Berbagi Itu Indah (Remake)





Chapter 1 : Sharing Foto?


"Mas, liat deh ini Anya ngga ada angin ngga ada hujan ngirimin foto dia lagi ciuman sama pacarnya", Kata Echa pacarku sambil menunjukkan layar handphonenya


Dengan ogah-ogahan kulirik foto yang diperlihatkan padaku itu. Kulihat Anya, teman sekelas pacarku, sedang saling melumat bibir dengan pacarnya. Nampak sekali betapa sangenya Anya ketika berciuman. Wahahnya memerah dengan sedikit peluh diwajahnya.


"Ih Mas, ini Anya WA aku, "ini pacarku mana pacarmu?"", kata Echa sambil membacakan WA Anya


"Nyebelin banget dia!", imbuh Echa sambil cemberut semakin membuatku gemas melihat dirinya


Namanya Echa, siswi kelas 3 SMA Negeri di suatu kota di negeri tercinta ini, usianya yang sudah lebih dari 18 tahun tidak lantas membuatnya lebih dewasa. Pacarku ini memang childish dari semenjak aku mengenalnya. sifat kekanak kanakan dan keluguannya itu yang membuatku suka gemas melihat dan mendengar apa saja yang ia lakukan dan ia perbuat.


"Terus maumu gimana?", tanyaku sambil asyik memainkan game battle royale di handphoneku tanpa memandangnya sedikitpun karena takut konsentrasiku pecah dan aku akan kalah.


"Ayo kita balas yang lebih lagi mas, biar dia tau kalau aku juga bisa", pintanya


"Hah? mau balas gimana? Eh anjir kabur musuh gua", kataku sambil terus asyik bermain game itu


"Ya kamu ngapain aku gt lho mas, terus kita kirim ke dia", jawab Echa


"Hah? ngapain? ogah ah gak penting.. Kamu gak malu apa ciuman dilihat cowoknya Anya ntar?" tanyaku


"Iiihh, kamu itu nyebelin", katanya sambil melempar bantal sofa ke arah mukaku


"Aduhh!! (Duar..) Anjir mampus gw kena sniper, gara2 kamu yank", kataku protes


"bodoamat", jawab Echa sambil cemberut


#


?


Namaku Rio, seorang mahasiswa semester 7. Sedikit cerita aku mulai berpacaran dengan Echa kurang lebih sejak setahun yang lalu, berawal dari iseng memfollow sosmednya yang sering menampilkan foto selfie dengan senyum indahnya. Wajahnya yang imut dengan kulit putihnya membuatku terpana saat itu. Dengan kerudung yang selalu menutup rambutnya yang lurus sebahu, foto selfienya hampir memenuhi seluruh feed medsosnya. Perkenalanku dengan Echa berawal dari private message yang iseng kukirimkan padanya. Dan tak kusangka ia merespon private messageku dan mulai lah kami saling berkenalan, bercandaan, ketemuan, lalu jadian.


Saat kami jadian, adalah hal yang paling berkesan buatku. Sejak itulah aku tau Echa ini dibalik wajahnya yang polos bakat binal. Setelah beberapa saat ia menerima cintaku, kami langsung berciuman penuh nafsu dan ia juga tak segan meraba kontolku. Ia juga tak keberatan saat tanganku meremas payudaranya yang kuingat betul saat itu terasa begitu empuk.


Setelah kami pacaran beberapa hari, kami sudah berani petting hingga telanjang. Tubuh Echa benar-benar menggugah selera. Bukan hanya bagiku, aku yakin semua cowok normal akan sange melihat keindahan tubuh Echa dibalik pakaian yang biasa ia kenakan. Kulitnya terasa lembut saat diraba, tidak ada luka dan lecet sedikit pun pada tubuh pacarku itu. Singkat cerita, selama pacaran, aku sering petting dengannya, menikmati segala kenikmatan dari tubuhnya. tetapi tidak sampai ML sih memang. bisa berabe kalau dia sampai hamil sementara aku masih belum menyelesaikan kuliahku dan belum bekerja pula. Ya, semesumnya aku, aku tetap berusaha menjaga agar ia tidak hamil karena memang aku belum siap. Walau sejujurnya, aku pun penasaran kenikmatan memeknya yang mudah basah itu. Dagingnya yang merah merekah, aromanya yang tidak amis dan terkadang terasa wangi, tanda Echa pandai merawat kemaluannya.


Echa meskipun lugu dan childish, tetapi cukup paham berbagai macam gaya seks. Terbukti bagaimana liar dirinya ketika petting denganku, sampai bisa membuatku muncrat ke tubuhnya. Entah insting atau memang sudah melakukan dengan pria lain sebelumnya, aku tidak tau dan tidak ada niat untuk kutanyakan, takut menyinggung perasaannya. Yang penting saat ini aku memiliki dirinya dan tidak akan kubiarkan ia pergi dariku.


#


"Yank, aku pulang dulu ya. Ada janji nih sama temen-temen buat ngopi", kataku sambil memakai jaket hoodie yang biasa kukenakan setelah aku bosan karena dari tadi kalah terus saat main game


"Teman-temen siapa? lebih milih teman temanmu nih daripada aku?", katanya merajuk manja


"Bukan begitu sayangku Echaaa... Tapi emang udah janjian dari minggu kemarin ngga enak kalau dibatalin.", jelasku kepadanya


"Aku ikut ya mas", pintanya


"Gak usah, ntar kamu malah bete karena disana pasti pada merokok, kamu kan anti sama asap rokok?", bujukku


"Hmmm...", jawabnya singkat


"Janji deh kapan-kapan aku kenalin kamu ke temen-temenku", kataku meyakinkannya


"Iya Iya... Yasudah ati2 dijalan, jangan lirik lirik cewek lain", katanya


"Siap Sayang", jawabku


Akupun langsung menstarter motor sportku dan pamitan dengannya. Tidak lupa aku pamitan dengan mamanya Echa terlebih dahulu. Echa ikut mengantarku ke depan rumahnya lalu mencium tanganku layaknya sepasang suami istri jika suaminya hendak berangkat. Akupun segera berlalu meninggalkan perumahan tempat Echa tinggal


Jalanan kota cukup padat dengan suhu yang cukup dingin malam ini. Banyak pasangan muda mudi yang berboncengan mesra mengendarai motor dengan kecepatan rendah menikmati suasana kota. Aku sengaja melambat ketika melihat seorang cewek yang sedang dibonceng cowoknya naik sepeda motor secara perlahan di sisi jalan. Kulihat cewek itu mendekap erat pacarnya dari belakang diatas motor ajag modifan itu. Kaos cewek itu sangat ketat sehingga tidak mampu menutup bagian belakang tubuhnya dengan sempurna. Belahan pantatnya yang tertutup celana dalam G-String berwarna pink sedikit terlihat di balik celana jeans ketat yang dipakainya, nampak indah dengan kulit pantatnya yang putih mulus.


"enak banget tu bokong disodoki kontol dari belakang. Hehehe" Kira-kira Echa kalau gw bonceng keliatan bokongnya gak ya?", pikirku mesum saat itu


Kunikmati saja pemandangan gratis itu selamanya karena aku sengaja melambat untuk mengikuti sepasang muda mudi itu. Si cewek juga sepertinya tidak menyadari belahan pantatnya dinikmati pengendara dibelakangnya secara gratisan. Kemudian kedua pasangan itu belok ke arah yang lain. Jadilah aku kembali membetot gas agar segera sampai tujuan.


Tak berselang lama, akupun tiba ditempat tujuan. sebuah kedai kopi kekinian menjadi tempat bertemunya aku dengan kawan-kawanku. Aku segera masuk kedalam kedai kopi ini dan celingak celinguk mencari sekumpulan "bajingan" kawan-kawanku ini.


"Woi, Rio!!", akupun mendengar suara teriakan dari arah kiri.


segera kutengokkan kepala dan kulihat kawan-kawan bajinganku sudah duduk santai menikmati segelas kopi sambil merokok sesukanya.


"Darimana aja lu lama amat?, tanya Anto kawanku yang paling dekil


"Sory habis dari rumah Echa tadi", jawabku sambil menaruh tas di kursi kosong dan melepaskan jaket yang kukenakan


"Wah pasti barusan dijatah ini? Hahaha", tanya Andre, temanku yang wajahnya mirip orang India sambil menyeruput kopi hitam pesanannya


"Jatah paan, orang gw cuma main game aja disana", jawabku


"Anjir, cewek lu muka bening gitu lu cuekin, kalau gw jadi pacarnya udah gw wikwik tuh tiap ketemu si Echa", imbuh Wawan, temanku yang maniak bokep dengan rambut gondrongnya


mendengar komentar temanku, aku terkejut juga. Tiba-tiba otakku membayangkan Echa beneran dientot Wawan. Membayangkan cewek yang kucintai itu bergoyang nakal digenjot temanku. Membayang memek Echa yang suka basah itu dikontolin temanku.


*Ahhh.. Sialan gue kok jadi sange bayangin gadis yang gue cinta digituin*, ujarku dalam hati


"Yakin lu mau entot Echa?", pancingku


"Kalau lu ijinin ya gue mau. Mau banget.. Cewek cantik kayak gitu anjir. Gue gak nolak", puji Wawan


Aku tersenyum mendengar perkataannya. Betapa aku senang jika cewekku dipuji-puji oleh seorang lelaki. Memang sih ada rasa cemburu yang kurasakan, tetapi kecemburuan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa banggaku memiliki Echa. Seolah aku memiliki perhiasan indah yang didambakan oleh orang lain


"Ngentot melulu pikiran lu", jawabku


"Hei, ngentot for live my bro. Tidak akan ada kehidupan jika kita tidak ngentot. Lu juga nembak Echa karena pingin ngentotin dia kan? Ga usah sok jaim lu. Otak bokep kayak lu mah gua udah hafal.", kata Wawan disambut gelak tawa yang lain


"Njir kayaknya kayaknya lebih ngerti gue daripada emak gue. Hahahah", jawabku


"Udah udah, lu pesen dulu sana, langsung ke kasir. pilih minuman jangan pesen susu mbaknya", potong si Anto lagi dengan maksud bercanda


"Anjir lu To, mbak kasir aja bisa bikin lu sange. Hahaha" jawabku sambil berdiri menuju kasir


"Eh beneran Sok alim lu ya lu? mentang-mentang cewek lu bening. Atau jangan-jangan lu ga bisa ngaceng lagi?", ledek Anto


"Enak aja. Echa demen ama kontol gue tau", kataku dengan penuh kebanggaan


"Hahaha.. Gak percaya kalau gak ada bukti", timpal Andre lagi


Akupun segera berjalan menuju kasir, ternyata memang benar kata Anto, kasirnya memang layak bikin cowok sange, wajahnya yang manis dengan kacamata minusnya ditambah dengan baju seragam yang ketat membentuk lekuk payudara yang begitu bulat. Walaupun memakai apron, tetapi tidak mampu menyembunyikan besarnya payudara mbak kasir itu


"Selamat malam pesan apa kak?", tanya mbak kasir itu membuyarkan lamunanku. Kulihat buah dadanya tercetak sangat ketat di apron yang dikenakannya. Di dadanya terdapat sebuah nametag dengan nama Belinda


Tanpa sadar aku terus memandang payudara indah itu dengan tatapan kosong.


"Eh.. susu", jawabku


"susu yang mana? banyak ini susunya kak", jawab Mbak kasir yang bernama Belinda itu


"oiya", jawabku dan kulihat memang banyak sekali menu susu di kedai kopi ini


"ini aja deh Banana Milk with brown sugar, banana milk berarti pisangnya dijepit susu ya?", celetukku menggodanya


"pisangnya dijepit susu maksud kakak??", tanya mbak kasir itu keheranan


"enggak maksud saya kan enak kalau pisang dijepit susu", kataku semakin membuat mbaknya bingung


"eh ngga dijepit kak pisangnya. Disini kita pisangnya diblend jadi satu sama susu. gitu sih", kata mbak kasir itu mencoba menjelaskan


"ooh gitu, yasudah gapapa itu aja. Susunya yang banyak ya biar puas", kataku menyudahi candaanku


"Baik kakak, total 20rb ya, sebelumnya apa sudah ada pesanan? kalau belum kakak ambil nomor ini dan ditaruh dimeja yang terlihat ya kalau sudah ada pesanan ngga perlu ambil nomor lagi", kata Mbak kasir itu sambil menyobek struk dan memberikannya padaku


"Iya tadi teman-temanku sudah pesan mbak", jawabku dan memberikan lembaran hijau pas 20rb kepada mbaknya. sambil mengambil struk pesananku


"Teman Kakak tadi nomor berapa? biar nanti kami antar pesanannya", kata mbak kasir


"Mampus" ngga liat tadi aku mbak meja nomor berapa, pokoknya nanti kalau liat meja yang diisi cowok gondrong, india, dan dekil ya itu mejaku mbak", kataku sambil kulihat mbaknya tersenyum manis sekali, si otong bagian bawahku pun sampai berontak ingin berdiri. Lalu kuputuskan segera putar badan dan kulirik gadis yang antri dibelakangku mulai menunjukkan wajah dongkol karena terus menggoda kasir cantik tadi.


akupun kembali ke arah teman temanku yang super sangean itu dan kembali duduk di meja.


"gimana bro? betulkan kan susu mbak kasirnya mantab jiwa?" kata si Arif


"Hahaha... iya iya gw percaya", kataku mengiyakan pendapatnya


Tit. Tit. *suara notif Waku


"Mas, dimana?", Isi WA dari Echa


"Ini masih ngopi Yank, eh nyusu"", jawabku


"Hah? Nyusu apa?", tanya Echa panik


"Nyusu pisang. Hehehe" Kenapa sih Yank? Baru juga aku dari rumah kamu masak udah kangen?", godaku


"Ihh GR" Anya ngirimin foto lagi yang ke aku mas. kali ini dia kirim dadanya yang diremas remas ama cowoknya", kata Echa


"Hehe.. Anya aneh ya? Hal-hal gitu di kasih liat ke kamu..", kataku


"Iya katanya cuma ke aku aja sih mas kasih liatnya karena aku sahabatnya, Dia memang suka pamerin kenakalan dia", jawab Echa


"Yaudah ayo kamu harus belajar pamer juga", tantangku dan tiba-tiba terlintas pikiran mesumku untuk "membangkitkan" sisi binal cewekku ini


"maksud mas?", tanya Echa


"Ya kamu foto tetek kamu terus kirim ke Aku", kataku membujuknya


"Tapi kan kamu udah pernah liat bentuk tetek aku", jawab Echa


"Ya udah nanti aku kasih lihat ke temen-temenku tetek kamu, biar mereka sange liat kamu", godaku


"Gila kamu mas. Gak mau ah", jawab Echa


Aku semakin semangat iseng ke pacarku yang polos itu. Aku tahu dia sebenarnya bakat binal. Tinggal di dukung dan terus dilatih saja untuk mengeluarkan bakat terpendamnya.


"Ya kalau kamu malu terus, kamu gak bakalan bisa ngalahin Anya dong Yank.. Kamu harus melakukan yang lebih nakal dari Anya", bujukku


"Errr tapi mas.. Aku cuma mau pamer ke Anya bukan ke teman-temanmu yang cowok-cowok itu. Aku malu mas kalau ke cowok lain..", jawab Echa


"Yakin cuma ke dia? Kalau dia nunjukin foto nakalmu ke cowoknya gimana? Khan sama aja ada cowok lain yang liat kenakalanmu nanti", kataku


Echa berhenti membalas pesanku sejenak. Sepertinya ia mengamini apa yang baru saja kukatakan.


"Aman kok Yank.. Ayo kirim, biar kamu lebih hebat daripada Anya yang cuma pamer ke kamu aja. Kamu kan pingin mamerin ke Anya, aku juga pingin mamerin kamu ke temen-temenku. Impas kan?", bujukku terus menerus


"Ih kok gt sih mas... mau nih tubuhku diliatin temen-temenmu?", tanya Echa


"Kenapa ga mau? Aku bangga kok bisa punya kamu. Aku ingin mamerin kamu juga ke temen-temenku betapa cantik dan sexynya pacarku.. Aku yakin kamu bisa jauh lebih segalanya daripada Anya Yank..", kataku kemudian


"Gitu ya mas? Hmmmm.. Tapi aku malu mas.. Kalau temenmu nafsu liat aku gimana?", jawab Echa


"Wajar kalau kamu malu. Wajar juga kalau mereka nafsu, kan mereka cowok normal yang suka sama cewek. Kamu harus percaya diri Yank.. Wanita tercipta dengan keindahan dan kamu harus berani nunjukkin keindahanmu itu yank. Temen-temenku lho iri aku bisa punya pacar cantik kayak kamu", bujukku lagi


"Serius mereka bilang gitu? Kan aku belum pernah ketemu temen-temenmu", jawab Echa


"Ya mereka kan pernah ku kasih lihat fotomu sayang" Buat buktiin aku sudah punya pacar dan gak jomblo kayak mereka", kataku


"Terus mereka komen gimana?", tanya Echa penasaran


"Ya katanya aku beruntung sekali bisa punya pacar cantik dengan puluhan ribu follower di sosmed. Padahl mukaku biasa-biasa aja tapi dapat spek bidadari kayak kamu", kataku


"Eh mereka salah, kamu ganteng kok mas. Kalu ga ganteng ya aku ga mau lah hihihi", jawab Echa


"Ya udah mau ya Yank?", tanyaku memastikan karena aku sudah tidak sabar memamerkan pacarku


"Aku pikir-pikir dulu deh Yank..", jawab echa.


"Yaaahh.. Padahal temenku udah pada semangat nih mau dikasih liat susu gratis", godaku


"Ih serius kamu sudah cerita ke temen-temenmu?", tanya Echa terkejut


"Ngga kok bohong. Hehehe"


"Ih kamu nih ngagetin aku aja""


"Tapi kamu pingin kan kasih liat tetekmu ke mereka? Kamu pasti tertantang juga kan?", godaku


"Sotoy ih kamu mas. Masak iya aku kasih liat susu aku ke orang yang dikenal"


"Permisi, banana milk?", kata pegawai cafe tiba-tiba mengejutkanku


"Oh iya mas, saya", jawabku sambil menerima pesanan minumanku itu


"Ya elah malah pesen susu lu? Emang lu Gak dapat jatah susu dari cewek lu? Kasiaaann.. Hahahha", ledek mereka


"Sialan lu pada. Tar gue kasih susu mupeng semua lu pada", jawabku sambil ikutan tertawa


kemudian kami pun bercengkerama dan tertawa layaknya anak muda pada umumnya. Hal yang kami bahas pun tidak jauh-jauh dari motor, musik, game dan juga cewek. Sampai tiba-tiba Echa pacarku tiba-tiba mengirimiku foto dengan keterangan tulisan "Jangan dikasihin temen-temenmu"


*Cih.. Munafik jangan kasih liat tapi aslinya berharap" bilang aja kamu pingin pamerin bodymu kan yank ke temen-temenku?* Kataku dalam hati


"Yakin nih ga boleh dikasih liat ke temen-temenku?", godaku


"Jangan mas aku maluuuu..", jawab Echa


"Aku kasihin ke mereka ah"", godaku


"Jangaann Massss""


Sengaja tak kujawab lagi pesan WA Echa. Percuma tidak akan ada habisnya jika dia merengek seperti itu


Aku pun buru-buru membuat sebuah grup WA yang berisikan teman-temanku saja. Kuberikan judul GRUP BIOLOGI agar mereka tidak curiga.


"Anjir ini grup apaan?", tanya mereka hampir bersamaan.


"udah lu ga bakalan nyesel pokoknya", kataku


"Gue leave aja ah", kata Andre dan ia pun keluar dari grup


"Nyesel lu pasti", jawabku


Aku kemudian mengirimkan beberapa foto pose Echa yang sedang selfie menunjukkan keindahan senyumnya dengan tanktop pink yang menutup tubuhnya. Payudara Echa memang tidak terlalu besar, tetapi sangat proporsional dengan tinggi tubuhnya yang 148 cm itu. Teman-temanku langsung terbelalak menatap layar handphone mereka masing-masing. Karena di layar hape mereka terpampang foto pacarku yang berpose sexy hanya menggunakan tanktop berwarna putih yang terlihat tali BH berwarna hitamnya


"Woi sapa ini anjirrr? Cantik bener.. Sexy anjir", kata Anto terkesima melihat layar handphonenya sendiri


"Cewek gue lah"


"Sumpah ini cewek lu? Bukannya dia pake kerudung ya?", tanya Wawan tidak percaya


"Ya dilepas lah, ngapain juga dikamar sendirian gak ada siapa-siapa pake kerudung dodol".", jawabku dongkol


"Eh kalian lihat apaan?", tanya Andre yang tadi buru-buru leave grup


"Salah sendiri lu leave group tadi. Wkwkwk", kataku


"Eh invite lagi dong. Anjir ia nyesel gue.. Invite lagi please"", kata Andre sambil melirik ke arah handphone Wawan


"Ogah salah sendiri..", jawabku


"Ah gak asik lu Rio. Ayolah", kata Andre


"Ya udah mumpung gue lagi baik nih", kataku dan kumasukkan Andre ke dalam Group Tugas Biologi lagi


"Busyet mulus bener.. Liat lehernya kayaknya enak ya bro di gigit-gigit", kata Andre


"Iya dong, pacar gue nih", jawabku penuh kebanggaan


"Minta foto yang lebih nakal dong bro", kata Andre lagi


"Hahaha.. mupeng kan lu! Sok-sokan leave group", kataku diatas angin


"Iya maap maap", jawab Andre sambil menggaruk rambutnya yang ikal itu


Aku pun mencoba merayu pacarku agar lebih berani lagi fotonya. Aku yakin ia akan menuruti permintaanku. Karena dari tadi dia sudah kepingin buat buktiin dia lebih berani daripada Anya sahabatnya.


"kurang nakal sayang. coba kamu foto lebih nakal lagi.. Lepas BHmu dan biarkan puting susumu tercetak di balik tanktopnya", pintaku


"Ih kamu aneh aneh aja yank. Gak kamu kasih ke temen-temenmu kan foroku?", tanya Echa


"Justru ini permintaan temenku. Mereka mau nerawang pentilmu yank. Hehehe.. Ayo lebih nakal lagi katanya.."


"Hah? Kamu beneran kasih foto aku ke temenmu? Ga cemburu?", tanya Echa


"Justru aku semakin bangga sama kamu Yank. Mereka bilang kamu cantik dan sexy", kataku meyakinkan dirinya


"Aneh kamu mas, bukannya cemburu malah bangga", kata Echa


"lho kan kamu yang pingin jadi lebih "nakal"? Aku kan hanya membantumu yank biar ngga kalah sama Anya. Salah satu caranya ya gini"", kataku mencoba memberi Echa penjelasan


"Hmmm.. Malu aku mas", jawabnya


"Tenang aja mereka teman-teman terpercayaku. Fotomu aman Yank.. Palingan Cuma dijadikan bahan coli sama mereka", bujukku lagi


"Hah? Aku dijadikan bahan coli yank? Kamu serius gak marah Yank aku jadi bahan mereka?", tanya Echa tidak percaya dengan keputusanku


"Aku anggap amal Yank. Mereka jomblonakut yang bisanya cuma liat bokep. Sekali-sekali aku juga pingin kasih mereka sesuatu biar bisa menyenangkan mereka", kataku


kontolku menegang hebat, lebih tegang dan keras dari biasanya. detak jantung semakin cepat karena aku memamerkan foto sexy pacarku sendiri ke grup para pemuda bejad ini. Sensasi yang selama ini aku inginkan yaitu memamerkan pacarku ke orang-orang. Berawal dari teman-temanku sendiri dan kalau Echa tidak keberatan dia pasti mau melakukannya untukku. Aku yakin Echa akan mau melakukannya karena ada sesuatu dalam diri Echa yang harus dibangkitkan. Nafsu Birahi pacarku itu sebenarnya sangat besar dan aku yakin akan hal itu.


"Echa tau fotonya lu taruh disini?", tanya Andre


"Tau dong"


"Eh bakat binal juga dia.. Padahal pakai jilbab lho"


"Sapa dulu pacarnya. Hahahah"", jawabku penuh kebanggaan.


Aku kemudian melirik ponselku dan kulihat Echa mulai mengirimkan foto lagi. Kali ini fotonya lebih berani dari sebelumnya. Aku tersenyum nakal sambil menahan konak di selangkanganku yang semakin tak tertahankan. Di akhir kirimannya Echa menulis kata-kata yang membuatku tercengang. "Nanti ceritain ya mas temenmu bilang apa aja setelah liat foto-fotoku"


"Cantik sekali kamu Yank" Duh itu tetekmu pasti bikin temen-temenku mupeng yank.. I love so much baby" Pasti mereka bakalan coli deh setelah sampai rumah", kataku


"Ihhhh.. Ngeri ah bayangin aku dijadikan bahan teman-temanmu.. Semoga nggak deh.. I love you too mas..", jawab Echa


"Eh sampai dimana tadi?", tanyaku menyadari teman-temanku dongkol melihatku cengingisan sambil menatap layar ponselku


"Kok Echa mau foto-fotonya dikasih lihat ke temen-temen pacarnya?", kata Wawan


"Oiya, Dia sendiri yang minta pingin nyaingin temennya yang nakal, jadi gw minta aja dia bisa lebih nakal dan binal daripada temannya. Itung-itung gue juga berbagi ke lu semua", kataku menjelaskan mereka dan mereka pun mengangguk paham


"Ngawur lu bro.. Hahaha.. Berbagi sih berbagi. Tapi masak iya lu bagi-bagi pacar lu sendiri?", kata Andre


"Gak suka lu? Leave group lagi gih", jawabku simple


"Eh enggak ding. Rejeki nomplok ini mah..", kata Andre disambut gelak tawa teman-temanku yang mesum itu


Kemudian, sebuah pesan masuk kembali ke handphoneku dan memang dari Echa, segera kulihat hasil karyanya. Kali ini dia foto tanpa bra dan kulihat puting susunya tercetak lumayan jelas menonjol dibalik tanktop pinknya, belum lagi bulatnya payudara pacarku itu tercetak sempurna. Ditambah lagi dengan wajahnya yang tersenyum cantik sekali membuat siapa yang melihatnya pasti tergoda.


"Bagus yank cantik dan sexy abis.....", jawabku


"Malu aku Yank. Duh jadi kepikiran temen-temenmu pasti mikir aku cewek nakal, bukan cewek baik-baik", jawab Echa


"Baik dong. Kan berbagi keindahan? Hehehe"


"Ngawur kamu mas" Duh" Malu aku mas" Berbagi sih berbagi tapi masak pakai foto-foto aku?", kata Echa


"Gapapa kan kamu gak sampai bugil, apa salahnya? Tapi syukur-syukur kalau mau foto bugil sih. hahaha.. lagian kamu harusnya bangga yank punya wajah cantik dan tubuh yang sexy. pasti temenku akan suka liatin kamu", godaku


"Gila kamu mas ngga mau ah kalau sampai bugil. aku maluuuu", jawab Echa merengek


"hahaha.. iya iya...", jawabku dan langsung kuforward kembali foto pacarku barusan ke grup ini, sambil menahan batang kontolku yang semakin keras karena menjadikan pacarku sendiri sebagai objek untuk kawan-kawanku


*tit tit.. jreng.. tuk* suara notif hanphone kawan2ku kembali terdengar


kulihat respon wajah mereka terbelalak takjub melihat foto Echa pacarku dengan kondisi yang makin sexy


"Widiiihhh... Putingnya nyembul aja tuh, gw jadi pingin liat bentuknya brooo,, syukur2 bisa netekin puting pacarmu ini..", kata Wawan


"hahaha... Enak aja lu netek di pentil pacar gue", jawabku


"Boleh lah, susu gratis buat rakyat yang membutuhkan", kata Wawan mencoba membujukku kepadaku


"Anjir antri satu-satu buat netek di pentilnya Echa dong?", imbuh Anto


"Hmmm menarik juga.. let see... hehe", jawabku singkat


"Asek nih kalau lu ijinin buat maenin pentilnya Echa. Hahaha"", kata Andre


"Eh lu ga diajak. Kan tadi leave?", candaku


"Anj"", umpat Andre


#


Malamnya, aku menelepon pacarku Echa"


"Yank""


"Apaa".."


"Aku sange nih""


"Lho kok bisa? Aku kan gak ngapa-ngapain mas""


"Iya kalau sekarang emang gak ngapa-ngapain. Tapi tadi sore""


"Jadi dari tadi nih sangenya? Hihihi"


"Kamu sih Yank buat aku sange" Body kamu sexy banget"


"Kan kamu udah sering liat badan aku mas. Masak sampai sekarang sangenya?"


"Bukan karena itu sih lebih tepatnya.. Tapi karena temen-temenku muji-muji kamu terus Yank.. Aku jadi cenut-cenut nih.."


"Oiya temenmu bilang apa aja Yank? Aku malu tauu.. Kamu nih" Hufff" Kalau bukan kamu yang minta, aku pasti ga bakalan mau mas", kata Echa sedikit manyun


"Maaf.. Soalnya aku bangga banget sama kamu yank.. Ya" mereka bilang yang pasti kamu cantik dan sexy banget. Body kamu bagus. Ga nyangka kamu sesexy itu karena biasanya kamu kan pakai kerudung.. Terus ada juga yang bilang lehermu enak digigit-gigit"


"Ihhh.. Leherku enak digigit? Emang ayam goreng apa? Terus apa lagi mas?"


"Sama mereka pas liat fotomu yang keliatan putingnya nyemplak bilang pingin nyoba milin puting susumu yank.. Katanya mereka bersedia antri buat netek ke putingmu"


"Hah? Antri buat netek ke putting aku??? Terus kamu jawab apa? Kamu ijinin?"


"Hehehe kok nanyanya gitu.. Emang kamu mau kasih putting kamu ke temen-temenku?"


"Iiihhh kamu mas.. Enggak mau lah.. Aku aja gak tau muka temen-temenmu gimana. Mending kalau ganteng.. Kalau enggak rugi di aku dong"


"Oh kalau ganteng boleh nih netek ke putingmu?"


"Hihihi pertanyaanmu aneh mas" Udah-udah bahas apa sih" Ganti topik!"


"Jawab dong" Kamu mau netekin orang lain asal ganteng?", godaku lagi


"Ngga ah nanti kamu cemburu terus marah"", jawab Echa


Sialan, jawabannya sangatlah ambigu. Jadi dia gak mau hanya karena takut aku marah? Jadi kalau misal aku ga marah dia mau melakukannya? Gara-gara jawaban ini aku pun tidak sadar mulai mengocok kontolku


"Kalau aku ga marah gimana?"


"Iihhh.. emang kamu ngijinin nih?", tantang Echa


"Siapa takut! Aku malah akan makin sayang sama kamu yank kalau kamu sampai senakal itu"


"Aneh kamu mas. Hihihi""


"Ayo kamu mau coba sama siapa? Anto, Wawan, atau Andre?", godaku


"Ihhh malah nanyanya gitu.. Aku aja ga tau wajah mereka mas jadi susah bayanginnya. Hihihi"


"Ih kok itu sih.. Nggakk.. Lah.. Ya gak bisa kubayangin kalau aku beneran kasih putingku ke temen-temenmu. Aneh tahu.. Kamu ya kok tega banget sih"


"Gak usah dibayangin sayang. Langsung dipraktekin aja", kataku terus membujuk pacarku Echa


"Tapi"", jawab Echa


"Dengan begitu kamu bisa lebih nakal daripada Anya yank. Anya cuma netekin pacarnya, sedangkan kamu netekin temen-temen pacarmu. Keren khan?", gurauku


"Kamu beneran ijinin ya mas mereka netek di puting aku? Kalau kebablasan gimana" tanya Echa


"Kebablasan?"


"Iya.. Misal mereka ga puas Cuma netek ke putingku.. mereka ingin lebih? Orang kamu aja belum pernah ML sama aku""


"Aku stop lah Yank.. Ga akan sampai ML ke kamu lah. Aku belum siap kalau itu" Aku kan juga mikirin masa depanmu", jawabku mencoba menenangkannya


"Hmmmm" Yakin kamu bisa stop mereka ngga kebablasan minta lebih?", tanya Echa


"Iya aku pasti akan stop dan larang mereka" Gimana? Mau ya?", tanyaku


"Hmmm.. Aku pikir-pikir dulu deh", jawab Echa pacarku


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 2 Sebuah Pelatihan?

1a.jpg


Hari ini hari Sabtu, rumah Echa kosong semenjak Kedua orangtuanya pergi keluar kota untuk menghadiri resepsi pernikahan kolega papanya. Dikamarnya, Echa dan aku sedang saling telanjang tanpa sehelai benangpun untuk menikmati tubuh kami satu sama lain.


"Uuuggggh.... aaahhh... terus mas... Enak mas ..", lenguh Echa menikmati kuluman di putingnya


Kumainkan puting kecilnya dengan lidahku dan begitu kunikmati daging kenyal cokelat yang kecil itu. Kuratakan liurku membasahi areola putting susu Echa. Pacarku itu hanya memejamkan mata saja sambil sesekali ia mendesis. Secara perlahan kugigit putingnya yang mungil dan membuat tubuhnya menggelinjang penuh nafsu.


"Slurupp.. sluruppp...", kukenyot terus putingnya secara bergantian antara yang kiri dan kanan sesekali kupilin ujung puting susunya dengan tanganku hingga membuatnya melenguh penuh kenikmatan.


"Ahhh.. Enak mas.. Kenyot putting aku terus mas"", desah Echa


"Iyaahh.. Bayangin aja putting kamu sekarang disedotin temen-temenku Yank.. Ssshhhh..", godaku


"Mas jangan mulai deh.. Aaahhh.. Aku malu tau masak iya aku netekin temen-temenmu.. Aahhhhh terusss mas".", jawab Echa


"Kalau ga dicoba mana tau rasanya?", Sambil menghentikan permainanku pada putting pacarku yang menggemaskan itu


"Biarkan kupikirkan dulu mas" Permintaanmu ini aneh-aneh aja"", jawab Echa sambil sedikit manyun


Kemudian setelah puas menikmati puting susu Echa, aku ubah posisiku dan kukangkangi wajahnya dengan penisku yang sudah menegang. Dengan sigap Echa paham keinginanku dan meraih batang kemaluanku yang sudah keras itu. Langsung dilahapnya penisku hingga memenuhi bibir Echa yang mungil.


Batang penisku terasa nyaman dan hangat-hangat basah ketika berada di mulut Echa, dengan penuh nafsu dikulumnya penisku sambil sesekali dimainkan dengan lidahnya lubang pipisku sehingga memberiku efek geli.


"Aaaaggghh... Enak banget yank... Nakal banget kamu" rancauku sambil kubelai rambutnya yang halus


"Kan kamu yang ngajari", jawab Echa sambil terus mengurut penisku dengan bibirnya yang tipis.


"Kapan? kamu aja yang bakat binal", elakku


"Oiya? Kalau aku gak binal memangnya kamu mau?", goda Echa sambil memberikan jalan agar ku bisa menjilati vaginanya


"Yaa.. Kalau gak binal ya aku binalinn.. Sshhhh..", jawabku


"Dasar maunyaaa""


"Tuh khan.. Memekmu dijilatin terus udah becek gini Yank" Temen-temenku suka nih memek becek gini", kataku dan langsung ku lahap kemaluan Echa yang ditumbuhi bulu halus jarang-jarang itu


"Ouuuhhh.. Ssssshhhh" Masss" Geliii"", tubuh Echa menggelinjang liar menahan geli


"Malah basah bener" Pasti gara-gara bayangin dijilmek temen-temenku ya? Duh memekmu merindukan kontol Pasti.. Pacar mesum"", godaku terus menerus


"Mangkanya.. Ssshhh.. Masukin mas""


"Ngga mau.. aku ga mau ngerusak kamu"", jawabku sok bijak


"Dih.. Gak mau ngerusak tapi aku dicabuli terus gini.. Aaaahhh"", jawab Echa


"Gak mau nih Dicabuli?", tanyaku balik


"Mauuuuuu.. Aaahhhh.. Mas" Enakkk"", desah Echa kembali


Tubuh Echa menggeliat semakin liar. Ekspresi wajahnya sangat membuatku terangsang. Ditambah harum tubuhnya yang mengundang. Membuatku tak pernah bosan menikmati pacarku itu. Saking nikmatnya dia, aku selalu menggodanya agar mau menuruti fantasy gilaku. Kubayangkan jika Echa yang kusayangi itu benar-benar dinikmati oleh teman-temanku membuat kontolku terasa lebih keras daripada biasanya. Tubuhnya yang mungil nan sexy ini memang favoritku. Tubuh yang menyenangkan untuk dibolak-balik.


"Bayangin Yank" puting yang kanan Buat Andre, puting yang kiri buat Anto, dan Wawan jilmekin memekmu.. Aaahhhh.. Pasti kamu bakalan terkencing-kencing parah dan menggeliat kayak cacing kepanasan", desahku sambil berbisik di telinganya.


Echa hanya mengangguk lemah, ia tidak merespon perkataanku. Tetapi bibirnya tak pernah mengucap kata "ah" sesekali ia mengusap kepalaku yang sedang sibuk menyusuri lubang kenikmatan gadis cantik itu.


"Ssshhh.. Memekmu nikmat bener Yank" Beruntung aku merasakan memek seindah ini", pujiku


Kulihat Echa seperti tak memperdulikan celotehku. Ia hanya terus mendesis sambil sesekali pinggulnya bergerak ke kiri dan ke kanan menikmati tiap jilatanku di lubang kemaluannya. Aku tidak tau apakah ia benar-benar membayangkan apa yang telah kusugestikan atau seluruh sugestiku sama sekali tidak dianggap. Yang pasti Echa kali ini menggeliat lebih liar daripada biasanya. Lalu, Kurasakan Echa pun tak mau kalah dengan seranganku. Ia mulai melahap dan menyedot kontolku lebih kuat dari sebelumnya. Rongga bibir pacarku itu terasa begitu hangat, mungkin saking panasnya petting kami malam ini. Batang kejantananku kurasakan basah terkena air liur pacarku yang terus menjilati kemaluanku tanpa ampun


"Uhhh.. Pinter betul kamu muasin kontol", pujiku


"keseringan kamu ajari mas"", akhirnya Echaj merespon perkataanku


"Ahhh" I like it baby" Kamu memang bakat Yank..", desahku sambil kubiarkan pacarku itu melahap batang kemaluanku sepuas dia


"slurupppp.. Bakat apa mas?", tanya Echa berhenti sejenak menyepong kontolku


"Bakat buat ngelayanin cowok"


"iiihhh" Mas mesti gitu..", rajuk Echa


Setelah puas ia sepong kontolku, Aku pun tak mau kalah dan kuimbangi permainannya dengan kujilati lubang vaginanya dengan lidahku dengan cepat. Sekali lagi tubuh Echa menggelinjang tak beraturan. Sangat sexy sekali pacarku ini. Wajahnya polos dengan tubuh wangi yang tiada cacat sedikitpun, sungguh menggunggah libidoku. Beruntung aku bisa memilik gadis lugu ini hanya bermodalkan basa-basi murahan.


"Aahh... Mas.. Geli", desah Echa sekali lagi saat lidahku bermain-bermain di kedalaman lubang vaginanya yang warnanya masih segar itu.


Kaki Echa semakin mengangkang membiarkanku menikmati tiap bagian vaginanya. Kuseruput terus cairan kewanitaannya yang semakin lama semakin banjir. Sesekali bulu jembutnya ikut kusedot saking semangatnya kujilatin kemaluan pacarku itu. Aroma vaginanya yang sangat khas antara asin, asam, gurih, dan sedikit manis itu sangat nikmat. Permainan 69 terasa semakin nakal dan panas, karena desahan Echa yang manja sangat menenangkan telingaku.


"Titit nakal", kata Echa sambil kembali ia masukkan gagang kencingku ke mulutnya


"Tapi kamu emang suka kan?"


"Iyaaahh.. Sukaaa.. Mmphhhh", jawab Echa begitu menggoda


"1 kontol kayaknya kurang muasin kamu ya? Liar gini nyepongnya", kataku menggoda Echa


Kurasa dia semakin menikmati imajinasinya dengan tidak menjawabku, aku pun tak mau kalah dengan menjilati lubang kemaluan Echa. Tidak ada rasa jijik bagi kami. Aku jilati kemaluan dia, dia pun tidak ragu menjilati kemaluanku bahkan buah pelerku. Kubayangkan kali ini Echa diperkosa oleh orang yang kasar .


"Uuggghh... Aaaaahhh... Terusss mas..", erang Echa dan kurasakan lubang vaginanya semakin banjir saja.


"Lonte cabul... bayangin banyak kontol langsung sange... becek tuh tempikmu!", kata-kataku semakin menjadi-jadi sambil menempatkan posisiku sebagai seorang kasar nan cabulm


"Aahh mass.. kamu kok kasar sekali bahasanya.. Ssshhh.."


"Hehehe.. Biar kamu makin sange Yank" Udah kamu bayangin aja dulu kamu diperkosa sama cowok kasar. Kamu pasti suka..", kataku


"Mulai lagi deh.. Kalau punya pacar itu dijaga kehormatanmya, kamu malah mau umbar tubuh aku.. Aaaahhh ", ujar Echa


"Terlalu mubadzir kalau hanya aku yang menikmatimu sayang"", bujukku sambil kuhentikan sejenak pergumulan kami


"Hmmmm.. Nanti cemburu lho kamu .."


"Iya tapi aku malah bergairah""


"Hmmm.. Gimana ya.. Kamu yakin mas? Tapi kamu ga ada niatan mainin aku khan?", tanya Echa menyelidikiku


"Ya ampun mikir apa kamu" Aku justru akan makin sayang sama kamu tau""


"Hmmm ya udah.. Aku mau deh.. Tapi cuma bayangin aja ya mas" Aku takut dan malu kalau beneran ngelakuinnya"", kata Echa


Bagiku tidak apa-apa sementara dia hanya membayangkannya saja. Karena dari bayanganlah awal dari sebuah kenyataan. Aku akan terus menggoda dan mengerjai pacarku ini agar mau menuruti fantasy-fantay gilaku


"Oke bayangin aja dulu.. Mau bayangin siapa? Anto, Wawan, atau Andre?", tanyaku


"Terserah kamu.. Orang aku ga tau wajah mereka"


"Yaudah bayangin kamu diperkosa Anto ya Yank" Dia wajahnya paling dekil dan juga paling kasar omongannya. Cocok buat tokoh yang suka perkosa cewek. Heheheh".", kataku


"Hmmm.. Aneh.. Ya udah aku ngikut aja deh..", kata Echa


*Akhirnya ia pun mau menyelaraskan fantasynya denganku walau 1 vs 1. Ngga madalah bagiku, ini masih permulaan*, kataku dalam hati


"Sini tempik jalang lonte" Tempik gatal butuh kontol.. juh juh juh.. Ini Anto sedang ngeludahin memekmu Yank", kataku sambil kuludahi vagina Echa


"Ahhh.. jangan diludahi mas""


"Memekmu mesum.. Becek gini pasti pingin disodok kontol ya?"


"Iyahhh aku mau...."


"Berapa kontol yang pertama masuk ke dalam memekmu hah?", tanyaku sambil membayangkan Anto kembali menjilati vagina pacarku


"Ehhh.. Sssshhh.. Aku" Aaahh.. Masssss"", Echa pun tidak mampu memperjelas apa yang akan ia katakan


Matanya terpejam, sesekali ia gigit bibir bawahnya. Sementara itu dibawah sana aku sedang sibuk meludahi, menyeruput kemaluan Echa yang semakin lecek tapi tetap menggiurkan itu. Vaginanya sangatlah indah, warna dagingnya kemerahan dan mengkilap terkena campuran lendir vaginanya bercampur dengan air ludahku.


"Oouuh.. Mass" Ssshh""


"Suka kan tempikmu diludahi?", kataku sambil kuhisap kuat-kuat daging becek Echa itu sekuat tenaga.


*kubayangkan Anto benar-benar melakukan seruputan ke memek Echa. Gila Fantasy ini memang luar biasa, kontolku rasanya ga bisa berhenti ereksi membayangkan memek Echa dinikmati Anto*, kataku dalam hati


"Sukaaaa.. Aaaahhh.. enak mas" Terus mas..", jawab Echa sambil ia rapatkan kakinya seperti sedang menahan kencing


"Ngangkang lu.. Jangan ditutup! Sini tempikmu!!", kataku seolah Anto sedang merkosa Echa


"Aaahhh..... Pakai aku sepuasmu mas.. Enak Mas.. Jangan dijilat terus mas.. Masukin Mas.. Aku dah siap kamu setubuhi mas...", rancau Echa semakin menggeliat hebat dan semakin mengangkang menikmati vaginanya di jilati


"Oh yaa?? Dasar lonte, diperkosa malah minta dientot..", kataku dan kurasakan penisku mulai berkedut kedut.


"Masukin mas" Ayoo.. Aku udah ga tahan".", pinta Echa merengek manja sambil sesekali tubuh telanjangnya bergetar


*Damn ini cewek emang minta aku entot apa lagi bayangin Anto masukin kontol ke memeknya sih? Bikin gue malah nerka-nerka aja*, kataku dalam hati


Nada bicaranya serius, mungkin Echa memang ingin segera disetubuhi. Echa memang sudah menyerahkan tubuhnya kepadaku untuk kusetubuhi, dan sudah berkali-kali ia ingatku untuk bertanggung jawab jika seandainya dia hamil kalau hubungan kami kebablasan. Dia pun memastikan akan siap jika harus menjadi istriku.


Tetapi dasar aku yang masih takut kalau dia sampai hamil, aku jadi enggan menyetubuhi pacarku. Walau sebenarnya aku ingin sekali merasakan jepitan hangat kemaluan pacarku itu. Tetapi aku sendiri masih ragu, apakah gadis ini nanti menjadi istriku? Bagaimana kalau ternyata dia jodoh orang? Bagaimana jika kelak suami Echa kecewa setelah tahu istrinya sudah tidak perawan? Duh, semesum-mesumnya aku, ternyata aku masih berbaik hati memikirkan perasaan calon suaminya kelak.


"Ouhh.. Jangan dijilat terus mas" Ayo mas masukin" Mas" Aku sudah ga tahan. Pingin kamu masukin" Aaahhhh"", jawab Echa sambil kakinya semakin mengangkang karena kemaluannya kujilati terus menerus.


Tanpa sengaja mendengar rancauan pacarku yang manja, akhirnya penisku sudah tidak kuat dan berkedut kencang. Suara Echa yang manja, jika ia mendesah, merintih, dan mendesis memberikan rangsangan yang begitu menggoda. Apalagi ia terus memintaku untuk segera menyetubuhinya. Siapa juga lelaki yang bakalan kuat imannya jika ada gadis cantik yang meminta seperti itu. Lama-kelamaan aku sudah tidak sanggup menahan gejolak gairahku dan akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan semua spermaku yang sudah tidak ku keluarkan 3 hari ini.


"Aarrrgggh... crot crot crot...", kutumpahkan semua spermaku ke dalam mulut pacarku itu. Kutahu dia kaget dan belum siap menerima semprotanku yang tiba tiba itu.


"Uhuk Uhuk Uhuk" Lho mas kok sudah keluar? Aku masih mau main nih...", kata Echa sambil kulihat ia mengelap tetesan sperma yang kusemburkan ke mulutnya


"Dasar gadis birahi.. Betul kan kataku, kamu memang ngga bisa puas cuma dengan kontolku", kataku sambil terengah-engah setelah kontolku disedot habis-habisan oleh Echa


Kuakui sepongan Echa memang enak dan mantab. Ia sama sekali tidak merasa jijik dengan kontol pria. Jilatannya totalitas ke seluruh bagian kontolku hingga ke buah pelerku pun tak luput disedotnya tanpa ampun


"Ih Mas ini" Aku cuma mau sama punyamu aja mas", kata Echa


"Bohong, pasti kamu bayangin sama Anto khan? Sampai liar gitu desahanmu", godaku


"Enggak ih, gimana bayanginnya orang aku ga pernah ketemu orangnya


"Oh kamu mau ketemu Anto? Ok kapan-kapan kamu kuajak ketemu teman-temanku, nanti sekalian mereka akan eksekusi kamu", kataku


"Eh enggak kok mas! Jangan suruh mereka gituin aku mas..!"


""".", aku mencoba membisu dan menyeringai menyeramkan


"Massss.. ih malah pasang muka serem"


"Hehehe bercanda kok Yank.. Jangan panik gitu aah..", ledekku


"Huff kamu ini" bikin aku takut aja"


Setelah kami selesai petting, muncul ideku untuk memotret pacarku yang kadang suka narsistik ini. Kuambil Handphone itu dan segera kuabadikan wajah Echa dengan bibirnya yang masih berlumuran sperma itu. terlihat sangat nakal. Terlihat Echa masih sibuk membersihkan ceceran sperma di wajahnya dan ia masih belum sadar saat ini ia sedang kurekam dengan kamera ponselku


"Hai Echa" Kata-kata hari ini?", sengaja kutanyakan sebuah pertanyaan agar ia menghadap ke kamera handphone yang kubawa.


"Hmmm.. Apa yaaaa" Ehhh.. kok direkam sih?", protes Echa sambil buru-buru ia tutup tubuh telanjangnya karena kamera ponselu terus menghadap ke arah tubuh telanjangnya


"Biar kamu bisa ngalahin kenakalan Anya, kamu harus kirim video ini ke Anya", jawabku membujuknya


"Oh bukan buat teman-temanmu kan?", tanya Echa


"Lah.. Malah berharap kamu? Ini buat Anya sayanggg..", bujukku


"Oh yaudah kalau buat Anya gapa.. Biar aku bisa buktikan aku ngga kalah! Kirim ke aku ya mas videonya", kata Echa menggemaskan


Aku setuju saja dan kukirimkan video itu ke WA pacarku. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat persaingan 2 sahabat siswi sekolah ini. Entah apa yang mereka cari kok bisa sampai bersaing demi memperoleh predikat siapa yang terbinal. Aku merasa ini hanya akal-akalan Anya saja yang suka memanas-manasi Echa yang lugu dan polos. Ia memang sengaja ingin merusak Echa entah apa tujuannya. Kalau Anya memang menurut kacamataku sebagai seorang lelaki adalah cewek gatel dari dulu.


"Ya Ampun... Nakal sekali ya aku bisa sampai berlumuran spermamu gini", kata Echa tak percaya melihat fotonya sendiri yang tampak sangat binal dan murahan, berbanding terbalik dengan kesehariannya baik di sekolah maupun saat jalan di luar yang selalu mengenakan kerudung untuk menutupi rambutnya yang indah.


"Iya dong, kamu harus pede yank.. kamu cantik dan sexy, sangat menggoda pastinya, dan aku semakin bangga punya kamu", kataku membujuknya


Lalu sebuah ciuman hangat, mendarat ke bibirku..


"mmmmhhh...", bibir lembut Echa mencoba menciumi bibirku


Aku balas saja ciuman lembutnya untuk membuatnya terasa nyaman..


"Jangan tinggalin aku ya mas, Aku dah kasih kamu semuanya...", kata Echa


"Semuanya? Kan aku belum coba memekmu yank...", kataku


"Iya, aku kan sudah kasih ijin kamu boleh setubuhin aku mas... Asal jangan setelah dapat enaknya terus kamu tinggalin aku gitu aja..", kata Echa merajuk manja sambil kembali mencium bibirku


"Iyaa Yank... aku masih ga berani ML. Aku masih belum siap kalau kamu hamil yank..", kataku


"Makasih ya Mas" Walau kadang suka mesum parah", kata Echa mulai manja.


"Iya, Aku sayang kamu Echa.. Emang aku mesum ya?", tanyaku pura-pura blo"on


"Mesum parah banget.. Sampai minta aku netekin temen-temenmu.. Huffff..", kata Echa cemberut


"Ya itu cuma fantasy ku aja sayang""


"Yakin Cuma fantasy? Bukannya pingin kamu realisasi?" Sekarang malah Echa yang seolah nantang aku


Merasa mendapat angin hijau, aku lanjut bujuk dia lagi. Kali aja dia mau melakukannya. Minimal dengan salah satu temanku dulu. Membayangkan benar-benar terjadi saja sudah membuat kontolku ngaceng lagi. Padahal normalnya, aku kalau sudah crot ya hilang nafsunya.


"Kamu mau Yank? Kalau mau aku kasih tau wajah teman-temanku. Mungkin kamu ada yang cocok", kataku


"Enggak ah, aku belum siap tahu sampai berbuat gitu!", protes Echa


Suasana hening sejenak, kulihat wajah Echa sedikit galau dengan memasang raut muka cemberut. Sesekali terlihat ia sedang berpikir sambil memandangi langit-langit rumahnya. Wajah Echa memang cantik, jadi secemberut apapun dia, Echa tetaplah cantik. apa lagi kalau sedang telanjang begini malah buatku nafsu dengan pacarku ini.


"Fantasymu kayaknya banyak banget ya mas?", tanya Echa tiba-tiba sambil memasang raut muka serius


"Banyak sekali Yank! Kenapa nanya itu?", tanyaku


"Ngga papa sih, Cuma ga habis pikir aja kalau cowok fantasynya bisa kayak gitu"", ujar Echa


"Ada yang salah kah kalau aku punya fantasy seperti itu?"


"Eeeerrr. Entahlah mas" Aku" bingung juga""


"Intinya aku tu kalau punya barang bagus pingin kupamerin. Ibaratnya nih aku punya motor keren, aku pingin mamerin motorku ke semua orang. Begitu juga saat aku punya kamu, jadi pingin kupamerin", jawabku


"Jadi aku disamain motor nih?"


"Eh bukan gitu sayangku manisku cintaku"itu Cuma perumpamaan aja"


"Terus maksudnya gimana? Apa yang harus kulakuin buat nurutin fantasymu?", tanya Echa membuatku terkejut


"Kamu mau nuruti fantasyku?", tanyaku tak percaya


"Aku sendiri juga ngga yakin mas.. Tapi aku coba deh asal aku sanggup dan ngga yang terlalu vulgar..", kata Echa membuatku melongo


"Beneran??? Maaf ya Yank, mungkin aku suka minta macem-macem. Tapi aku sayang kamu kok" Ini aku beneran serius Yank", kataku


"Iya aku tahu kok mas.. Yaudah jadi sekarang kamu minta apa mas?", tanya Echa lagi


"Apa ya? Pertama sih Aku kepingin kamu lebih nunjukkin kesexyanmu ke orang-orang Yank.. Coba kamu lebih sering pake baju sexy pas keluar rumah. Buat ningkatin rasa percaya dirimu aja untuk awal-awal. duh bayangin semua mata tertuju ke kamu aja kontolku sudah cekot-cekot lho Yank" Pasti aku bangga"


"Kok gitu sih mas? Berarti kamu minta aku buka jilbab dong biar sexy?", tanya Echa


"Enggak harus buka jilbab, kan banyak yang pake jilbab tapi tetap bisa tampil sexy?", jawabku mencoba meyakinkannya


"Hmmm.. itu kemanapun?? Atau pas sama kamu aja?", tanya Echa


"Awal sih kalau pas sama aku aja.. Tapi kalau kamu udah terbiasa dan nyaman pakai baju sexy ya silakan kemanapun dan sama siapapun terserah kamu"", jawabku


"Hmmm berani ngga ya aku.. Ya udah aku coba deh.. Tapi aku ga punya baju yang super sexy mas, kan kamu tau aku pake jilbab jadi ya ga punya yang terlalu sexy..", kata Echa


"Pakai aja yang menurutmu sexy dan ketat Yank", jawabku


"Berarti bener nih aku disuruh bagi-bagi tubuhku? Memperlihatkan lekuk badanku?" Tanya Echa serius


"Iya pelan-pelan aja biar kamu ga kaget.. Lama-lama aku yakin kamu akan suka dan pingin nyoba yang lebih. Soalnya kamu tuh binal..", kataku membujuknya


"Melakukan lebih? Ini aja aku udah malu banget mas terlihat sexy di depan cowok lain""


"Kenapa harus malu? Kamu harus bangga dong dikasih fisik nyaris sempurna. Temen-temenku aja pingin liat bagian-bagian tubuh pribadimu. Mereka pingin liat tetek dan memekmu lho Yank.. Itu bukti kalau kamu punya nilai dan kamu menarik. Kalau kamu gak bernilai mereka mah bakalan ogah liat kamu bugil", kataku


"Bener ya aku harus gitu? Gak akan marah?", tanya Echa dengan nada serius


"Aku akan cemburu banget tapi enggak akan marah.. Justru aku akan semakin nafsu tau liat kamu mamerin asetmu..", jawabku


"Gitu Ya mas.. Hmmmm.. Ok Deh ..", jawaban Echa membuatku dag dig dug


"Kamu mau melakukan fantasy yang mana? Pamerin asetmu atau netekin temanku?", tanyaku penuh harap


"Eehhhh" Apa ya masss" Hmm kayaknya aku pilih yang mamerin dulu aja deh""


"Beneran ya?", tanyaku penuh harapan


"Iya. Huff dasar cowok mesum. Untung aku sayang kamu"


"Hehehe.. Makasih ya Yank""


"Tapi Aku mau nanya mas. Misal nih aku dah sampai seperti yang kamu pingin. Aku apa boleh ML sama mantan atau temanku mas? kamu ijinin ngga?", tanya Echa kembali dengan wajah serius


"Ehhhh? Kamu bilang apa Yank?", tanyaku terkejut


"Misalnya mas.. Bukan beneran.. Tuh kan kamu pasti ga rela deh mas liat aku ML sama mantan pacar atau temenku. Mangkanya kamu jangan aneh-aneh mintanya", tantang Echa


Tak kusangka Echa akan menantangku seperti ini. Aku selama ini hanya membayangkan pacarku itu melayani lelaki-lelaki yang kukenal atau orang random saja. Tidak pernah aku berpikiran melihat Echa bersetubuh dengan mantan pacar ataupun teman sekolahnya sendiri di depan mataku sendiri. Apalagi aku khawatir cowok-cowok yang dia mau cowok-cowok ganteng. GILA! Perasaan macam apa ini. Marah, cemburu, kesal, iri, bercampur menjadi satu. Kok bisa-bisanya Echa membuatku cemburu separah ini. Bagaimana jika ia memang main di belakangku dan enak-enak dengan cowok-cowok ganteng yang dia kenal?


"Kalau itu.. Aku belum tau Yank" Aku takut kehilangan kamu.. Beda kalau kamu sama teman-temanku karena niatnya cuma have fun aja dan mereka juga tau kamu pacarku"


"Tuh kan kamu cemburu.. Kamu sih nantang-nantang. Hihihi.. Kamu tu Mas.. Lucu. Bercanda mas jangan dianggap serius. Dah lupain aja", ledek Echa


"Awas ya kamu.. Liat aja pembalasanku.", ancamku sambil menggelitiki punggungnya


"NGGA TAKUT. WEKKKK", balas Echa


#


Kemudian kami segera bangkit dari ranjang dengan kondisi tubuh yang masih telanjang. Echa bergegas menuju ke kamar mandi dengan hanya membawa handuk untuk membersihkan sisa-sisa sperma dan keringat yang ada pada tubuh mulusnya.


Akupun mendapatkan ide gila untuk sedikit mengerjai Echa. Itung-itung menjadi titik awal memamerkan pacarku itu. Kuraih HPku dan segera kupesan makanan dengan layanan online karena perutku yang memang terasa lapar karena sejak pagi memang belum sarapan. Kupilih restoran yang agak jauh dari rumah Echa agar tidak diantar terlalu cepat.


Kulihat driver yang kudapatkan adalah seorang bapak bapak yang sudah berusia sekitar 45tahunan dengan bintang 4.3


"cocoklah... hehehe", batinku


Aku kemudian melihat ke arah kamar Echa yang kunci kamarnya masih tersangkut di sana. Timbul niatku untuk mengerjai Echa dengan menyembunyikan kunci kamarnyabdengan maksud agar dia tidak bisa mengambil pakaian ganti setelah ia selesai mandi


"Hehehe... Mantab nih, rasain kamu yank.. Kamu sih..", kataku dalam hati sambil menyeringai mesum membayangkan apa yang akan terjadi.


Selang 15 menit Echa keluar dari kamar mandi, tubuhnya terasa harum dan terlihat sangat sexy karena handuk yang menutup tubuhnya hanya sebatas dari dada sampai dengan pantat saja. Terlihat sedikit pantat bagian bawahnya. Sepertinya handuk yang ia bawa memang kekecilan sehingga tidak mampu menutup semua bagian tubuhnya yang masih semi basah itu.


"Oh iya yank, nanti kalau ada Pak Ojol antar makanan kamu terima ya. Barusan aku pesen makanan, laper banget nih setelah buang sperma. hehe.. ini uangnya", kataku sambil menyerahkan uang 100ribuan


"Oke mas, nanti aku terima", kata Echa


Akupun bergegas menuju kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Sengaja kran tidak aku nyalakan agar aku bisa mendengar kondisi suara di luar. aku mulai mengguyur badanku dengan gayung dan mulai mandi. Setelah selesai membersihkan keringat, akupun memutuskan untuk BAB sebentar sambil menunggu bapak ojol datang mengantar makanan.


tak lama Echa menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Mas, kamu tahu kunci kamarku ngga? kok kamarku terkunci ya? Aku jadi ngga bisa ganti baju nih", tanya Echa


*Teng Teng Teng* belum sempat aku menjawab, terdengar suara pagar rumah Echa diketuk ketuk sepertinya dari bapak ojol


"Lho Mas... makanan pesananmu sudah sampek nih aku belum pakai baju, cuma pakai handuk aja ini. Kuncinya mana mas??", kata Echa sedikit panik


"Waduh dimana ya kuncimu" Hmmm" Gimana ya Yank? gapapa kamu terima dulu aja. Aku lagi BAB nih nanggung belum selesai", kataku beralasan


"Iihhh.. Gimana sih.. Masak aku Cuma pakai handuk aja.. Jangan gini dong yang bercandanya aduh kamu ini", protes Echa sepertinya sedikit kesal


*teng teng teng* terdengar gedoran pada pagar rumah Echa semakin keras. Sepertinya Pak Ojol sudah tidak sabaran


"Gapapa Yank kamu kan tinggal kasih uang aja, ga lama kok. Habis itu Pak Ojolnya pasti pergi", kataku sambil membayangkan sesuatu yang menarik akan terjadi


"Hmm ya udah aku terima aja dulu deh. Bapaknya gak sabaran banget dari tadi mukul-mukul gembok pagar rumah.", kata Echa sambil kudengar langkah kakinya menjauh dari kamar mandi


Akupun menunggu dikamar mandi sambil menahan sangeku. Kufokuskan indra pendengaranku agar aku bisa mendengar percakapan di ruang tamu. Sayangnya aku tidak mendengar suara apapun di ruang tamu. Aku putuskan berdiam diri agak lama di kamar mandi agar memberikan waktu buat si bapak ojol melihat keseksian pacarku yang hanya mengenakan handuk


15 menit kemudian akupun keluar kamar mandi dan mencari dimana pacarku, dan ternyata dia sedang ada diruang makan untuk menyiapkan makanan sambil masih tetap hanya memakai handuk yang hanya menutup dada dan pantatnya sebagian. Kulihat tubuh Echa basah dibeberapa bagian tubuhnya, terutama pada lehernya. Aku tidak yakin apakah itu air bekas dia mandi atau keringat tubuhnya. Karena jika itu air bekas mandi, seharusnya sudah kering karena sudah hampir setengah jam waktu berlalu sejak ia selesai mandi


"gimana yank?", tanyaku memastikan kondisi pacarku saat ini


"apanya?", jawab cewekku itu dengan jutek


"Ya bapak ojolnya. Ngga ada masalah kan?", tanyaku makin penasaran


"Ya kamu tuh mas yang jadi masalah", katanya sambil mencubit pipiku


"Aduududduhhh..", kataku menahan sakit


.


"Kamu tu ya kalau ngerjain aku ngga kira-kira,", kata Echa


"Ngerjain gimana? Ayo ceritain sini. hehehe", kataku.


"Iyaaa, pakai sembunyiin kunci kamarku segala sampai aku gak bisa ganti baju.. ", kata Echa


"Lho ya bukan gitu maksudku, kan kuncinya nyangkut dilubang pintu ya aku amanin, nanti kalau ada maling terus merkosa kamu gimana?", kataku beralasan


"Iyaaa... pinter ngeles ya kamu mas.. Yasudah ayo makan dulu, ini sudah aku siapin. katanya laper tadi", jawab Echa


"iyaaa.. Eh tapi bapak ojolnya gimana?", jawabku sambil langsung melahap makanan tersebut


"Iya gak gimana-gimana.. Untungnya Pak Ojolnya ga berani berbuat lebih jauh", jawab Echa serius dan semakin membuatku penasaran


"Jadi penasaran nih Yank.. Ceritain dong""


"Iya iyaa.. Kamu tuh mas... Jadi gini ceritanya, aku kan panik tuh ngga pakai baju cuma pakai handuk, sementara bapak ojolnya ngetuk pagarnya kenceng banget, aku malah takut nanti tetanggaku pada datang. Yasudah aku beranikan diri saja ke teras rumah cuma pakai handuk.", kata pacarku


"terus terus?", kataku semakin penasaran


"Ya kayaknya bapaknya sempat kaget gitu kok yang terima cuma pakai handuk, bapaknya jadi salting gitu. Matanya sepertinya sedikit lirik-lirik ke arah dadaku, aku kan jadi malu bangetttt mas... Terus kan ternyata totalnya cuma 86ribu, bapaknya ngga punya kembaliannya mas. Aku bingung harus gimana, aku putuskan untuk masuk ke dalam rumah lagi untuk nyari uang yang pas", lanjutnya


"kamu membelakangi bapaknya?", tanyaku


"Ya iya lah, kan aku harus masuk kerumah dulu", jawabnya


"hehehe.. terus gimana lanjutannya?", tanyaku makin sange mendengar cerita pengalaman eksib pacarku


"Ya gak gimana-gimana, aku masuk rumah dan aku cari-cari uang pecahan kecil" Aku cari di tasmu, di jaketmu, di dompetmu, ngga ketemu uang kecil", jawab Echa


"Kamu nyari-nyari tasku?", kataku sambil melirik posisi tasku yang tergeletak di lantai


"Iya.. Maaf mas.."


"Hehehe.. Wah beruntung sekali ya bapak ojolnya""


"Beruntung gimana mas?"


"coba sekarang kamu hadap belakang"


"Kenapa sih? Awas jangan macem-macem kamu mas.."


"Nggak nggak.. Lagian aku sudah hafal bentuk bokongmu Yank", jawabku


kemudian akupun mengambil hp dan memotret penampakan pacarku dari belakang dan kutunjukkan padanya


"Nih, bokongmu sexy banget kalau dari belakang. Handukmu lho ga nutupi bokongmu secara utuh. Apalagi tadi kamu nungging pas geledah tasku. pasti memekmu juga sedikit ngintip tuh Yank kelihatan sama Pak Ojolnya..", kataku semakin berdebar-debar


Echa terlihat kaget dengan penampilannya dari belakang. belahan pantatnya yang semok mulus itu terlihat hampir 70% karena handuk yang dia pakai memang gagal menutup tubuh bagian belakangnya dengan sempurna


"Lho mas... Beneran aku daritadi gini? Ya ampunnn... aku maluuuuu masss.. Bapaknya liat dong??", kata Echa panik


"Hehehe... Gak tau.. Apa perlu kamu japri orangnya?"


"Ngawur kamu mas"


"Hehehe" Seru khan?", godaku


"Nggak mas.. Seru apanyaa" Duh mas" aku malu tauu... Kamu ini nyebelin banget", jawab Echa.


"Gak Usah malu toh bapaknya ga bilang apa-apa khan? Kalau dia alim pasti ga berani liat. Hmmm.. Keren kamu Yank, Itung-itung kamu belajar memenuhi fantasyku. Toh palingan ngga akan ketemu lagi sama bapak itu.", kataku


"Keren apanya.. Malu Iya!", kata Echa kesal


"Sudah santai aja.. Terus setelah itu gimana Yank?"


"Ya aku ngga nemu uangnya mas, yasudah aku kasih semua aja..", kata Echa dan ia pun menjeda sedikit kalimat yang diucapkannya


"Kasih semua maksudnya? Uang kembalian dikasihin ke bapaknya semua", tanyaku


"Err.. I.. Iya gitu mas..", jawab Echa terbata-bata


"Hehehe.. Duh pasti gak bisa tidur itu bapaknya karena dapat pemandangan gratis", gurauku


"Masss.... Iiihhh ...", rengek Echa.


Saking bernafsunya aku mendengar cerita pacarku yang sedikit nakal itu, aku tidak tahan ingin menikmati tubuh Echa lagi. Kutarik handuknya yang tanggung itu dan dalam sekali tarikan tentu saja kain kecil itu langsung terlepas.


Tubuh indah Echa kembali tersaji dihadapanku. Walau sudah puluhan kali aku melihat pacarku telanjang, tetap saja pesona keindahannya tidak pernah membuatku bosan. Payudaranya tidak lah begitu besar tapi begitu terlihat proporsional dengan perutnya yang rata tanpa lemak dan tubuhnya yang mungil. Ditambah bulu jembutnya yang tipis terlihat rapi tidak berserakan kemana-mana membuktikan Echa memang pandai merawat penampilannya baik luar dan dalam.


Kulihat jelas bibir vagina pacarku itu sudah basah dan berlendir. Bahkan kulihat lendir memeknya sampai ada yang jatuh perlahan turun melalui kedua pahanya yang mulus.


"Duh harusnya tadi kamu nerima makanannya bugil aja sekalian Yank biar seru"


"Seru apaaaaa". Mas iniiiii"", kata Echa sambil menamparku dengan handuk kecilnya


"hahahahaha" gemes aku sama kamu", pungkasku dan kami pun kembali saling menikmati lagi malam itu


# bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 3 : Echa dan Rahasianya


POV : Echa


Hai semuanya, namaku Echa Karunia Fitria, teman-teman dan keluargaku biasa memanggilku dengan panggilan Echa aja. Saat ini aku berusia 18 tahunan dan akan segera lulus sekolah beberapa bulan lagi. Aku memiliki pacar bernama Rio dan hubungan kami sudah berjalan kurang lebih 1 tahun lebih. Aku berkenalan dengannya secara spontan melalui media sosial. Mas Rio tiba-tiba DM Instaku dan bilang ingin kenalan denganku. Kulihat dia hobby motor dan motornya keren sih menurutku. Singkat cerita aku pun menanggapi pesan-pesan dia. Mas Rio ternyata asik kalau diajak ngobrol. Tak jarang ia melontarkan jokes yang membuatku tertawa.


Dari perkenalan dan proses ngobrol itulah kami jadi kenal lebih dekat, dari yang awalnya hanya pembicaraan basa-basi hingga akhirnya Mas Rio menyatakan perasaannya padaku yang tentu saja membuatku terkejut. Aku merasa cocok dengannya dan mungkin dia adalah jawaban dari semua kegagalan proses perjalanan cinta yang telah kulalui selama ini. Akupun menerimanya sebagai pacarku dan kami resmi jadian.


Sebenarnya pacaran bukanlah hal yang baru bagiku. Aku pernah beberapa kali pacaran sebelum akhirnya bertemu dengan Mas Rio. Tetapi hubungan pacaranku dengan cowok-cowok sebelumnya tidak segila hubungan pacaran ku dengan mas Rio. Mungkin hanya sebatas makan, jalan, dan jajan saja. Paling mentok hal yang pernah kulakukan dengan pacar-pacarku sebelumnya hanyalah ciuman. Jadi Mas Rio bukanlah First Kissku.


Tetapi pada akhirnya hubunganku dengan pacar-pacarku berakhir dengan berbagai macam alasan yang tak penting kusebutkan disini. Hingga beberapa bulan yang lalu akhirnya aku berkenalan dengan Mas Rio.


Mas Rio adalah sosok lelaki yang baik dan sayang sama aku. Dia juga sopan kepada orangtuaku dan itulah yang membuat mereka percaya kepada Mas Rio dan mengijinkan kami saling mengenal lebih dekat. Dia juga perhatian sekali kepadaku dan keluargaku karena tak jarang ia bawakan makanan ringan jika main ke rumah. Cuma aku ga tau, sepertinya Mas Rio memiliki sisi darkside yang mungkin aku adalah cewek satu-satunya yang tahu. Mungkin juga mantan-mantannya juga tahu tetapi aku tidak pernah menanyakannya. Aku baru menyadari hal ini setelah beberapa bulan kami berpacaran. Selain baik kepadaku, ternyata Mas Rio juga seseorang yang memiliki nafsu seks yang tinggi. Wajar memang seorang lelaki mempunyai nafsu kepada perempuan. Kalau Mas Rio nafsu sama cowok baru gak wajar namanya. Hihihi


Aku pun berusaha memahami hal itu. Toh sebagai seorang perempuan, aku juga terkadang merasakan hal yang sama. Aku juga memiliki ketertarikan seksual kepada lelaki. Bahkan jika hasratku sedang menggebu, aku juga kadang suka masturbasi. Aku ingat pertama kali melakukan masturbasi adalah saat aku duduk di kelas 6 SD. Saat itu aku belum tahu apa yang kulakukan itu namanya disebut masturbasi.


Aku tak sengaja membaca komik yang ada adegan ciumannya, bukan hanya ciuman saja, bahkan tokoh lelakinya juga sampai meraba bagian dada si perempuan. entah mengapa saking menghayatinya aku melihat adegam itu, di bawah sana mendadak kemaluanku terasa berlendir sedikit gatal dan hangat hingga akhirnya kugaruk dan kuraba penuh rasa nikmat. Sampai akhirnya aku pun tahu apa yang kulakukan itu disebut masturbasi beberapa tahun kemudian. Aku jujur saja lupa dulu bagaimana awalnya aku paham dan kepikiran untuk masturbasi, yang jelas aku merasakan kenikmatan saat bagian tubuhku yang paling intim itu kumainkan dengan jariku. Hingga tanpa sadar aku mengulanginya lagi dan lagi karena memang senikmat itu. Apalagi saat usiaku semakin dewasa seperti saat ini, saat dimana gairahku semakin mudah naik, aku semakin sering masturbasi untuk melampiaskan gairah seksualku yang menggebu.


Urusan memuaskan lelaki, aku banyak diajari oleh Mas Rio. Mas Rio yang mengenalkanku dengan pengetahuan tentang seks. Ia yang pertama kali mengajari cara oral sex. Dia yang mengajariku bagaimana menyepong penis seorang cowok biar ngga kena gigi. Sakit katanya kalau kena gigi. Hehehe"


Awalnya tentu saja aku merasa jijik karena menurutku benda itu tak lain dan tak bukan hanyalah alat kelamin pria yang tugasnya untuk membuang air kencing. Awalnya aku enggan menjilati benda itu. Tetapi Mas Rio dengan sabar terus mengajariku. Ia juga perlihatkan beberapa film porno yang memperlihatkan adegan oral seks. Sejak saat itu aku tahu ternyata bentuk penis lelaki itu macam-macam. Ada yang kecil, ada yang sedang, ada yang besar, ada yang tebal, ada yang hitam, ada yang putih, ada yang mulus, ada yang berotot, ada yang belum disunat. Pokoknya banyak deh! Dan jujur saja aku paling suka liat penis aktor kulit hitam. Berasa besar banget soalnya. Terus badan mereka juga kebanyakan atletis dan tinggi besar dan berotot. Apalagi Penisnya itu lho, kayak pisang raja melengkung gitu.. besar banget. Hihihi.. Eh ini rahasia lho ya!


Tetapi Mas Rio lebih suka film dari Jepang. Kebanyakan ada ceritanya soalnya. Yaudah aku juga ngga masalah dan suka juga karena memang bagus ada ceritanya, walau kami ga paham apa yang mereka ucapkan tapi itu tidak terlalu penting bagi kami. Yang penting maksud dan tujuannya kami paham. Biasanya aku menonton film "drama" Jepang di ruang tamu rumahku saat sedang sepi. Karena seringnya aku dicekoki film dewasa oleh Mas Rio, lama-lama aku pun penasaran dan ingin mencoba melakukannya.


Oral sex menjadi hal pertama yang ingin kulakukan. Sensasi mengulum kelamin lelaki yang sedang mengeras itu benar-benar buatku penasaran. Ternyata rasanya tidak seburuk yang kukira bahkan seru juga, karena semakin Mas Rio melenguh dan mengeras penisnya semakin membuatku semangat merangsang dirinya. Akhirnya aku akui aku ketagihan mengulum penisnya. Aku bahkan sampai paham titik-titik mana yang membuatnya mendesah keenakan saat kujilat dan kukulum kemaluannya.


Tak cukup sampai disitu, Mas Rio juga mulai meminta ijin untuk menjilati kemaluanku. Awalnya aku merasa hal itu sangat menjijikkan dan tidak layak pacarku menjilati area kemaluanku. Bagiku area itu adalah area kotor yang tidak pantas untuk diciumi dan dijilati karena tempat keluarnya kencing, lendir, keringat, bahkan darah haidku. Tetapi Mas Rio membuktikan pikiranku itu salah. Ia menikmati menjilati vaginaku dan parahnya aku pun akhirnya menikmatinya. Aku bahkan rela mengangkang lebar-lebar agar lidah Mas Rio bisa menjangkau clitoris atau bahkan bagian paling dalam dari kemaluanku. Rasanya benar-benar tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Geli geli banjir lah pokoknya. Ternyata oral seks itu memang sangat nikmat dan membuat ketah


Tak puas seperti itu saja, Mas Rio mulai mengajakku ke tahapan kegilaan yang lebih lanjut. Kami sudah mulai berani telanjang satu sama lain. Ya, Jika ada kesempatan dia selalu mengajakku petting. Aku yang sudah sayang kepadanya, mau-mau saja melakukannya dengan pacarku itu. Karena Petting menurut kami adalah salah satu variasi ngeseks untuk kami yang masih takut melakukan ML. Petting adalah cara kami untuk melampiaskan rasa cinta dan nafsu kami yang sedang naik-naiknya. Apalagi Mas Rio selalu memuji kecantikan dan keindahan tubuhku saat kami petting. Siapa sih cewek yang gak suka dipuji? Dia juga selalu mengatakan semakin sayang kepadaku dan tidak ingin berpisah denganku. Aku sih suka dia seperti itu, aku merasa dengan begitu ia memang serius dengan hubungan kami ini semakin terikat kuat.


Tetapi, walau semesum itu pacarku, ia tidak berani mengajakku sampai ML. Ia selalu bilang tidak siap jika aku hamil. Iya sih, memang kalau aku sampai hamil itu akan menjadi aib yang sangat memalukan bagiku dan keluargaku. Secara aku di sekolah termasuk salah satu anak yang berprestasi (sombong dikit boleh ya? Hihihi). Setidaknya aku masih bersyukur memiliki cowok yang masih berusaha menjaga keperawananku. Walaupun demikian, sebenarnya aku sudah siap jika harus menyerahkan keperawananku ke Mas Rio, aku sayang padanya dan aku rela berikan keperawananku untuknya. Karena aku yakin dia lah yang kelak akan menjadi suamiku setelah apa saja yang telah kami perbuat, hubungan kami sudah seintens itu, aku hanya ingin dia tidak meninggalkanku setelah semua hal yang sudah kami lakukan.


Tahap tahap pun berlalu, sisi gelap Mas Rio semakin menjadi liar. Mas Rio merasa tidak puas hanya dengan petting denganku. Walau kalau petting dia selalu crot, tetapi ia merasa tidak puas dan ingin berbuat sesuatu yang lebih menantang. Ia memiliki fantasy yang menurutnya lebih menarik dan menggairahkan baginya daripada mengambil keperawananku. Baginya, aku terlalu mubadzir jika hanya ia sendiri yang menikmatiku. Karena itu Mas Rio selalu memintaku membayangkan cowok lain Ketika kami sedang saling merangsang satu sama lain. Ia selalu memberiku sugesti nakal yang jujur saja awalnya aku bete dan ogah menuruti sugesti-sugestinya.


Aku tentu saja menolak pikirannya yang menurutku tidak masuk akal! Bagaimana bisa dia berpikiran seperti itu. Aku yang selalu berusaha menjaga hatiku untuknya, malah dimintanya untuk membayangkan lelaki lain. Aku tidak mau dan jelas saja aku tersinggung dengan ucapannya. Tetapi Mas Rio tetap merayuku, ia terus membisikiku dengan godaan-godaan nakal seperti membayangkan penis pria yang lebih panjang dari miliknya. Ia pun juga meyakinkanku kalau dirinya benar-benar sayang kepadaku. Ia hanya ingin melihatku bahagia.


Awalnya aku tidak paham dengan ucapannya. Sampai suatu ketika ia pernah berkata kepadaku bahwa ia merasa tidak bisa memuaskanku. Ia berkata kalau sudah 1x crot, ia tidak bisa bergairah lagi. Karena itu dia selalu memintaku berfantasy dengan lelaki lain. Aku sebenarnya kasihan dengan pacarku. Semesum dirinya, dia masih memikirkan kepuasanku. Jujur saja, iya memang aku terkadang merasa tidak puas dan kecewa kalau pacarku sudah keluar. Padahal aku masih belum puas. Tetapi ya mau gimana, aku pasti tidak berani protes dan terpaksa menahan semua birahiku. Eh tapi ini rahasia ya, Mas Rio jangan sampai tahu.


Mas Rio terus menggoda imanku dan meyakinkanku semua ini hanya sebatas fantasy saja. Digoda terus-terusan seperti itu, aku tanpa sadar ikut terbawa sugestinya yang nyeleneh lalu diam-diam mulai memikirkannya. Walau aku tidak mengakui ke Mas Rio kalau aku sebenarnya sange juga kalau bayangin hal itu. Aku masih malu mengakuinya ke cowokku sendiri jika pada akhirnya aku diam-diam menuruti sugestinya.


Mendapatkan ijin seperti itu tentu saja aku diam-diam senang. Aku hanyalah seorang gadis normal yang juga memiliki nafsu seksual dan ketertarikan dengan lawan jenis, aku akhirnya tergoda untuk melakukan sugesti Mas Rio dengan membayangkan cowok lain. Diam-diam jika aku petting, aku jadi membayangkan cowok lain yang menikmatiku. Kubayangkan penis cowok lain karena ada kalanya aku juga bosan dengan penis Mas Rio yang SNI (*Eeehhhh..).


Yang menjadi objek fantasyku adalah salah seorang teman sekelasku, sebut saja namanya Bayu. Dia adalah kapten tim basket sekolah, dia juga sering 1 kelompok denganku dalam hal mata pelajaran. Dia tampan, tinggi, atletis serta rupawan sehingga banyak cewek-cewek di sekolah yang mengidolakan dirinya.


*Sssttt.. Rahasia ya! Ini Cuma fantasy aja kok. Mas Rio sih yang ngajarin*, itulah yang selalu menjadi pembenaran dalam fantasy yang diam-diam sering kubayangkan


Aku sejujurnya sudah kecewa dengan diriku sendiri, apakah benar aku tidak bisa setia? Apakah ini karena aku terus menerus dicekoki oleh fantasy Mas Rio? Atau Apakah ini semua untuk mengobati hasratku yang selama ini kutahan karena Mas Rio terlalu pengecut untuk menyetubuhiku? Akhirnya aku memutuskan menuruti fantasy gilanya dengan membayangkan lelaki lainlah yang justru menyetubuhiku.


Awalnya aku tidak punya gambaran tetap siapa yang kujadikan bahan fantasy. Terkadang aku membayangkan artis lokal, artis barat, atau artis korea. Kadang aku juga bayangkan beberapa artis dewasa yang kuingat wajahnya yang datang menyetubuhiku. Tetapi hasilnya tidak seperti yang kubayangkan dan tidak sesuai ekspektasiku. Mereka tetap saja terlalu fana bagiku.


Berbeda ketika aku membayangkan sosok yang kukenal, seperti misalnya kubayangkan Bayu, temanku yang juga kapten tim basket sekolah itu. Aku merasakan hubungan yang lebih dekat saat membayangkan dirinya. Keseharian kami yang selalu bertemu membuatku fasih membayangkan dirinya. Suaranya, aroma wangi parfum maskulinnya, serta detail apapun yang ada pada dirinya bisa terbayangkan olehku. Mungkin hanya dua yang tidak bisa kubayangkan darinya. Tubuhnya ketika telanjang, dan bagaimana bentuk serta ukuran penisnya. Aku masih tidak tahu. Hihihi.. Jadi kubayangkan saja penisnya besar dan keras karena memang tubuh dan staminanya terjaga karena rajin olahraga.


Kembali lagi ke Mas Rio, Benar dugaanku, Permintaannya kepadaku semakin aneh-aneh dan gila. Mas Rio Mulai memintaku berpakaian lebih sexy dari biasanya, serta aku dimintanya lebih berani menggoda lelaki lain dengan pakaian sexyku. Ditambah lagi sahabatku Anya juga sama saja, ia juga sering memanas-manasiku dengan mengirimkan foto-foto mesranya dengan pacarnya. Tentu saja ini sudah bukan fantasy lagi, karena harus kulakukan di dunia nyata.


Sebagai gadis normal yang masih memiliki budaya timur yang kental, aku awalnya menolak request nyeleneh pacarku itu. Tetapi penolakanku hanya sementara saja, semakin kesini aku malah semakin tertantang karena terus-terusan dipanas-panasi Mas Rio. Aku malah ingin menuruti permintaannya yang diluar batas itu. Apa hasratku sama gilanya dengan Mas Rio? Entah lah tapi aku juga lama-lama menyadari perubahan diriku.


Walau mulutku berkata tidak, tetapi pikiranku selalu ingin mencobanya. Siapa sih cewek yang ga suka dipuji kecantikannya? Siapa sih cewek yang ga suka dipuji bentuk badannya? Aku kadang memang suka penasaran bagaimana penilaian mata para lelaki ketika memandangku. Sepertinya benar kata Mas Rio, aku butuh pengakuan akan apa yang kumiliki untuk membuktikan seberapa menariknya diriku di mata lelaki


Akhirnya aku pun merasa tertantang dan menuruti permintaannya"


Kegilaan bermula saat Mas Rio tiba-tiba bilang ingin memperlihatkan foto sexyku kepada teman-temannya. Aku pacarnya yang seharusnya ia jaga tubuhku, malah akan memamerkan foto-foto sexyku ke teman-temannya! Tapi aku diam-diam juga malah excited dong. Aku juga penasaran bagaimana rasanya sengaja berpakaian wexy dihadapan para lelaki. Eh ini bukan berarti aku binal ya. Aku hanya penasaran penilaian orang-orang terhadapku itu seperti apa sih sebenarnya. Jadi ya diam-diam aku tertantang menuruti request Mas Rio. Aku beranikan berfoto lebih sexy dan harap-harap cemas menunggu seperti apa penilaian teman-temannya tentangku.


Benar saja mereka tergoda sama aku. Kata Mas Rio, mereka memuji keindahan tubuhku dengan tanktop ketat nan sexy yang mencetak lekuk dadaku. Mereka bahkan bayangin bagaimana bentuk serta isinya dan berharap aku mau netekin mereka. Gila gak sih, tubuhku yang seharusnya di jaga sama Mas Rio malah dibayangkan untuk meneteki teman-temannya dengan payudaraku. Ahh, aku jadi sange kalau membayangkan itu beneran terjadi. Pasti geli banget putingku nanti diemut dua-duanya. Hmmmmphhh.. Tapi aku masih malu mengakuinya terutama ke Mas Rio. Apalagi mereka itu teman-teman Mas Rio.


Tetap saja ada yang mengganjal dan tidak etis untuk dibayangkan oleh pacarku sendiri. Walau berkali-kali Mas Rio tegaskan semua akan baik-baik saja tetapi tetap saja aku ragu melakukannya di dunia nyata. Sekali aku iyain, pasti dia bakalan minta lagi dan lagi. Kalau Cuma bayangin mungkin aku masih bisa menerima dan mau melakukannya. Tetapi kalau di dunia nyata? Aku masih takut!


Kegilaan pun berlanjut saat Mas Rio sengaja mengerjaiku dengan menyembunyikan kunci kamarku sehingga aku tidak bisa mengambil baju setelah mandi. Padahal saat itu, aku harus menerima orderan makanan dari ojol. Parah sih emang ini kejadiannya. Maafkan aku ya Mas Rio yang kuceritakan kepada mas hanya sebagian kecil saja. Ada hal lebih besar yang sebenarnya terjadi saat itu


Saat aku sudah kesal dengan ulah Mas Rio, aku dengan terpaksa menerima makanan yang dibawakan oleh Pak Ojol. Kalau boleh mengingat-ingat Pak Ojol itu kulitnya kecokelatan, berkumis tebal, badannya super gemuk dan bau badannya ya ampun.. Maaf ya pak kalau menyinggung. Tapi bapak memang bau badannya. Mungkin ya karena kerja di jalan terus ya jadi aku berusaha menerima hal itu.


Wajah Pak Ojol itu kayaknya kesal sekali, mungkin karena aku buka pintunya terlalu lama dan membuang banyak waktunya sehingga ia tidak bisa segera mengambil orderan lainnya. Aku terkejut saat menyadari Pak Ojol itu tidak menungguku di luar pagar tapi ternyata ia sudah sampai masuk ke teras rumahku. Ia sempat terlihat terkejut melihatku berjalan ke teras rumah hanya menggunakan handuk. Tetapi sepertinya ia berusaha tetap staycool dan terlihat profesional dengan tidak tergoda dengan penampilanku yang terlalu vulgar


Akhirnya, kuterima pesanan makanan itu dan kuserahkan uang 100ribunya kepada Pak Ojol. Tetapi ternyata uang dari Mas Rio kebanyakan. Katanya ngga ada kembalian dan minta aku bayar uang pas. Aku bingung dong harus gimana. Kucari-cari di tas, jaket, dan dompet Mas Rio sama sekali ngga ada uang kecil. Sementara dompetku ada di kamar yang terkunci itu.


Tiba-tiba pas aku lagi kebingungan mencari uang kecil, Pak Ojol itu memanggilku


"Mbak mbak sini"", katanya dan akupun menghampirnya karena ku kira ia punya kembalian


Lalu tiba-tiba ia berbisik ke aku


"Kamu ga usah bayar tapi saya boleh liat badan kamu", kata Pak Ojol sambil berbisik di telingaku


Aku terkejut saat itu saat mendengar permintaannya yang diluar. Ingin sekali ku berteriak minta tolong karena ucapan Pak Ojol ini aku rasa sudah kelewatan. Tetapi mau minta tolong sama siapa, bukannya aku malah akan semakin malu kalau tetangga-tetanggaku kesini dan pasti mereka akan melihatku hanya pakai handuk seperti ini?


Aku tidak menolak dan juga tidak mengiyakan karena memang inilah yang diinginkan Mas Rio. Ia memang ingin aku menggoda pria lain bukan? Tetapi Apakah harus secepat ini aku melakukannya? Kalau boleh memilih, aku minta training dulu sebelum benar-benar melakukannya. Dasar ini karena keisengan Mas Rio. Dia memang sudah benar-benar ingin memamerkan diriku ke orang lain. Kalau boleh memilih lagi, setidaknya aku ingin pria itu adalah sosok yang ganteng dan menarik. Jangan yang sudah tua dan wajahnya seperti inim.


*Tapi aku harus bagaimana? Apakah aku harus diam saja? Ataukah aku harus melawan untuk menjaga kehormatanku sebagai seorang perempuan? Tapi bagaimana kalau beliau malah nekat dan berbuat kasar kepadaku?*, hatiku mulai bimbang ketakutan


"Mbak? Kok malah ngelamun?"


"Ehhh.. Iya pak""


"Buka dong. Saya mau lihat badan kamu mbak", pinta bapak ojol itu lagi semakin membuatku ketakutan


"Tapi saya malu pak"", jawabku


"Bukannya kamu sengaja godain saya? Ayo buka atau saya perkosa kamu!", bapak ojol itu mulai mengancam


"Ja.. jangan pak.. Jangan berbuat yang enggak-enggak..", kataku terpatah-patah karena mentalku belum siap menghadapi situasi seperti saat ini


Aku hanya berharap Mas Rio berubah pikiran dan menolongku disaat genting seperti ini. Tetapi aku juga tau hal itu sebenarnya tidak mungkin, karena Mas Rio memang menginginkan hal ini terjadi kepadaku. Bukankah Ia sering berfantasy membayangkanku diperkosa orang. Mungkin ini adalah jawaban dari harapannya selama ini.


"Hmmm.. ini uangmu saya kembalikan. Tetapi saya ijin buka handukmu ya? Saya mau lihat badanmu"", kata Pak Ojol sambil menyerahkan uang 100ribuan Mas Rio kepadaku lagi.


Aku hanya berdiri mematung ketakutan saat tangan hitam Pak Ojol itu mulai melepaskan simpul handukku dengan mudahnya tanpa perlawanan. Tubuhku langsung terbuka seutuhnya dihadapan Pak Ojol itu. Beberapa saat ia tersenyum mesum memandangi ketelanjanganku. Betapa malunya diriku saat ia tak berkedip sedikit pun ketika melihat kondisiku yang tengah telanjang di teras rumahku sendiri


"Putih bener badanmu mbak.. Teteknya juga bagus.. gak tepos dan segerrr bulettt" Ahh" saya jadi kepingin nyusu pentilmu mbak"", kata bapak ojol cabul itu


Aku hanya terdiam ketakutan dan berharap ini semua cepat selesai. Ingin rasanya kusilangkan tangan untuk menutup kedua buah dadaku, tetapi ia tahan tanganku. Bapak ojol itu lalu memintaku mengangkat kedua tangan keatas kepalaku. Posisi tubuhku saat ini benar-benar memalukan dengan kedua tangan berada di atas kepala seperti ini justru menambah keseksianku dihadapannya. Payudaraku semakin membusung menantang sambil memamerkan kedua ketiakku kepada bapak ojol itu


Bapak Ojol itu kemudian mengambil handphonenya dan mulai memotret tubuh telanjangku beberapa kali. Sumpah aku malu dan takut sekali saat itu. Bagaimana jika ia sebar foto telanjangku dan tanpa sengaja teman atau keluargaku ada yang melihatnya? Mau ditaruh mana mukaku?


"Ah sialan kamu sexy sekali" Ketiakmu bersih dan mulus sekali mbak" Bisa nih buat bacolan saya..", kata Pak ojol sambil ia garuk selangkangannya yang masih terbungkus celana


"Pak" Sudah.. Saya malu"", pintaku


"Hehehe.. cepat banget kalau saya sudahi sekarang.. Rugi saya bayar 100 kalau kamu Cuma sebentar kasih liat badan kamu ke saya. Sekarang hadap belakang", ujar Pak Ojol


Dengan pasrah kuhadapkan tubuhku ke arah tembok. Aku tidak bisa melihat apa yang dilakukan bapak itu karena ia berada di belakangku. Ia hanya memintaku tetap menghadap ke tembok dan kedua tanganku dimintanya diangkat tinggi-tinggi.


"Nunggingin bokongmu", pinta bapak ojol itu


Lalu kuturunkan sedikit pinggulku dan kuposisikan pantatku sedikit menungging kebelakang. Aku tahu ia hanya berharap pose seksi dariku. Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan mulai meraba pantatku. Aku hendak protes namun ia tahan tubuhku dan ia pojokkan tubuh telanjangku ke tembok


"siapa suruh kamu gerak? Saya minta kamu diam" Saya sudah bayar 100ribu ke kamu", ancam bapak itu


Aku yang ketakutan akhirnya hanya bisa mengikhlaskan bongkahan pantatku diraba bapak ojol itu. Sesekali ia remas pantatku dan sesekali pula ia tepuk pantatku pelan. Kakiku rasanya lemas saat tangan bapal ojol itu mulai berani meraba area intimku dari belakang. Tangannya dengan nakal bermain-main dibibir vaginaku yang malah berlendir disaat seperti ini. Tangannya bergerak nakal terus merangsang kemaluanku. Kutahan sebisanya agar aku tidak mengeluarkan suara desahan. Bagaimanapun diraba pada area vagina memang bisa merangsangku. Aku hanya bisa pasrah dan tidak berani melawannya. Aku tahu ia tidak akan segan menyakitiku jika aku tidak menuruti permintaannya.


*Cuppppp*


Tiba-tiba kurasakan bapak itu mulai menciumi kedua pantatku dengan liar. Rasa gelinya benar-benar menyiksa imanku. Antara malu tapi mau, aku biarkan lelaki yang usianya setara papaku itu menciumi bongkahan pantatku yang sedang menungging dihadapannnya. Kemudian ia buka belahan pantatku dengan kedua tangannya. Lidahnya pun menyapu tepat diantara lubang kemaluan dan lubang anusku. Kepalaku sampai terdongak saat lidahnya yang hangat dan kasar itu terus bergerak di sekitar kedua lubangku. Tidak cukup sampai disitu, ia bahkan membuka lebar belahan pantatku dan lubang pantatku langsung disentuhnya dengan jemarinya yang kasar. Ia gerakkan tangannya memutar perlahan di lubang pantatku. Rasanya menjadi semakin tak karuan. Mas Rio saja tidak berani bermain di area tersebut!


"Aahh.. Pak.. jangan disitu.. Kotor pak"", pintaku


"Kamu sudah saya bayar 100ribu ga usah banyak protes", kata bapak ojol mesum itu


"Tapi".", aku tak bisa melanjutkan perkataanku karena memang aku tidak punya hak untuk protes


*Jika boleh memilih, kukembalikan saja uang 100ribu itu daripada bapak ojol ini terus menyebut kata itu. Seolah aku telah jual diriku kepadanya seharga 100ribu!*, kesalku dalam hati


Kubiarkan tangan kasarnya bermain lagi di lubang pembuanganku. Rasanya geli luar biasa hingga kakiku gemetaran hebat. Lubang pantatku bahkan kurasakan mulai cenut-cenut karena terus dirangsang oleh tangannya yang kasar. Ia kemudian mulai menyusupkan tangannya ke lubang pembuanganku itu perlahan dan hendak menjebol lubangku dengan jari telunjuknya.


"Ohhh.. bapak" jangan disanaa"", pintaku memelas


"Kamu pilih saya main-main dilubang pantatmu atau lubang memekmu? Heheheh", bisiknya sambil terkekeh menyebalkan


Sebuah pilihan yang tidak menguntungkanku sama sekali. Siapa juga perempuan yang akan memilih dicabuli lubang vagina atau pantatnya oleh seseorang yang dikenal seperti ini.


"Jawab.. mana yang boleh saya jamah?"


"Memek.. Memek saya aja pak", jawabku pada akhirnya


Kuputuskan memasrahkan kemaluanku kepadanya. Karena bagaimanapun area tersebut sudah sering dijamah Mas Rio jadi aku rasa tubuhku tidak akan ada masalah. Daripada ia harus menjamah lubang pantatku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku jika kuijinkan dia mencabuli lubang anusku.


"Yasudah sekarang Mbak hadap saya lagi. Tangan tetep diatas ya biar makin sexy posenya. Heheheh", pinta Pak Ojol


Aku pun membalikkan wajahku lagi kepadanya..


Tanpa permisi, ia langsung meremas-remas payudaraku serta mencaplok puting susuku dengan bibirnya yang berkumis lebat itu. Rasa gelinya luar biasa parah. Aku sampai mengejan kembali menahan nafas serta suaraku agar tidak terdengar oleh Mas Rio. Aku pun tak lupa sering melirik ke arah luar rumahku, memastikan tidak ada orang yang lewat di jalanan depan rumah. Bisa gawat kalau sampai ada orang yang lihat. Parahnya walau aku ketakutan, vaginaku malah justru langsung banjir saat bibirnya yang kasar melahap putingku dan melumat kedua putting susuku penuh nafsu


Gila, Bapak itu menjilati putingku lebih ganas dibandingkan Mas Rio. Aku sampai kelojotan dan vaginaku rasanya semakin banjir saja diserang dan diperlakukan seperti ini. Bibir kasar bapak ojol itu bergerak lincah kemana-mana menyusuri tubuhku. Pundakku, Leherku, ketiakku, payudaraku, semua menjadi target serangan jilatan lidahnya ke tubuhku.


Ingin sekali aku protes karena ia tadi hanya meminta mencabuli vaginaku saja, tidak ada kesepakatan tubuhku akan dijilati dan diemut seliar ini. Namun kuurungkan karena pada akhirnya aku pun mulai birahi menikmati jilatan serta sentuhan-sentuhan nakalnya pada area sensitifku. Permainannya jauh berbeda dengan gaya Mas Rio yang hanya menyerang payudara dan vaginaku saja.


Tanganku mencengkeram daun pintu dan Pak Ojol itu terus menghisapi putting ku penuh nafsu. Kakiku bahkan sampai gemetaran saking takutnya apa yang terjadi padaku. Dalam kegelapan temaram teras rumah ini, tetanggaku pasti tidak ada yang akan menyangka seorang Echa yang terkenal gadis baik yang ceria di perumahan ini sedang disedot putingnya oleh bapak ojol. Pak Ojol kembali fokus menyerang payudaraku saat ini, setelah ia puas membuat seluruh tubuhku basah terkena air liurnya. Ia jilati terus putting susuku sambil digigitnya kecil-kecil membuatku meringis kesakitan. Seolah-olah putting susuku adalah sesuatu yang lezat dan membuatnya begitu semangat untuk menikmatinya. Bukan hanya yang kanan saja, tetapi ia juga menghisapi kedua putting susuku secara bergantian dan sangat liar.


Tindakannya itu semakin membuatku kegelian lebih parah dari sebelumnya. Ia tidak hanya memainkan putting susuku saja. Bibirnya juga kembali merambah ke leherku. Ia ciumi leherku penuh nafsu dan kumis lebatnya membuatku semakin kegelian dan tak terasa vaginaku mulai basah dibuatnya. Gerakan bibirnya tak karuan menyerang tubuhku, ia kembali menciumi payudaraku penuh nafsu sambil sesekali ia jilati puting ku. Serangannya sangat sulit ditebak sehingga membuatku menjadi penasaran apa yang akan dilakukannya setelah ia lakukan ini dan itu. Tubuhku semakin gemetaran hebat dan aku tetap berusaha menjaga keseimbangan yang rasanya kakiku sudah begitu lemas. Kumisnya yang tebal itu memberikan sensasi geli yang berbeda dibandingkan saat Mas Rio mengulum putting susuku. Ditambah lagi ia mulai meremasi payudaraku secara kasar dan tempo tak beraturan membuatku semakin kewalahan menerima serangan penuh nafsunya.


"Badan kamu bagus mbak""


"PAK SUDAH".", pintaku memohon


"Sshhh.. jangan kenceng-kenceng ngomongnya mbak nanti ada yang denger", katanya lirih berbisik di telinga sebelah kananku


Tubuh telanjangku menggigil menahan malu. Tubuhku dijamah dan dijilati dengan leluasa oleh pria yang usianya kisaran 45 tahunan itu. Ia pun mencoba mencium bibirku dan aku buru-buru menghindari bibirnya. Aku masih tidak ingin berciuman dengan lelaki selain Mas Rio. Tetapi ia tidak menyerah, ia terus memaksa mencium bibirku dan terasa cengkeraman kasar sedikit ia berikan kepadaku. Sedangkan tangan satunya meraba area intimku yang sudah basah berlendir membuatku mendesah perlahan.


"Ga usah sok jual mahal kamu mbak" Memek kamu aja sudah basah gini", katanya sambil menekan kedua pipiku dan langsung ia cumbu bibirku dengan kasar tanpa ampun


Aku sampai gelagapan dan berusaha menghindari mulut Pak Ojol itu. Bukannya sok jual mahal, tetapi memang aroma mulut Pak Ojol itu sangat bau membuatku tidak nyaman. Campuran antara rokok dan tenggorokan yang kering kekurangan air. Aku sampai menahan nafas saat lidahnya memaksa lidahku untuk dilumatnya habis. Bibirku terus dilumat dan dijilatinya. Sesekali ia juga menyedoti bibir atas dan bawahku bergantian.


Jantungku berdebar semakin kencang. Perasaan apa ini? Tubuhku tidak menolak perlakuan kasarnya kepadaku, bahkan kemaluanku juga malah semakin basah saja karena terus dirangsang dengan kasar olehnya. Aku tanpa sadar mulai sering mendesah diperlakukan seperti itu. Apalagi tangannya yang kapalan itu terus meraba kemaluanku. Tekstur jemari Pak Ojol begitu kasar dan terasa sedikit sakit saat ia mengucek veginaku dengan cepat. Kakiku kelojotan dan aku mati-matian menahan orgasmeku. Gila sih, kemaluanku malah dikocok oleh pria yang tidak kukenal. Kemaluanku bahkan sampai kedutan dan aku berusaha menahan mati-matian rasa ingin kencing yang menjalar syaraf-syaraf vaginaku. Jadi seperti ini rasanya dicabuli orang!


Aku tidak ingin ia tahu aku diam-diam menikmati perlakuan kasarnya. Ia semakin keras mengocok kemaluanku saat menyadariku yang mulai menggigit bibir bawahku Tanda aku menahan sesuatu. Bukan hanya dikocok saja kali ini, tetapi ia juga tusuk-tusuk dengan jari tengah dan telunjuknya bersamaan. Vaginaku semakin tak berdaya dibuatnya. Aku yang sudah menahan untuk tidak mendesah akhirnya kecolongan menerima rangsangan seliar ini dari bapak-bapak yang tidak ku kenal.


"Ouuuhhhh.. Pak"", aku pun mendesis perlahan dan tak sadar kedua kakiku kuperlebar agar ia semakin bebas mencabuli vaginaku


Cairan encer mulai menetes keluar karena tangan bapak ojol yang terus menyiksa imanku. Sepertinya vaginaku sudah memohon-mohon untuk terus dirangsang dengam hebat. Tanpa sadar aku peluk tubuh Pak Ojol saat ia mencabuli kemaluanku. Aku rapatkam tubuhku dan berharap ia tidak menyudahi itu.


Pak Ojol tersenyum nakal melihatku yang sudah pasrah merem melek keenakan sambil memeluk tubuh gemuknya. Ia semakin leluasa menusuk-nusuk vaginaku dengan kedua jarinya yang besar-besar karena kakiku sudah mengangkang lebar memberinya ijin untuk mencabuliku. Rasanya vaginaku benar-benar sudah tidak tahan untuk disetubuhi. Kakiku sampai terus gemetaran saat Pak Ojol terus mencabuli kemaluanku tanpa henti. Kepalaku terdongak, mulutku menahan rintihan yang tanpa kusadari terdengar makin lama makin kencang dengan meringis sambil memejamkan mata menahan nikmat yang tiada terkira.


"Malah ngangkang kamu.. Sengaja godain saya ya?", ujar Pak Ojol menyadari kakiku yang malah membuka lebar dan ia pun buru-buru membuka celananya


"Sudah pak.. Sudah..", pintaku walau aku berharap ini semua tak berhenti


Rasanya sudah lama aku tak dirangsang selama ini oleh Mas Rio. Ia akhir-akhir terkesan buru-buru keluar tanpa peduli aku juga butuh kepuasan saat kami saling bergumul. Ini terlalu nikmat buatku, walau ada rasa jijik yang kurasa tetapi tetap ini terasa begitu menggairahkanku. Ya kuakui aku menikmatinya. Mungkin sebagian diriku juga kesal karena Mas Rio mengerjaiku keterlaluan. Jadi sekalian saja, sudah terlanjur nyemplung jadi biar basah sekalian.


Kulihat bapak Ojol itu sudah mengeluarkan kemaluannya. Mataku terbelalak melihat kemaluannya yang bentuknya mengerikan. Bulu-bulunya keriting panjang-panjang dan terlihat tidak terawat. Mungkin ia tidak pernah sekalipun mencukur bulu kemaluan selama hidupnya hingga bentuknya berantakan tak karuan seperti itu. Ketakutanku tidak cukup sampai disitu, penis Bapak Ojol itu warnanya begitu hitam dan kepalanya berwarna kemerahan dengan bentuknya yang tebal walaupun tidak begitu panjang. Biarpun begitu panjangnyan mungkin sama dengam milik Mas Rio, hanya saja terlihat lebih tebal dan mengerikan


"Gesek-gesek aja ya mbak", katanya sambil ia mulai mendekatiku sambil mengayun-ayunkan penisnya dihadapanku


Aku semakin ketakutan, sebentar lagi kemaluanku akan berjumpa dengan batang penis seorang lelaki yang usianya mungkin 3x lipat dari usiaku. Tubuh gendutnya kemudian dipepetkan ke tubuhku sehingga kali ini posisiku terhimpit diantara tembok dan tubuh gemuknya. Aroma tubuh bapak itu tak kalah menyiksa hidungku sehingga memaksaku sesekali menahan nafas agar tidak mencium aroma tubuh gemuknya. Kurasakan kemaluannya yang tebal mulai ia gesek-gesekkan ke bibir vaginaku


"Sssshhh.. Memek kamu becek sekali mbak" kayaknya minta dientot"Masukin ya?", ucapnya menggodaku


"Jangan pak"" aku mencoba bertahan dan tidak ingin terlihat murahan


"Sssshhh.. Kontol saya jadi pingin masuk mbak" Memek kamu becek sekali"


"Pak Jangan"", aku berusaha menghindari kepala penisnya yang hendak masuk ke bibir vaginaku yang memang sudah licin


"Ayolah.. memekmu juga sudah licin"", bisiknya


"Pak sudah pak". Sudaahhh" Jangan pak.. Ssshh.."


Penis bapak ojol itu terus bergerak-gerak menggoda imanku, mungkin dalam sekali sodokan benda keras itu sudah ambles ke dalam liang senggamaku. Tetapi Bapak Ojol itu terus menggesek-gesekkan dan mempertemukan kemaluan kami hanya sebatas kepala penis ketemu bibir vagina saja. Kulihat bapak itu merem melek keenakan sambil tubuh besar-besarnya terus bergerak menindihku hingga terhimpit semakin kuat pada tembok


***Teng teng teng teng Nasi Goreengggg***


Dari jarak beberapa meter, sepertinya berasal dari portal gang rumahku, terdengar suara khas ketukan rombong Mang Ujang, penjual nasi goreng yang sering lewat di depan rumahku. Aku sering langganan nasi gorengnya, begitu juga dengan Mas Rio. Dia cocok dengan nasi goreng Mang Ujang. Langkah kaki Mang Ujang yang diseret-seret terdengar semakin mendekat ke arah rumahku.


*Aku selamat!* Pekikku dalam hati saat kulihat bapak ojol ini buru-buru merapikan pakaiannya


"Ganggu aja!", keluhnya


Setelah ia rapikan pakaiannya ia langsung berkata lagi


"Saya minta nomormu mbak!"


"Eh??? Tapi pak?""


"Jangan tapi-tapian atau foto telanjangmu akan saya sebar ke grup ojol heheheh.. Berapa nomormu?"


"EH Jangaann Pak.. iya.. 0857***********", jawabku dan ia kemudian mengirimkan pesan ke WA ku


"Kapan-kapan kita lanjutin. saya permisi dulu. Ini uang 100ribunya saya ambil lagi karena saya belum puas sama pelayananmu. Hehehe.. Nanti saya kasih ke kamu kalau kamu sudah muasin saya", kata Pak Ojol itu sambil berlalu.


*Sialan*, gerutuku


Aku buru-buru masuk ke dalam rumah dan menutup pintu teras rumahku. Benar saja, 3 detik kemudian setelah aku masuk ke dalam rumah, rombong nasi goreng Mang Ujang lewat persis di depan rumahku. Kuintip sosok penjual nasi goreng itu dari jendela rumahku, kudapati Mang Ujang berhenti dan menoleh ke arah rumahku beberapa saat sebelum akhirnya ia melanjutkan perjalanan berjualannya kembali. Kupandangi sosok Mang Ujang sambil terus kugaruk vaginaku yang gatal berlendir, kondisi kemaluanku terus berair dan tak bisa berhenti mengeluarkan cairan saat ini. Mungkin aku benar-benar terangsang dan berharap vaginaku dipuaskan oleh seseorang. Tetapi siapa? 1 orang yang kuharapkan bisa memuaskan birahiku saat ini hanyalah Mas Rio.


Lalu kulihat Mas Rio keluar dari kamar mandi sambil tersenyum menyebalkan. Wajahnya mengisyaratkan ia sama sekali tidak tahu apa-apa dan hanya berharap mendengar cerita tentang kejadian yang baru saja kualami. Tentu saja aku tidak menceritakan kejadiannya secara utuh karena itu sangat memalukan bagiku. Kuceritakan beberapa saja ke pacarku itu, kupilah-pilah mana yang bisa kuceritakan, mana yang bisa kurahasiakan.


"Kamu jahat mas!!! Memekku sampai banjir tau karena kamu usilin gini!!!! Hampir saja aku berharap diperkosa karena aku menikmatinya!!! Dasar cowok mesummm!! Huffff".", pekikku penuh kekesalan, tapi dalam hati tentu saja


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 4 : Jadilah binal Echa?


ECHA.jpg


POV : Rio


*tit tit* suara notif WA handphoneku terdengar pagi ini. Menyadarkanku dari pikiran kotor membinalkan pacarku sendiri, tentunya sambil mengurut-urut Kontolku yang tegang dan mengeras setiap pagi hari.


"Selamat pagi bro, mana nih update foto cewek lu yang hot itu?", bunyi pesan WA dari Andre di grup "Tugas Biologi"


*Anjay ini si tukang leave group sekarang malah yang paling semangat nagih foto*, kataku dalam hati


"Oiya kapan hari pas gw selesai petting gw foto cewek gw", kataku sambil mengirimkan foto wajah Echa yang berlumuran sperma pada bagian mulutnya


"Fakkk.. dipejuin dia. Hahaha", kata Andre


"Wah ini pagi-pagi bikin konak nih. Liat Echa lu pejuin. wkwkwkw", kata Wawan tiba-tiba ikutan komen


"Ayo kapan cewek lu kita bukkake? biar mandi peju tu mukanya", imbuh Wawan


"Hahaha.... ngawur lu, belum kepikiran kesana lah gw. Tipis-tipis dulu aja", jawabku


Sementara si Anto belum komen kayaknya masih molor.


"Yoi bro, latih aja terus Echa, dia kan lugu kayaknya bisa lah lu suruh yang aneh-aneh", kata Andre


"Lugu apanya. Sangean iya", ledek Wawan


"Kok lu tau kalau Echa sangean?", aku pun penasaran dengan ucapan Wawan


"Keliatan dari muka cewek lu", jawab Wawan


"Anjir kayak dukun aja lu cuk", jawab ku menimpali jawaban Wawan yang kurang ilmiah


"Ayo Echa lu suruh apa lagi nih bro? Kontol gue ngaceng cuk liat cewek lu", tulis Andre


"Oiya kemarin cewek gw, gw kerjain", kataku


"kerjain gimana maksud lu?", tanya Wawan


"Yaa.. gw pesen makanan lewat ojol. Bapak ojolnya datang ke rumah pas gw posisi lagi di kamar mandi, jadi Echa yang terima makanannya. Nah, Echa terima makanannya cuma pakai handuk aja. Hahaha", aku pun mulai bercerita


"Lah kenapa ngga pakai baju?", tanya Andre


"Waktu Echa lagi mandi, kunci kamarnya gw umpetin. Jadi habis mandi, Echa ga bisa masuk kamar buat ambil baju ganti. Wkwkw", jawabku


"Wah.. Parah lu.. terus gimana tuh cewek lu?Lu ga takut dia diapa-apain emang?", kata Wawan


"Nggak lah, mana berani bapak ojolnya macem-macem. Palingan bapaknya cuma bisa nelan ludah doang liat keseksian Echa. Hahaha", jawabku


"Pede amat lu! Emang lu ada bukti dia ga diapa-apain?", tanya Andre


"Ya Echa sendiri yang cerita", jawab ku


"Ah lu pasti ngarang nih.. Coba mana buktinya?", tantang Andre


"Nih ini penampakannya Echa kemarin waktu Cuma pakai handuk", sambil kukirim foto Echa yang hanya memakai handuk kecil dengan pantat yang hampir terekspos keseluruhan


"Jadi Echa nunjukin pantatnya ke bapak ojol itu, katanya dia gak nyadar kalau ternyata pantatnya kebuka selebar itu, rejeki nomplok kan buat si bapak ojolnya? wkwkw", sambungku


"Anjirrr... Sarap lu, beruntung banget tu ojol. Kasih ke gue aja cewek lu biar gue entot", kata Anto tiba-tiba muncul setelah dari tadi no komen


"Eh, udah bangun lu?", kataku


"udah, bangun-bangun ngaceng kontol gw lu kasih liat pemandangan indah bokongnya Echa. Shit pingin coli jadinya tapi gue tahan aja lah", jawab anto


"Lha kenapa ditahan? Coli aja gapapa", balasku


"Ngga ah sayang, mau gue simpen dulu biar gue keluarin di memeknya Echa. Hahahah", kata Anto mesum


"Anjrit ga ikhlas gue kalau gitu. Tar kalo hamil gimana?", tanyaku


"Ya lu nikahin terus gue bisa pinjem bini lu kalau gue lagi butuh buang peju", kata Anto


"Anjrittt.. Kasian Echa tar. Ogah gue belum ikhlas orang gue aja belum berani", kataku


"Mangkanya segera. Memek jangan dianggurin lama-lama. Tar dia cari kontol lain.", goda Anto


"Masih takut gue kalau dia sampai hamil", kawabku


"Kelamaan!", jawab Anto


"Lha kok ngatur gue lu?", protesku


"Udah-udah ga usah tengkar. Lu share cewek lu di sini aja udah keren lho. Lu emang top bro! salut gw!", kata Andre


"Hmm Gue ada ide buat bikin Echa makin kelihatan binal. Next lu kasih aturan aja si Echa bro", kata Wawan tiba-tiba


"aturan kayak gimana maksudnya?", tanyaku bingung


"Ya kemana-mana pakai baju yang sexy.. Kalau bisa yang ketat dan nerawang. Hehehe", usul Wawan


"Wah gila ide bagus itu. Kebetulan gue juga ada rencana nyuruh dia sering pake baju sexy", kataku menyetujui usulan Wawan


"Ya Bro, dengan gitu Echa bakalan makin terbiasa sexy dan membuat dia kelihatan kek lonte. Hehehehe.. Gimana To?", kata Andre menyetujui rencana tersebut


"idem gue.. pokoknya Echa bisa kita entot gue mah ok-ok aja", imbuh Anto


"Sialan lu.. Gue aja belum!", protesku


"Yasudah buruan! Lu kalau mau bikin cewek lu binal jangan tanggung-tanggung", ujar Anto


"Ya udah gue pikirin dulu.. Echa juga uda sering minta sih..", jawabku


"Minta lu entot dia? Anjir cewek lu emang lonte ya malah minta dientot. Hahahah.. lu kalau ga berani biar gua aja yang entot tu lonte", kata Anto merendahkan Echa


*Shit.. gw jadi cemburu ya bayangin Echa beneran dientot Anto yang dekil ini" Apa biar Echa dinikmatin temen-temen gue aja ya? Nggak.. Gak bolehh.. Kasian Echa"", ujarku dalam hati


"Eh ketemuan yuk besok! Lu kenalin lah cewek lu itu ke kita? Masak dari kemarin-kemarin kita cuma dilihatin fotonya doang tapi gak dikenalin..", kata Andre


"Hmmm boleh deh, besok gw juga ada jadwal jemput Echa. Ntar sorean aja ya jam 4? Gimana?"


"Boleh deh, gw kosong jam segitu. Mau dimana?", tanya Andre


"Warkop Bola aja. Disitu kan 99% cowok semua. Pasti Echa makin sange tuh", usul Anto


"Setuju gue kalau disana. Hehehe", imbuh Wawan


"Yaudah ketemu besok di Warkop Bola jam 4 ya", tutupku


Malam harinya aku WA Echa pacarku. Jantungku berdebar cepat karena sebentar lagi Echa akan kukenalkan ke teman-temanku yang cabul. Ditambah lagi tempat pertemuan kami adalah tempat yang aku rasa tidak aman bagi perempuan. Karena yang datang kesana hampir dipastikan lelaki semua. Aku tahu betul suasana warkop itu seperti apa. Kebanyakan dari kelas bawah. Tukang ojek, tukang becak, anak-anak muda pengangguran tidak jelas adalah kebanyakan pengunjung disana. Terkadang pemilik warung juga menayangkan video penyanyi dangdut yang berpakaian sexy meliuk-liuk dengan jogetan seronoknya. Pikiranku sampai begitu kotor malam ini membayangkan Echa akan berada di tengah-tengah warung itu diantara para lelaki yang sange.


"Yank lagi ngapain?", tanyaku melalui pesan WA


"Ini lagi belajar mas..", jawab Echa


"Kok tumben? Belajar Ngewe ya? ", godaku


"Ihh enak aja.. Belajar matematika tahu.. Lagian aku belajar ngewe sama sapa coba?", tanya Echa balik


"Tadi kata Anto dia mau entotin kamu. Mungkin kamu mau"", candaku


"Gila kamu mas.. Kamu aja belum ML sama aku malah kamu minta aku ML sama temenmu", protes Echa


"Lho kan ga ada salahnya Yank? Duh aku jadi ngaceng nih bayangin kamu diewe Anto"", godaku


"Hmmm.. Dasar cowok mesum aneh! Masak ya tega keperawananku diambil temenmu?", tanya Echa mengejutkanku


"Aku ga ada masalah kok Yank.. Aku gak masalah kamu masih perawan apa sudah enggak. Aku ga peduliin itu. Yang penting aku suka berbagi pacarku yang cantik ini"", jawabku


"Punya pacar cantik bukannya dimiliki sendiri malah dibagi-bagi", jawab Echa ketus


"Berbagi itu Indah Yank" Hehehe", jawabku


"Udah aku mau belajar matematika dulu", jawab Echa


"Coba 6 + 9 sama dengan?", tanyaku


"15!", jawab Echa


"Salah..", kataku


"Terus jawabnya apa?", tanya Echa


"Jawabnya ngaceng dan becek. Hehehe .", jawabku


"Iihh apaan sih garing tau..", kata Echa


"Kalau kering dijilat tar juga basah kayak memekmu"", godaku


"Ihhh udah mas.. Kamu nih gangguin aku terus", jawab Echa


"Hehehe" Ya udah, aku cuma bilang besok temen-temenku kepingin ketemu kamu.", kataku


"Hah besok?? Ngapain mas?", tanya Echa terkejut


"Nongkrong aja sih. Kan kapan hari kamu yang minta ikut kalau pas aku lagi ketemu sama temen-temenku. Kok sekarang jadi kaget gitu sih?", tanyaku penasaran


"Iya tapi" Suasananya beda mas" Aku sekarang malu kalau ketemu temen-temenmu", jawab Echa


"Kenapa?", tanyaku


"Ya karena fantasy gilamu ituuuu..", kata Echa


"Justru itu Yank asiknya.. Kamu harus berani dong..", jawabku


"Asik di kamu, malu di aku mas", jawab Echa


"Hmmm.. Ayolah.. Cuma ngobrol-ngobrol biasa aja Yank. Anggap aja ngga tau apa-apa. Kamu disana banyak diem juga gapapa. Kecuali kalo mereka ajak kamu ngomong ya jangan diem aja", aki terus membujuk pacarku itu


"Tapi mas.. Yakin gapapa?", Echa pun sepertinya mulai bimbang


"Aku jamin 10000% aman sayangku.. Mau ya?", kataku terus merayunya


"Hmmm.. Dasar Tukang Maksa! Awas kalau mereka macem-macem ke aku, ga tau lagi deh..", jawaban Echa membuatku semakin sange


"Gitu donk.. Oiya Yank, besok pakai baju yang sexy ya?", pintaku


"Ehhhh? Tapi kan aku pakai baju sekolah mas", kilah Echa


"Ya ganti baju dong sayang", pintaku kembali


"Ribet bawa-bawa baju segala.. Kayak mau minggat aja", jawab Echa


"Ayolaah", aku terus memaksanya karena aku yakin Echa akan menurutiku


"Tukang maksa"..", jawab Echa


"Mau ya?", paksaku lagi


"Kamu mau aku pakai baju apa mas?", jawab Echa akhirnya


"Hmmm.. Kerudung tetap terpasang, lalu kamu pakai tanktop warna putih yang biasa kamu pakai pas di rumah, lalu di doublein pake cardigan atau jaket aja biar ga aneh. Masak kerudungan tapi tanktopan. untuk bawahnya aku minta kamu pakai legging yang super ketat yang pernah kubelikan. Oiya untuk BHnya kamu pakai warna hitam dan sempaknya warna putih ya biar mantab. Hehehe", pintaku


"Tuh kan mintanya aneh-aneh.. Brarti BH dan celana dalamku ku bakalan nerawang dong mas? Itu legging dari kamu ketat banget lho mas, aku kayak gak pake celana..", jawab Echa


"Justru itu sensasinya Yank.. Kamu ga pingin apa cowok-cowok mupeng liat kamu gara-gara mereka liat lekuk badan kamu yang body goals banget?", rayuku


"Errr.. Mas ini.. Huffff" Tapi beneran aman ya mas?", kata Echa


"Amaaann.. Percaya sama aku", jawabku


"Huffff" Iya deh.. Pacar Mesum", kata Echa


"Pasti memek kamu becek deh sekarang", godaku


"Sotoy ih", jawab Echa


"Coba foto memek kamu", pintaku.


"Gak mau nanti kamu kirim ke temen-temenmu", jawab Echa


"Waduhh.. akal-akalanku ketahuan sama kamu Yank", jawabku


"Iya kamu mah mudah ketebak mas. Mesum banget pokoknya", kata Echa


"Tapi sayang khan?"


"Iya. Hihihi..", jawab Echa


"Hehehe Makasih ya.. I Love You Echa.. Ya udah" Belajar yang rajin ya jangan masturbasi bayangin kontol Anto lho", kataku


"Dasaarrr".", jawab Echa


#


Keesokan harinya"


Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aku segera meninggalkan kampus karena sudah janjian akan menjemput Echa disekolahnya. Perjalanan yang kulalui biasanya kurang lebih 45 menit dari kampusku menuju sekolah Echa. Sialnya suasana jalanan kali ini lebih padat dari biasanya sehingga kemungkinan aku akan datang terlambat tiba di sekolah pacarku itu


Singkat cerita, aku pun akhirnya tiba di sekolah Echa dan terlambat hampir 10 menit


Situasi di sekolahnya sudah lumayan sepi, hanya terlihat beberapa siswa-siswi saja yang masih duduk-duduk didepan sekolah, sepertinya menunggu jemputan juga, termasuk Echa. Aku lihat dia duduk berdua dengan seorang cowok. Setelah melihat kedatanganku, kulihat Echa berpamitan dengan cowok tersebut sambil melambaikan tangan dan sekilas teman cowok Echa itu melihat ke arahku dari kejauhan.


"Nunggu lama ya yank? maaf agak macet tadi jalanan", kataku sambil menyerahkan helm kepadanya


"Ngga kok nggapapa mas. Yukk...", jawab Echa sambil memakai helm yang kuberikan.


"Oiya hari ini jadi ketemuan sama temen-temenku ya", kataku


"Iya.. Bener lho ya Cuma nongkrong?", tanya Echa


"Iya nongkrong sambil sekalian aku makan. Laper daritadi pagi belum makan", jawabku


"Beneran lho ya!", kata Echa memastikan


"Dih kayaknya kamu malah berharap dilecehin ya?", godaku


"Enggaaaakkkkk enak aja!", jawab Echa cemberut dan bibirnya manyun


"Hahaha" Yaudah yuk berangkat", tanyaku


Selama diperjalanan aku sengaja tidak tancap gas buru-buru dan hanya mengendarai motor perlahan saja agar bisa ngobrol dengan cewekku. Toh waktu janjian dengan teman-temanku masih setengah jam lagi sehingga aku punya banyak waktu untuk berduaan dulu dengan Echa.


"Yank, tadi siapa cowok yang duduk disampingmu?", tanyaku membuka obrolan lagi


"Ohhh.. Tadi namanya Bayu, teman sekelasku. Dia ketua kelas, juga kapten tim basket sekolah. Kenapa mas?", tanya Echa balik


"Ngga sih, kok kayaknya kamu deket ya sama dia?", kataku


"Deket bangettt, karena aku sama Bayu emang sering 1 kelompok kalau lagi ada tugas jadi ya sering ngobrol", jawab Echa


"Kok kamu ngga pernah cerita sih?", tanyaku penasaran


"Ya ngga cerita orang ngga penting buat aku ceritakan mas. Kenapa? jeles ya? Hehehe", tanyanya


"Ngga lah. Hmm jeles dikit sih", jawabku


"hah? Beneran kamu cemburu? Kok tumben. Biasanya malah suruh aku buka-bukaan ke orang-orang. Hihihi", tanya Echa


"Ngga tau aku kayak kalah saingan sama dia. Kalah ganteng aku Yank", kataku


"Emang! Dia ganteng banget.. Cewek-cewek sekolah banyak yang naksir dia Yank"", perkataan Echa justru memanas-manasiku


"Hmm kamu juga ya?", tanyaku semakin cemburu


"Aku di sekolah digosipin pacaran sama Bayu mas, saking dekatnya"", kata Echa mengejutkanku membuatku ngerem mendadak dan kutepikan motorku di tepi jalan


"Hah?? Beneran?? Bukannya temen-temenmu tau kamu punya pacar?", tanyaku


"Ya khan enggak semua tahu mas.. Mungkin ada ya ngira kamu kakak aku juga bisa. Aku juga ga pernah kasih pengumuman kan kalau aku punya pacar ke temen-temenku", jawab Echa


"Oh gitu yaa. Ya udah ga usah dibahas lagi", ujarku kesal


*Cih.. Bikin jeles aja kamu Yank. Sedekat apa kamu sama Bayu? Aku kok cemburu ya? Padahal fantasyku cuckold dan mamerin kamu, tapi entah kenapa rasanya aku malah cemburu lihat kamu sama Bayu. Mungkin dia pengecualian, dia lelaki yang gak boleh dekat sama kamu. Aku ga ikhlas! aku ga suka kamu dekat sama cowok itu"*, kataku dalam hati penuh kekesalan


"Masss? Halooo kok diem sih?", kata Echa membuyarkan pikiranku


"Eh ngga kok, sapa yang diem?", kataku ngeles


"Oh kirain"", kata Echa


"Tapi bener lho ya kamu ga ada sesuatu sama temenmu Bayu itu?", tanyaku masih cemburu


"Tadi katanya gak mau bahas lagi.. Kok nanya Bayu lagi sih? Cemburu beneran nih?", goda Echa


"Udah jawab aja!!!", kataku sedikit membentak pacarku


"Mmmm gimana ya mas.. misal nih aku ada sesuatu sama Bayu kamu marah ngga?", tanya Echa membuatku semakin kesal


Bukannya menjawab pertanyaanku, Echa malah nanya balik ke aku. Itu yang membuatku semakin emosi dan curiga mereka ada hubungan apa-apa


"Kalian ada hubungan apa???", tanyaku ketus dan kelihatan sekali aku kalau ngga suka dengan pertanyaan Echa pacarku


"Ihhh marah.. Ngga jadi deh.. Niatnya Cuma manas-manasin kamu malah kamu panas beneran", ujar Echa dan akhirnya ia pun memilih untuk diam


Aku pun kesal dengan pacarku itu. Ia tahu aku sedang cemburu tetapi bukannya segera mengklarifikasi, dia malah memanas-manasiku. Tiba-tiba timbul niat jahatku untuk mengerjai pacarku itu. Sebuah rencana jahat yang pasti teman-temanku akan dengan senang hati melakukannya


*Awalnya aku tidak berniat mengerjaimu kayak gini, tetapi karena kamu sudah kerjain aku, jadi kamu akan kukerjain balik Cha. Tunggu pembalasanku.. Heheheh.. maaf tapi ini hanya untuk mengamankan agar kamu tidak lepas dariku*, gumamku dalam hati


Perjalanan pun dilanjutkan, tetapi kami lebih memilih untuk saling diam. Mungkin Echa terkejut melihat sikapku yang terlihat tidak suka. Mungkin Echa mengira aku akan malah menggodanya dan mengijinkannya ngentot dengan temannya yang namanya Bayu itu. Tetapi responku justru sebaliknya. Mendengar namanya saja aku tidak mau. Bahkan aku sampai berpikir jika Echa dekat dengan cowok sekeren Bayu, bisa-bisa aku akan ditinggalkan dan tentu saja aku tidak mau hal itu terjadi.


*Cih, aku gak suka. Aku gak suka liat Echa dekat sama Bayu. Bayu, lu kalau dekat ama Echa bakalan nyesel setelah tau Echa itu seperti apa. Heheheh*, kataku dalam hati


Kulihat indikator bensin sepeda motorku sudah kelap-kelip, tanda waktunya aku mengisi bahan bakar untuk sepeda motor kesayangan


"Yank, mampir pom bensin dulu ya, bensin habis nih", kataku kemudian mencoba membuka obrolan


"I.. Iya"", jawab Echa lirih dan aku tahu moodnya sedang tidak baik-baik saja


Mungkin karena aku yang terlalu emosi menanggapi bercandaannya tadi.


*Mending Gue minta maaf dulu deh, Tar dikerjain lagi. Heheheh*, kataku dalam hati


Kebetulan beberapa meter di depan ada pom bensin dan akupun membelokkan motor menuju pom bensin tersebut. Ternyata antriannya cukup panjang. Dengan terpaksa akupun mengantri karena memang bensin motor ku yang sudah hampir habis sehingga tidak memungkinkan untuk cari pom yang lain


"Mas maaf ya tadi kalau aku salah ngomong", ujar Echa mengejutkanku dengan wajah sedihnya


*Syukur deh dia minta maaf dulu, Gue jadi gak perlu minta maaf kalau gitu*


"Salah ngomong yang bagian mananya?", tanyaku pura-pura ga paham


"Yang bagian kalau misal aku ada apa-apa sama Bayu" Kamu jangan marah lagi ya. Aku cuma bercanda sayang.. Aku kira kamu bakalan kayak biasanya jadi mesum gitu. Malah ngijinin atau gimana gitu" Pokoknya ngga marah kayak gini" Tapi kamu malah marah", wajah Echa terlihat menyesali ini semua


Raut wajahnya yang cantik kebanyakan hanya menunduk saja. Ia tidak berani menatap mataku saat ini. Aku jadi tidak tega melihat pacarku yang biasanya ceria dan bawel ini jadi pendiam seperti sekarang


"Ya udah aku maafin tapi ada syaratnya", kataku


"Syarat apa mas?", kata Echa mulai berani menatapku lagi


"Kamu ganti baju sesuai yang ku minta kemarin malam. Hehehe", pintaku sambil berbisik


"Ihh kirain syarat apa.. Iya iya aku bawa baju ganti kok. Ganti disini nih?", tanya Echa


"Kamu emang niat pingin dilihatin ya ganti disini? Dikamar mandi sana lah..", kataku gemas sambil menunjuk ke sebuah toilet yang terletak di ujung belakang SPBU


"Hmmm... Ya udah kalau gitu aku ke toilet dulu. Tapi kamu beneran jangan marah lagi ya mas?", kata Echa


"iya aku ga marah lagi kok, aku cemburu tapi gapapa. Resiko punya pacar cantik", jawabku


"Makasih ya mas..", jawab Echa


Echa kemudian turun dari motor dan berjalan menuju toilet pom bensin, sedangkan aku masih tetap mengantri di antrian yang sudah mengular ini. Kulihat Echa berjalan menjauh dengan seragam putih abu-abunya. Bokong Echa terlihat begitu sexy saat ia berjalan. Walau tubuhnya ngga montok dan semok tetapi bagiku dialah wanita terindah yang pernah ku milliki dibandingkan mantan-mantanku sebelumnya.


Echa gadis cantik nan lugu itu adalah pacar terbaikku. Jujur bagiku Echa terlalu sempurna dan aku takut kehilangan dia. Karena itu aku tidak frontal memaksanya menuruti fantasy gilaku seperti mantan-mantanku dulu. Kubujuk dan kurayu dia pelan-pelan, kuyakinkan semua akan aman, dan kuyakinkan dirinya agar perlahan mau melakukan. Dia akhirnya mengerti dan mau menuruti permintaanku yang menurut orang pasti nyeleneh tidak masuk akal. Tidak seperti mantan pacarku yang langsung memutuskanku setelah aku menceritakan fetishku. Untungnya walau Echa lebih cantik dan menarik dibandingkan pacarku yang dulu, Echa justru yang perlahan mau mengikuti fantasyku. Paras yang cantik, kulit putih mulus, senyumnya yang manis, body sexy dengan dadanya yang bulat dan tidak terlalu besar, bagiku sangat mubadzir jika hanya aku yang menikmatinya.


*tulilut tulilut* tiba-tiba HP-ku berdering dan kulihat di layar HPku muncul nama Andre


"Temen-temen udah sampek nih. Gila disini rame banget. Pada Nobar bola soalnya", kata Andre


"Busyet..", kataku


"Yakin lu bawa Echa kesini?", tanya Andre memastikan


"Yakin lah" Justru ini makin menarik. Heheheh" Eh lu bawa obatnya kan?", tanyaku


"Anjir udah tau disini banyak orang pada nobar malah lu mau cekokin obat ke pacar lu. Mau bikin Echa jadi gila lu?", tanya Andre


"Iya. Hehehe.. Kasih yang banyak sampek memeknya gatal"", ujarku


"Bukan Cuma memek dia yang gatal. Dia jadi alergi pakai baju ngerti gak lu?"


"Bagus deh kalau gitu..", ujarku semakin ngaceng membayangkan pacarku akan seperti apa disana nanti


"Busyet" Ya udah gue manut aja dah. Tar gue campur ke minumannya Echa kalau gitu. Eh tar ganti biaya beli pilnya ya. Mahal ini 1 juta per pil", tutup Andre


"Iya beres"", jawabku


Aku tersenyum penuh kepuasan. Gadis yang kusayangi ini sebentar lagi akan menjadi gadis yang suka memamerkan tubuhnya. Gadis yang tugasnya menggoda para lelaki. Aku minta Andre membawa obat yang direkomendasikannya karena Echa masih suka malu-malu dan itu yang buatku kesal.


Aku sudah tidak sabar membuat pacarku itu menuruti fantasyku yang ingin melihat pacarku menjadi hiburan lelaki lain. Menurut Andre, khasiat obatnya luar biasa gila. Cewek alim bisa jadi kayak pelacur katanya. Aku yang penasaran akhirnya bersedia menjadikan pacarku sebagai kelinci percobaan pembuktian obat rekomendasi dari Andre.


Beberapa menit kemudian, kulihat Echa sudah berjalan keluar dari toilet dan menuju ke arahku yang sudah selesai mengisi bensin. Kulihat wajah Echa sedikit merengut sambil sesekali ia menoleh ke kiri dan kanan. Sepertinya Echa terlihat tidak nyaman dan raut wajah terlihat tegang.


"sexy banget kamu Yank.. resleting jaketnya dibuka lah biar tanktopmu kelihatan. Terus itu kerudungnya singkap ke belakang aja biar makin asoy", bujukku


"Aku malu mas" Kalau aku dilihatin orang gimana?", kata Echa


"Cuek aja, mereka cuma berani liat doang kok gak berani macem-macem", jawabku


"Kamu yakin? BHku keliatan banget soalnya kalau pake tanktop ini.", kata Echa


"Yakin.. Anggap ini social experiment.. Liat orang-orang bakalan liatin kamu enggak", rayuku


"Tapi"", Echa pun masih ragu


"Percayalah, kamu lama-lama akan terbiasa kok Yank. Kamu tau enggak kenapa banyak selebriti bajunya sexy dan mereka ngga risih? Ya karena mereka bangga dan mau mamerin keindahan mereka. Kamu gak kalah kok Yank sama mereka..", bujukku


Echa menghela nafas panjang, sepertinya ia mau menurutiku walau wajahnya masih tampak ragu. Ia melihat situasi sekitar lalu ia buka resleting jaketnya hingga tanktop putihnya pun terlihat. Lalu ia singkap kerudung hitamnya kebelakang sehingga tonjolan payudaranya yang bulat kini nampak menggiurkan terbungkus BH warna hitam yang samar kelihatan


"Sialan" Sexy bener kamu Yank" Aku yang sering liat tubuhmu aja masih ngaceng apalagi orang-orang ya? Kontolku bengkak nih. Hehehe", godaku


"Tititmu enak ga keliatan mas, lha tetekku keliatan gini", protes Echa sambil memajukan bibirnya membuatku makin gemas.


"Gapapa bagus tau susumu. Bulet gitu pasti orang-orang mupeng tuh. Liat tuh Yank" Ada bapak-bapak yang liatin tetekmu Yank..", kataku sambil memberi kode ke Echa agar melihat ke bapak itu


Seorang bapak-bapak yang berdiri di depan toilet tak jauh dari posisi kami mengantri terlihat sedang memandangi Echa pacarku. Pandangan matanya benar-benar langsung tertuju ke dada Echa yang memang nampak bulat saking ketatnya tanktop yang dipakaia pacarku itu


"Mas seriusan aku malu" Duhhhh.. Aku tutup ya pake kerudung lagi", rengek Echa sambil melirik diam-diam ke arah bapak-bapak yang dari tadi bengong melihat ke arah pacarku


"Jangan ditutup.. Godain gih bapaknya"", kataku


"Godain gimana mas?", tanya Echa kebingungan


"Kamu kesana!", pintaku dan kudorong Echa agar mendatangi bapak itu


Terlihat wajah Echa ketakutan tetapi aku tak peduli. Echa berjalan malu-malu ke arah bapak itu. Sementara bapak itu terlihat semakin mupeng melihat pacarku mendekatinya. Dari kejauhan Echa mulai berbicara cukup lama kepada pria itu. Terlihat Echa sesekali menunduk dan bapak itu tersenyum menyebalkan sambil memandangi payudara Echa. Entah apa yang mereka bicarakan, yang membuatku tercengang Echa nampak beberapa kali menarik kaos tanktopnya sehingga membuat tubuhnya semakin tercetak saja. Aku hanya diam saja dan kubiarkan saja bapak itu menikmati apa yang dilakukan pacarku. Tidak beberapa lama kemudian Echa kembali lagi berjalan ke arahku


"Gimana Yank? Hehehe"


"Nervous aku mas" Kamu nih..", ujar Echa


"Nanti cerita ya. Aku isi bensin dulu", kataku


Tibalah giliranku untuk mengisi bensinku setelah sekian lama menunggu. Echa berjalan di sampingku sedangkan aku duduk diatas motor. Seorang petugas pom bensin yang usianya mungkin sepantaran denganku yang melayani kami


"Selamat siang kak, ada yang bisa saya bantu?", tanya mas petugas pom sambil matanya kusadari sesekali melirik ke Echa


"beli bensin 50ribu mas", kataku


"Siap kak"", kata petugas pom bensin ramah dan mulai mengisikan tangki bensin motorku


Kulirik Echa melamun sambil melihat ke arah petugas pom bensin yang memasukkan selang pengisian ke dalam tangki motor. Kusadari tonjolan payudara pacarku itu begitu bulat dibalik tanktopnya. Apalagi BH hitamnya yang membungkus buah dadanya juga sampai terlihat sehingga menambah keseksian penampilan pacarku itu. Jantungku rasanya mau copot saja karena tidak menyangka penampilan Echa sudah seberani ini di tempat umum


"Yank, minta tolong kasihkan Mas nya uang ini.. Aduhhh jatuh deh.. Minta tolong ambilkan Yank"", kataku sambil kujatuhkan uang 100ribuan ke tanah


"Ih kamu ini sengaja pasti"", jawab Echa dan ia mulai menungging dihadapan petugas pom bensin dan kulirik petugas pom itu sampai melongo melihat ke arah pacarku


Aku tersenyum penuh kemenangan. Pemandangan Echa kali ini terlihat lebih menantang. Dengan hanya memakai legging yang menerawang itu, ia mulai menungging. Bokong Echa langsung tersaji di hadapan petugas pom bensin itu. Bokong yang sangat menggiurkan menampakkan isinya yang terlihat jelas dalamannya. Mana belahan pantatnya juga kelihatan sedikit saat jaket serta kaos tantopnya tersingkap karena Echa menunduk. Rupanya Celana dalam yang dipakai Echa tidak mampu membungkus semua bagian pantatnya sehingga belahan pantatnya terlihat mengintip sedikit. Samar-samar kulihat pula garis basah tepat ditengah celana dalam Echa yang masih terbungkus legging hitam semi transparannya. Aku jadi bertanya-tanya Apa itu air bekas Echa ke toilet tadi ataukah itu lendir karena Echa sedang terangsang.


Antrian dibelakangku sepertinya juga semua melihat ke arah Echa karena suasana mendadak menjadi hening. Mungkin semua mata sedang berkonsentrasi tertuju kepada bongkahan pantat pacarku. Aku yakin bokong Echa itu menjadi pemandangan terbaik selama mereka pernah mengisi bensin di tempat ini.


Otak kotorku benar-benar mengirimkan sinyal agar kontolku ngaceng maksimal saat kupamerkan pacarku di tempat umum. Kuberikan mereka kesempatan memandangi bokong Echa yang menantang selama beberapa detik. Kulit putihnya yang mulus samar terlihat di balik legging yang dipakainya. Motif bunga-bunga pada celana dalamnya juga sampai terlihat. Petugas pom itu bahkan tidak sadar kalau angka meteran sudah menunjuk ke angka 50ribu karena ia justru fokus ke bokong Echa yang nyeplak dan tidak melihat ke arah tangki bensin motorku.


"Sudah ya mas?", tanyaku mengejutkannya


"Eh iya.. maaf sudah kak", jawab petugas pom bensin tersebut sambil mencabut selang bensin dari tangkiku


"Kasihin uangnya Yank.. Makasih ya mas..", pintaku dan Echa pun memberikan uang ke Mas petugas pom bensin


"Eh iya saya juga makasih kak".", jawab petugas pom bensin sambil menggaruk-garuk rambutnya dan matanya sesekali menatap ke arah dada Echa yang terlihat BHnya itu.


#


POV : Echa


Sejak awal aku keluar dari kamar mandi untuk mengganti pakaianku dengan pakaian request Mas Rio, aku merasa benar-benar tidak nyaman. Bayangkan saja, tanktop tipis yang biasa kupakai untuk tidur di dalam kamar, kali ini harus kupakai saat aku berada diluar rumah. Tanktop itu memang menerawang dan tipis, karena memang hanya kupakai ketika aku tidur di kamar agar tidak kegerahan.


Kuperhatikan BH hitamku benar-benar terlihat jelas, aku seolah tidak ada niatan untuk menutupi aurat tubuhku. Hanya keluar dengan pakaian seperti ini saja, aku merasa vaginaku mulai berlendir. Sepertinya pikiran-pikiran cabul yang tiba-tiba kupikirkan membuat vaginaku basah.


Belum lagi bagian bawahku yang tidak kalah nakalnya. Legging yang biasa dipakai olahraga dan didouble dengan celana olahraga kali ini kukenakan begitu saja tanpa dirangkap. Terbayang kan bagaimana kelihatannya bentuk asli keseluruhan kakiku mulai pantat hingga mata kakiku. Kuraba pantatku dan rasanya tanganku langsung bersentuhan dengan kulit bokongku. Aku pun mencoba meremas pantatku dan benar saja, saking tipisnya aku merasa tidak memakai celana. Celana dalam motif bunga-bungaku juga terlihat menerawang dari legging semi transparan itu. Sebuah celana dalam model biasa sebenarnya, tetapi tetap saja gaya berpakaian ini terlalu sexy bagiku.


Kucoba tarik jaketku kebawah agar bisa menutupi pantatku yang menyembul namun tidak bisa. Pantatku tetap saja menyembul dan memperlihatkan lekuk aslinya dengan sempurna. Ditambah suasana kamar mandi yang gerah dan pengap langsung membuatku mengucurkan keringat saking panasnya. Aku langsung merasa gerah dan semakin tidak nyaman. Aku pun memutuskan menutup total bagian atasku dan buru-buru keluar dari kamar mandi.


Aku menghela nafas panjang dan berharap tidak akan ada orang yang berbuat nekat seperti Bapak Ojol beberapa hari yang lalu. Aku pun mulai melangkahkan kaki kembali menuju ke Mas Rio yang sedang berada di antrian pom bensin. Benar saja, semua mata langsung tertuju kepadaku. Para lelaki menatap terkejut hingga tidak berkedip. Sedangkan para wanita menatapku dengan sinis dan tidak suka.


Padahal Aku sudah menutup bagian dadaku dengan kain kerudung, dan jaket, tetapi tetap saja mereka memandang kearahku dengan tatapan tajam. Mungkin karena pakaianku bawahku yang terlampau ketat dan tidak bisa kusembunyikan lagi lekuk tubuh bawahku sehingga mereka menyadari hal itu. Aku terus berjalan sambil menunduk, membiarkan mereka memandang ke arahku tanpa aku bisa berbuat apa-apa selain terus berjalan ke arah Mas Rio.


Kusadari celana dalam motif bungaku semakin menerawang jelas karena silau teriknya matahari sore ini membuat apa yang ada di dalam leggingku terlihat semua. Lekuk paha dan pantatku terbentuk jelas dan wajar setiap orang disana langsung tertuju padaku pandangan matanya.


Yang bikin aku semakin kesal, Mas Rio memandangiku sambil tersenyum menyebalkan. Dia tidak merasakan betapa malunya aku berpakaian seperti ini ditempat umum.


"Sexy banget kamu Yank.. Itu resleting jaket dibuka aja dan kerudungnya singkap ke belakang biar makin asoy", pintanya sambil tersenyum mesum


Yang benar saja, kondisi begini saja rasa maluku sudah tak karuan. Apalagi Mas Rio memintaku untuk membuka jaketku dan menyingkap kerudungku ke belakang. Jelas ini akan membuat bagian dadaku yang terbungkus bra hitam akan terekspose di depan orang-orang. Aku awalnya memang tidak mau menuruti perintah aneh-aneh Mas Rio. Tetapi setelah ia meyakinkan semua akan aman dan baik-baik saja, aku pun luluh. Aku turuti kemauannya walau aku masih ragu.


Kubuka jaketku dan kusingkap kain kerudungku ke belakang, kulihat dengan mata kepalaku sendiri bulatnya payudaraku yang terbungkus bra hitam menerawang dari tanktop putih berbahan tipis yang kini kukenakan. Apalagi aku juga berkeringat saat ini sehingga tanktopku juga ikutan basah sehingga membuat bagian dadaku semakin nyeplak.


"Sexy banget kamu Yank, yakin aku pasti orang-orang ngaceng liat kamu", puji pacarku


Aku masih berusaha membiasakan diri untuk menunjukkan lekuk tubuhku di tempat umum seperti ini. Apalagi tatapan mata orang-orang disana yang mengarah kepadaku makin membuat nyaliku menciut. Tetapi aku berusaha menahan rasa maluku. Kucoba meyakinkan diriku kalau tubuhku tidak ada salahnya untuk ditampakkan sesekali. Toh bule-bule diluar sana hanya memakai bikini di jalanan juga biasa saja. Aku harus merubah paradigmaku selama ini. Berpakaian sexy itu wajar bagi kaum wanita sebagai bentuk narsistik kecintaan pada diri sendiri. Ya, aku harus yakini itu.


Perlahan aku semakin terbiasa dengan cara berpakaianku dan juga tatapan orang-orang kepadaku. Wanita memang memiliki payudara dengan berbagai keunikan bentuknya dan aku harus bangga akan bentuk payudaraku sendiri. Payudaraku setidaknya pernah dipuji teman-teman Mas Rio walau bukanlah termasuk bentuk payudara yang besar, tetapi bulatnya sudah proporsional dengan ukuran tubuhku yang mungil. Mungkin sudah saatnya keindahanku juga bisa dikagumi oleh orang-orang sekitarku


Tatapan nakal mereka yang seolah menelanjangiku diam-diam membuatku perlahan mulai bergairah. Kurasakan area selangkanganku mulai lembab dan celana dalamku pun mulai basah. Benar kata Mas Rio, aku mungkin mesum juga karena dilihati orang dengan tatapan seperti itu, aku malah sange.


Cobaan pertama dari Mas Rio adalah aku harus mendatangi seorang bapak-bapak yang berdiri di depan toilet pom bensin. Awalnya aku enggan tetapi Mas Rio terus memaksaku. Akhirnya aku pun bersedia melakukannya. Kudatangi bapak itu sambil tersipu malu karena menyadari lekuk tubuh dan dalemanku yang tercetak jelas dibalik pakaianku. Bapak itu terbengong saat menyadari aku berjalan ke arahnya


"Maaf pak saya mau nanya, kalau mau ke Jl. Maju Jaya lewat mana ya?", tanyaku berpura-pura


Kusadari tatapan bapak itu terus mengarah ke payudaraku. Dipandangi seperti itu jelas saja aku risih tetapi mau bagaimana lagi, aku hanya noleh ikhlas memamerkannya ke bapak-bapak ini.


"Ehh err.. anu.. mbaknya lurus terus.. sampai ketemu perempatan belok kiri", terangnya sambil terlihat sekali ia grogi mengarahkan tatapan matanya kemana.


"Te.. terima kasih pak..", jawabku dan akupun berpamitan


Benar kata Mas Rio, mereka hanya berani memandang tanpa berani berbuat apa-apa.


Cobaanku tidak sampai disitu, Mas Rio sengaja menjatuhkan uangnya ke bawah dan memintaku untuk mengambil uang tersebut. Sudah kepalang tanggung, aku turuti kemauan pacarku yang mesum itu. Aku tidak peduli area celana dalamku akan terlihat toh orang juga dari tadi sudah melihat leggingku yang menerawang menampakkan dalamnya. Yang kutakutkan hanyalah lendir basah yang tercetak dicelana dalamku juga akan terlihat saat aku menunduk.


Aku merasa pantatku pasti saat ini terlihat menantang sekali saat aku menungging. Aku tahu betul pantatku terlihat membulat saat menggunakan celana legging ketat ini. Bahkan mungkin bisa saja garis tengah belahan pantatku juga tercetak jelas di legging tipis ini. Aku hanya berharap celana dalam motif bungaku bisa menyamarkan sedikit garis tengah bongkahan pantatku. Sayangnya, kali ini aku tidak tahu respon mereka karena posisiku yang membelakangi para pengantri pom bensin itu. Kutunggingkan pantatku beberapa detik dan kubiarkan para pengantri bom bensin melihat ke arahku sampai mereka puas. Pertunjukkan pun berakhir dan aku menyerahkan uang yang jatuh tadi ke petugas pom bensin. Kami pun melanjutkan perjalanan setelah selesai mengisi bensin.


"Bokongmu sexy banget Yank Tadi.. Pasti orang-orang pingin nepuk-nepuk bokongmu tuh. Nantang banget tau..", ujar Mas Rio saat dijalam


"Kalau orang-orang nepuki bokongku kamu marah ga mas?", tanyaku polos


"Hmmm kamu mau ngga kalau bokongmu ditepuki orang-orang?", Mas Rio malah nanya balik


"Ditanya balik nanya. Gak sopan", jawabku sewot


"Eh aku serius Yank. Kamu ikhlas gak kalau orang sampai nepuk-nepuk bokongmu karena mereka sange liat kamu?", tanya Mas Rio


"IHHH" Pertanyaan aneh.. Gak mau jawab ah", kilahku


"Pasti mau kan?", goda Mas Rio lagi


"Sotoy ah kamu mas" Tapi""


"Tapi apa yank?"


"Jujur sekarang Miss V ku basah mas" Nih celanaku sampai ikutan basah juga", kataku sambil kuraba sedikit area selangkanganku


"Tuh kan.. Memekmu aja senang gitu sampek basah. Ntar sampek sana dibuka aja Yank biar nyaman"", kata Mas Rio


"Dibuka apanya mas?"


"Celanamu.."


"Dih cowok error!! Kamu mau memekku di cabuli temen-temenmu disana?", tanyaku kesal


"Mau banget.. Biar kamu" Adududuhhhh", kata Mas Rio terhenti karena tiba-tiba aku mencubit pinggangnya dengan kekuatan penuh


#


10 menit kemudian aku telah tiba di tempat Mas Rio janjian dengan teman-temannya. Sebuah warung yang terletak di sebuah jalanan sepi yang lumayan tersembunyi dan jauh dari pemukiman warga karena terletak di sebuah bangunan tua seperti pertokoan kosong. Terdapat sebuah spanduk besar berwarna hitam bertuliskan "Warkop Bola" yang selain untuk menahan panas matahari, juga berfungsi agar suasana di dalam warung tidak terlihat dari luar. Terlihat banyak motor-motor dan beberapa mobil terparkir di depan warung itu. Suasana disana lumayan terdengar riuh, kemungkinan sedang ada nobar bola disana.


Jantungku entah mengapa berdetak kencang. Karena yang kubayangkan Mas Rio dan teman-temannya akan bertemu disebuah caf" biasa yang tidak banyak orang dan hanya ada kami saja. Ternyata dugaanku salah, mereka malah mengajak ketemuan di warung seramai ini. Mana pakaianku saat ini terlihat menggoda lagi, aku jadi semakin was-was saja. Memikirkan hal itu, justru tanpa sadar membuat tubuhku berkeringat. Padahal aku sudah memakai tanktop yang tipis yang seharusnya bisa mengusir rasa gerah. Mungkin keringat ini muncul karena jaket yang kupakai bahannya cukup tebal. Atau bisa juga aku berkeringat karena aku nervous berada di tempat ini dengan kondisi berpakaian seperti ini.


"Kamu yakin mas?", tanyaku ragu


"Yakin" Aku jamin aman.. Kamu tenang aja"", jawabku


"Tapi.. pakaianku nerawang banget lho mas.. Ini tempat nobar supporter bola kan? Berarti semuanya cowok khan?", tanyaku semakin kebingungan


"Bukan supporter aja sih, disini biasanya ada tukang becak, ada tukang ojek, kadang-kadang napi juga kesini Yank.. Iya 99% cowok", jawab Mas Rio


Bukannya jawaban yang menenangkan, ia malah membuatku ketakutan.


"1% nya aku ya?", tanyaku


"iya. Hehehe" Udah kamu tenang aja. Kan ada aku sama temen-temenku yang siap jagain kamu.. Kamu bersikap kayak biasa aja ya Yank", saran Mas Rio


Bagaimana bisa bersikap biasa saja sementara pakaian atas dan bawahku menerawang seperti ini. Tapi percuma aku memikirkannya saat ini karena sudah terlambat. Mas Rio sudah menggandeng tanganku, atau lebih tepatnya sedikit menyeretku agar mau masuk ke dalam warung remang-remang itu


Suasana di dalam ternyata cukup gelap. Hanya siluet lampu LED strip warna biru sebagai penerangan disana. Asap rokok terlihat tebal melayang membumbung tinggi di udara. Terdapat 2 buah televisi di Warung itu. Salah satu TV sedang menayangkan pertandingan bola. TV yang satunya lagi menayangkan penyanyi dangdut wanita yang berpakaian sangat sexy menggunakan rok mini memperlihatkan celana dalam warna hitamnya. Saat aku masuk, semua orang di dalam warung langsung menoleh ke arahku. Wajar saja, aku cewek satu-satunya yang datang ke tempat itu.


Aku reflek langsung menundukkan pandangan dan menurunkan kain kerudungku dengan cepat. Aku belum siap dan perlu menata keberanian agar bisa menuruti keinginan Mas Rio yang memintaku lebih percaya diri dengam pakaian seperti ini


"Kok diturunin? Kan tetekmu jadi ngga keliatan Yank?", protes Mas Rio


"Maaf aku takut dan belum siap mas.. aku malu"..", ujarku sambil menundukkan pandangan


"Dih cupu kamu Yank orang gitu doang aja malu. Ya udah tuh temen-temenku", kata Mas Rio sambil menunjuk meja yang terletak paling dekat TV yang menyiarkan biduan dangdut


Rasanya benar-benar tak karuan saat aku berjalan menuju ke meja teman-teman Mas Rio. Langkah kakiku terasa berat dan perjalanan menuju ke meja itu terasa jauh. Mata-mata pengunjung disana langsung memperhatikanku saat aku terus berjalan membuatku risih. Bukan salah mereka sebenarnya, ini semua salahku yang memang berpakaian seperti ini.


"Yank kenalin teman-temanku..", kata Mas Rio saat kami tiba di meja teman-teman Mas Rio


"Gue Andre"", kata lelaki berwajah mirip india sambil menjulurkan tangannya


"Iya.. Aku Echa..", jawabku dan kujabat tangan Mas Andre


"Gue Wawan..", ujar lelaki berambut gondrong berantakan sambil menjulurkan tangannya


"Echa"", jawabku dan kuraih jabat tangan lelaki gondrong bernama Wawan itu


"Gue Anto", kata cowok gendut berwajah dekil berambut keriting dengan leher hitamnya yang mencolok


*Jadi cowok ini yang kemarin Mas Rio minta aku bayangin.. Ya Ampun Mas" Tega kamu"


"Yank?", tiba-tiba suara Mas Rio mengejutkanku


"Eh iya.. Aku Echa..", jawabku dan kujabat tangan gemuk cowok gendut bernama Anto itu


"Maaf sempit.. Echa duduk sini aja sama gue..", kata Anto sambil tersenyum licik


"Eehhh aku"", aku kebingungan karena aku berharap bisa duduk 1 bangku saja dengan Mas Rio


Tetapi Mas Rio malah duduk di bangku bertiga dengan Wawan dan Andre. Sementara aku malah didudukkan di sebelah Mas Anto. Aku ingin menolak tapi tidak enak juga takut menyinggung teman Mas Rio ini. Memang tidak ada tempat duduk lagi karena suasana warung yang ramai. Ditambah kalau Mas Anto yang pindah bangku, malah akan membuat sesak bangku Mas Wawan dan Mas Andre karena ukuran tubuhnya yang besar


Aku pun akhirnya duduk di sebelah Mas Anto. Sedangkan Mas Rio duduk dibangku yang sama bertiga dengan Mas Wawan dan Mas Andre. Sesekali aku merasa terganggu dengan asap rokok yang berterbangan di dalam warung yang lumayan pengap ini. Kukipas-kipaskan tanganku di depan wajahku agar asap-asap rokok itu tidak terhirup olehku dan berharap teman-teman Mas Rio sadar kalau asap rokok mereka begitu menggangguku


"Oiya ini gue udah pesenin minum buat lu.. Ini Echa tadi kita pesenin soda stroberi.. Katanya Rio lu sukanya itu?", ujar Mas Anto


"Eh iya.. Makasih Mas"", jawabku sambil menunduk dan kuterima minuman itu


Rasanya pikiranku benar-benar kacau saat ini. Mungkin jika mereka tidak pernah melihat foto-foto sexyku yang sengaja dikasih liat oleh Mas Rio, perasaanku tidak akan sekacau ini. Antara malu, canggung, bingung, bercampur menjadi satu. Apalagi mereka pernah berkata pingin netek ke putting susuku. Jelas ini makin membuat perasaanku tak karuan.


Saking nervousnya aku, aku pun langsung meneguk minuman soda berasa stroberi itu dengan cepat. Mungkin juga karena cuaca yang lumayan panas karena matahari akan segera terbenam menjadi senja. Rasa minumannya terasa segar saat menyeruak masuk ke dalam tenggorokanku.


"Haus ya Cha? Mau nambah Lagi minumnya?", tanya Mas Andre tiba-tiba mengejutkanku


"Eh ngga mas.. ini aja belum habis.. Makasih"", jawabku dan aku buru-buru berhenti menyeruput minumanku


"Gapapa pesenin lagi aja. Ndre tolong ya kasih special buat cewek gue", kata Mas Rio dan Andre langsung berjalan menuju ke Mas penjaga Warung


Aku yang hendak menolak tawaran itu akhirnya hanya diam saja karena Mas Rio yang minta pesan. Lalu seperti biasa, teman-teman Mas Rio mulai mengajakku ngobrol biar suasana bisa cair.


"Lu sekolah dimana Cha?", tanya Mas Wawan


"Aku di SMA N 666 Mas"", jawabku kikuk karena tatapan Mas Wawan begitu tajam menatap kearahku.


"Ohhh.. Pantesan" katanya cakep-cakep sih cewek disana", imbuhnya


"Ehh mas bisa aja.. Ngga kok mas.. Ya Beberapa aja ada sih yang cantik", jawabku


"ya kamu termasuk yang cantik Yank. Hehehe..", tanya Mas Rio tiba-tiba penuh rasa bangga


"Mas Rio berlebihan, enggak kok aku B aja mas", jawabku


Walau di warung ini ada beberapa kipas angin gantung, Aku merasa tempat ini cukup gerah. Perlahan tubuhku mulai herkeringat dan membuatku semakin tidak nyaman. Aku sendiri tidak yakin rasa gerahku ini karena memang suasana ruangan yang gerah ataukah memang aku yang terlalu nervous. Kuusir rasa gerah ini dengan meminum sisa minumanku tadi hingga habis. Toh aku juga sudah dipesankan minum lagi tadi, sehingga aku tidak khawatir akan kehausan kalaupun gelas minumanku yang pertama sudah kosong. Wajahku mulai meneteskan keringat dari sela kerudungku dan Mas Rio menyadari hal itu.


"Panas ya Yank?", tanya Mas Rio


"I.. Iya lumayan mas"", jawabku


"Jaket lu lepas aja Cha.. Itu yang bikin gerah", usul Mas Anto


"Iya.. Eh enggak.. Enggak papa mas"", jawabku kebingungan


"Resletingmu aja buka Yank kalau misal kamu malu", saran Mas Rio


"Nih minuman lu Cha, minum dulu biar ga gerah", kata Mas Andre tiba-tiba dari belakang


Aku lalu kembali meminum segelas baru itu untuk mengusir hawa panas yang menjalar ditubuhku. Walau minuman rasa stroberi itu segar di tenggorokan tetapi aku merasa keringat di tubuhku semakin keluar dengan deras.


"Kepanasan lu Cha.. Iya buka aja tuh jaketmu", kata Mas Wawan


"I.. Iya deh mas.. Ga tau kok aku bisa kegerahan gini ya", ujarku


Aku pun membuka resleting jaketku dan kulihat kondisi tanktopku basah kuyup seperti habis kehujanan. Kukibas-kibaskan ujung kerudungku dan berharap ada angin sepoi-sepoi yang memberikan kesejukanbsejenak pada area dada serta leherku. Kusadari suasana mendadak hening saat itu. Ternyata keempat lelaki yang mengelilingiku sedang memandangiku. Kulirik keadaan area dadaku dan kudapati braku sudah nyeplak parah karena tanktopku semakin basah kuyup. Aku pun jadi salting dibuatnya karena mereka terus menatapku dengan pandangan takjub yang terus mengarah ke dadaku


"Yank, Behamu nyeplak tuh"", ujar Mas Rio memperjelas keadaan ini


"Tebak warna Beha Echa yang betul dapat hadiah", imbuh Mas Rio


"Hitaaammm..", seluruh teman-teman Mas Rio menjawab dengan kencang membuat beberapa orang di warkop ini menoleh ke arah kami


"Hadiahnya apa bro?", tanya Anto


"Gak tau.. Tanya Echa aja", jawab Mas Rio


"Ehhh? Engg.. enggak ada. Hihihi", jawabku kebingungan


"Buka jaket lu dong Cha", ujar Mas Anto


"Buka.. Buka.. Buka.. Buka..", suasana mendadak riuh berasal dari mejaku dan teman-teman Mas Rio


Orang-orang di warkop semakin penasaran dengan meja kami. Seluruh mata di warung seolah sedang menatapku. Rasanya sungguh tidak karuan malunya. Lebih parah dari sekedar demam panggung saat aku menyanyi diatas panggung pentas seni sekolah. Keringatku semakin mengucur deras. Bahkan samar-samar selangkanganku juga berkeringat dan mulai terasa sedikit gatal dan panas. Rasa ini biasa kurasakan saat aku sedang petting dengan Mas Rio. Rasa terangsang dan gairah tinggi yang timbul saat aku sedang sange. Apa iya aku sange saat ini karena seluruh mata menatap kearahku?


"Buka aja Yank.. Gapapa", ujar Mas Rio


"I.. Iya mas"", jawabku dan aku pun melepas jaket tebal berwarna hitamku


Gaya berpakaianku terlihat aneh saat ini. Disaat kepalaku masih memakai kerudung, pakaian atasku hanya memakai tanktop putih tipis yang menampakkan warna bra dan bentuk payudaraku. Belum lagi bagian bawahku juga hanya memakai legging semi transparan yang juga menampakkan celana dalamku samar-samar.


"Muluss banget kulit lu Cha"", kata Mas Anto sambil tanpa permisi ia sentuh pundakku perlahan dengan tangannya


Aku hanya diam mematung saat Mas Anto terus meraba lenganku yang sudah terbuka. Tangannya juga mulai bermain-main di tali braku yang saling bersinggungan dengan tali tanktopku yang tipis. Sesekali ia tarik tali braku hingga menyeples pundakku. Mas Rio kulihat hanya tersenyum mesum tanpa berkata apa-apa. Ia sepertinya ikhlas pundak serta lenganku diraba oleh temannya yang gemuk itu.


Lalu Mas Anto iseng menurunkan tali braku yang sebelah kiri dan kembali ia raba-raba lengan serta pundakku. Aku sebenarnya risih juga diraba seperti ini, apa lagi di depan cowokku sendiri. Tetapi sentuhan tangan Mas Anto juga memberikan rasa geli-geli nikmat yang menggoda. Diam-diam dalam hatiku aku merasa ia tidak boleh berhenti. Aku semakin terkejut saat Mas Anto tiba-tiba mengecup pundakku dengan bibirnya yang kasar. Aku rasa ini sudah diluar batas wajarku. Demi menjaga imejku, aku hentikan sentuhan nakal Mas Anto ke lenganku itu. Ditambah lagi kulihat Mas Rio terlihat terkejut saat Mas Anto mencium pundakku.


"Mas maaf"", aku pun menepis tangan Mas Anto dan dia pun hanya tersenyum mesum


"Cewek lu menarik bro. Hehehe.. sory gue kebablasan", ujar Mas Anto


"Ngga papa Bro.. Santai aja", jawab Mas Rio


"maksudnya gapapa?", tanya Mas Anto


"Tes tes.. Singgggggggg", tiba-tiba suara penjaga warkop mengejutkan kami dengan mic yang berdesing memekakkan telinga


Semua orang yang tadinya melihat ke arahku, seketika langsung mengarahkan pandangannya ke arah Mas Penjaga Warung.


"Biar makin menarik dan seru nobarnya, gue mau manggil salah satu orang disini. Hehehe.. Nah kebetulan ada 1 cewek disini. Ayo Mbak yang disana maju ke atas panggung sini", pinta Mas Penjaga Warung


"Eeehhh?", terkejutnya aku menyadari aku lah yang dimaksud olehnya


#Bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 5 : Taruhan


POV : Rio


Si penjaga warung tiba-tiba memanggil satu-satunya cewek ditempat ini. Menyadari hanya pacarku satu-satunya cewek yang ada ditempat ini, membuatku terperangah. Aku lihat juga Echa tak kalah terkejutnya denganku. Nampak sekali pacarku yang cantik imut itu kebingungan menyadari ia diminta ke depan, mendatangi sekelompok pemuda-pemuda yang sedang nobar disana. Aku pun tidak tahu menahu akan ada "undangan ke atas panggung" seperti ini. Aku lihat teman-temanku pun sudah bertepuk tangan menyemangati Echa pacarku agar tidak malu-malu untuk maju ke depan.


*Plok" Plokkk.. Plokkk.. Plokkk* suara tepuk tangan riuh


"Maju.. Maju.. Maju..", seluruh orang di warung mulai meminta Echa ke depan sambil terus bertepuk tangan


"Tapi mas" Aku malu"", ujar Echa kepadaku


"Ngga papa.. Buat have fun aja Cha"", ujar Andre


"Iya tenang aja Cha.. Buat seru-seruan aja kok" Pacar lu juga ga ngelarang. Ya kan bro?", tanya Wawan kepadaku


"I.. Iya.. Gapapa Yank sapa tau kamu bisa dapat hadiah kalau maju ke depan. Hehehe", ujarku pada akhirnya


Aku pun penasaran juga apa yang akan terjadi dan kelihatannya ini semua akan menarik. Mengingat gaya berpakaian Echa yang menggoda itu pasti bisa memuaskan fantasyku untuk memamerkan cewekku yang cantik berkerudung itu di depan khalayak ramai. Terbayang sudah bagaimana Echa akan menjadi pusat perhatian semua orang di warung ini. Membayangkannya saja, kontolku sudah mengeras saat ini.


Sepertinya 100% orang di tempat ini sudah setuju pacarku maju ke depan dan berdiri ditengah-tengah Warkop remang-remang ini. Jantungku berdebar-debar dengan kencang apa lagi cara berpakaian Echa yang sudah tidak sesuai standard kesopanan ini. Berkerudung tapi memakai tanktop sexy, dengan legging super ketat yang menerawang menampakkan celana dalamnya.


*Sumpah gue ngaceng lihat pacarku berpakaian seperti itu.. Apalagi bentar lagi ia akan jadi pusat perhatian di depan. Hehehehe"*, gumamku sambil membetulkan posisi kontolku yang kesempitan dibawah sana.


Kulihat Echa hendak mengenakan jaketnya namun reflek kutahan. Ini adalah kesempatan emas untuk memamerkan pacarku di tempat umum. Ditempat ini tidak ada lagi mata ibu-ibu yang memandang risih ke pacarku. Tidak ada lagi orang-orang yang akan sok perhatian dan ngasih nasehat ke pacarku. Yang ada hanyalah tatapan pria-pria mesum yang akan mengagumi keindahan lekuk tubuh Echa pacarku.


"Mas please jangan gini", pinta Echa memelas saat ia hendak mengambil jaketnya namun kutahan


"Ngga papa, kamu cantik Yank.. Sempurna..", ujarku dan kuberikan jaketnya ke Anto


Terlihat Echa kebingungan saat melihat jaketnya kini ada di tangan Anto sohibku yang gendut hitam itu. Anto sengaja meletakkan jaket Echa tepat di selangkangannya sehingga Echa pun tidak berani mengambilnya. Kupandangi tetek pacarku itu, sungguh sexy dan terlihat menggoda. Payudara bulat yang menerawang karena tanktopnya sedang dalam kondisi basah terkena derasnya keringat tubuhnya. Bra hitam yang membungkus tetek Echa tentunya akan membuat siapa saja akan penasaran seperti apa bentuk susu yang dibungkus itu. Aroma tubuh Echa yang khas tercium samar-samar bersamaan dengan keringat yang berasal dari tubuhnya.


Dengan langkah malu-malu Echa akhirnya pasrah berjalan menuju ke depan panggung. Beberapa orang kudengar bersiul-siul menggoda pacarku itu. Kupandangi bokong Echa yang berjalan ke depan yang samar memperlihatkan sempaknya yang motif bunga. Mungkin bukan hanya aku saja, semua mata lelaki disana pasti memandang kearah bongkahan pantat Echa yang memang sexy dan ketat itu karena leggingnya.


"Namanya sapa mbak?", tanya si Penjaga Warung setelah pacarku sampai di depan panggung


"Echa"", jawab pacarku sambil terlihat kikuk berusaha menyembunyikan tubuhnya tetapi sia-sia saja


"Umurnya sekarang berapa Mbak?", tanya si Penjaga Warung lagu


"Mau 19 tahun mas", jawab Echa dan disambut tepuk tangan riuh dari beberapa pengunjung warung ini


"Yeee pada tepuk tangan? Mau daftar lu-lu pada?", goda si penjaga warung dan kulihat wajah Echa semakin tertunduk malu


"Mau mau mau mau".", suasana semakin riuh karena hampir semua pengunjung warung mengacungkan tangannya


Mereka sudah tidak lagi menatap layar pertandingan sepak bola. Fokus mereka saat ini justru tertuju kepada pacarku. Rasanya kontolku semakin sesak saja melihat para cowok itu memperebutkan Echa dan ingin mendaftar jadi pacarnya. Tentunya ada sedikit rasa cemburu yang kurasakan melihat Echa jadi rebutan seperti itu. Tapi aku yakin penjaga warung itu hanya bercanda saja.


"Cewek gue itu woiii", pekikku dalam hati


"Gue ada game nih mbak. Saya butuh satu orang disini buat jadi lawan mbaknya", kata si penjaga warung


Tak lama seorang pemuda naik ke atas panggung dengan tiba-tiba


"Namanya siapa mas?", tanya penjaga warung


"Kevin.. ", jawab lelaki itu sambil tersenyum ke arah Echa hingga membuatku panas dingin.


*Sialan tuh cowok ganteng lagi*, kataku dalam hati


"Ok jadi sepakat ya" Echa vs Kevin.. Jadi saya disini mau ada game berhadiah pulsa sebesar 25ribu syaratnya"", kata mas penjaga warung tiba-tiba terhenti


"Bentar-bentar saya gak mau hadiahnya cuma pulsa 25ribu. Heheheh" Saya ada hadiah sendiri buat mbaknya kalau bisa ngalahin saya, tapi aturan mainnya dari saya juga. Gimana?", ujar si pemuda itu mengejutkan kami semua termasuk si penjaga warung


"Hadiahnya apa dulu mas?", tanya Echa begitu lugu membuat seluruh lelaki yang mengerubunginya tertawa


Mengerubungi Echa?


Sejak kapan mereka mengerubungi pacarku dari jarak sedekat itu. Padahal tadinya mereka duduk berpencar mengisi bangku-bangku yang ada di warung ini. Saat ini justru banyak bangku yang kosong karena para lelaki itu kini duduk lesehan mengelilingi pacarku dan meninggalkan bangku-bangku mereka. Echa terlihat nervous sambil sesekali ia gerakkan kakinya sambil terus berdiri diatas panggung mini dan para lelaki itu terus memandangi Echa dengan tatapan mupeng. Sialan, aku yakin sekali tatapan mereka saat ini mengarah ke selangkangan Echa. Dari jarak sedekat itu, aku tau arah pandang mereka tertuju kemana. Celana dalam Echa yang basah pasti semakin menerawang menampakkan keindahan selangkangan pacarku yang cantik itu.


"Ini saya ada ip**ne 14 pro kalau mbaknya menang saya kasih ke mbaknya gratis. Kalau saya yang menang saya dapat hadiah dari mbaknya... Heheheh", usul lelaki bernama Kevin itu


"Asli gak tuh? Jangan2 replika. Hehehe"", ledek penjaga warung


"Asli dong"", kata si pemuda tak mau kalah


"Menarik" Gimana Echa berani terima tantangan? Ip**ne 14 pro lho itu.. HP mahal. Hehehe", tanya penjaga warung sambil mulai memanas-manasi Echa


Aku deg-degan menunggu jawaban Echa. Apakah ia berani menerima tantangan itu atau tidak. Aku berharap Echa menolak tantangan ini. Karena aku tidak tahu pemuda itu akan meminta apa ke cewekku kalau dia yang jadi pemenang. Tentunya aku belum siap jika ia minta aneh-aneh dari pacarku. Karena saat ini aku sudah cukup puas karena Echa telah memamerkan keseksian lekuk tubuhnya di atas panggung mini itu.


"Permainannya gimana mas?", tanya Echa sehingga membuatku terkejut, sepertinya pacarku itu tertarik dengan penawaran pemuda itu


"Waaaaaaa.. Bakalan seru nihhhh.. Sepertinya tantangan diterimaaa", ujar si penjaga warung


"Gampang aja aturannya, Mbaknya kalau berhasil nebak skor akhir pertandingan ini dengan benar, mbaknya menang. Kalau tebakan saya yang benar, saya yang menang. Kalau tebakan mbak dan saya ga ada yang benar, jadinya seri", ujar pemuda itu penuh percaya diri


Terlihat sekali wajah Echa kebingungan. Sesekali ia menggerakkan kakinya seperti menjepit kemaluannya. Mungkin obat dari Andre sudah bekerja dari tadi. Sejak kusadari pacarku itu terus mengucurkan keringat dengan derasnya sambil terus ia gerakkan kakinya seperti menahan pipis. Libido Echa pasti saat ini mulai terpengaruh oleh obat dari Andre. Kemaluan Echa pasti saat ini terus mengeluarkan lendirnya karena sudah sangat terangsang. Dan Echa harus menahan semua itu saat ia berada di atas panggung. Bagaimana jika Echa tidak bisa menahan diri dan ia sampai ngompol? Sialan! Pasti pacarku itu akan sangat malu


Bagaimana kalau ia beneran kalah?


Aku tahu Echa tidak suka melihat sepak bola. Tentu saja ia tidak tahu mana klub yang kuat dan mana klub yang lemah. Kulihat pertandingan akan berakhir 10 menit lagi dengan skor sementara klub yang mereka jagokan sedang tertinggal 0-1. Lalu kulihat Echa berjalan mendekati TV dan menunjuk ke klub yang sedang memimpin.


"Menang yang ini 1-0", jawab Echa penuh keyakinan


Aku menghela nafas lega, rupanya pacarku itu tidak o"on o"on amat. Dilihat dari skor dan kondisi saat ini, wajar jika Echa menjagokan klub lawan tersebut. Waktu sisa 10 menit dan kondisi masih memimpin 1-0 adalah jawaban paling logis yang bisa Echa pilih.


"Ok, kalau gitu saya tebak skornya 2-1 buat kemenangan klub kebanggaan kami", jawab pemuda itu penuh keyakinan dan disambut tepuk tangan seluruh pemuda di warung ini


*Cih kok bisa pede sekali dia?*, Gusarku dalam hati


"Tenang aja bro ga usah tegang gitu. Klub yang dijagokan Echa masih mimpin.", ujar Andre mencoba menghiburku


"Yoi bro santai dikit lah. Hehehe", ujar Wawan mencoba menghiburku sambil memijat pundakku yang sebenarnya tidak capek itu.


Walau dalam hati aku meyakinkan diriku kalau Echa akan memenangkan taruhan ini, tetapi tetap saja ada yang ganjal di hati. Bagaimanapun ada rasa takut Echa akan kalah dan harus menuruti keinginan pemuda yang menantangnya. Dan aku begitu curiga mengapa pemuda itu bisa sepercaya diri itu menjagokan klub yang didukungnya. Padahal sudah jelas kesempatan untuk menang sudah sangat tipis karena waktu pertandingan sudah tinggal 7 menit lagi.


Suara tiba-tiba riuh, saat seorang pemain sayap kanan terlihat berlari seorang diri tanpa ada penjagaan. Pemain itu terus berlari hingga hanya berhadapan satu lawan satu dengan kiper dan ia pun melewati kiper tersebut dengan gocekan mautnya lalu bola ditendang dengan placing pelan saja dan""


"Goaaallllllll".", seluruh supporter loncat-loncat kegirangan menyaksikan klub yang mereka jagokan berhasil mencetak goal


Semua orang di warung bersorak sorai. Termasuk ketiga temanku yang kutahu mereka tidak suka bola namun mereka juga ikut merayakan gol tersebut. Hanya Echa dan aku yang lemas saat ini. Echa bahkan terlihat menutup mukanya. Mungkin dia saat ini hanya bisa berharap pertandingan berakhir dengan skor seri sehingga tidak akan ada yang menang ataupun kalah


Akhirnya aku sadar saat komentator pertandingan menceritakan alasan kosongnya pertahanan sisi kanan, rupanya klub yang dijagokan Echa saat ini bermain dalam posisi 9 pemain saja karena kedua pemain belakang mereka ada yang terkena kartu merah. Sial, Aku sama sekali tidak menduga hal semacam itu karena daritadi aku tidak menyimak pertandingan.


Pertandingan sudah dilanjutkan dan waktu pertandingan sudah menunjukkan menit ke 90, sebentar lagi pertandingan akan selesai. Setidaknya aku bisa menghela nafas panjang karena pada akhirnya tidak ada yang menang atau pun kalah dalam taruhan kali ini. Klub yang dijagokan Echa pun terlihat berhati-hati kali ini sengaja mengulur waktu dengan cara bermain-main umpan pendek di wilayah mereka sendiri.


*Waktu tambahan 10 menit*


"Whadefakkkk??? Kok lama kali waktu tambahannya. Curang ini curang.. Gak mungkinnnn ini ngacoo ah!!!", aku tanpa sadar berteriak-teriak seperti keserupan hingga seluruh orang disana langsung memandangiku dengan tatapan sinis.


Mulutku lamgsung terkunci seketika. Mungkin saja karena aku satu-satunya orang yang protes di warung itu karena keputusan wasit yang memberikan tambahan waktu begitu lama. Para pemuda disana terus menatapku dengan tatapan tak suka. Bahkan teman-temanku hanya cengar cengir sambil memintaku untuk tenang dan berkata ini hanya pertandingan biasa saja. Tetapi tetap saja, ada beberapa orang yang tidak suka dengan tingkahku yang teriak-teriak tidak jelas dan kemudian mendatangiku dengan wajah emosi


"Lu supporter klub lawan ya?", kata mereka curiga sambil menghardikku


"Eh bukan bang", jawabku


"Alah bacotttt alasan aja lu. Pergi pergi pergi! Jangan nonton disini lu", salah satu dari mereka mulai memprovokasi teman-temannya


Beberapa orang kemudian mulai menarikku dan mencoba mengusirku dari warkop bola itu. Kulihat penjaga warung hanya diam saja sambil merokok santai tanpa berusaha menenangkan pengunjungnya yang mulai bersikap liar. Kulihat Echa juga terlihat kebingungan tak tahu harus berbuat apa. Mungkin dia juga ketakutan sehingga ia hanya terdiam mematung melihatku diusir dari warung itu. Teman-temanku pun sama saja, mereka hanya membelaku seadanya dan akhirnya menyuruhku untuk pergi dari sana.


"Yank ayo kita pul". Aduhhhhh"", akupun berhenti berteriak memanggil pacarku karena kurasakan sebuah tonjokan mendarat di perutku


"Mas Rio..", kudengar Echa akhirnya berteriak memanggilku namun sayangnya aku sudah tidak bisa melihat pacarku lagi karena terhalang para pemuda yang semakin anarkis itu


"Pergi Lu mata-mata!!!", maki salah seorang supporter sambil mendorongku hingga terjungkal diluar warung


"Gue mau bawa pacar gue!", kataku mencoba menerobos masuk ke dalam namun sayang mereka kembali melarangku masuk ke warung itu.


"Alah ngaku-ngaku lu! Pergi sana!!", ujar salah satu pemuda dan menendangku keluar


Aku benar-benar ingin kembali masuk agar bisa membawa Echa bersamaku, namun sayangnya sudah tidak bisa. Mereka melarangku masuk ke dalam warung lagi dan memintaku pergi jauh-jauh dari tempat itu. Kucari-cari dimana Echa pacarku dan tidak terlihat dimana gadis mungil itu. Para pemuda yang mulai emosi hendak menyerangku. Sadar akan posisiku yang tidak mungkin menang, aku mulai ciut nyalinya. Aku pun menghela nafas panjang dan berharap semua akan baik-baik saja. Pertandingan pasti berakhir seri dan aku yakin teman-temanku yang masih ada di dalam akan menjaga pacarku baik-baik dan mengamankan Echa.


*Jaga Echa ya teman-teman*, kataku dalam hati dan aku pun pergi dari warung itu meninggalkan pacarku dengan sangat kesal


#


POV : Echa


*GOALLLLLLL*


Jantungku rasanya berhenti sejenak saat ini, betapa tidak, di menit 109, mereka kembali mencetak gol sehingga kedudukan berbalik menjadi 2-1, skor yang ditebak lelaki yang tidak ku kenal itu dengan tepat. Mana Mas Rio pakai diusir mereka lagi. Wajar saja sikap Mas Rio jadi begitu. Ia tentu khawatir aku akan kalah taruhan dan benar saja, apa yang kami takutkan benar-benar terjadi. Aku harus memberi hadiah ke laki-laki yang tidak kuketahui namanya itu.


Menghadapi suasana menegangkan seperti ini membuat tubuhku terus-terusan basah berkeringat. Tak ada sedikitpun rasa dingin yang mampu mengusir rasa gerahku saat ini. Yang bikin aku tidak betah, sudah dari tadi vaginaku terasa gatal dan coba mati-matian kutahan. Ingin sekali kugaruk kemaluanku sekarang tetapi tentu saja akan sangat memalukan jika kulakukan itu di atas panggung. Jadi, aku hanya bisa berusaha merapatkan selangkanganku dan kugaruk pelan dengan cara menjepit selangkanganku sambil kugerak-gerakkan kakiku berharap rasa gatal yang melanda ini bisa berkurang sedikit.


"Nah Mbak Echa kan sudah kalah taruhan jadi Mbak Echa mau kasih apa ya?", goda mas penjaga warung sambil melirik mesum ke arahku


"Yang berhak minta itu saya bukan anda. Hehehe", gurau si pemuda itu sambil terkekeh


"Oiya hahaha.. maaf-maaf"", kata si penjaga warung


"Huahahahahhhhhh", tawa pemuda-pemuda itu


Suasana kembali riuh, apalagi setelah klub yang mereka jagokan berhasil memenangkan pertandingan. Pesta miras langsung diadakan di tempat itu demi merayakan kemenangan. Mereka ramai-ramai memesan minuman keras dan menenggaknya bersama-sama. Aromanya langsung menyebar ke seluruh penjuru warung dan benar-benar membuatku pusing. Saat ini aku bingung harus melakukan apa dan aku hanya berdiri mematung sambil memandangi para lelaki yang asyik menenggak minuman keras bersama-sama. Kulihat teman-teman Mas Rio hanya memandangku dari kejauhan saja.


"Ayo Mas Kevin langsung sampaikan permintaannya ke Mbak Echa. Kita kan juga penasaran. Heheheh"", ujar Mas Penjaga Warung sambil melirik ke arahku untuk kesekian kalinya


"Apa ya enaknya?", tanya balik pemuda bernama Kevin itu


"Lha kok nanya balik.. Gimana ini Ko Kevin. Hahahah", ujar si penjaga warung


"Gini aja buat merayakan kemenangan tim kesayangan kita, kita suruh Mbaknya pargoy sexy gimana?", usul Kevin


"Setujuuuuu", sahut para lelaki disana


"Enggak mauuuu" Ngggak bisaaa"", jawabku mencoba menolak request itu


"Emang Mbak Echa tau pargoy?", tanya si penjaga warung


Aku menggangguk mantab karena memang tahu goyangan itu. Aku tahu maksud dan keinginan mereka karena beberapa kali kulihat di sosial media gadis-gadis suka melakukan goyangan itu. Goyangan nakal yang memang terlihat sangat sexy karena pinggul kita bergoyang ke depan dan ke belakang mengikuti irama musik. Kebanyakan mereka lakukan dalam posisi menyamping sehingga lekuk tubuh mereka semakin nampak menggoda. Kutahu para gadis itu berlomba melalukan goyangan pargoy demi meningkatkan followers dan mencari banyak like untuk sosmed mereka. Walau tak jarang kulihat juga beberapa orang sampai berkomentar tidak senonoh kepada mereka, tetapi sepertinya itu tidak masalah bagi para gadis itu. Karena banyak juga yang memuji-muji kecantikan dan keseksian mereka. Beberapa followersku memang pernah memintaku ikutan tantangan goyang pargoy, tetapi aku tidak pernah mau melakukannya karena memang tidak bisa dan malu kalau sampai dilihat teman atau keluargaku.


"Huuuuuu" Ayo mbak jangan malu-malu"", ujar salah seorang pemuda


"Pargoy.. Pargoy.. Pargoy"", beberapa cowok mulai memprovokasiku dan akhirnya diikuti oleh seluruh orang di warung termasuk teman-teman Mas Rio


Suasana menjadi riuh menyemangatiku agar mau pargoy disana.


Lalu Mas Penjaga Warung mulai memutar beberapa video cewek-cewek yang sedang melakukan goyang pargoy di layar TV. Terlihat sekali mereka sudah jago melakukan goyangan seronok itu. Goyangan pinggulnya sangat luwes dan sexy bergerak ke depan ke belakang seirama dengan alunan house music koplo yang mereka putar.


"Ayo Mbak Echa kalau ga mau melakukannya malah kita hukum ramai-ramai nih", ancam salah satu lelaki berwajah menyeramkan yang tadi kuingat dia yang memukul perut Mas Rio


"Yeeee.. Lu kan ga ikut taruhannn..", sindir penjaga warung disambut gelak tawa yang lain


"Ngga papa" Kalau Mbak Echa tetap gak mau goyang.. Saya ganti hukumannya. Saya minta Mbak Echa striptease di sini. Gimana mbak? Kayaknya Mbak Echa lebih suka striptease daripada pargoy" lebih gampang kan?", ujar pemuda bernama Kevin itu sambil tersenyum mesum


"Asyikkk.. Buka baju.. Buka baju.. Buka baju ..", suasana semakin menggila dan tidak kondusif


Tidak ada yang berusaha menjagaku selepas Mas Rio diusir oleh mereka. Bahkan teman-teman Mas Rio pada diam saja dan malah ikut-ikutan tepuk tangan menyemangatiku. Aku semakin tidak bisa menahan rasa malu ini. Dipaksa berjoget seronok di depan orang-orang tak dikenal adalah hal yang memalukan. Tetapi dipaksa melepas pakaianku oleh sekumpulan orang-orang tak dikenal adalah hal yang lebih memalukan lagi.


"Iya.. saya mau pargoy"", jawabku lirih disambut riuh para penonton


"Goyang.. Goyang.. Goyang.. Goyang" Ayo lamaaa!!", mereka terus menyemangatiku


Aku pun mulai menggerakkan tubuhku. Kuikuti gerakan di layar televisi sebisaku. Sungguh parah dan kacau sekali gerakan pinggulku yang terasa kaku dan tidak beraturan. Aku memang tidak ada bakat joget.


"Huuuuuu" Kurang hotttt" itu joget apa lagi mules?", pekik salah seorang penonton


"Hahaha.. Ayo yang sexy mbak! pargoy pargoy pargoy", para pemuda-pemuda itu terus menyemangatiku


Suasana semakin memanas di dalam warung ini. Entah mengapa pikiranku perlahan mulai tergoda untuk menunjukkan keseksianku. Ditambah mereka yang terus menyemangatiku untuk terus bergoyang lebih sexy seolah menghipnotis alam bawah sadarku. Aku mulai tergoda dan libidoku semakin mengalahkan akal sehatku. Fantasy Mas Rio yang selama ini memintaku tampil menggoda di hadapan para lelaki mulai menjangkiti otakku. Iya, aku mulai tertantang!


"Bukankah Mas Rio yang menyuruhku seperti ini? Bukankah ini adalah kesempatannya selagi tidak ada Mas Rio? Ahhhh.. Aku bingung"", ujarku dalam hati


Perlahan rasa gerahku semakin tidak tertahankan. Kalau boleh jujur aku ingin sekali melucuti pakaianku saat ini. Aku juga ingin menggaruk vaginaku yang gatalnya semakin tidak tertahankan. Kurasakan sesekali cairanku keluar dari kemaluanku. Entahlah aku sudah tidak peduli cairan apa itu. Apakah ompol atau lendir aku sudah tak peduli lagi. Yang pasti vaginaku terasa basah dan ingin sekali disentuh.


Aku mulai bergerak sexy, kupelajari benar-benar gerakan tubuh gadis sexy yang ada di TV itu. Kutirukan sebisaku dan rupanya usahaku tidak sia-sia, tubuhku mulai luwes goyangannya. Para penonton semakin riuh memandangiku yang mulai berani bergoyang sexy walau dengan gerakan perlahan. Aku semakin semangat menggerakkan tubuhku. Tiap siulan dan godaan mereka kepadaku seolah menjadi alasanku agar aku terus menggoyangkan pinggulku.


*Suit suit suit suit* siulan-siulan menggoda terus bersahutan menyaksikanku yang terlihat mulai enjoy bergoyang


Kuposisikan diriku menghadap ke samping dan mulai kugoyangkan pinggulku ke depan dan ke belakang memamerkan keseksian lekuk tubuhku. Sesekali tanganku kuangkat keatas untuk kupamerkan ketiakku yang mulus tanpa bulu. Kubayangkan beberapa gerakan erotis yang pernah kulihat bersama Mas Rio saat kami nonton bokep bersama. Adegan dimana seorang gadis Jepang yang dipaksa menari dihadapan teman-teman sekolahnya hingga ia telanjang. Sungguh itu adegan favorit yang sangat erotis hingga memicu adrenalineku. Diam-diam aku pernah membayangkan melakukannya dihadapan para lelaki dan mungkin kali ini harapanku itu benar-benar terwujud. Sepertinya fantasy Mas Rio benar-benar menular kepadaku tanpa kusadari.


"Bagusssss.. Echa" Terus Goyangg.. Arghhh.. Pingin coli gue anjirr"", ujar salah seorang pemuda


Lalu kulihat pemuda itu mengeluarkan kemaluannya dihadapanku, tanpa rasa sungkan dan malu karena di sana banyak orang. Tetapi aku salah, keberanian lelaki itu justru menginisiasi pemuda lainnya agar mengeluarkan kemaluan mereka dihadapanku. Mereka mulai coli sambil memandangiku yang terus bergoyang nakal. Para cowok yang sedang mabuk itu mulai mengocok kemaluan mereka saat aku sedang berjoget


"Buka Chaaa" Bukaaa". Bukaaa" Ngaceng gue anjirrr"", kata beberapa pemuda dan disetujui oleh pemuda lainnya


Kulihat sekelilingku, semakin banyak cowok yang mulai onani memandangiku yang terus bergoyang dengan nakal menggoda mereka. Mataku nanar memandangi penis-penis mereka. Berbagai bentuk, warna, dan ukuran pastinya. Aku semakin terangsang dan menikmati suasana mesum ini. Ditambah saat ini vaginaku sudah benar-benar banjir. Kemudian kulirik Kevin, rupanya ia tidak mengeluarkan penisnya seperti cowok lainnya. Ia hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan para lelaki yang memang sudah pada mabuk itu.


*Kuperhatikan ni cowok ganteng juga. Mana tajir lagi"*, entah setan mana yang merasukiku hingga rahimku semakin hangat saat memandangi wajah Kevin yang ternyata seperti cowok Korea itu


"Suit suit suit" Buka buka buka buka.. Ayo Bukaa mbak".", para lelaki itu terus bersiul dan memintaku membuka pakaianku


"Gini aja biar Mbak Echa semangat buka bajunya, kita sawer aja.. Ayo masukkan uang kalian ke kotak ini biar Mbak Echa mau buka baju", ujar penjaga warung mengejutkanku sambil meletakkan sebuah kotak kardus didepanku persis.


"Apaaa?", aku terkejut mendengar saran dari mas penjaga warung yang terasa merendahkanku, seolah aku sedang mengamen sambil striptease!


"Ntar uangnya bagi 2 mbak.. 50:50 heheheheh..", ujar si penjaga warung dan aku pun hanya geleng-geleng kepala mendengar usul gila ini


Beberapa orang mulai memasukkan uang ke dalam kotak. Ada yang uang receh 500ratusan, seribuan, dua ribuan, lima ribuan, bahkan aku lihat ada yang sampai memasukkan uang lima puluh ribu demi berharap aku mau melepas pakaianku. Aku jadi merasa bersalah dan tidak enak hati jika tidak menuruti keinginan mereka karena mereka sudah membayarku untuk melakukan kegilaan ini.


"Duh aku harus gimana? Ini sudah terlalu jauh dan aku gak mungkin menolak mereka. Apa aku harus menuruti mereka? Tapi Mas Rio marah nggak ya?", aku semakin bingung


Karena terus diminta dan disemangati seperti itu aku pun mulai mengumpulkan keberanian untuk melakukan apa yang mereka minta. Aku juga sudah tidak betah dengan rasa gerah yang terus menyerang tubuhku. Ditambah sebagian lain pada diriku juga merasa tertantang untuk melakukan hal yang lebih gila lagi. Otakku mulai tergoda untuk melucuti kain pada tubuhku, libidoku yang semakin tak terkendali ini rasanya menghipnotisku dan perlahan menyingkirkan nalar akal sehatku. Yang kubutuhkan saat ini adalah sebuah pujian dari para lelaki ini. Kulirik teman-teman Mas Rio dan mereka sepertinya tidak keberatan jika aku melakukan kegilaan ini.


*Ini adalah cita-cita Mas Rio*, sekali lagi fantasy gila Mas Rio menjadi pembenaranku untuk striptease di depan para pemuda yang sedang merayakan kemenangan klub kesayangan mereka itu.


Kusingkap kain kerudungku kebelakang dan seketika pemandangan gunung kembar basah kuyup dengan bra hitamku nampak dihadapan mereka. Para pemuda di sana langsung bertepuk tangan riuh dan mereka semakin semangat mengocok penis mereka dihadapanku. Melihat itu aku bukannya malu malah semakin bersemangat bergoyang menghibur mereka. Aku semakin terangsang dan birahi tinggi, mana lubang vaginaku rasanya sudah becek sekali. Kuturunkan tali tanktopku perlahan mulai dari yang kanan dan lanjut ke yang kiri sehingga pundakku terbebas dari tali-tali kecil itu. Lalu aku tidak langsung melepas tanktopku, aku goda mereka dengan menaikkan tanktopku hingga perutku terbuka dihadapan mereka dan sedikit kuturunkan pula leggingku ke bawah sehingga celana dalamku pun terlihat sebagian.


"Anjirrrr.. Gue mau crotttt", ujar salah seorang pemuda dan akhirnya kulihat cowok itu mengeluarkan spermanya dengan deras.


Wajahnya terlihat puas, aku tersenyum penuh kebanggaan karena dengan tubuhku aku berhasil menggodanya hingga ia mengeluarkan air maninya. Tapi aku tidak cukup berpuas diri sampai disini. Masih ada puluhan mata yang menantikanku melucuti pakaianku satu persatu. Jujur saja aku memang masih malu, tapi aku juga excited dengan apa yang kualami saat ini.


"Sexy bener Mbak Echaa.. Ayo buka lagi Mbak". Buka sampai kamu telanjang", kata seorang cowok sambil kembali ia masukkan uangnya ke kotak untuk menyawerku.


Aku remas-remas payudaraku dihadapan mereka. Sesekali tanganku meraba kemaluanku yang gatal dengan gerakan meliuk nakal menggoda. Kulihat teman-teman Mas Rio mendekat ke arah kerumunan di depan panggung kecil ini dan mulai mengarahkan kameranya ke tubuhku. Aku tidak tahu mereka memotret atau merekamku, aku sudah tidak peduli lagi. Aku hanya berharap mereka tidak memberitahu Mas Rio tentang kegilaanku ini.


Jantungku berdebar semakin kencang, bagaimanapun aku belum pernah segila ini sebelumnya. Aku hanya pernah tampil polosan di depan Mas Rio saja, tidak pernah aku menampakkan ke cowok lain. Aku hanya berpikir jika di depan Mas Rio saja aku berani, aku seharusnya berani tampil polosan di depan mereka juga. Toh mereka sama-sama laki-lakinya seperti Mas Rio. Mereka juga akan sama sangenya seperti Mas Rio. Dan satu yang pasti, mas Rio tentu akan semakin bangga kepadaku.


Kulepaskan celana leggingku seluruhnya sehingga kali ini bagian bawah tubuhku hanya tinggal mengenakan celana dalam motif bunga dan sepatu sekolahku saja. Beberapa mulai mengarahkan kameranya kepadaku. Aku semakin takut sebenarnya khawatir mereka akan menyebarkan video mesumku ini ke situs dewasa. Tetapi aku juga sudah merasa kepalang tanggung jika tidak meneruskan ini semua.


"Bwahahaha.. Motif sempaknya lucu sekali lu Cha.. Hahahaha" Kayak anak kecil", ledek para penonton


"Biarin..", jawabku ketus dan para penonton langsung bertepuk tangan melihat responku yang menggemaskan


Kulihat saweran uang untukku masih terus berlanjut. Beberapa yang tadinya enggan memasukkan uang mereka ke dalam kotak, mulai menyisihkan uang mereka ke kotak saweranku. Diam-diam aku berharap kotak itu segera penuh agar aku bisa dapat keuntungan setelah apa yang telah kulakukan ini.


*Ternyata aku tak lebih seperti seorang lonte* kataku dalam hati sambil kugelengkan kepalaku


"Ayo Bugill.. Bugilll.. Bugillll..", celoteh para cowok disana semakin tak sabar melihatku telanjang


Aku menghela nafas panjang, sepertinya tidak ada alasan lagi bagiku untuk mempertahankan pakaianku disini. Pikiranku juga sudah ingin segera telanjang saja karena entah mengapa rasanya tubuhku semakin gerah dan rasa gatal saat bersinggungan dengan kain pakaianku juga semakin menyiksaku. Aku merasa tidak nyaman saat memakai pakaian dan ingin telanjang saja. Lalu, Kulepas begitu saja tanktop putihku sehingga kali ini aku hanya menyisakan kerudung, bra, dan celana dalamku saja.


Beberapa pemuda kulihat terus mengocok penisnya sambil memandangiku yang sedang menelanjangi tubuhku sendiri ini. Beberapa juga kulihat masih merekamku dengan kamera handphonenya. Kuliukkan tubuhku ke kiri dan kekanan sesexy mungkin tanpa rasa canggung lagi. Beberapa kali kuremas payudaraku menggoda mereka. Gerakanku memang acak dan tidak teratur. Bagiku tidak apa-apa asal aku terus bergerak sexy menggoda, kurasa mereka tetap akan terhibur melihatku.


Kemudian aku mulai melepas kerudungku, karena rasanya rambutku sudah benar-benar tidak nyaman oleh keringatku sehingga aku harus segera membuka kerudungku. Rambutku langsung terbuka bebas dan rasanya sangat melegakan. Paling tidak rasa gerah pada tubuhku lumayan berkurang saat kubuka kain penutup rambutku itu. Lalu aku sempat membetulkan ikatan rambutku yang sedikit berantakan. Para pemuda itu kembali bersiul-siul saat melihatku sedang mengikat ulang rambutku.


"Suit suit suit" Lanjut Mbak Echa" Tinggal BH sama sempakmu yang belum.. Ayoooo"", kata salah seorang lelaki tidak sabar


"Aaa bgsd" liat cewek lagi iket rambut aja gue crott.. Arrrggghhh", ujar laki-laki lainnya


*Crot crot crot* lelaki itu kemudian menyemburkan spermanya dengan deras dan ia pun terlihat lemas seketika


"Lemah luuuu..", ledek pemuda lainnya dan disambut tawa riuh


"Biar afdhal, kita minta jagoan kita Mas Kevin untuk naik ke atas panggung dan melepas dua lembar kain terakhir Mbak Echa. Bagaimana setujuuu?", tanya Mas Penjaga Warung


"Setujuuuuuuu"", ujar para penonton


Kulihat pemuda tampan berwajah mirip cowok Korea itu mulai naik ke atas panggung sambil garuk-garuk kepala. Mungkin dia sendiri tidak menyangka suasana akan semeriah dan segila ini. Kemudian ia mulai berjalan membelakangiku dan kurasakan ia mulai mengecup leherku. Sebuah kecupan lembut yang sangat merangsang nafsuku. Tangannya pun ia lingkarkan erat di pinggangku. Aku sampai menahan nafasku dan berharap lelaki tampan itu terus mencumbuku dengan romantis.


"Ssshhhh.. You are so cute.. Echa..", bisiknya sambil ia jilati tipis daun telingaku sedikit hingga membuatku merinding


Cowok ganteng itu terus menggodaku dan memainkan gairahku. Ia tidak segan menciumi tengkuk leherku dihadapan para pemuda di warung ini. Aku semakin terkejut saat tiba-tiba ia membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya dan mata kami langsung saling bertemu dan berpandangan. Tanpa permisi ia langsung mengecup bibirku diatas panggung!


Sebuah ciuman yang sangat memanjakanku. Kecupan cowok bernama Kevin itu benar-benar lembut dan bau mulutnya juga wangi. Aku bahkan sampai memejamkan mata membiarkan pemuda tampan itu mencium bibirku sepuasnya. Tanpa sadar bibirku pun tak mau kalah dan mulai membalas ciuman bibirnya. Bibir kami saling melumat, dari yang awalnya sebuah kecupan lembut, berubah menjadi sebuah ciuman frenchkiss panas dimana bibir kami saling melumat satu dengan yang lain dan lidah kami saling beradu satu dengan yang lain.


Kusadari keberadaan teman-teman Mas Rio disini bisa saja menjadi boomerang buatku. Bisa saja mereka melaporkan kenakalanku itu ke Mas Rio. Mungkin teman-teman Mas Rio saat ini menganggapku tak lebih dari seorang pelacur murahan. Siapa juga yang bisa menerima dengan akal sehat melihat pacar temannya sedang berciuman dengan lelaki lain di tempat umum seperti ini. Mungkin ini sudah melebihi ekspektasi ataupun bayangan mereka. Tetapi ya udah lah mau bagaimana lagi, aku sudah tidak bisa menahan diri dari gairahku yang semakin meninggi saat ini karena perlakuanya yang diam-diam juga membuatku bergairah dan rahimku dibuatnya semakin hangat.


Sambil terus menciumiku, ia mulai membuka pengait bra hitamku tanpa kesulitan. Kupasrahkan saja bra hitam itu terlepas dari payudaraku dan kusadari ia melemparkan begitu saja braku ke arah para penonton. Para penonton pada berebutan menerima braku dan kulihat yang mendapatkan braku langsung menciumi benda itu. Kevin tertawa melihat kelakuan cowok yang begitu bernafsu menciumi braku.


Setelah kami puas saling bercumbu. Tiba-tiba ia balik lagi tubuhku menghadap ke penonton. Kali ini lebih gila dari sebelumnya karena payudaraku terbuka bebas tanpa pembungkus. Kurasakan tangan Kevin meremasi kedua payudaraku beberapa kali dan tangannya memilin kedua putingku bersamaan dihadapan para penonton. Aku mendesah kecil dan membiarkan cowok berwajah Korea itu bermain-main di area payudaraku. Para Penonton semakin menggila dan mempercepat kocokannya. Beberapa dari mereka juga terlihat mulai mengeluarkan spermanya karena tidak kuat melihat pertunjukanku ini. Tidak akan yang pernah menyangka di sebuah warung remang-remang tersembunyi ini, ada sebuah pertunjukan striptease layaknya club malam mahal.


Lalu Kevin mengangkat kedua tanganku keatas hingga ketiakku terbuka lebar. Pose yang sangat memalukan namun juga sexy luar biasa karena dengan posisi seperti ini, aku terlihat begitu pasrah memamerkan seluruh tubuh bagian atasku


"lu terus berdiri seperti ini ya, biar mereka puas liat tubuh lu", pinta Kevin dan kulihat blitz kamera mulai beberapa kali menyilaukan mataku


Semua lelaki disana terlihat mengabadikan poseku ini beberapa saat dengan kamera HP mereka. Hingga tanpa sadar aku sampai ngompol diatas panggung. Air vaginaku merembes keluar dari celana dalamku dan jatuh begitu saja menetes-netes diatas panggung. Beberapa turun melalui celah celana dalam dan menuju kedua pahaku, sedangkan kebanyakan lainnya jatuh begitu saja karena celana dalamku sudah tidak sanggup menahan air vaginaku yang sudah mumbanjiri kain segitiga itu


Lalu Kevin menurunkan celana dalamku ke bawah hingga bersentuhan dengan kaos kaki dan sepatu sekolahku. Terlihat vaginaku masih meneteskan cairannya saat ini dan menetes deras mengenai celana dalamku yang masih tergantung di kedua mata kakiku. Aku benar-benar birahi tinggi dengam pose memalukan saat ini!


Dengan posisi kedua tangan diletakkan diatas kepala hingga kedua ketiakku terbuka lebar, payudaraku tergantung bebas, dan vaginaku yang sudah terekspose sempurna dengan celana dalam yang sudah diplorot hingga kakiku. Aku seolah terlihat sedang kencing sambil berdiri. Vaginaku terang-terangan meneteskan cairan dengan deras di depan para lelaki ini. Ada apa dengan tubuhku? Mengapa aku bisa seperti ini orgasmenya?? Bukan hanya berlendir saja, tapi vaginaku juga mengeluarkan cairan encer mirip urine yang terus mengucur keluar dari lubang kecil kemaluanku.


Setelah selesai mengeluarkan cairannya aku terduduk lemas. Rasanya kakiku kehilangan daya penopangnya sehingga tubuhku tidak bisa disangganya dengan baik. Badanku gemetaran hebat sambil vaginaku terus ngos-ngosan kedutan. Tidak pernah aku orgasme sedahsyat ini. Sebuah orgasme yang terjadi tanpa rangsangan dan sentuhan sama sekali pada vaginaku. Vaginaku keluar-keluar sendiri saking tidak mampunya ia menahan ledakan cairannya yang sudah daritadi ia tahan.


Kemudian Kevin berbisik padaku


"Kasih tau mereka dong isi memek lu kayak gimana, nanti aku kasih bonus", ujar Kevin pada telingaku kiriku


Akupun menyanggupi pemuda berwajah Korea itu. Walau awalnya ragu, pada akhirmya aku tetap mengangkang, sambil kubuka lubang kemaluanku dengan kedua tanganku agar semua laki-laki disana bisa melihat isi kemaluanku. Semua lelaki disana sampai melongo memandangi area paling privatku itu sedang merekah sempurna memperlihatkan isi dalamnya. Sebuah daging merah muda berlendir yang pasti akan mengirimkan sinyal kepada penis-penis mereka agar semakin ereksi. Kupertahankan posisi mengangkangku itu beberapa menit sambil menahan malu. Vagina perawanku kutunjukkan kepada para lelaki disana, termasuk teman-teman Mas Rio yang semakin melongo melihat kenakalanku ini.


Beberapa orang melanjutkan onaninya dan beberapa orang kulihat juga mulai menuntaskan hajatnya dengan menyemburkan sperma-sperma mereka hingga mengotori lantai warung remang-remang itu. Tanpa kusadari sebelumnya, terlihat ternyata lantai warung ini telah sangat kotor karena belepotan sperma dimana-mana. Aroma-aroma sperma yang anyir dan khas itu juga mulai menusuk hidungku hingga membuatku kembali bergairah namun aku coba menahan rasa itu agar tidak terlalu kelihatan di hadapan mereka.


"Sungguh penampilan yang luar biasa dari Mbak Echa. Tepuk tangan semuanyaa!", ujar Mas penjaga warung akhirnya ingin menyudahi pertunjukanku


*Plok plok plok plok plok* suara tepuk tangan riuh terdengar melihat penampilan mesum perdanaku diatas panggung warung remang-remang itu.


Lalu kevin jongkok di belakangku dan aku dengar Kevin berbisik di telinga kiriku. Nafasku masih tersengal-sengal dan sepertinya aku masih tidak punya tenaga untuk diajak berbicara


"ini bonus yang gue janjikan tadi", kata Kevin sambil melemparkan satu persatu beberapa uang kertas berwarna merah ke selangkanganku yang masih mengangkang


"Te.. terima kasih ya.. Mas" hah.. hah.. hah..", jawabku sambil tersengal-sengal


"Btw, lu masih perawan apa udah enggak?", tanyanya pelan


Aku hanya mengangguk lemah karena untuk bersuara saja aku sudah tidak mampu.


"perawan gak?", tanyanya sekali lagi


"Perawan..", jawabku lemah


"Gue mau beli keperawanan lu 5juta. Lu mau? Gue pingin ngerasain memek perawan cewek jilbaban", ujarnya


Aku buru-buru menggelengkan kepalaku, dalam kepalaku saat ini Mas Rio lah yang harus mengambil keperawananku. Dialah lelaki yang kucinta yang seharusnya menerima persembahan kesucianku. Dengan tegas aku tolak penawaran dari pemuda kaya raya itu. Aku tidak akan menjual kesucianku demi uang.


Kevin tidak berhenti menawarku. Ia terlihat masih ingin merayuku. Kulihat ia belum menyerah dan kembali ia berbisik padaku untuk memberikan penawaran berikutnya


"Gimana kalau kubeliin ip**ne 15 pro tapi lu kasih keperawanan lu buat gue dan selama 1 bulan lu temenin gue?"


"Ehhh? Ip**ne 15 pro??" aku pun terkejut mendengar penawarannya yang kali ini benar-benar menggiurkan


Tak bisa kupingkiri, handphone mahal itu menjadi salah satu benda impianku. Tapi aku merasa aku tidak akan sanggup membelinya karena memang harganya yang terlampau tinggi buatku dan juga keluargaku yang berasal dari keluarga biasa-biasa aja. Kini, kesempatan memilikinya sudah di depan mata, tinggal aku mau berkorban atu tidak.


*Bagaimana ini? apakah aku harus setuju atau menolak tawaran ini? Apa yang harus aku lalukan? Mas Rio aku harus gimana mas?*, kataku dalam hati mulai bimbang


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 6 : Melayani Tamu


POV : Echa


"Kita bicarakan lain waktu ya mas.. Aku masih" belum bisa jawab"", jawabku kemudian


Nampak wajah pemuda yang mirip cowok Korea itu sedikit kecewa mendengar jawabanku. Jelas saja aku menolaknya saat ini. Kondisiku saat ini sangat tidak layak "pakai". Keringat bercucuran dimana-mana dan aroma tubuhku yang kurasakan tidak wangi lagi adalah alasan utamaku menolaknya saat ini. Alasan kedua jelas karena aku malu, saat ini masih ada teman-teman Mas Rio di tempat ini. Mereka pasti akan cerita ke Mas Rio macam-macam dan tentu saja aku tidak menginginkan hal itu terjadi. Walau aku akui aku benar-benar bersedia untuk jual diri demi handphone impianku, kesempatan langka itu tidak bisa aku sia-siakan


"Oh ok.. Kalau gitu.. ini nomor gue kalau lu mau jual keperawanan lu buat gue. Tapi ingat hanya berlaku kalau lu masih perawan. Kalau udah ga perawan gue ogah", ujar Kevin sambil menyerahkan secarik kartu nama kepadaku


Aku yang masih telanjang bulat kebingungan bagaimana caraku menyimpan nomor teleponnya. Akhirnya aku hanya menggenggam kartu nama itu sambil kukumpulkan kembali pakaianku yang sudah berserakan. Kevin pun hendak pergi, namun kutahan tangannya sejenak lalu berkata


"Aku akan pertimbangin mas...", ujarku tersipu malu sambil berbisik kepadanya


"Oke. Hubungi gue kalau lu udah ada keputusan. Sekalian gue siapkan handphonenya buat lu", ujar Kevin dan ia pun akhirnya pergi


Kupandangi pemuda tampan itu beberapa saat sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil mewahnya yang tidak kuketahui apa merknya. Menghilang dari pandanganku untuk sementara waktu. Pertunjukan pun telah selesai, untungnya para lelaki di tempat ini tidak meminta lebih atau bahkan sampai memperkosaku. Mereka terlihat sudah loyo dan teler, mungkin karena pengaruh miras yang sudah mereka tenggak. Tapi sejujurnya, aku saat ini malah masih berharap ada yang kurang ajar kepadaku. Rasanya aku belum puas dan masih sangat bergairah dan butuh pelampiasan


*Eh? Aku kok malah mikir aneh-aneh lagi sih?* gumamku dalam hati dan kutepis pikiran itu jauh-jauh


Wajar saja aku masih berpikiran jorok, karena saat ini dibawah sana, vaginaku masih gatal dan kedutan sepertinya masih membutuhkan rangsangan. Ingin sekali aku masturbasi saat ini, tetapi urung kulakukan karena jika aku mengocok vaginaku sekarang, bisa-bisa pertunjukanku bakal dilanjutkan lagi dan tentu aku tidak ingin hal itu terjadi lagi. Aku rasa, Sudah cukup kubuang rasa maluku untuk beberapa saat yang lalu. Walau ada gairah yang tertinggal, tetapi aku tetap tidak segila itu mau show lagi.


Cukup untuk hari ini! Setelah semua kegilaan ini selesai, akal sehatku perlahan kembali dan tentu saja aku tidak mau mengulangi perbuatanku yang memalukan ini. Perbuatan yang tidak pantas diperbuat oleh diriku yang kesehariannya berkerudung. Sekarang aku hanya kepikiran orang-orang terdekatku, terutama kedua orangtuaku.


Kubayangkan betapa kecewanya kedua orangtuaku jika mereka sampai tahu kelakuanku yang dengan nakalnya striptease di warung tersembunyi ini. Putri kesayangan mereka yang selalu mereka banggakan, yang mereka ajarkan untuk selalu menutup aurat rambutku jika keluar rumah, tetapi aku malah berani melepaskannya di tempat ini dan berperilaku begitu rendah dengan menari telanjang di depan para lelaki.


Tapi"


Aduh, membayangkan kenakalanku tadi saja malah membuatku semakin bergairah. Memang aku tadi sudah mencapai orgasmeku dengan liar dan parah sampai terkencing-kencing. Tetapi tetap ada satu yang kurang, area kemaluanku sama sekali belum dijamah dan masih berharap menerima sentuhan tangan. Jujur saja, gairahku masih ingin sekali kulampiaskan. Semakin kuabaikan, rasa birahi ini semakin menggangguku.


Lalu, kepada siapa aku harus meminta? Tidak mungkin aku menghubungi Kevin saat ini karena tadi aku sudah menolak ajakannya. Eh, bukan menolak sih, lebih tepatnya aku hanya menundanya. Aku masih terlalu malu menerima ajakan Kevin secara terang-terangan di hadapan teman-teman Mas Rio. Aku khawatir Mas Rio kecewa denganku dan tentu saja aku tidak mau dia marah kepadaku hanya karena aku menjual keperawananku ke lelaki lain.


"Mbak Echa ini total sawernya tadi 450ribuan. Buat Mbak Echa 250 buat saya 200 aja gapapa", ujar mas penjaga warung sambil memberikan uang hasil saweran itu kepadaku saat aku sedang memakai pakaianku lagi


Walau aku sudah berpakaian, tetap saja penampilanku masih jauh dari kata tertutup sempurna. Karena BH dan celana dalamku sudah hilang entah kemana sehingga payudara dan kemaluanku terlihat menerawang dibalik kaos tanktop dan celana leggingku yang tipis.


"Mbak Echa, ini nomor saya kali aja Mbak Echa mau liveshow di tempat saya lagi. Hehehe.. Biar tempat saya makin ramai dan makin cuan. Pasti tempat saya bakalan rame kalau ada Mbak Echa", kata Mas Penjaga Warung dan aku pun menerima nomor teleponnya


Suasana yang tadinya cukup ramai riuh mulai kembali sunyi, beberapa orang terlihat sudah mulai meninggalkan warung ini. Aku pun mencoba menghubungi Mas Rio namun sayangnya teleponku tidak diangkatnya. Mungkin ia masih kesal denganku yang terlihat pasrah tidak membelanya, atau mungkin bisa saja ia sedang dijalan sehingga ia tidak bisa angkat teleponku. Entahlah"


"Cha" Rio ga angkat telepon?", tanya Mas Anto tiba-tiba mendekatiku


Entah sejak kapan ketiga teman Mas Rio sudah mengelilingiku. Mungkin karena aku terlalu fokus dengan dua buah nomor telepon yang tadi kuterima. Satu dari pemilik warung yang menawariku live show secara rutin di warungnya. Yang satunya lagi dari seorang cowok ganteng yang menginginkan keperawananku dengan menawariku sebuah ip**ne 15 pro. Keduanya memang memberikan penawaran yang menarik buatku yang tidak kaya-kaya amat ini. Dalam waktu tidak sampai 1 jam aku sudah bisa mengantongi 250ribu. Kubayangkan bagaimana jika aku kerja full time disini. Mungkin 1 juta per hari bisa kudapatkan. Bahkan jika aku totalitas menjalaninya, aku bisa mendapatkan lebih banyak lagi. Aku pasti akan mempertimbangkan matang-matang penawaran-penawaran ini dan akan kuputuskan di lain waktu.


"Ternyata cari uang tidak lah sesulit dibayangkan. Tinggal aku mau apa enggak melakukannya", gumamku dalam hati


Lalu untuk penawaran Kevin, siapa sih yang tidak mau hp mahal begitu. Aku hanya tinggal menyerahkan keperawanku saja kepadanya. Itu sebenarnya bukanlah hal yang sulit kalau aku mau ngelakuinnya, daripada aku kerja keras ikut orang, sudah dimarahi, diejek, digaji tidak sebanding, belum tentu juga aku bisa membeli hape semahal itu dengan instan. Lalu bagaimana jika Mas Rio kecewa? Ya itu resiko dia, salah sendiri jadikan ceweknya bahan pamer, salah sendiri dia tidak berani setubuhi aku. ya udah aku sekalian aja cari untung dengan tubuhku. Aku juga bisa pamer ke sahabatku Anya yang menyebalkan itu kalau aku punya handphone baru. Hihihi"


"Nakal itu gitu Nya, jual diri buat dapetin hape mahal. Hihihi..", gumamku dalam hati


"Cha?", panggil Mas Anto lagi


"Eh.. iya mas.. maaf"", jawabku terkejut


"Ngelamun aja. Heheheh"", goda Mas Anto


"Ini mas.. Aa.. Aku nyariin Mas Rio", kilahku. Ngga tau Mas Rio kok ga angkat telepon"", jawabku kikuk


"Biasa tu anak kalau lagi banyak pikiran suka ngilang. Biarin aja tar juga balik sendiri.", kata Mas Anto


"Mending lu pulang bareng kita aja gimana?", tawar Mas Andre tiba-tiba


"Eh? Gimana caranya?", tanyaku terkejut


"Ya naik mobil gue. Tuh mobil gue", kata Mas Andre sambil menunjuk sebuah mobil berwarna abu-abu yang terparkir di depan warung.


"Tapi mas"", aku pun ragu untuk naik ke mobil itu


Aku belum kenal dekat dengan mereka. Rasanya canggung saja jika aku sendirian bersama ketiga lelaki itu, walaupun aku tahu mereka adalah teman-teman Mas Rio. Tetapi tetap saja aku merasa aneh saja apalagi mereka baru saja melihat tingkah gilaku disini


"Rio sudah ngijinin kok Cha. Lu ga usah takut..", ujar Mas Andre


"Eh.. ijinin.. apa?", tanyaku semakin parno


"Lu sama kita-kita. Hehehe..", kata Wawan


"Daripada lu disini sendirian tar malah ga bisa pulang lu. Apa lu mau nemenin mas penjaga warung? Heheheh", Kata Mas Anto menggodaku


"Errr" Tapi"I..Iya deh mas"", aku pun akhirnya menyetujui usulan itu daripada harus menemani mas penjaga warung yang malah belum kukenal.


"Gitu dong"", ujar Mas Anto


Tanganku kemudian digandeng Mas Anto menuju mobil Mas Andre. Aku kemudian diminta duduk dikursi belakang oleh mereka. Aku terkejut rupanya Mas Anto dan Mas Wawan juga duduk dikursi belakang dan mereka mengapitku. Sedangkan Kursi depan dibiarkan kosong dan di bangku sopir diisi oleh Mas Andre. Mobil langsung melaju meninggalkan lokasi warung.


Didalam mobil, suasana dibiarkan panas karena Mas Andre tidak menyalakan AC mobilnya karena mereka merokok di dalam mobil. Kudengarkan kedua lelaki disamping kiri dan kananku itu beberapa kali menghembuskan nafas mereka seperti sedang menahan sesuatu selain hembusan rokok mereka. Jantungku juga berdegup kencang saat ini, apalagi bersama ketiga orang lawan jenis seperti ini membuat pikiranku semakin aneh-aneh saja .


"Cha"", tiba-tiba Mas Anto memanggilku


"Lu sexy bener anjir tadi.. Kayak liat pertunjukan striptease profesional", puji Mas Anto


"Ehhh.. Ma.. makasih mas""


"Lu kayaknya perlu sering latihan goyang biar makin jago goyang Pargoynya Cha. Hahahaha", kata Mas Wawan


"Ya memang aku ga bisa goyang mas"", jawabku


"sering-sering WOT aja lu Cha biar enak goyangnya"", saran Mas Andre dari kursi depan


"Hehehe.. Boro-boro WOT, orang Rio aja ga berani ewe si Echa", imbuh Mas Anto


"Oiya bener juga. Parah emang si Rio.. gak totalitas dan nanggung banget. Hahahah", jawab Mas Andre


"Lu gak malu emang Cha buka baju didepan banyak laki?", tanya Mas Wawan kemudian mencari topik baru


"Malu banget mas".", Jawabku sambil tersipu


"Lu kok mau tapi?", tanya Mas Anto


"Mereka udah sawer aku masak iya aku gak ngelakuin permintaan mereka..", jawabku tertunduk


"Anjir Cha.. Lu kek lonte anjir tadi.. Lu pacar Rio apa lonte sih?", tanya Mas Wawan


"Pacar Mas Rio lah", jawabku sewot


"Gak percaya gue.. Lu kayaknya lonte deh. Lebih cocok", ledek Mas Wawan lagi


"Eeehhh?", aku terkejut mendengar perkataannya


"Kalau sekarang kita minta lu telanjang disini lu mau gak?", tanya Mas Anto tiba-tiba


"Hah?", aku kembali terkejut mendengar requestnya yang gila itu


"Lu ga usah sok jual mahal Cha. Kita mah tau lu doyan telanjang dan godain cowok kan?", bujuk Mas Wawan


"Nggaaaa.. Aku gini karena Mas Rio temen kalian itu", kilahku


"Iya lagian Rio juga udah kasih ijin kok kalau emang kita mau nikmatin lu", bujuk Mas Anto kali ini


"Mas Rio bilang gitu?", tanyaku tak percaya


"Ya.. Katanya tubuh lu juga milik kita-kita", bujuk Mas Anto


"Gak mungkin, aku ga percaya Mas Rio bilang gitu. Aku taunya dia cuma berbagi foto-fotoku aja ngga lebih", jawabku


"Ya sama aja kali Cha.. Itu berarti kita juga boleh nikmatin lu", ujar Mas Wawan dari samping kiriku sambil tangannya mulai meremasi payudaraku yang masih tertutup jaket yang kupakai


"Mas tolong jangan gini.. Aku malu mas..", aku mencoba menjaga diriku dari rayuan teman-teman Mas Rio dan kutepis tangan Mas Wawan


Mas Anto terlihat memandangiku ketika mencoba menepis tangan jahil Mas Wawan yang terus berusaha menremas payudaraku. Aku pun menjadi ketakutan karena bagaimanapun aku tetaplah pacar teman mereka. Aneh saja kalau mereka sampai berani menggodaku separah ini.


"Ayolah Cha.. Memek lu tadi sudah bocor anjir.. Masih sok jual mahal aja lu.. Ngentot lu Cha.. Anjir", ujar Mas Anto lagi kali ini ia menurunkan resleting jaketku dengan sedikit memaksa


"Mas tolong jangan" jangan mas"", pintaku memelas


Aku mencoba menahan tangannya tapi percuma. Tangan Mas Anto dan Mas Wawan sudah menggerayangiku. Sialnya, gairahku yang tadi coba kutahan malah kembali menggerogoti akal sehatku. Tangan-tangan mereka begitu bergerilya menyentuh tubuhku. Aku semakin terdesak dan kewalahan karena mereka tidak peduli dengan rengekanku dan semakin keras menggerayangiku. Aku malah keceplosan mendesah karena intensnya serangan mereka kepadaku


"Ahhhh.. Aaahhh..", tanpa sadar aku mendesah saat Mas Anto dan Mas Wawan meremasi payudaraku


"Anjir malah ndesah lu.. Sange juga kan lu? Ayo lucuti pakaian lu sendiri..", kata Mas Anto


"Jangan mas"", ujarku sekali lagi


"Gak Usah sok jual mahal lu Cha.. Kita udah tau kelakuan lu. Ayo lepas pakaian lu kayak tadi!", perintah Mas Wawan


Aku bingung harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini. Andai saja Mas Rio tidak punya fantasy memamerkanku mungkin ini semua tidak akan terjadi. Tetapi, tidak waktu untuk berandai-andai saat ini. Karena kedua lelaki di samping kiri dan kananku sudah menungguku melucuti pakaianku sendiri.


"Ya, ini semua salah Mas Rio! Ini karena ulahmu mas aku jadi diperlakukan gini!", kataku dalam hati


"Tapi tolong jangan cerita ke Mas Rio ya mas.. Dan satu lagi apapun boleh tapi tolong jangan dimasukin ya"", pintaku


"Hehehe.. Pede amat lu. Sapa bilang kita mau entot memek lu?", tanya Mas Wawan sambil meledek


"Ehhh?", aku kembali tersipu malu, Terlihat sekali aku yang malah menginginkan dicabuli kalau seperti ini


"Emang kenapa ga boleh dientot? Heheheh", tanya Mas Anto sambil terkekeh


"Anu"", aku mencoba berpikir mencari jawaban yang logis


"Hahaha.. Lu pasti mau jual diri ke cowok tajir tadi kan? Mangkanya gak boleh dimasukin"", kata Mas Anto lagi sambil memandangku begitu rendah


"Eh.. Enggak kok.. Buat Mas Rio", kataku berbohong


"Hwahahahahah.. Denger kalian? Buat Mas Rio katanya.. Jangan bohong lu Cha. Rio bakalan kita perlihatkan video kelakuan ceweknya yang nari-nari telanjang di warung dihadapan orang-orang disana. Bisa pingsan dia saking sangenya liat ceweknya ternyata lonte murahan", ancam Mas Anto sambil menunjukkan rekaman kegilaanku tadi


"Jangan mas!!! Aku mohon jangan dikasih liat ke Mas Rio".", jawabku


"Sekarang lu jujur kalau gitu. Sebutin alasan lu ga mau ngasih keperawanan lu?", tanya Mas Anto sambil tersenyum menyebalkan


"Err.. I.. Iya" Soalnya mau aku tuker sama ip**ne"", aku pun mau tak mau harus jujur dan mengakuinya dengan menahan malu


"Hahaha.. Hahahahh" Anjir" Sekarang jawab pertanyaan gue lagi. Lu pacarnya Rio apa emang lonte?", ejek Mas Anto


Aku kembali diintimadisi oleh mereka. Parahnya, aku juga merasa semakin enjoy saat mereka mengolokku. Aku malah terangsang membayangkan diriku menjadi cewek nakal dan terus dihina oleh mereka.


"Aku emang sudah gila ya? Aku kok jadi sange sih", kataku lagi dalam hati


Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Mudah sekali aku terangsang akhir-akhir ini. Benarkah ini semua salah Mas Rio seutuhnya? Bagaimana jika sebagian diriku yang lain ternyata juga menikmati aku menjadi cewek binal? Entahlah yang pasti aku pun juga mulai ragu, apakah aku benar-benar lonte?


"Jawab Cha. Lu pacar Rio apa emang Lonte?", kali ini Mas Wawan yang bertanya


"A.. Aku.. Lonte mas"", ujarku tertunduk malu


"Hahaha.. Kasian Rio. Ngaku Punya pacar ternyata gak taunya Cuma seorang lonte..", imbuh Mas Andre dari bangku sopir


"Tolong jangan ceritakan ke Mas Rio ya mas..", ujarku memohon sekali lagi


"Cerita kalau lu Lonte? Hahahah", ledek Mas Anto


"Apapun itu.. tentang aku.. tolong"", pintaku sekali lagi


"Hmm gimana ya" Kalau ga diceritain kasian temen gue yang geblek itu. Hahahah.. Ceweknya malah jual diri demi ip**ne", kata Mas Anto pura-pura berpikir


Aku merasa kesal sebenarnya, karena mereka seperti malah berkuasa kepadaku karena memegang kartu asku. Jauh lebih berkuasa dibandingkan Mas Rio pacar sahku. Tetapi inilah resiko yang harus kuhadapi setelah kegilaan tadi. Mereka pasti juga menginginkan sesuatu dariku.


"Ya udah deh dipikirin ntaran aja. Sekarang lu telanjang dulu deh", ujar Mas Anto


Aku pun tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan mereka. Kulepas jaketku juga tanktopku sehingga bagian payudaraku saat ini sudah terbuka diantara mereka karena aku sudah tidak mengenakan BH lagi dari tadi. Mas Anto yang sudah terlihat menahan sangenya dari tadi akhirnya tanpa permisi langsung melumat putting susu sebelah kananku. Sedangkan Mas Wawan mendapat jatah putting kiriku. Aku tersentak kaget menyadari kedua payudaraku sudah dilumat bersamaan oleh teman-teman Mas Rio. Gila, pertama kalinya kedua putingku dikulum seperti ini. Aku langsung mendongakkan kepala kegelian. Jujur aku belum siap melakukan ini apalagi aku tidaj tahu Mas Rio apakah beneran kasih ijin aku menyusui teman-temannya?


"Aaahhh.. Aduh.. pelan-pelan mas"", desahku akhirnya tak bisa kutahan lagi


Aku akhirnya mendesah kecil saat kedua lelaki itu menjilati putting susuku. Rasa gelinya benar-benar luar biasa dan nikmat sekali. Rasanya kedua putingku disedot oleh mulut mereka dan ini sangat membuatku keenakan. Tidak ada lagi rasa ingin memberontak seperti tadi, aku justru semakin menikmati pencabulan ini.


"Aaahh.. Aaahhh.. Ssshhh.. Uuhhh.. mas"", lenguhku perlahan karena kedua teman pacarku itu terus menyusu ke kedua putting payudaraku terus-menerus


"Foto dulu Cha.. Ini kan cita-cita Rio liat pacarnya sedang netekin temen-temennya. Haha..", kata Mas Andre sambil memotretku yang sedang menyusui Mas Anto dan Mas Wawan


"Jangaan masss" Aaaahhh..", kataku sambil berusaha menutup wajahku


"Gak usah ditutup muka lu..", ujar Mas Anto sambil menyingkirkan tanganku dan kali ini Mas Andre leluasa memotretku yang sedang memejamkan mata keenakan karena putingku terus disedot dan dikenyot oleh dua temannya.


"Anjirrr.. pentil lu mungil bener Cha.. Kenyal kenyal.. Gemes gue..", kata Mas Anto sambil memelintir dan menarik putingku dengan kasar


"Aahhh.. mas".. Sshhhh.. Jangan digituin mas.. Aduhhh", pintaku sambil merintih karena Mas Anto malah memilin dengan kasar putting susuku


"Ngentot lu Cha!... Sakit apa malah sange lu? Malah gue gigit nih pentil lu", ujar Mas Anto sambil ia semakin memainkan putingku lebih kasar dari sebelumnya


"I.. Iya.. sakit.. Eehh.. enakk... Aahhhh". Mas"", rancauku


Kedua putingku menjadi bulan-bulanan kedua lelaki jauh dari kata tampan ini. Tapi walau begitu aku semakin terangsang akibat ulah mereka yang terus menyerang daging kenyalku yang berwarna cokelat muda itu. Aku tidak sanggup menahan gejolak ini. Dibawah sana aku juga merasa semakin basah saja. Leggingku terasa sangat lembab karena langsung bersentuhan dengan liang senggamaku


Aku semakin mendesah untuk kesekian kalinya karena Mas Wawan juga tidak kalah ganas saat melumat putting susuku sebelah kiri. Perasaan apa ini? Aku sudah lupa beberapa menit yang lalu aku merasa bersalah kepada Mas Rio. Tapi kini Aku malah merasa begitu ikhlas membiarkan kedua cowok teman pacarku itu mengemuti putingku. Kudongakkan kepalaku lebih tinggi agar kepala mereka lebih leluasa mengemuti putingku. Mereka memperlakukanku tanpa rasa sungkan sama sekali walaupun faktanya aku adalah pacar Mas Rio sahabat mereka


"Ahhh. Uhhhh.. Ssshhhhh.. mas". Aahhh.. ", lenguhku semakin tak terkendali sambil memegangi kedua kepala mereka agar terus menyusu di payudaraku


"Anj lu Cha.. Aaahhhh" Fakk" Lonte sialan" Ssshhh..", kata Mas Anto terus memaki-makiku dan aku sama sekali tidak tersinggung dengan ucapannya.


"Maki aku terus mass.. Aku memang cewek jalang" Aaaahhh.. ini terlalu nikmat" Mas Rioooo" Mas" Sshshh"", gumamku dalam hati sambil berdesis


"Cha? Rumah lu masih jauh? Gue juga udah ga tahan anjir denger desahan lu merdu bener..", kata Mas Andre sepertinya ia juga ingin gabung bersama kedua temannya untuk menggerayangiku


"Bentar" Ssshhh" lagi.. mas" Ouuhh.. aaahhh" perempatan itu belok kiri terus masuk Perumahan setelah.. mini... market.. Mas.. Ouuhhh..", jawabku sambil berusaha memberi tahu arah menuju ke rumahku walaupun sambil merem melek keenakan


Kedua lelaki disamping kiri dan kananku juga tampaknya enggan berhenti menyusu di putting susuku. Mereka terus menyerang payudaraku dan disedoti terus tanpa ampun. Dirangsang seperti itu tentu membuat tubuhku kelojotan hingga kedua kakiku terus bergerak-gerak. Ada perasaan ingin tumpah yang melanda kemaluanku. Aku pun coba menahan mati-matian rasa kebelet ini. Aku hanya tidak mau mengotori mobil Mas Andre dengan cairan vaginaku.


Aku dipaksa mereka terpaksa terus mendesah dan melenguh sambil memberi tahu arah petunjuk jalan ke Mas Andre jalan menuju rumahku. Suara mulut mereka terdengar berisik berdecak basah, saking sibuknya bibir mereka melumati kedua putingku yang rasanya sudah sangat sensitif ini.


"Aahhh.. itu.. mas.. gang.. Sshh.. yang ada coretan titit itu.. masuk.. Aahhh nanti rumah keempat sebelah kanan pagar putih.. Ouuhh.. Jangan digigit mas..", pintaku


"Anjir gang rumahnya ada gambar kontol", kata Mas Andre sambil membelokkan mobil masuk ke dalam gang rumahku


"Menandakan ada lonte yang tinggal di sini. Hahaha", ledek Mas Wawan


Tidak lama kemudian aku pun sudah sampai di depan rumah. Kukira Mas Rio ada di rumahku ternyata dia tidak kelihatan batang hidungnya. Aku sedikit kecewa karena ternyata Mas Rio tidak menungguku. Tapi sebagian diriku yang lain juga merasa lega karena dia tidak disini lalu melihatku dalam keadaan seperti ini. Dikerubungi ketiga temannya dalam keadaan topless tanpa pakaian atas. Mas Anto dan Mas Wawan akhirnya menghentikan kegiatannya sejenak dan memberiku kesempatan untuk bersiap turun dari mobil.


"Rumah lu ada orang ga Cha?", tanya Mas Andre


"Kosong mas. Biasanya mama papa pulang kerja jam 8 malam"", jawabku


"Sekarang masih jam 6. Ada waktu bentar nih", kata Mas Andre


"Eh mau ngapain mas?", kataku terkejut karena aku kira mereka akan segera pergi setelah selesai mengantarkanku pulang.


"Ada tamu itu dilayanin yang baik lah.. Masak iya langsung disuruh pulang. Bener ngga?", ujar Mas Andre sambil tersenyum mesum


"Err.. I..Iya" Betul mas", jawabku lemas menyadari mereka masih belum mau melepaskanku


Akupun hendak memakai kembali pakaianku namun dihalangi oleh mereka. Mereka tersenyum begitu mesum melihatku yang kebingungan karena dilarang memakai pakaianku lagi


"Jangan dipake lagi Cha.. Lu turun sambil telanjang dada gitu aja", pinta Mas Anto


"HAH??? Kalau ketauan tetanggaku gimana mas???", tanyaku panik


"Ngga akan, liat ga ada orang kok sekarang. Ayo buruan lu turun keburu ada yang liat", Kata Mas Wawan sambil membuka pintu dan mendorongku keluar dari mobil


Aku benar-benar panik saat ini. Bagaimana tidak, telanjang dada di lingkungan tempat tinggalku sendiri adalah hal yang tidak pernah kubayangkan selama hidupku. Memang benar suasana gang rumahku saat ini sepi dan tidak terlihat satupun makhluk hidup. Ditambah udara petang mendekati malam kali ini sebenarnya terasa dingin menusuk kulitku. Tapi ini terlalu nekat menurutku!


Tapi aku tidak bisa berlama-lama menikmati kesejukan yang baru saja kurasakan ini. Karena aku harus segera membuka gembok pagar rumah yang masih terkunci dalam keadaan tanpa pakaian atas sama sekali. Aku benar-benar ketakutan dan kebingungan karena kucari-cari kunci pagar rumahku dan tak kunjung berhasil kutemukan. Mungkin karena tasku semakin kepenuhan karena membawa baju seragam sekolahku. Kuobok-obok tasku di ujung-ujungnya dan aku tidak juga menemukannya.


Aku semakin panik karena rasanya sudah lebih dari 1 menit aku telanjang diluar seperti ini. Ditambah lagi terdengar suara deru knalpot yang berseliweran dari jalanan gang lain membuatku semakin was-was saja. Udara dingin yang kurasa pada akhirnya sia-sia, aku kembali berkeringat saking tegangnya berada di luar rumah dalam keadashhetengah telanjang. Perasaan ini rasanya jauh lebih mendebarkan dibandingkan menari telanjang didepan puluhan lelaki di warung tadi. Rasa ketakutan akan ketahuan dan dipergoki oleh tetanggaku memberikan sensasi yang jauh lebih menegangkan dari kejadian di warung tadi.


Akhirnya aku menemukan kunci pagar rumahku. Terselip diantara baju seragamku yang kulipat asal-asalan di dalam tasku. Segera aku masukkan kunci pagar rumahku ke gembok dan


*Ceklik* kunci pun terbuka


Aku buru-buru masuk ke teras rumah kemudian segera kubuka kunci kedua yaitu pintu utama rumahku. Tidak cukup sulit karena memang kuncinya jadi satu dengan kunci pagar rumahku. Aku pun buru-buru masuk dan mempersilakan ketiga cowok teman Mas Rio itu masuk ke dalam rumah.


Mereka mengikuti instruksiku dan buru-buru masuk kedalam rumah dan kututup pintu sesegera mungkin. Didalam rumah ini aku sudah pasrah dan tidak punya pilihan lain selain "melayani para tamu" di rumahku. Ruangan tempat aku biasanya mesum dengan Mas Rio, kali ini aku harus "melayani" teman-temannya. Mereka memandangiku penuh nafsu hingha membuatku tak sanggup membalas tatapan mata mereka yang tajam.


"Ada tamu itu dipersilakan duduk lah. Masak dibiarin berdiri", ujar Mas Andre meledekku


"Ma.. maaf.. duduk dulu mas" ", ujarku dan mereka bertiga kemudian duduk di sofa ruang tamuku


Aku benar-benar kikuk dibuatnya. Jika keadaan normal menerima tamu pada umumnya, mungkin aku tidak akan sebingung ini. Tapi kali ini benar-benar berbeda situasinya


"Tawarin sesuatu kek..", ujar Mas Anto kali ini


"Ma.. Mau mi.. minum apa mas?", tanyaku menahan malu


"Hehehe.. Susu lu boleh?", tanya Mas Anto lagi Menggodaku


"Eehh?", aku terkejut


"Bwahahahaha", tawa Mas Andre


"Boleh gak kita minum susu lu?", tanya Mas Anto lagi


"I.. Iya.. Bo.. boleh mas"", jawabku tak punya pilihan lain


"Ya udah Sini lu!", ujar Mas Anto sambil menarik tubuhku duduk berdesak-desakkan dengan ketiga cowok mesum itu


"Tapi susu lu cuma dua, satunya mau lu tawarin apa?", ujar Andre


"Eeehhh..? Punyaku boleh mas..", jawabku


"punya lu apaan? Yang jelas kalau ngomong", jawab Mas Andre


"Miss V aku"", jawabku perlahan


*Aduh, aku kok malah terangsang gini ya, aku terpaksa malah nawarin area privatku lagi*, kataku dalam hati


"Miss V? Memek lu maksud lu?", kata Mas Anto sambil memandangku begitu rendah


"I.. Iya mas"", jawabku malu-malu


"Coba ulangi. Gak jelas gue", imbuh Mas Anto


"Me..memekku.. aku kasih memekku buat melayani mas-mas"", kataku


"Hahahah.. Rio kalau denger sendiri ceweknya bilang gitu pasti bakalan pingsan sambil ngaceng kontolnya", ledek Mas Wawan


"Memek lu boleh kita apakan? Bukannya mau lu tuker ip**e?", tanya Mas Andre


"Ehhh.. Err" Jilmek Mas.. Bolehh"", ujarku pada akhirnya


"Jilmek ya? Hmm enak gak rasa memek lu? Ntar kecut lagi. Hahahahah", ledek Mas Anto


"Ya udah tar kita coba deh rasa memek lu. Sekarang lepasin seluruh pakaian lu kalau gitu. Tawarin tubuh lu buat kita", pinta Mas Wawan


Aku melirik ke arah jam dinding, sudah menunjukkan pukul 18.12, Biasanya jam segini aku petting dengan Mas Rio sebelum kedua ortuku sampai rumah. Tapi sekarang situasinya berbeda


"Mas.. Habis ini mama papa ku pulang" lain kali aja ya", tawarku siapa tau mereka berubah pikiran


"Enak aja.. Sekarang lah! Orang kita bertamunya sekarang. Hahahaha"", jawab Mas Andre


"Tapi""


"Udah ga usah tapi-tapian. Ayo buka semua", ujar Mas Anto


Merasa aku sudah tidak punya pilihan, akhirnya aku harus melucuti sisa pakaianku. Sebetulnya aku tidak seharusnya semalu ini karena tadi di warung remang-remang itu aku juga melakukannya didepan mereka juga. Tetapi kali ini perasaannya sedikit berbeda, aku seolah menghibur ketiga teman pacarku secara privat dirumahku sendiri. Akupun mencoba mengumpulkan keberanian untuk melakukannya sekali lagi. Karena tidak ada gunanya aku mencoba negoisasi dengan mereka. Aku kemudian hendak melepas kerudungku namun tiba-tiba Mas Anto menghentikanku


"Stop.. kerudungnya biarin aja. Kita Cuma butuh tetek sama memek lu", kata Mas Anto


"Iya.. mas"", kataku


Aku lalu mengurungkan niat melepas kerudungku dan beralih ke celana leggingku. Kuturunkan saja kain ketat menerawang itu karena tidak ada lagi kain yang menutup vagunaku. Kali ini aku sudah benar-benar telanjang dihadapan teman-teman Mas Rio


"Sekarang lu tawarin gih tetek dan memek lu ke kita", ujar Mas Andre


"I.. iya mas"", jawabku sambil mendekati mereka


Terlihat mereka cengengesan karena merendahkanku seperti ini. Aku padahal pacar teman mereka lho. Tapi bisa-bisanya aku malah diperlakukan seperti ini. Menawarkan bagian tubuhku yang paling privat ke mereka, bagian tubuh yang sewajarnya aku berikan hanya untuk Mas Rio kekasihku


"Mas.. Mas.. Minum susu aku dulu ya.. ini.. kalau kurang.. memek.. aku.. juga.. boleh.. dinikmatin..", ujarku sambil menahan malu yang parah


"Nggak mau ah.. Hahahah", goda Mas Andre membuatku kebingungan dengan responnya


"Lu kudu sepong kontol kita dulu baru lu. Kapan lagi kontol gue disepongin tuan rumah. Heheheh", ujar Mas Andre


Aku mengangguk lemah, sebentar lagi aku akan menjilati penis selain milik pacarku. Dalam hati aku deg-degan sekaligus penasaran bentuk penis teman-teman Mas Rio ini. Ketiga lelaki itu mulai membuka resleting celananya dan secara bersamaan mereka mengeluarkan batang penisnya. Sedangkan aku berlutut dilantai menghadap ke arah ketiga penis cowok itu.


Aku menahan malu saat mataku menatap ke arah penis-penis yang mengacung milik mereka. Yang membuatku gagal fokus adalah penis milik Mas Andre. Ukurannya panjang dan besar menurutku. Apalagi warnanya juga kecokelatan dan berurat-urat keriting. Sedangkan milik Mas Anto cenderung tebal namun tidak panjang dengan bulu kemaluannya yang berantakan. Punya Mas Wawan juga biasa saja mirip-mirip dengan punya Mas Rio bentuk dan ukurannya Cuma sedikit bengkok. Perlahan aku menelan ludah memikirkan penis Mas Andre yang panjang itu harus kuemut dan masuk ke dalam rongga mulutku. Akan seperti apa rasanya"


Daripada hanya membayangkan saja, aku beranikan memasukkan penis Mas Andre ke dalam mulutku. Benar saja, terasa begitu sesak mulutku karena benda panjang dan keras itu masuk di rongga mulutku yang memang sempit. Aku mencoba mengatur nafas dan kuberanikan agar benda itu lebih bisa masuk hingga tenggorokanku


"Ouuhhh.. Mantab bener sepongan lu cha.. Pantes Rio gak mau pisah sama lu. Orang lu pinter manjain kontol gini. Heheheh.. Sssshhh..", rancau Mas Andre sambil membelai kerudungku


Aku pun tidak menggubris perkataannnya. Aku lebih fokus mengendalikan tubuhku agar bisa terbiasa menerima penis besar ini. Bukan hanya kuluman semata yang kulakukan, tapi aku juga menjilati garis lubang kencing Mas Andre. Tubuh Mas Andre bergetar kegelian menerima rangsanganku. Wajar saja responnya begitu karena Mas Rio pun akan mengalami hal yang sama ketika kujilati lubang kencingnya.


"Jangan Punya Andre aja lah yang lu puasin. Ini kontol kita juga", ujar Mas Anto sambil mengarahkan tangan kiriku menggenggam penisnya


Sedangkan tangan kananku diarahkan menggenggam kontol Mas Wawan. Kedua tanganku bergerak perlahan mengocok penis Mas Wawan dan Mas Anto bersamaan. Sedangkan mulutku masih sibuk dengan mengulum penis Mas Andre yang terasa semakin mengeras saja saat kusepong. Tapi aku tidak bisa berlama-lama bermain-main dengan penis panjang itu karena Mas Anto sudah menarik kepalaku agar menghadap ke penisnya. Ia lalu mendorong kepalaku ke arah penisnya dan aku terpaksa menjilati penis tebal berbulu lebat itu. Kuhisap kuat-kuat dan kurangsang kemaluan Mas Anto semaksimal mungkin, sedangkan kedua tanganku kini sibuk dengan penis milik Mas Andre dan Mas Wawan


"Ouhhhhh.. Enak" Lu bener-bener pinter Cha" Sssshhh..", puji Mas Anto sambil ia pegangi kepalaki agar terus menyepong penisnya


Kepalaku terus bergerak maju mundur menyepong penis hitam tebal itu. Sementara Mas Anto terus mendesah keenakan dengan servis mulutku yang begitu memanjakan kemaluannya. Setelah puas, aku berganti menyepong penis Mas Wawan yang dari tadi kuanggurin dan hanya kukocok-kocok sekenanya saja. Mas Wawan langsung terperanjat saat batang penisnya masuk kedalam rongga mulutku. Ia mendesah kencang dan membiarkanku menjilati kemaluannya sepuasku


"Anjir anget bener mulut lu Cha" Sssshh..", ujar Mas Wawan


Aku pun bergantian mengulum penis-penis teman pacarku itu. Dari mulutku terdengar suara berisik karena terlalu sibuk melayani penis-penis tamu rumahku itu. Ternyata begini rasanya, memang awalnya malu tapi lama-lama aku sendiri yang tak mau berhenti bermain-main dengan penis teman-teman Mas Rio. Pujian dan desahan penuh kepuasan mereka yang terdengar di telingaku seolah menjadi penyemangat agar aku tidal berhenti menyepong penis-penis mereka


"Udah-udah. lu sekarang duduk sini.. kita mau emutin tetek lu..", kata Mas Anto menarikku ke atas sofa


Aku pun langsung terduduk ditengah-tengah mereka. Dalam hitungan detik saja, tubuhku langsung digerayangi oleh mereka. 3 pasang tangan itu sedang berebutan menyentuhku dan meraba-raba seluruh tubuh telanjangku. Desiran nafsuku semakin menggelora saja. Siapa juga yang bisa tahan disentuh dan diraba-raba seliar ini.


"Papa tubuh anakmu dipegang cowok-cowok pa.. maaf" Mas Rio.. Maaf mas"", ujarku dalam hati


"Aahh.. Aaahhh..", aku kembali mendesah perlahan menikmati sentuhan tangan mereka yang bergerak lincah menyisir tiap bagian demi bagian tubuh telanjangku


Mas Andre kemudian mencium bibirku penuh nafsu dan tanpa babibu. Lidahnya langsung mencari-cari lidahku dan bibir atas dan bawahku dilumatnya habis-habisan. Ciuman mendadaknya itu seketika menghentikan suara desahanku. Aroma mulutnya yang bau rokok itu jujur saja membuatku tak nyaman. Aku hendak protes karena aku hanya menawarkan payudara dan vaginaku saja, tidak dengan bibirku. Tetapi Mas Andre tidak memberiku kesempatan untuk protes dan terus menyerang bibirku. Aku mau tak mau hanya bisa membalas ciuman penuh nafsunya. Aku lumat bibirnya tak kalah sengit hingga menimbulkan suara decakan pertemuan bibir yang cukup kencang terdengar begitu basah


Saat aku berciuman panas dengan Mas Andre, Mas Anto dan Mas Wawan kembali menyusu ke payudaraku bersamaan. Putting susuku dikenyot dan dilumatnya habis-habisan hingga membuatku semakin kelojotan.


"Aaahhh.. Mas". Aaahh"", aku semakin mendesah dan nafasku semakin menggebu menerima serangan demi serangan mereka


Mas Andre yang sudah puas menciumi bibirku mulai turun kebawah dan berdiri. Terlihat ia mulai mengeluarkan HP dari saku celana dan memotretku yang saat ini sedang menyusui kedua temannya secara bersamaan dirumahku. Aku terus mendesah dan melenguh manja, sedangkan kepala Mas Wawan dan Mas Anto terus berada di putting payudaraku. Jilatan dan kenyotan mereka benar-benar memberikanku rangsangan hebat pada putting susuku yang terasa gatal. Aku bahkan sudah tidak peduli lagi wajahku terlihat jelas di hasil jepretan kamera Mas Andre. Karena yang kubutuhkan saat ini adalah rangsangan nakal pada tubuhku yang gatal secara terus menerus.


"Buat bukti ke Rio kalau kita udah netek ke susu pacarnya. Bwahahahah", ujar Mas Andre


Aku hanya diam saja dan berdoa ucapannya barusan hanya gurauan saja. Kemudian ia berlutut di depan selangkanganku dan kubuka kakiku lebar-lebar. Lubang kemaluan yang biasanya dijilati oleh Mas Rio itu kini sudah nyut-nyutan ingin dijilati juga oleh teman Mas Rio yang mirip India itu


"Jangan dilihatin mas.. Aku malu"", ujarku sambil reflek kututup kemaluanku yang sudah tersaji begitu dekat di depan mata Mas Andre


Bahkan hembusan nafas Mas Andre terasa mengenai bibir vaginaku yang sudah terbuka. Hembusan nafas yang menggoda iman vaginaku. Rasanya vaginaku sudah tidak tahan juga walau sok-sokan malu-malu. Diam-diam aku akui sejujurnya kemaluanku juga menunggu dijilat olehnya.


"Buka memek lu.. Katanya tadi lu kasih memek lu ke kita? Kok lu tutupin sekarang?", ujar Mas Andre


"Aku malu mas.. jangan dilihatin..", jawabku dan aku pun pasrah membuka kemaluanku dihadapan teman Mas Rio itu.


"Gak usah malu Cha.. Lonte kalau malu-malu gak bakal laku. Hehehe", kata Mas Andre sambil kurasakan lidah basahnya menyentuh bibir kemaluanku


"Ouuhhhh". Mas"", rasanya tubuhku seperti tersengat listrik saja


"Sialan memek lu ada manis-manisnya", ujar Mas Andre


"Emang air isi ulang" Aaaahhh.. Mass"", jawabku sambil kembali mendesah saat lidah Mas Andre kembali menyapu bibur vaginaku


Akhirnya yang daritadi kutunggu dan kutahan-tahan pun aku dapatkan juga. Seseorang menjilati vaginaku. Vaginaku yang daritadi sudah amat gatal dan hangat ingin dirangsang dan dinikmati oleh lelaki. Kuberikan kemaluanku ini untuk suguhan bagi tamu-tamu dirumahku ini.


"Terus.. terus mas" aaahh.. enak..", aku pun akhirnya harus jujur dengan perasaanku


Jilatan Mas Andre menyapu perlahan bibir vaginaku. Sensasi macam apa ini, mengapa justru dijilat oleh cowok lain seperti ini malah membuatku semakin terangsang? Mengapa ini malah terasa lebih nikmat dibandingkan saat kemaluanku dijilat oleh pacarku sendiri? Apakah otakku sudah error? Apakah aku memang murahan? Apakah aku memang bakat melonte?


Padahal berkali-kali kemaluanku dijilat oleh Mas Rio. Tetapi rasanya kali ini jauh lebih nikmat dan terasa sangat mesum dan cabul. Aku bahkan membuka kakiku lebar-lebar agar cowok yang baru saja kukenal beberapa jam lalu itu leluasa menjilati isi vaginaku. Aku benar-benar mengikhlaskan vaginaku dijilati olehnya


Ketiga lelaki itu akhirnya menikmati suguhan berupa tubuhku secara bersamaan. Aku berada di tengah-tengah mereka dalam keadaan telanjang sambil mengangkang. Payudara kanan kiriku untuk Mas Anto dan Mas Wawan sedang vaginaku untuk Mas Andre. Tubuhku bergerak-gerak perlahan menikmati setiap sapuan lidah mereka pada bagian-bagian sensitif tubuhku


"Memek lu sedep bener cha.. Ssshhh.. Gurih anjing"", kata Mas Andre sambil semakin ia jilati bagian klitorisku


"Ouhhhh.. Yesss" Ssshhh.. Mas" Aku mau keluar"", ujarku karena rangsangan ini memang jauh lebih nikmat daripada saat hanya dengan Mas Rio


"Keluarin aja Cha.. Bodoamat gue rumah lu jadi kotor kena cairan memek lu sendiri. Heheheh", ledek Mas Andre


"Aaahhh.. maaaf aku ga kuatt.. Aku keluarrrr".. Masss". AHHHHH..", pekikku dan kurasakan vaginaku mulai terbuka hendak mengeluarkan isinya serta tubuhku terguncang-guncang hebat


*Sreeettt seeetttt srettttt* vaginaku muncrat-muncrat begitu deras seperti sedang kencing di ruang tamu rumahku sendiri


Cairan encer itu keluar begitu deras dan langsung membasahi lantai rumahku. Tapi aku tidak sempat memikirkan lantai rumahku yang kotor, karena kali ini Mas Wawan yang menjilati vaginaku. Jilatannya begitu dalam seolah menyapu rahim hangatku. Lidahnya terasa begitu kasar saat menyentuh bagian terdalam kemaluanku. Aku sampai tak bisa berhenti mendesah saking enaknya diperlakukan seperti ini. Cairanku langsung seperti dibersihkan olehnya


*Gilaa" ini terlalu enakkkk!! Serangan mereka tiada habisnya kepadaku.. Tolong.. Sadarkan aku.. Ouuuhhh*, pekikku dalam hati sambil menggeliat hebat


Kubuka lebar kakiku agar Mas Wawan semakin leluasa menjilati vaginaku yang sudah kehilangan harga dirinya. Bukannya menjaga diri, vaginaku malah semakin becek saja dijilati oleh Mas Wawan. Sementara putting susuku kali ini dilumat habis oleh Mas Anto dan Mas Andre. Ditambah tangan-tangan mereka yang meraba beberapa bagian tubuh telanjangku. Saat Mas Wawan menjilati kemaluanku, tangan Mas Anto turut membantu mengucek klitorisku yang super sensitif. Parahnya, aku tidak merasa sedang dicabuli oleh mereka. Malah aku merasa bersyukur karena aku bisa melayani tamu-tamu dirumahku dengan baik. kenikmatan yang luar biasa ini dan sangat menggairahkan. Tubuhku kembali bergetar hebat. Gerakanku sudah menggeliat tak karuan Sepertinya aku akan mengalami orgasme keduaku.


"Aaahhh" Mas" Aku keluarrr lagi".", pekikku dengan lantang


*Sreeettt sreeeettt seeeettttt*, kembali aku terkencing-kencing kedua kalinya hingga tubuhku ambruk lemas terduduk di sofa


Tubuhku terasa tidak bertenaga lagi setelah orgasme yang dahsyat karena diserang dari berbagai sisi. Nafasku tersengal-sengal parah, keringatku pun bercucuran kemana-mana. Ini adalah rasa gerah ternikmat dalam hidupku. Kulihat Mas Anto kemudian berdiri dan mengarahkan HPnya kepadaku. Posisiku benar-benar tidak shalihah saat ini untuk difoto. Berkerudung namun Telanjang bulat sambil mengangkang memperlihatkan vaginaku yang masih empot-empotan.


"Echa senyum sambil kasih tanda peace dong!", ujar Mas Anto dan gilanya reflek aku menurutinya


Kedua Tanganku langsung membentuk pose peace dan kuberikan senyum terbaikku kepadanya. Beberapa kalau ia memotretku dan kubiarkan saja ia mengabadikan pose memalukanku itu.


"Lumayan buat bacolan ane kalau dirumah.", ujar Mas Anto


"Jiah ngapain lu coli? Kalau lu sange tinggal panggil aja pacar Rio ini buat muasin lu. Hahahaha", kata Mas Wawan


"Lah iya bener juga ya? Hahaha.."


"Kalau gitu tulis nomor HP lu di tetek lu biar semua bisa catet nomor lu Cha. Kalau kita lagi butuh, lu wajib muasin kita", kata Mas Anto kemudian


"Apaaa?", tanyaku tak percaya


"Lu begok apa gimana sih? Gitu aja gak paham! Paham kan lu??", ujar Mas Wawan


"I.. Iya.. mas" paham", jawabku lirih


"Coba ulangin apa tugas lu mulai saat ini?", tanya Mas Anto


"Kalau aku dihubungi mas-mas, aku harus datang buat muasin kalian"", jawabku malu-malu


"Hahaha.. Bagus"", kata Mas Anto sambil memberikanku jempol


"Tapi janji jangan ceritakan apapun ke Mas Rio ya mas.. dan gak pake ML yaa..", pintaku


"Ya.. Asal lu pinter dan patuh. Heheheh.. Ayo buruan tulis nomor HP lu di tetek lu, yang besar tulisannya biar keliatan", jawab Mas Anto lagi


Dengan bermalas-malasan aku berjalan mengambil tas sekolahku dan kucari-cari sebuah spidol dari dalam tasku. Kemudian aku pun mulai menuliskan nomor handphoneku sendiri tepat di dadaku. Rasanya lumayan geli juga saat tinta basah itu mengenai payudaraku. Setelah aku selesai menuliskan nomor HPku, mereka mulai memintaku kembali berpose cantik dan memotretku beberapa kali


#


Setengah jam sudah berlalu


Aku berlutut dihadapan teman-teman pacarku masih dalam keadaan telanjang. Sedangkan ketiga cowok itu masi berpakaian lengkap, hanya saja resleting celana mereka terbuka dan penis mereka sudah keluar dari sarangnya. Kali ini aku yang inisiatif mengulum penis mereka sedangkan mereka asyik main game online tembak-tembakan. Kujilati bergantian satu persatu kelamin mereka. Kukecup dan kumainkan sesuka tanpa malu-malu lagi. Kuciumi kepala penis mereka dan kuemut perlahan-lahan secara bergantian.


"Aaahhh.. anjir lu Cha.. cium terus kontol gue Cha" Jangan kenceng-kenceng tembakan ane mleset. Aduh bener kan meleset. Anj lu Cha" Mati deh gue", ujar Mas Anto sambil menghempaskan hapenya ke sofa rumahku


"Maaf ya mas.. Sini aku layani kontolmu", aku pun naik ke tubuh Mas Anto


Aku sudah tidak canggung berkata perkataan cabuk saat bersama mereka. Tidak butuh waktu lama, hanya setengah jam saja aku sudah sefasih ini mengucapkan kontol dan memek di depan mereka. Karena aku merasa, berkata cabul seperti itu malah membuatku semakin bergairah dan menggoda nafsu mereka


Tanganku kusilangkan ke lehernya. Aku pun mencium bibirnya dengan nakal. Bibir kami pun saling melumat penuh nafsu. Sedangkan dibawah sana memekku kugesek-gesekkan ke kepala kontol Mas Anto. Aku lepas bibirku sejenak dari bibirnya untuk mendesah meluapkan segala birahiku, lalu aku kembali mencium bibir Mas Anto. Ingin sekali aku turunkan tubuhku dan membiarkan kontolnya masuk ke vaginaku saat ini juga.. Tetapi aku malu untuk mengatakannya. Selain itu aku masih berpikir sayang jika aku melewatkan kesempatan memiliki ip***ne 15 pro hanya karena aku yang tak bisa menahan gejolak nafsuku saat ini. Biarlah untuk saat ini aku hanya gesek-gesekkan saja kemaluanku ke kemaluan mereka


"Sabar Echa.. Sabar" Memekku sabar yaa" Kalau udah lepas segel yaa..", kataku dalam hati sambil kuciumi leher berlemak Mas Anto


"Busyet nih Echa keknya udah sange parah ya dia..", ujar Wawan


"Gara-gara gue tuh.. Gak rugi beli mahal-mahal" Memeknya sekarang pasti pingin banget digenjot kontol", ujar Mas Andre


Aku tidak begitu ambil pusing mereka ngomongin tentang apa, yang jelas saat ini aku fokus memuaskan Mas Anto. Karena Mas Rio pernah memintaku membayangkan melayani temannya yang gendut ini. Ok mas, aku turuti fantasymu. Bukan hanya bayangan saja aku melayani Mas Anto, kali ini kenyataan. Memekku sudah dengan manja tersentuh-sentuh kepala kontolnya.


"Cium gue lagi Cha" Sambil gesekin memek becek lu ke kepala kontol gue..", kata Mas Anto


"Iya mas" Ah kontol kamu tebel banget"


"Suka?"


"Iyaaahhh.."


"Masukin kalau gitu..", goda Mas Anto


"Enggak mau.. Mau aku jual demi ip**ne", jawabku nakal


"Ah anjir kemahalan memek lu dihargai segitu", goda Mas Anto


"Pantesnya berapa mas?", godaku


"200 udah nego..", ledek Mas Anto


"Ihhh.. Nyebelin.. Aku berhenti goyang nih biar kontol kamu ga gesek-gesek memek aku lagi?", balasku


"Malah gue perkosa tar lu sampe memek lu ancur. Ayo goyang yang bener.. Memek lu terus gesekin ke kontol gue..", perintah Mas Anto sambil menampar pantatku


"Jahat banget sih mau ancurin memekku.. Iya ini aku goyang.. Kontolmu malah tebel nih mas..", godaku sambil kembali kucium bibirnya lagi


"Ngaceng dia soalnya memek pacar Rio malah godain kontol teman-temannya. Hahahah..", jawab Mas Anto


Aku kembali berciuman dengan panas oleh Mas Anto. Sedangkan Mas Wawan dan Mas Andre masih fokus ke game online mereka.


"Anjir mati gue kena sniper..", ujar Mas Andre


"Begok sih lu maju sendirian.. tinggal gue sendiri nih..", kata Mas Wawan


"Sini lu Cha goyang diatas gue", kata Mas Andre sambil ia tarik kontolnya agar semakin keluar dari celana


"Mas Aku ke Mas Andre dulu ya", ijinku kepada Mas Anto


"Ya udah sono.. Gue tutup nih kontol gue?", tanya Mas Anto


"Jangan mas.. aku kocokin aja..", jawabku


"Ya udah nih..", kata Mas Anto


Aku lalu berpindah ke samping, kali ini aku dipangku menghadap ke Mas Andre. Kulingkarkan tanganku ke lehernya dan kami langsung berciuman panas.


"Katanya mau kocokin kontol gue?", protes Mas Anto


"Oiya maaf lupa..", buru-buru kulepas tanganku dari leher Mas Andre dan kukocok kontol Mas Anto


"Sekalian kocok kontol gue Cha", pinta Mas Wawan


"Siap mas"", jawabku dan sekarang kedua tanganku sibuk mengocok kontol teman-teman Mas Rio


Sedangkan kemaluanku kugesek-gesekkan ke kepala kontol Mas Andre sambil bergoyang menggoda. Aku kembali mendesah pelan dan nafasku begitu berat. Mas Andre kemudian menarik ujung kerudungku hingga kepalaku mendekati wajahnya, kami pun kembali berciuman panas. Memekku dibawah sana juga sudah semakin banjir dan sudah benar-benar siap disetubuhi sebenarnya. Untung mereka mau menurutiku dan paham keinginanku untuk memiliki ip**ne yang otomatis juga meningkatkan gengsiku jika memilikinya.


"Menang!", akhirnya Mas Wawan berteriak sepertinya ia berhasil memenangkan permainan


"Ganti dong Cha cium gue"


"Ah gue baru bentar digoyang Echa", kata Mas Andre tidak mau kalah


"Ya udah biar adil memek aku tetep di kontol Mas Andre dan bibir aku di Mas Wawan", usulku


Aku pun berciuman dengan Mas Wawan. Lidahnya begitu beringas menyerang lidahku. Lidahku dilumat habis-habisan. Mana saat ini bibir memekku juga sudah beesentuhan langsung dengan kontol Mas Andre lagi. Salah gerakan sedikit saja, kemaluan Mas Andre pasti bisa kepleset masuk ke liang senggamaku.


Lalu Mas Andre dan Mas Wawan kembali melumat putting payudaraku. Putingku dijilati dengan nakal dan penuh kenikmatan. Aku kembali mendesah keenakan saat kedua lelaki itu memainkan payudaraku. Sesekali mereka memilin kedua putingku hingga rasanya aku semakin melayang saja.


Setelah capek bergoyang, kemudian aku menungging di pangkuan mereka. Pantatku menghadap Mas Anto dan kepalaku menghadap ke kontol Mas Anto dan Mas Wawan. Kujilati kedua kontol itu bergantian. Memekku juga mengalami nasib yang sama, gua berjembutku itu dijilati oleh Mas Anto perlahan dan rasanya nikmat sekali. Aku sampai dibuatnya bergetar-getar. Kurasakan kedua tangannya membuka lebar-lebar kemaluanku dan semakin ia jilat lebih dalam daei sebelumnya


"Ouuuuuhhhh" Masssss..", lenguhku saat lidah Mas Anto seperti menjilat selaput daraku


Bukan hanya jilatan saja, ia juga ciumi kemaluanku tanpa ampun. Tanpa sadar pinggulku bergoyang menggoda menikmati sentuhan lidahnya yang membuatku terlena, mulutku juga masih sibuk bergantian memanjakan kontol Mas Andre dan Mas Wawan


*Juh juh juh* Mas Anto meludah lubang memekku dan terasa sekali air ludah Mas Anto mengenai bibir kemaluanmu


"Memek jalang!", katanya sambil kembali ia jilat lubang kemaluanku untuk kesekian kalinya membuatku bergetar-getar


"Ouuuuhh.. enak.. Mas" Jilatin memek aku terus" aaaahhhh", kataku sambil mulai kehilangan fokusku mengulum kontol Mas Andre dan Mas Wawan


*Teng teng teng*, tiba-tiba pagar rumahku diketuk dan seketika kami terperanjat dan langsung menghentikan aktivitas terlarang kami ini


Aku pun buru-buru lari ke dalam kamarku untuk mencari pakaian yang layak karena tiba-tiba ada seseorang yang datang ke rumahku. Kulihat ketiga teman Mas Rio sudah berpakaian normal karena mereka tinggal menutup resleting saja. Berbeda denganku yang daritadi diminta telanjang. Ketiga cowok itu juga sempat kulihat membereskan ruang tamuku yang acak-acakan. Bahkan cairan lendirku juga disapunya dengan tangan mereka lalu dijilati sekenanya sampai bersih.


"kira-kira siapa yang datang? Mama papa? Mas Rio? Atau siapa???", kataku dalam hati dan panik setengah mati


#Bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 7 : Sebuah Pelatihan dan Berbagi Lagi


POV : Echa


"Sssstttttttt".", aku meminta ketiga teman Mas Rio itu untuk diam sebentar


Kulirik jam dindingku, belum ada pukul 20.00, sepertinya tidak mungkin kedua orang tuaku yang mengetuk pagar rumahku. Karena biasanya mereka bawa kunci sendiri jadi tidak perlu mengetuk pagar jika sampai di rumah. Atau kah Mas Rio yang datang?


Aku lalu berjalan menuju pintu ruang tamu dengan jantung berdebar kencang. Kupastikan pakaianku sudah menutup sempurna. Kupastikan juga keadaan ruang tamuku sudah kembali seperti semula tanpa terlihat sedikitpun hal yang mencurigakan. Ketiga teman Mas juga sudah terlihat duduk anteng di sofaku seolah tidak terjadi apa-apa.


Kubuka pintu ruang tamu, bukan Mas Rio yang terlihat disana, melainkan seorang pria paruh baya bertubuh gemuk terlihat berdiri di depan pagar. Aku ingat kalau tidak salah beliau adalah Pak RT yang rumahnya 1 gang dengan rumahku. Hanya letaknya saja yang agak berjauhan dengan letak rumahku.


"Mbak.. Maaf ini mobil tamunya Mbak?", kata Pak RT dengan mimik serius


"I.. Iya.. Pak.. ada apa ya pak?", tanyaku


"Gini" mobilnya menghalangi jalan Mbak" Mobil saya gak bisa lewat.. Masih lama tamunya?", tanya Pak RT dengan raut sedikit kesal


"Ehhh.. Iya Maaf Pak.. teman-teman saya, saya suruh pulang deh", jawabku kikuk dan tidak enak hati


"Lagi sibuk ya Mbak? Soalnya dari tadi saya klaksonin tapi enggak ada yang keluar", kata Pak RT lagi


"Err.. Anu.. Iya kami lagi sibuk bikin lagu pak.. Maaf mungkin ngga dengar..", jawabku berbohong


"Bikin lagu?", gumam Pak RT seolah tidak percaya dengan perkataanku


"Saya suruh teman-teman saya pulang dulu pak", kataku dan segera masuk ke dalam rumah


Di dalam rumah"


"Mas-mas, mobilnya menghalangi jalan", kataku


"Yah pulang dong? Belom puas kita Cha" Pindahin bentar lanjut lagi lah", kata Mas Anto


"Ga bisa mas.. Habis gini juga ortuku pulang.. Please"", pintaku karena aku juga sudah kehilangan mood-ku juga


"Ya.. ya udah lah.. Kapan-kapan lu harus muasin kontol kita. Janji?", kata Mas Anto lagi


"Ehh.. I.. Iya mas" Jan.. Janji"", jawabku


"Awas lu kalau boong. Ya udah yuk cabut", kata Mas Anto lagi


Kemudian ketiga teman Mas Rio itu mulai beranjak pergi meninggalkan rumahku. Pak RT melihat ke arah mereka dengan tatapan sinis dan curiga. Aku hanya tertunduk dan berusaha tidak melihat ke arah Pak RT demi menghindari pertanyaan-pertanyaan beliau yang seolah sedang menginterograsiku.


"Yang bisa main gitar siapa?", tanya Pak RT


"Hah???", ketiga lelaki itu terlihat kebingungan tidak paham


Aku dengan cepat menjawab sekenanya sambil menunjuk Mas Andre


"I.. ini pak yang bagian gitar", jawabku ngasal


Mas Andre hanya terlihat melongo. Aku tidak peduli dan berharap ketiga cowok itu segera pergi.


"Buruan sana! mobil kalian menghalangi mobilnya Pak RT tuh", kataku mencoba mengalihkan pembicaraan


Ketiga lelaki itu paham maksudku dan segera mereka bergegas pergi sambil pamitan dengan Pak RT. Pria berpostur gemuk itu terlihat terus memandangi mereka dengan tata penuh rasa curiga. Memang cewek seorang diri didalam rumah bersama teman-teman berlawanan jenis ada hal yang mencurigakan. Aku hanya berharap pak RT tidak macam-macam dan bergegas kembali ke mobilnya.


Mobil Mas Andre mulai berjalan meninggalkan rumahku. Aku menghela nafas lega karena akhirnya ketiga pemuda itu pergi dari rumahku. Lagian sebentar lagi kedua ortuku sampai rumah jadi memang ini adalah waktu yang tepat untul mengakhiri kegilaan hari ini.


"Mbak Echa kok gak pernah cerita kalau punya band. Tau gitu besok besok kalau Agustusan Mbak Echa nyanyi ya di acara malam kesenian perumahan kita?", kata Pak RT tiba-tiba


"Ehhh? Sa.. saya malu pak.. Ngga bisa", jawabku panik


"Lho bukannya Mbak Echa vokalis? Hehehe"", imbuh Pak RT sambil terkekeh


"I.. iya tapi kami masih belajar pak"", ujarku


Tentu saja aku panik! Suaraku itu fals dan aku tidak bisa bernyanyi sejujurnya.


"Ga usah merendah udah saya daftarkan Mbak Echa nyanyi nanti kalau Agustusan. Biar RT kita ada yang nyumbang kesenian Mbak..", kata Pak RT


"Pak RT ini maksa melulu.. Nanti kalau jelek ga tau lho ya pak"", ujarku


"Iya gapapa yang penting biar rame. Yasudah saya permisi dulu Mbak mobil saya yang sekarang malah menghalangi jalan", kata Pak RT dan lelaki tua itu pun berlalu


Kuhitung-hitung bulan Agustus itu sebenarnya masih cukup lama, mungkin aku masih ada waktu untuk belajar nyanyi. Jadi sementara aku diamkan saja omongan Pak RT, siapa tau dia kelupaan. Hihihi"


Rumah kembali sepi selepas Pak RT pergi. Kupandangi ruang tamu kosong rumahku. Kondisinya memang sudah kembali rapi seperti sediakala. Siapa yang menyangka di tempat ini terjadi tindakan asusila yang parah. Aku bergantian dipangku teman-teman cowokku. Aku bergantian berciuman dengan teman-teman cowokku, dan tetek memekku menjadi hidangan terbaik untuk mereka yang sengaja bertamu ke rumahku.


Akupun memutuskan segera berbaring di ranjang tidurku. Terlalu banyak hal yang kulakukan hari ini hingga membuatku malas untuk mandi. Jadi aku memutuskan untuk rebahan saja bersiap mau tidur, toh hari juga sudah malam. Daripada masuk angin ya kan?


"Hmm Mas Rio kemana ya? Kok ga ada kabar sih"", gumamku dan aku pun memutuskan mengirimkan WA kepada pacarku itu dan berharap ia tidak marah kepadaku


#


POV Rio


Aku begitu kesal hari ini! Betapa tidak, aku diusir dari sebuah warung yang biasa kupakai untuk nongkrong bersama teman-temanku. Parahnya, aku terpaksa berpisah dengan pacarku Echa. Semangkok mie instan double ternyata tidak cukup untuk menghibur diriku. Kok mie instan? Biasanya orang kalau banyak pikiran larinya ke miras? Ya, soalnya aku bukan cowok doyan minum kayak teman-temanku, jadi kuputuskan mengusir rasa emosiku dengan semangkok mi instan.


Di tempat ini aku menyendiri, seperti biasa aku lebih suka menyendiri kalau lagi malas ngapa-ngapain. Sengaja kumatikan handphoneku untuk menenangkan pikiranku. Walau mematikan handphone sejujurnya bukanlah solusi. Karena tetap saja aku kepikiran pacarku yang kusayangi itu. Kulihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 20.30, normalnya pacarku saat ini sudah berada di kamarnya. Masak iya sampai sekarang dia masih di warung itu. Pertanyaanku ngapain aja?


Pikiran kotor kembali hadir dalam otakku. Tiba-tiba aku membayangkan pacarku Echa sedang striptease disana karena kalah taruhan. Oh sialan, membayangkan seperti ini saja aku malah ngaceng. Pesona Echa memang luar biasa, aku yang sudah melihat tubuh telanjang berkali-kali saja tidak pernah bosan. Ya memang Echa ada tipe cewek favoritku. Postur yang tidak terlalu tinggi dengan payudaranya yang ukurannya pas tidak kebesaran apalagi kekecilan, kulit putih bersih tanpa cacat, tidak memiliki banyak bulu di tubuhnya, ketiaknya bersih dari bulu, tangannya bersih dari bulu, kakinya bersih dari bulu, hanya kemaluannya saja yang berbulu. Itupun bulu jembutnya tidak banyak dan terawat, ditambah wajahnya yang lugu nan polos nan imut nan manis nan... Aaahhh.. Pokoknya gadis itu adalah tipe aku banget.


Membayangkan tubuh indah itu menjadi tontonan gratis disana membuatku bisa gila. Walau membagikan pacarku hingga telanjang ke cowok-cowok lain adalah fantasy terliarku. Tetapi, Jujur saja aku belum berani merealisasikan hal semacam itu ke Echa. Takut pacarku itu viral dan wajahnya tiba-tiba terpampang di internet dan menjadi situs-situs porno. Hmm.. jangan sampai lah.


Tipis-tipis saja sudah cukup menurutku, biarlah Echa sendiri yang menikmati perubahan gaya hidupnya. Tidak dengan paksaan dariku. Aku hanya memberinya jalan, biar Echa sendiri yang menentukan. Mau lanjut berbagi atau puas hanya dengan berpakaian sexy di tempat umum Begitu lah rencanaku kedepannya.


Aku rasa Echa masih bisa rasional. Meskipun tanpa kehadiranku disana masih ada teman-temanku yang akan membela Echa. Mereka adalah teman-teman yang kupercaya. Tidak mungkin di tempat seperti itu diadakan acara gila-gilaan seperti itu. Tempat itu hanyalah warung biasa yang memang tempatnya sedikit tersembunyi dan tidak terlihat dari jalan utama. Tidak mungkin warung biasa seperti itu melakukan pertunjukan striptease.


Sialnya, aku tetap saja penasaran apa yang terjadi disana? Aku tahu klub yang dijagokan Echa pada akhirnya harus menelan kekalahan karena tadi sepintas aku lihat beritanya di TV warung yang kusinggahi ini. Tapi tidak mungkin kan cowok ganteng itu minta aneh-aneh ke Echa. Aku harus mencari tahu hal ini daripada aku mati penasaran. Kuputuskan untuk mengaktifkan kembali handphoneku.


*Tuing tuing tuing tuing* beberapa notifikasi masuk ke HPku


Kulihat beberapa kali Echa mencoba menghubungiku. Sekitar jam 5an, mungkin Echa sudah selesai "dihukum" dan ia mungkin mencariku dan mengajakku pulang. Parah memang aku, aku tidak sanggup membendung emosi dan seolah tidak mempedulikan keselamatan Echa. Pacarku itu kutinggalkan begitu saja ditengah puluhan cowok yang ada disana. Saat itu aku sudah menyerah karena sekelompok orang itu menolakku masuk ke dalam warung. Aku akhirnya hanya bisa percaya ketiga temanku akan menjaga Echa.


Aku mencoba menghubungi ketiga temanku melalui Group WA Biologi yang kubuat beberapa minggu yang lalu untuk memamerkan keseksian pacarku Echa ke teman-temanku. Ketiga temanku itu bahkan sama sekali tidak mencoba menghubungiku. Kukira mereka akan mencariku namun ternyata dugaanku salah.


"Tadi gimana di warung?", ketikku langsung to the point tanpa basa basi


"Eh Rio kemana aja lu njir? Dicariin Echa lu tadi", jawab Andre temanku yang mirip India


"Sorry masih kesel gue tadi, tapi ya daripada gue mati konyol disana", jawabku


"Hahahaha" lu sih begok", kata Anto tiba-tiba muncul


"Udah udah ga usah bahas gue. Gimana tadi Echa? Dia kalah taruhan kan??", tanyaku semakin penasaran


"Hahaha" sabar-sabar" Iya Echa emang kalah tadi", jawab Anto


"Terus?", tanyaku


"Iya dia dihukum. Heheheh"", kata Anti semakin membuatku penasaran


"Lu kalo cerita jangan setengah-setengah jir", jawabku kesal


"Biar lu penasaran. Wkwkwkw", jawab Anto


"Bjir lah" Ayo gue serius ini", tanyaku lagi


"Jadi Echa tadi dihukum apa bro Andre?", tanya Anto


Tidak beberapa saat Andre terlihat mulai mengetik sesuatu"


"Lah kok gue yang jadi cerita? Tadi dihukum apa ya?", Andre malah balik nanya


"Aduhhh.. Lama kalian anjir"", jawabku kesal


"Hahaha" Nggak nggak.. Echa Cuma disuruh nyanyi kok", jawab Anto


"Nyanyi apaa anjir? Cewek gue kalau nyanyi fals", kataku


"Tapi kalau desah merdu ya?", goda Wawan tiba-tiba


"Setan.. wkwkw.. Cuma gue yang pernah denger Echa desah", jawabku


"Hahaha.. Iyain aja dah" Iya jadi tadi Emang Echa disuruh nyanyi sama si cowok ganteng tajir tadi", kata Anto


"Nyanyi apaan?", tanyaku


"Bebas sih tadi Echa malah nyanyi balonku ada lima"


"Seriusan?", tanyaku tidak percaya


"Iya, Echa nyanyi balonku ada lima. Hehehehe", imbuh Andre


Jujur saja aku sedikit merasa ada kejanggalan membaca cerita-cerita temanku. Rasanya tidak masuk akal dan terlihat sekali mereka seperti sedang bercanda membohongiku. Tetapi untuk sementara waktu, aku tampung dulu jawaban mereka. Tinggal kucocokkan dengan jawaban Echa besok. Ya, kuputuskan besok aku akan menemui pacarku itu di sekolahnya


"Syukurlah kalau Cuma begitu hukumannya..", kataku mencoba lega


#


Keesokan harinya,


Aku memutuskan ke sekolah Echa tanpa memberitahunya. Biasanya jam segini Echa sudah selesai sekolahnya. Benar saja, terlihat beberapa siswa-siswi mulai berjalan meninggalkan sekolah dengan menenteng tasnya, tanda jam sekolah telah usai. Aku sudah tidak sabar melihat pacarku yang cantik imut menggemaskan itu.


Selang beberapa menit aku menunggu, aku tidak kunjung melihat keberadaan Echa. Untungnya, aku melihat Anya sahabat Echa disekolah berjalan ke arahku yang menunggu di depan gerbang sekolah. Walau aku tidak pernah bertemu Anya, tapi aku ingat gadis itu karena Echa beberapa kali menunjukkan kepadaku foto Anya. Baik saat ia berfoto biasa, ataupun saat ia mesum dengan pacarnya. Echa memang kerap menunjukkan foto Anya saat ia mesum dengam pacarnya. Mulai dari berciuman, hingga pacarnya yang terlihat menggrepe tetek Anya. Ia sama-sama berkerudung seperti Echa. Postur tubuh mereka juga mirip-mirip. Hanya saja Anya lebih tinggi sedikit dibandingkan pacarku Echa. Selisihnya tidak banyak. Mungkin antara 3-5 cm saja.


"Anya ya?", sapaku mengejutkannya


Gadis berkerudung itu terlihat bengong dan kebingungan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan dirinya lah yang kusapa. Aku sadar akan kebingungannya, Wajar memang, karena ia memang tidak mengenalku.


"Gue Rio.. pacarnya Echa"", kataku memperkenalkan diri sambil tersenyum ramah


"Ohhhh.. Iya.. Iya.. Echa pernah cerita. Ada apa mas?", kali ini Anya yang bertanya


"Echa masuk sekolah kan?", tanyaku


"Masuk kok"", jawab Anya


"Syukurlah kalau begitu. Echa dimana ya Nya? Kok belum kelihatan daritadi"", tanyaku


"Anu.. itu.. Tadi Echa bilang mau kerja kelompok dulu gitu mas"", jawab Anya


"Kerja Kelompok?", tanyaku mengulangi perkataannya


"Iya.. biasa Echa itu rajin kalau disuruh ngerjain kerja kelompok" ", kata Anya


"Kira-kira lama ngga ya?", tanyaku


"Wah kalau itu aku kurang tau mas" Coba aja hubungi Echa sendiri.. Mas aku udah dijemput.. Aku duluan ya", kata Anya dan gadis cantik itu berlalu


*Kerja kelompok? Sama siapa? Apa Bayu? Cowok yang kemarin dia ceritakan itu. Duh seharian ini Echa sama sekali gak mencariku lagi. Dia malah enak-enakan berduaan sama cowok lain. Sialan!*


Sebenarnya aku tidak bisa menyalahkan Echa juga. Kuingat kemarin ia mengirimiku belasan pesan WA dan puluhan panggilan telepon. Tetapi tidak ada satupun yang kurespon sama sekali. Entah apa mauku, padahal Echa sama sekali tidak melakukan kesalahan. Ya begitulah memang lelaki, ia terkadang suka sengaja menghilang agar ingin dicari.


Tapi, bukan ini mauku. Aku ingin Echa kembali mencari keberadaanku dan menanyakan bagaimana keadaanku. Aku ingin Echa lebih memikirkanku. Bukan malah dicuekin seperti ini. Bukan malah ditinggal mengerjakan tugas sekolah bareng dengam cowok lain. Aku semakin cemburu karena ulah pikiranku sendiri. Padahal bisa saja apa yang kupikirkan salah. Ya begitulah aku, aku memang pencemburu, apalagi jika melihat Echa dekat dengan cowok lain yang wajahnya lebih tampan dariku.


Setengah jam sudah aku menunggu"


Akhirnya kulihat juga pacarku itu berjalan meninggalkan sekolah. Berjalan beriringan dengan seorang lelaki. Mungkin itu yang namanya Bayu. Aku tidak ingat betul wajah Bayu, tidak penting juga menurutku menghafalkan wajahnya. Kulihat Echa menyadari keberadaanku di depan gerbang sekolahnya. Wajahnya terlihat terkejut lalu ia kemudian berpamitan dengan teman laki-lakinya dan mempercepat langkah kakinya berjalan ke arahku.


"Mas Rio kok ngga ngabarin sih kalau mau ke sekolah?", tanya Echa saat ia sudah sampai di tempatku menunggunya.


"Sengaja, biar surprise aja" jawabku santai sambil melirik Bayu yang juga sudah sampai di dekat kami


"Oiya mas, kenalin ini temanku dan juga ketua kelasku. Bayu.. Yang pernah aku ceritakan ke kamu", kata Echa


"Rio..", kataku sambil mengulurkan tangan


"Bayu"", jawab Bayu sambil menjabat tanganku


Jabat tangannya sangat kuat. Ia mencengkeram tanganku dengan kekuatan penuh. Aku merasa ia sengaja melakukannya kepadaku. Aku tidak mau kalah dan kuperkuat jabat tanganku pula kepada lelaki sialan ini. Akhirnya kami sedikit adu cengkeraman tanpa sepengatuan Echa. Sial, ini cowok walau masih SMA tetapi tenaganya bluar biasa. Aku lalu mengingat kata Echa, Bayu selain jadi ketua kelas, ia juga kapten tim basket sekolahnya. Jadi wajar kekuatan cengkeramannya begitu kuat karena ia juga biasa mencengkeram bola basket


"Cha.. Aku duluan ya"", kata Bayu kepada Echa


Terlihat sekali ia enggan berpamitan denganku karena mata Bayu sama sekali enggan melihatku


"Iya Bay, kamu hati-hati ya pulangnya", kata Echa


Akhirnya aku kembali berduaan dengan Echa di depan gerbang sekolah yang mulai sepi ini. Mungkin Bayu dan Echa adalah murid terakhir yang berada di sekolah hari ini.


"Yank, rumahmu kosong?", tanyaku


"Kosong kok", jawab Echa


"Ya udah ngobrol di rumahmu aja ya", kataku


"Yakin nih ngobrol doang? Mama papa keluar kota lho jadi aku sendirian dirumah", kata Echa menggoda


"Asyik!", jawabku


#


"Mpphhh.. mphhhh" Cupppp"Ssshhh"", suara ciuman bibir kami saling berpagutan


Pacarku yang cantik itu sudah telanjang bulat dan kupangku saat ini. Hanya saja dikepalanya masih terpasang sebuah kerudung pashmina motif bunga yang ia lilitkan begitu saja untuk menutup rambutnya. Kami berciuman begitu panas seperti sedang melepas rindu. Rindu yang teramat dalam seolah sudah lama tidak bertemu. Echa kurasakan semakin lihai memakai lidahnya. Lidahnya lincah membalas serangan lidahku di rongga mulutnya. Gerakan tubuhnya juga kurasakan semakin erotis saja. Mungkin hanya perasaanku, karena kemarin aku tidak bermesraan dengannya.


Tubuh telanjang Echa bergoyang nakal menggodaku, saat kumainkan putting payudaranya yang kenyal cokelat muda itu. Echa menggigit bibir bawahnya sambil menahan desahannya. Tetapi sama sekali ia terlihat tidak keberatan putting payudaranya kuemuti penuh nafsu.


"Nafsu banget kamu hari ini mas" Sshhhh"", desah Echa saat kuemuti pentilnya


"Aaahhhh" Liat kamu telanjang gini semua cowok juga pasti bakalan nafsu yank"", jawabku sambil berkonsentrasi memainkan kedua puting susunya yang lembut kenyak itu


Kemudian tubuh telanjang pacarku kubaringkan ke lantai, kuposisikan kedua kakinya mengangkang menghadapku. Sungguh pemandangan luar biasa yang tersaji disana. Sebuah memek berlendir menggairahkan yang dimiliki oleh seorang gadis berwajah cantil nan imut. Memek yang sangat mengundang syahwat dengan bulu-bulunya yang rapi. Aromanya sangatlah khas dengan lendirnya yang becek membasahi bibir kemaluan itu.


Kujilat saja lubang kemaluan Echa tanpa rasa ragu sama sekali. Kebersihan kemaluan pacarku sangatlah terjamin karena Aku yakin Echa rajin merawat organ pribadinya itu. Echa mendesah lirih bebarengan dengan tiap jilatanku. Memek Echa yang segar dan rasanya sedikit asin itu memang tidak membosankan untul dijilati. Apalagi desahan Echa yang manja dan merdu saat organ kemaluannya kujilat dengan lidahku sangat menggoda.


"Aaaahhhh.. mas.. terus jilat miss v aku"", kata Echa sambil mengangkang


"Suka ya memek kamu dijilati?", godaku


"Syukaaaa" Aaahhh.. Ssshhhh"", jawab Echa sambil tubuhnya sesekali terasa mengejang


"Sssshhhh.. Aku bayangin nih memek kamu dijilatin cowok-cowok.. Hmmm.. Yang diwarung kemarin" Ssshhhh", godaku


"Aaahhhh.. Jangan mulai deh mas"", jawab Echa


"Biarin.. Kamu kemarin sexy banget tau gak sih Yank? Aku yakin mereka sange banget liat kamu". ssshhhh", rayuku


*Sluruppp sluruppp slrupppp*, aku terus menjilati lubang kemaluan Echa


"Sssshhhh.. cowok aneh" Aaahhh.. Masak ceweknya bikin sange cowok lain malah seneng", kata Echa


"Seneng dong" Brarti pacarku ini emang cantik dan sexy.. kalau gak menarik mereka pasti ga sange.. Aku bangga punya cewek sexy" Aaahhhhh.. Memekmu enak banget Yank".", jawabku sambil memujinya


"Ahhhh.. Awas lho kalau aku diperkosa mereka beneran ga tau lagi deh"", jawab Echa malah membuatku sange berat


"Uhhhh" memek kamu pasti ancur Yank diperkosa mereka"."


"Aaaaahhh.. mass.. kamu ih godain aku terus"", jawab Echa manja


"Btw Yank, kemarin kamu dihukum apa sama cowok yg punya ip**ne itu?", tanyaku tiba-tiba dan terlihat sekali Echa terkejut mendengar pertanyaanku.


Aktivitas mesum kami terhenti sejenak. Aku sudah amat penasaran mendengar jawaban yang keluar dari mulut pacarku sendiri.


"Aku" anu.. apa ya" Cuma disuruh joget mas".", jawab Echa membuang muka tidak berani menatap mataku


Aku tahu betul pacarku ini sedang menyembunyikan sesuatu dari gesturenya. Tetapi aku tak mau keburu emosi dulu. Aku ingin dia bercerita sesuai versinya. Biar aku yang memutuskan nasibnya setelah ini. Iya, Echa sudah menjadi pacarku dan aku bisa memintanya melakukan apapun yang kumau


"Joget? Hehehe.. kamu joget gimana Yank? Coba praktekin sekarang dong", godaku


"Ihhh ga bisa aku malu mas"", jawab Echa


"Terus kamu joget beneran disana? Tetap pakai pakaian sexy itu?", selidikku


"I.. Iya.. mas" aku yang terpaksa nuruti permintaan dia.. joget sebisaku"", jawab Echa


"Penasaran aku kalau kamu joget gimana.. Joget lah Yank di depan aku", godaku lagi


"Nggak mau!! Malu aku mas", jawab Echa lagi


"Joget malu tapi kalau bugil gak malu ya?", godaku sekali lagi


"Apaan sih.. Aku gini Cuma buat ladenin pacarku yang mesum!", jawab Echa


"Masak sih Cuma buat aku? Yakiiinnn.. Temen-temenku lho juga mau.. Kapan kamu netekin mereka?", godaku membuat wajah Echa tersipu merah merona


"Apaan sih mas! Nyebelin!", jawab Echa kali ini ia memasang muka cemberut


"Hehehe.. Terus apa lagi Yank? Masak Cuma joget doang? Kamu ngga digilir mereka kan?", pancingku lagi


"Nggak lah gila aja aku bisa hamil nanti mas kalau dikasih titit sebanyak itu", jawab Echa dengan polosnya


"Uuuhhh.. Pacarku dihamili cowok lain" Sange bener aku Yank"", jawabku


"Pacar aneh! Ikhlas kalau aku dihamilin cowok lain?", tanya Echa


"Hmmm" Ngga sih kalau itu, Cuma bayangin aku tanggung jawab untuk darah daging cowok lain aku ya ogah banget..", jawabku


"Tuh nyadar! Kirain kamu bakalan ikhlas aku dihamilin", kali ini Echa ganti memanasiku


"Kamu mau dihamilin cowok lain?", tantangku


"Kalau kamu kelamaan ya why not?" tantang Echa membalasku


"Uhhhh dasar pacar lonte", kataku


"Tapi cinta kan?", kata Echa


"Cinta banget"", jawabku dan aku kembali mencumbunya


Benar saja, jawaban Echa dan teman-temanku tidak cocok. Aku yakin sekali ada sesuatu yang terjadi yang tidak mereka ceritakan. Entah siapa yang berbohong tapi aku rasa ketiga temanku yang membohongiku. Tidak mungkin cowok itu Cuma meminta Echa bernyanyi balonku ada lima. Tidak masuk akal!


Mungkin aku akan mengetahuinya lain waktu. Sekarang aku hanya berniat membuat pacarku ini menjadi cewek lonte. Aku akan hukum dia kalau dia beneran membohongiku. Akan kubuat dia benar-benar menjadi cewek penghibur malam ini.


"Kamu harus naik level Yank", kataku dalam hati


"Mau aku puasin lagi?", tanya Echa menggodaku


"Mau dong!", jawabku tanpa berpikir dua kali


Lalu kami berganti posisi, kali ini Aku duduk dilantai sambil kuselonjorkan kedua kakiku. Sedangkan Echa tengkurap manja dan kepalanya berada di selangkanganku. Pacarku itu kemudian leluasa menjilati batang kontolku. Kurasakan Sepongan Echa jauh lebih nikmat dari sebelum-sebelumnya. Hisapannya begitu kuat dan jilatan lidahnya menyeluruh mengenai seluruh bagian batang kontolku. Luar biasa memang pacarku ini dalam memuaskan kontol. Mungkin Akibat terbiasa menjilati kontolku, ia semakin lihai memuaskan kontol dengan mulutnya yang tipis itu


"mmpphhh.. slurupp.. mpphh"", mulut Echa sedang konsentrasi memainkan kontolku dan memastikan batang kemaluanku puas dengan permainan jilatannya


Tidak ada satupun bagian yang tidak terkena air liurnya. Kontolku benar-benar dilumuri cairan ludah pacarku. Hisapannya begitu kuat dan mantab sekali.


"Aaaahhh.. enak bener sayang". Ssssshhh"", desahku menikmati tiap gerakan lidahnya yang perlahan namun nakal di batang kontolku


"Ini sudah maksimal ya mas?", tanya Echa tiba-tiba mengejutkanku


"Maksudmu maksimal apanya Yank?", tanyaku terheran-heran


"Ukurannya"", kata Echa penuh rasa penasaran


"Errr.. ya kalau punyaku ya segini Yank" SNI ini mah rata-rata segini", jawabku mencoba meyakinkannya


"Masak sih? Hmmmmm"", kata Echa sambil kembali mengulum kontolku


"Kenapa Yank? Mau yang besar?", godaku


"Apaan sih? Nggak lah".", jawab Echa


Aku tidak menyangka ia akan bertanya tentang ukuran kepadaku. Apa mungkin ia penasaran dengan kontol yang lebih besar dan panjang. Ah sialan pertanyaanmu bikin aku mikir kemana-mana Yank.


"Aarrrgghhh"", aku pun mendesah kencang saat tiba-tiba batang kemaluanku kedutan terkena sedotan mulut pacarku yang nakal


*Crot crot crot* kontolku menyemburkan lahar putihnya dengan segera


Pejuku langsung muncrat di wajah cantik Echa. Terlihat Echa sebenarnya belum siap menerima semburan spermaku hingga membuatnya kelabakan. Setelah spermaku selesai menyembur ke wajahnya, Ia buru-buru menyeka wajahnya yang terkena spermaku dengan tangannya.


"Kalau mau keluar bilang-bilang atuh mas"", jawab Echa sambil manyun


"Heheheh.. maaf yank.. Habis seponganmu makin enak aja aku jadi gak kuat".", jawabku sambil terkekeh.


"Hufff jadi kotor semua mukaku..", jawab Echa ketus


"Hehehe.. jangan cemberut nanti cantiknya ilang lho", kataku


"Ih gombal banget sih", kata Echa


Akupum terkulai lemas. Tak kusangka aku keluar secepat ini. Sepongan Echa benar-benar semakin mantab. Ia sudah tidak sungkan-sungkan lagi seperti awal kami melakukannya. Aku rasa Echa sudah mulai mahir melakukan oral sex dan aku cukul senang dengan progress ini.


"Udahan nih? Aku belum puas lho mas. Hihihi", jawab Echa sambil mengocok kontolku yang tentu saja membuatku terkejut


Biasanya dia kalau aku sudah kelar maka semuanya akan selesai. Baru kali ini Echa bilang belum puas dan seolah masih mau nambah lagi


"Apa Yank? Kamu belum puas?", tanyaku memastikan lagi apa yang kudengar


"Iya.. Ayo lah mas titit kamu bangunin lagi"", rengek Echa manja sambil mengocok batang kemaluanku


Sepertinya Echa masih berharap kejantananku itu kembali mengeras setelah menyemburkan peju yang pertama. Tapi aku tahu kemampuan kontolku sendiri. Jika ia sekali crot, butuh waktu minimal 4 jam agar bisa berdiri lagi. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Echa yang semakin liar dan butuh kepuasan. Aku kemudian bermaksud menggoda pacarku itu.


"Kamu belum puas? Aku panggilin cowok lain mau?", godaku


"Ihhh.. apaan sih.. Ngga ah"", jawab Echa


Ya seperti biasa Echa akan menjawab seperti itu dan aku paham sekali akan hal itu. Tetapi aku tahu dibalik kata penolakannya, sebenarnya ia juga tidak keberatan. Hal itu kusadari sendiri saat ia mau menuruti permintaanku untuk berpakaian super sexy di tempat umum, dan juga ia pada akhirnya mau maju ke atas panggung walau berpakaian memakai kerudung tetapi hanya memakai tanktop dan leggings transparan.


"Malu malu mau kan?", godaku lagi


"Enggak mauuu".", jawab Echa


Uh, mendengar jawabannya membuatku kesal dan makin gemas saja. Apalagi ia mengaku belum puas, dan ini adalah kesempatanku memberinya kepuasan dengan caraku. Sebuah hukuman yang tepat bagi pacarku yang sangean itu. Aku berniat mengerjainya lagi seperti beberapa saat yang lalu dengan bapak ojol. Kali ini aku malah ingin melihat secara langsung apa yang terjadi kepada Echa. Tapi bagaimana caranya? Aku harus turun tangan sendiri sepertinya.


"Yank kamu mau aku puasin gak?", tanyaku


"Mauuu.. aku masih pingin mas"", jawab Echa menggoda


"Dasar lonte sangean", ledekku


"Biarin orang kamu yang suruh. Wekkkk"", jawab Echa tak mau kalah


Kupandangi tubuh pacarku yang telanjang itu. Sangat cantik wajahnya dengan balutan kerudung motif bunga model pashmina dan aurat tubuhnya yang terbuka seutuhnya. Aku jamin siapapun yang melihat kondisi pacarku saat ini pinginnya buang peju mulu.


"Kok diliatin terus mas?", tanya Echa


"Tubuhmu sempurna sayang"", jawabku


"Tuh kan gombal lagi"", kata Echa


"Layak untuk dibagi-bagi", kataku lagi


"Yakin gak cemburu nih? Orang kamu cemburuan gitu", jawab Echa


"Walau cemburu tapi aku sange kali Yank", jawabku


"Ya udah gih bagi-bagi aku kalau gitu biar kamu puas", tantang Echa


"Bener ya?", tanyaku


"Eehhh bercanda kali mas!", jawab Echa tiba-tiba sambil tersenyum panik


"Bodoamat ayo.. pose yang sexy yank", pintaku sambil kuarahkan kamera HPku ke tubuh telanjangnya


"untuk apa mas?", tanya Echa semakin panik


"buat bahan coli teman-temanku yank", jawabku sambil mengarahkan kamera ke tubuh telanjangnya


"Eeehhh... Jangan mas, aku malu", kata Echa dengan cepat segera menutup payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya, yang tanpa sengaja malah membuat pose pacarku itu semakin sexy dengan pahanya yang sedikit ditekuk dirapatkan kepada vaginanya


"Nah gitu aja posenya juga gapapa, bikin penasaran mereka", jawabku


*cekrik cekrik cekrik* suara shutter kameraku


"Mas jangan dikirim ke mereka", pintanya memelas


"Salah sendiri kamu tadi nantangin", kataku penuh kemenangan


"Iiihhh.. masss, aku malu tauu...", kata Echa merengek


"Biarin! Kamu harus dilatih biar makin nakal yank!", jawabku lugas


"Dilatih? Dilatih seperti apa mas?", tanya Echa


"Ya seperti ini", kataku kembali mengarahkan kameraku ke tubuhnya.


"Masss... terserah deh", kata Echa kesel dan pasrah aku memotret tubuh telanjangnya


"Udah lah, untuk saat ini aku hanya berbagi dengan orang-orang yang kupercaya aja yank, mereka dijamin ngga akan menyulitkan hidup kita. Kamu tenang aja ya", bujukku


"Iya terserah kamu mas", kata Echa pasrah


"Gitu dong.. Ayo persembahkan tubuhmu buat temen-temen ku Yank.. Mereka pasti sange liat kamu bugil", kataku


"Foto aku sampai kamu puas mas" Ini foto semua"", kata Echa dan kali ini ia buka payudara serta memeknya dan membiarkan auratnya terekspose jelas


"Aaahhh shit sexy bener kamu Yank..", ujarku sambil tak kusangka kontolku bisa berdiri lagi setelah berniat memamerkan tubuh pacarku


Aku pun tak sia-siakan kesempatan itu. Kuabadikan Echa dengan pose pasrahnya yang sangat menggoda itu. Aku yakin teman-temanku akan sange berat melihat tubuh polos Echa dan tidak sabar aku memamerkan pacarku ke teman-temanku


"Bagus Gitu baru pacarku.. Pacarku harus suka bagi-bagi tubuhnya. Hehehe" Sekarang aku mau ngasih kamu misi. sekalian ngelatih keberanian kamu", Kataku serius


"Misi apa mas? jangan aneh-aneh deh", kata Echa mulai curiga


"Pastinya aneh-aneh dong. Kalau biasa aja bukan Rio namanya.. I Love You Yank, aku janji gak akan ninggalin kamu kok. Aku justru makin sayang sama kamu kalau kamu nurutin aku", rayuku


"Ya udah deh, mau misi apa? sebisa mungkin aku lakuin demi hubungan kita mas, karena aku sayang banget sama kamu mas.. Jangan tinggalin aku ya..", kata Echa


"Iya aku gak akan ninggalin kamu asal kamu mau nuruti fantasyku..", jawabku


"Ya udah aku percaya kok sama kamu mas" Kamu mau nyuruh aku ngapain?", tanya Echa


"Simple aja. Kamu jalan dari sini ke gang sebelah dan balik lagi ke sini, jadi memutari gang gitu", kataku


"udah gitu aja misinya?", kata Echa penuh keyakinan


"Iya gitu aja, tapi dengan berpakaian sangat sexy dan minim. Hahaha..", lanjutku kemudian


"Apaaaaaa? kalau aku ketahuan gimana mas?", tanya Echa dengan wajah terkejut mendengar ide gilaku


"Ya itu resikonya. Namanya juga misi, kalau berhasil maka kamu selamat. Kalau sampai ketahuan ya resikomu Yank, mangkanya harus bener-bener hati-hati", kataku serius


"Ih gak tanggung jawab banget kamu mas", kata Echa


"Ya anggap saja ini kayak game survival gitu yank, kalau bisa bertahan ngga ketahuan, kamu menang", Kataku


"Ya tapi ini aku itu bukan game mas", jawab Echa


"Yaudah mau ngga?, tanyaku serius


"Ihhh mas... ya uda aku lakuin deh", jawab Echa tak punya pilihan lain


"Nah gitu donk, sekarang kamu jalan sana. Mumpung hari udah mulai gelap, sekarang dah jam 11an. kayaknya udah pada tidur orang-orang kecuali para berandalan gang sebelah yang suka ketawa ketawa malam-malam itu", kataku mencoba menakuti pacarku sambil memperdengarkan suara ketawa mereka yang terdengar sampai rumah Echa


"Iya berisik bener mereka.. Mereka kadang suka godain aku mas.. Dari SMP aku mesti digodain", kata Echa


"Bagus dong, kayaknya mereka suka kamu Yank", jawabku santai


"Kok gitu sih mas.. Aku takut tahu.. Kalau aku ketauan mereka gimana?", kata Echa


"Justru itu sensasi adrenalinnya. Kalau kamu ketahuan ya game over. Kamu tanggung sendiri resikonya hahaha", jawabku semakin sange


"Ngawur kamu mas!", kata Echa


"Mau nurutin aku enggak? Gak akan terjadi apa-apa kalau kamu hati-hati", kataku


"Hufff iya deh", jawab Echa pasrah


"Ok, Sekarang kamu pakai baju yang paling sexy", perintahku


Sebenarnya aku ingin Echa berjalan keliling gang rumah malam-malam dengan keadaan telanjang bulat. Tapi aku masih tidak setega itu sebenarnya. Jadi kali ini aku suruh saja ia berpakaian sexy sampai ia terbiasa, sembari ia terbiasa melakukan aksi eksibisionis yang mendebarkan.


"Pake kerudung apa ngga?", tanya Echa


"Pakai dong, kan kamu sehari-hari kerudungan", kataku


"Iya sih, sebentar aku ambil bajuku dulu", jawab Echa


"Mana liat, jangan dipakai dulu", kataku


Echa kemudian kembali masuk ke dalam kamar dan mengambil bajunya. Ternyata sebuah kaos lengan panjang ketat berwarna pink dan legging hitam seperti yang ia pakai kemarin di warung remang-remang


"Yaudah kamu pakai itu aja, tapi ga usah pake daleman lho", perintahku


"Iya iya mas...", kata Echa sambil mulai ia kenakan pakaian-pakaian itu


Sangat sexy, kerudung pashminanya ia singkap ke belakang sehingga tonjolan payudara Echa dengan puting susunya tercetak jelas di kaos tipis lengan panjang itu, sedangkan bagian bawah Echa tak kalah sexynya dengan menggunakan legging hitam semi transparan, sepertinya yang dipakainya kemarin di warung bola, yang bahkan bulu jembutnya sedikit terlihat karena Echa tidak memakai celana dalam lagi


"Bagus Yank", kataku


"Ya udah, kamu bawa hp mu, kalau ada apa-apa kamu bisa WA atau telepon aku, tapi hati-hati jangan sampai suaramu kedengeran orang", kataku menambahkan sambil kuserahkan hp pacarku itu


"Iya mas.. Jangan sampai ketahuan orang deh", kata Echa


"Ketahuan juga gapapa palingan kamu bakal diperkosa", godaku


"Jahat banget sih", ujar Echa


"Yaudah buruan sono nyari mangsa.", kataku sambil menganggap pacarku seorang pelacur


Echa mulai berjalan meninggalkan pagar rumahnya, seorang gadis belia dengan pakaian sexynya sedang jalan-jalan di malam hari sendirian. Aku lihat pantatnya bergoyang indah dibalik celana legging transparannya seirama dengan langkah kakinya yang berjalan perlahan, kuabadikan momen tersebut dengan handphoneku disaat Echa berjalan menjauh dari rumah.


Kulihat Echa mulai berjalan dengan hati-hati meninggalkan rumahnya menuju portal sebelah kiri. pantatnya yang sekal itu terlihat masih menggoda walau jarak kami sudah cukup jauh. Sesekali terdengar suara langkah kaki yang terseret oleh sandal jepitnya saat ia melangkah semakin jauh


"training survival pacarku, jalan-jalan malam dengan baju sexy keliling gang komplek rumah", tulisku pada foto tersebut dan ku kirim ke Group Biologi


Echa tampaknya sudah sampai di ujung gang rumahku.


*tit tit* notif pesan WA dari Echa


"Mas, ini portalnya dikunci, aku ngga bisa lewat", kata Echa


"Bisa kok, kamu masuk lewat bawah nunduk aja atau sekalian dipanjat aja portalnya, kan ngga tinggi juga portal itu", usulku


"Ya udah aku coba dulu mas", kata Echa


Dari kejauhan kulihat dia mulai mencoba memanjat portal


*klonteng klonteng klonteng* agak berisik suara portal itu ketika dipanjat.


Kulihat Echa nampak panik dan segera berlari ke arah gang satunya lalu hilang dari pandanganku. Aku ingat didekat gang tersebut ada sebuah pos satpam yang biasanya selalu dijaga pada malam hari.


"Kira-kira satpamnya bisa nahan kontolnya ngaceng ngga ya liat pacar gue", kataku dalam hati sambil membayangkan hal yang paling buruk terjadi pada pacarku


Kini aku tidak bisa mengawasinya. Hanya telepon atau WA saja yang kutunggu menanti kabar terbaru diseberang sana.


"Mas, ada pak satpam didepan", kata Echa dalam pesan WAnya


"Kamu jalan seperti biasa aja, biar dia ngga curiga", jawabku


"Oke mas", jawab Echa


Agak lama pacarku memberi kabar lagi. Aku jadi was was sekaligus semakin konak. Kontolku rasanya semakin berdiri tegak, aku coba WA Echa lagi untuk memastikan keadaannya


"Gimana yank?", tanyaku


Masih belum ada balasan langsung dari Echa.....


#


8 menit kemudian akhirnya pesanku dibalasnya


"Maaf mas balesnya telat, tadi aku ditanya-tanya pak satpam.", jawab Echa


"Ditanya apa aja?" tanyaku penasaran


"Ya rumahnya dimana.. Kok jarang liat aku di sekitar perumahan ini.. keluar malam-malam ngapain... apa ngga takut jalan-jalan sendirian malam.. gitu deh yank..", kata Echa


"Terus kamu jawab gimana yank?" tanyaku lagi


"Ya aku jawab, aku tinggal disini cuma mungkin jarang ketemu bapaknya, jalan-jalan malam karena lagi nyari makan", jawab Echa


"udah gitu aja? Dia ga nanya2 lagi?", tanyaku semakin penasaran


"Ya dia bilang ada yang jual nasgor keliling didekat sini. Ya aku tau maksudnya pasti Mang Ujang, terus dia nawarin nganterin aku buat nyari makin, tapi aku bilang ga usah dan gak mau ngerepoti. Terus bapaknya bilang kalau aku cantik juga yank dan ga tau kalau selama ini aku tinggal disini", kata Echa


"terus terus?", tanyaku mulai cemburu


"Yaa aku bilang kalau bapaknya gombal, terus dia curhat sambil bercanda gitu deh kalau istrinya udah tua udah ngga cantik lagi, kalau dapat yang seperti aku pasti dia akan bersyukur sekali.. Setiap hari betah dirumah katanya.. Terus dia nanya dimana rumahku", jawab Echa


"Hehe dasar udah tua ngga ingat umur malah godain cewek, terus kamu kasih tau rumahmu?", tanyaku semakin penasaran


"Ya gitu deh Mas.. dia cerita juga udah ga pernah hubungan badan lagi karena udah ngga nafsu liatnya.. Tapi kalau punya istri kayak aku yang selalu pakai baju sexy dirumah, bisa-bisa bakal diranjang terus katanya. Iya aku kasih tau lah rumahku yang mana daripada dikira aku sombong..", lanjut Echa


"Hmmm.. Gitu ya? Tuh kan yank, apa aku bilang? Kamu harus bangga punya wajah cantik dan tubuh yang sexy, jadi bisa ngasih kebahagiaan ke orang yang liat, terus bilang apa lagi?", kataku


"Ya aku bilang aku udah punya pacar. Jadi ngga bisa jadi istri bapak. Hehehe... Terus dia bilang itu bisa diselesaikan dengan cara laki-laki asal bisa dapetin aku. Ya aku makin takut mas, nanti dia makin nekat berbuat macem-macem. Ya udah aku sudahi pembicarannya dan pamitan pulang", kata Echa


"Wah nantangin aku nih", jawabku


"Ya udah aku jalan lagi mas"", kata Echa


"Guk Guk Guk", samar-samar kudengar suara anjing menggonggong dari seberang sana


Selang beberapa saat, tidak ada komunikasi lagi dari Echa. aku sempat kepikiran khawatir dia kenapa-kenapa, tapi kucoba tenang dan berpikir postif dan kubiarkan pacarku itu menikmati proses eksib pertamanya


*titt tit* suara notif WA ternyata dari grup tugas biologi


Kubuka pesan itu ternyata dari Wawan


"Wow, pacar lu sengaja lu suruh jalan-jalam godain buaya? Jalan-jalan pake baju sexy malam-malam gitu. Wkwkw.. Rawan diperkosa tuh", Kata Wawan


"Perkosa aja kalau minat", jawabku


"Anjrit begok.. buat gue aja cewek lu bakal gue puasin memek Echa", balas Wawan membuatku sedikit cemburu


"Enak aja, eh udah dulu, gw mau cek kondisi Echa gimana kok sekarang malah ngga ada kabar.", kataku dan menyudahi chat


"Semoga diperkosa sampai hamil. Amin!", kata Wawan


"Amin!", balasku kesal


"Yank kamu gapapa? kok ngga ada kabar? Barusan aku denger ada suara anjing dari gang sebelah..", tanyaku


tidak ada jawaban langsung dari Echa, membuatku semakin tak karuan. Antara berpikir kotor atau kasihan dengan dia bercampur jadi satu. Kucoba telpon ngga diangkat pula. Aku jadi takut doa Wawan benar-benar kejadian.


*tit tit* suara notif WA


selang 5 menit tiba2 ada WA dari Echa


"kenapa mas? khawatir ya ciyeee", kata Echa


"Ya iyalah, kamu gak kasih kabar", jawabku


"Mangkanya jangan suruh pacar sendiri aneh-aneh", jawab Echa


"Hehehe.. Seru kan?", tanyaku


"Menegangkan tahu!", balas Echa


"Kok lama balasnya?", tanyaku lagi


"Hihihi.. Maaf td ngga respon, karena...", kata Echa tidak melanjutkan chatnya


"Karena apa?", tanyaku penasaran


"Daritadi aku sembunyi mas karena anjingnya masih nungguin aku kayaknya. Terus hawanya dingin aku kok tiba-tiba jadinya pingin pipis. Yaudah aku pipis aja dibalik mobil yang parkir diluar. hihihi", Kata Echa dengan polosnya


"Ya ampun yank... kirain kamu ketahuan ternyata malah mipisin mobil tetangga. Hahaha... Kalau ngga ada mobil itu kamu dah ketangkap basah lho", kataku


"Sereem mas, jangan sampai lah", kata Echa


"Terus sekarang Anjingnya masih ada?", tanyaku


"Ngga tau mas, aku coba intip sebentar", kata Echa


"Kayaknya ngga ada mas, aku lanjut jalan ya", imbuh Echa


"Dia ga suka sama bau kencingmu tuh", ledekku


"Enak aja!", jawab Echa


Beberapa menit kemudian Echa kembali WA


"Mas, ini rumah di depan rame banget kayaknya para pemuda berandal itu masih nongkrong, ketawa ketawa ga jelas gitu", kata Echa


"Ya sudah kamu jalan biasa aja jangan menarik perhatian mereka dan berharap mereka gak lihat kamu", kataku


"Iya aku coba mas, doakan ngga menarik perhatian mereka ya mas", kata Echa


"Iya hati-hati ya", kata


Beberapa saat kemudian Echa sudah kembali lagi ke rumah dengan selamat


"Lho kok udah sampai?", kataku terkejut melihat kedatangan Echa


"Iya aku lari mas, soalnya mereka melihat aku dan suit suitin aku, godain aku, aku kan jadi takut, terus aku lari aja biar langkahku semakin berisik dan mereka ga berani macam-macam", kata Echa


"Mereka nyadar ngga itu kamu? Kan katamu kamu selalu digodain dari SMP?", tanyaku penasaran


"Enggak tau juga mas, mereka nyadar apa enggak. Semoga ngga deh!", jawab Echa


"Tapi mereka ngga kejar kamu kan?", kataku


"Ngga mas, aman.. Fiuuuhh... Legaaa... Ngeri banget mas jalan-jalan pakai baju kayak gini sendirian.. Bener-bener campur aduk rasanya.. Jadi laper nih..", kata Echa


"Laper ya? mau makan?", tanyaku


"Mau mas.... Laper banget.. tadi aku liat ada Mang Ujang si penjual nasgor tapi aku ga berani beli. Hehehe", kata Echa


"Oh Mang Ujang penjual nasgor langgananmu kan?", tanyaku


"Iya betul", jawab Echa


"Iya deh, aku beliin buat hadiah karena kamu sudah berhasil menyelesaikan misi pertama", jawabku


"Apaam sih hadiahnya Cuma nasgor. Gak sebanding sama bahayanya", jawab Echa


#


Akupun berjalan kaki menuju tempat biasa Mang Ujang berhenti sejenak, lewat portal sisi kanan rumah agar lebih cepat sampai. Benar saja, seperti biasa jika sudah malam Mang Ujang lebih memilih mangkal di depan rumah kosong yang terlihat angker.


"Mang Ujang", sapa ku


"Iya Mas, ada yang bisa saya bantu?", kata Mang Ujang


"Saya pesan nasi goreng 2 bungkus Mang", kataku


"Siap" Kalau ga salah Mas itu temennya Mbak Echa ya? Kadang saya liat motor masnya yang keren", tanya Mang Ujang sambil mulai memanaskan wajannya


"Salah. Bukan temen tapi Echa pacar saya Mang", jawabku penuh rasa bangga


"Oh pacarnya Mbak Echa toh..", kata Mang Ujang


"Emang kenapa Mang?", tanyaku penasaran


"Ya Gapapa Mas.. Kirain Cuma temen aja", kata Mang Ujang


"Enggak lah Mang.. Rugi kalau sama Echa Cuma temenan Hahahah"", kataku


"Iya ya mas?", kata Mang Ujang sambil mulai menggoreng nasi di atas wajan


"Menurut Mang Ujang, Echa cantik gak Mang?", tanyaku penasaran dengan penilaian penjual nasi goreng itu


"Cantik banget mas.. Mbak Echa pelanggan saya yang paling cantik mas, bahkan menurut saya di perumahan ini Mbak Echa yang paling cakep", jawab Mang Ujang semakin membuatku bangga


"Gitu ya Mang? Hehehe" Mang suka sama pacar saya enggak?", tanyaku serius


"Eh kok nanyanya gitu mas? Jadi gak enak saya", kata Mang Ujang


"Gapapa kali Mang santai aja sama saya.. Jujur aja"", kataku


"Ya suka lah Mas orang saya laki normal.. Mbak Echa cantik gitu.. Eh tapi maaf ya mas gak maksud apa-apa"", kata Mang Ujang


"Suka banget?", tanyaku sekali lagi


"Ehhh? Aduh gak enak saya mas"", kata Mang Ujang


"Gak papa jujur aja Mang", kataku lagi


"Errr gak tau sih mas suka banget apa enggak.. Nanti mas nya marah", kata Mang Ujang


"Nggak kok aman Mang..", kataku


"Bingung saya jawabnya mas.. Ini Mas Nasi gorengnya sudah jadi", kata Mang Ujang


"Duh cepet banget.. Mang Ujang, saya lupa gak bawa uang. Mang Ujang nanti ke rumah Echa ya Mang", kataku dan bergegas pergi


"Lho? Besok aja gapapa mas", jawab Mang Ujang


"Jangan Mang, nanti saya malah punya utang. Nanti Mang Ujang mampir ya ke rumah Echa. Awas kalau gak mampir", kataku


"Ya udah Mas habis gini saya ke rumah Mbak Echa, ini juga kebetulan dagangan saya sudah habis, saya pulang bentar setelah itu balik lagi", kata Mang Ujang


"Ya udah saya tunggu ya Mang", kataku


Mang Ujang terlihat mengangguk tanda setuju


Akupun kembali pulang ke rumah, ternyata Echa masih menungguku di ruang tamu


"Ada mas nasi gorengnya?", tanya Echa


"Ada.. Nih", jawabku


"Asyik, Nasi Goreng Mang Ujang kan?", tanya Echa sambil tak sabar ia buka sebungkus nasi goreng miliknya dan langsung ia lahap.


"Iya, dapat salam tuh dari dia. Katanya kamu cantik", kataku sambil kutemani pacarku itu makan malam dengan seporsi nasi goreng Mang Ujang


"Ah biasa Mang Ujang itu.. Btw aku mau cerita mas tapi kamu jangan marah", kata Echa tiba-tiba


"Cerita apa?"


"Mang Ujang pernah nembak aku Mas waktu aku kelas 1 SMA. Hihihi", kata Echa sambil mengunyah nasi gorengnya


"Hah serius??", tanyaku terkejut


"Iyaa swear mas..", kata Echa


"Terus kamu terima enggak?", tanyaku penasaran


"Ya enggak lah, orang aku masih polos waktu itu gak berani pacar-pacaran", kata Echa


"Kalau sekarang demen dipolosin", godaku


"Nyebelin ih", jawab Echa


Hingga tanpa terasa nasi goreng kami pun telah habis tak tersisa"


"Yank, kamu masih pengen ngga?", tanyaku


"Pingin apa mas? Kalau nasi goreng aku udah kenyang. Hihihi", jawab Echa


"Memek kamu katanya masih mau dipuasin?", kuperjelas pertanyaanku biar pacarku yang kadang lemot itu paham


"Ohhh.. emang titit kamu sudah bangun mas? Bukannya tadi tidur nyenyak ya?", ledek Echa


"Hmmm.. ini aku lagi usahakan buat bantu bangunin.. apalagi habis liat kamu jalan-jalan diluar pake baju sexy gini jadi bikin aku sange lagi yank..", kataku


"Ya udah yuk lagi..", ajak Echa hendak memelukku namun kutahan tubuhnya


"Eh jangan kayak gini lagi tar bosen.. Aku ada cara lainnya yank"", kataku penuh ide mesum


"Gimana caranya mas?", tanya Echa juga penasaran


"Turutin aja apa kataku.. Hehehe"", jawabku


"Hmmm.. jangan suruh aku aneh-aneh lagi diluar. Capek tau", kata Echa


"Enggak, kamu cukup diem aja kok"", kataku


"Yaudah deh mas, aku nurut aja", kata Echa


"Gitu dong" Ya udah sekarang kamu aku ikat ya Yank.. Bayangin kamu lagi diiket terus diperkosa cowok. Heheheh"", kataku sambil terkekeh


Kuambil tali rafia dari dalam tas yang biasa kubawa kemana-mana. Maklum, aku selalu sedia benda tersebut agar sewaktu-waktu saat aku bawa barang besar pakai motor tidak kesulitan. Kuikat erat tangan pacarku keatas dan kusimpulkan ke besi yang ada di jendela. Posisi pacarku amat menggoda sekali saat ini. Kedua tangannya terikat keatas dan buah dadanya membusung siap untuk dinikmati. Perutnya yang rata sedikit mengintip karena kaosnya terangkat sedikit. Apalagi puting susu Echa tercetak jelas di kaos warna pinknya itu membuat keindahan pose pacarku itu semakin sempurna saja.


"Lho kenapa pakai diikat-ikat segala mas?", Tanya pacarku


"Malam ini aku horny berat yank, pingin memperkosamu habis-habisan, apa lagi denger ceritamu barusan yang digodain berandalan-berandalan gang sebelah itu", kataku membujuk sekaligus menggodanya


"Ihhh.. Mas ini masak iya mau aku diperkosa mereka. Hmmm".", kata Echa bikin ku makin sange saja.


"Matamu aku tutup sekalian biar kamu ga tau siapa yang bakal merkosa kamu", kataku sambil kututup mata pacarku dengan sebuah masker hitam yang biasa kupakai motoran.


"Keliatan yank ini berapa?", tanyaku sambil memberi isyarat dua jari


"Ngga keliatan mas.. gelap", jawab Echa


"Ok.. It's Show time!", kataku dalam hati.


Kusiapkan Handphoneku untuk merekam apa saja yang akan terjadi nanti. kurangsang terlebih dahulu kedua puting Echa karena kutahu itu adalah titik rangsangan terkuat gadis cantik itu. Benar saja, baru pertama disentuh bagian putingnya, Echa nampak mulai menggeliat menikmati tiap sentuhanku pada puting susunya.


"Ssshhh... Aaahhh..", desisnya


Diwaktu yang bersamaan, Mang Ujang sepertinya sudah sampai di rumah Echa, terdengar suara langkah yang berhenti tepat di depan rumah pacarku. Aku lalu bergegas segera keluar dan kubukakan pagar pintu agar Mang Ujang bisa masuk ke rumah Echa


"Saya tunggu disini aja mas", kata Mang Ujang


"Eh jangan Mang. Mang Ujang masuk aja"", ajakku


"Tapi Mas.. Saya sungkan sama Mbak Echa.. Saya ga pernah masuk rumahnya", kata Mang Ujang membuatku geregetan.


"Udah gapapa.. Saya persilakan Mang Ujang masuk. Ayo Ga usah malu-malu Mang", kataku terus memaksa penjual nasi goreng itu


"iya deh mas, permisi"", kata Mang Ujang akhirnya ia pun mau masuk ke rumah Echa


"Mang jangan kaget ya. Jangan keluar suara juga! Heheheh", kataku membuat Mang Ujang semakin kebingungan


"Emang kenapa mas?", tanya Mang Ujang


"Udah deh ayo silakan masuk dulu, saya ada kejutan buat Mang Ujang hehehe", kataku sambil tertawa mesum


"Kejutan apa Mas? Saya enggak mau di prank biar viral lho ya", kata Mang Ujang curiga


"Enggakkkk.. Ayo Mang silakan..", ajakku lagi


Aku persilakan Mang Ujang masuk ke Ruang tamu. Mang Ujang pun masuk ke dalam rumah dan tatapan matanya tentu saja langsung tertuju ke seorang gadis yang matanya sedang tertutup kain masker dalam posisi terikat


"Wow...", kata Mang Ujang sambil melongo dan kututup segera mulutnya


"Yank, kamu ngapain? Kok aku diiket terus gini sih", tanya Echa dengan kondisi mata tertutup tidak menyadari keberadaan Mang Ujang


"Ngga papa Yank, aku barusan ambil minum tadi", kataku sambil memberi tanda tutup mulut agar Mang Ujang untuk tidak bersuara


Aku kemudian mengajak Mang Ujang untuk mengikutiku dulu ke dapur agar aku bisa menjelaskan semua.


"Maaf mas, kayaknya mas lagi asyik ya sama Mbak Echa. Saya ngga tau dan kaget", kata Mang Ujang setelah kami sampai di dapur


"Mang Ujang tahu maksud saya ajak Mang Ujang kesini?", tanyaku dan tentu saja Mang Ujang segera menggelengkan kepalanya.


"Tidak tahu mas"", jawab Mang Ujang


"Sekarang saya minta Mang Ujang jujur, Mang Ujang pernah nembak pacar saya kan?", tanyaku seolah menginterogasinya


Mang Ujang sekali lagi terkejut mendengar pertanyaanku. Mungkin ia tidak enak hati denganku karena aku saat ini adalah pacar Echa.


"Maaf mas.. itu dulu kok"", kilah Mang Ujang


"Kalau sekarang apa masih suka?", tanyaku lagi


Mang Ujang terdiam beberapa saat. Tampak raut wajahnya kebingungan mendengar pertanyaanku. Mungkin dia saat ini merasa sedang berada di posisi jujur salah gak jujur tambah salah. Aku pun kembali berkata, siapa tahu dia bisa segera paham maksudku.


"Echa cerita ke saya Mas. Mang Ujang pernah nembak dia katanya", kataku lagi


"Maaf mas.. Jangan marah Mas..", kata Mang Ujang masih tidak enak hati


"Marah? Saya justru akan marah kalau Mang Ujang tidak memuaskan Echa malam ini", ujarku


Mang Ujang semakin melongo kebingungan. Wajahnya semakin bengong mendengar perkataanku. Mungkin baginya aku bukan cowok waras. Tapi ya itu lah aku. Kalau dia minat dengan penawaranku ya silakan ambil, kalau gak suka ya aku gak akan maksa. Aku yakin Mang Ujang sudah gede dan bisa memutuskan.


"Maksud mas?", tanya Mang Ujang


"Anggap saja ini permohonan maaf dari Echa karena pernah nolak Mang Ujang", kataku


"Eh.. saya ga papa kok mas.. Saya juga sadar diri Mbak Echa juga gak mungkin mau sama saya yang jelek ini.", kata Mang Ujang


"Yakin Mang Ujang gak mau ambil kesempatan ini? Saya ga nawarin 2x Mang.. Saya yakin Mang Ujang masih cinta sama Echa kan?", tanyaku


Mang Ujang terlihat berdiri mematung. Ia mungkin tidak menyangka akan berada di situasi seperti saat ini. Aku yang pacar sahnya Echa justru menawarkan tubuh pacarku ke Mang Ujang yang dulu pernah menyatakan cinta ke Echa.


"Mau enggak?", tanyaku serius


"Ehhh.. Mas ga marah beneran?", tanya Mang Ujang


"Sudah saya bilang saya baik Mang jadi ga akan marah. Mau?", godaku lagi


"Ma.. Mau banget mas"", jawab Mang Ujang dengan senyumnya yang kali ini terlihat sumringah


"Gitu dong" Ya udah. Tapi ada syaratnya", ujarku


"Apa itu mas?", tanya Mang Ujang


"Mang Ujang boleh ngapa-ngapain tapi jangan dimasukkan", kataku


"Ohh.. buka baju Mbak Echa boleh Mas?", tanya Mang Ujang


"Boleh banget", jawabku mantab


"Iya gapapa Mas, liat bodynya Mbak Echa saja saya sudah bersyukur. Mengobati rada penasaran. Hehehe..", jawab Mang Ujang


"Iya boleh Mas, Echa malam ini milik Mang Ujang. Mang Ujang bisa segera mulai keburu Echa bosen tuh diiket aja gak diapa-apain", kataku


Lalu aku ambil dua lembar uang seratus ribu dari dalam dompet.


"Oiya, ini Mang buat nasi gorengnya", kataku


"Eh? Kok banyak sekali mas?", kata Mang Ujang


"Gapapa sama biaya terima kasih dari Echa karena Mang Ujang sudah bersedia muasin Echa", kataku


Mang Ujang kebingungan mendengar perkataanku. Mungkin keberuntungannya satu tahun ini sudah ia habiskan malam ini. Sudah dikasih tubuh Echa, dia masih dikasih uang pula.


"Ayo ke ruang tamu lagi Mang. Echa sudah nunggu dari tadi minta diperkosa", kataku lalu mengajak Mang Ujang kembali ke ruang tamu


Mang Ujang terpesona melihat pemandangan di depannya. Melihat Echa yang terikat pasrah dengan puting susunya tercetak di balik kaos warna pinknya. Ditambah lagi jembutnya yang tersembunyi dibalik legging transparannya juga terlihat jelas di ruangan terang ini.


"Mas beneran ya saya boleh incip-incip tubuh Mbak Echa? Mbak Echa gak akan marah?", tanya Mang Ujang berbisik


"Boleh sekali. Silakan dinikmati Mang. Echa justru sebenarnya ga keberatan. Cuma dia masih malu-malu.", jawabku juga berbisik-berbisik


Mulai aku rekam kejadian malam ini dari ketika Mang Ujang melepas pakaiannya dan berjalan ke arah Echa. Usianya kurang lebih sudah 35 keatas, badannya berkulit kecokelatan, kurus tetapi berotot. Ternyata di balik kaos yang dia pakai, perutnya six pack dan atletis proporsional. Lalu Mang Ujang pun mulai melepas celananya


"Anjir kontolnya besar juga nih orang, kalah gue", pikirku dalam hati saat melihat batang kontol hitam Mang Ujang yang berotot dengan batangnya yang berurat keriting itu.


"Yank"", ujarku


"Iya Mas? Ihhh.. Lama banget ngapain aja sih?"


"Nyariin orang yang mau merkosa kamu. Hehehe"", jawabku dan kulihat Mang Ujang berkali-kali menelan ludah seperti tak sabar menerkam Echa


"Ihhhh aneh" Terus nemu ngga?", tantang Echa


"Mang Ujang", jawabku singkat


"Ihhh.. Bayangin aja kan mas?", tanya Echa


"Hehehehe" Iya Bayangin aja kamu di perkosa Mang Ujang", kataku


"Hmmm.. Ya udah deh.. Buruan..", kata Echa tak sadar di hadapannya kini berdiri Mang Ujan yang sudah menahan konaknya daritadi


Mang Ujang mulai berjalan mendekati Echa setelah kuberikan aba-aba. Tanpa diminta 2x, Mang Ujang langsung mendekati Echa dan membelai perlahan wajah Echa yang masih tertutup matanya. Tangan Mang Ujang terus membelai pipi pacarku dengan lembut lalu kemudian turun ke bibir Echa. Ia usap bibir lembut Echa dengan jari kasarnya sebelum ia seliplkan jarinya yang kasar hitam itu kemulut Echa. Echa terlihat terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari lelaki yang disangkanya masih aku itu.


"Mas kok rasa bawang tanganmu?", tanya Echa tiba-tiba ketika merasakan jari Mang Ujang


"Oiya Yank, tadi aku belum cuci tangan", jawabku dan Mang Ujang terlihat lega karena Echa tidak lagi curiga siapa yang membelai wajahnya


"Ohhh.. ", kata Echa dan kembali ia terdiam


Kembali dibenamkannya telunjuk Mang Ujang kedalam bibir tipis Echa dan Echa mengulum jari Mang Ujang, seolah dia sedang mengulum penis.


"Aaaahhhh.. Tanganmu terasa lebih kasar Mas", kata Echa tapi tidak kupedulikan.


Kubiarkan Mang Ujang kembali menggerayangu tiap sentimeter tubuh pacarku dengan jari-jari kasarnya. Tubuh Echa bergoyang ke kiri dan ke kanan. Dipeluknya erat tubuh pacarku hingga payudara Echa berhimpitan dengam dada Mang Ujang yang bidang


"Bagus goyang terus Yank, biar makin tegang tuh kontol", kataku sambil merekam kontol Mang Ujang yang digesek gesekkan ke legging Echa tepat di area selangkangannya


Echa semakin menikmatinya. Goyangannya semakin erotis bak pelacur yang sedang menggoda kontol pria agar segera ditancapkan ke lubang vaginanya. Digoyangkannya pinggulnya kekiri dan ke kanan perlahan dengan sangat menggoda sambil posisi tangan tetap diikat keatas. Aku sampai menelan ludah begitu pula dengan Mang Ujang, kontolnya semakin membengkak saja. Tidak kusangka Echa ternyata seliar itu gerakannya jika aku pandang dari jarak lumayan jauh.


Tanpa ragu lagi, Mang Ujang melumat bibir tipis Echa yang menggoda. Diciuminya habis bibir pacarku itu tanpa ampun. Echa nampak kewalahan mengimbangi serangan tiba-tiba dari Mang Ujang.


"Ssshhh.. Yank... Aroma mulutmu kok bau bawangnya kuat banget sih...", Kata Echa protes


"Udah kamu itu diperkosa, ga usah pilih-pilih baweeell. Anggap itu bibirnya Mang Ujang yang lagi cipokin kamu", kataku menjawabnya dan menyuruh Mang Ujang melanjutkan lumatannya ke bibir pacarku itu sebebasnya


Diciuminya kembali bibir Echa oleh Mang Ujang dengan semakin bernafsu. Kulihat lidah Echa pasrah dikulum oleh mulut Mang Ujang. Lidah mereka saling beradu, saling melumat, saling bertukar air liur penuh gairah,dan kontolku semakin ereksi melihat pacarku sedang diciumi penuh nafsu oleh Mang Ujang. Tak kuat menahan gairah, aku lantas membuka celanaku dan kukeluarkan batang kontolku sambil kukocok pelan-pelan, dengan tetap merekam aksi Mang Ujang yang asyik menciumi bibir pacarku


*Gila gue bener-bener gila" Ahhhh.. sensasi apa ini" Ssshhh"*, desahku dalam hati sambil terus kukocok kemaluanku melihat pacarku sedang dinikmati lelaki yang pernah menyatakan cinta kepadanya.


Setelah puas menciumi pacarku, Mang Ujang lalu mengangkat kaos Echa keatas hingga payudaranya dan ketiaknya terbuka, tetapi ia tidak serta merta buru-buru melahap putting susu pacarku itu, Mang Ujang sengaja berhenti dan bermain-main pada ketiak Echa terlebih dahulu, ketiak yang kini terbuka bebas karena tangannya aku ikat ke atas. Dengan penuh nafsu, Mang Ujang mencium dan menikmati aroma dari ketiak Echa yang mulus tanpa bulu itu. Terlihat ketiak Echa semakin mengkilap bekas air liur Mang Ujang yang bau bawang. Tubuh Echa menggelinjang hebat menikmati sensasi geli jilatan pada ketiaknya


Payudara Echa yang menggantung bebas itu kali ini menjadi sasaran kejahilan tangan Mang Ujang, diremas-remasnya kedua buah dada Echa bersamaan dengan sangat kasar sambil sesekali ia pencet putting susu pacarku dengan kasar


"Aaaahhh.. jangan keras2 mas.... sakit... Kamu lagi nafsu banget yaa.. Aaahhh.." desah Echa sambil merintih


Lalu Mang Ujang mendaratkan mulutnya ke puting susu pacarku itu. Aku semakin bernafsu melihat kali ini pacarku Echa benar-benar menyusui lelaki lain. Lelaki yang pernah menembaknya namun ditolak oleh Echa.


"Iyaaaahhh... Ooouuuhh.. Enak mass.. Kamu ngemutnya kok beda banget sihh"", erang Echa menikmati mulut Mang Ujang saat mengulum puting susunya yang berwarna cokelat muda itu


"Uuuuhhh... aahh..", desahku menikmati pemandangan itu sambil semakin kupercepat kocokan pada kontolku sendiri


Mang Ujang kemudian jongkok dan kali ini dia bermaksud menikmati organ bagian bawah pacarku. Tanpa banyak menunggu, Mang Ujang langsung menurunkan legging Echa hingga terpampanglah memek pacarku yang jembutnya rapi itu. Mang Ujang terkesima dengan pemandangan di hadapannya. Memek segar perawan gadis berusia belia. Memek dari gadis yang menurut pengakuan Mang Ujang adalah gadis tercantik di perumahan ini. Diciumnya sebentar memek pacarku. Terbayang aroma memek Echa yang khas itu dan aku yakin Mang Ujang akan ketagihan dengan bau memek Echa.


Kali ini bukan hanya ciuman, tetapi ia jilat memek pacarku penuh gairah, Sedangkan pacarku yang tidak menyadari memeknya dijilati Mang Ujang hanga bisa mendesah. Kulihat kaki Echa sengaja ia buka semakin lebar agar Mang Ujang semakin leluasa menjilati kemaluannya.


*Gilaaaa" itu Mang Ujang Yank yang lagi jilatin memek kamu" Ssshhh"*, kataku dalam hati sambil mendesah dan terus onani


Mang Ujang kemudian bertanya kepadaku dengan memberi kode menunjuk tali, aku paham maksudnya dan kujawab dengan anggukan. Lalu dibukanya ikatan pada tangan Echa. Mang Ujang juga tidak mau berlama-lama dan seperti tidak sabar melihat Echa yang sudah sepasrah itu untuk dinikmati. Kemudian pria itu menarik lepas kaos lengan panjang pacarku sehingga kali ini Echa benar-benar telanjang bulat dihadapannya. Hanya sebuah kain kerudung yang masih dibiarkan terpasang di tubuh pacarku


"Rebahan dan ngangkang yank, Mang Ujang mau nikmatin memekmu tug", kataku dan Echa masih percaya saat ini yang menikmati tubuhnya adalah aku


"Iya.. Mas". Uhhhh.. kamu kayak beda mas hari ini mainnya"", kata Echa


"Iya beda.. kan memang kamu lagi diperkosa Mang Ujang. Heheheh", jawabku


"Nanti aku diperkosa beneran sama Mang Ujang lho ya", kata Echa mengejutkanku


"Aku ikhlas kalau kamu ngelayani Mang Ujang Yank. Kamu kan juga punya salah sama Mang Ujang dulu", ujarku


"Salah apa?? Aaahhhh mas bentar dong kan masih ngobrol"", Kata Echa karena tiba-tiba Mang Ujang menjilati kemaluan pacarku lagi


"Nolak Mang Ujang"", jawabku


"Aaaaahhh.. Mas" Kamu kok bisa ngomong sambil jilatin punya aku sih"", kata Echa terlihat mulai curiga


"Hehehe" Ssssttttt.. Jangan rame-rame" Mang Ujang lagi konsen jilatin memek kamu Yank"", ujarku


"Aaahhh.. Aaaahhh.. Mas.. ini kamu kan yang jilatin? Aaaahhh"", rancau Echa namun aku tak menggubris pertanyaannya


Terlihat Echa meraba rambut Mang Ujang dan sedikit meremasnya. Rambut Mang Ujang memang lebih panjang dan ikal dibandingkan rambutku yang kupotong pendek rapi. Bodoamat kalau akhirnya Echa menyadari kalau pria yang daritadi merangsangnya memang beneran Mang Ujang. Mang Ujang kemudian membuka kedua kaki Echa lebar-lebar. Echa pun hanya bisa pasrah menyajikan memeknya dihadapan Mang Ujang, seolah ia mempersilakan Mang Ujang menikmati lubang kemaluannya. Lalu Mang Ujang membuka bibir kemaluan pacarku dengan kedua jempolnya hingga terbuka lebar.


"Aaaaahhh....", tubuh Echa tersentak menerima jilatan Mang Ujang yang kali ini lebih dalam dari sebelumnya


"Aaahhh.. Ssshhh.. nikmat memekmu Cha"", kata Mang Ujang terdengar lirih


Lalu Mang Ujang mulai menjilati dengan penuh kenikmatan vagina pacarku itu. Dicucupnya lendir yang keluar dari vagina pacarku hingga menimbulkan suara yang berisik. Kurekam kejadian itu dengan close up bagaimana Mang Ujang menjilati habis lendir vagina pacarku. Lidah Mang Ujang tak lupa menjilati biji itil Echa hingga membuat tubuh pacarku itu mengejang hebat.


"Aaaahh... Mang"", kata Echa menikmati vaginanya sedang dijilati pria lain


*Mang? Apa Echa sedang benar-benar membayangkan memeknya dijilati Mang Ujang? Atau Echa sudah tahu yang menjilati memeknya saat ini adalah Mang Ujang?*, justru kali ini aku yang menerka-nerka


Setelah itu gantian tangan Mang Ujang yang beraksi pada memek pacarku. Ditusuknya memek pacarku dengan jari nya yang kasar dengan brutal. Gerakan tangannya begitu cepat, secepat saat Mang Ujang sedang memotongi bahan nasi gorengnya dengan pisau.


"Aahh.. Aah.. Aahh... Aahhh... Mang Ujang" Terussss aaaahhh..", desahan yang keluar dari mulut pacarku begitu syahdu terdengar membangkitkan gairahku apalagi sekarang ia justru menyebut nama Mang Ujang


Mang Ujang semakin cepat mengocok lubang senggama pacarku dengan ketiga jarinya yang kasar. Ditusukkan telunjuk dan jari tengahnya ke lubang vagina pacarku dan mulai dikocoknya bagian dalam lubang vagina Echa. Kocokannya sangat cepat dan penuh nafsu, lendir2 hangat dan licin semakin membasahi permukaan kulit vagina Echa sehingga menimbulkan suara yang becek saat jari Mang Ujang mengorek habis lubang itu. Jujur saja aku khawatir selaput dara Echa bakalan robek jika dicabuli kasar seperti itu. Tapi aku biarkan saja toh sudah kepalang tanggung juga.


"Lanjut Mang! Cabuli Echa sepuasmu", kataku dalam hati


Jari Mang Ujang terus mencabuli lubang vagina pacarku itu. Semakin lama semakin cepat, begitu pula dengan desahan pacarku, semakin lama semakin kencang saja


"aah.. aaah.. aah.... iya iya iya terusss aaahh Mang Ujang.. Aku mau keluarrr"", desahnya menikmati pencabulan terhadap vaginanya yang sudah basah itu.


Tubuh Echa semakin mengejang hebat


"Aku keluar!!!!!", pekik Echa


*Seerr serrr serrr* cairan squirt Echa muncrat mengenai wajah Mang Ujang dan sedikit mengenai matanya. Mang Ujang langsung mengucek matanya yang terkena cairan Echa. Aku sampai terkekeh melihatnya. Lalu dijilatinnya kembali vagina Echa untuk membersihkan sisa sisa muncratan squirt Echa


"Sssshh... Oouuuhh... He emmm Mang" Aaaahh..", desah Echa kembali menikmati jilatan Mang Ujang


Mang Ujang kemudian memposisikan tubuh Echa menungging. Echa hanya menurutinya dengan pasrah dan pacarku itu kemudian menungging. Bongkahan pantatnya yang putih mulus begitu sexy menggoda


*Plakk" plakkk" Plakkk"* Mang Ujang langsung menghajar pantat Echa, mungkin ia kesal karena matanya sempat kelilipan karena tersembur lendir pacarku


"Ouuuhhh.. Mang" Aaahhhh.. Ampunnn..", rintih Echa namun Mang Ujang terus menampari pantat pacarku dengan kekuatan penuh, bahkan sampai memerah


Mang Ujang lalu bangkit dan berdiri, tubuh Echa ditariknya dengan paksa, sampai tidak sempat mengistirahatkan tubuhnya setelah muncrat hebat. lalu dituntunnya tubuh Echa menjadi posisi berlutut. Kontol panjang itu mengacung tepat di depan bibir Echa. Ditampar-tamparnya wajah cantik pacarku dengan kontolnya berkali-kali


*Sial, gue malah cemburu anjirrrrr.. tapi sangeee"*, ujarku dalam hati melihat perlakuan penjual nasgor itu ke pacarku


"Sepong", ujar Mang Ujang sambil sedikit menjambak kerudung Echa


Mang Ujang dengan segera mengarahkan kontolnya ke bibir Echa yang masih tertutup, paham ada kontol yang akan memasuki rongga mulutnya, dibukalah mulut Echa dan mempersilakan kontol Mang Ujang masuk ke dalam mulutnya


"Ssshhh....aaaahhh..", desis Mang Ujang memejamkan mata menikmati sepongan pacarku.


Ku close up sepongan Echa ke kontol Mang Ujang. Terlihat kontol Mang Ujang keluar masuk memenuhi rongga mulut pacarku. Jemari lentik Echa terlihat menggenggam erat batang kontol itu dan mengocoknya, mulutnya mengulum kepala penisnya, dan tangannya sibuk mengocok batang berurat keriting Mang Ujang. Terlihat mulut pacarku sangat penuh menerima kontol raksasa itu.


"Uhhh gede banget kontolnya"", kata Echa semakin membuatku lanas dingin saja


"Sssshhhppp... sssllllppp... ceplok ", begitu suaranya ketika kontol itu keluar masuk dan terlepas dari bibir mungilnya dan dimasukkan lagi ke bibir tipisnya itu.


Dengan telaten Echa menjilati semua bagian kontol mang Ujang hingga membasahi hampir seluruh batang kemaluan Mang Ujang. Mang Ujang semakin bernafsu, kali ini kedua tangannya ikut menarik kepala Echa dan mendorongnya dengan kasar maju mundur agar sepongan Echa semakin dalam dan Echa semakin direndahkan


"Sepong terusss" Aaahhhh.. Aaahhh"", rancau Mang Ujang sambil mendorong-dorong kepala pacarku ke kontolnya


Sudah hampir 5 menit pacarku Echa memberikan sepongan spesialnya ke kontol Mang Ujang, sementara itu kontolku sudah seperti akan memuncratkan pejunya karena dari tadi kukocok terus melihat pemandangan luar biasa yang dimana pacarku sedang dinikmati lelaki yang pernah menyukainya. Aku pun buru-buru menghentikan onaniku, daripada pikiran gilaku tiba-tiba hilang setelah aku selesai crot dan aku pasti akan menyesali kegilaan malam ini.


Aku kemudian kepikiran ide gila lainnya, mungkin sudah saatnya Echa mengetahui kontol siapa yang saat ini sedang berada dimulutnya. Aku lalu mendekati Echa dan Mang Ujang terkejut melihatku melepas masker hitamku dari mata Echa. Echa juga lebih terkejut lagi reaksinya, setelah menyadari Mang Ujang sudah telanjang bulat dan kontol lelaki itu sudah ada dimulutnya dalam kondisi ereksi berat


"Mang Ujang???", pekik Echa


#Bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 8 : Terima kasih


POV : Echa


"Mang Ujang???", pekikku saat menyadari sosok penjual nasi goreng langgananku itu berdiri dihadapanku dalam keadaan tanpa sehelai benangpun


Parahnya, aku baru menyadari kemaluan Mang Ujang berada di dalam mulutku. Aku buru-buru mengeluarkan batang penis Mang Ujang yang dan aku pun langsung tersedak. Aku tidak menyangka, batang keras tadi adalah milik Mang Ujang, bukan milik pacarku. Mang Ujang terlihat memasang wajah kebingungan saat aku mendadak melepeh alat kelaminnya dari mulutku. Kulihat Mas Rio berdiri di belakangku lalu ia pun mulai memegangi kepalaku. Kemudian pacarku itu dengan kurang ajar mendorong kepalaku ke arah penis Mang Ujang.


Benda yang terasa keras itu langsung menempel ke hidung serta bibirku. Aku berusaha mati-matian meronta dengan perlakuan pacarku. Menurutku ini sudah keterlaluan. Aku tadinya hanya diminta membayangkan sedang diperkosa Mang Ujang, bukan melakukannya beneran dengan Mang Ujang


Pantas saja tangan serta mulutnya bau bawang. Dan juga, penis itu terasa berbeda sekali rasanya dengan penis Mas Rio. Penis Mang Ujang terasa lebih keras dan kaku saat kuurut dengan bibirku. Sedangkan penis Mas Rio, aku ingat betul teksturnya yang keras namun sedikit kenyal. Juga penis yang yang barusan kukulum itu terasa begitu panjang hingga mengenai ujung tenggorokanku. Aku lalu benar-benar membayangkan mengulum penis Mang Ujang tadi karena rasanya begitu berbeda dengan punya Mas Rio. Terasa jauh lebih mantab dan membuatku semakin bersemangat mengulum batang penis tadi. Ternyata yang kukulum memang beneran punya Mang Ujang.


"Ayo Yank, mana desahanmu tadi? Bukannya tadi kamu menikmati kontol Mang Ujang?", goda Mas Rio sambil terus mendorong kepalaku ke penis Mang Ujang


"Mas Rio sudah Mas.. Aku malu" Ini sudah kelewatan", pintaku namun Mas Rio terus mendorong kepalaku mencium penis Mang Ujang


"Udah gausah jaim-jaim kamu Yank, kamu suka kan sama kontol Mang Ujang?", kata Mas Rio lagi


"Mas.. Kalau Mbak Echa gak mau gak papa mas jangan dipaksa. Saya jadi gak enak nih", ujar Mang Ujang sambil menjauhkan penisnya dari kepalaku


"Echa itu bukannya gak mau Mang, dia itu malu-malu mau. Ya kan Yank? Ayolah jangan malu-malu. Disini Cuma ada kita bertiga saja kok" Aku tahu kamu juga pingin kontol Mang Ujang kan?", ujar Mas Rio terus memegangi kepalaku


Betapa kesalnya aku dengan Mas Rio. Mengapa ia malah membawa lelaki yang yang begitu aku kenal. Mang Ujang, Seorang penjual nasi goreng yang sudah menjadi langgananku lebih dari 3 tahun. Suasana ini tentu malah menjadi canggung bagi kami yang terbiasa berkomunikasi hanya sebatas penjual dan pembeli. Jujur saja mungkin aku tidak begitu keberatan dan merasa lebih aman jika dengan orang-orang random yang tidak kukenal. Kalau dengan orang random aku bisa lebih bebas mengekspresikan diriku, sedangkan dengan lelaki yang kukenal seperti Mang Ujang aku justru merasa jaim, rasanya imej ku hancur seketika di mata Mang Ujang. Tapi kuakui penis Mang Ujang tadi memang sempat menggoda libidoku dan aku benar-benar menikmati penisnya yang panjang itu


"Ya ampun, apa yang kupikirkan" Echaaaa" Tapi" Memang nanggung sih" Aku juga masih pengen"", aku dalam hati pun mulai bimbang mau lanjut kegilaan ini atau berhenti


Mas Rio terus memaksaku agar kepalaku berada di dekat Mang Ujang, sampai akhirnya aku hanya bisa pasrah. Kutempelkan bibirku di penis penjual nasih goreng itu dan kulihat Mang Ujang juga tidak lagi merasa keberatan dan menjauhkan penisnya dariku. Ia kali ini hanya diam saja membiarkan batang penisnya ku cium diam-diam saat Mas Rio mendorong kepalaku terus menerus. Aku pun tidak punya pilihan lain selain menuruti permainan gilanya, toh benar dirumah ini hanya ada kami bertiga.


"Mas kamu serius ijinin aku sama Mang Ujang?", tanyaku dengan mimik serius


"Serius banget!", jawab Mas Rio


"Alasannya?", tanyaku penasaran


"Simple aja. Karena Mang Ujang pernah nembak kamu", kata Mas Rio


"Terus?", aku tidak puas dengan jawaban pacarku yang ngambang itu


"Ya terus kamu nolak Mang Ujang, jadi aku pikir kamu harus minta maaf ke Mang Ujang dengan cara seperti ini", jawab Mas Rio


*Hmm masuk akal juga*, gumamku dalam hati


"Tapi Mas" Ini terlalu jauh buat aku"", jawabku


"Ngga Yank, ini adalah saat yang tepat memamerkan keindahanmu lebih serius dari sebelumnya-sebelumnya. Kami harus lebih berani memberikan tubuhmu ke cowok lain", kata Mas Rio


"Aku malu mas"", jawabku merajuk


"Sudah Mas saya gapapa kok. Dikasih seperti tadi saya aja udah bersyukur sekali. Saya pamit aja kalau begitu", kata Mang Ujang sepertinya ingin menyudahi ini semua


*Tidak boleh Mang Ujang tidak boleh pergi! Setelah kegilaan yang kulakukan hari ini, aku butuh pelampiasan, sekaligus membalas perlakuan Mas Rio*, gumamku dalam hati


#


Pikiranku pun sejenak kembali ke kejadian kemarin"


Saat aku bermain-main dengan ketiga teman Mas Rio, nafsuku tak kunjung mereda, bahkan semakin lama semakin menggila. Semalaman aku masturbasi dikamar menuntaskan syahwatku yang terus menggelora, mumpung Mas Rio tidak menjawab pesan WA ku dan menghilang entah kemana, jadi kumanfaatkan malam itu dengan masturbasi membayangkan hal-hal nakal yang terlintas di pikiranku. Tubuhku rasanya terbakar semalaman. Gairah panas menyerang tubuhku hingga memaksaku untuk terus-terusan telanjang malam itu. Nafsu syahwat itu juga memaksaku untuk tak berhenti menggerakkan jemariku ke lubang kemaluanku yang membutuhkan sebuah rangsangan


Tidak pernah kubayangkan selama hidupku, Kemaluanku ini sudah kugesek-gesekkan dengan kepala penis teman-teman pacarku. Gilanya aku melakukan dengan ikhlas tanpa diketahui pacarku. Entah apakah rasa mesum cabul ini memang sifat asliku ataukah karena aku sedang dalam pengaruh sesuatu? Aku curiga tentang obat yang disebutkan Mas Andre kemaren. Apakah semua yang terjadi padaku akibat pengaruh obat itu? Tapi aku masih merasa normal-normal saja. Hanya saja, nafsuku mudah sekali naik akhir-akhir ini dan sulit kuabaikan. Lalu, bukannya semakin mereda aku justru semakin merasa terangsang berat dan sulit sekali kukendalikan perasaan cabul ini.


Kukira birahiku sirna keesokan harinya. Ternyata dugaanku salah, rasa birahi itu juga terus semakin menyerang dan menggoda imanku selama di sekolah. Betapa tersiksanya aku menyadari kemaluanku yang rasanya sudah basah dan gatal parah selama aku mengikuti pelajaran di kelas. Kucoba kutahan mati-matian godaan birahi yang menyerang kemaluanku. Kakiku terus bergerak-gerak seperti sedang menahan kencing. Anya teman sebangkuku bahkan menyadari ada yang tidak beres denganku. Akhirnya aku habiskan waktu istirahatku untuk masturbasi hingga bel masuk berbunyi. Tetapi itupun tak langsung menyembuhkan perasaan syahwatku yang menggila.


Cobaan semakin parah saat aku sedang berduaan dengan Bayu di perpustakaan sekolah. Aku sange berat saat berduaan dengan Bayu. Cowok ganteng kapten tim basket sekolahku. Aroma parfumnya yang maskulin seperti sengaja menggoda libidoku yang seharian tak bisa kutahan. Selama kami mengerjakan tugas kelompok, aku suka mencuri-curi pandangan ke wajah Bayu, aku juga tak lupa mengarahkan pandanganku ke arah selangkangannya yang kusadari semakin lama semakin menonjol saja.


Apakah Bayu sebenarnya juga menginginkanku hingga penisnya menegang? Atau penis Bayu memang besar sehingga kelihatan menonjol terus? Aku selama ini memang tidak begitu memperhatikan penis cowok ganteng itu. Tapi kali ini, aku justru fokus kepada penis Bayu daripada memikirkan tugas sekolahku. Mungkin jika aku tidak ingat Mas Rio, aku sudah benar-benar menggoda Bayu. Ah, mengatakan hal ini saja sebenarnya aku sudah tak sanggup karena bagaimanapun aku berusaha setia menjaga cintaku untuk Mas Rio sampai kapanpun.


Beruntung tadi akhirnya, Mas Rio menjemputku sehingga aku bisa menyalurkan birahiku dengan pacarku itu sepulang sekolah. Namun sayangnya, saat aku melakukannya dengan Mas Rio, aku merasa kurang, kurang sekali malahan. Aku jenuh dengan gaya Mas Rio yang gitu-gitu aja. Tidak menarik lagi bagiku karena mungkin aku sudah terlalu sering melakukan dengannya sehingga aku merasa jenuh. Tetapi aku tidak berani bilang ke Mas Rio kalau sejujurnya aku bosan dengan permainannya yang cenderung monoton, mana cepet baget lagi Mas Rio keluarnya. Aku bahkan belum merasa puas sama sekali saat Mas Rio sudah lemas.


Aku justru diam-diam merasa suka saat Mas Rio mengutarakan fantasy gilanya kepadaku. Disaat ia memintaku membayangkan sedang ngeseks dengan cowok lain, disitulah aku semakin merasa terangsang hebat. Kuakui, bisikan-bisikan fantasy gila Mas Rio seolah menghipnotisku secara tidak sadar. Aku yang awalnya menolak justru diam-diam tertantang untuk melakukannya. Tetapi aku tidak mau mengakui itu secara langsung dihadapan Mas Rio.


Aku kembali excited dengan ide gila Mas Rio yang memintaku jalan-jalan malam-malam di area perumahanku. Aku tahu betul perumahanku ini kalau malam lumayan sepi. Mungkin hanya seorang satpam yang berjaga di pos ronda yang aku tak ingat namanya, karena aku memang jarang bersosialisasi dengan bapak-bapak di komplek perumahan ini. Menurutku memang tidak penting karena menghafal nama satpam dan bapak-bapak sekitar komplek adalah kewajiban papaku, bukan aku.


Awal berjalan memang terasa sedikit kurang nyaman bahkan terasa kikuk karena pakaian yang kupakai terlalu berani. Tidak pernah aku jalan-jalan ke luar rumahku tanpa memakai dalaman sama sekali. Ditambah udara malam yang dingin, semakin terasa menusuk puting susuku yang bersinggungan langsung dengan kaos yang kupakai. Hawa dingin itu membuat putingku mengeras hingga menonjol tercetak di kaosku. Awalnya aku risih namun ternyata justru sensasi menegangkan ini malah memacu adrenalineku. Aku yang akhir-akhir ini merasa sange terus malah merasa tertantang dengan permainan Mas Rio kali ini.


Benar dugaanku, pak satpam yang tidak kuketahui namanya itu terlihat berjaga di pos satpam dekat gang rumahku seorang diri. Beliau sosok seperti bapak-bapak kebanyakan. Badannya lumayan gemuk tetapi ngga gemuk banget. Aku terpaksa harus melewatinya agar bisa berjalan menuju gang sebelah. Kubiasakan diriku berjalan kearahnya seolah tidak ada yang aneh denganku. Walau aku sadar betul cara berpakaianku saja sudah aneh saat ini. Legging ketat transparan yang langsung bersinggungan dengan kemaluanku, terasa menggesek begitu kuat hingga membuat lubang kemaluanku itu jadi basah. Mungkin jika suasana terang, bulu jembutku akan terlihat transparan di celana legging transparan ini.


Parahnya bukan hanya basah saja vaginaku, tapi justru bertambah gatal karena terus menerus bergesekan dengan kain legging yang lumayan bertekstur. Aku paksakan kakiku berjalan seperti biasa walau selangkanganku tersiksa. Sesekali kurapatkan kedua kakiku demi menahan kemaluanku yang terasa semakin lama semakin kedutan. Saat aku mendekati pak satpam itu, aku berusaha tetap tenang. Beliau lalu melihatku dengan wajah keheranan saat berjalan ke arahnya. Demi mencairkan suasana, aku pun menyapa beliau terlebih dahulu.


Singkat cerita, terjadi obrolan singkat antara diriku dengan Pak Satpam itu. Obrolan yang awalnya sekedar basa-basi, perlahan menjadi pembicaraan yang seolah sedang menginterograsi. Aku sadari selama mengajakku berbicara mata Pak satpam itu terus mengarah ke payudaraku dan menatapku penuh rasa curiga. Ia juga bahkan mulai berani bertanya kenapa aku tidak memakai daleman dan menunjuk putingku yang tercetak dari balik kaosku. Oiya, sejak awal memang Mas Rio memintaku menyingkap kain kerudungku kebelakang agar tonjolan payudaraku kelihatan.


Betapa takutnya aku saat Pak Satpam itu semakin mengajakku kearah pembicaraan mesum. Secara terang-terangan, ia menuduhku apakah aku cewek BO-an karena pakaianku terlalu berani dan sexy. Ia juga merasa tidak pernah melihatku selama di perumahan ini sehingga ia pikir aku bukan warga sini. Iya juga menanyai berapa harga ku dengan kurang ajar. Aku sudah jelaskan kalau aku bukanlah seperti yang dia kira tetapi ia sama sekali tidak percaya dengan perkataanku. Aku sampai akhirnya terpaksa membuka omongan kalau aku adalah anak Pak Budi dan kusebutkan alamat lengkap rumahku agar beliau percaya. Tapi tidak semudah itu meyakinkan pria tua itu, sampai aku harus mengeluarkan KTPku barulah dia percaya aku warga perumahan ini.


Ia tahu sedikit tentang papaku, sayang yang ia tahu hanya penilaian negatif tentang papaku. Katanya papaku itu tidak disukai warga karena jarang bersosialisasi dengan warga sekitar. Iya, memang kuakui papaku memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Pak satpam itu juga bercerita selama ini jika ada jadwal ronda di perumahan, papaku juga tidak pernah hadir. Itu yang membuat warga sebenarnya semakin kesal dengan papaku yang seolah cuek dengan lingkungan sekitar. Jujur aku tidak tahu tentang hal itu sama sekali dan aku pun hanya bisa minta maaf ke Pak Satpam itu.


Aku kira pembicaraanku dengan Pak Satpam dapat segera kuakhiri setelah kuceritakan siapa aku, namun ternyata dugaanku salah, Pak Satpam itu tetap menggodaku dengan memuji keseksian dan kecantikanku. Ia juga membandingkanku dengan istrinya yang menurutnya tidak menarik lagi. Bahkan secara gamblang ia juga bilang penasaran dengan yang menonjol di balik kaosku dan pingin lihat sebentar saja. Tentu saja aku menolak mentah-mentah permintaan itu. Tetapi ia terus memaksaku dan ia juga mengancam akan melaporkan tindakanku ke warga karena dianggapnya sengaja menggoda malam-malam dengan berpakaian sexy. Ia juga mengancamku akan menyebarkan berita kalau selama ini anak Pak Budi ternyata open BO jual diri.


Tentu saja aku tidak mau nama baik papaku di perumahan ini semakin jelek akibat ulahku. Aku kemudian meminta beliau berjanji jika aku menuruti requestnya malam ini, ia tidak akan melaporkan tindakanku dan beliau pun setuju. Setelah memikirkan matang-matang, mau tak mau aku harus menuruti permintaannya. Toh ia hanya ingin melihat bentuk payudaraku saja. Deg-degan sih memang, tapi jiwa eksib yang ditanamkan oleh pacarku memang harus segera kupraktekkan sesering mungkin. Ku tolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan untuk memastikan lagi di sekitar pos satpam ini hanya ada aku dan beliau. Setelah dirasa aman, kuberanikan untuk mengangkat kaosku keatas agar Pak Satpam itu bisa melihat payudaraku. Gila rasanya bukan main saat kubuka pakaianku dihadapan seseorang yang bukan siapa-siapaku itu.


Mata Pak Satpam itu terbelalak memandangi payudaraku. Tatapan matanya yang terkagum itu semakin membuatku tak karuan. Antara malu, sedih, nakal, dan rasa semakin bergairah yang kurasakan pada jiwa ragaku. Kubiarkan ia berlama-lama memandangi payudaraku dengan tatapan mupeng. Jujur saja, dibawah sana vaginaku seperti meronta dan bocor dengan deras. Lendirku keluar begitu banyak hingga membuat kelaminku kedutan tak karuan. Mungkin jika tidak terhalang leggingku, aku bisa disangkanya mengompol


"Nakal ya kamu anak Pak Budi, sini saya hukum kamu"", kata Pak Satpam itu tiba-tiba


Aku dibuat terkejut mendengar ucapannya. Rupanya Pak Satpam itu tidak hanya melihat payudaraku saja. Kali ini ia pelintir pula puting susuku hingga membuat tubuhku menggelinjang. Tangan kasarnya memilin kedua puting susuku dan aku mati-matian menggigit bibir bawahku agar tidak mendesah. Sementara itu, kurasakan handphoneku terus bergetar sepertinya Mas Rio mulai panik karena sudah lebih dari 5 menit aku tak kunjung memberinya kabar.


"Uhhh tetekmu bagus banget mbak.. pentilnya gak lebar kayak punya istri saya" Uhhh.. Nakal sekali kamu ya? Sini saya cubit pentil kamu biar kapok", katanya sambil terus mencubit kedua pu ting susuku dengan kasar tanpa ampun


Aku terus menahan mulutku agar tidak bersuara, cubitannya tanpa rasa iba sama sekali. Putingku dipuntirnya dengan kencang dan dipencet-pencetnya dengan kurang ajar. Sengaja ia cubit kecil puting susuku hingga membuat tubuhku bergetar tak karuan. sementara itu handphoneku juga rupanya bergetar terus-terusan sehingga mau tak mau Pak Budi juga merasa terganggu dengan getaran HPku. Pak Budi menghentikan mencabuli payudaraku dan tiba-tiba menghentikan perbuatannya kepadaku


"Dicari orang rumah ya?", tanyanya


"Sepertinya iya Pak. HAH.. HAH.. HAH...", jawabku ngos-ngosan karena putingku rasanya lecet karena terus dicubitnya


"Yasudah kamu cepat pulang kalau gitu. Saya juga gak mau kena kasus kalau sampai ada yang mergokin", kata Pak Satpam itu


"Eh? I.. Iya pak"", jawabku dan aku bergegas pergi meninggalkan pos satpam


Untungnya ia tidak berbuat lebih saat itu dan akhirnya membiarkanku pergi begitu saja setelah beberapa kali telepon yang masuk ke handphoneku tidak kuangkat. Mungkin benar dia mengira daritadi yang meneleponku adalah orang rumah. Dan ia tidak mau perbuatannya barusan menjadi masalah dikemudian hari.


Sepeninggal dari pos satpam, aku langsung menghubungi pacarku dan menjelaskan mengapa aku lama tidak memberi kabar. Aku terpaksa sedikit berbohong dan tidak menceritakan satpam yang kutemui sempat mencabuli payudaraku. Aku tidak mau Mas Rio berpikir macam-macam atau bahkan ia memintaku melakukan hal yang lebih gila lagi. Walau sebenarnya aku ingin menuruti kegilaannya, tetapi tetap saja aku sedikit menjaga harga diriku di depan cowokku sendiri.


Dicabuli sebentar oleh Pak satpam, malah membuatku terangsang berat. Mana nanggung lagi sehingga nafsuku tidak terlampiaskan dengan baik. Aku lalu melihat sebuh mobil yang terparkir di pinggir jalan. Menyebalkan memang saat melihat jalan umum dipakai untuk parkir pribadi. Tercetus pikiran dikepalaku untuk masturbasi sejenak di balik mobil itu karena sedari tadi vaginaku sudah meronta kedutan dan ingin sekali dirangsang. Dan berada di belakang mobil itu rasanya cukup aman, jadi aku bisa istirahat sebentar sambil gosok-gosok kemaluan gatalku sedikit-sedikit. Kupuaskan syahwatku dengan tanganku sendiri di kegelapan malam ini dibalik sebuah mobil milik tetangga gang sebelah yang tak kuketahui namanya. Rasanya begitu luar biasa dan terasa sekali kebinalanku yang semakin tak bisa kukendalikan malam ini


Udara dingin malam ini dan minimnya pakaian yang kupakai membuat masturbasi outdoorku ini semakin nikmat dan menggairahkan. Aku tidak perlu menahan lendir cairanku dan tanpa rasa bersalah kubiarkan lendir vaginaku muncrat mengenai body mobil yang terparkir di pinggir jalan itu.


"Syukurin aku kasih lendir memekku. Salah sendiri parkir di jalan. Mangkanya bangun garasi dong Hihihi", kataku dalam hati


Namun sayang masturbasiku tidak bisa berlama-lama karena tiba-tiba seekor anjing pemilik rumah yang mobilnya kusembur cairan vaginaku, memergokiku saat asyik masturbasi. Tatapannya begitu tajam menatap ke arah lubang vaginaku. Kepanikanku bertambah saat tiba-tiba anjing itu menggonggong begitu galak ke arahku. Aku lalu buru-buru merapikan pakaianku dan berlari meninggalkan lokasi takut suasana menjadi ramai tak terkendali. Jujur saja aku sebenarnya masih ingin menuntaskan gairahku yang belum kulampiaskan seutuhnya. Ada rasa nanggung yang kurasakan namun yasudahlah, mau bagaimana lagi


Aku merasakan debaran jantungku semakin cepat saat kusadari beberapa saat lagi, aku harus melewati rumah yang biasa dipakai nongkrong berandal-berandal itu. Sekelompok orang yang suka mengganggu dan kadang tertawa-tertawa dengan kencang malam-malam hingga terdengar sampai rumahku. Mana aku lagi sange berat lagi. Aduh"


Aku sempat berpikir menyerahkan tubuhku agar diperkosa anak-anak berandal yang rumahnya hanya terletak beberapa meter dari posisiku saat ini. Tetapi setelah kutimang-timang hal itu terlalu nekat. Terlalu banyak pertimbangan jika aku sengaja menyerahkan diriku ke mereka, jadi aku putuskan untuk bisa segera pulang dan berharap Mas Rio kembali dapat memuaskan gairahku. Kuputuskan untuk berlari saja melewati rumah itu sambil berharap ini semua cepat selesai.


Tapi sekencang-kencangnya aku berlari, tetap saja mereka menyadari keberadaanku. Mereka bersiul menggodaku namun aku tak peduli dan terus berlari. Untungnya akhirnya aku pun bisa menyelesaikan semua misi yang diberikan oleh Mas Rio dan aku bisa sampai rumah dengan selamat


ERRRR" Tapi, ada 1 hal yang belum aku capai malam ini. Hal yang sangat penting bagiku. Yaitu memuaskan nafsu birahi diriku sendiri. Kulihat Mas Rio juga tidak keberatan aku bersama Mang Ujang. Daripada aki tersiksa sendiri dengan birahiku, aku pun memutuskan memuaskannya bersama Mang Ujang saja. Kini aku lah yang bermaksud gantian mengerjai pacarku. Aku ingin tahu seberapa kuat ia melihatku dengan lelaki lain.


#


"Mang Ujang.. sebentar", panggilku manja sambil menahan tangannya saat hendak pergi


Kedua lelaki dihadapanku itu tercengang melihatku tiba-tiba bersuara manja. Aku tidak ingin kesempatan ini berakhir seperti ini saja. Setelah semua yang terjadi malam ini begitu menyiksa batinku karena tak kunjung memuaskan hasratku. Aku rasa Mang Ujang bukanlah pilihan yang buruk. Usianya mungkin sekitar 30 tahunan dan postur tubuhnya juga lumayan atletis. Apalagi kontolnya itu, menggoda imanku sebagai seorang cewek. Bentuknya sangat mengintimidasiku dan membuatku penasaran bagaimana rasanya. Ditambah wajahnya masih mendingan dibandingkan ketiga teman mas Rio. Bersama mereka saja aku bisa terangsang, bagaimana dengan Mang Ujang?


"Mas.. Kamu serius ijinin aku sama Mang Ujang", tanyaku dan benar saja saja pertanyaanku membuat Mas Rio terkejut


"Serius kamu mau Yank?", tanya Mas Rio


"Hmmm.. Yaudah aku turutin maumu..", jawabku lugas


"Kamu serius Yank? Kok tiba-tiba berubah pikiran?", tanyanya balik mendengar jawabanku


"Emmmm.. soalnya kamu yang nyuruh.. Oiya tapi mas"", sengaja tak kuteruskan perkataanku


"Tapi apa?", tanya Mas Rio


"Tapi kamu ga boleh liat aku waktu sama Mang Ujang. Aku malu", kataku


Terlihat sekali Mas Rio tercengang mendengar perkataanku. Memang aku merasa aneh saja saat berduaan dengan cowok lain, ada Mas Rio berada di dekatku. Aku belum bisa seperti itu, rasanya aku menjahati Mas Rio jika aku bermesraan dengan lelaki lain saat ada Mas Rio, sekaligus aku juga berusaha menjaga perasaannya. Jadi aku harap Mas Rio bisa paham alasanku dan mengabulkan permintaanku kali ini


"Oke.. ", jawab Mas Rio pada akhirnya pasrah


"Yaudah kalau gitu"", kataku


Mang Ujang yang mendengar kesepakatan kami hanya terdiam. Mungkin ia tidak menyangka aku akhirnya bersedia mau berduaan dengan dirinya. Tentu saja bukan hanya sekedar berduaan, tetapi lebih dari itu.


"Mas"", kataku lagi


"Iya Yank?", jawab Mas Rio


"I Love You"", kataku dengan tulus


"Iya tau.. Yaudah kamu layanin Mang Ujang dulu gih", pinta Mas Rio


Mang Ujang yang masih kebingungan dan mungkin juga merasa sungkan akhirnya mengikuti langkahku menuju kamar tidurku. Segera kututup dan kukunci pintuhingga Mas Rio tidak bisa lagi melihat aku dan Mang Ujang di dalam kamar. Jujur saja rasanya aneh sekali bagiku berduaan di dalam kamar bersama dengan penjual nasi goreng langgananku ini dalam keadaan telanjang bulat. Tetapi saat ini kami sudah telanjang bulat dan bisa melihat aurat tubuh kami masing-masing, jadi tidak ada gunanya kami malu-malu lagi. Apalagi tadi aku juga sudah mendesah keenakan saat dirangsang Mang Ujang walau tanpa sepengetahuanku.


Kemudian aku mencoba untuk mencairkan suasana dulu dengan Mang Ujang. Kuajak dia duduk di pinggir kasurku dan aku pun duduk disampingnya. Kulirik kontol Mang Ujang yang terlihat sudah lemas tapi masih juga panjang itu. Benar-benar deh itu kontol buatku semakin sange. Apakah aku memang aslinya se-hyper ini? Aku pun juga tidak yakin dengan apa yang kurasakan. Saat ini aku juga bingung harus berbuat apa dengan Mang Ujang. Terlihat sekali kami berdua merasa canggung satu sama lain. Kemudian aku putuskan untuk mencoba mengajak Mang Ujang berbicara agar suasana jadi lebih akrab. Mungkin dengan cara ini aku dan Mang Ujang tidak kikuk lagi dan bisa lebih nyaman selanjutnya


"Mang Ujang".", panggilku lirih


"I.. Iya Mbak?", kata Mang Ujang masih terlihat sungkan


"Menurut Mang Ujang aku gimana?", tanyaku bodoh tapi yasudah daripada aku bingung mau bahas apaan


Tidak mungkin juga aku membahas cuaca atau bahkan dunia perpolitikan dengan Mang Ujang disaat seperti ini


"EH? Cantik Mbak"", jawab Mang Ujang masih malu-malu


"Cantik aja nih?", tanyaku


"Ehh ya enggak.. cantik banget, putih, mulus sexy, teteknya juga bagus, memeknya juga bersih wangi"", kata Mang Ujang tersipu


"Makasih ya Mang hihihi.. Mang Ujang lebih suka aku bugil gini apa aku pakai baju?", tanyaku lagi


Wajah Mang Ujang semakin tertunduk. Tak kusangka lelaki yang tadinya begitu ganas merangsangku ini seketika menjadi lelaki pemalu yang gemar menundukkan pandangan. Mungkin hubungan antara penjual dan pelanggan selama beberapa tahun ini sedikit membuatnya tidak enak. Padahal aku sendiri awalnya juga merasa seperti itu. Tapi aku pikir-pikir tidak ada gunanya kami saling jaim setelah apa yang sudah terjadi diantara kami. Apalagi kontol Mang Ujang itu benar-benar menggoda imanku sehingga aku semakin penasaran. So, kayaknya sedikit open minded lebih baik menurutku


"Mbak Echa cantik waktu pake baju ataupun waktu bugil", jawab Mang Ujang sambil menggaruk rambutnya


"Hmmm sama aja dong kalau gitu.. Aku kira Mang Ujang lebih suka aku kalau bugil gini"", godaku lagi sambil memamerkan payudaraku yang tanpa penutup sama sekali itu.


"Eh.. Iya mbak saya lebih suka kalau Mbak Echa bugil".", kata Mang Ujang buru-buru merevisi jawabannya


"Ohhh.. hihihi.. masak sih?", tanyaku


"Errr.. Iya"", jawab Mang Ujang tertunduk


"Mang Ujang pernah liat cewek bugil gak?", tanyaku penasaran


"Pernah Mbak..", jawab Mang Ujang singkat


"Oiya pasti lihat pacarnya ya?", selidikku


"I.. iya.. Hehehe.. sama dari film bokep"", jawabku Mang Ujang


"Ohhh.. suka bokep juga ya Mang? Btw, Pacar Mang Ujang tinggal di perumahan ini?", selidikku lagi


"Iya suka mbak kalau saya pingin saya biasa liat bokep.. Pacar saya ngga tinggal disini tapi di kampung sebelah", jawab Mang Ujang


*Duh kok aku malah rada cemburu ya dengar Mang Ujang punya pacar" Bikin penasaran aja nih orang*, gumamku dalam hati


"Oiya? Pacarnya kerja juga Mang di kota ini?", tanyaku


"Iya, pembantu rumah tangga mbak"", jawab Mang Ujang


"Ohhh.. pacarannya sudah lama Mang?", tanyaku


"sekitar 4 bulan Mbak""


"Kalau boleh tau sudah ngapain aja?"


"Errr ya biasa mbak.. Kalau pacaran ngapain aja. Mungkin kayak Mbak Echa sama pacarnya" Hehehe"", jawab Mang Ujang terlihat mulai enjoy ngobrol denganku


"Yakin kayak aku sama pacarku? Berarti Mang Ujang ngebolehin pacarnya sama laki lain?", godaku


"Eh ya nggak Mbak.. gila aja.. Saya cemburu dan pasti akan marah!", jawab Mang Ujang


"Hihihi.. Gak boleh egois atuh Mang", aku tertawa kecil mendengar jawaban Mang Ujang, ya memang sewajarnya begitu


"Kalau Mbak Echa sendiri awalnya gimana kok bisa gini pacarannya?", tanya Mang Ujang penasaran


"Aku awalnya juga ngga mau Mang. Bahkan sampai saat ini aku juga masih suka nolak kalau disuruh cowokku aneh-aneh. Tetapi semakin sering cowokku minta aneh-aneh, lama-lama aku juga penasaran Mang gimana rasanya kalau aku turutin permintaan pacarku yang nyeleneh"", jawabku


"Lalu?", tanya Mang Ujang kali ini yang penasaran


"Ya awalnya aku malu tapi ya lama-lama mau Mang.. Terus aku mulai dibiasakan pakai baju sexy kalau pas lagi diluar rumah, terus dia juga suka mamerin foto-fotoku ke temen-temannya..", lanjutku


"Wah sampai gitu Mbak? Apa ga cemburu ya pacarnya? Apalagi Mbak Echa cantik lho"", kata Mang Ujang polos


"Ya begitulah Mang.. Aku juga awalnya mikir ini semua terlalu gila tapi saat aku lakuin ternyata memang gila beneran. Hehehe.. tapi aku juga malah makin penasaran dan kepingin nyoba hal yang lebih" Lalu aku juga merasa hubunganku sama cowokku semakin kuat lho Mang.. Aku merasa tambah sayang dan dia juga tambah sayang sama aku"", kataku


"Masak sih Mbak? Kalau saya ya mikirnya sakit hati liat cewek saya kalau secantik Mbak Echa berduaan sama cowok lain"", kata Mang Ujang kembali mengusap-usap rambut ikalnya


"Iya mungkin ini yang namanya keikhlasan level dewa Mang. Hihihi.. Udah jangan terlalu dipikirin", kataku


"Ya deh mbak"", kata Mang Ujang


"Sekarang aku yang nanya, Mang Ujang sering ML sama ceweknya?", tanyaku juga kepo


"ML apa mbak?", tanya Mang Ujang bingung


"Anu.. bersetubuh Mang", kataku


"Ohh.. jarang sih Mbak, kalau juragan cewek saya ngga dirumah baru dia nginep di kos-kosan saya. Kalau saya lagi pingin tapi dia gak bisa baru saya liat bokep buat muasin nafsu saya", kata Mang Ujang mulai lebih banyak bercerita kali ini.


"Eh boleh emang Mang cewek nginep di kos cowok?", tanyaku terkejut


"Boleh kok kan kos-kosan campur.. dan ngga ada yang jaga jadi bebas gitu", jawab Mang Ujang


"Oohhh.. Enak juga ya"", kataku lirih


"Mbak Echa mau nyoba nginep dikosan saya nih? Heheheh", kali ini Mang Ujang mulai berani menggodaku


"Eh enggak kok.. Nanti pacarnya Mang Ujang marah", kilahku


"Ya kan dia ngga tau jadi ya gak bakal marah. Heheheh"", goda Mang Ujang kali ini ia mulai berani memeluk punggungku dengan tangannya


Aku hanya terdiam saja, suasana ini membuat hawa kamarku semakin panas saja. Saat tangan Mang Ujang menyentuh punggungku, rasanya begitu hangat sekali. Jantungku semakin berdebar-debar, tidak kusangka aku berduaan dengan Mang Ujang dikamarku dalam keadaan telanjang bulat selama ini. Dan kubiarkan lelaki itu memeluk punggungku, sementara di luar kamar masih ada pacarku.


"Errr.. aku harus ijin pacarku dulu mas kalau gitu"", jawabku ngasal


"Nanti saya ijinkan ke cowokmu Mbak.. Tenang aja", kata Mang Ujang kali ini ia mulai mencium pundakku


"Sshh.. Mang"", desahku lirih menahan kegelian


"Saya juga sebenarnya masih ada rasa sama Mbak Echa..", Kata Mang Ujang sambil menyibak sedikit kerudungku dan ia kecupku leherku perlahan


"Mang" Aahh.. Tapi Mang Ujang sudah punya pacar", jawabku sambil menahan geli


"Kalau gitu kamu jadi selingkuhan saya aja", kata Mang Ujang


"Hmmm.. Kalau boleh Jujur aja aku juga nyesel pernah nolak Mang Ujang"", kataku kali ini membuat Mang Ujang berhenti mencumbuku


"Lho nyesel kenapa mbak? Saya ya sadar diri kok orang saya cuma penjual nasi goreng jadi wajar Mbak Echa nolak saya", kata Mang Ujang


"Bukan Mang.. aku ga mandang kerjaan Mang Ujang apa"", jawabku


"Terus Mbak Echa kenapa nyesel?", tanya Mang Ujang penasaran


"Itu.. Kontol Mang Ujang ternyata gede banget. Aku nyesel udah sia-siain kontol segede itu. Hihihi.." kataku sambil menunjuk ke arah batang kemaluan Mang Ujang malu-malu


"Ah Mbak Echa bisa aja. Emang sama kontol pacar Mbak Echa besaran siapa?", tanya Mang Ujang kali ini


"Jauh.. Besar punya Mang Ujang lah. Punya cowokku standar ukurannya", jawabku sambil mulai mengurut perlahan kontol penjual nasgor itu tanpa permisi


"Uhhhh.. Saya gatau kalau Mbak Echa ternyata doyan kontol. Hehehe"", kata Mang Ujang sambil ia buka selangkangannya agar aku lebih leluasa mengurut kemaluan penjual nasgor itu


"Suka dong Mang.. Kan aku cewek jadi ya suka kontol..", kataku sambil kuurut terus kontol Mang Ujang hingga ia sesekali meringis


"Aaaahhh.. Enak banget kocokanmu Mbak.. Sssshhhh"", kata Mang Ujang sambil membiarkan tanganku mengocok kemaluannya semakin cepat


"Maafin aku ya Mang mungkin dulu udah nyakitin perasaan Mang Ujang karena pernah nolak Mang Ujang", kataku lagi


"Heheheh dimaafkan enggak ya? Hmm ada syaratnya mbak..", kata Mang Ujang sambil tersenyum licik


"Apa itu Mang?", tanyaku penasaran


"Kamu cium saya sekarang", kata Mang Ujang sambil terkekeh mesum


"Sudah gitu aja?", tanyaku memastikan


"Iya", kata Mang Ujang


"Mpphhhmmm cupppp", kucium bibirnya pelan-pelan


Aku yang sudah horny mau mau saja mencium Mang Ujang. Karena bagaimanapun tadi saat mataku ditutup aku pun telah berciuman dengannya. Bedanya kali ini aku melakukan atas inisiatifku sendiri. Walau mulutnya bau bawang aku tidak peduli lagi, tanpa ragu aku cium bibit Mang Ujang dan kuhisap perlahan bibir kasarnya. Lalu Mang Ujang membalas lumatanku dengan permainan lidahnya yang tak kalah liar. Lidahku saling menindih dan saling menyerang dengan lidah kasar Mang Ujang. Mang Ujang menyeruput habis bibirku hingga aku kesulitan bernafas.


"Makasih ya Mbak sudah bersedia cium saya. Heheheh", Ujar Mang Ujang


"Jadi dimaafin ngga nih?", godaku


"Belum.. Heheheh"", jawab Mang Ujang


"Mang Ujang minta apa lagi"..", tanyaku saking kesalnya karena sulit sekali ia memaafkanku


"Sini emut kontolku manis, saya suka disepong Mbak Echa", ujar Mang Ujang menggodaku


"Hmmm iya deh, tapi janjibya nanti dimaafin" Aku emut kontolmu ya Mang"", kataku dan aku pun langsung mendekatkan kepalaku di selangkangannya


"Hahahah.. Mbak Echa ternyata nakal juga ya.. Tau gitu dulu saya langsung ewe aja gak pake sungkan-sungkan.. Aaahhh" mantab sekali seponganmu mbak", kata Mang Ujang menggeliat keenakan karena ku kulum kontolnya yang mulai mengeras itu


Bodoamat Mang Ujang menganggapku binal sekarang. Aku sudah begitu terangsang melihat kontol Mang Ujang yang menggoda itu. Nafsuku yang sudah kutahan akhir-akhir ini harus kulampiaskan malam ini juga. Aku lalu turun dari kasurku dan berlutut di selangkangan Mang Ujang agar lebih leluasa menjilati kemaluannya itu. Kujilati dengan perlahan dengan penuh kenikmatan hingga Mang Ujang mendesah keenakan


"Ouhhhh" mantab benerrr.. Mimpi apa saya bisa disepong Mbak Echa. Heheheh", Mang Ujang terus merancau


Ia lalu membelai kerudungku dan membiarkanku mengemuti kemaluannya yang warnanya kecokelatan gelap itu sesuka hati


"Ouhhh.. mantab-mantab.. Cewek pinter".", Ujar Mang Ujang sambil terus menikmati sepongan dan jilatanku pada batang kemaluannya


Posisi Mang Ujang sudah tidak lagi duduk di kasurku, lelaki itu sudah rebahan di kasurku sedangkan aku dengan giat terus menjilati penjual nasi goreng yang dulu pernah nembak aku itu.


"cowokmu pasti bangga punya cewek pinter muasin kontol kayak kamu Mbak.. Hehehe", puji Mang Ujang sekaligus merendahkanku


Batang kecokelatan Mang Ujang sudah semakin mengeras setelah beberapa saat kuurut dan kuemut dengan tangan serta mulutku. Aku pun lalu kembali menjilati kepala kontol Mang Ujang dengan liar. Lubang kencingnya kujilati tipis-tipis dengan lidahku Membuat Mang Ujang kegelian. Lalu setelah kepala kontolnya basah oleh air liurku, aku lalu memasukkan seluruh batang kontol Mang Ujang ke mulutku. Terasa sekali bedanya dengan kontol Mas Rio. Kontol Mang Ujang benar-benar terasa sesak dan memenuhi rongga mulutku


"Aaahhh.. jancuk enak bener emutanmu Mbak.. Aahhhh", kata Mang Ujang


*Sluruppp slurppppp sluruppp*, aku terus menjilati batang kontol Mang Ujang penuh kenikmatan


Sensasi tekstur urat keriting di batang kontolnya sangat mengasyikkan saat dijilat. Terasa begitu gentle sekali kontol Mang Ujang di dalam mulutku ini. Batangnya sangat keras dan mantab sekali saat kujilati


Setelah puas kusepongi kontolnya, Mang Ujang menarik tubuhku hingga tubuh telanjangku kini menindih tubuh telanjangnya. Kami berpagutan mesra setelah itu. Mang Ujang menciumi bibirku penuh nafsu. Kali ini ia sudah tidak canggung lagi karena ia tahu aku tidak sealim yang disangkanya. Aku balas ciumannya tidak kalah nafsunya. Kubiarkan ia menyedoti lidahku hingga menimbulkan suara decikan yang berisik. Ia kulum lidahku dan secara bergantian kami saling mengulum lidah. Gila sekali rasanya aku bisa berciuman sepanas ini dengan penjual nasi goreng langgananku malam ini


Kemudian Mang Ujang menyingkap kerudungku kebelakang dan tanpa sungkan lagi ia langsung menyerang leherku. Mang Ujang langsung menciumi leherku perlahan sambil sesekali dijilatinya secara merata. Aku mendesah menikmati perlakuannya kepadaku. Jujur saya bagian leher adalah salah satu titik sensitifku. Jika diciumi seperti ini nafsuku semakin tak terkendali. Kudongakkan kepalaku agar Mang Ujang lebih leluasa mencumbu leherku, bukan hanya cumbuan kali ini, ia lebih terasa mencupangi beberapa bagian leherku dengan ganas Penuh nafsu. Mulutnya bergerak secara acak menggigiti beberapa bagian leherku. Sementara aku hanya bisa pasrah sambil mendesah kesakitan saat penjual nasi goreng itu sudah memberikanku bekas gigitan yang membuat kulit leherku kemerahan di beberapa bagian.


"Ouuuhhh Mang.. Aaaahhhh"", desahku manja


Sengaja aku gerakkan tubuh sexy diatas tubuh Mang Ujang, beberapa kali ujung kemaluan kami bersinggungan dan rasanya sangat enak sekali. Kontol Mang Ujang terasa begitu padat dan keras saat mengenai bibir lubang kemaluanku dan sesekali kemaluannya tergelincir sedikit masuk di belahan memekku yang sudah licin. Pikiranku tak lama kemudian berkhayal seandainya dulu aku menerima cinta Mang Ujang mungkin keperawananku sudah diambil olehnya


Luar biasa, kontol Mang Ujang benar-benar menggoda lubang kemaluanku. Bersinggungan berkali-kali dengan kontolnya, membuat memekku ingin sekali dimasukinya. Terbayang kedua kemaluan kami saling bertemu dan menggesek penuh nikmat, membuatku semakin bergairah tak karuan. Lendir vaginaku tumpah begitu basah membeci permukaan bibir kelaminku. Aku yang sudah tak tahan semakin bersemangat menggesekkan bibir kemaluanku ke kepala kontol Mang Ujang. Kurasakan kepala kontol Mang Ujang mulai terselip sedikir lebih dalam saking basahnya vagianku.


"Aaahhhh" Enak"", desahku nakal


"Kamu mau saya maafkan mbak?", goda Mang Ujang


"Iya Mang"", jawabku keenakan saat kugesekkan bibir memekku dengan kepala kontol Mang Ujang


"Kamu mohon ke saya buat entot memek kamu kalau gitu"..", ujar Mang Ujang mengejutkanku


"Apaaaa?", aku tidak percaya dengan ap yang kudengar


"Mau enggak?", tanya Mang Ujang lagi


"Errr.. Iya mau" tapi"", jawabku


"Tapi apa?", tanya Mang Ujang


"Ngg.. Nggak jadi"", jawabku


Mungkin ini lah saat yang tepat bagiku untuk buka segel. Segel yang selama ini menahanku untuk berbuat gila lebih jauh. Dipikiranku sempat terbayang ip**ne yang dijanjikan oleh pemuda berwajah Korea bernama Kevin itu jika aku memberikan keperawananku untuknya. Tetapi" Aku merasa itu bukanlah keputusan yang tepat jika kujual keperawananku demi ip**ne. Aku juga akan merasa bersalah kepada cowokku Mas Rio jika aku jual diri demi sebuah HP mahal.


Tetapi kesempatan dengan Mang Ujang saat ini adalah kesempatan yang langka buatku. Cowokku juga kelihatannya tidak keberatan aku dengan Mang Ujang. Aku pun juga tahu Mang Ujang ada rasa denganku, jadi mungkin tidak ada salahnya aku berikan keperawananku untuknya. Sekaligus sebagai pengganti kata maaf untuknya.


"Ayo minta saya entot kamu mbak!", perintah Mang Ujang


"I" Iyaa" Mang Ujang, masukin kontol Mang Ujang.. Entot memek saya Mang"", pintaku memohon


"Aaahhh.. sialan enak bener liat Mbak Echa memohon dientot. Heheheh",Kata Mang Ujang sambil mulai ia dorong kuat-kuat batang kontolnya ke vaginaku


"Aaahhhh..", pekikku karena rasanya bukan main saat kontol besar Mang Ujang masuk ke dalam liang senggamaku


"Saya masukkan kontol saya ke memekmu ya mbak. Sempit banget.. Aaahhh"", kata Mang Ujang sambil ia tekan kontolnya ke lubang vaginaku lebih kuat dan kurasakan vaginaku mulai terbelah oleh kontolnya


"Eeehhhh.. Mang pelan" Aaaahhhh.." desahku sambil berusaha menghindari kepala kontolnya yang mulai meringsek masuk


Tapi gerakanku sia-sia saja. Kontol Mang Ujang begitu memburu bibir vaginaku, ia terus mencoba mencoblos vaginaku dengan kontolnya. Sekali lagi ia dorong lebih kuat batang kerasnya hingga kembali kemaluan penjual nasgor itu masuk ke vaginaku. Aku merasakan rasa perih pada vaginaku, rasanya selaput daraku mulai robek saat benda kaku itu terus meringsek masuk ke dalam kemaluanku.


Tubuhku langsung terasa lemas, dan aku biarkan saja Mang Ujang yang kembali menyetubuhiku. Kontol keras Mang Ujang telah menjebol keperawananku. Kuakui dalam hatiku yang terdalam, aku juga menginginkan bersetubuh dengan lelaki. Walau aku ingin melakukannya dengan pacarku, tetapi sayangnya ia terlihat tidak siap menjebol keperawananku. Justru Mang Ujang yang dengan penuh keberanian melakukannya tanpa ragu.


Aku pun tidak masalah, karena Mang Ujang juga pernah menyukaiku, jadi kujadikan alasan itu sebagai pembenaranku melakukannya dengan Mang Ujang. Kurasakan kontol Mang Ujang perlahan masuk membelah vaginaku Semakin dalam. Rasanya sangat sakit sekali dan tubuhku seolah terbelah akibat ulah kontolnya. Kemaluan kaku itu begitu kuat menyeruak masuk menggesek dinding kemaluanku yang masih sempit.


Ingin kutarik lepas kontol itu dari memekku saking sakitnya namun sebagian diriku yang lain juga menginginkan ia menyetubuhiku. Kapan lagi aku punya kesempatan disetubuhi kontol kekar seperti milik Mang Ujang. Kudiamkan tubuhku diatas tubuh Mang Ujang sedangkan kontol Mang Ujang semakin masuk ke dalam kemaluanku dari bawah


"Ouuuuhhhhh.. Mang" Sakitt"", desahku


"Sempit banget memekmu sayang"", ujar Mang Ujang sambil tak menyerah ia tanamkan lebih dalam batang kontolnya ke liang senggamaku


"Aaahhh.. Mang sakit" Uhhh"", lenguhku


*Maafkan aku mas" memek aku diperawanin Mang Ujang.. Kontol Mang aujang mubadzir kalau dianggurin.. Mas Rio kelamaan juga sih" Jangan marah ya" Bukankah ini yang kamu inginkan?", kataku dalam hati


Setelah aku tersiksa dengan gairah yang menghantui tubuh serta pikiranku akhir-akhir ini. mungkin inilah saatnya, aku serahkan keperawananku kepada lelaki yang tepat. Sekaligus ini sebagai bukti keseriusanku meminta maaf pada Mang Ujang karena pernah menolak cintanya


"Mang... Aaahhh" Sssshhh..", desahku manja dan Mang Ujang semakin mendorong masuk kemaluannya semakin dalam dengan gerakan tanpa keraguan


"Enak?", tanya Mang Ujang sambil berhenti mendorong kontolnya masuk ke kemaluanku


"Eehh.. Enak." Mang.. Jangan berhenti"", jawabku tersipu malu


"Dengan senang hati Sayang"", katanya dan kembali ia hentakan berkali-kali vaginaku dengan batang kontolnya, hingga rasanya semakin merobek selaput daraku


*Jleb jleb jleb* kemaluan kami saling menggesek


"Jangan kenceng-kenceng sakit" Auwwww..", pekikku saat menyadari Mang Ujang semakin cepat mencoblos kemaluanku


Kakiku gemetaran hebat ternyata sakitnya lumayan juga. Kontol Mang Ujang akhirnta benar-benar menjebol keperawananku. Kontol yang kokoh kekar dan keras itu memang layak menjebol keperawananku. Kemaluanku terasa kedutan dan sesak karena dimasuki kontol Mang Ujang yang besar dan panjang.


*Jleb jleb jleb*


Mang Ujang mulai bersemangat memompa kemaluanku dengan kontolnya. Temponya terasa makin lama makin cepat. Vaginaku rasanya perih tak karuan dan juga semakin basah, sepertinya selaput daraku hingga mengucurkan darah. Mang Ujang sepertinya juga merasakan hal yang sama dan ia terkejut melihat ada bercak darah yang menempel di kepala kontolnya saat ia cabut sejenak dari vaginaku. Kemudian ia mengecek lubang kemaluanku, darah segar terlihat keluar dari lubang kewanitaanku.


"Mbak Echa masih perawan?", tanya Mang Ujang sambil menghentikan sodokannya


Aku hanya mengangguk lemah, sambil sesekali meringis karena rasanya vaginaku masih perih


"Maaf saya ngga tau Mbak.. saya kira Mbak Echa udah gak perawan"", kata Mang Ujang


Terlihat sekali wajah Mang Ujang merasa bersalah. Ia tidak menyangka keperawananku direnggut olehnya. Mungkin ini adalah hadiah yang setimpal untuk Mang Ujang. Andai saja dulu aku menerima perasaan cintanya dan berpacaran dengan Mang Ujang, mungkin keperawananku juga akan kuserahkan kepadanya. Hal yang wajar saat ini dilakukan oleh sepasang cowok dan cewek yang sedang berpacaran. Aku kemudian mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan bercak darah pada vaginaku dan kontol Mang Ujang.


"Ngga papa Mang Ujang.. Ini hadiah buat Mang Ujang karena pernah nembak aku" Keperawananku kuserahkan ke Mang Ujang. Makasih ya Mang"", kataku


"I.. iya sama-sama Mbak" Tapi cowoknya gapapa nih?", kata Mang Ujang


"Sssttt.. Jangan sampai tau lah Mang kalau Mang Ujang yang merawanin aku"", ujarku berbisik


"Ehhh? Hehehe iya deh, saya jadi ngga enak bener sama cowoknya Mbak Echa", Ujar Mang Ujang


"Udah gapapa.. dimaafin enggak nih?", tanyaku manja


"Hmmm jawab dulu.. Kamu mau jadi selingkuhan saya?", tanya Mang Ujang


"Nanti Mang Ujang tanya aja ke cowokku"", jawabku


"Kenapa nanti? Sekarang aja!", kata Mang Ujang sambil segera berdiri dan berjalan ke arah pintu kamarku dan dibukanya langsung


Terlihat Mas Rio sedang berdiri di depan pintu, celana panjangnya sudah ia pelorot hingga ke bawah dan terlihat ia memainkan batang kontolnya dengan tangan kanannya. Sepertinya Mas Rio onani sambil mendengar suara-suara desahanku dari dalam kamar.


"Mas jangan diluar ayo masuk lihat pacarnya saya entot", ujar Mang Ujang


Sepertinya Mang Ujang kali ini sudah tidak sungkan lagi karena tahu baik aku ataupun Mas Rio sudah mengijinkannya berbuat apapun kepadaku. Mas Rio tidak banyak berkata, terlihat tatapan matanya begitu cemburu namun sepertinya ia pun juga ingin meneruskan kegilaan ini.


Lalu Mang Ujang kembali mendekatiku dan kami berciuman begitu panas didepan pacarku sendiri. Aku hanya bisa pasrah sementara kali ini Mang Ujang yang lebih aktif melumat bibirku. Kulihat tangan Mas Rio mulai mengocok kontolnya sepertinya ia tidak masalah aku bercumbu dengan Mang Ujang, merasa sudah mendapat lampu hijau, kuberanikan diriku untuk membalas ciuman panas Mang Ujang dihadapan pacarku sendiri.


Ciuman yang sangat panas dan ganas. Mang Ujang menciumi tubuhku penuh nafsu. Ia tanpa malu-malu kembali menyusu ke putingku. Aku hanya mendongakkan kepalaku membiarkan lelaki ini menetek kepadaku di depan pacarku sendiri.


"Sayangku, sekarang kamu yang entot dong gantian", ujar Mang Ujang sambil memintaku duduk diatas tubuhnya


"Tapi mas? Aku malu"", kataku


"Kenapa? Karena dilihatin cowokmu?"


"I.. Iya"", jawabku


"Mas, Mbak Echa diijinkan selingkuh sama kan?", tanya Mang Ujang kepada Mas Rio


"I.. iya boleh Mang.. ", kata Mas Rio


"Tuh cowokmu sudah ijinin, sekarang ngentot lagi yuk Mbak.. Pingin crt nih..", ujar Mang Ujang


"Eerr" Maaf ya Mas Rio..", kataku dan aku pun naik ke tubuh Mang Ujang


Mas Rio pun kulirik kembali mengocok, aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini melihat pacarnya sedang bersetubuh dengan cowok lain.


"Tapi maaf ya Mang kalau enggak enak. Aku belum pengalaman soalnya", ujarku


"Belum pengalaman tapi goyangnya tadi enak bener sampai saya ngga tahan pingin entot kamu. Heheheh", jawab Mang Ujang


"Yaudah.. Aku masukin lagi ya Mang..", kataku sambil kupegang kontol Mang Ujang yang masih tegang kaku itu dan kuarahkan sendiri ke vaginaku


*blessss* sekali dorongan saja kontol Mang Ujang sudah terjepit didalam vaginaku.


"Aaaahhh..", pekikku saat kontol Mang Ujang kembali kujepit dengan vaginaku


Kali ini aku memasukkannya terasa lebih mudah dan tidak sesakit tadi, selain kontolnya yang memang keras banget, mungkin juga vaginaku sudah licin dan beradaptasi sehingga dalam sekali dorongan tubuhku, kontol Mang Ujang kembali masuk. Aku kemudian mulai naik turun di atas tubuh telanjang Mang Ujang. Kedua kelamin kami akhirnya kembali beradu, kali ini terasa lebih enak karena aku tahu kapan terasa sakit dan kapan terasa nikmat.


"Uhhhh" Sakit tapi lama-lama enak juga" Aahhhh" Aaahhh", rancauku sambil terus naik turun di atas tubuh Mang Ujang


Kulirik Mas Rio masih terus onani saat aku main kuda-kudaan dengan Mang Ujang


Tubuhku semakin bergerak lincah diatas tubuh Mang Ujang. Kontol perkasa itu benar-benar membuatku melupakan fakta bahwa aku telah memiliki seorang pacar. Tubuhku bergerak binal secara otomatis saking nikmatnya kontol Mang Ujang yang terus menggesek dinding vaginaku yang sudah semakin licin. Mang Ujang tersenyum memandangiku yang naik turun diatas tubuhnya sambil ia mainkan kedua payudaraku yang terguncang-guncang.


"Kamu cantik banget mbak.. Mimpi apa saya bisa ngentot sama Mbak Echa. Mana masih perawan lagi"", ujar Mang Ujang


"Jangan diperjelas dong Mang aku malu.. Aaahhhhh"", jawabku sambil terus menggenjot kontol Mang Ujang dalam posisi Women On Top.


"Cium aku sayang", pinta Mang Ujang


Tanpa diminta dua kali aku langsung menurunkan wajahku dan kali ini kami kembali berciuman mesra. Mang Ujang melumat bibirku dengan penuh gairah. Aku balas ciumannya tak kalah liarnya. Lidah kami saling melumat tanpa rasa jaim sama sekali seolah kami adalah sepasang kekasih. Sedangkan di bawah sana kedua kelamin kami saling beradu dan saling bergesekan. Mungkin ini adalah gesekan ternikmat yang pernah aku rasakan sejak aku lahir di dunia. Tekstur urat keriting kontol Mang Ujang benar-benar terasa nikmat menggaruk dinding vaginaku bagian dalam


*jleb jleb jleb jleb* singgungan kelamin kami semakin hangat dan becek


Tubuhku tak mau berhenti bergoyang mengulek kontol Mang Ujang. Dengan nakal kuremas payudaraku dihadapan Mang Ujang bermaksud menggodanya. Kumainkan puting susuku sendiri dan aku mendesah nakal tanpa rasa sungkan lagi walau dihadapan pacarku. Kemudian Mang Ujang duduk dan bersandar pada ranjang kasurku, wajah kami saling berhadapan. Tanganku bergelayut manja di lehernya dan kami kembali berciuman penuh kenikmatan. Lalu bibirnya dengan ganas melahap puting susuku yang sudah mengacung tegak. Ia mainkan puting susuku dengan lidahnya, ia lumat puting susuku dan sesekali ia hisap hingga membuatku melayang. Kepalaku terdongak sambil aku tetep dipangkunya. Aku sudah tak peduli di depan pintu itu, ada pacarku Mas Rio sedang memandangiku bersetubuh dengan Mang Ujang


Lalu Mang Ujang mengubah posisiku, kali ini aku ditindihnya dan sekali lagi dalam sekali sodokan, kelaminnya kembali masuk ke liang senggamaku kedua kelamin kami saling beradu dan rasanya memang nikmat sekali. Tiap sodokannya terasa mantab menggaruk kelaminku. Aku tak bisa berhenti mendesis menerima keperkasaan kontol Mang Ujang


"Memek kamu nikmat sekali Mbak Echa.. Aaahhhh" Sempit", puji Mang Ujang


"Kontol Mang ujang juga enak banget.. Ouhhh.. terus mang sodok memek aku"", pintaku nakal


"Pasti sayang, aku gak bisa berhenti sodok memek kamu Mbak" Memek kamu jauh lebih nikmat dibanding memek pacar saya"", puji Mang Ujang lagi


"Uuuuuhh.. Mang dipuji gitu aku jadi makin terangsang nih" Aaaahhh"", jawabku


"Aku cinta kamu Mbak.. Aku sayang kamu Mbak Echa.. Aaaahhhh.. Oohhh"", kata Mang Ujang sambil terasa sekali sodokannya semakin mantab meyentuh rahimku


Sungguh aneh rasanya, tak kusangka ia kembali menyatakan cinta kepadaku dan parahnya itu ia katakan di depan pacarku. Sungguh aneh rasanya, ia menyatakan sayang kepadaku, disaat kelamin kami saling beradu dan dipandangi oleh pacarku. Dan yang membuatku terasa aneh lagi, ia katakan cinta disaat aku dan Mang Ujang telah memiliki pasangan masing-masing


"Aaaaahhhh.. Mang Ujang.. Iya aku juga sayang Mang Ujang" Aaahhh..", aku pun menjawab apa adanya


"Arrrggghhh.. Aku keluar Mbak".", kata Mang Ujang dan buru-buru ia cabut kontolnya dari rahimku.


*Crottt crotttt crotttt crottttt* sperma kental Mang Ujang muncrat mengenai perut serta jembutku


Sungguh spermanya terasa sangat kental juga hangat. Kuantitasnya juga sangat banyak dan terasa begitu lengket di perut serta bulu kemaluanku. Nafas kami berderu setelah persetubuhan panas yang kami lakukan malam ini. Kubiarkan sejenak ia menindihku sambil melepas lelah.


"Mang Ujang" Hah hah hah"", panggilku sambil tersengal-sengal


"Iya mbak?", jawabnya lirih karena tak kalah lelahnya


"Ma.. makasih"", kataku sambil tersipu malu


"Untuk apa mbak?"


"Pokoknya makasih.. Udah itu aja!", jawabku kembali semakin tersipu malu


Lalu ia tarik lepas kerudungku hingga rambutku yang kuikat terbuka dihadapannya, sambil kemudian ia langsung membelai rambutku yang sudah lepek terkena keringat. Ia kecup keningku penuh rasa sayang. Dan entah mengapa aku merasa nyaman dengan perlakuannya. Mang Ujang memperlakukanku dengan baik. Ini berbeda sekali dengam imajinasi yang diminta oleh pacarku. Padahal ia memintaku membayangkan Mang Ujang memperkosaku. Tetapi apa yang terjadi justru berbanding terbalik, Mang Ujang memperlakukanku rasa pacar, dan kubiarkan saja perlakuan manisnya kepadaku.


*Cupppp.. mpphhh..*, Mang Ujang kembali mengecup bibirku


Sebuah kecupan kecil, namun aku merasakan kecupan ini terasa beribu makna. Aku hanya memejamkan mata dan membiarkan bibir kami saling bertemu untuk beberapa waktu. Kemudian Mang Ujang turun dari tubuhku dan tertidur disampingku.


Aku pun melihat ke arah Mas Rio. Tatapan mata pacarku itu sangat menakutkan. Kulihat kontol Mas Rio masih tegak, dan terlihat lebih keras daripada biasanya. Ia kemudian mendekatiku dan menarik tubuhku ke ruang tamu.


Tubuhku langsung dibanting diatas sofa dan diposisikannya tubuhku mengangkang. Mas Rio kemudian dengan penuh nafsu mengarahkan kontolnya ke memekku tanpa babibu. Dalam sekali dorongan saja, kontol Mas Rio sudah masuk ke dalam lubang vaginaku lalu ia mulai menggenjotku dengan cepat. Ia tidak banyak bicara kali ini. Mungkin ia masih marah dan kesal, mungkin juga ia sudah terlalu bernafsu. Entahlah aku tidak berani menanyakannya.


*Jleb jleb jleb*


Aku pun tidak banyak berkata dan hanya terdiam menikmati perlakuan Mas Rio padaku. Biarlah pertemuan kedua kelamin kami menjadi satu-satunya komunikasi diantara kami saat ini. Aku terus melenguh manja dan kunikmati benar-benar kontol pacarku itu maju mundur dijepitan kemaluanku. Akhirnya aku merasakan kontol pacarku sendiri menggesek kemaluanku.


Aku hanya terus mendesah dan mendesis karena pertemuan kelamin kami, demikian juga dengan Mas Rio. Ia sesekali mendesah keenakan menikmati lubang memekku yang hangat berlendir. Tak lupa ia juga mencium bibirku dengan lembut. Sebuah kecupan ringan tapi penuh makna. Aku biarkan ia mencumbuku beberapa kali. Gesekan kemaluan kami dibawah sana juga makin terasa nikmat dan intens, kontol Mas Rio terus menggesek kemaluanku dengan cepat. Walau kontol Mang Ujang kuakui terasa lebih mantab, tapi dengan Mas Rio aku melakukannya atas nama cinta. Mungkin karena itulah aku melakukannya tanpa beban dan mengalir saja.


10 menit sudah aku disetubuhi oleh pacarku dalam posisi yang sama"


"Yank..", Tiba-tiba Mas Rio memanggilku


"Aahhh.. Iya mas?", tanyaku


"I love you"", ujar Mas Rio membuatku tersipu malu


Akhirnya aku lega, Mas Rio tidak semarah yang kukira. Walau jujur saja tetap saja aku merasa bersalah kepadanya. Ia telah melihat kebinalanku, ia juga telah melihat bagaimana aku menikmati kontol cowok lain di depan matanya, tetapi ia kembali mencintaiku. Bahkan aku merasa kali ini rasa cintanya kepadaku semakin besar saja.


"I love you too, mas"", jawabku dan kukecup bibirnya penuh rasa sayang


*Terima kasih Mas Rio"*, ujarku dalam hati hingga tanpa terasa aku meneteskan air mata


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 9 : Ketagihan


POV : Rio


Sejak kejadian waktu itu"


Saat kubiarkan Mang Ujang, penjual nasi goreng langganan pacarku itu menggagahi pacarku, aku sudah tidak lagi merasa ragu dan takut menyetubuhi pacarku. Setiap aku sange, aku pasti akan menyetubuhi pacarku. Setiap aku butuh pelampiasan, Echa akan menjadi tempat untuk melepaskan syahwatku. Betul, dia memang cewek idaman semua orang. Cantik, memiliki senyum menawan, body yang mantap, dan pandai melayani pula. Apalagi memeknya itu, sekali mencoba pasti bakalan ketagihan. Hangat dan sempitnya sangat memanjakan. Sekarang aku tahu mengapa pacaran itu wajib ngentot terlebih dahulu sebelum memutuskan menikah. Agar tidak ada penyesalan saat memutuskan untuk menikah. Istilahnya mungkin test drive dulu. Hehehe" Kita jadi tau rasa jepitan memek gadis yang akan menjadi istri kita kelak.


Saat ini, gadis cantik berkerudung itu tampak begitu menggoda dan menggairahkan dihadapanku. Rambutnya masih tertutup kain kerudungnya yang berwarna putih, dengan kulitnya yang juga putih mulus hanya berbalutkan seragam sekolah yang kancingnya telah terbuka seluruhnya. Branya pun sudah menghilang entah kemana, sedangkan celana dalamnya, kubiarkan tergantung di salah satu mata kakinya. Kunikmati gesekan-gesekan nikmat antara kemaluanku dan kemaluan pacarku yang sangat nikmat itu. Kontolku tak bisa berhenti menyetubuhi Echa, gadis yang baru kukenal kurang dari 1 tahun yang lalu dan kini telah menjadi milikku seutuhnya.


Echa yang diawal pertemuan kami begitu lugu dan polos, kini kujadikan dia seorang gadis binal nan cabul. Kujadikan ia pemuas syahwatku. Kujadikan dia objek fantasy gilaku. Siapa yang menyangka, ternyata gadis berkerudung yang terlihat polos itu bisa begitu mesum. Bahkan ia sudah bercinta dengan pria lain dihadapanku sendiri. Bagi sebagian orang mungkin aku gila. Tapi bagiku, wanita adalah keindahan yang harus dibagikan.


"Aaaahhh.. memekmu enak sekali sayang". Aaaahhhh".", rancauku sambil kusetubuhi pacarku itu penuh nafsu dan tak lupa kuarahkan kamera handphoneku ke arahnya


"Ohhhh" Terus mas". Aaaahh" Jangan direkam mas ".", pinta pacarku namun tak terlihat ia keberatan dengan kameraku yang mengarah kepadanya


"Biarin, biar semua orang tau Echa pacarku itu gadis jalang pemuas kontol", ujarku


"Ouuuhhhh" masss". Aku malu". Aaahhh.. Please mas". Jangan disebarin", kata Echa sambil memasang wajah yang malah membuatku semakin sange


"Kenapa kalau aku sebarin Yank?", tanyaku sambil terus menggenjotnya


"Takut ada yang kenaaaalll.. Aaaahhhh"", jawab Echa


"Enak kan? jadi misal temenmu atau gurumu tau, mereka bisa entot kamu jugaaaa" Sssshhh"", jawabku semakin nafsu


"Massss jangan ngaco aaaahhhh" Maluuuu aku masssshhhh"", jawab Echa sambil mendesah karena kemaluannya terus kusodok


*Jleb jleb jleb jleb*, suara pertemuan kedua kelamin kami


Tusukan kontolku semakin menguat saat membayangkan pacarku yang kusayang itu sedang dientot orang lain. Tiap malam aku selalu onani sambil melihat beberapa rekaman gila pacarku yang pernah kuabadikan. Terutama perzinahan nakalnya dengan Mang Ujang. Saat pacarku Echa yang matanya dalam keadaan tertutup sedang menjilati kontol Mang Ujang bak pelacur murahan. Melihatnya beberapa menit saja kadang sudah membuatku crot duluan.


Tetapi khusus malam ini berbeda, aku sudah puasa onani dari kemarin dan ku tahan mati-matian agar bisa kupuaskan syahwatku seperti malam ini. Aku ingin berlama-lama berhubungan badan dengan Echa. Kenikmatan vaginanya begitu luar biasa. Dengan parasnya yang cantik, menyetubuhi pacar seperti Echa adalah hal terindah dalam hidupku. Tentu saja, aku bersyukur sekali gadis secantik Echa menjadi milikku dan aku bebas melakukan apa saja kepadanya. Untungnya Echa sekarang juga mulai jadi gadis penurut sehingga aku tidak begitu kesulitan merayunya. Awalnya dia memang menolak, tetapi aku yakin sekali ia juga mau melakukan apa yang kuminta. Mungkin masalah satu-satunya adalah rasa malu yang ada pada dirinya.


"Aku kirim ke teman-temanku ya Yank"", kataku dan kukirimkan video Echa saat kuewe ke grup teman-temanku tanpa menunggu jawabannya


"Massss Aaahhhhh.. Jangan dikirim!! Aku maluuu"", jawab Echa dan kurasakan cengkraman memek pacarku itu semakin menjepit kontolku


"Malu? Kamu gak ingat apa memekmu itu udah digenjot Mang Ujang" Hehehe.. Sssshh.. ", godaku


"Iya.. Tapi.. karena awalnya aku mengira itu kamu mas" Aaahhh.. Ouhhhhh..", jawab Echa sambil terus mendesah


"Dikira aku? Tapi kamu keenakan sampai bilang cinta ke Mang Ujang"", ejekku lagi


"Aku.. kebawa suasana mas" Aaahhh"", kilah Echa


"Oiya? Terus kenapa memek kamu becek pas liat kontol Mang Ujang?", godaku lagi


"Anu itu karena""


"Apa?"


"Gak jadi ah.. Ouhhhh"", pekik pacarku


"Apaaaa?", kataku sambil kubenamkan kontolku semakin dalam ke rahim pacarku


"Anuuu.. Aaahhh.. Kontol Mang Ujang gede masss"", jawab Echa


"Terus kamu suka kena kontol besar?", tanyaku


Echa menggangguk sambil memalingkan mukanya. Mungkin ia malu untuk mengakuinya, tetapi ia juga tida bisa berbohong kepadaku. Sehingga ia hanya mengangguk tidak berani menatap mataku


"Bitch" pacar jalang!! Suka kontol besar ya kamu?", jawabku semakin kesal karena Echa terang-terangan menyukai kontol Mang Ujang


"Enak mana kontolku atau Mang Ujang hah???", ujarku semakin kasar menghajar kemaluannya


"Aaahhh.. Aahhh.. masss""


"Jawab" Enak sapa?", tanyaku sekali lagi


"E.. enak kontolmu mas" Aaahhh"", jawab Echa


"Ngga bohong?", tanyaku curiga karena aku tahu jika Echa berbohong, ia akan mengarahkan pandangan matanya ke arah lain.


"Enggakkkk.. Aaahh..", desah Echa saat kusodok semakin dalam


"Tapi kamu juga suka sama kontol Mang Ujang juga kan?", godaku lagi


"Iyaa" Sukaaaaa" Aaaahhh masss"", jawab Echa dengan jujur


"Sialan" pacar lonte! Malah ngaku suka kontol cowok lain..", ujarku penuh emosi dan kusetubuhi lebih kuat lagi pacarku itu


"Aaahhh.. Uhhh.. Kan kamu maksa aku jawaabbbb mass..", kilah Echa


"Alasan! Bilang aja kamu suka kontol Mang Ujang", pungkasku


Kugenjot kemaluan Echa pacarku semakin penuh nafsu, rasanya memang luar biasa. Becek, hangat dan juga sempit dengan tekstur kelamin bagian dalamnya yang begitu nikmat seperti sedang memijat kemaluanku. Jepitan memek Echa memang menggigit, membuat kontolku tak bisa berhenti bergerak maju mundur menggenjot lubang itu. Kulihat payudaranya yang putingnya berwarna cokelat muda itu bergoyang-goyang bersamaan dengan gerakan sodokanku. Aku yakin jika teman-teman sekolah Echa tahu betapa ternyata dirinya begitu binal, pastinya mereka bakalan antri bergantian untuk menikmati tubuhnya.


*Sialan gue malah bayangin cewek gue dientot rame-rame sama temen sekolahnya. Anjritlah..*


"Kamu mau nyoba digilir temen-temen sekolahmu gak yank?", godaku


"Issshhh.. paan sih" Gak mau ah mas", jawab Echa sambil memasang mimik muka sebal


Wajar saja, pacar macam apa yang ingin pacarnya dinikmati rame-rame oleh banyak cowok. Mungkin bagi Echa aku sudah gila dan ngga waras. Tapi bagiku itu adalah kehormatan bagiku melihat pacarku bisa memuaskan banyak cowok.


"Kalau kontol Mang Ujang mau enggak?", tanyaku sambil terus kusetubuhi pacarku itu penuh nafsu


"Aaahhh". Mas".", jawab Echa tidak menjawab pertanyaanku


"Jawabbb!!", tanyaku lagi


"Eehh maksud mas? OUUHHHHH"", tanya Echa balik


"Kamu mau ngentot sama Mang Ujang lagi gak?", tanyaku sekali lagi


"Aaahhh.. Kamu ngomong apa sih mas.. Aneh tau"", kata Echa sambil kakinya terus mengangkang karena kelaminnya sedang kusetubuhi


"Mau enggak? Dia suka kamu lho Yank"", tanyaku kesal karena daritadi pacarku tidak memberikan jawaban pasti


"Kalau kamu ijinin aku mau!", jawab Echa terlihat sedikit kesal


"Sssshhh.. Sudah kuduga memekmu pasti gatal bayangin kontol Mang Ujang.. Ngentot lagi gih terus minta Mang Ujang crot di dalam memekmu biar kamu hamil", kataku semakin gila


"Issssshhh" Terus kamu ga jadi nikahin aku dong?", protes Echa


"Memang pelacur sepertimu masih layak dijadikan istri? Kamu sama Mang Ujang aja", tanyaku semakin terasa menyebalkan


"Jahat kamu masss!!!", jawab Echa manyun


"Sialan ekspresi mukamu kayak gitu buat aku makin sange aja.. Aaaahhhh"", ujar ku sambil kembali semangat menggenjot memek pacarku


"Massss" Aaahhh" Aahh.. Udaah.. Aku udah gak mood!!", kata Echa dan terlihat gerakan tubuhnya seperti mulai menolak bersetubuh denganku


Tetapi aku tidak peduli, aku justru semangat menyetubuhi pacarku


"Aaahhh" Aku lagi bayangin kamu dientot cowok lain dan kamu bakalan hamil" Hamil kamu Yank" ssssshhhh", ujarku


"".", Echa terdiam sambil matanya terpejam


Sesekali wajahnua terdongak, dan wajahnya itu benar-benar wajah cewek sange yang sering kulihat di film-film bokep. Wajah yang sangat membuatku semakin bernafsu menyetubuhi pacarku


"Aaaahhh.. Iya" Membayangkan memekmu dientot banyak cowok... Aaaaahhhhh pasti kamu bakalan keenakan banget yank"", ujarku sambil terus berfantasy pacarku digenjot banyak pria


"Ouhhh.. Kamu gila mas" Aaaaahhhhh.. Kamu ikhlas nih aku diperkosa?", ujar Echa lirih


"Ikhlas.. Berbagi itu indah Yank.. Shit memekmu malah jepit anjirr" Kamu lagi bayangin diperkosa mereka nih pasti???", ujarku


"Aaaaaaahhhhh.. Aku mau keluar... Mas" Mas".. Aaahhh..", kata Echa sambil ia goyang-goyangkan kakinya dengan cepat


"Fuck lu dibayangin diperkosa malah orgasme.. Lacurrrrr" Arrrggghhhhh", pekikku


Lalu aku buru-buru mencabut kontolku dan"


*Crot crot crot"* kontolku menyemburkan spermanya dengan deras mengenai bulu jembut pacarku


Rasanya begitu lega, namun sayangnya segala pikiran kotorku turut sirna bersamaan dengan keluarnya maniku. Aku langsung terkulai lemas tiduran disamping tubuh pacarku yang kondisi pakaian seragamnya sudah compang-camping tak karuan. Kemudian aku baru ingat, sejak sampai rumah dari menjemput pacarku di sekolahnya, Echa memang belum mandi. Setiba dirumahnya, aku langsung menuntaskan hasratku yang sudah lama kutahan sejak beberapa hari yang lalu. Karena itulah, ia masih memakai seragam hingga malam ini.


Aku pun kembali mengenakan pakaianku yang berceceran dan bersiap untuk pulang, karena beberapa kali kudengar suara gemuruh petir yang menyambar pertanda sebentar lagi turun hujan


"Mau hujan", kata Echa sambil terengah-engah


"Iya, aku pulamh dulu ya", jawabku


"Ohhhh.. Yasudah kalau gitu mas. Ati-ati ya kalau pulang. Kalau kamu nanti WA aku tapi aku ga balas, berarti aku sudah tidur", ujar Echa


"Okay Yank""


"Oiya lupa, besok kamu ga usah jemput ya dan ga usah ke rumah dulu soalnya ada mama papa", ujar Echa lagi


"Oh sudah pulang? Emang mereka ngga kerja", tanyaku terkejut


"I.. Iya sudah pulang mas mereka besok" Cuti kayaknya mau istirahat", jawab Echa


"Oh gitu.. Yasudah aku pulang ya Yank..", ujarku dan aku pun pergi meninggalkan rumah pacarku


#


POV : Echa


Suara gemuruh petir di atas sana jujur saja membuatku tidak nyaman. Berada di rumah sendirian begitu terasa kesepian. Sebagai seorang gadis penakut, tentu saja kondisi ini membuatku tidak betah berada di rumah. Apalagi saat ini aku belum puas. Nafsuku masih diubun-ubun, sebenarnya aku bisa saja orgasme tadi, sayangnya Mas Rio keluar duluan saat aku belum mencapai klimaks. Jadinya aku saat ini masih merasa nanggung dan masih bernafsu.


Kupandangi jarum jam dinding yang bergerak begitu lambat malam ini. Jam sudah menunjukkan pukul 20.30. Aku lalu mencoba menghubungi nomor cowok itu. Lelaki yang kapan lalu menawariku sebuah pekerjaan. Walaupun aku sempat pupus harapan tidak jadi dibelikan handphone mahal, tetapi aku yakin ada jalan yang bisa kutempuh untuk memiliki benda impianku itu.


Aku tidak akan menyia-nyiakan penawaran itu. Pekerjaan yang sebenarnya mudah bagiku, hanya butuh keberanian dan juga niat untuk melakukannya. Apalagi pekerjaan yang diberikannya relevan dengan hobbyku akhir-akhir ini.


Aku pun menghubungi kartu nama yang baru saja kuambil dari dalam dompetku, namanya Icank. Aku tidak tahu apakah ini nama penjaga warung tersebut atau nama pemilik warung itu. Jantungku berdebar cukup kencang saat ini. Apakah jalan yang kuambil ini sudah benar? Tapi aku juga ingin punya uang tambahan agar bisa membeli barang-barang yang aku suka.


"Assalamu"alaikum"", ketikku memulai pembicaraan


Tidak kusangka beberapa detik kemudian pesanku langsung dibaca olehnya.


"Wa"alaikumsalam. Ini siapa?", tanyanya kemudian


"Aku Echa mas yang kapan hari"", jawabku


"Echa siapa?", tanyanya lagi


"Echa yang" joget pargoy di warung Mas Icank""


"Sebentar gua telpon lu aja", katanya kemudian dan tak lama handphoneku berdering


"Lu yang jogetnya jelek itu?", katanya langsung mengejutkanku karena ejekannya yang tiba-tiba


"I.. Iya mas"", jawabku sedikit kesal


"Ohhh.. Ada apa Mbak?", tanyanya


"Anu.. Aku"", jawabku terhenti bingung berkata apa


Jelas saja aku malu untuk menawarkan diriku untuk bekerja di warungnya. Tetapi setelah aku pikir-pikir tidak ada gunanya aku malu-malu lagi toh dia juga salah satu cowok yang pernah melihatku telanjang


"Mas pekerjaan yang kemarin ditawarin ke aku masih ada?", tanyaku


"Lu mau kerja seperti apa? Heheheh"", tanya lelaki bernama Icank itu sambil tertawa mencurigakan


"Memang kerjanya apa aja mas?", tanyaku bingung karena aku kira ia hanya menawariku satu jenis pekerjaan saja


"Banyak, lu mau yang seperti apa? Jaga parkir, tukang bersih-bersih juga bisa lu kerjakan kok.", jawabnya


*Nyebelin, masak iya cewek kayak aku disuruh jaga parkir*, gumamku dalam hati


"Kalau yang kayak kemarin gimana mas?", tanyaku memberanikan diri to the point


"Kayak kemarin gimana?", tanya Mas Icank


"Anu.. yang joget dipanggung"", jawabku tersipu


"Oh lu mau jadi cewek penghibur di warung gua?", tanya Icank to the point juga


"Eehhh? Prnghibur?", jawabku sedikit tersindir dengan istilah "cewek penghibur"


"Iya, kan kalau joget berarti menjadi orang yang menghibur kan?", kata Mas Icank


"Eh.. I.. Iya..", jawabku


"Hmmm.. Emang lu udah bisa goyang pargoy?, tanyanya meledek lagi


"Ehhh.. itu.. masih kaku sih mas"", jawabku


"Hahaha.. Payah.. Ya udah Lu kapan ada waktu ke warung? Buat tes interview", kata Mas Icank


"Hah? Pake interview juga mas?", tanyaku keheranan


"Iya dong"


"Hmm.. Aku bebas mas.. Kira-kira bisanya kapan"", kataku


"Hmmm.. Ya udah minggu depan aja kali ya.. Jujur aja gue ga nyangka soalnya lu mau. Jadi banyak yang mesti gue siapin", kata Mas Icank


"Oh.. minggu depan hari apa mas?"


"Sabtu sore saat lu pulang sekolah", ujar Mas Icank


"Ta.. Tapi aku lupa jalan menuju warung mas Icank", jawabku


"Aduh.. O"on juga lu.. Untung aja lu cantik. Ya udah gua share loc ntar. Gampang ity", kata Mas Icank


"Ya udah kalau gitu mas..", kataku


"Okay.. Sampai ketemu sabtu depan", kata Mas Icank dan ia pun segera menutup telepon.


Aku menghela nafas panjang, benarkah apa yang sudah kuputuskan ini? Aku begitu excited saat membayangkannya. Kegilaan di warung itu benar-benar luar biasa bagiku. Ada rasa bangga saat aku memamerkam tubuhku di hadapan para cowok-cowok. Ternyata eksib itu menyenangkan dan sangat mengasyikkan bagiku. Tatapan mata mereka yang terus memandangiku menjadikan ku semakin salah tingkah dan malu. Tapi disitulah asyiknya!


Aku akui aku awalnya memang gadis yang lugu. Semua perubahanku ini terjadi karena Mas Rio. Ia yang mengenalkanku semua kenakalan ini. Hingga aku sekarang benar-benar ketagihan dan menikmati semua kegilaan yang diberikan olehnya. Kenikmatan saat vaginaku terangsang, kenikmatan saat mata lelaki menatapku penuh nafsu. Kenikmatam saat memekku disodok kontol Mang Ujang. Semua karena Mas Rio.


Pengalaman gila yang kuperbuat atas perintah pacarku itulah awal mula aku mulai merubah kebiasaanku. Saat ia memintaku jalan-jalan sambil berpakaian sexy malam-malam itu begitu membekas di benakku. Perasaan campur aduk itu membuatku tergoda untuk melakukan hal itu lagi dan lagi. Dan ya" ini cukup menarik bagiku


Aku juga akhir-akhir ini lebih suka telanjang daripada berpakaian. Jika ada orangtuaku aku akan telanjang di kamar semalaman hingga shubuh. Kuhabiskan malamku dengan masturbasi. Jika di rumah tidak ada orang, aku bisa berbuat lebih parah lagi, seharian bisa saja aku telanjang bulat tanpa kain sedikit pun. Hanya kerudung saja yang kukenakan karena kata mamaku, rambut cewek itu wajib ditutup. Hihihi"


Kuhitung-hitung, mungkin aku berpakaian hanya saat di sekolah atau saat keluar rumah saja. Sisanya, kuhabiskan hari-hariku dengan telanjang. Bahkan pacarku sendiri tidak tahu kebiasaan baruku ini. Ia tidak perlu tahu, yang jelas ini adalah hasil didikannya. Ia yang memintaku seperti ini jadi aku rasa aku tidak perlu selalu laporan ke dia.


Sebenarnya aku ingin mencoba hal baru. Telanjang di dalam rumah sudah biasa bagiku, aku ingin berbuat lebih gila lagi. Aku ingin sekali mencoba jalan-jalan di komplek rumah sambil telanjang bulat. Membayangkan itu benar-benar membuatku bergairah parah. Perasaan was-was takut ketahuan tetanggaku menjadi bumbu gairah yang menggodaku. Namun, Aku tidak seberani itu untuk melakukannya. Aku takut nama papaku semakin jelek di perumahan ini jika anaknya ketahuan jalan-jalan bugil di luar rumah.


Tetapi harus aku akui, ternyata telanjang itu ngga seburuk itu. Aku juga jadi merasa semakin nafsu dan percaya diri jika telanjang dan aku menikmati kebiasaan baruku ini. Aku juga jadi hobby mengabadikan foto selfie tanpa sehelai benangpun di handphoneku. Mungkin sudah ada ratusan foto dan video saat aku colmek yang tersimpan di handphoneku.


*Krucuk krucuk krucuk* tiba-tiba perutku berbunyi


Aku ingat sejak siang tadi aku belum mengisi perutku sama sekali. Sepulang dari sekolah aku langsung bermesraan dan bersetubuh dengan pacarku sampai malam. Sampai-sampai aku lupa untuk mengisi energi


Sementara di luar sana langit kadang mengeluarkan kilat disertai suara gemuruh tanda sebentar lagi kemungkinan akan turun hujan deras. Aku rapikan pakaian seragam yang masih kukenakan sejak siang tadi. Aku sudah terlalu malas untuk ganti baju mengingat keadaan langit yang sudah hampir pasti akan menurunkan hujan deras


Aku pun memutuskan keluar rumah, Mang Ujang adalah tujuan pertamaku, selain karena nasi gorengnya memang enak, aku juga tidak bertemu dengannya lagi setelah kejadian saat ia merenggut keperawananku. Bagaimanapun aku harus kembali menjalin komunikasi lagi dengan Mang Ujang agar tidak ada rasa sungkan diantara kami pasca kejadian mesum itu.


Lalu otakku kembali mengenang memory saat "berkeringat" bersama Mang Ujang. Kenangan saat memekku dimasukki kontol Mang Ujang adalah kenangan yang tidak akan pernah kulupakan. Rasa mantab sodokannya yang benar-benar berbeda rasanya daripada melayani pacarku sendiri. Mungkin benar kata Mas Rio, aku adalah pelacur yang lebih menikmati kontol cowok lain daripada kontol pacarku sendiri


"Duh kok jadi bayangin kontol Mang Ujang sih", gumamku sambil kugaruk memekku yang tidak kubungkus celana dalam dari tadi


*Basah*, gumamku saat kudapati lendir yang membasahi lubang senggamaku


Aku lalu berjalan keluar tanpa peduli jika saat ini aku tidak memakai pakaian dalam. Menggunakan pakaian dalam dan berganti pakaian tentunya akan memakan banyak waktu. Keburu hujan nanti malah aku ngga bisa keluar rumah sama sekali. Toh hari sudah malam, aku yakin jalanan akan lebih sepi dan tidak ada orang yang memperhatikan bajuku.


Aku pun mulai keluar dari rumah dan tak lupa kukunci pintu rumahku


Lokasi jualan Mang Ujang tidak begitu jauh dari rumahku. Ia berjualan di depan sebuah rumah kosong yang terletak di depan gang sebelah gang rumahku. Dari kejauhan terlihat beberapa sepeda motor terparkir di samping rombong Mang Ujang. Rupanya aku salah prediksi, kukira suasana akan sepi ternyata salah. Warung Mang Ujang lumayan ramai. Cuaca mendung-mendung begini memang orang cenderung akan menjadi mudah lapar. Aku awalnya ragu untuk melanjutkan, namun setelah kupastikan dadaku tidak menerawang dari seragamku, aku lalu memutuskan untuk lanjut.


Saat aku tiba dilokasi, beberapa pasang mata langsung menoleh tertuju kepadaku. Padahal aku tidak merasa cantik saat ini karena belum mandi, tapi tetap saja mereka malah terus melihat ke arahku. Mang Ujang juga sepintas melirikku dan bibirnya terlihat melongo sebentar sebelum akhirnya ia kembali fokus mengaduk wajan panasnya.


Kulihat pula sepasang remaja yang sepertimya sedang berpacaran, asyik menyantap nasgor Mang Ujang di meja yang telah disediakan. Mereka lalu juga melihat ke arahku beberapa saat. Si cewek lalu terlihat cemburu dan mencubit pinggang cowoknya karena masih terpana melihat kearahku tanpa berkedip sedikit pun, lalu si cowok hanya garuk-garuk kepala dan terlihat meminta maaf ke si cewek. Aku hanya tersenyum simpul melihat tingkah mereka.


Memang pakaian seragamku lumayan ketat dengan dada yang terlihat menonjol karena kerudungku kusingkap ke belakang, tapi pakaian seperti ini adalah sesuatu yang wajar di jaman sekarang. Aku juga yakin puting susuku juga aman tidak sampai nyemplak atau terlihat tercetak di seragamku walau aku tak mengenakan bra malam ini.


"Mba.. Mbak Echa".", sapa Mang Ujang saat aku sudah tiba disana dengan terbata


Mungkin memory indah persetubuhan kami kembali terngiang di otak Mang Ujang saat kembali berjumpa denganku. Hal itu terbukti dengan suara Mang Ujang yang sedikit gemetaran. Ah Ge Er banget kamu Cha!


"Iya Mang.. Nasi goreng 1 ya", pesanku


"Lho kok cuma 1 mbak? Pacarnya ngga apel nih?", tanya Mang Ujang dan kusadari para pembeli disana menyimak pembicaraan kami


"Iya nih Mang, barusan pulang soalnya mau hujan", jawabku


"Oh jadi sendirian di rumah ya Mbak?", tanya Mang Ujang


"Lho kok tahu Mang?", tanyaku terkejut


"Feeling aja. Heheheh", jawab Mang Ujang


Aku bersyukur dalam hati, dugaanku Mang Ujang akan bersikap dingin dan salting padaku setelah skandal kami ternyata tidak benar. Mang Ujang ternyata tetap bersikap ramah dan seolah tidak ada yang terjadi diantara kami. Akupun sedikit lega melihat sikap Mang Ujang yang masih friendly kepadaku


"Mang Ujang kenal sama mbaknya?", celetuk salah seorang bapak-bapak yang juga pembeli tiba-tiba


Seorang lelaki tua yang mungkin berusia kurang lebih sama dengan usia papaku tiba-tiba nyeletuk. Usianya sekitar 45 tahunan. Badannya begitu tegap, besar dan kekar, wajahnya terlihat kotak-kotak dengan brewok yang menghiasi wajahnya. Tatapannya tajam dan terlihat alisnya tipis bahkan hampir tidak terlihat ada alis di atas matanya. Wajahnya yang seperti itu begitu khas sepertinya berasal dari luar pulau.


"Kenal Pak... Mbak Echa Langganan saya", jawab Mang Ujang dengan senyum ramahnya


"Oh enak ya.. Saya jadi pingin ikutan jualan nasi goreng", ujar si bapak


"Lho kenapa pak?", tanya Mang Ujang sambil ia panasi minyak goreng di wajan


"Kali aja dapat pembeli cantik kayak Mbaknya. Hehehe", ujar si bapak


"Ah bapak bisa aja. Belum mandi saya pak masak iya dibilang cantik..", jawabku tersipu malu


"Lho belum mandi Mbak? Baru pulang sekolah ya?", tanya Mang Ujang sambil mulai menuangkan nasi putih ke wajan


"Iya nih Mang, sudah daritadi sih pulangnya. Cuma malas mandi. Hihihi", jawabku


"Lho belum mandi aja secantik ini kalau udah mandi kayak gimana cantiknya. Heheheh", ujar si bapak


"Ah bapak terlalu memuji.. Saya jadi malu nih pak", jawabku


"Kenapa malu orang Mbak pake baju.. Malu itu kalau mbaknya gak pake baju. Hehehe", ujar Si bapak


"Eehhh?", aku terkejut mendengar perkataan si bapak


"Hehehe.. Maaf ya Mbak.. Pak Robert ini duda mangkanya suka ngelantur ngomongnya. Hehehe", ujar Mang Ujang sambil terus mengaduk nasi goreng agar bumbu dan nasi tercampur merata


"Hehe gini gini banyak ibu-ibu yang antri mau sama saya minta dinafkahi. Heheheh", ujar bapak-bapak bernama Pak Robert itu


"Oiya? Kenapa ngga nikah lagi pak?", tanyaku


"Hehe buat apa saya nikah lagi kalau kebutuhan saya bisa tercukupi. Hehehe"", ujar Pak Robert membuatku kebingungan apa maksud perkataannya


"Mbak Echa tau rumah besar yang letaknya di ujung gang sana? Ya itu rumah Pak Robert. Dia salah satu warga yang kaya disini", ujar Mang Ujang sambil ia bungkus masakan yang baru saja ia masak


"Ah.. Bukan salah satu Mang.. Saya memang orang terkaya disini. Yang lainnya gak level", ujar Pak Robert menyombongkan diri


"Iya deh saya percaya.. Ini Pak Robert pesanannya", ujar Mang Ujang sambil menyerahkan sebungkus nasgor pesanan Pak Robert


"Nih duitnya..", Pak Robert sambil menyerahkan 1 lembar uang berwarna merah


"Lho kok banyak sekali Pak? Sebentar kembaliannya", tanya Mang Ujang kebingungan melihat uang yang baru saja ia terima


"Udah bawa aja Mang.. Hmm saya pamit dulu Mbak Echa", kata Pak Robert sambil tersenyum genit ke arahku


"Iya pak"", jawabku tersipu


*Gluduk gluduk duerrrrr* suara petir menyambar mengejutkanku


"Kyaaaa".", tanpa sadar aku berteriak sambil menutup telingaku saking kerasnya suara petir yang barusan menyambar tersebut


Selang beberapa saat, hujan mulai turun perlahan. Membuat sepasang muda mudi yang berpacaran tadi langsung buru-buru membayar dan bergegas pergi begitu saja. Padahal mereka belum menghabiskan makanan yang ada diatas meja. Terlihat Mang Ujang menggerutu dan membereskan sisa makanan itu. Kelihatannya Mang Ujang tipe penjual yang kesal jika masakannya tidak dihabiskan


"Huh.. Padahal saya masak pakai hati loh"", gumamnya sambil membereskan piring yang masih lumayan penuh itu


*Gluduk gluduk.. Duar" krecek krecek", suara hujan disertai petir yang menyambar membuat suasana jalan yang tadinya ramai menjadi sepi.


Hanya terdengar suara hujan yang menabrak genteng hingga membuat suaranya menjadi berisik. Sesekali suara guntur yang menggelegar juga turut serta memeriahkan suasana malam gelap yang semakin dingin ini.


"Mbak Echa masuk aja ke dalam rumah itu biar ngga kehujanan. Nanti bajunya basah", ujar Mang Ujang sambil menunjuk ke sebuah rumah kosong di belakang.


Mang Ujang lalu dengan cekatan segera memasang terpal di atas rombongnya agar rombong dagangannya tidak kehujanan. Ku perhatikan memang baju seragam yang kupakai sedikit basah karena terpal belum terpasang dengan sempurna. Sementara hujan semakin turun dengan derasnya


"Eehh Gapapa Mang.. Saya bantu ya", ujarku sambil membantu Mang Ujang mengikat terpal-terpal itu ke tiang yang ada


Hujan semakin mengguyur tubuhku tanpa ampun. Sebentar saja pakaianku sudah basah kuyup terkena air hujan. Demikian juga dengan kerudungku yang tidak sanggup menyembunyikan rambutku lagi dengan benar. Pakaian seragam sekolahku sudah benar-benar basah hingga terasa menempel di kulitku. Kudapati payudaraku mulai nyemplak memperlihatkan bagian dadaku. Untungnya logo OSIS di saku bajuku menyamarkan puting payudara yang seharusnya tercetak di seragam basahku.


"Tuh kan Baju Mbak Echa jadi basah semua. Gak usah dibantu mbak saya sudah biasa kok", ujar Mang Ujang


"Gapapa Mang, saya bantu..", kataku sambil tak kupedulikan lagi pakaianku yang sudah basah kuyup


Aku lalu naik ke kursi plastik dan tiba-tiba kursi plastik itu bergoyang sendiri karena tanah yang menahannya sudah terlanjur basah dan gembur sehingga licin dan tidak bisa menjaga kestabilan kursi plastik yang kunaiki.


"Eeehhhh..", ujarku terkejut menyadari tubuhku akan segera terjatuh


Dan"


*Gedebuk"* suara pantatku yang terjatuh


Padahal aku berharap Mang Ujang menangkapku agar tidak terjatuh namun ternyata aku salah. Kejadian memang terjadi begitu cepat dan Mang Ujang juga sedang sibuk memasang terpal di sisi yang berbeda


"Addduuuhhh"", aku pun mengaduh dan buru-buru berdiri karena tanah tempatku mendarat tadi sudah basah seperti lumpur hingha membuatku tidak nyaman jika duduk terlalu lama di tanah basah itu


Rokku pun kotor dan aku buru-buru bangun. Kutepuk-tepuk bagian pantatku agar tanah dan pasir yang menempel di rokku bisa jatuh dari rokku. Terasa sekali ngilu yang menjalar di pantatku namun coba kutahan. Ini karena salahku juga tidak mendengarkan Mang Ujang agar berhenti membantunya


"Sakit Mbak?", tanya Mang Ujang


"Iya pak.. Lumayan sih.. ngilu..", jawabku


"Mana yang sakit?", kata Mang Ujang sambil ia raba bongkahan pantatku


"Iya situ Mang..", kataku saat ia mulai meraba pantatku


"Sebentar Mbak Echa tahan dulu sakitnya"", ujar Mang Ujang sambil buru-buru ia selesaikan mengikat bagian terpal lainnya.


Singkat cerita terpal untuk menahan air di rombong Mang Ujang sudah terpasang. Kami berdua sedikit merasa aman dari guyuran hujan, mungkin hanya sedikit tempiasan air yang mengenai kami. Tapi hal itu bukan menjadi masalah, yang penting air hujan sudah tidak langsung mengguyur tubuh kami.


"Mana yang sakit? Biar saya lanjut periksa pantatnya"", kata Mang Ujang sambil menyuruhku menungging sambil berpegangan pada rombong nasgornya.


Aku menurutinya dan Mang Ujang tanpa permisi menyingkap rok ku dan pantatku langsung terbuka dihadapan matanya. Tangan Mang Ujang meraba bongkahan pantatku dengan nakal sambil sesekali jemarinya menyelip diantara selangkanganku. Aku mendesis saja saat tangan kasar Mang ujang menyentuh belahan vaginaku.


"Gak pakai sempak ya mbak? Heheheh", tanya Mang Ujang sambil tangannya mulai meraba bongkahan pantatku


"Iya Pak" Lupa pakai"", jawabku tanpa berusaha menepis tangan Mang Ujang yang mulai bergerilya menyusuri pantatku


"Lupa? Yang bener aja? Bilang aja Mbak Echa pingin goda saya!", kata Mang Ujang sambil tangannya terus kuranv aja meraba pantatku


"Mang" Jangan"", pintaku


"Bokong Mbak Echa mulus bener"", Ujar Mang Ujang sambil ia pijit perlahan pantatku


"Aaahh.. Mang"", aku tanpa sadar mendesah


*Plak plak plak plak plak*, tiba-tiba Mang Ujang memukuli pantatku dengan kasar


"Aduh.. Aaahhh.. Mang" sakit", jeritku sambil kutahan sedikit


"Nakal ya kamu malah ndesah? Ha? Ha? Plak plak plak", kata Mang Ujang sambil terus memukuli pantatku dengan kasar


"Ampun.. Aaahhh.. Mang Ujang.. Sakit", kataku


"Pingin dicabuli ya kamu? Heheheh"", goda Mang Ujang sambil kini tangannya mulai meraba vaginaku dari belakang


"Ouuuhhh" Mang ", lenguhku


Desahanku justru seperti terdengar menggoda Mang Ujang. Ia semakin tidak sungkan-sungkan kepadaku. Tangan kasarnya dengan membabi buta langsung mengucek kemaluanku hingga tanpa sadar vaginaku mulai kedutan parah. Seskali ia selipkan jari telunjuknya di jepitan kemaluanku hingga kepalaku terdongak


"Aaaaahhhhh.. Mang.." desahku saat tangan kasarnya tidak berhenti merangsang lubang vaginaku dengan cepar


*Srettt sreettt seeetttttt* dari vaginaku keluarlah cairan encer lumayan deras seolah aku terkencing-kencing saat ini


*Gila, secepat ini aku keluar..*, gumamku dalam hati


Kurasakan kakiku lemas dan tenagaku sedikit sirna setelah aku muncrat barusan. Aku hanya bisa berpegangan pada rombong Mang ujang untuk menjaga posisiku agar bisa tetap berdiri


"Hahaha.. Dikocok bentar udah muncrat-muncrat Mbak Echa.. Sange ya mbak? Dingin-dingin butuh kontol ya?", ledek Mang Ujang


Sosok Mang Ujang mendadak berubah. Ia tidak lagi seramah seperti tadi. Ia juga tidak sungkan-sungkan lagi kepadaku. Mungkin karena saat ini aku sendirian tanpa ada Mas Rio disisiku sehingga ia lebih leluasa mempermainkanku


"Su.. sudah ya Mang", pintaku sambil terengah-engah


Tidak kusangka ia akan mencabuliku disini, di tempat biasa ia berjualan nasi goreng. Tempat yang letaknya hanya beberapa langkah kaki dari rumahku


"Cewek sangean. Nyesel saya pernah suka sama kamu. Ternyata murahan", ujar Mang Ujang mengejekku


"Maaf Mang..", kataku kebingungan Karena tidak menyangka responnya akan seperti itu


"Sekarang saya minta kamu buktikan sekali lagi kamu menyesal pernah nolak saya. Minta maaf yang betul"", kata Mang Ujang


"Maaf kan saya Mang". Hah hah hah"", kataku sambil masih terengah-engah


"Bukan gitu. Kamu turuti perintah saya!", kata Mang Ujang


"Apa?"


"Mana coba liatin tempikmu", pinta Mang Ujang


Dengan masih lemas setelah aku muncrat tadi, aku pun memberanikan diri angkat rokku dihadapan Mang Ujang. Vagina berjembut terawat yang seharusnya hanya kuberikan untuk Mas Rio seorang. Tapi dengan ikhlas kemaluanku itu kuberikan juga kepada Mang Ujang. Toh ia juga sudah pernah menikmatinya. Aku pun juga sudah merasakan sendiri kenikmatan yang diberikan kontol Mang Ujang. Kontol yang membuatku masturbasi tiap malam dan selalu kurindukan sodokannya itu


Mang Ujang lalu menatapku dengan senyuman yang merendahkanku. Senyuman yang tidak menghargaiku sama sekali. Tatapan matanya memandangku begitu rendah. Apa mungkin ia masih sakit hati pernah kutolak? Sehingga sekarang ia begitu senang melihatku bertekuk lutut karena keperkasaannya?


"tempikmu butuh kontol saya?", tanya Mang Ujang


"Mang...", aku pun tidak menjawab pertanyaannya dan terus mengangkat rokku agar vaginaku terus terbuka di hadapan Mang Ujang


"Cowokmu gak bisa muasin kamu kok sampai minta kontol saya?", goda Mang Ujang lagi


Aku hanya terdiam saking malu untuk menjawabnya. Bagaimanapun aku masih ingin menjaga harga diri Mas Rio sebagai seorang lelaki yang juga pacar yang kusayangi


"Kontol pacarmu kurang muasin kamu ya sayang?", tanya Mang Ujang lagi kini ia terus meledek Mas Rio


"".", aku kembali terdiam


"Jawab Mbak", goda Mang Ujang


Aku hanya mengangguk pelan, mengamini perkataannya yang sama sekali tidak salah sedikitpun. Aku mengakuinya, memang aku kurang puas akhir-akhir ini dengan Mas Rio. Bisa dibilang aku mulai jenuh mungkin saking seringnya aku bercinta dengannya.


"Coba Bilang ke saya kalau Mbak Echa beneran cinta sama saya", ujar Mang Ujang


"Eh kenapa Mang kok tiba-tiba?", tanyaku


"Katanya kemarin Mbak Echa mau minta maaf karena sudah pernah nolak saya. Sekarang buktikan lagi dong keseriusannya.. Coba bilang kalau Mbak cinta sama saya", kata Mang Ujang memaksa


"I.. Iya Mang.. Aa" Aku.. Cin..ta.. Mang.. Ujang ..", jawabku lirih dan terbata


"Apa? Ngga dengar saya", kata Mang Ujang


"Aku cinta Mang Ujang", jawabku lebih jelas dari sebelumnya


"Kalau gitu saya perlu bukti kamu beneran cinta sama saya. Heheheh"", ujar Mang Ujang


"Eh? Maksud Mang Ujang?", tanyaku terkejut


"Heheheh"", Mang Ujang kembali tersenyum mesum


Hilang sudah sosok polos dihadapanku itu. Mang Ujang benar-benar lelaki mesum. Aku juga salah mengira ternyata Mang Ujang tidak sepolos itu. Apalagi mendapati diriku yang ternyata tak sebaik yang ia kira, pasti dia merasa bisa lebih leluasa kepadaku dan tidak sungkan sama sekali.


Lalu, Mang Ujang memandangiku dari atas kebawah sambil geleng-geleng kepala. Pandangan matanya dengan nakal jelalatan mengarah kepada tubuhku yang sudah basah kuyup. Mana saat ini aku tidak memakai pakaian dalam lagi, menambah kesan aku benar-benar cewek murahan dimatanya


"Uhhh.. ga pake BH juga nih mbak? Teteknya ngintip gitu", goda Mang Ujang


"".", Aku hanya terdiam


"Mbak Echa kalau beneran cinta sama saya, coba berani ngga buka baju sampai telanjang disini", kata Mang Ujang sambil tersenyum nakal


"Apa?", kataku terkejut


"Berani enggak?", tantang Mang Ujang lagi


"Mang beneran nih Aku harus buka disini?? Kalau kelihatan orang gimana?", tanyaku balik


"Udah jangan bawel. Buka semua bajumu Mbak!", pinta Mang Ujang


"Tapi Mang"", kataku kebingungan


"Mbak Echa serius enggak sama minta maafnya? Lakuin dong kalau gitu", kata Mang Ujang


"Errrr" Gimana ya Mang..", aku masih ragu melakukannya


"Katanya Mbak Echa serius mau minta maaf ke saya? Saya perlu bukti nih. Heheheh"", ledek Mang Ujang


"Tapi saya malu Mang, kalau ada yang liat gimana?", jawabku


"Masih hujan ga ada yang lihat. Kalau gak mau berarti Mbak Echa memang gak niat minta maaf ke saya", kata Mang Ujang


Kemudian setelah menimang-nimang, aku pun menuruti permintaan Mang Ujang. Adrenalinku mendadak terpacu dalam situasi seperti ini. Insting eksibku yang akhir-akhir ini selalu kulatih perlahan mempengaruhi pikiranku. Aku kembali tertantang melakukannya. Perasaan deg-degan campur aduk tak karuan yang tak bisa kurasakan saat aku berpakaian normal. Kulihat keadaan sekelilingku juga sepi karena derasnya hujan yang turun malam ini hingga orang sepertinya enggan keluar rumah lagi. Kubuka kerudungku dan kulepaskan begitu saja di depan Mang Ujang.


Rambutku ternyata sudah lumayan lepek karena basah. Kusisir jari sebentar rambutku dihadapan Mang Ujang yang sedang melongo. Mungkin ini pertama kali ia melihatku tanpa memakai kerudung karena selama ini aku keluar rumah selalu memakai kain untuk menutup rambutku itu.


"Bajunya juga dong! Masak kerudung aja", tantang Mang Ujang


"Iya Mang", jawabku dan kutanggalkan rokku hingga terjatuh begitu saja dihadapan Mang Ujang hingga kali ini vaginaku sudah terbuka dihadapannya


"Mantab Mbak Echa" Kamu memang sexy sekali Mbak.. Ah jadi ngaceng kontol saya liat kamu bugil"", kata Mang Ujang


Aku benar-benar malu saat ini, berada ditempat Mang Ujang berjualan sambil telanjang. Karena tidak menutup kemungkinan akan ada orang yang lewat bahkan pembeli meskipun saat ini masih hujan deras.


"Tunggu sebentar, tadi pesan nasgor 1 ya? Saya masakin dulu", kata Mang Ujang mengerjaiku


Kini ia membuatku seolah sedang membeli nasi gorengnya dalam keadaan telanjang. Aku dibuatnya hujan-hujanan disamping rombongnya dalam keadaan telanjang. Rasa malu yang menjalar begitu terasa kuat, hingga tanpa sadar vaginaku banjir karena melakukan hal gila ini. Untungnya hujan yang masih turun dengan deras membuat Mang Ujang tidak menyadari dari tadi vaginaku meneteskan lendir.


"Nasgornya pakai sosis Mbak?", tanya Mang Ujang


"Bo.. Boleh Mang..", jawabku sambil celingak celinguk takut ada orang yang akan lewat di dekat kami


"Sini ambil", kata Mang Ujang sambil menarikku dan aku dipaksa berlutut dihadapan selangkangannya


Lalu ia buka resleting celananya dan ia keluarkan batang kontolnya dihadapanku dan aku dimintanya untung mengulum kontol Mang Ujang


"Ini yang kamu butuhin kan? Ayo bilang terima kasih", kata Mang Ujang sambil mendorong wajahku agar mencium kontolnya


"Teri.. Terima kasih.. Mang"", ujarku sambil menggenggam gagang kencing Mang Ujang yang keras itu dan langsung kumasukkan ke mulutku


"Ouuuuhhh Mbak Echaaaa.. Aaaahhhh".", lenguh Mang Ujang sambil tetap berusaha menggoreng nasgor di wajannya walau ia berkali-kali menggeliat dan mendesah keenakan


Gila! aku menyepongi kontol penjual nasi goreng itu disaat ia sedang memasak. Kontol Mang Ujang memang luar biasa, begitu keras berurat keriting di batang kejantanannnya. Pantas saja memekku begitu menginginkan kontol ini.


*Maafkan aku Mas Rio aku memang lonte, aku tidak bisa setia sama kontolmu mas..*, ujarku dalam hati sambil kujilati penuh kenikmatan kontol Mang Ujang


Untungnya suara gemricik hujan yang menabrak tanah dan genteng rumah menimbulkan suara yang sangat berisik hingga menyamarkan suara desahan Mang Ujang. Aku jilati kontol Mang Ujang penuh nafsu. Kontol terhormat yang telah mengambil kehormatanku. Kontol yang selalu kubayangkan saat aku bermasturbasi di tiap malamku.


Punya Mang Ujang bagaimanapun memang jauh lebih nikmat daripada punya Mas Rio yang ukuran kontolnya SNI. Aku bahkan tidak pernah sekalipun masturbasi membayangkan Mas Rio. Aku lebih sering membayangkan Mang Ujang. Karena rasa nikmat yang ia berikan begitu terngiang-ngiang di alam bawah sadarku. Aku dalam hati bersyukur Mang Ujang adalah lelaki pertama yang menancapkan kontolnya di rahimku. Jadi aku sama sekali tidak keberatan melakukannya lagi dan lagi dengan Mang Ujang. Toh Mas Rio juga sudah memberikan "SIM E" kepada Mang Ujang (red : Surat Ijin Mengentot Echa).


Kontol Mang Ujang semakin mengeras saat kukulumi. Kurasakan Kepala kontolnya juga besar bak jamur dan bulu jembutnya sangat lebat. Walau bau, tapi aromanya justru membuatku semakin bergairah dan semakin terangsang. Tak segan pula aku menjilati biji peler Mang Ujang yang hitam dan kuciumi semua bagian kontolnya tanpa rasa jijik sedikitpun


"Pinter banget kamu Mbak" Belajar dimana sih?", godanya


"Rahasia..", jawabku singkat dan kujilati dan kuciumi kontol Mang Ujang tanpa henti


"Palingan kamu hobbynya sepong kontol cowok-cowok ya? Heheheh", Ujar Mang Ujang sambil kali ini ia pegang kepalaku


Lalu ia sodoki mulutku kuat-kuat dengan batang kontolnya. Sodokan yang sangat kasar hingga menohok tenggorokanku. Rasanya aku semakin mual saja tapi aku juga berusaha menikmati perlakuan kasarnya. Kontol Mang Ujang terus menghajar tenggorokanku tanpa ampun hingga aku kesulitan bernafas


"Argghhhhhhh". KELUAR JANCUKKKK PEREK ASUUU"", tiba-tiba Mang Ujang mengerang hebat


Aku buru-buru berusaha menghindari ledakan sperma Mang Ujang dari mulutku namun terlambat, Mang Ujang sudah menyemburkan spermanyabke tenggorokanku begitu banyak. Lendir hangat itu memenuhi rongga mulutku. Rasanya begitu serik dan gatal dengan baunya yang menyengat.


"Telan. Awas kalau Mbak Echa lepeh", pinta Mang Ujang


Perlahan-lahan tenggorokanku mulai meneguk perlahan cairan menyengat dan serik itu. Teksturnya sangatlah kental dan sangat pekat sekali. Ingun sekali kumuntahkan namun Mang Ujang melarangku untuk membuang spermanya. Ia juga memastikan aku menelan seluruh spermanya hingga habis tak tersisa.


"Sudah matang mbak..", kata Mang Ujang


Disaat yang sama Nasgor pesananku juga sudah tersaji sempurna. Aku lalu membereskan pakaianku dan memakai pakaianku sebisanya.


Saat aku hendak membayar ke Mang Ujang, ia pun menolak


"Gratis. Tadi udah dikasih yang enaena. Hehehe", katanya membuatku tersipu malu dan meninggalkan lokasi sambil sedikit hujan-hujanan


#Bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 10 : Ojol Cabul


POV : Echa


Wajahku pucat pasi, saat membaca sebuah chat WA yang masuk ke ponselku. Menghentikan sejenak kegiatan makan siangku hari ini. Kulirik kiri dan kananku, memastikan tidak ada orang yang bisa melihat ke arah layar ponsel yang kugenggam. Terutama aku memastikan layar handphoneku aman dari si Anya, sahabatku yang saat ini sedang asyik menyantap semangkok mie instan disampingku.


Kulihat Anya tidak peduli dengan apa yang kulakukan. Iya asyik menikmati semangkok mie kuah hangat tanpa menoleh sama sekali. Gadis cantik yang periang, ia tidak sepertiku yang berkerudung. Rambutnya yang sebahu ia kuncir ekor kuda. Kulirik leher Anya yang berkeringat, mungkin mie instan yang ia makan terlalu pedas. Atau bisa juga karena kantin sekolahku yang terlalu panas.


Kubaca sekali lagi sebuah pesan WA yang masuk ke ponselku. Memastikan aku tidak sedang halusinasi. Ternyata memang tidak, pesan itu benar-benar nyata masuk ke dalam whatsappku. Sebuah nomor tak dikenal mengirimiku sebuah foto. Foto yang tak asing bagiku dan aku langsung tau siapa pelakunya.


Pikiranku tiba-tiba kembali teringat kejadian saat itu. Mungkin hal gila itulah yang pertama kali kulakukan. Hal yang kusembunyikan dan kurahasiakan dari pacarku. Walau itu semua terjadi karena kegilaan fantasy pacarku. Kejadian dimana Aku dicabuli oleh seorang bapak ojol yang usianya mungkin mendekati kepala 5. Didepan teras rumahku, saat kondisi sudah sangat sepi dan sudah lumayan larut.


Tiba-tiba aku teringat tubuh bapak ojol yang baunya tidak sedap meringsek ke hidungku. Lelaki paruh baya yang perutnya gelambir penuh lemak. Apalagi kontolnya yang berjembut lebat dan aromanya pesing itu, aku benar-benar mengingatnya. Benda hitam tebal nan keras menjijikkan itu bahkan sudah kukulum dan kujilati. Awalnya aku memang ingin muntah saat aku mengulumi kemaluan bapak itu. Aku bahkan tidak pernah berpikir akan menjilati kontol seorang lelaki yang usianya sudah jauh diatasku. Mungkin selisih usia kami sekitar 25 tahunan lebih.


"Halo mbak" Masih ingat saya?", ketiknya sambil ia kirimkan sebuah fotoku saat sedang pose sexy atas perintahnya


Pose yang sangat menantang. Kedua tangan kuletakkan diatas kepalaku dan payudaraku terekspose sempurna. Untungnya resolusi kamera bapak ojol itu jelek sehingga hasil fotonya pecah-pecah dan penuh bintik-bintik karena kondisi yang minim cahaya. Tetapi aku tahu betul bentuk tubuhku dan juga teras rumahku. Sehingga aku benar-benar yakin foto tersebut memang diriku.


"Bapak mau apa?", tanyaku geram


"Hehehe.. Cuma pingin silaturahmi kok", jawabnya sambil ia kirim foto lainnya


Aku pun menghela nafas panjang dan tanpa sadar tanganku menggebrak meja. Aku begitu kesal sampai-sampai lupa saat ini aku sedang berada di kantin sekolah. Beberapa pasang mata langsung tertuju kepadaku. Termasuk sahabatku Anya yang memasang wajah melongo kebingungan melihat tingkahku yang aneh.


"Kenapa Cha??", tanya Anya terkejut


"Eehhh? Enggak gakpapa kok", jawabku sambil berusaha menenangkan pikiranku


Beberapa pasang mata masih melihat kearahku. Aku pun hanya tersenyum kecut sambil membalas tatapan mata orang-orang di kantin sekolah satu persatu. Seolah sedang menjawab bahwa aku saat ini sedang tidak apa-apa.


Tetapi tidak bagi Anya. Ia terus menginterogasiku bak detektif profesional. Wajar saja, karena kudapati mangkok mie instannya kali ini sudah habis tak tersisa. Sehingga kini ia fokus kepadaku.


"Ada masalah sama cowokmu?", tanya Anya memastikan


Aku yang sudah kadung malas mencari alasan. Hanya mengangguk pelan. Tidak mungkin juga aku jujur kepada sahabatku itu kalau aku sedang kesal dengan seorang bapak ojol mesum yang sudah pernah mencabuliku.


"Kenapa cowokmu? Selingkuh?", tanya Anya curiga


"Eehh? Enggak kok" Biasalah ada kalanya pacaran itu penuh cobaan", jawabku mencoba bijak


"Hmmm.. Kalau dia selingkuh kamu balas selingkuh juga aja Cha. Biar impas", goda Anya


"Hah? Enggaklah Nya.. Aku cewek setia kali..", jawabku


"Yakin nih setia? Hihihi"", goda Anya sambil menowel dadaku


"Anya! Paan sih, malu tahu ditempat gini!", jawabku kesal dan kucubit lengan sahabatku untuk membalas perbuatannya


"Hihihi terus kenapa dong? Kok sampai gebrak-gebrak meja gitu", tanya Anya terus menginterogasiku


"Ngga papa Anyaaaa.. Udah aku mau habisin makananku dulu. Habis gini masuk kelas nih!", jawabku dan tak kuhiraukan tatapan curiga Anya yang terus mengarah kepadaku


#


Di dalam kelas, aku tidak bisa tenang dan konsentrasi ke pelajaran yang diajarkan guruku buyar. Jantungku berdebar-debar memikirkan apa yang diinginkan lelaki tua cabul itu. Aku sudah tau sebenarnya dia menginginkan apa, hanya saja aku masih tidak percaya kejadian ini begitu nyata terjadi kepadaku. Ingin sekali aku membuka handphoneku saat ini. Tetapi aku yakin Anya yang masih dalam keadaan kepo akan berusaha mengintip isi handphoneku mati-matian.


*Dreeetttt dreettt drettttt* tiba handphoneku bergetar


Memang sengaja ku silent handphoneku selama di sekolah. Sebuah nomor tak dikenal dan kuyakin nomor ini bukan berasal dari bank yang menawarkan kreditan atau dari pinjol yang sedang nagih utang. Nomor ini adalah nomor bapak ojol itu. Aku keringat dingin menerima telepon tersebut dan buru-buru ku reject karena Anya sudah menatapku dengan tatapan curiga lagi.


*Dreettt dreettt dreeetttt* handphoneku kembali bergetar untuk kedua kalinya


Wajahku pucat dan bingung harus bagaimana. Kembali ku reject panggilan telepon itu agar tidak menggangguku lagi. Kuamankan handphoneku agar Anya tidak bisa melihat siapa yang meneleponku.


"Siapa sih Cha yang telepon?", tanya Anya


"Gak Tau. Pinjol kali", jawabku ngasal


"Emang kamu utang ke pinjol Cha?", tanya Anya dengan menyebalkannya


"Ya enggaklah! Buat apaan coba", jawabku kesal


"Tadi kamu bilang dari pinjol"", kata Anya


*Drett*, tiba-tiba handphoneku bergetar sekali.


Aku yakin kali ini sebuah pesan WA yang masuk ke ponselku. Aku yang sudah cemas dan tidak bisa konsentrasi karena bapak ojol itu terus menggangguku, memutuskan untuk ijin sejenak ke kamar mandi. Untungnya guruku mengijinkan dan aku buru-buru melangkahkan kakiku ke sebuah toilet yang jaraknya lumayan jauh dari ruang kelasku


Kukunci pintu kamar mandi dan langsung kubuka handphoneku. Benar saja rupanya lelaki cabul itu kembali mengirimkan pesan kepadaku. Kali ini lebih menyebalkan dari sebelumnya


"Angkat woi, dasar lonte! Gue sebarin foto-foto lu ke grup ojol nih", tulisnya


Aku yang panik dengan ancaman kurang ajar dan menyebalkan itu, buru-buru membalas pesan WA nya.


"Maaf pak saya lagi di kelas tadi. Tolong jangan disebar foto-foto saya ya pak"", jawabku masih kesal namun mencoba sopan agar si bapak ojol tidak tersinggung


Lalu handphoneku kembali berdering dan aku kembali menolak telepon itu dengan cepat


"Jangan telepon pak, WA saja", kataku


"Hehehe.. Saya cuma kepingin denger suaramu cantik", jawab bapak ojol


Dan kembali bapak ojol itu meneleponku. Dengan ogah-ogahan aku pun mengangkat teleponnya dan berharap ini semua cepat selesai.


"Halo.. Heheheh", sapa bapak ojol di seberang sana


Mendengar suara dan tawanya saja aku sudah malas


"I.. Iya pak.. Ada perlu apa? Saya sedang sibuk", jawabku sedikit ketus


"Aduh galaknya. Cantik-cantik kok galak. Kalau fotonya saya sebar masih galak nggak ya? Heheheh"", kata bapak ojol dengan nada mengancam


"Bapak jangan macam-macam! Hapus semua foto saya pak!", kataku masih kesal


"Hapus? Hehehe.. Rugi dong", kata bapak ojol menyebalkan


"Kamu dimana ini mbak? Katanya di kelas kok bisa angkat telepon saya? Kangen kan sama saya?", imbuh bapak ojol membuatku semakin geram


"I.. iya.. saya tadi di kelas sekarang saya ditoilet biar bisa angkat telepon bapak"", jawabku


"Masak sih? Saya kok ngga percaya ya kalau lonte kayak kamu masih sekolah..", kata bapak ojol


"Terserah bapak saja, ngga ada urusan juga bapak percaya apa enggak"", jawabku


"Duh galaknya.. Saya video call ya biar buktiin kamu beneran anak sekolah apa bukan. Jangan-jangan cuma alasanmu aja padahal lagi ngelonte dipinggir jalan nyari pelanggan", kata bapaj ojol dan tiba-tiba panggilan telepon berganti menjadi undangan panggilan video


Aku yang sudah tidak punya pilihan lain hanya bisa mengangkat panggilan video dari bapak ojol itu. Kulihat layar handphoneku dan kudapati wajah bapak ojol yang pipinya tembem mesum itu tersenyum ke arahku.


"Gelap bener mbak, lampu toiletnya nyalakan dong", kata bapak ojol


Dengan kesal aku turuti bapak ojol itu dan kini wajahku terlihat jelas di layar handphone bapak ojol itu yang entah saat ini ia sedang berada dimana karena pemandangan dibelakangnya tidak begitu terlihat dan hampir 90% layar handphoneku hanya terlihat wajah tambun bapak ojol itu


"Busyetttt cantik benerr" pakai kerudung mbak kalau di sekolah?", tanya si bapak ojol


"I.. Iya" Sudah ya pak saya mau kembali ke kelas", jawabku dan ingin segera kuakhiri pembicaraan tidak penting ini


"Buru-buru amat" Demen saya lihat cewek kerudungan tapi sangean. Apalagi model siswi sekolah gini. Heheheh", ujar si bapak ojol


"Bapak jangan kurang ajar. Sudah saya mau tutup teleponnya", jawabku


"Hehehe.. Kamu tutup maka siap-siap foto-fotomu besok tersebar di internet. Temen-temen sekolahmu bakalan tahu ada lonte di sekolah mereka", kembali si bapak ojol mengancam


"Bapak mau apa? Uang?", tanyaku ketus


"Uang? Hahaha" orang kamu bayar makanan yang saya kirim saja kesulitan bayarnya gitu. Malah nawarin saya uang.. Lupa ya badan kamu sudah saya grepe buat ganti biaya orderan makanannya. Heheheh", ujar Pak Ojol


"Bapak jangan fitnah. Itu karena kemarin bapak nggak ada kembalian!", jawabku tak mau kalah


"Alasan aja kamu. Hehehe" Yasudah tadi kamu nanya saya mau apa kan? Sekarang saya jawab. Saya mau lihat kamu pipis. Hehehe", kata bapak ojol dengan wajah mesumnya yang menyebalkan


"Bapak gila!", kataku kesal


Mana mungkin aku buang air kecil secara live dihadapan lelaki paruh baya yang tidak kuketahui namanya ini. Sungguh ini request yang diluar nalar bagiku


"Mau lakuin nggak? Saya cuma penasaran cewek kalau kencing gimana", kata bapak ojol


"Liat istri bapak aja!", jawabku ketus lagi


"Saya belum punya istri. Heheheh" ", ujar bapak ojol


*Dih, pantesan cabul*, gumamku dalam hati


"Buruan.. Keburu dicariin gurumu mbak", kata bapak ojol itu lagi


"Tapi saya enggak kebelet pak..", bujukku


"Ya kamu buka rok dan sempak, lalu jongkok pasti keluar. Ayo keburu foto-fotomu tersebar ini", ancam si Pak Ojol kembali


Aku menghela nafas panjang dan merasa tidak ada gunanya berdebat dengan lelaki paruh baya cabul ini. Kemudian aku menyandarkan handphoneku di tempat aman dan mengarahkan kamera handphoneku ke diriku agar bisa menyuting diriku saat aku sedang buang air kecil.


Aku kemudian menurunkan celana dalamku hingga lutut lalu kemudian jongkok diatas closet. Kuarahkan lubang pembuangan pipisku sedikit menukik ke arah closet agar cairanku tidak muncrat kemana-mana apalagi sampai kena handphoneku.


*Currrrrrrrrr* air kencingku perlahan keluar dan kuatur tekanannya agar tidak melewati lubang closet.


Sungguh ini adalah tindakan yang memalukan juga menjijikkan mengarahkan kamera ke diriku sendiri saat sedang buang air kecil dan disaksikan melalui video call oleh bapak ojol yang tidak kuketahui namanya itu.


"Uhhh.. Banyak sekali pipismu mbak" Pasti kebanyakan minum itu.. Liatin tempikmu dong sayang kondisi masih ada kencingnya.. Kurang keliatan nih hehehe..", tiba-tiba kudengar ia berkata dan itu sangat memalukan


Aku pastikan seluruh cairan urineku telah kubuang sebelum menuruti permintaannya lagi. Aku lalu mengambil handphoneku yang kuletakkan bersandar pada pintu, karena pintu tersebut satu-satunya posisi yang bisa tepat menghadap ke arah closet.


Kemudian kuarahkan kameraku ke lubang kemaluanku, membiarkan bapak ojol itu melihat ke arah vaginaku yang belum kubersihkan Setelah buang air kecil. Jujur saja aku malu melakukannya dan berharap ini semua cepat selesai.


"Buka lebar-lebar tempikmu cantik", perintah si bapak ojol


Aku langsung menuruti perintahnya dan tidak mau berdebat lagi dengan lelaki cabul itu. Kubuka lebar bibir vaginaku hingga bagian dalamnya yang berwarna kemerahan terlihat


"Uuuhhh.. tempikmu seger banget sayang.. Becek sekali sampai lecek gitu.. Pasti pesing itu jembut-jembutmu.. Heheheh"", ujar bapak ojol mengejek kondisi kemaluanku


"Su.. Sudah ya pak.. Saya mau kembali ke kelas..", pintaku


"Buru-buru amat.. Saya tau sekarang kamu sange kan? Colmek-colmek dulu lah mumpung di toilet, kasian memekmu butuh hiburan tuh. Heheheh", perintah bapak ojol


"Eeeehhh?? Disini?", tanyaku tak percaya


Tidak pernah terpikirkan olehku untuk masturbasi di toilet sekolahan. Semesum-mesumnya aku, tentu saja hal ini sangatlah memalukan apalagi kalau sampai tindakanku ini diketahui orang-orang. Mau ditaruh mana mukaku yang anggota aktif OSIS di sekolah ini.


"Tapi nanti pakaian saya basah pak", bujukku lagi


"Hmm yang dilepas dong bajunya. Cantik-cantik begok banget sih. Lepas semua kecuali kerudungmu", kata bapak ojol


"Tapi pak""


"Udah gak usah banyak cincong", jawab si bapak ojol ketus


Aku lalu melirik ke arah pintu kamar mandi, memang benar dibalik pintu itu ternyata terdapat sebuah gantungan baju yang hanya berupa paku yang ditancapkan ditembok. Hanya satu buah paku dan semoga saja muat untuk menampung seragam sekolahku baik kemeja putih dan juga rok abu-abuku.


Pertama-tama, kulepas terlebih dahulu celana dalam yang dari tadi nyangkut di lututku. Setelah terlepas aku baru melepas rok abu-abuku. Mudah saja karena hanya tinggal melepas ikat pinggang dan juga pengait resleting yang terletak dibagian belakang. Setelah rokku terlepas dan kugantungkan di paku, kemudian aku mulai melucuti kancing seragamku satu persatu hingga semuanya terbuka menampakkan payudaraku yang masih terbungkus bra berwarna krem yang kupakai. Kemudian aku pun menarik lepas kemeja putihku dan kugantungkan juga di paku yang ada. Kupastikan seragamku tidak akan jatuh dari paku tersebut. Bisa gawat kalau sampai jatuh karena pasti akan kotor dan basah semua


Kini aku hanya memakai kerudung putih dan bra berwarna krem saja. Oiya, juga tentu saja tak lupa sepatu hitam lengkap dengan kaos kaki panjang yang masih menutup betisku. Suasa toilet yang lembab dan gerah ini malah membuatku berkeringat deras. Nampak bulir-bulir keringatku mulai keluar dari pori-pori kulitku, lama-lama semakin banyak dan membasahi tubuh telanjangku


"Aaahhh.. Cantik sekali.. Pake kerudung gitu jadi makin menarik kamu Mbak.. Hehehe.. Dah colmek gih keburu dicariin gurumu. Gurumu ga tau kan kalau ternyata muridnya seorang lonte? Bukannya belajar di kelas malah colmek di toilet sekolah. Hahahaha"", kata bapak ojol terus menghinaku.


Aku hanya diam saja dihina seperti itu. Apa yang dikatakan beliau tidak salah. Diam-diam aku justru terangsang saat melakukan kegilaan ini. Tidak pernah aku berpikir telanjang di sekolah seperti saat ini. Maksimal hanya ganti pakaian saja saat ada pelajaran olahraga. Itupun hanya sekefar berganti pakaian, tidak melakukan hal mesum seperti ini. Ternyata telanjang di sekolah rasanya juga bikin was-was. Meskipun kupastikan pintu toilet tertutup rapat, tapi bayang-bayang banyak orang di luar begitu memacu adrenalineku. Siapa sangka aku yang salah satu murid berprestasi di sekolah malah masturbasi saat jam pelajaran berlangsung. Membayangkan betapa nakalnya diriku, malah membuatku berpikir untuk mencoba melakukannya.


Tanganku mulai meraba kemaluanku dan kupejamkan mataku karena tidak sanggup melihat layar handphone yang masih meperlihatkan wajah lelaki tua cabul itu memandangiku yang tengah masturbasi. Jujur saja sebagai seorang gadis yang masih normal, aku masih punya rasa malu untuk melakukan masturbasi sambil dilihatin seperti ini. Tetapi keadaan yang memaksaku untuk melakukannya. Tidak ada gunanya aku menyesali apa yang sudah terjadi, walau memang kenyataannya semua ini terjadi berawal dari kegilaan fantasy cowokku yang minta untuk direalisasikan.


Kugosok-gosok tanganku dan kumainkan lubang senggamaku dengan jemariku. Parahnya aku lupa tadi setelah kencing aku belum membersihkan vaginaku. Kurasakan cairan urineku sedikit melumasi tanganku yang bergerak semakin cepat merangsang organ intimku. Aroma pesing mulai semerbak keluar dari vaginaku dan menempel di jemariku


Entah mengapa aku merasa sangat kotor saat ini. Tapi semakin aku merasa kotor, aku justru semakin terangsang. Sesekali aku bahkan mulai mendesah menikmati masturbasiku yang dipandangi bapak ojol mesum itu.


"Ouuhhh..", lenguhku saat telunjukku terus keluar masuk merangsang kemaluanku


"Dasar jalang murahan. Malah sange. Hehehe.. itu ngapa beha masih dipakai? Lepas aja!!!", perintah bapak ojol


Kemudian aku pun melepas pengait braku dan kubuka payudaraku dihadapan bapak ojol yang terus memandangiku dengan tatapan cabulnya di layar handphoneku. Tak lupa kuremasi payudaraku sendiri bergantian dengan tangan kiriku. Sesekali kucubit kecil puting susuku dan kusadari puting susuku semakin mengeras. Sementara tangan kiriku merangsang payudaraku, tangan kananku asyik merangsang lubang kelaminku.


"Nah gitu, punya tetek gak usah ditutup-tutupin. Ayo colmek yang lebih hot lagi, te.. lonte.. sambil terus mainin pentilmu", kata bapak ojol


"Aaahhh.. Iyaahh.. Ouhhh..", aku mulai terbawa permainan sugestinya


Entah mengapa aku semakin merasa sexy dan semakin semangat melakukan masturbasi sambil dilihatin lelaki tua itu. Vaginaku sudah semakin terasa hangat berlendir. Tatapan matanya yang nakal memandangiku seperti membuatku semakin tak bisa berhenti. Aku ingin mencabuli diriku sendiri lagi dan lagi. Entah sudah berapa kali colokan yang kulakukan pada kemaluanku. Yang jelas vaginaku sudah benar-benar licin dan membuat tanganku ini semakin kesetanan melakukan hal nikmat ini.


"Ouhhh.. Ssshhhh"", aku mendesah semakin menikmati masturbasiku


Aku sepertinya sudah tidak peduli lagi jam pelajaran yang sudah kutinggalkan beberapa saat yang lalu. Mungkin sudah hampir setengah jam aku ijin ke toilet. Entah apakah guruku mencariku atau tidak. Yang pasti, masturbasi di toilet sekolah ternyata tidaklah terlalu buruk. Perasaan was-wasnya juga masih kudapatkan dan tentu saja itu semakin memacu adrenalineku dan membangkitkan birahiku


*Klotakkk* tiba-tiba dari arah loteng terdengar suara benda jatuh


Reflek aku mendongakkan kepalaku melihat ke atas dan menghentikan perbuatanku sejenak. Jantungku semakin berdegup kencang karena saking terkejutnya mendengar suara yang muncul tiba-tiba dari sebuah lubang di langit-langit toiletku berada. Lubang berbentuk kotak yang sengaja didesain untuk akses menuju loteng. Kupandangi lubang itu lama-lama sambil deg-degan namun tidak terdengar lagi suara setelah itu


*Hmm mungkin tikus kali ya?*, ujarku dalam hati


Moodku untuk melakukan masturbasi sudah hilang dan aku bermaksud menyudahi perbuatan mencabuli diriku sendiri ini. Pikiranku mendadak tidak tenang karena khawatir ada orang yang mengintip masturbasi cabulku


*Tidak mungkin, lagian siapa juga yang betah berada di atas sana? Pasti panas banget*, ujarku dalam hati mencoba menghibur diri


"Kenapa berhenti? Ayo lanjutin nanggung nih saya hampir crot kamu malah berhenti", ujar bapak ojol diseberang sana


"Sudah ya pak" saya sudah terlalu lama disini" Nanti dicari guru saya", bujukku


"Kamu berani melawan saya? Mau saya sebar foto-foto kamu?", kembali bapak ojol itu mengancam


Aku yang sudah kehilangan mood, sudah tidak peduli lagi terhadap ancamannya. Aku putuskan untuk kembali berpakaian dan tidak menggubris perkataan lelaki tua itu. Tetapi jujur saja aku tidak berani menutup video callnya dan biarlah ia yang mengakhiri panggilan video cabul ini. Aku terus melengkapi pakaianku dan menutup kembali seluruh tubuh dengan seragam sekolahku


"Ohhh? Nantangin saya nih? Kamu bakalan menyesal", ancamnya


*Tut tut tut tut* video call pun berakhir


Aku menghela nafas panjang, pada akhirnya aku membuat lelaki tua itu marah karena tidak patuh pada perintahnya. Aku sudah kesal dengan tingkahnya. Dia bukan siapa-siapaku kok bisa-bisanya mengatur-aturku. Aku hanya berharap andaikan ia benar-benar menyebar foto-fotoku di internet, orang-orang yang mengenalku tidak akan melihat foto-foto telanjangku.


Setelah kupastikan seragam sekolahku sudah terpasang sempurna, aku lalu membuka pintu toilet, rasa gerah itu langsung hilang seketika. Walau udara di luar sana sedang panas-panasnya, tetapi di dalam toilet sempit itu, jauh terasa lebih panas. Hal itu baru kusadari setelah aku meninggalkan ruangan pengap itu. Tubuhku terasa sekali basah kuyup dan aku ingin sesegera mungkin kembali ke ruang kelasku yang ber-AC untuk mendinginkan tubuhku.


Saat aku masuk ke dalam kelas, rupanya guru yang tadi mengajar sedang keluar sehingga aku bisa segera kembali ke mejaku tanpa harus diinterogasi dan ditanyai macam-macam. Tetapi dugaanku ternyata salah, meskipun pak guru tidak menanyaiku, tetapi Anya teman sebangkuku yang malah mewawancaraiku dengan sangat detail.


"Dari mana aja sih kamu Cha? Kok lama banget?", tanya Anya tiba-tiba


"Iya nih Nya, gak tau kenapa nih perutku tiba-tiba mules. Kayaknya makanan tadi kepedesan deh", kilahku


"Ooohhh.. Kirain kamu lagi ngapain sama Endrix", ujar Anya mengejutkanku


"Hah? Endrix? Apa hubungannya?", tanyaku


"Iya setelah kamu ijin ke toilet, tak lama kemudian Endrix itu juga ikutan ijin. Tuh anak aja sekarang belum balik", ujar Anya


"Hah? Masak sih? Enggak lah Nya. Duh kamu kalau mikir yang realistis juga lah. Masak iya aku ngapa-ngapain sama Endrix. Gak banget deh", ujarku kesal


Bukannya tanpa alasan aku mengatakan hal itu. Aku tahu Endrix itu cowok seperti apa. Melihatnya saja aku sudah jijik. Jika memang Endrix adalah satu-satunya lelaki yang ada di dunia ini, Aku pun ogah memilih dia. Endrix itu cowok yang bisa dibilang paling nakal di sekolahku. Usianya sudah jauh diatas usia rata-rata murid di sekolah ini. Karena menurut rumor yang beredar dia sudah beberapa kali tidak naik kelas sejak dari masa SD, SMP dan sekarang SMA. Mungkin usianya saat ini sudah diatas 25 tahun keatas.


Aku tidak tahu alasan sekolahku tidak juga mengeluarkan lelaki nakal ini, padahal beberapa kali ia berbuat onar di sekolah. Kabar yang sering kudengar, ia sering memintai uang ke siswa-siswa baru atau angkatan dibawahku. Bahkan parahnya lagi, aku juga sering mendengar ia suka melakukan bullying. Aku benar-benar tidak pahan kenapa seolah-seolah sekolah ini mendiamkan kenakalannya.


Memang selama ia beraksi ia tidak melakukannya sendiri, aku sering lihat ia memiliki banyak teman yang mengelilinginya. Bisa dibilang mereka adalah anak-anak gank sekolahku. Sekumpulan anak-anak berandal yang bergabung menjadi satu untuk berbuat onar di sekolahan. Sebisa mungkin aku tidak mau berurusan dengan mereka.


"Cha kok ngelamun? Bayangin Endrix?", kata Anya mengejutkanku


"Ngawur! Gak lah Nya", jawabku


"Terus mikirin siapa? Bayu", goda Anya


"Hmm boleh deh kalau Bayu", jawabku agar Anya puas


"Ciyeee.. inget udah punya cowok kamu Cha..", kata Anya lagi


"Iya kan bercanda Anyaaaa"", jawabku gemas dengan sahabatku itu


"Hmmm" Tapi selingkuh sekali-kali gapapa kok Cha. Hihihi..", goda Anya lagi


"Enggak ah aku kan cewek setia", jawabku


Terlihat sahabatku itu memasang raut wajah tidak percaya terhadapku. Alisnya terlihat mengernyit keatas seolah sedang meremehkan perkataanku.


"Hari gini setia? Hihihi.. Eh Cha, kamu kan sering kerja kelompok sama Bayu, emang kamu ga pernah ngapa-ngapain?", tanya Anya menginterogasiku lagi


"Hah? Ngapain ngapain maksudnya?", tanyaku balik


"Hmmm.. Masak sih kamu gak paham maksudku? Ini lho Cha"", kata Anya sambil memberi simbol jempol yang ia selipkan diantara jari telunjuk dan jari tengahnya


"Ihhh apaan sih.. Enggak lah!", jawabku


"Ya kan kalian Cuma berdua gitu cowok cewek. Ganteng dan cantik.. Masak iya kamu gak sange dan Bayu gak sange? Hihihihi", goda Anya makin parah.


"Anyaa!!!", kataku sambil mencubit lengannya


Aku melirik ke arah Bayu dan memastikan ia tidak mendengar perkataan Anya. Untungnya kulihat cowok ganteng itu sedang asyik mengobrol dengan teman sebangkunya dan tidak mendengar pembicaraanku dengan Anya


"Aduh kamu lambat bener Cha. Kalau aku mah langsung gercep ambil inisiatif. Kontol Bayu itu idaman cewek-cewek disekolah ini tahu. Kapan lagi bisa nikmatin kontol cowok terganteng di sekolah", kata Anya semakin vulgar.


"Sok tau ih" Emang pacarmu ngijinin?", tanyaku


"Hahaha.. Ya diem-diem lah Cha.. Selingkuh.. Ah kamu nih jangan polos-polos jadi cewek. Sayang banget kamu cantik cantik kurang bisa berpetualang", ledek Anya


"Ati-ati lho ya nanti kamu diselingkuhin balik", balasku


"Hmmmm.. Gak lah, aku udah berkali-kali selingkuh aman-aman aja kok", jawab Anya


"Kamu serius Nya? Cowokmu ga tau?", tanyaku terkejut


"Gak tau lah, kalau pun tahu tinggal dikasih memek udah diem dia. Hihihi", jawab Anya


"Berkali-kali selingkuh itu berarti kamu ngelakuinnya gak cuma sekali?", tanyaku memastikan


"Iya lah"", jawab Anya penuh kebanggaan


"Sama siapa aja?", tanyaku lagi


"Mau tau aja apa mau tau banget?", goda Anya


"Mau tau banget", jawabku


"Rahasia kalau itu. Hihihii..", jawab Anya sambil tertawa kecil


"Nyebelin, mending aku ga nanya deh", kataku kesal


"Cha"", tiba-tiba Anya memanggilku dan menatapku serius


"Iya Nya?", jawabku


Terlihat Anya menghela nafasnya sebentar. Mungkin iya mencoba mengatur kalimat yang akan ia ucapkan setelah ini


"Kamu beneran ngga ada rasa sama Bayu?", tanya Anya dengan muka serius


"Ya ampun Nya" Enggak lah. Aku sama dia cuma temenan. Lagian aku juga udah punya cowok"", jawabku


"Kalau Bayu buat aku kamu ngijinin?", tanya Anya lagi


"Hah? Kamu suka sama Bayu?", kataku sambil memandang Anya tidak percaya


"Bukan suka sih.. Cuma dia kan ganteng, sayang aja kalau dilewatkan" Mubadzir. Hihihi", jawab Anya


Sahabatku ini memang sudah rusak. Tetapi aku tidak menyangka dia sebinal ini. Jauh lebih nakal dariku yang masih suka malu-malu mau. Kalau Anya memang kukenal ceplas-ceplos semenjak pertama kali aku mengenal gadis cantik itu. Aku memikirkan pertanyaannya yang diluar perkiraanku ini.


*Kok ada sedikit rasa ga nyaman di hati saat Anya mengungkapkan kalau dirinya tertarik dengan Bayu..*, pikirku


"Gimana Cha?", tanya Anya kembali membuyarkan lamunanku


"Ehhh.. Hmmm ya aku ga masalah kok Nya"", jawabku pada akhirnya


Aku yakin Bayu cowok baik-baik yang tidak akan semudah itu tergoda dengan seorang cewek. Aku yakin betul tidak akan terjadi apa-apa diantara mereka.


"Asyikk.. Kalau gitu bantuin aku dong", kata Anya


"Bantuin apaan?", tanyaku


"Kamu sesekali ajak aku waktu tugas kelompok biar dekat sama Bayu. Masak sih sahabatmu ini malah gak pernah satu kelompok sama kamu? Sedih aku tuh", kata Anya


"Hah?? Bukannya gitu Nya. Bayu tuh yang bilang berdua aja kelompokannya biar gak ribet. Soalnya dia paling males sama orang yang cuma nunut nama pas ngerjakan tugas.", jawabku


"Bilang ke Bayu. Bertiga lebih seru dan aku pasti bantu-bantu lah. Nanti aku pijitin dia deh"", jawab Anya


"Gak mau aaahhh"", jawabku


"Ciyeee cemburu"", goda Anya semakin membuatku kesal saja


"Enggak.. Ya udah nanti aku coba bilang kalau ada tugas", kataku


Pembicaraan kami terhenti saat melihat sosok Endrix akhirnya kembali ke kelas. Seluruh murid di ruang kelas tiba-tiba terdiam karena mengira yang masuk kelas adalah pak guru. Tetapi setelah mereka menyadari yang masuk adalah Endrix si berandal sekolah, mereka kembali riuh ramai dan asyik dengan obrolan-obrolan mereka. Sepintas kulihat ia melirik ke arahku dan tatapan matanya begitu tajam menyeramkan. Lalu ia kembali ke bangku belakang. Berkumpul bersama teman-teman gank berandalnya.


Kuperhatikan dalam-dalam sekumpulan anak-anak berandal di bangku paling belakang itu. Entah apa yang sedang mereka kerjakan karena sesekali mereka tertawa cekikan. Sesekali pula mereka menatapku tiba-tiba hingga pandangan mataku sukses tertangkap oleh mereka. Mereka menyeringai, sebuah seringai yang menyebalkan bagiku. Aku pun menundukkan pandangan menghindari tatapan menyeramkan mereka. Kemudian mereka tertawa terbahak-bahak saat salah satu diantara mereka mengatakan sesuatu.


"Cha kok ngelamun?", tanya Anya tiba-tiba membuyarkan lamunanku


"Eh nggak kok"", jawabku singkat seolah tidak ada yang terjadi


"Kamu daritadi aneh deh", kata Anya kembali mengernyitkan dahinya


"Perasaanmu aja kali Nya", kataku


"Cha"", kata Anya lagi


"Apaaa?", jawabku kesal karena daritadi Anya begitu ceriwis


"Hmmm kira-kira kontol Bayu besar gak ya?", tanya Anya membuatku tersedak


"Bodo amat! Tanya aja sendiri ke orangnya!", jawabku ketus disambut tawa nakal sahabatku itu


"Kalau kecil, rugi dong" Hihihi", jawab Anya


*Tut tut tut* notifikasi WA dari handphoneku dan aku pun dengan ogah-ogahan membuka layar ponselku


Awalnya aku menduga yang mengirimiku pesan WA adalah bapak ojol yang dari tadi mengancamku. Ternyata bukan, pesan yang masuk ke handphone ku adalah dari Mas Rio


"Yank hari ini aku ke rumahmu ya?", kata Mas Rio


"Ngga usah mas, dirumah lagi ada mama juga", jawabku


"Ohh.. Ya gapapa dong kalau ada mamamu" Kan kita ga ngapa-ngapain?", kata Mas Rio


"Jangan mas kapan-kapan aja ya", kataku


"Hmm ya udah deh.. Kamu hari ini bawa motor ke sekolah?", tanya Mas Rio


"Iya bawa mas"", jawabku


"Ya udah hati-hati ya pulangnya. Jangan lupa makan", kata mas Rio


"Iya mas..", jawabku


"Love you sayang", kata Mas Rio


"Iya I love you too mas"", jawabku menutup pembicaraan ini


Aku menghela nafas panjang, mengingat-ingat kejadian di kamar mandi yang terasa begitu menyebalkan jika diingat-ingat. Bagaimana jika bapak itu benar-benar menyebarkan foto-foto telanjangku ke internet? Semoga saja itu hanya gertakan beliau saja. Toh fotonya juga pecah-pecah karena suasana rumahku gelap saat itu. Aku pun mencoba menghibur diriku sendiri


*Mas sebenarnya ada banyak sekali yang ingin aku ceritakan. Tapi entah mengapa aku malu mau cerita ke kamu mas.. Aku cuma takut kamu kecewa sama aku.*, kataku dalam hati


#


Tanpa terasa hari berlalu begitu cepat. Jam sekolah pun telah usai dan aku pun langsung memacu sepeda motorku untuk pulang ke rumah. Hari ini aku sengaja tidak ingin menemui mas Rio. Entah mengapa aku sedikit tidak ingin menemui cowokku untuk saat ini. Mungkin karena kami keseringan bertemu. Atau mungkin juga karena aku tidak mood karena saat ini beban pikiranku begitu kalut. Karena itulah aku memutuskan tidak bertemu dengan Mas Rio untuk sementara waktu. Lagian juga akhir-akhir ini Mas Rio banyak tugas di kampusnya jadi aku tidak ingin mengganggu kuliahnya.


Saat hendak masuk ke dalam rumah, betapa terkejutnya aku saat mendapati seorang lelaki berjaket hijau sedang duduk nangkring diatas sepeda motor maticnya. Seketika aku mengingat sosok bapak cabul ojol itu, lelaki mesum yang selalu mengancamku. Kudekati rumahku perlahan, memastikan apakah ojol itu orang yang sama.


Aku pun semakin mendekati rumah dan kudapati sosok ojol itu tidak gemuk dan terlihat lebih muda dari yang kemarin. Aku menghela nafas lega. Sepertinya dia bukan sosok lelaki gendut cabul itu. Saat aku memarkir motorku di depan rumah, mas ojol itu membetulkan posisi motornya dan memberiku jalan. Aku pun tersenyum kepadanya dan segera masuk ke dalam rumah.


Sesampai di dalam rumah, mamaku langsung bertanya padaku dengan muka sedikit kesal.


"Kamu beli apa Cha?", tanya mama tiba-tiba mengejutkanku sambil menunjukkan paketan berbentuk kotak yang masih terbungkus rapi


Padahal beliau baru saja tiba hari ini, tetapi sudah memasang raut wajah emosi begitu, jadinya aku tidak bisa bergelayut manja ke mamaku yang kusayang itu


"Hah? Beli apa Ma?", tanyaku balik


"Itu ada ojol nganterin barang. Dia nagih ke mama suruh bayar 450ribu buat barang yang kamu beli", kata mama masih emosi


"Hah? Barang apa ma?", tanyaku juga ikutan bingung


"Ya Ndak Tau Kok Tanya Saya", jawab mama jutek


*Dih*, kataku dalam hati


"Echa gak pesen apa-apa Ma serius", kataku lagi


"Ya udah kamu clearin dulu deh sama mas yang didepan. Yang jelas mama gak mau bayar segitu", kata mama dan beliau pun berlalu


Aku yang masih capek pikiran, kembali harus berurusan dengan masalah yang tidak penting ini. Aku sampai tak habis pikir kenapa kesialan demi kesialan silih berganti menimpaku. Masalah dengan bapak ojol cabul itu belum selesai, kini ketambahan lagi masalah dengan ojol lainnya.


*Ini pasti order fiktif*, kataku dalam hati


Dengan malas-malasan aku berjalan ke luar menemui mas ojol itu. Ia sedikit melongo saat melihatku berjalan ke arahnya. Tetapi ia tidak banyak berkata dan berusaha menunjukkan sikap profesional.


"Mas ini kayaknya salah deh, aku ga pesan apa-apa", kataku


"Duh ga mungkin mbak, nama Mbak Echa Karunia Fitria kan? Ini alamat Mbak kan?", tanya Mas Ojol


"Iya betul tapi" saya enggak pesan mas.. Beneran.", kataku


"Ngga bisa gitu dong Mbak, udah jelas ini yang pesan mbaknya"", kata Mas Ojol


"Tapi mas, bisa saja itu orang iseng kan?", elakku lagi


"Gini aja deh mbak ikut saya ke kantor aja buat bikin laporan kalau orderan ini salah. Kalau saya yang bilang nanti saya yang kena omel", kata Mas Ojol


"memang saya harus ikut mas?", tanyaku


"iya prosedurnya gitu", ucap si mas ojol


"Ya udah, saya urus aja kalau gitu laporannya ke kantor mas. Sebentar saya ijin mama saya dulu", kataku dan bergegas kembali masuk ke dalam rumah untuk ijin ke mama


#


Singkat cerita aku pun berboncengan dengan lelaki ojol itu. Padahal aku masih dalam kondisi capek selepas sekolah yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Kini harus ditambahi masalah yang tidak jelas seperti ini. Aku sampai belum sempat mengganti pakaian sekolahku karena terburu-buru.


Selama di jalan kurasakan Mas Ojol ini sering mengerem mendadak sehingga payudaraku menekan ke punggungnya. Aku berusaha menjaga jarak saat duduk tapi rasanya percuma karena jok sepeda motornya licin membuat pantatku terus menerus melorot saat ia mengerem.


Jalan yang kulewati semakin mengarah ke sebuah gang yang cukup sepi. Tidak banyak terlihat orang di jalanan kampung ini. Tetapi aku tetap berpikir positif mungkin aku akan dibawa ke kantor cabang yang letaknya di dalam perkampungan.


"Kantornya di perkampungan mas?", tanyaku penasaran


"Iya mbak", jawabnya singkat


Sepeda motor pun terus melaju melewati jalanan yang semakin terasa sepi. Hingga singkat cerita aku tiba disebuah rumah kecil yang terletak sedikit berjauhan dengan rumah disekitarnya. Tidak terlihat kalau rumah itu adalah sebuah kantor ojol.


Aku pun turun dari motor dan kulihat ada satu buah sepeda motor yang juga terparkir di rumah itu. Entah mengapa perasaanku mendadak tidak enak saat menginjakkan kaki di rumah kecil itu. Kondisinya sangatlah tidak terawat. Banyak daun-daun kering yang dibiarkan begitu saja seolah tidak ada niatan untuk dibersihkan. Banyak pohon rimbun di halamannya sehingga menghalangi pandangan ke arah rumah. Kulihat sebuah papan usang bertuliskan "dikontrakkan mingguan, bulanan, tahunan" yang terpasang di salah satu tembok rumah.


"Ini benar kantornya mas?", tanyaku mulai was-was


"Iya, bos saya sudah di dalam", ujarnya singkat


*Bos? Yang punya motor butut ini bos?*, tanyaku dalam hati tidak percaya


Aku ragu untuk masuk ke dalam. Hati kecilku berkata untuk segera lari saja meninggalkan tempat ini. Tetapi sayangnya tidak bisa, aku terlalu takut hingga akhirnya aku hanya berdiri kaku seperti batu.


"Ayo masuk mbak", kata Mas Ojol


"I.. Iya"", kataku perlahan


Akhirnya aku pun masuk ke dalam rumah. Terdapat karpet pada ruang tamu dan juga sebuah meja panjang yang diatasnya terdapat beberapa sisa makanan yang belum dibersihkan. Selain iti juga terdapat sofa tua yang busanya sudah amburadul. Tempat ini benar-benar kotor dan sama sekali tidak nyaman. Pandangan mataku kemudian mengarah ke seorang lelaki yang toba-tiba jalan ke arahku. Sosok lelaki tua bertubuh tambun yang wajahnya cabulnya kuingat betul. Wajah menyebalkan itu adalah wajah si bapak ojol cabul.


"Lho bapak? Sebentar apa maksudnya ini?", tanyaku panik


"Halo Mbak Echa.. Heheheh" Selamat datang di kantor saya"", ujar bapak ojol cabul itu


"Bapak mau apa???", tanyaku kesal


"Hehehe.. Lho kan Mbak Echa yang kesini, saya harusnya yang bertanya Mbak Echa ada perlu apa kesini?", tanya bapak ojol


"Bapak jangan pura-pura bodoh! Mas apa ini maksudnya??", tanyaku kepada Mas Ojol yang nampak senyam-senyum melihat kepanikanku


"Lho tadi katanya Mbak Echa mau buat laporan kalau barang ini bukan pesanan Mbak Echa.", ujar Mas ojol


"Iya tapi!", kataku panik melihat sosok lelaki bertubuh gemuk itu


"Udah mau dibayar gak barangnya?", tanya si bapak ojol


Aku hanya terdiam, bingung mau berkata apa lagi. Aku semakin yakin ini adalah sebuah jebakan


"Kok malah bengong.. Mau dibayar enggak barangnya? Atau Mbak mau kasih enak-enak kayak kemarin?", goda bapak ojol sambil memasang senyum mesumnya yang memuakkan


Aku sudah trauma dengan lelaki ini, lelaki ini begitu licik. Aku tahu arah ini semua bakalan kemana. Lebih baik aku mengeluarkan uang lebih membayar benda yang tidak kupesan itu daripada harus menuruti lelaki tua cabul ini. Jujur saja aku menyesal mengapa tadi tidak langsung membereskan hal ini saat di rumah. Aku juga menyesal kenapa aku tidak mengijinkan Mas Rio ke rumahku saja hari ini. Andai ada Mas Rio, mungkin aku tidak akan bertemu pria gendut menyebalkan ini


"Iya udah, saya bayar barangnya. Lalu biarkan saya pergi", kataku singkat


"Gitu dong.. 450ribu totalnya", kata bapak ojol


Aku lalu mengeluarkan dompetku dan mendapati uang di dalam dompetku hanya ada 200ribu saja.


"Saya adanya 200ribu..", kataku


"Terus 250ribunya bagaimana?", tanya Bapak Ojol


"Nanti saya transfer"", jawabku


"Bohong! Harus kamu bayar sekarang mbak.", ujar bapak ojol


"I.. Iya ini saya transfer langsung pak" Saya kirim kemana uangnya?", kataku sebal


"Kesini", kata bapak ojol sambil memberiku sebuah nomor rekening


Segera kukirimkan uang yang ia minta dan kutunjukkan bukti transferku kepadanya.


"Sudah pak, biarkan saya pulang", kataku


"Tunggu dulu, sesuai prosedur barang yang sudah diterima harus di buka didepan kurir biar sama-sama enak. Heheheh", ujar bapak ojol sambil terkekeh menyebalkan


"Tidak perlu, nanti saya buka sendiri di rumah.", jawabku ketus


"Tidak bisa! harus sekarang!", katanya sedikit membentakku


Aku yang sudah kesal akhirnya menuruti kemauan lelaki menyebalkan itu. Ia memandangiku yang kesulitan membuka bungkus paket itu sampai akhirnya ia memberiku sebuah silet untuk membuka paketnya. Paket pun terbuka dan mataku terbelalak mendapati barang apa yang dikirimkan kepadaku.


Sebuah kotak berisi benda berbentuk penis yang warnanya cokelat tua dan pada kemasan kotaknya, tertulis 25 cm. Sepertinya menunjukkan ukuran panjang mainan penis itu. Aku menelan ludah melihat mainan itu. Benda yang sangat memalukan dan untungnya mamaku tidak melihat benda apa yang ditujukan kepadaku ini. Kedua lelaki itu tertawa menyebalkan melihat raut wajahku yang tersipu malu menerima mainan penis itu.


"Sudah ya pak saya permisi", kataku ingin menyudahi semua ini


"Oh tidak bisa!", kata bapak ojol


"Apa lagi pak??", tanyaku emosi jiwa karena lelaki tua bangka itu terus menerus menghalangiku untuk keluar dari rumah suram ini


"Biasanya kalau barang sudah diterima itu tugas pembeli ngapain lagi? Heheheh"", tanya nya


"Ngga tau pak! Sudah, saya mau pulang!", jawabku kesal


"Begok" Dikasih ulasan lah barangnya! Ayo diulas dulu sekarang!", perintahnya


"Nggak mau!!", aku pun sudah habis kesabaran dan ingin segera pergi karena permintaan bapak ojol cabul itu semakin aneh-aneh


"Penjualnya minta dikasih bintang 5 dan kasih ulasan yang bagus biar dagangannya semakin laris manis. Ayo masak Mbak Echa gak mau bantu?", kata bapak ojol sambil mengeluarkan mainan penis itu dari kotaknya


"Nggak mau!", aku semakin panik saat bapak ojol semakin menyeringai mesum kepadaku


"Ayolah kita coba masukkan mainan ini ke tempik kamu" Heheheh" Biar kamu bisa tau rasanya", ujar bapak ojol sambil menyeringai mesum


"Nggak mau! TOLOOONGGGG", teriakku saat menyadari lelaki gemuk itu semakin mendekatiku


"Hehehe percuma kamu teriak ngga akan ada yang denger. Heheheh", kata bapak ojol sambil terus berjalan mendekatiku


"Jangann pak"", pintaku


"Man, pegangin Mbak Echa", kata bapak ojol tanpa menggubris perkataanku sama sekali


Tanpa sempat menghindar lelaki yang dipanggil "Man" itu sudah memegangi tubuhku dan merebahkan tubuhku diatas meja panjang yang terletak di ruang tamu. Aku berusaha meronta namun sia-sia saja karena lelaki itu memegangi tubuhku dengan erat. Sementara di bawah sana, si bapak ojol sudah menyibak rokku hingga celana dalamku terlihat.


"Mulus bener Pak pahanya"", ujar mas ojol


"Apa gue bilang, lu ga akan rugi bantuin gue. Hehehe.. Ni cewek sialan harus dikasih pelajaran biar kapok. Heheheh", kata bapak ojol


Aku berusaha menghindari tangan pria tambun itu yang sedang berusaha menurunkan celana dalamku. Kakiku menendang nendang tanpa arah mencoba memberikan perlawanan sebisanya. Tetapi tangan bapak itu lebih cepat dan menangkap kakiku dan melebarkan kakiku lebar-lebar hingga aku mengangkang maksimal dihadapannya


"Selangkangan gadis muda memang menggiurkan. Hehehe..", kata bapak ojol sambil menowel-nowel pangkal pahaku yang masih tertutup celana dalam itu dengan mainan penis berwarna cokelat yang digenggamnya


Aku kembali meronta dan mencoba bergerak seliar mungkin agar tangan jahil itu terlepas dari kakiku, namun tetap tidak bisa, pangkal pahaku masih digesek-gesekkan dengan kepala penis mainan itu. Semakin lama bapak ojol semakin kuat menekan kemaluanku hingga tanpa sadar cairan lendirku keluar


"Mulai Becek pak tempiknya", kata mas ojol yang memandangi selangkanganku dipermainkan oleh mainan penis itu


"Ya wajar.. Mbak Echa ini memang lonte jadi gampang becek. Hehehe..", jawab bapak ojol


"Aduhhh sudaahhh"", pintaku merengek sambil memohon agar mereka menghentikan perbuatan tercela ini


"Mau buat ulasan gak? Tempikmu udah gatel tuh pingin disodok dildo. Hehehe..", ujar bapak ojol


"Sudah pak.. sudahh.. Aduhhh..", pintaku dan bapak ojol itu terus menekan kuat kemaluanku dengan benda bernama dildo itu


"Sok jual mahal lu Mbak.. Ayo buka kakimu.. Saya buka sempakmu ya cantik", kata bapak ojol dan tanpa permisi ia pelorot celana dalamku hingga selutut


"Busyet tempiknya bagus bener pak, jembutnya rapi. Heheheh..", kata Mas Ojol yang sepertinya sudah menahan konaknya sedari tadi


"Bagus mana sama tempik pacarmu?", tanya Si Bapak ojol


"Bagus tempik Mbak Echa.. Bersih dan ngga item. Punya pacar saya item. Heheheh"", kata mas Ojol membuatku menahan malu


"Hehehe.. kok kita malah ngasih ulasan tempiknya Mbak Echa. Hehehe.. Harusnya Mbak Echa nih yang ngasih ulasan ke dildonya. Saya masukin aja deh ke lubang tempiknya", kata bapak ojol sambil langsung membenamkan dildo itu ke kemaluanku


*Jleb* bapak ojol itu langsung mendorong masuk mainan penis itu ke dalam vaginaku tanpa ampun


"Aaaahhh.. Sakitttttt"", desahku hingga kepalaku terdongak merasakan tubuh bagian bawahku seolah terbelah menjadi dua bagian


Lalu kulihat bapak ojol mengambil beberapa foto dan video secara acak saat ia menceploskan dildo itu berkali-kali ke lubang kemaluanku. Tanpa bisa kuatur, lendirku semakin melumasi mainan berbentuk penis berwarna cokelat itu. Betapa malunya diriku saat mengetahui bahwa kemaluanku merespon positif kehadiran mainan tersebut. Sungguh berbeda dengan mulutku yang sedari tadi terus meronta dan menolak meminta perbuatan pencabulan ini segera dihentikan.


*Slepok slepok slepok* suara dildo itu maju mundur mencabuli lubang kelaminku


"Busyet becek bener nih tempik. Kasih ulasan yang bagus dong mbak ke dildo yang mbak beli ini", kata bapak ojol


"Ampun sudah pakkkk" Aaahhh"", desahku tak tertahankan


Kakiku justru semakin mengangkang membiarkan bapak ojol mencabuliku dengan mainan haram itu. Mainan yang sangat memabukkan dan mungkin saja bisa menjadi candu bagiku jika aku terus diperlakukan seperti ini. Dildo berwarna cokelat itu sudah terlumasi sempurna oleh lendir vaginaku. Si Bapak ojol juga sudah tidak kesulitan lagi memasukkan benda itu ke kelaminku karena aku sudah tidak banyak meronta seperti tadi.


Tubuhku mulai terdiam, rileks membiarkan kemaluanku ditusuk-tusuk mainan berbentuk penis oleh ojol mesum itu. Mataku hanya terpejam dan sesekali mendesah perlahan menikmati gesekan demi gesekan benda panjang yang terasa nikmat di dalam lubang senggamaku. Aku hanya bisa pasrah dan mencoba menikmati pencabulan ini. Karena semakin kuat aku meronta, semakin kuat pula jeratan tangan mereka.


Saat sedang khusyuk menikmati sodokan dildo itu, tiba-tiba bapak ojol yang tidak aku ketahui namanya itu menghentikan pergerakan mainan tersebut di lubang kemaluanku. Jujur saja dalam hati aku merasa kecewa saat ia menghentikan tiba-tiba sodokan nakal mainannya. Aku menatap wajah si bapak ojol yang sedang tersenyum mesum. Sebuah tatapan yang seolah memohon agar aku kembali dicabulinya kembali.


"Mau mainin sendiri ngga? Muka lu udah sange tuh. Heheheh", tanya Pak ojol


Aku hanya terdiam tidak menolak atau mengiyakan. Dalam hati aku berpikir keras apakah aku harus membuang kembali harga diriku demi memuaskan nafsuku yang terkadang suka muncul tidak tahu tempat dan waktu. Semuanya sudah kepalang tanggung dan akupun berpikir mengapa tidak kunikmati saja pencabulan ini daripada mereka berbuat lebih parah lagi? Aku pikir lebih baik aku turuti kemauan si bapak ojol ini.


"Mau mainin sendiri enggak? Lu demen colmek khan?", ledek bapak ojol itu lagi


Tanpa menjawab pertanyaannya, kuraih dildo yang masih tertancap di lubang kemaluanku itu dan mulai kumainkan sendiri dengan tanganku, kedua lelaki itu terkekeh dan mulai mengendurkan cengkeramannya kepadaku. Mereka kemudian mengambil posisi yang pas demi melihatku sedang live show colmek dengan sebuah dildo. Bapak ojol dan mas ojol itu kemudian berdiri sambil memandangiku yang sedang dalam posisi mengangkang memalukan dihadapan mereka. Menunjukkan bagaimana kemaluanku sedang kumainkan dengan mainan bernama dildo itu.


"Ouhhhh"", aku mendesah kembali saat merasakan gesekan-gesekan nikmat yang menggaruk vaginaku yang gatal


Rasanya ternyata tidaklah buruk, bahkan jauh lebih nikmat dibandingkan menggunakan jariku sendiri. Rasanya benar-benar seperti kontol lelaki asli, karena dildo tersebut juga memiliki tekstur yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Kulihat bapak ojol mulai merekamku kembali dan mengambil gambarku secara terang-terangan saat vaginaku terbuka lebar


"Ayo diulas dulu kalau gitu Mbak" Jangan lupa sebutkan nama lengkap, usia, pekerjaan, hobby dan pendapat Mbak Echa tentang dildo tersebut, biar orang pada tau ini ulasan real dari customer, bukan mengada-ada. Hehehehe"", kata Bapak ojol dan aku pun mengangguk pasrah


"I..Iya..", jawabku


"Awas kalau jelek kita hukum", imbuh bapak ojol


"Tapi pak.. Ahh.."


"1"2".3" Mulai", katanya lagi sambil mulai berhitung


Aku kemudian mulai berpikir akan memberikan ulasan apa tentang dildo ini. Ulasan yang pastinya harus nakal dan memuaskan keinginan si bapak ojol. Bapak ojol itu hanya menginginkanku terlihat rendah.


"Aaahhh" Namaku Echa Karunia Fitria, Ssshhh.. Umurku saat ini mau 19 tahun, aku masih sekolah kelas 3 Aahhhh.. di salah satu sekolah di kota ini, hobby ku ssshhh.. masturbasi dan eksib, menurutku dildonya enak banget.. panjang, besar, dan memek aku terasa sesak.. Sumpahhhh.. ini enak" memek aku sampekk becekkk", ujarku sambil menahan malu


"Bagus bagus bagus.. Hehehe pasti penjualnya seneng dapat ulasan jujur gini" Tapi menurut saya masih kurang"", ujar bapak ojol mengejutkanku


Padahal aku sudah berusaha terlihat senakal itu tapi tak kusangka ulasan yang kuberikan masih dianggapnya kurang. Entah ulasan seperti apa yang diinginkan oleh bapak ojol cabul itu


" Nungging!", perintah bapak ojol


Tanpa diminta dua kali aku turuti permintaannya. Akupun juga sudah malas berdebat kusir dengan bapak cabul tukang maksa dihadapanku ini. Aku mulai menungging dan kuangkat pantatku tinggi-tinggi ke arah kedua lelaki ojol itu.


"Man, buka belahan bokongnya", perintah bapak ojol


"Oke pak", kata mas ojol


"Ehhh mau apa kalian???", kataku saat menyadari tangan kasar mas ojol sudah membuka lebar-lebar belahan pantatku hingga kurasakan lubang pembuanganku terlihat oleh mereka.


"Busyet. Masih sempit ini lubang tai. Heheheh", kata bapak ojol sambil melepas dildo yang tadi tertancap pada kemaluanku dan kurasakan ujung dildo yang masih berlendir itu bergerak-gerak di ujung lubang pantatku


"Eeehhhh?? Jangan disitu!!", pintaku dan mencoba merebut dildo dari si bapak ojol


Namun sayang, tanganku kembali dipegangi oleh mas ojol sehingga kini aku tanpa pertahanan sama sekali saat lubang pantatku menjadi target utama mereka. Kurasakan bapak ojol itu terus menggoda lubang anusku dengan menggerak-gerakkan ujung dildo besar itu ke lubang yang sempit itu


"Sekarang lu harus kasih ulasan gimana kalau dildonya lu masukkan ke lubang tai lu!", ujar bapak ojol membuatku terperangah terkejut tidak percaya dengan apa yang ia katakan


*Jleebbbbbb*


"AAAAHHHHHHHH..", aku memekik sekencang-kencangnya saat lubang pembuanganku disodok secara langsung dengan mainan penis itu


Dengan kurang ajar bapak ojol itu langsung mendorong masuk mainan kontol itu ke lubang pantatku yang masih sempit. Rasanya luar biasa aneh. Sakit sekali dan terasa seperti ada keinginan untuk buang air besar saat benda itu berada di dalam lubang anusku. Sepertinya pantatku berusaha beradaptasi menerima kehadiran mainan penis itu. Kurasakan lubang pembuanganku nyut-nyutan, dan semakin terasa aneh saat bapak ojol itu menarik keluar dildo itu dari lubang pembuanganku, seolah isi dalam perutku ikut keluar.


"Aaahhhh.. sakit pak".", desahku saat kembali bapak ojol itu memasukkan mainan kontol itu ke lubang pantatku


"Ini hukuman buat lu! Kesel gue sama lu.. Hehehehhe.. Rasakan lubang eek lu gue siksa.. Hahahahah", ujar bapak ojol semakin mempercepat sodokan dildo itu


"Aaahhh.. Aaaahhh" Sakit pelan-pelaann..", pintaku sambil semakin membuka kedua kakiku berharap lubang pantatku juga bisa semakin melebar


"Sekarang sodok lubang tai lu sendiri, biar gue kirim rekaman ulasannya ke si penjual. Heheheh"", kata bapak ojol dan meraih tanganku agar menusukkan dildo itu sendiri ke arah lubang pantatku


Dengan terpaksa aku mencoba mengatur sendiri tempo sodokan mainan penis itu pada lubang pembuanganku. Awalnya memang terasa aneh, pertama kalinya sebuah benda dimasukkan ke bagian lubang haramku ini. Kusodokkan pelan-pelan agar lubang sempitku terbiasa dengan kehadiran benda ini.


Betapa malunya diriku karena melakukan perbuatan menjijikkan ini dihadapan kedua lelaki yang tidak kukenal. Perlahan tanganku bergerak menarik ulur dildo itu agar lubang pantatku terbiasa. Semakin lama semakin terasa licin saja lubang sempitku itu dan aku khawatir kotoran dalam tubuhku juga ikut terkena dildo panjang yang sedang kumainkan pada lubang pembuanganku ini.


*Jleb jleb jleb jleb*


"Uhhhhh"", lenguhku dan kurasakan lubang kecilku itu semakin terasa perih


"Sudah siap kasih ulasan Mbak? Harus nakal ya.. 1"2"3"", kata si bapak ojol sambil mengarahkan kameranya


"Iyahh.. Awalnya memang sakit.. Tapi ga tau kenapa.. Aaahhh.. Aku ga bisa berhenti.. mainin dildo ini.. Ssshh.. ke lubang pantatku" Uhhhh. ..Aku... Sangee". Aku keluarrrrr..", ujarku saat menyadari vaginaku mulai kedutan


*Sretttt sreetttt srettttt*, tanpa dapat kutahan, cairan dalam vaginaku muncrat dan langsung membasahi meja tempat aku menungging


"Hahaha.. Bagus.. Heheheh.. Lu sange ya?", tanya si bapak ojol sambil memandang diriku begitu rendah


"Aaahh.. Iyaa.. Ssshhh..", ujarku semakin pasrah pada nasibku


"Mau kontol asli gak?", tanya bapak ojol itu sambil ia mulai melucuti pakaiannya sendiri


Tubuh gendut itu perlahan terbuka hingga telanjang bulat. Penampakannya sangatlah jelek sekali dan tidak ada bagus-bagusnya. Lemak menggelambir dimana-mana dengan sekujur badan bapak ojol itu penuh bulu yang lebat. Terutama area selangkangannya yang terlihat hitam penuh bulu lebat nan keriting. Aku memandang bapak ojol itu sambil menelan ludah karena ketakutan. Tidak kusangka badan si bapak ojol cabul semengerikan itu


"Hehehe sange ya mbak liat saya? Heheheh", ledek si bapak ojol dan tersadar dari lamunanku, akupun langsung menunduk malu


Bagaimana aku bisa bernafsu melihat pria seperti itu? Pria yang jauh dari kata tampan. Tapi jujur saja aku merasakan sesuatu yang sulit kuungkapkan saat melihat lelaki yang usianya mungkin sama dengan papaku itu sudah telanjang bulat. Mataku bahkan tanpa sadar terus menatap nanar ke arah kontolnya yang hitam gemuk. Memang tidak panjang tapi terlihat keras, tebal dan kaku sekali. Apakah benar aku sange?


"Mau kontol gue ya?", tanyanya seolah mengejekku sambil ia kibas-kibaskan kontolnya menggodaku


Aku hanya terdiam. Rasanya terlalu memalukan mengakui kalau aku menginginkan kontol bapak ojol itu. Tidak mungkin aku tertarik dengan benda menjijikkan milik lelaki menjijikkan itu.


"Gak usah malu-malu. Lonte kayak lu memang butuh kontol. Sini jalan merangkak ke arah gue kayak kucing. Heheheh"


"Apa?", akupun terkejut dengan perkataannya


"Ayo sini? Mulai gak patuh lagi nih?", kata bapak ojol sambil memasang wajah memuakkan


"I.. Iya..", jawabku lemas


"sambil merangkak", ulangnya


Aku pun dengan perlahan mulai berlutut dan berjalan merangkak menuju tempat bapak ojol itu sedang duduk mengocok kontolnya yang gemuk dan keras sambil terus memandangku dengan tatapan merendahkan


"Hei, mana ada kucing pake baju. Lepas baju lu sampai lu bugil, tapi kerudungnya ga usah, soalnya rambut itu aurat yang harus ditutup. Heheheh..", ujarnya lagi


"I..iya.. pak"", jawabku


"Panggil saya tuan!", kata si bapak ojol


"I.. iya.. Tu.. Tuan"", jawabku terpatah-patah


Aku kemudian mulai mempreteli kancing baju seragam sekolahku hingga terbuka dan kulepaskan seutuhnya dari tubuhku. Disusul kemudian rok panjang berwarna abu-abu yang kesehariannya kupakai di sekolah juga kulepas begitu saja dihadapan kedua lelaki berprofesi ojol itu. BH yang kupakai pun juga tidak bertahan lama menutup kedua gunung kembarku. Sedangkan celana dalamku sudah hilang entah kemana sejak dilepas oleh bapak ojol tadi.


"Sexy bener badan lu.. Heheheh.. Gimana menurutmu Man?", kata bapak ojol


"Luar biasa.. Barang bagus ini pak. Heheheh", jawab Mas Ojol


"Ngaceng gak lu?", tanya Bapak ojol lagi


"Ngaceng kontolku pak. Hahahah"


"Buka aja Man biar Mbak Echa bisa lihat kontolmu. Hahahah", kata si bapak ojol


Langsung saja lelaki itu membuka resletingnya dan langsung ia keluarkan batang kemaluannya dari celana jeans yang ia pakai. Kulihat batang kejantanannya yang sudah berdiri itu sangat menantang. kontolnya begitu menggoda imanku. Terlihat begitu jantan,keras, dan panjang. Jauh lebih menarik daripada punya si bapak ojol. Apalagi mas ojol tanpa ragu-ragu mengocok batang kontolnya sambil memadangi diriku yang sudah telanjang bulat di ruangan ini.


"Hei kucing nakal, sange lu liat kontol Maman?", ujar bapak ojol mengejutkanku


Aku buru-buru merubah arah pandangku saking paniknya karena kedapatan memandangi kemaluan lelaki yang bernama Maman itu tanpa berkedip.


"Gak usah sok jaim Mbak pakai pura-pura gak liat. Hahahah.. Udah sini lu puasin kontol gue dulu", kata bapak ojol


Tidak ada pilihan lain, Aku lalu mendatangi bapak ojol dan berlutut di hadapan kontolnya yang gemuk.


"Sekarang lu tau kan akibatnya ga patuh sama gue? Berani-beraninya lu ngacangin gue. Ini baru permulaan lho"", kata Bapak Ojol sambil mengelus kepalaku yang masih berkerudung


"I.. iya maafkan saya pak", ujarku ketakutan


"Panggil tuan!", bentak bapak ojol


"I.. Iya.. maaf tuannn..", jawabku ketakutan


"Eehhhh? Ekor lu mana? Ayo pasang ekor lu dulu", kata bapak ojol sambil menunjuk ke arah dildo yang tergeletak di meja


Dengan segera aku putar badan sambil berlutut dan kembali berjalan merangkak menuju meja tempat dildo berada. Lantai rumah yang penuh debu dan pasir secara perlahan membuat lututku terasa sakit karena harus terus menerus bergesekan saat aku berjalan merangkak.


Setelah dildo itu sudah berada di genggaman tanganku, tanpa disuruh lagi aku langsung berusaha menancapkan mainan penis itu ke dalam lubang pembuanganku tapi susah karena sudah mulai mengering dan tidak becek seperti tadi. Aku meringis kesakitan karena dildo itu masih juga gagal menembus lubang pantatku, padahal aku sudah berusaha mati-matian mendorong benda panjang itu, namun hasilnya tetaplah nihil.


"Ayo masukin yang bener!", ujar si bapak ojol melihatku kesusahan


Mas Maman mulai menghampiriku dan membantuku untuk menancapkan benda tumpul itu ke lubang pembuanganku. Awalnya ia rangsang sebentar lubang sempitku itu dengan jemarinya. Terasa sekali sentuhan nakal Mas Maman bukan hanya ke lubang pantatku saja, tetapi tangannya juga sesekali curi-curi kesempatan menyentuh kemaluanku. Bukan hanya sentuhan saja, tetapi sebuah kocokan. Kocokan pada vaginaku yang membuat aku terangsang. Sengaja ia menggodaku dan diam-diam membuat vaginaku mulai kedutan. Lalu ia kembali mencoba mendorong masuk mainan kontol itu ke lubang pantatku.


"Aaahhh.. mas" Uuuhh..", aku kembali mendesah dan kurasakan lubang pantatku mulai menganga menerima kedatangan dildo itu


"Sempit banget lubang boolmu sayang", ujar Mas Maman sambil ia dorong pelan-pelan dildo tersebut ke lubang pantatku


Kurasakan mainan kontol itu semakin masuk menjebol lubang pembuanganku. Terasa sesak sekali lubang pantatku saat dijejali dildo dengan panjang 25 cm itu. Mas Maman lalu mulai menggerakkan maju mundur dildo tersebut dan memberikan rangsangan nikmat pada pantatku


"Ouuhhhh", aku pun mendesah keenakan


Tanpa sadar aku kembali terangsang diperlakukan seperti itu. Pantatku kutunggingkan tinggi-tinggi agar mainan kontol itu bisa menusuk lebih dalam bagian pantatku yang mulai terasa licin kembali


"Ouuhhh.. Ssshhhh.. Aaahh", aku kembali merancau dicabuli oleh Mas Maman


Ia kemudian memutar 360 derajat dildo tersebut saat posisinya masih berada di dalam pantatku hingga membuatku menggelinjang dan lubang pembuanganku itu terasa ikutan memuntir melar. Mas ojol itu kemudian mulai mendorong dan menarik dildo itu keluar masuk dengan tempo yang lebih cepat. Kedua kakiku semakin gemetaran dan terasa sekali gesekan-gesekan dildo itu seolah menggaruk-garuk bagian dalam lubang pantatku


"Udah Man jangan kamu rangsang lagi Mbak Echa. Muncrat lagi tar dia. Hahahah..", ledek bapak ojol


"Ok Pak.. Maaf kebawa suasana. Heheheh", jawab Mas Ojol bernama Maman itu


*Blessss* Mas Maman kemudian menusukkan dildo itu dalam-dalam ke lubang pantatku agar tidak lepas


"Ayo sini Mbak. Awas jangan sampai ekornya lepas lagi. Heheheh", ledek si bapak ojol


"Iya tuan"", jawabku


Aku kemudian mulai merangkak pelan-pelan memastikan dildo dalam lubang anusku tidak keluar. Jika terasa keluar, maka aku berhenti sejenak dan dildo itu akan kudorong kembali agar tidak sampai terlepas. Bapak ojol itu tertawa terpingkal-pingkal melihatku yang begitu memalukan dihadapannya.


"Ayo sini sini sepong kontol gue. Heheheh", ujar si bapak ojol


Saat aku sudah tiba kembali dihadapan si bapak ojol dan berjongkok di hadapan selangkangannya, ia menepis tanganku saat hendak meraih kontolnya. Aku pun kebingungan melihat sikapnya yang melarangku menyentuh kemaluannya. Mengapa tiba-tiba ia tidak mengijinkanku menyentuh kontolnya? Padahal tadi ia menyuruhku memuaskan kelaminnya itu


"Hehehe.. Mana ada kucing makan pakai tangan? Ayo tangan dibelakang, terus jilat dan kulum kontol gue tanpa boleh lu pegang. Heheheh", kata si bapak ojol


"Apaaa? Ba.. baik tuan..", aku pun mulai paham apa maunya


Kemudian aku pun meletakkan kedua tanganku dibelakang seperti sedang posisi istirahat di tempat. Dalam posisi berjongkok aku mulai menurunkan kepalaku dan menjilati kontol bapak ojol itu. Aroma pesing langsung menyeruak ke hidungku. Aroma yang sama saat ia mencabuliku di teras tempat tinggalku. Sebenarnya aku ingin sekali muntah, tapi coba kutahan aroma menjijikkan itu dan kucoba nikmati saja kontol si bapak ojol. Kujilati perlahan dari bawah ke atas seperti sedang menjilati ice cream kontol berwarna cokelat tua itu. Sesekali ku kulum kepala kontolnya hingga batang kemaluannya itu masuk ke dalam mulutku


*Slurupp sluruppp* mulutku begitu sibuk mengemuti kontol bapak ojol


"Aaahhhh.. pintar sekali lu jilatin kontol gue.. Sssshhh.. Emang lonte ya lu?", kata bapak ojol sambil kembali mengelus kepalaku yang sedang mengemuti kemaluannya


Lalu secara tiba-tiba ia menarik tubuhku dan memintaku duduk di atas tubuh tambunnya. Bapak ojol kemudian menciumi bibirku penuh nafsu. Suara-suara kecupan basah berdecik keluar dari pertemuan kedua bibir kami yang saling beradu. Ia lumat bibirku kuat-kuat hingga membuat kewalahan. Ditambah lagi disekitar mulut bapak ojol ini juga memiliki bulu lebat sehingga membuatku terasa sedikit geli saat bibir kami bertemu


"Mmphh.. Cuppp..", suara basah cumbuan kedua bibir kami


"Bibirmu lembut sekali sayang.. Ssshhh"", kata bapak ojol sambil kali ini ia mainkan payudaraku


Diremasnya kedua payudaraku bersamaan dan aku hanya memasrahkan tubuhku di grepe-grepe bapak ojol cabul itu. Tangannya begitu kuat mencengkeram kedua buah dadaku hingga aku merasa sedikit kesakitan. Belum lagi ia dengan nakalnya memuntir putting susuku kuat-kuat hingga membuatku mendesah untuk kesekian kalinya. Kemudian ia pun juga mulai menggigiti area dadaku hingga menimbulkan bercak kemerahan


"Aaahhhh.. Ssshhh", desahku namun terhenti karena ia kembali mencium bibirku


"Mmphhh" Sshhh" Cupppp", suara ciuman bibir kami semakin basah.


"Gue mau entot lu" Udah ga tahan lagi gue".", kata Bapak ojol sambil kali ini ia mulai tepatkan kontolnya yang tegak itu ke liang kemaluanku


Kedua kemaluan kami bertemu. Kepala kontol si bapal ojol mulai menyentuh bibir vaginkaku. Dalam sekali dorongan, Batang kontolnya itu langsung tepat masuk memenuhi lubang vaginaku.


*Bless*


Rasanya begitu sesak karena batang kontol si bapak ojol yang memang bentuknya tebal dan gemuk. Setelah kontol bapak ojol masuk ke liang kemaluanku, ia tidak segera menggerakkan batang penisnya. Namun akulah yang diminta bergerak naik turun agar kedua kelamin kami bisa saling menggesek satu sama lain. Tubuhku dimintanya untuk terus bergerak naik turun seolah aku lah yang sedang menginginkan kontolnya


"Terus sayang, tempik lu udah becek pingin kontol gue.. Iya gitu.. Aahhh enak.. Tempik lu luar biasa Mbak Echa.. Ssshhhh.. Terussss.. goyang yang bener!", pintanya hingga tanpa sadar membuatku semakin semangat bergoyang diatas tubuh gemuknya


Kedua tanganku tetap dalam posisi istirahat di tempat, hanya tubuhku yang naik turun diatas tubuh gendut bapak ojol itu. Pertemuan kedua kemaluan kami begitu terasa nikmat, walau tidak panjang tetapi karena bentuknya yang tebal tetap saja terasa enak saat bergesekan dengan kontol si bapak ojol.


"Putar badan lu biar Maman bisa liat lu ngentot. Heheheh.. Biar dia makin mupeng"", goda si bapak ojol


Aku pun menurutinya dan berhenti sejenak untuk merubah posisi arah dudukku. Yang tadinya menghadap ke si bapak ojol, kali ini aku menghadap ke Mas Maman yang dari tadi berdiri di belakangku. Tubuhku terlihat sempurna di hadapan lelaki itu. Tidak ada bagian yang tidak terekspose. Payudaraku yang bergoyang-goyang saat tubuhku naik turun, juga kemaluanku yang sedang disodok oleh rekan ojolnya itu terlihat begitu gamblang. Aku pun juga menjadi semakin horny karena melihat Mas Maman berkali-kali menelan ludah melihatku sedang naik turun diatas pangkuan si bapal ojol


Mas Maman sepertinya sudah tidak tahan dan ia pun melucuti pakaiannya hingga kali ini ia sudah telanjang bulat. Badannya kurus namun masih terlihat otot di lengan serta dadanya. Kontolnya mengacung tegak berdiri karena tidak tahan melihat persetubuhan haramku dengan rekan ojolnya.


"Pak saya mau ikutan ngewe"", pinta si Mas Maman


"Lho kok tanya saya, tanya sama Mbak Echa", jawab si bapak ojol


"Boleh ya Mbak saya entot kamu?", tanyanya


Tanpa ditanya dua kali aku mengangguk perlahan. Ini semua sudah kepalang tanggung. Mubadzir rasanya jika aku tidak menikmati sekalian perzinahan haram ini. Lagian aku juga penasaran dengan kontol Mas Maman yang bentuknya sangat mengintimidasi itu


"Jiah dasar lonte jalang, mau aja dientot gratisan. Enak aja! kamu bayar ke saya Man. Dia lonte saya", ujar bapak ojol


"Berapa pak saya harus bayar?", tanya Mas Maman sambil terus mengocok


"Hmm berapa ya? Lu jual tubuh berapaan Mbak?", tanya Pak ojol merendahkanku


"Aaaahhh.. enggak tau tuan.. Terserah tuan aja", jawabku karena aku sudah tidak bisa berpikir karena melakukan hal gila ini. Aku lebih memilih untuk melanjutkan memompa naik turun kemaluan tebal si bapak ojol


"Hmmm gini aja deh Man, kamu bayar 100 ribu aja bagaimana? Itung-itung harga perkenalan. Heheheh.. Bingung juga saya kalau ngasih tarif mahal, tempik Mbak Echa nanti ga laku"


"Ok deal Pak saya bayar setelah crot", kata Mas Maman sambil mulai mendekatiku


Kedua lelaki yang tidak kukenal sama sekali itu mulai bersamaan menjamah tubuh telanjangku. Si Bapak ojol kemudian memintaku menungging diatas meja, lalu tanpa banyak membuang waktu ia kembali menyetubuhiku dari belakang. Rasanya sesak sekali karena kontol bapak ojol memang tebal. Ia menyetubuhiku seperti aku adalah istrinya, tanpa ampun, tanpa sungkan, tanpa ragu sama sekali. Aku pun demikian, bukannya mempertahankan kehormatanku, aku malah mengangkang memberinya jalan untuk menyetubuhi kemaluanku semakin dalam


"AHHH" OUHHHH.. OUHHHH", aku mendesah kencang bak pelacur murahan. Melupakan statusku sebagai seorang siswi berprestasi di sekolahan.


Saat bapak ojol masih menggenjot vaginaku, Mas Maman kini berdiri mengangkangiku. Selangkangannya tepat berada diwajahku. Kemudian ia mulai menjambak kerudungku dan langsung memaksaku menciumi buah zakarnya.


"Jilatin pelerku cantik"", ujar Mas Wawan sambil tangannya terus menekan kepalaku ke buah zakarnya yang kehitaman


Mau tak mau aku menjulurkan lidah, mencoba menjilati bagian kulit berkerut Mas Maman yang bersisik itu. Kubuang rasa jijikku jauh-jauh karena aku pun mengininkan kontolnya. Yang ada dipikiranku saat ini adalah bagaimana bisa memuaskan kedua ojol ini.


*Jleb jleb jleb jleb* kemaluanku terasa sekali semakin berlendir karena terus dijejali kontol si bapak ojol


Terasa sekali suara cipratan lendirku muncrat-muncrat saat disetubuhi oleh bapak ojol. Gila! meski tubuhnya gemuk tapi kuakui staminanya lebih kuat dibandingkan Mas Rio dan juga Mang Ujang, kedua lelaki yang resmi sudah pernah menyetubuhiku


*Plak plak plak* bapak ojol menampar bongkahan telanjang pantatku dengan kencang


"Aaahhh.. Sakit pak", ujarku


"Goyang yang bener lu. Heheheh..", kata bapak Ojol menyadari aku tadi lebih fokus menjilati kontol Mas Maman


Kuperbaiki ritme tempo goyanganku, membuat sodokan si bapak ojol kini lebih teratur dan tidak terburu-buru. Terasa sekali gesekan-gesekan mantap di dalam vaginaku yang membuatku melayang keawang-awang.


Sedangkan mulutku terus sibuk mengulum kontol Mas Maman yang terlihat lebih "manusiawi" dibanding kontol si bapak ojol yang hitam dan bau pesing. Kontol Mas Maman lebih bersih, warnanya tidak sehitam milik bapak ojol, tetapi bulu jembutnya sama lebatnya. Terlebih bentuknya aku suka, melengkung keatas seperti buah pisang. Kukulum kepala kontol Mas Maman dan kumainkan lubang kencingnya dengan lidahku perlahan. Tubuh Mas Maman pun menggelinjang keenakan.


Kuciumi kontol Mas Maman, sambil kedua tanganku masih tetap berada di belakang. Aku tetap tidak boleh menggunakan kedua tanganku sama sekali saat melayani mereka. Mas Maman terus menjambak kerudungku, sehingga aku tetap bisa menungging walau kedua tanganku sedang berada dipunggung.


"Arrrggghh saya mau keluar mbak".", tiba-tiba dari belakang si bapak ojol mengerang dan menegangkan tubuhnya


Kurasakan kontol tebal si bapak ojol mulai berkedut-kedut di dalam kemaluanku. Ia semakin mempercepat tempo sodokannya ke lubang senggamaku dan aku pun menjadi panik karena sepertinya ia ingin sekali menumpahkan spermanya ke dalam rahimku


"Jangan di dalam tuaaaannnn"", pekikku


*Crot crot crot crot crot* sperma si bapak ojol terasa mulai menyembur


Perkataanku sama sekali tidak digubrisnya, ia malah mengebom kemaluanku dengan ledakan-ledakan spermanya yang begitu terasa hangat dan kental di dalam rahimku. Tubuh gemetaran hebat, kurasakan sperma si bapak ojol sampai tumpah-tumpah keluar karena tidak mampu kutampung seluruhnya di dalam rahimku.


Setelah selesai klimaks, bapak ojol itu kemudian mencabut batang kontolnya dari organ kewanitaanku hingga membuat lahar putih miliknya berjatuhan keluar. Seketika aku langsung ketakutan, takut akan hamil dan parahnya, yang menghamiliku adalah seorang lelaki yang usianya setara dengan papaku.


Tetapi aku tidak berani banyak protes. Aku hanya memutuskan untuk diam saja menahan rasa kesalku kepada si bapak ojol karena tanpa seijinku ia keluarkan di dalam. Tetapi semua sudah terjadi dan aku hanya bisa berharap sperma si bapak ojol tidak membuahiku.


"Giliranmu Man.. Saya istirahat sebentar habis itu kita lanjut narik lagi", ujar si bapak ojol sambil kembali berpakaian tanpa ia bersihkan sisa sperma yang masih menempel di kemaluannya


Kemudian si bapak ojol hanya duduk di sebuah sofa usang, melihatku yang akan digauli teman ojolnya. Ia arahkan kamera handphonenya dan merekamku yang akan melayani rekan ojolnya.


"Kalau disebar pasti viral nih, judulnya mbak-mbak cantik berjilbab ketagihan kontol ojol. Hahahah", ledek si bapak ojol


"Eh tapi muka saya jangan keliatan pak. Heheheh", ujar Mas Maman


"Nanti bisa disensor", kata si bapak ojol


Lalu setelah percakapan mereka selesai, tubuhku langsung diminta turun dari meja dan berlutut dihadapan selangkangan Mas Maman. Aturannya tetap seperti tadi, kedua tanganku harus tetap dalam posisi istirahat di tempat. Yang gerak hanya bibir serta lidahku saja menjilati batang kemaluan Mas Maman


*Slurupppp sluruppppp sluruuppp* kujilati kontol cowok yang tidak kukenal itu dengan penuh kepatuhan


Kujilati dari bawah keatas batang kemaluannya yang terasa semakin keras itu


"Kamu udah punya pacar mbak?", tanya Mas Maman


Aku hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan, karena mulutku masih fokus menjilati gagang kencing Mas Maman


"Waduh gimana ya perasaan cowokmu tau kamu dientot laki lain?", kata Mas Maman


*Bukannya kamu juga harusnya mikir gimana perasaan cewekmu tau kontolmu aku sepong?*, kataku dalam hati


Aku hanya diam saja tidak merepson pertanyaan itu. Peduli apa dia dengan perasaan pacarku. Toh dia mencabuliku juga tanpa memikirkan perasaanku dan perasaan ceweknya


"Sini bokongmu! Nungging sini sambil berdiri", kata Mas Maman


Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan memintaku menungging sambil berdiri dihadapannya. Kemudian ia kembali membuka lebar lubang pantatku dan langsung mengambil dildo yang entah sejak kapan terlepas dari lubang pembuanganku.


Mas Maman tanpa permisi langsung melesakkan dildo itu kembali ke lubang pantatku tanpa ragu-ragu. Ia hentakkan dengan tenaga maksimal hingga membuat lubang pantatku terasa cenut-cenut. Ia tidak sekali dua kali menarik ulur mainan kontol berwarna cokelat itu ke lubang pembuanganku. Tetapi berkali-kali dan ini terasa menyakitkan, karena lubang pantatku sudah tidak selicin tadi. Kukira Mas Maman orangnya lebih kalem, ternyata sama saja.


"Aaahh.. Jangan disitu lagi" Aaahhhh", pintaku dan Mas Maman masih menghentakkan mainan itu ke lubang pantatku


"Ini karena kamu gak jawab pertanyaan saya. Jangan sombong-sombong kamu. Inget saya sudah bayar kamu! Layani saya dengan baik", ujar Mas Maman kesetanan


"Aaaahhh.. iyahh maaf"", jawabku sambil menahan mati-matian rasa pedih di lubang pantatku


"Sekarang jawab lagi, cowok kamu gapapa emang kamu dientot laki lain?", tanya Mas Maman


"Iya boleeehhh" cowokku ngijinin"", jawabku dan berharap siksaan ini selesai.


"Ngijinin apa?", tanya Mas Maman lagi


"Ngijinin aku ngentot sama laki lain"..", jawabku


"Berarti rahimmu boleh dipejuin sama laki lain??", tanya Mas Maman sambil terus menusuk-nusuk dildo itu ke lubang pantatku


*Sretttt srettt sretttttt* tiba-tiba vaginaku keluar cairan bening seperti kencing saat ia menanyakan hal itu


"Boleeeehhhhh aaaaaahhhh"", pekikku dan kurasakan cairan vaginaku sampai menembak-nembak lagi untuk kesekian kalinya


"Heheheh.. Lacur murahan! Malah becek tempikmu", kata Mas Maman sambil mencabut dildo itu dari lubang pantatku dengan kasar


Lalu, Mas Maman menarik tubuhku ke atas meja, dan menyuruhku duduk diatas kontolnya. Terasa sekali kontol Mas Maman sangat keras saat kududuki. Lalu ia memegangi kontolnya sendiri dan menceploskannya ke dalam lubang vaginaku saat aku menurunkan kemaluanku. Aku dimintanya naik turun memompa kontolnya, sedangkan ia dengan santainya tiduran sambil memandangiku yang kepayahan terkena sodokan kontolnya dari bawah


"Busyet.. sempit bener tempikmu Mbak" Enak njirr" mana murah lagi", entah ini sebuah pujian apa hinaan


"Iyaahh..", hanya itu yang sanggup kujawab karena aku bingung jika aku tidak menjawab dia akan menyiksaku lagi


"Gak rugi saya bayar 100ribu buat ngerasain tempik kayak gini.. Menang banyak saya. Hahahah", ujar Mas Maman


*Slep slep slep* pertemuan kelamin kami begitu licin dan mudah sekali karena vaginaku sepertinya sudah beradaptasi menerima kehadiran kontol Mas Maman


Lalu ia dengan gemas meremasi payudaraku yang bergelantungan naik turun bersamaan dengan gerakan tubuhku. Sesekali tangannya memencet pentil susuku dan memuntirnya kuat-kuat, aku hanya bisa diam saja sambil meringis membiarkan Mas Maman mencubiti gunung kembarku.


Kemudian kepalaku dipaksa untuk mendekati kepalanya, kami berciuman dengan panas. Lidahnya bergerak kesana kemari membasahi bibir serta lidahku. Sesekali ia kulum lidahku dan air liur kami pun saling bersatu. Ia berikan air liurnya dan aku berikan air liurku. Ciuman yang terasa sangat basah dan belepotan.


Tapi aku akui diperlakukan seperti ini malah membuatku semakin horny. Karena jujur saja aku juga sering melihat film jav yang melakukan hal seperti ini. Terasa sekali memacu adrenaline dan birahiku. Jika dilihat memang menjijikkan, tapi jika sudah bernafsu apapun akan dilakukan


Kontol Mas Maman terus kupompa semakin cepat. Terasa sekali ujung kontolnya mengobok-obok rahimku yang masih lengket dan licin terkena sperma si bapak ojol tadi. Pertemuan kemaluan kami begitu intens dan nikmat sekali. Menggaruk-garuk bagian dalam vaginaku yang rasa gatalnya semakin parah jika disodok. Seperti tidak pernah mau berhenti, menginginkan persetubuhan ini terjadi lebih lama lagi


Puas dengan posisi women on top, Mas Maman memintaku turun dari tubuh kurus atletisnya, berganti kini aku tiduran sambil mengangkang di atas meja. Kedua kakiku kubuka lebar, menantikan kehadiran batang kontolnya untuk menggesek kemaluanku lagi.


Dalam sekali dorongan, kontol Mas Maman langsung ambles ke dalam vaginaku. Vaginaku yang harganya 100ribu itu. Bagaimana bisa mereka membeli vaginaku seharga 100ribu. Itupun uangnya tidak kuterima sama sekali dan malah disetor kepada si bapak ojol cabul.


Mas Maman langsung memompa dengan cepat. Suasana terasa semakin dingin di ruangan ini. Ruangan kotor yang begitu pengap dan lembab, menjadi saksi tempat aku disetubuhi oleh kedua lelaki yang berprofesi sebagai ojol yang sama sekali tidak kukenal. Yang awalnya sebuah pemerkosaan, menjadi suka sama suka. Aku sudah tidak tahu saat ini sudah jam berapa, mungkin diluar sana langit sudah mulai menghitam, tanda malam mulai datang


"Saya mau keluar mbak.. gak tahan saya dikempit tempik sesempit dan sehangat ini. Heheheh", ujar Mas Maman sambil ia percepat sodokannya ke kemaluanku


Aku hanya bisa mengangguk pasrah dan bingung mau menjawab apa. Tidak ada lagi peringatan dari mulutku agar ia tidak keluar di dalam rahimku. Karena aku sudah mengijinkannya untuk mengeluarkan spermanya di dalam rahimku tadi.


"Arrrrrggg anjirrrr".", kata Mas Maman sambil ia benamkan kontolnya dalam-dalam ke rahimku


*Crot crot crot crot*


Kembali rahimku menjadi tempat menampung sperma. Kali ini aku menerima sperma dari Mas Maman si tukang ojol yang juga rekan si bapak ojol. Tubuhku gemetaran hebat, sepertinya aku juga sudah mencapai orgasmeku. Setelah semua yang terjadi, perlahan akal sehatku mulai kembali. Ada rasa menyesal setelah aku melakukan kegilaan ini. Bagaimana jika aku sampai hamil? Dan aku tidak tau siapa yang menjadi bapak biologis anak yang kukandung kelak? Karena kedua lelaki ini telah menanamkan benihnya ke rahimku


*Semoga tidak sampai jadi anak!!!", mohonku dalam hati


"Udah puas Man? Heheheh", tanya si Bapak ojol


"Puas banget Pak. Gak rugi saya bayar 100ribu", kata Mas Maman sambil ia serahkan 1 lembar uang kertas berwarna merah ke si bapak ojol


"Hehehehe.. Tapi ada kabar buruk nih Man", kata bapak ojol dengan muka serius.


"Apa itu pak?", tanya si Maman


"Saya harus kabur malam ini. Sepertinya tempat ini sudah tidak aman lagi, info dari teman saya pergerakan saya sudah mulai dicurigai", kata si bapak Ojol


Kulihat Mas Maman hanya terdiam, entah apa yang dipikirannya saat ini.


"Gue cabut dulu ya. Kapan-kapan kita ketemu lagi. Yang penting gue udah ngerasain tempik lu. Heheheh..", kata si bapak ojol itu sambil menyengir kepadaku


Lelaki gendut tua itu kemudian bergegas pergi meninggalkan kami. Tinggallah aku dan Mas Maman berdua di rumah ini. Ia sudah kembali berpakaian, tetapi aku masih telanjang. Aku sudah terlalu capek hanya untuk sekedar menutup tubuhku lagi. Toh Mas Maman juga sudah lihat semuanya


"Namanya Pak Burhan. Gak tau itu nama asli atau alias. Ia dulu seorang residivis yang pernah dipenjara 12 tahun, dulu dia dikenal dengan sebutan Si Burung Hantu, karena ia selalu melakukan aksinya setiap malam bersama komplotannya", kata Mas Maman mulai bercerita


Aku hanya diam saja, sebenarnya tidak penting juga aku tau bapak ojol itu siapa sebenarnya. Tapi aku pun akhirnya penasaran juga apa kasus yang menjerat si Pak Burhan itu


"Ka.. kasus apa mas?", tanyaku


"Katanya dulu dia sering mencabuli dan memperkosa wanita-wanita yang ia temui. Hampir 30 orang korbannya, ada yang ia sendiri, ada juga yang ramai-ramai", ujar Mas Maman serius


"""..", kembali aku terdiam


"Maaf saya tadi khilaf karena kebawa suasana ulah Pak Burhan" Yasudah kamu saya antar lagi. Ingat anggap hari ini ngga ada kejadian apa-apa. Saya juga gak mau dipenjara seperti Pak Burhan. Saya mau kerja bener-bener biar bisa nikah sama pacar saya!", kata Mas Maman serius


Aku pun hanya terdiam"


#


Singkat cerita aku diantar oleh Mas Maman pulang dan ia pun segera menghilang. Aku hanya berharap aku tidak bertemu lagi dengan lelaki itu dan Pak Burhan. Setelah apa yang terjadi diantara kami, rasanya terlalu memalukan jika kami harus bertemu lagi.


Sesampai dirumah, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 21.30 kulihat keadaan rumah yang begitu sepi. Padahal mama seharusnya sudah ada di rumah malam ini. Tetapi kemana beliau saat ini? Masak iya mama pergi lagi? Papa juga belum pulang dari dinasnya. Alhasil, aku sendiri lagi malam ini. Aku pun kemudian mencoba memeriksa handphoneku. Memastikan siapa saja yang mengirimiku pesan WA. Kulihat ada dari Mas Rio yang menanyaiku sedang apa, ada juga pesan dari mama.


"Kamu masih lama? Mama ada urusan. Kayaknya malam ini mama ngga tidur di rumah. Kamu jaga rumah ya Cha", ketik pesan dari mama yang ia kirim pukul 18.00 tadi


"Iya Ma.. Mama kemana?", jawabku dan aku pun langsung beranjak untuk mandi dan membersihkan diri setelah perzinahan haram hari ini


Dalam hati aku berdoa, semoga aku tidak hamil".


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 11 : Jalan Hidup


ECHA-20240316-123223-0000.jpg


POV : Rio


Tengah malam ini, seperti biasa aku sedang asyik melaksanakan ritual hobby onaniku. Disertai dengan tayangan bokep menggairahkan dimana seorang wanita Jepang sedang diminta melayani lelaki-lelaki yang tak ia kenal, dan yang meminta wanita itu melakukannya tak lain adalah suaminya sendiri.


Jujur saja aku banyak terinspirasi dari bokep Jepang. Ya walau ngeselinnya suka di blur bagian kelaminnya. Tapi kuakui, bokep Jepang yang memiliki alur cerita adalah genre favoritku yang menginspirasi fantasyku. Pelan tapi pasti kulampiaskan fantasy gilaku ke Echa pacarku sendiri. Untungnya gadis lugu itu mau mengikuti permintaanku hingga seperti sekarang ini.


"Anjirlah, kontol gue ngaceng maksimal kalau bayangin Echa jadi kayak ini cewek. Hehehehe", gumamku sambil memandangi layar laptopku yang menampilkan adegan tak senonoh antara 1 orang wanita dan 5 orang pria sedang berhubungan badan.


Setelah terasa hampir klimaks, aku putuskan menyudahi onaniku. Rasanya sayang saja kalau spermaku sampai keluar. Karena ide-ide liarku juga pasti akan turut sirna bersamaan dengan keluarnya maniku. Kutahan saja perasaan ingin orgasmeku agar pikiranku tetap dikuasai ide-ide gila yang akan kulampiaskan ke pacarku sendiri nantinya.


Kumatikan laptopku, lalu pandanganku beralih ke layar ponselku. Sepertinya sudah lama aku tidak update foto-foto Echa ke grup mesum yang isinya teman-temanku. Mereka juga tidak separah dulu requestnya. Akhir-akhir ini mereka lebih anteng dan hanya berkomentar seadanya saat kukirimi foto sexy Echa. Tentu saja mendapat respon seperti itu lama-lama aku bete juga. Aku ingin sekali mereka komen parah hingga merendahkan pacarku. Kalau mereka merendahkan pacarku, ada kepuasaan batin yang kurasakan.


"Apa mereka bosan ya kalau gue hanya kasih foto sexy Echa? Hmm.. Kayaknya perlu praktek nih mereka. Heheheh", tiba-tiba timbul pikiran cabulku


"Pada dimana nih?", sapaku di grup Biologi mesum itu


"Gak kemana-mana. Ada apa bro?", jawab Andre


"Sama gue juga gak ngapa-ngapain nih", jawab Wawan


"Idem"", jawab Anto


"Wkwkwkw" Mangkanya nyari cewek lah biar gak nganggur lu lu pade", jawabku


"Ya udah sini kirim Echa ke kita biar kita gak nganggur"", jawab Wawan, temanku yang gondrong kayak preman


"Iya nih bro, kapan nih? Lama bener lu bagi-baginya", protes Anto


"Hehehe sabar boss" Eh besok ke rumah gue aja yuk?", tawarku


"Hah? Paan cuma laki doang ogah gue. Pedang-pedangan tar", jawab Andre


"Sarappp.. Gue juga ogah kalau itu.. wkwkwkw.. Pokoknya besok pada ke rumah gue ya! Rugi kalau lu pada gak datang", ujarku


"Awas lu kalau boong, gue hamilin cewek lu!", ujar Andre


#


Kayaknya sudah lama sekali aku tak berjumpa dengan pacarku Echa. Akhir-akhir ini, Echa pacarku selalu menolak jika kuajak ketemuan. Ada aja alasannya kalau aku mengajaknya ketemuan. Mulai banyak tugas, ada mama papanya dirumah, capek, dan lain sebagainya. Aku sih tidak ambil pusing, asalkan dia masih menjadi pacarku dan ia masih bersedia menuruti permintaan gilaku. Walau terkadang pikiran ini kadang berpikir negatif tentang pacarku. Seperti misalnya Echa selingkuh dibelakangku. Atau mungkin dia ada main dibelakangku. Tapi aku tahu Echa itu gadis seperti apa. Semesum-mesumnya dia, ia tidak akan berani selingkuh. Aku yakin sekali akan hal itu. Echa pasti tidak segila itu. Karena aku lah yang memegang kartu as nya.


"Dia hanya boleh nakal atas seijinku karena dia adalah milikku. Awas aja kalau dia berani nakal diam-diam", ujarku dalam hati


Untungnya hari ini Echa bersedia diajak ketemuan. Sejak di WA tadi pagi, Echa selalu menjawab pesanku dengan cepat. Mungkin karena dia juga kangen sama aku cowoknya, setelah beberapa hari ini kami tidak bertemu. Hehehe"


"Kamu mau nitip dibawain apa Yank pas aku jemput?", tanyaku siang itu sambil tak sabar aku melihat wajah cantik pacarku yang ngangenin itu


"Aku nitip jus nanas ya mas", jawab Echa


"Oh oke, iya memang cuaca akhir-akhir ini lagi panas-panasnya"", jawabku


"iya nih lagi pengen yang seger-seger", jawab Echa


Jarang sekali Echa minta aku bawakan jus buah. Terutama jus nanas. Selama jalan denganku, kuingat-ingat tak sekalipun ia memesan minuman itu. Aku bahkan tak tahu kalau ternyata Echa juga suka jus nanas. Tetapi aku tidak terlali memikirkan hal itu dan Aku pun segera mencari penjual minuman jus yang biasanya ada dipinggir jalan.


Aku tidak mengalami kesulitan untuk menemukan penjual jus buah di dekat sekolah Echa. Ternyata di dekat sekolahnya, ada penjual jus buah dengan banner bergambar buah-buahan yang terpasang tampak menyegarkan mata. Kabar baiknya, ternyata penjual jus buah itu juga punya stok buah nanas sehingga aku tidak perlu mencari-cari lagi di tempat lain


"Jus Nanas 1 ya mas", pesanku


"Siap mas.. Mau diplastik apa pakai gelas?", tanya si mas penjual


"Hmmm.. diplastik aja mas, buat cewekku soalnya", jawabku


"Ohh.. Buat pacarnya toh" Habis nganu ya mas?", tanya si mas penjual jus buah basa-basi sambil tersenyum


"Nganu apaan?", tanyaku tidak paham


"Biasa lah mas anak muda. Saya paham kok. Hehehe.. Yasudah saya buatkan dulu mas", kata si penjual membuatku bertanya-tanya


*Paham apaan njir?", tanyaku dalam hati tak mengerti maksud perkataan Mas Penjual buah


Beberapa saat kemudian, seplastik jus nanas sudah kuterima dan aku pun bergegas tancap gas menuju sekolah pacarku. Kulihat jam tanganku, kurang lebih 5 menit lagi bel tanda berakhirnya pelajaran akan berbunyi. Aku sudah tak sabar melihat pacarku yang wajahnya cantik menggemaskan itu. Kalau boleh jujur, mungkin aku kangen dengan Echa saat ini karena sudah hampir seminggu aku tidak bertemu dengannya.


*Teeettt teettttt teettttt* suara bel terdengar kencang


Terlihat siswa-siswi sekolah mulai berhamburan keluar. Satu persatu-persatu murid-murid itu berjalan menuju gerbang sekolah. Ada juga yang naik sepeda motor. Tetapi mereka yang naik motor harus mengalah kepada mereka yang jalan. Tawa riang disertai bunyi klakson motor terdengar. Tanda mereka sedang ada yang bercanda selama jalan menuju luar sekolah.


"Minggir minggir gue tabrak lu yeee Hahahaha", pekik salah satu murid sambil membunyikan klakson


"Gak takuttt! tabrak sini gue laporin lu ke guru", jawab seorang siswi sambil menyodorkan bokongnya yang semok


"Dih"", jawab si siswa cowok dan akhirnya ia memilih mengalah sambil memandangi bokong menggoda itu


Aku hanya tersenyum kecil di balik helm teropongku melihat tingkah polah mereka. Kubayangkan Echa disekolah apakah juga seperti itu kelakuannya. Tapi tidak mungkin, Echa itu murid berprestasi di sekolahnya. Pasti ia lebih jaim di lingkungan sekolahnya tidak ceplas ceplos seperti cewek tadi.


Kutunggu-tunggu kehadiran pacarku itu namun tak kunjung terlihat batang hidungnya. Mungkin kah Echa ada perlu dengan Bayu seperti biasanya? Sialan, menyebut namanya saja aku sudah cemburu. Entah mengapa aku begitu tidak bisa melihat Echa dengan Bayu. Padahal melihat Echa dientot Mang Ujang aku tidak secemburu itu. Cemburu sih, tapi tidak secemburu jika Echa dengan Bayu. Yah, intinya begitu lah, bingung juga aku jelasinnya.


Kemudian hatiku lega saat melihat Bayu berjalan menuji gerbang sekolah. Ia tidak teelihat berjalan beriringan dengan Echa. Bayu memang terlihat berjalan dengan seorang gadis tetapi bukan dengan pacarku. Aku sebenarnya tahu dia adalah Anya. Tapi aku enggan menyapanya. Bukannya apa-apa, memang aku tidak begitu kenal dekat dengan Anya. Aku hanya tau tentang Anya dari Echa saat bercerita tentang kenakalan temannya itu. Terlihat Anya melirikku dan menyapaku kemudian.


"Mas Rio ya?", sapa Anya ramah


"Eh iya.. kamu kan"", kataku pura-pura lupa namanya


"Anya"", jawab gadis cantik itu


"Oh iya.. Anya"", kataku


"Echa belum keluar ya mas? Kemana ya tu anak?", kata Anya lagi


"Gapapa mungkin ke toilet, aku tunggu aja"", kataku


"Ya udah aku balik dulu mas. Ada tugas nih, buru-buru harus dikerjakan. Bye bye", kata Anya sambil kembali berlari kecil menghampiri Bayu


Sekolah pun mulai sepi, Echa belum juga terlihat saat ini. Jantungku mulai berdegup keras karena cemas memikirkan kemana pacarku itu berada. Mengapa perasaanku tak enak sekali. Tetapi untungnya hal itu tidak berlangsung lama. Karena kulihat Echa berjalan menuju gerbang sekolah seorang diri.


"Ma.. Maaf.. Mas.. La.. Lama" Nunggunya", jawab Echa terlihat ngos-ngosan seperti habis lari keliling lapangan


"Kamu gapapa Yank?", tanyaku melihatnya terlihat kelelahan seperti itu


"Engg.. Enggak apa-apa mas" Oiya kamu bawain pesananku?", tanya Echa


"Jus Nanas?", tanyaku


"Iya"", jawab Echa


"Ada tuh di motor", jawabku sambil kuberikan ke pacarku


Kulihat Echa buru-buru meminumnya seplastik jus nanas itu ia habiskan sampai habis tak tersisa


"Kamu haus banget Yank?", tanyaku penasaran


"I.. Iya.. Panas banget nih.. Ya udah yuk", kata Echa dan ia pun segera naik ke atas sepeda motorku.


#


Selama dijalan, Echa memelukku dengan erat. Kurasakan buah dada pacarku itu begitu kenyal mendesak punggungku. Memang payudara Echa tidak sebesar punya Anya, tapi jika ditempel seperti itu rasanya kontolku nyut-nyutan juga. Ditambah lagi Echa kali ini tangannya dengan nakal meraba area kemaluanku. Gerakan jemarinya begitu lembut merangsang area selangkanganku. Sesekali ia remas pula kemaluanku dan itu ia lakukan di jalan raya.


"Gila? Sejak kapan Echa seberani ini? Apa saking kangennya Echa sampai tangannya sengaja mancing-mancing pegang kontolku? Heheheh..", pikirku mesum dalam hati


Perjalanan tidaklah macet sore ini, sehingga tanpa terasa aku sudah tiba di rumah. Echa juga sudah tidak terkejut kuajak kerumah karena tadi pagi aku sudah memberitahunya akan mengajaknya main ke rumahku. Aku pun sebenarnya sudah on fire setelah dijalan tadi pacarku itu sudah senekat itu memainkan kontolku di jalan raya. Tetapi, langkah kakinya terhenti saat hendak masuk ke dalam teras rumahku.


"Ada orang ya mas dirumahmu?", tanyanya setelah melihat 2 sepeda motor terparkir di teras rumahku


"Biasa cuma temen-temenku aja main PS"", jawabku


"Siapa aja mas?", tanya Echa memastikan lagi


"Biasalah" Wawan, Anto sama Andre. Kamu masih inget kan?", tanyaku


"Masih"", jawab Echa dan sepintas kulihat pacarku itu melamun sejenak entah memikirkan apa


"Yuk masuk Yank"", ajakku sambil sedikit menyeret tangan pacarku masuk ke dalam rumah


Di dalam rumah, seperti biasa teman-temanku sudah menganggap rumahku seperti rumah sendiri. Gelas-gelas dan snack berserakan di sekitar tempat mereka bermain PS. Layar TV ku juga terlihat sebuah lapangan hijau yang menunjukkan mereka sedang bermain game sepakbola. Kulihat yang bermain saat ini adalah Wawan dan Andre. Sedangkan Anto asyik sendiri dengan handphonenya.


"Haloo Echa"", sapa Andre sambil menghentikan sejenak pertandingan bola yang dimainkannya bersama Wawan.


Anto yang tadinya fokus ke ponselnya, kali ini tercengang melihat kedatanganku membawa pacarku Echa. Aku hanya senyum-senyum sendiri pasti kejutan yang kubawa ini adalah kejutan yang paling mereka tunggu-tunggu.


Echa terlihat kikuk dan gesture tubuhnya terlihat malu-malu. Wajar saja, karena hanya dia satu-satunya cewek yang ada dirumah ini. Berada di ruangan yang penuh lawan jenis seperti ini pasti belum terbiasa baginya.


"Wangi bener lu Cha"", puji Andre dan terlihat Echa semakin menunduk


"Iya dong kalau gak wangi gue gak mau lah", jawabku dengan penuh kebanggaan


"Santai aja Yank mereka ngga gigit kok", ujarku mencoba mencairkan suasana.


"Tapi kalau mau kita gigit juga gapapa sih"", celetuk Wawan sambil kembali ia fokus bermain game bola melawan Andre


"Hahaha.. Gue juga gak keberatan kalau gigit Echa", timpal Andre


"Udahh.. Sini gantian lawan gue"", ujarku menantang mereka berdua


"Ayo siapa takut!", jawab Andre


"Mas kamu ngajak aku kesini cuma buat liat kamu main game sama temenmu?", protes Echa sambil berbisik


"Enggak lah Sayang.. Udah kamu liat aja ya" Dilihatin kamu pasti aku makin semangat mainnya", ujarku pelan


"Biar semakin semangat mainnya taruhan aja gimana?", usul Andre tiba-tiba


"Taruhan apaan?", tanyaku


"Yang kalah harus menuruti permintaan yang menang", ujar Andre


"Ok, gue kalau menang gue minta 5juta ke lu. Hehehehe", tantangku


"Hahaha.. Menang aja belum udah minta. Kalahin gue dulu lah", jawab Andre penuh rasa percaya diri


Aku cukup percaya diri bermain game bola ini. Walaupun enggak jago-jago amat, tetapi aku yakin bisa mengalahkan Andre, sohibku yang wajahnya mirip India itu. Karena setauku hanya akulah yang punya PS dirumah jadi besar kemungkinan aku akan memenangkan pertandingan ini. Sedangkan Andre, yang kutahu ia hanya terbiasa bermain game dengan handphonenya saja.


Tetapi dugaanku salah, ternyata Andre cukup jago bermain game bola ini meski jarang main dan hanya main saat ia datang ke rumahku. Ia terlihat bermain lebih taktis dan sabar dengan melakukan umpan-umpan pendek yang rapi. Ia juga sering melakukan serangan balik yang tak terduga hingga membuatku hampir kebobolan lebih dulu. Berbeda denganku yang mainnya grusa grusu melakukan umpan panjang berharap segera bisa mencetak gol dan memenangkan pertandingan.


"Goaaaallll".", akhirnya Andre mencetak gol lebih dahulu lewat tendangan bebas


Aku semakin panik saat ketinggalan satu gol. Tanpa sadar emosiku menjadi tak terkendali dan tanganku ini jadi gemar melakukan tackle tidak perlu sehingga membuat beberapa pemainku terkena kartu merah.


Skor akhir adalah 3-0 dan Andre memenangkan pertandingan ini. Aku sudah lemas dan berharap Andre hanya bercanda soal taruhan tadi. Tetapi sepertinya tidak, karena Andre tersenyum puas setelah mengalahkanku.


"Gimana? Mau ulang lagi?", tantang Andre


"Ayo tadi gue lagi pemanasan!", jawabku


"Eh tapi hadiah buat gue dulu dong biar semangat gue. Hahahahah", kata Andre


"Lu mau hadiah apa?", tanyaku kesal


"Gampang aja kok..", jawab Andre


"Iya apa?", tanyaku gak sabaran karena ingin segera membalas kekalahan


"Pacar lu bersedia nenenin gue", jawab Andre sambil tersenyum mesum


"Sialan lu! Akal-akalan lu aja ini mah. Hahahah", jawabku sambil ikut tertawa mendengar permintaan mesumnya


"Boleh gak?", tanya Andre lagi sambil menatap Echa


"Hei! ini pertandingan antara lu sama gue, ngapain Echa dibawa-bawa?", protesku walau sejujurnya aku sange juga membayangkan Echa netekin Andre


"Echa kan milik lu yang berharga jadi boleh dong gue minta hal yang berharga dari lu? Heheheh"", ujar Andre


*Sialan nih Andre maksa bener buat nenen ke Echa. Padahal niat gue pelan-pelan aja.. Tapi yaudahlah biar tambah seru juga*, gumamku dalam hati


"Kalau itu no comment gue. Tanya langsung ke cewek gue aja dah", jawabku


Aku penasaran dengan respon Echa. Apakah ia akan menolak mentah-mentah atau langsung mengiyakan begitu saja. Sialan, mana daritadi kayaknya pacarku itu udah sange lagi sejak di sekolahan.


"Boleh Cha? Lu gak keberatan kan kalau gue nenen di tetek lu?", tanya Andre dengan lugas sambil tersenyum cabul


Echa diam sejenak sepertinya ia bingung mau menjawab apa pertanyaan itu


"Gak usah malu-malu Cha. Apa karena sekarang ada cowok lu, lu jadi jaim-jaim gini? Hehehehe", imbuh Wawan


"Tapi mas"", jawab Echa terlihat keraguan di raut wajahnya


"Kita mah udah tau kali Cha lu cewek mesum. Udah ga usah jaim-jaim deh sama kita", bujuk Wawan lagi


"Padahal kapan hari lu desahnya kenceng bener Cha", imbuh Anto disambut tawa kedua temanku yang lain


Aku tertawa manyun tidak paham maksud tawa mereka. Mungkin maksud Anto, ia sedang membahas salah satu video saat Echa mendesah keenakan yang sengaja kukirimkan ke grup biologi mesum yang kubuat


"Mas!", tiba-tiba Echa berteriak sesaat setelah mendengar perkataan Anto


Raut muka pacarku terlihat ketakutan. Sesekali matanya melirik ke arahku yang juga terus menatapnya penuh rasa keheranan. Tidak kusangka respon pacarku bakalan seperti itu. Ia berani menghardik salah satu temanku yang tidak begitu dikenalnya. Mungkin saking kesalnya Echa sehingga ia terpaksa berteriak seperti itu


"Gimana Yank? Kamu mau gak?", kali ini justru aku yang bertanya dan berharap Echa bisa dikondisikan.


Aku yakin sekali Echa tidak akan keberatan dengan permintaan itu. Ia pernah disituasi yang lebih gila lagi dibanding saat ini. Ia pernah berhubungan intim dengan penjual nasi goreng yang pernah menyatakan rasa cinta kepada pacarku di hadapanku sendiri. Hanya ngasih nenen saja tentu bukan hal sulit bagi Echa.


"Tapi mas.. Kamu yakin?", tanya Echa


Terlihat sekali pacarku yang cantik berkerudung itu masih malu-malu. Ketiga temanku pun kelihatannya sudah tidak sabar menunggu apa yang akan dikatakan Echa selanjutnya. Dalam situasi seperti ini, kontolku rasanya sudah mengeras karena tidak sabar melihat Echa membagikan tubuhnya sedikit ke teman-temanku.


"Nenenin aja kan?", tanya Echa serius


"Iya, eh tapi tergantung sikon juga", jawab Andre


"Hmmm"", Echa kembali berpikir


Kulihat Echa menghela nafas panjang dan ia pun mengangguk perlahan tanda setuju dengan permintaan Andre. Semua temanku bersorak sorai melihat jawaban anggukan Echa.


"Gitu dong.. Sini sini sini.. Nenenin gue", ujar Andre sambil memukuli pahanya sebagai tanda agar Echa duduk dipangkuannya


Echa melirikku sejenak dan aku mengangguk kecil. Kubiarkan pacarku yang masih berseragam sekolah lengkap dengan kerudung putihnya itu duduk di pangkuan Andre. Hanya melihat seperti itu saja aku sudah cemburu luar biasa. Apalagi Echa setelah itu segera melucuti kancing bajunya satu persatu di pangkuan Andre. Sementara itu Andre melihat ke arah payudara pacarku yang terlihat mulus dan kenyal masih terbungkus bra dengan tatapan tidak sabar. Seperti bayi yang hendak menyusu kepada ibunya.


Setelah beberapa kancing seragam sekolahnya terlepas, Echa kemudian menyibakkan kain kerudungnya ke belakang, sambil ia turunkan salah satu cup bra nya bersiap menenenin Andre. Payudara Echa mulai nampak sebelah lengkap dengan pentil susunya yang mungil. Ia sodorkan pentil susunya sendiri ke Andre sohibku yang keturunan India itu. Puting susu Echa yang mancung langsung saja dilumat Andre dengan rakus. Dalam sekali caplokan saja Andre sudah mencaplok pentil Echa penuh nafsu. Bunyinya begitu terdengar basah saat lidah Andre menjilati pentil susu pacarki.


*Ceplokk.. Sluruppp* suara lidah Andre yang bergerak lincah mengitari pentil susu pacarku


"Aahhh" Ssshhh"", desis Echa mulai terdengar lirih karena sebelumnya ia tahan mati-matian agar tidak mendesah.


Tetapi menerima rangsangan seperti itu, aku tahu iman Echa akan runtuh juga. Pacarku itu malah menyodorkan payudaranya yang satunya agar Andre lumat juga. Tanpa permisi padaku, Andre menurunkan cup bra Echa sisi satunya sehingga kini kedua toket pacarku terlihat jelas tepat di depan mata Andre. Suasana tiba-tiba menjadi hening. Hanya terdengar suara desahan lirih Echa dan suara decitan lidah Andre yang keasyikan melumati toket pacarku secara bergantian kiri dan kanan


"Ssssshh.. Uuhh..", kembali Echa mendesah saat kedua putting susunya disedot Andre


Lalu aku sendiri? Justru aku malah ngaceng melihat Echa dilumat pentil susunya seperti itu oleh temanku sendiri. Gila, ini terlalu gila. Aku cemburu melihat Echa begitu pasrah memberikan tetek indahnya kepada Andre. Tanpa sadar aku sampai meremas kontolku sendiri saking tegangnya melihat kegilaan ini.


"Jadi tanding lagi ga bro?", tanya Andre sambil tersenyum penuh kemenangan melihatku yang tak berdaya karena kini tetek pacarku sudah berhasil ia nikmati


"Jadi..", jawabku singkat


Aku sudah tidak berkonsentrasi lagi karena pacarku duduk di pangkuan Andre dengan kondisi payudaranya masih terbuka bebas dengan putingnya yang mancung berwarna cokelat muda. Bahkan kulihat kedua tangan Echa bergelayut manja di leher Andre agar ia bisa menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Enak bener main PS sambil di nenenin ukhti-ukhti cantik. Heheheh"", kata Andre memanas-manasiku


Saat ada kesempatan seperti jeda waktu ketika terjadi pelanggaran atau bola keluar lapangan, Andre memanfaatkan waktu tersebut dengan melumat pentil Echa dan kulihat pacarku itu kembali mendesah keenakan hingga kepalanya terdongak. Melihat reaksi pacarku yang keenakan, Andre semakin intens memainkan putting payudara pacarku dengan mulutnya. Pemandangan ini terlalu erotis bagiku. Echa pacarku yang kusayang kini bergelayut manja meneteki si Andre.


Aku berkali-kali melirik ke arah Echa dan permainanku jauh lebih buruk daripada pertandingan pertama karena saking tidak konsennya aku. Mana kontolku dibawah sana juga sudah tegang maksimal melihat Echa diperlakukan tak senonoh oleh Andre.


"Goaaaalllll".", mudah saja Andre menjebol gawangku kali ini hingga akhirnya pertandingan kedua berakhir 5-0


Benar saja aku akhirnya kalah telak dan terpaksa harus menuruti permintaan Andre kembali sebagai pemenang. Andre tersenyum penuh kemenangan, entah ia akan meminta apa lagi setelah ini. Yang jelas aku semakin sange disituasi panas seperti saat ini. Sementara itu Echa yang jadi pertaruhanku hanya tertunduk seperti sedang menunggu perintah. Sepertinya Echa tahu permintaan Andre selanjutnya tidak jauh-jauh mengerjai dirinya lagi.


"Karena gue menang banyak jadi gue boleh requestnya juga banyak. Hahahah"", ledek Andre


"Iya deh"", jawabku lemas dan juga sange dengan situasi seperti ini


"Sekarang gue minta pacar lu itu lepasin semua bajunya sampai bugil", kata Andre mesum


*Sialan, permintaan ini terlalu jauh bagiku.. Apa pantas pacarku yang kusayangi telanjang di depan teman-temanku ini? Gadis yang susah payah kudapatkan cintanya, kini harus kuumbar auratnya. Mendapatkan gadis secantik dia saja sudah keberuntungan bagiku. Kini teman-temanku dengan mudahnya akan menikmati tubuh telanjangnya secara langsung? Gila! yang benar saja! Rugi dong* batinku mulai memberontak


Walau 80% pikiranku menginginkan Echa berani menuruti request itu. Tetapi 20% sisanya terasa sayang jika kuberikan tubuh pacarku secara gratisan seperti ini.


"Boleh ya bro? Gue liat body cewek lu? Lu juga gak keberatan kan?", ujar Andre dengan senyum cabulnya


"Boleh dong harusnya, kan lu juga dah sering liatin video mesum cewek lu?", bujuk Wawan juga


"Iya Tapi" Agak gak ikhlas gue. Hehehehe", jawabku


"Halaaaa.. Bukannya lu suka berbagi keindahan cewek lu bro? Ga usah ragu lagi lah njirrr" Nanggung tau", kata Anto


Aku pun mengangguk mengijinkan seluruh temanku melihat tubuh telanjang Echa. Echa terlihat menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya aku memberikan ijin semudah itu agar temanku melihat kemolekan tubuh yang seharusnya hanya kunikmati seorang diri saja.


"Udahan yuk main PSnya, enak main PS yang lain", ujar Andre


"PS yang lain apaan?", tanya Wawan temanku


"Party Sex..", ujar Andre sambil memutar posisi duduknya yang masih tetap memangku Echa


Kali ini Andre dan Echa menghadap ke arah Wawan dan Anto, sedangkan aku berada di samping Andre yang sedang memangku Echa.


"Woooo.. Seru nih.. Hahahaha", timpal Anto dan Wawan kegirangan


"Pinjam pacar lu bentar boleh ya bro? Sange gue", tanya Andre kepadaku dan sekali lagi aku mengangguk setuju memberikan Echa kepada Andre


Andre berniat memamerkan tubuh indah pacarku ke Wawan dan Anto. Payudara Echa terlihat keluar dengan cup branya yang telah dipelorot ke bawah. Andre meremasi kedua payudara Echa dengan nakal dihadapan Anto dan Wawan. Kulihat tubuh Echa menggeliat kecil saat dirangsang oleh tangan Andre di area payudaranya. Dengan nakal Andre pun memilin kedua puting susu Echa hingga membuat Echa memejamkan matanya.


"Sssshhh..", hanya desahan saja yang kudengar dari mulut pacarku saat Andre memuntir-muntir puting susunya


"Sexy bener nih ukhti anjir"", puji Wawan sambil terlihat ia mulai remas selangkangannya saat Andre leluasa memainkan pentil susu pacarku


"Ukhti Lonte suka kontol. Perek murahan.. Hehehe", ledek Andre membuat wajahku memerah karena ia mengejek gadis yang kucintai


Kulihat Andre tanpa permisi mempreteli kancing sisa seragam sekolah Echa hingga terlepas seutuhnya. Tanpa membuang waktu, tubuh bagian atas Echa ditelanjanginya total dan bra yang tadinya masih terkait sempurna dipunggung pacarku, kini sudah dilempar begitu saja ke Wawan dan Anto. Penutup payudara pacarku menjadi rebutan dan mereka bergantian mengendusnya.


"Anjir.. wangi bener tutupnya. Apalagi isinya" Hehehe", ujar Anto sambil menciumi bra pacarku


"Mau ini kalian?", kata Andre sambil memenceti kedua pentil susu pacarku bersamaan


"Aaahh..", kembali Echa mendesah pelan


"Body lu bagus" sayangnya gratisan..", puji Andre sambil kali ini ia angkat kedua tangan Echa keatas hingga payudaranya kini terbuka bebas menggantung begitu menggoda


"Eeehh?", Echa terkejut saat tiba-tiba Andre mengangkat kedua tangannya ke atas


Menyadari tubuh atasnya sudah tidak tertutup apa-apa lagi, Echa reflek berusaha menutup payudaranya dengan kerudung yang masih dipakainya. Ia gerakkan kepalanya agar kerudungnya yang tadi disingkap ke belakang, bisa menutupi toketnya. Sesuatu yang lucu menurutku karena tadi payudara itu juga sudah terbuka dan terlihat jelas di depan teman-temanku


"Ga usah malu-malu.. Lu sange kan Cha? Tunjukin lah keseksian lu. Tangan tetep diatas biar tetek lu keliatan makin menantang", ujar Andre


"I.. Iya mas" Maaf"", jawab Echa dan kini ia pertahankan posisi kedua tangan diatas kepalanya memamerkan keindahan dua gunung kembar dengan pentil susunya yang mungil.


Echa memalingkan mukanya seperti menahan malu karena Wawan dan Anto kini menatap mupengbke arah toket pacarku. Mungkin ia tidak percaya kini payudara serta tubuh bagian atasnya terlihat dihadapan teman-temanku. Kemudian Andre mulai melucuti ikat pinggang serta resleting rok seragam sekolah pacarku. Echa hanya pasrah satu persatu pakaiannya dilucuti oleh Andre


Tanpa kesulitan Andre menarik lepas rok Echa hingga kini pacarku itu hanya mengenakan kerudung serta celana dalamnya saja. Andre kemudian membuka lebar kedua kaki Echa, sehingga pacarku kini mengangkang di hadapan Wawan dan Anto.


"Damn, she is so hot"", kataku dalam hati karena perlahan imajinasiku menjadi kenyataan membiarkan teman-temanku mempermainkan tubuh pacarku


Ketiga temanku memandang selangkangan Echa dengan tatapan penuh nafsu. Sementara itu Echa hanya memejamkan mata tersipu malu karena seluruh lelaki di ruangan ini sedang memandangi area selangkangannya.


"Boleh dibecekin bro?", kata Andre lagi menggodaku


"Sesuka lu aja asal jangan sampai lecet"", kataku semakin bernafsu melihat Echa diperlakukan seperti itu


"Ok kalau gitu"", ujar Andre dan kini tangannya mulai menjamah selangkangan Echa yang masih tertutup celana dalam warna kremnya.


Sialan, selangkangan pacarku kini malah dicabuli oleh Andre. Tangan Andre bergerak cepat mengocok kemaluan Echa dan tentu saja gadis cantik itu mendesah. Aku tahu betul Echa tidak bisa tahan jika area kemaluannya dirangsang secepat itu.


"Aaaahhh.. Maassssss".", desah Echa sambil tangannya mencengkeram lengan Andre yang terus mengocok kemaluannya


Andre tersenyum nakal melihat Echa kepayahan. Nafasnya terdengar ngos-ngosan sesaat setelah area memeknya dirangsang oleh Andre. Kini gerakan tangan Andre melambat dan ia gerakkan memutar disekitar lubang kemaluan pacarku yang terlihat mulai muncul garis basah di celana dalamnya tepat di area vagina pacarku itu.


"Udah becek aja nih cewek..", ujar Wawan menyadari celana dalam Echa mulai mengecap cairannya sendiri


Setelah puas membuat Echa becek, tangan Andre menyusup ke dalam celana dalam Echa. Aku hanya bisa menduga-duga apa yang Echa rasakan dari mimik wajahnya. Terkadang Echa memejamkan matanya, terkadang ia menggigit bibir bawahnya, terkadang pula Echa mendesis keenakan. Mulut Echa sampai tak bisa berhenti bersuara kecil saat Andre mengubek-ubek bagian dalam celana dalamnya. Entah apa yang dilakukan tangan Andre ke kemaluan pacarku yang masih terbungkus celana dalam itu.


Yang jelas tiba-tiba Echa melucuti celana dalamnya sendiri hingga organ kemaluannya kelihatan di depan teman-temanku. Entah apa yang dibisikkan Andre ke telinga pacarku saat ia rangsang gadis yang kusayangi itu.


Andre tersenyum melihat pacarku itu sudah berhasil ia kuasainya. Kemaluan Echa sukses dibuatnya basah berlendir. Tangan Andre terus bergerak mengucek lubang nikmat itu hingga pacarku kini lebih tersiksa mencoba menahan desahannya. Kulihat dengan mata kepalaku sendiri jemari hitam Andre bergerak-gerak di bagian dalam kelamin Echa. Echa kembali menggeliatkan tubuhnya dan menyesuaikan posisi tubuhnya agar Andre lebih bebas mengucek kelaminnya. Bibir memek Echa benar-benar basah karena ucekan tangan Andre di area pribadi pacarku itu.


Echa sepertinya sudah berhasil ditaklukan oleh Andre. Pacarku itu sudah tidak malu lagi mengangkang lebar dihadapan teman-temanku. Echa begitu tak tahu malu memamerkan area pribadinya dan memperlihatkan bagian dalam kemaluannya yang kemerahan dan berlendir parah.


"Aaaaahhh.. Masss". Ouhhhh"", desah Echa dengan manja sambil terus mengangkang memeknya dicabuli oleh Andre.


"Lihat, memek lu terlalu mubaszir kalau cuma ditutupin. Kasih liat ke mereka biar mereka ngiler. Cowok lu bakalan bangga liat lu mamerin memek gini Cha", kata Andre sambil berbisik di telinga pacarku


Lalu kulihat Andre melumat bibir pacarku di depan mataku sendiri. Sumpah sensasi gila macam apa ini melihat sohibku itu berciuman panas dengan pacarku sambil tangannya tak berhenti bermain merangsang kemaluan pacarku. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku memutuskan onani saja melihat kenakalan pacarku yang tidak kusangka sudah bisa sejauh ini.


Andre melumat bibir pacarku penuh gairah. Mereka cipokan seolah mereka adalah pasangan yang halal. Tanpa mempedulikan keberadaanku sama sekali. Rasa cemburu yang amat sangat menjalar di dalam hatiku. Aku ingin marah tetapi tidak bisa. Karena hal ini lah yang kufantasykan dari dulu. Mereka terus berciuman panas, lidah mereka saling melumat dan saling menjilat satu sama lain. Tangan Andre juga tidak pernah lepas dari kemaluan dan juga puting susu pacarku. Boba pacarku itu diremasnya seolah itu memang miliknya. Kemaluan Echa yang berjembut rapi itu juga ia kocok sepuas dia. Andre sepertinya lupa, tibuh indah itu seharusnya adalah milikku seorang.


Tanpa sadar akhirnya aku tidak tahan dan melucuti celanaku. Aku langsung beronani sambil melihat pacarku sedang dicumbu oleh sohibku. Wawan dan Anto pun juga sama. Mereka melucuti celana mereka dan kedua temanku itu mulai berjalan mendekati Echa yang masih dipangku Andre. Kontol mereka mengacung tegak dihadapan Echa dan Echa tidak malu-malu memandangi kontol-kontol itu.


Kemudian kulihat Wawan dan Andre mulai menyusu di toket pacarku. Echa kembali dibuat mendesah keenakan. Tubuh pacarku dibuatnya seolah tidak ada harga dirinya sama sekali. Mereka sepertinya lupa gadis yang mereka nikmati itu adalah pacarku, bukan lonte murahan yang bisa mereka dapatkan diluar sana. Lidah Anto dan Wawan bergerak cepat menowel-nowel puting susu Echa. Sedangkan Echa terus berciuman panas dengan Andre.


Lalu Andre melepas celananya dan ia keluarkan batang kontolnya. Aku sedikit iri melihat kontol Andre yang ukurannya jauh lebih besar daripada milikku. Kusadari Echa juga sempat terbelalak melihat kontol Andre yang hitam panjang berurat itu.


"Sepong kontol gue Cha".", kata Andre dan Echa mengangguk sambil membetulkan kerudungnya yang sedikit melorot karena percumbuan panas tadi.


Kemudian Echa menurunkan tubuhnya ke bawah, ke arah batang kejantanan Andre. Echa kali ini terlihat tidak melirikku sama sekali seperti tadi. Ia sepertinya sudah tidak memerlukan ijinku lagi untuk mesum bersama ketiga temanku. Mungkin juga ia tahu, aku pasti memberinya ijin untuk melayani nafsu ketiga temanku.


Echa menungging dihadapanku, kepalanya mulai menjilati kepala kontol Andre. Sedangkan kedua pantatnya menungging sexy kebelakang. Pantat mulus pacarku pasti menjadi pemandangan terbaik bagi Wawan dan Anto yang tepat berada di belakang Echa. Terlihat sekali lubang kemaluan Echa yang memerah dan berlendir menggoda iman kami.


*Sluruppppp*


Tiba-tiba Wawan temanku yang gemuk dan dekil menyeruput lubang kemaluan Echa yang menungging menggoda. Kepala Echa sedikit terdongak menyadari mulut Wawan sudah berada di kemaluannya. Memek Echa dihisapnya habis-habisan hingga cairannya habis tak tersisa.


"Aaahhh..", Echa mendesah sejenak sebelum ia kembali sepong kontol Andre


Setelah itu gantian Anto yang menjilati kemaluan pacarku. Echa terlihat memperlebar kakinya agar vaginanya semakin terbuka. Kulihat sepintas lubang anus Echa juga ikut terbuka. Tidak kusangka lubang anus Echa bisa selebar itu saat ia mengangkang maksimal. Anto semakin semangat diberi jalan seperti itu. Lidahnya bisa semakin dalam menjangkau bagian terdalam kemaluan Echa dan sukses membuat Echa semakin kelojotan.


Anto kemudian kembali mengocok memek pacarku dengan jarinya karena lendir kemaluan Echa mulai habis. Ia rangsang begitu hebat kemaluan Echa hingga kulihat tubuh pacarku gemetaran karena vaginanya dirangsang dengan cepat. Echa terlihat kewalahan karena dalam posisi seperti itu, ia juga harus menjilati kontol Andre. Terlihat sekali tempo sepongan Echa mulai tidak beraturan. Sepertinya ia begitu tersiksa dengan perlakuan ketiga temanku yang sudah sange parah mencabuli dirinya.


"Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh".", Tiba-tiba Echa berteriak lantang dan kulihat ia merapatkan kedua kakinya seperti hendak menahan sesuatu


*Sreeettt sreeettt sreeettttt* cairan bening langsung muncrat-muncrat keluar dari kemaluan pacarku.


Echa gagal menahan keinginan terkencing-kencingnya. Cairannya muncrat dan mengucur deras hingga membasahi lantai rumahku. Tak kusangka Echa bisa squirt sedahsyat itu karena dirangsang ramai-ramai seperti ini. Padahal denganku saja ia tidak pernah sampai muncrat sebanyak ini.


"Apa selama ini Echa kurang puas ya?", tebakku dalam hati


Lalu kulihat Wawan dengan isengnya membersihkan cairan Echa di lantai dengan celana dalam pacarku itu. Ia lap lantai rumahku dengan kain segitiga berwarna krem itu hingga kembali bersih dan kinclong. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat Tingkah Wawan yang iseng dan merendahkan pacarku. Menggunakan kancut pacarku untuk membersihkan lantai rumahku.


"Sempak cewek lu buat kenang-kenangan ya bro", ujar Wawan sambil ia masukkan celana dalam basah Echa ke dalam tasnya


"Ambil aja"", ujarku sambil terus mengocok kontolku yang tidak bisa beehenti tegang


Setelah itu Anto meraba pantat telanjang Echa. Tangannya begitu leluasa bergerak menjamah pantat pacarku. Pantat putih mulus yang tidak ada cacatnya itu terlihat menungging sempurna menggoda. Kulihat pantat Echa bergerak-gerak, sepertinya ia kegelian dengan gerakan pelan tangan Anto yang meraba bongkahan pantatnya.


*Plak plak plak plak* tiba sentuhan lembut itu berubah menjadi tamparan berulang


"Aaahhhh"", Echa mendesah kesakitan


Pantat Echa berhenti bergerak dan terlihat mulai kemerahan setelah ditampar beberapa kali oleh Anto


"Cewek lu kencing sembarangan.. Harus diceplesin ini bokong" plak plak plak", ujar Anto si gondrong sambil menampar-nampar pantat pacarku yang masih pasrah menungging


"Aaahhh.. Masss" Sakitt", desah Echa sambil menggoyangkan pantat mulusnya begitu sexy seolah meminta Anto berbuat semakin kasar kepadanya


"Nungging lagi sambil buka memek lu!", pinta Anto dan kulihat Echa membuka sendiri lubang kemaluannya dengan kedua tangannya.


Ditarik ke kiri dan kanan seperti itu, membuat kemaluan pacarku menganga lebar hingga area dalam vaginanya terlihat jelas. Aku kembali terkejut tidak kusangka lubang kemaluan pacarku sudah selebar itu. Padahal hanya aku dan Mang Ujang yang sudah merasakan jepitan memek Echa.


*Ah tidak mungkin Echa diam-diam main sama seseorang. Lagian sama siapa? Echa tidak mungkin pernah dientot tanpa sepengatahuanku", ujarku dalam hati


Lalu Wawan dan Anto secara bergantian menjilati vagina pacarku, sedangkan Echa masih khusyuk menyepong kontol Andre yang panjang berurat. Aku pun menghentikan sejenak onaniku. Aku tidak mau disaat panas seperti ini, nafsu gilaku sirna begitu saja Bebarengan dengan orgasmeku. Kupandangi saja tubuh telanjang Echa dihimpit depan belakang oleh ketiga temanku sambil menahan rasa cemburu


Kubiarkan sejenak pacarku mengeksplore kebinalannya bersama ketiga sohibku yang mesum itu. Kubiarkan mereka sejenak menikmati seluruh kenikmatan pada tubuh pacarku Echa. Toh kulihat Echa juga menikmati kegilaan ini. Terlihat sekali betapa ikhlasnya pacarku saat alat kemaluannya dijilati oleh Wawan dan Anto.


Echa sama sekali tidak keberatan. Bahkan tangan Echa terus menarik bibir kemaluannya agar terus terbuka sehingga mereka berdua bisa menjilati bagian dalam alat kemaluan pacarku itu tanpa kesulitan. Yang bikin lebih panas hatiku, Andre saat ini mengarahkan buah pelernya kepada Echa, sambil ia usap kepala pacarku. Lalu dengan patuh Echa menjilati telor hitam berkerut itu dengan lahap dan tidak jijik sama sekali! Gila, ini terlalu gila bagiku. Bisa gila aku melihat kegilaan ini. Aku terbakar api cemburu yang parah melihat Echa menikmati diperlakukan tak senonoh oleh ketiga temanku. Pacarku yang kusayang itu begitu lahap menikmati kontol Andre bahkan ia tak ragu menjilati peler Andre yang kehitaman. Aku saja tidak pernah meminta pacarku menjilati buah zakarku seperti itu .


*Seliar inikah pacarku saat ini? Kulihat pacarku begitu rendah harga dirinya. Tapi bukankah ini adalah jawaban atas semua usahaku membinalkan Echa? Bukankah ini Echa yang kuinginkan? Harusnya aku bangga bukan?* Akupun mencoba menghibur diriku sendiri sambil tak kuasa meremas kontolku yang tidak bisa berhenti mengeras


Akhirnya aku tak kuat melihat pacarku yang sudah kehilangan akal pikirannya, Aku lalu memutuskan untuk keluar sejenak untuk membuang rasa cemburuku. Tidak kuat rasanya Echa yang kutahu gadis baik-baik itu kini terlihat tidak memiliki harga diri sama sekali. Pelacur aja masih harus dibayar agar mau melakukanya, sedangkan pacarku itu terlihat malah menikmati diperlakukan seperti itu secara cuma-cuma


"Gue ke indomaret dulu", ujarku dan aku pun meninggalkan Echa sendirian bersama ketiga kawan cabulku


#


POV : Echa


Beberapa hari setelah aku diperkosa oleh dua orang ojol mesum"


Pikiranku begitu kacau. Aku takut bakalan hamil setelah kedua pria itu menyemburkan sperma mereka ke rahimku. Aku pun mencoba mencari tahu bagaimana caranya agar tidak hamil. Menurut salah satu informasi yang kubaca, jus nanas katanya bisa mencegah kehamilan. Sejak saat itu, aku rajin mengonsumsi jus nanas dan berharap aku tidak jadi hamil.


Tetapi, walau aku ketakutan akan kehamilan, bayang-bayang kenikmatan saat diperkosa mereka masih membekas di memoryku. Aku ingat betul rasa kontol mereka saat menggaruk bagian kemaluanku. Kuakui, aku menikmati perlakuan mereka saat memperkosaku. Bahkan sejak saat itu, tiap malam aku memainkan dildo besar yang kubeli dari Pak Burhan, untuk memuaskan nafsu birahi yang semakin tak bisa kukendalikan. Dildo itu benar-benar menjadi pemuas memekku. Karena aku sendiri bingung mendapatkan kontol sepanjang itu darimana. Sedangkan punya Mas Rio? Entah mengapa aku tidak pernah memikirkannya lagi. Mang Ujang? Err.. aku masih malu kalau minta jatah lebih dulu kepadanya.


Apa mungkin aku jenuh dengan Mas Rio ya? Tidak! aku harus bisa menepis pikiran itu. Setan mungkin sudah menggodaku dengan pikiran seperti ini. Ia butakan perasaanku dengan kenikmatan semu.


*Iya pasti begitu.. Aku tidak boleh berpikir meninggalkan Mas Rio*, kataku dalam hati


"Mas Rio, besok jemput aku ya"", ujarku demi memastikan perasaanku sendiri dan berharap bisa segera bertemu dengan pacarku keesokan harinya


#


Keesokan harinya,


Beberapa jam sebelum aku melayani ketiga teman Mas Rio"


Di dalam kelas, murid-murid terlihat sibuk mencari pasangan untuk mengerjakan tugas kelompok. Kali ini guruku meminta kami untuk membuat kelompok masing-masing 2 orang. Tentu saja biasanya aku berpasangan dengan Bayu. Partner akademis yang selalu bisa kuandalkan. Aku cocok saja kerja kelompok sama dia. Karena memang kami benar-benar kerja kelompok dan bagi tugas. Kadang kami gantian mengetik dan saling bertukar referensi sehingga nilai yang kami dapatkan selalu memuaskan.


Sedangkan kalau sama Anya? Sorry to say, lebih banyak aku yang kerja. Dia hanya sibuk WA an atau teleponan saja. Karena itu, aku malas kalau kerja kelompok dengan Anya. Walau dia sahabatku di sekolah, tapi untuk urusan nilai, aku BIG NO sama dia. Karena itulah aku lebih cocok kalau kerja kelompok sama Bayu.


"Cha, kerja kelompoknya kayak biasanya ya. Aku sama kamu?", kata Bayu tiba-tiba mendatangi meja yang kutempati bersama dengan Anya


"Ciye ciyeee"", tiba-tiba Anya menggodaku hingga membuat mukaku memerah


"Err.. Sorry Bay.. Aku ngga bisa"", jawabku sambil membuang muka tidak sanggup menatap wajah Bayu


Bayu sepertinya terkejut mendengar jawabanku. Tidak seperti biasanya aku menolak ajakan 1 kelompok dengannya


"Lho kenapa Cha?", tanya Bayu kepo


"Err enggak papa sih.. Kamu sama Anya aja gimana Bay?", tawarku sambil kulirik Anya yang wajahnya melongo setelah mendengar ucapanku


"Kamu sudah ada kelompok sama orang lain?", tanya Bayu lagi


"I.. Iya"", jawabku singkat sambil terus menolak menatap wajah cowok ganteng itu


Sepertinya Bayu mengerti dan akhirnya ia berhenti menanyaiku. Bayu pun setuju kali ini ia kerja kelompok dengan sahabatku Anya. Dan terlihat sekali Anya begitu senang dengan keputusanku memberinya kesempatan agar bisa satu kelompok dengan Bayu. Wajah cantiknya terlihat sumringah dan senyum manis terus mengembang menghiasi wajahnya.


Aku menghela nafas panjang, membayangkan kejadian beberapa jam yang lalu. Keputusan ini berawal karena kejadian saat jam istirahat tadi siang. Aku tak habis pikir kenapa kesialan selalu menghampiriku bertubi-tubi. Mungkin ini memang cobaan dalam hidupku dan aku harus kuat menjalaninya.


Tidak ada angin tidak ada hujan saat aku hendak keluar dari toilet dan bersiap masuk kelas, tiba-tiba Endrix si preman sekolah yang nakal dan memuakkan itu mendatangiku dengan senyum menyebalkannya. Aku tidak pernah mau berurusan dengan lelaki ugal-ugalan ini. Tetapi takdir sepertinya berkata lain.


"Ini lo lagi ngapain Cha?", cegat Endrix tiba-tiba saat aku keluar toilet sambil menunjukkan layar handphonenya.


Di layar ponselnya, kulihat sebuah rekaman yang diambil secara diam-diam dari atas yang menampilkan diriku sedang masturbasi. Kejadian beberapa hari yang lalu saat aku menuruti Pak Burhan, ojek cabul yang memintaku masturbasi di toilet sekolah.


*Jadi saat aku mendengar suara dari plafon itu Endrix? Pantas perasaanku kok ga enak"*, kataku terkejut dalam hati


Mukaku merah padam, memang wajahku tidak begitu terlihat di rekaman video itu. Tetapi bagi orang yang kenal betul denganku, mereka pasti bisa langsung menebak kalau cewek berkerudung di dalam video itu memang aku. Jelas sekali aku terlihat mendongakkan kepala sambil memejamkan mata saat asyik masturbasi di video tersebut. Jelas sekali tanganku sibuk memainkan vaginaku


"Lu lagi colmek sambil direkam Cha? Dikirim ke siapa? Bayu? Heheheh", goda Endrix sambil ia kembali tersenyum memuakkan.


"Jangan kurang ajar! Hapus video itu Endrix!", ujarku emosi sambil tanganku berusaha merebut ponsel yang digenggamnya


"Eits, buru-buru amat" Sabar sayang"", ujar Endrix sambil buru-buru ia hindari gerakan tanganku yang hendak merebut handphonenya


"Endrix tolong jangan kayak gini!", kataku semakin panik hingga membuat beberapa siswa siswi di sekitar sekolah menoleh ke arahku


"Sssstttt.. Jangan berisik ntar satu sekolah pada tahu lho. Murid teladan sekolah ini ternyata suka colmek di sekolah. Heheheh", kata Endrix sambil berbisik


"Apa maumu? Tolong hapus video itu"", ujarku sambil kali ini kukecilkan suaraku


"Ikut gue dulu ke atas, ntar lu boleh hapus video ini disana", ujar Endrix dan ia pun mulai berjalan


Aku tak ada pilihan lain selain mengikutinya. Saat mengikuti dari belakang preman sekolah itu, aku baru menyadari tubuh Endrix ternyata tinggi juga. Mungkin hampir sama dengan Bayu yang juga kapten tim basket sekolah. Jantungku berdebar cepat memikirkan mengapa ia mengajakku ke atas. Tempat itu benar-benar sepi karena hanya berupa balkon untuk menaruh AC AC outdoor.


Kami pun sudah tiba di balkon sekolah. Angin bertiup sepoi-sepoi ditengah cuaca yang terik ini. Endrix kembali memandangiku dari atas ke bawah sambil kembali tersenyum menyebalkan. Wajahnya sebenarnya biasa aja dengan kulitnya yang sawo matang. Rambutnya tebal bergelombang dan ia potong model belah tengah. Ada tindik kecil di telinganya. Aku tidak tahu mengapa tidak ada yang berani menegur penampilan acak-acakan pemuda ini. Atau mungkin sudah ditegur tapi pemuda ini tidak ada takutnya? Entahlah"


"Hapus video tadi", kataku berusaha menyudahi matanya yang jelalatan memandangiku dari atas ke bawah


"Iya nanti dihapus tapi ada syaratnya", ujar Endrix


*Sudah kuduga dia pasti tidak akan semudah itu menghapus video tadi*, kataku dalam hati


"Apa? Kamu mau uang?", tanyaku


"Bukan, uang mah bisa gue dapatkan dengan mudah"", jawab Endrix


"Mudah? Maksudmu merampas punya orang lain?", aku semakin kesal melihat kesombongannya


"Hahahah" Echa Echa" Gue kira lu cuek sama gue. Ternyata lu perhatian juga ya sama gue?", kata Endrix


Ini bukanlah bentuk perhatian, tapi memang kenakalan pemuda dihadapanku ini sudah terkenal seantero sekolah. Siapa yang tidak kenal Endrix and The Gank? Sekumpulan siswa tua yang usianya sudah jauh di atas kami dan sekolah tidak bisa menindak tegas mereka. Sekolah terkesan membiarkan ulah mereka yang meresahkan!


"Syaratnya lu jadi cewek gue", ujar Endrix membuatku tersedak


"Gila! Gak mau!", jawabku ketus


"Hehehe lebih gila mana sama video colmek lu diputar di aula sekolah dan disaksikan secara live sama guru dan murid-murid sekolah ini?", ujar Endrix


"Jangan gila kamu Endrix! Hapus video itu atau aku laporin ke kepala sekolah!", ujarku kesal


"Hahahah.. Laporin ke pria tua cabul itu? Yang ada dia bakalan coli liatin video colmek lu Cha" Hahahah"", jawab Endrix


"Aku sudah punya pacar Endrix!", kilahku


"Siapa? Bayu? Putusin aja gampang kan?", kata Endrix


"Bukan Bayu!", jawabku lugas


"Ya udah gue gak peduli sapa pacar lo. Putusin dia dan lu pacaran ama gue mulai sekarang", kata Endrix


Ini orang sepertinya ngga waras. Bisa-bisanya dia menyuruhku memutuskan cowokku dengan mudahnya. Mungkin kehidupannya yang serba ngga pakai aturan membuat dia kebiasaan bertindak sesukanya


"Gak segampang itu Endrix!", ujarku kembali


"Ya udah kalau gitu lu siap-siap film bokep perdana lu bakalan diputer di aula sekolah. Hahahah", ancam Endrix


"Endrix!", aku kembali kesal dengan pemuda ini


"Lo mau gak jadi pacar gue?", tanya Endrix sekali lagi


"Iya!", aku pun tak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan memaksanya


"Iya apa?", tanya Endrix lagi.


"Aku mau jadi pacarmu..", jawabku


"Hmmm.. Gak yakin gue. Sekarang lo coba tembak gue deh. Gue pingin tau lo serius apa gak", kata Endrix


"Apa??? Cukup Endrix sekarang hapus video itu!", pintaku sekali lagi


"Tembak gue dan nyatakan lo cinta mati sama gue", perintah Endrix


Aku kesal dengan pemuda menyebalkan dihadapanku. Memang benar aku lebih baik tidak berurusan dengan preman sekolah bernama Endrix dan kroninya. Tetapi karena kecerobohanku, aku harus berhadapan dengan cowok gila ini. Parahnya, aku merasa seperti menelan ludahku sendiri. Baru kapan hari aku berkata jika Endrix satu-satunya lelaki di dunia ini, aku pun enggak bakal pernah memilihnya. Kini aku malah dipaksanya menyatakan cinta. Gila kan?


"Aku suka kamu.. Mau gak kamu jadi pacarku?", kataku asal-asalan


"Datar banget. Ulang! Yang lebih serius dong! Buktiin lo beneran cinta mati sama gue!", perintah Endrix


Aku menghela nafas panjang. Tidak habis pikir mengapa di sekolahku ada orang menyebalkan seperti Endrix. Aku kemudian berpikir mencoba merangkai kata yang bisa membuatnya puas. Karena tidak biasanya aku menyatakan cinta seperti ini, terlebih ke seorang preman sekolah.


"Endrix, Sejujurnya aku suka sama kamu.. Kamu mau ngga jadi pacar aku? Aku cinta kamu Ndrix"", ulangku sambil mencoba dengan nada yang lebih terdengar lembut


"Hmmm lumayan.. Ok ok.. Tapi, ada Syaratnya biar lu bisa jadi cewek gue. Cewek gue mesti jago sepong kontol gue. Gue gak mau punya pacar yang gak jago sepong kontol. Lo bisa? Heheheh", ujar Endrix sambil terkekeh


"Gila kamu Ndrix! Gak mau!", ujarku emosi mendengar perkataanya yang begitu merendahkanku


"Echa Echa.. Udah deh lo gak usah sok jaim sama gue. Gue tau lo suka colmek diem-diem di sekolah. Mana ada cewek bener suka colmek? Lo tu pasti juga butuh kontol! Lo ga usah sok alim deh. Lo mau gak? Atau Hehehehe"", ancam Endrix tak meneruskan perkataannya dan aku sudah tau arah pembicaraannya


"Ya udah kalau gitu aku mau..", ujarku kesal dan tidak punya pilihan lain selain mengiyakan kemauannya


"Bagus.. Gue tau lo cewek pinter. Heheheh.. Ya udah gue tes lo dulu sebelum gue mutusin lo gue terima apa gak jadi pacar gue", ujar Endrix sambil ia pelorot celananya hingga batang kemaluannya kini terlihat di depan mataku


"Endrix apaan sih! ini di sekolah! Kalau ada yang liat gimana?", ujarku tak habis pikir lelaki itu bisa senekat itu


"Karena itu buruan lo sepong kontol gue. Gue kasih lo waktu 5 menit bikin gue crot. Kalau lo gagal lo ga boleh jadi pacar gue", tantang Endrix


"Gila!", aku kembali kesal


"Ayo waktu terus berjalan. Oiya kalau lo gagal video mesum lho besok tayang live di sekolah. Heheheh", ancam Endrix sekali lagi


"Apa???", aku pun terkejut dengan ancaman pemuda gila itu dan buru-buru berjongkok dihadapannya


Aku terpaksa memberanikan diri memegang kontol Endrix yang mengacung tegak dan keras. Kukocok dan kuberikan apa yang sudah kupelajari selama ini. Ternyata kontol Endrix lumayan tebal dan terasa mantab saat kugenggam. Rasanya kurang lebih sama dengan punya Mang Ujang. Punya Endrix dan Mang Ujang memang identik. Lebih keras dan lebih besar dibanding punya Mas Rio. Ukuran kontol mereka juga kurang lebih sama dengan tekstur beruratnya. Hanya saja punya Endrix lebih bengkok keatas seperti lekukan buah pisang.


"Emut sayang jangan cuma dikocok doang", perintah Endrix


Aku buru-buru memasukkan kontol Endrix yang keras itu. Rasanya lumayan sesak di dalam mulutku. Apalagi bentuknya yang melengkung itu membuatku harus bisa mengatur posisi bibirku agar bisa melahap seluruh batang kontolnya.


"Ahhhh.. Aduh.. Jangan kena gigi bego..", kata Endrix sambil menahan kepalaku agar berhenti sebentar


Lalu aku mencoba sekali lagi. Bentuk kontol Endrix yang melengkung itu memang sulit kutaklukan. Aku harus extra main perasaan agar tidak terkena gigiku. Kali ini kucoba lebih berhati-hati dan kuposisikan bibirku agar bisa mengulum kemaluan preman sekolah itu lebih baik dari sebelumnya.


Kujilati perlahan kepala kontolnya yang berwarna pucat keabu-abuan. Lalu kukulum lagi batang kontol melengkungnya lebih serius dengan tempo yang teratur.


"Aaaahhh.. Iya baguss.. gitu.. Aaahhh" Lo ternyata selain pinter di pelajaran, juga pinter ngemut kontol. Heheheheh", ujar Endrix sambil membelai kepalaku lembut


"Oiya, waktu kurang 3 menit", imbuh Endrix mengingatku


Aku kembali panik saat ia menyebut sisa waktu yang kumiliki agar bisa membuatnya klimaks. Kupercepat tempo kulumanku dan kuperkuat sedotan pada kemaluannya. Kali ini yang kupikirkan adalah bagaimana caranya preman sekolahku ini bisa segera keluar. Endrix mendesah dan mencengkeram kuat kerudungku. Kini tangannya juga ikut mendorong dan menarik kepalaku agar maju mundur menyepong kontolnya.


Kontol Endrix semakin menyiksa tenggorokanku. Apalagi aromanya itu buatku ingin muntah dan aku pun hanya bisa mencoba menahan nafas. Kubiarkan kali ini ia yang menggenjot mulutku dengan kontolnya. Gerakannya begitu kasar dan cepat menyiksa rongga mulutku yang sempit. Atau mungkin memang kontol Endrix yang terlalu panjang dan melengkung bagi mulutku


"Ohhh.. Anjir enak bener sepongan lo Cha.. Aaahhh.. Aaarrggghhh", pekik Endrix


Tiba-tiba tubuh pemuda itu mengejan hebat disertai getaran-getaran yang kurasakan di sekitar selangkangannya. Kontol yang masih di dalam mulutku itu juga ikutan kedutan. Endrix menahan kepalaku kuat-kuat dan ia lesakkan batang kontolnya dalam-dalam hingga mentok seluruh batang itu masuk ke dalam mulutku. Rasanya seperti ingin mati saja karena aku kesulitan bernafas dengan kontol yang besar itu menusuk tenggorokanku.


*Crottt crottt crottt crottttt crottttt*


Mataku terbelalak dan kurasakan airmataku meleleh saat menyadari sperma Endrix muncrat berkali-kali di dalam tenggorokanku. Ingin rasanya aku memuntahkan cairan itu namun tidak bisa. Cairan kental itu terlalu banyak mengisi rongga mulutku. Terasa begitu kental dan asin serik dengan aromanya yang begitu kuat. Mulutku benar-benar diisi penuh oleh sperma Endrix


"Minum peju gue.. Awas kalau sampai ada yang tumpah", ujar Endrix sambil ia cabut batang kontolnya dari mulutku


Kini aku yang harus berusaha mati-matian agar seluruh sperma yang ia tumpahkan di dalam mulutku tidak ada yang tumpah keluar dari mulutku. Tanganku bahkan reflek menadahi mulutku memastikan sperma Endrix tidak ada yang jatuh ke bawah. Aku coba pelan-pelan mulai menelan cairan kental amis asin serik itu. Rasanya begitu lengket di dalam tenggorokanku. Kutelan perlahan sisa sperma yang masih ada di mulutku dan kubiarkan mengalir hingga masuk seluruhnya melewati tenggorokanku. Perutku terasa penuh karena dipenuhi sperma kental Endrix dan terasa aneh sekali.


"Uhuk uhuk uhuk", aku pun akhirnya terbatuk-batuk karena rasa lengket dan serik yang menyerang tenggorokanku terasa semakin menyiksa


"Hehehe.. Demen gue cewek yang suka nelen peju sampai habis tak tersisa kayak lo", ujar Endrix sambil mengelus kepalaku sekali lagi


"Su.. sudah cukup" Sekarang.. Ha.. Hapus videonya" Hah.. hah.. hah"", pintaku terbata-bata dengan nafas tersengal-sengal


"Cium dan bersihin peju di kontol gue dulu pake mulut lo", ujar Endrix sambil ia tempelkan kontol belepotannya ke bibirku


Aku buka mulutku sekali, kujilati garis lubang kontol Endrix dan kubersihkan sisa sperma yang masih menempel di kepala kontolnya. Kupastikan tidak ada sperma yang tertinggal di alat kemaluan preman sekolah ini. Kujilati seluruh batang kontolnya hingga mengkilap oleh ludah sendiri. Lalu terakhir, kukecup kepala kontolnya berkali-kali sebelum kusudahi kegilaan dengan teman sekelas berandalku itu.


"Yessss.. Cewek pintar.. Pantas aja lo salah satu murid yang paling berprestasi di sekolah" Ternyata lo emang pinter muasin kontol", puji Endrix sambil kembali ia usap pipiku


"Sekarang hapus videonya"", pintaku sekali lagi


"Sabar sayang.. Heheheh.. Ok gue terima lo jadi cewek gue", kata Endrix sambil ia ambil handphonenya dan ia tunjukkan kepadaku kalau ia benar-benar telah menghapus video tersebut.


Aku akhirnya sedikit bisa bernafas lega. Aib memalukanku tidak jadi diumbarnya ke seluruh sekolah.


"Oke jadi sekarang lo resmi jadi pacar gue. Sekarang kalau ada kerja kelompok, lo wajib satu kelompok sama gue. Ngerti lo? Oiya satu lagi, gue gak suka lo bilang "aku" ke gue. Mulai sekarang lo sebut diri lo dengan sebutan "Lonte Echa" pas sama gue. Ngerti?? ", kata Endrix dan aku hanya mengangguk lemah malas berdebat dengannya


"Satu lagi, nanti pulang sekolah gue tunggu lo disini lagi. Gue mau lo sepong kontol gue lagi. Gue gak mau keburu-buru kayak barusan. Gue mau nikmatin sepongan lo lebih lama lagi. Paham?"


Aku pun hanya bisa kembali mengangguk menyetujui perintahnya"


#


Itulah awal dari semuanya. Awal dari aku yang saat ini resmi menjadi pacar Endrix. Lalu bagaimana nasib Mas Rio? Apa yang harus kukatakan kepadanya? Aku sejujurnya masih sayang dengan Mas Rio dan tidak ada keinginan sedikit pun untuk meninggalkannya. Setelah semua yang telah kami berdua lakukan sejauh ini. Aku sudah berniat menseriusi hubungan kami hingga ke jenjang pernikahan. Tapi bagaimana caranya? Apakah bisa aku memiliki dua pacar sekaligus? Rasanya tidak bisa! Aku sayang betul dengan Mas Rio! Dan aku benci sekali dengan Endrix!


Karena itulah saat aku melihat sosok Mas Rio menjemputku di sekolah, ingin rasanya kutumpahkan semua uneg-unegku. Kupeluk erat tubuhnya saat diriku diboncengnya. Seolah aku tidak ingin berpisah dengannya. Dalam hati aku meminta maaf berkali-kali ke Mas Rio karena aku telah mengkhianatinya.


Tapi bagaimana jika Endrix tahu aku masih menjalin hubungan dengan Mas Rio?


Aku tidak ingin Mas Rio berurusan dengan Endrix. Sebisa mungkin aku akan menjalani ini semua secara diam-diam untuk sementara waktu. Biarlah dosa ini aku tanggung sendiri. Aku tidak lagi menyalahkan Mas Rio atas semua kejadian buruk yang menimpaku. Ini semua bukan salah Mas Rio lagi. Akulah yang mulai memilih terjun jauh ke lubang kehinaan ini. Ya aku memang menikmati ini semua. Aku bahkan bersedia menjadi seorang wanita penghibur demi meraih handphone impianku. Biarlah aku akan mencoba menjalaninya, hingga waktu yang menjawab semua akan berakhir seperti apa"


#


Kenakalanku ternyata tak berakhir saat di sekolah siang tadi. Saat di jemput oleh Mas Rio aku berharap bisa memadu cinta dengannya. Aku berharap bisa bercinta dengan orang yang kucintai. Namun ternyata keinginanku sedikit meleset. Aku tidak bercinta dengan orang yang kucintai. Justru tubuhku saat ini menjadi hiburan bagi teman-teman lelaki yang kucinta.


Sore selepas pulang sekolah, aku diajak ke rumah Mas Rio. Ternyata disana sudah ada ketiga teman Mas Rio yang pernah kutemui di warung tempatku akhirnya melakukan pertunjukan striptease kapan hari. Mendadak saat melihat mereka, aku kembali teringat saat diam-diam tanpa sepengetahuan Mas Rio, aku menghibur mereka di rumahku sendiri.


Mengingat kejadian itu, desiran nafsuku kembali muncul. Nafsu birahiku saat ini memang mudah sekali naik terutama saat aku mulai terbiasa menjalani kehidupan bebas ini. Aku merasa benci dengan pikiran dan tubuhku sendiri, yang begitu mudahnya terangsang akhir-akhir ini. Padahal imanku mencoba menahannya, namun sayangnya aku lebih memilih mengulangi lagi dan lagi dosa yang sama. Aku semakin terangsang saat salah satu teman Mas Rio meminta aneh-aneh kepadaku. Ya, dia minta nenen ke tetek aku dan tentu saja pacarku itu mengijinkannya.


Kepalang tanggung, aku coba untuk bersenang-senang lagi dengan mereka. Toh pacarku juga mengijinkannya dan tentu saja hal ini semakin membuatku yakin untuk melampiaskan hasrat nafsuku yang mudah naik ini. Kunikmati cumbuan dan sentuhan mereka pada area sensitifku. Kupuaskan mereka dengan tubuhku dan setidaknya aku bersyukur, tubuhku ini bisa berguna untuk mereka


"Ya ampun Echa.. Sepertinya benar kata Endrix" Aku memang pantas disebut Lonte", pikirku saat ini


Mas Rio pun meninggalkan rumahnya sejenak. Entah aku tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Jika dia memang mencintaiku, normalnya dia pasti akan cemburu. Ya, mungkin dia saat ini cemburu parah dan tidak kuat tubuh telanjangku dinikmati ketiga temannya sehingga dia memilih pergi sebentar. Apalagi aku terlihat menikmati betul kontol Mas Andre yang panjang dan hitam itu.


Saat ini aku dalam posisi menungging, vaginaku dijilati oleh kedua teman Mas Rio secara bergantian. Mas Wawan dan Mas Anto menyedot habis lendir memekku dan untungnya, memekku ini juga bisa memproduksi lendir dalam jumlah banyak sehingga aku pun tidak keberatan mereka menyeruput area kemaluanku bergantian.


"Aaaahhh.. Sialan memek lu nikmat bener Chaaa" Becek anjirrr"", puji Mas Wawan sambil sesekali ia colok jemarinya ke vaginaku


"Aaaaaahhhhh.. Iyaaaahhh.. Teruss masss" Enaaakkk", aku semakin bebas berteriak sepeninggal Mas Rio


Kurasakan jari Mas Wawan mengorek klitorisku dan perbuatannya ini memberikanku sensasi kenikmatan yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata. Rasanya begitu nikmat saat ia garuk area itu. Tubuhku bahkan sampai tak bisa berhenti kejang-kejang hingga cairan beningku kembali mucrat


*Sreettt sreettt sreettt*


Aku kembali terkencing-kencing menyembur membasahi lantai rumah Mas Rio


"Enak ya Cha main ramai-ramai?", tanya Mas Anto yang melihatku ngos-ngosan setelah orgasme kesekianku


Aku hanya mengangguk lemah dan kubiarkan vaginaku istirahat sejenak. Aku benar-benar menginginkan kontol saat ini. Kontol yang bisa memberikan kenikmatan lebih nikmat dari sentuhan jemari mereka. Tetapi tentu saja aku tidak berani sejujur itu meminta kepada mereka. Aku hanya menunggu dan berharap-harap cemas sambil menikmati sisa-sisa orgasme yang membuat kemaluanku kedutan.


Lalu mereka bertiga duduk di sofa dan kulihat ketiga lelaki itu mengocok kontol mereka sambil memandangiku yang masih terbaring lemas di lantai. Kurasakan cairan bening masih sedikit menetes dari kemaluanku dan tak kuhiraukan itu.


"Sini Cha, gue tau lu masih butuh kontol kan? Ayo sini"", ujar Mas Andre yang duduk di tengah


Aku pun merangkak mendatangi mereka dengan sisa tenagaku. Mataku hanya tertuju kepada ketiga kontol itu. Aku sudah tidak melihat lagi wajah lelaki yang menikmati tubuhku. Yang kubutuhkan kontol, bukan wajah lagi.


Saat wajahku berada di selangkangan mereka. Aku kembali mengulum kontol Mas Andre. Sedangkannkedua tanganku sibuk mengocok kontol Mas Wawan dan Mas Anto. Aku berusaha sebisaku menghibur mereka. Kubuktikan aku sebagai wanita harus pandai melayani kaum pria. Mulutlu dengan penuh nafsu mulai mengulum kontol Mas Andre. Sesekali kepalaku bergerak ke kanan kiri juga untuk mengulum kontol Mas Wawan dan Mas Anto.


Kupastikan aku bisa adil dalam mengulum kontol ketiga teman Maa Rio itu. Terlihat sekali betapa kepalaku sibuk saat ini menoleh ke kiri dan ke kanan bergantian menyepong kontol-kontol berbagai bentuk dan ukuran itu. Kujilati dan kuciumi kepala kontol mereka hingga basah penuh dengan air liurku


Lalu kudengar ada seseorang yang membuka pagar. Aku yakin sekali orang yang masuk ke rumah adalah Mas Rio. Jadi aku tak menghiraukan kehadirannya dan aku terus konsentrasi menyepong ketiga kontol dihadapanku.


*Slok slok slok* suara bibirku yang yang begiti bersemangat sepong kontol teman-teman Mas Rio


"Cewek lu bener-bener suka kontol bro. Dia beneran pacar lu atau emang lonte?", ejek Mas Andre setelah melihat Mas Rio sudah kembali.


Mas Rio tidak berkata apa-apa. Aku yakin sekali ia saat ini memandangiku yang tengah asyik mengulum kontol ketiga teman-temannya. Aku bahkan tidak melihat ke arah pacarku yang saat ini berdiri di belakangku.


"Ini buat kalian..", tiba-tiba Mas Rio melemparkan sesuatu ke perut Mas Andre yang duduk ditengah.


Aku melirik ke arah benda yang dilemparkan oleh Mas Rio. Sebuah kotak kondom isi 3 pcs. Mataku tertegun melihat benda yang dilempar Mas Rio. Apakah Mas Rio meminta ketiga temannya untuk menyetubuhiku?


"Wuidih, Beneran boleh kita entot nih cewek lu?", ujar Mas Wawan yang saat ini kemaluannya sedang kujilati


"Pakai aja mumpung gue lagi baik", ujar Mas Rio


"Hahaha gitu dong.. Nanggung anjir kalau gak sekalian dientot", kata Andre sambil membelai kerudungku


Aku hanya diam saja mendengar pembicaraan mereka. Jantungku kembali berdebar-debar karena sebentar lagi aku harus bersetubuh dihadapan pacarku sendiri. Kali ini bukan hanya dengan 1 lelaki seperti saat dengan Mang Ujang, tetapi dengan 3 lelaki sekaligus.


"Yaudah Cha, lu pasangin gih kondomnya ke kontol gue. Memek lu juga kayaknya dah pingin dientot tuh dari tadi bocor terus. Heheheh", kata Mas Andre lagi


"I.. Iya mas"", jawabku menghentikan seponganku sejenak


Kubuka kemasan kondom itu dan memang benar isinya 3 buah karet berbentuk membulat berwarna putih kekuningan saat masih tersegel. Kubuka plastiknya dan aku pun mencoba memasangkannya ke kontol Mas Andre.


"Pake mulut lu lah masangnya. Gimana sih!, ujar Mas Andre dan aku mengangguk paham


Kutepatkan lubang kondom tepat di kepala kontol Mas Andre. Setelah dirasa pas, baru aku memakai mulutku untuk memakaikan kondom itu ke kontol Mas Andre. Ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Aku merasa kondom Mas Andre ini kekecilan karena ukuran kontolnya lumayan besar.


"Sory gue belinya rata ukuran L takut tar malah kebesaran kalau dipake Wawan dan Anto. Bisa hamil cewek gue kalau gak pas.", ujar Mas Rio yang melihatku kesusahan pasang kondom ke kontol Mas Andre


"Ya udah gapapa, pasang sebisa lu aja Cha, udah gak sabar gue", ujar Mas Andre


Aku pun mengangguk dan kali ini aku memasangkan kondom itu ke kontol Mas Andre dengan kolaborasi antara mulut dan tanganku. Jika terasa nyangkut, akan kubenarkan dan kuoaskan dengan tanganku dan kukulum sebentar agar lebih pas lagi.


Setelah kontol Mas Andre sudah terbungkus kondom, aku dimintanya duduk di sofa sambil mengangkang lebar. Kulihat ia mulai persiapan memasukkan kontolnya ke kemaluanku. Berdebar rasanya aku kembali disetubuhi cowok selain pacarku. Kontol Mas Andre mulai menempel di bibir memekku. Rasanya lebih mendebarkan dan memberikan sensasi yang jauh berbeda.


*Jleb*


"Sssshhh"", aku mulai mendesah kecil saat kontol Mas Andre mulai membelah bibir kemaluanku.


Mas Andre terus mendorong kontolnya masuk hingga membuat memekku rasanya semakin terbelah. Kepalaku mendongak dan kucengkeram sofa rumah Mas Rio kuat-kuat saat merasakan kemaluan keras itu mulai tertancap semakin jauh ke dalam.


"Ohhhh sempit bener memek lu Cha" Aaahhh"", ujar Mas Andre


"Kontolmu mas yang kebesaran. Aaaahhh".", ujarku sambil meringis menahan sakit


Mas Andre yang mulai penetrasi di memek becekku. Perlahan mulai menyodok lubang kemaluanku dengan batang kemaluannya. Memekku rasanya mulai beradaptasi menerima kontol Mas Andre. Rasa sakitku mulai berkurang berganti menjadi rasa yang nikmat. Walau sayangnya, aku tidak begitu merasakan tekstur kontol Mas Andre karena terbungkus kondom.


*Jleb jleb jleb*


Kontol Mas Andre mulai keluar masuk di liang senggamaku. Samar kulihat Mas Rio terus memandangiku yang sedang bersetubuh dengan temannya sendiri. Melihat dirinya yang berdiri mematung sebenarnya aku tidak enak juga. Aku juga tidaj bisa bebas mendesah dan kulampiaskan sesukaku. Ada hati yang harus kujaga saat ini. Aku mencoba menggigit bibir bawahku demi menahan keinginanku untuk mendesah


"Ssshhh.. Ouhhh..", hanya suara desahan kecil yang keluar dari mulutku


Saat sedang digenjot Mas Andre, entah sejak kapan Mas Wawan dan Mas Anto sudah berdiri di kiri dan kananku. Aku tahu mereka menginginkanku untuk memuaskan kontol mereka dengan bibirku sementara bibir bawahku sedang di genjot oleh kontol Mas Andre.


Kumulai untuk menyepong kontol Mas Anto, sedangkan tangan kananku kugunakan untuk mengocok kontol Mas Wawan. Kujilati kontol Mas Anto penuh nafsu lalu bergantian kujilati kontol Mas Wawan agar semuanya kebagian. Kontol mereka rasanya kembali mengeras saat kujilati dan kukulum penuh kenikmatan kelamin teman-teman pacarku itu


*Jleb jleb jleb* memekku terus digenjot kontol Mas Andre


Aku kembali kepayahan dan kelelahan meladeni ketiga kontol mereka. Sepertinya aku perlu melatih staminaku lagi agar terbiasa meladeni banyak kontol seperti ini. Tempo seponganku semakin cepat dan semakin liar, seliar sodokan kontol Mas Andre ke memekku


Setelah melihatku kepayahan menyepong kontol, Mas Wawan dan Mas Anto duduk disamping kiri dan kananku. Mereka kemudian menciumi bibirku bergantian. Kepalaku kembali menoleh ke kiri dan ke kanan, bedanya kali ini aku bersilat lidah dengan kedua teman Mas Rio. Sambil terus menciumi bibirku bergantian, tangan mereka kembali menggerayangi tetek aku. Mereka meremasnya dan memainkan putingku dan mencubit-cubitnya dengan gemas.


"Aaaahhh..", kembali aku mendesah menerima rangsangan memabukkan ini


Kurasakan puting susuku semakin mancung karena terus disedot penuh nafsu oleh Mas Anto dan Mas Wawan. Mas Rio kulihat juga kembali onani, menikmati melihat pacarnya sedang melayani ketiga temannya.


"Sexy bener kamu sayang.. Shitttt"", ujar Mas Rio sambil terus mengocok kontolnya


"Gantian dong bro ngentotnya", kata Mas Wawan tiba-tiba kepada Mas Andre


"Siap"", jawab Mas Andre sambil ia cabut kontolnya dari kemaluanku


Aku tidak tahu kapan persisnya Mas Wawan membungkus batang kontolnya dengan kondom. Yang pasti kontol Mas Wawan sudah bersiap menembus memekku. Aku kembali mengangkang bersiap menerima kontol selanjutnya yang harus kupuaskan dengan alat kelaminku.


*Jleb*


Mudah saja bagi kontol Mas Wawan membelah bibir kemaluanku. Karena memang kontol Mas Andre lebih besar sehingga memekku tidak kesulitan beradaptasi menerima kontol Mas Wawan yang lebih kecil. Mas Wawan mulai memompa vaginaku hingha tubuhku terdesak oleh tubuh besarnya. Payudaraku sampai bergoyang-goyang seirama dengan sodokan kontol Mas Wawan.


Bibirku kali ini kembali sibuk mengulum kontol Mas Andre dan Mas Anto. Kunikmati saja kedua kontol teman pacarku yang bergantian kusepong ini. Kunikmati momen tak terlupakan ini. Momen yang akan menjadi titik balik jalan hidupku. Momen bersejarah yang pasti akan kuingat sampai aku tua nanti. Momen dimana aku bercinta dengan 3 orang sekaligus dan disaksikan oleh pacarku sendiri sambil ia onani.


"Aaarrrgghh gue keluarrrrr"", kata Mas Wawan sambil ia dorong dalam-dalam kontolnya semakin ke dalam memekku


Tidak ada cairan hangat yang kurasakan mengenai dinding rahimku. Wajar saja karena sperma Mas Wawan tertampung oleh kondom yang dipakainya. Setelah ia puas dan mencabut kemaluannya dari kemaluanku, ia lepas pula kondom berisi spermanya dan ia letakkan kondom bekas itu di payudaraku. Kondom yang sudah lecek terkena lendir haram memekku.


Lalu tidak banyak membuang waktu, Mas Anto buru-buru memasang kondomnya dan langsung ia ceploskan kontolnya ke liang senggamaku. Kembali vaginaku harus melayani kontol berikutnya dan ia langsung menggenjot memekku dengan cepat. Mungkin Mas Anto sudah terlalu bernafsu untuk menikmati lubang kelaminku yang sebelumnya sudah dinikmati kedua temannya.


Ia hajar memekku dengan cepat hingga akhirnya aku tidak bisa menahan desahanku. Aku mulai mendesah dengan liar, melupakan sejenak perasaan Mas Rio. Kegilaan ini terlalu nikmat bagi tubuhku. Sampai-sampai aku lupa segalanya. Aku lupa kalau Mas Rio masih memandangiku ngentot dengan teman-temannya sambil beronani


"Aaahhh.. Aaaahhh.. Masss.. Terusss" Aaahhhh"", desahku saat disodoki kontol Mas Anto yang gondrong itu dengan kasar


"Aaarrrrgggghh gue keluar Cukkkkkkk", pekik Mas Anto


Terasa kontol Mas Anto kedutan di dalam memekku, tetapi kembali tidak terasa semburan hangat yang mengenai rahimku. Semuanya berakhir begitu saja. Setelah ia klimaks, Mas Anto mencabut kontolnya dan membuang kondom bekasnya ke tetekku sama dengan Mas Wawan tadi.


Aroma kondom mereka berdua sangat menyengat dan bau pesing. Entah itu karena vaginaku yang sudah becek atau memang kontol mereka yang bau.


"Capek Cha?", kata Mas Andre kembali bersiap menyetubuhiku untuk kedua kalinya


Aku menjawab dengan anggukan lemah. Aku pejamkan mataku tidak sanggup menatap wajah Mas Andre. Aku terlihat begitu memalukan dihadapan teman-teman pacarku serta pacarku sendiri. Tubuh telanjangku begitu basah berkeringat. Lengkap dengan kondom bekas dan ceceran sperma yang sedikit tumpah dari kondom Mas Wawan dan Mas Anto mengenai kulit payudaraku.


"Masih mau kontol gue gak?", goda Mas Andre sambil ia tempel-tempelkan ujung kontolnya ke bibir vaginaku


"Mau.. masukin mas.. aku" mau" kontol kamu..", pintaku manja


"As you wish bitch"", ujar Mas Andre sambil tiba-tiba ia hentakkan kuat-kuat kontolnya menjebol memekku


*Jlebbbbbbb*


"Aaaaaaaahhhhhhh"", aku memekik kencang saat kontol besar dan panjang Mas Andre kembali dimasukkan ke memekku secara lugas


Memang kuakui kontol Mas Andre lebih superior dibandingkan punya Mas Wawan dan Mas Anto. Kontol itu begitu terasa sesak memenuhi kemaluanku. Sayangnya, aku tidak bisa menikmatinya secara maksimal. Karena texture berotot batang kontol Mas Andre terhalangi karet yang membugkus batang kemaluannya


*Slepp slepppp sleppppo*


Entah sudah berapa tusukan yang diterima memekku sore ini. Hingga vaginaku rasanya tak bisa berhenti berlendir dan terus mengeluarkan cairan pelumasnya. Mungkin kemaluanku menyukainya. Menyukai disodok banyak kontol seperti saat ini.


Mas Andre kali ini lebih leluasa menyetubuhiku. Karena sekarang aku hanya fokus kepada lelaki yang mirip orang India ini. Ia kembali memagut bibirku dan melumat lidahku sambil kontolnya terus maju mundur menghajar organ intimku. Ia juga lebih leluasa memainkan kedua puting susuku karena sudah tidak ada lagi yang nenen di daging kenyalku itu


"Ouuhhh.. ouhhh.. terusss mas" terusss"", pintaku begitu manja sambil memeluk tubuh Mas Andre


"lu dilihatin cowok lu tuh"", goda Mas Andre sambil matanya melirik ke Mas Rio


Tubuhku sudah tidak peduli lagi. Aku peluk erat tubuh Mas Andre agar kontolnya tidak meninggalkan lubang memekku. Kubuka kakiku lebar-lebar dan kuijinkan ia entot kemaluanku dengan penuh keikhlasan sepuas dia. Aku kembali berciuman panas dengannya dan kubiarkan ia meneteskan air liurnya ke mulutku. Kuterima air liurnya dan kubiarkan ia terus meneteskan liurnya dengan membuka mulutku lebar-lebar


*Jleb jleb jleb*


"Gue lama-lama bisa jatuh cinta sama lu anjr kalau kayak gini" Bro cewek lu buat gue ya?", kata Mas Andre sambil kembali ia lumat bibirku untuk kesekian kalinya


Mas Rio tidak langsung menjawab pertanyaan temannya. Ia hanya bergeming sambil menatap ke arahku dan Mas Andre yang sedang bersetubuh penuh nafsu. Mungkin dalam pikirannya, ia sedang bertarung mau menuruti permintaan gila itu atau tidak. Kulirik tubuh Mas Rio gemetaran. Tangan kirinya mengepal erat. Sedangkan tangan kanannya terus mengocok kontolnya dengan cepat


Cobaan Mas Rio tidak sampai disini saja, karena Mas Andre tiba-tiba melepas kondomnya dan ia langsung kembali menusukkan kontolnya yang kini tanpa kondom ke memek aku. Kepalaku sampai terdongak, sodokan kontol Mas Andre kali ini lebih terasa gila lagi. Textur berurat kontolnya benar-benar terasa menggaruk dinding kemaluanku. Jauh berbeda dibanding tadi yang hanya terasa sesak saja di kemaluanku


*Nikmat, ini terlalu nikmat. Entot aku terus massss"*, pekikku dalam hati


Kakiku semakin mengangkang memberikan jalan kontol Mas Andre agar menggaruk memekku yang semakin gatal saat digaruk kontolnya. Aku juga mempererat pelukanku dan kupegangi pantat Mas Andre agar semakin mentok kontolnya menghajar kemaluanku


"Liat cewek lu ketagihan kontol gue", kata Mas Andre sambil memandang rendah diriku yang terang-terangan meminta digenjot olehnyam


"Aaahhh.. terusss.. Aaaahh.. mass.. enak"", rancauku semakin menggila menikmati gesekan pertemuan kedua alat kelamin kami


"Mau dicrotin di dalam apa diluar Cha?", tanya Mas Andre


Aku tidak menjawab pertanyaan itu. Aku sudah malas untuk memilih. Mau dicrot di dalam juga aku sudah tidak peduli lagi. Yang ada dipikiranku hanya bagaimana cara menikmati kontol ini di detik-detik terakhir sebelum Mas Andre klimaks.


"Diluarr.. Awas aja kalau lu buntingin pacar gue!!!", tiba-tiba Mas Rio menjawab


"Hahahha.. Tenang bro gue Cuma bercanda.. Gue crotin di mulut pacar lu aja biar dia tau rasa peju gue", kata Mas Andre dan ia pun segera mencabut kontolnya dari rahimku


Aku lalu segera membuka mulutku lebar-lebar dan bersiap menerima sperma Mas Andre di mulutku


*Crot crot crot crot crot* kontol Mas Andre menyemburkan spermanya


Seketika bibirku belepotan penuh spermanya. Sebagian ada yang masuk ke rongga mulut, sebagian lain ada yang mengenai hidung dan wajahku. Aroma pekat dan khas dari spermanya langsung tercium oleh hidungku. Kuteguk cepat-cepat sperma Mas Andre agar tidak tumpah lebih banyak lagi.


Belum selesai aku membersihkan wajahku, Mas Andre sudah menampar bibirku dengan kontolnya. Ia memintaku membersihkan kelaminnya yang belepotan lendir haramku dan spermanya. Dengan patih kubersihkan gagang kontol Mas Andre dengan lidahku, kujilat dan kucium serta kuhisap tipis-tipis alat kemaluannya. Seperti yang kulakukan siang tadi dengan Endrix.


"Belum selesai, buka mulut lu Cha sambil julurin lidah lu", kata Mas Andre dan aku pun langsung melakukan apa yang dimintanya


Kubuka mulutku lebar-lebar. Lalu Mas Andre kemudian meraih kedua kondom bekas milik Mas Wawan dan Mas Anto dan ia tumpahkan sperma mereka dari kondom bekas itu hingga kembali mulutku harus menelan air mani teman pacarku.


Mas Andre terus menumpahkan dan mengurut kondom bekas tadi sampai memastikan tidak ada sperma yang tertinggal di kondom lecek itu. Mulutku kembali belepotan sperma dan pelan-pelan tenggorokanku mencoba menelan kembali sperma kental yang ditumpahkan ke mulutku


"Good girl.. Saran gue lu kudu biasa minum peju biar jiwa lonte lu semakin terasah.. Hehehe", ujar Mas Andre sambil terkekeh dan aku hanya mengangguk lemah


Mulutku rasanya kaku setelah tenggorokanku menerima sperma kental begitu banyak. Mungkin bagian dalam tenggorokanku sudah lengket dengan cairan asin gurih itu sehingga kali ini aku malas menjawabnya


Setelah ketiga teman pacarku tuntas menyemburkan spermanya setelah menikmati tubuhku, mereka kemudian memintaku berpose duduk diatas sofa tempatku barusan digilir. Kedua kakiku dilebarkan hingga vaginaku menganga. Kedua tanganku diminta berpose dua jari (peace), payudaraku dibiarkan terbuka begitu saja memamerkan puting susuku yang masih mancung. Lalu Mas Wawan duduk di sebelah kananku, Mas Anto duduk di sebelah kiriku dan Mas Andre berdiri dibelakangku sambil kedua tangannya melingkar di pundakku.


"Bro, foto kita dong buat kenang-kenangan. Heheheh..", ujar Mas Andre kepada Mas Rio sambik terkekeh


Mas Rio tidak menjawab ucapan Mas Andre. Tetapi tangannya kemudian mengarahkan kameranya ke arah kami berempat. Aku dikelilingi oleh ketiga temannya dalam posisi begitu memalukan karena menampakkan seluruh aurat pribadiku. Hanya rambutku saja yang masih terbungkus kerudung seragam sekolah yang warnanya putih


*Cekrik*


#


Sepeninggal ketiga teman pacarku, aku akhirnya bisa berduaan dengan Mas Rio. Mas Rio terlihat wajahnya begitu suntuk setelah melihatku digilir habis-habisan oleh ketiga temannya. Aku tidak berani mengajaknya berbicara terlebih dahulu. Kuakui aku memang salah karena terbawa suasana dan tubuhku begitu jujur menikmati perzinahan tadi.


"Puas ya?", tanya Mas Rio sepertinya masih emosi


"Mas.. maaf.. tapi"", aku berkata sambil terbata-bata


"Ngga ada tapi-tapian.. Kamu suka kan digilir kayak tadi? Jawab jujur!", tanya Mas Rio sambil membentak


Aku mengangguk lemah


"Jawab!"


"Iya aku suka. Puas?", akhirnya aku memberanikan diri menjawab pertanyaannya


"Enak mana ngentot sama aku atau ngentot sama mereka???", selidik Mas Rio


Kali ini aku terdiam, aku ragu menjawab pertanyaan pacarku. Karena sudah jelas aku menikmati digilir seperti tadi. Rasanya sungguh luar biasa dan membuatku ketagihan.


"Jawab!!!"


"Ini semua kan keinginanmu mas? Kamu yang menginginkan ini semua kan? Aku melakukannya karena aku sayang kamu!!!", jawabku


Mas Rio terdiam"


"Mas tau enggak? Aku jadi gini awalnya karena sapa? Karena kamu mas! Kamu yang bikin aku gini. Dan kamu tahu? Aku mulai menikmatinya mas! Aku ketagihan! Kamu juga tau? Tiap malam aku masturbasi mas karena nafsuku semakin ga bisa kutahan! Memek aku tersiksa mas!", akhirnya aku mencoba menjelaskan perasaanku


Mas Rio masih terdiam"


"Aku sayang kamu mas. Kamu mau bukti apa lagi?? Kamu suruh aku jawab enak mana ngentot sama kamu atau ngentot bertiga sama teman-temanmu? Oke aku jawab. Aku suka dientot ketiga temanmu! Memekku lebih terpuaskan! Puas?", akhirnya air mataku tak terbendung dan keluar juga


"Yank.. aku"", Mas Rio terlihat kebingungan


"Ok, kamu mau bukti aku sayang kamu? Sekarang juga hamili aku. Aku bersedia kok mas! Tinggal kamu berani ngga?", tantangku kali ini


Aku tahu Mas Rio masih takut menghamiliku. Ia tidak akan berani menghamiliku karena ia juga belum punya penghasilan untuk menghidupiku jika aku menikah dengannya.


"Dari dulu aku yang nuruti permintaanmu. Sekarang buat bukti kamu sayang aku apa enggak. Aku juga mau minta sesuatu sama kamu mas".", ujarku


"Apa??", tanya Mas Rio


"Kamu gak akan batasin aku lagi. Aku mau mengeksplore kebinalanku dengan caraku sendiri! Cukup sudah aku merasa tersiksa menahan rasa ini"", jawabku


"kamu mau jadi lonte?", tanya Mas Rio terkejut


"Iya, mungkin itu salah satunya. Kamu ngga keberatan kan pacaran sama lonte?", tantangku


Mas Rio terdiam"


"Kalau kamu ga bisa, berarti berbagi itu indahmu itu cuma omong kosong. Kamu cuma egois mentingin fantasymu sendiri. Kamu ga peduliin fantasyku!"


Mas Rio masih terdiam"


"Kamu tahu fantasyku sekarang?", tanyaku


Mas Rio menggeleng. Karena memang daridulu ia hanya memikirkan fantasynya sendiri


"Kamu tau? Aku akhir-akhir ini membayangkan memek aku dipakai lebih dari 100 kontol. Aku ingin sedekah memekku ke para lelaki Sebanyak-banyaknya. Ini semua berawal dari fantasy gilamu! Akhirnya aku sadar, mencintai saja tidak cukup bagiku. Ada hal yang harus kugapai yaitu kepuasan!", kataku


Mas Rio tercengang, tidak percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan. Seorang siswi terpelajar dan berprestasi sepertiku, ternyata memiliki cita-cita yang begitu merendahkan harga diri. Ingin dipuaskan selangkangannya.


"Terus maumu gimana?", tanya Mas Rio pasrah


"Aku mau kita break dulu mas..", jawabku mantab sambil menghela nafas panjang


"Tapi yank?", ujar Mas Rio sepertinya keberatan dengan keputusanku


"Keputusan ini aku ambil bukan berarti aku gak cinta kamu mas. Aku cinta sama kamu. Cinta banget! Tapi tolong mengertilah" Ada hal yang harus kucapai. Sekarang tinggal kamu. Masih mau enggak sama aku kalau aku sudah begitu kotor? Kamu tidak perlu jawab sekarang. Aku ingin tahu seperti apa perasaanmu ke aku kelak. Apakah masih sama?", ujarku lugas


"Aku cinta sama kamu Echa"", jawab Mas Rio


Kali ini aku yang terdiam. Mungkin keputusan berpisah untuk sementara adalah jalan terbaik bagi kami berdua. Biarlah aku mencari jalan hidupku sendiri. Biarlah semua yang kuperbuat aku yang menanggung. Jika Mas Rio masih menerimaku, aku bersyukur telah memilih dirinya. Jika dia memilih meninggalkanku setelah semua yang kulakukan, hal itu memang wajar karena mungkin saat ini aku sudah terlalu kotor baginya.


"Yasudah aku pulang dulu ya mas. Sementara kamu jangan hubungin aku dulu"", ujarku dan aku pun memutuskan meninggalkan rumah pacarku itu dengan memesan sebuah taxi online sambil meneteskan sedikit air mata.


Pada akhirnya aku memutuskan keputusan ini. Semoga ini menjadi jalan terbaik bagi kami berdua


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 12 : Untuk Sahabat?


POV : Echa


Di sekolah"


"Sexy bener pacar gue"", tiba-tiba dari belakangku Endrix mengejutkanku saat aku baru keluar dari toilet pagi hari ini


Sudah menjadi kebiasaanku, kalau aku baru sampai sekolah, aku selalu menyempatkan diri untuk ke toilet sekolah sekedar untuk cuci tangan dan merapikan kerudungku yang kadang suka penyok karena memakai helm.


Terlihat Endrix sudah berdiri menghalangi jalanku sambil tersenyum. Memandang senyumnya sangatlah memuakkan. Aku masih belum bisa menerima kenyataan kalau saat ini aku adalah pacarnya.


"Oiya gue lupa belum save nomor HP lo. Berapa nomor lo?", kata Endrix


"Buat apa?", tanyaku keberatan


"Ya masak gue gak boleh punya nomor lo? Bukannya lo pacar gue?", kata Endrix emosi membuat beberapa pasang mata langsung tertuju kepada kami


"Eh jangan kenceng-kenceng ngomongnya nanti orang-orang pada denger!", kataku tanpa sadar turut mengeraskan suara saking kesalnya sehingga membuat orang-orang di sekitar menoleh ke arah kami


"Bodoamat"", kata Endrix sambil terkekeh


Aku pun tertunduk sejenak menyadari beberapa pasang mata tertuju kepada kami setelah aku membentak cowok menyebalkan dihadapanku


"Mana nomor lo?", tanya Endrix sekali lagi


"Eehh.. I.. Iya" ini.. 085xxxxxxxxx", ujarku


"Gitu dong" Gue save paan ya? Pacar? Gak gak.. Echa Lonte SMA 666 Pemuas Kontol"", kata Endrix sambil ia simpan nomorku dengan nama yang merendahkan diriku


"Ya udah aku balik dulu ke kelas", ujarku hendak bergegas pergi namun tanganku segera ditahan oleh Endrix


"Masih pagi Sayang.. Sepong kontol gue bentar ya?", kata Endrix membuat mukaku memerah mendengar permintaannya


"Jaga mulutmu Endrix! Ini masih pagi!", bentakku sekali lagi


"Galak bener, lo lagi mens ya?", kata Endrix


"Bukan urusanmu!", kataku mencoba melepaskan cengkraman tangannya namun tangan Endrix sangat kuat menahanku


"Ayolah mumpung masih ada waktu. Kontol gue ngaceng liat lo cantik gini", kata Endrix menggodaku


"Tapi.. ini masih pagi"", kataku tersipu malu


"Emang kenapa kalau masih pagi? Justru masih pagi kontol gue jadi ngaceng sayang. Ayo sebentar aja!", kata Endrix sambil menarikku masuk ke dalam toilet dan aku pun terpaksa mengikuti Endrix masuk ke dalam toilet


Aku takut sekali ada orang yang melihatku masuk ke dalam toilet bersama preman sekolah menyebalkan ini. Tapi sepertinya Endrix sama sekali tidak peduli jika memang ada yang melihat. Dia merasa paling berkuasa di sekolah ini, jadi dia bisa bebas melakukan apapun yang dia suka.


Endrix kemudian langsung mengeluarkan kontolnya yang panjang melengkung dihadapanku. Aku tanpa sadar sampai menelan ludah, melihat kontol preman sekolah ini. Walau aku sudah pernah melihat kontolnya, tetapi tetap saja kontol itu selalu membuatku terkesima. kuakui kontol Endrix memang besar dan panjang. Naluri wanitaku pun langsung tergoda untuk menikmati kemaluan perkasa lelaki ini. Sepertinya aku mulai menyukai kontol lelaki kasar ini


Tanpa membuang waktu, aku langsung mengocok kontol Endrix yang sudah tegang menantang di hadapanku. Lelaki itu berdiri sambil bersandar di bak kamar mandi. Sedangkan aku berjongkok dihadapannya sambil kumainkan alat kelaminnya yang besar dengan tangan kananku.


"Uh cium dulu dong kontol gue.. main ngocok aja" Lo udah ga tahan juga? Dasar Perek penyuka kontol", Ejek Endrix


Entah mengapa aku justru tidak marah ia menghinaku dengan sebutan merendahkan itu. Aku malah hanya mendiamkannya dan membiarkan Endrix mengambil kuasa atas diriku


"I.. iya maaf.. aku cium ya Ndrix kontol kamu"", kataku


"Heh lo lupa ya? Ngga ada kata aku.. Panggil diri lo dengan sebutan Lonte Echa.. lalu panggil aku Tuan Endrix", ujarnya sambil menampar-nampar pipiku


Aku benar-benar lupa ia pernah memintaku seperti itu. Lelaki gila ini menyuruhku untuk merendahkan harga diriku dengan menyebut diriku sendiri Lonte Echa. Diperlakukan seperti ini jujur saja malah membuatku terangsang. Mungkin otakku memang sudah mengakui, seorang gadis sepertiku tugas utamanya adalah melayani pria. Seorang gadis harus tunduk,patuh dan bertekuk lutut kepada pria karena pada dasarnya wanita adalah makhluk yang lemah.


"Ahhh.. Iya.. Maaf Tu.. Tuan Endrix.. Lonte Echa lupa" Lonte Echa ijin kulum dan cium kontol Tuan Endrix"", ujarku mencoba mulai patuh kepada Endrix


"Bagus-bagus sekarang lo cium kontol gue dan buktikan kalau lo emang layak jadi pacar gue", kata Endrix sambil kembali membelai kerudungku


"I.. Iya tuan Endrix.. Permisi saya ijin cium kontol tuan"", jawabku sambil memandanginya dengan tatapan penuh harap


Aku pun mencium kontol Endrix perlahan-lahan. Kuciumi mulai dari lubang saluran kencingnya. Kujilati dengan lidahku garis kecil itu. Endrix pun mendesah keenakan. Mungkin ia merasa geli karena aku terus memusatkan lidahku ke lubang kencingnya.


Setelah puas menjilati kepala kontolnya. Aku mulai menyepong seluruh kontol berurat itu. Bibirku sampai kempot saat menyedot kontol Endrix yang besar. Jujur saja aku merasa kesulitan memasukkan seluruh batang melengkung berwarna cokelat kehitaman itu. Setelah puas mengulum kontolnya, aku mulai menjilati batang kontolnya. Kujulurkan lidahku semaksimal mungkin, dan mulai kusapukan dengan lidahku. Endrix kembali mendesah keenakan menerima permainan lidahku


"Yaa.. Aaaahhh" Bagus lonte" Lo memang layak jadi pemuas kontol gue" Terus jilatin kontol gue sayanggg" Ssshhh..", kata Endrix sambil memegangi kepalaku


*Teeeetttt teeettttt* tiba-tiba bel tanda masuk sekolah berbunyi


"Tuan.. Sudah waktunya masuk kelas"", ujarku


"Sebentar nanggung nih.. telat dikit gapapa lah" Muasin kontol gue adalah kewajiban lo. Paham?", kata Endrix


"Iya Tuann"", jawabku kembali kucaplok kemaluan Endrix dan kujilati beberapa sisi alat kemaluannya yg keras kayak kayu itu


Kukulum begitu khusyuk kontol Endrix dan tak lupa kuciumi ujung kontolnya. Tak kuhiraukan suara langkah kaki yang terdengar berderap cepat di luar toilet tanda para siswa sudah bergegas mempercepat langkah mereka menuju kelas masing-masing. Aku lebih fokus melayani kontol ini, kontol yang wajib kupuaskan dengan mulutku


"Kasih liurmu perek" Tumpahin ke kontol gue..", perintah Endrix


"I.. Iya tuan..", aku pun mulai membuka mulutku dan kuteteskan air liurku ke kontol Endrix


"Bagus" Begitu caranya biar lo makin layak jadi lonte sekolah ini", kata Endrix sambil kembali ia tampar-tampar pipiku dengan pelan


Kuulangi beberapa kali tetesan liurku pada kemaluan Endrix. Kubuat kontol keras itu berlumuran air liurku sebelum akhirnya kujilati dan kuemut tanpa rasa jijik sama sekali. Pangkal kontol Endrix juga tak luput dari jilatanku. Kuangkat batang kontolnya dan kujilati bagian paling bawah pada batang kontolnya


"Ssshh.. Jancokk" Pinter" Lu gue jadiin lonte gue aja dah ga usah pacar"", desah Endrix


"Iya.. Gapapa Tuan.. Saya memang lonte"", jawabku semakin menikmati peranku sebagai lontenya Endrix


Lelaki itu kemudian memegangi kepalaku dan dengan brutal Endrix mulai menghajar mulutku dengan kontolnya. Mulutku hanya bisa terbuka membiarkan batang kemaluan Endrix ia sodok-sodokkan sampai mentok ke dalam tenggorokanku. Aku berusaha menikmati perlakuannya dan kupasrahkan mulutku untuk memuaskan kontolnya.


*Glokhh glokhhh glokhhh ogghhh..", mulutku terus dihajar kontol Endrix sampai mentok semakin cepat Hingga air liurku menetes deras


"Aahh.. Jancok enak bener mulut lo anjirrr" Ssshhh"", kata Endrix sambil ia terus-terusan menghujami mulutku dengan kontolnya


"Aaarrghhh" Gue keluar jancokkk"", pekik Endrix sambil ia sodokkan kontolnya dalam-dalam hingga mentok ke tenggorokanku


*Crot crot crot crot* sperma Endrix kembali ia semburkan ke tenggorokanku tanpa permisi


Cairan kental hangat itu menyembur di rongga mulutku. Tenggorokanku seketika menjadi lengket dan terasa sulit untuk menelan ludah. Sperma Endrix memang sangat kental. Baunya pun sangat amis dan pekat.


"AAAHH.. Puas gue.. Awas kalau lo buang peju gue.. Yaudah gue balik ke kelas dulu", ujar Endrix sambil ia tutup lagi resletingnya dan meninggalkanku sendiri di toilet ini


Aku masih berusaha menelan spermanya. Mulutku rasanya terasa kaku dan kesulitan menelan sperma Endrix. Beberapa sudah menetes dan jatuh ke lantai, karena saking banyaknya sperma yang ia tumpahkan ke mulutku. Kujilati beberapa tetes spermanya di bibirku dan kupastikan seluruh spermanya sudah kutelan.


"Aduhh ..", aku raba area kemaluanku yang terasa becek tanpa kusadari


Celana dalamku sudah lembab dan berlendir. Diperlakukan rendah oleh Endrix malah membuat alat kelaminku itu menjadi-jadi. Lendir yang diproduksinya begitu banyak hingga membuat celana dalamku basah seperti ngompol. Padahal Endrix sama sekali tidak menyentuh area pribadiku.


*Memekku udah gak normal kayaknya. Diperlakukan seperti ini malah becek dan sange* gerutuku sambil meraba celana dalamku yang basah


Aku pun merapikan kembali pakaianku dan memastikan kerudungku tidak acak-acakan sebelum kembali ke kelas. Kupastikan pula tidak ada aroma sperma Endrix yang tertinggal sedikitpun baik di wajah maupun tubuhku. Tak lupa kusemprotkan beberapa kali parfum yang biasa kugunakan untuk menyegarkan aroma tubuhku. Setelah semua dirasa ok, akupun bergegas berlari kecil menuju kelas.


#


Jam pelajaran telah dimulai, seorang guru pria yang terkenal killer di sekolah bernama Pak Albert mengajar di kelasku pagi ini. Tatapan mata guru itu begitu tajam menatapku yang baru saja tiba di pintu masuk kelas. Aku hanya menunduk malu menyadari kesalahanku. Tidak pernah aku terlambat masuk kelas seperti ini.


Pak Albert terus menatap ke arahku tanpa berkata satu katapun, tatapannya begitu sinis kepadaku. Aku merasa tatapannya seolah menelanjangiku karena matanya begitu jelalatan melihatku dari atas hingga bawah. Aku yang sudah merasa bersalah akhirnya hanya bisa minta maaf dan berharap Pak Albert tidak menghukumku


"Maaf saya terlambat pak"", ujarku penuh penyesalan


"Jam berapa ini Echa???", tanyanya menghardikku


"Iya.. Saya salah pak.. Saya tadi ke toilet sebentar"", ujarku dengan jujur membuat guru killer itu tercengang mendengar alasanku


"Yaudah kamu kembali ke kursimu. Lain kali diatur gimana caranya biar kamu ga telat masuk kelas", ujar Pak Albert


Aku mengangguk sambil menahan emosi. Kakiku berjalan menuju kurisku dengan lemas. Tidak pernah aku kena omel gara-gara terlambat masuk kelas. Ini semua gara perbuatan cabul Endrix si preman sekolah Malah aku yang kena marah guruku. Sedangkan Endrix dibelakang sana sudah tersenyum menyebalkan melihatku diomeli oleh guru killer itu.


Pelajaran pun berlangsung seperti biasanya. Aku mengikuti pelajaran dengan penuh konsentrasi. Walau di area selangkanganku terasa tidak nyaman karena masih terasa berlendir dan becek, tetapi aku mencoba tidak menghiraukan hal itu. Aku terpaksa menggerak-gerakkan kakiku demi mengusir rasa selangkangan yang tidak nyaman di kemaluanku. Beberapa kali kudapati Pak Albert melihat ke arah kolong mejaku. Mungkin ia penasaran mengapa kakiku bergerak-gerak dari tadi. Atau mungkin ia ingin melihat celana dalamku? Ah tidak mungkin, rokku kan panjang? Mana bisa? Hihihi"


#


*Teeettt.. Teeettt..* Bel jam istirahat berbunyi


Aku dan Anya berjalan menuju kantin, ternyata kondisi kantin sudah ramai dipenuhi siswa siswi dari kelas 1 sampai 3. Untuk berjalan disana, kami harus berjalan miring agar bisa melewati beberapa siswa siswi yang campur baur ada di stand-stand makanan kantin sekolahku.


"Aaahhhh..", pekikku kecil ketika kurasakan pantatku terdorong dan terdesak oleh sebuah tonjolan dari seorang siswa yang berada dibelakangku karena memang kondisi kantin yang ramai saat jam istirahat. Singgungannya sangat terasa menyentuh pantatku. Mana kontol orang itu terasa keras sekali lagi sampai aku benar-benar merasakan benda keras itu seolah sengaja ditempelkan ke pantatku


"Sory mbak gak sengaja", kata cowok yang tonjolan kontolnya terasa mengenai pantatku


"iya gapapa mas"", jawabku dan aku melanjutkan berjalan untuk mencari meja kosong


Akhirnya kami melihat meja yang kosong dan segera aku pun bergegas cepat agar tidak keduluan orang lain menempati meja tersebut


"Aduhhh...", pekikku lagi kali ini kurasakan siku seorang cowok mengenai dadaku saat kami berebut meja


"Eehhh.. Maaf Maaf Mbak..", hanya itu kata yang keluar dari mulutnya dan ia pun tidak jadi menempati meja yang sudah kukuasai


*Ya ampun kenapa cowok-cowok kayak sengaja ya sentuh-sentuhin badan aku?*, gumamku dalam hati


Akhirnya setelah perjuangan yang memerlukan kegigihan, aku berhasil mendapatkan meja kosong untuk makan siang di jam istirahat kali ini. Anya kemudian terlihat celingak-celinguk melihat stand-stand mana yang memungkinkan untuk kami pesan makanannya.


"Tunggu di sini Cha, biar aku yang pesen. kamu pesen apa?", tanya Anya


"Aku mi instan dan es jeruk aja Nya", kataku


"Ok Cha. Tunggu ya", kata Anya


Selang beberapa waktu, Anya sudah kembali duduk di sampingku dan langsung kucerca dia dengan berbagai macam pertanyaan yang membuatku penasaran.


"Gimana Nya? kamu sudah kerja kelompok sama Bayu?", tanyaku antusias


"Hihihi.. Wah baru duduk udah di wawancarain nih aku.. Kepo banget kamu Cha.. Cemburu ya? Kan kamu udah ada Mas Rio", goda Anya


"Siapa yang cemburu.. Enggak kok.. Hmmm.. Oiya Nya" Aku" memutuskan break sama Mas Rio"", ujarku lirih


"HAAAHHH?? BREAK?? KOK BISAAA??? KALIAN ADA MASALAH??", tanya Anya begitu terkejut


"Eeehhh.. Jangan kenceng-kenceng Anya" 1 kantin liatin kamu tuh", kataku panik sambil menyuruh Anya tetap tenang dan kulihat Anya hanya tersenyum simpul memandangi sekeliling kantin


"Gimana ceritanya?", tanya Anya kali ini dengan suara yang lebih lirih


"Bingung aku mau darimana ceritanya"", jawabku


"Yaahhh.. Kecewa aku", kata Anya


"Udah jangan memalingkan pembicaraan" Kamu duluan yang cerita gimana kerja kelompok sama Bayu?", tanyaku sekali lagi


"Hmmmm.. Hihihi.. Ternyata Bayu cowok normal kok Cha..", ujar Anya sambil tersenyum


"Hah? Maksudnya??? Ya iyalah dia normal gimana sih kamu?", kataku bingung


"Maksud aku" Hihihi duh aku malu"", kata Anya sekali lagi membuatku curiga


"Kamu ngapain sama Bayu?", tanyaku


"Kerja kelompok lah!", jawab Anya membuatku tak percaya


"Yang benar cuma nugas?", tanyaku semakin curiga


"Iya kerja kelompok, dia kerjakan tugasnya, aku sepong kontolnya. Hihihi", kata Anya sambil tertawa kecil


"Hah beneran kamu gitu???", Tanyaku Terkejut Seketika mendengar pengakuan Anya


"Iya dong.. Emang kamu kira aku cewek cupu? Ada kesempatan sepong kontol kapten basket sekolah kapan lagi kira-kira?", kata Anya begitu mesum


"Terus dia mau?", tanyaku


"Ya awalnya sok jaim.. Tapi ya dia ngaceng juga.. Yaudah akhirnya kejadian. Hihihi", kata Anya


Aku terdiam, tak kusangka Bayu sama saja dengan cowok lainnya. Aku kira Bayu cowok baik-baik yang bisa jaga kemaluannya.


"Kok diem? Hayo bayangin kontol Bayu ya? Kamu sih lama" Tapi aku udah kasih kisi-kisi ke dia juga sih", kata Anya serius


"Kisi-kisi apaan?", tanyaku terkejut


"Kalau kamu sebenarnya juga penasaran sama kontol Bayu" Hihihi", kata Anya membuat mukaku memerah


"Hah??? Kamu bilang gitu??? Terus terus???", justru kali ini aku yang excited


"Dia cuma bilang Echa ga pernah minta tuh", kata Anya


"Terus Nya?", tanyaku semakin penasaran


"Terus terus.. Nabrak tau. Hihihi" Ya aku bilang aja Echa itu malu-malu mau Bay.. Kalau kamu kasih dia gak akan nolak kok..", kata Anya lagi


"Kamu serius bilang gitu Nya? Duh Bayu bisa ilfeel dong ke aku?", kataku


"Dih kenapa kamu jadi mikirin perasaan Bayu ke kamu? Tuh kan kamu pasti ada rasa ya ke Bayu?", selidik Anya


"Aku takut image ku bisa berubah Nya di mata Bayu", jawabku


"Hadeeehhh.. Udah ga usah jaga image. Orang kalian sama-sama mau sebenarnya. Terus".", kata Anya tidak melanjutkan perkataannya


"Apa Nya?", tanyaku penasaran


"Maaf lho Cha.. Kebawa suasana aku kemarin waktu sama Bayu" Aku sama Bayu udah gini"", kata Anya sambil ia berikan gestur jari jempol dijepit jari tengah dan telunjuk


"Eeehhh seriusss???", kataku kembali terkejut tidak percaya dan Anya mengangguk serius


"Anyaa".. Errr.. Gimana rasanya?", tanyaku semakin kepo


"Rahasia" Hihihi..", kata Anya


"Ihhhhhh..", aku gemas dengan sahabatku itu


Bisa-bisanya dia begitu nakalnya menggoda Bayu. Bayu pun sama saja, dia tergoda juga dengan Anya. Memang sih kuakui Anya juga cantik. Terus body nya juga lebih berisi serta payudaranya lebih montok dibandingkan milikku.


Aku kemudian terdiam sejanak, mencoba membayangkan bagaimana jadinya kalau aku bisa senekat Anya menawarkan diriku ke Bayu. Mungkin dari dulu aku dan Bayu juga sudah melakukannya. Toh siapa sih yang ngga tertarik sama cowok ganteng kapten tim Basket? Aku saja jika tidak ingat punya Mas Rio pasti tergoda juga. Wajarlah cewek tertarik sama cowok dan sebaliknya. Apalagi dia ganteng dan terkenal di sekolah.


"Hayo ngelamunin apa lagi??? Nyesel kan sekarang? Uhhh gurih pokoknya Cha kontolnya Bayu.. Panjang lho! Wajar sih dia kan cowok tinggi. Biasanya kalau cowok tinggi kontolnya panjang. Hayo kamu pasti pengen ya? Mangkanya jangan kelamaan.. Basi tau cewek cuma nunggu.. Kamu harus agresif Echa", kata Anya semakin memanas-manasiku


"Anya! Aku udah punya cowok!", bantahku


"Hmmm.. Iya tapi kan kamu break?", goda Anya


"Errr.. Iya sih"", jawabku tertunduk


"Kenapa break? Dia bosen? Apa kamu yang bosen?", tanya Anya serius


"Anuu.. jujur aku yang jenuh Nyaa"", jawabku lirih


"Tuh kaaannnn"..", kata Anya heboh sekali lagi


"Kenapa Nyaa?", tanyaku


"Sudah kuduga sekali-kali kamu perlu selingkuh Echa" Biar ga bosen. Have Fun aja ga usah mikir yang gimana-gimana", kata Anya serius dan aki hanya terdiam


Pesanan kami akhirnya tiba dan kami menghentikan pembicaraan ini sejenak. Aku dan Anya buru-buru melahap makanan yang kami pesan mengingat waktu istirahat sebentar lagi selesai


"Kamu mau break sampai kapan?", tanya Anya melanjutkan pembicaraan


"Gak tau Nya" Aku belum mutusin..", kataku


"Hmmm.. Aku ada ide nih Cha" Buat permulaan"", kata Anya tiba-tiba berhenti sejenak untuk mengatur kalimat yang akan ia ucapkan setelah ini


"Ide apa??", tanyaku


"cowok aku 3 hari lagi ulang tahun"", kata Anya


"Hah? Terus?", kataku bingung


"Jadi gini".", Anya kemudian berbisik kepadaku


"Eeehhh? Kamu serius Nyaaa?", tanyaku terkejut


"Gimana kamu mau gak?"


"Ngawur kamu aahhh..", kataku masih syok


"Hihihi ngga kali Cha. Toh kamu juga lagi break kan? Ambil aja tawaranku", kata Anya


"Iya Anya" Tapi" Aku ngga mau sejahat itu sama kamu", kataku


"Siapa yang merasa dijahatin? Orang aku yang minta tolong malah"", kata Anya


"Anya kamu beneran? Kamu gak akan marah??", tanyaku memastikan lagi


"Serius Echaaa" Mau ya pleaseee"", jawab Anya mantab


"Errrr" Ya udah deh"", jawabku


"Beneran ya Cha kamu mau?? Makasih ya Cha" Kamu memang sahabat terbaikku.. Okay sampai ketemu hari minggu ya", kata Anya sambil menowel payudaraku


"Anya!", bentakku kesal karena tangan jahilnya


#


Hari berganti hari, Waktu tanpa terasa berlalu begitu cepat, hari Minggu yang sudah dinanti pun tiba


*Titit titit titit* nada dering panggilan masuk handphoneku


"Halooo.. Echa, hari ini jadi yaa?", kata Anya diseberang sana


Aku loading sebentar, mencoba mencerna maksud perkataan Anya itu apa. Ternyata aku ingat hari ini adalah hari perayaan ulang tahun cowoknya Anya. Aku pun sudah sepakat dengan ide yang diberikan oleh Anya beberapa hari yang lalu


"Eehhh.. Hmmm gimana ya Nya"", jawabku menggodanya


"Gak gimana-gimana.. Ini aku sudah otw ke rumahmu Cha, kata Anya membuatku terperanjat


"Apaa?? Kamu udah dijalan?? Ini masih jam 6 pagi Anya!! Aku aja belum mandi"", jawabku kaget


"Hehehe.. Gapapa, makin pagi makin banyak waktunya. Kamu sekarang siap-siap dulu mandi sama dandan yang cantik ya Cha.. udah dulu yaa.. Sampai ketemu nanti Cha...", kata Anya lalu menutup teleponnya langsung


"Ya ampun Anya...", kataku sambil menghela nafas panjang


Mau ngga mau akupun langsung mandi, takut mengecewakan sahabatku itu, aku tidak ingin rencana nanti gagal. Aku memutuskan untuk memakai pakaian yang lumayan ketat saja. Bagaimanapun, sisi eksibisionisku masih menguasai pikiranku. Aku merasa excited dan tertantang saat mata lelaki melirik ke arahku. Kupilah-kupilah tumpukan pakaian di lemari bajuku. Kudapati kaos lengan panjang berwarna pink yang jarang kupakai lagi karena sudah kekecilan. Aku pun mencoba mengenakan kaos lengan panjang ini dan kulihat diriku di depan cermin. Tonjolan payudaraku terlihat begitu bulat dan lekuk tubuhku benar-benar bisa terekspose jelas. Perut rataku yang tanpa lemak, bulatnya payudaraku, dan juga bentuk lenganku semuanya terlihat lekukannya dengan pakaian kekecilan ini. Untuk area bawah, aku memutuskan hanya mengenakan legging super ketat berwarna hitam transparan yang samar-samar menampakkan bentuk kaki serta celana dalamku.


Aku lalu memakai beberapa skincare yang biasa kupakai. Lengkap dengan peralatan make up untuk merias diriku. Foundation, bedak, pencil alis, eyeliner, eyeshadow, mascara, blush on, dan lip balm adalah beberapa peralatan make up wajib yang selalu kupakai merias wajahku. Kuaplikasikan semua peralatan rias itu tipis-tipis ke wajahku secara bertahap. Sebuah riasan minimalis dan tidak terlalu menor, karena memang aku tidak suka riasan yang terlalu menor. Menurutku, Tidak sesuai saja dengan usiaku yang masih sekitar 18 tahun. Kumainkan bibirku


Setelah wajahku terias cantik, kututup rambutku dengan kerudung pashmina motif abstrak dan kusingkapkan ke belakang agar tonjolan payudaraku terlihat jelas. Kulihat sekali lagi diriku di depan cermin. Bajuku kekecilan dan jika aki sedikit menarik tubuhku, pusarku akan kelihatan. Mana celana dalamku juga samar terlihat karena legging ketat menerawang yang kupakai.


Jantungku berdebar-debar melihat gaya berpakaianku yang begitu mengundang hawa nafsu ini. Aku sendiri bahkan sampai merasa kedutan di area kemaluan karena gaya berpakaianku yang kelewat berani. Apalagi aku menggunakan kerudung yang tentu saja sama sekali tidak sinkron dengan cara berpakaianku. Mungkin orang akan mencela cara berpakaianku yang tidak mencerminkan nilai-nilai agamis dan ketimuran ini. Tetapi, aku tidak peduli dan tidak ambil pusing dengan pendapat mereka. Ini lah aku dan perubahan hidupku. Aku sudah memutuskan menjalani kehidupan yang lebih membuatku excited dan tidak membosankan.


"Sippp"", kataku memastikan penampilanku sudah sempurna


30 menit kemudian, Anya sudah mengabari kalau ia sudah sampai di depan rumahku. Kulihat kamar tidur mama papaku. Papa terlihat masih tidur sedangkan mama masih sibuk memasak di dapur. Aku tidak ingin mama melihat gaya berpakaianku yang terlampau sexy. Bisa diomeli aku nanti jika dia melihat gaya berpakaian yang mengekspose lekuk tubuh ini. Aku pun memutuskan berpamitan dari kejauhan dan berteriak saja agar beliau tidak melihatku.


"MAMA AKU BERANGKAT DULU".", teriakku


"Ngga sarapan dulu echa?", tanya mama sambil sibuk terus sibuk memasak tanpa menoleh ke arahku


"Ngga ma, nanti aja pas disana. Udah di jemput Anya. Assalamu"alaikum.. ", kataku dan aku sedikit berlari kecil meninggalkan rumahku


"Hi.. Cha... Gila" cantik betul kamu..", kata Anya terpana melihatku saat aku membuka pintu mobil.


Kusadari sopir taxi online yang mengemudi di depan sempat melirikku sejenak dari kaca spion dalam mobilnya setelah Anya berkata seperti itu


"Biasa aja lah Nya. Kayak gak pernah liat aku aja", jawabku


"Yaudah yuk jalan.. Pak ke alamat sesuai aplikasi ya", kata Anya dan Pak sopir taxi online mengangguk tanda paham.


"Gila kamu Cha, pakai kerudung tapi pakai baju seketat ini.. Mana Cuma pakai legging transparan lagi... Tuh liat kulit pahamu sampai keliatan. Berani sekali kamu.. Hihihi", tanya Anya sambil senyum senyum melihat ke spion menanti pak sopir melirik ke arahku


"Masak sih Nya?", jawabku pura-puta bodoh


"Tanya aja sama bapaknya. Gimana Pak gaya berpakaian teman saya?", goda Anya sambil menowel payudaraku diam-diam


"Eehhhh??? Cantik.. Sexy mbak" Hehehe"", kata Pak Sopir kebingungan sambil memandangiku dari kaca spion


"Tuh khann.. Kata bapaknya aja kamu sexy", kata Anya menggodaku


"Hmmmm". Kamu malah pakai rok mini gini, pahamu sampe keliatan ini lho. Tuh celana dalam pinkmu juga keliatan", kataku sambil mengangkat rok Anya lebar-lebar.


Sengaja kuangkat roknya tinggi-tinggi agar Pak sopir di depan bisa melihat celana dalam Anya. Salah sendiri, sengaja godain aku biar Pak Sopir lihatin aku terus.


"Echaa.. Nanti bapaknya gak konsentrasi nyetirnya", kata Anya sambil ia tutup roknya dengan cepat


Kulihat kembali pak sopir beberapa kali melihat dari spion tengah memandang ke arah kami berdua, dan pandangan matanya sering tertuju ke arah kakiku dan Anya. Berkali-kali kubenarkan posisi dudukku takut area selangkanganku kelihatan olehnya


"Memekmu udah basah belum Cha?", tanya Anya mesum


"Hah? Kok nanyanya gitu sih Nya?", tanyaku terkejut


"Mastiin aja memekmu nanti bisa memuaskan", kata Anya


"Anya! Malu tahu didengar sama bapaknya"", jawabku kesal


"Eh tapi bapaknya kan masih suka memek Cha.. Betul ngga pak?", kata Anya tiba-tiba semakin menggodaku


"Eh iya saya suka memek mbak. Kan saya laki-laki. Hehehe"", jawab Pak sopir online itu sambil kali ini ia terang-terangan melihat kami ke belakang


"Tuh kan Cha.. Memekmu biar di periksa bapaknya deh Udah basah belum. Aku gak mau nanti sampai sana malah kering memekmu", goda Anya


"Anyaaaaa"..", aku menahan malu karena Anya terus menggodaku ke bapaknya


"Pak pelan-pelan teman saya mau pindah ke kursi depan"


"Nanggung Mbak habis gini sampai tujuan. Apa ngga sekalian sampai di lokasi saja, baru saya bantu periksa?", tawar Pak Sopir


"Hmm ya udah boleh deh pak", jawab Anya


"Rejeki nomplok pagi-pagi nih saya dapat 2 cewek lonte sange. Hihihi", gumam Pak Sopir lirih namun bisa kudengar


"Sudah sampai Cha, sekarang kamu pindah depan dulu", kata Anya


Aku hanya geleng-geleng kepala dan kuturuti permainan Anya. Aku pun pindah ke kursi depan di samping Pak Sopir. Pak sopir itu kemudian curi-curi kesempatan memegang pundakku dan sedikit dadaku


"Ngangkang dong Cha biar bapaknya leluasa pegangnya"", kata Anya


"Iya bawel.. Nih silakan diperiksa Pak.. Biar temen saya yang bawel ini puas"", kataku sambil kuangkat kedua kakiku ke kursi dan dashboard mobil mengangkang semaksimal mungkin hingga celana dalamku nyemplak menerawang


"Permisi ya Mbak saya periksa dulu", kata bapak itu sambil mulai ia gerakkan jari telunjuknya tepat dilubangku


Pak sopir taxi online mulai menggerakkan jemarinya tepat di atas kemaluanku yang masih terbungkus rapi. Tapi tetap saja sentuhan jemari gemuknya begitu terasa.


"Aaahhh"", aku mendesah seketika karena merasakan Pak Sopir mulai intens merangsangku dengan gerakan perlahan jemarinya yang mencoba menggoda imanku


Bapak itu kemudian mulai terang-terangan mengucek kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam. Tentu saja dikocok seperti ini, bibir vaginaku lama-lama becek juga. Aku malah keenakan dan makin pasrah bersandar pada bagian pintu mobil, membiarkan bapak sopir online mengobel area selangkanganku. Rasanya celana dalamku sudah lembab sekali saat ini. Kalau boleh memilih, ingin sekali kuturunkan celana dalamku agar si bapak bisa lebih leluasa mencabuli memekku


"Basah Pak memek temen saya?", tanya Anya penasaran


"Kurang basah sih Mbak.. Heheheh"", jawab Pak Sopir


"Bantu basahin memek teman saya dong Pak.. Nanti saya kasih tips""


"Saya dikasih tips berapa dulu nih?", tanya Pak Sopir


"Gampang Pak, nanti pasti saya kasih tips"", kata Anya mesum melihatku malah keenakan dicabuli


"Ya udah kalau gitu", kata bapak taxi onlinenya


"Cha buka dong celanamu, masak iya memekmu mau dibasahin tapi gak kamu buka"", goda Anya


*Awas kamu Anya!* Kataku dalam hati


Aku pun memelorot celana leggingku sekalian celana dalamku dan langsung terpampang memekku yang sebenarnya sudah lumayan lecek ini. Pak Sopir taxi online itu menatap kemaluanku penuh nafsu dan kepalanya langsung turun menjilati lubang kemaluanku yang sudah tersaji dihadapannya. Jemari tangannya mulai membuka bibir kemaluanku dan kurasakan lidah kasarnya mulai menyentuh bagian dalam alat kelaminku.


"Ouuuhh.. Bapak geli" Pak.. Aaaahhh..", desahku semakin liar karena lidah si bapak sudah menjilati lubang senggamaku dengan perlahan


*Sluruppp sluruppp slurupppp* Bapak sopir itu terus menjilati kemaluanku, mencoba merangsangku dengan permainan lidahnya.


Sesekali ia sedot lendir vaginaku hingga membuatku menggelinjang hebat. Bunyi mulutnya begitu berisik dan berdecit-decit. Kedua tangannya membuka bibir vaginaku hingga melebar dan nampak daging segarku disana. Ia ciumi lagi alat reproduksi ku itu lebih cepat dari sebelumnya. Tubuhku kelojotan tak karuan menahan serangan bibir Pak Sopir pada area pusat selangkanganku. Kumis tipis si pak sopir begitu memberikan sensasi geli yang parah pada kemaluanku. Terkadang ia juga meludahi kemaluanku lalu di jilat kembali.


"Enak pak memek teman saya?", goda Anya melihatku kewalahan alat kelaminku disedoti oleh si sopir


"Enak.. seger.. Ada manis-manisnya. Hehehe"", jawab Pak sopir sambil ia mainkan kemaluanku lebih parah


Lidah Pak Sopir itu terasa kasar bergerak cepat mengenai bagian-bagian dalam vaginaku. Jilatan menjulur ke segala arah seolah ia ingin nyebokin memekku dengan air liurnya. Aku sampai memegangi kepala Pak Sopir karena ia semakin membenamkan kepalanya diantara kedua kakiku. Lidahnya terus berusaha menjangkau titik terdalam kemaluanku.


"pakkk.. Aduhhhh.. Aaaahh.. Geli.. Sudahh sudah bapak"", pintaku karena tak kuasa menahan rangsangan ini


"Malah becek dia pak... Memek temen saya memang gatel", ejek Anya


"Iya Mbak saya tahu, temen Mbak ini memeknya memang gatel..p", jawab si sopir kali ini ia mainkan vaginaku dengan jari-jarinya


"Ohhhhhh" pak". Aaaahhhh..", aku malah mengangkang lebar membiarkan jemari si sopir mencari-cari bagian klitorisku


"Iyaaaahhh disituuuuu bapaakkk".", pekikku saat kurasakan biji itilku disentuhnya dan langsung ia kocok dengan cepat


"Nakal ya kamu mbak minta di colmekin memeknya? Ha? Ha? Ha?", ledek si bapak sopir sambil terus mencabuliku dengan cepat


*koclokocloklokloklok* suara tangannya mengorek memekku dengan sangat cepat


"Ouhh.. Bukan Saya yang minta pak" Aaahh" Temen saya".Sshhhh". Yang nyuruhh.. Uhhh.." Rancauku bahkan aku sampai memegangi tangan pak sopir yang terus menggelitiki lubang kelaminku


"Sama aja.. ini kamu malah ngangkang? Keenakan yang dicolmekin saya???"


"iyaaaahhhh aku sukaaaa pak". Aahhh"", jawabku sambil tubuhku semakin menggelinjang hebat


Tiba-tiba memekku yang sudah kedutan dan kutahan dari tadi terasa ingin buang air kecil. Kakiku sudah mengatup kuat-kuat agar Pak Sopir itu menghentikan sentuhan nakalnya pada vaginaku, tetap ia terus merangsang vaginaku tanpa ampun


"Pak sudah pak.. Saya.. Saya mau keluarr.. Aaaahhhh.. Aaahh.. Pak"", kataku sambil menggelinjang kuat


Tubuhku kejang-kejang tak karuan. Kakiku gemetaran hebat saat kurasakan cairan dalam vaginaku sudah siap ku buang


"Aaaahhhh" Saya keluarrrr pakkk. Stoooopppp", jeritku sambil kejang-kejang


Terlambat"


*Sretttt srettt srettttt seetttt* lendir vaginaku menyembur deras ke segala arah mengenai mobilnya


Ada yang mengenai dashboard, ada yang mengenai muka pak sopir, ada yang mengenai tuas perseneling, ada yang kena stir, dan kebanyakam cairanku tumpah ke kursi mobil taxi online itu


"Aduh jadi kotor mobil saya"", kata Pak Taxi online sambil membersihkan cipratan-cipratan cairan vaginaku dengan tisu yang ada di mobilnya


"Maaf Pak.. Saya enggak sengaja.. Habis bapak saya minta berhenti bapak malah lanjut ngocok memek saya.. Hah.. Hah.. Hah"", kataku tidak enak hati sambil terengah-engah


"Ya tapi ga kencing sembarangan juga kali mbak" Aduh memek gatel emang merepotkan saja", ejek Pak Sopir sambil memencet bibir vaginaku


"Udah-udah gini aja Cha.. Kamu ada uang berapa?", kata Anya tiba-tiba


"Ada 200 didompet. Kenapa Nya?", kataku masih lemas


"Kasih 100 gih ke bapaknya. Karena Bapaknya sudah mau bantu bikin memek kamu basah. Masak iya kamu ga terima kasih?", kata Anya


"Hah? Ya udah deh..", kataku dan kuambil uang 100ribuan dan kuberikan ke bapaknya.


"Terus 100 lagi buat permohonan maaf karena lendir memekmu sudah bikin mobil bapaknya kotor..", usul Anya lagi


"I.. Iya Nya, ini Pak saya minta maaf udah bikin kotor mobil bapak", kataku sambil kuserahkan uang 100ribuan lagi ke bapaknya hingga dompetku kali ini kosong melompong


"Ya udah lain kali hati-hati kalau kencing jangan sembarangan. Kencing kok di mobil. Kamu kan bisa turun dulu terus kencing di pinggir jalan. Atau kamu bisa kencing di kali sana yang banyak orang mancing biar mereka bisa liat kamu kencing", omel bapak itu sambil terus membersihkan bagian-bagian mobilnya yang terkena cipratan lendir kemaluanku


"Maafkan teman saya ya Pak.. Maafkan memek gatal teman saya..", kata Anya dan pak sopir itu akhirnya berhenti mengomel


Si sopir taxi online itu pun pergi dan kami sudah berada di depan kost cowoknya Anya.


"Gimana Cha? Berasa nakal banget kan kamu?", goda Anya


"Gila kamu Nya bapaknya galak banget tau.", jawabku masih membetulkan celana leggingku yang sedikit miring karena barusan kupelorot


"Gimana gak galak orang kamu kencing di mobilnya. Hihihi"", ledek Anya


"Anya! Itu bukan kencing tau!", sanggahku tak terima


"Iya sama aja, intinya cairan yg keluar dari memek kamu Echa", terang Anya


"Mana aku disuruh bayar 200ribu lagi", gerutuku


"Ikhlas kan?", tanya Anya


"ikhlas sih..", jawabku


"Ya udah kamu ga usah ngomel lagi kalau gitu. Toh kamu bayar beliau buat muasin memek kamu", kata Anya sambil tersenyum mesum ke arahku


#


Setiba kami di kos kosan pacar Anya, kamipun langsung masuk kedalam rumah kos itu. sepertinya kos-kosan ini tidak ketat keamanannya karena orang luar bisa leluasa keluar masuk Dan gerbang utama tidak dikunci. Suasana dalam kos masih sepi, mungkin karena hari minggu jadi banyak yang masih molor atau udah pada pulang kampung.


"Kos-kosan cowok Cha, wajar keamanannya ngga begitu ketat. Maling ngga akan tertarik. Hahaha..", jelas Echa seperti membaca pikiranku


Anya langsung menuntunku ke arah sebuah kamar yang terletak di lantai 2 dan berada di ujung. Anya langsung membuka pintunya begitu saja. Aku syok sempat melihat kedalam kamar kos pacar Anya, Sempat kulihat pacar Anya tertidur dalam keadaan telanjang. Mataku langsung menangkap penampakan kontol pacar Anya yang terlihat jelas mengacung tanpa terhalang apa-apa. Aku buru-buru memalingkan muka ke arah lain dan memutuskan menunggu diluar saja. Sedangkan Anya kulihat masuk ke dalam kamar cowoknya.


"Banguun Yank... Pacarmu yang cantik udah disini kamunya masih molor.. Mana pintu kamar ngga dikunci lagi. Ntar kamu diperkosa lho", kata Anya


"Kalau diperkosa Cewek cantik aku ga nolak sayang", jawab pacar Anya sambil menggeliatkan badannya karena baru bangun tidur


Kulihat dari jendela, Anya mulai mengemuti kontol pacarnya dengan lahap. Pertama kalinya aku melihat adegan mesum sahabatku itu secara live. Terlihat sekali Anya sudah pengalaman menyepong kontol.Gerakan mulutnya lincah dan teratur, Sesekali ia sibakkan rambutnya ke kiri dan ke kanan sambil menikmati gagang kencing pacarnya itu. Terlihat sangat sexy .


"Uhhh.. Kamu kangen kontolku ya Sayang?", tanya pacar Anya sambil ia biarkan Anya mengulum dengan lahap penis tegak itu


"Iya.. Uuuhh.. Kontol kamu malah gede nih Yank", kata Anya sambil mengurut perlahan kontol pacarnya dengan jemari lentiknya


Tanpa sadar, rasanya gairahku turut bangkit melihat adegan erotis pacarku itu. Kurapatkan kakiku dan kujepit kemaluanku agar tidak semakin bergejolak karena terangsang melihat adegan panas di dalam kamar kost pacar Anya. Aku pun diam-diam meremasi payudaraku sambil terus mengintip saking tidak tahannya. Tangan kananku juga mulai menyusup ke dalam meraba kemaluanku, dan kukucek perlahan memekku yang terasa lembab.


"Uhhh.. Enak"", lenguhku perlahan sambil terus meraba-meraba area sensitifku diam-diam


Melihat apa yang dilakukan Anya, tiba-tiba aku teringat saat dimana aku bercinta dengan Mas Rio. Kurang lebih kenakalan pacaran kami juga sama saja seperti itu. Kuingat juga dengan apa yang telah kuperbuat dengan lelaki-lelaki lain yang pernah menikmati tubuhku. Membayangkan betapa nakalnya aku, membuatku semakin sange.


"Echa, sini masuk, kamu ngapain diluar?", kata Anya memanggilku dan membuatku berhenti masturbasi saking terkejutnya


aku reflek menolehkan kepala dan memandang menuju ke dalam kamar kost itu dan kembali mataku malah tertuju pada kontol pacar Anya yang masih mengacung tegak sambil digenggam Anya.


Pacar Anya kaget melihatku dan segera ia tutupi tubuhnya apa adanya dengan bantal dan guling yang berserakan di kasurnya


"Kamu ajak temen yank? Kok gak bilang-bilang", protes pacar Anya sambil menghentikan aktivitas mesum mereka


"Iya. Kejutan" Hihihii..", jawab Anya


"Kamu ini.. Yaudah aku mandi dulu. Kamu sama temenmu masuk kamar aja, daripada nunggu diluar ntar malah digodain penghuni kamar lain", Kata pacar Anya melanjutkan


Setelah pacar Anya masuk ke kamar mandi, Anya lalu membuka tas plastik yang dari tadi dia bawa. Ternyata isinya adalah Kue tart Ulang Tahun bertuliskan "Happy Bday Sayang ke 26". Anya lantas menyiapkan lilin ulang tahun dan mengambil korek yang tergeletak di meja kecil.


"Ternyata usianya udah cukup tua jika dibandingkan dengan usia kami yang masih sekitar 18 tahun an", pikirku dalam hati


Setelah pintu kamar mandi terbuka dan pacar Anya sudah berpakaian lengkap, Anya langsung menyanyikan lagu happy birthday ke cowoknya, sementara aku hanya diam tersenyum tipis mematung sambil ikutan tepuk tangan seadanya.


"Happy birthday to you", kata Anya


"Makasih Yank. Mana kadonya? Hehehe", kata Pacar Anya


"Sudah kusiapkan special buat kamu", jawab Anya sambil melirik ke arahku dan aku sampai terkesiap melihat tatapan nakalnya


"Ayo make a wish dulu Yank", kata Anya


Lalu kulihat pacar Anya berdoa lalu meniup lilinnya.


"Horeee.... Oiya Yank, ini kadomu.", kata Anya sambil mendorongku maju mendekati pacarnya


"Hah? Maksud kamu Yank?", tanya pacar Anya kebingungan


"Temanku ini jadi kado buat kamu sayang. Kamu boleh lakukan apapun yang kamu mau ke dia", ujar Anya dan aku hanya menunduk malu


Ya, ide gila Anya adalah menjadikanku sebagai kado di hari ulang tahun pacarnya. Sekalian Anya ingin agar aku merasa tidak jenuh dengan memintaku sesekali berhubungan dengan lelaki lain


"Kamu serius Yank temenmu ini jadi kado buat aku?", kata pacar Anya sambil melirikku nakal


"Iya, dia memang kerudungan tapi sangean juga kok Yank.", kata Anya dan kupeloti Anya karena belum apa-apa ia sudah menurunkan imageku saja.


"Hehehe" Kenalan dulu aja kalian"", imbuh Anya sambil menarikku agar lebih mendekat


"Chandra", kata pacar Anya sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman denganku


"Echa", kataku sambil menyambut jabat tangan pacar Echa yang ternyata bernama Mas Chandra


Mata Mas Chandra kusadari jelalatan ke arah tubuhku dan Terutama ke celana legging yang aku pakai saat ini. Memang celana dalamku yang menerawang menjadi cobaan indera pengelihatannya. Mungkin ia tak sabar ingin menerkamku karena melihat gaya berpakaianku yang terlalu sexy untuk seorang gadis berkerudung.


"Kamu sange ya Yank liat Echa?", tanya Anya


"Anyaaaa... Apaan sih...", teriakku menahan malu sambil mencubit lengan sahabatku ini


Kulihat Mas Chandra juga jadi kikuk tak bisa berkomentar apa-apa mendengar perkataan Anya.


"Yaudah kalian aku tinggal dulu ya. Aku ada tugas kelompok. Bye byeeee", kata Anya dan ia pun segera meninggalkanku dengan pacarnya.


"Eh Nya? Tugas kelompok apa? Bukannya sudah??", tanyaku namun Anya keburu meninggalkan kami tanpa menjawab pertanyaanku


Kulirik Mas Chandra menghela nafas, kemudian lelaki itu memberanikan diri melihat ke arahku secara terang-terangan. Tatapan kami bertemu dan ia memandangiku dalam-dalam. Wajah pacar Anya sebenarnya biasa aja menurutku. Standard lah. Rambutnya dipotong cepak, dan kulitnya berwarna cokelat gelap. Tapi memang bentuk mukanya yang kotak dan tegas memiliki aura yang berbeda layaknya seorang anggota tentara.


"Silakan duduk Mbak, maaf nih berantakan ngga ada apa-apa. Biasa kamar cowok. hehehe", kata Mas Chandra membuka pembicaraan berusaha mencairkan suasana


"Oh iya mas hehehe.. Terima kasih", jawabku lalu duduk di sebuah kursi yang ada disana


"Kamu mau minum apa?", tanya Mas Chandra


"Terserah mas", jawabku


"Kalau disini cuma ada bir aja. Kamu mau? Heheheh", tanya Mas Chandra sambil terkekeh


"eh... ngga usah deh..", jawabku karena keyakinanku melarang meminum minuman keras


"Bercanda. Ini ada cola..", Kata Mas Chandra


"Oh iya boleh mas terima kasih", Jawabku sambil kuterima sekaleng cola pemberiannya


"Ayo dimakan dulu kuenya Cha.. Anya ini bawa kue segini banyak siapa yang mau habisin", kata Mas Chandra sambil menggaruk rambut cepaknya


"Oh iya mas, terima kasih. Aku bantu irisin ya mas"", tawarku dan segera kuambil pemotong kue yang ada di samping kue tart


Kupotongkan kue yang agak besar untuk Mas Chandra, sedangkan untukku cukup potongan kecil aja


"Lagi diet ya?", tanya Mas Chandra melihat potongan kueku yang kecil


"Enggak kok.. Hanya ngga suka yang terlalu manis mas", jawabku


"Ohhh.. Iya udah bagus segitu bodymu.. Kalau terlalu kurus malah kurang bagus", kata Mas Chandra sambil kali ini ia pandangi payudaraku


"Masak sih mas? Tapi aku juga pingin nyoba agak semokan kayak Anya", kataku


"Menurutku sih sekarang udah sempurna Cha.. Kamu sexy"", puji Mas Chandra membuatku tersipu


Kemudian kami mulai makan kue ultah yang dibawa Anya tadi. Kue Tart Black Forrest dengan beberapa potong buah chery diatasnya. Pelan-pelan aku memakan sepiring kue tart agar bisa mengimbangi porsi Mas Candra yang lebih besar


Tidak banyak pembicaraan yang terjadi karena memang suasana kami yang masih serba kikuk. Aku hanya lebih banyak diam menunggu Mas Chandra membuka obrolan.


"Udah punya cowok Cha?", Tanya Mas Chandra tiba-tiba


"Eerrr.. Ada Cuma lagi ada masalah mas..", jawabku


"Ohh.. kuliah apa kerja cowoknya?", tanyanya lagi


"Masih kuliah", jawabku


"Ohh.. jurusan apa?", tanya Pacar Anya lagi


"Anak Teknik Mas", jawabku


"Oohhh..", Jawab Mas Chandra


"Kalau Mas kerja apa kuliah?", tanyaku mencoba basa basi


"Aku udah kerja Cha", jawab Mas Chandra


"Kerja apa mas?", tanyaku


"Cuma security aja kok", jawabnya


"Hmmm pantesan aja"", gumamku


"Kenapa?", tanya Mas Chandra penasaran


"Badan mas atletis"", pujiku


"Hehehe bisa aja kamu" Suka yang atletis ya kamu?", ujar Mas Chandra sambil menowel hidungku


"Hmmm iya. Hihihihi", jawabku manja


"Kamu sudah lama pacarannya?", tanya Mas Chandra kali ini


"Belum ada setahun mas"", jawabku


"Ohhh.. Semoga masalahmu cepat kelar ya" Dan dikasih jalan terbaik", kata Mas Chandra sambil memberanikan diri memegang pundakku


"Makasih ya mas" Hmm mas"", kataku kemudian


"Ya?", jawab Mas Chandra


"Mau aku suapin?", tawarku membuat Mas Chandra terkejut


"Mau sih, tapi kamu gapapa? Aku bisa makan sendiri kok", jawab Mas Chandra


"Ngga papa kali mas, punyaku juga mau habis..", jawabku sambil meraih piring roti Mas Chandra


"Aaaaaaa"", kataku


Lalu Mas Chandra langsung mencaplok potongan roti yang kusuapkan kepadanya


"Hmmm.. Cha.. Kamu mau nonton enggak?", tanya Mas Chandra


"Nonton apa mas?", tanyaku


"Bokep. Mau?", tanya Mas Chandra


"Iya gapapa mas"", jawabku


"Syukur deh kalau mau"", kata Mas Chandra sambil segera ia nyalakan laptopnya dan diletakkan diatas meja tempat kami makan kue tart saat ini


"Kamu pernah liat bokep emang?", tanya Mas Chandra penasaran


"Hmmmm.. Pernah sih.. Akhir-akhir ini sering malah..", jawabku mencoba jujur


"Oiya, genre apa sukanya Cha?", tanya Mas Chandra semakin penasaran


"Coba tebak"", godaku


"Biasanya cewek suka yang soft dan banyak drama ceritanya"", jawab Mas Chandra


"Kurang tepat"", jawabku


"Terus yang benar apa dong?", tanya Mas Chandra kembali penasaran


"Hihihi.. Aku suka genre gangbang mas", jawabku jujur


"Hah serius? Besar juga nyalimu Cha"", tanya Mas Chandra terkejut mendengar pengakuanku


"Sumpah mas"", kataku serius


"Emang kamu mau digangbang?", tanya Mas Chandra


"Pingin nyoba mas tapi ga berani. Hihihi ..", jawabku padahal aslinya sudah pernah


"Hmmm bener ya kata Anya.. Wajahmu polos tapi kamu nakal juga", kata Mas Chandra


"Anya terlalu lebay sih ceritanya. Masak iya mukaku polos mas?", tanyaku penasaran


"Iya.. Mukamu polos tapi bikin mupeng.. hehehe" nih bagus nih", kata Mas Chandra sambil mulai memutar video bokepnya


Kemudian pandangan mata kami tertuju kepada layar laptop yang mulai menampilkan jalan cerita film porno Jepang. Seorang gadis yang bekerja di perusahaan sedang melaksanakan pekerjaan dinas bersama ketiga rekan kerjanya. Hanya ia wanita satu-satunya. Lali seperti yang bisa ditebak, akhirnya wanita itu menjadi pelampiasan nafsu ketiga rekan kerjanya. Berbagai posisi mereka lakukan. Wanita tersebut nampak menikmati dirinya disetubuhi bergiliran seperti itu.


Melihat tayangan menggairahkan itu, tentu saja lama-lama birahiku naik juga. Apa lagi melihat wanita itu keenakan merasakan kontol teman-temannya dan ia sama sekali tidak keberatan semua temannya menjamah tubuh indahnya. Aku mulai gelisah duduknya. Beberapa kali aku merubah posisi kakiku, dan ingin sekali tanganku menjamah kemaluanku yang mulai terasa gatal.


Mas Chandra sepertinya menyadari kegelisahanku. Kulihat sesekali ia juga meremas kontolnya. Aku diam-diam mengintip ke arah kontol Mas Chandra yang masih ia bungkus rapi. Ingin sekali aku memulainya tapi aku terlalu malu. Bagaimana pun dia adalah pacar sahabatku sendiri


"Kamu sange ya sayang?", ujar Mas Candra sambil semakin mendekatiku dan berbisik di telingaku


"I.. Iya mas"", jawabku sambil menunduk


"Kamu mau digituin?", goda Mas Chandra sambil kali ini ia beranikan meraba payudaraku


"EHH" Mas" Aaahh.. Mau..", aku mendesah kecil membiarkan tangan Mas Chandra mulai meremas toketku


"Sebentar biar makin asyik, kamu minum ini dulu..", kata Mas Chandra sambil memberiku dua buah obat pil


"apa ini mas?", tanyaku


"Yang satu biar kamu semakin hot dan bergairah satunya lagi biar kamu aman aja ga takut hamil", kata Mas Chandra


"Beneran ngaruh mas?", tanyaku penasaran


"Anya berkali-kali aku ewe aku keluarin di dalam selama ini aman-aman aja", jawab Mas Chandra


Aku pun mengangguk dan segera kuminum kedua obat tadi dengan minuman bersoda kalenganku. Kulihat Mas Chandra juga meminum beberapa butir pil yang aku tidak tahu apa manfaatnya


Lalu setelah aku selesai meminum obat tadi, Mas Chandra kembali mengecup pipiku dengan lembut. Terdengar sekali hembusan nafasnya begitu berat. Sepertinya ia sama denganku, Ia pun mulai sange karena menyaksikan tayangan erotis yang sedang kami tonton


"Kamu cantik sayang, aku jadi penasaran sama tubuh kamu...", bisik nakal Mas Chandra


"Aaaahhh" Iya boleh mas" Aku milikmu""* jawabku tak kalah menggoda


"Okay" I will fuck you".", kata Mas Chandra


"Fuck me honey"", jawabku semakin tergoda untuk berzina dengan pacar Anya


Kubiarkan dia menciumi pipiku dan meraba payudaraku. Cengkraman tangannya begitu kuat meremas buah dadaku. Aku hanya terdiam sambil pandangan mataku terus tertuju ke arah layar laptop yang memperlihatkan wanita itu saat ini sedang digenjot oleh salah satu temannya. Sedangkan mulutnya sibuk mengulum kontol dua orang lainnya secara bergantian.


Dirangsang terus menerus oleh Mas Chandra ditambah tayangan bokep yang kutonton, lama-lama aku tak tahan juga. Kupegang pipi pacar Anya itu dan kutolehkan wajahnya hingga wajahnya kini menghadap ke wajahku, lalu langsung kucium bibir pacar Anya itu. Kulumat bibirnya yang dan ia pun membalas menciumi bibirku. Bibir kami kini saling bertemu dan bersinggungan. Sesekali kami juga bermain dengan lidah, saling menjilati dan menikmati bergantian. Suasana menjadi semakin panas karena kamar kost ini sama sekali tidak memiliki alat pendingin baik berupa kipas angin ataupun AC. Dan perlahan kurasakan perubahan pada tubuhku. Aku semakin merasa kegerahan dan rasanya libidoku semakin tak tertahankan saja.


"Agresif juga kamu Cha.. Aku suka itu"", ujar Mas Chandra tak mau kalah


Pergumulan kami semakin liar, aku sudah tak peduli lagi lelaki disampingku ini pacar sahabatku sendiri. Mas Chandra sepertinya juga sama. Ia juga tidak peduli statusku yang sebenarnya sudah memiliki pacar. Ia mulai beringas menciumi bibirku, aku pun mencoba mengimbangi lumatan bibirnya. Lidah kami saling cipokan penuh gairah. Bergulat dan saling menjilat satu sama lain. Suasana yang semakin gerah ini dimanfaatkan Mas Chandra untuk segera melepas kaos pink yang kukenakan. Aku pun mengangkat tanganku dan kubiarkan pacar Anya itu melucuti pakaian atasku. Lalu Mas Chandra kembali menciumiku penuh nafsu. Bibirku menjadi bulan-bulanan bibirnya yang terus melumat bibirku


"Kamu cantik sekali sayang.. mphh mphh mpphhh"", ujarnya sambil terus menciumiku


Kemudian ciuman Mas Chandra turun ke bawah, ia singkap kerudungku sedikit dan ia berikan kecupan serta gigitan nakal di leherku. Aku hanya bisa memejamkan mata membiarkan Mas Chandra menyupangi leherku


"Kamu wangi.. Aku makin sange"", ujar Mas Chandra


"Aku juga mas"", jawabku sambil membiarkannya menjilati beberapa bagian leherku hingga ketiakku


"Naik keatasku gih"", pintanya


Tanpa diminta dua kali, kuberanikan diri duduk di atas pangkuan pacar Anya. Kulingkarkan tanganku di leher Mas Chandra dan kali ini aku yang aktif menciumi pacar Anya itu. Aku tidak akan jaim-jaim lagi seperti dulu. Kupagut bibir pacar Anya itu penuh nafsu. Kujulurkan lidahku dan kubiarkan ia melumat lidahku. Sambil kami berciuman dan saling melumat bibir, kulepas pengait braku dan kubuang begitu saja ke belakang. Lalu aku kembali menciumi pacar Anya itu sambil memeluknya erat. Kudempetkan payudaraku ke dada Mas Chandra yang bidang, lalu kami kembali saling melumat semakin panas


Kuciumi leher tegas Mas Chandra dan kugigiti daun telinganya. Sementara itu tangan Mas Chandra mulai bermain meremasi payudaraku. Sesekali ia pilin puting susuku bersamaan. Aku sedikit menggeliat saat ia sentuh putingku. Lalu aku tidak ingin telanjang dada sendiri di sini. Kutarik lepas kaos oblong Mas Chandra dan kudapati ada sebuah kalung cross yang tersembunyi di balik kaosnya. Aku tertegun memandangi kalung tersebut dan sepertinya Mas Chandra bisa membaca pikiranku.


"kamu keberatan ya Cha?", tanya Mas Chandra


"Engga gapapa kok mas"", jawabku sambil menggeleng dan aku pun kembali melumat bibir dan berciuman panas dengan Pacar Anya


Lidah kami kembali saling menyeruput dan saling mengulum satu sama lain. Hingga menimbulkan bunyi decakan-decakan berisik disertai dengan suara desahan-desahan pelan yang berasal dari suara laptop Mas Chandra. Entah apa yang terjadi pada si pemeran wanita saat ini di tayangan bokep tersebut, karena saat ini aku dan Mas Chandra juga sedang asyik sendiri.


Kali ini giliran Mas Chandra yang ingin merangsang dan menikmati tubuhku. Ia mulai menjilati puting susuku bergantian. Puting susuku dihisapnya kuat-kuat hingga membuatku menggelinjang kegelian. Sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk memilin putting susuku satunya


"Kamu tau enggak, udah lama aku pingin ngewe cewe jilbaban kayak kamu", kata Mas Chandra sambil mengelus pipiku


"Oiya? Kok bisa gitu?", tanyaku


"Yang tertutup semakin membuat penasaran", jawab Mas Chandra


"Kalau gitu.. Ewe aku sepuasmu mas"", godaku nakal


"Ikhlas nih memekmu diewe cowok nonis?", goda Mas Chandra


"Ikhlas kok mas.. Aku juga pingin ngerasain kontol cowok nonis", jawabku nakal


"Lepas gih kalau gitu celanamu. Biar aku nikmatin memekmu Ukhti"", kata Mas Chandra


"Iyaaaahhh.. Aku kasih memek aku buat kamu mas"", jawabku


Aku kemudian berdiri dan melucuti sisa pakaian yang ada padaku. Yaitu legging transparan dan celana dalamku. Kupelorot begitu saja celana yang kupakai beserta celana dalamku sekalian di depan pacar Anya. Aku pun akhirnya bugil dihadapan Mas Chandra, dihadapan pacar sahabatku dan hanya menyisakan kerudung sebagai identitasku.


"Luar biasa.. Body mu sexy banget Ukhti.. Ngaceng aku liat kamu bugil.."


"Jadi diewe enggak? Apa cuma mau dilihatin.. Aku udah ga tahan tau mas"", jawabku nakal


"Sabar.. Aku mau jilatin memek kamu dulu"", kata Mas Chandra sambil ia rebahkan tubuh telanjangku dikasurnya.


Kubuka kedua kaki mengangkang, dan kubiarkan pacar Anya itu kini menjilati alat kelaminku. Tubuhku kembali menggeliat saat kurasakan lidah nakal Mas Chandra bermain-bermain di lubang kemaluanku. Aku mendesah dan mendesis menahan geli, sungguh luar biasa rasanya saat lidah Mas Chandra menjilati area kelaminku.


"Memek kamu banjir sayang" Sssshhhh" slurupp sluruppp", ujarnya sambil tak berhenti menjilati organ kewanitaanku


"Aaahhh.. terus mass.. Jilatin memek aku" Aaaahhh..", jawabku sambil terus menggeliat dan mencengkeram sprei kasur Mas Candra saking gelinya lidah Mas Chandra bermain-main di lubang kemaluanku


Setelah puas ia seruput habis lendir vaginaku, Mas Chandra kemudian berdiri dan melucuti celana beserta celana dalamnya. Kontol pacar Anya itu langsung melompat keluar dan dengan terang-terangan kupandangi kontol kekar itu. Tubuh telanjang Mas Chandra nampak begitu jantan mempesona. Otot-ototnya berbentuk dan sangat atletis. Melihat badan perkasa itu, rahimku lama-lama terasa hangat tak sabar ingin melayani cowok atletis dihadapanku ini


Wajahku terkagum melihat kontol Mas Chandra. Ukurannya kurang lebih mirip punya Endrix. Mas Chandra tersenyum saat menyadariku yang terus melihat ke arah batang kejantanannya.


"Hehehe.. Tenang Ukhti, walau aku nonis aku tetap sunat kok. Jangan khawatir"", kata Mas Chandra menggodaku yang terus memandangi kontolnya


"Eehhh.. Enggak kok mas.. Aku hanya terpesona liat kontol kamu yang gede"", pujiku dan tanpa diminta aku turunkan tubuhku berlutut mendekati kontol Mas Chandra


Tak sabar rasanya aku menjilati kontol pacar sahabatku. Kugenggam batang kontol Mas Chandra dan kukocok sebentar, sebelum akhirnya kujilati dari bawah ke atas batang kontol berurat itu. Terdengar Mas Chandra mendesah dengan suara berat menerima jilatanku pada batang kemaluannya. Kuulangi beberapa kali gerakan itu dan kupastikan seluruh batang kejantanannya sudah kulumuri dengan air liurku.


Setelah puas menjilati batang kontol Mas Chandra, aku mulai mencaplok seluruh kontolnya. Kumainkan sebentar kepala kontol Mas Chandra dengan lidahku, dan kepalaku mulai bergerak naik turun mengulum kontol pacar Anya. Kulakukan sepongan kontol secara slow motion agar Mas Chandra lebih bisa menikmati seponganku yang bergerak perlahan mengurut batang kelaminnya.


"Ohhhhh". Enak sayang.. Kamu dah biasa sepong kontol pacarmu ya? Aaaahhhh", tanyanya namun tidak bisa kujawab karena aku masih fokus mengulum batang kontolnya


"Bisa crot aku lama-lama kalau kamu sepongin terus kayak gini", ujar Mas Chandra sambil ia memintaku untuk kembali berdiri menyudahi blowjobku


Tubuhku kemudian dimintanya naik ke atas kasur dan ia juga memintaku untuk menungging. Kuangkat pantatku menungging menggoda pacar Anya sambil sedikit kugoyang-goyang. Sedangkan kaki Mas Chandra tetap menapak di lantai, untungnya tinggi kasur sangat pas untuk melakukan sex gaya anjing ini


"Aku ewe sekarang ya?", kata Mas Chandra sambil menepuk pelan pantatku yang sengaja menggodanya


"Iya ewe aku sekarang mas.. Masukin kontol kamu sayang"", pintaku sambil kutunggingkan pantatku di hadapannya agar lebih sexy


"Sialan.. Kirain Ukhti ternyata naukhti ya kamu.. Ssshhh.. bokongmu mulus bener sayang", kata Mas Chandra sambil mengelus dan meremas kedua pantatku.


Kemudian ia kocok memekku sebentar agar semakin basah. Tidak butuh waktu lama, karena dari tadi aku juga sudah becek. Kurasakan ujung kepala kontolnya mulai membelah kemaluanku. Aku tak sabar menunggu kontol Pacar Anya itu diceploskan ke lubang senggamaku. Kurasakan kontol yang rasanya keras kayak kayu itu mulai membelah vaginaku semakin dalam.


"Aaaahhhh.. mass" pelan-pelan kontolmu besar soalnya"", pintaku manja


"Besar mana sama kontol cowokmu?", tanya Mas Chandra


"Jauh mas besaran kontolmu.. Iyaaahhhh"", pekikku saat Mas Chandra mulai menggerakkan maju mundur kontolnya di liang senggamaku


"Jadi enakan kontolku dong?", godanya


"Iya enak kontol kamu mas.. Aaaahh terusss" Sshhh"", jawabku sambil mendesah


"UHHH Masih sempit sayang memek kamu" Sssshhh..", ujar Mas Chandra sambil ia dorong semakin dalam kontolnya ke lubang memekku


"Ouuuhh.. Kontol kamu yang kegedean sayang" Aaahhh"", kataku sambil kuikhlaskan lubang kemaluanku dimasuki kontol pacar Anya


Gesekan kontol Mas Chandra pada dinding vaginaku sangatlah luar biasa. Rasanya benar-benar mantab menggaruk kulit bagian kemaluanku. Pantas saja aku jadi ketagihan kontol seperti ini karena memang rasanya bersetubuh itu sangat nikmat sekali. Inilah kenikmatan surgawi yang kudambakan. Yang tidak bisa kudapatkan dari pacarku sendiri.


Memang kuakui fantasy pacarku luar biasa gila. Tapi soal kepuasan, biarlah aku yang mencari kepuasan itu sendiri dengan caraku. Aku yang mengerti standard kepuasanku seperti apa. Tapi Aku benar-benar bersyukur, karena dialahulah Mas Rio, aku jadi punya kesempatan merasakan kenikmatan kontol cowok lain yang lebih keras dan memuaskan syahwatku. Aku jadi sangat menyukai kontol cowok. Apalagi kontol cowok yang besar dan panjang. Pantas saja fantasyku menggila setelah aku merasakan sendiri betapa bersetubuh dengan mereka sangat enak dan membuatku ketagihan


*Ceplok ceplok ceplok* kontol Mas Chandra mulai menghajar memekku


Pacar Anya saat ini sedang menggenjotku dengan posisi doggy style. Terasa sekali kontol Mas Chandra menghajar kemaluanku sampai bagian terdalam. Rasanya sangatlah mantab hingga kemaluanku tak bisa berhenti memproduksi cairan agar bisa memberikan pelumas terbaik untuk kontol Mas Chandra


"Ouhhh.. Aahh.. Ahhh.. Aahh.. Terus mass.. Aaahh.. Enak.. Terusss"", desahku begitu nakal saat disodoki dari belakang oleh pacar Anya


"Gila memek kamu anget bener Cha.. Aaahhh.. Aahhhhh.. Sedep bener"", kata Mas Chandra sambil terus semangat menggenjotku


Ia tarik ujung kerudungku hingga kepalaku terdongak keatas sambil kontolnya tak berhenti menggenjot kemaluanku. Aku benar-benar terlena dan menikmati persetubuhan dengan pacar Anya ini. Eksekusinya Mas Chandra cukup kuat, wajar sesuai dengan postur tubuhnya yang berotot


"Ohhh aaahhhh" terus mas.. Kontolmu enak sayanggg..", desahku begitu nakal dan kulebarkan kakiku agar Mas Chandra lebih leluasa menghajae vaginaku


"Iyaaa.. Sayang.. Memek kamu ini butuh dipuasin pake kontol" Sini aku kasih kepuasan buat memekmu"", ujar Mas Chandra semakin semangat menyetubuhiku


"Iyaaahhh.. Aaaahhh ewe aku terus massss" Aaahhhh..", desahku semakin terbakar nafsu


Sekitar 5 menit aku di doggy oleh pacar Anya"


Setelah puas dengan posisi doggy style, Mas Chandra kali ini memintaku duduk diatas pangkuannya.


Aku pun duduk di pangkuan Mas Chandra dan kubiarkan pacar Anya itu mulai menjebolkan batang kontolnya ke lubang kemaluanku. Setelah dirasa pas, aku mulai menggerakkan pinggulku naik turun, mencoba memberikan goyangan erotis yang memanjakan kontolnya


"Kamu sexy banget sayang" Luar biasa" Aku beruntung bisa nikmatin jepitan memekmu Cha" Kamu sempurna"", kata Mas Chandra sambil duduk santai karena kali ini tubuhku lah yang bergerak naik turun agar kontol Mas Chandra terus bergesekan dengan alat kelaminku


"Suka sayang?", tanyaku sambil kugoyangkan erotis tubuhku saat kedua kelamin kami saling bergesekan.


"Suka banget".", jawab Mas Chandra sambil mulai mencium bibirku


Sambil aku bergoyang sexy diatas tubuh atletisnya. Kami kembali berciuman panas. Lidah kami kembali saling melumat. Tangannya tak berhenti memainkan tetekku. Saat berada dalam posisi seperti ini, aku justru merasa kontol Mas Chandra semakin membengkak di dalam liang senggamaku. Kurasakan area kemaluanku terasa semakin penuh sesak


"Aaahhh.. Memek kamu semakin jepit Cha"", kata Mas Chandra sambil merem melek


"Kontol kamu yang makin besar mas" Aaahhh.. Aahhh"", kataku sambil terus bergoyang sexy diatas tubuh pacar Anya itu


Kupandangi tubuh telanjang Mas Chandra, terlihat begitu kuat menampakkan perutnya yang sixpack dengan kedua lengan yang berotot memegangi pinggulku. Jauh berbeda dengan tubuh pacarku Mas Rio yang biasa saja standard anak kuliahan.


"Aaaahhhh....", pekikku disertai dengan tubuh yang bergetar getar hebat menandakan aku mencapai orgasme pertamaku


Aku angkat dan kulepaskan sejenak kontol Mas Chandra dari kemaluanku. Tubuhku gemetaran hebat lalu tiba-tiba aku orgasme parah diatas tubuh pacar Anya


"Maaf mas aku keluaaaarrrrr", pekikku dan ku tak mampu menahan ledakan semburan lendir cairan vaginaku yang muncrat mengenai kontol Mas Chandra


"Maaf ya mas aku ga tahan lagi pingin muncrat"", kataku tersipu malu menyadari kontol Mas Candra basah terkena cairan lendir muncratku


"Gapapa, kamu sexy kalo squirt"", kata Mas Chandra kali ini ia ubah posisiku berada di bawahnya.


Kulihat Mas Chandra mulai mengarahkan kontolnya kembali ke liang kenikmatanku. Aku hanya bisa pasrah membiarkan pacar Anya itu hendak menyetubuhiku lagi disaat aku lemas


*Jlebbbbb* kontol pacar Anya kembali tertancap di kemaluanku


"Ouuuuhhh" Ampun mas memek aku masih nyut-nyutan", pintaku tetapi Mas Chandra tidak peduli dan memompa kontolnya lagi di vaginaku


Tubuhku sama sekali tak diberikan jeda untuk beristirahat, walau masih terasa lemas setelah orgasme, aku masih harus terus bertahan menerima tiap sodokan yang diberikan pacar Anya itu.


Kemudian Mas Chandra kembali memagut bibirku disaat kedua kemaluan kami saling bertemu dan saling menikmati


"Aaahhh.. pelan sayaang ..", ucapku manja saat Mas Chandra semakin mempercepat sodokannya


"Ewe memek kamu paling enak dikuatin sayang biar lebih mantab"", kata Mas Chandra sambil terus ia perkuat sodokannya


*jleb jleb jleb jleb jleb*


"Aaaahhh aku keluar chaaaa" Aaarrrgghhh"", Tubuh Mas Chandra mulai tegang dan bergetar hebat


*crottt croottt crrooottttt* Mas Chandra langsung menyemburkan spermanya ke rahimku


Aku yang sudah di beri obat anti hamil menerima sperma pacar Anya itu dengan senang hati. Biarlah satu hari ini rahimku menjadi tempat menampung sperma Mas Chandra.


"Aaaaahhh" Enak bener ewe kamu Cha"", ucap Mas Chandra sambil mencabut kontolnya dari memekku


Kubiarkan lahar putih itu mengalir keluar dari rahimku. Cairan sperma milik pacar Anya yang ia tanamkan ke rahimku.


"Aku juga makasih ya mas sudah dikasih kesempatan nyobain kontol kamu"", ucapku nakal


"Suka?", goda Mas Chandra


"Suka banget sama kontol kamu mas"", jawabku


"Kapan-kapan aku ewe kamu lagi kalau gitu"


"Mauuuu.. Eh tapi aku ijin Anya dulu deh buat ngewe sama kamu"", ucapku


"Gak usah. Kamu jadi selingkuhanku aja", gida Mas Chandra


"Iiihhh.. ntar Anya marah sama aku mas"", kataku


"Salah sendiri aku dikasih kado cewek dengan memek ternikmat yang pernah aku rasakan", kata Mas Chandra


"Gombal.. Emang memek Anya gak nikmat ya mas?", tanyaku serius


"Memek Anya itu ndower sayang.. Gak kayak memek kamu masih rapet dan jepit banget. Mungkin memang dasarnya Anya itu cewek nakal kali ya jadi aku ga tau dia udah ngewe sama sapa aja sampe memeknya ndower gitu", kata Mas Chandra


"Ih ga boleh suudzon mas.. Gitu-gitu Anya sahabatku"", aku pun membela sahabatku itu


"Iya aku tahu. Tapi aku ga peduli. Toh hubungin kita juga have fun aja gak serius. Cuma butuh ngewenya doang buat hiburan", kata Mas Chandra


"Oh sama aku juga cuma butuh buat hiburan ngewenya doang ya?", kataku sambil bergelayut manja ke pacar Anya


"Jujur saja iya, aku Cuma butuh tubuh dan memek kamu sayang buat muasin gairahku. Keberatan?", tanya Mas Chandra


"Engga kok.. Memang tugas cewek itu melayani dan muasin cowok khan?", kataku mencoba bijak


"Ya udah kalau gitu kamu layanin aku lagi ya?", tantang Mas Chandra


"Kapan mas?", tanyaku balik


"Sekarang lah.. Ronde ke dua. Aku belum puas nikmatin memek kamu ukhti...", goda Mas Chandra


"Ya udah Ayoo.. Aku juga masih pingin disodok kontolmu mas", ujarku


Sekali lagi kami bersetubuh pagi ini. Saling memuaskan hasrat nafsu kami yang saling menggebu dan ingin saling dipuaskan


#


*jleb jleb jleb jleb*


Tanpa terasa hari sudah menjelang sore, tepatnya pukul 14.15. Dari pagi kuhabiskan waktuku dengan zina dengan pacar Anya. Sudah 4x ia semburkan spermanya ke rahimku. Sebagai sahabat Anya yang baik, aku harus menerima semburan sperma pacar Anya dengan penuh rasa ikhlas. Karena sahabatku itu sudah minta tolong kepadaku agar menjadi kado special untuk Mas Chandra. Jadi, aku harus totalitas menjalani peranku sebagai kado spesial dari Anya untuk Mas Chandra.


"Ya ampunnn masihhh ngewe????? Udah berapa jam Mas kamu ewe Echa????", pekik Anya saat ia baru saja tiba kembali ke kost Mas Chandra.


Mas Chandra sempat menoleh ke arah Anya, namun kelihatannya ia sudah tidak sungkan-sungkan lagi seperti pertemuan awal kami tadi. Ia lebih memilih terus menggenjot vaginaku daripada menyambut kedatangan pacarnya


"Hehehe" Maaf Yank masih seru nih", kata Mas Chandra sambil terus menyetubuhiku


Aku panik dan berusaha melepaskan kontol Mas Chandra dari kemaluanku, tapi Mas Chandra tidak mau dan ia lebih memilih terus menggenjot memekku walau saat ini Anya melihat kami. Aku masih merasa tidak enak dengan Anya karena ia saat ini melihatku yang sedang disetubuhi pacarnya.


"Hmmm dapat memek baru seneng banget kamu Yank. Hihihi..", kata Anya


"Gimana Yank tugas kelompoknya?", tanya Mas Chandra sambil ia tak berhenti menyetubuhiku di depan Anya


"Beres mas.. Hufff capek.. Aku mandi dulu ya.. Kata Anya dan ia tak mempedulikanku yang sedang digenjot pacarnya


Aku merasa betul Anya kemungkinan sedikit banyak merasa cemburu melihat aku dan pacarnya yang sedang asyik bersetubuh. Ia tidak mampu melihat Mas Chandra menyetubuhiku dan memilih untuk segera meninggalkan kami dengan masuk ke dalam kamar mandi. Ada sejujurnya merasa bersalah dan tidak enak dengan Anya. Iya betul, aku sejak kecil memang mudah sekali tidak enakan sama orang.


Tidak beberapa lama, Anya keluar dari kamar mandi. Ia keluar begitu saja dalam keadaan telanjang. Rambutnya begitu basah, sepertinya ia baru saja keramas. Mataku sejenak melihat ketelanjangan Anya dalam-dalam. Meskipun ia sahabatku, tetapi ini pertama kalinya aku melihat dengan jelas tubuh telanjang Anya. Memang benar Payudaranya terlihat lebih bulat daripada payudaraku. Tetapi untuk bagian lainnya, aku masih yakin lebih bagus punyaku. Hihihi"


Anya kemudian mendatangi Mas Chandra yang masih asyik menggenjotku dalam posisi missionaris. Betapa malunya aku karena jarak kami kali ini begitu dekat. Anya memandangiku dengan tatapan kosong. Aku semakin yakin ia cemburu kepadaku. Aku hanya membalas tatapan mata Anya dengan tatapan sayu. Sayu karena malu, juga keenakan karena kontol pacarnya


"Enak mana Yank memek Echa apa memek aku?", tanya Anya kemudian


"Aaahhhh.. Jujur ya sayang" Enak memek Echa jauh. Jepitannya, wanginya, bentuknya, hangatnya, beceknya.. Heheheheh"", ujar Mas Chandra membuatku semakin malu karena malah menjelaskan dengam detail


Anya tersenyum kecut mendengar jawaban pacarnya. Mungkin ia merasa kesal, tapi ia lebih memilih diam. Ia kemudian memandangi aku yang masih disetubuhi pacarnya.


"Kalu kamu Cha, enak mana kontol pacarku apa kontol pacarmu??", tanya Anya


"Aaaaahhh.. Sssshhh.. Enak kontol pacarmu Anyaaaaaa".", pekikku dan kurasakan Mas Chandra mulau mengejang lagi tubuhnya.


Mas Chandra sepertinya hendak klimaks untuk ke 5x nya hari ini. Ia dorong masuk kontolnya semakin masuk ke dalam rahimku. Tubuhku sampai terdongak kuat dan menggelinjang hebat saat Mas Chandra mendorong mentok alat kelaminnya di lubang kemaluanku. Aku pun merasakan betul kontol besar pacar Anya sudah kedutan di dalam rahimku


"Aaarrrggghhh..", pekik Mas Chandra kencang dan kurasakan cairan kental Mas Chandra mulai menyembur-nyembur di rahimku


*CROTTT CROTTTTT CROOTTTTTTT CROTTTTTTT*, Walau Mas Chandra sudah keluar berkali-kali namun tetap saja spermanya masih banyak dan kental saja


Rasa hangat lengket itu mulai terasa di dalam rahim. Perasaanku begitu puas dan lega kali ini. Tak kusangka stamina pacar Anya begitu luar biasa. Memberikanku kepuasaan yang tak kusangka-sangka. Mas Chandra kemudian mencabut kontolnya dari memekku. Rasanya memekku sudah lecek dan berlendir tak karuan. Samar-samar aku juga merasa sedikit perih di vaginaku. Mungkin karena sudah ratusan ribu kali kontol Mas Chandra menghajar memekku dari tadi pagi.


"Ckckckck" Dasar Echa, bukannya jawab enakan kontol pacarnya, malah bilang enakan kontol pacar orang. Parah kamu Cha"", ledek Anya melihatku yang masih ngos-ngosan setelah di bikin KO 5 ronde oleh pacarnya yang atletis itu


"Hah.. Hah.. Hah.. Maaf ya Nya aku cuma pingin jujur saja sama yang aku rasakan"", jawabku sambil tersengal-sengal


"Gapapa Echa.. Lagian aku sih tahu itu hal yang wajar, kamu memang belum pernah coba kontol lain selain pacarmu khan? Jadi sekali kamu kena kontol yang lebih kuat bakalan ketagihan"", jawab Anya


Aku hanya diam saja mendengar perkataannya. Dia belum tahu saja polos-polos gini aku sudah merasakan beberapa kontol masuk ke dalam memekku. Tetapi aku diam saja, tidak gunanya menceritakan hal tersebut kepada Anya. Kecuali dia bertanya kepadaku.


"Emang kamu sudah merasakan berapa kontol sayang?", tanya Mas Chandra sambil ia mainkan putting Anya.


"Ssshhhh.. Aku berapa yaaa" Rahasia" Hihihi"", jawab Anya dan terlihat wajah Mas Chandra hanya tersenyum kecut melihat ketidak jujuran pacarnya


"Sialan" Ternyata cewekku memang binal.. Sini kamu aku hajar memek jalangmu!", kata Mas Chandra sambil menarik tubuh Anya


Kali ini aku harus berbagi ranjang dengan sahabatku. Aku sedikit menggeser tubuhku dan kulihat Anya sudah mengangkang bersiap disetubuhi oleh pacarnya. Rasanya aneh saja, biasanya di sekolah aku berbagi meja dengan Anya, kali ini aku harus berbagi kontol dengan sahabatku itu. Mas Chandra mulai menghujami memek Anya dengan kontolnya. Ia lakukan persetubuhan dengan Anya begitu kasar. Jauh sekali perlakuannya denganku yang masih terbilang lembut.


Anya terlihat tak bisa berhenti mengerang dan mendesah kesakitan di sodoki kontol pacarnya. Sedangkan Mas Chandra masih dengan staminanya yang luar biasa menghajar memek pacarnya. Ranjang kami bahkan sampai terguncang-guncang hebat akibat persetubuhan panas dua sejoli di sampingku.


"Rasakan ini pacar jalang. Memek kok diumbar. Hah? Hah? Ini terima hukumankuu!!!", ujar Mas Chandra


Aku rasakan ada emosi yang memuncak di persetubuhan mereka. Sepertinya Mas Chandra menumpahkan rasa kesalnya dengan menyetubuhi pacarnya dengan kasar. Namun kulihat Anya tidak masalah dengan itu. Ia malah terlihat menikmati dan begitu keenakan di sodoki kontol Chandra. Pemandangan ini sangatlah erotis hingga tanpa sadar tanganku tak kuasa menahan untuk masturbasi


Aku mulai mengocok memekku dengan jemariku secara cepat. Secepat tempo sodokan Mas Chandra ke memek Anya saat ini. Kurasakan vaginaku yang sebenarnya masih nyut-nyutan itu harus kembali pasrah menerima rangsanganku sendiri. Nafsuku kembali terbakar dan aku semakin bergairah sekali. Mas Chandra menyadari itu dan dia mulai membantu mengocok memekku.


"Aaaahhhh.. Enakk.. terus mas" kocok memek akuuuu"", jeritku dan kupasrahkan kemaluanku di cabuli oleh Mas Chandra.


"Ya Ampun Cha.. Kamu masih kurang???" tau gitu tadi pak sopir taxi online di ajak sekalian ya biar bisa bantu entot kamu? Aahh.. Aahh..", kata Anya sambil terus mendesah keenakan disodoki kontol Mas Chandra


"Hah maksudnya? Ada apa dengan sopir taxi?", tanya Mas Chandra penasaran sambil kali ini ia bergeser dan hendak menghajar memekku sekali lagi.


Kulihat wajah Anya sedikit kecewa namun itu tidak berlangsung lama. Kali ini Anya ikutan memilin putting susuku yang sudah mancung sempurna.


*Jleeebbbb*


"Aaaaahhhhh" Massss".", desahku menyadari kontol Mas Chandra kembalu tertancap di kemaluanku


"Echa itu gak sepolos yang kamu bayangkan sayang. Dia itu lebih jalang kok daripada aku.. Tau gak? Tadi di jalan Echa dicolmekin sopir taxi online?", kata Anya membuatku tersipu karena hal memalukan itu diceritakan ke pacarnya


"Hah seriusss??", tanya Mas Chandra dan kurasakan kontolnya semakin kuat saja menyodok memekku


"Uuuuhhhh.. Ouhhhhh.. ouhhhh"", desahku semakin menggila


"Serius Yank? Echa tadi sengaja godain sopirnya. Mangkanya dia Cuma pakai legging transparan tadi biar bisa godain pria-pria.. Eeehhh Echa malah nawarin memeknya ke Pak Sopir dan dia pasrah aja memeknya dikocokin pak sopir tadi." Cerita Anya


"Aaaahhh.. Bukan Gituu" Anya kamu.. jangan Aaahhh.. Ngarang ceritaaaa"", aku semakin kewalahan karena Mas Chandra terasa semakin kasar menghajar memekku


"Tau gak yank? Pak sopir itu bukan hanya dikasih memek saja, tapi juga dikasih duit 200ribu sebagai ucapan terima kasih dari Echa karena sudah buat memeknya becek. Parah bener Echa Yank"", ceritabAnya sambil meledekku


"Anya sudaaahh.. Aaaahh.. Mas" Mas.. Aku keluarrr", ujarku dan disaat bersamaan tubuhku menggelinjang tak karuan


Buru-buru Mas Chandra mencabut kontolnya dari kemaluanku dan seketika vaginaku langsung muncrat lagi dan lagi.


*Serrrr Serrrrr Seeeer Seerrrrrrrrrr* semburan kemaluanku sangat deras


Cairan bening sedikit encer itu begitu menyembur dari kemaluanku. Semburammya seperti sebuah air mancur. Menembak kuat berkali-kali hingga membentuk sebuah lengkungan. Seolah aku kencing sambil rebahan


Tubuhku seketika lemas, tak kusangka aku bisa secapek ini meladeni 1 orang yang staminanya luar biasa. Kurasakan sebuah lendir hangat kental menetes dari dari kemaluanku. Entah itu lendir yang dibuat oleh memeklu sendiri, ataukah lendir Mas Chandra yang masih tertampung di rahimku


"Gak kusangka Echa ternyata jalang juga. Kerudungan tapi kelakuan lebih murahan daripada lonte" Heheheh"", ujar Mas Chandra kali ini ia kembali menghajar memek Anya dengan posisi doggystyle


Kulihat dengan jelas kontol kaku itu terlihat mantab menghajar memek sahabatku. Aku sungguh beruntung merasakan kontok Mas Chandra yang luar biasa ini. Aku kemudian duduk dan kubalas perlakuan Anya yang tadi merendahkanku dengan cerita karangannya. Kali ini aku emut putting susu sahabatku itu penuh nafsu dan kugigit-gigit biar dia tahu rasa. Payudaranya yang besar masih terguncang-guncang, Anya menggelinjang parah.


Siksaannya bukan hanya berasal dari sodokan kontol pacarnya. Tapi juga berasal dari gigitan dan cubitan nakalku pada putting susunya. Kemudian aku berdiri di depan sahabatku yang masih menungging itu. Aku pun mencium bibir Anya, kulumat bibir sahabatku itu dan kujilati seluruh bibirnya


Anya sempat terkejut melihatku yang melumat bibirnya, namun tak lama kemudian ia pun mulai membalas menciumi bibirku. Kami saling melumat san lidahku dan lidah Anya saling menggulung dan saling menikmati. Kemudian setelah puas mencium bibir sahabatku itu, aku pun tiduran mengangkang di depan wajah Anya. Kubuka lebar lubang memekku didepan sahabatku. Untungnya Anya tanggap akan mauku.


Anya kemudian menurunkan celananya dan ia mulai menjilati memekku. Memekku yang sudah lecek dan berlendir parah itu disapu bersih oleh Anya. Lidahnya bergerak liar menjilati bibir kemaluanku. Aku yakin sekali rasa memekku saat ini tidak jauh-jauh dari rasa sperma Mas Chandra. Karena rahimku tadi sudah menjadi tempat menampung spermanya. Sapuan lidah Anya begitu lembut, jauh berbeda rasanya dibandingkan jilatan-jilatan penuh nafsu yang pernah dilakukan para lelaki yang pernah menjilati kemaluanku


"Ohhh.. Nyaaa terussss.. jilatin memek akuu Nyaaa".", desahku nakal


"Aaaaahh.. Iya Echaaa.. Memek kamu bau peju cowokku Chaaa.. Sialan kamu Chaaaa.. Aaahhh..", desah Anya nakal


"Ouuuhh.. Iya Nya.. tadi sperma cowokmu dibuang ke rahim aku berkali-kaliiiii.. Aaaahhh..", godaku mencoba memanas-manasi Anya


"Dasar memek nakal, aku ludahin memek kamu Chaaa" juh juh juh juh", Anya kemudian meludahi kemaluanku berkali-kali lalu ia kembali menyeruput kemaluanku sekali lagi


"Enak Anyaaa.. Aaaaahhh.. Ouhhhh..", lenguhku dan kucengkeram erat rambut Anya


"Aaarrrgghh dasar dua orang cewek murahan!!!", pekik Mas Chandra sambil menancapkan dalam-dalam kontolnya ke memek Anya


*Crottt crottt crotttt crott* bersamaan dengan tubuh kekar Mas Chandra yang bergetar kuat


Kulihat Mas Chandra terduduk lemas dikasur, sperma kental Mas Chandra mulai berhamburan menetes keluar dari memek Anya. Tanpa membuang waktu, aku mendekati Anya yang masih menungging, kubuka kedua bongkahan pantatnya dan aku langsung menyeruput kemaluan sahabatku yang masih penuh dengan lendir sperma Mas Chandra. Kujilati habis sperma Mas Chandra di memek Anya hingga habis tak tersisa. Setelah selesai aku dan Anya seketika tiduran di ranjang Mas Chandra saking lelahnya. Sedangkan Mas Chandra kulihat sedang asyik meminum bir sambil mengocok kontolnya. Aku pun melihat ke arah kontol Mas Chandra dan aku menyadari kontolnya itu mulai bangun. Ia menyeringai menatap tubuh telanjangku dan Anya.


Anya pun bangun dan kulihat ia berciuman panas dengan pacarnya. Disela mereka berciuman, kulihat Mas Chandra juga meneguk minuman keras yang digenggamnya. Kulihat Anya menerima miras itu dari mulut Mas Chandra. Dengan perlahan Mas Chandra menjatuhkan miras dari mulutnya ke mulut Anya. Aku terpana melihat apa yang sedang mereka lakukan.


"Echa mau juga?", goda Mas Chandra saat menyadari aku memandangi mereka tanpa berkedip


Tanpa berpikir dua kali, dengan merangkak nakal aku mendatangi Mas Chandra. Kulihat Mas Chandra mulai menegak miras dan ia tahan sebentar dimulutnya. Aku pun membuka mulutku dan kujulurkan lidahku hendak menerima air miras yang berasal dari mulut pacar Anya itu. Cairan haram itu mulai kuterima dan jatuh melewati tenggrokanku.


*Pahit betul minuman ini".* Gumamku sambil terus menerima tetesan air haram itu dari mulut Mas Chandra


Kami lakukan ritual itu berkali-kali hingga tanpa terasa miras 1 botol itu habis tak tersisa. Kulihat kontol Mas Chandra sudah ngaceng sempurna. Kaku bukan main dan siap mengoyak kedua memek gadis cantik yang ada diranjangnya. Ia menyeringai memandangku penuh nafsu dan mulai mendekatiku lagi


"Siapkan memekmu lagi lonte"", kata Mas Chandra dan aku pun kembali mengangkang pasrah bersiap disetubuhi lagi


*Mama hari ini Echa bakalan pulang terlambaaattttt.. Maaf ya Ma anakmu ini jadi ketagihan kontooolll..* pekikku dalam hati dan sekali lagi, aku harus menyiapkan rahimku untuk menampung sperma pacar Anya. Sebagai kado terindah dari Anya untuk pacarnya


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 13 : Gadis Penghibur


POV : Echa


Endrix jadi sering menghubungiku setelah ia dapatkan nomor handphoneku. Tak jarang ia selalu memintaku PAP polosan buat koleksinya dia. Katanya sih mau buat wallpaper handphonenya. Tapi tidak mungkin, niatnya pasti lebih dari itu. Awalnya aku ragu mengirimkan ke cowok berandal itu. Tetapi entah mengapa aku selalu takut dengan Endrix. Ia terlalu superior bagiku. Seolah aku tidak akan bisa lepas begitu saja darinya. Mungkin sudah puluhan foto yang kukirim kepadanya. Jauh lebih banyak dari yang kukirimkan untuk Mas Rio. Berbagai pose foto sudah kulakukan untuk Endrix. Mulai berpakaian lengkap hingga polosan. Mulai berjilbab hingga rambutku terbuka dihadapannya. Mulai pose biasa hingga pose aku sedang colmek.


Malam ini, ini Endrix memintaku masturbasi sambil dilihatin olehnya. Katanya dia lagi bosen liat bokep. Dia maunya liat teman sekolah sedang colmek sambil bayangin dientot olehnya. Alhasil dia memintaku untuk masturbasi sambil dilihatin olehnya


Tidak ada alasan bagiku untuk menolak permintaan Endrix. Malam itu, aku turuti maunya. Kurangsang kemaluanku sendiri dihadapannya. Kumainkan alat kelaminku sambil membayangkan tubuhku dinikmatinya


"Ouuuhhh.. Tuaann"", ujarku lirih sembari tanganku tak pernah berhenti mengocol area sekitar memekku


*kocokocokocok * tanganku bergerak cepat merangsang kemaluanku yang sudah basah


"Iya gitu, memek lo yang najis itu harus lo becekin terus.. lebih semangat colmeknya. Bayangin memek lo mau lo persembahin buat gue", ujar Endrix mengomentariku


"Iya.. Tuaannn.. Ssssshhh"", aku mendesis lagi, vaginaku semakin banjir saja.


Rasanya kemaluanku malam ini gatal sekali ingin digaruk kontol. Setelah terakhir aku berzina dengan pacar Anya, aku sudah tidak pernah kasih jatah memekku untuk bertemu kontol cowok. Kubayangkan kontol Endrix mengobrak-abrik vaginaku. Kontol yang hampir setiap hari selalu minta kukulum itu


"Ohhh.. Tuaaannn" Ssssshhh" Uuhhh..", aku terus membayangkan betul-betul kontol Endrix sedang penetrasi di dalam alat kelaminku


"Kontol gue bakalan ngasi tau lo nikmatnya dientot gue.. Kontol gue akan buat memek lo bertekuk lutut sama gue. Liat tuh memek lo udah becek pengen gue hamilin"", Endrix seolah sedang mensugestiku


"Ohhh.. Iya hamilin Lonte Echa tuaaannn"", aku semakin menjadi-jadi dan kukocok lebih cepat kemaluanku karena aku semakin tidak tahan lagi


"Mau ya lo gue hamilin? Tapi inget, gue gak mau tanggung jawab kalau lo hamil. Enak aja. Gue Cuma butuh memek lo buat buang peju gue. Paham lo?"


"I.. Iya ga.. papa.. Tuan"", jawabku lirih


"Ya udah" besok pagi lo datang sekolah. Pagi bener kalau bisa jam 4 pagi. Biar gue bisa leluasa nikmatin tubuh lo. Awas kalau lo ga datang", ujar Endrix mengakhiri videocallnya


Telepon pun ditutup, aku pun memperlambat tempo masturbasiku. Namun tanganku tak bisa berhenti merangsang alat kelaminku sendiri. Aku sangat terangsang malam ini dan belum terlampiaskan sama sekali. Dalam hati kecilku aku kesal"


*Nanggung.. rasanya nanggung sekali.. Aku sudah sangat terangsang seperti ini dan dia malah nutup teleponnya*, gumamku dalam hati dan aku pun mencoba untuk tidur agar besok bisa datang sesuai dengan jam yang diperintah Endrix


#


Di sekolah"


Suasana sekolah masih terlalu sepi pagi ini. Jam masih menunjukkan pukul 03.55 pagi. Langit belum lah terlihat terang, bahkan cenderung masih gelap saat aku tiba di sekolah. Saat aku melintas, hanya suara knalpot sepeda motorku yang terdengar. Aku pun mematikan sepeda motorku ketika sampai gerbang sekolah dan kutuntun menuju parkiran.


Tidak kulihat Pak Suryo, satpam sekolah di pos satpam tempat dia biasanya duduk mengawasi. Entah beliau sedang ada dimana. Mungkin masih tidur di suatu tempat di sekolah ini. Entah lah, aku juga tidak mau menerka-nerka beliau dimana karena itu bukan urusanku.


Yang pasti aku bersyukur karena beliau tidak ada di pos, aku bisa masuk ke sekolah sepagi ini tanpa dicurigai. Malas saja jika aku harus di wawancarai Pak Suryo, satpam sekolah yang biasa menjaga lingkungan sekolahku. Bukannya apa-apa, aku hanya tidak sreg saja dengan beliau. Matanya yang jelalatan itu lho membuat kami para siswi sekolah tidak nyaman. Terlebih saat jam olahraga. Tidak jarang aku memergokinya suka pegang-pegang kontolnya sambil memandangi kami yang sedang berolahraga. Pokoknya menyebalkan!


Setelah memarkirkan sepeda motorku, aku mulai berjalan menuju ke dalam sekolah. Kulewati lorong sekolah dan yang kudengar hanyalah suara langkah kakiku saja. Kucoba mengecilkan suara langkah kakiku agar tidak berisik, karena mendengar suara langkah kaki sendirian seperti ini cukup membuat bulu kuduk merinding.


Suasana di sekolah jika sepi seperti ini lumayan menakutkan juga. Tempat yang biasanya penuh orang ternyata jika masih sepagi ini lumayan memacu adrenaline. Tiba-tiba otak kotorku berpikir seandainya aku melakukan eksib di sekolah saat malam hari atau pagi hari seperti ini pasti sensasinya luar biasa.


"Errrr" Enggak deh. Terlalu beresiko kan ada Pak Suryo yang selalu standby di sekolah..", gumamku sendiri


Pria gemuk yang usianya mungkin sekitar 45 tahun itu memang sudah lama sekali menjadi satpam sekolah sekolahku. Saat aku baru pertama kali masuk SMA, beliau sudah menjadi satpam sekolah ini. Beliau sudah sangat dipercaya oleh kepala sekolah dan diperbolehkan tinggal di lingkungan sekolah. Mengingat memang beliau berasal dari kota kecil di sebelah kotaku. Jadi, Kepala sekolah memberikan ijin kepada Pak Suryo untuk tinggal di sekolah daripada ia harus jauh-jauh pulang pergi ke rumahnya di desa, sekalian agar beliau bisa menjaga lingkungan sekitar tempat aku menempuh pendidikan ini.


"Halo.. Tuan" Lonte Echa sudah sampai sekolah..", ujarku menghubungi Endrix


Ya, yang memintaku datang ke sekolah sepagi ini adalah cowok berandalan preman sekolah yang kini menjadi pacarku. Eh, bisa dibilang dia bukanlah pacarku melainkan tuanku. Jika memang dia pacarku, tidak ada perlakuan romantis dan cinta sedikit pun yang kuterima. Yang kuterima hanyalah perlakuan merendahkan harga diriku. Tetapi aku tidak keberatan akan hal itu. Aku sudah setuju menjadi budak Endrix dan jika dia berlaku buruk, itu memang sudah konsekuensiku.


"Sudah sampai? Sekarang lakukan perintah gue. Lo pakai sempak sekarang?", kata Endrix


"Pakai tuan"", jawabku


"Sekarang lepas sempak Lo", kata Endrix lagi


"Eh kenapa tuaann?, tanyaku terkejut


"Pakai nanya lagi. Lepas sempak lo dan lo hari ini ga usah sempakan dulu. Itu hukuman buat lo", kata Endrix


"Maafkan lonte Echa Tuan..", jawabku


"Tapi lo harus tetep terima hukuman", ujar Endrix membuatku sedikit takut permintaan apa yang akan ia minta kepadaku


"Hukuman apa tuannnn"", ujarku pasrah.


"Tulis nama lo di sempak lo, terus serahin ke gue..", ujar Endrix


"Baik" Tuan"", kataku pasrah


"Ya udah segera tulis nama lengkap lo di sempak lo, kalau sudah buruan ke kelas. Awas kalau lo masuk kelas masih sempakan. Gue suruh lo telanjang dilapangan upacara tar sampai orang-orang pada dateng Ngerti lo?", perintah Endrix


Iya Tuann..", jawabku dan Endrix pun mengakhiri teleponnya


Aku segera mengambil spidol yang biasa kubawa di dalam tasku. Lalu kutuliskan namaku tepat di bagian memek kain segitiga itu. Kucium sebentar aroma celana dalam yang baru saja kukenakan itu. Benar-benar masih tercium aroma khas kemaluanku. Samar-samar aroma sabun dan selangkanganku tercium antara manis, asin, dan sedikit asem.


Setelah semua beres, aku bergegas menuju ruang kelasku. Jam masih menunjukkan pukul 04.15, masih ada cukup waktu karena biasanya murid mulai berdatangan pukul 06.30. Akhirnya aku pun sampai di ruang kelasku. Mataku terbelalak melihat kondisi Endrix yang tersenyum memandangiku yang baru sampai kelas. Lelaki preman sekolah itu sudah berpakaian seragam tidak sempurna.


Seluruh kancing seragamnya ia buka memamerkan tubuhnya yang ternyata atletis. Terlihat perut six pack dan dada yang bidang milik cowok paling nakal di sekolah itu. Dan mataku pun seketika otomatis menatap kontol Endrix, yang sudah ia bebaskan dari sarang celana abu-abunya. Kontolnya sudah sangat keras dan bulu kemaluannya ia biarkan begitu saja berantakan


Tanpa diminta aku mendekati lelaki yang kini menjadi tuanku itu. Desiran nafsuku lama-lama tak terbendung melihat tubuh jantan Endrix. Rasanya rahimku menghangat dan mulai basah melihat lelaki dihadapanku ini sedsng menggoda imanku


"Saya ijin kulum kontol tuan"", kataku manja namun Endrix menepis tanganku yang hendak meraih batang kemaluannya.


"Enak aja. Sapa suruh lo pegang kontol gue", kata Endrix sambil menepis tanganku


"Maafkan lonte Echa tuann..", jawabku tersipu malu karena aku salah tangkap maunya.


"Mana sempak lo?", pinta Endrix


Aku lalu mengambil kain segitiga yang kumasukkan ke dalam kantong rokku. Endrix tersenyum dan ia ciumi celana dalamku lekat-lekat. Suaranya sangat berisik sekali saat ia ciumi celana dalamku


"Memek lo wangi ternyata.. Hehehehh.. lo merasa memek lo bersih atau kotor sih?", tanya Endrix sambil ia tempelkan celana dalamku sendiri ke hidungku.


"Bersih tuan memek lonte Echa"", jawabku saat Endrix terus memintaku mencium celana dalamku sendiri


"plakkkk.." sebuah tamparan keras mendarat ke pipiku


"Jadi lonte gue ga boleh sombong. Nanti gue bakalan tau memek lo bersih atau kotor. Paham lo?", kata Endrix


"Iya.. Maaf Tuann.. ", jawabku


"Sekarang mending lo hibur gue dulu deh.. Lo joget-joget dulu sana sambil lucutin pakaian lo. Gue mau lihat lonte kerudungan kayak lo bisa apa aja buat ngehibur gue", ujar Endrix


"Joget? Tapi Lonte Echa tidak bisa tuan"", ujarku


"Lonte harus bisa goyang begok.. Mulai sekarang lo harus bisa joget-joget seronok. Goyangin badan lo buat hiburan. Paham lo?", ujar Endrix


"Paham Tuan" Tapi"", ujarku


"Gak ada tapi-tapian.. Sekarang Buka baju lo terus mulai goyang! Gue mau coli liatin lo tubuh lo", perintah Endrix


Sebenarnya situasi ini sama dengan situasi dimana aku melakukan pertunjukkan striptease pertamaku di warung remang-remang yang tersembunyi di ruko kosong saat aku diajak Mas Rio dan teman-temannya. Bedanya kali ini penontonku hanyalah Endrix. Seharusnya tidak masalah bagiku, sekaligus ini bisa menjadi latihanku nanti jika sewaktu-waktu aku dipanggil kesana lagi.


Aku mulai meliuk-liukkan pinggulku ke kiri dan ke kanan dengan tempo perlahan biar terlihat lebih sexy. Tak lupa ekspresi wajahku juga kumainkan agar lebih menggoda. Kadang aku tersenyum nakal, kadang aku memasang wajah horny sambil menggoda Endrix. Kulihat sepertinya Endrix mulai menikmati goyanganku dan ia mulai mengocok kontolnya


"Bagusss.. Jangan lupa telanjangi tubuh lo sampai lo telanjang di depan gue"", pinta Endrix sambil ia terus onani


"Baik Tuan..", jawabku lalu aku mulai melepasi kancing seragamku satu-satu sambil terus bergoyang dihadapan Endrix


Tubuhku terus meliuk ke kiri dan kanan, kali ini ngasal saja karena memang tidak ada musik yang bisa mendampingi tempo goyanganku. Aku hanya mencoba menggerakkan tubuhku sesexy mungkin di hadapan preman sekolah itu berdasarkan naluriku saja.


Kancing seragamku tak terasa sudah terbuka semua hingga menampakan payudara yang masih tertutup bra hitam dan juga perut rataku. Kumainkan sebentar payudaraku dan kuremas menggoda di depan Endrix. Aku mulai mendesah perlahan, sepertinya aku mulai menikmati bergoyang nakal seperti ini. Sisi eksibisionisku kali ini tidak bisa kubendung lagi karena dengan berjoget seperti ini, aku bisa memamerkan keseksian tubuhku.


"Kerudung Lonte Echa apa juga dilepas tuan?" tanyaku biar tidak salah lagi


"Jangan. Gue mau nikmatin lo saat pake kerudung", kata Endrix


"Baik tuan"", ujarku dan aku meneruskan goyangan perlahanku


Aku pun beralih fokus ke sisa kain yang ada pada tubuhku saja. Kutarik kedua cup braku ke bawah dan kutunjukkan bentuk asli payudaraku di depan Endrix. Antara malu dan mau pastinya, karena aku kali ini melakukannya dihadapan salah satu siswa sekolahku yang tentu saja memberikan sensasi yang berbeda dari biasanya.


Kurasa, aku juga semakin terangsang dan goyanganku semakin berani. Terkadang aku memutar tubuhku ke belakang agar Endrix bisa melihat tubuhku 360?. Kumainkan puting susuku dengan nakal dan kupuntir dihadapan preman sekolah itu beberapa kali. Terkadang aku menungging di hadapan Endrix lalu kugerakkan pantatku dihadapannya seperti gerakan goyang bebek.


"Buka lubang tai lo Sambil lo nungging..", perintah Endrix


"I.. iya tuan.. maaf kalau bagian itu saya kotor", jawabku tersipu malu


"Gapapa kasih liat aja ke gue lubang tai lo..", ujar Endrix


Lubang pantat adalah bagian terkotor dari tubuhku dan aku juga harus memamerkan bagian ini kepada Endrix si preman sekolah. Dengan perlahan kuturunkan tubuhku dan aku mulai menungging di hadapan Endrix. Kusingkap rokku hingga pantatku terbuka. Kemudian aku mulai menarik lubang pembuanganku dengan kedua tanganku dengan maksimal.


"Hehehe baguss". Buka lebih lebar lagi gue gak bisa lihat dalamnya", kata Endrix


"I.. Ini sudah maksimal tuann..", ujarku mencoba menarik lubang pantatku lagi tapi aku rasa ini sudah mentok.


"Oiya? Yakin sudah maksimal?", goda Endrix


"Su.. Sudah tuan"", jawabku ketakutan


"Yasudah kalau gitu. Hehehehe.. Sekarang lo lanjut lucutin sisa baju lo sampe bener-bener bugil", kata Endrix


Aku menghela nafas panjang. Setidaknya Endrix tidak marah dan kembali menamparku. Aku muali bergoyang lagi. Kali ini aku lebih sering memainkan payudaraku untuk menggoda Endrix. Kupilin dan kuremas dengan nakal. Tak lupa wajahku kubuat menatapnya menggoda


"Body lo sexy juga ternyata" Tetek lu indah benerrr.. Shit tau gitu dari dulu gue jadiin lo lonte sekolah" Kirain lo alim ternyata binal. Nyesel Gue"", ceracau Endrix dan aku hanya diam saja sambil terus menggoyangkan tubuhku


"Terima kasih Tuan"", ucapku


"Oiya sini!", perintah Endrix dan aku pun mendatangi preman sekolah itu


*Breeekkk breeekkkk breeeekkkkk", Endrix tanpa persetujuanku merobek bra ku tepat di tengah sehingga kini braku terbuka dan cup nya terbelah jadi dua"


"Nah gini harusnya aturan berpakaian khusus lonte sekolah. Lo paham kan pakaian lonte sekolah seharusnya gimana? Tetek dan memek lo itu untuk umum jadi lo ga usah sok-sokan tutup-tutupin segala", ujar Endrix sambil tersenyum menyeringai


"Jadi lonte Echa hari ini dilarang memakai bra dan celana dalam ya tuan?", tanyaku


"Iya betul sekali lo gak boleh pake sempak dan BH selama di sekolah hari ini, Oiya sama satu lagi. gue minta lo permak semua pakaian seragam sekolah lo sampai bener-bener kekecilan. Lonte itu harus sexy dan menarik. Ngerti lo?"


Aku terperanjat mendengar permintaannya kali ini. Secara tidak langsung pandangan orang akan berubah kepadaku jika aku berpakaian terlalu sexy disekolah. Aku akan dipandang cewek murahan oleh orang-orang sekolah jika aku sengaja memakai baju yang memperlihatkan lekuk tubuhku. Berpakaian sexy disekolah ini sebenarnya dilarang, tetapi Endrix and the gank saja yang selalu melanggar tata cara berpakaian rapi sesuai aturan sekolah, selalu bebas dari hukuman. Aku pikir aturan itu boleh dilanggar.


"Kok diam aja? Mau gak lo?", tanya Endrix


"Ma.. Mau tuan"." Jawabku


"Gitu dong. Lo kalau mau jadi lonte harus totalitas menjalaninya. Oke, gue kasih 3 hari buat lo permak seluruh seragam sekolah lo biar bisa lo pake ke sekolah", kata Endrix dan aku pun menjawab perintahnya dengan anggukan membayangkan apa yang akan terjadi setelah aku berpakaian terlalu sexy jika ke sekolah


"Ya udah lanjutin. Buka memek lo, tunjukin ke gue kemaluan lo", perintah Endrix sambil menunjuk rok abu-abuku agar segera aku lepas


Tanpa dimintanya sebenarnya aku sudah berniat melepas kain terakhirku ini, Kubuka ikat pinggangku berikut rok abu-abuku dihadapan Endrix. Setelah resleting terlepas, rokku jatuh sendiri kebawah dan kubiarkan jatuh begitu saja dibawah. Sekarang posisiku sudah telanjang bulat, hanya kerudung, kaos kaki panjang, dan juga sepatu hitam yang masih terpasang ditubuhku


"Sekarang lo lanjut goyang sambil bugil" Heheheheh"", perintah Endrix


"Baik tuan"", jawabku


Aku kembali menggoyangkan tubuhku. Bedanya kali ini bokong dan vaginaku terlihat jelas tanpa penutup saat bergoyang seronok. Kugoyangkan dengan seronok Bokongku dihadapan preman sekolah itu. Kuliukkan tubuhku dengan liar, Sesekali kuangkat kedua tanganku keatas memamerkan kedua ketiakku yang mulus tanpa bulu. Sesekali kukocok pula memekku agar ia semakin terangsanng. Gerakan goyanganku bahkan semakin brutal dan tidak malu-malu lagi.


"Yaaa bagusss.. wanita penghiburrr.. Hehehehe.. Buka memekmu sekarang" cepettt!!", ujar Endrix tak sabar


Kemudian aku berhenti bergoyang. Kali ini aku membuka lebar organ kemaluanku dengan kedua tanganku dan kubuka bibir kemaluanku dihadapan Endrix dalam posisi tetap berdiri. Lalu Endrix duduk diatas meja guru dan ia mulai menowel-nowel kelaminku dengan sepatu kotornya yang entah kapan terakhir ia cuci. Iya gerakkan ujung sepatunya dan ia gesekkan ke kemaluanku.


"Aaaahh..", aku mendesah pelan saat ia gesek-gesekkan ujung sepatunya ke kelaminku


"Sekarang lo masturbasi sambil gesekin memek lo ke sepatu gue.. Memek lo udah gatel tuh", perintah Endrix


"Eeehhh?? Ba.. Baik Tuan.. Permisi pinjam sepatunya untuk colmek memek Lonte Echa ini".", kataku hendak melepas sepatu Endrix


"Ga usah lepas sepatu gue. Lo langsung gesekin ke kaki gue", kata Endrix sambil meluruskan kakinya agar aku bisa menggesekkan kemaluanku ke kakinya


"Eeeeehhhh?? Ba.. Baik Tuannn..", aku hanya bisa pasrah karena semakin aki banyak protes Endrix akan semakin kasar


Aku pun meraih kaki Endrix, dan kubuang harga diriku dengan masturbasi menggunakan sepatu yang masih terpasang dikakinya. Kuarahkan ujung sepatu kotor Endrix dan aku mulai menggesekkan ujung sepatunya ke bibir vaginaku. Sesekali Endrix menggerak-gerakkan kakinya seperti menendang kemaluanku pelan


"Ohh.. Aaahhh.. Aahhh..", aku mendesah sangat menikmati perlakuan ini


"Enak kan gesekin memek lo ke sepatu gue?", ledek Endrix


"Enak tuaann.. Aaaahhh..", jawabku


"Hehehehe.. Jangan lupa pake kaki gue satunya biar adil..", kata Endrix


Aku kemudian meraih kaki Endrix satunya dan kembali kugesek-gesekkan ujung sepatunya ke bibir kemaluanku. Vaginaku semakin becek dan lendir kemaluanku itu semakin membuat sepatu Endrix mengkilap. Aku semakin terangsang dengan direndahkan seperti ini. Rasanya aku mulai menjiwai peranku sebagai lonte sekolahku tercinta ini dan aku malah semakin tergoda untuk menuruti perintah-perintah Endrix yang merendahkan harga diriku. Aku percepat gesekanku ke ujung sepatu Endrix. Bahkan aku juga menekan-nekan hingga sedikit menembus bibir kemaluanku


"Aaaahhh.. Ssssshhhh" Tuaaannn..", kataku kewalahan karena Endrix terus menekan kemaluanku dengan ujung kakinya


"Boleh emang memek lo diginikan? Ha? Ha?", ejek Endrix sambil ia tekan tekan kemaluanku menggunakan kakinya dan mendenga pelan kemaluanku dengan ujung kakinga


"iyaaahh.. Aaaahh.. Boleehh Tuaannn.. Lonte Echa boleh digituin"", jawabku sambil semakin kugesekkan kuat-kuat memekku ke sepatu Endrix


Bukan hanya ke midsolenya saja yang kugesekkan ke kemaluanku, tapi juga kupakai outsole sepatu Endrix, bagian paling kotor dari sepatunya untuk kupakai masturbasi dihadapannya


"Aaaahhhh.. aaaaaaahhhh" Sssshhh..", aku semakin kuat menekan-nekan sepatu Endrix ke kemaluanku sendiri


"Iya gituuu.. Sekarang lo jawab, Kotor mana sepatu gue sama memek lo?", ledek Endrix


"Memek lonte Echa lebih kotor tuaaannn" Aaaahhh"", ujarku menyadari kesalahanku tadi


"BAGUSSSS" Heheheh" Kalau gitu sekarang memek lo jadi keset buat sepatu gue.. Ngangkang lo", perintah Endrix


"I.. Iya.. Tuaaaannn.. Silakan pake memek Lonte Echa buat keseeetttt"", Jawabku dan aku pun mulai tiduran dilantai kelas, aku buka kakiku lebar-lebar mengangkangkan kakiku tepat dibawah kaki Endrix. Endrix tersenyum melihat betapa aku menuruti segala perintahnya tanpa banyak protes.


Lalu Endrix mulai menginjak vaginaku pelan dan mulai ia gesek-gesekkan seperti sedang membersihkan kotoran yang ada di sepatunya. Sesekali ia tekan kemaluanku seperti orang sedang menekan pedal gas mobil. Bukannya marah, aku malah terangsang dan menikmati saat sepatu Endrix digesekkan ke kemaluanku.


"Memek kotor.. Jadi keset gue aja kelamin lo!", kata Endrix sambil kali ini ia pakai kaki satunya untuk digesekkan ke kemaluanku sambil diinjak semakin kuat


"Ouhhhh.. Ssshhhh..", aku justru mendesah nakal diperlakukan seperti itu


"Goyangan memek lo biar sepatu gue makin bersih"", kata Endrix dan aku langsung bergoyang nakal sebiasanya selagi ia menginjak-injak kemaluanku


Kupasrahkan alat kemaluanku itu untuk jadi keset bagi sepatu Endrix. Endrix mulai menginjak memekku semakin kuat dan ia semakin tanpa ragu membersihkan sepatunya menggunakan alat kelaminku. Gesekannya sangat kuat seolah kemaluanku ini beneran sebuah keset baginya. Ia gesek-gesekkan berkali-kali sepatunya hingga kotoran yang ada di sepatunya kini pindah di lubang kemaluanku.


"Ouuhhh.. Ouuhhh..", aku semakin terangsang


"Lumayan juga lendir memek lo buat bersihin sepatu gue.. Hehehe.. Ya udah sekarang gue kasih ijin lo sepong kontol gue" sini sini..", ujar Endrix sambil memberi tanda kepadaku agar aku mendekati kontolnya bak seekor kucing


"Terima kasih tuan"", jawabku


Aku pun mulai berlutut dan langsung kucaplok dengan lahap kontol preman sekolah itu. Kujilat dan kuciumi kemaluannya dengan rakus. Tak ragu kuteteskan juga air liurku ke batang kemaluannya sebelum kusepong lagi kontol tuanku itu


"Aaaahhh sialan makin pinter aja lo sepong kontol. Hehehehe"", puji Endrix sambil ia belai pipiku dengan lembut


"Terima kasih tuan"", ujarku sekali lagi dan aku kembali mengulum kontol Endrix dengan lahap


"Mulai sekarang lo sebelum sekolah gausah sarapan di rumah. Lo sarapan kontol gue aja tiap hari sama minum peju gue"", kata Endrix sambil kini ia belai kepalaku dan ia mainkan kain kerudungku


"Iya Tuan.. setiap hari ijinkan Lonte Echa sarapan kontol tuan Endrix", jawabku


"Pokoknya lo jadi lonte yang patuh sama gue lo. Awas kalau lo berani ngelawan gue"", kata Endrix penuh kesombongan


"Ngga tuan.. Lonte Echa akan selalu patuh ke Tuan Endrix"", jawabku


"Hehehehe.. Gitu dong.. Lo emang lonte kebanggaan sekolah ini..", puji Endrix


"Terima kasih tuan"", jawabku


"Hmmm" Btw lo tau toilet dimana?", tanya Endrix tiba-tiba


Aku terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba dan bodoh itu. Aku tahu betul Endrix pasti tidak tiba-tiba amnesia melupakan letak toilet sekolah. Tetapi tetap saja aku harus menjawab pertanyaan konyolnya dengan penuh kesabaran.


"Tuan keluar dari ruang kelas belok kanan terus nanti ditengah-tengah ada toilet, tuan"", jawabku


Endrix memandangiku dengan tatapan menyebalkan. Tatapan matanya begitu tajam seolah ia ingin berbuat sesuatu kepadaku. Tidak puas-puas dirinya merundungku seperti ini. Sekarang aku tau betapa kesal dan marahnya adik-adik kelas yang dirundung oleh Endrix and the gank karena kelakuannya sangat minim attitude. Tetapi entahlah aku juga mau-mau saja diperlakukan seperti ini.


"Bukan itu maksud gue.. Lo mulai sekarang jadi toilet berjalan. Mulut dan memek lo sekarang jadi toilet gue. Jadi kalau gue mau kencing atau buang peju, lo harus sediain mulut dan memek lo buat jadi toilet gue. Paham lo?", kata Endrix


"Apa? Maksud tuaaann?", tanyaku tidak percaya mendengar perintahnya yang begitu keterlaluan merundungku


"Lo gak paham? Gue ulangi sekali lagi, awas kalau lo masih gak paham. Gue kalau mau kencing atau buang peju, lu harus sediain mulut dan memek lo untuk dijadikan toilet. Paham?"


"Jadi Aku mau dikencingin???", protesku


*Plak* tiba-tiba Endrix menamparku


"Lo bilang "Aku" ke gue? Itu tidak sopan. Sudah gue bilang sebut diri lo dengan sebutan "Lonte Echa". Gue bakalan hukum lo karena kesalahan lo ini. Sekarang gue minta lo buka memek lo.. Gue mau kencing. Udah kebelet daritadi anjir", kata Endrix sambil ia mulai berdiri dan mengarahkan kontolnya kepadaku


Aku kelabakan dan bingung harus bagaimana. Aku tidak mau cairan najis itu mengenai kerudung maupun sepatuku karena sekolah saja belum mulai hari ini. Aku buru-buru menyingkap ke belakang kerudungku agar tidak terkena cipratan kencing Endrix. Kubuka kakiku lebar-lebar dan Endrix kemudian mengarahkan kontolnya ke kemaluanku sambil tersenyum nakal


"Buka memek lo biar kencing gue bisa masuk ke dalam lubang kencing lo. Sekalian buat nyuci memek lo yang kotor itu", kata Endrix dan aku pun mau-mau saja menuruti perintah gilanya.


Kubuka lebar-lebar lubang kemaluanku dengan kedua tanganku.


fa80f6f1f9cec9f1a9ae8f3cc716c458e5b53d67.jpg


*Currrrrrrrrrrrrrrrrrrr* Cairan bening berwarna kuning itu mulai keluar dari kontol Endrix dan mengguyur beberapa bagian tubuhku


Benar saja awalnya Endrix kesulitan mengatur tekanan dari semburan kencingnya. Hingga air najis itu mengenai payudara serta perutku. Bahkan rasanya sedikit terkena mukaku. Pusarku juga kulihat mulai terisi penuh oleh kencing Endrix. Setelah beberapa saat mengatur tekanannya barulah kencing Endrix tepat mengenai bibir kemaluanku.


Kurasakan kencing Endrix rasanya hangat dan lumayan segar. Kemaluanku juga terasa sedikit perih saat terkena cairan kencingnya. Mungkin kulit memekku ada yang lecet saat Endrix jadikan alat kelaminku sebagai keset tadi. Aroma yang luar biasa pesing itu membuatku tidak nyaman. Ini pertama kalinya aku dikencingi seperti ini. Tak pernah kubayangkan sebelumnya diriku akan dikencingi oleh salah seorang teman sekelas sekaligus preman sekolah. Gila sih, karena faktanya aku sama sekali tidak ada niatan untuk protes atau keberatan sedikit pun. Aku rela tubuhku dikencingi oleh Endrix. Aku mencoba menikmati ini semua dan adrenalin yang kurasakan juga semakin menantangku untuk terus melakukan hal-hal gila


Endrix terus mengucurkan kencingnya ke kemaluanku. Mau tak mau kubiarkan tanganku yang masih memegangi bibir vaginaku turut terkena kencingnya. Jam tangan yang biasa kukenakan sudah tak tertolong lagi. Kubiarkan saja benda yang melingkar di pergelangan tanganku itu terkena kencing Endrix. Kukuatkan tanganku agar bibir vaginaku bisa terbuka semakin lebar. Tubuhku mulai basah kuyup terkena kencing Endrix. Aroma kencing Endrix langsung tercium menyengat hingga ke seluruh penjuru kelas terlebih tubuhku. Kulirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 04.45, sebenarnya masih ada cukup waktu untuk membersihkan kencing Endrix di kelas ini sebelum siswa-siswa berdatangan. Tapi apakah sempat?


"Aaaaahhh legaaa"", ujar Endrix sambil kini ia menampar-nampar mulutku dengan kontolnya.


Aku paham ia memintaku untuk membersihkan kontolnya yang baru saja buang air kecil. Kujulurkan lidahku dan kusapukan ujung kontol Endrix dengan lidahku. Kugerakkan lidahku memutar hingga kupastikan tidak ada sisa kencing yang tertinggal di kepala kontolnya.


"Bersihin badan lo dulu pake sempak lo ini.", ujar Endrix sambil ia lemparkan kain segitiga itu ke kepalaku


Aku langsung mengelap tubuhku yang terkena kencingnya dengan celana dalamku sendiri. Kusapu beberapa cipratan di dada perut dan pahaku. Terutama di area kemaluanku yang menjadi target utama Endrix mengencingi tubuhku. Setelah semua selesai Endrix lalu meminta celana dalamku lagi


Setelah itu, Endrix langsung memintaku menungging sambil berpegangan pada meja guru tempat kami berada. Kutunggingkan pantatku dan kurasakan kontol Endrix mulai menyentuh bibir kemaluanku. Endrix tidak mendorongnya pelan-pelan, tapi langsung ia sodokkan kencang-kencang hingga kepalaku terdongak menerima serangan dadakan itu


"Uhhhh gini ya rasanya memek Echa? Memek salah satu siswi paling berprestasi di sekolah?", gods Endrix sambil ia dorong batang kontolnya semakin dalam sekali lagi


"Heeeekkkhhhh".", aku terperanjat menerima kontol besarnya ya melengkung mulai mengisi kemaluanku


Rasanya memekku seperti dimasukkin pisang jumbo karena bentuknya memang melengkung tajam. Kontol Endrix langsung menyerang bagian atas kemaluanku saat ia mulai lakukan gerakan menyodok ke dalam memekku. Sepertinya bentuk kontolnya yang melengkung seperti itu bisa dengan mudah menyentuh titik G-Spotku. Pantas saja, sodokan kontol Hendrix terasa berbeda dibandingkan kontol-kontol yang pernah bersarang dikemaluanku. Aku sampai tak bisa berhenti mendesah saking mantabnya garukan yang diberikan kontol Endrix pada dinding dalam vaginaku.


*Jleb jleb jleb jleb jleb*


"Aaaaahhhhh.. Tuaaann" Aahh.. Aaahhh.. Aaaahhh.. Aahhh"", pekikku sat kupasrahkan organ intimku ini menjadi tempat pelampiasan nafsu Endrix


"Kenapa? kontol gue pasti rasanya beda sekali dengan kontol cowok lo ya? Suka kan??? Heheheh", ujar Endrix sambil terus menyodok kemaluanku dari belakang


"Oouuhhh.. Enaakkkk.. Tuaaann.. Terussss entot memek Lonte Echa tuaaannn" Aaaahhh"", rancauku sat dihujami kontol Endrix


"Lo suka dientot ya?? Plak plak plak", tanya Endrix sambil kali ini ia juga memukuli pantatku


"Sukaaaa" Lonte Echa suka dientottt".", kataku sambil terus keenakan disodoki kontol Endrix


"Kalau gitu goyang yang bener! Buka memek lo lebih lebar dan biarkan gue entot lo sampai puas!", kata Endrix semakin kasar menggenjotku


"I.. Iya Tuaann"", ujarku begitu taat kepada Endrix


"Apa tugas lo sekarang?", tanya Endrix sambil terus menyodok kemaluanku semakin kera


"Tugas lonte Echa" Muasin kontoooollll" Ohhhhh"", pekikku begitu pasrah


"Memek lo boleh dientot sepuasnya kan? Lo gak keberatan kan? Ha? HA?", Tanya Endrix semakin menyodokku dengan kasar


"Boleeeehhh.. Memek Lonte Echa ngga keberatan dientot sepuasnnyaaaaaa"", jawabku semakin tak karuan


"Bagus.. Hehehe" Gue jadikan memek lo tempat buang peju gue", kata Endrix semakin intens menyetubuhiku dan rasanya tubuhku sudah tak sanggup lagi menerima tiap gesekan nikmat ini. Aku sudah memasrahkan untuk menikmati perzinahan ini.


Kubuka kaki semakin lebar dan kuberikan jalan kontol Endrix agar bisa menghajar kemaluanku lebih puas. Rasanya lendir vaginaku muncrat-muncrat saat disodok kontol Endrix. Begitu basahnya kemaluanku sehingga tiap sodokannya memberiku rasa kenikmatan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Biarlah desahan nakalku menjadi bukti betapa sukanya aku disetubuhi olehnya.


"Aaahhh.. Aahhhh.. Terus tuaann", pintaku manja sambil tubuhku tersentak-sentak


"Anjir malah keenakan lo. Emang bakat ngelonte ya lo? Gue hajar memek jalang lo Aahh.. Sssshhh" plak plak plak ini bokong sexy benerr"", ujar Endrix sambil kembali ia tampar-tampar pantatku


"Iyaa Echa memang lonte tuaann.. Entot memek lonte Echa tuaann... Lonte Echa ikhlassss"", pekikku hingga tanpa sadar taplak meja guru kutarik dan kuremas karena sodokan Endrix begitu kuat menghajar kemaluanku


"Iya memang harus ikhlass" itu udah jadi kodrat lo sebagai budak sex gue", ujar Endrix sambil tak berhenti menggenjotku


Tubuhku sudah ambruk dan terbaring di meja guru, namun pantatku tetap menungging dan membiarkan preman sekolah ini menghajar kemaluanku. Mulutku tak bisa berhenti mendesah, vaginaku rasanya ngilu, tapi kuakui bersetubuh dengan lelaki kontol besar adalah sebuah kenikmatan terbaik yang pernah kurasakan.


#


15 menit kemudian"


Kami sudah berpindah posisi beberapa saat yang lalu. Meja murid paling depan menjadi tempat aku bersetubuh dengan preman sekolah ini. Tubuhku tiduran diatas meja, sedangkan Endrix berdiri sambil ia sodokkan batang kemaluannya ke lubang kemaluanku.


*Jleb jleb jleb jleb*


Tak lupa Endrix menciumi bibirku penuh nafsu. Ia lumat habis lidahku dan ia seruput kencang-kencang bibir atas dan bawahku. Kubiarkan bibirku diciuminya. Aku tidak mau jika aku membalas melumat lidahnya, dia akan marah dan menganggapku tidak sopan. Biarlah dia yang berkuasa atas diriku.


Setelah puas menciumi bibirku, ia juga mulai mengemuti puting susuku yang mungil dengan ganas saat posisi misionary ini. Aku meringis menahan sakit karena Endrix menggigit putting susuku kuat-kuat bergantian. Tetapi aku coba ganti rasa sakit itu menjadi rasa nikmat. Semua hanyalah masalah pemikiranku saja. Jika aku menganggap gigitannya adalah cara dia memberiku kenikmatan, maka aku akan menikmati perlakuannya. Aku mencoba menikmati semua perlakuan Endrix kepadaku


"Aaahh Tuaann iya gigitin pentil Lonte Echa.. Terusss" Aaahh.. Enakk"", desahku begitu murahan


"Sialan, lama-lama Gak kuat kontol gue pingin segera crotin memek lo" Sssshhh" Berisik banget mulut lo anjir.. Plak plak plak plak plak..", kata Endrix sambil ia percepat temponya dan ia tampar-tampar pipiku


"Iya tuan.. Crotin memek lonte Echaaa.. Aaahhh.. Ouhhh..", pintaku manja dan tanganku memegangi pinggul Endrix agar ia tak berhenti menghajar memekku


"Gue keluarin di dalam ya!", goda Endrix sambil ia kembali menjilati putting susuku


"Iyaaaahhh.. keluarin di dalam memek lonte Echa tuaaannn Aaahh Aahhh"", ucapku begitu binal


"Aaahhh.. Baguss" Rahim lo emang tugasnya buat pembuangan peju" Memek kotor najisss " Sshhhh" Gue hamilin loooo", ujar Endrix


"Iyaaa Aaahhh Tuaaannn.. Peju tuan buang ke memek kotor Lonte Echa sajaaa" Aaahh". Ouhhh..", aku semakin merancau menggila


Aku seolah sudah lupa siapa diriku. Murid berprestasi di sekolah? Ya, itu memang benar dan semua orang mungkin tahu akan hal itu. Tapi disisi yang lain aku juga sudah menjadi seorang lonte bagi sekolah ini. Seorang lonte yang tugasnya menghibur tuannya. Bagaimana jika mereka tahu?? Apa yang akan terjadi padaku??


"Dasaarrr Lonteeee.. Gue pejuin looooo sekarangg!!!!" Aarrrgghhh..", pekik Endrix Dan kurasakan kontolnya berkedut-kedut di dalam kemaluanku.


"Lonte Echa jugaa keluarrr tuaaannn", pekikku


Tubuhku bergetar hebat kurasakan lendirku akan segera menembak. Sepertinya kami akan keluar bersamaan karena kurasakan kontol Endrix juga kedutan di dalam rahimku. Aku hanya bisa pasrah dan bersiap menerima semburan peju preman sekolahku dengan rahimku.


*Crroootttt crrrootttt crrrrooott* tanpa ragu Endrix semburkan semua spermanya ke dalam kemaluanku


Mataku terpejam, menikmati ledakan-ledakan berkali-kali saat kontol Endrix menyemburkan spermanya ke kemaluanku. Cairan kental dan hangat itu mulai mengalir semakin masuk menuju rahimku. Mungkin jutaan dari mereka sedang berlomba-lomba membuahi sel telurku. Beberapa ada yang sampai meluber karena rahimku tidak mampu menampung seluruh sperma Endrix.


Nafasku ngos-ngosan setelah persetubuhan panas pagi-pagi buta ini. Padahal sebentar lagi aku harus mulai kegiatan belajar dikelas, tetapi rasanya aku sudah tidak sanggup lagi untuk bisa konsentrasi di pelajaran haribini. Aku sudah terlalu lemas dan malas. Tubuhku bahkan masih kedutan menikmati klimaksku yang luar biasa. Sesekali kakiku bergetar kecil karena orgasme hebat yang kualami


"Sekarang lo bilang terima kasih ke gue karena memek jalang lo udah gue kasih peju gue", ujar Endrix sambil ia cabut kontolnya yang tampak mengkilap


"Terima kasih tuann Hah.. Hah.. Hah..", ujarku dengan kondisi nafas tersengal-sengal setelah hampir setengah jam memekku dihajar kontol Endrix tanpa istirahat sekalipun


"Untuk apa?", goda Endrix


"Karena.. Hah.. Hah.. Hah..Memek Lonte Echa.. Su.. Sudah.. dikasih.. peju tuaaann", jawabku masih ngos-ngosan


Rahimku sudah sukses dipenuhi oleh cairan lengket dan kental punya Endrix. Aroma ruangan ini juga semakin tak karuan akibat sperma Endrix yang menyengat. Perpaduan antara aroma pesing kencingnya dan aroma anyir spermanya. Dan itu semua saat ini bercampur menjadi satu di alat kelaminku


"Puas lo gue entot?", tanya Endrix sambil ia mulai rapikan pakaiannya


"Pu.. Puas tuan..", jawabku


"Heheheh.. Bener-bener gak nyangka gue, lo tampang alim tapi doyan bener sama kontol", kata Endrix sambil memberiku perintah gesture agar aku bersihkan kontolnya sekali lagi


Aku lalu turun dari meja dan berlutut dihadapan Endrix. Kujilati kontol Endrix yang masih belepotan sperma bercampur dengan kencingnya tadi, dan juga lendir vaginaku. Kujilati dan kubersihkan sisa persetubuhan panas kami pagi ini di sekolah. Lidahku bergerak lincah naik turun memastikan tidak ada bagian yang tertinggal. Kupastikan kontol Endrix harus benar-benar bersih sebelum kami memulai kegiatan belajar mengajar hari ini.


"Aaahhh.. Enak bener pagi-pagi kontol gue dimanjain sepongan cewek cantik kek lo..", kata Endrix membelai kepalaku.


"Terima lasih tuan"", jawabku sambil tersipu karena dia baru saja menyebutku cantik


Kulihat langit sudah mulai terang sedikit demi sedikit, sepertinya matahari sudah mulai muncul dengan malu-malu tanda pagi mulai menjelang. Aku lihat Endrix sudah mulai berpakaian lengkap, aku pun berpikir untuk juga segera berpakaian karena sang surya sudah mulai sedikit terlihat. Jam dinding menunjukkan pukul 05.17


"Siapa suruh lo pakai baju?", hardik Endrix tiba-tiba mengejutkanku


Seketika aku berdiri mematung tidak jadi memakai pakaianku. Aku bingung mengapa ia melarangku memakai baju padahal ia sendiri sudah berpakaian lengkap dan aku sudah melayani nafsunya hingga dia klimaks.


"Sebelum yang lain pada datang, gue minta lo bersihkan kencing gue tapi lo harus tetep telanjang!", kata Endrix sambil menunjuk lantai yang penuh dengan genangan air kencingnya


"Eh tapi tuannnn?", aku ingin sekali protes karena keadaan semakin tidak aman


Kalau begitu aku harus mondar-mandir di area sekolah dalam keadaan telanjang karena peralatan pel dan cairan pengharum lantai berada di gudang yang jaraknya lumayan jauh dari ruang kelasku yang berada di lantai 3


"Buruan sebelum yang lain pada datang malah pada mikir lo gila jalan-jalan di sekolah gak pake baju. Heheheh", kata Endrix


"Tapi kan ada Pak Suryo yang jaga sekolah ini Tuan?", protesku


"Ya bukan urusan gue. Kalau lo ketemu dia berarti rejeki buat tu satpam mesum. Karena bisa lihat cewek cakep di sekolah ini dalam keadaan bugil. Heheheh", kata Endrix sambil terkekeh


"Eehhh? Ba.. baik.. tuann" Maaf"", jawabku pada akhirnya


"Yaudah bersihin sampai bersih, gue mau tidur lagi bentar. Lumayan ada satu jam lebih sebelum masuk kelas. Dari semalam ngentot melulu anjir", kata Endrix dan ia pun tidur di bangkunya


*Dari semalam?* Tanyaku dalam hati mendengar ucapan Endrix


Aku terdiam sejenak dan kuputuskan menjalankan perintah Endrix saja daripada membuang banyak waktuku. Aku hanya berharap tidak bertemu dengan Pak Suryo dalam keadaan bugil. Untuk tahap awal aku berusaha mengurangi genangan kencing Endrix agar tidak mencolok seperti sekarang. Kain celana dalamku juga masih dibawa Endrix.


Aku lalu melihat sebuah bra yang tengahnya sudah digunting milikku tergeletak di lantai.Kuputuskan ku lap saja lantai yang dikencingi Endrix dengan braku yang tadi di potongnya. Toh juga sudah tidak bisa dipakai lagi. Kuusap dengan telaten hingga bra ku menyerap sedikit demi sedikit genangan pesing itu. Untungnya, kain Braku bisa menyerap kencing Endrix dengan baik dan genangan kencingnya sudah tidak nampak lagi. Setelah dirasa cukup, kubuang bra ku ke dalam tempat sampah yang terletak di taman depan kelas karena aromanya juga sudah menjadi pesing.


Aku kemudian bergegas segera menuju gudang yang berada di lantai 1. Jaraknya dari kelasku lumayan jauh sebenarnya karena kelasku berada di lantai 3. Kuturuni koridor dan anak tangga dengan terburu-buru, namun sebisa mungkin langkah kakiku sedikit kuatur agar tidak terlalu berisik. Di lantai 2 cukup aman karena kondisi sekolah yang masih sepi.


Emang kurang ajar si Endrix sepagi ini aku sudah disuruh olahraga lari-larian di sekolah. Mana ga pakai baju lagi. Alhasil tubuh berkeringatku terlihat sangat jelas dan aroma tubuhku menjadi tidak karu-karuan. Kulitku juga semakin mengkilap karena bulir-bulir keringatku terus keluar. Vaginaku juga lama-lama terasa becek juga karena situasi yang semakin menegangkan ini. Jika semua tugas ini sudah selesai, aku ingin segera ke toilet dan segera membersihkan tubuhku


Akupun akhirnya tiba di lantai 1. Entah mengapa aku deg-degan saat berada di lantai ini. Aku tidak tau posisi Pak Suryo saat ini dimana. Bisa saja di duduk di pos security. Bisa juga saat ini ia sedang keliling jalan-jalan di lantai 1. Kerudungku mulai basah berkeringat. Tidak ada gunanya aku diam saja di sini. Aku harus terus bergerak dan menyudahi permainan gila Endrix


Perlahan-lahan aku melangkah, sambil kufokuskan indera mata dan indera telingaku agar bisa menangkap sosok atau pun suara langkah Pak Suryo jika berada di dekatku. Aku terus melangkah sambil celingak-celinguk ke depan belakang kiri kanan memastikan situasi di sekitarku aman.


Setelah terus melangkah, tinggal beberapa saat lagi aku tiba di gudang yang terletak di paling pojok gedung sekolah ini. Tetapi, jantungku berdebar keras karena samar-samar aku mendengar suara dari dalam gudang.


Aku melangkah semakin mendekat dan suara itu terdengar semakin jelas. Suara seorang wanita! Dan ia sedang mendesah-desah! Aku tahu betul model desahan itu! Karena aku juga sering melakukan desahan semacam itu! Itu adalah desahan seorang wanita yang sedang keenakan dientot!


Aku pastikan lagi apakah aku salah dengar, bisa saja itu cuma suara video bokep dan pak Suryo saat ini diam-diam sedang menonton video bokep di dalam gudang. Seketika aku lemas, bagaimana jika betul Pak Suryo ada di dalam gudang? Lalu bagaimana caraku agar bisa mengambil pel sekaligus pewangi lantai yang disimpan di sana?


Ingin sekali aku membuka pintu gudang untuk memastikan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam. Apakah itu hanya suara yang berasal dari video bokep? Tetapi kenapa terdengar begitu nyata? Karena samar-samar aku juga mendengar tawa-tawa menyebalkan dan juga seperti terjadi percakapan di dalam sana. Tetapi telingaku tidak sanggup menjangkau apa yang sedang dibicarakan.


Aku takut sekali membuka pintu gudang, nyaliku menciut dan tidak sanggup memastikan siapa dan apa yang sedang terjadi di balik pintu gudang ini. Logis saja, karena saat ini aku juga sedang telanjang. Jika aku memaksa memberanikan diri membuka pintu ini dan aku ketahuan, habislah aku! Mana suara cewek itu semakin kencang lagi desahnya seperti bukan berasal dari handphone


Akhirnya aku memutuskan meninggalkan gudang dan mencoba berkeliling sebentar di sekolah siapa tahu aku menemukan benda yang bisa kupakai untuk meyamarkan aroma kencing Endrix. Dia yang kencing aku yang susah. Menyebalkan! Aku lalu memutuskan untuk masuk ke toilet khusus guru, karena di toilet ini jauh lebih bagus dan bersih jika dibandingkan toilet para murid.


Toilet guru letaknya tidak jauh dari gudang. Sama-sama di lantai 1. Jika gudang ada di ujung gedung. Maka toilet guru berada di tengah-tengah gedung. Aku bergegas sedikit berlari karena waktu yang semakin habis. Sebentar lagi akan ada murid-murid kepagian yang datang. Biasanya mereka yang kutu buku atau pun yang rajin ke sekolah akan datang pagi-pagi


Aku sudah tidak memperdulikan langkah kakiku yang terdengar berisik saat berlari. Setidaknya aku yakin, kemungkinan besar Pak Suryo sedang di dalam gudang asyik menonton bokep. Itulah kesimpulan awalku. Aku lalu tiba dan langsung masuk di toilet guru. Ada 3 buah washtafel disana. Masing-masih washtafel terdapat sebuah sabun cuci tangan.


Seketika otakku mendapatkan ide untuk mengambil salah satu sabun cuci tangan itu untuk membersihkan sisa kencing Endrix. Aku langsung berlari kembali ke kelas sambil membawa salah satu botol sabun cuci tangan dan kutuangkan banyak-banyak ke bekas kencing Endrix. Lantai memang menjadi licin, tapi itu mending daripada bau kencing Endrix. Lalu kudiamkan saja agar bisa mengering sendiri. Nanti rencananya aku akan memberinya sedikit air biar biar mengurangi tingkat kelicinannya.


Aku kemudian menyeka keringatku yang banjir. Rasanya cukup melegakan karena tak kucium lagi aroma pesing kencing Endrix di ruangan ini. Berganti menjadi aroma stroberi yanh berasal dari sabun cuci tangan yang kuguyurkan ke lantai. Aku pun melihat ke arah Endrix yang sedang asyik tidur di bangku paling belakang, lalu kudatangi preman sekolah itu.


"Udah saya bereskan tuan"", kataku sekaligus membangunkan Endrix


"HAAA..? OOHHH.. Kencing gue tadi? Bagus-bagus.. Jam berapa sekarang?"


"Masih jam 5.30 tuan..", jawabku


"Anjir lah ganggu tidur gua aja lo. Baru bentar doang" Btw" liat lo bugil, kontol gue ngaceng lagi anjir", ujar Endrix dan ia pelorot celananya


"Tuan?", aku terkejut apakah preman sekolah itu hendak menyetubuhiku lagi


"Siniin memek lo", kata Endrix sambil memintaku duduk dipangkuannya


"I.. Iya Tuan..", jawabku dan dengan patuh kudatangi Endrix dan aku pun duduk diatas pangkuannya dengan mengangkang


Kuhadapkkan tubuhku ke wajahnya, kali ini payudaraku berada tepat di wajahnya. Ia sempat mengemut puting susuku sejenak sebelum ia arahkan kontolnya ke kemaluanku lagi. Mudah saja ia tancapkan batang kontolnya sekali lagi ke memekku karena dari tadi memekku juga sudah licin. Tubuhku menggeliat saat kontol Endrix membelah mulai vaginaku. Gila, baru disodok sebentar memek aku sudah semakin basah. Sepertinya memekku ketagihan kontol Endrix


*Blesssss*


"Aaaaahhhhh.."* Aku mendesah nikmat saat kontol Endrix mulai bersarang dalam jepitan vaginaku


"Lo goyang begok, malah diem.. Memek lo sekarang yang gantian kerja buat muasin kontol gue", kata Endrix sambil ia meremasi payudaraku dari belakang


"Baik Tuan..", jawabku


Aku buru-buru menggoyangkan pantatku, kugerakkann teratur kebawah dan keatas agar kontol Endrix bisa kuurut dengan daging kemaluanku. Sesekali aku goyangkan memutar pinggulku. Aku kembali mendesah keenakan. Kontol Endrix terasa mantab membelah vaginaku dari bawah


*Jlebbb" jleb" jlebbb..", temponya amatlah lambat


"Ohhh.. Yesss" Sexy Slut" Bitch"", ujar Endrix sambil terus memilin puting susuku


Sengaja kulambatkan tempo goyanganku. Aku ingin menikmati kontol Endrix. Aku pelankan gerakan naik turun pinggulku agar tiap gesekan antara kedua alat kelamin kami terasa nikmat saat saling bersinggungan. Endrix juga sepertinya tidak keberatan dan membiarkanku menikmati kontolnya saat seperti ini


"Aahh.. Aaahhhh.. Aaahhhh" ouuhhh..", desahku manja bebarengan dengan naik turunnya tubuhku di pangkuan Endrix.


Endrix hanya diam saja melihatku keenakan mengurut kontolnya. Entah apa yang saat ini ada di pikirannya. Ia kali ini tidak banyak berkata dan lebih banyak diam sehingga ruangan ini saat ini hanya terdengar suara desah manjaku saja


5 menit sudah aku WOT dengan Endrix. Goyanganku juga sudah terasa tidak senikmat tadi, mungkin karena tubuhku juga sudah lelah karena terus bergerak memompa naik turun di pangkuan Endrix


Endrix yang menyadari aku mulai kecapekan langsung mengangkat tubuhku dan ia himpitkan tubuhku ke tembok dalam posisi tubuhku dibuatnya melayang. Aku sempat panik karena kakiku tidak menapak lantai. Tetapi Endrik dengan cepat menjaga keseimbanganku dan menggendongku. Lalu batang kontolnya kembali ia arahkan ke memekku dan sekali lagi kedua alat kelamin kami bertemu dan saling menikmati. Aku peluk erat dirinya, dia pun memeluk erat diriku. Kali ini aku yang mulai menciumi bibir Endrix saat ia menyetubuhiku dalam posisi aku digendong olehnya.


Aku begitu pasrah mengangkang dan menikmati tiap sodokan pada lubang senggamaku. Aku mendesah penuh kenikmatan, tanganku memeluk erat tubuh Endrix dan kucium sekali lagi bibirnya. Kupagut bibirnya dan kunikmati perzinahan dengan preman sekolah ini


Inikah lelaki yang dulu paling kubenci? Yang dulu pernah kukatakan dengan lantang bahwa aku tidak akan pernah memilih dirinya walaupun hanya ada dia cowok yang tersisa di dunia ini? Aku benci dirinya karena bagiku kelakuannya itu kayak sampah. Merundung orang yang lemah dan membuat mereka bahan lelucon. Tapi kenyataannya? Aku malah mengabdikan diriku untuknya saat ini


Walau awalnya aku juga termasuk korban perundungannya. Tetapi jujur kukatakan aku lama-lama begitu ikhlas dirundungnya. Aku malah dengan penuh keikhlasan melayani nafsu syahwat preman sekolah itu. Bercinta di bawah rasa takut dan ancaman ternyata memberikan sensasi adrenaline yang next level. Apalagi dirinya tidak segan menyakitiku baik secara perkataan atau perbuatan, semua ini begitu terasa natural tanpa dibuat-buat sama sekali dan aku suka.


Ditambah lagi Kontolnya yang kaku, tebal, panjang melengkung itu begitu memanjakan kemaluanku. Kenikmatan seperti inilah yang selalu aku inginkan. Kenikmatan itu ternyata benar-benar kudapatkan dari orang yang merendahkanku. Orang menganggapku tidak ada harga dirinya sama sekali. Dan memang benar, aku justru semakin terangsang saat diriku ini direndahkan Olehnya. Mungkin aku sudah gila, tetapi ya itu lah yang aku rasakan. Aku begitu ikhlas menikmati peranku sebagai lonte pemuas kontolnya.


"Tuan". AAAHHH.. uuhhhh" ", panggilku manja


"YA?", jawab Endrix sambil ia sodok memekku semakin keras membuat kemaluanku semakin banjir saja rasanya


Kontol Endrix sudah licin karena lendir vaginaku yang terus menetes membasahi lantai kelas karena perzinahan kami. Perzinahan antara budak dan tuannya


"Lonte Echa" Suka kontol Tuan Endrix"", kataku sambil tersipu


"Begok, memek udah becek gini ya jelas memek lo suka kontol gue. Tolol lo! Plak plak plak" Kata Endrix sambil menampar wajahku beberapa kali lalu melumat bibirku penuh nafsu


*Gilaa.. aku malah suka ditampar sama dia.. Aku ingin direndahin lebih lagi.. please Tuaaann rendahkan aku.. Aku sukaaaaa*, batinku menjerit


Aku biarkan ia menciumi bibirku. Kubiarkan ia melumat lidahku, bibir atas dan bawahku, apapun itu aku terima. Termasuk saat ia menampari wajahku, aku tidak bisa marah. Atau memang karena aku yang sudah terlalu takut dengan Endrix?


"Ma.. maaf tuan.. Tapi kontol tuan Endrix" Yang terbaik" Aaaahhh.. Aahhhh.. Aaaahhhh" Tuann.. Entot lonte Echa terus tuaaannn.."


"Lo mau dientot tiap hari? Ha??", tanya Endrix


"Mau tuaaannnn..", jawabku manja penuh semangat


"Setiap jam istirahat naik ke atap sekolah. Itu markas gue.. Gue entot lu tiap jam istirahat disana..", kata Endrix


"I.. Iya.. Terima kasih tuan..", jawabku dan Endrix menurunkan tubuhku


"Iya karena gue tau memek jalang lo itu pasti butuh kontol setiap saat. Muka polos kelakuan pelacur lo!", kata Endrix sambil semakin keras ia genjot vaginaku


*Jleebbb jlueebbb jlueeeebbb jleeeebbbbbb*


Ia lalu memegangi kepalaku dan menarik kerudungku hingga terlepas. Lalu ia jambak rambut pendekku dengan kencang sambil ia ciumi bibirku dengan ganas sekali lagi. Aku takut, tapi aku juga semakin excited karena perlakuan kasarnya. Kini aku sudah telanjang tanpa apapun di tubuhku, termasuk kerudung yang tadi dia larang untuk dilepas, kali ini dilepasnya dengan kasar.


"Sekarang lo jongkok sambil colmek", perintahnya.


Lalu tubuhku diturunkan dan aku diminta untuk jongkok di hadapannya. Kemudian tanganku mulai kuarahkan meraba kemaluanku. Endrix memandangiku dengan senyum setannya. Melihat gadis yang biasa berkerudung kini dalam kondisi tanpa hijab sedang colmek dihadapannya.


"cantik juga lo kalau gak pake kerudung. Heheheh"", puji Endrix sambil mengusap-usap rambutku


Aku tidak sempat menjawabnya karena aku sedang asyik merangsang alat kelaminku dengan jari-jariku sendiri. Aku begitu terangsang sekali dan tanpa sadar kocokanku juga semakin cepat. Tubuhku gemetaran sekali lagi tanda aku akan mecapai batas maksimalku.


Setelah melihatku semakin terangsang, Endrix langsung menarik kepalaku dan kontolnya langsung dihujamkan kuat-kuat ke bibirku. Rasanya kontol panjang itu benar-benar sampai mentok masuk ke rongga tenggorokanku. Kontol yang panjang kutaksir lebih dari 20 cm itu terbenam seutuhnya ke dalam mulutku. Terbayang sudah betapa sulitnya aku bernafas karena kontol Endrix terus menohok-nohok mulutku


"Hoggghh hoggghhh hoghhhhh", suara yang keluar dari mulutku karena Endrix sangat kasar memaksaku untuk melakukan Deep Throat


Bahkan dalam keadaan tersiksa ini kemaluanku justru kencing. Lama-lama kencingku semakin deras.


*AAAAHHH" kenapa senikmat ini"* gumamku dalam hati saat lendir encer itu terus mengucur keluar dari lubang vaginaku


Cairanku terus mengucur pelam, membasahi lantai sekitar meja Endrix Tapi sepertinya Endrix tidak menyadari hal itu dan ia terus menghujamkan kontolnya ke mulutku dengam kasar. Ingin rasanya aku tersedak namun tidak sempat. Aku hanya berharap ia bisa segera selesai menghujami mulutku dengan kontolnya


"Aarrrghhh jancookk keluar coookkk"", pekik Endrix dan ia dorong kuat kontolnya ke tenggorokank


Sperma Endrix meledak berkali-kali di dalam mulutku. Cairan asin kental dan serik yang akhir-akhir ini selalu ia berikan kepadaku kini kurasakan kembali. Pelan-pelan kucoba menelan sperma Endrix hingga habis tak tersisa


"Heheheh.. Bagus.. Peju gue bagus buat lonte kayak lo. Dah pergi sana!", usir Endrix setelah ia puas melampiaskan nafsu binatangnya kepadaku


Aku pun bergegas memakai kembali pakaian seragamku, namun sayang tidak dengan celana dalam serta braku. Tetapi setidaknya aku masih bersyukur ada kain untuk menutupi aurat tubuhku. Kupastikan seluruh tubuhku tidak ada aroma mencurigakan. Kusemprotkan beberapa kali parfum untuk menyamarkan aroma tubuhku yang tadinya berkeringat dengan deras.


Setelah semua beres, aku langsung jalan cepat menuju lantai 1 untuk mengembalikan botol sabun cuci tangan yang tadi kubawa. Saat aku hendak masuk ke dalam toilet, tercium dari kejauhan aroma parfum vs scandalous yang semerbak wanginya. Aku kenal betul aroma parfum ini karena aku juga suka memakainya dan menjadi salah satu parfum favoritku karena aromanya yang manis dan segar. Aku kemudian masuk ke dalam toilet guru dan penasaran siapa yang ada di dalam


Kulihat seorang wanita berkerudung panjang hingga munutup dadanya, berpakaian gamis syari yang lengkap dengan kaos kaki panjangnya yang menutup sempurna kedua kakinya. Aku kemudian melihat jam tanganku dan kusadari saat ini masih jam 6 kurang. Tetapi mengapa beliau sudah ada di sekolah sepagi ini? Apa yang kulihat ini penampakan? Tentu saja bukan!


Beliau adalah sosok yang kukenal. Bahkan beliau sosok yang terkenal seantero sekolah. Diusianya yang masih 30 tahun, beliau sudah dipercaya menjadi wali kelas di salah satu kelas di sekolahku dan tentu saja hal itu mengejutkan banyak belah pihak. Apalagi beliau termasuk guru baru di sekolahku. Kalau tidak salah ia baru mengajar di sekolah ini kurang lebih 1,5 tahun yang lalu.


"Miss Riesta?", tanyaku lirih sambil keheranan memastikan dihadapanku ini bukanlah sebuah penampakan


b8e53fffc0958230e1b91209ec66de8286c5a2df.jpg


Miss Riesta


Miss Riesta adalah salah satu guru bahasa Inggris di sekolahku. Itulah alasan ia dipanggil dengan sebutan Miss karena beliau adalah seorang guru B. Inggris. Kalau dipanggil bu kesannya ketuaan, kata beliau saat pertama kali beliau memperkenalkan diri.


Miss Riesta menoleh, wajahnya terlihat terkejut melihat kedatanganku. Sosok anggun nan cantik itu memang tidak membosankan jika dipandang lama-lama. Wajah Miss Riesta memiliki kecantikan yang khas, hidungnya yang mbangir dan wajahnya yang sedikit ada nuansa kearab-araban menambah pesona pada dirinya. Ditambah lagi, Kulitnya putih mulus dengan Matanya yang bulat teduh memberikan aura yang begitu khas.


Dengan penampilannya yang begitu anggun, syari" dan terlihat sangat alim dengan busana muslimahnya, beliau menjadi sosok guru yang populer. Sudah cantik, baik, ramah dan sifatnya yang mengayomi membuat banyak siswa menyukai Miss Riesta.


Kerudung Miss Riesta sempurna menutup lekuk dadanya, gamis indahnya ia pakai untuk menutup auratnya secara sempurna pula. Ditambah lagi, kakinya juga selalu ia tutup rapat, tidak terlihat sama sekali dengan sepasang kaos kaki berwarna krem yang biasa dipakai mbak-mbak akhwat berjilbab lebar.


Miss Riesta terlihat terkejut saat melihatku. Ia lalu buru-buru membasuh mukanya sebelum menoleh ke arahku kembali


"Eh? Kalau ngga salah namamu Echa kan? Kok pagi sekali sampai sekolahnya?", tanya Miss Riesta dengan raut muka tergopoh-gopoh


"Iya nih Miss.. Saya ada tugas mangkanya datang lebih pagi..", Jawabku mencoba tetap tenang


"Tugas apa? Bukankah tugas itu harus dikerjakan di rumah bukan di sekolah?", tanya Miss Riesta seperti sedang menginterogasiku


"Eeeeerrr" Tugas yang cuma bisa dikerjakan di sekolah Miss.", jawabku dan berharap ia tidak menanyaiku lagi


"Hmmmm.. Terus kenapa kamu masuk toilet ini? Bukannya ini khusus untuk guru?", tanya Miss Riesta


"Errr.. Anu.. Miss.. Tadi saya pinjem sabun cuci tangan sebentar. Ini.. Saya mau kembalikan.. sabunnya"", jawabku kini mulai tergopoh-gopoh


Miss Riesta memandangiku dan terlihat wajahnya begitu dalam memandang ke arah mataku. Ia lalu menghembuskan nafas panjang dan kemudian pamitan untuk kembali ke ruang guru


"Yasudah saya balik dulu ke ruang guru kalau gitu. Segera selesaikan tugasmu Echa", kata Miss Riesta dan ia pun berlalu


Kupandangi guru cantik itu dari belakang saat ia berjalan. Mataku tertuju ke arah pantat Miss Riesta. Terlihat sangat sexy walau ia memakai gamis yang tidaklah ketat. Miss Riesta postur tubuhnya mirip denganku. Tidak gemuk dan perutnya rata. Hanya saja tonjolan pantat dan payudaranya sepertinya terlihat lebih besar sedikit dariku.


"Ya ampun apa yang aku pikirkan!", gumamku dalam hati dan aku pun segera kembali ke kelas


#


Jam sudah hampir menunjukkan pukul 07.00 pagi. Murid-murid sekolah satu persatu mulai hadir di kelas. Suasana yang tadinya sepi seketika menjadi terlihat jauh lebih meriah. Canda tawa terdengar dari ujung sana ke ujung sini. Suara-suara obrolan-obrolan antar siswa juga tak kalah serunya menambah ramai keadaan sekitar sekolah


"Echaaa kok kamu pagi sekali datangnya?", seperti biasa sahabatku Anya ini datang-datang membuat kegaduhan


"Enggak kok aku juga baru sampai", ujarku berbohong


"Masak sih?", kata Anya sambil hidungnya terlihat mengendus-endur tubuhku


"Eh? Kenapa Nya?", aku jadi parno sendiri melihat Anya seperti itu


"Hmm kayaknya aku mencium sesuatu", kata Anya membuatku kelabakan


"Eh maksudnya???", tanyaku semakin panik


"Parfummu ganti ya Cha?", tanya Anya


"Ohh.. iya iya... Hehehe... Kirain kenapa Nya"", jawabku lega


Kemudian mataku menangkap sosok Bayu yang baru saja masuk kelas. Tatapan mata kami saling bertemu. Aku buru-buru menundukkan pandanganku demikian dirinya yang juga segera membuang muka pura-pura tidak melihat


"Eh Nya? Kamu masih gini sama Bayu?", tanyaku sambil memberi gesture jari jempol diselipkan diantara telunjuk dan jari tengah


"Eh kenapa nanya gitu?", kata Anya terkejut mendengar pertanyaanku


"Ya gapapa sih"", jawabku


"Kamu cemburu ya?", goda Anya


"Ehh apaan sih. Enggak kok Nya", jawabku


"Hihihi.. Terakhir aku gituan sama dia ya waktu kamu ewe sama cowokku Cha"", jawab Anya


"Oh jadi tugas kemarin maksudnya ewe sama Bayu????", tanyaku sedikit terkejut


"Jangan kenceng-kenceng Echa!!!", protes Anya sambil menutup mulutku


"Habis daripada liat cowokku enak-enakan sama kamu, ya aku tinggal bentar aja. Biar sama-sama enak. Hihihi", kata Anya


"Dasar kamu tu Nya.. Aku ngelakuin itu karena kamu minta. Kalau enggak ya aku mana berani sama cowokmu", ujarku


"Iya sih, tapi kalau ku kasih kesempatan kamu ewe sama cowokku lagi kamu mau gak?", goda Anya


"Ehhh.. Hmm.. Gak Tau Nya aku bingung", jawabku serius


Aku mendadak merasa ketakutan. Membayangkan lelaki di belakang sana sepertinya sedang memandangiku dari kejauhan. Aku tidak bisa bergerak bebas sekarang. Karena ada Endrix yang kini seolah menjadi tuanku. Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi pagi, saat Endrix menanamkan benihnya ke rahimku


"Nya.. Err.. kamu bawa obat anti hamil gak?", tanyaku mengejutkan Anya


"Hah buat apa????", tanya Anya terkejut meminta obat itu sepagi ini.


"Bawa nggak?", tanyaku sekali lagi


"Bawa sih tapi buat apa dulu?", tanya Anya penasaran


"Aku" semalam ML sama Mas Rio", ujarku berbohong


"Hah? Seriuss? Bukannya kalian break ya?", tanya Anya masih tidak percaya


"Ya break sih break.. Tapi kalau lagi pingin ya tetep lanjut. Ayo aku minta obatmu Nya, keburu jadi janin nih sperma", ujarku asal-asalan


"Ya ampun Cha.. Beli sendiri kek.. Nih satu aja. Mahal soalnya", kata Anya sambil memberiku obat anti hamil yang biasa ia minum saat berhubungan badan.


Aku pun buru-buru meminum pil dari Anya sambil berdoa dalam hati agar sperma Endrix tidak jadi membuahiku. Ini semua gara-gara aku yang terlalu nafsu sampai mengijinkan preman sekolah itu menghamiliku. Giliran udah selesai, aku yang menyesal karena semudah itu bilang hamil tanpa memikirkan perasaan kedua orangtuaku yang capek-capek mendidik aku jadi cewek bener


"Sekarang aku nanya? Kok bisa? Berarti kamu sudah mutusin ngga mau selingkuh dan nyoba kontol lain lagi?", tanya Anya kembali menginterogasiku


"Err.. Engga sih Nya. Kita tetep break kok. Kemarin Mas Rio cuma datang, kangen, terus ya gitulah..", ujarku mengarang cerita


"Rugi Cha kalau kamu belum coba banyak kontol. Hihihi.. Tuh punya Endrix mantab kayaknya", goda Anya


"Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk".", seketika aku langsung tersedak mendengar Anya menyebutkan nama Endrix


"Eh Cha? Kamu gapapa? Minum minum", kata Anya sambil memberiku sebotol minum


"Kamu kan tau aku sama Endrix bencinya kayak gimana? Kalau cuma ada dia cowok di dunia ini, aku juga gak bakal mau sama dia!", ujarku berapi-api


"Ehh iya Cha.. Santai aja lagi, aku cuma bercanda kok. Hehe"", pungkas Anya


#


Tanpa terasa jam belajar mengajar berlalu dengan cepat. Bel istirahat juga sudah berbunyi. Siswa siswi pada berhamburan ke luar kelas, termasuk Anya yang seperti biasa mengajakku ke kantin ketika jam istirahat


"Ayo Cha ngantin. Laper nih", ajak Anya


"Errr.. Aku lagi malas jajan Cha.. Kamu aja ya" Sebentar aku ada urusan", ujarku buru-buru meninggalkan kelas setelah menyadari Endrix yang ternyata sudah tidak ada di bangkunya.


"Eh Cha? Urusan apa??", tanya Anya namun tidak kujawab pertanyaan sahabatku itu


Aku lalu buru-buru berlari menuju atap sekolah. Tempat yang jarang dikunjungi murid-murid karena di sana sudah terkenal menjadi markas anak-anak berandal. Jadi mereka enggan naik keatas daripada berurusan dengan kawanan anak-anak nakal itu. Memang sekolahku ini memiliki atap sekolah berupa bidangan luas yang biasanya dipakai untuk meletakkan Outdoor AC. Ya mirip sekolah-sekolah Jepang gitu. Tetapi bedanya kalau di sekolahku, tempat tersebut bukanlah tempat favorit untuk menghabiskan waktu karena tempat ini memang sudah terkenal menjadi tempat anak-anak nakal menghabiskan waktu disana.


Kudapati Endrix seorang diri disana. Ia menoleh ke arahku menyadari kedatanganku sambil menyeringai. Untungnya tidak orang lain di tempat ini. Jadi aku sedikit merasa bersyukur.


"Sini lo!", teriak Endrix sambil melambaikan tangan


Aku bergegas mendatangi Endrix dan buru-buru duduk dipangkuanya. Dengan segera ia langsung menggrepe tubuhku sembari menciumi bibirku penuh nafsu. Endrix sepertinya sudah ingin sekali menikmatiku sekali lagi dan kuakui nafsu pemuda berandal ini ternyata memang begitu besar.


"Kalo liat lo bawaannya pingin gue entot", ujar Endrix


Endrix terus menciumi bibirku sambil tangannya mulai mempreteli kancing seragam sekolahku. Aku tidak keberatan ditelanjangi olehnya karena aku sendiri menyadari aku hanyalah budak sexnya saat ini.


"Lo ga perlu ini saat dekat gue"", ujar Endrix dan terus melucuti seragam sekolahku


"Iya tuann..", jawabku pasrah saat ditelanjangi olehnya


Seragam putihku ia tarik lepas hingga payudaraku terpampang bebas. Endrix langsung mencaplok puting kananku dan kubiarkan lelaki itu menetek di payudaraku. Tubuhku menggeliat menikmati permainan lidahnya. Endrix sangat pandai merangsang puting susuku hingga belum apa-apa aku sudah senafsu ini


"Aaahhh Tuaannn"", aku menggeliat manja di pangkuannya saat lelaki berandalan itu menggigit puting susuku


Endrix lalu mengangkat sedikit kerudungku dan ia gigit leherku hingga aku meringis. Tidak hanya satu titik saja yang ia gigit, tapi hampir ia sebar gigitan-gigitan kecilnya ke leherku hingga menimbulkan bercak kemerahan di leherku


"Apa Lonte Echa buka kerudung saja tuan?", tawarku agar ia tidak kesusahan mencupang leherku


"Iya lo lepas aja", jawab Endrix dan aku lepas saja kerudungku


a9449a6cc00d896e4e0180a5883337487be937b7.jpg


Endrix kali ini lebih bebas bergerilya. Ia ciumi seluruh bagian leherku. Ia jilati bagian belakang telingaku sejenak sehingga membuatku kegelian luar biasa. Tubuhku menggelinjang sambil tanpa sadar pelukanku ke dia semakin menguat.


Endrix lalu mulai membuka resletingnya dan langsung saja terlihat batang kontol yang melengkung keras itu keluar dari celananya. Tanganku tanpa sungkan-sungkan langsung meraih kontol Endrix dan mulai kukocok batang kemaluannya. Endrix mengerang sebentar sambil menikmati kocokanku. Bibirku kembali dilumatnya penuh nafsu


"Lo cantik njir"", ujarnya perlahan dan aku tersipu malu mendengar pujiannya


Aku kemudian mendekatkan kepalaku ke kontolnya dan kujilat-jilat kontol Endrix dengan lahap. Kontol yang sudah membuatku dengan ikhlas menjadi lonte baginya. Kontol yang sudah membuat memekku ketagihan akan tiap sodokannya.


"Aaahhh.. Iya gitu.. Shit.. Enak bener sepongan lo"", ujar Endrix sambil ia belai rambutku dengan lembut


Endrix kemudian menarik daguku dan ia kembali melumat bibirku. Lumatannya sangatlah lekat dan kuat, ia arahkan bergantian bibir bawah dan atasku bergantian, lalu diakhiri dengan lidah kami yang saling menindih dan saling menyerang satu sama lain. Tangannya juga tak pernah berhenti meremas dan memainkan payudaraku. Aku juga tak berhenti menggeliat keenakan karena sentuhan-sentuhan tangannya pada beberapa bagian tubuhku


"Mana memek lo? Masukin ke kontol gue", ujar Endrix sambil ia lucuti rokku dan kali ini aku sudah bugil total di pangkuannya


"Ini memek lonte Echa tuan"", ujarku dan tanpa permisi aku tancapkan kontol Endrix ke memekku sendiri


*Blesssss*


Kedua kemaluan kami saling bertemu lagi untuk ketiga kalinya hari ini. Aku kemudian diminta Endrix bergerak dan bergoyang naik turun kekiri kekanan menghibur batang kontolnya. Kugerakkan tubuhku dan kunikmati kontol besar Endrix yang kini sudah menggesek-gesek dinding vaginaku.


*Jleb jleb jleb jleb*


"Aaaaahhh.. Ouhhhh"", desahku perlahan bergoyang diatas tubuh Endrix


Kontol Endrix memang mantab, tiap garukannya benar-benar terasa nikmat. Aku sampai tak bisa berhenti dan terus menggerakkan tubuhku naik turun agar kontol Endrix terus menggesek bagian dalam kemaluanku.


"Aaaahhh anjir memek lu enak bener Cha"", puji Endrix sekali lagi sambil ia kembali memainkan payudaraku yang menggelantung bebas dihadapannya


"Kontol Tuan Endrix juga enak.. Ssshhh..", ujarku sambil terus bergerak naik turun dipangkuannya


"Ya enak lah, kalau gak enak muka lo gak bakal sesange sekarang.", kata Endrix sambil memegangi daguku


Kami habiskan waktu istirahat kami dengan bersetubuh di atap sekolah yang sepi ini. Padahal cuaca sedang terik-teriknya, tapi tak menghalangi kami untuk terus bersetubuh dengan panas di sekolah. Aku sudah tidak ingat berapa lama kemaluan kami saling menikmati. Yang kutahu, Endrix terus mencumbu bibirku dan kemaluanku terasa enak saat disodok-sodok kontol Endrix.


"Widihh" siang-siang dapat barang bagus nih. Mulus benerrr".", ujar seseorang dari arah belakang kami


Aku pun terkejut dan berusaha menghentikan aktivitas persetubuhanku dengan Endrix. Aku juga berusaha meraih seragam sekolah yang berceceran disampingku namun di tahan oleh Endrix


"Sapa suruh berhenti? Lanjut gerakkin memek lo", perintah Endrix dan mau tak mau aku kembali bergerak naik turun diatas tubuhnya


Aku tidak tahu siapa yang ada dibelakang kami karena posisi tubuhku yang menghadap ke arah Endrix. Yang pasti sosok lelaki itu saat ini sedang memandangiku yang sedang telanjang bersetubuh dengan Endrix.


"Ngapain lo bawa Budi kesini?", tanya Endrix kepada temannya


"Lha kan ini waktunya si Budi setor?", ujar teman Endrix


"Oh iya ya? Lupa gue", jawab Endrix


"Kenalin dulu lah sapa ni cewe. Ga tau gue ada yang sebening ini di sekolah", ujar teman Endrix membuatku ketakutan


"Hehehe.. Masak sih lo gak kenal ama nih Cewek?", tanya Endrix


"Gak tau orang gue belum liat mukanya", jawab teman Endrix


"Yaudah lo berhenti dulu. Coba kenalin diri lo ke temen gue ini", perintah Endrix kepadaku


Aku benar-benar kikuk saat ini. Tidak mungkin aku mengenalkan diriku dalam kondisi telanjang seperti ini. Tetapi jika aku tidak menuruti perintah Endrix, tentu saja ia akan marah kepadaku


"Namaku Echa", ujarku tersipu malu sambil badanku tetap menghadap ke arah Endrix


"Begoookk.. Kalau ngajak kenalan itu yang sopan. Hadap sana!", teriak Endrix sambil menunjuk ke arah temannya.


"I.. Iya"", jawabku lirih


Perlahan aku memutar badanku, menampakkan ketelanjanganku di hadapan teman Endrix, dan juga seseorang satunya lagi yang sepertinya siswa korban perundungan Endrix. Wajah si korban perundungan melongo melihatku. Sedangkan teman Endrix menyeringai mesum menatap tubuhku


"Cantik anjir.. Sapa nih?", ujar teman Endrix


"Lu beneran gak kenal nih cewek?", tanya Endrix


"Kayak pernah liat tapi gue gak ingat"", jawab teman Endrix


"Sekarang lo pake kerudung lo!", perintah Endrix sambil melemparkan kain kerudung putihku


Aku lalu mulai mengenakan kain kerudungku. Asal-asalan saja karena situasi yang tidak tepat untuk menutup rambutku secara sempurna. Setelah kerudung terpasang, teman Endrix matanya melongo tidak percaya sambil terus menatap ke diriku. Aku sampai tidak bisa membalas tatapan matanya saking malunya.


"Dia kan Echa? Teman sekelas lu yang terkenal berprestasi di sekolah kan?", ujar teman Endrix masih tak percaya


"Ya.. Hehehe". Mantab kan?", ujar Endrix penuh rasa bangga


"Wait wait.. Gila sih ini. Lo kok bisa dapetin Echa?", tanya teman Endrix masih tidak percaya


"Hehehe" Gue gitu lho..", kata Endrix


"Wah parah sih. Kacau Lu kacauuu!!! The best lu Ndrix", ujar teman Endrix begitu sumringah.


"Sekarang lo kenalin diri deh. Dia temen gue dari kelas sebelah.", ujar Endrix dan mau tak mau aku harus menuruti perintah Endrix


"Aku Echa"", ujarku pelan malu-malu sambil menjulurkan tanganku untuk bersalaman dengan teman Endrix


"Begooo! bukan gitu cara kenalan yang bener", kata Endrix sambil menepis tanganku


Aku tentu saja kebingungan karena setahuku kenalan ya seperti ini caranya


"Kenalan yang bener itu kontol ketemu memek"", kata Endrix sambil menyeringai


"WAHAHAHAH.. Asyik nih bisa kenalan sama memeknya Echa yang terkenal itu", kata teman Endrix sambil mulai melepas resleting celananya


"Apaaaa???", aku tentu saja terkejut dengan cara berkenalan yang nyeleneh itu tapi terlambat


Teman Endrix sudah meraih tubuhku dan menindihku. Kontolnya sudah berdiri tegak dan sepertinya ia sudah tidak sabar berkenalan dengan kemaluanku. Aku yang masih belum siap dengan cara kenalan seperti ini hanya bisa pasrah saat kontol teman Endrix mulai membelah vaginaku


"Aaaahh.. Masss"", pekikku saat kontol teman Endrix semakin menyeruak masuk hingga ke dalam alat kelaminku


*Bleesssssss* akhirnya kontol itu sudah tertancap sempurna


"Berapa kali sodokan nih? Hehehe", tanya teman Endrix


"Berhubung gue lagi baik, 50 sodokkan boleh"", ujar Endrix


"Jleb jleb jleb jleb jleb jleb jleb"


"Ok, gue mulai hitung"1"2"3".4".5".6"7", ujar teman Endrix sambil mulai ia sodok kemaluanku dengan kontolnya


"Aaahhh.. Ssshhh.. Nama gue Ivan" salam kenal yaa.. Chaaa.. Memek" Lo angettt.. Aahhh.. Enak njirr"13" 14" 15"", ujar lelaki bernama Ivan itu sambil terus menggenjotku


"Oohhh.. Iyaaa.. Nama aku Echa" Salam kenal" Van" Aaaahhh.. Ouuhh"", jawabku


"Jangan lupa sebut nama dengan gelar Lonte"", protes Endrix


"Iyaaahhh.. Aku Lonte Echaaa.. Aaahhhh Van.. Kontolmu"", ujarku tiba-tiba


"Kenapa kontol gue? 21"22"23"24"", tanya Ivan sambil terus berhitung jumlah sodokannya kepada memekku


"Kontolmuuu salam kenal.. Aaaahhh"", ujarku nakal


"Bisa aja lo Chaa" Gak nyangka gue siswi cantik pinter di sekolah ternyata kelakuan kayak gini.. 27..28..29..30" Memek lo enak Cha..", puji Ivan


"Aaahhh.. iyaaahh makasihh mas" Sshh..", desahku sambil terus menjawab lelaki bernama Ivan itu


"Sebutin tugas lo Cha, Biar Ivan tau"", kata Endrix tiba-tiba


"Iya tugas Lonte Echaaa" Jadi toilet.. toilet cowok-cowok" Buat tenpat buang sperma dan kencing cowok-cowok"", ujarku malu-malu


"Seriusan nih? Jadi gue kalau mau kencing, kencing di badan lu aja ya Cha? 42..44..45", tanya Ivan


"I.. Iya bo.. boleh.. mas".", jawabku pasrah


"Ok kalau ntar gue kebelet tinggal datangi lu.. 48..49..50", kata Ivan sambil mencabut kontolnya dari kemaluanku


"Ya cukup Van kenalannya.. Heheheh"", kata Endrix setelah memastikan Ivan menyelesaikan 50 sodokannya


"Nanggung Anjirrrrrr" Belum crot gue", protes Ivan


"Ya udah lu coli aja", jawab Endrix


Kemudian aku masih dibiarkan telanjang diantara ketiga lelaki ini. Endrix, Ivan, dan salah satu lelaki berwajah culun berkacamata tebal bertubuh kurus ceking yang sepertinya sering jadi korban perundungan Endrix and the gank


"Woi Bud diem aja lo? Sange lo liat Echa?", goda Endrix dan lelaki culun bernama Budi itu menggeleng cepat


"Boong Lo ga sange liat cewek bugil? Homo lo?", ledek Ivan disambut tawa Endrix


"Bud, lo mending lepas semua baju lo. Gue mau liat lo ngaceng gak", kata Endrix


"Ngga mas.. Ampuuunnn" Malu saya", ujar Budi ketakutan tetapi Endrix tetap memaksa lelaki culun itu untuk segera buka semua baju seragamnya


"Halah pake malu segala lo. Lo temenin Echa bugil atau baju lo kita bakar?", perintah Endrix


"Ja.. jangan mas.. I.. Iya.. saya lepas".", ujar Budi sambil mulai melepas seragamnya dengan terburu-buru


Aku hanya memandangi tingkah keterlaluan Endrix dan temannya yang kerap merundung lelaki-lelaki kutu buku macam Budi ini. Tetapi daripada aku memikirkan nasib Budi, Aku seharusnya juga prihatin terhadap nasibku sendiri. Nasibku tak lebih baik dibanding Budi. Aku juga mengalami perundungan parah, dimana tubuhku dibuat Endrix tidak ada harganya dan menjadikan tubuhku sebagai toilet bagi para cowok.


"Cha gimana menurut lo kontol Budi?", tanya Endrix mengejutkan lamunanku


Dengan malu-malu aku memandangi tubuh cowok berkacamata bertubuh kurus yang kini sudah telanjang bulat dihadapanku. Tubuhnya benar-benar kurus hingga terlihat tulang di pinggangnya. Mataku langsung tertuju kepada kontol lelaki bernama Budi itu. Jembutnya lebat dan ternyata panjang juga walau tidak tebal. Batang kontol Budi ternyata mengacung tegak dan keras


"Lu..lumayan panjang tuan"", jawabku tersipu karena aku diminta mereview kontol cowok yang tidak kukenal itu


"Ngaceng gak?", tanya Endrix lagi


"Nga.. Ngaceng tuan"", jawabku semakin tersipu


"Coba lo sepong kontol Si Budi, kayaknya dia sange liat lo", kata Endrix sambil terkekeh


"Eh.. Tapi tuan??", aku mencoba protes karena prihatin melihat lelaki culun dihadapanku ini kelihatannya semakin tertekan


"Gak ada tapi-tapian. Lo mau seragam lo gue bakar juga biar lo telanjang aja seharian di sekolah?", ancam Endrix


"Ba.. Baik Tuan"", jawabku pasrah dan aku pun segera mendatangi Budi yang wajahnya masih tertunduk ketakutan


"Mbak Jangan"", kata Budi lirih saat aku mulai memegang kontol lelaki culun itu


"Permisi ya mas" Aku sepong kontolmu dulu", ujarku dan langsung segera mencaplok alat kemaluan lelaki berkacamata bernama Budi itu


"Eh mbakkk.. Aaaahhh.. Aduuhhh Mbakk"", terlihat Budi tidak enak melihatku mulai mengulum alat kelaminnya


Kumainkan batang si Budi dan kujilati batang kontol lelaki culun itu. Si Budi nampak gelisah namun ia juga sesekali mendesah. Kulumat dan kusedot kuat-kuat hingga lelaki kurus itu tanpa sadar mulai memegangi kepalaku dan turut mendorong kepalaku agar semakin dalam mengulum kemaluannya


"Ooohhh.. Mbakkk.. Aaahhhh.. Enakk mbakkkk.. Oohhh..", lenguh Budi mulai keenakan dan memegangi kepalaku


"Hahahaha.. Bud Bud" Wibu cabul lo. Sok-sokan gak sange, ternyata keenakan juga kontol lo disepong", ledek Endrix


"Skandal sekolah Wibu Cabul dan Siswi berprestasi SMA 666", ujar Ivan sambil tanpa kami sadari ia ternyata merekamku yang sedang menyepong kontol Budi


"Mass jangan direkaamm Aaaahhh"", ucap Budi sambil ia kembali mendesah keenakan


"Lo itu udah tua Bud jangan kebanyakan halu liat cewek anime waifu.. Noh disepong cewek beneran, seneng gak lo?", ujar Endrix


*Slurupp sluruppp sluruuuppp* aku terus menjilati alat kelamin Budi


Tubuh Budi menggelinjang hebat, terasa sekali tubuhnya menggeliat dan menegang. Aku pun semakin cepat mengocok dan mengulum kontol cowok berkacamata itu berharap ini semua cepat selesai


"Eeehhh mbakkk.. Aku mau keluarrrrr..", kata Budi sambil buru-buru ia cabut kontolnya dari mulutku


*Crot crot crot* sperma Budi langsung menyembur beberapa kali mengenai mukaku


"Heheheh.. Telen peju Budi Cha", perintah Endrix


Aku lalu mulai mencolek sperma Budi yang menempel di mukaku sedikit demi sedikit dan kujilati tanganku yang berlumuran spermanya hingga mukaku perlahan bersih dari air mani Budi. Hanya menyisakan sedikit rasa lengket saat sperma Budi mulai mengering.


"Maaf ya mbak.. Saya gak tahan tadi"", ujar Budi menyesal karena telah menyembur mukaku dengan spermanya


"Ngga papa mas"", jawabku juga tersipu karena bagaimanapun aku baru saja mengulum kontol salah satu murid di sekolahku yang tidak kukenal


"Ok sekarang waktunya bayar.. Heheheh", ujar Endrix sambil mengambil dompet Budi dari saku celananya


"Eh mas??", Budi hendak protes namun sayang Endrix yang kurang ajar itu sudah merampas semua uang di dompet Budi


"Busyet miskin amat lo cuma bawa duit 54ribu", ledek Endrix sambil ia lempar dompet Budi ke bawah


"Maaf mas saya memang cuma bawa uang sedikit", kata Budi ketakutan


"Lain kali bawa duit yang banyak lo, apaan udah dikasih enak Cuma bayar 54ribu. Rugi dong gue", kata Endrix


"Udah-udah lo pergi sono. Eneg gue liat muka lo Bud", usir Ivan sambil mendorong tubuh telanjang Budi


Lelaki berkacamata itu ketakutan lalu buru-buru ia berlari sambil membawa baju seragam yang belum dipakainya meninggalkan loteng sekolah ini. Tinggalah aku bersana kedua lelaki bejat tukang rundung sekolah yang menyebalkan ini


"Hehehe.. Cha.. Masih ada waktu nih, lo hibur kita lah", perintah Endrix


"Menghibur apa.. Tuan?", tanyaku kebingungan


"Lo joget-joget bugil sambil colmek deh. Ivan juga pingin tau tuh", kata Endrix


"Eehhh.. Ba.. Baik Tuan"", ujarku lemas karena harus kembali berjoget bugil dihadapan laki-laki


Akhirnya disisa jam istirahat yang kurang lebih masih tersisa 10 menit ini, kuhabiskan dengan berjoget erotis dihadapan Endrix dan Ivan. Kuliukkan dan kugoyangkan tubuh telanjangku dengan nakal. Mulai dari gerakan joget sambil berdiri, hingga sambil berjongkok kulakukan. Kupamerkan semua lekuk tubuh yang kupunya tanpa terkecuali dihadapan mereka.


Sesekali mereka menampar pantatku, meremas payudaraku, serta mengocok vaginaku saat aku sedang berjoget seronok. Sialnya, aku justru semakin bersemangat menggoda mereka karena kedua lelaki itu terus memuji keseksianku, dan kecantikanku. Kubuang semua harga diriku demi sebuah validasi gadis penghibur mereka. Lalu pertunjukkan ditutup dengan squirt hebatku karena mereka berdua terus mencabuli kemaluanku tiada henti hingga jam istirahat pun selesai


"Sekarang Lu ngangkang sambil julurin lidah lo", perintah Endrix sambil ia buka resleting celananya


Ivan yang ada disampingnya juga ikut membuka resleting celananya. Kedua batang kontol mereka diarahkan ke tubuh telanjangku yang duduk mengangkang sambil menjulurkan lidah.


*Currrrrrrrrrrrrr* cairan hangat berwarna kuning mulai keluar dari kontol mereka mengguyur tubuhku


Masing-masing dari mereka mengencingi tubuh telanjangku hingga basah kuyup. Tubuhku seketika menjadi tak karu-karuan aromanya. Pesing pekat, disertai rasa yang hangat karena air kencing Endrix dan Ivan menyebar kemana-mana. Tak cuma ke kemaluanku saja. Wajah, dada, perut, tangan, kaki dan vaginaku terkena kencing Endrix dan Ivan. Terutama vaginaku yang kini aromanya sudah pesing parah dan terlihat sangat lecek belepotan terkena kencing kuning mereka. Karena bulu jembutku juga terkena air kencing, sehingga memperparah bau tak sedap yang ada pada tubuhku.


Rongga mulutku juga sama saja, terasa serik dan hangat juga aroma pesing yang mulai menjalar hingga tenggorokanku karena aku dipaksa mereka terus menjulurkan lidah dan membuka mulutku selama meereka kencing. Lalu Endrix juga memintaku untuk cuci muka dengan air kencing yang diguyurkan ke tubuhku dan aku mau-mau saja melakukannya.


Kutadahi kencing Endrix dan Ivan lalu aku mulai membasuh mukaku dengan air pipis mereka beberapa kali. Endrix dan Ivan pun tertawa terbahak-bahak begitu puas melihatku menjadi toilet bagi mereka. Setelah puas menuntaskan hajat, mereka pun segera pergi meninggalkanku seorang diri yang masih bermandikan cairan kuning bening yang berasal dari alat kelamin mereka.


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Special Chapter : Mudik ke Kampung Halaman (Part 1)


Seperti rutinitasku dari tahun ke tahun, tiap mendekati hari lebaran, aku selalu pulang kampung, baik ke kota kelahiran mama ataupun papa. Kedua orang tuaku memang berasal dari Jawa Tengah, jadi perjalanan yang dilalui lumayan jauh.


Untungnya beberapa tahun terakhir, perjalanan mudik yang kulalui tidak sepanjang jarak waktu tempuhnya seperti wekitar 5 tahun yang lalu. Kehadiran proyek jalan tol yang terus dikebut untuk menghubungkan hampir seluruh kota-kota di pulau Jawa lumayan banyak membantu perjalanan mudikku. Kalau dulu biasanya perjalanan bisa menempuh kurang lebih 10-12 jam, sekarang bisa ditempuh kurang lebih 4 jam saja.


Tapi tentunya bukan tentang jalan tol yang mau kuceritakan detailnya di cerita kali ini. Tetapi pengalaman yang akan selalu kuingat dalam hidupku. Pengalaman yang terbilang cukup nakal jika kuceritakan ke orang-orang. Jadi kuputuskan untuk cerita di sini saja.


Hari itu,


Sabtu, 6 April 2024


ab1fe2fd-734e-454f-8e9f-0dbc5eb163d8.png


Aku melakukan perjalanan menggunakan mobil yang dikemudikan oleh papa. Sedangkan mama duduk di samping papa. Aku? Tentu saja duduk dibelakang, sambil diam-diam membaca hentai genre gangbang. Hihihi"


Sudah beberapa kali aku ceritakan di ceritaku sebelumnya. Nafsuku itu amatlah besar dan mudah sekali naik. Terutama sejak aku dibuat nakal oleh pacarku sendiri. Pacarku selalu memintaku berpakaian sexy. Bahkan tak jarang ia memintaku kemana-mana tidak menggunakan pakaian dalam sama sekali. Awalnya aku memang risih dan terkadang aku juga menolak. Tapi emang dasar pacarku mesum, ia terus memaksaku dan meyakinkanku kalau dia akan semakin sayang sama aku kalau aku turuti kemauannya.


Katanya, aku adalah sesuatu yang paling berharga untuknya. Aku adalah sesuatu yang terindah yang dimilikinya. Karena itu, ia ingin memamerkanku ke orang-orang. Bagi pacarku, berbagi itu indah karena bisa menyenangkan hati orang lain. Iya, memang pemikirannya tidak salah. Tetapi terasa aneh saja bagiku. Jika memang aku berharga, kenapa ia malah ingin memamerkanku ke orang-orang? bukannya disimpan dan dijaga baik-baik. Itu adalah pertanyaan awalku saat ia utarakan fantasynya.


Tetapi ia selalu berargumen pamer itu manusiawi. Kayak orang punya mobil baru, motor baru, hape mahal baru, pasti ada kalanya orang cenderung ingin pamer. Baik secara terang-terangan atau terselubung.


"Orang foto selfie didepan kaca sambil nunjukin logo apel dihapenya apa bukan pamer? Orang bikin story IG cuci kendaraan tapi fotonya difokusin ke kendaraannya apa bukan pamer? Orang selfie sambil nunjukin outfit baju sepatu mahal apa bukan pamer? Aku pun sama, aku ingin memamerkan sesuatu yang paling indah yang kumiliki. Boleh kan?", begitu kira-kira argumen pacarku


Karena ia terus membujukku, lama-lama aku luluh juga dan menuruti keinginannya. Tiap jalan dengan Mas Rio pacarku, aku sebisa mungkin berpakaian sexy dan berusaha mengundang birahi lawan jenisku. Tatapan mupeng mereka seolah menjadi prestasi bagiku. Awalnya aku memang risih dan malu, tapi tanpa sadar aku malah ketagihan. Ada perasaan dalam hatiku, aku malah suka dipandangi oleh mereka. Ada rasa tak karuan yang kurasakan. Deg-degan, malu, dan juga bangga. Entahlah aku sampai tidak sanggup menjelaskannya dengan kata-kata.


Aku pun penasaran dengan apa yang kurasakan. Melalui hasil browsing dan googling, aku akhirnya tahu, mungkin aku cenderung memiliki sisi eksibisonis. Walau saat itu aku tidak parah banget eksibisionisnya. Aku tidak sampai berani menunjukkan kelaminku ke orang lain. Aku hanya merasa senang saat orang melihat keseksianku dan kecantikanku. Namun rasa ingin pamer itu semakin tumbuh hebat. Hari demi hari kulalui, aku pun semakin tertantang dan mulai berani melakukan hal diluar norma-norma yang berlaku. Aku semakin tergoda untuk melakukan eksibisionis yang lebih lagi. Hingga aku pun sampai ke titik ini.


Hasil dari "didikan" pacarku, ia semakin menggila dan mengikhlaskanku berhubungan badan dengan lelaki lain dan aku? Aku rupanya ketagihan sampai akhirnya aku memiliki fantasyku sendiri! Aku ketagihan kontol lelaki dan bercita-cita merasakan minimal 50 kontol lelaki yang bisa kupuaskan dengan kemaluanku. Aku bahkan sampai nekat "break" sejenak dari pacarku agar ia tidak merasa sakit hati dengan kenakalanku yang semakin menjadi. Selain itu, aku juga merasa pacarku sudah tidak bisa lagi memberiku kepuasan saat berhubungan badan. Terasa hambar dan tidak ada spesialnya. Berbeda saat aku digenjot lelaki-lelaki lain. Aku malah excited dan benar-benar terangsang berat hingga aku bisa mencapai kepuasan yang benar-benar aku inginkan.


Mungkin pembaca yang sudah baca ceritaku tahu bagaimana kelakuanku sehari-hari. Alat kelamin serta tubuh telanjangku sudah kutunjukkan ke banyak lelaki. Tubuhku pun sudah dinikmati oleh mereka. Entah sudah berapa kontol yang masuk ke dalam kemaluanku, aku tidak mampu mengingatnya. Aku juga resmi menjadi sex slave preman di sekolahku. Eh, tapi jangan cerita ke siapa-siapa ya soal kenakalan-kenakalanku ini? Janji? Biar saudara-saudaraku pas mudik taunya Echa masih perawan dan anak baik-baik. Hihihi"


Oke, kembali ke cerita mudikku,


Aku hari ini menggunakan kulot plisket berwarna cokelat muda. Bahannya adem karena tipis dan aku sadar betul garis celana dalamku nyemplak kalau pakai celana ini. Tetapi aku pura-pura tak menyadari hal itu. Untuk atasannya aku memakai kaos lengan panjang lumayan ketat berwarna navy yang menonjolkan payudaraku. Lalu untuk area kepala seperti biasa kututup rambutku dengan kerudung pashmina berwarna senada dengan celana kulotku.


"Rio sudah dikabari Cha kamu mudik hari ini?", tanya mama tiba-tiba membuatku menghentikan sejenak membaca manga hentaiku


"Eh sudah kok ma..", jawabku berbohong karena aku tidak cerita ke mama saat ini aku masih break dengan Mas Rio


"Tapi mama kok akhir-akhir ini jarang liat Rio ya?", tanya mama lagi


"Errr.. Masak sih ma? Mama aja kali yang jarang dirumah..", jawabku


"Lho mama jarang dirumah?", tanya papa tiba-tiba terkejut mendengar ucapanku


"Iya pa.. Mama sering tiba-tiba keluar rumah gitu cuma ninggalin secarik kertas buat Echa", jawabku


"Mama kemana???", tanya papa semakin penasaran


"Anuu.. Pa.. Hmmm.. Mama.. Itu.. biasa diajak jalan-jalan sama Ibu-Ibu RT", jawab mama gelagapan


"Jalan-jalan sama Ibu-ibu RT? Kapan? Papa kok ga pernah dapat info ya?", tanya papa lagi


"Errr Ya ga tau pa.. Mama kan Cuma ikut aja. Orang diajak masak mama tolak", kata mama


"Hmmm" Iya deh, lain kali mama cerita lah kalau mama keluar rumah"", kata papa


"Iya pa.. Lain kali mama bilang dulu ke papa", kata mama


"Oiya Ma, Mama tau Pak Robert? Yang rumahnya besar sekali diujung itu?", tanya papa lagi


"Eehhh?? I.. Iya kenapa pa?", tanya mama balik


"Kemarin papa ketemu Pak Robert pas papa ke tempat cucian mobil. Pak Robert Nanya mudik sampai kapan? Yaudah papa jawab mudiknya kurang lebih semingguan"", kata papa


"Ohhh.. iya? Terus?", tanya mama lagi


"Ya dia bilang nitip salam buat mama gitu", kata papa


"Ohhh.. I.. Iya salam balik pa..", jawab mama


Aku hanya mendengar dari belakang pembicaraan kedua orang tuaku. Pak Robert kalau tidak salah adalah salah satu pelanggan nasi goreng Mang Ujang. Mang Ujang pernah cerita beliau tinggal di rumah paling besar di ujung gang dan salah satu orang terkaya di perumahanku. Aku kalau tidak salah ingat pernah bertemu sekali dengannya. Namun aku lupa wajahnya karena saat itu malam hari dan hujan gerimis. Yang kuingat Pak Robert sepertinya berasal dari luar pulau karena logatnya berbeda dengan postur tubuhnya yang besar, tinggi dan kulitnya berwarna gelap.


*Coba aku cari tau tentang Pak Robert. Penasaran juga.. Kalau ga salah dia duda"", gumamku dalam hati


"Cha?", kata papa memanggilku membuyarkan lamunanku


"Eh iya pa?", jawabku terkejut


"Kamu yakin sama Rio? Dia habis ini lulus kuliah, dan kamu masih mau masuk kuliah. Kamu yakin? Masih lama lho nikahnya. Karena kamu harus lulus kuliah dulu baru papa bolehin kamu nikah", kata papa serius


"Hmm Echa jalanin dulu aja pa"", jawabku


"Iya terserah kamu, yang pasti papa Cuma nitip pesan jangan kebablasan. Kalau lama-lama pacarannya papa takutnya kalian kebablasan", kata papa


"Ngga kok pa.. Echa sudah gede tau mana yang bener dan ga bener"", kataku berbohong karena bagiku yang gak bener justru semakin menantang dan menyenangkan


"Ya udah papa percaya sama kamu", kata papa


"Iya makasih pa"", jawabku


Lalu keadaan kembali hening, mama terlihat lebih banyak terdiam sambil sesekali ia membalas pesan WA yang masuk ke handphonenya. Kulihat tangan mama juga terkadang meremas rok gamis yang dipakainya sambil kedua kakinya bergerak-gerak seperti menahan kencing. Aku jadi ingat tentang diriku sendiri, biasanya jika aku seperti itu aku sedang menahan gairah dan bingung cara melampiaskannya karena kondisi yang tidak memungkinkan.


*Ah apa yang kupikirkan?*, kataku dalam hati


"Pa, didepan nanti sekitar 5 KM an ada rest area berhenti dulu ya. Mama kebelet nih", kata mama tiba-tiba


"Eh mama kok tahu kalau didepan ada rest area?", tanya papa


"Errr.. Anu feeling aja pa"", jawab mama


Dan ternyata feeling mama benar, 5 KM kemudian kami melihat sebuah rest area yang lumayan ramai. Aku kagum bagaimana mama bisa tahu ada rest area disini. Padahal setahuku mama seperti aku, gaptek dan tidak bisa baca aplikasi peta dengan benar. Papa pun segera memarkirkan kendaraan dan mama buru-buru keluar dari mobil. Kupandangi mama yang semakin jalan menjauh sampai akhirnya mataku tidak bisa lagi melihat sosok beliau karena sudah menghilang diantara ratusan orang yang ada di rest area ini.


#


15 menit berlalu"


"Mama kok lama ya?", ujar papa mulai gelisah


"Ngga tau juga pa.. Mungkin masih antri", jawabku sambil scroll-scroll medsosku


"Iya tapi kok lama ya? Cha, coba kamu cari mamamu. Papa tunggu disini sambil jaga mobil", kata papa


"Iya pa", jawabku dan akupun turun dari mobil


Jarak toilet dan tempat parkir mobil papa ternyata jauh juga. Aku perlu berjalan melewati beberapa resto dan stand makanan yang ada di rest area. Banyak pemudik yang turun dari kendaraan sambil melepas lelah di rest area ini. Kulihat beberapa rombongan bus juga parkir dan beberapa orang yang kebanyakam pria turun dari sana. Wajah mereka terlihat capek, mungkin mereka sudah menempuh perjalanan jauh hari ini. Ada sih penumpang wanita, tapi aku lihat banyak diantara mereka yang tidak turun dan memilih menunggu di dalam bus. Mungkin karena cuaca juga lagi panas-panasnya sehingga mereka lebih memilih tetap di dalam bus yang ber-AC.


Kulihat beberapa pria yang turun dari bus berjalan beriringan denganku. Sepertinya tujuan mereka sama denganku yaitu pergi ke toilet. Disaat seperti ini, jantungku malah berdegup kencang karena membayangkan mereka sedang melihat dan mengikutiku dari belakang. Mungkin akunya saja yang terlalu parno tetapi itulah yang kurasakan saat ini. Apalagi aku menyadari celana kulot berbahan plisket yang kupakai lumayan tipis dan mencetak garis celana dalamku.


Sampai di toilet, ternyata memang benar suasana lumayan antri panjang. Tak kulihat sosok mama di barisan antrian yang mengular ini. Aku pikir mungkin mama masih ada di dalam salah satu bilik toilet atau mungkin juga sedang pergi ke salah satu stand makanan disana. Akhirnya aku memutuskan untuk antri saja disini sekalian buang air kecil.


Singkat cerita, akhirnya aku bisa masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Sebenarnya aku melihat tulisan toilet khusus wanita disana, tetapi ironisnya beberapa lelaki juga ikut menggunakan toilet khusus wanita tersebut. Tidak ada yang berani menegur karena memang antriannya sudah tidak kondusif dan lebih banyak pria yang mengantri untuk menggunakan toilet dibandingkan wanitanya. Karena kondisi ya kacau balau itu, aku pun memutuskan masuk ke dalam toilet pria saja, toh pikirku sama saja ujung-ujungnya di toilet khusus wanita juga pasti ada pria juga.


Ternyata di dalam, ruangannya cukup luas. Terdapat beberapa wastafel dan bilik toilet di dalamnya. Ada juga urinal closet berdiri yang hanya bisa ditemukan di toilet cowok. Dan yang bikin aku kagum, ternyata di sana terjaga kebersihannya. Tidak pesing dan bau seperti toilet umum pada umumnya.


Beberapa pria yang baru selesai buang hajat terkejut melihatku. Mungkin mereka heran mengapa ada cewek di toilet khusus pria ini, tetapi mereka lebih memilih mendiamkanku. Hingga selang beberapa saat, seorang lelaki yang terlihat alim memberanikan diri untuk menegurku


"Mbak maaf ini toilet khusus cowok", katanya dengan ramah


"I.. Iya mas" Tapi tadi saya lihat juga di toilet cewek banyak dipakai cowok mas.. Saking ramainya mas jadi orang-orang pada ngga tertib"", kilahku


"Hmm iya juga sih.. Yasudah kalau gitu mbak"", kata lelaki itu sambil meninggalkanku


Aku pun masuk ke salah satu bilik toilet dan menutup pintu. Tiba-tiba tercetus ide gilaku untuk tidak mengunci pintu toilet sehingga jika didorong sedikit saja pintu akan terbuka. Aku juga menyadari ada celah sekitar 1-2 cm yang terlihat jika aku tidak mengunci pintu. Celah yang sangat cukup dipakai untuk melihat ke arahku


"Uh sensasi mendebarkan ini, buat aku makin sange aja", ujar lirih sambil mengamati kondisi di luar bilik toilet dari celah pintu


Dari celah tersebut, aku melihat banyak lelaki yang lalu lalang di dalam ruang toilet besar ini. Kebanyakan mereka menggunakan urinal kloset berdiri karena lebih cepat dan praktis. Beberapa dari pria-pria itu juga terlihat berjalan melewati bilik toiletku begitu saja tanpa melihat ke arahku. Mungkin mereka mengira ada orang didalamnya karena kondisi pintu yang sedikit tertutup sehingga mereka memutuskan melewati bilik toilet tempat aku berada saat ini.


Aku semakin deg-degan saat mulai jongkok dan membuka celanaku dan juga celana dalamku hingga sebatas lutut. Cairan hangat kencingku mulai keluar perlahan.


*Currrrrr* bunyi gemricik air kencingku mulai terdengar


Kuatur sedemikian rupa tekanannya agar cairan kencingku tidak mengenai sandal dan celana dalamku yang hanya kuturunkan hingga lutut. Aku terus jongkok sambil mengawasi keadaan luar dari celah pintuku. Gila, kalau sampai ada orang yang melihat ke arah celah pintuku, pasti ia langsung bisa melihatku yang sedang jongkok buang air kecil.


*Jeglek* tiba-tiba bilik sebelah ku terbuka


Kulihat seorang bapak-bapak gendut berjalan membelakangiku. Mungkin ia yang baru saja keluar dari toilet sebelahku. Jika ia menoleh kebelakang, mungkin ia bisa saja melihatku yang sedang pipis ini. Bapak-bapak gendut itu kulihat mulai berkaca sambil membilas tangannya. Aku tertegun dan jantungku rasanya mau copot saat pria itu diam sejenak sambil memandangi pantulan kaca. Sepertinya ia menyadari celah pintuku. Untungnya tidak lama kemudian bapak gendut itu pergi meninggalkan toilet. Aku pun bernafas lega.


Lalu, seorang pria terlihat berjalan masuk tanpa menoleh ke arah celah pintu yang sengaja kubuka. Ia masuk di dalam bilik sebelahku dan terdengar suara ikat pinggang yang terbuka. Kudengar kucuran kencingnya yang deras mengguyur suara air di closet. Disaat seperti ini, aku malah ingat sosok Endrix dan teman-temannya saat mengencingiku di sekolah setiap hari selama waktu istirahat. Sensasinya yang luar biasa saat direndahkannya itu lho yang membuatku ikhlas saja diperlakukan seperti itu oleh Endrix. Aku bahkan sampai rela bawa tumbler besar berisi air mineral setiap hari untuk membersihkan tubuhku setelah gank sekolah itu selesai buang air kecil ke tubuhku


*Uhhh.. aku malah jadi bayangin kontol"*, kataku lirih dan tanpa sadar tanganku malah mulai mengucek kemaluanku


"SSSHHHH"", Aku mendesah perlahan saat kelaminku mulai kurangsang dengan jemariku sambil sesekali kutusuk dengan jari telunjuk dan jari tengahku


Tubuhku sepertinya merindukan masa-masa direndahkan oleh Endrix. Bayang-bayang perlakuannya kepadaku justru merangsangku saat ini. Kuingat-ingat betapa nikmat kontol Endrix saat menggaruk kemaluanku. Kuingat betul bagaimana rasanya menyepong kontolnya yang panjang melengkung bak pisang raja itu. Kuingat betul bagaimana spermanya yang hangat dan beraroma kuat itu mengguyur mukaku dan aku menyedot habis spermanya hingga habis tak tersisa dengan mulut serta lidahku.


Membayangkan hal itu malah membuat vaginaku banjir. Bukan lagi banjir air kencing, tapi kemaluanku itu saat ini banjir cairan birahi. Aku semakin semangat mengocok kemaluanku dan merangsangnya habis-habisan. Kurasakan vaginaku semakin berlendir hangat. Kurasakan juga cairan kental seperti sperma juga keluar dari kemaluanku dan jatuh menetes perlahan


"Ohhhh..", desahku nakal sambil melirik ke arah celah pintu dengan jantung berdebar-debar khawatir ada yang melihatku yang malah sedang masturbasi di rest area


*Gila, kenapa rasanya deg-degan parah gini sih" Bagaimana kalau beneran ada orang yang melihat ke arahku? Apa yang harus kukatakan? Oh iya mungkin aku bisa saja beralasan tidak tepat mengunci pintunya sehingga pintu tidak menutup sempurna* gumamku dalam hati


Aku semakin terlena dengan kenikmatan ini. Sensasi gila masturbasi dengan pintu yang sengaja dibuka sedikit di toilet cowok ini semakin membuatku horny saja. Desahanku rasanya semakin kencang saja. Seperti seekor kucing betina yang menggoda kucing jantan untuk mengajak kawin.


*Tit tit* suara notif WA dari handphoneku berbunyi


Aku lalu menghentikan masturbasiku dan memakai kembali celanaku segera. Kubuka handphoneku dengan buru-buru karena takutnya yang mengirim pesan ini papa atau mama.


"Lagi dimana lo?", tanya Endrix melalui pesan WA


Ah, aku lupa cerita ke Endrix kalau saat ini aku sedang mudik. Aku jadi takut dia marah karena tidak memberinya kabar sebelumnya


"Maaf tuan.. Lonte Echa sedang diperjalanan mudik"", jawabku


"Sialan lo, gitu lo gak ijin dulu ke gua. Gue sekarang lagi sange pengen ngajak lo ngentot. Lo itu milik gua jadi lo wajib ijin gua kalau lo mau kemana-mana. Paham lo?", ketik Endrix


"Maaf lonte Echa memang salah tuan"", jawabku


"Iya, sialan lo. Awas lo kalau pulang lo bakalan terima hukuman dari gua"", ancam Endrix


Aku tertegun membaca pesan Endrix. Entah hukuman apa yang akan ia berikan kepadaku nantinya. Memang ada rasa kesal di dada, tapi ya seperti yang sudah kubilang sebelumnya. Aku justru merasa semakin horny dengan perlakuan-perlakuan preman sekolah yang kini menjadi tuanku itu


*Tit tit* tiba-tiba hp ku bunyi lagi


"Lo dimana sekarang?", ketik Endrix lagi


"Ini masih di rest area tuan.. di dalam toilet", jawabku


"Bagus! kebetulan kalau gitu.. Lo selfie yang cantik dan kirim foto lo sekarang ke gua, gue sange tod", pinta Endrix


"Iya Tuan"", jawabku dan aku mulai memotret diriku beberapa kali dan kukirimkan kepada Endrix, tak lupa kuberikan senyum terbaikku untuknya


"Bego lo ngentod" selfie bugil lah. Lepas semua baju lo terus kirim ke gua", perintah Endrix lagi


"Eh.. Iya maaf tuan..", jawabku saat menyadari kesalahanku


Aku dalam hati bingung mengapa cowok suka sekali minta foto cewek bugil. Sudah ratusan foto mungkin kukirimkan kepada preman sekolah itu. Tetapi ia selalu minta lagi dan lagi. Padahal Endrix sudah sering melihatku telanjang secara langsung tapi tetap saja ia selalu memintaku foto telanjang. Mungkin ada kepuasan tersendiri baginya, saat aku menuruti semua perintahnya.


Aku pun memutuskan menuruti permintaannya. Toh pakaian yang kukenakan terbilang simple dan mudah memakainya. Kulepas kaos lengan panjangku dan juga sekalian bra ku. Kuturunkan kembali celana beserta celana dalamku sehingga saat ini tubuhku sudah telanjang bulat di toilet ini. Hanya kerudung pashmina dan sandal yang terpasang di kaki saja yang kini ada pada tubuhku.


Aku kembali berpose selfie bugil, kuarahkan kamera ke berbagai macam sisi dengan senyum terbaikku. Berbagai macam pose kucoba. Mulai dari meremas tetek, mencubit putting, menjulurkan lidah, pose saranghaeyo, pose 2 jari, memamerkan ketiak mulusku, dan juga foto dari bawah agar vaginaku terlihat seutuhnya


*Cekrik cekrik cekrik cekrik* beberapa kali kufoto diriku sendiri dan kukirimkan semuanya ke Endrix


"Anjing" lonte gua narsis bener, banyak bener fotonya, lumayan buat bacolan anak-anak gank" Heheheh" Btw lo masih ditoilet?", ketik Endrix


"Iya.. Tuaan" Terima kasih sudah jadikan lonte echa bahan coli temen-temen"", jawabku sengaja dengan ketikan manja


"Bagus Bagus! Gitu dong" Body bagus itu dipamerin saja gak usah sok ditutupin pake baju.. Hmmm" Sekarang lo gue kasih tugas bikin konten selama mudik", perintah Endrix


"Konten apa tuan?", tanyaku tak paham


"Konten bagi-bagi duit", jawab Endrix


"Apa?", aku semakin tak mengerti


"Berhubung lo gak tajir, gak mungkin lo bikin konten bagi-bagi duit. lo bikin konten bagi-bagi memek dan tetek aja ke cowok-cowok selama mudik!", kata Endrix


"Eh? Maksud tuannn???", Aku terkejut mendengar perkataannya walau sebenarnya aku paham arah kemauan Endrix


Ia pasti memintaku berbuat hal cabul selama mudik. Apakah aku harus memberikan tubuhku ke lelaki-lelaki random? Duh membayangkannya saja malah bikin aku sange. Terbayang sudah stamina pemuda-pemuda desa yang gemar bekerja. Pasti kontol-kontol mereka tahan lama. Tiba-tiba kemaluanku kedutan saat memikirkan bagaimana caranya aku melaksanakan tugas buat konten dari Endrix selama mudik ke kampung halaman. Disana pasti aku tidak bisa bergerak bebas karena ada keluarga, sepupu, saudara, om tante, dan pakdhe budheku


"Iya, walau lo mudik, memek lo ga boleh nganggur dan harus tetep menjalankan fungsinya sebagai toilet cowok", kata Endrix lagi


"Berarti Tuan ijinin lonte Echa dipake sama cowok lain? Tuan Gak cemburu??" tanyaku tak percaya


"Cemburu? Begok lo! Kalo gue cemburu lo ga bakal gue suruh sepongin kontol temen-temen gue. Lo itu cuma budak toilet buat gue. Lo gak usah ngerasa jadi cewek gue. Ngerti lo?", kata Endrix


*Isshhh.. Bukannya dulu dia nyuruh aku nembak dia biar jadi pacarnya ya?*, gumamku dalam hati


"Kok lama balasnya? Paham gak lo?", kata Endrix lagi


"I.. Iya Tuan.. Lonte Echa memang tugasnya jadi toilet"", jawabku


"Bagus.. Sekarang lo cari kontol sana yang mau pake memek najis lo. Jangan lupa kirim bukti ke gue, semakin banyak yang pake lo, semakin buktiin kalo memek lo ada gunanya. Awas lo kalau gak ngelaksanain tugas ini, lo bakalan gue ancurin!", kata Endrix sambil mengakhiri chat


Aku kembali bingung bagaimana aku melaksanakan perintah Endrix. Aku tidak sebebas saat di sekolah atau saat keluar rumah. Sedangkan di kampung nanti, tentu saja aku lebih banyak di rumah karena tidak punya kendaraan sendiri untuk kemana-mana. Bagaimana jika aku tidak menjalankan tugas ini? Hukuman berat akan menimpaku saat aku bertemu Endrix lagi. Membayangkan tubuhku akan kembali direndahkan oleh Endrix, tanpa sadar memekku malah mengeluarkan cairan encer dan bening yang lumayan banyak


*Currrrrrrr*, cairan itu keluar mnkubuang cairan mirip urine itu tepat di closet jongkok


"Aaaahhhhh". Enak".", desahlu saay


Sambil cairanku keluar, aku kocok klitorisku dengan cepat, sehingga air yang keluar dari kemaluanku muncrat kemana-mana. Tanganku pun juga kotor terkena cairanku sendiri. Kujilati jemariku dan kuludahi jariku sendiri sambil kembali kukocok area kemaluanku


"Ooohhh"", aku mendesah lagi menikmati masturbasiku


Aku semakin tergoda untuk melakukannya. Melayani lelaki random memang sensasinya berbeda. Tidak ada rasa canggung kalau harus bertemu lagi karena kemungkinan bertemu laginya juga kecil. Aku juga bisa dengan leluasa menunjukkan sisi binalku tanpa ragu.


*Tolong siapa saja perkosa saya" Aaaahhh"*, doaku dalam hati sambil terus mengocok memekku


Aku yang sudah terangsang berat kembali memainkan kemaluanku. Kukocok sambil kubayangkan diriku disetubuhi oleh seseorang. Tubuhku menggeliat nakal menikmati jemariku yang bergerak mengucek vaginaku. Bahkan saking berharapnya aku diperkosa, aku nekat melebarkan celah pintu dan sekarang malah terbuka setengahnya. Celah yang sangat cukup untuk melihatku sosok tubuh telanjangku


Aku kembali ngocok memek sambil melihat ke arah wastafel yang ada di luar. Terlihat jelas pantulan diriku dari cermin wastafel. Aku dalam hati terus berdoa agar seseorang mesum menemukanku dan memperkosaku. Kalau yang melihatku orang alim, aku hanya berdoa ia khilaf dan mau memperkosaku.


Aku sudah lupa tujuanku turun dari mobil itu untuk apa. Entahlah mama sudah balik ke mobil atau belum. Yang jelas, handphoneku belum bersuara jadi kusimpulkan mama belum balik juga.


*Siapa saja tolong perkosa saya.. Aaahhhh" Duh sange aku anjirrr pingin kontooooll" Memekku gataal.. Ouuhh*, pekikku nakall dalam hati sambil terus masturbasi


Suasana toilet memang sudah tidak se-lalu lalang tadi. Mungkin diluar juga para pemudik sudah banyak yang menuntaskan hajatnya jadi sudah sepi pula. Aku baru sadar ternyata di toilet cowok ini hanya tinggal aku sendiri. Suara kecapan memekku yang berlendir terlendir terdengar bergema. Aku pun juga mendesah mencoba cari perhatian.


"Aaaahhh.. Aaaahhhh.. Ouhhhh..", aku mendesah lantang saat kedua jemariku mengobok kemaluanku


Mataku kupejamkan agar lebih khusyuk ketika masturbasi. Kubayangkan kontol besar yang mulai menghajar kemaluanku. Tak lupa kumainkan juga payudaraku dengan cara meremas dan memainkan putingnya. Aku mendesah lagi dan tubuhku bergetar hebat. Perasaan tidak bisa nakal selama mudik mengganggu pikiranku. Aku pasti akan merasa tersiksa dan bosan betul kalau harus jadi "anak baik" selama di kampung. Aku harus cari cara agar meskipun mudik, tetap bisa memuaskan nafsu syahwatku.


"Nah kan.. Bener kan!", tiba-tiba terdengar suara lelaki yang begitu dekatku


Aku spontan membuka mataku dan terkejut mendapati dihadapanku sudah berdiri 2 orang pria. Seorang bapak-bapak yang kalau aku tidak salah ingat beliau adalah bapak-bapak yang tadi sempat berkaca di depan cermin wastafel, dan satunya lagi mas-mas bertubuh kurus, mungkin temannya.


"Saya tadi dengar suara kayak cewek merintih, saya kira ada setan, ternyata beneran ada setan. Setan jalang. Heheheh"", kata si bapak gendut


"Hehehe.. Tiwas saya sudah belajar jurus penangkal setan pak, ternyata setannya cantik, saya malah sange", kata temannya yang kurus sambil menyeringai


"Terus piye Hud? Kita tinggal, kita lawan disini, atau kita angkut aja setannya?", tanya si bapak tersenyum mesum kepada temannya yang dipanggil "Hud"


"Angkut aja pak biar aman", ujar mas-mas kurus


"Ja.. jangan saya sedang mudik pak sama ortu saya"", jawabku panik karena takut aku akan terpisah dengan orangtuaku dan dibawa oleh mereka


"Mudik? Kemana?", tanya si bapak gendut mengintrogasiku


"Ke Ambarawa pak"", jawabku


"Terus kenapa di toilet laki malah colmek? Pengen diperkosa ya? Heheheh"", goda si bapak lagi


"I.. Iya.. Pak.. Saya pingin diperkosa" Saya sange pak"", jawabku jujur dan nakal


"Hahahah.. Gadis jaman sekarang gini ya. Masih muda tapi nakal dan gak malu-malu mau. Saya suka.. Yasudah pake bajumu sekarang biar kamu kita perkosa di gudang, Kalau disini bisa gawat kalau kepergok orang", kata si bapak


"I.. Iya pak"", jawabku sambil aku kembali berpakaian


Lalu aku digandeng oleh si bapak gendut keluar dari toilet. Benar saja suasana sudah tidak seramai tadi. Parkiran juga mulai lengang. Aku sempat melirik ke arah mobil papa parkir dan ternyata ia masih ada disana. Iyalah, masak papa tega ninggalin anak gadisnya yang cantik di rest area. Nanti bisa-bisa masuk berita.


"Ijin ortumu dulu gih biar mereka ngga cemas nunggu kamu", kata si bapak gendut


"Ijinnya gimana pak? Ma, maaf ya lama ke toiletnya.. Aku mau diperkosa dulu Ma.. Hehehe"", imbuh si mas kurus


"Ide bagus itu Hud. Sapa tau mamanya sange juga minta diperkosa sekalian. Hahahah", timpal si Bapak


"Iya betul pak, terus papanya cuma bisa pasrah sambil ngocok lihat istri dan anaknya kita genjotin sampai memeknya belepotan peju", kata si mas kurus


Jujur saja aku tersinggung mendengarkan celotehan mereka yang bawa-bawa mamaku. Senakal-nakalnya aku, sosok mamaku itu berbeda 180 derajat denganku. Mamaku itu sosok yang sangat alim dan taat. Pakaiannya selalu syari" dan mama juga kadang-kadang suka datang ke pengajian. Berbeda banget deh sama aku?!


"Sudah ijin belum?", tanya si bapak lagi


"Eh iya" Sebentar", aku pun mulai mengetik WA ke papaku


"Pa, maaf lama ini Echa belum masuk toilet karena masih antri banget. Papa tunggu aja dimobil takutnya nanti mama juga nyariin. Mama belum balik juga ya pa?", ketikku


Beberapa detik kemudian papa membalas pesanku


"Waduh kok bisa mules kamu? Iya mama juga belum balik. Yasudah papa tunggu jangan lama-lama, keburu kemaleman nanti sampai sana", jawab papa dan aku pun menutup handphoneku


"Sudah ijin?", tanya si bapak gendut


"Sudah pak"", jawabku


"Ijin gimana? Bilang ke mamamu kalau kamu mau diperkosa dulu bentar? Heheheh"", goda si mas kurus


"Enggak mas" Saya ijin ke papa saya"", jawabku


"Oh terus papamu ngijinin kamu boleh diperkosa?", timpal mas itu lagi


"Iya..", jawabku singkat


"Heheheh.. yasudah yuk masuk dulu.", kata si bapak gemuk sambil ia buka kunci gudang di rest area ini


Gudangnya lumayan luas sebenarnya, terletak sedikit jauh dari lokasi rest area. Terlihat beberapa truk yang terparkir disana. Sepertinya truk yang biasa bongkar muat di sekitar gudang ini. Kami pun masuk kedalam. Ternyata suasana didalam terasa gerah sekali. Wajar saja karena memang tidak ada semacam alat pendingin udara sama sekali disini. Si Bapak gendut melengokkan kepalanya keluar sebentar. Sepertinya ia sedang memeriksa keadaan sekitar dan setelah dipastikan aman, ia pun menutup dan mengunci rapat pintu gudang.


Tubuhku digelendang masuk ke dalam gudang. Kedua lelaki itu tersenyum mesum memandangiku yang sudah bersedia diperkosa oleh mereka. Aku tersenyum kecut membalas tatapan nakal mereka yang sudah tidak sabar menikmatiku. Melihat senyum menyeringai mereka, aku jadi ingat Endrix. Preman sekolah itu memintaku membuat sebuah konten porno selama aku mudik. Ia memintaku tetap berperilaku bak wanita murahan selama pulang kampung


"Pak, saya ijin rekam buat konten ya pak... Wajah bapak dan mas masuk kamera gapapa ya?", kataku beralasan dan sepertinya mereka tidak keberatan aku rekam


Lalu aku meletakkan kamera ditempat yang pas agar bisa merekam semua aktivitas kami di gudang ini


"Nanti saya minta hasilnya kalau gitu" Waduh kayak di bokep-bokep Jepang aja. Heheheh".", kata si bapak gendut malah semangat


"Iya nanti saya kirim, Yasudah bikin opening dulu pak. Perkenalan dulu satu-satu", kataku dan aku pun memulai membuat opening video .


"Halo semua.. Echa kali ini lagi perjalanan mudik ke kampung halamannya mama. Ketemulah sama kedua lelaki ini dan" Aaaahh pak belum mulai pak"", protesku saat si bapak gendut mulai meremas payudaraku dengan gemas padahal aku belum siap


"Ngga tahan saya liat mbak"", kata si bapak sambil menarik kaosku dan mengangkatnya sebatas bra ku hingga dada dan perutku tersingkap


"Iya saya juga dari tadi pingin cium mbaknya", kata si mas kurus sambil ia mulai menciumi pipiku sambil tangannya menggerayangi tubuhku dengan nakal


"Aaahhh.. Masss" Perkenalan dulu.. Ouuuuhhhh" Pak" Ssshhh", aku malah dibuat sange duluan akibat ulah tangan mereka yang terus bergerak menyusuri permukaanbkulit tubuhku


Si bapak gendut mencium pundakku sambil tangannya menurunkan salah satu cup bra ku. Lalu tangan kasar itu mulai memilin putting susuku dan meremas payudaraku. Menerima rangsangan Aku semakin menggeliat tak karuan.


Otakku merespon tangan-tangan jahil yang meraba tubuhku penuh gairah itu dengan mengirimkan sinyal syahwat ke seluruh syaraf-syaraf sensitifku. Tubuhku menggeliat manja karena kegelian dan keenakan, lendir vaginaku juga keluar semakin deras membasahi hingga bibir kemaluanku.


Apalagi saat bibir bapak gendut itu sudah berada di puting susuku. Permukaan Lidahnya terasa kasar sekali saat menyapu daging kenyalku itu. Belum lagi bibirnya dengan berisik menyusu dan menyedot putingku dengan rakua. Aku mendesah keenakan, entah mengapa menyusui cowok-cowok itu terasa menyenangkan sekali. Lalu, Si mas kurus juga melakukan hal yang sama , ia turunkan cup bra ku yang satunya dan langsung melumat puting susuku sehingga kedua lelaki itu kini menyusu di putingku bersamaaan


"Ohhh mass.. pakkk" sssshhh.. Aaaahhhh..", aku mendesah menikmati sedotan mereka pada putingku


"Sluruppp Mbak usia berapa? Ssshhhh"", tanya si bapak


"Aaahhh.. bapak.. Aku 18 tahun. Enak pak terus jilat pentil akuhh"", ujarku manja sambil memegangi kedua kepala lelaki yang baru kutemui beberapa saat yang lalu itu


"Masih muda ya ternyata? Sudah ngerasain berapa kontol kamu?", tanya si Mas kurus sambil ia jilati putingku dan ia sedot kuat-kuat membuatku menggeliat hebat


"Mungkin sekitar 20 kontol mas" Aaaahhah"", ujarku nakal sambil mengingat-ingat jumlah lelaki yang pernah kulayani, yang tentu saja sebagian besar adalah gank preman sekolahku (mungkin akan kuceritakan di lain waktu bagaimana aku melayani mereka dan menjadi budak sex mereka).


"Anjirlaahhh.. Banyakan jumlah kontolnya daripada umurnya. Hehehe.. Gila cewek jaman sekarang rusak-rusak", kata si Mas kurus sambil kali ini melumat bibirku tanpa permisi


Aku berciuman panas dengan pemuda itu. Lidah kami saling melumat dan bertukar liur. Sementara si bapak gendut menciumi tengkuk leherku yang masih tersembunyi dibalik kerudung pashmina cokelat muda yang kupakai


"Kalau cewek cantik gini ya cowok-cowok mana mau nolak Hud" Bodoh banget cewek kayak gini gak disikat. Rejeki nomplok nih", timpal Si Bapak gendut sambil kali ini bibirnya sudah hinggap di pipiku.


Si Mas kurus terus menciumiku dengan liar. Lidahku tak diberinya kesempatan membalas lumatannya. Aku hanya bisa menjulurkan lidah dan membiarkan lidahnya menjilati lidah serta bibirku sepuas dia. Kurasakan si bapak gendut mulai melepas pengait braku di belakang dan menariknya lepas dari kaos lengan panjangku. Payudaraku pun akhirnya terlihat seutuhnya dihadapan kedua lelaki itu


"Mantab bener bodymu sayang".", kata si bapak gendut sambil meremas kedua payudaraku dan ia cium bibirku


"Ahh.. terima kasih bapak" Ssshhh"", jawabku sambil mendesis karena rabaan bapak gendut itu


"mmmphh.. Cuppp" Sshh.. Aahh.. Cupppp", si bapak gendut mulai menciumi bibirku


mulut kami saling beradu hingga menimbulkan suara yang lumayan berisik di gudang ini. Bibirnya dengan kasar menguasai bibirku. Ia hisap bibir atas dan bawah bergantian. Lalu ditutup dengan sedotan kuat pada lidahku.


"Oiya saya belum perkenalan, nama Saya Pak Udin, usia 46 tahun, sudah punya istri 1, mau nambah ga boleh sama bini, saya kepala gudang disini"", ujar si bapak gendut lagi yang ternyata bernama Pak Udin


"Kalau saya Huda, usia 32 tahun, saya staff gudang anak buahnya Pak Udin, belum nikah, pingin nikahin Mbak Echa biar bisa ngentot terus"", kata lelaki kurus yang ternyata bernama Huda


"Eh Enak aja kamu Hud. Saya juga mau nikah sama Mbak Echa kalau gitu biar bisa nanam benih terus", kata Pak Udin


"Ya udah kita kawinin bareng-bareng aja sekarang pak, Mbak Echa gak keberatan kan kita kawanin bareng-bareng?", tanya Mas Huda


"Iya bolehhh.. Kawinin aku mass.. Aku bersedia"", jawabku


"Ya udah buka bajumu dulu dong mbak"", pinta Pak Udin


"Saya buka semua ya pak baju saya"", ijinku dan aku mulai melepas sisa pakaian yang menutupi tubuh hingga menyisakan kerudung dan sandalku saja


86c16fac-d643-42ae-87ec-75e1156689ef.png


Pak Udin dan Mas Huda terpana melihatku yang sudah telanjang dihadapan mereka. Mungkin mereka memang sudah benar-benar tidak sabar mengawiniku sesegera mungkin saat ini. Kulihat jakun Mas Huda sampai naik turun memandangiku.


Pak Udin dan Mas Huda lalu juga menyusul melepasi semua pakaian mereka sehingga kami bertiga sudah telanjang bulat di ruangan pengap ini. Suasana menjadi semakin panas, tidak ada lagi pembatas diantara kami. Aku lalu diminta menciumi bibir kedua lelaki itu bergantian. Kali ini aku yang diminta mereka mencium bibir mereka. Aku mulai mencium bibi Mas Huda dan kulumat bibirnya. Ia pun tak mau kalah melumat bibir dan lidahku hingga menimbulkan suara decakan.


Setelah puas mencium bibir Mas Huda, aku lalu menolehkan kepalaku ke Pak Udin dan langsung kucium bibir pria gendut yang usianya sama dengan papaku itu. Bibirku diambil kendali olehnya. Aku justru yang semakin banyak menerima hisapan dan lumatan oleh bibir dan lidah Pak Udin.


Sambil kami bergantian berciuman bibir, tubuhku digerayangi oleh mereka berdua. Aku menggeliat kegelian karena tangan mereka begitu kasar dan memberikan rasa geli yang luae biasa. Pak Udin melumat bibirku dan Mas Huda mencupangi leherku yang masih tersembunyi di balik kerudung pashminaku. Beberapa menit kemudian gantian aku yang berciuman bibir dengan Mas Huda dan Pak Udin menjilati leherku.


Lalu Pak Udin mengangkat ketiakku dan ia ciumi ketiakku dengan penuh kenikmatan. Aku mendesah kegelian, namun desahanku cepat tenggelam karena bibirku dilumat lagi oleh Mas Huda.


Tanganku pun juga sibuk mengocok kedua kontol pria-pria itu. Kukocok dengan nakal dan perlahan, hingga batang kemaluan mereka menegang. Kuurut dengan khusyuk agar kontol mereka tetap berdiri maksimal. Lalu tangan Pak Udin mulai meraba dan mengucek memekku perlahan. Ia sudah tidak sungkan-sungkan mencabuli daerah kewanitaanku pribadiku dengan tangannya yang bertesktur kasar.


Aku mendesis kecil dan kubuka sedikit kakiku agar bapak gendut itu semakin bebas mengeksplore lubang senggamaku.


"Aaahhh.. Pak" Aaahh..", aku kembali mendesah karena tangan Pak Udin mulai mengucek klitorisku


Tubuhku bergetar hebat dan aku terus menggerakkan tubuhku dengan liar. Aku sampai meliuk-liukkan tubuh bak cacing kepanasan karena dirangsang begitu hebat oleh pria itu. Bahkan kali ini aku yang menggerakkan selangkangkanku ke jemari Pak Udin seolah memohon agar Pak Udin tidak berhenti mencabuliku


"Aaaahhhh Pak.. Saayaaaa keluaarrr" Aaahhh..", pekikku dan tubuhku sampai bergetar hebat karena tangan nakal Pak Udin yang terus mengocok klitorisku


"Srettt Srettt sretttt* aku pun squirt memuncratkan isi dalam kemaluanku


Cairan beningku itu menyembur deras seperti kencing dan kurasakan vaginaku kedutan setelah squirt pertamaku ini. Pak Udin memandangiku sambil tersenyum melihatku yang baru saja mencapai orgasme pertamaku. Tubuhku seketika lemas dan lunglai. Namun Pak Udin tidak peduli. Dia malah menjilati vaginaku yang barusan muncrat hebat. Dibasuhnya lendir-lendirku dengan lidahnya hingga bersih kembali. Jujur saja rasanya setelah aku orgasme, syaraf-syarafku lebih sensitif berkali-kali lipat. Tiap sapuan lidah Pak Udin terasa dari biasanya begitu geli menggelitikiku hingga kakiku bergetar tak karuan.


"Aahhh Pak.. Geli pak" Ssshhh"", aku bersuha menutup kemaluanku tapi tangan Pak Udin selalu menolak dan membentangkan kedua kakiku lebar-lebar


Akhirnya aku hanya bisa pasrah organ intimku dijilatin bapak gendut itu sepuas dia. Aku hanya bisa menahan mati-matian rasa geli yang melandaku. Seruputan bibir Pak Udin begitu terdengar berisik. Rasanya kemaluanku itu disedotnya kuat-kuat dan aku merasa semakin tersiksa. Setelah ia puas menyedot lendir kemaluanku, gantian pak Udin yang sepertinya minta kusedot kontolnya. Ia mengarahkan kontolnya ke kepalaku dan menario kerudungku sambil ditampar-tamparnya kontolnya lagi-lagi ke mulutku


"Sepong kontol saya mbak", kata Pak Udin sambil terus menampar wajahku dengan kontolnya.


"Iya pak..", aku tanpa bisa protes lagi langsung mendekatkan kepalaku dan mulai kusepong kontol Pak Udin yang ukurannya sebenarnya biasa saja. Bukankah aku yang tadi minta diperkosa? Seharusnya aku bisa lebih dari ini melayaninya. Kukuatkan tubuhku dan kucoba melayani mereka sepenuh hati. Layaknya seorang istri yang ingin memuaskan nafsu suaminya.


Kujilati batang kontolnya dan kuciumi kepala kontolnya yang sudah keras. Pak Udin mendongakkan kepalanya menikmati seponganku. Sementara di bawah sana, kepala Mas Huda sudah berada di selangkanganku. Ia jilati kemaluanku diciuminya vaginaku. Lidahnya menyapu area bibir vaginaku. Tubuhku bergetar hebat membiarkan orang asing itu menyapu area privatku


"Ohhh.. Mas" Enak" Terus jilatin memek aku"", pintaku manja sambil kubuka kakiku lebih lebar


Lalu kami berganti posisi, Pak Udin berdiri dan aku dalam posisi doggy style sambil mengulum kontol bapak gendut itu, sedangkan Mas Huda berada di belakangku sambil menjilati kelamin serta lubang anusku


"Oohhh.. Enak.. Aaahhhhh.. sluruppppp slurupppp", aku mendesah diantara seponganku


Seluruh batang kontol Pak Udin kujilati hingga mengkilap. Kepala kontolnya yang besar seperti jamur itu ku kecup dan kuludahi, lalu kembali kukulum penuh nafsu. Kunikmati betul-betul kontol pria yang usianya setara dengan papaku itu. Kontol hitam gemuk tebal lelaki gendut yang jauh dari kata tampan


*Plak plak plak* Suara tamparan keras pantatku oleh Mas Huda


"Bokong Mbak Echa sexy bener saya jadi ga tahan namparin bokong mbak", katanya sambil meremas kedua bongkahan pantat


"Iyah boleh mas, Mas Huda boleh lakukan apa aja ke aku"", jawabku dan kutunggingkan pantatku menggodanya


"Bener ya?", tanya Mas Huda


"Iyaaahh apapun itu terserah kamu mas"", jawabku nakal


"Aku ga sabar pingin entot kamu cantik", kata Mas Huda


Pemuda itu lalu mengarahkan batang kontolnya ke vaginaku. Aku mengucap syukur dalam hati akhirnya hari ini aku bisa menikmati kontol lelaki dalam kemaluanku. Bukan hanya satu, kemungkinan aku bisa mendapatkan dua sekaligus. Aku pun memasang posisi bersiap disetubuhi oleh pemuda kurus itu.


"Masukin ke memekku mas", pintaku manja dan tak sabar disetubuhinya


"Iyaa.. Ssshh..", lenguh Mas Huda saat ia mulai mendorong masuk batang kemaluannya yang sudah keras itu ke vaginaku


"Ohhh.. mas". Sshhh..", aku mulai mendesah saat kontol Mas Huda membelah lubang kemaluanku


Setelah masuk sempurna, Mas Huda mulai menggenjot lubang kelaminku. Temponya teratur dan jujur aku menikmati kontolnya yang bersarang di lubang kelaminku. Tiap gesekannya sungguh membuatku melayang, nikmat sekali. Aku sampai tak bisa berhenti mendesah saat kontol panjang itu maju mundur menggaruk dinding vaginaku


"Ohhhh Aaahh.. Mass.. Enak terusss mas" terusss"", desahku manja dan Mas Huda semakin semangat mengge jotku.


Digenjot oleh pemuda kurus itu, aku jadi ingat rasa kontol Mang Ujang. Iya, ukuran kontol mereka sangatlah mirip. Panjang namun tidak tebal, jadi saat kontol iti masuk, terasa mantab dan tidak menyakitiku sama sekali karena vaginalu tidak bersusah payah menyusaikan diameter kontolnya


"Ohhhh.. Enak mbakk.. Memek kamu enak.. Ssshh.. Sempittt angettt..", kata Mas Huda sambil merem melek menyetubuhiku


Aku sudah tidak bisa menjawab karena saat ini bibirku sedang sibuk mengulum kontol Pak Udin. Kujilati hingga buah zakarnyabyang hitam. Kujilati dan kusedot habis-habisan bagian bulat-bulat itu penuh nafsu. Pak Udin sampai gemetaran hebat saat bagian biji pelernya aku sedot dan kujilati tanpa rasa jijik


"AAAHHHH.. cewek sekarang pinter-pinter ngelayaninnya.. Ssshhh"", puji Pak Udin sambil membelai kerudungku


Kurasakan Mas Huda mencabut kontolnya. Lalu lelaki kurus itu berjalan mendekati handphoneku dan ia ambil handphoneku tanpa seijinku. Aku penasaran apa yang akan ia lakukan setelah ini.


"Buka bokongmu Mbak"", pinta Mas Huda


"Eh?? Buat apa mas???", tanyaku bingung


"Biar orang yang liat konten Mbak jadi tau bentuk detail lubang bokong Mbak Echa", kata Mas Huda dan aku pun mengangguk setuju


Pak Udin menjambak kerudungku agar aku tak berhenti menjilati batang kontolnya. Akhirmya aku harus menjilati kontol itu sementara di belakang sana Mas Huda tengah merekam lubang bokongku. Aku berusaha menjafa mati-matian keseimbanganku selama agar aku kedua tanganku melebarkan belahan pantatku. Mas Huda pun aku rasa bisa semakin leluasa merekam bagian tubuhku yang paling kotor itu


*Juh juh juh juh juh*, berkali-kali Mas Huda meludahi area lubang anusku


Liur Mas Huda terasa sedikit hangat saat mengenai lubang anus dan sebagian lainnya kurasakan mulai menetes turun mengenai vaginaku. Lalu Mas Huda jilati bagian itu tanpa rasa jijik sedikitpun.


"Ohhh.. Kotor mas disitu.. Ssshhh"", kataku sambil mendesis saat kurasakan lidah Mas Huda menyapu area lubang pembuanganku semakin intens


"Kalau cewek secantik kamu, gak ada bagian yang kotor sayang" Semua bagian tubuhmu wajib dicoba semua tanpa terkecuali termasuk lubang taimu ini", kata Mas Huda


Jari Mas Huda kemudian mulai bergerak mengitari lubang anusku. Ia gerakkan tangannya memutar, mengelilingi lubang itu secara perlahan. Lalu kurasakan jari lelaki kurus itu mulai ia masukkan pelan-pelan ke anusku. Kakiku semakin gemetaran saat jari kasar itu bergerak semakin masuk ke dalam anusku. Aku juga merasakan lubang bokongku jadi kedutan karena ulahmnya


"Aahhh.. Mas" Kamu ngapain.. Jangaan"", kataku manja


Mas Huda tidak menjawab dan ia lebih asyik mencabuli lubang anusku dengan tangannya. Kurasakan area itu semakin melebar saat dimasuki benda asing. Mungkin lubang belakangku itu sedang proses beeadaptasi. Lubangku juga terasa semakin licin dan Mas Huda mulai berani menggerakkan maju mundur jarinya merangsang lubang anusku


"Aahh.. Mas"", lenguhku pelan sambil menahan nafas karena bagian itu sama sekali belum disentuh lelaki manapun


Aku hanya bisa terdiam saja lubang pantatku dicabuli Mas Huda. Aku takut tangan Mas Huda jadi kotor, tapi sepertinya dia tidak keberatan bermain-main disana. Yasudah aku diamkan saja sambil kucoba menikmati ulahnya. Sensasinya terasa aneh dan unik bagiku. Timbul rasa ingin BAB, tapi malah terasa masuk kembali. Ah aku bingung menulisnya, yang jelas sensasi ini terasa berbeda dan baru bagiku


Mas Huda semakin berani dan kali ini bukan hanya satu jari saja, tapi dua jari sudah ia masukkan ke anusku. Aku sampai tak bisa konsentrasi menyepong kontol Pak Udin karena siksaan birahi di lubang anusku. Aku akhirnya berhenti menyepong kontol lelaki gemuk itu sambil kerudungku tetap di jambak Pak Udin agar kepalaku tidak jatuh karena tanganku tidak bisa menopang tubuhku karena sedang membuka belahan pantatku lebar-lebar. Pak Udin akhirnya hanya bisa tampar-tampar mulutku dengan kontolnya seolah sedang merendahkanku


"18 tahun sudah 20an kontol, umur 40 nanti, mbak Echa pasti udah nikmatin ratusan kontol kalau kayak gini caranya"", ledek Pak Udin sambil kontoonya ditempelkan ke hidung dan bibirku


Aku sudah tidak bisa menjawab omongan Pak Udin. Aku keenakan dengan tusukan nakal 2 jari Mas Huda yang sukses memberiku kenikmatan baru bagiku. Tubuhku menggeliat dan bergetar hebat, kurasakan vaginaku mulai banjir. Rangsangan ini semakin membuatku melayang, walau awalnya tidak nyaman tapi setelah beberapa saat perasaan itu berubah. Aku jadi menikmati dicabuli olehnya dibagian pembuanganku


"Gantian Hud, kamu rekam saya. Saya dari tadi dianggurin nih", kata Pak Udin kayaknya tidak sabar


Mas Huda yang hanya anak buahnya tentu saja mengalah . Pak Udin yang kali ini ada di belakangku. Kurasakan pria gendut itu mulai mengarahkan kontolnya ke lubang anusku. Aku panik dan terkejut ketika merasakan ujung kontol Pak Udin sudah berada di lubang anusku


"Bapak mau ngapain?", tanyaku ketakutan


"Mau anal kamu. Kamu mau kan?", kata Pak Udin


"Eh tapi saya belum pernah pak"", jawabku


"Oh saya dapat bokong perawan dong? Heheheh", goda Pak Udin sambil ia tempelkan kontolnya di lubang anusku


Jantungku berdebar-debar karena takut rasanya pasti amatlah menyalitkan. Lubang sekecil berkelahi dengam kontol. Uhh membayangkannya saja aku sudah tidak tega


Lamunanku terhenti karena kontol gendut Pak Udin mulai didorong ke arah lubang anusku. Aku terdongak dan tidak pernah kubayangkan akan disetubuhi dari belakang seperti ini. Aku meringis dan ingin sekali kuberteriak saat ini karena rasanya lumayan perih. Lubang sempitku itu dipaksa beradaptasi menerima kehadiran sebuah kelamin lelaki.


"Sakit pak" Aaaahhh"", rintihku sambil kupaksakan tubuhku untuk bertahan


"Iya masih perawan soalnya, lama-lama kamu akan keenakan dan ketagihan", bujuk Pak Udin


Kontol Pak Udin terus ia dorong dan lubang pantatku juga masih berusaha menyesuaikan diri dengan diameter kontol Pak Udin yang tebal. Pelan tapi pasti, batang kejantanan Pak Udin bergerak semakin masuk melubangi anusku. Aku semakin merintih dan rasanya jauh lebih menyiksa dibandingkan saat dicabuli dengan jari oleh Mas Huda tadi


"Oooohhhh" pakkkk.. Aduuhh.. Pelan pak.. Sshhhh"", aku meringis perlahan karena kontol Pak Udin semakin tertancap masuk ke dalam lubang pantatku


"Sempit bener lubang ee"mu mbak. Heheheh...", kata Pak Udin


*Ya iyalah lubang kecil gitu!", protesku dalam hati


"Sakit pak.. Aduuhhh.. Aahh"", aku kembali meringis untuk kesekian kalinya


Sementara itu Mas Huda merekam prosesi anal pertamaku itu. Ia rekam dari jarak dekat. Aku yakin rekamannya nanti akan menampilkan dengan detail bagaimana lubang anusku semakin menganga berusaha mati-matian menerima kontol Pak Udin


Sepertinya kontol Pak Udin sudah lumayan masuk cukup dalam di lubang anusku. Ia mulai bergerak maju mundur perlahan memberikan tusukan-tusukan di pantatku. Aku malah semakin terasa aneh dan ingin sekali buang air besar. Tapi tidak bisa, perutku rasanya seperti diaduk-aduk. Tubuhku melemas, aku hanya bisa mendesah dengan nafas yang semakin berat. Lubang anusku sudah benar-benar disetubuhi oleh bapak-bapak gendut itu


*Jlebb.. jlebbb.. jlebbbbb" jleebbb*


"Ohhh.. ohhh.. ohhhh.. Ahhhhhh.. Pakkkkk..", aku mendesah kesakitan


Sepertinya lubang anusku sudah menganga sehingga kontol Pak Udin mulai terasa menggenjotku semakin lama semakin cepat. Lubang pantatku terasa sudah senakin licin dan terbiasa sehingga kontol Pak Udin semakin leluasa menyetubuhi pantatku. Sensasinya benar-benar baru bahiku, yang tadinya aku kesakitan, sekarang aku malah semakin kelojotan keenakam disodok oleh Pak Udin


Mas Huda kemudian mendekati kepalaku dan ia jejalkan kontolnya ke mulutku. Aku mati-matian berusaha melayani kedua lelaki ini dengan adil. Kusepong kontol Mas Huda sembari aku dianal oleh Pak Udin. Mimpi apa aku semalam di perjalanan mudik ku ini malah diawali dengan anal


"Aaaahhh.. Saya mau keluarrr".", kata Pak Udin dan tidak berapa lama kurasakan bagian dalam pantatku terasa disembur cairan hangat


*Crot crot crot crot* lahar kental Pak Udin muncrat di dalam lubang anusku


Pak Udin langsung mencabut kontolnya. Setelah puas menganalku, Pak Udin meminta handphone yang dipegang oleh Mas Huda, sepertinya kali ini gantian Pak Udin yang merekam.


Belum selesai lubang anusku ngos-ngosan, kali ini ia harus dihajar kontol lagi. Tapi karena sudah beradaptasi ditambah sperma Pak Udin yang licin, kontol Mas Huda tidak kesulitan menembus pantatku. lubang anusku kali ini lebih mudah menerima kontol Mas Huda. Tanpa kesulitan kontol Panjang Mas Huda masuk ke dalam anusku. Aku kembali dianal untuk kedua kalinya.


*Jleb jleb jleb jleb*


"Ohhh Ohhh Mass" enak" aaaahh terus mass.. Aaahhh.. Jangan berhenti", rancauku keenakan


"Enak ya dianal?", goda Mas Huda


"Iyaaahh Enak.. Sodok terus masss.. ohhhh" oohhhh.. Bokongku milik kamu", desahku semakin menggila


Benar kata Pak Udin, yang tadinya awalnya sakit, kini rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat yang membuatku ketagihan. Aku sampai memohon seperti wanita murahan agar lelaki yang tak kukenal itu tidak berhenti menganalku. Kuakui kontol panjang Mas Huda terasa lebih mantab saat menghajar anusku. Gesekannya begitu nikmat menggaruk dinding-dinding lubang pembuanganku


"Aaahh enak mbak.. lubang tai mbak Echa enakk.. Aaahh.. Aaahh..", ujar Mas Huda semakin mempercepat sodokannya


"Iyaaahh.. Aaahhh.. kontol mas juga enak.. Terus sodok aku mas.. sodok aku mas" Aahhh.. Aahhh.. Sodok bokong aku terusss jangan berhenti"", pintaku manja sambil terus mendesah


Mas Huda semakin mempercepat sodokannya. Sepertinya ia semakin terangsang mendengar desahanku yang terdengar seperti cewek murahan. Wanita berjilbab mana yang bersedia dianal oleh lelaki yang baru dikenalnya. Mungkin bagi Mas Huda, aku tidak punya harga diri lagi. Tapi aku tak peduli. Sudah kuputuskan menjalani hidup seperti ini. Menikmati kontol para lelaki sebanyak-banyaknya. Bodo amat sama harga diriku yang seharusnya kujaga. Iya aku memang wanita murahan kok, aku akui itu dan aku menikmatinya!


Kurasakan tubuh Mas Huda bergetar hebat. Kontolnya kedutan di dalam lubang pantatku. Sepertinya lubang anusku harus menjadi pembuangan sperma bagi lelaki kurus itu. Benar saja, tiba-tiba Mas Huda berteriak lantang sambil mendesah


"Arrrgghhh keluaaarrrr", pekik Mas Huda


*Crot crot crot crot crot*, kembali pantatku disembur sperma untuk kedua kalinya


Tubuhku ambruk kehabisan tenaga. Rasanya lubang anusku saat ini bersimbah sperma. Cairan kental itu sebagian masih ada yang mengucur keluar dari lubang pantatku. Nafasku terasa berat, lubang pantatku terasa masih nyut-nyutan. Mas Huda pun mencabut kontolnya dan membiarkan sperma yang tadi disemburnya itu mengucur keluar


"Enak mbak dianal 2 kontol?", tanya Pak Udin


"Hah.. Hah.. Hah.. E.. Enak.. Pak"", jawabku tersengal-sengal


Kulihat Pak Udin meletakkan handphoneku ke posisi awal, ia kembali mendekatiku dan menelentangkan tubuhku di lantai. Tubuh gendutnya mulai menindihku. Ia cium bibirku sembari kontolnya ia arahkan ke vaginaku. Aku hanya bisa pasrah saat pria gendut itu mulai menusukkan kemaluannya ke lubang kemaluanku seolah aku adalah istri sahnya yang bisa dipake kapan saja.


*Blesss*


Ia mulai menggejot kemaluanku dengan tempo standar. Tidak cepat dan tidak terlalu lambat. Aku hanya diam mengangkang sambil memekku disodokinya. Kontol Pak Udin bergerak maju mundur menggesek alat kelaminku. Aku hanya memejamkan mata dan mendesah pelan karena sudah terlalu lemas. Tubuhku lebih berkonsentrasi ke lubang pantatku yang saat ini mulai terasa perih


"Aaahhh.. Bener Kata Huda.. Memekmu nikmat sayanh jepitannya mantab..", puji Pak Udin


"Terima kasih" Pak"", jawabku lemas sambil pasrah terus digenjotnya


Kedua kemaluan kami masih terus bersinggungan selama beberapa menit. Pak Udin menyetubuhiku dengan lembut. Kalau dibilang diperkosa, ini jauh dari kata pemerkosaan. Padahal aku ingin lebih dari ini. Tapi yasudahlah, mungkin staminanya sudah lumayan habis dipakai untuk anal tadi. Aku tidak boleh protes, dikasih kontol saja aku sudah bersyukur.


*Aarrrggghhh""


Kurasakan tubuh Pak Udin menegang dan bergetar hebat. Sepertinya ia akan klimaks lagi


*Crot crot crot crot*


Benar saja, setelah mengejang, Pak Udin menumpahkan spermanya ke dalam vaginaku. Lahar panas itu terasa sekali menembak dan muncrat di dalam rahimku. Untungnya, aku tidak lupa membawa obat anti hamil rekomendasi dari Anya sahabatku.


"Aahhh ngentot perek secantik kamu, jadi cepet keluar saya. Hehehe.. mantab enak banget tubuhmu sayang", kata Pak Udin sambil mencium bibirku


Setelah puas, Pak Udin mencabut kontolnya dan mengelapkan sisa spermanya yang menempel pada bulu jembutku. Pria gendut itu lalu terlihat kembali mengenakan pakaiannya. Sepertinya ia sudah cukup puas untuk hari ini. Aku pun juga ingat, sudan beberapa menit berlalu sejak aku dibawa ke gudang ini. Bagaimana kalau kedua orangtuaku sudah menunggu??


*tulilut tulilut tulilut* tiba-tiba handphoneku berdering


Aku tersentak dan buru-buru tersentak mengambil handphonekunya yang masih kupakai untuk merekam itu. Kulihat mama yang menelpon.


"Halo, Echa kok lama sih?? Kamu dimana?? Mama cari di toilet kok kamu gak ada????", tanya mama bertubi-tubi


"Eehhh.. Anu Ma" sebentar Echa masih beli minum. Habis ini Echa selesai Ma..", jawabku dan segera kututup teleponnya


"Mamamu ya?", tanya Pak Udin


"Iya Pak, saya sudah dicariin"", jawabku sambil tergesa-gesa memakai pakaianku yang sudah acak-acakan


"Yasudah kamu boleh pergi mbak" Saya sama Huda juga mau balik kerja", kata Pak Udin


"Iya Pak.. Saya balik dulu ya pak.. Terima kasih"", kataku


"Terima kasih untuk apa?", tanya Pak Udin


"Terima kasih sudah mau perkosa saya"", jawabku nakal


"Ah sialan, saya jadi sange lagi kamu bilang gitu. Anak sekarang nakal-nakal ya Hud?", kata Pak Udin sambil bertanya ke Mas Huda yang masih sibuk merapikan seragam kerjanya


"Iya pak" Nakal dan berani sekali. Hehehe.. Saya juga makasih Mbak Echa sudah mau dientot secara gratis..", kata Mas Huda


"Iya sama-sama Mas. Karena dimomen lebaran ini biasanya bagi-bagi THR, berhubung saya ngga kaya, saya xuma bisa bagi-bagi tubuh. Hihihihi", jawabku nakal


"Aduh kan jadi sange lagi saya Mbak Echa bilang gitu"", kata Mas Huda sambul diketawain oleh Pak Udin


"Sama Hud, saya juga sange lagi. Hehehe" Kita perkosa lagi aja ya?", goda Pak Huda


"Ayo pak, saya juga belum ngecrot di memeknya Mbak Echa", kata Mas Huda


"Ehh jangan bapak-bapak" Sudaahhh" Bisa-bisa saya ditinggal ortu saya kalau keasyikan layanin bapak-bapak", kataku panik


"Oh enak dong kalau Mbak Echa ditinggal, saya bawa Mbak Echa ke kontrakan saya biar bisa entot Mbak Echa sampai seminggu penuh


"Eeehhh jangan bapaaakkk.. ", jawabku semakin panik


"Hehehe bercanda kok mbak. Kapan-kapan kalau saya ke kota Mbak, ketemuan sama saya lagi ya. Saya mau entot Mbak Echa lagi" Belum puas nih", kata Pak Udin


"Iya boleh Pak" Ajak Mas Huda juga biar rame"", kataku


"Enak aja! ogah! saya mau dipuasin Mbak Echa sendirian, biar Mbak Echa bisa ke fokus ke saya aja", jawab Pak Udin


"Hihihi.. Yasudah saya pamit dulu ya pak. Yang semangat kerjanya", godaku


"Semangat dong kan sudah ngecrot 2x sama Mbak Echa. Heheheh.. Mbak Echa hati-hati ya mudiknya, di kampung jangan minta diperkosa juga lho", timpal Pak Udin


"Hihihi.. Wah mau deh kalau diperkosa di kampung, kontolnya pasti besar-besar dan keras"", jawabku sambil membayangkan hal itu benar-benar terjadi


"Duh susah nih lawan cewek sangean", ledek Mas Huda sambil mencubit pipiku


Aku pun pamitan dengan kedua pria itu. Sebelum pamit, Pak Udin meminta nomor handphoneku karena tadi aku sudah janji akan mengirimkan hasil konten yang kubuat kepadanya. Sekalian sewaktu-waktu mungkin bisa janjian untuk bertemu lagi. Aku pun memastikan agar ia tidak menyebarkan konten yang baru kami bikin itu. Ia juga sudah berjanji tidak akan menyebarkan konten itu ke mana-mana. Sama saja bunuh diri kalau ia sebar video tersebut karena di video itu dengan jelas ia tampilkan wajahnya, ia pun juga menyebutkan nama serta pekerjaannya


#


Setibanya di mobil, mama sudah memasang wajah sewot"


"Darimana aja sih kamu hampir 1 jam di toilet?", selidik mama


"Ya mama juga sama aja 1 jam lebih malah ke toiletnya, ini juga mama baru balik 5 menit yang lalu"", ledek papa sambil geleng-geleng kepala menepuk jidatnya


"Ehh.. Anu itu kan tadi mama masih rame-ramenya antri ke toiletnya pa", kilah mama


"Iya nih mama ga sadar diri juga daritadi Echa nyariin mama ke toilet ternyata mama juga ga ada? Mama kemana hayo?", balasku menggoda mama


"Anuuu.. mama tadi nyasar", jawab mama kikuk kebingungan


"Alasan aja mama ini. Yaudah ga usah dibahas lagi nanti papa emosi bawa mobilnya", kata papa


"Iya papa santai aja nyetirnya pa ngga usah emosi", pintaku


Kami pun melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman papa. Dalam hati aku senyum-senyum sendiri, tidak menyangka lebaran kali ini terasa begitu spesial bagiku. Aku pun tidak sabar menunggu apa yang akan kulakukan selama aku di kampung nanti. Akan terjadi apa lagi setelah ini? Kita tunggu saja di chapter selanjutnya


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Akhirnya Echa dan kedua ortunya tiba di kampung halaman. Terlihat sebuah rumah dimana papanya Echa menghabiskan masa kecil dan remajanya sebelum bekerja di kota seperti sekarang. Rumah yang sederhana, temboknya sebagian hanya berupa bata tanpa acian. Sebagian lainnya hanya berupa papan kayu yang disusun menjadi sekat pembatas antara ruang satu dengan ruang lainnya.


Di rumah tersebut, sudah ada keluarga besar dari Papanya Echa. Papanya Echa memiliki dua saaudara kandung, dan dia adalah anak terakhir dan termuda diantara saudara-saudaranya yang kesemuanya adalah laki-laki. Karena papanya Echa adalah anak terakhir diantara 3 bersaudara, itu lah sebabnya papa Echa bernama Ragil. Sekilas tentang keluarga dari Ragil si Papanya Echa


Kakak pertama bernama Jarwo, usianya jauh diatas Ragil yaitu 52 tahun. Jarwo adalah seorang duda yang diceraikan oleh istrinya karena ia kerap melakukan KDRT ke istrinya. Jarwo juga yang selama ini tinggal dan meneruskan merawar rumah peninggalan orang tua mereka. Ia kesehariannya bekerja mengurus ladang peninggalan ortunya. Walau begitu, Jarwo sebenarnya seorang yang pemalas. Mengurus ladang hanyalah kedoknya saja. Sebagian besar uangnya adalah hasil dari jual lahan ladang yang kini hanya tersisa beberapa meter persegi saja. Hasil jual tanah ia pakai untuk berjudi dan main wanita. Tubuhnya tinggi besar dan berotot, sangatlah pantas Jarwo juga dikenal sebagai preman kampung disana. Jarwo memiliki 2 orang anak hasil pernikahannya dengan mantan istrinya. Kedua anaknya bernama Agung dan Bahar yang usianya sudah 27 dan 29 tahun, kedua anaknya belum menikah walau usia mereka sebenarnya sudah cukup untuk menikah. Kedua anaknya sikapnya tidak jauh berbeda dengan Jarwo yang hobbynya menghamburkan uang dan pemalas.


Kakak kedua Ragil bernama Hardi yang usianya 47 tahun. Iya tinggal di ibukota dan menikah dengan seorang wanita cantik bernama Linda yang usianya 10 tahun lebih muda, yaitu 37 tahun. Hardi terbilang paling sukses dan paling kaya diantara ketiga saudara kandung itu. Omnya Echa wajahnya ganteng, berbeda dengan Jarwo yang wajahnya terkesan lebih angker. Kedua pasangan ini memiliki seorang putra tampan yang bernama Rendy. Ia terkenal playboy di kampusnya, usianya lebih tua 2 tahun dibandingkan Echa.


Sedangkan yang terakhir, Ragil papanya Echa, usianya 43 tahun. Kariernya tidak secemerlang Hardi, tetapi kehidupan mereka jauh lebih baik dibandingkan keluarga Jarwo. Ia seorang gila kerja yang kerap kerja dinas keluar kota meninggalkan anak istrinya. Ragil sosok yang takut dan begitu menghormati kakak pertamanya. Pengalaman masa lalunya yang sering dipukuli Jarwo begitu membekas membuat Ragil kerap tidak bisa menolak perintah kakak kandungnya itu hingga saat ini. Ragil memiliki Istri seorang wanita muslimah cantik bernama Alya. Seorang wanita cantik shalihah yang saat ini berusia 37 tahun yang selalu berpakaian menutup aurat dengan gamis syari" dan kerudung lebarnya. Kedua pasangan ini memiliki seorang anak gadis cantik berusia 18 tahun yang tentu saja pembaca sudah tidak asing lagi dengan sosoknya.


Echa dan kedua orangtuanya berjalan masuk ke dalam rumah, kondisinya tidak banyak berubah seperti tahun lalu saat terakhir mereka datang ke rumah itu. Hanya saja, beberapa tumpukan kerdus nampak memenuhi sudut rumah tersebut. Sepertinya kerdus-kerdus itu barang milik Jarwo yang belum sempat dirapikan. Di dalam rumah, kedatangan mereka langsung disambut dengan meriah oleh si tuan rumah yang Echa biasa memanggilnya Om Jarwo.


"Selamat datang adikku!!!!", kata Om Jarwo menyambut kedatangan Ragil sekeluarga


Echa melihat ke arah papanya yang hanya terdiam sambil tersenyum kecut saat menyalami kakak pertamanya itu. Om Jarwo menepuk-nepuk pundak papa Echa sambil sesekali memukul perutnya, walau maksudnya hanya bercanda tetapi pukulannya begitu serius.


"Aduhhh.. Hmm.. Sehat mas?", tanya papa Echa basa-basi


"Heheheh" Gimana bisa sehat, nasibku tidak sebaik nasibmu. Kamu tiap hari dapat susu yang bagus mangkanya bisa sehat seperti ini. Hahahaha", kata Om Jarwo sambil melirik ke Alya mama Echa


Ragil kembali tersenyum kecut mendengar perkataan kakaknya yang suka membandingkan nasib.


Lalu Om Jarwo hendak menyalami Mama Echa dan terlihat wanita bergamis syari" berkerudung lebar itu buru-buru mengatupkan tangannya tanda ia tolak secara halus ajakan bersalaman Om Jarwo. Om Jarwo menyeringai menyebalkan karena ditolak salamannya oleh Mamanya Echa.


"Aduh Alya, aku ini kakak kandung dari suamimu. Kamu masih saja tidak mau salaman denganku. Mana rasa hormatmu kepadaku Alya?", kata Om Jarwo ketus terlihat emosi


Papa Echa kemudian menyenggol tangan istrinya agar ia mau salaman dengan si Jarwo, kakak kandungnya. Alya menghela nafas dalam-dalam dan ia pun akhirnya bersedia bersalaman dengan Jarwo.


"Afwan mas"", kata Alya dan akhirnya ia ulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan kakak iparnya


Begitulah kejadian tiap tahun yang selalu terjadi. Perbedaan pendapat antara keyakinan Alya dengan keluarga besar Ragil tentang bersentuhan. Padahal Alya terlihat hanya berusaha menjaga dirinya agar tidak sembarangan bersentuhan dengan lelaki bukan mahromnya, namun suaminya seolah melupakan kewajiban itu dan memilih menyalahkan istrinya.


Lalu terlihat Echa mulai menyalami dan mencium tangan Om Jarwo yang wajahnya angker menakutkan itu. Tubuh Om Jarwo memang tinggi besar. Badannya gemuk tapi juga berotot sehingga kesan angker begitu melekat pada dirinya.


"Duh ponakan om makin cantik dan tambah gede aja.. Sudah punya pacar belom?", kata Om Jarwo sambil mencubit pipi Echa


Echa hanya tersenyum dan membiarkan om nya itu mencubit pipinya kuat-kuat hingga kemerahan


"Adduuhh.. Rahasia om"", jawab Echa tersipu sambil memegangi pipinya


"Hahahaha.. Anak muda pacaran itu biasa. Ga usah malu-malu Cha. Rendy aja sudah gonta ganti pacar dalam setahun ini", kata Om Hardi yang mendengarkan dari belakang


"Hehehe.. Yasudah ayo masuk dulu, kamarnya sudah saya siapkan"", kata Om Jarwo sambil memegangi pundak Alya seolah sedang menggandeng mamanya Echa itu untuk masuk ke dalam rumah


Terlihat Mama Echa begitu risih namun karena ia ingat suaminya meminta bersikap baik ke kakak pertamanya, mau tak mau Alya hanya diam pasrah pundaknya digandeng oleh Jarwo. Bukan hanya memegangi saja, Jarwo malah kini merangkul pinggang Alya. Echa yang berjalan di belakang mereka hanya tertegun melihat dari belakang sambil memandangi pinggang mamanya yang dirangkul oleh Om Jarwo


#


Beberapa saat telah berlalu, Jarwo, Hardi dan Ragil tampak duduk santai di ruang tamu sambil menikmati rokok dan secangkir kopi. Ketiga bersaudara itu saling bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Om Hardi bercerita tentang bisnisnya yang mulai merambak keluar negeri. Demikian juga papa Echa yang juga bercerita sering meninggalkan istri dan anaknya untuk bekerja dinas ke luar kota. Sedangkan Jarwo, ia tidak bisa bercerita apa-apa selain keadaan ekonominya yang sulit sehingga terpaksa menjual ladang peninggalan orang tua mereka. Hardi dan Ragil tidak masalah dengan itu. Karena memang ladang tersebut jatahnya Jarwo.


Pembicaraan kemudian menjadi lebih seru saat ketiga lelaki itu membahas istri-istri mereka. Terutama Jarwo yang sepertinya tertarik dengan Alya, adik iparnya yang selalu berpakaian tertutup.


"Alya istrimu makin cantik saja Gil"", puji Jarwo


"Terima kasih mas"", jawab Ragil papa Echa


"Hanya sayang"", kata Jarwo serius


"Kenapa mas?", tanya Papa Echa


"Kolotnya minta ampun. Masak salaman sama aku yang tak lain kakak kandungmu sendiri dia tidak mau? Aku tersinggung Gil! Kalau tidak ingat dia istrimu, sudah aku tampar wanita sok alim seperti itu. Kayak aku ini najis saja", kata Jarwo emosi


"Iya mas, nanti aku bilang ke istriku agar bisa lebih menghormati Mas Jarwo", kata papa Echa


"Iya, ajari istrimu itu sopan santun ke masmu ini. Aku benar-benar marah dengan istrimu. Awas saja dia", kata Jarwo


Ragil hanya terdiam. Ia tahu betul karakter mas kandungnya yang memang temperamental itu. Ia ingat saat masih kecil Jarwo setiap hari memukuli dirinya jika sedang marah. Saat remaja Jarwo pun pernah dipenjara karena melakukan penganiayaan ke temannya. Penyebab ia bercerai dengan istrinya pun sama, Jarwo kerap melakukan KDRT kepada istrinya.


"Sabar Mas Jarwo" Eh Gil, kamu kan sering dinas ke luar kota? Istrimu emang betah kamu tinggal terus?", Kali ini Hardi yang bertanya ke Ragil papa Echa


"Ya selama ini dia ga pernah protes mas"", jawab papa Echa


"Emang kamu ga curiga?", selidik Hardi


"Curiga kenapa mas?", tanya papa Echa


"Bisa saja Alya selingkuh kan? Karena dia sama sekali ngga pernah protes", kata Hardi


"Betul itu Gil, namanya wanita juga butuh"", kata Jarwo menambahi


"Aku percaya kok sama Alya mas.. Alya itu alim dan shalihah, aku rasa ia tidak begitu memikirkan kebutuhan nafsunya", jawab papa Echa mencoba bijak, padahal dalam hatinya ia mulai teracuni pikiran negatif kepada istrinya sendiri


"Kata siapa? Bisa saja ia tidak pernah minta jatah ke kamu, soalnya ia sudah dipuaskan sama laki lain. Bisa jadi kan? Heheheh", kata Jarwo sambil terkekeh


Ragil sebenarnya tersinggung dengan perkataan Jarwo. Bagaimana bisa kakak iparnya berpikir Alya yang kesehariannya alim dan shalihah itu selingkuh dibelakangnya. Tapi di hatinya yang terdalam, ia mulai bimbang. Bagaimana jika yang dikatakan kakaknya itu memang benar adanya?


"Hmmm kalau Linda ya Gil, istriku itu aku pulang telat saja sudah dicari-cariin" Kamu yakin istrimu ga mencurigakan? Karena dia sama sekali ga nyari kamu yang sering keluar kota", kata Hardi membuat keraguan papa Echa ke istrinya semakin tumbuh


"Ya, apalagi wanita secantik Alya istrimu, banyak lelaki yang akan mendekatinya bukan?", kata Jarwo membuat Ragil terkejut


"Kalau itu" Aku cuma bisa percaya sama Alya mas", kata Ragil lirih


"Permisi bapak-bapak.. Maaf mengganggu waktu ngobrolnya", tiba-tiba suara Alya terdengar


Ragil memandang penuh nafsu istrinya yang tiba-tiba muncul dari belakang. Tuduhan-tuduhan dari Jarwo dan Hardi kepada istrinya membuat Ragil mencurigai istrinya yang shalihah dan terlihat alim itu main dibelakangnya. Bayang-bayang istrinya selingkuh justru membuatnya kesal, cemburu, dan juga bernafsu. Apalagi Ragil merasa bongkahan pantat Alya dari balik gamisnya amatlah sexy menggoda saat ini, ia jadi semakin nafsu


"Pa, bumbu-bumbu dapur banyak yang habis. Anterin mama ya belanja bumbu buat masak", ajak Alya


"Ah iya yang tinggal disini cowok semua jadi gak pernah masak" Paling Cuma beli gula buat ngopi" Alya, saya antar saja ya? Heheheh", tawar Jarwo membuat Ragil terkejut


Alya pun sama terkejutnya mendengar penawaran kakak iparnya. Tentu dalam hati ia ingin tolak tegas tawaran itu, apalagi saat ini ada suaminya. Bagaimana pun Jarwo bukanlah mahromnya dan tidak sepantasnya ia berdua-duaan dengan kakak iparnya. Tetapi ia tidak berani protes lagi karena takut menyinggung suaminya dan hanya menunggu tanggapan suaminya.


"Kamu diantar Mas Jarwo aja ya Ma . Papa masih capek habis nyetir perjalanan jauh"", kata papa Echa membuat Alya kebingungan


"Capek ya papa? Errrr.. Ya udah kalau gitu pa"", kata Alya tertunduk


"Pinjem mobilmu dulu ya Gil" Heheheh", kata Jarwo kembali tersenyum mencurigakan


"Iya mas, ini kuncinya", kata Ragil menyerahkan kunci mobil sekaligus istri cantiknya kepada Jarwo


Jarwo kemudian menggandeng pinggang Alya dan masuk ke dalam mobil. Alya sebenarnya merasa risih saat ia digandeng seperti itu dihadapan suaminya. Tapi demi suaminya yang meminta ia lebih menghormati kakak iparnya, Alya akhirnya memilih diam. Apalagi, Alya tahu betul kelakuan Jarwo selama ini. Dan itu ia pendam selama bertahun-tahun. Ia rahasiakan semua dari suaminya karena ia tidak ingin hubungan suaminya dengan Jarwo kakak kandungnya menjadi buruk gara-gara dirinya.


Mobil pun mulai berjalan menjauh meninggalkan rumah, tetapi bukan pasar yang mereka tuju. Jarwo malah kemudikan mobilnya ke arah jalanan yang sepi. Sebuah jalanan di hutan terpencil yang jarang dilewati orang karena aksesnya yang tidak nyaman.


"Kamu tambah cantik sayang"", kata Jarwo sambil membelai pipi Alya


"Mas.. jangan" Akuuu", kata Alya lirih mencoba menolak namun Jarwo tetap memaksa


*Plakkk"* tiba-tiba Jarwo menampar pipi Alya


"Jangan sombong kamu Alya.. Sekarang kamu tau tugasmu kan?", kata Jarwo


"Mas.. Ampun" Aku salah"", ucap Alya ketakutan


"Yasudah aku maafkan" Sekarang kamu puaskan aku", pinta Jarwo


"Mas tapi.. sebentar lagi buka"", kilah Alya mencoba membujuk kakak iparnya


"Aku sudah pingin sayang. Kita jarang sekali bertemu"", kata Jarwo mulai mengecup bibir Alya tidak sabaran


"Mas" Mpphh"", kedua pasangan bukan mahrom itu mulai berciuman panas di dalam mobil


Lalu Jarwo menurunkan jok kursi Alya dan juga kursi kemudinya agar lebih leluasa. Sebagian tubuh Jarwo menindih Alya sambil ia gerayangi tubuh Alya yang masih berbalut gamis lengkap. Tangan kasarnya bergerilya meraba tubuh sexy Alya yang masih terbungkus gamis syari"nya. Terasa empuk dan kenyal bagian payudara wanita berkerudung lebar itu. Alya mendesah tertahan saat tangan kakak iparnya sudah gerilya di kedua gunung kembarnya. Terlihat sekali betapa Jarwo sangat bernafsu menggerayangi tubuh istri adik kandungnya itu. Mungkin karena ia sudah memendam hasratnya terlalu lama karena mereka jarang bertemu.


"Gak pake BH ya kamu? Dasar lonte sok jual mahal"", kata Jarwo sambil meremas kencang payudara Alya


"Aaahhhh mass" Sshh..", desis Alya mulai menikmati tangan Jarwo yang terus meraba tubuhnya dengan kasar


Setelah puas tangan Jarwo bergerak meyusuri kaki Alya dan ia singkap rok gamis Alya hingga menampakkan sepasang kaki mulus tanpa cacat milik wanita syari" itu.


"Mas Jarwo" Belanja dulu mas" Aaahhh" Aduhh", Alya tak kuasa menahan desahannya karena Jarwo terus meraba tubuh Alya penuh nafsu


"kamu butuh bumbu kan? Bumbu yang rasanya asin gurih kental? Ayo kamu keluarin dulu dari kontolku sayang. Bumbu yang kamu sukai ini. Heheheh" Bumbu peju favoritmu.. Heheheh"", kata Jarwo sambil ia keluarkan kontolnya untuk dinikmati adik iparnya


Alya tanpa diminta langsung mengocok dan mengulum kontol kakak kandung suaminya. Jilatan wanita berjilbab lebar itu terlihat sangat lihai. Lidahnya bergerak lincah menyapu kepala kontol Jarwo, sambil sesekali ia ludahi kontol hitam milik Jarwo sebelum ia lumat lagi benda berwarna kecokelatan itu. Kepalanya juga terlihat begitu khusyuk maju mundur saat mengulum batang kejantanan Jarwo. Sepertinya Alya memang sudah terbiasa mengulum kontol Jarwo selama ini.


"Aaahhhh.. Seponganmu luar biasa Alya" Tak disangka wanita alim sepertimu bisa begitu liar menjilati kontolku..", kata Jarwo sambil membelai kerudung lebar Alya


Alya tidak membalas perkataan Jarwo. Ia lebih memilih fokus merangsang kemaluan kakak iparnya dan berharap sperma Jarwo segera keluar dan perzinahan ini bisa segera selesai sesegera mungkin. Mengingat sebentar lagi waktu berbuka dan ia tidak mau meja ruang makanan nantinya kosong tidak tersaji makanan sama sekali disana.


"Aaahhh.. Enak sayang.. Kamu memang layak jadi lonte.. Ssshhh.. Mana memekmu Alya, Aku kangen sama memek kamu"", Kata Jarwo


Alya kemudian menarik lepas celana dalamnya dan kemudian ia berpindah tempat ke tempat kursi kemudi dan duduk diatas tubuh besar Jarwo. Alya memegangi tubuh Jarwo dan ia arahkan sendiri kontol kakak iparnya masuk ke dalam alat kemaluannya. Tubuh sexy berbalut pakaian syari" itu mulai bergerak perlahan naik turun menggoda. Sesekali pantatnya bergoyang nakal diatas tubuh hitam Jarwo. Tidak sulit kemaluan wanita shalihah itu ditembus, karena daritadi alat kelamin Alya sudah banjir.


"Kamu ngapain Alya? Bukannya bersentuhan bukan mahrom itu gak boleh? Heheheh.. Sekarang kamu malah sentuhin memek kamu ke kontolku"", goda Jarwo sambil menampar pelan pipi Alya


"Afwan mas" Tadi Alya cuma ingin tetep terlihat alim di depan suami Alya"", kata Alya menyadari kakak iparnya masih sakit hati dengan sikapnya tadi


"Ohhh.. aku tahu.. kalau bersentuhan tangan gak boleh? Kalau bersentuhan kelamin baru boleh? Gitu ya Alya? Hahahahah"", ledek Jarwo


"Bu.. Bukan gitu.. mas.. Aahhh.. Aahhh..", jawab Alya tersipu sambil mendesah keenakan karena kemaluannya terus kena sodok kontol Jarwo dari bawah


"Lihat istrimu Ragil.. Istrimu yang kelihatannya alim itu ternyata seorang lacur yang suka kontol" Hahahahah.. Parah kamu Alya.. Ya udah lanjutkan ngentotnya Alya. Pakai kontolku buat muasin memek lacurmu", kata Jarwo sambil melucuti kancing gamis Alya hingga kedua payudara Mama Echa menyembul keluar


"Iya afwan Mas Jarwo.. Aku ijin ngentot pakai kontol Mas Jarwo"", kata Alya mulai bergerak naik turun semakin mempertemukan kemaluannya dengan kemaluan mas iparnya


"Hahahah" Iya goyang yang enak.. Pelacur" Aaahhh.. Nakal ya kamu Alya"", kata Jarwo sambil menikmati goyangan Alya adik iparnya.


"Iyaahh.. Mas.. Aaahh.. Aaahh" Aahh..", desah Alya dalam posisi Women on Top


"Aaaahhhh.. Kamu makin pintar sayang" Sssshh.. Ohh.. Jepitan memekmu hangat Alya" Tidak percuma aku puasa crot 1 bulan penuh menunggu momen ngentot sama kamu sayang".", kata Jarwo sambil meremas kedua payudara Alya yang sudah menggantung bebas menggoda mata Jarwo


"Aaahhh.. Mas Jarwo" Sssshhh.. Jangan lama-lama keluarnya aku harus masak mas".", rengek manja Alya


"Iya tergantung goyanganmu sayang, makin enak, aku makin cepat crot", kata Jarwo


Mamanya Echa itu semakin bersemangat bergoyang diatas tubuh kakak iparnya. Kudua kelamin pasangan bukan mahrom itu saling bertemu dan saling bergesekan penuh kenikmatan. Kontol besar Jarwo terasa begitu nikmat saat menggaruk bagian dalam kemaluan Alya yang akhir-akhir ini memang ketagihan kontol.


Semua kegilaan Alya dengan Jarwo ini bermula saat diam-diam Jarwo memergoki Alya tengah masturbasi di kamar mandi beberapa tahun yang lalu saat lebaran. Memang kamar mandi di rumah itu sangatlah sederhana. Tembok yang hanya berupa papan kayu yang disusun membuat beberapa bagian pada dinding kayu itu memiliki celah yang lumayan renggang dan bisa dipakai untuk mengintip. Sengaja Jarwo membiarkan celah-celah lubang itu agar bisa ia pakai untuk mengintip ke dalam kamar mandi. Sengaja pula ia tidak lekas membetulkan pintu kamar mandi yang tidak bisa dikunci agar bisa dibuka semau dia. Sampai pada akhirnya, dari kejadian itulah Jarwo mulai merasa memegang kartu As Alya dan menjadikan adik iparnya itu pemuas nafsunya.


Duda cabul itu selalu meminta jatah ke adik iparnya diam-diam tanpa sepengetahuan suami Alya. Bahkan ia sering datang ke kota diam-diam hanya untuk menikmati tubuh adik iparnya itu. Tentu saja ia tidak mau keluar uang sepeserpun saat menemui Alya. Jarwo meminta Alya yang menyiapkan uang transport dan juga hotel tempatnya menginap. Alya pun mau tak mau menuruti permintaan kakak iparnya dengan mencarikan hotel tempat dimana mereka akan bersenggama dan ia dengan sukarela melayani kakak kandung suaminya itu


Jarwo merasa beruntung karena bisa berhemat karena tidak perlu menyewa pelacur lagi demi menyalurkan hasrat seksnya. Kebutuhan syahwatnya bisa terpenuhi dengan baik oleh pelayanan seks gratis dariadik iparnya yang cantik bak bidadari surga. Ia benar-benar tidak menyangka, adik iparnya yang terlihat shalihah dan alim itu ternyata tak lebih dari seorang pelacur gratisan yang bisa dipakai semaunya.


Bagaimana bisa seorang wanita alim seperti Alya suka masturbasi? Bagaimana bisa Alya yang shalihah itu menjadi wanita yang gemar berzina. Apa yang sebenarnya terjadi?


#


Alya, sosok istri Ragil adalah wanita yang sempurna. Wanita yang selalu berpakaian syari" kemana-mana dan selalu menutup auratnya dengan totaliltas. Hijab panjang dan gamis syari selalu ia pakai menemaninya beraktivitas sehari-hari. Ia juga selalu menjaga pandangannya dari lawan jenis, menjaga jaraknya dari lelaki bukan mahrom dan selalu hadir dalam beberapa kajian yang rutin di kota tempat tinggalnya. Sosok Ukhti muslimah layaknya bidadari surga kalau orang menyebutnya.


Jika tidak mengenal Alya secara dekat, tidak akan ada yang menyangka wanita cantik berkerudung lebar itu sudah berusia 37 tahun. Penampilannya masih terlihat seperti seorang gadis yang usianya 20an. Karena itu banyak ikhwan yang suka melirik kepadanya saat ada kajian.


Alya yang sudah bersuami sejujurnya memiliki hak mendapatkan kepuasan batin dari suaminya. Tetapi karena suaminya suka dinas ke luar kota, ia jadi tidak bisa memenuhi kebutuhan biologisnya. Betapa selama ini ia mencoba tahan nafsu syahwatnya mati-matian. Ia alihkan nafsunya dengan berbagai kegiatan positif untuk mengisi kesehariannya. Tetapi benar kata orang, semakin ditahan semakin kepikiran. Ia juga terlalu malu minta duluan ke suaminya jika suaminya di rumah. Takut mengganggu waktu istirahat suaminya yang sebagian besar ia habiskan di kota lain.


Ia pun akhirnya coba-coba melihat film porno dan bermasturbasi membayangkan siapapun yang ia mau untuk melepaskan dahaga berjima"nya. Awalnya ia mencoba bermasturbasi membayangkan suaminya. Tetapi justru ia kurang bergairah dan kurang terangsang. Ia justru bergairah masturbasinya saat membayangkan pria lain. Ia bayangkan suami orang, ia bayangkan ikhwan yang pernah taaruf dengannya, bahkan ia juga suka bayangkan ustadz favoritnya. Jika sudah membayangkan ikhwan lain, ia justru mendapatkan kepuasan masturbasi


Kebiasaan masturbasinya justru membuat nafsu Alya tidak terkendali. Setan semakin sukses menggoda bidadari surga itu. Alya semakin terjatuh dalam lubang penuh nista. Keimanannya menghilang begitu saja saat seseorang menawar tubuhnya. Alya yang tergoda mau-mau saja, dan ia pun benar-benar jatuh ke pelukan lelaki lain. Bukan hanya sekali ia lakukan perselingkuhan, tetapi berkali-kali, bukan hanya dengan 1 pria saja, tetapi dengan banyak pria.


Berawal dari masturbasi, jadi penasaran dengan rasa yang asli. Pak Robert, lelaki terkaya di tempat tinggalnya itulah yang berhasil menggoyahkan imannya. Mulai dari chat basa-basi biasa kepada istri Ragil itu, hingga menjurus ke chat mesum, kirim-kirim pap, sampai lelaki kaya itu berhasil menggoda Alya dengan foto kontolnya yang besar, panjang, dan hitam. Alya yang digoda seperti itu awalnya malu tetapi ia pun kepikiran dan membayangkan bagaimana rasanya disetubuhi kontol seperkasa punya Pak Robert. Alya malah sering masturbasi sambil membayangkan kontol Pak Robert yang besar itu menyetubuhinya.


Hingga akhirnya lelaki kaya itu berhasil membeli tubuh Alya. Keimanan wanita alim itu kandas seketika saat Pak Robert iseng menawarnya dengan iming-iming uang 50juta jika ia mau menemaninya tidur semalam. Alya tidak menyangka tubuhnya ditawar setinggi oleh Pak Robert. Wanita cantik itu mulai bimbang, tidak pernah ia berpikir mendapatkan uang bisa semudah itu. Hanya menemani tidur saja bukan?


Kondisi Keuangan keluarga yang timbul tenggelam ditambah memiliki suami yang dirasanya kurang bisa memberinya kehangatan membuat Alya tidak bisa berpikir jernih. Ia pun akhirnya mau saja saat ditawari sejumlah uang oleh Pak Robert si duda kaya mesum itu. Perzinahannya dengan Pak Robert pun terjadi malam itu. Semalaman mereka berzina, mulai pukul 18.00 hingga pukul 03.00 shubuh. Itulah saat pertama kalinya Alya merasakan kontol pria lain. Uang 50 juta langsung dibayar tunai oleh Pak Robert malam itu setelah ia semburkan spermanya ke memek gadis berjilbab lebar itu sebanyak 5x malam itu. Walau Alya sempat berjanji untuk tobat dan tidak mau melakukannya lagi, tapi tetap saja bujuk Rayu Pak Robert berhasil melenakan dirinya. wanita berjilbab lebar itu melakukannya lagi dan lagi dengan Pak Robert dan Alya resmi menjadi pemuas nafsu duda kaya itu.


Setiap kali Alya melayani Pak Robert, Alya diberi uang 1 juta. Uang yang sangat cukup untuk keperluan belanja Alya sehari-hari. Kadang Alya juga dikasih uang lebih jika wanita berjilbab lebar itu bersedia melayani kemauan Pak Robert yang semakin menggila diluar nalar. Pak Robert kerap mengajak teman-temannya untuk menikmati tubuh indah wanita berpakaian syari itu. Bukan hanya temannya saja, tapi juga warga perumahan lainnya sering diundang Pak Robert untuk menikmati tubuh Alya. Pernah juga Pak Robert meminta Alya datang saat ronda malam para bapak-bapak, dan disana Alya bersedia disetubuhi di pos ronda hingga pukul 3 pagi.


Tentu saja kejadian itu menjadi rahasia bersama para peronda dan juga warga. Selama rahasia tetap terjaga, Alya tetap ditugasi Pak Robert menghibur mereka agar tidak ngantuk selama berjaga. Jika dalam seminggu Alya lebih rajin melayani kemauan dan nafsu Pak Robert, maka uang yang didapatnya juga akan semakin banyak. Alya pun mulai menikmati pekerjaan barunya. Menjadi seorang lonte dibalik gamis syari"nya. Hingga tanpa sadar, pendapatannya sebagai lonte jauh lebih besar daripada 1x gaji sebulan suaminya.


Bahkan saat perjalanan mudik hari ini, ia sempatkan bertemu Pak Robert karena duda cabul itu mengiming-imingi Alya THR. Lelaki cabul itu sampai benar-benar niat menyusul mobil Alya demi menikmati tubuh mama Echa itu sebelum lebaran tiba.


Pak Robert berjanji akan memberi Alya 10 juta jika Mamanya Echa itu bersedia menemuinya di sebuah rest area. Alya pun menyanggupinya, dengan nakal ia sengaja berselingkuh saat perjalanan mudik bersama suami dan anak kesayangannya. Bagaimanapun hasrat Alya juga ingin dituntaskan sebelum ia harus libur panjang berzina dengan Pak Robert.


Tetapi, rupanya Pak Robert tidak sendiri saat menemui Alya. Ia membawa ketiga temannya yang juga berasal dari timur. Wajah tegas mereka dengan tubuh-tubuh besar perkasa para lelaki itu membuat Alya akan berakhir dengan kondisi tubuh lemas siang itu. Alya yang nafsunya sudah memuncak, justru tergoda melayani mereka.


Alya akhirnya mau disetubuhi bergantian dalam keadaan mobil yang berjalan perlahan di sepanjang jalan tol oleh Robert dan ketiga temannya. Mobil Alp**rd hitam yang sudah dimodifikasi sisi kursi belakangnya menjadi sebuah kasur yang nyaman menjadi tempat berzina Alya dan keempat lelaki dari wilayah Timur itu.


Didalam mobil besar itu, tidak akan ada yang menyangka terjadi perzinahan yang begitu gila. Dimasa mendekati lebaran, seorang wanita cantik berhijab lebar dan berkulit putih mulus sedang digagahi bergantian oleh para lelaki perkasa yang kontolnya panjang-panjang Berwarna hitam. Mereka juga yang sudah membuang BH Alya ke jalan tol saat mereka menyetubuhi mama Echa itu. Alya digilir bergantian oleh mereka, vagina wanita berjilbab lebar itu sudah menjadi tempat pembuangan peju para lelaki kulit hitam yang gagah perkasa. Tubuh Alya benar-benar menjijikkan kondisinya setelah disetubuhi oleh mereka. Tubuh yang seharusnya terjaga itu bermandikan sperma, tidak hanya pada vaginanya, namun juga pada lubang analnya. Aroma parfum segar yang dipakai Alya sudah hilang, berganti aroma peju busuk yang berasal dari vagina dan juga lubang anusnya.


#


Membayangkan kegilaannya tadi selama bersama Pak Robert dan teman-tamannya di jalan membuat gairah nafsu Alya semakin menjadi. Setan apa yang merasuki wanita shalihah itu. Ia kini bergoyang nakal menikmati kontol kakak ipar yang dibencinya. Sosok lelaki yang tadi ia tolak jabat tangannya, kini malah ia nikmat batang kontolnya. Wanita berpenampilan alim itu terus mendesah, bergoyang nakal sambil meremasi kedua payudaranya yang sudah keluar dari gamisnya yang terbuka


"Bagus sekali Alya. Aku tahu wanita alim sepertimu juga butuh kontol. Puaskan birahimu sayang. Puaskan pakai kontolku Alya" Aaaahhh.. Aaahhh" Pasti adikku itu tidak bisa muasin kamu", ceracau Jarwo melihat adik iparnya menggeliat bak cacing kepanasan


"Iyaahhh.. Mas.. Puaskan aku mas" Pakai kontolmu yang besar ini"", pinta Alya sambil membelai bulu dada Jarwo yang rimbun


"Hahahah" Dasar kamu ini binal sekali.. Ayo goyang yang bener, ulek kontolku pake memekmu Alya" Memohonlah kepadaku agar aku mau kasih kontolku setiap saat untukmu", kata Jarwo sambil memelintir puting susu Alya dengan kasar


"Aaaaaahhhh maassss". Kontol.. kontol.. kontolll Mas Jarwo enak banget.." Ijinkan aku bisa menikmati kontol mas Jarwo setiap saat". Memek aku suka kontol mas Jarwo"", kata Alya mejggoda


"Heheheh.. Bagus.. Yasudah nikmati kontolku Alya.. Mumpung aku lagi baikk.. Tapi cium aku dulu dong..", kata Jarwo


Alya lalu mendekatkan bibirnya dan kedua pasangan bukan mahrom itu kembali berciuman panas sambil terus bersetubuh. Ciuman yang benar-benar ganas penuh nafsu hingga liur mereka menetes-netes. Tidak nampak sama sekali pemaksaan yang terjadi, yang ada terlihat jelas mereka melakukannya suka sama suka


Mobil itu bergoyang-goyang jika dilihat dari luar. Namun tidak ada yang melihat karena situasi yang memang sepi. Perzinahan panas yang terjadi antar ipar itu sudah diluar batas. Pertemuan kelamin mereka sudah tidak terhitung berapa kali jumlahnya. Ada kesempatan, mereka akan ngentot dan ngentot. Seolah mereka adalah sepasang suami istri yang sah yang sudah berpisah begitu lama.


"Aarrrrghhhh" Aku mau ngecrot Alyaaa"!!!", pekik Jarwo dan Alya buru-buru turun dari kursi


*Crot crot crot crot crot*


Muslimah cantik itu jongkok diantara selangkangan Jarwo dan ia biarkan wajah cantiknya disembur sperma Jarwo yang kental dan hangat itu. Semburannya tidak lah sekali, namun berkali-kali, karena duda cabul itu sudah menahan crotnya selama 1 bulan lamanya.


Setelah Jarwo selesai mengeluarkan semua spermanya, barulah Alya jilati kontol Jarwo hingga bersih, sebelum ia bersihkan wajahnya sendiri yang belepotan sperma


"Terima kasih Alya.. Tidak salah kamu jadi adik iparku. Heheheheh.. Ada gunanya, aku jadi tidak perlu repot-repot cari istri lagi buat melayaniku", kata Jarwo dan ia pun mulai menyalakan mesin dan mengantarkan Alya ke pasar dalam kondisi wajah muslimah cantik disebelahnya glowing terkena sperma busuknya.


#


Sementara itu disebuah pinggiran sungai yang mengalir di desa itu, Echa sedang asyik berkumpul dengan ketiga sepupunya yaitu Rendy, Agung, dan Bahar. Rendy adalah orang kota sama dengan Echa. Sedangkan Agung dan Bahar adalah kedua anak Jarwo yang tumbuh besar di desa itu. Mereka duduk di bebatuan besar dengan aliran sungainya yang tidak deras dan juga terlihat dangkal karena bagian dasar sungai sampai terlihat saking beningnya sungai tersebut.


Rendy asyik dengan kameranya. Ia abadikan beberapa spot pemandangan yang baginya menarik. Beberapa kali pula ia memotret Echa secara candid. Diakuinya, wajah Echa yang cantik sangatlah layak masuk ke dalam frame kameranya. Ia memang dari dulu hobby fotografi, itulah mengapa Rendy kemana-mana slalu membawa kamera


Padahal Echa saat itu tengah sibuk dengan handphonenya. Jemari lentiknya terlihat bergerak lincah mengetik pada layar sentuh handphonenya. Sesekali Echa terbelalak matanya saat membaca pesan di HPnya.


"Dimana lo?", tanya Endrix


"Ini lonte Echa sedang di desa tuan..", jawab Echa


"Lo lagi ngapain? Colmek?", kata Endrix


"Ngga tuan, Lonte Echa masih main sama sepupu-sepupu", jawab Echa


"Main? Ngentot maksud lo? Sepupunya ada berapa yang cowok?", tanya Endrix lagi


"Bukan tuan.. Ini jalan-jalan aja di sekitar sungai.. Ada 3 tuan cowok semua"", jawab Echa


"Ah gak seru, coba lo ngentot sama sepupu lo sendiri baru itu seru. Heheheh"


Echa terhenyak saat membaca pesan dari Endrix. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan harus bersetubuh dengan sepupu-sepupunya sendiri. Karena bagaimanapun Echa harus tetap menjaga imagenya sebagai seorang gadis baik-baik di keluarga besarnya


"Sekarang gue kasih lo tugas, lo godain sepupu lo agar mereka sange liat lo. Gue pingin tau mereka bisa ngentotin lo gak. Kalau mereka mau ngentotin lo, lo harus mau soalnya lo kan lonte gratisan", perintah Endrix


*Apaaaa?* Echa berteriak dalam hati membaca perintah yang diluar nalar itu


"Tapi tuann..", Echa mencoba negosiasi tapi sepertinya percuma, ia tahu betul sebusuk apa hati Endrix


"Ngga ada tapi-tapian! Jangan lupa kirim bukti foto dan video ke gue. Awas lo kalau bandel gak taat sama gue. gue hukum lo!", pungkas Endrix


Tidak ada yang tahu, gadis cantik itu sedang galau saat ini Karena Endrix tuannya meminta Echa melakukan hal cabul dengan sepupu-sepupunya. Ia bingung, karena selama ini mereka tumbuh bersama dan sudah seperti kakak adik. Jadi terasa aneh saja kalau Echa harus melakukan hal cabul dengan sepupu-sepupunya.


"Echa cheeersss..", kata Rendy tiba-tiba sambil mengarahkan kameranya beberapa kali ke Echa


"Eh Ren jangan difoto aku belum mandi", kata Echa sambil menutupi wajahnya


"Jangan ditutup kali Cha wajah lo, gue cuma mau foto wajah cantik lo aja buat koleksi gue", kata Rendy


"Iya deh tapi jangan diposting kemana-mana, malu aku jelek gini belum mandi", kata Echa sambil kali ini biarkan Rendy memotret wajahnya beberapa kali


"Sekarang senyum dong Cha.. Masak muka lo daritadi tegang bener", kata Rendy


"Aku tegang karena preman sekolahku nyuruh aku aneh-aneh Rendy"*, jawab Echa dalam hati


"gini?", kata Echa sambil ia pasang senyumnya yang manis


"Nah.. Perfect!", jawab Rendy


*Cekrik cekrik cekrik cekrik* Endrix mulai memotret dari berbagai angle.


"Eh Cha lo inget gak dulu kita pernah mandi bareng-bareng di sungai ini?", kata Agung tiba-tiba


"Ehhh.. Masak sih?", tanya Echa pura-pura karena ia tiba-tiba mengingat hal yang memalukan waktu kecil


"Aahh.. Lo mah pura-pura.. Baju kita sampai basah semua.. Terus akhirnya kita pulang telanjang. Inget gak lo?", kata Bahar mencoba menerangkan


"I.. Iya aku ingat kok.. Dah ah jangan dibahas malu tau aku", jawab Echa tersipu


"Masak sih lu malu? Bukannya lu dulu biasa aja ya?", gods Agung


"Ya kan masih kecil" Gimana siiihh"", elak Echa


Mereka pun tertawa terbahak-bahak sambil mengingat beberapa kejadian lucu waktu mereka kecil dulu


"Iya gue liat punya lo waktu itu gundul Cha" Hehehe", kata Agung


"Betul, mana teteknya belum tumbuh lagi. Hahahaha", imbuh Bahar


"Eh Cha, punya lo masih gundul gak sih?", goda Rendy tiba-tiba


"Ehhh apaan sih kok malah bahas punya aku? Punya kalian gimana kabar?", tanya Echa malah nantangin


"Gue bukain nih buat lu? Mau liat lu?", tantang Rendy


"Lu juga mau liat punya gue ga Cha? Gue bukain buat lu nih. Tapi gantian ya? Kita juga liat punya lu?", kata Agung semangat


"Yeee maunyaaa" Enggak ah.. Takut", jawab Echa manja


"Takut napa lo? Dulu aja lo berani liat punya kita-kita", tanya Rendy


"Ya dulu kan punya kalian masih imut".", kata Echa


"Emang kalau sekarang gimana?", goda Agung


"Amit Amit" Hihihi", jawab Echa


"Eh tapi waktu lo dah gede lo pernah liat kontol gak sih Cha?", tanya Rendy sambil ia sudahi kegiatan fotografinya


"Ya ampun Rendy kok nanyanya gitu sih", kata Echa


"Ya kan gapapa Cha kita udah dewasa juga", kata Rendy


"Hmmm.. Iya sih, kalau gitu kamu dulu deh yang cerita. Kamu pernah liat punya cewek belum Ren?", tanya Echa balik


"Pernah lah. Berkali-kali.. Heheheh", kata Rendy


"Dasar Playboy" Wajar sih kamu ganteng soalnya.. Kalau kalian?" tanya Echa ke Agung dan Bahar


Kedua kakak beradik itu menggeleng bersamaan


"Pernah, cuma lewat bokep aja Cha"", jawab Agung disambut anggukan Bahar


"Ya elah" Emang kalian ga pernah liat punya pacar kalian?", tanya Rendy


"Hehehe.. Kita Nggak pernah pacaran", jawab Agung dan Bahar bersamaan sambil nyengir


"Alamakkk" Gak laku lo pade? Wkwkwkw", kata Rendy sambil menepok jidatnya


"Enak aja Gue nyari yang modelan Echa gini. Gak mau gue nanggung-nanggung"", kata Agung membela diri


"Jiahhhh ya udah kita jadian aja mas", goda Echa


"Mau"", jawab Agung manja


"Gue juga mau".", kata Bahar adiknya tak mau kalah


"Ngimpi terus lo pade.. Eh kalau lo gimana Cha?", tanya Rendy lagi


"Apanya?", tanya Echa malu-malu


"Pernah liat kontol cowok gak lo?", tanya Rendy


"Errrrr" Pe.. Pernah sih"", jawab Echa tersipu akhirnya ia mengakui dirinya tidak sealim itu


"Waahhh Echa nakal juga yaa.. Punya sapa Cha?", tanya Agung dan Bahar bersamaan


"Dih malah penasaran kalian..", jawab Echa


"Hayo punya sapa Cha?? Santai aja kali ga usah malu-malu", goda Rendy kali ini


"Errr.. punya cowokku.. sama".", kata Echa terhenti, ia tidak yakin apakah ia harus sejujur itu menyebutkan kontol siapa saja yang pernah dilihatnya


"Sama siapa?", tanya mereka bersamaan


"Enggak.. anu.. pemain-pemain bokep. Hihihi", jawab Echa akhirnya


"Hah?? Lo suka bokep Cha? Waaahh Echa bener-bener nakal ternyata"", kata Rendy lagi


"Errr" Diajak cowokku sihh liatnya..", jawab Echa seolah melemparkan semua dosanya ke pacarnya


"Habis liat bokep lanjut ngewe ya?", tanya Rendy lagi


"Paan sih Ren kepo bener kamu" Hihihihi" Dah sana nyebur sungai kalian", kata Echa mencoba menyelimurkan pembicaraan


"Huh Ga Asik! Ok kita nyebur tapi kamu juga nyebur ya? kita renang bareng disungai kayak dulu?", usul Rendy kemudian


"Wah boleh juga tuh", kata Bahar


"Ehhh? Aku ga bawa baju ganti Ren"", kata Echa


"Lo kan bisa pakai BH dan celana dalam doang? bajunya lo taruh sini", pancing Rendy sambil tersenyum mesum


Sepertinya Rendy menyadari gelagat binalnya Echa. Ia yakin betul sepupunya itu tidak sepolos wajahnya. Apalagi setelah Echa mengakui pernah nonton bokep sama pacarnya. Ia yakin Echa sudah tidak perawan saat ini. Ia berniat membujuk Echa tidak perlu malu-malu mengakui kemesuman dirinya kalau ia memang mesum.


"Apa?? Aku malu Ren"", kata Echa masih ragu


"Gapapa kali Cha, dulu kita biasa main air di sungai bareng kan? Masak lo gak mau ngulang saat-saat itu? Mumpung lo lagi di desa nih", bujuk Agung kali ini


Echa terlihat bimbang, sebenarnya ini adalah kesempatan baginya untuk menyelesaikan tugas dari Endrix untuk menggoda para sepupunya. Tetapi akal sehat Echa masih berusaha bertahan dan ia tidak ingin saudara-saudaranya tahu betapa cabul dan mesum dirinya di balik wajah polosnya. Echa tetap ingin dipandang sebagai gadis baik-baik oleh mereka


"Udah gapapa ga usah malu, nih kita juga cuma sempakan", kata Rendy sambil menunjukkan tonjolan batang kemaluannya yang terlihat jelas di balik celana dalam yang dipakainya


"Ya Ampun!", pekik Echa


Mata Echa semakin terbelalak mendapati para sepupunya sudah bertelanjang dada dan hanya menyisakan celana dalam saja. Tidak ada lagi belalai gajah imut seperti masa kecil dulu, kini ketiga saudaranya sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa. Tonjolan selangkangan mereka sudah besar-besar membuat Echa tersipu malu saat tanpa sengaja mrmandang ke arah selangkangan sepupunya. Ditambah tubuh Agung dan Bahar yang terlihat atletis malah sempat membuat Echa terkesima.


Pemuda desa memang terlihat berbeda dan punya karismanya sendiri. Fisik mereka begitu ditempa sehingga menghasilkan postur tubuh yang gagah perkasa. Sedangkan Rendy sebenarnya juga bagus posturnya dan memang wajahnya yang ganteng membuat Echa sampai salah tingkah. Echa mengakui betul Rendy yang tampan begitu mempesona dihadapannya.


"Ayo sini Cha!", kata Rendy sambil menyipratkan air ke tubuh Echa sehingga baju Echa malah basah


"Eh bajuku jadi basah tau!", protes Echa sambil menghindari cipratan air yang dikirimkan Rendy


"Ya udah sini turun! Buka bajumu biar gak basah. Kalau kamu disitu malah kita basahin nih", ancam Agung sambil menyipratkan air lebih banyak ke arah Echa


"Ehhh jangan! Iya aku turun!", kata Echa pada akhirnya


Setelah meyakinkan dirinya, Echa akhirnya memberanikan diri untuk melepas pakaiannya bersama ketiga sepupunya. Gadis cantik itu kini hanya memakai kerudung, bh, celana dalam serta sandal jepit saja didepan sepupunya. Mata mereka sampai tak bisa berkedip menatap kemolekan tubuh Echa yang sudah tumbuh dewasa itu. Echa dalam hati berdoa semoga tempat mereka berada saat ini tidak didatangi orang lain.


Penampilan Echa sungguh berani, ketiga sepupunya tidak menyangka Echa bakalan seberani itu mandi disungai hanya dengan menggunakan bra dan celana dalam saja. Yang membuat lebih menakjubkan, Echa tidak melepas kerudungnya sehingga penampilan gadis itu sangat diluar norma yang ada. Tidak ada lagi payudara rata seperti milik Echa waktu kecil, yang ada saat ini tersaji pemandangan payudara Echa sudah begitu sexy sempurna terbungkus bra warna kremnya. Buah dadanya memang tidak begitu besar, tapi justru sangat ideal dengan postur tubuhnya yang mungil. Ketiga lelaki itu sampai menelan ludah berkali-kali membayangkan payudara Echa jika tidak ditutup BH seperti apa bentuknya.


"Ehhh jangan dilihatin!", protes Echa sambil ia tutupi tonjolan payudaranya


"Bagus bener tetek lo Cha.. Penasaran nih sama isinya. Heheheheh", ujar Agung mesum


"Yee maunya.. Yaudah mau liatin aku apa main air nih?", goda Echa


"Dua-duanya.. Sambil berharap liat pentil lo", kata Agung disambut tawa Rendy dan Bahar


"Dasar kalian mesum!", kata Echa


Singkat cerita akhirnya mereka bermain-main air di sungai itu. Mereka saling mencipratkan air dan saling mengguyurkan air satu sama lain sambil mengenang keseruan di masa kecil. Canda tawa riang gembira terdengar disana. Rendy juga mengabadikan momen seru itu dengan kameranya. Diam-diam Echa selalu menjadi modelnya. Gadis itu tampak mempesona saat tertawa lepas sambil bermain air bersama saudara-saudaranya. Rendy sampai terkagum menyadari pesona senyuman Echa yang semakin menawan saat diabadikan dalam sebuah kamera. Ditambah lagi sepupunya itu saat ini hanya mengenakan bra dan celana saja tanpa menutup tubuhnya sehingga keseksian dan keindahan gadis itu begitu menakjubkan.


Tanpa mereka sadari,beberapa orang yang melewati sungai turut serta memandangi tingkah mereka dan memutuskan duduk-duduk pula di sekitaran sungai. Beberapa orang berdecak kagum memandangi Echa yang setengah telanjang disana. Beberapa lainnya hanya geleng-geleng kepala sambil mencari tempat untuk mulai duduk mengelilingi keempat remaja itu.


Mungkin mereka tidak habis pikir seorang gadis berkerudung bisa main air di sungai hanya menggunakan bra dan celana dalam saja. Tetapi mereka mencoba memahami, mungkin orang kota sudah biasa seperti itu.


Tidak perlu waktu lama tubuh Echa sudah basah kuyup. Sebagian rambutnya juga sudah acak-acakan keluar dari sela kerudung yang dipakainya. Belum lagi bra dan celana dalamnya yang sudah basah sedikit mencetak bagian tubuhnya. Ketiga cowok itu memandangi bulu kemaluan Echa yang terlihat samar-samar dari celana dalamnya yang sudah basah.


"Udah gak gundul nih Cha memekmu?", goda Rendy memandangi selangkangan Echa


Echa yang menyadari kemaluannya sedikit terlihat langsung menutup erat-erat bagian privatnya itu dengan kedua tangannya. Semua orang disana tertawa melihat tingkah Echa yang polos menggemaskan. Tidak disangka suasana sungai justru semakin ramai saja. Mereka turut serta duduk-duduk di sekitar sungai demi melihat "pemandangan indah" yang jarang mereka temui


"Cha jadi ramai nih mereka kayaknya pingin liat kamu deh", goda Rendy


"Masak sih Ren? Ngawur kamu", kata Echa ketakutan sambil melirik ke arah orang-orang yang memang kesemuanya berjenis kelamin lelaki sedang memperhatikannya


"Hehehe wajar Cha disini jarang ada yang bening kayak lo", kata Bahar membujuk Echa


"Iya jadi kalau lihat cewek kayak lo mereka pasti ngiler tuh", kata Agung


"Lo tunjukin dikit lah Cha ke mereka keindahan lo", goda Rendy


"Eh gimana caranya?", tanya Echa bingung


"lo jadi model gue", kata Rendy sambil menunjukkan kameranya


"Errr" aku malu Ren"", kata Echa lagi


Echa takut keberadaan mereka akan mengganggu warga desa. Echa juga takut melanggar norma-norma yang ada pada desa itu jika terlalu berani tampil sexy di sana. Padahal para pendudul desa sebetulnya juga menantikan sebuah pertunjukan yang jarang bahkan tidak pernah mereka lihat secara langsung. Pertunjukkan seorang gadis kota yang berani tampil sexy di depan umum.


"Aman Cha.. Anggap aja lo memang model jadi memang wajat kayak gitu..", bujuk Rendy lagi


"Hmmm..", Echa mulai bimbang


"Ayo ga usah ragu Cha", imbuh Rendy lagi


"I.. Iya deh, tapi kalau ada yang macem-macem kalian janji lindungu aku", kata Echa


"Beres kalau itu", kata Agung dan Bahar bersamaan


"Okay, Sekarang lo coba pose sexy sambil tunjukkin ketiak mulus lo ke orang-orang", kata Rendy kemudian sambil melirik ke arah belakang mereka yang sudah dipenuhi banyak lelaki warga lokal.


"Err.. I.. Iya" Kayak gini?", kata Echa sambil ia angkat kedua tangannya ke atas memamerkan ketiaknya yang mulus putih tanpa bulu


"Iya.. Bagus.. Senyum Chaa.. Tahan bentar"", kata Rendy


*Cekrik cekrik cekrik cekrik*


Beberapa kali ia ambil foto pose sexy Echa yang hanya berbalut bra dan celana dalam saja. Pose yang sexy luar biasa dimana sepupunya itu mengangkat kedua tangannya hingga payudaranya menggelantung bebas dan ia pamerkan ketiaknya yang putih mulus tanpa bulu sama sekali dengan senyum malu-malu


"BAGUSSS.. Sekarang coba kamu pose nungging Cha"", kata Rendy


"Eh nungging?", kata Echa terkejut


Echa pun tanpa banyak berkata dan mencoba menuruti forografer dadakannya berpose aesthetic. Echa kemudian membelakangi para warga sambil berpegangan pada sebuah batu. Kemudian ia posisikan pantatnya begitu sexy menggoda di hadapan orang-orang disana.


Penonton semakin gelisah melihat keberanian Echa yang memamerkan keindahan lekuk tubuhnya di depan mereka. Beberapa mulai menggaruk kontolnya yang mulai tegang saat melihat pantat Echa yang menungging ke arah mereka.


"Wow" Nice" Sexy Cha"", puji Rendy


*Cekrik cekrik cekrik cekrik*


"Hmmm.. Coba lo turunin celana lo dalam sampai garis pantat lo keliatan, biar makin sexy", bujuk Rendy lagi


"Ehh segini Ren?", tanya Echa sambil ia turunkan sedikit celana dalamnya


"Kurang sih.. Gung.. Har" coba bantu turunin celana dalam Echa lagi", kata Rendy dan Agung memberi jempol dengan tangannya


Kedua sepupu Echa itu kemudian mulai mengatur pose Echa. Kaki Echa dilebarkan dan ditunggingkan maksimal. Lalu Agung tanpa permisi menurunkan celana dalam Echa hampir setengahnya sehingga garis pantat Echa terlihat jelas hampir seluruhnya, demikian juga dengan permukaan bongkahan pantatnya yang mulus itu bisa disaksikan warga bersama-sama di pinggiran sungai


"Wowwww".", komentar penduduk lokal bersamaan melihat pantat sexy Echa


*Cekrik cekrik cekrik cekrik*


"Aku malu Ren"", kata Echa lagi tapi gadis itu tetep membiarkan pantatnya terbuka


"Gapapa Cha, tubuhmu itu karya seni yang layak dipamerin", puji Rendy


Semua lelaki disana semakin terbengong memandangi pantat Echa yang hampir terbuka seutuhnya itu. Echa sadar betul pose kali ini mulai terbuka baginya. Tapi ia mencoba mengikuti permainan yang lama-lama mendebarkan ini. Toh diam-diam ia juga bisa bereksib ria sambil pura-pura menjadi foto model tanpa harus telanjang sambil jalan dan disangka orang gila. Ia pun semakin terangsang dan tergoda memamerkan tubuhnya depan banyak lelaki. Ia ingin semua lelaki disana mengaguminya. Walau ada 1 yang mengganjal dalam hati, ia takut tindakannya dikecam oleh salah 1 warga yang "lurus".


Tetapi, Sepertinya semua orang disana tidak keberatan dengan sesi foto sexy di desa mereka. Beberapa terlihat berbisik-berbisik namun tidak terlihat tanda penolakan Echa menjadi model sexy di wilayah desa mereka. Bahkan kelihatannya mereka justru mendukung dan terhibur dengan pose-pose Echa yang sangat sexy dan berani.


Rendy pun merasa sedikit lega karena orang-orang sepertinya mendukung apa yang mereka lakukan. Merasa mendapat lampu hijau, Rendy mencoba ingin membuat sesi foto yang semakin berani dan mendebarkan bagi Echa. Ia ingin sepupunya yang cantik itu sampai berani telanjang agar totalitas mendalami perannya sebagai model.


"Cha, sekarang coba lo turunin celana dalam lo sampai bulu jembut lo keliatan. Oiya sambil ekspresi malu ya biar natural..", pinta Rendy


"Eeehh beneran Ren?", tanya Echa tak percaya


"Iya! Lo pasti bisa!", kata Rendy


Beberapa warga lokal ada yang bertepuk tangan seolah menyemangati Echa. Echa pun akhirnya mengangguk lemah tanda ia mau menuruti permintaan pose yang menurutnya semakin vulgar itu.


"Berdiri apa duduk Ren?", tanya Echa


"Berdiri aja biar estetik.. Heheheh", kata Rendy sambil bersiap memotret Echa lagi


Echa kemudian berdiri sambil menurunkan celana dalamnya sampai sebagian bulu jembutnya yang dicukur rapi itu terlihat. Garis belahan vaginanya pun juga sudah terlihat sedikit. Sebagai gadis normal, tentu saja Echa malu berpose seseronok itu di hadapan warga desa. Tetapi rasa malunya justru memberikan sensasi nakal yang membuatnya semakin penasaran ingin melakukannya lagi dan lagi.


Semua mata memandangi area selangkangan gadis itu sambil berharap-harap cemas kemaluan gadis itu mengintip sekilas beberapa detik saja. Echa semakin berani menurunkan celana dalamnya ke bawah sehingga garis bibir kemaluannya terlihat seutuhnya. Suasana semakin mendebarkan dan ingin sekali ia melihat reaksi warga tergoda oleh tubuhnya. Vagina Echa pun mulai becek dan terlihat meneteskan lendirnya.


Echa sama sekali tidak bisa mengendalikan nafsunya. Vaginanya terlalu polos menyembunyikan rasa birahinya yang semakin menggoda imannya. Ditonton banyak orang memang terasa memalukan sekaligus membanggakan baginya hingga lendir kemaluannya tak bisa dihentikan dan terus-terusan keluar.


"Sexy banget Cha.. Semua orang kayaknya setuju lo cantik dan sexy Cha. Heheheh" Sekarang angkat kedua tangan lo keatas Cha dan biarkan memek lo keliatan semuanya..", kata Rendy sambil memberi isyarat kepada Agung dan Bahar agar menurunkan celana dalam Echa sampai benar-benar terlepas dari area selangkangannya


Echa yang mulai panas dan terangsang semakin tergoda untuk berpose semakin berani dihadapan para lelaki disana. Ia angkat kedua tangannya di atas kepala seperti seorang gadis yang sudah pasrah hendak ditelanjangi. Beberapa penonton mulai meremas celana mereka seolah tidak tahan dengan pose Echa yang terlalu sexy itu.


Mata Echa tidak berani memandang ke arah para lelaki yang menontonnya. Ia lebih memilih menunduk sambil memandangi tangan Agung dan Bahar yang mulai menurunkan celana dalamnya perlahan. Echa hanya bisa pasrah dan tidak ingin mengecewakan para penontonnya. Ia lawan rasa malunya sambil meluruskan niat kalau semua yang dilakukannya adalah sebuah bentuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan. "Berbagi itu indah" yang selalu diajarkan oleh Mas Rio kepadanya.


Celana dalam Echa sudah diturunkan hingga ke lutut, kain segitiga itu bersinggungan langsung dengan aliran sungai yang tidak begitu deras hingga basah kuyup. Kemaluan gadis cantik itu sudah ia pamerkan disana, dihadapan orang-orang desa dan juga sepupunya. Bahkan Rendy yang sudah biasa melihat memek seorang gadis juga terpesona melihat alat kemaluan sepupunya yang berwarna kecokelatan muda dengan jembut tipis nan rapi itu. Baginya, Echa tetap gadis cantik yang sangat menggoda syahwatnya. Ingin sekali Rendy melihat bagian dalam memek Echa, namun ia tahan keinginan itu sejenak. Ia ingin Echa yang memamerkan sendiri kemaluannya dihadapan para lelaki disana


*Cekrik cekrik cekrik cekrik* suara shutter kamera Randy mengabadikan momen luar biasa itu


"Sempurna.. Lo luar biasa Cha" Berani banget.. Gue salut sama lo"", kata Rendy sambil terus memotret pose Echa yang terlalu menantang itu


"Sekarang lo ngangkang dan pamerin lubang memek lo ke orang-orang Cha.. Buka memek lo lebar-lebar dan tunjukkin bentuk alat kelamin lo.." bujuk Rendy dan ia yakin sekali sepupunya itu tidak akan menolak permintaannya


"Apa??? Aku malu Ren" Nanti dimarahin juga sama mereka"", kata Echa ketakutan


"Gapapa Mbak" Kita gak ada yang marah kok. Malah terhibur liat Mbaknya. BH lepas sekalian Mbak Biar ga nanggung! Penasaran sama pentil mbaknya. Heheheh", komentar orang-orang sekitar sana sambil tepuk tangan menyemangati Echa


Echa semakin tersipu malu namun dalam hatinya ia ingin menuruti permintaan para lelaki itu. Telanjang disana bukanlah hal buruk, justru ia bisa bebas mengekspresikan hoby eksibnya tanpa khawatir dicaci maki oleh warga desa. Ia lebih rela dicaci dan direndahkan oleh para lelaki yang sange melihatnya daripada harus dicaci maki oleh orang yang sok alim yang tidak setuju dengan tindakannya.


Setelah mendapat restu dari warga, Agung dan Bahar lalu mendatangi Echa yang masih berdiri sambil kedua tangannya ditaruh diatas kepala. Terlihat sekali wajah Echa yang tertunduk malu dipandangi penuh nafsu oleh para lelaki disana. 1 cup Bra Echa diturunkan oleh Agung dan terpampanglah keindahan pentil mungil gadis itu. Suasana semakin meriah, para lelaki disana sebagian terang-terangan mulai coli sambil melihat dan mengagumi tubuh Echa yang semakin terbuka.


Cup bra satunya tidak bertahan lama menutup payudara indah gadis cantik berkerudung itu. Bahar pun telah menurunkan satu cup bra Echa sehingga kedua payudara Echa sudah terbuka dan bisa dinikmati oleh seluruh lelaki disana. Wajah Echa tersipu malu, apalagi menyadari pentil susunya justru mengeras di saat seperti ini


Agung dan Bahar semakin semangat menelanjangi tubuh sepupunya. Mereka lalu tanpa permisi melepas pengait BH Echa dan membuat gadis itu akhirnya telanjang bulat disana. BH dan celana dalam Echa dibuang begitu saja, hingga terseret arus sungai yang sebetulnya tidak terlalu deras.


Echa benar-benar ditelanjangi di sana. Seluruh tubuhnya terekspose bebas tak terbungkus 1 lembar kain apapun kecuali kerudung yang masih terpasang dikepalanya. Juga sepasang sandal jepit sebagai alas kaki gadis itu. Bra dan celana dalam yang tadinya masih menempel di lutut sudah terlepas dan hilang entah kemana. Gadis itu berdiri tanpa sehelai benangpun dengan kedua tangannya masih diatas kepala berkerudungnya. Payudaranya menggelantung bebas, putingnya mancung menggoda, menjadi pemandangan terindah menyaingi deretan bukit yang mengelilingi desa tersebut. Echa tertunduk malu dan vaginanya semakin deras meneteskan cairan birahi. Seluruh warga lokal yang jadi penonton disana semakin terangsang memandangi gadis itu. Mata mereka semakun tercengang, mulut mereka terus melongo memandangi Echa yang berpose pasrah seolah menggoda mereka.


*Cekrik cekrik cekrik* Rendy kembali mengabadikan sepupunya yang sedang berpose pasrah telanjang bulat dengan kedua tangan diatas kepala


Ia tidak menyangka Echa benar-benar bersedia telanjang bulat disana. Bahkan ia sampai gemetaran saat menekan tombol shutter pada kameranya saking tidak percayanya sepupunya yang berkerudung itu saat ini benar-benar bugil sambil dilihati warga sekitar desa


"Sempurna" Ngangkang Cha sambil liatin isi memek lo"", kata Rendy


Tidak ada gunanya bagi Echa untuk protes. Semua sudah kepalang tanggung dan tubuhnya sudah ia pamerkan seutuhnya ke beberapa warga lokal yang kebetulan ada di pinggiran sungai itu. Echa kemudian duduk di atas batu sambil memberanikan diri menatap ke arah pria yang sedang menatap ke arah tubuh telanjangnya. Ia lalu membuka kedua kakinya lebar-lebar hingga lubang kemaluannya menganga. Ia pamerkan bagian dalam organ kelaminnya yang warnanya merah muda dihadapan warga desa. Terlihat jelas biji itil Echa dengan lubang kelaminnya yang terlalu indah untuk dilupakan itu


*Cekrik cekrik cekrik*


Rendy mengabadikan pose ngangkang Echa dari berbagai sudut. Ia sesekali juga mengambil foto close up yang menampilkan bagian-bagian detail dari kemaluan sepupunya yang cantik berkerudung itu


"Ren" A.. aku.. kebelet" pipis"", kata Echa malu-malu


Rendy bukannya menyudahi sesi foto telanjang itu, dalam kepalanya malah tercetus ide nakal yang selama ini hanya ada dalam pikirannya saja tanpa berani ia realisasikan. Ia merasa Echa akan melakukan apapun untuknya hari ini. Apalagi melihat lubang kemaluan Echa yang sedari tadi meneteskan cairan, membuat lelaki playboy itu ingin mengerjai sepupunya lebih lama lagi.


"Cha ga usah lo tahan. Kalau mau kencing, kencing aja.. Tapi kencingnya sambil berdiri ya. Biarkan air kencing lo ngucur gitu aja. Pasti karya fotografi gue dengan nuansa naked natural ini makin dapet. Lo bener-bener sexy dan cantik Cha", bujuk Rendy sambil tak kuasa ia menahan konaknya melihat kondisi Echa yang begitu pasrah


"Eh kamu serius Ren suruh aku kencing sambil berdiri?", tanya Echa tak percaya sekaligus minta ijin ke warga dengan pertanyaan polos itu


Tentunya kencing sembarangan di beberapa daerah dilarang karena bisa membuat kotor lingkungan. Beberapa warga benar saja langsung menyahuti pertanyaan Echa barusan. Sepertinya ada yang setuju ada pula yang tidak setuju karena air sungai ini juga biasa dipakai warga untuk mencuci


"Gimana boleh gak nih?", tanya salah satu warga


"Jangan lah nanti airnya jadi kotor", timpal warga yang lain


"Tapi nanggung nih kapan lagi liat cewek kencing sambil berdiri secara langsung"


"Iya juga sih" Tapi gimana ya?"


"Gini aja!", tiba-tiba salah satu warga yang membawa peralatan pancing berkata


Seluruh warga lokal termasuk Echa, Rendy, Bahar dan Agung menatap ke arah lelaki itu.


"Mbaknya tetap disuruh kencing sambil berdiri, tapi diwadahi ember saya ini", kata si pemancing sambil ia tunjukkan ember yang ia bawa sepertinya tempat wadah ikan hasil tangkapannya


"Bisa mabok ikan jenengan mas kena pipis mbaknya", timpal seorang warga


"Ini kosong kok, daritadi saya seharian mancing disini ga dapat 1 ekor pun. Heheheh", kata si pemancing sambil menggaruk kepalanya


"Waduh" Yawes setuju kalau gitu, awas mbak kalau meleset kena sungai bakalan kita hukum arak keliling desa sambil telanjang", kata seluruh warga sambil bertepuk tangan membuat Echa menelan ludah ketakutan


Lalu si pemancing itu meletakkan embernya beberapa sentimeter di depan Echa yang sedang berdiri. Rendy pun bersiap mengabadikan momen kencing sambil berdiri saudara sepupunya yang cantik itu. Echa benar-benar dibuat tak bisa berkutik kali ini. Ia benar-benar kikuk, bayang-bayang kegagalan menghantuinya. Ia takut semburan kencingnya tidak bisa tepat mengenai ember dan malah jatuh ke sungai. Jika gagal, habislah dia di arak telanjang keliling kampung karena ketahuan buang air kecil di sungai.


Echa lalu sedikit menyondongkan tubuh bagian bawahnya ke depan sambil ia pegangi kemaluannya. Ia coba keluarkan pelan-pelan air kencing dari kemaluannya. Beberapa detik awal memang gagal dan semburannya tidak beraturan. Untungnya hanya mengenai batu tempat ia berdiri dan sepertinya warga tidak mempermasalahkan itu. Echa mencoba mengatur tekanan kencingnya agar benar-benar tepat bisa jatuh masuk ke dalam ember.


*Currrrrrrrr*


Cairan kencing Echa terus mengucur deras mengisi ember ikan si pemancing. Setelah dirasa ia bisa tepat mengatur tekanan kencingnya, Echa kembali meletakkan kedua tangannya keatas kepalanya. Sedangkan dibawah sana kemaluannya terus mengeluarkan urine dengan deras. Echa tidak pernah merasakan kencing sememalukan ini yang dimana seluruh orang disana melihat dirinya sedang telanjang bulat dan buang air kecil dengan posisi berdiri serta kedua tangan diatas kepala.


Rendy terus merekam aksi live show terbaik selama ia mendalami hobby fotografinya. Sedangkan beberapa warga mulai terang-terangan onani disana. Awalnya satu, kemudian 2, kemudian 5, kemudian 8 orang mulai menyusul onani melihat apa yang Echa lakukan disana.


Parahnya, kencing Echa terasa lama sekali. Mungkin saking terangsangnya dia sampai jumlah cairan di dalam vaginanya bertambah beberapa kali lipat. Terlihat ember itu semakin penuh dan Echa semakin khawatir ember tersebut tidak bisa menampung semua air kencingnya. Tetapi untungnya, perlahan tekanan pipisnya mengecil dan ia pun sukses menyelesaikan misi gila permintaan warga disana.


"Hehehe.. Banyak bener kencingnya" Kebelet banget ya mbak?", goda seorang warga


"I.. iya pak"", jawab Echa tersipu sambil terlihat vaginanya masih mengeluarkan cairan namun mengalir pelan mengenai paha mulusnya


"Kebelet dientot kontol", timpal seorang pemuda dan disambut gelak tawa melecehkan.


"Sekarang colmek dong mbak"", ujar seorang warga lainnya meminta Echa masturbasi disana


"Lo mau colmek Cha? Nanggung nih sekalian aja. Heheheh", tanya Rendy sambil ia arahkan kameranya tanpa henti ke berbagai arah untuk membuktikan kalau disana saat ini benar-benar ramai dan Echa melakukan semua hal gila barusan di hadapan semua orang disana


"Iya boleehh.. Aku colmek sekarang ya"", jawabnya manja disambut tepuk tangan warga


Echa yang sudah tergoda untuk memamerkan area-area privatnya mau-mau saja diminta seperti itu. Gadis itu duduk diatas sebuah batu dan membuka kakinya lebar-lebar. Dengan kedua tangannya, ia buka bibir kemaluannya dan ia tunjukkan ke warga desa yang ada disana. Semua mata tertuju ke arah kemaluan Echa. Kemaluan yang nampak begitu segar dan sangat menggoda kontol siapapun yang memandangi area berbulu dan berlendir itu


Echa memejamkan mata dan membiarkan area privatnya dinikmati oleh para lelaki disana sebelum tangannya mulai menjelajah organ intimnya. Echa mulai masturbasi sambil memainkan jemari lentiknya di area kemaluannya. Echa mendesah nakal, tubuh telanjang sesekali menggeliat, bibirnya sesekali ia gigit pelan seolah sedang menahan gairahnya yang semakin menjadi.


Para warga juga sudah tidak malu-malu lagi untuk onani memandangi ketelanjangan gadis itu. Echa pun sama, gairahnya semakin meningkat saat dirinya menjadi objek onani para lelaki disana. Tangan Echa mulai bergerak nakal merangsang alat kelaminnya. Ia mainkan biji itilnya dihadapan warga lokal dan juga sepupunya. Rendy tersenyum puas, aksi Echa sore ini melebihi ekspektasinya. Sepupunya itu bahkan sampai terbawa suasana berani masturbasi dihadapan para lelaki di pinggir sungai.


"Aaahh.. Aaahh.. Aaahh..", Echa mendesah pelan


Desahan Echa terdengar manja, begitu menggoda syahwat mereka. Jemari Echa sudah tidak hanya mengucek saja, tapi kini ia gerakkan menusuk-nusuk organ kelaminnya. 3 jarinya ia gunakan untuk merangsang vaginanya yang sudah semakin berlendir. Beberapa warga terlihat mulai menyemburkan sperma mereka dan puas melihat gadis berkerudung itu sedang masturbasi sambil mendesah keenakan. Echa pun sama, kemaluannya mulai kedutan tanda ia akan mencapai orgasmenya. Echa mengerang kencang dan tubuhnya mulai bergetar-getar


*Srettt srettt sretttt sreeett* memek Echa menyembur hebat berkali-kali


"Jiaaahhh malah buang kencing sembarangan nih cewek", ujar salah seorang bapak-bapak


"Dimaafkan saja pak. Hehehe"", kata seorang warga sambil membetulkan celananya setelah puas onani


"Yaudah, nanggung juga mana mbaknya lagi asyik colmek. Heheheh..", kata seorang bapak-bapak sambil memandangi Echa yang terus masturbasi tanpa malu-malu dihadapan warga desa.


Echa sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Ajaran Endrix yang sudah membuatnya jadi budak seks di sekolah benar-benar ia laksanakan hari ini di desa. Echa terlihat semakin keenakan masturbasi dan tak bisa berhenti merangsang kemaluannya yang semakin gatal dan panas itu. Bibirnya terus mendesah keenakan di sana, dan vaginanya kembali kedutan untuk kesekian kalinya


*Srettt sreettt sreeeet*


"Aku keluarrrr lagiiiii", pekik Echa sambil vaginanya menembak-nembak


Dari lubang kemaluannya, terlihat cairan encer Echa sampai muncrat menembak begitu deras berkali-kali hingga tubuh telanjangnya menggeliat tak beraturan, terlihat vaginanya pun kedutan setelah semburan pelepas nikmat itu terjadi padanya. Echa lemas, namun tangannya masih saja merangsang kemaluannya dan tidak bisa berhenti


"Lonte! Lonte! Lonte! Kocok terossssss!", ledek beberapa warga menyemangati Echa agar tidak berhenti masturbasi


Echa malah semangat dan ia kocok kemaluannya tanpa malu dihadapan para lelaki itu. Singkat cerita, Echa dan warga lokal disana masturbasi bersama-sama. Mereka melakukannya dengan penuh khidmad tanpa rasa bersalah sedikitpun. Suara desahan-desahan terdengar bersahut-sahutan di sana. Echa yang sudah terbawa suasana juga malah semakin menikmati kegilaan di sekitar sungai itu. Ia tidak malu lagi mendesah dan memamerkan alat kelaminnya yang sudah berlendir kental ke orang-orang disana. Ia kocok dan ia colok lubang kemaluannya sendiri dihadapan warga lokal dan juga sepupunya.


Agung dan Bahar yang sudah tidak tahan akhirnya minta dikocokin kontolnya oleh Echa. Tangan kanan Echa untuk kontol Agung, tangan kiri Echa untuk kontol Bahar. Sedangkan memek Echa dikocokin Agung dan Bahar bersamaan. Echa mendesah keenakan dan kemaluannya semakin becek saja sore itu. Echa bahkan sampai squirt berkali-kali saking nikmatnya ia lakukan itu beramai-ramai bersama banyak lelaki di pinggiran sungai itu.


"Aaaaaaaahhh aku keluarrrr lagi!!!!", pekik Echa dan tubuhnya bergetar kencang


#


Malam harinya"


"Ma, Echa ke kamar Cowok-cowok dulu ya", ijin Echa kepada mamanya


Sementara itu papa Echa nampaknya sudah tertidur, mungkin perjalanan antar kota kali ini begitu melelahkam baginya.


"Mau ngapain? Kamu cewek sendiri Echa", terlihat mama Echa sedikit keberatan


"Ih mama masak curiga sama keponakan sendiri. Ya gapapa ma cuma mau ngobrol-ngobrol aja. Kan sudah lama ngga ketemu?", kilah Echa


"Hmm Yaudah, jangan malam-malam tidurnya. Inget besok sepertinya banyak tamu yang datang. Biasa lebaran gini pada silaturahmi", kata mama Echa


"Iya ma"", jawab Echa sambil segera keluar kamar


Alya kemudian terlihat memandangi wajah suaminya yang sedang tertidur. Wajah yang begitu polos dan tidak tahu fakta istrinya selama ini. Alya tak berani menyentuh suaminya, karena ia takut mengganggu tidur lelaki yang dicintainya itu.


Alya menghela nafas panjang, terlihat ia kesal dengan dirinya sendiri. entah sudah ratusan kebohongan ia lakukan ke suaminya. Suaminya yang tidak tahu apa-apa itu masih menganggapnya wanita shalihah. Padahal Alya tak lebih rendah dari seorang pelacur. Pelacur saja masih ada harganya, sedangkan Alya, dengan sukarela memberikan tubuhnya untuk Mas Jarwo kakak kandung suaminya sendiri secara gratis. Bukan hanya dengan Mas Jarwo, Alya juga seorang budak sex bagi tetangganya Pak Robert. Ia menjadikan wanita alim itu menjadi wanita penghibur untuk menghibur dirinya dan juga teman-temannya. Tidak hanya itu, di perumahannya, Alya juga dijadikan wanita penghibur saat bapak-bapak ronda malam.


Mungkin, persetubuhan dengan Mas para lelaki lain lebih banyak ia lakukan dibandingkan dengan suaminya sendiri. Jangankan dengan banyak lelaki, dengan Mas Jarwo saja mungkin Alya lebih sering melayani kakak iparnya itu dibandingkan dengan suaminya sendiri. Jarwo sering mendatangi Alya secara diam-diam selama hampir kurang lebih 3 tahunan. Pernah bahkan ia melayani Mas Jarwo selama 1 minggu penuh saat suaminya tugas ke luar pulau.


*Ceklek* pintu terbuka secara tiba-tiba


Terlihat wajah Jarwo yang tersenyum mesum memandangi Alya yang tengah terduduk memandangi suaminya.


"Suamimu sudah tidur?", kata Jarwo lirih dan Alya pun mengangguk


"Ya udah.. Yuk", kata Mas Jarwo sambil tersenyum mesum


Alya lalu berdiri, meninggalkan suaminya yang tengah tidur pulas. Gadis berkerudung lebar itu memilih menuruti ajakan kakak iparnya. Didalam kamar Jarwo, Alya melucuti pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat. Kerudung panjangnya juga kali ini ia lepas. Alya benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benang pun malam itu .


Ia datangi kakak iparnya yang juga sudah telanjang bulat sambil mengocok kontolnya. Jarwo tersenyum memandangi adik iparnya itu sudah telanjang bulat menampakkan seluruh auratnya dengan sempurna. Tidak ada lagi Alya yang terjaga auratnya. Tidam ada lagi Alya yang sok tidak mau bersentuhan walau hanya berjabat tangan saja


"Alya kesini mau ngapain?", goda Jareo melihat adik iparnya itu sedang malu-malu berdiri dihadapannya


"Saya.. Mau ngen.. ngentot.. sama Mas Jarwo", jawab Alya malu-malu


Kakak iparnya itu memang senang mengerjainya dan Alya paham akan hal itu. Alya pun tidak keberatan karena dengan dikerjai seperti ini, dirinya pun malah semakin telanjang


"Ohhh.. Mau ngentot.. Sudah ijin suamimu belum kalau kamu mau ngentot sama masnya?", goda Jarwo


Alya terbelalak matanya. Ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk ijin dengan suaminya terlebih dahulu sebelum berzina dengan mas kandung pacarnya. Alya kemudian menggeleng untuk menjawab pertanyaan Jarwo.


"Aduh, nakal ya kamu Alya. Ya udah aku ijinin dulu", kata Jarwo sambil meraih handphonenya tiba-tiba


Alya terkejut dan ketakutan Jarwo akan menghubungi suaminya sekarang juga.


"Mas Jarwo jangan mas".", kata Alya


"Heheheh.. Kenapa? Kalau kamu ga ijin dulu nanti suamimu malah curiga"", kata Jarwo


"Tolong Mas apapun akan saya lakukan tapi tolong jangan libatkan Mas Ragil"", kata Alya memohon


"Heheheh.. Yasudah kalau gitu aku tidak jadi bilang ke Ragil, kata Jarwo


"I.. Iya mas.. Syukronn"", kata Alya


"Mulai sekarang kamu harus jadi pelacur"", pinta Jarwo sambil menarik tubuh telanjang Alya dan mereka pun langsung berciuman panas


Jam dinding menunjukkan pukul 23.00, suasana rumah sederhana itu sudah gelap gulita. Samar-samar terdengar suara desisan dan desahan dari sebuah kamar yang terletak paling depan yang tak lain kamar Jarwo


Di dalam kamar itu, Alya nampak sedang menungging, sedangkan di belakangnya Jarwo terlihat berdiri sambil menancapkan kemaluannya ke kemaluan adik iparnya. Jarwo tidak bergerak sama sekali. Alya yang terlihat aktif menggerakkan tubuhnya maju mundur demi mendapat gesekan nikmat dari kontol Jarwo pada lubang kemaluannya.


"Iya bagus Alya" Kamu bakat jadi pelacur cantik. Kamu itu haus kontol Alya. Gausah sok jual mahal kamu.. Hahahahah.. Terus gerakin memek kamu yang bener biar geseknya enak.. Plak plak plak plak"", ujar Jarwo mesum sambil menampar pantat Alya yang menungging didepannya


"Ooohhh" Mas" Aaahhh.. Aaahhhh.. Aaaaahhh"", desah Alya merasakan kontol panjang Jarwo sudah tertancap di dalam lubang vaginanya


"Alyaa.. Sssshhh memekmu enak sekali sayang" sempit dan menjepit sekali.. Aaaahh.. Coba kamu bilang kalau kamu itu pelacur.. Plak Plak Plak", desah Jarwo sambil menepuk pantat Alya terus terusan


"Aaaahhh.. Alya.. Pelacurr" Alya Pelacurrrr" Entot Alya Mas" Aaaahh enak mass enaaaakkk.. ", kata Alya semakin keenakan direndahkam oleh Jarwo


"Iya bagus" Tubuhmu itu tugasnya buat menghibur lelaki Alya.. Auratmu itu untuk dinikmati lelaki Alya.. Ikhlas kalau auratmu dinikmati para lelaki Alya?", goda Jarwo


"Aaahhh.. Ikhlass" Aurat saya untuk dinikmati.. Ooohh Mas Jarwo kontol mas besar bangettt..", kata Alya sambil bergetar hebat sembari ia orgasme


*Sreettt sreett sreeett*


Dalam posisi menungging mama Echa malah orgasme. Terlihat cairannya berceceran membasahi kasur Jarwo. Alya mungkin semakin terangsang karena membayangkan dirinya adalag seorang pelacur. Memang ia merasa, selama ini ia tak lebih baik daripada seorang pelacur karena kelaminnya sudah ia berikan ke banyak lelaki.


"Hahaha" Muncrat-muncrat kamu gara-gara bayangin jadi pelacur beneran ya? Mau direalisasikan ya? Hahahah", ledek Jarwo memandangi Alya yang nafasnya terdengar ngos-ngosan.


"Mas Jarwo buruan mas" Takutnya Mas Ragil bangun..", pinta Alya sambil ia rebahkan tubuhnya yang penuh keringat di atas kasur Jarwo


"Pelacur kok ngatur. Hehehe.., aku rasa Ragil juga gak akan mau lagi kalau tau ternyata istrinya itu pelacur. Hahahah"", goda Jarwo


Alya terhenyak mendengar perkataan Mas Jarwo. Memang betul dirinya saat ini sudah rendah dan tidak punya harga diri lagi. Memang betul jika suaminya tahu kelakuan dirinya selama ini, pasti ia akan sangat kecewa dan menceraikannya tanpa rasa ragu


"Gimana menurutmu Har? Kira-kira Ragil gimana kalau tahu istrinya ternyata pelacur?", ujar Jarwo kepada Hardi yang tentu saja Alya terkejut mendengar nama kakak ipar keduanya disebut dan ia pun langsung menoleh ke arah pintu


"Ada 2 kemungkinan, Ragil minta cerai atau Ragil malah senang kalau tau istrinya seorang pelacur. Sapa tau ia jadi ngaceng liat istrinya dientot laki lain. Heheheh", jawab Hardi mesum


"Mas Hardiii??", kata Alya terkejut namun masih mencoba menjaga volume suaranya agar tidak sampai terdengar ke kamar lainnya


Alya sama sekali tidak menyadari dari tadi Mas Hardi sedang melihatnya berzina dengan Mas Jarwo kakaknya. Suami Mbak Linda itu tersenyum mesum, adik iparnya yang selama ini menutuo aurat secara sempurna dengan gamis dan kerudung syari" nya, kini sedang menungging telanjang bulat bersama dengan Mas Jarwo. Alya langsung menutup tubuh telanjangnya dengan selimut, bantal, atau apapun yang bisa ia pakai untuk menutupi ketelanjangannya


Alya tertunduk malu dipandangi begitu mesum oleh kakak ipar keduanya. Habis sudah harga dirinya dihadapan kedua kakak iparnya itu. Ingin sekali ia pergi dari sana sekarang juga. Namun percuma, hal itu tidak bisa membalikkan fakta jika ia sudah ketahuan berzina dengan Mas Jarwo


"Ga usah takut sama Hardi. Heheheh.. Dia sama saja kok, pingin nikmati tubuhmu Alya. Udahlah kamu jangan sok alim lagi. Kamu itu sudah jadi pelacur sekarang. kamu sebagai adik ipar wajib layani kedua kakak iparmu ini. Heheheh", kata Jarwo sambil menarik selimut dan bantal dari tubuh Alya


"Eeehh.. Masss???", Alya semakin panik karena dirinya kini kembali terlihat seluruh auratnya


Alya semakin terkejut mendapati Mas Hardi mulai melucuti pakaiannya dan mengeluarkan batang kontolnya dihadapannya. Tanpa ampun, Hardi langsung menceploskan kontolnya ke bibir Alya. Alya kembali terbelalak menyadari kemaluan kakak ipar keduanya sudah berada dalam mulutnya. Ia hanya terdiam tidak bisa meronta. Sambil terus menyepong kontol Hardi, Alya kebingungan mengapa ini semua bisa terjadi? Ia kini harus melayani kedua kakak iparnya bersamaan


Dengan kasar Hardi mulai menghajar mulut Alya dengan kontolnya. Ia pegangi kepala Alya dan ia sodokkan kuat-kuat berkali-kali kontolnya yang kekar itu ke mulut Alya. Mata Alya terpejam mendapati kontol Hardi yang tebal sudah disodokkan ke dalam rongga mulutnya. Sementara itu Jarwo mulai menyusu ke putting susunya. Alya menggeliat keenakan saat lidah Jarwo bermain pada putting susunya.


*Hooohkhhh hokkhhhh hoookkhhhhh* Mulut Alya rasanya seperti disodok pentungan saja hingga wanita cantik itu kesulitan bernafas


"Bagus Alya.. Uhhh.. Mulutmu pinter nyepong juga ternyata", puji Hardi sambil menikmati jilatan demi jilatan adik iparnya


Alya pun sudah terbuai, ia juga sudah sangat terangsang sehingga kini Alya berusaha melayani Hardi sebaik-baiknya. Ia tidak malu-malu lagi toh sudah tidak ada yang perlu ditutupi lagi.


Setelah puas menghajar mulut Alya dengan kontolnya, Hardi lalu turun ke bawah. Jarwo kemudian memberi tempat kepada adiknya itu untuk mencicipi jepitan memek Alya, wanita yang kesehariannya selalu berpenampilan shalihah itu. Tanpa babibu, Hardi langsung menyodokkan kontolnya ke memek Alya. Mata Alya terbelalak kali ini saat menyadari kontol Hardi sedang menyetubuhinya. Dalam hati Alya merasa begitu bersalah dengan suaminya. Ia merasa gagal menjadi istri yang baik karena telah mengkhianati suaminya. Kedua kakak iparnya telah merasakan kenikmatan tubuhnya yang selama ini seharusnya ia berikan untuk suaminya saja. Namun semakin kuat sodokan Hardi, semakin kuat pula keinginan Alya untuk menggoyangkan pinggulnya menikmati sodokan kakak iparnya yang nomor dua itu. Alya kini bahkan melingkarkan tangannya ke tubuh Hardi dan membiarkan kakak kedua suaminya itu menyetubuhinya. Dalam hati Alya kesal, mengapa tubuhnya menikmati perzinahan ini semua. Alta bahkan turur serta menggerakkan tubuhnya seolah kali ini dia yang minta dientot


*Jleb jleb jleb jleb*


"Ohhh.. Oohhh.. Mas Hardii.. Pelan-pelan mass" Aaaaahhh..", kata Alya sambil tubuhnya terus terguncang terkena sodokan Hardi yang begitu bernafsu


"Kamu cantik Alya" Tubuhmu ternyata begitu indah dan sexy dibalik gamis panjangmu.. Aaaahhh.. Aku sange sayang".", kata Hardi sambil langsung melumat bibir Alya


Alya hanya terdiam merasakan bibir Hardi mulai menyentuh bibirnya. Mereka berciuman panas dan dari bibir mereka terdengar suara cipokan yang begitu basah dan nikmat. Alya membiarkan bibirnya dihisap atas dan bawah bergantian oleh Hardi, sebelum akhirnya lidah mereka bertemu dan saling melumat satu sama lain


Kontol Hardi bergerak dengan lincah menikmati tiap gesekan kulit memek Alya yang sudah becek berlendir itu. Memek jalang itu bahkan makin berlendir menikmati sodokan kakak kandung suaminya sendiri. Alya hanya bisa pasrah melayani Mas Hardi kakak iparnya. Percuma ia sok jaim karena dirinya saat ini sudah resmi menjadi pelacur.


"Iya bagus sayang, wajahmu yang sayu itu benar-benar bikin aku sange.. Kamu cantik Alya.. Aaahhh.. Memekmu makin anget dan licin saja.. Benar kata Mas Jarwo, dibalik kerudung panjangmu, memekmu ternyata begitu murahan" Ssshhh.. Bagus Alya". Aaahhh" Mpphhh Cuuupppp", ujar Hardi terus mengecup bibir adik iparnya


"Aahhh.. Mas Hardiiii.. Ohhh.. Mas" Ouuhh Aahhh..", desah Alya


"Memekmu tugasnya apa Alya?", tanya Jarwo iseng


"Memek saya.. Aaahhh.. Untuk" dientott kontolllll.. Aaahhh..", jawab Alya


"Terus apa lagi Alya?", tanya Jarwo lagi


"Aaaahhh.. Ouuuhhh.. Mass" Iyaaaahhh" Memek sayaaa" tempat.. Aaahhh.. Nampung" Pejuuu"", jawab Alya mengingat-ingat kata-kata yang selalu dibisikkan Jarwo saat berzina


"Anjing" Alya kayaknya lebih lonte daripada Linda mas" Hahahahah"", kata Hardi takjub mendengar jawaban fasih dari mulut Alya yang kesehariannya nampak alim itu


"Iya dong, Alya itu memang pelacur. Memeknya haus akan peju. Hahahah", kata Jarwo sambil mengocok istri adik terakhirnya itub Sedang digenjot oleh adek keduanya


"Iya Alya" Kamu pantes sekali jadi lonteee.. Lonte gratisann", kata Hardi kini semakin terbiasa merendahkan istri adiknya.


Padahal selama ini Alya menghormati Hardi. Berbeda dengan Jarwo yang memang brengsek dari dulu. Di mata Alya, Hardi adalah kakak ipar yang baik. Ia sukses sebagai pengusaha dan ia sukses membina keluarga. Linda istrinya juga terlihat bahagia menjadi istri Hardi. Tetapi, pandangan itu berubah 180 derajat. Hardi ternyata tidaklah berbeda dengan Jarwo


"Heheheh" Bagus Alya desahanmu sexy sayang.. Kita tahu Kamu pasti butuh kenikmatan kan? Si Ragil pasti jarang memuaskanmu ya kan?", tanya Hardi sambil semakin semangat menggenjot kemaluan Alya


"Ta.. Tapiii.. Aku" Aaaahhh..", kata Alya terhenti karena tusukan Hardi ke kelaminnya semakin kuat


"Alya, enak kan jadi pelacur? Heheheh.. Kamu bisa nikmati banyak kontol" Gantian Har kontolku pingin lagi nih", ujar Jarwo


"Aduh belum puas nih Mas, enak bener memeknya..", kata Hardi sambil ia sodokkan terus menerus kontolnya ke lubang kenikmatan Alya


"Hahaha.. Dasar suami gila. Kamu pasti sange ya karena istrimu hari ini harus lembur di balai desa?", ujar Mas Jarwo membuat Alya terkejut mendengar ucapannya


"Iya Mas.. Hahaha.. Kontolku sange berat gara-gara liat Linda kerja bakti dengan warga desa. Tadi aku cuma temenin sebentar tapi karena takut ganggu ya udah aku tinggal aja", ujar Hardi sambil melepaskan kontolnya dari memek Alya


"Hahaha Gapapa biarkan dia disana sendiri biar makin bebas. Istrimu disana pasti senang bisa sekalian silaturahmi sama warga desa. Heheheh" Udah gue mau entot pelacur ini", kata Jarwo sambil kembali menancapkan kontolnya ke memek Alya


"Aaaahhh..", pekik Alya saat kali ini gantian kontol Jarwo yang bersarang di lubang memeknya


Jarwo kemudian langsung menghajar lubang kemaluan Alya dan ia genjot kemaluan Alya penuh nafsu. Alya sampai tak bisa berhenti mendesah hingga tanpa sadar suaranya pun semakin kencang saja. Gesekan kemaluan Jarwo di lubang kemaluannya memanglah terasa begitu nikmat menggaruk permukaan kemaluannya yang sudah becek


"Aaahhh.. Aaahhh.. massss"", pinta Alya


"Liat? Pelacur ini sepertinya sudah siap menemani istrimu kerja bakti sama warga desa?", goda Jarwo


"Hahahah.. Betul mas" Adik ipar kita ini harus berguna buat desa"", kata Hardi sambil menampar-nampar pipi Alya yang tak bisa berhenti mendesah dengan kontolnya


Alya ketakutan mendengar pembicaraan gila kedua kakak iparnya. Alya benar-benar menangkap maksud pembicaraan kedua lelaki didekatnya itu. Ditambah lagi ia juga penasaran dengan ucapan kedua kakak iparnya barusan. Linda, istri Mas Hardi sedang kerja bakti di balai desa. Kerja bakti apa malam-malam begini? Apa yang sebenarnya terjadi? Pikiran cabul Alya sebenarnya sudah bisa memproses arti pembicaraan itu, tetapi dalam benaknya ia masih tidak percaya dan berharap apa yang ada dipikirannya salah.


Malam itu, istri Ragil itu disetubuhi bergantian oleh kedua kakak iparnya. Entah sudah berapa sodokan ia terima pada kemaluannya. Kontol-kontol kedua kakak iparnya diakuinya memang perkasa dan begitu nikmat hingga tanpa sadar ia terus bergoyang dan menikmati tiap sodokan kedua kontol kakak iparnya itu


"Ohhhh.. pelacur.. Alya pelacur.. Alya pelacurrr.. Suka kontooll.. Oohhh . oohh.. Oooohh.. Entot memek Alya.. Memek Alya halal dipakeeeee.. Alya pelacuurrrr!!!", rancau Alya semakin gila keenakan berzina dengan Jarwo dan Hardi


#


Sementara itu diruang ya lain, Echa, Rendy, Agung dan Bahar sedang asyik nobar bokep Jepang dengan genre gangbang. Terlihat dilayar laptop, seorang gadis sedang disetubuhi di sebuah penginapan oleh rekan-rekan kerjanya. Awalnya gadis itu enggan dan terpaksa melakukannya. Lama kelamaan gadis itu yang meminta untuk di setubuhi oleh rekan-rekan kerjanya. Ia sengaja menggoda para lelaki dan meminta agar para rekan kerjanya itu bersedia mengentot dirinya. Pada akhirnya, semalaman suntuk hingga pagi pun tiba, gadis itu terus menjadi pemuas nafsu para lelaki disana hingga tubuhnya bermandikan sperma


"Cha.. Lo sange gak".", bisik Rendy sambil ia belai lembut paha Echa yang masih tertutup baju baby doll bahan satin yang lumayan membentuk lekuk tubuhnya


"Eh kok nanyanya gitu Ren? Ini tangan ngapaiiimn sihhhh..", kata Echa sambil menahan tangan Rendy yang nakal


"Ga usah pura-pura deh Cha.. Lo pasti pingin juga kan kayak pemeran cewek bokep itu? Gak nyangka gue ternyata lo nakal juga", kata Agung sambil tanpa permisi meremas payudara Echa


Kali ini Echa tidak bisa menolak saat tangan sepupunya bermain di area payudaranya.


"Iya nih, tadi sore bener-bener gila lo Cha sampai berani colmek di sungai sambil dilihatin cowok-cowok.", Kata Bahar sambil mencium pipi Echa


"Ssshh.. itu kan mau kalian", kata Echa mencoba mengeles


"Tapi lo juga suka kan? Ternyata lo suka eksib ya. Ga nyangka gue"", kata Rendy sambil kini tangannya menyusup ke dalam celana tidur Echa


"Tadi kan kamu suruh mas", kilah Echa


Terlihat sekali Echa tidak keberatan saat Rendy menyusup bagian selangkangannya, Bahar mencium pipinya dan Agung meremas payudaranya. Tentunya setelah kegilaan sore tadi di sungai, Echa tidak punya alasan lagi sok alim dan jual mahal dihadapan para sepupunya. Echa kali ini hanya diam saja saat kancing babydollnya dipreteli oleh Agung dan celananya dipelorot oleh Rendy hingga terlepas dari tubuhnya.


"Eeeehh? Kalian mau ngapain?", tanya Echa manja


"Have Fun sama lo Cha"", jawab Rendy sambil memandangi Echa yang kali ini hanya tinggal memakai pakaian dalamnya


Rendy lalu langsung mendorong tubuh Echa rebahan di kasur sambil tangannya mulai menjamah kemaluan sepupunya yang masih terbungkus celana dalam itu. Terasa lembab walau belum disentuh terlalu lama. Mungkin daritadi Echa sudah bergairah karena tontonan film porno yang merangsang pikirannya.


Cup BH Echa sudah diturunkan oleh Agung dan langsung dicucupnya pentil susu Echa penuh nafsu, sudah dari sore tadi ia ingin sekali mengemut puting susu sepupunya yang mungil menggoda itu. Echa menggeliat manja saat lidah Agung menyisiri pentil susunya dengan perlahan.


"Aaahhh mass""


Siksaan nikmat itu semakin parah saat Bahar turut serta melumat puting susu Echa satunya sehingga kali ini kakak beradik yang mesum itu menjilati payudara Echa bersamaan. Echa menggeliat liar karena merasa kegelian. Echa tidak pernah berpikir bahkan ketiga sepupunya pada akhirnya bisa menikmati tubuhnya. Sebenarnya Echa ingin sekali merekam momen ini sebagai bukti laporan untuk Endrix tuannya. Tetapi, pada akhirnya Echa memutuskan tidak akan merekam ini semua. Ia terlalu malu menjelaskan kepada sepupunya untuk apa ia minta direkam. Ia tidak mau sepupunya jadi tahu bahwa selama ini ia di sekolah adalah budak seks pemuas kontol anak-anak berandal sekolahnya. Ia lebih memilih dihukum oleh tuannya itu nantinya.


Tanpa ragu, Echa mulai meraih kedua kontol kakak beradik itu dan ia ulangi gerakan seperti di sungai sore tadi. Ia kocok bersamaan kontol panjang berurat itu tanpa malu-malu lagi. Echa pun dengan fasih mulai mengemut kontol Agung dan Bahar bergantian. Kedua lelaki itu terbelalak mendapati Echa yang selama ini mereka kenal alim dan polos ternyata begitu jago mengulum kontol lelaki. Echa juga sama sekali tidak canggung mengulum dua kontol sekaligus. Dengan penuh nafsu ia jilati kedua kontol hitam itu bergantian sambil menungging. Sedangkan dibelakang sana, Rendy sedang menjilati kemaluan Echa yang sudah becek


*Slurupppp sluruuppp slurupppp* suara jilatan Rendy pada memek Echa


"Aaaahhhh.. Aaaahhh.. Enak terus Ren jilat memek akuuu..", pinta Echa sambil ia goyangkan pantatnya manja


"Suka memek lo dijilat Cha?", tanya Rendy


"Pake nanya lagi, aku beruntung kali memek aku bisa dijilati cowok ganteng kayak kamu Ren".", puji Echa lirih membuat Rendy besar kepala


"Iya dong, lo harusnya bersyukur ya Cha memek lo dapat kesempatan gue jilatin.. Hehehe..", kata Rendy sambil ia teruskan menjilati memek Echa


"Hihihi"", tawa Echa


"Shit gue jadi sange bener pingin entotin lo Cha..", kata Rendy sambil ia coblos memek Echa tanpa ragu karena sudah menganga dihadapannya


"Ohhhh.. Yessss.. Rendyy.. Fuck meeee.. Aaahhh.. Kontolmu mentokin Ren..", pinta Echa menggila sambil ia sepong kontol Agung dan Bahar bergantian


"Fuckk.. Ternyata lo Slutty ya Cha.. Slutty Echa.. Shittt.. Enak bener memek lo..", kata Rendy sambil semakin semangat menggenjot kemaluan Echa


*Jleb jleb jleb jleb*


Rendy semakin cepat menghajar kemaluan Echa. Jepitan kemaluan Echa yang menggigit dan memberikan gesekan hangat nan nikmat membuat kontol Rendy tidak bisa bertahan lama. Dalam waktu sekitar 3 menit saja, lelaki ganteng itu akhirnya mencapai orgasmenya dan buru-buru mencabut kemaluannya dari kemaluan sepupunya itu.


*Crot crot crot crot* peju Rendy muncrat di pantat Echa beberapa kali


Echa terkejut ternyata durasi Rendy tidak sebesar bualannya yang katanya playboy yang sudah meniduri puluhan gadis. Meski ia dicap sebagai seorang playboy tapi Echa tidak menyangka Rendy bakalan keluar secepat itu. Dalam hati Echa kecewa, padahal dengan wajah tampan dan kontolnya yang panjang Echa berharap Rendy bisa memberikan kepuasan lebih lama. Tapi harapan tinggalah harapan. Pada kenyataannya. Lelaki-lelaki buruk lupa lah yang justru sanggup memberikan Echa kepuasan.


Rendy terkulai lemas, kontolnya mulai menciut sambil kepala penisnya yang masih belepotan peju.


"Sialan kenapa cepet bener gue keluarnya! Shit lo emang telalu nikmat Cha sampai gue ga bisa nahan crot gue", katanya beralasan


Agung dan Bahar hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat Rendy yang terlihat frustasi. Mereka hanyalah pemuda desa yang polos dan belum pernah bersetubuh dengan seorang gadis sekalipun, sehingga mereka tidak paham bagaimana kesalnya kalau kita keluar terlalu cepat.


"Siapa lagi yang mau ngentot aku?", kata Echa karena tahu Agung dan Bahar belum cukup pengalaman walaupun usia mereka berjarak kurang lebih 5 tahunan.


Echa memang belum puas malam ini. Ia ingin sekali dipuaskan setelah kegilaan eksib di pinggir sungai sore tadi terasa tidak lengkap jika tidak diakhiri dengan ngentot. Lalu tanpa menunggu jawaban Echa pun memutuskan akan bersetubuh dengan Agung. Selain ia kakak kandung Bahar, Agung kontolnya terlihat lebih tebal dan menggoda di mata Echa.


Echa lalu mulai mengambil posisi Women On Top. Pakaian baby dollnya sudah acak-acakan. Tidak ada kancing yang terpasang dan bra nya diturunkan pada bagian cupnya saja.. Echa kemudian menelanjangi tubuhnya sendiri dan mereka melanjutkan kegilaan itu hingga menjelang shubuh.


Singkat cerita, pergumulan panas mulai terjadi. Desahan demi desahan terdengar beriringan. Kedua lelaki desa sepupu Echa itu menikmati Echa secara bergantian. Sementara itu Rendy harus menunggu beberapa saat hingga nafsunya kembali bisa membangkitkan kontolnya yang sempat tertidur. Tetapi pemandangan luar biasa melihat Echa sepupunya yang cantik sedang digenjot oleh Agung dan Bahar membuat Rendy akhirnya bisa ereksi lagi


Tidak berapa lama kemudian, mereka kembali bermain berempat. Echa melawan Rendy, Agung, dan Bahar. Bergantian mereka menyodokkan kemaluan mereka ke lubang kenikmatan Echa. Tetapi tidak ada yang berani menyemburkan spermanya ke dalam kemaluan Echa. Karena mereka masih ingat kalau Echa adalah sepupu mereka. Mereka tidak tega menghamili sepupu mereka sendiri


Namun keputusan itu tidak mengurangi gairah yang terjadi di dalam kamar itu. Suasana menjadi semakin panas dan semakin menggairahkan malam itu. Mereka sudah telanjang total dan saling menikmati tubuh masing-masing. Selaras dengan apa yang terjadi di kamar lain dalam rumah itu. Ketika Alya mamanya Echa sedang melayani Mas Jarwo dan Mas Hardi yang tak lain adalah kakak iparnya sendiri.


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 14 : Petualangan Terus Berlanjut


Hari minggu,


Mungkin adalah hari satu-satunya Echa bisa bebas dari perundungan Endrix. Di hari minggu ini ia bisa sedikit bernafas lega karena tidak harus menuruti nafsu dan permintaan Endrix yang aneh-aneh. Walaupun Echa ikhlas menjalani hidupnya menjadi lontenya Endrix, tetapi sebagai seorang manusia, sesekali ia juga ingin menikmati hari libur dengan sedikit bersantai.


Sambil melahap semangkok mie instan yang menemani sarapannya pagi ini, Echa juga terlihat asyik membuka beberapa pesan Whatsapp masuk ke dalam ponselnya, ada yang dari group keluarga, ada yang dari beberapa teman sekolah, ada juga yang dari Rio, pacarnya yang sedang ia putuskan untuk break untuk sementara waktu


"Eh? Mas Rio?", terlihat Echa terkejut membaca nama pacarnya muncul di deretan inbox Whatsapp di ponselnya


"Halo sayang, apa kabar? Udah cukup lama kita ngga komunikasi. Aku kangen Yank" Kamu gimana?", tulis Rio


Echa nampak menghela nafas panjang membaca pesan dari Rio. Karena ia sudah menegaskan kalau jangan menghubunginya dulu selama masa break. Tetapi dasar pacarnya bandel, Rio tetap menghubungi Echa. Sekarang malah Echa yang terlihat kebingungan membaca pesan itu. Mungkin ia bingung Apakah ia harus membalas pesan tersebut atau ia abaikan saja.


Sejujurnya, Echa juga merindukan kisah-kisah cintanya yang dulu. Saat ia belum terperosok ke dalam jurang perzinahan yang telah mengubah jalan hidupnya. Kalau dibilang kangen, dengan jujur Echa pasti juga kangen dengan Mas Rio. Walau break mereka belum lama, tetapi sudah banyak hal yang ia lalui tanpa sepengetahuan pacarnya. Karena itulah Echa juga merasa bersalah dengan Rio, karena tubuhnya sudah dicicipi banyak lelaki selama masa break mereka


"Aku baik-baik saja mas", ketik Echa pada akhirnya


Terlihat Rio mulai mengetik setelah membaca balasan pesan pacarannya


"Syukurlah" Aku ke rumahmu ya Yank?", kata Rio kemudian


"Hmmm" Jangan dulu deh mas.. Kita masih masa break", jawab Echa mencoba menjaga jarak dari pacarnya untuk saat ini


Echa belum siap bertemu pacar sahnya lagi. Ia takut hubungan yang mereka bangun pada akhirnya akan kandas setelah kembali menjalin hubungan. Echa sadar betul, dirinya sudah begitu hina dan tidak layak diseriusi oleh Rio.


"Mau sampai kapan Yank?", tanya Rio masih mencoba membujuk Echa agar ia kembali. Rio masih benar-benar mencintai pacarnya itu.


Echa kembali bingung menjawabnya. Mau sampai kapan ia akan break dengan Rio karena ia sendiri tidak punya batas waktu sampai kapan menjalani kehidupan seperti ini


"Entahlah mas"", jawab Echa singkat


"Kamu masih sayang aku gak Yank? Atau kamu ada rencana mutusin hubungan ini?", kata Rio membuat Echa semakin tertekan


"Mas Rio, seperti yang sudah aku bilang" Jangan hubungi aku dulu sementara waktu. Kalau kamu ga mau, Kamu boleh kok mas kalau mau cari cewe lain", balas Echa mencoba mengakhiri pembicaraan daripada ia keburu emosi dan benar-benar memutuskan pacarnya itu.


Karena Echa sendiri mulai bimbang dengan perasaannya kepada Rio. Perasaannya mungkin perlahan mulai berubah. Tidak bucin seperti Echa yang dulu. Dan lagi, Echa juga sudah tidak merasakan kenikmatan saat terakhir berhubungan dengan pacarnya. Ia jauh menikmati saat ia berhubungan dengan lelaki-lelaki selain pacar sahnya. Itu juga yang menjadi alasan bagi Echa untuk tidak memikirkan hubungan percintaan dengan Rio mulai saat ini. Ia takut hal itu malah menyakiti perasaan Rio dan perasaannya sendiri Kedepannya


5 menit sudah Echa menunggu jawaban Rio namun tidak ada lagi pesan balasan darinya. Mungkin jawaban pesan whatsappnya barusan sedikit memberikan shock theraphy untuk pacarnya. Jelas sekali dirinya sudah tidak menginginkan pacarnya kembali hadir dalam kehidupannya.


*Tulilut tulilut* tiba-tiba handphone Echa berdering


Sebuah nomor tak dikenal menelepon dirinya. Echa terlihat malas-malasan sebenarnya mengangkat nomor yang tak dikenal. Ia sudah merasa capek karena biasanya mereka cuma salah sambung atau orang nawarin kreditan pinjol saja. Namun semakin Echa cuekin, ia pun jadi kepikiran siapa yang menghubunginya. Karena si penelepon itu terus menelpon hingga beberapa kali. Echa pun memutuskan mengangkat telepon tersebut


"Iya Halo?", jawab Echa


"Halo.. Echa bukan?", tanyanya balik


"Iya betul.. Siapa ya?", tanya Echa


"Gue dari warkop bola remang-remang", jawab si penelepon


"Ehh.. Iya mas.. Maaf kok nomornya beda?", tanya Echa saat tahu siapa yang menghubunginya


"Iya, mau ngadain event besar jadi harus gonta ganti nomor Biar sulit dilacak. Heheheh", jawab si pemilik warung


"Event besar apa ya mas?", tanya Echa tidak paham


"Lu masih minat kerja di tempat gue?", tanya Mas Warung lagi


"Eh??? Oiya, maaf nama mas siapa? Aku lupa"", tanya Echa mencoba mengingat-ingat nama si mas pemilik warung


"Gue Icank", jawab si pemilik warung


"Oiya Mas Icank.. Kalau boleh tau kapan mas aku mulai kerja?", tanya Echa antusias


Karena sebagai gadis SMA yang terlahir dari keluarga biasa saja, ia merasa perlu mencari cara agar segala keinginan yang selama ini tidak bisa ia wujudkan bisa terpenuhi. Termasuk beli ip*ne, karena Echa merasa handphonenya sudah cukup jadul dan mulai lemot


"Hari ini, pengumuman eventnya sudah gue sebar. Lu datang aja ntar malam jam 19.00", kata Icank


"Ehhh? Kok mendadak banget mas? Aku belum persiapan"", jawab Echa


"Ya namanya juga Private Event, harus mendadak biar sulit dilacak. Tapi lu jangan kawatir, Gue pastiin acaranya ga bakal sepi. Heheheh", kata Mas Icank


"Ohhh.. iya deh, aku ijin ortuku dulu mas"", jawab Echa


"Hehehe.. Iya lu ijin ortu dulu aja biar mereka ga nyariin. Oiya, dresscodenya nanti malam siswi sekolah berjilbab ya. Jadi lu pakai seragam sekolah lo, ok?", kata Mas Icank


"Pake seragam sekolah ya? Oke mas"", jawab Echa


"Dandan yg cantik ya Cha. Sampai ketemu nanti", kata Mas Icank sambil ia tutup teleponnya


Jantung Echa seketika berdebar kencang setelah mendapatkan tawaran kerja ini. Tawaran kerja ya sebenarnya mudah, yang penting ia punya kemauan untuk melakukannya. Echa hanya perlu berlenggak-lenggok sexy dihadapan para lelaki sambil sesekali menuruti beberapa request-an dari para penonton sambil disawer.


Bicara tentang seragam sekolah, Echa jadi ingat perintah Endrix yang memintanya untuk permak seragam sekolah agar jadi lebih ketat dan sexy. Echa kemudian berpikir sekalian saja ia bisa pakai seragam itu ketika ia "kerja" nanti malam. Echa lalu mengambil 3 stel seragam sekolahnya yang meliputi 2 stel baju putih & rok abu-abu panjang, lalu 1 stel seragam pramuka lengkap dengan rok cokelatnya. Rencananya, ketiga stel baju sekolahnya itu akan ia bawa ke tukang jahit baju yang ada di dekat komplek perumahan tempat tinggalnya.


Echa lalu membuka lemari pakaiannya dan mencari baju yang cocok untuk ia pakai saat ke penjahit. Awalnya ia ingin menggunakan pakaian biasa saja. Tetapi saat Echa membayangkan pakaian seragamnya yang akan terlihat begitu sexy, ia memutuskan memakai pakaian yang tidak biasa. Sebuah daster tanpa lengan dengan talinya yang kecil dan potongan dada yang rendah ia pilih untuk menutup tubuh indahnya. Echa pun memberanikan diri keluar rumah tanpa kerudung untuk pertama kalinya. Ia tidak ingin orang melihat dirinya dengan tatapan kebingungan. Berkerudung tapi pakaiannya terbuka, sehingga Echa akhirnya memutuskan menanggalkan kain kerudungnya sekalian. Rambut model Bobnya ia biarkan tergerai begitu saja


Ia pandangi dirinya didepan cermin, sepertinya Echa masih belum puas dengan penampilannya. Setelah ia timang-timang, siswi SMA cantik itu memutuskan menanggalkan branya saja sekalian sehingga jika ia tidak hati-hati, payudaranya akan mengintip dari celah ketiak dasternya. Berpakaian seperti ini tentu saja jauh lebih seru dan menantang bagi Echa yang sudah mulai menjalani kehidupan sebagai seorang gadis binal itu.


Tatapan nakal lelaki yang mengagumi dirinya adalah sebuah prestasi tersendiri baginya. Itulah hal yang diajarkan Rio pacarnya dan kini benar-benar ia anut pemahaman itu. Untuk bagian bawahnya, Echa tetap memakai celana dalam, toh rok dasternya juga panjang sehingga tidak akan begitu pengaruh.


5cb311a5-b535-4777-8aad-259d069af6e2.png


Kembali Echa memandangi dirinya di depan cermin. Belahan dadanya cukuo terbuka dan memang sengaja terlihat dipamerkan. Jantung gadis cantik itu kembali berdegup kencang membayangkan ia akan keluar rumah dengan berpakaian seperti ini. Echa sempat bimbang apakah akan ia tutup mini dasternya itu dengan cardigan selama naik motor. Namun setelah dipikir-pikir, akhirnya Echa tetap memutuskan hanya memakai daster tanpa lengan seperti itu saja saat naik motor menuju tempat penjahit. Toh banyak ibu-ibu komplek ke pasar juga hanya memakai daster seperti dirinya. Walau tidak senekat dirinya yang tanpa bra, tapi setidaknya itulah pembenaran keputusan Echa kali ini


"Kamu bisa Echa, bukannya Endrix bilang kalau mau jadi lonte jangan nanggung-nanggung. Kamu harus percaya diri. Mas Rio juga pernah bilang memamerkan tubuh itu juga salah satu cara berbagi paling baik karena bisa menyenangkan orang", kata Echa dalam hati


Singkat cerita, Echa dengan mengendarai motor maticnya segera menuju tukang jahit yang ada di perkampungan dekat perumahan tempat tinggalnya. Setelah mengendap-endap keluar rumah tentunya. Karena ia tidak mau mamanya mengomentari cara berpakaiannya yang terlalu terbuka. Mamanya yang alim dan selalu berpakaian syari" itu pastilah akan murka melihat cara berpakaiannya kali ini.


Letak rumah tukang jahit itu ada di dalam sebuah gang sempit. Saat melintas di gang itu banyak tatapan mata yang tertuju kepada Echa. Wajar saja, keadaan masih minggu pagi dan banyak warga kampung yang sedang beraktivitas di luar rumah. Seperti bercengkerama dengan tetangga, menyapu, cuci motor, bersih-bersih di depan jalan, dan masih banyak lagi.


Perasaan Echa semakin deg-degan parah. Gesekan-gesekan kain daster dengan putting susunya benar-benar memberikan sensasi nakal yang selama ini ia tahan-tahan untuk mencobanya. Ditambah lagi semilir angin yang berhembus masuk melewati sela-sela lubang dasternya membuat Echa semakin terangsang. Dibawah sana, vaginanya mulai terasa gatal dan berlendir. Ingin sekali ia garuk alat kemaluannya, namun tidak mungkin karena warga kampung disana kerap memandangi Echa ketika melintas


Beberapa saat kemudian, Echa terlihat memarkirkan motornya di sebuah rumah kecil bertuliskan "Suwardi Tailor". Ya, Pak Wardi namanya, beliau adalah Penjahit langganan mamanya Echa. Kata mama, Pak Wardi kalau bikin gaun atau baju selalu pas dan nyaman dipakai, karena itu mama Echa selalu ke tempat beliau kalau butuh bikin baju.


Echa sebenarnya jarang bertemu Pak Wardi. Karena biasanya ia hanya menunggu didepan saja saat mamanya masuk dan mengukur baju di dalam. Echa hanya berharap saat ini Pak Wardi tidak mengenalinya karena cara berpakaiannya yang sudah benar-benar berbeda daripada kesehariannya yang selalu menggunakan lengan panjang dan berkerudung.


Echa pun masuk ke dalam rumah, suasana ruangan remang-remang dengan pintu utama yang dibiarkan terbuka. Sebuah lampu bohlam kecil menjadi satu-satunya alat penerangan ruangan ini. Di dalamnya, terlihat seorang bapak-bapak kurus berkacamata yang hanya mengenakan kaos singlet sedang serius menjahit dengan mesin jahitnya. Usianya sudah cukup berumur. Mungkin sekitar 60 tahunan lebih. Hal itu terlihat dari kulit tubuh dan wajahnya yang mulai kering dan keriput.


"Permisi pak..", kata Echa sambil mengetuk pintu yang sengaja dibuka mungkin agar tidak panas


Si Bapak penjahit melihat ke arah gadis itu sambil menghentikan sejenak mesin jahitnya. Wajah tuanya terkejut mendapati seorang gadis muda cantik berdiri di depan rumahnya. Echa sendiri menyadari tatapan mata Pak Wardi yang terus tertuju ke arah dadanya yang memang berpotingan rendah. Echa mencoba menahan rasa kikuknya dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Tetapi tatapan lelaki tua itu terlalu jujur, ia benar-benar memandangi dada Echa dengan mesum


"Ya Mbak? Ada apa ya?", tanya Pak Wardi sambil buru-buru ia tundukkan matanya sok alim saat mata jelalatannya bertemu dengan mata Echa


"Anu.. Pak.. Saya mau permak seragam sekolah. Kebesaran"", kata Echa


"Kebesaran? Coba saya lihat dulu seragamnya", kata Pak Wardi dan Echa pun menyerahkan kantong plastik berisi 3 stel seragam sekolahku


Pak Wardi lalu memeriksa satu persatu dan terlihat ia bingung karena baju seragam yang diberikan nampak normal-normal saja dan ukurannya sudah sesuai dengan ukuran tubuh Echa yang memang mungil itu


"Kebesaran gimana ya mbak? Menurut saya ini sudah bagus mbak..", kata Pak Wardi tidak berani lagi menatap ke arah gadis cantik itu


"Anu pak.. Errr.. masih kebesaran pak.. Saya mau dikecilin lagi"", jawab Echa


Pak Wardi melirik kearah Echa karena bingung dengan permintaan gadis cantik dihadapannya. Sementara itu jantung Echa berdebar cukup kencang ketika bau tubuhnya mulai tercium karena hawa panas yang ada di ruangan kecil pengap itu. Echa pun menyadari kain dasternya mulai lembab dan basah karena keringat tubuhnya yang membuatnya tidak nyaman.


"Mau dikecilin seberapa mbak?", tanya Pak Wardi berusaha menuruti permintaan pelanggannya yang terdengar aneh itu


"Diukur lagi saja pak.. Errrr Saya kan mau lulusan. Nah teman-teman saya sepakat mau ngecilin baju seragamnya semua biar bagus dan modis kalau foto-foto coret-coret baju nanti", kata Echa mencoba memberikan alasan agar Pak Wardi si tukang jahit tidak berpikir macam-macam


"Ya ampun.. Masih jaman ya baju seragam dicoret-coret? Mubazir kan masih bisa dikasihkan ke mereka yang butuh"", kata Pak Wardi mencoba bijak


"Iya sih pak.. Buat kenang-kenangan sekali seumur hidup pak.. Mau ya pak permak seragam saya?", pinta Echa


"Ya saya gapapa sih mbak. Bisa-bisa aja. Yaudah saya ukur dulu ya mbak", kata Pak Wardi


"iya pak"", jawab Echa


Lalu Pak Wardi pun berdiri dan mengambil meteran gulungnya. Ia mulai mengukur bagian dada Echa terlebih dahulu. Bagian yang daritadi terlihat begitu menggiurkan dimatanya. Terlihat jelas jakun pria tua itu naik turun dan dengam sengaja mententuhkan tangannya ke pundak mulus Echa saat sedang mengukur lengannya.


"Permisi ya mbak" Saya ukur dulu dadanya", kata Pak Wardi sambil mulai ia lingkarkan meterannya ke bagian dada Echa


Echa lalu reflek mengangkat kedua tangannya agar Pak Wardi lebih bebas mengukur tubuh gadis itu. Echa angkat kedua tangannya tinggi-tinggi hingga ketiaknya terbuka dan ia biarkan sejenak posisinya seperti itu. Echa sadar betul ketiaknya saat ini terasa basah dan sedikit lengket saking panasnya udara saat ini. Entah disengaja atau tidak, meteran Pak Wardi berlama-lama didadanya


"Pak Wardi sendirian aja?", tanya Echa basa-basi sambil tetap mengangkat kedua tangannya memamerkan kedua ketiaknya yang basah mulus tanpa bulu


"Eh maksudnya? Iya, saya sendiri aja mbak..", jawab Pak Wardi sambil ia konsentrasi mengukur tubuh Echa


"Pak Wardi tinggal disini juga?", tanya Echa lagi mencoba melepas kecanggungan diantara mereka


"Iya mbak, saya tinggal sendirian disini"", ujar Pak Wardi


"Sendirian? Istrinya kemana Pak?", tanya Echa penasaran


"Sudah lama meninggal"", jawab Pak Wardi singkat


"Ohh.. Ma.. Maaf Pak saya tidak tahu"", jawab Echa tidak enak hati


"Iya gapapa mbak.. Segini cukup mbak?", kata Pak Wardi sambil ia tunjukkan angka-angka meterannya kepada Echa


"Kurang.. ketat pak"", pinta Echa karena kulihat meteran Pak Wardi masih ada sisa


"Anu mbak.. Kalau benar-benar mau ngepress body, nanti Mbaknya malah ga nyaman pakainya karena kancing bajunya akan kesulitan menahan", saran Pak Wardi


"Ngga papa pak.. Ketatin lagi pak"", pinta Echa lagi


"Yakin? Yaudah kalau itu maunya mbak", kata Pak Wardi dan ia kurangi lagi meterannya jadi semakin ketat mengikat dada Echa


"Aahh.", Tanpa sadar Echa mendesah karena ikatan meteran Pak Wardi ke dadanya sangatlah ketat hingga menggesek puting susunya yang sudah dari tadi mengeras


"Sakit ya mbak? Maaf maaf"", kata Pak Wardi buru-buru mengendorkan lilitan meterannya


"Ngga papa Pak.. Seketat tadi boleh", kata Echa


"Errr ini sudah maksimal mbak.. Mbaknya nanti kesusahan ngancingin bajunya kayak baju kekecilan", kata Pak Wardi


"Bapak udah yakin ini sudah maksimal?", tanya Echa memastikan


"Errr" Ada selisih 1-2 cm an sih mbak karena kena dasternya mbak..", kata Pak Wardi ragu


Tatapan laki-laki tua itu kali ini tertuju kepada leher Echa yang mulai basah berkeringat. Bagian dada terbuka gadis itu juga sama menggodanya. Basah dan terlihat bulir-bulir keringat mulai keluar dari pori-pori kulit gadis cantik itu. Pak Wardi mengendus-endus aroma tubuh Echa dengan hidungnya. Sesekali lelaki tua itu menghembuskan nafasnya dalam-dalam karena saat ini ia mulai terangsang melihat penampilan Echa yang terlalu sexy baginya yang seorang duda tua.


"Terus gimana pak?", tanya Echa merajuk manja


"Kalau dasternya dicopot bisa pas sama ukuran badannya mbaknya. Heheheh"", kata Pak Wardi sambil tersenyum


"Eehh? Jadi saya harus lepas baju nih?", tanya Echa membuat mata Pak Wardi terbelalak mendengar pertanyaan lugu Echa yang menseriusi perkataannya


"ERRR" Saya Cuma bercanda kok mbak. Selisih 1-2 cm harusnya ngga ada masalah mbak"", kata Pak Wardi mencoba profesional dan tidak ingin terlihat mesum


Echa tidak puas dengan jawaban Pak Wardi, suasana gerah di ruangan sempit itu benar-benar membuatnya tidak nyaman. Bisa dibayangkan jika ia berpakaian normal saat kesana, bisa-bisa ia bisa pingsan saking panasnya cuaca pagi ini. Hanya mengenakan daster saja sudah begitu gerahnya. Ingin sekali Echa menggoda pria tua itu sambil memamerkan kemolekan tubuhnya sambil mendinginkan suhu tubuhnya


Terlihat Pak Wardi mulai kikuk sikapnya melihat Echa yang semakin berkeringat menggairahkan itu. Aroma khas yang keluar dari tubuh Echa benar-benar menggoda imannya. Gadis cantik itu perlahan menggoda birahinya. Wajar saja, sudah lama ia menduda dan tidak pernah lagi ia lampiaskan nafsu biologisnya setelah ditinggal istri tercintanya


"Hmm saya lepas aja deh pak, gerah juga sampai keringetan gini", ujar Echa tanpa persetujuan Pak Wardi ia mulai melepaskan daster yang dipakainya


Mata Pak Wardi terbelakak dan mulutnya melongo melihat customernya menseriusi perkataannya. Rasanya matanya hampir copot menyadari gadis cantik dihadapannya sudah berdiri tanpa busana. Kulit putih mulus Echa sangat indah di mata lelaki tua itu.


Pak Wardi terus melongo, mungkin ia tidak menyangka Echa bakalan senekat itu. Tatapan matanya terpana memandangi tubuh bagian atas Echa yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Payudaranya begitu sempurna dan terlihat begitu kenyal jika dipegang. Belum lagi puting berwana cokelat muda milik Echa yang sudah mancung menggoda itu benar-benar menggoda imannya. Sementara itu dibagian bawah, Hanya kain segitiga kecil yang masih menutup area kemaluan Echa dan sepasang sandal jepit sebagai alas kaki gadis cantik itu. Bulu jembut Echa terlihat sedikit mengintip dari celana dalamnya yang berenda dan sedikit transparan.


"Eh mbak? Gapapa nih gak pake baju?", kata Pak Wardi sambil buru-buru mengalihkan pandangannya jaim


"Gapapa Pak.. Biar bapak ngga salah ukur, lagian panas banget pak"", kata Echa tersenyum nakal melihat lelaki tua itu salah tingkah menghindari menatap payudaranya yang kenyal menggoda


"Mbaknya keluar rumah kok gak pake BH? Gak malu apa?", tanya Pak Wardi basa-basi saking penasarannya


"Iya gapapa pak, lagi lupa pake BH tadi lagian juga panas bener hari ini", jawab Echa ngasal


"Ohh.. Hehehe.. Baru tau saya cewek ada yang lupa pake BH" Berarti Mbaknya memang sering gak pake BH ya kalau dirumah?", tanya Pak Wardi tersenyum nakal


"Iya saya lebih suka ga pake pak... Lebih bebas aja gitu", jawab Echa sambil tersenyum manis sekali


Pak Wardi sudah tidak lagi mencoba menghindari menatap payudara Echa. Lelaki tua itu terang-terangan memandangi gundukan gunung kembar gadis belia itu. Matanya terus menatap mesum ke arah tonjolan payudara Echa. Mungkin baginya, terlalu mubadzir pemandangan seindah itu ia lewatkan begitu saja.


"Hmmm.. Susu Mbak bagus juga", puji Pak Wardi sambil memasang wajah cabul


"Masak sih pak? Orang kecil gini tetek saya"", jawab Echa nakal sambil meremas sendiri payudaranya


"Sudah pas itu sesuai sama tinggi Mbak yang mungil. Heheheheh", kata Pak Wardi


Echa ingin sekali Pak Wardi lebih berani menggodanya. Karena kali ini gadis sangean itu mulai terangsang. Terbayang sudah kontol lelaki tua yang sudah menduda itu. Namun sepertinya Pak Wardi tidak berani memulai lebih dulu. Lelaki tua itu lebih memilih melihat saja tanpa berani menyentuh tubuhnya.


"Yasudah kalau gitu saya ukur lagi ya mbak", kata Pak Wardi berusaha memecah keheningan itu


Pak Wardi ingin terlihat seorang profesional di mata pelanggannya. Padahal Echa yakin sekali kontol lelaki tua itu sudah ngaceng berat. Hal itu Echa sadari setelah melihat tonjolan kontol Pak Wardi yang semakin membesar di area selangkangannya yang hanya tertunduk celana training pendek yang dipakainya.


Pak Wardi lalu berjalan membelakangi Echa. Ia mulai mengitari payudara gadis itu dengan meteran gulungnya. Sekali lagi Echa mengangkat kedua tangannya keatas dan memamerkan ketiaknya yang mulus tanpa bulu. Aroma tubuh Echa kembali tercium di hidung Pak Wardi saat gadis itu mengangkat kedua ketiaknya. Aroma keringat bercampur parfum segar yang sangat merangsang libido kakek tua itu. Echa merasakan nafas Pak Wardi terdengar begitu berat menghembus di tengkuk lehernya. Echa mendesah nakal perlahan saat Pak Wardi beberapa kali seperti sedang meniupi bagian tengkuk belakangnya. Kali ini meteran gulung Pak Wardi langsung bersinggungan ke puting susu Echa dan gadis itu mendesah kegelian


"Aahh.. Pak" Geli..", desah Echa manja


"Eh maaf kena pentilnya mbak ya?", kata Pak Wardi sambil buru-buru ia lepas meteran gulungnya


"Iya gapapa pak" Silakan diukur lagi"", kata Echa sambil kembali membuka kedua ketiaknya


"Permisi ya mbak""


Pak Wardi kembali melingkarkan meteran gulungnya ke payudara Echa. Lelaki tua itu terlihat sengaja memegang pentil susu Echa sembari berpura-berpura membetulkan posisi meteran gulungnya.


"Mbak" saran saya pentil susu mbak harus dibuat tegak maksimal dulu biar ukurannya nanti sesuai dengan bentuk tetek mbak" Kalau pas ngga keras saya takut ukurannya ngga sesuai sama keinginan mbak", kata Pak Wardi mencoba ngide


"Gitu ya pak?", tanya Echa sambil mengangguk-angguk


"Iya.. Bagaimana? Heheheh..", tanya Pak Wardi terkekeh cabul


Terlihat sekali jakun lelaki tua itu naik turun memandangi tetek kenyal Echa yang begitu menggoda. Apalagi tadi dia beberapa kali sengaja menempelkan tangannya demi merasakan betapa kenyal putting susu gadis yang usianya belum ada 20 tahun itu.


"Boleh deh pak, tapi bagaimana caranya?"", kata Echa pura-pura lugu


"Saya bantuin boleh?", kata Pak Wardi menawarkan diri


"Hmmm" Iya boleh deh pak"", jawab Echa pasrah saat merasakan tangan kasar Pak Wardi mulai meremas payudaranya tanpa menunggu jawabannya


"Eeehhhh?", Echa kembali terkejut sangat tangan kurus Pak Wardi mulai meremasi tonjolan gunung kembar gadis cantik itu


"Permisi ya mbak"", kata Pak Wardi sambil mulai memilin putting susu gadis cantik itu karena menyadari gadis di hadapannya sepertinya tidak keberatan dengan perlakuannya


"Aaaahh". Pak"", kata Echa saat merasakan sebuah pilinan kasar diterima pentil susunya kanannya


Echa menggeliatkan tubuhnya saat tangan keriput Pak Wardi mulai memencet pentil susunya bersamaan. Lelaki tua itu memilin pentil susu Echa penuh nafsu, seperti anak kecil yang kembali menemukan mainan lamanya yang sudah lama tidak ia mainkan. Echa kembali mendesah keenakan saat tangan lelaki yang bukan siapa-siapanya itu menjamah area payudaranya. Bukan hanya pilinan saja, Pak Wardi kini meremasi kedua payudara Echa penuh nafsu bersamaan dan Echa hanya bisa pasrah saat dadanya diremas-remas kakek tua yang berprofesi penjahit itu.


"Saya isep pentil mbak boleh? Biar keras maksimal pentil susu mbak"", kata Pak Wardi setengah berbisik sambil ia pencet-pencet pentil susu kenyal gadis cantik itu


"Bolehh.. bapak boleh isep pentil saya pakk..", pinta Echa nakal sambil menyodorkan susunya


"Gadis pintar"", kata Pak Wardi tanpa membuang waktu ia langsung jilatin dan ia cucup pentil susu Echa sebelah kanan.


Echa mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi membiarkan lelaki tua itu menyedoti putting susunya. Ingin sekali ia mendesah kencang namun sadar diri kondisi masih pagi dan di jalanan depan rumah Pak Wardi masih banyak warga yang berada di luar rumah. Echa mendesis dan menggigit bibir bawahnya, sementara itu Pak Wardi dengan nakal menggigiti pentil susu Echa yang semakin mengeras


"Ohh sakit pak jangan digigitin.. Belum keras ya pak putting saya?", tanya Echa merem melek keenakan


"Belum mbak.. Belum puas" Heheheh", jawab Pak Wardi sambil kembali menjilati dan mengemut putting susu dara cantik itu


"Ohhhhh.. Pak.. Pelan.. Sakit.. Aaahh..", lenguh Echa tertahan pelan


Echa hanya takut puting susunya terluka sementara nanti malam, puluhan lelaki hidung belang sudah bersiap menikmati pertunjukkan perdana gadis belia itu. Echa ingin tampil all out tanpa cacat pada tubuhnya dan ia hanya berharap bisa menghibur semua lelaki disana nanti malam dengan segala yang ia punya. Agar kesan pertama tampil disana baik dan mendapatkan respon yang positif


"Hehehe maaf.. Habis pentil mbak kenyal banget jadi pingin netek terus", kata Pak Wardi kali ini ia gigit pentil susu Echa sebelah kiri


"Ouhhh.. Pak" Iya bapak boleh netek tapi jangan digigit"", lenguh Echa saat lidah Pak Wardi mulai menjilati pentil susunya sebelah kiri


"Heheheh.. Maaf ya mbak pentil susu mbak enak bener soalnya", puji Pak Wardi


"Iya makasih pak.. Aaahhh..", desah Echa lagi


Tangan Pak Wardi mulai tidak ragu bermain-main di tubuh polos gadis itu. Kini si penjahit itu tanpa rasa canggung mulai menggerayangi tubuh Echa. Tangan kasarnya kini sudah berada di pantat Echa dan meremas pantat gadis itu. Tangan Pak Wardi masuk ke dalam celana dalam Echa dan ia raba bokong mulus Echa tanpa halangan. Echa kembali menggeliat merasakan rabaan yang membuatnya semakin terangsang. Tekstur kasar dan warna kulit kontras diantara mereka membuat Echa semakin bersemangat menggoda lelaki tua itu. Echa merasa senang bisa menghibur lelaki setua itu dengan tubuhnya.


Pak Wardi semakin tidak sungkan lagi. Ia sudah lupa dengan niatnya yang hanya ingin membuat puting susu Echa tegak agar ukuran pakaiannya bisa pas dan sexy. Echa sadar betul kini malah Pak Wardi mulai menggesekkan kontolnya yang masih di dalam celana kolornya ke area selangkangan Echa. Terasa keras sekali kontol lelaki tua kurus itu. Sengaja ia tekan-tekan kontolnya ke bagian memek Echa yang masih terbungkus celana dalam. Pak Wardi sepertinya sudah tidak bisa menahan gejolak birahinya. Tubuh sexy Echa terlalu sempurna baginya dan sayang jika tidak ia nikmati tubuh gadis belia dihadapannya itu sekarang juga


"burung saya ngaceng mbak", bisik Pak Wardi


"Hihihi.. Puting saya sudah keras belum pak? Jadi ngukur baju saya gak nih?", kata Echa menggoda sambil mengingatkan


"Oiya saya malah keasikan"", kata Pak Wardi sambil mencubit pentil susu Echa yang sudah mengeras sekali


Lelaki tua itu kembali mengambil meteran gulungnya dan segera ia ukur bagian dada Echa yang sudah mengeras putting susunya. Kali ini Pak Wardi tidak ragu untuk mempermak baju seragam sekolah Echa seperti lonte. Ia ketatkan betul seragam Echa hingga benar-benar membentuk lekuk tubuhnya indahnya


"Mbaknya kalau di sekolah pake jilbab?", tanya Pak Wardi sambil ia kembali mengukur bagian-bagian tubuh Echa satu persatu sambil sesekali ia remas-remas payudara Echa tanpa sungkan lagi


"Ih Pak Wardi ini tangannya nakal. Hihihi.. Iya saya pake jilbab kalau ke sekolah. Kok tau pak?", tanya Echa sambil membusungkan dadanya agar penjahit itu terus meremas payudaranya


"Iya soalnya lengan panjang seragam sekolahnya", jawab Pak Wardi


"Oiya betul pak"", jawab Echa sambil kali ini ia pandangi pria tua itu melilitkan meteran gulung di bokongnya untuk mengukur pantatnya


"Ohhh.. gapapa nih dibikin ketat banget seragamnya? Nanti dimarahi Pak guru lho", goda Pak Wardi


"Gapapa pak, Pak gurunya kayaknya malah senang deh. Hihihi", jawab Echa nakal


"Heheheh.. Mbak bisa aja.. Tapi emang bener mbak. Pasti bakalan mupeng Pak Gurunya kalau liat mbak"", kata Pak Wardi


"Masak sih Pak? Saya lho jelek", kata Echa


"Kata siapa? Mbak itu pelanggan saya yang paling cantik setelah Mbak Alya. Dia bajunya selalu tertutup dan syari mangkanya cantik sekali", kata Pak Wardi


"Eh Mbak siapa pak?", tanya Echa terkejut mendengar nama yang baru saja disebutkan Pak Wardi


"Mbak Alya.. Rumahnya di perumahan dekat sini", kata Pak Wardi sambil menunjuk ke arah perumahan Echa


Echa tertegun, ia sempat berpikir apakah Alya yang dimaksud adalah mamanya. Tapi Echa tidak berani memastikan, ia takut Pak Wardi berpikir macam-macam dan tahu dia adalah anak seorang wanita bernama Alya juga. Echa hanya berusaha berpikir positif dan yakin Alya yang dimaksud bukanlah mamanya. Masih banyak cewek lain yang namanya Alya. Begitu pikirnya.


"Dia sama kaya Mbak" Hehehe", kata Pak Wardi lagi sambil terus mengukur bagian-bagian tubuh Echa.


"Maksud Pak Wardi?", tanya Echa kaget


"Mulus dan putih kayak mbak"",kata Pak Wardi


"Hah? Kok Pak Wardi tau" Tadi katanya Mbak Alya bajunya tertutup dan bajunya syari?", tanya Echa penasaran


"Itu.. Anu.. Dia kalau diukur suka lepas baju kayak Mbak. Mangkanya saya bilang dia sama kayak mbak"", kata Pak Wardi serius


*Apa? Baju serba tertutup dan syari tapi buka baju pas diukur? Memang sih disini gerah banget, tapi masak ada cewek ukhti-ukhti gitu sampai buka baju disini? Gak mungkin deh"*, Echa bertanya-tanya dalam hati


Echa tidak begitu percaya dengan cerita Pak Wardi. Echa berpikir itu semua hanya karangan cerita Pak Wardi saja agar memanas-manasi dirinya. Tidak mungkin ada wanita seperti itu. Echa juga berjilbab, tapi ia tidak bisa kalau sehari-hari harus pake gamis seperti Mbak Alya. Gerahnya pasti luar biasa. Dan Echa yakin, pastilah wanita bernama Alya itu seseorang yang alim karena selalu memakai pakaian syari. Tidak seperti dirinya yang berjilbab namun suka pake baju ketat.


"Tapi soal keberanian, Mbaknya nomor 1.", puji Pak Wardi kali ini


"Maksud bapak?", tanya Echa


"Mbak Alya walau buka baju saat diukur, tapi tidak senekat Mbaknya. Kalau Mbak Alya Cuma lepas gamisnya aja. Tapi masih pake BH dan celana dalam sama kerudungnya yang besar. Kalau Mbak kan nekat berani telanjang gini", puji Pak Wardi


"Saya kan belum telanjang pak. Ini masih pake celana dalam", goda Echa sambil menarik karet celana dalamnya hingga melar dan kelihatan sedikit bulu kemaluannya


"Wow." Gak dibuka sekalian mbak sempaknya.. Nanggung Cuma dikasih liat jembut. Hehehe..", ujar Pak Wardi ceplas-ceplos


"Apaaa? Buat apa pak? Memek saya perlu diukur juga?", goda Echa nakal


"Pingin liat punya mbaknya..", kata Pak Wardi cengar-cengir


"Ih bapak ini ada-ada saja. Bentuknya kan sama aja pak lubang gitu"", kata Echa


"Iya tapi kan macem-macem dan warnanya beda-beda. Penasaran saya sama tempiknya mbak pink apa cokelat pucat. Hehehehe"", kata Pak Wardi


"Ah, Pak Wardi ada-ada saja" Ngga mau ah Echa malu.", kata Echa agar dinilai tidak terlalu murahan oleh penjahit itu


"Masak udah kayak gini masih malu? Tinggal lepas sempak aja kok mbak.. Heheheh", bujuk kakek tua itu lagi mulai mesum sambil ingin melepas celana dalam Echa tapi ditahan oleh gadis itu


"Errrr" Tapi" Gak deh Pak", kata Echa kemudian


"Hmm Yasudah kalau gitu saya gak mau maksa", kata Pak Wardi


"Maaf ya pak.. Beneran saya malu pak", kata Echa


"Iya saya paham", kata Pak Wardi ketus


"Biaya permaknya berapa pak?", tanya Echa menyadari Pak Wardi mulai berubah sikapnya


"600ribu. 1 stel baju saya hargai 200ribu.", kata Pak Wardi masih ketus


"Mahal sekali pak? Biasanya mama saya kalau mermak baju ga semahal itu", tanya Echa tidak percaya


"Suka suka saya kasih harga. Mau apa enggak? Kalau gak mau saya kerjakan yang lain. Saya masih banyak tanggungan", kata Pak Wardi sinis


"Potong lah pak, jangan segitu"", rengek Echa


"Oh tidak bisa. Sorry yee.. Kalau sudah tidak ada keperluan ini bawa saja bajunya mbak", kata Pak Wardi masih ketus sambil menyerahkan 3 stel baju seragam sekolah Echa


Jujur saja Echa tidak menyangka akan semahal itu untuk mermak pakaian seragamnya. Padahal Echa saat itu hanya membawa 150ribu di dompetnya. Pak Wardi sudah diatas angin. Bagaimanapun lelaki tua itu sudah menang banyak setelah melihat kemolekan tubuh Echa. Jadi ia merasa berada di atas angin karena sudah menikmati pamandangan tubuh Echa secara gratis.


"Kalau saya lepas celana saya gimana pak? Pak Wardi masih mau?", tanya Echa tidak kehabisan ide


"Emangnya tempik kamu, kamu hargai berapa?", tanya Pak Wardi sambil menatap Echa sinis


"Terserah Pak Wardi.. Saya Cuma bawa 150ribu pak"", kata Echa


"Waduhh.. dipotong 450ribu cuma lihat memek cewek gak bener kayak kamu? Rugi banyak saya", kata Pak Wardi merendahkan Echa


Echa sebenarnya tersinggung mendengar perkataan Pak Wardi. Echa merasa seharusnya harga kemaluannya sangatlah mahal. Karena Echa tahu bagaimana para lelaki memuji-muji tubuhnya. Bagaimana para lelaki memuji kecantikan dan kenikmatan kemaluannya saat bersenggama dengannya. Tetapi lelaki tua itu memiliki pendapat yang berbeda dan tentu saja Echa tidak bisa memaksakan pendapatnya sendiri.


"Pak Wardi maunya berapa?", kata Echa pada akhirnya, ia juga ingin tahu bagaimana pendapat kakek-kakek itu tentang dirinya.


"Buat cewek gak bener kayak kamu, saya kasih diskon 50rb, tapi kamu wajib liatin tempik kamu ke saya. Heheheh", kata Pak Wardi tersenyum mesum


*Apa? Vaginaku dihargai 50ribu??*, kata Echa dalam hati tak percaya


"Mau nggak?", kata Pak Wardi mengejutkan Echa


"Eehhh? Apa ga bisa diskon lagi pak??? Saya gak bawa uang pak", tawar Echa


"Gini aja kamu jual diri dulu, nanti kalau uangnya sudah terkumpul kamu balik lagi kesini. Heheheh.. Miskin banyak gaya kamu mbak", kata Pak Wardi benar-benar merendahkan Echa sambil menyerahkan pakaian seragam sekolah gadis itu


"Apaaaa?", kata Echa terkejut mendengar perkataan pria tua yang sangat menginjak harga dirinya itu


"Eh sebelum pulang, kamu kasih liat tempik kamu dulu lah. Lumayan dapat diskon 50ribu. Haghaghag", ledek Pak Wardi


Echa sebenarnya masih kesal, tapi akhirnya ia mau saja meladenin permintaan pria tua itu. Ia lepas kain terakhir ditubuhnya dan ia kasih liat alat kemaluannya ke pria tua itu. Echa berdiri telanjang menunjukkan polos tubuhnya yang mulus. Pak Wardi terkesima melihat tubuh Echa. Tubuh gadis yang belum menginjak 20 tahun memanglah sangat menggairahkan baginya.


"Wow.. Sexy bener kamu mbak. Hehehe.. Saya jadi ngaceng lagi"", kata Pak Wardi kemudian


Echa tersenyum mendengar pengakuan Pak Wardi. Memang tubuh indahnya bisa menggoda lelaki manapun yang ia mau. Echa sadar dengan potensi dirinya. Semua ini berkat Mas Rio, pacarnya yang sudah menjadikan Echa seperti ini.


"Potong lagi ya Pak harganya"", pinta Echa


"Waduh, saya genapin jadi 500 deh tapi kamu sepongin kontol saya", kata Pak Wardi


"Jadi saya tinggal bayar 50ribu pak?", kata Echa sumringah


"Bukan, dari harga 600ribu saya kasih harga 500ribu. 100nya buat biaya kamu kasih liat tempik dan sepongin saya", kata Pak Wardi


"Tapi uang saya cuma ada 150ribu pak"", rengek Echa


"Ya udah, kamu bayar 150ribu dulu, sisanya besok saja", kata Pak Wardi


"Beneran nih Pak? Pak Wardi baik deh..", kata Echa


"Tapi ada bunganya ya. Haghaghag", kata Pak Wardi


"Eh bunga apa pak??", kata Echa


"Besok saja pas kamu bayar utang sekalian bayar bunganya. Heheheh.. Yaudah ayo sini sepong kontol saya", kata Pak Wardi menyuruh Echa berlutut dihadapannya


Echa tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan cabul dari penjahit itu. Toh ini semua juga karena ulah gilanya. Ia sendiri yang menginginkan eksib sambil menggoda Pak Wardi.


Echa tanpa permisi menurunkan celana kolor yang dipakai Pak Wardi. Lalu tanpa ragu ia keluarkan alat kelamin kakek tua itu. Mata Echa terbelalak setelah melihat kontol Pak Wardi. Walau sudah tua, kontol Pak Wardi lumayan panjang. Bahkan lebih panjang dari punya Rio pacarnya. Hanya saja, kontol Pak Wardi terlihat pucat, kering, dan keriput. Tetapi itu semua tidak merubah kenyataan bahwa kali ini Echa harus menyepong kontol lelaki yang usianya sudah 65 tahunan.


Echa julurkan lidahnya dan ia cocol sedikit garis kencing lubang Pak Wardi. Lalu pelan tapi pasti lidah Echa mulai bergerak lincah menjilati kepala kontol Pak Wardi. Pak Wardi mengejangkan tubuhnya sambil membelai rambut Echa. Ia tidak menyangka bisa menikmati sepongan gadis yang usianya jauh dibawahnya itu. Pak Wardi berusaha berkonsentrasi fokus ke mesin jahitnya. Dengan cekatan ia mulai menggunting dan menjahit pakaian seragam Echa sesuai hasil pengukurannya tadi


"Ohhh yessss" Enak mbak.. Kamu sudah biasa jilat kontol ya?", goda Pak Wardi sementara Echa mulai melahap batang kontol Pak Wardi


"Jangan-jangan kamu suka sepongin guru-guru sekolahmu ya? Haghaghag" kesayangan guru olahraga nih pasti", goda Pak Wardi sambil memilin putting susu Echa yang mancung


Echa terus menyepong kontol Pak Wardi, tapi otaknya tergoda oleh ucapan Pak Wardi. Echa benar-benar membayangkan sosok guru olahraganya yang berasal dari wilayah timur itu. Lelaki yang berotot dan pastinya kontolnya amat panjang. Guru yang dirumorkan sedang menjalin hubungan diam-diam dengan Miss Riesta. Guru Bahasa Inggrisnya yang cantik jelita itu.


"Ohh Pak Albert" Pasti memek Miss Riesta keenakan itu kena kontol Pak Albert" Beruntung sekali Miss Riesta", gumam Echa dalam hati sambil mulai colmek sambil menjilati kontol Pak Wardi


"Ah.. Kenapa aku ga pernah colmek bayangin beliau ya? Mundur teratur aku mah kalau lawan Miss Riesta. Guru idola sekolah sih beliau", kata Echa dalam hati sambil kini ia mulai memainkan jemarinya dengan lincah di clitorisnya


"Aahhh.. Aaaahhh..", desah Echa keenakan sambil berhenti menjilati kontol Pak Wardi


"Lha malah colmek si lonte.. Ayo sepong lagi. Kalau gak nanti saya kasih harga 800ribu loh buat biaya permaknya", kata Pak Wardi menyadari Echa malah masturbasi di bawah sana


"Sialan"", kata Echa sambil kembali konsentrasi fokus menyepong kontol Pak Wardi


"Awas kalau Mbak bikin saya crot saya genapin 1juta nanti", kata Pak Wardi semena-mena dan Echa hanya mengangguk berusaha menyepong kontol Pak Wardi lama-lama dan jangan sampai lelaki itu keluar.


#


2 jam sudah berlalu, akhirnya Pak Wardi selesai juga memermak pakaian Seragam Echa. Echa juga sudah merasa capek karena selama 2 jam ia melayani kontol Pak Wardi dengan mulutnya. Rasanya rongga mulut gadis cantil itu sudah seperti aroma kontol Pak Wardi saking lamanya ia menjilati kontol pria tua itu.


Echa pun mencoba salah satu pakaian dan benar-benar kekecilan. Echa sampai kesulitan mengaitkan kancing seragam sekolahnya saking kecilnya. Dadanya terasa sesak dan tertekan dengan menggunakan seragam itu sehingga membuat efek payudaranya semakin terlihat bulat dan sexy.


Lekuk Tubuh Echa benar-benar tercetak jelas. Warna kulit tubuhnya yang putih mulus terlihat mengagumkan dibalut pakaian sesexy itu. Payudaranya terlihat sangat mengetat dan puting susunya benar-benar tercetak dari balik seragam sekolah putih abu-abunya. Kancing bajunya yang kesulitan menahan kain seragamnya menghasilkan celah celah lubang kecil yang bisa menampilkan keindahan mulus tubuhnya. Belum lagi rok yang sangat ketat membuat siapapun yang melihat pasti ingin menepuk bokong sexy menantang gadis itu.


"Pak.. Kekecilan"", kata Echa


"Udah bagus itu. Mbak keliatan sexy banget kayak lonte beneran. Hehehe", Kata Pak Wardi sambil meremasi toket Echa yang sangat menggoda


"Err tapi ini" sampai susah dikancingin pak..", kata Echa


"Gapapa, bagus itu udah. Kan kamu sendiri yang tadi minta diketatin gimana sih?", kata Pak Wardi mulai kesal karena Echa terkesan tidak puas dengan hasil karyanya


"iya sih pak" Tapi"", Echa tetap merasa pakaiannya terlalu sexy dan ketat jika dipakai di sekolah


"Udah gak usah kebanyakan tapi. Udah saya utangin juga masih aja bawel!", gerutu Pak Wardi


Echa pun akhirnya pulang kembali ke rumahnya


#


Echa pun pulang ke rumah, Pakaiannya sudah seperti saat ia datang pertama kali di tempat Pak Wardi tadi. Matanya kemudian menangkap sebuah sepeda motor sporty yang dulu kerap ia duduk diatasnya


"Mas Rio??? Kok ada Mas Rio????", kata Echa tidak percaya


Lalu Echa pun memberanikan diri untuk pulang ke rumah. Echa bertanya-tanya mengapa Rio berani datang ke rumahnya. Padahal sudah jelas Echa minta break untuk sementara waktu. Echa lalu berusaha menguatkan hati dan niatnya. Jika memang Rio ingin balikan ia sudah siapkan jawabannya. Echa pun berhenti tepat di depan rumahnya. Terlihat Rio sudah duduk diatas kursi di teras rumahnya. Mata Rio terkejut melihat penampilan Echa yang sudah berubah drastis. Echa yang biasanya kemana-mana memakai kerudung untuk menutup rambutnya, kini ia biarkan tergerai begitu saja. Parahnya, gadis yang dicintainta itu juga terlihat hanya memakai daster yang cukup banyak mengekspose beberapa bagian tubuhnya. Rio sampai terbengong beberapa detik memastikan sosok gadis dihadapannya adalah benar-benar Echa pacarnya.


Memang berpenampilan seperti itu tidak mengurangi keindahan Echa yang memang sudah cantik itu. Namun tetap saja penampilan Echa yang terbuka itu membuat Rio terkejut tidak percaya. Mata Rio juga menangkap berlama-lama potongan daster rendah yang dipakai pacarnya.


Belahan payudaranya juga sedikit mengintip, jakun Rio itu naik turun melihat penampilan berani pacarnya. Ia jadi teringat kejadian-kejadian gila yang pernah ia lalui bersama dengan pacarnya. Mungkin ada ribuan pertanyaan yang menghinggapinya saat ini. Namun coba ia tahan. Rio hanya ingin bertemu kekasihnya saja saat ini. Itu saja dan tidak lebih.


"Mas Rio"", kata Echa lirih


"Hai Yank"", jawab Rio sambil tersenyum manis


Echa kemudian memegang rambutnya. Ia sadar saat ini ia sedang tidak memakai kerudung. Echa lalu buru-baru memarkirkan sepeda motornya dan tidak langsung duduk disamping pacarnya


"Sebentar mas, aku ganti baju dulu", kata Echa sambil bergegas masuk ke dalam rumahnya


Echa lalu segera masuk ke dalam kamar dan buru-buru mengganti daster sexynya yang sangat terbuka itu menjadi sebuah kaos hitam lengan panjang dan celana kulot berwarna krem. Tidak lupa ia tutup rambutnya dengan kerudung terusan berwarna cokelat muda.


Echa sebenarnya merasa aneh saat tiba-tiba ia memutuskan berganti pakaian. Setelah sebelumnya ia keluar rumah hanya menggunakan daster sexy yang sangat terbuka. Iya tidak tahu mengapa ia tiba-tiba memutuskan berganti pakaian saat bertemu lelaki yang pernah ada di hatinya. Setelah beberapa saat lalu ia menikmati saat-saat para lelaki menatap takjub ke arah dirinya. Bukankah ini hasil didikan pacarnya?


Setelah ia berganti pakaian dan menyeka keringat yang tadi bercucuran selama di "Suwardi Tailor" dengan tisu basah, Echa memberanikan diri ke luar menemui pacarnya. Rio terkejut melihat Echa sudah kembali memakai kerudung, lalu ia tersenyum. Dalam hatinya ia sedikit merasa lega. Setidaknya, Echa masih terlihat sehat dan makin cantik saja


"Mas Rio kok bisa masuk rumah?", sebuah pertanyaan lucu dari Echa menyambut kedatangan pacarnya yang sudah hampir sebulan tidak ia temui


Rio kembali tersenyum. Sudah lama ia tidak mendengar suara lugu dan pertanyaan lucu dari pacarnya itu. Sungguh ia merasa kangen sekali dengan gadis yang dicintainya.


"Iya tadi mamamu bukain pintu liat aku datang. Pas mamamu mau keluar", kata Rio


"Sekarang Mama kemana?", tanya Echa lagi


"Ga tau, tadi Mamamu buru-buru keluar lagi sambil bawa banyak terong dan timun. Katanya mau diulek dan disambel", kata Rio


"Hah? Diulek? Disambel??", tanya Echa kebingungan


"Iya aku juga bingung, tapi aku liat Mamamu ceria banget Yank. Syukurlah kayaknya mamamu lagi seneng", kata Rio


"Ohhhh.. ga tau juga sih.. Baru dapat uang kali", jawab Echa ngasal


"Iya kali.. Oiya kamu dari mana Yank? Kamu sehat kan?", tanya Rio basa-basi


"Iya aku sehat kok" Dari jahitin baju tadi", jawab Echa


"Baju? Baju apa Yank?", tiba-tiba Rio panik


"Seragam sekolah. Kebesaran"", jawab Echa


"Kebesaran? Bukankah dari dulu Echa selalu memakai seragam itu kalau ke sekolah? Kenapa baru sekarang dikecilinnya? Udah mau lulus kenapa baru dikecilin?", tanya Rio dalam hati tapo tidak berani ia tanyakan


"Oh aku kira jahitin baju buat nikah ..", kata Rio mengejutkan Echa


"Nikah? Sama sapa?", kata Echa sedikit kesal mendengar candaan Rio


"Ya ga tau kali aja selama break kamu malah mau nikah sama cowok lain", goda Rio semakin membuat Echa kesal


"Pertanyaanmu gak mutu mas", jawab Echa emosi


"Idih marah, kalau marah tambah cantik ih kamu", goda Rio


"Gak lucu", kata Echa masih kesal


Rio kembali terdiam. Ia mengira pacarnya itu mudah diredam emosinya seperti dulu dengan gombalannya. Tetapi saat ini ia merasa pacarnya sudah tidak seperti dulu. Echa terlihat lebih tempramental. Rio pun mencoba mencairkan suasana seperti dulu saat mereka pacaran dengan humorannya. Tapi sepertinya tidak berhasil. Ia bingung mencari pembahasan untuk mencairkan suasana. Karena selama mereka pacaran 80% yang dibahas adalah hal mesum, 20%nya hanya basa-basi


"Kalau sudah gak ada yang diomongin, lebih baik Mas Rio pulang saja", kata Echa kemudian


Rio terkejut, tidak pernah sama sekali ia bayangkan pacarnya itu jadi begitu galak bahkan berani menyuruhnya pulang.


"Anu.. Aku pingin ngajak kamu balikan Yank" aku janji aku interopeksi diri atas kesalahan-kesalahanku di masa lalu. Aku serius sayang sama kamu Echa. Aku pingin nikahin kamu segera setelah aku lulus kuliah dan dapat kerja yang karirnya bagus"", kata Rio sambil menatap Echa serius


Sekarang malah Echa yang terdiam. Sejujurnya dia masih belum siap untuk balikan dengan Rio. Masih banyak hal yang harus ia lakukan saat ini. Ditambah lagi dengan status barunya sebagai budak sex Endrix, justru kenyataan ini akan menyakiti perasaan Rio. Lelaki mana yang ikhlas gadis dicintainya sudah menjadi budak seks lelaki lain. Echa benar-benar tidak ada kepikiran untuk kembali menjalin hubungan asmara dengan Rio. Dirinya sudah benar-benar kotor dan tidak layak dinikahi.


"Aku menyesal Yank. Aku ingin merbaiki ini semua. Kita jalani lagi yuk dengan normal, aku janji ga akan nyuruh kamu aneh-aneh lagi. Please Yank" Aku benar-benar saya sama kamu"", kata Rio lagi


"Plak!" sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rio


Pemuda itu terkejut, tidak menyangka kekasihnya akan menampar sekencang itu. Raut wajah Echa memerah. Sepertinya ia ingin menangis dan juga marah dalam satu waktu. Echa sendiri juga bingung mengapa ia menampar cowok yang pernah ia bucinin itu. Gadis cantik itu sudah melalui banyak hal dan terlalu banyak pikiran di dalam otaknya saat ini. Ingin sekali ia ceritakan semua yang telah dilaluinya tetapi coba ia tahan. Tidak ada gunanya bercerita untuk saat ini. Hal itu tidak akan merubah apapun


"Kamu masih egois mas"", hanya itu yang Echa katakan


"Egois bagaimana? Aku menyesal sayang"", kata Rio lagi


"Kamu gak akan ngerti! Udah lebih baik kamu lupakan aku mas" kamu masih bisa cari cewek lain", ujar Echa


"Ngga bisa Echa! Aku udah mutusin mau nikah sama kamu. Itu aja yang aku mau! Kamu yang ingin kunikahi Cha"", kata Rio serius


"Lupakan aku mas! Kalau kamu sayang aku, lupakan aku mas", kata Echa


"Kenapa?", tanya Rio karena tidak puas dengan jawaban Echa


"Kenapa? Setelah semua yang terjadi kamu tanya kenapa?", kata Echa mulai terisak


"Okay okay!!!! aku akui aku salah. Aku sudah menyesal Yank! Aku juga akan bilang ke temen-temenku jangan ganggu kamu lagi. Please maafin aku Echa!!", kata Rio


"Mas Rio sekarang mending pulang! Kita putus mas!!! Lupakan aku mas"", kata Echa sambil menahan air matanya


"Ngga bisa Echa.. Aku bener-bener sayang sama kamu Echa! Please ngeetiin aku!", kata Rio


"Ngertiin kamu? Sudah dari kemarin-kemarin aku berusaha ngerti kamu! Sekarang aku minta kamu yang ngertiin aku. Udah mending Mas Rii pulang!", kata Echa sambil buru-buru ia langkahkan kakinya masuk ke dalam rumah


Rio berusaha menangkap tangan Echa, tapi gadis pujaan hatinya itu menepisnya dengan sekuat tenaga. Echa masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Rio yang terbengong sendirian di teras rumah.


Rio begitu emosi menyadari usahanya untuk mendapatkan Echa kembali tidak berhasil. Disaat ia hendak meninggalkan rumah gadis pujaan hatinya, ia berpapasan dengan Mang Ujang si penjual nasi goreng. Rio terkejut mendapati si penjual nasi goreng hadir di rumah pacarnya. Ditambah penampilan Mang Ujang yang begitu rapi dan wangi hari ini membuat Rio semakin terheran-heran. Mang Ujang sama terkejutnya dengan Rio karena sudah lama ia tidak melihat sosok kekasih Echa itu ada di rumah gadis incarannya.


"Lho kok gak masuk mas?", tanya Mang Ujang sambil tersenyum ramah


"Mau pulang", jawab Rio kesal


"Mbak Echa ada kan?", tanya Mang Ujang


"Ada kok", jawab Rio


"Oke deh, saya pinjem pacarnya dulu ya mas. Heheheh.. Kangen saya udah lama gak buang peju nih", kata Mang Ujang cengengesan


Ingin sekali Rio menghajar Mang Ujang saat itu juga. Tetapi disisi lain, fantasy gilanya tidak sepenuhnya hilang dari dalam pikirannya. Tiba-tiba kontol Rio ngaceng maksimal. Antara emosi, nafsu, cemburu bercampur menjadi satu. Ia benar-benar penasaran serusak apa pacarnya saat ini.


"Mang"", kata Rio kemudian


"Ya mas"", tanya Mang Ujang


"Ini nomor WA gue. Nanti Mang Ujang rekam semuanya dan kirim ke gue ya", kata Rio sambil menyerahkan secarik kertas bertuliskan nomor WAnya


"Aduh ribet mas pake pegang kamera. Mas masuk aja kayak dulu pas pertama kali, mas syuting sendiri saya entotin Mbak Echa", kata Mang Ujang


"Gue ada keperluan Mang. Gapapa Pacar gue ada tripod kok. Nanti pinjem aja", kata Rio


"OHH" ya udah kalau gitu mas. Saya pinjem Mbak Echa dulu ya mas", kata Mang Ujang


"Oiya Mang"", kata Rio lagi


"Apa lagi mas???", kata Mang Ujang mulai kesal


"Anu.. Jangan bilang kalau saya yang minta. Bilang aja buat dipamerin ke temen-temen Mang Ujang", kata Rio


Mang Ujang terkejut mendengar permintaan aneh pacar Echa itu. Ia merasa salah dengar dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar


"Jadi Mas ngijinin Mbak Echa dipake rame-rame nih?", kata Mang Ujang


"Liat sikon. Kalau pacar gue ga nolak ya silakan dipake rame-rame Mang. Gue cuma pingin tau respon pacar gue gimana. Heheheh", ujar Rio tertawa licik membayangkan apa yang akan terjadi


Ia memang kesal dengan Echa. Jadi ia putuskan ingin melihat sendiri serusak apa pacarnya itu saat ini.


"Ohh.. syukur deh.. Ok mas nanti saya tawarkan ke temen-temen saya kalau Mbak Echa ngga nolak", kata Mang Ujang


"Hehehehh.. Iya Mang.. Oiya satu lagi kalau bisa yang make tubuh pacar saya penjual-penjual kayak Mang Ujang ya Mang. Penjual nasgor, penjual mie ayam, penjual bakso, apapun", kata Rio


"Kalau kuli Mas?", kata Mang Ujang


"Boleh Mang", kata Rio


"Ok Mas. Hehehe.. Yasudah saya pinjem pacarnya dulu mas.. udah ngaceng saya pengen entotin Mbak Echa


"Iya silakan dipake Mang.. Kasarin gapapa Mang", kata Rio puas melampiaskan emosinya saat ini


"Beres" Pokoknya saya buat Mbak Echa klepek-klepek kena kontol saya", kata Mang Ujang


Penjual nasi goreng itu pun mengetuk pintu rumah Echa, sedangkan Rio pun meninggalkan Echa seorang diri di rumah, membiarkan gadis yang dicintainya berduaan dengan lelaki lain sambil tidak sabar ia melihat rekaman Mang Ujang menikmati tubuh pacarnya dengan leluasa tanpa gangguan sama sekali


**Bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 15 : Menghibur Banyak Lelaki


*Tok tok tok"*, suara pintu rumah diketuk


Echa terkejut mendengar suara pintu rumahnya diketuk. Hatinya masih kesal, setelah mendengar permintaan rujuk dari pacarnya. Rio justru ingin memulai semua lagi dari awal. Ia juga berjanji memperbaiki sikapnya dengan tidak merealisasikan fantasy gilanya lagi. Bagaimana Echa tidak kesal, pacarnya itu begitu egois.


Disaat Echa sudah terlanjur terperosok ke dalam dosa-dosa kenikmatan itu, mengapa Rio malah mengajak mulai dari awal lagi seolah tidak terjadi apa-apa? Padahal Echa sudah merasa dirinya begitu rendah saat ini


"Pergi mas! Hubungan kita sudah selesai !!!", teriak Echa dari dalam beberapa saat setelah mendengar ketukan pintu itu


"Tok" Tok" Tok" Mbak"", kali ini Mang Ujang mengetuk pintu sambil bersuara


Echa terkesiap, menyadari sosok yang mengetuk pintu rumahnya bukanlah Rio. Seingat dia, Rio tidak pernah memanggilnya dengan panggilan "mbak". Echa lalu buru-buru menyeka sisa air matanya dan bangkit berjalan membukakan pintu rumahnya.


"Lho? Mang Ujang", kata Echa lirih tersipu, entah ia tidak tahu apakah Mang Ujang mendengar teriakannya barusan


Ia terkejut mendapati sosok Mang Ujang sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Lelaki itu penampilannya begitu berbeda dari biasanya. Ia kini berpenampilan rapi, wangi, dan rambutnya yang disisir klemis. Echa bahkan sesaat tanpa sadar pangling dengan Mang Ujang yang berpenampilan seperti itu


"I.. Iya Mbak.. Heheheh..", kata Mang Ujang sambil menggaruk rambutnya


"Ma.. Masuk dulu Mang".", kata Echa lalu membukakan pintu untuk Mang Ujang


"Eh? Gapapa nih?", tanya Mang Ujang pura-pura bloon


"Gapapa Mang"", kata Echa sambil mempersilakan Mang Ujang masuk ke dalam rumahnya


Pintu pun ditutup dan tak lupa Echa mengunci pintu. Echa lalu kebingungan mengapa tangannya reflek mengunci pintu rumahnya. Mungkin hati kecilnya takut Rio memergokinya sedang bersama Mang Ujang di dalam rumahnya sehingga ia memutuskan untuk mengunci pintu rumah demi keamanan.


Mang Ujang duduk di sofa ruang tamu Echa sambil matanya melihat ke arah sekitar. Terlihat rumah yang sepi dan gelap karena lampu yang sengaja dimatikan siang itu. Echa lalu duduk disamping Mang Ujang. Ia sepertinya tidak menyangka disaat seperti ini Mang Ujang malah datang ke rumahnya.


"Kok sepi mbak rumahnya? Mama Mbak Echa kemana?", tanya Mang Ujang sambil tersenyum


Sebenarnya pertanyaan itu hanyalah basa-basi. Mang Ujang tahu dimana Mama Echa berada saat ini. Karena tadi dia juga ada disana, menonton Mama Echa di rumah Pak Robert bersama bapak-bapak warga perumahan lainnya. Yang jelas disana sedang diadakan sebuah pesta yang gila. Saking gilanya, Mang Ujang harus mendatangi Echa untuk menuntaskan hasratnya. Sebenarnya Mang Ujang bisa saja ikut serta di pesta itu. Tapi dia sungkan karena bukan warga perumahan, sehingga dia lebih memilih diam dan menonton lalu memutuskan pamit pergi karena tidak tahan menahan hasrat birahinya.


"Iya nih Mang, ga tau mama kemana. Kayaknya sih mau makan-makan sama temen-temennya. Soalnya bawa terong dan timun tadi, mau nguleg bikin sambelan", jawab Echa polos


"Oh diuleg ya? Hehehe"", kata Mang Ujang kembali birahi karena tau yang sedang diuleg sebenarnya bukanlah terong atau timun, tapi memek mamanya Echa


"Hmmm" Mang Ujang mau minum apa?", tanya Echa


"Ehh susu aja boleh?", jawab Mang Ujang mesum


"Ga ada Mang kalau susu, adanya teh" Aku buatkan teh ya Mang?", tawar Echa


"Yahh padahal pingin susu Mbak... Iya boleh deh, teh aja", jawab Mang Ujang pada akhirnya.


Gadis cantik itu pun berjalan menuju dapur. Mata Mang Ujang jelalatan memandangi bongkahan pantat Echa yang terbungkus celana kulot warna krem yang dipakainya. Megal-megol Sangat menggoda ketika berjalan. Apalagi samar-samar garis celana dalamnya terlihat, membuat mata Mang Ujang betah berlama-lama melihat bokong sexy Echa saat membelakangi dirinya.


"Bokong yang sangat menggoda, enak bener tuh ditampar-tampar sambil disodok kontol", gumam penjual nasgor itu sambil meremas kontolnya yang mulai terasa sesak dibalik celana jeans yang ia pakai.


Selang beberapa saat Echa kembali ke ruang tamu sambil membawa secangkir teh hangat untuk Mang Ujang. Gadis cantik itu terlihat amatlah cantik sambil membawa nampan hingga membuat Mang Ujang melamun jorok. Bulat payudaranya nampak menggoda di balik kaos lengan panjang hitamnya.


"Di minum dulu Mang", kata Echa sambil meletakkan teh untuk Mang Ujang


"Eh iya makasih ya Mbak", jawab Mang Ujang sambil mengendus aroma parfum Echa yang tercium dari tubuh gadis itu


Mereka sempat terdiam sejenak. Tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara keduanya. Terlihat Echa begitu kikuk sambil memainkan kain celana kulotnya, sedangkan Mang Ujang bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Melihat tingkah mereka yang seperti itu, tidak akan ada yang menyangka mereka pernah berhubungan badan begitu panas.


Namun bagaimanapun, Mang Ujang sebenarnya sudah birahi tinggi ingin mencoblos memek gadis disampingnya itu. Tetapi ia juga merasa bingung memulai pembicaraan. Karena tadi ia dengar sendiri bagaimana Echa sempat berteriak mengusir pacarnya dari rumah. Mang Ujang tidak ingin salah langkah dan membiarkan Echa nyaman dulu saat bersamanya


"Mang" Mbak"", terdengar kedua insan itu saling memanggil bersamaan


"Eh.. Mang Ujang dulu aja", kata Echa tersipu malu


"Enggak Mbak Echa dulu aja", kata Mang Ujang kembali menggaruk kepalanya


"Anu.. Mang Ujang mau kemana? Kok rapi bener", tanya Echa basa-basi


"Ohhh.. Ya ini sengaja mau ke rumah Mbak Echa. Hehehe", jawab Mang Ujang


"Mau ketemu aku? Ada apa Mang?", tanya Echa penasaran


"Anu.. itu".", Mang Ujang bingung menjawabnya


Karena sudah jelas niatnya sejak awal ingin bersetubuh dengan Echa. Karena Echa sendirilah yang pernah bilang kepadanya kalau lagi pingin, bisa mendatanginya. Namun situasinya kali ini sedikit berbeda karena Echa ternyata sedang ada masalah dengan pacarnya.


"Saya kangen Mbak"", kata Mang Ujang pada akhirnya


Echa terdiam sejenak. Tidak menyangka Mang Ujang ternyata merasa kangen kepada dirinya. Padahal ia bukan siapa-siapa Echa, namun dalam hati Echa merasa sedikit senang. Karena masih ada orang yang merindukan dirinya. Memang sudah lama mereka tidak berjumpa. Karena Echa lebih sibuk dengan kegiatan sekolahnya bersama Endrix sehingga ia kini jarang keluar rumah untuk sekedar membeli nasi goreng buatan Mang Ujang.


"Hihihi Mang Ujang bisa aja" Jadi sengaja dandan rapi buat ketemu aku nih?", goda Echa sambil tertawa kecil


"Iya hehehe.. Ganteng gak mbak?", tanya Mang Ujang sambil membusungkan dada


"Iya iya ganteng. Hihihi", kata Echa sambil tertawa kecil


"Hehehe" Asik dibilang ganteng sama Mbak Echa", kata Mang Ujang


"Lebay deh Mang Ujang, Eh Mang? Kok berani kesini sih? Misal ketahuan mamaku gimana?", tanya Echa tiba-tiba


"Oh saya sudah perhitungkan kok Mbak. Lagian mamanya Mbak Echa juga lagi sibuk", kata Mang Ujang


"Hah? Sibuk? Tau darimana Mang??", tanya Echa penasaran


"Nih saya lihat dari sini", kata Mang Ujang sambil menunjuk kuku jempolnya


"Ih apaan sih Mang, ditanya serius malah jawabnya bercanda melulu", kata Echa sambil menepuk bahu Mang Ujang


"Hehehe" Kan tadi kata Mbak Echa mama lagi nguleg dan nyambel sama temen-temennya. Jadi pasti sekarang lagi sibuk", kata Mang Ujang pura-pura tidak tahu apa-apa


"Iya sih, kira-kira mama lama ngga ya Mang?", tanya Echa sambil ia gerakkan kedua kakinya terlihat seperti sedang gelisah


"Saya pastikan mamanya mbak bakalan lama. Apalagi kalau lagi di rumah Pak Robert. Uppssss", kata Mang Ujang keceplosan


"Hah? Di rumah Pak Robert? Pak Robert siapa??", tanya Echa terkejut mendengar ucapan Mang Ujang


"Anu" Itu lho Mbak" Yang kapan hari pernah ketemu Mbak Echa waktu beli nasgor saya, yang badannya tinggi besar", kata Mang Ujang


"Oh yang waktu hujan-hujan itu? Yang katanya orang terkaya di sini?", kata Echa


"Nah iya betuuull", jawab Mang Ujang


"Mama ngapain disana Mang??", tanya Echa semakin penasaran


"Lho kok nanya lagi. Kan sudah jelas mama mbak Echa lagi nguleg dan nyambel disana. Hehehehe... Tenang aja disana rame-rame kok Mbak", kata Mang Ujang cengengesan membayangkan apa yang terjadi saat ini di rumah Pak Robert


"Oh.. Iya sih, syukurlah kalau rame-rame. Kalau cuma berdua pasti tetangga-tetangga mikir macem-macem dan mama jadi bahan ghibah", jawab Echa sambil menarik nafas lega


"Emang tetangga bakalan mikir gimana mbak?", goda Mang Ujang


"Yaa... pasti curiga gitu deh Mang"", jawab Echa


Echa sungguh tidak bisa ikhlas jika mamanya berduaan di rumah Pak Robert, lelaki berbadan tinggi besar dengan wajah menakutkan itu. Echa takut tetangganya jadi mikir macam-macam melihat Bu Alya yang selalu berpakaian syari" menutup aurat sempurna itu berduaan rumah Pak Robert. Apalagi Echa takut jika kabar itu sampai ke telinga papanya. Echa merasa papanya pasti akan merasa malu jika mama di cap buruk oleh para tetangganya.


"Hmm kita kan sekarang juga berduaan mbak, bikin curiga tetangga dong?", goda Mang Ujang


"Errr.. Iya Mang.. Mangkanya Echa tutup pintunya", jawab Echa kikuk


"Oh.. Biar aman ya mbak? Hehehe" Tapi kan jadi gerah", goda Mang Ujang sudah tidak tahan


"Iya sih Mang.. Gapapa gerah dikit", jawab Echa


Suasana kembali hening, Mang Ujang sudah amat bernafsu dengan gadis di sebelahnya itu. Aroma khas tubuh Echa perlahan keluar karena suasananya yang begitu pengap di ruang tamu kecil itu. Namun Mang Ujang bingung memulainya. Salah-salah Echa malah ilfeel dengannya.


"Mang"", panggil Echa lirih


"Eh" Iya Mbak?", tanya Mang Ujang terkejut


"Maaf ya Mang tadi Echa pikir yang ketuk pintu Mas Rio", kata Echa sambil tertunduk menyadari kesalahannya


"Iya gapapa Mbak, lagi ada masalah ya sama cowok Mbak?", tanya Mang Ujang kepo


"Iya Mang"", jawab Echa


"Pantesan aja tadi saya papasan sama cowoknya mbak dia keliatan marah-marah", kata Mang Ujang mulai mengarang cerita


Echa terkejut mendengar pengakuan cerita Mang Ujang


"Mang Ujang ketemu Mas Rio? Dia marah-marah kayak gimana Mang?", tanya Echa penasaran


"Ya kayak ngomel-ngomel sambil sumpah serapah gitu lah", ujar Mang Ujang sambil memasang wajah kesal


"ngomel-ngomel nyumpahin gimana?", kini Echa semakin penasaran


"Tapi Mbak Echa jangan marah ya", kata Mang Ujang


"Iya aku ngga akan marah kok Mang" Mang Ujang ceritain aja", kata Echa antusias


"Anu.. Tadi saya dengar pacarnya mbak Echa marah-marah nyebut-nyebut cewek murahan. Baru ngerasain kontol penjual nasgor aja belagu. Syukur-syukur memekmu ada yang mau. Orang baunya aja kayak ikan asin", kata Mang Ujang menahan tawa mengadu domba kedua pasangan itu


"Memek aku baunya kayak ikan asin????", kata Echa terbelalak mendengar cerita Mang Ujang


"Iya Mbak katanya memeknya mbak baunya kayak ikan asin. Kurang ajar bener dia mbak", kata Mang Ujang memanas-manasi


"Terus gimana Mang?", tanya Echa lagi


"Ya dia kaget pas lihat saya di jalan depan rumah Mbak Echa. Nanya kan dia saya mau kemana. Ya udah saya jawab Mau ke rumah Mbak Echa. Terus dia bilang Mang Ujang mau sama mantan saya? Ambil aja Mang! Barang bekas dia mah, memeknya bau", ujar Mang Ujang mengarang cerita


"Ba.. Barang bekas??? Memek bau????", Echa kembali terkejut mendengar cerita karangan Mang Ujang


"Iya mbak" Maaf ya mbak saya Cuma ceritakan apa yang saya dengar"", kata Mang Ujang


"I.. Iya gapapa Mang terus dia nyumpahin apa Mang?", tanya Echa lirih


"Mbak Echa yakin mau denger?", kata Mang Ujang


"Iya ceritakan aja Mang aku gapapa kok"", jawab Echa


"Ya dia nyumpahin Mbak Echa jadi lonte murahan" yang peminatnya cuma pedagang kaki lima kayak saya, kalau gak gitu kuli-kuli bangunan yang cuma bisa bayar Mbak Echa murah", kata Mang Ujang


Mata Echa terbelalak kesekian kalinya mendengar ucapan Mang Ujang. Tidak pernah ia menyangka Rio cowoknya menilainya seburuk itu. Ia tahu Rio memang mesum, tapi tidak pernah pacarnya itu berkata begitu menyakitkan tentangnya. Walau Echa sudah biasa direndahkan oleh Endrix tetapi ia tidak terima jika Rio juga ikut merendahkan harga dirinya. Dirinya menjadi murahan seperti ini karena ulah Rio. Dan Rio tidak berhak berkata seperti itu. Echa benar-benar sakit hati mendengar penuturan Mang Ujang


Sementara itu di dalam hatinya Mang Ujang tertawa terbahak-bahak. Akhirnya kedua sejoli itu pada akhirnya harus kandas hubungannya secara menyakitkan. Ia cemburu dengan Rio karena menjadi pacarnya Echa. Walau seharusnya dia juga berterima kasih ke Rio karena Rio-lah, Mang Ujang diberikan kesempatan menikmati tubuh Echa.


"Maaf ya mbak saya cuma cerita apa adanya" Keputusan mbak untuk pisah sudah betul mbak.. Dia cowo brengsek yang tidak pantas mbak cintai", tanya Mang Ujang


Echa terdiam, ia sendiri tidak tahu apakah ia masih cinta dengan Rio atau tidak. Padahal dulunya ia benar-benar bucin dan menuruti semua permintaan kekasihnya itu. Tapi, setelah mendengar cerita Mang Ujang, rasa cinta Echa untuk Rio benar-benar habis tak tersisa


"Iya Mang" Terima kasih sudah ceritain semua ke aku", jawab Echa


Suara gadis itu gemetaran saat memutuskan tidak mencintai pacarnya lagi. Terlihat betul suasana hatinya mulai gundah. Air matanya coba ia tahan sebisa mungkin walau akhirnya beberapa tetes jatuh keluar juga.


Mang Ujang membelai kepala Echa. Echa sedikit terkejut dengan perlakuan Mang Ujang yang tiba-tiba romantis ini. Belaian tangannya amatlah lembut ke kepala Echa yang masih terbungkus kerudung instan berwarna kremnya. Echa pun merasa sedikit nyaman dengan perlakuan Mang Ujang


"Ada Mang Ujang yang selalu menunggumu Mbak" Mang Ujang selalu sayang sama Mbak Echa", kata Mang Ujang mencoba mencuri kesempatan


Echa terhenyak mendengar ucapan Mang Ujang yang terlalu tiba-tiba itu. Walau ia sendiri sudah tau perasaan Mang Ujang, tapi tetap saja ucapan Mang Ujang barusan seperti sedang "menembak" dirinya lagi.


"Errr tapi Mang" Echa" Gak sebaik yang Mang Ujang kira".", kata Echa tersipu malu karena lelaki disebelahnya itu kini terus memandanginya sehingga membuatnya salah tingkah


"Saya siap terima segala kekurangan Mbak Echa. Hehehe"", kata Mang Ujang


"Tapi.. Kenapa Mang Ujang masih ngebet sama Echa?", tanya Echa penasaran


"Soalnya saya cinta mati sama Mbak Echa dan gak mau lihat Mbak Echa sedih"", kata Mang Ujang


Echa terdiam


"Hmmm Mang"", kata Echa kemudian dengan lirih


"Iya mbak?", sahut Mang Ujang


"Mang Ujang beneran cinta sama Echa?", tanya Echa


"Iya saya cinta banget sama Mbak Echa", jawab Mang Ujang


"Berarti Mang Ujang pingin jadi pacar Echa?", tanya Echa membuat Mang Ujang terkejut


"Eh? Iya saya mau jadi pacarnya Mbak Echa kalau Mbak Echa mau. Heheheh", kata Mang Ujang


"Hmmm.. Makasih ya Mang"", kata Echa kali ini


"Iya sama-sama mbak", jawab Mang Ujang blo"on


"Tapi ada syaratnya?", kata Echa kemudian


"Syarat apa mbak?", kata Mang Ujang


"Jangan panggil Echa dengan panggilan "Mbak"" Orang Echa lebih muda dari Mang Ujang. Hihihi", kata Echa


"Terus mau dipanggil apa?", tanya Mang Ujang


"Terserah Mang Ujang aja", jawab Echa


"Hmmm saya panggil Sayang aja deh, udah ga ada yang marah kan?", kata Mang Ujang


"Terserah Mang Ujang aja", jawab Echa lagi


"Sayang" Jadi gimana? Saya jadi pacarnya Mbak Echa nih sekarang", kata Mang Ujang sunringah


"Hihihi.. Maaf ya Mang" aku lagi gak pingin pacaran dulu"", jawab Echa membuat Mang Ujang kecewa


Rasa penuh kekecewaan begitu nampak di raut wajah Mang Ujang. Walau gadis yang dicintainya itu kini telah single, namun tetap saja ia tidak bisa mendapatkan cinta gadis itu. Echa kembali menolak pernyataan cinta dari Mang Ujang. Echa menyadari Mang Ujang kecewa dengan jawabannya lalu gadis cantik itu berdiri di hadapan Mang Ujang.


Bagaimanapun Echa masih kesal dengan ucapan mantan pacarnya. Ia putuskan doa dan sumpah serapah Rio ke dirinya akan ia kabulkan sendiri. Ia akan menjadi lonte murahan. Ia tidak akan pilih-pilih cari cowok yang ganteng atau yang tajir. Ia akan berikan tubuhnya ke siapapun yang menginginkan dirinya.


*Terima kasih Mas Rio, sekarang aku akan kabulkan doamu. Kamu akan lihat tubuhku dipakai banyak lelaki biar kamu puas"*, kata Echa dalam hati


Echa tersenyum menggoda ke arah Mang Ujang, kedua tangannya kemudian mulai sibuk menarik lepas kaos lengan panjang warna hitamnya. Tak membuang waktu lama, Echa juga mulai memelorot celana kulot warna kremnya hingga kini Echa hanya tinggal mengenakan bra dan celana dalamnya saja, juga kerudung instan yang masih ia pakai dikepalanya.


"Terima kasih ya Mang udah cinta sama aku dari dulu.. Mang Ujang ga usah sedih, walau aku ga jadi pacar Mang Ujang, tapi Mang Ujang boleh pakai aku sepuasnya kapanpun Mang Ujang mau"", kata Echa nakal


Mata Mang Ujang berbinar-binar memandangi Echa yang sudah melepas pengait bra nya dan dilempar begitu saja hingga payudara gadis cantik itu tumpah keluar. Kontol Mang Ujang cenut-cenut melihat pemandangan luar biasa itu. Payudara Echa tampak sempurna dengan pentil susunya yang mungil berwarna cokelat muda.


"Tadi Mang Ujang mau susu kan? Mau susu aku gak Mang?", goda Echa sambil meremas kedua payudaranya


Mang Ujang mengangguk cepat-cepat. Tidak menyangka tipu muslihatnya akan berhasil secepat ini. Mang Ujang tahu Echa adalah keturunan dari seorang wanita lonte. Jadi ia yakin buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Echa sama saja dengan mamanya. Sama-sama wanita berjiwa lonte.


Echa kemudian duduk di pangkuan Mang Ujang. Ia arahkan sendiri puting susunya ke bibir Mang Ujang. Mang Ujang langsung mengemut penuh nafsu pentil susu menggoda itu. Ia jilati pentil Echa sambil ia sedot kuat-kuat. Echa menggeliat keenakan, mulutnya terus mendesis dan mendesah pelan sambil menyusui Mang Ujang.


"Aaaahh.. emut pentil aku Mang.. Iyaahhh..", erang Echa keenakan saat penjual nasi goreng langganannya terus menyusu di payudaranya


Setelah puas dijilati puting susunya, Echa kemudian duduk berjongkok diantara selangkangan Mang Ujang. Echa menatap mata Mang Ujang dalam-dalam, seolah ia sedang berharap Mang Ujang memberikan kontol untuknya.


"Mau kontol Mang Ujang"", goda Echa sambil meremas area selangkangan penjual nasgor itu


*Gila ni cewek lacur bener. Putus sama cowoknya malah menjadi-jadi.. Heheheh"*, kata Mang Ujang dalam hati sambil ia lepas celananya hingga kontolnya yang sudah keras mengacung keluar


"Hmmmm" Besar banget kontolnya Mang Ujang", puji Echa sambil ia kocok sebentar kontol Mang Ujang


"Heheheh.. Kamu mau sayang?", goda Mang Ujang melihat Echa sudah tidak sabar


"Mau... Aku Mau kontol", jawab Echa antusias


"Bilang I Love You dulu gih ke saya. Heheheh" Nanti kamu saya kasih kontol", kata Mang Ujang sambil terkekeh


"Hmmm tukang maksa deh Mang Ujang ini" I Love You Mang Ujang"", kata Echa dengan manja


"Hehehe" Ahhh senangnya saya dibilang gitu sama kamu sayang" Ya udah sini-sini cium kontol saya dulu", kata Mang Ujang sambil ia buka lebar kedua kakinya agar Echa lebih luas ruang geraknya


Echa lalu langsung menciumi kontol keras Mang Ujang. Sambil dikocoknya pelan-pelan penuh perasaan alat kelamin Mang Ujang agar semakin membengkak. Echa sangat lihai memainkan lidahnya, ia pastikan tidak ada bagian yang luput dari jilatan lidahnya. Mang Ujang mendesah keenakan tidak percaya gadis yang disukainya itu tanpa rasa sungkan sedang menjilati dan menciumi alat kemaluannya.


Setelah semua bagian basah terkena liurnya, Echa mulai memasukkan gagang kontol keras itu ke dalam rongga mulutnya. Terasa penuh sesak rongga mulut gadis cantik itu saat dimasuki kontol panjang Mang Ujang. Echa gerakkan maju mundur kepalanya dan mulai menyepong kontol kaku Mang Ujang penuh gairah.


"Yessss.. Aahhhhh" Bagus sayang.. Aaahhh.. Enak seponganmu Sayang Echaaa"", rancau Mang Ujang menikmati kuluman Echa


Tubuh Mang Ujang terus menggeliat saat Echa tanpa berhenti mengulum kemaluannya. Nampak sekali gadis itu sudah fasih memuaskan kontol lelaki. Lidahnya sesekali bergerak lincah menjilati garis lubang kencing Mang Ujang, lalu kembali ia lahap habis batang kontol panjang itu.


"SSSSHHHHH" Enak sayang" Uhhh kamu pinter banget Echa sayanggg"", kata Mang Ujang sambil meremas kerudung Echa yang masih berada diantara selangkangannya


Echa masih tak berhenti menyepong kontol penjual nasi goreng langganannya. Mulutnya begitu aktif bergerak naik turun mengulum gagang kontol keras itu. Lidahnya bergerak menyusuri tiap bagian kemaluan Mang Ujang. Ia juga tidak jijik menjilati biji peler Mang Ujang yang hitam dan keriput


"Enak mana sama kontol pacarmu sayang? Iyaahh Aaaahhh cium pelerku sayang"", goda Mang Ujang sambil terus memegangi kepala Echa agar gadis pujaanya itu terus menservis kontolnya dengan totalitas


"Enak kontol Mang Ujang jauhhhhh. Besar banget.. Kontol dia B aja rasanya, gak enak sama sekali", kata Echa sambil menciumi buah peler Mang Ujang yang beewarna cokelat tua dan keriput


"Hahahahah" Iya sayang" putuskan saja pacarmu lalu cari kontol yang besar kayak punya saya Heheheh" Sayang banget cantik-cantik cuma dapat kontol ukuran standard", tawa Mang Ujang mendengar jawaban Echa


"Iya Mang, enakan muasin kontol kayak Mang Ujang gini. Hihihi", jawab Echa


Mang Ujang kemudian menarik tubuh telanjang Echa agar duduk diatas pangkuannya. Mereka saling berhadap-hadapan dan Mang Ujang tanpa banyak membuang waktu langsung memeluk tubuh Echa, mendekapnya erat dan melumat bibir gadis cantik itu. Mereka bercumbu dengan panas, lidah mereka saling bertemu dan saling melumat penuh nafsu. Pertemuan bibir mereka menghasilkan suara-suara yang terdengar begitu basah dan intens.


Echa pun sama binalnya, ia ciumi bibir Mang Ujang penuh nafsu layaknya lelaki itu adalah pacarnya. Ia juga membiarkan penjual nasi goreng langganannya itu meraba tubuhnya selagi mereka bercumbu. Tangan Mang Ujang bergerilya meraba punggung Echa yang mulus, sesekali ia remas payudara gadis cantik itu. Echa sudah tidak peduli lagi. Ia sudah niatkan dalam hati menjadikan dirinya sendiri seorang wanita murahan.


Ciuman Mang Ujang mulai turun ke leher Echa yang masih tersembunyi di balik kain kerudungnya. Mang Ujang terlihat kesulitan karena kerudung Echa masih menutupi bagian lehernya. Echa kemudian melilitkan kerudungnya dan menyingkapnya ke belakang agar penjual nasi goreng itu lebih leluasa menciumi lehernya. Mang Ujang lalu mencoba membuka sedikit kerudung Echa. Terpampanglah leher mulus wangi itu. Mang Ujang dengan penuh nafus langsung menciumi dan menggigiti leher Echa


"Ouuhhh Mang" Ssssshhhh", desah Echa kegelian terkena kumis tipis Mang Ujang


"Wangi bener badan kamu sayang" Coba buka ketiakmu", pinta Mang Ujang sambil mengendusi sela payudara dan lengan gadis itu


"Aku keringetan Mang" Jangan", kata Echa namun tetap saja ia buka kedua ketiaknya dan membiarkan si penjual nasi goreng memandangi ketiak mulusnya


Mang Ujang menatap lezat tubuh Echa yang begitu pasrah itu. Ia lalu menciumi kedua ketiak Echa dengan ganas. Ia ciumi dan ia jilati ketiak mulus Echa sampai air liurnya membasahi ketiak gadis cantik itu. Echa mendesah kegelian namun coba ia pertahankan posisi seksinya yang sangat menggoda Mang Ujang. Kedua tangannya tetap ia buka lebar, dan Mang Ujang dengan bebas menggerayangi dan menciumi tubuh Echa.


*Hehehe.. Cewekmu bener-bener mantab mas, tiap lekuk tubuhnya sempurna. Terima kasih sudah ngijinin saya nikmatin pacarmu yang kayak lonte ini*, ujar Mang Ujang dalam hati sambil terus menikmati tubuh Echa


Lelaki yang sudah bernafsu itu tidak peduli lagi dengan permintaan Rio yang memintanya untuk merekam semua yang terjadi di rumah Echa. Mang Ujang putuskan untuk menikmati gadis cantik itu dengan caranya sendiri. Ia tidak mau diatur-atur lagi oleh lelaki yang sudah bukan siapa-siapanya Echa.


"Memek kamu udah becek sayang.. Masukin gih", pinta Mang Ujang


"Iya Mang.. Aku udah sange tau dari tadi pingin dientot kontol besar Mang Ujang. Tapi".", kata Echa terhenti


"Tapi kenapa sayang?", tanya Mang Ujang


"Memek aku bau ikan asin Mang.. Emang kamu mau?", goda Echa


"Heheheh.. Cowokmu aja yang bego" Memek sedap gini kok dibilang bau ikan asin"", kata Mang Ujang


"Ya udah, kalau mantanku itu udah gak mau sama memek aku.. Memek aku buat Mang Ujang aja deh", kata Echa menggoda


"Heheheh.. Iya memekmu buat aku aja sayang" Buruan masukin kalau gitu, memekmu dah gak sabar tuh Yang pingin dientot, udah becek"", kata Mang Ujang tidak sabar


"Iya Mang, aku masukin ya Mang. Maaf ya Mang", kata Echa sambil mulai menyentuhkan bibir vaginanya ke kepala kontol Mang Ujang


Gadis cantik itu lalu mengarahkan kontol Mang Ujang dan ia masukkan sendiri kontol Mang Ujang ke kemaluannya. Tidak susah, karena memeknya sudah sangat basah. Echa lalu menggoyangkan pinggulnya dengan penuh kenikmatan saat kontol Mang Ujang mulai membelah kemaluannya. Mang Ujang memejamkan mata keenakan, Echa pun juga demikian. Ia nikmati tiap gesekan yang ia rasakan pada dinding vaginanya.


*Jleb jleb jleb*


"Ouhhhh Ouhhh Aaaahhhh Enak kontolmu Mang"", kata Echa sambil terus menggoyangkan tubuhnya dan membiarkan kontol Mang Ujang mengaduk-aduk bagian dalam vaginanya


"YESSSS" Oouuhhh sayanggg.. Memekmu juga enak sayanggggg.. Anget sayang", puji Mang Ujang


"Iyaaahhhh.. Kata sapa memek aku gak enak" aaaahhh aaahhh", kata Echa


"Udah lupain aja cowokmu itu" Sekarang kamu layanin aku" Goyangin memekmu Echa sayang".", lenguh Mang Ujang dan Echa semakin semangat mengaduk-aduk kontol Mang Ujang dengan kemaluannya


Tidak ada keraguan dalam benak Echa bersetubuh dengan Mang Ujang siang ini. Echa menikmati tiap tusukan kontol Mang Ujang ke liang senggamanya. Terasa begitu mantab karena teksturnya yang kasar dan berurat. Echa terus menggerakkan tubuhnya dengan liar, jika kontol Mang Ujang lepas, ia masukkan lagi ke lubang memeknya dan kembali bergoyang diatas tubuh si penjual nasgor itu. Semua ia lakukan juga sebagai rasa terima kasih, karena Mang Ujang sudah mencintainya begitu lama walau tak terbalas.


"Iyah Mang, nikmatin memek aku Mang" Biar cowokku nyesel bilang gitu" aahhh" aaaaahhhh" ahhhhh.. Mang".", kata Echa panas


Menyadari gadis cantik itu sudah semakin bergairah, Mang Ujang tidak sabar lagi ingin menghujamkan total kontolnya ke liang senggama Echa. Mang Ujang lalu merubah posisi Echa. Kini Echa ditidurkan diatas sofa, kedua kakinya dibuka mengangkang lebar. Nampak memek berjembut rapi yang begitu menggoda sudah terbuka. Begitu becek dan berlendir menggairahkan. Mang Ujang pun langsung menindih tubuh telanjang Echa. Dalam sekali coblosan saja, kontol Mang Ujang langsung ambles lagi dan ia kembali menggenjot kuat-kuat lubang hangat gadis cantik itu. Echa terus mendesah keenakan digenjot kontol besar penjual nasi goreng langganannya.


*Jleb jleb jleb jleb* kedua kelamin mereka saling bertemu dengan penuh gairah


"Ohhhh.. I love You Echa sayanggg.. Aaahhhh"", kata Mang Ujang sambil mencumbu sekali lagi bibir Echa


"I love you tooo Mang Ujang" Aaahhhh" Kontolmu" enak" Aaahhh"", jawab Echa keenakan sambil memeluk erat pinggang Mang Ujang


"Mpphh.. mphhh.. cuppppp"", bibir mereka terus cipokan dengan penuh kenikmati bagai seorang kekasih


Echa bahkan semakin membuka kakinya lebar-lebar agar Mang Ujang bisa lebih leluasa menyetubuhinya. Ia juga memeluk tubuh kurus Mang Ujang erat-erat seolah tidak ingin persetubuhan itu cepat selesai. Echa benar-benar ingin memuaskan Mang Ujang setelah hatinya terluka. Ia lampiaskan seluruh amarahnya dengan menyerahkan tubuhnya secara total untuk Mang Ujang.


*Tidak ada yang perlu disesali dari cowok kayak dia*, ujar Echa dalam hati


"Ohhh.. Enak Mang Ujang" Kontolmu enak banget Mangggg.. Oohhh.. Ohhh.. terus entot aku mang" Hamilin aku Mang". Aku ikhlas"", rancau Echa sambil terus mengangkang


"Boleh nih saya hamilin kamu sayang?", tanya Mang Ujang semakin semangat menggenjot memek Echa yang becek


"Boleeeehh Mang" Memek aku boleh Mang Ujang pejuin sampai hamill.. Yesss yesss ouuhhh"", rancau Echa menggila


Mang Ujang semakin cepat menyodok memek Echa yang sudah sangat becek berlendir itu. Rasanya begitu nikmat menyetubuhi gadis muda yang sangat cantik itu. Sungguh beruntung Mang Ujang bisa menikmati tubuh Echa seperti ini. Ia bisa bercinta penuh nafsu dengan gadis pujaannya, bahkan gadis itu rela dihamili olehnya. Mang Ujang semakin semakin ingin menghamili Echa. Kalau ia berhasil menghamili Echa, maka ia akan bertanggung jawab dan bisa menikahi Echa sesegera mungkin.


"Sssshhhh" Aku hamilin kamu sayang" Nih terima pejukuuuu" ", pekik Mang Ujang sambil ia dorong kontolnya ke rahim Echa dalam-dalam


"Iyaaaaaahhhh" pejuin yang banyak Mang Ujangggg.. Hamilin aku Mang".", pekik Echa


*Crot crot crot crot*semburan lahar kental Mang Ujang mulai muncrat


Kontol Mang Ujang kedutan, bersamaan dengan itu semburan lendir lengket hangat langsung terasa memenuhi rahim Echa. Tampak sekali wajah Echa ngos-ngosan kepayahan setelah puas digenjot kontol Mang Ujang yang kaku bak gagang kayu. Mang Ujang pun belum mau berhenti menggenjot memek gadis pujaan hatinya itu. Ia terus menggerakkan kontolnya perlahan ke kemaluan Echa.


Peju yang terisi di vagina Echa membuat dinding kemaluan gadis itu licin saat Mang Ujang terus menggerakkan kontolnya di lubang kenikmatan gadis itu. Mang Ujang sepertinya tidak mau berhenti, walau sudah keluar kontol Mang Ujang terus bergerak maju mundur menikmati gesekan kemaluan mereka yang sudah licin.


Mereka kembali berciuman begitu mesra. Tangan Echa dilingkarkan di leher Mang Ujang dan lidah mereka saling melumat dan menjilati satu sama lain. Ciuman yang sangat erotis dan penuh gairah. Tanpa ragu, Echa juga turut melumat lidah Mang Ujang. Setelah semua cairan sperma Mang Ujang mulai mengering, barulah ia cabut kontolnya dari kemaluan Echa. Vagina Echa terlihat lecek habis dipakai oleh Mang Ujang. Peju kental Mang Ujang sebagian keluar setelah tertampung beberapa saat di dalam rahimnya. Mang Ujang bahkan sempat menggosokan kepala kontolnya ke jembut Echa agar batang penisnya bersih kembali.


Echa pun mencolek sperma Mang Ujang yang ada dalam lubang memeknya dengan telunjuknya lalu ia jilat telunjuknya seperti sedang menjilati susu kental manis. Ia lakukan itu berkali-kali hingga kemaluannya bersih tak tersisa. Mang Ujang terpana, melihat gadis pujaan hatinya sedang menikmati rasa spermanya menggunakan jemari-jemarinya yang lentik.


"Puas Mang? Echa bersihin ya kontolnya"", kata Echa sambil berjongkok dan mulai ia jilati kepala kontol Mang Ujang yang masih terdapat sisa lendir pejunya.


Lidah Echa bergerak lincah menjilati kepala kontol Mang Ujang sampai sisa sperma lelaki itu benar-benar bersih. Tanpa ragu, Echa juga menelan sisa sperma Mang Ujang hingga habis tak tersisa.


"Aaaahhh.. Enak yang.. Saya Puas sekali" Kamu?", tanya Mang Ujang


"Hmmm kalau aku masih kurang sih Mang" Hihihi" Nih masih pingin nambah", jawab Echa jujur dan lugas sambil terus mengulum kontol Mang Ujang sambil mengucek kemaluannya yang belum terpuaskan.


Gadis yang sudah biasa melayani banyak lelaki dalam satu waktu pasti tidak bisa puas dengan 1 kontol saja. Dan Echa pun sama. Ia selalu ingin lebih dan lebih dalam berhubungan badan. Echa yang dulunya lugu kini sudah menjadi seorang gadis hypersex yang selalu ingin dipuaskan oleh banyak kontol. Semakin kasar ia akan semakin suka.


"Waduh" Kuat juga kamu sayang" Heheheh"", kata Mang Ujang


"Habis kontol Mang Ujang enak sih.. Gede keras" Memek aku sampe becek gini", kata Echa sambil membuka lebar-lebar vaginanya didepan Mang Ujang


"Memek kamu terlalu nikmat sayang, aku jadi gak bisa nahan lama-lama. Heheheh"", kata Mang Ujang sambil menggaruk rambutnya


"Makasih ya Mang..", kata Echa


"Iya Sayang" kapan-kapan ke kost saya yuk?", ajak Mang Ujang sambil menyeringai mesum


"Mau ngapain Mang?", tanya Echa


"Biar lebih leluasa ngentotin kamu, kalau disini takut mamamu pulang. Hehehehe"", kata Mang Ujang beralasan


"Oh boleh deh Mang, tapi beneran lho ya puasin aku", pinta Echa manja


"Iya saya janji, Sayang Echa bakalan puas banget. Heheheheh"", kata Mang Ujang


"Asyik" Makasih ya Mang", kata Echa


"Saya yang makasih sayang" Udah boleh ngentotin kamu secara gratis", kata Mang Ujang


"Hmmm kapan-kapan aku minta tarif aaaahhh"", kata Echa


"Eh jangan lah sayang"", kata Mang Ujang terkejut


"Bercanda kok Mang" Oiya Mang menurut Mang Ujang kalau aku jual diri harganya berapa ya Mang?", tanya Echa dengan nada serius mengejutkan penjual nasgor itu


"Hah? Jual diri? Mbak Echa mau jadi pelacur?", kata Mang Ujang terkejut sekaligus tertawa dalam hatinya


"Misalnya mang.. misalnya"", kata Echa dan Mang Ujang mengangguk-angguk sambil menggaruk rambutnya


"Saya sih ga pernah ya mbak pake jasa BOan.. Cuma kata temen-temen saya biasanya 300-600ribu kalau mau booking cewek 1 jam sekali crot. Tergantung pinter-pinter negonya", kata Mang Ujang


"Segitu ya Mang?", kata Echa sedikit kecewa mendengar hasil yang didapatkan ternyata tidak sebesar yang dia kira.


"Atau mau saya tanyakan teman-teman saya?", kata Mang Ujang mencoba menghibur Echa


"Eh gimana caranya Mang?", kata Echa terkejut


"Mbak Echa saya foto bugil nanti saya kirim ke teman-teman saya sekalian nanya pasaran BOan yang modelan gini berapaan, kalau Mbak Echa ga keberatan..", usul Mang Ujang


Echa merasa tertantang dengan usul Mang Ujang. Ia juga penasaran harga yang cocok jika dia menjadi pelacur beneran. Jantungnya berdebar kencang membayangkan foto-foto bugilnya akan dipamerkan Mang Ujang ke teman-temannya. Ini memang bukan hal pertama kali baginya. Ia sudah beberapa kali difoto telanjang, sudah banyak lelaki yang melihatnya dalam keadaan tanpa sehelai benangpun. Bahkan hampir setiap hari ia kirimkan foto telanjangnya ke Endrix preman sekolah yang sekarang menjadi tuannya di sekolah.


"Eeeerrrr.. Boleh deh Mang", kata Echa


"Beneran nih gak malu badan Mbak Echa dilihat teman-teman saya?", tanya Mang Ujang memastikan


"Gapapa Mang foto aja", kata Echa sambil ia mulai berpose beberapa gaya yang menurutnya sexy


*Dasar Cewek bakat Lonte. Heheheh"*, kata Mang Ujang dalam hati sambil ia ambil beberapa foto Echa dengan berbagai pose


*Cekrik cekrik cekrik*


#


Sementara itu di sebuah rumah besar yang terletak di ujung gang, terdengar suara musik DJ yang menghentak kencang. Pintu gerbangnya yang menjulang tinggi membuat orang dari luar tidak bisa melihat keadaan di dalamnya.


Suara musik itu berbunyi sangat berisik, bunyinya jedag-jedug bak diskotik yang sedang buka di siang hari. Disana nampak seorang wanita berjilbab lebar berparas cantik sedang mengangkang sambil masturbasi ditengah-tengah para bapak-bapak. Wanita itu berpakaian syari, berhijab panjang dan lebar menutup dadanya. Hanya saja, kemaluannya ia umbar dihadapan bapak-bapak yang ada disana. Ia duduk mengangkang sambil memainkan sebuah terong yang ia masukkan sendiri ke vaginanya.


Nampak karpet mewah tempat gadis itu masturbasi sudah sangat basah, entah sudah berapa kali wanita itu terkencing-kencing disana. Yang jelas, tatapan nakal para bapak-bapak disana memandangi dirinya dengan tatapan merendahkan.


"Ayo Bu Alya" Terongnya mentokin. Masukkan lagi ke memekmu Bu"", pinta salah satu warga menyemangatinya


"Ini sudah mentok Pak" Uuhhh..", jawab Alya sambil meringis


Nampak lubang memek wanita itu menganga lebar berusaha menyesuaikan diri dengan ukuran terong yang sedang ia tancapkan ke kemaluamnya. Bu Alya meringis menahan perih, namun ia terus mencoba dan tidak menyerah memasukkan terong itu ke alat kelaminnya.


"Kasih pelumas lagi bu.. Ini ini.. Hahahahah", kata salah seorang bapak-bapak sambil memberikan semangkok sperma ke Alya


Alya terlihat mulai mencelupkan terong tersebut ke mangkok berisi sperma itu. Ia lalu melumasi terong itu dengan sperma yang aromanya sudah gak karuan. Ia juga mencolek semangkok sperma itu dengan tangannya dan ia oleskan ke bibir vaginanya sendiri.


Sekali lagi Alya coba masukkan terong itu ke kemaluannya. Vaginanya perlahan terbelah oleh terong yang sudah mengkilap terkena lendir vaginanya. Alya terus mendorong sayur berwarna ungu itu masuk ke dalam kemaluannya. Wajahnya memejam menahan perih namun vaginanya semakin becek saja.


"Ouuuhhhh".", lenguh Alya dihadapan bapak-bapak itu


Mulutnya kembali meringis, terong itu memang terlalu besar baginya. Ia paksakan terus hingga terong besar itu mulai masuk perlahan ke liang kewanitaannya. Nampak cairan putih berlendir mulai menempel menjijikkan di bibir vaginanya.


"Bagus Alya.. Memek kamu bisa nampung semua terong itu. Hehehe Pak Ragil pasti bangga", ujar seorang bapak-bapak sambil memotret Alya yang masih berpakaian lengkap namun tanpa celana dalam sedang duduk mengangkang.


Alya terus melakukan masturbasi dihadapan para bapak-bapak itu. Betapa malu dia, didepan suaminya saja ia tidak pernah berbuat sebinal itu. Tapi dihadapan para bapak-bapak itu, ia melakukannya. Ia tunjukkan alat kelaminnya yang seharusnya hanya milik suaminya. Aroma vagina wanita berjilbab lebar itu sudah menyengat karena sudah terkena campuran sperma hasil dari urunan para bapak-bapak warga perumahan itu


"Sekarang kamu masturbasi sambil mendesah panggil nama kami satu-satu Alya", perintah Pak Robert sambil menenggak minuman keras


"Ohhh.. Baik pak" Aaaahhh Pak Robert" Aaaahhhh.. Pak Banu" Aaaaahhh Pak Firman" Ouhhhh Sssshhhh.. Pak Iskandar". Aaaaaahhhh Pak Sunaryo". Aaaahhhh.. Pak Bambang". UUUUHHHHH" Pak Bagussss" Aaaahh Pak Ekooo" dsb dsb", lenguh nakal Alya sambil mastubasi dihadapan bapak-bapak itu


Tangannya semakin cepat seolah ia ingin menghancurkan alat kemaluannya sendiri dengan terong besar itu. Alya seolah sudah tidak peduli lagi dengan rasa malunya. Bukannya malu, wanita berjilbab lebar itu justru semangat mempermalukan dirinya dihadapan para bapak-bapak. Ia malah mendesah keenakan sambil terkencing untuk kesekian kalinya. Ia buka lebar vaginanya lalu Alya mulai kencing disana. Alya menikmati itu semua!


"Hahaha" Bagus Bu Alya" Jangan Lupa kencingnya Bu Alya bersihkan pake sempak ibu", kata seorang bapak-bapak sambil melempar celana dalam Alya yang sudah terlepas dari tadi


Alya mulai membersihkan kencingnya yang membasahi karpet dengan celana dalam miliknya. Ia usap sisa kencingnya dengan kain segitiga kecil miliknya. Tidak bisa bersih sempurna tentu saja.


Lalu salah seorang bapak-bapak mendekati Alya. Ia minta wanita bergamis syari" itu menungging. Lalu ia angkat rok gamis Alya hingga pantat putih mulusnya terlihat didepan mereka. Lalu bapak-bapak itu mulai memasukkan sebuah timun ke lubang pantat Alya dengan kasar


"Ohhhhh Pak Alexxxxxx"..", lenguh Alya kesakitan menyadari lubang pantatnya kini ditancapi sebuah timun


"Masturbasi lagi Bu.. Jangan lupa tawarkan Dua lubang milik Bu Alya itu ke kami", ujar Pak Alex


Terong dan timun sudah tertancap di dua lubang yang ada pada bagian bawah tubuh Alya. Lalu Alya bak seorang pelacur murahan mulai masturbasi menggunakan kedua sayuran itu. Ia sodok-sodok lubang kemaluan dan juga anusnya bersamaan hingga tubuhnya mengejang-ejang kuat. Tak lupa ia juga menjajakan kedua lubangnya ke bapak-bapak disana, menawarkan kedua lubang privatnya dengan harga yang begitu rendah


"Dua lubang saya boleh dipake.. Ayo siapa mau pake lubang sayaaa.. Ayo lubang saya boleh dipakee" Aaahhh.. Aaahhh"", desah Alya nakal


"Berapa bu harga memek dan lubang tainya?", goda Pak Alex


"Murah Pak.. tubuh saya muraaaahh", jawab Alya


*Sreeeeet sreetttt seeeettttt sreeeetttt* terong yang tertancap di vaginamya sampai lepas dan kemaluan Alya menyemburkan cairan bening dengan kencang.


Sekali lagi ia harus bersihkan cairan kemaluannya yang berceceran dengan kain-kain yang ada ditubuhnya. Kembali para lelaki disana tertawa dan kembali ia minta wanita berjilbab lebar itu masturbasi, menghabiskan sisa terong dan timun yang ia bawa sendiri dari rumah.


#


Jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Beberapa jam setelah Mang Ujang bertamu ke rumah Echa. Echa sebenarnya masih malas bangkit dari ranjang tidurnya karena baru saja ia melayani Mang Ujang, namun pesan WA yang masuk membuatnya harus segera bersiap diri untuk memulai pekerjaan barunya.


"Dimana Lu Cha? Buruan warung gue udah mulai ramai nih. Jangan lupa dresscodenya lu pake seragam sekolah lu", ujar Icank si pemilik warung


"Eh katanya jam 7 mas? Kok sekarang?", tanya Echa terkejut


"Ya elahhh.. Jam 7 itu acara utamanya. Sekarang lu kerja dulu di warung gue", kata Icank dan mematikan teleponnya


Echa buru-buru mandi membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, ia kemudian memilih pakaian dalam apa yang akan ia pakai. Setelah menimang-nimang, ia putuskan memakai sebuah celana dalam lucu berwarna pink yang modelnya tidak begitu sexy, juga sebuah bra berwarna putih yang modelnya standard. Pakaian dalam yang biasa ia kenakan sehari-hari di sekolah.


Echa lalu membungkus tubuh putih mulusnya dengan seragam sekolah yang baru saja ia permak. Ia terlihat kesulitan mengancingkan kemeja seragamnya terutama di bagian dadanya. Karena Pak Wardi memang sengaja memotong habis baju seragamnya hingga begitu ketat sehingga jika ia memakai BH tebal, maka ia akan kesulitan mengancingkan baju seragamnya.


"Kok gak muat sih.. Apa tetekku makin gede ya?", ujar Echa kesal


Lalu gadis cantik itu memutuskan melepas BHnya saja dan langsung ia pakai seragam sekolahnya tanpa menggunakan BH.


"Alamat tiap ke sekolah gak pake BH nih", ujar Echa


Payudaranya nampak sexy. Siapa saja yang melihat pasti ingin meremas payudara indah itu. Pentil susunya samar-samar nyeplak, namun sedikit tersamarkan dengan badge sekolah yang ada di kantong seragamnya. Sedangkan rok yang dipakai Echa sama saja, walau panjang namun membentuk lekuk tubuh indahnya. Bongkahan pantat Echa nampak sexy menggoda dengan garis celana dalamnya yang dengan jelas terekspose di rok warna abu-abunya itu.


Echa pun berpose dan memperhatikan penampilan dirinya dari depan cermin. Echa menelan ludahnya sendiri. Penampilan siswi cantik itu Sungguh mempesona, menggoda, dan menggairahkan. Penampilannya sudah melebihi siswi nakal yang biasa jual diri di dunia maya. Tidak akan ada yang menyangka kalau dirinya adalah salah satu murid berprestasi di sekolahnya. Terakhir ia tutup rambut model bobnya dengan sebuah kerudung warna putih selaras dengan seragam sekolahnya. Ia pasangkan secara normal seperti biasa, seperti dirinya saat bersekolah sehari-hari


Singkat cerita, Echa sampai juga di warung tempat dirinya akan bekerja. Warung yang tidak terlihat dari jalan raya karena memang terletak di jalanan yang sepi dan sedikit masuk ke lahan ruko kosong yang sudah lama tidak beroperasi. Warung ini adalah tempat biasa preman, para bajingan, kriminal, gang motor, anak-anak berandalan nongkrong. Walau sesekali warung ini juga mengadakan nobar bola untuk menyamarkan kedok aslinya agar tidak dicurigai.


Seluruh mata menatap tajam ke arah kehadiran Echa yang tiba-tiba muncul masuk ke dalam warung. Wajar saja, tidak ada cewek 1 pun disana. Echa mencoba tersenyum ramah membalas tatapan tajam orang-orang di warung


"Itu lontenya?", bisik-bisik orang-orang warung


"cantik anjing" Kontol gue dah ngaceng sialan", ujar yang lainnya


"Muka polos gitu ternyata lonte. Hahahahah ..", bisik yang lainnya lagi


Echa mendengar semua ucapan-ucapan yang tertuju padanya. Namun ia hanya bisa diam dan pura-pura tidak mendengarkan. Belum apa-apa mentalnya sudah diuji sedemikian rupa. Berhadapan dengan orang-orang seperti itu tentu berbeda dengan yang selama ini ia rasakan. Mereka adalah orang-orang random yang sudah terbiasa melakukan tindak kejahatan. Salah-salah ia bisa habis sekarang juga.


"Echa sini", panggil seseorang yang ternyata Icank si pemilik warung


Echa bergegas menghampiri Icank. Dibawanya gadis itu ke sebuah ruangan yang tulisannya staff only


"Sempurna lu cantik Cha", puji Icank sambil ia berikan segelas minuman ke Echa.


"Makasih Mas"", jawab Echa


"Minum dulu Cha", kata Icank lagi karena melihat Echa tidak segera minum minuman pemberiannya


Echa takut diberi miras oleh Icank, karena ia masih belum biasa minum minuman seperti itu.


"Tenang itu cuma minuman soda kok", kata Icank sambil menyalakan rokoknya menyadari ketakutan gadis cantik dihadapannya


Echa pun akhirnya meminum seteguk demi seteguk sampai tak terasa ia habiskan semuanya. Memang cuaca akhir-akhir begitu panas sehingga ketika minum minuman menyegarkan seperti itu tentu saja rasanya begitu melegakan tenggorokan


"Sebelum mulai kerja, gue pingin interview dulu, lu duduk dulu", ujar Icank sambil menunjuk ke sebuah kursi


Echa lalu duduk di sebuah kursi yang ada disana dan bersiap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan kepadanya


"Lu umur berapa?", tanya Icank mulai interview


"18 mau ke 19 tahun mas"", jawab Echa


"Okee.. sekolah dimana?", tanya Icank lagi


"Di SMA N 666", jawab Echa


"Ohhh" lumayan deket dari sini"


"Udah punya pacar?"


"Baru saja putus"


"Ohhh.. Sorry gue gak tau", kata Icank


"Udah yakin lu kerja disini?", tanya Icank lagi


"Yakin mas"", jawab Echa mantab


"Alasan lo kerja untuk apa?", tanya Icank


Echa diam sejenak, ia tidak ingin gegabah menjawab pertanyaan ini. Karena biasanya pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan jebakan. Icank tersenyum melihat respon Echa yang berpikir keras


"Jawab apa adanya aja ga usah dikarang. Gue Cuma mau lo jawab jujur"


"Pingin punya ip**ne", jawab Echa tersipu malu


"Lho? Lu ga jadi main ama cowok yang kemarin menang taruhan? Dia nawarin lo ip**ne kan?", tanya Icank terkejut


"Ngga jadi mas.. Aku gak perawan dia gak mau"", jawab Echa


"Ohhhh.. Wajar sih cewek nakal kayak lo mana ada yang perawan", kata Icank


"Berarti kalau lo sudah berhasil dapatin ip**ne yang lo mau, lo berhenti kerja?", tanya Icank


Echa mengangguk. Karena sementara ini ia hanya ingin ganti hape saja. Kebutuhan barang mewah lain ia masih belum memikirkannya. Mobil, dia belum bisa nyetir, rumah atau apartemen, belum kepikiran punya tempat tinggal sendiri karena usianya masih belia.


"Tapi kalau aku enjoy ya mungkin lanjut mas. Lumayan buat nabung", jawab Echa kemudian


"Iya maksud gue gitu. Sayang kalau lo cantik cuma bentaran kerjanya. Hehehehe", kata Icank


"Oke terakhir, sekarang buka toket lo, gue mau liat", pinta Icank


"Apa???", Echa terkejut mendengar permintaan itu


"Buka toket lo", ujar Icank sekali lagi


"Buat apa mas?", tanya Echa penasaran


"Ya gue gak mau yang tampil di tempat gue punya toket bentuknya jelek. Heheheh" Ayo buka gih", kata Icank


"Mas kan sudah pernah liat?", kata Echa


"Itu kan sudah lama, mana bentaran doang. Ayo ga usah malu. Ini juga salah satu test buat lo, lo layak gak jadi guest star di sini", bujuk Icank


"Iya mas, sebentar"", kata Echa sambil mulai mempreteli kancing seragam sekolahnya


Si pemilik warung terkejut Echa ternyata tidak memakai BH dibalik seragam sekolah yang dari tadi ia tutupi dengan kain kerudungnya. Echa lalu mengeluarkan salah satu teteknya untuk dilihat oleh Icank. Putting mungilnya terlihat menggoda


"Dua-duanya lo buka dong, gue mau liat pentil susu lo", kata Icank


Echa menuruti permintaan Icank dan ia buka seluruh kancing seragamnya agar kedua payudaranya bisa ia keluarkan. Karena memang seragam sekolahnya kini begitu ketat sehingga tidak mudah ia keluarkan kedua payudaranya bersamaan.


"Ok sekarang gue pingin denger lo desah. Sini lo", kata Icank dan Echa menuruti permintaan pemuda pemilik warung itu


Lalu Icank mulai menyusu di pentil Echa. Tubuh Echa bergetar hebat bak tersengat listrik. Ia tiba-tiba merasa begitu bergairah saat dirangsang oleh Icank. Lidah Icank bergerak perlahan menowel pentil susu mungil gadis itu. Echa mendesah keenakan. Nafasnya pun terdengar semakin berat.


Tak hanya bermain di sekitar payudara gadis itu, Icank juga melumat bibir Echa penuh nafsu. Bibir gadis cantik itu ia jilati dengan lidahnya dan ia cipok habis-habisan. Sementara tangan Icank mulai bergerilya memilin dan menarik kuat putting susu Echa


"Aaaahhhh.. Aaaahhhh"", desah Echa kesakitan namun keenakan juga


"Mphhh.. cuppp.. Muacchh"", bunyi pertemuan bibir mereka karena Icank kembali melumat bibir Echa dengan rakus


Tangan Icank mulai menyusup ke dalam rok panjang seragam sekolah Echa. Tangannya dengan lihai menyusup ke dalama celana dalam gadis itu dan tanpa banyak membuang waktu, ia langsung mengocok kelamin Echa dengan cepat


"Sssshhh.. Mas". AAAAHH" Aaahhh.. Aaaahhh.. Hah.. Hah" Hah"", desah Echa menggoda hingga tubuhnya bergetar dan nafasnya tak beraturan


"Lo mulai sange ya? Heheheh.. Mau kontol gue?", goda Icank


Echa mengangguk lemah. Nafsu birahinya secara tiba-tiba naik drastis. Jauh melebihi saat ia melayani Mang Ujang siang tadi. Namun kali ini Echa mencoba menahannya dan tidak ingin kelihatan terlalu vulgar. Karena ia masih belum kenal Icank begitu dekat sehingga ia masih berusaha menjaga imej nya.


Kontol Icank yang sudah berdiri tegak menggoda iman gadis cantik itu. Echa langsung memasukkan tanpa ragu kontol si pemilik warung dan mulai ia sepong kelamin Icank. Terlihat Echa masih malu-malu saat menyepong kontol itu. Karena memang ini adalah pertama kalinya mulutnya bertemu dengan kontol Icank si pemilik warung


"Yang semangat dong sepongnya. Lo harus kelihatan binal sebelum acaranya dimulai Cha. Gue gak mau lo asal-asalan jogetnya kayak dulu. Lo harus totalitas tunjukin sisi jalang lo. Ayo buang harga diri lo jauh-jauh Cha. Pikirin gimana lo bisa kasih hiburan ke orang-orang diluar pake badan lo. Cuma itu tugas lo", kata Icank memberi saran


"Iya Mas" Maaf" Aku masih malu".", jawab Echa beralasan


"Karena itu anggap aja ini pemanasan buat lo Cha" Mana memek lo Cha" Tunjukin ke gue", kata Icank sambil meminta cha tiduran diatas meja panjang di ruangannya.


"Iya boleh Mas"", kata Echa sambil menyingkap celana dalamnya dan memperlihatkan alat kelaminnya ke Icank.


Icank terpana melihat kemaluan gadis cantik berseragam sekolah dihadapannya. Bulu jembutnya rapi dan warna bagian dalamnya merah muda dan begitu berlendir. Tanpa permisi Icank langsung menjilati kemaluan Echa. Gadis itu menggeliat diatas meja, lidah basah Icank bermain-main merangsang area privatnya. Echa malah membuka bibir kemaluannya dengan kedua tangannya agar Icank lebih bebas menjlati memeknya yang berlendir.


Tubuh Echa kembali terguncang saat Icank mulai menyapu clitorisnya dengan lidahnya berkali-kali. Rasanya Echa ingin kencing sekarang juga tapi coba ia tahan karena diatas meja tempat ia berbaring banyak berkas-berkas yang sepertinya penting


"Oohhh.. Iya mas" Aaaahhh" Bau ikan asin gak mas memek aku?", tanya Echa iseng ingin tahu penilaian pemilik warung itu tentang kemaluannya


"Hah? Memek lo wangi gini kok dibilang bau ikan asin".", kata Icank sambil kembali menjilati biji itil Echa


"Kata cowokku mas.. Aaaaahhhh" Mangkanya akuuhhh putusssiinn" Iyaaahh terusss masss" Aaaaahhh", jawab Echa memasrahkan itilnya dijilati oleh Icank


"Iya putusin aja biar gak ganggu lo kerja di tempat gue. Hehehe"", kata Icank sambil bersiap ia hunuskan kontolnya ke memek gadis berjilbab itu


"Lo gue entot ya?", kata Icank


"Iya entot aku mas". Aku udah pingin dientot kontol kamu", jawab Echa


"Oke deh.. Setelah gue crot lo langsung ke depan ya. Kayaknya mereka dah gak sabar liat penamlilan perdana lo", kata Icank sambil menyingkap sempak Echa ke samping agar lubang kemaluan gadis itu terbuka.


Icank mulai mendorong masuk batang kontolnya dan langsung ia setubuhi gadis cantik berjilbab berseragam SMA itu dengan penuh nafsu. Kedua pasangan itu langsung bersetubuh dengan panas. Nampak sekali Icank menikmati jepitan memek Echa yang memang legit dan nikmat. Batang kontolnya terasa digesek san digaruk oleh dinding kemaluan Echa.


"Aaahh.. Aaahh" Aaahh.. Enak mas.. Terus" kasih aku kontol mas.. Memek aku butuh kontol" Aaahhh"", desah Echa mulai semakin kehilangan akal pikirannya


Ia biarkan lelaki yang baru ditemuinya itu menggenjot alat kelaminnya tanpa pengaman sekali. Pertemuan kedua kelamin itu begitu basah hingga menimbulkan bunyi ceplak-ceplak. Echa sesekali mendesah beriringan dengan sodokan Icank. Echa sudah tidak mempermasalahkan harga dirinya lagi. Ia berjanji dalam hati akan melakukannya lagi dan lagi. Ini adalah hobby baru yang selama ini ia cari. Hobby yang bisa memberikan kepuasan bagi otak serta bagi tubuhnya.


*Aku harus jadi lonte.. Aku harus jadi pemuas kontol" Aku gak boleh jual mahal" Aku murahan" Aku cuma butuh kontol.. kontol.. kontol" kontol yang wajib aku puaskan oleh tubuhku.. Mas Rio.. Puas kamu mas? Ini harapanmu kan? Dan aku akan lakukan itu.. Aku janji"*, ikrar Echa dalam hati


"Mas pejunya jangan dibuang diluar ya. Masukin rahimku gapapa"", kata Echa membuat Icank terkejut


"Yakin nih?", tanya Icank


"iya gapapa mas.. Rahimku butuh peju nih"", jawab Echa manja


"Oke deh, tapi aku gak mau tanggung jawab ya kalau kamu hamil", kata Icank


"Iya gapapa mas"", kata Echa dan Icank semakin semangat menanam spermanya ke rahim Echa


Iya kuatkan sodokannya hingga memenuhi kemaluan Echa. Tubuh Echa kembali gemetaran hebat. Ia begitu birahi dan dipuaskan hasrat sexnya saat ini.


"Gue pejuin memek lo Chaa". Arggghhhh".", pekik Icank


*Crot crot crot* lendir sperma pemilik warung itu tumpah di dalam rahim Echa


Echa marasakan lahar hangat yang meleleh di dalam organ kemaluannya Icank benar-benar tanpa ragu menumpahkan seluruh spermanya ke rahim Echa


"Lo yakin gapapa? Mau gue kasih obat anti hamil?", tanya Icank


"Gak perlu mas" Enak gini.. Ini reward buat aku"", kata Echa


"Reward? Peju gue?", tanya Icank bingung


"Iya" setiap sperma yang masuk ke rahim aku itu reward buat aku", kata Echa


"Maksud lo? Lo gak keberatan dipejuin siapapun?", tanya Icank terkejut


"Iya.. Biar cowokku kapok", jawab Echa


"Ok, lu lulus dan bisa langsung mulai kerja", jawab Icank sambil membelai kerudung Echa

Langit sudah gelap, suasana warung mulai remang-remang. Lampu-lampu warna warni menyala kelap-kelip menjadikan suasan di warung lebih meriah. Ditambah lagi musik dangdut koplo dengan lirik yang nakal diputar disana. Semua mata tertuju ke panggung. Sesekali mereka bertepuk tangan menyemangati gadis berseragam SMA dengan kerudung putih yang sedang goyang seronok disana.


Di atas panggung, Echa mulai berjoget dengan goyangannya yang nakal. Ia pamerkan lekuk tubuhnya ke orang-orang disana dengan goyangan menggoda nan erotis. Ia sudah fasih berpargoy ria tanpa malu-malu lagi. Ia gunakan potensi keindahan lekuk tubuhnya malam itu untuk menghibur orang-orang di warung. Echa terus berjoget seronok, pantatnya berlenggak-lenggok menggoda para tamu yang sengaja datang melihat pertunjukan gadis itu.


Echa mulai menyingkap jilbabnya kebelakang, memamerkan payudaranya yang sesak karena seragam sekolah yang kekecilan. Semua orang bertepuk tangan, menyaksikan siswi SMA itu terus berjoget dengan goyangan yang sangat murahan. Kancing baju teratasnya ia buka 2 biji sehingga belahan dadanya nampak terbuka saat ia singkap kerudungnya ke belakang, membuat para penonton memandangi dirinya dengan tatapan mesum.


Namun walau Echa sudah totalitas dengan jobdesk pekerjaan barunya disana, ada saja orang yang bersikap skeptis melihat dirinya. Mereka tidak percaya Echa adalah seorang siswi SMA asli. Mereka mengira Echa adalah memang penari striptease profesional yang sedang memakai kostum seragam sekolah SMA saja.


"Mana lihat kartu pelajarnya dong buat bukti lo anak sekolahan asli, bukan lonte yang sedang pake kostum seragam SMA", pinta salah seorang disana


Provokasi itu berhasil, orang-orang disana meminta Echa menunjukkan kartu pelajarnya. Sebenarnya Echa tidak masalah dengan itu. Karena badge sekolahnya sudah jelas menunjukkan dimana ia bersekolah. Echa kemudian meminta ijin untuk mengambil kartu pelajarnya dari dalam dompet dan kembali lagi ke atas panggung.


"Ini kartu pelajar saya, kalau ngga percaya", kata Echa sambil menyerahkan kartu pelajarnya ke para penonton


Satu persatu penonton mulai memeriksa kartu pelajar Echa. Lengkap dengan nama asli beserta dimana ia bersekolah. Akhirnya para lelaki itu pun percaya kalau Echa benar-benar siswi SMA. Setelah berhasil meyakinkan orang-orang disana, Echa kembali berjoget nakal menghibur para lelaki disana.


"Ayo kotak sumbangannya diisi lagi biar saya makin semangat jogetnya"", kata Echa menggoda


Bayang-bayang kesuksesan mendulang pundi-pundi rupiah menghantui gadis cantik itu. Ia tidak sabar sepulang dari tempat ini, ia bisa segera ke mall untuk membeli smartphone idamannya dari dulu, mengganti handphone jadulnya yang sudah lemot itu.


Beberapa orang terlihat mulai menyawer Echa. Mereka memasukkan beberapa pecahan uang baik koin ataupun kertas. Ada yang 500, 1000, 2000, 5000 hingga 50.000. Itupun hanya beberapa saja yang menyumbang untuknya. Sedangkan penonton lainnya terlihat tidak beranjak dari tempat duduk dan hanya ingin menikmati tubuh Echa secara gratis. Echa kesal karena mereka tidak banyak memberikan dirinya uang. Tidak seperti saat pertama ia striptease disana. Malam ini sepertinya yang datang bukanlah berasal dari kaum elit, melainkan hanya para preman-preman kampung saja.


"Apa aku kurang hot ya jogetnya?", kata Echa dalam hati


"Buka bajunya cantik", teriak seorang bapak-bapak tua berpakaian nyentrik, terlihat di seluruh jemarinya ada cincin-cincin emas dengan batu-batu permata yang besar


"Buka buka buka buka" Joget bugil sayang"", mereka mulai menyemangati Echa


"Iya, aku buka tapi disi dulu dong kotaknya", kata Echa sampai mengemis-ngemis dihadapan mereka


"Huuuuuu" Bacot lu! banyak maunya lu! Perek murahan!!", penonton mulai menyoraki Echa


Terlihat para pengunjung warung mulai tidak sabaran. Suasana menjadi gaduh dan Icank pemilik warung untungnya segera datang tepat waktu untuk menenangkan para tamunya.


"Sabar-sabar, Sebentar lagi Echa striptease biar semua seneng. Ok?", kata Icank sambil memberi kode kepada Echa agar segera menanggalkan pakaiannya menuruti kemauan para tamu disana


Echa menggeleng, ia merasa belum waktunya ia melucuti pakaiannya. Sementara uang di dalam kotak jumlahnya tidak banyak. Mungkin tidak sampai 200ribu. Ia kawatur jika ia bugil sekarang, ia tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau Penonton kembali gaduh karena Echa tidak segera melucuti pakaiannya sendiri.


"Huuuuuuuu.. Ayo dibugilin aja gimana? Ni lonte jual mahal anjirrr!!!", provokasi salah seorang disana yang sepertinya sudah mulai mabuk


"Ayo-ayo digilir rame-rame aja nih perek murahan", ujar yang lainnya lagi


Para lelaki berwajah preman kampung itu sepertinya sudah tidak sabar melihat tubuh Echa yang sexy menggoda. Goyangan-goyangan pargoy nakal Echa sedari tadi sudah mengundang nafsu birahi mereka. Mereka jadi penasaran keindahan tubuh gadis SMA yang daritadi masih terbungkus seragam sekolah itu.


Suasana menjadi semakin gaduh saat beberapa lelaki naik ke atas panggung hendak melucuti baju seragam Echa. Echa sampai ketakutan karena ia sama sekali tidak menyangka para penonton menjadi liar seperti ini. Dunia malam sangatlah tidak pernah ia bayangkan. Apalagi berhadapan dengan para lelaki yang sebagian besar punya catatatn kriminal itu.


Icank geram karena Echa tidak menuruti perintahnya. Ia sudah tidak bisa membantu gadis itu lagi karena beberapa lelaki sudah naik ke atas panggung dan menggerayangi tubuh Echa


"Buka buka buka".", ujar para preman itu sambil menggerayangi tubuh Echa dan mempreteli kancing seragamnya hingga tersisa bagian bawahnya saja


Payudara mulus gadis cantik itu sedikit mengintip dari baju seragamnya. Beberapa tangan terlihat meremasi payudara Echa. Beberapa lainnya asyik meraba pantat Echa sambil sesekali di tampar keras-keras pantat gadis cantik itu


"Lo mau duit?", ujar bapak-bapak tua itu tadi tepat dihadapan Echa yang sudah dihimpit banyak lelaki


"Ma.. Mau"", jawab Echa ketakutan dan pasrah karena tubuhnya sudah jadi bulana-bulanan diantara para preman kampung itu


"Hei kalian!! Semuanya tenang dulu!!!", kata bapak tua itu dan ajaibnya semua lelaki disana begitu patuh saat bapak tua itu mulai berbicara


Suasana seketika menjadi hening, bahkan Icank sampai mematikan lagu jedag-jedug yang tadi memeriahkan warung remang-remangnya. Ia tahu betul pria tua itu bukan orang sembarangan. Daritadi ia memang melihat ada satu mobil mewah yang terparkir di depan warungnya, sepertinya milik pria itu.


"Lu mau duit?", tanya lelaki itu lagi sambil mengupil dan upilnya ia jentikkan ke arah Echa


"Mau.. Bapak"", jawab Echa sambil kembali merapikan kancing-kancing bajunya setelah sempat dicopoti oleh para preman


"Kalau mau duit banyak lu harus kerja keras. Biar lu tau nyari duit itu susah", kata pak tua itu memberi nasehat


Echa terlihat kebingungan. Karena dari tadi dia juga sudah bekerja namun usahanya tidak sesuai yang ia harapkan


"Sekarang gini aja, mungkin mereka bosan liat lu joget-joget gak jelas gitu sampai setengah jam. Lu coba tawarin yang lain dah", usul si bapak tua


"Eh? Kayak gimana pak?", tanya Echa kebingungan


"Ya lu yang mikir lah, gua udah tua gak mau mikir berat-berat. Gua kesini cuma mau nikmatin pertunjukan lu", kata bapak itu ketus kembali menenggak mirasnya


Echa masih kebingungan, karena kesepakatan dengan Icank pemilik warung hanya bekerja menjadi penari striptease saja. Ia tidak kepikiran untuk melakukan hal lainnya. Tetapi melihat sikon saat ini yang diluar bayangannya, mau tak mau Echa harus memutar otak agar bisa meraup untung lebih dari pekerjaan nakal ini. Tercetus ide nakal yang terlintas dalam pikirannya. Ide nakal yang hanya bisa dilakukan oleh gadis serusak Echa.


"Mas.. Aku boleh nulis di papan tulis itu?", kata Echa tiba-tiba kepada Icank sambil menunjuk ke arah papan tulis kecio tempat Icank menuliskan harga menu warungnya


"Oh boleh deh, mau buat apa?", tanya Icank sambil melepas papan tulis warungnya sekaligus memberikan spidol


Echa tidak menjawab pertanyaannya. Gadis cantik itu mulai sibuk menulis. Sesekali ia tampak berhenti sejenak untul berpikir lalu ia mulai menuliskan sesuatu di papan tulis itu. Untungnya sikon di warung kembali kondusif, sambil menunggu Echa menulis dan penasaran apa yang akan dilakukan gadis itu, mereka kembali asyik bercengkerama bersama sambil merokok dan minum miras.


Setelah Echa selesai menulis, ia pun kembali naik ke atas panggung sambil membawa papan tulis. Kemudian ia tunjukkan papan tulis itu ke seluruh penonton yang ada disana. Mata mereka terbelalak melihat tulisan-tulisan yang tertera. Sebuah daftar menu, tetapi bukan menu makanan atau minuman, melainkan menu yang akan diberikan oleh Echa


Daftar Menu Echa :


Cium pipi 10K


Cium bibir 20K


Grepe 50K


Susu 100K


Jilmek 200K


Sepong 200K


Ngentot (All in) 1.000K


Melihat daftar menu yang diberikan Echa, semua orang disana kembali gaduh dan tertawa ngakak


"Mahal cooookkkk" Gila aja luuu", protes mereka


Salah satu dari mereka merebut papan tulis dan dihapusnya harga yang telah ditulis Echa penuh pertimbangan itu. Padahal Echa merasa harga yang ia tawarkan sangatlah murah dan wajar. Tetapi sayangnya, pendapat mereka berbeda. Mereka menganggap harga yang diberikan Echa terlalu mahal untuk cewek perek SMA macam dirinya.


Kemudian salah satu diantara mereka mulai mengganti daftar harga Echa dengan yang baru. Semua mata tertawa dan tersenyum mesum melihat tulisan menu yang baru itu


Obral Badan Echa Lonte SMA :


Cium pipi 200


Cium bibir 500


Grepe 1000


Susu 2000


Jilmek 2000


Sepong 1000


Ngentot (All in bebas crot) 5000


Hiburan tambahan FREE


"Setujuuuuuu!", pekik seluruh orang yang ada disana


Icank sang pemilik warung hanya geleng-geleng kepala. Tidak masalah, karena banyaknya orang yang hadir disana sudah cukup memberikan keuntungan bagi bisnis warung remang-remangnya.


"Sekarang hiburan dulu, lepas bajumu sayang, kita mau liat tetek lu", kata salah satu preman disana


Echa sudah tidak punya pilihan lain. Percuma ia melawan karena nanti malah membuat mereka marah dan memperkosa dirinya habis-habisan. Musik jedag-jedag kembali diputar, suasana warung remang-remang kembali meriah. Echa mulai mempreteli pakaiannya sendiri. Kali ini ia sudah pasrah. Ia pertontonkan keindahan tubuhnya dihadapan para preman pengunjung warung itu dengan harapan mereka mau membayar lebih kenikmatan dirinya


Tubuh bagian atas Echa sudah terbuka, menyisakan kemeja seragam yang masih menggantung apa adanya di tubuhnya dengan bagian kancingnya yang sudah terbuka seutuhnya. Kerudungnya juga masih terpasang acak-acakan di kepalanya. Puting susunya sesekali mengintip dari kain seragamnya, terlihat cukup keras. Tidak bisa dipungkiri gadis cantik itu juga mulai terangsang. Karena memang semua ini adalah impiannya, ia yang selalu berfantasy memamerkan keindahan tubuhnya didepan banyak lelaki.


Tanpa sadar tubuh Echa bergerak erotis, mengikuti irama musik jedag-jedug yang menghentak-hentak. Ia mainkan puting susu mungilnya dengan nakal sambil sesekali ia remas perlahan menggoda, gadis cantik itu sedang mencoba memainkan nafsu birahi para preman yang memandanginya dengan tatapan begitu rendah.


Icank memanfaatkan momentum ini. Ia menyuruh Echa menawarkan miras lagi ke para tamu warungnya. Botol-botol miras berbagai jenis dan merk tersaji dihadapan Echa, echa mulai meraih botol-botol miras itu dan dibawanya turun ke panggung. Gadis cantik itu berbusana aneh sekali malam ini. Masih Berkerudung namun seragamnya terbuka semua kancingnya memperlihatkan bentuk payudaranya, rok panjang abu-abunya pun masih sempurna menutup tubuh bagian bawahnya


"Minum minum.. Bir atau anggurnya bapak-bapak.. mas-mas.. Abang-abang"", kata Echa berjalan berkeliling warung sambil menawarkan sebotol bir


Awalnya semuanya berjalan normal saja. Echa menawarkan miras dan beberapa orang membeli. Sesekali ada pula ya membeli jasa cium pipi dan bibir gadis cantik itu. Echa melayani permintaan mereka walau dibayar sangat murah. 200 untuk 1 kali kecupan ke pipinya, 500 untuk 1 kali kecupan di bibirnya.


"Mpphhh" Sssshhh"", desah Echa manja saat membiarkan bibirnya diciumi beberapa preman disana.


Bibir Echa lumayan laris malam itu, hampir sebagian besar pria disana sudah mengecup bibirnya


Mereka mulai memasukkan uang koin 500an ke saku seragam Echa sembari gadis itu terus berciuman secara bebas bergiliran.


"Gue grepe bayar 1000 nih?", tanya seseorang


"Iya bang"", jawab Echa sambil terus melayani ciuman bibir para tamu warung remang-remang itu


"Nih gue bayar lu 1000", ujar lelaki itu lagi sambil memasukkan uang kertas 1000an


"Iya makasih bang.. Abang boleh grepe badan aku"", kata Echa sambil menyodorkan payudaranya


Tangan lelaki itu mulai bergerilya menggerayangi tubuh gadis SMA yang hendak lulus sekolah itu. Echa mendesah keenakan, tangan kasar lelaki itu terus meraba payudaranya sambil memainkan pentil susunya. Echa sadari betul sebenarnya bukan hanya tangan abang preman itu saja yang meraba tubuhnya. Ada tangan-tangan lain yang turut meraba tubuhnya. Namun Echa tidak bisa banyak protes dan hanya mendiamkannya saja


Kemudian tubuh Echa di kangkangkan lebar. Kedua kaki gadis itu membuka menggoda memamerkan celana dalamnya yang lucu. Nampak sedikit basah sepertinya karena Echa mulai terangsang juga. Tangan-tangan para preman kampung itu sukses menggoda birahinya juga.


"Gue jilmek memek lu ya"", kata lelaki itu lagi sambil memasukkan uang kertas 2000an ke kantong seragam sekolah Echa


"Iya makasih ya bang"", kata Echa sambil ia singkap celana dalamnya sendiri mengijinkan abang preman itu menjilati kemaluannya


Lidah hangat sinabang preman mulai menyapu kemaluan gadis belia itu. Echa memejamkan matanya, tidak pernah terpikirkan selama hidupnya ia akan jualan memek di warung saat ini. Ia bersyukur, memeknya ternyata laris manis. Satu persatu para preman kampung itu memasukkan uang 2000an ke kantong seragam Echa. Setelah itu secara bergiliran memek Echa dijilati oleh para preman di warung itu.


"Aaaaaahhhh" Ssssshhhh"", nafas Echa semakin memberat dan tak ragu ia pun mendesah keenakan


Lidah demi lidah mulai menjilati alat kelamin gadis cantil itu. Terlihat betul vagina Echa sudah tak karuan bentuknya karena sesekali ada juga preman yang meludahi organ kewanitaannya hingga bentuknya basah berlendir menjijikkan


Echa kini berani membuka matanya. Ia lihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana para lelaki itu rela mengantri demi menjilati memeknya yang bentuknya sudah lecek beelendiri itu. Dijilati terus menerus seperti itu tentu saja membuat gadis itu amat terangsang saat ini. Ingin sekali ia keluar namun coba ia tahan. Karena ia masih melihat antrian yang lumayan panjang para lelaki yang hendak menjilati kemaluannya


*Slurup slurupppp sluruupppp sluurrruupppp*, jilatan demi jilatan terus ia dapatkan


"Anjir memeknya malah becek"", ujar salah seorang preman yang sedang menjilati kemaluan Echa


"Enak gak?", tanya pria dibelakangnya yang sedang antri


"B Aja. maklum memek murah 2000an. Hahahahah", ledek lelaki itu sambil berlalu


"Bodo amat kapan lagi gue bisa jilatin memek siswi SMA jilbaban gini. Mumpung lagi diobral murah", ujar lelaki yang kini tiba gilirannya menjilati vagina Echa


"Ouuuhh.. Sssssshhh.. Terussss.. Terussss Aaahhh"", rancau Echa membiarkan alat kelaminnya dijilati para preman disana


Echa terus mendesah keenakan. Tubuhnya pun mulai bergetar-getar hebat. Echa sudah tidak tahan sampai akhirnya ia harus mengeluarkan lendir kenikmatannya diam-diam. Ia orgasme tanpa bersuara. Ia gigit kuat-kuat bibirnya sambil merasakan jilatan lidah mereka bergantian menyapu lendir vagina yang barus saja ia keluarkan


15 menit pun berlalu, semua sudah kebagian jatah jilmek gadis cantik berkerudung itu. Tubuh Echa belum apa sudah lemas karena daritadi ia mencoba menahan orgasmenya. Kakinya terus begitu lemas seperti tidak sanggup berdiri lagi. Ia tutup kembali vaginanya dengan celana dalam mungilnya. Dengan sisa tenaga ia mencoba menawarkan dagangannya ke sisi warung lainnya.


"Gue mau beli Mbak". Sini-sini", ujar salah satu lelaki gondrong berwajah sangar


Lelaki itu datang bersama ketiga temannya. Wajah mereka tak kalah seramnya dengan lelaki yang memesan minuman yang ditawarkan oleh Echa. Echa datang menghampiri mereka lalu meletakkan sebotol bir di meja.


"Oh iya sekalian sepongin kontol kita berempat, kembaliannya ambil aja", kata lelaki gondrong tadi sambil memberikan Echa uang 5000an


Echa menghela nafas panjang, tidak disangkanya biaya sepong kontol dirinya malam ini diharga seribu rupiah saja. Tetapi ia tidak banyak mengeluh. Iya jalani hari pertama kerjanya dengan penuh semangat. Seperti kata pria tua tadi, untuk mendapatkan banyak uang kita harus bekerja keras.


Keempat lelaki itu sudah mengeluarkan kontolnya dihadapan gadis SMA itu. Echa langsung mencaplok salah satu kontol itu dengan mulutnya. Ia kulum penuh nafsu kontol dekil milik si lelaki gondrong. Aromanya jijik luar biasa, tapi hal itu tidak menyurutkan semangat Echa untuk memberikan service terbaiknya. Tanpa rasa malu, ia jilati kontol lelaki yang tak dikenalnya itu dengan lahap sesekali ia jilati lubang kencingnya.


Lelaki itu mendesah keenakan sambil membuka kakinya lebar-lebar. Kapan lagi disepong cewek cantik dengan harga seribuan saja, begitu mungkin pikirnya. Echa juga tidak keberatan sama sekali berada di antara selangkangan pemuda gondrong itu.


"Gantian Mbak"", kata salah satu teman si gondrong sambil ia tarik kepala Echa agar segera melahap kontolnya


"I.. Iya mas"", jawab Echa sambil kali ini ia emut kontol teman dari pemuda gondrong tadi. Rasanya kurang lebih sama saja, beraroma pekat dengan bentuknya yang dekil dan jembutnya yang panjang-panjang


Echa tak peduli, ia nikmati betul-betul kontol-kontol lelaki berwajah sangar itu secara bergantian. Ia emut dan ia jilat tanpa rasa canggung seolah kontol adalah makanan wajibnya setiap hari.


"Woi gantian! Sini Mbak", pekik seseorang dari meja lainnya.


Si pemuda gondrong lalu mengijinkan Echa kembali menawarkan "barang-barang dagangannya" ke pengunjung warung lainnya. Gadis cantik itu kembali mendatangi meja yang tadi memanggilnya. Sama saja, ternyata dia datang ramai-ramai bersama teman-temannya


"I.. Iya mas? Bisa saya bantu?", tanya Echa ramah menghadapi preman kampung disana


"Gue mau pesen bir 2 botol", kata lelaki itu


"Iya.. Silakan..", jawab Echa sambil menaruh 2 botol bir di meja


"Lu duduk sini dulu. Temenin kita minum-minum", kata lelaki itu lagi


Echa pun patuh saja dan duduk diantara para lelaki berwajah menyeramkan itu. Gadis cantik berkerudung itu juga diminta untuk menuangkan minuman keras ke gelas-gelas kosong mereka. Terlihat salah satu dari mereka mengeluarkan semacam serbuk dan dituangkannya ke dalam gelas.


"Ayo lu juga minum ini dulu", kata salah satu lelaki disana sambil memberikan Echa segelas bir yang sudah diberi serbuk tadi


"Maaf saya ngga minum mas"", kata Echa menolak sopan


"Alaahhh.. ini dikit aja satu gelas gak bikin mabok", ujar lelaki itu terus memaksa Echa


Echa terus menolak pada awalnya. Tetapi lelaki itu terus memaksanya hingga akhirnya ia beranikan menenggak segelas minuman keras itu bersama para preman itu. Mereka terlihat tertawa-tertawa. Echa menyadari betul tangan-tangan mereka dengan nakal meremasi payudara indahnya. Echa ingin mengingatkan mereka namun ia terlalu malu. Toh biaya menggrepe tubuhnya hanya 1000 rupiah saja.


Tanpa terasa gadis cantik itu terus dicekoki miras oleh mereka. Kesadaran Echa mulai perlahan hilang. Gadis itu terlihat mulai oleng dan tidak sadar lagi


"Eh bayar ngga nih megang toket lu", goda salah satu lelaki disana sambil melepas kemeja seragam Echa hingga kini gadis berkerudung itu topless


"Bayar mas"", jawab Echa sambil mencoba mempertahankan baju seragamnya namun percuma karena lelaki itu lebih cepat menarik baju seragam lengan panjang yang dipakai hingga terlepas dari tubuhnya


"Berapa?", goda lelaki itu lagi


"1000" Ayo bayar dulu"", jawab Echa mulai mengigau sambil menepis tangan-tangan nakal para preman yang meremasi payudaranya dengan lancang tanpa membayar


"Anjir toket gini aja 1000an.. Gratis lah.. Boleh ya?", goda lelaki itu lagi sambil mencubit pentil Echa


"Aaaahhh.. Gak mau.. Ayo bayar duluuuuuuu"", jawab Echa manja sambil semakin oleng


"Hahahaha" Mabok diaa"", ujar para lelaki disana menertawakan gadis berkerudung itu


"Gratis ya? Tetek gini doang", ujar seorang preman sambil menarik putting susu Echa kuat-kuat


"Aaaaaahhh.. Bayaaarrr"", lenguh Echa semakij kehilangan kesadarannya


"Ini gue ada 20ribu. Coba lu tawarin ke orang-orang bilang toket lu gratis.. Tar gue bayarin semuanya deh", kata lelaki itu semakin mesum


"Beneran lho yaaaa.. Awas kalau boong.., jawab Echa terus mengigau dengan nada manja


Echa berjalan sempoyongan sambil memainkan payudaranya sendiri disana. Tangannya dengan lincah memilin-milin puting susunya. Sesekali ia remas-remas payudaranya yang terlihat kenyal dan mulus dihadapan mereka


"Oiya jangan lupa pakai ini mbak", kata salah seorang lelaki sambil memberikan kartu pelajar Echa


"Dipakai dimana? Aku sudah gak pake baju", kata Echa semakin terpengaruh minuman yang ditenggaknya beberapa kali tadi hingga putus sudah urat malunya


"Pasang di pentil lu aja", kata lelaki itu sambil memasangkan kartu pelajar ke putting Echa


"Oiya.. Makasih ya"", jawab Echa sambil membiarkan lelaki tadi memasang kartu pelajarnya di putting susu kenyalnya


"Aaaaahhhhh.. Sakit"", lenguh Echa saat kartu pelajar yang ada jepitannya itu telah menjepit putting susunya


Echa mati-matian menahan nyeri yang ia rasakan pada putting susunya. Jepitan kartu pelajar miliknya sangat menyakitkan, kalau biasanya ia pasang di saku kemejanya. Kini ia pasang di pentil susunya. Jepitan kartu pelajar Echa begitu kuat memencet daging kenyal gadis cantik itu hingga kemerahan.


Sambil menahan rasa sakit, Echa kembali berjalan sempoyongan sambil menawarkan "barang-barang" yang ia jual malam ini. Di balik roknya, vagina gadis itu mulai banjir. Sisa-sisa kenikmatam jilatan pada memeknya masih ia rasakan, ditambah lagi pengaruh miras semakin membuat Echa tak ingat rasa malunya


"Susu.. Susu.. Susu gratiss" Sapa yang mau" Aaaaahhh..", kata Echa tanpa sadar ia garuk kelaminnya sendiri karena semakin merasa terangsang


Obat serbuk yang diberikan kepadanya mulai bekerja. Echa mulai merasakan dorongan nafsu seksual yang begitu menggebu. Vagina gadis itu mulai banjir dan terasa hangat kedutan. Echa tanpa malu mengangkat rok panjangnya dan ia garuk-garuk selangkangannya di depan para preman disana. Mereka tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Echa yang begitu murahan. Tidak jual mahal sama sekali seperti tadi saat pertama ia striptease


"Ayo Abang-abang, mas-mas, bapak-bapak siapa mau susu aku? Please beli dong". Udah gratis nih masak ga ada yang beli"", rengek Echa manja


Tidak ada yang mempedulikan penawaran gadis itu. Mereka tidak mau membeli susu segar Echa walau Echa sudah menawarkannya secara gratis. Echa kini benar-benar tau betul mencari uang itu memang susah sekali. Perlu usaha dan kerja keras untuk meraih apa yang diinginkannya.


Echa semakin tersiksa, disaat libidonya tidak terkendali, ia justru tidak mendapatkan rangsangan sama sekali dari para preman itu. Mereka sengaja mengerjai gadis SMA itu, agar tersiksa sendiri dengan badai tsunami birahi yang sedang melanda tubuh serta pikirannya


"Tawarin memek lu sekalian lah, kasian kayaknya memek lu kegerahan tuh Mbak", goda salah satu lelaki disana


"Iya.. Aku buka yah.. Awas kalau gak ada yang beli", jawab Echa dan gadis cantik itu mulai melucuti sisa pakaiannya sendiri.


Rok dan celana dalamnya sudah ia pelorot sendiri dan kali ini Echa sudah bugil menyisakan kerudung dan sepatu sekolah hitamnya saja. Echa kembali menggaruk-garuk alat kelaminnya tanpa rasa malu. Tangannya terlihat begitu cepat menggaruk lubang kelaminnya sendiri


"Aaaahhh.. Gatal anjirrr memek guee"", kata Echa sambil terus menggaruk


"Hahahahah" Dih najis memek lu pasti penyakitan tuh gatal-gatal gitu", ledek salah seorang preman disambut gelak tawa meriah seluruh lelaki disana.


"Pantesan diobral tuh memek. Gatelan gitu hahahahah"", ledek pria lainnya


Echa benar-benar dipermalukan disana. Untungnya gadis itu sedang mabok saat ini sehingga ia hanya senyum-senyum mendengar hinaan dan cacian para preman itu


"Please beli susu Echa.. gratisss.. Ini sudah aku buka semua masak ga ada yang mau beli".", rengek Echa kali ini ia duduk mengangkang sambil mulai colmek


Echa mulai masturbasi disana, menikmati sentuhan-sentuhan nakal jemarinya sendiri pada alat kelaminnya. Digaruknya kuat-kuat lubang senggamanya sendiri sambil terus mendesah keenakan. Beberapa orang memotret Echa yang sedang masturbasi dan mereka bagikan ke sosial media mereka. Sepertinya sebentar lagi Echa akan terkenal di kalangan para kriminal


"Oohhh Masss bapak abang" beli yuk udah aku gratisin ini tetek aku"", rengek Echa sambil terus masturbasi


"Colok memek lu dulu nih pake botol, baru gue pikir-pikir buat beli", goda si bapak tua berpakaian necis kali ini


Ia sudah tergoda juga melihat kemolekan tubuh telanjang Echa. Walau memek gadis itu sudah acak-acakan tetap saja Echa masih cantik dengan pesona wajah dan keindahan tubuh putih mulusnya. Echa dengan mantab menuruti kemauan bapak tua itu sambil berharap ia memberikan saweran yang fantastis sesuai dengan jerih payahnya malam ini


Bapak tua itu memberikan Echa sebuah botol dan gadis cantik berkerudung itu mulai mencolokkan ujung botol miras ke lubang kewanitannya. Echa merintih karena benda itu terasa kaku dan dingin, wajar saja, tidak pernah ia masturbasi menggunakan botol kaca


"Oooohh". Sakittt"", lenguh Echa sambil terus memaksa botol itu semakin masuk ke dalam rahimnya


Echa terus mencoba memasukkan ujung botol itu kemaluannya. Memang berhasil namun sebatas sampai leher botol saja, lewat itu sudah tidak memungkinan lagi.


Beberapa pemuda mulai menyiram tubuh telanjang Echa dengan minuman keras. Tubuh Echa basah kuyup dan terlihat semakin mengkilap. Kerudung yang dipakainya semakin tak karuan karena basah dan beberapa bagian rambut dikepalanya mulai keluar. Tubuh gadis berkerudung itu sudah bermandikan air haram.


Echa kembali dicekoki miras dan obat perangsang malam itu. Sepertinya mereka berniat menjadikan gadis SMA itu mesin seks malam ini. Tubuh telanjang Echa semakin berkeringat, mungkin suhu tubuhnya sudah begitu gerah hingga dalam posisi telanjang pun Echa masih keringetan. Padahal malam itu cuacanya sedang dingin


Echa semakin disiksa malam itu, Kali ini kedua tangannya diikat keatas. Ia sudah tidak bisa masturbasi melampiaskan birahinya. Terlihat wajah gadis cantik itu memelas memohon agar mereka tidak menyiksanya lagi lebih dari ini.


"Memek Lu butuh dipuasin ya? Ayo masukin gih pake botol ini", kata salah seorang preman sambil meletakkan sebuah botol kembali tepat di bawah kemaluan Echa.


Echa lalu mulai menggerakkan tubuhnya dengan liar, mencoba menggesekkan vaginanya dengan botol kaca dibawahnya. Mati-matian ia mencoba untuk masturbasi dalam keadaan kedua tangan diikat keatas. Para preman kembali tertawa terbahak-bahak melihat gadis cantik murahan itu sedang kepayahan menggesekkan botol ke vaginanya sendiri


"Kontolll" saaya mau kontooll.. Aaahhh", rengek Echa sambil terus menggerakkan tubuhmya agar vaginanya menggesek-gesek ujung botol miras


"Bukannya lu butuh duit ya? Mau duit apa kontol?", kata pria tua itu mulai melemparkan uang lembaran merah satu persatu ke tubuh telanjang Echa yang terikat


"Kontoll" saya butuh kontolll.. Tolong kasih saya kontollll"", kata Echa


"Hahahahah.. Gak denger gue.. Coba lu bilang pake mic ini", ujar pria itu sambil tersenyum mesum menyerahkan sebuah mic wireless ke Echa


"AKUUU MAU KONTOOOOOLLLLLLL", pinta Echa semakin tak kuasa menahan libidonya


"Oh kontoll.. ada yang mau kasih kontil ke dia gak?"* ujar si pria tua


Semua hening tidak ada yang menjawab. Echa semakin dipermalukan disana. Walau tubuhnya sudah telanjang tetapi tetap saja ia tidak bisa menjual tubuhnya kepada para preman mesum itu.


"Kok pada gak mau?", tanya si pria tua


"5000 kemahalan pak buat ewe memek penyakitan ini.. Gratis kita baru mau. Heheheheh"", ledek salah seorang preman


"Boleh pake memek lu gratis? Kita bonusin peju. Hahahah"", ledek si pria tua


"Iyaaaa boleeeeehhhh"", jawab Echa disambut gelak tawa


#


Singkat cerita Echa sudah dilepaskan dari ikatannya. Kali ini gadis cantik itu nampak menungging diatas meja. Kedua kakinya dibiarkan turun ke bawah, badannya tengkurap pada meja. Ia buka lebar-lebar kedua kakinya bersiap menjadikan alat kemaluannya menjadi piala bergilir di warung itu.


Nampak Icank membagikan kondom ke antrian panjang mengular itu. Ia tersenyum puas. Malam ini barang dagangannya laris manis karena ada Echa disana. Gadis cantik itu memang sangat menguntungkan baginya malam ini


Giliran pertama si bapak tua itu sudah bersiap di belakang tubuh menungging Echa. Ia jambak kerudung Echa dengan kasar dan ia ciumi bibir gadis cantik itu penuh nafsu. Bibirnya dengan lugas melumat habis bibir Echa yang lembut dan sedikit basah. Ia juga menampar keras pantat Echa yang menungging sexy dihadapannya.


"Kamu mau apa hah? Plak plak plak", tanya bapak itu lagi sambil ia tampar tanpa ampun bokong sexy Echa


"Kontol.. saya mau kontol bapaaakkk"", jawab Echa sambil ia gerak-gerakkan vaginanya ke kontol si bapak tua yabg sudah mengeras


"Boleh, tapi lu harus jadi lonte gratisan malam ini", goda si bapak tua itu lagi


"Iyaahhh.. saya bersedia jadi lonte gratisann bapak"", rengek Echa manja sambil menggoyangkan pantatnya nakal menggesekkan kemaluannya ke kontol pria tua itu


*Blessssss* dalam satu kali sodokkan kontol pria tua itu sudah amblas di lubang kemaluan Echa


"Aaaaahh iyaaaahhh enak.. kontol.. kontol.. Enaakkk.. Aaaahhh"", ceracau Echa sambil kali ini ia yang aktif menggerakkan pinggulnya


Echa dengan nakal terus bergerak dan berharap gesekan nikmat dari kontol si lelaki tua kaya raya itu. Gadis itu bertingkah sangat murahan. Ia seakan lupa dirinya adalah murid berprestasi di sekolahnya. Malam ini ia tak lebih seperti gadis jalang murahan yang hanya berharap kontol.


"Nih gue kasih duit tiap lu goyangin memek lu. Goyang yang bener buat kontol gue enak. Gini gini gue gak suka gratisan. Hahahah"", kata si pria tua sambil menyawer Echa dengan beberapa lembar uang kertas 100ribuan dan ia lemparkan ke punggung mulus gadis cantik itu satu per satu.


"Iyaaahh terima kasih pak" Pakai memek saya pak.. Aaaahhhh..", pinta Echa sambil terus menggerakkan tubuhnya maju mundur


"Iya, itung-itung gue nraktir semua orang disini buat pake memek lu.. Hahahah.. Tau kan tugas lu?", tanya si pria tua sambil terus melempari tubuh Echa dengan uang lembaran warna merah


"Iya terima kasih pak" Aaahh.. Aaahhh.. tau pak"", jawab Echa ngos-ngosan keenakan


"Apa tugas lu?", tanya si pria tua lagi


"Melayani semua kontol disini pakai memek saya" Aaahhh aaaahhh bapakk"", desah Echa semakin bersemangat membayangkan malam ini puluhan kontol bersarang di vaginanya


"Hahahaha" gadis pinter" Pasti lu kesayangan guru olah raga ya?", goda si pria tua


Echa tidak menjawab. Ia lebih fokus meladeni kontol si pria tua yang saat ini masih menggenjot kelaminnya. Ia terus bergerak maju mundur, mempersilakan kontol pria kaya raya itu menikmati jepitan kemaluannya. Nampak sekali tubuh gadis itu mengkilap. Bulir-bulir keringat keluar dari pori-pori kulitnya yang putih mulus.


"Gue tambahin 1 juta kalau lu mau lepas kerudung lu"", ujar si pria kaya karena tak tahan mencium kerudung Echa yang sudah tak karuan baunya


"I.. iya saya lepas pak"", ujar Echa


Mendapati tugas mudah yang diberikan, Echa buru-buru melucuti satu-satunya kain yang ada di tubuhnya. Ia lepas kain kerudungnya hingga kali ini rambut pendeknya terlihat seutuhnya. Bapak tua itu menepati janjinya. Ia kembali menyawer Echa dengan memberinya uang 1juta ke gadis itu dengan cara dilemparkan ke tubuh telanjang Echa satu per satu lagi seperti tadi.


Ia terus menggenjot memek Echa kuat-kuat. Tidak ada preman kampung dibelakangnya yang berani protes saat itu. Mereka memilih diam sambil memandangi seorang lelaki tua sedang menyetubuhi gadis 18 tahunan itu. Pemandangan yang sangat erotis melihat seorang gadis belia sedang dientot lelaki tua. Pria tua itu terus bersemangat menggenjot tubuh Echa semakin cepat. Lalu tak lama kemudian, pria tua itu terlihat mulai mengejangkan tubuhnya dan mendesah kencang


"Arrrrggghh gue crotttt", kata si pria tua itu sambil menggelinjang hebat


Jepitan memek Echa memang hangat dan nikmat. Siapa yang akan menyangka gadis dengan wajah lugu nan polos itu sudah bersetubuh dengan banyak lelaki. Si pria tua yang sudah puas buru-buru melepas kondom yang dipakainya dan ia lemparkan begitu saja ke punggung Echa. Ceceran spermanya masih menggumpal di dalam kondom bekas itu sehingga sebagian mengenai punggung mulus Echa.


Tubuh Echa ngos-ngosan, ingin sekali ia ambrukkan kakinya namun tidak bisa. Ia sadar akan posisinya karena masih banyak pria yang sedang antri untuk menggilir tubuhnya. Echa berusaha mempertahankan posisinya tetap menungging di meja. Sungguh pantat gadis itu sangatlah indah, menjadi pemandangan terbaik bagi antrian mengular para preman di warung itu.


Jeda waktu istirahat Echa tidak banyak, karena kini giliran preman antrian kedua yang kali ini bersiap menyetubuhi memek becek Echa. Dalam sekali sodokkan memek Echa sudah dimasuki kontol keras itu. Echa kembali menggerakkan tubuhnya dengan nakal. Mencoba mencari cara agar memek gatalnya bisa terpuaskan dengan kontol pria dibelakangnya.


"Aaahhh.. Bang" Iyaahh kontol abang enak" Aaaahhh.. terus bang"", desah Echa nakal


Si abang preman semakin semangat mendengar desahan Echa yang menggoda. Ia setubuhi gadis cantik itu dengan kasar sambil ia tampar-tampar pantat Echa hingga kemerahan. Bukannya kesakitan, Echa malah bergoyang nakal menggoda lawan mainnya. Terlihat jelas memek Echa sampai empot-empotan di sodoki kontol preman kampung itu


"Aaaaahhh.. Bang" Enak bang". Kontol abang keras banget"", rancau Echa


"Hahahah.. Bersyukur lu harusnya bisa merasakan kontol keras gue. Nih gue sodok memek lo", ujar si abang preman


"Oooohhh.. Bang.. Iya makasih ya bang udah mau entot saya.. Aaaahhh" Aaaahhhh..", balas Echa


"Gue boleh buka kondom? Ga begitu kerasa anjir rasa memek lo kalau pake kondom", ujar si abang preman


"boleh bang"", jawab Echa


Lalu si abang melepas kondomnya dan meletakkan kondom bekasnya di punggung Echa. Dalam sekali sentakan kontol preman kampung itu kembaki bersarang di kemaluan Echa. Kali ini terasa lebih nikmat, karena kulit ketemu kulit, lendir bertemu lendir. Si abang preman langsung kembali menggenjot kemaluan Echa. Echa bergerak semakin liar, teriakannya semakin kencang menerima kenikmatan yang tak akan pernah ia lupakan ini


"AAAAAHHH AAAAHHHH YESSSS YESSSSSS" KONTOOOLLL ABANG ENAAAKKK.. AAAAHHH.. TERUS ENTOT MEMEK SAYAAAA BANG.. AAAAAHHH ENAKKK ENAAKK YESSSSS", pekik Echa kencang-kencang


*Plok plok plok plok plok plok* begitu bunyinya


Si Abang lalu memutat tubuh Echa. Kali ini mereka bersetubuh saling berhadap-hadapan. Kaki Echa mengangkang membiarkan kontol si abang preman bebas menggenjot kemaluannya. Kemudian bibir mereka saling berpagutan dan saling melumat begitu panas. Echa justru yang terlihat begitu bernafsu menciumi lawan mainnya yang jauh dari kata tampan itu. Hampir 10 menit sudah mereka bersetubuh penuh nafsu. Mungkin sudah ratusan kali kontol si abang preman maju mundur menggesek kemaluan gadis cantik itu.


"Anjir lah memek lu anget anjirrr" jepit banget saaaatttt" Ssssshhh.. Aaaahahhh crottttt gue anjirrrrr jancookkk", pekiknya dan ia buang dalam-dalam pejunya ke dalam rahim Echa


*Crot crot crot crot* kontol keras itu berdenyut-denyut di dalam kemaluan Echa sambil menyembur deras memenuhi rahimnya


Echa merasakan betul kemaluannya kini penuh dengan sperma si preman kampung yang baru saja menuntaskan hajat birahinya. Setelah puas, pria itu berlalu dan berganti ke lelaki antrian nomor tiga. Terlihat pria itu kesal karena memek Echa saat ini kotor terkena peju si preman antrian nomor dua.


"Dicrotin dalam aja lu.. awas kena penyakit lu", kata si lelaki antrian nomor 3


"Bodoamat, gak tahan gue cok heheheh"", jawab preman yang sudah buang peju ke rahim Echa sambil menyalakan merokok dan melihat tubuh molek mulus dihadapannya sedang bersiap dientot orang ketiga


*Jleebbbb*


Kepala Echa kembali terdongak saat sebuah kontol lain bersarang di kelaminnya. Walau ia merasa capek, tapi tubuhnya tidak mau berhenti. Vaginanya seolah masih memohon untuk disodok kontol. Echa kembali mendesah memanjakan telinga. Suaranya terdengar merdu ketika mendesah, walau ketika bernyanyi ia agak fals. Kontol lelaki itu tak kalah kerasnya dibanding kontol pria kedua tadi. Tubuh Echa sampai bergetar kali ini dan dengan sangat terpaksa ia mencapai orgasmenya di lelaki nomor 3 saking tidak tahannya ia. Dari vaginanya Echa langsung mengeluarkan cairan begitu banyak seperti terkencing-kencing. Lelaki yang sedang menyetubuhinya berhenti sejenak menyaksikan gadis cantik itu menuntaskan orgasmenya lebih dulu sambil mengocok itil Echa dengan cepat.


"Aaaaaaahhhhh Bangggg Aaaaaaahhh"", pekik Echa sambil vaginanya semakin kedutan


*Sreettt sreettt srettt*


Vagina Echa muncrat berkali-kali saat ia mencapai orgasmenya. Terlihat menyembur dengam deras seperti sedang buang air kecil. Terlihat jelas memek gadis itu sudah lecek tak karuan bentuknya. Echa ngos-ngosan. Disentuh sedikit saja tubuhnya menggila menggeliat tak karuan.


"Ampun mas" Aaaahhhh" Sebentaarr", pinta Echa sambil berusaha menahan tangan si abang preman yang terus mengocok biji itilnya


"Mau kontol gak? Masih banyak lho yang antri di belakang", goda si preman yang sedang berdiri diantara selangkangan Echa


"Mau tapi memek aku.. gak bisa berhenti muncraaatt.. Aaaaahh keluar lagi". Maaff", kata Echa sambil vaginanya muncrat-muncrat dalam keadaan ia sedang terlentang di atas meja


*Sreeetttt sreeetttt sretttt*, kembali vagina Echa muncrat-muncrat deras membasahi meja tempat ia dieksekusi.


"Buruan Woi!!", pekik antrian belakang


Lelaki itu terpaksa menggenjot memek Echa lagi. Ia tidak peduli dengan kondisi kemaluan Echa yang masih sensitif, ia langsung menggenjot vagina Echa tanpa ampun. Echa merasakan vaginanya kedutan, namun ia mencoba terus melayani lelaki yang saat ini sedang menggenjotnya dengan brutal


*jleb jleb jleb jleb*


"Ahhh.. Aaahhh.. Aaaahhhh", desah Echa seirama dengan sodokan kontol preman kampung yang sedang menggenjotnya


Terlihat vagina Echa muncrat-muncrat saat disodok kontol lelaki itu. Echa jujur saja menikmati ini semua. Tubuhnya begitu merespon positif kegilaan malam ini. Ia tidak jaim lagi menumpahkan isi lendir kemaluannya dihadapan mereka. Karena inilah yang dicita-citakan Rio pacarnya selama ini.


"Aaaahhhh saya keluarrr baaanggg"", rengek Echa sekali lagi


*Sretttt sreeetttt sretttt* kembali vaginanya muncrat kesekian kalinya


"Keluarkan aja! memek lu seneng itu dikasih banyak kontol hari ini"", ledek si abang preman


"I.. Iya Bang ""


"Gue juga keluarrrr Aaarrrggghhh", pekik pria itu


*crot crot crot crot* kontolnya akhirnya muncrat, namun tertampung di dalam kondom yang dipakainya


Setelah puas, ia lalu melepas kondomnya dan ia buang begitu saja ke perut Echa


#


Jam 23.00


Sudah 3 jam lebih Echa menjadi piala bergilir disana. Tubuh telanjangnya sudah di bolak balik dengan berbagai macam posisi seks oleh para pengunjung warung itu. Echa sudah tidak ingat lagi kali ini sudah antrian nomor keberapa yang menggenjot kelaminnya. Echa hanya ingat memeknya malam ini menjadi alat pemuas kontol para pria disana. Ia terus mendesah keenakan menikmati setiap garukan yang yang ia rasakan di dalam organ kelaminnya. Gairah seksual Echa sudah tak bisa ia bendung lagi. Di dalam otaknya saat ini hanya ada satu kata saja, ngentot.


"Yesss.. Aaahhh.. Entot aku terus bang" Entot aku bang" Memekku seneng dientot kontol abang"", rancau Echa


"Iya cantik, malam ini memekmu tugasnya buat muasin kontol kita-kita. Hahahahah", kata pria yang sedang menggenjot tubuh Echa


Kali ini gadis itu sedang digenjot dalam posisi konvensional. Kedua kakinya mengangkang lebar, sementara di kemaluannya terselip kontol panjang milik seorang preman yang wajahnya sangar. Diperut Echa semakin banyak sampah kondom bekas yang berserakan lengkap dengan ceceran spermanya.


"Aaarrrgggghhh keluarrrrr", pekik pria itu sambil ia dorong kuat-kuat kontolnya ke rahim Echa


Setelah ia puas menikmati jepitan memek Echa, kembali tubuh telanjang Echa jadi tempat sampah untuk buang kondom bekas pakai. Sudah ada puluhan kondom bekas di tubuh gadis itu. Sebagian lainnya berserakan di meja, wajar saja karena dari tadi tubuh Echa dibolak-balik dengan berbagai macam posisi. Nafas Echa terdengar begitu berat Seperti habis berlari 20 km jauhnya. Terlihat vagina gadis mungil itu mengucurkan cairan. Sepertinya Campuran antara lendir vagina bercampur sperma orang-orang yang baru saja menggilirnya. Memang sebagian ada sengaja membuang peju mereka ke rahim gadis cantik itu


"Hah" Hah"Hah", nafas Echa tersengal-tersengal


Tubuhnya sudah mati rasa, ia hanya rebahan saja di atas meja dengan posisi kaki yang masih tetap mengangkang, memperlihatkan lubang vaginanya yang sudah lecek tak karuan setelah dihajar banyak kontol malam ini.


"Woooi lama amat yang depan. Gantian woy!!!", pekik seseorang dari arah belakang


"Iya anjirrrr" Gantian lah!! Daritadi gue gak dapat giliran", protes lainnya


Suasana sepertinya kembali tidak kondusif. Antrian panjang ity seolah tiada habisnya. Karena orang-orang yang selesai menyetubuhi Echa, memutuskan antri lagi kebelakang demi menikmati tubuh gadis SMA cantik itu. Apalagi mereka tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk dapat menikmati tubuh Echa.


"Udah gangbang bareng-bareng aja biar enak" Keburu gak ngaceng lagi kontol gue kalo nunggu lama gini",ujar salah seorang dari antrian belakang


"Setuju!!!!" ,pekik dari antrian belakang


Antrian yang tadinya mengular menjadi tidak beraturan. Puluhan pria dari arah belakang bergerak maju membuyarkan barisan pria-pria sange itu. Puluhan tangan langsung menggerayangi tubuh telanjang Echa yang masih terkulai tak berdaya. Mereka berebutan menyentuh dan menikmati aurat gadis cantik itu. Salah seorang merebut antrian dan langsung memaksa menyodokkan kontolnya ke memek Echa. Echa menggeliat kencang saat memeknya disodok kontol dengan sangat kasar. Bukan hanya satu kontol saja, ia melihat 3 kontol sedang diarahkan ke liang senggamanya


"Eehh?? Gak muat" Satu-satu banggg.. Aaaaahhhhh..", desah Echa mendapati dua batang kontol yang berhasil masuk ke dalam liang senggamanya, sedangkan 1 batang kontol masih terus mencoba masuk


Wajah Echa terbelalak tidak percaya mendapati kemaluannya saat ini sudah menampung dua batang kontol. Mereka terus memaksakan kontol mereka masuk ke dalam vagina Echa. Walau tidak masuk seutuhnya tapi tetap saja memek Echa terasa melar karena dipaksa menampung 3 batang kontol yang masuk secara berdesakan.


"Aaaahhh" Ouuuhhh.. Aaaaahhhhhh.. Hahhhh.. Hahhh" Aaahhh.. Ouuhhh..", nafas Echa semakin menggebu saat seluruh tubuhnya dijamah oleh puluhan lelaki disana.


Bibirnya kini dipaksa berciuman dengan ganas. Kepalanya sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan menciumi siapa saja yang hendak melumat bibirnya. Beberapa juga ada yang meludahi bibir serta wajah gadis cantik itu sebelum mereka jejali kontol lagi. Bibir Echa kali ini sudah tidak lagi sibuk mencium bibir para lelaki, tetapi bibir gadis itu kali ini sibuk menyepong kontol-kontol yang tidak mendapat jatah memeknya. Beberapa ada yang menumpahkan sperma ke wajah cantiknya. Beberapa ada pula yang sengaja menumpahkan ke payudara, dan juga mulut gadis cantik itu.


"Hahahaha" Enak ya dipejuin rame-rame?", ledek salah seorang preman


Echa tidak sanggup menjawab pertanyaan ity, karena mulutnya masih sibuk mengulumi kontol-kontol yang mengerubunginya. Bukan hanya mulut saja, kedua tangannya pun sama saja sedang sibuk mengocok batang kontol para preman kampung


"Nungging lo!", perintah salah satu dari mereka


Echa hanya bisa patuh dan segera menungging. Belahan pantat mulus Echa dibuka lebar. Beberapa pria kemudian kembali mengarahkan alat kelaminnya ke lubang senggama Echa. Beberapa lainnya meludahi kedua lubang Echa. Entah siapa yang berhasil mendapat jatah Echa sudah tidak peduli lagi. Echa hanya merasakan kemaluannya kembali diaduk-aduk batang kontol yang keras. Gadis itu terus mendesah, membiarkan semua lelaki disana menikmati setiap senti tubuhnya


"Sepong lagi sayang" Kamu belum boleh istirahat"", pinta salah seorang pria sambil menjambak rambut Echa hingga kepala Echa terdongak.


Echa dengan patuh langsung melahap kontol lelaki itu. Mulutnya kembali penuh sesak oleh kontol. Echa dipaksa aktif menoleh ke kiri dan kekanan menyepong satu persatu kontol-kontol yang mengelilinya. Satu tangannya ia pakai juga untuk mengocok kontol lainnya. Sedangkan satu tangan lagi ia pakai untuk menjaga keseimbangannya agar tetap bisa menungging.


"Ouuhh.. Mantab bener memeknya" Aarrrgggh".", lenguh pria yang sedang menyetubuhi gadis itu


*Crot crot crot crot*


Semburan lahar panas kembali menyemprot di rahim Echa. Begitu kental dan banyak sekali. Echa merasakan kemaluan sudah lumayan perih. Karena memang sudah beberapa jam organ intimnya ia pakai untuk memuaskan lelaki disana. Ditambah cairan hangat kental yang tersembur di dalam memeknya, membuat alat kelaminnya semakin terasa perih.


Tetapi itu tidak lantas membuat Echa harus berhenti saat ini melayani mereka. Tidak butuh waktu lama, memek Echa kembali dijejali kontol preman-preman disana. Mereka saling berebutan dan ingin segera menikmati kehangatan kemaluan gadis itu. Dua tiga kontol berebutan masuk ke luvang senggamanya. Bahkan bukan hanya vagina yang mereka incar, lubang anus Echa juga mulai mereka serang. Echa terbelalak menyadari lubang anusna tiba-tiba terasa penuh sesak. Ia menoleh kebelakang. Matanya terkejut melihat 5 orang disana sedang berebutan menikmati dua lubang bawah Echa.


"Eehhhh.. Ampun bang jangan disitu.. Addduuhhh.. Aaaahhh"", pinta Echa


Sayangnya mereka tidak menggubris permintaan gadis itu. Mereka terus menjejali lubang memek dan lubang tai Echa dengan kontol-kontol keras mereka. Tubuh Echa sampai terasa tak karuan. Perutnya terasa seperti diaduk-aduk saat pria-pria itu bergiliran menghajar lubang anus serta vaginanya.


*Crot crot crot crot*


*Crot crot crot crot*


Tiba-tiba seseorang menyemburkan peju ke lubang tai Echa. Seseorang lainnya secara bersamaan menyemburkan peju ke memek Echa. Echa hanya bisa pasrah dan berusaha menikmati saat kedua lubangnya disemprot peju. Ia yakin betul dirinya mungkin bakalan benar-benar dihamili malam ini. Karena sudah banyak sperma yang tertanam dalam rahimnya hari ini


"Aaaaaahhhhh"."


Tiba-tiba gadis itu mendesah saat tanpa aba-aba, 2 batang kontol masuk ke lubang anus dan vaginanya secara bersamaan. Padahal belum selesai ia mengistirahatkan lubang kemaluan dan anusnya. Pantatnya bahkan masih berlumuran sperma begitu banyak.


*Plak plak plak plak* tamparan demi tamparan diterima Echa malam itu


"Goyang yang bener lo!", kata seseorang dibelakangnya saat Echa disodoki dari arah belakang


"Gak usah sok jual mahal lo lonte, sekarang lo tau kan berapa harga diri lo?", ledek lelaki lainnya


"Iyaah" maaf aahhh aaahhh aaaahhhh bang"", desah Echa


"Berapa?", tanya pria itu


"Memek aku hari ini dibayar pake pejuh". Aaaahhh.. Aaaahhh..", jawab Echa


"Hahahahaha" Bagusss.. Lo bener-bener murid yang pinter", ledek pria lainnya


#


Jam sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari


Tubuh Echa sudah acak-acakan. Rambutnya nampak lengket, wajahnya penuh peju, begitu juga payudara dan kedua lubang bawahnya. Namun tugaa gadis itu belum selesai, ia masih terus bergerak naik turun diatas tubuh seorang lelaki berbadan gemuk dengan tato naga di lengannya. Di pinggangnya, puluhan kondom bekas melilit pada tubuh telanjangnya dengan seutas tali.


"Ayo goyang terus memekmu masih butuh kontol tuh", ledek si preman gemuk


"Iya bang" Ouhhhh.. kontol.. kontol.. kontolll"", kata Echa bersamaan dengan tiap sodokan kontol pria gendut itu


Mulut Echa amat fasih mengucapkan kata-kata tabu itu. Ia tidak segan bahkan mengganti desahannya dengan kata "kontol" agar terlihat lebih murahan


"Buka mulutmu lonte".", ujar seseorang sambil mengocok kontolnya dan ia arahkan batang kemaluannya ke mulut Echa


"Iyaaaahhh.. Ohhh kontol.. Kontol" Saya mau pejuhhh"", jawab Echa sambil menjulurkan lidah semaksimal mungkin


"Nih peju gue. Awas kalau gak lo habisin", kata pria tadi


"Iyaaaahhh makasih ya bang"", kata Echa sambil bersiap menerima sperma lelaki dihadapannya


*Crot crot crot crot crot*


Kontol itu menembak sangat kencang dan langsung melesat menuju tenggorokan Echa. Bukan hanya satu kontol saja ternyata, kontol lainnya juga turut menyemburkan sperma ke mulut pacar Rio itu. Wajah Echa begitu bahagia menerima sperma para preman kampung. Ia bahkan terus menjulurkan lidahnya berharap ada yang memberinya sperma lagi


"Ouuhhh.. Makasih banyak ya abang-abang sudah kasih saya peju" Echa mau peju lagi bang kalau masih ada"", kata Echa menggoda sambil menggoyang-goyangkan lidahnya.


"Ok nih telen peju gue lonte jalang", kata seseorang lainnya sambil mengarahkan kontolnya ke mulut Echa


*Crot crot crot crot crot*


"jangan lupa setelah itu lo bersihin kontol kita sambil bilang makasih", ledek pria yang baru saja menyemburkan sperma


"Ouuhhh makasih ya bang" Pejuin saya lagi bang" Bayar saya pakai peju abang"", kata Echa


Mulut Echa kembali disembur peju beberapa kali. Setelah selesai, Echa dengan lahap menjilati kepala kontol mereka sampai sisa peju habis tak tersisa. Setelah selesai minum peju, mulut Echa kembali disodoki kontol-kontol tiada henti. Dalam posisi Women On Top tubuh Echa bergerak naik turun begitu sexy. Pentil susunya begitu terlihat mengacung keras. Putting susu yang keras itu tak lupa dijepitkan kartu pelajar sekolah miliknya. Tidak ada lagi yang mau menyusu disana. Karena putting mungil itu sudah belepotan sperma dan aromanya sungguh menyengat


"Arrrgggghh gue keluarrrr", pekik si preman gendut bertato naga


*Crot crot crot crot*


Tanpa ragu sama sekali ia semburkan pejunya ke dalam rahim Echa. Tubuh Echa langsung ambruk seketika selepas pria itu melepas kontolnya dari memek Echa. Setelah melayani si preman gendut, tubuh Echa ditarik oleh seseorang, gadis itu diposisikan mengangkang. Lalu beberapa kontol kembali berebutan menyetubuhi memeknya. Mereka terus menghajar kemaluan Echa tanpa ampun, mereka juga terus menjadikan kemaluan gadis cantik itu sebagai tempat pembuangan peju. Tubuh Echa semakin limbung, Kesadarannya perlahan sirna. Kepalanya terasa begitu berat dan gadis itu pun pingsan tak sadarkan diri..


Namun mereka terus menggilir Echa, vagina Echa tetap dipakai untuk melampiaskan nafsu birahi yang semakin tak terkendali. Satu demi satu menyemburkan spermanya ke rahim gadis itu. Hingga vagina Echa penuh dengan sperma. Sangat banyak sekali rahimnya menampung peju. Sampai pada akhirnya mereka sadar, Echa sudah tak sadarkan diri.


Mereka menatap Echa dengan tatapan ketakutan, khawatir gadis itu sampai merenggang nyawa karena harus melayani puluhan pria malam ini non stop. Salah seorang preman memeriksa hidung Echa dan memastikan gadis itu masih bernafas.


"Aman Cuma pingsan aja", kata si lelaki itu


Semua lelaki disana menghembuskan nafas lega karena ternyata Echa masih hidup. Lalu Si pria tua kaya meninggalkan segepok uang untuk Echa, lengkap dengan kartu namanya. Ternyata ia masih ada disana, menyaksikan seorang gadis SMA berjilbab diperlakukan begitu rendah dengan menjadikan vagina,mulut, serta anusnya untuk membuang peju seluruh pria disana.


"Bagus! gue suka cewek pekerja keras. Ini uang buat jerih payah lo.. dan ini kontak gue kalau lo mau uang lebih" lo bisa jadi aset gue yang berharga. Heheheh"", bisiknya ke telinga Echa sambil meletakkan beberapa tumpukan uang di meja tempat Echa pingsan.


"Kok dikasih duit bos? Bukannya dia cukup dibayar pakai peju?", tanya salah seorang preman


"Hahaha" Gue itu businessman. Gratisan itu aib buat gue. Ini juga buat menghargai kerja keras dia", kata si pria tua kaya


Entah Echa mendengar pembicaraan pria tua itu atau tidak. Yang jelas, pesta telah usai. Warung pun tidak lama kemudian ditutup dan para lelaki itu mulai cabut dari sana. Icank pun meninggalkan Echa sendirian di warungnya. Sebenarnya ia masih ingin menyetubuhi Echa, tapi melihat Echa yang pingsan ia pun tidak tega. Ditambah lagi mencium tubuh Echa yang bermandikan sperma membuat nafsunya sedikit berkurang. Akhirnya ia pun meninggalkan Echa sendiri disana"


#


Suara deru knalpot brong terdengar begitu berisik pagi itu. Echa membuka matanya perlahan saat silau sinar matahari memaksa matanya untuk terbuka sedikit demi sedikit. Gadis cantik itu memegangi kepalanya. Ia pegang rambutnya yang kumal dan aromanya tak sedap.


"Eh? Aku dimana?", tanyanya sendiri sambil meraba keadaan tubuhnya yang telanjang bulat.


"Aow" Eh apa ini?", kata Echa sambil melepas kartu pelajar yang masih menjepit pada pentil susunya


"Oh iya, aku di warung Mas Icank dari semalam"", jawabnya masih linglung sambil melihat keadaan sekitar


Ia raba tubuhnya dan ia rasakan ceceran sperma yang telah mengering masih menempel pada beberapa bagian tubuhnya. Kemudian ia melihat ke arah sekeliling, suasana sudah sepi dan menyisakan botol-botol miras yang berserakan. Ia pun mendapati di pinggangnya terpasang sebuah sabuk berupa tali yang digantungkan banyak kondom bekas. Kondom-kondom itu sebagai saksi bisu betapa semalam alat kelaminnya menjadi tempat melampiaskan birahi para preman dan pria-pria kriminal yang suka nongkrong di warung milik Icank.


Echa mencoba menelan ludahnya, namun terasa sulit karena semalaman tenggorokannya diisi banyak sperma sehingga kini tenggorokannya terasa lengket dan kaku.


"Aaaaaahhh Aduhh.. Kok sakit yaa"", erang Echa kesakitan sambil meraba alat kemaluannya


Ia pun meraba perlahan kemaluannya sendiri. Rasanya lumayan pekat dan sedikit lengket. Echa ingat sedikit semalam ia memang di gilir, tetapi kejadian detailnya ia sama sekali tidak ingat. Kemudian mata gadis cantik menatap kearah tumpukan uang yang tersusun rapi lengkap dengan sebuah kartu nama.


"MR. HONG" Hong Entertainment?", kata Echa sambil membaca tulisan pada kartu nama itu


"1 2 3 4 5 6.. 6 jutaan ditambah uang recehan.. Eerrr.. 6,5juta kurang dikit", kata Echa sambil menghitung pendapatannya


"Lumayan banyak sih walau belum cukup buat beli ip**ne. Untung ada bapak tua itu jadinya dapat lumayan banyak", gumamnya sendiri


Echa pun memasukkan tumpukan uang itu ke dalam tasnya. Ia pun segera kembali memakai baju seragam sekolahnya yang sudah terlempar kemana-mana. Untungnya seragam sekolahnya tidak begitu kotor. Hanya kerudungnya saja yang aromanya sudah tak karuan. Echa pun mengganti kerudungnya dengan kain kerudung cadangannya yang biasa ia siapkan di dalam tasnya.


"Eh sekarang hari apa sih? Eh Senin ya? Eeeehhhh.. Sekarang jam berapaaa sih???", pekik Echa sambil buru-buru ia ambil handphonenya


"Hah??? Jam 07.10??? Aku telaaaattttt!!!", kata Echa buru-buru merapikan pakaiannya dan membereskan semua barang-barangnya lalu segera pergi dari tempat itu


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 16 : Kegilaan di Rumah


*cit cit cit* suara burung yang hinggap diatas pohon.


Di saat orang-orang sedang sibuk dengan kegiatan paginya, di dalam ruang tamu rumah besar itu, terjadi pemandangan yang mencengangkan bagi siapapun yang melihatnya. Persetubuhan panas antara seorang perempuan berjilbab dan seorang lelaki berbadan besar berkulit gelap. Wanita berjilbab itu nampak sedang menungging telanjang, hanya kerudung panjang yang masih terpasang di kepalanya.


sementara itu, lelaki lawan mainnya sedang menyodok kemaluannya dari belakang. Nampak dari bibir wanita berjilbab itu terlihat merintih, mengaduh, sesekali pula ia mendesis. Matanya terpejam begitu khusyuk menikmati tiap sodokan kontol hitam lelaki berbadan besar dibelakangnya. Dari bibir indahnya, tak pernah ia berhenti mendesah. Bukan karena kesakitan, melainkan ia mendesah karena keenakan.


"Ah.. Aaahh.. Aaaahh.. Pak Robert... Ouhhhh... Enak pak... Ahhh", begitu wanita berjilbab panjang itu merintih


Di rumah itu, Alya nampak telanjang bulat sedang menungging nakal. Hanya kerudung panjang warna pink yang ia pakai sejak kemaren yang masih terpasang di kepalanya. Dibelakangnya, Pak Robert sedang memasukkan batang kemaluannya ke liang senggama Alya. Berkali-kali kemaluan mereka bertumbukan, hingga menimbulkan suara ceplak-ceplak yang berisik. Persetubuhan yang terjadi diantara pasangan yang sedang berzina itu amatlah panas dan siapapun yang melihatnya pastilah tidak akan percaya gadis berpenampilan alim seperti Alya sedang menunggingkan pantatnya pasrah ke pria lain yang bukan suaminya.


"Gila memekmu masih enak bener Bu Alya. Padahal sudah berapa kontol yang masuk ke memekmu Bu? Hehehe plak plak plak plak", goda Pak Robert sambil menampar bokong Alya yang menungging sexy


"Lupa saya Pak.. Ngga pernah dihitung pak... Aaahhhhh... Pak Robert... Ohhh... Terus Pak Robert... Aaahhhh", desah Alya begitu manja sambil mencengkeram erat sofa tempat mereka bercinta


Pak Robert meremasi bongkahan pantat mulus wanita berjilbab itu. Sesekali ia tampar lagi pantat Alya. Mama Echa itu bukannya marah, ia malah semakin menunggingkan pantatnya. Seolah meminta Robert untuk menampar bokongnya lebih keras lagi


*Plak plak plak* tamparan Robert semakin kasar ke bokong Alya


"Jawab dong Bu sudah berapa kontol yang sudah kamu masukkan ke memekmu? Masak lupa sih? Hehehehe...", goda Pak Robert lagi kali ini ia coba hentikan genjotannya


"Jangan berhenti dong Pak... Nanggung nih...", rengek Alya nakal sambil kali ini ia yang menggerakkan tubuhnya maju mundur demi mendapatkan gesekena nikmat dari kontol berurat Pak Robert


"Jawab dulu Bu pertanyaan saya...", kata Pak Robert


"Beneran Saya sudah lupa Pak.. Ada berapa yaa.. Banyak pokoknya... Semua bapak-bapak di perumahan ini kayaknya pernah ngerasain punya saya... Sama teman-teman Pak Robert juga sudah pernah kan?", jawab Alya mencoba mengingat-ingat


"Ya ampun.. Masak semua bapak-bapak disini sudah pernah ngentotin memek Bu Alya? Heheheh... Baik sekali Bu Alya bagi-bagi memek ke warga sini", ledek Robert


"Sssshh.. Ouuuhhh.. Iya hampir semuanyaaaa yang ronda-ronda itu saya layanin.. Mereka jadi semangat datang ronda malam pak...", jawab Alya sambil menggeliatkan tubuhnya


"Hahahah... Bagus kan ide saya minta Bu Alya menggantikan suami ibu yang tidak pernah ikutan jaga ronda. Biar digantiin istrinya yang lonte hobinya ngontol...", jawab Robert gemas melihat wanita berjilbab itu begitu manja dan nakal


"Entot saya lagi pak.... Saya mohon... Kontol bapak enak sekali", kata Alya lagi sambil membuka lubang kemaluannya sendiri dengan kedua tangannya di hadapan Robert


Lubang kemaluan yang sudah berlendir dan menganga. Bentuknya sudah tak karuan karena dari kemarin lubang itu sudah dimasuki berbagai macam benda. Namun keindahan aurat paling intim milik Alya itu tetaplah menarik dan sangat layak untuk dinikmati.


"Hmmm nanti suamimu marah, istri alimnya keenakan digenjot kontol saya. Hahahah", ledek Robert membuat muka Alya memerah


Sebagai wanita yang "pernah" alim, Alya sadar betul yang dilakukannya sangatlah salah dan bertentangan dengan kepercayaan yang ia yakini. Tetapi entah mengapa, ia ketagihan melakukan zina. Dengan berzina, Alya merasa dirinya bisa lebih bebas mengekspresikan dirinya. Tidak perlu harus sok alim seperti saat berada di dekat suaminya.


"Jangan bahas suami saya Pak... Aaahhh.. Ouhhhh...", kata Alya sambil mendesah keenakan disodok kontol Robert


"Lho kenapa? Bukankah Bu Alya istri baik-baik yang patuh sama suami? Heheheh", ledek Robert lagi membuat Alya tersipu


"Pak Robert Aaaahh.. Jangan goda saya terus dong pak...", pinta Alya manja


"Hehehe.. Saya ga ada niat menggoda kamu Bu Alya.. Cuma Bu Alyanya yang pandai menggoda saya. Heheheheh.. Buat saya sange terus... Oiya, Suamimu kapan pulang Bu?", tanya Robert sambil terus menggenjot Alya


Alya sampai menurunkan tubuh telanjangnya saking capeknya karena tubuh besar Robert terus membombardir lubang senggamanya tanpa ampun. Tubuhnya ia sandarkan ke dudukan sofa, namun pantatnya masih menungging tinggi membiarkan kontol Robert menusuk-nusuk kelaminnya dari belakang


"Ahhh.. gak tau pak... Suami saya belum kasih kabar... Terus pak Robert Aaaghh entot saya terus pakkk... Aaaahhh...", jawab Alya sambil terus mendesah keenakan


"Lihat nih Pak Ragil, istrimu yang alim ini memohon dientot saya. Memeknya sampai becek gini. Hahahaha... Plak plak plak... goyang yang bener bu... Plak plak plak...", perintah Robert sambil menampar bokong sexy Alya dan Alya dengan patuh menggerakkan pinggulnya mengulek kontol Robert di dalam lubang memeknya yang berlendir


"Oh Yesss.. Bagus Bu.. Suami ibu pasti bangga sama Bu Alya.. Pinter bener goyangnya. Hahahahah..", goda Robert lagi


Alya kembali tersipu, seingat dia, ia tidak pernah bergoyang senakal ini saat berhubungan suami istri dengan suaminya. Ia bergoyang seperti ini justru saat berzina dengan pria-pria lain yang bukan suaminya. Alya bisa bebas menampakkan sisi binalnya saat tidak bersama suaminya.


Saat melayani suaminya, justru sikap Alya di ranjang sangatlah dingin. Ia hanya tiduran di ranjang dan suaminya yang aktif menyetubuhinya dengan gaya konvensional. Alya juga enggan mengulum penis suaminya, ia juga tidak mau memakai gaya aneh-aneh selama berhubungan. Persetubuhan dengan suaminya pun terjadi begitu cepat, mungkin hanya 5-10 menit saja. Bagi Alya, yang penting suaminya klimaks dan tugas ia melayani kebutuhan biologis suami pun selesai.


Namun jika dengan Pak Robert, Alya bisa melayani pria berbadan besar itu semalaman penuh. Berbagai posisi ia ladenin. Berbagai gaya sudah ia lakukan, dimanapun ia mau menuruti Pak Robert. Di dalam kamar, di teras rumah, di parkiran mobil, Alya dengan senang hati melakukannya. Apa kata Robert, Alya akan dengan patuh menaati.


"Nanti kalau suamimu pulang, kamu tetep wajib layani saya bu.. Heheheh", imbuh Pak Robert lagi sambil memilin puting susu Alya yang sudah mancung.


"Iyaaahh.. Aaaahhh.. Pak Robert... Saya akan layani bapak walau suami saya pulang...", jawab Alya


Robert menyadari vagina Alya semakin licin saat ia membicarakan suaminya. Kontol Robert tak bisa berhenti menyodok-nyodok kemaluan mama Echa yang semakin becek dan hangat itu. Jepitannya begitu mencengkeram kuat, memberikan sensasi kenikmatan tiada tara yang memanjakan batang kemaluannya. Apalagi, dulunya Alya adalah seorang muslimah taat, hal itulah yang membuat Robert seperti mendapatkan harta karun berharga ketika berhasil menguasai perempuan berkerudung panjang itu.


"Iya betul, tapi kamu harus ijin ke suamimu dulu kalau mau ngentot sama saya. Bagaimanapun seorang istri yang baik, pergi kemana-mana harus ijin ke suaminya bukan? Hahahah", goda Pak Robert


"Aaaahhhh.. Ssshh.. Bapak bisa aja... Bisa-bisa suami saya marah sama saya pak kalau ijin mau ngentot sama bapak... Ouhhh...", jawab Alya


"Ya itu kan pikiran Bu Alya saja. Sapa tau suami Bu Alya malah ngijinin dan berterima kasih kepada saya karena sudah memberi Bu Alya kepuasan selama ia tinggal bekerja. Hahahah", kata Pak Robert


"Pak Robert Ngaco.. Aaaahhhh terus pak Robert... Aaahhh.. Memek saya suka kontol bapak.. Aaaahhhhh.. Enak betul pak.. Aaahh... Kontoll Aaahhhh... Kontol kontol kontoolll.. Saya suka kontol bapaaakk..", ujar Alya begitu murahan mengulang-ulang kata jorok itu dan Robert semakin mempercepat sodokannya ke wanita berjilbab lebar itu.


"Aaarrrggg dasar pelacur jalang. Disodok kontol malah ngomong kotor. Hahahah.. Ahhhhh... saya crotin kamu Bu!!!", kata Pak Robert semakin cepat genjotannya


"Keluarin di dalam Pak, ke memek saya... Pejuin memek saya pake kontol bapak", pinta Alya nakal sambil bersiap menerima semburan Robert


"Iya Bu.. memek lacur Bu Alya memang tempat buang peju saya.. Aahhhh.. Keluarrrrr", erang Pak Robert sambil mendorong mentok kontol besarnya ke rahim Alya


*Crotttt crottt crottt crottttt*


Semburan lahar panas langsung menembak kuat di dalam kemaluan Alya. Bertubi-tubi lahar panas itu menyemprot di dalam kemaluan wanita cantik berjilbab panjang itu. Tubuh Alya ambruk seketika bersamaan dengan lepasnya kontol Pak Robert dari kemaluannya. Lendir putih kental sisa perzinahan panas itu keluar dari kemaluan Alya. Robert tersenyum puas, memandangi tubuh telanjang Alya dari belakang dengan pantatnya yang mulus sexy itu adalah salah satu pemandangan terindah yang selalu ia kagumi. Walau Robert sudah sering bersetubuh dengan banyak wanita, namun Alya terasa special baginya. Alya adalah satu-satunya binor berjilbab lebar yang pernah ia tiduri. Bukan hanya satu kali, bahkan istri Ragil itu sudah puluhan kali ia setubuhi karena memang sensasinya senikmat itu


"Saya mau pergi dulu, ada janji dengan rekan bisnis saya. Bu Alya mau ikut apa pulang aja?", tanya Robert sambil kembali berpakaian setelah ia selesai menuntaskan syahwatnya


"Saya pulang saja pak... Capek dari kemarin saya diginiin terus", kata Alya sambil memberi simbol jempol dijepit jari telunjuk dan jari tengah.


"Hehehe.. Kan itu memang tugas Bu Alya. Memek Bu Alya kan tugasnya menghibur kontol saya", jawab Robert


"Iya sih Pak.. Errrr..", kata Alya sambil celingak-celinguk seperti mencari sesuatu


"Nyari apa bu?", tanya Pak Robert heran melihat Alya


"Anu.. baju saya dimana ya pak?", tanya Alya sambil terus mencari gamisnya


"Lho bukannya kemarin dilepas di teras depan waktu bapak-bapak kesini? Hehehehe", kata Robert sambil tertawa meledek


"Oiya.. Saya lupa.. hihihi... Maklum sudah mau kepala 40 pak", kata Alya


"Ah tapi masih cantik kayak gadis 20tahunan, memeknya juga masih enak. Wangi pula", gombal Robert


"Ah Pak Robert bisa aja, yasudah saya pamit pulang dulu ya Pak.. Dicari anak saya nanti.", pamit Alya


"Ya anaknya dibawa kesini juga dong bu. Hehehe...", kata Robert mesum


"Hush! Awas aja kalau Pak Robert sentuh Echa anak saya", jawab Alya sewot dan Robert hanya tersenyum nyengir.


Alya pun berjalan telanjang ke teras rumah Pak Robert. Memang kemarin siang dirinya striptease disana. Menjadi wanita penghibur arisan bapak-bapak yang rutin diadakan setiap bulan. Alya pun bergegas memakai gamisnya lagi dan pergi meninggalkan rumah Robert.


#


Jalanan depan rumah Pak Robert rupanya sudah lumayan sepi. Hanya satu dua kendaraan yang terlihat melintas di jalanan perumahan itu. Wajar saja karena jam saat ini menunjukkan pukul 08.00. Biasanya jam segini para warga sudah berangkat kerja. Sedangkan para ibu-ibu mungkin masih pada belanja di pasar. Pak Robert sudah pergi menggunakan mobil mewahnya. Sedangkan Alya berjalan kaki pulang ke rumahnya sendiri


Nampak cara berjalan wanita bergamis syari itu terseok-seok. Karena memang sejak kemarin, alat kemaluannya sudah disodok banyak barang. Mulai dari timun, terong, hingga kontol. Dari vaginanya masih keluar cairan sisa persetubuhan dengan Robert pagi ini. Memang saat ini Alya pulang ke rumah tanpa celana dalam, entah siapa yang telah mengambil celana dalamnya kemarin, Alya sama sekali tidak tahu. Yang jelas salah satu dari bapak-bapak mesum yang ada di perumahan tempat tinggalnya


Dengan langkah tertatih akhirnya ia sampai di depan gang rumahnya. Betapa terkejutnya Alya mendapati dari kejauhan, Echa sedang membuka pintu pagar rumah. Alya pun mempercepat langkah kakinya dan mencoba berjalan senormal mungkin. Ia tidak ingin anak gadisnya curiga melihat cara berjalannya yang tertatih.


"Lho Cha? Kok pulang? Kenapa ngga sekolah?", tanya Alya saat sudah berada di dekat Echa


Echa terkejut mendapati mama tercintanya sudah berada di belakangnya sambil memasang wajah cemberut. Gadis cantik itu tentu saja panik dan berusaha memastikan mamanya tidak curiga melihat keadaan dirinya. Ia bersyukur dalam hati, pulang tadi ia putuskan memakai jaket karena dengan begitu seragam sekolahnya yang sengaja dipotong kekecilan tidak terlihat oleh mamanya.


Namun, Echa juga masih was-was karena ia sadar betul aroma tubuhnya saat ini begitu menyengat bau sperma, karena semalaman tubuhnya bermandikan air mani para preman kampung yang ada di warung. Alat kemaluan serta anusnya juga menjadi toilet bagi para preman-preman itu. Echa pun mencoba menjaga jarak beberapa meter dari mamanya agar aroma sperma yang ada pada dirinya tidak tercium oleh mamanya.


"Jawab pertanyaan Mama Echa! Kamu kok malah ngelamun", kata Alya ketus melihat anaknya yang bolos sekolah


"Errrr.. Eh.. Mama.. Anu.. Echa... Ijin pulang Ma... Echa lagi ga enak badan..", jawab Echa gelagapan sambil terus menjaga jarak dari mamanya agar aroma pejunya tidak tercium mamanya.


Alya memandangi anak gadis semata wayangnya dengan tatapan tidak percaya. Ia tahu Echa saat ini sedang membohonginya. Alya tahu betul jika Echa bercerita tapi tidak berani menatap mata lawan bicaranya, berarti Echa sedang berbohong.


"Sakit apa kamu? Alasan aja pasti", kata Mama Alya semakin curiga


"Be.. Beneran mama.. Errr.. Kalau Mama darimana?", Balas Echa mencoba mengganti topik karena dari kemarin Echa tidak melihat mamanya


Kali ini Alya yang kebingungan menjawab pertanyaan anak gadisnya. Pertanyaan Echa sangat mendadak dan ia belum siap jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Alya tidak menyangka Echa pulang ke rumah sepagi ini dan melihat kondisinya yang lumayan acak-acakan karena dari kemarin ia belum mandi. Terlihat sekali wajah Alya masih berkeringat deras karena baru saja dihajar kontol besar Pak Robert


"Udah masuk dulu, katanya sakit?", kata Alya ngeles tidak menjawab pertanyaan anaknya


Echa pun tersenyum lega. Mamanya tidak menginterogasinya secara mendetail seperti biasanya. Echa pun mendorong motornya masuk ke dalam rumah. Di belakangnya, Alya mengendus-endus mencari asal aroma menyengat yang daritadi tercium mengganggu hidungnya.


"Kok kayak bau peju ya? Apa gara-gara memek aku masih ada peju Pak Robert?", tanya Alya dalam hati sedikit ketakutan


Hidungnya terus menangkap bau sperma yang sangat kuat. Alya kemudian mencoba mengendus kedua ketiaknya namun ternyata bau tersebut bukan berasal dari ketiaknya. Alya juga mencoba mengendus ke bagian tubuhnya yang lain namun ternyata ia juga tidak menemukan asal bau sperma yang menyengat itu.


Alya kemudian memandangi Echa yang berada di depannya. Memang anak gadisnya itu sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik luar biasa. Tubuhnya mulai membentuk indah dan pastinya menarik perhatian kaum adam.


"Masak sih dari Echa? Ah tidak mungkin Echa berbuat itu, mikir apa aku ini. Mungkin memang berasal dari memek aku...", kata Alya sambil menepis pikirannya


"Ma, Echa mandi dulu ya...", kata Echa tiba-tiba mengejutkan Alya


"Lho kok mandi lagi? Bukannya tadi sebelum ke sekolah sudah mandi? Mama juga mau mandi soalnya", kata Alya


"Iya Ma, tadi Echa ke sekolah ga mandi karena gak enak badan. Ini Echa pingin mandi...", jawab Echa beralasan


"Ke sekolah gak mandi? Ya ampun Echa-Echa, siapa yang ngajari gitu sih. Jorok ah mama gak suka... Kalau mau keluar itu mandi dulu sayang", kata Alya padahal dirinya sendiri saat ini juga belum mandi dari kemaren


"Err.. Iya Ma, maaf...", jawab Echa sambil masuk ke dalam kamar mengambil pakaian ganti


"Hmm yaudah jangan lama-lama mandinya. Mama juga mau mandi", kata Alya


"Iya ma...", kata Echa sambil menutup pintu kamar mandi


"Duh, kamar mandi dipakai Echa. Aku bersihin memekku dimana ya.. Masak di teras? Hmmm.. Yaudah deh mau gimana lagi", kata Alya dalam hati


Setelah itu, Alya bergegas ke teras rumah. Di teras rumah, Alya kemudian berjalan menuju kran air yang ada di dekat pagar rumahnya. Alya pun buru-buru segera mengangkat rok gamisnya dan mulai membersihkan sisa sperma Robert dari area kemaluannya. Aromanya memang kuat karena sperma Pak Robert begitu kental dan banyak. Alya sampai membasuh alat kelaminnya hingga 3x memastikan vaginanya benar-benar bersih.


"Pagi-pagi cuci memek nih Bu?", tiba-tiba dari arah pagar seseorang menyapa sambil mengingip dari celah pagar


Alya buru-buru menurunkan roknya dan melihat siapa yang ada disana. Sosok lelaki putih yang usianya kurang lebih 45tahunan keturunan chinese sedang tersenyum nakal ke arah Alya. Matanya terus menatap genit ke arah Alya. Alya pun sampai salah tingkah dan menyadari siapa sosok lelaki di depan pagar rumahnya. Wanita berjilbab cantik itu pun tersenyum kecut. Ternyata Pak Alex, tetangga yang rumahnya tepat berada di depan rumah Alya.


"Pak Alex? Kirain siapa pak... Kaget saya. Hihihi.. Pak Alex ngga ngantor?", kata Alya mencoba bersikap biasa


"Ngga, lagi cuti saya bu. Hehehe... Lho kok berhenti? Dicuci lagi Bu memeknya. Sudah bersih belum tuh? Heheheh", goda Pak Alex


"Iya nih pak.. Sebentar saya lanjutin ya pak..", kata Alya lalu dengan santainya Alya kembali buka kemaluannya dan ia cuci didepan Pak Alex


Tangan Alya bergerak lincah mengucek alat kelaminnya dengan air. Tidak terlihat rasa canggung sama sekali ia membasuh vaginanya di depan Pak Alex. Karena Alya sudah terbiasa dilihat area privatnya oleh para bapak-bapak tetangganya. Pak Alex adalah salah satunya. Lelaki Chinese itu juga sudah beberapa kali menggenjot vagina Alya saat ronda malam bersama warga lainnya.


"Pagi-pagi kok udah cuci memek bu? Habis dipakai Pak Robert nih pasti?", goda Pak Alex


"Iya nih Pak, semalam saya tidur di rumah beliau.. Baru pulang nih", jawab Alya


"Oh emang Bu Alya bisa tidur kalau nginep di rumah Pak Robert?", goda Pak Alex


"Ngga sih Pak, ga bisa tidur saya dikerjain Pak Robert terus", jawab Alya


"Hahahah.. Gila memang Pak Robert. Saya akui beliau memang hebat bisa buat Bu Alya yang dulu alim jadi binal gini...", kata Pak Alex tersenyum nakal


"Hmmm iya juga ya pak.. Saya jadi ketagihan kontol ya gara-gara beliau", kata Alya semakin membuat pria dihadapannya sange. Karena mulutnya sudah biasa mengucapkan kata kotor walau kesehariannya memakai baju gamis.


"Bukan kontol aja Bu. Kemaren Bu Alya juga ketagihan Terong sama Timun.. Hehehe maaf ya bu kemaren saya masukkin keduanya di dua lubang Bu Alya", kata Pak Alex tersenyum mesum


"Oiya kemarin Pak Alex ya salah satu pelakunya yang masukin terong dan timun ke lubang bokong dan memek saya.. Tanggung jawab hayoo.. Bokong sama memek saya jadi perih gara-gara Pak Alex. Hihihi", jawab Alya


"Tapi enak kan main sama terong dan timun?", goda Pak Alex


"Sakit tau Pak.. Enakan kontol pak...", jawab bu Alya


"Duh Bu Alya ini bikin saya tambah sange... Sekalian cuciin kontol saya dong bu...", tanya Pak Alex tiba-tiba karena tidak tahan daritadi ia melihat lubang kemaluan Alya yang sedang dicuci


Alya kemudian melihat ke dalam rumahnya, memastikan Echa masih mandi dan tidak melihat ke arahnya. Ia tergoda juga dengan penawaran dari Pak Alex. Karena kontol Pak Alex adalah salah satu kontol favoritnya diantara bapak-bapak di perumahan itu. Pria keturunan chinese itu memang terlihat menarik di mata Alya. Walau sudah 45 tahunan, tubuh Pak Alex tetap terjaga atletis. Postur tubuhnya kekar berotot dan macho membuat Alya senang berada didekapan Alex. Ditambah lagi Alex Berkulit putih dan selalu wangi, juga ada tattoo harimau di lengan kanan lelaki itu membuat penampilannya semakin jantan.


"Mau dicuciin juga? Sini pak...", kata Alya sambil membukakan pagar rumahnya mempersilakan Pak Alex masuk


Mendapat lampu hijau, Pak Alex langsung masuk ke dalam rumah Alya dengan tanpa membuang banyak waktu. Ia duduk di kursi teras rumah dan Alya berlutut dihadapannya. Dengan nakal, Alya menarik celana kolor Pak Alex dan kontol pria itu ternyata sudah mengeras maksimal. Pak Alex rupanya tidal memakai celana dalam. Pantas saja selangkangannya terlihat besar daritadi


"Uhhh.. Kontolnya sudah ngaceng ya pak?", tanya Alya sambil membelai lembut kepala kontol Pak Alex sambil sesekali ia kecup alat kelamin lelaki Chinese itu


"Iya sange liat Bu Alya.. Heheheh", jawab Pak Alex sambil membelai kerudung Alya


"Yasudah, saya permisi emut kontol bapak ya...", ujar Alya dan langsung mulutnya melahap kontol tetangga rumahnya itu dengan lahap


Dengan gerakan perlahan Alya mulai mengemut kontol Pak Alex. Memang Kontol Pak Alex bersih dan tidak bau sehingga Alya nyaman saja memasukkan gagang kencing tetangganya itu ke mulutnya. Selain itu bentuk kontol Pak Alex lumayan tebal dan panjang membuat Alya semakin lahap menikmati alat kelamin Alex. Alya tidak merasa jijik saat menjilati peler Pak Alex. Ia kecup-kecup dan ia jilati bagian bola-bola kontol Pak Alex penuh nafsu. Setelah puas, Alya kembali mengulum seluruh batang kontol hingga habis tak tersisa


*Sluruppp sluruppp sluruppp* mulut Alya bergerak lincah menjilati dan mengulum kontol Pak Alex


"Ohhhh.. Yesss.... Enak sayang.. Terus Alya... Ouhhh... Pinter sekali kamu sayang", lenguh Alex keenakan kontolnya disepong Alya


"Jangan berisik pak di dalam ada anak saya lagi mandi", protes Alya karena desahan Alex semakin kencang saja


"Ohhh.. Hehehe.. Maaf maaf...", kata Pak Alex sambil menggaruk rambutnya


Alya kembali mengulum kontol Pak Alex dan Pak Alex memegangi kepala istri Ragil itu agar tidak beranjak dari batang kontolnya. Alya semakin cepat mengulum batang kemaluan tetangganya itu penuh nafsu. Sesekali ia tuangkan air liurnya ke kepala kontol Pak Alex dan ia jilati sendiri ludahnya dengan nakal. Pak Alex yang sudah tidak tahan mulai mencengkeram erat kepala Alya dan mulai ia gerakkan kepala wanita berkerudung itu dengan tangannya. Kontol Pak Alex seketika langsung menohok-nohok tenggorokan Alya secara berulang.


"Ooohhhhhh... Enak Alya.. Aaahhh . Saya keluar Alyaaaa...", kata Pak Alex dan ia tahan kepala Alya kuat-kuat sambil ia dorong batang kontolnya ke tenggorokan Alya sampai mentok


*Crot crot crot crot*


Semburan lendir hangat Pak Alex menyemprot deras ke mulut Alya. Rasa asin, serik, dan sedikit pesing tak membuat Alya merasa jijik dengan sperma pria Chinese itu. Cairan lengket itu memenuhi rongga mulut Alya hingga membuatnya kesulitan menelan ludah. Dengan perlahan Alya mulai mencoba menelan sperma tetangganya itu. Tenggorokannya terasa tak karuan saat cairan kental berwarna putih milik Pak Alex mulai ia telan semakin dalam. Rasa serik dan gatalnya langsung menjalar ke dinding tenggorokan Alya. Namun Alya terus menelan sperma tetangganya itu hingga habis tak tersisa di rongga mulutnya. Setelah semua sperma Pak Alex ia telan, tak lupa Alya menjilati lubang kencing Pak Alex dengan lidahnya hingga bersih kembali.


"Sudah saya cuci Pak...", kata Alya sambil mengelap bibirnya


"Hehehe.. Terima kasih ya Bu.. Bu Alya baik sekali pagi-pagi udah bantuin nyuci kontol saya... Heheheh", Kata Pak Alex sambil membetulkan celananya


"Iya sama-sama Pak... Eh Pak...", kata Alya tiba-tiba


"Kenapa bu?", tanya Pak Alex


"Tolong jangan bilang-bilang ke bapak-bapak yang lain terutama Pak Robert ya pak tentang hari inu...", kata Alya


"Kenapa bu?", tanya Pak Alex dengan pertanyaan yang sama


"Anu.. saya malu pak.. Ngga enak juga sama Pak Robert.. Nanti bapak-bapak yang lain malah minta jatah ke saya tak tahu waktu", ujar Alya tersipu


"Ohhh.. Iyaa... Beres aman bu... Hehehe...", kata Pak Alex


"Eehhh Pak....", kata Alya lagi


Terlihat perempuan berjilbab itu ragu untuk melanjutkan perkataannya. Matanya tidak berani menatap langsung ke Pak Alex. Ia hanya memanggil sambil membuang muka


"Apalagi Bu Alya?", tanya Pak Alex gemas


"Anuuu.. Errr... Gak jadi deh Pak...", kata Alya


"Apaan sih Bu Alya ini gak jelas. Hehehe... Yasudah saya pulang dulu bu. Istri saya nanti nyariin. Heheheh", kata Pak Alex dan pria macho itu pun pergi setelah puas mengeluarkan spermanya ke mulut Alya


"Eh Iya Pak.. Salam buat istrinya...", kata Alya dan lelaki itu hanya mengangguk sambil tersenyum


Padahal Alya berpikir ia akan disetubuhi Pak Alex yang tampan itu pagi ini. Tetapi ia terlalu malu untuk mengatakannya. Alya juga tidak enak hati dengan Pak Robert. Karena biasanya Pak Robert lah yang menyuruhnya melakukannya dengan bapak-bapak perumahan lainnya. Namun kali ini sedikit berbeda, ia ingin melakukannya sendiri tanpa sepengetahuan Pak Robert.


Alya duduk sejenak di teras rumahnya. Ia angkat kedua kakinya di dudukan kursi teras rumahnya. Rok gamisnya tersingkap, lubang kemaluannya juga terbuka. Sebuah vagina berlendir yang nampak begitu menggoda. Lubang itu mengkilap dan sedikit terbuka dengan lendir kental yang perlahan jatuh menetes. Sepertinya kemaluan Alya sudah ingin disetubuhi lagi. Gairah nafsunya kembali naik, membayangkan tubuh atletis Pak Alex yang wangi. Membayangkan kontol Pak Alex menghajar vaginanya dengan kasar. Tangan Alya mulai mengucek alat kelaminnya. Perempuan berkerudung panjang itu nampaknya sudah tidak bisa mengatur birahi nafsunya yang mulai naik lagi. Ia pun mulai masturbasi, membayangkan salah satu sosok bapak-bapak tampan yang ada di perumahannya sedang menyetubuhinya dan menanamkan sperma kentalnya ke rahimnya.


"Aaaahhh.. Entot Alya pak... Aaahhh Aaaahhhh.. Alya pingin kontol Pak Alex. Hamili Alya pak...", desah Alya sambil masturbasi di kursi teras rumahnya seorang diri sambil menunggu Echa selesai mandi


#


"Cha, masih lama mandinya?", kata Alya di depan kamar mandi beberapa saat setelah ia selesai masturbasi


"Ma.. Masih ma... Sebentar paling setengah jam lagi", jawab Echa dari dalam


"Ya ampun lama sekali. Jangan lama-lama kalau lagi dikamar mandi. Nanti diintip setan lho", kata Alya dan ia pun berjalan ke dalam kamarnya.


Alya lalu membuka handphone miliknya yang ia letakkan di atas kasur kamar tidurnya. Sejak kemarin siang, Alya tidak menyentuh handphonenya sama sekali sehingga ada beberapa pesan masuk yang belum ia baca. Alya lalu mulai membuka satu per satu pesan yang masuk ke dalam handphonenya.


"Dari : Suami


Ma, papa minggu ini belum bisa pulang ya. Mama jaga kesehatan ya...", Alya mulai membaca pesan dari suaminya yang dikirim dari kemarin dan baru sempat ia baca


"Iya gapapa Pa, semangat ya kerjanya.. Love you pa", ketik Alya mencoba romantis


Tidak berapa lama, Ragil suami Alya nampak mulai mengetik. Alya mencoba menunggu sambil membaca status WA dari beberapa kontaknya. Alya kemudian tertawa sambil geleng-geleng kepala membaca status Pak Robert yang sedikit membahas dirinya


"Lanjut bertemu relasi bisnis setelah dari kemarin minum susu, memanen terong dan timun, mengeruk goa, dan diakhiri dengan menanam benih..", tulis Robert


"Inget umur Pak. Hihihi", gumam Alya sambil mengetik mengomentari status itu


"Goa saya sampai perih sekarang karena dikeruk terus. Tanggung jawab Pak", komentar Alya lagi


Alya mulai scroll-scroll pesan WA yang masuk ke handphonenya. Beberapa berasal dari grup Kajian Muslimah yang ia ikuti namun sama sekali tidak ia baca. Alya hanya membuka dan menutup grup tersebut tanpa membacanya satupun kalimat disana. Sejak menjadi ahli zina, Alya merasa tidak pantas turut nimbrung di grup wanita-wanita shalihah itu. Alya sudah merasa kotor dan tidak layak ada di grup tersebut. Ia ingin keluar dari grup itu tetapi khawatir teman-temannya akan malah penasaran jika tiba-tiba ia keluar.


Alya juga mulai jarang menghadiri kajian muslimah yang biasanya rutin ia ikuti. Padahal dulu ia rajin betul mendatangi kajian-kajian itu. Pernah suatu ketika rekannya bertanya mengapa ia jarang hadir lagi ke kajian. Alya hanya beralasan sedang ada halangan dan meminta maaf karena tidak bisa hadir.


Sebenarnya Alya memang tidak membohongi temannya. Ia memang sedang berhalangan hadir karena memang kecapekan. Jika malam tiba, ia ikut ronda bersama bapak-bapak hingga waktu shubuh. Jika di siang hari, Alya ada di rumah Pak Robert untuk melayani birahi pria berbadan besar itu. Sehingga waktunya lebih banyak dihabiskan untuk berzina.


Alya pun kembali menerima notifkasi pesan dari suaminya dan layar handphonenya kembali ia membaca pesan WA suaminya


"WAnya kapan balasnya kapan.. Mama sibuk ya?", balas suami Alya


Alya buru-buru membalas pesan suaminya itu


"Iya maaf ya Pa, dari kemarin mama bantu-bantu Arisan. Mulai pagi sampai malam. Terus langsung tepar mama ketiduran.. Maaf ya pa...", jawab Alya manja


"Iya gapapa Ma. Duh istriku ini baik banget ya sama tetangga-tetangga. Rajin bantu-bantu", jawab Ragil suami Alya


Alya tersenyum kecut mendengar jawaban suaminya. Seolah jawaban dari suaminya itu sedang menonjok keras wajah cantiknya. Alya memang dari kemarin membantu tetangga-tetangga di rumah Pak Robert. Ya, ia dengan sukarela membantu para tetangga untuk mengeluarkan sperma mereka dengan hiburan tubuhnya


"Iya dong Pa, sama tetangga harus saling membantu...", jawab Alya sambil tersenyum kecut membayangkan bantuan apa yang sudah ia berikan kemaren kepada bapak-bapak di rumah Pak Robert


"Hmmm.. Duh sungguh beruntung aku punya istri seperti kamu Ma", puji Ragil


"Ah papa ini, gak bosen apa bilang gitu ke Mama?", tanya Alya


"Nggak lah.. Papa serius ini bilangnya.. Papa seneng punya istri kayak mama", ujar Ragil lagi


"Iya iya percaya.. Ya udah kerja lagi gih..", ujar Alya


"Masih nanti kok nunggu temen...", Jawab Ragil


"Ohhh..", balas Alya


"Mama... Kirim foto dong, papa kangen nih", pinta Ragil


"Ihhh papa ini.. Gak mau ah mama malu. Di HP papa kan banyak foto mama...", jawab Alya


"Yeee.. papa kepingin liat mama yang sekarang. Bukan yang kemaren-kemaren.. Kangen nih Ma", kata Ragil mulai manja ke istrinya


"Ngga mau mama malu kalau disuruh foto.", jawab Alya


"Kenapa malu sih Ma? Papa kan pingin liat mama aja.. Ya udah, Papa VC aja ya?", kata Ragil lagi


"Ngga usah Papa.. Lagian mama masih jelek nih belom mandi", kilah Alya


"Lho mama tumben belomm mandi? Biasanya pagi-pagi sudah segar dan wangi", tanya Ragil


Alya diam sejenak tidak langsung membalas pesan suaminya. Tidak mungkin ia dengan jujur bercerita habis ngentot di rumah Pak Robert. Alya harus mencari jawaban yang logis agar suaminya percaya dan tidak curiga


"Echa sakit Pa... Jadi mama belom sempat mandi karena ngurusin Echa..", jawab Alya beralasan


"Echa sakit apa ma? Dari kapan?", tanya Ragil terkejut


*Tulalit tulalit*Handphone Alya berdering tiba-tiba


"Demam biasa sih sejak tadi pagi. Ini dia lagi mandi. Eh pa sudah dulu ya. Echa dah selesai mandi nih", kata Alya berbohong dan buru-buru mengakhiri pembicaraan dengan suaminya


*Pak Robert... Memanggil...*, itulah tulisan yang tertera di layar handphonenya dan Alya buru-buru mengangkat teleponnya


"Halo Pak....", jawab Alya manja


"Lama bener angkatnya. Lagi colmek ya Bu? Apa nonton bokep? Heheheh", goda Robert


"Eh? Nggak kok Pak... Barusan WA an sama suami. Hihihi", jawab Alya


"Oiya? Wah pasti suamimu kangen tuh Bu...", kata Robert


"Iya kayaknya...", jawab Alya


"Ya udah kamu jawab aja "Jangan khawatir suamiku, Aku kalau malam tidur sama Pak Robert jadi kamu tenang aja"", goda Robert


"Husss.. Pak Robert ini", kata Alya sambil memasang muka manyun.


"Hahahah...", tawa Robert membahana


"Eh pak gimana hasil ketemuan sama relasi bisnisnya", tanya Alya kepo


"Iya lancar Bu. Hehehe ..", jawab Robert


"Syukurlah...", kata Alya


"Bu Alya tahu kenapa saya bisa deal dengan project beliau?", tanya Pak Robert


"Memang kenapa pak?", tanya Alya jadi penasaran


"Saya cerita tentang Bu Alya dan kayaknya beliau minat sama ibu. Heheheheh", jawab Robert


"Eh cerita apa pak?", tanya Alya terkejut


"Ya saya cerita kalau punya kenalan binor jilbab lebar, kemana-mana bajunya tertutup tapi ternyata lonte. Hahahah", kata Robert


"Ih Pak Robert ini. Nama saya jadi jelek nih pak ke rekan bapak...", jawab Alya


"Ngga lah, malah dia penasaran sama kamu.. Ayo buruan kirim fotomu bu. Dia sudah ga sabar", kata Robert


"Ganteng ngga?", tanya Alya penasaran


"Udah kakek-kakek. Hahahahah", jawab Robert


"Ih Pak Robert ini... Masak saya sama kakek kakek sih", kata Alya manja


"Udah kamu ga usah pilih-pilih... Dia juga belum tentu mau sama kamu. Mangkanya dia mau lihat fotomu dulu Bu", kata Robert mengingatkan


"Hmmmm.. Iya iya... Saya kasih foto saya deh", jawab Alya


"Gitu dong hahahah...", kata Robert


"Pakai baju apa bugil pak?", tanya Alya


"Hahahah... Dia mau liat kamu aja jadi pakai baju dulu biar dia makin penasaran", jawab Robert


"Oh.. Iya... Ya udah Pak saya tutup dulu teleponnya. Nanti saya kirim fotonya", kata Alya dan ia pun segera menutup telepon


Tanpa banyak membuang waktu, Alya langsung bersiap memotret dirinya sendiri. Ia mulai merapikan pakaian serta kerudungnya. Alya juga tak lupa percantik wajahnya sedikit dengan riasan yang minimalis agar telihat lebih menarik. Kemudian ia mulai memotret dirinya dari beberapa sudut sambil memasang senyum yang menawan


*Cekrik cekrik cekrik* puluhan foto ia ambil demi menarik minat relasi Pak Robert kepada dirinya


Begitulah perbedaan kepatuhan Alya dengan Pak Robert dengan suaminya. Wanita berjilbab lebar itu bisa berubah 180" sikapnya. Padahal ia tadi tidak mau mengirimkan fotonya ke suami sendiri dengan alasan malu. Tapi ketika Pak Robert yang minta fotonya, Alya dengan suka rela memberikan foto-foto terbaiknya.


"Nih foto saya pak", kata Alya sambil ia kirim puluhan foto dirinya ke Pak Robert


"Hahahaha... Bagus sekali Bu. Cantik sekali Bu Alya. Berdoa saja gara-gara liat foto Bu Alya, saya bisa deal dengan rekan bisnis saya Hahahhaa..", kata Pak Robert


"Aamiin Pak Robert. Hihihi... Semoga deal ya pak terus saya kecipratan", jawab Alya


"Tenang aja Bu.. Bu Alya pasti saya kasih jatah, asal bu Alya patuh sama saya. Heheheh", kata Robert


"Terima kasih Pak Robert.. Pak Robert baik deh..", jawab Alya menggoda


"Yasudah, nanti hasilnya kamu saya kabari bu.", kata Robert sambil menutup telepon


Pembicaraan pun berakhir, Alya kembali terdiam. Ia menghela nafas panjang sambil memikirkan bagaimana ia bisa jadi seperti ini. Dirinya yang telah memutuskan berhijrah dan menjadi perempuan alim. Kini menjalani kehidupan bak seorang pelacur. Alya selalu mengemis ke Pak Robert. Apapun ia lakukan asal pria kaya raya itu memberinya uang. Walau Alya mengakui, melayani Pak Robert dengan gratis pun ia juga tidak keberatan sekarang. Dan itu sudah berjalan hampir setahun ini. Pak Robert sudah jarang memberinya uang, hanya sesekali ia memberi Alya uang jika ia ingat saja.


Namun meskipun begitu, Alya sudah tidak masalah walau ia tidak dibayar lagi. Karena digenjot kontol Pak Robert saja, Alya sudah bersyukur. Pria berkulit hitam itu lah yang telah memberikan kepuasan batin serta kenikmatan untuknya. Kenikmatan yang tidak pernah ia dapatkan dari suami sahnya.


#


Sementara itu di dalam kamar mandi,


Echa tampak sedang duduk diatas closet sambil telanjang bulat. Wajahnya sedang serius memandangi layar handphonenya. Tangannya gemetaran sambil matanya berkaca-kaca


"Kemana Lo?? Anjir Lo malah gak masuk sekolah?? Bolos kemana lo?", ketik Endrix, preman sekolah yang sudah menjadi tuannya itu penuh amarah


"Saya sakit tuan...", jawab Echa sambil tangannya gemeteran


Nampaknya Echa begitu ketakutan. Ia memang berjanji pada Endrix hari ini ia akan melayani tuannya itu sampai malam tiba dengan seragam sekolah ketatnya yang sexy.


"Alasan aja lo! Coba lo VC gue! Jangan2 lo lagi ngelonte!", kata Endrix


Echa tak punya pilihan lain selain menuruti perintah Endrix. Ia menelepon tuannya itu dengan segera. Tak peduli saat ini ia sedang telanjang bulat. Karena ia memang sudah biasa telanjang di depan Endrix.


"Apanya yang sakit? Mana bukti lo sakit?", kata Endrix penuh amarah saat melihat wajah Echa melalui layar ponselnya


"Anu.. badan saya panas tuan...", jawab Echa ketakutan


"Lo ngapain di kamar mandi? Colmek? Ga usah colmek lo, sekarang lo ke sekolah biar lo gua entot", kata Endrix


"Saya lagi mandi tuan...", jawab Echa


"Mandi-mandi. Ga usah boong deh lo.. Lo colmek kan?", kata Endrix memaksa


"Saya mandi.. tuan...", jawab Echa bingung


"Begok... Jawab yang jujur! Lo lagi colmek kan?", kata Endrix memaksa


"I.. Iya saya colmek tuan...", jawab Echa pada akhirnya


Ia tahu Endrix sengaja melakukannya. Endrix sengaja ingin membuat Echa terlihat murahan saat videocall dengannya.


"Bayangin sapa lo? Bayu???", ledek Endrix


"Bukan tuan..", jawab Echa


"Terus bayangin sapa?", goda Endrix


"Bayangin tuan Endrix", jawab Echa agar membuat tuannya senang


"Tai Lo! Ngapain lo colmek bayangin gua? Lo kalu mau gua entot lo tinggal datengi gue dan memohon ke gua agar gua mau entot lo, paham??", jawab Endrix ketus


"I.. Iya.. Tuan..", jawab Echa pasrah menyadari ia sedang dipermainkan


"Iya iya.. Jadi budak yang pinter dikit lo!", jawab Endrix


"Yaudah gua juga lagi sange. Tar gue sama temen gue mau main ke rumah lo. Sekalian ngerjakan tugas kelompok", kata Endrix


"Eeeehhhhh???", Echa terkejut


"Ah eh ah eh! Kenapa?? lo keberatan gua dateng ke rumah lo????", kata Endrix kesal


"Tapi.. di rumah ada mama saya tuan...", jawab Echa


"Ya masak nyokap lo gak ngebolehin lo ngerjakan tugas kelompok? Nanti pulang sekolah kita ke rumah lo. Share loc rumah lo sekarang", ujar Endrix dan preman itu langsung menutup telepon


Echa terdiam, seluruh tubuhnya terasa lemas. Ia memang jarang mengajak teman sekolahnya main ke rumah, termasuk Anya sahabat dekatnya. Echa merasa bingung bagaimana nanti ia bersikap dan menjelaskan ke mamanya. Mengingat wajah Endrix dan teman-temannya sangatlah mengerikan dan jelas-jelas terlihat bukan cowok baik-baik


"Buruan kirim lokasi lo begokk..", tulis Endrix karena Echa tak kunjung mengirimkan lokasi rumahnya


"I.. iya tuan...", jawab Echa dan ia pun segera mengirimkan lokasi tempat tinggalnya ke Endrix


Entah neraka seperti apa yang akan terjadi hari ini. Echa hanya berharap mamanya tidak ada di rumah selama ia kerja kelompok dengan Endrix dan temannya. Echa juga berharap nanti mereka benar-benar kerja kelompok mengerjakan tugas sekolah. Bukan dikerjai oleh sekelompok preman sekolah.


Echa pun keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk pada tubuh telanjangnya. Tubuh putih mulusnya sudah kembali wangi seperti biasanya. Tidak tercium lagi aroma sperma lagi dari tubuhnya. Semua berganti menjadi aroma stroberi sabun yang dipakainya. Hanya saja, tubuhnya masih sedikit lelah dan perih. Terutama pada vagina dan lubang anusnya karena semalaman kedua lubang itu dipakai untuk memuaskan kontol-kontol preman di warung remang-remang.


Di ruang tamu, Echa tidak melihat mamanya. Echa sedikit lega dan berharap mamanya sedang keluar rumah seperti biasanya. Tapi dugaanya salah, tiba-tiba mama Echa keluar dari kamar tidurnya karena mendengar pintu kamar mandi yang sudah dibuka.


"Lama bener mandinya.. Ngapain aja sih?", tanya Alya


"Ya mandi Ma..", jawab Echa


"Gimana badanmu masih terasa sakit?", kata Alya sambil mengecek suhu kening Echa


"Udah lumayan Ma.. Oiya Ma.. Nanti temen-temen Echa mau kesini. Ada tugas kelompok..", kata Echa


Alya mengernyitkan dahinya, baru pertama kali rumahnya dijadikan tempat mengerjakan tugas kelompok anaknya. Karena biasanya Echa mengerjakan di sekolah, atau di rumah temannya


"Tumben di rumah kita?", kata mama Echa


"Iya Ma.. Tadi Echa ga masuk jadi teman-teman mutusin sepihak gitu sekalian mau jenguk Echa", jawab Echa mencari alasan


"Tapi kamu udah bisa kerja kelompok? Bukannya lagi sakit ya kamu Cha?", Kata Mama Echa


"Udah mendingan kok Ma.. Daripada Echa ga dapat nilai...", jawab Echa membujuk ibunya


"Terus nanti ada berapa orang temenmu? Rumah kita kecil lo Cha jangan banyak-banyak", kata mama Echa


"Kurang tau Ma.. Tadi yang bagi kelompoknya gurunya Echa... Echa juga belum tau sama siapa aja kelompoknya..", jawab Echa menghindari tatapan mata mamanya


"Ohhh.. Ya udah, nanti mama belikan camilan buat temen-temenmu", kata mama Echa


"Eh?? Mama ngga keluar hari ini?", tanya Echa


"Ngga kayaknya. Kemarin mama sudah seharian...", jawab Alya


Jantung Echa rasanya mau copot. Ia takut mamanya berprasangka buruk kepadanya saat nanti melihat yang datang ke rumah adalah preman-preman sekolah yang wajahnya sudah tua-tua.


"Ohhh..", jawab Echa


"Kenapa emangnya Cha?", tanya mama Echa serius


"Ehhh.. Ngga papa Ma.. Hmmm.. Ma...", kata Echa namun tidak ia lanjutkan


"Apa?", tanya Alya


"Anu.. Tapi mama jangan mikir gimana-gimana lho kalau nanti liat teman-teman Echa", kata Echa pada akhirnya


"Lho memang kenapa teman-temanmu? Mereka gigit emang?", tanya Alya


"Ih mama.. Ya kali aja nanti Mama mikir macem-macem. Soalnya yang nentuin kelompoknya gurunya Ma..", kata Echa mencoba mengamankan situasi terlebih dahulu


"Iya iya mama ngerti. Mikir apa coba, palingan anak sekolah ya gitu itu. Yasudah kamu sarapan dulu, mama mau mandi. Tapi mie instan ya sarapannya. Mama ngga masak soalnya. Capek", kata Alya dan mamanya Echa itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi


#


Jam menunjukkan pukul 14.00,


Jantung Echa semakin berdebar kencang. Beberapa saat lagi Endrix dan temannya akan datang ke rumahnya. Echa terus berdoa semoga mereka tidak berbuat gila di rumahnya mengingat saat ini mamanya juga sedang berada di rumah.


*Teng teng teng... Permisiiii...", suara seseorang dari luar rumah


"I.. Iya sebentar", jawab Echa


Gadis cantik itu sudah nampak cantik dengan kaos lengan panjang berwarna hitam dan juga sebuah kerudung berwarna putih yang menutup rambutnya. Sedangkan di bagian bawah, Echa mengenakan celana panjang berbahan katun berwarna krem.


Mata Echa terbelalak mendapati seseorang yang mengetuk pagar rumahnya. Bukanlah Endrix yang terlihat tapi seorang cowok ganteng yang dulu selalu kerja kelompok dengannya.


"Eh lho kok? Bayu????", kata Echa terkejut


Hatinya sedikit lega, bayang-bayang neraka yang daritadi ia takutkan medadak sirna. Ternyata bukan para berandal sekolah yang datang, melainkan Bayu


"Kok kamu yang datang?", tanya Echa buru-buru membukakan pintu


"Maksud kamu bukan Endrix?", tanya Bayu membuat Echa tertahan nafas saat mendengar nama preman sekolah itu


"Errr.. Masuk dulu deh..", kata Echa sambil mempersilakan Bayu masuk ke dalam rumahnya


Dari arah dapur, mama Echa sudah lirik-lirik ke arah ruang tamu. Ia penasaran seperti apa sosok teman anaknya. Mengapa Echa bisa jadi sepanik itu seolah teman-temannya mau menggigit dia. Tapi hatinya lega. Rupanya yang datang ke rumah seorang cowok ganteng dan terlihat anak baik-baik. Alya pun berniat menyambut kedatangan teman Echa itu sambil menyuguhkan camilan


"Ini temanmu Cha? Ganteng gini lho.. Kok kamu tadi kayak takut amat... Dimakan dulu camilannya..", kata Mama Echa sambil menghidangkan gorengan serta segelas sirup di meja ruang tamu


"Eh.. Iya Makasih Mbak...", kata Bayu


Mata Bayu tak berkedip menatap Alya. Cowok tampan itu sepertinya salting saat melihat Alya mama Echa. Memang walau usianya hampir 40 tahun, tapi Alya terlihat seperti kakaknya Echa. Sama-sama cantiknya dan masih terlihat muda.


"Aduh tante seneng lho masih dipanggil Mbak, masih muda berarti. Hihihi", jawab Alya


"Ini mamaku Bay", protes Echa


"Eh.. Maaf tante.. Saya kira kakaknya Echa", kata Bayu sambil tersipu malu karena salah panggil


"Iya gapapa, tante cuma bercanda kok. Yaudah dilanjut dulu kerja kelompoknya...", kata Alya sambil berlalu


Bayu kembali menatap ke arah Alya. Pandangan matanya terus mengarah ke arah pinggul Alya yang bergoyang saat ia sedang berjalan di balik gamis panjangnya. Echa menyadari dari tadi Bayu terus memandangi mamanya, Echa pun kesal dan menginjak kaki Bayu sekuat mungkin


"Aduh! Apaan sih Cha. Sakit tau", protes Echa


"Liatinnya sampai segitunya! Itu mama aku! sudah punya suami", kata Echa sewot.


"Iya aku tahu, tadi aku kira kakakmu. Hehehe... Masih cantik gitu mamamu", puji Bayu


"Ya iyalah kalau ngga cantik gak mungkin anaknya ikutan cantik", kata Echa ketus


"Memangnya kamu cantik?", goda Bayu


"Awas ya!!!", kata Echa masih sebal dan hampir melemparkan laptop ke Bayu


"Hahaha.. Bercanda Echa...", kata Bayu dan Echa pun tidak jadi melemparkan laptop


"Ya udah ayo kita kerjakan tugas. Aku masih sakit nih bela-belain kerja kelompok sekolah", kata Echa


"Yaudah ayo. Sekalian nungguin Endrix datang. Aku yang ngetik aja kamu santai aja Cha. Masih sakit gitu", kata Bayu


"Eh Endrix?? Dia jadi satu kelompok sama kita?", kata Echa seketika jantungnya berdegup kencang


Bayang-bayang ia akan dikerjai di rumah saat ada mamanya kembali muncul. Echa benar-benar takut Endrix nekat melakukan hal gila di rumahnya. Tapi disana juga ada Bayu. Entah mengapa Endrix mengajak Bayu satu kelompok dengannya. Echa benar-benar bingung.


"Justru Endrix yang ngajak aku gabung kelompoknya. Katanya ada kamu juga mangkanya aku mau. Udah lama juga kita ngga kelompokan", kata Bayu


"Terus Anya kelompokan sama siapa?", tanya Echa penasaran karena akhir-akhir ini Bayu lah yang menjadi partner Anya


"Nah itu aku ga tau Cha ..", jawab Bayu sambil memainkan pulpen dengan jemarinya


"Duh... kasian Anya ...", kata Echa sambil menghela nafas panjang


"Kenapa Cha?", tanya Bayu bingung mengapa Echa begitu mengkhawatirkan Anya


"Errr... Ngga kok gapapa... Cuma kasian aja biasanya kan dia sama kamu...", kata Echa sambil mencoba menenangkan pikirannya yang tiba-tiba tidak enak

Sementara itu di sekolah, di sebuah ruangan kelas kosong yang terletak di lantai paling atas. Tempat biasa para berandalan sekolah itu mabuk-mabukan.


*Jleb jleb jleb jleb*


Terlihat seorang lelaki sedang menindih seorang gadis. Gadis itu masih memakai seragam sekolahnya. Hanya saja seluruh kancing seragamnya sudah terbuka seutuhnya hingga menampakkan tubuh di balik seragam sekolah itu. Didada gadis itu, tertulis tulisan "LONTE GRATIS". Di atas kemaluannya yang berjembut tertulis "WC Umum" dengan tanda panah yang tertuju ke arah lubang kemaluannya. Bra nya sudah terlepas salah satu cup nya sehingga tidak menutup payudaranya secara sempurna. Salah satu Puting yang terbuka sedang dikenyoti oleh seorang lelaki yang berada di sampingnya. Puting yang satunya lagi di jepit sebuah klip kertas berwarna hitam yang kelihatannya begitu menyakitkan. Celana dalamnya dipakaikan di kepalanya seperti sedang menggunakan shower cap.


"Hehehe... Salah sendiri temen lo pake bolos sekolah. Terpaksa lo yang gua pake", ujar Endrix sambil memandangi gadis itu dikerubungi teman-teman berandalya


Ternyata gadis itu adalah Anya sahabat dan teman sebangku Echa. Gadis cantik itu sudah tak karuan pakaiannya. Tangan-tangan jahil menggerayangi tubuh sexynya dan Anya tak berhenti menggeliat kegelian. Mulutnya sibuk menyepong satu persatu kontol para berandal itu sedangkan di kemaluannya, kontol-kontol mereka bergantian keluar masuk menghajar memek basahnya


Mereka terus meraba tubuh Anya penuh nafsu. Tangan mereka berebutan bergerak liar menyisiri lekuk-lekuk tubuh Anya. Tidak ada bagian tubuh yang terlewatkan disentuh tangan mereka. Mereka juga berebutan melumat bibir Anya seolah ingin bertukar ludah dengan gadis cantik itu. Anya terlihat kerepotan meladeni cipokan para berandal yang begitu liar. Kepalanya terlihat sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan melayani pria-pria yang berebutan menciumi bibirnya.


"Aaahhh.. Aaaahhh.. Sssshhh.. Ouhhhhh mpphhwhhh.. cuppp.. ssshh..", Anya kelabakan karena bibirnya jadi bulan-bulanan


Terlihat sekali tubuh sexy menggeliat liar tidak tahan dengan sentuhan-sentuhan tangan para berandal sekolah yang sedang menjamah tubuhnya. Sesekali gadis cantik itu meringis, karena ada yang iseng melepas dan menjepit kembali klip hitam pada puting susunya yang sudah mengeras


"Siapa nama lo?", kata salah satu teman Endrix yang seragamnya berbeda. Sepertinya berasal dari sekolah lain. Lelaki itu lah yang kini sedang menyetubuhi Anya dengan kontolnya


Memang teman-teman berandal Endrix cukup banyak, bukan hanya berasal dari satu sekolah saja. Tapi ada juga yang berasal sekolah yang lain. Dan hari ini Endrix sengaja mengundang semua temannya untuk menikmati salah satu lontenya. Padahal ia berencana menjadikan Echa pemuas seksnya hari ini. Namun rencananya berantakan karena Echa malah bolos sekolah. Itulah mengapa ia begitu kesal dan melampiaskan semua ke Anya.


"Aku Anya... AAAHHH.. aaahhh.. Budak Sex Endrix...", jawab Anya sambil mendesah kencang


"Hahaha.. Budak Sex yang gue udah bosen pakainya", kata Endrix menambahkan


"Gila memek lo enak bener Nya.. Salam kenal ya... Aaahhh.. Gue keluarrr anjir", timpal teman Endrix itu sambil tanpa ragu mengeluarkan spermanya ke rahim Anya


*Crot crot crot* sperma menembak kuat di rahim Anya. Membuat bagian terdalam kemaluannya menjadi hangat. Anya pun terbaring lemas dan kontol teman Endrix tadi sudah tercabut dari kemaluannya.


"Ohhhh...", pekik Anya karena sebuah kontol kembali disodokkan ke vaginanya


Tidak banyak waktu untuk mengistirahtkan memeknya. Kali ini sosok siswa bertubuh gemuk yang sedang menggenjot Anya. Terlihat leher lelaki itu hitam penuh daki. Dan kontolnya walau tidak panjang tapi lumayan tebal dan juga berwarna hitam. Kontol tebal itu terlihat bersemangat menghajar alat kelamin sahabat Echa itu


"Aaaahhh.. Aaaahhh.. Ouhhhh", lenguh Anya


"Lo tau kan tugas lo itu apa?", tanya Endrix sambil melihat teman sekelasnya itu sedang mengangkang lebar membiarkan alat kelaminnya di sodok si lelaki gendut berandalan


"Tugasku... AAAHHH... aaahhh.. Ouuhhh", terlihat sekali Anya semakin terangsang


"Mimpi apa gue bisa ngentotin memek lo Nya... hehehe.. Memek lo lezat anjirr...", ujar si lelaki gendut semakin semangat menggenjot kemaluan Anya


Wajah Anya bersemu merah. Ia paham betul posisinya saat ini tak lebih sebagai budak seks mereka saja. Pujian dan cacian sama saja baginya. Tugasnya hanya satu, memberikan kenikmatan kepads para berandal sekolah dengan tubuhnya


"Jawab begoooo... Plak plak plak", kata seorang berandalan sambil menampar pipi Anya beberapa kali


"Tugasku.. Melayani kalian... Ouuhhhh... Aahh..", desah Anya nakal dan dirasakannya vaginanya semakin becek saja


"Begooo. Kurang! Melayani melayani.. emang lo babu kita? Tugas lo itu ngasih memek lo buat kita entot dan kita pejuin. Paham lo", ujar salah seorang lelaki sambil mengucek klitorisnya dengan kasar


"Iya Lo itu WC umum Kita...", timpal lelaki lainnya disambut tawa lelaki-lelaki disana


"Jadi badan lo tak lebih cuma buat buang peju kita", timpal lainnya


"Iyaahhh.. Aaahhh.. terserah kalian aja...", kata Anya udah malas mikir dan menikmati kemaluannya disodok bergantian oleh teman-teman Endrix


"Lo ga ikutan Ndrix?", kata lelaki yang sedang menggenjot memek Anya


"Gak.. Gua simpen peju gua buat lonte gue satunya. Tu lonte juga pasti kangen kontol gue. Hahahahah", kata Endrix sambil memandangi teman-temannya yang sedang asyik menikmati tubuh Anya.


"Gila lo Ndrix, Gak sia-sia gua temenan ama lo bisa dapat jatah dari lonte-lonte lo.. Hahahaha", kata salah satu berandal yang seragam sekolahnya berbeda sambil melumat bibir Anya dengan ganas


"Hahaha... Gua kan baik dan suka berbagi. Lonte-lonte gua juga boleh kalian nikmati. Asal kalian juga menguntungkan buat gue. Simbiosis mutualisme hehehe", jawab Endrix


"Iya thankyou bro...", jawab teman Endrix itu lagi sambil menyemburkan pejunya ke muka Anya


*Crot crot crot* wajah cantik Anya seketika belepotan sperma


"Kapan kita bisa nyoba memek lonte lo yang satunya? Katanya jilbaban ya dia?", tanya teman Endrix yang dari sekolah lain


"Rencana memang hari ini, tapi si jalang itu malah bolos sekolah. Besok biar gua hukum dia", kata Endrix


"Hahaha... Iya hukum dia bro biar pinter. Masak kabur dari tugasnya... Arrgghh gue keluarrr", kata salah satu teman Endrix yang kini mendapat giliran menyetubuhi Anya


*Crot crot crot crot* sperma menyembur dengan derasnya tanpa sungkan-sungkan ke rahim Anya


Terlihat tidak berapa lama, memek Anya mulai meneteskan lendir putih. Sperma lelaki barusan terisi penuh di dalam rahimnya hingga tidak bisa tertampung semua di liang kewanitaan Anya. Memek Anya terlihat berlendir menjijikkan penuh sperma. Tetapi mereka tidak peduli, lubang kemaluan Anya saat ini adalah hiburan ternikmat yang ada disana. Tidak perlu menunggu lama, vagina Anya yang sudah licin kembali dijejali kontol teman Endrix yang lainnya. Mereka kompak bergantian menjebloskan kontol mereka ke lubang kelamin Anya. Setidaknya mereka bisa merasakan jepitan lubang hangat itu tanpa harus mengantri lama.


"Ohhh.. Ouhhhh.. Aaaahhhh...", Anya terus mendesah tak karuan karena lubang kemaluannya digilir para berandalan itu dengan berbagai macam bentuk dan ukuran kontol


"Hahaha... Ini hukuman buat lo karena temen lo itu bolos sekolah", kata Endrix


Seluruh lelaki disana tertawa-tawa. Hukuman melayani banyak kontol adalah hukuman yang paling tepat untuk wanita jalang seperti Anya. Anya pun dengan senang hati menghibur para berandal sekolah itu. Semua kartu as gadis itu sudah tersebar. Semua kenakalan dengan para pacarnya sudah diketahui semua oleh Endrix.


Anya tak punya pilihan lain selain bersedia menjadi budak nafsu Endrix. Ia gerakkan tubuhnya semakin menggoda. Ia juga tanpa ragu menjilati kontol-kontol yang mengelilingi tubuhnya. Terlihat sekali gadis cantik sahabat Echa itu begitu menikmati pesta sex gila ini. Ini adalah pengalaman seks terhebatnya. Pengalaman seks yang akan membuatnya tidak bisa puas hanya dengan 1 lelaki


"Oiya lo kan pernah ngentot sama Bayu", kata Endrix tiba-tiba karena ia juga melihat rekaman video Anya yang sedang bersetubuh dengan Bayu


"gimana rasanya?", tanya Endrix kemudian


"Aaahhh.. Enak tuan.. kontol dia juga panjang.. Aaahhh", jawab Anya


"Kontolnya panjang? Yakin? Kalau sama punya kontol gua?", tanya Endrix


"Aaahhh... Besar.. kontol... Tuan Endrix...", jawab Anya


"Hahaha... Pastinya", kata Endrix


"Lo milih mana? Dientot Bayu atau dientot ramai-ramai kayak gini?", goda Endrix karena melihat Anya yang terus mendesah saat disetubuhi teman-temannya bergantian


"Milih.. Aaahhhh... Ramai-ramai...", jawab Anya tersipu


Diakui Anya, memang melayani banyak lelaki terasa lebih spesial baginya. Vaginanya yang butuh disodok itu sampai dibuat tak bisa mengering karena terus menerus digenjot kontol-kontol banyak lelaki. Perasaan ini terlalu nikmat baginya. Ia merasa begitu sexy, ia merasa begitu menikmati saat-saat banyak kontol teman-teman sekolahnya itu masuk ke liang senggamanya


"Yaudah sekarang waktunya lo jadi toilet gua. Liat lo dientot gue jadi pingin kencing", kata Endrix sambil tersenyum menyeringai membuka celananya


"Eh maksudnya??", kata Anya bingung


"Hehehe... Ya udah lu jongkok dan sekarang buka mulut dan memek lo", kata Endrix sambil menurunkan celana panjangnya


Teman-teman Endrix kemudian menjauhi Anya. Anya yang masih kebingungan hanya menuruti perintah Endrix. Ia lalu mulai jongkok sambil menjulurkan lidah maksimal. Sedang kedua tangannya menarik kuat-kuat lubang kelaminnya agar terbuka lebar hingga bagian dalamnya yang berwarna merah muda terlihat. Air kencing Endrix mulai keluar dan mendarat pada tubuh Anya. Berandal sekolah itu tanpa ragu mengencingi Anya secara serampangan ke sekujur tubuh Anya. Ia arahkan ke beberapa bagian tubuh Anya sehingga tubuh gadis itu mulai basah dengan kencing Endrix. Wajah, rambut, seragam dan sepatu Anya yang masih terpakai juga turut basah karena ulah Endrix. Anya terkejut rupanya kali ini tubuhnya dikencingi oleh Endrix


"Eeeehhhh????", pekik Anya menyadari air seni Endrix sudah keluar membanjiri tubuh dan juga kemaluannya


Endrix memfokuskan mengencingi memek Anya. Ia arahkan lama-lama aliran kencingnya ke alat kemaluan Anya. Anya yang kebingungan hanya bisa pasrah saat cairan encer hangat itu mulai membasahi hampir seluruh tubuhnya


Anya pun menyadari tubuhnya sudah tak karuan aromanya. Terutama seragam sekolahnya yang baunya mulai tidak sedap. Anya lali melucuti tubuhnya sendiri hingga telanjang dihadapan para berandal preman-preman sekolahan itu. Ia membuang jauh kemeja seragam, rok sekolah, da. Juga celana dalam yang terpasang di kepalanya. Anya sudah telanjang bulat di ruangan itu dengan tubuh yang basah total oleh kencing Endrix


"Aahhh.. nikmat bener kencing di tubuh temen sekelas sendiri. Hehehehe", kata Endrix


Tubuh Anya basah kuyup, vaginanya meneteskan sisa-sisa kencing Endrix. Kembali para preman sekolah itu tertawa terbahak-bahak melihat kondisi Anya yang mengenaskan. Gadis itu masih saja jongkok sambil menjulurkan lidah, membiarkan tibuh indahnya dikencingi oleh si preman sekolah.


"Ayo telen kencing gue lonte... minum kencing gue. Hahahah", kata Endrix dan Anya dengan patuh menerima kencing Endrix dengan mulutnya dan langsung ia minum


"Enak?", tanya Endrix


"Enak tuann..", jawab Anya setelah menghabiskan air kencing Endrix


"Mau lagi?", tanya Endrix lagi


"Mau tuannn....", jawab Anya pasrah


"Ada syaratnya.. Hehehehe", kata Endrix


"Apa tuan?", tanya Anya


"Lo colmek sambil minta kita buat kencingin lo", kata Endrix


"I.. Iya tuan...", jawab Anya


Sahabat Echa itu lalu duduk mengangkang di hadapan para berandal sekolah. Terlihat lubang kemaluannya merah merekah mengkilap karena baru saja kemaluannya dikencingi oleh Endrix disana. Tangan kiri Anya dengan lihai mulai meraba payudaranya sendiri. Ia remas dan ia mainkan tanpa rasa malu dihadapan para preman sekolah. Ia juga pilin-pilin puting susunya sambil mendesah keenakan. Sedangkan tangan kanan Anya mulai mengocok kemaluannya sendiri. Kemaluan yang dari tadi sudah sangat terangsang.


Ia cabuli alat kelaminnya sendiri hingga gadis cantik itu semakin bergairah karena pergerakan tangannya yang terus memberikan rasa nikmat. Anya mendesah nakal sembari vaginanya kembali berlendir dan becek. Ia mulai menikmati situasi ini, menjadi budak seks Endrix ternyata lebih menantang dan mendebarkan dibandingkan gonta ganti pacar yang selama ini menjadi gaya hidupnya. Ia akui ia senang diperlakukan seperti ini karena ia sudah bosan berhubungan dengan lelaki secara normal. Terlalu mainstream dan membosankan.


"Kencingi aku.. Tolong kencingi aku... Tubuhku adalah toilet kaliann...", pinta Anya nakal sambil terus masturbasi mencolok-colok memeknya sendiri dengan jari jemarinya


"Hehehe.. Oke kalau itu maumu lonte.. Hehehe", jawab salah seorang berandal sambil membuka ikat pinggang serta resleting celananya


Terlihat berandal lain juga melakukan hal yang sama. Mereka mulai mengarahkan batang kontol mereka dan tanpa ragu mulai mengencingi tubuh telanjang Anya yang sedang terlentang di lantai sambil masturbasi. Anya seperti cacing kepanasan saat ini. Ia bermandikan air kencing para berandal sekolah. Ia terus masturbasi tanpa peduli betapa menjijikkan aroma tubuhnya saat ini. Sekejap saja, Mulut Anya sudah penuh dengan air kencing para berandalan sekolah. Begitu juga dengan lubang memeknya. Beberapa sengaja mengarahkan kencing mereka ke kemaluan Anya dan ia pun menerima dengan senang hati. Ia terus saja masturbasi sambil menikmati cucuran air hangat mengenai tubuh sexynya hingga mereka puas


"Bilang apa lo setelah kita kencingi hah?", tanya Endrix


"Terima kasih tuan.. sudah bersedia mengencingi saya... Terima kasih...", jawab Anya sesaat setelah ia telan seluruh kencing di mulutnya yang tadi tertampung dalam rongga mulutnya


"Hahaha.. Bagus! sekarang lo bersihin semua kontol-kontol kita. Awas kalau ga bersih", kata Endrix


"Iya Tuan..", Anya dengan patuh mulai menjilati salah satu kontol disana hingga bersih


Gadis cantik itu lalu mulai menjilati satu persatu seluruh kontol para lelaki disana. Ia gunakan mulutnya untuk menjilati kepala kontol-kontol para berandalan sekolah dengan lidahnya. Anya tidak terlihat jijik sama sekali. Ia tanpa malu-malu memasukkan kontol-kontol siswa berandal-berandal itu ke mulutnya dan membersihkannya hingga tidak pesing. Walau mulut dan tenggorokannya sudah semakin terasa serik akibat air seni yang masuk ke rongga tenggorokannya, tetapi gadis cantik itu seolah tidak peduli. Yang ia pikirkan saat ini bagaimana bisa menuruti semua perintah gila para berandalan sekolah itu.


"Gile lonte lo pinter sekali bro. Hahahah... Ayo jalang... Awas kalau kontol gue pesing kena badan lo yang najis. Hahahah", ledek teman Endrix yang berasal dari beda sekolah


"Iyaa.. Saya bersihkan kontolmu mas...", jawab Anya dengan lincah menjilati kontol lelaki yang tidak dikenalnya itu


"Buruan kontol gue juga bersihin", ujar lelaki lainnya


"Hahahahaha...", tawa mereka menggema di ruangan itu


"Ya udah sekarang bersihin badan lo. Terus balik lagi kesini biar lo layanin temen-temen gue", perintah Endrix


"Ta.. tapi.. kalau ketahuam satpam gimana tuan...", kata Anya


"Pakai nanya lagi. Ya lo ajak ngentot lah!", udah gue cabut dulu udah sange gue


"Lo mau kemana Ndrix?", tanya teman Endrix yang berasal dari sekolah lain melihat Endrix mengenakan jaketnya


"Mau kerja kelompok", jawab Endrix


"Hahaha.. Tai... Palingan lo mau entot budak lo yang satunya. Ajak-ajak gua lah...", kata teman Endrix tadi


"Kapan-kapan aja... Gue mau kerjain dia dulu di depan cowoknya", kata Endrix


"Parah lo", kata teman Endrix tersenyum mesum


#


Di rumah Echa,


Setengah jam kemudian....


"Cha, mama ada urusan mendadak. Belum tau pulang jam berapa. Kamu jaga rumah ya", kata Mama Alya tiba-tiba sesaat setelah keluar dari kamar


Mama Echa saat keluar kamar ternyata sudah tampil sangat menarik. Gamisnya simple tapi terlihat elegan dengan kerudung panjang yang menutup payudaranya. Ditambah lagi tubuh Alya begitu semerbak wanginya hingga tercium di hidung Bayu. Bayu diam-diam melirik ke Mama Echa. Penampilannya memang sangatlah menarik. Bak selebgram berhijab panjang yang selalu dipuji-puji pesonanya oleh kaum adam di kolom komentar.


"Mama mau kemana? Lama nggak?", tanya Echa penasaran mendapati mama kesayangannya sudah terlihat cantik sekali


"Mama ada janji sama temen, kayaknya lama Cha.", jawab Mama Echa


Terlihat wajah Echa sedikit lega, setidaknya saat nanti Endrix datang, mamanya tidak ilfeel melihat berandalan sekolah yang wajahnya sudah tidak seperti murid SMA itu datang ke rumahnya. Apalagi sampai terlihat sangat akrab dengan anak gadisnya.


"Nak Bayu, tante tinggal dulu ya", kata Alya sambil tersenyum manis sekali ke arah Bayu


"Iya tan. Hati-hati dijalan", jawab Bayu tersipu


Tinggalah Bayu dan Echa berduaan di rumah. Mereka sudah hampir menyelesaikan tugas berdua saja, sedangkan Endrix siswa berandal itu tidak kunjung datang juga. Terlihat Echa sedikit kikuk karena beberapa kali matanya tertangkap basah sedang menatap ke arah Bayu. Sebenarnya situasi berduaan seperti ini sudah sering mereka alami. Karena memang dulu mereka sering mengerjakan tugas berdua. Baik di sekolah ataupun di perpustakaan. Hanya saja keadaan kali ini sedikit berbeda.


Jika dulu saat Echa polos tidak berpikir macam-macam tentang pemuda tampan itu. Tapi, kini saat Echa sudah mengenal seks, Bayu terlihat sangatlah menggoda libidonya. Ia mulai membayangkan yang tidak-tidak. Sesekali ia menatap ke arah selangkangan Bayu. Gundukan di selangkangan Bayu begitu besar sehingga membuat pikiran gadis cantik berkerudung itu kemana-mana. Ia bayangkan bentuk kontol cowok tampan itu. Ia bayangkan kontol Bayu bisa ia nikmati dan ia kulum sepuasnya.


Echa memang sudah tidak sepolos dulu. Nafsunya diam-diam naik juga karena berduaan dengan Bayu. Cowok disampingnya itu memang tampan, pantas saja banyak cewek di sekolah yang suka dengan Bayu. Tetapi Echa bingung memulainya. Ia tidak seperti Anya yang memang binal sejak lama sehingga main nyosor aja. Echa adalah seorang gadis binal yang newbie. Belum genap 6 bulan ia menjadi gadis nakal. Sehingga menghadapi lelaki baik-baik seperti Bayu tidak bisa ngasal agat dirinya tidak di cap murahan.


"Cha, menurut kamu ini enaknya dikasih keterangan gini apa ngga ya?", tanya Bayu tiba-tiba sambil menunjuk ke arah layar laptop


"Eh.. Gimana Bay? Kenapa?", tanya Echa terkejut tergopoh-gopoh karena daritadi pikirannya kotor melulu ke Bayu


"Kamu ngelamun apa Cha?", tanya Bayu penasaran karena daritadi ia sadar betul Echa tidak fokus


"Eh ngga kok.. Anu.. Kepalaku masih pusing aja...", jawab Echa beralasan sambil pura-pura memijat keningnya


"Oh ya udah kamu istirahat aja. Aku pulang ya? Nanti aku selesaiin di rumah", tanya Bayu


"Eh tapi tugas kita? Terus Endrix gimana?", tanya Echa sambil membayangkan ia akan berada di rumah berduaan dengan Endrix jika Bayu pulang


"Gapapa ntar aku kerjain di rumah. Kamu sama Endrix tinggal terima beres aja", jawab Bayu


"Jangan gitu lah Bay. Aku jadi gak enak sama kamu...", jawab Echa


"Ya udah aku kerjakan dulu. Kamu istirahat aja Cha. Oiya aku sambil dengerin musik ya biar konsen", kata Bayu dan pemuda itu memasangkan headphone ke kedua telinganya sehingga tidak bisa mendengar apa-apa lagi.


*Tulilut tulilut* suara handphone Echa berdering


"Gue udah di depan rumah lo", kata Endrix membuat Echa lemas. Akhirnya tuannya tiba di rumahnya


Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Echa hanya berharap Endrix tidak macam-macam kepada dirinya. Echa berharap Bayu bisa menahan Endrix berbuat tidak-tidak selama ada di rumahnya.


"I.. Iya.. Sebentar aku keluar", jawab Echa


"Heh? Mana sebutan tuannya?? Lo kok jadi bego lagi", kata Endrix kesal


Terlihat Echa merasa canggung karena di dekatnya saat ini masih ada Bayu. Tidak mungkin ia memanggil Endrix dengan sebutan tuan sementara di dekatnya ada Bayu. Echa buru-buru keluar dan menemui tuannya itu sebelum preman itu marah.


Terlihat wajah Endrix yang sudah geram namun tetap tersenyum menyebalkan. Jarang-jarang ia melihat budak seksnya itu berpakaian biasa seperti sekarang. Berkaos lengan panjang dengan jilbab yang disingkap ke belakang. Menampakkan bulatan payudaranya yang sangat menantang.


*Plak plak plak*, Endrix tiba-tiba menampar Echa di teras rumahnya sendiri


"Sejak kapan lo jadi belagu gak mau panggil gua tuan?", kata Endrix kesal


Echa terdiam saja mendapat perlakuan seperti itu. Ia bingung menentukan sikapnya. Untungnya saat ini kondisi gang rumahnya sedang sepi. Echa juga memastikan Bayu tidak mendengar suara Endrix yang marah-marah


"Maaf tuan...", jawab Echa tertunduk


"Maaf maaf... Kemana lo tadi? Pake bolos lagi lo", kata Endrix dengan nada tinggi


"Saya tidak enak badan tuan...", jawab Echa ketakutan kawatir tetangganya ada yang mendengar suara Endrix


"Alasan aja lo. Gue hukum lo!", ancam Endrix


Echa terdiam pasrah. Ia tahu betul percuma ia menjawab Endrix saat ini, semakin ia menjawab Endrix akan semakin murka kepadanya.


"Angkat baju lo!!", perintah Endrix kemudian


Echa tercengang mendengar perintah gila itu. Padahal saat ini mereka sedang ada di lingkungan perumahan yang bisa saja tetangganya akan ada yang melihatnya nanti. Apalagi di dalam rumah, masih ada Bayu yang masih sibuk mengerjakan tugas.


"Tapi ada Bayu di dalam ..", kata Echa lirih sambil menoleh kebelakang


"Buka sekarang atau lo gue telanjangin disini?", ancam Endrix membuat Echa tak punya pilihan lain


Echa menoleh ke belakang memastikan Bayu tidak melihat ke arahnya saat ini. Echa hanya berharap Bayu tidak mendengarkan percakapan dirinya dengan Endrix. Buru-buru Echa membuka payudaranya yang masih terbungkus bra dihadapan Endrix. Wajah Endrix terlihat kesal dan seketika preman sekolah itu emosi melihat tetek Echa yang masih terbungkus bra.


*Plak plak plak* kembali Endrix menampar beberapa kali pipi Echa


"Siapa suruh lo pake BH? Ayo lepas!", perintah Endrix


"Eh.. I.. iya tuan.. tolong jangan kenceng-kenceng suaranya...", kata Echa ketakutan


"Kenapa? Lo takut tetangga lo bakalan tau kalau lo itu lonte?", ledek Endrix menyebalkan


Wajah Echa memerah padam. Antara kesal dan rasa malu menghinggapi pikirannya. Dikira Echa hanya mengalami pelecahan oleh Endrix hanya saat di sekolah saja. Ternyata dugaannya salah, Endrix tak segan mempermalukan dirinya di lingkungan perumahannya sendiri.


"Ayo buka beha lo!", perintah Endrix lagi


"I.. Iya...", Echa dengan cepat melepas pengait bra nya dan ia lepaskan tali beha dari pundaknya dengan hati-hati karena tubuh atasnya masih mengenakan kaos lengan panjang


"Hehehe.. Bagus.. Toket bagus gitu lebih baik lo umbar aja biar tetangga lo tau.. Sini beha lo!", kata Endrix dan ia mulai menuliskan sesuatu ke BH Echa dengan spidol yang ia bawa dalam tasnya


"Buang beha lo ke rumah tetangga lo sekarang juga!", perintah Endrix kemudian


"Apaaa?", protes Echa tak percaya


"Buruan atau lo gue telanjangi sekarang!", ancam Endrix lagu


"I.. Iya.. Tuan...", jawab Echa pasrah


Gadis cantik berkerudung itu lantas langsung buru-buru berjalan ke luar rumah sambil menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan suasana sekitar rumahnya aman. Ia pun melempar bra nya ke salah satu rumah tetangganya dengan terburu-buru. Setelah tetek Echa terbuka, Endrix meminta Echa tetap dalam posisi memamerkan payudaranya. Echa memegangi bajunya agar buah dadanya tetap terbuka. Endrix mulai mengambil spidol permanen dari tasnya dan ia pun mulai menulis kan kata "LONTE ENDRIX" di payudara Echa


"Bagus gini lebih cocok buat budak gue. Hahaha..", kata Endrix dan ia langsung melumat bibir Echa dan meremas payudara Echa dengan sangat kasar


"Aaahhh... Sssshhh.. jangan disini tuan...", Echa mendesah pelan saat tangan kasar Endrix memelintir puting susunya tanpa ampun


"Kalau gitu ke kamar lo aja", ajak Endrix membuat Echa terbelalak


Setelah mereka berciuman di teras, Endrix menarik tangan Echa untuk masuk ke dalam rumah. Dalam hati gadis itu kesal, karena yang punya rumah belum mempersilakan masuk dan berandalan itu justru yang menariknya ke dalam rumahnya sendiri.


Bayu terkejut melihat kedatangan Endrix. Cowok ganteng itu semakin terkejut melihat tangan Endrix yang masih memegangi tangan Echa. Lelaki berandalan itu tersenyum menyebalkan ke arah Bayu. Seolah ia memamerkan Echa adalah miliknya.


"Halo Bro.. Sory nunggu lama. Gua ada urusan tadi di sekolah bareng temen-temen gue.", kata Endrix


"Gapapa Ndrix, lagian ini juga sudah mau selesai kok. Lo nyantai aja", jawab Bayu setelah ia melepaskan headphonenya


"Hahaha... Gak salah gue satu kelompok sama lo bro.. Nilai gue pasti bagus nih. Hahahah.. Ya udah gua beneran nyantai aja kalau gitu", kata Endrix


"Cha lo ada minum apa?", kata Endrix sambil menatap Echa menyebalkan


"Anu.. A.. Ada teh.. Sirup... air putih...", kata Echa


"Gue mau susu ada gak lo?", kata Endrix


"Eh susu? Eng.. Enggak ada...", jawab Echa ketakutan sambil melirik ke arah Bayu


"Ah payah lo, masak susu aja gak ada... Gue maunya susu bikinan lo", kata Endrix sambil tersenyum memuakkan


"Bro santailah jangan gitu ke Echa", protes Bayu melihat Endrix terlalu kurang ajar sikapnya sebagai seorang tamu


"Lo yang santai... Gue mah cuma bercanda. Ya gak Cha? Heheheh", kata Endrix sambil tiduran di atas sofa rumah Echa


"I.. Iya.. Gapapa kok Bay.. Ya udah aku siapin minum dulu buat Endrix", kata Echa sambil kemudian ia berjalan ke arah dapur


"Rajin amat lo... Laptop lo ada bokepnya gak? Gue ada nih banyak. Pemerannya inisial E cakep jilbaban. Hehehe", kata Endrix sambil menggoda Bayu


Bayu hanya diam dan tidak menjawab Endrix. Pemuda tampan itu sebenarnya masih kesal dengan sikap si preman sekolah. Tapi ia tidak mau buat keributan di rumah Echa jadi dia memilih untuk menahan emosinya.


"Ada gak bokepnya? Mau gue kirim?", kata Endrix menggoda Bayu lagi


"Gua gak demen yang gituan", jawab Bayu ketus


"Alah.. Munafik lo.. Gue tau skandal lo sama Anya. Gue juga punya video lo sama Anya ngewe", kata Endrix tiba-tiba sehingga membuat Bayu terkejut


"Maksud lo?", kata Bayu kini ia merespon ucapan Endrix


"Ga usah pura-pura gak ngerti lo. Heheheh", kata Endrix sambil memperlihatkan rekaman video saat ia bersetubuh dengan Anya saat kerja kelompok


Ia memang ingat Anya sempat merekam momen persetubuhan itu. Katanya buat kenang-kenangan buat Anya. Tapi ia tidak kepikiran video tersebut akan tersebar hingga ke tangan Endrix


Bayu mulai bersikap tidak setenang tadi. Pikirannya menjadi kacau setelah Endrix membuka aibnya. Bayu jadi bertanya-tanya dalam hati darimana Endrix tahu kejadian itu? Konsentrasi jadi terbelah dan ia jadi tidak bisa fokus mengerjakan tugas makalahnya.


Sementara itu Endrix malah bersantai ria sambil matanya jelalatan melihat-lihat kebeberapa sisi rumah Echa. Wajahnya sangat menyebalkan sambil bersiul-siul menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Kamar lo mana Cha?", tanya Endrix mengejutkan Echa setibanya gadis itu datang membawakan minuman untuk Endrix


"Eh... yang itu...", kata Echa sambil menunjuk salah satu kamar yang tertutup pintunya


"Cha anterin gue ke kamar lo sebentar..", kata Endrix sambil langsung menarik lengan Echa


"Ehhh? Apa-apaan ini?", Bayu terbengong melihat Endrix menarik tangan Echa dengan kasar


"Kenapa?", tanya Bayu


"Lo jangan kasar-kasar sama cewek Ndrix", kata Bayu tidak terima


"Diem aja lo. Atau lo mau Echa tau kelakuan lo sebenarnya kayak apa?", ancam Endrix penuh kemenangan


Bayu kesal dan menyesal video itu jatuh ke tangan Endrix. Andai saja saat itu ia tidak tergoda melihat Anya yang menelanjangi dirinya sendiri didepannya, pasti semua kejadian memalukan itu tidak akan pernah terjadi. Ia juga menyesali mengapa ia mengijinkan Anya merekam semua kejadian itu bahkan wajah mereka terlihat sangat jelas. Bayu akhirnya hanya bisa terdiam membiarkan Endrix membawa Echa ke dalam kamar. Ia berusaha mengamankan dirinya agar Echa tidak tahu semua kejadian persetubuhannya dengan sahabat Echa sendiri.


*Apa hubungan berandal itu dengan Echa? Kenapa Echa gak keberatan? Apa hubungan mereka sebenarnya? Sejak kapan Echa dekat dengan Endrix? Sialan!*, kata Bayu dalam hati


Di dalam kamar Echa langsung mengunci pintu. Iya tidak ingin Bayu tiba-tiba membuka pintu disaat ia berduaan dengan tuannya. Ia yakin betul Endrix akan melakukan sesuatu setelah ini


*Plak plak plak plak*, Endrix kembali menampar Echa beberapa kali


"Gue minta susu bego! Mana susu lo!", kata Endrix


Echa dengan ketakutan segera mengangkat pakaiannya dan ia buka payudaranya. Endrix tersenyum puas, melihat payudara indah budaknya sudah mancung menantang.


"Susuin gue!", perintah Endrix


"Ehh.. Iya tuan.. Ini...", kata Echa sambil memberikan payudaranya ke Endrix


Endrix langsung melumat puting Echa yang sudah mancung. Sepertinya daritadi gadis itu sudah terangsang. Mungkin sejak Endrix merendahkannya di teras tadi. Echa menahan mulutnya mati-matian agar tidak mendesah, sementara itu Endrix terus melumat puting susu Echa tanpa ampun. Dikenyot dan ia jilat semaunya sampai gadis cantik berkerudung itu menggeliat menikmati permainan lidah Endrix pada dadanya.


"Enak ya?", ledek Endrix dan Echa menggangguk perlahan


"Gak enak anjir gak ada asinya. Gimana caranya biar keluar asi?", tanya Endrix menyebalkan


"Eehh.. Sa.. Saya harus hamil dulu tuan...", jawab Echa


"Ya udah lo wajib dihamili biar tetek lo keluar asinya. Hahahah", kata Endrix membuat Echa ketakutan karena suaranya begitu kencang


Lelaki berandal itu lalu melumat bibir Echa dengan ganas. Lidahnya menyeruak masuk menyerbu rongga mulut Echa. Echa berusaha membalas serangan lidah Endrix. Namun Endrix terlalu dominan, Echa kelabakan dan hanya bisa pasrah lidah dan bibirnya dilumat dan dikulum penuh nafsu oleh preman sekolah itu


"Ayo layanin gue!!!", kata Endrix sudah tidak sabar


"Eh tapi ada Bayu tuannn...", kata Echa ketakutan karena Endrix sudah melepas celana seragam sekolahnya dan mengeluarkan kontolnya yang sudah kaku melengkung


Mata Echa diam-diam menatap nanar ke arah kontol Endrix yang sudah berdiri keras. Endrix tahu akan hal itu dan ia tersenyum nakal. Ia tahu betul Echa saat ini juga sudah terangsang berat. Endrix langsung menarik kepala Echa dan meminta gadis itu berlutut dihadapannya. Bibir Echa ia tampar-tampar dengan batang kontol kerasnya


"Buka mulut lo.. Sepong kontol gua", kata Endrix sambil memegang kerudung Echa saat gadis itu menyepong batang kontolnya


Echa masih enggan melakukannya. Ia benar-benar takut Bayu jadi curiga dan tahu perbuatan gilanya dengan Endrix. Echa takut pandangan Bayu kepada dirinya berubah drastis.


"Kenapa? Apa lo maunya nyepong kontol gue di depan Bayu? Heheheh", lanjut Endrix


"Ja.. Jangan tuaaannn.. Iya.. iya.. saya turutin kemauan tuan...", jawab Echa dan buru-buru ia menciumi kontol Endrix dengan patuh


Setelah diciumi, Echa langsung memasukkam kontol panjang melengkung itu kemulutnya. Ia jilati kemaluan Endrix dan ia kulum alat kelamin panjang itu dengan tanpa rasa jijik karena Echa memang sudah biasa menjilati kontol berandalan itu


"Aaaaahhh.. Bagus... sssshhhh... Makin pinter aja lo sepong kontol... Apa jangan-jangan lo barusan sepong kontol Bayu?", goda Endrix


Echa buru-buru menggeleng. Gadis cantik berkerudung itu kembali menjilati kepala kontol Endrix dan memastikan tuannya puas dengan pelayanan mulutnya. Ia jilat seluruh bagian batang kemaluan tuannya hingga berbunyi begitu basah


"Sekalian peler gue...", kata Endrix sambil mengangkat batang kontolnya untuk memberikan buah zakarnya yang hitam ke Echa


"I.. Iya tuan...", jawab Echa


Echa tanpa banyak protes langsung menjilati peler Endrix yang hitam. Ia jilati bagian paling hitam dari kontol Endrix itu tanpa rasa malu sedikit pun. Walau aromanta busuk, tapi Echa dengan senang hati melakukannya. Ia hanya berpikir ini semua cepat selesai dan Endrix puas.


"Buka baju lo!", perintah Endrix kemudian


Echa dengan patuh langsung menuruti perintah Endrix. Dengan cepat Echa melepas kaos lengan panjangnya sehingga tulisan "lonte Endrix" itu kembali terlihat. Dengan rakus Endrix kembali melumat puting Echa yang ternyata sudah semakin mengeras. Ia jilati daging kenyal kecil berwarna cokelat muda itu dengan berisik. Lidahnya dengan ganas menyusuri bagian pucuk payudara Echa itu sehingga bagian puting Echa kini belepotan air liurnya. Echa kelojotan, ia tidak membayangkan akan menyesui tuannya di kamar tidurnya sendiri.


"Ssssshhh.. Uuuhh..", Echa mendesis sambil menggeliat pelan


Tubuh Echa di dorong Endrix ke kasur. Celana Echa tanpa permisi dipelorot oleh Endrix sekaligus celana dalamnya. Echa sedikit melakukan perlawanan karena kawatir Bayu akan curiga karena mereka berlama-lama berada di dalam kamar. Echa berusaha mati-matian menutup kemaluannya dan berharap Endrix tidak jadi menyetubuhinya saat ada Bayu.


"Jangan sekarang tuan.. Tunggu Bayu pulang nanti saya turuti semua perintah tuan...", bujuk Echa mendapati tubuh bawahnya sudah terbuka


*Plak plak plak* kembali Endrix menampar Echa


"Sejak kapan lo bisa ngatur gue? Gue mau entot memek lo sekarang", kata Endrix sambil melepas tangan Echa hingga kemaluan gadis itu terbhka.


Endrix dalam sekali hentakan langsung menceploskan kontolnya ke memek Echa yang sudah basah dari tadi dan mudah saja memek basah Echa ditembus oleh kontol kerasnya


*Blessssss...* Kontol Endrix menyeruak masuk ke dalam memek Echa


"Aaaaahhh..", Desah Echa sedikit tertahan menyadari Bayu masih ada dirumahnya


"Ayo desah yang kenceng lo kayak biasanya? Jaim lo sekarang mentang-mentang ada Bayu.. Hahaha", kata Endrix sambil mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur


*Jleb jleb jleb jleb jleb* kontol Endrix mulai penetrasi di dalam memek Echa


Desahan Echa masih coba ia tahan, ia masih malu mengeluarkan suaranya karena keberadaan Bayu di rumahnya. Echa menyesal andai saja tadi ia mengiyakan Bayu pulang, pasti ia tidak perlu repot-repot menahan mati-matian desahannya. Ia gigit kuat mulutnya agar mulutnya tidak bersuara saat melayani Endrix. Tapi Endrix tidak peduli, ia masih terus menggenjot kemaluan Echa tanpa ampun dengan kontolnya yang keras


"Uhh.. tuann... Uuhh.. Su.. Sudah... Nanti.. Lagi.. Uhhh.. Masih ada Bayu tuannn..", desah Echa masih tertahan dan coba ia tutup rapat mulutnya


"Anjir nikmat bener ngentotin lo di kasur lo sendiri. Hahahahah... Ayo goyangin pinggul lo! Gue tahu lo juga sange daritadi pingin dientot... Memek lo becek anjir", kata Endrix sambil mengocok kemaluan Echa tiba-tiba setelah ia cabut kontolnya.


Bukan hanya jarinya saja, Endrix juga mulai menjilati kemaluan Echa yang sudah banjir. Ia sedot kuat cairan vagina gadis cantik berkerudung itu hingga habis. Echa semakin tersiksa. Ingin sekali ia mendesah kencang saat Endrix memainkan klitlrisnya dengan lidah kasarnya.


"Oohhh.. Tuannnn.. Aaahhh Aahh.. Sudah...", pinta Echa dan kedua kakinya justru ia buka lebar membiarkan preman sekolah yang juga tuannya itu menyetubuhinya


"Anjing... Bilang sudah tapi malah ngangkang", kata Endrix sambil menarik salah satu bibir kemaluan Echa dengan kasar.


Mata Echa terbelalak karena Endrix memperlakukannya begitu kasar. Tapi Echa tidak keberatan karena ia sudah biasa dikasari oleh Endrix. Karena faktanya, Echa pun menikmati segala bentuk kekerasan yang dialaminya baik secara verbal atau fisik sekalipun. Vagina gadis berkerudung itu justru kedutan dan tidak bisa ia tahan lagi rasa ingin keluar yang terasa pada lubang kelaminnya. Echa malah semakin membuka kakinya lebar-lebar dan sekujur tubuhnya bergetar hebat.


*Sreetttt sreeetttt sretttt*


Gadis cantik itu memuncratkan cairan vaginanya begitu deras dan tidak malu-malu saat Endrix sedang menjilati kemaluannya. Cairan bening keluar deras menembak hingga mengotori mulut Endrix dan sprei tempat tidurnya. Tubuh gadis itu begitu lemas setelah klimaks. Endrix kemudian menjilati cairan Echa hingga sisa-sisa squirtnya habis tak tersisa


"Aaaahhhh.. Tuannnn...", desah Echa tertahan karena biji itilnya yang masih kedutan digigit oleh Endrix


"Anjir lo.. muncrat di muka gua", kata Endrix sambil terus menjilati vagina Echa dengan lidahnya


"Ahhh.. Maaf tuaann..", jawab Echa


*tok tok tok.. Cha.. Ndrix..*, tiba-tiba Bayu mengetuk pintu kamar sambil memanggil nama mereka


Echa terkesiap dan buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat. Dalam hati ia berdoa Bayu tidak mendengar pekikannya barusan. Endrix tersenyum mesum mendengar suara Bayu di depan pintu kamar Echa. Ingin sekali ia memamerkan ke Bayu kalau Echa saat ini sedang melayaninya. Endrix lalu turun dan dengan iseng membuka pintu kunci kamar Echa seolah mempersilakan Bayu masuk. Tapi Bayu tidak langsung masuk ke kamar Echa. Pemuda itu masih terlalu sungkan jika harus masuk ke kamar Echa sementara Echa belum memberi ijin atau menjawab panggilannya


*Tok.. Tok... Cha.. Aku masuk ya.*, Bayu kembali mengetuk pintu. Kali ini ia mencoba meminta ijin


"Eh jangan Bay... SEBENTARRR MASIH BERANTAKAN KAMARKUUU...", jawab Echa dari dalam panik


Wajah Echa pucat pasi. Ia takut Bayu membuka pintu kamar dan mendapati dirinya sedang telanjang di kamar bersama Endrix. Endrix tersenyum mesum memandangi Echa yang ketakutan sambil memegangi gagang pintu bermaksud membuka pintu itu. Beberapa kali Echa menggelengkan kepala sebagai tanda agar Endrix tidak membuka pintu


"Se.. sebentar ya Bay.. Aku masih beres-beres kamar dibantu Endrix, kamu tunggu aja diluar...", jawab Echa ngasal dan sekuat tenaga ia mendekati Endrix yang masih berada di depan pintu.


Echa kembali mengunci pintu kamarnya dan kemudian ia langsung menarik Endrix agar kembali menindih tubuhnya diatas kasur. Echa dengan sekuat tenaga bertukar posisi kali ini ia yang berada di atas dan Endrix di bawahnya. Ia lalu mengecup bibir Endrix dan menjilati bibir berandal sekolah itu dengan ganas agar Endrix tidak mengatakan hal yang tidak-tidak ke Bayu. Endrix terkejut dan ia senang saja budak seksnya itu menciumi bibirnya tanpa diminta. Echa lalu meraih kontol Endrix dan ia masukkan sendiri kontol itu kelaminnya. Echa kembali menggerakkan tubuhnya dan meminta Endrix menyetubuhinya sekali lagi.


"Aahhhh... Entot aku tuan... Tapi tolong jangan sampai Bayu tau...", pinta Echa nakal


"Hehehehe.. Goyang dulu yang bener", kata Endrix


Endrix berbaring santai, sementara itu diatasnya Echa sedang meliukkan tubuh telanjangnya begitu sexy sambil mengulek kontol Endrix dengan jepitan memeknya. Kontol Endrix rasanya berasa di aduk-aduk di dalam rahim hangat gadis berkerudung itu


"Aaahhh.. Aaahhhh.. Enak tuan...", desah Echa lirih menikmati kehadiran kontol Endrix di antara lubang kemaluannya


"Chaa?", kata Bayu lagi dari luar


"Sebentar bawelll.. Kurang dikit lagi. Sabar kenapa!", kata Echa ketus sambil ia semakin kencang menggoyangkan tubuhnya diatas Endrix


"Ohhh OK Sorry.... ini tugasnya sudah selesai Cha...", kata Bayu lagi


"Iya Kamu tunggu aja aku habis ini selesai.. Aduuuhhhh", tiba-tiba Echa mengaduh karena Endrix dengan sengaja menarik puting susu gadis berkerudung itu dengan kasar


"Kenapa Cha?", tanya Bayu penasaran mendengar Echa mengaduh di dalam kamar


"Ngga papa Bay.. kepalaku kejedot..", bujuk Echa


"Ya udah kalau gitu, aku tunggu deh", kata Bayu


Suasana menjadi sunyi seketika dan Echa memasang telinga berusaha memastikan Bayu sudah beranjak dari depan kamar tidurnya. Echa menarik nafas lega karena sepertinya ia sudah menjauh dari kamarnya. Echa pun berhenti bergoyang dan itu membuat Endrix kesal.


"Kenapa berhenti? Lanjut Woi goyangnya!", perintah Endrix sambil kini ia yang bergerak aktif menyodok memek Echa dari bawah.


"Aaaaahhhh.. ampun tuan.. sudah...", kata Echa sambil mendesah lagi


"Tai lo tadi ngajak-ngajak sekarang bilang sudah. Ayo layani gua!", perintah Bayu sambil terus menghajar memek Echa dengan kontolnya


"Biar lo semangat, kita Ngentot di depan Bayu...", kata Endrix sambil menarik kasar tubuh telanjang Echa ke arah pintu lagi


"Eeehhhh... Jangan.. Tuaann..", jawab Echa mencoba untuk bertahan dan tidak mau tubuhnya dibawa oleh Endrix keluar kamar


"Ayolah kenapa lo malu ha? Lo malu kalau Bayu tau lo itu lonte gue?", goda Endrix sambil mengocok memek Echa yang daritadi sudah banjir


"Aaahh.. Aduhhh.. Uhhhh... Ampuun tuannn...", rengek Echa dan mencoba menahan tangan Endrix yang terus mencabuli vaginanya


"Bilang sudah tapi memek lacur lo malah banjir. Hahahahah... Ngaku aja lo pingin liat Bayu liat memek becek lo kan?", goda Endrix


Echa menahan suaranya mati-matian lagi. Terdengar suara kocokan Bayu ke kemaluannya begitu cepat hingga menimbulkan suara becek nan berisik. Bukannya mengering, vagina Echa justru semakin basah saja karena membayangkan Bayu menyadari saat ini dirinya sedang dicabuli preman di sekolahnya.


"Yakin lo gak mau dientot di depan Bayu? Hah?", goda Endrix lagi


"Jangan tuan... Tolong... Apapunnn Akan saya lakukan.. Asal dia jangan sampai tau... Tuannn...", pinta Echa memohon


"Lo akan lakukan apapun? Yakin?", goda Endrix lagi semakin keras mengocok alat kelamin Echa


"Iya apapun... tapi tolong jangan sampai Bayu tauuu...", pinta Echa memohon lagi dan terasa vaginanya kembali mulai kedutan dan akhirnya Echa kembali orgasme kedua kalinya dicabuli Endrix


*Sreett sreettt sretttt*


Cairan vagina Echa tumpah seketika dan Endrix tidak juga berhenti. Ia terus merangsang alat kemaluan Echa hingga gadis itu tak kuasa menahan suara desahannya. Tubuh Echa bergerak secara brutal kejang-kejang tak karuan dirangsang oleh Endrix


"Aaaaahhh...", akhirnya Echa mendesah juga sambil kembali menggigit bibir bawahnya


Vaginanya terkencing-kencing, membasahi hampir seluruh sprei kasur tempat tidurnya.Echa terus menutup mata dan mulutnya rapat-rapatnya. Hanya tubuhnya saja yang menggeliat hebat dirangsang Endrix.


*Sreeettt sreettt sreettt* sekali lagi vagina Echa muncrat ketiga kalinya


"Liat nih memek lo aja sampe muncrat terus anjir...", ejek Endrix


"Sudah tuaaann... Ampun.. saya sudah capek..", kata Echa


"Lo pasti suka colmek sambil bayangin Bayu kan? Jangan munafik lo..", ledek Endrix melihat kemaluan Echa sudah banjir


"Ampun Tuannn... Sssshhhh...", lenguh Echa perlahan sambil membiarkan tangan Endrix merogoh alat kelaminnya tiada henti


"Jawab jujur...", kata Endrix


"Iyahh.. Tuaannn... Aaaahhh...", jawab Echa pada akhirnya


"Iya apaa??", tanya Endrix sambil menjambak kerudung Echa


"Saya suka colmek sambil membayangkan Bayu... aaaaahhh.. Tuaaann..", kata Echa dan tubuhnya kembali bergetar hebat


*Sroottt sroott sroottttt*, memek gadis cantik berkerudung itu kembali muncrat kesekian kalinya


Terlihat tangan Endrix belepotan lendir vagina Echa. Preman sekolah itu lalu meminta Echa menjilati jarinya yang hitam hingga bersih dari cairan kemaluannya


"Hahahha... Lonte kayak lo liat cowok ganteng pasti sange.. Rahim lo anget kan bayangin Bayu?", goda Endrix sambil tangannya terus merangsang kemaluan Echa semakin cepat


"Iyaa tuannnn... Sudah tuan.. Saya sudah keluarrrr....", jawab Echa lemas


Endrix pun langsung menghentikan kocokannya pada vagina gadis berkerudung cantik itu. Tubuh Echa tersengal-sengal walau Endrix belum menyetubuhinya sampai orgasme. Tetapi tetap saja perlakuan merendahkan berandal sekolah itu selalu sukses membuat Echa suka hingga orgasme berkali-kali


"Hahahahah... OK kita sudahi... Yaudah lo pake baju lagi. Kita keluar...", kata Endrix sambil kembali berpakaian


Echa bingung, tidak biasanya tuannya itu begitu mudah mengabulkan permintaannya untuk berhenti. Padahal hati kecil Echa ingin agar Endrix terus menyetubuhinya hingga klimaks. Semua masih kepalang tanggung bagi Echa yang sudah terlanjur terangsang berat.


Tetapi Echa lebih rasional kali ini. Setidaknya ia bersyukur Bayu tidak memergoki dirinya sedang main gila dengan Endrix di kamar tidurnya. Ia tidak ingin Bayu tahu apapun tentang kenakalannya. Gadis cantik itu buru-buru memakai bajunya lagi seperti sediakala. Endrix dengan iseng keluar duluan dan membuka pintu lebar-lebar, padahal Echa belum selesai memakai celananya. Untungnya kamar Echa kondisinya gelap gulita sehingga Bayu tidak bisa melihat kondisi di dalam kamar.


Bayu melirik ke arah kamar Echa saat pintu terbuka, ia dapati Endrix keluar dari kamar dengan tubuh yang lumayan berkeringat. Beberapa saat kemudian barulah Echa menyusul keluar dengan keringat yang tak kalah derasnya


"Sory bro lama... Hehehe...", kata Endrix terkekeh sambil melirik ke arah Echa yang tertunduk malu


"Kalian ngapain?", tanya Bayu kepo apalagi ia curiga melihat ekspresi wajah Echa yang terus tertunduk seperti sedang menahan malu


"Ngga kok Bay, Aku cuma... Anu... Tadi Endrix Cuma errr... itu... Bantuin beres-beres kamarku", kilah Echa buru-buru


Bayu masih menatap dengan tatapan curiga. Dia adalah laki-laki dewasa yang tidak mudah dibohongi dengan alasan seperti itu. Tetapi Bayu mencoba percaya dengan Echa. Dimatanya, Echa adalah gadis terjaga dan tidak mungkin ia berbuat macam-macam. Apalagi dengan lelaki seperti Endrix yang berandal itu.


"Udah selesai bro tugasnya? Gak rugi gue ajak lo gabung kelompok gue. Hehehe", jawab Endrix


"Udah nih, Cha coba kamu cek lagi deh kira-kira apa yang kurang?", tanya Bayu


Echa yang sudah tidak fokus ke tugas tentu saja enggan melihat halaman demi halaman tugas makalah mereka.


"Kayaknya kalau kamu yang buat pasti bener deh Bay", jawab Echa


Echa hanya berharap Bayu segera pergi dan ia bisa melanjutkan tugasnya sebagai budak seksnya Endrix. Echa masih pingin dan birahinya masih tinggi. Ia tadi sudah berjanji kepada Endrix akan melakukan apapun asal Bayu tidak tahu selama ini ia adalah pelacur di sekolahan. Endrix tersenyum mesum ke arah Echa. Lelaki berandal itu terus menatap payudara Echa yang menggoda. karena Echa tadi tidak sempat memakai bra karena pintu sudah terbuka saat ia belum selesai berpakaian. Sehingga jika dilihat seksama, puting susu Echa nampak menyembul dibalik kaos hitamnya


"Eh Bro, denger-denger lo suka sama Echa ya?", tanya Endrix tiba-tiba membuat Echa dan Bayu terkejut


"Kata siapa? Ngga tuh", jawab Bayu ngeles


Echa sedikit kecewa dalam hati mendengar jawaban Bayu yang tanpa keraguan sama sekali. Padahal ia ingin Bayu mengatakan ia memang suka ke dirinya. Karena dari dulu ia juga penasaran dengan perasaan Bayu ke dirinya. Karena Echa sendiri mengakui ada rasa kagum kepada pemuda tampan itu. Hanya saja dulu ia sudah punya pacar.


"Oh beneran lo ga suka sama Echa?", kata Endrix lagi


"Kenapa memang?", tanya Bayu ketus


"Hehehe Jadi kalau Echa milik gue lo ga marah kan?", kata Endrix penuh kemenangan sambil menyeringai memuakkan.


Bayu terkejut mendengar perkataan Endrix si preman sekolah. Demikian juga dengan Echa. Gadis itu sudah keringat dingin daritadi. Ia tahu Endrix adalah cowok licik nan menyebalkan. Ia yakin Endrix punya maksud tersendiri dengan berkata seperti itu ke Bayu.


"Maksud lo?", tanya Bayu tidak mengerti dan sedikit emosi karena wajah Endrix daritadi menyebalkan


"Ya, Echa milik gue", pungkas Endrix membuat mata Bayu menatap lelaki berandalan itu dengan tajam


"Maksud lo? Lo suka Echa?", tanya Bayu mulai emosi


"Hahaha... Gue? Suka ni cewek? Hahahaha... Yang ada Echa yang suka sama gua", kata Endrix semakin membuat Bayu emosi karena tertawanya sangat menyebalkan


"Sekarang lo tanya sendiri deh, apa benar Echa milik gua apa bukan", kata Endrix santai sambil menyalakan rokoknya.


"Gak mungkin. Dia bercanda kan Cha? Gak lucu. Hahaha...", kata Bayu tertawa sendiri


"Hahahha.. Napa lo sekarang marah? Katanya tadi lo gak akan marah", ledek Endrix membuat Bayu semakin kesal


Echa masih saja tertunduk. Ia takut jika ia tidak menjawab, Endrix akan murka dan menghukumnya dengan dengan hukuman cabul. Echa hanya terdiam sambil terus menunduk saking malunya. Ia tahu Endrix berusaha membuka kedoknya perlahan di depan Bayu. Endrix ingin mempermalukan dirinya di depan Bayu.


"Cha jawab yang dibilang Endrix itu cuma bercanda kan?", kata Bayu sambil berharap Echa tidak mengakui hal itu


Kali ini Bayu yang seolah memaksa agar Echa menjawabnya sehingga membuat gadis cantik itu semakin tertekan


"Woi lo jangan diem aja. Jawab! lo milik gue kan?", bentak Endrix membuat Bayu geram dan meraih kerah baju Endrix


"Jangan kasar-kasar lo ke Echa Ndrix!", kata Bayu hendak memukul wajah Endrix


Tapi Endrix tetap tersenyum menyebalkan. Ia terus menatap Echa dengan tatapan begitu rendah.


"Woi Cha! buka baju lo biar dia ngerti kalau lo emang milik gue!", perintah Endrix semakin kurang ajar membuat Bayu naik pitam


"Kurang ajar lo", kata Bayu dan langsung melayangkan pukulannya ke Endrix


"DUG DUG DUG DUG", Bayu memukul Endrix berkali-kali dan berandal sekolah itu masih saja memasang wajah memuakkan


"Semakin lo pukul gue. Hukuman buat Echa akan semakin berat.. Hahahaha...", kata Endrix semakin membuat Bayu emosi


"Apa maksud lo sialan? Berhenti gangguin Echa!", kata Bayu terus menerus memukul Endrix secara membabi buta


Dalam kondisi terpojok, Bayu bingung mengapa Endrix masih saja tersenyum memuakkan. Ia hanya berpikir mungkin Endrix hanya gertak sambal saja memasang wajah menyebalkan itu. Tetapi tidak bagi Echa. Echa tau betul Endrix adalah sosok liar dan paling gila yang pernah ia temui. Berandalan itu tidak akan ragu berbuat apapun!


Echa yang tidak ingin Bayu kenapa-napa nantinya, meminta pemuda tampan itu berhenti memukuli Endrix.


"Bayu sudah!!!", kata Echa sambil mencoba menangkap tangan Bayu yang terus mengarahkam tinjunya ke Endrix


"Dia kurang ajar ke kamu Cha. Kesel gue! Gue hapus nama lu dari kelompok!", kata Bayu sambil terus memukuli Endrix


"Hahaha... HAHAHA...", Endrix malah tertawa meledek seolah pukulan keras Bayu tidak mempan baginya


"Su.. Sudah Bayu.. I.. Iya aku milik Endrix! Sudah kamu jangan mukul dia lagi", kata Echa pada akhirnya membuat Bayu berhenti terdiam mendengar perkataan Echa


Raut wajah Bayu terbengong mendengar ucapan tak terduga dari gadis cantik itu. Ia yakin sekali ia salah dengar. Tetapi yang dikatakan Echa barusan sangatlah jelas.


"Kamu bilang apa Cha?", kata Bayu mencoba memastikan apa yang dia dengar tadi salah


"Aku milik Endrix Bay...", kali ini Echa mengucapkan hal itu dengan lirih sambil tertunduk


"Hahahahah.. Lo denger sendiri kan? Echa milik gue?", kata Endrix penuh kemenangan


"Cha jangan bercanda!", kata Bayu masih tidak percaya


"Aku serius Bayu. Aku milik Endrix", kata Echa kali ini Echa sedikit berteriak untuk meyakinkan Bayu


Kali ini Bayu terdiam. Tampak sekali raut muka Echa begitu serius saat mengatakan hal gila itu. Bagaimana mungkin Echa bisa menjadi milik Endrix. Bayu benar-benar tidak paham sama sekali. Bayu tahu betul Echa sangat tidak menyukai Endrix karena lelaki itu benar-benar berandalan dan suka bikin onar di sekolah.


"Lo masih gak percaya Echa milik gua? Hahahahah... Perlu bukti?", tantang Endrix


"Apa buktinya?", tanya Bayu karena ia benar-benar tidak percaya dengan omong kosomg yang didengarnya barusan


"Buka baju lo biar si Bayu ini paham. Hehehehe", kata Endrix cengengesan


"Bajingan lu Ndrix! Apa maksud lo nyuruh Echa buka baju? Mesum lo!!", kata Bayu kembali hendak memukul preman sekolah itu lagi


"Bayu jangan!", kata Echa buru-buru sambil memegangi ujung kaosnya


"Udah buruan lepas baju lo atau...", kata Endrix lagi sambil menyeringai menyebalkan


Wajah Echa memerah padam. Ia bimbang haruskah ia tunjukkan tubuhnya ke Bayu. Lelaki yang selama ini selalu menjadi partnernya dalam mengerjakan tugas sekolah. Echa terlalu malu jika harus memperlihatkan tubuhnya ke lelaki tampan itu. Walau ia sudah terbiasa telanjang di depan lelaki, tetapi di depan Bayu entah mengapa Echa seperti tidak sanggup. Imej nya sebagai cewek baik-baik di mata Bayu pasti runtuh seketika.


*Duakkkk*, kali ini sebuah bogem mentah mendarat di pipi Bayu secara tiba-tiba


Sebuah hantaman yang sangat kuat. Dalam sekali pukulan tubuh Bayu langsung oleng. Pengalaman bertarung mereka bak langit dan bumi. Endrix sudah terlalu sering berkelahi sehingga baginya memukul adalah hal biasa. Bayu mencoba membalas dan dalam sekejap Endrix dengan mudah mengalahkan Bayu. Bayu pun terkulai lemas sambil memegangi perutnya


*Duak* kali ini sebuah tendangan mendarat di perut Bayu membuat lelaki tampan itu KO dalam hitungan detik


"Balasan buat lo. Enak aja mukul-mukul gue. Buruan buka baju lo atau gua hajar dia", kata Endrix sambil terus menendangi Bayu


"Jangaaannn Ndrix!", pekik Echa ketakutan melihat Bayu semakin tak berdaya.


Endrix kemudian mendatangi Echa yang ketakutan. Situasi ini benar-benar membingungkan bagi gadis itu. Disatu sisi ia sudah biasa melayani Endrix, namun disisi lain ia ragu karena kali ini ada Bayu didekatnya walau sudah dalam keadaan KO


*Plak plak plak* Endrix menampar pipi Echa berkali-kali


"Panggil gue yang bener!! Plak plak", kata Endrix kesal sambil menampar pipi Echa lagi


"Ampuun.. Maaf... Tuannn", kata Echa lirih menyembunyikan wajahnya dari Bayu


Bayu semakin terkejut dan bingung mengapa Echa yang cantik dan salah satu murid berprestasi di sekolah itu memanggil Endrix dengan sebutan "Tuan". Sebutan yang sangat tidak pantas diucapkan oleh gadis sepintar Echa kepada seorang berandalan sekolah.


"Lo tadi bilang akan ngelakuin apapun kan? YA KAN???", kata Endrix sambil melotot ke arah Echa


"I.. Iya..", Jawab Echa pasrah.


"Bagus! sekarang lo lepas semua kain yang ada pada badan lo sampai lo bugil", perintah Endrix


"Sekarang lo diem aja. Liat pelacur gue menghibur kita... Ini hadiah buat lo... Gue baik kan? Hahahaha...", kata Endrix sambil menepuk-nepuk pipi Bayu yang masih tidak berdaya


"Pe.. Pelacur?", ucap Bayu lirih tak mengerti


Echa mulai menatap kearah Endrix dan Bayu dengan tatapan sayu. Ia tidak punya pilihan lain selain menjalankan perintah Endrix. Dengan perlahan gadis berkerudung itu melepas kerudung putihnya hingga rambutnya terbuka. Bayu terpana, pertama kalinya ia melihat Echa tanpa kerudung. Lalu Echa melepas kaos lengan panjangnya dan seketika payudara bulat menggoda itu terpampang jelas di mata Bayu. Lelaki itu melongo. Mendapati tulisan "Lonte Endrix" yang tertulis di dada Echa.


"Hahahaha... BAGUS kan body lonte gue...", kata Endrix ke Bayu yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya


"Lo tau, Dia tuh tiap malam colmek bayangin kontol lo. Hahahahah", imbuh Endrix membuat Echa tersipu karena membuka rahasianya ke Bayu


"Sekarang lo colmek sambil bayangin kontol Bayu. Biar dia tau gimana lo kalau colmek", kata Endrix membuat mata Echa terbelalak


Perintah ini sangat gila baginya. Walau ia sering colmek dihadapan Endrix, tapi dihadapan Bayu ia sama sekali tidak pernah kepikiran untuk melakukannya. Bayu adalah lelaki yang ia hormati dan kagumi. Melakukan hal sememalukan itu dihadapan Bayu adalah sebuah penghinaan bagi Echa. Tapi perintah Endrix adalah kewajiban baginya. Echa pun terpaksa patuh dan ia mulai melucuti celana berikut celana dalamnya


"Lempar sini sempak lo", kata Endrix dan Echa tanpa diperintah dua kali langsung menuruti Endrix


Ia serahkan kain segitiga penutup kemaluannya itu ke Endrix. Lalu Endrix langsung menempelkan bekas celana dalam yang dipakai Echa itu ke hidung Bayu. Saat ini sudah pasti aroma cairan vagina Echa tercium jelas di hidung Bayu.


"Bay.. Maaf.. Aku... Sudah jadi... BUDAK SEKS Endrix..", kata Echa sambil ia buka lubang kelaminnya dihadapan Bayu yang semakin melongo


"Chaa...", ucap Bayu tak percaya melihat gadis cantik itu kini mulai masturbasi dihadapannya


Echa tiduran telanjang di lantai dan ia mulai mengocok kemaluannya dihadapan Bayu. Echa mendesah nakal. Ini adalah salah satu hal-hal gila yang pernah ia lakukan. Masturbasi membayangkan seorang laki-laki sambil dilihat secara langsung oleh laki-laki itu. Tangan Echa bergerak lincah mengocok kemaluannya. Suaranya sangatlah basah dan gemricik. Echa tidak sungkan lagi mendesah. Ia keluarkan suara manja desahannya karena menikmati masturbasinya. Ia putuskan memuaskan gairahnya yang tadi sempat tertunda.


"Oh... Bayu.. Aaahhh.. Bay... AAAHH.. Aku mau kontolmu sayang... Masukkan ke memekku Bayu..", lenguh Echa sambil memejamkan mata membayangkan sosok lelaki yang sedang duduk dihadapannya


Bayu menelan ludah berkali-kali. Tidak disangkanya dibalik kerudungnya, Echa ternyata suka masturbasi begitu nakal sambil membayangkan dirinya. Sebagai seorang lelaki, tentu saja ia bangga dirinya menjadi objek masturbasi seorang gadis cantik disekolahnya. Tanpa sadar Bayu mulai terangsang dan ia meremas celananya sendiri melihat kelakuan nakal Echa masturbasi dihadapannya.


"Sange ya lo? Hahahah.. Sok jual mahal sih..", kata Endrix sambil mulai mendekati tubuh Echa


"Sekarang lo liat gue entot Echa. Lo gak marah kan Bayu?", kata Endrix mengulangi pertanyaannya tadi


Mata Bayu terbelalak melihat kontol Endrix sudah digesek-gesekkan ke bibir kemaluan Echa. Endrix memandangi Bayu kembali dengan tatapan penuh kemenangan. Ia tidak peduli Bayu ada rasa kepada gadis cantik itu. Yang pasti Echa adalah budak seks yang tugasnya melayani nafsu birahinya.


"Lo gak marah kan gue ngentotin memek Echa?", ulang Endrix dengan pertanyaan lebih jelas


Tentu saja Endrix tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Echa adalah gadis yang selama ini dicintainya diam-diam. Ia akui ia sayang dengan Echa. Tapi ia tidak berani jujur karena tahu status Echa yang sudah punya pacar. Ia pendam rasa sukanya sendiri sedalam-dalamnya.


Parahnya kali ini, Bayu harus mengalami nasib terburuk semasa hidupnya. Ia lihat dengan mata kepalanya sendiri Endrix mulai menggenjot memek gadis pujaan hatinya dan Echa pun terlihat keenakan. Gadis pujaan hatinya bahkan turut menggoyangkan tubuhnya menerima kontol Endrix. Belum lagi desahannya terdengar begitu merdu dan menggoda membuat Endrix semakin semangat menyetubuhi Echa di depan Bayu. Bayu semakin terbakar api cemburu, namun ia juga semakin nafsu. Diam-diam ia mulai memainkan batang penisnya yang mulai mengeras sambil melihat tubuh telanjang gadis pujaan hatinya itu sedang disodok kontol si preman sekolah.


"Desah lagi Lonte.. Biar tu cowok denger suara merdu lo kalau lagi desah...", perintah Endrix sambil terus menggenjot memek Echa


"Ooohhh.. oouuhhh.. Enak.. Terus.. Terus... Tuan..", Echa terus mendesah


Kali ini tubuh Echa diatas tubuh Endrix. Bayu terpana melihat Echa menggoyangkan tubuh telanjangnya dengan nakal di atas tubuh Endrix. Terlihat jelas kedua alat kelamin mereka saling bertemu dan sangat basah bertukar cairan. Endrix dengan leluasa meremasi dan memainkan puting susu Echa. Sedangkan gadis itu terus bergoyang nakal mengulek kontol Endrix dengan jepitan memek hangatnya


Lalu mereka berciuman begitu panas. Preman sekolah itu juga tanpa ragu meneteskan air liurnya dan Echa dengan senang hati menangkap air liur Endrix dengan mulutnya. Kemudian mereka kembali berciuman dan saling melumat satu sama lain


"Aaaaahhh.. Aaaahhhh... Ouuuhhh... Tuannn.. Aaahhh...", desahan Echa terdengar nyaring diruang tamu itu karena Endrix terus menggenjot vaginanya sampai mentok


"Enak sekali.. Lo makin pinter goyangnya. Hahahahah... Gak salah lo gua jadikan pelacur. Bakat terpendam lo bisa gua keluarin. Hahahahahah...", kata Endrix sambil terus menyodok memek Echa dengan kuat


*Jleb jleb jleb jleb*


Terlihat Bayu hanya terdiam mematung, membiarkan Echa menikmati persetubuhan panasnya dengan si berandal sekolah bernama Endrix. Entah sudah berapa kali kemaluan mereka saling menumbuk. Entah sudah berapa kali pula mereka saling bertukar air liur dihadapan Bayu.


"Gue mau keluarrr...", kata Endrix semakin mempercepat sodokannya


"I.. Iya tuaannnn.. Keluarin aja... Aaaahh Aaahhh", jawab Echa manja


"Lo mau gue keluarin ke memek lo apa mulut lo?", tanya Endrix


"Terserah tuan aja... Aaaahhh.. Aahhh..", jawab Echa tersengal-sengal


"Ok.. gue buang peju gue ke memek lo ya... Terima ini... Arrrgghhh...", pekik Endrix sambil ia mentokkan kontolnya ke rahim Echa.


*Crot crot crot crot* semburan peju Endrix mengisi di rahim Echa sampai penuh


Bayu terbujur lemah, memandangi vagina Echa penuh dengan sperma Endrix. Habis sudah impiannya untuk menikah dengan Echa suatu saat nanti. Ia pandangi kemaluan pujaan hatinya yang belepotan penuh sperma Endrix yang tak lain lelaki yang dulu begitu dibenci Echa.


"Tugas lo belom selesai.. Sekarang lo ngentot sama Bayu. Gue rekam. Silakan kalian lakukan apapun yang kalian mau selayaknya kalian suami istri", kata Endrix sambil mulai merekam ke arah tubuh telanjang Echa.


"Apaa?", kata Bayu tidak percaya


"Kenapa? Ayo hamilin Echa. Kalau lo berhasil buat Echa hamil, lo bisa nikahin pelacur gua", ujar Endrix tersenyum mesum


Echa juga terdiam sebentar. Ia tidak percaya Endrix akan menyuruh Bayu menghamilinya. Lalu gadis itu tersenyum manis sekali. Dalam hatinya Echa senang, akhirnya ia punya kesempatan bercinta dengan Bayu. Cowok populer yang digandrungi cewek-cewek di sekolah.


Terlihat Echa mulai bangkit dan bersemangat mendekati Bayu. Bayu terdiam pasrah saat Echa mulai melucuti resleting celana panjangnya. Dengan segera Echa mengeluarkan kontol Bayu yang sudah mengeras dan Echa tanpa permisi langsung mengulum kontol Bayu


"Aaahhhh... Cha...", lenguh Bayu saat melihat gadis pujaan hatinya mulai mengulum batang kemaluannya


"Kontol kamu panjang Bay.. Aku sepong ya...", kata Echa pada akhirnya


Bayu hanya terdiam pasrah membiarkan batang kemaluannya dijilati Echa penuh nafsu. Sementara itu Endrix masih merekam skandal panas itu dengan detail. Terlihat jelas Echa begitu menikmati menyepong kontol Bayu dan sebaliknya Bayu juga terlihat keenakan batang kontolnya dijilati Echa


"Buka baju kamu dong sayang...", pinta Echa manja sambil menarik lepas celana seragam Bayu


"Eehhh.. Iya maaf Cha...", kata Bayu dan ia mulai melucuti kancing seragamnya hingga telanjang bulat


Kedua pasangan itu sudah telanjang bulat. Echa menaiki tubuh Bayu dan ia lumat bibir cowok ganteng itu dengan penuh nafsu. Bayu berusaha menikmati permainan ini walau saat ini ia melakukannya di bawah kendali Endrix.


"Mpphh.. Muacch..", Echa menciumi bibir Bayu terus menerus


"Kamu beneran gak ada rasa sama aku Bay?", tanya Echa sambil kedua tangannya bergelayut manja di leger Bayu


"Aku sayang kamu Cha.. Aku Cinta kamu.. Cinta banget...", Kata Bayu


"Makasih ya Bay.. Akhirnya kamu jujur...", kata Echa


"Kalau kamu?", tanya Bayu penasaran dengan perasaan Echa


Echa melirik ke arah Endrix yang tersenyum jahat. Ia tahu betul saat ia adalah milik Endrix. Ia tidak ingin menjalin cinta yang lain setelah putus dengan Rio. Echa pun memantabkan hati membohongi perasaannya ke Bayu.


"Aku.. Kamu sudah tahu kan aku milik siapa? Aku kotor Bayu.. Kamu terlalu baik buat aku...", kata Echa


Terlihat wajah Bayu kecewa mendengar jawaban Echa. Ia sadar betul posisinya dan ia tahu betul ternyata Echa selama ini adalah budak sex Endrix. Tetapi walau demikian hal itu tidak serta membuat perasaannya ke gadis itu runtuh seketika.


"Tapi Cha...", kata Bayu tidak puas dengan jawaban Echa


"Kamu sanggup kalau misal kita jadian, liat pacarmu dientot berandalan sekolah? Aku sekotor itu Bayu...", bisik Echa membuat Bayu semakin kesal dengan lelaki yang sedang merekamnya itu


"i love you Bayu.. Buat aku hamil dengan spermamu... Itu satu-satunya cara kamu bisa nikahin aku...", bisik Echa kemudian secara perlahan ke telinga Bayu


Bayu tersenyum mendengar ucapan Echa. Ia mulai menidurkan tubuh Echa dan menindih tubuh telanjang gadid itu. Ia belai lembut rambut Echa dan mulai ia ciumi wajah gadis itu. Ciumannya terhenti beberapa saat dibibir sebelum akhirnya semakin turun menyisir ke leher Echa.


Tentu saja diciumi seperti ituembuat Echa kegelian. Bayu menikmati sebentar gundukan payudara Echa dengan meremas bagian itu secara lembut. Tak lupa ia pilin dan ia mainkan puting Echa bergantian sebelum ia kulum daging kenyal berwarna cokelat muda itu. Echa kembali menggeliat untuk kedua kalinya. Ia peluk erat tubuh telanjang Bayu dan membiarkan lelaki tampan itu mencumbui tubuhnya yang selama ini ia tutup rapat. Setelah puas Bayu pun mulai mengarahkan batang kontolnya ke kemaluan Echa dan


*Blessss*


Kontol Bayu pun mulai meringsek masuk membelah jepitan kemaluan Echa. Mata Echa merem melek menikmati kontol panjang Bayu. Bayu lalu mulai menggenjot vagina Echa semakin cepat dengan kontolnya. Terlihat tubuh Echa naik turun tersodok-sodok kontol pemida tampan itu.


"Aaahhh.. Iyaahhh.. Aahhh.. Kontolmu Enak Bayu.. Aaahhh.. Terus sayang... gede banget kontolmu... Hamilin aku sayang", kata Echa nakal


"Memek mu juga enak banget Cha.. Becek Anget Cha... Aaahhhh... aaahhh.. Iya aku akan hamilin kamu dan nikahin kamu...", kata Bayu semakin semangat menyetubuhi Echa sambil ia ciumi tubuh telanjang gadis itu


"AHhh.. Ahh terus entot aku sayang...", kata Echa nakal membiarkan kontol Bayu maju mundur dirahimnya.


"Sumpah... Aku akan nikahin kamu kalau kamu hamil Cha...", kata Bayu semakin semangat menyetubuhi Echa


"Makasih sayang.. Ia hamili aku dan nikahi aku Bayu...", desah Echa semakin nakal menggoda


"Arrrrggghhh... Maaf... Aku mau keluar Cha...", erang Bayu saat dirasakan batang kontolnya mulai kedutan di rahim Echa


"Iyaaahh... Tanam ke rahimku sayang.. Aku mau spermamu... Aku mau anakmu Bayu", kata Echa sekaligus berdoa


Echa lebih memilih hamil anak Bayu dibandingkan preman-preman yang pernah menyetubuhinya. Echa betul-betul berharap proses persetubuhan ini benar-benar membuat dirinya hamil anak Bayu. Paling tidak wajah bayinya kelak bisa setampan Bayu. Tidak seperti wajah-wajah preman menyeramkan yang pernah menidurinya.


*Crot crot crot* sperma Bayu pun tumpah menyembur mengisi di dalam rahim pujaan hatinya itu sampai penuh


Tubuh mereka ambruk dalam posisi berpelukan. Terlihat vagina Echa mengucurkan luberan sperma Bayu yang tak bisa tertampung seluruhnya di rahimnya. Lalu Endrix pun mengakhiri rekaman panas proses pembuatan anak antara Echa dengan Bayu.


"Cha... I Love You .", kata Bayu


"Iya Bay... Makasih ya...", jawab Echa Echa


"Kalau misal kamu hamil aku pasti tanggung jawab Cha... Aku akan nikahin kamu", kata Bayu dengan raut muka serius


Echa tersenyum, Bayu terlalu naif menyangka dirinya masih seorang gadis yang terjaga. Bayu tidak tahu, rahim Echa sudah menerima puluhan kali semburan sperma dari kontol-kontol yang berbeda.


"Iya iya.. Makasih ya Bay", jawab Echa mencoba menenangkan Bayu


"Hahaha.. Baik kan gue? Lo gue kasih kesempatan ngehamilim budak sex gue. Hahahah.. Itung-itung balas budi karena lo sudah ngerjain tugas gue. Heheheh.. Semoga hamil ya Cha. Terus jangan lupa nyusuin gue pake Asi lo", ledek Endrix sambil preman itu bersiap pergi


#


Sementara itu di sebuah rumah yang cukup luas dengan desain ala-ala rumah klasik Jepang, terlihat Alya sedang sibuk menelpon di depan rumah megah itu. Wajahnya terlihat cemberut tetapi tidak mengurangi wajah cantiknya. Justru wajah cemberut itu semakin membuatnya terlihat menggemaskan walau usianya sudah tidak lagi muda


"Halo pak Robert... Saya sudah di depan rumah alamat yang bapak kasih... Eh? Pak Robert sudah pulang?? Ohhh.. I.. Iya saya tunggu deh", kata Alya dan wanita berjilbab lebar itu pun menutup teleponnya


Tak lama kemudian, dua orang berbadan besar memakai jas dan berkaca mata hitam mendatangi Alya. Samar-samar terlihat tattoo tribal di balik kerah bajunya. Wajah mereka begitu kaku dan tidak ramah.


"Maaf kami periksa dulu", kata salah satu bodyguard berkepala plontos


"Eh? Saya gak bawa apa-apa.. Aahhh...", lenguh Alya karena kedua lelaki berbadan kekar itu mulai meraba tubuhnya dan memeriksa tiap bagian baju yang dipakainya


Alya merasakan tangan-tangan bodyguard tadi meremas beberapa bagian tubuhnya. Terutama pada bagian payudara dan juga bokongnya. Tapi Alya tidak berani protes karena memang bodyguard yang memeriksanya berbadan besar dan kekar.


"Aman.. Silakan Masuk. Tuan Hong sudah menunggu"


"I.. Iya terima kasih...", jawab Alya dan ia pun di bawa masuk ke dalam rumah itu sebelum akhirnya pintu kembali ditutup dan dikunci rapat


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 17 : Flasback Alya (part 1)


Di dalam ruangan dengan motif kayu ala interior klasik Jepang, terlihat Alya menunggu di sebuah kursi sofa besar yang terlihat empuk dan nyaman. Sesekali wanita cantik bergamis syari itu melihat ke arah jam tangannya, sambil menunggu dengan was-was dirinya dipersilakan masuk ke ruang utama yang dari tadi ditutup rapat.


Sudah sekitar 15 menitan ia duduk menunggu, tapi tidak ada satupun tanda dirinya akan dipersilakan masuk ke dalam. Alya mulai gelisah, apalagi hari sudah semakin larut. Ia bingung harus mencari alasan apa lagi untuk membohongi anak gadisnya, karena malam ini ia harus pulang terlambat lagi untuk kesekian kalinya.


Perempuan berkerudung panjang yang usianya 37 tahunan itu kemudian mencoba membuka WA dan hendak mengirimkan sebuah pesan. Ia pun mencari nama Pak Robert di history chatnya. Alya pun mulai mengetik


"Kayaknya dibatalin aja pak.. Kok pikiran saya mendadak gak enak ya", ketik Alya


Namun sayang, pesan yang dikirimkannya hanya centang satu tanda Pak Robert belum menerima pesan itu.


"Aduh, kok gak terkirim sih?", gumamnya pelan


"Alya Azzahra"", tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat seorang pria berbadan tegap tinggi besar berdiri di depan pintu yang tadinya tertutup sambil memanggil namanya


"I.. Iya"", jawab Alya terkejut


"Silakan.. Tuan Hong sudah menunggu", kata si bodyguard berkepala plontos itu


Alya kemudian mengurungkan niatnya untuk membatalkan kesepakatan dengan Pak Robert dan segera memasukkan handphonenya ke dalam tas yang ia bawa. Alya lalu berdiri dan berjalan perlahan masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk oleh bodyguard berbadan kekar tadi.


Di ruangan itu, Alya terkejut mendapati gambar-gambar wanita telanjang yang terpasang di dinding ruangan. Bukan hanya foto wanita saja, ada juga beberapa gambar adegan seks dengan berbagai macam gaya dan posisi yang terpasang di dinding ruangan itu.


"Maaf saya periksa dulu", ujar bodyguard tadi


Tanpa menunggu jawaban Alya, bodyguard tadi mulai meraba beberapa bagian tubuh Alya. Mulai dari leher, pundak, area dada, perut, hingga kedua kakinya. Alya sedikit merasakan beberapa kali remasan pada payudaranya yang sepertinya memang disengaja. Remasan yang sangat kuat, mengingat bodyguard itu badannya besar dan kekar bak atlet binaraga.


Tetapi Alya hanya bisa mendiamkannya tanpa bisa banyak protes karena ini adalah prosedur di tempat itu. Toh tubuhnya sudah biasa digerayangi lelaki jadi tidak ada gunanya Alya sok alim saat ini. Alya sedikit terkesiap saat jemari kasar bodyguard tadi tiba-tiba menekan area vaginanya dengan keras dan dikocok cepat seperti sedang merangsang bagian intim wanita cantik berjilbab itu. Bukan hanya sekali gosokan, tapi berkali-kali hingga kemaluan Alya terasa lembab.


"Aaahhh"", Alya pun mendesah pada akhirnya karena area sensitifnya diraba dengan cara seperti itu


"Ok, Clear. Dia wanita asli pak", ujar bodyguard itu sambil tersenyum mesum memandangi Alya yang nafasnya mulai memburu


*Maksudnya? Aky dikira bukan perempuan gitu?*, kata Alya kesal dalam hati


Seorang pria berusia senja duduk di tengah-tengah ruangan dengan meja panjangnya. Rambutnya sudah beruban dan pria tua itu tampak necis dengan hanya mengenakan kemeja pantai dan celana pendek. Di jemari pria tua itu, terpasang cincin-cincin emas dengan batu permatanya yang besar-besar. Pria tua itu tersenyum menatap Alya. Alya pun tertunduk malu dipandangi oleh pria yang belum dikenalnya itu.


"Alya Azzahra betul?", tanya si pria tua


"I.. iya" Betul Pak"", jawab Alya masih ngos-ngosan


"Panggil beliau dengan sebutan Tuan Hong!", ujar salah satu pria berdasi yang duduk disana membuat Alya terkejut


Alya baru menyadari, bukan Hanya lelaki tua itu saja yang ada disana. Ada juga beberapa pria berbusana formal lengkap dengan jas dan dasinya. Mereka terlihat bukan orang sembarangan. Tetapi Alya sama sekali tidak tahu siapa mereka.


Lelaki berusia senja itu ternyata Tuan Hong. Beliau adalah rekan bisnis Pak Robert yang kemaren dibicarakan. Dibilang bisnisman sebenarnya tidak begitu tepat bagi dirinya karena ia seorang pemain di dunia hitam. Tuan Hong lebih pantas disebut mafia atau gangster macam yakuza dibandingkan seorang bisnisman. Beliau memiliki beberapa bisnis haram. Obat-obatan terlarang dan prostitusi adalah sumber utama kekayaannya. Keberadaannya hampir tak pernah tersentuh hukum. Karena dengan kekayaannya, dia bisa membeli hukum itu sendiri dengan mudah.


"Cukup Marco", ujar Tuan Hong dan lelaki bernama Marco yang menghardik Alya tadi langsung menundukkan kepala dan minta maaf ke Tuan Hong.


"Jadi Alya, saya sudah dengar semua tentang kamu dari Robert. Tapi boleh kita ngobrol sebentar?", kata Tuan Hong serius


"I.. Iya boleh tuan"", jawab Alya sambil menundukkan kepalanya.


"Angkat kepalamu Alya. Saya ingin lihat wajah cantikmu"", pinta Tuan Hong dan Alya pun mengangkat wajahnya perlahan sambil malu-malu


"Cantik luar biasa. Wajahmu benar-benar bak bidadari surga. Pantas saja Robert begitu memuji-mujimu. Heheheh", kata Tuan Hong


"Terima kasih tuan"", jawab Alya tersipu malu dipuji seperti itu oleh pria super kaya dihadapannya


"Kamu sudah punya suami?"


"Su.. sudah tuan""


"Bahagia dengan suamimu?", tanya Tuan Hong mengejutkan Alya


Alya tidak langsung menjawab. Kalau dipikir ulang, Alya menikah dengan suaminya memang biasa saja. Tidak ada perasaan bahagia yang begitu membekas baginya selama ia menjadi istri Ragil. Suaminya terlalu biasa-biasa saja dan Alya selama ini hanya bertahan dengan cara bersyukur dengan tidak pernah meminta lebih. Ia hanya berusaha mempertahankan pernikahannya karena Ragil adalah sosok yang sudah dia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya.


"Err"", Alya ragu menjawab pertanyaan yang seperti menjebak itu


"Tidak perlu kamu jawab. Saya bisa tahu jawabannya dari sorot matamu Alya. Kamu wanita polos yang mufah sekali ditebak. Heheheh", ujar Tuang Hong


""..", Alya hanya terdiam


"Sekarang ceritakan kehidupan perselingkuhanmu dengan Robert. Hehehe", ujar Tuan Hong sambil menghembuskan asap cerutunya.


"Pak Robert sudah cerita ya tuan?", tanya Alya terkejut


"Ya.. Tapi aku ingin dengar sendiri dari bibirmu sendiri cantik, siapa tahu dari ceritamu, saya bisa kasih kamu pekerjaan.", kata Tuan Hong


"Eh pekerjaan? Pekerjaan apa tuan?", kata Alya terkejut mendengar penawaran dari Tuan Hong


"Pekerjaan yang pastinya sesuai dengan passionmu. Heheheh.. Mangkanya sekarang kamu ceritakan dulu bagaimana kamu bisa jadi seperti yng diceritakan Robert", kata Tuan Hong membuat Alya semakin tidak mengerti


"Eh Pak Robert cerita apa aja tuan?", tanya Alya


"Beberapa saja, tapi ceritanya tidak lengkap dan lompat-lompat. Karena itu saya mau dengar cerita jelasnya dari kamu", kata Tuan Hong


"Hmm.. Saya harus mulai dari mana?", tanya Alya balik


"Bebas, ceritakan saja bagaimana awalnya kamu bisa jadi milik Robert. Dan juga bagaimana kamu bisa jadi hiburan saat ronda malam?", kata Tuan Hong.


"Pak Robert juga bercerita tentang kejadian ronda?", kata Alya terkejut sembari mukanya memerah


"Iya, cerita tentangmu sangat menarik Alya. Kamu sosok yang tepat bagi pekerjaan ini. Aku memang butuh sosok seperti kamu. Bisa terlihat alim namun asliya binal. Heheheh"", kata Tuan Hong antusias


"Saya malu tuan" Sepertinya itu aib bagi saya"", ujar Alya tertunduk menyembunyikan wajahnya


"Aib? Bukan Alya.. Kamu punya kelebihan yang tidak dimiliki wanita lain" Saya suka itu"", ucap tuan Hong


"Apa itu tuan?", tanya Alya penasaran


"Kamu bisa memaksimalkan potensi yang ada pada dirimu. Tuhan memberikan keindahan wajah dan tubuh kepadamu dan kamu pandai menggunakannya. Saya suka sekali dengan keberanianmu. Biasanya kegagalan bermula karena seseorang kurang berani saja", kata Tuan Hong bijak dan Alya hanya mampu menganggukkan kepala


"Yasudah sekarang ceritakanlah. Saya penasaran", ujar Tuan Hong sambil dibalik meja besarnya, ia membetulkan posisi selangkangannya yang terasa mulai sesak karena daritadi ia melihat kecantikan Alya dan harum tubuh wanita berjilbab itu


"Ba" Baik Tuan"", jawab Alya


#


Flash Back cerita Alya"


1,5 tahun yang lalu"


Kebutuhan perekonomian keluarga Alya saat itu sedang diuji. Kantor tempat suaminya bekerja sedang kesulitan keuangan sehingga pembayaran gaji pegawai sering mundur. Bahkan terkadang bisa menunggak hingga 1-2 bulan


Demi mencukupi kebutuhan hidup yang semakin lama semakin mahal, Alya harus memutar otak. Apalagi harga kebutuhan pokok dan biaya sekolah Echa anaknya juga semakin mahal saja. Alya sudah berusaha berhemat dengan memasak yang murah-murah saja. Tetapi hal itu tidak banyak membantu. Tabungannya perlahan tergerus. Alhasil terpaksa Alya mencari seseorang yang bisa meminjaminya uang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.


Singkat cerita atas saran ibu-ibu komplek, Alya disarankan pinjam uang ke Pak Robert saja. Mengingat dia adalah orang paling kaya di lingkungan tempat tinggal disana. Banyak diantara mereka yang juga mengaku mendapatkan pinjaman dari Pak Robert. Sebenarnya Alya malu meminjam uang ke Pak Robert. Karena Alya tidak begitu kenal dengan pria itu. Jarak rumahnya dengan Pak Robert juga lumayan jauh, beberapa gang dari rumah tempat tinggalnya. Sehingga mereka jarang sekali bertemu.


Namun berbeda dengan Robert, Robert beberapa kali bertemu Alya, namun Alya yang tidak menyadarinya. Saat ada undangan pernikahan salah satu warga, saat ada kegiatan di perumahannya, Robert beberapa kali curi-curi pandang ke arah Alya.


Wanita berhijab lebar itu sangatlah menarik dimata Robert. Pria dari timur itu memang nafsuan. Karena nafsunya yang besar itulah, ia jadi duda. Mantan istrinya tidak sanggup memenuhi nafsu birahinya yang seperti binatang. Demi memuaskan kebutuhan biologisnya, Robert biasa menyewa lonte. Kadang jika bosan, tak jarang dia juga membeli tubuh istri tetangga-tetangganya. Dengan uangnya dia bisa mendapatkan apa yang dia mau. Banyak ibu-ibu yang utang kepadanya dengan cara menyerahkan foto bugil mereka untuk Pak Robert sebagai alat pembayaran. Bahkan, ada juga ibu-ibu yang bersedia untuk ditiduri. Semua tergantung berapa jumlah pinjaman mereka dan apa mau Pak Robert.


Tetapi tetap saja, meskipun Robert menikmati aktivitasnya meniduri para istri tetangganya, pria berkulit hitam itu masih saja penasaran terhadap sosok wanita berjilbab panjang yang kemana-mana selalu menutup aurat dengan busana syari seperti Alya. Wajah Alya terlihat begitu memanjakan matanya. Senyum wanita berjilbab itu begitu memikat hatinya. Sehingga tanpa sadar Robert jadi terobsesi kepada Alya. Robert menjadi begitu bernafsu kepada Alya. Busana syari Alya justru membuat Robert ngaceng berat. Robert jadi terbayang-bayang dan semakin penasaran dengan keindahan lekuk tubuh Alya dibalik kerudung panjang dan gamis lebarnya.


Pucuk dicinta ulam tiba, Alya mendatangi dirinya dengan sukarela. Terlihat Alya sudah tidak tahu harus meminjam uang kemana lagi. Sehingga istri Ragil itu pun sudah tidak punya pilihan lain selain mencoba pinjam uang ke pria terkaya disana.


"Selamat so.. sore Pak"", kata Alya sambil menundukkan wajahnya saat melihat Pak Robert sedang memberi makan burung peliharannya.


Meskipun kaya raya, Pak Robert memang hidup sendiri dirumah besarnya. Sehingga ia apa-apa juga selalu melakukannya sendiri. Termasuk memberi makan hewan peliharaan ataupun mencuci mobil mewahnya saat tidak ada kegiatan di rumah.


Pak Robert terkejut mendapati siapa yang mengetuk pintu pagarnya. Wanita berjilbab cantik yang selama ini begitu membuatnya penasaran dan terobsesi. Karena jarang sekali ada kesempatan baginya untuk bertemu dengan Alya dan berbicara dengan wanita itu.


"Eh Bu Alya"", kata Pak Robert sambil mencuci tangannya


Alya sempat terkejut karena ternyata Pak Robert tahu namanya.


"Masuk dulu bu"", kata Pak Robert ramah sambil membukakan pintu pagarnya


Dalam hati Alya sedikit lega, setidaknya bayang-bayang Pak Robert orang yang sombong dan kasar sirna begitu saja. Alya menyesal karena sudah berpikir tidak-tidak tentang Pak Robert hanya karena wajah pria itu menyeramkan. Ternyata Pak Robert orangnya ramah dan bersikap welcome kepada dirinya.


Dengan malu-malu Alya masuk ke dalam rumah mewah itu. Ia duduk di teras rumah Robert dan Alya pun langsung menceritakan maksud dan tujuannya datang ke rumah Robert.


"Pak Robert mohon maaf sekali pak. Saya sudah tidak tahu lagi harus kemana saya minta tolong", kata Alya


"Iya Bu Alya, ada yang bisa saya bantu?", kata Pak Robert sambil tersenyum.


"Gini Pak" Saya mau.. mau" pinjam uang ke Pak Robert. Saya sudah coba meminjam ke yang lain tapi mereka bilangnya ngga ada. Beberapa ada yang menyarankan agar saya mencoba pinjam ke bapak saja.", ujar Alya menahan malu


Sebenarnya Alya tidak berani pinjam uang ke Robert. Karena ia sadar diri, ia tidak akrab sama sekali dengan Pak Robert. Ia merasa sungkan karena hanya saat ada butuhnya saja ia mendatangi Pak Robert. Sedangkan sebelumnya, ia tidak pernah bertegur sapa dengan pria itu.


"Oh bisa-bisa bu.. Bu Alya butuh uang berapa?", kata Robert membuat Alya terperangah


Alya tidak menyangka Pak Robert begitu mudah memberinya pinjaman uang. Dalam hati ia benar-benar bersyukur mendatangi sosok yang tepat saat ia sedang merasa kesusahan. Ternyata Pak Robert orang yang baik hati.


"4juta pak" Mohon maaf Pak saya jadi merepotkan"", kata Alya sambil tangannya meremas rok gamisnya.


"Cuma 4juta?", tanya Pak Robert terkejut


"Eh? I.. Iya pak.. jangan banyak-banyak nanti saya bingung cara bayarnya"", jawab Alya membuat Robert menelan ludah.


"Ohhh" Ya ya ya.. sebentar saya ambilkan uangnya"", kata Pak Robert sambil masuk ke dalam rumahnya


Beberapa saat kemudian, pria berbadan besar itu sudah kembali sambil membawa amplop dan ia serahkan ke Alya. Alya seketika merasa sangat lega. Setidaknya selama sebulan ini ia masih bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.


"Terima kasih banyak pak terima kasih banyak" terima kasih".", ujar Alya berkali-kali dan ia sangat berterima kasih dengan kemurahan hati Pak Robert


"Diamplop itu ada 5juta. 1jutanya buat kamu Bu Alya"", kata Robert sambil tersenyum


"Eh jangan pak.. saya tidak mau"", kata Alya dan ia hendak mengembalikan uang pinjaman dari Pak Robert tetapi dengan cepat Pak Robert menahan tangan Alya


"Sudah bawa saja bu"", kata Robert


"Ya sudah saya janji akan kembalikan 5jutanya Pak bulan depan. Saya janji. Ini KTP dan HP saya pak biar bapak pegang dulu sebagai jaminan", kata Alya


"Hahaha.. HPnya bu Alya buat apa saya pegang? Udah gini aja. Saya minta nomor handphone Bu Alya saja bagaimana?", kata Robert sambil tersenyum penuh maksud


"Boleh pak.. nomor bapak berapa? Biar saya WA".", kata Alya dan akhirnya Alya dan Robert saling bertukar nomor handphone


Sepulang Alya dari rumahnya, Robert menatap dalam-dalam foto KTP Alya..


"Alya Azzahra" Hmmm Aaahh.. Sange saya bu liat fotomu ini" Foto KTP aja bisa secantik ini"", kata Robert dan ia pun melucuti seluruh pakaiannya sampai telanjang.


Ia lalu mengocok kontol panjangnya sambil memandangi foto KTP Alya yang tampak cantik itu. Sesekali ia kecup Foto KTP Alya dan ia jilati kartu itu. Aroma parfum Alya sedikit menempel disana, membuat Robert semakin terangsang. Lalu Robert dengan mesumnya mengusap ujung kepala kontolnya menggunakan KTP Alya dan diarahkan tepat di foto wajah Alya


"Uhhh.. Alya.. Aku jamin kamu pasti akan keenakan sama kontolku ini.. Aaaahhhh.. Alyaaa.. Aaaahhh" Memekmu pasti enak sekali sayang" Aaahhh nih pejuku Alya" Kamu terima ya sayang.. Aaaahhh", kata Robert terus mengocok


*Crot crot crot* tanpa ragu-ragu sperma Robert menyembur mengenai KTP Alya hingga kartu itu belepotan spermanya


Tapi Robert tidak peduli akan hal itu. Ia kembali onani sambil memandangi foto Alya yang sudah terkena sperma kentalnya. Ia ulangi kegiatan mesum itu beberapa kali sampai ia puas. KTP Alya benar-benar penuh dengan sperma menjijikkannya


"Aahhh.. nikmat sekali coli sambil bayangin kamu Alya", ujar Robert sambil menampar-nampar KTP Alya dengan batang kontol hitamnya


Hari demi hari berlalu, beberapa kali Robert berkirim pesan WA ke Alya. Sebuah percakapan basa-basi, seperti bertanya kabar, sedang apa, sudah makan belum, atau pembicaraan tidak penting lainnya. Alya yang tidak enak karena Robert sudah meminjaminya uang tentu saja wajib membalas pesan-pesan itu. Sesekali Alya juga bertanya balik dan Robert menanggapinya dengan gombalan murahan


"Saya sedang masak nih pak"", jawab Alya


"Aduh beruntungnya suamimu bisa merasakan masakanmu setiap hari Bu"", puji Robert


"Ahhh" Pak Robert bisa aja. Lagian suami saya ngga ada dirumah pak. Dia sibuk kerja di luar kota", kata Alya


"HAH? Beneran bu?", kata Robert terkejut


"Beneran Pak. Saya jarang ketemu suami akhir-akhir ini karena dia dinas keluar kota terus..", jawab Alya


Robert tersenyum licik, ia jadi tahu mungkin Alya selama ini kesepian karena sering ditinggal suaminya. Ia jadi tidak ragu untuk mengirim pesan yang lebih vulgar karena yakin suami Alya tidak akan membaca pesan-pesan yang Robert kirim ke istrinya


"Duh kesepian dong dirumah?", timpal Robert


"Nggak juga sih Pak.. Kan ada anak saya dirumah", jawab Alya


Robert jadi membayangkan hal yang tidak-tidak. Ia jadi tahu Alya akhir-akhir ini tidak pernah berhubungan suami istri dengan suaminya. Robert merasa Alya pasti kesepian dan bingung bagaimana melampiaskan nafsu syahwatnya. Karena Robert yakin, sealim-alimnya seorang wanita pasti tetap saja butuh menyalurkan nafsu biologisnya, karena itu memang manusiawi.


Kalau Pak Robert sendiri lagi ngapain?", tanya Alya balik agar pembicaraan bisa dua arah.


"Saya lagi mikirin kamu Bu. Heheheh", kata Pak Robert ngegombal


"Duh iya pak.. Nanti bulan depan saya usahakan balikin ya pak uangnya", timpal Alya salah paham mengira Pak Robert sedang mengingatkan utangnya


"Bukan soal itu Bu.."


"Oh terus soal apa pak?", tanya Alya balik


"Ya saya kangen sama Bu Alya. Kesini dong bu. Bawakan saya masakan ibu. Heheheh", goda Pak Robert


Sebenarnya Alya risih dengan pembicaraan Robert. Tapi karena Alya sudah berhutang budi pada pria itu sehingga terpaksa ia meladeni pria itu agar tidak menyinggung perasaan Robert


"Masakan saya nggak enak Pak" Nanti Pak Robert nggak suka", jawab Alya mencoba menolak secara halus.


"Saya pasti suka kok masakan Bu Alya Buruan kerumah saya ya bu. Mumpung saya lagi laper nih", kata Robert sedikit memaksa


Alya mulai bimbang dan ragu haruskah ia datang ke rumah Pak Robert hari ini. Sampai akhirnya setelah menimang-nimang ia pun memutuskan datang ke rumah Pak Robert. Itung-itung sedikit balas budi dengan membawakan Pak Robert makanan hasil karyanya di dapur


Singkat cerita, Alya sudah berada di rumah Robert. Kali ini tidak di teras saja. Ia masuk ke dalam rumah Robert yang megah. Terlihat Robert menyantap masakan Alya dengan lahapnya di meja makan panjang ruang makannya. Walau hanya sebuah masakan rumahan biasa, Terong dan telor ceplok dibumbu balado.


Melihat Robert makan dengan lahap, Alya dalam hati ikut senang karena setidaknya apa yang dia bawa sore ini tidak mengecewakan Pak Robert. Hingga akhirnya satu rantang yang ia bawa habis tak tersisa dilahap seluruhnya oleh Robert.


"Enak pak?", tanya Alya sambil membereskan rantang sisa makanan Robert


"Enak sekali. Seperti masakan restoran mahal"", puji Pak Robert


"Bapak bisa aja orang saya cuma masak terong balado", jawab Alya


"Hehehe.. Bu Alya suka masak terong ya?", goda Pak Robert


"Iya Pak saya suka terong dari dulu. Apalagi kalau dibuat penyetan atau dibumbu balado", jawab Alya


"Oh pantesan.. Kayaknya Bu Alya memang pinter ngurusin terong. Heheheh" Suka terong kecil apa besar Bu?", tanya Robert mesum


"Suka yang besar saya Pak" Enak kan puas makannya bisa kenyang", jawab Alya polos


"Oh.. Kebetulan saya juga punya terong besar bu. Kapan-kapan Bu Alya urus ya"", kata Pak Robert sambil menyeringai mesum


"Eh iya boleh pak, nanti saya masakin yang enak buat bapak", kata Alya


"Bukan.. Kalau terong saya buat Bu Alya saja. Hehehehe""


"Eeh? Aduh jadi ngerepotin lagi saya pak. Yasudah saya pamit pulang dulu pak. Kasihan anak saya di rumah sendiri", kata Alya berpamitan karena tidak enak berlama-lama berduaan di rumah Pak Robert


"Ya Bu.. yasudah nanti saya fotokan terongnya. Kali aja Bu Alya minat", goda Pak Robert mesum


"Iya Pak..", jawab Alya


Malam harinya, benar saja dengan penuh rasa percaya diri Robert memotret batang kontolnya yang sudah sangat keras dan kaku demi menggoda sosok wanita alim yang kelihatannya kesepian itu. Setelah itu ia kirim beberapa foto kontolnya ke WA Alya dan dalam waktu singkat ia lihat foto yang baru saja ia kirim sudah centang biru dua tanda Alya sudah melihat foto "terong" milik Robert.


"Afwan.. Pak Robert salah kirim?", kata Alya sambil buru-buru menghapus kiriman foto alat vital lelaki itu


"Bukan bu.. Itu foto terong saya. Hehehe.. Bagaimana Bu Alya suka? Heheheh"", goda Robert


Alya syok melihat ucapan Robert yang memang sengaja mengirimkan foto itu khusus untuk dirinya. Ia tidak menyangka maksud Pak Robert "terong" adalah penis miliknya. Penilaian Alya seketika berubah ke Pak Robert yang dikiranya pria baik hati. Alya menganggap Pak Robert sudah kurang ajar dan keterlaluan kepadanya.


"Maksud bapak apa? Bapak kurang ajar!", kata Alya marah karena pesan mesum Pak Robert


"Hehehehe.. Sabar bu.. gini, saya kasih tawaran menarik buat Bu Alya. Bu Alya tidak perlu melunasi uang 4juta kemarin. Bu Alya cukup mengirimkan foto vagina dan payudara ibu saja buat saya dan saya anggap lunas. Gimana?", ujar Robert


"Bapak ngawur! Bapak kurang ajar! Saya akan segera melunasi utang saya! Saya menyesal sudah pinjam ke bapak. Ternyata bapak kurang ajar dan mesum!", kata Alya sambil tidak mampu menahan emosinya yang meledak-ledak sambil segera pergi dari rumah Pak Robert dan pulang ke rumahnya


Setibanya dirumah"


Alya berjanji untuk segera melunasi hutangnya ke Pak Robert dan tidak akan menghubungi pria mesum itu lagi setelah urusannya selesai. Alya lalu meraih handphone dan menghubungi suaminya. Ia hendak menceritakan apa yang sudah dilakukan Pak Robert kepada dirinya. Tetapi setelah ia pikirkan matang-matang, ia urungkan niatnya menceritakan kejadian hari ini. Alya tidak mau masalah tidak penting ini mengganggu urusan pekerjaan suaminya dan membuat suaminya tidak bisa fokus ke pekerjaannya.


Karena sudah terlanjur menelepon, Alya kemudian memutuskan membahas hal yang lain saja agar suaminya bisa tetap fokus kerja. Siapa tau ada jalan untuk bisa melunasi hutang ke Pak Robert dengan menghubungi suaminya.


"Halo" Iya ma?", tanya suaminya saat telepon sudah tersambung


"Papa lagi ngapain?", tanya Alya manja


"Biasa nih lagi di mess" baru selesai dari proyek Ma", kata Ragil


"Lancar Pa kerjaannya?", tanya Alya


"Ya gitu deh Ma. Meskipun kerjaan lancar tapi kantor ya masih gini keadaannya. Siaga 1 Ma"", kata suami Alya


"Ya sudah papa banyak-banyak berdoa saja semoga perusahaan papa bisa bangkit", kata Alya


"Iya Ma.. Aamiin..", jawab Ragil


"Oiya Pa, belum gajian ya Pa? Sudah telat 2 bulan nih uang pegangan mama sudah mulai habis", kata Alya


"Belum Ma.. Papa belum tau kapan kantor bisa nyairin gaji karyawannya yang nunggak sudah hampir 3 bulan. Gak tau ini kondisi keuangan perusahaan emang lagi parah-parahnya"", jawab Ragil


"Oh gitu ya Pa" Errr" Ya udah kalau gitu Pa..", kata Alya


"Mama coba pinjem temen atau tetangga aja dulu. Nanti kalau sudah gajian papa pasti bayar. Maaf ya ma jadi bikin susah"", kata Ragil


"Gapapa Pa.. Ya udah mama coba cari pinjaman dulu deh" Ya udah papa tidurnya jangan malam-malam dan jaga kesehatan ya"", kata Alya


"Iya, mama juga ya"", kata Ragil dan mereka pun mengakhiri percakapan


Alya kembali gelisah kebingunan. Ia takut tidak bisa segera melunasi hutang Pak Robert. Bahkan bulan depan pun sepertinya gaji suaminya belum juga cair. Ia bingung bagaimana caranya ia bisa mencari pinjaman untuk melunasi hutang Pak Robert. Alya mulai pesimis tidak bisa menepati janjinya untuk melunasi bulan depan.


Tidak ada teman atau tetangga lainnya yang bisa memberinya pinjaman karena sudah pernah ia coba. Mereka malah menyarankan untuk meminjam ke Pak Robert saja. Kalau tau akhirnya bakalan seperti ini, Alya tentu saja enggan meminjam uang ke Pak Robert.


Pagi harinya Alya mencoba ke pasar, bukan untuk berbelanja. Tetapi ia mencoba mencari pinjaman uang Pak Robert yang sebesar 5juta itu. Alya mencoba mendatangi kios-kios dan toko yang terlihat ramai. Tapi sayangnya tidak ada yang bersedia meminjaminya uang untuk melunasi utangnya. Alya terus berjalan kemari memohon belas kasihan seperti seorang pengemis. Hasilnya nihil dan tetap saja Alya tidak mendapatkan hasil apapun.


Sialnya, saat perjalanan pulang. Alya malah bertemu dengan Pak Robert. Alya mencoba membuang muka ke arah pria cabul itu. Tidak ada lagi rasa kagum kepada Pak Robert yang disangkanya baik saat pertemuan awal mereka. Ternyata benar dugaan awal Alya, Pak Robert ternyata sangat menakutkan sesuai dengan wajahnya yang menyeramkan.


"Pagi Bu Alya, kemana nih pagi-pagi?", kata Pak Robert sambil mengendarai sepeda motor matic 250cc nya


Alya terus membuang muka. Ia muak melihat wajah Robert yang mesum. Tapi Pak Robert tidak berhenti sampai disitu. Lelaki cabul nafsuan itu justru mengingatkan kembali tentang terong besar miliknya ke Alya.


"Gimana Bu Alya terong saya? Besar kan? Katanya Bu Alya suka terong yang besar. Haghaghag", ledek Pak Robert mesum


Muka Alya memerah, andai saja ia tahu pembahasan terong saat itu menjurus ke kemaluan pria, ia tentu tidak akan menanggapi percakapan menjijikkan itu.


"Gimana bu tawaran saya? Bu Alya kan lagi BU. Saya kasih 5juta kemarin secara cuma-cuma asal ibu kirim foto-foto yang saya minta kemarin. Hehehe.. Gampang kok Bu.. Gak susah itu", bujuk Robert


Alya yang sudah kehabisan kesabaran menghentikan langkahnya. Tatapan wajah cantiknya begitu murka memandang wajah mesum Robert yang semakin menyebalkan.


*PLAKKKKKKKKK*, sebuah tamparan keras diarahkan ke pipi Robert.


Wajah Robert yang tadinya tersenyum mesum berubah drastis. Pria itu menahan malu dan emosi yang berkecamuk karena barusan ditampar Alya di tempat umum hingga beberapa orang yang melintas menoleh ke arah mereka. Harga dirinya benar-benar diinjak-injak oleh Alya pagi ini. Rasa kagum kepada wanita cantik berpakaian syari itu perlahan berubah. Ia begitu dendam kepada Alya dan berniat menghancurkan harga diri wanita itu kemudian hari agar tahu rasa.


"Oke.. Gapapa kalau Bu Alya gak mau. Kalau begitu saya tunggu bulan depan Bu Alya lunasi 4juta dari saya. Kalau sampai bulan depan Bu Alya belum bisa bayar tunggu pembalasan saya", kata Robert sambil tersenyum memuakkan sambil menarik gas motor maticnya


Sejak kejadian itu, Pak Robert sama sekali tidak menghubungi Alya. Demikian juga dengan Alya. Ia lebih sibuk mencoba menghubungi sanak saudara dan juga teman-teman kuliahnya dulu, namun hasilnya sama saja. Uang 5juta bukanlah nominal yang sedikit apalagi Alya belum bisa memberi kepastian kapan bisa melunasinya ke mereka. Sampai hari H waktu pelunasan tiba. Robert juga sudah menagih Alya untuk segera melunasi utangnya. Alya sama sekali tidak pegang uang sepeserpun selain uang 1juta yang diberikan Robert secara cuma-cuma. Ia bermaksud mengembalikan uang tersebut karena memang masih utuh dan belum dipakainya.


Alya mendatangi rumah mewah Robert dan kebetulan Robert sedang duduk santai di teras sambil menghisap rokoknya. Pria itu hanya menggunakan singlet dan sarung saja sore itu. Ia tersenyum mendapati Alya sudah berdiri di depan rumahnya.


"Halo Bu Alya, lama tidak berjumpa. Hehehe" Bagaimana sudah terkumpul uangnya?", kata Robert dari kejauhan tanpa mempersilakan Alya masuk ke dalam rumahnya.


Alya menggelengkan wajahnya tertunduk lesu, menahan malu.


"Saya cuma bisa mengembalikan uang bapak sebesar 1juta yang kemarin Pak Robert kasih ke saya", kata Alya


"Lalu sisanya? Bu Alya bisa bayar ngga sekarang ngga?", kata Robert penuh kemenangan


Alya kembali menggeleng pelan


"Kasih saya waktu Pak sampai suami saya terima gaji"", kata Alya lemas


"Kapan gajiannya?", tanya Robert


Alya kembali menggeleng, ia sendiri tidak tahu kapan gaji suaminya bisa dibayarkan.


"Haghaghag.. Gajiannya aja gak jelas gitu. Kantor suaminya mau bangkrut ya Bu? Hahahaha"", ledek Pak Robert


"Tolong kasih saya waktu Pak"", kata Alya memohon


Robert terkesima dengan wajah pasrah Alya yang memohon kepada dirinya. Instingnya mengatakan saat ini adalah saat yang tepat untuk menghancurkan harga diri wanita berjilbab lebar itu dengan kekuatan finansial yang dimilikinya.


"Haghaghag" Saya kasih solusi Bu. Bu Alya silakan masuk", kata Pak Robert sambil membawa masuk Bu Alya ke dalam rumahnya.


Kedua pasangan bukan mahrom itu sudah berduaan di dalam ruang tamu rumah Robert. Wajah Alya terlihat gusar. Ia tahu Pak Robert adalah pria mesum yang tentu saja akan memanfaatkan kondisi kesulitannya saat ini. Ia hanya berharap Pak Robert mau memberi sedikit rasa kasihan kepada dirinya dengan menambah tenggang waktu pembayaran.


"Jadi Bu Alya maunya gimana?"


"Saya mohon kasih saya waktu pak buat bayar semuanya", kata Alya memohon


"Hmm Bu Alya kurang serius nih memohonnya. Coba Bu Alya ulangi sambil cium kaki saya..", kata Pak Robert membuat Alya terkejut karena direndahkan oleh Pak Robert


"Apaa???", Alya tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya


"Berlutut sambil cium kaki saya", ulang Pak Robert


Alya tanpa sadar menitikkan air matanya. Ia tidak tahu mengapa nasibnya bida begitu sial berurusan dengan pria licik seperti Pak Robert. Alya masih ragu untuk melakukan permintaan Pak Robert agar ia berlutut di hadapan pria kaya itu. Alya bingung apakah ia harus rela menurunkan kepalanya dan mencium kaki Pak Robert memohon belas kasihan Pak Robert. Tapi ia sudah tidak punya pilihan lain selain menurunkan harga dirinya sedikit agar diberi tambahan waktu oleh Pak Robert agar bisa melunasi semua hutangnya. Alya kemudian dengan berat hati mulai berlutut dihadapan Robert dan wanita berjilbab panjang itu mulai mencium kaki Robert dengan perlahan.


"Tolong kasih saya waktu pak..", Kata Alya memohon dengan sangat.


"Haghaghag" Bagus Alya. Haghaghag"


Robert tertawa terbahak-bahak menyaksikan istri Ragil itu sedang berlutut sambil mencium kakinya terus-menerus. Alya terlihat hampir menangis saat melakukan permohonan yang menjatuhkan harga dirinya itu. Namun sudah tidak ada lagi cara lain selain menuruti Robert .


"Ini balasan saya Bu karena Bu Alya sudah nampar saya di depan umum. Gimana rasanya? Malu kan? Haghaghag" Merasa dihina kan?", ledek Robert


"Maafkan saya Pak.. Saya tidak bisa kontrol emosi saya kemarin" kasih saya waktu pak.. saya pasti lunasin pak"", pinta Alya merengek


"Tidak semudah itu Bu.. Cium jempol kaki saya dan jilatin pake lidah ibu. Sambil terus memohon! Haghaghag" kata Robert semakin berada diatas angin


Alya semakin merada terhina. Namun apalah daya semua sudah terjadi dan ia hanya berharap Pak Robert mau menuruti permintaannya. Alya mulai menjulurkan lidahnya dan menjilati jempol kaki Robert pelan-pelan. Air mata gadis cantik itu semakin deras membasahi wajahn cantiknya yang dirias secara minimalis.


"Bagus sekali Bu.. Jangan lupa kaki saya satunya Bu..", Kata Robert sambil menyodorkan kaki kirinya dan Alya dengan berat hati kembali menciumi kaki Robert dan ia jilati jempol kaki kiri pria cabul itu.


"Bu Alya ingat soal terong saya?", kata Pak Robert tiba-tiba mengejutkan Alya


Muka Alya kembali memerah"


"I.. Ingat Pak"", Jawab Alya


"Sekarang saya minta Bu Alya enakin terong saya, saya kasih tambahan 3 hari buat Bu Alya bisa lunasi hutangnya? Bagaimana?", ujar Pak Robert


"Eh maksud bapak?", tanya Alya terkejut


"Enakin terong saya sampai crot. Baru saya kasih tambahan waktu 3 hari", kata Robert mesum


"Bagaimana caranya enakin punya bapak?", tanya Alya begitu polos


"****** banget sih kamu Bu.. Bu Alya kan sudah bersuami. Pasti tau lah gimana caranya bikin kontol suami Bu Alya crot. Ayo buruan keburu saya berubah pikiran.


"Eh tapi pak? I.. Iya saya lakukan pak"", jawab Alya panik sebelum Robert benar-benar berubah pikiran tidak memberinya keringanan


Alya kemudian mulai menyingkap sarung Robert. Matanya terbelalak melihat kontol hitam Robert yang jembutnya berantakan itu sedang "tidur pulas". Walau belum bangun, kontol Robert sudah terlihat panjang. Hanya saja memang masih lunak saja dan bentuknya dedikit melengkung


"Jangan diliatin aja. Ayo kocokin dan emutin kontol saya sampe crot", perintah Robert


Alya bingung harus diapakan kemaluan Pak Robert yang sedang "tidur" dihadapannya itu. Apalagi bentuknya sangat menjijikkan. Kontol panjang itu begitu hitam. Walau sedang tidak dalam posisi ngaceng, tapi tetap saja kontol Pak Robert jauh lebih panjang daripada milik suaminya.


Alya kembali kebingungan harus diapakan alat kelamin Pak Robert yang bentuknya mengerikan dan berantakan jembutnya itu. Karena selama ini ia tidak pernah memainkan alat kelamin suaminya. Ia hanya tau agar bisa crot, suaminya harus penetrasi di dalam liang vaginanya. Tentu saja Alya tidak bersedia Pak Robert menyetubuhinya demi bisa membuat penis Pak Robert mengeluarkan sperma.


"Bengong aja kamu Bu. Ayo buruan!", ujar Robert kesal sambil menamparkan batang kontolnya ke wajah Alya


"Sa.. saya tidak tahu caranya Pak"", kata Alya ketakutan


"Aduhhhh begok bener sih jadi istri" Bukannya kamu sudah bisa bikin anak? Masak gak tau cara bikin kontol saya crot?", kata Robert kesal


"Tau pak" Sama suami saya biasanya kami harus bersetubuh agar penis suami saya bisa keluar", jawab Alya panik


"Bu Alya bersedia bersetubuh dengan saya?", goda Pak Robert dan buru-buru Alya menggelengkan kepalanya


"Ya udah biar gak saya entot, bu Alya pakai tangan dan mulut ibu!", kata Robert kesal


"Ehh gimana caranya pak? Saya takut"", tanya Alya semakin membuat Robert kesal


"Gobloknya.. cantik cantik kok ******" Ya udah saya ajarin. Buka mulut ibu!", kata Robert dan Alya pun membuka mulutnya


"yang lebar!", perintah Robert dan Alya membuka mulutnya maksimal


"Bagus! Sekarang Julurin lidah!", perintah Robert dan Alya pun menjulurkan lidahnya sesuai perintah Robert


"Bilang guk!"


"Guk!", jawab Alya membuat Robert tertawa terpingkal-pingkal


"Hahahah.. Begoookkk" Jadi anjing mau ya bu? Haghaghag" Ya udah saya ajarin. Inget baik-baik cara nyepong kontol biar kamu semakin pintar", kata Robert sambil mulai memegangi kepala Alya


"Cium kontol saya bu"", kata Robert sambil mendorong kepala Alya agar lebih dekat ke alat kelaminnya


Terlihat Alya sedikit melawan dan menahan kepalanya karena takut. Alat kelamin Robert begitu dekat dengan wajahnya. Aroma jembut Robert yang sedikit pesing juga membuat Alya semakin tidak tahan. Tapi Robert terus memaksa hingga bibir Alya mulai menyentuh batang hitam kontol Robert yang masih "belum bangun dari tidurnya".


"Buka mulutmu Bu! Masukkan kontol saya ke mulut Ibu. Bayangkan mulut ibu adalah lubang memek dan kontol saya menghajar kontol ibu", perintah Robert


"Eh?? Apaaa??? Jijik saya tidak mau"", kata Alya kembali memberontak karena Alya benar-benar takut kontol Robert yang biasa dipakai kencing itu harus masuk ke dalam mulutnya


"Begoookk.. Kamu mau saya kasih keringanan gak?? Hah??", ancam Robert hingga akhirnya Alya kembali menghentikan perlawanannya.


Dengan menahan malu dan menahan nafas, Alya perlahan memasukkan batang kontol Robert. Terasa hangat betul rongga mulut Alya. Robert mendesah keenakan saat kontolnya mulai dibikin enak oleh perempuan berjilbab itu. Alya merasakan rasa mual yang menyiksa saat kontol panjang Robert sudah masuk di dalam mulutnya. Bagaimana ia tidak merasa jijik, karena jembut Robert yang lebat dan berantakan aromanya sungguh tidak sedap dan menyiksa hidungnya.


"Sekarang kepala Bu Alya kayak gini", kata Pak Robert sambil memegangi kepala Alya


Tangan Robert mulai mendorong dan mengarahkan kepala Alya agar mulutnya mengulum batang penisnya. Alya kembali semakin tersiksa karena alat kelamin tetangganya itu sudah memenuhi rongga mulutnya. Perlahan kontol Robert memang semakin membesar dan memenuhi mulut Alya


"Bagus" Awas jangan sampai kena gigi bu"", kata Robert sambil terus mendorong maju mundur kepala Alya agar terus mengulum penisnya


Robert mulai mendesah perlahan. Ia mencoba menikmati sepongan Alya yang masih terasa amatiran. Butuh kesabaran memang melatih wanita alim seperti Alya. Tidak seperti ibu-ibu lainnya yang dengan rakus melahap batang kontolnya yang besar mengagumkan tanpa rasa malu-malu


"Aaahhh.. Bagus Bu Alya.. Terus.. Sekarang saya lepas tangan saya dan ibu gerakkan kepalanya sendiri mengulum kontol saya. Awas kalau kena gigi!", kata Robert


Alya mulai menggerakkan kepalanya sendiri menyepong kontol Pak Robert dan berharap kontol Robert segera ejakulasi dan ini semua bisa selesai. Gerakannya sangat tidak beraturan. Alya terlihat sangat terburu-buru sehingga membuat Robert tidak begitu menikmati sepongan Alya


"Santai dong Bu.. Pelan-pelan aja. Bu Alya nikmatin saja kontol saya sepuasnya. Haghaghag", ujar Pak Robert menggoda Alya


1 jam sudah ia mengulum dengan gerakan asal, kontol Robert tak juga ada tanda-tanda ingin keluar. Ternyata tidak semudah yang Alya bayangkan. Alya memang tidak mahir memuaskan kontol dengan mulutnya karena ini adalah pengalaman pertamanya. Suaminya saja tidak pernah ia layani seperti ini.


"Susah ya Bu?"


"Iya pak" Punya Pak Robert ngga keluar-keluar", jawab Alya sambil sesekali ia jilat kepala kontol Robert


"Mau saya kasih saran?"


"Apa itu pak?"


"Kasih liat tetek Bu Alya saya pasti makin ngaceng berat" Haghaghaghag", goda Robert


"Eh tapi pak? Saya malu pak"", jawab Alya


"Kenapa harus malu Bu? Orang yang liat cuma saya kok" Buka gih tetelnya!", bujuk Robert


"Errrr.. Malu saya pak"", jawab Alya


"Yaudah terserah Bu Alya saja. Saya cuma kasih saran biar peju saya bisa keluar"


Alya terus berusaha dan sayangnya tetap saja kontol Robert tidak ada tanda-tanda akan segera ejakulasi. Bahkan Robert sampai menguap karena mulai bosan dan itu membuat Alya semakin panik.


"Pak"", kata Alya lirih


"Ya bu?", jawab Pak Robert


"Saya buka payudara saya tapi bapak janji harus dikeluarin spermanya", kata Alya


"Haghaghag" Tergantung tetek Bu Alya. Bisa buat kontol saya ngaceng berat gak"", kata Robert santai


Tanpa membuang waktu, Alya mulai melepas resleting gamisnya. Rasa malu coba ia buang jauh-jauh. Yang ada dipikirannya hanya satu yaitu bagaimana caranya agar Robert bisa segera ejakulasi dan ini semua bisa segera selesai. Setelah itu, branya juga ia turunkan. Agak susah memang karena tali BH Alya masih tersangkut dipundaknya dan Alya harus mengatur sedemikian rupa agar cup BHnya bisa terlepas dari salah satu payudaranya. Setelah terlepas Alya kemudian mengeluarkan salah satu payudaranya dari resleting gamisnya yang terbuka.


"Ini Pak punya saya...", kata Alya sambil tertunduk malu menunjukkan payudaranya


"Apaan tuh kurang lebar bukanya. Buka lebih lebar lagi Bu sampai keluar semua tetek ibu", ujar Alya sambil menatap mesum payudara Alya


Alya menghela nafas kesal. Sudah dikasih liat area pribadinya, Robert masih saja meminta lebih. Alya kemudian menurunkan sedikit gamis bagian pundaknya sehingga pundak mulusnya terekspose. Dengan posisi pakaian seperti itu, Alya lebih leluasa mengeluarkan salah satu payudaranya dan ia tunjukkan ke Robert. Terlihat Robert menelan ludah memandang payudara Alya yang bentuknya sempurna dan pas digenggam itu.


Puting Alya berwarna cokelat muda dan sama sekali tidak kendor, sehingga payudara Alya tidak kalah jika dibandingkan dengan gadis-gadis yang usianya masih 20 tahun. Alya menundukkan wajahnya menahan malu. Pertama kali ia perlihatkan aset penting tubuhnya selain kepada suami halalnya.


"Bagus banget tetekmu bu Alya" Hehehe pentilnya kayak pentil abg" kata Robert sambil memegang dan memencet pentil Alya


"Eh jangan dipegang Pak"", pinta Alya


"Mubadzir liat tetek indah kayak gini gak dipegang hehehe"", kata Robert sambil kembali memelintiri pentil susu Alya sambil sesekali diremasnya dengan kasar


Akya hanya bisa pasrah payudara kirinya dimainkan oleh Robert. Ia tidak bisa banyak protes sambil terus berharap pria mesum itu semakin sange sehingga bisa segera ejakulasi. Dirangsang seperti itu lama-lama tubuh Alya yang justru merasa terangsang. Sekujur tubuhnya terasa semakin gerah karena tangan Robert terus meremas payudara dan memelintiri pentil susunya. Tanpa sadar Alya semakin semangat mengulum kontol Robert dan terlihat ia mulai menikmati permainan itu.


"Aaahhh" Bagus Bu" Terus Bu Alyaa.. Aaaahhh.. Gak sia-sia kan Bu Alya buka tetek.. Haghaghah.. Nih pentilmu sampai ngaceng gini", kata Robert sambil menarik pentil susu Alya hingga molor


"Aaaaaahhhhh.. Sakit pak..", lenguh Alya


"Haghaghag.. Saya gemes liat pentil Bu Alya", kata Robert


Alya terus fokus mengulum batang kontol Robert dengan bantuan kocokan jemari lentiknya. Tangan Alya semakin lihai mengocok kontol Robert. Begitu juga mulutnya yang juga semakin mahir mengulum kontol pria berbadan besar itu. Sesekali Alya menjilati batang berbentuk seperti jamur itu dari bawah ke atas dengan lahap seolah sedang menjilati Es krim, sebelum kembali ia masukkan seutuhnya kelamin Robert ke mulutnya.


"Ohhh" Saya keluar buuu" Oohhhh.. Ouhhhh..", kata Robert sambil ia rasakan kontolnya mulai kedutan di rangsang oleh Alya


Robert yang sudah tidak tahan ingin ejakulasi buru-buru mencabut batang kemaluannya dari mulut Alya. Tidak lama kemudian kontol berurat itu memuncratkan spermanya lumayan banyak, hingga mengenai wajah Alya. Alya yang belum siap begitu terkejut wajahnya tiba-tiba dimuncrati sperma Robert yang kental dan hangat.


"Pak kok ditumpahin ke wajah saya?", protes Alya


"Terus Bu Alya maunya saya tumpahin kemana? Ke mulut ibu?", ledek Robert


Tiba-tiba pikiran Alya merespon ucapan Robert dengan membayangkan dirinya menelan sperma menjijikkan itu. Ia bayangkan dengan jelas cairan kental hangat beraroma menyengat itu perlahan masuk melewati tenggorokannya. Membayangkan hal itu, membuat Alya ingin muntah saja dan ia buru menggelengkan kepalanya agar pikiran menjijikkan itu bisa ia sudahi.


"Hahaha.. Bagus bu.. Hampir 2 jam Bu Alya sepongin terong saya. Kayaknya memang Bu Alya suka ya sama terong besar kayak punya saya. Hahahah"", ledek Robert dan akhirnya Alya pun diberi tenggang waktu 3 hari untuk melunasi hutangnya


3 hari berselang,

Ternyata gaji suaminya belum juga bisa dicairkan. Alya mendatangi rumah Robert kembali dengan tangan hampa sambil berharap pria kaya itu kembali memberinya sedikit waktu. Alya sudah pasrah jika Robert akan mengerjainya lagi. Karena di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Alya juga penasaran mengapa ia justru merasakan hal yang ia sendiri bingung mendefinisikannya. Perpaduan rasa antara rasa kesal, malu, jijik, marah, dan juga dilecehkan harga dirinya benar-benar menimbulkan rasa baru yang sulit dijelaskan. Mengapa ia malah bisa seterangsang itu saat Pak Robert memintanya melakukan hal gila. Perasaan sangat terangsang itulah yang tidak pernah ia rasakan saat melayani suami sahnya sendiri.


Ternyata di rumah Pak Robert sedang ada Mang Ujang yang juga baru saja bayar utang. Mata Mang Ujang terbelalak menyadari Alya, mama Echa pujaan hatinya yang tiba-tiba datang ke rumah Pak Robertq


"Sudah ada uangnya Bu Alya?"


Alya menggeleng lemah, ia malu karena Mang Ujang si penjual nasi goreng perumahannya jadi tahu ia meminjam uang ke Pak Robert


"Aduh gimana sih kok Bu Alya kok ga bisa nepatin janji gini ya? Saya lama-lama tidak percaya sama ibu kalau gini caranya"", kata Pak Robert


"Afwan pak.. Saya memang betul-betul tidak punya uang", kata Alya


"Ya karena Bu Alya gak ada niat bayar utangnya. Nih liat Ujang, walau cuma jualan nasgor dia bisa tepat waktu bayar utangnya. Coba Jang, kamu kasih tips ke Bu Alya gimana caranya biar bisa bayar utang sesuai waktu yang sudah disepekati?", kata Pak Robert


"Eh ya kalau saya" Jualannya saya giatin Pak.. berangkat lebih awal dan pulang lebih malam yang penting dagangan nasi goreng saya bisa habis", jawab Mang Ujang


"Tuh denger kan Bu. Jualannya lebih giat! Paham Bu?", kata Robert


"I.. Iya" tapi saya bukan pedagang Pak.. Pendapatan saya cuma dari gaji bulanan suami saya", elak Alya


"Ya kamu harus inisiatif jualan kalau gitu. Yasudah sekarang gimana caranya biar kamu bisa segera lunasi utang ke saya?", tantang Pak Robert


"Errr..", Alya sendiri bingung menjawabnya karena ia juga tidak tahu bagaimana caranya melunasi utangnya


"kamu saya hukum aja ya Bu biar kapok?", kata Pak Robert lagi


"Eh dihukum pak? Hukuman apa?", tanya Alya terkejut


"Bukan saya yang hukum tapi si Ujang yang hukum Bu Alya", kata Robert tersenyum sinis


"Hah?", seketika tubuh Alya lemas


"Eh kenapa saya Pak?", tanya Ujang kebingungan juga


"Hadiah karena kamu selalu bayar utang tepat waktu. Hukuman buat Alya karena bayar Utang telat melulu", kata Pak Robert


"Cakep"", jawab Mang Ujang dan Alya hanya menatap tajam ke arah Mang Ujang karena malah menjawab perkataan Pak Robert seolah sedang berpantun.


"Ambil sandalmu Jang!", kata Pak Robert dan tanpa banyak bertanya Mang Ujang buru-buru mengambil sandal jepit lusuhnya yang tadi ia letakkan diteras rumah Robert


"Ini Pak.. Sandal saya buat apa ya pak?", tanya Mang Ujang kebingungan


"Haghaghag" Buat nabokin pantat Bu Alya!", kata Pak Robert


"Apa????", kata Bu Alya tidak percaya


"Ga usah "apa apa".. Sekarang buka pantat Bu Alya Jang!", perintah Robert


"Eh gapapa beneran Pak?", tanya Ujang karena tidak enak hati karena bagaimanapun Alya adalah mamanya Echa


"Gapapa biar Bu Alya kapok!", kata Pak Robert


"Tapi Pak!!! Saya malu!!!", protes Alya


"Alaaahhh.. Harusnya kamu itu malunya sama Ujang karena dia cuma jualan nasgor tapi bisa bayar utang tanpa telat. Gak kayak kamu Bu kebanyakan alasan!"


"Eh tapi pak""


"Gak usah tapi-tapian. Ayo Jang tabok pantat Bu Alya pakai sandalmu", perintah Robert sambil memegangi Alya


Mang Ujang tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Pak Robert. Pantat Alya yang masih terbungkus gamis itu jadi target utama hukuman hari ini.


"Maaf ya bu..", kata Mang Ujang dan mengarahkan pukulannya ke pantat Alya


*Plok*, Ujang menampar pelan pantat Alya


"Apaan tuh mukul kok kayak gitu. Yang kenceng Jang! Jangan kasih ampun!", perintah Robert


"Eh tapi Bu Alya nanti kesakitan pak", kata Mang Ujang merasa bersalah


"Gapapa! Kalau gak gitu gak kapok dia! Ayo pukul yang kenceng nih bokong!", jawab Robert sambil meremasi kedua bongkahan pantat Alya. Mang Ujang menelan ludah melihat tangan hitam Pak Robert dengan leluasa meremas-remas bokong mama Echa.


"Maaf Ya bu"", kata Mang Ujang sambil memasang kuda-kuda melayangkan pukulan sandalnya ke bokong Alya


*Plakkkk!* Sebuah tamparan sandal mendarat di pantat Alya cukup keras


"Aahh..", Alya mendesah kesakitan


Suara desahan Alya begitu menggoda dan menaikkan nafsu birahi Robert dan Mang Ujang. Ujang kali ini menampar pantat Alya lebih keras lagi


*Plaaaakkk!*


"Aaahh.. Sakitt..", rengek Alya


"Lagi Jang! Jangan kasih ampun! Tampar bokong Bu Alya sesukamu!", kata Pak Robert sambil mengatur posisi tubuh Alya agar lebih menungging


"Iya pak..", jawab Mang Ujang mulai menikmati menghukum Alya


*Plak plak plak plak* kali ini Mang Ujang menabok pantat Alya berkali-kali dan ia mulai menikmatinya karena ditiap tabokannya, Alya juga mendesah merdu


"Aaaahhh.. Aaahh.. Mang.. Ampunn.. Sakit Mang"", desah Alya


Lalu Robert menyuruh Alya posisi menungging di lantai dan meminta Alya mengangkat tinggi-tinggi bokongnya agar Ujang lebih leluasa menghajar pantat menggemaskan itu. Ujang semakin terbelalak matanya dan menelan ludah dalam-dalam. Bokong Alya yang sedang menungging sangatlah sexy dibalut dengan gamis yang dipakainya. Samar-samar cetakan garis celana dalam Alya juga terlihat membuat Ujang semakin bersemangat menampari pantat Alya dengan sandal jepitnya.


"Plakkk plakkk plakkk plakkk", tabokan demi tabokan diarahkan terus ke kedua bongkahan pantat Alya yang masih menungging.


"Aaahh.. Ampun Pak.. Sudahh.. Saya minta maaf pak.. Aaahhh", kata Alya semakin kesakitan.


Bukannya mendengarkan ucapan Alya, Robert malah menyingkap rok gamis Alya hingga celana dalam wanita berkerudung lebar itu terbuka dihadapan Mang Ujang. Sungguh pemandangan yang sangat sexy bagi Mang Ujang. Kontol penjual nasgor itu semakin ngaceng melihat bongkahan pantat Alya yang terbungkus celana dalam berwarna cokelat muda yang menggoda terlihat begitu kenyal.


"Hajar lagi Mang! Arahin pas di sempaknya!", kata Robert


"Siap pak!", ujar Mang Ujang sambil terus menghajar bokong Alya dengan sandal jepitnya


"Pluakkk pluakk pluakkk pluaakkk"


Mang Ujang semakin kesetanan menabok pantat mamanya Echa yang sangat sexy itu dengan tenaga maksimal. Alya semakin merintih kesakitan. Rasanya, bongkohan pantatnya mulai terada perih dan panas


"Boleh saya pelorot Pak sempak Bu Alya?", kata Mang Ujang


"Boleh Jang. Turunin sempaknya Jang", kata Pak Robert


Tanpa membuang waktu Mang Ujang tanpa rasa sungkan-sungkan mulai menurunkan celana dalam Alya tanpa permisi hingga tergantung di kedua lututnya. Pak Robert dan Mang Ujang menelan ludah bersamaan melihat keindahan pantat Alya yang sudah telanjang tak tertutup kain itu. Alya berusaha menutupi pantatnya dengan kedua tangannya namun Mang Ujang dengan kasar malah menaboki tangan Alya dengan sandal agar tidak menghalangi pemandangan indah yang tersaji disana


"Sexy bener ini pantat", kata Mang Ujang sambil meremasi pantat Alya yang sudah telanjang. Alya hanya bisa pasrah saat tangan Mang Ujang meremasi pantatnya. Sesekali Pak Robert juga menggerayangi pantat Alya sambil tertawa meledek.


"Gimana Bu rasanya pantat Bu Alya di remasi Mang Ujang penjual nasi goreng langganan Bu Alya? Haghaghag", ledek Mang Ujang


"Sudah ampun Mang.. Pak Robert sudah"", pinta Alya namun pastinya permintaan itu tidak digubris


"Bu Alya suka kan dilecehin? Haghaghaghag" Memek ibu sampai netes-netes", kata Pak Robert melihat lendir Alya malah tumpah dengab deras saat ia dicabuli


Alya menahan malu dan mengutuk dirinya sendiri. Disaat seharusnya ia menjaga harga dirinya sebagai seorang wanita alim nan terjaga. Tubuhnya malah begitu jujur mengakui kalau ia menikmati diperlakukan seperti ini


"Hajar Jang! Jangan kamu enakin nih lonte"


"iya pak" Maaf saya jadi sange Pak", kata Mang Ujang kali ini sambil ia gunakan kedua sandalnya bergantian untuk menampar kedua pantat Alya yang masih menungging telanjang. Kini pantat Alya saat ini menjadi samsak tinju bagi Mang Ujang karena terus ditaboki dengab kasar


*Pluaakkk plakkkkk Ceplassss ceplessssss Duakkkk duakkkk ceplasss* tabokan Mang Ujang semakin membabi buta di pantat telanjang Alya


"Aaahhh.. Ampunn.. Aaahhhh.. Aaahhhh" Mang sakit"", lenguh Alya kesakitan


Namun erangan kesakitan itu justru membuat Mang Ujang semakin bersemangat memukuli pantat Alya dengan sandal japitnya. Bahkan sesekali tangan Mang Ujang sengaja menampar kemaluan Alya yang sedikit mengintipdengan sandal jepitnya


"Aahhh.. sakit jangan disitu Mang.. Ampunnn Mangg.. Aaaahhhh..", kata Alya sambil menggoyangkan pantatnya dengan sexy seolah menantang agar terus dihajar


"Sialan ini lonte malah goyangin bokong nantangin", kata Pak Robert kesal melihat Alya yang sudah terhina martabatnya itu di mata si penjual nasi goreng


Terlihat pantat Alya mulai memerah dan terasa panas karena sudah ratus kali ditabok Mang Ujang dengan sandalnya. Tapi bukan itu fokus Mang Ujang saat ini. Tatapan mata Mang Ujang tertuju pada area selangkangan Alya yang ditumbuhi bulu-bulu jembut tipis yang meneteskan lendir kemaluannya


"Memek Bu Alya malah banjir Pak"", kata Mang Ujang sambil melebarkan kaki Alya menunjukkan kemaluan Alya ke Robert


"Haghaghag.. Dia emang lonte sialan Jang. Semakin disakitin semakin becek memeknya", ledek pak Robert


"Terus gimana Pak?"


"Gapapa terus lakukan apapun yang kamu mau Jang!", kata Robert


"Iya Pak.. Kalau dientot boleh gak pak? Saya sange berat pak"", ujar Mang Ujang


"Enak aja! Saya aja belum pernah. Haghaghag"", kata Pak Robert


"Oh maaf Pak.. Saya kira sudah pernah dientot Pak Robert"


"Belum, saya mau permalukan Bu Alya dulu sampai puas. Kamu terus nungging Bu. Jangan merubah posisi sampai saya suruh berhenti nungging", kata Pak Robert


*Plak plak plak plak plak plak plak plak*


Dalam posisi terus menungging, pantat Alya terus ditabok sandal Mang Ujang. Warna pantat putih mulus Alya sudah semakin berubah menjadi kemerahan. Alya hanya memejamkan matanya pasrah membiarkan pantatnya menjadi samsak sandal jepit Mang Ujang.


Mang Ujang yang sudah tidak tahan mulai menarik lepas celana dalam Bu Alya yang dari tergantung di lututnya. Pemuda penjual nasi goreng itu kemudian mulai onani dengan menciumi celana dalam Alya. Alya terbelalak matanya menyadari Mang Ujang sedang asyik menghirup aroma khas kemaluannya yang masih tertempel di celana dalamnya.


"Kamu mau beli sempak Bu Alya Jang?", tanya Robert melihat Mang Ujang begitu tertarik dengan celana bekas pakai Alya


"Boleh saya beli pak? Berapaan?"


"Buat kamu 5000 aja Jang. Sama BHnya ambil semua 10ribu"", kata Robert


"Ya udah saya beli sekalian BHnya pak", kata Mang Ujang sambil merogoh dompetnya


"Kamu bisa lepas BHnya Bu Alya?"


"Bisa pak""


Alya hanya bisa pasrah membiarkan Mang Ujang menyibak gamisnya keatas hingga punggung dan melepas pengait branya. Dalam sekali tarikan, BH Alya dilucuti sehingga payudara ranum Alya kali ini tergantung bebas dibalik gamis syarinya. Mang Ujang kemudian mulai menciumi bra dan sempak yang baru saja dipakai Alya. Tentu saja aroma tubuh wanita cantik berjilbab itu masih melekat di kedua kain yang kini jadi milik Mang Ujang.


"Wangi sekali bu. Hehehehe..", Ujar Mang Ujang dan Alya hanya tersipu malu melihat Mang Ujang terus menciumi sepasang pakaian dalamnya


Penjual nasgor itu kemudian onani sambil membungkus batang kontolnya dengan sempak Alya . Seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru, Mang Ujang terlihat sangat gembira. Ia terus mengocok kontolnya sambil terus memandangi tubuh Alya yang masih menungging karena Robert melarang Alya merubah posisi berdirinya.


"Aarrrggghhhh ", tiba-tiba Mang Ujang mengerang kencang


"Saya crotin ke bokongnya bu Alya boleh ya pak?", kata Mang Ujang


"Boleh Jang"


"Terima kasih Pak Robert", kata Mang Ujang sambil berjalan mendekati Alya yang masih menungging di lantai


*Crot crot crot* Mang Ujang pun ejakulasi dengan batang kontol yang masih dibungkus sempak milik Alya.


Celana dalam Alya jadi kotor sebagian karena terkena tetesan sperma Mang Ujang. Sementara itu bokong telanjang Alya disemprot dengan sperma Mang Ujang. Cukup banyak lendir kental pemuda itu karena tubuh Alya memang membuat bergairah siapapun yang memandangnya.


"Lihat Bu.. Sempak baumu saja bisa laku dan Mang Ujang sangat menikmatinya bisa coli pake sempakmu haghaghag", kata Pak Robert sambil melempar celana dalam Alya yang sudah belepotan sperma Mang Ujang ke muka wanita cantik itu.


Alya hanya mengangguk lemah menyadari pakaian dalamnya sudah dibeli Mang Ujang seharga 10ribu dan kini sudah tidak layak pakai. Jadi Alta tidak ada niat sedikit pun untuk mempertahankan celana dalam juga bra nya.


"Jangan lupa bilang terima kasih Bu Mang Ujang", perintah Pak Robert


"Terima kasih Mang Ujang", ujar Alya lirih


Setelah Mang Ujang Puas ia pun pamit dan pulang dari Pak Robert, demikian juga dengan Alya. Ia dipersilakan pulang oleh Pak Robert karena Pak Robert juga sudah cukup puas mempermalukan Alya di depan Mang Ujang tadi. Kini sosok Alya yang di mata Mang Ujang dulunya begitu alim, sekarang terlihat hina


Malam harinya, Alya gelisah memikirkan apa yang terjadi dengan dirinya. Mengapa ia bisa seterangsang seperti tadi saat aurat yang selama ini ia jaga dilihat oleh Pak Robert dan Mang Ujang. Perlakuan kasar Mang Ujang ke pantat dan juga sedikit vaginanya juga masih ia rasakan hingga saat ini. Tangan Mang Ujang yang begitu ringannya menghajar pantat Alya begitu membuat vaginanya gatal. Sensasinya begitu luar biasa dan terasa sangar bagi Alya yang kesehariannya selalu menutup auratnya.


"Pak Robert"", sebuah pesan WA ia kirimkan ke pria cabul itu


"Ya?", jawab Pak Robert singkat


"Afwan penawaran yang kemarin apa masih berlaku?", tanya Alya


"Penawaran apa ya bu?", tanya Pak Robert


"Anu.. Kirim foto payudara dan vagina saya ke Pak Robert dan hutang saya dilunasi"", ketik Alya penuh berharap


"Oh itu.. Maaf sudah gak berlaku bu"", kata Pak Robert


Alya kecewa membaca jawaban Pak Robert. Ia menyesal kemarin kesempatan itu tidak dimanfaatkannya. Ia terlalu sok menjaga harga diri, tanpa menyadari kemampuan finansialnya. Andai saja saat itu ia bersedia, seharusnya saat ini ia sudah terbebas dari utang Pak Robert. Tapi Alya terus mencoba memutar otaknya dan siapa tahu Pak Robert mau merubah keputusannya. ia tidak mau kecolongan kali ini. Ada kesempatan sedikit, ia akan ambil kesempatan itu.


"Anu Pak.. Kira-kira apa yang bisa saya lakukan untuk melunasi hutang saya"", kata Alya memohon


"Hmmm belajar dari Mang Ujang Bu"", jawab Pak Robert


"Maksud bapak dengan cara jualan? Jualan apa pak?"


"Bebas. Jual sesuatu yang paling berharga milikmu Bu Alya", saran Robert


"Apa itu pak?", tanya Alya masih lugu


"Jual diri bu."


"Bapak mau saya jual diri? Emangnya laku ya pak" Secara saya sudah hampir 40an" Mana ada yang mau sama saya"


"Saya sanggup bayar mahal tubuhmu Bu Alya, kamu meremahkan selera saya"


"Afwan.. Saya tidak ada niatan meremehkan Pak Robert. Bapak bisa beli saya berapa?", tanya Alya semakin excited


Tidak pernah ia membayangkan ada wanita yang kesehariannya berpakaian alim dan syari ternyata jual diri. Membayangkan hal itu, justru setan semakin menggoda pikiran Alya. Alya sudah pesimis dan tidak ada cara lain selain menawarkan tubuhnya ke pria kaya raya itu.


"Untuk yang modelan shalihah seperti kamu, Saya rasa 40juta harga yang pantas bu", ujar Pak Robert


"Eh semahal itu?", tanya Alya tidak percaya harga dirinya bisa semahal itu dimata Pak Robert


"Kamu kira berapa harha yang pantas buat tubuhmu?"


"Saya kira 200ribuan pak"", jawab Alya dengan polosnya


"******. Itu mah harga lonte yang suka mangkal di terminal. Haghaghag", ledek Pak Robert


"Saya kan ga tau pak" Tapi bapak beneran mau hargai saya segitu?", tanya Alya memastikan


"Kenapa? Kamu gak percaya? Sudah saya bilang. Sebenarnya mudah saja cari duit apalagi wanita cantik seperti kamu. Asal kamu mau aja", kata Pak Robert


"Yasudah saya bersedia Pak""


"Bersedia apa?"


"Anu" Jual diri""


"Haghaghag" Bagus gitu dong"


"Tapi 1x aja ya pak""


"Terserah kamu Bu.. Kan Bu Alya yang jual diri. Saya cuma pembeli", kata Pak Robert


"Iya Pak 1x aja. 40juta beneran ya?", kata Alya memastikan lagi karena ia tidak percaya semalam saja ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu


"Iya, besok saya tunggu jam 6 sore di rumah saya""


"Iya Pak, tapi rahasia ya Pak. Jangan sampai ada yang tau", pinta Alya


"Haghaghag"."


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 18 : Flashback Alya (Part 2)


Beberapa orang di ruangan itu tercengang dengan permulaan cerita Alya. Sosok Alya yang gaya berbusana layaknya wanita shalihah, tapi tingkat kenakalannya sudah seperti seorang pelacur. Alya yang tadinya dianggap alim, kini langsung dipandang murahan oleh para pria berdasi disana. Ironisnya, Alya melakukan kenakalannya hanya karena tidak bisa membayar utang sebesar 4juta saja. Nominal yang bagi mereka seharusnya amatlah kecil.


Tatapan mereka tiba-tiba begitu bernafsu memandangi sosok wanita bergamis syari itu. Wajahnya mencerminkan wanita baik-baik dan begitu anggun, tidak terlihat sama sekali ia adalah seorang wanita murahan. Gaya berbusananya layaknya wanita alim nan terjaga. Menutup dari atas hingga bawah dan hanya memperlihatkan wajah dan telapak tangannya. Mendengar cerita Alya, seluruh pria disana ingin sekali menerkam Alya. Namun sayang, tuan Hong belum memberi aba-aba sehingga mereka hanya bisa menahan birahi sana


"Menarik sekali Alya.. Tidak kusangka semua berawal dari masalah ekonomi. Heheheh"", ujar tuan Hong


"Iya Tuan.. Saya bingung harus bagaimana saat itu"", ujar Alya sambil tertunduk


"Bagaimana perasaanmu setelah mengulum kontol Robert?"


"Awalnya saya jijik tuan" Karena itu pertama kali bagi saya memasukkan kemaluan pria ke mulut. Apalagi punya Pak Robert begitu hitam dan bentuknya seram..", jawab Alya tersipu


"Oiya? Kamu tidak pernah mengulum punya suamimu?", tanya Tuan Hong terkejut


Alya menggeleng lemah. Semua mata menatap tak percaya, dikiranya wanita bersuami seperti dirinya pasti pernah melakukan oral sex. Namun ternyata, Alya justru melakukan oral sex pertama kali dengan sosok pria berbadan besar berkulit hitam dari timur. Terbayang bagaimana menderitanya Alya saat dijejeli kontol hitam besar Robert. Membayangkan hal itu bukannya mereka kasihan, mereka malah semakin sange melihat Alya.


"Saya punya keyakinan kalau mengulum penis itu bertentangan dengan ajaran keimanan saya Tuan.. Suami saya pun paham akan hal itu sehingga dia tidak pernah meminta saya mengulum penisnya", lanjut Alya


Tuan Hong kini yang mengangguk-angguk mendengar penjelasan Alya. Memang ia pernah mendengar hal itu. Ia tak menyangka Alya salah satu wanita yang menganut keyakinan itu, mengingat betapa binal dan nakalnya kisah perjalanan kehidupan sexnya dari cerita Robert.


"Berarti kamu merasa mengulum kontol Robert adalah perbuatan dosa?", tanya Tuan Hong


Alya mengangguk lemah


"Iya pastinya Tuan""


"Kamu menyesal?"


Alya diam sejenak, ia mencoba mengingat-ingat kejadian demi kejadian yang sudah lumayan lama kejadiannya itu. Seperti sedang menyusun sebuah puzzle yang berserakan, Alya mencoba mengingat-ingat apa yang ia rasakan saat itu


"Awalnya saya memang merasa berdosa tuan dan berjanji tidak mau mengulanginya. Saya berusaha melupakan kejadian itu namun tidak bisa. Jujur saja, semakin saya berusaha melupakan, saya justru malah sering memikirkannya. sejak malam itu saya malah kepikiran penis Pak Robert dan saya juga sempat menyesal sudah menghapus foto kontol Pak Robert dari HP saya saat itu"", jawab Alya tersipu malu


"Hahahahaha" Semua pria disana tertawa mendengar kejujuran Alya"


"Pasti foto kontol si Robert mau dijadikan bahan colmek ya mbak?", celetuk pria lainnya disambut gelak tawa yang terdengar memenuhi ruangan


Tuan Hong memberikan aba-aba agar semua lelaki disana diam dan tidak banyak berkomentar. Seketika ruangan kembali hening, sepertinya Tuan Hong memang orang paling disegani di dalam ruangan besar dengan furniture mewahnya itu.


"Terus setelah mengulum kontol Robert, apakah kamu juga berpikir untuk mengulum titit suamimu?", tanya Tuan Hong


Alya menggeleng buru-buru"


"Jujur saya akui, saya tidak pernah berpikir sama sekali untuk mengulum penis suami saya tuan. Sampai dengan detik ini.."


"Hahahah.. Kasihan suamimu. Istrinya malah suka sepong kontol laki lain, sedangkan dia sendiri gak pernah merasakannya", ledek Tuan Hong disambut tawa orang-orang disana


Entah apa yang mereka tertawakan. Apakah mereka menertawakan nasib suami Alya, ataukah mereka sedang menertawakan Alya yang ternyata adalah seorang istri yang kurang ajar. Pasti semua pria disana mengira Alya adalah istri yang tidak baik. Dengan suami sendiri ia mengharamkan, tetapi dengan Pak Robert, Alya justru menghalalkan perbuatannya.


"Apa yang akhirnya membuatmu mau mengulum kontol Robert bahkan sampai dia crot?", tanya Tuan Hong


"Saya sendiri tidak yakin Tuan" Tapi kalau tidak salah ingat, Saya merasa tidak punya pilihan lain. Walau saya akui bentuknya mengerikan dan membuat saya takut, entah kenapa saya akhirnya mau mengulum penis Pak Robert terus-terusan.. Saya malah merasa tertantang", jawab Alya tersipu


"Tertantang maksud kamu?", tanya Tuan Hong


"Errr" Saya bingung jelasinnya Tuan. Yang jelas saya malah merasa ingin memuaskan Pak Robert saat itu. Mungkin naluriah kewanitaan saya yang ingin memuaskan lelaki", jawab Alya


"Rasanya bangga ya kalau bisa bikin Pak Robert crot? Hahahah"", kata Tuan Hong


"I..Iya kurang lebih seperti itu tuan""


"Parah kamu Alya. Istri macam apa kamu yang enggan menyepong punya suami sendiri tapi malah menyepong kontol pria lain. Hahahah""


"Iya, saya merasa bersalah kepada suami saya. Saya malah takut dia curiga ke saya kalau saya tiba-tiba mau kulum punya suami saya tuan", jawab Alya


"Hahaha" Alasan aja kamu Alya. Bilang saja titit suamimu memang sudah tidak menarik lagi dimatamu", ledek Robert


Alya terdiam membisu. Sepertinya benar apa yang baru saja dikatakan Tuan Hong. Saat ini, ia sudah tidak bergairah lagi melayani suaminya. Setelah berbagai macam hal gila sudah ia lakukan. Setelah kemaluannya sudah menerima hampir semua kontol warga perumahan tempat tinggalnya. Alya malah berharap agar suaminya terus-terusan kerja di luar kota. Karena ia bisa lebih bebas memuaskan nafsu birahinya yang sudah ia tahan-tahan selama menjadi wanita alim.


"Yasudah lanjutkan ceritamu Alya, saya masih penasaran", kata Tuan Hong

#


flashback Alya" (part2)


Keputusan sudah dibuat, sudah tidak ada alasan bagi Alya untuk mengurungkan niat. Ia sudah memutuskan menjual tubuhnya demi mendapatkan uang dan hidup lebih layak. Nominal yang ditawarkan Pak Robert sangatlah fantastis baginya. Tidak pernah tabungannya terisi hingga angka 40juta selama menjadi istri Ragil. Apalagi nominal segitu bisa ia capai dalam waktu semalam saja.


Ada sedikit rasa bangga yang dirasakan Alya saat Robert menawar dirinya. Dengan statusnya yang sudah bersuami dan usianya sudah kepala 3, Robert masih menghargai tubuhnya dengan nominal yang sangat tinggi menurutnya. 40juta adalah harga yang bukan main-main bagi Alya. Nominal yang membuat Alya tidak bisa menolak penawaran tersebut dan meruntuhkan iman yang sudah ia bangun bertahun-tahun.


"Cuma nemenin tidur semalam aja kan? Setelah itu ngga lagi. Ini ikhtiyarku demi mengurangi beban keluargaku. Aku tidak ingin selalu merepotkan Mas Ragil", begitu pikir Alya untuk mencoba menghalalkan keputusannya


Walau hati kecilnya merasa amat bersalah kepada suaminya. Tetapi sekali lagi, Alya yang sudah tidak tahu harus berbuat apa untuk melunasi utang ke Pak Robert terpaksa melakukannya. Ia janji, dosa ini akan terjadi dengan cepat dan ia tidak akan berlama-lama berduaan dengan Pak Robert. Bagaimanapun sebagai seorang wanita yang sudah sering ikut pengajian, Alya paham betul batasan-batasan hubungan antara pria dan wanita seharusnya seperti apa.


"Sekali ini saja dan aku akan memperbaiki ekonomi keluargaku", janji Alya


Sebelum tidur, kali ini Alya memutuskan menghubungi suaminya. Sekaligus dalam hati ia memohon maaf sudah mengambil keputusan sendiri tanpa minta ijin ke suaminya terlebih dahulu. Keputusan yang begitu besar dalam hidupnya. Keputusan yang pasti tidak akan disetujui oleh suaminya. Suami macam apa yang menyetujui istrinya ditiduri pria lain.


Alya putuskan akan melakukannya secara diam-diam. Biarkan dosa ini ia yang tanggung tanpa melibatkan keluarga tercintanya. Biarkan perzinahan ini menjadi rahasia dan aib terbesar baginya, sebelum kembali menjalani kehidupan normal sebagai seorang istri baik-baik yang senantiasa menjaga auratnya.


*Maaf ya Pa" Mama terpaksa melakukannya. Tapi mama janji, mama cuma melakukannya sekali ini saja, dan mama tidak ada niatan buat mengkhianati papa. Mama akan melakukannya dengan cepat dan semua selesai. Mama masih sayang Papa kok"*, ujar Alya dalam hati


*Tuuut". Tuuuttttt"* Telepon mulai tersambung


"Halo.. Aslmlkm Ma..", jawab suami Alya diseberang sana


"Wlkmslm.. Papa sudah tidur belum?", tanya Alya sesaat setelah telepon diangkat


"Belum nih Ma. Ada apa Ma kok tumben telepon malam-malam?", tanya suami Alya


"HMMM" Mama kangen sama papa"", kata Alya mencoba bermanja-manja ke suaminya terlebih dulu sebelum besok ia ditiduri Pak Robert


"Owalah" Kirain ada apa kok malam-malam telepon.", kata suami Alya


"Ih papa ini.. responnya kok Cuma owalah.. Bilang kangen sama mama juga kek biar romantis"", protes Alya sambil cemberut


"Hehe malu ma, disebelah papa ada temen", jawab Ragil suami Alya


"Papa lagi di Mess sekarang?", tanya Alya


"Iya nih Ma" Seharian tadi kerja baru nyampe Mess nih. Capek banget Ma"", keluh suaminya


Hati Alya kembali bergetar. Tak kuasa ia menahan kesedihannya. Alya kembali terlarut dengan perasaan bersalah telah mengkhianati suaminya. Disaat suaminya sibuk bekerja membanting tulang, apakah pantas dia membalas pengorbanan suaminya dengan tidur bersama pria lain? Andai suaminya tahu sebentar lagi akan masuk uang 40juta ke rekening istrinya, pastilah suaminya saat ini tidak perlu repot-repot bekerja keras seperti ini. Namun sayang, pekerjaan yang diambil Alya sangatlah hina sehingga tidak pantas diceritakan ke suaminya.


"Oiya, Uang tabungan masih ada Ma? Papa kepikiran karena sudah hampir 3 bulan gaji papa belum dibayar", ucap Ragil pelan


"Eh.. Errr" Udah mulai habis sih Pa" Mama juga sudah nyoba cari pinjaman tapi belum dapat", jawab Alya lirih


"Aduh terus gimana Ma?", tanya Ragil


"Ya udah Papa ga usah mikirin itu. Udah Papa fokus kerja aja", kata Alya


Ingin sekali ia jujur karena rasa bersalah yang amat sangat saat mendengar suara suaminya dari jauh. Ia tidak tega membayangkan jika tahu keputusan gila apa yang sudah ia ambil untuk mendapatkan sejumlah uang demi mencukupi kebutuhan keluarganya.


"Mama masih punya rencana lain? Pinjam ke siapa lagi Ma?", tanya suami Alya


"Errr anu" Papa kenal Pak Robert?", kata Alya kemudian


"Tau Ma. Eh kenapa tiba-tiba bahas Pak Robert Ma?", tanya suami Alya penasaran


"Mama coba pinjam ke Pak Robert Pa" Kemarin sama orang-orang mama disuruh coba pinjam ke beliaunya", jawab Alya mencoba jujur sedikit


"Eh? Mama emang kenal sama Pak Robert???", tanya suami Alya terdengar terkejut


"Papa kok kaget kayak gitu sih?", tanya Alya yang kali ini penasaran


"Nggak sih, papa kurang suka sama Pak Robert Ma"


"Lho kenapa Pa?"


"Papa kan ada di grup WA bapak-bapak perumahan Ma.. Pak Robert itu suka cabul gitu. Yang dibahas hal mesum-mesum. Papa ya silent reader aja Ma ngga ikut komen"


"Hah masak sih Pa? Terus Pa? Kok Papa gak pernah cerita ke Mama"", tanya Alya malah penasaran


"Ya papa pingin cerita tapi nanti Mama malah marah dan pasti Mama penasaran pingin liat isi chat-chat grup itu. Papa kan tau mama alim banget jadi Papa pikir ngga perlu ceritain ke Mama""


"Memangnya chat di grup itu apa aja Pa? Mama kok jadi penasaran""


"Mesum Ma. Banyak foto-foto bugil cewek yang dikirim gak tau punya siapa aja.. Pokoknya pasti Mama gak suka dan gak akan nyaman liatnya""


"Ihhh.. Papa jadi liat cewek-cewek bugil dong? GAK BOLEEHH DOSAAA", protes Alya


"Ya liat sepintas aja Ma.. Papa pingin keluar dari grup tapi nanti dikira sombong dan gak mau membaur sama tetangga..", kilah suami Alya


"Iya juga sih" Errr" Kira-kira papa kenal ngga sama yang ada di foto-foto itu? ", kata Alya tiba-tiba panik karena ia pernah mengirimkan foto-fotonya ke Robert takutnya fotonya juga ikut disebar disana


"Papa gak tau Ma"", kata suami Alya


Alya merasa sedikit lega sepertinya foto dirinya tidak di sebar Pak Robert ke grup bapak-bapak perumahan. Terbayang bagaimana sakit hati suaminya andaikan tubuh istrinya jadi konsumsi publik para bapak-bapak di grup itu


"Mama yakin pinjem uang ke Pak Robert? Iya sih papa tau beliau orang paling kaya di perumahan kita. Tapi kelakuannya itu Ma", kata Ragil cemas


"Hmmm.. Mama jujur aja sudah dapat pinjaman dari Pak Robert Pa"", kata Alya pada akhirnya


"Hah?? Memang Mama pinjam berapa ke Pak Robert? Dan janjiin kapan kembalikannya?", tanya Ragil penasaran


"Mama pinjam 4juta Pa" Mama janjiin bulan depan mama lunasi", kata Alya


"Eh? Banyak banget 4juta? Emang mama bisa balikin uang segitu bulan depan?", kata Ragil terkejut


"Ya Mama bingung juga Pa. Gak enak kalau mama pinjem tapi gak bisa kasih kepastian kapan buat balikin uangnya", jawab Alya


"Mama gimana sih" Gaji papa aja belum tau kapan cairnya.. Kerja terus menerus tapi gaji gak jelas gini Papa jadi pingin resign aja", ujar suami Alya sambil ngedumel


"Eh jangan resign Pa. Nyari kerja sekarang sulit. Papa yang sabar ya.. Mama usahain maksimal buat bayar utangnya Pak Robert. Papa fokus kerja aja ya"", ujar Alya tidak ingin suaminya ikut kepikiran


"Memang gimana caranya Mama bayar utangnya?", tanya suami Alya bingung


"Gak tau sih Pa" Yang penting ikhtiyar siapa tau ada jalan...", kata Alya


"Hmm yasudah Papa juga coba pinjem ke kantor atau teman-teman Papa juga deh buat lunasi utang ke Pak Robert", ujar suami Alya


"I.. Iya Pa.. Yaudah Papa pasti capek. Papa tidur dulu ya..", kata Alya


"Iya Ma, ya udah Mama juga jangan tidur malam-malam"", kata suami Alya


"Iya-iya" Love you Pa", ujar Alya


Telepon pun ditutup"


#


Besok malamnya"


Malam yang sudah disepakati pun tiba. Alya tiba di rumah Pak Robert pukul 17.52, lebih cepat 7 menit dari waktu yang telah ditentukan. Robert sudah menunggu Alya di teras rumahnya. Malam itu, Alya memakai gamis syari motif abstrak warna-warni. Dengan kerudung panjang warna pink lengkap dengan kaos kaki panjangnya yang berwarna krem menutup hingga betisnya. parfum beraroma vanilla begitu semerbak tercium dari tubuh wanita cantik berpakaian syari itu. Ia ingat betul aroma peju Pak Robert begitu busuk sehingga ia berharap dengan menyemprotkan banyak parfum ke tubuhnya, bisa sedikit mengurangi aroma busuk sperma Pak Robert nantinya.


"Bu Alya cantik dan wangi sekali malam ini. Haghaghag" Ibu mau ngapain malam-malam kesini?", goda Pak Robert ingin merendahkan sekali lagi wanita berjilbab yang pernah menamparnya di depan orang-orang itu.


"Sa.. Saya"", jawab Alya canggung


"Kalau Gak ada keperluan saya masuk rumah nih", goda Pak Robert sambil akting jalan hendak masuk ke dalam rumah megahnya


"Eh saya mau bayar utang pak"", kata Alya


"Oiya? Emang ada uang? Bukannya Bu Alya miskin ya?", ledek Robert sambil menyeringai menyebalkan


Alya tertunduk marah, menahan emosi yang perlahan memuncak. Ucapan Pak Robert barusan begitu melukai perasaannya. Kalau tidak karena terpaksa, dia pasti tidaj mau berhubungan dengan pria bejat ini lagi. Tetapi Alya sadar diri, untuk kali ini saja dia turunkan egonya agar bisa segera menyelesaikan urusan dengan Pak Robert.


"Mau bayar pakai apa Bu? Haghaghag.. Kalau bukan barang bagus saya ogah", lanjut Robert terus menghina Alya


"Err" Pak Robert kemarin nawari saya"", kata Alya lirih


"Nawari apa ya? Saya kok lupa", kata Robert sambil memijat-mijat dagunya seolah sedang berpikir


"Anu.. yg 40jt itu pak"", kata Alya mulai cemas


"Hah? O ya ya ya.. Bu Alya bersedia dihargai 40juta? Kemahalan kayaknya saya nawarnya"", kata Robert tersenyum puas wanita sok alim itu akhirnya bertekuk lutut padanya


"Iya.. Saya bersedia pak"", jawab Alya lemah


"Bersedia apa Bu? Yang jelas dong ngomongnya!", kata Robert sedikit membentak


"Err" Nuruti kemauan Pak Robert", kata Alya tertunduk


"Kemauan saya? Saya gak butuh. Bu Alya yang butuh saya", kata Robert semakin penuh kemenangan


"Iya maaf.. Iya saya yang butuh Pak Robert"", ujar Alya lemas


"Jadi Bu Alya mau ngapain kesini? Jangan muter-muter, Bu Alya buang-buang waktu saya aja", kata Pak Robert sambil bergerak hendak masuk ke dalam rumah


"Eh? Anu.. Jual.. Diri..", jawab Alya lirih


"Gak denger Bu.. Kurang jelas", goda Robert sambil tersenyum mesum


"Jual diri pak" Saya mau jual diri!", jawab Alya kesal memperjelas ucapannya


"Haghaghag" Oh Bu Alya mau jual diri.. Coba kasih liat ke saya Bu Alya jualan apa"", kata Robert semakin ingin merendahkan Alya


"Eh? Maksud Pak Robert???", tanya Alya tidak paham


"Ya kalau Bu Alya mau jualan harus jelas barang apa yang mau dijual, itu kasih lihat ke saya", kata Robert


"Eh gimana pak? Disini?", kata Alya dengan suara gemetatan


"Aduh gobloknya Bu Alya" Udah ya saya masuk dulu", goda Pak Robert hendak akting lagi


"Tunggu Pak.. Iya saya kasih lihat pak"", Ujar Alya sambil menoleh ke kiri dan kanan memastikan suasana sekitar aman


Alya lalu mengangkat rok gamisnya keatas hingga celana dalamnya terlihat ke Pak Robert


"Oh Bu Alya mau nawarin saya sempak? Saya gak butuh bu" Maaf.. Yaudah saya masuk dulu Bu udah malam"", kata Robert membuat Alya semakin kesal


"Eh tunggu dulu pak..", ujar Alya menyadari Robert hendak menutup pintu rumahnya


Robert tersenyum mesum sambil menoleh kembali memandangi Alya begitu rendah. Wanita sok alim yang selalu menutup auratnya itu benar-benar ada di dalam genggaman tangannya. Ia sudah bersiap menginjak-injak harga diri wanita bergamis syari itu.


"Bukan celana dalamnya pak.. Tapi isinya"", kata Alya tersipu malu


"Apa isinya? Coba Bu Alya buka, malas saya kalau ternyata memek Bu Alya hitam. Tidak menarik. Hahahah..", kata Robert mesum menyindir Alya


Alya semakin kesal dengan tingkah Robert yang terus menghinanya. Tetapi karena tidak ada pilihan lain, Alya kembali menoleh ke kiri dan ke kanan terpaksa menuruti Robert. Suasana gang tempat rumah Robert berada memang tidak begitu ramai saat ini. Apalagi di jam-jam seperti ini, Biasanya, para tetangga sudah bersiap untuk tidur.


Setelah merasa tidak ada orang, Alya mulai menurunkan celana dalamnya hingga kemaluannya terlihat dihadapan Robert. Betapa malunya mama Echa itu menunjukkan alat kelaminnya yang selalu ia jaga dihadapan lelaki brengsek bernama Robert. Kemaluan yang seharusnya milik suami sahnya seorang.


"Haghaghag.. Ternyata gak item-item banget memek Bu Alya.. Lumayan lah nilainya 6 dari 10.. Hahahah" Bau gak tuh?", ledek Robert


Alya kembali kesal dan ia buru-buru menurunkan rok gamisnya menutup aurat paling pribadinya itu. Tidak pernah ia begitu direndahkan seperti ini. Kemaluannya yang selama ini ia jaga dan hanya ia persembahkan ke suaminya, kini diejek bentuknya oleh Robert. Jika karena tidak terpaksa demi untuk melunasi utang, Alya pasti sudah meninggalkan tempat itu.


"Bau gak Memek Bu Alya? Saya ogah bayar 40juta kalau baunya kayak sampah busuk. Haghaghag", hina Robert kembali


Muka Alya merah padam, kemaluannya yang selalu ia rawat dan ia jaga kebersihannya kini dibilang bau sampah busuk oleh lelaki yang bahkan belum pernah merasakan miliknya sama sekali. Ingin sekali Alya pulang malam itu saking kesalnya. Namun ia coba bertahan mengingat hanya ini jalan satu-satunya untuk melunasi hutang sekaligus mendapatkan uang 40juta sesuai yang dijanjikan Robert.


"Enggak bau kok pak.. Saya jamin"", kata Alya


"Hmmm.. Ya sudah saya test drive dulu Bu. Awas kalau bau gak enak saya gak mau bayar, dan Bu Alya kasih gratis memeknya ke saya", hina Robert


"Ehh? I.. Iya pak"", jawab Alya lemas dan ia pun dipersilakan masuk ke dalam rumah Robert yang megah


Di dalam rumah mewah itu"


Robert mulai menelanjangi tubuhnya. Alya buru-buru membuang muka menyadari lelaki yang bukan mahromnya itu tiba-tiba membuka pakaiannya. Alya berdiri mematung dan terlihat canggung di dalam ruang tamu Pak Robert. Wajar saja karena wanita alim itu memang tidak pernah melihat tubuh telanjang pria dewasa selain suaminya sendiri.


"Bagaimana kamu bisa melayani saya kalau kamu tidak berani melihat tubuh telanjang saya Bu? Ayo jangan malu-malu.. Hahahah", ujar Robert menyadari kalau daritadi Alya hanya menunduk membuang muka tidak berani menatapnya sama sekali.


Alya memberanikan diri membuka matanya sedikit, mengintip dari celah kelopak matanya bagaimana wajud Pak Robert ketika telanjang bulat. Alya seketika langsung menelan ludah Melihat wujud lelaki besar dari Timur itu. Tubuh Robert ternyata tinggi besar dan hitam, apalagi saat sedang telanjang perwujudannya jadi lebih menyeramkan. Dengan bulu lebat memenuhi sekujur tubuh besarnya. Walau gemuk tapi tubuh Pak Robert lumayan berotot. Terlihat jelas otot-otot besar pada lengan dan juga dadanya.


Tapi bukan itu semua yang membuat Alya menelan ludah. Melainkan kontol Pak Robert yang sudah ngaceng maksimal begitu menakutkan. Jembutnya berantakan dan kepala kontol yang hitam legam sangatlah menakutkan di mata Alya. Jauh berbeda bentuknya dibandingkan saat Alya pertama kali melihat kemaluan Pak Robert. Kali ini lebih besar lagi karena Robert sudah meminum suplemen pembesar penis yang harganya mahal.


Alya sampai melongo memandangi tubuh perkasa Pak Robert. Pikirannya melayang kemana-mana. Ia takut akan menjadi bulan-bulanan Pak Robert malam ini. Badan sebesar itu pasti akan terasa cukup berat saat menindih tubuh mungilnya. Tetapi sudah terlambat bagi Alya untuk mengurungkan niat. Alya hanya terdiam pasrah menanti bagaimana nasib dia selanjutnya.


"Minum ini dulu Bu", ujar Pak Robert membuyarkan lamunan Alya sambil membawakan 3 butir obat untuk Alya


"Obat apa ini Pak?", tanya Alya


"Jaga-jaga biar kamu gak hamil", kata Robert sambil tersenyum licik


"Eh? Pakai pengaman kan Pak?", tanya Alya dengan polosnya


"Pakai kok. Buat jaga-jaga aja. Nih!", kata Robert dan Alya tanpa rasa curiga langsung menenggak 3 pil itu sekaligus karena ia memang tidak ingin hamil dari persetubuhan malam ini dengan pria bejat itu.


Robert memandangi Alya sambil tersenyum nakal. Wanita berjilbab lebar istri orang yang menarik perhatiannya itu sebentar lagi akan menjadi miliknya. Robert sudah mempersiapkan segala sesuatunya demi menikmati Alya malam ini. Karena obat yang barusan diminum Alya bukanlah obat anti hamil, melainkan obat perangsang dosis tinggi. Apalagi Alya meminum 3 pil sekaligus. Terbayang sudah bagi Robert betapa binalnya Alya malam ini demi meraih nafsu syahwat yang tidak bisa dibendung lagi.


Sementara itu, Alya justru dalam hati berharap malam ini semua bisa cepat selesai dan ia bisa segera menyudahi kesepakatan gila ini. Alya berjanji akan segera menuntaskan urusannya dengan Robert dan tidak akan berhubungan lagi dengan lelaki mesum itu sampai kapanpun.


*Tugasku hanya buat Pak Robert klimaks dan semua selesai! Ini pertama dan terakhir kalinya. Maafkan aku mas Ragil*, ujar Alya dalam hati


"Kok malah ngelamun liatin kontol saya Bu? Sange ya Bu? Udah ga usah sungkan-sungkan. Kontol saya malam ini buat Bu Alya kok. Haghaghag", goda Pak Robert


Alya memerah mukanya saat Robert menangkap matanya yang justru terus menatap ke arah kemaluan hitam pria itu. Kemaluan pria berbadan besar itu sangat mengintimidasi Alya. Alya kembali menelan ludah dan jantungnya semakin berdegup kencang. Otaknya sampai membandingkan milik Robert dengan milik suaminya.


Jelas saja punya suaminya tidak ada apa-apanya dibandingkan milik Robert. Jika diumpamakan, suaminya hanya sebesar cabe merah, punya Robert setara dengan terong ungu yang sering ia masak balado. Entah mengapa pikiran Alya mulai terkontaminasi pikiran-pikiran jorok. Alya membayangkan kontol Pak Robert yang jumbo itu masuk ke dalam vaginanya yang jarang dimasuki punya suaminya. Membayangkan hal itu tubuh Alya malah mulai merasa kegerahan. Area pribadinya juga mulai terasa lembab. Robert kembali tersenyum mesum melihat wajah cantik Alya yang perlahan mulai meneteskan peluh. Sengaja Robert tidak menyalakan AC rumahnya kali ini agar Alya semakin tersiksa dengan nafsu birahinya yang tidak bisa ia kendalikan.


Nafas Alya mulai menggebu dan ia merasakan keringat semakin bercucuran deras membasahi sebagian tubuhnya terutama area-area lipatan tubuh wanginya yang membuat wanita berjilbab lebar itu semakin tidak nyaman. Dari sela kerudungnya, terlihat keringat yang mulai menetes membasahi wajahnya. Alya juga terdengar mulai ngos-ngosan seperti sedang menahan sesuatu yang cukup melelahkan dirinya. Robert tersenyum melihat perubahan kondisi tubuh Alya yang kegerahan. Sepertinya obat yang diberikannya mulai beraksi.


"Panas ya Bu? Dimuka gih bajunya", kata Robert sambjl mengocok kontolnya menggoda Alya memamerkan kejantanannya.


"Eh.. Anu..", kata Alya masih canggung


Alya bingung bagaimana ia harus memulai perzinahan ini. Ia benar-benar seorang yang newbie dalam hal dunia lendir. Alya mulai gelisah, Kakinya mulai ia rapatkan menjepit vaginanya yang mulai terasa panas dan gatal. Tapi Alya tetap tidak mau beranjak dari posisinya. Ia masih terlalu malu dan bingung harus berbuat apa.


"Sini Alya, kamu kenapa malah bengong? Ayo malam ini kamu pelacur saya. Saya sudah bayar mahal tubuhmu. Jadilah pelacur dan buang semua rasa malumu Bu Alya. Nikmatin saja malam indah kita berdua ini hahahah...", kata Robert memanas-manasi Alya


"Eh tapi pak"", ujar Alya mulai tidak tahan dengan rasa gerah yang terus menjalar tubuhnya.


"Buka bajumu Bu. Telanjanglah dihadapanku. Bu Alya sudah saya bayar mahal lho.", ujar Robert lagi mengingatkan


"Errr.. Tapi Pak.. Pak Robert.. Belum bayar saya"", ucap Alya tersipu malu karena dirinya benar-benar terlihat seperti lonte malam ini


"Aduh cantik-cantik kok begok kamu Bu. Saya kan sudah bilang saya mau test drive memek Bu Alya dulu. Kalau enak baru saya bayar. Hahahah", kata Robert


"I.. Iya maaf pak..", kata Alya pasrah dan ia tak punya pilihan lain selain mulai melucuti kancing gamisnya.


Robert menelan ludah melihat wanita cantik yang selalu menjaga auratnya itu kini sedang membuka gamisnya di depan matanya. Memang ia sudah sering melihat tubuh wanita telanjang, tapi dengan wanita berjilbab lebar seperti Alya, ini merupakan pengalaman baru baginya. Ditambah lagi, Alya yang masih terlihat canggung dan malu-malu saat membuka baju dihadapannya membuat Robert semakin gemas. Itulah yang membuat Alya terasa begitu spesial. Tubuh Alya masihlah suci dan belum terjamah lelaki selain suami sahnya sendiri.


Robert yang sudah tidak sabar menerkam Alya mulai mendekati wanita berkerudung panjang itu. Birahinya sudah tidak tahan melihat perlahan kulit mulus Alya mulai terlihat oleh kedua matanya. Alya terlihat kikuk dan ketakutan saat tubuh besar menyeramkan Robert mendatangi dirinya. Mata Alya terbelalak menyadari tangan besar Robert sudah menjamah payudaranya. Tanpa permisi, Robert langsung mencengkeram payudara Alya kuat-kuat hingga membuat Alya semakin ketakutan. Tangan Robert begitu besar menggenggam payudara Alya yang bulat. Alya hanya bisa diam memejamkan matanya membiarkan tangan Robert meremasi payudaranya yang mulai sedikit terbuka tertutup bra berwarna abu-abunya.


Dengan sedikit paksaan, Robert mulai menelanjagi Alya. Gamis Alya dengan segera ia lepas dan ia lempar begitu saja. Alya ketakutan, perasaan wanita alim itu semakin carut marut menyesali keputusannya.


"Ehhh.. Pak" Aaahh..", Alya tak kuasa menahan suara desahannya karena tangan Robert tak berhenti meremas-remas payudara kanan kirinya yang masih tertutuo BH bersamaan


"Hehe.. empuk juga susumu Bu Alya. Ayo buka BHmu Bu. Saya tidak sabar pingin mainin pentil susumu Bu Alya. Hehehe..", kata Robert semakin bernafsu


"Aaahhh.. Pak.. Aduhhh", kata Alya dan Robert mulai dengan kurang ajar mengangkat salah satu cup bra Alya hingga salah satu putting susunya terlihat.


Alya menutup matanya menahan rasa malu yang luar biasa. Lelaki brengsek itu menatap putting susu Alya yang mancung dengan menyeringai menyebalkan. Tanpa perlu permisi, Robert langsung memencet putting susu Alya kuat-kuat membuat Alya sampai mendongakkan kepalanya


"Aaahhh.. Pak.. Sakit"", rintih Alya namun Robert malah puas melihat Alya mengejang kesakitan dan memencet putting susu itu berkali-kali hingga Alya semakin kelojotan


Birahi Alya semakin tak terbendung karena rangsangan dan sentuhan nakal tangan Robert yang terus bermain di area sensitifnya. Vaginanya semakin basah dan becek karena perlakuan Robert. Tapi Alya terlalu malu mengakuinya. Harga dirinya bisa hancur kalau sampai dia ketahuan menikmati perlakuan Robert yang terus mencabulinya. Alya hanya bisa diam pasrah membiarkan tangan Robert terus menggoda memainkan area payudaranya yang sudah tersingkap.


Syahwat Alya semakin menggebu karena pengaruh obat perangsang dosis tinggi yang ia minum tadi. Wanita berparas cantik itu mulai mendesah manja, sesekali ia mendesis keenakan diperlakukan cabul oleh Robert. Robert tersenyum penuh kemenangan. Tangan kasarnya terus menyiksa putting susu Alya dengan memencet daging kenyal itu kuat-kuat


Menyadari Alya mulai bisa ia kendalikan, dalam sekali tarikan, BH Alya dilepas oleh Robert dan kini gunung kembar indah milik Alya terekspose menggoda di hadapan Robert. Alya kembali mati-matian menutup payudaranya disisa kesadarannya namun dengan cepat tangannya ditepis oleh Robert.


"Pak Robert saya malu pak"", ujar Alya karena Robert terus menahan tangannya yang masih berusaha menutup kedua payudaranya


"Punya badan bagus kok malu.. Bangga dong Bu badan Bu Alya sukses buat saya sange", Kata Robert sambil memilin kedua pentil susu Alya bersamaan membuat wanita berkerudung lebar itu kelojotan


Kini tubuh Alya hanya menyisakan kerudung, celana dalam, serta kaos kaki panjang di tubuhnya. Alya terdiam pasrah membiarkan tangan Robert memilin kedua pentil susunya. Sesekali ia mendesah tertahan karena jemari Robert yang kasar memberikan sensasi geli di daging kenyal berwarna cokelat muda miliknya. Alya tersipu malu, ia tidak mau terlihat menikmati perlakuan itu


"Desah aja kalau mau jangan ditahan-tahan Bu.. Hehehe"", ledek Robert melihat raut muka Alya yang terus memejamkan mata


Alya terus menutup mulutnya menahan rangsangan demi rangsangan tangan Robert yang terus membelai dan meraba bagian tubuhnya yang sudah terbuka. Hembusan nafas Robert begitu berat mengenai ujung pundak Alya. Alya merasa kegelian dan semakin pas. Tangan mungil Alya menggenggam erat menahan perasaan tak karuan yang ia hadapi saat ini


"Sshhh"", terdengar desahan lirih Alya


"Anggap saja ini malam pertama kita sayang" Kamu cantik Bu..", ujar Robert sambil membelai pipi Alya dan mengecup pelan bibir Alya


Alya terbuai dengan perlakuan Robert. Kecupan bibir tebal Robert begitu romantis. Robert memang sudah mahir dalam menaklukan wanita. Wanita sealim Alya saja bisa ia taklukkan dengan cumbuannya. Perlahan, pertahanan Alya melemah. Ia mulai mencoba menikmati perlakuan Robert.


"Mpphhh.. Ssshhh"", Alya kembali mendesis pelan selagi bibir mereka bertemu


"Mpphhh.. Bibirmu nikmat sekali Alya.. Wangi"", ujar Robert semakin intens mengecup bibir Alya


Ciuman lembutnya kini berganti menjadi ciuman penuh gairah. Tidak lagi hanya sentuhan bibir saja, tapi berganti dengan lumatan lidah. Mulut Alya diserang dengan membabi buta oleh lidah Robert. Lidah Alya menjadi target lumatan penuh nafsu itu. Alya kelabakan. Ia tidak pernah berciuman seliar itu dengan suaminya sendiri.


"Ssshh.. Pak.. Mmpphhh" Ssshhhhh", Alya kelabakan tidak bisa mengimbangi permainan lidah Pak Robert


Lidah Alya dilumat habis oleh Robert. Lidah mereka saling berpagutan penuh nafsu. Alya berusaha mengimbangi permainan lidah Robert yang begitu gencar. Kedua insan itu terlihat mulai saling bertukar ludah. Sesekali Robert meneteskan ludahnya ke rongga mulut Alya. Alya terlihat merasa jijik pada awalnya, tetapi suasana di ruang tamu itu sudah begitu panas dan Alya sudah terbuai dengan gejolak nafsunya yang mulai menggebu. Alya terima ludah Robert dan ia telan ludah kental itu. Alya seolah lupa kalau dirinya adalah seorang wanita yang telah memiliki suami.


"Bagus Bu Alya.. Kamu milik saya sekarang.. Puaskan saya Bu Alya", ujar Robert sambil sedikit menyingkap kerudung Alya dan ia cium dan gigit leher Alya yang masih tersembunyi di balik kerudung panjangnya


"Ohhhh.. Pak Robert.. Pelan.. Sakit Pak" Ssshhh..", desah Alya sedikit kesakitan karena lehernya kini digigiti Robert hingga menimbulkan bekas kemerahan.


Setelah puas, Robert mulai menindih tubuh Alya di atas sofa. Ia ciumi bagian atas tubuh telanjang Alya yang sudah menantang untuk dinikmati itu. Putting Alya tegak mancung keduanya, dan langsung dilumat dan dihisap penuh nafsu oleh Robert secara bergantian


"Aaaaahhhhh.. Aaahhhh.. Pak Robert", ujar Alya kelojotan disersng sedemikian rupa oleh orang terkaya di perumahannya itu


Robert terus menikmati memainkan puting susu Alya yang kecokelatan mungil. Sepertinya jarang sekali dihisap oleh suaminya. Apalagi Alya juga terlihat menikmati permainan lidah Robert pada kedua pentil susunya. Wanita berjilbab itu tak bisa berhenti menggeliat, tak bisa berhenti mendesah menikmati setiap sentuhan nakal bibir Robert pada pentil susunya. Robert meremas kontolnya yang semakin mengeras saja. Alya memang luar biasa, walau belum terlihat pengalaman tetapi lekuk tubuhnya yang indah itu sangatlah nikmat dan mubadzir jika tidak dinikmati oleh Robert.


"Sudah pernah diisep berapa orang Bu pentilmu?", tanya Robert iseng sambil memencet pentil susu Alya yang sudah semakin mengeras


"Ehhh.. Du.. Dua.. Su.. Suami sama anak saya pas bayi.. Pak"", jawab Alya tersipu membiarkan Robert memilin putting susunya yang mungil.


"Bener nih? Pas sebelum nikah, kamu ga pernah netekin mantan pacarmu Bu?", tanya Robert


"Ehh?? Nggak pak.. saya ngga pacaran dulu..", kata Alya buru-buru


"Waduh saya yang ketiga dong? Gapapa deh, kapan lagi bisa merasakan pentil wanita gamisan syari kayak Bu Alya. Haghaghag ..", kata Robert dan langsung ia gigit kasa putting susu Alya.


Tubuh Alya bak tersengat listrik karena gigi Robert begitu kuat menjepit payudara kanannya. Rasanya begitu sakit, namun juga geli dan nikmat. Alya sampai memejamkan matanya mencoba menikmati perlakuan Robert yang terkadang kasar ke tubuhnya.


"Desah yang kenceng gapapa Bu jangan ditahan-tahan.. Bu Alya nikmati saja malam ini..", kata Robert sambil terus menggigit putting susu Alya membuat Alya meringis kesakitan


"Aaahh.. Sakit pak.. Pelan pak..", pinta Alya pada akhirnya karena Robert terus menyiksa pentil susu Alya dengan gigitan kasarnya.


Kerudung Alya sudah tersingkap ke belakang sehingga Robert semakin bebas mengecupi bagian pundak dan dada Alya penuh kenikmatan. Tubuh Alya begitu wangi bak bidadari surga yang diciptakan untuk dinikmati oleh Robert. Sentuhan bibir tebal Robert sedikit membuat Alya kegelian. Namun Alya masih mencoba bertahan tidak terlalu banyak menunjukkan ekspresi demi menjaga imejnya sebagai seorang muslimah. Walau percuma saja karena Robert sudah tahu Alya sudah terangsang saat ini.


Robert yang sudah begitu bernafsu kembali menciumi bibir Alya. Ia kembali kecup bibir Alya kuat-kuat dan Alya sudah tidak keberatan lagi menerima ciuman lelaki berkulit hitam itu. Terlihat Lidah mereka kembali saling melumat dan bergumul penuh gairah. Robert mulai menggesek-gesekkan batang kontol ya yang sudah amat keras ke selangkangan Alya yang masih terbungkus celana dalam berendanya. Celana dalam yang sudah becek dan basah sekali malam itu.


"Bibir kamu nikmat sekali Bu Alya.. Cup.. cup.. cup.. Ssshhh..", ujar Robert memuaskan diri menciumi bibir istri Ragil itu


"Aaahhh.. Pak..", Alya kembali mengejang tubuhnya dirangsang oleh Robert dengan tangan dan bibir pria berkulit hitam itu


Ia tidak menyangka waktu terasa begitu lama saat ini. Dikiranya Robert akan buru-buru menidurinya dan semua segera selesai. Seperti suaminya yang biasanya hanya menghabiskan waktu 5-10 menit saja saat berhubungan badan. Tapi dengan Robert begitu berbeda. Alya benar-benar dipermainkan nafsu birahinya. Robert tidak terburu-buru seperti suaminya. Ia nikmati Alya dengan rangsangan-rangsangan nakal yang perlahan merobohkan wanita alim itu.


"Enak ya Bu?", tanya Robert


"I.. Iya Pak..", jawab Alya jujur pada akhirnya.


Tidak pernah Alya merasakan kenikmatan seperti ini. Rangsangan Robert yang sedikit kasar justru membangkitkan nafsu birahinya yang sudah terpendam sekian tahun lamanya. Melihat Alya sudah menyerahkan diri sepenuhnya, Tak perlu waktu lama untuk melucuti pakaian Alya kembali. Kain segitiga yang daritadi sudah basah itu dilepas oleh Robert tanpa perlawanan sama sekali.


Pemandangan indah area kemaluan Alya sudah tersaji dihadapan Robert. Sebuah kemaluan yang terawat dengan baik dengan bulu jembutnya yang terlihat terpangkas rapi. Alya kembali malu-malu menyadari lawan mainnya terus menatap area kemaluannya dengan tatapan cabul.


"Memek Bu Alya udah becek sekali. Haghaghag"", ujar Robert sambil menyentuh bibir kemaluan Alya dengan telunjuknya


"Aahh.. Pak"", ujar Alya menggeliat pelan


Pertama kalinya seseorang memegang kemaluan Alya selain suaminya. Ada rasa bersalah kepada suaminya namun hal itu tidak akan merubah keputusannya malam ini. Semua sudah terjadi dan Alya akui ia malah menikmati malam ini diam-diam.


Robert mulai mengusap kembali belahan bibir vagina Alya. Kali ini sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Tubuh Alya mulai menggelinjang.


"Memekmu malah basah Bu..", ujar Robert dan Alya mengangguk lemah


Alya sedikit membuka selangkangannya seolah memberikan ijin kepada Robert untuk menjamah area terlarang itu. Robert kembali merangsang kemaluan Alya dengan hari telunjuknya. Alya kembali mengejangkan tubuhnya dan terus mencoba menahan desahannya agar tidak terlalu berisik. Bukan apa-apa, Alya hanya takut suaranya akan terdengar sampai rumah sebelah jika ia mendesah terlalu kencang.


Robert terus mencoba merangsang organ kemaluan Alya, kali ini bukan hanya usapan lagi. Tapi telunjuk Robert mulai dimasukkan perlahan ke lubang hangat Alya. Alya terlihat meringis saat tangan kasar itu terus membelah vaginanya.


"Sakit pak"", ujar Alya pelan


"Wajar.. Memekmu sempit jarang dipakai soalnya..", kata Robert sambil mencumbu bibir istri Ragil itu.


"Pak.. Sakit pak.. Aduhh..", kata Alya mulai menggeliat lebih keras dari sebelumnya.


"Atau jangan-jangan titit suami terlalu kecil ya Bu? Masih besaran telunjuk saya? Hahahah"", ledek Robert


"Pak.. Tolong jangan hina suami saya.. Ssshhh.. Uuuhhh pak"", pinta Alya


"Kalau saya hina kamu boleh ya bu?", kata Robert


"Ter.. serah.. Pak.. Robert.. Ouhhhh ..", kata Alya terus dicabuli vaginanya oleh pria berkulit gelap itu


"Hahahah.. Kamu itu sudah hina Alya" Wanita baik-baik macam mana yang bersedia jual diri? Kamu itu lonte Alya.. Lonte!", hina Robert


Hati Alya tercabik-cabik rasanya. Semua perkataan Robert benar adanya. Istri Ragil yang katanya shalihah itu ternyata hanya seorang pelacur. Wanita shalihah mana yang mau menjual diri demi mendapatkan uang? Alya bukanlah wanita shalihah. Alya hanyalah seorang pelacur yang menggunakan busana gamis syari. Karena ia justru malah menikmati dicabuli seperti itu oleh Robert.


Tubuh Alya mulai menggeliat tak karuan. Ia tahan tangan Robert yang terus mengocok bagian dalam lubang kemaluannya yang sudah banjir. Tangan Robert benar-benar begitu nikmat menggaruk-garuk bagian dalam vaginanya yang sudah daritadi terasa gatal. Sepertinya Alya sebentar lagi akan mengalami orgasme pertamanya.


"Pak ampunn saya mau pipis pak.. sudaahh.. berhenti dulu pak.. Aaaahhh"", ujar Alya panik


"Yakin mau berhenti nih? Ntar Bu Alya nyesel loh. HAHAHAHA", ledek Robert sambil terus menghajar memek Alya kali ini dengan dua jarinya


"Aaaaaaahhhh.. Pak" Saya mau pipis pak.. Aaahh..", kata Alya semakin panik karena ia takut akan mengotori ruang tamu Robert


"Oke-oke saya berhenti Bu..", kata Robert tiba-tiba menghentikan rangsangannya dan tubuh Alya menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan


Wajah Alya sedikit kecewa karena saat ia sebentar lagi mencapai orgasmenya, Robert justru menghentikan rangsangan gila itu. Padahal Alya ingin mencapai kepuasan tertingginya saat ini. Namun ia terlalu malu untuk meminta agar Robert bersedia mencabulinya lagi.


"Kenapa Bu? Nyesel ya saya berhenti?", ledek Robert


Alya tidak berani menjawab, walau raut mukanya terlalu jujur mengakui kalau dia memang kecewa karena Robert menghentikan rangsangan pada kemaluannya yang sudah gatak parah.


"Oiya memek Bu Alya bau gak ya?", ujar Robert sambil mengendus telunjuknya yang sudah belepotan lendir kemaluan Alya


"Parah.. Bau sampah busuk.. Hahahahah.. Memek Bu Alya najis", hina Robert membuat muka Alya merah padam


"Cium nih kalau gak percaya", kata Robert sambil mengarahkan telunjuknya ke hidung Alya


Alya tersipu malu, memang aromanya sedikit tak karuan. Gabungan antara keringat, lendir dan juga aroma kencing yang sedikit tercium dari vaginanya. Tapi tidak sampai seperti apa yang dikatakan Robert. bau sampah terlalu berlebihan untuk menggambarkan aroma vagina Alya saat ini


"Jadi gratis ya Bu?", tawar Robert


Alya menggeleng buru-buru. Ia tidak ingin pengorbanan malam ini berakhir sia-sia. Padahal Alya sudah menunjukkan semua auratnya. Padahal Alya sudah bersedia dicabuli oleh Robert. Tapi semua terasa percuma jika pada akhirnya Robert tidak mau membayarnya.


"Jangan Pak.. Tolong bayar saya sesuai kesepakatan", pinta Alya


"Apaan memek Bu Alya bau sampah gini. Rugi saya nanti. Hahahah", hina Robert lagi


"Pak Robert saya mohon pak" Saya sudah terlanjur kotor Pak.. Tolong pak bayar saya"", pinta Alya


"Hahahah.. Lonte tukang maksa kamu Bu. Saya laporin ke polisi nih atas perbuatan tidak menyenangkan", jawab Robert


"Tapi kan bapak yang mulai ini semua!", ujar Alya kesal karena ia merasa dipermainkan


"Saya kan hanya menawarkan solusi, tapi kalau nyatanya barang Bu Alya tidak sesuai harapan saya, apa saya ya harus tetep bayar?", kata Robert sambil tersenyum licik


"Pak Robert jahat!"


"Gini aja, kamu layani saya dulu. Kalau kamu pintar dan benar-benar jadi kayak lonte, saya bayar kamu. Asal kamu gak jaim-jaim dan melayani saya kayak wanita murahan", kata Robert


Alya mengangguk lemah, setidaknya cara itu lebih baik daripada ia pulang dengan tangan hampa malam ini.


"Sekarang kamu masturbasi sampai memek kamu becek Bu", ujar Robert membuat Alya kebingungan


"Eh.. Saya tidak pernah pak"", jawab Alya


"Hadeh masih saja ****** kamu Bu. Ayo katanya mau jadi lonte murahan? Masturbasi di depan saya!", perintah Robert


Alya benar-benar tidak tahu caranya masturbasi karena ia memang tidak pernah melakukannya. Tetapi daripada ia gagal menuruti permintaan Robert, Alya akhirnya menyanggupinya. Ia mulai mencoba sebisa dan setahu yang ia tahu. Alya mulai memejamkan matanya, merangsang kemaluannya yang gatal sambil membayangkan yang tidak-tidak. Ternyata tidak sulit karena Alya memang sudah sangat terangsang. Ia mencoba mengulangi apa yang dilakukan Robert tadi. Bedanya, kali ini ia lakukan dengan tangannya sendiri.


Tangan kiri Alya bergerak lincah memainkan putting susunya. Sedangkan tangan kanannya sibuk merangsang area kemaluannya sendiri. Alya lenih memilih membuang rasa malunya melakukan aktivitas hina itu dihadapan Pak Robert. Lelaki bejat itu tertawa lepas menyaksikan gadis sealim Alya kini masturbasi dihadapannya.


"Desah dong Bu.. Jangan diem kayak lagi diperpustakaan aja. Hahahahah", ledek Robert


"I.. Iya pak.."


"Ssshhh.. Aaahhh.. Ouhh.. Ssshhhh.. Aaahhhh.. Ouhhhh"", desah Alya semakin terbawa suasana


Robert mulai mengabadikan momen indah itu. Momen dimana wanita yang dikenal alim di perumahannya sedang masturbasi di ruang tamu rumahnya. Menampakkan aurat indah yang selama ini ia tutup dengan gamis syarinya. Alya tidak sadar dirinya sedang direkam, karena matanya terus terpejam menikmati setiap sentuhan jemarinya di vaginanya yang gatal.


"Bagus Bu.. Bu Alya pintar sekali masturbasinya. Hahahahah.. Suami Bu Alya pasti bangga istrinya ternyata lonte murahan", puji Robert sambil merendahkan istri Ragil itu


Terlihat vagina Alya sudah becek berlendir. Sofa Robert pun juga sudah basah terkena tetesan lendir Alya yang tadi menetes terus menerus saat ia asyik masturbasi.


"Puas gak Bu pake tangan sendiri?"


Alya menggeleng perlahan. Ia ingin Robert yang mencabulinya kali ini. Tangannya yang lembut dan mungil tidak bisa memberikan rangsangan senikmat apa yang dilakukan Robert tadi.


"Pak Robert.. Ssshhh.. Cabuli saya pak..", pinta Alya manja


"Najis.. Memek Bu Alya bau sampah" Masturbasi aja pakai tangan Bu Alya sendiri", hina Robert lagi membuat Alya kembali sakit hati mendengar hinaan yang merendahkan itu


"Tolong Pak.. Cabuli saya pak.. Saya mau dipuasin kayak tadi Pak"", pinta Alya kali ini sedikit merengek membuang martabatnya sebagai istri setia


"Hahahahah" Terus Bu, memohonlah ke saya.. Buat saya bersedia menikmati memek baumu", kata Robert


"Pak Robert" Tolong Pak.. Saya sudah ga tahan lagi pak.. Vagina saya pingin dicabuli Pak Robert"


"Hahaha.. Vagina vagina apaan.. Memek itu namanya. Memek busuk", kata Robert


"Iya memek.. memek saya busuk pak.. Saya mohon Pak" Saya pelacur murahan Pak.. Tolong saya Pak Robert".", ujar Alya semakin pasrah


"Hahahah.. Pelacur murahan kok dibayar 40juta.. Gratis aja ya? Ikhlas kan?"


"Jangan Pak". Saya butuh uang pak"", pinta Alya memelas


"Kalau gitu kerja! Nyari duit jadi lonte! Paham?", saran Robert


"Iya saya mulai sekarang jadi lonte pak.. Kasih saya uang Pak Robert", bujuk Alya menggoda


"Huh jiwa saya kasian liat wanita murahan kayak Bu Alya ngemis-ngemis kayak gini. Yasudah saya bayar deh memek Bu Alya"


"Terima kasih sudah mau beli memek saya pak" Terima kasih", jawab Alya begitu murahan


"Terima kasihnya sambil cium dan jilatin peler saya dong bu", ujar Robert sambil mengangkat batang kontolnya memperlihatkan bola pelernya yang hitam keriput


Alya menelan ludah, sebentar lagi ia harus menjilati bagian paling hitam dari kontol Robert. Ia pun memberanikan diri mulai menjulurkan lidahnya dan menjilati batang penis perlahan. Jilatan Alya semakin turun kebawah, mengikuti urat tengah peler Robert. Robert tersenyum puas melihat wanita sok jual mahal itu kini sedang menjilati pelernya


"Gimana enak peler saya?"


"E.. Enak tuann.. Terima kasih""


"Gyahahahaaha"Bagus Bu Alya. Bu Alya lucu sekali. Lucu bin tolol", ujar Robert penuh kemenangan


Alya terus menjilati bola peler Robert yang keriput kehitaman. Ia buang jauh-jauh perasaan jijiknya melihat bagian menjijikkan itu. Alya menjilati peler Robert dengan khusyuk seolah sedang membersihkan bagian itu dengan lidahnya


"Terus Bu jangan berhenti sampai saya bilang berhenti. Hahahahah"


10 menit berlalu,


Setelah Robert puas dengan jilatan Alya ke bola pelernya, pria bertubuh besar itu berjongkok dan membuka selangkangan Alya lebar-lebar. Nampak sekali organ kemaluan Alya yang bersih dan berjembut tipis itu sebenarnya sangatlah menggugah selera. Robert pun mengakui hal itu, hanya saja ia memang ingin merendahkan harga diri Alya dengan menghina wujud kemaluan wanita shalihah dihadapannya. Wanita shalihah sok jual mahal yang baru saja masturbasi di sofa rumahnya. Dengan jemarinya Robert membuka bibir vagina Alya dan terlihat daging kemerahan yang sudah becek


"Juh juh juh juh", Robert tanpa permisi meludahi kemaluan Alya beberapa kali hingga kemaluan istri Ragil itu kini belepotan ludahnya.


"Memek najis yang bener diludahi aja. Ayo bilang makasih sudah mau saya ludahin!", kata Robert puas melihat kemaluan Alya kini berlumuran air liur kentalnya


"Iyaaahh terima kasih Pak Robert sudah bersedia ludahin memek saya.. Terus Pak.. Iyaaahhh"", ujar Alya semakin menghayati peran barunya


Alya terus memejamkan matanya menerima takdirnya yang kini benar-benar seperti pelacur murahan. segala hinaan, cacian dan perlakuan Robert seolah menjadi pujian terbaik baginya. Ia sudah benar-benar pasrah dan berharap Robert puas dengan pelayanannya. Robert kemudian mulai menjilati perlahan vagina Alya. Kepala Alya seketika terdongak, tidak percaya seseorang yang bukan siapa-siapanya mulai menjilati alat kelaminnya. Bahkan suami sahnya saja tidak pernah melakukan hal yang menurutnya menjijikkan itu.


"Aaahhh". Pak" Diapain pak"", ujar Alya sambil berusaha menahan kepala Robert yang terus meringsek maju di antara selangkangannya


"****** pakai nanya lagi. memek kotormu saya jilatin bego.. Haghaghag.. Gimana? Ini memek yang selama ini kamu jaga itu? Sudah saya perlakukan kayak sampah", kata Robert sambil kembali meludah alat kelamin Alya lagi-lagi kali ini lebih banyak dari sebelumnya


"juh juh juh juh juh.. Memek gini aja mahal bener!", ledek Robert sambil kembali menjilati kemaluan Alya dan menusuk bagian lubang itu dengan jari telunjuknya secara kasar.


Vagina Alya semakin kotor terkena ludah Robert yang kental dan bau. Alya pasrah mengangkang membiarkan alat kelaminnya diludahi berkali-kali oleh Robert. Alya terus memejamkan mata sambil mulai mendesah karena jilatan Robert pada vaginanya semakin kuat


"Ouuuhhh.. Pak" Ssshh..", desah Alya sedikit kencang


"Merdu sekali suaramu Bu Alya. Ayo desah lagi biar saya semangat jilatin memek Bu Alya", goda Robert sambil semakin mempercepat jilatan dan kecupan pada vagina Alya


"Geli Pak.. Aaahhhh" Ouuuhhhhh" Ouhhhh.. Bapaaaakk" Ampuunnn"", Alya semakin tak kuasa menahan rangsangan demi rangsangan yang dilakukan Robert pada kemaluannya itu


"Suka ya Bu dijilatin? Hahahah.. Sok jual mahal banget jadi orang..", ujar Robert


"Iyaahhh.. Aaaahhh.. Terusss.. Pak.. Aaahh", erang Alya


"Punya Bu Alya? Yang mana tuh?", goda Robert


"Err" Anu.. memek saya pak..", ujar Alya sambil menunjuk ke vaginanya yang mulai terlihat lecek karena barusan dijilati Robert penuh nafsu


"Salah juga, kurang lengkap"


Alya mengernyitkan dahinya. Ia sudah tidak tahu lagi sebutan lain untuk mengucapkan nama alat kelaminnya.


"Kemaluan Bu Alya nama panjangnya Memek Pelacur Najis Bau Sampah Tempat Buang Peju. Coba ulangi bu sambil memohon biar saya mau jilatin memek najis Bu Alya ", ledek Robert


"Apaaa?" Alya tidak percaya dirinya akan merendahkan alat kemaluannya sendiri, alat kemaluan yang seharusnya hanya ia persembahkan untuk suaminya seorang


Alya tidak punya pilihan lain. Semua sudah kepalang tanggung baginya. Tidak ada gunanya ia jaim sekarang, Toh itu cuma keusilan Pak Robert yang sengaja ingin menggoda dirinya saja. Pada dasarnya ia yakin betul kemaluannya sudah bersih dan harum karena ia rajin merawat area pribadinya itu dengan sabun khusus.


"Pak Robert, saya mohon bapak bersedia jilat memek pelacur najis bau sampah tempat buang peju milik saya ini"", kata Alya mencoba menuruti permintaan Robert sambil ia buka lebar-lebar organ kewanitaannya hingga bagian dalam terlihat jelas


"Haghaghaghag" Bu Alya memang pintar. Walau kadang ****** juga. Hahahah", jawab Robert


"Oke-oke.. sekarang Bu Alya buka lebar-lebar memek Bu Alya sampai maksimal", kata Robert sambil tersenyum mesum


"I.. Iya pak"", jawab Alya mencoba patuh dan dengan kedua tangannya, Alya semakin menarik membuka lebar-lebar lubang kemaluannya di hadapan Robert.


"Sudah nih pak"", kata Alya sambil terus menahan lubang kemaluannya agar terus menganga lebar


"Tahan Bu saya mau foto Bu Alya dulu" Kapan lagi liat Bu Alya yang alim mamerin lubang kencing. Haghaghag", kata Robert


*Cekrik cekrik cekrik* Robert mulai mengabadikan pose nakal Alya dan ia simpan di dalam handphonenya.


"Jangan dikirim ke grup bapak-bapak ya Pak"", pinta Alya keceplosan


Robert tercengang sambil tersenyum mesum mendengar permintaan Alya


"Jadi Bu Alya tahu tentang grup bapak-bapak perumahan kita?", selidik Robert


"Ehhh.. Anu.. ", Alya kebingungan harus menjawab bagaimana


"Kayaknya Bu Alya berharap foto ibu dikirim ke sana ya biar dikomenin mesum sama bapak-bapak perumahan kita?", goda Robert


"ENGGAAAKKK"", jawab Alya mencoba mengeles


"Haghaghag.. Yakin nih gak mau dipamerin lubang memekmu Bu? Sapa tau jadi bahan coli bapak-bapak. Kan lumayan Bu Alya jadi bisa sedekah dikit. Hahahah"


"Jangan Pak Robert!", ujar Alya keras karena ia begitu takut suaminya tahu kelakuan nakalnya dengan orang terkaya di perumahannya


"Haghaghag.. Saya sudah bayar mahal Bu Alya jadi terserah saya mau lakuin apa.. Pasti suamimu juga akan bangga memek istrinya dijadikan bacolan bapak-bapak warga perumahan kita", kata Robert


Alya hanya terdiam tidak bisa bernegosiasi dengan Pak Robert. Jantungnya berdegup kencang berharap Pak Robert mengurungkan niatnya menyebar foto telanjang dirinya. Alya takut rumah tangganya hancur karena kebodohannya jika sampai suaminya tahu apa yang sudah diperbuatnya.


Setelah puas menggoda Alya, Robert kembali menjilati vagina Alya. Lidah kasar Robert terus bergerak menjilati bibir dan lendir vagina Alya yang sudah becek. Bukan hanya jilatan saja, Robert juga menusukkan jari jemari besarnya ke lubang kelamin Alya.


"Ohhhh" Enak.. Pak.. Terus mainin memek saya" Aaaaahhh" Enak.. Teruss Pak"", pinta Alya yang sudah terangsang berat karena dikuasai obat perangsang dosis tinggi


Karena dengan jilatan lidah dan tusukan jemari Robert, kemaluan Alya terobati rasa gatalnya. Sehingga Alya betah berlama-lama digaruk vaginanya dengan Tangan lelaki bejat itu. Cairan lendir vagina Alya sampai tumpah-tumpah dan Robert dengan penuh nafsu menyeruput lendir memek Alya hingga habis tak tersisa. Alya semakin mengangkang lebar membuka kemaluannya. Ia biarkan pria kaya di perumahannya itu menjilati area privasinya sepuasnya.


Kemudian Robert kembali menarik tubuh Alya dan menghempaskan tubuh Alya kembali ke sofa. Ia sudah tidak sabar menyetubuhi wanita yang sempat membuatnya penasaran itu. Robert lalu mengambil sebungkus kondom yang masih tersegel dan buru-buru ia pakai karena sudah tidak sabar ingin mencicipi jepitan nikmat memek muslimah shalihah yang sedang jual diri didepannya saat ini.


"Waktunya kelamin kita kenalan Bu"", kata Robert sambil mengarahkan kontolnya ke liang kemaluan Alya


Alya memejamkan mata dan jantungnya berdebar-debar. Sebentar lagi ia akan bersetubuh dengan pria lain. Rasa berdosa kembali merasuki pikirannya. Wajar saja, karena Alya paham betul batas-batas hubungan lelaki dan wanita seharusnya seperti apa. Kegiatannya malam ini sudah sangat kebablasan dan melanggar keyakinan yang selama ini ia pegang teguh.


*Maafkan Alya mas.. Aaaahhhhh*, kata Alya sambil sedikit memekik dalam hati saat merasakan kemaluannya mulai dibelah kontol Robert


Kontol Robert sudah mulai memasuki bibir vaginanya. Alya mati-matian menahan rasa carut marut yang melanda organ bawahnya itu. Kontol Robert terlalu besar baginya. Kemaluan Alya betul-betul mati-matian berusaha beradaptasi menyesuaikan dengan diameter ketebalan kontol Robert


"Ohhhh.. Pakkk" Sakit Pak" Ooohhh"", lenguh Alya menahan rasa yang sangat pedih di vaginanya


"Sialan, memek Bu Alya kayak memek perawan saja rasanya. Heheheh.. Gini dong, walau bau sampah tapi kalau sempit gini masih okelah. Gak rugi saya bayarnya", puji Robert sambil terus mendorong kontolnya semakin masuk ke kelamin Alya


"Aaaaaahhh.. Pak.. Pelan-pelan"", kata Alya tanpa sadar ia makin membuka kakinya lebar-lebar menerima kedatangan kontol Robert di liang senggamanya


"Bawel bener kamu Bu.. Udah nikmatin aja kontol saya muasin memekmu"


Robert mulai memompa perlahan kemaluan Alya yang sudah basah berlendir menciptakan pelumas alami itu. Tidak perlu waktu lama bagi Robert untuk menyetubuhi istri Ragil itu. Terjawab sudah betapa nikmat jepitan vagina Alya si bidadari surga yang selama ini ia idam-idamkan. Mulut Alya terus mendesah mengikuti setiap gerakan maju mundur Robert di liang senggamanya. Kemaluannya benar-benar terasa penuh sesak dijejali gagang kontol Robert yang berukuran jumbo. Alya menikmati persetubuhan itu. Kontol Robert benar-benar sukses menggaruk kemaluannya yang gatal. Tidak ada lagi desah kesakitan, kini hanya terdengar desah kenikmatan


"Aaahhh.. Ouuuhhhh.. Aaaahhh.. Pak Robert" Ouuhhh..", ujar Alya sambil memeluk Robert agar pria itu semakin mantab menyutubuhinya


"Bangsat malah keenakan kamu. Hahahaha" Nih terima kontol saya.. Memek Bu Alya akan saya buat ketagihan kontol dan tidak akan mau terima titit kecil lagi kayak punya suamimu bu


Layaknya sepasang suami istri, Robert menyetubuhi Alya dengan gencar. Ia nikmati betul-betul tiap gesekan kemaluan mereka. Walau dibatasi karet pengaman, namun tetap saja vagina sempit Alya begitu terasa nikmat bagi Robert. Tidak rugi Robert membayar tubuh Alya kalau ternyata rasanya seperti sedang bersetubuh dengan gadis perawan.


Demikian juga Alya, erangan kesakitannya sudah menghilang. Berganti desahan manja keenakan. Bagaimana tidak keenakan, kontol berurat Robert benar-benar menggaruk vaginanya yang sudah gatal dari tadi. Tiap gesekan kemaluan mereka terasa sangatlah nikmat saat saling menggaruk satu sama lain


"Ohh" Pak Robert.. Pak... AAAHHHH.. Aahhhh.. Aaahhhh"", desah Alya begitu menikmati


Tidak pernah ia merasakan senikmat ini saat bercinta. Alya tidak pernah merasakan penis suaminya menggaruk dinding kemaluannya begitu kuat seperti milik Robert saat ini. Dengan suaminya Alya merasa hampa, dengan Robert, Alya begitu terlena. Alya lupa dirinya adalah seorang istri yang seharusnya menjaga kehormatannya. Ia sudah tidak jaim lagi mendesah keenakan bahkan memuji kontol Robert


"Enak Pak.. Kontol bapak enak.. Saya suka kontol Pak Robert"", ujar Alya begitu nakal


"Bagus Bu.. Iya begitu seharusnya pelacur bersikap. Yang ada dipikirannya hanyalah kontol.." kata Robert


*Jleb jleb jleb jleb jleb* 10 menit sudah Robert menggenjot Alya tiada henti


"Ohhh.. Aaaahhh.. Pak Robert sumpah" enak.. Pak.. Memek saya keenakan kena kontol Pak Robert..", kata Alya semakin kesurupan terkena kekuatan kontol Robert


"Haghaghag.. Aaahh sialan Bu Alya bilang gitu saya jadi mau crot nih.. Aaaarrggghh" Gak kuatttt", ujar Robert


*Crot crot crot* tubuh Robert mengejang sambil mengeluarkan spermanya dengan deras mengisi kantong kondom yang dipakainya


Kondom yang dipakai Robert sudah penuh dengan spermanya sendiri. Ia lepas kondom bekas pakainya dan ia tunjukkan ke Alya. Ia lalu mengikat kondom bekas tadi agar spermanya tidak tumpah.


"Buat kenang-kenangan Bu Alya nanti waktu pulang sapa tau mau colmek pakai pelumas peju saya. Haghaghag", kata Pak Robert sambil melemparkan kondom bekasnya ke gamis Alya yang berserakan di ruang tamunya


Tubuh Alya ngos-ngosan. Keringat bercucuran dari seluruh pori-pori kulitnya. Tubuhnya telanjangnya terlihat sangatlah mengkilap. Mungkin gabungan antara keringatnya sendiri dan juga keringat Robert. Apakah semua sudah selesai? Apakah ia sudah boleh pulang saat ini?


"Anu.. Pak.. Kan sudah keluar" Jadi apa tugas saya sudah selesai?", tanya Alya


"Hahahah" Tuh kan kamu ****** lagi Bu" Nih lihat kontol saya", kata Robert sambil menunjuk kontolnya


Mata Alya terbelalak melihat kontol Robert yang masih berdiri kaku dan kokoh. Urat-uratnya masih begitu nampak jelas menambah keangkeran kemaluan Pak Robert.


"Eh kok masih berdiri Pak???", tanya Alya terkejut


"Haghaghag.. Wajar bu kan baru 1 ronde"", kata Robert


"Eh tapi.. Punya suami saya setelah keluar langsung lemas..", kata Bu Alya dengan polosnya malah menjelekkan suaminya sendiri


"Ya beda lah Bu.. Jangan samakan kontol saya sama titit kecil suami Bu Alya. Hahahah" Mau lanjut bu?", kata Robert


"Errr.. I.. Iya boleh deh"", jawab Alya tersipu malu akhirnya ia mengingkari janjinya sendiri untuk tidak berlama-lama dengan Pak Robert


#


Di dalam kamar tidur Robert, jam sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi


Alya sudah telanjang bulat di kamar terang itu. Tubuhnya telanjang putih mulusnya terlihat begitu jelas sangat kontras dengan tubuh Pak Robert yang besar dan hitam. Keadaan Alya tidak banyak berubah. Kerudungnya masih terpasang dikepalanya. Hanya saja sudah sedikit berantakan. Beberapa helai rambutnya sedikit nampak keluar. Demikian juga kaos kaki panjang warna kremnya yang tadi masih terpasang dikakinya, kini sudah ia tanggalkan memamerkan betisnya yang mulus.


Tubuh Alya sudah tidak wangi seperti tadi. Bahkan aroma tubuhnya sudah selaras dengan aroma keringat Robert yang bau. Karena memang sudah lebih dari 4 jam tubuh mereka saling menempel satu sama lain bertukar keringat dan lendir. Robert melumat bibir Alya penuh nafsu. Mereka melakukan french kiss dengan begitu lahap. Tidak peduli Alya adalah istri orang.


Terlihat bagian dada Alya kemerahan. Sepertinya selama bergumul tadi, Robert juga mencupangi bagian dada Alya hingga meninggalkan bekas gigitan kemerahan. Wanita berkerudung cantik itu menungging, mengulum kontol Robert yang sedang tiduran di atas kasur. Terlihat beberapa bungkus kondom dan kondom bekas pakai berserakan. Beberapa ada yang diikat, beberapa lainnya ada yang dibiarkan tumpah belepotan.


Alya menungging sambil mengangkat pantat sexy mulusnya. Pemandangan erotis yang tidak ada duanya saat pantat yang kesehariannya terbungkus gamis itu kini sedang menungging telanjang menampakkan keseksiannya. Dari belakang, tampak vagina muslimah alim itu sudah lecek tak karuan bentuknya. Entah sudah berkali vagina Alya digenjot kontol Robert malam ini


"AAHHH.. Bagus Bu Alya. Bersihkan yang bener peju saya jangan sampai ada sisanya. Awas kalau sampai gak bersih saya gak mau bayar Bu Alya sepeserpun", ancam Robert


"I.. Iya Pak.. Saya bersihkan sampai bersih.. sluruppp sluruppp slurupppp", jawab Alya begitu khsuyuk menjilati kontol Robert


Kontol Robert masih berdiri tegak dan kokoh. Padahal sampah kondom yang berserakan di dalam ruang tidurnya sudah membuktikan seberapa banyak ia sudah menyetubuhi istri Ragil itu. Tidak rugi ia membeli mahal obat kuat demi memuaskan bersetubuh dengan Alya si wanita bergamis syari yang tinggal di perumahannya.


"Lanjut Bu?", tanya Robert


"Iyaa.. Mau..", jawab Alya dan tanpa diminta wanita berkerudung itu menungging membelakangi Robert


Doggy style menjadi gaya favoritnya malam ini. Kontol besar milik Pak Robert terasa begitu mantab mengisi celah sempit vaginanya saat ia sedang menungging. Apalagi bercinta gaya anjing itu adalah hal baru bagi Alya. Karena memang selama ini saat berhubungan suami istri dengan suami sahnya, Alya hanya merasakan gaya konvensional saja. Itupun terasa hampa dan sangat membosankan


"Eh Bu.. Ngomong-ngomong stok kondom saya habis nih..", kata Pak Robert tiba-tiba


"Habis pak?? Kok bisa?", tanya Alya tak percaya


"Ya bisa kan saya ada 2 pack tadi. Itu sudah habis tadi buat 6 ronde"", kata Robert


"Terus gimana pak?", tanya Alya memelas


"Kalau gak pake kondom gimana Bu?", tanya Robert


"Eh??? Tapi aman kan pak?"


"Aman kan Bu Alya sudah minum obat tadi. Nanti saya keluarin di luar deh biar makin yakin", kata Robert


Alya sedikit menimang-nimang ajakan Robert. Kali ini pertemuan kelamin mereka tidak dibatasi sehelai karet tipis, tetapi kulit langsung bertemu kulit. Alya sebenarnya takut tertular penyakit karena Alya berpikir Robert tidak hanya bersetubuh dengan dirinya saja. Pasti lelaki mesum seperti Robert sudah bercinta dengan banyak wanita.


"Gimana Bu? Mau enggak tanpa pengaman?", tanya Robert lagi


"Eh iya deh gapapa...", kata Alya


"Gitu dong, gak rugi saya bayar kamu mahal Bu Alya. Haghaghag", ujar Robert


Robert lalu mulai mengarahkan batang kontolnya ke Alya yang sudah menungging. Tidak lah sulit karena lubang memek Alya sudah beradaptasi dengan kontol besar Robert. Ditambah lagi memek Alya juga sudah basah dan tidak berhenti mengeluarkan lendir pelumas agar selalu siap untuk disetubuhi


*Blessss


"Aaaaahhhhh" Besar banget punya Pak Robert. Bisa ndower memek saya pak". Aaaahhh"", kata Alya


"Hehehe.. Ndower apanya orang masih seret gini kok memek bu Alya.. Ssshh.. Aaahhh.. Ohh..", ujar Robert sambil menggenjot tubuh Alya


Kedua manusia itu kembali berzina melewati malam yang semakin mendekati pagi. Sudah ribuan kali kemaluan mereka saling bergesekan memuaskan satu sama lain. Mungkin setelah ini Alya lupa rasanya bercinta dengan suami sendiri saking kuatnya rasa nikmat yang diberikan kepada dirinya saat berhubungan sex dengan Robert.


Kedua kemaluan itu saling bergesekan. Kali ini bertemu secara langsung tanpa karet pengaman. Tekstur kontol Robert begitu memanjakan kemaluan Alya yang gatal sehingga wanita berkerudung itu tidak bisa berhenti mendesah.


"Aaahhh.. Memek saya gatal pak.. Garuk terus pake kontol Pak Robert.. Aaahhh.. Ouhhhh.. Pak" Terussss", rancau Alya keenakan


"Memek pelacur memang selalu gatal. Kayaknya Bu Alya lebih pantas jadi pelacur saja.. Hahahah" Memek Bu Alya sudah ketagihan kontol tuh Bu""


"Iya Pak.. Saya mau jadi pelacur sajaa" Enak pak" Aaaahhh" Memek saya digaruk kontol terus kalau saya jadi pelacur"", ujar Alya


"Beneran ya Bu Alya saya jadikan pelacur?", tantang Robert


"Iya saya mau pak.. Saya butuh kontol Pak.. Aaahhh.. Entot saya terus pak" saya sukaa..", rancau Alya


Didikan Robert memang luar biasa. Baru semalam saja Alya diajari melacurkan diri, sekarang ia sudah begitu fasih merendahkan harga dirinya sendiri demi meraih kepuasan birahinya. Alya sudah menguasai dasar-dasar menjadi pelacur murahan. Yang penting ia siap mengabdikan dirinya untuk kontol para pria.


"Okay, nanti Bu Alya saya tawarkan ke bapak-bapak perumahan" Haghaghag"", goda Robert


Alya tidak menanggapi ide gila Pak Robert. Ucapan Robert hanya ia anggap sebagai ucapan merendahkan harga dirinya saja. Alya hanya diam saja sambil menikmati betul pertemuan kedua kelamin mereka.


"Kalau suami Bu Alya tau istrinya pelacur gimana?", goda Robert lagi menyadari Alya tidak merespon perkataannya


"Gapapa Pak.. Suami saya pasti marah. Tapi gapapa pak. Biar dia tau saya memang pelacur", jawab Alya ngasal


Alya menganggap ini semua hanyalah akting peran saja karena Robert sudah membeli dirinya malam ini. Ia hanya tidak ingin gagal memuaskan Robert dan berusaha semaksimal mungkin menempatkan dirinya sebagai pelacur malam ini sesuai permintaan lelaki itu.


Tetapi tidak bagi Robert. Pria itu sudah menganggap Alya benar-benar mendeklarasikan dirinya sebagai seorang pelacur yang siap dipakai para pria. Membayangkan ia dalam waktu dekat akan menghancurkan harga diri Alya, dari yang awalnya seorang muslimah taat menjadi seorang pelacur murahan, Robert semakin semangat menggenjot memek Alya


Ia bersumpah akan membuat Alya tidak memiliki harga diri sama sekali nantinya. Harga dirinya akan begitu rendah dan lebih rendah daripada lonte jalanan. Semua dendam yang ia simpan selama ini akan ia lampiaskan hingga Alya benar-benar hancur sehancur(-hancurnya.


"Sialannn" Saya mau crot lagi bu membayangkan Bu Alya yang alim benar-benar jadi lonte" Aaarrghhhh""


"Keluarin di luar pak.. Pak???", ujar Alya menyadari Robert malah mendorong dalam-dalam ke bagian terdalam dari kemaluannya


*Crot crot crot crot crot* semburan lahar putih kental Robert mengisi rahim Alya hingga penuh


Alya terbelalak menoleh kebelakang menyadari sperma Robert sudah tumpah mengisi rahimnya hingga penuh. Semburan yang begitu terasa hangat, deras dan kencang sekali. Alya seketika lemas, ia takut dirinya hamil karena sperma Robert sudah mengisi rahimnya!


"Kok didalam sih Pak?", protes Alya menyadari lubang memeknya sudah penuh dengan sperma Robert


"Terserah saya dong kamu ga usah banyak protes", kata Robert


"Ya tapi tadi kan Pak Robert janji tadi dikeluarin di luar?", tanya Alya panik


"Ribet bener Bu Alya jadi lonte. Inget nama panjang memek Bu Alya tadi apa?", tanya Robert meledek


"Errr" Memek pelacur najis bau sampah tempat buang peju"", jawab Alya yang sudah menghafalkan nama baru untuk organ kemaluannya


"Nah jadi salah saya dimana? Bukannya tugas memek Bu Alya itu memang tempat buang peju?", balas Robert


"I.. Iya.. Tapi" kan..", Alya mulai kalah berargumen


"Udah gak usah banyak protes. Ingat saya sudah ba"", kata Robert mencoba mengingatkan lagi


"Iya iya Pak Robert sudah bayar tubuh saya mahal"", potong Alya kesal


"Haghag.. Tuh pinter" Lagian kamu kalau takut hamil beli aja obat anti hamil diapotek. Wanita sudah nikah kayak kamu pasti dilayani sama pihak apotek"", kata Pak Robert


"Iya udah deh Pak"", kata Alya akhirnya mengalah


"Ya udah sekarang kamu ngangkang lagi Bu!", kata Robert tiba-tiba


"Eh lagi pak???", tanya Alya tak percaya karena sudah 7 ronde ia melayani Robert malam ini


"Masih sanggup saya"", kata Robert sambil melesakkan batang kontolnya lagi ke memek Alya


"Eh pak?? Aaaaaahhhh" Aduhhh ampun pak"."


#


Jam sudah menunjulkan pukul 03.00 pagi. Sebentar lagi matahari perlahan menampakkan sinarnya. Tetapi langit diluar masih gelap gulita.


Di kamar itu, Alya dan Robert masih bersetubuh begitu panas. Kali ini kerudung Alya sudah terlepas dari kepalanya. Alya sudah telanjang total tanpa sehelai benang pun di kamar itu. Sedangkan kain kerudungnya sudah menjadi lap sperma Robert. Tubuh Alya bermandikan sperma malam itu. Robert sudah menyemburkan 4x tembakan pejunya ke tubuh Alya. 2x ia arahkan ke rahim Alya. 2x ia arahkan ke wajah dan payudara Alya.


Sebenarnya Robert masih ingin lanjut menyetubuhi Alya, namun karena sebentar lagi pagi tiba, ia urungkan niatnya. Ditambah lagi batang kontolnya juga sudah terasa sedikit perih karena tak berhenti bergesekan dengan lubang hangat milik Alya


Terlihat Alya terkulai lemas diatas ranjang kasur Robert. Sperma yang mulai mengering masih terlihat di area selangkangannya. Sedangkan tubuh yang lainnya sudah acak-acakan, tapi tetap saja membuat siapapun yang melihatnya pasti akan bergairah melihat kecantikan Alya. Aroma tubuh Alya sudah berubah menjadi aroma peju. Karena memang sperma Robert sangatlah kuat aromanya. Begitu menjijikkan.


*Cekrik cekrik cekrik* kembali Robert mengabadikan saat Alya terkulai lemas tak berdaya setelah melayani Robert hampir 12 ronde malam itu


Alya sudah tidak begitu peduli tujuan Robert memfoto dirinya. Karena ia memang tidak punya kesempatan untuk protes dan memang Robert sudah membayar dirinya dengan harga mahal. Alya hanya berharap Robert hanya menyimpan foto-foto untul koleksi pribadi saja, tidak untuk disebarkan.


"Su.. sudah pak?", tanya Alya


"Iya.. oiya saya minta no rekening Bu", ujar Robert dengan gentle


"Jadi bapak mau bayar saya?", tanya Alya sumringah


"Lho? Gak mau dibayar nih?"


"Eh mau dong pak"", jawab Alya cepat-cepat dan ia pun memberikan nomor rekeningnya ke Pak Robert


"Yasudah sudah saya transfer uangnya. Kamu bisa pulang. Sambil berdoa biar suamimu gak mengenali tubuh istrinya sendiri. Hahahah"


"Jangaan Paakkkk" Jangan dikirim ke grup bapak-bapakkkkk"", ujar Alya memelas


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 19 : Flashback Alya (Part 3)


Beberapa hari berlalu sejak malam dimana Alya menjual tubuhnya ke Robert, keadaan perekonomian Keluarga Alya mulai membaik. Uang 40juta yang diberikan oleh Robert langsung dipakainya untuk melunasi beberapa tanggungan. Perlahan, Alya mulai bisa melunasi hutang ke toko-toko kelontong atau pun para pedagang sayuran di pasar. Alya juga pakai sebagian uang dari Robert untuk membayar tunggakan-tunggakan beberapa tagihan. Tak terasa, 8juta sudah ia pakai untuk menutup semua utang, tunggakan, dan kebutuhan hariannya.


"Syukurlah masih ada sisa banyak"", ucap syukur Alya dalam hati


Uang "Bantuan" dari Robert sangatlah berarti bagi Alya. Tanpa uang dari Robert, entah darimana lagi Alya bisa membayar semua hutang dan mencukupi semua kebutuhan-kebutuhan biaya hidupnya. Meskipun ia raih uang itu dengan cara haram, tetapi hanya itulah satu-satunya jalan pintas yang bisa Alya lakukan.


Sejak kejadian malam itu, Robert tidak lagi menghubungi Alya. Sehingga Alya bisa menjalani hidupnya secara normal. Wanita berkerudung berparas cantik itu bisa hidup bersosialisasi dengan para tetangga, tanpa ada gangguan dari Robert lagi. Alya juga tidak was-was, karena kelihatannya para tetangga juga tidak ada yang curiga kepadanya.


Mereka masih bertegur sapa, seolah tidak terjadi apa-apa. Alya pun seperti biasa melemparkan senyum dan membalas sapaan-sapaan dari para tetangganya. Hingga saat ia tiba di sebuah persimpangan pasar, ia mendengar seseorang memanggil namanya.


"Selamat siang Bu Alya", sapa Mang Ujang tiba-tiba saat mereka berpapasan


Senyum Alya yang tadinya menghiasi wajahnya mendadak berubah masam. Ternyata Mang Ujang, si penjual nasi goreng satu-satunya saksi bagaimana ia diperlakukan begitu hina oleh Robert. Memory Alya langsung mengingat kembali bagaimana Mang Ujang turut serta ikut merendahkan dirinya dengan menampar pantat telanjangnya menggunakan sandal hingga kemerahan.


"Tambah cantik aja Bu. Ibu anak sama-sama cantik.. Heheheh", ujar Mang Ujang sambil cengengesan.


Pujian Mang Ujang sebenarnya biasa saja, namun terdengar menyebalkan bagi Alya, karena nadanya seolah mengejek dirinya. Apalagi Mang Ujang mengatakan hal itu di tengah-tengah keramaian orang yang sedang sibuk berbelanja. Membuat Alya menjadi risih. Namun begitulah Mang Ujang, dia memang suka ceplas-ceplos kalau berbicara tanpa mengenal sikon.


Alya berusaha tidak menggubris ucapan Mang Ujang. Wanita bergamis syari itu terus melangkah secepat mungkin, mencoba pergi menjauh dari Mang Ujang. Mang Ujang yang merasa dicuekin oleh Alya, hanya geleng-geleng kepala sambil memandangi bongkahan pantat Alya yang nampak sexy walau terbungkus busana gamis syarinya.


Namun akhirnya Mang Ujang terus mengikuti Alya. Hingga tiba dijalanan sepi, Mang Ujang menyusul Alya dan menepuk bahu mama Echa itu


"Kenapa Bu Alya malah lari? Kayak saya mau ngapain Bu Alya aja. Heheheh.. Saya Cuma mau nyapa aja kok Bu", kata Mang Ujang kembali tersenyum menyebalkan


"Lepasin Mang, banyak orang disini!", kata Alya sambil berusaha melepaskan pundaknya dari cengkraman Mang Ujang


"Heheheh.. Galak bener sih Bu", goda Mang Ujang


Alya akhirnya berhasil melepsskan tangan Mang Ujang dari pundaknya. Ia pun memutuskan berhenti sejenak menuruti Mang Ujang, daripada pemuda itu nantinya berbuat tidak-tidak.


"Jangan sombong-sombong bu, nanti cantiknya berkurang. Heheheh..", kata Mang Ujang sambil cengegesan kembali


Wajah Mang Ujang membuat Alya muak. Lelaki itu kesehariannya berwajah polos dan lugu, mencirikan pemuda yang benar-benar datang dari desa. Ia juga terkenal ramah dan supel dengan para pembeli. Tetapi itu semua bagi Alya ternyata palsu dan hanyalah pencitraan belaka, Mang Ujang sama saja dengan Pak Robert. Ia malah ikut menikmati menggoda dan merendahkan dirinya saat di rumah Pak Robert.


"Jangan galak-galak Bu.. Saya kan cuma nuruti perintah Pak Robert. Kalau saya ngga nurut malah nanti saya yang kena Bu", kilah Mang Ujang


Emosi Alya perlahan turun, apa yang diucapkan Mang Ujang sangat masuk akal. Pria gila seperti Robert bisa saja berbuat yang tidak-tidak ke Mang Ujang jika ia tidak menuruti perintahnya. Alya kemudian mencoba memahami dan menepis semua pikiran buruknya ke Mang Ujang


"Tapi Mang Ujang sudah jahat sama saya", kata Alya


"Iya maaf Bu.. Saya juga terpaksa menampar-nampar pantat Bu Alya", kata Mang Ujang


Muka Alya memerah mendengar ucapan vulgar Mang Ujang. Dengan santainya ia mengatakan sudah menampar pantatnya di tempat umum seperti ini. Bagaimana kalau ada yang sampai mendengarkan percakapan mereka?


"Mang Ujang jangan kenceng-kenceng ngomongnya!", protes Alya


"Eh iya maaf Bu keceplosan. Heheheh", kata Mang Ujang cengengesan.


Betapa malunya Alya teringat saat-saat itu. Tangan kasar Mang Ujang berkali-kali menampar kedua bongkahan pantatnya hingga kemerahan. Bukan hanya dengan tangan, tapi juga menggunakan sandal. Rasa panas dan perih yang dirasakan Alya karena tamparan keras Mang Ujang masih membekas hingga sekarang.


"Oiya, Bu Alya gak kangen Pak Robert? Pak Robert masih ke luar negeri Bu", kata Mang Ujang


"Ih apaan sih Mang Ujang. Udah saya mau pulang dulu. Jangan ganggu saya", kata Alya dan ia pun bergegas pergi dari tempat itu


"Oiyaaaa Bu" Nitiiiipppp salam buat Echaaaa" I Lop Yu Pullllllll", pekik Mang Ujang membuat Alya tersedak


*Gila, gak akan aku restuin!*, kata Alya kesal dan ia terus berjalan meninggalkan Mang Ujang


#


Sesampainya di rumah, Alya terkejut mendapati suaminya ternyata sudah tiba dirumah. Tanpa mengabari dirinya sama sekali. Ragil tersenyum mendapati istrinya sudah sampai rumah, lengkap dengan kantong plastik belanjaannya.


"Lho papa kok gak ngabari kalau pulang?", tanya Alya panik apalagi ia melihat suaminya sedang memegang handphonenya yang sengaja ia tinggalkan di rumah


Di handphone itu ia tidak ingat apakah sudah hapus pesan-pesan mesum Pak Robert atau belum. Alya takut ada pesan mesum yang belum sempat ia hapus dan terbaca oleh suaminya. Tidak pernah Alya merasa sewas-was ini saat suaminya memegang handphonenya. Alya tau sekarang, begini rasanya selingkuh di belakang suami, apa-apa jadi tidak tenang.


"Iya, sengaja biar surprise aja Ma. Oh pantes di telepon ngga diangkat" Ternyata handphonenya ditinggal di rumah", ujar Ragil suami Alya sambil memberikan handphone Alya


Alya mendatangi suami tercintanya setelah tak bertemu beberapa lama, tak lupa ia mencium tangan suami tanda dirinya adalah istri yang menghormati suaminya. Dalam hati, Alya bisa bernafas lega. Sepertinya suaminya hanya memegang handphonenya saja tanpa melihat isi percakapan WAnya. Alya buru-buru memasukkan handphone miliknya ke dalam saku gamisnya.


"Ya kalau Mama tau Papa pulang sekarang, Mama kan bisa masakin yang enak", ujar Alya


Suami Alya terkejut mendengar ucapan Alya. Baru beberapa hari yang lalu istrinya curhat kalau uang tabungan mulai menipis. Tapi sekarang malah nawari masak masakan yang enak.


"Memang Mama ada uang? Kok mau masak enak?", tanya Ragil suaminya kebingungan


"Eh.. Almdllh masih ada Pa.. Yang dari Pak Robert masih ada sisa", jawab Alya buru-buru sambil menyembunyikan wajahnya


"Oh Masih ada ya Ma?.. Oiya, ini kantor papa sudah nyairin tunggakan gaji. Kurang 1 bulan lagi sih, tapi mama bayar dulu aja ke Pak Robert pakai uang ini"", kata suami Alya sambil menyerahkan amplop berisikan uang kepada istrinya


"Eh ga usah Pa, Gapapa kok", kata Alya kikuk tidak menerima langsung uang dari suaminya


"Gak usah gimana? Utang harus dibayar Ma"", kata suami Alya sambil memaksa


"Errr.. Iya deh nanti Mama bayar ke Pak Robert", kata Alya pada akhirnya, sambil menerima amplop berisikan sejumlah uang itu.


"Papa ikut ya. Sekalian mau bilang terima kasih ke beliau karena sudah bantu kita", kata Ragil membuat Alya terkejut


"Ehhh?? Gak usah Pa.. Papa gak usah ketemu Pak Robert..", kata Alya panik


Alya tahu betul Robert pasti akan menggoda dengan pembicaraan mesum yang menjurus. Lelaki bejat itu pasti akan senang sekali melihat Alya ketakutan digoda di samping suaminya sendiri. Sebisa mungkin Alya tidak akan mengijinkan suaminya bertemu Pak Robert.


"Lho kenapa Ma? Kok gak boleh ikut? Papa cuma mau bilang makasih", kata suami Alya


"Anu.. Oiya Pak Robert lagi gak ada di rumah Pa. Lagi ke luar negeri", kata Alya teringat cerita Mang Ujang tadi


"Ohhh.. Mama kok tau banget kalau Pak Robert gak di rumah", tanya Ragil sambil mengernyitkan dahinya


Alya kembali kelabakan. Ia tidak menyangka suaminya akan menatap dirinya penuh curiga seperti itu. Tidak pernah Alya merasa panik seperti ini. Seperti diinterograsi rasanya dan itu sangat membuatnya tertekan.


"Anu.. Tadi dapat cerita dari Mang Ujang pas papasan di pasar", jawab Alya buru-buru


"Oh.. Mang Ujang penjual nasi goreng?"


"Iya Pa.. Ya udah mama siapin sarapan dulu buat papa"", kata Alya mencoba merubah arah pembicaraan.


"Mama masak apa?", tanya Ragil sambil duduk manis di meja makan bersiap menyantap masakan istri tercintanya


"Masak Terong Balado sama telor Pa"


"Ohh.. Kesukaan Mama tuh terong balado"


"Hihihi Iya.. Makan dulu Pa. Mama ke kamar sebentar", kata Alya sambil buru-buru masuk ke dalam kamar


Di dalam kamar, Alya langsung membuka aplikasi WAnya. Benar saja pesan-pesan cabul Robert masih ada disana. Termasuk saat ia "terpaksa" mengirimkan foto syurnya ke pria bejat itu. Alya buru-buru menghapus pesan-pesan yang dikirimkan Robert. Juga beberapa foto-foto syurnya yang tersimpan di handphonenya


*Sudah aman kayaknya*, kata Alya dan ia pun kembali ke ruang makan


Terlihat suaminya makan dengan lahap. Suami yang begitu dicintainya saat ini. Tiba-tiba Alya meneteskan air matanya. Teringat betapa jahat dirinya mengkhianati janji setia sebagai istri. Pertahanan imannya akhirnya jebol karena kebutuhan ekonomi. Alya rela melakukan perbuatan hina disetubuhi oleh pria lain. Bukanlah seorang pria tampan, tapi sosok pria berwajah menakutkan. Bukan hanya sekali saja, bahkan mereka melakukannya berkali-kali sampai pagi.


Bagaimana bisa istri alim seperti dirinya malah terperosok dalam aktivitas menjijikkan. Bagaimana bisa dirinya tidak keberatan diperlakukan rendah seperti pelacur murahan. Alya sendiri tidak habis pikir mengapa dirinya menjadi wanita murahan malam itu dan ia menikmatinya. Ia juga rela vaginanya disembur berkali-kali oleh sperma Robert. Jika mengingat kejadian itu, rasanya Alya ingin muntah dan membenci dirinya sendiri.


"Ma.. Kok nangis?", tanya suami Alya membuyarkan pikiran-pikiran yang berkecamuk di dalam kepala Alya


"Ehh.. Enggak kok Pa.. Mata mama pedes aja habis kena bumbu balado", kata Alya beralasan.


"Coba sini Papa liat", kata Ragil sambil mendekati istrinya


"Eh gak usah Pa.. Mama gapapa"", kata Alya namun Ragil terus memaksa memeriksa mata istri tercintanya itu


Ragil berusaha menangkap tangan istrinya yang terus meronta. Alya terus memejamkan matanya karena takut ketahuan dirinya baru saja menangis


"Gak usah Pa!!!", bentak Alya pada akhirnya


Ragil terkejut, tidak pernah mendapati istrinya berani membentaknya. Suami Alya itu terdiam dan memilih melepaskan istrinya karena terlihat istrinya tidak nyaman


"Ma.. Maaf Pa.. Mama gapapa kok"", ujar Alya sambil menyeka matanya yang mulai sembab


Ragil masih terdiam, tidak biasanya istrinya sampai hati membentak dirinya. Padahal ia merasa perlakuannya kepada istrinya amatlah lumrah. Suami mana yang membiarkan istrinya kesakitan walau hanya menahan pedih terkena bumbu masakan.


"Maafkan Papa Ma..", kata Ragil pelan


"Mama gapapa kok.. Papa ga usah khawatir. Oiya, Papa sampai kapan di rumah?", tanya Alya kembali mencoba mencairkan suasana


"Kurang tau Ma.. Proyek pertama sudah selesai. Lanjut proyek kedua masih nunggu perintah saja dari atasan. Mungkin seminggu atau 2 minggu lagi"


#


Malam harinya, Ragil yang sudah merindukan istrinya ingin melampiaskan kebutuhan biologisnya ke Alya. Istrinya begitu tampak cantik dan tidak membosankan ketika dipandang. Mereka sudah telanjang bulat diruangan yang lampunya dipadamkan itu. Kedua pasangan suami istri itu sedang bercinta. Seperti biasanya, Ragil diatas dan Alya dibawah. Sesekali Ragil mencium bibir Alya dengan lembut, menikmati betapa lembut dan kenyalnya bibir istrinya.


Setelah puas mencumbu Alya, Ragil memainkan payudara Alya perlahan dan memainkan putting susu istrinya dengan lidahnya sesaat. Alya menggeliat kegelian, namun Ragil yang sudah tidak tahan buru-buru ingin segera memasukkan kejantannya ke liang senggama istrinya. Ragil mulai mengarahkan penisnya ke Alya, dan Alya menunggu penuh harap. Alya ingin mengulangi saat-saat nikmat itu, kali ini dengan pria yang dicintainya.


Terlihat suami Alya bersusah payah saat mengarahkan batang penisnya ke liang senggama Alya. Ia tekan-tekan ke lubang kemaluan Alya namun tidak berhasil. Sepertinya kemaluan Alya masih belum siap untuk digagahi. Alya hanya terdiam sambil memejamkan mata menantikan kemaluan suaminya masuk. Menunggu saat-saat penis suaminya menggaruk vaginanya agar memberikan kenikmatan. Wajah Alya terlihat sudah tidak sabar, sambil berharap suaminya segera memberikan kenikmatan yang setara seperti saat dirinya disetubuhi oleh Robert.


"Punya mama kering banget..", kata suaminya sambil terus berusaha menancapkan kemaluannya ke liang senggama istrinya.


"Masak sih Pa? Papa coba lagi deh..", kata Alya penuh kesabaran sambil memegang kemaluan suaminya bermaksud membantu mengarahkan suaminya agar bisa menembus vaginanya


*Eh.. oiya beda sekali sama punya Pak Robert*, kata Alya dalam hati saat menggenggam penis suaminya.


Tangan Alya saat menggenggam penis suaminya bisa penuh, sedangkan saat memegang punya Pak Robert, tangan Alya tidak bisa menggenggam secara utuh saking besarnya. Dan juga, punya suaminya tidak sekeras dan berurat seperti punya Robert. Alya buru-buru membuang pikirannya itu dan mencoba menerima kekurangan suaminya dibanding punya Pak Robert


"Gak bisa Ma.. Kering banget. Punya papa gak bisa masuk"", kata Ragil hampir putus asa.


Alya kecewa, disaat ada suaminya ia justru gagal mendapatkan kenikmatan yang didambakannya. Kenikmatan yang pernah ia rasakan beberapa hari yang lalu yang didapatkannya dari pria lain. Padahal Alya sangatlah ingin mendapatkan kenikmatan itu dari suami sahnya.


Ingin sekali Alya menawarkan diri untuk mengulum punya Ragil agar bisa sekeras milik Robert, tapi Alya malu. Mereka sudah terbiasa berhubungan badan tanpa oral sex. Alya takut suaminya akan curiga mengapa istrinya tiba-tiba mau mengulum penisnya.


"Gak bisa Ma, punya Mama kering. Mama ga horny kayaknya", kata Ragil


"Eh?? Mama Horny kok Pa", jawab Alya tidak mau disalahkan


"Apaan.. Kering gini punya Mama jadi punya Papa gak bisa masuk" Ya udah gak jadi aja Ma.. Kita tidur aja", kata suami Alya sambil turun dari tubuh Alya yang sudah menunggu daritadi.


*Kok jadi aku sih yang disalahkan? Titit Papa Tuh kecil dan gak keras mangkanya susah masuknya!* Kata Alya dalam hati penuh kekesalan


Alya lebih memilih diam saja tidak berani mengatakan hal yang akan menyakiti perasaan suaminya. Betapa kecewa dia malam ini. Lelaki yang ia tunggu-tunggu untuk menyetubuhinya secara halal, malah gagal. Alya juga heran mengapa kemaluannya jadi bersikap dingin seperti ini? Mengapa tidak bisa sebecek saat berzina dengan Pak Robert?


"Maaf Ya Pa"", ujar Alya lirih pada akhirnya karena tidak ingin berdebat


#


Malam kedua dan ketiga mereka mencoba lagi, tetapi sama saja. Punya Alya masih saja kering dan tidak bisa ditaklukan penis Ragil. Alya sendiri juga tidak tahu mengapa kemaluannya bisa sekering ini. Tidak ada pelumas sama sekali yang diproduksi alat vitalnya. Apakah dirinya memang tidak terangsang sama sekali dengan suaminya?


Ragil terlihat kesusahan melakukan penetrasi ke lubang kemaluannya. Bahkan penisnya sudah tidak berdiri lagi dan mulai melunak, tetapi Ragil tetap memaksa. Ia dorong-dorong kemaluannya namun tetap saja gagal masuk ke liang senggama istrinya. Padahal Alya sudah merindukan disetubuhi oleh suaminya, tapi entah mengapa malah jadi seperti ini.


Akhirnya kedua pasangan sah itu mengakhiri pergumulan mereka dengan hasil nihil kembali. Ragil terlihat semakin frustasi. Harga dirinya sebagai suami membuatnya merasa gagal memberikan nafkah batin untuk istrinya.


"Ngga bisa, punya Mama gak basah sama sekali, kayaknya Mama udah gak punya nafsu lagi. Mama terlalu alim sih jadi kurang pintar urusan ranjang!", ujar Ragil kesal


Ia kesal dan menganggap Alya terlalu alim sehingga sudah tidak memiliki syahwat lagi. Tuduhan suaminya begitu kejam bagi Alya. Alya pun sebenarnya kesal, tapi dia lebih memilih diam. Alya bahkan sempat kepikiran andai suaminya tahu betapa basah kemaluannya saat digagahi Robert, pasti suaminya akan menarik semua kata-katanya barusan.


*Mas yang salah! Punya mas yang kurang keras! Mas yang gak pintar muasin birahi Alya!!*, kata Alya melampiaskan emosinya dalam hati


Hingga tibalah malam kelima, Ragil masih ingin bersetubuh dengan istri tercintanya. Setelah di malam keempat mereka memutuskan tidak mencoba. Ia ingin kali ini saja bisa menyetubuhi istrinya, sebelum kembali bekerja ke luar kota.


Malam ke lima, Ragil tidak langsung gas menyetubuhi Alya. Ia mencoba mengajak Alya berbicara terlebih dahulu. Ia tidak ingin gagal lagi malam ini. Ia juga mencoba membangkitkan birahinya dan birahi Alya sambil membuka beberapa foto wanita telanjang yang dikirimkan Pak Robert ke grup bapak-bapak.


"Ma.. Masih ingat tentang grup WA bapak-bapak komplek gak", tanya Ragil sambil membelai lembut rambut istrinya yang masih tertutup berkerudung


"Ehh.. Oiya yang isinya cabul itu ya Pa?", tanya Alya terkejut dan tiba-tiba ia teringat Robert sudah memiliki foto-foto pose mesum dirinya


"Beberapa hari yang lalu Pak Robert kirim lagi Ma foto cewek"", kata suami Alya membuat jantung Alya rasanya berhenti berdetak saking syoknya


"Hah? Kayak gimana Pa?", tanya Alya ketakutan


"Hmm Mama yakin mau lihat? Bukannya gak boleh ya?"


"Papa tuh yang gak boleh. Kalau laki liat punya perempuan yang bukan mahrom ga boleh Pa. Mama kan sama-sama perempuan", kata Alya


"Oiya" Ya udah ini Ma.. Komentarnya bapak-bapak rusak semua. Mama mungkin akan kurang suka bacanya", kata Ragil sambil menunjukkan isi grup itu.


Mata Alya terbelalak Melihat foto wanita yang sedang membelakangi kamera dan tidak nampak wajahnya itu. Dalam sekali lihat saja Alya sadar betul kalau foto itu memanglah dirinya. Kondisinya sudah telanjang bulat. Rambutnya sudah acak-acakan dan sedang dijambak oleh Robert hingga kepalanya terdongak. Terlihat Alya menungging disodok kontol Robert dari belakang. Pantatnya terlihat kemerahan karena kemarin memang Robert beberapa kali menampar keras-keras pantatnya tanpa ampun saat dia sedang digenjot dalam posisi menungging. Keringat dingin seketika keluar dari pori-pori tubuh Alya menyadari ternyata Robert benar-benar mengirimkan foto telanjang dirinya walau tidak terlihat wajahnya. Parahnya, suaminya pun melihat foto itu!


Alya kemudian scroll kebawah layar handphone suaminya. Ia membaca komentar-komentar bapak-bapak komplek perumahannya. Sebagian besar menanyakan siapa sosok wanita bertubuh putih mulus menggoda itu. Sebagian lainnya menghina sosok gadis itu, bukannya kerja halal, malah memilih jadi pelacur. Sebagian lainnya lagi memuji kehebatan Robert mendapatkan wanita dengan kekayaannya.


Alya melirik ke wajah suaminya. Ia khawatir betul suaminya menyadari kalau di dalam foto itu adalah sosok istrinya sendiri. Tetapi sepertinya Ragil tidak menyadari kalau wanita di dalam foto tersebut adalah Alya istrinya. Alya sebenarnya kecewa mengapa suaminya tidak mengenali tubuh istrinya sendiri. Namun disisi lain Alya juga bersyukur karena dengan begitu suaminya tidak tahu kalau wanita tersebut adalah istrinya sendiri.


"Ih papa kok malah liatin perempuan ini sih??", protes Alya


"Bukan gitu Ma.. Papa kan cuma mau nunjukkin ke Mama aja", jawab Ragil


"Papa nafsu ya lihat perempuan ini?", tanya Alya penasaran


"Hah? Enggak lah" Apaan dia bukan wanita baik-baik Ma. Papa gak suka. Papa pinginnya cuma sama mama", kata suami Alya


"Oh bener nih ga pingin sama dia?", tanya Alya sambil cemberut


"Iya papa ga pingin sama PSK yang disewa Pak Robert, pasti penyakitan tuh karena sering gonta ganti pasangan", ujar Ragil


*Itu istrimu Pa"* kata Alya dalam hati


Alya kemudian lanjut scroll-scroll handphone suaminya keatas. Ternyata bukan hanya foto itu saja yang dikirimkan Robert. Ada juga foto yang memperlihatkan payudaranya sudah penuh dengan bekas cupangan dan gigitan. Lalu ada juga foto saat Alya membuka vaginanya hingga menganga lebar menampakkan isi kemaluannya. Kedua foto itu sengaja dipotong oleh Robert hanya memperlihatkan payudara dan vaginanya saja. Sedangkan wajahnya sudah ia hilangkan.


"Bodynya bagus banget tuh Pak. Lubang mekinya juga merah seger. Masih muda ya Pak pelacurnya?"


"Itu pentil enak kayaknya kalau dikenyot-kenyot. Jadi pingin netek nih pak"


"Saya juga mau Pak. Kali aja Pak Robert berbaik hati bagi-bagi info pelacurnya. Hahaha" Indah banget pak badannya"


"hahaha itu lonte murahan apa lonte kelas artis Pak Robert? Nyerah deh kalau mahal-mahal bisa disemprot istri saya nanti. Uang belanjanya berkurang karena sewa pelacur"


"Hahaha betul pak" Kayaknya kita gak sanggup kalau bayarin lonte kualitas super model gini. Enak betul jadi orang kaya kayak Pak Robert"


"Penasaran sama wajahnya pak"


"Oiya Mukanya mana Pak? Masak Cuma dikasih lihat foto merah merah bekas dicupangin?"


Dan masih banyak komentar-komentar pedas, merendahkan, dan juga pujian untuk Alya dari para bapak-bapak komplek perumahannya. Sebagian Alya kenal, sebagian lainnya ia tidak kenal. Karena tidak semua penduduk perumahan itu Alya kenali. Mungkin yang sering bertemu atau jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya saja yang ia kenal.


Robert hanya membalas dengan emot setan saja membalas semua pertanyaan penasaran dari bapak-bapak komplek perumahannya.


Alya merasakan suhu tubuhnya memanas saat membaca kometar-komentar bapak-bapak warga komplek perumahannya. Karena ada yang tetangganya sebelah rumah persis yang turut berkomentar. Mereka tidak tahu wanita yang dikomentari lonte itu adalah tetangganya sendiri. Tetangga yang selama ini kemana-kemana selalu berpakaian syari, tertutup, dan senantiasa menjaga auratnya.


Perlahan gairah Alya mulai naik karena membaca komentar-komentar pujian dan merendahkan yang ia terima. Vaginanya yang dari kemarin kering, malam ini mulai berlendir. Alya mulai naik syahwatnya membayangkan mereka semua tahu pelacur yang ada di foto-foto itu adalah dirinya. Wanita yang dikenal alim di lingkungan perumahan.


"Pa.. Masukin Pa.. Punya papa sudah berdiri belum?", tanya Alya sambil meraba kemaluan suaminya dan ia kocok kemaluan suaminya seperti yang ia lakukan ke kontol Robert


Ragil terkejut mendapati perubahan sikap istrinya. Rencanya berhasil, sepertinya istrinya mulai terangsang melihat foto itu. Walau ia harus merelakan istrinya lihat sebagian kecil tubuh Pak Robert yang sedang telanjang menyetubuhi wanita dalam foto. Tetapi tidak apa-apa, paling tidak malam ini ia ingin berhasil menyetubuhi Alya.


"Iya sudah berdiri daritadi Ma.. Jujur saja Papa juga lama-lama nafsu liat yang difoto. Apalagi yang foto mbaknya nungging itu" Maaf ya Ma.. Tapi bukan berarti Papa udah ga sayang sama mama lagi kok. Papa cuma pria normal yang nafsu sama perempuan. Wajar kan Ma?", kata Ragil mencoba menjelaskan panjang lebar karena takut istrinya cemburu


"Udah ga usah banyak alasan. Nanti keburu tidur kon.. eh" Titit papa.. Masukin Pa.. Mama udah pingin"", pinta Alya manja


"Eh iya Ma""


Lalu pergumulan sepasang halal itu pun dimulai.. dan 5 menit kemudian persetubuhan itupun selesai. Ragil benar-benar cepat melakukannya. Ia akhirnya puas setelah berhasil menyemburkan spermanya ke liang vagina Alya yang sempat tertunda beberapa hari. Namun tidak demikian bagi Alya. Alya sama sekali belum puas. Ragil melakukannya terlalu cepat, bahkan terlalu cepat hingga Alya sama sekali tidak meraih kenikmatan yang diinginkannya. tidak ada sex hingga beronde-ronde seperti apa yang sudah diberikan oleh Robert. Tidak ada perasaaan nikmat yang membuat seluruh tubuhnya menggeliat keenakan seperti apa yang sudah diperbuat oleh Robert terhadapnya. Alya kembali merasa kesal karena gagal mendapatkan puncak birahinya kembali malam itu bersama suaminya


#


Jam 03.24 pagi"


"Halo sayang.. Saya kangen sama jepitan memek bau sampah Bu Alya"", pagi-pagi buta mata Alya terbelalak mendapati pesan WA yang dibacanya.


Siapa lagi kalau bukan Pak Robert yang mengirimkan pesan dengan nada cabul merendahkan itu. Pesan yang sudah dikirim dari pukul 23.25, dan Alya terlambat membaca serta merespon pesan WA dari Pak Robert. Ia lalu melirik ke arah suaminya yang tertidur pulas selepas puas meyalurkan hasratnya. Alya menghela nafas panjang, untungnya suaminya tertidur pulas sehingga pesan itu tidak dibaca suaminya saat ia sedang tidur tadi.


Alya bingung apakah harus membalas atau menghapus pesan bernada cabul itu karena sudah terlalu terlambat untuk meresponnya. Setelah ditimang-timang dan demi keamanan, Alya memutuskan menghapus pesan itu dari history WAnya. Ia sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan Robert. Apalagi saat ini masih ada suaminya yang selalu ada di dekatnya. Bisa bahaya kalau suaminya sampai menyadari istrinya diam-diam melakukan pembicaraan tak penting dengan Robert.


Setelah pesan terhapus, Alya kemudian mengamankan handphonenya. Ia letakkan di dalam tasnya dan tak lupa ia silent agar tidak terbaca oleh suaminya jika ada pesan WA yang masuk. Kemudian tatapan mata Alya tertuju ke handphone suaminya yang diletakkan di samping tempat tidur.


Dengan perlahan Alya meraih handphone suaminya dan ia langsung membuka grup bapak-bapak komplek perumahan. Perasaannya kali ini tidak enak. Takut Robert melakukan hal gila di grup itu lagi. Dengan perasaan cemas Alya mulai membuka grup WA Bapak-bapak komplek yang ada di handphone suaminya. Matanya terbelalak mendapati Pak Robert mengirimkan video baru di dalam grup itu. Kali ini Robert mengirimkan video Alya saat sedang masturbasi dirumahnya. Lengkap dengan kerudung panjang yang kemarin dipakainya! Hanya saja, Robert masih mensensor tepat di wajahnya, dan suaranya sengaja dihilangkan sehingga wajah dan suara Alya masih tidak terdeteksi dalam video tersebut.


Tubuh telanjang Alya terlihat seluruhnya. Dan dalam posisi sangat memalukan. Alya mengangkang memamerkan kemaluannya, merendahkan harga dirinya di depan kamera. Tanganya begitu lihai mengobok lubang kemaluannya yang sudah becek. Muka Alya memerah padam menyadari video tersebut sudah dinikmati oleh bapak-bapak yang tergabung dalam grup itu


Meski wajah dan suaranya disensor, Alya tetap takut jika warga perumahannya tahu siapa sosok wanita di dalam video itu. Mengingat yang biasa menggunakan kerudung syari panjang seperti itu hanyalah dirinya di komplek tersebut. Ia takut mereka akan menebak kalau wanita dalam video tersebut adalah dirinya. Alya buru-buru membaca komentar-komentar yang menanggapi video cabul itu. Betul saja, pembahasan mereka kebanyakan fokus pada kerudung yang dipakai pemeran video tersebut.


"ini lonte yang kemaren pak? Kok pakai kerudung?"


"Busyet itu lonte kerudungan beneran apa pelacur yang dikerudungin Pak?"


"Eh kok mirip Bu Alya ya istrinya Pak Ragil? Mirip gak sih?", tanya tetangga Alya membuat mata Alya terbelalak dan jantungnya seketika berdebar-debar


"Ngawur!! Bu Alya itu alim Pak. Mana mungkin dia masturbasi kayak gini. Bisa aja bapak ini", jawab Pak RT


"Oiya, maaf Pak Ragil. Gak ada maksud nyinggung pak", ujar tetangganya itu


"Tapi memang mirip sama Bu Alya sih. Warna kulitnya memang mirip. Putih mulus"


"Sok tau bapak ini. Gak mungkin Bu Alya pemeran video ini. Sudah nanti Pak Ragil jadi salah paham.", jawab Pak RT


"Pak Robert tolong jawab Pak siapa pemeran video ini? Kami penasaran sekali", timpal warga lainnya


Robert hanya membalas emotikon jempol dan tertawa membalas dugaan-dugaan dari tetangganya itu. Alya semakin was-was menyadari dirinya sudah dicurigai oleh sebagian bapak-bapak di komplek rumahnya. Dari segala sisi, wanita dalam video tersebut memang terlihat seperti dirinya.


Alya ingin sekali membalas pesan itu dari handphone suaminya, tetapi ia urungkan. Alya kemudian menghapus semua pesan grup itu dan berharap suaminya tidak melihat video dan komentar tentang dirinya yang menjadi pembahasan di grup itu. Alya takut suaminya akan mengenali sosok dalam video tersebut karena kerudungnya sangat mewakili dirinya. Kerudung berwarna pink dengan motif minimalis itu seingatnya hanya ia yang punya.


*Bagaimana perasaan suamiku kalau lihat video istrinya masturbasi seperti ini? Apalagi video tersebut sudah tersebar di perumahan! Gila! Pak Robert Jahat! Apa yang dimau Pak Robert? Bukannya dia sudah mendapatkan apa yang dia mau?? Bodohnya aku menuruti kemauan Pak Robert* kata Alya penuh penyesalan


#


Keesokan harinya, Alya baru saja selesai mandi. Ia dapati suaminya sedang duduk di teras rumahnya sambil berbincang-bincang dengan seseorang. Sepertinya saat itu sedang ada tamu. Alya pun mengintip dari dalam rumah siapa yang datang ke rumahnya pagi-pagi begini.


Mata Alya terperanjat kaget, menyadari siapa yang datang ke rumahnya. Ternyata yang bertamu adalah Pak Bagus atau biasa dikenal dengan sebutan Pak RT, yang rumahnya terletak masih 1 gang dengan rumah Alya. Alya kembali mengingat pembicaraan yang terjadi di dalam grup bapak-bapak semalam. Beliaulah satu-satunya sosok yang mati-matian membela dan meyakinkan para bapak-bapak lainnya kalau sosok wanita masturbasi yang ada dalam video yang dikirim Pak Robert bukanlah dirinya


"Ma.. sudah selesai mandinya?", tanya suaminya tiba-tiba sambil sedikit berteriak dari teras rumah


Alya yang terkejut tiba-tiba dipanggil suaminya dengan reflek langsung menjawab panggilan itu.


"Eh I.. Iya.. Su.. Sudah Pa.. Barusan aja selesai", jawab Alya tergopoh-gopoh membuyarkan lamunannya


"Sini sebentar Ma", panggil suaminya lagi


Alya masih tidak enak hati untuk menampakkan diri disaat seperti ini. Tetapi bakalan terasa lebih aneh jika istri alim seperti dirinya menolak panggilan suaminya. Dengan perasaan dagdigdug, Alya memberanikan diri keluar dan pandangan matanya langsung ditangkap oleh Pak RT. Alya merasa tatapan Pak RT kali ini berbeda. Ia sepertinya terpesona dengan Alya dan memanding wajah mama Echa itu begitu lama.


"Ma, minta tolong bikinkan kopi dong buat Pak RT", ujar suami Alya


"Eh iya Pa.."


"Pak RT mau pake susu?", tanya Ragil


Pertanyaan suami Alya yang mendadak itu tiba-tiba membuat Pak RT tersedak. Beliau sepertinya tidak siap mendengar pertanyaan yang sangatlah ambigu itu. Mungkin pikirannya masih membayangkan video masturbasi yang dilakukan wanita berkerudung yang sangat mirip dengan Alya.


"EH.. IYA PAKE PAK.. Mau SUSU.. YANG BANYAK", ujar Pak RT penuh semangat dan berapi-api membuat Alya terbengong


"Pake Susu ya Ma.. Yang Banyak"", kata Ragil dan Alya pun buru-buru berjalan ke arah dapur tidak berani terlalu lama di dekat Pak RT.


Beberapa saat kemudian, Alya sudah kembali ke teras sambil membawakan nampan sebagai wadah untuk membawakan kopi susu pesanan Pak RT.


"Bu Alya ngerepotin aja" Terima kasih ya Bu. Pakai susu ya Bu?", ujar Pak RT sambil segera menyeruput secangkir kopi itu.


"I.. Iya Pak.. Pake kok..", kata Alya tersipu karena merasakan kejanggalan dengan pertanyaan dari Pak RT.


"Mantab.. Susunya pas Bu.", puji Pak RT membuat Alya makin tersipu


"Pas ya Pak RT? Syukur deh kalau Pak RT suka", timpal Ragil dan Pak RT tertawa kecil melirik ke arah Alya


"Errr.. Yasudah saya permisi ke dalam dulu.", kata Alya pamitan dan ia pun buru-buru masuk ke dalam karena tak ingin Pak RT turut mencurigai dirinya


Di dalam kamar, Alya kembali memeriksa pesan WA yang masuk ke handphonenya. Ternyata yang masuk, hanya beberapa pesan dari Group pengajian yang diikutinya. Tidak ada yang berasal dari Pak Robert. Wajah Alya sedikit kecewa. Ia berharap Pak Robert mengirim pesan pribadi kepadanya. Ia takut Pak Robert kembali mengirim pesan aneh-aneh di grup bapak-bapak karena semalam ia tidak membalas pesan dari lelaki brengsek itu.


"Eh kenapa aku jadi nunggu pesan Pak Robert sih", kata Alya sendiri dan ia pun menyimpan handphonenya kembali ke dalam tas


20 menit kemudian"


Suami Alya masuk ke dalam kamar, sepertinya Pak RT baru saja pulang. Alya penasaran apa yang tadi mereka bicarakan. Alya hanya takut Pak RT tiba-tiba membahas pemeran video yang menyerupai dirinya kepada Ragil suaminya.


"Kok tumben Pa Pak RT kesini?", tanya Alya penasaran


"Oh iya, beliau bahas soal ronda malam Ma. Akhir-akhir ini bapak-bapak mulai kehilangan semangat ikut kegiatan wajib itu", kata suami Alya mulai bercerita


"Lho maksud Papa?", tanya Alya


"Jadi waktu pertama kali diadakan ronda malam, bapak-bapak masih suka ikut. Tapi akhir-akhir ini mulai sepi. Alasannya mama tau?", tanya suami Alya


Alya menggeleng pelan"


"Jadi bapak-bapak itu sebenarnya iri sama papa, karena gak pernah ikut ronda dengan alasan tugas ke luar kota", kata Ragil


"Lho kan memang kerja keluar kota Pa. Itu kan bukan alasan papa aja", kata Alya membela suaminya


"Iya tapi tetep aja Ma" Mereka merasa tidak adil kalau papa dapat perlakuan khusus", jelas suami Alya


"Terus mau mereka gimana Pa? Masak ya Mama yang gantiin Papa ikut ronda?", kata Alya


"Ya gak mungkin dong Ma. Masak Mama ikut ronda""


"Terus solusinya gimana Pa?"


"Itu yang masih mau dibicarakan lagi. Yang pasti kita sudah diberi tau dulu kondisinya warga sekarang itu kayak gimana. Mungkin akan diberlakukan sanksi Ma bagi yang gak ikut"


"Eh? Didenda? Berapa?", tanya Alya


Suami Alya menggeleng"


"Belum diputuskan Ma""


"Ohhh.. Yasudah kalau gitu. Semoga sanksinya ringan-ringan aja Pa""


"Ya kalau ringan nanti pada gak datang ronda Ma""


"Oiya bener juga.. Yasudah semoga ada solusi deh""


"Iya Ma""


"Terus cerita apa lagi Pa? Pasti bahas-bahas yang di grup ya hayo ngaku?", pancing Alya


"Eh.. enggak kok.. Oiya tadi Pak RT cerita sedikit katanya Pak Robert kirim video baru. Cuma tadi papa bilang belum sempat cek HP jadi belum liat"", kata suami Alya sambil hendak membuka handphonenya


"Eh Pa" Maaf" Kemarin malam Mama buka HP Papa terus mama hapus semua isi mesum di grup itu""


"Lho kenapa dihapus Ma?", tanya Ragil


"Pake nanya lagi.. Papa tuh nanti jadi sering liat aurat perempuan lain. Mama cemburu!", kata Alya beralasan


"Ohhhh.. Apa papa keluar dari group aja biar Mama gak cemburu?", kata Ragil


"Eh ga usah keluar Pa, nanti dikira sombong lho", kata Alya


"Iya juga ya? Yasudah biarin deh papa gak ikutan kalau bahas mesum-mesum gitu", kata suami Alya


"Iya! Awas aja kalau papa ikutan nanti Mama ngambek!", ancam Alya


"Iya iya mama sayang.. Yaudah kalau gitu Papa mau mandi dulu, gerah banget nih", kata Ragil dan ia pun bergegas mengambil pakaian dan menuju kamar mandi


Karena tidak ada lagi yang dikerjakan, Alya pun berjalan ke teras rumah. Ia hendak menyirami beberapa pot bunga yang menghiasi teras rumahnya agar kelihatan asri. Memang beberapa hari ini cuaca cukup panas sehingga daun tanaman-pekarangan rumahnya beberapa ada yang layu kekeringan. Saat sedang asyik-asyiknya menyiram tanaman, sebuah mobil jeep mewah tiba-tiba berhenti di depan rumah Alya


Bak di sambar petir di siang bolong, Alya tersedak melihat siapa yang datang. Pria berbadan besar berkulit gelap turun dari mobil itu. Pak Robert, dengan gaya berpakaian necis, dengan style 3 kancing bajunya sengaja tidak ia pasang agar terlihat macho sambil memamerkan kalung emasnya, berdiri sok cool di depan rumah Alya. Robert kemudian tersenyum ke arah Alya sambil melepaskan kacamata hitamnya.


"Halo Cantik" Duh kangen saya sama Bu Alya, makin cantik aja Bu", kata Pak Robert sambil berdiri menyandarkan tangannya di pagar rumah Alya


"Pak.. Pak Robert.. A.. Ada perlu apa.. Pak"", ujar Alya ketakutan karena khawatir ada tetangganya yang melihat kehadiran Pak Robert di rumahnya


"Saya ada perlu sama Bu Alya. Hehehe..", tanya Pak Robert


"Eh dengan saya? A.. Ada apa pak"", tanya Alya ketakutan


"Kemana aja kamu gak pernah hubungin saya? WA saya juga gak dibalas. Sombong ya kamu mentang-mentang barusan dapat 40juta dari hasil jual diri", ledek Robert membuat Alya semakin panik takut suaminya dengar perkataan lelaki brengsek itu


"Ehh.. Anu.. Maaf Pak.. A.. Ada suami saya di rumah" dan.. Saya sudah.. tidak ada utang lagi sama" Pak Robert" U.. Urusan saya dengan Pak Robert su.. sudah se..lesai", jawab Alya terbata-bata


"Apa??? Tidak ada urusan dengan saya??? Jalang sialan!! Plak plak", ujar sambil menampar pipi Alya 2x


Alya mengaduh kesakitan memegangi pipinya. Perlakuan Robert sangatlah kasar. Padahal dikiranya dulu Robert adalah sosok yang ramah dan supel. Ia juga dikenal warga sosok yang ringan tangan suka menolong. Tapi sekarang Alya tahu betul. Sifat Robert benar-benar licik mengalahkan Iblis.


"Pak.. sudah" Saya bukan pelacur seperti yang bapak inginkan! Saya mau jadi istri yang bener pak!!!", kata Alya berani melawan pada akhirnya


"Oooo.. Udah berani ngelawan ya kamu? Mentang-mentang sudah ada duit dikit langsung sok ya kamu" Lupa kartu AS-mu masih ada di saya" Oke kita lihat nanti reaksi suamimu liat istrinya masturbasi di rumah saya" Hahahah", ancam Robert


"Eeehhhh"??? Pak Robert jangan Pak".", ujar Alya lemas mendengar ancaman itu


"Masih mau melawan saya?? Mau tetangga-tetangga kita tahu? Bu Alya yang katanya alim ternyata tak lebih seorang istri yang memeknya bisa saya beli??", kata Robert tersenyum mesum


Seketika Alya tak berdaya. Kakinya langsung lemas dan air mata jatuh seketika. Habis sudah kehidupan indahnya berurusan dengan lelaki licik seperti Robert. Penyesalan demi penyesalan melanda pikirannya. Andai saja waktu dapat diputar kebelakang, Alya pasti tidak sudi berurusan dengan Pak Robert. Ia pasti akan mencoba mencari jalan lain yang lebih halal. Karena sejak berurusan dengan Robert, secara tidak langsung Alya sudah menyerahkan dirinya kepada Robert dan menerima takdir menjadi wanita penghibur bagi lelaki bejat dari timur itu.


"Hehehe.. Kenapa Bu? Mau lihat suami Bu Alya tau kelakuan mesum Bu Alya di rumah saya? Memek Bu Alya basah sekali waktu masturbasi di rumah saya" Kayaknya Bu Alya suka lagi masturbasi tapi dilihatin..", ucap Robert sudah memegang kendali atas istri Ragil itu


"Ja.. Jangan Pak"", ucap Alya pasrah


"Masih mau melawan?"


Alya menggeleng.. Ia sudah terlalu takut meladeni pria bertubuh besar dihadapannya itu.


"Bagusss.. Kalau gitu saya minta sekarang Bu Alya Angkat roknya"", kata Robert sambil menunjuk Rok Alya


"Eehh?? Kenapa pak?", tanya Alya terkejut


"Pakai nanya lagi. Saya cuma mau lihat Bu Alya masih patuh ngga sama saya", jawab Robert


Alya menghela nafas panjang menyadari nasibnya yang kembali akan dipermalukan oleh Robert. Ia tidak punya pilihan lain karena takut Robert akan mengungkap jati dirinya yang sebenarnya dihadapan para bapak-bapak warga perumahan. Alya pun mengangkat roknya tinggi-tinggi hingga celana dalamnya keliatan. Wajah cantiknya tertunduk menahan malu. Ia masih menyesali keputusannya meminjam uang dari Robert. Keputusan terburuk yang pernah ia ambil selama hidupnya.


Robert memandang mesum melihat Alya yang tengah menunjukkan celana dalam berwarna kremnya itu kepada dirinya. Pemandangan yang sangat menggairahkan sekali bagi Robert mengingat wanita berpakaian tertutup seperti Alya juga bisa berani memamerkan celana dalam dihadapannya.


"Uuhhh.. Selangkangan Bu Alya memang sangat membuat saya nafsu", ujar Robert sambil membelai bibir kemaluan Alya yang masih terbungkus celana dalamnya


Alya menutup matanya, ia tidak berani melawan kali ini karena Robert sudah memegang kendali atas dirinya. Tangan Robert terus merogoh celana dalam Alya, memainkan kemaluan istri Ragil itu hingga perlahan mulai basah.


"Bagus sayang" Memek Bu Alya kayaknya memang sangat butuh dipuaskan", ujar Robert sambil semakin kuat meraba kemaluan Alya hingga membuat kaki Alya gemetaran


"Pak.. Sudah, nanti dilihat suami saya"", pinta Alya memelas


"Hahahaha" Memek kamu semakin basah Bu Alya" Jangan-jangan kamu terangsang kalau suami benar-benar tahu kalau istrinya itu wanita jalang", kata Robert sambil kini jemarinya menyusup ke balik celana dalam Alya


"Aaaaaaaahhhhh" Pak Robert"", Alya pun mendesah pada akhirnya


Inilah perasaan yang Alya tunggu-tunggu selama ini. Perasaan dirangsang begitu nakal oleh seorang pria yang tidak ia dapatkan dari suaminya. Perasaan begitu terangsang saat direndahkan adalah perasaan yang sulit ia ungkapkan selama ini. Perasaan yang Alya sendiri bingung untuk melukiskannya. Wanita alim seperti dirinya terlalu malu untuk mengakui perasaan itu.


"Kenapa Bu Alya? Kamu malah terangsang ya? Bayangkan suamimu onani lihat kamu melayani saya Alya. Hahahahah" Bayangkan memek istri yang dicintainya keenakan disodok kontol saya" Hahahah", kata Robert mensugesti wanita berjilbab lugu itu


"Pak.. Pak Robert.. Saya mau pipisss" Te.. Teruss"", kata Alya hendak membuka celana dalamnya sendiri karena tidak tahan dengan rasa birahi yang melanda pikirannya


Robert dengan sigap menghentikan rangsangan pada kemaluan Alya. Alya yang tubuhnya tadi gemetaran hebat hendak mendapatkan orgasmenya, malah merasakan rasa tanggung yang tidak mengenakkan. Vaginanya yang sudah kedutan menghamba untuk dipuaskan, tiba-tiba dihentikan secara sepihak kenikmatan itu hingga Alya batal orgasme. Alya kesal karena Robert batal membawanya ke kepuasan birahi yang selama ini dirindukannya sejak terakhir kali mereka berzina


"Haghaghag" Kenapa Bu? Kencing jangan sembarangan Bu. Heheheheh", ledek Pak Robert sambil memamerkan jemarinya yang sudah belepotan lendir vagina Alya


"Pak Robert jahat"", rajuk Alya manja


"Haghaghag" Sudah ya! Nanti ketahuan suamimu", goda Robert dan ia pun hendak pergi meninggalkan rumah Alya tapi Alya menahan tangan Robert segera


"Pak.. Jangan berhenti..", pinta Alya kembali sambil menahan tangan Robert dengan erat


Robert tersenyum penuh kemenangan. Ia yakin betul wanita dihadapannya itu hanya casingnya saja alim, tapi kemaluannya selama ini sangatlah mengharap untuk dipuaskan. Keputusan hijrah Alya sudah menyiksa nafsu syahwatnya. Nafsu syahwatnya yang seperti bom waktu, kapan saja bisa meledak sewaktu-waktu. Robert kemudian punya ide, ide untuk merendahkan Alya lebih parah. Ia penasaran seberapa serius istri ragil itu mengharapkan kepuasan.


"Kamu pingin apa Bu?", tanya Robert mesum sambil mencubit pipi Alya yang kemerahan menahan birahi


"Sa.. Saya.. Mau.. dipuaskan"", jawab Alya lirih


"Apa saya tidak dengar", goda Robert


"Se.. Setubuhi saya pak"", pinta Alya


"Hahahaha.. Istri macam apa kamu Bu" Kenapa nggak minta sama suamimu?", goda Robert


"To.. Tolong Pak" Saya ngga tahan lagi"", pinta Alya


"Minta suamimu sana!", ledek Robert penuh kemenangan


"Enggg.. Enggak bisa.. Pak""


"Kenapa ngga bisa? Bukannya kamu sayang suamimu?"


"Tolong Pak" Jangan ledek saya terusss" Saya sudah ga tahan lagi pak"", pinta Alya


"Bu Alya Bu Alya" Penampilanmu alim tapi memekmu jalang sekali. Hahahahah.. Kamu mau dipuaskan?"


"Mau pak" Tolong saya pak""


"Yasudah kasih saya 10 juta, nanti kamu saya puaskan", kata Robert pada akhirnya


Ia penasaran apakah Alya si istri yang katanya alim itu akan bersedia membayar demi meraih kepuasan. Jika dugaannya benar, maka habis sudah martabat istri Ragil itu. Ia akan perlakukan Alya dengan seburuk-buruknya. Hingga wanita sok alim itu akan dihancurkan harga dirinya oleh Robert


"I.. Iya nanti saya bayar pak.. 10juta"", jawab Alya tersipu


"transfer sekarang. Ini nomor rekening saya", kata Robert arogan


"Oiya kalau sudah, kamu ikut saya. Jangan lupa ijin suamimu dulu. Heheheh", kata Robert


Alya kesal namun tidak punya pilihan lain. Ia buru-buru ke kamar dan mengambil handphonenya untuk segera mentransfer Robert secara online. Uang pun sudah berpindah tangan. Alya rela membayar Robert demi mencapai kepuasan birahi yang selama ini sudah ingin ia dapatkan. Toh Alya merasa uang tersebut milik Robert jadi ia tidak begitu merasa sayang.


Terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi. Suami Alya sedang mandi sambil bersiul-siul bersenandung sebuah lagu yang tidak begitu jelas. Alya pun mengetuk pintu sambil menghela nafas, mengatur sebuah kebohongan lagi agar suaminya mengijinkan dirinya keluar rumah.


*Tok tok tok*


"Pah"", suara Alya terdenger gemetaran


Wajar saja, istri seburuk apa yang meminta ijin hendak berzina dengan pria lain. Namun Alya yang sudah dikuasai nafsu setan sudah tidak peduli lagi apa itu arti kesetiaan. Yang ia butuhkan saat ini adalah kepuasan. Kepuasan yang selama ia berhijrah selalu ia tahan-tahan. Alya pada akhirnya menyalahkan "keterbatasan" suaminya yang tidak mampu memberikan nafkah batin. Karena suaminya tidak bisa memberikan kenikmatan yang setara seperti yang sudah diberikan oleh Pak Robert. Karena suaminya lah ia terpaksa berzina dan berusaha meraih kenikmatan dengan pria lain


"Iya Ma?", jawab Ragil dari dalam kamar mandi


"Anu.. Errr.. Mama.. Ijin keluar dulu ya Pa""


"Mama mau kemana?"


"Errrr.. Mau kajian Pa.."


"Kajian? Dimana? Papa antar ya?"


"Eh"?? Anu.. Gak Usah Pa" Mama sudah dijemput temen Mama.. Deket kok di Jl. Suriname sini kajiannya", kata Alya mengarang cerita


"Ohh.. Lama Ma?"


"Errr" Paling.. Sampai.. So.. Eh.. Malam Pa.."


"Lho kok lama sekali Ma?"


"I.. Iya Pa.. Bi.. Biar Puasss.. Udah ah temen mama sudah nunggu Pa"


"Oh ya ya ya.. Ati-ati dijalan Ma"


"Iya Pa.. Oiya mama gak bawa hape ya papa.. Biar mama bisa fokus.. Love you Papaaaaa", kata Alya langsung berlari kecil keluar dan ternyata Robert sudah di dalam mobil sambil memanasi mobil jeepnya.


Mata Alya terbelalak saat membuka pintu Mobil Robert. Robert sudah menurunkan celana jeansnya dan membuka kontolnya dibalik setir mobilnya. Kontol kekar yang selama ini ia dambakan sudah tersaji lagi di depan matanya.


Kemaluan Alya kembali meneteskan cairan saat melihat kontol Robert yang perkasa. Kontol yang sudah membuatnya menyesal menikahi pria bernama Ragil. Alya hendak meraih kontol Robert namun Robert menepis tangan Alya.


"Dasar jalang! Liat kontol langsung sange. Hahahaha"", ledek Robert


"Sa.. Saya mau.. kon.. Kon.. tol Pak Robert", kata Alya malu


"Boleh" tapi syaratnya!"


"Apa itu Pak"", tanya Alya sudah tidak tahan


"Bilang Bu Alya cinta sama saya", permintaan Robert terdengar kekanak-kanakan tapinmemang itulah kata-kata yang ingin ia dengar dari wanita berkerudung syari itu


"I.. Iya Pak.. Saya.. Cinta sama Pak Robert"", kata Alya membuat Robert tertawa senang


"Cinta sama saya apa sama kontol saya nih?", goda Robert


"Semuanya.. Boleh ya Pak saya sepong?", pinta Alya kali ini


"Ya udah nih sepong! Awas kalau kena gigi saya pulangin kamu Bu"


"Siap Pak!", kata Alya dan seperti anjing yang kelaparan Alya langsung menjilati kemaluan pria terkaya di perumahannya itu.


Jilatan Alya lebih liar kali ini. Tak jarang ia juga meneteskan liurnya sebagai pelumas tambahan saat menjilati kepala kontol Robert. Suara di dalam mobil semakin terdengar berisik karena mulut Alya yang begitu khusyuk memuaskan kontol Robert. Kepala istri Ragil itu naik turun begitu giat bekerja keras memuaskan kontol Robert dengan mulutnya.


"Aaahhh.. Enak betul sepongan Bu Alya.. Tambah pinter saja lonte saya ini. Hahahaha" Sssshhh"", kata Robert sambil membelai kerudung Alya


"Uuuhh.. Kontol Pak Robert gede banget saya sampai ketagihan"", jawab Alya sambil menciumi kepala kontol Robert yang warnanya kehitaman itu


"Istri sangean seperti Bu Alya memang harus dikasih kontol besar biar puas memeknya"", ujar Robert


"Masukin Pak..", Pinta Alya sambil melepaskan celana dalamnya


"Sini!", kata Robert sambil memundurkan kursi kemudinya agar lebih luas


Tak terasa mereka sudah tiba di depan rumah Robert. Karena memang jarak rumah mereka yang hanya selisih beberapa gang saja. Tapi kedua pasangan yang sedang asyik berzina itu tidak langsung turun dari mobil. Robert ingin bercinta dengan istri Ragil itu di dalam mobil mewahnya.


*Jlebb jlebb jlebbb*


"Aaahh.. Aaahh.. Aaahhh..", desah nakal Alya diatas pangkuan Robert


Tubuh Alya begity sexy menggeliat menduduki kontol Robert. Kedua kelamin itu sudah saling bertemu setelah terpisah beberapa hari karena Robert ke luar negeri. Alya begitu terlihat keenakan saat kemaluannya disodok kontol Robert dari bawah. Tangan Alya bergelayut manja di leher Robert sedangkan tubuh sexynya bergerak naik turun diatas pasangan haramnya itu.


Keduanya berciuman panas, tidak ada rasa jijik bagi Alya mencium bibir tebal nan hitam milik Robert. Lidah Robert juga sudah bergerilya di rongga mulut Alya untu Menjilat dan melumat lidah Alya penuh nafsu. Alya pun tak kalah gilanya. Ia lumat balik lidah Robert sebisanya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk pria bejat itu.


"Memek kamu sempit sekali Alya.. Ssshhh.. Ooohh.. Shit"", kata Robert semangat menyodok vagina Alya yang sudah menganga


"Kontol bapak yang kebesaran..", jawab Alya nakal sambil menciumi bibir Robert bak seorang kekasih


"Tapi kamu suka kan Bu?"


"Suka sekali Pak.. Saya suka kontol Pak Robert", jawab Alya manja sambil terus bergerak naik turun disodok kontol Robert


Lalu Robert membanting tubuh Alya ke kursi kemudinya. Kini mereka bertukar posisi. Robert diatas dan Alya dibawah. Dalam sekali sodokan mantab, kontol Robert kembali dicelupkan ke kemaluan istri Ragil yang sudah amat becek itu hingga menimbulkan suara tumbukan yang terdengar basah.


"Ooohh.. Oohhh.. Oohh.. Enak Pak Robert.. Terus pak.. Aaahhhh..", erang manja Alya sehingga Robert semakin semangat menggenjot kemaluan istri Ragil itu penuh semangat.


"Aarrrgghhh saya mau keluaarr Buu.. Gak tahan saya denger desahan Bu Alyaaa"", ujar Robert sambil buru-buru mencabut kontolnya dari liang senggama Alya


"Saya juga mau sampai pak" Aaaahhhh"", erang Alya keenakan


*crot crot crot crot*


Kontol Robert menyembur keluar tepat di wajah cantik Alya bersamaan dengan vagina Alya yang muncrat-muncrat membasahi kursi mobil mewah Robert. Wajah cantik istri Ragil itu kini belepotan sperma Robert. Robert kembali mencumbu Alya penuh nafsu. Orgasme pertamanya sama sekali tidak berpengaruh banyak baginya karena kini lelaki berwajah sangar itu sudah menginginkan ronde kedua


"Turun dulu yuk Pak. Gak enak kalau dilihat tetangga", pinta Alya


"Hehehe.. Iya deh, daripada mobil saya kotor kena cairan najis memek bau sampahmu Bu", ledek Robert


"Bau sampah gini tapi kontol Pak Robert ketagihan gitu sama memek saya", jawab Alya tak mau kalah sambil mengocok kontol Robert dan menjilat batang Robert itu sesekali agar cairan spermanya bisa Alya bersihkan


"Ya soalnya saya kasihan. Memek bau sampah Bu Alya tidak bisa dipuaskan titit kecil suaminya. Hahahah.. Plak plak plak", ledek Robert sambil menampar pipi Alya dengan keras


Kedua pasangan itu pun turun dari mobil dan Robert langsung menyeret tubuh istri Ragil itu ke dalam kamarnya. Alya menelanjangi dirinya sendiri begitu juga dengan Robert. Kedua insan yang sedang berzina itu kembali bersenggama begitu panas mempertemukan kedua kemaluan mereka. Lubang kemaluan Alya yang seharusnya hanya milik suaminya, sudah ia berikan juga kepada Robert. Kali ini bukan Robert yang membayar dirinya. Tapi Alya lah yang membayar Robert 10juta agar bisa memuaskan birahinya yang sudah meledak-ledak tak tertahankan.


Tusukan demi tusukan kontol Robert sangat nikmat terasa di kemaluan Alya. Istri Ragil itu menggeliat manja, menikmati tiap sodokan-sodokan kontol Robert yang perkasa. Bibir Robert juga bergerak lincah menyusuri tubuh telanjang istri Ragil. Putting susu Alya diemutnya sepuas-puasnya seolah Alya adalah miliknya seorang. Ia tidal peduli gadis yang sedang mengangkang dibawahnta saat ini adalah istri tetangganya. Yang ada dipikiran Robert hanyalah menikmati tubuh Alya yang memang ingin sekali dipuaskan


"Keluar di dalam apa di luar Bu?", tanya Robert sembari mereka bersetubuh


"Terserah Pak Robert.. Ohh.. Ooohh.. Ohhh.. Yessss" Pak.. Teruusss.. Aaahhh", rancau Alya semakin mengangkang


"Di dalam kalau gitu..", kata Robert sambil mendorongkan kuat-kuat batang kemaluannya ke rahim Alya hingga mentok


"Aaaahhhh.. Yessss.. Pakkk.. Aaahhh.. Saya bisa hamil pak"", kata Alya menyadari kontol Robert sudah menyembur-nyembur cairan hangat di dalam vaginanya


"Hahahahah" Itung-itung buah cinta kita Bu.. Bu Alya cinta saya kan?"


"I.. Iya" Saya cinta Pak Robert"", kata Alya sambil terus menggoyangkan tubuhnya seperti cacing kepanasan


"Ikhlas ya Bu saya hamilin?", tanya Robert


"Boleh Pak" Saya ikhlas dihamilin Pak Robert", jawab Alya dan kembali mereka berciuman panas


Robert kembali menggauli istri Ragil itu di dalam rumahnya. Sudah berbagai macam gaya mereka lakukan demi mendapatkan kepuasan. Terlihat vagina Alya pun sudah licin akibat sperma Robert yang dari tadi tumpah di dalam kemaluannya. Tapi Alya sudah tidak pedulikan hal itu. Ia hanya ingin dipuaskan hari ini setelah berpuasa hampir seminggu karena suaminya yang loyo itu tidak bisa memberikan kenikmatan seperti Robert


Alya yang nampak lebih aktif menggoyangkan tubuhnya demi menggoda syahwat Robert. Istri Ragil beberapa kali melakukannya dalam posisi women on top. Alya merasa sexy saja saat menghibur Robert dengan posisi itu. Karena Robert bisa dengan leluasa meremasi payudaranya yang bergelantungan.


Alya hari ini begitu ingin disetubuhi Robert lagi dan lagi. Dan untungnya Robert bisa memberikan kenikmatan itu bagi Alya. Total di kamar ini Robert sudah menembakkan 7x spermanya ke rahim Alya. Dan kesemuanya ia semburkan ke dalam rahim Alya.


"Saya bener-bener bisa hamil anak Pak Robert kalau gini caranya. Hah.. Hah.. Hah"", kata Alya terbaring tersengal-sengal sesudah Robert menembakkan spermanya


Robert memeluk Alya dan mengecup kening istri Ragil itu"


"Kamu menyesal Bu?", tanya Robert


Alya menggeleng buru-buru"


"Saya justru bersyukur Pak Robert sudah kasih saya kenikmatan yang luar biasa.. Saya benar-benar senang Pak"", jawab Alya


"Kalau suamimu menceraikanmu karena kamu hamil anak saya gimana bu?"


Alya tidak langsung menjawab, nampak sekali ia berpikir keras menjawab pertanyaan Robert kali ini. Hal yang bisa saja benar-benar terjadi. Tapi Alya sudah memantabkan hati memutuskan terus menjadi pelcur bagi Robert. Karena ia tahu betul bagaimana tersiksanya syahwat yang tidak bisa terlampiaskan.


"Mungkin saya akan jadi pelacur saja pak"", kata Alya nakal


"Kamu serius Bu?"


"Bercanda Pak. Hihihi" Bapak sih pingin banget saya jadi pelacur", jawab Alya


"kapan lagi lihat perempuan alim seperti Bu Alya jadi pelacur. Kalau Bu Alya mau, Bu Alya bisa saya jadikan pelacur di industri dunia malam saya", kata Robert


"Ihhh.. Maunya bapak itu mah" Kan tadi bilang seandainya saya cerai sama suami saya. Kalau gak cerai ya saya gak jadi pelacur pak", jawab Alya


"Ya jadi pelacur pas jadi istru juga gak ada yang ngelarang kok Bu"


"Pak Robert ngawur ah""


"Nanti Bu Alya saya jadikan penari striptease atau wanita penghibur di club malam saya dan rekan-rekan saya. Pasti cuan besar Bu.. Apalagi kalau Bu Alya masih pakai hijab lebar. Pasti lebih menjual Bu diburu lelaki hidung belang", bujuk Robert


"Ihhh.. Ngga ah kasian suami saya Pak.. Masak istrinya jadi pelacur"


"Hehehe bantu nyari duit kan ga salah juga Bu. Bu Alya pasti laku kalau jadi pelacur jilbab lebar. Saya yakin sekali Bu. Hehehehe""


"Gak mau Ah Pak. Masih takut saya.. Kasihan suami saya juga"


"Hehehe" dapat banyak kontol lho Bu. Bu Alya gak pingin? Dapat banyak kontol juga dapat banyak duit", goda Robert


Imajinasi Alya semakin tak karuan dengan iming-iming dari Robert. Imajinasi itu terlalu liar bagi Alya yang memang dibesarkan dari keluarga yang taat agama. Membayangkan vaginanya dinikmati lelaki hidung belang adalah hal tergila yang pernah ia bayangkan. Karena diam-diam Alya pun mengakui, dirinya sudah ketagihan disodok kontol Robert. Timbul rasa penasaran bercinta dengan lelaki lainnya lagi. Ia jadi ingin merasakan sensasi baru dengan besetubuh dengan pria lain. Apalagi ia bisa mendapatkan keuntungan dari hasil menjadi seorang pelacur. Ia tidak perlu susah payah hidup serba berkecukupan lagi dan bisa lebih mandiri dalam mencukupi kebutuhan hidupnya


"Tapi saya sudah tua Pak" Mana ada yang mau sama saya"


"Oiya, bu Alya mau tau jawabannya? Kira-kira pada mau enggak sama Bu Alya?", kata Robert sambjl tersenyum licik seperti mendapatkan ide


"Eh gimana caranya Pak?"


"Saya atur aja. Kejutan Buat Bu Alya. Hehehe" Duh saya jadi ngaceng lagi"


"Pak Robert mau entot saya lagi? Sudah jam 7 malam nih Pak""


"Sekali crot lagi ya Bu""


"Bayar dulu pak.. Kan saya pelacur", canda Alya


"Kamu yang bayar saya Bu.. Haghaghag""


"Saya bayar berapa nih pak?"


"1juta.. 1x Crot""


"2x Crot deh Pak saya masih mau dipejuin Pak Robert", tawar Alya


"Oke deal!", jawab Robert sambil hendam ambil posisi menggagahi istri Ragil itu


"Iya udah Pak.. Besok saya transfer Pak saya ngga bawa HP sekarang", jawab Alya pasrah saat kedua kakinya dibuka lebar oleh Robert


*Jleb jleb jleb jleb*


mereka kembali berzina, kali ini Alya yang menghamburkan uang. Total 11 juta sudah ia keluarkan demi memuaskan vaginanya digenjot kontol perkasa Robert. Desahan demi desahan terdengar syahdu malam itu. Tidak ada yang menyangka seorang wanita yang dikenal alim sedang bersetubuh begitu panas di dalam kamar itu


#


Jam 21.10 Alya tiba di rumah. Jalannya sedikit terseok-seok karena sodokan kontol Robert begitu kuat menghujami vaginanya daritadi. Alya tidak sempat mencuci vaginanya, sehingga kemaluan istri Ragil itu begitu menjijikkan terkena sperma Robert yang kental. Tubuh serta pakaiannya sama saja busuk aromanya. Tidak ada tanda-tanda wanita berjilbab lebar itu baru pulang dari kajian.


Alya berjalan mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya. Mengambil sebuah tablet dan ia pun meminumnya. Sepertinya Alya minum obat antihamil yang pernah ia beli di apotek. Alya memandang-mandang dalam-dalam wajah suaminya yang tertidur pulas memejamkan matanya.


*Maafkan istrimu Pa" Istri Papa bukan Istri yang baik" Ini semua semua juga salah papa. Andai punya papa bisa kasih kepuasan pasti mama gak tergoda *, ujar Alya dalam hati


Alya melirik sejenak suaminya, tak lupa ia ambil handphone yang daritadi ia sembunyikan di dalam tasnya. Alya pun berjalan menuju kamar mandi, hendak membersihkan tubuhnya dari aroma sperma Robert yang begitu kuat. Air mengguyur tubuh telanjangnya. Tak lupa ia rekam kegiatan mandinya malam itu dari awal hingga akhir. Dari ia kencing, hingga masturbasi sejenak sebelum akhirnya ia benar-benar mandi. Sesuai permintaan Robert sebelum pulang tadi yang memintanya mengirim video masturbasi kembali buat kenang-kenangan.


Setelah semua beres, Alya pun mengirim rekaman video mandinya. Karena tangan Alya basah saat itu, ia tanpa sadar menyentang 2 nama saat hendak mengirim video mandinya. Satu untuk Robert dan satunya lagi untuk"


#bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 20 : Flashback Alya (Part 4)


"Bodohnya Aku", pekik Alya pagi-pagi memandang layar handphonenya pagi itu


Alya ingin membanting handphonenya saat itu juga. Ia tidak menyangka akan melakukan hal teledor yang bisa membahayakan perkawinannya dengan Ragil. Jantung Alya rasanya berhenti saat melihat layar handphonenya. Tanpa sengaja ia mengirimkan video dirinya sedang mandi sekaligus masturbasi ke Mas Jarwo, kakak iparnya. Padahal seharusnya rekama tersebut akan ia kirim ke Pak Robert. Entah bagaimana ceritanya, nama Mas Jarwo juga turut tercentang sehingga tanpa sengaja video mesum itu ikutan terkirim ke Whatsapp kakak iparnya. Alya yang baru saja menyadari hal itu buru-buru menghapus kiriman rekaman nakalnya.


Sayangnya, Alya menyadarinya sudah sangat terlambat karena video itu terkirim kemaren malam, sedangkan baru ia hapus jam 06.00 pagi ini. Alya tidak tahu apakah Mas Jarwo sudah melihat video tersebut atau belum. Karena pesan yang dikirim ke Mas Jarwo hanya centang dua warna abu-abu, sepertinya Mas Jarwo tidak mengaktifkan tanda centang biru pada aplikasi WAnya. Mas Jarwo juga tidak berkomentar apa-apa sampai dengan detik ini. Alya hanya berharap Mas Jarwo tidak melihat video cabul dirinya. Bisa hancur rumah tangganya, ditambah lagi Alya masturbasi sambil menyebut nama Pak Robert.


Apa kata Mas Jarwo nanti jika melihat kelakuan adik iparnya yang begitu murahan? Seorang istri yang kesehariannya nampak alim, malah sedang masturbasi sambil menyebut nama pria lain. Kelakuannya amatlah hina dan tidak pantas seorang yang katanya alim melakukan hal seperti itu. Begitu mungkin pikir Mas Jarwo jika terlanjur melihat video rekaman mesum Alya.


"Mama pagi-pagi kok ngelamun?", tanya suami Alya tiba-tiba mendatanginya di dapur


Alya yang terkejut langsung buru-buru mengunci layar ponselnya, sengaja ia sembunyikan kegundahannya dari suaminya agar suaminya tidak curiga.


"Eh enggak kok Pa" Lho papa hari ini ke kantor?", tanya Alya melihat suaminya sudah berpakaian seragam kerjanya


"Iya papa mau ke kantor. Kayaknya dalam waktu dekat papa harus keluar kota lagi Ma. Proyeknya sudah mau dilanjutin lagi", ujar suami Alya


"Oh iya Pa" Papa nanti pulang jam berapa?", tanya Alya


"Ya normal Ma paling sampai rumah jam 17.30", jawab Ragil suaminya sambil sibuk memakai sepatu


"Terus kira-kira kapan berangkat ke luar kotanya Pa?", tanya Alya penasaran


"Tergantung sih Ma. Bisa 2 atau 3 hari ini, yang pasti dalam waktu dekat. Papa berangkat dulu ya Ma. Maaf ga sempat sarapan. Buru-buru soalnya", kata Ragil sambil mengecup kening istrinya


"Oke Papa, lagian ini sarapannya juga belum matang. Hati-hati dijalan ya Pa", ujar Alya tak lupa ia mencium tangan suaminya


"Iya. Yaudah papa berangkat dulu Ma. Asslmlkm"


"Wlkmslm"


#


Setelah Ragil berangkat kerja, rumah kembali terasa sepi. Echa pun juga sudah berangkat ke sekolah pagi-pagi. Tinggallah Alya sendiri dirumah. Alya sebenarnya masih tidak tenang mengingat keteledorannya. Bisa-bisanya video nakalnya terkirim ke kakak iparnya. Alya kembali berdoa dalam hati berharap Mas Jarwo kakak iparnya belum melihat video yang sudah ia hapus tadi.


Alya ingin menelepon Mas Jarwo dan mencoba menjelaskan, tetapi ia urungkan. Ia tidak bisa berspekulasi apakah kakak iparnya itu sudah melihat video mesum itu ataukah belum. Alya hanya menunggu saja, jika Mas Jarwo menhubunginya barulah ia akan menjelaskan. Jika Mas Jarwo tidak menghubunginya, mungkin kakak iparnya itu memang belum melihat video tersebut.


Walau sebenarnya Alya sendiri sebenarnya malas menghubungi kakak iparnya itu. Ia tahu betul kakak iparnya sangatlah berbeda sifatnya dengan suaminya. Jika ragil orangnya cenderung kalem dan baik, Jarwo lebih nakal dan ceplas-ceplos sifatnya bak preman kampung. Beberapa kali Jarwo memuji kecantikan Alya di didepan suaminya. Jarwo juga kadang memuji dengan pujian yang menjurus.


Seperti misalnya Jarwo pernah berkata jika punya istri seperti Alya, Dia pasti akan meminta istrinya selalu telanjang dirumah biar bisa ia setubuhi kapan saja. Jarwo juga pernah berkata kalau Alya jadi istrinya, mungkin uang tabungannya sebagian besar akan habis terpakai biaya persalinan karena Alya akan bolak-bolik melahirkan. Jarwo pernah bilang akan selalu menyetubuhi istri secantik Alya tiada bosan-bosannya.


Ragil yang mendengar pujian bernada mesum itu hanya senyam-senyum saja. Mungkin karena sosok Jarwo amatlah dihormati olehnya sejak kecil dulu. Namun tidak bagi Alya, Ia tidak mendengar ucapan itu sebagai pujian. Tetapi sebuah pelecehan baginya. Tapi karena Alya tidak ingin buat masalah di keluarga suaminya, ia lebih memilih diam dan mengabaikan ucapan Mas Jarwo.


Yang membuat Alya semakin kesal, Alya sering mendapati Jarwo curi-curi pandang ke arahnya dan main mata kepadanya. Alya ingat betul senyum Jarwo saat memandang nakal ke arahnya sangatlah memuakkan. Mungkin itulah yang membuat Alya tidak sreg dengan kakak iparnya itu. Apalagi memang Jarwo juga sudah lama menduda. Kabarnya ia diceraikan istrinya karena memergokinya sedang bersama wanita lain yang tak lain adalah seorang pelacur. Jarwo memang dikampungnya dikenal suka mabuk, judi dan main wanita. Itulah alasan lain mengapa Alya tidak suka dengan kakak iparnya itu


Tetapi kali ini Alya sedikit berbeda. Memang ada rasa takut dihatinya, tetapi selain rasa takut yang dirasakanya, Alya juga merasakan perasaan aneh yang malah menaikkan birahinya. Alya malah membayangkan jika kakak iparnya melihat tubuh telanjangnya. Pasti Jarwo akan suka sekali melihat tubuh Alya tanpa busana. Kakak iparnya yang suka main wanita itu pasti sangatlah mesum. Membayangkan kakak iparnya bernafsu kepadanya, membuat Alya malah berpikiran tidak-tidak. Lelaki sekasar Jarwo mungkin akan memperlakukan dirinya begitu menyebalkan, bahkan mungkin melebihi perlakuan Robert kepada dirinya.


Tapi dibalik itu semua, Alya juga mulai cemas akan dirinya. Rasanya percuma selama ini ia menutup aurat secara sempurna saat kumpul bersama keluarga besar suaminya. Rasanya percuma saja selama ini ia menolak berjabat tangan dengan Mas Jarwo yang bukan mahromnya. Kalau pada akhirnya kakak iparnya pun tahu, lekuk tubuh yang selama ini ia tutup dibalik gamis panjangnya.


"Uhhh kira-kira kalau Mas Jarwo liat rekaman video aku gimana ya? Apa dia akan nafsu ke aku? Hmmm.. Berani gak ya dia? kan aku istri adiknya..", ujar Alya tanpa sadar ia mulai membayangkan tidak-tidak


"Berani deh kayaknya. Dia kan preman kampung. Dia pasti bakalan berbuat nekat kalau tau kelakuanku ternyata begitu murahan.. Uuuhhh.. Terus aku harus gimana? Aku lawan apa aku pasrah aja ya? karena dia kan kakak iparku sendiri.. Terus bagaimana dengan Mas Ragil? Uhhh"", gumam Alya mulai memainkan kemaluannya dengan spatula yang ia pegang


"Aaahhh" Ya ampun Alya.. Kamu ini istri yang gak baik.. Masak iya aku malah bayangin diperkosa Mas Jarwo kakak ipar yang aku benci itu. Tapi gak tau kenapa semakin aku benci sama seseorang semakin aku sange kalau digituin sama mereka.. Kayak sama Pak Robert.. Aku benci sama Pak Robert tapi diewe beliau ternyata terasa nikmat" Sssshhh" Lepas aja ah", kata Alya sambil melucuti celana dalamnya dan ia pun mulai masturbasi di dapur menggunakan spatula yang ia pakai untuk menggoreng tempe


Alya mulai mengkhayal, berimajinasi memainkan fantasy liar yang tiba-tiba menggoda imannya. Ia bayangkan sosok Mas Jarwo, pria paruh baya yang usianya 50tahunan itu. Tubuhnya hitam dan gemuk, ada tato naga di lengannya. Alya bayangkan sosok besar itu tengah menikmati tubuhnya telanjangnya yang sudah pasrah. Alya bayangkan sosok yang ia benci itu memperkosanya dan begitu kasar di rumah mertuanya. Sosok yang ia benci itu tengah menggagahinya, menjilati tubuhnya, menggerayangi bagian-bagian sensitifnya, juga Menyodokkan batang kemaluannya ke vaginanya dengan brutal. Rasa benci ke kakak iparnya itu semakin menjalar namun berubah menjadi hasrat yang terasa nikmatnya begitu luar biasa. Vagina Alya sampai basah sekali saat membayangkan disetubuhi Jarwo. Dirinya tidaklah sealim itu. Alya yakin ia akan menikmati pemerkosaan yang dilakukan oleh kakak iparnya


"Oohhh.. Sssshhhh" Uhhhh" Mas" Ampun mas" Adik iparmu ini memang wanita nakal.. Aaahhh" Enak mas"", lenguh Alya membayangkan kakak iparnya sedang menyetubuhi vaginanya dengan kasar


"Hmm kontol Mas Jarwo pasti besar dan item banget kayak Pak Robert. Hihihi" Duh aku jadi sange nih.. Aaahh"", ujar Alya sambil mencabuli kemaluannya sendiri sambil dalam posisi berdiri


Alya terus memperkosa dirinya dengan spatula di tangannya. Tampak gagang kayu spatula yang digenggam olehnya sudah ia masukkan ke alat kelaminnya perlahan. Sesekali Alya meringis karena benda itu begitu kaku dan vaginanya belum terbiasa menerima kehadiran benda-benda seperti itu. Alya terus mencoba membelah vaginanya dengan spatula yang masih ia pakai untuk menggoreng tadi.


"Aahh.. Sakit" Uuuhhh"", lenguh Alya namun ia terus mencoba membenamkan alat untuk menggoreng itu ke dalam vaginanya sendiri


Begitulah Alya sekarang, yang ada di pikiran Alya saat ini hanyalah bersetubuh dan berzina dengan pria lain. Tidak terlintas milik suaminya sendiri, karena penis suaminya tidak mampu meningkatkan libidonya. Jika sudah sange, Alya kerap melampiaskannya dengan masturbasi sambil membayangkan kemaluan pria lain. Kebanyakan Alya membayangkan sosok Pak Robert. Lelaki yang sudah membeli tubuhnya seharga 40juta. Namun Kali ini berbeda, Alya malah membayangkan diperkosa kakak ipar yang ia begitu benci akibat kebodohannya. Alya semakin cepat menggerakkan maju mundur spatula itu di kelaminnya yang mulai licin.


"Ouuhh.. Ssshhh.. Mas Jarwooo.. Ampun Mas" Alya salaahhh.. Aaahhh.. Aaahhh", desah Alya sambil terus membayangkan dirinya digagahi dengan cara brutal oleh kakak iparnya


Pikirannya sudah dikuasai oleh fantasy gilanya. Doa dan harapan Alya kini sudah mulai berubah. Tidak ada lagi Alya yang ketakutan video nakalnya dilihat oleh Jarwo. Yang ada saat ini justru Alya yang berharap kakak iparnya melihat video rekaman nakalnya.


Menjadikan video nakal itu sebagai bahan coli kakak ipar sendiri mungkin adalah prestasi bagi Alya. Jarwo yang sudah menduda itu pasti sangat bernafsu melihat Alya. Pujian-pujian merendahkan yang diterima oleh Alya sudah membuktikan betapa kakak iparnya mengagumi dirinya. Alya pasti menjadi tempat pelampiasan yang paling tepat bagi Jarwo, apalagi kalau ia tahu adik kandungnya sudah gagal memberikan kenikmatan berhubungan suami istri kepada Alya.


"Ouuuhhh.. Mas Jarwooooo.. Ampun mas" Aaaaahhhhh" Aaaaahhh.. Alya istri adikmu ini begitu murahaan.. Mass.. Alya keluarrrr".", pekik Alya dam ia biarkan vaginanya terkencing-kencing di lantai dapurnya, mengguyur spatunya yang sudah belepotan lendir vaginanya


Nafas Alya ngos-ngosan bersamaan dengan muncratnya cairan yang begitu deras dari kemaluannya. Tidak menyangka ia akan orgasme sehebat ini membayangkan ia berzina dengan kakak iparnya sendiri. Pasti suaminya akan benci betul kepadanya jika tau Alya masturbasi sambil membayangkan Mas Jarwo. Rasa deg-degan itu justru membuat Alya ketagihan dan menikmati perbuatannya. Alya tidak bisa berhenti, ia kembali mencolokkan gagang spatula tadi dengan cepat hingga kemaluannya kembali muncrat-muncrat parah. Lubang kemaluan Alya sudah menganga dan ngos-ngosan, tersiksa oleh nafsu birahi yang terus melandanya.


Disaat Alya lagi enak-enaknya masturbasi tiduran di lantai dapurnya, hidung Alya mencium bau menyengat dari penggorengannya. Mata Alya terbelalak!


"Eh ya ampun.. tempe aku gosong", ujar Alya buru-buru mencabut spatula dari vaginanya dan ia gunakan segera untuk mengangkat beberapa potong tempe yang masih digoreng diatas wajan.


Untungnya hanya sedikit bagian saja yang gosong. Alya kemudian mencoba sepotong tempe yang masih hangat itu.


"Errr masih enak sih, tapi siapa yang mau makan ya? Toh aku sendirian di rumah ga mungkin habisin segini banyak", ujar Alya bingung


"Pak Robert.. Aku harus minta Pak Robert kesini" Dia kan badannya besar pasti makannya banyak", ujar Alya sambil buru-buru berjalan ke ruang tamu mengambil handphonenya


*Tut".. tutt"..* suara telepon memanggil


"Iya Bu Alya ada yang bisa saya bantu Bu?"


"Pak Robert, sibuk pak?", tanya Alya dengan suara manja


"Hehehe.. Lumayan sibuk nih Bu. Ada apa ya?", tanya Robert


"Yaaahhh" Sibuk ya"", jawab Alya kecewa


"Kenapa bu? Kangen ya sama saya? Haghaghah"


"Ehhh.. enggak kok.. Anu.. Saya mau minta tolong Pak Robert buat ngabisin tempe saya", ujar Alya


"Ngabisin tempe ibu? Haghaghag"


"Eh kenapa pak?", tanya Alya penasaran


"Masak saya disuruh ngabisin tempik ibu sih. Nanti Pak Ragil marah lho Bu", goda Robert


(Note : Tempik artinya Memek dalam bahasa Jawa kasar)


"Gapapa Pak, mubadzir nih", jawab Alya


"Mubadzir ya? Haghaghag" Tempiknya masih anget gak bu?"


"Anget kok Pak.. Ini baru selesai dimasak", jawab Alya tidak nyambung dengan kemesuman Robert


"Wah enak dong Tempiknya masih anget", jawab Robert mesum


"Ya sudah Pak Robert kesini sekarang ya pak.. Mumpung masih anget tempe saya", kata Alya


"Hahaha Dasar Bu Alya" Bukannya sekarang ada suamimu Bu? Kenapa gak dinikmatin suamimu saja tempikmu Bu?", tanya Robert


"Suami saya ke kantor pak" Sudah terlanjur saya siapin tempe, malah ditinggal kerja", gerutu Alya


"Haghaghag" Kasian tempik Bu Alya dianggurin. Dijual aja Bu tempiknya. Haghaghag", ledek Robert


"Hah tempe saya dijual? Ya gak laku Pak"", jawab Alya kebingungan


"Saya bantu jualin deh biar cepet laku.. Mau dijual berapa kira-kira tempiknya? 500ribu?", goda Robert


"Mahal sekali pak" Orang cuma tempe gini aja.. 1500 aja pak biar murah yang penting laris manis", jawab Alya ngasal tidak menyadari lelaki diseberang sana tertawa terpingkal-pingkal melihat keluguan Alya


"Oke, 1500an ya harga tempiknya? Garansi anget ya bu?", goda Robert


"Iya Pak, mangkanya buruan kesini mumpung masih anget", jawab Alya kesal karena dari tadi pembicaraan Pak Robert muter-muter terus


"Kalau gak anget saya jual 500an nih", ledek Robert lagi


"Terserah bapak aja..", ujar Alya karena yang ada dipikirannya saat ini bagaimana caranya tempe goreng yang sudah ia masak bisa habis


"Haghaghag.. cium saya dulu bu baru saya bantu jualin tempik Bu Alya"


"Muah", ujar Alya


"Gak niat banget nyiumnya""


"Bapak kesini dulu nanti saya kasih bonus cium", kata Alya


"Wah penawarannya lumayan menarik nih. Haghaghah.. Yasudah habis gini saya kesana", ujar Robert sambil menutup teleponnya


Telepon pun ditutup. Alya kembali memakai celana dalam yang tadi sempat ia tanggalkan saat masturbasi. Vaginanya masih kedutan saat ini, namun Alya mencoba untuk menahan rasa gejolak syahwat yang sebenarnya masih menjalar di area selangkangannya. Alya kemudian menata beberapa potong tempe goreng yang baru saja selesai ia goreng diatas piring sambil menunggu kedatangan Pak Robert.


#


10 menit kemudian, Pak Robert tiba di rumah Alya. Alya menyambut kedatangan pria terkaya di perumahan itu dengan senyum manis sekali. Namun senyuman manisnya tidak bertahan lama, setelah menyadari Pak Robert ternyata tidak datang sendirian. Lelaki berkulit hitam bertubuh besar itu juga mengajak Mang Ujang si penjual nasi goreng.


"Eh kok ngajak Mang Ujang Pak? Masuk dulu Pak", tanya Alya sambil mempersilakan kedua lelaki itu masuk ke dalam rumahnya


"Iya tadi saya nyoba nawarin Mang Ujang tempik Bu Alya. Dia mau beli kalau harganya 2000an, dijamin anget kan Bu?", goda Robert sambil melirik mesum ke arah Mang Ujang yang tersenyum cengar-cengir


"Ya Ampun.. Pak Robert ini gimana! masak dijual 2000an ke Mang Ujang. Gratis aja Pak tempe saya. Orang cuma Mang Ujang masak ya kasih harga", jawab Alya membuat Mang Ujang melongo


"Eh gratis Bu tempiknya?", tanya Mang Ujang tak percaya


"Iya gratis Mang" Pak Robert juga ya Pak. Mumpung masih anget", kata Alya begitu polosnya


"Sepuasnya Ya Bu Alya? Haghaghaghag", goda Pak Robert


"Iya sepuasnya sampai kenyang"", jawab Alya


"Tuh kan Jang saya bilang juga apa. Bu Alya baik kan? Gimana Mang? Mau gak? Saya juga lagi ada acara soalnya jadi gak bisa lama-lama", kata Robert


"Mau Boss kalau gratis" Bayar 2000 aja saya mau Boss heheheh", kata Mang Ujang terkekeh


"Yasudah Bu, Mang Ujang nikmatin tempiknya di sini apa di dalam rumah?", tanya Pak Robert


"Eh didalam aja Pak. Gak enak sama tetangga, Cuma sedikit soalnya", kata Alya dan mempersilakan Robert dan Mang Ujang masuk ke dalam rumahnya


Didalam rumah yang sepi, kedua pria itu tersenyum penuh kemenangan. Terlihat Mang Ujang menggaruk selangkangannya. Mungkin kemaluannya sudah mengeras dibalik celana panjangnya. Apalagi penampilan Alya yang tertutup itu sangat menggodanya dan malah membuat dia penasaran.


"Mana Bu tempiknya? Mang Ujang sudah gak sabar nih sepertinya. Haghaghag", ujar Robert mesum melihat mang Ujang yang beberapa kali terlihat meremas selangkangannya


"Sebentar saya siapkan", kata Alya buru-buru ke Meja Makan hendak mengambil tempe goreng yang tadi sudah ia tata rapi


Karena sudah tidak tahan melihat pesona Alya, Robert dan Mang Ujang mengikuti Alya ke dapur diam-diam. Mata Robert dan Mang Ujang terus menatap ke arah pantat Alya yang nampak sexy saat berjalan dibalik gamisnya. Apalagi samar-samar di bagian pantatnya tercetak garis celana dalam yang dipakai Alya. Robert dan Mang Ujang yang melihat itu dari belakang jadi tidak tahan untuk segera menerkam tubuh Alya.


Tangan Robert tiba-tiba meremas pantat Alya dari belakang dan Alya terkejut mendapati kedua pria itu ternyata membuntutinya ke dapur. Hampir saja piring yang dipegang Alya jatuh namun dengan sigap Robert langsung menghimpit tubuh Alya ke meja makan. Tubuh Alya tertahan di meja makan dalam posisi kedua kakinya masih menopang pada lantai. Sedangkan pantat Alya menungging sexy diatas meja makan.


"Mana tempikmu Bu yang katanya gratis? Haghaghag", ledek Robert sambil tangannya meraba pantat Alya yang bulat penuh nafsu


"Ehhh Pak.. Ngapain? Aaahhh" Jangan Pak"", kata Alya terkejut karena Robert sudah begitu bernafsu


"Ambil tempiknya Jang. Katanya kamu mau nikmatin tempik Bu Alya?", kata Robert sambil menampar beberapa kali pantat Alya


"Eh iya Pak" Beneran gratis ya Bu tempiknya?" sambil turut meraba pantat Alya yang menungging indah sekali


"Eh maksudnya apa Mang Ujang? Aahhh..", lenguh Alya menyadari tangan Mang Ujang menarik keatas rok gamisnya hingga pantatnya terlihat.


Tangan Mang Ujang langsung bergerilya meremasi pantat Alya penuh nafsu beberapa kali. Karet celana dalam Alya juga iseng ditarik-tarik Mang Ujang hingga pantat Alya terangkat tinggi. Alya tanpa sadar menggeliat sexy menggoda. Mang Ujang yang semakin gemas malah memperkuat Remasannya hingga tubuh Alya secara reflek memberontak. Terlihat celana dalam Alya mulai berlendir tepat digaris vaginanya saat Mang Ujang membuka sedikit kaki Alya. Alya tersipu malu menyadari kedua pria dibelakangnya tertawa terkekeh melihat kondisi vaginanya yang sudah basah


"Ehhh.. Becek ya Bu? Suka ya? Haghaghag", ledek Robert


"Sudah Mang" Saya malu.. Ssshhh"", lenguh Alya saat tangan Mang Ujang menggesek vaginanya dengan kuat dalam sekali tarikan


"Mau lepas sendiri apa saya yang lepasin Bu?", kata Robert mesum melihat Mang Ujang sedang mencabuli kemaluan Alya


"Aaahhhh.. Jangan" Sudahhhh", pinta Alya sambil ia gerak-gerakkan pantatnya yang malah membuat gerakan menggoda bagi kedua lelaki itu


"Eh Mang Ujang ngapain????", tanya Alya saat ia menyadari celana dalamnya sudah dipelorot hingga pantat dan vaginanya terbuka tanpa persetujuannya


"Jadinya gimana Bu? Saya bayar aja ya 2000ribu?", ujar Mang Ujang sambjl menggung uang kertas 2000an dan ia selipkan ke bibir vagina Alya


Robert tertawa terbahak-bahak melihat keisengan Mang Ujang. Tidak disangkanya penjual nasi goreng itu berani merendahkan Alya seperti dirinya.


Dalam posisi menungging di meja makan dan masih dipegangi oleh Robert, Alya mulai merasakan tangan Mang Ujang membuka bibir vaginanya dan kembali ia gesekkan bagian dalam kemaluan Alya dengan uang kertas 2000an lusuh itu. Vagina Alya semakin becek karena keisengan Mang Ujang. Lalu melihat semerbak aroma vagina Alya yang mulai tercium, membuat libido Mang Ujang semakin tinggi. Penjual nasi goreng itu lalu menjulurkan lidahnya dan mulai menjilati organ kewanitaan Alya. Alya terdongak kepalanya, menyadari sesuatu yang basah dan bertekstur sedang menyentuh bagian dalam kemaluannya dengan cepat. Alya menoleh kebelakang dan matanya terbelalak, menyadari Mang Ujang sedang asyik menjilati vaginanya


"Aaaahhhh" Jangan.. Pak" Kotorrr.. Aduhh.. Ahhhh"", lenguh Alya panik


Robert tersenyum puas melihat wanita sok alim itu kini meronta dicabuli oleh Mang Ujang si penjual nasi goreng. Mang Ujang terlihat begitu menikmati citarasa tempik Alya yang berjembut tipis itu. Sementara itu, Robert melihat pencabulan yang terjadi disana sambil melahap tempe goreng Alya 1 persatu.


"Enak juga tempik Bu Alya. Haghaghag" Enak gak Jang tempiknya? Heheheh", ledek Robert sambil terkekeh


"Enak Bosss" Becek terus nih tempik Bu Alya"", puji Ujang sambil terus menyeruput kemaluan Alya hingga wanita berjilbab syari itu menggeliat tak beraturan.


"Enak lah, orang tempiknya gratis. Ya kan Bu? Hahahaha"", ledek Mang Ujang


"Eh saya beli nih Boss 2000an. Hehehe..", ledek Mang Ujang


"Oiya haghaghag.. Harga tempik Bu Alya murah betul", imbuh Robert terus menghina Alya


Alya terus menggerakkan tubuhnya secara acak karena Mang Ujang terus menyeruput, menghisap, dan menciumi vagina Alya tiada henti. Hanya suara decakan mulut Mang Ujang yang terdengar. Juga sesekali desahan Alya saat ia kegelian.


"Lu mau tempenya Bu Alya ga Jang?", tanya Robert sambil terus melahap tempe goreng Alya hingga perlahan mulai habis


"Tempenya Bu Alya buat Boss Aja. Saya maunya tempik Bu Alya. Hehehehe"", ujar Mang Ujang sambil meludahi kelamin Alya lalu ia jilati penuh nafsu


"Aaaahhhhh" Ouuhhh" Geli Manggg"", Alya semakin terbawa suasana dengan mendesah semakin kencang, melanjutkan nafsu birahi yang tadi sempat tertunda akibat tempenya gosong


Rasa malu yang tadinya ia rasakan, berubah menjadi rasa nikmat yang memabukkan. Alya tidak tahu mengapa dirinya merasa keenakan diperlakukan oleh Mang Ujang seperti itu. Padahal dirinya adalah seorang wanita bersuami, tapi Alya seolah tidak peduli. Ia malah membuka kakinya membuka jalan bagi Mang Ujang agar leluasa menjilati kemaluannya


Tubuh Alya kemudian dituntun ke arah sofa, Alya pasrah saat tangan Mang Ujang menghempaskan tubuh Mama Echa itu ke sofa ruang tamunya. Kaki Alya langsung dibuka lebar oleh Mang Ujang, penjual nasi goreng itu kembali menjilati vagina Alya sampai air liurnya membasahi kemaluan Alya. Alya mendongakkan kepalanya, menikmati sentuhan-sentuhan lidah yang memberikan sensasi geli namun mengenakkan.


"Ouuuhhh.. Mangg.. Sssshhh.. Iyahhh.. Terus Mang"", pinta Alya pada akhirnya


Kepala Mang Ujang semakin tenggelam di selangkangan Alya. Alya terus mendesis kegelian, merasakan kenikmatan rangsangan nakal dari lidah si penjual nasi goreng yang katanya naksir anaknya itu. Sementara itu Robert sudah menghabiskan tempe goreng Alya hingga habis tak tersisa. Ia gunakan kerudung Alya untuk mengelap minyak sisa dari tempe goreng yang baru saja dilahapnya.


"Boss boleh saya entot gak nih Bu Alya?", tanya Mang Ujang sudah tidak tahan melihat vagina Alya yang sudah menganga siap disetubuhi


"Hahahaha" Enak aja! Lu Cuma bayar 2000. Saya aja!", kata Robert sambil melepas celananya dan mendorong tubuh Ujang agar menjauh dari selangkangan Alya yang mengangkang


Alya memejamkan mata tidak percaya dirinya dizinahi oleh dua orang sekaligus di rumahnya sendiri. Robert sudah mengarahkan batang kontol ya yang tebal itu ke vagina Alya. Vagina yang sudah tercampur liur Mang Ujang yang daritadi dijilati oleh penjual nasi goreng itu


*Bless* dalam sekali sodokan, kontol Robert masuk ke liang senggama Alya


Kepala Alya kembali terdongak kesekian kalinya. Kontol Robert masih saja terlalu besar bagi kemaluannya. Seolah tubuh bagian bawahnya terbelah jadi dua saking tebalnya kemaluan Robert yang berurat. Terlihat kontol Robert mulai maju mundur dengan kecepatan sedang di vagina Alya. Alya memejamkan matanya, menahan malu karena saat ini ia sedang berzina sambil dilihat oleh Mang Ujang.


Robert begitu semangat menggauli istri Ragil itu. Sodokannya begitu full power membuat tubuh Alya kelojotan. Sepertinya pria berkulit hitam itu sudah sangat bernafsu melihat Alya daritadi dicabuli oleh Mang Ujang. Walau Robert sudah berkali-kali menyetubuhi Alya, tapi kali ini sensasinya berbeda. Ia perlihatkan sisi gelap Alya secara terang-terangan di depan mata Mang Ujang. Dimata Mang Ujang, pastilah Alya dianggap tak lebih dari pelacur murahan yang memberikan kemaluannya secara gratis kepada Robert.


"Ouuuhh.. Pak" Sakittt.. Aduuhhh", desah Alya


"Uuhh tempik Bu Alya mantab benerr.. Kontol saya malah dijepit rapat. Haghaghag", kata Robert sambil terus menghujami vagina Alya tanpa ampun


*Jlebb jlebbb jlebbb jlebbb*


"Pak saya mupeng nih", rajuk Mang Ujang sambil onani


"Kamu saya kasih mulutnya Bu Alya aja Mang", kata Robert


"Ayo Bu.. Sepong kontol Mang Ujang!", perintah Robert


Mang Ujang kegirangan mendengar ucapan Pak Robert. Setidaknya ia tidak perlu repot mengocok kontolnya sendiri. Karena mulut Alya sudah tersedia itu memberikan kenikmatan ke batang kemaluannya


Mang Ujang memejamkan mata, merasakan kemaluannya disedot kuat oleh Alya. Mulut Alya yang hangat juga jilatan nakal istri Ragil itu sudah cukup memberikan kenikmatan berlebih bagi batang penisnya


"Aaahhhh" Terus Bu" Sssshhh.. Aduh jangan kena gigi", kata Mang Ujang


*Sluruppp slurupppp sluruppp* kepala Alya bergerak maju mundur menyepong kontol Mang Ujang


Sementata bibir kemaluannya masih terus ditumbuk kontol Robert dengan kasar. Alya semakin bergerak sexy, menyadari nasibnya kini harus melayani 2 pria sekaligus.


*Maafkan aku suamiku"* Batin Alya sambil terus menyepong penis Mang Ujang yang makin lama makin membengkak


"Haghaghag.. Dasar perek..", kata Robert melihat Alya begitu semangat menyepong kontol Mang Ujanh


"Calon mertua jalang. Malah ngemuti kontol calon mantunya. Haghaghag"", ujar Robert sambil terus menghajar vagina Alya semakin intens


Alya tersinggung mendengar ucapan Robert. Satu hal yang pasti, Alya tidak akan merestui hubungan Mang Ujang dengan Echa anaknya. Sebagai ibu yang baik, Alya pasti mencarikan calon suami yang baik bagi anak gadisnya. Tidak seperti Mang Ujang yang dengan kurang ajarnya menjejalkan batang penis baunya ke mulutnya.


"Enak ya Jang kalau jadi menantunya Bu Alya? Kamu bisa genjot anaknya sekalian ibunya. Haghaghag", ujar Robert semakin memanasi perasaan Alya


"Pak Robert jangan ngawur. Aaahhh.. Aaahhhh" Saya gak akan" res.. tu" Aaaahhh"" Desah Alya saat terus digenjot oleh Robert


Mang Ujang tidak menjawab dan tidak peduli. Ia terus menikmati kuluman bibir Alya yang terasa hangat yang semakin melembabkan batang penisnya. Alya yang kelihatannya alim itu ternyata mahir menyepong kontol. Semua ini pasti hasil didikan Pak Robert


"Arrrggghhh.. Saya keluar buuu"", ujar Mang Ujang sambil merasakan kontolnya mulai kedutan di dalam mulut Alya.


Mang Ujang buru-buru mencabut batang kontolnya dan ia langsung menyemburkan cairan kentalnya ke wajah Alya. Mengenai pipi Alya yang merona merah hingga wajah cantik wanita berjilbab itu kini terlihat lebih menjijikkan.


Mang Ujang tersenyum puas dan memastikan semua sperma dalam kemaluannya sudah ia keluarkan. Ia mungkin lelaki yang beruntung, dengan kondisi keuangan dan wajahnya yang pas-pasan. Ia bisa menikmati sepongan wanita cantik berjilbab seperti Alya.


"Udah keluar Jang?", tanya Robert


"Sudah Pak""


"Puas gak?"


"Puas Pak""


"Mau ini gak Jang?", ujar Robert sambil menunjuk memek Alya yang masih ia sodoki


Alya kesal, tanpa persetujuannya Robert menawarkan aurat peribadinya ke Mang Ujang. Tetapi Mang Ujang lebih kesal lagi. Karena Pak Robert menawarkan vagina Alya disaat dirinya baru saja klimaks maksimal. Andai Pak Robert menawari vagina Alya sebelum ia klimaks, pasti Mang Ujang akan menahan diri agar ia tidak klimaks penuh seperti tadi. Mang Ujang pasti lebih memilih klimaks setelah menyetubuhi vagina Alya yang terlihat sangat menggugah selera itu. Tetapi sayang, staminanya sudah terlanjur ia habiskan bebarengan dengan semburan spermanya tadi.


"Arggghh saya juga keluarrr Bu"", kata Robert sambil buru-buru mencabut alat kelaminnya dari lubang kelamin Alya


*Crot crot crot crot*


Sperma Robert yang kental juga turut menembak-nembak deras tepat di jembut Alya. Cairan hangat itu dalam waktu singkat langsung menempel membuat vagina Alya terlihat menjijikkan. Nafas Alya ngos-ngosan setelah disetubuhi oleh Robert. Baju gamisnya basah kuyup terkena keringatnya sendiri, karena memang suasana di ruang tamu tadinya begitu gerah.


Kedua pria itu tersenyum puas memandangi tubuh Alya yang masih terkulai lemas diatas sofa. Sperma mereka masih belum kering dan masih menempel di wajah serta selangkangan istri Ragil itu.


"Saya pulang dulu ya Bu.. Ada urusan nih. Haghaghag" Ayo Jang kita cabut!", ajak Robert


"Ehhh.. Iya siap pak", ujar Mang Ujang


Nampak jelas wajah Mang Ujang kecewa, dikiranya dia punya kesempatan untuk menyetubuhi Alya juga. Ia menyesal karena buru-buru membuang spermanya setelah disepong Alya. Andai saja ia bersabar, pasti Mang Ujang juga bisa merasakan jepitan vagina Mamanya Echa itu.


Tetapi apalah daya, ia tidak bisa marah kepada Robert. Diberi kesempatan menikmati kebinalan Alya saja baginya sudah luar biasa. Mang Ujang hanya berharap suatu saat nanti dirinya bisa main bertiga dengan Echa dan Alya. Betapa beruntung dirinya bisa menikmati tubuh Ibu dan anak itu dalam satu waktu. Tapi bagi Ujang, itu hanyalah impian belaka. Karena ia sadar diri, Echa tidak mungkin menerima cintanya. Karena saat ini Echa sudah punya pacar.


"Ayo Jang! malah ngelamun!", sental Robert membuyarkan pikirannya


"Eh iya Boss", kata Ujang dan mereka pun pergi meninggalkan Alya yang kondisinya masih acak-acakan


#


Hari demi hari berlalu sejak kegilaan itu, Ragil suami Alya sudah kembali kerja di proyek luar kota. Alya kembali banyak sendirian di rumah. Tapi hal itu justru membuat wanita berjilbab panjang itu semakin leluasa berzina. Wanita cantik berkerudung panjang itu sudah menjadi pemuas nafsu Robert. Atau bisa dibilang Alya adalah wanita panggilan bagi Robert. Disaat Robert butuh dipuaskan, Alya akan dihubungi dan meminta istri Ragil itu melayani kebutuhan biologisnya.


Demikian juga sebaliknya, tak jarang Alya yang memohon-mohon kepada Robert agar pria terkaya itu bersedia menyetubuhinya saat nafsuntYa tidak tertahankan. Tentunya jika sudah seperti itu, Alya harus membayar agar kemaluannya bisa dipuaskan oleh kontol Robert. Ya, Alya pelan tapi pasti mulai berubah, yang tadinya wanita alim nan terjaga, kini ia menjadi wanita hipersex yang selalu ingin bersetubuh.


Alya sudah menjadi wanita yang haus akan kontol. Uang yang didapatkan dari Robert, perlahan mulai menipis karena sering digunakannya untuk membayar kenikmatan dari Robert. Robert memang pengusaha licik, uang 40 juta yang diberikan kepada Alya, sebagian besar sudah kembali lagi ke rekeningnya. Hingga tanpa terasa uang tabungan Alya kini hanya tersisa 5 juta saja saking seringnya ia meminta dipuaskan Robert. Menyadari uangnya yang semakin menipis, Alya berusaha mati-matian menahan nafsu syahwatnya.


Robert betul-betul pandai memainkan psikologis Alya. Selain karena sudah mulai bosan dengan Alya karena sudah keseringan mereka berhubungan badan, Robert juga ingin membuat wanita berkerudung panjang itu tersiksa oleh syahwatnya sendiri. Robert tetap memaksa Alya untuk membayar jika ingin mendapatkan kepuasan darinya. Robert juga melarang Alya mendapatkan kepuasan dari pria lain seperti Mang Ujang. Ia mengancam akan membongkar perzinahannya kapanpun jika Alya berani mencari kepuasan dengan lelaki lain tanpa seijinnya.


Alya benar-benar disiksa oleh syahwatnya sendiri. Ia memang sempat kepikiran untuk menggoda lelaki lain tanpa sepengetahuan Robert. Masturbasi yang ia lakukan setiap hari saat sedang sendirian di rumah juga tidak sanggup mengobati rasa gairag yang menggerogoti iman wanita cantik itu. Alya sudah tidak tahan dan memutuskan mencari kepuasan dengan caranya sendiri!


Hingga di suatu pagi, Alya berjumpa dengan Mang Ujang saat sedang berbelanja di pasar. Nafsu yang sudah diubun-ubun membuat Alya berpikiran tak waras. Ia mencoba merayu Mang Ujang! Dengan Mang Ujang, Alya berharap bisa mendapatkan kepuasan secara gratis. Tidak seperti Pak Robert yang memaksanya harus membayar 1 juta demi menikmati kontol perkasa pria dari timur itu. Ia tahu, Mang Ujang pasti tidak akan menolaknya. Karena penjual nasi goreng itu juga sudah tahu betapa binal dirinya.


"Mang Ujang", panggil Alya saat tiba di jalanan sepi


Mang Ujang pun menoleh, pandangan matanya mendapati sosok cantik berkerudung panjang yang tak lain adalah mamanya Echa, ibu dari gadis yang menjadi pujaan hatinya sedang berdiri sekitar 25 m dari tempatnya berdiri saat ini.


"Eh Bu Alya.. Heheheh" Ada apa Bu?", tanya Mang Ujang cengengesan


"Anu.. Mang Ujang sibuk ngga?", tanya Alya sambil mendekati Mang Ujang


"Ngga kok Bu. Ya paling cuma siap-siap aja buat jualan nanti malam"", jawab Mang Ujang


"Anu.. Bisa tolongin saya gak Mang".", ucap Alya lirih malu-malu


"Eh tolongin apa Bu?", tanya Mang Ujang terkejut


"Errr" itu" Anu" Mang Ujang masih mau" Emmm" Tempik saya ngga?", tanya Alya lirih menundukkan wajahnya


"Hah? Maksud Bu Alya???", tanya Mang Ujang tidak percaya


"Errr" Saya kasih tempik saya gratis buat Mang Ujang" Mang Ujang mau ya?", kata Alya pada akhirnya


Bak mendapatkan durian runtuh, Mang Ujang seketika ngaceng kontolnya mendengar ajakan manja dari Alya, apalagi dengan embel-embel gratis. Lelaki bodoh mana yang akan menolak jika ditawari kenikmatan oleh wanita cantik seperti Alya. Tapi Mang Ujang tidak serta merta langsung mengiyakan. Karena dirinya juga sudah diwanti oleh Robert agar tidak berbuat bodoh kepada Alya tanpa seijin Robert.


"Eh gak papa nih sama Pak Robert bu?", kata Mang Ujang


"Pak Robert gak tau Mang.. Ayo sekarang Mang", ajak Alya


"Err" Tapi saya takut dimarahin Pak Robert bu. Saya takut lancang", kata Mang Ujang


"Udah" Saya janji Pak Robert gak akan tahu.. Asalkan Mang Ujang bisa jaga rahasia juga"", bujuk Alya


"Saya tidak berani Bu"", kata Mang Ujang sebenarnya ia takut melewatkan kesempatan emas ini. Namun ia tidak ingin lancang kepada Pak Robert. Bisa-bisa karirnya sebagai penjual nasi goreng terlaria di perumahan itu berakhir.


"Aman kok Mang" Tolong Mang" Bantu saya sekali ini saja" Tempik saya gatal Mang"", pinta Alya memohon sambil menggaruk kemaluannya di depan Mang Ujang


"Kenapa ngga minta sama Pak Robert Bu?", tanya Mang Ujang penasaran


"Ehh.. Anu" Pak Robert" kayaknya sibuk", jawab Alya


Ia masih mencoba jual mahal tidak bercerita apa yang sebenarnya terjadi. Alya terlalu malu mengakui jika dirinya harus membayar mahal jika ingin disetubuhi oleh Pak Robert. Alya tidak ingin terlihat murahan di mata Mang Ujang. Walau pun tindakannya menawarkan tempiknya secara gratis ke Mang Ujang juga terlihat murahan.


"Gimana Mang? Mau ya"", ajak Alya lagi


Lagi-lagi Mang Ujang terdiam. Ia betul-betul bimbang. Satu sisi Alya sangatlah menarik dan sayang jika dilewatkan. Namun disisi lain Mang Ujang juga takut ketahuan oleh Pak Robert.


"Maaf Bu Alya saya tidak berani"", jawab Mang Ujang pada akhirnya dan pria tersebut memilih pergi meninggalkan Alya sebelum Robert memergoki mereka


Walau Mang Ujang ingin sekali menikmati tempik gratis Alya, tetapi ia tidak berani melakukannya. Mang Ujang takut keputusannya akan menjadi bomerang bagi usahanya nanti. Alya pun terlihat terdiam tak percaya. Bahkan seorang Mang Ujang menolak dirinya. Padahal Alya sudah meyakinkan Mang Ujang semua akan baik-baik saja dan menawarkan kemaluannya secara cuma-cuma. Tapi itu ternyata tidak cukup.


Alya pun pulang ke rumah dengan kondisi vagina yang masih kedutan. Sungguh Alya ingin sekali disetubuhi oleh seorang lelaki saat ini. Setelah menjalani hari demi hari penuh nafsu berssma Robert dan membuatnya jadi wanita hypersex, tentu saja puasa sex seminggu lebih terasa begitu berat baginya. Alya bingung kemana lagi ia harus mencari seseorang yang mau bersetubuh dengannya. Ia masih terlalu malu, padahal komplek perumahan itu sebetulnya dihuni banyak pria. Tapi Alya belum segila itu menawarkan tubuhnya. Apa kata mereka nantinya? Seorang istri yang berpakaian menutup aurat secara total malah memohon untuk disetubuhi.


Alya tidak punya pilihan lain selain bernegoisasi dengan Pak Robert. Alya pun mencoba menghubungi Robert kembali dan berharap lelaki bejat itu mau melakukannya lagi kali ini


"Ya Halo Bu Alya" Heheheh", ujar Robert diseberang sana


"Pak Robert" Ke rumah saya dong pak"", bujuk Alya dengan suara manja nan menggoda


"Haghaghag" Emang saya dikasih apa kalau kesana?", goda Pak Robert


"Saya kasih semuanya buat bapak"", bujuk Alya lagi


"Aduhhh sebenarnya saya bosan sama memekmu Bu.. Tapi yasudah mumpung saya lagi baik.. Bu Alya bayar dulu 1juta nanti saya jatah. Heheheh", kata Pak Robert


Alya merasa sakit hati mendengar ucapan Robert. Bagaimana bisa dengan jahatnya Robert bilang bosan dengan kemaluan Alya. Robert memang raja tega. Ia tidak peduli dengan perasaan Alya. Baginya Alya tak lebih seperti wanita yang hanya berfungsi tempat buang pejunya saja . Namun Alya tidak bisa marah dengan ucapan Robert. Ini sudah jadi jalan hidup yang ia pilih. Alya memilih menyerahkan kemaluan yang seharusnya ia jaga betul-betul untuk suaminya kepada Robert


"Tolong saya Pak.. Ijinkan saya tidak perlu membayar kali ini", pinta Alya memelas


"Cuih najis! Ada uang ada kontol. Kalau Bu Alya ga punya uang ya Bu Alya ngelonte aja. Pasti bisa dapat uang. Haghaghag.. Tapi kalau sudah jadi lonte di luar sana, saya udah gak mau pake Bu Alya lagi. Haghaghag.. Najis", ujar Robert puas menghina Alya


"Tolong saya Pak" Saya tersiksa Pak"", pinta Alya semakin memelas


"Sudah dulu ya Bu, Saya banyak urusan yang lebih penting daripada sekedar muasin tempik murahan Bu Alya. Saya tutup teleponnya", ujar Robert kemudian


"Eh jangan ditutup dulu teleponnya Pak.. Saya mo""


*Tut tut tut tut* telepon pun ditutup oleh Robert tanpa peduli dengan permintaan Alya


Robert sengaja menyiksa batin Alya. Ia ingin buat wanita sok alim itu tersiksa dengan nafsu syahwatnya. Alya benar-benar berpikir untuk jual diri saja saat ini. Hanya saja ia tidak tahu bagaimana memulainya. Ia tidak punya kenalan di dunia perlendiran yang bisa membantunya jual diri. Selain itu, batin Alya juga masih bimbang. Ia takut masa depan pernikahannya dengan Ragil akan hancur jika sampai ia menjadi seorang pelacur. Echa pun tentu akan malu kalau ternyata ibu kandungnya seorang pelacur. Akhirnya Alya pun mengurungkan niatnya dan memilih masturbasi kembali untuk kesekian kalinya.


#


Beberapa hari kemudian"


Alya sudah semakin tak kuat menahan birahinya yang harus dilampiaskan. Setiap harinya sudah ia habiskan waktu dengan masturbasi sambil menonton film porno. Sudah ratusan ribu ia keluarkan untuk membeli kuota agar bisa menonton dan mendownload video-video porno yang menurutnya bagus. Grup WA akhwat hijrah dan beberapa group pengajiannya pun perlahan ia tinggalkan, karena ia merasa tidak pantas lagi bergabung di dalam group para wanita shalihah itu. Isi ponselnya kebanyakan berisi film porno. Baik foto video dirinya sendiri, ataupun video-video porno yang ia temukan di dunia maya. Alya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk melampiaskan nafsu syahwatnya yang semakin tak terkendali. Sempat ia berpikir untuk merayu tetangganya, tetapi ia masih takut melakukannya.


Sementara itu di rumah Robert, terlihat Pak RT duduk di teras rumah megah itu. Dengan secangkir kopi dan sebatang rokok, nampaknya pembicaraan yang terjadi cukup seru. Sesekali Pak Robert tersenyum sambil mendengarkan apa yang dikatakan Pak RT.


"Jadi begini Pak Robert, perumahan kita tercinta ini kan sejak beberapa bulan ini rajin mengadakan ronda malam..", ujar Pak RT memulai pembicaraan


"lho saya kok ga pernah diajak Pak?", kata Pak Robert


"Ah kalau Pak Robert sudah banyak membantu pembangunan perumahan kita ini jadi saya rasa Pak Robert tidak perlu ikutan ronda juga", kata Pak RT


"Oh" Ya udah sesekali saya ikut hadir pak. Saya kan juga warga sini. Haghaghag"", kata Robert


"Kalau Pak Robert gak masalah kalau gak datang waktu ronda karena sudah banyak berjasa. Yang jadi masalah, warga yang gak aktif ini pak. Semakin hari, warga yang ikut ronda semakin berkurang..", kata Pak RT sambil menyeruput kopi hitamnya


"Pak RT sudah tau alasan kenapa mereka gak mau datang?", tanya Robert


"Ya warga cuma beralasan ketiduran dan capek. Ada juga yang bilang kerja shift malam, lalu ada juga yang keberatan ikut hadir karena beberapa orang tidak pernah hadir seperti Pak Ragil", kata Pak RT dan Robert pun mengangguk-angguk


"Pak Ragil suaminya Bu Alya?", tanya Robert


"Iya Pak, dia salah satu warga yang gak aktif dan selalu absen ronda malam", ujar Pak RT


"Coba diberikan sanksi pak. Sanksi yang lumayan berat", kata Pak Robert


"Sanksi denda sudah ada pak. Saya denda 50ribu bagi siapapun yang tidak datang ronda tanpa terkecuali. Tapi tetap saja mereka banyak yang tidak hadir", kata Pak RT


"Oiya? Terus Pak Ragil bilang apa?", tanya Robert


"Dia Cuma minta maaf karena berhalangan hadir saat ronda karena memang harus kerja di luar kota. Dia pun bersedia membayar denda Pak"", kata Pak RT


"Saya rasa denda saja tidak cukup Pak RT. Warga kita ini terlalu dimanja kalau gitu caranya. Jadinya terlalu menggampangkan", kata Pak Robert.


"Lalu Pak Robert ada usul biar mereka jadi semangat ikut ronda lagi?", tanya Pak RT


"Ada" Haghaghaghag", ujar Robert sambil menyeringai


"Gimana Pak?", tanya Pak RT


"Saya punya usul gini Pak.. Jadi bagi warga yang tidak bisa datang, wajib digantikan istri mereka. Istri mereka harus ikut ronda sebagai gantinya", kata Pak Robert sambil tersenyum licik.


"Apaa??? Bukannya itu terlalu berlebihan Pak? Kalau ada maling beneran apa para ibu-ibu itu emang bisa melawan?", tanya Pak RT


"Justru itu buat pancingannya Pak. Saya yakin para bapak-bapak juga gak akan tega menyuruh istrinya ikutan ronda. Saya yakin dengan begitu bapak-bapak jadi semangat ikut ronda lagi", kata Pak Robert


Pak RT pun mengangguk-angguk mengerti. Usul dari Pak Robert ada benarnya. Walau terkesan "memaksa", tapi sebenarnya hukuman itu hanya sebagai pancingan saja. Mana ada suami yang tega meminta istrinya ronda malam menggantikan posisinya


"Yasudah Pak, nanti saya umumkan di grup warga..", kata Pak RT


"Kalau ada yang keberatan sikat aja Pak tanpa ampun. Kalau mereka gak mau datang ya biar istrinya yang datang. Haghaghag", ujar Robert dan Pak RT hanya menggelengkan kepala dengan usulan yang terlalu berani itu


Ia takut reputasinya sebagai RT yang bijak sedikit ternoda dengan usulan gila dari Robert. Ia yakin sekali pasti akan ada pro dan kontra dengan hukuman seperti itu. Tetapi tidak ada salahnya dicoba. Toh usulan ini tujuannya cuma satu, agar warga makin giat dan berperan aktif ikut ronda demi mengamankan perumahan tempat tinggal mereka. Mengingat akhir-akhir ini banyak kasus kehilangan motor di beberapa daerah yang marak terjadi saat malam tiba


Singkat cerita Pak RT pun mengumumkan keputusan sepihak itu, benar saja beberapa warga ada yang protes dengan usulan dari Pak RT. Mereka jelas keberatan jika istri mereka dipaksa ikutan ronda menggantikan mereka. Salah satu orang yang tidak setuju tentu saja adalah Ragil. Sebagai suami yang baik, Ragil menolak keras usulan gila itu dan ia menyarankan untuk memberi hukuman dengan denda saja seperti biasanya. Tetapi Pak RT dan warga yang setuju dengan hukuman itu tetap menolak karena hukuman denda tidak memberikan efek jera. Mereka tetap bersikukuh memaksa para warganya agar bisa turut serta aktif dalam menjaga keamanan perumahan mereka. Akhirnya suara terbanyak pun diambil dan yang setuju dengan usulan tersebut lebih banyak daripada yang tidak setuju.


Jam 23.47


Alya tengah asyik telanjang di tempat tidurnya. Tangannya kanannya sibuk dengan kemaluannya. Sedangkan tangan kirinya fokus memegangi handphone. Rupanya malam itu seperti biasa Alya sedang masturbasi. Satu-satunya kegiatan yang bisa sedikit mengobati gairah seksualnya.


*Tulilut tulalit* suara nada dering handphone Alya berbunyi


Tumben sekali suaminya menelepon selarut ini. Dengan malas-malasan Alya mengangkat telepon dari suaminya sambil tangan kanannya terus mengocok organ kemaluannya


"Halo.. Aslmlkm""


"Wlkmslm.. Iya Pahhh?", jawab Alya sedikit mendesah karena tangannya masih bermain perlahan di area vaginanya yang gatal


"Mama sudah tidur ya?", tanya Ragil


"Enggak sih Pah" Hampir tidurrr" Uh..", ucap Alya sedikit mengaduh


"Mama lagi ngapain sih?", tanya Ragil penasaran


"Eh.. Enggak kok.. Mama cuma menggeliat ajaah.. Mau tidur", jawab Alya


"Ohhh.. Maaf jadi ganggu waktu tidurnya Ma"", kata Ragil


"Ngga papa Pa" Ada apa Pa?", tanya Alya lagi


"Ma.. Ini papa kesal sama Pak RT. Masak iya warga harus wajib ikut ronda. Kalau gak bisa datang bakal kena sanksi", gerutu Ragil kepada istrinya


"Ehh? Kok gitu Pa? Terus papa gimana? Papa kan jarang pulang jadi gak bisa ikut ronda", kata Alya menanggapi


"Ya itu Ma, papa minta didenda aja kayak biasanya tapi Pak RT gak mau. Terus warga sekitar juga kesal sama papa karena ga pernah aktif jaga malam", ujar Ragil emosi


"Eehhh kok gitu sih? Mereka masak gak tau papa sering kerja keluar kota", kata Alya membela suaminya


"Mereka gak mau tau Ma. Karena papa ga pernah ikut, papa jadi disalahin. Warga lain jadi banyak yang gak mau ronda juga", gerutu Ragil


"Ih kok gitu sih.. Memang sanksinya apa Pa?", tanya Alya penasaran


"Itu dia Ma.. Masak bagi para suami yang berhalangan hadir, istrinya wajib menggantikan ikut ronda? Gila gak Ma?", kata Ragil semakin sebal


"Hah??? Jadi kalau papa gak ikut, mama yang harus ikut ronda dong?", ujar Alya terkejut


Alya yakin sekali, usulan gila ini pastilah ulah Robert. Ia tahu Pak RT yang bijak itu tidak mungkin mengusulkan hal segila itu. Seketika pikiran Alya yang sudah terlanjur kotor terkena pengaruh film porno yang barusan ia tonton, semakin tak karuan saja. Ia malah membayangkan dirinya ikutan ronda bersama para bapak-bapak. Menjadi wanita satu-satunya disana dikelilingi para bapak-bapak! Membayangkan hal itu malah pikiran Alya kemana-mana. Menjadi satu-satunya perempuan diantara sekumpulan pria pastilah terasa menegangkan bagi Alya. Tanpa sadar, Alya semakin liar merasang lubang kemaluannya. Ia colokkan semakin dalam kedua jarinya dan ia kocok bagian dalam kemaluannya sendiri.


"Ouhhh"", tanpa sadar Alya mendesah


"Lho mama kenapa?", tanya Ragil mendengar Alya mendesah


"Ehh?? ERRR" Ngga kok Pa, tangan mama ga sengaja kebentur tembok. Terus gimana dong Pa?", kata Alya berbohong


"Papa juga bingung Ma.. Pokoknya Mama jangan ikut ronda!", ucap Ragil


"Memang yang ikut ronda berapa orang Pa?", tanya Alya malah penasaran


"Biasanya semalam 7-10 orang Ma" Kenapa Ma? Pokoknya Mama gak boleh ikut, Papa gak setuju", kata suami Alya


"Kapan Pa jadwal papa ronda?", tanya Alya lagi tanpa peduli wanti-wanti suaminya


"Besok Ma. Eh Mama ga usah datang gantiin papa lho! Mama di rumah aja!", kata Ragil memastikan


"Tapi kalau Mama ga ikut, nanti kita disalahin Pa.. Mama ikut aja gapapa. Bentul tanggung jawab kita ke warga juga kan Pa", ujar Alya


"Eh jangan dong Ma.. Masak mama perempuan sendiri disana"", kata Ragil tidak tega


"Ya gimana lagi Pa.. Papa sih gak pernah ikut ronda.. Tapi ya mau gimana lagi Pa..", ujar Alya


"Nanti Papa bujuk Pak RT biar mama ga usah ikut ronda. Mama ga usah ikut", pinta Ragil sekali lagi


"Ih papa ini, kan sudah kesepakatan bersama Pa..", kata Alya


"Iya, tapi Mama pasti gak nyaman kalau disana perempuan sendiri. Mama kan alim dan gak mau campur baur laki-laki dan perempuan", ujar Ragil


"Hihihi Papa ini.. Gapapa kok Pa kan di tempat umum.. Kan Ada banyak orang juga.. Yang gak boleh tuh berdua-duaan laki perempuan di dalam rumah. Kalau banyak orang gapapa Pa"", ujar Alya entah dapat pemikiran seperti itu dari siapa


"Mama yakin?", tanya Ragil


"Iya Papa tenang aja. Kan banyak orang Pa", bujuk Alya


"Terserah Mama deh.. Salah papa juga gak bisa datang kalau ronda", ujar suami Alya


"Tuh tau.. Yasudah kita harus tanggung jawab Pa kalau itu sudah keputusan bersama"


"Iya iya Ma" Yasudah kalau gitu papa info ke grup kalau Mama yang gantiin papa ikut ronda ya. Biar warga gak ngomel-ngomel nih", ujar Ragil


"Iya Papa"", jawab Alya


#


Keesokan harinya,


Pak RT datang pagi-pagi sekali bersama Pak Robert. Alya yang melihat kedatangan Pak RT dengan Robert terlihat malu-malu kucing. Bagaimanapum hubungan mereka sudah melebihi hubungan normal antar tetangga. Alya dan Robert sudah kerap silaturahmi diam-diam. Bukan hanya silaturahmi menjaga hubungan antar tetangga saja, tetapi mereka sudah sering silaturahmi kelamin. Robert tau betul bentuk tubuh Alya serta aurat yang selalu ia tutup dibalik busana syari panjangnya.


Tetapi pagi ini terasa berbeda. Rasa malu melanda diri Alya. Masih ingat jelas di benak Alya bagaimana dirinya membuang harga dirinya memohon kepada Robert agar pria itu mau menyetubuhinya. Tanpa biaya sedikitpun asalkan kebutuhan biologis Alya tercukupi. Parahnya, justru Robert menolak ajakan Alya. Sungguh kehormatan Alya diinjak-injak oleh Robert saat itu.


Alya lah yang kerap merayu Robert. Alya lah yang kerap mengajak Robert untuk berzina. Tapi Robert menolak ajakan itu mentah-mentah karena Alya tidak sanggup membayar kenikmatan yang diberikan Robert. Mungkin sudah hampir sebulanan mereka tidak saling berpacu dalam nafsu. Sejak uang Alya menipis dan tidak sanggup membayar Robert, Alya sudah tidak pernah lagi merengkuh kenikmatan bersama pria terkaya di perumahannya itu.


Robert tersenyum mesum memandangi Alya. Sejujurnya lama tidak menikmati tubuh istri Ragil itu membuat Robert kangen juga. Keindahan dan putih mulus tubuh indah Alya rasanya memang terlalu sayang jika dilewatkan begitu saja. Tapi Robert memang sengaja menahan tidak serta merta menuruti semua keinginan Alya. Ia ingin membuat istri Ragil itu bertekuk lutut takluk kepada hawa nafsunya sendiri. Sehingga jika saatnya tiba, Nafsu Alya yang sudah tak terkendali itu akan dilampiaskan dengan cara yang gila. Bagai bom waktu yang siap meledak kapan saja. Robert ingin menjadikan Alya dari wanita alim menjadi wanita murahan. Lebih rendah daripada seorang pekerja seks komersial.


"Jadi gini Bu Alya. Sudah jadi kesepakatan bersama, bagi para suami yang berhalangan hadir ikut ronda, wajib digantikan istrinya. Karena suami Bu Alya berhalangan hadir, jadi malam ini Bu Alya yang datang ya. Pak Ragil juga sudah setuju", kata Pak RT sambil hidungnya tak berhenti mengendus aroma parfum vanilla yang tercium dari tubuh Alya yang semerbak


"Ehh.. I.. Iya Pak.. Suami saya sudah cerita. Jam berapa dan dimana ya Pak nanti rondanya?", tanya Alya tertunduk malu karena sedari tadi Robert terus memandanginya dengan tatapan nakal


"Ngumpulnya jam 10 malam bu, lokasi kumpulnya di balai RW. Ronda dilaksanakan dari jam 10 malam sampai jam 3 pagi.", kata Pak RT


"Selama 5 jam ya Pak? Itu nanti keliling komplek ya Pak?", tanya Alya


"Iya, jadwal kelilingnya gantian. Biasanya start jam 11 malam jalan 5 orang, terus jam 1 malam jalan lagi 5 orang lainnya", jawab Pak RT


"Oh" gitu ya pak"", kata Alya


"Jangan lupa bawa susu Bu biar bapak-bapak gak ngantuk dan semangat. Heheheh"", timpal Robert


"Ehhhh??", Alya tersedak mendengar ucapan Robert yang terdrngar mesum


Begitu pula dengan Pak RT, lelaki kurus beruban itu ikutan tersedak mendengar ucapan Robert. Susu yang terbayang di kepala Pak RT pastilah susu yang lain. Susu aroma vanilla yang dari tadi gundal-gandul di dekatnya. Susu yang masih tersegel rapi dibalik kerudung panjang Alya


Pak RT pun mengingat rekaman video dari Pak Robert beberapa minggu yang lalu. Pemeran video masturbasi seorang wanita misterius yang perawakannya sangatlah identik dengan postur tubuh Alya. Baik warna kulit, tinggi badan, serta style jilbabnya, semua sangat cocok dan mirip sekali dengan istri Ragil itu. Namun Pak RT masih ragu dan tidak percaya dengan dugaannya, ia masih yakin Alya adalah istri baik-baik. Wanita sealim Alya tidak akan berbuat mesum seperti itu.


"Susu apa Pak Robert?", tanya Pak RT menunggu klarifikasi Pak Robert


"Susu murni dari sumber pegunungan. Hahahah", ujar Robert membuat muka Alya memerah


"Pak Robert bisa saja. Hehehe" Saya jadi salah tangkap nih", kata Pak RT


"Errr" Anu.. Nanti siapa saja yang datang Pak?", tanya Alya mencoba menghentikan pembahasan tentang susu


"Ada saya, Pak Robert, Pak Alex tetangga sebelah rumah Bu Alya, Pak Amir, Pak Tono, Banyak deh Bu", kata Pak RT


"Eh ada Pak Alex juga?", tanya Alya terkejut


"Iya ada Pak Alex Bu"


Alya cukup mengenali Pak Alex karena memang rumahnya tepat berada di samping kanan rumah Pak Alex. Pak Alex memiliki wajah chinese dan tampan. Badannya pun atletis karena ia rajin berolahraga dan menjaga postur tubuhnya. Bentuk wajahnya tegas dan sangat macho. Alya cukup mengenal baik Pak Alex maupun istrinya, walau jarang bertemu karena istri Pak Alex juga sibuk bekerja. Tidak seperti Alya yang hanya seorang ibu rumah tangga yang banyak menghabiskan waktu di rumah saja.


"Iya Bu, jadi Bu Alya jangan kawatir akan kesepian disana. Hehehe" Sengaja saya masukkan nama yang sekiranya Bu Alya kenal biar suasananya nyaman", ujar Pak RT


"Begitu ya Pak.. Iya nanti malam saya datang Pak"", jawab Alya


"Yasudah, saya permisi dulu Bu. Ayo Pak Robert kita pulang"", kata Pak RT berpamitan


"Saya disini dulu Pak. Masih ada perlu sama Bu Alya. Heheheh", kata Pak Robert sambil menatap Alya tajam


Pak RT terlihat keheranan, dalam hati mungkin ia bertanya-tanya Pak Robert ada urusan apa dengan Alya. Karena sepengetahuannya, Alya tidak begitu dekat dengan Pak Robert. Rumah mereka juga jaraknya cukup jauh. Tapi akhirnya Pak RT pun tak peduli dan tetap memutuskan pergi karena masih ada urusan yang harus ia kerjakan


"Oh yasudah kalau gitu Pak. Saya duluan.. Saya permisi dulu ya Bu. Mari Pak Robert", kata Pak RT berpamitan dan ia pun meninggalkan rumah Alya


Tinggallah Alya berduaan dengan Robert di rumahnya. Ada suasana canggung yang masih menghinggapi perasaan Alya. Suasananya sungguh berbeda dibandingkan sebelumnya. Saat kedua pasangan bukan mahrom itu saling memuaskan satu sama lain. Alya kali ini lebih banyak tertunduk malu kepada lelaki yang sudah mengakui "bosan" dengan dirinya.


"Tambah cantik saja kamu Bu. Heheheh", kata Robert sambil mengelus pipi Alya


Alya diam saja, ia biarkan tangan hitam besar Robert menyentuh pipinya yang merona merah. Tangan Pak Robert terus menyusuri tubuh Alya. Perlahan tangan itu turun menuju pundak dan payudara Alya. Ia mainkan sebentar tangan kasarnya di gundukan dada Alya yang sudah cukup lama tak disentuhnya. Alya tiba-tiba menepis tangan Robert dengan sekuat tenaga. Membuat lelaki mesum itu tertegun sejenak.


"Pak Robert katanya bosan dengan saya?", ujar Alya memastikan


"Hahahah.. Jadi sekarang Bu Alya keberatan saya sentuh?", tanya Robert


Alya terdiam, tidak berani menjawab pertanyaan Robert. Hatinya bimbang saat ini. Alya ingin mencoba jual mahal kepada Robert, tapi takut nanti ia akan menyesal. Apalagi ini adalah kesempatan dirinya merengkuh kenikmatan lagi dengan seorang pria. Setelah hampir sebulan ia berpuasa menahan syahwatnya.


"Sini Bu, saya pangku", kata Robert


Dengan malu-malu Alya menuruti perintah pria bertubuh besar itu. Alya datangi Robert yang sedang duduk di kursi terasnya. Lalu, Alya beranikan diri duduk di pangkuan Robert. Bermesraan dengan pria itu di depan teras rumahnya!


"Gitu dong.. Hehehe..", ujar Robert sambil tangannya bergerak bebas menyentuh beberapa bagian tubuh Alya yang terasa kenyal


Alya tidak protes kali ini. Ia biarkan tangan Robert menjelajahi tubuhnya. Tangan Robert semakin bebas bergerilya meraba tubuh Alya yang memang sangat menggoda walau tertutup oleh gamis syarinya. Terlihat beberapa kali Alya menoleh ke kiri dan ke kanan seperto takut seseorang akan memergoki ulah mereka.


"Tegang sekali kamu Bu Alya. Rilex Bu Heheheh"", ujar Robert menyadari Alya yang terlihat gugup


"Takut dilihat orang Pak.. Ke dalam aja yuk Pak"", pinta Alya manja


"Aduh.. Itulah alasan kamu begitu membosankan Alya"", ujar Robert menghentikan rabaan tangannya


Alya tertegun mendengar ucapan Robert. Ia bertanya-tanya apa kesalahannya sehingga Robert merasa bosan dengan tubuhnya.


"Kamu kurang nakal Bu.. Heheheh" Bu Alya lupa ya saya sudah puluhan kali mejuin rahim Bu Alya? Kalau Cuma gitu terus ya lama-lama saya bosan", ujar Robert


"Maaf Pak.. Saya harus gimana biar Pak Robert tidak bosan lagi?", tanya Alya


"Buang rasa malumu Bu. Bu Alya harus berani melakukan hal-hal gila yang diluar nalar. Hehehe", ucap Robert


"Eh? Maksud bapak?", tanya Alya bingung


"Sabar, saya akan ngajari Bu Alya perlahan. Pokoknya Bu Alya patuh saja sama saya" Saya akan buat Bu Alya menjadi wanita yang tidak membosankan", kata Robert membuat Alya semakin kebingungan


"Saya tidak paham pak", kata Alya


"Duh Bu Alya masih saja ****** ya? Haghaghag.. Sudah diem nanti saya ajarin!", ujar Robert kesal


Robert dengan lancang menarik resleting gamis Alya hingga terbuka lebar. Alya terkejut menyadari bagian tubuhnya dibuka oleh Robert. Padahal situasi masih pagi saat ini. Bisa saja seseorang lewat dan memergoki mereka.


"Jangan disini pak.. Saya malu"", ujar Alya sambil menahan Robert yang hendak membuka gamisnya semakin lebar


"Aduh cantik-cantik tolol! Saya kan bilang buang rasa malu Bu Alya!", kata Robert dan ia melanjutkan aksinya membuka semakin lebar gamis Alya


Alya memejamkan mata, jantungnya berdebar kencang karena dirinya akan ditelanjangi oleh Robert di teras rumahnya sendiri. Kedua tangan besar dan hitam Robert sudah menyusup masuk ke dalam gamis Alya dan meremasi kedua payudara Alya yang masih terbungkus bra.


"Kamu gak perlu ini Bu", ujar Robert sambil menarik kuat bra Alya hingga penutup payudara Alya itu terbelah menjadi dua bagian


Mata Alya terbelalak menyadari bra yang baru saja ia beli sudah di robek oleh Robert. Alya hanya bisa pasrah melihat bra yang dipakainya sudah terbelah jadi dua bagian, terlepas dari dua gunung kembarnya yang putih mulus. Tangan Robert lalu lebih leluasa memainkan putting susu Alya. Alya memejamkan matanya, menikmati remasan demi remasan Robert pada payudaranya. Nafas Alya terdengar semakin berat saat tangan Robert juga memilin kedua putting susu Alya bersamaan sambil sesekali ditariknya sampai molor.


"Aaaahhh.. Pak"", lenguh Alya membiarkan Robert menjamah pentil susunya yang semakin lama semakin keras


"Sange ya bu?", goda Robert sambil menciumi pundak Alya yang wangi


"Iya Pak" Aaahhh" Enak pak.. terus mainin pentil saya Pak"", ujar Alya memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya ke tubuh Robert


"Kok berhenti Pak?", protes Alya menyadari Robert menghentikan rangsangannya tiba-tiba


"Mau dilanjut nih?", goda Robert


"Mau Pak" Di dalam yuk Pak .", ujar Alya sudah tidak tahan


"Kita lakukan disini sekarang", ajak Robert


"Apa? Disini Pak? Kalau keliatan orang gimana Pak?", tanya Alya ketakutan


"Justru itu sensasinya", ujar Robert sambil melumat bibir Alya masih terbengong


Lidah Robert bergerilya menyusup masuk ke dalam rongga mulut Alya. Mencari-caru lidah Alya yang masih malu-malu karena mentalnya belum siap melakukan ini semua di teras rumahnya sendiri


Terlihat jelas ada keraguan di mata Alya. Berzina secara sembunyi-sembunyi saja sangatlah memalukan baginya, apa lagi berzina secara terang-terangan. Membayangkan saja sudah membuat Alya takut bukan kepalang, tapi disisi lain, adrenalinenya justru tertantang untuk mencoba melakukannya.


"Mau gak?", tanya Robert sekali lagi sambil memencet pentil susu Alya yang mancung menggemaskan


"I.. Iyaahh.. Aaahhh"", jawab Alya keenakan saat puting susunya dipilin oleh Robert


"Bagus.. Kalau gitu lepas sempakmu Bu Alya" Kali ini saya kasih kamu kontol saya gratis.. Mumpung saya lagi sange sama Bu Alya. Haghaghah", ujar Robert sambil membuka resleting celananya dan ia keluarkan batang kemaluannya yang sudah keras itu dihadapan istri Ragil


Mata Alya terbelalak kagum melihat kontol Robert yang perkasa. Yang ukurannya bak langit dan bumi dengan milik suaminya sendiri. Kontol itulah yang sudah membuatnya kecanduan dientot. Kontol itulah yang sudah menjadikan Alya dari seorang perempuan alim menjadi perempuan hypersex.


"Uhhh besar banget Pak"", puji Alya sambil langsung menggenggam batang kontol Robert dan dikocoknya perlahan


"Nikmati saja Alya. Syaratnya kamu ngentot sama saya disini. Heheheh"", kata Robert sambil menyingkap kebelakang kerudung panjang Alya yang dari tadi jatuh ke depan sehingga menutup payudara indahnya


"Iya Pak" Semoga ga ada yang lewat depan rumah"", Kata Alya dan ia pun melepas celana dalamnya sendiri dan Alya mulai mengarahkan kontol Robert dengan tangannya sendiri ke vaginanya.


Kontol Robert digesekkan pelan-pelan di bibir vaginanya yang sudah berlendir. Jantung Alya berdegup kencang menikmati sentuhan pelan kedua kemaluan mereka. Bercinta di luar rumah adalah pengalaman baru baginya. Alya juga merasa semakin sexy saja saat ia buka sebagian auratnya di teras rumahnya.


Perasaan khawatir ketahuan justru membangkitkan gairah wanita yang sudah birahi itu. Apalagi Jika ada orang yang lewat depan rumah Alya, pastilah bagian bawah tubuh Alya mulai bokong hingga ujung kaki terlihat. Karena posisi Alya saat ini duduk dipangku oleh Robert sambil membelakangi jalan.


"Ouuhhh.. Besar banget kontol Pak Robert", ujar Alya saat merasakan kontol Robert mulai membelah vaginanya yang berlendir


"Iya dong, lonte kayak kamu memang bisanya dipuaskan kontol besar kayak punya saya. Ayo kamu yang goyang sayang"", ujar Robert sambil mengangkat rok gamis Alya ke atas agar terekspose sempurna ke arah jalan.


Kedua pasangan itu akhirnya kembali silaturahmi kelamin setelah lama tidak berjumpa. Di pagi yang cerah ini, teras rumah Alya menjadi saksi perzinahan mereka. Keduanya Saling menggesekkan alat kelaminnya demi meraih kenikmatan yang sudah lama tidak mereka rasakan. Alya bergoyang sexy meliukkan tubuhnya diatas pangkuan Robert. Goyangannya jauh lebih indah dan nikmat daripada biasanya. Kontol besar Robert diuleknya dengam goyangannya diatas tubuh Robert. Naluri Alya sebagai wanita penghibur sepertinya sudah bangkit setelah sekian lama tidak ia lampiaskan. Robert terlihat keenakan merasakan jepitan memek Alya yang hangat dan sempit


"Ouuhh.. Anjing" Sexy sekali kamu Bu.. Saya Buka ya Bu bajumu..", ujar Robert sambil mempreteli pakaian gamis Alya dan ia hempaskan begitu saja ke pekarangan rumah Alya yang penuh tanaman.


Alya hanya pasrah saat ditelanjangi oleh Robert. Sejujurnya ia masih merasa malu harus telanjang di teras rumahnya. Ia benar-benar takut seseorang melihat tubuh telanjangnya. Tubuh yang selalu ia jaga dan ia tutup rapat itu. Tetapi Alya memilih diam tidak banyak protes. Ia tahu semakin ia protes justru akan membuat Robert kecewa dengan dirinya.


Alya kini sudah telanjang bulat di teras rumahnya. Ia duduk membelakangi pagar rumahnya tidak peduli kondisi di depan rumahnya. Alya lebih fokus memberikan gerakan goyang ulek memuaskan kontol Robert yang keras itu. Tangannya berpegangan pada badan Robert dengan erat. Tubuh putih mulusnya terus bergerak naik turun diatas pangkuan Robert. Sedangkan Robert duduk diam menikmati goyangan istri Ragil yang sangat binal itu. Sesekali tangannya meremas pantat Alya yang terus bergerak naik turun. Sesekali pula ia meraba area tubuh mulus Alya penuh nafsu yang sudah tidak tertutupi sehelai benangpun kecuali kerudung yang masih terpasang rapi menutup rambutnya.


Alya terus bergoyang bak pelacur murahan. Vaginanya begitu menikmati tiap gesekan mantap dari kemaluan Robert yang berurat. Sesekali mulutnya mengaduh merasakaan betapa besar kontol Robert itu begitu dalam menembus lubang kemaluannya. Sesekali kontol Robert terlepas dari kemaluannya, lalu ia pasang kembali kemaluan pria berbadan besar itu ke vaginanya sendiri. Robert memandang Alya dengan tatapan begitu rendah. Wanita berjilbab itu benar-benar membutuhkan kontolnya. Alya tidak segan menggerakkan tubuhnya dengan begitu sexy dihadapan lelaki yang bukan mahromnya itu.


"Bagus sayang.. Puaskan saya sayang.. Ssshhh..", ujar Robert sambjl memandangi payudara Alya yang bergoyang menggoda tepat didepan matanya


Robert kemudian melumat bibir Alya penuh nafsu. Ia jilati bibir serta lidah Alya dengan serampangan. Hingga air liur Robert membasahi seluruh bagian bibir Alya. Alya semakin semangat naik turun diatas pangkuan Robert. Gerakan semakin cepat seirama dengan vaginany yang semakin basah. Sodokan kontol Robert begitu terasa mantap di jepitan kemaluannya. Tubuh indah Alya terus menggeliat nikmat, merasakan gesekan demi gesekan kemaluan mereka seolah tidak ingin berhenti


"Aahhh.. Aaaahhh.. aaahhh". Enak pak Robert".", ucap Alya terus menyerahkan vaginanya ke kontol Robert yang berdiri keras dibawah tubuhnya.


"Enak dong Bu" Kamu mau di entot setiap hari bu?", goda Robert


"Mau.. Mau pak.. Aahhh.. Aaahhh"", ujar Alya semakin semangat menggerakkan tubuhnya naik turun di atas pangkun Robert


"Hahahahah.. Dasar wanita jalang"!", ledek Robert


"Aaahhh... Aahhh.. Keras banget.. Ouuhhhh"", desah Alya sambil tubuhnya bergetar hebat


Sepertinya Alya mengalami orgasme kali ini. Tubuh telanjang itu terlihat menggeliat dan menegang. Robert lalu tanpa ampun menghujamkan kontolnya dalam-dalam ke vagina Alya yang sudah kedutan. Kepala Alya terdongak tidak menyangka kontol Robert seketika didorong masuk menusuk rahimnya hingga mentok


"Ohhhhh.. Saya keluar buuuu"", ucap Robert sambil ia tahan tubuh Alya dan ia semburkan spermanya tanpa ragu sedikitpun ke dalam vagina Alya dari bawah


*Crot crottt crottt crotttt*


Cairan hangat kental itu langsung terasa memenuhi rahim Alya. Alya hanya diam pasrah merasakan cairan kental Robert menyemprot beberapa kali ke rahimnya. Tubuhnya ambruk berpegangan manja ke dada Robert. Alya lalu mengangkat vaginanya sehingga kontol Robert terbebas dari jepitan kemaluannya yang sudah begitu hangat itu. Cairan sperma Robert langsung tumpah, menetes-netes banyak dan kental dari dalam rahim Alya


"Luar biasa Bu" Hahaha" Lega saya" Memek Bu Alya memang saya akuin nikmat sekali", puji Robert sambil memandangi tubuh telanjang Alya yang masih mengkilap karena keringatnya sendiri


Rasa malu Alya perlahan muncul kembali. Perempuan berkerudung itu buru-buru berdiri dan meraih pakaiannya yang tadi di lempar oleh Robert ke pekarangan rumahnya. Alya terlihat gugup ketakutan sambil buru-buru memakai kembali lembaran kain pakaiannya. Ia terlihat kikuk dan salah-salah saat memakai gamisnya. Terkadang tangannya salah masuk lubang, terkadang ia kebalik memakainya saking paniknya istri Ragil itu. Robert tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Alya yang kelabakan memakai pakaiannya sendiri. Mungkin karena seumur hidupnya Alya tidak pernah sekalipun telanjang bulat diluar rumah.


Beberapa saat kemudian, Alya telah kembali berpakaian menutup seluruh auratnya. Sedangkan bra nya sudah ia buang di tempat sampah rumahnya yang ada di depan rumah. Percuma saja disimpan karena sudah robek dan tidak bisa dipakai lagi. Alya lalu duduk sedikit berjauhan dari Robert, ia mencoba bersandiwara, seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Kawatir sewaktu-waktu ada seseorang yang melintas di depan rumahnya


"Bu Alya saya mau nawarin penawaran yang menarik untuk Bu Alya", kata Robert memulai pembicaraan


"Eh? Penawaran apa Pak?", tanya Alya mendadak jantungnya berdegup cepat. Ia yakin sekali penawaran Robert pastinya tidak jauh dari hal-hal mesum.


"Bu Alya mau uang lagi? Saya kasih 25juta Bu.. Bisa saya kasih lebih kalau Bu Alya bisa melebihi ekspektasi saya. Lumayan kan Bu duitnya bisa buat ngentot sama saya lagi. Haghaghag", kata Robert sambil menyengir mesum meledek Alya


"Eeehh?? Anu.. Apa tugas saya Pak?", tanya Alya malu-malu


"Mudah saja, Patuh dan taat dengan perintah saya apapun itu.", kata Robert mencoba menancapkan kekuasaan di relung hati Alya


Alya diam sejenak memikirkan beberapa akibat jika ia menerima tawaran Robert itu. Sejauh ini kah dia harus berpetualang mengkhianati suaminya yang sedang sibuk membanting tulang demi mencari nafkah untuk keluarga kecilnya? Apakah dia harus menyerahkan jiwa dan raganya kepada manusia berhati Iblis seperti Robert? Apakah sudah terlalu terlambat untuk mengakhiri kegilaan ini dan kembali ke kehidupan normal? Rasanya tidak mungkin ia bisa kembali. Alya tahu betul manusia disampingnya itu biadabnya seperti apa. Robert tidak akan segan menghancurkan hidupnya bahkan keluarga tercintanya jika menolak keinginan lelaki bejat itu


"Iya Pak Robert, saya akan menuruti permintaan bapak"", kata Alya patuh dan pasrah


"Bagus Bu Alya. Hehehe" Yasudah saya balik dulu. Gak enak berdua-duaan gini nanti jadi omongan tetangga", kata Robert tersenyum nakal meledek apa yang ditakutkan Alya dari tadi


#


Jam dinding menunjukkan pukul 20.30 malam itu. Alya sudah selesai makan malam. Demikian juga dengan Echa anak gadisnya. Gadis cantik itu sudah berada di dalam kamarnya. Mungkin anak gadis kesayangannya itu sedang asyik dengan pacarnya. Alya tidak melarang Echa berpacaran. Ia sadar diri, kelakuannya sudah jauh lebih parah dibandingkan dengan sekedar berpacaran. Ia sudah betul-betul mengkhianati suaminya sendiri dan menyerahkan tubuhnya secara total kepada pria lain


*Tulilit tulalit* Suara nada dering Handphone Alya berbunyi


"Mas Ragil", ucap Alya lirih membaca nama suaminya dilayar handphonenya


"Halo Asslmlkm Ma"", ucap Ragil di seberang sana


"Wlkmslm.. Iya Pa?", jawab Alya


"Mama jadi ikut ronda hari ini? Di grup bapak-bapak pada rame nih Ma.. Papa kok khawatir ya", ujar Ragil mulai bercerita


"Iya jadi Pa, tadi pagi Pak RT sudah ke rumah memastikan mama ikut serta buat ronda nanti malam", jawab Alya


"Eh Pak RT tadi ke rumah Ma?"


"Iya Pa beliau datang tadi. Oiya, di grup pada bilang gimana Pa?", tanya Alya penasaran


"Ya pada gak percaya nanti malam mama jaga ronda gantiin papa. Terus pada ngeledekin papa"


"Papa diledekin gimana?", tanya Alya


"Ya nyalahin papa gitu, terlalu sibuk ngurusi kerjaan sampai istri sendiri dikorbankan", kata Ragil


"Eh siapa yang bilang gitu Pa?", tanya Alya


"Pak Robert Ma.."


"Huh sok tau beliau Pa. Papa kerja kan biar bisa nafkahin mama sama Echa. Kalau Papa kerja gak keluar kota ya pasti gak gini", kata Alya


"Ya tapi apa yang beliau bilang ada benarnya Ma.. Maaf ya Ma" Papa sebenarnya gak setuju sama aturan ini.. Tapi karena suara terbanyak pada setuju, yasudah papa ga bisa berargumen lagi"


"Iya Pa.. Gapapa kok.."


"Papa khawatir tau Ma""


"Papa khawatir apa?", tanya Alya tersenyum melihat suaminya yang masih kepikiran dirinya


"Ya Mama kan perempuan sendiri. Mama pasti gak nyaman.. Mama kan alim dan gak mau campur baur sama yang bukan mahrom", kata suami Alya


"Hihihi.. Papa ini lucu. Tapi kalau hidup bertetangga ya mau gak mau Mama harus berhubungan sama mereka Pa..", ujar Alya


"Mama yakin gapapa?"


"Iya gapapa Pa. Lagian disana kan mama sama para tetangga juga yang tinggal di perumahan ini, bukan sama orang lain. Mana ada yang berani macem-macem. Bisa-bisa nanti mereka dijewer istrinya kalau godain mama. Hihihi", canda Alya


"Ih Papa cemburu kalau mama sampai digodain", kata Ragil


"Masak sih Papa cemburu?", tanya Alya


"Iya Papa cemburu.. Nanti kalau ada yang kurang ajar sama mama, mama cerita ke papa ya!", kata Ragil


"Hehehe.. Iya iya papa.. Papa tenang aja, mama tau batasannya kok. Papa percaya mama kan? Lagian siapa juga yang mau godain Mama", kata Alya mencoba menenangkan suaminya


"Iya percaya, orang mama gak pernah mau kalau salaman sama yang bukan mahrom. Mereka pasti sungkan sama Mama", kata Ragil


"Itu tau" Udah papa tenang aja. Tidur dulu gih", ujar Alya


"Iya deh, Papa tidur dulu ya Ma. Love You"


"Love you too papa"


Telepon pun ditutup, tidak lama kemudian handphone Alya berbunyi lagi. Kali ini Pak Robert nama yang tertulis di layar handphonenya. Seseorang yang sudah ia perlakukan lebih baik dibandingkan suaminya sendiri


"Halo sayang"", kata Robert


"I.. Iya.. Pak.. Ada apa ya?", jawab Alya kikuk


"Duh mana nih kata sayangnya?", protes Robert


"Oiya, iya sayang..", kata Alya


"Hehehe.. Gitu dong.. Mulai Malam ini Bu Alya istri saya!", ucap Robert mengejutkan Alya


"Eehhh?? Istri?? Maksud Pak Robert?", tanya Alya terkejut


"******.. saya kurang jelas ya ngomongnya? Kamu mulai sekarang istri saya!", ujar Robert sekali lagi


"Eh kenapa tiba-tiba bilang gitu? Sa.. saya sudah punya suami", elak Alya


Walau ia sudah berkali-kali berzina dengan Robert, tetapi menjadikan pria bejat itu sebagai suaminya sama sekali tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Tidak ada niatan sedikitpun Alya meninggalkan suaminya.


"Mau gak kamu jadi istri saya?", tanya Robert mengulangi pertanyaannya


"Ta.. Tapi saya sudah punya suami Pak"", kata Alya kebingung


"Ceraikan", perintah Robert


"Hah? Pak Robert bercanda kan?"


"Saya serius Bu. Ini perintah. Ceraikan suamimu sekarang juga. Mau kan?", kata Robert


"Ehhh.. Tapi""


"Mau gak? Tolol bener sih jadi cewek! Tinggal jawab aja kebanyakan tapi", kata Robert emosi


"I.. Iya Mau"", jawab Alya ketakutan


Bagaimanapun Alya memang masih ketakutan berhadapan dengan Robert, apalagi jika pria berwajah menyeramkan itu marah-marah dan menggoblok-goblokkan dirinya. Rasanya tidak ada keberanian sedikitpun bagi Alya untuk melawan


"Haghaghag" Padahal saya Cuma bercanda lho. Ngapain saya jadi suami Bu Alya kalau tanpa nikah aja saya bisa ngentotin ibu.", kata Robert


"Ehhhhh?", kata Alya terkejut tidak menyangkan perintah tadi hanya bercanda semata, padahal Alya sudah mengiyakan untuk menceraikan suaminya dan memilih jadi istri Robert


"Yasudah sampai ketemu nanti ya Bu" Jangan lupa dandan yang cantik dan wangi. Biat bapak-bapak gak ngantuk. Ini perintah", pungkas Robert


*Tut tut tut* telepon pun diakhiri sepihak oleh Robert


#


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.45


Alya sudah berdandan cantik sekali malam itu. Tak lupa ia semprotkan parfum beraroma vanila di sekujur tubuhnya. Aroma tubuh Alya begitu wangi malam itu. Wajahnya sengaja dirias dengan riasan simple seperti dirinya akan menghadiri pesta pernikahan. Lipstik, bedak, pensil alis, blush on, dan sedikit eye liner ia aplikasikan ke wajah cantiknya. Sengaja Alya rias wajahnya sesuai perintah Robert.


Alya nervous sekali malam ini. Dulu saat dirinya masih alim, ia tidak pernah punya niatan merias diri demi dipuji oleh orang lain. Namun kali ini Alya harap-harap cemas. Berharap semua lelaki disana akan terpesona akan kecantikannya.


"Maafkan Alya mas" Alya bukan istri yang baik", ujar Alya lirih


"Sudah selesai", kata Alya sambil memastikan seluruh make-up yang ada di wajahnya sempurna tanpa kurang satu apapun


Setelah semua beres, Alya mulai melangkah ke luar malam itu, menembus udara dingin yang rasanya seperti menusuk-nusuk permukaan kulitnya. Alya berjalan sambil jantungnya berdebar kencang. Wajar saja karena ini memang pertama kalinya ia keluar malam-malam sendirian. Berdandan cantik dan memakai wewangian, menuju balai RW tempat berkumpulnya para bapak peronda malam.


#Bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Ch. 21 - Flashback Mama Alya (Part Final)


Malam itu, suasana komplek perumahan Alya sudah sepi. Tidak terlihat aktivitas yang dilakukan oleh para warga. Mungkin hanya ada beberapa pedagang kaki lima yang masih menanti datangnya pembeli. Berharap dagangannya bisa habis terjual malam ini.


Alya berjalan menyusuri jalanan sepi komplek perumahan tempat dia tinggal. Wangi tubuhnya tercium semerbak saat ia berjalan. Membuat beberapa pedagang kaki lima yang berhenti meliriknya diam-diam. Mungkin mereka mengagumi kecantikan wanita berkerudung yang baru saja lewat di depan mereka. Mungkin juga mereka bertanya-tanya, apa yang dilakukan wanita secantik Alya malam-malam begini.


Alya terus berjalan sambil sesekali melempar tersenyum saat melewati beberapa pedagang kaki lima itu. Walau ia tidak kenal, tapi Alya mencoba bersikap ramah kepada mereka. Sekaligus menepis kecurigaan mereka yang terlihat dari cara mereka memandang Alya.


"Mau kemana malam-malam gini Mbak?", goda salah satu pedagang sate yang mangkal dipinggir jalan


"Mau ronda Mas", jawab Alya


"Ronda? Hahahaha" Gak percaya saya mbak"", jawab si penjual sate


"Emang Mas ngira saya mau kemana?", tanya Alya balik


"Pulang dari kondangan ya Mbak?", tanya si penjual sate


"Ngga kok, beneran mau ronda", kata Alya


"Ronda dimana Mbak? Ikut dong saya", kata si penjual sate


"Di balai RW mas" Permisi, saya duluan. Buru-buru soalnya", ujar Alya sambil melempar senyum membuat si penjual sate terpana


Si penjual sate sebenarnya masih tidak percaya wanita dengan dandanan cantik seperti Alya akan ronda malam. Ia bahkan tidak percaya ada seorang wanita yang ikutan ronda. Karena biasanya kegiatan itu hanya diikuti para lelaki saja.


Alya pun tidak peduli kalau si penjual sate tidak percaya dengan perkataannya. Toh dia memang berkata jujur apa adanya. Alya pun terus berjalan menuju balai RW yang letaknya memang lumayan jauh dari rumah Alya, tempat para peronda malam berkumpul


Setelah menempuh ratusan langkah, Alya akhirnya tiba di balai RW. Tempat yang sudah disepakati oleh warga untuk memulai kegiatan ronda ini. Jantungnya berdegup kencang, bagaimanapun Alya belum biasa menghadiri acara yang dimana dirinya menjadi kaum minoritas. Menjadi satu-satunya wanita diantara sekumpulan lelaki tentu saja membuat Alya gelisah. Apalagi dirinya selama ini dipandang wanita shalihah yang selalu menjaga auratnya di lingkungan komplek. Alya juga paham betul bagaimana batasan pergaulan antara lelaki dan perempuan seharusnya seperti apa. Itulah yang membuat Alya merasa ada yang mengganjal di hatinya.


Tibalah Alya di depan Gedung balai RW di komplek perumahan itu. Gedung itu berupa bangunan yang tidak terlalu luas. Mungkin luasnya hanya sekitar 36m". Bisa dibilang gedung balai RW itu juga difungsikan warga sebagai gudang tempat menyimpan beberapa properti yang berhubungan dengan kegiatan di komplek tersebut. Seperti rambu-rambu jalan jika ada kegiatan warga, beberapa tiang bendera dan juga hiasan merah putih yang biasanya dipasang untuk menghias komplek perumahan, beberapa kursi plastik, juga beberapa pentungan sebagai alat untuk perlindungan bagi mereka yang ikut ronda.


Seluruh mata terbelalak menatap kehadiran wanita berjilbab cantik istri Ragil itu. Siapa yang akan menyangka Alya betul-betul datang ke acara ronda yang identik dengan kegiatan para pria. Apalagi Alya berpenampilan cantik sekali malam itu seolah akan menghadiri sebuah acara kondangan. Gamis syari dan kerudung panjangnya terlihat sempurna menutup tubuhnya, riasan wajahnya yang minimalis menambah kecantikan paras ayunya, dan juga aroma parfum vanila tercium dari tubuhnya. Semua mata melongo melihat kedatangan Alya yang begitu mempesona.


Padahal bapak-bapak disana berpakaian ala kadarnya. Beberapa ada yang memakai kaos gambar partai, beberapa ada juga yang hanya mengenakan kaos singlet Menampakkan ketiak yang berbulu lebat. Pokoknya tidak sebanding dengan penampilan Alya yang terlihat begitu "wah" malam itu. Alya tiba disana sambil tersipu malu menundukkan wajahnya karena semua pandangan tertuju kepadanya.


Beberapa wajah ia tidak familiar karena jumlah warga di komplek tersebut lumayan banyak. Hanya beberapa tetangga saja yang Alya kenal. Seperti Pak Alex tetangga sebelah rumahnya persis. Juga Pak RT yang terlihat masih melongo melihat penampilan Alya yang cantik jelita.


"Eh Bu Alya? Sendirian aja nih bu? Sini duduk sini Bu", ujar Pak Alex tetangganya ramah sambil memberikan sebuah kursi kepada Alya


Beberapa bapak-bapak lainnya berbisik-bisik setelah Pak Alex menyapa Alya tetangganya. Alya hanya bisa tersenyum manis agar terlihat ramah dan memberikan kesan yang baik kepada para warga yang ada di sana.


"Iya nih Pak Alex, saya sendirian aja", jawab Alya sambil menghampiri Pak Alex


"Siapa nih Pak? Kenalin kita-kita dong", kata salah seorang bapak-bapak yang hanya mengenakan kaos singlet lusuh memamerkan ketiaknya yang berbulu lebat


"Bu Alya, tetangga rumah saya Pak", jawab Pak Alex


"Kok saya gak pernah liat ya?", tanya bapak-bapak lainnya


"Eh iya Pak saya jarang jalan-jalan keluar. Paling keluarnya cuma ke pasar Pak", jawab Alya buru-buru


"Oh pantesan.. Kenalin nama saya Pak Bowo", ujar bapak-bapak yang mengenakan kaos singlet lusuh itu sambil menjulurkan tangan memperkenalkan diri


Alya ragu untuk menjabat tangan pria yang tidak dikenalnya itu. Tapi setelah ia timang-timang, ia pun bersedia menerima jabat tangan Pak Bowo. Alya takut dianggap tidak ramah karena menolak jabat tangan itu. Lagian percuma Alya bersikap sok alim saat ini, toh dirinya juga sudah melakukan hal-hal yang lebih berdosa dibandingkan hanya sekedar bersentuhan dengan pria yang bukan mahromnya.


Melihat Alya bersalaman dengan Pak Bowo, bapak-bapak yang lain juga berebutan memperkenalkan diri ke Alya. Mereka tidak ingin melewatkan kesempatan menyentuh tangan putih mulus milik Alya. Alya pun terpaksa meladeni tangan-tangan yang berebutan mengajaknya salaman sambil saling memperkenalkan diri. Alya sampai tidak bisa mengingat nama-nama mereka saking banyaknya tangan yang menghampiri dirinya


"Pak Ragil kemana Bu?", tanya Pak Alex ramah sambil mempersilakan Alya duduk disampingnya


"Biasa Pak lagi kerja jadi gak bisa datang ikut ronda", jawab Alya duduk disamping Pak Alex


"Oh jadi Mbak ini gantiin suaminya ikut ronda?", ujar salah satu bapak-bapak yang Alya tidak kenal


"I.. Iya Pak"", jawab Alya


"Pak Ragil yang kemarin protes di grup itu ya?", timpal bapak-bapak yang lain


"Iya betul Pak", kata Pak Alex


"Jahat sekali suaminya punya istri cantik gini malah disuruh ronda", timpal seorang bapak-bapak lainnya lagi


"I.. Iya mau gimana lagi Pak.. Namanya juga lagi kerja dan berhalangan hadir", jawab Alya mencoba membela suaminya


"Sesibuk apa sampai tega itu nyuruh istrinya gantiin jaga ronda. Saya aja jadi datang kesini daripada istri saya yang datang", kata seorang bapak-bapak kurus


"Hahaha" Dijagain betul ya pak istrinya?", ujar Pak Bowo


"Iya Pak, wajib dong dijaga istrinya, jangan cuma dinaikin doang", jawab si bapak tadi dan disambut gelak tawa semua bapak-bapak disana


"Maaf mengganggu obrolannya.. bapak-bapak absen dulu di buku kehadiran ini", ujar Pak RT tiba-tiba mengejutkan mereka sambil membawa buku absensi yang bentuknya panjang


Satu persatu menandatangani buku kehadiran, termasuk Alya. Sambil menunggu yang lain absen, Alya melihat keadaan sekelilingnya. Tidak banyak bapak-bapak yang ia kenal disana. Mungkin hanya Pak Alex dan Pak RT saja yang ia tahu. Alya kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan sepertinya ia sedang mencari seseorang. Satu nama yang seharusnya ia kenal namun belum kelihatan batang hidungnya. Siapa lagi kalau bukan Pak Robert, lelaki yang sudah sering silaturahmi kelamin dengannya


"Pak Robert kemana Pak? Bukannya seharusnya beliau jadwal malam ini juga?", tanya Alya penasaran ke Pak RT


"Tidak tahu Bu. Katanya tadi pagi dia mau datang tapi sampai sekarang belum kelihatan. Tapi kalau Pak Robert gak datang gak papa Bu. Beliau itu pengecualian.", kata Pak RT


"Eh kok bisa gitu Pak?", tanya Alya merasa tidak adil karena perlakuan tersebut berbeda dengan apa yang didapatkan suaminya


"Pak Robert sudah banyak nyumbang buat komplek perumahan kita Bu. Perbaikan-perbaikan jalan jadi bagus, portal ditinggiin, gapura depan komplek dibagusin, taman-taman dirapihin, dan berbagai sumbangan buat mensukseskan acara warga komplek itu semua pemberian dari Pak Robert bu", kata Pak RT


"Ohhh gitu"", kata Alya langsung membisu tidak jadi protes menyadari betapa banyak jasa Pak Robert bagi komplek perumahannya, tidak seperti suaminya yang hanya seorang penduduk biasa yang tidak aktif di lingkungan warga.


"Ayo foto-foto dulu sekalian buat dokumentasi kehadiran sekaligus buat laporan ke warga lain", kata Pak RT kemudian


"Bu Alya ikut juga sini Bu", kata Pak RT lagi saat menyadari Alya tidak bergeming


"Eh saya ikutan foto juga pak?", tanya Alya terkejut


"Iya dong Bu.. Masak udah dandan cantik gak ikutan foto", timpal Pak Bowo


Alya yang masih merasa kebingungan disana akhirnya setuju untuk berfoto juga bersama para bapak-bapak komplek yang sedang ronda malam itu. Alya duduk ditengah-tengah, Dikelilingi para bapak-bapak yang sebagian besar tidak ia kenal namanya.


*Cekrik cekrik cekrik* handphone Pak RT berhasil mengabadikan para peserta ronda malam itu beberapa kali


Terlihat sekali Alya yang masih canggung disana lebih banyak melempar senyum sambil mengamati tingkah laku para lelaki itu. Ternyata mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Mereka nampak begitu akrab dan banyak ngobrol tentang hal apapun. Mulai dari lingkungan komplek, olahraga, tetangga, hingga politik.


Alya hanya berbicara jika ada yang mengajaknya bicara. Memang Alya pada dasarnya jarang berinteraksi terutama dengan lelaki. Karena dari dulu ia sudah terbiasa menjaga pergaulan dan interaksinya dengan lawan jenis. Jadi wajar saja Alya terlihat kebingungan disana


"Eh Bu, Pak Ragil komentar nih lihat foto yang tadi", ujar Pak RT sambil menunjukkan layar handphonenya


"Suami saya bilang apa pak?", tanya Alya


"Ini baca aja sendiri Bu", kata Pak RT


"Maaf bapak-bapak saya tidak bisa hadir di ronda malam ini. Jadi sementara istri saya yang hadir. Nitip istri saya bapak-bapak", kata suami Alya


"Hahahaha" Emangnya kita tempat penitipan?", gumam salah satu bapak-bapak yang tanpa sengaja terdengar oleh Alya


"Ini suaminya ya Bu?", tanya Pak Bowo kepada Alya dan Alya mengangguk pelan


"Berhubung saya gak kenal suaminya jadi saya ya gak banyak komentar", kata Pak Bowo


"Iya sama Pak" Kalau kenal udah saya marahin tuh suaminya Bu. Hahaha", kata bapak-bapak kepala botak


"Lho istrinya dititipin kita-kita nih Pak?Dengan senang hati saya terima kalau gitu", Ketik Pak Robert tiba-tiba saat Alya masih membaca layar handphone Pak RT


Mata Alya terbelalak, melihat balasan Pak Robert yang muncul di layar handphone Pak RT. Ia ingat betul Pak Robert tadi tidak ada disana. Mata Alya reflek langsung tertuju ke pintu utama balai RW. Pak Robert sudah berdiri disana sambil menatap Alya dengan tatapan menyebalkan. Robert tersenyum nyengir memandangi Alya. Alya buru-buru menundukkan matanya dan pura-pura tidak begitu kenal dengan Robert.


"Halo Pak Robert.. Akhirnya datang juga Pak?", tanya Pak RT


"Iya Pak.. Maaf saya ada urusan ngurusin bisnis saya tadi", jawab Pak Robert


"Ajak-ajak lah Pak kalau bisnis. Biar bisa hidup enak kayak Pak Robert. Hahaha", kata Pak Bowo si bapak kaos singlet dengan bulu ketiak lebatnya


"Hahaha.. Berat pak nanti Pak Bowo malah stress.. Mending sekarang ronda sambil pesta aja. Ini saya bawakan minuman Pak", kata Robert sambil menunjukkan 2 botor miras di genggaman tangannya


"Wah asyik nih Pak jadi gak ngantuk kalau gini rondanya", sahut para bapak-bapak


"Boleh minum ya Pak RT?", tanya seorang bapak-bapak


"Boleh tapi awas aja kalau sampai teler. Kalau teler, besok saya suruh ronda lagi", ancam Pak RT


"Beress Pak.. Ayo mana gelasnya", kata Pak Bowo dan terlihat seorang bapak-bapak bertubuh kurus bangkit dan mengambil dus air mineral.


Mereka lalu meminum air mineral itu hingga isinya habis lalu mereka isi gelas plastik air mineral tadi dengan minuman keras dari Pak Robert. Tak lupa mereka menyulut rokok dan seketika ruangan pengap itu dipenuhi asap rokok tebal. Alya yang tidak menyukai asap rokok mulai terbatuk-batuk karena banyaknya asap rokok yang berterbangan. Tapi tidak ada yang peduli akan hal itu. Mereka terus bercerita dan bersenda gurau sambil rokokan dan meminum minuman keras pemberian Pak Robert


"Ini buat Bu Alya. Santai aja bu jangan tegang-tegang gitu", ujar Robert sambil menyodorkan minuman soda kalengan yang sudah terbuka


"apa ini Pak?", ujar Alya curiga


"Haghaghag" tenang bukan minuman beralkohol kok Bu. Saya tau Bu Alya kan alim jadi gak boleh minum ginian. Hehehe", jawab Robert sambil ia berikan minuman itu ke Alya


Alya terlihat ragu untuk meminum minuman dari Robert. Ia tahu betul sebelumnya ia pernah diberi minuman oleh Robert yang membuat tingkahnya benar-benar menjadi gila. Alya takut kesadarannya akan hilang setelah minum minuman dari Robert dan berbuat hal-hal diluar batas karena vaginanya jadi gatal dan syahwatnya yang tiba-tiba tidak bisa ia kendalikan


"Kenapa Bu? Tenang saya gak ngasih racun kok. Ayo diminum Bu"", kata Robert sambil tersenyum dan menatap Alya dengan tatapan tajam


"Minum aja Bu. Pak Robert sudah capek-capek bawain masak gak diminum. Gak sopan itu namanya", timpal salah seorang bapak-bapak


"Eh? I.. Iya saya minum Pak", jawab Alya tak punya pilihan lain sambil menerima minuman soda dari Pak Robert


Alya pun menepis ketakutannya dan pada akhirnya ia memutuskan meminum minuman pemberian Robert. Alya yang tidak enakan itu tidak punya pilihan lain. Apalagi bapak-bapak lainnya juga memintanya ikutan minum walau yang diberikan Pak Robert hanya minuman bersoda saja. Akhirnya demi menjaga keadaan yang sudah akrab itu, Alya memutuskan menuruti mereka.


"Nah gitu dong Bu.. Hargailah pemberian Pak Robert", celetuk Pak Bowo


"Hahahah.. Liat nih balasan suamimu", kata Robert tiba-tiba sambil menunjukkan handphonenya ke Alya


Sebuah pesan yang terkirim semakin membuat Alya terlihat kecewa dengan suaminya sendiri. Betapa lemah suaminya didepan pak Robert.


"Iya Pak Robert mohon bantuannya dan bimbing istri saya ikut ronda. Baru pertama soalnya. Maaf kalau ada yang salah dari istri saya", Alya pun membaca balasan suaminya dalam hati


Alya kesal dalam hati, mengapa suaminya terlihat culun jadinya di grup bapak-bapak itu. Padahal ia ingin suaminya bersikap jantan memperingatkan bapak-bapak agar tidak menggoda istrinya. Tapi sayang, kenyataannya malah terlihat sekali suami Alya tidak punya power di grup itu. Mungkin satu sisi suami Alya merasa tidak enak dengan warga lainnya karena ia tidak pernah menghadiri ronda malam. Satu sisi lain, suaminya juga sadar diri kalau istrinya pernah punya hutang ke Pak Robert.


"Tenang Pak nanti Bu Alya saya bimbing biar pintar. Heheheh", jawab Pak Robert


"Mau dibimbing apa Pak? Hehehehe", timpal Pak Bowo yang duduk disamping Robert sambil menenggak miras


"dibimbing biar pinter waktu ronda malam Pak. Hehehe.. Bu Alya tolong gelas saya isikan", jawab Robert memerintah Alya sambil menyodorkan gelas kosong miliknya


"Kok saya pak?", ujar Alya keberatan menyentuh minuman haram itu


"KENAPA? GAK MAU?", tanya Robert sambil matanya mendelik


"Eehh?? I.. Iya Pak, maaf"", kata Alya dan ia pun dengan patuh mengisikan gelas Robert dengan bir.


"Sekalian semuanya dong Bu..", perintah Robert lagi


"Ehh I.. Iya Pak"", jawab Alya dan akhirnya ia mau tak mau mengisikan gelas-gelas para bapak-bapak disana dengan bir yang dibawa oleh Robert


"Terima kasih cantik", ujar seorang bapak-bapak sambil main mata ke Alya


"Minumanmu jangan lupa dihabiskan juga Bu, keburu gak enak. Habiskan sekarang", kata Robert lagi karena menyadari Alya baru meminum minuman pemberiannya hanya beberapa teguk saja


"I.. Iya Pak saya habiskan", jawab Alya dan ia pun buru-buru meminum habis minuman bersoda miliknya hingga habis tak tersisa


"Wah Bu Alya kok bisa patuh ya sama Pak Robert?", tanya Pak Bowo penasaran karena daritadi wanita berjilbab cantik itu tidak pernah melawan perintah Robert


"Iya Pak soalnya Bu Alya kan istri yang patuh. Betul gak Bu? Haghaghag", kata Robert sambil tangannya dengan lancang menepuk-nepuk pundak Alya sambil mendekap pundak Alya begitu erat seolah Alya adalah miliknya.


Semua bapak-bapak disana melongo melihat keberanian Robert memeluk istri orang. Apalagi yang dipeluk juga terlihat tidak keberatan sama sekali. Hanya wajahnya saja yang tertunduk malu karena diperlakukan seenaknya oleh Robert di depan bapak-bapak yang ikut ronda malam itu


"Hehehehe.. Iya tapi kan Bu Alya istri Pak Ragil Pak. Jadi patuhnya ya sama Pak Ragil aja", kata Pak RT semakin curiga


"Kata siapa? Pak RT mau bukti?", tantang Robert sambil menyeringai menyebalkan


"Eh buktiin apa Pak?", tanya Pak RT balik karena terkejut mendengar tantangan Robert


"Hahahah" Bercanda kok saya Pak. Iya Betul memang, Bu Alya istri yang patuh sama suaminya Haghaghag.. Sama saya juga.. Iya gak Bu??", ujar Robert sambil semakin erat mendekap pundak Alya hingga mereka terlihat mengumbar kemesraan.


"Ah Pak Robert bisa saja"", ujar Pak RT


Alya yang mendengar arah pembicaraan Robert yang terus menjurus benar-benar membuatnya tidak tenang. Terlihat sekali kaki Alya bergerak-gerak seperti sedang gelisah. Apalagi suasana di dalam ruangan balai RW yang terasa pengap dan berbau miras membuatnya tidak nyaman. Tubuh Alya juga perlahan mulai berkeringat karena pakaiannya yang tertutup rapat ditambah suhu ruangan yang terasa gerah malam itu.


*Duh kok malam ini panas sekali ya suhunya?* Keluh Alya dalam hati menyadari dibalik gamisnya keringat mulai bercucuran dan sela-sela tubuhnya mulau terasa lengket


"Oiya Pak saya masih kepikiran", kata Pak RT tiba-tiba memecah tawa-tawa khas pemabuk disana


"Ada apa Pak RT?", tanya Pak Robert


"Saya kepikiran video dari Pak Robert kapan lalu. Itu siapa Pak perempuan yang masturbasi pake jilbab? ", selidik Pak RT membuat Alya tersedak seketika karena Pak RT tiba-tiba membahas dirinya


Pak Robert melirik Alya mesum, menatap perempuan berjilbab itu dengan tatapan tajam ke wajah cantiknya. Alya hanya tertunduk sambil menggelengkan kepala sesekali seolah memohon kepada Robert agar tidak membuka aibnya. Alya benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi jika sampai kedoknya dibongkar oleh Robert si pria bejat itu.


"Oh.. itu.. Dia cuma cewek butuh duit Pak.. Ehh saya kasih duit kok dia malah kasih hiburan masturbasi di depan saya", jawab Robert sambil matanya terus menatap seolah menghina Alya


"Sayang sekali padahal dia kerudungan Pak. Malah melakukan hal menjijikkan seperti itu. Murahan sekali dia", tanya Pak RT


"Ya namanya juga lagi butuh Pak"", ujar seorang bapak-bapak yang tidak diketahui namanya oleh Alya


"Ya memang awalnya dia butuh Pak, tapi lama-lama dia keenakan juga. Jadi keterusan suka colmek. Sok alim sih!", ujar Robert sambil tatapannya teris memandang tajam ke arah Alya hingga wajah mama Echa itu pucat pasi


"Masak sih Pak? Cewek jilbaban gitu suka colmek?", kata seorang lelaki yang sangat gendut menimpali perkataan Robert


"Memangnya kalau jilbaban gak boleh colmek ya Pak? Kan kebutuhan.. hahahaha", kata Pak Robert membuat jantung Alya mati rasa


"Eh Pak Robert ini kenceng banget suaranya. Kan ada Bu Alya, Malu lah Pak, Bu Alya juga jilbaban", sanggah Pak Alex mencoba menyudahi pembicaraan tak pantas itu karena pembicaraan itu sedang di dengarkan juga oleh Alya yang terlihat tidak nyaman mendengar ucapan-ucapan Robert


"Lho memangnya kenapa Pak Alex? Bu Alya juga udah dewasa. Pasti paham lah masalah itu. Iya kan Bu? Memangnya kalau cewek berkerudung itu boleh colmek gak Bu?", tanya Pak Robert tersenyum mesum ke arah Alya


"Ehhh??? Aa.. Anu.. Sa.. Saya tidak.. Tidak tahu Pak"", jawab Alya gelagapan menjawab pertanyaan yang tiba-tiba tertuju pada dirinya.


"Jawab aja Bu. Kita kan juga pingin tahu. Apa lagi Bu Alya juga pakai kerudung lebar kayak yang divideo ini", kata Pak Robert membuat mata Alya terbelalak tak percaya karena Pak Robert saat ini malah memutar ulang video masturbasi Alya di rumah pria kaya itu


"Gimana Bu Alya? Boleh gak cewek jilbaban melakukan kayak gini? Heheheh", kata Robert cengengesan memutar video colmek itu di depan pemerannya sendiri


Alya terpaksa menatap rekaman video dirinya saat sedang masturbasi di rumah Robert, bersama para bapak-bapak disana. Terlihat jelas tubuh putih mulus Alya yang telanjang bulat mengkilap penuh keringat. Jemari lentiknya sangat lihai memainkan kemaluannya. Desahan-desahan nakal perempuan berkerudung itu juga terdengar dari handphone Robert menyebut nama lelaki cabul itu.


Desahan Alya yang penuh kenikmatan terbuai oleh birahi nafsunya, memainkan organ kelaminnya sendiri di depan Robert yang terus merekam dirinya. Suara perempuan berkerudung di rekaman itu sangatlah jelas dan bersih. Dan suara itu memang benar suara Alya!


Gila! Mengapa ronda malam itu malah berubah menjadi nobar bokep? Parahnya gara-gara suara desahan itu, para bapak-bapak disana juga semakin curiga kalau pemeran dalam rekaman video tersebut adalah Alya, wanita berkerudung yang ada di tengah-tengah mereka yang sedang duduk gelisah .


"Ups" Salah muter video.. Ini yang belum diilangin suaranya. Haghaghhag", kata Pak Robert sambil buru-buru mematikan rekaman video yang belum lulus sensor itu


"Eh nanggung banget tuh Pak.. Berarti ada video yang wajahnya belum disensor juga ya Pak?, selidik Pak RT


"Ada dong Pak. Saya ada banyak koleksi dia. Haghaghag"", kata Pak Robert penuh kebanggaan.


"Yah.. Penasaran saya Pak.. Kayaknya cantik tu ceweknya", kata Pak RT membuat Alya tersipu malu


"Oiya Bu Alya, Gimana pendapat Bu Alya kelakuan perempuan jilbaban dalam video ini? Jilbaban masak masturbasi", goda Robert lagi membuat muka Alya memerah karena Robert hampir membuka kedoknya


Pertanyaan yang membuat Alya kembali pucat pasi. Pertanyaan yang terdengar bodoh dan senonoh yang seharusnya tidak perlu dibicarakan. Apalagi kepada seorang wanita berjilbab yang terkenal alim di lingkungan komplek. Tapi memang itulah tujuan Robert, membuat Alya merasakan malu dan terhina.


"Errr" I.. Iya bisa saja pak.. Tergantung orangnya"", jawab Alya ragu


"Nah kan Pak RT.. Sudah jelas ya Pak, jadi meskipun ceweknya kerudungan atau enggak, kalau udah nafsu ya bisa saja dia colmek", ujar Robert


"Iya deh Pak saya percaya.. Tapi kalau Bu Alya sendiri gimana?", tanya Pak RT dengan polosnya membuat Pak Robert dan yang lainnya tertawa mendengar pertanyaan yang ditujukan kepada Alya itu


"Hah? Ma.. Maksud bapak??", tanya Alya panik


"Maksud Pak RT, Bu Alya kalau lagi nafsu suka colmek gak? Apalagi kan Bu Alya sering ditinggal suaminya kerja ke luar kota, pasti butuh dilampiasin juga kan?", ujar Pak Robert mencoba menjabarkan pertanyaan Pak RT sejelas-jelasnya


"Eehhh??? Ya.. Eng.. Enggak Pak"", ucap Alya berbohong


Robert menatap tajam wajah Alya yang panik ketakutan. Sepertinya pria bejat itu tidak puas dengan jawab Alya yang masih sok jual mahal. Tapi bagi Alya, jawaban itulah yang paling masuk akal demi menjaga harga dirinya. Karena pembicaraan ini sudah menjurus ke ranah pribadi yang seharusnya tidak untuk konsumsi publik.


"Jangan bohong Bu. Bu Alya suka masturbasi juga kan?", kata Pak Robert sambil menyeringai menyebalkan


Suasana menjadi menegangkan saat itu. Semua telinga tertuju menantikan jawaban Alya. Karena secara tidak langsung mereka penasaran juga karena 99% mereka sudah mencurigai Alya sebagai sosok yang ada di rekaman Pak Robert.


"Bapak-bapak sudah jam 11. Waktunya jalan keliling komplek yuk.. Ayo semangat rondanya!", ujar Pak Alex membuyarkan kerumunan sekaligus menyelamatkan Alya untuk sementara waktu dari interogasi bapak-bapak disana


*Terima kasih Pak Alex"*, gumam Alya dalam hati


#


Hari semakin larut malam, suasana di luar semakin dingin. Namun tidak bagi Alya, tubuhnya berkeringat deras membasahi baju gamisnya. Beberapa bagian lipatan seperti ketiak Alya terlihat sudah basah. Parahnya, bukan hanya rasa gerah itu saja yang menyerang Alya. Kemaluan Alya saat ini rasanya terbakar. Begitu gatal dan panas sekali membuat duduk Alya menjadi tidak nyaman. Alya sesekali mencuri kesempatan menggaruk vaginanya di sela-sela waktu saat perhatian para bapak-bapak sedang tidak tertuju padanya.


*Ya ampun kok jadi gatal ya" Mana panas banget lagi disini*, keluh Alya dalam hati sambil diam-diam menggaruk selangkangannya saat bapak-bapak sibuk berkumpul karena ada pembagian tugas oleh Pak RT.


Pandangan mata Alya kemudian tertuju kepada minuman kalengan bersoda yang diberikan oleh Robert tadi. Kaleng kosong itu sudah tidak tersisa habis diteguk olehnya. Pak Robert juga tadi terkesan begitu memaksa dirinya agar segera menghabiskan minuman itu


*Jangan-jangan???* Tebak Alya dalam hati sambil melirik sebal ke arah Robert


Robert yang daritadi mengamati gerak-gerik Alya membalas tatapan curiga Alya dengan senyum memuakkan. Seolah meledek Alya dan Alya kesal sekali dengan tatapan Robert itu. Robert tahu sepertinya obat yang diberikan ke minuman Alya mulai bekerja. Wanita berkerudung itu nampak gelisah berkali-kali ganti posisi duduk sambil menyeka keringatnya.


Pak RT kemudian mulai membagi kelompok siapa saja yang bertugas keliling komplek dan siapa saja yang tetap tinggal di balai RW. Sedangkan bapak-bapak yang lain fokus mendengarkan arahan, beberapa ada juga yang sibuk mencari perlengkapan untuk keliling komplek.


"Bu Alya, saya, Pak Robert, Pak Bowo dan Pak Supri akan keliling shift kedua. Bapak-bapak yang lain sudah bisa mulai keliling sekarang", kata Pak RT


Terlihat wajah mereka yang diminta keliling kecewa. Begitu juga Pak Alex yang dari terlihat melirik ke arah Alya dengan tatapan iba. Sebagai tetangga terdekatnya, sebenarnya Pak Alex merasa risih dengan pembicaraan mesum Robert ke Alya. Apalagi Alex tahu, Alya dan suaminya adalah keluarga baik-baik jadi ia merasa tidak pantas Robert mengajak pembicaraan mesum ke wanita seperti Alya.


"Yah padahal saya pingin satu kelompok sama Bu Alya", protes salah satu bapak-bapak disambut anggukan bapak-bapak lainnya


"Bu Alya masih pertama ikut acara ronda ini. Jadi sengaja saya tempatkan 1 grup dengan saya dan Pak Robert yang memang kenal dengan Bu Alya", kata Pak RT beralasan


"Terus kenapa disana ada Pak Bowo dan Pak Supri pak? Kan mereka juga tidak kenal Bu Alya?", protes bapak berkepala botak


"Iya lagian Pak Alex yang tetangga sebelah rumah juga gak 1 grup sama Bu Alya", sanggah bapak-bapak lainnya


"Sudah keputusan sudah final. Kalau keberatan silakan bapak-bapak besok datang lagi buat ronda", kata Pak RT kesal.


Sepertinya mereka ingin satu grup dengan Alya, tapi mereka juga tidak bisa banyak protes karena keputusan sudah mutlak berada di tangan Pak RT. Bapak-bapak itu mulai berjalan meninggalkan balai RW sambil membawa perlengkapan keamanan Seperti pentungan dan lampu senter.


Tinggallah Alya di sana bersama Pak Robert, Pak RT, Pak Bowo dan Pak Supri. Alya melirik ke Pak Supri, sosok yang tidak dikenalnya. Ia hanya ingat pria ini tadi juga memandangi dirinya dengan tatapan tajam saat Alya digoda oleh Robert dengan pertanyaan menjurusnya. Perawakan Pak Supri sangatlah gendut dan rambutnya keriting dengan kulitnya kecokelatan. Terlihat dagunya penuh lemak hingga lehernya tidak kelihatan. Paha dan lengannya juga menggelambir sangat besar terimbun oleh lemak. Sepertinya berat badannya sudah lebih dari 150 kg, bisa juga hampir menyentuh angka 200 kg-an.


"Nungguin shift kelilingnya sambil main kartu gimana?", usul Pak RT


"Boleh Pak.. Ayo dikocok.. Yang ngocok siapa nih?", ujar Pak Supri si bapak super gemuk


"Bu Alya saja yang ngocok. Karena perempuan. Haghaghag", timpal Robert


"Lho apa hubungannya pak? Perempuan sama ngocok?", tanya Pak Bowo


"Ya perempuan kan tugasnya ngocokin Pak. Haghaghag", ujar Robert menyebalkan namun Alya tidak terlalu berani menanggapi kalimat bernada cabul itu.


"Yasudah tugas Bu Alya ngocokin dan nuangin minuman ya Bu", perintah Robert


"Iya Pak"", jawab Alya pasrah sambil menuangkan gelas yang sudah mulai berkurang diantara mereka


Keempat bapak-bapak itu mulai asyik main kartu domino sambil mengisi waktu menunggu shift mereka berjaga keliling komplek. Sedangkan Alya sibuk melihat jalannya permainan sambil sesekali menuangkan gelas yang sudah berkurang isinya. Asap rokok terbang berhembus membuat Alya merasa mual karena ia memang tidak betah dengan bau rokok, tapi Alya tidak bisa protes karena memang merokok adalah sesuatu yang wajar dilakukan oleh bapak-bapak komplek. Ia tidak bisa memaksakan segala sesuatu harus sesuai dengan keinginannya.


5 menit berlalu, ternyata game pertama dimenangkan oleh Pak Robert.


"Haghaghag.. Mudah sekali.. Ayo yang semangat dong mainnya. Apa yang kalah dihukum aja biar seru?", usul Robert


"Wah boleh tuh Pak. Hukumannya terserah yang menang ya?", imbuh Pak Bowo antusias


"Hahaha.. Kalau Pak Supri kalah saya suruh olahraga biar bisa kurusan", ledek Pak RT disambut tawa lelaki super gendut itu


"Bu Alya mau ikut main biar gak ngantuk?", tawar Pak RT


"Eh saya gak usah Pak. Saya kurang paham aturan mainnya", jawab Alya


"Mudah kok Bu. Nanti sambil jalan aja belajarnya. Ikut ya biar makin seru?", kata Pak RT


"Saya yang kocok aja Bu. Bu Alya ikutan main. Heheheh", kata Robert sambil membantu Alya merapikan kartu domino


"Eh boleh deh Pak", jawab Alya sambil ia bersiap mempelajari aturan mainnya


"Yang kalah harus dihukum ya biar seru", kata Robert mengulangi sambil melirik mesum ke arah Alya


"Siap Pak", jawab Pak Bowo, Pak RT dan Pak Supri bersamaan


Permainan pun dimulai, Alya kedapatan kartu yang jumlah bulatannya besar-besar. Alya yang masih pemula permainan itu terlihat bingung dan membuang kartu secara asal tanpa strategi. Ia kesal karena bapak-bapak itu tidak mengajarinya secara utuh. Alya juga tidak tahu kalau pemain yang total jumlah bulatnya paling banyak, dia yang kalah. Dalam waktu singkat, Alya langsung kalah dan yang memenangkan game kali ini adalah Pak Bowo.


Alya yang harus dihukum di game kali ini. Hukuman ditentukan oleh Pak Bowo selaku pemenang di game pertama.


"Bu Alya mau dihukum apa?", tanya Pak Bowo


"Terserah bapak aja kan Pak Bowo yang menang", kata Alya pasrah


"Hukumannya apa ya Pak?", tanya Pak Bowo kebingungan


"Gak usah sungkan-sungkan Pak. Heheheh", kata Pak Robert tersenyum mesum


"Apa ya?", kata Pak Bowo terlihat masih kebingungan


"Kalau Pak Bowo bingung saya aja yang kasih ide hukuman buat Bu Alya", ujar Robert


"Eh gak boleh gitu! Gak boleh curang Pak. Kan Pak Bowo yang menang?", protes Alya pada akhirnya karena Alya tahu Robert pasti akan memberikan hukuman yang tidak-tidak


"Berisik! Yang kalah dilarang protes", kata Pak Robert sedikit membentak


Alya pun langsung terdiam dibentak oleh Robert


"Gini aja pak".", kata Robert sambil membisikkan sesuatu ke telinga Pak Bowo


Alya sebenarnya keberatan Pak Robert ikut campur mengenai pemberian hukuman baginya. Namun percuma saja karena terlihat wajah Pak Bowo sudah mulai melongo mendengar bisikan ide Pak Robert. Pak Bowo terlihat mengangguk-angguk dengan usulan Pak Robert sambil tersenyum melirik ke arah Alya


"Apa Pak hukumannya?", tanya Pak RT penasaran


"Hehehe.. Gampang Bu. Bu Alya squat 20 kali sambil kedua tangan dikepala", kata Pak Bowo


"Eh? Apa? Squat itu gimana Pak?", tanya Alya


"Kayak gini lho Bu"", kata Pak Supri sambil berdiri dan jongkok sebanyak 3x mempraktekkan gerakan squat ke Alya, karena Pak Supri kegemukan jadi dia tidak bisa mencontohkan lama-lama karena lumayan melelahkan baginya.


"Udah ah capek saya. Hah hah hah hah"", kata Pak Supri sambil ngos-ngosan


"Gampang kan Bu? Tapi dua tangan harus pegang kepala dan jongkoknya harus semaksimal mungkin", imbuh Pak Bowo mengingatkan


Alya melihat sebenarnya gerakan tersebut tidaklah susah. Apalagi itu adalah gerakan biasa dalam dunia olahraga. Alya pun mulai berdiri dan meletakkan kedua tangannya di kepala. Pose Alya tampak sexy saat kedua tangan ia buka dan ia letakkan di kepala bagian belakangnya. Buah dadanya jadi membusung indah, juga ketiaknya yang basah terlihat di mata bapak-balak itu sehingga membuat mereka menelan ludah saat Alya dalam posisi seperti itu.


Alya lalu mulai berjongkok menurunkan tubuhnya sambil kedua tangan tetap di kepala. 1x, 2x, 3x, berhasil ia lakukan gerakan itu dengan mudah, namun makin lama tubuhnya terasa semakin berat untuk jongkok karena kedua kaki yang menopang keseimbangan dirinya semakin sakit


"Sebentar kaki saya sakit pak"", ujar Alya beristirahat sejenak sambil posisi berjongkok dengan kedua tangan di kepala.


Mendekati hitungan ke 16, Alya mulai kelelahan melakukan gerakan itu. Kedua kakinya terasa ngilu dan gemetaran.


"Jangan berhenti! Ulang dari awal!", perintah Robert


"Apa? Ulang dari awal pak?", kata Alya kesal karena rasa lelahnya tadi jadi sia-sia


"Iya. Ayo ulangi Bu! 1.. 2.. 3..", kata Pak Robert sambil mulai menghitung gerakan squat Alya


Gerakan Alya mulai tidak sempurna dan asal-asalan. Kedua kakinya mulai bergetar hebat. Dan lebih parahnya, tubuh Alya semakin banjir keringat karena dipaksa olahraga disaat ia kegerahan. Terlihat jelas keringat mulai membasahi tubuhnya, wajahnya juga semakin mengkilap dengan peluh yang sesekali menetes dari sela kerudungnya


"Kurang jongkok Bu.. Tidak dihitung kalau jongkoknya kurang turun", protes Pak Bowo sambil memandangi Bu Alya yang nampak mulai kepayahan


"Eh?? Tapi??", Alya kembali melakukan gerakan squat sambil jongkok semaksimal mungkin


"Ayo yang bener!", perintah Robert lagi


Terlihat Alya berjongkok semaksimal mungkin di depan keempat pria itu. Seperti sedang dalam posisi kencing sambil jongkok. Tubuh Alya semakin banjir keringat karena rasa kegerahan yang dia rasakan. Kurang ajar memang Robert, ia tahu betul Alya kepanasan tapi malah dengan teganya menyuruh wanita berjilbab itu olahraga disana.


Nafas Alya mulai ngos-ngosan dan detak jantungnya meningkat. Keringat mulai membanjiri gamis serta kerudung yang dipakainya. Pakaian Alya sudah basah terkena keringatnya sendiri. Kedua ketiak Alya terlihat semakin jelas basahnya karena daritadi bagian itu terbuka saat ia melakukan gerakan squat


"Kakinya lebarin dikit Bu pas jongkok kayak lagi kencing. Hahahah", kata Pak Robert sambil memandangi Alya yang berdiri dan berjongkok dihadapannya


"Iya Pak.. Kayak gini?", jawab Alya patuh daripada ia disuruh ulang lagi dari awal


"Kurang! Ayo lebarin lagi!", kata Robert sambil menendangi kaki Alya pelan meminta Alya semakin melebarkan kakinya


Andai saja Alya tidak memakai gamis dengan rok panjang itu, pasti selangkangannya akan terlihat sangat sexy. Walau begitu, segitu saja sudah cukup bagi mereka menelam ludah berkali-kali melihat keseksian Alya. Lekuk bokong indahnya sangatlah menggoda dan rasanya sungguh nikmat jika pantat Alya diremas sambil di tampar keras.


"17.. 18.. 19.. 20.. sudah Bu", ujar Pak Supri yang dari tadi menghitungi gerakan squat Alya


Tubuh Alya langsung ambruk setelah menyelesaikan tugas pertamanya. Kakinya rasanya tidak punya tenaga untuk menahan berat tubuhnya. Pakaian Alya juga semakin basah saja hingga tali bra Alya terlihat samar di balik gamisnya. Game pun dilanjutkan kembali. Singkat cerita game yang kedua dimenangkan oleh Pak Robert dan yang menerima hukuman adalah Pak RT. Alya bisa bernafas lega, setidaknya kali ini ia tidak akan menerima hukuman apapun.


"Jangan susah-susah Pak Hukumannya. Hehehe", ujar Pak RT


"Tenang Pak. Hehehe.. Ngga susah", kata Robert tersenyum nakal


"Apa hukumannya Pak?", ujar Pak RT tidak sabar


"Main tebak-tebakan aja Pak"", kata Pak Robert


"Tebak-tebakan apa Pak?"


"Tebak apa warna BH Bu Alya sekarang Pak?", tanya Robert membuat ketiga pria lainnya terbelalak mendengar pertanyaan itu


"Hah? Errr" Hitam Pak", tebak Pak RT ngasal karena warna gelap tali BH Alya sedikit terlihat saat baju gamis Alya lumayan basah kena keringatnya sendiri


"Bener apa ngga nih Bu, sekarang pakai BH hitam?", goda Robert


"Cara tau jawabannya gimana Pak? Bisa saja Bu Alya bohong", protes Pak Bowo


"Ya dibuka dong", kata Robert seenaknya


"Waahh?", tanya Pak RT terkejut mendengar usul Pak Robert


"Ayo Bu buka bajunya dikit, coba betul ngga warna BH yang dipakai Bu Alya warna hitam", kata Robert membuat Alya menggelengkan kepala mendengar usulan itu


"Eh gapapa nih Pak? Nanti Pak Ragil marah", tanya Pak RT panik mendengar ucapan Pak Robert


"Gapapa kan suaminya nitipin dia ke kita? Bu Alya gak keberatan kan? Ayo buka perlihatkan BH mu Bu", kata Robert lagi sambil menyeringai mesum


Alya nampak ketakutan mendengar perkataan Robert yang tak lain adalah perintah yang harus ia laksanakan tanpa boleh protes sedikitpun. Wanita berjilbab itu kemudian menurunkan sedikit resleting gamisnya yang ada di punggungnya dan menampakkan pundaknya yang mulus ke para bapak-bapak disana


"Apaan Bu kok cuma tali doang? Harus keliatan BHmu seutuhnya..", protes Robert


"Ta.. Tapi gamis saya bukaan belakang Pak"", kata Alya


"Ga papa, lepas dulu bajumu", perintah Robert membuat semua bapak-bapak disana tegang menunggu melihat Alya membuka pakaiannya.


Alya sepertinya ingin kabur saja saat itu melihat Robert yang semena-mena mengerjai dirinya. Wanita gila mana yang membuka pakaian di depan banyak laki-laki demi memperlihatkan warna BH yang dipakainya.


"Buka bu", pinta Robert sekali lagi


"I.. Iya Pak"", jawab Alya tak punya pilihan lain sambil ia mulai membuka gamisnya semakin lebae hingga menampakkan kulit tubuhnya


"Wow mulus bener"", puji Pak Supri


Dengan menahan malu Alya meloloskan kedua tangannya dari pakaian gamisnya sehingga kini tubuh bagian atas Alya terbuka didepan Pak RT dan bapak-bapak lainnya. Tubuh mulus itu sengaja dipamerkan oleh Robert agar mereka tahu, di perumahan mereka ada perempuan yang tubuhnya seindah tubuh pelacur mahal. Hanya saja dirinya sok alim. Alya langsung berusaha menutupi payudaranya dengan kedua tangannya saking malunya karena semua mata tertuju ke arah gunung kembar itu.


"Kok ditutupin Bu.. Kita jadi gak bisa liat warna BHnya", protes Pak Bowo


"Sa.. saya malu Pak", jawab Alya semakin menundukkan kepalanya menahan rasa malu yang luar biasa


"Singkirin tanganmu Bu. Biar kita tahu jawaban Pak RT benar atau salah", perintah Robert


"I.. Iya Pak", jawab Alya tertunduk tidak bisa menolak perintah Robert.


Alya akhirnya pasrahkan payudara indahnya yang masih terbungkus bra itu dilihat oleh para lelaki disana


"Wow", kata Pak RT, Pak Supri dan Pak Bowo bersamaan


Terlihat sekali bulir-bulir keringat keluar dari pori-pori kulit tubuh putih mulus Alya terutama di area dadanya. Sehingga tubuh Alya kini nampak semakin mengkilap di dalam ruangan remang-remang itu


"Salah, ternyata Ungu Pak bukan hitam. Heheheh", kata Robert cengengesan


"Wah saya kira hitam, kayaknya tadi samar-samar warna hitam pak"", timpal Pak RT


Setelah mereka mendapatkan jawaban dari pertanyaan Robert, Alya buru-buru menutup kembali pakaiannya. Pikiran Alya terasa tak karuan saat melakukan hal segila itu. Walau hanya sekedar menunjukkan pakaian dalamnya beberapa detik saja, tapi tatapan keempat lelaki itu begitu mengintimidasinya.


Alya diam-diam justru merasa excited setelah melakukan hal yang memalukan baginya itu. Mungkin karena ia sudah terbiasa berpakaian syari menutup auratnya. Jadi, membuka sedikit tubuhnya saja, sudah membuat Alya merasakan perasaan campur aduk dalam pikirannya.


Game ketiga pun dimulai, Alya sudah lumayan tidak ngos-ngosan kali ini. Tapi tetap saja, keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Alya gagal menang lagi karena game ketiga dimenangkan oleh Pak Bowo dan yang kalah Pak RT lagi


"Tebak-tebakan lagi aja Pak. Apa warna sempak Bu Alya sekarang? Kalau betul dapat hadiah dari Bu Alya. Kalau salah, Bu Alya kasih saya hadiah. Hahahahah", kata Pak Bowo tanpa sungkan-sungkan lagi menikmati permainan dengan hukuman yang semakin gila ini


Suasana menjadi semakin panas di dalam balai RW tempat mereka berkumpul. Terlebih bagi Alya karena ia terpaksa meladeni permintaan-permintaan nyeleneh para bapak-bapak yang mulai terkena pengaruh miras itu. Para bapak-bapak itu sengaja mencuri kesempatan dalam kesempitan memanfaatkan keadaan.


"UNGU.. pasti ungu!", kali ini Pak RT yakin dengan jawabannya


Ia yakin sekali istri Ragil itu memakai pakaian dalam satu stel malam ini. Jika BHnya warna ungu pasti celana dalam Alya juga berwarna ungu. Alya menggelengkan kepala menyadari permainan ini menjadi semakin mesum. Perasaan Alya juga semakin carut marut saja.


"Ayo Bu Alya angkat roknya, benar ngga warnanya ungu", kata Pak Robert lagi sekaligus memberi perintah


"Sa.. Saya malu pak" Sudah ya pak mainnya"", ucap Alya pada akhirnya


"Enak aja sudah... Lagian bapak-bapak ini juga sudah pada punya istri. Kita sudah biasa Bu lihat area situ", ujar Pak Bowo sambil menunjuk ke arah selangkangan Alya


"Eh bapak nyindir saya nih? Saya belom nikah Pak", protes Pak Supri


"Oiya maap-maap pak.. Hahahahah.. Lupa saya! Mangkanya nikah Pak", balas Pak Bowo


"Gak ada yang mau sama saya Pak. Hahahah Mungkin karena takut sama saya pak. Takut gak kuat. Hahahah", timpal Pak Supri disambut tawa para bapak-bapak disana


"Ayo buka Bu Alya. Aman Bu, kita bisa jaga rahasia. Suami Bu Alya gak akan tahu", bujuk Pak RT semakin penasaran


"Bu Alya mau buka gak??? Bukannya tadi suamimu minta saya bimbing kamu Bu? Nanti saya laporin ke suamimu kalau kamu sulit dibimbing", kata Robert dengan sedikit nada tinggi hingga membuat Alya gemetaran


"Eehh.. I.. Iya Pak" Ma.. Maaf", jawab Alya pasrah pada akhirnya


"Berdiri lalu angkat rok gamismu Bu. Angkat sampai semua sempakmu keliatan", perintah Robert lagi


Dengan mengesampingkan perasaan malunya, Alya bangkit dari duduknya dan dengan perlahan ia angkat roknya memamerkan celana dalam yang saat ini dipakainya. Betapa hancur harga diri Alya yang dikenal alim itu karena kini ia sengaja memamerkan celana dalamnya di depan bapak-bapak. Parahnya, jelas sekali celana dalamnya basah berlendir tepat di garis kemaluannya. Para pria disana senyum-senyum mesum melihat celana dalam Alya sudah basah. Mereka semakin yakin, Alya menikmati ini semua. Hanya ia masih saja sok alim.


"Hahahah salah Pak, ternyata Bu Alya pakai sempak warna putih", kata Pak Bowo


"Bu Alya ini gimana!! Masak BH sama sempak gak 1 stel! Saya kan jadi salah jawabnya!", protes Pak RT kesal sambil menepuk pantat Alya


"Yasudah hadiahnya buat saya Ya Bu.. Heheheh", kata Pak Bowo


"Pak Bowo mau hadiah apa?", tanya Pak Robert tidak sabar ingin melihat Alya lebih malu lagi


"Apa ya Pak? Heheheheh..", kembali pria itu kebingungan menentukan keinginannya


"Apa Pak? Ayo buruan biar bisa mulai lagi game nya", kata Pak Supri tidak sabaran karena daritadi dia belum menang


"Saya minta celana dalam Bu Alya aja deh", kata Pak Bowo disambut mata melotot Pak RT dan Pak Supri


Alya pun sama, tidak percaya dirinya akan begitu direndahkan menyerahkan celana dalam yang sedang dipakainya kepada Pak Bowo. Padahal dirinya tidak kenal dengan pria itu sebelumnya namun pria itu sudah meminta hal sekurang ajar itu.


"Haghaghag.. Boleh. Ayo Bu Alya lepas celana dalamnya kasih ke Pak Bowo", perintah Robert sambil tersenyum mesum


"Eh tapi Pak?? Saya nanti pakai apa?", Alya tidak serta merta menuruti permintaan gila itu demi mencoba menjaga kehormatan dirinya


"Kan masih pake rok bu. Aman gak keliatan kok", bujuk Pak Bowo tidak sabar mendapatkan celana dalam bekas pakai Alya


"Saya.. takut pak"", jawab Alya gemetaran


"Takut apa Bu? Have Fun aja. Lagian masak suamimu akan nanyain sempakmu yang putih dimana? Haghaghag", ujar Pak Robert


"Tapi Pak"", Alya masih enggan menuruti permintaan yang sudah diluar batas itu


Alya berusaha mati-matian mempertahankan celana dalamnya. Karena ia menyadari, saat ini celana dalamnya sudah basah terkena cairan kemaluan dan keringatnya sendiri. Ia takut Pak Bowo jadi tahu kalau sejak tadi Alya sudah basah vaginanya.


"Buka.. Buka.. Buka.. Ayo Bu.. Lepas Bu.. Hahahahah" Buat senang-senang aja biar ga ngantuk.. Bu Alya juga sudah sange kan? Tuh udah basah sempaknya", ujar Pak Bowo membuat muka Alya memerah


"Mau dibuka sendiri apa kita buka paksa nih Bu? Haghaghag", ujar Robert kurang ajar sambil megibaskan rok panjang Alya


"Eh jangan! i.. iya saya buka sendiri pak"", kata Alya ketakutan sambil buru-buru tangannya masuk ke dalam rok hendak melepas kain segitiga yang menutup kemaluannya itu


Alya menurunkannya perlahan sambil memastikan tidak ada sedikit pun auratnya yang terlihat oleh bapak-bapak disana. Ia pastikan rok gamisnya masih menutup kakinya saat ia menanggalkan celana dalamnya walau sulit. Wajah Alya memerah seperti ingin menangis diperlakukan begitu hina. Terbayang bagaimana marahnya suami Alya jika ia tahu istrinya diperlakukan begitu rendah seperti itu saat ronda.


Celana dalam berwarna putih itu sudah terlepas dari tubuh Alya dan dengan ragu-ragu ia serahkan kain segitiga berwarna putih itu ke Pak Bowo. Sengaja ia remas kuat-kuat celana dalamnya agar kusut sehingga cairan lendir kemaluannya tersamarkan. Tapi Pak Bowo malah kembali menjereng celana dalam Alya lebar-lebar dan terlihat jelas noda becek tepat di bagian tengah kain tersebut


Alya malu sekali karena Pak Bowo , Pak Robert, Pak RT dan Pak Supri menertawakan kondisi celana dalamnya yang basah tepat di bagian kemaluannya.


"Wow" Sampai basah gini sempaknya? Hahaha", kata Pak Bowo sambil mengelus bagian basah berlendir celana dalam warna putih itu dengan telunjuknya


"Masih lengket.. hahahaha", imbuh Pak Robert


Lalu Pak Bowo dengan mesumnya mencium celana dalam Alya dan ia seruput sisa lendir Alya yang masih menempel di kain segitiga itu. Mata Alya terbelalak menyadari kini cairan lendir yang masih menempel pada celana dalamnya, sudah dijilati oleh Pak Bowo


"Eeehh.. Jangan dijilati Pak celana saya!", pekik Alya panik melihat Pak Bowo semakin semangat menjilati kain segitiga itu sampai bunyi sruput-sruput


"Hahaha.. Enak bener lendirnya Bu.. walau agak pesing sedikit..", kata Pak Bowo puas dan menunjukkan celana dalam Alya yang semakin basah karena terkena air ludahnya


"Bu Alya kegerahan ya?", ujar Pak RT tiba-tiba melihat tubuh Alya makin berkeringat deras dan terlihat begitu tersiksa dengan situasinya saat ini


"Lagi sange itu pak. Haghaghag", timpal Pak Robert


"Kalau sange berarti colmek dong pak?", kata Pak RT lagi


"Haghaghag" Kok Pak RT bisa berpikir begitu? Bu Alya itu alim Pak gak mungkin melakukan hal memalukan kayak gitu hahahah", jawab Robert sambil menatap Alya begitu rendah


"AYO MULAI LAGI GAME NYA", kata Pak Supri kesal karena ia ingin memenangkan permainan dan jika ia menang, ia sudah menyiapkan permintaan untuk menjadikan Alya sebagai istrinya.


Ia sudah tidak peduli Alya sudah memiliki suami. Pak Supri hanya berpikir wanita yang ada di sana saat ini, hanyalah wanita yang tugasnya menerima hukuman dari para peronda malam. Dan Supri sudah membulatkan tekad jika ia menang, Alya akan disetubuhinya layaknya istrinya sendiri.


Permainan pun dimulai lagi. Alya sudah tidak bisa konsentrasi karena situasi yang semakin memanas. Belum lagi vaginanya semakin gatal saja rasanya selepas terbuka dari sarangnya. Para bapak-bapak juga semakin serius bermain demi menjadi pemenang permainan. Hanya Robert yang nampaknya bermain tanpa beban. Alya sebenarnya sudah tidak tahan tersiksa karena terbakar oleh hawa nafsu yang mendera pikiran serta tubuhnya. Pilihan yang dimiliki Alya cuma 2. Pertama, ia memutuskan berhenti dan keluar dari permainan gila ini. Walau resikonya Robert akan kecewa dan marah yang tentu saja akan membahayakan Alya sekeluarga. Kedua, ia memilih melanjutkan dan menikmati permainan gila ini demi melampiaskan syahwat yang semakin menggerogoti imannya.


"Yah gagal menang lagi saya Pak!", kata Pak Supri kesal karena yang menang kali ini adalah Pak Robert dan Alya kalah lagi


Alya sudah pasrah menerima hukuman dari Robert yang sudah memasang senyum cabul sedari tadi


"Pak Supri beneran belum nikah?", tanya Pak Robert tiba-tiba


"I.. Iya kenapa Pak? Ada masalah memangnya kalau saya belum nikah?", tanya Supri sedikit tersinggung dengan pertanyaan Robert


"Hahaha santai Pak jangan marah dulu. Saya kasih kesempatan deh..Saya hadiahkan jatah kemenangan saya ke Pak Supri.", kata Pak Robert


"Eh kok gitu Pak?", protes Pak Bowo


"Gapapa lagian saya bosan sama ni perek", ujar Robert menatap Alya jijik


"Perek? Maksud Pak Robert?", tanya Pak RT terkejut mendengar perkataan pria berkulit hitam itu


"Liat saja kelakuannya pak", kata Pak Robert membuka cerita sambil memutar sebuah video terbaru rekaman Alya saat sedang colmek di rumahnya.


Rekaman ini adalah rekaman yang diambil Robert beberapa minggu yang lalu di rumahnya. Rekaman saat dimana Alya mendapatkan kontol gratis dari Pak Robert, tapi dengan syarat Alya harus menuruti semua perintah Robert tanpa terkecuali.


"Pak Robert!!! Jangan kasih liat", Alya menyadari Robert sedang memutar video terbaru dirinya.


Ingin rasanya Alya menangis saat itu juga saat rekaman aibnya dibongkar oleh Robert. Betapa hancur perasaannya karena kini, ketiga bapak-bapak itu menonton rekaman masturbasi Alya dengan tatapan melongo tidak percaya. Robert, pria bejat itu memang orang yang tidak bisa dipercaya.


Alya ingin merebut handphone milik Pak Robert namun dengan cepat Robert menghindari tangan Alya. Bahkan Robert malah mengeraskan volume handphonenya agar semua orang disana bisa mendengar dengan jelas suaranya


"Tolong jangan pak.. saya malu pak..", pinta Alya memelas


"Sudah Bu Alya diem aja! Atau mau rekaman ini saya kirim ke suami dan anakmu Bu?", ancam Pak Robert lagi penuh kemenangan


Mendengar ancaman itu, Alya melemahkan perlawanannya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam tidak berani melihat respon bapak-bapak disana melihat rekaman video kenakalannya. Para bapak-bapak itu begitu serius melihat rekaman full tanpa sensor itu. Wajah dan suara Alya begitu jelas terekam di handphone Pak Robert. Jelas sekali bagaimana mimik wajah Alya tengah keenakan mengaduk kemaluannya sendiri dengan jemarinya di ruang tamu rumah Robert yang mewah.


"Ouhhh Pak Robert.. Aaaahhh Pak Roberttt.. Sssshhh", lenguh Alya nakal pada rekaman video itu


"Teruskan masturbasimu Bu. Haghaghag..Buka memekmu lebar-lebar biar keliatan jelas", kata Pak Robert sambil menzoom kemaluan Alya sehingga bagian dalam vaginanya terlihat sangat detail


"Sebutkan nama lengkap dan juga nama suamimu biar semua tahu!", terdengar suara Robert sambil kamera terus mengarah ke tubuh Alya yang masih keenakan masturbasi


"Nama saya Alya Azzahra" Saya istrinya Ragil..", jawab Alya


"Kenapa kamu melakukan ini?", tanya Robert


"Awalnya.. Sa.. saya tidak bisa bayar utang ke Pak Robert jadi sekarang.. saya adalah" budaknya Pak Robert..", ungkap Alya dan bersamaan dengan itu vaginanya tumpah begitu deras


"Haghaghag" Ok kamu saya terima jadi budak saya, mulai sekarang seragammu hanya kerudung saja. Sisanya biarkan terbuka. Mengerti?", kata Pak Robert


"I.. Iya Pak"", jawab Alya


"Terus sekarang kenapa kamu masih pake baju? Lepas semuanya!! Buang semua pakaianmu jalang! Buang ke tempat sampah di depan! Terus balik ke sini sambil joget yang sexy!", bentak Robert


Alya yang sudah tidak punya pilihan lain selain tunduk pada Robert, mulai menelanjangi dirinya dan meliukkan tubuhnya seperti orang gila di rumah Robert. Tubuh indah itu kini benar-benar sudah menjadi milik Robert. Alya kemudian keluar rumah Robert sambil terus menggoyangkan tubuhnya seperti orang gila. Menari telanjang sambil berjalan ke teras depan rumah Robert yang luas.


"Buang disana Bu! Di tempat sampah itu", kata Pak Robert sambil menunjuk tempat sampah yang ada dipinggir jalanan gang rumahnya


"Iya Pak"", jawab Alya sambil terus berjalan dan menari-nari secara asal, yang penting gerakannya terlihat sexy menurutnya


"Bagus Bu Alya.. Hahahahah.. Kencing disana Bu! Kencing sambil berdiri!", ujar Robert sambil menunjuk tempat sampah tempat ia membuang pakaiannya tadi


"Iya Pak..", jawab Alya dan wanita yang hanya pakai kerudung warna hitam itu mulai kencing di tempat sampah Robert. Alya terasa aneh saat dipaksa kencing sambil berdiri oleh Robert. Karena sejak kecil ia selalu dibiasakan kencing sambil jongkok. Cairan urine Alya mulai keluar mengarah pakaian gamisnya yang sudah ada di tempat sampah. Tidak perlu waktu lama, pakaian Alya sudah basah total terkena kencingnya sendiri sehingga tidak layak untuk dipakai lagi


"Haghaghag.. Bagus Budak pintar. sini saya kasih kontol sebagai hadiah buat kamu karena sudah pintar", kata Robert sambil menyuruh Alya mendekati batang kontolnya


Alya berjalan perlahan, dan dengan penuh keikhlasan ia turunkan tubuh telanjangnya di hadapan kontol Robert.


"Cium kontol saya Bu", ujar Robert dan Alya dengan patuh mencium kepala kontol Robert yang besar


"Gyahaha.. Bagusss.. Sshhh..", kata Robert sambil keenakan kontolnya sedang diciumi oleh Alya


Alya dengan lahap melumat kontol Robert dijalanan depan rumah Robert yang sepi. Sudah tidak ada orang malam itu, karena sudah tengah malam. Alya juga seakan tidak peduli apabila kegilaan itu akan terlihat oleh tetangga samping rumah Robert. Yang ada dipikiran Alya saat itu adalah bagaimana kontol Robert bisa ia puaskan.


"Kamu melakukan ini semua dengan ikhlas dan tanpa paksaan kan?", tanya Robert dan Alya mengangguk


"Jawab!"


"Iya.. saya ikhlas melakukannya Pak"", jawab Alya


"Ok jadi ini gak melanggar hukum ya?", tanya Robert lagi


"Tidak pak.. Saya ikhlas"", jawab Alya lagi


kalau video ini tersebar juga tidak ada masalah ya? Kamu tidak keberatan ya Bu?", tanya Robert


"iya Pak.. tidak apa-apa"", jawab Alya sempat ragu, namun ia tidak bisa menolak pertanyaan itu


"Siapa namamu?", tanya Robert lagi


"Alya Azzahra"


"Siapa nama suamimu?"


"Ragil""


"Apa pekerjaanmu?"


"Budak Pak Robert"


"Berapa gajimu?"


"Saya tidak dibayar" Saya yang membayar jika saya butuh kontol", jawab Alya


"Hahaha bagus-bagus", kata Robert sambil menepuk-nepuk pipi Alya dan video cabul itu selesai.


#


Mata mereka seketika menatap Alya dengan begitu rendah melihat kelakuan istri Ragil itu ternyata begitu hina. Memohon kontol lebih murah daripada seorang pelacur yang dibayar. Ternyata Alya justru yang membayar demi mendapatkan kontol.


"Bu Alya ini aib buat komplek perumahan kita. Hehehehe"", ujar Pak RT


"Mana sok-sokan pakai gamis lagi. Lepas aja Bu!", komentar Pak Bowo sambil dengan lancang meremas payudara Alya dengan kasar


"Hahaha.. Mumpung saya lagi baik saya hibahkan budak saya buat bapak-bapak sekalian biar warga semangat rondanya. Boleh ya Pak RT?", kata Robert


"Boleh sekali pak. Tapi suaminya gimana Pak?", tanya Pak RT


"Urusan belakang. Bisa diatur. Haghaghag.. Tar saya kasih segepok uang suami gak guna itu. Heh jalang! Sekarang Bu Alya hibur mereka semua biar gak pada ngantuk. Saya pulang dulu. Ngantuk,besok ada kerjaan", ujar Pak Robert meninggalkan Alya seorang diri disana


"Boleh dikasarin ya pak budaknya?", ujar Pak Supri sambil meremas selangkangannya


"Boleh Pak tapi jangan sampai lecet, oiya satu lagi", kata Pak Robert


"Inget bapak-bapak jangan biarkan ni lonte keenakan sampai orgasme! Kalau dia pengen dibikin orgasme, suruh dia bayar dulu pak! Kalau saya tahu bapak-bapak kebablasan bikin nih lonte orgasme, saya gak jadi hibahin dan bapak-bapak gak boleh sentuh lonte saya!", ancam Robert lalu lelaki bejat itu ngeloyor pergi


"Hahahaha.. Siap Pak Robert! Beresss", kata Pak RT sambil memberi gesture hormat ke Robert


"Heh! Lo ngapa bengong! Buka baju! WAKTUNYA KERJA!", perintah Pak Supri membuat Alya ketakutan


"Eh jangan Pak".", kata Alya


"Bukannya Lo sudah dibilang sama tuan lo, seragam kerja lo kayak gimana? Kerudungan doang!", kata Pak Bowo sambil meremasi payudara Alya dari belakang


Pak RT juga sudah tidak tahan melihat tubuh Alya yang tadi diperlihatkan Pak Robert di rekaman video terbarunya. Tubuh Alya benar-benar sempurna bak artis-artis porno jepang. Tidak ada celah untuk menyela tubuh seindah itu. Sangat sempurna dan membuat semua pria disana terangsang


"Ayo Bu lepas bajunya terus goyang! Kalau Ibu menolak saya laporkan ke Pak Robert, juga suami ibu", Kata Pak RT sambil memutar musik dangdut kencang-kencang


Alya yang sudah ketakutan akhirnya menyerah pada keadaan. Tubuhnya juga semakin kegerahan luar biasa dengan kemaluannya yang semakin gatal tak tertahankan. Gairah nafsu birahinya semakin memuncak disituasi seperti saat ini akibat pengaruh minuman yang diberikan oleh Robert tadi. Entah obat seperti apa yang sudah diberikan oleh Robert. Ia akhirnya memilih menuruti permainan gila ini. Daripada ia tersiksa tidak bisa melampiaskan perasaan yang semakin tak tertahankan pada kemaluannya


Alya kemudian menanggalkan seluruh pakaiannya di depan Pak RT Pak Bowo dan Pak Supri. Tanpa rasa malu Alya mulai menggaruk kemaluannya di ruangan itu di depan para lelaki. Rasa gatal yang sudah sejak tadi ia tahan dan semakin menyiksa imannya. Akhirnya Alya yang sudah tidak tahan menggaruk kemaluannya di hadapan ketiga bapak-bapak itu


"Hahahah.. Colmek dulu sana! Memek gatel!", kata Pak Bowo melihat Alya mulai keenakan menggaruk kemaluannya


"Maafkan istrimu Pa..", kata Alya dalam hati sambil ia duduk mengangkang disana sambil mulai masturbasi


"Aaahhh.. Sssshhh", Alya mulai mendesah menikmati dirinya sedang masturbasi sambil ditonton bapak-bapak komplek


"Bagus lonte.. Hahahah" Gatel ya memek kamu?", tanya Pak RT


"Iya pak" Ssshhh.. Uuhhh"", jawab Alya


"Mau dienakin gak?"


"Ma.. Mau pak""


"Goyang dulu gih yang seronok kayak biduan murahan", ujar Pak RT


"Iya pak"", jawab Alya sambil mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti irama musik dangdut yang diputar Pak RT


Alya mencoba menggoyangkan bokongnya dengan cara sexy sambil membayangkan dirinya bergoyang diatas panggung mengisi acara orkes. Tubuhnya menggeliat sexy ke kiri dan kekanan sambil sesekali ia mainkan payudaranya yang naik turun karena gerak tubuhnya.


"Wohoooo" Goyang terus bu bokongnya" plak", kata Pak Bowo sambil menampar bokong Alya lalu kembali duduk menyaksilan goyang seronok istri Ragil itu


"Aaahhh.. Iya bapak"", kata Alya pasrah


Alya semakin menggila dan terus bergoyang seronok mengikuti irama musik dangdut dengan lirik nakalnya. Pinggulnya bergoyang lincah ke kiri dan ke kanan. Wajahnya begitu mesum dan membuat birahi siapapun laki-laki yang menatap wajahnya. L


"BHnya ditaruh sini ya Bu", kata Pak RT sambil menggantungkan BH Alya di sebuah tiang bendera yang ada di dalam ruangan pengap itu.


"Boleh pak"", kata Alya terus bergoyang seronok di depan mereka


Mereka mulai merokok dan minum bir lagi sambil menonton tarian erotis wanita yang kini hanya mengenakan kerudung panjang itu. Sedangkan aurat tubuhnya terekspose total tanpa tertutup satu utas benang pun. Payudara Alya terlihat bergoyang naik turun, dengan pentil cokelat mudanya yang juga telah mancung.


"Goyang terus sambil mainin memekmu Bu", komentar Pak RT


"Iya Pak..", jawab Alya patuh buru-buru ia kembali memainkan alat kelaminnya sambil terus bergoyang sangat menggoda


Terlihat cairan lendir kemaluan Alya menetes-netes saat ia bergoyang. Sepertinya perempuan cantik itu sudah sangat terangsang hingga membuatnya bertingkah seperti orang gila. Apalagi tangan lentiknya tanpa ragu ditusukkan dalam-dalam ke liang senggamanya. Alya ingin disetubuhi saat itu, namun ia terlalu malu memintanya


"Ssshhh.. Aaahhh.. Ouhh"", lenguhan dan desahan Alya begitu terdengar menggoda


Pak Supri sudah tidak tahan dan mulai mendekati Alya. Alya kini dihimpit Pak Supri yang badannya penuh lemak besar itu. Tubuh telanjangnya diraba sesuka hati oleh pria gendut itu. Tangan Pak Supri bergerak lincah menyusuri tubuh Alya yang terasa mulus. Alya mendesah kegelian saat tangan-tangan kasar Pak Supri menjamah tubuhnya. Tangan gemuknya memilin putting susu Alya bersamaan. Membuat tubuh Alya menggeliat bak cacing kepanasan.


Pak Bowo pun ikut berdiri mendekati tubuh Alya yang sedang digerayangi Pak Supri. Tangan kasarnya dengan cepat menjelajahi seluruh bagian tubuh Alya tanpa terkecuali. Kedua pria itu meraba tubuh Alya dengan leluasa. Alya hanya bisa pasrah tubuhnya dijamah oleh mereka.


Kedua pria itu berebutan meremas dan memilin putting susu Alya bergantian. Membuat istri Ragil itu akhirnya tak kuasa menahan suara desahan yang daritadi ditahannya. Mereka juga berebutan menciumi dan menjilati seluruh tubuh Alya hingga benar-benar licin.


"Aaahhhh.. Ssshhhh.. Bapak-bapak", Alya memejamkan mata, membiarkan bagian-bagian tubuhnya dijilati oleh Pak Bowo dan Pak Supri


"Memek Bu Alya malah becek nih", ujar Pak Bowo sembari tangannya meraba alat kelamin Alya


Kedua ketiaknya diangkat oleh Pak Bowo dan Pak Supri, lalu kedua pria itu menjilati ketiak mulus istri Ragil itu bersamaan. Alya kembali mengejang kegelian. Sensasi yang melanda tubuhnya begitu luar biasa. Rangsangan yang diberikan oleh Pak Bowo dan Pak Supri membuatnya terlena, seolah lupa dirinya adalah wanita shalihah yang seharusnya terjaga.


Alya nampak pasrah saja, ketiak mulusnya di jilati oleh Pak Bowo dan Pak Supri. Sedangkan kedua buah dadanya diremas-remas oleh bapak-bapak itu penuh keikhlasan. Hingga tak lama kemudian, setelah dirangsang sehebat itu, Tubuh Alya mulai bergetar kuat, kelojotan bak tersengat listrik tegangan tinggi. Kakinya bergerak-gerak seperti sedang menahan sesuatu yang ingin ia keluarkan dari bawah sana


"Awas jangan kebablasan bapak-bapak", kata Pak RT mengingatkan dan kedua pria itu menghentikan rangsangan ke tubuh Alya secara tiba-tiba


Hampir saja Alya mencapai klimaksnya malam ini. Namun digagalkan begitu saja di waktu yang tepat. Alya gagal meraih puncak birahinya. Wajah Alya nampak kecewa, namun tidak ia ucapkan.


Setelah memastikan Alya tidak jadi orgasme, Pak Supri lalu terlihat kembali memainkan putting susu Alya sambil ditarik-tariknya sampai melar. Lalu ia emut pentil susu Alya dengan rakus. Alya kembali menggeliat kegelian sekaligus keenakan. Tubuhnya bergerak tak karuan dan Alya mulai merasakan sensasi kedutan pada vaginanya lagi. Ditambah lagi pentil susu satunya, diemuti oleh Pak Bowo tak kalah nafsunya. Alya semakin dibuat tersiksa karena ulah mereka. Tubuh Alya terus meliuk-liuk keenakan dan jantungnya mulai berdebar semakin cepat. Alya ingin mencapai orgasmenya kali ini. Harus!


"Aaahhhh.. Terussss.. Ouuhh.. Saya mau keluar pak"", ujar Alya sambil tubuhnya bergetar-getar seperti cacing kepanasan


Pak supri dan Pak Bowo kemudian kembali menghentikan rangsangannya secara tiba-tiba. Sengaja mereka siksa birahi Alya agar tidak mudah terlampiaskan begitu saja. Raut wajah Alya semakin kecewa, disaat ia hampir mencapai puncak kenikmatan, mereka malah sengaja berhenti merangsang dirinya. Tangan Alya bahkan menahan tahan kedua lelaki itu agar tak berhenti merangsang tubuhnya.


"Heheheh.. Kenapa sayang? Tanggung ya?", ledek Supri


"Jangan siksa saya seperti ini Pak"", pinta Alya pada akhirnya


"Gimana Pak? Kasih gak nih?", tanya Pak Supri kepada Pak Bowo


"Kata Pak Robert jangan sampai dia klimaks pak. Kecuali kalau dia mau bayar kita", jawab Pak Bowo sambil memandang hina istri Ragil itu


"Tolong jangan giniin saya Pak" Pak Robert gak akan tahu kok" Tolong pak..", pinta Alya memelas


"Bayar dulu 1juta Bu. Berdua berarti 2juta Hehehe.. Nanti Bu Alya pasti kami puaskan", jawab Pak Bowo


Alya terkejut, bagaimana bisa mereka memasang tarif begitu mahal kepada dirinya. Padahal mereka juga mendapatkan keuntungan bisa menikmati tubuhnya secara cuma-cuma. Tapi memang kuasa Robert di komplek perumahan itu begitu luar biasa. Mereka benar-benar mentaati aturan main Robert. Daripada mereka tidak bisa menikmati tubuh Alya lagi selamanya, mereka lebih memilih menyiksa Alya agar tidak mudah mencapai klimaks


"Tolong Pak" Biarkan saya keluarrr"", rajuk Alya


"Gak mau.. Ayo buruan bu. Keburu Pak Alex datang. Nanti dia tau kalau Bu Alya ternyata lonte murahan. Hahahah" Mau bayar gak?", ledek Pak Bowo


"Sudah hampir jam 1 pak. Sebentar lagi mereka datang", kata Pak RT mengingatkan


Alya kembali kebingungan. Ia tidak bisa membayar mereka karena tarifnya sama persis dengan harga yang diberikan Robert untuk kontolnya. Alya ingat bagaimana tabungannya semakin menipis demi membayar perzinahan dengan Robert . Alya semakin kalut dengan birahinya yang sudah tidak tertahankan. Ia harus melampiaskannya malam ini. Harus!


"Bapak-bapak boleh entot saya kapan pun pak" Saya janji Pak Robert tidak akan tahu.. Tolong Pak" Saya ikhlas pak.. Kapanpun saya siap layani bapak-bapak", kata Alya mulai bernegosiasi sambil berharap mereka tidak menggubris ancaman Robert


"Gimana Pak?", tanya Supri yang sebenarnya dia sendiri juga tidak tahan melihat Alya ingin menggenjot istri Ragil sesegera mungkin.


"iya pak, saya juga gak tahan nih", ujar Pak Bowo


"Tapi kalau ketahuan Pak Robert gimana?", kata Pak Supri


*Srek srek srek* suara langkah kaki terdengar beriringan semakin mendekati tempat mereka berkumpul


"Lho kok sudah pada balik?", tanya Pak RT panik


Alya juga terkejut mendengar suara langkah kaki, ia buru-buru mengambil baju gamisnya yang berserakan di lantai. Ia pakai kembali baju panjangnya itu secepat mungkin. Begitu juga dengan kedua bapak-bapak yang tadi mengerjai Alya, mereka terlihat kesal dan bertanya-tanya mengapa rombongan ronda shift pertama sudah kembali, padahal masih jam 1 kurang.


"Akhirnya selesai juga", ujar seorang bapak-bapak yang baru tiba


"Lho kok berempat saja Pak? Pak Robert mana??", tanya Pak Alex melihat Alya hanya bersama Pak RT, Pak Bowo dan Pak Supri di dalam gedung balai RW itu


"Pulang duluan beliau Pak", jawab Pak RT kalang kabut


"Kok sudah pada selesai kelilingnya Pak?", tanya Pak Bowo ngos-ngosan


"Iya Pak, sudah kita pastikan kondisi komplek aman dan tidak ada aktivitas mencurigakan. Cuma tadi saya lihat beberapa penjual kaki lima yang bukan warga sini masih jualan di tempat kita", jawab Pak Alex sambil melirik Alya yang sudah tidak serapi tadi saat pertama kali datang


Wajah Pak Alex menatap curiga ke arah Alya dan ketiga pria disana. Karena terlihat jelas mimik wajah Alya sangatlah berbeda tidak seperti biasanya. Alya terlihat kelelahan dan nafasnya terdengar berat. Demikian juga dengan Pak Bowo dan Pak Supri yang nafasnya juga terdengar ngos-ngosan


"Yasudah gantian kita yang jalan", ajak Pak RT kemudian


Alya, Pak RT, Pak Bowo dan Pak Supri berjalan keluar. Udara dingin seketika langsung terasa menusuk menembus kulit Alya yang tanpa dalaman malam itu karena celana dalamnya sudah diberikan Pak Bowo dan BHnya menyangkut di tiang bendera. Mereka mulai berjalan melewati jalanan utama komplek perumahan sambil menyorotkan cahaya lampu senter ke beberapa sudut yang kelihatannya gelap.


Alya berjalan mengikuti kemana para bapak-bapak itu melangkah. Semakin menjauhi gedung balai RW tempat berkumpulnya ronda malam itu. Dengan perasaan berkecamuk Alya mencoba mengalihkan rasa gatal yang terus menyerang kemaluannya tiada henti. Ia terus melangkah maju, mengikuti langkah kaki Pak RT yang tidak pasti arah dan tujuannya


Mereka berjalan menjauh menuju jala raya. Jalan raya yang menghubungkan antara komplek perumahan dengan desa disekitarnya. Memang perumahan tempat tinggal Alya terletak di pinggiran kota, jadi batas-batas wilayahnya masih berbatasan dengan desa. Terlihat sebuah gerbang portal yang dibiarkan terbuka walau sudah jam 1 lewat. Agar para pedagang nanti bisa keluar dari komplek perumahan setelah mereka selesai berjualan.


Jalanan di luar portal komplek terlihat lengang. Memang di jam-jam segitu, sudah jarang pengendara kendaraan bermotor melintas, sehingga suasananya begitu sunyi malam itu. Hanya suara binatang-binatang malam yang terdengar bersahutan


"Berhenti disini dulu", kata Pak RT tiba-tiba sambil berhenti tepat di pintu gerbang portal komplek perumahn mereka


"Mau dikunci Pak portalnya?", tanya Pak Bowo


"Ngga, tadi info Pak Alex masih ada beberapa pedagang dari luar yang masuk ke wilayah komplek kita dan belum pulang kan?", tanya Pak RT


"Iya betul Pak", biasa mereka berjualan sampai malam-malam gini


"Kita tunggu saja mereka disini sambil memastikan mereka sudah pulang semua baru kita kunci portal", ujar Pak RT


"Heran, mereka suka sekali jualan di tempat kita sampai malam-malam gini. Padahal tau sendiri tempat kita kalau malam sepinya mirip kuburan", timpal Pak Supri


"Ya namanya juga berusaha nyari rejeki Pak"", kata Pak RT


Mereka kemudian masuk ke dalam Pos satpam yang lumayan sempit ukurannya. Mungkin hanya 2,5 x 2,5 meter saja luasnya. Pos itu setahun yang lalu ditempati oleh seorang satpam perumahan. Namun, karena satpam tersebut sudah tua dan sakit-sakitan, beliau akhirnya memilih mengundurkan diri dan hingga saat ini komplek tempat tinggal mereka belum menemukan satpam pengganti. Karena itulah, demi menjaga keamanan khususnya di waktu malam, Pak RT mengajak warga melaksanakan ronda malam.


"Heh! Lepas Baju lo lagi!", ujar Pak Supri tiba-tiba melihat Alya yang dari tadi diam saja tidak bersuara


"Eh tapi Pak? Ini diluar" Saya takut Pak", kata Alya


"Alah alasan aja lo. Ayo buka! Waktunya lo kerja lagi! Atau lo gue laporin ke Pak Robert kerja gak sesuai SOP. Baju kerja lo Cuma kerudung doang!", ujar Supri


"Hahahah.. Iya Bu.. Buka aja bajunya. Toh disini sudah sepi gak ada siapa-siapa. Tadi belum kelar nih. Masih belum puas main-mainnya", imbuh Pak RT


"Tapi beneran aman ya pak?", tanya Alya ragu


"Aman, Bu Alya tenang saja", kata Pak RT meyakinkan istri Ragil itu


Wanita cantik itu akhirnya kembali memilih telanjang, melanjutkan birahi yang sempat tertunda tadi. Alya saat ini hanya menyisakan kerudungnya saja. Istri Ragil itu kini telanjang bulat diantara ketiga bapak-bapak itu


"Busyet.. Mulus bener ini badan.", puji Supri sambil tangannya kembali menjamah tubuh istri Ragil itu dengan gemas


"Pak"", suara Alya manja saat tangan pria super gemuk itu meremasi payudara indahnya


"Beruntung Bu Alya yang ikut ronda. Bukan istri Pak Bowo yang gendut itu", ledek Pak Supri


"Hahaha.. Jelek-jelek gitu istri saya pak. Tapi saya akuin kalau dibandingin Bu Alya istri saya memang kalah jauh kayak siluman sama bidadari kayangan. Hahaha", jawab Pak Bowo menjelekkan istrinya sendiri


"Dilego aja pak", timpal Pak RT


"Hahaha jangan lah Pak", jawab Pak Bowo


"Ya udah ayo bapak-bapak kita nikmati binor ini..", ajak Pak Supri sudah tidak tahan


Tangan Pak Supri kembali meremasi payudara Alya, tak lupa ia mainkan pentil susu Alya hingga Alya kelojotan. Pak Bowo dan Pak RT turut serta kali ini menjamah tubuh Alya. Mereka tidak ingin kecolongan lagi membuang kesempatan emas menikmati tubuh Alya.


"Ssshhh.. Iyaahhh.. Aaahhh.. Bapak-bapak"", Alya terus mendesah membiarkan Pak RT dan Pak Bowo kali ini menyusu pada pentil susunya. Sedangkan bibirnya berciuman ganas dengan Pak Supri


Tubuh Alya kemudian dibaringkan di meja pos satpam, kedua kakinya dibuka lebar-lebar dan Supri mulai menjilati kemaluan Alya penuh nafsu. Ketiga pria itu menjilati tubuh Alya bersamaan, mereka lumasi tubuh mulus Alya dengan air liur mereka. Kali ini Pak RT ikutan main karena beliau juga sudah birahi berat. Kedua putting susu dan kemaluan Alya menjadi target emutan bapak-bapak itu bergantian. Tak pernah Alya merasakan rangsangan sedahsyat malam ini karena tubuhnya dirangsang secara bersamaan oleh 3 pria sekaligus. Kedua putting susunya menjadi hiburan Pak RT dan Pak Bowo bapak-bapak itu, lalu lubang kemaluannya dikuasai oleh lidah Supri


"Aahhh.. geli pak.. Ssshhh.. Ouhhh.. Enak sekali ya ampuuunn"", ujar Alya semakin tak bisa mengontrol dirinya


"Dengerin desahan Bu Alya saya jadi sange. Hahahah", ujar Supri sambil kembali menjilati vagina Alya dan Alya hanya bisa pasrah membiarkan area privatnya itu kini dinikmati oleh bapak-bapak bujangan tua gendut itu


5 menit berlalu,


Tubuh Alya menggeliat liar meladeni jilatan dan tangan jahil para bapak-bapak itu. Bibir istri Ragil itu juga jadi rebutan, Alya bergantian berciuman dengan Pak RT dan Pak Bowo penuh nafsu hingga suaranya berdecak berisik. Sesekali mereka menjambak kerudung Alya saat berebutan menciumi bibir istri Ragil itu saking tidak sabarnnya. Sedangkan Pak Supri masih asyik menciumi bibir bawah Alya yang berbulu tipis dan terus mengeluarkan lendir. Kaki Alya terus mengangkang, mengikhlaskan vaginanya diseruput habis oleh Pak Supri pria gendut itu.


"Aaahhh.. Enakkkk.. Aaahh pak.. Teruuussss" Masukin ke punya saya pak", pinta Alya tidak tahan berharap 3 pria itu menuruti kemauannya


"Bayar ya bu.. Biar Memek ibu nanti bisa kita kontolin"", ujar Pak RT


"Tolong Pak jangan siksa saya seperti ini"", pinta Alya memelas


"Ssssttt.. Tenang.. 750ribu aja buat bertiga, kita diskon malam ini" Saya kasih kontol buat memek Bu Alya. Jangan bilang-bilang Pak Robert", tawar Pak RT


"Eh kok didiskon Pak?", tanya Alya tak mengerti


"Ya, itu biaya memekmu dicolok kontol. Kalau kamu mau orgasme, kamu tetep bayar kita 1 juta. Hahahahah"", ujar Pak RT


"Errr" Tapi"", Alya masih ragu karena ia harus membayar lagi demi mendapatkan kenikmatan puncak


"Uangnya buat kas komplek kok Bu. Buat pembangunan nantinya", bujuk Pak RT


"Errr" Yasudah saya bayar 750ribu pak" Tapi saya bayar besok-besok ya pak", jawab Alya pada akhirnya demi mendapatkan 3 kontol yang bisa menggaruk memek gatalnya malam ini


"Ok gapapa, Deal ya Bu! 750 buat disodok 3 kontol ya", ujar Pak RT dan dijawab Alya dengan anggukan setuju


"Saya duluan ya Pak! Tadi kata Pak Robert hadiahnya buat saya", kata Supri yang sudah tidak sabar ingin menyetubuhi Alya


"Boleh Pak" Silakan", kata Pak RT memberi kesempatan Pak Supri, bapak-bapak bertubuh super gendut itu.


"Bu Alya jangan sampai orgasme ya. Kalau sampai orgasme Bu Alya harus bayar 1juta", kata Pak RT mengingatkan lagi


"Iya"", jawab Alya pasrah daripada dia harus tersiksa dengan rasa gatal pada vaginanya


Pak Supri kemudian membuka celananya dan mengeluarkan kontolnya. Alya sedikit kecewa karena kontol pria gemuk itu ternyata ukurannya kecil. Ia takut kontol Pak Supri kurang bisa memberikan kenikmatan baginya. Lalu Pak Supri yang bertubuh besar itu mulai menindih tubuh Alya


"Ehh.. berat pak..", kata Alya kewalahan saat tubuh telanjangnya ditindihi oleh tubuh super gemuk Pak Supri


Kontol kecil Pak Supri terasa semakin mengeras karena sengaja ia gesek-gesekkan ke bibir vagina Alya yang basah. Alya yang nafsunya sudah diubun-ubun itu tidak peduli lagi tentang ukuran. Iya mencoba ikhlas tidak pilih-pilih bentuk kemaluan lelaki. Yang dia butuhkan saat ini hanyalah batang kontol yang siap menggaruk vaginanya yang gatal


"Masukin aja pak jangan sungkan-sungkan. Nanti saya bantu dokumentasikan", kata Pak Bowo sambil merekam kegilaan ronda malam ini


"Jangan direkam Pak..", Pinta Alya memohon


"Lho ini kan malam pertama Pak Supri. Harus diabadikan. Ya gak Pak RT?", tanya Pak Bowo


"Iya melepas keperjakaan Pak Supri dengan memeknya istri Pak Ragil. Hahahah", jawab Pak RT


Supri kembali melumat bibir Alya dan ia kecup kuat-kuat bibir atas dan bawah Alya bergantian. Ciuman Pak Supri terus turun dan dengan kasar, ia singkap kerudung Alya hingga lehernya terbuka dan ia gigit leher itu penuh nafsu. Alya merintih sembari menggeliatkan tubuhnya


"Oohh.. Pak" Sshh", lenguh Alya


Supri lalu menarik tubuh Alya dan meminta istri Ragil itu mengocok kontolnya. Alya pun dengan patuh mengocok kontol Supri seperti yang sudah ia pelajari bersama Pak Robert. Tapi feelingnya benar-benar berbeda. Kontol Robert terasa penuh dalam genggaman tangannya, sedangkan kontol Pak Supri masih longgar dari cengkraman tangannya


"Enak gak pak dikocokin Bu Alya?", tanya Pak RT sambil ia sendiri onani melihat live perzinahan itu


"Enak sekali Pak. Tangan Bu Alya lembut sekali.. Aahh.. Terus sayang"", kata Pak Supri sambil membalas kocokan Alya dengan sebuah gigitan pada putting susu istri Ragil itu


"Aaahhh.. Pak" Saya.. Sepong dulu ya..", kata Alya geregetan karena kontol Pak Supri masih juga kecil walau sudah ia kocok


"Lihat nih Pak Ragil. Kelakuan istrinya nyepongin kontol Pak Supri. Perjaka tua perumahan kita. Hahahaha", ujar Pak RT sambil terus merekam perzinahan istri Ragil itu


"Oh.. Gilaa.. Enak sekali Bu.. Uuuhhh.. Terus sayang"", kata Supri sambil memegangi kepala Alya agar tidak lepas dari kontolnya


Alya emut dan ia jilatin kontol hitam Supri yang lama-lama semakin terasa membesar dan mengeras. Ia kokop kepala kontol hitam milik Supri dan ia jilati garis kencing kepala kontol pria gendut itu hingga membuat tubuh besar Supri kelojotan


"Terus bu" Aaaahh" Enak sekali sayang..", kata Supri ketagihan dengan sepongan istri Ragil itu, ia belai kerudung Alya dan ia pegangi kepala Alya agar tidak les dari batang kontolnya


Alya terus menjilati kontol pria gemuk itu dengan lahap. Pak supri yang merasa semakin kepanasan lalu melucuti kaosnya dan kini ia telanjang bulat bersama Alya. Terlihat lemak tubuhnya menggelambir dimana-dimana. Khususnya bagian perutnya yang kelihatan sangat besar dan berbulu lebat


"Ouhhh.. enak sekali sayang.. Terus sayang"", kata Supri sambil terus membelai kerudung Alya


"buka memekmu sayang, saya mau ngentot memek kamu"", kata Supri sambil mendorong tubuh Alya hingga kini ia terbaring diatas lantai pos yang kotor.


Alya membuka kakinya lebar-lebar memamerkan kemaluannya dihadapan para bapak-bapak itu. Alya sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya toh semua aibnya sudah diketahui oleh mereka. Tugasnya mulai saat ini hanya satu, memuaskan bapak-bapak itu malam ini.


"Ouhh sempit sekali Bu.. Susah..", kata Pak Supri karena kontol kecilnya kesulitan membelah vagina Alya


"Maklum Bu.. ABG tua.. Belum pernah ngewe jadi belum pengalaman. Hahahah.. gantian saja ya pak?", ledek Pak Bowo


"Enak aja saya belum ngerasain memeknya Bu Alya Pak"", kata Pak Supri masih berusaha mendorong masuk kemaluannya ke kemaluan Alya


"Saya bantu ya Pak", kata Alya sambil meraih batang kontol Supri dan ia tancapkan sendiri ke kemaluannya


"Aaahhh.. Sudah pas" masukin pak"", pinta Alya saat merasakan kontol Pak Supri semakin membelah vaginanya.


"Ouuhh.. Nikmat sekali Bu.. Ouhhh.. Anget sekali Bu vaginamu"", puji Pak Supri sambil kembali mencium bibir Alya sesuka hati sambil terus ia setubuhi istri Ragil itu


"Aaahhh.. terus pak.. Aaahhh.. Entot saya pak..", pinta Alya menggoda dan berharap ia bisa meraih kepuasan malam ini


"Iya Bu.. Aaahhh.. Saya keluarrr Bu Alyaa.. Aaaahhhh Aaaaaahhh", pekik Supri dan ia buru-buru mencabut kontolnya dan ia tumpahkan spermanya ke perut Alya


"Eh pak? Kok cepet amat??", ujar Alya kecewa karena ia bahkan merasa keenakan


Pak Supri hanya tersenyum kecut sambil ia pastikan semua spermanya sudah tumpah di perut Alya.


"Tenang saja Bu.. Giliran saya", kata Pak Bowo bangkit dan tanpa permisi ia langsung menancapkan kontolnya yang sudah keras itu ke memek Alya


"Ouuuhh.. Pak Bowooooo.. Iyaahh.. Aaahh.. Pak.. Enakkk pak..", kata Alya saat kontol Pak Bowo masuk ke alat kelaminnya.


"Enak mana sama punya Pak Supri Bu?", Tanya Pak Bowo penasaran


"Enak punya Pak Bowo. Punya Pak Supri kecil.. Cepet keluarrr.. Aaaahh.. terusss pak.. Memek saya enak digaruk kontol bapak"", pinta Alya bak seorang pelacur gratisan


"Enak aja Bu Alya kalau ngomong", kata Pak Supri sambil menampar pipi Alya dengan kontolnya karena kesal


"Hahahahah.. Dasar istri jalang! Bisa-bisanya keenakan disodok kontol laki lain.. Gila! Pak Robert memang gila.. Beruntung sekali dapat barang bagus gini..", puji Pak Bowo sambil mencubit pentil susu Alya yang sudah mengeras


"Aahhh.. sakit.. Aaahhh bapaakk..", rancau Alya kesakitan karena kontol Pak Bowo ternyata lumayan panjang juga


Pak Bowo mempercepat sodokannya hingga kecepatan maksimum. Desahan Alya juga semakin kencang bersamaan dengan sodokan kontol Pak Bowo ke kemaluannya.


"terus pak" Aaahh saya mau keluarrr.. Aaaahhh..", tubuh Alya mulai bergetar kembali dan dengan segera Pak Bowo mencabut batang kontol ya dari kemaluan Alya


"Pakkk jangan berhentiii.. Ayo lagi pak entot memek saya"", protes Alya dengan raut wajah kecewa sambil memegangi pinggul Pak Bowo mencoba menahan tubuh pria itu agar tidak bergeser sedikitpun


"Masak bayar harga murah minta lebih?", ledek Pak Bowo


"Tolong pak.. Puaskan saya" saya mohon.. Pak Robert gak akan tahu"", rengek Alya tidak sabar karena dirinya begitu tersiksa tidak bisa mencapai orgasme


Pak Bowo kemudian sengaja menunggu Alya menenangkan tubuhnya. Setelah dirasa istri Ragil itu batal mencapai klimaksnya lagi dan lagi, Pak Bowo kembali menceploskan kontolnya ke memek Alya tanpa rasa bersalah karena Alya adalah seorang wanita yang bersuami


"Aaahhh.. Iyaahh.. Ouuuuhh.. Terus pakkk..", desahan Alya makin kencang


Pak Bowo terus menghajar vagina Alya tanpa ampun" Saat Alya hampir mencapai orgasme, Pak Bowo cabut lagi batang kontolnya hingga membuat Alya frustasi. Itu ia lakukan berkali-kali hingga membuat Alya memohon-mohon merendahkan martabat dirinya namun tidak di gubris Pak Bowo


"Gantian Pak", kata Pak RT dan Pak Bowo pun mempersilakan Pak RT kini mengambil posisi di selangkangan Alya


Kontol Pak RT ternyata lumayan panjang namun tidak tebal. Sesuai dengan postur tubuhnya yang kurus. Pak RT gesekkan terlebih dahulu ke bibir vagina Alya yang sudah becek. Alya memejamkan mata keenakan menantikan sebatang kontol kembali bersarang di organ intimnya.


*Maafkan istrimu mas.. Istrimu ini sudah merasakan kontol bapak-bapak ini mas.. Aaaaaahhhh*, keluh Alya dalam hati karena Pak RT langsung membenamkan batang kontolnya ke vagina Alya


"Iyaahhh Pak RT.. Ouuuhhh.. terus bapakkk.. Enak banget" Aaahhhh..", desah Echa semakin menggila saat memek gatalnya digaruk kontol lagi


"Busyet memek Bu Alya sempit bener.. Padahal sudah sering dikontoli Pak Robert.. Ouuhh pantesan Pak Supri cepet keluarnyaa.. Aaaahh.. Bu Alya enak sekali memekmu Bu"", ujar Pak RT sambil mencium bibir Alya penuh nafsu


Mereka saling bertukar bersilat lidah, berebutan saling menyedot liur masing-masih penuh nafsu. Pak RT menciumi leher Alya dan ia pencet putting susu Alya dengan gemas. Tubuh Alya kembali kelojotan dan vaginanya kedutan luar biasa


"Aaaaaaaaahhhhh" Pakkkkkkkk..", pekik Alya sambil tubuhnya mengejang hebat


Lalu tiba-tiba Pak RT mencabut kontolnya dan Alya kembali gagal mencapai orgasmenya. Padahal tubuhnya sudah menegang kuat hendak melepaskan cairan kenikmatan, namun sayang sekali lagi-lagi Alya dibuat kentang oleh bapak-bapak itu


"Tolong jangan giniin saya pak" Tolong biarkan saya keluarrr"", pinta Alya manja


"Bayar dulu Bu. 1 juta 1 orang. Hahahaha", ledek Pak Bowo sambil memilin putting susu Alya sambil merekam istri Ragil itu sedang menyatukan kelamin dengan Pak RT


"Gantian Pak..", kata Pak Bowo sambil ia berikan Kameranya ke Pak RT


Kini tubuh Alya ditunggingkan dan pak Bowo hendak menyodok memek Alya dari belakang. Pak Bowo menampar berkali-kali bokong Alya sebelum ia setubuhi lagi istri Ragil itu tanpa ampun.


*Blesss* kontol Pak Bowo langsung dihisap ke dalam memek Alya


*Jleb jleb jleb*


Rasanya kemaluan Alya sudah nyut-nyutan tersiksa oleh ribuan gesekan yang ia dapatkan tanpa sekalipun ia bisa mencapai orgasme. Tubuh Alya bergerak seliar mungkin mengharapkan mereka bermurah hati membiarkan dirinya meraih puncak kenikmatan. Tubuh Alya bergerak maju mundur sendiri di kontol Pak Bowo yang ada di belakangnya. Alya terlihat sangat menikmati silaturahmi kelaminnya dengan Pak Bowo, seolah ia sedang bercinta dengan pasangan halalnya


"Ouuuhhh.. Aaaahh Enak kontol bapakkk.. Aaahh..", desah Alya sambil terus menggerakkan tubuhnya maju mundur


"Hahahaha.. Goyang yang bener Bu.. Awas kalau sampai berhenti! Plak plak plak plak plak", ujar Pak Bowo sambil menampar bokong sexy Alya hingga kemerahan


Alya semakin cepat menggenjotkan tubuhnya menikmati gesekan tekstur kontol Pak Bowo yang lumayan berurat. Mulutnya tak bisa berhenti mendesah karena memang nikmatnya sungguh luar biasa. Hanya saja Alya kesal karena tidak pernah bisa meraih orgasme seperti biasanya


"Aaaahhh.. Saya keluaaarrr"", kata Pak Bowo sambil mencabut kontolnya dan disemburkan spermanya ke pantat Alya hingga pantat putih mulus itu belepotan pejunya


"Hahahah puas sekali saya"", kata Pak Bowo sambil mempersilakan Pak RT kembali menyetubuhi istri Ragil itu


Alya kemudian diminta bersetubuh dengan posisi women on top. Tanpa diminta, Alya masukkan sendiri kontol Pak RT dengan tangannya. Lalu istri Ragil itu mulai mengulek kontol Pak RT dengan jepitan memeknya yang hangat.


"Ouuuhhh.. Ssssshhhh.. Enak sekali Bu" Aaaahhh.. Aaahh..", lenguh Pak RT menikmati pemandangan indah wanita berkerudung yang dikenal alim itu kini sedang menggoyangkan tubuhnya diatas kontolnya


"Tolong ijinkan saya orgasme pak.. Saya janji akan turutin mau bapak apupun itu.. Saya bersedia kalau disuruh ronda tiap malam buat layanin bapak-bapak. Asal bapak-bapak kasih saya kepuasan", pinta Alya memelas


"Istri gila. Hahaha", ledek Pak Bowo sambil menarik lepas kerudung Alya hingga rambutnya terurai


Alya tak peduli aurat rambutnya terbuka seluruhnya. Ia lebih sibuk memuaskan kemaluannya dengan mengulek kontol Pak RT yang berdiri tegak si bawahnya. Sesekali pinggulnya memutar ke kiri dan ke kanan begitu sexy memberikan kenikmatan tiada tara bagi Pak RT. Siapa yang menyangka bisa menikmati tubuh wanita secantik itu dengan gratis. Bahkan ia bisa mendapatkan sejumlah uang dari wanita itu.


Alya kembali kelojotan dan ia percepat gerakan naik turunnya berharap kali ini ia akan mencapai orgasme ternikmatnya. Saat tubuhnya mengejang hebat hendak mememuncratkan cairan, tiba-tiba tubuhnya diangkat tinggi-tinggi oleh Pak Supri sehingga kontol Pak RT terlepas dari jepitan vaginanya


"Pak Suprrriiiiii".", pekik Alya kesal karena hampir saja ia muncrat namun tidak jadi


"Pak RT terlalu baik kalau biarkan lo klimaks. Hehehe", kata Pak Supri sambil menahan tubuh Alya hingga gejolak orgasmenya perlahan menurun


"Maaf Pak saya mau khilaf..", kata Pak RT menyadari kesalahannya karena ia sendiri tidak tahan


Kembali Pak Supri menindih tubuh Alya dan sekali lagi ia setubuhi istri Ragil itu penuh nafsu. Kontolnya maju mundur diantara jepitan bibir vagina Alya yang terlihat mulai lecek karena sudah sangat becek. Alya terlihat kecapekan ditindih tubuh besar Pak Supri. Terlihat Alya kepayahan dan sesekali mendorong sedikit tubuh besar Pak Supri agar memberikannya jeda sedikit untuk bernafas


"Aaahhhh.. Aaaahhh.. Ssshhh..", Alya terus mendesah disetubuhi pria berbadan penuh lemak itu


"Uuuhhh.. mantab bener memekmu sayang"", kata Pak Supri sambil terus menyetubuhi Alya


Beruntung memang Pak Supri. Walau tidak ada wanita yang mau menikah dengannya karena fisiknya yang tidak menarik, tetapi ia masih bisa menikmati keindahan tubuh Alya yang begitu sempurna.


"Saya keluar lagi Bu"", ujar Pak Supri lalu ia buru cabut kemaluannya dan ia semburkan air maninya kembali ke jembut Alya.


Nafas Alya terengah-engah karena ditindih tubuh Pak Supri yang bobotnya hampit mencapai 200 kg. Terlihat jelas vagina Alya juga menganga. Setelah dihajar 3 kontol bergiliran malam itu


#


1 jam kemudian"


Tubuh Alya terbaring lemas di atas lantai pos satpam yang sudah berdebu. Tubuh mulus Alya terlihat kotor, terkena debu yang menempel bercampur dengan keringatnya. Ceceran sperma menempel pada beberapa bagian tubuh telanjangnya. Beberapa masih cair, beberapa ada yang sudah mengering.


Alya masih belum mendapatkan orgasmenya sama sekali malam itu. Disaat Alya hampir orgasme, mereka sengaja berhenti menyodok kemaluan Alya. Sehingga Alya merasa tersiksa dan kesal dengan ulah mereka. Disaat Alya sudah hampir menyemburkan cairan orgasmenya, mereka sengaja menunda Alya mencapainya.


Alya sangat kesal karena tidak bisa klimaks saat disetubuhi bergantian oleh bapak-bapak itu. Padahal, Ketiga bapak-bapak itu sudah menyemburkan spermanya 2 hingga 3 kali ke tubuh Alya. Mereka sangatlah puas malam itu. Tapi tidak bagi Alya yang berkali-kali gagal meraih puncak kenikmatannya.


Sampai akhirnya Alya memutuskan masturbasi disana. Bersama dengan ketiga bapak-bapak yang terus menyaksikan betapa rendah perilaku istri Ragil itu mengobel-obel vaginanya sendiri di hadapan mereka


"Hahahahah" Iya colmek sana. Kasian butuh kontol ya Bu?" Mangkanya bayar dulu baru kamu kita puasin pake kontol", ledek Pak Bowo sambil memotret Alya yang sedang konsentrasi masturbasi di dalam pos satpam


"Aahhh.. Sshhh.. Sshhh.. Uuhhh.. Aahh.. Aahhh", Alya tidak mempedulikan ucapan Pak Bowo, ia terus masturbasi dan asyik dengan dunianya sendiri. Tubuhnya terus menggeliat diatas lantai pos yang penuh debu.


"Dasar perekk" Kalau diajak ngomong itu jawab!!!", kata Pak Supri sambil mengocok vagina Alya dengan kasar


"Ouuuhhh iyaaahhh.. maaffff aaaahhhh".", pinta Alya dan tubuh indahnya mengejang kuat saat kemaluannya dikocok Pak Supri yang gendut itu


Alya kembali hampir orgasme saat tangan kasar Pak Supri mengocok kemaluan istri Ragil itu begitu kasar. Tubuh Alya bergetar hebat sampai terangkat-angkat.. Vaginanya ia akan tinggi-tinggi tanda dirinya akan muncrat mencapai orgasme.


"Pakkk.. Terruussss Aaahhh"", pekik Alya saat orgasme sudah ada di ujung ubun-ubunnya


"Enak aja.. Hahahaha.. Sudah sudah"", ujar Pak Supri sambil menghentikan tangannya mencabuli kelamin Alya


Tubuh Alya kembali gagal mencapai orgasmenya.. Alya begitu kesal karena mereka begitu tega mengerjainya habis-habisan malam. Padahal ia juga butuh mencapai puncak kenikmatan bercinta. Tapi ketiga bapak-bapak itu tetap menjalankan pesan Pak Robert dengan baik demi bisa mempermainkan istri Ragil itu terus menerus


"Pakk.. Tolong jangan giniin saya"", keluh Alya sambil mengangkang menggoda berharap ketiga pejantan itu kembali menggenjot kemaluannya


"Hahahahah.. Kasiaannn.. Mau dipuasin ya Bu?", goda Pak RT


"Mau pak.. Mau"", jawab Alya penuh harap


"Colmek dulu gih..", goda Pak RT dan Alya dengan patuh kembali masturbasi disana


Ketiga bapak-bapak itu terus memandangi istri Ragil yang terus masturbasi di pos jaga itu. Tidak ada yang percaya wanita berpenampilan alim seperti Alya ternyata tingkah lakunya begitu hina. Masturbasi sambil dilihat para pria adalah perbuatan memalukan bagi seorang istri yang katanya alim dan shalihah.


"Eh udah jam 2, jalan yok Pak", ajak Pak RT


"Oiya, selesai memastikan semua aman, kita pulang pak", kata Pak Bowo


"Bu Alya ikut kami atau disini saja?", tanya Pak RT yang sudah bersiap-siap lanjut keliling komplek


"Aahhhh.. Ouuuhhh.. Ssshhh.. Entot saya pak.. Aahhh.. tolong.. saya mau kontoll.. Aahhh", kata Alya terus mendesah sambil memejamkan mata terus merangsang tubuhnya sendiri


"Bu Alya?", tanya Pak RT lagi namun masih tidak dijawab oleh Alya


"Lagi asyik dia pak.. Udah tinggal aja.. Yuk lanjut jalan pak", ujar Pak Bowo sambil menyumpal vagina Alya dengan puntung rokok yang masih tersisa separuh.


"Sana masturbasi pake rokok bekas mulut saya. Bayangin kontol saya ya Bu.. Hahahah", ledek Pak Bowo


"Awas Bu tar Bu Alya diperkosa orang lho" Malam-malam malah colmek", kata Pak RT mengingatkan


"Kayaknya dia malah berharap diperkosa Pak.. Udah tinggalin aja", kata Supri


#


Tuan Hong tercengang mendengar pengakuan Alya. Cerita yang diceritakan perempuan berkerudung itu sangatlah sukar dipercaya.


"Setelah kamu ditinggal di pos itu?", tanya Tuan Hong penasaran


"Anuu.. Ketiga pria tadi akhirnya menunjukkan betapa gilanya saya malam itu, di pos satpam itu masturbasi sambil memohon disetubuhi oleh lelaki. Mereka kembali lagi dengan bapak-bapak yang lain"", ujar Alya


"Kelima bapak-bapak lainnya ikut menikmati tubuhmu?", tebak Tuan Hong


Alya mengangguk lemah"


"Termasuk Pak Alex yang awalnya membela saya mati-matian. Justru saya bisa orgasme saat bersetubuh dengannya. Dan saya pun terpaksa membayar 1 juta dan masuk ke kas komplek"


"Kok bisa dia akhirnya ikut menikmatimu?", tanya Tuan Hong


Alya menggeleng lemah. Ia tidak tahu alasan pasti Pak Alex akhirnya turut serta menikmati tubuhnya. Mungkin sebagai pria sejati, melihat wanita telanjang membuatnya bergairah. Apalagi Alya memang cantik dan menarik. Lelaki bodoh mana yang menolak Alya.


Bahkan hingga saat ini, Pak Alex justru yang lumayan sering menzinahi dirinya. Ia sering diam-diam bercinta dengan tetangganya itu. Tanpa sepengetahuan tetangga yang lain. Karena Pak Alex tidak tega kalau Alya harus membayar uang kas terus menerus saat orgasme.


"Tolong Tuan Hong jangan ceritakan ke Pak Robert saya sering gituan sama Pak Alex", pinta Alya


"Tenang tidak ada hubungannya. Terserah kamu mau ngewe sama siapapun, bukan urusan saya", jawab Tuan Hong profesional


"Terima kasih Tuan"", jawab Alya


"Oiya, kamu saya undang kesini untuk menawarimu pekerjaan. Uangnya lumayan. Bisa buat kamu jadi jutawan dalam waktu singkat"


"Pekerjaan apa itu tuan?"


"Hehehe"", tawa Tuan Hong misterius membuat Alya bertanya-tanya


#bersambung


- Flashback Alya (The End) -


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 22 : Sebuah Kejujuran


Di suatu pagi yang cerah,


Seperti biasa pagi hari ini di warnai dengan hiruk pikuk orang-orang yang lalu lalang menawarkan barang dagangan mereka. Terdengar Suara-suara para pedagang bersahut-sahutan membuat suasana sedikit meriah. Ada penjual roti, ada penjual sayur, ada penjual kue, ada penjual soto, dan masih banyak lagi.


Beberapa ibu-ibu komplek terlihat mengerubungi abang penjual sayur. Banyak diantara mereka yang hanya memakai daster. Kecuali satu wanita yang nampak memakai gamis serta kerudung panjang menutup tubuhnya. Siapa lagi kalau bukan Alya. Wanita yang nampak alim di perumahan itu, yang kisah panasnya sudah bukan rahasia lagi bagi para pembaca cerita ini.


Tapi kali ini bukan cerita tentang Alya. Melainkan anak gadisnya yang tak kalah liar kelakuannya dengan ibunya. Gadis cantik berwajah lugu yang hidupnya berubah 180" demi menuruti fantasy gila pacarnya.


Rupanya pagi itu Echa nampak sibuk di dalam kamarnya, pandangan matanya tertuju pada cermin besar memastikan kelayakan penampilannya. Gadis cantik mungil dengan senyumnya yang manis itu beberapa kali mengatur posisi kerudungnya. Sepertinya ia tidak cukup puas dengan penampilannya hari ini.


"Duh, gimana ini? Masak iya aku ke sekolah pakai baju kayak gini? Ya ampun...", ujar Echa sambil kembali mengatur style jilbabnya berusaha menutupi bagian dadanya yang terlihat sangat ketat


Dengan kerudung putih dan seragam putih abu-abu, sebenarnya Echa terlihat sangat cantik pagi ini. Apalagi dengan model seragam barunya yang sexy mempertontonkan lekuk indah tubuhnya. Potongan ketat seragam sekolahnya membuat dadanya semakin terlihat menonjol. Itulah yang membuatnya dari tadi Echa sibuk membetulkan model kerudungnya. Karena ia gagal menyembunyikan lekuk payudaranya yang terlampau ketat, dengan kain kerudungnya.


"Ini terlalu sexy... Aku bisa dicap murid gak bener kalau gini caranya", pikir Echa dalam hati sambil terus membetulkan posisi kerudungnya.


Semua ini tak lain ia lakukan karena perintah Endrix, berandalan sekolah yang sudah resmi menjadi tuannya. Jika Echa tidak patuh kepada lelaki bajingan itu, habislah dia. Endrix tidak akan segan-segan memberi hukuman kepadanya, termasuk mempermalukannya di depan umum.


Sudah sering Echa dilecehkan oleh siswa brandal itu. Terakhir, ia dilecehkan di depan Bayu, teman sekelas Echa yang diam-diam memiliki perasaan kepada gadis cantik itu. Endrix dengan gilanya membuktikan kalau Echa tak lebih dari budak sexnya di depan Bayu. Ia setubuhi gadis itu di depan mata Bayu saat mengerjakan tugas kelompok. Entah bagaimana perasaan Bayu saat melihat gadis yang disukainya sedang disetubuhi oleh si preman sekolah. Walau pada akhirnya ia pun juga diberi kesempatan menyetubuhi Echa, tetapi pasti dia cukup terpukul, mengingat ia tidak bisa memiliki Echa seutuhnya.


Bagaimana anggapan Bayu tentangnya mulai sekarang? Setelah ia tahu kalau Echa yang dia kenal selama ini tak lebih hanya seorang budak sex si preman sekolah. Echa hanya bisa pasrah pada nasib. Apakah hubungan mereka masih bisa tetap akrab seperti dulu. Ataukah Bayu akan ilfeel kepada dirinya dan lebih menjaga jarak kepadanya mulai saat ini.


"Uhhh.. Maafkan aku ya Bay", ujar Echa merasa bersalah


Tiba-tiba ia membayangkan betapa gila hidupnya membiarkan sudah banyak lelaki yang menanamkan benih ke rahimnya. Serendah itu kah dirinya saat ini? Apakah kelak ada lelaki yang mau menikah dengannya? Setelah ia menjadi sekotor ini. Setelah memeknya sudah dikontolin banyak lelaki. Masihkah ia berharap kehadiran seorang pangeran berkuda yang akan menyelamatkan hidupnya dan mengubah nasibnya?


"Maafkan Echa mama.. papa...", ujar Echa penuh penyesalan namun semua sudah terlalu terlambat


"Echa, kamu kok lama? Nanti telat lho", teriak Mama Alya dari luar, sepertinya ia baru saja pulang belanja


"I.. Iya Ma.. Echa masih siap-siap.", jawab Echa gugup membuyarkan pikirannya


*Tit tit tit* suara notifikasi WA


"Endrix? Apa lagi ini ya ampun... masih pagi juga", kata Echa kesal


"Hari ini olahraga kan? Dandan yang cantik ya. Gua kangen sama lo.", ujar cowok berandal itu


"Dih.. Kangen-kangenan.. Gila emang ni cowok", ujar Echa sendiri


Echa lalu buru-buru menjawab pesan itu


"Iya tuan..", ketik Echa pasrah daripada Endrix akan marah jika ia tidak membalas pesannya


"Aku lupa kalau hari ini olahraga. Untung diingetin cowok brengsek itu", ujar Echa sambil buru-buru Ia ambil baju olahraganya di lemari dan ia masukkan ke dalam tas ranselnya


*Tok tok tok* pintu diketuk


Echa terperanjat terkejut mendengar ketukan itu. Ia buru-buru menutup seragam sekolah sexynya dengan jaket agar tidak dilihat mamanya. Bisa hancur perasaan Alya melihat pakaian anak gadisnya yang lebih mirip cabe-cabean daripada seorang siswi berprestasi.


"Lama bener sih?", intip Alya melihat apa yang dilakukan anaknya


"Eh mama. Ketuk pintu dulu dong Ma. Ngagetin aja", protes Echa


"Habisnya kamu lama. Eh kamu ke sekolah dandan kayak gitu?", selidik Alya melihat wajah anak gadisnya memakai make-up


"Dandan tipis-tipis Ma. Masak ga boleh sih? Kalau ga dandan Echa keliatan kurang cantik nanti", jawab Echa


"Hmmm... Pasti biar pacarmu terpesona ya?", goda Alya


"Engga kok ma. Mama ini sok tau", jawab Echa


"Hmmm.. Yang penting jangan menor-menor. Nanti digoda om-om kamu", ledek Alya


"Iihh.. Mama ini. Ya udah Echa berangkat dulu Ma.", ujar Echa


"Lho gak sarapan dulu Cha?", tanya Mama Echa


"Ngga Ma. Buru-buru.. Berangkat ya Ma", ujar Echa sambil mencium tangan mamanya


Saat Echa keluar, ia melihat sosok Om Alex tetangganya sedang siram-siram tanaman. Pria itu sengaja tidak memakai baju memamerkan bentuk otot tubuhnya. Mata Echa berdecak kagum melihat postur tubuh om Alex yang putih dan atletis bak aktor film mandarin. Tanpa sadar gadis itu malah melamun memandang penuh rasa kagum tetangganya yang mungkin seumuran mamanya itu.


"Duh kalau yg godain om-om kayak Om Alex, mana bisa Echa tolak", gumamnya dalam hati melanjutkan perkataan ibunya barusan


"Echa kok malah ngelamun? Liatin apaan sih?", tiba-tiba Alya muncul dari belakang membuyarkan lamunannya.


"Eh ngga kok Ma.. Echa berangkat dulu ya Ma...", kata Echa pamitan


Echa pun berangkat ke sekolah meninggalkan Alya yang tersenyum memandang ke arah Pak Alex tetangganya yang terlihat macho. Daritadi mama Echa itu memang sudah gelisah menunggu agar Echa segera berangkat ke sekolah sehingga ia bisa sendirian di rumah tidak ada yang mengganggu.


"Pak Alex.. Siram-siram terus nih pak?", goda Alya


"Iya nih Bu.. Biar seger", jawab Pak Alex


"Punya saya juga mau disiram nih pak", ajak Alya sambil mengangkat roknya memamerkan kemaluannya di depan tetangganya itu.


"Wow.. Mantab bener bu.. Gak pake sempak bu?", goda Pak Alex


"Ngga Pak, Kan hari ini Pak Alex janji siram memek saya?", ajak Alya nakal


"Oiya habis saya siram tanaman saya ya bu, nanti saya siram memek Bu Alya", jawab Pak Alex tak kalah nakal


"Ssssttt... jangan kenceng-kenceng banyak cepu disini. Hihihi", kata Alya dengan gaya berbisik dan Pak Alex hanya mengangguk-angguk sambil menggaruk rambutnya


Alya memang sudah seperti wanita murahan disana. Kesehariannya ingin kemaluannya dipuaskan lelaki. Karena ulah Robert yang kerap menyiksa birahinya, membuat gairah Alya semakin tidak terkontrol dan butuh segera dilampiaskan. Alya memang sudah berubah, tidak ada lagi Alya si wanita alim. Ia kini hanyalah pelacur di perumahan itu.


Tak lama kemudian, Pak Alex sudah selesai menyiram tanamannya. Dengan berjalan mengendap-endap sambil melihat sekelilingnya dia berjalan menuju rumah Alya. Alya sudah menunggu dibalik pintu rumahnya, tidak sabar berzina dengan tetangganya itu.


"Bu Alex sudah berangkat kerja pak?", tanya Alya


"Aman...", jawab Pak Alex sambil melepas hijab Alya dan memagut bibir istri Ragil itu


#


Di sekolah,


Di area parkiran sepeda motor sekolahnya, wajah Echa nampak semakin tegang dan nervous. Bagaimana tidak, saat ini ia harus melepas jaket yang melapisi seragam sexy nya. Karena sudah menjadi aturan sekolah, saat masuk di gedung sekolah, semua jaket, topi, dan aksesoris pakaian apapun wajib di lepas agar semua murid berpenampilan seragam semua. Tidak ada yang memakai pakaian branded.


Echa lalu melihat jam di layar handphonenya. Sebenarnya masih pagi dan belum banyak murid yang datang. Setelah mengumpulkan keberanian, Echa pun melepas jaketnya dan debar jantung gadis cantik itu semakin cepat. Busana seketat itu sama sekali tidak menyamarkan bentuk tubuhnya. Bahkan bokong Echa sampai terlihat belahannya saking sempitnya rok yang dikenakannya.


Echa berjalan sedikit kesusahan, karena roknya terlalu ketat sehingga menyulitkannya berjalan. Terlihat betapa dirinya tidak nyaman harus berpakaian seperti itu di tempat umum. Rasa malu dan was-was terus mengintainya. Walau dirinya sudah sering telanjang di depan lelaki, tetapi di lingkungan terdidik seperti sekolahan, Echa belum pernah berpenampilan senekat ini. Reputasinya sebagai murid berprestasi bisa hancur seketika akibat kelakuannya seperti siswi nakal yang berpakaian sexy di sekolah.


"Duh, Bagaimana kalau aku sampai ditegur guru?", ujar Echa dalam hati karena gaya berpakaiannya yang mencolok dan terlalu berani


Beberapa pasang mata mulai melihat ke arahnya. Seorang gadis berkerudung berkacamata menatapnya dengan tatapan benci. Murid yang nampaknya alim itu terlihat ilfeel melihat gaya berpakaian Echa yang terlalu ketat padahal ia memakai kerudung. Beberapa pasang mata lainnya sama saja, mereka hanya berani memandang dan tidak ada yang menegur Echa secara terang-terangan.


Echa terus berjalan dengan pikiran kalut. Jantungnya terus bedegup kencang membayangkan sebentar lagi dia berjumpa dengan banyak orang. Dengan pakaian seketat itu, Echa merasa seperti sedang jalan-jalan telanjang disekolah. Karena bentuk tubuhnya benar-benar terlihat total. Apalagi tonjolan payudaranya, kancing bajunya seolah mau copot saja karena kekecilan.


Saat tiba di lapangan sekolah, jumlah murid disana lebih banyak dibandingkan dengan yang ada di parkiran. Banyak yang menatap Echa dengan tatapan beraneka ragam. Kebanyakan menatap takjub, namun ada juga yang menatap tidak suka. Terutama dari kalangan para siswi. Penampilan Echa dinilai terlalu vulgar dan berani. Sedangkan bagi para murid laki-laki justru mereka memandang Echa sampai melongo


*Plok* tiba-tiba seseorang menepuk bahu Echa


"Anya! Ngagetin tau. Mukul-mukul kayak mau gendam aja", protes Echa


"Gendam-gendam. Kamu tuh kayak udah kena gendam. Berani bener pakai seragam seketat ini ke sekolah Cha.", protes Anya sambil meremas bokong Echa


"Anya!", kembali Echa protes karena ulah mesum tangan jahil sahabatnya


"Cha? Kamu ga pake celana??", ujar Anya sambil matanya terbelalak karena tadi ia merasakan bokong Echa yang terasa tanpa pelapis saat ia remas


"Apaan sih, sotoy kamu Nya", jawab Echa ketus


"Serius Cha, kamu beneran gak pake? Gila ya kamu Cha!", ujar Anya heboh


"Sok tau. Pakai kok!", ujar Echa berbohong


"Coba liat?", tantang Anya


"Enak aja! Gak mau ah", jawab Echa sambil mempercepat langkah kakinya agar semakin tak banyak murid sekolah yang melihat penampilan lacurnya


"Cha.. Lu diliatin Pak Ronald tuh", ujar Anya tiba-tiba sambil memberikan kode ke arah guru olahraga sekolah kami yang sedang duduk-duduk di bangku dekat lapangan.


Echa melirik ke arah Pak Ronald. Tatapan mata Echa seketika langsung ditangkap oleh si guru olahraga itu. Pak Ronald terlihat menggelengkan kepala berdecak kagum sambil terus memandang jelalatan ke arah Echa. Matanya terlihat sinis tertuju kepada dirinya. Echa buru-buru membuang muka mengarahkan pandangannya ke arah lain. Ia terlihat semakin merasa canggung apalagi gaya berpakaian seragammya yang memang terlampau sexy. Ingin sekali ia tutupi bagian tubuh menonjol pada dirinya namun tidak bisa, karena memang sudah terlalu ketat jadi percuma saja. Akhirnya Echa memutuskan mempercepat langkahnya ke kelas dan berharap Pak Ronald tidak menghukumnya karena cara berpakaiannya yang terlalu berani.


"Echa tunggu!", panggil Anya


Anya menyadari sahabatnya itu malah berlari kecil meninggalkan dirinya. Echa nampak tidak peduli dengan panggilannya. Gadis berkerudung itu ters berlari semakin cepat menuju kelas.


#


Di dalam kelas, ternyata teman-teman sekelas Echa sudah pada datang. Semua mata langsung tertuju pada dirinya. Beberapa siswa pria bersiul-siul riuh menggoda Echa yang memakai pakaian sexy sekali hari itu. Suasana kelas menjadi gaduh. Sedangkan para murid perempuan kebanyakan hanya diam saja dan tidak mau ikut campur urusan para lelaki. Mereka lebih memilih buru-buru keluar menuju Locker Room untuk berganti baju seragam sekolah, karena pagi ini jadwal pelajaran olahraga.


"Cha gue duluan ya", ujar Anya sambil berlari keluar kelas karena memang beberapa menit lagi jam pelajaran olahraga dimulai.


"Eh.. tungguin Nya..", jawab Echa namun resleting tas nya malah tersangkut sehingga ia kesulitan mengambil baju olahraga yang ia simpan di dalam tas ranselnya


"Gantian tadi lu ninggalin gue. Hihihi", jawab Anya ngacir berlari meninggalkan Echa


Echa terlihat panik saat menyadari hanya tinggal ia sendiri di dalam kelas itu bersama murid-murid cowok, termasuk Bayu. Tiba-tiba Endrix yang datang terlambat bersama ganknya masuk ke dalam kelas. Ia tersenyum melihat keberadaan Echa yang seorang diri di dalam kelas.


*Plak*, tiba-tiba Endrix menampar bokong Echa yang sedikit menungging saat sedang berusaha mengambil seragam olahraganya dari dalam tas


"Pantat lo ngehalangi jalan gua", ucap Endrix sambil tersenyum mesum


Echa menatap Endrix kesal, namun ia tidak berani melawan preman sekolah itu. Apalagi wajah Endrix semakin memuakkan saat memandang wajah gadis cantik itu. Suasana kelas seketika hening. Tidak ada yang berani membela Echa meskipun preman sekolah itu sudah kurang ajar. Termasuk Bayu, ia kini juga bertekuk lutut di hadapan Endrix!


"Ayo buruan pada ganti baju! Pak Ronald sudah nungguin di lapangan tuh", kata Endrix sambil menutup pintu dan ia kunci ruang kelasnya agar tidak bisa dibuka.


Banyak murid-murid cowok yang mulai melepas seragam sekolahnya hendak ganti seragam olahraga. Echa yang panik dan tertinggal di dalam kelas buru-buru berdiri dan hendak menyusul teman cewek yang lain untuk ganti baju di tempat semestinya. Sayangnya, pintu kelas sudah di kunci oleh para berandal sekolah itu.


"Lu mau kemana?", kata Endrix tersenyum memuakkan sambil memegang pergelangan tangan Echa


"Lepasin Endrix! Aku mau ganti baju!", jawab Echa panik


"Ganti disini aja!", perintah Endrix


"Eehh?? Jangan gila Ndrix!", jawab Echa panik


"Udah gapapa disini aja lo gantinya, daripada lo telat Cha! Malah dihukum Pak Ronald ntar.", kata salah seorang berandalan teman Endrix


"Tapi.. Banyak anak cowok... Aku malu...", jawab Echa semakin panik


Semua siswa hanya bisa diam menatap iba ke arah Echa. Mereka memilih diam dan tidak ingin berurusan dengan para preman sekolah. Walau di depan mereka saat ini seorang gadis cantik sedang digoda oleh para preman mesum itu. Bayu pun sama, ia hanya mengepalkan tangannya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu betul betapa kuat pukulan Endrix dan ia juga takut Echa malah akan semakin di-bully oleh para preman sekolah apabila dia melawan mereka.


"Gapapa.. Gue liat mereka juga gak akan keberatan kok lo ganti disini. Ya kan?", tanya Endrix kepada semua orang di kelas namun mereka tidak berani menjawab


"Please Endrix jangan gini...", pinta Echa seperti hendak menangis


"Ga usah jaim deh Lo Cha. Lo sengaja pake baju sexy ke sekolah biar dilihat kan? Lo pasti pengen kan temen-temen sekelas liat body indah lo? Gue tau maksud dan tujuan lo. Hehehe", kata Endrix tersenyum licik dan seketika suasana kelas menjadi hening karena si berandal sekolah terlihat mulai "memeras" Echa


"Ayo buruan ganti! Lo mau semua siswa cowok dihukum Pak Ronald karena terlambat ke lapangan karena nungguin lo ganti baju?", kata Endrix mulai memainkan perasaan "gak enakan" Echa


Suasana kelas menjadi semakin hening, apa yang diucapkan Endrix tadi ada benarnya. Mungkin Echa sengaja berpakaian ketat dan sexy hari ini agar menjadi pusat perhatian, terutama ke para murid cowok. Sebagai lelaki normal, para siswa disana mengakui dalam hati kalau mereka ngaceng juga melihat keseksian Echa yang dibalut seragam ketatnya.


"Ayo Cha.. Lo mau tanggung jawab kalau kita sampai telat?", kata salah seorang siswa sekelas mulai bersuara


"Iya Cha.. Ayo buruan Cha! Buruan lo ganti baju!! Kalau kita terlambat ini semua salah lo!", kata siswa lainnya lagi dan akhirnya suasana kelas menjadi gaduh.


Echa melirik ke arah Bayu. Lelaki tampan itu hanya bisa terdiam dan tidak membelanya. Mungkin ia juga bingung dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bayu juga sudah menyadari Echa ternyata hanyalah budaknya Endrix selama ini.


"Buruan.. Keburu telat kita", imbuh salah seorang berandal


"I.. Iya..", jawab Echa tertunduk pasrah pada nasibnya


Dengan menahan rasa malu, Echa mulai melepas kancing baju seragamnya di depan kelas. Semua mata memandang ke arah Echa sambil melongo. Sebentar lagi mereka akan melihat gadis berkerudung cantik itu ganti baju di dalam kelas, di depan para murid laki-laki. Pelan tapi pasti, dada Echa semakin nampak saat kancing seragam Echa sudah terlepas sepenuhnya, beserta perut rata dengan kulitnya yang putih mulus.


Echa mulai menarik lepas kemeja putihnya dari tubuh indahnya. Untungnya buah dadanya masih terbungkus oleh bra berendanya. Setelah kemejanya terlepas, gadis cantik berkerudung itu juga mulai menurunkan roknya. Sebenarnya Echa bisa saja memakai kaos olahraganya lebih dulu. Tapi entah mengapa, Echa sepertinya lupa dan lebih memilih melucuti semua seragam putih abu-abunya terlebih dahulu di sana, baru memakai setelan baju olahraganya


Terlihat celana dalam model G-string mulai mengintip dan membuat semua mata cowok disana terpesona melihat selangkangan Echa yang masih terbungkus celana dalam sexynya. Akhirnya gadis berkerudung itu sudah berdiri setengah telanjang di depan semua teman sekelasnya.


"Lepas bra dan sempak lo juga. Lo hari ini olahraga ga usah pake dalaman.", perintah Endrix semakin kurang ajar


Seluruh kelas mendadak bisu dan suasana semakin hening. Mereka memandangi Echa dengan tatapan penuh kasihan namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya. Budak Endrix itu tidak punya pilihan lain selain patuh. Dengan penuh rasa malu, Ia tanggalkan bra dan celana dalamnya di depan kelas. Dengan posisi seluruh siswa laki-laki sekelas melihat ke arahnya. Betapa terlihat wajah Echa memerah hingga tak sanggup ia membuka matanya. Ia pejamkan matanya rapat-rapat sambil tangannya mempreteli pakaian dalamnya satu persatu hingga telanjang, menyisakan sepatu, kaos kaki, dan kerudungnya saja. Echa terlihat mati-matian menutup payudara dan kemaluannya dengan kedua tangannya. Sedangkan Endrix terlihat tersenyum puas gadis itu dipermalukan didepan umum pagi ini


"Mantab bener bodynya... Kayak artis bokep jepang", puji seorang siswa


"Iya putih mulus cookkkk...", timpal pria lainnya


"Jangan ditutupin lah! Ayo pamerin badan lo! Lo pingin badan lo dilihat semua cowok kan? Lo sengaja pake baju ketat gitu buat pamer kan? Ayo pamerin sekarang!", kata Endrix


"Ayo buruan Cha. Sudah telat ini kita!", ujar seorang siswa teman sekelasnya sambil menunjuk ke arah jarum jam yang sudah kelebihan 5 menit dari jadwal.


Para siswa mulai terlihat tidak sabar dan ingin Echa segera membuka aurat tubuh paling privatnya ke semua teman sekelasnya. Merasa tidak punya kesempatan untuk negoisasi, Echa akhirnya melepaskan kedua tangannya dan membiarkan payudara dan vaginanya terbuka bebas di depan kelas, dipandangi oleh semua siswa di kelasnya


"Suit suit... Wowwww... Pemandangan bagussss...", ujar salah seorang berandal


"Mantab bener chaaa... Toket lo boleh juga ya. Gue kira tocil lo. Hahahah", ujar seorang siswa


"Puting lo favorit gue Cha. Kecil mungil. Hahahaha", komentar siswa lainnya lagi


"Cantik-cantik ternyata lo mesum juga ya Cha..", ledek berandalan lainnya


"Taruh tangan lo dibelakang kepala biar teman sekelas lo liat mulusnya ketek lo", perintah Endrix


"Iya...", jawab Echa sambil ia angkat kedua ketiaknya menampakkan betapa mulus putihnya bagian itu


"Wowwww....", semua mata tertegun melihat pose sexy dari gadis berkerudung yang sedang telanjang di depan kelas itu


Bayu terlihat semakin meremas tangannya. Ingin sekali ia membela gadis yang dicintainya itu saat ini. Tapi tidak bisa, ia takut Endrix dan kawanannya akan semakin parah membully Echa. Ia hanya bisa terdiam sambil menahan kontolnya yang mulai birahi melihat kemolekan tubuh Echa yang luar biasa


Echa semakin tertunduk malu. Apalagi ia menyadari, vaginanya justru malah berlendir parah saat ini. Cairan vaginanya malah jatuh pelan-pelah membasahi lantai kelas. Semua lelaki disana melongo melihat vagina Echa yang malah "ngompol" diperlakukan seperti itu. Beberapa menelan ludah melihat lendir kemaluan Echa yang menetes-netes. Beberapa malah mengabadikan momen langka itu dengan kamera ponselnya. Kapan lagi mereka bisa punya foto Echa telanjang bulat di depan kelas, apalagi memeknya sampai berair seperti itu. Lumayan untuk bahan onani mereka.


Setelah puas mempermalukan Echa di depan kelas. Endrix mengijinkan siswa-siswa lainnya untuk pergi ke lapangan lebih dulu.


"Kalian boleh keluar dulu, tapi syaratnya pas mau keluar kelas, kalian pilin pentil susu Echa, baru boleh keluar", ujar Endrix


"Hahaha.. enak kan kalian? Mangkanya jangan sok-sok kesal sama kita. Toh kalian juga kebagian enaknya", ujar salah satu teman Endrix


Lalu Echa diminta berdiri di depan pintu kelas, dalam posisi kedua tangan tetap di kepala dengan payudara yang menggantung bebas. Lalu satu demi satu murid sekelasnya berbaris, dan mereka mulai keluar kelas dengan memilin puting susu Echa. Ada yang menowel pelan, ada yang mencubitnya keras, dan ada yang memelintir puting susu Echa dengan sangat keras hingga membuat gadis cantik berkerudung itu merintih kesakitan.


Bayu terlihat memandang Echa beberapa saat, sebelum pada akhirnya ia pun tidak punya pilihan selain ikut menyentuh puting susu Echa, lalu pergi meninggalkan Echa seorang diri dikelilingi para berandalan sekolah.


"Gimana rasanya temen sekelas sudah pegang pentil susu lo?", tanya Endrix puas


"Sa.. Saya malu Endrix...", jawab Echa tertunduk menahan perih yang ia rasakan pada puting susunya


"Halahh malu tapi memek lo becek gitu..", ucap teman Endrix sambil menatap penuh nafsu area kemaluan Echa


"Guys.. Siksa dia! Buat ini lonte sange!", perintah Endrix kemudian


"Eeeh???", Echa terkejut menyadari tubuhnya pagi ini akan "disiksa" oleh para berandalan


Lalu puluhan tangan mulai menghinggapi tubuh Echa. Mereka langsung meraba bagian-bagian tubuh Echa. Payudara dan vaginanya menjadi target favorit para berandalan sekolah. Echa menggeliat menahan desahan, apalagi saat kedua ketiaknya diciumi oleh para berandal. Tangan-tangan kasar itu berebutan merangsang dirinya. Lidah-lidah mereka berebutan menjilati tubuh Echa dengan menjijikkan. Echa menggeliat bak cacing kepanasan dirangsang seperti oleh para berandal sekolah anak buah Endrix.


"Aaaahhhh.. Sudaaahh...", pinta Echa tidak tahan karena vaginanya malah berlendir semakin parah


"Hehehe.. Yakin sudah? Memek lo baru aja mulai pengen tuh?", ledek Endrix


Para berandalan Endrix cs itu tertawa terbahak-bahak melihat kepasrahan Echa yang terlihat begitu patuh dan hanya bisa diam tidak berdaya saat tubuhnya digerayangi para berandal sekolah.


"Su.. sudah...", kata Echa kembali memohon


*Pritttt prrittttt* Pak Ronald tiba-tiba meniup peluit memanggil murid-murid untuk segera ke lapangan


"Pak Ronald udah manggil lagi tuh", kata teman Endrix mengingatkan


"Bisa gawat kalau dia tiba-tiba datang kesini", timpal teman Endrix yang lain


"Iya tau gua. Ya udah pagi ini cukup", kata Endrix


Echa dalam hati bersyukur akhirnya ia bisa terbebas dari tangan-tangan jahil itu dan ia buru-buru mengambil seragam olahraganya. Namun sayangnya, Endrix dengan cepat merampas seragam olahraga Echa membuat Echa semakin bertanya-tanya.


"Sebentar gue modifikasi dulu celana olahraga lo!", ujar Endrix sambil tersenyum sinis


Ia kemudian mengeluarkan pisau dari sakunya dan mulai menyobek jahitan tengah celana olahraga Echa hingga robek dan berlubang di bagian tengahnya.


"Apa yang kamu lakukan Endrix ...", tanya Echa tidak percaya melihat celana olahraganya kini berlubang tepat di area kemaluannya


"Hukuman buat lo karena daritadi lo gak manggil gue dengan sebutan tuan... Hahahah", ujar Endrix semakin melebarkan lubang pada celana olah raga Echa


"Busyet.. Enak tuh Cha.. Gak bakal kegerahan tuh memek lo pas olahraga. Heheheh", ujar seorang kawan berandal Endrix sambil tertawa cengengesan


"Dah buruan pake celana lo!", kata Endrix sambil melemparkan celana yang sudah dirobeknya ke Echa


"Tapi..", Echa nampak ragu memakainya


"Terserah, atau lo mau olahraga gak pake celana? Biar memek lo dilihat sama semua orang?", kata Endrix


Echa kembali berpikir sejenak melihat kondisi celana olahraganya. Memang benar-benar sudah tidak layak pakai karena sobekannya sangat lebar. Tapi karena sudah tidak ada pilihan lain, Echa terpaksa mulai memakai seragam olahraganya itu, walau tanpa bra sekalipun. Ia sadari betul puting susunya yang sudah mengeras daritadi nampak menonjol menembus seragam olahraganya yang berwarna putih. Echa lalu mulai memakai celananya yang sudah berlubang cukup lebar itu. Benar saja, vaginanya langsung mengintip cukup lebar saat memakai celana itu. Tapi itu jelas lebih baik daripada ia harus olahraga tanpa memakai celana sama sekali.


#


Jam 07.20


Jam pelajaran olahraga sudah dimulai 20 menit lalu. Echa datang bersama dengan para berandalan sekolah ke lapangan. Terlihat siswa siswi lainnya sedang berlari-lari mengelilingi lapangan. Pak Ronald menatap dengan wajah kesal ke arah murid-muridnya yang datang terlambat sambil cengar-cengir


"Darimana aja kalian???", tanya Pak Ronald sambil wajahnya menatap penuh amarah.


"Santai boss... Kita telat gara-gara Echa. Hehehehe...", jawab Endrix tanpa rasa bersalah sama sekali sambil menunjuk ke arah wajah Echa


Pak Ronald mengernyitkan dahinya menatap wajah Echa yang dari tadi tertunduk malu menghindari tatapan tajamnya. Terlihat sekali gadis berkerudung itu ketakutan. Ia sepertinya mengingat pemandangan indah pagi tadi. Seorang siswinya yang berkerudung datang ke sekolah dengan seragam super ketat yang membuat jakunnya naik turun. Ia pun baru sadar gadis cantik berkerudung sexy yang dilihatnya tadi pagi adalah Echa


"Kamu kan yang tadi?", tanya Pak Ronald


Echa menjawab dengan anggukan. Entah mengapa dirinya bisa menangkap pertanyaan Pak Ronald padahal pertanyaan itu belum menyebutkan apa pun.


"Kenapa kamu telat?", tanya Pak Ronald


"Celana Echa Robek pak.. Kita tadi coba benerin tapi gak bisa. Hehehehe.. Itulah kenapa kita datang terlambat", kata Endrix tersenyum mesum


"Celana dia robek? Sebelah mana?", tanya Pak Ronald penasaran sambil menatap tajam ke arah selangkangan Echa


"Itu Pak..", timpal teman Endrix sambil menunjukkan vagina Echa yang sedikit mengintip


"Wow...", samar-samar terdengar Pak Ronald berdecak kagum melihat area privat Echa yang sedikit mengintip dari celana olahraganya


"Coba kamu ngangkang Cha!", perintah Pak Ronald demi memastikan apa yang baru saja dilihatnya sepintas barusan


"Ehhh kenapa pak??", tanya Echa terkejut mendengar permintaan gurunya


"Saya mau periksa celanamu! Beneran robek nggak! Ayo ngangkang!", perintah Pak Ronald sambil tersenyum nakal


"Eh tapi pak???", ujar Echa ketakutan


"Kenapa? Kamu keberatan?", tanya Pak Ronald


"Errr . Saya malu pak...", kata Echa lirih


Siswa-siswi yang sedang berlari mengelilingi lapangan penasaran apa yang dilakukan Pak Ronald ke para siswa yang datang terlambat itu. Beberapa ada yang mencoba mendekat namun ditahan oleh Pak Ronald


"Kalian tetap lari sampai saya suruh berhenti!!! Awas kalau ada yang ngintip! Kalian malah akan ikutan saya hukum!", ancam Pak Ronald sekaligus memaksa para siswa-siswi itu tidak mendekatinya dan memaksa mereka tetap berlari.


Pandangan mereka kini terhalang, karena tubuh mungil Echa kini dikelilingi tubuh tinggi besar para berandalan dan juga Pak Ronald. Ya, Echa terduduk mengangkang di pinggiran lapangan, memamerkan kemaluannya ke Pak Ronald guru olahraganya. Tatapan guru olahraganya kini jelas-jelas tertuju ke lubang yang menganga dan tampak segar itu


"Buka kaki lebih lebar lagi!!! Splitt maksimal!!", perintah Pak Ronald sambil memaksa kaki Echa semakin mengangkang


"Adduuhh.. Sakit pak...", keluh Echa karena menurutnya ia sudah mengangkang maksimal.


*Breekkkkkk* celana olahraga Echa malah semakin robek saat Echa terus memaksa mengangkang lebar


Vagina Echa sudah keluar dari celana olahraganya. Pak Ronald kembali menelan ludah melihat kemaluan Echa yang merekah dan nampak segar itu. Ingin sekali ia cabuli gadis itu saat ini juga tapi ia takut nama baiknya sebagai seorang guru jadi buruk karena tidak bisa menahan nafsu birahinya.


"Ok Cukup! Sekarang kamu push up!", perintah Pak Ronald


"I.. Iya baik pak...", ujar Echa dan ia pun mengambil posisi tengkurap dan mulai menahan beban tubuh dengan kedua tangannya


Echa mulai menaik turunkan badannya dengan dorongan kedua tangannya. Sedangkan Pak Ronald terus memandang ke arah selangakangan Echa yang kali ini tersembunyi. Guru olahraga itu tidak cukup puas, karena ternyata bagian celana Echa yang robak tidak nampak saat ia sedang push up karena Echa merapatkan kedua kakinya. Pak Ronald terus mencoba memutar otak, ia ingin melihat keindahan kemaluan gadis berkerudung itu lagi. Namun ia terlalu gengsi mengutarakannya. Ia tidak mau dicap guru mesum oleh para siswa-siswi sekolahnya.


"Gak seru ya pak? Hehehe... Kalau kayak gini gimana Pak?", ujar Endrix kurang ajar sambil menurunkan celana olahraga Echa hingga kali ini pantat mulus Echa terpampang disana.


"Wow...", gumam Pak Ronald lirih dan tanpa sadar mata Pak Ronald sampai terbelalak lebar melihat kali ini pantat Echa menyembul saat ia sedang pushup.


Pantat putih mulus bersih itu kini terpampang jelas di kedua matanya. Bongkahan bulat yang sungguh mempesona dan memiliki daya tariknya tersendiri. Lelaki normal manapun pasti akan tergoda melihat keindahan bongkahan pantat Echa yang masih belia.


Pak Ronald sampai diam-diam meremas batang kontolnya saat melihat bokong mulus Echa. Ia kembali menelan ludah dalam-dalam tidak menyangka berandalan sekolah itu benar-benar kurang ajar ke Echa. Echa bahkan tidak protes sama sekali diperlakukan seperti itu oleh Endrix. Pak Ronald tidak bisa marah ke Endrix, karena ia sendiri menikmati bagaimana Echa diperlakukan saat ini.


"Push up yang bener lo Cha.. Hehehe.. *plak plak plak*, ucap Endrix sambil menampar pantat Echa beberapa kali membuat Pak Ronald melongo


Pak Ronald kembali tidak percaya, bagaimana bisa muridnya sangat kurang ajar seperti itu ke temannya sendiri. Padahal temannya itu gadis berkerudung! Bahkan Echa tidak marah sama sekali diperlakukan seperti itu oleh Endrix! Pak Ronald kemudian tidak kuasa menahan syahwatnya dan ia iseng meremas bokong Echa yang sexy beberapa kali. Semua berandalan tertawa melihat guru olahraganya yang sok keras itu ternyata tergoda juga melihat Echa.


"Cu.. cukup! Sekarang kamu sit up!", perintah Pak Ronald begitu mesum. Dengan begitu kali ini ia bisa melihat tubuh depan Echa tanpa terhalang apapun.


"Mau saya gulungin baju seragamnya pak? Biar bapak gak penasaran sama teteknya. Hehehehe", tawar Endrix


"Hah? Emang dia mau?", tanya Pak Ronald tidak percaya


"Mau kok Pak. Echa ini memang suka pamer badan Pak. Betul kan Cha?", tanya Endrix membuat Echa tersipu malu kali ini gurunya sendiri yang akan melihat tubuhnya


Pak Ronald mengangguk-angguk, nampaknya ia mulai memahami situasi saat ini. Mengapa Echa datang ke sekolah dengan memakai pakaian seragam seketat itu. Ternyata alasannya karena Echa suka eksib mamerin badan!


"Lo mau kasih liat tetek lo kan ke Pak Ronald?", tanya Endrix kurang ajar


"I.. Iya.. bolehh...", jawab Echa pasrah membiarkan para berandalan mulai menggulung pakaiannya ke atas hingga payudaranya kini terlihat bebas menggantung.


"Hehehe... Bapak lihat sendiri. Cewek baik-baik mana yang ke sekolah gak pake Beha dan sempak? Emang dasarnya Echa cewek mesum pak..", ledek Endrix disambut gelak tawa berandalan lainnya


"Hmmm.. Nakal berarti ya Echa ini? Harus saya hukum kalau gitu. Hehehe.. Ayo sit up yang bener! Tangan taruh diatas kepala. Kakinya ngangkang!", perintah Pak Ronald sudah tidak sungkan-sungkan lagi


Dengan nafas ngos-ngosan, Echa terus menggerakkan tubuhnya dengan gerakan sit-up yaitu gerakan berbaring terlentang dan menggerakkan tubuh bagian atas ke arah lutut. Ditambah kedua tangannya yang berada di kepala membuat posisi gadis berkerudung itu terlihat pasrah dan sexy. Ditambah payudaranya yang bergelantungan bebas menambah keindahan sempurna dari tubuh gadis cantik berkulit putih mulus itu


"Kakinya lebarin dong!", perintah Pak Ronald dan kali ini vagina Echa terlihat lagi membuat nafsu Pak Ronald semakin tak tertahankan.


Gadis cantik itu mulai berkeringat basah. Pakaian seragam olahraganya semakin terlihat basah kuyup dan samar-samar mulai menembus ke arah kulit tubuhnya. Apalagi selangkangannya, selangkangan Echa terlihat sangat basah seperti ngompol!


"Pak, saya punya penawaran menarik buat bapak", kata Endrix tiba-tiba


"Maksud kamu apa?", tanya Pak Ronald


"Bapak kasih kami nilai bagus saat ujian. Sebagai gantinya bapak bebas lakukan apapun ke Echa. Heheheh...", tawar endrix membuat Echa terbelalak matanya.


*Eeehhhh?*, pekik Echa dalam hati


Tidak disangkanya bajingan satu ini malah menawarkan dirinya ke gurunya sendiri demi mendapatkan nilai bagus di sekolah. Echa tidak berani menolaknya. Ia hanya terdiam membisu menunggu jawaban Pak Ronald. Ia berharap guru olahraganya menolak tawaran gila itu. Walau presentasinya sangat kecil karena Pak Ronald memang disadarinya suka curi-curi pandang ke arah dirinya selama ini.


"Hmmm... Tapi kalian bisa jaga rahasia gak? Awas kalau nama baik saya jadi jelek", kata Pak Ronald


"Aman Pak.. Asal bapak bisa diajak kerjasama.. Hehehe...", ujar Endrix


"Ok deal!", kata Pak Ronald mesum


Setelah puas menghukum Echa dan membuat tubuh gadis cantik itu basah kuyup terkena keringatnya sendiri, Pak Ronald menyudahi jam pelajaran olahraga lebih awal dari biasanya.


"Saya akhiri jam pelajaran olahraganya, karena saya ada urusan mendadak yang wajib saya selesaikan sekarang juga", kata Pak Ronald sambil membubarkan barisan


Lalu Pak Ronald mengajak Echa ke gudang olahraga. Tempat biasanya mereka menyimpan barang-barang yang biasa dipakai untuk menunjang kegiatan olahraga. Gudang olahraga letaknya lumayan jauh dari gedung utama sekolah. Sambil memastikan situasi aman, Pak Ronald kemudian menutup pintu gudang olahraga dan menguncinya rapat-rapat.


"Ckckck... Echa Echa.. Heheheh...", ujar Pak Ronald sambil memegang dagu Echa yang daritadi tertunduk malu


"Ngga saya sangka ternyata kamu mesum ya.. Pantas saja tadi pagi bajumu sexy sekali. Ternyata kamu lonte ya di sekolah ini?", imbuh Pak Ronald


"Kamu sering ngentot sama anak-anak nakal itu ya?", selidik Pak Ronald dan Echa hanya terdiam.


"Jawab dong kalau ditanya...", kata Pak Ronald terlihat kesal


"I.. Iya Pak..", jawab Echa


"Heheheh.. Parah sekali kamu Cha.. Padahal kamu kerudungan tapi mesum juga ya kamu...", kata Pak Ronald sambil menyeringai menyebalkan


"Sekarang lepas semua bajumu", ujar Pak Ronald dan Echa tanpa diminta dua kali langsung menuruti permintaan guru olahraganya


Singkat cerita, Echa sudah telanjang bulat dihadapan guru olahraganya. Menyisakan kerudung, kaos kaki, dan sepatunya saja


"Sexy bener kamu Cha.. Hehehe... Duh kalau gini saya jadi bisa ngelupain Miss Riesta sebentar..", kata Pak Ronald sambil menyebut nama guru bahasa inggris dan juga guru tercantik di sekolah itu


Tangan Pak Ronald itu mulai bergerilya meremas payudara Echa. Puting susu Echa ditariknya kuat-kuat hingga melar. Sepertinya lelaki yang usianya sekitar 40 tahunan itu sudah tidak sabar menikmati tubuh Echa yang daritadi sudah menggoda syahwatnya.


"Walau kamu berkeringat, tapi badanmu wangi sayang...", kata Pak Ronald sambil menciumi beberapa bagian tubuh Echa secara acak


"Aaaahhh.. Pak...", lenguh Echa kegelian karena tubuhnya kini dijilati oleh Pak Ronald si guru olah raga


"Kamu jangan diam aja dong... Ayo saya mau lihat kebinalanmu sayang.. Kalau kamu gak binal saya kasih nilai kamu jelek. Anggap ini ujian praktek buatmu", ancam Pak Ronald


"Eeehhh.. Ba.. baik pak...", ujar Echa dan dengan lancang Echa mulai jongkok dan mengeluarkan kontol gurunya yang hitam


"Saya sepong kontol bapak...", kata Echa dan menunggu jawaban ia langsung memasukkan kelamin gurunya ke mulutnya sendiri


"Ohhh.. pinter... ssshhhh... Sepong yang bener nanti nilai sepong kamu saya kasih 8..", kata Pak Ronald sambil menjambak kerudung Echa dan ia sodokkan kontolnya kuat-kuat ke mulut siswinya yang cantik itu


"Hmmphhh.. mpphhh.... Sssshhh", suara Echa terdengar karena mulutnya penuh dengan kontol Pak Ronald yang tebal


"Kontol bapak besar banget...", ujar Echa manja dan ia teteskan liurnya ke kepala kontol Pak Ronald sebelum ia jilat batang kemaluan tebal itu


"Hehehe.. Sebenarnya ini buat Misss Riesta tapi gak papa kamu dulu yang ngerasain Cha. Hehehehe...", kata Pak Ronald membiarkan siswi berjilbabnya itu menikmati batang kontolnya


"Masukin Ya Pak... saya udah gak sabar...", kata Echa nakal demi mendapat nilai bagus


"Nungging kalau gitu", ujar Pak Ronald dan siswi cantik berjilbab itu sudah menungginhg sexy sambil berpegangan pada gawang yang ada di gudang


"Ooohhhh.. Besar banget pak... Memek Echa muat gak ya... Aaaahh...", kata Echa menggoda guru olahraganya sambil pasrah kemaluannya ditusuk dari belakang oleh kontol gurunya sendiri


"Cukup sayang... Memekmu pasti cukup saya entot.. Heheheh..", kata Pak Ronald semakin mendorong masuk batang kontolnya ke vagina muridnya yang sudah becek berlendir itu


"Ouuhhh.. enak pak.. Terus.. mentokin pak... Echa sukaaa...", ujar Echa semakin melebarkan kakinya


"Saya kencengin ya Cha...", kata Pak Ronald saat dirasakannya kontolnya sudah tertancap penuh di liang senggama Echa


*Jleb jleb jleb jleb jleb* Pak Ronald dengan kecepatan penuh mulai menggenjot kemaluan muridnya itu tanpa ampun


"Iyaaahh.. Aaaahhh.. Aaaahhh.. Aaaahhhh.. Aaaaahhh . Aaaahhh", desah Echa sambil berpegangan erat pada gawang


"Busyett.. Enak bener memek kamu Chaaa... saya kasih nilai 9 karena memek kamu ternyata enak gini. Hehehehe", bujuk Pak Ronald


"Iyaaaahhh.. Terus pak.. Terussss... Pake Echa sepuas bapak...", kata Echa


Lalu Pak Ronald membentangkan matras dan kali ini ia setubuhi Echa disana. Kedua manusia berbeda unir itu mulai berzina memacu nafsu saling memuaskan satu sama lain. Echa mengakui kontol Pak Ronald ternyata enak sekali. Mengingat pria itu pandai menjaga tubuh dan staminanya


"Saya keluarrr pak... *srettt srettt sretttt*", Kata Echa dan serta merta Pak Ronald menghentikan tusukannya, membiarkan vagina Echa terkencing-kencing sejenak


*Sluruupppp* tiba-tiba Pak Ronald menjilati memek Echa yang barusan muncrat


"Aaaaahhh.. Pakkk.. Geliiii Ampuuunn.. Aaaaaaahhh...", rengek Echa dan kali ini vaginanya kembali muncrat kedua kalinya


*Sreettt sreett sreettt*


Tubuh Echa terbaring lemas, belum apa-apa ia sudah dibuat lemas oleh si guru olahraga. Tubuh atletis Pak Ronald ternyata mampu meningkatkan libidonya. Echa benar-benar menikmati disetubuhi oleh guru olahraganya itu. Pak Ronald memandangi Echa yang terbaring lemas. Ia lalu mencumbu bibir muridnya penuh nafsu Lidah mereka saling bertemu dan beradu bertukar ludah. Nafas Echa juga terdengar semakin berat saat dicumbu oleh gurunya sendiri.


"Saya genjot lagi ya Cha...", kata Pak Ronald dan tanpa menunggu jawaban Echa, Pak Ronald kembali menghujami memek basah gadis itu dengan batang kontolnya.


"Oouuuuhh.. Ouuhhh.. Aaaahhh.. Aaaahhh.. Enak.. Pak.. Terusss.. Aaaahh..", desah nakal Echa membuat Pak Ronald tidak kuasa membendung tekanan orgasmenya.


Mendengar desahan manja muridnya yang nakal itu. Pak Ronald semakin mempercepat tempo genjotannya ia hajar kuat-kuat memek Echa tanpa ampun. Echa sampai mendongakkan kepalanya saking kuatnya tumbukan kemaluan mereka.


"Saya keluarrr Chaaaa.. Aaarrgghhh..", lenguh Pak Ronald tiba-tiba sambil bergetar hebat


Pak Ronald buru-buru mencabut kontolnya dan ia tumpahkan spermanya ke bibir Echa. Ia tumpahkan lendir berwarna putih kental itu tanpa ragu ke bibir murid didiknya yang berkerudung itu. Tak lupa ia minta Echa membersihkan sisa spermanya dengan mulutnya sampai bersih. Dengan rakus Echa jilati sperma guru olahraganya yang kental dan banyak itu demi mendapatkan nilai yang bagus.


"Mantab sekali Cha ngentot sama kamu.. Kamu memang lonte ya?", ujar Pak Ronald sambil terbaring lemas disamping Echa


"I.. Iya Pak.. Hihihi.. Jangan lupa nilai saya ya pak...", kata Echa mengingatkan sambil mengocok kontol gurunya yang masih keras walau sudah keluar


"Hehehe.. Tergantung kamu.. Kalau kamu inisiatif ya saya kasih kamu nilai bagus", goda Pak Ronald


"Inisiatif kayak gini?", kata Echa sambil menduduki tubuh Pak Ronald dan ia tancapkan sendiri kontol guru olahraganya ke vaginanya sendiri


"Pinterrrr.. Aaaahh..", lenguh Pak Ronald sambil kali ini melihat keindahan tubuh telanjang Echa bergerak sexy mengaduk kontolnya dengan jepitan memeknya yang basah


Singkat cerita mereka berdua kembali bersetubuh hingga pergantian jam pelajaran.


#


Jam pelajaran kedua adalah bahasa inggris..


Echa berlari terburu-buru menuju kelasnya. Seragam olahraganya sudah basah kuyup penuh keringat karena suhu panas yang ia rasakan saat bercinta di gudang olahraga bersama Pak Ronald si guru olahraga. Puting susunya juga terlihat nyemplak, tetapi Echa tidak menyadari hal itu. Ia hanya terus berlari karena kawatir ia datang terlambat lagi saat memasuki jam pelajaran kedua


Apa yang ia takutkan benar terjadi, Miss Riesta, guru tercantik di sekolahnya ternyata sudah ada di dalam kelas. Seperti biasa tubuh guru cantik itu begitu harum hingga tercium hingga ke sudut-sudut kelas. Wajahnya terlihat terkejut melihat keadaan Echa yang terlihat tak karuan. Jilbabnya berantakan dan seragam olahraganya juga terlihat lusuh penuh keringat


"Kamu darimana Echa?", tanya Miss Riesta menyadari muridnya yang biasanya bintang sekolah itu kini datang terlambat


"A.. Anu Miss.. Maaf saya tadi dihukum Pak Ronald disuruh beresin gudang olahraga", kata Echa beralasan


"Pak Ronald? Ohhh... Yasudah saya kasih waktu kamu buat ganti baju dulu ya", kata Miss Riesta sambil tersenyum cantik


Echa pun kembali keluar dan berjalan terburu-buru menuju ruang ganti untuk mengganti seragam sekolahnya.


Pelajaran pun kembali di mulai. Seperti biasa Miss Riesta mengajar dengan anggun. Para berandalan di bangku belakang bahkan sampai membayangkan yang tidak-tidak melihat guru cantik yang usianya 28 tahun itu.


"Liat bro.. Miss Riesta teteknya boleh juga ya? Biasanya dia tutup pake kerudung panjangnya. Sekarang dia singkap kebelakang. Bulet cok teteknya", ujar salah seorang berandal sekolah kepada Endrix


Endrix memandang dalam-dalam ke arah payudara gurunya yang berjilbab itu. Memang biasanya Miss Riesta berbusana lumayan syari. Dengan kerudung pashmina yang menutuo dada dan juga rok panjangnya, ia terlihat begitu anggun di mata para siswa dan guru-guru sekolah lainnya Namun kali ini sedikit berbeda, Miss Riesta menyingkap kerudungnya ke belakang sehingga tonjolan payudaranya nampak menggoda. Berandalan mesum itu seketika birahi memandangi guru cantiknya. Terbayang sudah keindahan payudara Miss Riesta yang selalu tersembunyi dibalik kerudungnya.


Bukan hanya itu saja, kali ini Miss Riesta tanpa sengaja menjatuhkan spidol. Guru cantik itu kemudian menungging dan pantatnya kali ini menghadap ke arah para siswa yang sedang memandanginya. Endrix sampai menelan ludah dalam-dalam memandangi tubuh wanita yang sudah matang secara usia itu. Bongkahan bokong Miss Riesta saat menungging terlihat sexy di balik rok panjang plisketnya.


"Miss Riesta gue ada pertanyaan!", ujar Endrix tiba-tiba sambil mengacungkan tangan


"Iya, mau tanya apa Endrix?", tanya Riesta senang karena biasanya muridnya yang berandalan itu cuek dan terlihat malas-malasan mengikuti pelajarannya


"Miss Riesta ukurannya berapa?", tanya Endrix sambil tersenyum mesum membuat Riesta keheranan


"Eh maksud kamu ukuran apa?", tanya Miss Riesta kebingungan


"What size are your tits? Pink or brown, Miss?", tanya Endrix membuat Miss Riesta memerah wajahnya


"Hahaha.. parah lo nanya vulgar ke Miss Riesta", ujar teman-teman berandal Endrix yang lain


"Penasaran cok", kata Endrix tidak peduli sama sekali wanita cantik didepannya itu adalah guru yang seharusnya ia hormati


"Tanya Pak Ronald lah. Denger-denger mereka dekat", timpal salah satu berandalan.


"gue tebak 40", tebak salah satu berandalan


"38", tebak Endrix


"36", ujar temannya yang lain


"Taruhan mau lo? Yang bener dapat hadiah?", tantang Endrix


"Sudah-sudah.. Endrix seriuslah! Saya laporkan ke kepala sekolah kalau kamu gitu lagi", kata Miss Riesta manyun


Endrix dan teman-temannya hanya cengengesan mendengar ancaman itu. Kepala sekolah bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi mereka. Miss Riesta memang tahu Endrix terkenal nakal di sekolahnya. Tapi sampai dengan detik ini, belum ada tindakan apapun dari pihak sekolah. Padahal banyak guru yang mengusulkan agar murid-murid nakal itu dikeluarkan saja dari sekolah.


Lalu Miss Riesta memberikan kesempatan untuk murid-muridnya untuk mencatat. Sedangkan dirinya duduk di kursi guru. Nampak gesture tubuhnya mulai gelisah, sesekali ia mengubah posisi duduknya dan melirik ke arah tonjolan dadanya seolah ia sedang memastikan sesuatu. Endrix yang daritadi melihat tingkah laku gurunya hanya mesem-mesem saja. Sepertinya Endrix menyadari sesuatu.


Tak lama kemudian, Echa pun kembali ke dalam kelas menggunakan seragam ketatnya. Miss Riesta yang menyadari bagaimana siswinya yang berkerudung itu berpakaian, hanya terperangah memandanginya. Dalam hatinya timbul banyak pertanyaan yang menghinggapi. Echa yang dia kenal adalah sosok berprestasi di sekolah dan tidak pernah berurusan dengan pelanggaran sekolah. Lantas, mengapa ia kini berani berpakaian seperti itu?


"Echa, bisa ikut saya sebentar ke ruangan?", kata Miss Riesta tidak lama setelah melihat penampilan muridnya itu


"I.. Iya Bu...", jawab Echa lemas dan kedua perempuan cantik itu pun keluar dari kelas.


Setibanya di ruang guru, suasana disana masih sepi karena memang masih jam pelajaran sehingga guru-guru yang lain tidak nampak disana. Miss Riesta sengaja memanggil Echa di jam-jam seperti ini agar ia bisa leluasa berbicara dari hati ke hati dengan muridnya itu.


"Gimana kabarmu Echa?", tanya Miss Riesta sambil tersenyum cantik sekali


"Ba.. Baik Bu..", ucap Echa ketakutan karena ia menyadari Miss Riesta sedang akan menginterogasinya


"Syukurlah... Kamu cantik sekali hari ini Cha", kata Miss Riesta


Echa yang mendengar "pujian" namun terdengar seperti "sindiran halus" dari gurunya itu, memberanikan diri menatap wajah gurunya yang cantik. Tatapan mata Miss Riesta yang sayu begitu meneduhkan hatinya. Miss Riesta seorang wanita sempurna idaman pria. Wajahnya cantik, berkerudung panjang, shalihah, dengan postur tubuhnya yang juga proporsional, tidak terlihat timbunan lemak berlebih pada tubuh moleknya.


"Kamu ada masalah sama anak-anak nakal itu?", tanya Miss Riesta to the point mengejutkan Echa


Echa terdiam tidak langsung menjawab. Ia sendiri bimbang apakah hubungannya dengan para berandalan itu adalah masalah baginya? Karena Echa akui, ia saat ini tidak keberatan dikerjai oleh Endrix dan teman-temannya. Ia bahkan malah menikmati diperlakukan hina oleh Endrix dan teman-temannya itu. Echa justru merasa tertantang dan merasa ingin menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh Endrix.


"Saya lihat akhir-akhir ini kamu sering sama Endrix. Kamu pacaran sama dia?", tanya Miss Riesta lagi membuat mata Echa terbelalak dan menggeleng cepat


"Ngga Bu...", jawab Echa begitu yakin


"Maaf mungkin saya sok tahu, tapi saya merasa kamu mulai berubah Cha..", ujar Miss Riesta sambil berhenti sejenak mengatur kalimat selanjutnya


"Bajumu terlalu berani untuk seorang siswi berkerudung Cha..", ucap Miss Riesta membuat Echa terkejut dengan kalimat terakhir dari gurunya itu


"Maafkan saya Bu.. Mungkin saya salah cara nyucinya mangkanya seragam saya jadi mengecil", kata Echa memberi alasan yang terdengar lucu bagi guru yang terlihat smart itu


"Hihihi.. Echa-echa.. Kamu itu lucu... Kalau boleh jujur saya iri sama keberanianmu", kata Miss Riesta kembali tersenyum memamerkan senyum indahnya


"Maksud Miss Riesta?", tanya Echa keheranan mendengar kalimat terakhir gurunya.


"To the point ya Cha.. Jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia kita berdua.. Saya sejujurnya perempuan yang suka eksib", ucap Miss Riesta lirih berbisik


Mata Echa terbelalak tidak percaya. Guru cantiknya yang berpakaian syari itu mana bisa dibilang eksib! Pakaiannya normal-normal saja seperti wanita shalihah kebanyakan. Tidak ada ciri seorang wanita eksibisionispun yang ada pada gurunya itu.


"Kamu tahu kan eksib itu apa? Saya rasa gadis pintar seperti kamu pasti tau istilah itu. Jadi tidak perlu saya jelaskan", imbuhnya


"...", Echa terdiam, ia sendiri bingung mau menjawab apa. Ia hanya takut Miss Riesta tau rahasia terbesarnya saat ini


"Saya sudah buka rahasia saya.. Sekarang saya harap kamu mau cerita Cha... Kamu ada apa sama Endrix?", tanya Miss Riesta lagi


"Saya beneran tidak ada hubungan apa-apa sama Endrix Miss..", jawab Echa bersikukuh


Echa masih merasa gurunya itu sedang mengada-ada. Mungkin Miss Riesta hanya mengarang cerita agar ia mau buka suara. Wajah baik-baiknya, penampilan shalihahnya, keanggunannya, semua sama sekali tidak mengisyaratkan Miss Riesta adalah wanita yang gemar eksibisionis.


Miss Riesta terdiam, mungkin bujukannya agar Echa mau bercerita belum berhasil. Terlihat jemari lentiknya memainkan pulpen seperti sedang menimang-nimang sesuatu.


"Mungkin kamu belum percaya sama saya Cha...", kata Miss Riesta


"Ma.. Maaf Miss.. Yang Miss Riesta bilang tadi beneran? Miss Riesta suka eksib?", kali ini Echa yang penasaran


Miss Riesta tersenyum simpul mendengar pertanyaan muridnya. Benar dugaannya, Echa pasti akan penasaran bagaimana ceritanya guru berjilbab seperti dirinya suka eksibisionis.


"Iya.. Kamu ngga percaya ya?", tanya Miss Riesta


"I.. Iya Miss... Miss Riesta cantik.. ngga mungkin jadi perempuan seperti itu", kata Echa pelan


"Memangnya perempuan cantik ngga boleh eksib Cha? Memangnya perempuan cantik ga boleh ada perasaan ingin dilihat? Kamu juga merasakan sensasi itu kan kalau pakai baju seketat itu?", kata Miss Riesta sambil mengedipkan satu matanya


"Eehhh.. Errr....", Echa kebingungan


"Ya kan?", tanya Miss Riesta lagi


"Errr... I.. Iya Miss...", jawab Echa malu-malu


"Santai aja Cha.. Saya juga sama kok... Tadi saya dikelas digodain Endrix sama teman-temannya.. Saya malah sange Cha...", ujar Miss Riesta jujur


"Eehhh.. Endrix Miss?", kata Echa terkejut


"Iya. Kenapa kamu kaget Cha? Hayo kamu ada apa-apa kan sama cowok nakal itu?", selidik Miss Riesta lagi


"Err... Ja-jangan deh Miss.. Endrix itu... berandalan sekolah...", kata Echa sambil tertunduk


"Iya saya tahu dia cowok berandal... Itu yang bikin saya malah sange. Saya suka kalau mereka memandangi saya, kadang saat saya masturbasi di sekolah malam-malam, saya membayangkan diperkosa oleh berandalan sekolah", kata Miss Riesta blak-blakan


"Hah??? Miss Riesta beneran bayangin seperti itu??", Echa terkejut mendengar pengakuan gurunya yang cantik berjilbab itu


"Iya.. Kenapa kamu sekaget itu Cha?", tanya Miss Riesta semakin penasaran


Echa seketika berpikir Miss Riesta hanya bercanda saja bilang seperti itu. Miss Riesta tidak tahu, betapa kejamnya Endrix memperlakukan dirinya sebagai budak sex. Apakah Miss Riesta sanggup? Apakah Miss Riesta mau direndahkan oleh murid-muridnya sendiri? Karena sebagai guru, Miss Riesta seharusnya dihormati, bukan direndahkan secara tidak manusiawi.


"Ini kalau kamu gak percaya", kata Miss Riesta sambil ia berikan handphonenya ke Echa


Echa melirik ke arah layar ponsel sentuh berwarna rose gold milik Miss Riesta. Mata Echa terbelalak, terlihat wallpaper handphone Miss Riesta yang begitu nakal. Nampak Miss Riesta sedang selfie telanjang bulat sambil menjulurkan lidah di salah satu kelas di sekolahan hanya menggunakan kerudung pashminanya. Sepertinya foto tersebut diambil ketika suasana sekolah sudah sepi. Miss Riesta terlihat begitu nakal, tidak seperti Miss Riesta yang selama ini Echa kenal.


"Kamu tahu.. ini foto saya sebelum masturbasi bayangin mereka di kelas. Saya berharap mereka memergoki saya dan perkosa saya malam itu...", kata Miss Riesta membuat Echa geleng-geleng kepala


"Ok, Saya sudah banyak bercerita tentang diri saya.. Sekarang gantian kamu dong Cha... Saya ingin dengar pengalaman kamu. Percaya sama saya, saya bisa jaga rahasia...", bujuk Miss Riesta


"Errrr... Miss...", terlihat Echa masih ragu untuk mulai bercerita


Echa sudah merasa terlalu kotor saat ini. Ia takut Miss Riesta akan menganggapnya gadis murahan karena sudah dipakai banyak lelaki. Tentu kegilaan Echa jauh lebih gila dibandingkan hanya sekedar eksib seperti yang dikatakan oleh Miss Riesta. Echa sudah terlalu jauh kenakalannya.


Singkat cerita, akhirnya Echa menceritakan semua yang sudah ia alami. Mulai dari memiliki pacar yang suka mamerin dirinya, bagaimana ia kehilangan keperawanannya, bagaimana ia berhubungan badan dengan banyak lelaki, hingga kini ia menjadi budak para berandalan sekolah. Miss Riesta terlihat melongo mendengar bagaimana Echa dipermalukan, dikencingi, ditelanjangi dan diminta melayani mereka sebagai budak. Echa ceritakan semuanya ke Miss Riesta. Guru cantik itu sampai berbinar matanya mendengar apa yang sudah di alami gadis mungil itu.


"Beneran Cha mereka seperti itu? Jahat banget ya Cha...", ujar Miss Riesta


"I.. Iya Miss... Jadi lebih baik Miss Riesta urungkan fantasy nya ke mereka. Jadikan itu sebagai fantasy saja Miss, jangan pernah berpikir untuk direalisasikan.. Biar saya saja yang diperlakukan seperti ini sama mereka...", kata Echa dengan suara yang terdengar bergetar


"Cha... Mendengar ceritamu.. Saya jadi penasaran bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu... Tapi saya masih terlalu takut untuk memulainya. Saya takut dicap guru yang gak bener... Apalagi kalau sampai bocor ke seantero sekolah", kata Miss Riesta


"Jangan ya Miss... Miss Riesta gak pantas dapat perlakukan seperti itu dari mereka", kata Echa


"...", kali ini Miss Riesta yang terdiam


Tatapannya menerawang jauh tanpa tujuan. Ia nampak melamun memikirkan konsekuensi hobby gilanya itu. Memang fantasy nya untuk dipergoki sampai digilir oleh para berandal saat eksib di sekolah adalah fantasy tergilanya. Tapi ia tidak menyangka mereka akan berbuat sejauh itu. Mereka bahkan sampai tega mengencingi temannya sendiri. Miss Riesta bayangkan bagaimana jika dirinya yang diperlakukan serendah itu. Dikencingi oleh para berandal sekolah adalah titik terendah bagi guru seperti dirinya.


"Err.. Maaf ya Miss.. Pengalaman saya mungkin sudah terlampau gila. Saya sudah benar-benar tidak punya harga diri Miss..", ucap Echa lirih


"Cha.. Luar biasa.. Pengalamanmu luar biasa Cha... Pengalaman seperti itu benar-benar tak ternilai harganya.. Sa.. Saya jadi pingin diperlakukan seperti itu", jawab Miss Riesta sambil gemetaran


"Eehh? Miss Riesta beneran?", tanya Echa yang kali ini keheranan


"Iya Cha.. Saya ingin dipergoki sama mereka...", kata Miss Riesta


"Errr.. Miss Riesta gak bercanda kan? Ketahuan waktu seperti itu benar-benar memalukan lho Miss...", kata Echa


"Saya pernah ketahuan kok Cha...", ucap Miss Riesta jujur


"Hah?? Sama siapa Miss? Bagaimana ceritanya?", tanya Echa antusias


"Pak Suryo.. Satpam sekolah.. Dia mergoki saya waktu jalan-jalan telanjang di sekolah malam-malam", kata Miss Riesta


"Te.. Terus gimana Miss?", tanya Echa


"Iya kurang lebih sama kayak kamu.. Saya akhirnya sering ngelayanin Pak Suryo diam-diam di sekolah ini...", kata Miss Riesta lagi


Echa terdiam kali ini, ia benar-benar tidak menyangka ada seseorang yang bernasib sama dengan dirinya di sekolah. Gurunya ternyata sama cabulnya dengan dirinya. Guru yang dianggap shalihah dan menjadi guru favorit di sekolah itu tak lebih rendah daripada dirinya.


"Miss Riesta menyesal setelah ketahuan Pak Suryo?", tanya Echa penasaran, sepertinya ia ingin mencari pembenaran atas semua yang sudah ia lakukan selama ini


"Menyesal? Awalnya memang saya menyesal.. Tapi lama-lama saya jadi ketagihan. memek saya gatal kalau ngga disodok kontol besar Pak Suryo. Hihiihi...", kata Miss Riesta begitu vulgar membuat Echa menelan ludah


Ia bayangkan guru tercantik di sekolah itu sedang berzina dengan satpam sekolahnya. Pastilah begitu panas dan kontras sekali persetubuhan mereka. Tubuh putih mulus Miss Riesta yang indah itu dihantam oleh tubuh hitam besar Pak Suryo, membayangkannya saja Echa sudah merinding.


"Cha, kok malah ngelamun? Pasti bayangin kontol Pak Suryo nih.. Kamu mau nyoba kontol Pak Suryo juga? Mau main bareng Cha?", goda Miss Riesta


"Eehhh?? Saya...", Echa jadi salah tingkah membayangkan ia dan guru tercantik di sekolahnya sedang melayani Pak Suryo si satpam sekolah


"Jangan gugup gitu dong Cha... Kamu dan saya itu sama aja.. Sama-sama malu-malu mau... Kalau kamu mau, besok malam datanglah ke sekolah.. Biar saya ada temennya juga. Soalnya sekolah serem kalau malam-malam. Hihihi...", ajak Miss Riesta


"Errr... Saya pertimbangin dulu ya Miss...", jawab Echa


"Iya.. Nanti gantian ya.. Kamu ajak-ajak saya pas sama Endrix dan teman-temannya...", pinta Miss Riesta


"Eh?? Miss Riesta yakin???", tanya Echa terkejut mendengar ide itu


"Sudah saya pikirkan matang-matang. Saya mantab ingin coba Cha...", kata Miss Riesta sambil tersenyum


*Apaa?? Gilaa....*, pekik Echa dalam hati


#Bersambung


:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Chapter 23 : Budak Sekolah


Keesokan harinya,


Echa sudah tiba di sekolah pagi-pagi buta. Belajar dari kesalahan kemarin dimana ia harus menerima tatapan-tatapan tidak suka, terutama dari para siswi yang melihat gaya berpakaiannya yang terlalu berani untuk seorang siswi berjilbab seperti dirinya. Siapa yang tidak sinis melihat siswi berjilbab tapi pakaiannya sangatlah ketat membentuk lekuk tubuh seolah sengaja mengundang perhatian para kaum adam. Hanya pria mesum saja yang menikmati penampilan seperti itu.


Seperti Pak Suryo, satpam sekolah yang terus memandang cabul ke arah siswi cantik itu saat berjalan memasuki sekolah. Tatapan begitu buas, seperti hendak menerkam Echa dan ingin menghamili gadis itu sesegera mungkin. Ia yakin sekali Echa sengaja berpakaian seperti itu agar menggoda pria seperti dirinya. Mata Echa kemudian tanpa sengaja menangkap tatapanan nakal Pak Suryo yang sedang merokok sambil duduk-duduk di pos security. Satpam itu secara terang-terangan memandangi mesum ke arah gadis berkerudung itu


"Pagi bener Non" Sengaja ya?", sapa Pak Suryo sambil tersenyum cabul melihat kedatangan Echa yang nampak sexy dengan seragam ketatnya


"Ehh.. Sengaja apa pak?", tanya Echa grogi


"Sengaja biar bisa ketemu saya. Heheheh", goda si satpam cabul


"Eh? Enggak kok Pak.. Saya bangunnya.. kepagian"", jawab Echa mencari alasan


"Ohh.. Sama dong kayak saya. Punya saya juga suka bangun kalau pagi-pagi"", kata Pak Suryo sambil tersenyum nakal memandangi payudara Echa yang nampak lezat dibalik seragam ketatnya


Pak Suryo merasa leluasa menggoda Echa, mengingat disekolah masih sepi belum ada siapa-siapa. Jadi ia berani saja menggoda Echa dengan perkataan mesum dan menjurus. Ia yakin sekali Echa tidak keberatan digoda. Karena cara berpakaiannya yang seolah berharap justru ingin dilecehkan. Dan Echa benar-benar menyadari hal itu. Ia tahu betul satpam sekolah itu sengaja menggodanya dengan kata-kata cabul.


Apalagi ia mengingat cerita Miss Riesta kemarin. Pak Suryo lah yang sudah membuat Miss Riesta sampai rela berzina menggadaikan imannya. Kontol seperti apa yang sudah membuat guru cantik nan shalihah seperti Riesta sampai bertekuk lutut dengan pria tersebut. Membayangkannya saja, Echa sudah penasaran dan gadis itu memberanikan diri menggoda balik Pak Suryo. Ya, Echa tidak mau kalah dengan gurunya yang "sok alim" itu.


"Bangunnya tegak apa bengkok nih pak?", goda Echa sambil tersenyum nakal


"Tegak dong" Heheheh" ", jawab Pak Suryo


"Waduhhhh" Takut ah"", jawab Echa


"Jinak kok Mbak. Ngapain takut? Hehehehe", jawab Pak Suryo semakin berani karena merasa mendapat angin hijau


*Duh pasti kontol Pak Suryo besar dan hitam banget tuh"*, gumam Echa dalam hati dan tanpa sadar ia malah membayangkan bagaimana perwujudan kontol Pak Suryo yang masih tersembunyi di balik celana satpamnya yang ketat.


"Kok malah ngelamun Mbak? Bayangin yang tegak-tegak ya?", goda Pak Suryo lagi


Sebenarnya Echa bisa saja menjawab pertanyaan itu. Iya, diakuinya ia memang penasaran dengan kontol Pak Suryo. Satpam berbadan gempal yang masih tegap badannya walau usianya sudah tidak lagi muda. Tapi Echa takut Pak Suryo malah nekat memperkosanya. Mengingat dengan Miss Riesta yang notabene seorang guru saja ia berani, apalagi dengan dirinya yang hanya seorang siswi biasa. Echa terlalu malas jika harus melayani laki-laki mesum disekolahnya. Ia juga takut Endrix akan marah jika ia menggoda Pak Suryo tanpa seijinnya.


Tiba-tiba Echa mengingat undangan Miss Riesta untuk turut serta melayani Pak Suryo nanti malam. Undangan yang terdengar begitu gila. Seorang guru malah mengajaknya berbuat mesum dengan satpam sekolahnya malam ini. Padahal sepengetahuannya, Berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahrom saja Miss Riesta tidak mau. Miss Riesta malah mengajaknya berbuat gila bersama Pak Suryo. Menikmati kontol Pak Suryo bersama-sama nanti malam.


Echa sama sekali tidak menyangka wanita sealim Miss Riesta bisa berbuat gila seperti dirinya. Guru cantik itu siapa yang akan menyangka, ternyata suka eksib telanjang di sekolah malam-malam hari. Entah apa yang membuat Miss Riesta memiliki hobby gila seperti itu. Memang eksibnya dengan Miss Riesta sedikit berbeda. Jika Echa melakukan eksib karena awalnya terpaksa. Miss Riesta malah mengakui dirinya justru suka diam-diam memamerkan tubuhnya dan berharap orang-orang memperhatikannya.


Echa paham betul bagaimana kepuasan dan perasaan deg-degan yang Miss Riesta rasakan saat melakukan tindakan eksibisionisnya. Perasaan menantang dan berdebar-debar saat membiarkan pria-pria memandang ke aurat yang selalu kita tutup, adalah perasaan nikmat yang tidak terbantahkan. Rasa penuh kebanggaan menjalar begitu cepat saat pria mengagumi keindahan area privat kita.


Orang normal mungkin akan menganggap para pelaku eksib adalah orang gila, mesum, dan tidak beretika. Tetapi bagi pelaku eksibisionis seperti Echa dan Miss Riesta, eksibisionis adalah sebuah kebutuhan dan tuntutan. Jika tidak melakukannya, sepertinya ada yang kurang dan hidup kurang menantang


"Gimana Mbak?", tanya Pak Suryo memecah pikiran-pikiran di kepala Echa


Echa merasa jantungnya berdebar cepat, tatapan Pak Suryo terus tertuju ke arah dirinya. Memang pakaian seragamnya yang terlalu ketat sangatlah menggoda dan membuat Pak Suryo tak bosan-bosan memandangi gundukan payudaranya. Walau Echa malu, tapi di sisi lain Echa ingin berbuat lebih dengan menggoda Pak Suryo lebih berani. Ia ingin mencoba menikmati eksibisionis tanpa paksaan dan dengan inisiatifnya sendiri layaknya Miss Riesta.


"Eh apa pak?", tanya Echa karena dia tadi tidak mendengar ucapan Pak Suryo


"Mbak berani sekali pakai baju kayak gitu disekolah" Sengaja ya?", kata Pak Suryo sambil terang-terangan memandangi payudara Echa yang menantang dengan kerudungnya yang sengaja disingkap kebelakang


"Kayak gimana memang Pak?", tanya Echa lagi sambil menarik seragamnya hingga semakin mencetak lekuk tubuhnya


"Itu.. Teteknya mau tumpah. Tangan saya jadi pingin nampung Hahaha", kata Pak Suryo cabul


"Ihhh.. Pak Suryo bisa aja"", kata Echa


"Besar ya Mbak teteknya? Cewek jaman sekarang mantab-mantab bodynya", puji Pak Suryo lagi


"Ah Pak Suryo ini sok tau" Sama Miss Riesta besar siapa Pak?", tanya Echa menggoda Pak Suryo sekaligus membuat satpam itu terkejut mendengar pertanyaan siswi cantik itu yang tiba-tiba menyebut Miss Riesta


"Eehhh? Miss Riesta? Waduh" Besar siapa ya?", kata Pak Suryo gelagapan mendengar pertanyaan Echa


"Mau saya buka dulu nih biar Pak Suryo bisa nilai?", goda Echa sambil melepas satu kancingnya yang paling atas sehingga bagian dadanya kini mulai sedikit terbuka


"Wow"", kata Pak Suryo melongo menyadari keberanian Echa


Pak Suryo menelan ludah memandangi kenekatan Echa yang sengaja menggodanya. Memamerkan sedikit bagian dadanya dari 1 kancing seragam yang terbuka.


"Lagi dong Mbak.. Belum keliatan"", tantang Pak Suryo


Echa lalu mulai membuka kancing keduanya. Belahan dadanya mulai nampak kali ini. Pak Suryo semakin menelan ludah melihat keberanian gadis berkerudung yang kelakuannya kayak lonte itu. Ia sampai tidak berkedip memandang kulit putih mulus Echa yang sedikit mengintip.


"Pulen banget Mbak teteknya" Buka semua dong mbak"", pinta Pak Suryo


"Yeee.. Nanti kontol bapak tegak saya yang repot"", goda Echa benar-benar seperti wanita nakal, padahal dirinya siswi berkerudung


"Ini sudah tegak Mbak.. Hahahah.. Ayo Mbak, saya mau ngocok nih", kata Pak Suryo tiba-tiba membuka celana dan mengeluarkan batang kontolnya dihadapan Echa.


Kontol hitam Pak Suryo sudah ngaceng berat. Jembutnya sangat lebat dengan kepalanya yang berwarna pucat. Echa tertegun memandang kontol Pak Suryo. Kontol pria dewasa memang berbeda bentuk dan perwujudannya. Walau keriput, tapi tetap bisa berdiri tegak dan masih berotot


"Eeehhh.. Besar juga..", puji Echa sambil memandangi kontol Pak Suryo


"Gara-gara Mbak sih.. Mbaknya mau pegang kontol saya?", tanya Pak Suryo


"Hehehehe" Gak ah" Nanti dimarahi Miss Riesta saya", kata Echa


"Hah? Apa hubungannya sama Miss Riesta?", tanya Pak Suryo pura-pura oon


"Kan beliau kan guru saya. Nanti dia marah kalau saya sembarangan megang kontol bapak. Hihihi", jawab Echa ngasal


"Owalah kirain kenapa" Gak papa kan dia gak tahu. Kalau tahu nanti saya ajak juga. Hehehe", jawab Pak Suryo semakin berani


"Emang bapak berani nggodain Miss Riesta? Dia kan alim sekali", tanya Echa iseng


"Alim? Hehehehe" Udah gak usah bawel mbak. Mau kocokin kontol saya gak?", tanya Pak Suryo tidak sabar sambil menyodorkan batang kontolnya


"Nggak mau ah, saya permisi ke kelas dulu Pak"", kata Echa sengaja membuat Pak Suryo merasa "kentang" yang teramat sangat


"Yah mbak" Nanggung amat", kata Pak Suryo dengan nada kecewa karena Echa tiba-tiba buru-buru berjalan meninggalkannya.


Echa sengaja memutuskan menyudahi menggoda Pak Suryo si satpam cabul. Selain karena hari yang semakin mendekati jam masuk sekolah, Echa juga tidak enak sama Miss Riesta. Ia takut Pak Suryo cerita macem-macem ke Miss Riesta dan Miss Riesta jadi salah sangka nantinya. Echa terus berjalan meninggalkan pos satpam tempat Pak Suryo duduk-duduk sambil merokok.


"Mbak tali sepatunya lepas tuh", kata Pak Suryo saat melihat gadis itu terus berjalan menjauh membelakangi dirinya


Echa yang mendengar teriakan Pak Suryo buru-buru melihat ke arah sepatunya. Memang benar tali sepatu lepas. Ia lalu buru-buru menunduk sambil mencoba menali sepatunya membelakangi Pak Suryo


Sengaja Echa menungging membelakangi Pak Suryo. Ia juga berlama-lama tetap berada dalam posisi seperti itu agar Pak Suryo puas menatap lekuk bokong yang terbungkus rok ketatnya. Sayangnya, Echa tidak bisa melihat apa yang dilakukan Pak Suryo.


Setelah selesai merapikan tali sepatunya, Echa kembali berjalan. Dalam hatinya, Echa semakin birahi karena membayangkan tatapan nakal Pak Suryo tadi kepadanya. Ia juga penasaran bagaimana jika ia menyepong kontol si satpam sekolah mesum itu. Kapan lagi ia bisa menikmati kontol kekar milik Pak Suryo. Ia lalu melihat jam di layar ponselnya. Masih jam 6 kurang, masih sangat pagi hari ini.


"Yah kok udahan.. Nungging lagi Mbak"", goda Pak Suryo dari kejauhan


Rupanya pria mesum itu masih suka menggoda Echa. Echa pun demikian, ia juga penasaran dan ingin sekali menggoda lelaki. Apalagi birahinya tiba-tiba naik seperti saat ini. Terlalu banyak hal nakal yang sudah dilakukan gadis itu, sehingga birahinya bisa naik kapan saja. Apalagi jika memang ada kesempatan, pasti Echa berharap bisa melampiaskan syahwatnya yang tinggi itu.


"Duh aku sange nih" Godain lagi ah", ujar Echa dalam hati


Echa memandang keadaan sekelilingnya sambil memastikan semuanya aman. Ia lalu berjalan kembali ke pos satpam. Pak Suryo pun terkejut melihat Echa putar badan dan sedikit berlari kecil ke arahnya


"Saya mau kontol bapak"", pinta Echa membuang rasa malunya


"Yeee.. katanya tadi gak mau?", ledek Pak Suryo sambil tersenyum menyebalkan


"Mau aku sepong gak pak?", tawar Echa lagi


"Tadi gak mau?", kini Pak Suryo menggoda Echa


"Ih.. Boleh gak pak?", tanya Echa kesal


"Boleh tapi Ada syaratnya. Hahahah", kata Pak Suryo penuh kemenangan


"Duh pake syarat segala.. Apa pak?", kata Echa kesal sambil melihat ke arah jam tangannya karena hari semakin siang


"Saya liat pentil kamu dulu baru kamu boleh sepong saya", kata Pak Suryo mesum


"Yakin liat aja pak?", goda Echa nakal sambil mempreteli kancing bajunya sendiri tanpa ragu dihadapan Pak Suryo


*Gila ini cewek, lonte sialan bikin gue sange aja".*, batin Pak Suryo melihat betapa murahannya siswi jilbaban dihadapannya saat ini


Dengan membuang rasa malunya, semua kancing seragam Echa sudah dilepas. Ia lalu menurunkan cup branya dan menunjukkan payudaranya sendiri dihadapan Pak Suryo. Echa lalu tersenyum manis sekali sambil meremasi payudaranya sendiri di depan satpam cabul itu. Terlihat satpam paruh baya itu menelan ludah melihat payudara Echa yang masih belia. Apalagi putting susu Echa yang mungil terlihat kenyal dan nikmat jika dipencet. Tangan Pak Suryo kemudian tanpa permisi langsung menyentuh putting susu Echa. Dipilinnya dan dicubitnya kecil membuat Echa meringis sambil menggigit bibir bawahnya.


"Aaaahhh" Ssshh.. Katanya liat aja pak??", tanya Echa membiarkan satpam sekolahnya mulai memainkan putting susunya


"Bacot.. Mubadzir Mbak" Hehehe" Putingmu bagus sekali", kata Pak Suryo semakin kuat memencet pentil susu Echa


"Aaahhh sakit pak"", lenguh Echa kesakitan karena putting susunya dipencet dengan kuat oleh Pak Suryo


"Busyet.. Mantab bener Mbak.. Langsung ngaceng nih pentilmu Mbak"", kata Pak Suryo sambil terus memencet kedua putting susu Echa


"Oooohhh.. Sssssshhh"", Echa mulai birahi dan mememejamkan matanya.


"Saya nyusu dulu ya mbak"", kata Pak Suryo dan langsung mencucup pentil susu Echa yang sudah mulai mengeras


"Aaahhhh Pak". Jangan digigit", Desah Echa pelan membiarkan payudaranya disedot satpam sekolahnya kuat-kuat


Echa memegangi kepala Pak Suryo. Sambil memastikan situasi disana masih aman. Ia hanya kawatir seseorang tiba-tiba datang dan memergoki perbuatan mereka. Tapi keliatannya Pak Suryo juga tidak peduli. Ia lebih fokus melumat dan mengecup habis putting susu Echa bergantian, membuat gadis cantik itu berkali-kali menggeliat kegelian


"Sambil kocokin kontol saya dong mbak"", pinta Pak Suryo sambil ia arahkan tangan Echa untuk mengocok kontolnya


"Keras banget kontol bapak", kata Echa sambil mulai mengocok kontol si satpam, sementara si satpam mesum itu masih bermain-main di pucuk payudaranya.


"Gara-gara liat cewek nakal kayak kamu mbak.. Ternyata di sekolah ini ada lonte.. Gak guru gak murid sama aja. Kena kontol jadi lonte semua", kata Pak Suryo sambil terus menjilati putting susu Echa


"Aaaaahhh" Sedot terus pak.. Enak"", rengek Echa sambil menggeliat keenakan


Bibir kasar Pak Suryo benar-benar memberikan sensasi yang berbeda. Apalagi Pak Suryo juga memiliki kumis tipis sehingga memberikan sedikit rasa geli tertusuk yang menyerang area payudara gadis cantik itu.


"Sepong kontol saya dong mbak"", kata Pak Suryo dan tanpa diminta dua kali Echa langsung turun ke bawah, jongkok diantara selangkangan Pak Suryo yang hitam


Gadis cantik itu langsung memasukkan batang kontol Pak Suryo ke dalam mulutnya. Dilahapnya dengan rakus penuh nafsu. Batang keras itu langsung dijilat dan dikokop kuat-kuat oleh Echa. Kepalanya sibuk bergerak ke kiri dan ke kanan, memastikan tiap bagian kontol Pak Suryo sudah terkena jilatan lidahnya.


"Yesss" Aaahhhh.. Pinter bener kamu sepongnya.. Hahahah.. Sudah pengalaman ya?", kata Pak Suryo sambil membelai kerudung Echa sekaligus menurunkan seragam sekolah gadis itu agar terlepas dari tubuhnya


Echa sudah setengah telanjang di pos satpam itu. Gadis cantik itu jongkok dibawah sehingga tidak terlihat dari jalanan depan sekolah. Terlihat sekali payudara Echa yang sudah bergelantung bebas tanpa bra karena Pak Suryo juga sudah melepas pengait bra Echa.


"Aaaahhh.. Mulus bener badan kamu Mbak"", kata Pak Suryo sambil tangannya dengan leluasa meraba punggung putih mulus Echa


Pak Suryo sampai merem melek keenakan kontolnya dijilati oleh Echa yang sudah birahi. Echa semakin bernafsu dan ia masukkan seluruh batang kontol Pak Suryo ke dalam mulutnya hingga tidak ada bagian yang tidak masuk ke dalam rongga mulutnya. Lalu kini Pak Suryo mulai memegangi kepala Echa. Lelaki itu ingin merasakan sepongan maksimal dari siswi berjilbab mesum itu.


Sambil memegangi kepala Echa, ia kemudian menyodokkan batang kontolnya maju mudur kuat-kuat seolah sedang menghajar tenggorokan Echa. Ia hajar mulut gadis cantik itu dengan batang kontolnya sampai mulut Echa belepotan air liur saking kuatnya sodokan kontol Pak Suryo di rongga mulutnya. Mulut Echa benar-benar terasa penuh sesak dijejali kontol besar si satpam sekolah. Echa sampai beberapa kali hampir tersedak dan kesulitan bernafas saking kerasnya batang tumpul itu menghajar mulutnya.


"Hookkhhhh" hokkkhhh" Hoogggghhhhhh"", liur Echa sampai jatuh menetes disela-sela bibirnya yang masih dijejali kontol Pak Suryo


*Breeemmmmm* suara motor tiba-tiba melintasi pos satpam tempat Echa dan Pak Suryo mesu


"Anjir udah datang", ujar Pak Suryi buru-buru berdiri dan mengabaikan Echa


Miss Riesta ternyata yang barusan datang dengan motor matic berwarna pinknya. Guru cantik itu tidak tahu keberadaan Echa di pos satpam karena memang Echa jongkok dibawah sana. Perhatian Pak Suryo seketika teralihkan melihat kedatangan guru cantik itu. Aroma parfum Miss Riesta yang menyengat langsung tercium dihidungnya. Ia yang tadinya fokus dengan sepongan Echa, kini pandangannya beralih ke Miss Riesta yang sudah terlihat memarkirkan motornya di parkiran motor khusus staff dan guru.


"Sudah-sudah.. Ada miss Riesta datang tuh. Kamu ke kelas dulu deh. Besok lagi", kata Pak Suryo sambil mendorong kepala Echa agar berhenti menyepong kontolnya


"Nanggung Pak" ", ujar Echa tidak mau berhenti dan memaksa menyepong kontol Pak Suryo kayak gadis gila


"Anjirlah" Sialan" kamu ganggu aja. Dasar cewek murahan! Sudah kembali ke kelas sana!", usir Pak Suryo sambil mendorong tubuh Echa hingga tubuh gadis cantik itu jatuh terjerembab.


"Aduh"", kata Echa sambil meringis kesakitan karena kepalanya membentur meja satpam pelan


Pak Suryo lalu berjalan terburu-buru keluar dari pos. Sepertinya ia ingin menyusul Miss Riesta ke parkiran yang letaknya di sebuah lorong di samping gedung sekolah. Echa yang melihat Pak Suryo tiba-tiba pergi begitu saja, terlihat kesal karena dicuekin oleh satpam sekolah itu. Echa kemudian diam-diam membuntuti Pak Suryo, setelah ia merapikan dan memakai dengan benar pakaian seragamnya.


Echa lalu bersembunyi di ujung tembok, mengintip Pak Suryo dan Miss Riesta yang sudah berduaan di parkiran. Miss Riesta yang masih memakai helm nampak duduk diatas sepeda motor sedang melepas sarung tangannya.


Tangan Pak Suryo terlihat membelai punggung Miss Riesta sambil menunggu guru cantik itu melepas sarung tangannya. Senyum lelaki itu begitu mesum memandangi wajah cantik Miss Riesta setelah Miss Riesta melepas maskernya. Sepertinya Pak Suryo sudah tidak sabar karena saat Miss Riesta sudah selesai melepas sarung tangan dan maskernya, ia langsung memagut bibir guru cantik itu penuh nafsu. Mereka terlihat berciuman panas. Tangan hitam Pak Suryo juga sudah mendarat di pantat Miss Riesta dan ia remas nakal pantat guru muda itu. Kedua pasangan beda usia itu terus berciuman panas bergulat lidah dan bertukar liur diatas motor


"Ssshhh" Sabar Pak.. Nanti saja"", bujuk Miss Riesta disela-sela mereka berciuman namun Pak Suryo tidak menggubris dan terus-terusan nyosor


"Saya sudah tidak sabar sayang.. Wangi bener tubuh kamu Miss.. Hehehehe", kata Pak Suryo sambil tangannya hendak mempreteli pakaian yang dipakai Miss Riesta


"Jangan sekarang Pak..", kata Miss Riesta pasrah melihat kancing seragam kemejanya dipreteli oleh Pak Suryo


Seluruh kancing baju Miss Riesta sudah terlepas, Pak Suryo langsung meremas dan meraba payudara Miss Riesta sambil tak berhenti menciumi bibir guru cantik itu penuh nafsu


"Sssshhh" Pak.. Sudah" Saya malu..", kata Miss Riesta saat ciuman Pak Suryo kini menjalar ke dadanya


"Malu? Bukannya kamu suka eksib? Pamerin dong badan kamu ke murid-muridmu Miss" Hehehe"", goda Pak Suryo


Miss Riesta gelagapan, tidak menyangka Pak Suryo akan menyerangnya begitu intens pagi ini. Bibir satpam sekolah itu sudah menyasar ke hidung, pipi, dahi dan juga bibir lembutnya. Area dadanya juga terlihat basah dan kemerahan karena Pak Suryo tadi sempat menjilati dan menggigiti dadanya. Terlihat Miss Riesta tidak nyaman dan lebih banyak menghindari ciuman nakal Pak Suryo ke wajahnya.


"Sudah Pak! Nanti ada yang liat", kata Miss Riesta kesal dan ia sedikit mendorong tubuh kekar Pak Suryo, ia kemudian buru-buru merapikan kembali bajunya sambil memastikan suasana aman.


"Ya elah.. gitu aja marah kamu Bu.. Heheheh", kata Pak Suryo cengengesan


"Aduh bedak saya jadi berantakan nih pak..", protes Miss Riesta sambil menghindar dan sedikit mendorong tubuh besar Pak Suryo


"Gapapa, kamu masih cantik kok Miss.. Hehehehe" Ya udah, mau lanjut gak nih?", goda Pak Suryo sambil menggoyang-goyangkan kontolnya menggoda guru cantik itu


"Iya tapi jangan bikin saya berantakan pak. Repot benerinnya", pinta Miss Riesta


"Yawes yawes" Cium dulu nih", kata Pak Suryo santai sambil bersandar di motor Miss Riesta sambil semakin menggoyangkan kontolnya yang semakin keras


"Ya Ampun.. Kontol Pak Suryo sudah berdiri aja"", kata Miss Riesta sambil dengan kesadaran penuh berlutut dihadapan satpam sekolah dan mencium kontol Pak Suryo 3x


"Iya nih pagi-pagi saya sudah ngaceng gara-gara"", kata Pak Suryo terhenti


"Gara-gara apa pak?", tanya Miss Riesta


"Gara-gara nyium wangi badannya Miss Riesta Heheheh" Parfummu bikin sange sayang"", kata Pak Suryo sambil terkekeh menciumi kerudung Miss Riesta


"Ahhh Pak Suryo bisa aja.. Yaudah Saya emut sebentar tapi jangan lama-lama pak takut ada yang datang"", kata Miss Riesta sambil berjongkok dan mulai mencaplok kontol hitam Pak Suryo yang sudah membengkak.


"Aaahhh.. Iya enak betul Miss" Aaaahhhh.. Anget sekali mulutmu sayang.. Pinter bener kamu nyepong kontol Miss" Aaahhh..", kata Pak Suryo sambil merem melek keenakan dan tangannya membelai jilbab pashmina Miss Riesta yang warna-warni dengan lembut


Sementara itu Echa yang daritadi mengintip kegilaan pagi antara Pak Suryo dan guru cantik itu, malah dia ikutan birahi juga. Echa lama-lama merasakan vaginanya mulai kedutan akhirnya tidak tahan untuk menyentuh alat kelaminnya. Ia lalu mengangkat roknya dan tangannya mulai meraba kemaluannya yang masih terbungkus celana dalam. Echa pun masturbasi sambil melihat Miss Riesta yang sedang menyepong kontol Pak Suryo. Ia kocok perlahan kemaluannya tanpa melepas celana dalamnya. Pemandangan Miss Riesta yang sedang mengemut dan menjilati kontol Pak Suryo sangat membangkitkan nafsunya. Lidah Miss Riesta bergerak lincah menyusuri batang hitam nan keras milik satpam sekolah itu. Bukan hanya batangnya saja, Miss Riesta juga menjilati peler Pak Suryo yang hitam tanpa rasa jijik sedikitpun. Pemandangan yang sangat kontras ketika seorang guru cantik jelita berhijab pashmina berkulit putih bersih sedang menjilati kontol dan peler hitam si satpam sekolah.


"Gila.. Miss Riesta bener-bener lonte ternyata.. Aaahhh" Ya ampun.. aku jadi pengen ngewe anjirr"", lenguh Echa sambil keenakan masturbasi menyaksikan guru cantik itu semakin semangat memuaskan kontol Pak Suryo dengan mulutnya


"Adududuhhh.. Sudah Miss.. Nanti saya bisa muncrat kalau gini caranya" Buat nanti malam saja. Heheheheh", kata Pak Suryo sambil terkekeh dan mendorong kepala Miss Riesta agar berhenti menjilati kontolnya


"Huh.. Pak Suryo ini.. Nanggung nih Pak" padahal saya sudah nafsu liat kontol Pak Suryo yang besar.. Yasudah kalau gitu"", kata Miss Riesta manyun tak lupa ia merapikan kerudungnya sambil melihat ke arah kaca spion memastikan riasannya masih terlihat menawan


"Eh kok sudahan? Ya ampun nanggung banget sih Miss.. Echa aja belum puas nih""


Echa lalu buru-buru pergi dari sana sebelum gurunya memergoki dirinya sedang mengintip kelakuan mesum gurunya itu


#


Siangnya saat jam istirahat, seperti biasa para berandalan sedang berpesta di lantai paling atas sekolah itu. Echa diminta Endrix datang ke markas para berandal untuk menemani mereka disana. Gadis cantik itu nampak sedang berdiri telanjang bulat disana diantara para berandalan sekolah. Ia dibiarkan berdiri telanjang disana, saat matahari sedang panas-panasnya. Seragam sekolahnya Echa mereka gantungkan begitu saja di paku yang tertancap pada salah satu tembok. Bra dan celana dalam Echa tidak dipakai sebagaimana semestinya. Bra Echa dipakai para berandalan untuk wadah kacang, Celana dalam Echa dipakai para berandalan untuk lap jika ada miras yang tumpah disana. Echa disana hanya diperbolehkan memakai kerudung, kaos kaki, dan sepatu saja.


"Capek Cha?", tanya Endrix melihat tubuh Echa mulai berkeringat terkena panasnya sinar matahari yang cukup menyengat


"Ngga tuan"", jawab Echa


"Hahaha" Bagus.. Eh.. Memek lu basah tuh. Kasian keringetan", kata Endrix sambil menowel kemaluan Echa


"Mana-mana?", tanya para berandalan sambil memandangi memek Echa dengan leluasa


"Cha.. Buka memek lo.. Mereka mau liat"", kata Endrix


"Baik Tuan"", Echa lalu mendatangi para berandalan dan memamerkan vaginanya satu persatu ke para lelaki bejat itu.


"Anjir lah bau asem"", ledek salah seorang preman sambil mengendus kemaluan Echa


"Hahahaha" cuci memek lo dulu cha pakai ini", kata Endrix sambil memberikan segelas kecil miras kepada Echa


Echa dengan patuh langsung membasuh vaginanya dengan air miras yang diberikan Endrix. Ia usapkan merata ke sela-sela bibir vaginanya dihadapan para berandalan. Para berandalan tertawa melihat kepatuhan dan kegoblokan Echa siang itu. Echa bagi mereka adalah hiburan semata. Tubuhnya gadis cantik itu bebas mereka perlakukan seenaknya


"Sekarang kalian boleh minum miras pakai memek Budak gue. Cha buruan siapin memek lo dan tawarin memek lo ke mereka", kata Endrix


"Eehhh?? Iya tuan"", kata Echa


"Minum pakai memek Echa mas-mas?", kata Echa sambil membuka lubang kelaminnya dihadapan para berandalan


"Wahh.. Boleh tuh.. Sini lo!", kata rekan Endrix sambil menarik tubuh Echa duduk dipangkuannya.


Kedua kaki Echa kemudian dibuka olehnya lebar-lebar dan ia mulai menuangkan miras ke kemaluan Echa. Satu persatu para berandal itu mulai mencucup vagina Echa dan menyeruput alat kelamin Echa dengan ganas dan penuh nafsu sambil menyedot air miras yang ada di kemaluannya. Echa tidak percaya semua berandal di sekolah itu menyeruput vaginanya siang ini sampai sebotol miras habis tak tersisa.


Tubuh Echa sampai kedutan. Sesekali vaginanya muncrat-muncrat karena dirangsang oleh bibir mereka. Puluhan lidah sudah menjilati organ intimnya siang ini. Endrix tersenyum puas melihat keadaan Echa yang begitu rendah di mata mereka.


Setelah puas mabuk, mereka mulai bermain kartu. Bagi yang menang, akan mendapatkan sepongan gratis dari Echa. Seorang berandal berbadan atletis duduk mengangkang membiarkan gadis cantik berkerudung itu dalam posisi sujud sedang menjilati kontolnya. Tentu saja dalam posisi seperti itu, lubang anus Echa terlihat jelas oleh para berandal. Bahkan, Seorang berandalan dengan iseng menancapkan sebatang rokok yang hampir habis ke lubang anus Echa.


"Cha nakal bener lo rokokan di sekolah pake lubang bokong lo. Hahahahah", ledek Endrix melihat teman-temannya mempermainkan Echa


"Ayo Cha sedot rokoknya pake lubang bool lo.. Hahahah", ledek berandalan lain


Echa yang masih fokus dengan kontol si berandalan atletis tetap berusaha menuruti permintaan gila para preman sekolah itu. Ia buka lubang anusnya dan membiarkan laki-laki tadi menancapkan batang rokok sisa ke lubang sempit itu. Echa mencoba mengempotkan lubang anusnya dan menyedot rokok sisa itu menggunakan lubang pembuangannya. Terlihat asap mulai keluar perlahan setelah itu. Semua kembali tertawa melihat lubang anus Echa terlihat seperti sedang rokokan.


"Hahahaha.. Sekarang lo ngangkang Cha.. Coba memek lo juga rokokan", ujar berandalan lainnya.


Echa lalu mencabut rokok yang tertancap di anusnya dan ia pindah sendiri rokok bekas itu ke lubang kemaluannya. Ia mencoba "menghisap" rokok itu menggunakan alat kelaminnya hingga asap kembali berhembus, dengan lubang vaginanya


"Hahaha.. Parah bener lo Cha. Lo gak nge rokok, tapi malah ngerokok pake lubang bokong sama memek lo", komentar berandalan gendut sambil tertawa terpingkal-pingkal


Gerombolan preman sekolah itu benar-benar merusak Echa disana. Tidak ada sama sekali martabat dan harga diri Echa bagi para preman nakal dan bejat itu. Echa dianggap tak lain hanyalah mainan yang bisa mereka mainkan semau mereka. Sambil asyik melihat kelakuan budak sexnya bersama gerombolan para berandalan itu, Tiba-tiba Endrix menelepon seseorang menggunakan handphonenya.


"Heh.. Lo buruan ke atas.. Kasian nih teman lo jadi mainan kita sendiri.. Tit", terdengar Endrix berbicara lalu buru-buru ia matikan teleponnya.


Lalu Echa kembali dipermainkan disana. Ia kembali diminta masturbasi sambil beberapa berandalan mulai mengelilinginya. Kontol-kontol tegak itu mulai menampari wajah Echa dan Echa diminta menyepong kontol-kontol itu satu persatu-persatu. Bibir Echa kembali sibuk melumat kontol-kontol para preman sekolah. Ia terus menoleh tanpa henti, memasukkan batang-batang kemaluan para berandal sekolah itu ke dalam mulutnya sendiri.


Sedangkan yang lainnya asyik menancapkan batang rokok ke vagina dan anus Echa, tidak hanya satu tapi 4-5 batang rokok dipaksakan masuk ke lubang bawah tubuh gadis cantik itu. Echa terlihat tidak nyaman namun ia tidak bisa banyak protes. Vaginan semakin terasa panas karena rokok yang mereka tancapkan apinya masih nyala. Ia hanya pasrah membiarkan para berandalan itu berbuat semau mereka. Lubangnya kini benar-benar bau rokok.


"Cha.. Kencing dong.. Sambil nungging..", kata salah seorang preman


"Ehh.. Iya mas"", kata Echa patuh


Ia lalu mulai mengejan sambil terus menyepong kontol para berandalan. Dari lubang kecil dikemaluannya Rcha mulai kencing dalam posisi nungging. Tentu saja air kencingnya jatuh kemana-mana mengenai paha dan juga lututnya. Echa kencing begitu deras sekali membuat para berandalan berdecak kagum melihat vagina Echa yang terlihat segar saat mengeluarkan cairan kencing.


"Gak sabar nih Boss"", ujar seorang berandal


"Gak sabar apaan lu?", tanya Endrix sambil cengengesan


"Ijinkan kita ngentot budak jilbaban ini"", ujar si preman tadi


"Hahahha" Sabar dulu" Cha habis selesai kencing lo colmek lagi!!!" perintah Endrix


"Iyaaahhh..", tangan Echa langsung meraba kelaminnya sambil tetap dalam posisi nungging


Bukannya merasa terhina direndahkan seperti itu, justru vagina Echa malah merespon keenakan sampai muncrat-muncrat parah di hadapan para berandalan. Dalam hati, Echa sudah benar-benar tidak tahan. Ia sudah sangat berharap kemaluannya di sodok kontol mereka. Vaginanya sudah semakin gatal dan berlendir hingga gadis itu terkencing-kencing disana. Ia dalam hati berdoa agar Endrix mengijinkan teman-temannya menyetubuhinya saat ini juga.


"Tuh temen lo datang", kata Endrix tiba-tiba sambil menunjuk ke arah seorang gafis berambut panjang


"Anya??", ucap Echa lirih terbengong


Anya pun sama, ia tidak menyangka gadis yang sedang telanjang bulat disana yang hanya memakai kerudung itu adalah sahabat sekaligus teman sebangkunya. Seketika ribuan pertanyaan menghinggapi pikiran Anya. Anya memang pernah melakukan hal gila bersama sahabatnya itu. Tapi ia tidak menyangka, Echa ternyata juga terlibat dan menjadi budak gerombolan bejatnya Endrix cs. Namun semua pertanyaan itu tidak bisa ia tanyakan langsung ke Echa. Karena kini ia harus bersiap menjalankan tugas serupa dengan sahabatnya itu.


"Lepas semua baju lo sampai telanjang, terus bantu sahabat lo itu muasin kontol-kontol temen-temen gue", perintah Endrix


"I.. Iya" Tuan"", jawab Anya


Tak lama kemudian nasib Anya sudah sama dengan Echa. Ia sudah jongkok sambil telanjang bulat dikelilingi para berandal sekolah. Kedua gadis cantik itu lalu berebutan mengulum kontol-kontol yang mengelilingi mereka. Kedua tangan mereka juga sibuk mengocok kontol-kontol yang mengantri jatah sepongan mereka.


Endrix tertawa terbahak-bahak melihat betapa lacurnya duo sahabat berparas cantik yang juga teman sekelasnya itu. Tubuh putih mulus nan indah kedua gadis cantik itu kini menjadi bulan-bulanan para preman sekolah. Tangan mereka menjamah dengan kasar tubuh Echa dan Anya. Putting susu keduanya ditarik hingga melar dan lubang vagina mereka dicabuli dengan sangat kasar. Para lelaki berebutan mencolokkan jari-jari hitam mereka ke kemaluan kedua gadis cantik itu. Rintihan dan desahan Echa dan Anya terdengar lirih bersahutan. Membuat para berandalan semakin beremangat mencabuli mereka. Cairan vagina Anya dan Echa menyembur bersamaan disana, menciptakan sebuah genangan birahi disana


Beberapa menit kemudian"


"Sini lo berdua!", kata Endrix memanggil Echa dan Anya tidak lama kemudian


Kedua gadis itu sudah acak-acakan keadaannya. Kerudung Echa sudah berantakan dan hampir terlepas. Rambut Anya juga tak kalah berantakannya. Kedua gadis itu berjalan berlutut menuju tempat Endrix yang masih tersenyum memuakkan


Echa dan Anya saling berpandangan dan tidak tahu apa yang akan diperintah oleh berandalan bejat didepan mereka itu. Endrix lalu mulai membuka celananya dan memperlihatkan kontolnya yang sudah ngaceng maksimal.


"Memek sapa dulu yang mau gua hajar?", tanya Endrix kepada kedua gadis itu


Anya dan Echa kembali berpandangan. Mereka saling sungkan satu sama lain. Echa kemudian mengacungkan jarinya, sedangkan Anya hanya terbengong melihat Echa sahabatnya itu yang terlihat lebih kepingin dientot Endrix lebih dulu.


"Hehehe" Lonte sialan. Sange lo?", tanya Endrix dengan tatapan meremehkan


"Iya tuan"", jawab Echa


Ya udah nungging lo! Lepas kerudung lo!", perintah Endrix dan Echa langsung menungging membelakangi Endrix sambil menarik lepas kain kerudung putihnya


Endrix lalu sudah mengambil posisi di antara selangkangan Echa. Kontolnya ia gesekkan dulu ke bibir memek Echa.. Lalu sebelum ia sodokkan kontol kerasnya ke memek Echa, ia ludahi dulu beberapa kali lubang kenikmatan Echa hingga penuh liurnya. Setelah itu barulah dengan perkasa, Endrix menusukkan kontolnya ke lubang kenikmatan Echa yang memang sudah becek dari tadi.


"Ooohhh"", Echa terdongak kepalanya saat merasakan lesakan kontol Endrix membelah lubang kemaluannya.


"Enak ya kontol gua?", ujar Endrix


"Enak tuann.. Uuuhh.. Aaaahhhh" Aahhhh..", lenguh Echa sambil tubuhnya terus ditumbuk dari belakang oleh Endrix


Endrix lalu bersetubuh dengan Echa ditengah-tengah para berandalan. Mereka semakin memandang nafsu ke arah Echa yang terlihat menikmati tiap sodokan kontol Endrix. Suara desahan Echa begitu terdengar merdu dan menggoda. Apalagi tubuh indah putih mulus itu benar-benar terpampang tanpa tertutup apapun kecuali kaos kaki dan sepatu yang masih terpasang dikakinya.


"Nya! Lo colmek sambil liatin gue ngentot sahabat lo!", kata Endrix


Anya dengan patuh langsung colmek disana, meraba kemaluannya sendiri ditengah-tengah para berandalan yang sudah sangat bernafsu itu. Vagina berambut panjang itu mulai gatal melihat kenikmatan yang diperlihatkan oleh Echa sahabatnya. Endrix lalu menarik tangan Anya dan ia langsung menciumi bibir gadis berambut panjang itu. Endrix terus melumat habis bibir Anya disaat kontolnya sedang menyodok memek Echa. Hingga beberapa menit kemudian, Endrix semakin kencang menghajar kemaluan Echa yang semakin licin dan semakin nikmat saja jepitannya.


"Aarrrggghh" Gue keluarr"", ujar Endrix dan ia langsung meminta kedua gadis cantik itu berlutut di hadapannya sambil ia semburkan spermanya ke wajah Echa dan Anya bergantian, dengan adil.


Wajah kedua gadis cantik itu belepotan peju Endrix yang baunya busuk. Terlihat sangat menjijikkan menempel di wajah kedua gadis cantik itu.


"Cha, lo bersihin peju gue di muka Anya pake lidah lo", perintah Endrix


"Baik tuan"", jawab Echa dan ia mulai menjilati wajah Anya dan ia bersihkan sperma Endrix di wajah cantik sahabatnya hingga benar-benar bersih tak tersisa


"Sudah tuan" Bagus sekarang gantian. Nya, lu jilatin peju gue di wajah Echa", perintah Endrix lagi


"Iya tuan"", jawab Anya dan ia langsung menjilati wajah Echa dan ia bersihkan sperma Endrix yang menempel di wajah cantik sahabatnya yang berkerudung itu.


"Memek lo gatal gak Nya?", tanya Endrix setelah itu


"Iya tuan"", jawab Anya


"Yaudah lo mohon kontol ke temen-temen gue disana. Tawarin memek najis lo ke mereka!", ujar Endrix


"Baik Tuan"", jawab Anya patuh


"Asyeeekkk.. Ngentott"", ujar para berandalan riuh


Anya pun mulai kembali berjalan sambil berlutut di panas terik diatas gedung sekolah. Ia terus berjalan menuju teman-teman Endrix yang sudah tidak sabar menunggunya sambil mengocok-ocok kontol mereka. Walau sejujurnya mereka ingin Echa ikut serta, tapi selama Endrix tidak memberi ijin, mereka tidak berani lancang memakai tubuh Echa.


"Tolong pakai memek Anya tuan-tuan.. Puaskan kontol kalian dengan memek najis Anya"", kata Anya merendahkan dirinya sendiri sambil membuka lubang vaginanya lebar-lebar dihadapan para preman.


"Hahahaha". Hahahhaaha..", para berandalan tertawa penuh kemenangan melihat gadis secantik Anya memohon kontol mereka


"Boleh buat nampung peju kita gak?", tanya salah seorang preman berbadan gendut


"Boleh tuan" Rahim Anya buat nampung peju kaliannn"", kata Anya masih sambil mengangkang memamerkan lubang kemaluannya


Akhirnya siang itu, Anya digilir bergantian oleh teman-teman Endrix, dan Echa lalu gantian dipaksa masturbasi disana sambil memandangi sahabatnya digangbang dan dipejuin rame-rame oleh para preman sekolah hingga jam istirahat selesai.


#


Di dalam kelas, pelajaran sudah di mulai"


Echa seperti biasa duduk bersebelahan dengan Echa. Keduanya nampak canggung tidak seperti biasanya. Aroma tubuh mereka samar-samar tercium bau peju. Dalam keadaan vagina kedutan, Mereka hanya duduk dalam diam tidak berani berkata-kata seperti biasanya. Seolah mereka merasa bersalah dan tidak enak hati karena tidak saling terbuka. Mereka selama ini tidak pernah saling bercerita kalau sebenarnya mereka berdua adalah budak seksnya Endrix. Anya lalu mengambil handphonenya dan ia terlihat mulai mengetik pesan Whatsapp


"Cha"", ternyata Anya mengirimkan pesan itu ke Echa


Echa terkejut melihat Anya mengirim pesan Whatsapp ke dirinya. Padahal temannya itu duduk disampingnya


"Iya Nya"", jawab Echa pada akhirnya menggunakan pesan Whatsapp juga


"Kamu sejak kapan" Jadi mainannya Endrix?", tanya Anya


Echa tidak langsung membalas, karena ia sendiri lupa kapan kejadiannya. Karena sudah terlalu banyak hal yang terjadi bersama berandalan sekolah itu


"Aku lupa Nya" Mungkin 2-3 bulan yang lalu" Kalau kamu Nya?", jawab Echa


"Kayaknya aku lebih duluan Cha" Sejak aku putus sama pacarku", jawab Anya


"Iya, aku juga sama Nya, sejak aku break sama Mas Rio"", jawab Echa


"Oohh.. Sorry ya Cha aku ga pernah cerita ke kamu"", kata Anya


"Iya gpp Nya, aku juga minta maaf ngga cerita ke kamu juga""


"Terus sekarang gimana Cha? Kita mesti gimana?", tanya Anya


Echa melirik wajah Anya. Anya pun membalas tatapan mata Echa sambil mengangkat alisnya tanda ia sendiri bingung harus bagaimana. Echa lalu mulai mengetik lagi


"Kamu suka gak jadi mainan mereka?", tanya Echa penasaran


Anya menoleh ke Echa sambil tersenyum dan menggelengkan kepala. Tidak disangkanya sahabatnya yang berkerudung itu akan bertanya seperti itu. Lalu Anya mulai mengetik lagi


"Jujur saja, Aku takut" Aku takut akan hamil.. Aku takut akan masa depanku.. Aku takut kena penyakit. Tapi"", ujar Anya terhenti di Whatsappnya.


Echa melirik ke arah sahabatnya. Anya terlihat kembali mulai mengetik dengan cepat menggunakan kedua jempolnya di layar ponsel berwarna pinknya.


"Aku suka" Aku suka digituin sama mereka" Kamu Cha?", tanya Anya balik


"Iya sama" Aku juga punya ketakutan yang sama kayak kamu", jawab Echa


"Suka enggak?"


"Sama" Suka.. Aku suka Nya.. Suka banget" Aku bener-bener gila ya""


"Kita Cha.. Kita sudah gila.. Kita rela tolol demi kontol..", ketik Anya


"Iya ya Nya? Bodoh memang kita" Sampai ketagihan"", jawab Echa


"Maaf ya Cha""


Echa melirik wajah sahabatnya. Wajah Anya terlihat prihatin memandangi sahabatnya yang berkerudung cantik itu


"Maaf kenapa?", tanya Echa


"Gara-gara aku kamu rusak, coba dulu kamu gak aku komporin"", kata Anya


"Enggak kok. Bukan gara-gara kamu.. Emang dasar akunya yang ternyata juga sangean"", kata Echa


"Jadi kamu suka beneran ikhlas jadi mainan mereka?", tanya Anya memastikan


"Iya, Aku ikhlas"", jawab Echa jujur


"Hmmm Ya udah deh". Jadi gimana Cha? Kita pasrah aja jadi mainan mereka?", tanya Anya lagi


"Sepertinya gitu Nya.. Ngga ada cara lain. Toh kita menikmatinya juga kan? Sebentar lagi juga kita lulus dan mungkin ngga ketemu mereka lagi", kata Echa


"Iya juga sih.. Hihihi" Jadi sampai lulus nih kita diperlakukan rendah sama mereka?", tanya Anya lagi


"Kayaknya sih Iya Nya" Atau jangan-jangan kamu mau selamanya", goda Echa


"Ihhh.. Nggak lah.. hihihi.. Kamu tuh yang keknya mau", jawab Anya terlihat puas dengan jawaban sahabatnya


"Hmmmm" Hihihi"", jawab Echa


"Tapi aku jadi sedikit lega. Ternyata yang ngalami hal kayak gini bukan cuma aku aja"", kata Anya lagi


"Sama, aku juga lega ternyata aku gak sendirian.. Jadi aku ngga kerepotan sendiri nantinya. Hihihi", kata Echa


"Dasar kamu Cha"", kata Anya mengingatkan


"Kamu juga. Hihihi"


"P", tiba-tiba Endrix mengirim pesan ke Echa


"Endrix WA aku Nya"", kata Echa sambil menunjukkan layar handphonenya ke Anya.


"Coba kamu jawab Cha", kata Anya penasaran


"Iya tuan"", kata Echa


"Nanti setelah jam pelajaran selesai. Lo hapus tulisan di papan tulis pake sempak lo ya. Kalau sudah buang sempak lo ke tempat sampah. Lo hari ini gak usah pake sempak sampai pulang nanti", perintah Endrix


Mata Echa terbelalak melihat perintah gila itu. Berarti dia harus melepaskan celana dalamnya dan ia pakai untuk menghapus tulisan di papan tulis. Padahal vaginanya saat ini masih berlendir daritadi. Karena sepanjang jam istirahat tadi ia dipaksa terus masturbasi dan melakukan hal mesum bersama para preman sekolah teman-teman Endrix


*Bagaimana kalau nanti aroma vaginaku malah menempel di papan tulis?*, tanya Echa gelisah dalam hati


"Kenapa Cha? Endrix nyuruh apa?", Tanya Anya penasaran


"Errr.. Nanti kamu juga tau Nya"", kata Echa malah membuat Anya penasaran


*Teeeettttt teeeetttttt* bel tanda pergantian jam pelajaran pun berbunyi, tanda mata pelajaran kali ini sudah berakhir.


Anya terkejut tiba-tiba sahabatnya yang duduk disebelahnya itu melepas celana dalamnya dan berdiri. Lalu Echa mulai menghapus papan tulis dengan celana dalamnya sendiri. Kain berenda berwarna krem itu mulai menghitam terkena spidol papan tulis. Echa terus menghapus tulisan spidol di papan tulis dan ia tidak mau berhenti, sepertinya ia sudah tidak mempedulikan celana dalamnya bakal belepotan kena tinta spidol. Ia terus menghapus semua tulisan di papan tulis hingga bersih dengan celana dalamnya. Sesuai perintah Endrix, setelah papan tulis bersih Echa lalu keluar kelas dan buru-buru membuang celana dalamnya ke tempat sampah.


Sementara itu di dalam kelas,


*Tuit tuit*, notifikasi Whatsapp Anya berbunyi


"Endrix"", ujar Anya dalam hati sambil buru-buru membuka pesan dari berandalan itu


"Lepas sempak lo sekarang", kata Endrix melalui pesan Whatsapp-nya


Anya tiba-tiba merasa merinding ketakutan karena saat ini di kelas penuh dengan siswa-siswi yang lain. Namun melihat keberanian Echa, Anya tidak mau kalah. Diam-diam ia mulai menurunkan celana dalamnya hingga benar-benar terlepas dari selangkangannya. Setelah melepas celana dalamnya, Anya menoleh kebelakang dan menunggu perintah Endrix selanjutnya.


"Dekat meja gue lantainya kotor, bersihin pake sempak lo", tulis Endrix kemudian


Dengan perasaan berdebar-debar, Anya berjalan menuju deretan kursi belakang tempat para siswa berandalan itu duduk. Endrix lalu menyuruh Anya bersihkan lantai kotor yang dimaksud. Ternyata bekas permen karet yang terlihat lengket menempel pada lantai. Anya lalu mulai mengelap membersihkan lantai dekat meja Endrix dengan celana dalamnya. Para murid berandalan dibelakang sana mulai iseng menyingkap rok Anya hingga bongkahan pantatnya terlihat saat ia menungging.


"Bersihin yang bener. Sampai bersih", ujar Endrix lagi


"Iya Tuan"", kata Anya


Nampaknya Anya kesulitan karena lantai tersebut terkena permen karet dan sepertinya permen karet itu sudah cukup lama menempel disana sehingga susah dibersihkan hanya dengan kain kering. Anya terus mencoba mengusapkan celana dalamnya kuat-kuat hingga celana dalamnya perlahan mulai rusak, kotor, dan tidak layak pakai.


"Susah ya? Kasih ludah lo", kata Endrix


Anya lalu mencoba meludahi lantai agar sisa permen karet yang menempel itu bisa lebih bersih. Namun ternyata masih gagal. Sisa permen karet itu malah lengket menempel kemana-mana. Ia semakin panik karena sebentar lagi guru mata pelajaran berikutnya akan datang. Ia juga takut murid-murid lain menyadari apa yang sedang dilakukannya di deretan kursi belakang. Anya terus meludahi lantai semakin banyak sampai kelenjar liurnya terasa kering. Ia usapkan kuat-kuat hingga celana dalamnya sudah tak berbentuk dan terlihat menjijikkan.


"Masih susah? Pake cairan memek lo coba. Thonk bantuin kocok memeknya", ujar Endrix menyuruh Ithonk yang duduk di sebelahnya.


Dengan cengar-cengir, Ithonk mendekati Anya yang masih menungging sambil berusaha mengelap lantai. Lalu rok abu-abu Anya ia singkap hingga kemaluan Anya yang berbulu itu terlihat siapapun yang melihat ke arah mereka. Jemari hitam Ithonk mulai menyeruak masuk ke dalam lubang vagina Alya. Kepala Anya terdongak kuat karena jemari gemuk Ithonk mulai mengobok-obok bagian dalam kelaminnya. Anya semakin ketakutan takut ada yang memergoki dirinya sedang dicabuli berandal sekolah gendut itu di dalam kelas. Anya sampai mati-matian menahan mulutnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan desahan. Pelan tapi pasti vaginanya mulai kedutan. Kakinya bergetar tak karuan dan seketika cairan vaginanya langsung muncrat-muncrat membasahi lantai.


"Oohhhh" Oohhhhh". Ouuhhh"", memek Anya dikocok brutal oleh Ithonk hingga tubuhnya bergetar hebat


*Byorrrr currrr currrrr currrrrrr"*, cairan vagina Anya muncrat bak air mancur. Entah ia kencing atau squirt ia tidak tahu


Anya lalu buru-buru membersihkan lantai dengan tambahan cairan yang berasal dari kemaluannya yang menetes deras tadi. Pelan tapi pasti lantai mulai terlihat bersih dan Anya buru-buru melipat celana dalamnya agar murid-murid yang lain tidak ada yang memergokinya


"Kalau sudah bersih, buang celana dalam lo ke tempat sampah", perintah Endrix sama seperti Echa tadi.


Anya pun lalu keluar kelas dan membuang celana dalamnya. Lalu buru-buru ia kembali ke dalam kelas karena Miss Riesta, guru mata pelajaran berikutnya sudah berjalan menuju kelasnya. Echa yang daritadi melihat Anya dikerjain di deretan belakang oleh para berandalan kelas itu hanya menatap kasihan melihat nasib sahabatnya. Setidaknya ia masih bersyukur, mereka tidak pernah mencabuli dirinya saat situasi ramai di dalam kelas.


Miss Riesta pun masuk ke dalam kelas, aroma parfum scandalousnya langsung semerbak tercium di dalam kelas. Gaya berpakaian Miss Riesta masih sama seperti kemarin. Kerudung pashminanya ia singkap kebelakang sehingga tonjolan payudara di balik seragamnya terlihat. Sedangkan di bagian roknya, Miss Riesta memakai rok panjang model span yang lumayan ketat membentuk pantatnya. Terlihat sexy sekali dengan garis celana dalamnya yang samar-samar kelihatan.


Seperti biasa, guru cantik berhijab itu menyapa murid-muridnya dengan ceria. Ia selalu berprinsip suasana belajar mengajar haruslah menyenangkan. Itulah mengapa ia menjadi salah satu guru favorit di sekolah, meskipun ia termasuk guru baru di sekolah itu, tapi banyak siswa-siswi suka kepadanya


Saat melihat wajah Miss Riesta, seketika Echa teringat kegilaan guru cantik itu pagi tadi bersama Pak Suryo si satpam sekolah. Pasti tidak ada yang menyangka guru yang berpenampilan alim itu pagi-pagi buta di parkiran motor sudah sarapan kontolnya Pak Suryo. Tidak ada yang akan percaya guru berhijab itu tadi pagi bertekuk lutut mengarahkan wajah cantiknya ke kontolnya Pak Suryo dan menjilati batang kelamin serta buah zakar hitam satpam sekolah berwajah mesum itu.


Memandangi penampilan Miss Riesta yang makin lama semakin terlihat sexy apalagi saat pantatnya terlihat bergoyang saat sedang menulis menghadap papan tulis, Echa langsung teringat guru cantik itu ternyata memiliki fetish eksibisionis. Ya, Miss Riesta selalu berharap dirinya dipergoki seseorang saat melakukan aksinya. Apalagi oleh preman-preman sekolah macam ganknya Endrix.


Mata Miss Riesta tiba-tiba menatap ke arah Echa yang daritadi sedang melamun memandanginya. Menyadari Miss Riesta menatap balik ke arahnya, Echa buru-buru memalingkan pandangan dan pura-pura membuka buku pelajarannya.


Lalu Miss Riesta memandang ke arah Endrix dan gerombolannya. Jantungnya selalu berdebar-debar saat anak-anak nakal itu memandangi dirinya. Apalagi baru kali ini ia berani tampil lebih sexy dengan menggunakan pakaian yang lebih ketat dari sebelumnya. Tentu saja keberaniannya itu tercetus setelah melihat Echa berpakaian sexy di sekolah.


"Busyet lo nyadar gak Ndrix tu guru lonte makin hari makin ketat bajunya?", bisik Ithonk


"Fakk.. She"s damn hot" Sengaja dia kayaknya", kata Endrix sambil lidahnya menyapu bibirnya melihat keindahan tubuh guru cantik yang sudah matang itu


Menyadari para berandalan dibelakang sedang menatapnya dengan tatapan tajam, Miss Riesta menjadi salah tingkah dan tak karuan perasaannya. Nafsu untuk mencoba menggoda lebih berani semakin menghantui pikirannya. Reputasinya sebagai guru shalihah benar-benar dipertaruhkan demi mewujudkan fantasy gilanya. Namun karena Miss Riesta sudah memutuskan menuruti fantasy gilanya dibandingkan akal pikirannya, ia terus ingin melanjutkan aksi "pamer"nya


Miss Riesta lalu mulai mengajar sambil duduk di kursi guru. Ia mulai membacakan tulisan yang ada dibuku pelajaran. Sementara itu, satu tangannya diam-diam meraba vaginanya yang mulai kedutan. Untungnya meja guru tempat ia duduk tercover seluruhnya sehingga tangannya bisa bebas meraba kemaluannya sendiri. Tentunya dengan masih tertutup roknya. Ia tidak berani berbuat lebih nekat dengan menyingkap roknya di depan kelas.


Guru cantik itu mulai merangsang vaginanya sambil mengajar. Memang, ia sudah beberapa kali melakukan aktivitas itu akhir-akhir ini. Sensasi masturbasi sambil mengajar benar-benar membuatnya ketagihan dan meruntuhkan imannya yang sudah diajarkan kedua orangtuanya sejak kecil. Jemari lentiknya bergerak lincah mengaduk kemaluannya yang terasa mulai gatal. Ia terlihat mulai memejamkan mata menikmati ulah tangannya sendiri merangsang dirinya


"Miss saya ada pertanyaan.", tanya Bayu tiba-tiba mengejutkan guru cantik itu.


Miss Riesta membuka matanya terkejut mendengar suara salah satu muridnya. Dibalik meja, Miss Riesta juga berhenti sejenak mengocok vaginanya


"Maksudnya No. 5 ini bagaimana Miss?", tanya Bayu sambil menunjuk buku lembar tugasnya


"Oh ini" Jadi contoh kalimatnya seperti ini", ujar Miss Riesta sambil berdiri tiba-tiba


Miss Riesta kemudian mulai menulis di papan tulis lagi. Pantatnya benar-benar menggoda di balik rok panjangnya yang ketat itu. Endrix dan berandal lainnya sampai bersiul menggoda memandangi bongkahan pantat wanita cantik berusia 30 tahunan itu. Miss Riesta semakin tidak karuan perasaannya karena para berandalan mulai terang-terangan menggodanya. Jantungnya semakin cepat berdetak. Tangannya mulai gemetaran saat menulis karena siulan-siulan nakal yang terus tertuju padanya. Ia seolah lupa dirinya adalah seorang guru yang seharusnya berani menegur murid-muridnya yang semakin kurang ajar.


Miss Riesta semakin gelisah karena ia menyadari celana dalamnya malah semakin menyelip kedalam diantara lipatan bokongnya. Ini semua karena permintaan Pak Suryo yang memintanya memakai celana dalam model G-String kemarin. Padahal sebelumnya ia belum pernah memakai celana dalam model seperti itu. Sungguh ia merasa tidak nyaman dengan kondisi celana dalamnya saat ini. Ia secara reflek malah banyak menggerakkan pinggulnya berharap celana dalamnya bisa kembali nyaman dipakai dan tidak terasa mengganjal diantara lipatan bokongnya.


Namun sayang, bukannya betul, celana dalam Miss Riesta yang terselip itu malah menyelip semakin rapat hingga membuatnya semakin tidak nyaman. Tak tahan posisi celana dalamnya yang terus menyelip dipantatnya, Miss Riesta lalu memberanikan diri membetulkan posisi celana dalamnya dengan tangan kanan kanannya secara langsung. Endrix dan teman-temannya yang menyadari hal itu tertawa terpingkal-pingkal melihat kenekatan Miss Riesta membetulkan posisi celana dalam saat sedang menulis di depan kelas.


"Cookk.. Pake tangan dia benerin posisi sempaknya. Hahahah", ujar Endrix


"Godain yok Ndrix", kata Ithonk


"Gassss", kata Endrix


"Miss.. Saya mau bertanya", ujar Endrix kemudian mengejutkan Miss Riesta


Jantung Miss Riesta kembali berdebar cepat saat berandalan nakal itu mengacungkan jari hendak bertanya. Entah pertanyaan seperti apa yang akan terlontarkan oleh siswa nakal itu. Namun tentu saja sebagai guru yang baik, ia akan memberikan kesempatan kepada siapapun untuk bertanya tak terkecuali kepada Endrix.


"Iya Endrix mau tanya apa?", tanya Miss Riesta ramah


"Miss Riesta lagi cemas ya?", tanya Endrix membuat guru cantik itu mengernyitkan dahi tidak paham


"Cemas? Maksud kamu apa Endrix?", tanya Miss Riesta


"Cemas itu" Celana Masuk Silit. Hahahaha" (red : lubang anus)", kata Endrix kurang ajar sambil tertawa terbahak-bahak disambut teman-temannya


"Hahahahha".", teman-temannya ikutan tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Endrix yang begitu kurang ajar ke guru cantik itu.


Wajah Miss Riesta memerah, para berandalan sekolah itu benar-benar sedang menghinanya di depan kelas. Perasaan campur aduk kini melanda guru cantik berkerudung itu. Malu, sebal, kesal, marah, dan juga rasa birahi diam-diam semakin menguasai pikirannya. Ia akui ia akhirnya berhasil "menggoda" dan menarik perhatian preman sekolah itu. Walau direndahkan adalah konsekuensi yang harus ia hadapi. Apalagi ia sudah dengar semua ceritanya dari Echa bagaimana Endrix CS memperlakukannya. Namun Miss Riesta berusaha tetap tenang dan profesional menghadapi ucapan lelaki berandal itu.


Echa menyadari, tuannya itu mulai menaruh perhatian lebih kepada Miss Riesta si guru cantik berhijab. Ia tahu betul, Miss Riesta itu sengaja menggoda para preman sekolah. Karena ingin mencoba mengalami nasib seperti dirinya. Menjadi budak para preman sekolah. Namun guru cantik itu masih bingung untuk memulainya.


"Miss" Saya mau nanya lagi", kata Endrix lagi


"Ehh.. I.. Iya.. Apa Endrix"?", tanya Miss Riesta yang kali ini terdengar suaranya gemetaran


"Miss Riesta pakai sempak G-String atau model biasa?", tanya si berandal sekolah kembali kurang ajar menanyakan hal yang tidak semestinya


"Hahahahahaha" Wuuuuuuu"", tawa riuh para berandalan penghuni bangku belakang semakin riuh


Miss Riesta tidak menjawab pertanyaan mesum muridnya itu. Ia hanya terlihat kesal sambil menghela nafas dalam-dalam. Semua murid disana tidak ada yang berani menegur Endrix karena mereka tahu Endrix dan teman-temannya sangat berbahaya dan keterlaluan. Kalau mereka menegur para berandalan, bisa-bisa mereka malah menjadi "target serangan" para preman sekolah.


"JAWAB DONG MISSS", ujar Ithonk memanas-manasi


"Anu" Errrr" Biasa kok", jawab Riesta terbata-bata karena tidak menyangka dirinya akan langsung diserang di kelas seperti saat ini


Murid-murid perempuan banyak yang wajahnya terlihat kesal dengan para penghuni bangku belakang. Bagi mereka Miss Riesta terlalu baik dan tidak layak digoda seperti itu. Tapi mereka tidak berani protes karena sadar Endrix dan kawan-kawan bisa berbuat kurang ajar ke mereka juga jika mereka melawan. Jadi mereka hanya memilih diam dan seolah tidak terjadi apa-apa


#


*Teeettt" teeetttt*, Bel tanda pelajaran terakhir berbunyi.


Jam sekolah pun selesai, murid-murid berbondong berlarian meninggalkan sekolah. Namun tidak bagi Echa dan Anya, kedua gadis cantik itu masih di atap sekolah bersama para berandal sekolah. Keduanya sudah telanjang bulat berdiri di depan sekumpulan para berandalan. Endrix duduk di tengah-tengah mereka, memandang rendah para budaknya yang sudah dilucuti pakaiannya siang itu hingga telanjang total.


"Kalian joget-joget dulu deh. Goyang yang sexy buat hibur kita. Paham?", perintah Endrix


"Baik Tuan"", ujar Echa dan Anya bersamaan


Lalu Echa dan Anya mulai berjoget telanjang di depan para berandalan sekolah dengan diiringi musik koplo. Echa dan Anya mulai meliukkan tubuh mereka dengan seronok dihadapan para berandalan.


"Cha, kerudung lu lepas sekalian biar adil", perintah Endrix


"Iya Tuan"", lalu Echa mulai melepas kain kerudungnya dan kini ia sama dengan Anya, berjoget telanjang dan hanya memakai sepatu saja, agar kaki kedua gadis cantik itu tidak kepanasan.


Para berandal sekolah mulai kembali mabuk dan pesta disana. Dengan hiburan penari telanjang kedua gadis cantik yang berasal dari sekolah mereka sendiri. Sungguh, bagi mereka, melihat kedua gadis cantik itu telanjang berjoget di tengah-tengah mereka adalah pertunjukan terbaik yang pernah mereka lihat.


"Coba kalian cipokan", perintah Endrix dan kedua sahabat itu terkejut mendengar perintah tuan mereka


Walau mereka sudah 3 tahun bersahabat, tidak pernah terlintas dipikiran mereka untuk berciuman. Mereka masih gadis normal yang sukanya hanya lawan jenis. Tapi karena perintah Endrix adalah kewajiban yang harus dijalankan, mereka mau tak mau harus melaksanakannya.


Anya terlihat terus bergoyang mendekati Echa yang terlihat kikuk. Apalagi saat wajah sahabatnya sudah amat dekat dirinya. Pelan tapi pasti, Anya mulai memagut bibir Echa. Kecupan yang awalnya tipis, perlahan mulai berubah menjadi kecupan panas. Kedua gadis yang saling bersahabat itu mulai saling melumat lidah masing-masing. Lidah mereka saling beradu dan saling melilit bertukar ludah. Pemandangan sangat erotis yang hanya bisa dinikmati oleh Endrix and the gank.


"Hehehe.. Bagus" Terusin", puji Endrix melihat Echa dan Anya terus berciuman layaknya pasangan lesbi


Kini mereka sudah tidak hanya berciuman saja. Tangan Echa dan Anya juga saling meraba satu sama lain. Echa dengan nakal memilin putting susu Anya yang sudah melenting. Demikian juga dengan Anya yang juga memainkan putting susu Echa yang juga sudah mengeras sambil sesekali diremas-remasnya payudara sahabatnya itu.


"Kalian sange?", tanya Endrix lagi


Kedua gadis cantik itu mengangguk dengan tatapan pasrah.


"Kalau gitu gantian, tadi Anya sudah digangbang sama teman-teman gue. Sekarang waktunya lu Cha. Memek lu harus siap nampung peju mereka. Ngerti lu?", kata Endrix


"Iya Tuan"", jawab Echa


"Ya udah buruan lu ngentot sama temen-temen gue sana. Pastiin memek lu disembur peju mereka karena lu itu toilet kita. Paham?", kata Endrix lagi


"I.. Iya Tuan"", jawab Echa


Lalu Echa mulai mendatangi para gerombolan berandalan yang sudah tidak sabar menggangbang gadis cantik yang kesehariannya berkerudung itu.


"Sini Cha!", perintah Ithonk teman Endrix yang gendut meminta Echa menghampiri para berandalan


Lalu saat Echa sudah ada diantara mereka, tangan-tangan para berandalan langsung menjamah tubuh indah gadis cantik itu. Echa seketika langsung terlihat sibuk menciumi bibir para berandalan yang sudah amat bernafsu. Kepalanya menoleh kekiri dan kekanan karena para berandalan dengan kasar menjambak rambut gadis cantik itu saat ingin mencium bibir Echa bergantian.


Belum apa-apa sebuah batang kontol salah seorang berandal sekolah langsung dilesakkan ke kemaluan Echa. Dengan kecepatan penuh, pemuda itu langsung menghajar vagina Echa penuh nafsu. Tubuh Echa mengejang hebat. Tidak menyangka kini ia harus berhubungan badan disana, dipandangi Anya sahabatnya sendiri.


"Oohhh.. Oohh.. Aaahhh.. Ssshhh. Ouhhh.. Mass"", lenguh Echa merasakan batang kontol yang mulai mengoyak vaginanya


Echa lalu melirik Anya, rupanya sahabatnya itu juga asyik bersetubuh dengan Endrix. Tubuh Endrix dengan kasar menghajar kemaluan Anya. Rambut anya dijambak hingga terdongak, sementara batang kontolnya terus menghajar memek Anya dari belakang. Anya mendesah keenakan, karena kontol Endrix begitu mantab membombardir lubang senggamanya.


"Liat kemana lu? Mau lu digituin juga? Nungging lu!", kata Ithonk sambil kini ia yang mendapat jatah memek Echa


"Mau". Masukinn Mas..", pinta Echa nakal sambil membuka lubang vaginanya sendiri dalam posisi menungging


"Mantap cuk lubang memek lu.. Gue entot lu Cha"", kata Ithonk dan dalam sekali hentakan kontolnya sudah bersarang ke vagina Echa


*Blesss*


Kontol Ithonk tanpa kesulitan langsung membelah liang kemaluan Echa dari belakang. Pemuda gendut itu merem melek keenakan saat kontolnya keluar masuk dijepit memek hangat Echa yang sudah sangat berlendir licin. Walau kontol Ithonk tidak panjang, tapi bentuknya tebal. Echa tetap saja menikmati disetubuhi oleh preman gendut itu dengan posisi doggy style.


Salah seorang preman kemudian menyumpal mulut Echa dengan kontolnya. Kini Echa harus memuaskan dua batang kontol dengan mulut dan lubang kemaluannya. Namun kontol yang harus ia puaskan ternyata bukan hanya dua. Tapi sepuluh kontol. Para berandalan itu secara bergantian menghajar mulut dan vagina Echa dengan seenaknya. Vagina Echa nampak begitu hina, dengan lelehan lendir sperma para berandalan yang mengisi rahimnya tanpa ampun dan tanpa henti


"Iyaahhh.. Terima kasih mas" Pejunya"", kata Echa nakal saat seseorang berandal menyemburkan sperma ke dalam vaginanya begitu banyak


Vagina Echa sudah terlihat menjijikkan. Cairan putih kental terus diisikan ke dalam lubang kelaminnya. Hingga rahimnya sudah tidak mampu menampung lendir peju preman sehingga tumpah-tumpah menetes dari lubang berjembut itu. Namun, ternyata masih banyak berandal yang belum kebagian jatah ngentot dengan Echa. Suasana semakin tidak kondusif apalagi kesadaran mereka mulai dipengaruhi oleh miras yang mereka minum. Mereka semakin bernafsu dan tidak terkontrol bersabar menunggu giliran.


Mereka mulai memaksa berebutan menyodok vagina Echa dalam waktu bersamaan. Liang senggama Echa dipaksa "menelan" kontol dalam waktu bersamaan. Mata Echa terbelalak melihat para preman sekolah yang kesetanan seperti ingin menghancurkan vaginanya


"Jangan" Satu-satu" Gantiannn" Jangan barengann.. Ouuhh.. Ouuuhh..", pinta Echa


"Bawel lo" Cewek jalang kayak lo enaknya dikasih banyak kontol sekaligus. Memek lo becek anjir"", kata salah seorang preman berambut cepak sambil mengorek memek Echa dengan 3 jarinya


"Aaahhhhhhhh..", tubuh Echa bergetar dan tidak lama kemudian ia squirt disana


Mereka terus menggila dan mengarahkan batang kontol mereka ke Vagina Echa. Lubang sempit itu benar-benar dipaksa menampung kontol mereka bersamaan. Memek Echa mulai terbuka lebar, dijejali dua kontol besar preman-preman sekolahnya. Kedua kontol itu terus menghujami masuk vagina Malang Echa bersamaan. Echa mendesah tak karuan. Rasanya mungkin vaginanya akan dihancurkan oleh mereka. Kontol-kontol besar itu tanpa ampun maju mundur menghajar memeknya secara bersamaan


"Aaaahhh.. Aaaahhh.. Ampunn.. Aaahh..", lenguh Echa dengan tubuhnya mulai terkencing-kencing, namun kedua preman itu masih saja menghajar kelamuan Echa tanpa ingin berhenti


"Hajar terusss!!!", kata salah seorang berandal memberi semangat kepada temannya yang tengah menyetubuhi vagina Echa bersamaan


"Pejuin bareng-bareng brooo"", kata salah seorang preman sudah tidak kuat melihat gadis cantik itu tidak berdaya


"Okeeehhh".", kata temannya dan dengan sekali sodokan kuat kedua preman itu menembakkan spermanya ke rahim Echa bersamaan


*Crot crot crot crot crot crot*


Rahim Echa dibom oleh sperma kedua rekan Endrix itu. Vagina gadis cantik itu terlihat semakin menjijikkan dengan lelehan lendir kental yang berasal dari kedua preman tadi. Namun kegilaan itu tidak berakhir sampai disitu. Dua orang preman kini mengambil jatah menyetubuhi gadis cantik itu. Tubuh Echa kembali ditunggingkan. Lubang anus Echa yang masih sempit mereka ludahi berkali-kali hingga penuh dengan ludah mereka. Lalu, kedua preman itu mulai mengarahkan kontol mereka ke lubang anus Echa. Lubang sempit itu tentu saja sulit menerima kontol ngaceng mereka bersamaan.


"Jangan.. Jangan yang itu". ", pinta Echa merasakan lubang anusnya sedang berusaha dijebol dua orang preman bersamaan


"Busyet sempit bener ini lubang najis. Hahahahah"", ujar salah seorang preman dan ia dorong dengan sekuat tenaga batang kontolnya menembus anus Echa sambil ia tampar keras-keras bokong Echa


*Plak plak plak plak plak*


Pelan tapi pasti kontol hitamnya mulai masuk ke dalam anus gadis cantik itu. Melihat pertahanan bokong Echa mulai terbuka, preman satunya turut serta menghancurkan lubang anus Echa. Ia ikut melesakkan batang kontolnya dan memaksakan lubang anus Echa menampung dua kontol bersamaan. Mata Echa terbelalak, namun ia tidak sanggup protes lagi karena kali ini mulutnya dijejali 3 kontol yang harus ia sepong satu persatu-satu


"Ayo cantikk.. puasin kita pakai tubuh indah lo.. hahahaha.. Memek dan anus lo itu alat pemuas kita", kata salah seorang berandal sambil menjambak rambut Echa yang sudah berantakan


Anus Echa terasa tak karuan rasanya. Rasanya sangat aneh dan perutnya terasa diaduk-aduk saat kedua kontol besar itu memporak porandakan lubang pembuangannya. Lubang anus Echa sudah melar karena akhirnya kontol-kontol para preman sudah bersarang di lubang kecil itu dalam satu waktu itu


"Hahaha" Tubuh lo memang lacur Cha" ini aja lubang tai lo sanggup nampung dua kontol. Hahahhaa", kata salah seorang preman


"Gue gak tahan anjirrr"", kata preman satunya dan ia pun menyemburkan spermanya ke lubang anus Echa


"Bjir" Barengan lah"", kata temannya saat merasakan anus Echa semakin hangat tekena sperma rekannya.


Ia pun tak lama juga menembakkan spermanya kuat-kuat ke anus Echa. Lalu tubuh Echa dibiarkan terjatuh disana lemas tak bertenaga. Dengan kondisi mulut, vagina, dan anusnya penuh dengan lelehan sperma para berandal sekolah. Tubuh Echa yang sudah lemah itu masih saja dijadikan mainan oleh mereka. Echa bahkan sudah kehilangan akal disana. Vaginanya terus becek memohon kehadiran kontol. Pandangannya terlihat kosong dan mulutnya tak bisa berhenti mendesah. Mulutnya terus meminta kontol, mulutnya terus meminta agar mereka tidak berhenti mengentot dirinya. Echa terus bergerak layaknya pelacur. Pelacur gratisan yang mengijinkan semua lelaki disana memakai lubang-lubang yang ada pada tubuhnya seenaknya. Sampai akhirnya Vagina Echa benar-benar menjadi tempat pembuangan peju oleh para preman sekolah hingga mereka puas.


#


Malam hari,

Di sebuah gudang sekolah yang letaknya jauh dari ruang kelas"


Sesosok wanita cantik nampak sudah terlentang tanpa selembar benangpun menempel menutup auratnya. Hanya Jilbab pashmina warna warninya yang masih terpasang di tubuhnya. Miss Riesta sedang ditindih oleh Pak Suryo yang juga sudah telanjang bulat di sebuah meja yang sudah berdebu. Kedua kemaluan mereka saling bertemu, saling menggesek satu sama lain. Memberikan kenikmatan gesekan yang luar biasa. Terlebih bagi Pak Suryo. Seolah ia adalah satpam paling beruntung sedunia. Bisa menggauli guru tercantik di sekolahnya. Miss Riesta yang menjadi favorit para murid-murid itu, kini sedang mengangkang pasrah menikmati persetubuhan dengan dirinya.


Sepertinya persetubuhan itu sudah terjadi beberapa saat lalu. Karena tubuh keduanya sudah penuh keringat. Memang suasana di gudang sekolah begitu gerah dan panas. Ditambah lagi kondisinya yang penuh debu sehingga membuat nafas saja terasa sulit. Tapi hal itu tidak menyurutkan kenikmatan perzinahan mereka.


"Uhhh.. Memek Miss Riesta memang mantab sekali" Kenapa Miss gak kawin-kawin sih? Sengaja ya ? Biar bisa ngentot sama saya sepuasnya? Hahahaha", ledek Pak Suryo sambil terus menyetubuhi guru cantik yang sehari-hari mengajar bahasa inggris itu


Wajah Miss Riesta sedikit kesal mendengar ucapan si satpam sekolah. Ia memang tidak suka jika seseorang menanyakan mengapa hingga saat ini belum menikah. Ia punya alasan sendiri mengapa ia tidak menikah. Pengalaman masa lalunya yang membuatnya "malas" menjalin hubungan spesial dengan laki-laki untuk sementara waktu


"Udah Pak Suryo jangan nanya yang gak penting" Aaahhh" Lama bener bapak keluarnya.. saya jadi lembur nih.. Aahhh.. Aahh"", jawab Miss Riesta ketus tapi tetap saja mendesah menikmati gesekan kemaluannya dengan kontol Pak Suryo


"Dih jutek sekali jawabnya" Saya kan Cuma penasaran" Perempuan secantik Miss Riesta belum nikah. Hehehe"", ujar Pak Suryo sambil iseng menghentikan sodokannya


"Kok berhenti sih Pak? Sodok memek saya lagi"", pinta Miss Riesta sambil menggoyangkan pinggulnya nakal


"Jawab dulu kenapa gak mau kawin? Biar bisa bebas ngewe sama saya kan?", goda Pak Suryo lagi


"Iyaaahhhh.. Biar saya bisa ngewe terus sama Pak Suryo" Buruan entot saya lagi Pak"", pinta Miss Riesta sambil memeluk erat tubuh Pak Suryo


Lalu si satpam sekolah melumat bibir Miss Riesta penuh nafsu. Ciuman kedua pasangan bukan mahrom itu begitu panas. Pak Suryo dengan jelas melumat lidah Miss Riesta dengan lidahnya. Pak Suryo sangat bernafsu melumat bibir guru cantik itu. Ciumannya sampai terdengar begitu becek hingga terdengar decikan berkali-kali di ruangan sunyi itu


Sementara itu kontolnya kembali maju mundur dijepit oleh memek Miss Riesta yang semakin banjir. Guru cantik itu kembali mendesah keenakan, vaginanya basah disodoki kontol pak Suryo yang kuat itu. Wajahnya terlihat begitu puas menikmati setiap sodokan kuat satpam bertubuh gempal itu.


"Oohhhh.. Oohhh" Gak kuat saya" Saya crotin memek Miss Riesta dulu ya.. Sudah gak tahan nih"", kata Pak Suryo mempercepat sodokannya ke memek si guru cantik itu


"Iyaahhh.. Aaahhh.. Pak Suryooo.. Kenceng banget nyodoknya" Aaaahhh"", lenguh nakal Miss Riesta


"ARRRRGGGGHHHH" Anjirr memek Miss Riesta enak anjiirrrrr", Pak Suryo mengejang kuat


Semburan spermanya sangat deras langsung menuju rahim Miss Riesta. Tubuh si satpam sekolah seketika langsung ambruk menindih tubuh telanjang Miss Riesta sesaat setelah ia menuntaskan syahwatnya. Sementara batang kontolnya masih tertancap di liang senggama guru cantik itu. Dari sela-sela kontol dan lubang memek miss Riesta, Sperma Pak Suryo perlahan mengalir keluar membasahi permukaan meja usang tempat perzinahan mereka. Nafas Miss Riesta tersengal-sengal, antara kelelahan dan keberatan karena ditindih tubuh gempal si satpam sekolah.


Wajah Miss Riesta tersenyum puas. Tidak menyangka dirinya akan berzina senikmat ini oleh satpam sekolahnya sendiri. Keputusannya pisah dengan lelaki yang dicintainya mungkin sudah tepat baginya. Miss Riesta ingin melupakannya. Lelaki masa lalunya itu terlalu baik bagi wanita bersyahwat tinggi seperti dirinya.


"Udah belum pak? Saya sudah boleh pulang? Capek nih", kata Miss Riesta


"Hahahahah" Saya sudah puas sekali Miss" Hehehe.. Memek Miss Riesta memang mantab sekali" Makasih ya Miss.. Gak rugi saya gak minta jatah ke istri beberapa minggu ini biar bisa nikmatin memek Miss Riesta yang sempit. Hehehe", kata si satpam sekolah sambil menowel putting susu guru cantik itu


"Ya udah kalau gitu saya permisi pulang dulu ya pak" Udah malam..", jawab Miss Riesta kembali berpakaian


"Silakan Miss.. Kapan-kapan lagi ya Miss.. Hehehehe.. Saya nabung peju dulu. Hehehe", ujar Pak Suryo cengengesan


Lalu lelaki paruh baya itu kemudian membiarkan Miss Riesta keluar, meninggalkan gudang sekolah tempat mereka tadi saling memuaskan birahi. Setelah itu, Miss Riesta berjalan menuju kamar mandi. Ia rapikan dirinya yang kondisinya masih berantakan setelah disetubuhi Pak Suryo si satpam sekolah. Aroma parfum Scandalous-nya masih samar tercium. Tapi kalah dengan aroma keringat dan sperma Pak Suryo yang menyengat menempel pada tubuhnya. Tapi Miss Riesta tidak mempedulikan keadaan itu. Ia berpikir, nanti saja di rumah ia bersihkan sisa-sisa perzinahannya dengan Pak Suryo. Lalu setelah semua dirasa aman, Miss Riesta kemudian berjalan menuju parkiran tempat ia memarkirkan motor matic warna pinknya dan Meninggalkan sekolah malam itu"


#bersambung




Comments

Popular Posts