolah mendapat sesuatu yang sudah lama mereka idam-idamkan. Beberapa orang pulang lebih cepat, mata mereka saling bertemu, memancarkan pandangan yang tak biasa.

Pesta itu bukan sekadar pesta. Itu adalah ritual. Sebuah ritual pembebasan diri dari segala aturan dan norma sosial. Pesta ini diadakan di sebuah *private club** eksklusif, sebuah tempat tersembunyi yang hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki kode undangan khusus. Pesta ini adalah perayaan atas pencapaian target perusahaan yang fantastis, sebuah tradisi tahunan yang tersembunyi dari publik.

Malam itu, Hilda mengenakan sebuah *mini dress** hitam yang ketat dan pendek, dengan belahan dada rendah, menjepit payudara besarnya, meronta ingin lepas dari sarangnya, memperlihatkan paha jenjangnya dan memeluk erat lekuk tubuhnya yang indah. Ia tidak mengenakan hijab, membiarkan rambutnya tergerai bebas. Sebuah aura binal yang kuat terpancar dari dirinya, seolah ia adalah seekor singa betina yang baru dilepaskan dari sangkarnya.

Ketika Hilda melangkah masuk, Nela langsung menyambutnya. "Hai, Beb, akhirnya datang juga," ujar Nela, sambil menggenggam tangan Hilda dengan erat seraya memeluknya juga cipika-cipiki. Pakaian Nela tak kalah seksi darinya, *long dress** merah dengan belahan hingga pangkal paha, **V-neck low cut***, membuat payudara proporsional Nela mengintip malu-malu. "Selamat datang dan selamat bergabung, Hilda, tempat di mana seseorang jujur menerima hasrat terdalamnya."

Nela mengajak Hilda menuju bar, memberikan segelas koktail berwarna merah tua. "Minum dulu, Beb, supaya malam ini menjadi lebih indah."

Hilda meminumnya dalam sekali tegukan. Cairan itu mengalir ke seluruh tubuhnya, memadamkan api kesedihan di hatinya, dan menggantinya dengan gairah yang membara. Tubuhnya terasa hangat, ia tahu ia tidak mabuk, tapi sensasi ini sulit dijelaskan. Ia menari seiring irama, meliuk-liukkan tubuhnya, membiarkan rambutnya tergerai bebas. Setiap gerakannya adalah sebuah syair yang tak terucap, sebuah puisi yang hanya bisa dipahami oleh raga. Rambut panjangnya yang hitam dan ikal menari-nari, berayun lembut mengikuti irama musik. Lehernya yang jenjang, bahunya yang mulus, dan punggungnya yang seksi menjadi pemandangan indah bagi mata yang melihat. Gaun mini hitam itu memeluk erat pinggangnya yang ramping, pinggulnya yang melengkung indah, dan bokongnya yang bulat padat, seolah ingin meledak dari balutan kain. Payudaranya yang besar, kencang, dan padat terlihat menantang, dengan belahan dada yang dalam, mengundang setiap mata untuk melihatnya. Setiap gerakannya adalah sebuah tarian, sebuah undangan, sebuah syair yang hanya bisa dimengerti oleh raga.

Para pria mulai menyadari kehadirannya. Wanita yang menjadi incaran satu kantor, mulai dari *security** yang selalu disenyumi setiap pagi oleh Hilda, hingga pejabat tertinggi yang terkesan karena kinerjanya. Sebagian hanya melirik, sebagian lagi lebih berani. Beberapa pria yang cukup percaya diri menghampirinya, lebih tepatnya mengelilinginya. Kevin, manajer *IT** yang dikenal kaku dan pendiam di kantor, tampak berbeda malam ini. Aura maskulin yang kuat terpancar dari dirinya, seolah-olah ia telah menjelma menjadi Kevin dengan versi lain. Bersama beberapa pria lainnya, ia pun tertarik pada Hilda yang kini sedang meliuk-liuk khusyuk dalam tariannya, memancarkan aroma sensual bagai feromon yang menarik para pejantan untuk mendekat. Bertaruh pada peruntungan birahinya malam ini.

Para pemuja dewi cinta telah berkumpul mengelilingi sang dewi, bersaing berusaha menarik perhatiannya, menggerakkan pinggul mereka seirama dengan Hilda, mencoba untuk menari bersamanya, mendekatkan tubuh mereka sedekat mungkin. Beberapa cukup berani menyentuh, meraba, menempelkan tubuh mereka dengan tubuh Hilda. Dengan senyum misterius penuh sensualitas di bibirnya, Hilda tetap menari di tengah mereka, mengabaikan tatapan mata mereka yang penuh gairah, menepis lembut sentuhan-sentuhan tangan-tangan jahil di tubuhnya. Bukan keberatan, justru hal ini menggairahkan baginya, ketika para pria menjadikannya sebagai objek pemujaan. Hanya saja, Hilda biarkan birahinya yang mengarahkannya, menentukan siapa pria beruntung yang mendapatkannya malam ini. Kevin salah satunya. Ia mengerti. Ia tidak bergegas, ia menunggu. Ia biarkan sang dewi menentukan, tidak berusaha memaksa, tidak berusaha meminta. Hingga ketika ia melihat Hilda melirik padanya, menunjukkan *gesture** agar ia mendekat. Ia tersenyum, dialah pemenangnya, Hilda memilihnya.

Ia mendekat, memposisikan dirinya di belakang Hilda, memeluk tubuh indahnya dengan sangat lembut dan penuh pemujaan. "You look so gorgeous, Hilda," bisik Kevin, suaranya berat. "Thank you, Kevin." Hilda tersenyum, "By the way, ini kali pertama kita benar-benar interaksi berdua, kan, ya?" tanyanya. Kevin tersenyum, “Ya, aku terlalu sibuk di ruang **server***, berkutat dengan layar-layar penuh deretan kalimat yang bukan Bahasa manusia, tidak ada yang menyapaku di sana. Tapi malam ini seorang dewi berkenan menganugerahkan senyumnya untukku. Sepertinya seluruh keberuntungan dalam hidupku sudah habis kupakai malam ini.”

Kevin yang sedari tadi memeluk Hilda dari belakang, seolah menjadi sandaran bagi Hilda, Kevin mencium lehernya, bahunya, pipinya. Ciumannya tidak terburu-buru, namun penuh dengan makna. Hilda merespons setiap sentuhan, setiap ciuman. Ia merasakan betapa hangatnya tubuh Kevin, betapa lembut bibirnya, dan betapa nyaman pelukannya. Mereka berdua menari dengan liar, berpelukan erat, tidak lagi peduli dengan lingkungan sekitar. Kevin membalikkan tubuh Hilda, memeluk erat pinggang Hilda, tangannya mulai meraba, mengelus, dan mengelus bagian pinggulnya yang melengkung indah, lalu naik ke punggungnya, memijat lembut, memijat dengan penuh gairah. Tangan Hilda melingkar di leher Kevin, sesekali meremas dan menarik lembut rambut Kevin. Tanpa mereka sadari, seolah magnet yang saling menarik, bibir mereka saling berpagut, saling melumat, seperti kekasih yang telah lama memendam nafsunya. Kevin melepaskan pagutannya, menenggelamkan wajahnya di leher Hilda, mencumbui lehernya, sesekali turun ke belahan payudara Hilda, menghirup dan menyesap dalam. Tangannya mulai bergerilya di bokong Hilda, terkadang menyasar hingga payudara Hilda, meremasnya dengan penuh gairah dari balik gaunnya yang tipis. Hilda mendesah, ia tidak bisa menahan diri. Ia merasakan gelombang kenikmatan yang luar biasa.

Para pria yang mengerumuni mereka, sambil ikut berdansa mengikuti irama, ikut riuh melihat aksi panas Kevin dan Hilda. Mereka ikhlas tak mendapatkan Hilda, tapi suguhan tarian panas nan erotis dari Hilda dan Kevin cukup membuat mereka puas. Mata-mata mereka seolah terhipnotis oleh setiap sentuhan, setiap rabaan, dan setiap ciuman yang diberikan Kevin kepada Hilda. Mereka memuja Hilda, sang dewi yang membiarkan tubuhnya menjadi objek kenikmatan. Kevin semakin gila, ia meraba, ia mencium, ia meremas, ia menjilati tubuh Hilda. Hilda tidak menolak, ia menikmati setiap sentuhan Kevin, ia membalas setiap ciuman Kevin.

Di sisi lain, Nela tersenyum puas melihat sahabatnya sudah tenggelam dalam permainan ini. Ia sendiri sedang sibuk meladeni dua pria yang sedang khusyuk menggerayangi tubuhnya: Pak Budi, Kepala Bagian Gudang yang memang terkenal tukang selingkuh, dan Pak Agung, Kepala Keamanan kantor tersebut. Ketiganya menari, berpelukan, saling mencumbui satu sama lain. Tangan-tangan jahil Pak Budi dan Pak Agung meremas payudara, pinggul, dan bokong Nela, tak ada bagian yang belum terjamah. Nela tidak keberatan, ia justru menikmati setiap sentuhan, setiap rabaan, dan setiap ciuman yang diberikan oleh kedua pria itu.

Kevin mengangkat kepalanya, napasnya terengah, matanya menyala-nyala oleh gairah. "Hilda, kita butuh tempat yang lebih sepi," bisiknya di telinga Hilda, suaranya serak. "Ikut aku."

Hilda tersenyum, tidak menjawab, tapi sorot matanya menyatakan persetujuan.

Kevin tersenyum, ia menarik tangan Hilda, membawanya keluar dari keramaian. Mereka berdua berjalan ke sebuah area dengan koridor yang terdapat kamar-kamar. Namun, sebelum mereka mencapai kamar yang dituju, sosok wanita tiba-tiba muncul dari belakang, menepuk pundak Kevin. Ternyata itu Nela, dengan sorot mata tajam dan suara lembut namun tegas dia berkata, "Aku dulu ya."

Sejenak Kevin melirik ke arah Hilda. Hilda dan Nela sedang saling bertatapan, mata keduanya begitu fokus menatap satu sama lain. Saling menikmati, saling menelanjangi. Sorot mata keduanya tak wajar, bagai romantisme antara predator dan mangsanya.

Kevin mengalah, entah kenapa—apa ada rasa segan atau mungkin juga takut—birahinya harus mengalah. Merasa kerdil jika dibandingkan birahi dua wanita di depannya, yang mungkin beberapa detik lagi akan saling bergumul dalam nafsu primal mereka.

Setelah Kevin pergi, Nela menghampiri Hilda, tersenyum lebar. "Sebelum lo berpetualang malam ini, gue pengen jadi yang pertama. Lo keberatan?" ujar Nela.

"Gue belum pernah, sih, sama cewek, tapi kalau ceweknya lo, boleh deh, hehehe." Hilda tersenyum, nafsu sudah menguasainya, rasa penasaran bercampur birahi, yang sudah terpicu oleh minuman haram, menjadi alasan atas apa pun yang Hilda lakukan malam ini.

"Gue jamin, Sayang, lo akan lupa semua cowok yang pernah menjamah tubuh lo." Nela memeluk pinggang Hilda dengan penuh percaya diri.

Nela membuka salah satu kamar di dekatnya, menarik Hilda untuk ikut masuk. Ia tutup pintu kamar tersebut tapi tidak dikunci. Suasana nyaman penuh ketenangan, sungguh berbeda dengan atmosfer di luar kamar. Tanpa banyak kata, Nela menarik Hilda ke arahnya lalu mencumbunya dengan begitu bergairah. Bibir lembut Nela beradu dengan bibir Hilda, lidah keduanya saling membelit di rongga mulut. Itu ciuman wanita pertama yang Hilda rasakan, sensasinya luar biasa, kelembutan yang beradu dengan kelembutan, rasanya, aromanya, sungguh berbeda ketika berciuman dengan wanita. Tangan Nela memegang kepala Hilda dengan erat, seolah tak ingin Hilda pergi meninggalkannya. Suara decak basah menggema di kamar itu, liur cinta saling bertukar dalam permainan lidah dan bibir yang panas. Hilda hanya bisa memeluk tubuh Nela, membiarkan dirinya dalam kuasa Nela. Berusaha mengimbangi, tapi ia harus mengakui di hadapan Nela dia adalah **Beta*, dan Nela adalah **Alpha*.

Nela melepaskan pagutannya, sambil tersenyum menatap Hilda yang tersipu malu menahan gairahnya. Gairah yang bangkit oleh wanita, sesuatu yang baru bagi Hilda. "Gimana, Sayang?"

"Emmhhh... lucu rasanya," Hilda menjawab sekenanya. Indra dan otaknya sudah tidak sinkron, tak lagi bisa mencari kata yang tepat untuk mengungkapkan yang ia rasakan.

"Ini baru permulaan, Sayang." Nela mendorong Hilda agar berbaring di kasur. Rok mini Hilda didorong menggulung di pinggangnya, membebaskan paha, bokong, dan bagian selangkangan. *G-string** berwarna ungu pun turut disingkirkan, dengan sekali tarikan melewati bokong dan paha seksi Hilda. Nela mengangkangkan kedua kaki Hilda, memberinya akses sepenuhnya ke vagina Hilda. Ia mulai dengan kecupan lembut di bibir vagina Hilda. "Ooooohhhhhh...." Sebuah kecupan saja cukup membuat Hilda tersetrum listrik birahi yang luar biasa.

Nela lanjutkan dengan jilatan-jilatan sepanjang garis celah vaginanya. Klitoris Hilda mendapat perhatian lebih dari Nela, gigitan-gigitan lembut juga diberikan Nela di beberapa titik. Permainan oral Nela tidak ganas dan liar seperti kebanyakan pria yang pernah bersenggama dengan Hilda. Kebanyakan pria akan mabuk tak terkendali sedetik setelah berinteraksi dengan vaginanya. Tapi Nela berbeda, yang dimiliki Hilda sama seperti miliknya, ia tahu, sangat paham, mana yang harus disentuh, seberapa kuat sentuhannya. Tak sampai lima menit Hilda sudah menjerit mencapai orgasmenya. "Aaaahhh..ooohhhhh....Nellaaaaa." Nela melepaskan vagina Hilda dari siksaannya, menatap penuh senyum dan kebanggaan. "Gila lo, Nel, lo apain memek gue, enak banget."

"Baru pakai mulut, udah kelojotan gitu, gimana kalau pakai yang lain? Hahaha." Nela tertawa melihat tingkah Hilda, seperti anak gadis yang baru merasakan orgasme. Nela kemudian melucuti pakaiannya sendiri, hingga tak ada sehelai kain pun menempel di tubuhnya. Ia pun menyuruh Hilda melakukan hal yang sama. Setelah keduanya telanjang, Nela kembali membaringkan Hilda di ranjang. Kini bukan vagina target Nela, dengan menindih tubuh Hilda di kasur, Nela melumat bibir Hilda dengan penuh gairah. Payudara mereka saling berhimpit, hingga meluber ke pinggir, selangkangan mereka saling bersilang, membuat vagina keduanya saling bergesekan. Cukup lama mereka dalam kondisi ini, keduanya saling merengkuh kenikmatan, dalam gairah yang lambat tapi intens. Inilah bedanya persetubuhan antara wanita, ritmenya lambat tapi memabukkan. Tidak terburu-buru mengejar klimaks, justru prosesnya lah yang begitu erotis. Nela mengubah posisinya menjadi 69. Hilda kini lebih berinisiatif melakukan oral pada Nela. "Ahhh... ngghhhh... ya gitu, Sayang... mmmhhh... udah mulai pintar kamu... ooohhhh." Nela mendesah atas perlakuan Hilda di vaginanya. "Anggap itu memek lo sendiri, Sayang, lo mau apa, pengen diapain, itu yang harus lo lakuin. Kita tidak saling menuntut orgasme, kita sedang saling menikmati, saling melayani."

"Aaaahhhhh... oooohhhhh... Hilda...." Nela melenguh ketika Hilda memasukkan tiga jarinya ke vagina Nela. Nela paham Hilda tak seperti dirinya, yang terbiasa berhubungan sesama jenis. Hilda masih butuh orgasme dahsyat, butuh benda tumpul, besar, dan panjang masuk ke rongga vaginanya. Memberikan rangsangan ke setiap saraf yang ada di liang kewanitaannya. Nela membalas apa yang Hilda lakukan, ia pun memasukkan tiga jarinya ke vagina Hilda, mengocoknya dengan cepat. Kini keduanya seperti sedang berlomba, memberikan kocokan terbaik pada vagina satu sama lainnya. Keduanya orgasme bersamaan, cairan memancar dari vagina Nela, dia seorang *squirter** ternyata. Cairan kewanitaannya membasahi wajah Hilda yang tepat di bawahnya. Hilda berpaling, menggeser tubuhnya, membiarkan Nela berbaring, menggelinjang, menikmati **squirt***-nya. "Lo hebat juga, baru pertama udah bisa buat muncrat."

"Kan lo gurunya, hahahah."

"Ya, gini kalau punya murid binal, cepat banget nempelnya, hahahah."

Keduanya saling tertawa dalam kondisi telanjang dan saling berpelukan. Tak lama kemudian, masih dalam posisi berbaring berdampingan, suara bibir dan lidah basah kembali terdengar. Keduanya melanjutkan aksinya kembali.

Nela dengan gemas meremas-remas payudara Hilda, sambil mencubit putingnya seraya menariknya hingga meregang. "Aaawww, sakit tahu... hehehe," Hilda memekik kesakitan dengan sangat sensual. "Gemes gue sama toket brutal lo ini, pantesan cowok-cowok gampang banget sange kalau udah lihat lo."

"Plakkk! Ini juga nih, pantat lo, gede banget, sih, ngalahin biduan dangdut," ujar Nela sambil meremas dan menepuk pantat Hilda dengan cukup keras, hingga meninggalkan bekas merah di kulit putih Hilda.

"**Body*** lo juga seksi banget, Nel, ramping, terus bulat banget di toket sama pantatnya, kenyal, *anti-gravitasi** lagi." Kini Hilda yang bermain-main di payudara dan bokong Nela.

"Nungging, Nel, gue mau buat lo happy."

"Ooohhhh, udah pintar, ya, ceritanya, mau unjuk gigi."

"Unjuk memek kali, hahahha."

Persetubuhan keduanya benar-benar santai namun penuh keintiman. Diselingi dengan canda dan tawa, kadang obrolan *heart to heart** yang cukup dalam.

Nela menungging sesuai permintaan Hilda, bertumpu pada tubuh bagian atas yang terbaring di kasur. Hilda mengeksplor vagina Nela dengan mulut, bibir, lidah, dan jarinya. Seperti seorang ilmuwan, Hilda memperhatikan setiap respons dari Nela atas apa yang dilakukannya. Dia hapalkan titik-titik sensitifnya, untuk kemudian dieksploitasi lebih lanjut. Hilda tidak hanya bermain di celah daging kewanitaan Nela, terkadang ia cukup jahil untuk menggoda **sunhole***-nya Nela.

"Udah ada yang nyasar ke sini belum?" tanya Hilda seraya mengelus dan sedikit menekan area anal Nela.

"Menurut lo, dari sekian banyak kontol yang keluar masuk badan gue, enggak ada satu pun yang nyasar ke situ? Hahaha." Keduanya tertawa, menegaskan bahwa baik lubang depan maupun belakang Nela sudah pernah disetubuhi. Hilda menambah intensitas serangannya ke vagina Nela. Jari jemarinya dengan lincah keluar masuk, ibu jarinya menggesek dan menekan klitoris Nela, lidahnya dan mulutnya pun tersinkronisasi dengan baik. Semua teknik ini membuat Nela tak lagi sanggup menahan sensasinya. "Gue mau muncrat lagi... aaahhhhh... oohhhhh." Hilda terus mengocok vagina Nela dengan jarinya ketika air kenikmatan memancar dari vagina Nela. Tamparan dan remasan lembut pun Hilda berikan ke kedua bongkah daging bokong Nela yang indah membulat, kontradiktif dengan lingkar pinggangnya yang ramping.

"Aaaaahhhhh... ooooohhhhhh... mmmmhhhhhhh." Nela muncrat untuk kesekian kalinya. Setelah keduanya mendapatkan orgasmenya masing-masing, keduanya berbaring berdampingan, saling memeluk ringan.

"Luar biasa banget, Beb, enggak sangka sama cewek ternyata gini, ya, rasanya."

"Gue bilang apa, dijamin lupa deh sama kontol-kontol yang pernah hinggap di memek lo, hahaha."

"Tapi gue kayaknya bakal tetap jadi **straight***, deh. Ini, sih, buat selingan aja."

"Yeee, siapa juga yang ngajakin lo jadi lesbi? Gue juga *straight** kali, buktinya gue masih punya suami tahu, hahahah."

Keduanya masih berpelukan dalam keintiman, saling bercerita, bersenda gurau, hingga tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sontak pandangan keduanya melihat ke arah pintu. Sosok pria tinggi besar muncul dari balik pintu, lengkap dengan setelan jas **big size*, terlihat menambah karisma pemakainya. Mereka mengenali sosok tersebut dengan nama George, bule gagah dan ganteng, dengan tubuh tinggi besar cenderung **overweight*. Pemimpin tertinggi di perusahaan mereka ini. Orang yang berada di balik kegilaan pesta malam ini, sebagai penggagas sekaligus promotor tunggal, tentunya dengan profit kantor.

“**Hi girls, it seems both of you are having a great time.*”

“***Yes, we are, heheheh**,” jawab Nela sambil menggigit ujung jarinya, sebuah *gesture* menggoda.

“**Would you mind if I join you? This room seems hotter than the outside, especially with your present, Hilda.*” George tersenyum mesum dengan mata menatap tajam ke arah Hilda seolah hendak menerkamnya.

Hilda tersenyum, ia tahu George menginginkannya, mungkin sudah lama, hanya saja ditutupi dengan profesionalisme. George tak mau nafsunya merusak hubungan profesionalisme mereka. Hilda aset yang berharga bagi perusahaan, sudah banyak proyek yang *closing** dengan membukukan profit besar bagi perusahaan. Tapi malam ini, Hilda tidak hadir sebagai karyawan teladan dengan profesionalisme tinggi. Hilda sekarang adalah seorang wanita yang sedang mengumbar birahinya, siap terbakar dalam panas gairahnya sendiri. Dan George ingin menjadi salah satu yang merasakan nektar cinta dari Hilda.

“***Sure, George, why not. You are the one who make it happened, so it's yours, all of them.***,” ujar Hilda tersenyum genit menggoda, ikut alur permainan. Menegaskan diri bahwa dirinya bagian dari pesta terlarang malam ini. Segala batas tabu telah disingkirkan, yang tersisa hanyalah nafsu, gairah, dan birahi. Tanpa batas, jabatan, norma, maupun profesionalisme. Hanya ada manusia pria dan wanita yang sedang memenuhi hasrat seksual mereka.

George mendekat, menikmati pemandangan indah di hadapannya. Dua bidadari telanjang dengan tubuh berlekuk indah bagai garis lukis indah di cakrawala sedang duduk menantinya. Wajah cantik nan ayu, namun dengan tatapan penuh nafsu dan birahi, siap dinikmati, siap menerima curahan hasrat darinya. Matanya terkunci pada Hilda, bidadari baru yang malam ini akan ia cicipi kenikmatannya. Nela kemudian bangkit tiba-tiba seolah cemburu, tak ingin dikesampingkan. Dengan cepat memagut dan melumat mulut dan bibir George, kepalanya menengadah, sedikit berjinjit, mengimbangi tingginya tubuh George yang tidak standar bagi ukuran orang Indonesia. Tangannya memeluk lembut dan erat kepala bosnya ini, menawarkan kenikmatan. Lidahnya merasuk masuk ke rongga mulut George, tak memberikannya kesempatan untuk melakukan hal lain. Dengan terus memberikan rangsangan pada George, Nela menelanjangi pria bule berusia 50-an tahun tersebut dengan terburu-buru, tak ingin nafsunya padam hanya karena terhalang helai kain baju George.

Sebagai seorang *gentleman** dengan pengalaman segudang dengan wanita, ditambah ini bukan pertama kali ia bercinta dengan Nela, George tahu apa yang harus dilakukan untuk membalas budi pada betina yang sedang menggerayangi tubuhnya ini. Tangannya dengan erat memeluk pinggang ramping Nela, yang terlihat kecil dibandingkan besarnya tubuh George. Dengan sigap George mencumbui leher jenjang Nela beraroma parfum mahal, bagai feromon, wangi membangkitkan gairah. Bergerilya turun hingga payudara dengan *cup** proporsionalnya, tidak terlalu besar tidak terlalu kecil, dengan kekenyalan alami, natural dengan otot-otot terlatih sempurna, kulit putih lembut dan bersih terawat, puting gemas lucu menyembul dikelilingi aerola dengan warna cerah menggoda. Ia lumat lembut namun tegas, lidahnya bermain di putingnya dengan aerola tenggelam seutuhnya di mulut George, menggigit kecil sambil menarik menjauh dari tubuh Nela, memberikan sensasi ngilu dan nikmat secara bersamaan.

"Ahhhh, George, enaaakkk bangeeettttt!" racau Nela, tak sadar kalau George tidak akan paham dengan ucapannya.

Tangannya meraih batang kejantanan George setelah berhasil melucuti seluruh pakaiannya, meremas dan memijatnya dengan kuat dan terukur. Tangan George kini meremas kedua bongkah bokong Nela bersamaan, seolah mengukur tingkat kekenyalannya, sesekali menepuk keras hingga berbunyi, meninggalkan jejak merah nan merona di bokong Nela. Nela bersimpuh, ingin memberikan *service** lebih jauh lagi. Dijilat dan dicumbuinya batang penis George, memberikan sensasi geli yang menggairahkan bagi pemiliknya. Tak puas dengan permainan mulut yang lembut, Nela lantas melahap dengan rakus penis George, menyedotnya dengan kuat, kepalanya maju mundur, memberikan sensasi gesekan yang luar biasa. Nela pun tak ragu memasukkannya hingga ke kerongkongan, memanfaatkan otot kerongkongannya untuk memijat batang penis George. Nela terlihat sangat piawai dalam hal ini, dengan frekuensi cukup cepat dan sangat dalam hingga kerongkongan, tak sekalipun ia tersedak. Menegaskan bahwa ini bukanlah yang pertama baginya, dan pasti bukan yang terakhir, menunjukkan level **skill*-nya dalam urusan **blow job*.

Dengan Nela yang sibuk menservis kepala bawah George, membuat kepala George menganggur. Dengan isyarat tangan George meminta Hilda mendekat, menempelkan tubuhnya ke tubuh George. Payudara besarnya meluber terhimpit, menempel sempurna di dada George. Bibir Hilda dan George saling berpagut dan melumat satu sama lain. Tak seperti Nela yang buas, Hilda cenderung pasif, menerima lidah George bermain di mulutnya, membiarkan George mengambil kendali atasnya. Kedua bibir yang biasanya berdiskusi seputar bisnis dan pekerjaan, mega proyek miliaran hingga triliun, kini tak lagi berucap kata, hanya ada decak basah dari lidah yang berlumuran liur. Tangan kiri George bermain di payudara besar dan seksi Hilda, meremas kencang hingga meluber di sela-sela jemari tangan George yang besar. Luas telapak tangan George ternyata masih belum mencukupi untuk melingkupi setiap bagian buah dada Hilda. Sesekali memilin, dan mencubit lembut putingnya, menambah sensasi geli pada payudara Hilda. Tangan kanan George meremas-remas sebelah bongkahan bokong Hilda, begitu betah tak ingin lepas dari *squishy** alami tubuh Hilda. Hilda memang lebih pulen dari Nela, dan tak dipungkiri, George lebih menyukai daging Hilda daripada Nela.

Hilda mulai mengikuti ritme George, kedua tangannya merangkul erat kepala George, berusaha mengimbangi permainannya.

“*Mmmmhhhhhh... oooohhhhhh... ngghhhhhh... **such a great lover you are, George***.”

“**Finally, Hilda, finally I can see your true color, the real face beneath those lovely veils that cover your hair. Makes you look like Virgin Mary. Who knows there was a lusty passionate woman hiding under those image.*”

Nela mendengar percakapan penuh nafsu dari keduanya. Tak sanggup menahan rasa cemburu, Nela meningkatkan performanya dalam mengoral penis George. Segala teknik yang ia sempurnakan dari banyaknya jam terbang dan banyaknya penis yang pernah ia rasakan, ia praktikkan pada George. Membuat pria besar berpenis besar itu pun tak sanggup menahan geli sensual di batang kejantanannya.

“**Ooohhh shiiitttt... fuuuucckkk Nela, calm down baby, the night is still young, don’t rush it love.*”

Nela tidak mempedulikan George yang sudah di ujung tanduk, ia tidak mengurangi ritmenya. Dengan cepat George menahan bahu Nela, lalu mengangkat tubuhnya, menghempaskannya ke ranjang, kakinya dibuka lebar. Penis George yang sudah bengkak maksimal, basah oleh liur Nela, dihujamkan dengan kasar dan keras ke vagina Nela, membuat punggungnya turut melengkung, seiring pekikan desah erotis menggema di sudut ruangan itu.

“***Oooooohhhhh yyyeesss, George, give it to me, oh fuck, yessssss.*,” racau Nela merespons genjotan kasar penuh nafsu dan gairah dari George. Tangan George memegang pinggang ramping Nela, sedikit mengangkatnya, memaju mundurkan sesuai kehendaknya. Bagai boneka, Nela hanya menurut, tubuhnya berguncang hebat seiring dengan buasnya genjotan George. Selayaknya **sex doll*, Nela hanya menjadi alat pemuas nafsu bagi penis George sekarang. Tak ada sensualitas, tak ada erotisme, apalagi cinta dan kasih sayang. Hanya ada nafsu hewani yang menuntut dituntaskan.

“***This is what you want, right, Nela, you slutty little bitch.***.” Beberapa saat kemudian, terdengar lenguhan panjang Nela yang lebih mirip lolongan serigala.

“Oooooooohhhhhhh... Geooooorrgeeeee... fuuucccckkk.”

Nela kembali mendapatkan orgasmenya, **squirt***-nya tertahan penis jumbo George yang menyumpal setiap celah di vagina Nela. Di waktu yang sama, George pun mencapai klimaksnya, cairan kental menyembur deras dari ujung penis bulenya, mengisi rahim sempit Nela dengan kehangatan spermanya. Selesai berejakulasi di rahim Nela, George mencabutnya dan mengarahkannya ke wajah Nela. Tanpa perintah, Nela menjilati sisa-sisa sperma yang masih menempel di batang penis itu.

“***Yes like that, I know you like it, Nela.***”

Sedari tadi Hilda memperhatikan aksi perkawinan buas layaknya binatang secara langsung di hadapan matanya. Dia duduk di sebuah sofa, bagai kursi *VIP** sinema persetubuhan George dan Nela. Tangannya bermain di vagina dan payudaranya, menahan gairah dari *live show** erotis di hadapannya. George duduk bersandar di atas ranjang, di sampingnya Nela masih terbaring lemas, getaran-getaran orgasme masih menjalar di seluruh tubuhnya. George menatap Hilda penuh tatapan penuh nafsu.

“***Come here, Hilda, I want to taste your little pussy.***”

Tanpa ragu Hilda bangkit dari duduknya, penantiannya berakhir. Ini gilirannya untuk dinikmati atau menikmati. Ia kangkangkan kakinya, selangkangannya tepat di wajah George. Dengan rakus, George melahapnya dengan penuh rasa lapar, seperti baru menemukan makanan setelah beberapa hari tidak makan. Jilatan basah penuh gairah, hingga berdecak basah, hisapan-hisapan kuat di klitorisnya. Tangan George menahan bokong Hilda agar tidak bergeser, sementara tangan yang lain sibuk mengobel vagina Hilda luar dan dalam.

"Ahhhh... hmmmmmm... oouuuchhhhh," desahan tak tertahan mengalir lembut dari mulut indahnya sebagaimana vaginanya yang terus mengalirkan nektar cintanya.

“***As sweet as your pretty face, sorry Nela, I think I found my next favorite woman.***”

Walaupun tubuh Hilda lebih berisi dengan gundukan daging yang lebih semok di payudara dan bokongnya jika dibandingkan dengan Nela, George dengan mudah memutarbalikkan tubuh Hilda ke posisi 69. Kedua tangan George memeluk erat pinggang dan pinggul Hilda, memastikannya tidak terjatuh, vagina Hilda tepat di mulutnya. Hilda yang sekarang dalam posisi **upside down*, kepalanya di bawah sejajar dengan penis George, bertumpu dengan satu tangan, tidak sepenuhnya yakin dengan George yang menahan punggungnya. Tangan satunya sibuk menggenggam, mengocok penis George, dengan penuh semangat, ia tunjukkan **skill blow job*-nya yang tidak kalah dari Nela. Walau dengan posisi ini, ia tidak bisa mengeksplor batang penis George dengan leluasa.

George membaringkan tubuh Hilda ke samping, napasnya tersengal setelah mengerahkan seluruh energinya untuk memblow job penis jumbo George.

“***Ride me, bitch.*” Perintah kasar George pada Hilda. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, tidak ada penolakan atas segala perintah sarat hinaan dan perendahan dari George. Dengan sigap Hilda kembali menaiki George, mengarahkan penis besar dan panjang dengan kepala tersunat, yang berkilauan basah akibat **saliva*-nya, masuk ke dalam vaginanya. Dengan berat tubuhnya Hilda menekan ke bawah, menelan penis George dengan sempurna. Hilda melenguh pelan dan dalam, besar dan kerasnya penis George memberi sensasi rangsangan luar biasa pada dinding vagina Hilda, membuatnya orgasme hanya dengan memasukkan penis George ke vaginanya.

"Nnngggghhhhhhh... mmmmmhhhhhh."

“***Hahaha I know it, under those classy outfit, there was hungry little pussy that craving for may huge dick, right, hahahah.***”

Hilda tidak merespons ucapan George, ia sibuk menaik turunkan pinggulnya, mengejar sensasi yang lebih membakar di rongga rahimnya. Otot vaginanya meregang, meremas kuat batang keras yang bersemayam di dalamnya. Tangan Hilda meraih kepala George, memeluknya erat mencumbuinya dengan penuh gairah, memainkan lidahnya berusaha mengaitkannya dengan lidah George. Untuk sesaat George melayani permainan romantis Hilda, hingga tiba-tiba dia meremas kencang kedua payudara Hilda. Hilda tersentak dan sedikit menjerit, merasakan ngilu pada payudaranya.

“***I’m not looking for romance, you little slut, I want it hard, and I know you will love it too.***”

Remasan keras tangan George membuat puting dan aerola Hilda menonjol ke depan, dengan buas George menerkamnya bergantian. Tidak ada kelembutan, hanya nafsu yang membara. Payudara Hilda memerah, kepalanya mendongak ke belakang, membentuk kurva dari lengkungan punggungnya. Sensasi sakit, ngilu, perih pada payudaranya, ditambah siksaan pada puting payudaranya, dilengkapi hujaman kasar pada vaginanya membuat Hilda hilang kendali, seolah melayang di nirwana dosa. Matanya memutih, mulutnya terbuka tanpa ada suara keluar. Dirinya telah dirasuki iblis birahi.

George belum selesai, ia baringkan tubuh Hilda yang sedang mabuk dalam birahi, menggenjotnya dengan lebih keras, kencang, dan kasar dengan posisi **missionary***. Tangan dan mulutnya tak henti-henti meremas-remas dan melumat-lumat payudara Hilda, seolah lapar tak terpuaskan.

"Mmmmmmmm... nggggggggg... ooooooohhuuuu."

“***What, Hilda, can’t say a word, huh, is it too much for you? Hahahha.*” Lagi-lagi George menghina dan merendahkan Hilda. George sangat berbeda dari semua pria yang pernah bersenggama dengannya. Dia seperti manifestasi iblis **Lust*. Hanya ada nafsu dan birahi, bahkan binatang pun lebih lembut darinya ketika mengawini betinanya.

George menampar payudara dan pipi Hilda, tidak terlalu keras, tapi cukup menyadarkannya dari kondisi **trance***-nya akibat kebuasan birahi George.

“***Get on your hands and knees, bitch.***”

Hilda segera mengubah posisinya, sangat cepat, entah takut atau ingin segera melanjutkan permainan yang terhenti. George memposisikan diri di belakang bokong Hilda, mengarahkan batang penakluknya ke vagina Hilda dari belakang. Setelah kepalanya masuk, dengan cepat dan keras ia hujamkan seluruhnya, hingga terdengar suara tumbukan selangkangan George dan bokong Hilda yang padat berisi.

"Plok... plok... plok." Daging pantat Hilda bergetar tertumbuk hujaman George, bagai peredam benturan alami, menghasilkan suara nyaring nan erotis. Rambut panjang Hilda ditarik ke belakang, mengisyaratkan penguasaan sempurna dari George terhadap Hilda. Seorang wanita telanjang memperhatikan keduanya dengan saksama, sambil duduk santai di sofa. Sofa yang sama ketika Hilda menikmati persetubuhan Nela dan George. Entah sejak kapan Nela di sana, sorot matanya tajam, senyum penuh birahi tersungging di sudut bibirnya. Dia mendekat ke arah Hilda, mendekatkan wajahnya ke wajah Hilda yang sedang mendongak, tertarik ke belakang akibat rambutnya dikekang kuncir kuda oleh George. Nela mencium bibir Hilda dengan penuh gairah. Kedua bibir lembut itu bertemu, kedua lidah itu menari berpagutan, saliva menetes dari kedua mulut wanita yang telah dirasuki birahi itu. Nela berbaring mengangkang, menarik kepala Hilda mendekat ke selangkangannya, menenggelamkan wajah cantik Hilda di vaginanya. George melepas kekangannya pada rambut Hilda, membiarkannya bebas mengoral vagina Nela. Sungguh sensasi yang luar biasa, hujaman kasar dari belakang, bertemu dengan manis dan lembutnya vagina Nela di mulut Hilda. Sensasi yang baru pertama Hilda rasakan, ditambah remasan lembut Nela pada kedua payudaranya yang berguncang, seolah mengobatinya dari perih akibat kasarnya perlakuan George tadi.

“***Good Job, Nela, you found another bitch for me to fuck.***”

George mempercepat genjotannya, beberapa saat lagi dia akan mencapai klimaks, begitu juga dengan Hilda, entah sudah yang ke berapa Hilda mencapai orgasme dari penis George. Dengan bantuan beberapa jari Hilda, Nela pun mendapatkan orgasmenya. Seperti terharmonisasi, mereka bertiga menggapai orgasmenya bersamaan. George menyemburkan air kehidupannya yang kental dan hangat di rahim Hilda kemudian mencabutnya dengan cepat sebelum tuntas, meminta kedua wanita budak birahinya bersimpuh di hadapannya, menerima pemberkatan dari penisnya yang menyemburkan cairan kenikmatannya.

“***Come on, bitches, move your ass, you're going to take this all over your face.***”

Nela dan Hilda bersimpuh menengadahkan wajahnya, dengan mulut terbuka, bersiap menerima semburan air mani George langsung dari sumbernya.

“***Oooohhhhhh yyeeeaassss… oooohhhhhh fuuuucckkkkk.***,” geram George sambil mengocok cepat penisnya, menyemburkan semua sperma yang terkumpul di buah zakarnya.

Wajah, mulut, hingga dada, tak luput dari semburannya, beberapa bahkan masuk ke mulut. Setelah selesai *transfer sperma** ke Nela dan Hilda, keduanya menelan sperma yang masuk ke mulut serta menjilati sisa sperma yang berceceran di wajah dan dada, diakhiri dengan adegan ciuman penuh sensualitas antara Nela dan Hilda.

Ketiganya terbaring lemas, setelah ronde yang liar. Tak sadarkan diri entah tertidur atau pingsan. Hilda terbangun, melihat George dan Nela masih tertidur. Dengkuran keras terdengar dari George. Pertanda dalamnya tidur, tenggelam di alam mimpi. Hilda keluar kamar, masih dalam kondisi telanjang. Dentuman musik *DJ** tak lagi terdengar, hanya ada alunan musik lembut. Tapi pemandangan yang tersaji jauh dari kata lembut. Bagai wahana **orgy***, di setiap sudut ruang dansa itu, pria dan wanita saling bersenggama, dengan berbagai posisi, berbagai gaya. Lenguhan dan desahan seolah bersahutan dan terputus. Suara tumbukkan kulit dengan kulit, daging-dengan daging. Kata-kata kasar penuh hinaan menambah gairah persetubuhan. Jeritan-jeritan, erangan-erangan erotis penuh gairah, mewarnai udara di sekitarnya. Tak lagi bisa dikenali siapa dengan siapa, satu lawan satu atau beberapa lawan satu, atau beberapa lawan beberapa. Semuanya terlalu gila untuk digambarkan. Beberapa pria telanjang dengan penis menjulang sempurna mendekati Hilda, Kevin salah satunya, tidak berbicara hanya menunjukkan kejantanannya. Hilda tersenyum, mengigit bibir bawahnya. Ia tahu malam masih akan sangat panjang, dengan deretan lantunan syair para pendosa, diiringi musik jahanam, dalam tarian para pezina.


Part 16: Bagas (Bagian 1)

POV Hilda

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan akhirnya tahun. Sudah sekitar setahunan sejak aku meninggalkan Bagas. Begitu banyak hal terjadi, terlalu banyak hingga hampir membuat kondisi kejiwaanku terguncang. Aku berpaling ke Joko, yang awalnya hanya pelampiasan, tempat berlabuh sesaat, yang akhirnya harus kutinggalkan karena realita cintanya bukan untukku. Kehampaanku kemudian kuisi dengan keliaran-keliaran sesaat, bagai narkotika yang hanya membuatku merasa hidup walau hanya semalam.

Kini, aku tetap menjalani kehidupan yang sama, seperti jutaan warga Jakarta lainnya. Bangun pagi, pergi ke kantor, bekerja, berinteraksi sosial seadanya, lalu kembali ke tempat yang mereka sebut rumah. Tak jelas, dari siklus hidup yang menjemukan itu, mana yang benar-benar bisa disebut kehidupan.

Aku duduk di mejaku, setelah menyelesaikan laporan-laporan closing deal dengan beberapa klien. Menatap setiap wajah yang berlalu lalang di kantor ini. Siapa sangka, di balik wajah-wajah teduh penuh kehormatan itu, tersimpan sisi liar, penuh nafsu dan birahi. Semua tersaji dalam Malam Jahanam, pesta para pendosa. Di malam itu, semua topeng malaikat runtuh, wajah-wajah suci berubah bagai dirasuki setan dan iblis dari neraka.

Lihatlah Bu Ningsih. Wanita berusia akhir 40-an di bagian keuangan. Tubuh semok berisi, terbalut office outfit big size lengkap dengan jilbab lebar menutupi dadanya, terlihat anggun dan smart. Seorang ibu rumah tangga yang mencintai keluarganya. Berbagai memori kebersamaan berjajar di meja kerjanya. Sekarang, ia sedang mengomeli tiga anak buahnya yang baru berusia awal 20-an—fresh graduate dengan kemeja yang masih kebesaran—karena kesalahan laporan keuangan. Mereka tertunduk lesu, wajah pucat menahan kantuk karena lembur.

Tapi aku tahu, ketika jarum jam menunjuk angka ganjil di kegelapan malam jahanam, ketiga anak buahnya yang muda dan kelelahan itu, menyetubuhi Bu Ningsih yang sedang dalam posisi menungging secara bersamaan. Satu di mulut, satu di bawah penetrasi vagina, dan satu di belakang penetrasi anal.

Bu Ningsih yang anggun itu, tak terbalut sehelai kain pun. Tiga batang penis muda—penuh amarah, dendam, dan hasrat—secara teratur keluar masuk tiga lubang di tubuhnya: anal, vaginal, oral, secara bersamaan. Lenguhan dan desahan terdengar nyaring tak tertahan.

“Oooohhhhh shhiiiiiittt, fffuuucckkk, enak banget anjiiinnggg.” Tidak ada yang menyangka, Wanita terhormat dan terpelajar seperti Bu Ningsih akan meracau dengan kalimat Binatang seperti itu.

"Lagi! Lebih keras, bangsat! Cepat!"

“Kalau belum bisa kerja bener, setidaknya entot gue yang bener anjinggg,,….oooohhhhh…mmmmuuuaachhh.” teriak Bu Ningsih, suaranya serak namun penuh perintah, meskipun wajahnya dipenuhi air mata, liur dan cairan precum anak buahnya, tubuhnya berkilau dipenuhi keringat yang bercampur antara miliknya dan ketiga anak buahnya, juga cairan putih kental yang mulai mengering, belepotan hampir di sekujur tubuhnya. Tidak ada bagian yang belum terjamah, payudara besar bagai pepaya tergantung indah, terlihat memerah dan terdapat bercak kemerahan di beberapa titik, jejak remasan dan tamparan keras, begitu juga putingnya yang membengkak dengan warna kemerahan yang eksotis akibat menyusui ketiga pria cabul penuh nafsu, bokong semok eksotis penuh daging, berbunyi nyaring ketika dihujam kasar tubuh kurus bawahannya, terdapat tapak merah lima jari, bukti tanda “sayang” dari anak buahnya.

Wajah erotisnya mengerang, bukan kesakitan, melainkan kenikmatan murni. Ia tidak menolak, justru meminta, melolong erotis di bawah himpitan tiga tubuh pria yang melampiaskan kekesalan mereka. Ekspresi ketiga bawahannya pun tak kalah eksotis; luapan emosi menjadikan mereka bahan bakar libido, menghujami ketiga lubang kenikmatan atasannya dengan kasar.

"Sepong kontol gue, Bu. Lo suka kan, Lo suka gue ngentot mulut Ibu, Gue pejuin ya, biar mulut Lo ga pedes kalau marahin kita!" salah satu dari mereka, si fresh graduate yang paling pendiam, membentak, tangannya menjambak rambut Bu Ningsih dengan kasar, mengontrol ritme oral di mulutnya.

Bu Ningsih yang di kantor terlihat anggun, kini hanya bisa melolong, suaranya tercekat karena penis tebal memenuhi rongga mulutnya, memaksanya menelan. Air mata bercampur ludah dan cairan birahi kental, namun matanya memohon lebih.

"Enak ta kontolku, Bu! Luwih gedhe seka duwéne bojomu, kan! Rasakna iki mlebu ing memekmu sing jalang, sing abuh njaluk dikontoli! Sadurungé awaké dhéwé wong telu, sapa sing tau ngentoti memekmu, wis rada longgar soale! Wis kerep dienggo, ya?" seru yang kedua, sambil menghantamkan kontolnya ke vagina Bu Ningsih dengan brutal, tanpa ampun. Kedua tangannya pun sibuk meremas-remas pepaya gantung Bu Ningsih yang oversized namun masih cukup kenyal layaknya squishy alami.

Bawahan yang ketiga, dengan napas terengah-engah, mengerang dengan penuh emosi dan nafsu, memegang erat pinggul Bu Ningsih saat penisnya menghantam anusnya yang sempit. Sesekali menamparnya keras, menimbulkan sensasi perih yang menambah kenikmatan. "Hakan yeuh, jablay! Kontol aing ngewe bool maneh! Ngeunah pan, salaki maneh bisa teu kieu. Lamun hayang diewe bool, ngomong we tong sangeunahna nyarekan batur"

"Iyyyyaaaahhh….Ohhhhhh…teerrruuuuss….ahhhhhh…..jangngngaaannnn berenti…..anjingggg enakkkkk" Bu Ningsih menjerit, bukan kesakitan, melainkan kenikmatan murni yang merobek moralnya. Ia meng-encourage anak buahnya, untuk menyetubuhi lebih dalam, lebih keras, lebih kasar, mencari rasa sakit yang memuaskan hasratnya.

Tiga anak buahnya yang sakit hati akibat ucapan brutal perkara typo dan salah input laporan, kini menjadi ewean kontol yang brutal di vagina, anus, dan mulut sang atasan, secara bersamaan.

Ketika matahari terbit, para setan dan iblis berlari tunggang langgang, kembali ke persemayaman mereka. Topeng-topeng malaikat kembali terpasang. Tak ada yang membahas, tak ada yang mengingat. Seolah malam itu hanya terjadi di parallel universe.

"Hilda, please come to my office." Suara George memecahkan lamunanku.

Setelah mengetuk pintu dan membukanya pelan, George mempersilakanku duduk. Ia menyodorkan sebuah proposal bisnis dari perusahaan yang entah kenapa terasa cukup familier.

"Read that. There is a guy named Koko, just his nickname, offer us a partnership for a mega project tender in Singapore. Briefly, I found its interesting offers, but I believe your intuition more than mine. So please study that proposal, and tell me what your opinion."

"He also invites us to discuss directly regarding the offer, but it’s your call. You want to proceed it or drop it. Here is his number. Call him if you think it’s necessary."

Aku paham segala arahan George, tapi pikiranku berhenti di satu nama: "Koko." Nama yang tak mungkin kulupakan, nama yang membuat hidupku berubah drastis. Aku tahu. Dimulai sekarang, semuanya akan jadi "lebih menarik".


POV Bagas

Aku merasa tak sempurna di hadapan dua wanita cantik ini. Seorang dokter seksolog bernama Siska, dan teman kuliahku Linda. Keduanya memiliki kecantikan di atas rata-rata, menunjukkan strata sosial mereka yang memang bukan wanita sembarangan. Cantik seperti sebuah keharusan bagi mereka.

Tadinya aku berpikir akan bertemu dokter Wanita tua degan kacamata tebal, wajah judes dan serius, akibat menghabiskan usianya dengan jurnal kedokteran atau kasus-kasus pasien nya. Tapi Wanita di depannya, sungguh lebih mirip Wanita sosialita daripada seorang dokter. Ia tidak berseragam putih, bawahan rok span ketat selutut dan atasan kemeja dengan model fashionable melekat indah di tubuhnya. Rambut sebahu dengan hidung mancung dan bibir seksi yang tebal, wajahnya glowing, terpancar effort yang tidak murah dan mudah untuk mempertahankannya. Linda menjelaskan secara umum kondisiku pada Siska, terlihat beberapa kali Siska mencatat sesuatu di buku catatannya.

"Oke Say, mau enggak mau, suka enggak suka, lo harus ninggalin pangeranmu ini di tempat gue." Siska tersenyum tajam pada Linda.

"Proses terapinya enggak sebentar, tapi bakal gue bikin seoptimal mungkin."

"Makanya, Bagas, kamu harus nginep di sini ya selama terapi, let’s say seminggu lah. Semua kebutuhan kamu, Bagas, akan kami sediakan. Kalau ada request khusus, bilang saja sama kami, nanti kami carikan." “Sekarang ikut gw, kita keliling fasilitas pavilion klinik ini, biar kamu ga bingung disini.”

Aku dan Linda mengikuti Siska. Di balik pagar besi tertutup, ternyata terdapat fasilitas klinik VIP yang sangat mewah dan lengkap.

"Ini klinik private, enggak semua pasien ke sini, hanya yang 'spesial' dirawat di sini. Dan kamu, Bagas, termasuk yang 'spesial'. Aku harap kamu ikut prosedur terapi yang sudah disiapkan."

"Kita mulai besok pagi. Kamu check-in sebelum jam 7 pagi, bawa semua perlengkapan pribadimu. Satu lagi hal penting: no cell phone. Hape-mu akan kami simpan. Selama terapi, tidak boleh ada distraksi apa pun dari luar. Termasuk lo, beb," Siska menunjuk Linda, "jangan ganggu Bagas ya. Sabar, sampai semuanya selesai."

Menjelang sore aku dan Linda berpamitan. Ada ketenangan bahwa aku akan ditangani orang yang tepat, tetapi isolasi ini membuatku overthinking. Terapi apa yang akan kujalani?

Malamnya, aku dan Linda makan malam di sebuah restoran dengan atmosfer romantis. Aku melihat Linda tersenyum dan tertawa lepas, sosok yang belum pernah kulihat ketika kami di bangku kuliah. Sekarang aku melihat Linda sebagai dirinya sendiri, jauh dari pujian dan sanjungan.

Berlanjut dengan jalan-jalan malam. Linda menggandeng tanganku mesra, wajahnya seolah tak pernah jauh dari wajahku. Aku seperti seorang yang sedang jatuh cinta lagi. Apa yang sudah terjadi antara aku dan Linda terlalu kompleks jika hanya disebut one night stand, karena kini kami masih bersama, saling mengisi, saling menemani. Dua insan dengan hati hampa, saling mengobati. Apakah ini benar-benar cinta atau hanya getaran hasrat? Getarannya sama seperti ketika aku bersama Hilda dulu.

Malam mulai larut. Acara "perpisahan" kami harus berakhir. Sampailah kami di depan rumah Linda. Rumah yang indah namun sepi.

Kami masuk. Setelah menutup pintu, Linda lantas memelukku. Tangannya melingkar lembut di leherku, tatapannya terkunci ke mataku. Wajahnya hanya berjarak beberapa inchi saja dari wajahku. Aroma wangi napasnya, wangi parfum mewah tercium rongga hidungku. Kupeluk pinggang rampingnya dengan lembut, membalas segala kenyamanan yang dia berikan. Ada kesepian dan kesedihan yang sangat dalam di matanya.

"Aku benci malam. Aku benci rumah ini. Aku kesepian, Bagas. Hanya ada memori di sini. Hanya ada aku sendiri," bisiknya, suaranya sedikit bergetar, lebih dalam dari yang kusadari.

Bibir Linda menciumku dengan dalam, memintaku untuk menemaninya, mengobati kesepiannya. Ciumannya sarat ribuan cerita. Ini bukan hanya nafsu; Linda sedang menyampaikan perasaannya yang hancur lewat ciuman ini. Kami membeku beberapa waktu, atau waktu yang membeku di sekitar kami. Kunikmati lembut harum bibirnya, lidah basahnya mulai ikut bermain. Ciuman menjadi cumbuan, kecupan menjadi pagutan. Cinta punya bermacam wajah, dan nafsu salah satunya—yang paling jujur.

Pelukan Linda di belakang kepalaku makin erat, mengacak-acak rambutku, mengunci gerak kepalaku. Tubuhnya ia dorong lebih dalam tenggelam dalam pelukanku. Ruang tengah yang kosong itu tiba-tiba menjadi panas.

Tanganku mulai meraba pantatnya yang kenyal. Tangannya pun mulai meraih selangkanganku dan merabanya dari luar celana. Aku tersentak, berusaha menghentikannya.

"Linda, please... maaf, jangan. Aku tidak mau mempermalukan diriku untuk kedua kalinya," suaraku serak, menahan rasa malu yang menghantui.

Linda paham. Ia melepaskan pelukannya dan berjalan menjauh dariku, menuju kamarnya, seraya melucuti satu per satu pakaiannya. Di depan pintu kamar ia berhenti.

Ia mempertontonkan profil tubuh indahnya dari belakang. Punggung mulus, pinggang langsing, pinggul melebar, dan bokong membulat kenyal yang memanjakan mata. Ia menoleh sedikit, seringai nakal terukir di bibir tebalnya.

"Kalau kau tak bisa memuaskanku, setidaknya hangatkan tubuhku dengan tubuhmu, Sayang."

Linda masuk kamar dengan pintu terbuka lebar, kode keras agar aku mengikutinya.

Aku mengikutinya. Tepat di pintu kamar, aku mendengar suara percikan air. Aku buka seluruh pakaianku. Dengan jantung yang berdebar-debar, aku masuk menuju kamar mandi. Kubuka pelan. Tampaklah seorang bidadari yang sedang mandi telanjang di bawah guyuran shower. Uap air berkabut, menutupi cover oval transparan berbahan plastik dengan embun, namun tetap jelas menunjukkan siluet lekukan indah Wanita di dalamnya.Linda menghadap padaku, menggeser covernya, dengan wajah masih basah terguyur air hangat ia menyuruhku mendekat

"Jangan malu, Bagas. Mendekatlah, Sekarang," perintahnya, bukan dengan kata, hanya dengan jemari, tapi terasa penuh ketegasan.

Aku mendekat, dengan langkah bimbang, berusaha mengatur nafsu yang bergolak. Linda berbalik membelakangiku, seolah memintaku memeluknya dari belakang. Aku peluk dengan lembut, tanganku merangkul perutnya, ia menekan bokong besarnya ke belakang, sengaja agar selangkanganku menempel dengan kulit bokongnya, menenggelamkan penisku dalam

himpitan pantatnya yang kenyal bagai jelly.

Linda kalungkan tangannya di leherku, kepalanya bersandar di bahuku, memperlihatkan lehernya dengan sempurna. Aku paham dia ingin lehernya dicupangi. Kujelajahi lehernya, memberikan cupangan dengan kekuatan terukur, tidak hanya sekadar meninggalkan bekas. Benar-benar kuperhitungkan titiknya dan kekuatannya, bukan hanya untuknya, tapi juga untukku, menjagaku bisa melalui momen ini lebih lama. Desahan mulai terdengar, bercampur dengan suara air, makin lama makin tegas dan jelas.

Ia raih kepalaku, mengarahkannya untuk bercumbu. Cumbuan dalam tak terburu, menyesapi setiap sentuhan di mulut dan bibir kami berdua. Lidahnya menjulur, seolah memohon untuk dilumat. Kuladeni permintaannya, aku cukup percaya diri dengan performa lidah ku. Aku mendominasi rongga mulutnya, menaklukannya, membuatnya pasrah menikmati permainan lidahku dalam cumbuan penuh hasrat ini.

Tangannya meraih tanganku yang lembut mengelus perut ratanya, menariknya lembut, agar berkelana lebih jauh, payudaranya minta juga perhatian. Dengan bimbingan tangannya di atas tanganku, dia meminta agar payudaranya diremas manja. Kuregangkan jari-jariku, berusaha melingkupi seluruh daging payudaranya, putingnya terselip diantara jari telunjuk dan tengah, dengan gerakan terharmonisasi, remasa, pijatan, dan jepitan ke putingnya dilakukan bersamaan. Lenguhan tersumpal terdengar lolos dari bibirnya yang terlumat bibirku. Tanganku mengacak-acak rambutku, menjenggutnya dengan lembut, gemas, mencari pelampiasan atas apa yang kulakukan.

"Hmmmmmhhh Bagaass, tterruuuss," Linda berbisik, napasnya panas di telingaku.

Aku berinisiatif, tangan kiriku membebaskan payudara kirinya, turun ke mahkota kewanitaannya, mengelus lembut, sela-sela kelopak bunga kenikmatannya yang sudah dibanjiri cairan cintanya. Elusan menjadi pijatan lembut, menekan area sensitifnya di beberapa titik, buku jari keluar masuk, mencari titik tepat tombol kenikmatannya berada. Seperti lidahku, jemariku cukup terlatih menemukan titik tersebut dibalik lipatan kelopak daging hangat berlendir dari bunga vagina Linda. Membuatnya mendesah dan melenguh lebih dalam, diiringi gerakan gelinjang nan eksotis tak terkendali dari tubuhnya. Sebelah kakinya terangkat, bertumpu pada dinding cover plastic pembatas ruang mandi, memberiku kode untuk eksplor lebih dalam. Kutenggelamkan seluruh buku dari jariku, masuk hingga pangkal, dua jari berhasil bersemayam di dalamnya. Dengan sedikit gerakan memutar, menekan, mengelus dinding rongga Rahim Linda. Gelinjangan makin tak terkendali, bibirnya terlepas dari lumatanku. Kepala yang awalnya terdongak kini menunduk, ingin melihat apa yang kulakukan terhadap bunga kewanitaannya.

"Ohh, Bagas! Lebih dalam! Fck! Kau tahu persis di mana aku suka..."

Linda berbalik badan, kini berhadapan dengan ku, mereset semua posisi yang barusan dilakukan. Bibirnya kembali menyosor bibirku, tangannya kembali merangkul kepalaku, menariknya mendekat, mengunci agar menempel di wajahnya. Sebelah kakinya kembali diangkat, dilingkarkan di pinggulku, memastikan tidak ada jarak antara selangkangannya dan selangkanganku. Batang penis ku mulai mengeras, bagian yang sedari tadi kutahan mati-matian agar jang sampai terbangun, kini bangkit juga, tak ingin berejakulasi dalam waktu dekat, kuselipkan tanganku diantara dua selangkangan. Jariku kembali melanjutkan tugasnya, mengobel bunga vagina Linda, memberikan stimulus ke setiap bagiannya secara adil dan merata. Setidaknya dengan ini memberikan jarak bagi penisku agar tidak tergesek. Tangan kiriku meremas kuat payudara kanannya, membuat aerola dan putingnya menonjol ke depan, segera kulumat bagian itu dengan kuat, memberikan setruman rangsan yang membuat Linda menjerit desahan manja.

"Hmmmmmmhhh……Aahhhhhh!"

Aku terburu-buru, sengaja memberikannya rangsangan lebih dahsyat dengan cepat, sebelum aku sendiri kehabisan waktu. Cairan hangat mengalir di sela jari-jari yang kini bersarang di vagina Linda, menandakan ia telah mencapai klimaks nya, hangatnya berbeda dari hangatnya air yang mengguyur tubuh kami.

Aku bersimpuh di hadapan selangkangannya. Satu kaki kunaikkan di bahuku, kedua tangan menggenggam erat kedua bongkahan pantatnya, menguncinya agar tidak ke mana-mana. Tangan Linda mulai mencari tumpuan dari dinding. Satu tangan menekan kepalaku agar tenggelam lebih dalam di selangkangannya.

Bibir, mulut, dan lidah, tak lagi lembut. Hisapan, jilatan, kuluman, lumatan, gigitan, semuanya diberikan dengan intensitas yang tinggi. Memberikan Linda orgasme ganda hanya dengan permainan sederhana ini. Kepalanya mendongak ke belakang, matanya terpejam. Mulutnya terbuka, melolong erotis, dengan suara nyanyian birahi yang terpuaskan.

Nektar cinta tak lagi merembes, tapi memancar dengan semburan cukup bertekanan, seperti sebuah apresiasi bagi kinerja bibir dan lidahku di vaginanya.

Aku bangkit, setelah membersihkan vaginanya dengan lidahku.

"Gemeeeeesssss tahu..." Linda meraih pipiku, merengutkan wajahnya manja. Aku paham maksudnya. jika dalam kondisi normal, kami Sudha pasti bergumul dengan liar, saling menyetubuhi, sudah tak terhitung banyaknya berapa kali aku keluar masuk tubuhnya. Sayang, semuanya harus serba tertahan.

"Semenit bisa kan sayang?" Linda bertanya, suaranya kembali mendominasi, menantangku.

Pertanyaan yang membuatku sedikit berkerut. Linda turun bersimpuh, menggenggam penisku yang mulai tenang, kembali dalam posisi dormant. Mengulumnya dengan cepat, tanpa sempat aku berpikir. Penisku bangkit dari kedamaiannya, seolah marah karena diusik, kedutan mulai terasa dari ujung hingga ke pangkal.

Linda kembali berdiri, membalikkan badan, menungging dengan kaki sedikit terbuka, bertumpu pada dinding di depannya. Satu tangannya meraih vaginanya sendiri, membukakan dua belahan daging dengan jari telunjuk dan jari tengah, memberikan jalan agar lebih mudah bagi penis pesakitanku yang manja ini.

"Masukin, Bagas. Sekarang."

Segera kumasukkan penisku ke vaginanya, selagi kerasnya masih bisa kupertahankan, selagi kedutan semburan bertekanan masih bisa kukekang. Hanya beberapa genjotan yang cepat dan kuat, tidak lama. Tersemburlah cairan kental nan hangat mengisi rongga vagina Linda. Pinggul dan pahaku bergetar, seolah kehilangan kekuatannya. Sensasi geli dan ngilu bercampur. Ejakulasi yang memalukan namun tak dipungkiri kenikmatannya.

"Kayaknya enggak semenit, ya?" Linda terkekeh, tanpa berbalik. "Tapi lumayanlah daripada enggak ada yang ngisi, heheheh."

Aku bergumam dalam hati, "Kurang ajar, masih sempat-sempatnya Linda mengejek penisku, yang kini mulai lunglai dengan belepotan sperma di mana-mana."

Linda bersimpuh, menjilati sisa-sisa sperma. Aku menahan rasa ngilu dan geli, berharap Linda segera menyelesaikan urusannya di bawah sana. Ia bangkit, tersenyum, menjulurkan lidah memintaku berciuman. aku pikir ia ingin aku merasakan sperma ku sendiri, ternyata tidak, mulutnya sudah bersih, sepertinya ia menelannya.

Akhirnya kami berdua keluar dari ruang shower setelah sekitar setengah jam man bermain disana. Mengeringkan tubuh kami dengan handuk yang menggantung, tak lupa menggosok gigi, dan mencuci wajah dengan sabun muka. Aku berbaring di kasur Queen Size di kamar Linda, masuk ke dalam balutan selimut tebal nan hangat, masih bertelanjang, karena Linda melarangku ketika hendak memakai celana boxer.

Aku memperhatikan bidadari yang beberapa menit lalu seperti betina birahi, kini kembali menunjukkan keanggunannya dalam kondisi telanjang, dengan ritual kecantikan sebelum tidur, di depan cermin meja riasnya. Mataku sungguh dimanjakan dengan segala pemandangan ini, sepertinya aku memang sudah ada di surga, Dimana disebutkan diisi oleh bidadari berkulit putih dengan payudara besar dan bokong besar.

Setelah selesai, ia berbaring di sebelahku. Kami berpelukan. Pillow talk mengalir, seperti dua kekasih yang sedang dimabuk cinta, mulai dari heart to heart, cerita lucu, hingga lelucon seks. Hingga akhirnya kami tertidur dalam dekapan sang malam


Part 17: Bagas (Bagian 2)

Hari ini adalah hari pertama aku akan memulai terapi ku. Waktu menunjukkan pukul 7. Masih di dalam mobil, ada keraguan, kekhawatiran, mungkin juga ketakutan. Entah kenapa, entah karena apa. Mungkin juga malu berlebih. Seorang pria yang tidak sanggup ereksi, tidak sampai semenit. Kubulatkan niat, demi Linda yang sudah ikut peduli, turut bersusah payah mencarikan pengobatan, atau untuk diriku sendiri, yang bahkan mulai tak yakin akan dirinya sendiri, atau untuk Hilda.



Dengan tas besar terselempang di bahuku, dan tas ransel di punggungku. Dengan langkah yang kubuat tegas, mendekat ke pintu masuk klinik yang lebih mirip pavilion mewah terpisah tak jauh dari bangunan rumah utama. Bagiku ini adalah penjara emas. Di sini, di tengah kemewahan yang sunyi, aku akan dihukum atas segala dosa pada Hilda. Bel di dekat pintu, menyanyikan nada tak asing di telinga, nada yang umum bagi bel dimanapun ia terpasang, memanggil pemiliknya keluar, memberitahukan bahwa ada tamu yang kini berdiri kaku di balik pintu. Dengan hati kosong, berharap tidak pernah menginjakkan kaki di sini.



Siska membukakan pintu, senyum elegan terukir di bibirnya, mata indah dengan sorot intimidasi, membuatku tertunduk otomatis, menolak beradu tatap dengannya. Seorang dokter dengan keanggunan yang tak kalah dari artis wanita manapun. Aku yakin, banyak pasiennya yang sangat menikmati pertemuan mereka dengan dokternya, ketika dokter lain terfitnah stigma menakutkan, galak, dan jahat. Aku tidak seperti sedang menemui seorang dokter, otakku mengatakan bahwa aku hanya sedang menemui wanita cantik. Tidak ada jubah kedokteran putih bersih, tidak ada kacamata tebal, tidak ada stetoskop mengalungi leher. Hanya sosok bidadari cantik, merambut hitam sebahu, riasan ringan cantik alami, jejak skincare mahal yang menempel permanen di wajah cantiknya. Hidung mancung, bibir tebal nan sensual, merah merekah, menggoda siapapun untuk melumatnya. Postur tubuh tinggi untuk standar wanita Indonesia, profil tubuh langsing, dengan pinggang ramping, hanya membulat dan melengkung membentuk kurva indah di bagian yang memang akan lebih indah jika membulat tidak lurus. Ia mengenakan chemise satin yang longgar memperlihatkan sedikit belahan dada dan paha, bukan untuk menggoda, tapi untuk menghilangkan tabu. Tanpa adanya Linda, aku jadi lebih detail mengamati makhluk indah ini.



“Morning, silakan masuk,” Siska dengan ramah menyambutku.



“Seperti yang sudah dijelaskan kemarin, no cellphone, no internet, semua gadget yang bisa digunakan untuk komunikasi harus disimpan, termasuk laptop.”



Aku agak ragu ketika harus menyerahkannya, bagaimana dengan janji pada Stephen kalau aku akan selalu on call, kapan pun ia butuh. Tapi lidah ini kelu, aura dokter cantik ini begitu mengintimidasi, tak berani aku menyanggah perintahnya, walaupun risiko miliaran uang akan hilang.



“Good, sekarang ikut aku ke kamarmu.”



Makin dalam makin terasa homy, sangat nyaman, bagai rumah, ada ruang tengah tempat segala fasilitas entertainment, ruang makan dengan kitchen set modern, kulkas yang full dengan berbagai bahan makanan, jika aku bosan dengan catering yang diberikan. Segala barang di pavilion ini tak lepas dari kekagumanku. Tapi yang paling menarik perhatianku tentunya keindahan dari gerakan halus pinggul dari pemilik semua ini ketika kakinya melangkah, sejenak membuatku lupa bahwa aku adalah pria yang tidak sempurna. Kamarku berada di salah satu lorong, berderet dengan beberapa kamar lainnya, hanya 3 tepatnya. Seperti yang dijelaskan sebelumnya pavilion ini hanya untuk pasien spesialnya dokter Siska, jadi memang tidak banyak pasien yang bisa ke sini. Paviliun itu pun dilengkapi dengan mini gym, dan mini pool, cukup untuk membuat kebugaran pasien terjaga tanpa perlu keluar dari paviliun.



“Ok silakan menyesuaikan dirimu dulu dengan suasana di sini, dengan kamarmu, atau semua fasilitas di pavilion ini. Ada telepon yang akan terhubung [dengan] penjaga pavilion yang siap membantu apapun yang kamu perlukan, hanya perlu menekan tombol “1”.”



“Kita akan mulai sesinya 1 jam lagi. Oh ya? Kamu sudah makan?”



“Ada makanan di pantry jika kamu mau. Nanti butuh energi banget soalnya, jadi jangan sampai ngedrop karena kurang makan ya.”



Sedari tadi tak banyak yang aku ucapkan. Segala perasaan tercampur menjadi satu, tak tergambarkan, saling bertumbukan satu sama lain, mulai dari malu hingga takut, mulai dari nyaman hingga sange. Aku berbaring di kasur, begitu nyaman, hingga tak terasa aku pun tertidur. Ketukan lembut tapi tegas bergema di telingaku, kembali menyadarkanku di mana aku sekarang. Suara indah dokter Siska memanggilku, terdengar seperti rayuan gadis perawan, untuk menarik hati para perjaka. Perlahan kubuka pintu, sosok yang sama dengan penyambutan tadi pagi.



“Maaf Dok saya ketiduran.”



“Siska saja, ga usah pakai Dokter. Yuk kita ke ruang terapi.”



Siska membawaku ke area yang belum pernah ditunjukkan sebelumnya. Di dalamnya terdapat meja kerja cukup besar, bersih rapi tertata. Di dekatnya ada sofa yang terlihat sangat nyaman, serta pembaringan sebuah kasur kecil. Semuanya sangat elegan, terlihat mewah, terbuat dari material kulit asli, kayu jati pilihan, karya seni seorang seniman. Menciptakan suasana tenang dan nyaman. Di sinilah sepertinya aku akan "dieksekusi".



“Tiduran di situ Bagas, yang relax ya.” Kuturuti semua perintah Siska. Di sini, di wilayah kekuasaannya aku bukan siapa-siapa.



“Ok sekarang mulai ceritakan tentangmu dan Hilda, mulai dari awal kalian bertemu hingga… kalian berpisah.”



“Ceritakan semuanya, tanpa terkecuali, saya harapkan tidak ada yang ditutup-tutupi, karena akan sangat berpengaruh pada keberhasilan terapi ini.”



Dalam posisi berbaring nyaman di pembaringan mewah ini, aku bercerita semua. Bagaimana kejayaan[k]ku di masa lalu, pertemuan pertamaku dengan Hilda, di mana kami saling mentargetkan satu sama lain, bagaimana kami menjalani kehidupan pernikahan yang sarat perayaan, kebahagiaan, kesenangan. Cinta bukan hanya kata atau rasa, tapi diwujudkan dalam berbagai bentuk, dan seks adalah salah satunya. Seks seperti ritual cinta kami, begitu khusyuk, begitu dalam. Eksplorasi dan eksploitasi sebagai media kami memperdalam cinta. Hingga tragedi datang di hidupku, seorang rival datang merenggut apa yang menjadi diriku berarti di hidup ini. Menghancurkanku dengan pasti, menghilangkan eksistensiku sebagai Bagas bahkan di dalam diriku sendiri. Surga dunia yang kunikmati seketika menjadi neraka ketika aku hancur, bahkan bidadari di sampingku, menjadi seperti emak-emak menyebalkan dengan ocehan-ocehannya tentang kehidupan.



Ceritaku terhenti pada momen pertunjukan tarian jahanam pemuja iblis lust di depan mataku dengan media layar laptop. Pertunjukan Hilda dan pejantannya bernama Joko. Menegaskan betapa tidak berharganya diriku, eksistensiku tak lagi dibutuhkan semesta. Kerongkonganku tercekat, napasku tersengal, detak jantung memburu, kepalaku pusing serasa berputar. Kenangan itu, seperti racun yang bisa menghentikan nadiku kapan saja.



Masih dengan napas berat, aku berusaha menenangkan diri. Siska tidak menyela, mendengarkanku dengan baik, mencatat hal-hal penting di bukunya, sesekali merespon dengan suara singkat, anggukan, atau hanya sorot mata. Aku seperti hewan langka yang sedang diteliti, setiap gerik, gesture, ucapan dia perhatikan dengan saksama.



“Ada lagi yang ingin kamu sampaikan Bagas?” Suaranya memecah keheningan.



“Tidak ada Siska, sudah semua aku ceritakan.”



“Ok, first of all, masalahnya bukan di penismu. Tapi di hati dan kepalamu.”



“Semua tragedi yang menimpamu, menimbulkan trauma mendalam. Ketika dirimu sedang dalam titik terendah, wanita pujaanmu, seseorang yang kamu cintai, seseorang yang kamu yakini sebagai tempat amanmu, justru mengkhianatimu.”



“Kamu tidak bisa memungkiri betapa merangsangnya melihat Hilda dalam kondisi telanjang, tubuhnya meliuk-liuk erotis, mendesah-desah, melenguh sensual, walaupun semua itu ia lakukan bukan untukmu, bukan denganmu. Tapi untuk seseorang bernama Joko. Rasa sakit, rasa kecewa, rasa sedih direspon secara unik oleh dirimu, sebagai bentuk self defence mechanism. Semua rasa negatif itu diartikan sebagai rangsangan psikologis yang bergejolak, datang dengan intensitas tinggi dan cepat. Tubuhmu tak sanggup mengendalikannya, ia pasrah, mengaku kalah, setidaknya itu tidak akan menyakiti dirimu atau ragamu, ketimbang menahannya. Yang hanya akan menambah lama episode kesedihan penuh duka dan lara.”



Siska menutup buku catatannya.



“Intinya, Bagas, kamu mengalami Ejakulasi Dini yang dipicu oleh Overstimulasi Emosional dan Psikologis. Setiap kali kamu mencoba berhubungan seksual, pikiranmu secara tidak sadar memutar ulang rasa sakit pengkhianatan itu. Kenangan Joko dan Hilda adalah stimulan terkuatmu. Dan tubuhmu, untuk melarikan diri dari rasa sakit itu, memilih ejakulasi sebagai jalan keluar tercepat.”



Aku terdiam, menyerap setiap kata yang ia ucapkan. Penjelasan Siska begitu lugas, namun terasa benar dan menusuk ke dasar jiwaku.



“Apa bisa… disembuhkan?” tanyaku, suaraku parau.



Siska tersenyum tipis, sorot matanya berubah, kini penuh tekad. “Kita akan melatih hatimu dan kepalamu untuk tetap tenang di tengah badai rangsangan terkuatmu. Sederhananya kamu akan masturbasi sambil menonton video Hilda dan Joko dan sebelum ejakulasi kamu harus menahannya, jangan sampai keluar. Kita akan melakukan itu berulang-ulang hingga kamu benar-benar bisa mengendalikan ejakulasimu.”



“Ini tidak akan mudah Bagas, perlu kesiapan fisik dan mental dari kamu. Untuk hari ini kita cukupkan sampai di sini, sekarang beristirahatlah, atau bermainlah di ruang entertainment, atau sekadar berkeliling di area taman. Intinya siapkan fisik dan mentalmu. Besok kita mulai terapinya.”



Aku kembali ke kamarku, berbaring sejenak. Walaupun hanya bercerita ternyata cukup bisa menguras energiku. Tapi aku tak mengantuk, akhirnya kuputuskan untuk menonton Netflix dan bermain playstation di ruang tengah. Hanya ada aku sendiri di sini, tidak ada pasien lain. Aku benar-benar menghabiskan waktu hanya dengan bermain dan menonton. Diselingi dengan jalan-jalan mengitari taman atau jogging di treadmill. Tak ada internet, tidak ada telepon atau pesan yang masuk. Untuk saat ini, aku cukup menikmati kedamaian atau kesendirianku ini. Walaupun bayangan apa yang akan terjadi besok, tidak benar-benar bisa hilang dari kepala.



Keesokan paginya, setelah sedikit berolahraga dan sarapan pagi, aku datang ke ruang terapi. Kuketuk perlahan tidak terlalu keras tapi cukup terdengar. Suara lembut tapi keras terdengar dari dalam menyuruhku untuk masuk. Parfum aromatherapy menyeruak dari setiap sudut ruangan, tidak memabukkan tapi membawa ketenangan, bagai obat penenang yang langsung bereaksi pada saraf. Tapi kejutan utamanya datang dari Ratu fasilitas ini, outfit-nya sama sekali tidak masuk akal untuk seorang seksolog yang sedang menghadapi pasiennya. Sebuah lingerie berwujud gaun tipis menerawang berwarna cokelat muda, tidak secara tegas menunjukkan apa yang ada di baliknya tapi cukup membuat siapapun lupa akan masalahnya.



“Tidur di bed itu Bagas!” Perintahnya tegas. Seolah masih tidak menyadari respons pasiennya yang tercekat tak bisa menutup rahang atas dan bawah.



“Kenapa? Bajuku?” Tanyanya sambil tersenyum seolah tidak ada yang salah.



“Biar kamu enggak canggung aja, soalnya kamu harus telanjang.”



“Atau kamu lebih suka aku pakai jas dokter formal?” serunya menggoda.



“Nggg…. Enggak apa-apa, itu…. udah bagus.” Jawabku terbata-bata, karena baru kali ini bertemu dokter dengan wujud seperti ini.



“Buka semua baju kamu, sampai telanjang, terus berbaring di ranjang.”



Tanpa banyak tanya aku menurutinya, tak bisa bohong mataku masih betah melirik ke arah Siska. Siska mendekat, lalu memasangkan pengikat di kaki, tangan, pinggang, dada, juga kepala. Aku sama sekali tidak bisa bergerak.



“Apa bakal main BDSM kali ya?” aku bertanya dalam hati, tapi justru khayalan ini membuatku tenang.



“Ok simplenya gini. Aku akan putar video Hilda dan Joko full tanpa dipotong lengkap dengan suaranya di layar itu, berulang-ulang selama terapi ini.”



“Kamu harus nonton, kamu harus dengar, jangan menutup mata, jangan menutup telinga.”



“Kamu akan masturbasi, tidak dengan tanganmu, tapi aku yang akan melakukannya.”



“Ini terapi start stop and squeeze.”



“Aku akan kasih kamu handjob, sampai kamu mau keluar. Di titik itu aku akan berhenti dan mencengkeram batang penis kamu sampai kamu enggak bisa ejakulasi, intinya aku yang menentukan kapan kamu ejakulasi.”



“Kita akan lakukan ini berulang-ulang hingga kamu bisa mengendalikan ejakulasimu sendiri.”



“Kamu akan dipasang cock ring, supaya ketahanan ejakulasinya.”



“Selama proses masturbasi ini, kamu akan mendengar semua sugesti yang aku berikan.”



“Dengarkan dan jangan dilawan.”



“Ada yang mau ditanyakan?”



Aku hanya mengangguk entah paham atau masih sulit mencerna semua yang Siska sampaikan. Masturbasi, hand job, start stop & squeeze, cock ring, diremas supaya tidak keluar, apa maksud semuanya ini. Aku hanya menuruti bagai kerbau dicocok hidung.



“Ketika dimulai, terapi tidak akan berhenti sampai sesinya berakhir.”



Siska mengoleskan sebuah minyak yang berbau wangi, cukup hangat seperti minyak kayu putih. Dioleskan hampir ke seluruh tubuhku, diiringi dengan pijatan lembut. Siapapun pasti terlena dengan segala perlakuan ini. Ditambah afirmasi-afirmasi positif dari mulut indah Siska, diucapkan dengan intonasi indah, bernada merdu. Tubuhku rileks, hanya penisku yang mulai tegang.



“Ok cukup warming up-nya.”



Suasana yang awalnya hening menenangkan kini berubah, suara dari video yang diputarkan di TV layar lebar mulai terdengar, kilatan cahaya video memantul dari layar televisi.



“Buka mata kamu, tonton dan dengarkan.”



Sebuah video yang tak asing, video rekaman persetubuhan Hilda dan Joko di kamar kost Joko. Dilakukan pada siang hari saat para pekerja break makan siang, saat kost tersebut kosong ditinggal penghuninya yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Di situlah, saat itulah dua manusia memacu birahi, memuaskan nafsu satu sama lainnya. Ketika kolega[n]nya makan steak dengan kematangan medium rare, daging empuk dan juicy, disiram dengan saus rahasia penambah cita rasa di sebuah restoran ternama. Hilda hanya bisa mengulum sosis mentah besar panjang yang alot berotot, dengan dua butir telur menggantung sebagai side dish. Saus putih kental sedikit anyir berprotein tinggi nyaris tak berasa gurih yang hanya tersaji sebagai penutup. Sementara Joko mendapat porsi lebih banyak, dua boba jumbo berisi susu, dengan topping ceri kecokelatan di puncaknya, ditambah serabi basah dengan belahan tengah, bagai lipatan daging yang selalu lembab. Saus nektar senantiasa disajikan sebagai penggugah selera. Sebagai side dish dua bongkahan jelly daging dengan kekenyalan yang mengagumkan, memberikan sensasi sensorik yang merangsang peredaran darah lebih baik.



Video itu dimulai dari suara kunci yang berputar di lubang kunci, berusaha membuka pintu yang tertutup. Suaranya begitu jelas, ada penyesalan di hati, kenapa dulu memasang mic yang begitu sensitif hingga kentut cicak pun bisa terdengar. Gambarnya pun sangat jernih, seperti kamera yang dipakai detektif swasta yang disewa untuk membongkar kasus perselingkuhan.



Rahangku mengunci rapat, dengan otot atas bawah yang saling menekan. Tinjuku terkepal, seolah ingin mematahkan jari jemari dalam genggaman. Jika bukan karena ikatan dari Siska, mungkin layar TV itu sudah kuhancurkan. Semua adegan itu, detik demi detiknya, setiap dialog bahkan suara yang tak memiliki arti, semuanya aku hafal. Napasku memburu, antara nafsu dan emosi.



Belaian lembut namun kuat terukur sepanjang batang penisku, membangunkannya yang sedang tertidur. Belaian, menjadi remasan, remasan menjadi cengkraman. Dengan teratur naik dan turun sepanjang batang penisku. Belum lagi suara lembut serak-serak basah, bagai suara betina yang sedang birahi, melantunkan kalimat-kalimat indah yang enak masuk ke telinga, sebagai encourage dan motivasi bagiku untuk tetap melanjutkan.



Ejakulasi sudah di ujung penis, aku mati-matian menjaganya. Cock ring benar-benar membantuku memperkecil liang ejakulasiku. Jika bukan karenanya, mungkin aku sudah muncrat sejak tadi. Aku mendengus dalam, mengerang serak, melenguh layaknya sapi yang disembelih. Desahan yang lebih mirip geraman akibat ejakulasi yang ditahan keluar dari mulutku tanpa bisa kukendalikan. Harus kuakui tangan Siska cukup kuat hingga dapat menghentikan ejakulasiku.



“Aaaakkkuuuuu kkkkeeeeelllluuaar.”



Siska segera mencengkeram erat batang dan buah zakarku. Tubuhku menggelepar hebat, respon balik dari ejakulasi yang tertahan. Kedutan demi kedutan masih terasa memberontak di kontolku, seolah protes karena tak diizinkan keluar. Lama-lama kedutan itu berhenti, ereksiku mengendur, detak jantungku mulai relax.



Ketika kulirik layar monitor, ternyata adegannya baru sampai Hilda dan Joko saling berciuman dan memeluk manja, saling menggoda dan merayu. Pakaian mereka masih lengkap, belum ada luapan nafsu dan birahi yang tampak. Bahkan terlalu awal untuk disebut foreplay. Tapi kenapa rangsangannya begitu hebat kurasakan. Apa tangan Siska yang begitu ahli dalam handjob, atau sugesti-sugesti Siska yang membuatku begitu cepat klimaks.



“See…. rangsangannya muncul di kepalamu. Bukan dari apa yang kamu lihat, dengar, atau rasakan. Semuanya dari dalam dirimu sendiri.”



“Kita break 5 menit, setelah itu kita lanjutkan.”



Sesi berikutnya pun dimulai, pemandangan di layar sudah semakin panas. Namun, kali ini, pandanganku tidak terputus. Di layar monitor itu aku melihat Hilda di atas, dengan punggung melengkung, rambutnya tergerai acak-acakan seiring pinggulnya bergerak naik turun dalam ritme cepat cowgirl. Joko tampak menikmati, tangannya mencengkeram pinggul Hilda, dan ekspresi ekstasi di wajah Hilda seolah merayakan penghinaannya padaku. Kemudian, adegan berpindah cepat ke posisi doggystyle, tubuh Hilda merangkak pasrah di atas kasur, dan Joko bergerak agresif, membuat suara tamparan kulit terdengar jelas, disusul desahan panjang Hilda yang memanggil nama pria itu.



Detak jantungku langsung berpacu, napasku tercekat. Rasa sakit, kemarahan, dan gairah yang memalukan bercampur, mengalir deras ke seluruh tubuh. Erupsinya begitu cepat, seolah-olah darahku mendidih dan seluruh kesadaranku terancam hilang. Penisku menegang secara instan, diikuti oleh sensasi panas yang familiar, tanda bahwa ambang ejakulasi sudah di depan mata. Lagi-lagi Siska mencengkeram erat kontolku, menghentikan arus ejakulasiku untuk kesekian kali.



Aku masih melamun atas apa yang baru saja terjadi. Aku seperti mimpi, diperlakukan seperti ini. Untuk pertama kalinya aku diberikan hand job oleh wanita cantik, dipertontonkan video sex, tapi aku tidak menikmatinya. Aku merasa tereksploitasi, sumber traumaku malah sengaja dipertontonkan, kontolku dianggap mainan, diremas-remas diurut-urut. Setelah ereksi sempurna dan hendak ejakulasi, malah dicengkeram keras menghambat arus pejuku. Rasa ngilu, linu, perih, terasa membakar di kontolku. Belum lagi sugesti-sugesti Siska yang awalnya berupa afirmasi-afirmasi positif, kini menjadi ucapan-ucapan tajam menyayat hati. Pria lemah, pecundang, egois, impoten, lemah syahwat. Kata-kata itu diulang berkali-kali, membuatku terhina sebagai seorang lelaki. Beberapa sesi Siska melakukan ini berkali-kali.



“CUKUP SISKA, SUDAHHH, STOOOPPP.”



Orgasme terakhir kuiringi dengan teriakan penuh amarah. Siska yang terkejut hingga melepaskan cengkeramannya di batang kontol dan biji zakarku. Akhirnya pejuku melompat dengan bebas, muncrat dari kontolku. Begitu kencang, begitu banyak. Baru kali ini aku merasa ejakulasi seperti ini. Jika Siska tidak mengubah posisinya, pasti ia sudah tersemprot semburan spermaku yang bertekanan tinggi dengan jumlah yang sangat banyak. Berceceran membasahi lantai bahkan hingga mencapai furniture di depanku yang berjarak lebih dari 2 meter.



“Please Siska, udah, aku enggak sanggup lagi.”



Entah kenapa aku menangis, tersedu-sedu, seperti gadis perawan yang direnggut keperawanannya, sungguh hina dan memalukan. Siska bangkit berdiri, tenang, mengambil tissue basah dan melap tangannya. Sejenak menyeruput kopi latte dalam tumbler-nya.



“Jadi udah? Kamu enggak mau lanjut?”



“Kamu sadar betapa menyedihkannya kamu saat ini?”



“Aku dan ibuku bahkan tidak menangis seperti kamu menangis sekarang ketika kami diperkosa oleh preman jalanan.”



“Tanyakan pada dirimu sekarang, kamu ke sini buat apa?”



“Buat Linda? Kamu? Atau Hilda?”



“Jawab yang jujur dari hati kamu.”



“Kamu masih mencintai Hilda kan?”



“Semua pengkhianatannya, semua perselingkuhannya, tidak membuatmu berhenti mencintainya.”



“Wajah binal yang ia tunjukkan, tubuh telanjang yang dia persembahkan untuk para pejantan yang mengawininya, tidak bisa menghilangkan cintamu padanya.”



“Pertanyaanku sekarang, apa kamu masih pantas mencintainya?”



“Apa kamu pikir kamu sudah memiliki semuanya, sehingga wanita manapun akan bersedia mengangkangkan kakinya telanjang di depanmu?”



“Atau kamu memang hanya ingin menjadi suami cuckold lemah yang hanya bisa meremas kontolmu sendiri sambil menonton istrimu Hilda disetubuhi orang lain?”



“Tanyakan itu pada dirimu, kamu mau apa?”



“Apa kamu mau merebut Hilda kembali, dari para pejantan yang telah menjamah indah tubuhnya, yang telah merengguk manisnya cairan cinta istrimu Hilda, yang telah menikmati dan dinikmati istrimu Hilda, yang telah menandai tubuh Hilda di luar dan di dalam dengan sperma kental mereka?”



“Atau kamu ingin balas dendam? Kamu ingin mengentot Hilda dengan keras dan kasar, menyetubuhinya dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh pria lain, memasukinya dari semua lubang di tubuhnya, membuatnya menggelepar tak berdaya dengan cairan cinta meluber deras dari liang kewanitaannya, menjerit-jerit memanggil namamu, kesakitan dan kenikmatan pada saat yang bersamaan? Kamu memberikan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, menyetubuhi tidak hanya raga tapi juga jiwanya, membuatnya tidak akan lagi sama baik secara fisik dan mental.”



“Kamu pikir semua itu bisa kamu lakukan dengan menangis sesenggukan, menangisi kontolmu yang bahkan tidak bisa berdiri lebih dari semenit?”



“Pikirkan itu baik-baik Bagas.”



“Hari ini cukup sampai sini. Kalau memang kamu enggak mau lanjut, silakan pergi dari sini.”



Siska pergi meninggalkanku sendiri di ruangan itu, setelah melepas semua ikatanku. Aku hanya terdiam bagai tak lagi bernyawa.


Part 18: Bagas (Bagian 3)

Aku melamun di kamarku, kutatap kosong langit-langit kamar ini sambil berbaring, bukan karena mengantuk. Bagai portal mesin waktu, bayangan masa lalu ditampilkan dengan jelas di pikiranku. Momen-momen pertemuan pertama kami, perasaan jatuh cinta yang timbul kepadanya, seolah semua bisa kurasakan kembali.

Sungguh, jika bukan Siska yang mengutarakannya, aku bahkan meragukan apa yang sebenarnya aku rasakan, apa benar aku masih mencintainya, atau cinta itu telah hilang dan berganti dengan kebencian. Tapi, OPE yang aku alami bukanlah hal sepele, seolah pertanda kuat bahwa traumaku bukan hanya karena kebencian. Secara logika, jika seseorang membenci, dia pasti akan berusaha menjauhi, melupakan, dan menggantinya dengan yang lebih baik.

Ketika Linda datang, aku pikir telah mendapat pengganti Hilda, karena dari segi apa pun Linda tidak kalah dari Hilda, bahkan aku sangat yakin secara overall Linda punya nilai lebih tinggi dari Hilda. Namun, entah kenapa, trauma ini tidak hilang, bayangan Hilda masih lekat menempel di kepalaku, padahal sudah ada bidadari lain yang lebih baik darinya.

Semua yang dikatakan Siska benar adanya, aku hanya berusaha menyembunyikannya. Egoku melarangku mengakuinya. Aku lebih memilih menjadi korban dari pengkhianatan istriku, Hilda, daripada jujur pada diriku sendiri. Aku sedang tidak berusaha melupakan Hilda, aku sedang tidak berusaha menyembuhkan diri, aku bahkan tidak sedang berusaha melindungi diri. Ternyata selama ini aku hanya sedang bersembunyi, lari dari hakikat diri. Memilih menjadi korban agar orang lain bersimpati, bukan mencari kebenaran sejati. Aku tertidur dalam lorong waktu yang menampilkan flashback kehidupanku dengan Hilda.



POV : Siska

Dia tidak pernah gagal. Metode pendekatannya selalu akurat. Metode terapinya pun selalu tepat. Tapi kali ini ada kekesalan yang timbul. Bukan karena kegagalan, tapi karena dirinya sendiri tidak mematuhi kode etik yang telah ia tetapkan. Dia tak bisa berhenti memikirkannya, seraya berganti "pakaian dinasnya" dengan kemeja formal dan rok span selutut berwarna teduh. Dia keluar dari paviliun yang merupakan klinik pribadinya, tempat ia seolah menjadi dewi Afrodit, memberikan blessing pada para pengikutnya, menyembuhkan yang perlu disembuhkan, segala sesuatu yang berhubungan dengan seks.

Jalan setapak dengan kanopi di atasnya, membelah taman kecil dengan tanaman hias yang indah, menghubungkan paviliun dengan rumah utama Siska. Sebelum masuk ke rumah utama, dia sempat terhenti sejenak, menarik napas dalam, berusaha melupakan atau setidaknya berhenti memikirkan untuk sementara. Sudah menjadi komitmennya, pekerjaan tidak boleh masuk ke rumah.

Pintu terbuka, ruangan rumah dengan desain mewah nan indah, diisi furniture kelas sultan, dan hiasan-hiasan yang tidak memiliki fungsi selain estetika. Interior yang akan membuat siapapun berdecak kagum ketika pertama memasukinya. Inilah surga kecilnya, tempat ia merasakan kebahagiaan sejatinya. Siska tidak langsung menuju kamar utama, melainkan ke sebuah ruangan tak jauh dari kamar utama, sebuah ruangan tidak terlalu luas, dengan interior layaknya ruang kerja seorang Direktur Utama. Di belakang meja kerja yang terletak di ruangan itu, duduklah seorang pria dengan rambut hampir memutih semua, kerutan mulai terlihat di beberapa bagian wajahnya, namun tidak bisa menutupi kharisma kebijaksanaan yang terpancar dari sisa-sisa ketampanan wajah tua itu. Dengan pakaian sederhana, sebuah sweater rajutan dan celana kain model formal, tetap membuatnya terlihat seperti "bukan orang biasa". Bambang Widjanarko, nama seseorang yang pernah berjaya di zamannya, salah satu pengusaha ternama di negeri ini. Kini menghabiskan masa tuanya di surga kecil yang ia bangun bersama keluarganya. Hanya duduk di belakang meja, sesekali memantau, mengawasi, memberi arahan terhadap pergerakan aset dengan jumlah tak sedikit yang kini diurus oleh bawahan dan orang-orang kepercayaan.

Siska merebahkan diri di sebuah sofa dekat meja kerja. Bambang menangkap gesture yang tidak biasa dari istrinya.

"Kenapa, Cinta? Kok mukanya enggak secerah biasanya?"

"Hehe, kelihatan ya?" Siska tersenyum.

"Aku melanggar kod(e)ku sendiri. Terlalu personal, tidak profesional."

"Memang siapa pasiennya?"

"Sayang, tahu Linda, kan?"

"Mamanya Bunga, kan? Ya tahu dong, anaknya sama anak kita, kan lagi beasiswa ke luar barengan, masa enggak tahu."

"Memang Linda yang lagi kamu terapi? Bukannya dulu kamu cerita udah selesai, ya, masalah Linda?"

"Bukan Linda-nya yang lagi di terapi, tapi pria yang Linda bawa, Bagas namanya, yang mungkin bisa menjadi cinta lain baginya setelah ditinggal mendiang suaminya, Dimas."

"Terlalu personalnya di mana? Kamu kan enggak ada hubungan sama Bagas?"

"Keinginanku menolong Linda yang membuatku tidak profesional, membuatku mengedepankan personal preference daripada professional preference."

"Hhhhmmmm..." Bambang bergumam, berusaha menanggapi serius istrinya, walaupun ia jauh dari kata paham.

"Intinya Bagas mengalami trauma karena melihat istrinya selingkuh. Alih-alih benci dan marah, Bagas justru meng-embrace trauma tersebut, walaupun itu menyakitinya. Membuatnya jadi ejakulasi dini, karena kepalanya selalu mengingat momen-momen perselingkuhan itu."

"Hal tersebut menunjukkan betapa Bagas mencintai istrinya, sehingga ia masih menerimanya walaupun ia telah sangat menyakitinya. Bagas lebih memilih tersakiti dengan tetap mencintai istrinya daripada harus melepaskan dan melupakannya."

"Dan aku, yang ingin membantu Linda, ingin agar dia mendapatkan cinta yang lain, cinta dari Bagas, berusaha membuat Bagas membenci istrinya, membuatnya ingin melupakannya, mengulang-ulang segala trigger traumatis agar Bagas muak dengannya, dan akhirnya sebagai mekanisme pertahanan, dirinya akan melupakan memory tentang istrinya dan menggantinya dengan Linda. Itulah yang aku lakukan, dan itulah yang aku sesali."

"Selama proses terapi, di suatu titik Bagas hancur, menjerit kesakitan, pemandangan yang menistakan, melihat seorang lelaki yang seharusnya kuat, gagah, tangguh, kini hanya bisa bersimpuh menangis tersedu."

"Di satu sisi aku merasa kasihan, di sisi lain aku kecewa, marah. Rencanaku gagal, objek percobaanku hancur sebelum aku berhasil. Tapi ada penyesalan, aku seperti seorang pemerkosa, yang berdiri setelah menistakan dan menghinakan korbannya, tak ayal membuatku flashback pada kenangan hina puluhan tahun lalu ketika keperawananku direbut para preman jalanan, di mana Mamaku berkorban demi melindungiku."

Suara Siska menjadi parau, ada tangis yang tertahan, matanya mulai sembap. Kenangan masa lalu tidak pernah benar-benar bisa dilupakan. Bambang menghampiri istrinya, bukan dengan berjalan, tapi menggulirkan roda di kursi rodanya. Bambang mengalami paralisis di bagian pinggul ke bawah, akibat kecelakaan mobil yang ia alami. Harga yang harus dibayar dari hobinya balap mobil.

Bambang menyentuh lembut bahu sang istri, mengelus tangannya dengan jemari lentik nan indah. Siska beranjak dari sofanya, duduk menyamping di pangkuan suaminya yang terduduk di kursi roda. Kedua tangannya dikalungkan ke leher suaminya, seraya mengelus lembut rambut kepala belakangnya. Bambang merangkul pinggang Siska, menjaga tubuhnya agar tidak terjatuh. Wajah Siska didekatkan ke wajah suaminya, mencari ketenangan dan kenyamanan dari pergumulan bibir dengan bibir, lidah dengan lidah. Lumatan basah penuh cinta, definisi termulia dari gairah.

"Kamu cuma ingin membantu sahabatmu, hal yang manusiawi, toh Linda pun wanita yang baik, kan? Bagas juga pasti bahagia dengannya," Bambang melanjutkan di sela-sela percumbuannya.

"Tapi memang, bagi beberapa pria, cinta itu harga diri. Sebuah kehormatan dan kemuliaan yang tidak mudah dihancurkan apalagi diganti. Mungkin Bagas seperti itu, ia memilih ikut hancur dan mati daripada melepas cintanya begitu saja. Dan bagiku, itulah wujud maskulinitas tertinggi bagi seorang pria. Sebagaimana cintaku padamu, Sayang."

Bambang melanjutkan pergumulan lidah dan bibir dengan istrinya, ia pun tak yakin apakah Siska mendengar semua perkataannya tadi. Karena sepertinya istrinya sedang dilanda nafsu birahi.

"Jangan samakan dirimu dengan para binatang biadab itu, mereka sudah membusuk di neraka, meleleh terbakar api abadi di sana, menikmati ganjaran dari perbuatan mereka."

Bambang menjalankan kursi roda otomatisnya ke kamar, Siska masih sibuk mencumbui Bambang di atas pangkuannya. Setelah sampai di kamar, Siska membantu suaminya untuk berbaring di kasur. Dengan segera dia membuka celana suaminya itu, sekali tarik sekaligus dengan celana dalamnya. Jelas sekali Siska sangat bernafsu saat ini. Penis yang sedang terkulai lemas menjadi sasaran nafsu Siska, dikulumnya masuk ke mulut. Jarinya memijat, menekan beberapa area di sekitar selangkangan Bambang. Ternyata Siska sedang menstimulasi saraf-saraf yang terhubung dengan penis Bambang, agar ia bisa merasakan rangsangannya. Walaupun Bambang lumpuh di bagian bawah, ada beberapa saraf yang masih bisa merasakan rangsangan seksual, tentunya dengan perlakuan khusus, seperti yang Siska lakukan. Dia tidak hanya memberi blow job seperti biasa, tapi juga memberikan pijatan dan tekanan di titik-titik saraf tertentu, dan memang sepertinya hanya seorang ahli yang paham hal ini.

Setelah berhasil ereksi, Siska segera menelanjangi dirinya dengan cepat, khawatir ereksi suaminya hilang dengan cepat. Siska memposisikan $69$ dengan dirinya di atas. Bambang paham, karena penisnya hanya mampu memberikan kenikmatan hanya sekitar 50%, maka sebagai kompensasinya, ia harus membayarnya dengan lidah dan jarinya. Bagai seorang ahli fingering dan kunnilingus. Bambang dengan presisi berhasil menstimulasi titik-titik sensitif istrinya dengan lidah dan jarinya. Membuat Siska menggelinjang, bahkan hingga berhasil meraih orgasme pertamanya. Siska bangkit lalu mengangkangi penis Bambang yang kini telah tegak. Walaupun tidak besar dan panjang, tapi menurut Siska cukuplah aset kejantanan dari suaminya untuk memuaskannya, mengingat kondisi Bambang saat ini. Siska menekan pinggulnya ke bawah, memaksa penis Bambang tenggelam seluruhnya. Lumatan basah kembali Siska berikan pada bibir dan lidah Bambang. Tangan Bambang pun dengan gemas meremas lembut tapi bertenaga payudara dan bokong Siska. Keterbatasan ruang gerak Siska membuatnya mengganti posisi menjadi $WOT$ (Woman On Top), tubuhnya tegak, tak lagi telungkup di atas Bambang.

Bagai penari striptease, Siska meliuk-liukkan pinggul dan tubuhnya dengan erotis, tidak hanya memberikan sensasi memijat di dalam vaginanya, tapi juga memberikan pemandangan yang begitu eksotis di mata Bambang.

Bambang kini hanya bisa pasrah menerima perlakuan istrinya yang dibakar nafsu, ia hanya berdoa bahwa penisnya bisa bertahan lama, hingga Siska puas. Beberapa saat kemudian Siska mengejang, ia meraih orgasme keduanya. Bambang bersyukur dalam hati, doanya terkabul. Tapi Siska sepertinya belum selesai, ia putar tubuhnya dengan penis Bambang sebagai porosnya tanpa melepaskannya. Tentu ini memberikan sensasi pelintir di penis Bambang. Kini posisi Siska adalah Reverse Cow Girl. Memang dengan kondisi Bambang tidak banyak gaya yang bisa dilakukan. Seperti memang ingin memerkan pantatnya yang indah. Siska sengaja bergerak naik turun sambil menungging indah. Membuat Bambang bisa melihat proses keluar masuknya penis Bambang dari vagina Siska. Dengan gemas Bambang menampar bokong Siska, membuatnya menjerit manja, membuat Bambang semakin belingsatan dibuatnya. Hingga akhirnya Bambang tak lagi sanggup menahan klimaksnya.

"Sayang... sayang... aku mau keluar."

"Iya, Sayang, pejuin memek aku, udah lama enggak dikasih peju. Oooohhhhh, aku juga mau keluar, barengan, Mas! Aaahhhhhh!"

Keduanya orgasme secara bersamaan, Siska menyandarkan kepalanya di dada Bambang, terdengar suara detak jantung suaminya yang mulai melambat setelah memburu akibat permainan mereka tadi, dengkuran halus pun terdengar, menandakan Bambang kini terlelap dalam tidur nikmatnya.

Siska masih melamun, bayangan masa lalu hadir, sebagai pengingat bahwa hal itu tidak akan pernah lepas dari dirinya.



Side Story: Siska’s Dark Past

Di dalam bis kecil dalam sebuah perjalanan dari kota menuju desa, seorang gadis berusia $16$ tahun, bersandar manja di bahu Mamanya. Keduanya baru saja merayakan ulang tahun sang gadis. Mamanya membawanya belanja di kota, memanjakannya dengan segala kemegahan kota, pakaian-pakaian indah yang akan mempercantik dirinya, make up berbagai warna untuk menghiasi kecantikannya. Ditambah tontonan film di bioskop yang membuat sang gadis bermimpi tentang kehidupan penuh dengan kemilau kemewahan layaknya dalam film tersebut. Hari yang sangat indah bagi sang gadis. Serasa menjadi seorang putri dalam sehari.

Jadwal kedatangan bis terlambat akibat kemacetan karena kecelakaan di jalan. Tiga jam lebih mereka terlambat datang. Pukul $20:00$, biasanya bis datang paling terlambat, kini hampir pukul $22:00$ bis belum juga tampak. Di sebuah terminal kecil, yang biasa dilalui Angkutan Kota, sesekali bis mampir hanya untuk menaikkan atau menurunkan penumpang, seorang ayah dan suami menunggu kedatangan anak dan istrinya. Dengan cemas dan penuh kekhawatiran, matanya tak lepas dari dua objek, jalan arah dari kota dan jam tangan tuanya. Di kala itu belum ada handphone seperti saat ini, hanya ada telepon rumah, itupun tidak di semua rumah, toh ini hanya desa kecil, tak banyak yang memerlukan telepon.

Terminal itu mulai sepi, sangat sepi, terlalu sepi. Aktivitas manusia terhenti sejak azan Maghrib. Semua warga masuk ke rumahnya masing-masing, seolah takut akan kegelapan malam dan kejahatan yang ada di baliknya. Rasa kantuk menyerang hebat, membuat raganya melangkah ke salah satu teras kios dengan kursi panjang di depannya, merebahkan diri di atasnya, rasa cemas dan khawatir dikalahkan mata yang terlalu berat.

Bis yang sedari tadi ditunggu akhirnya tiba, sekitar jam $23:00$. Hanya Mama dan anak gadis itu yang turun di situ. Suasana sunyi dan senyap seketika membuat bulu kuduk mereka berdiri. Melihat sekeliling, mencari sosok yang mereka kenal, yang telah janji akan menjemput mereka.

Perjalanan dari terminal ke rumah mereka cukup lumayan, sekitar satu kilometer lebih sedikit. Karena terminal itu sudah sangat sepi, dan mereka tidak menemukan sosok sang ayah. Keduanya memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumah.

"Kita jalan sendiri aja, ya, Siska, kayaknya Bapak enggak jadi jemput, udah kemalaman soalnya."

"Iiiiihhhhh Bapak, bukannya harusnya karena kemalaman kita dijemput, ya, Bu? Kenapa malah ditinggal?" Gerutu Siska kecil kesal.

"Sudah enggak apa-apa, Bapak juga kan punya asma, kasihan kalau kedinginan, suka kambuh." Mamanya menenangkan.

Akhirnya keduanya berjalan, sang Mama menarik tangan anaknya agar berjalan lebih cepat, ia takut, perasaannya mengisyaratkan bahwa malam ini tidaklah baik-baik saja.

"Pelan-pelan, Bu, Siska capek."

"Ayo, Nak, cepetan, ini udah malam banget, kita harus cepat sampai rumah."

Area tersebut bukan area pemukiman, nyaris tidak ada manusia yang ada di situ. Ketakutan sang Mama bukan tanpa alasan. Sedari tadi, sejak di terminal ia merasakan ada yang mengikuti dari balik kegelapan, langkah yang banyak, tidak hanya satu orang, tak terlihat wujudnya, tertutup kabut dingin dan gulitanya malam, kamuflase sempurna bagi predator yang sedang berburu mangsa. Selepas area terminal dan jalan besar, mereka harus melewati jalan kampung yang melewati sawah dan kebun, juga sungai kecil yang mengalir sebagai batas jalan besar dan area perkampungan, di sini gelap makin gulita, tak ada lampu, hanya mengandalkan cahaya bulan yang samar-samar menerangi jalan. Sang Mama makin cemas dan takut, langkah itu makin mendekat, sang gadis masih mabuk dalam perayaan ulang tahunnya, tak menyadari jika hari terindahnya bisa menjadi hari terburuknya.

Langkah itu makin jelas, sosoknya pun mulai terlihat samar. Siska yang tiba-tiba terjatuh, membuat jarak di antara mereka mendekat dengan pasti.

"Mau ke mana malam-malam begini buru-buru?" Seorang pria dengan perawakan tinggi kurus menyeringai ke arah mereka.

"Tolong... tolong jangan ganggu kami. Kami cuma mau pulang."

"Kata siapa kita mau ganggu? Kita cuma mau nemenin kok, bahaya lho, perempuan berdua malam-malam gini di luar rumah." Pria lainnya berambut botak ikutan menjawab.

Sang Mama tidak percaya ucapan kedua pria berperawakan buruk ini. Dengan cepat membantu Siska berdiri dan memberi perintah untuk melarikan diri.

"Siska, ayo lari!"

Keduanya berlari dengan sekuat tenaga, kemunculan sosok dua pria itu menyadarkan Siska, bahwa Mamanya sedari tadi berusaha memperingatkannya. Namun pelarian mereka terhenti hanya beberapa meter saja dari lokasi mereka sebelumnya. Tanpa sadar mereka menabrak dua sosok pria lainnya, yang memang sengaja memblokade jalan.

"Mau ke mana, cah ayu? Malam masih panjang dan dingin, mending sama kita dulu di sini, heheh." Pria gondrong tersenyum menjijikkan di hadapan mereka.

"Benar-benar dapat rezeki kita malam ini, dapat Mama muda plus anak gadisnya. Hahahah." Pria keempat dengan perawakan pendek gendut, tak kalah buruk dari ketiga lainnya. Mendengar perkataan mereka, sang Mama sudah mual, sungguh menjijikkan membayangkannya.

Kini mereka berdua terpojok, dikelilingi empat setan berwujud manusia.

"Tolong, kami cuma mau pulang."

"Kita juga cuma mau nganterin pulang kok, bahaya lho malam-malam gini perempuan pulang enggak ada yang jagain hehehe."

"Tapi sebelum pulang kita ngobrol-ngobrol dulu, ya, hehehehe."

Mama menarik tangan Siska dengan cepat lalu berusaha menerobos celah di antara keempat pria yang menghadangnya. Namun gerakan mereka kurang cepat, dengan sekali gerakan pria botak berhasil menangkapnya. Pria kurus menarik Siska, sementara pria gendut mendekap erat Mama.

"Tolong... lepasin kami!" Mama meronta-ronta seraya menangis memohon-mohon agar dilepaskan, suaranya bergetar, parau akibat ketakutan yang amat sangat. Siska yang mungkin shock tak terdengar suaranya, hanya lelehan air mata mengalir di pipinya, tak percaya bahwa hari terindahnya akan berakhir menjadi tragedi.

"Senang-senang lah, Mbak, sebentar, nanti kami anterin kok kalau udah, dingin-dingin gini enaknya yang hangat-hangat, Mbak hehehe."

"Pas lah, ya, dua lawan dua hahahah."

Tangan dengan jari-jari buntet mulai menggerayangi tubuh Mama, sengaja meraba dan meremas bagian sensitifnya. Jeritan histeris makin terdengar, penolakan dari wanita demi menjaga kehormatannya, namun rasa takutnya akan keselamatan putrinya lebih mengkhawatirkannya. Hal inilah yang digunakan para bajingan itu untuk mengancam sang Mama.

"Gimana kalau Mbak nemenin kita senang-senang, kami janji enggak akan ganggu putrinya."

Perlahan Mama menatap Siska yang hanya bisa mematung ketakutan, naluri Mamanya mengatakan bahwa dia harus melakukan apa pun untuk menjaga anaknya termasuk mengorbankan dirinya sendiri.

"Jangan ganggu anak saya, tolong lepasin dia, saya mohon." Suara isak tangisnya memecah keheningan malam.

"Setuju, ya, Mbak, nemenin kita malam ini, kami janji anak Mbak enggak akan diapa-apain."

"Ikat anak itu di pohon, sumpal juga mulutnya."

Si kurus membawa Siska ke belakang, diikat di batang pohon yang entah pohon apa, mulutnya disumpal dengan kain.

"Kamu lihat aja, ya, anak cantik, biar kamu cepat dewasa ahahah."

Bajingan kurus itu menghadapkan Siska ke area di mana Mamanya akan digauli empat bajingan. Seolah sengaja meninggalkan luka yang tak tersembuhkan bagi Siska dan Mamanya.

"Ayo, Mbak, jangan ditunda-tunda lagi, cepat buka bajunya, kita udah enggak sabar."

"Jangan coba-coba lari atau teriak, ya, kalau enggak anakmu bakal celaka."

"Nikmati aja, Mbak, biar sama-sama enak, kapan lagi lho main langsung sama berempat hahaha."

Para bajingan itu bergantian mengucapkan kalimat yang menyayat hati Mama, harga diri dan kehormatannya hancur seketika. Tapi setidaknya ada harapan bahwa anaknya Siska akan baik-baik saja. Hanya itu yang dia harapkan sekarang. Tapi apalah arti perjanjian dengan serigala lapar.

Masih dengan isak tangis, dengan tangan dan jemari yang bergetar, Mama mulai melepas kancing bajunya perlahan. Berharap ini semua tak benar-benar terjadi.

"Ah, kelamaan."

Tangan kasar gondrong lantas menarik baju bagian belakangnya dengan sangat keras sehingga robeklah baju Mama.

"Sengaja, ya, biar lama."

Gondrong sedari tadi tak banyak bersuara, namun ternyata ia lah yang paling bernafsu. Dengan kasar ia melucuti pakaian Mama. Mama tak bisa melawan, hanya tangis yang makin keras dengan air mata yang makin deras.

"Plakkkkk."

Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi kiri Mama, cukup keras hingga membuatnya jatuh ke tanah, dengan tubuh nyaris telanjang hanya tertutupi oleh pakaian yang compang-camping.

"Udah, jangan banyak ngelawan, kita udah berusaha lembut dari tadi, kalau masih enggak mau nurut juga. Biar aku nikmati tubuh anakmu saja."

Tangan si gondrong mencengkeram kedua pipi Mama, sehingga bibirnya termonyong ke depan.

"Cepat buka bajumu dan layani kontol kita."

Dengan jiwa dan raga yang hancur, Mama melanjutkan melepas sisa pakaiannya, tak sampai semenit kini Mama telanjang. Tubuhnya begitu sintal berisi, dengan lekukan indah yang tak kalah dari para gadis remaja. Walau gelap, secercah cahaya rembulan sudah cukup untuk membuat setiap mata di sana bisa menikmati keindahan tubuh telanjang Mama.

Keempat laki-laki itu mengelilingi Mama, dengan celana yang terlepas dari mereka. Batang-batang kontol berbagai ukuran, tegak berdiri menantang gravitasi. Pemandangan hina dan menjijikkan terpampang di hadapan Siska yang hanya berjarak beberapa meter, masih sangat cukup untuk membuatnya bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi pada Mamanya.

"Ayo, Mbak, isepin kontol kita, jangan digigit, ya, hehehe." Ujar botak sambil mengurut penisnya sendiri.

Mama bersimpuh, Gondrong maju mendekat, sambil memegang dagu Mama dengan kasar.

"Buka mulutnya." Gondrong membentak sambil mendekatkan kontolnya ke mulut Mama.

Dengan terpaksa mulut Mama pun terbuka, dengan cepat gondrong menyodokkan kontolnya ke mulut Mama. Tangannya kini menjambak rambut Mama, menahan kepala Mama agar menerima hujaman dari kontolnya.

"Kalau sampai kena gigi, aku hajar kamu."

Mama hanya bisa pasrah membiarkan gondrong menyetubuhi mulutnya, tangannya memegang jambakan gondrong. Sakit terasa di kulit kepalanya.

"Anjinggggggg, enakkkk."

Gondrong menekan kepala Mama lebih dalam lagi ke selangkangannya, mementokkan kontolnya ke kerongkongan Mama, sekaligus menyemburkan spermanya langsung ke dalam kerongkongan hingga tertelan secara utuh. Setelah selesai berejakulasi di kerongkongan Mama, Gondrong melepas jambakannya, Mama lantas mundur hingga jatuh terduduk di atas tanah. Mulut dan bibirnya berlumur cairan ludah dan peju dari gondrong yang meleleh membasahi pipinya. Napasnya tersengal, air mata masih mengalir, bercampur dengan cairan lain di pipinya.

"Nafsu aja yang gede ternyata, baru sebentar udah ngecrot. Hahaha." Pria lain menertawakan gondrong yang cepat ejakulasi.

"Ayo, Mbak, giliran kami sekarang. Tenang aja kalau saya lama kok keluarnya hehehe. Langsung aja bertiga, pakai tangan, biar sekaligus."

Kurus maju mendekatkan penisnya yang mengaceng sempurna ke mulut Mama, Botak dan Gendut masing-masing mendekat dari samping.

Tak banyak drama Mama "menyambut" batang kontol di hadapannya dengan mulut terbuka, kedua tangannya digunakan untuk meremas dan mengurut kedua kontol di samping kanan dan kirinya. Tak banyak perlawanan, entah pasrah atau memang Mama ingin cepat mengakhiri semuanya. Mama tahu semakin cepat nafsu biadab para binatang ini tuntas, semakin cepat penderitaan mereka akan berakhir.

"Annnjiiiinggggg, pantesan si gondrong cepat KO, mulut lonte ini nyedot banget, aahhhhhh,"

"Udah ahli, ya, Mbak hehehe." Ujar Kurus sambil mempercepat genjotan kontolnya. Mama tak merespons, matanya tajam menatap kurus, sangat fokus untuk menyelesaikan "tugas"nya. Pemilik kontol di samping kanan dan kirinya pun ikut melenguh keenakan, service tangannya juga tidak bisa disepelekan. Mama benar-benar ingin semua siksaan ini segera berakhir.

Tiba-tiba si Kurus mendorong Mama hingga terbaring ke tanah, memaksa Mama mengangkangkan kakinya lebar, dengan cepat mengarahkan kontolnya ke vagina Ibu, menghujamkannya dengan kasar dan cepat, tak ada istilah "foreplay", hanya keparat yang ingin segera melampiaskan nafsunya. Desahan bercampur jeritan Mama terdengar menggema di malam itu. Setelah menjadi seksolog Siska ketahui bahwa korban pemerkosaan pun bisa "menikmati" persetubuhan yang terjadi walau dengan paksaan. Hal ini karena reaksi fisiologis atau biologis terhadap rangsangan fisik pada area sensitif, yang tidak selalu memerlukan "persetujuan" atau keterlibatan mental/emosional. Dalam situasi yang sangat menakutkan, tubuh dapat memberikan respons di luar kendali sadar, termasuk respons otomatis terhadap sentuhan atau penetrasi.

Kurus mencoba mencumbu bibir Mama, awalnya dia menolak tapi pada akhirnya harus menyerah juga. Genjotan kurus makin cepat, mulutnya mengenyoti puting payudara Mama dengan brutal, seolah memaksa menghisap air susunya. Kedua tangannya kini meremas kasar kedua bongkah payudara Mama, genjotannya makin liar, klimaks sudah di ujung tanduk, tak bisa ditunda lagi.

"Aaaaahhhhhh... enak banget ini memek, beda sama memek lonte $50$ ribuan, udah dower. Hahaha." Ucap kurus berucap nista setelah ejakulasi di rahim Mama.

Mama hanya terdiam lemas, pandangannya ke arahku, air matanya masih mengalir, malu menyadari dirinya yang kini hina di hadapan anaknya.

"Sekarang aku!" Gendut mendekat, tapi tiba-tiba Botak menghadang.

"Enak aja, aku duluan, Ndut."

"Ah, setan, ya udah barengan kita."

"Enggak mau, ah, masa cuma kebagian mulut."

"Tuh kan ada lubang belakang, pakai itu aja, sama kok bisa ngempot juga."

"Oh, iya, ya, hehehe."

Mama beringsut ketakutan, paham siksaan apa yang akan dia rasakan. Gendut berbaring di sebelah Mama. Memerintahkannya untuk naik ke atas tubuhnya. Mama awalnya menolak, tapi Botak menarik tangannya dengan kasar memaksanya "memposisikan" diri untuk perkawinan dua lubang. Mama tak berdaya, pasrah menerima perlakuan dua binatang jantan itu. Satu penis masuk ke vagina Mama yang telungkup di atas tubuh Gendut. Kontol Gendut keluar masuk dengan lancar, ukuran kontol Gendut tidak sebesar Kurus, ditambah vagina Mama sudah dibasahi cairan Mama dan peju Kurus. Mulut dan tangan Gendut sibuk menikmati payudara Mama yang tergantung indah di atas mukanya.

Botak sedang memposisikan kontolnya tepat di lubang anus Mama. Dia sempat berontak, menolak, karena belum pernah ada satu pun termasuk suaminya yang berada di lubang itu.

"Jaaannngggaaannnn... jjjaangan di situ!" Mama memohon dengan suara parau.

"Berisik! Udah nikmatin aja!" Tangan Gendut tiba-tiba mencekik leher Mama, membuat Mama menyerah dengan perlakuan kedua bajingan ini.

Botak masih belum berhasil menembus keperawanan anal Mama, selalu meleset. Dia sudah melumasi anus Mama dengan ludahnya, bahkan sudah sedikit membuka jalan dengan jempolnya yang masuk ke anus Mama.

Gondrong tiba-tiba mendorong Botak dengan sangat keras, hingga membuatnya terjerembab ke tanah.

"Anjing... bangsat kau, Gondrong, mau ngapain kamu?"

Gondrong tidak menjawab, dia sedang sibuk menghujamkan kontolnya ke anus Mama. Dan berhasil dalam sekali percobaan.

"Aaaaahhhhhh..." Mama menjerit melengking keras.

Rasa sakit yang tak tertahan ketika kontol gondrong berhasil menembus keperawanan anal Mama. Gondrong sedang mabuk berat, dia tidak terkendali, hanya ada nafsu yang mengendalikannya. Ia mengentot Mama dengan kasar, seperti anjing yang mengawini betinanya. Rambut Mama dijambak ditarik ke belakang. Kurus bangkit, kontolnya kembali mengaceng melihat pemandangan itu, mendekati Mama dari depan, menyumpal mulut Mama yang sedari tadi terbuka, seiring jeritan dan desahan keluar bersamaan, kini disumpal dengan kontolnya.

"Daripada jerit-jerit nanti kedengaran orang mending dipakai sepong kontol saya, Mbak, hehehe."

Botak yang begitu kesal dan marah melihat kelakuan ketiga teman iblisnya yang kini sedang menikmati ketiga lubang Mama, sementara dia hanya mendapatkan kocokan tangan Mama, itupun tidak sampai selesai. Ia berpaling menatap Siska, seringai muncul di bibirnya, bagai serigala lapar yang menemukan seonggok daging. Botak mendekat ke Siska. Siska menjerit dengan mulut tersumpal, menyadari apa yang akan Botak lakukan padanya.

"Eh, si Botak mau ngapain? Heh, Botak, mau ngapain? Masih bocah itu perempuan."

"Bajingan kalian, enak-enakan kalian dapat memek, bool, sama mulut lonte itu. Aku mau memek perawan anak gadis ini, hahaha."

Ketiga temannya ini memang tidak berniat menghentikan Botak, mereka kembali sibuk menggagahi Mama. Suara erangan, jeritan, lenguhan, desahan, kadang tamparan, kata-kata hinaan terdengar bersahutan dari simfoni iblis yang penuh dengan hina dan nista antara Mama dan ketiga setan yang sedang menyetubuhinya.

"Udah lihat, kan, tadi? Gimana, mau coba? Om ajarin, ya, hehehe."

"Enggak usah takut, enak kok."

Botak melucuti pakaian Siska dengan cepat, seolah tak ingin kehilangan waktu. Siska berusaha memberontak tapi tak ada satu pun usahanya yang berarti. Setelah telanjang Botak menggerayangi seluruh tubuh perawan Siska, jilatan dan ciuman dia daratkan ke hampir seluruh kulit Siska. Botak tersenyum lebar, ia mendapatkan gadis yang baru saja mekar, tubuhnya masih wangi, suci, belum terjamah. Campuran rasa geli, sakit, dingin, malu, marah, dan takut memberikan sensasi aneh bagi Siska. Dia bingung dengan respons tubuhnya ini.

Botak melepaskan ikatan Siska dari pohon, dan membaringkannya di tanah dengan tangan terikat di atas kepala. Kakinya dipaksa membuka lebar, Botak menyejajarkan penisnya dengan vagina perawan Siska, dengan hujaman kencang dan keras, Botak berhasil menembus keperawanan Siska. Entah bagaimana, sumpalan mulut Siska terlepas, di situlah ia menjerit sekuat-kuatnya, rasa sakit dan ngilu di vaginanya, membuatnya refleks menjerit sekuat tenaga. Botak yang panik segera membekap kembali mulut Siska, tapi kontolnya tetap tertancap di vagina Siska, terasa kedutan memijat kontolnya. Botak lalu menggenjot Siska dengan terburu-buru, seolah sadar waktunya tak lama lagi. Karena jepitan memek perawan yang begitu peret, tak butuh waktu lama untuk Botak mencapai orgasmenya.

"Oooohhhhh... enaakkk bangettttt inii memekkk perawannn!" Racaunya sambil menyemburkan peju hangat di liang kemaluan Siska.

Beberapa meter dari situ ketiga setan yang memperlakukan Mama lebih rendah dari binatang pun mulai mencapai orgasmenya, dimulai dari Gondrong yang memang staminanya paling buruk, tak tahan dengan jepitan anal Mama, diikuti Gendut yang sudah kenyang dengan bapau susu jumbo, dan serabi daging, terakhir Kurus yang menyemburkan pejunya di wajah Mama. Semua pria bajingan itu tersenyum puas, setelah menikmati tubuh Siska dan Mamanya. Sempat terbersit dari mereka untuk melanjutkan permainan, terutama keinginan untuk ikut mencicipi Siska. Namun keberuntungan mereka selesai saat itu, kilatan cahaya lampu senter muncul di kejauhan, menandakan ada yang mendekat, begitu juga sorot lampu motor yang datang dari jalan besar, mengarah ke tempat mereka.

Keempat bajingan itu lari tunggang langgang, tangan masih sibuk membetulkan pakaian mereka, dengan tawa hina mengejek korbannya sambil pergi menjauh. Tak peduli dengan Siska dan Mama yang kini hanya terbaring lemas, telanjang, dengan bekas-bekas hina di tubuh mereka.

Beberapa saat kemudian beberapa orang yang ternyata warga yang sedang ronda datang, segera berkumpul dan menolong Siska dan Mamanya. Menutupi tubuh mereka dengan beberapa helai sarung yang dibawa. Sosok familiar pun muncul dari kerumunan, itu Bapak. Akhirnya dia datang, walau sangat terlambat, karena kini Siska dan Mamanya tak lagi sama, baik jiwa maupun raganya.

Jiwa Siska kembali ke masa sekarang, memory masa lalunya memberikan sensasi aneh dalam dirinya. Trauma itu memberikan rangsangan padanya, ia beranjak dari tempat tidur, menuju ke salah satu laci di kamarnya, di dalamnya terdapat berbagai sex toys berbagai jenis, ia ambil mainan favoritnya, kemudian menuju kamar mandi. Segera setelah menutup pintu kamar mandi, ia lanjutkan ronde berikutnya bukan dengan Bambang tapi dengan dildo yang kini menancap di vaginanya. Malam pun berakhir bagi Siska, ia tidur dengan suatu rencana untuk besok. Jika Bagas masih berada di Paviliun besok pagi.



B
Bootaxx
Semprot Lover

Daftar
    Dec 14, 2017

Posts
    227 

Reaction score
    3,305

    Nov 5, 2025 

    Add bookmark
    #846

Part 19

Pagi menjelang, Siska bangun dengan kesegaran. Paginya begitu indah. Udara segar merasuk masuk dari jendela yang sudah dibuka, hangat mentari menyinari kamar yang tak lagi tertutup kelambu. Suaminya sudah tak lagi di sampingnya. Bambang memang selalu bangun lebih pagi. Kedisiplinan pada dirinya melekat kuat hingga di waktu pensiun pun masih tetap dijalankan. Dengan piyama tidurnya, Siska keluar kamar, mencari kehidupan di rumah itu. Semerbak aroma kopi menyeruak dari arah dapur. Dengan segera ia menuju ke sana. Suaminya sedang menikmati sarapannya, kopi freshly brewed, dengan roti panggang beroleskan mentega. Siska mendekat, mendaratkan ciuman mesra di pipi suaminya. Lantas menuangkan kopi ke cangkirnya dan memasak telur untuk teman roti panggangnya.

“Masih dilanjut terapinya?” tanya Bambang pada Siska.

“Entahlah, jika dia masih di sini, berarti kulanjutkan.”

“Dengan rencana yang sama? Mempersiapkan Bagas untuk Linda?”

“No, I have different plan.”

Mereka berdua lanjut sarapan bersama, seraya membicarakan apa pun dalam kehidupan mereka.

Siska telah bersiap menuju klinik pavilionnya. Pakaiannya lebih formal, bawahan rok span selutut berwarna biru tua, dengan atasan kemeja formal nan elegan. Ia tak lagi mengenakan “baju dinas”nya, merasa hal itu sudah tidak lagi diperlukan. Langkahnya tegas menuju tempat kerjanya. Membuka pintu ruangannya dengan genggaman pasti.

“Kamu masih di sini?” Siska cukup terkejut melihat Bagas sudah duduk di kursi pasien. Dengan sabar menunggu kehadiran Siska.

“Ya, aku ingin semua ini selesai,” jawab Bagas tenang.

Siska menghampiri meja kerjanya. Dengan gerak penuh kepercayaan diri. Duduk di kursinya.

“Oke, kita mulai. Sebelumnya, aku ingin menyampaikan sesuatu.”

“Lebih tepatnya permintaan maaf.”

“Aku melibatkan perasaan ketika menanganimu.”

“Linda sahabatku, saudaraku.”

“Aku tahu bagaimana ia hancur setelah suaminya meninggal.”

“Kemudian dia menceritakanmu. Ia terlihat jatuh cinta padamu.”

“Setelah sekian lama, akhirnya ia siap untuk jatuh cinta lagi, denganmu.”

“Tapi aku terlalu ahli untuk mengetahui apa sebenarnya terjadi padamu. Bahwa kamu masih sangat mencintai istrimu Hilda, bahkan setelah semua yang terjadi.”

“Sebagai informasi saja, Linda siap menerimamu, walau dengan kondisimu kini.”

“Tapi aku ingin memberinya kebahagiaan yang sempurna, makanya aku bersedia membantumu.”

“Hanya saja, aku sengaja memanfaatkan traumamu, dengan sengaja menghancurkanmu, mengeksploitasinya hingga di titik cintamu berubah menjadi kebencian. Dan di titik itulah, Linda akan jadi penggantinya.”

“Aku minta maaf atas hal itu. Seharusnya aku lebih profesional, berorientasi pada pasien, bukan pada keinginanku.”

Siska menjelaskan bagaimana rencananya terhadap Bagas, bukan hanya sebuah metode penyembuhan, tetapi merupakan sebuah pengkondisian. Dengan memanfaatkan trauma Bagas, mengeksploitasinya sedemikian rupa hingga break point, maka secara naluriah Bagas akan berusaha melupakan, menghindari, dan menggantikan sumber traumanya dengan hal yang lebih menyenangkan. Hal ini mudah bagi Siska karena sebelum mempelajari disiplin ilmu seksologi, psikologi adalah dasar keilmuan pertama yang ia pelajari.

“Aku sudah sampaikan apa yang perlu aku sampaikan, sekarang giliranmu. Ada yang ingin kau sampaikan? Sesuatu yang belum disampaikan?”

Siska menatap tajam, langsung menusuk jiwaku. Ia tahu ada yang belum aku sampaikan.

“Hilda adalah anugerah, suatu pencapaian yang aku raih selama hidupku. Hilda adalah simbol kesuksesan dan keberhasilanku.”

“Seorang anak yang lahir dari desa, kini punya nama di rimba ibu kota, bahkan seorang bidadari pun bersedia kupersunting.”

“Bodohnya aku, kuperlakukan Hilda bagai hasil buruan, seorang bidadari yang telah kutaklukkan, kujinakkan, hingga muncul keyakinan dalam diri, bahwa apa pun yang kulakukan padanya, ia akan tetap menjadi istriku, karena aku punya kuasa atasnya.”

“Ketika aku terpuruk, kuacuhkan dia, seperti piala pajangan yang mengingatkanku akan kejayaan masa lalu, tak berguna, tak bernilai, tak kuanggap dia berarti.”

“Hingga perubahan mulai terjadi. Tak ada lagi pertengkaran, tak ada lagi adu argumen. Bukan perdamaian yang terjadi, tapi pengacuhan.”

“Dia tak lagi peduli akan diriku, seperti aku tak peduli akan dirinya.”

“Satu atap, satu ranjang, tapi beda kehidupan.”

“Saat itulah aku mulai merasa kekhawatiran, ketakutan, kecemasan.”

“Kuasaku atasnya mulai memudar.”

“Tapi justru itulah saat-saat aku mulai menganggapnya berarti, mulai kembali memperhatikan detail dirinya, apa yang dia pakai, apa yang dia bawa, kapan dia pergi, dan kapan dia pulang.”

“Jiwa posesifku muncul. Aku ingin ia tetap di bawah kuasaku. Aku ingin ia tetap menjadi aset berharga yang aku miliki, hanya punyaku, hanya milikku.”

“Ketika pertama kali aku membuntutinya, ketika ia bergandengan mesra dengan seorang pria, berbicara dengan begitu akrab dan manja, emosiku memuncak.”

“Bagaimana mungkin hasil taklukanku kini bersama pria lain, begitu mesra, begitu akrab, tenggelam dalam romantisme berdua.”

“Amarah, benci, kecewa, semua muncul bersamaan. Tapi ada satu rasa yang muncul menyelinap, mengintip dari balik luapan emosi negatif.”

“Sebelum mataku melihat sendiri, nuraniku sudah menggambarkan segalanya.”

“Penisku ereksi, sangat keras menekan celana dalamku. Ini gairah terhebat yang kurasakan setelah beberapa lama padam.”

“Tak bisa dimungkiri, dalam kebingungan, ada kenikmatan terselip, dan aku menikmatinya.”

“Kamera yang kubeli dan kupasang secara sembunyi-sembunyi, bukan untuk pembuktian, melainkan untuk memenuhi hasratku yang ingin tahu lebih dalam.”

“Perselingkuhan Hilda dengan pria lain yang kusaksikan secara live streaming, memberikan ledakan gelombang rangsangan gairah yang tak terkendali.”

“Mataku terpaku pada layar laptopku, mungkin tak berkedip, tak ingin melewatkan sepersekian detik dari momen itu.”

“Tak terhitung berapa kali ejakulasi yang kualami.”

“Sungguh ironis, gairah kurasakan justru ketika aku merasa takut kehilangan.”

“Ketika dia pulang ke rumah, aku melampiaskan amarahku, tapi tak ada sedikit pun niat untuk mengusirnya. Aku hanya ingin ia mengakui kesalahannya, meminta maaf. Aku ingin ia kembali kepadaku, takluk padaku, mengembalikan kuasaku atasnya.”

“Tapi Hilda bukan wanita biasa. Dengan tegas ia mengakui perselingkuhannya, tanpa basa-basi, tanpa ditutup-tutupi. Dia meminta maaf tapi tidak takluk dan tunduk kepadaku. Ia akui perselingkuhannya karena alasan yang jelas, seolah menyampaikan pesan tegas padaku ‘Aku selingkuh karenamu’.”

“Aku terpaku, amarahku meledak tapi tak keluar, seluruh tubuhku membeku.”

“Ketika ia bersimpuh di hadapanku, mengulum penisku, sambil menegaskan bahwa ia tahu aku menikmati perselingkuhannya. Harga diriku runtuh, ego dan arogansiku luluh, aku gagal menaklukkan Hilda, kini justru akulah yang tertunduk lemas, ejakulasi kilat akibat blow job singkatnya seperti menarik setengah nyawaku.”

“Aku hanya bisa terduduk menatapnya yang pergi meninggalkanku, tanpa bisa melakukan apa pun.”

“Ya itulah awal mulanya, blow job itu, blow job terakhir dari Hilda, membuatku kehilangan dayaku sebagai seorang lelaki.”

Setelah sesi yang cukup panjang dengan Siska, kini kami sepakat bahwa, apa pun yang terjadi, aku tetap ingin Hilda kembali padaku. Tak terasa air mata mengalir tak sengaja di pipiku. Pengakuan ini akhirnya terucap, lidah yang kukunci, hati yang kupatri, kini telah terbuka. Dengan sadar dan sepenuh hati aku akui bahwa aku tetap mencintai Hilda, apa pun yang telah, sedang, dan akan terjadi.

Siska tersenyum. Terkadang memang dirinya tidak perlu banyak turun tangan dalam proses penyembuhan. Ia hanya perlu membimbing pasien agar menemukan apa yang harus mereka temukan.

Siska bangkit berdiri. Jemarinya melepas satu per satu kancing bajunya.

“Bagas, sekarang hanya butuh pembuktian, berbaringlah di kasur. Kita akan mulai sesi terakhir dari terapi ini.”

Aku menuruti perintahnya, sambil melucuti semua pakaianku aku kemudian berbaring di kasur, tempat biasa aku dieksekusi hari kemarin. Siska telah melepas seluruh pakaian luarnya, hanya menyisakan pakaian dalam mahal nan elegan, begitu seksi dan indah menutup dua payudaranya, dan segitiga selangkangannya.

Ketika dia akan mengikatku, aku minta agar tidak diikat. Aku sudah siap, aku sudah menerima semuanya, aku takkan berontak. Layar TV besar di hadapanku memunculkan istriku Hilda dan seorang pria. Sedang melakukan aktivitas yang seharusnya hanya aku yang berhak. Siska bersimpuh di selangkanganku, memijat, mengurut lembut penisku. Menghipnotisku dengan kata-kata afirmasi yang intinya membuatku mengakui Hilda, mengakui kelemahanku, mengakui perasaanku.

Keajaiban terjadi, aku tak berpaling dari layar yang dengan detail menampakkan istriku Hilda yang sedang meliuk-liuk binal di dalam dekapan pria lain. Ereksiku sempurna, dan dapat kupertahankan tanpa ejakulasi dini. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit lewat, aku masih bisa bertahan. Aku justru tersenyum menikmati keanggunan istriku di video tersebut, tak ada lagi kecemburuan, yang ada hanya kekaguman.

Kutatap Siska yang masih berada di selangkanganku. Tangannya mungkin sudah pegal dari tadi menggenggam dan mengocok kontolku. Kuelus pipi Siska seraya tersenyum padanya. Siska membalas senyumanku. Apa yang dilakukan berikutnya sungguh tak terduga. Siska mengulum kepala penisku. Mengemutnya dengan lembut tapi kencang menyedot. Kepalanya naik turun sepanjang kontolku, memastikan setiap inci dari penisku mendapatkan layanan bibir dan lidahnya. Ia tak ragu menelan kontolku hingga ke pangkalnya. Kerongkongannya sudah terlatih untuk deep throat, tidak ada gestur tersedak sama sekali. Aku melenguh merasakan kenikmatan ini. Sensasi pijatan dan sedotan mulut dan kerongkongannya mampu menandingi kenikmatan liang vagina. Berulang kali Siska melakukannya, lebih dari 10 menit kurasa.

Siska bangkit dengan bibir basah oleh air liurnya. Mendekatkan wajahnya ke wajahku yang masih berbaring. Kupikir Siska akan memberiku sebuah ciuman, ternyata tidak. Siska hanya mendekatkan wajahnya padaku, sangat dekat, terlalu dekat. Bisa kurasakan hangat napasnya, aroma mint dari mulutnya.

“Siap untuk tahap pengujian?” Ujarnya penuh profesionalisme walaupun nafsu sudah mendera. Ia melepas celana dalam seksinya, terlihat bulu halus tercukur dan terawat rapi, sungguh cantik vaginanya, seolah aku bisa mencium aroma segar vaginanya, kuyakin biaya perawatannya tidak kalah mahal dengan perawatan wajahnya. Dia memposisikan diri mengangkangi penisku yang sedang tegang, membimbingnya mendekat ke lubang peranakannya. Terlihat kilau cairan basah dan lembap dari celah lipatan daging vaginanya. Siska sepertinya juga terangsang dengan metode terapi ini.

Kepala penisku mencium celah vagina Siska, sedikit digoyangkan, mencari spot liang yang tepat, diangkat sedikit menjauh dari vagina Siska, terlihat benang dari cairan nektar Siska terhubung antara kepala penisku dan Vagina Siska. Kembali ditempelkannya lagi penisku, kini tepat pada mulut liangnya, sekali tekan, tertelanlah penisku berangsur-angsur hingga pangkalnya tak lagi tampak. Aku mengeraskan otot-otot kegel ku, entah kapan aku menguasainya. Aliran darah mengisi pembuluh-pembuluh kontolku, menebalkan saraf hingga tampak urat-urat mengakar pada batang penisku.

Siska mendesah sembari menggigit lidah bagian bawahnya, kepalanya sedikit mendongak ke atas, matanya terpejam. Sebuah gestur kesiapan dirinya memulai “tahap pengujian.” Siska menggoyang pinggulnya dengan kecepatan tereskalsi secara gradual. Matanya tajam menatapku, hidungnya menempel di hidungku, tapi tidak ada ciuman yang terjadi, hanya pertukaran embusan napas yang kurasakan harum dan hangat di bibirku. Genjotannya makin cepat, desahannya pun makin nyaring. Penisku ereksi maksimal, lebih keras, tebal, dan besar dari biasanya, bahkan panjangnya terlihat berlebih dari sebelumnya. Transformasi ini mampu membuatku dapat mengendalikan sensasi pada permukaan penisku. Hujamanku makin mantap dan kokoh mengimbangi permainan Siska dan semuanya di bawah kendaliku. Siska menatap semakin dalam, semakin dekat, bibirnya nyaris menyentuh bibirku, ia masukkan salah satu jari tangannya ke mulutku, seolah memintaku untuk mengemutnya.

“Don't fuck me for love or pleasure, fuck me to conquer me!”

Titahnya jelas, sebuah perintah sekaligus tantangan, ujian terakhir dari sang master. Siska adalah raja terakhir dari stage terakhir yang harus kutaklukkan.

Kualirkan energi ke pinggulku, sedari tadi aku hanya bertahan, memberikan kendali pada Siska, wujud kepatuhan seorang pasien pada dokternya. Atas titahnya tadi kuhentakkan pinggulku sekuat tenaga, luapan energi terasa dalam setiap hujamannya. Kuremas payudaranya yang masih terbungkus bra mewah sekelas Victoria Secret. Payudara memang bukan bagian utama dalam seks, tapi bagiku itu adalah pelengkap kenikmatan dalam bercinta. Siska paham, ia lepaskan kaitan bra di belakang punggungnya. Dua bukit kembar nan indah dan elegan mencuat telanjang dengan topping puting kemerahan. Siska menggenggam salah satu payudaranya dan mengarahkan pada mulutku, seolah menyuapi puting payudaranya padaku, tentunya takkan kutolak tawaran ini, kulahap sajian tersebut seperti bayi yang kelaparan. Kedua tanganku sibuk meremas kedua bongkahan payudaranya yang kenyal, dengan rakusnya, berusaha memasukkan dua puting sekaligus ke mulutku. Kesibukan ini tidak mengurangi intensitas hujaman penisku di vaginanya. Kepala atas dan bawah terkoordinasi dengan baik. Kepala atas bertugas mengatur mulut dan kedua tanganku untuk meremas dan melumat kedua payudara beserta puting dan areolanya, sementara kepala bawah bertugas menjaga kestabilan genjotanku di vagina Siska.

“Ooohhh fuck… Bagas”

“Enak banget.”

“Hhhmmmmm… terus.”

Setiap desahan Siska yang nyaring dan mendominasi kini perlahan berubah menjadi rintihan yang tersendat, tanda bahwa otoritas sang master sedang runtuh, ditaklukkan oleh daya ledak yang ia pancing sendiri. Matanya yang sedari tadi tajam menatapku, kini mulai bergetar, terpejam, dan hanya menyisakan celah tipis di mana kilau air mata sensasi hampir tumpah.

Aku merasa bagai dewa yang sedang memalu landasan porselen. Bunyi plak-plak-plak kulit yang beradu dan suara isapan daging basah menjadi satu-satunya ritme yang diizinkan di ruangan ini. Genjotan kokohku—sekarang tak lagi sekadar dorongan, melainkan sebuah “penaklukan”—membuat tubuhnya terangkat-angkat. Vaginanya, yang tadinya terasa seperti sarung sutra, kini melilit batangku bagai belenggu hangat yang menuntut pelepasan segera.

Jari Siska mencengkeram bahuku sekuat tenaga. Kuku-kuku merahnya menancap, menorehkan bekas yang takkan kusadari hingga esok pagi. Wajahnya mendongak, kemerahan bagai udang rebus, kontras dengan kulit putihnya yang bening, napasnya yang tadinya beraroma mint kini terasa panas dan tajam. Mulutku tetap istiqomah melumat puting payudaranya, tapi kedua tanganku berpindah ke pantatnya yang kenyal bagi jelly. Kutampar keduanya bersamaan, membuatnya bergetar sebagai tanda konsistensi kekenyalan. Kuremas gemas, bagai squishy alami yang memberikan sensasi nyaman di kedua tanganku.

“Aku—aku… hmmmpph!—diambang… terlalu dalam!” bisiknya nyaris tak terdengar, suaranya tercekat oleh kenikmatan yang melampaui batas profesionalisme.

Dan itu adalah aba-aba terakhir yang kubutuhkan.

Kutarik napas dalam-dalam, mengunci otot perut dan kegel, memberikan hentakan yang paling brutal dan paling dalam, seolah aku ingin menancapkan seluruh jiwaku ke dalam rahimnya. Kedua tanganku menggenggam erat pinggulnya, sebagai tumpuan yang kokoh. Sensasi itu pecah. Pembuluh-pembuluh darah di penisku bagai akan meledak, siap melepaskan tsunami panas kapan saja. Siska merespons dengan kontraksi gila-gilaan, liang wanitanya melilit, menyedot, dan meremas batang kontolnya yang tertanam di dalamnya seraya menyemburnya aliran deras cairan hangat dari dinding rahimnya.

SHHHHHH.

Ia menjerit—bukan jerit kesakitan atau kenikmatan, melainkan jerit kelegaan yang panjang, nyaring, dan memilukan. Kepalanya terdongak, punggungnya melengkung dramatis, seolah arwahnya baru saja ditarik paksa keluar dari raga.

Kami berdua terdiam, terengah-engah. Hanya pertukaran napas yang berisik dan jantung yang berdentum kencang yang tersisa.

Siska ambruk. Ia menjatuhkan seluruh berat badannya di atasku, menempelkan pipinya di dadaku. Keringat kami bercampur, asin dan memabukkan dengan campuran aroma parfum mahal. Penisku masih konsisten mempertahankan kegagahannya, masih terbenam utuh di dalam rahimnya, merasakan getaran kejang-kejang kecil yang masih tersisa di liangnya.

Setelah tiga menit yang terasa seperti keabadian, ia mengangkat kepalanya, tersenyum kecil. Senyuman yang aneh, antara kelelahan, kepuasan, dan kebanggaan karena pasiennya telah berhasil disembuhkan.

Bagas sadar. Tsunami panas di pangkal penisnya belum surut. Aku tidak keluar. Kontrol itu nyata. Aku bukan lagi pria yang rentan terhadap ejakulasi yang terburu-buru. Siska telah meracikku menjadi seekor binatang buas yang sabar, yang tahu cara menahan mangsanya sampai kelelahan.

Siska mengusap-usap tonjolan urat di pangkal penisku yang masih bersemayam. “Wow. Kau benar-benar sudah sembuh, Bagas. Atau jangan-jangan kau memang buas sejak awal dan hanya pura-pura OPE untuk mendapatkan terapi gratis dariku?” Dia terkekeh, mencium leherku pelan. “Kontolmu masih sekokoh baja. Kita pindah. Aku ingin melihatmu dari dekat.”

Tanpa menunggu jawabanku, Siska beringsut turun. Dia meraih selembar kain sutra yang entah sejak kapan teronggok di lantai dan mengusap membersihkan sisa-sisa air maniku dan cairannya di pangkal paha. Sebuah gerakan yang begitu santai, seolah baru saja menyeka tumpahan kopi. Sambil berdiri telanjang, siluetnya memahat keindahan di depan lampu kamar, ia mencondongkan tubuh, menarik tanganku, dan membimbingku menuju sofa kulit besar di sudut ruangan.

“Bangunlah, Beast. Tunjukkan padaku seberapa jauh kau bisa berlari,” tantangnya, nadanya kembali menjadi dominan, mengundangku untuk melanjutkan pertempuran ini.

Siska berjalan ke sofa, memposisikan dirinya duduk bersandar pada sandaran bantal. Kedua lututnya ia tekuk, dan ia mengangkang lebar, menampilkan liang peranakannya yang basah dan sedikit bengkak sebagai undangan terakhir yang tidak bisa ditolak.

Aku berdiri di antara kedua kakinya yang terbuka, menatap langsung ke sumber kenikmatan itu. Aku memegang lututnya sebagai tumpuan, mengarahkan kontolku yang kembali tegang.

Jleb!

Kontolku masuk kembali ke dalam selangkangannya, disambut dengan desahan panjang yang penuh kepuasan. Kontolku menghantam bagian terdalam liangnya, seolah aku sedang mencoba menyatu dengannya.

Gerakanku dimulai lambat, puitis, dan penuh ketenangan. Tapi setiap jeda hanya memperkuat hentakan berikutnya.

“Yang keras Bagas! Gue bukan istri lo, gue enggak butuh cinta!” Sorot mata Siska menuntut.

Permintaan itu adalah izin liar. Kecepatan berubah. Aku menggenjotnya dengan keras, memegang pinggulnya agar ia tetap stabil saat setiap hentakan memaksanya terangkat. Layaknya binatang buas yang sedang berpesta. Aku tidak akan keluar, tidak sebelum aku menenggelamkan Siska dalam pusaran kenikmatan yang lebih gelap lagi.

Kontolku menghantam dinding rahimnya dalam-dalam. Siska mendesah keras, punggungnya sedikit meluncur di sofa, mencari pegangan. Aku menggenjotnya tanpa ampun, ritmenya cepat, keras, dan tanpa jeda—layaknya hukuman yang brutal.

Wajah kami saling mendekat, terpisah hanya oleh jarak beberapa milimeter. Aku bisa melihat pantulan diriku yang brutal di bola matanya yang berkaca-kaca karena gairah. Pertukaran napas kami panas, cepat, dan mendominasi ruangan. Aku menatapnya tajam, tidak memberikan kehangatan ciuman, hanya sebuah senyum misterius yang menantang. Senyum yang berkata: Aku telah menaklukkanmu.

Tangan kananku bergerak. Aku merebut pipinya dengan telapak tangan, mengunci wajahnya agar tidak bergerak, dan jempolku kumasukkan ke dalam mulutnya.

Siska terkejut, matanya membesar, namun instingnya mengambil alih. Ia mulai mengemut jempolku dengan lembut dan kencang, seolah itu adalah permen yang memberinya kekuatan, pengakuan vulgar terhadap dominasi yang kuberikan. Jempolku terasa basah, sementara kontolku di bawah sana bergetar hebat di setiap hentakan.

Genjotan itu semakin cepat. Aku menghujam masuk dengan intensitas membabi-buta, menekan pinggulnya kuat-kuat ke bantalan sofa, membuatnya tak bisa bergerak.

Tiba-tiba, Siska mengejang. Getaran yang kali ini terasa berbeda. Lebih kejang, lebih basah. Ia mendesah begitu keras, begitu panjang, hingga cairan bening dan hangat menyembur deras dari vagina yang mengunciku, membasahi sofa kulit di bawah perutnya, berceceran hingga ke lantai, bahkan cipratan tipisnya sampai ke kakiku.

“AARGGHHHH! OHHH YEEESSSSS! BAGAS! FUCKKK!!!”

Jeritan Siska meledak, memekakkan telinga, bukan desahan lagi, melainkan lolongan panjang yang tertahan oleh jempolku di mulutnya. Matanya terbalik, punggungnya melengkung keras, dan liangnya meremas kontolku sekuat tenaga, memohon agar ia menemburkan lava panasnya.

Aku bangkit berdiri, dengan kontol tegak gagah menjulang. Basah kuyup oleh nektar cinta Siska. Tatapanku mengarah ke bawah, ke Siska yang masih terengah-engah mengejar napasnya yang memburu akibat terjangan ombak orgasme dahsyat. Tubuhnya masih terkulai lemah, tapi dia masih terjaga, matanya masih fokus menatapku.

“Balik,” titahku, suaraku rendah dan dalam sambil memberi isyarat dengan tangan, sebuah instruksi untuk memutar posisi atas menjadi bawah.

“Nungging..?” tanya Siska dengan suara parau karena kelelahan.

“Upside down,” jawabku singkat, dengan tatapan mendominasi.

Siska paham, ia menyambut perintah itu dengan seringai yang provokatif. Ia mendorong tubuhnya ke tepi sofa, punggungnya merebah sempurna, hanya menyisakan pantatnya di udara. Ia kemudian membuka kakinya lebar-lebar hingga nyaris membentuk garis lurus, bertumpu pada sandaran sofa di sisi kanan dan kiri. Posisi itu liar, memaksa liang peranakannya terbuka maksimal dan leher rahimnya menjorok ke depan, memamerkan keindahan dan kerapuhannya sekaligus.

Aku berdiri di antara kedua kakinya yang terentang dramatis. Aku menggenggam bagian dalam pahanya yang lembut, mengangkatnya sedikit untuk mengatur sudut pandang yang sempurna, memastikan seluruh area intimnya terpampang jelas dan aku pun bisa melihat bagaimana payudara dan wajah cantik seorang wanita elegan tepat di bawahku. Aku membungkuk, menempatkan kedua tanganku di pangkal pahanya. Aku mengangkat pinggulnya sedikit demi sedikit hingga tegak lurus antara liang senggamanya dan batang penisku yang kutekuk ke arah bawah, menyelaraskan ketinggian agar penetrasiku mencapai kedalaman absolut.

Vaginanya kini terbuka lebar, mengundang, dan menjeratku. Terlihat jelas kilauan cairan bening membasahi lipatan dagingnya.

Aku menancapkan kontolku ke pangkal liangnya. Siska menyeringai dengan lenguhan, matanya memancarkan gairah yang buas.

“Gimana…enak?” ejeknya menggoda, tangannya memegang kakiku, berpegangan agar bokongnya tidak turun.

Aku tak menjawab, hanya tersenyum dengan senyuman yang dingin. Wanita yang sedang berpose vulgar ini bukan istriku, bukan juga kekasihku. Dia bukan lonte yang bersedia disuruh apa saja karena dibayar. Tapi dia seorang dokter ahli terkenal yang kini bersedia diperlakukan bagai sex doll, setelah kutaklukkan.

Aku menggenjot dengan intensitas tertinggi. Perutnya bergetar, tangannya meremas payudaranya sendiri. Organ-organ dalamnya terasa dipukul keras oleh batang penisku yang gila. Sensasi cengkraman liang wanitanya membuatku kehilangan kendali yang kubangun dengan susah payah. Pengalaman baru ini terlalu intens.

Kuputuskan untuk menerima sensasi geli di sepanjang batang penisku, menyerah pada rangsangan. Aku mencapai titik ledakan yang tak tertahankan.

“Aku keluar… Siska!” Aku mengerang, mencengkeram pahanya yang terentang.

“Iya di dalam! Tumpahkan semua!” teriak Siska dengan desahan.

Detik berikutnya, aku refill liang vagina Siska dengan pejuku.

Aku menarik diri sedikit sebelum semuanya terkuras habis, sebuah refleks naluriah karena penisku yang seharusnya melengkung ke atas kini tertahan mengarah ke bawah, menancap di lubang vagina yang ada di bawah, dan letusan itu terjadi dengan tekanan tinggi. Sebagian cairan kental panas itu terhisap masuk ke liang wanita Siska, mengisi ruang yang kosong. Tapi sisanya...

Fyuuuss.

Cairan putih, tebal, dan lengket itu menyembur keluar, meluncur deras melintasi perutnya yang rata, memercik di payudaranya, dan sebagian besar menyemprot tepat ke wajahnya, membasahi dahi, hidung, dan bibirnya. Wajah Siska terlumuri, wajah cantik sang maestro sex kini dicemari oleh hasil penaklukan mahakaryanya sendiri yang eksplosif dan vulgar.

Aku terengah-engah, tubuhku gemetar. Aku menatapnya, dengan senyuman puas. Dia terdiam sejenak, matanya terbelalak, napasnya terputus. Lalu senyum lebar, nakal, dan penuh kebanggaan merekah di wajahnya yang berlumuran peju.

Aku mencabut penisku setelah proses unloading selesai. Ujungnya masih menteskan sisa-sisa cairan, tapi masih keras walau tidak 100%. Kusandarkan di celah vagina Siska, sedikit menggeseknya, sekaligus menunjukkan pada Siska bahwa Bagas yang baru telah lahir. Aku beringsut turun dari sofa, Siska masih dengan posisi sama, hanya saja bokongnya sedikit turun ke bawah karena aku tidak memeganginya. Kuarahkan penisku yang masih belepotan ini ke wajahnya yang masih telentang berada di tepi sofa.

“Bersihkan.” Titahku datar, tanpa emosi, namun mutlak.

Siska menatapku, menatap penis kotor yang terhampar di depannya, lalu menatap wajahku. Dia menjulurkan lidahnya, mencicipi sedikit sperma yang membasahi bibirnya. Lidahnya yang lembut dan hangat mulai menyapu, membersihkan semua sisa cairan yang lengket dan asin. Dia mengulum, memijat, dan memastikan kontolku kembali bersih, tegang, dan siap untuk babak selanjutnya. Wajahnya yang penuh peju dan ekspresinya yang penuh hasrat membuatku terangsang kembali.

BABAK AKHIR: Isi Hingga Penuh

Melihat kontolku yang kembali berdiri kokoh, Siska bergerak dengan cepat. Ia menungging di atas sofa, kepala dan dadanya rebah di sofa yang empuk membuat pantatnya terangkat lebih tinggi, punggungnya melengkung drastis, dan bokong beserta vagina dan anusnya menjorok keluar sebagai persembahan kepadaku. Senyum sensual penuh gairah menggoda disunggingkan kepadaku.

Tangan kiri Siska menarik bongkahan pantat kirinya ke samping, memperlihatkan lubang di sela-sela daging pantatnya, sementara tangan kanannya terlihat mengelus-elus lubang anusnya seraya melumasinya dengan sisa pejuku di tubuhnya.

Tak ada perintah keluar dari mulut indahnya, hanya senyum binal dan tatapan nanar ke arahku. Hanya ada satu arti dari semua itu. “Fuck me in the ass.”

Tak perlu orang pintar untuk menginterpretasikan isyarat tersebut. Aku posisikan diri di belakang bokong Siska, penisku kuarahkan tepat di lubang anus Siska, kakiku dalam posisi squat, setengah tertekuk. Kedua tangan Siska membantu dengan menarik kedua bongkahan pantatnya ke samping, membuat liang analnya terpapar sempurna. Aku dorong masuk penisku. Pelan tapi pasti, tidak ada keraguan, tidak ada kesulitan berarti. Sepertinya ini memang bukan pertama kalinya Siska di anal.

Setelah masuk hingga pangkal penis, aku mulai menggenjot lubang anal Siska. Kali ini, tidak ada yang puitis. Hanya kebuasan, hanya hentakan bertenaga yang dipenuhi gairah. Pinggul Siska bergetar di setiap tubian. Aku meremas pantatnya, menamparnya, menjadikannya tumpuan kendali terakhirku.

“Aaahhhhhh…..Bagas.” desahnya lembut.

Genjotan brutalku di anusnya hanya direspon dengan desahan lembut, seolah aku sedang bercinta dengannya, aku ingin menghujamnya lebih keras lagi, lebih brutal lagi, aku ingin dia menjerit, mengakui kegagahanku, tunduk takluk pada kejantananku, merengek dan memohon agar diberi kenikmatan.

Kupindahkan posisi kaki kananku, yang awalnya di samping bokongnya, kini kupijakkan ke wajahnya yang terbaring di sofa. Aku memang tidak menumpukan berat badanku padanya, tapi cukup menekan kepalanya lebih dalam ke sofa yang empuk. Seiring dengan bertambahnya intensitas dan tenaga yang kualirkan pada pinggulku, menghujam analnya lebih gila dari sebelumnya.

“Ooohh…ooohhhh…Bagas…..aaahhhhhh.”

Desahan mulai menjadi lenguhan, lenguhan menjadi jeritan, jeritan menjadi teriakan kenikmatan. Sensasi kontolku di anusnya, dan pijakkan kakiku di wajahnya, memberikan rangsangan unik pada Siska.

Aku menggenjot dengan ritme yang semakin cepat dan tanpa ampun, mendorongnya menuju klimaks lain yang tak terhindarkan. Dan di saat aku merasa urat-urat di leherku tegang dan aliran darahku mencapai puncak, aku mencapai orgasme di lubang anal Siska, bersamaan dengan semburan cairan kewanitaan dari vagina Siska.

Aku menahan tubuhku di tempat, tidak bergerak, membiarkan setiap tetes tumpah, memenuhi setiap lekuk liang anusnya. Rasanya seperti menyegel sebuah kemenangan. Siska menjerit pelan, kejang, dan merasakan hangatnya luapan itu. Anusnya terendam oleh cairan putihku.

Aku menarik diri perlahan, menyisakan jejak basah dan lengket di antara pantatnya. Meluber keluar dari liang anusnya.

Siska ambruk, masih dalam posisi menungging, menikmati sisa-sisa sensasi yang masih tersisa, menatapku. Matanya tak setajam sebelumnya, wajahnya kelelahan, tetapi senyum di bibirnya mengisyaratkan kepuasan yang amat besar.

“Selamat ya, kamu udah sembuh.” ujar Siska lemas.

“Terima kasih, Dokter. Sudah bantu saya,” kataku tulus sambil duduk di lantai berdampingan dengan Siska.

Siska tersenyum, matanya terpejam, mungkin ia ingin tidur untuk melampiaskan rasa lelahnya.

Aku beranjak menuju kamar mandi, di dalamnya sudah tersedia handuk dan perlengkapan mandi. Aku pun membersihkan diri dengan air hangat, sensasi panasnya menenangkan saraf-saraf dan otot-ototku yang tadi menegang. Kuurut batang penisku, rasa syukur kupanjatkan dalam hati, kini aku telah menjadi lelaki sempurna lagi.

Setelah mengeringkan badan dengan handuk dan melilitkannya di pinggangku, aku keluar kamar mandi. Di sana kulihat Siska sedang menelepon, matanya melirik ke arahku.

“Besok ya Beb, sabar, sebentar lagi kok.”

“Mau ada evaluasi dulu…hehehe.” Tawanya renyah dengan orang di balik telepon.

“Ok bye…”

“Aku sudah telepon Linda, besok pagi dia jemput ke sini, mau langsung staycation katanya di daerah Lembang.”

“Kenapa harus besok, kenapa tidak malam ini?”

“Terapinya sudah selesai kan?” tanyaku pada Siska.

“Selesai sih sudah, tapi….”

“Aku perlu sedikit…….’evaluasi’.” jawab Siska sambil mendekat dan menyentuh dadaku dengan tatapan menggoda dan senyum sensual.

Aku paham maksudnya, sepertinya sang maestro ingin menikmati hasil karyanya lebih lama lagi, sekaligus wujud terimakasihku padanya


Part 20

POV Bagas

Pagi itu terasa ringan, penuh janji.

Aku bangun dengan rasa syukur dan sebuah tujuan yang jelas: mengejar kebahagiaanku. Siska sudah membantuku menemukan kembali diriku yang hilang, dan kini, saatnya menggunakan kekuatan yang baru kudapatkan itu.

Aku sudah berkemas. Dari jendela pavilion, terlihat Linda keluar dari jok belakang sebuah mobil sedan hitam keluaran Eropa. Ia mengenakan dress kasual berbahan rajut berwarna maroon yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambut hitamnya tergerai indah, dan senyumnya... senyumnya adalah matahari pagi yang baru.

Linda menuju bangunan utama, tempat Siska dan suaminya, Bambang, menyambutnya. Terlihat mereka bertiga berbicara sangat akrab, lalu kemudian masuk ke rumah utama. Beberapa saat kemudian, panggilan dari Siska muncul di handphone-ku.

“Bagas, kalau sudah selesai packing-nya, ke rumah utama ya. Linda sudah di sini, kita ngobrol-ngobrol dulu sekalian brunch bareng. Perjalanan kalian nanti jauh kan, hehehe.”

Tawanya renyah dibalik suara merdunya, suara yang sama yang menggaung di ruangan tempat peraduan kami semalaman.

Aku keluar dengan membawa travel bag-ku menuju teras pavilion. Di sana, seseorang berpakaian rapi sedang menurunkan koper besar milik Linda. Sepertinya itu supir Linda.

“Selamat pagi, Pak. Mobil yang nanti dibawa ke Bandung, inikah, Pak?” Sapaan sopan pria paruh baya itu kepadaku, seraya berdiri dekat mobil Range Rover hitam yang disewakan Stephen untukku.

“Iya, Pak, betul. Minta tolong sekalian tas-tas saya juga dimasukkan ya, Pak. Ini kuncinya.” Balasku ramah meminta tolong.

“Baik, Pak, siap. Nanti kalau sudah selesai, kuncinya saya titip security depan ya, Pak. Tadi Bu Linda suruh saya pulang duluan setelah beres-beres barangnya.”

Aku mengangguk paham, lalu meninggalkannya menuju bangunan utama melalui jalur akses menembus taman yang indah.

Kubuka pintu di bangunan utama, tampaklah interior indah menghiasi setiap sudut ruangan ini. Tiga suara ramah menyapaku hampir bersamaan. Aku mendekat: dua bidadari cantik dengan senyum menawan yang aku kenal, dengan satu pria di kursi roda namun tidak kehilangan karismanya. Aku menjulurkan tanganku seraya sedikit membungkukkan badan mendekat ke arah Bambang, suami Siska. Ia menerima jabatan tanganku dengan hangat.

“Akhirnya kita ketemu ya, Mas. Maaf saya tidak menemui Mas waktu pertama datang ke sini.” Bambang menyapaku dengan penuh keramahan.

“Saya yang minta maaf, Mas. Saya tamu di sini, sudah beberapa hari tapi baru sekarang ketemu Mas.” Balasku menandingi keramahannya.

Sebenarnya ada perasaan canggung hinggap di dadaku. Bagaimana tidak, semalam aku menyetubuhi istrinya berkali-kali, berulang-ulang, dengan berbagai gaya. Di sela-sela ritual persetubuhan itulah Siska menceritakan tentang suaminya, Bambang, tentang kondisinya. Di situ aku baru tahu bahwa apa pun yang Siska lakukan denganku, atas sepengetahuan dan izin suaminya, bahkan terpantau melalui CCTV di berbagai sudut yang dilengkapi dengan microphone. Tentunya tidak hanya gambar, tapi juga suara pastinya terdengar. Cukup terkejut aku mendengarnya, tapi Siska menjelaskan bahwa itu bagian dari “Open Marriage” yang mereka anut. Bambang paham, kondisinya tidak memungkinkannya menandingi birahi Siska. Untuk itu, ia mengizinkan Siska untuk bercinta dengan pria lain yang ia suka, dengan syarat atas sepengetahuan dan izinnya. Jangan hamil dan jangan baper, merupakan syarat pengiring yang mutlak dipatuhi. Sementara rekaman audio dan video adalah “hadiah” bagi Bambang yang ternyata “menikmati” permainan istrinya dengan pria lain.

Kami lanjutkan obrolan-obrolan ringan, hangat, penuh keakraban di meja makan, dengan berbagai sajian, baik Nusantara maupun kebarat-baratan. Terkadang tawa pecah di antara kami, terselubung keintiman yang pernah terjadi, tapi bukan menutupi kebohongan, hanya kejujuran tanpa cerita.

“Lin, kita ngobrol berdua yuk, urusan cewek, cowok mah enggak usah dengar, hehehe.” Siska menarik tangan Linda yang duduk di sebelahnya.

“Mas Bagas, kita ngopi-ngopi di halaman belakang kalau begitu. Obrolan cowok yang cewek enggak usah dengar juga, hahaha.” Bambang menimpali seolah membalas istrinya.

Aku beranjak meraih pegangan pada kursi roda Bambang. Walaupun ia berusaha menolak, mengatakan bahwa ia bisa sendiri, pada akhirnya aku tetap mendorongnya ke halaman belakang. Aku duduk di sampingnya, di depan sebuah meja taman. Pemandangan taman yang asri sungguh menenangkan pikiran. Beberapa saat kemudian, seorang ART (Asisten Rumah Tangga) membawa dua cangkir kopi panas yang sangat harum, menggoda bagi siapa pun penikmat kopi. Murni tanpa gula dan krim susu.

“Mas ngopi kan? Ini kopi favorit saya, belum ada yang ngalahin aromanya.”

Kuhirup aroma seraya menyesap kopi dengan lidahku. Luar biasa sensasinya, ini kopi ternikmat yang pernah kurasakan.

“Bagaimana, Mas? Lebih nikmat ini atau Siska? Hahaha.” Tawanya renyah, seolah candaan ringan antar anak tongkrongan.

Aku sedikit tersedak, tapi tidak sampai terbatuk.

“Ah, Mas Bambang bisa saja. Saya malah bingung harus bagaimana, hehehe.” Tawa canggungku terdengar kaku.

“Santai saja, Mas. Siska juga sudah cerita, kan? Mas mantap lho mainnya, pantas Siska bilang kalau Mas adalah masterpiece terbaiknya.”

Aku semakin canggung. Mana ada suami yang memuji pria yang menyetubuhi istrinya?

“Eeee… Iya, Mas, saya yang terima kasih sama Siska sudah banyak dibantu.”

Aku berusaha menjawab netral, karena tidak tahu harus bagaimana.

“Hati-hati, Mas, sama Koko alias Hendarko Sudjatmiko.”

Lagi-lagi aku tersedak. Pria di kursi roda ini kembali mengungkapkan sesuatu yang tidak sesuai ekspektasiku. Bagaimana dia tahu Koko? Apa ini kebetulan? Koko panggilan nama umum, tapi Hendarko Sudjatmiko, tak banyak yang memiliki kesamaan nama itu. Apa Linda atau Siska yang memberitahu?

“Dia muridku. Aku pungut dia dari jalanan, waktu dia jadi copet kecil.”

“Sejak awal dia memang seorang jahanam. Bodohnya aku, merasa yakin bahwa dia bisa menjadi seorang yang mulia.”

“Dia hampir menghancurkanku, gurunya, hanya untuk membuktikan bahwa ia lebih baik dariku, menghilangkan jejakku dari hidupnya.”

“Dia lahir dari kebencian, tumbuh dengan kebencian, dan kini hidup untuk kebencian.”

“Baginya ini bukan tentang uang, tapi sebuah kemenangan, penaklukan dirinya atas orang lain, pelampiasannya akan kebencian di dunia ini.”

“Walaupun aku sudah tidak berada di dunia itu sekarang, aku cukup punya informasi tentangmu, Bagas. Apalagi ditambah cerita dari Linda dan Siska.”

“Saranku cuma satu, Mas: Jangan pernah menghadapi Singa jika kau tak berniat memburunya.”

“Seseorang yang lari dari singa tidak akan dianggap pengecut.”

“Menghindari Koko tidak akan membuatmu lemah, tidak akan pernah pantas, apa pun yang kau korbankan untuk menghadapi iblis itu.”

Kopiku sudah habis. Entah kapan aku menyesapnya. Aroma dan rasa yang begitu nikmat kini hambar terasa. Kalimat Mas Bambang, suami Siska, menusuk jiwaku. Rasa canggung yang tadi begitu pekat kini kebas tak berasa. Tak berarti jika disandingkan dengan pesannya tentang Koko. Aku memang tak punya niat untuk konfrontasi dengannya. Takkan kuulang kebodohanku di masa lalu, sengaja “bertarung” dengannya hanya untuk pembuktian siapa yang terbaik di antara kami. Bukan hanya uang yang dikorbankan, hidupku pun ikut terkorbankan.


Di sisi lain rumah itu, Siska dan Linda sedang berbicara serius. Tak ada cekikikan manja khas para wanita sosialita, bukan pula pembicaraan gossip artis yang sedang viral belakangan ini.

“Kamu yakin, Linda? Kamu bisa tersakiti lagi.”

“Aku tahu ini berisiko, tapi sepertinya aku lagi mabuk cinta, hehehe.”

“Dari awal aku tahu dia masih mencintai istrinya. Tapi justru itulah yang membuatku jatuh hati padanya. Cintanya yang tak lekang walau diliputi luka, membuatku ingin merasakan cinta yang sama. Cinta yang sama yang dulu Dimas berikan padaku, tak peduli aku siapa, tak peduli aku apa, tak peduli aku bagaimana, Dimas tetap mencintaiku.”

“Aku hanya berharap kamu tidak kehilangan untuk kedua kalinya. Tidak hancur seperti sebelumnya.”

Linda hanya tersenyum. Ia tidak bisa memastikan bahwa dirinya akan baik-baik saja jika Bagas kembali pada istrinya. Yang dia harapkan saat ini adalah sedikit merasakan cinta Bagas, walau hanya untuk sementara. Semoga ini adalah “sementara” yang lama, atau dialah yang mengganti posisi Hilda di hati Bagas.

“Sudah siap, Bagas?” sapa Linda, nadanya penuh makna. Aku tahu ia sudah tahu. Pasti Siska sudah menceritakan semuanya, dari air mata hingga air maniku yang menyembur ke mana-mana.

“Lebih dari siap,” balasku, tersenyum tulus. Aku mendekat, mendaratkan kecupan lembut di keningnya, lama, penuh rasa terima kasih dan harapan. Aku tidak lagi gugup. Aku adalah Bagas yang baru.

Perjalanan kami menuju Lembang dipenuhi tawa dan obrolan ringan. Terkadang diselingi canda birahi layaknya dua kekasih yang dimabuk cinta, berlari dari dunia agar bisa bebas dalam bercinta. Tak jarang tangan jahil Linda menggerayangi pangkal pahaku, bahkan sengaja bermain di selangkangan, mencari batang kejantananku, memainkannya lembut, penuh gairah, membuatku hampir hilang fokus pada kendaraan dan jalan.

Entah sejak kapan resletingku terbuka. Penis yang awalnya tertidur tenang kini sudah mencuat keluar celana. Entah apa yang dilakukan Linda bisa membuat semua itu terjadi. Kusisihkan mobil di area sepi sekitar jalan raya menuju utara Kota Bandung. Mulut Linda sudah mengulum penisku dengan khusyuk, seolah tak sabar membuktikan semua cerita dari Siska. Di sini aku tak bisa membalas Linda, aku hanya bisa pasrah. Kuhentikan aksinya dengan paksa, menarik tubuhnya agar kembali tegak di kursi penumpang.

“Please, sayang, nanti. Sabar, sebentar lagi.”

Linda hanya tersenyum menatapku sambil menggigit bibir bawahnya dengan jari menempel di bibirnya. Aku memasukkan kembali pusakaku yang sudah setengah bangun, terusik dari tidurnya. Kembali kukemudikan mobil menuju villa yang telah disewa Linda, berbekal alamat dan petunjuk dari google maps.

Kegilaan Linda ternyata tak berakhir di situ. Mengetahui jalanan cukup sepi, ia membuka pakaian atasnya hingga menyembullah dua payudara yang terkekang bra, terlihat terjepit dan ingin berontak keluar. Linda sengaja memainkannya di hadapanku, menggoyang-goyangkannya menggoda. Diiringi tawa renyah, seolah hal itu adalah permainan yang menyenangkan. Salah satu tanganku ditariknya, dibimbing untuk meremas payudaranya. Aku kehilangan kesabaran. Betulan kuremas kencang dan tiba-tiba payudaranya. Linda terpekik, menjerit, lenguh, atau desah. Mobil lagi-lagi aku hentikan. Aku keluar mobil. Dari pintu penumpang, kutarik Linda dengan payudara terbungkus bra yang masih terekspos ke mana-mana. Linda hanya cekikikan, masih menganggap semua ini adalah permainan yang lucu. Kuarahkan Linda menghadap ke mobil dengan kedua tangannya bertumpu di body mobil. Bokongnya kutarik agar condong ke belakang. Dengan terburu-buru, aku singkap bawahan dress Linda, menurunkan celana dalamnya yang terkait hanya dengan seutas tali dan minimalis menutupi bagian vaginanya saja. Kubuka celana sekaligus boxer dengan cepat, menurunkannya hingga ke bawah dengkul. Pantat telanjang Linda sudah tersaji dengan begitu indah. Batang kontolku pun sudah ereksi maksimal akibat godaan Linda sepanjang perjalanan. Aku tak punya waktu untuk foreplay, khawatir ada yang melintas. Tapi aku pun tidak akan memaksakan penetrasi tanpa lubrikasi yang cukup, karena akan menimbulkan sakit pada vagina Linda. Kuselipkan jari ke belahan vagina Linda, ternyata sudah basah dan lembap. Entah sejak kapan Linda terangsang. Linda hanya tersenyum menoleh ke belakang melihat tingkahku. Salah satu tangannya meraih bokongnya dan menariknya ke samping, seolah memberi jalan agar aku mudah mempenetrasinya. Karena sepertinya Linda pun sudah siap, segera kuarahkan kepala penisku ke celah vaginanya. Sedikit kugesek memastikan letak posisi lubangnya. Setelah yakin, kutekan dengan pasti. Masuklah batang penisku, dengan sensasi gesekkan luar biasa dengan dinding rahimnya. Linda melenguh, kepalanya mendongak, desahan lolos dari mulutnya. Aku yang sudah gila sejak tadi dirangsang Linda, segera menggenjotnya dengan ritme cepat. Sensasi geli di batang kontol, dinginnya udara Lembang, rasa takut dilihat orang lain yang melintas—semua sensasi itu bercampur, memberikan gejolak yang luar biasa di dada. Linda sepertinya merasakan hal yang sama. Otot vaginanya mengencang, seolah ingin melumat penisku yang tertancap di dalamnya, tidak ingin melepaskan.

Tak sampai 5 menit menggenjot, kudengar sayup bunyi telolet di kejauhan. Sepertinya ada bus yang akan melintas. Lampu sorot bus pun terlihat menembus kabut yang mulai turun. Dengan terpaksa dan perasaan kentang tak terkira, aku berjongkok. Kutarik Linda agar ikut menunduk, menyembunyikan tubuh setengah telanjang kami di balik body mobil double cabin ini. Linda masih cekikikan, masih menganggap semua ini seperti permainan, layaknya anak SMA yang tidak dapat menahan diri untuk melampiaskan nafsu birahinya.

Setelah beberapa bus melintas, aku masuk ke mobil, kursi baris kedua. Linda pun kutarik masuk. Linda paham aku ingin melanjutkannya di mobil. Aku duduk bersandar di mobil. Linda naik ke pangkuanku, memposisikan penisku tepat di lubang vaginanya, lalu menekan turun, menenggelamkan seluruh batang penisku. Payudara ia keluarkan dari bra cup-nya, tanpa melepas kait bra-nya. Wajahku dihimpit dua bantal daging tersebut.

Nafsuku yang sedari tadi kentang seolah dipermainkan, segera menghujam vagina Linda dengan secepat mungkin yang aku bisa di tempat sempit ini. Tangan Linda memeluk kepala belakangku, memastikan wajahku tetap tenggelam di belahan payudaranya. Tanganku menggenggam erat kedua pinggangnya, mengatur kecepatan ritme genjotanku. Sesekali meremas kuat bongkahan pantat Linda. Sebenarnya Linda-lah yang berkontribusi besar dalam mengatur ritme, karena dia bisa bebas naik turun, bergoyang ke sana-kemari, sementara aku hanya bisa sedikit menambah hujaman ke atas, sudah tertahan berat tubuh Linda.

Tak lama kemudian, Linda melenguh panjang, tubuhnya bergetar, otot-otot selangkangannya menegang, matanya terpejam, kepalanya mendongak ke belakang. Ia mencapai orgasmenya, orgasme pertama dari batang penisku. Ia membuka kedua matanya, lalu melumat bibirku dengan penuh gairah, seperti apresiasi atas orgasme yang aku berikan.

“Mau dilanjut?” tanya Linda lembut, sadar bahwa penisku masih kokoh tertanam di liang peranakannya. Kugelengkan kepala sambil tersenyum, seraya menggeserkan ke samping, melepaskan tancapan kontolku dari vaginanya. Aku ingin menyelesaikannya dengan penuh khidmat di villa nanti, tidak seperti anak SMA yang takut ketahuan ngentot di kamar kos.

Kami mengenakan kembali pakaian yang tadi terlucuti lalu kembali ke bangku depan.

Setidaknya Linda sudah mendapat orgasmenya. Mungkin akan membuatnya tenang, tidak menggangguku ketika menyetir. Tapi kejahilannya tidak berakhir. Ia sumpalkan celana dalamnya ke hidungku. Tercium aroma harum vaginanya. Sambil tersenyum, ia duduk di sampingku yang sedang mengendarai mobil, menegaskan bahwa saat ini ia tidak mengenakan celana dalam di balik dress-nya. Lagi-lagi membuat pikiranku jadi tak tenang selama sisa perjalanan ke villa yang ternyata hanya membutuhkan waktu 15 menit lagi. Ia pun bercerita bahwa sebenarnya sejak dari rumah dia telah meminum sejenis obat penambah gairah, karena tidak ingin “drop” duluan ketika nanti beradu denganku yang menurut Siska sudah level up sangat jauh. Hal itu menjelaskan perilakunya yang seperti betina birahi sedari tadi.


Linda memilih sebuah villa pribadi di daerah Dago Atas, jauh dari hiruk pikuk, dikelilingi kebun teh dan pinus. Tempat yang sempurna untuk dua jiwa yang mencari kedamaian dan gairah.

Villa itu minimalis namun terkesan mewah, dengan kaca-kaca lebar yang memperlihatkan pemandangan hijau yang menenangkan. Di sudut ruang tamu, ada fireplace dari batu alam, dan sebuah jacuzzi pribadi di balkon dengan pemandangan langsung ke lembah.

Setelah bertemu dengan penjaga villa dan melakukan serah terima kunci, penjaga villa berpamitan untuk pulang ke kediamannya yang hanya 10 menit jalan kaki. Tinggallah hanya kami berdua di villa itu, dua insan yang sedang dibakar api cinta dan gairah. Kupeluk Linda dengan segera, ingin menuntaskan yang tertunda sebelumnya.

“Sabar, sayang, kita punya banyak waktu, enggak usah buru-buru.” Ucapnya lembut, berusaha menenangkan diriku yang sudah diliputi nafsu.

“Lah, kamu tadi di mobil sudah kayak kucing pengin dikawin, sekarang kok aku disuruh sabar?” Protesku merasa tidak adil.

Linda berbalik, menatapku. Matanya berkilau, senyum lembut mengembang di bibirnya, menyempurnakan kecantikannya yang hakiki.

“Bagas, kita semua sudah tahu semuanya. Tentangku, tentangmu, tentang Hilda.”

“Di sini selama beberapa hari ke depan hanya ada kita berdua.”

“Aku ingin kita jujur pada hasrat masing-masing.”

“Selama Hilda belum kembali, aku ingin mencintaimu dan merasakan dicintai olehmu. Walaupun pada akhirnya kamu akan pergi, setidaknya aku pernah merasakan cintamu.”

“Di sini aku ingin hanya ada diriku di mata dan hatimu, sebelum nanti kamu pergi untuk memperjuangkan Hilda kembali.”

“Berikan semua yang terbaik dari dirimu untukku, seperti apa yang pernah dan akan kau berikan pada Hilda.”

“Sekarang, di sini, hanya untukku.”

Kata-katanya memantik bara di dadaku. Bukan lagi sebuah keraguan atau kebimbangan, melainkan suatu kepastian dan keyakinan. Tidak ada yang ditutupi, tidak ada yang disembunyikan. Ini kisahku dan Linda adalah bagian darinya. Walaupun Hilda tidak pernah beranjak dari hati, tapi Linda selalu punya tempat di hatiku. Aku menariknya ke dalam pelukanku, menciumnya, menciumnya dengan dalam, melepaskan semua rindu yang terpendam. Ciuman yang jujur, menyampaikan refleksi hati tanpa kata, dengan bahasa lain yang lebih sederhana, yang bisa dipahami oleh lima indra.

“Aku mencintaimu, Sayang,” lidah kami tak berucap, suara kami tak terdengar, tapi tubuh dan hati kami memahaminya.

Linda mendorong Bagas menjauh, menghentikan gelora di dadanya. Membisikkan sesuatu ke telinga Bagas dengan sensual.

“Kita berendam air panas dulu, terus kita makan indomie kuah sama bandrek panas, sambil menikmati sunset.”

Hal itu bukanlah sesuatu yang erotis, tapi karena cara Linda menyampaikannya, semua sepertinya bermakna eksplisit.

Bagas tidak berhenti berusaha menempelkan tubuhnya ke Linda, tak peduli atas ucapan Linda sebelumnya. Seluruh pakaian Bagas dibukakan oleh Linda, sebelum ia melucuti pakaiannya sendiri, karena Bagas kini bertingkah seperti anak nakal yang tak mau menuruti perintah ibunya. Tangan Bagas tak pernah berhenti menjawil bagian-bagian tubuh Linda yang terlalu indah untuk tidak disentuh. Linda menarik Bagas ke kamar mandi dengan bath tub cukup besar untuk berdua. Bagas ingin duduk di belakang Linda, agar ia punya akses untuk menggerayangi tubuh Linda, tapi justru sebaliknya Linda meminta Bagas di depan agar ia punya kendali atas Bagas. Ternyata Linda berniat memberikan handjob pada Bagas, agar Bagas lebih tenang dan bisa menikmati atmosfer romantisme, bukan hanya sekadar nafsu. Kedua tangan dan jari jemari Linda yang begitu lihai memainkan penis Bagas beserta aksesorisnya, mengurut lembut namun bertenaga, seraya memainkan dua telur kesuburan dengan apik, membuat Bagas akhirnya ejakulasi, memancarkan air kehidupannya yang sejak tadi tertahan. Kini Bagas lebih tenang, bisa mengikuti alur skenario romantisme yang Linda bawakan.

Malam itu, udara Bandung Utara yang beku merayap masuk melalui celah jendela kaca, menciptakan embun tipis yang memantulkan cahaya rembulan. Di dalam kamar yang didominasi warna tanah dan kayu, Linda berdiri di depan jendela, hanya diselimuti oleh selimut cashmere yang longgar. Pemandangan lampu kota yang berkelip di bawahnya tampak seperti permadani bintang yang terhampar.

Bagas, yang baru selesai menuang dua gelas bandrek hangat, mendekat. Tubuhnya yang bugar, bersih, dan tampak matang dengan indah, terasa kontras dengan suhu ruangan.

"Pas banget nih, dingin-dingin gini minum bandrek hangat." Ujar Bagas.

Linda berbalik, selimut itu melorot, memperlihatkan siluet tubuhnya yang memesona; bentuk payudara montok dan pinggang rampingnya adalah pahatan waktu yang disempurnakan oleh alam dan disiplin.

Ia berjalan pelan, langkahnya memantul lembut di lantai kayu. Setiap gerakan adalah puisi bagi mata Bagas. Bandrek yang dipegang Bagas kini terasa membebani tangannya, seluruh fokusnya telah berpindah ke wanita di depannya.

Linda mendekatkan dadanya ke dada Bagas yang terasa hangat. Sama-sama menghirup manis dan hangatnya bandrek, dengan aftertaste pedas di lidah. Ia mendongak, matanya yang indah dan penuh kerinduan menatap mata Bagas yang gelap.

"Bandreknya hot ya, tapi enggak se-hot kamu." Jokes bapak-bapak yang sama sekali tidak ada lucunya, tapi ternyata bisa membuat Linda meresponsnya.

Linda tertawa kecil, suara chuckle yang renyah namun sensual. Bagas meletakkan gelas bandreknya di meja kecil. Tangan Bagas menarik selimut itu, membiarkannya jatuh ke lantai seperti gumpalan salju. Linda kini sepenuhnya telanjang. Keindahan bidadarinya yang disempurnakan di usianya kini terpampang tanpa cela. Payudaranya yang besar dan padat bergerak sedikit saat ia bernapas, memanggil sentuhan.

Tangan Bagas meraih bokong Linda yang kencang dan bulat, jari-jarinya menekan cekungan pinggul. Ia mengangkat Linda sedikit, membuat Linda melingkarkan kakinya yang panjang di pinggang Bagas.

Bagas mendorong Linda hingga punggungnya membentur dinding kayu dengan bunyi thud yang lembut, lalu menciumnya dengan intensitas yang tak terkatakan. Lidah mereka saling membelit dalam sebuah tarian putus asa. Ciuman itu adalah pengakuan dosa dan janji suci sekaligus.

Bagas menarik celana dalamnya dengan satu gerakan kasar. Ia berlutut di antara kaki Linda, yang kini mengangkang terbuka.

Linda: (Napas terengah-engah) "Pakai lidahmu, sayang, jilati aku, lakukan apa yang pernah kamu lakukan dulu."

Linda masih sangat ingat ketika pertama kali mereka berkencan di Jakarta, saat ketika Bagas masih kehilangan keperkasaannya. Sebagai kompensasi, Bagas ternyata melatih lidahnya sedemikian rupa, hingga mampu membuatnya melayang malam itu.

Bagas menggerakkan kepalanya ke bawah. Aroma vagina Linda yang khas—campuran parfum mahal, sabun lembut, dan esensi gairah yang kuat—menusuk indranya. Ia menemukan klitoris Linda yang memerah, hangat, berkedut. Bagas menghisapnya dengan penuh gairah.

Linda menjerit kecil, suaranya teredam. Jeritan yang mendorong Bagas untuk melakukan lebih. Kakinya menekan kepala Bagas lebih erat. Lidah Bagas adalah kuas yang melukiskan sensasi di atas kanvas basah Linda. Setiap jilatan adalah petir yang menyambar, menarik keluar desahan Linda yang terasa seperti melodi purba yang hanya bisa didengar oleh telinga mereka berdua.

Linda: "Oohhhhh, Bagas. Terus, jangan berhenti. Memekku enak bangettt!"

Bagas berdiri, matanya gelap karena hasrat. Masih dengan posisi berdiri, menghimpit di salah satu dinding villa. Bagas menelusupkan penisnya yang keras, hangat, dan tebal, yang kini mengintip di antara labia Linda yang sudah sangat basah.

Bagas: (Berbisik) "Akhirnya, aku bisa membahagiakanmu dengan seutuhnya, Linda?"

Linda meremas rambut Bagas dengan cengkeraman penuh nafsu.

Linda: "Ya, ini yang aku tunggu. Semuanya kamu jadi milikku, semuanya aku jadi milikmu. Entotin aku yang kuat!"

Dengan satu dorongan yang dalam, teratur, namun kuat, Bagas menusuk masuk ke liang vagina Linda, mengisi Linda sepenuhnya. Desahan mereka berdua beradu, menciptakan gema di ruang yang sunyi.

Bagas: "Sempit, hangat, basah, sayang. Kamu suka, Linda."

Linda: "Iya, aahhhhhhhh, hmmmmmm, teruuusss."

Mereka bergerak, cepat, lambat, intens, tak beraturan. Keringat membasahi dahi mereka di tengah udara dingin. Setiap hentakan adalah pelepasan rasa rindu dan cinta. Bokong Linda yang bulat berayun mengikuti ritme, diremas gemas oleh kedua tangan Bagas yang berotot.

Dalam sebuah dorongan akhir yang brutal dan sarat emosi, Linda menjerit, tubuhnya menggelinjang karena orgasme yang mendalam. Bagas mengikuti segera, mendesah keras ke telinga Linda, mencengkeram erat kedua bongkah bokongnya.

Bagas menyandarkan kepala di antara leher dan bahu Linda. Mereka berdua terengah-engah. Dengan penis masih tertancap, ruangan itu kini terasa hangat, dipenuhi aroma cinta dan gairah. Linda memeluk Bagas erat.

Linda: "Luar biasa, Bagas. Siska benar, kamu bukan lagi Bagas yang dulu. Aku sayang kamu, Bagas."

Bagas mengecup bibir merah Linda, menghirup aroma tubuhnya. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, tapi dengan sebuah gesture cinta nan romantis.

Bagas: "Kita ke kamar, yuk. Tempat kita akan menghabiskan malam yang panjang ini."

Mereka berdua berjalan berdampingan, telanjang dan terjalin erat, diwarnai oleh cahaya rembulan dan bahasa cinta yang hanya mereka berdua yang mengerti.


Dingin di luar semakin menggigit, tetapi kehangatan yang mereka ciptakan di dalam ranjang sudah tak tertandingi. Bagas dan Linda terpisah sebentar, hanya untuk mengambil napas dan saling menatap.

Bagas menyentuh pipi Linda, ibu jarinya menyelusuri guratan cantik di wajah Linda.

Bagas: "Malam ini masih panjang. Kita punya semua waktu di dunia untuk saling mencintai."

Linda mengangguk, senyumnya tulus dan memabukkan. Ia meraih tangan Bagas di wajahnya, menuntunnya ke arah bibir, lalu mengemut salah satu jarinya. Tangan lainnya bergerilya, meraih penis Bagas yang kini kembali menegang, siap untuk babak selanjutnya.

Linda mengubah posisi. Ia bergeser, memosisikan diri di atas Bagas. Bagas berbaring telentang, menjadikannya altar. Linda mengambil kendali penuh, mengarahkan penis Bagas ke gerbang kuil cinta Linda yang kini terasa semakin hangat, basah, dan lentur.

Linda menurunkan tubuhnya perlahan, membiarkan penis Bagas masuk sedikit demi sedikit. Momen itu begitu lambat dan dramatis, seperti proses ritual persembahan pada dewi cinta.

Ketika penis Bagas sepenuhnya masuk, Linda menarik napas panjang, mata terpejam. Rasanya seperti menyatukan dua bagian jiwa yang terpisah sejak lama. Linda bergerak naik turun dengan ritme yang lambat dan penuh kendali. Gerakannya bukan tentang kecepatan, melainkan tentang keindahan dan kemuliaan.

Bagas meletakkan tangannya di pinggul Linda, bukan untuk mempercepat, tetapi untuk menstabilkannya dan memberi dukungan. Matanya tak lepas dari wajah Linda, merekam setiap ekspresi kenikmatan yang syahdu.

Bagas: (Suara parau, kagum) "Kau begitu indah, sayang. Sungguh beruntung, aku bisa bercinta dengan seorang bidadari."

Linda: "Kalau begitu, puja aku malam ini, berikan persembahan terbaikmu."

Linda membungkuk, payudaranya yang besar menjuntai menggantung di depan wajah Bagas. Bagas langsung mengerti; ia menghisap puting yang tegang dengan kelembutan, sementara Linda melanjutkan genjotan sensualnya.

Mereka berdua berada dalam sebuah meditasi seksual yang mendalam, menikmati sensasi kulit bertemu kulit, kedalaman penetrasi yang stabil, dan sentuhan mulut pada payudara. Klimaks bukanlah akhir maupun tujuan, karena kenikmatan itu telah tersebar merata di setiap helai kulit dan saraf.

Linda mencium Bagas dalam, lalu bergeser ke samping, berbaring telentang. Bagas berganti posisi, menindih Linda.

Ini adalah gaya paling klasik, namun paling intim. Bagas tidak bergerak cepat. Ia masuk dan hanya melakukan dorongan-dorongan kecil, dangkal, membiarkan penisnya hanya menyentuh permukaan liang vagina Linda.

Ia menarik kontolnya, hampir keluar menyisakan kepalanya yang masih di dalam, lalu mendorong perlahan kembali hingga ujung pangkal rahim, merasakan desahan Linda. Kemudian, Bagas berhenti, tak melanjutkan gerakannya. Ia hanya bersandar, membiarkan bobot tubuhnya menekan tubuh Linda di bawahnya, dengan berat terukur, membiarkan mereka berdua terhubung dalam keheningan. Tidak hanya kelamin, tapi juga hati dan jiwa.

Keduanya saling menatap dalam, bibir dan lidah saling berpagut lembut, merasakan hangat napas satu sama lain. Bagas mungkin tidak menggenjot Linda, tapi bukan berarti rahim Linda akan diam saja. Otot-otot kewanitaan Linda bekerja, mengurut dan mencengkeram batang penis Bagas yang betah bersemayam di dalamnya, memberikan sensasi luar biasa bagi Bagas.

Bagas mulai menggerakkan pinggulnya kembali, dengan gerakan syahdu, menggoda G-spot Linda dengan sentuhan halus, tanpa perlu dorongan yang memaksa. Linda melenguh, lenguhan lembut bagai nyanyian malam di tengah kesunyian.

Lagi-lagi mereka berhenti, keduanya tidak mengejar orgasme. Ini tentang penyatuan jiwa dan raga, bukan hanya sentuhan kulit dan kelamin. Di tengah keheningan, mereka tidak hanya mendengar napas mereka, tetapi juga detak jantung yang berirama, membuktikan bahwa cinta mereka, meski rumit, adalah nyata.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua bergerak ke posisi miring, saling membelakangi (spooning), tanpa melepas penyatuan kelamin keduanya. Bagas tetap berada di dalam Linda.

Ini adalah perpaduan kenikmatan dan romantisme yang tinggi. Linda dan Bagas hanya melakukan gerakan grinding yang lambat dan bergesekan. Bagas menekan perutnya ke bokong Linda, memperlihatkan kemolekan dan keindahan bokong Linda.

Bagas menarik napas. Tangannya tak ingin menganggur. Ia meraih payudara Linda dari belakang, meremas lembut dan memainkannya.

Mereka melanjutkan. Berjam-jam berlalu dalam gerakan-gerakan lambat, pertukaran kata-kata manis, vulgar, dan kata cinta yang tak terucapkan. Mereka merasakan hormon kebahagiaan membanjiri tubuh, menggantikan kelelahan. Ini bukan lagi bercinta; ini adalah komunikasi tubuh yang tak pernah usai.

Sejenak mereka terlelap, saling berhadapan, telanjang dalam pelukan. Tubuh mereka masih sedikit terhubung oleh sentuhan, dan hati mereka, tak terpisahkan.


Setelah keheningan dan keintiman yang damai, panas tak terduga mulai merayap kembali. Ini bukan lagi kehangatan yang nyaman, melainkan bara api yang siap meledak.

Linda membuka mata. Ia melihat wajah Bagas yang damai di hadapannya, tetapi sentuhan kulit mereka memicu ledakan baru. Rasa nyaman itu tiba-tiba terasa tidak cukup. Ia tidak hanya ingin berbagi keintiman; ia ingin memilikinya.

Linda membalikkan badannya dengan cepat, menindih Bagas yang baru tersentak bangun.

“Ayo, Bagas, sekarang taklukkan aku, tunjukkan apa yang kamu tunjukkan pada Siska.”

Linda tidak memberi Bagas waktu untuk merespons. Ia meraih tangan Bagas dan mengarahkannya ke payudaranya yang besar dan kencang.

Linda: "Pegang. Cengkeram yang kuat, Bagas. Tak perlu kelembutan lagi!"

Linda memosisikan Bagas di bawahnya, menaikkan kakinya ke sisi tubuh Bagas. Ia kembali menanamkan Bagas ke dalam dirinya, tetapi kali ini dengan satu hentakan cepat, kasar, dan penuh kendali.

Linda mulai menggoyang pinggulnya dengan kecepatan dan kekuatan yang brutal. Gerakannya liar, tidak beraturan, didorong oleh hasrat memburu. Payudaranya yang montok memantul liar mengikuti ritme, sebuah tontonan yang memabukkan dan liar.

Bagas, terkejut namun terangsang oleh agresi Linda, membalikkan keadaan. Ia mencengkeram pinggul Linda dengan kedua tangannya, jari-jarinya menekan keras hingga meninggalkan bekas merah.

Bagas: "As you wish, Linda!"

Bagas mengangkat tubuh Linda sedikit, lalu menekan kembali ke bawah dengan dorongan yang keras, berulang kali, cepat. Ini bukan lagi tentang cinta, murni birahi dan gairah; setiap hentakan adalah nafsu.

Penis Bagas, keras dan tebal, hasil dari terapi dengan Siska, terasa seperti palu godam yang menghantam dasar rahim Linda. Linda menjerit, bukan karena sakit, tetapi karena sensasi liar yang memuaskan birahinya.

Linda: "Terus, Bagas! Lebih keras! OOohhhh, Iiiiyaaaaa!"

Dengan satu gerakan gesit, Bagas membalik Linda, membuatnya menungging dan bertumpu pada kedua tangannya. Pemandangan bokong Linda yang besar, bulat, dan indah di depannya memicu birahi Bagas ke titik didih. Bagas masuk dengan dorongan keras tanpa peringatan.

Bagas mencengkeram rambut Linda yang tergerai panjang, menariknya dengan tegas namun tidak menyakitkan. Pinggulnya menggenjot cepat Linda dari belakang.

Dinding vagina Linda terasa berdenyut, hangat, dan ketat, memicu respons liar Bagas. Suara kulit mereka yang bertemu dan desahan Linda yang keras memenuhi ruangan. Ini bukan lagi bercinta; ini adalah persetubuhan yang primitif. Bagas mendorong pinggulnya tanpa henti, cepat, dalam, dan kasar.

Bagas: "Begini kan, Linda? Begini yang kamu mau!"

Linda: (Menjerit di sela-sela napas) "Iyaaa…..iyaaaa….ggiiiniiii…teruuusssiiinnn!"

Bagas menanggapi teriakan vulgar Linda dengan dorongan yang semakin kasar, menargetkan G-spot dengan presisi yang menakjubkan.

Bagas menggenjotnya dengan lebih brutal, kedua tangannya kini mencengkeram pinggul Linda, mengatur ritme agar tak melambat. Sesekali ditamparnya bokong Linda yang menggemaskan, meninggalkan bekas kepemilikan yang kentara. Dengan posisi setengah squat, Bagas kerahkan semua otot kaki dan selangkangannya, menghujam Linda dengan brutal hingga ledakan orgasme tak lagi tertahankan.

Setelah ledakan orgasme dahsyat diraih, Bagas menenggelamkan wajahnya di tengkuk Linda, menghirup aroma parfum dan keringat. Dorongan terakhir terasa seperti gempa bumi, pelepasan energi yang terkumpul semalaman. Mereka berdua mencapai orgasme simultan yang meledak, bukan hanya fisik, tetapi juga pelepasan hasrat. Keduanya tak dapat berucap, hanya deru napas yang terdengar.

Mereka berdua merosot ke lantai. Tubuh mereka basah dan terkuras habis. Gelombang hasrat telah menguap, meninggalkan mereka dengan kelelahan yang memuaskan dan rasa cinta yang dalam, seolah-olah pertempuran itu adalah cara mereka untuk mengakui betapa dalamnya cinta mereka.

Dua insan terlelap dalam pelukan, kulit dengan kulit, kelamin dengan kelamin, dikelilingi oleh dinginnya pagi yang mulai menyelinap. Kelelahan fisik terasa nyata, tetapi kekosongan jiwa telah terisi penuh. Tubuh mereka yang berkeringat dan basah kini saling menyentuh, menghasilkan kehangatan yang jauh lebih dalam dari selimut cashmere mana pun.

Bagas menarik Linda lebih dekat dalam pelukan, membiarkan Linda bersandar pada dada bidangnya. Penis Bagas yang tadinya keras, kini terasa lembut dan memaafkan, bersemayam tenang di dalam Linda.

Bara api birahi yang tadinya liar dan menuntut kini telah meredup menjadi abu intan. Ia tidak padam, hanya jinak, berdiam di dasar jiwa, melayani tujuan yang lebih mulia, yaitu cinta.

Linda mendongak. Ia tidak lagi melihat mata Bagas yang gelap karena nafsu, melainkan mata yang penuh kelelahan, kehangatan, dan rasa yang tak terucapkan. Ia tersenyum, senyum yang membalas kebrutalan hasrat tadi dengan kelembutan yang menyentuh.

Linda: (Tersenyum kecil) "Aku mencintaimu, Bagas."

Bagas hanya tersenyum sambil memejamkan mata.

Mereka berdua terlelap, napas mereka teratur, bau tubuh mereka bercampur menjadi aroma baru yang intim. Di luar, embun pagi telah membeku, tetapi di dalam kamar, mereka adalah pusat dari kehangatan abadi, sebuah deklarasi cinta yang diwujudkan melalui setiap inci raga mereka.

Berdua menikmati tidur lelap dari malam yang terlewat, beberapa jam, hingga dering handphone Bagas mengusik kesyahduan dekapan mereka. Sebuah nama yang terlalu familiar muncul di notifikasi. Stephen.

“Halo, Bagas, sorry gue ganggu liburan Lo.”

“Ada pertemuan besar di Bandung. Semua pemain besar di bisnis kita hadir.”

“William suruh gue datang sebagai perwakilan Chindo Gang. Tapi gue enggak pede kalau sendiri, Lo temenin gue ya, please.”

Nada Stephen terdengar hampir memelas, membuat Bagas tak tega menolak. Yang Bagas tidak ketahui, bahwa di sinilah masa lalu dan masa depan akan bertemu, kebahagiaan dan kesengsaraan akan saling bertumbukan.


Part 21 : KOKO (Hendarko Sudjatmiko)

POV Hilda

Aku menatap proposal bisnis di hadapanku. Di antara barisan angka, proyeksi profit, dan legalitas yang rumit, hanya satu nama yang menarik seluruh fokusku: Koko. Atau lebih tepatnya, Hendarko Sudjatmiko. Nama yang selama ini kuanggap sebagai momok di balik kehancuran Bagas. Nama yang muncul dari bibir suamiku Bagas dalam setiap makian, dari setiap sumpah serapah.

Kini, Koko justru ingin bermitra dengan Perusahaan di mana aku bekerja. Sebuah kebetulan takdir yang lucu, mungkin semesta memang telah menggariskan kisah antara aku, Bagas, dan Koko. Dan aku sebagai pemain utama dari kisah ini, akan mengikuti alurnya, dan tak salah jika sedikit menikmatinya.

Ada getaran aneh menjalari tubuhku. Bukan rasa takut, melainkan sebuah desiran adrenalin yang liar. Sebuah takdir yang menantang, sebuah permainan yang menggoda. Koko bagai nemesis bagi Bagas, musuh alami sekaligus rival yang sempurna. Keduanya serupa tapi tak sama, bagai satu pribadi yang berada di dua sisi, seimbang, sepadan, diciptakan untuk saling mengalahkan dan menghancurkan, namun di sisi lain insting keduanya terasah, tertempa agar selalu lebih baik dari rivalnya, sebuah insting bertahan hidup yang bahkan dimengerti oleh hewan paling rendah sekalipun. Dan kini, aku, Hilda, istri Bagas, saksi hidup dari kehancuran Bagas, justru tertarik ke pusaran perang rivalitas yang menjadi takdir mereka.

Aku tiba di lobi kantor Koko yang menjulang tinggi, markas besar dari perusahaan yang ia dirikan di atas abu investasi Bagas beserta korban dan tumbal lainnya. Keanggunan kantor ini terasa dingin mencekam, seolah dipahat dari keserakahan murni, nafsu buas yang tak pernah puas. Aku mengenakan setelan business woman paling elegan yang kumiliki: rok span panjang berwarna hitam ketat menunjukkan lekuk pinggulku, blazer yang membingkai dada membusung dan pinggang rampingku, dan hijab elegan yang menegaskan garis rahang dan leherku. Aku datang bukan sebagai istri Bagas, melainkan sebagai seorang femme fatale yang tak bisa dianggap remeh. Ruang rapat itu luas, berpanorama kota Jakarta yang membentang luas. Koko sudah menunggu, bersama beberapa orang staf ahlinya. Ia bangkit menyambutku.

Koko yang kulihat kini, jauh berbeda dari bayangan kabur yang Bagas tunjukkan di masa lalu. Dari caci maki dan sumpah serapah yang Bagas lontarkan. Ia adalah sosok Alpha Male yang sempurna: setelan jasnya mahal tanpa cela, sorot matanya tajam dan penuh perhitungan, namun senyumnya... senyumnya menawan, menampilkan ketenangan yang bisa menaklukkan dunia hanya dengan satu tatapan. Persona yang berbanding terbalik dari sosok iblis yang digambarkan dari perspektif Bagas.

“Nyonya Hilda, sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda. Saya sudah lama mendengar reputasi Anda. Seorang Sales Representative yang tidak hanya menguasai produk dan pasar, tapi juga mampu “menguasai” dan “menaklukkan” klien. Membuat mereka tak sadar bahwa mereka sudah berada di dalam genggaman Anda sejak awal.” Suaranya dalam, ringan, bernada licin seperti sutra.

Aku menjulurkan tanganku, membalas tatapannya, penuh percaya diri. Tidak ada kecanggungan, hanya pengakuan, respect, bahwa kami berdua berada di rantai makanan level tertinggi. “Jangan panggil Nyonya, cukup Hilda saja. Dan sebaliknya, sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda, Pak Koko.”

Tangan kami bersentuhan. Sekejap. Ada sengatan listrik yang menggelitik. Aku membaca sorot matanya, tatapan seorang penakluk, dia tahu apa yang dia suka, dan dia tahu apa yang dia mau, dan akhirnya dia akan melakukan apapun untuk memenuhinya. Bukan hanya karena mau dan bisa. Tapi lebih ke naluri untuk menguasai apapun yang bisa ia kuasai. “Silakan, Hilda. Jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri.” Koko menunjuk kursi di depannya, menariknya keluar agar aku mudah mendudukinya.

Diskusi bisnis dimulai. Koko berbicara dengan bahasa yang lancar, strateginya brilian, taktis, dan agresif. Membuatku merasa déjà vu, inilah sosok yang dulu ditampakkan Bagas yang membuatku jatuh hati. Sosok yang penuh gairah, gagah, mempesona, dan berkuasa. Koko memegang kendali dalam setiap kalimat, dalam setiap tarikan napas.

Kini giliranku menyampaikan insight dari sisi Perusahaan kami. Namun, di tengah pembahasan cash flow dan supply chain, matanya seolah menelanjangiku, bukan dengan tatapan yang mesum penuh birahi, justru dengan tatapan tajam, penuh perhatian, tegas tanpa kebohongan, tatapan kekaguman. Aku bisa merasakannya. Tatapannya menari dari hijabku yang rapi, turun ke payudara yang membusung, melengkung di pinggang, dan berhenti lama di lekukan pinggul yang terbalut ketat.

“Marvelous, Hilda,” katanya seraya bertepuk tangan, sebuah apresiasi kekagumannya kepadaku, suaranya sedikit serak, matanya tak beranjak dari bibirku. “Bekerja sama dengan Anda, merupakan keputusan paling tepat.” Aku tersenyum tipis, membalas tatapannya dengan sorot mata yang tak kalah mengundang.

Koko memerintahkan timnya untuk keluar ruangan. Aku kembali duduk di kursiku, dan dia menghampiriku, duduk di kursi tepat sebelahku. Sengaja menggesernya lebih dekat, hingga aku bisa mencium aroma parfum maskulin mewah dari tubuhnya.

“Rasanya kita pernah bertemu sebelumnya, tapi kapan ya? Saya lupa.” Ujar Koko dengan tatapan tak lepas dari mataku. “Launching proyek EPC sebuah Perusahaan Oil & Gas di Malaysia, beberapa tahun yang lalu.” “Saya datang bersama…..Bagas, Bagas Narendra Wiratama.” Ujarku sedikit ragu, apakah aku harus menyembunyikan identitasku sebagai istri Bagas atau sebaliknya. Memang saat itu aku dan Koko hanya sekilas bersalaman dan saling menyapa, tidak ada percakapan akrab.

“Ya sekarang saya ingat, pantas Anda terlihat begitu familiar.” “Anda tahu, sosok Anda berhasil mencuri highlight dari event tersebut. Bak bidadari dari khayangan, bertabur kemilau cahaya, membuat semua mata hanya tertuju pada Anda.” “I admit that I am among those eyes who gaze upon you with a sense of awe, it was glued on you no matter how hard I tried.” Ujar Koko dengan nada bicara santai, mengalir dengan halus seolah hal itu bukanlah sebuah gombalan, tapi sebuah pengakuan yang jujur.

Aku tersenyum menahan tawa malu layaknya seorang gadis yang sedang digoda. Aku bukan seorang amatir perkara lelaki, tapi harus diakui, pria di depanku ini, bukanlah pria sembarangan. Sempurna secara fisik, dengan segala atribut seperti kekayaan, kepintaran, mulut manis, aura karismatik, dll. Kamuflase sempurna bagi iblis dalam menyesatkan manusia. Walaupun kusadari, aku memilih mengikuti insting kewanitaanku paling dasar, I submit to his charm.

Pertemuan itu diakhiri dengan pertukaran nomor pribadi antara aku dan Koko, melanjutkan ini pada sesuatu yang lebih personal namun dengan gaya yang elegan, tidak terburu-buru, berbalut profesionalisme dan kehormatan. Walau hasrat sudah berdesir di darah kami berdua.

“What is your call?” George bertanya kepadaku. “I couldn't find anything that would make us lose.” Jawabku penuh keyakinan. “Ok I trust your judgement.” George memerintahkan untuk mengatur jadwal pertemuan antara dia dan Koko. Draft perjanjian kontrak pun mulai disusun. Pertanda genderang permainan takdir yang penuh dengan kejutan telah ditabuh.

Penandatanganan perjanjian kontrak antara George dan Koko tidak dapat dilakukan bersamaan. Ada hal yang membuat George harus kembali ke negaranya secara mendadak. Aku didelegasikan untuk mengantarkan dokumen perjanjian kontrak yang telah George tandatangani ke Koko, agar dapat dibubuhi tanda tangan Koko sehingga berlakulah perjanjian kerjasama antara Perusahaanku dan Perusahaan Koko.

Melalui nomor pribadinya, aku menghubungi Koko, mengundangnya makan malam di sebuah restoran bonafit yang berada di hotel ternama. Tak butuh waktu lama, ia menjawabnya. Bersedia memenuhi undanganku.

Reservasi restoran dipesan untuk pukul 20:00, aku sudah berangkat dari apartemenku sejak siang, setelah mampir ke kantor untuk mengambil dokumen kontrak yang telah dipersiapkan tim Legal. Kuhabiskan waktu bersiap diri di kamar hotel tempat restoran itu berada. Aku duduk di depan meja rias, setelah menghabiskan entah berapa lama di kamar mandi untuk ritual pembersihan tubuh. Wajahku bagai kanvas yang siap kulukis dengan berbagai rupa, kupilih rupa Wanita yang mampu membuat pria manapun bersedia mengorbankan dirinya demi mendapatkanku. Hatiku berdetak kencang, seperti remaja yang tak sabar menemui pujaan hatinya. Rasa yang sama ketika dulu aku mengundang Bagas makan malam untuk sebuah perjanjian kerjasama, yang berakhir dengan penandatanganan buku nikah di mana aku disahkan sebagai istri Bagas.

Aku kenakan gaun dengan potongan yang elegan, yang memberikan siluet anggun dengan cutting ketat mengikuti garis lekuk payudara dan pinggul indahku. Rambut ditutupi jilbab senada dengan gaun, melilit di leher jenjangku. Sepatu high heels branded serta tas lengan mewah sebagai aksesoris. Kulirik map yang berisikan dokumen kontrak, pastinya tidak akan masuk ke dalam tas mungilku ini. Aku tersenyum, map itu akan jadi kunci permainan malam ini.

Waktu menunjukkan pukul 19:30, aku turun ke lantai tempat restoran berada, waiter menyapaku di meja resepsionis dengan senyum ramah. Mata kekaguman tak bisa disembunyikan dari mata waiter tersebut. Dia mengantarkanku ke meja yang sudah kureservasi, menarik kursi dan mempersilakanku duduk. Sebelum menuangkan wine di gelasku, waiter tersebut meminta izin terlebih dahulu, karena melihat hijab menutupi kepalaku. Aku mengangguk, tanda persetujuan. Sudah bukan rahasia umum bagi yang mengenalku, hijab memang menunjukkan identitas agamaku tapi sayang aku jauh dari ketaatan.

Selang beberapa waktu Koko datang, dengan setelan blazer warna gelap, inner outfit-nya memakai kemeja warna cerah tanpa dasi, dengan celana kain formal lengkap dengan gesper dan sepatu kulit brand ternama. Menunjukkan kelasnya sebagai seorang pria.

“Good evening Hilda.” Suara lembut dan rendah mengucap salam dari arah belakangku.

“Good evening Pak.” Balasku sopan sambil berdiri menyambutnya.

“Please jangan pakai Pak, kayaknya saya sudah tua banget ya.”

“Honorific cuma akan membatasi hubungan kita, bukankah akan menyenangkan jika kita lebih akrab.” Senyum Koko mengembang, membuatku nyaman walau baru beberapa saat saja bertemu.

“Sorry, masih canggung kalau panggil nama Pak eh Koko.”

“Enggak apa-apa nanti lama-lama juga biasa.” Lagi-lagi senyum ringannya menghiasi wajahnya yang rupawan.

Untuk beberapa saat kami mengobrol akrab, meruntuhkan dinding profesionalisme dan kesopanan, kini kami berbicara dengan lepas, mulai dari bisnis, gossip terkini, bahkan masa lalu.

“Do you mind if I’m asking about something personal?” tanyaku ragu.

“Sure, go ahead, enggak ada yang terlalu rahasia buatku.” Jawab Koko ramah.

“What made you who you are today?”

“Wow dalem banget ya pertanyaannya. Berasa lagi podcast nih kayaknya.” Tidak terlihat penolakan atau keberatan dari Koko.

“Sebelum saya jawab, boleh tahu kenapa pertanyaan itu?” Koko balas bertanya.

“Saya selalu kagum akan kisah orang-orang hebat, dan saya yakin, di balik sosok anda sekarang pasti ada kisah luar biasa di belakangnya.”

“Ini kisah yang panjang dan membosankan, apa kamu yakin mau dengar?” Ucap Koko

“We have all night long, tenang saja,” jawabku sambil tersenyum.

Koko tersenyum, sebelum mulai bercerita.

“Pain” Koko memulai cerita dengan satu kata.

“Terlahir dari keluarga miskin, dari seorang ayah yang tidak paham bagaimana menjadi seorang lelaki, dari ibu yang menganggap dirinya hanya sebagai rahim untuk melahirkan keturunan.”

“Tak ada cinta dalam memory masa kecilku, hanya ada bayangan amarah seorang ayah dalam kondisi mabuk atau tantrum dan pelampiasan keluh kesah seorang ibu akan hidupnya. Semua hanya menyisakan rasa sakit karena semua berwujud pada tamparan dan pukulan. Cacian dan makian bagai lagu wajib yang setiap hari kudengar. Tak pernah kumengerti salahku sehingga aku harus mendapatkan itu semua.”

“Puncaknya ketika semua rasa sakit menggerogoti tubuh Ibu, membuatnya mati terduduk ketika sedang mencuci, terkapar tak bernyawa di kamar mandi. Aku hanya bisa menangis histeris melihat ambruknya Ibu. Tak lama kemudian Ayah pulang dari acara mabuknya, melihat istrinya terkapar tak bernyawa, anaknya menjerit histeris, responnya sungguh di luar nalar. Seekor binatang hina pun tak akan melakukan itu, ia pergi, lari, kabur, tidak mau repot dengan semua masalah ini. Iblis tertawa mendapat sajian dark joke paling kelam di hidupku. Aku berusaha meraih kakinya, memeluknya, karena ia satu-satunya keluarga yang tersisa. Dia menepisku mendorong dan menendang dengan kuat, seolah aku hanya seekor anjing hina yang mengganggunya untuk meminta makan. Itulah saat terakhir aku melihatnya hidup. Dan aku berharap dia sudah mati saat ini.”

“Tetangga hanya bisa berkerumun menonton sandiwara hidupku, hingga ada beberapa orang yang membawa jasad Ibu untuk disemayamkan. Beberapa orang berbisik menggosipkan nasibku kini. Seorang tetangga baik hati bersedia menampungku, walaupun memicu peperangan antara dia dan istrinya. 3 hari aku berada di sana, sang istri sudah sangat jijik melihatku, layaknya beban yang hanya mempersulit hidup mereka yang sudah susah.”

“Suatu hari, aku terbangun di trotoar jalan, disambut hiruk pikuk ramainya kota dan tatapan sinis orang-orang. Aku bingung kenapa bisa aku di sini, seingatku aku tidur di lantai beralaskan tikar rumah tetanggaku. Tapi kenapa aku terbangun di sini. Aku menangis kebingungan, entah siapa yang harus kupanggil dalam tangisku. Setelah sekian lama, aku berhenti menangis. Bukan karena lelah, tapi karena aku sadar. Hari itu dunia mendewasakanku dalam sekejap mata. Tangisku tak akan menolongku, tak ada orang yang akan datang membantuku. Hanya aku dan diriku, dan dunia telah merampas hidupku. Maka tidak akan ada lagi yang akan aku berikan pada kehidupan, aku akan mengambilnya, merampasnya, merebutnya, sebagaimana semua dirampas dariku.”

“Bambang Widjanarko, mungkin itu nama yang pantas aku kenang, seseorang yang menarikku dari jalanan. Menunjukkanku jalan, mengajarkanku cara, memberiku kesempatan untuk membalaskan dendamku pada kehidupan. Dia tidak hanya memberikanku nama baru, tapi juga kehidupan baru. Berkat dialah Hendarko Sudjatmiko lahir, menggantikan diriku yang mati bersamaan dengan matinya Ibu dan perginya Ayah.”

Aku tidak melihat air mata dari Koko, hanya sorot mata nanar, bukan emosi atau amarah, tapi sesuatu yang lain. Aku melihat mata iblis dengan tubuh manusia, ia yang ingin menguasai semua, ingin menelan semua. The devil has been made, has been born, ia bernama Hendarko Sudjatmiko alias Koko.

“Boring kan... hehehe.”

“Bukan cerita motivasi yang bisa diangkat jadi kisah sinetron.”

“Tapi terimakasih sudah mau mendengarkan, Aku lupa, kapan terakhir kali aku menceritakan kisah ini.” Ucapnya sambil tersenyum dengan penuh ketenangan, tidak ada gejolak dalam dirinya setelah menceritakan tragedi dalam hidupnya.

“An extraordinary life story.”

“It's no wonder you are who you are today.”

“That is truly commendable.”

Tubuh dan jiwaku bergetar, sensasi yang belum pernah kurasakan, rasa takut dan segan, bercampur kekaguman dan penghormatan. Dia memang bukan orang biasa, bukan rival mudah bagi Bagas. Keduanya bertolak belakang, walaupun keduanya berasal dari keluarga miskin, Bagas lahir dan besar dengan cinta, sementara Koko lahir dan besar dengan kebencian.

“Sekarang giliranku bertanya.” Koko membuka suara.

“I know you're married to Bagas and you're wearing a wedding ring, but where is he, how's he doing?”

“Why do I feel like he's ….. not around?”

Aku tersenyum, menyembunyikan betapa bencinya aku akan pertanyaan itu. Aku menenggak seteguk wine sebelum membalas pertanyaan Koko.

“Isn't it obvious? You know yourself what happened to Bagas. Why am I here with you spending the night, instead of being with him?”

“Apa kita perlu membicarakannya, dan merusak apapun yang sudah kita bangun beberapa hari ke belakang.” Aku tersenyum sensual penuh godaan, mengalihkan apapun pembicaraan tentang Bagas. Koko hanya tersenyum, ia pun tak lagi bertanya tentang Bagas. Dia tahu apa yang sudah dia lakukan pada rivalnya itu. Sebuah kemenangan yang menambah deretan koleksinya. Yang lebih menarik baginya kini adalah sebuah “trophy” dari Bagas yang kini tersaji di hadapannya.

“Sudah jam 22:00, waktu benar-benar berjalan dengan cepat.”

“Saya yakin besok pasti anda punya banyak kesibukan, saya tidak mau mengganggu istirahat malam Anda.” Ucapku mengakhiri malam.

“Mohon maaf, sepertinya dokumen kontrak yang harus Anda tandatangani tertinggal di kamar.”

“Malam ini saya menginap di sini.”

“Jika anda berkenan mungkin tanda tangannya bisa dilakukan di kamar saya, jika tidak, saya pastikan besok pagi dokumen tersebut sudah ada di meja kerja anda.”

“I'll be leaving first; I have some lady business to take care of.”

“Saya akan tunggu anda 15 menit lagi. Ini nomor kamar saya.”

Sorot mata tajam penuh harap, senyum merekah indah tersungging menggoda di bibirku, suara lembut mendayu menggelitik telinga. Itulah respon tubuhku memberi isyarat pada Koko. Malam ini masih terlalu dini untuk diakhiri. Aku beranjak pergi tanpa bersalaman, ada keyakinan bahwa bukan ini momen perpisahannya. Berbalik badan meninggalkan Koko yang masih terduduk di kursinya, menyajikan lekuk belakang tubuhku untuknya. Sekali berbalik, menyunggingkan senyum menatap Koko yang masih melihatku tanpa berkedip, sebelum hilang di balik dinding megah restoran tersebut.


Part 22

POV Hilda

Aku kembali duduk di depan meja rias, melakukan touch-up make-up agar tetap flawless. Aku bersiap untuk sesuatu yang tidak terprediksi. Apakah Koko akan datang ke kamarku, atau tidak. Kalaupun datang, apakah ia hanya untuk tanda tangan kontrak, atau sesuatu yang lain. Perasaan ini seperti déjà vu, rasa yang sama ketika dulu pertama kali berjumpa dengan Bagas. Kekaguman yang berubah menjadi rasa. Tapi kali ini, objeknya berbeda, ditambah godaan dosa yang membuatnya semakin menarik.

Setelah beberapa saat menghabiskan waktu dengannya—menyatukan potongan kisah dari sumpah serapah Bagas, berita dari jurnal bisnis, serta bisik-bisik para trader papan atas—aku menyimpulkan bahwa Koko adalah sosok dengan berjuta karisma. Ia nyaris sempurna, bahkan terlalu sempurna untuk sekadar seorang pebisnis. Lebih mirip iblis yang menyerupakan diri menjadi apa pun yang disukai manusia untuk menyesatkannya. Dan aku memilih menyerah pada godaan tersebut.

Ketukan pintu terdengar lembut. Aku mendekat dengan perasaan gugup. Pintu terbuka, sosok yang kudamba berdiri tegak di sana. Senyumnya indah, menghiasi wajah rupawannya. Segera kupersilakan ia masuk, membimbingnya ke meja di sudut ruangan tempat dokumen kontrak dengan pulpen berkelas tertata rapi di atasnya. Dengan penuh keyakinan dan wibawa, Koko duduk. Ia membuka lembar demi lembar, membaca dengan cepat namun cermat, lalu menandatangani guratan tebal bertuliskan namanya di halaman akhir.

Ia berdiri menghadapku, menatapku tajam dan dalam.

“So, this is it?” tanyanya singkat.

Aku melangkah maju mendekat. Mataku berbalas tatap dengannya tanpa berkedip; mulutku tak berucap. Sejurus kemudian, tangan kanannya meraih wajahku, menariknya lembut ke arahnya. Gerakannya begitu mulus dan halus, tanpa keraguan, penuh kepastian. Bibirnya memagut bibirku—bukan sentuhan lembut dan ringan, melainkan dalam dan menuntut. Tangan kirinya meraih pinggangku, mendekapku erat ke tubuhnya. Aku pasrah, hanya bisa menikmati lumatan bibir dan lidahnya yang basah dan hangat. Tak perlu banyak kata, hanya perlu kejujuran birahi tanpa balutan kemunafikan.

Tangannya mulai gemas tak terkendali. Belaian lembut berubah menjadi remasan. Bokong dan payudaraku jadi sasarannya. Pagutan bibir kami terlepas ketika tangannya meremas kuat payudara montokku dari balik gaun. Desahan dari bibir basahku tak tertahan. Dia menginginkan lebih, dan dia tahu dia akan mendapatkannya.

Tangannya membebaskanku dari dekapan, memberiku pilihan untuk aksi berikutnya. Koko membuka ritsleting celananya, mengeluarkan pusakanya yang sudah memberontak. Penis putih bersih, panjang, besar, dan berurat—setampan tuannya—ditampakkan padaku. Tanpa perintah aku bersimpuh, mendekatkan mulutku. Terlalu indah untuk dilewatkan tanpa lidahku merasakannya. Tanpa basa-basi kujilati, kuemut, dan kukulum segala yang bisa kulakukan pada kejantanannya. Koko melenguh. Mataku menatap ke atas, menjaga eye contact dengannya. Dia tidak menggerakkan pinggul maupun memegang kepalaku; ia menyerahkan semua kendali padaku.

“Oh shit, baru pertama kali dapet BJ dari cewek berhijab.”

Aku paham maksudnya. Sensasi dari hijab yang merupakan simbol religius justru digunakan dalam aksi seronok tak bermoral. Kontradiksi inilah yang menimbulkan sensasi berbeda. Vaginaku berkedut. Bukan hanya Koko yang menginginkan lebih, jiwaku juga. Dengan sadar, aku, Hilda, tidak dalam kondisi mabuk. Jiwa dan ragaku menginginkan Koko.

Kuhentikan service mulutku. Aku berdiri dengan mata yang masih terkunci pada matanya. Kulumat dalam bibir dan lidahnya, saling bertukar lendir yang telah bercampur pre-cum-nya. Pagutan singkat namun berkesan. Kudorong ia agar duduk di kursi tempatnya menandatangani kontrak tadi. Koko terduduk, tangannya masih menggenggam penisnya yang tegak berdiri. Satu per satu kulucuti pakaianku dengan sedikit goyangan erotis. Aku meliuk indah, memamerkan lentur tubuhku dan menonjolkan lekukan kurva yang ada. Gerakanku melambat saat hanya tersisa bra dan g-string, sementara kepalaku masih terlilit hijab dengan sempurna.

Dua potong kain terakhir itu kutanggalkan dengan penuh erotisme, memanjakan mata, membakar nafsu. Dengan hanya menyisakan hijab namun tubuh polos telanjang, aku berjalan menuju kasur. Melangkah elegan dengan suguhan bokong seksi nan kenyal. Aku berbaring, kedua kaki kukangkangkan lebar, menunjukkan bagian terindah yang menjadi incaran para pria. Kuelus lembut garis vertikal yang membelah daging vaginaku—lembab dan basah oleh cairan kewanitaanku. Semua sajian ini kupersembahkan pada Koko, mangsaku malam ini. Kujilat jemari yang basah karena nectar vagina dengan lidah yang menari sensual, lalu kembali ke vaginaku. Sebuah pertunjukan masturbasi tunggal, layaknya ritual pemikat jantan untuk sesi kawin.

Koko mendekat, tangannya masih mengurut batang penisnya untuk mempertahankan ereksi. Matanya tak lepas dari bunga daging kewanitaanku yang merah muda, mekar merekah menyebarkan feromon. Koko memposisikan diri di antara selangkanganku, membungkuk dan menikmati sajian nectar cinta yang terhidang. Ia jilati celah vertikal di antara dua labiaku, melumat hampir seluruh bagian vulva, terutama klitoris. Lidahnya menyeruak masuk ke dalam lubang, memberikan sensasi menggelitik pada dinding vagina. Jilatan ia fokuskan pada klitoris, sementara dua jari masuk bermain di dalamnya, membuat dinding vaginaku rileks sebelum sesuatu yang besar masuk. Cairan cinta membanjiri liang vagina; orgasme pertama kuraih tanpa kusadari.

Pria ini sungguh di luar prediksiku. Aku pikir ia akan bersikap dominan dan arogan, namun permainannya sungguh tertata rapi dengan checkpoint jelas. Selesai mempersiapkan liangku, ia mengangkat tubuh dan mendekatkan wajahnya. Bibirnya melumat bibirku penuh gairah, membuatku merasakan kehangatan saliva yang bercampur cairan vaginaku.

Ia mengubah posisi; kepalaku kini berada di antara kedua kakinya. Ia berjongkok, mengarahkan penis tegangnya ke mulutku. Aku mengerti maksudnya. Kubuka mulut lebar dan kujulurkan lidah, kujilati dari pangkal hingga ujung seraya mengemut kepalanya yang memerah. Ia menepis tanganku, menyesakkan penis yang telah tegak sempurna ke mulutku dengan gerakan pinggul yang teratur. Tidak terlalu cepat, tidak pula lambat. Semuanya dilakukan dengan rapi, membuatku merasakan sensasi hangat di vagina meskipun mulutku yang sedang "dientot". Kuberikan bonus berupa lilitan lidah di sepanjang batangnya.

Pinggulnya mundur, membuat penisnya terlepas. Dari posisi sedekat ini, aku bisa melihatnya jelas: putih, tegak, dengan ukuran di atas rata-rata. Sungguh elok. Aku masih berusaha meraihnya dengan jilatan ketika Koko menarik napas dalam, berusaha menstabilkan detak jantungnya. Ia menatap tajam ke mataku—wajah wanita cantik dengan hijab yang masih terpasang sempurna tengah sibuk memainkan keperkasaannya.

“Give me a second?” ucapnya lembut.

Aku mengangguk sayu, seolah memohon untuk segera dilanjutkan. Hingga tahap ini tak banyak kata, hanya gestur tubuh yang berbicara. Ia meraih kondom dari saku celananya. Sebenarnya aku ingin melakukannya tanpa kondom karena aku sudah memasang KB sejak meninggalkan Bagas, tapi aku ikuti saja alur Koko. Setelah kondom terpasang, ia kembali. Ia mengangkat bokongku dan menyelipkan bantal kecil di bawahnya demi akses penuh yang optimal.

Beberapa kali ia menggesekkan penisnya di belahan labia sebelum akhirnya menyesakkan batang keras berkondom itu masuk menyeruak ke vaginaku. Lancar dan mudah, disambut pijatan lembut otot vaginaku yang seolah kegirangan. Koko mencondongkan tubuh merapat. Mulut kami kembali menyatu, saling memilin dalam rongga mulut. Ia melakukannya dengan kecepatan sedang, penuh cumbuan panas. Aku tidak menyangka ia ingin menyetubuhiku dengan gaya yang biasanya hanya dilakukan atas dasar "cinta". Jujur, aku tidak peduli; hatiku sudah mabuk oleh hasrat.

Suara kecipak basah, lenguhan, dan desahan teredam memenuhi ruangan. Suara riuh dari selangkangan yang beradu disertai lelehan cairan kewanitaan terdengar seiring keluar masuknya penis Koko.

“Oh my God, enak banget, Hilda...” Suara Koko memecah kesunyian.

“Anda juga hebat… ahhhh… ohhhh.”

“Cut the formal bullshit. We’re just two animals fucking like beasts now.”

Genjotannya semakin kasar. Tangannya meremas payudaraku dengan kekuatan terukur, sesekali mengulum putingnya dan meninggalkan bekas merah yang kontras dengan kulit putihku. Koko kembali memberi kejutan; awal yang romantis kini berubah menjadi liar dan jujur.

“Say it…”

“Oh yes, fuck me, Koko… ahhhh.”

Ia mempercepat ritme. Tangannya menggenggam erat payudaraku yang meluber di antara jemarinya, menjadikannya pegangan. Kemudian tangannya berpindah ke pinggangku sebagai tumpuan genjotan brutal. Payudaraku melompat mengikuti irama cepat yang ia ciptakan.

“Let them bounce like crazy, I like that.”

Ia menepis tanganku yang mencoba menahan payudara; ia ingin melihat pertunjukan itu sambil menghujamku.

“I’m coming, Koko!”

“Hold on for a second, Princess. Let’s do it together, oh yes!”

Aku merasakan gejolak ejakulasi di vaginaku mengiringi genjotan Koko yang tidak mengendur sedikit pun. Tubuhnya menegang, menghentakkan pinggul memastikan semuanya terurut keluar. Sedikit kecewa karena tidak bisa merasakan semburan hangat spermanya secara langsung karena terhalang kondom. Setelahnya, Koko kembali ke mode romantis, menghimpit tubuhku dan bercumbuan sebagai apresiasi.

“Ready for next round?” bisiknya. “Let’s do it raw. No caps, that’s fine?”

Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Akhirnya keinginanku terkabul. Ia mencabut penisnya, melepas kondom yang terisi cairan putih kental, lalu melemparkannya ke tempat sampah. Koko kini fokus mempenetrasi kembali dengan posisi scissor. Meskipun baru saja ejakulasi, ia mampu mempertahankan ereksinya. Dengan penis yang berlumuran sisa pejunya, ia kembali menggenjotku.

Hasratku kembali menggebu. Kebimbangan muncul: apakah ini bercinta dengan atau tanpa "cinta"? Sensasi ini berbeda dengan Joko. Koko mendominasiku, memaksaku untuk takluk. Di tengah badai kenikmatan, sebuah kata terucap tanpa kusadari.

“I’m yours… hmmm… I love you,” racauku tak terkendali.

Seolah mendapat energy booster, Koko mempercepat hujamannya. Remasan lembut berubah kasar, sesekali mencubit puting dan menampar payudaraku. Cumbuan berubah menjadi gigitan di leher. Tangannya berpindah mencengkeram rahang, memelukku semakin rapat. Orgasme datang bertubi-tubi.

“Get on all fours,” perintahnya.

Aku berlutut di tengah tempat tidur, menopang tubuh dengan kedua lengan kuat. Di belakangku, ia menaruh satu lutut di kasur dan menghujam vaginaku tanpa keraguan. Tangannya mencengkeram pinggangku tegas. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku dikendalikan sepenuhnya. Ia menekan punggungku, mencengkeram leher dan rahangku, memaksaku menoleh untuk dicumbu dengan menuntut.

Sentuhan yang tadinya mendamba tiba-tiba berubah menjadi dorongan otoritas. Ia melepas hijabku, menyisakan perasaan aneh antara telanjang dan bebas. Di tengah deru napas, ia berbisik di telingaku.

“No more hiding, show me your true face.”

Ia menarik rambutku yang tergerai ke belakang dengan satu sentuhan mantap. Kepalaku terdongak, leherku terekspos. Rasanya seperti kejutan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh. Semua identitas sosialku luruh, menyisakan naluri murni.

“Look at you,” bisiknya posesif. “You like it, don’t you?”

Aku mengerang keras. Tangan bebasnya mendarat di bokongku dengan tamparan berkali-kali, menyisakan ruam merah.

“You said that you were mine, right? You love me, huh?” geramnya. “Tell me, whose pussy is this?”

“It’s yours... Fuck, it’s all yours! Don't stop... please, just fuck me harder!”

Ia tertawa penuh kemenangan. Tak terhitung berapa kali aku orgasme di ronde ini. Koko menekan tubuhku hingga payudaraku menyentuh sprei yang sejuk. Bokongku menungging tinggi saat ia terus memacu genjotannya. Bagai lolongan serigala jantan, erangannya mengiringi ejakulasi kuat di rongga rahimku. Semburan panas bertekanan tinggi itu memberikan sensasi tenang setelah pergumulan durhaka.

“Plakkk!” Sebuah tamparan kuat mendarat di pantatku.

“On your knees. Now.”

Aku patuh. Aku bersimpuh di depannya dengan napas memburu. Ia berdiri tegak, mengurut batang kejantanannya yang masih cukup tegak. Ia mencengkeram rahangku, mendongakkan wajahku.

“Look at me,” bisiknya membara.

Tanpa perintah lanjut, aku membuka mulut lebar dan menjulurkan lidah. Tanganku menopang payudara beratku, menghimpitnya di tengah, menunggu di mana ia akan menembakkan pejunya. Semburan cairan benih terpancar; ada yang mendarat di wajah, mulut, dan payudara. Koko tersenyum melihat "lukisan" itu. Kuratakan lelehan itu di payudaraku, sementara yang di wajah kuusap dan kujilat. Kutunjukkan air kehidupannya di mulutku, lalu kutelan tanpa ragu.

Koko membungkuk menciumku dalam, tak peduli wajahku masih bersimbah maninya. Kuraih penisnya yang mulai mengendur, kuhisap sisa air mani yang tertinggal. Kami bercumbu kembali, ia memuji dengan senyum lebar yang memperlihatkan gigi putihnya yang rapi. Ia mengambil dua kaleng bir dingin dari mini bar. Kami minum dan saling berbagi cairan bir lewat cumbuan.

Pukul 01.50, kami memutuskan untuk istirahat. Di balik selimut, ia memelukku dari belakang. Penisnya yang masih menegang meski tidak maksimal menelusup di antara pahaku.

“Good night, Love you,” bisiknya. Aku tertidur lelap dalam pelukannya.

Keesokan paginya, Koko sudah tidak ada. Di samping nampan sarapan, terdapat secarik kertas berisi puisi berjudul Angel of the Burning Abyss.

Angel of the Burning Abyss You are an angel with a searing fire deep within, You do not soar toward Nirvana, but reign amidst the heat of sin. Your worshippers sacrifice both soul and flesh in your name, Just to taste the sacred waters from the temple of your frame. I, who have grown drunk upon that holy, nectarous flow, Now stumble through the world with nowhere left to go. Everything has faded, lost to a mind no longer whole, Save for the lingering heat of your fire, still charring my very soul.

Tak kusangka ia seromantis itu. Di sana juga ada kotak hitam berisi cincin berlian. Sebuah pesan masuk: “Be with me, I offer you the highest throne in my kingdom. You are not my subject; you shall be my Queen, standing beside me. Together, we shall stand above the world, with only the heavens as our limit.”

Hariku dimulai dengan indah. Aku bersiap dengan pakaian formal elegan yang tetap menonjolkan sisi sensual, tak lupa hijab senada. Aku menuju kantor George untuk menyampaikan pengunduran diri. George terkejut dan mencoba menahanku dengan tawaran gaji berkali-kali lipat, namun keputusanku bulat.

Setelah urusan dengan George selesai, aku membalas pesan Koko: “I am coming aboard next week.” Aku menyertakan foto cincin pemberiannya yang kini tersemat di jari manis, menggantikan cincin dari Bagas.

Seminggu kemudian, aku melangkah keluar dari kantor George dan dijemput mobil van mewah menuju perusahaan Koko. Di sana, aku menjabat sebagai Head of Strategic Analysis. Di kantor ini, aku tidak mengenakan hijab. Koko ingin aku tampil sebagai diriku sendiri tanpa simbol apa pun.

Aku diperkenalkan di depan jajaran BOD (Board of Directors). Beberapa menatap sinis, menganggapku hanya mistress yang diberi jabatan. Aku berjanji dalam hati akan membungkam mereka dengan kinerjaku. Pukul 19.00, sebuah notifikasi masuk memintaku datang ke apartemennya.

Koko menyambutku dengan kimono mandi dan rambut basah. Ia menuangkan sampanye. Kami berdebat kecil tentang posisiku—apakah aku hanya sebuah trofi kemenangan atas Bagas atau lebih.

“I have a feeling it won’t be an easy night,” ucap Koko.

“No easy sex, not even a free blowjob,” balasku menantang.

Koko menyatakan kekagumannya atas kecerdasanku yang mampu melipatgandakan laba perusahaan lamaku. Aku puas. Aku berdiri, menghampirinya dengan penuh sensualitas. Tepat di hadapannya, aku menenggak habis sampanye, lalu berlutut. Kucepol rambutku ke belakang. Tanganku menyentuh pahanya, bergerak menuju pangkalnya yang tak tertutup apa pun di balik jubah mandi. Batang besar itu segera kutemukan. Kusibakkan kain jubahnya, mulai mengelus dan mengurut pelan.

Ia mencoba menciumku, namun kuhalangi dengan tangan. Bukan bibirnya yang akan mendapatkan ciumanku malam ini. Setelah sentuhan dan remasan di seluruh bagian penis termasuk kedua scrotum-nya, kudekatkan wajahku pada kejantanannya yang mulai bangkit hidup.

Lidahku terjulur perlahan, menyapu ujung pre-cum yang mulai mengintip. Rasa payau itu meledak di indera pengecapku—pembuka dari ritual pemujaan yang dalam. Aku tidak terburu-buru; aku ingin dia merasakan setiap inci pengabdianku sebagai pemujanya. Aku melumat kepalanya dengan gerakan memutar yang lambat, membiarkan kehangatan mulutku membungkus batang berurat itu. Koko mengerang. Tangannya mencoba meraih kepalaku untuk mendominasi ritme, namun kutepis dengan tegas. Aku mendongak, menatap matanya tajam seolah berkata: “Duduk, diam, dan nikmatilah.” Koko terkesiap, lalu bersandar menyerah sepenuhnya pada kuasaku.

Aku menelan seluruh batangnya hingga ke pangkal. Tenggorokanku berdenyut memijat ototnya. Suara slurping basah memenuhi ruangan, beradu dengan napas Koko yang memburu. Aku memberikan deepthroat konsisten dengan air liur yang melumasi. Lidahku mulai menari lambat, menciptakan kevakuman yang membuat tubuh Koko tersentak. Eye contact yang intens ini menjadi jembatan emosi yang memaksa Koko merasakan jiwaku yang liar.

Kupraktikkan semua teknik: mengulum dengan gerakan memutar, menggelitik bagian bawah yang sensitif, dan meningkatkan ritme secara bertahap. Tanganku memainkan kedua scrotum-nya, meremas lembut namun menyiksa. Gerakanku semakin liar, memberikan tekanan tak terduga yang membuat napas Koko parau. Aku melihat kekaguman dan ketidakberdayaan di matanya—sebuah supremasi yang berhasil kuraih.

Puncaknya tiba. Saat ia di ambang ledakan, aku memperketat lumatan, menghisap dengan kekuatan penuh. Semburan pertama mendarat di mulutku—panas dan kental. Aku membiarkan setiap denyut ejakulasinya memenuhi rongga mulut, membiarkan sebagian kecil meluncur turun ke tenggorokan.

Setelah denyut mereda, aku melepaskan pagutan perlahan. Bibirku basah mengkilap. Dengan gerakan sensual, aku mengambil gelas sampanyeku yang kosong. Di hadapannya yang masih terkapar penuh nikmat, aku mengeluarkan cairan putih kental itu dari mulutku ke dalam gelas bening tersebut—layaknya sebuah persembahan. Aku memasukkan jari telunjuk ke mulut, menyesap sisa rasa di lidah, lalu mengusapkannya ke bibir bawah secara provokatif.

Tanpa sepatah kata, aku bangkit. Aku merapikan penampilan dengan keanggunan seorang bangsawan. Tak ada kata terucap. Aku berjalan menuju pintu dengan langkah mantap dan pinggul berayun. Di ambang pintu, aku berhenti, menoleh perlahan dengan senyum misterius, lalu mengedipkan sebelah mata padanya—sebuah janji bahwa malam ini hanyalah awal dari permainan panjang.


Part 23

Hanya dalam beberapa bulan, pencapaian Hilda melampaui siapa pun di perusahaan itu. Dengan intuisi bisnis yang tajam dan taktik yang nyaris tanpa cela, Hilda berhasil memenangkan deretan mega proyek infrastruktur yang selama ini hanya menjadi mimpi bagi perusahaan itu. Ia bergerak di ruang rapat dengan keanggunan seorang predator; setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah jerat yang mematikan bagi lawan bisnisnya. Ia telah membuktikan pada seluruh jajaran direksi yang meremehkannya bahwa jabatan Head of Strategic Analysis miliknya bukan dibayar dengan "modal ngangkang", melainkan dengan kecerdasan yang mampu mengguncang pasar.

Jumlah proyek yang ditangani, cash flow, dan profit semuanya berlipat di tangan Hilda. Mata yang dulu menatap sinis, mulut yang berdengung dengan nada sumbang, kini tak lagi bisa menistakannya. Hilda memang seorang pekerja keras; di bawah matahari dia bergelut dengan angka, proposal bisnis, serta orang-orang dengan kewenangan dan kekuasaan tinggi. Gedung-gedung pencakar langit menjadi arena pertarungannya.

Siang hari, Hilda adalah simbol profesionalisme—dingin, tak tersentuh, dan berwibawa dalam balutan pakaian formal yang elegan. Dan di malam hari, ia menjelma menjadi Aphrodite sang dewi cinta. Bergumul dengan Koko sebagai ritual wajib pemujaan, atau sekadar melepas lelah setelah perburuan harta yang melelahkan. Ia dan Koko berubah menjadi sepasang makhluk nokturnal. Persetubuhan mereka bukan lagi sekadar pelampiasan nafsu, melainkan sebuah ritual tension release untuk membuang segala racun dan tekanan dari dunia bisnis yang mereka geluti.

Ritual persenggamaan tidak hanya dilakukan di kasur dari kamar apartemen yang nyaman. Ketika nafsu telah di ujung tanduk, ruang kerja menjadi alternatif yang ideal. Ruang kerja Koko yang merupakan ruang termewah di gedung tersebut, dengan segala fasilitas seperti sofa empuk dan nyaman, meja kerja yang luas, juga meja rapat, menjadi sarana peraduan birahi mereka. Gairah mereka tak lagi mengenal batas ruang. Terkadang, mereka melakukannya di sudut-sudut publik yang berisiko; di parkiran basement yang sunyi, atau di ruang arsip kantor saat jam kerja telah usai. Sensasi akan kemungkinan terpergok justru menjadi bensin bagi api birahi mereka. Pernah suatu kali, di ruang kerja karyawan, mereka bercinta dengan liar di bawah sorot kamera CCTV. Mereka dengan sengaja membiarkan layar monitor di ruang penjagaan menyala, memberikan tontonan eksklusif bagi para security dan OB yang bertugas malam itu terpaku dalam fantasi gelap dan mimpi mereka.

Malam itu, gedung perkantoran sudah mulai lengang, menyisakan sunyi yang mencekam di lantai eksekutif. Di dalam ruang kerjanya yang luas, Koko duduk di balik meja jati besarnya, sementara Hilda berdiri di hadapannya, baru saja menyelesaikan laporan atas pencapaiannya di minggu ini. Namun, atmosfer di sana tidak lagi bicara soal bisnis.

Koko meraih pinggul Hilda mendekat, lalu dengan satu gerakan yang penuh otoritas, ia menarik wanita itu hingga terduduk di atas meja kerjanya. Tangan Koko menyusup ke bawah rok pensil ketat Hilda, merayap di sepanjang paha dalamnya yang halus. Jemari Koko yang dingin menyentuh pusat kewanitaan Hilda yang sudah mulai lembap. Hilda mengerang kecil dengan mata terpejam, menggigit bibir bawahnya sendiri. Kepalanya menengadah, tangannya menjadi tumpuan tubuhnya di atas meja itu. Koko mulai melumat bibir Hilda, sebuah ciuman yang penuh dengan rasa lapar, sementara tangannya yang bebas meremas tonjolan daging yang masih berbalut kemeja sutra Hilda seraya melepas kancingnya satu per satu dengan cepat hingga payudaranya yang montok melompat keluar, memamerkan puting yang sudah mengeras sempurna.

"Aku ingin melakukan sesuatu yang lebih berani malam ini," bisik Koko tepat di telinga Hilda, suaranya dalam penuh gairah.

Ia menarik Hilda bangkit, membiarkan kedua payudara Hilda bebas berguncang setelah terbebas dari bra yang mengekangnya seharian. Bokong Hilda pun tak luput dari remasan dan jamahan jahil tangan Koko. Lalu ia menuntunnya keluar menuju ruang staff yang luas. Hilda hanya tersenyum, menunjukkan bahwa ia pun menikmati permainan liar ini. Ruangan itu dipenuhi dengan deretan meja kerja yang kosong ditinggal pemiliknya, hanya ada beberapa barang pribadi karyawan di meja-meja itu, menunjukkan kepemilikan atas meja tersebut. Namun, yang menjadi fokus Koko bukanlah interiornya, melainkan satu titik di pojok ruangan, di mana kamera CCTV menangkap area tersebut dengan sangat jelas.

"Di sini?" tanya Hilda dengan napas tertahan.

"Ya, di sini. Di tempat karyawan biasa bekerja," jawab Koko.

"Bukannya di sini ada CCTV?" tanya Hilda. Koko hanya tersenyum tanpa menjawab.

Koko mendorong Hilda hingga tersudut pada salah satu meja panjang di tengah ruangan. Ia memutar tubuh Hilda hingga menghadap tepat ke arah lensa CCTV yang menempel di sudut dinding, sengaja memposisikan Hilda agar menjadi fokus sorotan CCTV tersebut. Dengan kasar, Koko menurunkan ritsleting celananya, mengeluarkan kejantanannya yang sudah menegang maksimal—putih, berurat, dan nampak mengkilap oleh pre-cum. Hilda tersenyum dengan wajah memerah penuh gairah, diangkatnya rok hingga ke pinggang lalu menurunkan celana dalam yang terlihat lembap di bagian tengahnya dan meletakkannya di meja itu. Jarinya mengisyaratkan agar Koko mendekat.

Tanpa basa-basi, Koko mengangkat satu kaki Hilda ke atas meja, lalu menghujamkan penisnya yang besar ke dalam liang kewanitaan Hilda yang sudah banjir oleh cairan gairah.

"Ahhhh! Koko...!" Hilda mengerang keras, suaranya bergema di ruangan yang luas dan sunyi itu.

Ia tahu bahwa di ruang kendali bawah tanah, para petugas keamanan mungkin sedang menatap layar monitor dengan mata terbelalak, menyaksikan pemandangan paling vulgar yang pernah terjadi di kantor ini. Hilda menatap lurus ke arah kamera, memberikan tatapan sayu yang penuh tantangan, seolah ia sedang memberikan pertunjukan eksklusif bagi siapa pun yang menonton.

Koko memacu genjotannya dengan ritme yang brutal. Setiap kali pinggulnya menumbuk bokong Hilda, terdengar suara plok-plok yang basah dan nyaring. Di bawah pendar lampu neon kantor yang dingin, kulit mereka yang bersimbah keringat nampak berkilau. Koko meraih payudara Hilda, meremasnya dengan kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan dari jemarinya.

"Show it to the camera, Hilda! Show them your true slutty face!" geram Koko sambil mempercepat ritmenya.

Hujaman Koko semakin dalam dan kasar, setiap dorongan terasa seolah ingin menembus rahim Hilda. Rasa menjadi tontonan rahasia ini memicu ledakan sensorik yang luar biasa dalam diri Hilda. Ia merasa seperti seorang pelacur kelas atas sekaligus ratu yang sedang memamerkan kekuasaannya. Ia mulai meliukkan tubuhnya, sengaja memperlihatkan bagaimana penis Koko keluar-masuk, melumuri rambut kemaluannya yang tipis dengan lendir cinta yang melimpah. Sesekali matanya menatap kamera, mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum. Ia tunjukkan wajah binalnya seakan menggoda siapa pun yang sedang menyaksikan live show ini.

"Koko... fuck... aku keluar!" jerit Hilda saat orgasme pertama mulai menghantam saraf-sarafnya.

Koko tidak berhenti. Ia menyentak tubuh Hilda, memutarnya, memaksanya untuk menungging di atas meja staff tersebut, memberikan akses penuh bagi kamera di belakang mereka untuk merekam pemandangan yang paling seronok: liang kewanitaan Hilda yang merah merekah sedang dijejali secara brutal oleh batang keperkasaan Koko. Dengan satu dorongan kasar, ia menekan punggung Hilda hingga dada wanita itu menempel pada permukaan meja staff yang keras. Sensasi dingin geli merambat di kedua puting Hilda, payudaranya terhimpit antara tubuh dan meja. Posisi ini memaksa bokong Hilda menungging tinggi, mengekspos bagian paling intimnya tepat di depan kamera CCTV yang bertengger di pojok ruangan.

"Hilda! Look at the lens!" geram Koko sambil menjambak rambut Hilda ke belakang, memaksa wajah cantik itu terdongak dengan bibir yang menganga penuh gairah.

Koko tidak memberikan jeda. Ia memegang pinggang Hilda dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga jemarinya memutih, lalu dengan satu hentakan pinggul yang bertenaga, ia menghujamkan penisnya yang besar dan tegang ke dalam liang kewanitaan Hilda.

"AGHHH! Koko...!" jerit Hilda, suaranya memantul di dinding ruangan yang sunyi.

Penetrasi itu begitu dalam dan brutal, seolah-olah Koko ingin menanamkan eksistensinya hingga ke hulu rahim Hilda. Dalam posisi doggy style yang liar ini, setiap inci dari batang kejantanan Koko yang berurat masuk dan keluar dengan ritme cepat tak terkendali. Suara plok-plok dari pertemuan kulit selangkangan mereka yang basah terdengar nyaring, beradu dengan suara deru napas Koko yang kian memburu.

Di bawah pendar lampu kantor, Hilda bisa merasakan gesekan panas yang membakar dinding vaginanya. Ia sengaja meliukkan pinggulnya, menyambut setiap hujaman dengan gerakan menjepit yang membuat Koko mengerang frustrasi. Melalui pantulan samar di kaca besar jendela ruangan, Hilda melihat betapa vulgarnya pemandangan mereka, bagai dua hewan liar yang sedang kawin. Liang kewanitaannya yang merah merekah nampak terbuka lebar setiap kali Koko menarik mundur penisnya yang putih bersih, sebelum kembali dijejali habis hingga tak menyisakan celah.

Koko berbisik tepat di telingaku, napasnya yang panas dan parau terasa membakar kulit leherku. Ia menghujamkan miliknya lebih dalam, seolah ingin memastikan suaranya menembus hingga ke sukmaku.

"Feels good, doesn't it? Getting fucked while being watched," geramnya sambil menarik kepalaku agar menatap tajam ke arah lensa CCTV di sudut ruangan. Tangan satunya mendaratkan tamparan keras pada bokong kenyal Hilda. PLAK! Suara tamparan itu menyisakan ruam merah yang kontras di kulit putih Hilda, namun justru memicu banjir cairan kewanitaan yang semakin meluap, melumasi paha dalam mereka yang saling beradu. Hilda tidak lagi peduli pada harga dirinya. Ia justru semakin menunggingkan bokongnya, menantang Koko untuk menghujamnya lebih dalam lagi.

Hujaman Koko menjadi semakin tak terkendali. Ia memacu genjotannya dengan kecepatan yang di luar kendali, membuat payudara Hilda yang menggantung bebas bergoyang liar mengikuti hentakan demi hentakan. Setiap kali Koko menghujam masuk, tubuh Hilda terdorong maju, namun jambakan tangan Koko pada rambutnya selalu menariknya kembali ke dalam pusaran nikmat yang menghanyutkan.

"I’m cumming! Koko, fuck me! Fill me up, Koko!" raung Hilda saat saraf-sarafnya mulai meledak dalam orgasme yang hebat.

Vagina Hilda berdenyut kencang, menjepit batang keras di dalamnya dalam sebuah kontraksi yang ritmis. Koko merasakan jepitan itu dan ia kehilangan kendali. Dengan beberapa hentakan pendek yang sangat bertenaga, ia membenamkan penisnya hingga batas maksimal. Ia melolong rendah saat ejakulasi yang panas dan melimpah menyembur kuat, membanjiri rongga rahim Hilda.

Koko tidak segera menarik diri. Ia membiarkan tubuhnya menghimpit punggung Hilda yang bersimbah keringat, sementara sisa-sisa denyut ejakulasinya masih terasa memijat dinding dalam vagina Hilda. Di bawah sorot CCTV, noda putih kental mulai merembes keluar dari liang Hilda yang masih menganga, menetes perlahan di atas meja kerja itu—sebuah noda dosa yang nyata di tempat yang seharusnya profesional.

Hilda ambruk di atas meja, terengah-engah. Matanya masih sempat melirik ke arah kamera sebelum ia tersenyum tipis. Ia baru saja memberikan sebuah live show yang tak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang memegang rekaman itu malam ini.

Kecerdasan otak Hilda tidak bisa dibohongi oleh angka-angka yang nampak sempurna di permukaan. Sebagai Head of Strategic Analysis, Hilda mulai merasa ada yang janggal di balik kemegahan proyek-proyek yang ia kelola. Kejanggalan itu bermula dari penelusuran yang Hilda lakukan secara mandiri. Ia menemukan aliran dana masif yang masuk ke pembiayaan proyek tanpa pernah tercatat melewati rekening resmi perusahaan. Secara administratif, perusahaan Koko tidak memiliki kapital atau kapasitas leverage untuk menangani proyek infrastruktur berskala nasional yang sedang berjalan. Namun, pengadaan material, pembayaran subkontraktor, hingga biaya operasional di lapangan selalu terbayar tepat waktu.

Dana itu seolah jatuh dari langit. Tidak ada catatan pinjaman bank, tidak ada penerbitan obligasi, dan tidak ada investor baru yang terdaftar. Seolah-olah ada "tangan gaib" yang senantiasa menyuplai uang tunai dalam jumlah tak terbatas langsung ke rantai pasok material. Hilda menyadari bahwa ia tidak sedang memimpin sebuah perusahaan konstruksi biasa; ia sedang berada di pusat sebuah mesin pencuci uang yang sangat canggih.

Malam itu, di kamar apartemen Koko yang mewah, suasana begitu tenang. Seperti biasa, sama seperti malam-malam sebelumnya, mereka baru saja menyelesaikan sesi pergumulan yang panjang dan melelahkan—sebuah persenggamaan yang penuh gairah dan birahi, meninggalkan tubuh mereka dalam kondisi relaksasi total. Hilda berbaring di pelukan Koko, jemarinya menelusuri kulit putih bersih berotot dari lengan pria itu.

"Koko," bisik Hilda, suaranya memecah keheningan. "Aku melihat laporan keuangan perusahaan. Ada dana masuk senilai ratusan miliar untuk pengadaan baja dan semen, tapi uang itu tidak pernah tercatat di laporan accounting kita. Dari mana asal uang itu?"

Koko terdiam sejenak, menoleh ke arah Hilda dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kebanggaan atas kecerdasan wanita itu dan peringatan akan bahaya yang mengintai.

"You are just too smart," jawab Koko dengan suara baritonnya yang berat. "Behind that flawless array of numbers, something sinister remains hidden."

Hilda bangkit, duduk bersandar pada headboard tempat tidur, membiarkan selimut sutra merosot hingga memperlihatkan payudaranya yang masih memerah bekas remasan. "Tell me. Bukankah aku bukan sekadar partner-mu?"

Koko terkekeh rendah, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Sooner or later, you were bound to find out. That money originates from shadows—certain individuals and organizations. Mafia, gangsters, triads... you name it. They are the syndicates that breathe life into the black market, controlling everything from illicit arms and human trafficking to narcotics. Their blood is the 'dirty money'—wealth so tainted that no legitimate banking system on earth dares to touch it."

Koko menatap tajam ke dalam mata Hilda, intensitasnya mencekik. "And me? I am The Accountant. My task is to transmute that blood into concrete, asphalt, and towering skyscrapers. I orchestrate the flow of those funds so meticulously that they appear as nothing but pristine investments. Those mega-projects you’ve won? They are the finest laundering machines ever built. Every rupiah you generate looks perfectly legal in the eyes of the law, but its roots are buried deep within hell."

Hilda tertegun. Realitas baru ini menghantamnya lebih keras dari orgasme mana pun. Ia kini paham bahwa kesuksesan perusahaan ini bukan hanya karena kejeniusan Koko, melainkan karena ia didukung oleh modal tak terbatas dari kegelapan. Dan Koko adalah wajah dari kegelapan itu.

"I will introduce you to the architects of this darkness. They are beings for whom the word 'Human' is a hollow mask; they are Devils in their truest, most absolute form."

Malam itu, atmosfer di sekitar Koko berubah total. Tidak ada lagi tawa sinis atau arogansi yang biasanya meluap-luap. Ia membawaku ke sebuah lokasi terpencil, sebuah tempat yang dari luar hanya tampak seperti gudang material raksasa. Gerbang bajanya lebar, cukup untuk dilewati truk-truk tronton bermuatan semen, namun di baliknya tersembunyi sebuah dunia yang tak terbayangkan: sebuah mansion megah bergaya klasik kolonial yang berdiri dengan angkuh, dijaga ketat oleh pria-pria berpakaian taktis yang diam seribu bahasa.

Koko mengenakan setelan jas hitam pekat dengan dasi merah darah—sebuah seragam formal yang terasa sangat berat. Aku pun diminta mengenakan gaun hitam yang senada, tanpa perhiasan mencolok, dengan potongan elegan yang menutup rapat tubuhku namun tetap menonjolkan siluet sensual yang menjadi ciri khasku.

Kami mengecek ruang aula utama yang sangat luas. Deretan meja dan kursi kayu dengan ukiran elegan berjajar rapi menghadap monitor raksasa. Hidangan fine dining dari berbagai penjuru dunia tersaji mewah, namun aromanya terasa hambar ditelan ketegangan. Koko memintaku berdiri di sampingnya di pintu depan, bersiap menyambut tamu-tamunya.

Tak lama, iring-iringan mobil silent glamour classic—Rolls Royce dan Bentley tua yang nampak terawat tanpa cela—mulai berdatangan. Dari dalamnya turun sosok-sosok dengan karisma yang menyesakkan. Wajah mereka nampak tenang, bahkan terhormat, namun aura intimidasi yang mereka bawa segera mengisi setiap sudut ruang. Hilda merasa dadanya sesak, seolah oksigen di ruangan itu telah disedot habis. Koko, sang predator yang kukenal, kini nampak kerdil. Ia menundukkan kepala dengan takzim setiap kali menyalami mereka. Tidak ada keakraban; para tamu hanya duduk dalam ketenangan yang mencekik.

Koko membuka acara dengan ramah tamah yang lebih dari sekadar sopan santun—ia memuja mereka lebih dari para raja. Tanpa banyak basa-basi, ia memulai presentasi. Isinya adalah angka-angka raksasa, perbandingan realisasi proyek, hingga plan A sampai Z untuk mencuci dana mereka. Koko meyakinkan mereka bahwa tidak ada sepeser pun yang akan hilang; semua akan berkembang melalui jalur legal maupun ilegal. Tak ada respons. Tak ada pertanyaan. Bagi mereka, uang hanyalah angka di atas kertas—tujuan mereka jauh melampaui itu. Mereka adalah para penguasa bayangan yang namanya tak akan pernah muncul di internet, namun merekalah yang menggerakkan para raja di panggung dunia.

Acara itu hanya berlangsung 30 menit, tapi bagi kami rasanya seperti tercekik berjam-jam. Setelah mereka pergi dalam keheningan yang sama, Koko mengusap keringat halus di dahinya. Tanganku yang menggenggam sapu tangan gemetar hebat, basah oleh keringat dingin. Aku kini paham—merekalah iblis yang sesungguhnya. Jika setan hanya menggiring satu jiwa, orang-orang ini mampu menggiring jutaan jiwa ke neraka dengan satu ketukan palu kekuasaan mereka.

Koko menyandarkan punggungnya di pintu mansion yang berat, napasnya memburu, keringat dingin membasahi dahinya. Aku mendekat, merasakan getaran adrenalin yang sama.

"Koko," bisikku sambil mengusap keringat di dahinya. "Tadi itu sangat sempurna. Tidak ada satu pun celah untuk rugi dalam skenariomu. Tapi aku ingin tahu satu hal... bagaimana dengan mitra-mitra perusahaan investormu sebelumnya? Mengapa mereka semua berakhir bangkrut dan hancur, padahal sistemmu tak memungkinkan kegagalan?"

Koko menatapku dengan mata yang menggelap, ada kilat impulsif yang mengerikan di sana. "Tidak ada celah untuk rugi dalam bisnisku, Hilda. Kebangkrutan mereka bukan karena sistem yang gagal, tapi karena aku memang menginginkan mereka hancur. Aku ingin mereka rata dengan tanah agar saat aku berdiri di puncak, mereka bisa melihatku dari tempat yang paling rendah."

Jawaban itu adalah bukti kekejaman murni, sebuah pengakuan yang justru memicu gelombang gairah yang gelap dalam diriku.

Setelah tamu terakhir menghilang di balik gerbang baja mansion, suasana yang tadinya sunyi dan mencekap mendadak meledak. Koko menyandarkan punggungnya di pintu kayu jati yang besar, napasnya memburu, matanya merah karena sisa adrenalin dan nafsu yang tertahan. Ia menatap Hilda dengan lapar.

Koko mencengkeram lenganku, menarikku dengan paksa menuju pintu kamar utama. Matanya yang gelap memancarkan aura predator yang haus akan penaklukan. Di depan pintu, ia berbisik dengan suara parau yang penuh otoritas:

"Into the bedroom, now. I’m going to fuck you senseless."

Suaranya yang merendahkan justru membuat vaginaku berdenyut kencang, memicu banjir gairah yang menuntut pelampiasan segera di atas ranjang tersebut. Kami berdua berebut menelanjangi satu sama lain, bagai binatang kelaparan. Suara robekan kain, kancing yang terlepas, tidak ada kelembutan malam ini. Sedetik kemudian kami sudah dengan pakaian kulit kami.

Begitu pintu kamar tertutup, Koko menyerang Hilda dengan cumbuan kasar yang lebih mirip sebuah cakaran pada bibir. Tangannya bergerak liar, melakukan remasan brutal pada payudara Hilda hingga meninggalkan bekas jemari yang memerah. Tak berhenti di situ, Koko mendaratkan tamparan keras berkali-kali pada payudara dan pantat Hilda, menciptakan suara plak yang nyaring di keheningan kamar.

"Ahhhhh…….ssssaaaakkkiiittt," jerit Hilda yang lebih terdengar seperti erangan menggoda.

"Kamu suka kan… heh… plakkkk," Koko tak menghentikan tamparan dan remasan kasar pada bokong dan payudara Hilda, bahkan pipinya pun menjadi sasaran tamparannya, membuatnya semakin merona.

Tangan Koko memegang rahang bawah Hilda dengan kuat, lalu mencumbunya dengan ganas. Sesaat kemudian dia ganti bibir dan lidahnya dengan tiga jari yang dimasukkan ke mulut Hilda dengan paksa. Mulut Hilda menganga lebar, saliva kentalnya membasahi jari Koko.

Tanpa aba-aba, Koko melakukan fingering ke vagina Hilda dengan kasar; tiga jarinya menghujam masuk ke dalam vagina Hilda yang sudah membanjir, bergerak dengan paksa seolah ingin mengaduk seluruh gairah yang tersisa di sana.

"You like it rough huh?" geram Koko parau seraya mengocok ketiga jarinya di memek Hilda. Sensasi sakit, perih, dan ngilu justru memberikan kenikmatan yang menggebu. Vagina Hilda tak bisa berbohong; cairan cinta semakin meluber ke paha dan jari Koko. Sesekali Koko memberikan tamparan keras terukur ke bibir vulva Hilda, membuatnya merekah merah indah.

"Mmmmhhhhhh…….eeehhhhh…..ngghhhh." Hilda melenguh dengan merdu sebagai respons dari apa yang Koko lakukan. Hilda mendapatkan orgasme pertamanya dari foreplay yang kasar itu.

Koko mencabut jarinya dari memek Hilda lalu menjilatnya, menyesapi lendir cinta Hilda. Kemudian dimasukkan ke mulut Hilda. Hilda mengemutnya dengan sangat antusias, ia sudah hanyut dalam permainan Koko. Tamparan-tamparan kecil di pipi Hilda mengiringi emutannya pada jemari Koko.

Koko kemudian menarik tubuh Hilda ke tepi kasur dan membaringkannya telentang dengan kepala yang menggantung lemas di tepi tempat tidur, satu kakinya lurus sementara yang lain menekuk. Koko berdiri tegak, sedikit menekuk lututnya di sisi kasur, membiarkan kejantanannya yang tegang sempurna berada tepat di atas wajah Hilda. Dengan rakus, Hilda melahap batang kontol Koko dan merengkuh pinggangnya, seolah tak ingin Koko pergi, membiarkan wajahnya tenggelam di antara pangkal paha pria itu. Koko mengerang saat mulut Hilda melahap habis batangnya, sementara kedua telapak tangan Koko meremas dan memutar payudara Hilda dengan gemas, menikmati pemandangan wajah cantik yang tersiksa oleh ukuran miliknya. Gerakan maju mundur pinggul Koko semakin cepat dan dalam, terkadang menekan dan menahannya sangat dalam agar kontolnya masuk ke kerongkongan Hilda. Koko benar-benar mengentot mulut dan kerongkongan Hilda dengan brutal. Terkadang Hilda mengerang dan menepuk paha Koko ketika ia sulit bernapas. Tapi setelah dilepas, Hilda seolah memintanya kembali.

Koko benar-benar menikmati setiap detik siksaan kenikmatan yang ia berikan pada Hilda. Koko membalikkan tubuh Hilda ke tengah kasur, memposisikan Hilda dengan gaya Piledriver. Hilda mengayunkan kakinya hingga melewati kepala, menopang punggung bawahnya dengan tangan sementara lututnya berada di dekat telinga. Koko berdiri di antara kaki Hilda yang terbuka lebar, sedikit berjongkok, dan menghujamkan penisnya dari atas ke vagina Hilda. Untuk memperdalam penetrasi, Koko membungkuk ke depan, menumpukan tangannya pada lututnya sendiri agar bisa memacu genjotannya dengan kekuatan penuh. Setiap tumbukan selangkangan mereka menciptakan suara debuman yang berat, menghujam langsung ke rahim Hilda yang terdongak pasrah.

"Plookkkkk…..pppllokkkk….plok," bunyi nyaring peraduan selangkangan Koko dengan bokong Hilda yang padat, full daging. Malam ini Hilda diperlakukan bagai sex dolls; tubuh yang selama ini dipuja banyak pria, malam ini hanya dianggap sebagai fun bags dan pleasure hole. Tapi justru perlakuan itu membuatnya semakin tenggelam dalam kenikmatan, menembus batas yang selama ini tidak pernah ia lewati. Koko menjadi orang pertama yang melakukannya.

"Look at you, Hilda! I’ve fucked you silly! Hahahaha!"

"Oooohhhh….. mmmmhhhhhh…nnggghhhh." Koko merendahkan Hilda dengan ucapannya, tapi sorot mata sayu dan desahan mendayu senantiasa Hilda berikan sebagai tanda bahwa ia menikmatinya.

Hasrat Koko semakin membara. Ia menarik Hilda berdiri lalu mengangkatnya. Koko berdiri kokoh dengan kaki melebar, sementara Hilda melompat ke dalam dekapannya. Kaki Hilda melingkar erat di pinggang Koko, mengunci bokong pria itu dengan pergelangan kakinya, sementara lengannya memeluk leher Koko dengan kencang setelah sebelumnya meraih kontol Koko dan mengarahkan ke mulut vaginanya dan menelannya hingga tenggelam seluruhnya di dalam liang vaginanya. Dalam posisi menggantung ini, Koko menghujamkan miliknya berkali-kali sambil membenamkan wajahnya di antara belahan payudara Hilda yang bergoyang liar, sesekali menggigit dan melumat puting dan daging payudara Hilda. Hilda mengerang parau, kepalanya tertengadah ke belakang seiring dengan setiap sentakan yang mengangkat tubuhnya lebih tinggi. Cairan cinta Hilda semakin tak terkendali, banjir hingga menetes ke kasur. Koko menunjukkan kekuatan otot tubuhnya dengan posisi ini; semua latihan dan diet ketat akhirnya membuahkan hasil. Hilda yang biasanya tidak mudah ditaklukkan di ranjang kini harus mengakui kehebatan pejantan satu ini.

"Yeeesssss fuuuccckkk meeee Koko," jerit Hilda diiringi erangan nyaring dari Koko seraya mempercepat genjotannya.

"Bend over. I want to fuck your ass," sambil menampar kedua pantat Hilda dengan sangat keras sebelum menurunkannya dan memintanya untuk menungging.

Puncak dari kegilaan malam itu adalah gaya Rear Admiral Anal Doggy Style. Hilda berpindah ke lantai, mengambil posisi berlutut dengan siku menumpu (knee-elbow), merendahkan tubuh bagian atasnya hingga dadanya menghimpit kasur. Koko berdiri di atasnya, memposisikan bokong Hilda di antara kedua kakinya yang terbuka lebar. Ia membungkuk, menumpukan tangannya pada pinggang Hilda. Sebelum melakukan penetrasi ke lubang anal Hilda, Koko cukup baik dengan melumasinya menggunakan lendir cinta dari vaginanya sendiri yang dioleskan berulang kali dengan jarinya. Mengelastiskannya dengan jari yang berulang kali keluar masuk. Dan dengan satu dorongan yang tegas tanpa ampun, ia mengarahkan kejantanannya masuk ke dalam lubang anus Hilda yang menjepit ketat.

"Arghhh! Koko...!" Hilda memekik saat rasa sesak yang panas itu memenuhi dirinya.

Koko menggenjot dengan ritme yang konstan dan keras, menikmati sensasi jepitan otot anal Hilda yang berdenyut hebat. Setiap hentakan adalah bentuk penaklukan mutlak. Hilda hanya bisa mengerang, merasakan dunianya seolah tenggelam dilahap kenikmatan yang begitu kelam.

"Ohhhh yeeesss, Hilda! I'm fucking your little tight asshole! You like it, don't you?"

Hujaman batang keras tumpul besar dan panjang di anusnya, tamparan remasan gemas di bokongnya, justru membuat Hilda menyemburkan cairan cinta dari vaginanya.

"Yeesss……I lovvveee iiittt," lenguhan Hilda mengiringi derasnya semburan dari vaginanya.

Ejakulasi yang sudah di ujung tanduk tak lagi bisa ditahan. Koko menarik kontolnya keluar dari anus Hilda dengan sentakan cepat. Ia membalikkan tubuh Hilda hingga wanita itu bersimpuh di hadapannya dengan napas yang hampir putus dan mata sayu yang penuh pengabdian. Koko mencengkeram rahang Hilda, mendongakkan wajahnya, dan mulai mengocok miliknya dengan cepat. Dalam hitungan detik, semburan panas yang kental dan melimpah terpancar hebat. Cairan benih itu mendarat di wajah, membasahi bibir dan masuk ke dalam mulut Hilda yang menganga lapar, sementara sisa lainnya melumuri payudara montoknya yang masih memerah.

Koko tersenyum puas melihat "lukisan" pejunya di tubuh Hilda. Ia telah menandai bidadari cantik ini, menutup malam penuh ketegangan itu dengan sebuah kenikmatan yang tak terbantahkan di dalam mansion dosa tersebut. Sebagai wujud "cinta", Hilda dengan lahap menjilati batang keperkasaan Koko yang masih berdenyut pelan, menutupnya dengan ciuman mesra di ujung kepala kontol Koko sebelum keduanya tertidur dalam dekapan malam.


Mentari pagi di Puncak menyelinap masuk melalui celah gorden vila, menyinari tubuh Linda yang masih polos di balik selimut sutra. Ia menatap Bagas yang tertidur lelap, lalu beralih pada jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan lembah hijau yang masih berkabut. Tiba-tiba, sebuah ide liar melintas di benaknya—sebuah cara untuk menghangatkan pagi yang dingin.

Setelah menyikat gigi dan membasuh muka, memberikan kesegaran dan meluruhkan aura bantal di wajahnya, Linda merasa tubuhnya siap untuk babak baru. Malam sebelumnya telah dilalui dengan gairah cinta; tak terhitung berapa kali keduanya bergumul, sensasi yang masih terkenang oleh setiap inci dari tubuhnya. Linda menarik gorden hingga terbuka seluruhnya, membiarkan sinar matahari masuk menyeruak mengisi setiap sudut ruang itu, tak lagi menyelinap malu-malu.

Hangatnya mulai terasa di kulit Linda yang masih polos, telanjang. Ia merasa tak perlu menutupinya, karena di kamar ini, ia ingin menampilkan diri seutuhnya, menyajikan diri bagi kekasihnya. Sambil menunggu Bagas yang masih terlelap dalam tidurnya, Linda melakukan naked yoga di bawah guyuran sinar mentari pagi, memberikan setiap inci kulitnya kehangatan dan manfaat ultraviolet pagi. Gerakannya begitu indah, menegaskan kesempurnaan tubuhnya; setiap sendi bergerak elastis, setiap otot dirangsang untuk kontraksi, setiap saraf bekerja aktif. Bagai mesin yang sedang dipanaskan sebelum digunakan, Linda mempersiapkan tubuhnya untuk hari ini.

Bagas akhirnya terbangun, sinar matahari menyinari wajahnya, menariknya dari kegelapan mimpi. Matanya langsung menatap sumber cahaya terbesar, jendela lebar di vila tersebut. Tak hanya sinar matahari yang ia temukan, tapi lekukan indah tubuh putih seorang wanita yang menjadi sumber gairahnya selama dua malam ini. Ia bangkit duduk, menikmati hangat mentari dan suguhan erotis tubuh telanjang yang seolah memantulkan berkas sinar. Ereksinya menambah keras morning wood pada batang kejantanannya.

Linda menoleh ke arahnya, menyadari pejantannya sudah bangun. "Hai, Pagi," sapa Linda dengan senyuman paling indah yang pernah Bagas lihat. Bagas beranjak ke kamar mandi sejenak, menuntaskan hajat kecilnya dan membersihkan mulut serta wajahnya. Ia belum berniat mandi; ada hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Pintu kamar mandi terbuka, sebuah pemandangan yang tak kalah eksotis menanti. Linda menempelkan kedua telapak tangannya pada kaca yang dingin, lalu membungkuk dalam posisi menungging yang sangat provokatif. Ia menekan dadanya ke kaca hingga payudaranya terhimpit rata, membuat putingnya yang sudah kaku nampak mengintip dari balik pantulan kaca. Matanya menatap Bagas, seraya menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya melengkung sempurna, bokongnya ditunggingkan dengan angkuh—sebuah tantangan terbuka untuk Bagas.

Bagas mendekat. Ia mengurut lembut kejantannya hingga membesar dan berurat menegang maksimal. Ia berdiri di belakang Linda, membelai lembut kedua bongkahan pantat Linda. Jarinya diselipkan di antara selangkangan, meraih celah vagina yang mulai lembap dan hangat. Pelan, lembut, penuh perhatian, jemarinya menggesek celah vagina Linda, mengirimkan sinyal gairah yang membuat Linda melenguh dalam. Bagas bersimpuh dengan lutut sebagai tumpuan, kedua tangannya mencengkeram bokong Linda dengan mantap, menempatkan mulut dan lidahnya tepat di pusat kenikmatan Linda.

“Oooooohhhhhmmm…… Bagas……. masukinnnnn cepeeetttt.” Linda tersiksa oleh gairahnya sendiri.

Bagas berdiri, mengolesi batang penisnya dengan cairan cinta Linda. Ia arahkan kepala jamur dari kontolnya yang sudah mekar ke lubang kewanitaan Linda. Dengan tekanan pasti, kepala kontol itu lenyap di celah antara kedua vulva Linda yang lembap. Pagi itu ada sensasi yang beda; bukan hanya hangatnya mentari, tapi dinding transparan tempat mereka bergumul saat ini bagai sebuah akuarium.

"Kamu sengaja ya, Linda. Pengen dilihat orang?" geram Bagas. Batang kontolnya yang telah terlumuri lendir gairah menghujam brutal hingga ke pangkal.

"AGHHH! FUCK! Bagas...!" Linda memekik, suaranya teredam oleh kaca yang bergetar. "Daaalllaaammm sekali kontolmu... Ahhhh, enak banget!"

"Dari kemarin jepitan memekmu kencang sekali, Linda... Gak sia-sia kamu rajin yoga," Bagas mulai memacu genjotannya dengan ritme yang buas. PLOK-PLOK-PLOK! Suara peraduan selangkangan mereka yang basah menggema di ruangan sunyi itu.

Di sisi lain bukit, ada sepasang mata yang mengawasi. Seorang pria usia 60-an, penjaga vila tersebut, tersenyum puas menyaksikan live show dari jendela kaca melalui binokularnya. Baginya, suguhan live sex show dari tamu vila adalah alasan ia rela menjaga tempat ini seumur hidup.

"Terus, Bagas! Jangan berhenti! Ooohhhh… hhhmmmmm……. nggghhh!" racau Linda sambil meliukkan pinggulnya, mencoba menelan seluruh batang Bagas lebih dalam lagi.

Bagas semakin semangat menggenjot Linda. Ia memeluk leher Linda dari belakang, memaksa wajah cantik itu terdongak. "Gak nyangka ternyata kamu exhibitionist, Linda."

Bagas terus menggenjot dengan kecepatan tinggi. Sensasi bercinta di jendela kaca transparan memberikan sengatan berbeda bagi kedua makhluk yang sedang beradu kelamin itu.

Bagas mempercepat ritmenya menuju klimaks. Hujamannya menjadi sangat pendek namun bertenaga, menghajar titik sensitif Linda berulang kali.

"Bagas, aku keluar! Ahhhh... mmmhhhh... fuckkk!" Linda menjerit saat orgasme yang hebat melumpuhkan saraf-sarafnya. Vaginanya berdenyut kencang, menjepit kontol Bagas dalam kontraksi yang tak terkendali.

Bagas tak tahan lagi. Ia mengerang kencang, urat lehernya menonjol saat ia melakukan beberapa dorongan terakhir yang sangat dalam. Ia membenamkan dirinya hingga batas maksimal, lalu melolong rendah saat ejakulasi yang panas dan melimpah menyembur kuat di dalam rahim Linda.

"Aaaahhhhh….. Linda!" raung Bagas.

Mereka tetap berpelukan di depan jendela kaca itu, terengah-engah dengan sisa-sisa peju Bagas yang mulai merembes keluar dari liang Linda dan menetes ke lantai. Wajah Linda menoleh ke belakang, mencumbu Bagas dengan penuh kasih sayang. Di bawah sinar mentari ini, mereka tidak hanya bersenggama, tapi sebuah tarian cinta yang jujur apa adanya.

Bab: Kesegaran Setelah Badai (POV Bagas)​
Aku terkapar. Napasku masih tersengal-sengal, mencoba mengisi paru-paru yang seolah habis diperas oleh intensitas yang baru saja kami lalui. Aku terduduk lemas di lantai kayu yang dingin, menyandarkan punggungku pada jendela kaca yang kini masih menyisakan uap panas dari tubuh kami dan bercak basah sisa-sisa pergumulan.

Aku menatap punggung Linda yang menjauh menuju kamar. Gila. Wanita itu benar-benar luar biasa. Bagaimana bisa setelah orgasme yang begitu hebat, dia masih bisa berjalan dengan langkah seringan itu? Sementara aku? Lututku terasa seperti jeli. Namun, di balik rasa lelah ini, ada sebuah kepuasan yang belum pernah kurasakan selama bertahun-tahun. Kejantananku, harga diriku yang sempat diinjak-injak oleh pengkhianatan masa lalu, seolah bangkit kembali sepenuhnya setiap kali aku menghujam Linda.

Tak lama kemudian, Linda kembali. Aku hampir tersedak ludahku sendiri melihat pemandangan di depanku. Dia sudah berganti pakaian, tapi pilihannya kali ini benar-benar berani.

Dia mengenakan setelan olahraga senada warna abu-abu muda yang sangat tipis dan ketat. Atasannya berupa crop top tanpa lengan yang melekat kuat pada payudaranya yang besar. Karena dia sama sekali tidak mengenakan bra, kedua putingnya yang masih menegang nampak menyembul dengan sangat menonjol di balik kain tipis itu. Bawahannya adalah legging olahraga yang memeluk setiap lekukan paha dan bokongnya dengan sempurna. Dan karena dia juga tidak mengenakan celana dalam, gundukan di selangkangannya tercetak sangat jelas—sebuah camel toe yang sensual nampak nyata setiap kali dia bergerak.

Linda menghampiriku, mengulurkan tangan dengan senyum nakal yang seolah mengejek kelemasanku.

"Masih lemas, Bagas? Ayo bangun. Udara di luar sedang bagus-bagusnya," ucapnya dengan nada riang. "Kita jalan-jalan sebentar di sekitar vila, sekalian cari sarapan yang hangat."

Aku menyambut tangannya, mataku tak bisa beralih dari putingnya yang menantang di balik baju itu. "Linda... kamu serius keluar dengan penampilan seperti ini? Tanpa pakaian dalam?" tanyaku dengan suara serak.

Linda tertawa rendah, lalu membungkuk ke arahku, membuat camel toe-nya semakin jelas tercetak di depan mataku. "Biar saja, Bagas. Aku ingin kulitku bernapas. Lagipula, bukankah kamu suka jika pria-pria di luar sana menelan ludah melihat jalangmu ini?"

Aku bangkit, meskipun lututku masih agak bergetar. Rasa posesif dan gairah aneh bercampur jadi satu. Aku memakai kaos oblong dan celana training, lalu mengikuti langkahnya keluar.

Begitu gerbang vila terbuka, udara dingin menyergap, tapi pemandangan punggung Linda jauh lebih panas. Setiap ayunan pinggulnya membuat kain tipis itu menegang di atas bokongnya. Kami menyusuri jalan setapak di antara perkebunan teh. Beberapa penduduk sekitar—petani dan pemuda desa—langsung menghentikan aktivitas mereka begitu kami lewat.

Seorang pria lokal yang sedang memperbaiki pagar kayu langsung mematung. Matanya melotot, menatap tanpa berkedip pada Linda. Aku melihat pandangannya terkunci pada puting Linda yang menyembul tajam di balik crop top, lalu turun ke arah selangkangannya yang tercetak jelas. Pria itu menelan ludah dengan susah payah, benar-benar lumpuh oleh keseksian Linda yang begitu vulgar.

Linda menyadari semua itu. Alih-alih malu, dia justru semakin meliukkan tubuhnya. Ia menoleh ke arah mereka, memberikan senyuman paling manis namun penuh provokasi.

"Wilujeng enjing, Pak... Semangat damelna," sapa Linda dalam bahasa Sunda yang fasih.

Mendengar suara lembut itu, para pria tersebut seolah disambar petir gairah. Wajah mereka memerah, jakun mereka naik-turun menelan ludah dengan susah payah.

"E-enjing, Neng... Geulis pisan..." gumam pria pemegang palu itu dengan suara yang parau dan gemetar, matanya seolah ingin menembus kain tipis yang menutupi tubuh Linda.

Aku melihat pemandangan itu dengan perasaan yang aneh. Seharusnya aku marah atau cemburu, tapi yang kurasakan justru adalah lonjakan adrenalin yang luar biasa. Melihat pria-pria itu menatap Linda dengan lapar, melihat mereka menghasratkan apa yang menjadi milikku, justru membuatku merasa sangat berkuasa. Aku menikmati tatapan mereka yang kotor. Aku menikmati kenyataan bahwa mereka hanya bisa berfantasi tentang lubang-lubang nikmat Linda, sementara aku baru saja mengisinya hingga meluap.

Setelah berjalan sekitar lima belas menit, kami sampai di sebuah warung sederhana di pinggir jalan utama desa. Warung itu berdinding papan dengan beberapa kursi kayu panjang yang nampak sudah tua. Aroma kopi hitam dan gorengan hangat menyapa indra penciuman kami.

Di dalam warung, ada dua orang pria sopir pickup pengangkut sayur yang sedang beristirahat sambil menikmati kopi hitam. Di balik meja kayu yang penuh dengan toples kerupuk, seorang penjaga warung lelaki berusia sekitar 60-an tahun sedang sibuk menyusun barang dagangannya.

Linda melangkah masuk lebih dulu. "Punten," sapanya sopan.

Kedua sopir itu mendadak mematung. Cangkir kopi yang hampir menyentuh bibir mereka tertahan di udara. Mata mereka langsung tertuju pada tubuh Linda—menjelajahi lekuk payudaranya yang menyembul tajam hingga ke area selangkangannya yang tercetak jelas oleh legging tanpa pakaian dalam itu. Mereka sama sekali tidak menghiraukan salam sopan Linda; pikiran mereka nampak sudah melayang ke tempat lain.

Kami duduk di salah satu kursi kayu panjang, tepat di seberang kursi kayu panjang tempat kedua sopir itu duduk. Linda duduk dengan sengaja, mengangkat satu kakinya dan menyilangkannya, yang justru membuat area camel toe-nya semakin terekspos jelas ke arah para sopir tersebut. Tatapan mereka semakin lapar, seolah sedang menyantap setiap inci kulit putih Linda dengan mata mereka yang penuh nafsu.

Linda menoleh ke arah penjaga warung yang juga nampak linglung. Dengan senyum manis dan suara lembut, ia bertanya menggunakan bahasa Sunda halus.

"Aya naon wae Pak?" tanya Linda ramah.

Penjaga warung itu nampak tidak fokus. Tangannya yang memegang bungkusan nasi kuning bergetar kecil. Matanya terus mencuri pandang ke arah puting Linda yang menyembul tajam serta belahan dadanya yang terlihat jelas dari posisi berdiri pria itu.

"Eh... ah... sa-sangu koneng, Neng... sareng gorengan paling..." jawabnya terbata-bata, jakunnya naik turun saat ia berusaha menenangkan diri dari suguhan pemandangan vulgar yang tak terduga ini.

"Abdi hoyong dua bungkus nya, Pak" tambah Linda lagi, sambil mencondongkan tubuhnya ke meja, membuat bagian atas dadanya semakin terekspos di depan mata sang penjaga warung yang kini semakin berkeringat dingin.

"Mangga, Neng... sakedap nya, bapa siapkeun heula..." (Silakan, Neng... sebentar ya, bapak siapkan dulu...) jawab penjaga warung itu linglung, tangannya salah mengambil piring saking tak sanggup mengalihkan pandangan dari tubuh Linda.

Linda mengambil sepotong bakwan hangat, lalu menggigitnya pelan dengan bibirnya yang basah. Ia sengaja memejamkan mata dan mengeluarkan lenguhan kecil, seolah rasa makanan itu sangat nikmat. "Mmm... enak banget gorengannya, Bagas. Kamu harus coba."

Aku melihat bagaimana kedua sopir itu menelan ludah serentak saat melihat gerakan bibir Linda. Salah satu dari mereka bahkan mulai menggeser duduknya, menatap tajam ke arah selangkangan Linda yang tercetak jelas di balik kain abu-abu tipis itu. Mereka tak lagi peduli dengan kopi mereka; fokus mereka hanya satu, pemandangan indah yang disajikan secara cuma-cuma oleh wanita di hadapan mereka.

Aku menyentuh paha Linda di bawah meja, merasakan panas kulitnya di balik kain tipis. Linda melirikku dengan tatapan binal, seolah berkata bahwa dia tahu persis betapa tersiksanya pria-pria di warung ini. Aku merasakan ketegangan yang nikmat di selangkanganku; menjadi pemilik dari wanita yang diinginkan oleh setiap pria di ruangan ini memberikan sensasi kekuasaan yang tak tertandingi.

Setelah memesan, aku pamit ke belakang untuk buang air. Warung ini sederhana, namun lokasinya indah. Di belakang bangunan kayu ini, mengalir sebuah sungai kecil dengan air yang bening dan suara gemericik yang menenangkan. Pemandangan ini seketika menyentak sanubariku. Aroma air sungai dan batu kali yang basah mengingatkanku pada desa tempat kelahiranku dulu. Aku berdiri terpaku sejenak, meresapi nostalgia tentang masa kecil dan kedua orang tuaku yang sudah tiada. Sudah bertahun-tahun aku tidak pulang, dan kedamaian ini terasa begitu asing namun sangat kurindukan.

Namun, lamunanku pecah saat aku mendengar suara tawa lepas yang cukup keras dari arah depan. Aku mengenali tawa itu—tawa Linda yang terdengar begitu renyah dan nakal. Aku melangkah kembali, tapi entah kenapa instingku menyuruhku berhenti. Aku berdiri di balik gubuk penyimpanan kayu bakar yang menempel di samping warung, mengintip melalui celah papan untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Pemandangan di depanku benar-benar di luar dugaan.

Linda tidak lagi duduk di kursinya sendirian. Dia kini seolah dikerumuni oleh tiga pria; dua sopir pickup pengangkut sayur dan sang penjaga warung yang sudah tua. Mereka tertawa bersama, mengobrol dalam bahasa Sunda santai yang tidak sepenuhnya kupahami, namun nada suaranya sangat akrab dan penuh candaan.

"Wah, Neng... seueur reungit nya di villa? ieu meni bareureum kieu?" seloroh salah satu sopir sambil menunjuk leher Linda yang memang masih dipenuhi tanda kepemilikanku. (Wah, Neng... banyak nyamuk ya di vila sampai pada merah gini?)

Linda tertawa renyah, sama sekali tidak merasa risih. "Nya kitu we, Kang... reungit na aya huntuan hahaha," jawabnya binal sambil mengibaskan rambutnya, sengaja memperlihatkan lebih banyak tanda di lehernya. (Ya gitu deh, Kang... nyamuknya punya gigi hahahaha.)

"Aduh, Neng teu palaur soeh eta acuk?" timpal penjaga warung tua itu sambil tertawa nakal. (Aduh, Neng ga takut robek itu baju?)

Yang membuat darahku berdesir hebat adalah posisi mereka. Ketiga pria itu kini sedang memberikan service pada Linda. Satu sopir sedang duduk di lantai, memijat betis dan telapak kaki Linda yang diselonjorkan ke atas kursi kayu. Sopir lainnya memijat lengan dan telapak tangan Linda, sementara si penjaga warung tua berdiri di belakangnya, meremas bahu Linda dengan kedua tangannya yang kasar.

Linda nampak sangat menikmatinya. Ia menyandarkan kepalanya ke belakang, tepat ke arah perut sang penjaga warung, membiarkan payudaranya yang tanpa bra berguncang pelan seiring dengan pijatan mereka.

"Aduh, hatur nuhun pisan Akang-akang... abdi teh paregel pisan, tos 'olahraga' tadi enjing" desah Linda dengan nada yang sangat vulgar, membuat para pria itu semakin bersemangat memijatnya. (Aduh, terima kasih banyak Akang-akang... saya pegal sekali setelah 'olahraga' tadi pagi.)

Aku yang mengintip dari balik gubuk merasakan kejantanku kembali menegang maksimal. Melihat wanita yang baru saja kuhajar di depan kaca, kini sedang dikerumuni dan dipijat-pijat oleh pria-pria asing dengan tatapan lapar mereka, memberikan sebuah sensasi yang sangat liar. Aku melihat tangan sopir yang memijat kakinya mulai merayap naik ke arah lutut, mendekati area legging ketat yang mencetak jelas selangkangan Linda.

Linda melirik ke arah gubuk tempatku bersembunyi. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum nakal. Dia tahu aku ada di sana. Dia tahu aku menonton setiap detik bagaimana dia membiarkan tubuhnya dinikmati oleh mata dan tangan kasar para pria desa ini. Dan dia justru semakin sengaja mendesah kencang, memberikan tontonan eksklusif bagi pria-pria yang kini benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.

Aku berdiri mematung di balik tumpukan kayu bakar, napasku tertahan. Melalui celah papan gubuk yang sempit, aku memiliki pandangan sempurna ke arah Linda. Aku bisa melihat keringat dingin mengucur di dahi si penjaga warung tua yang sedang meremas bahunya, dan aku bisa melihat mata lapar kedua sopir pickup itu yang seolah ingin menelanjangi Linda saat itu juga.

Aku tahu Linda menyadari keberadaanku. Ada kilat nakal di matanya setiap kali ia melirik ke arah gubuk ini. Ia tidak hanya sedang dipijat; ia sedang mengadakan pertunjukan khusus untukku. Ia ingin aku melihat bagaimana tubuh yang baru saja kuhajar habis-habisan itu dipuja dan diinginkan oleh pria-pria kasar ini.

"Aduh, pijatan Akang enak pisan," desah Linda, suaranya sengaja dikeraskan. Ia menyandarkan kepalanya lebih dalam ke perut buncit sang penjaga warung, membuat payudaranya yang tanpa bra itu menyembul hebat di balik crop top abu-abunya.

"Tapi kok makin ke atas pijatannya?"

Sopir yang dipanggil Ujang itu, seorang pemuda dengan kulit legam dan otot kawat, nampak sudah kehilangan kendali dirinya. Tangannya yang kasar tidak lagi berhenti di betis Linda. Jemarinya mulai merayap naik ke arah lutut, lalu perlahan merambah ke paha bagian dalam Linda yang terbungkus legging tipis tanpa pakaian dalam.

"Punten, Neng... bilih aya otot nu kaku di palih dieu," gumam Ujang dengan suara parau yang bergetar hebat. (Permisi, Neng... takut ada otot yang kaku di sebelah sini.)

Aku melihat jemari kasar itu menekan permukaan kain spandex yang ketat. Karena Linda tidak memakai celana dalam, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana jari-jari pria itu menelusuri lekuk paha Linda hingga sangat dekat dengan area selangkangannya. Jantungku berdenyut kencang di tenggorokan. Kejantanku di balik celana training sudah menegang maksimal, berdenyut-denyut menuntut pelepasan.

Bukannya menepis, Linda justru melakukan hal yang membuatku hampir melompat keluar dari persembunyian. Ia sedikit membuka kedua pahanya, memberikan akses lebih luas bagi tangan Ujang. Ia menarik napas panjang, membuat putingnya semakin tercetak tajam menembus kain tipis bajunya.

"Ahhh... di situ, Kang... kaku banget memang," racau Linda binal. Matanya menatap tepat ke arah celah tempatku mengintip, sebuah tatapan yang penuh tantangan.

Sopir satunya lagi tak mau kalah. Ia meraih tangan Linda, memijitnya pelan lalu mulai meraba sela-sela jari Linda sambil matanya terus menatap lapar ke arah belahan dada Linda. Penjaga warung tua di belakangnya pun semakin berani; tangannya mulai turun dari bahu, meraba bagian samping payudara Linda dengan gerakan yang seolah-olah tidak sengaja.

Puncaknya, tangan Ujang akhirnya mencapai sasaran. Telapak tangannya yang lebar dan kasar kini menempel tepat di atas gundukan selangkangan Linda seolah tidak sengaja. Aku bisa melihat bagaimana kain abu-abu itu tertekan, mengikuti bentuk telapak tangan Ujang yang kini meremas pelan area camel toe Linda yang aku yakin sudah mulai lembap.

"Ya Tuhan..." bisikku tanpa sadar.

Linda melenguh keras seperti disengaja, tubuhnya melengkung ke belakang. "Bagas... kamu lama banget sih di belakang? Lihat nih, Akang-akang di sini baik banget mau bantuin aku," ujarnya sambil tertawa nakal, sementara tangan Ujang terus bergerak liar di antara selangkangannya.

Aku menggigil hebat. Melihat Linda membiarkan pria-pria itu menjamahnya, melihat bagaimana tangan-tangan kotor itu meraba aset milikku, memberikan sensasi cuckold yang sangat intens. Aku merasa hina sekaligus sangat berkuasa di saat yang sama. Aku adalah pemilik sah dewi binal ini, dan pria-pria ini hanyalah penonton yang sedang kuberi izin untuk menyentuh "milikku" sesaat sebelum aku membawanya pulang dan menghajarnya lagi.

Linda kembali melirik ke gubuk, lidahnya membasahi bibirnya yang merah. Ia seolah berkata, "Tonton terus, Bagas... lihat bagaimana mereka menginginkanku."

Aku tidak bisa membiarkan ini berlanjut tanpa aku menjadi bagian dari klimaksnya. Namun, alih-alih mengamuk seperti seorang pria sejati pada umumnya, aku justru melangkah keluar dengan sikap tenang, hampir santai.

Begitu langkahku terdengar memasuki warung, suasana membeku. Ujang yang sedang bermain selangkangan Linda tersentak, wajahnya memucat ketakutan. Penjaga warung itu langsung mundur dua langkah. Mereka mengira aku akan marah besar.

Aku menatap mereka satu per satu, lalu tersenyum tipis. "Sudah selesai pijatannya? Terima kasih sudah mau pijitin," ucapku datar sambil meraih pundak Linda. Linda menatapku dengan binar mata yang begitu binal; ia tahu aku sudah melihat semuanya.

"Ayo, Linda. Kita balik sekarang. Nasinya dibungkus saja," kataku sambil menyerahkan selembar uang besar tanpa menunggu kembalian.

Kami berjalan cepat meninggalkan warung itu. Sepanjang jalan setapak menuju vila, kami tidak banyak bicara. Namun, sorot mata dan raut wajah Linda mengisyaratkan godaan dan tantangan yang nyata, sesekali tangannya menyenggol kejantanku dari balik celana training-ku yang menonjol, seolah menggodanya agar segera bangkit dari tidurnya. Setiap tatapan lapar dari penduduk yang kami lewati tadi seolah menjadi bahan bakar baru bagi kami berdua.

Linda berlari menuju gerbang vila, memintaku untuk mengejarnya. Dengan gejolak nafsu yang tak tertahan lagi, aku mengejarnya sekuat tenaga, tapi tetap tak bisa mengejarnya. Kami berdua terburu masuk ke vila.

Langkah kami terburu-buru memasuki vila, adrenalin dari kejadian di warung tadi masih mendidih di dalam darahku. Begitu daun pintu tertutup rapat, aku tidak membuang waktu. Aku menyergap Linda dari belakang, melingkarkan lenganku di pinggangnya dengan kasar. Berusaha mencumbunya dengan kasar.

"Aduh! Bagas, sabar dong!" Linda tertawa renyah, mencoba meliuk dan menghindar dengan gaya 'jual mahal' yang sangat provokatif. Ia berlari kecil ke tengah ruangan, tertawa geli saat aku mengejarnya. "Makan dulu nasinya, nanti keburu dingin!"

"Ah bodo amat," geramku. Aku menyambarnya kembali, kali ini tak kubiarkan ia lepas. Aku mencengkeram kerah crop top abu-abunya yang tipis dan ketat. Dengan satu sentakan bertenaga, kain itu robek hingga ke bawah, memamerkan payudaranya yang montok. Aku meremas payudaranya kuat-kuat, Linda melenguh keras, aku sumpal mulutnya dengan lidah dan mulutku.

Linda memekik, lalu tertawa liar. "Kenapa sih jadi nafsu banget gini? Cemburu ya liat yang tadi di warung?" Ia tak lagi menghindar, malah balik mencengkeram kaosku, merangkul leherku dan mengacak-acak rambutku. Lidah kami beradu dalam cumbuan kasar yang rakus. Aku menjelajahi setiap inci tubuhnya, menjilati leher jenjangnya dan meremas payudaranya dengan gemas hingga ia melenguh panjang. Tak puas hanya dengan tangan, mulut dan lidahku pun ikut bermain di payudara montoknya seolah ingin melahapnya habis. Tangannya yang binal meremas kejantanku dari balik celana, menarik-narik dengan nafsu yang sama besarnya.

“Kamu liat kan waktu Pak Tua penjaga warung mulai ngeraba toket aku, oohhhhh….aaaahhhhh, suka kan……mmmhhhhhh.” Linda meracau, membahas hal yang terjadi di warung tadi. Aku membayangkan apa yang diracaukannya. Linda terpejam sambil menggigit bibir bawahnya sendiri, menikmati remasan kuat memutar kedua payudaranya dari Pak Tua penjaga warung, wajah pria tua itu pun ikut terbayang. Sambil tersenyum mesum, menatap ke bawah tepat ke arah bagian dada atas yang tidak tertutup pakaian, daging putih menyembul nyaris melompat keluar. Dengan sengaja pria tua cabul itu memilin putingnya yang mengeras, tercetak sempurna di balik kain tipis nan ketat, tanpa bra yang melindungi. Linda mendesah dalam, tidak menolak, pasrah akan rasa geli, ngilu, dan nikmat dari permainan kasar pria tua penjaga warung. Aku tutup permainan di payudara Linda dengan cubitan di putingnya sambil menariknya ke atas lalu menampar keras payudaranya. Linda mendesah keras, entah karena sakit atau nikmat yang melanda.

Puas dengan khayalan akan payudara montok Linda, aku berlutut, merobek legging-nya tepat di area selangkangan, lalu menenggelamkan wajahku di sana, menjilati liangnya yang sudah lembap akibat tatapan mata penuh nafsu para pria penduduk desa, dan service pijat dari ketiga pria kampung di warung. Kudorong agar Linda berbaring di karpet ruang tengah, Linda menjambak rambutku, menekannya lebih dalam ke arah selangkangan, seolah ingin menenggelamkanku di antara kedua kakinya, ia tertawa dan mengerang secara bergantian. Jariku ikut bermain di liang itu, tiga jari langsung kumasukkan, mengaduk-aduk, membangkitkan setiap saraf di liang kewanitaan Linda, dengan lidah dan mulutku yang tak henti melumat, menghisap, dan menjilat klitorisnya. Sensasi geli dan nikmat yang bercampur.

Lagi-lagi bayangan lelaki di warung itu datang hinggap di kepalaku. Ujang, salah satu sopir pickup, tak hanya sibuk memijat kaki Linda, tangannya naik secara perlahan hingga pangkal paha dalam, pijatannya yang lembut namun kuat terukur, tepat di titik sensitif Linda, membuatnya pasrah meregangkan kedua kakinya, memberikan akses sepenuhnya untuk Ujang jelajahi. Mengetahui lampu hijau dari Linda, Ujang mulai memijat vagina Linda dari balik legging tipisnya. Mulai dari elusan ringan, rabaan lembut, hingga remasan kuat ia berikan pada vagina Linda. Walau masih tertutup kain, dan tidak masuk ke liang vaginanya. Jemari Ujang berhasil mengirimkan sinyal gairah pada vital utama Linda, membuatnya lembap, cairan kewanitaan Linda merembes di kain tipis dan ketat itu. Ujang tertawa licik, melihat hasil karyanya, mulai berani memasukkan tangannya ke balik legging tipis Linda, mengobel liang memek Linda dengan jari tengah dan manisnya. Menikmati pelayanan Ujang di memeknya, Linda melenguh keras, tak lagi ditahan. Punggungnya ia sandarkan di tubuh Pak Tua penjaga warung yang sedang sibuk melayani payudaranya, kakinya terbuka lebar maksimal, matanya terpejam, kepalanya agak terdongak ke atas mulutnya terbuka mengeluarkan suara desah yang begitu renyah.

Aku yakin Linda sudah mencapai orgasmenya yang pertama, erangan keras dan panjang diiringi aliran nektar cinta membasahi jariku yang tertancap di dalamnya. Linda pandai merawat diri, termasuk bagian vitalnya, walaupun agak berkeringat, aromanya tetap nyaman dan tidak mengganggu sama sekali. Tangannya mengacak-acak rambutku, masih menahan kepalaku agar tetap berada di kedua kakinya. Aku cabut ketiga jariku dari memeknya, lagi-lagi rasa gemasku membuatku menampar keras vaginanya, membuatnya terpekik dengan nada manja terdengar di telingaku.

Aku berdiri perlahan sambil menatap tajam Linda, melucuti seluruh pakaianku dengan tegas, mengelap sisa nektar Linda di mulut, wajah dan tanganku. Kuurut lembut batang kejantananku yang sudah setengah bangkit dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memberi isyarat agar mendekat pada Linda yang masih tergeletak, berbaring di lantai dengan kaki mengangkang, tangan kanannya sibuk bermain di lubang vaginanya sendiri, sementara mulutnya mengulum jari tangan kirinya, masih menikmati sisa-sisa sensasi orgasmenya. Pakaian Linda yang tadinya indah melekat sempurna di tubuhnya, kini tak jelas bentuknya. Ia bangkit berdiri, melucuti sisa-sisa kain yang masih melekat di tubuhnya. Mendekatiku dengan tatapan sayu memohon untuk dilanjutkan. Ia hendak menciumku, kugenggam rahangnya, hingga mulutnya sedikit menganga, menghentikan geraknya.

“Blow job dulu sayang.” Titahku lembut tapi tegas. Tamparan-tamparan kecil nan lembut kudaratkan di pipinya, lalu kutekan bahunya ke bawah agar ia berurut. Matanya masih terkunci menatapku, tanganku masih di rahangnya, mulutnya kini terbuka lebar. Kusodorkan penisku yang kini tegak paripurna ke dalam mulutnya. Bukan blow job romantic yang aku inginkan. Bayangan para pria di warung membangkitkan gairah liarku. Tanganku memegang kepala Linda, kugerakkan pinggul maju mundur dengan cepat dan kasar, aku mengentot mulut Linda dengan brutal. Bidadari cantik yang wajahnya sedang kugenjot ini memang seorang profesional, setiap inci tubuhnya sudah terlatih dan siap menerima segala macam gaya intercourse. Kedua tangan Linda justru diletakkan di bokongku, seolah ingin menjaga ritme agar tetap stabil, ujung kontolku yang berulang kali masuk ke kerongkongannya, tidak membuatnya tersedak, ia tahu cara mengatur napasnya.

Khayalanku berlanjut, lelaki kampung ketiga yang sedari tadi hanya memijat tangan Linda kini berani mengeluarkan kontolnya yang panjang namun tidak terlalu besar, dengan bulu-bulu tumbuh tak beraturan. Ia membimbing tangan Linda yang sedari tadi ia pijit, untuk mengocoknya. Kontolnya bertumbuh di tangan Linda, kini keras maksimal, tidak puas hanya dengan tangannya, kini bedebah itu dengan berani meminta Linda untuk mengulum kontolnya. “Pake mulut ya Neng” kalimat itu bukan sekedar permintaan sopan, tapi lebih ke tuntutan. Linda yang emang sudah mabuk akibat permainan Pak Tua penjaga warung di payudaranya, dan jemari Ujang di memeknya, membuka mulut tanpa terpaksa, menyambut kontol yang sedari tadi dikocoknya. Tanpa bimbingan, dengan inisiatif pribadi, tanpa paksaan, mulut Linda mengulum kontol tersebut dengan penuh gairah. Lelaki itu bahkan tidak menggerakkan pinggulnya dan tidak menyentuh kepala Linda sama sekali. Semua aksi dilakukan oleh Linda sendiri, semakin cepat dan semakin dalam.

Khayalan itu membuatku ingin meningkatkan level permainan, kutekan dalam kontolku, kutahan kepala Linda agar tidak bergerak, aku men-deep throat Linda. Setelah beberapa saat khawatir ia tak bisa bernapas aku tarik kembali kontolku, kulakukan itu berulang kali, hingga aku tak tahan lagi dengan semua sensasi ini dan berakhir ejakulasi di mulutnya, menyemprotkan maniku langsung ke kerongkongannya. Hingga permainan oral sex liar ini berakhir, tak sekalipun Linda mendorongku untuk melepaskannya. Ia benar-benar seorang ahli dalam hal persetubuhan. Memberikan pejantannya kenikmatan yang maksimal. Matanya masih menatap tajam ke arahku, mulutnya belepotan cairan saliva yang bercampur dengan pejuku, dengan napas terengah-engah karena deep throat yang intens, tangannya masih menggenggam erat kontolku dan menjilatinya.

Aku terduduk di sofa, orgasmeku telah menghabiskan banyak energi. Linda terlihat sedang mengelap cairan yang mewarnai mulut dan wajahnya, lalu naik ke pangkuanku, mengecup bibirku lembut. Dia berbisik pelan “Apa sih yang bikin kamu horny banget, inget kejadian di warung ya.” Godanya lembut sambil terkekeh geli. Aku hanya bisa tertawa kecil, sebuah pengakuan, cuckold inilah yang mengembalikan kejantananku. Bayangan Hilda yang disetubuhi orang lain yang dulu sempat menghancurkanku, kini justru menjadi trigger rangsangan yang luar biasa. Ledakan gairah yang bercampur rasa sakit kecemburuan merupakan sensasi tak terucapkan dan menjadi bahan bakar nafsu yang seolah tak pernah surut. Seperti apa yang disuguhkan Linda kepadaku pagi ini, yang akhirnya kusadari itu adalah caranya untuk meyakinkanku, akan diriku sekarang.

Tapi permainan jauh dari usai, setelah beberapa kecupan lembut Linda beranjak menuju kamar, melenggak-lenggokkan bokong besar dan kenyalnya di hadapanku, sesekali menoleh ke belakang dengan tatapan dan senyum sensual. Ia tutup pintu kamar, membuatku penasaran akan apa yang ada di balik pintu itu. Aku bangkit dari sofa, aku sudah siap secara fisik dan mental untuk apapun yang menantiku di balik pintu kamar yang tertutup itu. Penisku pun setuju, ia mulai bangkit, siap untuk pertempuran berikutnya.

Kubuka pintu kamar dengan penuh keyakinan, Linda terbaring telentang, kakinya mengangkang, senyum binal tersungging di bibirnya, dengan jari tengah tangan kanan ia gerakkan memberiku isyarat jelas, “Come and fuck me”. Kutindih tubuhnya kulumat ganas bibirnya, lidah kami saling berpagut, berpacu berebut dominasi di rongga mulut masing-masing.

Namun, Linda tidak membiarkanku memegang kendali terlalu lama. Di tengah cumbuan panas kami, ia tiba-tiba mendorong bahuku dengan kuat hingga aku terduduk di ranjang. Ia tertawa renyah, sebuah tawa yang penuh otoritas seksual.

"Diam ya, Bagas. Sekarang giliran aku," bisiknya seraya merangkak mendekat dengan gerakan yang sangat sensual.

Linda naik ke pangkuanku, mengangkangi tubuhku dengan perlahan, menikmati setiap detik pergesekan kulit kami. Ia memegang kejantanku yang sudah berdenyut keras, menatapnya dengan lapar sebelum perlahan-lahan mengarahkan kepalanya ke liang kewanitaannya. Dengan satu gerakan pasti, ia menurunkan panggulnya. Liang kewanitaannya yang sudah sangat banjir menyambut batangku dengan isapan yang begitu kencang. Kami berdua mendesah serentak saat seluruh kejantanku tenggelam sepenuhnya di dalam dirinya yang hangat dan menjepit.

Linda mulai bergerak dalam posisi Woman on Top. Ia tidak langsung memacu ritme cepat. Ia memulai dengan putaran panggul yang lambat namun menekan dalam, seolah ingin memastikan setiap sudut di dalam dirinya merasakan kehadiranku. Matanya terkunci pada mataku, binar binalnya seolah menembus jiwaku, menantangku untuk tidak menyerah lebih dulu.

"Kamu suka melihatnya dari bawah sini, kan? Melihat payudaraku bergoyang untukmu?" pancing Linda sambil mulai memacu naik-turun tubuhnya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menekan payudaranya yang montok tepat di depan wajahku, membuatku tak tahan untuk tidak melahap putingnya yang sudah mengeras. Tangannya mencengkeram bahuku, memberikan tenaga tambahan untuk setiap hentakannya yang kian dalam dan bertenaga.

Linda menunduk, bibirnya menyentuh daun telingaku, membisikkan fantasi yang membuat darahku mendidih dan otot-ototku menegang hebat.

"Bagas... bayangkan kalau sekarang aku dientot 3 laki-laki kampung di warung tadi. Aku telentang telanjang di atas meja kayu panjang, si Ujang yang tadi pijat kakiku masukin kontolnya ke memek, sementara supir yang satu lagi maksa aku ngulum kontolnya yang kasar dan bau... dan si Pak Tua penjaga warung itu pake toketku buat jepit kontolnya, sambil pilin putingku. Dan kamu cuma bisa coli ngeliat aku di gangbang mereka."

Bisikan itu seperti bensin yang menyambar api. Aku mengerang liar, mencengkeram pinggulnya hingga membekas di kulit putihnya. Gairahku meledak menjadi kemarahan yang nikmat. Hentakanku dari bawah berubah menjadi brutal, seolah-olah aku sedang berperang dengan bayangan ketiga pria itu di dalam rahim Linda.

"Ahhh... Bagas! Rasanya... hhhmmm... dalam banget! Terus!" racau Linda.

Tak puas hanya dengan posisi menghadapku, Linda tiba-tiba mengangkat tubuhnya sedikit, memutar panggulnya dengan lincah hingga ia melakukan reverse cowgirl. Ia membelakangiku namun tetap dalam keadaan menyatu, membiarkan punggung jenjangnya yang mulus dan bongkahan bokongnya yang bulat sempurna menjadi suguhan utama di depan mataku.

Linda merentangkan tangannya ke depan, mencengkeram ujung ranjang sebagai tumpuan, lalu mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sebelum menghujamkannya kembali ke bawah dengan tenaga penuh. PLOK-PLOK-PLOK! Suara hantaman pangkalku dengan bokongnya bergema kasar. Aku berbaring menikmati aksi binalnya. Dari posisi ini, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana area sensitifnya melahap kejantanku berulang kali. Bayangan Ujang dan pria-pria di warung tadi kembali meledak; membayangkan mereka menonton dari belakang bagaimana bokong Linda berguncang sehebat ini di atas kontolku. Aku menampar dan meremas kedua bongkah bokong Linda hingga bersuara renyah, desahnya justru semakin menjadi-jadi.

Ia kembali mengubah variasi; kini ia duduk tegak di posisinya yang masih memunggungiku, kedua tangannya bertumpu pada lututku, dan ia memacu ritmenya dengan kecepatan yang luar biasa. Gerakannya sudah bukan lagi sekadar naik-turun, tapi sebuah tarian binal yang terukur, menjepit kejantanku dengan otot-otot vaginanya yang terlatih.

Adrenalin dan khayalan cuckold ini membuatku mencapai puncak pertama di ranjang ini. Linda menjerit kencang saat aku meraih pinggangnya dan membantunya menghentak lebih keras ke bawah. Klimaks kuraih, ejakulasiku meledak di dalam vaginanya, terasa sangat hangat dan melimpah. Linda pun mencapai orgasmenya, tubuhnya gemetar hebat di atas tubuhku, menjepitku dalam kontraksi yang panjang dan nikmat.

Setelah hening sejenak, aku tak membiarkannya beristirahat. Aku membalikkan tubuhnya ke posisi misionaris, namun kali ini kaki indahnya kuangkat tinggi hingga menyentuh bahunya. Aku menghujamnya lagi dengan sisa-sisa tenaga yang meluap karena skenario roleplay yang Linda utarakan tadi. Di posisi ini, aku seolah bisa melihat bagaimana Ujang sedang memacu kontolnya keluar masuk memek Linda, kedua tangannya mencengkeram erat pinggul Linda, memaju mundurkan dengan semangat 45, di hadapannya kontol supir pickup lainnya sedang dikulum dan disedot dengan rakus oleh Linda, menahan erangan dan desahan Linda. Payudaranya berguncang hebat menerima hujaman di vagina dan mulutnya. Pak tua penjaga warung tak mau ketinggalan, digenggamnya kedua bongkah payudara Linda agar tidak berontak, ia mengangkangi tubuh Linda bertumpu pada lututnya dan menempatkan kontolnya tepat di antara dua daging kenyal payudara Linda dan menghimpitkannya, lalu bergerak maju mundur seperti sedang mengentot payudara Linda, sesekali dicubitnya puting payudara itu, memberikan sensasi pedih nan nikmat bagi Linda. Linda meracau liar, tertawa renyah sambil sesekali mencakar dadaku. Mendekati puncak kedua, aku menarik keluar milikku yang sudah berdenyut hebat.

Aku memegang batangku sendiri, lalu dengan satu sentakan, aku menyemprotkan mani kedua tepat di atas payudaranya yang besar. Cairan putih hangat itu membasahi kulit putihnya, dan aku mengoleskannya secara kasar menggunakan tanganku, meniru fantasi tentang Pak Tua penjaga warung yang tadi Linda bisikkan. Linda mengerang manja, tangannya meremas payudaranya sendiri, menikmati sensasi peju pemiliknya yang mewarnai dadanya.

"Belum selesai, Linda," geramku. Aku memaksanya untuk merangkak di atas ranjang. Aku menghujamnya lagi dari belakang, gaya doggy style, gaya sederhana yang paling primitif tidak hanya berlaku bagi manusia, hewan pun melakukannya. Tak ada lagi kelembutan dari diriku, hanya pelampiasan nafsu yang masih membara, memacu adrenalin hingga ke titik nadir. Linda mengerang, meracau, mendesah, melenguh, sudah tak jelas respons dari tubuhnya, vaginanya yang masih sensitif kemerahan setelah beberapa kali klimaks dan dihujam benda tumpul, kini kembali dimasuki dengan lebih brutal.

Puncak terakhir sudah di ujung tanduk. Aku merasakan kejantanku seolah ingin meledak karena tensi yang terus dipompa. Aku ingin membuat tembakan terakhirku ini menjadi sesuatu yang epic. Aku menarik Linda agar berlutut menghadapku. Aku mencengkeram rahangnya, menatap matanya yang sayu namun penuh binar nafsu kebinalan. Kuarahkan penisku yang berdenyut hebat, detik-detik ejakulasi akan diraih, kukocok dengan cepat.

"Ahhhhhh……., Lindaaaaa." Erangku mengiringi ledakan klimaks yang dahsyat.

Ejakulasi ketiga menyembur kuat, menyiram wajah cantik Linda, mengenai pipi, dahi, menetes ke payudara, hingga masuk ke dalam mulutnya yang terbuka lebar. Linda menerimanya dengan binar mata penuh gairah, menjilati sisa-sisa pejuku di bibirnya dengan napas yang terengah-engah. Kami berdua jatuh terkulai di atas sprei yang sudah basah oleh keringat dan cairan cinta, merayakan kemenangan mutlak pagi ini di bawah langit gunung yang semakin terang.


Part 25

Setelah badai gairah mereda dan tubuh mereka dibasuh oleh air hangat di bawah pancuran yang sama, suasana berganti menjadi lebih serius. Kabar dari Stephen mengenai gala dinner malam ini menjadi pengingat bahwa masa liburan akan terganggu sesaat. Acara ini bukan acara biasa, bukan pertemuan bisnis dengan deretan angka yang dipertaruhkan, bukan juga ajang silaturahmi antar pelaku bisnis, bukan pula sekadar unjuk kemewahan atas pencapaian. Ini adalah acara unjuk kekuatan dan kekuasaan di antara para serigala bisnis. Menunjukkan muka di sini berarti menegaskan bahwa "aku masih hidup dan bernapas, dan karena itu aliran emas dan perak masih akan kuraih".

Ini adalah kesempatan bagi Bagas menunjukkan pada dunia—dan terutama pada para rival yang sempat menganggapnya runtuh—bahwa Bagas telah kembali, berdiri kokoh di atas kakinya. Sebenarnya dalam diri Bagas, tidak ada sedikit pun niat untuk menunjukkan diri atau membuktikan siapa dirinya. Baginya hal itu tidaklah penting, semua itu hanya rangkaian angka yang dinilai dengan mata uang. Selama kepalanya belum terlepas dari tubuhnya, deretan angka minus sekalipun masih bisa ia jadikan tak terhingga. Satu hal yang kini menjadi hal terpenting bagi Bagas adalah sesuatu yang sederhana, namun begitu dalam dan pribadi.

Linda, dengan koneksi luas di bidang fashion kelas atas, membawa Bagas berkeliling pusat kota. Ia tahu persis bahwa pakaian bukan sekadar penutup tubuh, melainkan zirah yang menentukan bagaimana seseorang akan dipandang oleh orang lain. Di sini, di acara ini, hanya ada layak dan tidak layak, bukan sekadar kemilau dan gemerlap, melainkan kadar kemuliaan yang dinilai. Di mana segala tiruan dan kepalsuan akan langsung terbongkar.

Sore itu, di depan cermin besar salah satu fashion boutique ternama di kota Bandung, sosok yang terpantul bukan lagi pria yang hancur karena pengkhianatan. Bagas mengenakan bespoke tuxedo berwarna midnight blue yang sangat gelap, nyaris hitam, memberikan kesan misterius namun tegas. Jas itu terbuat dari bahan mohair-silk yang memberikan kilau halus saat terkena cahaya. Lapel jasnya berbentuk peak dari bahan satin hitam pekat, menegaskan bahunya yang bidang. Kemeja putih bersih di baliknya terbuat dari katun sea island dengan kancing onyx yang kontras. Tanpa sabuk, celananya jatuh dengan sempurna di atas sepatu patent leather hitam yang mengilat. Sebuah jam tangan Patek Philippe melingkar di pergelangan tangannya—sebuah simbol waktu dan kekuasaan yang tak terbantahkan.

Di sampingnya, Linda menjelma menjadi dewi yang sanggup menghentikan napas siapa pun. Ia memilih gaun silk satin berwarna emerald green yang melukis setiap lekuk tubuhnya dengan presisi yang berbahaya. Gaun itu memiliki potongan halter neck yang tinggi di bagian depan, namun saat ia berbalik, seluruh punggungnya terekspos hingga ke batas pinggang—sebuah penghormatan kecil bagi sisi exhibitionist-nya yang tetap ia bawa secara elegan.

Potongan gaun itu memiliki belahan tinggi di paha kiri, yang akan memamerkan kaki jenjangnya setiap kali ia melangkah. Untuk melengkapi penampilannya, Linda mengenakan kalung choker berlian tipis dan anting gantung senada. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang dipulas makeup bold dengan lipstik merah gelap.

Linda merapikan kerah jas Bagas, jemarinya yang lentik berhenti sejenak di dada pria itu. Matanya menatap Bagas dengan binar kebanggaan.

"Ganteng banget sih sayangku ini," bisik Linda, suaranya penuh dengan rasa kekaguman dan kebanggaan.

Bagas menarik pinggul Linda mendekat, merasakan halusnya kain sutra di bawah telapak tangannya. Ia mencium kening Linda dengan lembut namun tegas. "Terima kasih sudah mau menemaniku."

Keduanya tiba di venue gala dinner, sebuah hotel termewah dan termahal di kota ini. Begitu pintu mobil terbuka, Bagas dan Linda melangkah dengan ketenangan yang angkuh. Di dalam aula besar, atmosfer terasa mencekam di balik kemegahan lampu kristal. Para serigala bisnis telah berkumpul; setiap mata akan saling menyeringai, senyum hanyalah topeng untuk menyembunyikan taring tajam yang terhunus, jabat tangan hanya penutup dari kuku-kukunya yang siap menikam. Tak ada teman, tak ada lawan, hanya rivalitas murni.

Wajah familiar menyambut mereka: Stephen beserta Diana. Diana adalah sahabat kecil Stephen yang kini menjadi sekretarisnya. Wanita keturunan berwajah cantik jelita khas putri dalam drama Cina. Bukan wanita sembarangan, background keluarga dan pendidikan kelas dunia; sepertinya Dianalah yang lebih pantas memimpin perusahaan ini. Bukan rahasia keduanya punya hubungan istimewa. Walaupun di mata Bagas, Diana seperti pengasuh bagi Stephen, menjaganya dari segala kekonyolannya. Dan lucunya, hanya Diana yang bisa mengendalikan Stephen.

"Good to see you Bro, sorry for disrupting your vacation," sapa Stephen seraya memeluk sahabatnya, Bagas.

"Lu sudah bisa sendiri kok Bro, apalagi ada Diana," balas Bagas ramah.

"Not interested," jawab Stephen sambil tersenyum tengil, seolah tak peduli akan statusnya sebagai pemimpin perusahaan.

Diana dan Linda saling menyapa layaknya dua wanita kelas atas, dengan cipika-cipiki dan kalimat basa-basi. Namun, di balik itu, mereka saling mengagumi kecantikan dan aura satu sama lain melalui senyum dan tatapan mata yang tajam.

"Hello gorgeous," gombal Stephen pada Linda seraya mencium tangan Linda. "Linda," jawab Linda singkat, membiarkan awan penasaran menggelayuti Stephen.

"Damn Bro, gue yang kaya di sini, tapi kenapa Lu yang selalu dikelilingi bidadari," lanjutan gombalan Stephen yang disertai tatapan nanar Diana dari belakang. Semuanya tertawa renyah, menikmati keakraban di tengah kumpulan serigala yang sedang saling menyeringai satu sama lain.

Suasana mendadak hening saat seorang tetua naik ke atas podium. Sosok ini adalah legenda hidup, seseorang yang mampu membuat setiap kepala di ruangan ini tertunduk hanya dengan kehadirannya. Ia membetulkan letak kacamatanya, menatap audiens dengan mata elang yang seolah bisa membaca isi brankas setiap orang.

Ia memulai pidatonya dalam bahasa Inggris yang kental dan penuh wibawa:

"Look at this room. We are called the kings of industry, the titans of capital. But let us not deceive ourselves. Kings wait for tribute, but we? We are hunters. We breathe gold and we exhale power. However, as you feast tonight, remember this: the world we dominate is a fragile ecosystem. Do not let your unquenchable thirst for more turn this forest into a desert. A predator who kills everything in its path will eventually find its stomach empty. We stand on this earth, not above it. If you stop dreaming, you stagnate. If you stop swimming, you die. But if you lose your humanity in the pursuit of numbers, you were never truly alive to begin with. Grow, conquer, but do not destroy the very ground you tread upon."

Seluruh audiens bersorak riuh bertepuk tangan. Tak ada yang benar-benar memahami dengan pasti kedalaman pesan tersebut; hanya mereka yang berada di dunia yang sama yang mengerti bahwa itu adalah peringatan sekaligus validasi atas eksistensi mereka.

Bagas menatap Linda, lalu beralih pada kerumunan. Ia merasa energinya kembali penuh, dirinya yang sempat tertidur kini bangkit kembali. Pengkhianatan Hilda bukan lagi luka, melainkan sejarah yang telah ia lalui untuk sampai pada titik ini. Di tengah perjamuan serigala ini, Bagas tahu, dia kembali lebih kuat dari sebelumnya.

Di sudut lain ruangan yang sedikit remang, berdiri sosok yang merupakan antitesis dari filosofi sang tetua. Koko, sang predator alami, terlahir untuk devour it all—melumat segalanya tanpa sisa. Ia berdiri dengan sikap yang memancarkan arogansi absolut, mengenakan setelan charcoal grey yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna.

Koko mengangkat gelas champagne-nya tinggi-tinggi ke arah podium, seolah-olah sedang memberikan penghormatan tulus untuk pidato yang luar biasa tadi. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin, sebuah seringai yang tidak mencapai matanya yang tajam dan tak berdasar.

Dalam benaknya, ia sama sekali tidak peduli dengan semua wejangan tentang ekosistem, kemanusiaan, atau menapak bumi. Baginya, aturan hanyalah batasan bagi mereka yang takut, dan etika adalah beban bagi mereka yang lemah. Koko tidak terlahir untuk menanam; ia terlahir untuk menelan. Tak ada yang boleh mengaturnya, tak ada yang punya hak untuk menghentikannya. Dunia ini hanyalah piring besar yang penuh dengan hidangan, dan ia tidak akan berhenti hingga setiap inci dari apa yang ia inginkan masuk ke dalam perutnya.

Matanya yang dingin menyapu ruangan, menatap bosan di antara kerumunan domba yang merasa diri serigala, hingga pandangannya berhenti sejenak pada sosok Bagas yang berdiri di kejauhan bersama Linda. Ada kilatan ketertarikan yang berbahaya di sana. Baginya, kebangkitan kembali seseorang seperti Bagas bukan ancaman, melainkan tantangan yang harus dihancurkan dan ditelan hingga tak tersisa sepotong tulang pun. Seringai dingin dan kelam tersungging di sudut bibirnya, ada gairah yang timbul, bagai melihat seseorang yang bangkit dari kubur, ia ingin menghancurkannya kembali.

Koko meminum habis isi gelasnya dalam sekali teguk, merasakan sengatan alkohol yang membakar tenggorokannya—sebuah sensasi yang hanya mempertegas rasa dahaganya yang tak pernah terpuaskan. Matanya terkunci pada Bagas, sosok yang seharusnya tersungkur di tanah, kini tegak berdiri seolah menantangnya. Orang yang kembali dari kematiannya, tentunya bukan orang biasa, itulah yang membuat Koko begitu bergairah untuk menantang Bagas kembali.

Langkah tegas penuh kekuatan membawanya ke hadapan nemesisnya. Dengan ucapan sopan berkelas namun penuh dengan sayatan dalam, ia menyapa Bagas yang tak menyadari kehadirannya.

"I couldn’t believe my eyes, a dead man walking in his finest suit."

Suara bariton yang berat dan penuh tekanan itu memecah ketenangan kecil antara Bagas dan Linda. Bagas menoleh perlahan. Tubuhnya menegang; tangan mengepal secara refleks, kehadiran Koko memicu adrenalin, memacu detak jantung, napasnya berat, pupil matanya menyempit. Linda menyadari itu, ia menyentuh bahu Bagas, menariknya dari kedalaman kesumat kembali ke kenyataan. Bagas menoleh ke arah Linda, berusaha tersenyum, berusaha memegang kendali atas dirinya.

Koko berdiri di sana, hanya berjarak satu langkah. Ia tidak menatap Bagas, melainkan memindai Linda dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang sangat kurang ajar—tatapan seorang pria yang terbiasa menilai barang dagangan sebelum membelinya.

"It truly is a mystery, Bagas... How a loser like you always ends up surrounded by such 'exquisite jewels'. Your taste, however, remains... remarkably high," ucap Koko sambil tersenyum miring, matanya kini tertuju pada belahan gaun Linda yang tinggi.

"You haven't changed a bit, Koko. Still the same insufferable prick, hiding your hollow soul behind a tailored suit." balas Bagas dengan nada datar namun penuh otoritas. Tidak ada getaran ketakutan dalam suaranya. Gestur tubuhnya seolah menjauhkan Linda dari tatapan mesum Koko.

Koko tertawa rendah, suara tawanya terdengar seperti gesekan logam yang dingin. Ia mengulurkan tangannya ke arah Linda, mengajak bersalaman, mencium punggung tangan Linda seraya merayu dengan gombalan maut.

"Forgive me, I didn't catch your name, gorgeous... what might it be? A breathtaking masterpiece like you deserves to be known. It is a tragedy to see a diamond like you wasting away next to a decaying ruin. If you ever tire of playing house with a loser, why not see what it is like to dance with a true champion? A man who actually knows how to treat a queen," pancing Koko, matanya mengunci mata Linda dengan intensitas yang mengintimidasi.

Linda tidak menunduk. Ia justru membalas tatapan Koko dengan senyum paling manis namun penuh racun. Ia tidak menarik tangannya untuk membalas jabatan Koko, melainkan tetap bersandar mesra pada bahu Bagas.

"I appreciate the proposition, Mr. Koko. But I have always preferred a man who commands a room with silence over one who begs for attention with noise. It’s a pity, really—men with egos as inflated as yours usually crave validation because they know, deep down, that their actual... prowess... is nowhere near as grand as their claims." balas Linda dengan suara yang sangat lembut namun tajam.

Koko menarik kembali tangannya, sama sekali tidak merasa terhina. Baginya, cemoohan Linda hanyalah bumbu penyedap. Koko hanya tersenyum hambar menanggapi perkataan Linda.

Koko mendekatkan wajahnya ke arah Bagas, membisikkan sesuatu dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Sebuah kalimat yang ia persiapkan untuk meluluhlantakkan Bagas seutuhnya, untuk yang kedua kalinya.

"I've devoured every single thing you ever owned, Bagas. Your business, your pride, and especially your wife, Hilda. I've been pounding every hole she has, but that tight little ass of hers is my favorite. You should hear her, Bagas—she squeals just like a filthy pig every time I fuck her in the ass."

Kesabaran Bagas yang sejak tadi dibangun dengan susah payah retak seketika. Hinaan terhadap Hilda—meskipun wanita itu telah mengkhianatinya—dan penggambaran vulgar yang merendahkan martabat seorang wanita yang pernah ia cintai, membangunkan insting predator primal di dalam dirinya. Semua etika bisnis, tata krama gala dinner, dan ketenangan yang ia pamerkan menguap menjadi api kemarahan.

Tanpa satu kata pun, tanpa ancaman basa-basi, Bagas melayangkan satu pukulan hook kanan yang telak dan bertenaga. BUGH! Suara hantaman tulang kepalan tangannya dengan rahang Koko menggema di tengah aula yang mendadak sunyi. Koko terlempar ke belakang, gelas sampanye di tangannya pecah berkeping-keping di lantai, dan tubuh tegapnya tersungkur keras menabrak meja saji.

Aula besar itu seketika ricuh. Teriakan tertahan dari para sosialita dan gumaman kaget dari para pria berjas memenuhi udara. Para hadirin, yang menganggap diri mereka sebagai kaum elit yang berperadaban, menatap Bagas dengan pandangan hina merendahkan.

Bagas berdiri tegak, napasnya memburu, matanya masih berkilat penuh amarah menatap Koko yang mengerang kesakitan di lantai. Linda segera merangkul lengan Bagas, berusaha menenangkan Arjunanya yang ditelan kesumat.

Di tengah kekacauan itu, seorang wanita melangkah membelah kerumunan. Kehadirannya membuat napas Bagas tertahan sejenak. Hilda.

Hilda muncul dengan balutan gaun silk merah darah yang seolah dijahit langsung di atas kulitnya, memeluk setiap inci lekuk tubuh jam pasirnya yang sensasional. Potongan gaun yang sangat rendah di bagian dada memamerkan belahan yang putih porselen, sementara belahan tinggi di paha kirinya menunjukkan kaki jenjang yang dibalut stiletto berkilau. Rambut hitam legamnya dibiarkan tergerai dalam gelombang hollywood waves yang sangat glamorous, membingkai wajah cantiknya yang dipulas sempurna dengan bibir merah menyala. Ia adalah perwujudan gairah yang elegan, sebuah piala hidup yang sanggup meruntuhkan pertahanan pria mana pun hanya dengan satu lirikan sayu, namun kini wajah cantik itu dipenuhi kekhawatiran yang nyata.

Hilda berlari menghampiri Koko, berlutut di lantai yang basah oleh sampanye, dan membantu pria itu untuk berdiri. Ia mengusap darah yang keluar dari sudut bibir Koko dengan jemarinya yang gemetar.

Lalu, Hilda mendongak. Matanya bertemu dengan mata Bagas. Ada jeda waktu yang terasa membeku. Sambil perlahan berdiri membimbing Koko, pandangan Bagas dan Hilda seolah terkunci. Hanya beberapa detik, namun sejuta kata seolah terungkap dari pandangan mata tersebut. Berbagai rasa terpancar dari keduanya, keterkejutan, kesedihan, kekecewaan, amarah, kerinduan, sayang, gairah dan cinta. Semua rasa bercampur, menggelitik organ dalam seperti tarian kupu-kupu di perut dan rongga dada.

Sekilas sebelum Hilda dan Koko pergi meninggalkan kericuhan yang terjadi, matanya menatap Linda, sesosok bidadari yang sedari tadi tidak melepaskan diri dari lengan Bagas. Berbagai pertanyaan dan pernyataan timbul di dirinya. Dan Linda membalas tatapan tajam tersebut. Rivalitas muncul hanya dalam tatapan singkat itu, keduanya berkompetisi dalam dunia paralel mereka, dua sosok bidadari yang sepadan dan setara. Diakhiri dengan pengakuan dari keduanya bahwa mereka saling mengakui bahwa rivalnya “sangat cantik”.

Dunia seolah berhenti berputar di dalam aula mewah itu, menyisakan empat jiwa yang terikat dalam dendam, gairah, dan kehancuran yang baru saja dimulai.

Bagas membawa Linda meninggalkan acara itu setelah sebelumnya berpamitan dengan Stephen dan Diana secara singkat melalui tatapan. Mereka melihat konflik yang terjadi antara Bagas dan Koko, dan Diana dengan sekuat tenaga menahan agar Stephen tidak ikut campur, karena ia tahu, Bagas lebih bisa dipercaya mampu menghadapi masalah ini. Justru jika Stephen ikut campur, urusannya akan semakin kacau.

Keluar dari hotel mewah itu, udara dingin Bandung malam hari menyambut mereka, seolah berusaha mendinginkan bara yang masih menyala di dada Bagas. Mereka tidak langsung kembali ke vila. Bagas membutuhkan waktu untuk menata kembali serpihan emosinya, dan Linda, dengan kebijaksanaannya, mengerti tanpa perlu sepatah kata pun terucap.

Mereka memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri trotoar kota yang masih ramai oleh kehidupan malam. Penampilan mereka benar-benar memalingkan pandangan setiap orang yang berpapasan. Bagas dengan midnight blue tuxedo yang membalut tubuh tegapnya, memancarkan aura maskulinitas yang tenang namun berbahaya. Di sampingnya, Linda dengan gaun emerald green yang berkilau di bawah lampu jalanan, melangkah dengan keanggunan seorang ratu.

Mereka berjalan bagai sepasang raja dan ratu yang turun dari khayangan untuk sekadar menikmati bumi. Kerumunan anak muda dan pejalan kaki menepi tanpa sadar, memberikan ruang bagi keduanya untuk lewat. Aura kharisma yang terpancar dari Bagas dan Linda begitu menonjol, menciptakan gelembung eksklusivitas di tengah riuh rendah suara kendaraan dan musik jalanan.

Mereka berhenti sejenak di depan sebuah bangunan tua kolonial yang artistik. Linda menatap pantulan mereka di kaca etalase sebuah toko barang antik, lalu ia menoleh ke arah Bagas. Matanya yang tajam memindai ekspresi pria di sampingnya.

"Hilda... dia memang luar biasa cantik malam ini, Bagas," ucap Linda lembut, menyelipkan nama itu di sela-sela obrolan romantis mereka. "Gaun merah itu... benar-benar mempertegas auranya. Aku bisa melihat mengapa dia pernah menjadi duniamu."

Langkah Bagas terhenti sesaat. Jantungnya berdenyut lebih kencang mendengar nama itu disebut. Bayangan Hilda yang berlutut membantu Koko kembali melintas, memicu rasa sakit dan kemarahan yang bercampur dengan kerinduan yang tak diinginkan. Hatinya benar-benar teraduk; pertemuan tadi telah membongkar kembali kotak pandora yang selama ini ia tutup rapat.

Namun, Bagas menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga kewarasannya. Ia menatap Linda dengan pandangan yang tenang, mencoba tetap bijak agar Linda tidak merasa dikesampingkan oleh bayang-bayang masa lalu.

Ia meraih tangan Linda, mengecup punggung tangannya dengan penuh hormat. "Tapi yang terindah tetap yang berada di sampingku malam ini."

“Halah, gombal.” Linda tertawa renyah.

Linda tersenyum, meski ia tahu di balik kata-kata bijak itu, Bagas masih berjuang menaklukkan badai di dalam dirinya. Ia mempererat pelukannya pada lengan Bagas, membiarkan kehangatan tubuh mereka menjadi jangkar di tengah dinginnya malam kota Bandung. Mereka melanjutkan langkah, menyusuri jalanan yang kian sepi, membawa dendam dan gairah menuju tempat yang hanya mereka berdua yang tahu.

Langkahku terasa ringan menyusuri trotoar Jalan Braga yang legendaris. Wangi kopi dari kedai-kedai tua dan semilir angin malam Bandung yang sejuk seolah mencuci sisa-sisa amarah yang tadi sempat meledak di hotel. Linda masih bergelayut manja di lenganku, sesekali ia tertawa kecil, menceritakan bagaimana kagetnya dia ketika rahang Koko beradu dengan kepalan tanganku.

"Gak nyangka lho tadi kamu sampe segitunya", bisik Linda, bibirnya nyaris menyentuh telingaku.

Aku tersenyum, mengelus jemarinya. Aku berusaha fokus pada Linda, pada bidadari yang telah membantuku merangkak keluar dari kegelapan. Namun, jauh di sudut hati, bayangan Hilda yang memeluk Koko tadi masih terasa seperti duri yang tersangkut. Perih, tapi aku berusaha mengabaikannya.

Tiba-tiba, ponsel di saku tuxedo-ku bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Aku merogohnya, mengira itu mungkin pesan dari Stephen yang ingin menanyakan keadaanku.

Namun, dahi ku berkerut saat melihat layar. Nomor itu tidak ada di dalam daftar kontakku. Hanya deretan angka asing yang mengirimkan sebuah pesan dalam bahasa Inggris.

"If you want to see the true face of your wife, come to this location."

Jantungku berdegup kencang secara tiba-kira. Pesan itu pendek, namun tajam bagai sembilu. Di bawah teks tersebut, terdapat sebuah tautan titik koordinat maps dan sebuah lampiran gambar berupa QR code berwarna hitam putih yang nampak dingin dan misterius.

"Ada apa, Bagas? Pesan dari Stephen?" tanya Linda, menyadari perubahan ekspresiku yang mendadak kaku.

Aku segera mengunci layar ponsel, berusaha bersikap tenang. Aku tidak ingin merusak malam indah ini, tapi isi pesan itu seolah memanggil naluri pemburuku yang paling dasar. Wajah asli istriku? Apa lagi yang belum aku ketahui tentang Hilda? Bukankah pengkhianatannya di depan mata tadi sudah cukup menjadi bukti "wajah aslinya"?

"Bukan apa-apa, hanya spam pekerjaan yang belum tuntas," jawabku datar. Aku mencoba tersenyum, namun aku tahu Linda terlalu cerdik untuk tertipu dengan mudah.

Matanya yang tampak mendalami kerumunan itu seolah mencari sesuatu yang ia sendiri belum tahu, namun pikiranku sudah melayang jauh ke titik koordinat itu. Di mana lokasi itu, namun yang terpenting ada apa di sana.

Apakah ini jebakan Koko untuk membalas dendam atas pukulan tadi?

Aku melirik ponselku sekali lagi di balik telapak tangan. QR code itu... itu bukan kode sembarangan. Rasanya seperti kunci menuju sebuah pintu yang seharusnya tetap tertutup. Tapi rasa ingin tahuku, atau mungkin sisa-sisa rasa sakit hatiku, menuntut jawaban.

"Linda," panggilku pelan, menghentikan langkah kami di bawah lampu jalan yang temaram. "Sepertinya kita tidak bisa langsung balik ke vila. Ada satu tempat yang harus aku datangi sekarang juga."

Linda menatap mataku dalam-dalam. Ia tidak bertanya banyak. Ia hanya mengangguk, namun binar matanya menunjukkan bahwa ia tahu malam ini belum benar-benar berakhir.

"Ok Bagas... aku mah ngikut saja," tegasnya.

Aku mempererat genggamanku. Kami segera berbalik menuju lokasi parkir mobil. Di dalam dadaku, adrenalin kembali memompa. Jika memang ada wajah asli Hilda yang lebih buruk dari apa yang kulihat tadi, aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Malam ini, Bandung tidak hanya menawarkan romantisme, tapi juga kebenaran yang mungkin akan menghancurkan sisa-sisa kenanganku selamanya.

Mobil melaju membelah kesunyian malam menuju arah utara kota. Titik koordinat itu membawaku ke sebuah area yang seharusnya merupakan deretan ruko dan toko-toko tua yang sudah tutup. Suasananya mati; lampu jalanan yang remang-remang hanya menerangi rolling door besi yang berkarat dan tembok-tembok penuh coretan graffiti. Tak ada tanda-tanda kehidupan.

Aku menghentikan mobil tepat di depan sebuah bangunan yang tampak seperti gudang material yang tutup. Linda menatap sekeliling dengan waspada. "Bagas, benaran di sini?"

Aku mengecek kembali ponselku. "Iya benar kok di sini."

Baru saja aku hendak memutar balik, sesosok pria bertubuh besar dengan wajah sangar muncul dari kegelapan di samping bangunan. Ia mengenakan jaket kulit hitam, telinganya terpasang handsfree yang terus berkedip. Ia berjalan menghampiri jendela mobilku dengan langkah yang sangat terukur. Meskipun wajahnya mengancam, ia berusaha bersikap sopan dengan ketegasan layaknya militer.

Ia mengetuk kaca jendela. Aku menurunkannya sedikit, sementara tangan kananku sudah bersiap di bawah kursi jika terjadi sesuatu.

"Selamat malam. Ada keperluan apa Anda berhenti di sini?" tanyanya dengan suara bariton yang berat.

Aku teringat pada pesan misterius itu. Tanpa berkata-kata, aku menunjukkan QR code yang ada di layar ponselku. Pria itu sedikit terkejut. Ia mengeluarkan sebuah perangkat pemindai dari sakunya dan mendekatkannya ke arah layarku.

BIP.

Bunyi pendek itu diikuti dengan perubahan sikap pria tersebut. Ia menegakkan tubuhnya dan sedikit membungkuk hormat. "Silakan lanjut mengikuti jalan setelah gerbang dibuka. Anda sudah ditunggu."

Ia terdengar berbicara dengan seseorang melalui handsfree di telinganya. Tiba-tiba, suara deru mesin hidrolik terdengar di tengah kesunyian malam. Deretan toko yang tadinya terlihat seperti dinding solid itu mulai bergeser. Panel-panel bangunan itu rupanya adalah kamuflase. Sebuah gerbang besar terbuka, menyingkapkan sebuah jalan aspal mulus, tersembunyi di balik deretan toko yang tampak mati itu.

Aku menginjak gas perlahan. Jalan itu dikelilingi oleh pagar beton tinggi yang ditutupi tanaman rambat, sangat tertutup dari pandangan luar. Di ujung jalan tersebut, sebuah mansion bergaya gothic modern berdiri dengan angkuh. Lampu-lampu sorot dari bawah pohon besar menerangi fasad bangunan yang megah namun dingin.

"Bagas... tempat ini," Linda berbisik, suaranya tercekat.

Jantungku berdegup kencang. Bayangan Hilda dan Koko masuk ke tempat ini mulai menghantui pikiranku. Tempat tersembunyi seperti ini biasanya menyimpan rahasia yang paling kotor. Aku memarkirkan mobil di depan lobi yang dijaga ketat.

Pikiran bahwa Hilda—istriku yang dulunya tampak begitu polos—pernah menginjakkan kaki di sarang serigala ini membuat darahku mendidih. Aku menatap Linda, lalu beralih pada pintu besar mansion itu.

Kami turun dari mobil, siap memasuki jantung kegelapan yang menjadi misteri terbesar malam ini.

Seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat rapi—begitu kaku hingga nampak seperti seragam—menyambut kami di depan daun pintu jati raksasa yang berukir rumit. Ia tidak bertanya siapa kami; seolah QR code tadi sudah menjelaskan segala kasta dan izin yang kami miliki. Ia hanya menunduk sedikit, lalu membukakan pintu dengan gerakan mekanis yang terlatih.

"Selamat datang Tuan. Anda sudah ditunggu," ucapnya dengan suara tanpa emosi.

Begitu melangkah masuk, sebuah hantaman sensorik langsung menyerang indra kami. Suasana di dalam sangat kontras dengan kesunyian ruko di luar. Udara terasa berat oleh perpaduan aroma parfum oud yang mahal, asap cerutu, dan bau amis maskulin yang samar namun terasa nyata. Cahaya temaram berwarna merah crimson dan emas menyelimuti aula besar yang bergaya baroque tersebut.

Pemandangan yang tersaji di hadapan kami benar-benar mencengangkan. Puluhan orang, pria dan wanita dengan setelan tuxedo dan gaun mewah yang mungkin seharga rumah, tampak berlalu-lalang. Namun, ada satu kesamaan: mereka semua mengenakan topeng masquerade yang artistik namun mengerikan—menutupi identitas di balik wajah-wajah elit itu.

Atmosfernya bukan sekadar pesta glamour. Di salah satu sudut, seorang penari telanjang sedang meliuk-liuk erotis pada sebuah pole krom berkilau. Tubuhnya yang berminyak memantulkan cahaya merah saat ia melakukan gerakan inverted yang ekstrim, memamerkan selangkangannya yang terbuka lebar tepat di depan wajah para pria yang menonton sambil menyesap wiski.

Pemandangan lebih gila terjadi di sofa-sofa beludru yang tersebar di aula. Tak ada lagi basa-basi bisnis; yang ada hanyalah pelampiasan nafsu. Di sisi kanan kami, seorang pria bertopeng singa sedang menghujam seorang wanita dari belakang dalam posisi doggy style di atas meja marmer. Gaun sutra wanita itu tersingkap hingga ke pinggang, memperlihatkan bongkahan bokong putihnya yang bergetar hebat setiap kali pria itu melakukan thrusting yang kasar. Wanita itu mengerang keras, tangannya mencengkeram tepi meja, sama sekali tidak peduli pada orang-orang yang lewat di sekitarnya.

Di sudut lain, sebuah pemandangan MMF (Male-Male-Female) sedang berlangsung di atas kursi chaise longue. Seorang wanita cantik dengan topeng bulu-bulu nampak kewalahan melayani dua pria sekaligus. Satu pria berada di belakangnya, menghujam liang duburnya dengan ritme yang stabil, sementara pria lainnya berdiri di depan, memaksanya untuk melakukan deep throat hingga wanita itu terbatuk namun tetap terus menghisap dengan rakus. Tangan kedua pria itu meremas payudara wanita itu hingga memerah, menciptakan simfoni erangan dan suara kulit yang beradu, PLOK-PLOK-PLOK, yang bergema samar di antara musik klasik yang melantun lembut.

Tak jauh dari situ, pemandangan FFM (Female-Female-Male) nampak lebih artistik namun tetap binal. Seorang pria paruh baya bertubuh tegap duduk di sebuah kursi besar mirip singgasana. Ia tidak bergerak, hanya menikmati pelayanan dari dua wanita muda yang saling bercumbu di pangkuannya. Satu wanita sedang duduk di atas kejantanan pria itu, bergerak naik-turun dengan perlahan namun pasti, sementara wanita lainnya berlutut di bawah, menjilati klitoris wanita yang sedang riding tersebut. Lidah mereka saling bertaut, sementara tangan sang pria meremas kedua pasang payudara yang saling bergesekan di depannya. Cairan kewanitaan dan saliva nampak membahasi paha mereka, menciptakan pemandangan lesbian action yang disaksikan secara langsung oleh sang pejantan.

"Bagas..." Linda berbisik pelan. Suaranya terdengar sangat tenang, namun jika aku perhatikan lebih dekat, ada binar yang menggelap di matanya. Ia tidak menunjukkan keterkejutan atau rasa jijik yang vulgar; sebaliknya, raut wajahnya menyiratkan semacam apresiasi yang dingin dan penuh gairah yang tersembunyi.

Bibirnya sedikit terbuka, napasnya mulai terasa lebih berat dan hangat di pundakku. Tangannya yang melingkar di lenganku tidak lagi sekadar memegang, melainkan meremas dengan sentuhan yang lebih menuntut, seolah atmosfir binal di ruangan ini mulai meresap ke dalam pori-porinya. Ekspresinya yang tetap terkendali justru mempertegas ketertarikan yang ia rasakan; binar matanya yang tajam seolah menelanjangi setiap adegan yang ia saksikan, dan jemarinya sesekali mengelus lenganku dengan ritme yang menggoda, mengirimkan sinyal gairah yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Ketenangan Linda membuatku sedikit tertegun. Genggamannya di lenganku tidak lagi meremas karena ngeri, melainkan sebuah pegangan yang mantap dan penuh kendali. Ia seolah sudah sangat akrab dengan bau dekadensi yang pekat ini, bahkan nampak mulai terangsang olehnya.

Pikiran bahwa Hilda mungkin pernah menjadi bagian dari adegan-adegan binal di ruangan ini—disetubuhi oleh pria-pria asing dengan berbagai kombinasi gila—membuat darahku mendidih hingga ke titik nadir. Aku menatap Linda, bidadariku yang tetap nampak berkelas di tengah rawa dosa ini, meski aku tahu nafsu liarnya sedang bergejolak di balik topeng ketenangannya. Bahkan sesekali ia menggigit bibir bagian bawahnya seraya menahan gelora birahinya. Matanya bersafari ke setiap sudut ruang maksiat itu, menikmati setiap sajiannya, bahkan ketika beberapa pria jalang menatapnya dengan tatapan lapar, seolah menariknya untuk bergabung, ia sama sekali tak berpaling, justru tersenyum menggoda.

"Tetap di dekatku, Linda," desisku.

Kami melangkah lebih dalam ke arah koridor yang lebih gelap, di mana pintu-pintu kamar tertutup rapat, menyembunyikan rahasia yang mungkin jauh lebih buruk dari apa yang tersaji di aula utama ini. Jantungku berdetak kencang, darahku berdesir cepat, kegilaan di ruang utama bukanlah apa-apa, pikiranku masih mencari sesuatu yang tersembunyi, entah aku siap atau tidak, aku datang karena Hilda. Dalam kegelapan dosa, gairahku pun ikut tersulut, birahi bangkit dari jurang yang paling hina.

Pria berjas rapi itu berhenti di depan sebuah pintu ganda berwarna hitam legam dengan aksen emas. Ia membukanya perlahan, mempersilakan aku dan Linda masuk ke sebuah ruangan yang sekilas tampak seperti kamar hotel mewah bergaya kontemporer. Pencahayaannya sangat redup, hanya ada satu lampu gantung kristal kecil yang memberikan pendaran kuning hangat.

Di depan kami, salah satu sisi dinding ruangan itu didominasi oleh sebuah dinding kaca yang sangat besar. Aku sempat berpikir ini hanyalah sebuah ruangan privat bagi mereka yang ingin bercinta dengan privasi tinggi, dan kaca ini berfungsi agar mereka bisa melihat pantulan diri mereka sendiri saat sedang bersenggama—sebuah fantasi narsistik yang lazim di tempat seperti ini.

Pria pembimbing itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya berjalan ke arah saklar di samping dinding kaca dan menekan sebuah tombol.

Tiba-tiba, suara pria dan wanita yang riuh melenguh, mendesah, dan mengerang mulai terdengar memenuhi ruangan kami melalui sistem surround sound yang tersembunyi. Suara itu begitu jernih, menangkap setiap tarikan napas dan suara kulit yang beradu. Perlahan namun pasti, lapisan reflektif pada cermin tersebut memudar, berubah menjadi transparan sepenuhnya.

Sepersekian detik, seluruh saraf dan inderaku seolah berhenti bekerja. Jantungku bagai dihantam palu godam.

Di balik kaca itu, di sebuah ruangan yang lebih terang dengan dekorasi merah darah yang provokatif, pemandangan paling menjijikkan dan menghancurkan harga diriku tersaji dengan sangat jelas di atas sebuah ranjang king size yang sangat besar.

Hilda. Istriku sedang berada di sana, diapit oleh dua pria di depan dan belakangnya. Ia berada dalam posisi spitroast di tengah ranjang luas itu. Tubuhnya yang putih porselen benar-benar telanjang bulat, namun sebuah kain selendang sutra berwarna putih melilit kepalanya, menutupi rambutnya dan membingkai wajahnya persis seperti seorang wanita yang mengenakan hijab. Pemandangan itu adalah sebuah penistaan yang disengaja, sebuah kontras yang tajam antara simbol kesucian di kepala dan kebinalan yang terjadi pada tubuhnya.

Seorang pria bertubuh besar dengan topeng banteng berada di bagian depan, memegang kepala Hilda seraya menjambak rambutnya dengan kasar dari balik kain sutra itu. Pria itu menghujamkan kejantannya ke dalam mulut Hilda, melakukan deep throat yang brutal. Hilda menyambutnya dengan rakus, menelan seluruh batang pria itu berulang kali, suaranya teredam menjadi erangan parau yang dipenuhi gairah.

Di saat yang sama, seorang pria lain berada di belakangnya. Ia berlutut di atas ranjang, memegang pinggul Hilda dengan kuat dan menariknya ke arah kejantannya. Pria itu menghantam liang vagina Hilda dengan ritme yang sangat cepat dan bertenaga. PLOK-PLOK-PLOK! Suara peraduan kulit mereka terdengar nyaring melalui pengeras suara di ruangan kami.

Hilda tidak terlihat tertekan. Sebaliknya, ia meliukkan tubuhnya dengan liar, seolah menikmati setiap inci penetrasi ganda yang ia terima. Matanya terpejam rapat, bibirnya yang belepotan cairan saliva sesekali melepaskan batang pria di depannya hanya untuk mendesah kencang, sebelum kembali menghisapnya dengan lebih dalam. Setiap kali liang vaginanya dihujam, Hilda mengeluarkan suara lenguhan yang begitu merdu—bagai wanita yang sedang dimanjakan oleh para kekasihnya, sebuah suara yang menandakan bahwa ia sedang berada di puncak kenikmatannya.

Dan di sudut ruangan itu, duduklah Koko di atas kursi kulit besar yang menghadap tepat ke arah ranjang. Ia mengenakan jubah sutra yang terbuka sepenuhnya. Tangan kanannya memegang gelas wiski, sesekali menyesapnya dengan tenang, sementara tangan kirinya sedang sibuk mengurut penisnya yang sudah tegak berdiri dan berurat. Ia melakukan masturbasi sambil menonton pertunjukan itu dengan seringai kemenangan yang absolut. Matanya berkilat penuh kepuasan, memandangi bagaimana "piala" yang ia rebut dari aku kini sedang dikoyak oleh pria-pria entah siapa sementara ia sendiri memuaskan birahinya melalui tontonan tersebut.

Darahku berdesir hebat, amarah dan birahi yang gelap bercampur menjadi satu racun yang mematikan. Aku menatap pemandangan itu tanpa berkedip, menyaksikan bagaimana setiap inci harga diriku diinjak-injak melalui tubuh wanita yang pernah aku puja, yang kini nampak begitu menikmati peran barunya sebagai jalang di atas ranjang Koko.

Linda, yang berdiri di sampingku, sangat tenang seperti menahan gejolaknya sendiri. Aku bisa merasakan napasnya yang semakin memburu. Di bawah cahaya temaram, aku melirik raut wajahnya; Linda nampak sangat menikmati tontonan itu. Bibirnya sedikit terbuka, matanya yang tajam seolah menelan setiap detail adegan yang sedang diperagakan Hilda. Tangannya yang melingkar di lenganku mulai meremas dengan kencang, dan ia perlahan menggesekkan tubuhnya ke lenganku. Entah kenapa, bagiku Linda benar-benar terangsang melihat Hilda dan kedua pria sedang bersetubuh di depan matanya.

Napasku memburu, jantungku berderu, aliran darah mengalir deras ke seluruh tubuhku, tanganku mengepal, dan yang lebih tak kusangka penisku mengeras.

"Watch it, Enjoy it Bagas..." bisik Linda, suaranya serak oleh gairah yang menggelap. "This is what you came for, show them that you are not the same guy that you used to be."

Aku tidak membalas. Pandanganku terkunci pada Hilda yang kini hampir mencapai puncaknya di atas ranjang itu, tubuhnya gemetar hebat di bawah lilitan selendang sutra itu, begitu juga kedua pejantan yang sibuk menghujamkan kontol mereka ke dua lubang Hilda, gerakannya semakin kasar dan cepat, seolah mengejar puncak kenikmatan mereka, sementara Koko masih dengan tenang menikmati sajian ritual maksiat di hadapannya.

Pria di depan Hilda mencapai klimaks pertama. Dengan geraman kasar, ia menekan kepala Hilda dengan kuat, memaksa mulut wanita itu menempel hingga ke pangkal kontolnya yang berurat. Dalam satu hentakan terakhir yang dalam, ia menyemburkan peju panasnya langsung ke kerongkongan Hilda. Aku bisa melihat jakun Hilda naik-turun saat ia terpaksa menelan cairan kental itu dalam jumlah banyak. Setelah selesai menuntaskan hajatnya di rongga mulut Hilda, pria itu melepaskan cengkeramannya di kepala Hilda. Batang kontol besar panjang berurat keluar dari mulut Hilda; aku tercengang, Hilda mampu melayani kontol sebesar itu. Hilda melenguh panjang, matanya mendelik ke atas, dan ia menarik napas dengan payah akibat sesak oleh aksi brutal pria tersebut. Masih sempat tangannya meremas kontol tersebut, bahkan mengurutnya, seolah memastikan semua pejunya sudah keluar. Mulutnya membuka lebar, lidahnya terjulur, tetesan saliva dan peju bercampur di bibir dan dagunya, sesekali menjilat dan mengemut kepala kontol yang mulai lunglai setelah tuntas tugasnya. Selendang putih di kepalanya kini tampak berantakan, sebagian basah oleh sisa-isa saliva dan pejantan yang meluap dari sudut bibirnya.

Berikutnya, pria yang mengentot memeknya dari belakang dengan brutal mencapai ambang batasnya. Hilda, yang telah selesai dengan pejantan di depannya, menoleh ke belakang dengan sisa-sisa tenaganya. Ia menatap pejantan di belakangnya dengan tatapan tajam yang binal, seolah memberikan semangat untuk mengentotnya lebih dalam. Tangan kanannya meraba ke belakang, menarik bongkahan pantat kanannya, seolah dengan sengaja membukakan jalan yang lebih luas agar memeknya dihujam lebih liar lagi.

Pria itu akhirnya mencapai puncaknya, menguras seluruh pejunya tepat di dalam rahim Hilda dalam beberapa semprotan yang bertenaga. Setelah selesai, ia mencabut kontolnya yang melunak, dan saat itu juga, mengalirlah cairan kental hangat berwarna putih keluar dari vagina Hilda yang memerah, menetes ke atas sprei sutra yang sudah berantakan.

Wajah Hilda nampak sangat lelah, penuh peluh dan peju yang mengotori pipi dan keningnya, namun ekspresinya sarat akan kepuasan dan kenikmatan yang belum pernah kulihat selama kami menikah. Ia terbaring lemas sejenak, namun jemarinya yang lentik meraih sisa peju yang menempel di vagina dan pahanya, lalu dengan gerakan sensual, lidah dan mulutnya menjilat-jilat sisa peju tersebut seolah itu adalah nektar yang paling manis di dunia. Deja vu, wajah itu kulihat lagi, sama persis seperti di video. Wajah binal dengan ekspresi penuh kepuasan dan kenikmatan, tapi masih mengharap lebih. Walaupun ternoda oleh cairan hina, kusut tak beraturan, namun kecantikannya tak pudar, justru semakin indah dalam sensualitas dan erotisme. Wajah yang tak pernah kulihat ketika bersamaku.

Di sudut ruangan, Koko tersenyum, puas dengan aksi teatrikal bejat di panggung kasur penuh dosa itu. Aku berdiri mematung. Penisku yang mengeras di balik tuxedo terasa seperti sebuah penghinaan pada diriku sendiri. Marah, cemburu, dan gairah yang sakit ini menyatu. Aku tidak lagi memperhatikan Linda. Matanya benar-benar terkunci pada fenomena binal di hadapanku. Adegan yang hanya kulihat dari film porno produksi Eropa, kini tersaji live di depan mataku, dengan istriku Hilda sebagai pemeran utamanya.

Aku baru menyadari sepenuhnya bahwa cermin besar ini adalah one-way mirror. Itulah alasannya mengapa Hilda dan para pejantannya itu sama sekali tidak menyadari kehadiranku dan Linda yang mengintai dari ruangan sebelah. Bagi mereka, kaca ini hanyalah pantulan dari kebejatan mereka sendiri, sementara bagiku, ini adalah jendela menuju nerakaku.

Namun ritual mesum itu rupanya belum berakhir. Setelah tuntas melampiaskan birahi mereka pada tubuh Hilda, kedua pria bertopeng itu bangkit dan pergi tanpa sepatah kata pun. Mereka melangkah keluar dari ruangan seolah-olah baru saja menyelesaikan sebuah pekerjaan rutin, meninggalkan Hilda yang masih tampak mabuk dalam dekapan sisa-sisa birahi yang membara. Tubuhnya yang basah kuyup oleh peluh dan sisa pejantan nampak berkilau di bawah lampu temaram.

Koko kemudian berdiri. Ia melucuti jubah sutranya hingga telanjang bulat, memamerkan tubuhnya yang tegap dengan kejantanan yang sudah menegang sempurna. Ia melangkah perlahan mendekati ranjang, menatap Hilda seolah sedang memandangi seorang bidadari yang telah ia taklukkan sepenuhnya.

Hilda, yang masih bersimpuh di atas kasur dengan napas terengah-engah, seolah langsung paham apa yang diinginkan tuannya. Tanpa perlu diperintah, ia memposisikan dirinya menungging dalam gaya doggy style. Ia menjulangkan bokongnya yang indah ke arah Koko, bertumpu pada kedua lutut dengan paha yang sengaja dibuka lebar-lebar, mengekspos area selangkangannya yang masih berlumuran sisa persetubuhan tadi.

Kepala, tangan, dan payudaranya terbaring santai di atas bantal, memberikan kesan kepasrahan yang total. Matanya terpejam, ekspresi wajahnya begitu cantik namun sarat akan aura binal. Sebuah senyum tipis tersungging samar di bibirnya yang masih basah, menandakan ia bersiap untuk sesuatu yang jauh lebih menyenangkan sekaligus liar.

Saat itulah aku menyadari ada sesuatu yang tidak biasa pada bokong Hilda. Di sela-sela lipatan anusnya, terdapat sebuah benda hitam yang berkilau. Koko mendekat, tangannya yang kasar langsung menampar bongkahan pantat Hilda dengan keras, lalu meremasnya dengan penuh dominasi. Daging bokong itu nampak bergetar hebat seperti jeli yang kenyal, mengikuti bentuk dari remasan tangan Koko yang kuat.

Dengan satu tarikan, Koko mencabut benda asing tersebut. Ternyata itu adalah sebuah anal dildo berukuran sedang yang telah tertancap dalam di anus Hilda sejak awal. Aku kembali terkejut. Itu berarti selama ronde pertama threesome tadi, bukan hanya dua lubang Hilda yang dipenetrasi, melainkan ketiga lubangnya sekaligus, termasuk anusnya yang kini nampak menganga kecil setelah dildo itu dicabut. Pengkhianatan ini jauh lebih dalam dan kotor dari yang pernah kubayangkan.

Setelah mengolesi penisnya dengan lubricant yang tersedia di meja samping ranjang, Koko tidak menunggu lama. Ia memposisikan dirinya di belakang Hilda, memegang pinggul wanita itu dengan cengkeraman yang tegas, lalu menghujamkan kontolnya ke dalam anus Hilda dengan satu dorongan brutal.

Hilda memekik kencang, sebuah suara antara rasa sakit dan nikmat yang luar biasa. Tubuhnya melengkung ke depan saat Koko mulai memacu genjotannya dengan ritme yang buas. Mereka berdua bergerak seperti sepasang anjing liar yang sedang kawin di tengah hutan, hanya ada insting purba yang saling melumat di balik dinding kaca yang memisahkan realita kami.

Tiba-tiba, Koko meraih sebuah remote kecil. Sambil terus menghantam anus Hilda dengan gerakan yang semakin kasar, ia menekan sebuah tombol.

Seketika, pencahayaan di ruangan kami berubah. Lampu gantung kristal di atas kepala kami meredup, sementara cahaya di ruangan sebelah justru semakin terang. Aku tersentak. Cermin satu arah itu kini telah berubah menjadi two-way mirror.

Hilda, yang tadinya sedang terlelap dalam gelombang nikmat anal, mendadak membuka matanya. Ia mendongak, menatap tepat ke arah kaca. Sepersekian detik kemudian, wajahnya yang cantik berubah pucat pasi. Matanya mendelik lebar, mulutnya menganga—bukan lagi karena nikmat, tapi karena keterkejutan yang luar biasa saat melihat sosokku dan Linda berdiri tepat di hadapannya, hanya terpisah oleh lapisan kaca tipis.

Hilda melihatku. Ia melihat suaminya sedang menonton kehinaannya.

Namun, berbeda dengan Hilda, Koko justru meledak dalam tawa yang parau dan penuh kemenangan. Ia tidak berhenti. Justru karena ia tahu aku sedang menonton, ia semakin membabi buta. Ia mencengkeram rambut Hilda dari balik selendang sutranya, menarik kepala wanita itu ke belakang hingga lehernya menegang dan bahunya terangkat, memaksanya untuk terus menatapku melalui kaca tersebut.

"Look at him, Hilda! Let your pathetic loser of a husband get a good look at your true, slutty face while I'm wrecking your ass!" Koko berseru, suaranya terdengar nyaring melalui sistem suara.

Koko terus menghujamkan kontolnya ke anus Hilda dengan kekuatan penuh. Suara PLOK-PLOK-PLOK peraduan daging mereka semakin keras merobek kesunyian. Hilda nampak berada dalam perang batin yang mengerikan; matanya berkaca-kaca menatapku, ada pancaran kesedihan dan penyesalan yang mendalam di sana, namun tubuhnya justru memberikan respons yang berlawanan. Birahinya telah sepenuhnya dikuasai oleh dominasi kasar Koko.

Pandanganku seolah terkunci dengan mata Hilda. Aku tidak bisa berpaling. Aku menyaksikan bagaimana napasnya semakin memburu, payudaranya bergoyang dengan liar, dan wajahnya mulai memerah karena puncak kenikmatan yang tak terelakkan. Puncaknya, saat Koko melakukan beberapa hentakan anal yang sangat dalam dan bertenaga, tubuh Hilda menegang hebat.

Hilda menjerit melengking, dan di saat yang sama, sebuah semburan cairan jernih—squirt—memancar kuat dari liang vaginanya yang sudah sangat banjir, membasahi sprei sutra di bawahnya. Ia mencapai puncak orgasme vagina yang dahsyat justru saat anusnya dipenetrasi secara brutal oleh musuhku.

Bersamaan dengan itu, Koko menggeram seperti binatang buas. Ia menghunjamkan kejantannya hingga ke pangkal anus Hilda, menahannya di sana selama beberapa detik sementara ia mengejang hebat. Ia melakukan anal creampie, menguras seluruh pejunya ke dalam liang dubur Hilda.

Setelah tuntas, Koko mencabut kontolnya yang masih berlumuran sisa-sisa pelumas dan cairan tubuh. Dengan sikap yang sangat merendahkan, ia berdiri di depan wajah Hilda yang masih tergeletak lemas. Koko menyodorkan kontolnya yang masih belepotan peju tepat ke depan mulut Hilda.

"Lick it clean," perintah Koko dingin.

Hilda, dengan mata yang masih menatap tajam ke arahku—sebuah tatapan yang sarat akan kepasrahan dan kehancuran—perlahan menjulurkan lidahnya. Ia mulai menjilati sisa-sisa pejantan Koko yang menempel di batang kontol itu, lalu mengulumnya dalam-dalam untuk membersihkannya. Ia melakukannya seolah-olah ia telah sepenuhnya menyerah pada birahinya, meski air mata mulai mengalir di sudut matanya.

Aku merasakan jantungku bagai diremas. Rasa sakitnya begitu nyata hingga aku sulit bernapas. Linda, menyadari bahwa aku sudah mencapai batas ketahananku, segera merangkul pundakku.

"Cukup, Bagas," bisik Linda lembut namun tegas. Ia mulai menarikku menjauh dari kaca terkutuk itu. "Kita pergi sekarang."

Aku mengikuti langkah Linda dengan kaku dan tegang. Kami keluar dari ruangan itu dengan cepat, tanpa menoleh lagi ke arah cermin yang kini kembali menggelap. Namun, pemandangan di aula utama kini jauh lebih gila dari saat kami masuk tadi.

Atmosfer telah berubah menjadi neraka birahi yang sesungguhnya. Topeng-topeng masquerade nampaknya sudah tidak lagi diperlukan. Hampir semua orang di aula besar itu telah menanggalkan pakaian mereka. Di atas meja marmer, di sofa beludru, bahkan di atas lantai, puluhan elit kota ini sedang bersenggama dengan berbagai gaya dan kombinasi yang tak terbayangkan. Aroma seks, keringat, dan alkohol memenuhi udara, menciptakan bau busuk dekadensi yang pekat.

Norma dan etika tidak lagi memiliki tempat di sini; hanya nafsu birahi yang menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pakai. Saat kami berjalan terburu-buru menuju pintu keluar, mata-mata yang penuh lapar dan kegilaan menatap tajam ke arah kami. Beberapa pria dan wanita yang sedang bersetubuh berhenti sejenak, menatap kami seolah-olah ingin menarik kami masuk ke dalam pusaran maksiat mereka.

Aku merasa seolah sedang berjalan melewati kobaran api neraka yang ingin melahap jiwaku. Linda mempercepat langkahnya, menuntunku menembus kerumunan tubuh-tubuh polos yang saling melumat itu. Kami akhirnya berhasil mencapai pintu jati besar dan menghambur keluar menuju udara malam Bandung yang dingin.

Segera menuju mobil kami yang sudah dipersiapkan tepat di depan lobi utama, dengan pintu terbuka dan seorang petugas valet parking yang mempersilakan kami masuk ke mobil. Tak banyak gaya, tak banyak bicara, aku pacu mobilnya pergi dari mansion jahanam itu, menuju vila, di mana memori indah terakhir dengan Linda tersimpan di pikiranku.


Part 26

Keheningan menyelimuti kabin mobil saat kami mendaki jalanan berliku menuju vila. Lampu sorot mobil membelah kabut tipis yang mulai turun, serupa dengan pikiranku yang saat ini carut-marut oleh bayangan-bayangan di mansion tadi. Hilda dengan selendang putihnya, tubuhnya berlumur cairan para pejantan yang bercinta dengannya, dan tatapan matanya yang sarat akan kepuasan serta kenikmatan... semuanya terus berputar berulang di kepalaku.

Aku mencengkeram kemudi hingga buku-buku jariku memutih. Emosiku tidak lagi meledak-ledak menjadi murka seperti saat memukul Koko; yang kurasakan kini lebih rumit, lebih kompleks. Ada amarah, kekecewaan, kecemburuan, tapi di sisi lain ada kekaguman, kebanggaan, dan kenikmatan yang tak lagi malu-malu, muncul secara jujur. Membuat batang kejantananku menegang sedari tadi.

Linda duduk di sampingku, ia tidak menyalakan musik atau berusaha membuka percakapan basa-basi. Ia tahu aku sedang berada di ambang batas. Namun, tangannya perlahan merayap ke arah pahaku, meremasnya lembut seolah memberikan aliran kekuatan. Senyum manis dan lembut senantiasa menghiasi wajah malaikatnya, menenangkan jiwaku yang bergolak dalam amukan emosi yang berkecamuk.

Kami tiba di gerbang vila saat jam menunjukkan pukul dua dini hari. Begitu masuk ke dalam ruangan yang hangat, aroma kayu dan atmosfer erotis yang nyaman serta menenangkan menyambut kami.

Aku melepaskan jas tuxedo-ku dan melemparkannya ke sofa seolah membuang beban berat. Linda menghampiriku, ia berdiri di depanku, mulai melepaskan kalung choker berliannya. Matanya menatapku dengan binar yang sama seperti saat di mansion tadi—binar binal yang kini sepenuhnya ditujukan padaku.

Segera kulumat bibir manis dan lembutnya dengan terburu-buru, tanganku entah berada di mana, kuraba apa pun yang bisa kuraba dari tubuhnya, kuremas apa pun yang bisa diraih genggamanku. Napasku memburu, nafsuku mendesak, tak ada lagi yang bisa kupikirkan selain seks. Linda membalas apa pun yang kuberikan padanya, bagai bola karet yang memantul ketika dilemparkan ke dinding, apa pun yang kulampiaskan padanya ia lampiaskan kembali padaku. Suara kecipak peraduan mulut dan lidah basah kami, desahan dan lenguhan yang tertahan. Tak ada harmonisasi, tak ada sinkronisasi, kami seperti berlomba dalam ajang gairah.

Aku menarik ritsleting gaunnya dengan cepat, menyingkap punggung mulusnya yang putih porselen. Gaun itu jatuh ke lantai, menyisakan tubuh Linda berbalut Victoria's Secret yang berdiri indah di depanku. Seolah mengimbangiku, ia pun segera melepas pakaian dalam pertahanan terakhirnya. Keindahan tubuhnya seketika semakin menyulut bara birahi yang sedari tadi tertahan. Kembali kusergap tubuh polos, ranum, padat, dan kenyal milik Linda. Dua payudaranya yang penuh menjadi sasaran empukku. Kuremas bagai sedang menguleni adonan roti, semakin keras semakin mantap. Putingnya tak luput dari kegemasanku, kupilin dan kupelintir. Linda hanya bisa melenguh dan mengerang, entah nikmat atau sakit, aku tak lagi peduli.

Aku mencengkeram rahangnya dengan satu tangan, memaksanya mendongak hingga matanya menatap tepat ke mataku yang gelap oleh nafsu. Tak ada kata manis, tak ada rayuan nyiur melambai. Hanya ada ego yang menuntut kepuasan mutlak. Aku menyentakkan kepalanya ke bawah, memerintahkannya tanpa suara untuk melayani kejantananku yang sudah berdenyut ngilu.

Aku memaksanya melakukan deep throat dengan kasar. Aku tidak peduli dengan rasa sesak yang membuatnya tersedak atau air mata yang mulai merembes di sudut matanya. Aku memegang bagian belakang kepalanya, menghujamkan batangku jauh ke dalam kerongkongannya dengan ritme yang terburu-buru dan egois. Suara sedakan dan napasnya yang tertahan justru memacu adrenalin di kepalaku, seolah mengulang apa yang dilakukan mulut Hilda terhadap pria bertopeng tak dikenal di hadapannya.

Setelah merasa cukup menyiksa mulutnya, aku menarik rambutnya hingga ia berdiri limbung, lalu menyeretnya menuju ranjang. Aku menghempaskan tubuh polosnya ke atas kasur dengan tenaga yang berlebihan hingga tubuhnya membal. Linda baru saja hendak mengatur napasnya ketika aku sudah berada di atasnya, mengangkangkannya dengan kasar sambil menahan sendi pahanya dengan tanganku.

Tanpa pemanasan lebih lanjut, tanpa peduli apakah liangnya sudah cukup lembap atau belum, aku menghujamkan kejantananku ke dalam vaginanya dalam satu dorongan brutal yang penuh emosi.

"AGHHH! Bagas...!" Linda memekik, suaranya pecah antara rasa perih yang mengejutkan dan ledakan birahi yang liar.

Aku tidak membalas erangannya dengan kecupan. Aku justru melingkarkan tanganku di lehernya, sedikit mencekiknya agar ia tetap diam sementara pinggulku bekerja seperti mesin hidrolik yang memompa cepat. PLOK-PLOK-PLOK! Suara hantaman pangkalku pada bokongnya bergema di ruangan sunyi itu, ritmenya cepat, kasar, dan tanpa ampun. Setan apa pun yang merasukiku saat ini membuatku tega melakukan semua ini. Aku melayangkan tamparan ke pipi Linda atau payudaranya, menciptakan rona kemerahan yang kontras di kulit putihnya. Melampiaskan segala kecemburuanku atas apa yang mereka lakukan pada Hilda.

Linda meracau tidak jelas, tangannya mencakar-cakar sprei, tubuhnya melengkung hebat setiap kali aku menghantam titik terdalam di rahimnya. Aku tidak menunggunya, aku tidak peduli apakah ia akan mencapai orgasme atau tidak. Malam ini, aku hanya peduli pada nafsuku yang diliputi amarah, yang baru saja melihat pengkhianatan paling kotor dalam hidupnya.

Napas kami beradu, berat dan berbau gairah yang kelam. Di tengah persetubuhan yang egois ini, aku merasakan kejantanku berdenyut maksimal, siap untuk meledak. Aku mempercepat gerakanku, menghujam vaginanya lebih brutal lagi.

"Ahhh... Bagas... hhh... ahhhh!" Linda mengerang, suaranya sudah serak, matanya terpejam rapat menahan campuran rasa sakit dan nikmat yang kupaksakan padanya.

Aku tidak melepaskan cengkeramanku di lehernya hingga saat-saat terakhir. Dengan satu raungan rendah yang keluar dari tenggorokanku, aku mencapai klimaks yang dahsyat. Aku menghunjamkan diriku hingga batas maksimal, menahannya di sana, dan membiarkan seluruh pejuku menyembur kuat di dalam vaginanya dalam jumlah yang melimpah. Aku menguras habis seluruh energi dan rasa frustrasiku di dalam dirinya, tanpa sisa.

Setelah tuntas, aku langsung mencabut milikku dan jatuh terkapar di sampingnya, membiarkan Linda terengah-engah dengan tubuh yang gemetar dan vagina yang berdenyut kemerahan, menyisakan cairan kental putih yang mulai merembes keluar dari liang kewanitaannya. Aku tidak memeluknya, aku tidak membisikkan kata cinta. Aku hanya menatap kosong langit-langit kamar dengan napas memburu, merasa kosong sekaligus lega secara bersamaan. Malam ini, aku telah menjadi sosok pria yang paling menyebalkan di ranjang, yang hanya peduli pada kepuasan dan kenikmatan pribadi.

Keheningan menyelimuti kamar itu selama beberapa menit, hanya suara napas kami yang perlahan mulai teratur. Namun, Linda tiba-tiba bangkit dari kasur. Ia berdiri dengan penuh keelokan, kulit punggungnya yang seputih pualam nampak halus tanpa cacat di bawah pendar lampu tidur yang temaram. Aku hanya bisa diam, terpaku menatap lekuk tubuh bagian belakangnya yang begitu indah; dua bongkah daging bokongnya bergoyang kenyal seiring langkah kakinya yang jenjang nan indah menuju lemari pakaian.

Ia membuka lemari itu dengan gerakan anggun. Matanya nampak mencari sesuatu di dalam, tangannya meraih dan meraba di beberapa sudut laci. Kemudian, Linda menunduk perlahan untuk menjangkau sesuatu di bagian bawah. Pemandangan itu kembali menyulut gairahku; bokong indahnya terpampang lebar di depanku, dengan lipatan vagina yang masih basah mengkilat oleh sisa pejuku mengintip di sela-sela selangkangannya.

Linda akhirnya menemukan apa yang dicarinya. Ia berbalik, memegang sehelai selendang sutra putih yang halus. Dengan gerakan yang sangat tenang namun sarat akan maksud tertentu, ia melingkarkan selendang itu membingkai wajah bidadarinya, menghijabinya persis seperti penampilan Hilda di mansion tadi. Sebuah senyum manis menggoda tersungging di bibirnya.

Ia melangkah kembali mendekatiku. Aku masih terbaring di kasur, benar-benar terpana melihat perubahannya. Sehelai kain tipis mampu mengubah persona seseorang dengan begitu signifikan. Linda merangkak naik ke atas ranjang, mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga jarak kami terlampau dekat. Aku bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat dan beraroma gairah menyapu kulitku.

"Mas… suka kan lihat aku tadi?" Linda mengelus pipiku dengan ujung jemarinya, matanya menatapku dengan binar yang binal.

"Kamu suka kan lihat aku dientot banyak pria. Vaginaku, mulutku, dan lubang analku... rasanya penuh, sesak, dimasukin sama kontol-kontol besar dan panjang, tapi nikmat banget sayang."

Aku merasakan darahku berdesir hebat. Jantungku berdentum kencang mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya. Roleplay ini benar-benar gila, namun aku tidak bisa memungkiri bahwa imajinasi itu justru membuat kejantanku kembali berdenyut keras. Seluruh akal dan inderaku kini sepakat bahwa yang di hadapanku ini adalah Hilda, bukan Linda. Kurengkuh wajah dan kepalanya dengan kedua tanganku, kulumat lidahnya dengan ganas, menjejalkan lidahku di rongga mulutnya, suara kecipak basah dari dua lidah yang bergumul. Ini bukan sekadar nafsu dan gairah, ini... cinta.

Lilitan selendang putih itu masih membingkai wajah Linda, seolah menjelma menjadi sosok Hilda di mataku. Dengan gerakan yang sensual, ia mendorong bahuku hingga aku telentang di atas ranjang. Matanya berkilat menantang dari balik hijabnya.

Ia memosisikan dirinya dalam posisi 69. Linda merangkak di atasku, menempatkan liang kewanitaannya yang banjir tepat di depan mulutku, sementara kepalanya turun untuk melahap kontolku yang sudah berdiri tegak. Tangan dan mulutnya secara bergantian melayani kontolku dengan penuh penghayatan, mengutarakan cintanya pada penisku melalui mulut dan lidahnya.

SLURRRP... CHUUP... SSHHHH... MHHHMMMM...

"Teruss massss eeennnaakk!"

Suara hisapan dan lidahnya yang bekerja liar menyatu dengan suara jilatanku pada klitorisnya. Linda merintih binal, panggulnya bergoyang agresif memburu kenikmatan. Selagi lidahku masih berada di dalam lipatan kelopak vulva Linda, kuselipkan telunjukku untuk bermain di anusnya, mendorong kecil-kecil tanpa memaksa masuk hingga satu buku jemari masuk ke dalamnya. Linda hanya menoleh ke belakang dengan senyum nakalnya, mulut yang masih tersumpal kontolku, dan lidah yang sibuk menjilatinya.

Tak puas hanya dengan permainan oral, ia segera bangkit dan naik ke pangkuanku. Dalam posisi Woman on Top, Linda menggenggam batangku yang sudah bengkak berdenyut dan mengarahkannya sendiri ke liangnya. Dengan satu sentakan panggul yang kuat dan dalam, vaginanya menelan seluruh kontolku.

"Kamu senang kan Mas istri cantikmu ini binal dan liar malam ini. Sekarang nikmati memekku yang sudah dimasuki banyak kontol besar dan panjang selain kontolmu sayang," ujarnya seraya menelan batang penisku dengan vaginanya. Lagi-lagi roleplay-nya sebagai Hilda kembali memantik sesuatu yang dalam dari diriku. Bukan hanya nafsu, tapi sesuatu yang terpendam dalam.

"Ohhh, Hilda... sayang!" desisku tanpa sadar menyebut nama itu, nama yang hampir asing di lidahku.

Linda sedang dalam trance kenikmatan, matanya terpejam, menggigit bibir bawahnya sendiri, selendang putihnya berkibar liar seiring gerakan liar pinggulnya. Tubuhnya mengulek penisku yang masih betah di dalam rongga kewanitaannya. Remasan otot-otot vaginanya seolah melumat kerasnya penisku. Ia memacu ritmenya dengan kecepatan yang pas, tangan jenjangnya bertumpu di dadaku.

PLOK... PLOK... SPLASH... PLOK!

"Ooohhh Mas... mmmhhhh... kenceng banget kontol kamu, kangennn banngeettt... sudah lama nggak kamu masukin saayaaannngggg!" racau Linda sambil meremas payudaranya sendiri di depan wajahku.

Aku tegakkan punggungku, memeluk tubuhnya erat, mulutku menyambar mulutnya, saling bertautan lidah. Kedua tanganku meremas kuat payudaranya yang sedari tadi bergoyang menggoda, kulumat putingnya bergantian. Hal itu tidak membuat Linda mengurangi ritme genjotannya di selangkanganku.

PLOK-PLOK-PLOK!

"Teruss sayang... daleminn lagi... ahhh, fuck, Mas! Enaaaakkkk banget!"

Kerasnya otot penisku ternyata masih kalah oleh cengkeraman otot vagina Linda. Ia benar-benar memegang kendali, memutar panggulnya dengan lincah, memeras kejantanku dengan otot-otot vaginanya yang terlatih. Aku hanya bisa mengimbangi hentakannya, menatap wajah bidadari berhijab itu yang kini nampak begitu binal dan haus akan kenikmatan.

Aku dorong tubuhnya agar merebah, menarik kakiku agar berada di antara pahanya, beralih ke posisi missionary. Aku beringsut mencari posisi di mana aku bisa menghujam Linda dengan optimal. Kuangkat kakinya tinggi ke bahu agar aku bisa menghujam lebih dalam. Aku memegang pinggulnya sebagai kendali, menghantamnya dengan ritme yang buas dan bertenaga.

Kakinya melingkar sangat erat di pinggang. Kuhujamkan penisku cepat dan dalam dengan tangan menggenggam pinggulnya. Ia menarik rambutku, memaksa wajahku menempel di telinganya.

JLEB-JLEB-JLEB... PLOK-PLOK-PLOK!

"Love youu… ssaayannggg!" racau Linda dengan mata setengah terpejam.

Suara peraduan kulit kami menggila. Aku menghujamnya sekuat tenaga, mengikuti tuntutan tubuhnya yang terus membalas setiap doronganku dengan hentakan panggul yang sama kuatnya. Kembali kucumbu dengan dalam bibir dan mulutnya. Aku klimaks di rahimnya. Dengan raungan parau, aku menyemprotkan seluruh pejuku jauh ke dalam, membiarkan rahimnya banjir oleh cairanku.

Cumbuan kami tak berhenti walau klimaks telah tercapai. Kulit kami saling melekat, saling berpelukan semakin dalam. Ada kenyamanan dan ketenangan luar biasa yang kuperoleh, ada rindu yang telah terbayar, ada hasrat yang tertuntaskan. Tanpa kusadari air mata menetes di sudut mataku. Pelepasan emosi yang akhirnya tersalurkan.

Kami terengah-engah sejenak, masih larut dalam keintiman. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia membalikkan tubuhnya sendiri hingga posisi menungging, membelakangiku dengan bokong yang dijulangkan tinggi-tinggi. Kepalanya terbaring di atas bantal, kedua tangannya menarik kedua bongkah daging pantatnya, seolah memberi akses lebih luas ke liang anusnya. Selendang putih itu kini sudah sedikit miring, memperlihatkan tatapan matanya yang sangat provokatif dari balik bahu.

"Belum selesai sayang, lakukan apa yang Koko lakukan padaku, tunjukkan kalau kamu lebih baik dari Koko," tantangnya binal.

Darahku mendidih kembali. Bayangan bagaimana Koko menghujam liang anal Hilda tanpa ampun terulang kembali di kepalaku. Panas dadaku, gairahku terbakar kembali. Aku melumuri kejantanku dengan sisa cairan cinta yang meluap dari vaginanya, mengurutnya sejenak hingga dia siap melaksanakan tugasnya, kuarahkan kepalanya ke lubang anal Linda, lalu dengan satu dorongan yang tegas dalam gaya doggy style, aku menghujamkan kontolku langsung ke liang anusnya yang sempit dan kencang.

"AAAGHHHH! MAS... !" jerit Linda liar. Tubuhnya melengkung, namun ia justru semakin menekan bokongnya ke belakang, menantang setiap hujamanku. Tanganku berpegangan pada bongkah bokongnya yang kenyal, meremasnya bagai squishy alami. Suara itu, wajah itu, terbayang kembali bagaimana Koko menganal Hilda, dan bagaimana Hilda begitu menikmatinya. Kini aku melakukan hal yang sama, tidak ingin kalah dari Koko, membuktikan aku lebih baik darinya.

Aku bergerak kasar, terburu-buru, mengikuti agresivitas yang ia sulut sedari tadi. Aku menampar bokongnya dengan keras hingga memerah, meremas daging kenyalnya seolah ingin melumatnya. Linda meracau binal, melenguh dan mendesah.

PLAK! PLOK! PLAK!

Suara hantaman kulit dan erangan Linda memenuhi kamar. Menjelang klimaks terakhir, Linda menjambak sprei kasur, tubuhnya tegang maksimal sementara aku melakukan dorongan-dorongan panjang yang sangat bertenaga di titik terdalam anusnya.

"AAAHHHHH! HILDAAAAAA!"

Aku meledak. Ejakulasi terakhirku menyembur kuat dan panas di dalam liang duburnya dalam beberapa semburan yang melimpah. Linda pun mencapai orgasme anal yang dahsyat, tubuhnya gemetar hebat dan ia jatuh terkulai mencium bantal dengan napas yang terputus-putus.

Persetubuhan masih berlanjut, ini bukan sekadar pelampiasan nafsu tapi sesuatu yang lebih dalam. Diwarnai senyuman serta kalimat sayang, tawa ringan, cumbuan panas, dan pelukan hangat nan romantic. Hingga tak sadar jiwaku melayang, menidurkan tubuhku yang tak pernah puas.

POV Linda

Koko mendengkur pelan di sampingku, bagai bayi yang dibuai mimpi setelah ritual maksiat yang kami lakukan. Wajah itu, sorot mata itu, menusuk relung jiwaku. Ada rasa malu, bersalah yang tak bisa terucap. Tubuhku mengkhianati diriku sendiri.

"Maaf Mas," lirihku di keheningan malam seraya memeluk kakiku sendiri.

Matahari menjelang, seolah tak terjadi apa-apa semalam, kami berdua sibuk merapikan pakaian. Dialog tentang pekerjaan pun mewarnai pagi kami. Semuanya tentang profesionalisme, walaupun semalam kelamin kami baru saja menyatu.

Hari ini Koko akan berangkat ke Shanghai, jadwal pesawatnya 11:45. Di mobil kami masih melanjutkan pembicaraan tentang pekerjaan. Ia memastikan aku bisa handle semuanya selama ia pergi. Aku membuat beberapa catatan, tidak ingin melewatkan detail penting dari apa yang disampaikan.

Kami berpisah di area drop off penumpang. Koko mulai hilang di tengah keramaian penumpang. Waktu menunjukkan pukul 11:10, aku meminta sopir untuk mengantarku ke kantor. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Semuanya sudah kuatur, semuanya telah kuperhitungkan.

Tiba di lobi kantor, barisan security dan staf front office menyambutku. Dengan langkah tegas berkarisma, aku masuk ke lift. Kutekan tombol lantai paling atas, di mana memerlukan akses khusus untuk ke sana, dan aku memilikinya. Sekretaris Koko menyambutku, membukakan pintu ruangan Koko karena perintahku.

Segera kuakses komputer pribadi Koko. Komputer dengan tingkat keamanan paling tinggi di kantor ini, di dalamnya berisi data dan informasi vital yang sangat berdampak pada kelangsungan bisnis Koko. Waktu menunjukkan pukul 12:15, sistem notifikasi otomatis yang dikirimkan ke ponsel Koko tidak akan diketahui, karena saat ini ponselnya sedang dimatikan atau dalam keadaan flight mode. Kusalin dan kukirimkan semua data rahasia perusahaan ini kepada rekanku yang bisa membantu untuk membongkar segala kejahatan Koko. Dengan semua data ini, kehancuran Koko sudah ada di genggaman tangan.

Dengan penuh ketenangan aku keluar dari ruangan Koko, kembali menyapa sekretaris pribadi Koko yang cantik. Masuk ke lift dan kutekan tombol lantai lobi. Pintu lift terbuka, deretan security dan staf front office kembali menyapaku ramah. Aku menuju tempat di mana mobilku terparkir, hingga beberapa orang security yang tadinya berwajah ramah dan sopan, tiba-tiba begitu kasar meraih lenganku.

"Maaf Bu permisi, ada perintah dari Bos, Ibu diminta naik ke mobil yang sudah disediakan."

Aku terkejut mendengar itu. Ada apa? Perintah siapa? Mau ke mana? Tanpa banyak perlawanan aku pun menuruti arahan mereka, aku masih percaya rencanaku masih berjalan dengan baik.

Di mobil itu ada sopir dan dua petugas keamanan bertubuh tegap mengapitku kanan dan kiri. Aku mulai cemas, ada apa sebenarnya, hingga ponsel salah satu petugas berbunyi.

"Siap… Siap." Hanya itu yang bisa kudengar.

"Mau ke mana kita?" tanyaku.

"Bos Besar minta kami bawa Ibu ke markas besar." Aku mulai bingung, "Bos Besar" maksudnya Koko kan? Bagaimana mungkin dia bisa menelepon, bukankah dia seharusnya masih dalam pesawat?

"Pesawat Bos delay, makanya beliau tahu kalau ada pengkhianat di sini." Sorot mata petugas keamanan itu kini menyeramkan, menyudutkanku sebagai seorang pengkhianat. Rencanaku terbongkar, apa mungkin ini akhir dari segalanya?

Dengan segenap keberanian dan keputusasaan, aku menyerang sopir yang mengemudikan mobil, berharap mobil akan berhenti dan aku bisa kabur. Tapi apa daya, satu wanita melawan tiga pria. Sebuah pukulan keras mendarat di kepalaku, membuatku pusing tak terkira dan akhirnya kehilangan kesadaran. Di alam bawah sadar aku bertanya pada diriku, "Apa yang kau lakukan Hilda? Kau sudah menjadi ratu di singgasana Koko, lalu kenapa kau melakukan ini? Mempertaruhkan nyawamu, untuk apa?" Gaung suaraku sendiri mengiang di telingaku.

POV Bagas :

Pagi menjelang, hangat matahari menyilaukan mataku. Aku terbangun, masih dalam kebingungan, sensasi yang tak bisa diungkapkan masih menggelitik di jiwa dan ragaku. Aku tak melihat Linda di ranjang, mungkin di kamar mandi atau sedang olahraga di luar, pikirku. Dengan tubuh yang masih malas bergerak aku berusaha bangun dari tempat tidur, meraih ponselku yang tergeletak di sudut meja. Sudah jam 10, pantas mataharinya sangat menyilaukan. Kubuka aplikasi pesan, tak percaya dengan yang kulihat. Aku baca saksama, sebuah pesan dari Linda dengan waktu pukul 6 pagi tadi.

"Bagas, terima kasih atas masa yang indah, aku terlalu naif mengharapkan kamu bisa mengisi ruang hatiku, karena kau sudah dimiliki dan memiliki. Cintamu atas Hilda istrimu begitu indah, walau penuh dengan badai, namun tak tergoyahkan. Kejarlah dia, kejarlah cintamu. Kau hanya perlu jujur pada dirimu. Tentang apa yang ada di hatimu."

Aku berteriak, air mata mengalir di mata. Rasa sakit ini kembali, mengingatkanku ketika ditinggalkan orang yang kusayangi. Linda telah pergi meninggalkanku karena kebodohanku. Linda yang dengan tulus bersamaku ketika aku hancur, yang dia minta hanya sedikit rasa sayang dariku. Tapi aku hanya memanfaatkan dirinya, tubuhnya. Terlintas kini apa yang terjadi semalam. Pergumulan kami yang seharusnya menjadi perayaan akan hubungan kami, justru menjadi kebohongan diriku atas dirinya. Tubuh yang kupeluk, kucium adalah milik Linda, tapi hatiku tak berhenti menyebut Hilda. Aku menyesal, sangat menyesal. Aku hanya bisa menangisi kebodohanku.

Kucoba menelepon Linda berkali-kali tapi tak ada jawaban, hanya suara rekaman menyatakan bahwa nomornya tidak aktif. Kutanyakan pada penjaga vila yang kebetulan sedang membersihkan taman. Ia hanya bilang kalau Linda berpamitan sekitar pukul 6 pagi, dia tidak tahu ke mana Linda. Aku segera membereskan barang-barangku. Berusaha mengejarnya walau entah harus ke mana.

Aku pergi ke rumahnya di salah satu kompleks di Bandung. Satpam kompleks bilang bahwa sudah beberapa hari ke belakang Linda belum kembali ke rumah. Terpikir untuk mendatangi Siska, sahabatnya. Responsnya pun dingin, entah memang tidak tahu atau tidak mau memberi tahu. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Hanya bisa tertunduk lemas di dalam mobil, menangisi nasibku yang kehilangan seseorang yang begitu istimewa.

Sebuah telepon masuk, dari Stephen.

"Bro, read the news!" ucapnya singkat.

Sebuah tautan berita dikirimkan. Isinya menyatakan seorang pengusaha muda dengan inisial HS alias Koko ternyata telah menjadi incaran pihak berwenang di berbagai negara. Sebuah data yang diterima dari sumber anonim yang dipercaya berasal dari orang dalam, telah membongkar kebusukan yang selama ini tersembunyi. Kini Koko resmi menjadi buronan. Otakku terkunci pada istilah "orang dalam", entah kenapa nama Hilda terbersit saat itu juga. Segera kutelepon Stephen, berharap mendapatkan secercah informasi.

"Ada kabar tentang Hilda?"

"Nggak ada? Kenapa memang?"

"Bisa jadi Hilda yang bocorin data rahasianya. Hilda dalam bahaya kalau gitu."

Segera kuakhiri teleponku dengan Stephen, fokusku kini mencari Hilda. Kubuka buku telepon di ponselku, mencari nama "Hilda", nomor yang entah kapan terakhir kali kupanggil. Sama seperti Linda, nomor Hilda pun tidak aktif. Kekhawatiran makin menjadi. Jika firasatku benar bahwa Hildalah yang membocorkan rahasia Koko, sudah dipastikan Hilda dalam bahaya. Mereka, orang seperti Koko, tak segan-segan melakukan apa pun.

Teringat titik lokasi mansion yang dikirimkan tadi malam. Aku segera kembali ke mansion tersebut. Ada keyakinan kuat kalau Hilda ada di sana.

Di siang hari, selayaknya toko material yang sedang bongkar muat, puluhan truk keluar masuk, orang sibuk lalu lalang beraktivitas seperti biasa. Tidak terlihat penjaga yang mencolok seperti tadi malam. Tanpa menunggu waktu lama, terdapat celah di antara deretan truk-truk yang sedang bongkar muat dan keluar masuk. Segera kuterobos masuk, mengejutkan orang-orang yang sedang sibuk di sana. Beberapa umpatan dan makian terujar, bahkan ada yang melempar mobilku dengan batu. Semua kuhiraukan dan memacu kendaraan ke pintu utama mansion.

Kerumunan orang acak yang mengejarku berhenti, beralih menjadi sekelompok orang berseragam taktis dengan tubuh tegap yang berusaha menghentikan laju mobilku. Beberapa kuterjang, sebelum mobilku berhenti tepat di lobi mansion. Dengan berbekal kunci ban, aku turun siap bertarung. Kali ini aku tidak datang sebagai tamu.

Setelah menghajar beberapa orang aku berhasil masuk ke ruang utama mansion. Berkat ilmu silat bekal rantau dari kampung yang akhirnya bisa aku gunakan. Sebuah pemandangan yang begitu mengiris hati tersaji. Hilda istriku, duduk terikat dengan luka di sekujur tubuhnya, pakaiannya koyak di beberapa bagian, menampakkan kulit yang penuh memar dan darah. Sosok yang biasanya bersinar bak bidadari, kini begitu mengenaskan. Lemas lunglai tak bergerak, entah pingsan atau mati. Kuteriakkan namanya berkali-kali, sambil menghalau terjangan pasukan penjaga yang datang seolah tak terhingga.

Ternyata ilmuku belum seberapa. Pada akhirnya aku harus menyerah pada lelah dan jumlah. Seorang penjaga berhasil menepis senjata kunci banku, menjerat tubuhku dan menghempaskanku ke lantai marmer yang keras dan dingin. Rekan-rekannya mengerubungiku, mengunci gerak tangan dan kaki. Nama Hilda terus kuteriakkan. Dalam jeratan, mataku terkunci pada sosok Hilda. Dia bergerak, kepalanya berusaha tegak, matanya yang bengkak sedikit terbuka, dan terlihat senyum di bibirnya walau samar tertutup luka. Itulah hal terakhir yang mataku lihat sebelum semuanya gelap setelah hantaman sepatu mendarat di kepalaku.

POV Linda :

"Pagi, Sayang."

Sosok tampan tersenyum manis menyambutku. Pemandangan pertama yang tersaji ketika mataku terbuka. Wajahnya sangat familiar, Bagas, suamiku. Alasan aku tersenyum di setiap hari. Pria yang menghujaniku dengan cinta. Aku tak hanya merasa diratukan, aku bagai seorang dewi di hidupnya.

"Tumben bangun duluan?" tanyaku manja.

"Karena aku ingin menjadi orang yang lebih dahulu menyambut pagimu sebelum matahari."

"Iiihhh... gombal, masih pagi tau." Tawa kecil terlepas dari mulutku.

"Terima kasih telah menjadi bahagiaku," ujar Bagas.

"Bukankah hidupmu sudah bahagia walau tanpa aku?" balasku.

"Mungkin, tapi tidak seperti ini, tidak sebahagia ini," jawabnya sambil tersenyum dan memelukku.

Tiba-tiba semuanya hitam gelap. Kepalaku sangat sakit, tubuhku serasa hancur, tulang-tulang ngilu, perih terasa di sekujur tubuhku. Apa aku sedang bermimpi? Tapi yang mana yang mimpi? Sambutan pagi penuh cinta dari Bagas atau tubuhku yang hancur akibat disiksa Koko? Aku tak sanggup membedakan mana yang nyata dan yang maya.

Pertanyaan itu kembali mengusik batinku. "Kenapa kamu melakukan ini semua? Kenapa kamu mengorbankan nyawamu?"

Apa cukup karena cinta? Lalu aku korbankan diriku?

Betapa bodohnya aku, jika cinta yang aku pikir adalah alasan aku melakukan semua ini, ternyata hanyalah sebuah memory atau angan-angan yang mungkin tak pernah terjadi.

Suara itu... ada yang memanggil namaku. Aku kenal suara itu, Bagas. Aku tidak bermimpi, itu memang suara Bagas. Kubuka pelan mataku, melawan segala sakit yang kurasa. Ya, sosok itu, yang sedang bergelut dengan gerombolan penjaga, tak berhenti meneriakkan namaku walau telah tersungkur dan terkekang. Matanya menatapku, memberiku keyakinan, "Aku datang untuk menolongmu."

Tapi aku sudah terlalu lemas. Aku ikhlas. Aku bertemu denganmu sebelum aku benar-benar menutup mata. Inilah cintaku, Bagas.




    Friday at 5:27 AM 

    Add bookmark
    #1,147

Part 27

POV Bagas :

Mataku terasa sangat berat, namun ada dorongan kuat dari dalam sanubari untuk segera membukanya. Cahaya lampu neon yang putih menyengat menyeruak masuk, menusuk pupil mata yang sudah terlalu lama terpejam. Beberapa kali kukedipkan hingga penglihatanku mulai terbiasa dengan pendaran cahaya itu. Seketika, rasa kaku dan ngilu menjalar ke seluruh saraf. Sesuatu terpasang di mulut dan hidungku, mengeluarkan suara desis udara yang monoton. Aku kembali memejamkan mata sejenak, membiarkan otakku terbangun lebih dulu untuk menganalisis apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika aku kembali membuka mata, pemandangan itu tetap sama. Namun kini aku paham, aku sedang berada di rumah sakit.

"Thanks God, you’re awake," suara menyebalkan yang sangat kukenal menyapa indra pendengaranku.

Stephen. Bocah badung dengan kekayaan melimpah itu berdiri di samping tempat tidurku bersama Diana.

"Hilda..." suaraku terdengar sangat serak, parau, dan lemah, nyaris tak terdengar oleh telingaku sendiri.

"Jangan dipaksa, istirahat dulu, Bagas," Diana menenangkanku dengan nada suara yang lembut namun tegas. "Jika kamu sudah cukup kuat, kami akan menceritakan semuanya."

Ia seolah paham bahwa itulah satu-satunya hal yang ingin kudengar saat ini, terlepas dari segala rasa nyeri yang menusuk-nusuk di seluruh tubuhku. Aku mengangguk pelan, memberikan isyarat agar ia mulai bercerita.

Diana menceritakan rentetan peristiwa yang terjadi setelah aku terkapar di mansion markas Koko. Pasukan gabungan antara Polisi dan Interpol ternyata telah mengepung tempat itu dan melakukan penyerbuan besar-besaran. Koko beserta seluruh anak buahnya ditangkap di tempat. Aku dan Hilda segera dilarikan ke rumah sakit terdekat karena kondisi yang kritis. Namun, sesampainya di sana, Hilda segera dibawa pergi kembali oleh anak buah Mr. Chen, entah ke mana.

Aku menatap Diana dengan saksama. Cerita itu terasa belum lengkap. Diana yang peka segera melanjutkan penjelasannya. Benar dugaanku, Hildalah yang selama ini membocorkan data rahasia Koko. Entah sejak kapan ia merencanakan semua itu, namun ia bekerja sama dengan Mr. Chen sebagai bentuk perlindungan jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Mr. Chen jugalah yang memfasilitasi Hilda untuk menyebarkan informasi vital tersebut agar Koko bisa diringkus. Mungkin itu pula alasan mengapa Hilda kini berada di bawah perlindungan Mr. Chen; untuk menjaganya dari kejaran organisasi hitam yang berada di belakang Koko.

Aku sendiri dikabarkan pingsan selama tiga hari akibat cedera tulang dan benturan di kepala. Tak heran tubuhku terasa hancur saat ini. Kabar terakhir yang kudengar, Koko dikabarkan bunuh diri di dalam sel tahanan—atau mungkin ia sengaja dilenyapkan untuk menutupi jejak orang-orang besar di belakangnya.

Aku tidak merasa senang mendengar berita kematian Koko. Di pikiranku saat ini hanyalah Hilda. Bagaimana keadaannya, dan apakah ia benar-benar aman.

Beberapa hari berlalu, tubuhku sudah cukup kuat untuk meninggalkan rumah sakit. Aku menatap layar ponselku, mencari sebuah nama di daftar kontak: Hilda. Ingin sekali jemariku menekan tombol panggil, namun ada sesuatu yang mengganjal di dasar hati. Akhirnya, kuurungkan niat itu.

Aku pulang ke rumah, sebuah tempat yang kini terasa begitu sepi dan sunyi. Dalam kesendirian, aku merenung, memutar kembali memori tentang apa yang telah terjadi dalam hidupku. Terlalu banyak kerumitan yang melampaui logika. Kini, aku hanya bisa melanjutkan hari-hari ke depan. Aku menenggelamkan diri dalam angka-angka bursa saham, melipatgandakan uang, dan membuat Stephen menjadi jauh lebih kaya seiring berjalannya waktu.

Namun, ada kekosongan yang menuntut untuk diisi. Sebagai lelaki, hasratku menuntut pelampiasan. Pilihanku akhirnya jatuh pada Miss M, atau Mira. Seorang high escort lady langganan kelas atas yang direkomendasikan oleh Stephen. Salah satu alasanku memilih Mira adalah sebagai bentuk pembuktian diri; bahwa aku sudah tidak sama dengan dulu. Aku ingin menunjukkan transformasiku.

Setelah menyelesaikan beberapa urusan administrasi booking untuk layanan jasa Mira, tibalah malam di mana aku kembali menikmati kehangatannya. Namun kali ini, segalanya jauh lebih optimal.

Malam itu, berkali-kali aku membuat Mira mencapai orgasmenya. Stamina yang kumiliki seolah tak ada habisnya. Aku ejakulasi berulang kali; di dalam rahimnya, hingga menyembur di bagian tubuh Mira lainnya.

"Oohhhhh... hhhmmm... nnggghhh... Gila Ko, kamu orang apa kuda sih? Kuat banget!" desah Mira kewalahan.

Mira memposisikan dirinya bertumpu pada kedua tangan dan lututnya, menungging dengan pasrah. Aku berada di belakangnya, menancapkan kejantanku ke dalam vaginanya yang sudah sangat lembap. Tanganku sibuk meremas payudara Mira yang kenyal, sementara dadaku melekat erat di punggungnya. Aku mengatur berat badanku agar tidak terlalu memberatkan tubuhnya saat aku mulai memacu ritme.

"Beda kan seperti yang dulu?" bisikku bangga dengan pencapaian fisikku.

Plok... plok... plok... slep... slep...

Suara nyaring dan basah peraduan selangkanganku dengan bokong Mira mengisi setiap sudut ruangan hotel mewah tersebut. Aku memanfaatkan service Mira dengan sangat optimal. Paket all night long memberiku keleluasaan untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi tubuhnya hingga batas maksimal.

Waktu sudah menunjukkan lewat jam dua belas malam. Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan permainanku, karena meskipun sudah ejakulasi beberapa kali, penisku masih sanggup untuk bangkit lagi. Namun, aku tetap berlaku baik pada Mira dan mengizinkannya untuk beristirahat tidur.

Sambil menggenggam gelas sampanye, aku berdiri menatap keluar jendela yang sedang diguyur hujan. Pikiranku tiba-tiba melayang jauh, tertuju pada satu wanita: Hilda. Bidadari tercantik yang selalu memiliki ruang istimewa di hatiku. Sudah sangat lama kami tidak bertemu sejak peristiwa di mansion Koko.

Aku membuka ponselku, memandangi kontak bernama Hilda. Ada kerinduan yang sangat besar, kerinduan yang mampu menghapuskan segala luka masa lalu, namun sekaligus membuat segala kenikmatan fisik yang baru saja kurasakan menjadi hambar.

Jemariku kemudian mengetik kalimat singkat: "Bagaimana kabarmu?" lalu mengklik send.

Pikiran dan hatiku menjelajah lebih cepat dari terkirimnya pesan itu. Sebuah pertanyaan bisu tertahan di tenggorokan: "Kamu di mana? Apa kamu bahagia, Hilda?"

(POV Hilda)

Di sebuah kamar dengan furnitur mahal dan mewah, aroma kayu cendana dan parfum pria kelas atas menyelimuti udara. Di atas ranjang luas yang tertutup sprei sutra, sepasang pria tua dan wanita yang terpaut usia cukup jauh sedang mengejar birahi mereka masing-masing.

Aku sedang berada di atas, melakukan gaya Woman on Top. Aku mengangkangkan kakiku, menduduki selangkangan sang pejantan dengan penisnya yang tegak menembus vaginaku. Kami bergerak seirama; naik-turun, depan-belakang, terkadang memutar dengan ritme yang menuntut. Tangan sang pejantan menggenggam erat bokongku, meremas gemas kedua bongkah pantatku, bahkan sesekali memberikan tamparan manja yang memacu gairah.

Aku terlihat sangat dominan, mengendalikan sepenuhnya ritme permainan ini. Tubuhku condong ke depan, mendekatkan wajah ke arahnya. Punggungku berkeringat, melengkung indah membentuk kurva sensual dari bokong hingga leher. Payudaraku yang besar namun sekal tergantung indah, bergoyang seirama dengan setiap genjotan yang kulakukan. Aerola cokelat mudaku dengan puting yang mencuat nampak menggoda sang pria untuk terus mencumbunya. Aku memang sengaja mendekatkan dadaku ke wajahnya, agar ia bisa bebas menikmatinya kapan saja.

"Aahhhh... hhhmmm... come on Mr. Chen... ohhhhh... ahhhh... I know you can do it... please hold on a little longer... I’m about to cum," ucapku memberi semangat dengan suara serak yang binal.

"Ooohhhhh... Hilda... you’re just amazing... I couldn’t hold on any longer... it’s the best sex I’ve ever had... I’m cumming Hilda... I’m cumming for you!" ujar pria yang sudah berada di ujung puncak kenikmatannya.

"Yes, cum inside me Mr. Chen... oooohhhhhh!" lenguhku saat merasakan hangatnya cairannya memenuhi rahimku.

Aku kini bekerja untuk Mr. Chen. Entah dengan alasan perlindungan atau mungkin sekadar balas budi atas nyawa yang ia selamatkan. Aku, bidadari yang kini dianggap binal, dengan penuh semangat "mengendarai" kontol pria tua berumur 60-an tahun ini. Mr. Chen, seorang Billionaire dari Singapura. Malam ini, aku memenangkan pergumulan ini dengan mudah.

Pria tua tersebut segera tertidur dengan dengkuran halus setelah meraih orgasme terhebat dalam hidupnya, semua berkat layanan luar biasa yang kuberikan. Aku beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah mandi dan hanya berbalut kimono mandi sutra, aku mengecek ponselku. Tadi, di tengah pergumulan, aku sempat mendengar suara getar singkat. Aku tertegun sejenak, lalu tersenyum membaca pesan yang masuk. Dari nomor yang sangat familiar, namun sama sekali tidak kusangka akan menghubungiku lagi.

Bagas. Suamiku menghubungiku setelah sekian lama. Senyum kegembiraan tidak dapat kusembunyikan; sebuah senyum dari kerinduan yang lama terpendam. Sambil tersenyum-senyum sendiri, aku mengetik jawaban:

"Baik Mas, Mas gimana?"



Part 28

Malam itu, restoran The Night Garden nampak begitu anggun di bawah pendar lampu kristal yang hangat. Ini adalah tempat di mana aku dan Hilda pertama kali bertemu bertahun-tahun yang lalu. Alunan musik biola yang memainkan nada-nada klasik menambah atmosfer nostalgia yang sangat kental. Aku berdiri di depan jendela besar, mengenakan setelan jas hitam yang rapi, menanti kehadiran bidadari yang selama ini menghantui setiap mimpiku.

Lalu, pintu besar restoran itu terbuka.

Hilda melangkah masuk, mengenakan gaun silk berwarna midnight blue yang elegan lengkap dengan hijabnya yang senada, membalut tubuh indahnya yang masih sesempurna dulu. Matanya yang jernih mencari-cariku, dan ketika pandangan kami bertemu, ada jeda yang terasa abadi. Ia mendekat, aroma parfum mawar yang sangat kukenal menyerbu inderaku.

"Mas..." bisiknya pelan, matanya berkaca-kaca.

Aku menarik kursi untuknya, lalu duduk di hadapannya. Kami terdiam sejenak, membiarkan mata kami yang berbicara. Segala dendam, rasa sakit, dan kenangan pahit seolah menguap, digantikan oleh kerinduan yang sudah mencapai puncaknya.

"Kamu makin cantik, Hilda," ucapku jujur, memecah kesunyian.

Hilda tertawa kecil, tawa renyah yang sangat kurindukan. "Masih pakai gombalan yang sama ternyata, ahahaha."

"Nggak tahu harus bilang apa soalnya, lidahku mendadak kelu melihatmu," balasku sambil menggenggam tangannya di atas meja. Jemarinya masih halus, dan aku bisa merasakan getaran kecil dari tangannya.

Malam itu, kami menghabiskan waktu dengan bercerita banyak hal, diselingi canda dan tawa yang selama ini hilang dari hidup kami. Hilda menceritakan bagaimana awal mula kerjasamanya dengan Mr. Chen untuk membongkar kejahatan Koko sebagai bentuk balas dendamnya atas nama cintanya untukku. Sementara aku, aku menceritakan bagaimana aku hampir kehilangan harapan hidup ketika kehilangan dirinya.

"Kamu tahu, Mas?" Hilda mencondongkan tubuhnya, menatapku dengan mata penuh cahaya. "Semua yang kulakukan ini murni untukmu Mas, sebagai balas dendam atas apa yang Koko lakukan padamu, sekaligus permohonan maafku atas apa yang terjadi antara aku dan rekan kerjaku, Joko," ujar Hilda dengan nada sedikit terpotong, nampak malu atas apa yang pernah terjadi.

"Kamu terlalu gegabah, sampai harus mempertaruhkan nyawa. Sebenarnya apa pun yang terjadi, aku tetap mencintaimu, Hilda. Sebenci apa pun, semarah apa pun, akhirnya aku sadar bahwa cintaku nggak bisa pindah ke lain hati."

"Hahahaha..." Hilda tertawa begitu renyah. "Apaan sih, norak banget gombalannya."

Aku hanya tersenyum bahagia, sudah lama tidak kulihat tawa ini, tawa seorang bidadari. Bagai sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta, malam itu kami lewati dengan penuh suka cita. Godaan, rayuan, dan gombalan mewarnai setiap kata yang terucap.

"Mas beneran masih sayang sama aku?" tanya Hilda menggoda. "Aku sudah banyak nakal lho, Mas... hehehe."

"Aku suka kok kalau kamu nakal, tapi nakalnya buat aku saja ya," tegasku sambil tersenyum penuh gairah.

"Bawa aku pulang Mas, nanti aku kasih yang nakal-nakal," bisik Hilda sambil menggigit bibir bawahnya, memberikan kode yang sangat jelas. Kami segera menyelesaikan makan malam kami dan meninggalkan restoran itu dengan langkah terburu-buru.

Suasana di rumahku malam ini terasa berbeda. Harum lilin aromaterapi dan cahaya lampu yang temaram menciptakan atmosfer yang sangat sensual. Begitu pintu tertutup, aku tidak lagi menahan diri. Aku menyambar bibir Hilda dengan rakus, melumatnya dengan segenap cinta dan nafsu yang telah tertahan selama berbulan-bulan.

Hilda membalas cumbuanku dengan gairah yang sama. Tangannya mengacak-acak rambutku, menarikku lebih dekat seolah ingin melebur dalam tubuhku. Kami melucuti pakaian masing-masing di sepanjang koridor menuju kamar utama.

Di atas ranjang besar kami, Hilda merebahkan dirinya, mengangkangkan kakinya lebar-lebar dengan pasrah. Pemandangan tubuh polosnya yang putih porselen di bawah cahaya redup benar-benar membuatku gila. Aku berlutut di antara kedua kakinya yang terbuka lebar.

"Aku merindukan rasa ini, Hilda," bisikku sebelum menenggelamkan wajahku di pusat kewanitaannya.

Aku memulai oral sex pada Hilda. Lidahku menjelajahi setiap lipatan vaginanya yang sudah mulai lembap oleh gairah. Aku menjilati klitorisnya dengan ritme yang lambat namun menekan, mendengarkan setiap desahan yang keluar dari mulutnya.

SLURRRP... CHUUP... AHhhh... SSHHH...

"Mas... enak banget... ahhh! Mas Bagas... jangan berhenti!" desah Hilda binal.

Setelah ia sedikit lemas dalam kepuasan mulut, Hilda tak mau kalah. Ia mendorong bahuku hingga aku telentang, lalu ia merayap turun. Matanya yang sayu menatap kejantanku yang sudah berdiri tegak paripurna.

"Sekarang giliranku, Mas," ucapnya binal.

Hilda mulai melumat habis kejantanku. Ia memasukkan batangku ke dalam mulutnya, melakukan blow job yang sangat dalam dan penuh penghayatan. Suara hisapan yang basah memenuhi kesunyian kamar. Ia memainkan lidahnya di sekitar kepala kontolku, memberikan sensasi geli yang menyiksa sekaligus nikmat.

SSHHH... MHHHMMMM... SLURP...

"Ahhh... Hilda... kamu makin jago sayang...," erangku sambil meremas pundaknya.

Puas dengan permainan mulut yang memabukkan, aku segera membalikkan tubuh Hilda agar ia terlentang di bawahku. Aku mengangkangkan kakinya lebar-lebar dan memosisikan diriku di antaranya. Aku memulai gaya missionary. Aku memegang batangku yang sudah berdenyut nyeri dan mengarahkannya ke liang vaginanya yang sempit namun banjir. Dengan satu dorongan yang tegas dan penuh perasaan, aku membenamkan seluruh milikku hingga ke pangkal rahimnya.

JLEB... SSHHH...

"Ohhh, Hilda... sayang! Aku kangen banget!" desisku seraya mulai memacu ritme.

Aku menghujamnya dengan kekuatan penuh, namun tetap dengan sentuhan yang emosional. Tangan kami saling bertautan erat di atas kepala, sementara dadaku menempel pada payudaranya yang sekal. Mulut, lidah, dan bibir kami saling bertaut seolah tak ingin lepas.

PLOK! PLOK! PLOK!

"Ahhh... Mas Bagas! Terus Mas... entotin Hilda! Aku kangen kontol Mas!" jerit Hilda seraya melingkarkan kakinya di pinggangku.

Tak lama, Hilda memintaku membiarkannya memegang kendali. Ia bangkit dan naik ke pangkuanku. Ia bergerak dengan sangat liar di atasku dalam posisi Woman on Top. Ia memacu ritmenya, payudaranya yang besar bergoyang hebat mengikuti hentakan panggulnya yang bertenaga. Aku meremas payudaranya, memilin putingnya hingga ia meracau penuh kenikmatan.

CROT... JLEB! PLOK! PLOK!

Tanganku memeluk punggungnya, menariknya lebih dalam ke pelukanku. Kutenggelamkan wajahku di payudara kenyalnya. Hilda mengikuti permainanku, dipeluknya kepala belakangku, ikut menekannya dalam ke dadanya. Dia angkat kedua payudaranya dengan tangannya dan menyodorkannya ke bibirku agar aku mau nenen padanya. Ketika aku mengulum puting payudara kanannya, ia mengulum sendiri puting payudara kirinya. Begitu sebaliknya.

Kutekan kedua payudaranya ke tengah, lalu mengulum kedua putingnya bersamaan. Dengan stimulus di payudaranya, Hilda semakin menggila. Frekuensi goyangannya ditingkatkan, ia meraih wajahku dan melumat bibirku dengan ganas.

"AAAGHHHH! Mas... kangen banget sama ini! Masukinnn lagi sayang... pentokin Hilda!" teriak Hilda dengan mata mendelik.

Aku membalikkan posisinya kembali, mengangkat kedua kakinya tinggi ke bahuku. Aku menghujamnya dengan kekuatan penuh untuk mencapai klimaks pertama kami. "Oh Hilda... Love you sayang... ahhhh... kangen banget!"

"Ahhhh... Mas... keluarin di dalam! Penuhin rahim Hilda sama cinta Mas!"

Aku mencapai puncak pertama dan menyemprotkan seluruh pejuku jauh ke dalam rahimnya. Namun, ritual ini belum usai. Aku memutarnya, mendorongnya untuk menungging dalam gaya doggy style. Kejantanku yang masih berlumuran sisa cairan cinta yang meluap kembali menghujam liang kewanitaannya yang masih merekah indah.

"AAAGHHHH! MAS... ENAKKK! AHhHH!" jerit Hilda liar.

Aku bergerak kasar, mengikuti gairah yang menggebu. Aku menampar bokongnya hingga memerah, meremas daging kenyalnya seolah ingin melumatnya. "Enak kan, sayang?!"

PLAK! PLOK! PLAK! PLOK!

"Iyaaa Mas... terusss! Ahhh... fuck me harder! Aku milikmu Mas malam ini!" racau Hilda sambil menjambak sprei.

Pergumulan berlanjut hingga menjelang fajar. Tak terhitung berapa banyak kami berejakulasi. Aku menyemprotkan hampir seluruh cairan kehidupanku di rahim Hilda, merasa itu adalah tempat paling nyaman untukku bersemayam. Tubuhnya gemetar hebat dalam pelukanku.

Kami jatuh terkulai, menyatu dalam keringat dan sisa-sisa persetubuhan yang paling jujur. Aku mencium keningnya dengan lembut, sementara Hilda menyandarkan kepalanya di dadaku.

"Terima kasih sudah pulang, Hilda," bisikku pelan.

Hilda tersenyum manis, senyum paling tulus yang pernah kulihat. "Terima kasih sudah membawaku pulang, Mas."

Fajar menyingsing di jendela kamar, menyinari pasangan suami istri yang akhirnya menemukan kembali surga mereka.

Hari-hari berikutnya mereka lalui dengan penuh cinta dan sayang. Malam-malam begitu panas dan penuh gairah, sementara siang diwarnai dengan romantisme yang syahdu. Hingga di suatu pagi setelah pergumulan panas semalam, Hilda membersihkan diri di kamar mandi sementara Bagas menonton televisi sambil berbaring.

Ketika sedang menyikat gigi, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Hilda. Sebuah pesan dari seseorang yang sempat hadir dalam hidupnya. Sebuah pesan singkat yang mungkin akan kembali mewarnai jalan ceritanya.

"Apa kabar Mbak?". Pesan itu dari Joko. Hilda tersenyum membacanya. Bukan senyum biasa, senyum yang memiliki arti yang lebih dalam.

Sebuah notifikasi pun masuk ke ponsel Bagas, sebuah foto bayi perempuan cantik dengan caption: "Hi Daddy I’m your baby girl". Pesan dari Linda. Bagas terperanjat kaget. Seseorang yang berusaha ia kejar beberapa waktu lamanya, kini menghubunginya. Ia perhatikan lagi foto bayi dan caption-nya.

"Apakah ini anakku?" gumam Bagas dengan jantung berdegup kencang.



Comments

Popular Posts